P. 1
16

16

|Views: 290|Likes:
Published by safran

More info:

Published by: safran on Sep 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/26/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Menurut MORRIS KLINE (Suriasumantri. 1983:172) bahwa jatuh bangunnya suatu negara dewasa ini tergantung dari kemajuan di bidang matematika dan Slamet Imam Santoso (Ibid:225) mengemukakan bahwa fungsi matematika dapat merupakan ketahanan Indonesia dalam abad 20 karena matematika sebagai basicnya ilmu pengetahuan memegang peranan penting untuk mengikuti perkembangan teknologi serta mampu menjadi produsen teknologi yang didukung oleh sumber daya manusia berkualitas dan menguasai konsep-konsep matematika. Untuk mewujudkan semua itu, pembangunan nasional di bidang pendidikan perlu meningkatkan dan menyempurnakan penyelenggaraan pendidikan nasional, yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi serta kesenian, perkembangan masyarakat, serta kebutuhan pembangunan. Upaya penyempurnaan dibidang pendidikan telah dilaksanakan, hal ini ditandai dengan adanya penyempurnaan kurikulum, peningkatan kemampuan guru melalui penataran, pengadaan prasana, alat dan media pengajaran, serta penilaian pendidikan. Seperti diungkapkan

Mendikbud bahwa nilai rata-rata matematika pelajaran ditanah air berkisar antara 4 dan 5 untuk semua jenjang pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa prestasi belajar matematika masih rendah dibanding mata pelajaran yang lain. (Media Indonesia; 1999). Hal ini dapat kita lihat pada tabel sebagai berikut:

1

2

Tabel 1. Nilai Rata-rata Nem/EBTA di Wilayah DIY pada Tingkat SD, SMP dan SMA Periode 1987-1998.
MAKS/ PELAJARAN SD MIN PELAJARAN SMP MIN MAKS/ PELAJARAN SMA MIN MAKS/

PMP Bahasa Indonesia Matematika IPA IPS

7,10 6,68

7,80/6,13 7,09/4,98

PMP Bahasa Indonesia

6,38 6,52

7,49/6,03 7,41/5,76

PMP Bahasa Indonesia

6,73 6,67

7,42/6,28 7,32/6,10

5,95 6,18 6,18

6,92/4,98 6,92/5,05 6,58/5,80

Bahasa Inggris Matematika IPA IPS

4,57 4,71 5,00 5,25

5,89/3,74 5,68/3,49 5,59/4,27 6,30/4,25

Bahasa Inggris Matematika Fisika Biologi Kimia

5,48 4,66 4,62 5,28 4,93

7,03/4,95 5,41/3,69 5,20/3,90 5,98/4,69 5,90/4,00

Sumber data: Marpaung(1999) (BASIS.2004:19)

Di tingkat internasional hal itu semakin nyata, selama beberapa tahun Indonesia mengikuti IMO (International Mathematics Olympiad) prestasi wakil Indonesia selalu pada ranking bawah kecuali tahun 2003 yang naik agak ke tengah. Demikian juga dalam TIMSS (Third International Mathematic and Science Study) dan PISA (Programme of International Student Assessment) (BASIS.2004: 16). Lihat tabel-tabel berikut ini:

3

Tabel 2. Ranking Indonesia dalam Olimpiade Matematika selama 1995-2003
TAHUN PESERTA RANKING PERTAMA SKOR RANKING INDONESIA SKOR RANKING TERENDAH SKOR

1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003

73 75 82 76 81 81 83 84 82

Cina Rumania Cina Iran Cina-Rusia Cina Cina Cina Bulgaria

236 187 223 211 182 218 225 212 227

53 70 63 68 64 51 59 64 37

68 11 44 16 35 54 36 38 70

Kuwait Kuwait Aljazair Kuwait Sri Langka Brunei-Puerto Rico Ekuador Uruguay Paraguay

0 1 3 0 6 8 0 1 0

Sumber data:http://imo.math.ca/result/CRBY.html Tabel 3. Ranking Indonesia dalam TIMSS 1999 TIMSS = Third International Mathematics and Science Study MATEMATIKA NEGARA Singapura Indonesia Afrika Selatan RANKING 1 dari 38 34 dari 38 38 dari 38 SKOR 604 403 275 NEGARA Cina,Taipei Indonesia Afrika Selatan SAINS RANKING 1 dari 38 32 dari 38 38 dari38 SKOR 569 435 243

Sumber data:http://nces.ed.gov/timss/result.asp Tabel 4. Ranking Indonesia dalam PISA untuk “Mathematical Literacy” PISA:Programme of International Student Assessment NEGARA Hongkong Cina Indonesia Peru RANKING 1 dari 41 39 dari 41 41 dari 41 SKOR 560 367 292 KETERANGAN

Sumber data:OECD/UNESCO-UIS 2001

4

Tabel 5. Ranking Indonesia dalam PISA yang diikuti oleh 41 negara
SKOR PADA BIDANG RANKING NEGARA READING LITERACY MATHEMATICAL LITERACY SCIENTIFIC LITERACY PENDAPATAN PER KAPITA

1 1

Finlandia Hongkong Cina

546 560

1 1 39 39 38 41 41 41 41 40

Korea Luxemberg Indonesia Indonesia Indonesia Indonesia Peru Peru Peru Albania 327 292 371 367

552 48.239

393 3.043

333 3.506

Sumber data:OECD/UNESCO-UIS 2001 (Marpaung.BASIS,2004:17-18) Penggunaan matematika atau berhitung dalam kehidupan sehari-hari telah menunjukkan hasil nyata seperti dasar bagi disain ilmu tehnik misalnya perhitungan untuk pembangunan antariksa dan di samping dasar disain ilmu tehnik metode matematis memberikan inspirasi kepada pemikiran di bidang sosial dan ekonomi dan dapat memberikan warna kepada kegiatan seni lukis, arsitektur dan musik. Pengetahuan mengenai matematika memberikan bahasa, proses dan teori yang memberikan ilmu suatu bentuk dan kekuasaan yang akhimya bahwa matematika merupakan salah satu kekuatan utama pembentukan konsepsi tentang alam suatu hakikat dan tujuan manusia dalam

5

kehidupannya. Berdasar kenyataan inilah matematika mempunyai potensi sangat besar dalam hal memacu terjadinya perkembangan secara cermat dan tepat, maupun dalam mempersiapkan warga masyarakat yang mampu mengantisipasi perkembangan dengan cara berpikir dan bersikap yang tepat pula. Banyak orang yang memandang matematika sebagai bidang studi yang paling sulit. Bahkan fenomena menunjukkan bahwa dalam proses belajar matematika sebagian besar siswa masih merasa cemas dan kesulitan (Putu.B,1995 : l). Meskipun demikian, siswa harus mempelajarinya karena merupakan sarana untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kalau tidak, siswa akan menghadapi banyak masalah karena hampir semua bidang studi memerlukan matematika yang sesuai. Kecemasan yang dialami siswa dalam belajar matematika dapat mempengaruhi proses belajar matematika, sehingga hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan atau nilainya rendah Jika dikaitkan dengan peranan matematika tersebut diatas, sangatlah bertentangan, karena sudah seharusnya kalau matematika merupakan ilmu yang dicari dan disenangi siswa. Rendahnya prestasi belajar matematika siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satu faktor diantaranya adalah proses belajar -mengajar. Dalam proses belajar-mengajar ada empat komponen penting yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa antara lain bahan belajar, suasana belajar, media dan sumber belajar, dan subjek belajar (Dimyati,l994:3l). Komponen-komponen tersebut sangat penting dalam proses belajar-mengajar,

6

melemahnya satu atau lebih komponen dapat menghambat tercapainya tujuan belajar yang optimal. Media dan sumber belajar yang digunakan dalam proses belajar mengajar dipilih atas dasar tujuan dan bahan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu guru sebagai subjek belajar harus dapat memilih media dan sumber belajar yang tepat sehingga bahan yang disampaikan dapat diterima siswa dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar. Menurut Sudjana (1989) mengajar adalah memberi bimbingan pada siswa agar belajarnya optimal. Dengan kata lain mengajar tidak semata-mata berorientasi pada hasil (by product) tetapi juga berorientasi pada proses (by proses) dengan harapan semakin tinggi pula hasil yang dicapai. Dengan demikian mengajar matematika adalah suatu proses untuk membimbing dan mengoptimalkan kemampuan siswa agar berpikir dan berbuat matematika. Upaya untuk mengoptimalkan siswa tersebut dapat dipacu dengan menggunakan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), dalam hal ini tidak terlepas dengan penggunaan media pendidikan yang diaplikasikan dalam proses belajar mengajar. Media pendidikan sebagai salah satu sumber belajar ikut membantu guru memperkaya wawasan anak didik. Penggunaan media pendidikan dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif. Suatu proses belajar mengajar yang tidak menggunakan media akan merupakan suatu "proses belajar yang kering" yang tidak menarik serta kurang menimbulkan minat belajar siswa sehingga mengurangi keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang berdampak mengurangi kualitas belajar mengajar.

7

Matematika merupakan bidang studi yang dipelajari oleh semua siswa dari SD hingga SLTA dan bahkan juga diperguruan tinggi pembelajaran matematika disekolah dasar ditekankan pada pembelajaran penguasaan bilangan (number sense) yang tidak hanya bermakna mengenal dan terampil melakukan operasi pada bilangan tetapi harus dapat memantapkan pengetahuan bilangan. Perkembangan kognitif anak usia Sekolah Dasar pada hakikatnya berada dalam operasi kongkret. Siswa sudah dapat memahami konsep-konsep matematika yang sangat sederhana, dan masih dipengaruhi oleh obyek-obyek visual. Di sisi lain anak-anak kelas III SD cenderung memiliki sifat hiperaktif, tidak mau diam, cenderung bermain-bermain sesama temannya ketika diajar, sulit untuk diam, cenderung ribut dan daya tangkap terhadap pelajaran sangat heterogen (ada yang cepat dan ada yang sangat lambat) (Bonasir, 2003 : 177). Faktor lainnya adalah selama ini pembelajaran matematika di Indonesia lebih cenderung pada pencapaian target materi menurut kurikulum atau berdasarkan runtutan materi pada buku acuan, selain itu guru lebih aktif dilain pihak siswa cenderung pasif dan kurang kreatif. Hal itu dapat menyebabkan guru pengajar kesulitan dalam melakukan pengelolaan kelas/belajar mengajar. Untuk menanggulangi hal tersebut dilakukan manipulasi-manipulasi objek yang digunakan untuk berlatih belajar matematika yang lazim disebut media pengajaran. Media pembelajaran sangat penting dalam pengajaran matematika di SD. Menyadari pentingnya media pembelajaran, maka masalah penyediaan pemilihan, dan penggunaan media pendidikan perlu menjadi pemikiran yang serius bagi para pelaku pendidikan.

8

Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran dan prestasi belajar matematika di SD, perlu adanya upaya menumbuh-kembangkan kecintaan peserta didik terhadap matematika melalui inovasi dalam pelaksanaan pembelajaran agar lebih menarik dan menyenangkan. Hal ini dapat dilakukan dengan metode pengajaran yang bervariasi dan mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran. Media kartu akselerasi merupakan salah satu media yang menarik untuk pembelajaran matematika di SD khususnya dalam berlatih mengerjakan soal-soal. Dengan mengerjakan soal-soal tersebut, mereka diharapkan dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar matematika yang lebih optimal. Selain itu media kartu akselerasi nampaknya belum banyak dikembangkan oleh para guru SD di kota Semarang secara efektif. Hal tersebut dikarenakan media kartu pecahan belum tersedia, guru harus membuat sendiri. Kartu ini sudah pernah digunakan dalam pembelajaran matematika di SD Jeddah Jawa Timur dan hasilnya sangat efektif. Berdasarkan uraian tersebut penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang pengajaran menggunakan media kartu akselerasi, pada pengajaran matematika pokok bahasan "Pecahan", dengan judul :"Efektivitas Penggunaan Kartu Akselerasi Dalam Pembelajaran Matematika Pada Siswa Kelas III Semester I SD Negeri Petompon I dan II Semarang Tahun Ajaran 2004/2005.

9

B. Identifikasi Masalah Pada waktu penyajian materi pelajaran kepada siswa, seringkali guru mengalami kesulitan yang berhubungan dengan cara bagaimana menarik minat perhatian siswa selama pelajaran berlangsung dan cara membantu siswa mengingatkan kembali akan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari dengan cepat dan pada saat yang tepat. Bertolak dari masalah di atas, maka timbul permasalahan sebagai berikut: 1. Guru dalam mengajar matematika kurang bervariasi dalam memanfaatkan media dan metode. 2. Nilai matematika siswa rendah apabila dibandingkan mata pelajaran yang lainnya. 3. Pelajaran matematika selama ini menjadi momok dan ditakuti oleh para siswa. 4. Strategi pembelajaran matematika yang dianggap monoton dan

membosankan.

C. Rumusan Masalah Berdasarkan judul, latar belakang, serta identifikasi masalah diatas maka rumusan masalahnya sebagai berikut: 1. Sejauh mana efektivitas penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas III semester I SD N Petompon I dan II Semarang tahun ajaran 2004/2005 ?. 2. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam penggunaan kartu akselerasii pada siswa kelas III semester I SD N Petompon I dan II Semarang dalam pembelajaran matematika ?.

10

D. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai ataupun yang diharapkan adalah: 1. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas III semester I SD N Petompon I dan II Semarang tahun ajaran 2004/2005. 2. Untuk mengetahui kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam penggunaan kartu akselerasi pada siswa kelas III SD N Petompon I dan II Semarang dalam pembelajaran matematika.

E. Penegasan 1stilah Untuk mengantispasi adanya penafsiran yang berbeda dalam mewujudkan kesatuan pandangan dan pengertian, maka perlu adanya batasan atau penegasan dari istilah-istilah yang digunakan untuk membatasi secara keseluruhan hal-hal yang berhubungan dengan penelitian ini: 1. Efektivitas Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti tepat guna. Efektivitas merupakan hal yang dikerjakan dengan waktu yang tepat kegunaannya (Depdikbud.19045:67). Dalam hal ini adanya efektivitas penggunaan kartu akselerasi yang digunakan oleh siswa. 2. Penggunaan Kartu Akselerasi Yang dimaksud dengan penggunaan kartu akselerasi adalah cara memberikan soal-soal latihan dengan menggunakan kartu akselerasi sebagai alat pengajaran. Menurut Bonasir (2003:180) kartu akselerasi adalah kertas tebal berbentuk persegi panjang, yang berisi soal-soal untuk mempercepat dan membangkitkan minat anak-anak dalam menyelesaikan soal-soal matematika.

11

3. Siswa kelas III SD Negeri Petompon I dan II Semarang Tahun Ajaran 2004/2005, yang dimaksud siswa kelas III SD Negeri Petompon I-II Semarang adalah siswa-siswa yang pada tahun ajaran 2004/2005 tercatat sebagai siswa kelas III SD Negeri Petompon I dan II Semarang. 4. Pembelajaran Matematika Yang dimaksud dengan pembelajaran matematika adalah memahami suatu konsep matematika yang terbentuk dengan ide, proses, dan

penalaran.(Ruseffendi ET, 1980 : 148).Dalam penelitian ini, siswa diajak mengenal 2 pengetahuan yang perlu dikuasai oleh anak SD, yaitu pengetahuan konseptual mengacu pada pemahaman konsep, dan pengetahuan prosedural mengacu pada keterampilan melakukan suatu algoritma atau prosedur pengerjaan.

F. Manfaat Penelitian Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, manfaat yang diharapkan diantaranya yaitu: 1. Manfaat Teoritis a. Konsep-konsep yang dihasilkan ini merupakan masukan yang berharga bagi dunia pendidikan khususnya dalam kegiatan belajar mengajar. b. Hasil-hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber bahan yang penting bagi para peneliti bidang pendidikan. c. Memberi rekomendasi kepada para peneliti lain untuk melakukan penelitian sejenis atau melanjutkan penelitian tersebut secara lebih luas, intensif, dan mendalam.

12

2.

Manfaat Praktis a. Dengan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini dapat menjadi masukan bagi guru di sekolah Dasar Negeri I dan II Petompon Semarang, sebagai bahan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran matematika. b. Dengan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini pula dapat dijadikan respon yang positif bagi para siswa dan masyarakat tentang penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran matemtika.

G. Sistematika Skripsi Untuk memberikan gambaran mengenai isi dari penelitian ini, maka peneliti membuat sistematika sebagai garis besar. Adapun sistematika skripsi ini adalah sebagai berikut: Bagian awal pendahuluan skripsi berisi halaman judul, lembar persetujuan, lembar pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, sari, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran. Bab I : Pendahuluan berisi mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, penegasan istilah dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan skripsi. Bab II : Landasan teori dan hipotesis berisi mengenai tinjauan pustaka yang meliputi hakikat belajar, media pembelajaran, tinjauan mengenai kartu akselerasi, mata pelajaran matematika, kerangka berpikir dan hipotesis.

13

Bab III : Metode penelitian berisi mengenai populasi penelitian, variabel penelitian, metode pengumpulan data, metode penyusunan instrumen serta metode analisis data. Bab IV : Hasil penelitian dan pembahasan berisi penyajian data secara garis besar, kemudian dianalisis menggunakan metode statistik serta pembahasan hasilnya. Bab V : Penutup berisi mengenai kesimpulan dan saran penelitian Bagian akhir skripsi berisi mengenai daftar pustaka dan lampiran-lampiran. dari hasil

14

BAB I PENDAHULUAN

H. Latar Belakang Masalah Menurut MORRIS KLINE (Suriasumantri. 1983:172) bahwa jatuh bangunnya suatu negara dewasa ini tergantung dari kemajuan di bidang matematika dan Slamet Imam Santoso (Ibid:225) mengemukakan bahwa fungsi matematika dapat merupakan ketahanan Indonesia dalam abad 20 karena matematika sebagai basicnya ilmu pengetahuan memegang peranan penting untuk mengikuti perkembangan teknologi serta mampu menjadi produsen teknologi yang didukung oleh sumber daya manusia berkualitas dan menguasai konsep-konsep matematika. Untuk mewujudkan semua itu, pembangunan nasional di bidang pendidikan perlu meningkatkan dan menyempurnakan penyelenggaraan pendidikan nasional, yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi serta kesenian, perkembangan masyarakat, serta kebutuhan pembangunan. Upaya penyempurnaan dibidang pendidikan telah dilaksanakan, hal ini ditandai dengan adanya penyempurnaan kurikulum, peningkatan kemampuan guru melalui penataran, pengadaan prasana, alat dan media pengajaran, serta penilaian pendidikan. Seperti diungkapkan

Mendikbud bahwa nilai rata-rata matematika pelajaran ditanah air berkisar antara 4 dan 5 untuk semua jenjang pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa prestasi belajar matematika masih rendah dibanding mata pelajaran yang lain. (Media Indonesia; 1999). Hal ini dapat kita lihat pada tabel sebagai berikut:

15

Tabel 1. Nilai Rata-rata Nem/EBTA di Wilayah DIY pada Tingkat SD, SMP dan SMA Periode 1987-1998.
MAKS/ PELAJARAN SD MIN PELAJARAN SMP MIN MAKS/ PELAJARAN SMA MIN MAKS/

PMP Bahasa Indonesia Matematika IPA IPS

7,10 6,68

7,80/6,13 7,09/4,98

PMP Bahasa Indonesia

6,38 6,52

7,49/6,03 7,41/5,76

PMP Bahasa Indonesia

6,73 6,67

7,42/6,28 7,32/6,10

5,95 6,18 6,18

6,92/4,98 6,92/5,05 6,58/5,80

Bahasa Inggris Matematika IPA IPS

4,57 4,71 5,00 5,25

5,89/3,74 5,68/3,49 5,59/4,27 6,30/4,25

Bahasa Inggris Matematika Fisika Biologi Kimia

5,48 4,66 4,62 5,28 4,93

7,03/4,95 5,41/3,69 5,20/3,90 5,98/4,69 5,90/4,00

Sumber data: Marpaung(1999) (BASIS.2004:19)

Di tingkat internasional hal itu semakin nyata, selama beberapa tahun Indonesia mengikuti IMO (International Mathematics Olympiad) prestasi wakil Indonesia selalu pada ranking bawah kecuali tahun 2003 yang naik agak ke tengah. Demikian juga dalam TIMSS (Third International Mathematic and Science Study) dan PISA (Programme of International Student Assessment) (BASIS.2004: 16). Lihat tabel-tabel berikut ini:

16

Tabel 2. Ranking Indonesia dalam Olimpiade Matematika selama 1995-2003
TAHUN PESERTA RANKING PERTAMA SKOR RANKING INDONESIA SKOR RANKING TERENDAH SKOR

1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003

73 75 82 76 81 81 83 84 82

Cina Rumania Cina Iran Cina-Rusia Cina Cina Cina Bulgaria

236 187 223 211 182 218 225 212 227

53 70 63 68 64 51 59 64 37

68 11 44 16 35 54 36 38 70

Kuwait Kuwait Aljazair Kuwait Sri Langka Brunei-Puerto Rico Ekuador Uruguay Paraguay

0 1 3 0 6 8 0 1 0

Sumber data:http://imo.math.ca/result/CRBY.html Tabel 3. Ranking Indonesia dalam TIMSS 1999 TIMSS = Third International Mathematics and Science Study MATEMATIKA NEGARA Singapura Indonesia Afrika Selatan RANKING 1 dari 38 34 dari 38 38 dari 38 SKOR 604 403 275 NEGARA Cina,Taipei Indonesia Afrika Selatan SAINS RANKING 1 dari 38 32 dari 38 38 dari38 SKOR 569 435 243

Sumber data:http://nces.ed.gov/timss/result.asp Tabel 4. Ranking Indonesia dalam PISA untuk “Mathematical Literacy” PISA:Programme of International Student Assessment NEGARA Hongkong Cina Indonesia Peru RANKING 1 dari 41 39 dari 41 41 dari 41 SKOR 560 367 292 KETERANGAN

Sumber data:OECD/UNESCO-UIS 2001

17

Tabel 5. Ranking Indonesia dalam PISA yang diikuti oleh 41 negara
SKOR PADA BIDANG RANKING NEGARA READING LITERACY MATHEMATICAL LITERACY SCIENTIFIC LITERACY PENDAPATAN PER KAPITA

1 1

Finlandia Hongkong Cina

546 560

1 1 39 39 38 41 41 41 41 40

Korea Luxemberg Indonesia Indonesia Indonesia Indonesia Peru Peru Peru Albania 327 292 371 367

552 48.239

393 3.043

333 3.506

Sumber data:OECD/UNESCO-UIS 2001 (Marpaung.BASIS,2004:17-18) Penggunaan matematika atau berhitung dalam kehidupan sehari-hari telah menunjukkan hasil nyata seperti dasar bagi disain ilmu tehnik misalnya perhitungan untuk pembangunan antariksa dan di samping dasar disain ilmu tehnik metode matematis memberikan inspirasi kepada pemikiran di bidang sosial dan ekonomi dan dapat memberikan warna kepada kegiatan seni lukis, arsitektur dan musik. Pengetahuan mengenai matematika memberikan bahasa, proses dan teori yang memberikan ilmu suatu bentuk dan kekuasaan yang akhimya bahwa matematika merupakan salah satu kekuatan utama pembentukan konsepsi tentang alam suatu hakikat dan tujuan manusia dalam

18

kehidupannya. Berdasar kenyataan inilah matematika mempunyai potensi sangat besar dalam hal memacu terjadinya perkembangan secara cermat dan tepat, maupun dalam mempersiapkan warga masyarakat yang mampu mengantisipasi perkembangan dengan cara berpikir dan bersikap yang tepat pula. Banyak orang yang memandang matematika sebagai bidang studi yang paling sulit. Bahkan fenomena menunjukkan bahwa dalam proses belajar matematika sebagian besar siswa masih merasa cemas dan kesulitan (Putu.B,1995 : l). Meskipun demikian, siswa harus mempelajarinya karena merupakan sarana untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kalau tidak, siswa akan menghadapi banyak masalah karena hampir semua bidang studi memerlukan matematika yang sesuai. Kecemasan yang dialami siswa dalam belajar matematika dapat mempengaruhi proses belajar matematika, sehingga hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan atau nilainya rendah Jika dikaitkan dengan peranan matematika tersebut diatas, sangatlah bertentangan, karena sudah seharusnya kalau matematika merupakan ilmu yang dicari dan disenangi siswa. Rendahnya prestasi belajar matematika siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satu faktor diantaranya adalah proses belajar -mengajar. Dalam proses belajar-mengajar ada empat komponen penting yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa antara lain bahan belajar, suasana belajar, media dan sumber belajar, dan subjek belajar (Dimyati,l994:3l). Komponen-komponen tersebut sangat penting dalam proses belajar-mengajar,

19

melemahnya satu atau lebih komponen dapat menghambat tercapainya tujuan belajar yang optimal. Media dan sumber belajar yang digunakan dalam proses belajar mengajar dipilih atas dasar tujuan dan bahan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu guru sebagai subjek belajar harus dapat memilih media dan sumber belajar yang tepat sehingga bahan yang disampaikan dapat diterima siswa dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar. Menurut Sudjana (1989) mengajar adalah memberi bimbingan pada siswa agar belajarnya optimal. Dengan kata lain mengajar tidak semata-mata berorientasi pada hasil (by product) tetapi juga berorientasi pada proses (by proses) dengan harapan semakin tinggi pula hasil yang dicapai. Dengan demikian mengajar matematika adalah suatu proses untuk membimbing dan mengoptimalkan kemampuan siswa agar berpikir dan berbuat matematika. Upaya untuk mengoptimalkan siswa tersebut dapat dipacu dengan menggunakan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), dalam hal ini tidak terlepas dengan penggunaan media pendidikan yang diaplikasikan dalam proses belajar mengajar. Media pendidikan sebagai salah satu sumber belajar ikut membantu guru memperkaya wawasan anak didik. Penggunaan media pendidikan dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif. Suatu proses belajar mengajar yang tidak menggunakan media akan merupakan suatu "proses belajar yang kering" yang tidak menarik serta kurang menimbulkan minat belajar siswa sehingga mengurangi keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang berdampak mengurangi kualitas belajar mengajar.

20

Matematika merupakan bidang studi yang dipelajari oleh semua siswa dari SD hingga SLTA dan bahkan juga diperguruan tinggi pembelajaran matematika disekolah dasar ditekankan pada pembelajaran penguasaan bilangan (number sense) yang tidak hanya bermakna mengenal dan terampil melakukan operasi pada bilangan tetapi harus dapat memantapkan pengetahuan bilangan. Perkembangan kognitif anak usia Sekolah Dasar pada hakikatnya berada dalam operasi kongkret. Siswa sudah dapat memahami konsep-konsep matematika yang sangat sederhana, dan masih dipengaruhi oleh obyek-obyek visual. Di sisi lain anak-anak kelas III SD cenderung memiliki sifat hiperaktif, tidak mau diam, cenderung bermain-bermain sesama temannya ketika diajar, sulit untuk diam, cenderung ribut dan daya tangkap terhadap pelajaran sangat heterogen (ada yang cepat dan ada yang sangat lambat) (Bonasir, 2003 : 177). Faktor lainnya adalah selama ini pembelajaran matematika di Indonesia lebih cenderung pada pencapaian target materi menurut kurikulum atau berdasarkan runtutan materi pada buku acuan, selain itu guru lebih aktif dilain pihak siswa cenderung pasif dan kurang kreatif. Hal itu dapat menyebabkan guru pengajar kesulitan dalam melakukan pengelolaan kelas/belajar mengajar. Untuk menanggulangi hal tersebut dilakukan manipulasi-manipulasi objek yang digunakan untuk berlatih belajar matematika yang lazim disebut media pengajaran. Media pembelajaran sangat penting dalam pengajaran matematika di SD. Menyadari pentingnya media pembelajaran, maka masalah penyediaan pemilihan, dan penggunaan media pendidikan perlu menjadi pemikiran yang serius bagi para pelaku pendidikan.

21

Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran dan prestasi belajar matematika di SD, perlu adanya upaya menumbuh-kembangkan kecintaan peserta didik terhadap matematika melalui inovasi dalam pelaksanaan pembelajaran agar lebih menarik dan menyenangkan. Hal ini dapat dilakukan dengan metode pengajaran yang bervariasi dan mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran. Media kartu akselerasi merupakan salah satu media yang menarik untuk pembelajaran matematika di SD khususnya dalam berlatih mengerjakan soal-soal. Dengan mengerjakan soal-soal tersebut, mereka diharapkan dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar matematika yang lebih optimal. Selain itu media kartu akselerasi nampaknya belum banyak dikembangkan oleh para guru SD di kota Semarang secara efektif. Hal tersebut dikarenakan media kartu pecahan belum tersedia, guru harus membuat sendiri. Kartu ini sudah pernah digunakan dalam pembelajaran matematika di SD Jeddah Jawa Timur dan hasilnya sangat efektif. Berdasarkan uraian tersebut penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang pengajaran menggunakan media kartu akselerasi, pada pengajaran matematika pokok bahasan "Pecahan", dengan judul :"Efektivitas Penggunaan Kartu Akselerasi Dalam Pembelajaran Matematika Pada Siswa Kelas III Semester I SD Negeri Petompon I dan II Semarang Tahun Ajaran 2004/2005.

22

I. Identifikasi Masalah Pada waktu penyajian materi pelajaran kepada siswa, seringkali guru mengalami kesulitan yang berhubungan dengan cara bagaimana menarik minat perhatian siswa selama pelajaran berlangsung dan cara membantu siswa mengingatkan kembali akan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari dengan cepat dan pada saat yang tepat. Bertolak dari masalah di atas, maka timbul permasalahan sebagai berikut: 1. Guru dalam mengajar matematika kurang bervariasi dalam memanfaatkan media dan metode. 2. Nilai matematika siswa rendah apabila dibandingkan mata pelajaran yang lainnya. 3. Pelajaran matematika selama ini menjadi momok dan ditakuti oleh para siswa. 4. Strategi pembelajaran matematika yang dianggap monoton dan

membosankan.

J. Rumusan Masalah Berdasarkan judul, latar belakang, serta identifikasi masalah diatas maka rumusan masalahnya sebagai berikut: 1. Sejauh mana efektivitas penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas III semester I SD N Petompon I dan II Semarang tahun ajaran 2004/2005 ?. 2. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam penggunaan kartu akselerasii pada siswa kelas III semester I SD N Petompon I dan II Semarang dalam pembelajaran matematika ?.

23

K. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai ataupun yang diharapkan adalah: 1. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas III semester I SD N Petompon I dan II Semarang tahun ajaran 2004/2005. 2. Untuk mengetahui kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam penggunaan kartu akselerasi pada siswa kelas III SD N Petompon I dan II Semarang dalam pembelajaran matematika.

L. Penegasan 1stilah Untuk mengantispasi adanya penafsiran yang berbeda dalam mewujudkan kesatuan pandangan dan pengertian, maka perlu adanya batasan atau penegasan dari istilah-istilah yang digunakan untuk membatasi secara keseluruhan hal-hal yang berhubungan dengan penelitian ini: 1. Efektivitas Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti tepat guna. Efektivitas merupakan hal yang dikerjakan dengan waktu yang tepat kegunaannya (Depdikbud.19045:67). Dalam hal ini adanya efektivitas penggunaan kartu akselerasi yang digunakan oleh siswa. 2. Penggunaan Kartu Akselerasi Yang dimaksud dengan penggunaan kartu akselerasi adalah cara memberikan soal-soal latihan dengan menggunakan kartu akselerasi sebagai alat pengajaran. Menurut Bonasir (2003:180) kartu akselerasi adalah kertas tebal berbentuk persegi panjang, yang berisi soal-soal untuk mempercepat dan membangkitkan minat anak-anak dalam menyelesaikan soal-soal matematika.

24

3. Siswa kelas III SD Negeri Petompon I dan II Semarang Tahun Ajaran 2004/2005, yang dimaksud siswa kelas III SD Negeri Petompon I-II Semarang adalah siswa-siswa yang pada tahun ajaran 2004/2005 tercatat sebagai siswa kelas III SD Negeri Petompon I dan II Semarang. 4. Pembelajaran Matematika Yang dimaksud dengan pembelajaran matematika adalah memahami suatu konsep matematika yang terbentuk dengan ide, proses, dan

penalaran.(Ruseffendi ET, 1980 : 148).Dalam penelitian ini, siswa diajak mengenal 2 pengetahuan yang perlu dikuasai oleh anak SD, yaitu pengetahuan konseptual mengacu pada pemahaman konsep, dan pengetahuan prosedural mengacu pada keterampilan melakukan suatu algoritma atau prosedur pengerjaan.

M. Manfaat Penelitian Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, manfaat yang diharapkan diantaranya yaitu: 1. Manfaat Teoritis a. Konsep-konsep yang dihasilkan ini merupakan masukan yang berharga bagi dunia pendidikan khususnya dalam kegiatan belajar mengajar. b. Hasil-hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber bahan yang penting bagi para peneliti bidang pendidikan. c. Memberi rekomendasi kepada para peneliti lain untuk melakukan penelitian sejenis atau melanjutkan penelitian tersebut secara lebih luas, intensif, dan mendalam.

25

2.

Manfaat Praktis a. Dengan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini dapat menjadi masukan bagi guru di sekolah Dasar Negeri I dan II Petompon Semarang, sebagai bahan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran matematika. b. Dengan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini pula dapat dijadikan respon yang positif bagi para siswa dan masyarakat tentang penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran matemtika.

N. Sistematika Skripsi Untuk memberikan gambaran mengenai isi dari penelitian ini, maka peneliti membuat sistematika sebagai garis besar. Adapun sistematika skripsi ini adalah sebagai berikut: Bagian awal pendahuluan skripsi berisi halaman judul, lembar persetujuan, lembar pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, sari, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran. Bab I : Pendahuluan berisi mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, penegasan istilah dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan skripsi. Bab II : Landasan teori dan hipotesis berisi mengenai tinjauan pustaka yang meliputi hakikat belajar, media pembelajaran, tinjauan mengenai kartu akselerasi, mata pelajaran matematika, kerangka berpikir dan hipotesis.

26

Bab III : Metode penelitian berisi mengenai populasi penelitian, variabel penelitian, metode pengumpulan data, metode penyusunan instrumen serta metode analisis data. Bab IV : Hasil penelitian dan pembahasan berisi penyajian data secara garis besar, kemudian dianalisis menggunakan metode statistik serta pembahasan hasilnya. Bab V : Penutup berisi mengenai kesimpulan dan saran penelitian Bagian akhir skripsi berisi mengenai daftar pustaka dan lampiran-lampiran. dari hasil

27

BAB II LANDASAN TEORI

A. Hakikat Belajar 1. Pengertian Belajar Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku baik yang meliputi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. Ada beberapa pendapat dari ahli tentang pengertian belajar diantaranya: 1) G.A Kimble mengatakan bahwa belajar adalah perubahan yang relatif menetap dalam potensi tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari latihan dengan penguatan dan tidak termasuk perubahan-perubahan karena kematangan, mengetahui dan memahami sesuatu sehingga terjadi perubahan dalam diri seseorang yang belajar. (Simanjutak, 1993 : 38). 2) Marle J Moskowitz dan Arthur R Orgel mengatakan bahwa belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil langsung dari pengalaman dan bukan akibat hubungan-hubungan dalam sistem saraf yang dibawa sejak lahir (Darsono,2000:3) 3) W.S Winkel mengatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan,

28

yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap (W.S.Winkel,1987:36) 4) Aliran Gestalt mengatakan bahwa belajar adalah bagaimana seseorang memandang suatu obyek (persepsi) dan kemampuan mengatur atau mengorganisir obyek yang dipersepsi (khususnya yang kompleks), sehingga menjadi suatu bentuk (struktur) yang bermakna atau mudah dipahami (Darsono, 2000 : 15) Dengan demikian belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku. Oleh karena itu, seseorang dikatakan belajar apabila dalam diri orang tersebut terjadi perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti: berubahnya pengetahuan, sikap, percakapan, kebiasaan dll. Tetapi tidak semua perubahan tingkah laku merupakan hasil belajar. Berikut ini ciri-ciri belajar adalah : 1) Belajar dilakukan dengan sadar dan mempunyai tujuan 2) Belajar merupakan pengalaman sendiri 3) Belajar merupakan proses interaksi antara individu dan lingkungan 4) Belajar mengakibatkan terjadinya perubahan pada diri orang yang belajar. (Darsono, 2000 : 30-31) Jadi perubahan tingkah laku yang terjadi merupakan hasil atau akibat dari upaya-upaya atau latihan yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan.Tingkah laku yang terjadi merupakan hasil dari proses belajar yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

29

1) Faktor-faktor yang berasal dari luar individu siswa a. Faktor faktor non sosial Faktor-faktor non sosial meliputi keadaan lingkungan dan sarana prasarana dalam belajar b. Faktor-faktor sosial Faktor-faktor sosial disini adalah faktor manusia dalam proses belajar-mengajar, misalnya: kehadiran orang yang membuat gaduh pada waktu seseorang sedang belajar akan mengganggu konsentrasi dalam belajar. 2) Faktor-faktor sosial a. Faktor Fisiologis Faktor fisiologis adalah keadaan fisik siswa, dalam keadaan sehat siswa dapat belajar dengan baik, sebaliknya bila dalam keadaan sakit atau cacat siswa tidak dapat memahami pelajaran yang diberikan dengan sempurna sehingga proses belajar terganggu yang pada akhirnya prestasi belajarpun tidak optimal. b. Faktor Psikologis Faktor psikologis yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar adalah kecerdasan, bakat, minat, motivasi, emosi, dan kemampuan kognitif (Suryabrata, 1998:233-237).

30

2. Pembelajaran Matematika di SD Salah satu pembelajaran matematika masa kini adalah penyajiannya didasarkan pada teori psikologi pembelajaran, sesuai dengan ciri tersebut dalam pembahasan ini akan dibicarakan tentang berbagai teori pembelajaran tersebut dalam pembelajaran matematika yang meliputi: 1. Aliran Psikologi Tingkah Laku
a. Teori Thorndike

Edward L.Thorndike (1874-1949) mengemukakan beberapa hukum belajar diantaranya adalah teori belajar stimulus respon atau koneksionisme, yang menyatakan : bahwa pada hakekatnya belajar merupakan proses hubungan antar stimulus dan respon. Menurut hukum ini belajar akan lebih berhasil bila respon murid terhadap suatu stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasan dapat berupa pujian atau ganjaran saat murid dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.Tugas tersebut dapat dikerjakan melalui penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran matematika sehingga anak akan terlatih dalam menyelesaikan soal-soal latihan dengan baik dan benar.(Suminarsih, 2003:2)
b. Teori Skinner

Burhus Frederic Skinner menyatakan bahwa ganjaran atau penguatan mempunyai peranan yang amat penting dalam proses belajar. Terdapat perbedaan antara ganjaran dan penguatan, ganjaran merupakan respon yang sifatnya menggembirakan dan

31

sebagai tingkah laku yang sifatnya subyektif, sedangkan penguatan merupakan sesuatu yang diberikan pada anak untuk memperkuat tindakan anak, sehingga semakin sering melakukannya. Penguatan akan berbekas kepada anak, sehingga diharapkan dalam memberikan penguatan harus benar-benar pada hal yang positif sehingga anak akan semakin sering mengulang penguatan positif tersebut. Dalam penelitian ini, penguatan diberikan dengan menggunakan kartu akselerasi sebagai sarana berlatih dan menyelesaikan soal-soal matematika yang diharapkan akan meningkatkan hasil belajar.(Suminarsih, 2003:3)
c. Teori Gagne

Menurut Gagne, dalam belajar matematika ada dua obyek yang dapat diperoleh siswa, yaitu obyek langsung maupun tak langsung. Obyek tak langsung antara lain kemampuan, menyelidiki dan memecahkan masalah, belajar mandiri, bersikap positif terhadap matematika dan tahu bagaimana seharusnya belajar.

Sedangkan obyek langsung berupa fakta, keterampilan, konsep dan aturan. Fakta adalah obyek matematika yang tinggal menerimanya, seperti lambang bilangan, sudut dan notasi-notasi matematika lainnya. Cara mengajarkan fakta dengan cara menghafal, driil, peragaan dan sebagainya. Keterampilan berupa keterampilan memberikan jawaban dengan tepat dan cepat, misalkan

menjumlahkan pecahan, perkalian bilangan dengan bilangan dua

32

puluh lima

dan sebagainya. Konsep adalah ide abstrak yang

memungkinkan kita dapat mengelompokkan contoh dan bukan contoh, misalkan konsep bilangan prima dan himpunan. Aturan dan prinsip adalah obyek yang paling abstrak yang berupa sifat atau teorema yang merupakan hubungan fungsional antar konsepkonsep. Untuk mempelajari aturan dapat dengan cara proses inkuiri, penemuan terbimbing, pemecahan masalah dan

demonstrasi. 2. Aliran Psikologi Kognitif a. Teori Piaget Pendapat Jean Piaget yang paling terkenal, sesuai hasil penelitiannya perkembangan mengemukakan bahwa ada empat tahap

kognitif dari setiap individu yang berkembang

secara kronologis (menurut usia), yaitu: 1) Tahap Sensori Motor, dari lahir sampai umur sekitar 2 tahun Pada tahap ini aktivitas kognitif anak didasarkan atas pengalaman langsung melalui pancaindera. 2) Tahap Pra Operasional, dari sekitar 2 tahun sampai 7 tahun Pada Tahap ini anak mulai memanipulasi simbul dari benda-benda si sekitarnya.Anak sudah siap untuk belajar bahasa, membaca, dan menyanyi. 3) Tahap Operasi Kongkret, dari umur 7 sam pai 11 tahun Pada Tahap ini anak sudah memahami hubungan fungsional, cara berpikirnya kongkret belum menangkap yang abstrak.

33

Tahap

ini

sangat

penting

karena

anak

sudah

mulai Hal

menggeneralisasikan

objek-objek

yang

diamatinya.

tersebut erat hubungannya dengan matematika. Konsep matematika yang didasarkan pada benda-benda kongkret lebih mudah dipahami dari pada memanipulasi istilah-istilah abstrak. 4) Tahap Formal, dari umur 11 tahun ke atas Tahap ini adalah tahap tertinggi dari perkembangan kognitif anak. Anak usia 11-12 tahun belum mencapai tahap ini. Tahap ini disebut juga tahap hipotetis-deduktif. Anak-Anak pada tahap ini memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbol-simbol atau ide dari pada objek-objek yang berkaitan dengan benda-benda didalam cara berpikirnya.. Dari uraian di atas jelaslah bahwa siswa sekolah dasar menurut Piaget berada pada tahap operasi kongkret, dimana anak sudah mulai memiliki pemahaman operasi logis dengan bantuan benda-benda kongkret. Siswa memahami konsep kekekalan kemampuan mengklasifikasi kemampuan mengurutkan obyek dan juga telah memiliki kemampuan ekivalensi. Ciri-ciri anak yang kongkret adalah : Siswa belum mampu melakukan operasi yang komplek Siswa dapat melakukan operasi logis yang berorientasi kepada obyek-obyek atau peristiwa yang dialaminya. berada dalam tahap operasional

34

Siswa dapat menalar induktif, tetapi sangat lemah bernalar deduktif. Masih mengalami kesulitan menangkap ide atau gagasan abstrak.(Suminarsih, 2003:4). Dalam menangkap ide abstrak mereka memerlukan bantuan memanipulasi benda kongkret, oleh karena itu pembelajaran di SD masih memerlukan alat peraga atau media sebagai sarana berlatih dalam mendalami materi pelajaran yang telah diberikan guru. b. Teori Bruner Metode yang sangat didukung oleh Jerome Bruner adalah belajar dengan penemuan. Ia meyakini bahwa dalam mempelajari matematika seseorang siswa perlu secara langsung menggunakan bahan-bahan manipulatif. Bahan–bahan tersebut merupakan benda kongkret yang dirancang khusus dan dapat diotak-atik oleh siswa dalam berusaha memahami konsep matematika. Adanya interaksi antara siswa dengan lingkungan fisik ini akan memberikan kesempatan siswa untuk melaksanakan

penemuan. Sangat disarankan keaktifan siswa dalam proses belajar secara penuh ditempat khusus misalnya dilaboratorium. Bruner mengemukakan bahwa dalam proses belajar anak melewati tiga tahap, yaitu: 1) Tahap Enaktif (kongkret) Siswa belajar konsep dengan memanipulasi benda-benda secara langsung. Kegiatan enaktif berupa pemecahan masalah kontekstual yang melibatkan benda konkret berupa benda

35

sesungguhnya yang bersangkutan dengan masalah kontekstual yang sedang dihadapi, atau berupa model fisik benda dari benda tersebut. Kematangan pada tahap kegiatan enaktif, misalnya ditunjukkan dengan kelancaran murid menggunakan model fisik, atau penggunaan model gambar atau model simbolik pada kegiatan tersebut. Dengan penggunaan model tersebut akan memberikan pengertian yang lebih melekat pada anak. Contoh: jika ingin menunjukkan angka 3 (tiga) supaya menunjukkan sebuah himpunan dengan tiga anggotanya, dapat dengan menggunakan contoh himpunan tiga buah mangga. Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan pengertian 3 diberikan contoh 3 buah himpunan mangga. 2) Tahap Ikonik (semi kongkrit) Siswa memahami konsep matematika yang bersifat abstrak dengan bantuan model-model semikongkret, tabel, bagan, peta dll. Dalam kegiatan ikonik, anak mendeskripsikan dan memecahkan masalah kontekstual dengan memakai model gambar berupa skema atau gambaran situasi. Kematangan anak dalam kegiatan ikonik akan mengantarnya pada kegiatan simbolik yang melibatkan penggunaan simbol untuk

menyatakan penalaran anak. Akan tetapi, berkat langkah ini anak menjadi siap berkenalan dengan simbolisasi baku dalam matematika formal. 3) Tahap Simbolik (abstrak) Siswa belajar konsep dan operasi, matematika langsung dengan kata-kata atau simbol-simbol tanpa obyek kongkret maupun

36

model semi kongkret. Contohnya: dalam perhitungan jual beli produk memakai model simbolik yang menyatakan kode harga persatuan tiap-tiap produk (“x,’y” dll).(Suminarsih, 2003:5).

c. Teori Dienes Zoltan P.Dienes meyakini dengan menggunakan berbagai sajian (representasi) tentang suatu konsep matematika anak akan dapat memahami secara penuh konsep tersebut jika dibandingkan dengan menggunakan satu macam Rusefendi (1993:72) sajian saja. Menurut Dienes dalam belajar matematika yang

pendekatan

semestinya dilakukan yaitu (1) Siswa belajar matematika harus melalui benda-benda konkret dan membuat abstraksinya dari konsep dan strukturnya, (2) terdapat proses yang wajar dan harus dialami agar siswa dapat memahami konsep matematika yakni tahap bermain dengan benda konkret yang meliputi permainan : kartu bilangan pecahan, membangun dinding pecahan, papan catur pecahan. Dengan adanya permainan tersebut, diharapkan suasana pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan tidak menjenuhkan serta bersifat menghibur.(Suminarsih, 2003:5). 3. Karakteristik Pembelajaran Matematika di SD a. Pembelajaran matematika dilakukan berjenjang ♦ Dari konsep sederhana menuju konsep yang lebih sukar. ♦ Dari hal yang konkret menuju semi konkret kemudian ke semi abstrak dan berakhir pada abstrak. b. Pembelajaran matematika mengikuti metode spiral

37

Metode Spiral dalam belajar mengajar matematika adalah menanamkan konsep dan dimulai dengan benda kongkret secara intuitif, kemudian pada tahaptahap yang lebih tinggi (sesuai kemampuan siswa ). Konsep ini diajarkan dalam bentuk yang abstrak dengan menggunakan notasi yang lebih umum dipakai dalam matematika (Lisnawaty.1993:71) antara lain dengan cara: ♦ Konsep baru diperkenalkan dengan mengaitkannya pada konsep yang telah dipahami siswa. Hal ini merupakan prinsip belajar bermakna atau belajar dengan pemahaman. ♦ Konsep baru merupakan perluasan dan pendalaman konsep sebelumnya. c. Pembelajaran matematika menekankan penggunaan pola deduktif. Yaitu memahami suatu konsep melalui pemahaman definisi umum kemudian contoh-contoh. Sebaliknya di SD ditempuh pola pendekatan induktif, yaitu mengenal konsep melalui contoh-contoh.. Hal ini disebabkan alasan psikologis siswa SD masih pada tingkat berfikir kongkret. d. Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi. Yaitu suatu pernyataan dianggap benar sebelumnya sudah dianggap benar. Pembelajaran matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bila didasarkan atas pernyataan

berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan simbol-simbol serta ketajaman penalaran yang dapat membantu memperjelas dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Matematika di SD diutamakan agar siswa mengenal, memahami serta mahir menggunakan bilangan dalam

38

kaitannya dengan praktek di kehidupan sehari-hari (Slamet Hariyanto,1994: 66). Secara umum, tujuan diberikannya matematika di sekolah adalah untuk mempersiapkan peserta didik agar sanggup menghadapi perubahan keadaan didalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran yang logis, rasional dan kritis. Tujuan lain adalah mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Penekanan tujuan umum pendidikan matematika di sekolah adalah penataan nalar dan pembentukan sikap siswa, serta keterampilan dalam penerapan matematika. (Depdikbud, 1995). Tujuan pembelajaran matematika di SD adalah : 1) Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung (menggunakan bilangan) sebagai alat dalam kehidupan seharihari. 2) Menumbuhkan kemauan siswa, yang dialih gunakan melalui kegiatan matematika. 3) Mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar lebih lanjut disekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). 4) Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif, dan disiplin. (Depdikbud, 1994:111-112) Agar tujuan pembelajaran matematika dapat tercapai ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain perkembangan

39

kognitif anak, pengalaman belajar dan strategi pembelajaran matematika itu sendiri. Perkembangan kognitif anak melalui pengetahuan dan pemahaman konsep dasar matematika di Sekolah Dasar harus dimulai dari yang kongkret ke abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang komplek dan pengulangan materi dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa. Pengalaman belajar anak cenderung menimbulkan “luka psikologis” yang diderita siswa berkaitan dengan pendidikan matematika misalnya gurunya galak, seram, menakutkan, dan sering menghukum siswa. Hal ini dapat mengurangi minat siswa terhadap matematika,”luka-luka psikologis “tersebut harus disembuhkan terlebih dahulu. Dan guru memiliki peran yang sangat besar dalam hal ini. Menurut Sastrapraptedja (2001), proses belajar mengajar merupakan transaksi manusiawi yang sangat halus yang menuntut kepekaan dan keterampilan dalam hal hubungan antar manusia. Hubungan ini merupakan hubungan yang rapuh karena kecemasan yang ada pada siswa atau ancaman yang datang dari pengajar atau perasaan ketergantungan pada pengajar dari pihak pelajar. Sikap yang diperlukan ialah bahwa pengajar mampu menerima siswa

sebagai pribadi yang utuh. Disamping itu interaksi yang terjalin antara guru dan siswa dalam kelas harus dapat membuat siswa lebih bisa terbuka mengungkapkan kesulitan dan persoalan yang dihadapinya dalam pembelajaran matematika. Hal ini bisa dilakukan guru dengan menghadirkan dirinya sebagai sosok teman yang

40

akrab, familiar, mau terbuka untuk mendengarkan, dan membantu setiap kesulitan yang dihadapi siswa. (BASIS, 2004:51) Strategi pembelajaran merupakan pola dan urutan umum perbuatan guru dan siswa dalam mewujudkan kegiatan

pembelajaran. Strategi pembelajaran matematika adalah siasat atau kiat yang sengaja direncanakan oleh guru berkenaan dengan segala persiapan pembelajaran agar pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan lancar dan tujuan yang berupa hasil belajar bisa tercapai secara optimal. (Tim MKPBM, 2001 : 6). Strategi pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran matematika memegang peran yang penting. Strategi tersebut yaitu mengaktifkan siswa untuk belajar. Pada dasarnya strategi ini bertumpu pada 2 hal sebagai berikut : 1) Optimalisasi interaksi antar semua elemen pembelajaran (guru, siswa dan media) 2) Optimalisasi keikutsertaan seluruh sense siswa (panca indra, nalar, rasa dan karsa) Optimalisasi yang dikehendaki dapat dicapai dengan pemaduan berbagai metode secara tepat. Dalam hal ini perlu diingat bahwa tidak ada satu metodepun yang tidak memiliki kelemahan. Oleh sebab itu, kreativitas guru tetap diperlukan untuk memilih metode yang sekiranya cocok dengan kajian dan kondisi yang dihadapi (Moeseno, 1994:2). Pada prinsipnya pengajaran matematika agar berhasil harus dimulai dari operasi konkret atau

41

kerja praktek dilanjutkan ke operasi semi konkret terus ke semi abstrak dan terakhir ke operasi abstrak, antara lain : 1) Menyiapkan anak untuk belajar matematika 2) Maju dari konkret ke abstrak 3) Menyediakan kesempatan untuk berlatih dan mengulang 4) Generalisasi ke situasi baru 5) Menyadari kekuatan dan kelemahan siswa 6) Perlunya membangun fondasi yang kuat tentang konsep dan keterampilan matematika 7) Penyediaan program matematika yang seimbang 8) penggunaan kalkulator 3. Prestasi Belajar Matematika Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran yang lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru (Purwodarminto, 1993:700). Sedangkan prestasi belajar menurut beberapa ahli pendidikan adalah antara lain: a. Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes/angka nilai dari guru (Depdikbud, 1994:787).

42

b. Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai seseorang setelah melakukan proses untuk memperoleh perubahan tingkah laku kognitif, afektif, psikomotorik. (Tim MKDK IKIP Semarang, 1990:28).

c. Menurut Winkel (1991:48), prestasi belajar adalah hasil berbagai pengalaman dengan interaksi edukatif yang tampak dari perubahan tingkah laku dan meliputi aspek pengetahuan / kognitif, sikap / afektif, dan keterampilan / psikomotorik. Tingkah laku baru sebagai hasil belajar tersebut harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. Pencapaian tujuan belajar yang telah ditetapkan sebelum proses belajar b. Prestasi belajar merupakan hasil yang harus disadari. c. Prestasi belajar merupakan hasil latihan/ujicoba yang disengaja d. Prestasi belajar merupakan tindak tanduk yang berfungsi efektif dalam kurun waktu tertentu e. Prestasi belajar memiliki fungsi operasional dan potensial Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil belajar individu secara maksimal yang bertujuan penguasaan pengetahuan dan ketrampilan yang dikembangkan dari mata pelajaran yang biasanya ditunjukan dengan nilai tes yang diberikan guru. Hasil prestasi belajar matematika kita mulai dari SD sampai dengan SMA bahkan mungkin sampai perguruan tinggi belum bagus. Hal

43

ini dapat dilihat dari hasil prestasi belajar yang sangat rendah. Rata-rata nasional NEM untuk matematika sejak beberapa tahun yang lalu sangat rendah. Kurang dari 6 untuk SD, dan kurang dari 5 untuk SMA .Makin ke atas makin rendah (Marpaung, 1999). Ada berbagai alasan yang masuk akal untuk menjelaskan hal itu antara lain: a. Pembelajaran matematika di sekolah pada umumnya masih bersifat menjejalkan pengetahuan ke pikiran anak. b. Pembelajaran matematika di SD selama ini, berpusat pada guru bukan pada siswa c. Bekal yang dibawa guru dari dia dipersiapkan menjadi guru kurang memadai. d. Kurangnya penghargaan dari masyarakat terhadap profesi guru melalui pendidikan anak-anak mereka di sekolah. e. Banyaknya hukuman untuk memperlemah/ menghilangkan tingkah laku yang tidak diinginkan sehingga menyebabkan situasi belajar menjadi tegang. (BASIS, 2004.17-19). Faktor lain, yang menyebabkan prestasi belajar matematika rendah tidak terlepas dari peran dan kompetensi guru dalam proses belajarmengajar guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal. Terutama, dalam pembelajaran matematika, seorang guru matematika harus mempunyai konsekuensi sbb:

44

a) Mempunyai komitmen yang tinggi untuk mengajar (menyajikan pembelajaran) secara komprehensif dan holistik dengan metode dan pendekatan yang tepat dan proporsional. b) Senantiasa berusaha menambah pengetahuan dan keterampilan untuk mengimbangi perubahan dan dinamika ilmu pengetahuan dan pengetahuan yang terjadi, khususnya kaitan antar topik dalam matematika dan pemanfaatan oleh bidang lain. c) Berusaha dalam penelitian (khususnya penelitian kelas) untuk mengidentifikasi kelemahan dalam kegiatan pembelajaran matematika (yang terintegrasi) yang dilakukan dan selanjutnya mencari alternatif solusi yang mungkin untuk perbaikan pembelajaran dimasa datang. Konsekuensi tersebut, juga harus didukung dengan penggunaan sarana dan prasarana yang memadai dalam hal ini penggunaan media dalam pembelajaran matematika. Penggunaan media pembelajaran biasanya didasarkan atas relevansinya dengan isi dan bahan ajar, tujuan pembelajaran, waktu pembelajaran, karakteristik siswa, biaya, dan faktor yang perlu diperlukan. Dalam penelitian ini, penulis memfokuskan pada alat bantu mengajar berupa media pembelajaran kartu akselerasi yaitu efektifitas penggunaan media, karena media adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi hasil belajar khususnya mata pelajaran matematika. Dengan mengefektifkan penggunaan media, siswa diharapkan termotivasi, tertarik, berminat dan pada akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar.

45

B . Media Pembelajaran 1. Pengertian Media Menurut Lukman dalam Darhim (1993:3), media adalah sarana atau chanel, mendengar dan melihat dalam batas-batas jarak, ruang dan waktu. Kini dengan bantuan media batas-batas itu hampir tidak ada. Menurut Blake dan Horalsen dalam Darhim (1993:5) media adalah saluran komunikasi atau perantara yang digunakan untuk membawa atau menyampaikan sesuatu pesan, dimana perantara itu merupakan jalan atau alat untuk lalu lintas suatu pesan antara komunikator dan komunikan. Media pembelajaran matematika didefinisikan sebagai suatu alat peraga yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pembelajaran yang telah dituangkan dalam GBPP bidang studi matematika dan bertujuan untuk mempertinggi mutu kegiatan belajar mengajar (Darhim,1993 : 6). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran matematika adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar untuk membantu menyampaikan materi pelajaran,agar proses belajar mengajar lebih bermutu dan tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal. Dalam pembelajaran matematika penggunaan media pendidikan didasarkan pada perhitungan rasional sebagai berikut:

46

1) Obyek-obyek matematika yang abstrak perlu dicari upaya untuk dapat dipahami secara bertahap oleh peserta didik. 2) Media dapat menghasilkan keseragaman pengamatan. 3) Media dapat membangkitkan keingintahuan pada peserta didik Dienes dalam Suwito (1993:5-6) dengan teori “permainan” memandang matematika sebagai studi tentang struktur dan pengklasifikasian struktur. Konsep dan prinsip matematika dapat dipahami secara baik oleh peserta didik. Jika pertama-tama disajikan dalam bentuk konkret, karena semua abstraksi didasarkan kepada intuisi dan pengalaman konkret. Untuk mendapatkan pengalaman yang konkret tentunya membutuhkan alat bantu berupa alat peraga atau media. Dalam penelitian ini penulis menggunakan alat bantu mengajar dengan kartu akselerasi untuk pembelajaran matematika dikelas III SD dengan pokok bahasan “pecahan”. Media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran matematika dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu: 1. Media Model adalah media pendidikan matematika yang menyajikan objek pandang .Contoh: kartu, transparansi, model bangun ruang, dan sebagainya.

47

2. Media Audio adalah media pendidikan matematika yang menyajikan objek pendengaran.Contoh: penyajian kaset recorder “berpikir deduktif” 3. Media Audio-Visual adalah media pendidikan matematika yang menyajikan objek pandang dan dengar. Contoh : Slide Suara”Pengenal benda-benda”, VCD pembelajaran “Model-Model Bangun Ruang”, dan sebagainya. Berdasarkan uraian di atas, peneliti menggunakan media model yang berguna untuk membangkitkan minat anak-anak SD kelas III dalam menyelesaikan soal-soal yang ada dalam kartu akselerasi tersebut. 2. Fungsi Media pembelajaran Konsep-konsep dalam matemtika itu abstrak, sedangkan pada umumnya siswa berpikir dari hal yang kongkret menuju hal-hal yang abstrak, maka salah satu jembatannya agar siswa mampu berpikir abstrak tentang matematika adalah penggunaan media pembelajaran. Darhim (1993:10) menyatakan bahwa media pembelajaran matematika mempunyai nilai atau fungsi yang telah khusus antara lain : 1) Untuk menghindari terjadinya salah komunikasi 2) Untuk meningkatkan proses belajar mengajar 3) Untuk membangkitkan minat belajar siswa

48

4) Untuk menyajikan konsep matematika yang abstrak dalam bentuk kongkret sehingga lebih mudah dipahami, disajikan sesuai dengan tingkat berpikir siswa. 5) Untuk membantu daya pikir siswa dalam memahami sesuatu. 6) Untuk melihat hubungan konsep matematika dengan alam sekitar 7) Dapat digunakan sebagai obyek penelitian untuk menyempurnakan nilai atau manfaat dari alat itu sendiri. 8) Untuk menghindari terjadinya verbalisme. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran sangat besar peranannya dalam mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. dimengerti, dan dapat

C. Tinjauan Mengenai kartu Akselerasi Yang dimaksud dengan kartu akselerasi adalah kertas tebal berbentuk persegi panjang dengan ukuran tertentu, yang berisi soal-soal latihan matematika agar dapat mempercepat keterampilan anak-anak dalam menyelesaikan soal-soal (Bonasir, 2003 : 180). 1) Jenis dan Fungsi Kartu Akselerasi Jenis dan fungsi kartu akselerasi dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini. Tabel 6. Jenis dan fungsi kartu akselerasi

49

Jenis Kartu Kartu Akselerasi 1 Kartu Akselerasi 2 Kartu Akselerasi 3 Kartu Istimewa

Fungsi Untuk Materi Mengenal Letak Pecahan Pada Garis Bilangan dan Membandingkan 2 Pecahan Untuk Materi Menjumlahkan 2 Pecahan Berpenyebut Sama Untuk Materi Menjumlah 3 Pecahan Berpenyebut Sama Untuk Posttes dari semua materi yang telah diberikan

2) Langkah-langkah Pembuatan Kartu Akselerasi a) Membuat kartu kosong untuk siswa pria, contohnya sebagai berikut :

KARTU AKSELERASI MATERI : PECAHAN B. STUDI : MATEMATIKA Nama : .............................

Kelas

: .........................

50

Gambar 1. Kartu Akselerasi kosong untuk siswa pria

51

b) Membuat kartu kosong untuk siswa perempuan, contohnya sebagai berikut :
KARTU AKSELERASI MATERI : PECAHAN B. STUDI : MATEMATIKA

Nama Kelas

: ................................ : ................................

Wow Nilaiku

Bagian Depan

Tanda Tangan Guru Pengajar : ..................

Bagian Belakang

Gambar 2. Kartu Akselerasi kosong untuk siswa perempuan

52

c) Membuat kartu yang sudah diisi dengan soal-soal dari materi yang akan diajarkan. Contohnya sebagai berikut untuk siswa pria.

KARTU AKSELERASI MATERI : PECAHAN B. STUDI : MATEMATIKA

Menunjukan Pecahan Per berapakah daerah yang berbayang-bayang pada gambar berikut ini?

Nama Kelas

: ........................ : ........................

3

6

2

5

8

4

1

Bagian Depan
Tanda Tangan Guru Pengajar : ...............

7

9

Bagian Belakang

Gambar 3. Kartu Akselerasi yang sudah diisi dengan soal-soal untuk siswa pria

53

d) Membuat kartu yang sudah diisi dengan soal-soal dari materi yang akan diajarkan. Contohnya sebagai berikut untuk siswa perempuan :

KARTU AKSELERASI MATERI : PECAHAN B. STUDI : MATEMATIKA

Menunjukan Pecahan Per berapakah daerah yang berbayang-bayang pada gambar berikut ini?


Nama

: ........................... : ...........................

3

6

9

Kelas

2

5

8

Wow Nilaiku

4

1

Bagian Depan

7

Tanda Tangan Guru Pengajar : .............

Bagian Belakang

Gambar 3. Kartu Akselerasi yang sudah diisi dengan soal-soal untuk siswa perempuan

54

e) Berikut contoh kartu akselerasi yang telah diterapkan dan diisi oleh siswa. Bagian Depan

KARTU AKSELERASI MATERI : PECAHAN B. STUDI : MATEMATIKA

Bagian Belakang 3/4 5/6 = = 2/4 + 2/6 3/6

+

Gambar 5. Kartu Akselerasi yang sudah diisi jawaban oleh siswa

Kerjakanlah!

1/4

55

3) Kelebihan dan Kelemahan Penggunaan Kartu Akselerasi Kartu akselerasi diberikan kepada siswa setelah guru selesai menerangkan materi pelajaran.Namun, sebelumnya siswa diajak bermain matematika yang berhubungan dengan materi yang diajarkan. Para pendidik berpendapat bahwa”tidak ada metode mengajar yang terbaik. Ini berarti bahwa setiap metode pengajaran memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Demikian pula penggunaan kartu akselerasi sebagai media pembelajaran dalam proses belajar-mengajar mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan. Kelebihan kartu akselerasi dalam pembelajaran antara lain: 1. Kartu akselerasi dapat mempercepat dan memperkaya siswa dalam memperdalam materi pembelajaran 2. Kartu akselerasi dapat menumbuhkan gairah belajar siswa 3. Kartu akselerasi dapat memberi kesempatan belajar secara optimal sesuai kemampuan masing-masing 4. Desain kartu yang berwarna-warni akan menarik dan membangkitkan minat siswa. 5. Kartu akselerasi dapat mengkongkretkan konsep yang abstrak dan praktis dibawa kemana-mana. (Bonasir, 2003:178). Adapun kelemahan penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: 1. Banyak guru yang enggan untuk membuat kartu akselerasi.

56

2. Terjadinya kesalahan dalam proses pembuatan kartu akselserasi. 3. Belum tersedianya kartu akselerasi sehingga guru harus membuat sendiri. 4. Kartu akselerasi mudah hilang karena tidak dalam bentuk

buku.(Bonasir, 2003:179).

D. Mata Pelajaran Matematika Matematika merupakan mata pelajaran yang dipelajari oleh semua siswa dari SD hingga SLTA dan bahkan juga di perguruan tinggi. Berdasarkan etimologis (Elea Tinggih, 1972:5) perkataan matematika adalah ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar. Fungsi mata pelajaran matematika di sekolah sebagai alat, pola pikir, dan ilmu pengetahuan atau pengalaman.. Pelajaran matematika di sekolah seringkali menjadi momok bagi sebagian besar siswa. Selama ini matematika dianggap sebagai pelajaran yang sulit oleh sebagian besar siswa. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: adanya persepsi yang berkembang dalam masyarakat tentang matematika sebagai pelajaran yang sulit. Anggapan bahwa matematika merupakan ilmu yang kering, abstrak, teoritis, penuh lambang-lambang sehingga dan rumus yang sulit serta kurang

membingungkan,

muncul

pengalaman

yang

menyenangkan ketika belajar matematika di sekolah

57

Guru yang mengajarkan matematika seringkali berperilaku killer, cepat marah, suka mencela, sering menghukum siswa, kalau mengajar garing, terlalu cepat dan monoton. Adanya tuntutan orang tua agar anaknya mendapatkan nilai yang baik dalam pelajaran matematika membuat anak merasa tertekan dan terbebani. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pelajaran matematika selama ini menjadi momok yang menakutkan dan tidak diminati siswa, untuk itu dalam pembelajaran matematika perlu diciptakan suasana pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan. Sehingga siswa merasa senang dan tertarik dalam menerima materi pelajaran yang disampaikan guru. Struktur materi mata pelajaran matematika untuk siswa kelas III SD semester 1 adalah sebagai berikut: 1) Bilangan bulat 2) Garis bilangan 3) Perbandingan dua bilangan. 4) Pecahan 5) Waktu dan panjang 6) Bilangan cacah Materi yang dipilih untuk di ujicobakan adalah materi pecahan. Pada materi ini siswa diharapkan mampu menyelesaikan soal-soal dengan penggunaan kartu akselerasi.

58

E. Kerangka Berpikir Matematika adalah pelajaran yang dianggap sulit dipelajari dan ilmu yang menakutkan. Oleh karena itu seorang guru dituntut untuk dapat menyampaikan materi pelajaran yang dapat dengan mudah dipahami oleh siswa dan disesuaikan dengan perkembangan kognitifnya serta mampu memotivasi siswa untuk lebih tertarik dan tidak takut pada pelajaran matematika, sehingga hasil pembelajaran matematika dapat ditingkatkan. Upaya untuk berhasilnya pembelajaran dikelas perlu didukung oleh semua komponen sistem pembelajaran yang terkait. Sistem pembelajaran dimaksud didalamnya mencakup penguasaan materi oleh guru, penggunaan strategi pembelajaran yang tepat, pengelolaan kelas yang efektif, penggunaan media dan alat bantu mengajar yang relevan dan sebagainya. Sesuai dengan taraf perkembangan kognitif, siswa Sekolah Dasar kelas III pada tahap operasional kongkret, sangat dianjurkan untuk menggunakan alat bantu benda nyata atau media untuk mempermudah pemahaman konsep. Dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan media pembelajaran dapat diharapkan siswa akan tertarik, senang, dan tidak takut lagi pada pelajaran matematika. Berkaitan dengan taraf perkembangan kognitif siswa SD kelas III yang pada tahap operasi kongkret, penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran materi pecahan dapat membantu siswa dalam memahami materi, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam

59

memahami dan mendalami materi yang diajarkan. Dengan kata lain proses pembelajaran menggunakan kartu akselerasi lebih efektif dari pada yang tanpa menggunakan kartu.

F. Hipotesis Mengacu pada landasan teori dan kerangka berpikir sebagaimana yang diuraikan didepan, penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut: “Penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran matematika efektif untuk meningkatkan hasil belajar bagi siswa kelas III SD Negeri Petompon I-II Semarang tahun pelajaran 2004/2005”.

60

BAB III METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah suatu proses yang meliputi langkah-langkah dalam rangka pemecahan masalah atau dapat menjawab terhadap permasalahan yang hendak dipecahkan (Nasir,1985:51). Sedangkan metodologi penelitian mengemukakan secara teknis metode-metode yang digunakan dalam penelitian (Riyanto,1996:13). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metodologi penelitian membahas konsep umum tentang metode, sedangkan metode penelitian membahas secara teknis tentang metode yang digunakan. Adapun metode dalam penelitian ini mencakup tentang populasi dan sampel penelitian, variabel, instrumen pengumpul data, uji coba instrumen (validitas, reabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda) dan teknik analisa data.

A. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian adalah sebuah titik tolak pemikiran yang akan berguna untuk mengumpulkan data yang bermanfaat terhadap penelitian, kemudian untuk dianalisis dan mencari peranannya yang dapat digunakan sebagai pedoman yang diharapkan. Berdasarkan klasifikasi menurut jenis penelitian ditinjau dari caranya, penelitian ini termasuk penelitian eksperimen. Dengan cara ini peneliti sengaja membangkitkan timbulnya sesuatu kejadian atau keadaan, kemudian diteliti bagaimana akibatnya.(Arikunto, 2002:3). Penelitian eksperimen atau percobaan adalah penelitian yang benarbenar untuk melihat hubungan sebab akibat dan perlakuan terhadap variabel

61

bebas dilihat hasilnya pada variabel terikat (Ruseffendi dan Achmad Sanusi, 1994 : 27-32) Menurut Ruseffendi dan Sanusi (2001 : 22-31) juga memberikan karakteristik penelitian eksperimen sebagai berikut: i. ii. Ada kesetaraan subjek dalam kelompok–kelompok yang berbeda. Paling tidak ada dua kelompok/ kondisi yang berbeda pada saat yang sama atau satu kelompok tetapi untuk soal yang berbeda. iii. iv. v. vi. Variabel terikatnya diukur secara kuantitatif atau dikuantitatifkan Menggunakan statistik inferensial Adanya kontrol terhadap variabel-variabel luar Paling tidak ada satu variabel bebas yang dimanipulasikan. Desain eksperimen merupakan kerangka berpikir konseptual

bagaimana eksperimen itu dilakukan. Ada 2 fungsi desain eksperimen yaitu: 1. Memberikan kesempatan untuk membandingkan kondisi yang ditunjuk oleh hipotesis penelitian. 2. Memungkinkan peneliti membuat interpretasi dari hasil studi melalui analisis data secara statistik. Dalam desain eksperimen terdapat kelompok eksperimen yaitu kelompok yang sengaja dipengaruhi oleh variabel–variabel tertentu, misalnya dengan menggunakan media kartu akselerasi. Selain itu ada pula kelompok kontrol, yaitu kelompok yang tidak dipengaruhi oleh varabel-variabel itu, misalnya pembelajaran yang diberikan tanpa menggunakan media. Adanya kelompok kontrol dimaksudkan sebagai pembanding hingga manakah terjadi perubahan akibat variabel eksperimen tersebut (Nasution, 1995:30).

62

Dalam penelitian ini variabel yang akan diteliti pengaruhnya adalah pengunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran matematika bagi siswa kelas III SD Negeri Petompon I dan II Semarang. Kelompok eksperimen adalah siswa kelas I SD Negeri Petompon I sedangkan kontrol adalah siswa kelas III SD Negeri Petompon II. Dalam penelitian ini menggunakan pola eksperimen”Matched Group Designs”. Matched Groups Designs” , atau disebut dengan singkat pola M-G, bertitik tolak pada Group Matching. Sebelum eksperimen dilakukan, terlebih dahulu diadakan matching antara group eksperimen dan group kontrol. Antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diseimbangkan lebih dahulu

sehingga dua-duanya berangkat dari titik tolak yang sama (Sutrisno Hadi : 475). Kaitannya dengan penelitian ini yang diseimbangkan adalah nilai matematika semester II. Untuk itu peneliti, menyusun treatment dalam bentuk satuan pelajaran eksperimen dan kelompok kontrol.Treatment untuk kelompok eksperimen dalam pembelajaran matematika pokok bahasan pecahan dengan menggunakan media pembelajaran kartu akselerasi, sedangkan untuk kelompok kontrol tidak menggunakan media pembelajaran. Siswa sebagai objek penelitian diseimbangkan antara jumlah laki-laki dan perempuan, umur siswa yang sebaya, dan nilai semester II. Program satuan pelajaran, daftar nama siswa, dan umur, serta nilai ulangan semester II (Terlampir).

63

Rancangan penelitian yang digunakan dapat digambarkan sebagai berikut: Tabel 7. Desain Eksperimen Group/kelompok Eksperimen Kontrol Nilai Rapor Semester II E K Treatmen X Hasil Test Ye Yk

E K X Ye Yk

= Nilai semester II kelompok eksperimen = Nilai semester II kelompok kontrol = Pengajaran dengan menggunakan kartu akselerasi = Hasil tes pengajaran menggunakan kartu akselerasi = Hasil tes pengajaran tidak menggunakan kartu akselerasi

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi dalam penelitian adalah seluruh siswa kelas III SD N

Petompon I dan II tahun ajaran 2004/2005. Adapun ciri-ciri dan sifat populasi dalam penelitian ini adalah mempunyai usia yang sebaya, artinya perbedaan usia tidak terlalu jauh, waktu belajar yang sama, dan perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan tidak jauh berbeda yaitu laki-laki 50% dan perempuan 50%.

64

2. sampel Dalam penelitian ini sampel diambil dengan metode purposive sampling, yaitu pemilihan subyek kelompok didasarkan pada ciri-ciri tertentu yang dipandang ada kaitannya dengan sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Berdasarkan sifat populasi di atas, maka sampel penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III SD N Petompon I dan II. Dalam penelitian akan diambil sampel sebanyak 40 siswa dan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama 20 siswa sebagai kelompok eksperimen dan 20 siswa sebagai kelompok kontrol. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut: a. Dari dua kelas yang terpilih diundi untuk menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Ternyata dari hasil undian diketahui kelas III SD Negeri Petompon I Semarang sebagai kelompok eksperimen dan kelas III SD Negeri Petompon II Semarang sebagai kelompok kontrol. b. Dari masing-masing kelompok diambil masing-masing kelompok 20 anak sebagai objek penelitian dengan ketentuan umur tidak jauh berbeda. Jumlah laki-laki dan perempuan seimbang, nilai ulangan semester II tidak memiliki perbedaan jauh.

C. Variabel Penelitian Gambaran tentang variabel yang ada dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

65

1. Variabel eksperimen Sebagai variabel eksperimental dalam penelitian ini adalah penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan pecahan pada siswa kelas III SD Negeri Petompon I dan II Semarang tahun pelajaran 2004/2005. Prosedur pembelajaran matematika dengan menggunakan kartu akselerasi dirancang sebagai berikut: a. Situasi Kelas Dalam pembelajaran ini secara klasikal, tempat duduk siswa menghadap papan tulis pada saat guru menerangkan, saling berhadapan pada saat ada permainan matematika. b. Langkah-Langkah Pembelajaran: 1) Guru memotivasi siswa agar memusatkan perhatian pada pelajaran. 2) Siswa menyiapkan catatan dan buku-buku yang diperlukan dalam pembelajaran. 3) Guru menjelaskan pokok-pokok materi pelajaran dan memberi contoh –contoh soal materi pecahan. 4) Siswa diajak bermain matematika. 5) Siswa diberi kartu akselerasi yang telah diisi soal-soal latihan matematika. 6) Siswa secara individu mengerjakan soal-soal latihan dalam kartu akselerasi pada akhir sub pokok bahasan. 7) Pembahasan evaluasi

66

c. Materi pelajaran meliputi: 1) Memahami arti, letak pecahan membandingkan 2 pecahan. 2) Menjumlahkan 2 pecahan berpenyebut sama 3) Menjumlahkan 3 pecahan berpenyebut sama. Treatment ini dikenakan pada kelompok eksperimen, seperti telah diuraikan dimuka. Oleh karena itu penelitian membutuhkan dua group atau kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang dikenai treatment pembelajaran matematika dengan menggunakan kartu akselerasi. Sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok kelompok yang tidak dikenai treatment, dengan kata lain kelompok kontrol dalam pembelajaran matematika tidak menggunakan kartu akselerasi. Guru yang melaksanakan treatment harus yang menguasai materi seperti yang dimaksud dalam penelitian, untuk itu peneliti menyusun paket treatment dalam bentuk satuan pelajaran eksperimen (Terlampir) 2. Variabel non eksperimental Salah satu variabel non eksperimental adalah variabel kontrol, dimana variabel tersebut harus diseimbangkan. Cara menyeimbangkan variabel kontrol disesuaikan dengan pola eksperimen yang dipilih. Karena pola eksperimen yang dipilih pola M-G atau matching group design, maka dalam penyeimbangan dilaksanakan secara kelompok atau group matching. pada garis bilangan dan

67

Adapun variabel kontrol yang perlu diseimbangkan, beserta teknik penyeimbangannya, sebagai berikut: a. Kemampuan belajar matematika Tingkat kemampuan belajar matematika ditunjukkan dengan nilai tes semester II tahun pelajaran 2004/2005.Tingkat kemampuan belajar matematika perlu diseimbangkan karena sangat berpengaruh terhadap hasil eksperimen. b. Umur siswa Umur siswa dapat dijadikan sebagai gambaran umum tentang tingkat kematangan siswa.Banyak materi pelajaran tertentu yang oleh siswa dianggap sukar tetapi setelah mencapai umur tertentu dianggap mudah, sehubungan dengan itu maka umur siswa perlu diseimbangkan. c. Jenis kelamin siswa Jenis kelamin siswa diasumsikan berkorelasi dengan minat terhadap pelajaran matematika, maka perlu diseimbangkan. 3. Variabel ekstra Sedangkan variabel ekstra yang mungkin ada dalam penelitian adalah: kegiatan siswa diluar sekolah yang bersifat ekstra, cara belajar siswa dirumah, gizi siswa, kesehatan siswa, presensi siswa dan lainlain.Variabel ini dapat memungkinkan terjadinya kesesatan eksperimen.

68

D. Metode Pengumpulan Data 1. Metode Dokumentasi Dalam penelitian ini, dokumentasi yang dimaksud adalah data tentang nama siswa, data umur siswa, dan data nilai semester II (Terlampir). Adapun alasan peneliti menggunakan teknik dokumentasi adalah: a. Dokumen biasanya ada, tersedia dan tersimpan secara rapi, sehingga memudahkan peneliti mendapatkan data yang diperlukan. b. Dokumentasi adalah berupa catatan-catatan penting dan penulisannya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. 2. Metode tes Tes yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data akhir tentang prestasi belajar siswa, setelah perlakuan diberikan kepada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Alat tes yang digunakan sama untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yaitu tes formatif, tetapi dilakukan secara terpisah. Peneliti menggunakan tes formatif karena ingin mengetahui efektivitas media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran matematika pada kelompok eksperimen. Selanjutnya data hasil tes dianalisis dengan rumus yang telah ditentukan. Adapun tehnik penyusunan perangkat tes sebagai berikut: a. Pembatasan terhadap bahan yang akan diujikan Bahan yang akan diujikan adalah pokok bahasan pecahan

69

b. Menentukan waktu yang disediakan untuk tes Waktu yang disediakan untuk mengerjakan tes adalah 60 menit c. Menentukan jumlah butir soal Banyaknya soal yang digunakan 30 butir dengan waktu pengujian ratarata 2 menit tiap soal. d. Menentukan bentuk soal Bentuk soal yang dipilih adalah objektif pilihan ganda dengan 4 alternatif jawaban (option).Tes objektif pilihan ganda dengan 4 alternatif jawaban dipilih dengan pertimbangan: 1) Lebih representatif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat menghindari campur tangannya unsur-unsur subjektif baik dari siswa maupun guru. 2) Lebih mudah dan cepat dalam memeriksanya. 3) Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain. 4) Dalam pemeriksaannya tidak ada unsur subjektivitas yang mempengaruhi.(Arikunto,1999:164-165) e. Menentukan kisi-kisi soal f. Uji coba perangkat tes Setelah soal tersusun, kemudian dilakukan uji coba perangkat tes serta dianalisis keterhandalannya.Uji coba dilakukan pada kelas IV SD Negeri Petompon II Semarang dengan siswa sebanyak 32 orang yang bukan kelompok sampel.

70

E. Metode Penyusunan Instrumen Untuk melakukan penelitian eksperimen ini ditempuh tahapan-tahapan dalam penyusunan instrumen sebagai berikut : 1. Tahap persiapan pelaksanaan eksperimen a. Menyusun rancangan pembelajaran Setelah menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, peneliti menyusun satuan pelajaran (Satpel) sebelum melaksanakan penelitian didalam kelas. Adapun pokok bahasan yang ditentukan untuk kedua kelompok sama yaitu pecahan. Satuan pelajaran dirancang untuk 6 jam pelajaran masing-masing 40 menit, 3X pertemuan. b. Merancang pembelajaran bermedia Setelah satuan pelajaran dirancang, peneliti memilih alat yang akan digunakan untuk membantu dalam pembelajaran berupa alat bantu mengajar/media. Peneliti ini menggunakan kartu akselerasi sebagai alat bantu mengajar yang terbuat dari kertas tebal berwarnawarni berbentuk persegi panjang yang berisi soal-soal matematika (Bonasir, 2003:177). Status media : sebagai penutup artinya media ini digunakan dalam pembelajaran untuk membantu siswa dalam memperjelas pelajaran dan mempercepat dalam mendalami soal-soal yaitu, pecahan

71

dengan tujuan menarik minat siswa dan selanjutnya memotivasi siswa untuk aktif menyelesaikan soal-soal dalam pembelajaran matematika. c. Penyusunan instrumen penelitian Langkah-langkah yang ditempuh dalam penyusunan instrumen penelitian ini yakni berupa tes formatif adalah membuat batasanbatasan materi yang akan diajarkan. Pada penelitian ini bahan yang diajarkan adalah materi pelajaran matematika kelas III tahun 2004/2005 dengan pokok bahasan pecahan. Dari materi tersebut disusun alat ukur berupa tes formatif, berbentuk objektif tes pilihan ganda sejumlah 30 soal dengan option (alternatif jawaban) 4 dalam waktu 60 menit.Tes tidak distandart dibuat oleh guru dengan bantuan kisi-kisi yang disesuaikan dengan kurikulum Sekolah Dasar tahun 2002 yang disempurnakan. Setelah perangkat tes tersusun kemudian dilakukan uji coba instrumen pada kelas IV SD N Petompon II Semarang. Tujuan uji coba tersebut adalah untuk mengetahui apakah instrumen layak digunakan sebagai alat pengambilan data atau tidak. Indikatornya adalah dengan menghitung validitas dan reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran. 1. Validitas Tes Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan validitas item atau validitas butir soal. Hal ini karena peneliti ingin mengetahui valid dan tidaknya instrumen atas dasar kevalidan soal setiap butir

72

soal, sehingga instrumen tersebut nantinya dapat digunakan secara efektif. Suatu instrumen dikatakan valid apabila instrumen tersebut dapat dengan tepat mengukur apa yang hendak diukur dan instrumen yang valid mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti validitasnya rendah. Adapun tehnik yang digunakan untuk menganalisis validitas tes digunakan rumus korelasi product moment angka kasar Pearson sebagai berikut : rxy = N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )

{N ∑ X

2

(∑ X )}{N ∑ Y − (∑ Y )}
2 2 2

Keterangan : Rxy = Koefisien Korelasi antara X dan Y X Y N = Skor tiap item = Skor total = Jumlah responden atau peserta

(Arikunto, 2002:162) Hasil rxy dikonsultasikan dengan harga rtabel, dengan taraf signifikansi tertentu maka harga rxy >rtabel maka kerangka tes dinyatakan valid. Sedang item soal yang tidak valid tidak digunakan lagi dalam penelitian (Arikunto, 1996:160). 2. Reliabilitas Tes Suatu instrumen yang baik hendaknya memiliki reliabilitas yang tinggi yaitu dapat dipercaya dan memberikan hasil yang tetap.. Menurut Arikunto reliabilitas yaitu : ”Tingkat keajegan atau

73

ketepatan dalam mengungkapkan gejala tertentu dari sekelompok individu meskipun dilakukan pada waktu yang berbeda”. Sebuah tes dikatakan reliabel apabila tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Reliabel tes dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan rumus Kuder-Richarson K-R20, sebagai berikut:
 K   Vt − ∑ pq   r11=    Vt  K −1    Keterangan : r11 K Vt P = Reliabilitas instrumen = Banyaknya butir pertanyaan = Varians total = Proporsi subjekyang menjawab betul pada sesuatu butir (proporsi subjek yang mendapat skor 1)

∑ pq
q

= Hasil perkalian antara p dan q = Proporsi subjek yang mendapat skor 0 (q = 1-p)

(Arikunto, 2002:163) r11 yang diperoleh dikonsultasikan dengan rtabel product moment dengan taraf signifikansi tertentu. Jika r11> rtabel, maka instrumen tersebut reliabel. 2. Daya Pembeda Soal Bila siswa yang pandai lebih banyak menjawab benar dari pada siswa yang kurang pandai maka soal itu mempunyai daya pembeda yang

74

baik. Sebaliknya jika siswa yang kurang pandai menjawab lebih banyak benar dari pada siswa yang pandai maka soal itu mempunyai daya pembeda yang jelek. Untuk menentukan daya pembeda soal, diambil 50% kelompok atas dan 50% kelompok bawah. Untuk menghitung daya pembeda soal dari alat ukur yang digunakan rumus, sebagai berikut :

D=

BA BB − = PA − PB JA JB

Keterangan : D JA JB = Indeks diskriminasi = Banyaknya peserta kelompok atas = Banyaknya peserta kelompok bawah

BA = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan benar JB = Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar PA = Proporsi kelompok atas yang menjawab benar PB = Proporsi kelompok bawah yang menjawab benar

Klasifikasi untuk daya pembeda adalah sebagai berikut : 0,00 < D ≤ 0,20 adalah soal jelek 0,20 < D ≤ 0,40 adalah soal cukup 0,40 < D ≤ 0,70 adalah soal baik 0,70 < D ≤ 1,00 adalah soal baik sekali

75

Soal dengan D: negatif, semuanya tidak baik (Arikunto, 1996:213-214) 3. Indeks Kesukaran Tehnik perhitungannya adalah dengan menghitung berapa tes yang gagal menjawab benar atau memperoleh skor nilai dibawah lulus untuk tiap-tiap soal. Dalam penelitian ini, untuk menghitung taraf kesukaran item soal digunakan rumus :

P =

B JS

Keterangan : P = Indeks kesukaran B = Banyaknya siswa yang menjawab soal betul JS = Jumlah seluruh peserta tes Untuk mengetahui taraf kesukaran item soal dilakukan dengan mengkonsultasikan skor P yang diperoleh dari perhitungan dengan indeks kesukaran yaitu : 0,00 < P ≤ 0,30 adalah soal sukar 0,30 < P ≤ 0,70 adalah soal sedang 0,70 < P ≤ 1,00 adalah soal mudah (Arikunto, 1997:208-210)

F. Hasil Uji Coba Instrumen Penelitian

76

Instrumen diujicobakan pada 32 responden. Hasil analisis uji coba soal dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 8. Hasil Uji Coba Instrumen Tingkat Validitas No rhitung 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 0.566 0.593 0.297 0.429 0.327 0.556 0.393 0.658 0.557 0.319 0.488 0.588 0.251 0.329 0.447 0.617 0.412 0.502 0.455 0.560 rtabel 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 Kriteria Valid Valid Tidak Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Tidak Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid DP 0.25 0.50 0.19 0.50 0.19 0.38 0.19 0.31 0.25 0.25 0.25 0.31 0.13 0.06 0.50 0.50 0.31 0.25 0.25 0.44 Kriteria Cukup Baik Jelek Baik Jelek Cukup Jelek Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Jelek Jelek Baik Baik Cukup Cukup Cukup Baik Daya Pembeda Kesukaran IK 0.69 0.69 0.84 0.69 0.28 0.44 0.28 0.84 0.88 0.81 0.63 0.84 0.25 0.91 0.69 0.75 0.78 0.69 0.88 0.66 Kriteria Sedang Dipakai Sedang Dipakai Mudah Dibuang Sedang Dipakai Sukar Dibuang Sedang Dipakai Sukar Dibuang Mudah Dipakai Mudah Dipakai Mudah Dibuang Sedang Dipakai Mudah Dipakai Sukar Dibuang Mudah Dibuang Sedang Dipakai Mudah Dipakai Mudah Dipakai Sedang Dipakai Mudah Dipakai Sedang Dipakai Ket

77

21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

0.218 0.490 0.208 0.455 0.238 0.400 0.405 0.535 0.553 0.431 0.391 0.542 0.452 0.366 0.453 0.588 0.588 0.289 0.471 0.455

0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349 0.349

Tidak Valid Tidak Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid

0.19 0.38 0.06 0.25 0.13 0.31 0.25 0.44 0.44 0.31 0.25 0.63 0.38 0.25 0.44 0.31 0.31 0.06 0.44 0.25

Jelek Cukup Jelek Cukup Jelek Cukup Cukup Baik Baik Cukup Cukup Baik Cukup Cukup Baik Cukup Cukup Jelek Baik Cukup

0.78 0.75 0.72 0.88 0.88 0.66 0.81 0.78 0.28 0.28 0.88 0.56 0.50 0.88 0.66 0.84 0.84 0.97 0.59 0.88

Mudah Dibuang Mudah Dipakai Mudah Dibuang Mudah Dipakai Mudah Dibuang Sedang Dipakai Mudah Dipakai Mudah Dipakai Sukar Dipakai Sukar Dipakai Mudah Dipakai Sedang Dipakai Sedang Dipakai Mudah Dipakai Sedang Dipakai Mudah Dipakai Mudah Dipakai Mudah Dibuang Sedang Dipakai Mudah Dipakai

Berdasarkan ringkasan hasil uji coba soal tersebut di atas terlihat bahwa dari 40 butir soal yang diujicobakan, 10 soal di antaranya tidak memenuhi kriteria yaitu no soal 3,5,7, 10,13, 14, 21,23, 25 dan 38 sehingga tidak digunakan untuk alat pengambilan data penelitian. Dilihat dari reliabilitasnya diperoleh koefisien reliabilitas instrumen sebesar 0,844. Pada taraf kesalahan 5% dengan n = 32 diperoleh rtabel 0,349.

78

Karena r11 > rtabel maka disimpulkan bahwa instrumen tersebut reliabel dan dapat digunakan untuk pengumpulan data penelitian.

G. Metode Analisis Data
Yang dimaksud dengan analisis data adalah metode untuk mengolah data yang diperoleh dari hasil tes dan data dokumentasi. Data penelitian berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Dalam penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif, yaitu menggunakan bantuan formula statistik. 1. Analisis tahap Awal Sebelum penelitian terlebih dahulu dilakukan Matched Group

Design atau M-G, ke titik tolak pada Group Matching. Sebelum suatu
eksperimen dilakukan terlebih dahulu diadakan matching antara kelompok eksperimen dan kelompok pembanding “diseimbangkan” lebih dahulu sehingga kedua duanya berangkat dari titik yang sama (Hadi, 1995:475). Dalam penelitian ini, matching dilakukan terhadap nilai hasil belajar siswa yang diambil dari nilai semeter II. Pola M-G terdiri dari tiga langkah yaitu : a. Mean matching Mean matching adalah persamaan dari group-group yang turut dalam eksperimen yaitu kelompok eksperimen dan kelompok pembanding/kontrol. Apabila mean kedua kelompok itu sama atau hampir sama, maka dikatakan data telah di matching. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

79

Me =

∑ Xe ne
∑ Xk nk

Mk =

b. Varians matching Varians matching digunakan untuk mempersamakan antara varian dari kedua kelompok. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

f (n b − 1, n k − 1) =
Keterangan :

Vb Vk

Vb : varians yang lebih besar Vk : varians yang lebih kecil nb nk : jumlah subyek yang mempunyai varians besar : jumlah subyek yang mempunyai varians kecil

(Hadi, 1995:477) Hasil perhitungan yang dilakukan terhadap data yang ada dibandingkan dengan nilai F tabel distribusi F dengan taraf signifikansi 5% sehingga dapat diketahui apakah varians-varians tersebut berbeda atau tidak. Jika Fdata< Ftabel maka dikatakan kedua kelompok berasal dari populasi yang sama. c. t-matching

80

t-matching merupakan perpaduan antara mean matching dengan variance matching. Rumus yang digunakan dalam t-matching adalah sebagai berikut : t= Mk − Me SD 2 Mk + SD 2 Me

Derajat kebebasan dalam rumus ini adalah nk + ne –2 dengan: SD 2 M k = SD 2 M e SD 2 k , SD 2 Me = n k −1 ne −1

Keterangan : Mk Me SD2Mk SD2Me nk ne : mean kelompok kontrol : mean kelompok eksperimen : varians matching kelompok kontrol : varians matching kelompok eksperimen : banyaknya anggota kelompok kontrol : banyaknya anggota kelompok eksperimen

(Hadi, 1995:480) 2. Analisis Tahap Akhir Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan uji statistika uji-t pihak kanan (Sudjana, 1992:237). Setelah kedua kelompok diuji homogenitasnya. Uji homogenitas atau (uji kesamaan dua varians) rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: Ho : σ12 = σ22 Ha : σ12 ≠ σ22

81

F=

S1 S2

2 2

Diterima jika Ho Fhitung<Ftabel Ditolak Ho jika Fhitung>Ftabel (Sudjana, 1992:249).

a. Uji perbedaan rata-rata Untuk menguji perbedaan rata-rata maka pasangan hipotesis yang akan diuji yaitu: Ho = µ1 ≤ µ 2 : nilai rata-rata post test kelompok eksperimen kurang dari atau sama dengan nilai rata-rata kelompok kontrol. Ha = µ1 φ µ 2 : nilai rata-rata post test kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol Untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan digunakan uji t satu pihak (pihak kanan). Penggunaannya dibedakan menjadi dua yaitu: 1) Jika data mempunyai varians yang sama maka statistik yang digunakan adalah statistik t test, yang dapat dituliskan sebagai berikut.

t=

X1 − X 2 dengan S = 1 1 S + n1 n2

(n1 − 1)S1 2 + (n2 − 1)S 2 2
n1 + n2 − 2

Kriteria keputusan : Ho diterima jika t hitung < t1−α dan Ho ditolak jika t mempunyai harga yang lain dengan α = 5% dan dk = n1+ n2-2. (Sudjana, 1996:243)

82

X1
X2

= = = = = = =

rata-rata prestasi belajar kelompok eksperimen rata-rata prestasi belajar kelompok kontrol banyaknya kelompok eksperimen banyaknya kelompok kontrol simpangan baku kelompok eksperimen simpangan baku kelompok kontrol simpangan baku gabungan

n1

n2
S1 S2
S

2) Jika data tidak memiliki kesamaan varians, maka rumus yang digunakan sebagai berikut.

t1 hitung =

X1 - X 2
2 s1 s2 + 2 n1 n 2

Kriteria pengujian menurut Sudjana (1996:237), tolak H0 jika;
t1 ≥ w 1t 1 + w 2 t 2 w1 + w 2 dan terima Ho jika terjadi sebaliknya,

dengan w1 =

2 s1 s2 dan w 2 = 2 n1 n2

t1 = t t2 = t
α

(1 -α ), ( n 1 - t ); (1 -α ), ( n 2 -1 )

= taraf nyata

83

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Data Kondisi Awal
Data kondisi awal siswa dapat dilihat dari hasil matching yang meliputi jenis kelamin, umur dan prestasi siswa semester II. Analisis matching terhadap jenis kelamin dan umur siswa menggunakan uji chi kuadrat sedangkan prestasi belajar siswa menggunakan rumus mean matching, varians matching dan t matching. 1. Jenis kelamin siswa Data tentang jenis kelamin responden penelitian dapat dilihat pada tabel 9 berikut ini. Tabel 9. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden Penelitian Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total f % Kelompok Eksperimen Kontrol 10 10 50% 50% 10 10 50% 50% 20 20 100% 100% Total 20 50% 20 50% 40 100%

Berdasarkan tabel tersebut tampak bahwa siswa perempuan dari kedua kelompok sama-sama 10 orang, demikian juga dengan siswa lakilaki yaitu sebanyak 10 orang juga. Dari hasil uji chi kuadrat diperoleh χ2hitung = 0,000 dengan signifikansi 1,000 > 0,05, yang berarti Ho

diterima. Dengan diterimanya Ho menunjukkan bahwa kedua kelompok mempunyai kondisi yang sama ditinjau dari jenis kelaminnya. 2. Umur siswa

84

Data tentang jenis kelamin responden penelitian dapat dilihat pada tabel 10 berikut ini. Tabel 10. Distribusi Frekuensi Umur Responden Penelitian Jenis Kelamin 10 th 11 th 9 th Total f % f % f % Kelompok Eksperimen Kontrol 2 1 7.5% 2.5% 1 0 2.5% 2.5% 17 19 90% 95% 20 20 100% 100% Total 3 15% 1 5.0% 36 80% 40 100%

Berdasarkan tabel tersebut tampak bahwa pada kelompok eksperimen terdapat 2 siswa yang berumur 10 tahun, 1 siswa berumur 11 tahun dan 17 siswa berumur 9 tahun, sedangkan pada kelompok kontrol terdapat 1 siswa berumur 10 tahun dan 19 siswa berumur 9 tahun. Dari hasil uji chi kuadrat diperoleh χ2hitung = 1,444 dengan signifikansi 0,486 > 0,05, yang berarti Ho diterima. Dengan diterimanya Ho menunjukkan bahwa kedua kelompok mempunyai kondisi yang sama ditinjau dari jenis umurnya yaitu berkisar antara 9-11 tahun. 3. Deskripsi kemampuan awal Untuk mengetahui kondisi kemampuan awal siswa, maka digunakan nilai semester II. Untuk mengetahui kesepadanan kondisi awal siswa tersebut dilakukan dengan melihat kesepadanannya ditinjau dari rata-rata dan variansnya. Hasil pengujian data kemampuan awal tersebut adalah sebagai berikut : a. Mean Matching

85

Dalam mencari mean dimaksudkan untuk mencari persamaan rata-rata kedua kelompok. Dari perhitungan pada lampiran diperoleh rata-rata nilai semester II pada kelompok eksperimen yaitu 7,60 dan rata-rata nilai semester II pada kelompok kontrol yaitu 7,60. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa ada kesepadanan rata-rata nilai semester II dari kedua kelompok. b. Varian Matching Varian matching ini dimaksudkan untuk mengetahui kesamaan varian kedua kelompok. Dari hasil perhitungan uji kesamaan varian pada lampiran diperoleh Fhitung = 0,00 < F0,025
(37:41)

= 2,53. Karena

Fhitung < Ftabel sehingga dapat disimpulkan nilai semester II dari kedua kelompok tidak berbeda variannya. c. t Matching Perhitungan t matching ini dimaksudkan untuk mengetahui kesamaan rata-rata nilai semester II dari kedua kelompok. Dari perhitungan pada lampiran diperoleh hasil yaitu thitung = 0,00. Pada taraf signifikasi 5% dengan dk = 20+20-2 = 38 diperoleh F(0,975)(38) = 2,02. Dengan demikian diketahui bahwa thitung < ttabel dan terletak pada daerah penerimaan 2,02 < t < 2,02. Hal ini menunjukkan bahwa Ho diterima yang berarti tidak ada perbedaan rata-rata nilai semster II dari kedua kelompok atau dapat dikatakan pula bahwa kedua kelompok memiliki kesepadanan atau memiliki kemampuan awal yang sama atau homogen. 4. Analisis Tahap Akhir

86

Uji normalitas data prestasi belajar siswa Uji kenormalan data hasil belajar mata pelajaran matematika pada kelompok eksperimen yaitu kelas III SD semester I yang menggunakan kartu akselerasi diperoleh harga χ2hitung = 2,3730 dan hasil uji kenormalan data hasil belajar mata pelajaran matematika pada kelompok kontrol yaitu kelas III SD semester I diperoleh χ 2hitung = 1,5958, sedangkan χ 2(0,95)(3) = 7,81. Karena χ2hitung < χ 2tabel, maka data hasil belajar mata pelajaran matematika pada siswa kelas III SD semester I kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tersebut berdistribusi normal. Uji kesamaan dua varians nilai hasil belajar Hasil uji kesamaan dua varians data hasil belajar mata pelajaran matematika kelas II SD semester I pada kelompok eksperimen yang menggunakan kartu akselerasi dan hasil belajar mata pelajaran matematika kelas II SD semester I pada kelompok kontrol memperoleh Fhitung = 1,6411 sedangkan F(0,025)(37:41) = 2,53. Karena Fhitung < F(0,025)(37:41) berarti tidak ada perbedaan (ada kesamaan) dua varians data hasil belajar mata pelajaran matematika kelas II SD semester I pada kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.

Uji perbedaan rata-rata hasil belajar siswa

87

Rata-rata hasil belajar matematika kelas III SD semester I pada kelompok eksperimen yaitu yang menggunakan kartu akselerasi adalah 8,17 dan pada kelompok kontrol 7,47. Setelah dilakukan analisis data dengan menggunakan uji t diperoleh thitung = 3,045. Sedangkan t(0,975)(38) = 2,02. Karena thitung > t(0,975)(38) maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak yang berarti bahwa ada perbedaan rata-rata hasil belajar matematika kelas III SD semester I pada kelompok eksperimen yang menggunakan kartu akselerasi dengan rata-rata hasil belajar matematika kelas III SD semester I pada kelompok kontrol yang tidak menggunakan kartu ekselarasi. Ratarata hasil belajar siswa yang mendapatkan pengajaran matematika dengan kartu akselerasi yaitu 8,17 sedangkan hasil belajar siswa yang tidak menggunakan kartu akselerasi hanya 7,47. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa pembelajaran matematika kelas III SD semester I dengan menggunakan kartu akselerasi cukup efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Perkembangan Belajar Siswa Walaupun secara umum pembelajaran matematika kelas III SD semester I dengan menggunakan media berupa kartu akselerasi cukup efektif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, akan tetapi dalam perkembangannya saat proses pembelajaran berlangsung menunjukkan adanya penurunan perkembangan hasil belajar siswa pada tahap pembelajaran yang ke IV. Lebih jelasnya hasil perkembangan belajar siswa tersebut dirangkum pada tabel 11 berikut : Tabel 11. Perkembangan Belajar Siswa Dengan Media Kartu Akselerasi

88

Perkembangan I II III IV

Kelompok Eksperimen 6,29 9.86 9,19 7.68

Kelompok Kontrol 5,68 8,53 8,18 7,31

Sumber : Data Penelitian, Diolah Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa perkembangan

kemampuan belajar siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan kartu akselerasi pada tahap perkembangan yang pertama adalah kurang memuaskan. Pada perkembangan kedua dan ketiga sudah tampak adanya peningkatan hasil belajar dan pada perkembangan ke empat mengalami penurunan hasil belajar. Penurunan hasil belajar pada tahap perkembangan ke keempat tersebut seiring dengan semakin kompleksnya materi yang diajarkan dan bukan disebabkan ketidak efektifan penggunaan media.

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil uji kesamaan rata-rata data keadaan awal yang berupa nilai semester II dengan menggunakan pola matching group dapat diketahui bahwa kedua kelompok tidak mempunyai perbedaan varian dan perbedaan rata-rata kemampuan awal (nilai semester II) yang signifikan, sehingga dapat dikatakan kedua kelompok mempunyai keadaan awal yang sama. Setelah diberi perlakuan berupa pembelajaran dengan menggunakan kartu akselerasi pada kelompok eksperimen dan pembelajaran yang tidak menggunakan kartu akselerasi pada kelompok kontrol, diperoleh suatu temuan yaitu adanya perbedaan rata-rata hasil belajar yang signifikan dan kelompok

89

eksperimen

yaitu

pembelajaran

yang

menggunakan

kartu

akselerasi

mempunyai rata-rata hasil belajar yang lebih tinggi atau lebih baik daripada rata-rata hasil belajar dari kelompok kontrol yang tidak menggunakan kartu akselerasi. Dengan hasil penelitian di atas, maka penggunaan kartu akselerasi dalam pengajaran matematika kelas III SD semester I lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Melalui pengajaran dengan menggunakan kartu akselerasi mampu menginformasikan materi pelajaran kepada siswa secara jelas sehingga siswa mampu memahami dan menyelesaikan soal-soal materi pelajaran tersebut secara baik. Melalui alat bantu berupa kartu akselerasi, materi matematika yang sifatnya abstrak dapat disajikan secara kongkret dan melibatkan seluruh panca indera siswa. Melalui alat bantu ini siswa menjadi lebih termotivasi, tertarik, berminat dan pada akhirnya mampu meningkatkan keaktifan siswa saat proses pembelajaran. Dengan adanya keaktifan tersebut akan menumbuhkan motivasi belajar yang tinggi pada siswa dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap prestasi belajar.Hal ini juga didukung dari hasil penelitian sebelumnya oleh Vernon a. Magnesen dalam De Porter (2001:57) yang menyatakan bahwa “Kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50 % dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan”. Berdasarkan hasil penelitian De Porter tersebut secara teoritis maka penggunaan kartu akelerasi yang didahului dengan permainan matematika maka hasil yang diprediksi dapat mencapai 70%, sebab siswa tidak hanya

90

mendengarkan, melihat apa yang diajarkan guru, namun mereka lebih aktif, sedangkan kelompok kontrol menggunakan model konvensional, keaktifan lebih didominasi oleh guru, siswa relatif memfungsikan indra penglihatan dan pendengaran, sehingga secara teoritis pengetahuan akan mengendap sampai 50%. Hasil akhir yang dicapai dengan penggunaan media pembelajaran berupa kartu akselerasi adalah adanya peningkatan hasil belajar siswa. Dilihat dari perkembangan saat kegiatan pembelajaran berlangsung diperoleh suatu informasi bahwa perkembangan para siswa dalam mengalami penurunan seiring dengan semakin kompleknya materi yang dikaji. Hasil kajian terhadap pelaksanaan pembelajaran tersebut, ternyata menurunnya kemampuan siswa dari tahap perkembangan kedua ke tahap perkembangan berikutnya lebih didominasi oleh semakin kompleknya materi yang diberikan kepada siswa dan kurangnya kesiapan siswa untuk mengikuti evaluasi di tiap akhir pembelajaran. Oleh karena itu dalam kegiatan evaluasi untuk mengetahui perkembangan siswa, maka materi evaluasi diusahakan lebih sederhana dan berisi materi-materi yang sedang dipelajari siswa pada setiap tahap pembelajaran. Melakukan kegiatan evaluasi dengan menggunakan materi yang komplek yaitu seluruh materi yang telah disampaikan kepada

siswa seperti yang terjadi pada penelitian ini kurang dapat mengungkap perkembangan siswa secara spesifik di setiap tahap perkembangan. Disamping cukup memakan waktu, pelaksanaan evaluasi seperti ini akan menyulitkan siswa karena siswa banyak yang tidak siap untuk menyelesaikan soal yang berisi materi yang telah lalu.

91

Disisi lain, dalam penggunaan kartu akselerasi tersebut mengalami kendala-kendala yang harus dihadapi antara lain: banyaknya guru yang enggan untuk membuat kartu akselerasi, terjadinya kesalahan dalam proses pembuatan kartu akselerasi, belum tersedianya kartu akselerasi sehingga guru harus membuatnya sendiri dan kartu tersebut mudah hilang karena tidak dalam bentuk buku.(Bonasir, 2003:179). Berdasarkan hasil penelitian secara umum menunjukkan bahwa penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran matematika cukup efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa di SD N Petompon I Semarang dari pada pembelajaran secara konvensional di SD N Petompon II Semarang.

92

BAB V PENUTUP

A. Simpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan pemahaman dan keaktifan siswa kelas III semester I SD N Petompon I Semarang dalam menyelesaikan soal-soal matematika sehingga hasil belajar siswa meningkat. 4. Kendala-kendala yang dihadapi dalam penelitian ini, antara lain:

banyaknya guru yang enggan untuk membuat kartu akselerasi, terjadinya kesalahan dalam proses pembuatan kartu akselerasi, belum tersedianya kartu akselerasi sehingga guru harus membuatnya sendiri dan kartu tersebut mudah hilang karena tidak dalam bentuk buku.

Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh, maka peneliti memberikan saransaran sebagai berikut. Penggunaan kartu akselerasi dalam pembelajaran matematika perlu dikembangkan oleh guru pada konsep lain yang memiliki permasalahan yang sama.

93

Guru hendaknya mampu membuat kartu akselerasi dengan memanfaatkan segala potensi dan kreativitas yang dimiliki agar tercipta suasana pembelajaran yang menyenangkan. Bagi peneliti lain dapat melakukan penelitian dengan membandingkan hasil belajar yang menggunakan kartu akselerasi dan yang menggunakan LKS, serta menambah populasi yang lebih luas sehingga hasilnya dapat digeneralisasikan kearah yang lebih luas.

94

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Mulyono. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : Depdikbud dan Rineka Cipta Ali, Mohamad 1987. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung. Angkasa. Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta Bahri Jamarah, Syaful dan Zain Aswan, 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta ------- BASIS Menembus Fakta(Edisi Khusus Pendidikan Matematika).nomor 0708; Tahun Ke 53 Juli-Agustus 2004.Yogyakarta:Yayasan BP Basis. Darhim . 1993. Workshop Matematika .Jakarta : Depdikbud Darsono, Max. 2000. Belajar Dan Pembelajaran, Semarang : IKIP Semarang Press. Depdiknas. 2003. Bunga Rampai Keberhasilan Guru Dalam Pembelajaran atau Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Depdiknas Hadi,MA.1985.Metodologi Research 4.Yogyakarta:Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM. Haryanto, Slamet. 1994. Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun. Jakarta : Duta Nusindo Hudoyo, Herman.1988.Mengajar &P2LPTK.
Belajar Matematika

.Jakarta:Depdikbud

Khafid,M &Suyati.2002.Pelajaran Matematika Penekanan Pada Berhitung 3A. Jakarta : Erlangga. Latuheru, John D.1988.Media Pembelajaran Dalam Proses Belajar Mengajar Masa Kini.Jakarta:Depdikbud &P2 LPTK M.Amin,Siti & Zaini M.Saini.2001.Matematika SD di Sekitar Kita Jilid 3A. Jakarta:ESIS. MATRIK. 2003. Edisi Oktober

95

Margono ,S.2000.Metodologi Penelitian Pendidikan.Jakarta.Rineka Cipta. Nasution.S. 2003. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar dan Mengajar. Bandung : Bumi Aksara Poerwodarminto, Wjs. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka Rahman, Maman . 1996. Metodologi Research. Yogyakarta : Sinar Baru. Reffles.2002.Belajar Praktis Matematika SD.Surakarta. Sadiman, Arif S. 1984. Media Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Simanjutak, Lisnawaty dkk, 1993. Metode Mengajar Matematika 1. Jakarta : Rineka Cipta. Sriningsih Satmoko, Retno . 1999. Proses Belajar Mengajar II. Semarang : IKIP Semarang Press. Soemanto, Wasty .1998.Psikologi Pendidikan .Jakarta: PT.Rineka Cipta. S.P, Muchtar.2002.Matematika 3B SD.Jakarta:Yudhistira. Sugiyono. 1997. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : ALFABETA. Sugiyono.1997.Metode Penelitian Administrasi.Bandung:ALFABETA. Suminarsih. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika. Makalah disampaikan dalam Penataran Guru di LPMP Jawa Tengah:LPMP Jawa Tengah Suryabrata, Sumadi.1998.Psikologi Pendidikan. Jakarta:Raja Grafindo Persada. Tim Matematika. 2003. Cerdas Matematika 3A. Jakarta : Yudhistira Uzer Usman,Moh.2002.Menjadi Guru Profesional.Bandung:Remaja Rosda Karya. Winkel.W.s. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

96

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->