P. 1
CAKAR AYAM MODIFIKASI

CAKAR AYAM MODIFIKASI

|Views: 1,715|Likes:
Mengenal lebih jauh Pondasi Cakar Ayam by Prof. Dr. Ir. Sedijatmo
Mengenal lebih jauh Pondasi Cakar Ayam by Prof. Dr. Ir. Sedijatmo

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Civil Engineer Share on Sep 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2012

pdf

text

original

Sections

BUKU PERSYARATAN TEKNIS

PEKERJAAN PERKERASAN KONSTRUKSI

CAKAR AYAM MODIFIKASI

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 1 / 61

DAFTAR ISI

Hal

PENDAHULUAN ………………………………………………………………………. STANDAR ……………………………………………………………………………….

3 7

BAB I PEKERJAAN TANAH ………………………………………………………. 8 Pekerjaan Persiapan ……………………………………………………… Pekerjaan Pematangan Tanah dan Pembongkaran ................... Penyimpangan dan hal-hal lain ………………………………………… Pengukuran dan Pembayaran …………………………………………… 8 9 14 15

BAB II PEKERJAAN PERKERASAN CAKAR AYAM MODIFIKASI.…….. 16 Persyaratan Teknis Bahan-bahan beton .……………………………… Persyaratan Peralatan ……………………….……………………….…… Persyaratan Pekerjaan …………………………………………………… Pengendalian Mutu (Quality Control) ………………………………… Metoda Perhitungan dan Pembayaran ………………………………… Penyimpangan dan hal-hal lain .………………………………………… 16 31 36 54 61 61

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 2 / 61

PENDAHULUAN

Untuk dapat memahami lebih jauh Pekerjaan Sistem Cakar Ayam Modifikasi perlu diketahui terlebih dahulu latar belakang, sebagai berikut :

1.

Sistem “Cakar Ayam” temuan Prof. Dr. Ir. RM Sedyatmo Hadmohoedojo (1961) - Sejarah Singkat : • Ditemukan tahun 1961, sebagai fondasi tower transmisi tegangan tinggi di atas tanah lunak/rawa-rawa. • Tanah lunak : daya dukung ± 1,5 – 3,0 t/m2. • Perkembangan selanjutnya diaplikasikan untuk : Fondasi gedung bertingkat, fondasi menara air, fondasi pilar/abutment jembatan, sistem perkerasan jalan raya, lapangan terbang, yang kesemuanya berada di atas tanah lunak sedang. • 1989 diaplikasikan di jalan Sitiawan dan Malaka, Malaysia pada medan tanah lunak/rawa-rawa.

- Metode perancangan sistem Cakar Ayam menurut Prof. Dr. Ir. Sedyatmo Pada gambar diperlihatkan gaya-gaya dan momen yang bekerja di bawah pelat beton yang diakibatkan oleh beban Q di pinggir. Beban Q dapat digantikan oleh beban terpusat Q1 di tengah pelat dengan ditambahkan momen M = Q2 x 0,5 L (L = lebar pelat beton dan Q = Q1 = Q2). Akibat Q1 akan terjadi tekanan terbagi rata sebesar q = Q1/L dan akibat momen (M) akan ditahan oleh momen-momen lawan yang bekerja pada pipa-pipa Cakar Ayam ( m = 2/3 x P x h, dengan P = tekanan tanah pasif total yang bekerja pada setiap pipa dan h = tinggi Cakar Ayam).

- Konsep Dasar • Pipa-pipa Cakar Ayam berfungsi sebagai stiffener (pengaku) sehingga slab tipis (15 cm) dapat berperilaku seperti slab “tebal” (± 45 cm) namun dengan berat sendiri slab yang jauh lebih kecil. • Sangat berfungsi bagus apabila mendukung beban terpusat atau momen.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 3 / 61

• Karena “kakunya” slab, beban terpusat mampu disebarkan ke luasan efektif yang relatif besar, sehingga meskipun tanahnya lunak namun bearing capacitynya jadi besar. • Lendutan akibat beban terpusat relatif jauh lebih kecil. • Defferential settlement yang terjadi relatif jauh lebih kecil. • Yang menahan rotasi pipa bukan tekanan tanah pasif (Kp) namun reaksi subgrade horizontal (Kn). • Tidak dapat mengatasi masalah consolidation settlement terutama bila dibangun di atas timbunan.

- Studi yang telah dilakukan : • A. Antono & Daruslan 1996 : Laboratory model test di Teknik Sipil UGM (bearing capacity meningkat 100% dan defleksi menurun 50%). 1979 1981 : : Full scale loading test di apron Juanda – Surabaya. Full scale loading test di runway Polonia – Medan.

• Aeroport de Paris Consulting Engineers – France 1982 : Full scale loading test runway Soekarno-Hatta Jakarta • Analisis hitungan secara analitis pernah diajukan oleh Sudarsono (1982), Suraatmadja (1982), Sosrowinarso (1982) dan Chen & Lima Sale (1982). • Fukuoka dari University of Tokyo tahun 1988, melakukan penelitian eksperimental di laboratorium dan pendekatan secara numeric dengan metoda finite difference.

- Studi yang pernah dilakukan : • Soehendro (1992)

Menganalisis sistem Cakar Ayam dengan model numeric, yaitu dengan menggunakan metode elemen hingga baik idialisasi 2 dimensi maupun 3 dimensi.

Validasi telah diuji dengan menggunakan hasil pengamatan model skala penuh sistem Cakar Ayam pada Apron Bandara Surabaya (1980), Runway Ekstension Polonia Airport Medan (1981) dan Runway Bandara SoekarnoHatta Jakarta (1992). Dihasilkan berbagai charts untuk membantu analisis perancangan.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 4 / 61

• Hardiyatmo (2000) Melakukan pengujian eksperimental di laboratorium Mekanika Tanah Fakultas Teknik UGM menyimpulkan “

Jarak penyebaran lendutan dari pusat beban akibat beban titik terjadi pada radius kira-kira 4-5 kali diameter cakar.

Tekanan tanah lateral yang melawan rotasi Cakar Ayam bukanlah tekanan tanah pasiif (Ph = Hy Kp), tetapi tekanan tanah dengan koefisien Kn (modulus reaksi subgrade horisontal). Sehingga tekanan tanah lateral (Ph) di sembarang kedalaman cakar dinyatakan oleh : Ph = Hy Kn.

2.

Sistem Cakar Ayam Modifikasi

Sistem Cakar Ayam Modifikasi merupakan pengembangan dari sistem Cakar Ayam temuan Prof. Dr. Ir. Sedyatmo setelah mengkahi studi-studi yang telah/pernah dilakukan serta memperhatikan pengalaman-pengalaman di lapangan. Modifikasi 1 Pipa beton diganti dengan pipa baja tahan karat/galvanis, sehingga : 1. Mudah dilaksanakan 2. Ringan (tebal minimum = 1,4 mm) 3. Tidak perlu alat berat 4. Tidak perlu perkerasan sementara (lapis sirtu dan lean concrete yang tebal) untuk dilewati alat berat pada saat konstruksi. (ide Ir. Maryadi Darmokumoro – PT. Jagat Baja Prima Utama, 2005)

-

Modifikasi 2 Slab langsung berada pada elevasi tanah asli setelah distripping seperlunya (tidak di atas timbunan). Sistem Cakar Ayam berfungsi sebagai sub-base atau fondasi. Dalam keadaan dimana permukaan jalan harus berada di atas permukaan tanah asli, maka diperlukan timbunan. Semua bahan yang memenuhi syarat timbunan bisa dipakai dengan CBR terendam minimum 2% dan tinggi timbunan maksimal 80 cm. Dalam hal ini sistem CAM berfungsi sebagai base.

-

Modifikasi 3 • Dikembangkan “bahan timbunan ringan” (berat volume bisa dibuat < 1) bahan tersebut ditimbun di atas slab Cakar Ayam, sesuai keperluan untuk mencapai elevasi jalan, untuk timbunan > 2 m (Suhendro).

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 5 / 61

• Dikembangkan “precast hollow box” sebagai pengganti timbunan, yang beratnya dapat mencapai 0,5 kali berat timbunan konvensional, untuk timbunan ± 1,5 m (Suhendro – Hardiyatmo). • Masalah consolidation settlement lebih teratasi. • Waktu pelaksanaan jauh lebih cepat karena bisa dibuat di luar lokasi pekerjaan (pada saat yang bersamaan dengan pelaksanaan penanaman Cakar Ayam dan konstruksi slab) dan dipindahkan/dibawa ke lokasi pekerjaan pada waktunya. Modifikasi ini telah diterapkan dalam bentuk pengujian eksperimental skala penuh oleh Prof. Dr. Ir. Bambang Suhendro, M.Sc. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, pada lokasi daerah tambak di Surabaya dimana pipa beton diganti dengan pipa baja tahan karat/galvanis dan slab beton langsung menapak pada tanah asli (dasar tambak) dengan lantai kerja 5 cm.

-

Hasil loading test • Slab Cakar Ayam mampu mendukung beban terpusat sampai dengan 24 tf (4 x 6 tf) tanpa mengalami retak dengan besarnya lendutan maksimum adalah hanya 6 mm. • Pipa-pipa baja beserta sistem sambungannya bekerja baik sesuai aslinya yang terbuat dari pipa beton. • Repetisi pembebanan tidak mempengaruhi respon slab secara signifikan.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 6 / 61

STANDAR

Bila tidak ditentukan lain dalam buku persyaratan teknis ini, maka diharuskan mengikuti ketentuan-ketentuan serta petunjuk-petunjuk yang dimuat dalam buku-buku standar sebagai berikut : • NI – 2 (PBI-1971), Peraturan Beton Bertulang Indonesia. • PUBI – 1982, Peraturan Umum untuk Bahan Bangunan Indonesia. • ASTM, American Society of Testing Material • ACI – 1976, American Concrete Institute • AASHTO – 1978 atau sesudahnya, American Association of State Highway and Transportation Officials.

BINA MARGA • No. 01/ST/BM/1972 : Spesifikasi Pelaksanaan Pembangunan Jalan Raya. • SII/SNI : Standard Industri Indonesia/Standard Nasional Indonesia.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 7 / 61

BAB I PEKERJAAN TANAH

1.

PEKERJAAN PERSIAPAN/PEMELIHARAAN

1.1. Pematokan Pemborong harus mengerjakan pematokan untuk menentukan sumbu (as) dan elevasi (peil), garis dan kemiringan daerah sekitarnya sesuai dengan gambar rencana. Pekerjaan ini harus seluruhnya telah disetujui oleh Ahli sebelum mulai pekerjaan selanjutnya. Yang disebut Ahli disini yaitu Engineer dari Konsultan yang dianggap oleh Bouwheer (principal) mampu dan bisa diberi wewenang (Bekwam dan Bevoegd) dan kemudian ditunjuk oleh Bouwheer untuk melaksanakan tugas pengawasan pada proyek ini.

Pekerjaan pematokan yang telah selesai diukur oleh Pemborong untuk kemudian disetujui Ahli. Hanya hasil pengukuran yang telah disetujui oleh Ahli dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan yang dapat digunakan sebagai dasar pembayaran. Pemborong wajib, seperti yang disebutkan dalam Surat Perjanjian Pemborong, untuk menyediakan alat-alat ukur dan perlengkapannya, juru-juru ukur yang mampu untuk melaksanakan pekerjaan ini dan pekerja-pekerja serta melaksanakan pengujian hasil pematokan dan hasil pekerjaan lain yang sehubungan dengan pekerjaan pematokan.

Semua tanda-tanda di lapangan yang diberikan oleh Ahli atau dipasang sendiri oleh Pemborong harus tetap dipelihara dan dijaga dengan baik. Apabila ada tanda-tanda yang rusak atau hilang harus segera diganti dengan yang baru dan disetujui pemasangannya kembali oleh Ahli. Pada keadaan dimana ada penyimpangan dari gambar pelaksanaan, Pemborong harus mengajukan 3 (tiga) gambar penampang dari daerah yang dipatok itu. Ahli akan membubuhkan tanda tangan persetujuan atau pendapat/revisi pada suatu lembar gambar tersebut dan mengembalikannya kepada Pemborong. Setelah diperbaiki Pemborong harus mengajukan kembali gambar yang oleh Ahli diminta untuk direvisi. Gambar tersebut harus digambar kembali dikertas kalkir untuk memungkinkan direproduksi.

Setelah disetujui, maka Pemborong akan menyerahkan kepada Ahli gambar kalkir asli dan 3 (tiga) lembar hasil reproduksinya.

Ukuran maupun huruf yang dipakai pada gambar tersebut sesuai dengan ketentuan Ahli.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 8 / 61

1.2. Jumlah Pekerjaan Jumlah pekerjaan dari bermacam-macam galian dan timbunan yang akan diperhitungkan pembiayaannya dalam suatu perjanjian Pemborong, terbatas pada ukuran-ukuran yang tercantum dalam gambar pelaksanaan, gambar-gambar standar, gambar-gambar profil melintang dan memanjang yang disyahkan oleh Ahli. Galian/timbunan yang dikerjakan di luar dari pembatasan-pembatasan itu tidak akan diberikan pembayaran.

Ahli akan menentukan kemiringan dan landai pada timbunan dan atau galian dalam pelaksanaan sesudah diketahui secara lebih pasti tentang sifat-sifat tanah yang bersangkutan. Hal ini akan diukur dan dicatat oleh Pemborong. Pemborong akan memeriksa kembali catatan ini dan apabila sesuai akan membubuhkan tanda tangan persetujuan dan akan dipakai sebagai dasar pembayaran nanti. Galian dan timbunan di luar yang ditentukan tidak akan dibayar. Kelebihan penggalian harus ditimbun kembali sesuai dengan petunjuk Ahli. Sisa timbunan diratakan atau dikembalikan kesemuanya sesuai putusan Ahli. Setelah dikonsultasikan pada Direksi Pekerjaan.

1.3. Selokan-selokan Pemborong harus membangun/membuat selokan-selokan tepi jalan kerja, simpangansimpangan, seperti tercantum dalam gambar pelaksanaan, atau yang ditunjuk oleh Ahli, agar air tidak mengganggu konstruksi timbunan, atau galian selama pekerjaan berlangsung.

Pemborong juga harus mengusahakan sistem pengaliran air yang cukup baik, dan dengan pentahapan yang seksama agar sistem drainage itu sudah dapat berjalan sebagaimana mestinya sebelum pekerjaan dimulai. Pemborong harus selalu

membersihkan selokan-selokan tersebut sehingga aliran selalu lancar. Kerusakan pekerjaan akibat tidak cukup baiknya aliran air akan menjadi tanggung jawab Pemborong sepenuhnya. Pembayaran untuk galian selokan samping (side ditches) dan simpangan yang bersifat tetap harus tercakup dalam harga penawaran.

2.

PEKERJAAN PEMATANGAN TANAH DAN PEMBONGKARAN

2.1. Umum Pekerjaan tanah dan pembongkaran-pembongkaran mencakup pekerjaan-pekerjaan yang meliputi penggalian, penimbunan dan pembuangan tanah/batu-batu dan material-material lain dari atau ke tempat proyek. Apabila ternyata pada tempat-tempat dimana akan diadakan pekerjaan penggalian tanah, maka galian tanah itu harus diklasifikasikan

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 9 / 61

menjadi 4 (empat) macam, yaitu galian tanah biasa, galian batu, galian konstruksi dan galian tambahan.

Semua macam pekerjaan ini harus dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi ini untuk keempat galian di atas, syarat-syarat kerja untuk bidang lain ketentuan-ketentuan letak peil, dimensi, dan lain-lain seperti yang tercantum pada gambar pelaksanaan atau petunjuk Ahli. Untuk itu Pemborong harus melihat dan menentukan sendiri keadaan tanah di tempat pekerjaan untuk menyusun harga penawaran. Keterangan tentang sifat-sifat tanah diperlihatkan pada gambar pelaksanaan atau hasil penyelidikan tanah hendaknya tidak dianggap sebagai hal yang pasti untuk dasar penyusunan harga penawaran. Setelah kontrak dibuat, tidak dibenarkan adanya claim yang diakibatkan karena kesalahtafsiran dalam jarak angkut, kubikasi, dan macam tanah. Selama pekerjaan tanah penanganan terhadap debu harus benar-benar diperlihatkan sehingga tidak mengganggu lingkungan, terutama bagi pesawat, bilamana perlu tanah harus selalu disiram air.

2.2. Pembersihan Kecuali dinyatakan lain pada syarat-syarat khusus atau yang tertera pada gambargambar pelaksanaan, maka seluruh daerah pembangunan harus dibersihkan dari semaksemak dan akar-akar pohon. Dalam hal ini tidak dibenarkan melakukan pembakaran sampah/tumbuhan hasil penebangan dari jenis apapun, dan juga tidak menggunakan bahan kimia untuk membersihkan tanaman-tanaman/tumbuhan.

Atas pembersihan dan pengupasan di luar batas-batas ini tidak akan diberikan pembayaran kepada Pemborong, kecuali pekerjaan semacam itu diperintahkan oleh Ahli secara tertulis yang menjelaskan bahwa pekerjaan tersebut diperhitungkan sebagai pekerjaan tambah dan telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Seluruh kerusakan termasuk pagar, yang terjadi saat pembersihan, harus diperbaiki oleh Pemborong atas tanggungannya sendiri.

Pemborong harus bertindak hati-hati sesuai dengan peraturan yang berlaku di dalam area pekerjaan. Pada pelaksanaan pembersihan, Pemborong harus berhati-hati untuk tidak mengganggu setiap patok-patok pengukuran, pipa-pipa atau tanda-tanda lainya.

Pekerjaan pembersihan dan pengupasan terdiri dari pembersihan segala macam tumbuhtumbuhan, semak-semak, tanaman lainnya, sampah-sampah dan bahan-bahan yang lain yang mengganggu dan termasuk pencabutan akar-akar, sisa-sisa konstruksi, seperti

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 10 / 61

pondasi bekas bangunan, pekerjaan jalan raya dan lain sebagainya dan sisa-sisa material dari pekerjaan pembersihan satu dan lain halnya sehubungan dengan persiapan pelaksanaan pekerjaan berikutnya, kecuali bila Ahli menentukan lain.

Yang dimaksud dengan semak-semak adalah tanaman-tanaman atau tumbuhantumbuhan berupa rumput-rumputan, alang-alang, segala jenis tanaman kecil yang tingginya tidak melebihi 1,50 meter dari permukaan tanah dimana tanaman itu tumbuh dalam lingkup daerah yang tidak luas.

2.3. Pembuangan Lapisan Tanah Atas (Stripping) Pada daerah dimana nanti akan digali dan diurug, Pemborong harus mengerjakan pekerjaan pembuangan lapisan tanah atas, setebal 0,25 m ke tempat-tempat di sekitar proyek itu yang akan ditentukan oleh Ahli. Pada tempat-tempat khusus dimana setelah dilaksanakan pembersihan ternyata tanah dasarnya lembek sekali, maka Pemborong diharuskan mengadakan pembersihan lagi pada kedalaman 0,40 m demikian seterusnya sampai kedalaman 0,90 m, atau sampai batas yang telah disetujui oleh Ahli. Hanya pekerjaan pembersihan permukaan tanah sedalam 0,25 m saja yang harga satuannya tercantum dalam kontrak. Pembersihan permukaan yang lebih dari 0,25 m hanya bisa dibayarkan bilamana sudah ada persetujuan tertulis dari Direksi/Ahli.

2.4. Galian dan Urugan 2.4.1. Galian Tanah Biasa Galian tanah biasa harus mencakup galian yang bukan berupa galian batu, galian untuk konstruksi atau galian material/bahan baku. Bila Ahli menghendaki, Pemborong harus membongkar/membuang material-material yang tidak diinginkan dalam pekerjaan timbunan ke tempat lain.

Bila material-material yang tidak diinginkan itu memang harus dibuang, tanah yang digunakan untu menutup lobang sebagai gantinya harus dipadatkan lapis per lapis setebal 20 cm, dan dengan kepadatan 90% dari maksimum kepadatan normal standard yang diselidiki menurut test ASTM D 1557.

Penggalian untuk dasar suatu konstruksi perkerasan harus menurut evaluasi dari garis atau titik duga (peil) yang tercantum dalam gambar rencana yang dilampirkan pada kontrak. Untuk pekerjaan tersebut Pemborong harus melaksanakannya dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab terhadap pembentukan muka tanah serta kepadatannya

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 11 / 61

sesuai dengan gambar rencana dan spesifikasi terlampir pada kontrak. Semua material hasil galian yang tidak baik serta ditolak oleh Ahli sebagai bahan urugan, tidak boleh dipergunakan sebagai bahan urugan dan harus dibuang keluar daerah pembangunan atau tempat lain yang telah ditunjuk oleh Direksi Pekerjaan.

2.4.2. Urugan Pekerjaan urugan terdiri dari pekerjaan pengurug tanah guna keperluan pekerjaan sesuai dengan syarat-syarat, sehubungan dengan ini dan ketentuan-ketentuan yang tercantum pada gambar pelaksanaan, kedudukan, kemiringan bagian-bagian dan dimensi-dimensi atau yang ditunjuk oleh Ahli.

1.

Sumber dan penggunaan material a. Tanah atau material galian yang bisa digunakan untuk bahan urugan ialah tanah liat yang mengandung pasir, tanah liat atau tanah liat koloidal yang mempunyai CBR > 3%. b. Pemborong harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan kandungan air seperti dimaksud pada ayat 3 di belakang. c. Sebelum pengurugan dimulai, tanah asli yang akan diurug harus dibersihkan lebih dahulu dari tumbuh-tumbuhan, sampah-sampah atau benda-benda atau bahanbahan lain yang tidak dikehendaki. Kemudian permukaannya diratakan dan bilamana perlu permukaannya yang keras dan licin digaruk terlebih dahulu (stripping) sedalam 0,25 m agar didapat permukaan yang kasar sehingga ikatan antara tanah asli dan tanah urugan menjadi baik. d. Bila kecepatan menggali tanah urugan lebih cepat dari pada kecepatan pekerjaan urugan, maka Pemborong akan diijinkan untuk membuat timbunan (stock pile) sementara, dengan catatan tidak boleh menimbulkan gangguan lingkungan (polusi) serta ketinggian maksimum yang diijinkan adalah 2,0 m dan dimana perlu mengadakan usaha-usaha agar kandungan air dalam tanah tumpukan tersebut tetap sesuai dengan persyaratan pada ayat 3. Bila tanah galian ini tidak bisa diterima untuk tanah urugan maka tanah ini harus diangkut ke tempat pembuangan yang telah ditentukan atas biaya Pemborong. e. Pekerjaan pengurugan tidak boleh dimulai sebelum mendapat persetujuan dari Ahli. f. Khusus untuk daerah-daerah rawa atau lubang-lubang yang selalu ada air, maka pengurugan harus dilaksanakan dengan mempergunakan pasir atau bahan urugan berbutir lepas lainnya (loose material) sampai kira-kira mencapai 30 cm di

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 12 / 61

atas air dan selanjutnya bisa dipergunakan tanah biasa untuk memenuhi persyaratan.

2.

Penghamparan dan perataan a. Sebelum material urugan dihampar, maka Pemborong harus mengetahui dengan pasti bahwa kandungan air dalam material urugan tersebut sudah sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam ayat 3 di belakang dan bilamana perlu harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai persyaratan tersebut di atas, misalnya dengan cara pengadukan, penggarukan, penarikan/pendorongan dan sebagainya. b. Kecuali ditentukan lain oleh Ahli, maka permukaan tanah yang akan diurug harus diaduk-aduk/digaruk terlebih dahulu sebelum pekerjaan penghamparan dimulai, dengan mempergunakan peralatan yang telah disetujui oleh Ahli. c. Hamparan harus dilaksanakan selapis demi selapis dengan lapisan kira-kira horizontal. Bilamana perlu setiap lapisan diaduk-aduk lebih dahulu dengan maksud agar gumpalan tanah menjadi hancur, dan kandungan air menjadi merata (homogen), kemudian baru dipadatkan. d. Tebal setiap lapis akan ditentukan sesuai dengan alat pemadat yang akan dipergunakan oleh Pemborong. Bilamana tidak ditentukan lain, maka tebal padat setiap lapisan harus diambil tidak lebih dari 20 cm. Jumlah lintasan (ulangan) pemadatan ditentukan berdasarkan percobaan pemadatan (compaction test) di lapangan sampai persyaratan pada ayat 3 terpenuhi dan setelah Ahli menyetujuinya. e. Permukaan setiap lapisan harus mempunyai kemiringan antara 2% sampai 4% dengan maksud agar air hujan mudah mengalir. Pada setiap akhir atau pemberhentian pekerjaan permukaan lapisan harus dipadatkan rata, dengan maksud untuk memperlancar pengaliran air bila hujan turun. f. Penghamparan tidak boleh dilaksanakan pada keadaan hujan. g. Setiap lapis harus dihampar dan dipadatkan dengan tambahan lebar (overlaping) selebar kira-kira 1,5 kali tebal lapisan. Kemudian kemiringan permukaan menjadi rusak, maka Pemborong harus segera memperbaiki atas biaya Pemborong.

3.

Kandungan air dalam material urugan a. Pada setiap lapisan, kandungan air harus merata (homogen).

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 13 / 61

b. Kandungan air dalam material urugan yang akan dipadatkan harus sesuai dengan kandungan air optimun yang telah ditentukan berdasarkan proctor test dengan batas-batas toleransi + 5% dan -2% dan setelah disetujui Ahli.

4.

Pengamatan Mutu (Quality Checking) pada pekerjaan urugan a. Ahli mempunyai hak untuk mengadakan pengujian terhadap pekerjaan

Pemborong bila dipandang perlu pada setiap saat. Dalam hal ini Pemborong harus membantu dan memberikan fasilitas untuk memperlancar pekerjaan tersebut dan tidak boleh mengajukan tuntutan atas hal-hal yang timbul sebagai pekerjaan pengujian tersebut termasuk penghentian sementara dari pekerjaannya. b. Pekerjaan pengamatan (checking) ini meliputi : - Penggalian dan mutu material yang diangkut. - Pengangkutan dan penghamparan. - Kandungan dan material urugan pada waktu pemadatan. - Tingkat kepadatan dari setiap lapis yang dipadatkan yang harus diuji dengan Rubber Ballion Densimeter (ASTM D 2167), Nuclear Densimeter (ASTM D 2922), Sand Cone (ASTM D 1556), atau dengan cara lain yang telah mendapatkan persetujuan Ahli. c. Pada prinsipnya banyaknya jumlah pengujian (frekuensi uji) adalah sebagai berikut : - Kandungan air : 4 – 5 kali sehari - Tingkat kepadatan : setiap 500 sampai 1000 m2 tiap-tiap lapisan d. Pemborong harus mengajukan type dari alat pemadat beserta metode penggunaan, efektifitasnya, karakteristik/ciri-ciri yang harus dilaksanakan sesuai dengan tebal lapisannya, setelah diadakan percobaan pemadatan meliputi areal 2000 m2 dan sampai memenuhi persyaratan kepadatan yang telah ditentukan. Tingkat kepadatan sampai akhir pengujian tidak boleh kurang dari 90% dari kepadatan optimum menurut uji standard proctor density test yang diambil ratarata dari 20 pengujian yang dipilih secara acak (randomly) oleh Ahli.

3.

PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN DAN HAL-HAL LAIN

3.1. Penyimpangan-penyimpangan a. Kecuali ditentukan lain oleh Ahli, Pemborong dalam melaksanakannya harus mengikuti spesifikasi ini. b. Penyimpangan-penyimpangan hanya boleh dilaksanakan setelah mendapat persetujuan Ahli.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 14 / 61

3.2. Hal-hal Lain Bila ada hal-hal yang menyangkut langsung pelaksanaan pekerjaan dan yang belum termasuk dalam spesifikasi ini, maka hanya boleh dilaksanakan setelah mendapat persetujuan dari Ahli.

4.

PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

Pembayaran yang dapat dibayarkan pada pekerjaan ini adalah sesuai dengan Bill of Quantity pekerjaan dan hasil opname perhitungan volume yang dituangkan dalam suatu Berita Acara.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 15 / 61

BAB II PEKERJAAN PERKERASAN CAKAR AYAM (MODIFIKASI)

1.

LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan ini meliputi pelaksanaan konstruksi perkerasan jalan sistem Cakar Ayam yang mempunyai persyaratan dan ketentuan-ketentuan seperti tercantum dalam spesifikasi ini serta mempunyai ukuran-ukuran dan kemiringan seperti dalam gambar rencana, yaitu : pekerjaan Sub-Base (untuk pipa Cakar Ayam dari Baja tidak diperlukan), pembuatan dan penanaman pipa Cakar Ayam, pekerjaan lantai kerja (lean concrete), pekerjaan landasan plat beton (slab concrete).

2.

PERSYARATAN TEKNIS UNTUK BAHAN-BAHAN BETON

2.1. Umum Bila tidak ditentukan lain dalam buku persyaratan teknis khusus ini, maka Pemborong dalam melaksanakan pekerjaan diharuskan mengikuti ketentuan-ketentuan serta petunjuk-petunjuk yang dimuat dalam standar seperti tercantum dalam Buku Prasyarat Teknis ini.

2.1.1. Penerimaan Bahan-bahan untuk Adukan Beton Selambat-lambatnya 60 hari sebelum pengadukan beton dimulai, Pemborong harus sudah mengajukan lokasi sumber dari bahan-bahan yang akan dipergunakan untuk pekerjaan adukan beton. Pembatasan tersebut sudah mencakup survey quarry, penelitian bahan-bahan, mix design sampai mendapatkan job-mix formula untuk adukan beton yang akan dipergunakan.

Bahan-bahan lainnya, seperti : besi tulangan, bahan perawat beton (curing compund) selambat-lambatnya 60 hari sebelum pekerjaan beton dimulai Pemborong harus sudah mengajukan usulan-usulan pemakaian bahan tersebut, dilengkapi dengan buku-buku keterangan (literatur) teknik yang dapat dipertanggungjawabkan serta contoh-contoh dari bahan yang akan dipergunakan.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 16 / 61

2.1.2. Uji Pendahuluan untuk Mendapatkan Persetujuan Contoh-contoh (samples) untuk uji pendahuluan harus ditunjuk/ditentukan oleh Ahli atau pihak ketiga yang ditunjuk oleh Ahli dengan disaksikan oleh pihak Pemborong. Pengujian harus dilaksanakan di laboratorium yang telah diketahui oleh Ahli.

Jumlah dan macam pengujian pada prinsipnya tidak dibatasi, tetapi yang terpenting adalah harus mengikuti spesifikasi teknis yang telah ditentukan.

Bila ternyata hasil pengujian

yang telah dilaksanakan menunjukkan beberapa

penyimpangan-penyimpangan atau mutu bahan yang akan dipergunakan masih diragukan, maka dapat ditentukan penyelidikan-penyelidikan lebih banyak lagi atas biaya pemborong.

2.1.3. Pengujian pada Waktu Penerimaan Bahan Bilamana bahan-bahan yang diajukan oleh Pemborong sudah disetujui oleh Ahli untuk dapat dipergunakan, Pemborong harus melaksanakan pengujian sendiri seperti pasalpasal tersebut di atas, atas biaya Pemborong, di laboratorium lapangan atau lain yang telah disetujui oleh Ahli. Bila ternyata salah satu atau beberapa bahan berubah sumbernya (quary) atau pabriknya, maka bahan/material baru ini terlebih dahulu harus tetap diadakan pengujian pendahuluan seperti tersebut di atas.

Selama penyediaan atau penyerahan, Pemborong harus membuat analisa saringan (grading) untuk setiap tumpuk bahan @ 2000 ton. Hasil analisa saringan tersebut harus sesuai dengan batas-batas toleransi gradasi yang ditetapkan pada spesifikasi ini.

2.2. Butir-Butir Batuan atau Agregat Bentuk butir-butir batuan atau agregat untuk beton harus terdiri dari batu pecah hasil dari mesin pemecah batu (stone crusher) dengan minimum terdiri dari 3 bidang pecahan. Bila batu pecah berasal dari koral atau batu bronjol yang dipecah, maka agregat yang tertahan pada saringan No. 4 (5 mm) harus memenuhi syarat, yaitu krikil bulat yang diperhitungkan adalah : a. b. c. Kerikil bulat sepenuhnya (full rounded) dihitung 1. Kerikil dengan satu bidang pecah dihitung 1/2. Kerikil dengan dua bidang pecah dihitung 1/4.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 17 / 61

Bahan batu yang akan dipecah harus dari batuan induk yang mempunyai sifat stabil dan tahan terhadap pengaruh air dan cuaca, serta tidak mengandung kotoran-kotoran yang tidak dikehendaki yang bisa berpengaruh terhadap sifat dan ciri-ciri beton, seperti : kekuatan (strenght), kepadatan (impermeability) dan keawetan (durability).

Bilamana diperlukan, agregat harus dicuci dan disaring dahulu agar kotoran-kotoran yang menempel atau dikandungnya hilang. Sebelumnya Pemborong sudah harus mengajukan keterangan/ dokumen, literatur teknik serta data-data dari mesih pencuci dan mesin penyaring yang akan dipergunakan serta cara pengambilan batu dari sumber (quarry) yang diusulkan. Agregat yang dihasilkan bisa ditolak apabila homogenitas dan keteraturan (regularity) dari bahan batuan yang dipergunakan diambil dari sumber tidak bisa dijamin dan berlainan. Contoh-contoh bahan batu yang diambil dari stock piles sumber paling tidak harus mewakili produksi efektif selama 1 minggu serta harus sedemikian rupa sehingga memungkinkan untuk mendapatkan hasil sebagai berikut : Pemeriksaan petographic dari batuan induk (ASTM C-295), juga sudah harus diperhitungkan kemungkinan-kemungkinan akan adanya berbagai macam material yang ikut membentuk agregat tersebut. Daya tahan terhadap abrasi dengan Los Angeles Machine Test untuk agregat kasar dengan ukuran lebih kecil dari 1 ½” (37,5 mm) adalah maksimun 35% untuk 500 putaran (ASTM C-131) dengan ukuran lebih besar dari ¾” (20 mm) maksimun 35% untuk 1000 putaran (ASTM C-535) pada kecepatan 30-33 rpm. Kandungan sulfat dari setiap fraksi dalam S03. Kandungan Chloride (C1) untuk setiap fraksi (ASTM 1411).

Dalam hal bila sebagai bahan batu yang dipergunakan adalah batuan bulat/bronjol campur pasir (sirtu), maka terlebih dahulu sebelum dipecah oleh mesin pemecah batu, harus melalui proses pencucian dan penyaringan. Apabila pasir yang dihasilkan akan langsung dimanfaatkan sebagai agregat halus untuk campuran beton, maka terlebih dahulu sebelum dipergunakan harus melalui proses pencucian 1 (satu) kali lagi atau lebih, sehingga memenuhi persyaratan sebagai berikut : Analisa gradasi harus masuk ke dalam kurve/batas-batas toleransi gradasi pasir alam. Kotoran-kotoran organik maksimun 0,2% (organic impurities test, ASTM C40). Kadar lempung/tanah liat dalam material gembur lainnya maksimum 3% (day lumps and friable particles ASTM C 142). Material halus yang dicuci lewat saringan No. 200 maksimun 3%, (ASTM C117).

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 18 / 61

-

Faktor penyerapan air maksimum 5% (ASTM C 128). Besarnya fineness modulus harus sesuai dengan persyaratan gradasi. Sand equivalent minimum 75 (ASTM D 2419).

2.3. Agregat Halus (Fine Aggregate) Agregat halus pada prinsipnya harus merupakan batu pecah sebagai hasil dari pemecahan batu yang lewat saringan No. 4 (5 mm) yang selanjutnya batu pecah ini kita sebut pasir pecah (crushed sand, screenings, abu batu).

Untuk memenuhi persyaratan gradasi agregat halus ini, bisa dicampur dengan pasir alam (natrual sand), seperti pasir sungai, pasir galian/sedotan atau disebut sebagai pasir beton berkualitas baik dan memenuhi persyaratan umum/teknis serta persyaratan gradasi. Dalam hal telah didapat pasir alam khusus yang telah memenuhi persyaratan teknis lainnya sesuai spesifikasi ini, maka pasir alam khusus ini dapat dipergunakan sebagai fine aggregate (agregat halus) seluruhnya atas sebagian (sebagai campuran pasir pecah).

2.3.1. Persyaratan Umum Agregat Halus Pasir pecah dan pasir alam harus memenuhi persyaratan-persyaratan umum sebagai berikut : Pasir pecah harus berasal dari batuan induk yang sama dengan agregat, atau setidak-tidaknya mempunyai mutu yang sama. Pasir pecah harus bersih dari kotoran-kotoran halus, lumpur, dan bila dicuci pada saringan No. 200 material yang lewat pada saringan tersebut tidak boleh lebih dari 5% (ASTM C 117) atau sand equivalent minimum 65%. Pasir alam harus mempunyai butiran-butiran yang keras dan awet (durable) dan tidak boleh mengandung lumpur, tanah liat, dan material-material gembur/mudah hancur (clay lumps and friable particles) lebih dari 3% (ASTM C 142). Harus bebas dari arang, benda-benda dari kayu serta kotoran-kotoran lainnya yang tidak dikehendaki. Tidak boleh mengandung terlalu banyak butir-butir yang pipih (flat pieces) atau berbentuk panjang (enlongated pieces) serta pecahan-pecahan kulit kerang.

Baik pasir pecah maupun pasir alam harus mempunyai persyaratan-persyaratan lainnya, seperti yang telah disebutkan pada pasal 2.2. dari spesifikasi ini.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 19 / 61

2.3.2. Persyaratan Gradasi Pasir Pecah (Abu Batu, Screenings) Pada pemecahan batu perlu diusahakan agar pasir pecah yang dihasilkan harus memenuhi persyaratan-persyaratan gradasi pasir pecah, seperti di bawah ini :

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Ukuran Saringan (ASTM) Inc / No 1/2" 3/8” 1/4" No. 4 No. 8 No. 16 No. 30 No. 50 No. 100 No. 200 mm 12,7 9,51 6,35 4,76 2,36 1,19 0,595 0,297 0,149 0,075

% Berat Lolos Saringan Minimum 100 98 96 95 80 50 25 11 4 0 Maksimum 100 100 100 100 74 53 36 23 14 5

Bila pasir pecah tersebut akan dipergunakan sebagai agregat halus pada campuran beton, maka disyaratkan untuk dikombinasi dengan pasir alam sehingga akan memenuhi batas-batas toleransi gradasi agregat halus yang disyaratkan seperti pada pasal 2.3.4 spesifikasi ini.

2.3.3. Prasyarat Gradasi Pasir Alam (Pasir Beton) Pasir alam yang akan dipergunakan untuk campuran beton harus mempunyai gradasi seperti berikut :

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Ukuran Saringan (ASTM) Inc / No 1/2" 3/8” 1/4" No. 4 No. 8 No. 16 No. 30 No. 50 No. 100 No. 200 mm 12,7 9,51 6,35 4,76 2,36 1,19 0,595 0,297 0,149 0,075

% Berat Lolos Saringan Minimum 100 98 96 95 80 50 25 11 4 0 Maksimum 100 100 100 100 100 85 60 33 15 3

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 20 / 61

Dalam hal apabila 100% dalam kebutuhan agregat halus pasir alam khusus yang telah memenuhi syarat umum agregat halus seperti pada pasal 2.3.1. spesifikasi ini, maka pasir alam khusus tersebut harus memenuhi persyaratan gradasi agregat halus seperti pada pasal 2.3.4.

2.3.4. Persyaratan Gradasi Agregat Halus Dalam membuat campuran pasir pecah dan pasir alam, untuk mendapatkan agregat halus, harus memenuhi persyaratan gradasi agregat seperti di bawah ini :

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Ukuran Saringan (ASTM) Inc / No 1/2" 3/8” 1/4" No. 4 No. 8 No. 16 No. 30 No. 50 No. 100 No. 200 mm 12,7 9,51 6,35 4,76 2,36 1,19 0,595 0,297 0,149 0,075

% Berat Lolos Saringan Minimum 100 98 96 81 54 35 21 11 5 0 Maksimum 100 100 100 100 74 53 36 23 14 4

2.4. Agregat Kasar Agregat kasar harus merupakan hasil pemecahan batu dengan mesin (stone crushing plant) terhadap batu bulat/bronjol atau batu belah/batu gunung yang mempunyai ukuran lebih dari 10 cm, atau batu bulat (koral) campur pasir (sirtu) yang bersih dari suatu hasil washing plant.

Agregat ini harus lolos saringan 3/4” – 1” tetapi tertinggal di atas saringan No. 4 (5 mm), serta ukuran dari agregat kasar in perlu dibagi menjadi 2 (dua) fraksi lagi, yaitu fraksi kasar atau agregat kasar (coarse aggregate) dan fraksi sedang atau agregat sedang (medium aggregate).

2.4.1. Persyaratan untuk Agregat Kasar Agregat Kasar harus memenuhi persyaratan-persyaratan umum sebagai berikut : Harus bebas dari benda-benda atau kotoran-kotoran lain yang tidak dikehendaki. Clay lumps dan fariable particles harus tidak boleh lebih dari 3% (ASTM C 142).
www.budhicivileng.blogspot.com Page 21 / 61

-

Daya tahan terhadap abrasi dengan Los Angeles Machine Test harus kurang dari 35% pada 500 putaran (ASTM C 131).

-

Soundness Test bila mempergunakan Magnesium Sulfate maksimum 18% dan bila menggunakan Sodium Sulfate maksimum 12% (ASTM C 88).

-

Material Finner than sieve No. 200 by washing harus kurang dari 1% (ASTM C 117). Absorption water of coarse aggregate harus kurang dari 5% (ASTM C127).

2.4.2. Persyaratan Gradasi Agregat Kasar dan Agregat Sedang a. Batas-batas ukuran butir

Untuk berbagai jenis konstruksi beton pada pekerjaan ini, maka batas-batas ukuran agregat kasar dan agregat sedang supaya diambil sebagai berikut :

No 1 2 b.

Jenis Fraksi Agregat Kasar Agregat Halus

Lolos Saringan (Crushing Plant) 3/4" 1/2"

Tahan Saringan (Crushing Plant) 1/2" 5 mm atau No. 4

Persyaratan toleransi gradasi

Baik agregat kasar maupun agregat sedang, kedua-duanya harus memenuhi persyaratan gradasi sebagai berikut : berat tertahan di atas saringan 1,25 D = 0 berat tertahan di atas saringan D > 15% berat tertahan di atas saringan (d + D)/2 harus antara 33% dan 67% setidak-tidaknya 30% dan 70%. berat lolos saringan d < 15% berat lolos saringan 0,65 d < 5%

Catatan D dan d adalah besarnya ukuran maksimum dan minimum butiran agregat kasar menurut saringan ASTM di laboratorium (periksa grafik spesifikasi gradasi dari masingmasing fraksi).

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 22 / 61

2.5. Persyaratan Gradasi Agregat Campuran Persyaratan gradasi agregat campuran untuk pekerjaan ini adalah sebagai berikut : A. Persyaratan gradasi untuk slab beton type : K 350

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Ukuran Saringan ASTM 1” 3/4" 5/8” 1/2" 3/8” 1/4" No. 4 No. 7 No. 8 No. 16 No. 30 No. 50 No. 100 No. 200 mm 25,60 19,00 16,00 12,5 9,52 6,35 4,76 3,00 2,38 1,19 0,597 0,297 0,149 0,075

% Berat Lolos Saringan Minimum 93 84 75 65 52 45 35 32 21 14 8 4 0 100 Maksimum 100 94 86 77 66 58 46 43 31 21 13 7 2

B. Persyaratan gradasi untuk beton pipa Cakar Ayam, type : K 225

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Ukuran Saringan ASTM 5/8” 1/2" 3/8” 1/4" No. 4 No. 7 No. 8 No. 16 No. 30 No. 50 No. 100 No. 200 mm 16,00 12,5 9,52 6,35 4,76 3,00 2,38 1,19 0,597 0,297 0,149 0,075

% Berat Lolos Saringan Minimum 93 82 62 53 39 36 24 15 9 4 0 100 Maksimum 100 90 76 67 54 50 36 25 16 8 2,4

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 23 / 61

C. Persyaratan gradasi untuk lean concrete, type K 90

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Ukuran Saringan ASTM 1” 3/4" 5/8” 1/2" 3/8” 1/4" No. 4 No. 7 No. 8 No. 16 No. 30 No. 50 No. 100 No. 200 mm 25,60 19,00 16,00 12,5 9,52 6,35 4,76 3,00 2,38 1,19 0,597 0,297 0,149 0,075

% Berat Lolos Saringan Minimum 93 82 72 61 49 42 31 29 19 12 7 3 0 100 Maksimum 100 94 86 77 66 58 46 43 31 21 13 7 2

2.6. Penumpukan Agregat Agregat yang akan dipergunakan untuk pekerjaan beton ini harus ditumpuk di lapangan dengan jumlah yang cukup seperti yang telah disetujui oleh Ahli agar pengecoran secara khusus terus menerus (kontinu) untuk suatu konstruksi dapat dilaksanakan dengan lancar atau setidak-tidaknya sebanyak 50% dari kebutuhan agregat untuk seluruh pekerjaan pembetonan sudah tersedia di lapangan.

Semua agregat harus ditumpuk dulu sebelum dipergunakan dan harus dijaga agar tidak terjadi segregasi selama penumpukan. Hanya agregat yang hasil pengujiannya telah memenuhi persyaratan teknis umum dan persyaratan gradasi pada spesifikasi ini yang boleh ditumpuk/ditimbun sesuai petunjuk Ahli, serta harus dijaga agar jangan sampai tercampur dengan agregat/bahan yang lainnya.

Pemborong harus mengambil langkah-langkah pencegahan dan bila lokasi penumpukan agregat tidak memungkinkan karena keterbatasan area, maka Pemborong harus melengkapinya dengan bangunan pencegah atau dinding penyekat agar fraksi-fraksi agregat satu sama lain tidak tercampur, baik ditempat penumpukan maupun di tempat penimbangan.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 24 / 61

Tempat penumpukan, penimbunan atau/dan pencampuran harus dilengkapi dengan jalan kerja yang diperkeras serta sistem drainase yang baik, sehingga roda-roda dari alat-alat kerja seperti loader truck dan sebagainya tidak mengotori agregat yang ada pada stock/tumpukan.

Penggunaan peralatan atau cara penanganan yang tidak sesuai sama sekali dilarang, seperti penggunaan buldozer atau loader dengan roda dari rantai besi (metal tracks) adalah sama sekali dilarang untuk penumpukan agregat. Semua peralatan yang akan dipergunakan harus disetujui terlebih dahulu oleh Ahli.

2.7. Semen P.C. 2.7.1. Persyaratan Umum Semen P.C. Pemborong harus mendapatkan hasil uji laboratorium dari pabriknya selama waktu 3 (tiga) bulan yang terakhir, baik untuk semen secara zak-zak maupun semen secara curah (silo). Setiap laporan bulanan harus jelas mencantumkan deviasi rata-rata dan deviasi standar untuk semua hasil penujian seperti yang telah ditetapkan dalam ASTM C150 mengenai spesifikasi untuk semen P.C. type I dan V dan ASTM C 595 untuk semen P.C. type IP (Portlant Pozzolan Cement) termasuk analisa kimiawi dan fisik. Ahli atau yang mewakili bilamana perlu mengambil contoh semen P.C. yang masih segar untuk diuji apakah hasilnya sama dengan hasil dari pabriknya.

Semen P.C. yang akan dipergunakan harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditetapkan dalam ASTM C 150 untuk semen type I (slab) dan semen type V (pipa Cakar Ayam) dan ASTM C 595 untuk semen type IP. Dalam hal ini Pemborong harus mendapatkan laporan bulanan mengenai hasil uji kimiawi dan fisik dari pabrik yang memproduksinya. Di samping itu tiap minggu Pemborong harus melaksanakan pengujian terhadap semen P.C. yang akan dipergunakan di laboratorium lapangan dengan jenis pengujian sebagai berikut : Specific Grafity dari semen PC (ASTM C 180). Kehalusan dari semen PC dengan mempergunakan air permeability apparatus (ASTM 204). Lamanya waktu pengikatan dari semen PC dengan vicat needle (ASTM C 191). Compressive strength dari mortar semen PC

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 25 / 61

Dalam hal dipergunakan semen curah dalam silo, maka pada saat akan dipergunakan dalam adukan beton, temperatur semen tersebut tidak boleh lebih dari 700C. Pemborong harus betul-betul memperhatikan temperatur semen yang dikirim dari pabriknya. Untuk ini Pemborong diminta melengkapi dengan metal thermometer pada silo-silo penyimpanan semen PC.

2.7.2. Penempatan Semen P.C. Semen yang ditimbun atau yang ditumpuk di lapangan harus dilindungi terhadap ancaman-ancaman kerusakan yang disebabkan oleh keadaan cuaca. Cara penimbunan atau penumpukan harus disetujui oleh Ahli. Bila semen ditempatkan dalam kantongkantong, maka setiap pengapalan harus ditumpuk secara terpisah untuk bisa mengetahui tanggal penyerahan, merk, type semen, serta asal atau nama pabriknya. Semen yang dipesan dalam keadaan curah (bulk) harus disimpan dalam silo-silo yang ditutup rapat.

2.8. Air untuk Adukan Semua sumber air yang akan dipergunakan untuk adukan beton harus mendapatkan persetujuan dahulu dari Ahli. Air yang akan dipergunakan untuk campuran adukan beton sampai batas tertentu harus bebas dari minyak, zat-zat asam, alkali, garam, benda-benda organik atau benda-benda/zat-zat lainnya yang bisa merusak mutu dan kekuatan beton. Air untuk adukan beton khusus pada pengadukan beton slab dan beton pipa Cakar Ayam harus didinginkan dengan suatu plant khusus, yaitu water chiling plant atau air untuk adukan tersebut diberi balok-balok es sedemikian rupa kuantitasnya sehingga akan didapat temperatur adukan beton pada saat dicor tidak boleh melebihi 350C. Bila pendinginan air adukan menggunakan balok-balok es, maka pada saat beton akan dicor tidak boleh mengandung gumpalan-gumpalan atau serpihan-serpihan es.

Besarnya kandungan sulfat dan chloride dalam air tersebut tidak boleh melebihi batasbatas yang telah ditentukan sesuai dengan spesifikasi AASHTO T 26. Air adukan beton tidak boleh mengandung butir-butir zat padat lebih dari 0,20% dan tidak boleh mengandung larutan garam lebih dari 1,5%.

Apabila Pemborong memerlukan pengolahan khusus untuk air ini, agar dapat memenuhi persyaratan yang diminta (PBI ’71, NI-2 dan ACI Standard 318-71) sesuai dengan mutu betonnya, maka biaya pengolahan air ini harus sudah termasuk dalam harga satuan pengadaan betonnya. Dalam hal air tersebut akan digunakan untuk adukan beton, maka benda uji mortar semen dari air adukan tersebut bila dibandingkan dengan benda uji

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 26 / 61

mortar semen yang mempergunakan air bersih (air suling) setelah diuji pada umur 28 (dua puluh delapan) hari tidak boleh menunjukkan perubahan-perubahan waktu pengerasan (setting time), tanda-tanda ketidaksempurnaan, atau terjadinya cacat-cacat, dan tidak boleh terjadi penurunan kekuatan lebih dari 10%.

2.9. Admixture (Zat Penambah) Untuk memperbaiki mutu beton, sifat-sifat pengerjaan, waktu pengikatan awal dan pengerasan ataupun untuk maksud-maksud lain, sejauh tidak bertentangan dengan spesifikasi yang telah ditetapkan, dapat dipakai bahan-bahan/zat penambah (admixture). Bila untuk maksud tersebut akan dipergunakan admixture pada pengadukan beton slab, maka admixture ini harus sesuai dengan spesifikasi dalam ASTM C494, yaitu liquid admixture yang tergolong typre D, ialah mengurangi penggunaan air dalam adukan pada tingkat kemudahan pelaksanaan atau slump yang telah ditentukan dan sedikit memperlambat proses pengerasan sehingga waktu ikatan awal (initial setting) dari mortar beton minimum 2 jam serta maksimum 6 jam. Dalam hal akan menggunakan admixture type lain atau untuk maksud lain, maka hanya diperbolehkan setelah mendapat izin dari Ahli.

Pemborong sebelumnya harus mendapatkan buku keterangan/literatur teknik yang lengkap serta contoh dari admixture yang akan dipergunakan. Bilamana dalam buku keterangan teknis tersebut tidak menunjuk kepada standard ASTM, maka dalam surat pengusulannya Pemborong harus melampirkan salinan/copy dari standard ASTM yang bersangkutan. Sebelum dipergunakan pada campuran beton yang sesungguhnya, maka Pemborong harus membuat percobaan-percobaan admixture tersebut guna membuktikan manfaatnya di suatu laboratorium yang ditunjuk atau telah disetujui oleh Ahli.

Apabila masih belum yakin, atau terdapat hal-hal yang meragukan maka Pemborong bisa diminta untuk mengadakan pengujian-pengujian tambahan mengenai admixture tersebut atas biaya Pemborong.

Pemasok/Supplier admixture harus bisa menjamin bahwa admixture yang dilever atau diserahkan kepada Pemborong selalu mempunyai komposisi yang sama dengan contoh yang telah disetujui oleh Ahli sesuai dengan spesifikasi dalam ASTM C 494, yaitu liquid admixture type D.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 27 / 61

2.10. Concrete Curing Compound Concrete curing compound merupakan suatu cairan untuk melapisi permukaan slab beton sehabis dicor, agar memperlambat penguapan selama proses pengerasan awal dari beton, serta mengurangi kenaikkan temperatur pada beton akibat panas matahari.

Curing compound yang akan dipergunakan harus sesuai dengan spesifikasi ASTM C 309. Sebelum dipergunakan, maka Pemborong harus mendapatkan buku keterangan tekniknya yang lengkap serta contoh dari barangnya. Bilamana dalam buku keterangan tekniknya tersebut tidak menunjuk kepada standar ASTM, maka dalam surat pengusulannya Pemborong harus melampirkan salinan/copy dari standar ASTM yang dimaksud.

Bilamana perlu Ahli bisa memerintahkan kepada Pemborong untuk mengadakan pengujian lebih dahulu sebagai syarat untuk bisa diterima, yaitu untuk mengetahui apakah komposisinya telah sesuai dengan yang tercantum dalam buku keterangan teknik.

Penjual concrete curing compound harus bisa menjamin bahwa barang yang dilevernya kepada Pemborong selalu mempunyai komposisi yang sama dengan contoh yang telah disetujui.

2.11. Besi Tulangan Semua besi tulangan yang akan dipergunakan untuk pekerjaan ini harus memenuhi persyaratan teknik dalam PBI ’71 NI-2. Untuk tulangan pada slab harus dipergunakan besi anyaman dilas/welded steel wire mesh, dengan menggunakan besi jenis U 50 atau setidak-tidaknya U 48. Kekuatan las pada persilangan (kekuatan geser las), minimum harus sebesar 50% dari kekuatan tarik besinya (gaya minimum untuk melepaskan kekuatan geser las sebesar 50% dari gaya yang diperlukan untuk memutuskan batang besi tulangan). Untuk tulangan pada pipa-pipa Cakar Ayam selain dipergunakan besi anyaman dilas, bisa juga digunakan besi anyaman dengan U39/mild steel dengan syarat kekuatan harus equivalent dengan penulangan pipa Cakar Ayam yang ditentukan dalam gambar rencana (dalam hal pipa Cakar Ayam dari baja mempunyai persyaratan tersendiri).

Semua jenis tulangan (anyaman atau batangan) yang akan dipergunakan harus bersih dari kotoran-kotoran yang bisa merusak, kerak besi, karatan yang berat, cat, lemak, atau

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 28 / 61

sejenisnya, serta tidak boleh ada cacat pada waktu pembuatannya, seperti berkeping atau retak-retak (fins and tears). Untuk karatan ringan sekedar warna besi berubah, Pemborong tidak dituntut untuk membersihkannya, tetapi kerak-kerak besi yang lepas dari karatan yang berat sehingga menjadi kerak, maka Pemborong harus membersihkannya lebih dahulu sebelum dipergunakan. Dalam hal tulangan akibat dari pembersihan kerak-kerak besi yang lepas dari karatan berat, maka sejauh masih dapat dipergunakan oleh Pemborong harus disetujui Ahli dan bilamana karatan terlalu berat sehingga kekuatannya sudah meragukan, maka Ahli bisa memerintahkan kepada Pemborong untuk mengadakan uji ulang ke suatu laboratorium yang telah disetujui oleh Ahli. Bilamana jumlah pesanan cukup banyak untuk dikapalkan, maka inspeksi pengamatan mutu (pengambilan contoh dan pengujian-pengujian besi tulangan) bisa dilaksanakan di sumber dari Penjual.

Besi Tulangan yang belum diinspeksi sebelum dikapalkan, harus diinspeksi setelah barang tersebut sampai di tempat pekerjaan. Meskipun demikian, Ahli masih mempunyai hak untuk pengambilan contoh lagi (resampling) secara random dan mengadakan inspeksi semua besi beton yang berada di tempat pekerjaan, untuk meyakinkan apakah telah sesuai dengan dengan spesifikasi standard.

Khusus jenis tulangan anyaman (welded steel wire mesh) : 1. Lembaran tulangan yang diletakkan pada suatu bidang yang rata harus juga merupakan lembaran yang rata dan tidak bergelombang. 2. Pada umumnya tulangan yang lepas pada persilangan harus disingkirkan dari lokasi. Pada bagian tengah lembaran tulangan yang lepas persilangan diperbolehkan lepas sebanyak 5% saja, sedangkan dua batang di tepi sekelilingnya tidak diperbolehkan sama sekali terlepas lasnya. 3. Untuk mencegah karat pada tulangan pipa setelah ditanam, harus dihindarkan terhadap urugan tanah pada tulangan tersebut.

2.11.1. Surat Sertifikat Pada setiap pesanan besi tulangan yang akan dipergunakan untuk pekerjaan ini, Pemborong harus menyerahkan kepada Direksi, yakni copy atau salinan hasil uji dari setiap macam besi tulangan tersebut yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh orang yang berwenang dari pabrik pembuatnya, Surat keterangan atau sertikat tersebut harus memberikan penjelasan sebagai berikut :

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 29 / 61

-

Proses pengerolan (rolling process) terhadap besi tulangan yang dilaksanakan oleh pabriknya.

-

Ciri-ciri atau identifikasi dari proses pemanasan tungku beserta bahan pembantu yang dipergunakan, (seperti : jenis oksigen, dsb.), dari besi tulangan yang dirol.

-

Sifat-sifat chemis dan fisis dari proses pemanasan dari besi tulangan yang akan dirol.

2.11.2. Identifikasi Pabrik pembuatnya harus memasang label identifikasi yang jelas pada setiap ikatan tulangan sebelum diadakan inspeksi. Label identifikasi tersebut harus menunjukkan nomor pengujian dari pabrik pembuatnya beserta jumlah atau tanda-tanda pengenal lain yang bisa menunjukkan jenis bahan seperti tercantum dalam surat sertifikat, pada setiap ikatan tulangan.

2.11.3. Penimbunan Besi Tulangan Besi tulangan beton setiap saat harus dilindungi terhadap bahaya kerusakan. Besi tulangan ini harus ditumpuk di atas suatu ganjal berbentuk datar, jajaran batangan papan balok, mudah diadakan inspeksi/pengamatan.

2.12. Joint Filler (hanya apabila diminta) Joint sealent merupakan bahan untuk mengisi sambungan semu (dummy joint) maupun sambungan pengecoran (Construction Joint) pada slab beton.

Joint filler yang akan digunakan pada pekerjaan ini yaitu jenis self expanding cork joint filler (contohnya : spandex). Self expanding cork joint filler ini harus memenuhi standard spesifikasi ASTM D-1752 dan ASTM D-545.

Sebelum dipergunakan Pemborong harus mengajukan buku keterangan tekniknya yang lengkap, laporan hasilnya serta contoh barangnya. Joint filler yang akan dipergunakan untuk mengisi joint harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dalam spesifikasi ini.

Bila dalam buku keterangan teknik tersebut tidak menunjuk kepada standar ASTM, maka dalam surat pengusulannya Pemborong harus melampirkan salinan/copy dari standar ASTM yang dimaksud, bilamana perlu Pemborong harus melaksanakan pengujianpengujian yang diminta oleh ahli terhadap bahan-bahan yang akan dibeli. Pengujian-

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 30 / 61

pengujian harus dilaksanakan pada laboratorium yang telah ditetapkan/disetujui oleh Ahli, atas biaya sepenuhnya dari Pemborong.

3.

PERSYARATAN PERALATAN

Peralatan dan alat-alat lainnya yang akan dipergunakan untuk menangani bahan-bahan dan melakukan semua bagian dari pekerjaan, terlebih dahulu harus disetujui oleh Ahli, seperti : design, kapasitas, dan keadaan mekaniknya. Peralatan harus ada di tempat pekerjaan cukup waktunya sebelum dimulainya operasi konstruksi. Hal ini diperlukan untuk pemeriksaan dan persetujuan.

3.1. Batching Plant (kecuali menggunakan beton ready mix) Batching plant merupakan suatu peralatan untuk menimbang (batch) bahan-bahan untuk campuran beton. Batching plant yang akan dipergunakan harus mencakup bins, weighing hoppers, timbangan untuk agregat halus dan untuk tiap ukuran dari agregat kasar, tangki air adukan yang dilengkapi dengan kran dan katup, dispenser untuk additive bila diperlukan. Jika dipergunakan semen bulk (curah), maka harus dilengkapi dengan bin, hopper dan timbangan yang terpisah untuk semen ini. Bagian-bagian dari batching plant tersebut harus sesuai dengan spesifikasi ASTM C 94.

3.2. Mixers (kecuali menggunakan beton ready mix) Pada prinsipnya pekerjaan pengadukan beton yang akan dilaksanakan harus diaduk di suatu central mixing plant (stationary mixer) type wet-mix yang dilengkapi alat penimbang, alat pengontrol kelembaban dan kadar air agregat serta alat pengontrol lainnya yang memenuhi persyaratan sesuai dengan spesifikasi ASTM C 94.

Sebelum dipesan/dipasang central mixing plant ini, baik merk maupun kapasitasnya harus disetujui oleh Ahli terlebih dahulu. Bilamana Pemborong akan mempergunakannya alat pengaduk jenis truck mixer atau transit mixer, baik untuk keseluruhan adukan (truck mixed concrete), maka Pemborong harus mendapatkan izin tertulis terlebih dahulu dari Ahli.

Stationary mixer oleh pabrik pembuatnya harus sudah dicantumkan/ditempelkan papan logam yang memuat informasi tentang kapasitas drum pengaduk, kecepatan rotasi drum pengaduk dan sirip-sirip pengaduk.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 31 / 61

3.3. Agitators (Transit Mixers) Agitators berfungsi sebagai pembawa (hauling) adukan basah dari central mixing plant (type wet-mix) sesuai pasal 3.2. di atas ke lokasi pengecoran. Agitators bisa berupa truck mixers yang beroperasi dengan kecepatan agitating dan truck agitators sendiri, dan harus memenuhi persyaratan sesuai dengan spesifikasi ASTM C 94. Sebelum dipesan/dipergunakan transit mixers ini baik merk, type, maupun kapasitasnya harus disetujui oleh Ahli terlebih dahulu.

Transit mixer oleh pabrik pembuatnya harus sudah dicantumkan/ditempelkan papan logam yang memuat informasi tentang kapasitas drum, kecepatan drum, atau sirip-sirip pengaduk. Volume beton basah dalam drum yang dibawa pada transit mixers atau truck mixer tidak boleh lebih dari 80% total volume drum.

3.3.1. Concrete Pump (Pompa Beton) Yaitu mesin pompa untuk memompa adukan beton basah dari truck mixer/agitators ke titik pengecoran apabila tidak bisa dijangkau oleh truck mixer tersebut. Merk, type maupun kapasitasnya harus disetujui oleh Ahli terlebih dahulu.

3.4. Concrete Finisher dan Peralatan Lainnya Concrete finisher merupakan 1 (satu) set peralatan untuk pengecoran plat beton yang terdiri dari concrete train/concrete dischanger (spreader), finishing machine, vibrators, concrete sprayers, protection crane serta forms dan rel.

Sebelum dipesan/dipergunakan type concrete finisher beserta peralatan lainnya harus disetujui dahulu oleh Ahli. Adapaun salah satu type bisa dipergunakan seperti tersbut di bawah ini :

3.4.1. Concrete

Train/Concrete

Discharge/Spreader

(Mesin

Pengecor/Mesin

Pembagi Beton) Adukan beton harus dicor dengan mempergunakan mesin/kereta pengecor (concrete train/discharge/spreader) yang dipasang di atas rel yang dipasang sejajar dengan arah pengecoran slab atau lean concrete.

Mesin pengecor ini harus diperlengkapi atau dibuat sedemikian rupa sehingga mudah distel menurut lebar slab beton yang akan dicor sesuai dengan gambar rencana. Arah

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 32 / 61

dan ketinggian dari adukan beton yang akan dicor pada mesin pengecor/pembagi beton harus selalu dikontrol, agar tetap terbagi rata selebar slab yang akan dicor.

3.4.2. Finishing Machine (Mesin Perata) Alat finishing merupakan alat perata (screw roller) permukaan slab beton sekaligus menyelesaikan (finishing) permukaan slab beton sesuai dengan ketinggian/ketebalan slab sesuai dengan gambar rencana. Mesin perata ini harus dibuat sedemikian rupa sehingga mudah distel menurut lebar slab beton yang akan diratakan sesuai dengan ketinggian dan lebar dari gambar rencana.

Screw Roller yang meninggalkan jejak atau ketidakrataan permukaan yang sulit untuk diperbaiki, atau menghasilkan permukaan yang kasar akibat pembilasan air, atau cacatcacat pada permukaan lainnya sehingga mesin perata/screw roller tersebut dipandang tidak mampu menghasilkan permukaan slab yang memuaskan, maka mesin tersebut tidak boleh dipergunakan.

Arah dan ketinggian dari screw roller pada mesin perata harus selalu dipelihara kedudukannya oleh Pemborong. Tarikan tali harus dipasang sejajar dengan titik-titik kontrol ketinggian dari permukaan slab seperti yang direncanakan, tetapi di samping itu juga secara otomatis sebagai alat pengontrol untuk mesin perata agar tebal slab yang disyaratkan selalu terpenuhi.

3.4.3. Vibrators Sebelum gundukan adukan beton dari mesin discharger diratakan dengan mesin perata (finisher), Pemborong diharuskan melaksanakan pemadatan pertama dengan

tongkat/jarum penggetar (needle vibrator). Penggetaran dengan tongkat penggetar ini harus dilaksanakan pada seluruh lebar slab sepanjang tuangan adukan baru. Untuk ini maka jumlah tongkat-tongkat penggetar harus cukup, yaitu 1 alat untuk lebar maksimum 2 meter dengan diameter 2” untuk penggetaran bagian tengah, serta 1 1/4" untuk bagian kiri dan kanan tepi slab.

Tidak dibenarkan menggetarkan/memadatkan beton pada satu tempat selama lebih dari 15 detik. Kemudian dibelakangnya adalah alat pemadat yang kedua, berupa papan penggetar (plater vibrator) yang sekaligus memadatkan dan meratakan kembali.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 33 / 61

Alat penggetar dapat dipasang pada spreader/hopper atau finishing machine atau dapat pula dipasang pada carriage terpisah. Alat penggetar tidak boleh berhubungan dengan joint load transver device, sub-grade atau side forms. Frekuensi dari surface vibrator (plate vibrator) harus tidak kurang dari 3500 impulses per menit untuk vibrator biasa dan minimum 7000 impulses per menit untuk speed vibrator.

3.4.4. Concrete Sawing Machine atau Cutter (apabila diminta) Concrete sawing machine atau cutter adalah alat untuk memotong slab beton untuk keperluan pembuatan alur joint (sambungan). Pemborong harus menyediakan peralatan ini sesuai dengan spesifikasi untuk joint filler yang disyaratkan. Pembuatan alur untuk joint yang dilakukan pada saat beton masih dalam keadaan plastis harus dipilih mesin pembuat alur dengan alat pemotong beton dari pisau (cutter). Dalam hal pembuatan alur tersebut dilakukan setelah beton berumur 10 – 18 jam (final setting), maka harus dipilih mesin gergaji pembuat alur (sawing machine). Untuk keperluan ini terlebih dahulu sebelum dipesan/dipergunakan Pemborong harus mengajukan persetujuan kepada Ahli, baik merk, type maupun dimensi alat potong yang disyaratkan pada kecepatan yang disyaratkan pula. Pemborong harus menyediakan sawing equipment dalam jumlah yang cukup dari unit dan power serta sebagai cadangan paling tidak satu cadangan peralatan tersebut dalam keadaan baik.

3.4.5. Brooming Machine Brooming machine adalah alat penyapu untuk pembentukan permukaan dan segera pada saat slat beton masih dalam keadaan plastis (sebelum mencapai final setting, ASTM C 403). Peralatan tersebut harus dipasang pada sebuah kereta jembatan yang melangkahi seluruh lebar slab beton dan harus bisa digerakkan sepanjang seluruh lebar slab, juga sampai sedikit melewati tepi slab. Bentuk serta kekasaran permukaan slab yang dihasilkan oleh alat ini harus seperti yang telah ditentukan oleh Ahli/Direksi pada contoh atas percobaan yang dibuat sebelumnya.

3.4.6. Concrete Curing Membrane Sprayer Peralatan ini digunakan untuk menyemprot bahan perawatan beton (concrete curing compound) setelah beton selesai dicor dan masih dalam keadaan plastis.

Pemborong harus menyediakan sprayer tersebut di lapangan sebelum pengecoran dimulai dalam jumlah yang cukup dan harus mampu mengadakan penyemprotan secara

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 34 / 61

merata ke seluruh permukaan beton dengan tanpa mengalami gangguan hembusan angin.

3.4.7. Protection Crane (Rolling Shelter) Protection crane digunakan segera pada saat beton selesai dicor agar permukaan slab beton terlindung dari gangguan panas matahari langsung, serta hal-hal yang tidak diinginkan. Crane tersebut harus dipasang melintang melangkahi slab beton dan bisa bergerak di atas rel yang terletak di kedua tepi slab. Protection crane ini bergerak sejajar dengan arah pengecoran.

Pemborong harus menyediakan protection crane dalam jumlah yang cukup yang bisa melindungi slab selama beton masih dalam keadaan plastis (tidak boleh terganggu), yaitu minimal sampai umur slab tersebut melewati masa initial setting.

3.4.8. Forms (Bekisting) dan Rel Forms (bekisting) untuk pengecoran slab harus terbuat dari bahan besi yang bisa menjamin kerataan permukaan serta ketebalan slab sesuai dengan gambar rencana. Dalam hal bekisting/cetakan untuk pipa beton Cakar Ayam, maka cetakan tersebut harus terbuat dari bahan besi yang kokoh, rapat, tidak mudah bocor, terjamin keamanannya serta bentuknya yang tetap. Cetakan harus menghasilkan konstruksi akhir yang mempunyai bentuk, ukuran sesuai dengan gambar rencana.

Rel untuk pengecoran slab harus ditopang oleh peralatan yang cukup kokoh untuk mendukung bekerjanya alat-alat pengecoran, seperti concrete train, finisher, tenda pelindung, dan sebagainya. Panjang bekisting dan rel yang dimiliki Pemborong sekurangkurangnya 3 kali panjang rencana pengecoran perharinya.

3.5. Daftar Peralatan Sebelum Pemborong memulai pekerjaan pelaksanaan konstruksi perkerasan sistem Cakar Ayam, maka minimum harus tersedia peralatan-peralatan standar sebagai berikut, dalam jumlah yang cukup dengan pekerjaan di lapangan.

Mengenai persyaratan dari masing-masing alat seperti disebutkan dala pasal 3. di atas.

Jenis peralatan : 1. Batch mixing plant (kecuali menggunakan ready mix concrete)

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 35 / 61

2.

Cetakan besi untuk pipa beton Cakar Ayam (tidak berlaku bagi pipa Cakar Ayam dari baja).

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Transit mixer truck. Concrete train/concrete discharger. Needle vibrator. Plate Vibrator. Concrete finisher (screw roller atau jenis lainnya). Brooming/grooving machine (alat pembentuk permukaan). Mesin Cutter yang dilengkapi dengan vibrator untuk alur-alur dummy joint pada beton slab yang masih lunak atau setidak-tidaknya mesin gergaji beton (concrete sawing machine) untuk beton slab yang telah berumur lebih dari 10 jam (final setting) dan tidak boleh lebih dari 18 jam (kecuali tidak diisyaratkan adanya dummy joint).

10. Mesin cutter untuk memotong permukaan beton yang menonjol/bergelombang atau setidak-tidaknya mesin poles yang kuat untuk pekerjaan ini. 11. Bekisting besi dan rel. 12. Protection crane (tenda pelindung panas dan hujan) kecuali dengan cara lain atas persetujuan perencana. 13. Kelengkapan peralatan untuk perawatan beton (karung goni basah, truck tangki air, alat semprot curing compound, dan lain-lain).

4.

PERSYARATAN PELAKSANAAN

4.1. Persyaratan Pengadukan Volume beton yang diaduk pada batch mixing plant tidak boleh melebihi kapasitas nominal dalam kubikasi seperti yang dinyatakan dalam buku keterangan teknik yang dikeluarkan oleh pabriknya. Sedangkan waktu pengadukan beton tidak boleh dari 90 detik dan tidak boleh melebihi dari 120 detik untuk satu kali batch. Kemudian adukan beton ini harus dituang ke dalam truck pengangkut dengan cara sedemikian rupa seperti telah ditentukan pada pasal 3.3. di atas, sehingga segregasi atau tumpahannya mortar semen ataupun agregat bisa dicegah. Adukan beton harus dibuat dengan dengan tingkat kekentalan (slump) sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan dalam buku ini pada waktu diserahkan di tempat pengecoran.

Dalam hal akan menentukan tingkat kekentalan adukan beton pada waktu dituang dari mixer, Pemborong terlebih dahulu pada saat melaksanakan trial mix, juga ditentukan pengetesan slump loss, initial setting, dan pengetesan lainnya. Pemborong harus sudah

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 36 / 61

memperhitungkan, terutama yang berhubungan dengan lamanya pengangkutan, serta kemungkinan adanya gangguan/kerusakan alat-alat cor.

Pengecoran dengan cara menambah air atau bahan lainnya di luar spesifikasi, sama sekali tidak diperbolehkan, kecuali atas izin Ahli. Adukan Beton pada waktu akan dicor mempunyai nilai slump maupun temperatur di luar batas-batas yang ditetapkan dalam spesifikasi ini sama sekali tidak boleh dipergunakan dan harus segera dibuang ke tempat yang telah ditunjuk oleh Ahli.

4.2. Penakaran Bahan-bahan Beton Penakaran fraksi-fraksi agregat serta semen harus dengan cara penimbangan. Alat penimbangan agregat dan semen serta alat pengukur air dan admixture harus ditera/kalibrasi terlebih dahulu oleh suatu badan resmi yang ditunjuk dengan disaksikan oleh Ahli atau wakilnya yang ditunjuk. Alat-alat penakar (penimbang dan pengukur) harus mempunyai ketepatan penakaran dengan batas-batas toleransi seperti berikut : semen PC

Semen PC harus ditimbang dengan alat penimbang tersendiri dalam mixing plant tersebut, baik dalam pengiriman semen PC berbentuk curah (bulk) maupun dalam kantong-kantong. Alat penimbang ini harus menimbang dengan ketepatan ± 2% berat dari jumlah semen PC yang akan dipergunakan.

-

Agregat

Dalam penakaran agregat, Pemborong harus mengadakan koreksi berat tiap-tiap fraksi agregat sesuai dengan besarnya kandungan air atau kelembaban dalam agregat. Kandungan air atau kelembaban dalam agregat harus diukur setiap hari, atau bilamana ada perubahan cuaca yang dipandang perlu, terutama untuk agregat halus yang mempunyai daya absorbsi lebih besar daripada agregat kasar. Kandungan air atau kelembaban yang diukur dalam agregat halus harus diperhitungkan dalam koreksi berat dari agregat yang bersangkutan serta koreksi berat air sebelum pengadukan dimulai. Ketepatan penakaran tiap-tiap fraksi agregat harus dalam batas-batas toleransi ± 3% berat total agregat dan untuk seluruh agregat (agregat campuran) harus dalam batasbatas toleransi ± 2% dari jumlah total adukan.

-

Air untuk adukan

Air untuk adukan harus ditakar dengan cara ditimbang atau dengan cara volume. Banyaknya air yang dimasukkan pada waktu pengadukan harus sudah

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 37 / 61

diperhitungkan/dikoreksi dengan banyaknya air (moisture content) yang dikandung dalam agregat. Penakaran air ini harus mempunyai ketepatan ± 2% dari jumlah total yang dipergunakan dalam pengadukan.

-

Zat penambah (admixture/additive)

Admixture/additive harus ditambahkan bersamaan dengan air untuk adukan dan banyaknya diukur dengan sistem pengukur otomatis (dispenser) yang bisa menjamin dosis yang tepat seperti yang direncanakan.

4.3. Komposisi Campuran Adukan (Job-mix) Komposisi campuran adukan beton (job-mix) yang akan dipergunakan harus sudah diajukan oleh Pemborong paling lambat 30 hari sebelum pekerjaan pengadukan beton dimulai, lengkap dengan laporan analisa dan hasil pengujian, untuk mendapatkan persetujuan dari Ahli. Hasil analisa komposisi campuran ini dimaksudkan untuk menentukan banyaknya tiap komponen bahan untuk membuat 1 (satu) meter kubik adukan untuk berbagai jenis beton.

4.3.1. Analisa Komposisi Campuran Dalam membuat analisa komposisi campuran untuk setiap jenis beton yang akan dilaksanakan, Pemborong harus memperhatikan persyaratan-persyaratan seperti yang tercantum dalam daftar berikut ini :
Jenis Beton Konstruksi
Type semen Ukuran maximum agregat (D) mm Kandungan semen PC min. (Kg/m beton) Kandungan semen PC max. (Kg/m beton) Water cement ratio ssd – aggregate Slump (cm) Temperatur adukan saat dicor max. 350 (humadity min : 60, kecepatan angin max. 15 km/jam) Kubus (kg/cm ) (15x15x15) min. Flexural strength (kg/cm ) min. Cara pengadukan
2 2 3 3

Type K 350 Slab
Type I atau IP 20 350 370 0,45 – 0,50 3–5 35 C
0

Type K 225 Pipa CA
Type V atau IP 12,50 310 330 *) 0,40 -0,45 **) 0,55 – 0,65 *) 0

Type K 90 Lantai Kerja
Type I atau IP 25-20 200 210 0,70 – 1,00 3–8 -

**) 5 – 10

350 50 Hanya dengan mixing plant kecuali dalam keadaan khusus

225 Dengan mixing plant atau dengan beton molen lapangan

90 Dengan mixing plant atau dengan beton molen lapangan

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 38 / 61

Keterangan : *)

dengan mesin cetak

**) dengan tenaga manusia

Catatan : Dalam hal keadaan terpaksa dimana semen type V dan semen type IP sulit didapat, maka campuran beton pipa Cakar Ayam dapat diganti dengan type I, dengan syarat kendungan semen yang tertera dalam daftar di atas harus ditambah, sehingga kandungan semen type I menjadi minimum 350kg/m3 beton.

4.3.2. Komposisi Campuran Beton setelah Disetujui Bilamana komposisi campuran beton (job-mix) sesudah diuji telah disetujui oleh Ahli, maka Pemborong harus mengikuti campuran ini dalam pekerjaan pembuatan konstruksi beton.

Bilamana

berhubung

adanya

gangguan-gangguan

penyediaan

atau

perubahan-

perubahan jenis meterial yang akan dipergunakan, maka pekerjaan harus dihentikan dahulu dan penyiapan (analisa dan pengujian-pengujian) komposisi campuran yang baru sesuai dengan persyaratan teknis ini harus diulang lagi, sehingga mendapatkan komposisi campuran yang bisa disetujui oleh Ahli.

4.4. Pengecoran Lantai Kerja (Lean Concrete) Pengecoran Lantai Kerja bisa dilaksanakan setelah Pemborong mengajukan izin tertulis dan telah disetujui/diizinkan oleh Ahli. Izin akan diberikan setelah persiapan-persiapan untuk pengecoran lantai kerja pada lokasi dimaksud telah memenuhi syarat. Syarat-syarat yang dimaksud antala lain : Peil/ketinggian permukaan sub-base sesuai dengan rencana. *) Permukaan sub-base beberapa saat sebelum pengecoran lantai kerja mulai dibasahi dulu sampai kelihatan cukup jenuh air dan tidak menggenang. Pemasangan bekisting besi kiri-kanan sesuai ketebalan dan kemiringan rencana, jumlah dari bekisting dan kesiapan alat-alat lainnya yang akan dipergunakan. Dalam hal pengecoran lantai kerja dilakukan dahulu sebelum menyediakan penanaman pipa Cakar Ayam, maka Pemborong harus menyediakan bekisting berbentuk bulat dari besi yang ukurannya sedemikian rupa agar lubang-lubang yang dihasilkan sama dengan diameter tepi pipa-pipa Cakar Ayam yang akan ditanam.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 39 / 61

-

Lokasi yang akan dicor harus bersih dari benda-benda lepas dan kotoran-kotoran lainnya.

*)

Dalam hal menggunakan pipa Cakar Ayam dari baja (berat 34 kg), tidak diperlukan sub-base untuk landasan bagi alat pancang pipa Cakar Ayam tersebut, maka lantai kerja langsung digelar di atas sub-grade (tanah asli/urugan) yang diratakan dan dipadatkan seperlunya dan cukup kuat (tidak ambles) diinjak orang (> 0,3 kg/cm2)

4.4.1. Pengangkutan Adukan Beton Adukan beton lantai kerja harus diangkut ke tempat pengecoran dengan mempergunakan transit mixer/truck mixer atau non agitating truck (dump truck) sedemikian rupa seperti telah ditentukan pada pasal 3.3 di atas. Truck-truck ini harus dilengkapi dengan alat penyerap kejut (shock breaker atau shock absorber) yang baik, sehingga adukan bisa terhindar dari bahaya segregasi pada agregat serta tumpahnya adukan beton tersebut. Apabila perbedaan slump pada permulaan, pertengahan dan akhir penuangan dari truck tersebut lebih dari 2,5 cm, maka adukan tersebut tidak boleh dipakai. Dalam hal dipergunakan dump truck, maka bilamana dipandang perlu oleh Ahli, dump truck tersebut harus dilengkapi dengan alat penutup terhadap cuaca yang sebelumnya dipasang harus sudah mendapat persetujuan lebih dahulu oleh Ahli.

Pemborong harus memperhatikan kelancaran peleveran adukan beton, sehingga pengecoran tidak boleh terhenti-henti yang justru disebabkan oleh kekurangan peleveran adukan.

4.4.2. Pengecoran Adukan beton harus dicor dengan mempergunakan kereta pengecor (concrete train) yang dipasang melintang melangkahi lantai kerja yang akan dicor dan bisa bergerak di atas rel yang dipasang sejajar dengan arah pengecoran lean concrete. Pengecoran lantai kerja harus menghasilkan ketebalan dan kemiringan yang sesuai dengan ketentuan yang tertera dalam gambar rencana.

Sebelum gundukan adukan diratakan dengan alat perata, Pemborong diharuskan melaksanakan pemadatan dengan menggunakan tongkat-tongkat penggetar (needle vibrator). Penggetaran dengan tongkat penggetar ini harus dilaksanakan seluruh lebar lantai sepanjang tuangan adukan baru. Jumlah tongkat penggetar ini harus cukup, yaitu 1 tongkat penggetar untuk maksimum 2 meter serta tidak boleh menggetarkan/memadatkan

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 40 / 61

beton pada suatu tempat selama lebih dari 15 detik. Waktu penggetaran di suatu tempat tidak boleh melebihi batas waktu secukupnya seperti tersebut di atas untuk mendapatkan beton yang padat tanpa terdapat air bebas di permukaan.

Adukan beton ini harus terus menerus dipadatkan ke arah cetakan/bekisting dan sepanjang lebarnya. Harus dijaga agar jarum penggetar tidak mengenai bekisting, alat perata/finisher serta bagian-bagian beton yang telah mulai mengeras, karena itu jarum penggetar tidak boleh dipasang lebih dekat 5 cm dari tempat tersebut. Jarum penggetar harus dimasukkan ke dalam adukan beton secara vertikal, tetapi dalam keadaan khusus boleh miring maksimum 450 serta selama pengetaran tidak boleh digerakkan ke arah horizontal, yang akan mengakibatkan terjadinya segregasi meterial.

4.4.3. Perawatan Permukaan Perawatan lantai kerja dilakukan setelah beton mulai mengeras, yaitu dengan menyemprotkan air secukupnya, paling sedikit selama 7 hari. Perawatan dengan menggunakan bahan kimia (curring compound) yang disemprotkan pada permukaan lean concrete setelah pekerjaan finishing selesai tidak harus dilaksanakan, kecuali sebelumnya ada persetujuan dari Ahli.

Dalam hal lantai terjadi kerusakan, seperti diakibatkan oleh bekerjanya alat-alat berat di atas permukaannya, maka Pemborong atas petunjuk Ahli harus memperbaiki sebelum pekerjaan selanjutnya dimulai, demikian pula bila terjadi retak lebar (lebih dari 0,5 mm) akibat penyusutan yang berlebihan atau sebab-sebab lain.

4.5. Pembuatan dan Penanaman Pipa-pipa Cakar Ayam Modifikasi yang dilakukan disini adalah mengganti pipa Cakar Ayam dari bahan beton bertulang menjadi pipa Cakar Ayam dari bahan baja tipis galvanis dengan kokoh tarik/tekan yang memadai dan yang penting adalah kekakuan (E.I) pipa harus lebih besar dari pada kekakuan slab beton serta tahan karat.

Tebal plat baja pipa, diameter pipa, panjang pipa dan jarak pipa satu sama lain pada waktu ditanamkan ke dalam tanah harus mengikuti syarat dan gambar rencana.

Tebalnya lapisan galvanis harus sesuai dengan spesifikasi yang dijamin masa ketahanan karatnya oleh pabrik yang melakukan galvanis tersebut.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 41 / 61

4.5.1. Persyaratan Bahan Baku Logam Dasar Baja Bahan baku logam dasar baja adalah cold rolled steel (SPCC) sesuai standard JIS G 3141-1990 dengan toleransi sesuai JIS G 3302 dan telah diproduksi di dalam negeri.

4.5.2. Persyaratan Bahan Baku Logam Pelapis Untuk menjamin ketahanan baja terhadap karat dalam jangka waktu yang lama, maka baja harus dilapisi dengan logam pelapis yang akan menggunakan prinsip cathodic protection. Bahan baku logam pelapis adalah logam zinc (seng) dengan kadar minimal Zn = 99,99%.

Sistem proses pelapisan adalah “continuous hot dip galvanizing” Komposis kimia pelapisan : FE = 1,50% Pb = 0,90% Al = 0,35% Zn = 97,25%

Karena pipa baja galvanis ini akan dipakai sebagai bagian dari sistem Cakar Ayam yang berfungsi sebagai Sub-Base untuk jalan, sedangkan kondisi tanah sepanjang jalan sebagai lingkungan bagi pipa tidaklah menentu, maka dalam menetapkan ketebalan lapisan zinc agar menjamin ketahanan terhadap karat (life time) 30 tahun ditetapkan coating mass minimum tebal 300 gr/m2 pada baja tebal 1,4 mm s/d 2 mm, yaitu untuk penggunaan di lingkungan normal (PH 6 s/d 12).

4.5.3. Baja Lembaran Lapis Seng Setelah logam dasar baja (SPCC) dilapis dengan lapisan zinc tersebut di atas, maka selanjutnya dipotong-potong sesuai dengan pesanan berdasarkan gambar desain. Sebagai contoh untuk pesanan pipa ∅ 80 cm dan panjang 120 cm, maka gulungan baja lembaran lapis seng harus dipotong-potong menjadi ukuran yang sedekat mungkin dengan ukuran dipasaran yaitu dalam mm : 1,40 x 1219 x 2610 per lembar Lembaran-lembaran baja lapis seng itu harus dikirim ke workshop atau project site untuk dibuat pipa, tergantung penempatan alat roll dan alat penyambungnya. Pengiriman berdasarkan standard packing pabrik yang bersangkutan.

4.5.4. Pembuatan Pipa Cakar Ayam Material Baja Pipa Cakar Ayam dari bahan baja tipis untuk tebal 1,4 mm ∅ 89 cm dan panjang 120 cm dibuat dari baja lembaran lapis seng ukuran 1,40 x 1219 x 2610 mm yang digulung

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 42 / 61

dengan mesin roll dan disambung dengan paku keling alumunium atau lainnya asalkan dalam urutan deret logam masih sepihak dengan seng posisinya terhadap baja. Overlap sambungan ± 7 – 9 cm cukup untuk paku keling yang dipasang diselang-seling. Jumlahnya paku keling (rivet) maupun diameternya harus diperhitungkan dan harus disetujui perencana. Yang harus diperhatikan adalah bahwa penyambungan untuk membentuk pipa sekali-kali tidak diperbolehkan menggunakan las pada baja yang telah digalvanisasi, karena akan merusak proses cathodic protection.

4.5.5. Perawatan dan Perlindungan Pipa Baja lembaran lapis seng tahan terhadap goresan, karena apabila terjadi “luka” pada permukaan sehingga bajanya nampak/terbuka maka lapisan seng akan “mengorbankan diri” mendahului bereaksinya ion-ion negatif yang terjadi sebelum sempat bereaksi dengan ion positif baja, sehingga tidak terjadi karat pada baja. Namun demikian untuk menghindari kemungkinan terjadinya banyak goresan-goresan yang banyak di dalam tanah pada saat penancapan pipa maka perlu dilapisi lagi dengan epoxy coaltar yang tebalnya minimal 100 micron untuk penggunaan di lingkungan normal (PH 6 s/d 12). Di samping itu pipa baja yang dilapisi seng dan epoxy coaltar tersebut harus dilindungi dari kemungkinan tergencet agar diameternya tidak berubah. Untuk itu pipa harus diletakkan pada posisi tegak, lubang menghadap ke atas. Karena beratnya untuk tebal 1,4 mm dan Ø 80 cm hanya 36 kg, maka pengangkutannya harus diangkat, tidak boleh digelindingkan.

4.5.6. Penanaman Pipa Cakar Ayam Pemborong harus menyediakan semua alat yang dianggap perlu dan disetujui oleh Ahli, untuk menjamin telitinya penanaman pipa-pipa Cakar Ayam ke dalam tanah.

Pekerjaan penanaman pipa Cakar Ayam ini harus menghasilkan bidang kontak yang sempurna antara dinding luar pipa dengan tanah sekelilingnya, serta mempunyai kedudukan dan peil yang sesuai dengan gambar rencana. Bila antara pipa dan tanah disekelilingnya masih nampak rongga, maka hal ini harus diperbaiki.

Sebelum dilakukan modifikasi, pipa Cakar Ayam terbuat dari beton bertulang untuk menanamkannya ada 2 cara : Cara Manual, yaitu pipa Cakar Ayam diletakkan pada posisinya, lalu tanah lunak dalam lingkaran (dalam pipa) digali sedemikian sehingga karena berat pipa beton ± 1

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 43 / 61

ton, maka pipa akan turun sendiri mengikuti dalamnya penggalian tanah, sampai pada posisi yang dikehendaki. Cara Masinal, yaitu pipa Cakar Ayam diletakkan pada posisinya setelah terlebih dahulu dibuat lubang bentuk cincin yang sedikit lebih lebar dari pada tebal pipa beton Cakar Ayam oleh alat yang disebut “driving unit” pada posisi pipa tersebut. Kemudian pipa dibantu ditekan dengan alat yang disebut “pressing unit” sampai pada level yang diinginkan.

Setelah dilakukan modifikasi, pipa Cakar Ayam tidak hanya dibuat dari beton bertulang melainkan dari baja tipis tebal minimum 1,4 mm yang dilapisi seng secara hot dip galvanis dengan coating mass sebesar 300 gr/m2 dan dilapisi pula dengan epoxy coaltar minimal 100 micron, untuk diameter pipa misalnya 80 cm dan panjangnya 120 cm maka berat pipa hanya 36 kg. Dengan ukuran-ukuran seperti itu maka untuk menanamkannya ke dalam tanah cukup dengan penekanan yang relatif kecil. Karena daya perlawanan tanah relatif lunak yaitu pada luas penampang pipa setebal 1,4 mm hanyalah ± 10 kg, sementara daya perlawanan tanah yang menjepit luar dalam seluruh panjang pipa pada posisi terakhir hanya ± 6 ton. Seperti halnya pada pipa beton maka untuk menanamkan pipa-pipa baja ada 2 cara yaitu : Cara Manual, yaitu pipa diletakkan pada posisinya lalu ditumbuk dengan alat tumbuk atau drop hammer yang mudah dipindah-pindah dan jumlahnya tergantung produktivitas per-hari per-alat dan target yang harus ditanam perharinya. Cara Masinal, yaitu pipa diletakkan pada posisinya lalu ditekan dengan alat-alat penggetar atau ditekan secara hidraulis. Alat tersebut merupakan perlengkapan tambahan dari excavator atau mesin yang khusus dibuat untuk itu.

Baik secara manual maupun masinal penggunaan pipa baja tipis ini menghasilkan bidang kontak yang sempurna antara dinding luar pipa dengan tanah sekelilingnya serta mudah ditempatkan pada level yang sesuai dengan gambar rencana. Kemiringan sumbu pipa dari garis vertikal masih diizinkan dalam batas kemiringan yang tidak boleh lebih dari 5% (1 : 20). Eksentrisitas sumbu pipa dari titik kedudukan yang direncanakan tidak boleh lebih dari 0,1 kali diameter pipa.

Selanjutnya sub-grade tanah asli/urugan ditutup dengan lantai kerja sesuai gambar yaitu 5 cm. Apabila sub grade terlalu basah karena hujan misalnya, maka perlu lapisan pasir seperlunya agar tidak becek.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 44 / 61

4.6. Pengecoran Slab (Plat Beton) Pengecoran slab bisa dilaksanakan setelah Pemborong mengajukan izin tertulis dan telah disetujui/diizinkan oleh Ahli. Izin akan diberikan setelah persiapan-persiapan untuk pengecoran slab pada lokasi dimaksud telah dianggap memenuhi syarat. Syarat yang dimaksud adalah termasuk di dalamnya pekerjaan persiapan pengecoran, antara lain : Peil/ketinggian permukaan lantai kerja sudah sesuai dengan rencana. Permukaan lantai kerja tidak boleh ada retak-retak yang lebih lebar dari 1 mm yang memungkinkan menyerap air semen dari adukan slab. Permukaan lantai kerja beberapa saat sebelum pengecoran slab harus dibasahi dulu dengan air sampai kelihatan agak jenuh air. Antara dinding luar pipa Cakar Ayam dengan tanah sekelilingnya harus sudah betulbetul padat dan bilamana masih diragukan/ada rongga-rongga, maka Pemborong harus memadatkan kembali dengan cara merojok-rojokkan pasir urug sambil diberi air secukupnya. Sebelum anyaman tulangan untuk slab dipasang, permukaan lantai kerja harus bersih dari segala kotoran/benda-benda asing atau benda-benda lepas dan kotorankotoran minyak akibat pekerjaan-pekerjaan yang telah lalu. Bila dipandang perlu, Ahli dapat memberitahukan pembersihan kotoran-kotoran ini dengan mempergunakan methode penyemprotan pasir (sand blasting). Pemasangan tulangan yang benar, sesuai dengan peraturan yang berlaku dan petunjuk-petunjuk Ahli. Pemasangan bekisting sisi kiri-kanan sesuai dengan ketebalan dan kemiringan rencana, jumlah dari bekisting dan kesiapan alat-alat lainnya yang akan dipergunakan. Pada landasan untuk rel dan bekisting harus cukup kuat serta padat sehingga tidak terjadi lendutan atau kerusakan pada saat dilewati oleh concrete spreader, finisher dan sebagainya. Pembersihan lokasi yang akan dicor dari benda-benda lepas dan lain-lain sekali lagi setelah anyaman tulangan slab sudah terpasang serta pada saat akan dimulai pengecoran. Dalam hal lokasi yang akan dicor termasuk yang di dalam pipa basah tergenang air hujan, maka pekerjaan pengecoran harus ditunda dan baru bisa dimulai setelah diinspeksi oleh Ahli dan mendapatkan persetujuan untuk dimulai pengecoran.

4.6.1. Pengangkutan Adukan Beton Adukan beton untuk slab harus diangkut ke tempat pengecoran dengan mempergunakan transit mixers atau non-agitating truck (dump truck) yang sebelumnya harus dibersihkan

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 45 / 61

dulu dari semua benda-benda asing yang mungkin bisa mempengaruhi kualitas adukan beton seperti telah ditentukan pada pasal 3.3. serta pasal 4.4.1. spesifikasi ini.

Bila penghentian pengecoran mulai saat penuangan truck terakhir dengan truck berikutnya lebih dari 30 menit dengan catatan travel time tidak boleh lebih dari 1 jam, maka pada batas pengecoran ini harus disiapkan/dibentuk menjadi construction joint dan harus diberi bonding agent di permukaan sambungan pada saat akan melanjutkan pengecoran berikutnya. Pengecoran dapat dilaksanakan 4 (empat) jam setelah waktu pengecoran yang terakhir (initial setting sudah tercapai).

4.6.2. Pengecoran Adukan beton harus dicor dengan mempergunakan 1 (satu) unit kereta pengecor (concrete train) yang dipasang melintang melangkahi slab yang akan dicor dan bisa bergerak di atas rel yang dipasang sejajar dengan arah pengecoran slab. Adukan beton harus dihambar dengan takaran yang cukup untuk mengecor seluruh lebar beton slab dengan mempergunakan alat penghampar (concrete spreader) yang kerjanya sedemikian rupa sehingga tidak akan timbul segregasi atau pemisahan meterial-material pembentuk beton itu sendiri.

Bilamana dipandang perlu bisa diizinkan penyebaran adukan dengan tenaga manusia dengan mempergunakan sekop, sedang alat penggaruk sama sekali tidak diizinkan untuk penyebaran adukan, karena mudah timbul segregasi. Banyaknya adukan yang dituang harus dibuat sedikit lebih, agar didapat permukaan yang penuh dan rata.

Sebelum gundukan adukan diratakan dengan alat perata/concrete finisher (screw roller) maka Pemborong diharuskan melaksanakan pemadatan dengan menggunakan tongkattongkat penggetar (needle vibrator) serta dilaksanakan untuk seluruh lebar slab sepanjang tuangan gundukan adukan baru.

Pada tempat-tempat pipa Cakar Ayam dan pada sambungan-sambungan tulangan atau di tempat-tempat lain dimana banyak silangan-silangan tulangan, maka penggetaran dengan tongkat penggeter ini harus dilaksanakan lebih intensif, sehingga terjamin tidak akan terjadi keroposan di tempat-tempat tersebut. Untuk ini maka jumlah tongkat penggetar harus cukup, ialah 1 (satu) tongkat penggetar untuk maksimum 2 (dua) meter, serta tidak dibenarkan menggetarkan/memadatkan beton pada satu tempat selama lebih

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 46 / 61

dari 15 detik seperti telah ditentukan pada pasal 4.4.2. mengenai pemakaian jarum/tongkat penggetar untuk lantai kerja.

Setelah adukan beton dipadatkan memakai tongkat penggetar, maka dianjurkan untuk dipadatkan lagi dengan alat pemadat kedua, yang berupa papan penggetar (plate vibrator) yang sekaligus memadatkan dan meratakan.

Di belakang plate vibrator/papan penggetar ini adalah alat, perat yang sekaligus sebagai alat penghalus, yang terdiri dari 2 (dua) buah rol atau paling tidak 1 (satu) rol/screw rolling yang bergerak bolak-balik ke arah melintang untuk mendapatkan permukaan yang halus dan merata.

4.6.3. Penyelesaian Permukaan Bilamana pekerjaan penyelesaian telah selesai sama sekali, maka permukaan slab harus sudah sesuai dengan titik-titik ketinggian bentuk permukaan.

Secara umum penambahan air pada saat pekerjaan penyelesaian (finishing) permukaan slab dilaksanakan, adalah tidak diperbolehkan. Bilamana Ahli mengizinkan penambahan pada pekerjaan penyelesaian, maka harus dilaksanakan penyemprotan serti kabut (fogspray) pada saat beton masih dalam keadaan plastis dengan mempergunakan alat penyemprot yang harus sudah mendapat persetujuan dahulu dari Ahli.

Permukaan slab setelah diselesaikan harus diberi bentuk dengan mempergunakan salah satu metode sebagai berikut : drag finishing belt finishing broom finishing

Pembentukan permukaan slab adalah membuat kasar permukaan yang dilaksanakan sedikit melewati tepi slab, agar alur kekasaran yang didapat akan terjamin mencakup sepanjang lebar slab.

Bentuk serta kekasaran permukaan slab ini harus seperti yang telah ditentukan oleh Ahli pada contoh atau percobaan yang dibuat sebelumnya, dan bilamana tidak ada contoh, maka tingkat kekasaran permukaan supaya diambil medium menurut sand patch test.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 47 / 61

4.6.4. Pengecoran Secara Manual Bilamana tidak ditentukan lain maka pengecoran dengan tangan/tenaga manusia adalah tidak diperkenankan, kecuali dalam keadaan sebagai berikut : Bilamana ada kerusakan mesin, sedangkan adukan beton yang sudah terlanjur dicor belum sempat diselesaikan permukaannya. Bagian-bagian sempit, seperti yang ditentukan oleh Ahli. Slab yang tidak cukup panjang seperti ditentukan oleh Ahli. Bagian daerah slab yang mempunyai bentuk tidak teratur sehingga penggunaan mesin dianggap tidak praktis.

4.6.5. Percobaan di Lapangan Segera setelah komposisi campuran adukan beton untuk slab ditentukan dalam waktu yang cukup sebelum pengecoran yang sesungguhnya dilaksanakan, maka Pemborong harus membuat slab percobaan (test slab) dengan luas paling sedikit 300 m2. Tempat dari slab yang akan dijadikan percobaan ini akan ditentukan oleh Ahli. Maksud untuk mengadakan slab percobaan ini adalah : a. Untuk memeriksa atau mengontrol cara kerja mesin untuk menyiapkan beton (concrete preparation plant). b. Untuk mengadakan pengecoran percobaan di lapangan sesuai dengan rumus yang telah disiapkan. c. Untuk memeriksa atau mengontrol cara kerja yang effisien dari semua peralatan dari mesin untuk menyiapkan beton. Sebelum percobaan dimulai, Pemborong harus mengajukan program percobaan atau pengujian kepada Ahli untuk mendapatkan persetujuannya. Dalam program ini harus menunjukkan terutama parameterparameter yang bisa dipergunakan untuk memperbaiki cara-cara yang telah ditentukan guna mendapatkan hasil yang memuaskan serta persyaratan-persyaratan penting (characteristic specification) dari beton. Semua cara pengontrolan terhadap tata kerja yang diisyaratkan pada pembuatan slab harus dilaksanakan pada test slab ini.

4.6.6. Perawatan dan Perlindungan Permukaan Curing compound harus disemprotkan setelah pekerjaan finishing selesai, serta permukaan beton sudah tidak mengandung air bebas lagi (surface of concrete becomes mat). Cairan selaput perawatan (liquid curing membrane) harus disemprotkan dengan mempergunakan mesin penyemprot yang tekanannya sesuai serta banyaknya harus sesuai dengan buku petunjuk yang dikeluarkan oleh pabrik pembuatnya atau sampai

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 48 / 61

terjadi selaput yang menutupi permukaan beton secara sempurna sehingga penguapan air bisa dicegah sesuai dengan hasil percobaan/pengujian di laboratorium dengan bahan perawat tersebut seperti yang telah ditentukan oleh Ahli.

Alat penyemprot bisa berupa mesin penyemprot yang banyaknya kepala semprotan (spraying nozzles) selebar slab atau sebuah mesin penyemprot yang bisa bergerak sepanjang lebar slab dari satu sisi ke sisi yang lainnya.

Daerah-daerah slab yang mempunyai bentuk tidak teratur, dimana mesin penyemprot tidak bisa bekerja secara efektif, maka dipergunakan alat penyemprot yang dikerjakan dengan tangan (manual), yang sebelumnya telah disetujui oleh Ahli. Bilamana perlu penyemprotan dilaksanakan 2 (dua) kali sehingga terdapat 2 (dua) lapis, agar penyelimutan permukaan beton lebih merata dan sempurna.

Pemborong harus memberikan cairan selaput perawatan lagi bilamana cairan selaput perawatan telah dipasang di permukaan beton slab rusak akibat sesuatu sebab, misalnya hujan.

Selain itu permukaan beton slab harus segera diberi penutup/atap berjalan di atas rel (rolling shelter) selama minimum 6 jam setelah melampaui waktu initial setting, untuk menghindari kerusakan yang bisa timbul akibat hujan dan terik matahari. Selanjutnya permukaan beton slab baru, harus dirawat dengan karung goni yang dibasahi (wet burplaps), selama minimum 14 (empat belas) hari berturut-turut. Juga dalam hal perlindungan permukaan slab tidak diperbolehkan sebagai tempat penimbunan bahanbahan atau sebagai jalan untuk mengangkut bahan-bahan berat, kecuali sudah ada izin dari Ahli.

4.6.7. Sambungan Pengecoran (Construction Joint) 1. Umum

Pada pembangunan jalan, runway, taxiway dan apron tidak dipergunakan dummy-joint lagi, sehingga yang ada hanya “construction joint” (sambungan pengecoran) saja, baik sambungan pengecoran antara konstruksi perkerasan Cakar Ayam yang baru dengan yang baru, maupun yang baru dengan yang lama, baik sambungan pengecoran ke arah melintang maupun memanjang.

2.

Sistem Pengecoran

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 49 / 61

Apabila tersedia cukup waktu maka pengecoran dapat dilaksanakan sebagai berikut : Pengecoran tahap I

Untuk menghindari atau mengurangi timbulnya retak-retak penyusutan pada proses pengeringan dan pengerasan, maka sistem pengecoran perlu dibuat meloncat-loncat dalam arti kata setiap pengecoran memanjang sejauh 20 – 100 m (kira-kira satu hari pengecoran) berhenti dan kemudian pengecoran berikutnya atau pengecoran ke-2 dimulai meloncat pada jarak antara 7,5 – 10 m di depan pengecoran pertama sampai mencapai panjang 50 – 100 m, kemudian meloncat lagi antara 7,5 – 10 m, demikian selanjutnya sampai mencapai ujung konstruksi perkerasan yang direncanakan.

Demikian pula pengecoran ke arah melebar juga dibuat meloncat-loncat selebar jalur untuk menghindari timbulnya retak-retak ikutan (symphatic cracks), maka daerah-daerah loncatan sejauh 7,5 – 10 m ini ke arah melebar perlu dibuat menerus sehingga membentuk jalur ke arah melintang selebar jalur landasan. Sambungan dengan konstruksi perkerasan Cakar Ayam yang telah ada (yang lama) juga harus dibuat meloncat sepanjang 7,5 – 10 m atau lebih sedikit, dalam arti kata pengecoran baru dimulai 7,5 – 10 m di depan konstruksi perkerasan yang lama.

Daerah-daerah yang belum dicor ini akan dicor kemudian bilamana slab-slab di kanan dan kirinya atau di belakang dan di depannya yang akan disambung telah mencapai umur paling sedikit satu bulan dengan maksud untuk memberi kesempatan agar slab yang dicor itu telah selesai atau hampir selesai mengalami penyusutan.

3.

Rencana pengecoran dan penyiapan papan-papan cetakan atau pembatas

Paling tidak 7 hari sebelum pengecoran Pemborong harus sudah menyampaikan rencana pengecoran berikut gambar sketsa mengenai letak bagian-bagian yang akan dicor beserta urut-urutan pengecorannya. Bila rencana pengecoran ini telah disetujui Ahli, maka Pemborong bisa mulai menyiapkan tempat yang akan dicor sesuai urut-urutannya yang meliputi : a. b. c. Kesiapan lantai kerja atau lean concrete. Pembesian sesuai dengan gambar kerja. Papan-papan cetakan yang merupakan pembatas daerah pengecoran, dimana papan-papan cetakan ini harus dipasang tegak dan lurus dalam arti kata tidak berbelok-belok serta kokoh, sehingga tidak mudah berubah tempat, miring atau melengkung bila pengecoran telah dimulai atau terinjak manusia.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 50 / 61

4.

Pengecoran tahap ke-II

Yang dimaksud dengan pengecoran tahap ke-II disini adalah pengecoran bagian-bagian yang belum dicor akibat diloncati atau dapat dikatakan pengecoran sambungan antara dua slab yang telah dicor terlebih dahulu pada pengecoran tahap ke-I.

Seperti telah diterangkan di atas bahwa pengecoran sambungan-sambungan ini baru bisa dimulai bilamana slab-slab yang akan disambung telah berumur lebih dari satu bulan (lebih lama lebih baik). Sebelum pengecoran tahap ke-II ini dimulai, maka tempat-tempat yang akan dicor harus telah diperiksa terlebih dahulu atas kesiapannya, terutama mengenai : a. b. Lantai kerja atau lean concrete Permukaan sisi tegak dari ujung slab pengecoran tahap ke-I yang akan disambung. Permukaan sisi tegak ini harus merupakan bidang tegak yang rapi dan lurus. Bila ada sisa-sisa pengecoran tahap ke-I harus dibongkar (dibeitel) sehingga merupakan bidang tegak rapi. c. Kebersihan tempat yang akan dicor. Tempat ini harus bebas atau bersih dari sisasisa pembongkaran atau puing-puing beton, barang-barang yang tidak dikehendaki serta kotoran-kotoran lainnya. d. Pembesian harus sudah sesuai dengan gambar desain, terpasang kokoh dengan ganjal-ganjal (spacer) yang kuat dan memenuhi syarat sesuai dengan yang tercantum dalam buku spesifikasi ini sehingga tidak mudah melengkung bila terinjak orang dan tidak mudah tergeser pada waktu proses pengecoran.

Kira-kira setengah jam kemudian pengecoran dimulai, lantai kerja harus dibasahi dengan air, dengan cara disemprotkan merata secukupnya.

Kemudian dibiarkan/dieramkan agar siraman air tersebut meresap ke dalam lantai kerja sehingga lapisan atas lantai kerja dalam keadaan jenuh air, tetapi tidak sampai ada yang menggenang (keadaan s.s.d. atau saturated surface dry). Bila semuanya sudah siap maka pengecoran bisa dimulai dengan mengikuti prosedur pengecoran seperti yang tercantum dalam buku spesifikasi ini.

5.

Pengecoran sambungan konstruksi perkerasan lama yang telah ada.

Ciri khusus pada konstruksi Cakar Ayam adalah tulangannya bersifat menerus (continuously reinforced), sehingga pada bagian-bagian pengecoran sambungan tulangannya juga harus bersifat menerus. Setidak-tidaknya ujung slab yang dicor pada

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 51 / 61

tahap I harus sudah tersedia tulangan-tulangan stek (waiting bar) dengan panjang minimum 30 cm. Sedangkan pada ujung perkerasan yang lama ini tidak tersedia stek-stek besi itu, oleh karena itu untuk mendapatkan stek besi dengan panjang minimum 30 cm bagian ujung perkerasan lama ini harus dibongkar/dibobok selebar 35 – 40 cm sepanjang ujung landasan pacu yang akan disambung. Seperti persyaratan tentang bidang sambungan di atas disini pun permukaan tegak ujung perkerasan yang akan diberi pengecoran sambungan ini harus tegak rapih dan lurus. Untuk mendapatkan ini, sebelumnya bagian ujung perkerasan selebar 35 -40 cm dan sepanjang lebar perkerasan harus digergaji dengan mesin concrete cutter sedalam ± 3 cm sampai batas atas tulangan sebelah atas memotong tulangan atas, celah batas gergajiaan ini merupakan batas pembengkokan sehingga akan didapat sambungan pengecoran yang luruh rapih.

Pekerjaan pembongkaran atau pembobokan ini harus dikerjakan dengan hati-hati, sedikit demi sedikit agar tidak ada besi tulangan atau besi stek yang putus.

Bila pekerjaan pembongkaran ini telah selesai dengan baik sehingga di dapat bidang sambungan yang tegak rapih dan lurus maka puing-puing sisa bongkaran harus segera dibersihkan. Adapun pekerjaan selanjutnya adalah sama seperti diuraikan dalam point 4 di atas.

4.6.8. Pengecoran Slab pada Udara Panas Penimbangan material beton, pengadukan dan pengangkutan/penyerahan adukan beton dalam udara panas harus mengikuti ACI 305 (American Concrete Institute). Temperatur adukan beton untuk slab yang terlalu tinggi (> 350C) akan mengurangi mutu beton (strength) maupun keawetannya (durability) serta temperatur yang tinggi juga cenderung memerlukan air yang lebih banyak untuk mencapai workability, sehingga dikawatirkan susut beton akan menjadi lebih besar dan berakibat mudah terjadi Plastic Shrinkage Cracks.

Cara-cara untuk mendinginkan beton bisa dilakukan menurut salah satu atau gabungan dari metode sebagai berikut : Melindungi atau memberi atap pada agregat yang akan dipergunakan. Menyemprotkan agregat kasar dengan air (water sprinkled).

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 52 / 61

-

Menggunakan air dingin/air es (chilled water) untuk pengadukan, dalam hal tidak tersedianya water chiling plant, dapat pula digunakan balok-balok es di dalam air adukan.

-

Bilamana akan dipergunakan balok-balok es di dalam air adukan, maka tidak boleh ada bongkahan es yang tertinggal dalam adukan, atau diberikan balok es langsung pada adukan setelah pengadukan selesai.

-

Melaksanakan pengecoran pada malam hari atas izin dari Ahli. Atau dengan cara lain yang telah disetujui oleh Ahli.

Bagaimanapun pengecoran beton harus dihentikan bilamana satu keadaan atau kondisi seperti di bawah ini terjadi : Temperatur adukan beton di atas 350C. Temperatur semen di atas 700C. Penguapan air yang diukur menurut ACI 305 di atas angka 1 kg/m2 per jam. Lamanya waktu antara pengadukan dan perawatan (curing) melebihi angka atau harga seperti daftar berikut : Waktu (dalam menit) 90 Temperatur dari adukan yang baru Kurang dari 250C 250C – 300C 300C – 350C

60

45

4.6.9. Pembukaan Cetakan (Bekisting) Kalau tidak ada spesifikasi lain, maka cetakan harus tidak boleh dibuka dari beton baru dicor sampai final setting time atau dihitung 10 jam, kecuali dimana form khusus dipakai sementara di daerah percobaan. Bekisting harus dibuka secara hati-hati untuk menghindari kerusakan pada perkerasan slab. Setelah bekisting dibuka, samping slab harus dicuring juga seperti diuraikan pada pasal 4.6.6.

Area “sarang tawon” (keropos-keropos, honey comb) setelah bekisting dibuka, bila dianggap perlu oleh Ahli sebagai pekerjaan salah (defektive work), maka harus dibongkar dan diganti dengan adukan yang baru. Ahli akan menentukan area/bagian yang ternyata harus dibongkar, serta setelah ada petunjuk pembongkaran dari Ahli maka Pemborong

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 53 / 61

harus segera melaksanakan dan segera mengecor kembali bagian yang dibongkar tersebut.

4.6.10. Perlindungan terhadap Perkerasan Pemborong harus menjaga perkerasan/slab dan bagian perkerasan terhadap lalu lintas umum dan lalu lintas yang disebabkan oleh personil dan alat dari Pemborong sendiri.

Hal ini meliputi penjagaan untuk mengarahkan lalu lintas dan pembuatan, mendirikan dan pemeliharaan dari tanda peringatan (warning sign), lampu-lampu, jembatan perkerasan atau crossover dan lain-lain.

Tiap kerusakan pada perkerasan/slab yang sebelum diterima baik (final acceptance/hand over) harus diperbaiki atau slab diganti atas biaya Pemborong sendiri.

4.6.11. Pembukaan untuk Lalu Lintas Pembukaan perkerasan/slab untuk lalu lintas umum harus ditentukan terlebih dahulu oleh Ahli. Slab harus tidak dibuka untuk lalu lintas umum paling kurang 28 hari setelah beton dicor. Bila kekuatan beton slab tersebut telah mencapai kekuatan tekan minimum 350 kg/cm2, maka jalan/daerah tersebut bisa dibuka untuk lalu lintas umum.

Sebelum dibuka untuk lalu lintas umum, maka daerah/jalur tersebut harus dibersihkan lebih dahulu dari kotoran-kotoran yang menempel (tanah, tumpahan-tumpahan beton, dsb) kotoran-kotoran lepas dan debu.

Bilamana beton belum mencapai umur/kekuatan tersebut di atas, kendaraan proyek yang berhubung dengan tugasnya harus melewati slab tersebut, maka terlebih dahulu harus ada izin khusus atau pengaturan khusus dari Ahli.

5.

PENGENDALIAN MUTU (QUALITY CONTROL)

5.1. Pengendalian Mutu saat Pengecoran Beton a. Untuk menguji kekuatan tekan beton (compressive strength) harus mengikuti ASTM C-39. Pada saat awal-awal pengecoran beton Pemborong harus mengambil minimum sebanyak 20 (dua puluh) buah benda uji silinder ukuran diameter 6” (152 mm) dan tinggi 12” (305 mm) yang masing-masing ditest pada umur 7 hari dan 28 hari serta kemudian dikonversikan menjadi kekuatan tekan kubus beton ukuran 15x15x15 dengan faktor 0,83. Pemborong bisa juga langsung mempergunakan

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 54 / 61

benda uji kubus ukuran 15x15x15 cm untuk pengetesan mutu/kuat tekan beton sesuai dengan PBI 1971. b. Khusus pada pekerjaan slab, selain compressive strength Pemborong juga harus melakukan pengetesan terhadap tegangan tarik momen/lekuk (flexural strength) sesuai dengan ASTM C-78 (using sample beam with third point loading), dengan benda uji balok ukuran : - Penampang : 6” x 6 “ (152 x 152 mm)

- Panjang paling tidak : 3 x 6” + 2” = 20” (3 x 152 mm + 51 mm = 507 mm) c. Pada pengetesan/pengujian tersebut di atas kemungkinan benda ujinya yang mempunyai kekuatan kurang dari kekuatan yang disyaratkan tidak boleh lebih dari 50 (menurut lengkung dari distribusi Normal Gauss). d. Dari hasil pengetesan benda uji tersebut di atas, maka harus dipakai sebagai dasar untuk mempertimbangkan apakah perlu diadakan perubahan dalam campuran beton (mix design), cara pelaksanaan atau dalam nilai standar deviasi yang direncanakan. e. Benda-benda uji tersebut harus dibuat/disiapkan menurut cara standar tentang pembuatan dan perawatan benda uji di laboratorium seperti tercantum dalam ASTM C-192. f. Pengambilan benda uji dari adukan yang akan dicor di tempat pekerjaan harus disaksikan oleh Ahli atau wakil yang ditunjuknya. g. Setiap pengecoran 100 m3 adukan harus diambil benda uji silinder/kubus secara uji petik (random sampling) untuk setiap minimum 3 kali pengujian dan setidak-tidaknya setiap 1 (satu) hari sekali yang cukup mewakili (representative) untuk pengecoran hari itu, juga sebanyak untuk minimum 3 (tiga) kali pengujian. Untuk benda uji balok khusus pada pengecoran slab diambil setiap 1 (satu) hari sekali secara uji petik untuk sebanyak 2 (dua) kali pengujian. h. Pengetesan/pengujian dilaksanakan setelah benda uji mencapai umur tertentu dan setiap pengujian harus terdiri dari 3 (tiga) buah benda uji. Jadi setiap rangkaian pengujian @ 3 benda uji. i. Hasil pengujian harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
Umur Pengujian (hari) 7 14 28 55 70 90 Kekuatan tekan kubus beton ukuran 15 x 15 x 15 cm, min (kg / cm2) Lantai Kerja Pipa CA *) 150 200 225 Slab 230 300 350 Kekuatan tarik momen flexural strength minimum (kg / cm ) 35 50
2

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 55 / 61

*) Persyaratan ini tidak dipakai dalam hal pipa Cakar Ayam menggunakan material baja

j.

Bilamana pengujian umur 28 hari telah dianggap memuaskan menurut pendapat Ahli, maka pengujian pada umur 90 hari boleh ditiadakan. Dalam hal ini umur yang tidak memenuhi persyaratan di atas maka, Ahli bisa memberitahukan untuk : 1. Menghentikan untuk sementara pengecoran beton, baik lantai kerja, pipa Cakar Ayam, maupun slab, bilamana hasil uji untuk umur 7 hari selama 2 hari pengecoran atau 2 periode pengecoran berturut-turut tidak memenuhi syarat dan atas sepengetahuan Ahli harus mengadakan penelitian lebih lanjut dari mulai material sampai adukan jadi. 2. Menangguhkan penanaman pipa-pipa Cakar Ayam bilamana ternyata setelah umur 28 hari kekuatan betonnya tidak memenuhi persyaratan. 3. Mengadakan pengujian tambahan langsung khusus pada pipa-pipa Cakar Ayam maupun slab yang telah dicor untuk mengetahui kekuatan betonnya, dengan caracara yang tidak menimbulkan kerusakan-kerusakan, misalnya dengan hammer test (Smith’s hammer) pada waktu beton berumur antara 28 hari dan 90 hari.

Bilamana perintah dari Ahli tersebut di atas tidak dipenuhi, maka : 1. Untuk pipa-pipa Cakar Ayam apabila pengujian pada umur 90 hari hasilnya masih di bawah persyaratan di atas maka pipa-pipa tersebut harus ditolak dan kemudian dihancurkan. 2. Untuk slab, apabila hammer test diragukan masih tidak memenuhi syarat, maka harus dilakukan core drill sesuai dengan yang ditentukan oleh Ahli pada lokasi slab yang tidak memenuhi syarat. Dalam hal pengujian kuat tekan dari hasil core drill ternyata masih kurang memenuhi syarat, maka Ahli akan dapat memutuskan lebih lanjut dengan melihat besarnya hasil-hasil pengujian yang telah dilakukan apakah bagian beton slab yang tidak memenuhi syarat tersebut harus dibongkar dan dibuat baru yang memenuhi persyaratan atau tidak dibayar.

Laporan hasil pengujian di laboratorium harus dengan jelas memuat : a. Keadaan cuaca pada waktu pengecoran diambil contoh-contohnya. b. Tanggal dan jam pengambilan contoh. c. Letak/tempat dari pengambilan contoh. d. Mutu dari adukannya, seperti, slump, temperatur adukan, bulk specific gravity, dsb.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 56 / 61

5.2. Pengamatan Mutu Khusus setelah Slab Selesai Dicor 5.2.1. Core Drill Khusus pada slab beton yang sudah selesai dikerjakan, harus diadakan pengamatan mutu terhadap beton slab dan terhadap tebal dari slab tersebut.

Untuk ini Pemborong diwajibkan untuk melaksanakan core drill dengan ukuran minimum 4“ (± 10 cm) dan dengan kedalaman setebal slab menurut gambar rencana serta diwajibkan untuk membuat laporan.

Jumlah dan ulangan core drill harus dilaksanakan sebagai berikut : a. Pada slab percobaan (slab test) yang seluas ± 300 m2 harus diadakan 15 buah core drill. b. Pada slab sesungguhnya dengan luas 1000 m2 hasil pengecoran pertama harus diadakan 20 core drill. c. Bila pengujian pada butir b di atas telah menunjukkan hasil yang baik, maka pada sisa slab yang akan dicor selanjutnya cukup diadakan 1 (satu) core drill pada luas 2500 m2 untuk pengecoran slab yang dilaksanakan secara mekanis (concrete train), sedangkan bagian-bagian slab yang dilaksanakan secara manual diadakan 1 (satu) core drill untuk setiap 500 m2.

Dalam hal hasil core drill di atas menunjukkan hal-hal yang perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh atau diragukan, maka bila dipandang perlu Ahli dapat memerintahkan kepada Pemborong untuk mengadakan tambahan beberapa core drill lagi atas biaya Pemborong guna mengambil suatu keputusan.

Tempat-tempat yang akan dilakukan core drill akan ditentukan secara acak/uji petik (random) oleh Ahli dengan disaksikan oleh pihak Pemborong.

5.2.2. Tindakan Penanganan dan Denda a. Bila hasil core drill menunjukkan bahwa mutu beton tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dalam spesifikasi maka Pemborong diharuskan untuk memperbaikinya, sehingga memenuhi persyaratan dan bisa diterima oleh Ahli. b. Bila hasil core drill menunjukkan bahwa tebal slab beton tidak memenuhi persyaratan ukuran yang tercantum dalam gambar rencana maka harus diadakan core drill tambahan untuk menentukan tebal slab, rata-rata sebanyak 3 (tiga) core drill dalam 1

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 57 / 61

(satu) slab yang lokasinya ditentukan oleh Ahli, dan Pemborong dikenakan tindakan tercantum dalam daftar berikut :

No. 1.

Kekurangan Tebal Slab Tebal slab kurang sampai 5% dari tebal rencana

Tindakan / Denda Masih bisa diterima dengan syarat tebal rata-rata seluruh slab sama atau lebih besar dari tebal rencana.

2.

Tebal slab kurang antara 5-7% dari tebal rencana

Masih

bisa

diterima

dengan

syarat

Pemborong dikenakan denda 33% dari harga slab di daerah tersebut yang dibatasi oleh dummy joint.

3.

Kekurangan tebal slab lebih dari 7,5% dari tebal rencana

Slab

yang

bersangkutan

tidak

bisa

diterima, sehingga harus dibongkar dan dicor kembali.

5.2.3. Retak-retak yang Terjadi Retak-retak yang terjadi setelah beton mengeras adalah menjadi tanggung jawab Pemborong. Adapun kriteria perbaikan retak adalah sebagai berikut : a. Retak halus < 0,75 mm (fine crack)

Jenis retak ini tidak memerlukan perbaikan apapun, kecuali apabila retal berjarak kurang dari 1 meter terhadap retak lain, dan atau retak tersebut membentuk pulau (delta) retak di tengah maupun terhadap dummy joint, maka retak ini harus diisi dengan injeksi Epoxy resin. b. 0,75 mm < Retak Sedang < 1,5 mm (Medium Cracks)

Jenis retak ini perlu perbaikan, yaitu apabila retak tersebut lebih dari 1 meter terhadap retak lainnya dan atau terhadap dummy joint, maka perbaikan cukup dilakukan dengan cara sealing. Dalam hal retak tersebut berjarak kurang dari 1 meter terhadap dummy joint, maka retak harus diisi dengan cara injeksi Epoxy Resin, dan apabila menurut hasil core drill atau penyelidikan lainnya ternyata retak diakibatkan oleh keroposnya slab, maka perbaikannya dilakukan dengan cara grouting.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 58 / 61

c.

Retak Lebar > 1,5 mm (Wide Cracks)

Jenis retak ini harus diperbaiki, yaitu dengan injeksi Epoxy Resin, dan apabila menurut penelitian retak diakibatkan oleh keroposnya slab, maka perbaikannya dilakukan dengan cara grouting. Dalam hal ini ternyata retak diakibatkan oleh mutu beton yang kurang baik (compressive strengt < 300 kg/m2), slab harus dibongkar dan dicor kembali atas biaya Pemborong dengan mutu beton dan pembesian sesuai dengan rencana (resurfacing).

Untuk perbaikan-perbaikan retak/keropos seperti di atas, sebelum dilakukan oleh Pemborong, maka terlebih dahulu harus ada persetujuan dari Ahli, baik cara pelaksanaan maupun bahan yang akan dipergunakan.

5.3. Toleransi 5.3.1. Toleransi dari Penempatan Besi Tulangan Batas toleransi kesalahan penempatan tulangan adalah sebagai berikut : a. Kesalahan tebal maksimum atas dan selimut beton (beton dekking) bagian atas untuk tulangan atas dan selimut beton bagian bawah untuk tulangan bawah, adalah 1/4 (seperempat) dari tebal selimut beton yang tercantum dalam gambar rencana. Untuk mengatasi kesalahan yang terlalu besar, maka diisyaratkan kepada Pemborong untuk mempergunakan kaki ayam dari besi tulangan dengan minimum diameter 8 mm. Kaki ayam ini dipasang di antara tulangan atas dan tulangan bawah daripada pembesian slab dalam jumlah yang cukup sehingga kedudukan tulangan atas dan tulangan bawah sesuai dengan gambar rencana. b. Kesalahan tebal maksimun dari selimut beton yang di samping pada dinding vertikalnya yang ada cetakkannya adalah 1/5 (seperlima) dari selimut beton yang ditentukan dalam gambar rencana.

5.3.2. Toleransi dari Penanaman Pipa-pipa Cakar Ayam Pipa-pipa Cakar Ayam harus ditanam secara vertikal pada tempat-tempat yang telah ditentukan sesuai gambar rencana. Bilamana penempatan pipa tidak sungguh-sungguh vertikal melainkan agak miring, maka kemiringan ini tidak boleh melampaui 1 : 20 sedangkan penggeseran ke samping (eksentrisitas) penempatan pipa terhadap titik yang benar sesuai dengan yang telah ditentukan dalam gambar rencana, tidak boleh lebih dari 10 cm. Di samping itu dalam segala hal, tanah di luar pipa harus dalam keadaan betulbetul padat (full contact/direct contact) dengan pipa Cakar Ayam.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 59 / 61

Dengan demikian bila dalam penanaman pipa terjadi kelonggaran antara pipa dengan tanah di luarnya, maka harus diadakan pengurugan dan pemadatan dengan cara merojok sambil diberi pasir urug serta dibantu air secukupnya sekeliling pipa di bagian dalam dan luar pipa, sehingga pasir urug tersebut betul-betul padat (full contact/direct contact) terhadap pipa Cakar Ayam.

5.3.3. Toleransi Kerataan Masing-masing Permukaan Masing-masing permukaan lapisan perkerasan yang telah diratakan dan diadakan pekerjaan penyelesaian (finishing) harus memenuhi persyaratan toleransi kerataan seperti tercantum dalam tabel sebagai berikut :

Toleransi Levelling
Jenis Konstruksi Tanah urug Jarak Pengukuran Memanjang 50 Melintang 25 Toleransi -0,02 s/d +0,02 m Tindakan bila tidak memenuhi - ditolak - dipadatkan dan diukur kembali Pasir urug 25 50 -0,02 s/d +0,02 m - ditolak - dipadatkan dan diukur kembali Lean Concrete 5 5 -0,01 s/d +0,01 m - ditolak - ditambal/dikupas dan diukur kembali Slab 3 3 -0,0075 s/d +0,01 m - ditolak - diperhitungkan terhadap biaya (lihat pasal 5.2.2. bab ini)

Toleransi Kerataan Permukaan Slab Terhadap Garis Lurus
Macam Pengujian Ulangan (Frekuens) pada
Permukaan beton baru Pada tiap-tiap Ketidakrataan maximum 3 mm bila dipergunakan penggaris lurus 3 meter Garis lurus Adakan perataan (finishing) ulang sampai ketidakrataan hilang atau masuk dalam batas toleransi.

Persyaratan untuk bisa diterima

Toleransi terhadap

Langkah yang harus diambil dan Denda

lajur lebar 10 m

sehabis dicor

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 60 / 61

Permukaan beton setelah

Pada

tiap-tiap

Ketidakrataan maximum 6 mm bila dipergunakan penggaris lurus 3 meter

Garis lurus

Bila

lebih

dari

6

mm,

lajur lebar 10 m

Pemborong dikenai denda 10% dari harga beton slab sepanjang 10 m atau slab harus diperbaiki sesuai

beton mengeras

dengan petunjuk Ahli. Permukaan beton setelah Pada tiap-tiap Ketidakrataan pada sambungan antara 2 slab maximum 5 mm bila dipergunakan penggaris lurus 1 meter Garis lurus Harus digerenda sehingga masuk toleransi. dalam batas

lajur lebar 10 m

beton mengeras

6.

METODE PENGUKURAN HASIL KERJA

Jumlah hasil kerja dari item pekerjaan yang akan dihitung dalam pembayaran dinyatakan kuantitas sesuai pasal 7. dari spesifikasi ini dan telah disetujui oleh Ahli dan Direksi Pekerjaan.

7.

DASAR PEMBAYARAN

Jumlah yang didapat dari pengukuran hasil kerja seperti tersebut di atas, dibayar berdasarkan harga satuan menurut mata pembiayaan yang tercantum di dalam Bill of Quantity.

Mata pembiayaan dan uraian untuk harga satuan pekerjaan-pekerjaan sistem Cakar Ayam.

8.

PENYIMPANGAN DAN HAL-HAL LAIN

8.1. Penyimpangan a. Kecuali ditentukan lain oleh Ahli, Pemborong dalam melaksanakan pekerjaannya harus mengikuti spesifikasi ini. b. Penyimpangan-penyimpangan dari spesifikasi ini hanya boleh dilaksanakan setelah mendapat persetujuan dari Ahli.

8.2. Hal-hal Lain Bila ada hal-hal lain yang menyangkut langsung pelaksanaan pekerjaan ini dan yang belum termasuk dalam spesifikasi ini, maka hanya boleh dilaksanakan setelah mendapat persetujuan Ahli.

www.budhicivileng.blogspot.com

Page 61 / 61

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->