P. 1
012 BAB IV

012 BAB IV

|Views: 240|Likes:
Published by kit48
Keran wudhu otomatis menggunakan sensor inframerah
Keran wudhu otomatis menggunakan sensor inframerah

More info:

Published by: kit48 on Sep 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2014

pdf

text

original

BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN ALAT

4.1.

Tujuan Pengukuran dan pengujian alat bertujuan agar dapat diketahui sifat dan

karakteristik tiap blok rangkaian dan fungsi serta cara kerja alat secara keseluruhan, sehingga dapat dibandingkan antara perancangan yang dibahas pada bab 3 dengan hasil pengukuran yang dilakukan. Pengukuran dilakukan pada tiaptiap blok rangkaian yang dianggap penting. Adapun pengukuran dan pengujian yang dilakukan terhadap sistem sebagai berikut: 1. Pengukuran dan pengujian tegangan catu daya. 2. Pengujian dan Pengukuran Rangkaian Transmitter Infra Merah 3. Pengujian dan Pengukuran Rangkaian Detektor Infra Merah 4. Pengukuran Rangkaian Komparator 5. Pengukuran Rangkaian Logika 6. Pengukuran Rangkaian Driver Relai 7. Pengujian Alat secara keseluruhan

42

4.2.

Pengukuran Tegangan Catu Daya Pada percobaan ini dilakukan pengukuran setiap tegangan keluaran

rangkaian catu daya yang menggunakan IC regulator LM7805 dan IC LM7812

4.2.1. Pengukuran Tegangan Catu Daya pada IC LM7812 • • • • Nyalakan catu daya. Beri rangkaian regulator tegangan catu daya 12 volt. Atur range multimeter pada 20 Volt. Ukur tegangan keluaran dengan probe positif dari positif rangkaian dan probe negatif dari negatif rangkaian.

Rangkaian Catu Daya LM7812 Digital Multimeter Gambar 4.1 Pengukuran Tegangan Catu Daya menggunakan IC LM7812

Perhitungan persentase kesalahan berdasarkan data adalah sebagai berikut:
Vx = Vy −Vz ×100 % Vy

Dimana: Vx = Persentase kesalahan tegangan. Vy = Tegangan yang diinginkan/tegangan sebenarnya. Vz = Tegangan hasil pengukuran. ∆ V = Persentase kesalahan rata-rata.

43

Pada pengukuran ini dilakukan beberapa kali, sehingga di dapat nilai rata – ratanya seperti tabel 4.1 Tabel 4.1 Pengukuran Catu Daya 12 Volt Tegangan terukur (Volt) 12,03 12,03 12,02 12,02667 Tegangan yang Diinginkan (Volt) 12 12 12 Persentase Kesalahan 0,25 % 0,25 % 0,16 % 0,22 %

Pengukuran 1 2 3 Rata - rata

Dari tabel di atas di peroleh tegangan rata-rata dengan menggunakan persamaan:
Vrata −rata = ∑ VPengukuran n = 36,08 = 12,02667 Volt 3

Menghitung persentase kesalahan masing – masing dengan menggunakan persamaan :
V1 = V2 = V3 = 12 −12,03 ×100% = 0,25% 12 12 −12,03 ×100% = 0,25% 12 12 −12,02 ×100% = 0,16% 12

ΔV =

V1 + V2 + V3 0,25% + 0,25% + 0,16% = = 0,22% 3 3

4.2.2. Pengukuran Tegangan Catu Daya pada IC LM7805 • • Nyalakan catu daya. Beri rangkaian regulator tegangan catu daya 5 volt

44

• •

Atur range multimeter pada 20 Volt. Ukur tegangan keluaran dengan probe positif ke positif dan probe negatif ke negatif

Rangkaian Catu Daya LM7805 Digital Multimeter Gambar 4.2 Pengukuran Tegangan Catu Daya menggunakan IC LM7805

Perhitungan persentase kesalahan berdasarkan data adalah sebagai berikut:
V = x V −V y z ×100% V y

Dimana: Vx = Persentase kesalahan tegangan. Vy = Tegangan yang diinginkan/tegangan sebenarnya. Vz = Tegangan hasil pengukuran. ∆ V = Persentase kesalahan rata-rata. Pada pengukuran ini dilakukan beberapa kali, sehingga didapat nilai rata – ratanya seperti tabel 4.2

Tabel 4.2 Pengukuran Catu Daya 5 Volt Tegangan terukur (Volt) Tegangan yang Diinginkan (Volt) Persentase Kesalahan

Pengukuran

45

1 2 3 Rata - rata

4,94 4,93 4,93 4,93

5 5 5

1,2 % 1,4 % 1,4 % 1,33 %

Dari tabel di atas di peroleh tegangan rata-rata dengan menggunakan persamaan:
Vrata −rata = ∑ VPengukuran n = 14,8 = 4,93 Volt 3

Menghitung persentase kesalahan masing – masing dengan menggunakan persamaan :
V1 = V2 = V3 = 5 − 4,94 ×100% =1,2% 5 5 − 4,93 ×100% = 1,4% 5 5 − 4,93 ×100% = 1,4% 5

ΔV =

V1 + V2 + V3 1,2% + 1,4% + 1,4% = = 1,33% 3 3

4.3

Pengukuran Rangkaian Pemancar Infra Merah Pengukuran rangkaian transmitter (Tx) infra merah (gambar 4.3) bertujuan

untuk mengetahui berapakah besar tegangan output, frekuensi yang dihasilkan oleh generator frekuensi (IC 555) sebagai penggerak led infra merah dan bentuk gelombang pada osiloskop dan perhitungan duty cycle.

46

• • • •

Rangkaian generator frekuensi (IC 555) diberikan tegangan catu daya 5 V Atur range multimeter pada 20 Volt Gunakan Osiloskop untuk melihat bentuk sinyal yang dihasilkan. Ukur tegangan keluaran dengan probe positif ke VCC dan probe negatif ke pin 3 (IC 555) seperti ditunjukkan pada gambar di bawah.

Gambar 4.3 Pengukuran Tegangan Output Rangkaian Tx Infra Merah Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui tegangan output pada tiap generator frekuensi (IC 555) sebagai penggerak led infra merah. Rangkaian generator frekuensi 1 digunakan untuk transmitter sensor I dan III, sedangkan rangkaian generator frekuensi 2 untuk transmitter sensor II. Adapun hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.3. Tabel 4.3 Pengukuran Tegangan Output Rangkaian Tx Infra Merah No. 1 2 Transmitter Infra merah Sensor I dan III Sensor II Tegangan Output (Volt) Tanpa Led IR Dengan Led IR 1,74 0,61 1,68 0,63

47

Gambar 4.4 Pengukuran Frekuensi Rangkaian Tx Infra Merah Pengukuran frekuensi rangkaian transmitter infra merah (gambar 4.4) bertujuan untuk mengetahui besar frekuensi dan bentuk gelombang yang dihasilkan IC 555 menggunakan osiloskop. Perhitungan frekuensi didapat menggunakan persamaan :
F= 1 T

dimana :

F = frekuensi (Hz) T = perioda (sekon)

Berikut gambar sinyal yang dihasilkan transmitter inframerah 1 (ir tx1) pada osiloskop :

48

Gambar 4.5 Sinyal Frekuensi Rangkaian Tx Infra Merah 1 dengan frekuensi 42 Khz

Perhitungan frekuensi untuk rangkaian Tx Infra Merah 1 : Skala pengukuran : time / div = 10 us ; volt / div = 5 V Hasil yang didapat : t = 2,4 div; sehingga T = 2,4 x 10 = 24 us A = 5 div; sehingga V = 5 x 1= 5 V Frekuensi = Duty Cycle : D=
t1 8 ×100 0 0 = ×100 0 0 = 0,3333 ×100 0 0 = 33,33 0 0 T 24

;

1 1 = = 41666,6667 Hz ≈ 42 KHz T 24 ×10 −6

Berikut gambar sinyal yang dihasilkan transmitter inframerah 2 (ir tx2) pada osiloskop :

Gambar 4.6 Sinyal Frekuensi Rangkaian Tx Infra Merah 2 dengan frekuensi 32 Khz

49

Perhitungan frekuensi untuk rangkaian Tx Infra Merah 2 : Skala pengukuran : time / div = 10 us ; volt / div = 5 V Hasil yang didapat : t = 3,1 div; sehingga T = 3,1 x 10 = 31 us A = 5 div; sehingga V = 5 x 1= 5 V Frekuensi = Duty Cycle : D=
t1 10 ×100 0 0 = ×100 0 0 = 0,3225 ×100 0 0 = 32 .25 0 0 T 31

;

1 1 = = 32258,0645 Hz ≈ 32 KHz T 31 ×10 −6

4.4 4.4.1

Pengujian dan Pengukuran Rangkaian Detektor Infra Merah Pengujian Rangkaian Detektor Infra Merah Pengujian rangkaian detektor infra merah seperti gambar 4.7. Pengujian

ini adalah untuk mengetahui apakah detektor tersebut bisa bekerja sebagaimana fungsinya, yaitu dapat mendeteksi adanya sinyal infra merah atau tidak dari jarak tertentu.

50

Gambar 4.7 Rangkaian Pengujian Detektor Infra Merah Hasil pengujian detektor infra merah ini bisa dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.4 Hasil Pengujian Detektor Infra Merah Jarak 0,5 m 1m 2m 4m 5m 4m 3,8 m 2,7 m 2,7 m 1,6 m 1,6 m 0,5 m 0,5 m Sudut (°) 0 0 0 0 0 20 20 40 45 45 60 45 60 Keluaran Logic Probe Aktif Aktif Aktif Aktif Tidak Aktif Tidak Aktif Aktif Aktif Tidak Aktif Aktif Tidak Aktif Aktif Aktif

Berdasarkan hasil pengujian tersebut, terlihat bahwa detektor tersebut mampu menerima sinyal remote kontrol dari kejauhan hingga 4 meter untuk sudut 0°, dan jarak terdekat 0,5 meter untuk sudut 60°. Berarti detektor ini dapat digunakan sebagai detektor pada sistem yang dibuat yang membutuhkan jarak antara pemancar dengan penerima sejauh 80 cm.

4.4.2

Pengukuran Rangkaian Detektor Infra Merah

51

Pengukuran rangkaian detektor infra merah untuk mengetahui apakah tegangannya berlogika “1” atau “0”. Karena Infra merah sebagai transmitter dan detektor infra merah sebagai receiver letaknya bersebelahan (tetapi diberi sekat dari bahan yang tidak dapat meloloskan cahaya infra merah), maka cara melakukan pengukurannya yaitu dengan memberi objek sebagai bidang pantul di depan infra merah dengan jarak tertentu. Hal ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh cahaya infra merah dapat dipantulkan oleh objek di depannya, kemudian diukur tegangan dari output detektor infra merah. . 4.4.2.1. Pengukuran Tanpa Objek Penghalang • Rangkaian infra merah dan detektor infra merah diberi tegangan 5 volt. • • gambar 4.7 • Pada pengukuran ini dilakukan beberapa kali hingga Mengatur multimeter dengan range 20 volt Multimeter dihubungkan ke rangkaian separti pada

didapat nilai rata – ratanya

52

Catu daya 5V

Gambar 4.8 Pengukuran Pada Saat Infra Merah Tidak Terhalang Objek

Pada gambar 4.8 dapat dilihat, bahwa infra merah diletakkan bersebelahan dengan detektor tetapi menggunakan sekat yang kedap cahaya. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya pembiasan cahaya sebelum adanya penghalang ke arah detektor infra merah. Saat diadakan pengukuran tegangan output detektor infra merah (sensor I, II dan III) pada pin 1 sebagai output dan pin 2 sebagai ground, tanpa pemancar atau dengan pemancar didapatkan tegangan sebesar 0,7 volt. Ini menunjukkan bahwa tegangan output detektor infra merah akan tetap selama belum ada objek penghalang di depannya. Tegangan tersebut kemudian digunakan untuk menggerakkan transistor BC 108 sebagai penguat sinyal kecil. Untuk cara pengukurannya dapat dilihat seperti gambar 4.8. Pin kolektor dari BC 108 dihubungkan ke kutub positif, sedangkan emitternya dihubungkan dengan kutub negatif multimeter. Dari pengukuran didapatkan hasil seperti pada tabel 4.5.

53

Tabel 4.5 Pengukuran Pada Saat Infra Merah Tidak Terhalang Objek Detektor Infra merah Rx1 Rx2 Rx3 Tegangan Input (Volt) 5 5 5 Tegangan Output (Volt) 0,21 0,20 0,15

4.4.2.2. Pengukuran Dengan Objek Pantul • Rangkaian infra merah dan detektor infra merah diberi tegangan 5 volt. • • gambar 4.9 • Pada pengukuran ini dilakukan beberapa kali hingga Mengatur multimeter dengan range 20 volt Multimeter dihubungkan ke rangkaian separti pada

didapat nilai rata – ratanya

54

Penghalang

Gambar 4.9 Pengukuran Rangkaian Detektor Infra Merah dengan Objek Pantul

Pada pengukuran ini, yang menjadi bidang pantul adalah objek yang berada di depan sensor (badan, tangan dan kaki). Detektor Infra merah (Rx1) berfungsi untuk mendeteksi badan (posisi di atas keran), Rx2 berfungsi untuk mendeteksi tangan yang menjulur di bawah keran, dan Rx3 berfungsi untuk mendeteksi kaki. Untuk Rx1 dan Rx2 karena letaknya bersebelahan dengan pemancar Infra merah (Tx) hanya terpisah sekat kedap cahaya, maka sudut pantulnya dianggap kurang dari 10 0. Sedangkan untuk Rx3 yang terpisah dengan pemancar infra merah (Tx), maka Rx3 tersebut akan menerima sudut pantulnya yang dianggap kurang lebih 45 0 terhadap Tx3 dan 90 0 terhadap Tx2 . Kemudian

55

untuk jarak, objek dapat diubah – ubah untuk mengetahui seberapa jauh sinyal infra merah dapat dipantulkan oleh objek. Hasil pengukurannya dapat dilihat seperti tabel di bawah. Tabel 4.6 Pengukuran Rangkaian Detektor Infra Merah dengan Objek Pantul Detektor Infra Merah Rx1 Sudut pantul ( 0 ) < 10 < 10 < 10 < 10 < 10 < 10 < 10 < 10 45 45 45 45 < 90 < 90 < 90 Jarak Objek (cm) 20 40 60 80 20 40 60 80 20 40 60 80 10 5 > 15 Output (V) 4,98 4,98 0,22 0,22 4,01 3,28 0,21 0,21 1,60 0.18 0.18 0.18 4,20 0.98 0

Rx2

Rx3 Terhadap Tx3 Rx3 Terhadap Tx2

4.5

Pengukuran Rangkaian Komparator Rangkaian komparator berfungsi untuk membandingkan dua macam

tegangan. Pada rangkaian ini digunakan IC LM324 sebagai pembanding tegangan. Dalam IC LM324 ini terdapat 4 buah komparator, sedangkan yang dipakai 3 buah. Apabila terjadi perubahan tegangan pada tegangan input (Vin) yang berasal dari sensor yang melebihi Vref, maka akan menghasilkan logika 1 (High). 4.5.1. Pengukuran Tegangan Referensi • • Rangkaian Kompator diberi tegangan 5 volt. Mengatur multimeter dengan range 20 volt

56

Multimeter dihubungkan ke rangkaian seperti pada gambar 4.10
LM324
14 1 2

+5V

Vref3 Vin3

1
3

4
12

VR3 1K

13

+5V +5V Vin1 VR1 1K Vref1

Vcc

GND

11

+5V Vin2 Vref2 VR2 1K

Pengukuran 1

Gambar 4.10 Pengukuran Tegangan Referensi (Vref)

Pada pengukuran ini, pengaturan pengukuran dapat dilihat pada tabel 4.7.

Tabel 4.7 Pengukuran Tegangan Referensi (Vref) PIN LM324 Vref 1 (13) Vref 2 (9) Vref 3 (6) Tegangan Input (Vin) 0,22 0,21 0,18 Tegangan Referensi (Vref) 0,23 0,22 0,18

4.5.2. Pengukuran Komparator Tanpa Objek dan Dengan Objek.

4 5 6 7

10

2

3
9 8

Pengukuran 2

Pengukuran 3

Vref

mengacu pada Vin. Hasil

57

Pengukuran pada rangkaian komparator dilakukan tanpa objek dan dengan objek. • • • • Rangkaian Kompator diberi tegangan 5 volt. Mengatur multimeter dengan range 20 volt Multimeter dihubungkan ke rangkaian separti pada gambar 4.11 Mengamati tegangan Vout pada saat pengukuran komparator tanpa objek dan dengan objek
LM324 VSens3 Vref3 Vin3 +5V Vin2 Vref2 VR2 1K VR3 1K
14 1 2

+5V

13

1
3

4
12

+5V +5V Vin1 VR1 1K Vref1

Vcc

GND

11

4 5 6

10

2

3
9

VSens1

VSens2

Pengukuran 1

Gambar 4.11 Pengukuran Rangkaian Komparator

7

8

Pengukuran 2

Pengukuran 3

58

Tegangan input ke komparator Vin berasal dari tegangan output detektor infra merah yang kemudian akan dibandingkan dengan tegangan referensi (Vref) yang telah diatur sebelumnya. Sedangkan untuk tegangan output dari ketiga input tegangan (Vin) yang sebelumnya dimasukkan ke komparator diukur pada pin 14 (sensor 1), pin 8 (sensor 2), dan pin 7 (sensor 3). Adapun hasil pengukuran output komparator dengan objek dan tanpa objek pemantul infra merah dapat dilihat pada tabel 4.8.

Tabel 4.8 Pengukuran Tegangan Output dari Komparator PIN LM324 Vout1 (14) Vout2 (8) Vout3 (7) 4.6 Tanpa Objek Volt 0,17 0,64 0,65 Logika 0 0 0 Dengan Objek Pantul Volt 3,30 3,30 3,30 Logika 1 1 1

Pengukuran Rangkaian Logika Rangkaian logika berfungsi digunakan untuk menghasilkan logika tertentu

untuk mengatur pengaktifan relai valve. Pada rangkaian ini digunakan IC 74LS32 yang terdiri dari 4 buah gerbang OR yang setiap gerbangnya terdiri dari 2 input dan 1 output, dan IC 74LS08 yang terdiri dari 4 buah gerbang AND yang setiap gerbangnya terdiri dari 2 input dan 1 output. Berikut gambaran pengukuran rangkaian logika tanpa objek dan dengan objek dapat dilihat pada gambar 4.12

59

VSens1 74LS32 Vcc
14 1 2 3 1

+5V

74LS08 Vcc
14

+5V

13 12

13

2 3

12

VSens2 VSens3

11

11

GND

Gambar 4.12 Pengukuran Rangkaian Logika • • • Rangkaian Logika diberi tegangan 5 volt. Mengatur multimeter dengan range 20 volt Multimeter dihubungkan ke rangkaian separti pada gambar 4.12 Tegangan input 74LS32 pada pin 4 berasal dari Vsens2 IC LM324 (sensor 2) dan tegangan input 74LS32 pada pin 5 berasal dari V sens3 IC LM324 (sensor 3). Sedangkan tegangan input 74LS08 pada pin 10 berasal dari Vsens1 (sensor 1) dan tegangan input 74LS08 pada pin 9 berasal dari output IC 74LS32 pada pin 6. Tabel 4.9 Pengukuran Tegangan Output dari Gerbang OR (IC 74LS32) KONDISI Tanpa Objek Dengan Objek Pantul Keterangan : VOL : Tegangan Output Low VOH : Tegangan Output High VOL (VOLT) 0,12 VOH (VOLT) 3,1 LOGIKA 0 1

4 5 6 7

4

10 9 8

10

GND

5 6 7

9 8

Vout

Pengukuran 1

Pengukuran 2

60

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa dari hasil pengukuran Vout gerbang OR (IC 74LS32) tanpa objek, tegangan output low (VOL) sebesar 0,12 Volt. Sedangkan dengan objek pantul, tegangan output high (VOH) sebesar 3,1 volt. Sebagai acuan dengan melihat karakteristik elektrik pada data sheet gerbang OR (IC 74LS32), bahwa tegangan output low (VOL) berkisar antara 0 hingga 0,5 volt. Untuk tegangan output high (VOH) minimum adalah 2,7 volt dan tegangan output high (VOH) maximum adalah 3,4 volt. Perubahan jarak antara objek pantul dengan sensor akan menyebabkan perubahan pada tegangan output high (VOH). Semakin dekat objek pantul dari sensor, maka semakin besar nilai VOH. Demikian sebaliknya, bila objek pantul menjauh dari sensor maka nilai VOH semakin menurun (kecil).

Tabel 4.10 Pengukuran Tegangan Output dari Gerbang AND (IC74LS08) KONDISI Tanpa Objek Dengan Objek Pantul VOL (VOLT) 0,12 VOH (VOLT) 3 LOGIKA 0 1

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari hasil pengukuran Vout gerbang AND (IC 74LS08) tanpa objek, tegangan output lownya (VOL) sebesar 0,12 Volt. Sedangkan dengan objek pantul, tegangan output highnya (VOH) sebesar 3 volt. Sebagai acuan dengan melihat karakteristik elektrik pada data sheet gerbang OR (IC 74LS08), bahwa tegangan output low (VOL) kurang lebih 0,5 volt. Untuk tegangan output high (VOH) minimum adalah 2,7 volt dan tegangan output high (VOH) typical adalah 3,5 volt. Jadi kesimpulannya, apabila di depan sensor terdapat objek pantul, maka akan terjadi perubahan tegangan output pada gerbang

61

AND (IC 74LS08). Besar kecilnya perubahan tegangan output tersebut dipengaruhi oleh jauh dekatnya jarak antara objek pantul dengan sensor. Semakin dekat objek pantul dari sensor, maka semakin besar nilai VOH. Demikian sebaliknya, bila objek pantul menjauh dari sensor maka nilai VOH semakin menurun (kecil).

4.7 • • •

Pengukuran Rangkaian Driver Relai Berikan tegangan catu daya 12 volt pada rangkaian Atur multimeter pada range 20 volt Hubungkan titik C ke probe positif dan titik E ke probe negatif multimeter untuk mengukur tegangan VCE • Hubungkan titik B ke probe positif dan titik E ke probe negatif multimeter untuk mengukur tegangan VBE • Amati relai saat terjadi perubahan tegangan input Vin

62

12V IN4001

220V

Pengukuran 1
RELAY-DPDT 220V AC C 680uF/35V

Vin

470

B E

VALVE Pengukuran 2

BC108

Gambar 4.13 Pengukuran Rangkaian Driver Relai

Tabel 4.11 Pengukuran Rangkaian Driver Relai Vin (Volt) 0,12 3 VBE (Volt) 0,11 2,8 VCE (Volt) 12 0,11 Kondisi Relai Off On

Vin adalah tegangan output dari gerbang AND (IC 74LS08), VBE adalah tegangan hasil pengukuran pada kaki basis dan emitor (transistor BC 108), dan VCE adalah tegangan hasil pengukuran pada kaki kolektor dan emitor (transistor BC 108). Dari tabel 4.11 dapat disimpulkan bahwa pada saat Vin tidak diberi tegangan, maka tegangan yang terukur pada VBE sebesar 0,1 Vdc (≈ 0) karena transistor tidak mendapat tegangan (tidak saturasi) VCE mendekati VCC. Pada saat Vin diberi tegangan, maka VCE mendekati nol karena antara kaki kolektor dan emitor seolah – olah terhubung singkat karena kaki basis mendapat tegangan. Jatuhnya tegangan VCE ini yang menyebabkan relai bekerja (On).

63

4.8.

Pengujian Alat secara keseluruhan Alat yang sudah dirangkai perlu diuji secara keseluruhan. Pastikan alat

terhubung dengan sumber tegangan PLN 220 V dan hidupkan alat dengan menekan tombol switch. Pada saat alat aktif (mendapatkan arus dan sumber tegangan) dan tidak ada objek yang dekat dengan sensor-sensor, maka alat tidak bekerja. • Kondisi bila orang berada dekat dihadapan alat maka sensor 1 mendeteksi adanya objek yang ditunjukkan oleh led indikator sensor 1 menyala (lihat gambar 4.14). Led indikator sensor 1 menyala, led indikator sensor 2, led indikator sensor 3 dan led indikator keran mati.

64

Gambar 4.14 Led Indikator Sensor 1 menyala saat menghadap Sensor 1 • Kondisi bila tangan menjulur dibawah keran maka sensor 2 mendeteksi adanya objek dibawah keran yang ditunjukkan oleh led indikator sensor 2 menyala, led indikator sensor 1 menyala, karena memenuhi persyaratan logika “AND” maka keran terbuka mengalirkan air bersamaan dengan pembacaan sensor 2. Keran yang terbuka ditunjukkan oleh led indikator keran menyala dan led indikator sensor 3 mati (lihat gambar 4.15).

Gambar 4.15 Led Indikator Sensor 2 dan keran menyala saat tangan terjulur

65

Kondisi bila tangan yang terjulur dibawah keran ditarik maka led indikator sensor 2 mati dan keran menutup menghentikan aliran air setelah sekitar 1,25 sekon (lihat gambar 4.16).

Gambar 4.16 Led Indikator Sensor 2 dan keran mati saat tangan tidak terjulur • Kondisi bila kaki menjulur dibawah keran maka sensor 3 mendeteksi objek tersebut yang ditunjukkan oleh led indikator sensor 3 menyala, led indikator sensor 1 menyala, karena memenuhi persyaratan logika “AND” maka keran terbuka mengalirkan air bersamaan dengan pembacaan sensor 3. Keran yang terbuka ditunjukkan oleh led indikator keran menyala dan led indikator sensor 2 mati (lihat gambar 4.17).

66

Gambar 4.17 Led Indikator Sensor 3 dan keran menyala saat kaki terjulur

Kondisi bila kaki yang terjulur dibawah ditarik keatas

maka terjadi

perpindahan pendeteksi atau dari pendeteksian objek oleh sensor 3 berganti pendeteksian oleh sensor 2 hal ini ditunjukkan led indikator sensor 3 mati berganti led indikator sensor 2 menyala, kondisi keran tetap terbuka dan mengalirkan air, led indikator keran tetap menyala (lihat gambar 4.18).

Gambar 4.18 Led Indikator Sensor 2 dan keran menyala saat kaki ditarik keatas

67

Kondisi bila kaki yang terjulur dibawah keran ditarik maka led indikator sensor 2 atau led indikator sensor 3 mati dan keran menutup menghentikan aliran air setelah sekitar 1,25 sekon (lihat gambar 4.19).

Gambar 4.19 Led Indikator Sensor 2 dan keran mati saat kaki tidak terjulur

68

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->