P. 1
Puskesmas

Puskesmas

|Views: 15,028|Likes:
Untuk download word file ini: http://www.ziddu.com/download/14443660/37664660-Puskesmas.doc.html
Untuk download word file ini: http://www.ziddu.com/download/14443660/37664660-Puskesmas.doc.html

More info:

Published by: Hadi Sumitro Jioe, MD on Sep 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/22/2015

pdf

PUSKESMAS

Oleh: (silahkan isi nama anda) (silahkan isi NRP anda)

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG (SILAHKAN UBAH SESUAI TAHUN ANDA)

BAB I PENDAHULUAN
Puskesmas adalah unit organisasi pelayanan kesehatan terdepan yang mempunyai misi sebagi pusat pengembangan pelayanan kesehatan, yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat yang tinggal di suatu wilayah kerja tertentu. Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama mempunyai tiga fungsi yaitu sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, memberdayakan masyarakat dan keluarga, dan memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan yang bersifat mutlak perlu, yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat serta mempunyai nilai strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Upaya pelayanan kesehatan tingkat pertama yang diselenggarakan Puskesmas bersifat holistik, komprehensif, terpadu dan berkesinambungan. Untuk mencapai cakupan pelayanan kesehatan yang luas dan merata, secara organisatoris Puskesmas ditunjang oleh Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, Posyandu dan Bidan di Desa. Berdasarkan “ Buku Pedoman Kerja Puskesmas “ yang terbaru ada 18 usaha pokok kesehatan yang dapat dilakukan oleh Puskesmas, itupun sangat tergantung kepada faktor tenaga, sarana dan prasarana serta biaya yang tersedia berikut kemampuan managemen dari tiap-tiap Puskesmas. Semua kegiatan program pokok yang dilaksanakan di Puskesmas dikembangkan berdasarkan program pokok pelayanan kesehatan dasar ( basic health care services ) seperti yang dianjurkan oleh badan kesehatan dunia ( WHO ) yang dikenal dengan ” Basic Seven ” WHO.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 SEJARAH PERKEMBANGAN Di Indonesia Puskesmas merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan tingkat pertama. Konsep Puskesmas dilahirkan tahun 1968 ketika dilangsungkan Rapat Kerja Kesehatan Nasional ( Rakerkesnas ) I di Jakarta. Waktu itu dibicarakan upaya mengorganisasi sistem pelayanan kesehatan di tanah air, karena pelayanan kesehatan tingkat pertama pada waktu itu dirasakan kurang menguntungkan dan dari kegiatankegiatan seperti BKIA, BP, P4M dan sebagainya masih berjalan sendiri-sendiri dan tidak saling berhubungan. Melalui Rakerkesnas tersebut timbul gagasan untuk menyatukan semua pelayanan tingkat pertama ke dalam suatu organisasi yang dipercaya dan diberi nama Pusat Kesehatan Masyarakat ( Puskesmas ). Dan Puskesmas pada waktu itu dibedakan dalam 4 macam yaitu: 1. Puskesmas tingkat desa 2. Puskesmas tingkat kecamatan 3. Puskesmas tingkat kewedanan 4. Puskesmas tingkat kabupaten Pada Rakerkesnas ke II tahun 1969, pembagian Puskesmas dibagi menjadi 3 kategori: 1. Puskesmas tipe A, dipimpin oleh dokter penuh 2. Puskesmas tipe B, dipimpin oleh dokter tidak penuh 3. Puskesmas tipe C, dipimpin oleh tenaga paramedik Pada tahun 1970 ketika dilangsungkan Rakerkesnas dirasakan pembagian Puskesmas berdasarkan kategori tenaga ini kurang sesuai, karena untuk Puskesmas tipe B dan C tidak dipimpin oleh dokter penuh atau sama sekali tidak ada tenaga dokternya, sehingga dirasakan sulit untuk mengembangkannya. Sehingga mulai tahun 1970 ditetapkan hanya satu macam Puskesmas dengan wilayah kerja tingkat

Kecamatan atau pada suatu daerah dengan jumlah penduduk antara 30.000 sampai 50.000 jiwa. Konsep berdasarkan wilayah kerja ini tetap dipertahankan sampai dengan akhir Pelita II pada tahun 1979 yang lalu, dan ini yang lebih dikenal dengan Konsep Wilayah. Sesuai dengan perkembangan dan kemampuan pemerintah dan dikeluarkannya Inpres Kesehatan Nomor.5 tahun 1974, Nomor.7 tahun 1975 dan Nomor.4 tahun 1976, dan berhasil mendirikan serta menempatkan tenaga dokter di semua wilayah tingkat Kecamatan di seluruh pelosok tanah air, maka sejak Repelita III konsep wilayah diperkecil yang mencakup suatu wilayah dengan penduduk sekitar 30.000 jiwa. Dan sejak tahun 1979 mulai dirintis pembangunan Puskesmas di daerah-daerah tingkat Kelurahan atau Desa yang memiliki jumlah penduduk sekitar 30.000 jiwa. Dan untuk mengkoordinasi kegiatan-kegiatan yang berada di suatu Kecamatan, maka salah satu Puskesmas tersebut ditunjuk sebagai penanggung jawab dan disebut dengan nama Puskesmas tingkat Kecamatan atau yang disebut juga Puskesmas Pembina. Dan Puskesmas-Puskesmas yang ada di tingkat Kelurahan atau Desa disebut Puskesmas Kelurahan atau yang lebih dikenal sebagai Puskesmas Pembantu. Dan sejak itu Puskesmas dibagi dalam 2 kategori seperti apa yang kita kenal sekarang, yaitu: 1. Puskesmas Kecamatan ( Puskesmas Pembina ) 2. Puskesmas Kelurahan/ Desa ( Puskesmas Pembantu )

2.2 PENGERTIAN PUSKESMAS Pengertian Puskesmas yang akan diketengahkan di sini menunjukkan adanya perubahan yang disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan pelayanan kesehatan dewasa ini, diantaranya adalah:  S.K.N ( 1969 ) Puskesmas ialah suatu kesatuan organisasi fungsional yang langsung memberikan pelayanan secara menyeluruh kepada masyarakat dalam suatu wilayah kerja tertentu dalam bentuk usaha kesehatan pokok.  dr. Azrul Azwar, MPH ( 1980 )

Pusat Kesehatan Masyarakat ( Puskesmas ) adalah suatu kesatuan organisasi fungsional yang langsung memberikan pelayanan secara menyeluruh kepada masyarakat dalam suatu wilayah kerja tertentu dalam bentuk usaha-usaha kesehatan pokok.  Departemen Kesehatan RI ( 1981 )

Pusat Kesehatan Masyarakat ( Puskesmas ) adalah suatu kesatuan organisasi Kesehatan yang langsung memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terintegrasi kepada masyarakat di wilayah kerja tertentu dalam usaha-usaha kesehatan pokok.  Awal PELITA IV ( Tahun 1984 ) :

Pukesmas ialah suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping memberikan pelayanan secara menyeruluh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok  Departemen Kesehatan RI ( 1987 )

1. Puskesmas adalah sebagai pusat pembangunan kesehatan yang berfungsi mengembangkan dan membina kesehatan masyarakat serta menyelenggarakan pelayanan kesehatan terdepan dan terdekat dengan masyarakat dalam bentuk kegiatan pokok yang menyeluruh dan terpadu di wilayah kerjanya.

2. Puskesmas adalah suatu unit organisasi fungsional yang secara profesional melakukan melakukan upaya pelayanan kesehatan pokok yang menggunakan peran serta masyarakat secara aktif untuk dapat memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya. Ada beberapa pendapat lain mengenai pengertian Puskesmas. Menurut Dr. A.A. Gde Muninjaya, MPH, Puskesmas adalah unit organisasi pelayanan kesehatan terdepan yang mempunyai misi sebagi pusat pengembangan pelayanan kesehatan, yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat yang tinggal di suatu wilayah kerja tertentu. 2.3 FUNGSI PUSKESMAS Sesuai dengan Sistem Kesehatan Nasional, Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama mempunyai tiga fungsi sebagai berikut: a. Memiliki menggerakkan Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan makna (motivator, bahwa Puskesmas dan harus turut mampu serta membantu memantau fasilitator)

pembangunan yang diselenggarakan di tingkat kecamatan agar dalam pelaksanaannya mengacu, berorientasi serta dilandasi oleh kesehatan sebagai faktor pertimbangan utama. Diharapkan setiap pembangunan yang dilaksanakan seyogyanya yang mendatangkan dampak positif terhadap kesehatan. Keberhasilan dapat diukur dari Indeks Potensi Tatanan Sehat ( IPTS ) Indikatornya adalah: • berpotensi sehat • berpotensi sehat • dinyatakan berpotensi sehat Berapa tempat-tempat umum yang Berapa % tempat kerja yang dinyatakan Berapa % sekolah yang dinyatakan

Indikator Potensi Tatanan Sehat untuk ’ sekolah’: • • • • Tersedianya air bersih Tersedianya jamban yang saniter Adanya larangan merokok Adanya dokter kecil untuk SD atau Palang

Merah Remaja ( PMR ) untuk SLTP B. Memberdayakan masyarakat dan keluarga Pemberdayaan masyarakat adalah segala upaya fasilitas yang bersifat non instruktif guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah, merencanakan dan melakukan pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat dan fasilitas yang ada, baik dari instansi lintas sektoral maupun LSM ( Lembaga Swadaya Masyarakat ) dan tokoh masyarakat. Pemberdayaan keluarga adalah segala upaya fasilitas yang bersifat non instruktif guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan keluarga agar mampu mengidentifikasi masalah, merencanakan dan mengambil keputusan untuk melakukan pemecahannya dengan benar tanpa atau dengan bantuan pihak lain. Indikator fungsi pemberdayaan masyarakat, yaitu: • Kesehatan Berbasis Masyarakat ) • bidang kesehatan. • Puskesmas ) Tumbuh dan berfungsinya BPKM ( Badan Peduli Kesehatan Masyarakat ) atau BPP ( Badan Penyantun Tumbuh dan berkembangnya LSM di Tumbuh-kembang UKBM ( Upaya

C. Memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama Upaya pelayanan kesehatan tingkat pertama yang diselenggarakan Puskesmas bersifat holistik, komprehensif / rnenyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan yang bersifat pokok (basic health service), yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat serta. mempunyai nilai strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan tingkat pertama meliputi pelayanan kesehatan masyarakat dan pelayanan medik. Pada umumnya pelayanan kesehatan tingkat pertama ini bersifat pelayanan rawat jalan (ambulatory / out patient service). Sebagai pusat pelayanan tingkat pertama di wilayah kerjanya, Puskesmas merupakan merata. Upaya pelayanan yang diselenggarakan meliputi:

sarana

pelayanan

kesehatan

pemerintah

yang

wajib

menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara bermutu, terjangkau, adil dan

Pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih mengutamakan

pelayanan promotif dan preventif, dengan pendekatan kelompok masyarakat, serta sebagian besar diselenggarakan bersama masyarakat melalui upaya pelayanan dalam dan luar gedung di wilayah kerja Puskesmas.

Pelayanan

medik

dasar

yang

lebih

mengutamakan

pelayanan, kuratif dan rehabilitatif dengan pendekatan individu dan keluarga pada umumnya melalui upaya rawat jalan dan rujukan Pada kondisi tertentu dan bila memungkinkan dapat dipertimbangkan Puskesmas dapat memberikan pelayanan rawat inap sebagai rujukan antara sebelum dirujuk ke Rumah Sakit. Dalam melaksanakan fungsinya tersebut, Puskesmas dapat melakukan cara – cara sebagai berikut :
1.

Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melakukan kegiatan dalam rangka menunjang dirinya sendiri. Memberi petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali serta

2.

menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.
3.

Memberi bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan medis maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan bantuan tersebut tidak menimbulkan ketergantungan. Memberi pelayanan kesehatan langsung pada masyarakat. Bekerja sama dengan sektor – sektor yang bersangkutan dalam melaksanakan program kerja Puskesmas. Pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan yang

4. 5.

bersifat mutlak perlu, yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat serta mempunyai nilai strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Upaya pelayanan kesehatan tingkat pertama yang diselenggarakan Puskesmas bersifat holistik, komprehensif, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan Kesehatan Menyeluruh Yaitu pelayanan kesehatan yang meliputi : • • • • ) Semua jenis pelayanan ini ditujukan kepada semua jenis , golongan umur dan dimulai sejak dimulainya pembuahan dalam kandungan hingga tutup usia. Pelayanan Kesehatan Terpadu ( terintegrasi ) Sebelum adanya pelayanan kesehatan terpadu ini, masing-masing organisasi yang terkait dalam pelayanan kesehatan melakukan usaha–usaha kesehatannya secara terpisah dan bekerja sendiri-sendiri. Mereka langsung melaporkan hasil kegiatannya kepada KaDinKes sehingga mereka saling tidak mengenal program apa yang akan dijalankan untuk kemajuan kesehatan di masyarakat. kuratif ( pengobatan ) preventif ( pencegahan ) promotif ( peningkatan kesehatan ) rehabilitatif ( pemulihan kesehatan

Dengan adanya peningkatan sistem pelayanan kesehatan melalui Puskesmas, maka kegiatan – kegiatan pokok ini dilakukan bersama dibawah satu koordinasi & satu program. Berbagai jenis kegiatan pokok Puskesmas dilakukan secara kerja sama, begitu pula rencana kegiatan, pelaksanaan kegiatan, pengawasan dan pengendalian serta evaluasi kegiatan dilakukan bersama di bawah satu administrator dan satu pimpinan. Sebagai sarana untuk mempermudah Puskesmas dalam melakukan tugasnya , maka Puskesmas ditunjang dengan unit kegiatan yang lebih sederhana dalam bentuk : 1. Puskesmas Pembantu ( Pustu ) Puskesmas pembantu merupakan unit pelayanan kesehatan yang sederhana dan berfungsi menunjang serta membantu melaksanakan kegiatan yang dilakukan Puskesmas dalam masyarakat lingkungan wilayah yang lebih kecil serta jenis dan kompetensi pelayanan yang disesuaikan dengan kemampuan teaga dan sarana yang tersedia. Dalam Pelita V, wilayah kerja Puskesmas pembantu diperkirakan meliputi 2 – 3 desa, dengan sasaran penduduk antara 2500 orang ( di luar Jawa – Bali ) hingga 10.000 orang ( di perkotaan Jawa – Bali ). Puskesmas pembantu merupakan bagian integral dari Puskesmas, dengan kata lain Puskesmas juga meliputi Puskesmas pembantu yang ada di wilayah kerjanya. Tugas pokok Puskesmas pembantu adalah menyelenggarakan sebagian program kegiatan Puskesmas sesuai dengan kompetensi tenaga dan sumberdaya lain yang tersedia. 2. Puskesmas keliling ( Pusling ) Adalah merupakan tim pelayanan kesehatan Puskesmas keliling, terdiri dari tenaga yang dilengkapi dengan kendaraan bermotor / roda 4 / perhau bermotor, peralatan kesehatan, peralatan komunikasi yang berasal dari Puskesmas. Puskesmas keliling berfungsi untuk menunjang dan membantu kegiatan pelaksanaan program Puskesmas dalam wilayah kerjanya yang belum terjangkau atau lokasi yang sulit dijangkau oleh sarana kesehatan. Kegiatan Puskesmas keliling adalah :

a.

Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di

daerah terpenil yang tidak terjangkau oleh pelayanan Puskesmas atau Puskesmas pembantu, 4 hari dalam seminggu. b. c. d. visual. Melakukan penyelidikan terhadap kasus luar biasa Melakukan rujukan bagi kasus gawat darurat Melakukan penyuluhan dengan menggunakan alat audio

3. Bidan yang bertugas di desa Bidan desa adalah tenaga bidan yang ditempatkan di desa dalam rangka meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan Puskesmas, bidan desa mempunyai wilyah kerja 1 – 2 desa dengan jumlah penduduk rata – rata 3000 orang / desa, dan bertanggung jawab kepada kepala Puskesmas. Tugas utama bidan tersebut adalah membina peran serta masyarakat dalam Posyandu dan pembinaan kelompok persepuluhan, membina kelompok kader dasa wisma, membantu persalinan di rumah – rumah, mengadakan rujukan. Di samping memberi pelayanan langsung di Posyandu dan pertolongan persalinan di rumah. Selain itu sebagai tugas khusus, bidan desa bertanggung jawab atas program Kesehatan Ibu dan Anak serta program Keluarga Berencana di wilayah kerjanya. Dalam keadaan tertentu, misalkan letak Puskesmas yang jauh dari rumah sakit, sulitnya keadaan medan Puskesmas menuju rumah sakit, sulitnya sarana transportasi menuju rumah sakit, daerah rawan kecelakaan/ rawan bencana dan lain – lain maka Puskesmas dapat diberi ruang tambahan untuk rawat inap sementara dan fasilitas tindakan operasi terbatas. Puskesmas rawat inap adalah Puskesmas dengan fasilitas tempat perawatan dan ruang tambahan untuk menolong penderita gawat darurat baik berupa tindakan operatif terbatas maupun perawatan sementara. Fungsinya sebagai ” Pusat Rujukan Antara ” yang melayani penderita gawat darurat sebelum dapat dirujuk ke rumah sakit.

Kriteria yang harus dipenuhi oleh Puskesmas rawat inap adalah sebagai berikut: Puskesmas harus terletak kira – kira 20 km dari RS Mudah dicapai dengan kendaraan bermotor dari puskesmas sekitarnya Dipimpin oleh seorang dokter disertai tenaga kesehatan yang memadai Jumlah kunjungan minimal 100 orang per hari Penduduk wilayah puskesmas & penduduk 3 puskesmas sekitarnya Pemda bersedia menyediakan anggaran rutin yang mencukupi

minimal 20.000 per puskesmas Kegiatan : 1. Melakukan tindakan operatif terbatas pada kasus – kasus: • • • kecelakaan lalu lintas persalinan penyulit penyakit gawat darurat

2. Merawat sementara atau melakukan observasi diagnostik dengan rata – rata hari perawatan 3 hari atau maksimal 7 hari 3. Melakukan pertolongan sementara untuk mempersiapkan pengiriman penderita ke RS 4. Memberi pertolongan persalinan bagi kehamilan resti persalinan dengan penyulit 5. Melakukan MOP atau MOW ( MOP = Metode Operasi pada Pria, MOW = Metode Operasi pada Wanita ) Ketenagaan : 1. Dokter kedua ialah dokter yang telah mendapatkan latihan klinis di RS selama kurang lebih 6 bulan dalam bidang Bedah, ObGyn, Pediatri & Interne 2. Seorang perawat yang telah dilatih 6 bulan dalam bidang perawatan Bedah, Kebidanan, Pediatri & Interne 3. 3 perawat kesehatan / perawat / bidan yang diberi tugas secara bergilir 4. 1 orang pekarya kesehatan SMU Pola Ketenagaan Di Puskesmas ( secara umum ) - dokter 1 - perawat gigi (risiko tinggi) dan

1

- dokter gigi - perawat kesehatan - bidan - tenaga gizi - juru imunisasi (jurim) - pengemudi / pekarya - tenaga administrasi

1 8 5 1 1 2 1

- sanitarian - pekarya kesehatan - asisten apoteker

1 2 2

Rujukan yaitu suatu sistem jaringan pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggungjawab secara timbal balik atas timbulnya masalah dari suatu kasus atau masalah kesehatan masyarakat baik secara vertikal maupun horizontal kepada yang lebih kompeten Jenis rujukan : 1. rujukan medik, yaitu : a. konsultasi medis penderita b. pengiriman bahan / spesimen c. mendatangkan atau mengirim tenaga yang lebih kompeten 2. rujukan kesehatan, yaitu yang menyangkut masalah kesehatan antara lain: a. b. c. survei epidemiologi & pemberantasan penyakit menular penyidikan sebab keracunan massal pemberian saran & teknologi untuk penyediaan air bersih atas

masalah kekurangan air bersih bagi masyarakat umum Sebagai usaha meningkatkan citra Puskesmas ( penampilan, mutu dan kinerja ), profesionalisme petugas Puskesmas serta kemitraan dengan pihak instansi terkait, swasta dan lembaga swadaya masyarakat, maka Puskesmas diberikan kepercayaan atas kemampuannya. Adapun pengertian kemandirian Puskesmas dikaitkan dengan kewenangan Puskesmas adalah sebagai berikut : 1. Kewenangan penyelenggaraan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan kesehatan di wilayah kecamatan sesuai dengan situasi kondisi , kultur budaya dan potensi setempat.

2.

Kewenangan mencari, menggali dan mengelola

sumber pembiayaan yang berasal dari pemerintah dan masyarakat serta pihak swasta dan sumber lain dengan sepengetahuan dinas Kesehatan Kabupaten / Kota, yang kemudian dipertanggungjawabkan untuk pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. 3. Kewenangan untuk mengangkat tenaga institusi honorer, pemindahahn tenga dan pendayagunaan tenaga kesehatan di wilayah kerjanya dengan sepengetahuan Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota. 4. Kewenangan untuk melengkapi sarana dan prasarana Batasan kewenangan Puskesmas diberikan atas pertimbangan ketersediaan sumber daya Puskesmas khususnya kemampuan tenaga kesehatan Puskesmas, ketertiban administrasi dan pencatatan Puskesmas serta tuntutan masyarakat. Kewenangan Puskesmas ditetapkan berdasarkan surat keputusan dan Dinas kesehatan Kabupaten / Kota. 2.4 VISI DAN MISI PUSKESMAS 2.4.1 VISI PUSKESMAS Visi pembangunan kesehatan melalui Puskesmas adalah tercapainya Kecamatan sehat 2010. Kecamatan sehat 2010 merupakan gambaran masyarakat kecamatan masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan yang ditandai dengan penduduknya hidup dalam lingkungan sehat dan dengan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang beimutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Sesuai dengan visi Puskesmas yaitu Kecamatan Sehat 2010 dan tiga fungsi Puskesmas, maka indikator keberhasilan dapat dikelompokkan menjadi: 1. Kelompok indikator pencapaian Kecamatan Sehat 2010 yang dipantau Indikator lingkungan meliputi : tahunan atau lima tahunan yang terdiri dari :  termasuk peraatan medis dan non medis yang dibutuhkan.

 Ketersediaan air bersih dan jamban

Sarana pembuangan air besar dibedakan menjadi empat macam, yaitu memakai jamban leher angsa, jamban plengsengan, jamban cemplung dan tidak memakai jamban. Menurut data BPS ( Statistik Kesejahteraan Rakyat ) tahun 2002 memperlihatkan rumah tangga yang memakai jamban leher angsa di daerah perkotaan sebesar 79,14 % dan di daerah pedesaan sebesar 42,16 %. Yang menggunakan jamban plengsengan di daerah kota sebesar 11,41 %dan di daerah pedesaan sebesar 11,23 %. Sedangkan yang menggunakan jamban cemplung di daerah perkotaan 7,49 % dan pedesaan 36,06 %, dan yang tidak memakai jamban di daerah perkotaan 1,96 % dan pedesaan 10,56 %.. Bila dilihat secara keseluruhan ( perkotaan dan pedesaan ) rumah tangga yang memakai jamban leher angsa 61,64 % , jamban cemplung 21,01 % jamban plengsengan 11,32 % dan yang tidak memakai jamban 6,03 %. 1,2
 Keadaan tempat pembuangan sampah dan limbah  Keadaan sanitasi tempat-tempat umum (TTU)

Tempat – tempat umum merupakan sarana yang dikunjungi banyak orang dan dikhawatirkan dapat menjadi tempat penyebaran penyakit. TTU meliputi hotel, terminal , bioskop , pasar dan lain – lain. Sedangkan TTU sehat adalah tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan , yaitu memiliki sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi yang baik , luas lantai ( luas ruang ) yang sesuai dengan banyaknya pengunjung dan memiliki pencahayaan ruang yang sesuai. Dari data yang diolah dari 212 kabupaten dan kota pada tahun 2002, diperlihatkan bahwa persentase TTU sehat mencapai 78,45 %. Sedangkan target Indonesia Sehat 2002 sebesar 80 %.. Persentase TTU sehat tertinggi di Propinsi Sulawesi Utara ( 95,39 %) dan Bali ( 92,20%), sedangkan yang terendah di Propinsi Maluku ( 43,79 %) dan Sulawesi Tenggara ( 49,44%). 2 Rendahnya TTU sehat di beberapa propinsi dapat disebabkan karena beberapa faktor antara lain : kurangnya pemahaman pemilik / pengelola terhadap aspek kesehatan dalam pengelolaan TTU , mudahnya memperoleh izin pendirian TTU meskipun belum memenuhi syarat kesehatan , dan kurangnya pemeriksaan dan lemahnya pengawasan TTU oleh instasi terkait. 1,2

 Indikator perilaku masvarakat meliputi:  Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lima tatanan

PHBS adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan kondisi bagi perorangan , keluarga dan kelompok dan masyarakat dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan edukasi untuk meningkatkan penetahuan, sikap dan perilaku sehingga membantu masyarakat dalam mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri., dalam tatanan rumah tangga , agar dapat menerapkan cara – cara hiduop sehat dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatan. Upaya yang dilakukan melalui pendekatan pimpinann ( advokasi ), bina suasana ( social support ) , dan pemberdayaan masyarakat ( empowerment ). 2
 Indikator pelayanan kesehatan , meliputi :  KEP balita  Insidens penyakit diare  Insidens penyakit TBC  Insidens penyakit ISPA pada balita  Resiko tinggi pada ibu hamil

2.

Kelompok Indikator pelaksanaan fungsi Puskesmas yang dipantau bulanan atau tahunan yang terdiri dari: Indikator penggerak pembangunan berwawasan kesehatan
   

Tatanan sekolah Tatanan tempat kerja Tatanan tempat-tempat umum Tatanan institusi kesehatan

Ukuran penilaian tatanan yang dimaksud adalah perilaku dan keadaan lingkungan fisik
 Indikator pemberdayaan masyarakat dan keluarga
 

Tumbuh kembangnya upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) Tumbuh dan berkembangnya lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang

bergerak di bidang kesehatan
 

Tumbuh dan fungsi Badan Penyantun Puskesmas (BPP) Tumbuh dan berkembangnya keluarga sehat

 Indikator pelayanan kesehatan tingkat pertama
 

Kualitas pelayanan Cakupan program kegiatan Selanjutnya Dinas Kesehatan kabupaten / kota bersama dengan Puskesmas

menguraikan indikator diatas lebih operasional sesuai dengan pelaksanaan kegiatan fungsi Puskesmas dengan pertimbangan keadaan kesehatan di kabupaten / kota khususnya di daerah wilayah kerja Puskesmas. 2.4.2 MISI PUKESMAS Pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat yang dilakukan melalui Puskesmas didasarkan pada misi didirikannya Puskesmas sebagai pusat pengembangan kesehatan ( Centre for Health Development ) di wilayah kerja tertentu ( biasanya di tingkat Kecamatan ). Upaya pengembangannya dapat dilaksanakan melalui perluasan jangkauan wilayah sesuai dengan tingkat kemajuan transportasi, peningkatan mutu pelayanan dan keterampilan staf, peningkatan rujukan, peningkatan manajemen organisasi, dan peningkatan peran serta masyarakat. Penjabaran misi Puskesmas sebagai pusat pengembangan kesehatan dapat dilakukan melalui berbagai upaya seperti: 1. Meluaskan jangkauan pelayanan kesehatan sampai ke desa-desa dengan membangun Puskesmas yang baru, Puskesmas Pembantu, Pos Kesehatan, Posyandu dan penempatan bidan di desa yang mengelola sebuah polindes ( poliklinik persalinan desa ). 2. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas dapat diwujudkan, baik dengan meningkatkan keterampilan dan motivasi kerja staf Puskesmas memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat maupuun dengan cara mencukupi berbagai jenis kebutuhan

peralatan dan obat-obatan yang perlu tersedia di Puskesmas. Ada dua aspek mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas yang perlu dibedakan yaitu quality of care dan quality of services. Keduanya saling terkait. Quality of care lebih banyak menyaktu aspek profesi dan penanganannya menjadi tanggung jawab ikatan profesi. Yang termasuk Quality of services lebih banyak terkait dengan kualitas dan kelengkapan sarana pelayanan kesehatan termasuk manajemen program pelayanan kesehatan ( management support system ). 3. Pengadaan peralatan dan obat-obatan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Perencanaan pengadaan obat seharusnya didasarkan pada analisis epidemiologi penyakit yang berkembang di wilayak kerja Puskesmas. Tetapi model perencanaan obat dengan menggunakan pendekatan epidemiologi penyakit masih sulit dilaksanakan di Puskesmas karena adanya format baku sistem pengadaan dan distribusi obat melalui sistem Inpres sehingga mekanisme perencanaan dari bawah sukar berkembang. Perencanaan dari bawah ( bottom-up ) tidak akan dapat berkembang kalau staf pengelola program Puskesmas masih rendah kemampuannya menguasai teknik-teknik perencanaan. Selain itu masih kuatanya ”top down planning” (arus program yang diturunkan dari atas) dari jajaran organisasi kesehatan yang lebih tinggi dan kurangnya pembinaan teknis dai Dinkes Tk II akan menghambat pelaksanaan bottom-up planning di Puskesmas. Kendali perencanaan program masih terpusat pada pemegang kebijakasanaan program di Depkes pusat, termasuk pengadaan dan pengendalian dananya. Untuk memperbaiki kelemahan sistem perencanaan di tingkat pelayanan kesehatan dasar, diperlukan upaya peningkatan manajemen unit-unit pelaksana pelayanan kesehatan di lapangan melalui pelatihan maupuan pelimpahan wewenang yang lebih besar dari Dinkes Tk II ke Puskesmas. Staf Puskesmas juga perlu lebih sering diikutsertakan dalam pelatihan manejemen program disertai dengan peningkatan bimbingan dan pengawasan. Dengan pengembangan otonomi daerah yang uji cobanya di 27 propinsi sudah dicanangkan tgl 25 Maret 1995, diharapkan perencanaan pengadaan obat akan

lebih mendekati kebutuhan nyata sesuai dengan perkembangan masalah penyakit yang berkembang di lapangan. 4. Sistem rujukan di tingkat pelayanan kesehatan dasar lebih diperkuat dengan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sampai ke tingkat desa. Rujukan pelayanan kesehatan akan dapat terlaksana bila pembangunan sektor lain di tingkat Kecamatan juga mendukung yaitu tersedianya fasilitas transportasi yang lebih memadai dan peningkatan pendapatan keluarga. Kegagalan tugas pokjanal ( kelompok kerja fungsional ) menunjang pelaksanaan program pelayanan terpadu adalah salah satu contoh masih lemahnya koordinasi dan kerjasama lintas sektoral di tingkat Kecamatan sehingga pelaksanaan rujukan program secara sektoral di tingkat Kecamatan juga terhambat. 5. Peran serta masyarakat melalui pengembangan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa ( PKMD ). Prinsip kerja PKMD adalah berkembangnya kegiatan masyarakat dalam rangka menolong diri mereka sendiri. Kegiatannya perlu dilakukan secara gotong-royong dan swadaya sehingga masyarakat mampu mencapai mutu hidup yang lebih sehat dan sejahtera. Kegiatan masyarakat tersebut merupakan bagian integral dari pembangunan nasional pada umumnya dan pembangunan desa khususnya. Pengembangan program PKMD seharusnya mendapat dukungan melalui peningkatan kerjasama lintas program dan lintas sektoral. Ini berarti kegiatan PKMD harus dikembangkan oleh masyarakat sendiri dan pembinaannya dilakukan tidak saja oleh Puskesmas tetapi bekerjasama dengan sektor-sektor lain yang terkait di tingkat Kecamatan. Lahirnya konsep PKMD di Indonesia merupakan jawaban atas rekomendasi WHO di Alma Ata ( 1978 ) untuk menerapkan tema pembangunan kesehatan untuk seluruh masyarakat tahun 2000 (Health for all by the year 2000) Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa misi Puskesmas hanya mencakup 4 hal, yaitu: Menggerakkan pembangunan Kecamatan yang berwawasan kesehatan Mendorong kemandirian masyarakat dan keluarga untuk hidup sehat

-

Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan

dan terjangkau masyarakat beserta lingkungannya. Gagasan untuk pengembangan pelayanan kesehatan dasar, khususnya melalui Puskesmas, tetap berlandaskan pada upaya untuk mencapi tujuan pembangunan kesehatan jangka pendek dan panjang yaitu Panca Karya ( lima tahunan ) dan Panca Karsa Husada ( 25 tahunan ) seperti yang tersurat dalam Sistem Kesehatan Nasional ( SKN ). 2.5 AZAS PUSKESMAS Sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama di Indonesia, pengelolaan program kerja Puskesmas berpedoman pada empat azas pokok yakni: 1. Azas pertanggung-jawaban wilayah Dalam menyelenggarakan program kerjanya, Puskesmas harus melaksanakan azas pertanggung-jawaban wilayah. Artinya, Puskesmas harus bertanggung jawab atas semua masalah kesehatan yang terjadi di wilayah kerjanya. Karena adanya azas yang seperti ini, maka program kerja Puskesmas tidak dilaksanakan secara pasif saja, dalam arti hanya sekedar menanti kunjungan masyarakat ke Puskesmas, melainkan harus secara aktif memberikan pelayanan kesehatan sedekat mungkin dengan masyarakat. Lebih dari pada itu, karena Puskesmas harus bertanggungjawab atas semua masalah kesehatan yang terjadi di wilayah kerjanya, maka banyak dilakukan berbagai program pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit yang merupakan bagian dari pelayanan kesehatan masyarakat. 2. Azas peran serta masyarakat Dalam menyelenggarakan program kerjanya, Puskesmas harus melaksanakan azas peran serta masyarakat. Artinya, berupaya melibatkan masyarakat dalam menyelenggarakan program kerja tersebut. Bentuk peran serta masyarakat dalam pelayanan kesehatan banyak macamnya. Di Indonesia dikenal dengan nama Pos Pelayanan Terpadu ( Posyandu )

3. Azas keterpaduan Dalam menyelenggarakan program kerjanya, Puskesmas harus melaksanakan azas keterpaduan. Artinya, berupaya memadukan kegiatan tersebut bukan saja dengan program kesehatan lain ( lintas program ), tetapi juga dengan program dari sektor lain ( lintas sektoral ). Dengan dilaksanakannya azas keterpaduan ini, berbagai manfaat akan dapat diperoleh. Bagi Puskesmas dapat menghemat sumber daya, sedangkan bagi masyarakat, lebih mudah memperoleh pelayanan kesehatan. 4. Azas rujukan Dalam menyelenggarakan program kerjanya, Puskesmas harus melaksanakan azas rujukan. Artinya, jika tidak mampu menangani suatu masalah kesehatan harus merujuknya ke sarana kesehatan yang lebih mampu. Untuk pelayanan kedokteran jalur rujukannya adalah Rumah Sakit. Sedangkan untuk pelayanan kesehatan masyarakat jalur rujukannya adalah pelbagai ” kantor ” kesehatan. 2.6 BATASAN PUSKESMAS Wilayah kerja Puskesmas pada mulanya ditetapkan satu Kecamatan, kemudian dengan semakin berkembangnya kemampuan dana yang dimiliki oleh pemerintah untuk membangun Puskesmas, wilayah kerja Puskesmas ditetapkan berdasarkan jumlah penduduk di satu Kecamatan, kepadatan dan mobilitasnya. Dua-tiga Puskesmas dapat saja didirikan di satu wilayah Kecamatan. Pada umumnya satu Puskesmas mempunyai penduduk binaan antara 30.000-50.000 jiwa. Berdasarkan misi tersebut, Puskesmas mempunyai kewenangan dan tanggungjawab memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat yang secara administratif berdomisili di wilayah kerjanya. Bentuk pelayanan kesehatan yang diberikan di Puskesmas bersifat menyeluruh ( Comprehensive Health Care Service ) yaitu pelayanan kesehatan yang meliputi aspek promontive, preventive, curative, dan rehabilitative. Prioritas pelayanan yang dikembangkan oleh Puskesmas lebih diarahkan ke bentuk pelayanan kesehatan dasar ( basic health care services ) yang lebih mengutamakan upaya promosi dan pencegahan ( public health services ).

Sesuai dengan peraturan Mendagri no 5/74, Puskesmas secara adminsitratif berada di bawah administrasi Pemerintah Daerah tingkat II ( Bupati kepala daerah tk II selaku penguasa wilayah ), tetapi secara medis teknis tetap di bawah tanggung jawab Depkes ( melalui kantor Depkes Tk.II dan Kanwil Depkes Tk. I ). Wewenang untuk menetapkan luas wilayah kerja Puskesmas dilakukan oleh Bupati KDH berdasarkan saran Kepala Dinas Kesehatan Dati II. Usul ini selanjutnya diproses oleh Dinas Kesehatan Tk I dan Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Propinsi. Untuk mencapai cakupan pelayanan kesehatan yang luas dan merata, secara organisatoris Puskesmas ditunjang oleh Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, Posyandu dan Bidan di Desa. Selain itu, di wilayah kerja Puskesmas juga tersedia jenis pelayanan kesehatan swasta seperti poliklinik atau Balai Pengobatan, Balai Kesehatan Ibu dan Anak, dokter praktek swasta, dan pondok bersalin desa ( polindes ) yang khusus dikelola oleh Bidan Desa. Untuk lebih intensifnya program pembinaan kesehatan masyarakat, stategi yang ditempuh oleh Puskesmas adalah mengembangkan peran serta masayarakat. Salah satu wujud nyata peran serta masyarakat adalah pemanfaatan jenis pelayanan kesehatan yang tersedia di Puskesmas dan kegiatan kader kesehatan. Peran kader dikembangkan untuk membantu Upaya Peningkatan Gizi Keluarga ( UPGK ), kegiatan KB, Posyandu, pemberantasan penyakit diare, pengembangan Dana Upaya Kesehatan Masyarakat ( DUKM ). Pembentukan kader kesehatan bertujuan untuk mempercepat pelaksanaan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa atau PKMD yang merupakan wujud kebijakan pemerintah Indonesia menunjang kesepakatan Alma Ata tahun 1978 yaitu tercapainya “ sehat untuk semua tahun 2000 “ (health for all in the year of 2000). 2.7 KEGIATAN POKOK PUSKESMAS Untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh

( comprehensive health care services ) kepada seluruh masyarakat di wilayah kerjanya, Puskesmas menjalankan beberapa usaha pokok ( basic health care services ). Kegiatan-kegiatan pokok Puskesmas yang diselenggarakan oleh Puskesmas sejak berdirinya semakin berkembang, mulai dari 7 usaha pokok kesehatan, 12 usaha pokok

kesehatan, 13 usaha pokok kesehatan dan sekarang meningkat menjadi 18 usaha pokok kesehatan yang dapat dilaksanakan oleh Puskesmas sesuai dengan kemampuan yang ada dari tiap-tiap Puskesmas baik dari segi tenaga, fasilitas dan biaya atau anggaran yang tersedia. Berdasarkan “ Buku Pedoman Kerja Puskesmas “ yang terbaru ada 18 usaha pokok kesehatan yang dapat dilakukan oleh Puskesmas, itupun sangat tergantung kepada faktor tenaga, sarana dan prasarana serta biaya yang tersedia berikut kemampuan managemen dari tiap-tiap Puskesmas. Delapan belas kegiatan pokok Puskesmas itu adalah: 1. Upaya kesehatan Ibu dan Anak 2. Upaya keluarga Berencana 3. Upaya peningkatan Gizi 4. Upaya kesehatan lingkungan 5. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular 6. Upaya pengobatan termasuk pelayanan darurat karena kecelakaan 7. Upaya penyuluhan Kesehatan 8. Upaya kesehatan sekolah 9. Upaya kesehatan olah raga 10. Upaya perawatan kesehatan masyarakat 11. Upaya kesehatan kerja 12. Upaya kesehatan gigi dan mulut 13. Upaya kesehatan jiwa 14. Upaya kesehatan mata 15. Upaya laboratorium sederhana 16. Upaya pencatatan dan pelaporan dalam rangka sistem informasi kesehatan 17. Upaya kesehatan usia lanjut 18. Upaya pembinaan pengobatan tradisional Semua kegiatan program pokok yang dilaksanakan di Puskesmas dikembangkan berdasarkan program pokok pelayanan kesehatan dasar ( basic health care services )

seperti yang dianjurkan oleh badan kesehatan dunia ( WHO ) yang dikenal dengan ” Basic Seven ” WHO. Basic seven tersebut terdiri dari: 1. MCHC ( Maternal and Child Health Care ) 2. MC ( Medical care ) 3. ES ( Environmental Sanitation ) 4. HE ( Health Education ) untuk kelompok-kelompok masyarakat 5. Simple Laboratory ( Lab. Sederhana ) 6. CDC ( Communicable Disease Control ) 7. Simple Statistic ( recording/ reporting atau pencatatan dan pelaporan ). Dari ke 18 program pokok Puskesmas, basic seven WHO harus lebih diprioritaskan untuk dikembangkan sesuai dengan prioritas masalah kesehatan utama yang berkembang di wilayah kerjanya, kemampuan sumber daya manusia ( staf ) yang dimiliki oleh Puskesmas, dukungan sarana/prasarana yang tersedia di Puskesmas, dan peran serta masyarakat. Bila kita mengacu definisi Public Health menurut Winslow, pengembangan program kesehatan masyarakat di suatu wilayah akan terdiri dari tiga komponen pokok yaitu kegiatan yang berhubungan dengan upaya Pencegahan Penyakit ( preventing disease ) dan memperpanjang hidup ( prolonging life ) melalui usahausaha kesehatan lingkungan, imunisasi, pendidikan kesehatan, dan pengenalan penyakit secara dini ( surveilan, penimbangan balita, ANC, dsb ). Kedua upaya tersebut harus dilakukan dengan membina peran serta masyarakat ( community participation ) melalui kelompok-kelompok masyarakat yang terorganisir. Program-program Puskesmas dalam kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut: 1. Upaya kesehatan ibu dan anak Tujuan : Mengurangi kematian dan kesakitan ibu, bayi dan anak Caranya : Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, waktu bersalin dan sesudahnya Meningkatkan kesehatan anak-anak melalui gizi dan pencegahan terhadap

penyakit menular

-

Meningkatkan kesehatan keluarga melalui perencanaan jumlah anak dan

mejarangkan kehamilan Kegiatan : Mengamati perkembangan dan pertumbuhan balita Memberi nasihat-nasihat dibidang gizi Memberi pelayanan dalam usaha KB Mengadakan pengawasan terhadap dukun bayi

2. Upaya keluarga berencana Tujuan : Meningkatkan kesehatan keluarga melalui NKKBS (Norma Keluarga Mencapai taraf hidup yang baik dengan jalan mengurangi angka kelahiran Mengadakan kursus KB Memberikan sarana pencegahan kehamilan Mengamati mereka yang menggunakan alat-alat kontrasepsi tersebut Kecil Bahagia dan Sejahtera) Kegiatan:

3. Usaha peningkatan gizi Tujuan : untuk meningkatkan taraf gizi masyarakat Kegiatan : Memberikan penyuluhan gizi Melaksanakan program perbaikan gizi yaitu UPGK (Upaya Perbaikan Gizi

Keluarga) 4. Upaya kesehatan lingkungan Tujuan : merubah, menanggulangi, menghilangkan faktor-fatkor lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan penduduk Kegiatan : Penyediaan air bersih Penyuluhan

-

Pangadaan sarana pembuangan air kotor dan jamban keluarga Pembuangan sampah Pengawasan terhadap perusahaan makanan dan minuman serta tempat-

tempat penjualan makanan 5. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular (P2M) Tujuan : Mengurangi insidens penyakit menular sampai tingkat serendahMencegah dan membatasi wabah penyakit rendahnya

Kegiatan : a. Malaria Mencari penderita atau tersangka penderita secara pasif termasuk memeriksa sediaan apus darah dan melakukan pengobatan b. Kholera Melaksanakan pemeliharaan kesehatan dengan memberi rehidrasi, obat dan perawatan c. TBC Memberikan vaksinasi BCG Mencari penderita secara pasif termasuk pemeriksaan sputum / dahak Pencarian penderita pasif dan aktif Pencarian aktif meliputi para kontak person Pemeriksaan anak-anak sekolah Pencarian aktif dan pasif serta pengobatan Penemuan aktif dan pasif Pemeriksaan laporan binatang yang mencurigakan

d. Kusta

e. Framboesia dan Patek f. Penyakit Kelamin g. Penyakit Rabies

-

Pengiriman binatang ke dinas kehewanan Pengiriman penderita ke poliklinik Mengetahui sedini mungkin adanya kenaikan peristiwa kesakitan yang Pengamatan terhadap kasus kejadian luar biasa ( KLB ) seperti DHF,

h. Surveillance epidemiology ( pengamatan ) mungkin merupakan petanda wabah muntaber, dll

6. Upaya pengobatan Tujuan : membuat diagnosa dini, memberi pengobatan, meringankan penderitaan Kegiatan : Memberi pengobatan, perawatan kepada penderita berobat jalan Memberi pelayanan rawat tinggal Melakukan pelayanan rujukan ( referral system )

7. Upaya penyuluhan kesehatan Tujuan : menimbulkan kesadaran penduduk akan nilai – nilai kesehatan melalui perubahan perilaku Kegiatan : karena kegiatan penyuluhan merupakan bagian dari tiap program Puskesmas, maka tidak ada program penyuluhan kesehatan yang berdiri sendiri 8. Upaya Kesehatan Sekolah / Kesehatan Gigi Sekolah Tujuan : untuk mencapai : Pencegahan penyakit Pemeliharaan kesehatan Tingkat gizi yang cukup Lingkungan sekolah yang sehat Kebiasaan hidup sehat

Kegiatan :

-

Membuat lingkungan hidup sekolah yang sehat Melaksanakan penyuluhan kesehatan Melakukan pelayanan kesehatan / kesehatan gigi di sekolah

9. Upaya kesehatan olah raga Tujuan : Pencegahan penyakit Pemeliharaan kesehatan Pengobatan dengan latihan dan rehabilitasi Pengobatan akibat cedera latihan

Kegiatan : 10. Tujuan : Melaksanakan pembinaan keluarga & kelompok – kelompok khusus Memberikan pelayanan perawatan paripurna Keluarga Kelompok khusus seperti panti asuhan & panti wredha ( jompo ) Kegiatan : sesuai dengan tujuan, maka kegiatan PKM dititikberatkan pada : Pemeriksaan kesehatan berkala Penentuan takaran latihan Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat

11. Upaya Peningkatan Kesehatan Kerja Pengertian : Upaya kesehatan kerja merupakan usaha yang terutama ditujukan pada masyarakat pekerja infromal dalam rangka upaya pencegahan & pemberantasan penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan & lingkungan kerja Tujuan : Meningkatkan kemampuan tenaga kerja untuk menolong dirinya sendiri sehingga terjadi peningkatan produktivitas kerja Sasaran :

Tenaga kerja yang mempunyai dampak besar dalam menunjang pertumbuhan ekonomi, tapi kurang memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai,misal : petani, nelayan, penyelam mutiara, perajin industri kecil / industri tumah tangga, pekerja bangunan, kaki lima, pekerja wanita khususnya usia muda, dll 12. Upaya Kesehatan Gigi & Mulut Masyarakat Tujuan : mencapai tingkat kesehatan gigi masyarakat setinggi – tingginya dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan gigi & mulut

Kegiatan : Merencanakan, melaksanakan & menilai program kesehatan gigi Memberikan perawatan gigi secara teratur kepada anak sekolah, ibu hamil

yang dikirimkan oleh bagian KIA 13. Upaya Kesehatan Jiwa Tujuan : untuk mencapai tingkat kesehatan jiwa setinggi – tingginya dalam masyarakat Kegiatan : Mengenali penderita yang memerlukan bantuan psychiatrik Memberikan pertolongan psychiatrik pertama Merencanakan pengobatannya Mengurus pengirimannya ( bila perlu ) Memberikan penyuluhan kesehatan tentang kesehatan jiwa Perawatan lanjut bagi penderita yang telah dinyatakan sembuh

14. Upaya kesehatan mata Tujuan : Meningkatkan kesehatan mata, mencegah kesehatan dasar yang terpadu dengan kegiatan pokok lainnya

-

Meningkatkan peran serta masyarakat dalam bentuk penyuluhan

kesehatan serta menciptakan kemandirian masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan mata mereka Kegiatan : Mengupayakan kesehatan mata dengan anamnesa, pemeriksaan visus dan mata luar, tes buta warna, tes tekanan bola mata, tes saluran air mata, tes lapang pandang, funduskopi dan pemeriksaan laboratorium 15. Laboratorium Tujuan : memberikan pelayanan laboratorium yang effisien sebagai bagian yang menunjang pemberantasan penyakit menular, penyelidikan epidemiologi & pembinaan kesehatan Kegiatan : Di ruangan laboratorium • • • • • • • • • • • • • Penerimaan pasien Pengambilan spesimen Penanganan spesimen Pelaksanaan pemeriksaan Penanganan sisa spesimen Pencatatan, pengecekan dan penyampaian hasil spesimen Pengambilan spesimen Penanganan spesimen Pengemasan spesimen Pengiriman sediaan dalam rangka system rujukan Pengambilan, pencatatan dan penyampaian hasil pemeriksaan Persiapan pasien Pengambilan spesimen Pengembangan kesehatan mata masyarakat

Terhadap spesimen yang akan dirujuk

Di ruang klinik dilakukan oleh perawat atau bidan, meliputi:

• • • • keliling ) -

Menyerahkan spesimen untuk diperiksa Melakukan tes skrening Hb Pengambilan spesimen untuk kemudian dikirim ke laboratorium Puskesmas Memberikan penyuluhan Dilakukan oleh semua Puskesmas ( pembina, pembantu dan Pencatatan dan pelaporan mencakup:     Data umum dan demografi wilayah kerja Puskesmas Data ketenagaan di Puskesmas Data sarana yang dimiliki Puskesmas Data kegiatan pokok Puskesmas yang dilakukan baik di

Di luar gedung, meliputi:

16. Upaya pencatatan dan pelaporan

dalam maupun di luar gedung Puskesmas Laporan dilakukan secara periodik ( bulan, triwulan enam bulan dan tahunan ) 17. Upaya Kesehatan Usia Lanjut Yaitu : upaya kesehatan paripurna di bidang kesehatan para usia lanjut yang dilaksanakan dari tingkat Puskesmas Yang termasuk pasien geriartri ialah : Pasien dengan usia 55 – 70 tahun yang mengalami lebih dari satu kondisi Pasien dengan usia lebih dari 70 tahun, walaupun dengan hanya satu patologik kondisi Upaya kesehatan paripurna bagi usia lanjut meliputi pencegahan, pengobatanm peningkatan dan pemulihan Kegiatan upaya kesehatan usia lanjut di Puskesmas secara khusus ialah : penyuluhan

-

deteksi & diagnosa dini proteksi & tindakan khusus pemulihan

Tujuan umum : Meningkatkan derajat kesehatan usia lanjut untuk mencapai masa tua yang bahagia & berdaya guna dalam kehidupan keluarga & masyarakat dalam mencapai mutu kehidupan usia lanjut yang optimal Tujuan khusus : a. Meningkatkan kemampuan & partisipasi masyarakat dalam menghayati & mengatasi masalah kesehatan usia lanjut secara optimal b. Meningkatkan kesadaran usia lanjut untuk membina sendiri kesehatannya c. Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan usia lanjut d. Meningkatkan jenis & mutu pelayanan kesehatan usia lanjut Sasaran langsung : a. b. c. Kelompok usia 45 – 54 tahun ( menjelang lansia ) Kelompok usia 55 – 64 tahun ( masa parsenium ) Kelompok usia > / 65 tahun ( masa senescens ) & kelompok usia

lanjut dengan resti [resiko tinggi], yaitu umur 70 tahun keatas, hidup sendiri, terpencil, menderita penyakit berat, cacad & lain – lain Sasaran tidak langsung : a. b. c. d. Kegiatan : a. Pelayanan kesehatan usia lanjut : Keluarga dimana usia lanjut berada Organisasi sosial yang berkaitan dengan pembinaan usia lanjut Institusi pelayanan kesehatan & non kesehatan yang berkaitan Masyarakat luas

dengan pelayanan dasar & pelayanan rujukan

1.peningkatan : jasmani

melalui penyuluhan tentang kesehatan & pemeliharaan

kebersihan diri, menu makanan dengan gizi seimbang & kesegaran 2.upaya pencegahan : melalui pemeriksaan berkala, senam, penyuluhan tentang alat bantu 3.upaya pengobatan : pelayanan kesehatan dasar pelayanan kesehatan spesialistik melalui rujukan fisioterapi mengembalikan percaya diri

4.upaya pemulihan :

b. Peningkatan peran serta masyarakat c. Pencatatan & pelaporan 18. Upaya pembinaan pengobatan tradisional a. Melestarikan bahan-bahan tanaman yang dapat digunakan untuk pengobatan tradisional b. Melakukan pembinaan terhadap cara-cara pengobatan tradisional Pesan – Pesan Terpadu Pada Penyuluhan A. Tentang Kesehatan Ibu 1. Tundalah perkawinan sampai umur 20 tahun untuk wanita, demi kesehatan ibu dan bayinya 2. Sebaiknya anak cukup 2 orang, laki / wanita sama saja, setelah umur 30 sebaiknya tidak hamil lagi 3. Periksalah kesehatan sebelum memilih alat kontrasepsi efektif, tubuh yang sehat dapat menjamin pemakaian alat kontrasepsi tersebut dengan baik 4. Kalau belum mendapat suntikan TT semasa remaja, mintalah di posyandu / Puskesmas terdekat 5. Makanan yang seimbang akan menjamin kesehatan & produktivitas kerja B. Tentang Kesehatan Ibu Hamil

1. Periksalah kehamilan secara teratur ke posyandu / Puskesmas, minimal 4 kali selama hamil 2. Pemeriksaan kehamilan yang teratur menjamin keselamatan dan kesehatan ibu serta bayi, baik waktu hamil maupun pada saat melahirkan 3. Mintalah imunisasi TT di posyandu sebanyak 2 kali selama kehamilan agar ibu dan bayi terlindung dari tetanus 4. Setiap ibu hamil perlu makanan 1 / 2 piring makanan bergizi lebih banyak dari biasanya 5. Makan sayuran hijau & kacang – kacangan setiap hari akan mencegah terjadinya kurang darah 6. Makanlah satu butir pil Fe setiap hari selama trimester terakhir agar ibu tidak kekurangan darah & dapat melahirkan dengan selamat 7. Timbulnya konstipasi setelah makan tablet Fe adalah gejala biasa & dapat diatasi dengan makan sayuran 8. Hentikan kebiasaan merokok; wanita hamil perokok, besar kemungkinan melahirkan bayi yang kurang BB-nya, keguguran atau bayi meninggal saat dilahirkan atau beberapa hari sesudahnya 9. BBBLR dapat menganggu perkembangan fisik & kecerdasan 10. Mintalah pertolongan persalinan pada petugas kesehatan / dukun terlatih 11. Posyandu memberikan pelayanan khusus seperti pemeriksaan kehamilan, imunisasi TT, pemberian Fe & petunjuk makan bergizi C. Tentang Kesehatan Ibu Menyusui 1. Pilihlah alat kontrasepsi sedini mungkin 2. Tundalah kehamilan berikutnya minimal setelah anak berumur 2 tahun & cegahlah kehamilan berikutnya setelah anak kedua 3. Jarak kelahiran yang tepat melahirkan anak – anak yang lebig sehat 4. Periksalah kesehatan ibu sedini mungkin setelah melahirkan untuk menjamin tidak terjadinya kelainan akibat persalinan

Pusat

DepKes RI

DepDagri

Propinsi
DepKes DT-I Pemda DT-I

Kabupaten
DinKes DT-II (Kab/Kodya) Pemda DT-II (Kab/Kodya)

Kecamatan
Puskesmas Kecamatan

Desa
Pustu Kelurahan / Desa

Posyandu [ bukan bagian dai Puskesmas ]

Struktur Organisasi Puskesmas Kepala Urusan Tata Usaha UNIT I - KIA - KB - Gizi UNIT II UNIT III - P2M - Gi/Mulut - Imunisasi - Kes.Tenaga - Kesling kerja & - Lab. manula UNIT IV UNIT V - PKM - Penyuluhan - UKS+OR - Batra - Kes. Jiwa Kes. Mata Pustu UNIT VI - BP - Rawat inap UNIT VII 19. Farmasi

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. 5. 6. Penyelenggaraan Puskesmas di Era Desentralisasi. Depkes RI. 2001. Dirjen Profil Indonesia Sehat 2010. Depkes RI. 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Dasar-Dasar Dan Sejarah Pengembangannya ” Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi ketiga. DR.Dr. Azrul Azwar M.P.H Manajemen Kesehatan. Dr. A.A. Gde Muninjaya, MPH Perawatan Kesehatan Masyarakat.Drs. Nasrul Effendy

Bina Kesehatan Masyarakat.

Puskesmas”.1982. dr A.L. Slamet Ryadi, SKM

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->