P. 1
Tesis

Tesis

|Views: 729|Likes:
Published by Abaz Photoholic
Tesis tentang kepariwisataan di Wonosobo. Sedikit mengulas mengapa Wonosobo yang kaya akan pariwisata justru banyak kendala untuk menjadikan sentra kepariwisataan nasional.
Tesis tentang kepariwisataan di Wonosobo. Sedikit mengulas mengapa Wonosobo yang kaya akan pariwisata justru banyak kendala untuk menjadikan sentra kepariwisataan nasional.

More info:

Published by: Abaz Photoholic on Sep 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Berbagai organisasi internasional antara lain PBB, Bank Dunia dan World Tourism Organization (WTO), telah mengakui bahwa pariwisata merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia terutama menyangkut kegiatan social dan ekonomi. Diawali dari kegiatan yang semula hanya dinikmati oleh segelintir orang-orang yang relatif kaya pada awal abad ke-20, kini telah menjadi bagian dari hak azazi manusia, sebagaimana dinyatakan oleh John Naisbitt dalam bukunya Global Paradox yakni bahwa “where once travel was considered a privilege of the moneyed elite, now it is considered a basic human right. Hal ini terjadi tidak hanya di negara maju tetapi mulai dirasakan pula di negara berkembang termasuk pula Indonesia. Dalam hubungan ini, berbagai negara termasuk Indonesia pun turut menikmati dampak dari peningkatan pariwisata dunia terutama pada periode 1990 – 1996. Badai krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak akhir tahun 1997, merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi masyarakat pariwisata Indonesia untuk melakukan re-positioning sekaligus revitalization kegiatan pariwisata Indonesia. Disamping itu berdasarkan Undang-undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Perencanaan Nasional pariwisata mendapatkan penugasan baru untuk turut mempercepat pemulihan ekonomi nasional dan memulihkan citra Indonesia di dunia internasional. Penugasan ini makin rumit terutama setelah dihadapkan pada tantangan baru akibat terjadinya tragedi 11 September 2001 di Amerika Serikat. Aset pariwisata bagi daerah adalah menjadi salah satu factor yang menunjang pembangunan daerah. Betapa tidak, di era otonomi daerah yang memungkinkan satu daerah memiliki kewenangan besar untuk mengatur

rumah tangganya, sector pariwisata menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD) yang ujungnya digunakan untuk pembangunan daerah tersebut. System desentralisasi pemerintahan semacam ini terdapat keuntungan dan mengikuti pula beberapa kerugian. Keuntungan yang dimaksud adalah setiap daerah memiliki hak prerogative untuk mengatur rumah tangga pariwisatanya sendiri dan berhak atas hasil dari manajemen kepariwisataan yang dikelolanya. Sistem semacam ini juga memungkinkan daerah untuk dapat berkembang kepariwisataannya karena untuk menggenjot pendapatan dari sector ini, kreativitas dan inovasi pemerintah daerah sangat dibutuhkan agar mampu menyedot wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Disamping peluang yang dimaksud, beberapa kelemahan juga mengikuti perubahan system, terutama pada aspek sumber daya manusia dan pola penerapan system baru tersebut terhadap objek yang ada. Kelemahan sumber daya manusia yang dimaksud adalah, masih terdapat perangkat pengelola asset pariwisata yang mengikuti ‘cara lama’ dengan hanya membiarkan tempat wisata berjalan dengan normative, tidak ada kreativitas yang muncul dengan kesadaran keharusan meraup pendapatan asli daerah setinggitingginya dari sector wisata. Di Kabupaten Wonosobo, asset pariwisata sangat banyak yang harus mendapatkan perhatian serius dari semua elemen. Menurut tugas pokok dan fungsi Pemerintah Kabupaten Wonosobo, pihak yang paling bertanggungjawab atas perkembangan bidang kepariwisataan ini adalah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Sebagai badan usaha pemerintah yang bertanggungjawab atas hal tersebut, tentulah didalamnya proses kreativitas pengembangan manajemen pariwisata harus diterapkan untuk dapat menunjang suksesi pemerintahan secara umum. Diruntut secara ringkas, keberadaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan

adalah penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi setelah penghabusan Departemen Kebudayaan yang tadinya merupakan satu kesatuan dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Susuan rganisasi dan tata kerja dinasdinas daerah memberikan legitimasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk menjadi pihak yang menjadi garda depan pembangunan sector kepariwisataan. Perubahan yang terjadi pada system tersebut, disamping terjadinya berbagai kejadian besar di Indonesia sempat membuat sector kepariwisataan nasional mengalami penurunan jumlah pengunjung dalam angka yang cukup drastic. Aksi terror yang terjadi disejumlah tempat wisata membuat pengunjung, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara enggan menyambangi tempat-tempat wisata yang ada. Disinilah hal tersebut memberi pengaruh besar terhadap sector kepariwisataan dalam skala kecil di masing-masing daerah. Di Wonosobo contohnya, angka kunjungan di tempattempat wisata selama tiga tahun terakhir (terhitung sampai 2009), jumlah pengunjung wisata hanya mengalami kenaikan yang normatif. Dari enam objek wisata besar yang ada, masing-masing Dieng Plateau, Lembah Dieng, Telaga Menjer, Kalianget, Gelanggang Renang Mangli dan Waduk Wadaslintang, pada tahun 2007 jumlah pengunjung 205.598 orang yang terdiri dari 9,665 wisatawan mancanegara dan 195.933 wisatawan nusantara. Setahun berikutnya angkanya naik menjadi 219.748 pengunjung dan pada tahun 2009 kenaikan terjadi hingga menembus 326.551 pengunjung yang 23.235 orang merupakan wisatawan mancanegara. Padahal, untuk sekelas objek wisata alam yang sangat indah itu, setidaknya jumlah pengunjung harus mampu digenjot dengan angka sedikitnya dua kali lipat dari jumlah tersebut agar kepariwisataan nasional melonjak tinggi. Tantangan inilah yang harus dihadapi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo untuk membangun sector kepariwisataan menjadi lebih baik.

Namun, untuk mencapai target idealitas semacam itu, beberapa tantangan harus dilewati di internal Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Pembenahan baik dari sector sumber daya manusia dan penerapan system menjadi langkah awal untuk pembenahan tersebut. Keberadaan sumber daya manusia harus menyadari sepenuhnya bahwa pembangunan sector ini lebih mengutamakan kreativitas sumber daya manusia sendiri dibandingkan harus menjalankan kepariwisataan dengan alur yang normative. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo harus berani mengambil kebijakan yang proaktif, antisipatif dan fleksibel. Kebijakan proaktif adalah kebijakan yang dikeluarkan tidak hanya disandarkan pada reaksi terhadap perubahan yang terjadi saat itu, tetapi juga melakukan diagnosis terhadap pencapaian hasil yang diinginkan secara objektif. Langkah antisipasif mengarah pada kebijakan yang ditempuh adalah diproyeksikan terhadap situasi masa depan berdasarkan analisis kondisi yang sedang terjadi. Sementara fleksibilitas berarti kebijakan yang diambil sangat memperhatikan kemampuan dan peluang yang tersedia bagi organisasi. Untuk mencapai hal tersebut, beberapa langkah awal yang perlu diperhatikan agar menjadi dasar pemikiran selanjutnya harus benar-benar diperhitungkan. Pertama, Sumber daya manusia yang memadai, kedua, anggaran program kepariwisataan yang cukup dan sarana, ketiga sarana dan prasarana kepariwisataan yang memadai dan terakhir organisasi dan manjemen kepariwistaan yang baik. Landasan diatas selaras dengan prinsip dasar teori manajemen, dimana penempatan hal tersebut adalah merupakan bagian inti dari proses berlangsungnya sebuah system yang ideal. Namun demikian, pengembangan terhadap factor tersebut mutlak diperlukan, apalagi untuk menunjang program perencanaan yang melibatkan pengembangan berbagai bidang kepariwisataan. Munculnya staff, planning, organizing, directing dan controlling dalam teori dasar manajemen oleh Hendri Fayol dapat

dikembangkan untuk langkah persiapan setelah landasan tersebut dikaji. Factor pertama yakni pengembangan sumber daya manusia

kepariwisataan. Factor ini menempati unsure vital karena sebuah system tanpa dilakukan sumber daya manusia yang mumpuni dapat menjadi mentah dan tidak berjalan. Pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, sumber daya manusia yang tersedia adalah :

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29

Nama Drs. Aziz Wijaya, M.Si Drs. Edy Riyanto Suprayudhi, S.Sos Muh Chamim, S.Sos Drs. Sapitya Coentjoro Drs. Rully Esmono Basuki Elias Sumar, S.Pd Supini Retno Mardiningsih Suradi, SH Sri Setiyawati, SE Widi Harsono Sulistriyaningsih, BA Fadholi, S.Sos Daldiri Edi SAntoso, S.STP Bambang Triyono P, SE Riana Twindar Astuti, SE Sri Handayani M. Zakroh Subuh Oni Wiyono, SE Sulastri, S.Pd Tukijo Sri Mulyono Basuki Muazaroh, A.Md Sri Ariyanti, S.IP Suwignyo Sri Uneng Luswiyati Esti Utami

Pendidikan Administrasi Komunikasi Sospol Administrasi Negara Administrasi Negara Ekonomi Pendidikan SMEA/Sekretaris Bahasa Inggris Ilmu Hukum Ekonomi SMA/IPS Seni Tari Sospol SMEA/Tata Niaga Pemerintahan Ekonomi Manajemen SMA/IPA Manajemen Ekonomi Pendidikan SMA/IPS STM/Listrik Bahasa Inggris APMD SMEA/Perdagangan Peternakan Akpari

Pelatihan Jabatan X X X X X X X X X X X X X X X X

X

X X

30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47

Uswatun Khasanah, A.Md Suwarno Muhabin Sumarno Slamet Rumadi Bolot Suparman Qomar Kandar Untung Liwon Farikhun Heli Irtiqo Sukmowati Lia Susiana Saban Ngahad Lukman Sabar

Bahasa Inggris SMP SMU MAN STM SD SD SMEA/Perkantoran SMEA SMEA/Keuangan SMA MAN SMA SMA SMP SD MAN SD

Dari data jumlah sumber daya manusia kepariwisataan yang ada, 19 diantara mereka merupakan sumber daya manusia yang telah melewati pelatihan profesi jabatan. Artinya, 58,3 persen diantara jumlah tersebut masih belum mendapatkan pelatihan serupa. Namun ketika dilihat dari tugas pokok dan fungsi yang diemban oleh masing-masing sumber daya manusia yang ada, prosentase itu sudah terbilang lebih dari cukup karena setengah atau lebih sumber daya manusia yang berkaitan dengan pengambilan kebijakan atau tenaga teknis langsung telah mendapat pelatihan profesi yang memungkinkan pendalaman terhadap bidang yang diembannya. Untuk pengelolaan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas dan

kapabilitas sesuai standar kompeten, menurut Firdaus (1999:20) setidaknya dua cara memandang persoalan pengelolaan sumber daya manusia kaitannya dengan pengorganisasian sumber daya manusia, masing-masing pendekatan proses dan pendekatan kebijakan. Pendekatan proses mengarah pada pengelolaan sumber daya manusia focus pada proses pencapaian output, kinerja, produktivitas, kapasitas, ketrampilan dan keahlian sumber daya manusia yang bersangkutan. Sedangkan dalam pendekatan kebijakan, maka kepentingan organisasi menjadi focus utama. Artinya, pengelolaan dan pengembangan sumber daya manusia akan sangat dipengaruhi oleh kondisi dan kepentingan organisasi seperti penyatuan elemen organisasi dan kelenturan organisasional. Dalam teorinya tersebut, Firdaus (1999:7) sangat menyadari bahwa perubahan teknologi informasi telah memberikan peluang kepada organisasi dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada. ARtinya, perubahan di luar organisasi menjadi factor penting dalam menentukan kebijakan pengembangan sumber daya manusia dalam organisasi tertentu. Ditambahkan Firdaus, kehadiran system informasi memberkan peluang baru untuk lebih mengoptimalkan berbagai kegiatan organisasi. Penataan system informasi memungkinkan adanya kesamaan persepsi dari semua sumber daya manusia sehingga hal yang sifatnya parsialitis dapat dihindari. Hal ini juga harus diperhatikan adalah pemanfaatan system informasi yang ada untuk mengarah pada aspek masa depan yang membawa instansi atau perusahaan mencapai tujuannya. Kebijakan menyangkut sumber daya manusia, manusia dalam organisasi tidak lepas dari situasi lingkungan di luar organisasi maupun yang ada dalam organisasi, sehingga pengembangan sumber daya manusia melalui: (a) Sistem manajemen sumber daya manusia komprehensif (mulai rekruitmen hingga pemeliharaan sumber daya manusia), (b) Proses pengembangan sumber daya manusia berkesinambungan, berjenjang dan berlandaskan stakeholder total

values,

dengan

menggunakan

pendekatan

continuous

learning

dan

pengembangan kompetensi (knowledge and skill), attitude (motivasi, etika, budaya kerja) dan intellectual ability (inovasi, adaptasi, immitasi). Sumber : diadaptasi Silabus Mata Kuliah Pengembangan SDM; STIE WW (2007). Pentingnya analisis mengenai situasi lingkungan dimana organisasi berada dan kondisi organisasi itu sendiri bagi pengembangan sumber daya manusia, dengan kata lain audit situasional sangat penting bagi semua organisasi. Tidak hanya penting bagi organisasi swasta yang berorientasi profit, melainkan juga birokrasi pemerintahan yang memberikan pelayanan public. Dengan audit situasional, maka organisasi dapat mengambil sebuah kebijakan yang tepat dalam pengembangan sumber daya manusia yang dimiliki. Ketika diterapkan dalam kasus Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sebagai pengelola kepariwisataan di Wonosobo, untuk menciptakan sumber daya manusia kepariwisataan yang sesuai standar kompetensi, maka audit situasional adalah sangat penting. Asil dari kegiatan audit situasional tersebut akan memberikan bahan kajian untuk menentukan alternative kebijakan dan program yang tepat dengan tujuan organisasi (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan), ujung dari semua itu, maka kepariwistaaan yang kompeten di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan akan tidak mustahil terwujud. Selain persoalan mengenai sumber daya manusia sebagaimana telah disebutkan dimuka, problem juga terjadi pada kondisi anggaran daerah untuk program kepariwisataan. Hal ini menjadi masalah penting, mengingat setelah mampu mewujudkan sumber daya manusia yang sesuai standar, apabila tidak didukung dengan anggaran yang memadai maka akan menjadi percuma dan tidak bermanfaat untuk pengembangan kepariwisataan. Bupati Wonosobo, Drs. Kholiq Arief, M.Si dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Wonosobo dengan agenda Pembahasan KUA dan PPAS perubahan tahun 2010 pada 18 Agustus 2010 menunjukkan. Prioritas

anggaran, dalam APBD Perubahan tahun anggaran 2010 ini akan memfokuskan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Wonosobo tahun 2006-2010. Berdasarkan RPJMD tersebut, Kholiq memprioritaskan pada program pembangunan. Menurutnya beberapa program dan kegiatan yang belum dipenuhi dan patut menjadi prioritas dalam perubahan yakni khususnya untuk memenuhi kekurangan Belanja Tidak Langsung (Belanja Pegawai untuk Guru non Sertifikasi), Belanja Langsung khususnya Eks. BAU untuk RSU, Dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Pendidikan (DPPIP). Disamping itu, Dana Penguatan Desentralisasi Fiskal dan Percepatan Pembangunan Daerah (DPDF & PPD) dan Perdesaan (PPIP). Melihat keadaan keuangan, khususnya pada APBD Perubahan 2010 ini, hal yang menjadi catatan adalah, sector pengembangan pariwisata ternyata tidak menjadi prioritas utama RPJMD Kabupaten Wonosobo yang ditetapkan. Hal ini berarti bahwa kondisi keuangan daerah tidak memungkinkan untuk pengembangan sector pariwisata secara lebih optimal, kendati sector ini juga tidak sedikit menyetorkan PAD untuk kepentingan pembangunan daerah secara umum. Faktor selanjutnya, adalah sarana dan prasarana kepariwisataan yang memadai. Secara umum, di Wonosobo sumber daya pariwisata sudah tidak diragukan lagi, adanya tempat-tempat wisata, baik wisata alam maupun wisata buatan sudah memiliki daya tarik tersendiri, apalagi didukung dengan kondisi alam yang memungkinkan wisatawan betah berlama-lama di kota pegunungan ini. Dieng Plateau misalnya, di daerah wisata alam dan wisata sejarah ini, merupakan salah satu area tujuan wisata besar, baik untuk skala nasional maupun internasional. Potensi ini seharusnya menjadi salah satu bentuk daya tarik wisata tersendiri. Belum lagi tempat wisata budaya seperti Desa Wisata Giyanti (Janti) dan Percepatan Pembangunan Infrastruktur

Desa Wisata Sendangsari yang berpotensi menarik wisatawan untuk study wisata budaya khas Wonosobo. Pengembangan pariwisata regional, khususnya untuk kawasan wisata meliputi pula pengembangan sarana dan prasarana pendukung, pengembangan jaringan kunjungan wisata melalui kerja sama pengembangan produk wisata, jalur wisata pemasaran dan promosi. Untuk mendukung pengembangan produk wisata, diperlukan pembagian daerah pengembangannya. Daerah pengembangan wisata secara umum dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam, masing-masing pengembangan wisata keagamaan, ekologi dan budaya pedesaan, selanjutnya pengembangan wisata budaya kerajaan-kerajaan Jawa (grand culture) dan pengembangan kegiatan wisata alam dan minat khusus (nature and special interest tourism). Pengembangan wisata ini, ditekankan pada ptensi wisata yang dimiliki dan permintaan pasar wisata. Dengan mengarahkan peningkatan pada obyek yang bersifat wisata budaya, wisata alam dan wisata buatan. Di Wonosobo, objek wisata alam dan grand culture memiliki daya pikat kuat, khususnya di Kawasan Dieng Plateau yang lengkap pula dengan wisata budaya dan ekologi. Faktor terakhir, organisasi dan manajemen kepariwisataan yang baik. Factor keempat ini lebih lari pada penanganan pascapenanganan pertama yakni mengenai sumber daya manusia. Apabila sumber daya manusia telah berkembangan sesuai dengan standar yang diharapkan, maka dalam mengorganiser dan memanage perkembangan pariwisata akan mengikuti. Hal ini juga berkaitan dengan factor lain seperti masalah anggaran daerah untuk pengembangan wisata dan kondisi tempat wisata yang ada. Sesuai latar belakang dan penjabaran yang peneliti jabarkan dimuka, empat hal yang peneliti tekankan dalam hal ini adalah kondisi sumber daya manusia, kondisi anggaran daerah, kondisi tempat wisata dan manajemen

serta organisasi kepariwisataan. Namun dari keempat factor tersebut, hal utama yang akan peneliti dalami lebih pada factor sumber daya manusia. Mengingat factor sumber daya manusia memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan tiga factor lain setelahnya. Peneliti dalam hal ini akan menggali lebih dalam dan mendetail mengenai kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang harus dihadapi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dalam menghadapi problem kepariwisataan Wonosobo, lebih spesifik lagi mengenai pengembangan sumber daya manusia yang ada didalamnya. Hal ini juga yang kemudian mendorong peneliti untuk melakukan riset dengan mengambil judul STRATEGI PENINGKATAN POTENSI SUMBER DAYA MANUSIA PADA DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN WONOSOBO. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan rencana strategis pengembangan sumber daya kepariwisataan yang berujung pada peningkatan potensi sumber daya wisata Kabupaten Wonosobo.

1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang permasalahan yang telah penulis ungkapkan dimuka, untuk mempermudah pembahasan serta menghindari overleap dalam pembahasan, penulis menetapkan rumusan permasalahn yang akan dibahas dalam penelitian ini, yakni: “Bagaimana strategi yang harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Wonosobo dalam rangka meningkatkan sumber daya Pariwisata pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dalam rangka pengembangan kepariwisataan daerah?”.

1.3. Tujuan Penelitian Penelitian yang penulis lakukan bertujuan untuk: a. Mendiskripsikan kondisi internal dan kondisi eksternal yang berkaitan langsung dan tidak langsung terhadap pengengembangan potensi sumber daya manusia pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo dalam upaya pengembangan kepariwisataan secara umum. b. Menelaah keadaan, menyusun hipotesis serta mendapatkan isu-isu strategis untuk pengembangan kepariwisataan Wonosobo dari sisi pengembangan sumber daya manusia. c. Memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Kabupaten Wonosobo berdasarkan hasil penelitian dalam rangka menyusun rencana strategi pengembangan potensi pariwisata.

1.4. Manfaat Penelitian

Setelah dilakukan penelitian berdasarkan kondisi lapangan yang ada, penulis mengharapkan hasil penelitian ini bermanfaat untuk: a. Bagi ilmu pengetahuan, khususnya manajemen sumber daya manusia pariwisata. Maka hasil penelitian ini akan menjadi pengayaan dan pengembangan studi kompetensi sumber daya manusia dan analisis SWOT Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. b. Bagi peneliti, mendalami dan menambah wawasan, konsep-konsep serta permasalah pengembangan sumber daya manusia, khususnya dalam bidang kompetensi sumber daya manusia pariwisata. c. Bagi pemerintah, lebih khusus Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan diskusi maupun bahan tambahan dalam kebijakan pengembangan sumber daya manusia di masa mendatang.

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Penelitian Terdahulu Catatan dan hasil penelitian ilmiah mengenai strategi pengembangan pariwisata sudah sangat banyak, bahkan terbilang berlebih untuk sebuah konsep yang dapat diterapkan di salah satu institusi yang mengembangkan kepariwisataan. Namun sepanjang pengetahuan penulis, belum tampak hasil penelitian ilmiah yang membidik langsung secara spesifik pada factor sumber daya manusia. Rata-rata, hasil penelitian tersebut mengarah pada pengembangan sector pariwisata secara umum, dan terlalu luas skala penelitiannya. Dari data yang penulis himpun, terdapat beberapa hasil penelitian ilmiah yang hampir sama dengan yang penulis ajukan, yakni:

Hasil penelitian ilmiah yang dilakukan oleh XXXXXXXXX, pada tahun 2009 dengan judul “STRATEGI MENGEMBANGKAN POTENSI SUMBER DAYA PARIWISATA PADA DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN WONOSOBO” Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Widya Wiwaha. Penelitian ini ingin mengetahui potensi secara umum mengenai sumber daya wisata dan menentukan strategi yang akan diterapkan dalam pengembangan sector wisata secara umum.

Dari hasil penelitian diatas, diketahui bahwa apa yang dijabarkan dalam penelitian tersebut masih bersifat global dan tidak spesifik mengarah pada salah satu factor pengembangan sector pariwisata. Untuk itu, penulis hendak mengarahkan penilitian ini lebih spesifik kepada factor sumber daya manusia berikut potensi yang ada di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

2.2. Perencanaan Pengembangan Pariwisata Pengembangan konsep kepariwisataan tidak lepas dari proses

perencanaan yang melibatkan semua unsur dalam pariwisata itu sendiri. Perencanaan pembangunan sector pariwisata yang melibatkan semua unsure pariwisata akan menghasilkan out put yang mengakomodir semua unsur. Unsur-unsur yang dimaksud selain sumber daya manusia yang ada, adalah unsur tempat wisata itu sendiri, unsur materi berupa anggaran pembangunan dan system yang digunakan untuk pengembangan. Mengenai perencanaan pengembangan pariwisata, Yoeti (1997:5-6) memiliki alasan tersendiri, menurutnya perencanaan menempati posisi vital apabila sektor pariwisata akan benar-benar dioptimalkan. penjelasan Yoeti terkait pentingnya hal tersebut antara lain: a. Memberi pengarahan. b. Membimbing kerjasama. c. Menciptakan koordinasi. d. Menjalin tercapainya kemajuan. e. Untuk memperkecil resiko. f. Mendorong dalam pelaksanaan Menurut Yoeti, perencanaan menempati posisi yang paling depan dan dilakukan dengan optimal sebelum mengambil tindakan penanganan Beberapa

pengembangan. Fungsi perencanaan yang akan memberikan pengarahan terhadap tindakan yang akan diambil memungkinkan minimalisasi kegagalan dalam proses pengembangan yang terlalu over leap. Dengan minimnya kegagalan tersebut, secara otomatis memperkecil resiko atau dampak negative atas usaha yang dilakukan. Program pengembangan pariwisata yang merupakan bagian dari pembangunan daerah secara menyeluruh, untuk itu dalam program ini, perencanaan harus dilakukan dengan matang. Dengan perencanaan yang matang, sukses pembangunan pariwisata daerah memberi andil besar dalam rangka pembangunan nasional. Beberapa tahapan yang harus dipahami dalam perencanaan pengembangan sektor pariwisata menurut Yoeti adalah: a. Melakukan inventarisasi mengenai semua fasilitas yang tersedia dan potensi yang dimiliki. b. Menaksir pasaran pariwisata dan mencoba melakukan proyeksi lalu lintas wisatawan pada masa yang akan datang. c. Sesuai dengan mekanisme hukum pasar, Memperhatikan di daerah belahan dunia mana permintaan (demand) adalah lebih besar dari pada persediaan atau penawaran (supply). d. Melakukan riset kemungkinan perlunya penanaman modal, baik modal dari investor dalam negeri maupun investor asing untuk pengembangan. e. Melakukan tindakan konkrit terhadap kekayaan alam yang dimiliki dan memelihara warisan budaya bangsa serta adat istiadat suatu bangsa yang ada. Mengingat bahwa pengembangan pariwsata harus direncanakan dengan baik agar terintegarsi dengan rencana pembangunan nasional, maka kebijakanpengembangan pariwsata harus cocok dengan tujuan-tujuan umum pemerintah dan Rencana Pembangunan Nasional. Tujuan-tujuan ini,

sebagaimana diterapkan dalam bidang pariwisata seperti dikatakan Wahab (1997:191-192) hendaknya mencakup hal-hal sebagai berikut: a. Menarik modal dan keahlian asing (misalnya dalam usaha perhotelan) b. Meningkatkan pendapatan valuta asing. c. Memperoleh suatu hasil ganda (multiplier effect) dalam kegiatan ekonomi Negara penerima wisatawan. d. Mengurangi angka pengangguran kerja baru. e. Melestarikan tradisi budaya dan mengurangi lunturnya budaya bangsa. f. Melindungi lingkungan hidup yang baik dan mencegah terjadinya polusi. g. Memperluas daerah kunjungan wisata dan mengarahkannya ke pusatpusat atraksi wisata, di daerah yang penghasilan masyarakat masih rendah. h. Meningkatkan yang memadai. i. Mengembangkan suatu produk wisata kelas satu atau kelas elite atau produk wisata untuk masyarakat biasa secara missal. j. Mengawasi tingkat inflasi musiman, karena terjadinya peningkatan pendapatan dari sektor pariwisata pada bulan-bulan tertentu. k. Membatasi jumlah kunjungan wisatawan dalam prosentase tertentu seimbang dengan jumlah penduduk untuk menghindarkan dan mempertahankan suatu tingkat angka atau setengah penganggur,

khususnya pada bidang pertanian dengan cara menciptakan lapangan

pengembangan modal yang ditanam dalam dalam industry pariwsata

pencemaran penduduk setempat dan kebudayaannya. l. Mengindari perluasan industry melanggar atas kawasan industry yang ditentukan, khususnya ke daerah yang bernilai wisata (misalnya daerah wisata pantai yang baik untuk daerah wisata). m. Mengawasi spekulasi real estate dan menjaga keindahan kualitas sarana-sarana wisata (sehingga para wisatawan tidak merasa kecdewa berlibur disana). Dipaparkan Wahab (1997:185), perencanaan harus dilakukan secara menyeluruh secara deduktif, dari hal yang bersifat umum ke hal yang bersifat khusus. Artinya, perencanaan harus dimulai dari hal yang global kemudian diturunkan pada hal yang lebih sektoral. Dalam hal ini, perencanaan pembangunan pariwisata harus dilakukan dari pembuatan rencana secara nasional, yang berujung pada penurunan ke daerah-daerah, bahkan objekobjek tertentu. Sumber-sumber kekayaan yang diteliti itu harus ada kaitannya dengan industry pariwisata dan maksud penyusunannya ke dalam suatu daftar yakni untuk mempersiapkan langkah berikutnya: a. Untuk menentukan tantangan yang dapat menghambat pencapaian tujuan pariwisata nasional. b. Untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan kita pada taraf nasional dalam mikat calon wisatawan. Sumber-sumber wisata yang telah didaftar tadi, dapat digolongkan menjadi: a. Sumber-sumber ekonomi makro-tantangan-tantangan. b. Sumber-sumber wisata kekuatan dan kelemahannya. (Wahab, 1997:185). Menjabarkan apa yang dimaksudkan oleh Wahab, dalam pariwisata setidaknya terdapat lima pembedaan tingkat perencanaan yang berbeda,

masing-masing: a. Tingkat I : Rencana Nasional yang menyeluruh Rencana nasional yang menyeluruh ini menentukan peruntukan sumber-sumber yang dimiliki dan menetapkan tujuan pada taraf nasional, yang siklus perencanaan pariwisata biasanya berada pada keempat tingkat perencanaan berikut. b. Tingkat II : Rencana Induk Pariwisata Nasional Biasanya siklus sama lamanya dengan perencanaan nasional yang menyeluruh (biasanya antara empat sampai dengan enam tahun). Tingkat perencanaan ini biasanya disusun oleh Organisasi Pariwsata Nasional (departemen, lembaga, tertera dalam rencana nasional tadi. c. Tingkat III : Rencana Tngkat Provinsi atau sektoral Tingkat Provinsi Disusun untuk suatu daerah provinsi atau kawasan tertentu oleh suatu organisasi pariwisata tingkat nasional, atau suatubadan campuran atau badan konsultan swasta. Tingkat Sektoral Dikembangkan untuk suatu sektor kegiatan tertentu atau yang komisi-komisi dan sebagainya) sesuai dengan pedoman garis-garis besar bidang pariwisata yang

berkaitan dengan pariwisata (misalnya : pusat ski, marina, olahraga berkuda, kawasan pantai, budaya setempat). Biasanya tenggang waktunya lebih singkat sedikit dari suatu perencanaan nasional. d. Tingkat IV : Program-Program Pada tahap ini biasanya ditentukan proyek-proyek khusus yang akan dilaksanakan atau diselesaikan khusus untuk tahun anggaran tertentu.

e. Tingat V : Proyek-Proyek Suatu proyek adalah komponen terpisah dan beridir sendiri dari suatu program tahunan.Perlu ditekankan disini bahwa siklus perencanaan yang telah diuraikan dapat dan harus dipakaipada semua tingkatan perencanaan. Justru sungguh layak dan patans jika suatu perencanaan dikembangkan dengan mencakup didalamnya tujuan, metode, analisis untung rugi, tanggung jawab, batas-batas waktu, pendanaan dan pengawasan. Sebagaimana telah dijabarkan dimuka, pada era otonomi daerah semacam ini, pemerintah kabupaten memiliki kewenangan penuh untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri tanpa campur tangan dari pemerintah pusat. Kewenangan yang diatur oleh daerah salah satunya adalah kewenangan bidang pariwisata yang menjadi salah satu pintu diantara pintu lainnya untuk mendapatkan pendapatan asli daerah (PAD) untuk pembangunan daerah secara luas. Kabupaten Wonosobo yang memiliki potensi kepariwisataan yang cukup banyak harus menyadari pentingnya pengembangan potensi pada setiap objek wisata yang ada. Pengembangan sektor pariwisata akan berdampak langsung pada penerimaan PAD setiap tahunnya yang pada akhirnya berujung dengan semakin meluasnya pembangunan dari berbagai arah. Untuk melakukan pengembangan, sekali lagi, perencanaan harus mendapatkan posisi terdepan. Perencanaan pengembangan pariwsata yang baik itu harus melibatkan seluruh stakeholder yang ada didaerah sehingga hasil yang akan diperoleh akan bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan pembangunan daerah dan dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat. Pada gilirannya, kesejahteraan masyarakat akan meingkat ke arah yang lebih baik. Membiacarakan konsep perencanaan, erat kaitannya dengan sumber daya manusia yang ada di Dinas Pariwsata dan Kebudayaan sebagai pelaksana langsung kegiatan pengembangan pariwisata. Beberapa hal yang harus

ditekankan antara lain adalah bahwa sumber daya manusia pariwisata yang ada di Dinas Pariwsata dan Kebudayaan harus sudah benar-benar siap dan memiliki pengalaman dan pengetahuan luas mengenai konsep kepariwisataan. Disamping itu, sumber daya manusia yang ada juga harus mengendapankan prinsip pengembangan, bukan prinsip pekerjaan standar tanpa pengembangan kearah yang lebih baik. Sumber daya manusia harus dikembangkan melalui berbagai system pengayaan pengetahuan dan ketrampilan. Upaya ini ditempuh dengan seringnya sumber daya manusia yang ada mengikuti pelatihan, pendidikan dan praktek lapangan terkait dengan keparwisataan. Hal ini juga akan diikuti dengan praktek secara nyata dilapangan yang kemudian mengundang pertanyaan mengenai etos kerja dan kreativitas sumber daya manusia tersebut berbenturan dengan fakta di lapangan. Beberapa catatan mengenai pengembangan sumber daya manusia, secara umum, optimalisasi sumber daya manusia harus dilihat pula pada faktor pendidikan. Problem yang terjadi saat ini berdasarkan data sumber daya manusia yang ada, dari sebagian besar tenaga kepariwisataan yang ada hanya 58,3 persen atau sejumlah 19 orang dari 47 tenaga yang telah mengikuti pelatihan kepariwisataan. Disamping itu, dari jumlah tersebut, rata-rata jurusan pendidikan mereka hanya beberapa yang berkaitan langsung dengan kepariwisataan. Problem semacam ini akan menjadi kendala yang cukup berarti dalam upaya pengembangan kepariwisataan secara umum. Untuk meminimalisir ketidakberhasilan pengembangan sektor pariwisata karena lemahnya pendidikan kepariwisataan, beberapa hal yang dapat ditempuh antara lain dengan menggiatkan sumber daya manusia yang ada dalam praktek di objek wisata dengan pemahaman yang mendalam serta dibekali dengan teori-teori kreativitas untuk pengembangan objek wisata. Tindakan semacam ini perlu dilakukan juga dengan diikuti system ‘pertandingan’ antar sumber daya manusia dilihat dari keberhasilan

pengembangan melalui system perencanaan yang baik dan penerapan atas perencanaan yang telah disusun tadi dengan kreativitas dan inovatif.

2.3.Konsep Pengembangan Sumber Daya Pariwisata Untuk mengetahui pembangunan dan pengembangan sektor wisata secara umum, harus diketahui pula secara mendetail mengenai potensi sumber daya manusia yang ada. Sebelum sampai peningkatan pengembangan secara global, penelitian terhadap aspek-aspek spesifiki sangat diperlukan dalam rangka mengukur kemampuan dan potensi yang dimiliki. Syamsu, dkk (2001) mengatakan bahwa perencanaan pengembangan suatu kawasan wisata memerlukan tahapan-tahapan pelaksanaan seperti: Marketing Research, Situational Analysis, Marketing Target, Tourism Promotion, pemberdayaan masyarakat dan swasta dalam promosi dan Marketing. Lebih lanjut dijelaskan, untuk menjadikan suatu kawasan menjadi objek wisata yang berhasil haruslah memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut. (1) Faktor kelangkaan (Scarcity) yakni: sifat objek/atraksi wisata yang tidak dapat dijumpai di tempat lain, termasuk kelangkaan alami maupun kelangkaan ciptaan. (2) Faktor kealamiahan (Naturalism) yakni: sifat dari objek/atraksi wisata yang belum tersentuh oleh perubahan akibat perilaku manusia. Atraksi wisata bisa berwujud suatu warisan budaya, atraksi alam yang belum mengalami banyak perubahan oleh perilaku manusia. Selanjutnya, (3) Faktor Keunikan (Uniqueness) yakni sifat objek/atraksi wisata yang memiliki keunggulan komparatif dibanding dengan objek lain yang ada di sekitarnya. (4) Faktor pemberdayaan masyarakat (Community empowerment). Faktor ini menghimbau agar masyarakat lokal benar-benar dapat diberdayakan dengan keberadaan suatu objek wisata di daerahnya, sehingga masyarakat akan memiliki rasa memiliki agar menimbulkan

keramahtamahan bagi wisatawan yang berkunjung. Kemudian, (5) Faktor Optimalisasi lahan (Area optimalsation)

maksudnya adalah lahan yang dipakai sebagai kawasan wisata alam digunakan berdasarkan pertimbangan optimalisasi sesuai dengan mekanisme pasar. Tanpa melupakan pertimbangan konservasi, preservasi, dan proteksi. (6) Faktor Pemerataan harus diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan manfaat terbesar untuk kelompok mnasyarakat yang paling tidak beruntung serta memberikan kesempatan yang sama kepada individu sehingga tercipta ketertiban masyarakat tuan rumah menjadi utuh dan padu dengan pengelola kawasan wisata. Di Kabupaten Wonosobo, sebenarnya factor-faktor tersebut telah terpenuhi, dimana semua unsur yang ada didalamnya telah ada dan berkembang. Namun perkembangan kepariwisataan Wonosobo justru kurang begitu optimal pengembangannya. Hal ini perlu diselidiki lebih lanjut mengenai factor penyebab dan kemungkinan terjadinya kesalahan tindakan yang dilakukan oleh sumber daya pariwisata yang lain selain potensi objek yang ada. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah, bahwa keberadaan objek wisata serta sumber daya pariwisata lainnya harus mendapatkan perhatian secara menyeluruh dan bekerlanjutan. Selama ini, kenyataan menunjukkan adanya objek wisata hanya dilihat dari faktor objeknya dan mengesampingkan multiple effect yang ditimbulkan akibat adanya area wisata tersebut. Untuk itu, konsep pengembangan berkelanjutan harus benarbenar dioptimalkan. Menutut Ardiwidjaja (2003), berkelanjutan dapat diartikan kelestarian yang menyangkut aspek fisik, sosial, dan politik dengan memperhatikan pengelolaan sumber daya alam (resources management) yang mencakup hutan, tanah, dan air, pengelolaan dampak pembangunan terhadap lingkungan, serta pembangunan sumber daya manusia (human resources

development). Sedangkan Swarbrooke (1998), mengatakan bahwa pada hakekatnya pariwisata berkelanjutan harus terintegrasi pada tiga dimensi. Tiga dimensi tersebut adalah, (1) dimensi lingkungan, (2) dimensi ekonomi, dan (3) dimensi sosial. Selanjutnya berdasarkan konteks pembangunan berkelanjutan, pariwisata berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai: pembangunan kepariwisataan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan dengan tetap memperhatikan kelestarian (conservation, environmental dimention), memberi peluang bagi generasi muda untuk memanfaatkan (economic dimention) dan mengembangkannya berdasarkan tatanan social (social dimention) yang telah ada. Mengutip UU Nomor 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan, disebutkan bahwa pembangunan objek dan daya tarik wisata dilakukan dengan memperhatikan; (1) kemampuan untuk mendorong peningkatan perkembangan kehidupan ekonomi dan sosial budaya. (2) nilai-nilai agama, adat istiadat serta pandangan da nilai0nilaiyang hidup dalammasyarakat. (3) kelestarian mutu lingkungan hidup. (4) Kelangsunganusaha pariwsata itu sendiri. Untuk mengjelaskan pengemnai pengembangan pariwsata, Yoeti (2002:52) menetapkan sasaran pengembangan pariwisata pada suatu daerah tujuan wisata sebagai berikut: Pertama, mempersiapkan aksesbilitas, fasilitas dan daya tarik pariwisata sedemikian ruap sehingga bila wisatawan berkunjung ke daerah tempat wisata tersebut merasa puas, senang dan sesuai harapannya, harapan tentang alas an ia melakukan perjalanan wisata. Kedua, supaya perusahaan-perusahaan yang termasuk kelompok industry pariwisata memperoleh hasil keuntungan yang berimbang atau proposional dengan volume kunjungan wisatawan ke daerah itu, apalagi bagi pengusaha

yang telah menginvestasikan modalnya dalam sector pariwisata untuk pengembalian relative cukup lama. Ketiga, pengembangan yang dilakukan hendaknya sekaligus dapat memberikan perlundungan terhadap kerusakan lingkungan, pencemaran seni dan budaya, kerusakan moral dan kepribadian bangsa, kehancuran kehidupan beragama dan terhindar dari perdagangan narkotika internsional. Ia menekankan pada ekonomi, namun sasaran akhirnya mengingatkan agar sasaran ketiga dianggapnya lebih penting diperhatikan. Daerah biasanya memiliki banyak gagasan atau ide bagaimana meningkatkan peranan pariwisata tersebut, akan tetapi sering dihadapkan pada keterbatasan sumber daya dan keuangan. Bila demikian halnya, karena da keterbatasan-keterbatasan maka harus memilah-milah proyek mana saja yang harus diprioritaskan untuk dikembangkan pertama kali dan proyek mana saja yang dapat dikerjakan belakangan. Istilahnya menyusun skala prioritas pembangaunan pengembangan potensi pariwisata.

2.4.Perencanaan Strategis Perencanaan strategis merupakan unsur yang cukup penting dalam rangka pemberdayaan sumber daya pariwisata. Seberapa penting unsur ini tergantung dari seberapa dalam mampu menganalisis fungsi dan manfaat rencana strategis. Menurut Olsen dan Eadie (dalam Bryson 2000:184) perencanaan strategis adalah upaya yang didisiplinkan untuk membuat keputusan dan tindakan penting yang membentuk dan memandu bagaiman menjadi organisasi (atau entitas lainnya) apa yang dikerjakan organisasi (atau entitas lainnya) dan mengapa organisasi (atau entitas lainnya) mengerjakan hal seperti itu. Dalam perencanaan pariwsata dilaksankan diberbagai tingkat, dari tingkat makro sampai local atau lebih detil. Tiap level berfokus pada

pertimbangan-pertimbangan tertentu, yang tak jarang pertimbangan tersebut merupakan pertimbangan khusus. Dalam kerangka umum, level tersebut terdiri dari perencanaan pariwisata tingkat internasional (WTO, IATA, WTTC, IFTO, IH&RA, ICCL dan lainnya), di tingkat regional muncul PATA, TCSP dan IOTO sebagai salah satu penggiat rencana strategis (renstra) tersebut. Pada tingkat nasional, kebijakan nasional wisata, rencana structural, pencapaian internasional ke dalam ngeri, fasilitas di tingkat nasional, standar pelayanan, kebijakan penanaman modal dan kebijakan pemasaran merupakan bagian penting dalam renstra. Pada tingkat provinsi, renstra tersusun atas jaringan pencapaian dan kendaraan, fasilitas dan standar pelayanan dan sebagainya. Sementara lebih spesifik lagi pada tingkat objek lebih mengarah pada lokasi bangunan dan fasilitas yang tersedia. Teori perencanaan tidak hanya berdasar pada satu paradigma Perencanaan adalah fasilitasi, atau advokasi, atau intervensi yang bertujuan mengubah proses yang sudah ada. Makin kompleks dan tidak pastinya keberpihakan perencana antara sektor publik dan sektor swasta, antara menuruti atasan, kolega perencana lain, dan publik. Umumnya perencana dituntut untuk dapat mewujudkan keinginan publik/masyarakat. Beberapa pendekatan yang umumnya dilakukan (untuk semua sector dan level, tidak hanya pariwisata) adalah; a. Pendekatan system b. Pendekatan komprehensif, c. Pendekatan integrative d. Pendekatan lingkungan dan bekelanjutan e. Pendekatan strategis f. Dapat diimplementasikan,

g. Perencanaan terpusat h. Perencanaan dari bawah i. Penyediaan dan permintaan Dalam pendekatan perencanaan tersebut, acapkali beberapa pendekatan digunakan dalam satu upaya penyusunan renstra sekaligus. Hasilnya memang cukup efektif dan tepat sasaran, namun ditengah melakukan analisis mengenai hal tersebut berhadapan pula dengan beberapa problem analisis, khususnya tentang kerumitan processing data. Dalam proses perencanaan, beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain; (1) Analisis, mengenai penyediaan dan permintaan, (2) sintesis, tentang penentuan visi dan misi strategis, (3) Penentuan, mengenai tujuan, sasaran dan pemilihan strategi, (4) Pembuatan rencana dan cara implementasi dan (5) penentuan cara monitoring, evaluasi dan koreksi. Menurut cara pandang Olsen dan Eadie (dalam Bryson 2000:189), dalam proses perumusan perencanaan strategis harus meliputi komponen-komponen dasar yang teridir dari : a. Pernyataan misi dan tujuan umum (overall mission and goals statement), yang dirumuskan oleh para pimpinan (eskekutif) manajemen dan menekankan pemikiran strategis yang dikembangan dengan target-target kedepan. b. Analisis lingkungan (environmental scan or analiysis), dengan menidentifikasi dan menilai serta mengatisipasi faktor-faktor eksternal dan kondisi yang harus diperhitungkan untuk bahan memformulasikan strategi organisasi. c. Memeriksa keadaan dan sumber daya internal (internal profile and resource audit), dengan menevaluasi kekuatan dan kelemahan organisasi, sehingga dapat dipertimbangkan dalam penyusunan perencanaan strategis.

d. Melaksanakan dan mengawasi rencana strategis (the implementation and control of the strategic plan). Selain komponen-komponen diatas dalam proses perencanaan strateigs ada pula tahapan-tahapan dalam proses perencanaan strategis yang dapat pula dikatakan seabgai komponen yang peril diperhatikan dalam upaya menyuns renstra. Osborne dan Gaebler (1999:43) memandang beebrapa hal terkait dengan ini: a. Analisis situasi, baik internal maupun ekstrenal (analysis of the situation, both internal and eksternal). b. Diagnosis, atauidentifikasi isu-isu kunci (diagnosis, or identification of the key issues facing the organization). c. Mendefinisikan misi organisasi (definition of the organization’s fundamental mission). d. Mengartikulasian tujuan dasar organisasi (articulation of the organization’s basic goals). e. Menciptakan sebuah visi: keberhasilan seperti apa yang diinginkan (creation of a vision: what success looks like). f. Mengembangkan suatu strategi untuk meralisasikan visi dan tujuantujuan (development of a strategy to realize the vsion and goals). g. Mengembangkan jadwal untuk melaksanaan strategi (development of a timetable for that strategy). h. Mengukur dan mengevaluasi hasil (measurement and evaluation of results) Dalam rangka penyusunan perencanaan strategis tersebut, beberapa proses yang diperlukan antara lain: a. Merumuskan visi dan misi organisasi.

b. Melakukan analisis SWOT dalam rangka identifikasi lingkungan internal dan eksternal. c. Mengidentifikasi isu strategis d. Merumuskan strategi untung mengelola isu. e. Implementasi. Visi menempati urutan pertama karena keberadaan visi sangat penting, khususnya untuk langkah kesuksesan masa depan yang menjadi impian realistis. Visi merupakan sesuatu yang dicita-citakan, nilai yang hendak dikejar atau kondisi ideal di masa depan yang ingin diwujudkan. Bryson (1995:184) mengemukanan tentang visi sebagai suatu deskripsi yang jelas dan ringkas tentang organisasi atau komunitas harus seperti apa ketika organisasi tersebut berhasil mengimplementasikan strateginya dan mencapai seluruh potensinya. Fungsi visi bagi suatu organisasi adalah memberikan arahan kepada organisasi, kemana arah organisasi akan menuju. Visi yang jelas juga akan mendorong anggota organisasi melakukan perubahan untuk menuju kepada visi, atau dengan katalain visi merupan driving forces perubaha. Untuk mewujudkan visi tersebut, misi menjadi langkah-langkah strategis yang kemudian harus diambil dalam upaya merealisasikan visi. Misi memberi gambaran global mengenai langkah-langkah strategis seperti apa yang perlu diambil. Perumusan suatu rencana strategi untuk pengembangan potensi pariwisata harus mencakup semua strategi, baik untuk daerah tujuan wisata itu sendiri maupun untuk perusahaan-perusahaan yang berkegar dalam usaha pariwata yang terlibat dalam kegiatan pariwisata di daerah. Rencana strategi hendaknya mencakpu program dan kegiatan yang kini sedang dilaksanakan dengan memperhatikan, apakahah kegiatan dan program tersebut relevan dengan kondisi yang terjadi di daerah.

Kolter dan Fox (dalam Yoeti, 2002:1) mengingatkan perumusan suatu strategi harus berdasarkan dan berpedoman kepada: environment analysis, resource analysis dan goal formulation steps. Dalam perumusan strategi suatu daerah tujuan wisata, dianjurkan untuk melakukan tiga tingkatan, yaitu: pertama, melakukan analisis terhadap perusahan-perusahaan kelompok industry pwariwsata ang terdapat di daerah tujuan wisata tersebut. Kedua, penyusunan strategis yang menyangkut kebijakan pemerintah daerah tentang pengembangan pariwisata, dan ketiga, strategi pengembangan pariwisata secara regional menyangkut aksesibilitas, fasilitas, objek dan atraksi wisata dan sarana pendukung lainnya.

2.5.Konsep Perumusan Strategis dalam Pengembangan Sumber Daya Parwisata Dari teori perumusan strategis yang telah dikemukakan dimuka, untuk menjabarkannya pada dataran teknis, perlu dilakukan pengonsepan perumusan strategis dalam pengembangan sumber daya pariwisata. Konsep tersebut merupakan unsur turunan yang akan menjadi pemandu menyusun program-program teknis dalam rangka pengembangan pariwisata secara umum. Untuk membuat suatu rumusan strategi bagi Pemerintah Kabupaten Wonosobo, khususnya untuk Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dalam mengembangkan potensi pariwisata sebagaimana yang penulis harapkan dalam penyusunan tesis ini, penulis menggunakan pendekatan perencanaan strategis pada langkah-langkah proses perencanaan strategis yang dikemukan oleh Bryson (1995:55) yakni: a. Memprakarsai dan menyepakati suatu proses perencanaan strategis. b. Mengidentifikasi mandate organisasi.

c. Memperjelas misi dan nilai-nilai organisasi. d. Menilai lingkungan ekstrnal : peluang dan ancaman. e. Menilai lingkungan internal : kekuatan dan kelemahan. f. Mengidentifikasi isu strategis yang dihadapi organisasi. g. Merumuskan strategi untuk mengelola isu. h. Menciptakan visi organisasi yang efektif bagi masa depan. Adapun terkait dengan langkah-langkah yang dirumuskan Bryson tersebut, secara umum akan digunakan oleh penulis sebagai pendekatan untuk perumusan perencanaan strategis. Langkah-langkah tersebut apabila dijabarkan dalam skema besar adalah: 2.5.1. Mengidentifikasi mandat organisasi 2.5.2. Analisis terhadap lingkungan strategis, berupa; 2.5.2.1. Penilaian LIngkungan Internal Mengacu pada 3 kategori utama, yaitu: 2.5.2.1.1. Sumber Daya (input) Merupakan kumpulan dari faktor-faktor yang

tersedia yang dikendalikan atau dimiliki oleh suatu organisasi. Sumber daya merupakan input proses produksi organisasi seperti kemampuan staf, anggaran serta sarana dan prasaran pendukung. Kelangkaan sumber daya tetap merupakan hambatan bagi pelaksanaan kegiatan organisasi. Suatu rencana apabila tidak didukung oleh mobilisasi sumber daya yang layak, tidak akan dapat diubah menjadi suatu tindakan. Perkiraan sumber daya akan terutama memperhatikan implikasi financial, sebagai kondisi

apriori dari karakter investasi dalam rencana tindakan.

2.5.2.1.2. Strategi sekarang (proses) Strategi sekerang menyangkut strategi yang telah dilakukan sekarang. Untuk itu makan perumusan strategi yang dilkaukan tersebut pada dasarnya perlu memedomani para pemimpin dalam menetapkan aktivitas yang akan ditekuni organisasi, tujuan akhir yang ingin dicapai. Ancangan formulasi strategi merupakan penyempurnaan dari ancangan perencanaan jangka panjang. Proses untuk membuat strategi biasanya perlu diawali dengan menetapkan visi-misi organisasi sampai penetapan strategi.

2.5.2.1.3. Kinerja (output) Kinerja suatu organisasi public khususnya

pemerintah merupakan hasil kerja dan kemampuan sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi yang bersangkutan atau dengan kata lain kemajuan dan kinerja suatu organisasi public sangat tergantung kepada kemampuan yang dan etos kerja para stakeholders berkepentingan dengan

organisasi. Kemampuan dan etos kerja dimaksud adalah kemampuan dan etos kerja di dialam mengoptimalkan dimensi-dimensi territorial aktivitas organisasi public baik pada aspek ekonomi, sosial, budaya, politik dan teknologi, implicit

kemampuan menciptakan kesejahteraan setiap warga masyarakat maupun stakeholders.

2.5.2.2. Penilaian lingkungan eksternal mengacu pada 4 kategori, yaitu: 2.5.2.2.1. Faktor Politik Dalam faktor ini perlu mendapatkan perhatian dan harus disimak dan dinilai degan cermat meliputi; (a) kondisi kestabilan politik dalam negeri, stabilitas politik dalam negeri memberikan peluang bagi pemerintah yang lebih daerah luas dan untuk nyata. meningkatkan Pada tingkat kesejahteraan masyarakat dan mendapatkan otonomi internasional, perlu dipelajari tentang iklim politik internasional, di kawasan-kawasan tertentu dan beberapa Negara yang tekait dengan kegaitan pembangunan. (b) Konsistensi dari kebijakan dan peraturan daerah, konsistensi dari kebijakan dan peraturan pemerintah sangat diharapkan agar proses manajerial organisasi public pada tingkat di bawahnya akan berjalan sesuai dengan yang direncankan. Konsistensi yang dimaksud adalah kebijakan, peraturan-peraturan maupun undangundang.

2.5.2.2.2. Faktor Ekonomi Yang dimaksud engan faktor ekonomi adalah berbagai faktor di bidang ekonomi dalam

lingkungan mana suatu organisasi bergerak atau beroperasi. Karena pola konsumsi dipengaruhi oleh kesejahteraan relative berbagai segmen pasar, dalam perencanaan strategis setiap organisasi harus mempertimbangkan kecenderungan ekonomi di segmen-segmen yang mempengaruhinya. Dalam faktor ekonomi yang perlu disimak dan dinilai adalah: a) situasi ekonomi saat ini dan arah perubahan pada masan yang akan dating, ditngkat nasional, regional dan internasional. b) Kondisi saat ini dan arah perubahan dari tingkat pertumbuhan ekonomi yangmeliputi antara lain: produk domestic regional buto (PDRB), ketersediaan modal dan tingkat pendapatan.

2.5.2.2.3. Faktor Sosial Dalam bidang sosial, faktor-faktor yang perlu mendapatkan perhatian dan dinilai antara lian yang berkaitan dengan: nilai0nilai yang dianut, sikap, pandangan dan pola hidup dan kebudayaan. Pada aspek lain perubahan sosial yang merupakan suatu perubahan yang dinamis, yang terus menerus terjadi sebagai hasil suatu usaha manusia untuk mengendalikan dan menyesuaikan diri dengan faktor-faktor lainnya, agar dapat memuaskan kebutuhan (need) dan keinginan (want) mereka. Faktor yang perlu dipertimbangkan untuk dinilai adalah; jumlah penduduk, tingkat pertumbuhan, pendidikan dan pola hidup.

2.5.2.2.4. Faktor Teknologi Untuk menghindari keusangan dan mendorong inovasi, organisasi harusmewaspadai perubahan teknologi yang mungkin terciptanya dalam teknik mempengarhuinya. produk produksi baru, dan Adaptasi teknologi yang kreatif dapat membuka kemungkinan penyempurnaan penyempurnaan produk yang sudah ada atau pemasaran. Terobosan teknologi dapat mempunyai dampak segera dan dramatic atas lingkungan organisasi, terobosan teknologi dapat membuka pasar dan produk baru yang canggih. Dengan perubahan teknologi yang pesat, adalah penting bagi organisasi untuk segera teliti mengamati elemen yang berbeda dalam segmen teknologi.

2.5.3. Identifikasi isu-isu strategis Langkah ketiga ini merupakan langkah yang paling penting dalam rangka merumuskan strategi pengembangan sector pariwisata, karena menurut Bryson (2000: 161) mengidentifikasi isu-isu strategis adalah jantung dalam proses perencanaan strategis. Dari beberapa isu yang telah teidentifikasi, maka untuk mengetahui ukuran tentang bagaiman stragisnya suatu isu dengan menggunakan litmus test. Untuk lebih jelas, dapat dilihat dari table dibawah ini: Tabel II.1 Litmus Test untuk Isu-isu Strategis Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam Pengembangan Potensi Pariwisata

No 1

Pertanyaan Kapan tantangan atau peluang isuisu strategis ada dihadapan organisasi? Seberapa luas isu tersebut akan berpengaruh kepada organisasi? Seberapa banyak resiko keuangan/eluang keuangan instansi anda Akankah strategi-strategi bagi pemecahan isu akan memerlukan: 1. 2. Pengembangan sasaran dan program pelayanan baru? Perubahan signifikan dalam sumber-sumber keuangan/anggaran? 3. Perubahan signifikan dalam peraturan perundangundangan? 4. 5. Penambahan atau modifikasi fasilitas utama? Penambahan staf yang signifikan?

Skor 1 Sekarang

Skor 2 Tahun depan Beberapa instansi Sedang (antara 10-25 persen)

Skor 3 Dua tahun atau lebih dari sekarang Seluruh instansi Besar (lebih dari 25 persen)

2 3

Instansi tunggal Kecil (kurang dari 10 persen)

4

Tidak

Ya

5

Bagaimana pendekatan yang terbaik bagi pemecahan isu?

Jelas siap diimplemntasikan

Parameter luas agak terperinci Kepala sub dinas Kekacauan Kekacauan pelayanan jangka panjang dan biaya besar/penghaisla n merosot Empat atau lebih keras Kepala dinas Terbuka luas

6

Tingkat manajemen terendah manakah yang dapati menetapkan bagaimana menaggulangi isu? Staf lini

7 Konsekuensi apakah yang mungkin terjadi bila isu ini tidak diselesaikan? Ada gangguan inefisiensi pelayanan, kehilangan sumber dana 8 Seberapa banyak dinas/instansi lainnya yang dipengarhui dan 9 dilibatkan dalam pemecahan? Bagaimana sensivitas atau charged isu ini terhadap nilai-nilai politik, religious dan sosial, cultural Tidak ada Lunak Satu sampai tiga Sedang

komunitas?

Sumber: Bryson (2000: 184)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Dalam penelitian yang penulis lakukan, penulis menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan metodologi ini memungkinkan untuk menyajikan data yang dapat memberikan gambaran atau mendeskripsikan secara sistematis, factual dan akurat terhadap objek yang diteliti. Metode ini merupakan salah satu dari beberapa jenis penelitian yang dinilai paling cermat dalam mengukur fenomena tertentu. Menurut Jazuli Akhmad dan Nur Widiastuti (2010:13) penelitian deskriptif adalah pengumpulan data untuk diuji hipotesis atau menjawab pertannyaan mengenai status terakhir dari subyek penelitian. Tipe yang palin gumum adalah penilaian sikap atau pendapat terhadap individu, organisasi, keadaan atau prosedur. Dari pengertian diatas, ada dua kemungkinan yang dapat diambil dalam penelitian menggunakan metode ini, yakni mengumpulkan data untuk diuji hipotesis dan menjawab pertanyaan mengenai situasi terakhir dari obyek penelitian. Dalam penulisan ini, penulis mengembangkan konsep menghimpun fakta tetapi tidak melakukan pengujian hipotesis. Terkait dengan penelitian ini, yang dimaksud orang dalam lingkungan hidupnya adalah mereka yang terlibat dalam pengembangan potensi pariwsata, yaitu pemerintah daerah, stakeholders, yang terkait dengan pariwisata dan masyarakat yang mengenal dampak dari pengembangan pariwisata. Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, maka penlis akan melakukan penelitian terhadap bagaiman aupaya-upaya yang seharusnya dilakukan oleh

Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam rangka mengembangkan sector pariwisata, dimana potensi pariwsata sangat besar tetapi tidak dikelola secara professional sehingga akan mendatngkan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. 3.2. Aspek yang Diteliti Dalam penelitian ini, penulis lebih memfokuskan pembahasan pada aspek sebagai berikut; 3.2.1. Misi dan Mandat Organisasi Misi adalah tujuan yang hendak diwujudkan pemerintah Kabuaten Wonosobo dalam upayanya mengembangkan potensi pariwisata di daerahnya. Sementara pengamatan terhadap faktor misi adalah apa yang hendak diwujudkan oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo apabila mandate tersebut dilaksanakan. Sedangkan madat adalah apa yang seharusnya dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam pengembangan potensi pariwisata. Faktor yang diamati adalah seluruh tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo.

3.2.2. Lingkungan Internal Lingkungan internal yaitu berbagai faktor lingkungan yang berada di dalam tubh organisasi pemerintah daerah yang berkaitan dengan pariwsata yang berpengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap pencapaian visi, misi dan mandate organisasi yang merupakan kekuatan dan kelemahan organisasi yang meliputi antara lain; a. Faktor Sumber Daya (Input) yaitu gambaran sumber daya, anggaran/dana, fasilitas/sarana dalam rangka pengembangan

potensi pariwisata oleh Pemerintah Daerah. b. Faktor Strategi (proses), yaitu gambaran strategi pengembangan potensi parwisata yang telah ditetapkan di Kabupaten Wonosobo yang dapat dikaji melluik kebijakan apa yang telah dilakukan pemerintah kabuapten dalam memanfaatkan sumber daya, dana, SD,M, fasiltas yang dimiliki oleh pemerintah daerah untuk pengembangan potensi pariwisata. c. Faktor Kinerja (output), yaitu gambaran hasil yang telah dicapai oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam rangka melakukan pengembangan potensi pariwisata.

3.2.3. Lingkungan Eksternal Yang dimaksudkan dengan lingkungan eksternal adalah berbagai fkator lingkungan yang berda di luar organisasi Pemerintah Kabupaten Wonosobo yang dapat mempengarhui secara langsung atau tidak langsung terhadap pencapaian visi dan misi di sector pariwisata. a. Faktor Politik, yaitu menyangkut berbagai kebijakan pemerintah, khususnya di bidang pariwisata atau yang memiliki keterkaitan dengan bidang tersebut dimana dapat memberikan dampak langsung atau tidak langsung terhadap pengembangan potensi pariwisata, yaitu komitmen-komitmen politik, perungangundangan, pemgbanungan dan sebagainya. b. Faktor Ekonomi, yaitu berbagai kecenderungan dinamika

perekonomian di luar sector pariwisata yangmemberikan dampak langsung atau tidak langsung terhadap pengembangan sector pariwisata. c. Faktor Sosial, yaitu berbgai gambaran keadaan sosial budaya

masyarakat yang memberikan dampak langsung atau tidak langsung terhadap pengembangan potensi pariwisata berupa kebiasaan hidup (lifestyle) maupun budaya masyarakat. d. Faktor Teknologi, yaitu perkembangan teknologi yang

memberikan dampak langsung atau tidak langsung tehadap pengembangan potensi pariwisata.

3.3. Teknik Pengumpulan Data Untuk kepentingan pengumpulan data, beberapa pendekatan yang penulis lakukan adalah: a. Pengamatan (Obeservasi) Yaitu melakukan pengamatan secara langsung berkaitan dengan kondisi lokasi penelitian maupun terhadap hal-hal lain yang terkait dengan tujuan penelitian, untuk mendapatkan data yang obyektif.

b. Wawancara (interview) Teknik wawancara atau interview merupakan teknik dalam pengumpulan data yang dilakukan dengan Tanya jawab secara bebas namun tetap terarah, maksudnya bahwa dalam melakukan wawancara, peneliti tetap berpedoman pada pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan. Tidak terlepas dari itu peneliti juga akan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya spontan untuk menunjang data-data penelitian ini. Wawancara diarahkan kepada pihak-pihak yang memiliki keterlibatan langsung dengan penelitian ini.

c. Studi Dokumenter Teknik ini merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mempelajari dokumen-dokumen yang berkaitan denganpenelitian ini berupa catatan-catatan, arsip-arsip dan kumpulan peraturan perundang-undangan, sertalaporan-laporan dari dinas-dinas terkait dengan penelitian ini.

3.4. Sumber Data Dalam rangka pengumpulan data yang menunjang penelitian ini, maka peneliti akan menetapkan sumber data sesuai dengan data yang dibutuhkan. Untuk itu maka peneliti menetapkan beberap aorang sebagai sumber data sebagai berikut : Kepala Bagian Pemasaran Sekreatiat Daerah Kabuapaten Wonosobo, Kelaa Dinas Pekerjaan Umum, Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Bappeda, Kepala Cabang PT Telkom, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dan sebagainya.

3.5. Teknik Analisis Data Dalam menganalisis data yang akan diperoleh dalam penelitian ini, maka penulis akan mempergunakan teknik analisis kualititatif, yaitu teknik analisis yang dilakukan mellaui pemikiran logis, baik secara induktif, deduktif, analogi, maupun komparatif dengan tujuan untuk memperoleh suatulangkah strategis dalam pengembangan pariwisata. Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diproses dengan analisis data yang mengacu pada model perencanaann strategis dan dalam hal ini dibagi dalam pbeberapa tahapan proses, yakni; a. Mengidentifikasi visi, misi dan madat organisasi, dengan menanalisis data sekunder berupa peraturan perundang-undangan yang berlaku.

b. Analisis SWOT : yaitu dengan menganalisis data sekunder maupun data primer untuk menilai lingkungan internal berupa kekuatan dan kelemahan denganmemantau sumber daya (input), strategi (proses) dan kinerja (output). Lingkungan kesternal berupa peluang dan ancaman dengan memantau berbagai kekuatan kecenederungan politik, ekonomi, sosial dan teknologi. c. Mengidentifikasi isu-isu strategis; dalam proses identifikasi isu strategis selain berpegang pada hasil analisis SWOT juga harus tidak terlepas dari visi dan misinya sehingga strategi yang akan dikembangkan akan menuju pada pencapaian visi dan misi tersebut. Bryson mengemukakakn ada empat pendekatan untuk merumuskan isu strategis yaitu: 1) Pendekatan langsung (the direct approach); 2) pendekatan sasaran (the goals approach) dan 3) Pendekatan visi kebehrasilan (the vision of the success approach). Pendekatan langsung meliputi jalna lurus dari ulasan terahdap mandate, misi dan SWOT (kekuatan-kelemahan-peluang dan ancaman) hingga identifikasi isu-isu strategis. Pendekatan ini merupakan yang tebaik ketika tidak adak kesepakatan tetnang sasaran (goals), atau jika ada kesepakatan tentang sasaran, maka sasaran itu sendiri terlalu abstrak untuk digunakan. Dengan kata lain pendekatan langsung akan bekerj sangat baik ketika tidak ada kesesuaian nilai. Pendekatan langsung akan sangat baik jika tidak ada visi keberhasilan sebelumnya dan megembangkan visi berdasarkan konsensus akan terlalu sulit. Pendekatan sasaran dapat bekerja jika kesepakatan yang agak luas dan mendalam tentang sasaran dan tujuan organisasi serta jika sasaran dan tujuan itu cukup terperinci dan spesifik untuk memandu pengembangan strategi. Pendekatan ini juga dapat diharapkan bekerja ketika ada struktur otoritas herarkis dengan para pemimin di puncak

dapat memksakan ssaran itu pada keseluruhan system. Pendekatan ini lebih mungkin bekerja dalam organisasi public yang berfungsi tunggal dari pada dalam situasi multi organisasi atau multi fungsi. Pendekatan visi keberhasilan menjadi sangat berguna jika organisasi kesulitan mengidentifikasi isu-isu strategis secara langsung. Jika tidak ada kesepakatan sasaran dan tujuan yang terperinci dan spesifik serta akan sulit mengembangkan strategi, dan jika perubahan drastic mngkin diperlukan. Pendekatan ini lebih mungkin bekerja dalam organisasi nirlaba ketimbang organisasi public. Mengingat bahwa Pemerintah Kabupaten Wonosobo adalah

organisasi public, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan langsung yaitu setelah identifikasi imisi,mandate dan SWOT langusng melakukan identifikasi isu-isu strategis. d. Mengevaluasi isu strategis, berdasarkan isu-isu strategis yang telah ditetapkan pada tahap ketiga, maka tahap ini bertujuan untuk mengukur tingkat kestrategisan suatu isu dengan mempergunakan alat ukur berupa litmus test. e. Merumuskan Program Strategis: program strategis disusun sebagai respon terhadap isu-isu strategis yaitu apa yang akan dilakukan oleh organisasi untuk menanggulangi isu. Pada tahap ini dirumuskan rencana langkah-langkah strategis, alternatif kebijakan mendasar yang akan dilalkukan untuk menanggulangi atau menjawab isu strategis.

BAB IV HASIL DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN 4.1. Visi, Misi, Mandat Kabuaten Wonosobo dan Strategi Kebijakan Sektor Pariwisata Menjabarkan visi, misi dan mandate Kabupaten Wonosobo terkait dengan perihal pengembangan sumber daya pariwisata merupakan langkah awal sebelum melakukan analisis mendalam mengenai hal tersebut yang selanjutnya akan digunakan sebagai kerangka acuan dalam rangka menyusun program dan teknis pelaksanaan pengembangan pariwisata. Perihal pembangunan pariwisata ini, Kabupaten Wonosobo memiliki visi “Mewujudkan Wonosobo sebagai daerah tujuan wisata utama (main tourism destination) di Indonesia yang berkualitas dan bernilai ekonomis tinggi, dengan cirri khas wisata alam (natural tourism) yang mampu menampilkan inovasi dan kreasi baru berdasarkan indigenous value dari potensi yang ada”. Dengan adanya visi tersebut, Pemerintah Kabupaten Wonosobo terus melakukan berbagai upaya kegiatan agar visi tersebut secara bertahap dapat terealisasi. Dalam penerapan visi tersebut, Pemerintah Kabupaten Wonosobo kemudian menurunkan visi tersebut kedalam konsep-konsep yang lebih teknis berupa misi pengembangan pariwisata. Spillane, James (2001:21) mengemukanan misi adalah tujuan (prupose) yang unik yang membedakan dari perusahaan/organisasi lain yang sejenis dan mengidentifikasi cakpuan operasinya. Pengembangan pariwisata di Kabupaten Wonosobo merupakan bagian dari pembangunan pariwisata nasional dan wilayah pengembangan wisata. Hal ini berarti misi yang akan dilaksanakan disusun dalam kerangka misi pengembangan pariwisata nasional dan wilayah. Namun demikian,

penyusunan misi pengembangan pariwisata Kabupaten Wonosobo tetap akan mempertimbangkan karakteristik wisata yang ada serta visi pengembangan pariwisata akan dicapai. Hasil dari analisis penyusunan misi tersebut oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo adalah: a. Mengembangkan produk wisata yang variatif dengan tingkat pelayanan tinggi sehingga mampu menarik dan menahan wisatawan yang dating berkunjung. b. Memperbesar penerimaan Pendapatan Asli Daerah dari sector pariwisata. c. Mampu berperan dalam pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. d. Memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat luas. e. Berorientasi pada pengembangan usaha skala kecil dan menengah. f. Menjadikan pariwisata sebagai agen pelestari adat dan budaya serta lingkungan. g. Mampu mendukung kegiatan pembangunan dan pengembangan wilayah seara umum. h. Membentuk suatu kesadaran dari stakeholders, pengusaha di bidang pariwisata dan masyarakat untuk mengembangkan pariwisata yang ramah lingkungan baik fisik maupun non fisik sehingga pengembangan pariwsata dapat diterima secara sosial (sosiocultural acceptable) dan ekologis (ecologically sustainable).

4.2. Analisis Lingkungan Internal

4.2.1. Aspek Input (Sumber Daya) Aspek sumber daya merupakan aspek yang paling penting, gabungan dari unsur ini merupakan energy yang menentukan apakah kepariwisataan dapat berjalan sesuai dengan harapan atau tidak. Aspek input sendiri meliputi sumber daya manusia, sumber daya anggaran, sumber daya sarana dan prasarana, informasi dan budaya organisasi yang dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam rangka pengembangan potensi.

4.2.1.1. Sumber Daya Manusia Aspek sumber daya manusia (SDM) adalah aparartur yang ada di jajaran Pemerintah Kabupaten Wonosobo, lebih spesifik tenaga yang dimiliki Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Saat ini secara kuantitas, jumlahnya masih harus diperhitungkan ulang untuk kabupaten yang memiliki potensi wisata cukup besar. Betapa tidak, SDM yang dimiliki oleh instansi tersebut apabila dibandingkan dengan beban kerja yang harus ditanggung memiliki jarak yang cukup jauh, akibatnya satu SDM diwajibkan untuk mengerjakan pekerjaan yang seharusnya untuk dua atau tiga orang tenaga. Pada instansiinstansi tersebut, jumlah pengawainya kurang memenuhi target, kekurangan jumlah pegawai ini diakibatkan oleh Kabupaten Wonosobo merupakan kabupaten yang baru dimekarkan. Untuk itu pemerintah daerah berupaya untuk memenuhi target jumlah pegawai dengan melakukan rekrutmen sesuai dengan kemampuan yang tersedia. Sementara itu, apabila ditinjau dari sisi kualitas, kondisinya tidak kalah memprihatinkan, betapa tidak dari jumlah SDM yang ada, masih banyak egawai yang mempunyai

latar belakang pendidikan kurang memadai. Sesuai hasil obeservasi yang dilakukan pada masing-masing dinas, kantor, instansi maupun badan di Kabupaten Wonosobo, dimana pegawai yang berlatar belakang pendidikan sarjana S1 pada masing-masing instansi hanya sebanyak 15 persen dari jumlah pegawai yang ada. Spesifik ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, sumber daya aparatur khusus di bidang kepariwsataaan sampai dengan saat ini belum ada. Hal init erlihat dari seluruh jumlah pegawai di Kabupaten Wonosobo hanya satu orang yang mempunya latar belakang pendidikan kepariwsataan. Akibatnya dalam rangka upaya pengembangan pariwisata maupun dalam rangka penyusunan rencana pengembangan pariwisata masih mengalami banyak kendala. Untuk mengubahnya, tampaknya Pemerintah Kabupaten Wonosobo harus melakukan langkah antisipasi dengan dengan mengikutsertakan para pegawai khusus untuk menangani urusan kepariwisataan dengan mengikuti pendidikan maupun pelatihan bidang kepariwisataan. Terkait dengan persoalan sumber daya manusia tersebut, maka di Bagian Pesaran Sekretariat Daerah Kabupaten Wonosobo yang diserahi keewenangan untuk menangani urusan kepariwsataan di Kabupaten Wonosobo dari sisi kuantitas hanya diperkuat dengan 15 orang pegawai yang melakukan aktivitas sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Komposisi 15 orang pegawai yang ada pada bagian tersebut dibagi menjadi empat sub bagian. Secara kuantitas, jumlah tersebut juga sangat tidak memadai apabila dibandingkan dengan volume kerja dan

rutinitas yang begitu padat. Sementara ditilik dari sisi kualitas, rata-rata pegawai yang ada pada bagian tersebut belum memdai pula. Hal ini dikarenakan Dinas Pariwsata dan Kebudayaan merupakan hasil gabungan dari dua macam dinas, masing-masing Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dan Sub Bdinas Kebudayaan yang tadinya berada di bawah Dinas Pendidikan. Kemudian, berbagai macam mutasi pegawa dan wajar apabila dilihat dari kedua tolok ukur tersebut keberadaan sumber daya manusia tidak memenuhi target. Menilik pada internal Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, ternyata sumber daya manusia yang ada secara kualitas juga masih belum memadai, hal ini akan tampak jelas pada table dibawah ini: Tabel IV.1 Susunan Kepegawaian Menurut Tingkat Pendidikan Pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo Tahun 2010

No

Pendidikan

Jenis Kelamin L P

Jumlah

Prosentas e

Pendidikan Formal 1 2 3 SD SMP SMA 5 2 13 4 5 2 17 36,17 10,63 4, 25

4

Sarjana Muda/Diploma

2

6

8

17 ,0 2 29 ,7 8 2,12 100

5 6

S.1 S.2 Jumlah

9 1 32

5 15

14 1 47

Latihan Jabatan 1 2 3 Diklat Pim IV Diklat Pim III Diklat Pim II Jumlah 10 10 6 3 9 16 3 19 40,42 34,04 6, 38 0

Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, diolah

Berdasarkan Wonosobo

table

diatas,

diketahui

bahwa

tingkat

pendidikan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten sangat tidak memadahi karena didominasi oleh lulusan SMA sederajat sebanyak 36,17 persen. Disamping itu, tenaga yang belum mengikuti pelatihan jabatan juga terbilang cukup banyak yang prosentasenya mencapai 59,68 persen. Pengalaman pendidikan dan pelatihan dibidang pariwisata yang belum memadai tersebut, membuat para pegawai bekerja hanya berdasarkan tugas pokok dan fungsi yang harus dikerjakan. Sementara kreativitas dan inovasi tidak terlalu Nampak kental dalam nuansa kerja para pegawai. Fakta tersebut membuat sangsi ketika harus menyusun perencanaan pengembagan pariwisata sesuai dengan target dan tujuan yang dikehendaki.

4.2.1.2. Sumber Dana/Anggaran Anggaran adalah salah satu sumber daya yang cukup vital untuk mendapatkan perhatian. Operasional tugas-tugas rutin maupun pembangunan yang harus dilakukan tergantung dari jumlah faktor ini, apabila mendapatkan prosi yang kecil, maka rencana pembangunan yang sudah tertata sedemikian bagusnya akan runtuh dengan sendirinya. Ketersediaan anggaran dan kemamuan mengelola dan memanfaatkannya secara optimal sangat mempengaruhi produktivitas bahkan bermuara pada keberhasilan kinerja organisasi. Sehubungan dengan hal tersebut Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang berkaitan langsung harus terlibat aktif dalam menentukan anggaran yang dibutuhkan untuk realisasi perencanaan. Dalam Kabupaten program Wonosobo pembangunan 2006-2010, daerah disebutkan (Properda) bahwa

kebijakan sector pariwisata menjadi bagian dari pembangunan bidang ekonomi. Arah kebijakan pariwisata dan kebudayaan adalah meningkatnya peran pariwiasata sebagai sector andalan yang mampu menggalakkan ekonomi termasuk kegatan sector lain, sehingga dapat meningkatkan lapangan kerja, pendapatan masyarakat, pendapatan daerah, pendapatan Negara dan meningkatkan devisa melalui upaya pengembangan potensi kepariwisataan. Properda tersebut mengisyaratkan dilakukannya programprogram teknis, seperti : a. Program pengembangan obyek wisata b. Program pengembangan penyuluhan tenaga

kepariwisataan

c. Program pengembangan promosi dan pemasaran wisata d. Program pengembangan sarana dan prasarana

pariwisata, dan e. Program pelestarian Wonosobo. Sementara itu, dari data yang dilansir Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dalam tahun anggaran 2010, sedikitnya ada lima program besar yang akan diusung. Masing-masing dapat dilihat dari table berikut; Tabel IV.2. Rincian Program dan REalisasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo Tahun Anggaran 2010
No 1 2 3 4 5 PROGRAM Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata Program Perencanaan Pembangunan Daerah Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Program Pengembangan Nilai Budaya Program Pelayanan Administrasi Kantor REALISASI ANGGARAN Rp. 330.000.000,Rp 750.000.000,Rp 50.000.000,Rp. 150.000.000,Rp. 276.369.750,-

dan

pengembangan

budaya

Jumlah Rp. 1.556.369.750,Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, diolah

Melihat anggaran jumlah tersebut, maka dana yang

disediakan oleh pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam upaya pembangunan sumber daya pariwisata dinilai telah mencukupi. Hal ini menunjukkan, Pemerintah Kabupaten Wonosobo sudah mulai memahami betapa pentingnya upaya pengembangan pariwisata dalam rangka meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) serta multiple effect yang ditimbulkan karenanya untuk masyarakat disekitarnya. Pada model pemerintahan otonomi daerah, peran legeslatif dalam menentukan angka-angka penganggaran sangat terlihat paling mencolok. Dimana setiap angka yang ditetapkan adalah bagian dari campur tangan mereka sejak mulai pengusulan anggaran dari masing-masing dinas. Untuk itu, komitmen para anggota dewan dalam upaya pengembangan pariwisata Kabupaten Wonosobo sangat diharapakan. di

4.2.1.3. Sarana dan Prasarana Pengembangan pariwisata adalah kegiatan yang tidak dapat terpisah dari sarana dan prasarana umum dan berperan sebagai faktor penunjang produk wisata. Gambaran kondisi sarana dan prasarana umum mencakup sarana fasilitas kesehatan, keamanan dan peribadatan, sedangkan gambaran kondisi prasarana mencakup transportasi, air serta telekomunikasi. Dalam hal sarana umum berupa fasilitas kesehatan, keamanan, peribadatan dan lainnya di Kabupaten Wonosobo sudah terbilang cukup baik. Iklim keamanan yang kondusif serta fasilitas kesehatan yang cukup dan tempat peribadatan yang ada hampir disetiap tempat wisata memberi dampak positif terhadap upaya pengembangan pariwisata.

Sayangnya, prasarana yang ada kurang begitu mendukung, terutama dalam hal transportasi. Di beberapa objek wisata, tidak ada jalur trasportasi umum yang memungkinkan wisatawan dapat mengunjungi beberapa tempat sekaligus dengan satu kendaraan. Disamping itu, terbelit pula dalam hal sarana berupa jalan aspal yang belum menjangkau atau terdapat banyak kerusakan untuk mengakses tempat wisata tersebut. Sementara itu diinternal Dinas Pariwisata dan

Kebudayaan, beberapa hal yang perlu mendapatkan evaluasi antara lain keberadaan gedung yang terpisah antara Bidang Pariwisata dan Bidang Kebudayaan. Terpisahnya gedung meski tidak terpaut jauh, namun memberi dampak besar terhadap pola komunikasi yang dibangun. Sementara itu, gedung tourist information center (TIC) kurang begitu terawat keberadaannya kendati tempatnya sudah sangat strategis, yakni tepat di depan alun-alun kota Wonosobo.

4.2.1.4. Informasi Untuk pengembangan melakukan pariwisata perencanaan memerlukan strategis informasi dalam yang

mendalam dan akurat. Informasi tersebut diperlukan dalam upaya pengambilan keputusan dalam rangka pengembangan pariwisata dan dalam rangka mengantisipasi perubahanperubahan yang cepat beruba di masa yang akan datang. Dengan kemampuan mengakses informasi yang cepat, valid dan actual sangat mendukung pelaksanaan kinerja para pegawai sehingga nantinya memudahkan dalam pengambilan kebijakan dan kebijakan tersebut dapat

dipertanggungjawabkan. Informasi mengenai potensi wisata yang ada di kabupaten Wonosobo saat ini mulai diupayakan dengan menysun data-data mengenai profil kepariwisataan yang ada, membuat stiker-stiker, brosur, maupun iklan-iklan yang terkait dengan potensi wisata yang ada. Selain itu, langkah promo juga dilakukan melalui internet dan penggunaan pihak ketiga untuk memasarkan produk wisata. Pihak ketiga yang dimaksud adalah perhotelan, biro perjalanan wisata, serta pihak lain yang memiliki andil besar dalam pengembangan potensi wisata. Secara umum, pemasaran produk wisata sudah cukup bagus. Problem yang terjadi justru di internal Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sendiri yang seringkali kurang dapat mengakses informasi melalui internet, dimana dengan media ini perkembangan kepariwisataan dunia dapat diperoleh dengan cepat dan akurat. Pemantauan informasi hanya sebatas pada media massa yang ada.

4.2.1.5.Budaya Organisasi Budaya organisasi lebih mengarah kepada buday akerja, kecenderungan yang muncul pada setiap organisasi public adalah buday kerja berdasarkan rutinitas pekerjaan dan hanya menunggu perintah atasan, sebagian besar pegawai menganggap bahwa pekerjaan yang diberikan harus ada imbalan, sehingga setiap pekerjaan yang tidak ada imbalannya merek aenggan untuk mengerjakannya. Kendati para pegawai telah diberikan gaji setiap bulannya, namun mereka hanya melakukan pekerjaan rutin saja tana ada

pemikiran untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang segar dalam rangka kemajuan daerah, khususnya sector pariwisata. Etos kerja yang rendah serta pengaruh budaya lain juga menjadi kendala mencapai kemajuan organisasi. Para pegawai tersebut acap kali enggan memberikan kritikan secara terbuka, usulan atau gagasan-gagasan baru kepada rekan kerja maupun kepada atasan mereka. Parahnya, budaya kerja semacam ini sudah berlangsung lama dan mengakar seolah menjadi bagian dari profesionalitas kerja mereka, meskipun sebenarnya menjadi batu sandungan dalam rangka pengembangan sumber daya pariwisata. Budaya kerja tersebut sudah hampir merupakan hal yang lazim terjadi dalam lingkup Pemerintahan Kabupaten Wonosobo di semua instansi. Tak jarang, tugas dan tanggungjawab pokok para pegawai seringkali diabaikan karena mereka mencoba menyibukkan diri pada hal yang beroientasi proyek, yang diidentikkan dengan uang. Begitupun kritikan-kritikan yang seharusnya dilontarkan oleh pimpinan kepada bawahan, apabila melakkan pelanggaran-pelanggaran kepegawaian, hal tersebut tidak pernah dilakukan, apalagi kepada sesame rekan kerja dalam satu unit kerja yang sama.

4.2.2. Strategi yang dilakukan (Proses) Strategi yang dilakukan adalah berbagai gambaran strategi untuk pengembangan potensi pariwisata yang telah ditetapkan di Kabupaten Wonosobo, yang dapat dikaji melalui kebijakan apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam memanfaatkan sumber daya, dana/anggaran, sumber daya manusia dan srana dan prasarana yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Wonosobo

untuk melaksankan pengembangan potensi pariwisata. Salah satu karakteristik dari pariwisata adalah produk yang dijual bersifat abstrak, tidak nyata hanya berupa pengalaman. Semakin beragam pengalaman yang dapat diperoleh di tempat wisata, akan semakin tinggi nilai jual area tempat wisata tersebut. Pemahaman mengenai hal ini juga harus menjadi dasar pemikiran pengelola wisata agar memiliki kreativitas dalam pengelolaan aspek pariwisata agar dapat tercipta banyak pengalaman-pengalaman yang dirasakan pengunjung. Untuk memberikan pengalaman kepada wisatawan, maka sumber daya wisata tersebut harus dikemas dengan baik. Salah satu caranya adalah dengan menciptakan berbagai jenis kegiatan wisata sesuai dengan ketersediaan sumber daya wisata tersebut. Dengan pengembangan sumber daya wisata yang ada melalui penciptaan jenis kegiatan serta didukung dengan faktor pelengkap kepariwisataan yang lain, maka diharapkan dapat memberi nilai dari sumber daya tersebut yang berdampak langsung pada peningkatan dan dapat dimanfaatkan secara optimal. Pada dasranya pengembangan sumber daya wisata bertujuan untuk menarik serta menahan wisatawan untuk data serta tinggal lebih lama di Kabupaten Wonosobo. Dengan kondisi tersebut maa sasaran pengembangan pariwisata berupa peningkatan jumlah kunjungan serta tingkat lama tinggal (length of stay), dapat tercapai. Untuk mendukung tujuan tersebut, strategi pengembangan sumber daya wisata yang ditetapkan adalah dengan (1) Diversifikasi jenis kegaiatan wisata yang akan dikembangkan dengan mengeksplorasi sesuatu yang baru serta pengaturan rute wisata, dan (2) Intessifikasi dan revitalisasi objekobjek wisata yang telah ada. Strategi diversifikasi jenis kegiatan wisata dan pengaturan rute

wisata diarahkan untuk dapat memberikan keragaman pengalaman dan pilihan kepada wisatawan yang melakukan kegiatan wisata di Kabupaten Wonosobo. Dengan kreativitas di dalam penciptaan dan pengembangan jenis kegiatan wisata baru maka diharapkan dapat dihasilkan suatu jenis kegiatan yang berkualitas dan bernilai jual tinggi. Sedangkan strategi pengaturan rute wisata dimaksudkan untuk mempertinggi daya dukung pada masing-masing titik sumber daya wisata. Beberapa tindakan yang diambil untuk mendukung strategi tersebut adalah: a. Pembuatan film dokumentasi mengenai alam dan budaya masyarakat Kabupaten Wonosobo yang ditayangkan di Dieng Plateau Theatre. b. Mendokumentasikan sumber daya wisata yang ada. c. Menciptakan berbagai alternative paket jenis kegiatan wisata. d. Mengembangkan atraksi wisata budaya melalui event-event wisata yang menggunakan akar budaya tradisional Wonosobo. e. Pengembangan spiritual tourism. f. Merencanakan dan menyusun rute wisata. g. Pengembangan proyek percontohan desa wisata di setiap wilayah adat. Sedangkan strategi intensifikasi dan revitalisasi objek-objek wisata merupakan strategi pemanfaatan produk yang telah ada dalam arti lebih terfokus kepada pemanfaatan kapasitas yang telah dimiliki untuk melayani wisatawan. Dengan demikian diperlukan upaya-upaya untuk pengembangan objek yang telah ada tersebut. Upaya pengembangan tersebut dimaksudkan untuk dapat lebih meningkatkan kualitas objek,

meningkatkan daya tarik serta mampu menciptakan variasi bagi wisatawan yang melakukan kunjungan ulang. Strategi ini dilakukan dengan memanfaatkan popularitas dari objek bersangkutan yang telah terbentuk sebelumnya. Hal ini berarti pembangungan dilakukan di lokasi-lokasi yang telah dikenal oleh wisatawan. Dalam strategiini terkandung pula makna pertimbangan daya dukung untuk pengembangan dan pencegahan degradasi kualitas objek wisata yang ada. Tindakan yang dilakukan untuk mendukung strategi ini adalah: a. Penelitian untuk mengevaluasi kondisi objek yang ada untuk menentukan tindakan yang perlu diambil. b. Revitalisasi objek wisata yang telah ada berdasarkan penelitian tersebut. c. Perbaikan sarana dan prasarana yang rusak di objek wisata yang bersangkutan. d. Menyusun site plan dan mengembangkan rencana pengelolaan. e. Penyempurnaan system ticketing yang handal dan berkeadilan. f. Menjadwalkan kembali event-event pariwisata yang telah ada. g. Optimalisasi kualitas pelayanan.

4.2.3. Hasil yang telah dicapai/Kinerja (Output) Penilaian hasil kinerja merupaka suatu kegiatan yang sangat penting karena dapat digunakan sebagai ukuran keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai misinya. Untuk itu maka kinerja yang dimaksudkan disini adalah gambaran hasil yang telah dicapai oleh

Pemerintah

Kabupaten

Wonosobo

dalam

melakukan

upaya

pengembangan potensi pariwisata. Walaupun kondisi eksitting kunjungan wisatawan yang datang ke Kabupaten Wonosobo, baik wisatawan mancanegara mupun wisatwan nusantara menunjkkan angka yang sangat rendah. Yang terjadi baru pergerakan wisatawan local, namun demikian, kondisi ini tidak menyrutkan semangat pemerintah kabupaten untuk menghidupkan sector pariwisata di daerahnya. Hasil kerja keras dari pemerintah kabupaten dalam rangka pengembangan potensi pariwisata adalah dengan dikembangakannya beberapa objek wisata, antara lain Dieng Plateau Theatre (DPT), Desa Wisata Giyanti, Desa Wisata Sendangsari, serta objek wisata lainnya. Dalam menunjang program-program pariwisata, disamping

pembangunan lokasi wisata, juga dalam tahun anggaran 2010 ini telah dilakukan studi kelayakan dalam rangka pembangunan lokasi wisata kecil dalam jalur transportasi arus lalu lintas dari dan ke Banyumas. Beberapa capaian yang dari kinerja Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dalam kaitannya mengenai pengembangan pariwisata sedikitnya ada enam unsur berdasarkan laporan akuntabilitas kinerja dinas tersebut, masing-masing adalah; a. Program pengembangan nilai budaya. b. Program pengelolaan keragaman budaya c. Program pengelolaan kekayaan budaya d. Program pengembangan destinasi pariwisata e. Program pengembangan pemsaran pariwisata f. Program pengembangan kemitraan

4.3. Analisis Lingkungan Eksternal Faktor ekstrnal memiliki pengaruh besar dalam upaya pengembangan sumber daya pariwisata. Analisis terhadap faktor ini memungkinkan pengembangan sumber daya pariwisata dapat dilakukan dengan cermat dan tepat sasaran. Selain itu, analisis terhadap faktor ini juga akan dapat berpengaruh terhadap tingkat kunjungan wisata. 4.3.1. Faktor Politik Faktor politik memiliki pengaruh yang cukup besar dalam upaya pengembangan berlangsungnya sumber system daya otonomi pariwisata, daerah, apalagi ditengah yang memungkinkan

pemerintah daerah menjadi raja-raja kecil dalam mengatur rumah tangganya. Faktor politik mempengarhi dalam hal menyangkut berbagai kebijakan pemerintah khususnya pemerintah Kabupaten Wonosobo di sector pariwisata yang memiliki keterkaitan dengan pariwisata dan memberikan dampak terhadap pengembangan potensi pariwisata berupa Peraturan Daerah, Perundang-Undangan, komitmenkomitmen politik serta regulasi lain, baik formal maupun informal. Namun pada sisi yang lain anggaran untuk pembangunan daerah yang selama ini sebagain besar merupakan subsidi dari pemerintah pusat melalui APBD I, APBD II, APBN serta paket bantuan lainnya dengan dipraktekkannya system otonomi daerah berkurang secara drastic. Penurunan ini akan berpengaruh besar terhadap pembangunan sumber daya pariwisata di Kabupaten Wonosobo. Dapat disimpulkan, bahwa system otonomi daerah selain memberikan peluang untuk mengatur rumah tangganya sendiri, juga menjadi ancaman sector pariwisata yang kehilangan beberapa sumber pokok pengembangan potensi sumber daya pariwisata.

4.3.2. Faktor Ekonomi Faktor ekonomi dalam lingkungan eksternal dimaksudkan adalah berabgai kecenderungan dinamika pereknomia di luar sector pariwisata yang memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap pengembangan potensi wisata yang tercermin antara lain melalui fluktuasi produk domestic regional brutto (PDRB)., pengaruh krisis ekonomi dan moneter terhadap perkembanganpariwisata serta perkembangan ekonomi diluar sector pariwisata. Faktor ekonomi apabila dikaitkan memiliki kaitan erat dengan tingkat kunjungan wisata, yang hal itu berarti berpengaruh pula terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Sejak krisis ekonomi pada medio 1997 hingga krisis keuangan dunia pada awal 2010 lalu memberi dampak besar terhadap peningkatan aspek pengembangan sumber daya pariwisata. Salah satu indikatornya adalah menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar mata uang luar negeri lainnya. Dalam skala lebih detil, pengaruh ini juga berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat dari berbagai sector. Sedikit banyak kejadian ini memberi pengeruh terhadap kunjungan wisatawan baik local maupun mancanegara karena menurunnya kemampuan pada aspek tersebut tadi akan memperhitungkan ulang biaya untuk parwisata keluarga.

4.3.3. Faktor Sosial Faktor sosial yang mempengaruhi lingkungan eksternal yaitu berbagai gambaran keadaan sosial budaya masyarakat berupa nilainilai yang dianut oleh masyarakat, sikap, pola hidup, kebudayaan, jumlah penduduk, tingkat pertumbuhan yang memberikan dampak langsung ataupun tidak langsung terhadap pengembangan potensi

pariwisata. Perbaikan lingkungan non fisik akan sangat terkait dengan tindakan penjagaan dan perbaikan kondisi sosial budaya masyarakatnya. Seperti telah diketahui, pariwisata missal (mass tourism) telah meberikan dampak negative yang sangat besar dan signifikan terhadap adat dan budaya suatu masyarakat pada suatu daerah yang menjadi tujuan wisata. Dari sisi negative, dengan berkembangnya parwiisata telah banyak terjadi kerusakan/degradasi nilai budaya, sehingga banyak budaya masyarakat yang tidak jelas lagi akarnya, stabilitas sosial terganggu, seta terjadi pola konsumerisme pada masyarakat di daerah tujuan wisata. Dengan demikian, sasaran perbaikan lingkungan non fisik di dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Wonosobo adalah meminimalisir dampak negative tersebut.

4.3.4. Faktor Teknologi Faktor teknologi yang mempengarhui lingkungan eksternal organisasi yaitu, perkembangan teknologi yang tekrait dengan teknologi di bidang pariwisata yang memberikan dampak langsung atau tidak langsung terhadap pembangunan sector pariwisata seperti teknologi informasi berupa internet, telekomunikasi maupun transportasi. Perkembangan teknolog akan sangat mempengaruhi bisnis

pariwisata pada era seperti sekarang ini. Suatau perusahaan atau organisasi yang tidak memperhatikan perkembangan dan kemajuan teknologi akan diramalkan kalah dalam persaingan dan lambat laun akan mati secara pelan-pelan. Kemajuan teknologi juga memang diaku lebih jarang terjadi, tetapi sekali datang kalau tidak diantisipasi akan

meberikan dampak cuku besar terhadap perusahaan atau organisasi. Perkembangan teknologi informasi harus direspon oleh

penguasanya untuk kepentingan penunjangan kinerja.

Teknologi

informasi ini memungkinkan akses pemasaran, promosi wisata akan cepat dikuasai oleh aparat pemerintah Kabupaten Wonosobo. Kegiatan bidang pariwisata adalah menjual akses wisata yang ada dan berusaha menawarkan melalui promosi yang menarik. Dari hasal pengamatan yang dilakukan pada instansi-instansi pemerintah berupa dinas, badan dan kantor belum ada satupun yang menggunakan internet secara optimal untuk menunjang tugas-tugasnya. Keberadaan internet di kantor tersebut hanya terbatas pada urusan kedinasan, pribadi dan lainnya.

4.4. Strategi Dalam Membangun Jaringan Kerja (Network) Pemerintah Kabupaten Wonosobo memang dapat dengan mudah berdiri sendiri untuk mengembangkan pariwisata yang dikelolanya. Kemudahan pengelolaan sendiri ini akan berdampak pada tingkat intensitas kerja yang tinggi, yang pasti struktur didalamnya mengalami banyak kendala yang akan dihadapi. Untuk melakukan hal tersebut sendiri, memang mungkin dilakukan, tetapi hasil yang tidak optimal akan didapatkan. Kerjasama atau kemitraan menjadi salah satu solusi yang harus ditempuh. Kerjasama akan berdampak pada peningkatan upaya pengembangan pariwisata secara kolektif melalui jejaring yang dibangun, baik di internal pemerintahan, pemerintahan antar wilayah ataupun pihak swasta. Pentingnya kerjasama ini juga akan berdampak pada pemasaran pariwisata yang berujung pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dari sector ini. Selain itu, kemudahan dalam realisasi kerja di internal Pemerintah Kabupaten Wonosobo juga akan didapatkan karena pihak jejaring tersebut sedikit banyak

membantu dalam ‘menjual’ produk wisata yang ada. Focus kerjasama harus diarahkan pada dua hal pokok, pertama kerjasama dengan pihak swasta yang memungkinkan dapat menjadi pemasar terbaik. Pihak swasta yang dapat diperbantukan untuk meningkatkan potensi pariwisata antara lain, perhotelan, biro perjalanan wisata, media massa, pihak atau orang yang memiliki pengaruh besar yang memungkinkan untuk dapat menarik massa mengunjungi daerah wisata yang ada. Kedua, kerjasama antar pemerintah. Kerjasama ini diwujudkan melalui pola komunikasi yang tepat antara Wonosobo dan daerah sekitarnya, disamping secara horizontal, kerjasama ini juga perlu diarahkan vertical, yakni system kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan pemerintah pusat untuk membantu memasarkan produk wisata. Kedua pola tersebut apabila dikembangkan dengan serius akan berdampak positif bagi pengembangan pariwisata Kabupaten Wonosobo. Dalam catatan selanjutnya, penulis akan lebih memfokuskan pembahasan pada dua hal tersebut.

4.4.1. Kerjasama dengan Pihak Swasta Pemerintah Kabupaten Wonosobo sangat penting untuk terus menjalin hubungan baik dengan pihak-pihak swasta dalam upaya pengembangan potensi pariwisata. Kerjasama yang dimaksud harus diarahkan pada upaya promosi potensi wisata yang ada di Wonosobo dengan mengedepankan prinsip saling menguntungkan. Secara umum, pihak swasta berorientasi profit dalam setiap langkah yang akan ditempuhnya, untuk itu, Pemerintah Kabupaten Wonosobo harus mampu memahami itu serta memposisikan diri sebagai pihak yang tidak merugikan swasta. Beberapa pihak swasta yang memungkinkan untuk menjadi relasi

semacam itu antara lain biro perjalanan wisata, pengusaha dibidang pariwisata, media massa, hotel dan penginapan serta beberapa komunitas kepariwisataan yang ada, baik di tingkat nasional maupun tingkat local. Jaringan tersebut bisa didapatkan melalui pengembangan jaringan di daerah-daerah kantong wisata seperti Bali, Yogyakarta, Jakarta dan sebagainya. Pemerintah Kabupaten Wonosobo harus mampu meyakinkan kepada jejaring tersebut mengenai upaya promosi terhadap potensi kepariwisataan yang ada. Dengan keyakinan semacam itu, maka pihak swasta tersebut dengan mudah dapat mengarahkan usahanya kedalam pengembangan potensi kepariwisataan yang ada di Wonosobo. Cara semacam itu merupakan bagian yang sangat enting dan vital dalam upaya mendorong pengembangan potensi pariwisata. Kunjungan-kunjungan itu harus direncanakan dengan baik, agar mampu memberi kesan yang baik dan pengertian yang benar mengenai keadaan objek wisata yang tersedia di daerah tersebut. Dan sebaliknya, keuntungan secara profit dapat mereka peroleh manakala mampu menggiring wisatawan mendatangi potensi wisata yang ada di Wonosobo. Kesan pertama yang baik, akan berdampak pada peningkatan produktivitas kepariwisataan pada kunjungan-kunjungan selanjutnya. Pemerintah Kabupaten Wonosobo belum menyikapi strategistrategi seperti itu untuk diterapkan dalam upaya pengembangan potensi pariwisata. Hal ini dapat dilihat dari belum banyaknya pengusaha dibidang pariwisata yang melakukan investasi besarbesaran di wilayah tersebut. Begitu pula dengan biro perjalanan wisata yang sampai dengan saat ini belum ada satupun yang beroperasi di daerah yang sebenarnya memiliki potensi pariwisata yang besar. Agaknya, pola komunikasi antara Pemerintah Kabupaten

Wonosobo dengan sejumlah pihak swasta tersebut perlu dibenahi. Khusus untuk kerjasama dengan media massa, penting kiranya sebagai salah satu daya jual yang dapat memperkenalkan pariwisata secara lebih luas lagi, baik ditingkat local, nasional maupun internasional. media massa mampu menjangkau wilayah tersebut melalui pengembangan-pengembangan jejaring pembacanya yang tersebar luas. Sayangnya, kesadaran media massa di Pemerintah Kabupaten Wonosobo, khususnya dalam upaya pengembangan pariwisata masih sangat rendah. Mereka masih belum mampu memanfaatkan media massa sebagai salah satu jejaring yang mampu mengangkat potensi wisata secara lebih luas lagi.

4.4.2. Kerjasama dengan Vertikal dan Horizontal Pemerintahan Kerjasama tersebut mengarahkan pada pola kerjasama yang memungkinkan Kabupaten Wonosobo dapat menjadi salah satu daerah tujuan wisata utama. Kerjasama vertical adalah kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Wonosobo dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah pusat. Kerjasama semacam ini adalah kerjasama bertingkat yang memungkinkan pengembangan potensi wisata dapat lebih optimal lagi. Sementara kerjasama horizontal merupakan kerjasama antar pemerintah kabupaten disekitar Wonosobo dan daerah lainnya yang memiliki potensi wisata yang besar. Kerjasama antara daerah ini dilakukan mengingat pemasaran dan pengembangan produk pariwisata dapat dilakukan dengan study banding, kerjasama promo dan bentuk lainnya dalam rangka mencapai tujuan pengembangan potensi daerah. Salah satu contoh yang ada misalnya, Kawasan Dieng Plateau, secara geografis administrative dimiliki oleh dua kabupaten sekaligus, masing-masing Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara.

Kerjasama

yang

baik

antara

Wonosobo

dan

Banjarnegara

memungkinkan pengembangan kepariwisataan dapat dilakukan dengan lebih optimal lagi. Selain itu, kerjasama dengan wilayah disekitarnya, yakni Kabupaten Temanggung, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang, Kabupaten Purworejo dan sebagainya juga sangat dibutuhkan. Hal ini untuk dapat lebih mempermudah peengembangannya dapat diintegrasikan dalam satu wilayah pengembangan. Hal ini dilakukan karena pembangunan terhadap kawasan wisata seharusnya ditopang pula oleh daerah-daerah sekitar yang sudah maju kondisi kepariwisataannya, karena daerah yang ada dalam satu wilayah transportasi pariwisata, secara umum memiliki kesamaan baik dari ssi budaya, potensi sumber daya alam maupun perekonomiannya. Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam mengembangkan potensi pariwisata kurang mampu menjalin komunikasi dengan daerah-daerah sekitarnya. Disamping itu, pengembangan juga tidak dilakukan dengan didasarkan pada pengembangan pariwisata berdasarkan konsep arus transportasi yang memungkinkan dapat membelah daerah pariwisata yang dekat menjadi terkesan jauh. Untuk itu, maka strategi pengembangannya terkait dengan kerjasama antara daerah perlu didasari atas konsep model wisata serumpun sehingga upaya percepatan pengembangan pariwisata dapat mencapai sasaran yang diharapkan.

Table IV.3 Ringkasan Analisis Lingkungan Internal dan Eksternal Pengembangan Potensi Pariwisata Kabupaten Wonosobo
No 1 a. Penilaian Lingkungan Lingkungan Internal Sumber Daya Manusia S W O T

1. 2.

Tidak adanya pegawai yang berlatarbelakang pendidikan khusus kepariwisataan. Tingkat pendidikan pegawai secara kualitas dan

kuantitas masih rendah Sumber Dana/Anggaran 1. 2. 3. Ketersediaan Adanya dana untuk dari pengembangan DPRD untuk pariwisata cukup memadai. b. komitmen meningkatkan anggaran pariwisata DPRD selalu menaikkan porsi anggaran yang akan diusulkan eksekutif dalam program

pengembangan pariwisata. Sarana dan Prasarana c. 1. 2. Kondisi perkantoran kurang mendukung Infrastruktur maupun suprastruktur kepariwisataan

belum memadai. Informasi 1. d. 2. 3. Tersedianya kepariwisataan. Dibuatnya stiker, brosur, iklan yang terkait dengan promosi wisata. Akses informasi perkembangan pariwisata dari dalam dan luar negeri melalui internet. Budaya Kerja 1. e. 2. 3. 2 a. Politik 1. 2. Belum ada perangkat untuk pengembangan pariwisata Sudah diundangkannya perda No. 5/2003 tentang pembnetukan Susuan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. 3. 4. Dibuatnya rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (Rippda). Kebijakan Otda yang memberikan kewenangan Dalam pelaksanaan pekerjaan, hanya menunggu perintah atasan. Tidak adanya gagasan/ide yang segar dalam rangka kemajuan daerah. Etos kerja sangat kurang Lingkungan Eksternal data-data tentang profil

kepada daerah untuk menggali potensi sumber daya alam. 5. Kebijakan Otda yang mengakibatkan anggaran pembangunan daerah melalui subsidi pemerintah pusat menjadi berkurang. Ekonomi 1. b. 2. Sosial 1. 2. 3. 4. 5. Keindahan serta keragaman budaya yang ada. Lingkungan sosial akan berubahnya di masa mendatang. c. Struktur kependudukan yang tidak merata. Kerusakan lingkungan hidup. Bergulirnya pariwisata berkelanjutan. 6. Terjadi degradasi/kerusakan nilai-nilai budaya. Teknologi d. 1. 2. 3. Kemajuan teknologi yang pesat. Sudah masuk jaringan internet. System komputerisasi yang belum optimal. paradigm yang baru pengembangan dan ramah lingkungan Krisis ekonomi, krisis keuangan dan krisis moneter yang terus terjadi di tingkat nasional dan internasional. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wonosobo mengalami pertumbuhan yang kurang baik.

4.5. Perumusan Isu-Isu Strategis 4.5.1. Identifikasi Isu Strategis Isu strategis merupakan suatu pilihan kebijakan mendasar yang mempengaruhi mandate, misi, nilai, tingkat dan kombinasi pelayanan, klien, biaya, organisasi atau manajemen (Bryson, 1995;104). Suatu isu dapat dikatakan strategis apabila isut tersebut merupakan faktor determinan bagi pencapaian visi, bila tidak maka halt ersebut bukan merupakan isu strategis.

Untuk mengatasi masalah pengembangan potensi pariwisata di Kabupaten Wonosobo, dengan mempelihatkan segenap faktor lingkungan eksternal yang berupaya pelung maupun ancaman bagi keberlanjutan pengembangan pariwisata, dengan menggunkaan matrik SWOT akan ditentukan isu strategis yang perlu segera ditangani dalam pengembangan potensi pariwisata di Kabupaten Wonosobo. Mengacu pada table IV.3 ringkasan analisis lingkungan interla dan lingkungan eksternal yang telah dikemukanan pada halaman sebelumnya, selanjutnya untuk menentukan isu strategisnya dengan menggunakan matrik SWOT seperti ditampilkan pada table berikut: Tabel IV.4 Matrik SWOT Pengembangan Potensi Sumber Daya Pariwisata Di Kabupaten Wonosobo
WEAKNESS (W) IFAS STRENGTH (S) 1. 2. 3. Komitmen DPRD untuk tingkatkan anggaran pariwisata. Tersedianya data tentang profil Kepariwistaan. Dalam rangka Promosi wisata dibuat stiker, brosur, serta iklan tentang potensi wisata. Pendidikan pegawai secara kualitas dan kuantitas rendah. 2. Kondisi perkantoran kurang mendukung 3. Dalam pelaksaaan pekerjaan sering menunggu perintah atasan. 4. Tidak ada gagasan/ide segar dalam rangka pengembangan pariwisata. 5. Etos kerja kurang ISO STRATEGIS W-O 1. Meningkatkan kualitas aparatur, khusus dibidang kepariwisataan agar dapat mengatasi permasalahan pariwisata. 2. Meningkatkan sarana dan prasarana kerja untuk menungjang kegiatan pariwisata 1.

EFAS OPPORTUNITIES (O) 1. Sudah diundangkannya perda No. 5/2003 tentang pembnetukan Susuan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Dibuatnya rencana Induk Pengembangan

2.

ISU STRATEGIS S-O 1. Manfaatkan anggaran pariwisata yang memadai untuk pengembangan seluruh potensi sumber daya pariwisata. 2. Manfaatkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan pengembangan pariwisata 3. Bagaimana

3.

4. 5. 6.

7.

Pariwisata Daerah (Rippda). Kebijakan Otda yang memberikan kewenangan kepada daerah untuk menggali potensi sumber daya alam Kemajuan teknologi yang pesat Keindahan alam dan keragaman budaya Paradigma baru pengembangan pariwisata yang ramah lingkungan Sudah ada jaringan internet THREAT (T) Belum ada perangkat pengembangan pariwisata. Kebijakan otda yang mengakibatkan anggaran pembangunan daerah melalui subsidi pemerintah pusat menjadi berkurang. Krisis ekonomi, keuangan dan global berkepanjangan. Pertumbuhan ekonomi yang tidak maju. Struktur kependudukan tidak merata. Terjadi degradasi nilai budaya System komputerisasi belum optimal

memanfaatkan potensi pariwisata dengan optimal.

1. 2.

3. 4. 5. 6. 7.

ISU STRATEGIS S-T 1. Meningkatkan upaya untuk mengatasi kerusakan lingkungan. 2. Meningkatkan upaya promosi wisata.

ISU STRATEGIS W-T 1. Meningkatkan keterlibatan masyarakat local dalam pembangunan pariwisata Meningkatkan loyalitas aparatur.

Selanjutnya

dalam

pengidentifikasian

isuatu

isu

strategis

didasarkan pada dua criteria utama (Bryson, 1995;101), yakni, pertama, seberapa besar keterkaitan isu tersebut dengan lingkungan internal yangmembuat isu tersebut menjadi strategis. Kedua, seberapa

besar resiko yang akan diterima jika isu tesebut gagal dipecahkan, proses perumusan isu strategis diawali dengan mengkaji visi, misi, mandate dengan kominasi faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman), kombinasi empat faktor strategis tersebut akan muncul isu-isu strategis sebagai berikut:

4.5.2. Isu Strategis Strong-Threat Dalam sebuah organisasi, anggaran merupakan sesuatu yang sangat vital untukmelaksankan kegiatan-kegiatan, baik itu kegiatan pembangunan, pemerintahan maupun pelayanan kepada masyarakat. Undang-undang nomor 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah membawa perubahan fundamental dalam hubungan tata pemerintahan dan hubungan keuangan sekaligus membawa perubahan penting dalam pengelolaan anggaran daerah. Dari anggaran yang tersedia yang dalokasikan khusus untuk sector pariwisata perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengembangkan seluruh potensi parwisata yang ada dan membuka akses wisata yang ada diaerah shingga akan dapat meraih peluang yang ada seperti menyiapkan anggaran untuk pembuatan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (Rippda), kebijkaan otonomi daerah yang memberikan kewenangan kepada daerah untuk menggali potensi sumber daya alam yang ada, mengantisipasi kemajuan teknologi yang pesat dengan melakukanpengadaan peralatan teknologi yang canggih, menglola keindahan alam dan keragaman budaya sebagai asset wisata. Anggaran untuk pengembangan pariwisata yang cukup memadai tersebut merupakan suatu kekuatan yang sangat besar untuk melakukanpengembangan potensi pariwisata yang ada. Tanpa dukungan anggaran, maka kegiatan yang dilakukan sulit dan tidak mungkin dapat diralisasikan, melihat besarnya kekuatan tersebut maka

isu strategisnya adalah : memanfaatkan anggaran pariwisata yang memadai untuk pengembangan potensi sumber daya pariwisata. Kemajuan teknologi dewasa ini berkembang demikian pesatnya, sehingga dapat dikatakan bahwa umat manusia belum pernah mengalami perkembangan secaepat itu. Perkembangan yang amat pesat itu berdampak antara lain pada lahirnya berbagai ilmu yang baru dan aneka ragam temuan dan terbosan terjadi dalam bidang teknologi. Berbagai temuan dan terobosan tersebut sudah seedemikian rupa sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada lagi segi-segi dan proses pengeloaan bisnis, khususnya bisnis di bidang parwiwisata yang tidak disentuh oleh teknologi tersebut. Perkembangan teknologi yang begitu besar tersebut, baik teknologi dibidang informasi maupun di bidang transportasi makin memudahkanorang untuk mengakses dari suatu tempat ke tempat yang lain dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini akan sangat mendukung perkembangan pariwisata di suatu daerah. Karena promosi dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi seperti internet. Disamping itu, dengan berkembangnya teknologi transportasi wisatawan akan leih mudah bepertgian dari tempat tinggalnya menuju ke objek-objek wisata dengan cepat. Melihat pentingnya faktor teknologi tersebut maka isu strategisnya adalah: Pelatihan dan implementasi sumber daya manusia untuk memanfaatkan kemajuan teknologi untuk peningkatan pengembangan pariwisata.

4.5.3. Isu Strategis Weakness-Opportunity Untuk pengelolaan potensi wisata yang berlimpah di Kabupaten Wonosobo maka diperlukan tenaga-tenaga khusus yang ahli dibidang kepariwisataan. Untuk itu maka aparatur yang menangani urusan kepariwisataan perlu diikutsertakan dalam mengikuti pendidikan yang

bersifat formal maupun yang bersifat nonformal berupa pendidikan dan elatihan maupun mengikutimagang yang terkait dengan kepariwisataan. Ini dimaksudkan agar tenaga-tenaga tersebtu dapat menadi tenaga yang professional dalam mengembangkan potensi parwisata yang ada tersebut. Peningkatan aparatur, khusus di bidang kepariwisataan agar dapat mengatasi permasalah pariwisata dengan memanfaatkan peluang berupa Peraturan Daerah No. 5 tahun 2003 tentang Susunan dan Tata Kerja Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Dengan diundangkanny perda tersebut maka perlu diantisipasi dengan menyiapkan tenagatenaga khusus di bidang kepariwisataan agar dapat melaksanakan tugas sesuai apa yang diundangkan dalam regulasi tersebut. Begitupun dapat memanfaatkan peulang berupa kemajuan teknlogi yang pesat, dapat mengelola potensi pariwisata berupa keindahan alam dan keraguaman budaya, dan dapat menangkap peluang berupa bergulirnya paradigm baru pengembangan pariwisata yang ramah lingkungan. Peningkatak nualitas aparatur merupakan satu hal yang mutlak harus dilakukan dalam menghadai arus perubahan yang semakin ceat dan untuk menciptakan efektivitas dan efisiensi kerja. Melihat kegunaan kekuatan tersebut, maka isu strategisnya dalah: meningkatkan kualitas aparatur, khusus dibidang kepariwisataan agar dapat mengatasi persoalan pariwisata. Selanjutnya sarana dan prasarana pariwisata, keberadaannya dalam rangka pengembangan potensi pariwisata memiliki peran besar, apabila memadai maka akan dapat mendukung optimalisasi kinerja. Melihat kondisi ruang kerja yang belum memadai, karena terpisahpisah dan kurangnya sarana pengembangan potensi kebudayaan, maka halo tersebut perlu diminimalkan dengan menangkap peluang berupa perda No. 5 tahun 2003. Bergulirnya paradigm baru yang ramah

lingkungan, dibuatnya Rippda dan memanfaatkan peluang berupa keindahan alam dan keragaman budaya yang ada. Dengan melihat sarana dan prasarana kerja dalam rangka menunjang kegiatan pariwisata yang belum memadai tersebut, maka perlu ditanggapi oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo secara serius dan resonsif karena kelengkapan sarana dan prasarana sangat dibutuhkan, dari penggunaan peluang terkait meminimakan kelemahan yang ada, maka isu strategis yang perlu dikembangkan adalah: Meningkatkan sarana dan prasarana sumber daya pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk menunjang kegiatan pariwisata.

4.5.4. Isu Strategis S-T Dalam membahas mengenai isu strategis ini, terdapat paradoks yang seringkali menjadi persoalan klasik. Pemerintah Kabupaten Wonosobo terus berupaya melakukan upaya untuk mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya. Namun kedatangan wisatawan yang sangat banyak itu terkadang membuat tempat menjadi rusak dan kurang menarik. Selain itu juga, pembangunan sarana-dan prasarana pariwisata kurang begitu optimal. Sarana dan prasarana seperti hotel, terminal, jalan dan tempat ibadah akan memperlancar kedatangan wisatawan. Hal ini penting untuk dilakukan terlepas dari paradoks yang muncul tadi. Kerusakan lingkungan yang terjadi di Kabupaten Wonosobo karena kedatangan wisatawan yang membanjiri ini terlihat belum begitu parah. Yang paling parah adalah kerusakan lingkungan hidup akibat penebangan hutan yang tidak terkendali sehingga menimbulkan bencana seperti tanah longsor, erosi dan banjir yang kesemuanya itu sangat dirasakan mengganggu upaya pengembangan pariwisata. Longsor yang terjadi di Desa Tieng, Kecamatan Kejajar yang terjadi

pada medio 2010 lalu berdampak pada tertutupnya akses menuju Dieng Plateau karena jalan mengalami kerusakan yang sangat parah. Maka dari itu, Pemerintah Kabupaten Wonosobo kini sedang berusaha melakukan berbagai upaya kea rah perbaikan lingkungan tersebut dengan melestarikan lingkungan baik fisik maupun non fisik. Kegiatan seperti penanaman pohon, penghijauan dan upaya lainnya terus digalakan melalui berbagai event dengan memanfaatkan paradigma baru pengembangan pariwisata yang ramah lingkungan. Faktor lingkungan hidup sangat penting untuk mendapatkan perhatian khusus dalam upaya pengembangan pariwisata. Maka dari itu, dari keadaan tersebut dapat ditarik isu strategis berupa: Meningkatkan upaya untuk mengatasi kerusakan terhadap lingkungan hidup. Seperti diketahui, strategi promosi terdiri dari bermacam-macam komunikasi yang dilakukan untuk menyampaikan informasi dan meyakinkan atau membujuk calon wisatawan yang ptensial untuk melakukan perjalanan wisata. Adapun macam kegiatan promosi yang biasa dilakukan adalah; advertising, personal selling, sales promotions, brochures printing, positioning, public relation, publiciy. Promosi adalah hal yang paling penting dalam rencana strategis dan dapat dipandang sebagai suatu unsur untuk menciptakan kesempatan menguasai pasar wisata. Unsur promosi yang digunakan disusun oleh lingkungan, terutama oleh keadaan atau kondisi permintaan wisatawan. Namun promosi dapat menjadi fungsi penghubung atau katalisator dalam strategi pemasaran dan sejak permintaan menjadi salah satu kekuatanyang tidak terawasi yang sebenarnya harus diperhitungkan. melakukan perjalanan wisata. Maka promosi digunakan untuk mengganti permintaand an mempercepat proses keputusan untuk

Melihat begitu pentingnya kegiatan promosi dalam pengembangan pariwisata, maka kekuatan tersebut perlu ditingkatkanguna dapat mengatasi ancaman-ancaman berupa belum adanya perangkat pengembangan pariwisata, kerusakan lingkungan hidup, dalam melakukan promosi wisata pelru pula dilakukan himbauan tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup disekitar lokasi wisata dan perlunya menjaga nilai-nilai budaya setempat. Penggunaan media promosi seperti media massa masih sangat kurang. Promosi menggunakan media massa semacam ini dapat mempermudah dalam hal pemasaran, karena media massa merupakan alat yang paling cepat dan akurat sampai kepada masyarakat. Dengan demikian, isu strategisnya adalah : Meningkatkan upaya promosi wisata.

4.5.5. Isu Strategis WT Peran masyarakat dalam pembangunan adalah bagian dari cirri dari darah yang mandiri. Dalam masyarakat yang semakin maju dan berkembang, keaktifan masyarakat dalam proses perubahan merupakan sebuah keniscayaan, sesuatu yang tidak mungkin dihindari. Sejalan dengan proses otonomi daerah dan desentralisasi yang salah satu tujuannya untuk mengembangakan sumber daya local, maka kandungan kearifan local dalam perencanaanpembangunan daerah semakin diperlukan mengingat semakin banyaknya program pembangunan yang tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat local. Penyebab kegagalan adalah karena model pembangunanyang berlaku tidak memberi kesempatan yang luas kepada masyarakat local untuk ikut dalam proses pembangunan. Dengan kata lain masyarakt diposisikan sebagai objek pembangunan yang terus tunduk dan patuh terhadap kebijakan pembangnan yang dintrodusir oleh pemerintah.

Pola pengembangan pariwisata di Kabupaten Wonosobo belum sepenuhnya melibatkan masyarakat local. Masyarkaat local hanya dijadikan sebagai objek serta penonton dalam proses pengembangan pariwisata. Untuk itu, maka sasaran pemberdayaan masyarkat local dalam kaitannya dengan pengembangan pariwisata di Kabupaten Wonosobo dapat dicapai jika sumber daya masyarakat loka tersebut sudah siap untuk terlibat dalam proses pengembangan pariwisata. Untuk itu perlu dilakukan upaya peningkatan sumber daya manusia masyarakat local yang akan terlibat dalam pengembangan pariwisata. Melihat perlunya keterlibatan masyarakat local dalam pengembangan pariwisata maka isu strategisnya adalah: Meningkatkanketerlibatan sumber daya manusia masyarakat local dalam pembangunan parwisata.

4.5.6. Weakness Meningkatkan loyalitas merupakan satu hal yang sangat penting dalam upaya meningkatkan potensi kepariwisataan. Loyalitas yang tinggi dalam melaksanakan pekerjaan merupakan suatu modal yang sangat bermanfaat apabila dapat diarahkan dengan tepat, loyalitas tersebut harus lebih diarahkan pada pekerjaan yang diemban oleh masing-masing personal. Bukan hanya loyalitas kepada pimpinan, dengan adanya loyalitas yang tinggi sangatberguna dalam menghadapi ancaman yang muncul. Apabila loyalitas tidak dimanfatkans ebagaimana mestinya mungkin akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan dan pada akhirnya akan bermuara kepada terjadinya semacam budaya nepotisme maupun kolusi. Melihat begitu rugensinya maka isu strategisnya adalah: Meningkatkan loyalitas perangkat sumber daya manusia pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

4.6. Evaluasi Isu Strategis dari analisis isu strategis data yang merupakan kombinasi empat faktor tersebut, telah dapat diidentifikasi delapan isu strategis, yaitu: 1. Manfaatkan ada. 2. Manfaatkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan pengembangan pariwisata. 3. Sumber daya manusia terkait memanfaatkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan pengembangan pariwisata. 4. Meningkatkan kualitas aparatur, khusus dibidang kepariwisataan agar dapat mengatasi permasalahan pariwisata. 5. Meningkatkan sarana dan prasarana sumber daya manusia di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk menunjang kegiatan pariwisata. 6. Meningkatkan upaya untuk mengatasi kerusakan lingkungan hidup. 7. Meningkatkan promosi wisata 8. Meningkatkan keterlibatan sumber daya manusiamasyarakat local dalam pembangunan pariwisata. Isu-isu strategis yang telah berhasil diidentifikasi pada setiap tahap sebelumnyaharus diuji terlebih dahulu untuk mengukur tingkat kestrategisan masing-masing isu dengan menggunakan litumus tes, yaitu denganmengajukan pertanyaan tersebut 13 pertanyaan kepada masing-masing isu. Jawaban diberikan skor 1-3. Isu dengan skor tertinggi anggaran pariwisata yang memadai untuk

pengembanganpotensi sumber daya manusia dan objek pariwisata yang

menunjukkan bahwa isu tersebut sangat strategis memperluas prioritas pemecahan. Sebaliknya, isu dengan skor rendah menunjukkan bahwa isu

tersebut merupakan bagian dari isu strategis (bersifat operasional) yang penyelesainnya dapat dilakukan melalui kegiatan rutin. Penilaian yang dilakukand alam penelitian ini dilakukan dengan cara

melibatkan aparat yang menduduk I posisi kunci dalam pengmbilan keputusan pengembangan pariwisata, baik yang ada di Bagian Pemasaran Setda Wonosobo yang menangani urusan kepariwisataan maupun dari unsur Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan atau Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dengan cara wawancara. Untuk mengetahui penilaian hasil litmus tes dapat dilihat dalam table berikut:

Tabel IV.5 Litmus Test 1 Manaatkan anggaran pariwisata yang memadai untuk pengembangan Potensi Sumber Daya Pariwisata Kabupaten Wonosobo

No
1 2 3 4

Pertanyaan
Kapan tantangan atau peluang isu-isu strategis ada dihadapan anda? Seberapa luas isu tersebut akan berpengaruh kepada organisasi? Seberapa banyak resiko keuangan/peluang keuangan organisasi? Akankah strategi-strategi bagi pemecahan isu akan memerlukan: a. Pengembangan sasaran dan program pelayanan yang baru? b. Perubahan signifikan dalam sumbersumber keuangan /anggaran? c. Perubahan signifikan dalamperaturan perundang-undangan? d. Penambahan atau modifikasi fasilitas utama? e. Penambahan staf yang signifikan? Bagaimana pendekatan yang terbaik bagi pemecahan isu? Tingkat manajemen terendah manakah yang dapat menetapkan bagaimana menaggulangi isu? Konsekuensi apakah yang mungkin terjadi bila isu ini tidak diselelsaikan?

Jawaban
Sekarang Beberapa instansi Besar (lebih dari 25% anggaran) Ya Ya Tidak Ya Ya Terbuka luas Kepala Bagian Kekacauan pelayanan, kehilangan sumber dana Empat atau lebih Keras 3 3 3 2 2 3

Skor
1

3 3 1 3

5 6 7

Seberapa banyak dinas/instansi lainnya yang dipengarhui dan harus dilibatkan dalam pemecahan? 9 Bagaimana sensivitas atau ‘charged’ isu ini terhadap nilai-nilai sosial, politik, religious dan kulural komunitas? Jumlah Sumber : Bryson (2000;184)

8

3 3 33

Tabel IV.6 Litmus Test 2 Manaatkan kemajuan teknologi untuk pengmbangan Potensi Sumber Daya Pariwisata Kabupaten Wonosobo

No
1 2 3 4

Pertanyaan
Kapan tantangan atau peluang isu-isu strategis ada dihadapan anda? Seberapa luas isu tersebut akan berpengaruh kepada organisasi? Seberapa banyak resiko keuangan/peluang keuangan organisasi? Akankah strategi-strategi bagi pemecahan isu akan memerlukan: a. Pengembangan sasaran dan program pelayanan yang baru? b. Perubahan signifikan dalam sumbersumber keuangan /anggaran? c. Perubahan signifikan dalamperaturan perundang-undangan? d. Penambahan atau modifikasi fasilitas utama? e. Penambahan staf yang signifikan?

Jawaban
Sekarang Instansi tunggal Sedang (antara 2025% anggaran) tidak Ya Tidak tidak tidak 1 3 2 1 2 1 1 2

Skor
1

1 3 1 1

5 6 7 8 9

Bagaimana pendekatan yang terbaik bagi pemecahan Terbuka luas isu? Tingkat manajemen terendah manakah yang dapat Kepala Sub Bagian menetapkan bagaimana menaggulangi isu? Konsekuensi apakah yang mungkin terjadi bila isu ini Ada gangguan tidak diselelsaikan? efisiensi Seberapa banyak dinas/instansi lainnya yang Satu sampai tiga dipengarhui dan harus dilibatkan dalam pemecahan? Bagaimana sensivitas atau ‘charged’ isu ini terhadap Lunak nilai-nilai sosial, politik, religious dan kulural komunitas? Jumlah Sumber : Bryson (2000;184)

20

Tabel IV.7 Litmus Test 3 Pelatihan dan Implementasi SDM terkait untuk pengembangan Potensi Sumber Daya Pariwisata Kabupaten Wonosobo

No
1 2 3 4

Pertanyaan
Kapan tantangan atau peluang isu-isu strategis ada dihadapan anda? Seberapa luas isu tersebut akan berpengaruh kepada organisasi? Seberapa banyak resiko keuangan/peluang keuangan organisasi? Akankah strategi-strategi bagi pemecahan isu akan memerlukan: a. Pengembangan sasaran dan program pelayanan yang baru? b. Perubahan signifikan dalam sumbersumber keuangan /anggaran? c. Perubahan signifikan dalamperaturan perundang-undangan? d. Penambahan atau modifikasi fasilitas utama? e. Penambahan staf yang signifikan?

Jawaban
Sekarang Beberapa instansi Besar (lebih dari 25% anggaran) ya Ya Tidak Tidak Ya Terbuka luas Kepala Bagian Ada gangguan efisiensi Satu sampai tiga Sedang 3 3 3 1 2 2 2

Skor
1

3

3 3 1 1

Bagaimana pendekatan yang terbaik bagi pemecahan isu? 6 Tingkat manajemen terendah manakah yang dapat menetapkan bagaimana menaggulangi isu? 7 Konsekuensi apakah yang mungkin terjadi bila isu ini tidak diselelsaikan? 8 Seberapa banyak dinas/instansi lainnya yang dipengarhui dan harus dilibatkan dalam pemecahan? 9 Bagaimana sensivitas atau ‘charged’ isu ini terhadap nilai-nilai sosial, politik, religious dan kulural komunitas? Jumlah Sumber : Bryson (2000;184)

5

30

Tabel IV.8 Litmus Test 4 Meningkatkan kualitas aparatur, khusus dibidang kepariwisataan Agar dapat mengatasi persoalan Pariwisata Kabupaten Wonosobo

No
1 2 3 4

Pertanyaan
Kapan tantangan atau peluang isu-isu strategis ada dihadapan anda? Seberapa luas isu tersebut akan berpengaruh kepada organisasi? Seberapa banyak resiko keuangan/peluang keuangan organisasi? Akankah strategi-strategi bagi pemecahan isu akan memerlukan: a. Pengembangan sasaran dan program pelayanan yang baru? b. Perubahan signifikan dalam sumbersumber keuangan /anggaran? c. Perubahan signifikan dalamperaturan perundang-undangan? d. Penambahan atau modifikasi fasilitas utama? e. Penambahan staf yang signifikan?

Jawaban
Sekarang Semua instansi Besar (lebih dari 25% anggaran) Ya Ya ya Ya Ya Jelas, siap diimplementasikan Semua sub system Ada ganguan efisiensi Empat sampai tiga lunak 3 1 3 1 3 3

Skor
1

3 3 3 3

Bagaimana pendekatan yang terbaik bagi pemecahan isu? 6 Tingkat manajemen terendah manakah yang dapat menetapkan bagaimana menaggulangi isu? 7 Konsekuensi apakah yang mungkin terjadi bila isu ini tidak diselelsaikan? 8 Seberapa banyak dinas/instansi lainnya yang dipengarhui dan harus dilibatkan dalam pemecahan? 9 Bagaimana sensivitas atau ‘charged’ isu ini terhadap nilai-nilai sosial, politik, religious dan kulural komunitas? Jumlah Sumber : Bryson (2000;184)

5

3 1 31

Tabel IV.9 Litmus Test 5 Meningkatkan kualitas SDM Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk pengmbangan Potensi Sumber Daya Pariwisata Kabupaten Wonosobo

No
1 2 3 4

Pertanyaan
Kapan tantangan atau peluang isu-isu strategis ada dihadapan anda? Seberapa luas isu tersebut akan berpengaruh kepada organisasi? Seberapa banyak resiko keuangan/peluang keuangan organisasi? Akankah strategi-strategi bagi pemecahan isu akan memerlukan: a. Pengembangan sasaran dan program pelayanan yang baru? b. Perubahan signifikan dalam sumbersumber keuangan /anggaran? c. Perubahan signifikan dalamperaturan perundang-undangan? d. Penambahan atau modifikasi fasilitas utama? e. Penambahan staf yang signifikan? Bagaimana pendekatan yang terbaik bagi pemecahan isu? Tingkat manajemen terendah manakah yang dapat menetapkan bagaimana menaggulangi isu? Konsekuensi apakah yang mungkin terjadi bila isu ini tidak diselelsaikan?

Jawaban
Tahun depan Beberapa instansi Besar (lebih dari 25% anggaran) tidak Ya ya tidak tidak Terbuka luas Kepala Bagian Kekacauan pelayanan jangka panjang, biaya besar/merosotnya penghasilan Satu sampai tiga sedang 1 3 3 1 3

Skor
3

1 3 1 1

5 6 7

3

8 9

Seberapa banyak dinas/instansi lainnya yang dipengarhui dan harus dilibatkan dalam pemecahan? Bagaimana sensivitas atau ‘charged’ isu ini terhadap nilai-nilai sosial, politik, religious dan kulural komunitas? Jumlah Sumber : Bryson (2000;184)

3 3 27

Tabel IV.10 Litmus Test 6 Meningkatkan upaya untuk mengatasi kerusakan lingkungan hidup Untuk pengembangan potensi sumber daya pariwisata Kabupaten Wonosobo

No
1 2 3 4

Pertanyaan
Kapan tantangan atau peluang isu-isu strategis ada dihadapan anda? Seberapa luas isu tersebut akan berpengaruh kepada organisasi? Seberapa banyak resiko keuangan/peluang keuangan organisasi? Akankah strategi-strategi bagi pemecahan isu akan memerlukan: a. Pengembangan sasaran dan program pelayanan yang baru? b. Perubahan signifikan dalam sumbersumber keuangan /anggaran? c. Perubahan signifikan dalamperaturan perundang-undangan? d. Penambahan atau modifikasi fasilitas utama? e. Penambahan staf yang signifikan?

Jawaban
Sekarang Beberapa instansi Besar (lebih dari 25% anggaran) tidak Ya Tidak Ya tidak Terbuka luas Kepala Bagian Ada gangguan efisiensi Satu sampai tiga Keras 1 3 3 2 3

Skor
1

1 3 1 3

Bagaimana pendekatan yang terbaik bagi pemecahan isu? 6 Tingkat manajemen terendah manakah yang dapat menetapkan bagaimana menaggulangi isu? 7 Konsekuensi apakah yang mungkin terjadi bila isu ini tidak diselelsaikan? 8 Seberapa banyak dinas/instansi lainnya yang dipengarhui dan harus dilibatkan dalam pemecahan? 9 Bagaimana sensivitas atau ‘charged’ isu ini terhadap nilai-nilai sosial, politik, religious dan kulural komunitas? Jumlah Sumber : Bryson (2000;184)

5

1 2 3 26

Tabel IV.11 Litmus Test 7 Meningkatkan upaya promosi wisata untuk pengembangan Potensi Sumber Daya Pariwisata Kabupaten Wonosobo

No
1 2 3 4

Pertanyaan
Kapan tantangan atau peluang isu-isu strategis ada dihadapan anda? Seberapa luas isu tersebut akan berpengaruh kepada organisasi? Seberapa banyak resiko keuangan/peluang keuangan organisasi? Akankah strategi-strategi bagi pemecahan isu akan memerlukan: a. Pengembangan sasaran dan program pelayanan yang baru? b. Perubahan signifikan dalam sumbersumber keuangan /anggaran? c. Perubahan signifikan dalamperaturan perundang-undangan? d. Penambahan atau modifikasi fasilitas utama? e. Penambahan staf yang signifikan?

Jawaban
Dua tahun atau lebih dari Sekarang Instansi tunggal Kecil (kurang dari 10% anggaran) tidak Ya Tidak tidak tidak Terbuka luas Kepala Bagian Ada gangguan efiseinsi Semua instansi Keras 1 3 3 2 2 3 2 3

Skor
2

1 3 3 1

Bagaimana pendekatan yang terbaik bagi pemecahan isu? 6 Tingkat manajemen terendah manakah yang dapat menetapkan bagaimana menaggulangi isu? 7 Konsekuensi apakah yang mungkin terjadi bila isu ini tidak diselelsaikan? 8 Seberapa banyak dinas/instansi lainnya yang dipengarhui dan harus dilibatkan dalam pemecahan? 9 Bagaimana sensivitas atau ‘charged’ isu ini terhadap nilai-nilai sosial, politik, religious dan kulural komunitas? Jumlah Sumber : Bryson (2000;184)

5

29

Tabel IV.12 Litmus Test 8 Meningkatkan keterlibatan SDM masyarakat lokal untuk pengembangan Potensi Sumber Daya Pariwisata Kabupaten Wonosobo

No
1 2 3 4

Pertanyaan
Kapan tantangan atau peluang isu-isu strategis ada dihadapan anda? Seberapa luas isu tersebut akan berpengaruh kepada organisasi? Seberapa banyak resiko keuangan/peluang keuangan organisasi? Akankah strategi-strategi bagi pemecahan isu akan memerlukan: a. Pengembangan sasaran dan program pelayanan yang baru? b. Perubahan signifikan dalam sumbersumber keuangan /anggaran? c. Perubahan signifikan dalamperaturan perundang-undangan? d. Penambahan atau modifikasi fasilitas utama? e. Penambahan staf yang signifikan?

Jawaban
Sekarang Seluruh instansi Kecil (kurang dari 10% angaran) tidak tidak ya tidak tidak Jelas siap diimplementasikan Kepala Bagian Ada gangguan efisensi Empat atau lebih Keras 1 1 3 3 3 3 1

Skor
1 3

1 1 3 1

Bagaimana pendekatan yang terbaik bagi pemecahan isu? 6 Tingkat manajemen terendah manakah yang dapat menetapkan bagaimana menaggulangi isu? 7 Konsekuensi apakah yang mungkin terjadi bila isu ini tidak diselelsaikan? 8 Seberapa banyak dinas/instansi lainnya yang dipengarhui dan harus dilibatkan dalam pemecahan? 9 Bagaimana sensivitas atau ‘charged’ isu ini terhadap nilai-nilai sosial, politik, religious dan kulural komunitas? Jumlah Sumber : Bryson (2000;184)

5

25

Berdasarkan litmus test dan berdasarkanperhitungan skor maka dapat ditentukan empat isu yang dikategorikan sangat strategis, isu-isu tersebut adalah sebagai berikut: a. Bagaimana memanfaatkan angagaran pariwisata yang memadai untuk

pengembangan seluruh potensi SDM pariwisata yang ada. b. Bagaimana meningkatkan kualitas aparatur, khsuus di bidang kepariwisataan agar dapat mengatasi permaslaah pariwisata. c. Mengatasi bagaiamana SDM agar dapat memanfaatkan teknologi da pengembangan pariwisata. d. Bagaimana meningkatkan upaya promosi wisata. Keempat isu yang termasuk dalam kategori sangat strategsi tersebut yang harus dijawab dalam perumusan trategi Tabel IV.13 Rekapitulasi Hasil Litmus Test terhadap Isu Strategis
No isu Strategis 1 2 3 4 5 6 7 8 1 1 1 1 1 3 1 2 1 2 2 1 3 3 1 2 2 3 3 3 2 3 3 1 3 3 1 4 3 1 3 3 1 1 1 1 5 3 3 3 3 3 3 3 1 6 1 1 1 3 1 1 3 3 7 3 1 1 3 1 3 1 1 8 3 1 3 3 1 1 1 1 9 3 3 3 1 3 3 3 1 10 3 2 3 3 3 2 3 3 11 2 1 1 3 3 1 3 3 12 3 2 2 3 3 2 2 3 13 3 1 2 1 3 3 2 3 Skor pertanyaan untuk tiap pertanyaan Skor rata-rata 2.5 1,53 2,30 2,46 2,07 2,00 2,23 1,92 Tingkat strategis SS S SS SS S S SS S

Sumber: Data olahan Keterangan : SS = Sangat Strategis S = Strategis

4.7. Strategi untuk Mengelola Isu Setelah mengemukakan mengenai isu strategisnya, maka berdasarkan

proses perencanaan strategis ditindaklanjuti dengan pengembangan strategi agar isu tersebut tidak hanya sekedar isu, melainkan ada penyelesaiannya. Pada tahap identifikasi isu strategis, telah dihasilkan empat isu yang dinilai sangat strategis yang perlu dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Wonosbo dalam rangka pengembangan sumber daya pariwisata. Tindak lanjut dari empat isu terpilih sebagai isu yang terkategorikan dalam isu sangat strategis dalam rangka pengembangan potensi pariwisata dapat dipaparkan satu demi satu sebagai berikut: 4.7.1. Bagaimana memanfaatkan anggaran pariwisata yang memadai untuk pengembangan seluruh potensi yang ada Untuk menyelesaikan problem mengenai penggunaan anggaran yang sesuai dengan misi, visi, mandate dan tujuan organisasi, maka langkah yang perlu ditempuh oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam upayanya mengembangkan potensi sumber daya pariwisata adalah sebagai berikut: a. Menyiapkan dan melakukan suatu perencanaan yang matang dalam rangka pengembangan potensi pariwisata: perencanaan yang matang sangat diperlukan dalam upaya pengembangan potensi pariwisata, sebab akan berdampak terhadap pencapaian sasaran yang diinginkan. Untuk itu, pemerintah daerah erlu melakukan suatu perencanaanyang matang dan hendaknya perencanaan tersebut dapat memberi rincian tentang tindakan apa saja yang diperlukan untuk mencapai tujuan, melaksankan strategi dan memenuhi sasaran perencanaan itu. Rencana itu haruslah mencermati satu persatu tujuan dan menspesifikasi tindakan apa yang harus dilakukan untuk mengikutinya. b. Penataan dan pembangunan semua infrastruktur maupun suprastruktur yang terkait dengan kepariwisataan; dalam upaya melakukan pengembangan potensi pariwisata, perlu didukung

oleh tersedianya infrasturktur maupun suprastruktur pariwisata yang memadai. Untuk itu pemerintah kabupaten perlu menata ulang dan membangun seluruh infrastruktur dan suprastruktur tersebut sehingga dapat mendukung upaya proses pengembangan potensi pariwisata dan pada akhirnya akan dapat mencapai hasil yang diinginkan. c. Membangun kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait, dalam membangun fasilitas kepariwisataan; kerjasama merupakan faktor yang sangat penting dalam pengembangan potensi pariwisata. Kerjasama ini sangat diperlukan oleh karena pemerintah kabupaten mempunyai keterbatasan kemampuan baik dari sisi pembiayaan, maupun dari sisi keahlian. Untuk itu maka pemerintah kabupaten perlu melakukankerjasama terutama dengan lembaga-lembaga perguruan tinggi setempat maupun yang ada diluar daerah dalam rangka melakukan penelitian-penelitian yang terkait dengan pengembangan potensi pariwisata yang ada. Pelu juga melakukan kerjasama dengan para investor baik dari dalam maupun luar negeri untuk menanamkan modalnya disektor pariwisata. d. Membuat Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (Rippda) yang lebih komprehensif: ripda yang dibuat perlu didasarkan pada pertimbangan kondisi pariwisat regional, nasional dan local. Jug aperlu didasrkan pada pertimbangan ekonomi, sosial budaya, lingkungan, politik, keamanan dan faktor lain yang terkait.. yang paling pokok dari semua itu adalah produk perencanaan pariwisata tersebut dapat diimplementasikan. e. Melakukan studi banding ke daerah-daerah yang kondisi pariwisatanya sudah sangat maju; dalam pengembangan potensi

pariwisata, satu hal yang harus sangat diperlukan oleh Pererintah Kabupaten Wonosobo adalah melakukan studi banding ke daerah-daerah yang kondisi pariwisatanya sudah sangat maju. Studi banding ini dimaksudkan agar dapat melihat kondisi pariwisata yang ada disana. Bagaimana pembangunannya, bagaimana penataan untuk dapat diterapkan didaerah dan juga diharapkan menjadi masukan kepada daerah dalam rangka pengembangannya.

4.7.2. Bagaimana meningkatkan kualitas aparatur, khusus dibidang kepariwisataan agar dapat mengatsi permasalahan pariwisata. Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, kondisi aparatur, sumber daya manusia yang ada di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo masih sangat rendah. Hal ini terkait dengan background pendidikan mereka yang masih belum banyak mendapatkan pendidikan dan pelatihan khusus kepariwisataan. Strategi yang perlu ditempuh pemkab dalam rangka peningkatan kualitas aparatur, khsuus dibidang kepariwisataan untuk mengatasi permaslaah pariwisata adalah dengan melalui pendidikan dan pelatihan khsuus di bidang kepariwisataan, baik yang sifatnya formal maupun informal. Pendidikan dan pelatihan difokuskan kepada aparatur yang lama sedangkan untuk aparatur baru, perlu untuk mengikuti magang bagi staff yang akan menangani bidang ini. Langkah yang perlu diambl untuk mendukung strategi ini adalah: a. Membentuk membutuhkan bidang tersebut. pusat pelatihan ilmu pariwisata. Hal ini

kerjasama dengan lembaga-lembaga yang

menangani pariwisata atau perguruan tinggi yang konsen pada

b. Pelatihan berbagai bidang ketrampilan praktis mengenai manajemen kepariwisataan bagi aparatur yang khusus menangani urusan pariwisata di daerah. c. Bagi aparatur agar tingkat produktivitas tinggi, maka

diperlukan pelaksanaan system reward and punishment alam lingkungan kerja sehari-hari. d. Diversifikasi pelatihan tetang berbagai aspek industry

pariwisata bagi aparatur yang menangani urusan kepariwisataan dengan melibatkan pula tenaga kerja dalam sector pariwisata. e. Mengikutsertakan aparatur yang menangani urusan

kepariwisataan untuk melanjutkan studi jenjang selanjutnya khusus dibidang manajemen kepariwisataan.

4.7.3. Bagaimana mengatasi SDM agar dapat memanfaatkan teknologi dalam pengembangan pariwisata dan implementasi SDM terkait untuk memanfaatkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan pengembangan sumber daya pariwisata. Di era seperti ini, kemajuan teknologi informasi juga perlu terkejar oleh aparatur pemerintahan yang bergerak di sector pariwisata. Untuk itu pemerintah kabupaten perlu melakukan langkah-langkah strategis dalam upaya pengembangan pariwisata melalui: a. Melakukan pelatihan-pelatihan maupun pendidikan teknologi informasi kepariwisataan. b. Pengenalan informasi teknologi yang sedang berkembang saat ini,melalui forum-forum internet, maupun teknologi gateway (jaringan selular). c. Menekan biaya administrative manual dengan mengoptmalkan

teknologi informasi agar pesan kepariwisataan dapat efektif dan efesien. d. Mengoptimalkan jejaringinternet yang sudah ada pada kantor dinas sebagai media publikasi eksternal maupun internal.

4.7.4. Bagaimana meningkatkan upaya promosi wisata. Promosi wisata adalah bagian yang harus diperhitungkan dan mendapatkan tempat tersendiri dalam upaya peningkatan sumber daya pariwisata. Melalui peningkatan promo, maka pendapatan daerah dari sector ini dapat digenjot karena dampak dari promo wisata adalah meningkatnya angka kunjungan ke tempat wisata. Adapun langkah yang perlu ditempuh dalam hal ini adalah: a. Menetukan target pasar yang akan dipengaruhi oleh kegiatan promosi yang akan dilakukan; untuk melakukan strategi ini, pemerintah kabupaten Wonosobo perlu mengetahui target pasar, karena dengan strategi ini akanlebih mudah bagi Pemab melakukan pemilihan terhadap media yang akan digunakan maupun akan dapat mengetahui waktu-waktu yang biasanya melakukan perjalanan wisata. b. Menetapkan kelayakan promosi yang akan dilakukan;

maksudnya jenis dan macam promosi apa saja yang akan dilakukan, dan berapa anggaran yang akan digunakan untuk target pasar tertentu. c. Mempersiapkan bentuk-bentuk deain iklan yang akan

digunakan: desain iklan yang akandigunakan mulai dari penentuan ukuran, warna, bahasa yang akan digunakan dalam iklan tersebutmaupun produk apa yang ditonjolkan dalam promo tersebut.

d. Menunjuk seorang public relation officer, untuk menajaga atau memelihara citra daerah tujuan wisata; keberadaan public relation officer sangat penting dalam upaya untuk mencouhnter berita-berita negative terkait dengan daerah tujuan wisata untuk konsumsi luar negeri, khususnya target pasar yang dituju. e. Menentukan tujuan promosi: strategi ini diharapkan agar para calon wisatawan yang akan datang ke daerah tujuan wisata merespon pormosi yang akan dilakukanatau informasi yang disampaikan sesuai dengan apa yang diinginkan atau diharapkan oleh calon wisatawan yang dijadikan target pasar.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. KESIMPULAN Dari analisis yang telah penulis jabarkan dimuka, beberapa simpulan yang dapat diambil dalam rangka upaya pengembangan sumber daya pariwisata di Kabupaten Wonosobo adalah: a. Potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Wonosobo sangat besar, baik dari sisi kuantitas maupun dari keragaman jenis dan bentuknya apabila dibandingkan dengan daerah lain sekitar Wonosobo. Wisata alam yang didukung dengan wisata sejarah berupa peninggalan-peninggalan sejarah dan potensi wisata budaya berupa adat istiadat serta tradisi masayrakat setempat merupakan bukti potensi besar yang dimiliki. Namun, semua itu ternyata belum mendapatkan pengelolaan yang khusus dan memadai dalam rangka pengembangan kedepan. Penanganan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam hal ini belum dilakukan optimal dengan menggunakanstrategi dalam pengembangan sumber daya pariwisata yang ada. Stragei kebijakan sector pariwisata dirasakan belum efektif sehingga ditharapkan strategi yang penulis tawarkandalam peneilian ini akan dapat membuka peluang baru dalam upaya pengembangan kepariwisataan agar lebih optimal. b. Dalamkoneks pariwisata di daerah, Kabupaten Wonosobo belum memiliki perangkat pengembanganpariwisata. Hal tersebut berdampak pada pelaksanaan pengembangan pariwisata di daerah dan di kawasan wisata yang akan dikembangankan belum memiliki dasar acuan terutama dalam penyusunan program dan

strategi

pengembagnan

pariwista.

Pembentukansusunan

organisasi dan tata kerja Dinas Pariwisata dan Kebudayaan telah mendapatkan legalitas, akan tetapi hingga pnelieitan ini dilaksanakan tindak lanjut dari regulasi tersebut belum Nampak optimal dalam realisasinya. c. Peluang yang dimiliki daerah untuk melaksanakan

pengembangan potensi daerah adalah: 1. Telah diundangankannya Perna No. 05 tahun 2003 tentang Pembentukan Susunan dan Tata Kerja Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. 2. Kebijakan otonomi daerah yang memberikan kewanangan kepada daerah untuk menggali sumber daya alam. 3. Kemajuan teknologi yang pesat 4. Keindahan alam dan keragaman budaya. 5. Paradigm baru pengembangan pariwisata yang ramah lingkungan. d. Ancaman yang harus dihadapi yang berpotnesi menghambat tercapainya tujuang pengembangan potensi sumber daya pariwisata adalah: 1. Belum adanya perangkat pengembangan pariwisata. 2. Kebijakan otonomi daerah yang mengakibatkan anggaran untuk pembangunan daerah melalui pemerintah pusat menjadi berkurang. 3. Krisis eknomi yang berkepanjangan. 4. Pertumbuhan ekonomi daerah yang negative.

5. Struktur kependudukan yang tidak merata. 6. Kerusakan lingkungan hidup 7. Terjadi degradasi nilai budaya. 8. Belum optimal penggunaan teknologi informasi. e. Kekuatan yang dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo untuk dapat mengembangkan potensi pariwisata adalah: 1. Ketersediaan dana yang memadai dalam pegembangan sumber daya pariwisata. 2. Komitmen DPRD untuk meningkatkan angagaran pariwisata. 3. DPRD selalu menaikkan porsi anggaran yang diusulkan eksekutif dalam program pariwisata. 4. Tersedianya data tentang profil kepariwisataan Kabupaten Wonosobo. 5. Dalam rangka promosi wisata dibuat stiker, brosur, serta iklan tentang potensi wisata. f. Kelemahan yang masih ada pada pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam pengembangan potensi pariwisata adalah: 1. Tidak adanya pegawai yang berlatar belakang pendidikan kepariwisataan. 2. Pendidikan pegawai secara kualitas dan kuantitas sangat rendah. 3. Kondisi perkantoran kurang mendukung. 4. Dalam melaksankan pekerjaan sering menunggu perintah atasan.

5. Tidak ada gagasan/ide segar dalam rangka pengembangan pariwisata. 6. Etos kerja sangat lemah. g. Dari serangkaian analisisi lingkungan strategis tersebut dikaitkan dengan visi dan misi pengmbangan pariwisata di Kabupaten Wonosobo dan setleah melalui uji tes litmus maka isu strategis dalam pengembangan potensi pariwisata adalah: 1. Bagaimanan pariwisata. 2. Bagaimana meningkatkan kualitas aparatur, khusus dibidang kepariwisataan pariwisata. 3. Bagaimana mengatasi sumber daya agar dapat memanfaatkan teknologi dalam pengembangan pariwisata. 4. Bagaimana meningkatkan upaya promosi wisata. agar dapat mengatasi permasalahan memanfaatkan anggaran pariwisata yang

memadai untuk pengembagan seluruh potensi sumber daya

5.2. REKOMENDASI Dalam penelitian ini, beberapa rekomendasi yang penulis hendak sampaikan dalam upaya pengmbangan potensi pariwisata di Kabupaten Wonosobo adalah: a. Pembiayaan dalam bidang pelatihan dan peningkatan mutu sumber daya manusia dibidang kepariwistaan masih perlu banyak ditingkatkan. Sehiubungan dengan itu, maka Dinas Pariwisata dan Kebudayaan adalah lembaga institusi pemerintah yang harus menerapkan system pengembangan sumber daya

manusia yang ada, pendeknya, tidak mengoptimalkan rekruitmen baru tetapi lebih mengoptimalkan kualitas tenaga yang sudah ada. Table V.1 Data Pegawai: Jabatan dan Pendidikan (Juli 2010)
No Jabatan Pendidikan 1 Kepala S2 2 Kabid S1 3 Pegawai S1/D3/SMA/SMP 4 Staff SMA/SMP/SD Sumber:Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo

Dari data tersebut, diketahui tingkat pendidikan masih banyak yang belum memadai, apalagi secara lebih spesifik jurusan dan konsentrasi pendidikan masing-masing yang rata-rata tidak memiliki background kepariwisataan. Selain itu, dari 47 aparatur di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan baru beberapa orang yang mengikuti pelatihan kepariwisataan, selebihnya belum. Beberapa rekomendasi yang penulis hendak sampaikan adalah: 1. Kursus, diklat dan pendidikan kepariwisataan perlu diadakan untuk aparatur. 2. Pelatihan pengmbangan information and communication technology (ICT) bagi aparatur perlu digalakkan untuk memperlancar pengembangan pemasaran pariwisata. 3. Memberikan intensif dan dukungan kepada karyawan dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan yang diminati sesuai bidang peningkatan sumber daya pariwisata. b. Dalam usah meningkatkan kualitas aparatur di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, agar dalam pengembangan objek wisata dan

wisata budaya lebih baik tidak hanya terfokus pada sebuah masalah saja namun perlu menimbang hal lain. Dalam penelitian ini melalui isu strateis ditemukan bahwa peningkatan mutu sumber daya manusia menjadi faktor yang sangat penting dilakukan. Hal ini pula akan berdampak pada pengembangan sumber daya pariwisata yang ada tidak bertentangan dengan visi, misi dan tujuan kepariwiataan Kabupaten Wonosobo. Contoh dari pengembangan pariwisata yang tidak hanya terfokus pada satu objek saja dapat dilihat dari table Rinican Program dan Realisasi Anggaran pada APBD 2010 dibawah ini:

Table V.2 Rincian Program dan Realisasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tahun Anggaran 2010

No

PROGRAM Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata

REALISASI ANGGARAN Rp. 330.000.000 ,Rp 750.000.000 ,Rp 50.000.000, Rp. 150.000.000 ,Rp. 276.369.750 ,-

1

2

Program Perencanaan Pembangunan Daerah

3

Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur

4

Program Pengembangan Nilai Budaya

5

Program Pelayanan Administrasi Kantor

Jumlah Rp. 1.556.369.750,Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo; diolah

Dapat

dilihat

dalam

table

diatas

bahwa

pembangunan

kepariwisataan tidak hanya terfokus pada satu objek saja, melainkan dilakukan pula upaya memacu sumber daya kepariwisataan elemen. Dari contoh anggaran diatas pula, adalah bentuk untuk mengatasi kemacetan anggaran yang biasa digunaan sebagai kegiatan tetap, yaitu perawatan dan pemberdayaan objek. Meskipun dalam kenyataan sebuah public hearing dalam bidang pariwisata ini sering tidak imbang antara income dan outcome-nya. Berikut grafik perbandingan pendapatan dan pengeluaran anggaran untuk sector pariwisata dari 13 objek wisata yang ada di Kabupaten Wonosobo; yang lain agar mendukung tercapainya peningkatan sumber daya pariwisata secara menyuluruh disemua

Table V.3 Data Pendapatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo Tahun 2003-2010

No 1 2 3 4

Tahun 2003 2004 2005 2006

Target 427.500.000 435.650.000 489.250.000 643.150.000

Realisasi 415.879.280 368.134.730 475.254.950 495.425.150

Prosentase 97,2 8 84,5 0 97,1 4 77,0

3 5 6 7 8 2007 2008 2009 2010* 562.650.000 754.000.000 550.500.000 560.500.000 637.324.420 614.941.820 580.675.150 292.666.550 113, 27 81,5 6 105, 48 52,2 2

Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo; diolah *Data sampai Juli 2010

Table V.4. Tingkat Popularitas Objek Wisata Di Kabupaten Wonosobo

No

Nama Objek

Prosentase Popularitas 95,30 67,60 47,80 27,20 22,70 22,50 19,40 18,80 17,90 14,60 13,40

1 Dataran Tinggi Dieng 2 Pemandian Kalianget 3 Telaga Warna 4 Ruwat Rambut Gembel 5 Telaga Menjer 6 Air Terjun Sikarim 7 Pendakian Gunung Sindoro 8 Air Terjun Winong 9 Agrowista Tambi 10 Kawah Candradimuka 11 Makam Tumenggung Jogonegoro Sumber : Litbang Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa tidak semua kawasan wisata yang ada memiliki popularitas yang tinggi bagi masyarakat kendati secara umum objek yang ada terbilang memiliki daya tarik yang besar. Dengan tingkat kunjungan objek yang kurang begitu besar, maka popularitas objek wisata perlu digenjot ulang, sehubungan dengan upaya mencapai target pendapatan daerah.

Dilihat secara umum selama delapan tahun terakhir, hanya dua kali Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mampu menutup target pendapatan mereka. Yang itu menunjukkan bahwa daya jual kawasan wisata tersebut belum optimal. Hal ini bersumber pada masih rendahnya kinerja aparatur yang ada dan kurangnya pengalaman dan pendidikan mengenai kepariwisataan. Berkitan dengan pengembangan sumber daya pariwisata, selama ini pola pengembangan pariwisata di Kabupaten Wonosobo belum sepenuhnya melibatkan masyarakat local. Selama ini masyarakat hanya dijadikan objek serta penonton dalam proses pengembangan pariwisata. Untuk itu maka perlu adanya usaha menggandeng masyarakat local yang pada ujungnya nanti akan berdampak pada rasa memiliki (save to belonging) masyarakat local terhadap objek wisata yang ada, dan ini akan berdampak pada kenyamanan wisatawan yang datang. Hal ini juga sesuai dengan system pariwisata yang berbasis masyarakat (community based tourism development). c. Mengatasi sumber daya manusia agar dapat menggunakan information and communication technology (ICT) sebagai model pengembangan pariwisata. Kemajuan teknologi dan komunikasi yang pesat akhir-akhir ini harus mampu diakomodir dan digunakan sebagai media promo yang mampu mengembangkan potensi dan promosi pariwisata yang ada di daerah tersebut. d. Promosi wisata perlu peningkatan yang optimal. Promosi wisata melalui media massa, pembuatan baliho, pamphlet dan media reklame lainnya harus lebih diperbanyak dalam rangka meningkatkan popularitas objek wisata yang ada.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->