P. 1
Makalah Fisiologi Pasca Panen

Makalah Fisiologi Pasca Panen

|Views: 1,586|Likes:
Published by kink_koNg

More info:

Published by: kink_koNg on Sep 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2012

pdf

text

original

Makalah Fisiologi Pasca Panen

Pasca Panen pada Komoditas Buah Salak

Disusun oleh : Rezki Tiara Siwi (H0607078)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010

Pasca Panen pada Komoditas Buah Salak
A. Pendahuluan Salak merupakan buah hortikultura asli Indonesia yang cukup produktif (Palupi, 2009). Buah Salak Yang mempunyai latin Salacca Edulis merupakan salah satu buah tropis yang saat ini banyak diminati oleh orang Jepang, Amerika, dan Eropa, di samping Indonesia sendiri. Buah salak memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, dapat dikonsumsi sebagai buah segar juga dapat dijadikan manisan Tanaman salak menghendaki tanah yang gembur dan beraerasi baik dengan kandungan pasir berkisar 45 ± 85%, yaitu tanah dengan tekstur berlempung sampai liat berpasir. Tanaman Buah salak tumbuh dengan baik pada tanah netral (pH 6 ± 7), namun demikian tanaman salak dapat tumbuh juga pada tanah dengan keasaman sedang (pH 4,5 ± 5,5) atau agak basa (pH 7,5 ± 8,5). Buah Salak terutama ditanam untuk dimanfaatkan buahnya, yang populer sebagai buah meja. Selain dimakan segar, salak juga biasa dibuat manisan, asinan, dikalengkan, atau dikemas sebagai keripik salak. Salak yang muda digunakan untuk bahan Rujak.Umbut salak pun dapat dimakan. (Romee, 2010). Banyak varietas salak yang bisa tumbuh di Indonesia. Ada 18 jenis varietas salak, Buah salak hanya dimakan segar atau dibuat manisan dan asinan. Pada saat ini manisan salak dibuat beserta kulitnya, tanpa dikupas. Batangnya tidak dapat digunakan untuk bahan bangunan atau kayu bakar. Buah matang disajikan sebagai buah meja. Buah segar yang diperdagangkan biasanya masih dalam tandan atau telah dilepas (petilan). Buah salak yang dipetik pada bulan ke 4 atau ke 5 biasanya untuk dibuat manisan (Nazaruddin, 1992). B. Panen Menurut buku tentang budi daya pertanian salak (2001) terbitan deputi menegristek bidang pendayagunaan dan pemasyarakatan ilmu pengetahuan dan teknologi mengenai mutu buah salak yang baik diperoleh bila pemanenan dilakukan pada tingkat kemasakan yang baik. Buah salak yang belum masak, bila dipungut akan terasa sepet dan tidak manis. Maka

pemanenan dilakukan dengancara petik pilih, disinilah letak kesukarannya. Jadi kita harus benar-benar tahu buah salak yang sudah tua tetapi belum masak. Buah salak dipanen dengan cara memotong tangkai tandan dengan menggunakan sabit, pisau yang tajam atau gergaji. Buah salak termasuk buah non klimaterik sehingga hanya dapat dipanen jika benar-benar telah matang di pohon, yang ditandai dengan sisik yang telah jarang, warna kulit buah merah kehitaman atau kuning tua, bulu-bulu di kulit telah hilang, bila dipetik mudah terlepas dari tangkai dan beraroma salak. Sedangkan menurut Nazaruddin (1992) Tanaman salak yang ditanam dari bibit cangkokan, pada umur 2-3 tahun sudah mulai berubah. Pada umumnya buah salak dapat di panen pada saat umur 6-7 bulan sejak hari penyerbukan. Umumnya panen dilakukan setelah diketahui biji salak berwarna merah atau merah kecoklatan. 1. Ciri dan Umur Panen Buah salak dapat dipanen setelah matang benar di pohon, biasanya berumur 6 bulan setelah bunga mekar (anthesis). Hal ditandai oleh sisik yang telah jarang, warna kulit buah merah kehitaman atau kuning tua, dan bulu-bulunya telah hilang. Ujung kulit buah (bagian buah yang meruncing) terasa lunak bila ditekan. Tanda buah yang sudah tua, menurut sumber lain adalah: warnanya mengkilat (klimis), bila dipetik mudah terlepas dari tangkai buah dan beraroma salak. 2. Cara Panen Cara memanen: karena buah salak masaknya tidak serempak, maka dilakukan petik pilih. Yang perlu diperhatikan dalam pemetikan apakah buah salak tersebut akan disimpan lama atau segera dimakan. Bila akan disimpan lama pemetikan dilakukan pada saat buah salak tua (Jawa: gemadung), jadi jangan terlalu tua dipohon. Buah salak yang masir tidak tahan lama disimpan. Pemanenan buah dilakukan dengan cara memotong tangkai tandannya. 3. Periode Panen Tanaman salak dalam masa panennya terdapat 4 musim: a. Panen raya pada bulan Nopember, Desember dan Januari b. Panen sedang pada bulan Mei, Juni dan Juli c. Panen kecil pada bulan-bulan Pebruari, Maret dan April. d. Masa kosong/istirahat pada bulan-bulan Agustus, September dan Oktober. Bila pada bulan-bulan ini ada buah salak maka dinamakan buah slandren. Menurut sumber lain panen besar buah salak adalah antara bulan Oktober - Januari.

4. Prakiraan Produksi Dalam budidaya tanaman salak, hasil yang dapat dicapai dalam satu musim tanam adalah 15 ton per hektar. C. Cara Pasca Panen Seperti buah-buahan lainnya, buah salak mudah rusak dan tidak tahan lama. Kerusakan ditandai dengan bau busuk dan daging buah menjadi lembek serta berwarna kecoklatcoklatan. Setelah dipetik buah salak masih meneruskan proses hidupnya berupa proses fisiologi (perubahan warna, pernafasan, proses biokimia dan perombakan fungsional dengan adanya pembusukan oleh jasad renik). Sehingga buah salak tidak dapat disimpan lama dalam keadaan segar, maka diperlukan penanganan pascapanen. a. Pengumpulan Gudang pengumpulan berfungsi sebagai tempat penerima buah salak yang berasal dari petani atau kebun. Dalam gudang pengumpulan ini dilakukan: sortasi, grading dan pengemasan. b. Penyortiran dan Penggolongan Sortasi/pemilihan bertujuan untuk memilih buah yang baik, tidak cacat, dan layak ekspor. uga bertujuan untuk membersihkan buah-buah dari berbagai bahan yang tidak berguna seperti tangkai, ranting dan kotoran. Bahan-bahan tersebut dipotong dengan pisau, sabit, gunting pangkas tajam tidak berkarat sehinga tidak menimbulkan kerusakan pada buah. Grading/penggolongan bertujuan untuk: 1) mendapat hasil buah yang seragam (ukuran dan kualitas) 2) mempermudah penyusunan dalam wadah/peti/alat kemas 3) mendapatkan harga yang lebih tinggi 4) merangsang minat untuk membeli 5) agar perhitungannya lebih mudah 6) untuk menaksir pendapatan sementara. Penggolongan ini dapat berdasarkan pada : berat, besar, bentuk, rupa, warna, corak, bebas dari penyakit dan ada tidaknya cacat/luka. Semua itu dimasukkan kedalam kelas dan golongan sendiri-sendiri. y y y Salak mutu AA (betul-betul super, kekuningan, 1kg= 12 buah) Salak mutu AB (tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, dan sehat) Salak mutu C (untuk manisan, 1kg = 25 - 30 buah)

y

Salak mutu BS (busuk atau 1/2 pecah), tidak dijual. melindungi buah salak dari kerusakan,

c. Pengemasan dan Pengangkutan Tujuan pengemasan adalah untuk

mempermudah dalam penyusunan, baik dalam pengangkutan maupun dalam gudang penyimpanan dan untuk mempermudah perhitungan. Ada pengemasan untuk buah segar dan untuk manisan salak. Pengemasan untuk buah segar: 1) alat pengemas harus berlubang 2) harus kuat, agar buah salak terlindung tekanan dari luar 3) dapat diangkut dengan mudah 4) ukuran pengemas harus disesuaikan dengan jumlah buah. Pengemasan untuk manisan salak: dikemas dalam kaleng yang ditutup rapat yangt elah dipastursasi sehingga semua mikroba seperti jamur, ragi, bakteri dan enzim dapat mati dan tidak akan menimbulkan proses pembusukan. Untuk manisan yang dikeringkan, umumnya dikemas dalam plastik. Kemasan transportasi yang layak adalah kemasan yang mampu meminimalisir kerusakan sehingga dapat mempertahankan mutu buah salak yang diangkut. Akan lebih baik lagi bila kemasan transportasi tersebut tidak menelan biaya yang besar sehingga membantu mereduksi biaya yang ditanggung produsen. Dalam hal ini, pembuatan kemasan yang berprinsip kepada teknologi tepat guna menjadi suatu pilihan. Tujuan ini dapat dicapai dengan pembuatan kemasan dari pelepah salak sebagai bahan baku, selain itu penyusunan buah yang baik akan menghasilkan susunan buah yang kokoh dan penggunaan volume kemasan yang lebih baik. Cara susun buah dengan metode fcc adalah pilihan yang tepat untuk memperoleh kedua hal tersebut. Pola penyusunan buah fcc dikembangkan oleh Peleg (1985). Pola susunan fcc dipilih karena susunan buah yang dibentuk lebih kokoh daripada pola susunan buah yang lain. Dengan pola susunan fcc, jarak antar buah ditentukan secara khusus, sehingga tidak terbentuk ruang ± ruang kosong karena adanya buah yang tidak mengalami kontak (bersentuhan) dengan permukaan buah lainnnya (tetangga buah tersebut). Ruang kosong ini dapat mengakibatkan kerusakan mekanis pada buah (memar) karena getaran dan goncangan selama transportasi. Selain itu dapat menyebabkan susunan buah dalam kemasan menjadi berantakan. Pada pola susunan fcc, setiap buah mengalami kontak dengan permukaan buah ±

buah tetangganya, sehingga susunan buah menjadi kokoh (tightest packing). Susunan buah yang kokoh ini akan sangat membantu dalam mengurangi kerusakan mekanis yang terjadi selama transportasi. Pola susunan fcc hanya berlaku untuk buah yang berbentuk spheroid dan ellipsoid. Bentuk buah salak lebih mendekati ellipsoid daripada spheroid, maka diasumsikan buah salak berbentuk ellipsoid. Bentuk ellipsoid didapatkan dengan asumsi bahwa bagian buah yang meruncing diabaikan (Gambar 1). Pengabaian ini tidak menimbulkan masalah saat penyusunan buah dalam kemasan, karena bagian yang meruncing tersebut akan berada di antara buah pada lapisan di atasnya. Bagian meruncing yang diabaikan ini adalah setengah dari tinggi buah salak (1/2 h) sesuai dengan pengamatan selama penelitian terhadap bagian yang meruncing pada buah salak ( Wiyana, 2005).

Gambar 1. Ilustrasi asumsi bentuk spheroid buah salak. Pengangkutan merupakan mata rantai penting dalam penanganan, penyimpanan dan distribusi buah-buahan. Syarat-syarat pengangkutan untuk buah-buahan: 1) Pengangkutan harus dilakukan dengan cepat dan tepat. 2) Pengemasan dan kondisi pengangkutan yang tepat untuk menjamin terjaganya mutu yang tinggi. 3) Harapan adanya keuntungan yang cukup dengan menggunakan fasilitas pengangkutan yang memadai. D. Repirasi Sebagai produk hortikultura yang biasanya dipanen dalam kondisi segar, salak merupakan pangan yang mudah mengalami kerusakan (perishable) baik secara mekanis, fisik, fisiologis, maupun mikrobiologis. Akibatnya salak tidak bisa disimpan dalam waktu

panjang sebagai buah segar. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan cara pengolahan salak, karena setelah pemanenan buah salak masih mengalami respirasi. Respirasi buah salak sangat penting untuk pemeliharaan susunan seluler dan interfritas membrane. Sumber karbohidrat nabati dalam glikogen bentuk glikogen, hanya dijumpai pada otot dan hati dan karbohidrat dalam bentuk laktosa hanya dijumpai di dalam susu. Pada tumbuh-tumbuhan, karbohidrat di bentuk dari basil reaksi CO2 dan H2O melalui proses foto sintese di dalam sel-sel tumbuhtumbuhan yang mengandung hijau daun (klorofil). Matahari merupakan sumber dari seluruh kehidupan, tanpa matahari tanda-tanda dari kehidupan tidak akan dijumpai. Reaksi fotosintese
S.matahari

6 CO2 + 6 H2O

C6 H12 O6 + 6 O2

Pada proses fotosintesis, klorofil pada tumbuh-tumbuhan akan menyerap dan menggunakan enersi matahari untuk membentuk karbohidrat dengan bahan utama CO2 dari udara dan air (H2O) yang berasal dari tanah. Energi kimia yang terbentuk akan disimpan di dalam daun, batang, umbi, buah dan biji-bijian. Hasil reaksi fermentasi, selanjutnya dipakai utuk proses respirasi yang mana glukosa di pecah di dalam sel tumbuhan. Dalam proses ini akan dihasilkan 36 ATP yang dihasilkan.dari pemecahan glukosa menjadi karbon dioksidadan air dalam respires aeron adalah 2 ATP hasil dari glikolisis + 2 ATP dari siklus Krebs + 32 ATP dari system transpor electron. Dan apabila respirasi ini tudak dihambat akan menyebabkan salak cepat mati dan membusuk. Laju respirasi biasanya meningkat selama tahap permulaan pengembangan dan menurun dengan semakin tuanya buah. Oleh karena itusalak yang dipanen masih muda mempunyai laju respirasi tinggi. Pengendalian: penyimpanan di dalam atmosfir termodifikasi dengan dasarnya menghambat laju oksidasi biologis. Prinsipnya adalah memanipulasi atmosfir mikro seperti konsentrasi O2 dan CO2, dan suhu untuk mengendalikan respirasi. E. Transpirasi Sebagai buah hortikultura, salak segar mudah mengalami kerusakan karena faktor mekanis, fisis, fisiologis dan mikrobiologis. Hal ini disebabkan karena salak mempunyai kadar air yang cukup tinggi yaitu sebesar 78% dan kandungan karbohidrat sebesar 20,9 % (Depkes RI: 2000). Perubahan lain yang cukup merugikan adalah terjadinya warna daging buah secara enzimatis dan pertumbuhan jamur bila kulit atau daging buah salak terluka. Oleh karena zat gizi yang terdapat pada salak menyebabkan daya simpan salak segar relatif singkat

sekitar 7-10 hari. Dan apabila terjadi transpirasi buah salak membuat kadar airnya berkurang, bila kadar airnya berkurang maka kenampakan buahnya menjadi tidak sedar, selain itu zat gizi yang larut didalam air pun juga hilang karena berkurangnya kadungan air yang terdapat pada buah salak. Traspirasi pada buah salak bias dihambat namun jangan sampai dihentikan, apabila dihentikan maka laju respirasinya juga berhenti. Air merupakan salah satu factor penentu bagi berlangsungnya kehidupan tumbuhan. Banyaknya air yang ada didalam tubuh tumbuhan selalu mengalami fluktuasi tergantung pada kecepatan proses masuknya air ke dalam tubuh tumbuhan, kecepatan proses penggunaan air oleh tumbuhan, dan kecepatan proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan. Hilangnya air dari tubuh tumbuhan dapat berupa cairan dan uap atau gas. Proses keluarnya atau hilangnya air dari tubuh tumbuhan dapat berbentuk uap atau gas ke udara di sekitar tubuh tumbuhan dinamakan transpirasi. Transpirasi berlangsung melalui bagian tumbuhan yang berhubungan dengan udara luar, yaitu luka dan jaringan epidermis pada daun, batang, cabang, ranting, bunga, buah, dan bahkan akar. Cepat lambatnya proses transpirasi ditentukan oleh faktor-faktor yang mampu merubah wujud air sebagai cairan ke wujud air sebagai uap atau gas dan faktor-faktor yang mampu menyebabkan pergerakan uap atau gas. Faktor-faktor tersebut meliputi suhu, cahaya, kelembaban udara, dan angina. Di samping itu luas permukaan jaringan epidermis atau luka tempat proses transpirasi berlangsung juga ikut berperan. Transpirasi juga merubah susut berat, yang semakin besar pada suhu yang tinggi. Dengan hilangnya air pada proses transpirasi ini, salak menjadi berkurang beratnya, kadar airnya dan keriput. Banyaknya air yang hilang atau menguap dari bahan tergantung pada suhu dan kelembaban lingkungannya. Pengendalian: Dengan penambahan lapisan lilin buah maka dapatmencegah kehilangan air sekitar 30-50%. Semakin tinggi konsentrasi lapisan lilin yang dipakai maka pori-pori buah salak akan semakin kecil. Kehilangan air akibat transpirasi dan kehilangan berat akibat aktifitas respirasi akan semakin kecil dengan semakin kecilnya pori-pori buah (Neynay, 2007).

F. Chilling injury Penyimpanan mempertahankan

dalam kualitas

suhu dan

rendah

mampu masa

memperpanjang

simpan buah salak, karena dapat menurunkan proses respirasi, memperkecil transpirasi dan menghambat

perkembangan mikrobia, contohnya seperti pada gambar 2. Tetapi penyimpanan pada suhu rendah tidak menekan seluruh aspek metabolism pada tingkat yang sama. Beberapa reaksi sensitif terhadap suhu rendah dan berhenti
Gambar 2. Penyimpanan pada suhu rendah

sama sekali dibawah suhu kritis, yang dapat menyebabkan chilling injury. Suhu yang baik dalam penyimpanan bervariasi tergantung pada jenis komoditas salaknyanya dan tingkat kematangan dari komoditas yang disimpan (Setyowati dan Asiani, 1992). Suhu juga tidak berpengaruh pada perubahan warna dari awal sampai akhir penyimpanan. Interaksi saat panen dan suhu penyimpanan tidak berpengaruh terhadap perubahan warna salak selama penyimpanan. Sedangkan untuk struktur Kekerasan buah salak mengalami perubahan

dengan bertambahnya umur panen. Pelunakan buah-buahan dan pada umumnya akibat dari peran gabungan beberapa ensim perombak dinding sel yang diatur oleh etilen. Salak yang telah masak menghasilkan etilen yang tinggi, namun mentimun tetap lunak akibataktivitas ensim pektin metil esterase dan poligalakturonase. Disamping itu pelunakan dinding sel juga disebabkan oleh perubahan turgor sel yang menyebabkan hilangnya sifat getas dan kesegaran buah salak selama penyimpanan. Keadaan penyimpanan pada suhu rendah juga berpengaruh pada vitamin C, karena selama penyimpanan vitamin C tidak di sintesa tetapi mengalami penurunan yang kurang lebih sama untuk semua salak yang di panen pada saat yang berbeda. Buah salak yang disimpan dalam suhu ruang mempunyai kadar vitamin C lebih rendah dari pada yang disimpan pada suhu rendah. Sejumlah besar vitamin dapat hilang bila sesudah di petik diletakkan pada tempat tanpa pendingin. Penyimpanan pada suhu tinggi dapat menyebabkan terjadinya penurunan vitamin C yang lebih cepat. (Linda, 2008). G. Freezing Injury Pada umumnya buah-buahan yang berpola respirasi klimakterik seperti buah salak rriempunyai karakter mudah rusak sehingga umur simpannya relatif pendek. Penanganan

buah-buahan yang tidak tepat menyebabkan kerusakan fisiokimia dan fisiologis yang tidak dapat dihindari sehingga susut pascapanennya bisa mencapai 80%. Permasalahan yang timbul pada saat panen raya produlksinya melimpah, sehingga setiap menghindari kerugian akibat kerusakan, Salah satu tehnik penyimpanan adalah dengan menggunakan ruangan bersuhu rendah. Suhu yang rendah diharapkan dapat menekan kegiatan penuaan maupun kegiatan mikroba perusak.. Di dalam penyimpanan bersuhu rendah, kondisi yang harus dipertimbangkan adalah suhu, kelembapan, komposisi udara dan tekanan.masing-masing factor bervariasi menurut tingkat ketuaan atau tingkat kematangan (Setyowati NR dan Budiarti A, 1992)
Freezing injury dapat terlihat bila kita menurunkan minus 20C, apabila

mengalami perubahan pada buah salak, maka buah salak tersebut mengalami freezing injury, selain itu suhu serta lamanya proses apakah sifatnya slow freezing atau quick freezing, jika quick freezing maka permukaan kristal es yang yang dihasilkan lembut dan halus, dan tidak menyebabkan kerusakan yang bisa memecahakan dinding sel pada buah salak. Namun bila itu slow freezing maka buah salak yang disimpan pada suhu rendah akan lebih rusak atau bahkan mati, karena kristal es yang dihasilkan secara slow freezing kristal-kristal esnya bersifat kasar dan runcing, kristal es yang kasar dan runcing inilah yang bisa menyebabkan membran sel dalam buah sel keluar, sehingga sel rusak, dan akan berakibat pada penampakan buah yang tidak segar, kisut, serta kemungkina perubahan pada rasa.

H. Hama dan Penyakit 1) Hama a. Kutu wol /putih (Cerataphis sp.). Hama ini bersembunyi di sela-sela buah. b. Kumbang penggerek tunas (Omotemnus sp..) c. Kumbang penggerek batang Menyerang ujung daun yang masih muda (paling muda), kemudian akan masuk ke dalam batang. Hal ini tidak menyebabkan kematian tanaman, tetapi akan tumbuh anakan yang banyak di dalam batang tersebut. Pengendalian: Dimatikan atau dengan cara meneteskan larutan insektisida (Diazenon) dengan dosis 2 cc per liter pada ujung daun yang terserang atau dengan cara menyemprot. Dalam hal ini diusahakan insektisida dapat masuk ke dalam bekas lubang yang digerek. Memasukkan kawat yang ujungnya lancip ke dalam lubang yang dibuat kumbang hingga mengenai hama. d. Babi hutan, tupai, tikus dan luwak Pengendalian: (1) untuk memberantas babi hutan, dilaksanakan dengan penembakan khusus, atau memagari kebun salak dengan salak-salak jantan yang rapat.

Akan lebih baik lagi kalau memagari kebun salak dengan kawat berduri; (2) untuk memberantas Tikus, digunakan Zink phosphit, klerat dan lainlain; (3) untuk memberantas Luwak dan Tupai, dapat digunakan umpan buah pisang yang dimasuki Furadan 3 G. Caranya: buah pisang dibelah, kurang lebih 0,5 gram Furadan dimasukkan ke dalamnya, kemudian buah pisang tersebut dijahit dan dijadikan umpan. 2) Penyakit a. Penyakit yang sering menyerang salak adalah sebangsa cendawan putih, Gejala: busuknya buah. Buah yang terserang penyakit ini kualitasnya jadi menurun, karena warna kulit salak jadi tidak menarik. Pengendalian: mengurangi kelembaban tanah, yaitu mengurangi pohon-pohon pelindung. b. Noda hitam Penyebab: cendawan Pestalotia sp. Gejala: adanya bercak-bercakhitam pada daun salak. c. Busuk merah (pink) Penyebab: cendawan Corticium salmonicolor. Gejala: adanya pembusukan pada buah dan batang. Pengendalian: tanaman yang sakit dan daun yang terserang harus dipotong dan dibakar di tempat tertentu. 3) Gulma Di beberapa tempat di Pulau Jawa, lahan salak dibangun di bekas persawahan. Sehingga otomatis gulma yang merajai kebun adalah gulma-gulma yang biasa terdapat di sawah. Karena lahan sawah yang biasa tergenang air dikeringkan dan dibumbun tanahnya maka gulma yang mampu bertahan adalah gulma berdaun sempit dan tumbuh menjalar yang sedikit sekali terdapat di sawah. Gulma yang berbatang kurus tegak, berdaun panjang yang umumnya di persawahan kurang mampu bertahan. Itulah sebabnya mengapa gulma di lahan bekas persawahan relatif lebih sedikit. Pengendalian secara manual dengan dikored atau dicangkul pun sudah memadai. Pemberantasan gulma secara kimia di kebun-kebun salak belum lazim dilaksanakan. Untuk lahan yang tidak seberapa luas, para petani masih menggunakan cara manual (mencabuti rumput-rumputan dengan tangan, dikored atau dicangkul). Bila lahan salak cukup luas, serta baru dibuka, gulma yang terdapat tentu banyak sekali dan sulit diberantas hanya dengan cara manual. Untuk situasi seperti ini perlu menggunakan

herbisida, sebab biaya tenaga kerja relatif murah dan hasilnya lebih cepat. Reaksi bahan kimia dalam membunuh tanaman liar juga sangat cepat. Herbisida memiliki pengruh negatif, sebab racun yang dikandungnya dapat membahayakan mahluk hidup lain termasuk ternak dan manusia. Herbisida yang akan digunakan perlu sesuai dengan jenis gulma yang akan diberantas. Pilihan yang kurang tepat akan memboroskan biaya. Gulma dari golongan rumput-rumputan dapat dibasmi dengan herbisida Gramoxone, Gesapas, Basta atau Diuron. Dari golongan teki-tekian dapat diberantas dengan Goal. Alang-alang dapat dibasmi dengan Round-up atau Sun-up. Sedangkan tanaman yang berdaun lebar dapat diatasi dengan Fernimine. Ada juga herbisida yang dapat memberantas beberapa jenis gulma (Anonim, 2010).

DAFTAR PUSTAKA
__________. 2001. Budi Daya Pertanian Salak. Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan

Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Jakarta. Anonim.
Penanganan Pascapanen Buah dan Sayuran. http://tep.fateta.ipb.ac.id/elearning/media/Teknik%20Pasca%20Panen/tep440_files/Penangananb uahsayur.htm. Diakses pada tanggal 28 April 2010.

2010.

Linda, Masriani. 2008. Pengaruh Suhu Penyimpanan Terhadap Umur Simpan Dan Kualitas Salak. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan. Nazaruddin. 1992. 18 Varietas Salak. Penebar Swadaya. Jakarta. Neynay. 2007. Transpirasi http://naynienay.wordpress.com. Diakses pada tanggal 28 April 2010.
Palupi, Sri. 2009. Peningkatan Produktivitas Hasil Olahan Salak Melalui Diversifikasi Sekunder

Untuk Mendukung Pengembangan Kawasan Agropolitan. Fakutas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.
Romee. 2010. Buah Salak http://romeeoke.blogspot.com Diakses pada tanggal 28 April 2010.

Setyowati dan Budiarti. 1992. Pasca Panen Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta. Wiyana. 2005. Penanganan panen dan pasca panen (segar) buah salak. Penebar Swadaya. Jakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->