P. 1
Jawa+Barat

Jawa+Barat

|Views: 526|Likes:
Published by Adem Ayem

More info:

Published by: Adem Ayem on Sep 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/09/2013

pdf

text

original

TIM PENELITI KAJIAN TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROPINSI JAWA BARAT UNIVERSITAS PADJADJARAN

Penanggung Jawab

: Prof. Dr. Ir. Tarkus Suganda,

Tim

: Kodrat Wibowo, SE, Ph.D : Dr. Dede Maryana, MS Dr. Dadi Argadiredja, MS Dr. Sudradjat, MT Drs. Budi Gunawan, MA, Ph.D

i

KATA PENGANTAR

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Tim Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Propinsi Jawa Barat 2008 merampungkan laporan akhir Kajian TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROPINSI JAWA BARAT: BERSAMA MENATA PERUBAHAN. Tim dari Universitas Padjadjaran Bandung berasal dari berbagai disiplin ilmu yang disesuaikan dengan arahan fokus yang diinginkan oleh Bappenas. Dalam pelaksanaan kajian evaluasi, peran Bapeda Propinsi Jabar, terutama Bagian Monitoring dan Evaluasi Pembangunan dalam kajian ini sangatlah signifikan, dimana akomodasi mereka dalam menyediakan data serta informasi, kordinasi sangatlah menunjang dan membantu lancarnya proses kajian ini. Laporan akhir ini memuat bab pendahuluan yang berisikan latar belakang, tujuan, keluaran dan kerangka pemikiran dari evaluasi ini, lebih jauh ditampilkan pula gambaran secara cukup mendetail tentang kondisi terkini propinsi Jawa Barat ditinjau dari berbagai aspek. Dilanjutkan dengan bab II hingga bab V sesuai dengan arahan Tim Bappenas Selain itu disajikan lampiran berisi matriks dasar penentuan indikator dan capaian hingga rekomendasi dari berbagai evaluasi per bidang yang dikaji. Diharapkan laporan akhir ini dapat memberikan uraian lengkap yang diwarnai dengan hasil evaluasi yang lebih komprehensif dan detail berdasarkan sumber-sumber data dan informasi yang lebih luas dan akurat serta analisa yang dapat dipertanggungjawabkan. Akhirnya, ucapan terima kasih dan penghargaan setingi-tingginya kami sampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu dalam penyusunan laporan akhir ini.

Bandung, Desember 2008

Tim Penyusun

ii

DAFTAR ISI

Tim Peneliti Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Maksud dan Tujuan 1.3 Keluaran Kegiatan 1.4 Metode Kegiatan 1.5 Kerangka Pemikiran 1.6 Kondisi Jawa Barat Terkini 1.6.1 Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama 1.6.2 Ekonomi 1.6.3 Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 1.6.4 Sarana dan Prasarana 1.6.5 Politik 1.6.6 Hukum 1.6.7 Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat 1.6.8 Aparatur 1.6.9 Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah 1.6.10 Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup 1.7 Tantangan 1.7.1 Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama 1.7.2 Ekonomi 1.7.3 Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 1.7.4 Sarana dan Prasarana 1.7.5 Politik 1.7.6 Hukum 1.7.7 Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat 1.7.8 Aparatur 1.7.9 Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah 1.7.10 Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup 1.8 Modal Dasar AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI II.1. Harmonisasi antar Kelompok Masyarakat dan Pengembangan Kebudayaan serta Nilai-nilai Luhur II.2. Pembangunan Peningkatan Kemanan, Ketertiban, Dan Penanggulangan Kriminalitas

i ii iii vi viii 1 1 1 4 5 5 6 8 9 11 13 14 15 16 17 18 19 19 20 23 26 27 28 29 29 30 30 31 31

BAB II

33 33 34

iii

5. Kualitas Hidup Manusia Jawa Barat IV. Tingkat Transparansi dan Akuntabilitas Kinerja Daerah III. Kerjasama Antar Pemerintah Daerah III. Tingkat Partisipasi Masyarakat III.5.4.2. Organisasi Non Pemerintah. Angka Partisipasi Sekolah III.5. Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan Serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak III.4.2.2. Jujur. Pembenahan Sistem Hukum.1. IV.3.3. Politik Hukum dan Penghapusan Diskriminasi III. Sinkronisasi dan Harmonisasi Peraturan PerundangUndangan Pusat dan Daerah III.6. dan Lembaga Swadaya Masyarakat AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT IV.5.6. Kekerasan Pada Anak III. Jumlah Praktik Korupsi yang Melibatkan Pejabat Pemerintah Daerah dan Penanganannya III.7. Tenaga Kerja III.6. Rata-rata Lama Sekolah III.4.1.3.1.4. Angka Melek Huruf (AMH) III.4.4.2. dan Adil III.3. Peningkatan Ekspor Non Migas dan Investasi Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur Revitalisasi Pertanian Pemberdayaan Koperasi.5. Tertatanya Daerah Otonom Baru III. Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah III. Penanggulangan Kemiskinan IV.4.3.4.7. IV. Pencapaian Tata Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa III. Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan Kekerasan Pada Anak-Anak III. IV.3.1. Jumlah Partai Politik.4.2.1.4.5. IV. Laju Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan PDRB IV.2. dan UMKM Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan. Sumber Dana dan Pembiayaan Pembangunan III. IV.1 Politik III. Pembangunan Pedesaan Peningkatan Akses Pendidikan yang Berkualitas pada 39 39 41 42 43 43 44 45 48 49 50 50 50 54 58 71 76 80 88 88 90 90 93 93 95 BAB IV 98 98 102 105 108 113 115 117 122 126 131 iv .3. Terselenggaranya Pemilu yang Demokratis.1.2.6. Kapasitas Pengelolaan Sumber Daya Aparatur Pemerintah Daerah III.3.5.3. IV.3. Perwujudan Lembaga Demokrasi yang makin Kokoh III.6.BAB III AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG ADIL DAN DEMOKRATIS III. Kelembagaan Pemerintah Daerah III.3.8.3.1. Pendidikan III.1.6.

11. IV. Infrastruktur dan Hal Terkait Kesejahteraan Bidang Pendidikan. V. V. V. IV.4.3. V.6.1. Gender dan Kekerasan pada Anak-anak dan Wanita Permasalahan Lingkungan BAB VI PENUTUP DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN MATRIKS KELUARAN EVALUASI v .14.7.IV. Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga Kependudukan Perbaikan Pengelolaan SDA dan Pelestarian Mutu Lingkungan Hidup Percepatan Pembangunan Infrastruktur 138 153 155 164 164 195 201 201 201 202 203 208 209 210 212 213 214 IV.10.2. IV. Kesehatan. BAB V ISU-ISU STRATEGIS DI DAERAH V. V. V.9.5. Kehidupan Beragama IV. Bidang Hukum Keamanan dan Ketertiban Ketertiban dan Ketentraman Masyarakat Bidang Politik dan Pemerintahan Ekonomi. 12. Masyarakat Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan yang Berkualitas Peningkatan Perlindungan Dan Kesejahteraan Sosial Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat.13.

6 Tabel 3.DAFTAR TABEL Tabel 3. Maret 2007 – Maret 2008 Laju Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Jawa Barat Tahun 2004-2007 Produk Domestik Regional Bruto Jawa Barat Tahun 20042007 Struktur Ekonomi Jawa Barat Menurut Lapangan Usaha Triwulan I 2008 dan Triwulan II Tahun 2008 (Persentase) Pembentukan Modal Tetap Bruto Jawa Barat Tahun 20042007 46 49 60 62 63 71 75 76 77 78 78 80 83 99 101 105 106 107 108 Tabel 3. 2004-2006 Garis Kemiskinan.3 Tabel 4.3 Tabel 3.13 Tabel 4. Tabel 4.2.5 Tabel 4.5 Tabel 3.2 Angka Partisipasi Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Menurut Jenjang Pendidikan yang Ditamatkan Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2007 Urusan Wajib dan Urusan Pilihan dalam Lingkup Pemerintah Provinsi Jawa Barat Hasil Perhitungan Besaran Organisasi menurut PP No.11 Tabel 3.1 Tabel 3.10 Tabel 3.4 Tabel 3. Tabel 4. 41 Tahun 2007 Desain Organisasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang diusulkan Pemerintah Provinsi Jumlah PNS yang Menduduki Jabatan Fungsional di Jawa Barat Tahun 2008 Kegiatan Mutasi Pegawai Provinsi Jawa Barat Rekrutmen CPNSD di Lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2003-2007 Target dan Realisasi Pendapatan Daerah Jawa Barat Tahun 2003-2007 Alokasi Anggaran dan Realisasi Belanja Daerah Jawa Barat Tahun Anggaran 2003-2006 Alokasi Anggaran dan Realisasi Belanja Daerah Jawa Barat Tahun Anggaran 2007 Alokasi Anggaran dan Realisasi Pembiayaan Tahun Anggaran 2003-2007 Perbandingan Capaian IPM sebelum dan setelah Dimekarkan (Data Tahun 2003-2006) Gini Ratio dan 40% Kelompok Penduduk dengan pendapatan Terkecil Jawa Barat Berdasarkan Kabupaten/Kota.8 Tabel 3.4 Tabel 4.7 Tabel 3. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Lokasi.9 Tabel 3.1.6 vi .12 Tabel 3.

Tabel 4.7 Tabel 4.8 Tabel 4.9 Tabel 4.10

Tabel 4.11 Tabel 4.12 Tabel 4.13 Tabel 4.14.

Realisasi Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri Jawa Barat Tahun 2004-2007 Kinerja Sektor Pertanian Jawa Barat 2006-2007 Penyaluran Kredit dan Kredit Macet UMKM per Kabupaten/Kota di Jawa Barat 2006 (Rp Juta dan persen) Penyaluran Kredit dan Kredit Macet UMKM per Kabupaten/Kota di Jawa Barat, Juni 2007 (Rp Juta dan persen) Bantuan Operasional Kinerja Aparatur Pemerintah Desa dan Kelurahan se- Jawa Barat Tahun 200 – 2007 Bantuan Rehabilitasi Kantor Desa dan Kelurahan serta Sarana Olahraga di Jawa Barat Tahun 2005 – 2007 Indikator Mutu Pendidikan Di Jawa Barat (%) Tahun 2005/2006 Presentase Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Menurut Pendidikan Yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Barat Tahun 2005 Rencana Pencapaian Angka (RLS) Tahun 2002 – 2010 Data Role Sharing Rehabilitasi Ruang Kelas Dan Pembangunan RKB , Tahun 2006-2008 Data Umum Kesehatan Lama Balita Menyusui dan Persentase Penolong KelahiranTerakhir Menurut Jenis Kelamin di Jawa Barat Tahun 2007 Data Derajat Kesehatan Angka Kematian Balita per 1.000 kelahiran hidup di Provinsi Jawa Barat dibandingkan dengan angka Nasional tahun 1986, 1992, 1993 dan 2000 Pola Penyakit Penyebab Kematian Anak Balita (1 – 4 Tahun) Yang Dirawat Di Rumah Sakit Di Provinsi Jawa Barat, Tahun 2006 Status Gizi Balita Tahun 1999-2001 dan 2004-2007 Jumlah Kerugian Akibat Bencana Alam Menurut Jenis di Jawa Barat Jumlah Permasalahan Sosial Menurut Jenis di Jawa Barat Jumlah Panti Wreda Berdasarkan Data Dinas Sosial Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur di Provinsi Jawa Barat Tahun 2000 – 2006 Angka Kelahiran Kasar (CBR) dan Angka Kesuburan Total (TFR) di Provinsi Jawa Barat, Tahun 2000 – 2006 Penduduk Wanita berusia 10 tahun ke atas yang pernah menikah Menurut usia perkawinan pertama di Provinsi Jawa Barat Tahun 2002 – 2006 Luasan Abrasi Pesisir Jawa Barat Berdasarkan Wilayah.

112 116 120

121 127 127 132

Tabel 4.15. Tabel 4.16 Tabel 4.17. Tabel 4.18.

134 136 138 140

Tabel 4.19. Tabel 4.20.

142 143

145

Tabel 4.21.

Tabel 4.22. Tabel 4.23. Tabel 4.24. Tabel 4.25. Tabel 4.26 Tabel 4.27. Tabel 4.28.

146 150 153 154 154 156 158

Tabel 4.29.

158 193

vii

DAFTAR GAMBAR Gambar 1.1. Gambar 1.2. Gambar 1.3. Gambar 2.1 Gambar 2.2 Gambar 2.3 Gambar 3.1 Gambar 3.2 Gambar 3.3 Gambar 3.4 Alur Evaluasi Kaitan Dokumen Perencanaan dengan Kajian Kerangka Pemikiran dan Tahapan Kajian Jumlah Pelanggaran Perda di Jawa Barat Tahun 2004 – 2007 Data Gangguan Trantibum Di Jawa Barat Tahun 2004 – 2007 Data Indeks Kriminalitas Provinsi Jawa Barat Jumlah Produk Hukum Daerah di Jawa Barat Yang Dihasilkan Tahun 2003 s/d 2007 Hasil Evaluasi Produk Hukum Daerah Kabupaten/Kota di Jawa Barat Tahun 2004 s/d 2007 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin (2007) Jumlah Produk Hukum Daerah di Jawa Barat yang dihasilkan Tahun 2003-2008 Gambar 3.5 Gambar 3.6 Gambar 3.7 Gambar 3.8 Gambar 3.9 Gambar 4.1 Gambar 4.2 Gambar 4.3 Gambar 4.4 Gambar 4.5 Gambar 4.6 Gambar 4.7 Kerjasama yang telah Dilaksanakan di Jawa Barat Tahun 2003-2007 PNS yang Mengikuti Tugas Belajar dan Izin Belajar Berdasarkan Jenjang Pendidikan, Tahun 2003-2008 Komposisi PNS Pemerintah Provinsi Jawa Barat berdasarkan Golongan Jumlah Kasus Pidana Korupsi di Jawa Barat Tahun 20052007 Jumlah LSM dan Anggota LSM di Jawa Barat Tahun 2003-2006 Perkembangan Ekspor Jawa Barat 2006-2007 Perkembangan Impor Jawa Barat 2006-2007 Perkembangan Ekspor dan Impor 2006-2008 Komposisi Penduduk Pekerja Berdasarkan Profesi dan Jenis Pekerjaan 2007 Jumlah Desa dan Kelurahan di Provinsi Jawa Barat Tahun 2004 – 2007 Jumlah KK Yang Mendapat Pinjaman Bergulir dari Program Raksa Desa Tahun 2003-2006 Jumlah Swadaya Masyarakat Dalam Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Pada Program Raksa Desa Tahun 2003-2007 Sarana Rumah Sakit di Jawa Barat tahun 2004 - 2006 8 36 36 37 40 41 47 6

52 57 73 74 88 96 109 109 111 123 128 129

Gambar 4.8.

130 140

viii

Gambar 4.9

Gambar 4.10. Gambar 4.11. Gambar 4.12. Gambar 4.13.

Gambar 4.13. Gambar 4.14. Gambar 4.15. Gambar 4.16. Gambar 4.17

Rasio Tempat Tidur Di Seluruh Rumah Sakit TerhadapPenduduk Provinsi Jawa Barat Tahun 2004 2007 Angka Kematian Bayi (AKB) menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Jawa Barat tahun 2005 Penyebab Kematian Ibu Maternal di Provinsi Jawa Barat, Tahun 2003-2005 Perbandingan Proyeksi UHH dan Target UHH Provinsi Jawa Barat, Tahun 2000 s.d. 2010 Persentase Desa/Kelurahan dengan Garam Beriodium yang Baik Di Provinsi Jawa Barat, Tahun 2003 s.d 2006 Prevalensi Anemia Gizi Ibu Hamil di Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 Jumlah Penduduk Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2000 – 2006 Laju Pertumbuhan Penduduk Di Provinsi Jawa Barat Selama Kurun Waktu 2002-2007 Cakupan Peserta KB Baru di Provinsi Jawa Barat Tahun 2001s/d 2006 Tahapan Keluarga Sejahtera di Propinsi Jawa Barat 2005-2006

141 144 147 148

150 151 156 157 159 160

ix

BAGIAN I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pembangunan merupakan salah satu fungsi utama yang harus dijalankan oleh pemerintah sebagai salah satu pengambil kebijakan. Dalam konsep pembangunan, terkandung makna-makna alokasi sumber-sumber daya, regulasi, dan pemberdayaan masyarakat. Pembangunan sebagai metode alokasi sumbersumber daya artinya bahwa melalui berbagai program dan kegiatan pembangunan diarahkan untuk mencapai pemerataan dalam distribusi sumber-sumber daya (resources) yang dimiliki publik, seperti sumber daya alam, sumber daya energi, sumber dana, sumber daya manusia, dll. Dalam perspektif ini, pembangunan seyogyanya memperluas akses publik untuk memperoleh sumber-sumber daya yang diperlukan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat, mempermudah akses publik untuk menikmati berbagai fasilitas pelayanan dasar (pendidikan, kesehatan, infrastruktur, air bersih, listrik, dll.), serta menjamin ketersediaan dan kontinuitas sumber-sumber daya tersebut bagi kelangsungan hidup masyarakat. Usaha-usaha untuk mengukur perkembangan pembangunan di Jawa Barat tidak pula dapat dilepaskan dari sistem Nilai dan budaya yang berkembang di Jawa Barat. Ini berarti dasar pemikiran ke arah penyusunan seperangkat indikator kinerja pembangunan di Jawa Barat tidak dapat dilepaskan dari pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam dokumen perencanaan pembangunan jangka panjang (RPJP), menengah (RPJM), Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD), dan pendek (Renja SKPD). Karena pembangunan terkait dengan fungsi regulasi, yang mengandung makna bahwa pemerintah, baik di pusat maupun di daerah, seyogyanya mendasarkan penyelenggaraan program-program pembangunan pada dokumen perencanaan yang memuat arah kebijakan, strategi, program, dan kebijakan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah. Setiap daerah memiliki kondisi dan kebutuhan yang beragam, sehingga model pembangunan yang diterapkan akan berbeda pula dalam hal skala prioritasnya. Meskipun demikian, perencanaan pembangunan secara makro di tingkat nasional dan regional (propinsi) tetap diperlukan untuk menjamin keserasian dan sinergitas

1

berbagai permasalahan yang terjadi. maka salahsatu konsekuensi logis dari pelaksanaan otonomi daerah adalah adanya perbedaan kinerja pembangunan antar daerah. sementara kesehatan akan menjadi faktor penunjang untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. Kemampuan ini hanya akan tercapai bila ada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan. infrastruktur. Paradigma pembangunan yang berkembang sekarang ini berfokus pada peningkatan kualitas hidup manusia. Perbedaan kinerja pembangunan antar daerah selanjutnya akan menyebabkan kesenjangan dalam kemajuan dan tingkat kesejahteraan antardaerah. seperti bencana alam. serta masalah kemiskinan perlu dipantau dan dievaluasi secara cermat dan terus-menerus. geografis. kelangkaan BBM. konflik sosial. Tolok ukur yang digunakan adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencakup kualitas pendidikan. dan daya beli diharapkan akan terjadi peningkatan kualitas hidup manusia. serta mampu memilih alternatif solusi yang paling tepat. kesehatan. demam berdarah. serta kapasitas sumberdaya (manusia dan alam) yang berbeda. Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya meningkatkan kapasitas masyarakat agar mampu mengidentifikasi permasalahan yang mereka hadapi. Selain itu. Melalui peningkatan pendidikan.pembangunan sektoral dan kewilayahan yang berlangsung di kabupaten/kota yang termasuk dalam wilayahnya. dan ekonomi (daya beli). Pendidikan akan memperluas wawasan pemikiran dan keterampilan masyarakat. Dengan mengacu pada konsep IPM tersebut. dan kemajuan ekonomi yang tidak sama. maka evaluasi kinerja pembangunan di Jawa Barat 2 . mampu mempertimbangkan dampak-dampak yang mungkin timbul dari alternatif solusi tersebut. mampu mencari alternatif solusinya. flu burung. Propinsi sebagai kepanjangan tangan Pemerintah Pusat memiliki kewenangan untuk berperan sebagai fasilitator dan koordinator dalam penyelenggaraan pembangunan daerah yang bersifat lintas kabupaten/kota. Pembangunan juga berkaitan erat dengan pemberdayaan masyarakat karena pada hakikatnya pembangunan merupakan upaya untuk memberikan kebebasan pada masyarakat dalam menentukan nasibnya. kesehatan. Dengan latar belakang keadaan demografis. Kemampuan dan kemandirian ini tidak akan terwujud bila tidak ada pemberdayaan masyarakat.

keberhasilan pembangunan manusia juga tidak dapat dilepaskan dari kinerja pemerintah yang masih penting peranannya dalam menciptakan regulasi bagi tercapainya tertib sosial.diarahkan untuk menganalisis capaian kinerja pembangunan di bidang pendidikan. berbagai praktik inovatif dalam pelayanan publik khususnya pelayanan pendidikan dasar juga berkembang di berbagai daerah kabupaten/kota dalam bentuk pembebasan SPP atau pemenuhan anggaran pendidikan 20% dari APBD. pendidikan.60 juga untuk mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran atau secara umum meningkatkan kesejahteraan masyarakat. kesehatan. Permasalahan yang dihadapi Jawa Barat saat ini adalah masih rendahnya capaian IPM dibandingkan dengan target tahunan menuju IPM 80 di tahun 2010. peningkatan dalam capaian Indeks Pendidikan ternyata masih 3 . penduduk miskin Jawa Barat yang meningkat terus menjadi 13.55% dari total penduduk di Jawa Barat (data bulan Maret tahun 2008). seperti Rata-rata Lama Sekolah. Pilkada langsung yang diharapkan membawa perubahan dalam praktik pemerintahan ternyata belum memunculkan dampak signifikan. serta rendahnya cakupan infrastruktur di Jawa Barat. Kondisi ini membawa harapan baru bahwa desentralisasi dan otonomi daerah dapat mendorong perkembangan daerah ke arah yang lebih baik. Kasus-kasus penyimpangan dalam perilaku birokrat dan politisi. korupsi. tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jawa Barat adalah 14. Namun demikian. dan ekonomi. secara umum terjadi peningkatan dalam capaian indikator pendidikan. dan lingkungan hidup. Namun demikian. Sepanjang tahun 2007. Dalam bidang politik dan pemerintahan. kebijakan pembangunan yang merupakan salah satu wujud fungsi pemerintah diarahkan selain untuk pencapaian IPM 2008 sebesar 76. Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK) serta Angka Melek Huruf (AMH). Oleh karena itu. kolusi. ekonomi. dan nepotisme masih mewarnai perjalanan pembangunan di Jawa Barat sepanjang tahun 2007 hingga pertengahan 2008. sejumlah permasalahan masih terjadi di Jawa Barat menyangkut bidang politik dan pemerintahan. kesehatan. reformasi birokrasi masih menjadi wacana krusial yang belum selesai tergarap. Namun. Di bidang pendidikan ini.51% dari jumlah angkatan kerja (data bulan Maret tahun 2008).

Banyak kebijakan pembangunan yang disadari atau tidak mengarah pada perusakan lingkungan hidup. seperti jarak ke pusat kesehatan. namun capaian ini juga belum berhasil mencapai target yang ditetapkan. Evaluasi terhadap berbagai permasalahan dan penyebabnya tersebut menjadi penting sebagai bahan masukan bagi perbaikan penyelenggaraan pembangunan dan kepemerintahan daerah di masa mendatang. perilaku masyarakat. Kajian ini dimaksudkan sebagai bagian dari pengembangan sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah untuk 4 . Karena itu. Di bidang kesehatan. antara lain anggaran pendidikan 20% dari APBD yang belum dapat diwujudkan di seleuruh kabupaten/kota bahkan propinsi sendiri. kualifikasi dan kualitas tenaga kependidikan yang masih belum memadai. sehingga kelestarian lingkungan hidup menjadi penting untuk diperhatikan.2 Maksud dan Tujuan Kajian “TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROPINSI JAWA BARAT: BERSAMA MENATA PERUBAHAN” dilakukan untuk mengukur capaian pelaksanaan PRJMN Tahun 2004-2009 di daerah propinsi Jawa Barat. dan kelaparan di beberapa daerah di Jawa Barat. Sekalipun capaian Indeks Kesehatan menunjukan peningkatan selama periode 2003 – 2007. dan tenaga kesehatan yang masih kurang menjadi isu-isu penting dalam pembangunan bidang kesehatan. biaya kesehatan yang mahal. sejumlah permasalahan muncul terkait dengan masih maraknya epidemi berbagai jenis penyakit seperti demam berdarah. Pembangunan manusia juga mensyaratkan keberlanjutan atau kontinuitas. kualitas permukiman yang kurang memadai. pemerataan akses pendidikan. serta sarana dan prasarana pendidikan yang belum memadai dan tersebar merata di berbagai wilayah Jawa Barat. dimensi lingkungan hidup menjadi salah satu dimensi yang akan juga dievaluasi. Akses masyarakat terhadap kesehatan. Sejumlah permasalahan diduga sebagai penyebab kegagalan ini. gizi buruk.belum mencapai target yang ditetapkan. Motivasi untuk meningkatkan PAD seringkali "mengalahkan" pertimbangan untuk konservasi lingkungan. 1.

3 Keluaran Kegiatan Kegiatan TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROPINSI JAWA BARAT diharapkan menghasilkan keluaran (output) berupa laporan yang berisi antara lain: 1. Pengamatan langsung (fact findings) terhadap hasil dan pelaksanaan pembangunan kepada masyarakat dalam bidang politik dan pemerintahan. pendidikan.mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan RPJM Nasional serta mengembangkan sistem deteksi dini masalah daerah. Identifikasi konsistensi arah dan tujuan pembangunan daerah Propinsi Jawa Barat dengan pembangunan nasional. 3. 4. kesehatan. Terdientifikasinya sikronisasi arah dn tujuan pembangunan daerah dengan pembangunan nasional. Tujuan dari kajian : TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROPINSI JAWA BARAT dapat disarikan sebagai berikut: 1. 5 . 1. 1.4 Metode Kegiatan Evaluasi kinerja dilakukan dengan pendekatan dan tahapan sebagai berikut: 1. Informasi. data. Mengumpulkan berbagai data dan informasi yang akurat dan obyektif tentang upaya. serta analisis tentang upaya. 3. Isu Strategis daerah Propinsi Jawa Barat. ekonomi. Teridentifikasinya isu strategis daerah propinsi Jawa Barat 4. dan lingkungan hidup dengan memanfaatkan data sekunder berupa dokumen pelaporan yang tersedia sehingga bersifat expost-evaluation. capaian dan permasalahan pelaksanaan RPJMN 2004-2009 di Propinsi Jawa Barat. Tersusunnya berbagai rekomendasi tindak lanjut dalam perumusan kebijakan. Tersusunnya berbagai rekomendasi tindak lanjut dalam perumusan kebijakan. 2. dan permasalahn pelaksanaan RPJMN Tahun 2004-2009 di daerah Jawa Barat 2. capaian.

Forum Group Discussion dengan sekelompok responden atau nasrasumber dalam hal ini merupakan stakeholders pembangunan dengan tujuan mendiskusikan topik-topik yang telah dipersiapkan oleh tim evaluasi propinsi. misi dan program Presiden dan Wakil Presiden yang terpilih yang memuat strategi pembangunan nasional. program. 1. program kementrian/Lembaga dan 6 . Kerangka Pemikiran Sesuai dengan PP No. keluaran (output). Perumusan isu-isu strategis berdasarkan tahapan butir (1).5.1. 4. dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input). kebijakan umum. Penilaian (assessment) secara kualitatif maupun kuantitatif terhadap hasil dari pelaksanaan hasil butir (1) dan (2) dikaitkan dengan pelaksanaan kebijakan. Peran Bapeda Propinsi Jawa Barat akan sangat signifikan dalam tahapan ini 3. 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. dan kegiatan pembangunan yang sedang berjalan dan yang sudah dilaksanakan di daerah dalam menunjang pencapaian tujuan pembangunan nasional dalam RPJMN 2004-2009.2. Gambar 1.Alur Evaluasi RPJMN tahun 2004-2009 merupakan penjabaran dari visi. (2) dan (3).

Pembangunan. 3 tahun 2003 tentang Program Pembangunan Daerah Propinsi Jawa Barat 2003 – 2007.lintas Kementrian/Lembaga. 7 . \ Gambar 1. antara lain kesempatan kerja. lapangan usaha dan akses terhadap pemngabilan kebijakan. berdasarkan UU No 25 tahun 2004 tentang SPPN maka RPJMN ini dapat dijabarkan/menjabarkan lebih lanjut lewat RPJMD (yang saat itu masih bernama PROPEDA) 2003 – 2007 yang disahkan oleh Peraturan pemerintah No. aspirasi dan permasalahan pembangunan di daerah. Kaitan Dokumen Perencanaan dengan Kajian Pembangunan daerah merupakan bagian integral dan penjabaran dari pembangunan nasional dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan yang disesuaikan dengan potensi. kewilayahan dan lintas Kewilayahan. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiscal dalam rencana kerja berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan. kemudian RPJMD ini diteruskan kepada Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Rencana Kerja SKPD (Renja SKPD). Di tingkat daerah. Pembangunan daerah memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata.2.

sasaran dan indicator kinerja. 8 . nilai dan prosentasi dari bidang pembangunan yang terpilih seperti presentasi terhadap angka harapan hidup.3. Sedangkan pencapaian makro lebih ditekankan pada pencapaian hasil dari indicator-indikator keberhasilan pembangunan pada setiap bidang pemerintahan yang dipilih. jumlah fasilitas kesehatan dll.Langkah awal dalam mengidentifikasi pelaksanaan pembangunan di daerah adalah dengan memahami RPJMN Tahun 2004-2009 terutama agenda. Dengan menggunakan pendekatan dan tahapan yang telah dijelaskan dalam sub bab 1. Gambar 1. maka tujuan dari EKPD 2008 ini dapat dicapai dengan baik.4. Kerangka Pemikiran dan Tahapan Kajian Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan kajian TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROPINSI JAWA BARAT 2008 adalah melalui pendekatan mikro untuk pencapaian makro. Pendekatan mikro dilakukan untuk melihat pencapaian-pencapaian angka.

Pelaksanaan pembangunan daerah telah mencapai kemajuan pada berbagai bidang. ekonomi ilmu pengetahuan dan teknologi.35 poin pada tahun 2005.100. 1. tata ruang dan pengembangan wilayah. serta paritas daya beli (purchasing power parity) sebesar Rp. dilakukan secara terus menerus. kesehatan. Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Jawa Barat yang masih tinggi dipicu oleh tingginya angka kelahiran dan migrasi masuk Jawa Barat. 556.52 %. pemuda. 9 . serta sumberdaya alam dan lingkungan hidup merupakan bagian integral dari pembangunan nasional.57 tahun. baik laju pertumbuhan penduduk alami maupun migrasi masuk. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) sebesar 7. Angka Harapan Hidup waktu lahir (AHH) sebesar 66.. aparatur. ketentraman dan ketertiban masyarakat. seni budaya. Pembangunan kualitas hidup manusia Jawa Barat tetap menjadi prioritas pembangunan daerah.. sarana dan prasarana. Pencapaian tersebut merupakan komposit dari Angka Melek Huruf (AMH) sebesar 94. politik.1. Kondisi tersebut tercermin pada kuantitas penduduk dan kualitas penduduk seperti pendidikan. dengan memperhatikan modal dasar yang dimiliki Provinsi Jawa Barat.960. Upaya pengendalian laju pertumbuhan penduduk.6.6. masih ditemui pula berbagai masalah dan tantangan yang perlu diselesaikan dalam pembangunan daerah kedepan.869 jiwa atau 18. Hal tersebut antara lain ditunjukkan dengan pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 69. pemberdayaan perempuan.1 Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama Pembangunan daerah bidang sosial budaya dan kehidupan beragama berkaitan dengan kualitas manusia dan masyarakat Jawa Barat. dan keagamaan. Namun demikian. hukum. Jumlah penduduk Jawa Barat pada tahun 2005 mencapai 39. Kondisi Jawa Barat Terkini Pembangunan daerah yang meliputi bidang sosial budaya dan kehidupan beragama.46 tahun. olah raga.16% dari total penduduk Indonesia. Perkembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) Jawa Barat menunjukkan perkembangan yang semakin membaik.

59%. peningkatan partisipasi anak usia sekolah. 37. dan tingkat partisipasi angkatan kerja.1%.6.357 jiwa atau 34.48%. serta peningkatan jumlah dan pemerataan distribusi tenaga pendidik. Kebijakan yang memiliki keberpihakan terhadap peningkatan peran kaum perempuan di seluruh sektor dan aspek pembangunan telah dilakukan. Indeks Pemberdayaan Jender Jawa Barat mencapai 43. perempuan dalam posisi manajer.d.67 per seribu kelahiran hidup. staf teknis.4% perempuan dalam posisi staf teknis. Pembangunan pemuda sebagai salah satu unsur sumber daya manusia dan tulang punggung bangsa serta penerus cita-cita bangsa. Angka Kematian Bayi (AKB) mencapai 64. kesejahteraan hidup dan tingkat kesehatannya. kualitas dan relevansi serta tata kelola pendidikan belum sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan daya saing. Jumlah penduduk usia 15 s.16% dari jumlah penduduk 10 . Angka ini menunjukkan partisipasi perempuan dalam parlemen yang baru mencapai 3% dari total anggota parlemen. Namun aksesibilitas masyarakat terhadap pendidikan masih rendah. Pemberdayaan perempuan tercermin dari Indeks Pemberdayaan Jender yang meliputi angka partisipasi perempuan dalam parlemen. Pada tahun 2002. Namun upaya pengarusutamaan gender ini masih perlu lebih diaktualisasikan di segala bidang. Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan sebesar 321. angka kematian balita sebesar 13. angka putus sekolah masih cukup tinggi. 34 tahun di Jawa Barat adalah 14. mulai dari tingkat pendidikan.848. peringkat 24 dari 30 Provinsi di Indonesia. Namun demikian. pengembangan sekolah alternatif. disiapkan dan dikembangkan kualitas kehidupannya. pengembangan pendidikan luar sekolah.Pembangunan bidang pendidikan telah dilaksanakan dengan menitikberatkan pada upaya peningkatan kuantitas dan kualitas sarana prasarana pendidikan.15 per seratus ribu kelahiran hidup. dan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan yang baru mencapai 33. serta angka kurang gizi pada balita sebesar 1. peningkatan pada indikator kesehatan masyarakat Jawa Barat tersebut capaiannya masih berada di bawah rata-rata nasional. Peningkatan akses masyarakat terhadap kesehatan dan pengembangan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat terus dilakukan.

42%. Namun. penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa masih perlu terus ditingkatkan. disisi lain upaya peningkatan jati diri masyarakat Jawa Barat seperti solidaritas sosial. Dari jumlah kasus KDRT tahun 2005 sebanyak 1.Provinsi. Hal tersebut diindikasikan dari jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) sebesar 1. Korban trafficking pada anak dan perempuan sebesar 48. PMKS tersebut di antaranya adalah pengemis. Cirebon. Pembangunan seni dan budaya di Jawa Barat sudah mengalami kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya pemahanan terhadap nilai budaya dan penggunaan bahasa daerah Sunda. trafficking pada anak dan perempuan. Budaya berperilaku positif seperti kerja keras. Status kesejahteraan sosial masyarakat Jawa Barat secara umum masih rendah. anak jalanan.06% dari kasus KDRT tersebut adalah perempuan yang menjadi korban kekerasan majikan. Pembangunan kebudayaan di Jawa Barat ditujukan untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah serta mempertahankan jati diri dan nilai-nilai budaya daerah di tengah-tengah semakin derasnya arus informasi dan pengaruh negatif budaya global.911 jiwa pada tahun 2005. gotong royong. kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). 69.70% pelakunya adalah laki-laki. kekeluargaan. Dermayu dan Melayu Betawi sebagai bahasa ibu masyarakat Jawa Barat.370. kebersamaan dan kemandirian dirasakan makin memudar. Jawa Barat juga memiliki organisasi kepemudaan sebagai salah satu elemen masyarakat yang potensial untuk menjadi generasi muda yang lebih berkualitas dan mandiri. Namun demikian Jawa Barat belum memiliki sarana olahraga terpadu dengan standar internasional untuk mendukung proses pembinaan tersebut. Pembinaan terhadap olahragawan berprestasi tetap dipertahankan karena Provinsi Jawa Barat memiliki peran yang strategis dalam kancah prestasi olah raga nasional. Kondisi tersebut menciptakan hubungan yang harmonis dan kondusif baik antara 11 . Kualitas kehidupan beragama di Jawa Barat menunjukkan kesadaran masyarakat untuk melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat.917. gelandangan. dan 6. kekerasan pada anak. tuna susila.

mengurangi fluktuasi harga dan menjamin ketersediaan barang kebutuhan yang cukup dan terjangkau oleh masyarakat. Pengembangan perdagangan di Jawa Barat difokuskan pada pengembangan sistem distribusi barang dan peningkatan akses pasar baik pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. rendahnya kemampuan dan keterampilan sumber daya industri serta tingginya pencemaran limbah industri. dengan alam dan budaya yang dimiliki sebagai modal dasar pengembangan daya tarik wisata.2. Pengembangan sistem distribusi diarahkan untuk memperlancar arus barang. Peringkat sektor pariwisata secara nasional dilihat dari jumlah kunjungan wisatawan berada pada posisi 3 setelah DKI Jakarta dan Bali.68%. Kendala yang masih dihadapi adalah belum tertatanya objek wisata dan masih rendahnya kualitas infrastruktur pendukungnya. Namun masih dihadapi munculnya ajaran-ajaran sesat yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah agama yang mengganggu kehidupan beragama dan bermasyarakat.6. Sektor industri merupakan komponen utama pembangunan daerah yang mampu memberikan kontribusi ekonomi sebesar 44. Provinsi Jawa Barat memiliki potensi pariwisata yang sangat beragam baik dari sisi produk wisata maupun pasar wisatawan. memperkecil disparitas antar daerah. Adapun peningkatan akses pasar baik dalam negeri maupun luar negeri dilakukan melalui promosi produk Jawa Barat. Hal tersebut didukung oleh jumlah kawasan industri yang terbanyak di Indonesia.sesama pemeluk agama maupun antarumat beragama. daya saing industri di Jawa Barat masih rendah yang disebabkan oleh tingginya ketergantungan pada bahan baku impor. pertumbuhan ekonomi tersebut belum dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ditandai dengan masih tingginya jumlah penduduk miskin dan pengangguran. rendahnya kemampuan dalam pengembangan teknologi. Akan tetapi. Ekonomi Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pasca krisis tahun 1997 menunjukkan kecenderungan meningkat. Peningkatan tersebut dikontribusikan oleh tiga sektor utama yaitu sektor Industri Pengolahan. sektor Perdagangan Hotel dan Restoran dan sektor Pertanian. 1. Namun demikian. 12 .

bioteknologi kelautan. Sayangnya. dan didukung oleh kondisi agroekosistem yang cocok untuk pengembangan komoditas pertanian dalam arti luas (tanaman. baik Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Namun demikian. masih rendahnya infrastruktur pendukung adalah merupakan kendala dalam upaya peningkatan investasi di Jawa Barat. memiliki potensi yang besar dan variatif. ikan.65 persen dari jumlah penduduk bekerja. regional. Hal ini diakibatkan belum efisien dan efektifnya birokrasi. dan nasional. serta berbagai macam jasa lingkungan kelautan. kondisi dan potensi sumber daya perikanan dan lautan yang besar ini tidak diikuti dengan perkembangan bisnis dan usaha perikanan dan kelautan yang baik. Kondisi tersebut mendukung Jawa Barat sebagai produsen terbesar untuk 40 (empatpuluh) komoditas agribisnis di Indonesia khususnya komoditas padi yang memberikan kontribusi terbesar terhadap produksi padi nasional. Terbukti dengan masih rendahnya tingkat investasi dan produksi sumber daya perikanan dan kelautan yang masih jauh dari potensi yang ada serta lemahnya kondisi pembudidaya dan nelayan sebagai produsen. Jawa Barat memiliki potensi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan terutama dalam pengembangan usaha perikanan tangkap. Iklim investasi di Jawa Barat menunjukkan perkembangan yang terus membaik. Cara pandang sektoral yang belum terintegrasi pada sistem pertanian serta ketidaksiapan dalam menghadapi persaingan global merupakan kendala yang masih dihadapi sektor pertanian. Posisi Jawa Barat yang strategis menempatkan Jawa Barat menjadi tujuan utama untuk investasi. Namun hubungan antar subsistem pertanian belum sepenuhnya menunjukkan keharmonisan baik pada skala lokal. pertumbuhan investasi belum mampu meningkatkan keterkaitan dengan usaha ekonomi lokal dan kesempatan kerja. usaha budidaya laut. Sektor pertanian juga memiliki tingkat penyerapan tenaga kerja yang tinggi yaitu sebesar 29.Pertanian di Provinsi Jawa Barat secara umum sudah ada dan tumbuh di masyarakat. 13 . belum adanya kepastian hukum dan kepastian berusaha dalam bidang penanaman modal. dan hutan). ternak.

mekanisme intermediasi yang menjembatani interaksi antara kapasitas penyedia iptek dengan kebutuhan pengguna belum efektif. rendahnya kualitas dan cakupan pelayanan antara lain dicirikan dengan rendahnya nilai indeks aksesibilitas dan mobilitas rata-rata jaringan jalan dibandingkan dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk jaringan jalan provinsi.6. Hal tersebut disebabkan kurangnya efektifitas fungsi dan peranan Usaha Mikro. belum optimalnya kemantapan jalan provinsi terutama di jalur jalan vertikal yang menghubungkan wilayah tengah dan selatan Jawa Barat. 1. Hal ini disebabkan oleh sumber daya IPTEK masih terbatas. Kecil dan Menengah dalam pembangunan. Pada aspek transportasi yang terdiri dari transportasi darat.Peranan Usaha Mikro. sinergi kebijakan yang lemah menyebabkan kegiatan IPTEK belum sanggup memberikan hasil yang signifikan.8. Namun demikian secara umum kualitas dan cakupan pelayanan sarana dan prasarana wilayah masih rendah dan belum merata. perguruan tinggi maupun swasta yang banyak berlokasi di Jawa Barat belum dapat diimplementasikan dengan maksimal. Kecil dan Menengah dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi dirasakan belum optimal. dan budaya pemanfaatan iptek belum berkembang serta belum terkaitnya hasil kajian dengan kebutuhan riil masyarakat. sumber daya air dan irigasi. Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana wilayah yang meliputi infrastruktur transportasi. telekomunikasi.4. masih kurangnya pembangunan jalan tol. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Publikasi dan kajian ilmiah yang dihasilkan oleh lembaga penelitian baik milik pemerintah.6. 1.3. listrik dan energi serta sarana dan prasarana dasar permukiman memiliki peran yang penting bagi peningkatan perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat. masih tingginya kredit konsumsi dibandingkan dengan kredit investasi sehingga kurang menopang aktivitas sektor riil. rendahnya kapasitas ruas jalan di perkotaan dengan nilai Volume Capacity Ratio (VCR) rata-rata mendekati nilai 0. belum optimalnya 14 . kurangnya penyediaan angkutan massal dan jaringan jalan rel. udara dan laut.

sedangkan untuk beberapa daerah perkotaan dan kabupaten kondisi teledensitasnya masih rendah. Namun demikian. sampai saat ini mengkonsumsi beban listrik Jamali sebesar 28%. serta masih terbatasnya fungsi Pelabuhan Cirebon sebagai pelabuhan niaga. belum optimalnya pelayanan Bandar Udara Husein Sastranegara dan bandara lainnya dalam melayani penerbangan komersial dari dan ke Jawa Barat. hanya 24 desa yang belum memiliki infrastruktur listrik. Beban puncak listrik Jawa Barat sebesar 3. masih terbatasnya penyediaan air baku untuk berbagai kebutuhan. Khusus untuk layanan jasa telepon kabel.05 MW. beberapa daerah perkotaan angka teledensitasnya sudah tinggi (>10). yang dicirikan dengan masih tingginya fluktuasi ketersediaan air permukaan yang menimbulkan banjir dan kekeringan.6. dicirikan dengan adanya beberapa wilayah yang belum terlayani.59%.5. perumahan dan cakupan layanan air bersih masih sangat rendah dicirikan dengan masih banyaknya rumah tangga yang belum bisa memiliki rumah layak huni. serta belum optimalnya intensitas tanam padi akibat rendahnya layanan jaringan dan penyediaan air irigasi. Cakupan desa yang sudah mendapatkan tenaga listrik mencapai 99. Adapun cakupan layanan untuk infrastruktur telekomunikasi belum bisa menjangkau setiap pelosok wilayah. 1.J.337. Politik Sejak 1998. Pada masa pemerintahan B. angka rasio elektrifikasi rumah tangga masih belum optimal baru mencapai 58%. sedangkan daya mampu pembangkitnya sebesar 4.kondisi dan penataan sistem hierarki terminal sebagai tempat pertukaran moda. Keberadaan prasarana persampahan juga masih belum optimal baik yang layanannya bersifat lokal maupun regional. Habibie ditetapkan Undang-Undang Kepartaian yang memberi kebebasan kepada masyarakat untuk 15 . yang berarti masih mempunyai surplus kapasitas pembangkitan. Pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana permukiman seperti. Sistem kelistrikan Jawa Barat yang merupakan bagian dari sistem kelistrikan nasional Jawa-Madura-Bali (Jamali). gerakan reformasi telah mendorong demokratisasi baik pada tingkat nasional maupun lokal. Keberadaan infrastruktur sumber daya air dan irigasi juga masih belum memadai.785 MW.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. 22 Tahun 1999. UndangUndang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas dari KKN dan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. dan desentralisasi kekuasaan dari Pusat ke daerah yang ditandai oleh berlakunya UU No. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1999 tentang Pengesahan Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Demokrasi juga telah mendorong masyarakat untuk lebih berani mengemukakan aspirasinya. selanjutnya pada Kota Tasikmalaya dan Kota Cimahi pada tahun 2001. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 Tentang Pokok-pokok Kekuasaan Kehakiman. Susunan dan kedudukan MPR. DPR. baik yang muncul secara sendiri. Di samping itu paket perundang-undangan lainnya yang menandai demokratisasi berlangsung di Indonesia antara lain adalah mengenai penyelenggaraan Pemilu yang dilaksanakan pada 1999. maupun karena pemisahan dari partai dominan yang diakui selama Orde Baru. Aspirasi pembentukan daerah otonom akan terus berkembang sejalan 16 . Kepala Daerah dipilih secara langsung. Indonesia telah memasuki tahap demokrasi yang sangat kuat. Di daerah sendiri berdasarkan UU No. Di Jawa Barat sejak tahun 1999 telah terbentuk 1 provinsi. dan DPRD. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dengan demikian secara kelembagaan dan prosedur. upaya mendorong demokratisasi dilakukan pula dengan mengubah pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung yang dilakukan pada 2004. serta Kota Banjar pada tahun 2003. Hal tersebut menandakan bahwa masyarakat telah siap dan percaya dengan aturan main dalam berdemokrasi. Pada masa pemerintahan berikutnya. kebebasan berorganisasi yang makin luas dengan membentuk berbagai organisasi kemasyarakatan. yaitu Provinsi Banten yang sebelumnya merupakan wilayah Keresidenan Banten. Di Jawa Barat pemilihan kepala daerah secara langsung telah berjalan dengan baik dengan ditandai oleh kesiapan elite dan masyarakat untuk menerima kekalahan atau kemenangan pihak lain. kebebasan pers. Salah satunya adalah keinginan untuk membentuk pemerintahan sendiri baik pada level kabupaten/kota maupun level provinsi.membentuk partai politik.

Kondisi tersebut menghambat penyelenggaraan pemerintahan di daerah. 1. Rencana aksi tersebut menjadi acuan semua pihak di daerah dalam implementasi peraturan perundang-undangan mengenai HAM. 1. Hal tersebut mengakibatkan daerah mengalami kesulitan dalam menindaklanjuti dengan peraturan daerah dan dalam implementasinya. aparatur hukum yang bersih serta prasarana dan sarana yang memadai. Kondisi tersebut lebih lanjut menyebabkan penegakkan hukum yang lemah dan perlindungan hukum dan HAM belum dapat diwujudkan. terutama lembaga pemerintah yang memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan dan memenuhi hak asasi warga negara. Namun proses demokratisasi mendorong penggantian berbagai aturan perundang-undangan di tingkat nasional yang pada akhirnya berdampak terhadap daerah. Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat Pembangunan Bidang Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat dilakukan untuk mewujudkan kondisi sosial yang tertib dan dapat mendukung pelaksanaan pembangunan lainnya. penegakkan hukum dan hak asasi manusia. Dalam penegakkan HAM telah disusun Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) yang melibatkan seluruh stakeholders pembangunan. selain banyak yang saling bertentangan juga tidak segera ditindaklanjuti dengan peraturan pelaksanaannya.7. Peraturan perundang-undangan yang baru.6. Kondisi ketentraman dan ketertiban masyarakat sangat 17 .6. Hukum Pembangunan Bidang Hukum di daerah diarahkan untuk mewujudkan harmonisasi produk hukum yang dapat mendukung pelaksanaan otonomi daerah. Berbagai perundang-undangan yang ditetapkan pemerintah pusat pada implementasinya mengalami berbagai kendala karena belum didukung oleh sistem hukum yang mapan. yang dapat berpengaruh terhadap pelayanan kepada masyarakat.dengan tuntutan untuk ikut serta dalam berpemerintahan dan peningkatan pelayanan publik.6. Sampai dengan 2006 masih banyak peraturan daerah yang belum dapat disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang baru.

Hal tersebut menunjukkan bahwa meskipun daerah diberi otonomi yang luas. karena dipengaruhi oleh peraturan perundang-undangan yang tidak sinkron atau belum ada peraturan pelaksanaannya. 1. kesehatan. politik. keagamaan. Kehidupan politik yang diarahkan untuk mewujudkan demokrasi masih dimaknai sebagai kebebasan semata oleh sebagian masyarakat yang seringkali dapat mengganggu kelompok masyarakat lainnya yang mempengaruhi kondisi ketentraman dan ketertiban umum. pendidikan. Aparatur Reformasi sistem politik yang diarahkan pada demokratisasi telah mendorong reformasi birokrasi melalui penataan struktur. Pembenahan dan penataan struktur organisasi pemerintahan di daerah masih mencari bentuk antara kebutuhan daerah dengan tuntutan peraturan perundang-undangan. Berbagai organisasi kemasyarakatan dan lembaga keswadayaan masyarakat berkembang dan berperan dalam berbagai bidang. Kondisi sosial tersebut berkaitan dengan kondisi politik dan kondisi hukum. Kondisi sosial Jawa Barat sampai dengan akhir tahun 2006 berlangsung dinamis. Penetapan standar pelayanan minimal untuk 18 . sistem dan kultur. Dalam aspek hukum.6.berkaitan erat dengan aspek sosial.8. dan hukum. Meskipun masih terdapat pertentangan dalam kehidupan bermasyarakat. Di samping itu protes ketidakpuasan terhadap suatu masalah yang mengarah pada perusakan fasilitas umum seringkali terjadi. Namun secara keseluruhan sikap masyarakat untuk mendukung terciptanya tertib sosial melalui upaya mewujudkan ketentraman dan ketertiban cukup baik. dan aktivitas sosial lainnya. Demikian pula dengan penataan sistem untuk lebih memudahkan penyelenggaraan administrasi pemerintahan mengalami kendala. baik budaya. tetapi masih dapat ditolerir. Tingkat kriminalitas dan pelanggaran hukum lainnya masih cukup tinggi. Namun upaya penataan struktur masih berlangsung setelah penetapan UndangUndang 32 tahun 2004 sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. penegakkan hukum yang lemah dan tidak konsisten mempengaruhi pula kondisi ketentraman dan ketertiban masyarakat. tetapi dalam menetapkan struktur organisasi masih bergantung kepada Pusat.

tetapi yang perlu diperhatikan aspek kualitasnya yang masih rendah dalam arti dari sisi kedisiplinan. Reformasi birokrasi menginginkan perubahan kultur birokrasi yang mengarah pada profesionalisme. impersonal. Namun sarana dan prasarana yang secara langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat masih perlu ditingkatkan karena belum sesuai dengan standar pelayanan minimal. Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah Pola tata ruang Jawa Barat dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) mengamanatkan proporsi kawasan lindung sebesar 45 % dan kawasan budidaya 55 %. 19 . Hal tersebut mempengaruhi kinerja aparatur secara umum dan terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. profesionalisme dan etika. Masa transisi dalam reformasi birokrasi masih mengalami kendala dalam mewujudkan birokrasi yang ideal. Selain itu. beretika.6. dan unit perijinan. serta degradasi lingkungan di wilayah Jabar Selatan merupakan ancaman terhadap daya dukung lingkungan. terjadinya pergeseran tutupan lahan hutan dan sawah menjadi permukiman dan industri merupakan permasalahan dalam upaya pengendalian tata ruang. 1. dan taat aturan.beberapa bidang sudah dapat diimpelementasikan meskipun pengawasan terhadap pelaksanaannya belum dapat dilakukan. Kondisi sarana dan prasarana aparatur sudah cukup baik dengan gedung kantor yang layak dan seluruh organisasi perangkat daerah telah memiliki gedung tersendiri. Kultur tradisional dan primordial masih mewarnai birokrasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat walaupun dari sisi sarana dan prasarana telah cukup modern bahkan dengan dukungan teknologi komunikasi yang masib belum dimanfaatkan secara optimal. Jumlah aparatur walaupun secara kuantitas terus berubah dan tidak dapat dikatakan ideal atau telah memenuhi kebutuhan. seperti unit pengelola teknis daerah dalam pemungutan pajak daerah.9. Namun pengendalian pemanfaatan ruang menjadi kendala dalam mewujudkan proporsi tersebut. Belum tertata dan terkendalinya pertumbuhan lahan terbangun di kawasan konservasi. Untuk standar operasional prosedur (SOP) dalam setiap alur kegiatan administrasi pemerintahan belum dapat diimplementasikan.

Hal tersebut diperparah dengan perilaku dan budaya yang belum ramah lingkungan. serta konflik pemanfaat sumber daya alam dan lingkungan di hulu dan hilir. Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Sumber daya alam dan lingkungan hidup memiliki peran penting dalam keberlanjutan pembangunan Jawa Barat. Dampak negatif dari fenomena ini diantaranya adalah semakin berkembangnya penyakit-penyakit berbasis lingkungan dan munculnya konflik sosial antara pencemar dan yang tercemar. 20 . Dalam konteks wilayah utara-tengah-selatan Jawa Barat. baik dari sisi perilaku membangun maupun perilaku individu masyarakatnya. peran penting ini belum dioptimalkan hingga saat ini. Sementara itu di wilayah perbatasan masih terjadi ketidaksetaraan dalam penyediaan sarana dan prasarana dasar permukiman maupun prasarana jalan.6. pencemaran dan sedimentasi sungai serta waduk. terjadi pemusatan pertumbuhan perkotaan yang sangat pesat di wilayah utara dan tengah. penambangan yang merusak lingkungan. Faktor-faktor dominan yang menyebabkan penurunan daya dukung lingkungan dalam kurun waktu sepuluh tahun ini antara lain. Fenomena yang terjadi justru menunjukkan bahwa kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup Jawa Barat berada pada tingkat cukup mengkhawatirkan.Pengembangan wilayah dalam struktur tata ruang Jawa Barat sampai saat ini masih terjadi ketimpangan. sementara wilayah perdesaan di selatan Jawa Barat yang seharusnya dikembangkan menjadi wilayah pendukung dari aspek lingkungan dan pertanian agro kurang mendapat sentuhan pemerataan pembangunan. Upaya pengelolaan lingkungan saat ini masih belum mampu menahan laju kerusakan dan pencemaran yang terjadi. Namun demikian. 1. kerusakan dan berkurangnya luasan mangrove dan terumbu karang. masih tingginya tingkat alih fungsi lahan berfungsi lindung menjadi budidaya. dan pengambilan sumber daya air yang kurang terkendali. di samping meningkatnya frekuensi kejadian bencana alam. pengrusakan dan kebakaran hutan.10. pencemaran udara perkotaan.

perlu dilakukan antisipasi melalui pengembangan inovasi dan sistem tata kelola pendidikan. pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat harus senantiasa ditingkatkan untuk menjamin peningkatan Indeks Pendidikan dan Indeks Kesehatan.1. Berkaitan dengan semakin pesatnya perkembangan metodologi dan teknologi dalam bidang pendidikan. Namun demikian. peningkatan kemampuan masyarakat perdesaan dalam pemanfaatan teknologi tepat guna (TTG) juga perlu mendapatkan penanganan yang optimal. Selain itu persebaran dan mobilitas penduduk perlu mendapatkan perhatian sehingga ketimpangan persebaran dan kepadatan penduduk antara kabupaten dan kota serta antara wilayah perkotaan dan perdesaan dapat dikurangi. Pada tahun 2025 jumlah penduduk Jawa Barat diperkirakan sekira 52. Dalam hal pengembangan sain dan teknologi. penyempurnaan pembangunan sarana dan prasarana yang lebih tanggap teknologi.7. Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama Dalam dua puluh tahun mendatang. pemberdayaan profesi guru dengan meningkatkan kompetensinya.7. pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang dilandasi oleh nilai-nilai kecerdasan dan kearifan budaya lokal. daya saing dan kesejahteraannya. pembangunan kesehatan lebih didorong pada tercapainya kondisi yang memungkinkan 21 .1. Pengendalian jumlah penduduk dan laju pertumbuhannya perlu diperhatikan untuk terwujudnya penduduk yang tumbuh dengan seimbang guna peningkatan kualitas. Memperhatikan hal tersebut. tantangan peningkatan IPM pada masa datang akan lebih terfokus pada peningkatan Indeks Daya Beli.7 juta jiwa. Tingginya kesenjangan status kesehatan dan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan antarwilayah. Jawa Barat menghadapi tekanan jumlah penduduk yang semakin tinggi. Memperhatikan kecenderungan pencapaian IPM dan komponen- komponennya. TANTANGAN 1. peningkatan kualitas lulusan untuk mengantisipasi tingkat persaingan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan semakin kompetitifnya ketersediaan lapangan pekerjaan. belum optimalnya penggunaan teknologi di bidang kesehatan merupakan kondisi yang menjadi tantangan bagi para stakeholders untuk mengatasinya.

dan kegiatan olahraga merupakan merupakan tantangan dalam aspek keolahragaan. peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan. pembinaan olahraga prestasi di Jawa Barat belum dilakukan secara optimal. pemuda Jawa Barat memiliki potensi dan peluang yang cukup besar. Stigma bahwa perempuan makhuk lemah. kepurbakalaan dan permuseuman dengan arus perubahan teknologi informasi dan era komputerisasi menjadi tantangan bagi terwujudnya 22 . Selain itu. porsi perempuan di rumah. Sementara peluang yang dimiliki oleh pemuda Jawa Barat adalah ruang gerak atau ekspresi idealisme yang terbuka. Tantangan yang muncul di kalangan pemuda adalah masa depan yang penuh kompetisi baik keterampilan.terciptanya perilaku sehat dan lingkungan yang sehat baik fisik maupun sosial yang mendukung produktivitas masyarakat. Potensi dalam hal ini adalah jumlah yang cukup besar. kelompok masyarakat (khususnya perempuan) dan jaringan kemitraan pengarusutamaan gender. Oleh karena itu. idealisme maupun nilai budaya. serta penguatan peran dan tanggungjawab masyarakat dalam mengembangkan sarana. sistem pendidikan. sekaligus kelemahan dan tantangan yang tidak ringan. Berdasarkan gambaran kondisi kepemudaan di Jawa Barat. baik dalam konteks sistem nilai. peninggalan sejarah. Kelemahannya adalah kondisi perkembangan psikologis pemuda yang belum stabil. Imbas perubahan global dan pertentangan antara Nilai-nilai tradisional. masih pada tahap pencarian identitas diri dan lemahnya sandaran nilai serta norma. Dalam aspek keolahragaan. perlu juga didorong kepada berlangsungnya paradigma hidup sehat yang terintegrasi pada pencapaian kualitas hidup penduduk yang sehat dan berumur panjang. prasarana. serta penguatan kelembagaan. sistem ekonomi maupun sistem politik. pembinaan yang komprehensif agar seluruh potensi olahraga di Jawa Barat dapat dikembangkan secara baik. perempuan merupakan objek kaum laki-laki dan diskriminasi perlakuan di dunia usaha maupun politik merupakan tantangan yang harus dihadapi dalam upaya pemberdayaan perempuan. pola pikir dan semangat yang tinggi. Untuk itu peningkatan peran organisasi masingmasing cabang olahraga. kesetaraan gender menjadi perhatian dalam penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan melalui peningkatan pemahaman mengenai kesetaraan gender.

sesuai dengan prinsip-prinsip dasar keagamaan yang dianut merupakan tantangan yang dihadapi dalam pembangunan di bidang keagamaan. pengkajian dan aplikasi ajaran agama. Ekonomi Pembangunan ekonomi Jawa Barat 20 tahun mendatang dihadapkan pada tantangan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi secara 23 . Semakin derasnya arus informasi dan pengaruh budaya asing yang masuk melalui berbagai media. Terkait dengan pembangunan fisik yang diwujudkan bersama dengan masyarakat. Untuk itu upaya perlindungan dan pelestarian terhadap keempat aspek kebudayaaan tersebut.7. peningkatan mutu sekolah serta pelatihan/optimalisasi bagi organisasi/lembaga sosial serta partisipasi masyarakat dalam upaya pemberdayaan masyarakat sehingga tercipta kondisi sosial kemasyarakatan yang sesuai dengan norma-norma agama dan budaya. penerapan muatan pendidikan nilai-nilai budaya daerah terhadap anak usia dini dan usia pendidikan dasar. Selain itu.kondisi yang diinginkan. Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan bidang sosial adalah beban permasalahan kesejahteraan sosial yang semakin beragam dan meningkat akibat terjadinya berbagai krisis sosial. pengembangan seluruh potensi umat dalam menciptakan kondisi kehidupan beragama secara fungsional dan proporsional. Upaya yang harus dilakukan diantaranya pengembangan peran lembaga swadaya masyarakat. penanggulangan PMKS menjadi PSKS (potensi kesejahteraan sosial) perlu diupayakan terus menerus melalui penggalian dan pendayagunaan potensi yang dimiliki. dan pemberdayaan potensi ekonomi umat. peningkatan sarana dan prasarana. serta revitalisasi terhadap lembaga/organisasi kesenian dan kebudayaan pelestarian cagar dan desa budaya. pengelolaan sumber dana keumatan berdasarkan ajaran agama perlu dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. dan pengembangan nilai-nilai yang ada di dalamnya merupakan strategi yang optimal dalam pembangunan budaya daerah. pembangunan sarana dan prasarana keagamaan. pembangunan sektor agama mesti didorong untuk menciptakan kondisi terbaik bagi berlangsungnya kehidupan masyarakat yang harmonis.2. 1. pengelolaan yang profesional dan komprehensif panti rehabilitasi sosial.

ketersediaan dan kepastian lahan. Peningkatan ini berhubungan 24 . ketersediaan infrastruktur wilayah. dan pariwisata. dan pasar. Di level pemerintahan atau perumus kebijakan. perburuhan dan masalah lainnya termasuk proses perizinan pembangunan. Seiring dengan era perdagangan bebas yang akan terus mewarnai perkembangan ekonomi dunia di masa mendatang. peningkatan daya saing ekonomi daerah menjadi faktor penentu bagi keberlanjutan pembangunan ekonomi daerah. Penguatan Koperasi. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Jawa Barat tahun 2005–2025 diperkirakan akan berada pada kisaran 6% sampai 8% per tahun. Kecil dan Menengah akan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana mengatasi cara pandang yang masih parsial yang menimbulkan masalah koordinasi dan sinkronisasi antarsubsistem dalam sistem pertanian. permodalan. perdagangan.berkelanjutan dan berkualitas untuk mewujudkan secara nyata peningkatan kesejahteraan sekaligus mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi serta pengangguran. Tingkat kebutuhan konsumsi pangan di masa yang akan datang untuk beberapa komoditi relatif akan meningkat secara perlahan. Pada sisi lain pengembangan sarana dan prasarana yang ada relatif belum dapat memperbaiki kinerja pertanian. peningkatan kesempatan kerja maupun pengurangan kemiskinan. Upaya promosi investasi juga menjadi faktor penentu untuk menarik investasi baru. yang didukung oleh reorientasi ekonomi kepada basis penelitian dan teknologi serta pasar. Pemecahan masalah tersebut sangat menentukan keberhasilan untuk menarik investor agar dapat menanamkan modalnya di Jawa Barat. industri. rendahnya skala usaha tani. Struktur ekonomi Jawa Barat ke depan akan didominasi oleh empat sektor utama yaitu sektor pertanian. Tantangan peningkatan investasi di daerah ke depan tidak lepas dari stabilitas keamanan dan ketertiban yang diiringi oleh kepastian hukum. informasi. Tantangan utama dalam pengembangan pertanian di Provinsi Jawa Barat adanya konversi lahan usaha tani ke nonpertanian menyebabkan terjadi konsentrasi kapital di nonpertanian yang semakin menekan posisi rebut tawar sektor pertanian. serta lemahnya akses terhadap teknologi baru. Usaha Mikro.

pengelola daya tarik wisata dan fasilitas penunjang wisata.4% per tahunnya. bioteknologi kelautan. 25 . Pembangunan industri yang berkelanjutan didasarkan pada industri yang berbasis pada sumber daya alam lokal dan penguasaan teknologi dengan didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten. maka pengembangan pariwisata difokuskan pada pengembangan daya tarik wisata yang berakar pada alam dan budaya Jawa Barat sehingga dapat mencerminkan jati diri masyarakat Jawa Barat. diarahkan pada penguatan struktur industri dan peningkatan daya saing industri yang berkelanjutan. Proyeksi jumlah kunjungan wisatawan ke Jawa Barat sebesar 16. yang didukung oleh kompetensi sumber daya manusia. usaha budidaya laut. Adapun tantangan ke depan untuk pengembangan perdagangan di Jawa Barat adalah di fokuskan peningkatan akses pasar ekspor diiringi dengan peningkatan kualitas dan desain produk. Upaya untuk mendukung pencapaian pertumbuhan sektor industri jangka panjang. penguatan pasar domestik. serta memperluas kawasan dan tujuan ekspor. Tantangan pengembangan pariwisata dua puluh tahun mendatang adalah mewujudkan Jawa Barat sebagai daerah kunjungan wisata utama. Potensi wisata Jawa Barat cukup banyak dengan objek dan atraksi wisata yang variatif dan menarik. Selain itu. serta berbagai macam jasa lingkungan kelautan yang berkelanjutan dan melibatkan masyarakat sehingga mampu mentransformasikan keunggulan komparatif sektor kelautan dan perikanan menjadi keunggulan bersaing. Bisnis kelautan di masa mendatang akan dihadapkan pada pengembangan usaha perikanan tangkap. menggalakkan pemberdayaan produk dalam negeri dan peningkatan perlindungan konsumen. Guna mendukung pertumbuhan wisatawan ke Jawa Barat. Dengan demikian diharapkan sektor industri dapat menjadi penggerak utama perekonomian daerah yang memiliki struktur keterkaitan dan kedalaman yang kuat serta memiliki daya saing yang berkelanjutan dan tangguh di pasar domestik dan internasional.erat dengan tingkat pertumbuhan penduduk serta proyeksi tingkat konsumsi per kapita per tahun. untuk penguatan perdagangan dalam negeri di tujukan peningkatan sarana distribusi barang.

1. teknologi informasi dan komunikasi. mengurangi permasalahan perburuhan dalam rangka mengendalikan jumlah pengangguran yang diprediksi akan semakin besar di masa mendatang. Prediksi jumlah angkatan kerja pada akhir tahun 2025 diperkirakan mencapai 21. pembangunan IPTEK 20 tahun mendatang. Selain itu. meningkatkan produktivitas dan keterampilan tenaga kerja. tantangan yang dihadapi dalam dua puluh tahun mendatang adalah meningkatkan kemampuan IPTEK yang ditunjang oleh SDM yang berkualitas. mengacu pada nilai-nilai luhur yaitu dapat dipertanggunjawabkan. 26 .5 juta jiwa. peningkatan sarana dan prasarana. prima. inovatif dan berpandangan jauh ke depan. Dalam rangka peningkatan kemampuan IPTEK. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Era globalisasi ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dan perubahan paradigma dari keunggulan berdasarkan sumber daya yang dimiliki (resource-based competitiveness) menjadi keunggulan berdasarkan pengetahuan (knowledge-based competitiveness). Karena itu kemampuan suatu daerah untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu faktor dalam berkompetisi di pasar global dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.3.Masalah kemiskinan akan sangat berkaitan dengan ketidakmampuan individu untuk memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak. upaya penanggulangan kemiskinan merupakan prioritas utama dalam pembangunan jangka panjang sehingga diharapkan pada tahun 2025 jumlah penduduk miskin terus berkurang. Meningkatnya jumlah angkatan kerja yang merupakan kelompok usia produktif perlu disikapi dengan berbagai upaya untuk membuka kesempatan kerja yang lebih besar. papan serta pendidikan dan kesehatan merupakan tantangan yang harus mendapatkan perhatian dalam rangka penanggulangan kemiskinan. Kebutuhan akan sandang.5 juta jiwa dengan jumlah penduduk bekerja sebanyak 19 juta jiwa dan pencari kerja sebanyak 2. Oleh sebab itu.7. serta pembiayaan menuju masyarakat berbasis pengetahuan. pangan.

pengembangan potensi-potensi energi baru yang terbarukan. baik berupa jaringan jalan tol maupun non tol yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan utama dalam skala regional dan lokal. pengaturan hierarki peran serta fungsi jaringan transportasi yang lebih baik agar menghasilkan pergerakan yang efisiensi dan efektif. peningkatan sarana dan prasarana pelabuhan yang ada dan mengembangkan pelabuhan baru. 27 . revitalisasi dan pengembangan jaringan jalan rel untuk melayani pergerakan dalam kota dan antarkota. panas bumi. tantangan yang dihadapi dalam pengembangan sarana dan prasarana wilayah di Jawa Barat adalah meningkatkan kualitas dan cakupan pelayanan meliputi pengembangan angkutan umum massal terutama untuk kota-kota yang berpenduduk padat. peningkatan pelayanan bandara-bandara yang telah ada dan mengembangkan bandara baru yang lebih tinggi kapasitas layanannya untuk menunjang perkembangan kegiatan perekonomian dan kegiatan-kegiatan lainnya. terutama pada daerah yang teledensitasnya masih rendah. Tantangan lain yang dihadapi dalam pengembangan sarana dan prasarana wilayah adalah meningkatkan efisiensi dan efiktivitas pengelolaan sarana dan prasarana wilayah antara lain dengan mengoptimalkan kerjasama antara pemerintah dan swasta serta kemampuan lembaga pengelola. dan sanitasi lingkungan serta pengembangan pengelolaan sampah yang berskala regional. pengembangan jaringan telekomunikasi baik yang menggunakan jaringan kabel maupun nirkabel.1.4. baik yang bersifat alami maupun buatan untuk meminimalisasi terjadinya bencana banjir dan kekeringan. pengembangan sarana dan prasarana dasar pemukiman. dan angin. meningkatkan cakupan pelayanan air bersih. tenaga uap. berupa pengembangan rumah susun. tenaga surya. pengembangan infrastruktur penampung air baku. pengembangan jaringan listrik pedesaan dengan memanfaatkan energi listrik alternatif. pengembangan jaringan jalan yang efektif dan efisien. seperti mikro hidro.7. peningkatan layanan jaringan irigasi untuk menjamin keberlanjutan sistem irigasi serta meningkatkan intensitas tanam padi sawah. Sarana dan Prasarana Pada masa yang akan datang.

5. tingkat partisipasi pemberian suara. Karena itu. sikap. damai. Di sisi lain dengan partisipasi masyarakat kadar legitimasi pemerintah yang berkuasa dapar dipertahankan bahkan ditingkatkan.1. Tolok ukur partisipasi adalah ketersediaan lembaga-lembaga politik dan kemasyarakatan seperti jumlah partai politik dan ormas. serta kecermatan dan ketepatan dalam pengambilan keputusan. Demokrasi secara substantif menghendaki keterlibatan secara aktif dan otonom dari seluruh komponen masyarakat. Proses dan mekanisme politik berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi di masa mendatang adalah terciptanya tata kehidupan bermasyarakat. Partisipasi warga menjadi indikator karena menggambarkan esensi penerapan demokrasi dalam tata kelola pemerintahan. partisipasi warga dalam 28 . diperlukan kualifikasi pemimpin daerah yang memiliki pengalaman dalam penyelenggaraan manajemen pemerintahan. berbangsa.7. karena partisipasi sejalan dengan transparansi dan akuntabilitas. proporsi keterwakilan perempuan di lembaga legislative. Politik. dan tindakan yang mampu menggerakkan proses demokratisasi yang beradab dan bermuara pada terciptanta kondisi masyarakat yang harmonis. serta egaliter untuk menggerakkan tata pikir. ketersediaan institusi mediasi yang merupakan cerminan civil society seperti jumlah organisasi non pemerintah dan pers. dan visioner untuk menggerakkan perubahan dan pembaruan dalam keseluruhan konteks pembangunan. agar aspirasi masyarakat dapat diketahui secara pasti. Keberhasilan pembangunan politik dapat diukur dari tingkat partisipasi warga yang meliputi kebebasan politik dan stabilitas politik. Proses pergantian kepemimpinan daerah juga mempertimbangkan aspek keadilan dan kesetaraan gender untuk mencapai keseimbangan antara ketegasan dan kecepatan. dan bernegara yang aman. memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual untuk menggerakkan tata kelola pemerintahan yang baik dan pemerintahan yang inovatif dan bebas korupsi – kolusi – dan nepotisme. proporsi keterwakilan partai politik di lembaga legislative. serta keikutsertaan warga dalam berbagai kegiatan dan tingkatan. dan stabil. Melihat tantangan perubahan yang dihadapi pembangunan Jawa Barat. jumlah unjuk rasa dan pemogokan kerja.

konsistensi dalam penegakan hukum dapat membantu memulihkan kepercayaan masyarakat pada pemegang otoritas. Pembangunan hukum berorientasi pada upaya memenuhi kebutuhan masyarakat melalui berbagai aturan dan penegakan aturan tersebut guna melindungi hak asasi manusia dan memenuhi kebutuhan masyarakat. 29 . dan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat mengalami hambatan. dan lingkungan dalam proses pembangunan.7.7. juga berkaitan dengan penegakkan hukum secara berkeadilan. air. Hukum Pembangunan hukum dalam kerangka good governance diukur berdasarkan orientasi pemerintah (government orientation) yang menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap kebutuhan warga masyarakat.kehidupan politik merupakan suatu keniscayaan melalui sistem masyarakat madani yang egaliter dan terbuka terhadap perubahan.7. termasuk pencapaian kondisi tertib sosial kemasyarakatan yang berimplikasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Potensi ancaman keamanan akan dihadapi dari berlangsungnya friksi dan konflik sosial terkait dengan menurunnya daya dukung lahan. 1. Selain itu.6. mengingat Jawa Barat merupakan jalur mobilitas orang dan barang yang strategis. 1. terutama dalam kinerja pelayanan publik dengan tolok ukur penegakan hukum/efisiensi yudisial. Juga akibat dari lambannya pencapaian keseimbangan jumlah penduduk dan lapagan pekerjaan. Fungsi penegakan hukum diperlukan untuk menunjukkan komitmen pemerintah dalam menerapkan kebijakan-kebijakan yang telah dibuatnya. Ancaman lain yang cenderung meningkan adalah kejahatan transnasional. Termasuk keinginan masyarakat untuk membentuk daerah otonom akan terus bermunculan selama aspirasi masyarakat belum dapat diakomodir dengan tepat. Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat merupakan faktor utama yang memiliki peran sangat penting dalam menciptakan kondisi yang kondusif dalam menyelenggarakan pembangunan jangka panjang Jawa Barat.

7. Birokrasi yang modern dan mampu menjalankan fungsinya dalam sistem pemerintahan demokratis merupakan tantangan utama ke depan. kesisteman yang mampu menjadi acuan dalam proses administrasi pemerintahan didukung oleh teknologi informasi dan komunikasi yang dapat dimanfaatkan secara optimal. serta penegakkan hukum yang tidak konsisten juga merupakan tantangan dalam mewujudkan tertib sosial di Jawa Barat. khususnya dalam mewujudkan kondisi pemerintahan yang berorientasi kepada pelayanan.9. yaitu birokrasi yang mampu memformulasikan kebijakan sesuai dengan keinginan politik dan aspirasi masyarakat dan dapat mengimplementasikannya secara bertanggungjawab. Bertolak dari pengalaman empirik penyelenggaraan pemerintahan sepanjang 1984-2006 dan tantangan yang dihadapi sampai dengan 2025 adalah struktur organisasi yang dapat memenuhi kebutuhan daerah. penataan kesisteman. Selain itu diperlukan regulasi yang jelas agar 30 . dan budaya organisasi yang mendorong peningkatan kinerja aparatur. dan pembentukan budaya organisasi yang menjunjung tinggi etika. pemanfaatan. maka perencanaan sumberdaya termasuk di dalamnya penataan struktur organisasi.Gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat masih berpotensi untuk muncul. Penataan ruang ke depan perlu mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lahan serta kerentanan terhadap bencana alam. Terkait dengan hal tersebut. profesional dan disiplin. Aparatur Aparatur pemerintah memegang peran sangat penting dalam penyelenggaraan pemerintahan. yang dipengaruhi oleh pertumbuhan kriminalitas yang disebabkan masih besarnya pengangguran. dan pengendalian tata ruang. 1. 1.8. akibat belum seimbangnya jumlah angkatan kerja dengan lapangan kerja yang tersedia.7. melainkan juga dalam keseluruhan konteks demokratisasi. Kedudukan aparatur pemerintah daerah tidak hanya untuk menggerakkan manajemen dan organisasi pemerintahan. Kondisi sosial politik yang rentan masih rentan terhadap perbedaan pendapat dan etnisitas. Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah Tantangan jangka panjang yang dihadapi adalah menjaga konsistensi antara perencanaan.

1. Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan dengan prinsip berkelanjutan menjadi tumpuan bagi upaya peningkatan kualitas lingkungan hidup ke depan. melainkan harus menjadi pengekspor sumber daya alam yang telah diolah dan bernilai tinggi. Jawa Barat dengan keanekaragaman potensi sumber daya alamnya tidak hanya menjadi pengekspor sumber daya alam bernilai rendah dan mengimpornya kembali dalam bentuk produk bernilai tinggi. 31 . Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Tantangan besar yang dihadapi Provinsi Jawa Barat sampai tahun 2025 adalah memulihkan dan menguatkan kembali daya dukung lingkungan dalam pelaksanaan pembangunan. Tantangan lainnya adalah mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah khususnya antara wilayah di perkotaan dan perdesaan khususnya yang berada di Selatan Jawa Barat dan menyeimbangkan Pusat Kegiatan Nasional. Pembiayaan penataan lingkungan merupakan aspek penting yang selama ini sulit dilaksanakan karena terkait kerja sama dan komitmen antarpihak atau antar daerah. ditopang IPTEK yang memadai sehingga memberikan nilai tambah yang berarti. Bersamaan dengan itu keterlibatan seluruh potensi masyarakat untuk melakukan berbagai penguatan bagi terwujudnya perilaku dan budaya ramah lingkungan serta sadar risiko bencana perlu terus ditumbuhkembangkan. Selain itu pengelolaan kawasan perkotaan akan menjadi tantangan tersendiri dalam mengatur aktivitas perkotaan dan memenuhi penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dengan tetap memperhatikan prinsip pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Penerapan prinsip yang mencemari dan merusak harus membayar. Tantangan aspek pola tata ruang adalah penyediaan kebutuhan lahan untuk kawasan permukiman terutama di kawasan perkotaan dalam kondisi luasan lahan yang ada sangat terbatas karena adanya kawasan lindung yang tidak boleh berubah fungsi dan adanya lahan sawah yang juga harus dipertahankan keberadaannya. Pendayagunaan sumber daya alam harus dilakukan seefektif dan seefisien mungkin.10.7. Pusat Kegiatan Wilayah dan Pusat Kegiatan Lokal sehingga dapat berkembang secara merata dan optimal.tidak terjadi konflik pemanfaatan ruang antar sektor.

Keragaman budaya Jawa Barat merupakan modal sosial yang akan mempercepat proses pembangunan. Pengawasan secara berkesinambungan dan penegakan hukum secara konsisten adalah sasaran dalam rangka pemulihan daya dukung lingkungan lebih maksimal. Ketersediaan sumber daya buatan yang dapat berfungsi sebagai daya tarik bagi investor dan mempercepat proses pembangunan daerah. 7. antara lain : 1. Jumlah penduduk terbesar di Indonesia menjadi sumber daya yang potensial dan produktif bagi pembangunan daerah. bagi hasil pajak untuk lingkungan. 5.8. Sumber daya air yang melimpah dan keanekaragaman hayati menjadi potensi pembangunan masyarakat. yang dimanfaatkan untuk meningkatkan kemakmuran 32 . Posisi geografis Jawa Barat yang berbatasan dengan ibukota negara menjadikan Jawa Barat sebagai penyangga DKI Jakarta dan menjadi lintasan utama arus regional penumpang dan barang Sumatera – Jawa – Bali merupakan dasar dalam penetapan kebijakan pembangunan daerah di berbagai aspek. 4. Modal Dasar Modal dasar pembangunan merupakan salah satu kekuatan dan peluang yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar pembangunan daerah. 6.pola role sharing hulu hilir atau pusat-daerah. Karakteristik masyarakat Jawa Barat yang religius dan berbudaya adiluhung mendorong terciptanya kondisi yang kondusif untuk pelaksanaan pembangunan. 3. 1. dana lingkungan. Pemahaman risiko bencana harus mulai diintegrasikan pada proses pembangunan ke depan. serta pola pembiayaan pemulihan lingkungan harus mulai dilakukan. guna meminimalisasi risiko dan kerugian yang mungkin timbul atas hasil – hasil pembangunan yang dicapai. 2. Keamanan dan ketertiban yang relatif stabil akan menjadi daya tarik dalam peningkatan investasi di Jawa Barat.

Namun demikan. arahan pengembangan kebudayaan yang berlandaskan nilai-nilai luhur yang dicanangkan dalam RPJMN 2004-2009 dapat diterjemahkan di daerah Propinsi Jawa Barat. hal ini dinyatakan secara eksplisit melalui keinginan untuk mengandalkan kearifan local lewat budaya masyarakat yang mumpuni dan berdaya social tinggi. gotong royong. sebagai contoh adalah maraknya semangat pemisahan sub-etnik pantura di Jawa Barat akibat ketidakpuasan rasa keterpihakan dalam aspek politik (lihat BOX 1) . pembangunan seni dan budaya di Jawa Barat sudah mengalami kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman terhadap nilai budaya dan penggunaan bahasa daerah Sunda. kebersamaan dan kemandirian dirasakan makin memudar. Sekaligus juga dapat diwujudkan adanya peningkatan rasa saling percaya antar kelompok masyarakat khususnya sub-etnik di Jawa Barat sehingga semangat promordial sub-etnik tidak terlalu mengkhawatirkan untuk ditengarai sebagai salah satu masalah dalam pembangunan Jawa Barat. Harmonisasi antar Kelompok Masyarakat dan Pengembangan Kebudayaan serta Nilai-nilai Luhur Untuk Kasus di Jawa Barat. penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa masih perlu terus ditingkatkan.1. kekeluargaan. khususnya dibandingkan dengan propinsi-propinsi lain di luar Jawa. kondisi aman dan damai sebenarnya relatif lebih baik dibandingkan kondisi daerah-daerah di luar Jawa Barat. Dalam RPJMD 2008-2013.BAB II AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI II. Pembangunan kebudayaan di Jawa Barat ditujukan untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah serta mempertahankan jati diri dan nilai-nilai budaya daerah di tengah-tengah semakin derasnya arus informasi dan pengaruh negatif budaya global. Sumatera. Budaya berperilaku positif seperti kerja keras. Dermayu dan Melayu Betawi sebagai bahasa ibu masyarakat Jawa Barat. Dengan demikian. Terlebih lagi. upaya peningkatan jati diri masyarakat Jawa Barat seperti halnya solidaritas sosial. Cirebon. dan Bali. Hal ini menunjukkan 33 .

Di samping itu protes ketidakpuasan terhadap suatu masalah yang mengarah pada perusakan fasilitas umum seringkali terjadi. Namun secara keseluruhan sikap masyarakat untuk mendukung terciptanya tertib sosial melalui upaya mewujudkan ketentraman dan ketertiban cukup baik. banyak yang setuju. setiap saat. dan penanggulangan kriminalitas. Ketertiban.2. sasaran-sasaran yang diinginkan oleh RPJMN 34 . Semangat Pemisahan Propinsi Masyarakat Sub-Etnik Pantura Jawa Barat Wacana pembentukan provinsi Pantura atau provinsi Cirebon. Sebagai sebuah wacana. tidak sedikit pula yang menyatakan sebaliknya. tidak sedikit tokoh memilih jalan tengah. bisa muncul. antara pilgub dengan tuntutan pembentukan provinsi itu terdapat korelasi langsung dalam hubungan kausalitas sebab-akibat.perlunya mengembalikan dan menggali kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat. (dirangkum dari Harian Pikiran Rakyat September 2007) II. kapan saja. bagi masyarakat ciayumajakuning (Cirebon. bahkan menolak dengan alasan belum siap. selain tidak setuju bila wacana itu hanya karena emosionalitas tidak terakomodasinya yance dalam pilgub. sedang atau bahkan berkobar-kobar. namun ada pula yang bersikap skeptis. baik dalam intensitas rendah. Pembangunan Peningkatan Kemanan. menguatnya tuntutan pembentukan provinsi Pantura atau provinsi Cirebon berbarengan dengan dinamika politik seputar pemilihan gubernur (pilgub) Jabar. pembentukan provinsi pantura. sempat muncul kontroversi. Terkait dengan agenda pembangunan peningkatan kemanan. Dan Penanggulangan Kriminalitas Tingkat kriminalitas dan pelanggaran hukum lainnya masih cukup tinggi. Indramayu. bahkan menganggapnya sebagai impian. BOX 1. Majalengka dan Kuningan) ibarat api dalam sekam. ketertiban. artinya. kuat terkesan. bagaimanapun tidak terlepas dari kontroversi. Kendati demikian.

Perkembangan jumlah perlindungan masyarakat (Linmas) selama tahun 2004 .788 kasus. serta langkahlangkah penanggulangannya.2007 sebanyak 1.2007 adalah sebagai berikut : 1.568.631 kasus. 35 . Pada tahun 2006. dari 19. sedangkan tahun 2005 mencapai 11. 4. Terkendalinya dan terdeteksinya secara dini gangguan ketertiban dan ketentraman masyarakat. data Polda Jabar menunjukkan bahwa tingkat penyelesaian kasus kejahatan tahun 2006 menunjukkan peningkatan kinerja dibandingkan sebelumnya. Capaian kinerja Bidang Ketertiban dan Ketentraman Masyarakat selama periode 2004 . dan terwujudnya perlindungan masyarakat dari bencana. Pembangunan Bidang Ketertiban umum dan Ketentraman Masyarakat selama periode 2004 . Namun demikian. Meningkatnya kesadaran masyarakat mentaati peraturan daerah.2007 difokuskan pada terwujudnya kesadaran masyarakat untuk menjaga keamanan masyarakat lingkungan masing-masing.511 kasus pada tahun 2006. Terdapatnya informasi/data obyektif mengenai prediksi gangguan ketertiban dan ketentraman masyarakat pada akhir 2007. penyelesaian mencapai 12. Kondisi-kondisi di atas dapat ditunjukkan pada gambar berikut ini.947 orang.2004-2009 memang tidak begitu menggembirakan dari 2004 hingga 2006 (data terbaru belum dipublikasikan).963 kasus pada tahun 2005 menjadi 21. Angka kejahatan di Jawa Barat pada tahun 2006 meningkat. 3. 2.

sejak proses legislasi. terutama sejak tahun 2004 sampai dengan 2007. klasifikasi gangguannya terlihat pada gambar berikut ini.1 Jumlah Pelanggaran Perda di Jawa Barat Tahun 2004 – 2007 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 2004 2005 2006 2007 Sumber: Bapeda Jabar 2008 Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa pelanggaran peraturan daerah oleh masyarakat terus mengalami penurunan. Gambar 2.Gambar 2. Kondisi ini dapat dimaknai bahwa kesadaran hukum masyarakat terhadap peraturan perda meningkat sejalan dengan cukup efektifnya sosialisasi peraturan daerah.2007 1800 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 JTP JPTP JTP JPTP JTP JPTP JTP JPTP 2004 2005 2006 2007 Ketertiban Umum Unjuk rasa Kenakalan Remaja Pemogokan Narkotika JUMLAH 36 . sosialisasi hingga penerapannya. Selanjutnya berkaitan dengan gangguan ketentraman dan ketertiban umum sejak tahun 2004 hingga tahun 2007.2 Data Gangguan Trantibum Di Jawa Barat Tahun 2004 .

2007 adalah pada jenis pencurian kendaraan bermotor. diikuti oleh pencurian.Dari gambar tersebut memperlihatkan bahwa gangguan ketertiban dan ketentraman masyarakat yang paling menonjol sepanjang tahun 2003-2008. penipuan. aparat perlindungan masyarakat (LINMAS) serta lingkungan keluarga masing-masing. narkotika. Kondisi ini tidak lepas dari kondisi perekonomian masyarakat yang mengalami fluktuasi sehingga menimbulkan peningkatan pengangguran. Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman narkoba menjadi ancaman laten yang memerlukan penanganan berkesinambungan serta terintegrasikan antara aparat ketentraman daerah. Gambar 2. 2008 Diagram tersebut memperlihatkan bahwa tindak pidana kriminal yang paling menonjol pada kurun waktu 2003 . Walaupun demikian secara umum penanganan tindak pidana kriminalitas di provinsi Jawa barat. yang mendorong tumbuhnya tindak pidana.2007 4500 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 TIPU NARTIK BUNUH TAHUN 2003 TAHUN 2004 TAHUN 2005 TAHUN 2006 TAHUN 2007 CURAN CRT KEBAKAR CUR KAY ANIAYA UNRAS GELAP CRS 500 0 Sumber: Bapeda Propinsi Jabar. dengan trend menunjukkan peningkatan pada setiap tahunnya. yang bekerja sama dengan perangkat satuan polisi pamong praja. penganiayaan serta pemerasan. Sedangkan untuk tindak kriminalitas. muncul dari penyalahgunaan penggunaan narkoba.3 Data Indeks Kriminalitas Provinsi Jawa Barat DATA INDEKS KRIMINALITAS PROV JABAR TAHUN 2003 . gambarannya terlihat pada gambar berikut. masih dalam 37 .

Sebagai contoh. Untuk data kejahatan internasional.konstelasi terkendali oleh aparat penegak hukum kepolisian daerah dibantu oleh masyarakat. namun untuk kejahatan di hutan. dan Ciamis merupakan daerah dengan kasus pembalakan terbanyak. sepertinya data yang ada tidak dapat mewakili signifikansi permasalahan keamanan dan ketertiban di Jawa Barat karena frekwensi dan gaung yang tidak relevan. Gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat masih berpotensi untuk muncul. Wilayah Priangan yakni Garut. Jawa Barat memiliki catatan yang cukup mengkhawatirkan dimana jumlah illegal logging meningkat tajam di awalawal reformasi. serta penegakkan hukum yang tidak konsisten juga merupakan tantangan dalam mewujudkan tertib sosial di Jawa Barat. Tasikmalaya. akibat belum seimbangnya jumlah angkatan kerja dengan lapangan kerja yang tersedia. Kerusakan hutan pun makin menjadi sejak otonomi daerah diterapkan pada tahun 2002. yang dipengaruhi oleh pertumbuhan kriminalitas yang disebabkan masih besarnya pengangguran.800 ha telah diatasi oleh Operasi Hutan Lestari Lodaya 2008. Masalah agenda Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara dan Pemantapan politik luar negeri dan peningkatan kerjasama internasional juga tidak relevan dengan urusan wajib dan pilihan dari propinsi sesuai dengan UU No. Kondisi sosial politik yang rentan masih rentan terhadap perbedaan pendapat dan etnisitas. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Untuk data separatisme di Jawa Barat. serta perambahan KPH Garut seluas 2.678 ha dan KPH Tasikmalaya seluas 1.928 ha saat ini dalam penanganan operasi persuasif dan persiapan rehabilitasi hutan. kejahatan di laut tidak tersedia data yang valid. Banjar. 38 . perambahan hutan di KPH Ciamis seluas 2. Namun sebagian besar telah ditangani dengan penegakan hukum dan program pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM).

Meningkatnya kesadaran hukum masyarakat dan Hak Azasi Manusia (HAM) terutama dalam bidang lingkungan hidup dan pencegahan kekerasan dalam rumah tangga.1. dan Terwujudnya inisiatif DPRD dalam pengusulan rancangan Perda. b. antara lain ditandai dengan gerakan penghijauan di permukiman yang bersifat swadaya serta kesadaran untuk melaporkan berbagai tindak kekerasan yang terjadi di rumah tangga melalui aparat penegak hukum. Terbentuknya kelembagaan yang memfasilitasi upaya peningkatan dalam perlindungan HAM. yang dapat diukur dari: a.BAB III AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG ADIL DAN DEMOKRATIS III. melalui pembentukan Panitia Pelaksana RANHAM tingkat Provinsi dan di 25 kabupaten/kota. Pembangunan Bidang Hukum di propinsi Jawa Barat pada periode 2003 s/d 2007 diarahkan pada Terwujudnya perlindungan Hak Asasi Manusia. Terwujudnya keserasian produk hukum antara Pusat. Politik Hukum dan Penghapusan Diskriminasi Untuk agenda mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis. Jumlah produk hukum daerah (Perda.175 buah. Pembenahan Sistem Hukum. Pergub. Peraturan Gubernur sebanyak 350 buah. Kepgub dsb) yang telah dihasilkan sepanjang tahun 2003 s/d 2007 mencapai 4. dengan perincian Perda sebanyak 65 buah. Selama periode tersebut capaian kinerja pembangunan Bidang Hukum antara lain : 1. Provinsi serta Kabupaten/kota. Secara diagram jumlah produk hukum yang telah dibuat dapat dilihat pada gambar berikut ini : 39 . Meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap HAM. Keputusan Gubernur sebanyak 3. 2.756 buah dan Instruksi Gubernur sebanyak 4 buah.

4 PERDA. 3756 3. Dalam rangka menjaga keserasian produk hukum yang diterbitkan oleh pemerintah kabupaten/kota dengan peraturan perUndang-undangan yang lebih tinggi. pajak daerah. sejak tahun 2004 telah dilaksanakan evaluasi terhadap raperda APBD. 40 . 350 PERDA PERGUB KEPGUB INGUB KEPGUB.Gambar 3. Jumlah Produk Hukum daerah yang diterbitkan Provinsi Jawa Barat dan dibatalkan Pemerintah sebanyak 4 buah yakni Perda bidang retribusi daerah. retribusi daerah serta tata ruang kabupaten/kota dengan jumlah keseluruhan mencapai 29 buah. 4. 65 PERGUB.1 Jumlah Produk Hukum Daerah di Jawa Barat Yang Dihasilkan Tahun 2003 s/d 2007 INGUB. sesuai perintah Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Untuk tahun 2007 Kejaksaan Tinggi Jawa Barat memang masih menunggak penyelesaian dua kasus korupsi dari total 6 kasus utama. catatan resmi pemerintah khususnya data dari Kejati Jawa Barat menunjukkan adanya kemajuan walaupun dirasakan lambat oleh sebagian kalangan masyarakat.2 Hasil Evaluasi Produk Hukum Daerah Kabupaten/Kota di Jawa Barat Tahun 2004 s/d 2007 60 50 50 51 53 50 40 30 APBD Murni/Perubahan Pajak Daerah Retribusi Daerah 15 10 30 20 10 00 00 3 0 Tata Ruang Daerah 3 1 1 0 2004 2005 2006 2007 5. dan penegakan atas hokum dan pengakuan Hak Asasi Manusia (HAM). Sukabumi.Gambar 3. Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan Kekerasan Pada AnakAnak Untuk agenda penghormatan. pemenuhan. kasus di Jawa Barat untuk pelanggaran HAM relative paling sedikit secara catatan resmi pemerintah. Jawa Barat versus TNI Angkatan Udara dan (ii) Kasus petani Lengkong.2. Untuk kasus korupsi. Dua kasus pelanggaran HAM di Propinsi Jawa Barat yang masih berada dalam taraf penyelesaian adalah: (i) Kasus warga Rumpin Bogor. yaitu kasus dana bantuan bencana dan pembangunan Islamic Center di Kabupaten Purwakarta senilai Rp 3 miliar. Sedangkan empat kasus lain sudah 41 . III. Jawa Barat versus PT Tugu Cimenteng (perkebunan sawit). Jumlah perda inisiatif DPRD yang tersusun sebanyak 1 buah yakni Perda tentang Penyelenggaraan Perlindungan Penyandang Cacat.

dan tingkat partisipasi angkatan kerja. memang agak terlalu timpang bila membandingkan angka resmi dari Kejati ini dengan kasus yang ditenggarai mengandung unsure korupsi baik menurut versi Indonesia Corruption Watch (ICW). Kejagung hanya menetapkan minimal lima kasus terselesaikan oleh kejati dan kejari. kebijakan yang berpihak terhadap peningkatan peran kaum perempuan di seluruh sektor dan aspek pembangunan telah dilakukan.3. Pada tahun 2006. di antaranya adalah kesenjangan pencapaian pembangunan antara laki-laki dan perempuan serta masih rendahnya kualitas hidup dan peran serta perempuan dalam pembangunan. Hal yang belum bisa dipenuhi targetnya oleh banyak Kejati dan Kejari di daerah-daerah propinsi lain. Namun upaya pengarusutamaan jender ini masih perlu lebih diaktualisasikan di segala bidang. III. Berkenaan dengan jender. posisi manajer. Ntuk dapat mewujudkannya terdapat beberapa masalah. Untuk mengatasi masalah tersebut. Target Kejati Jabar sudah mendekati baik. antara lain pemeriksaan Kaplinggate yang diambil alih Kejaksaan Agung (Kejagung) dan kasus korupsi pembangunan Stadion Jalak Harupat yang dinyatakan dihentikan penyidikannya. Sebagai data pembanding. Indeks Pemberdayaan Gender Jawa Barat 42 . Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan Serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak Salah satu misi pembangunan nasional dalam Rencana Pembangnan Jangka menengah Nasional (RPJMN) tahun 2004 – 2009 adalah mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis. Ini didasarkan pada target yang ditetapkan Kejagung. Adapun lembaga legislatifnya menjadi terkorup kedua versi Komisi Pemberantasan Korupsi. staf teknis. maka telah ditetapkan sasaran pembangunan yang salah satunya adalah menurunnya kesenjangan pencapaian pembangunan antara laki-laki dan perempuan yang diukur oleh angka Gender-related Development Index (GDI) dan Gender Empowerment Measurement (GEM).diselesaikan dan dinyatakan ditutup. Pemberdayaan perempuan tercermin dari Indeks Pemberdayaan Gender dan Indeks Pembangunan Gender yang meliputi angka partisipasi perempuan dalam parlemen.

Kualitas hidup perempuan sangatlah penting karena menentukan kualitas hidup generasi mendatang.2 dan Indeks Pembangunan Gender 60. Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan modal untuk penggerak pembangunan yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan disamping Sumber Daya Alam. III. Secara umum.68% untuk pemilih perempuan). Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan manusia terdidik yang bermutu dan handal sesuai dengan kebutuhan jaman.4 sedangkan untuk angka nasional 62. yaitu perempuan diharapkan mampu menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya guna untuk kepentingan dirinya sendiri dan keluarga. 43 . Pendidikan merupakan elemen penting pembangunan dan perkembangan sosialekonomi masyarakat.1 Politik Keterwakilan perempuan sebagai anggota legislatif semakin besar. kualitas hidup perempuan yang rendah berkaitan erat dengan angka kematian bayi dan angka kematian ibu. Kualitas kehidupan demokrasi pun dirasakan lebih baik. III.10% untuk pemilih laki-laki dan 81. pendidikan tinggi akan memberikan dampak positif.2. dan dapat melahirkan generasi yang lebih berkualitas. Bagi perempuan.3.mencapai 54.3. Bila pada hasil Pemilu 1999 ada beberapa kabupaten/kota yang tidak terwakili maka pada hasil Pemilu 2004 semua kabupaten/kota telah memiliki anggota legislatif perempuan walaupun belum mencapai kuota 30%.8 sedangkan angka nasional 65. membebaskan perempuan dari belenggu budaya yang cenderung menguntungkan laki-laki.7. terlihat dari tingginya kesadaran masyarakat pemilih dalam Pemilu 2004 (78. Pendidikan Pendidikan merupakan syarat utama pembangunan kapabilitas dasar manusia.

Data Suseda 2007 memperlihatkan angka buta huruf perempuan masih lebih tinggi daripada angka buta huruf laki-laki. Angka Melek Huruf (AMH) AMH merupakan ukuran terpenting dari indikator pendidikan.literacy rate) dan Angka Partisipasi Sekolah (APS – participation rate for school age population). juga membantu kemudahan berkomunikasi. Distribusi penduduk miskin dalam hal kemampuan baca tulis sampai dengan tahun 2007 masih didominasi kaum ibu.52. Makin rendah persentase penduduk yang buta huruf menunjukkan keberhasilan program pendidikan. yaitu Angka Melek Huruf (AMH.642.3.60.74%. Ini merupakan 44 .10% dan perempuan 8. AMH di provinsi Jawa Barat pada tahun 2003 sebesar 93. Angka penduduk berusia 1044 tahun yang buta huruf/aksara mengalami peningkatan dari 562. Kemampuan membaca sangatlah penting karena dengan kemampuan ini seseorang akan lebih mudah menerima pembelajaran/pembaharuan dan dalam menyerap maupun menyampaikan informasi.3. Menurunnya angka buta huruf di Jawa Barat mengidentifikasikan adanya keberhasilan program pembangunan dalam bidang pendidikan. Mereka tidak dapat bersaing dalam mencari pekerjaan karena memiliki pilihan pekerjaan yang sangat terbatas. sebaliknya makin tinggi persentase penduduk yang buta huruf mengidentifikasikan kurang berhasilnya program pendidikan.837 orang pada tahun 2005 menjadi 1. Dewasa ini pembangunan pendidikan di Provinsi Jawa Barat relatif terus membaik. Rendahnya tingkat pendidikan dan ketidakmampuan membaca dan menulis memberi andil terhadap keterbelakangan dan peningkatan penduduk miskin.96. Hal ini ditunjukkan oleh semakin meningkatnya persentase penduduk 15 tahun ke atas yang melek huruf dan rata-rata lama sekolah. dengan perincian laki-laki 3. tahun 2004 sebesar 93. Sedangkan berdasarkan data tahun 2007.34 %. III.927 orang pada tahun 2006.Terdapat 2 indikator utama dalam pendidikan. dan pada tahun 2005 menjadi 94. Angka Buta Huruf Total adalah 5.

27 persen).83 persen. APS laki-laki sebesar 77. Tampak bahwa tingkat pendidikan laki-laki Jawa Barat lebih tinggi dibanding dengan tingkat pendidikan perempuan.079 juta orang (atau sebesar 5.35 persen. Komposisinya terbagi atas buta huruf lakilaki sebanyak 0.akibat dari fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat di mana secara umum tingkat pendidikan laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pendidikan perempuan. Hal yang memprihatinkan adalah terjadinya peningkatan persentase buta huruf perempuan sebanyak 2.74 persen). lebih rendah dibandingkan perempuan yang sebesar 96. sedangkan laki-laki yang menamatkan pendidikan SD ke 45 . III. Angka Partisipasi Sekolah Partisipasi masyarakat dalam pendidikan formal terlihat dalam Angka Partisipasi Kasar (APK) yang memperlihatkan proporsi anak sekolah pada jenjang pendidikan tertentu dalam kelompok umur yang sesuai.34 persen. penduduk usia 10 tahun ke atas yang buta huruf (tidak dapat membaca huruf latin atau huruf lainnya) sekitar 2. Pada kelompok usia 16 – 18 tahun. terutama yang biasa terjadi di daerah perdesaan. Berdasarkan hasil Suseda 2007 menunjukkan pada kelompok usia 7 – 12 tahun.10 persen) dan perempuan sebanyak 1. Kondisi ini tercermin dari kecilnya persentase penduduk perempuan usia 10 tahun ke atas yang menamatkan pendidikan sekolah menengah atas hingga pendidikan tinggi. Ini menunjukkan kecenderungan masyarakat. Berdasarkan hasil Suseda 2007.4.3.24 persen.622 juta orang (3. untuk mengutamakan pendidikan bagi anak laki-lakinya dibanding perempuan belum mengalami pergeseran. demikian pula pada kelompok usia 13 – 15 tahun.19 poin.25 persen sedangan APS perempuan sebesar 79. APS perempuan 37. Sebanyak 63.17 persen. Angka buta huruf (total) menurut hasil Suseda tahun 2007 sebesar 5. Sedangkan persentase penduduk perempuan yang sekolah menumpuk pada jenjang SLTP ke bawah.84 persen penduduk perempuan menamatkan pendidikan di jenjang SD ke bawah. lebih rendah dibandingkan APS laki-laki (41.456 juta orang (8. APS laki-laki sebesar 95.34 persen).

bawah sebesar 58.1 Angka Partisipasi Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat 46 . Tabel 3. Sosialisasi bahwa pendidikan itu penting baik bagi laki-laki maupun perempuan masih perlu terus disuarakan.98 persen.

3 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin (2007) 47 . maka nilai APK untuk jenjang selanjutnya menunjukkan angka yang rendah (pada tahun 2006. Hal yang menggembirakan adalah angka putus sekolah pada setiap jenjang menunjukkan peningkatan.76%). APK SMP sebesar 60. Gambar 3.Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat Berdasarkan grafik di atas tampak bahwa pada tingkat SD. nilai APK menunjukkan angka di atas 100%.96% sedangkan APK SMA dan SMK sebesar 37.

Terdapat peningkatan rata-rata lama sekolah dari tahun-ke tahun. Karena merefleksikan output kondisi social ekonomi. khususnya terhadap pendidikan dasar dan menengah. Diploma III. Karena mereka beranggapan bahwa pendidikan tidak menjamin bisa memperoleh kehidupan yang lebih layak. Sedangkan penduduk yang menamatkan pendidikan SLTP ada sebanyak 16. tahun 2004 rata-rata 7. Sumber yang sama menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang tamat SMU/SMK sebesar 17. pada tahun 2003 rata-rata 7. 50 orang di antaranya ternyata berkesempatan menyelesaikan pendidikan tingginya di berbagai level pendidikan antara lain Diploma I. Diploma II. hingga program Master. biaya pendidikan anak tidak dapat dipenuhi dan cenderung mengarahkan anak-anaknya untuk bekerja membantu perekonomian rumahtangga.III. Hal ini menunjukkan kesadaran masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan semakin meningkat Kendala utama dalam upaya pembangunan pendidikan saat ini adalah kemiskinan dan keterbelakangan. Sarjana. Sebagai ilustrasi. dari setiap orang penduduk 10 tahun ke atas di Jawa Barat.34 persen).37 tahun. Rata-rata Lama Sekolah Rata-rata lama sekolah merupakan salah satu ukuran kualitas sumberdaya manusia yang menggambarkan besarnya daya serap pendidikan terhadap penduduk usia sekolah dan kemampuan social ekonomi masyarakat. terutama untuk anak perempuan. Hal yang menggembirakan adalah adanya peningkatan persentase penduduk yang mampu menamatkan pendidikan di tingkat SMU/K maupun perguruan tinggi.03 persen mampu menamatkan pendidikan hingga perguruan tinggi (Akademi/Perguruan Tinggi). 2005 rata-rata 7.15 persen. persentase penduduk usia 10 tahun ke atas di Jawa Barat yang berpendidikan SD ke bawah masih cukup besar (61.2 tahun.48 persen. 48 . Doktor. dan sebanyak 5.5. Pada tahun 2007. Bagi keluarga yang tidak mampu.74 tahun.3. maka besaran rata-rata lamanya sekolah akan sulit untuk berubah dalam waktu singkat.46 tahun dan pada tahun 2006 menjadi 7.

27 38.34 2.Tabel 3.36 3. III.55 6. Dan hal inilah yang menjadi salah satu penyebab pendidikan diutamakan untuk laki-laki terlebih dahulu.4 PENDIDIKAN Tidak tamat SD/MI SLTP/sederajat SMU/sederajat SMK DI/DII DIII DIV/Universitas Hasil Suseda 2007 PEREMPUAN TOTAL 24. Meski demikian.12 2.94 38.38 1.63 16.73 37.54 dengan total 12.18 0.6. banyak dikeluhkan oleh masyarakat mengenai biaya pendidikan yang semakin tinggi dan semakin sulit dijangkau oleh sebagian masyarakat Jawa Barat.7 0.99 5. Di samping realisasi pembangunan sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang lambat laun mulai terlihat hasilnya.25 sedangkan pada tahun 2005 didapatkan TPT pada laki-laki 9.46 dengan total 49 . Berdasarkan data Bapeda dan BPS pada tahun 2004 didapatkan TPT pada laki-laki 9.81 1.07 16.34 12.76 3.33 dan perempuan 81.78 Terjadinya peningkatan persentase penduduk Jawa Barat yang mampu menyelesaikan SMU/K ke atas menunjukkan animo masyarakat terhadap peningkatan kemampuan sumber daya manusia semakin baik.08 dengan total 11. Berdasarkan data Bapeda dan BPS pada tahun 2004 didapatkan TKK pada laki-laki 90. Tenaga Kerja Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) merupakan indikator ketenagaan sekaligus indikator ekonomi makro yang digunakan untuk melihat tingkat perekonomian suatu negara.29 16. Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) menurut jenis kelamin di Jawa Barat lebih tinggi terjadi pada laki-laki.67 dan perempuan 18.2 Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Menurut Jenjang Pendidikan yang Ditamatkan Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2007 LAKILAKI 21.3.91.9 26.32 1.48 10.66 0. Angka penggangguran pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.38 dan perempuan 18.92 11.

III.48% dan perempuan 20. sedangkan data tahun 2007 didapatkan jumlah pada laki-laki 3.67% dan perempuan 24. III. Data tahun 2005 didapatkan jumlah pada laki-laki 2. di mana kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik masih didominasi oleh laki-laki. kegiatan penyusunan perda dianggarkan untuk menyusun 13 (tiga belas) rancangan peraturan daerah (LKPJ Gubernur Akhir 50 . Perda tersebut telah disahkan oleh DPRD Jawa Barat pada tanggal 23 Juni 2008. tinggal proses penyusunan peraturan teknis oleh Gubernur Jawa Barat. Jawa Barat sudah memiliki perda tentang pencegahan dan penanganan perdagangan orang. Pengadilan Negeri Bandung mencatat. terdapat 3.92 dengan total 88.3.4. Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah III. Kesempatan kerja pada umumnya lebih terbuka lebar bagi laki-laki dibandingkan perempuan. Sedangkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Institut Perempuan mencatat.4.75 sedangkan pada tahun 2005 didapatkan TPT pada laki-laki 90.7.09. jumlah pekerja tidak dibayar pada perempuan jauh lebih tinggi dibandingkan pada laki-laki.62 dan perempuan 81. Kekerasan Pada Anak Lembaga Perlindungan Anak Daerah Jawa Barat mencatat selama tahun 2007.1. Sinkronisasi dan Harmonisasi Peraturan Perundang-Undangan Pusat dan Daerah Pada tahun 2007. terdapat 12 kasus perdagangan manusia yang menimpa 43 korban asal Jawa Barat dan sebanyak 29 orang di antaranya adalah anak-anak. pada tahun 2004 terjadi 82 kasus tindak pidana anak. karena sifat pekerjaan yang sesuai untuk perempuan pada umumnya lebih spesifik dan tingkat pendidikan perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat diskriminasi dalam hal pekerjaan.63%.800 kasus kekerasan dan perdagangan anak asal Jawa Barat. Berdasarkan Survey Sosial Ekonomi Daerah. dalam rentang waktu antara Januari-Juli 2007. sedangkan tahun 2007 terdapat 48 kasus dan hingga Juni 2008 terdapat 20 kasus. termasuk di dalamnya perlindungan terhadap anak-anak.02%.87.

Adapun 12 (dua belas) raperda yang telah dibahas bersama Panitia Legislasi DPRD Provinsi Jawa Barat. 2. Penyelenggaraan Kepariwisataan. Retribusi Jasa Pelayanan Industri Kecil Menengah. sesuai Surat Pimpinan DPRD Provinsi Jawa Barat No. Peredaran Hasil Hutan. 3. 7. Pembahasan ke-12 raperda tersebut 51 . 12. Bahan Asal Hewan dan Mutu Pakan/Bahan Baku Pakan. Penyelenggaraan Pendidikan. 7 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Perda No. 10 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat. 1 (satu) raperda telah ditetapkan menjadi perda.34/3061. 11. Retribusi Jasa Pengujian Penyakit Hewan. antara lain disebabkan adanya pembahasan 6 (enam) raperda tentang penyertaan modal daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 6 (enam) Badan Usaha Milik Daerah. 8.Set-DPRD tanggal 12 Desember 2007 dilaksanakan pada Tahun Sidang 2008. Pembahasan ke-12 raperda tersebut. 6. 17 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan. Taman Hutan Raya. yang merupakan raperda di luar Program Legislasi Daerah. yaitu Perda No. Perubahan atas Perda No. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2025. 188.Tahun Anggaran 2007). 5. Pengelolaan Air Tanah. Dalam pelaksanaannya. Pengelolaan Barang Milik Daerah. meliputi: 1. 9. namun bernilai strategis karena dapat berdampak pada pembatalan Peraturan Daerah tentang APBD Provinsi Jawa Barat Tahun 2007. Tidak tertuntaskannya pembahasan ke-12 raperda tersebut di DPRD. 10. Perubahan atas Perda No. 4. Enam raperda tentang penyertaan modal daerah tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil evaluasi Menteri Dalam Negeri terhadap Perda tentang APBD Provinsi Jawa Barat Tahun 2007 dan penjabarannya. 16 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Laboratorium Kebumian. Irigasi.

dengan perincian: Perda sebanyak 65 buah. 20 Tahun 2001 tentang Peredaran Hasil Hutan di Jawa Barat.dilanjutkan kembali pada tahun 2008 bersama dengan 20 (dua puluh) raperda lainnya yang telah diprogramkan sebelumnya. dan Instruksi Gubernur sebanyak 4 buah. Keputusan Gubernur sebanyak 3. Peraturan Gubernur (Pergub). 13 Tahun 2000 tentang Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat.4 Jumlah Produk Hukum Daerah di Jawa Barat yang dihasilkan Tahun 2003-2008 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 3756 4 Ingub 65 Perda 350 Pergub K epgub Sumber: LKPJ Akhir Masa Jabatan Gubernur (2003-2008) Jumlah produk hukum daerah yang diterbitkan Provinsi Jawa Barat dan dibatalkan Pemerintah pusat sebanyak 4 (empat) buah. Menyikapi pembatalan Pemerintah Pusat terhadap perda-perda yang diterbitkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tersebut. 25 Tahun 2001 tentang Pemeriksaan Hewan. Pergub sebanyak 350 buah. Jumlah produk hukum daerah. Perda No. 21 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Perhubungan. 3. Perda No.756 buah. Bahan Asal Hewan dan Ransum Makanan Ternak. yakni perda-perda terkait dengan bidang retribusi daerah. dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda). Perda No. 4. Keputusan Gubernur (Kepgub). 2. yakni: 1. antara lain yang dilakukan pada tahun 2007 terhadap 6 (enam) peraturan daerah. Perda No. Gambar 3. 52 . dan lain-lain yang telah dihasilkan sepanjang tahun 2003-2008 mencapai 4. Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan kegiatan evaluasi produk hukum.175 buah.

16 Tahun 2000 tentang Lembaga Teknis Provinsi Jawa Barat. konsultasi kepada Departemen Dalam Negeri dan Departemen Teknis. 15 Tahun 2000 tentang Dinas Daerah Provinsi Jawa Barat. retribusi daerah. 25 Tahun 2001 tentang Pemeriksaan Hewan. 53 . sesuai perintah UU No. pajak daerah. 41 Tahun 2007. 6. Membentuk perda dan petunjuk pelaksanaan mengenai penyusunan perda yang di dalamnya mengatur program legislasi daerah serta penguatan peran Panitia Legislasi DPRD. perda tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah. sejak tahun 2004. sehubungan dengan padatnya jadwal kerja DPRD. upaya yang telah dilakukan adalah: 1. serta perda tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah.5. Bahan Asal Hewan dan Ransum Makanan Ternak yang dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri. Di antara perda yang dievaluasi tersebut terdapat Perda No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Berkaitan dengan PP No. serta tata ruang kabupaten/kota dengan jumlah keseluruhan mencapai 292 buah. Namun. serta mengagendakan kembali pembahasan kedua perda bidang retribusi daerah tersebut dalam Program Legislasi Daerah Tahun 2007. Perda No. 20 Tahun 2001 tentang Peredaran Hasil Hutan di Jawa Barat dan Perda No. pembahasan ketiga raperda terkait organisasi perangkat daerah dilakukan pada tahun sidang 2008 dan sekarang telah disahkan menjadi perda tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah. Sebagai penyikapan atas pembatalan perda tersebut. Dalam rangka menjaga keserasian produk hukum yang diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. telah dilaksanakan evaluasi terhadap Raperda APBD. perda tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat DPRD. Perda No. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah melakukan upaya untuk menjamin tetap berlangsungnya pelayanan kepada masyarakat tanpa melakukan pemungutan. pembahasan kedua raperda bidang retribusi daerah tersebut baru selesai dalam tahapan Panitia Legislasi dan akan dilanjutkan dalam tahun sidang 2008. Untuk menyelesaikan masalah ketidaksesuaian perda kabupaten/kota dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

5. Membangun. 3. Tersusunnya Standar Pelayanan Minimal (SPM) bagi seluruh perangkat daerah untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.2. menegakkan. 3. telah menginisiasi penyusunan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Perlindungan Penyandang Cacat. serta melengkapi peraturan daerah dimaksud dengan petunjuk pelaksanaannya.2. Membangun networking dalam penyusunan peraturan perundangundangan antar susunan pemerintahan serta meningkatkan kerjasama dengan perguruan tinggi dalam penyusunan naskah akademik. Kerjasama Antarpemerintah Daerah Sebagai bagian dari program pemantapan otonomi daerah dan kerjasama daerah. Melaksanakan capacity building sumber daya aparatur legal drafter dan pengacara daerah. Terwujudnya administrasi pemerintahan yang efektif dan efisien. sehingga Jawa Barat tercatat sebagai provinsi kedua yang mengatur secara khusus hak-hak para penyandang cacat di Indonesia. Hal tersebut telah mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS-HAM). DPRD Provinsi Jawa Barat. Mengembangkan konsultasi publik yang menempatkan masyarakat sebagai subyek hukum yang berhak menyampaikan pendapat sebagai wahana public sphere dalam menjaring aspirasi masyarakat. Sebagai tindak lanjut dari penetapan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Penyandang Cacat. 4. dan mengembangkan pemberian reward and punishment secara tegas dan adil serta meningkatkan koordinasi dengan aparat penegak hukum. Terwujudnya pengembangan kerjasama antardaerah. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan 3 (tiga) sasaran capaian program tersebut. 2.4. yakni: 1. 54 . Dalam kerangka regulasi daerah. III. Pemerintah Provinsi telah menerbitkan lembaran daerah khusus dalam huruf braille.

dan pengembangan sumber daya manusia). Terselenggaranya kerjasama antardaerah sebanyak 43 buah. Tersusunnya 11 (sebelas) kebijakan SPM untuk kabupaten/kota di Jawa Barat dan 5 (lima) dasar kebijakan SPM untuk Pemerintah Provinsi. Secara khusus dalam kerjasama bidang kepariwisataan of daerah telah dilakukan satu kesepakatan Pariwisata (Memorandum Understanding) Pengembangan Berkelanjutan di Taman Nasional Gunung Pangrango (TNGP) melalui Keputusan Bersama No. kepariwisataan. Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) telah diterapkan kepada Unit Kerja Pelayanan Publik (UKPP) dalam menerapkan klasifikasi dan kualifikasi pelayanan yang berada pada UKPP unggulan sebagai barometer terhadap kualitas kinerja pelayanan publik. 2. telah terealisasi capaian kinerja pada tingkat program yang ditandai oleh indikator: 1. kelautan. infrastruktur.VII/LH/07/2004 antara Bupati Bogor. Selain itu. tenaga kerja dan transmigrasi. 25 Tahun 2000. serta common goals. yang meliputi bidang kesehatan. manufaktur. Sukabumi. yang kemudian diperbaharui untuk menindaklanjuti PP No. 3. koperasi dan usaha kecil dan menengah serta penanaman modal. Pada tahun 2008. Terselenggaranya kewenangan daerah provinsi berdasarkan PP No. dan kerjasama dengan pihak luar negeri sebanyak 24 buah. pendidikan.Dalam pelaksanaan program tersebut selama kurun waktu 2003-2007. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah dengan Pemerintahan Provinsi dan Pemerintahan Kabupaten/Kota. B. dan Cianjur dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Departemen Kehutanan RI yang juga diketahui oleh Gubernur Jawa Barat dan Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat. Demikian pula untuk model pariwisata berkelanjutan di TNGP telah mendapat dukungan dari 55 . 06/Dep. kerjasama dengan pihak ketiga sebanyak 35 buah. disahkan perda tentang Urusan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang berisi pengakuan terhadap 26 urusan wajib dan 8 urusan pilihan. yang dilaksanakan untuk mendukung pengembangan 6 (enam) core business (bidang pertanian.

Terdapatnya kesepakatan antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Provinsi Shandong RRC untuk mengembangkan kerjasama di berbagai bidang yang potensial dalam kerangka kerjasama sister province. telah ditetapkan Keputusan Gubernur Jawa Barat No. Kerjasama lainnya yaitu: 1. 21 Tahun 2004 tentang 56 .Kabupaten Cianjur. 5. 2. 3. 4. Memfasilitasi dalam penyelesaian konflik antara Kabupaten Bogor dan Kota Bogor dalam masalah trayek jurusan terminal Laladon dan Bubulak sehingga menghasilkan kesepakatan bersama. Bogor. dan telah berhasil direalisasikan. Memfasilitasi penyelenggaraan kerjasama di wilayah perbatasan terutama dengan Provinsi DKI Jakarta dan Banten dalam Forum BKSP Jabodetabekjur. Memfasilitasi kesepakatan penyerahan aset Pemerintah Provinsi Jawa Barat kepada Pemerintah Kota Depok berupa tanah di Kecamatan Cimanggis yang semula disyaratkan dengan tukar guling. 7. Memfasilitasi dan mediasi penyelesaian masalah rehabilitasi bangunan Sekolah Dasar (SD) di lingkungan perkebunan di Kecamatan Cempaka yang diusulkan oleh masyarakat ke Kabupaten Cianjur selama 3 (tiga) tahun berturut-turut usulan tersebut tidak diakomodir. Memfasilitasi penyelesaian konflik antara Pemerintah Kota Bogor dan Kabupaten Bogor mengenai aset tanah dan bangunan ex kantor Departemen Tenaga Kerja di Jalan Dedali Kota Bogor yang disepakati bahwa kepemilikan akan mengacu pada dokumen Pemerintah Provinsi Jawa Barat (di Biro Perlengkapan). dan Sukabumi serta terbentuknya 4 (empat) desa model konservasi berbasis pemberdayaan masyarakat di kawasan penyangga TNGP yang berada di 3 kabupaten. Memfasilitasi penyelesaian konflik batas wilayah antara Kota Depok dengan Kabupaten Bogor di Pasar Citayam Kecamatan Bojong Gede sehingga menghasilkan kesepahaman batas wilayah masing-masing. Dalam rangka penyusunan kebutuhan kerjasama pemerintahan tersebut. 6.

Selain itu. kegiatan capacity building bagi aparatur pengelola 57 . serta tersedianya rekomendasi daerah dalam forum APPSI untuk disampaikan kepada Pemerintah Pusat berkenaan dengan permasalahan dalam pelaksanaan otonomi daerah. melalui Departemen Dalam Negeri maupun melalui forumforum asosiasi pemerintah provinsi tentang pelaksanaan petunjuk teknis penyelenggaraan urusan/kewenangan pemerintahan. Inkonsistensi peraturan perundang-undangan juga menjadi penyebab belum terbentuknya kesamaan persepsi tentang regulasi pelaksanaan kerjasama daerah. melalui Forum Kerjasama MPU tercapai kesepakatan program kerjasama antardaerah. Sebagai contoh. namun masih terdapat perbedaan pemahaman dalam menafsirkan ketentuan pelaksanaan regulasi otonomi daerah maupun pelaksanaan kewenangan/urusan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat meningkatkan konsultasi.5 Kerjasama yang telah Dilaksanakan di Jawa Barat Tahun 20032007 24 35 43 K erjas ama Daerah P ihak K etiga P ihak L uar Negeri Sumber: LKPJ Akhir Masa Jabatan Gubernur (2003-2008) Meskipun kerjasama daerah dan kerjasama dengan pihak lain telah banyak dilakukan. Gambar 3.Pedoman Kerjasama Daerah dengan Pihak Luar Negeri dan Keputusan Gubernur Jawa Barat No. baik pada level provinsi maupun kabupaten/kota. 28 Tahun 2005 tentang Pedoman Kerjasama Daerah dengan Pihak Ketiga. dan menyampaikan rekomendasi kepada Pemerintah Pusat. terutama berkaitan dengan ketentuan pelaksanaan dari kementerian sektoralnya. koordinasi. Untuk menangani permasalahan tersebut.

kerjasama di provinsi dan kabupaten/kota juga ditingkatkan dalam rangka menambah kapabilitas dan profesionalisme di samping meningkatkan koordinasi antara pemerintah provinsi dengan kabupaten/kota.

III.4.3. Kelembagaan Pemerintah Daerah Sebagai penjabaran dari ketentuan yang termuat dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang memberikan kewenangan bagi pemerintah daerah untuk membentuk organisasi perangkat daerah sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik daerahnya, maka Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2008 melakukan penataan kelembagaan pemerintah daerah. Upaya ini bukan merupakan hal yang baru karena pada tahun 2003, Pemerintah Provinsi juga pernah melakukan pengkajian penataan kelembagaan pemerintah daerah untuk menindaklanjuti PP No. 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Perangkat Organisasi di Daerah. Hasil pengkajian merekomendasikan perampingan struktur kelembagaan Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadi terdiri dari 3 Asisten (11 Biro), 1 Sekretariat DPRD, 1 Kantor Perwakilan, 14 Dinas, dan 10 Lembaga Teknis, dengan rincian sebagai berikut: I. Asisten: 1. Asisten Pemerintahan a. Biro Hukum b. Biro Desentralisasi c. Biro Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan d. Biro Humas 2. Asisten Perekonomian dan Kesejahteraan Sosial a. Biro Perekonomian b. Biro Bina Produksi c. Biro Bina Sosial 3. Asisten Administrasi a. Biro Organisasi b. Biro Kepegawaian c. Biro Keuangan d. Biro Perlengkapan Umum

58

II. Kantor Perwakilan Provinsi III. Sekretariat DPRD IV. Dinas 1. Dinas Pendidikan 2. Dinas Kesehatan 3. Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat 4. Dinas Pertambangan dan Energi 5. Dinas Perikanan dan Kelautan 6. Dinas Kehutanan dan Perkebunan 7. Dinas Peternakan 8. Dinas Pertanian Tanaman Pangan 9. Dinas PSDA 10. Dinas Bina Marga 11. Dinas Perhubungan 12. Dinas Cipta Karya 13. Dinas Industri Perdagangan 14. Dinas Pendapatan V. Lembaga Teknis 1. Bapeda 2. Bawasda 3. Badan Tata Ruang dan Lingkungan Hidup 4. Badan Kebudayaan Pariwisata Daerah 5. Badan Perpustakaan, Kearsipan, dan Telematika Daerah 6. Badan Promosi dan Investasi Daerah 7. Badan Ketenagakerjaan dan Transmigrasi 8. Badan Pendidikan dan Pelatihan 9. Bakorwil Barat 10. Bakorwil Timur 11. Badan Pengembangan Koperasi dan UKM 12. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah

59

Namun, rekomendasi ini tidak jadi diberlakukan karena belum diperoleh kesepakatan politik antara Pemerintah Provinsi dengan DPRD Provinsi, sehingga struktur kelembagaan Pemerintah Provinsi tetap berlaku sampai dengan keluarnya UU dan PP yang baru tentang penyelenggaraan pemerintahan daerah. Sebagai penjabaran dari UU No. 32 Tahun 2004, dikeluarkan PP No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota dan PP No. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Kedua PP ini merupakan landasan hukum bagi penataan organisasi perangkat daerah, termasuk di Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan kajian terhadap berbagai peraturan perundang-undangan, kompleksitas permasalahan, dan potensi daerah, DPRD dan Pemerintah Provinsi menyepakati bahwa urusan wajib Pemerintah Provinsi Jawa Barat terdiri dari 26 (dua puluh enam) urusan, sedangkan urusan pilihan pemerintahan daerah yang disepakati terdiri dari 8 (delapan) urusan.

Tabel 3.3 Urusan Wajib dan Urusan Pilihan dalam Lingkup Pemerintah Provinsi Jawa Barat Urusan Wajib 1. Pendidikan 2. Kesehatan 3. Lingkungan hidup 4. Pekerjaan umum 5. Penataan ruang 6. Perencanaan pembangunan 7. Perumahan 8. Kepemudaan dan olah raga 9. Penanaman modal 10. Koperasi, usaha kecil, dan menengah 11. Kependudukan dan catatan sipil 12. Ketenagakerjaan 13. Ketahanan pangan 14. Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak 15. Keluarga Berencana dan keluarga sejahtera 16. Perhubungan 17. Komunikasi dan informatika Urusan Pilihan 1. Kelautan dan perikanan 2. Pertanian 3. Kehutanan 4. Energi dan sumberdaya mineral 5. Pariwisata 6. Industri 7. Perdagangan 8. Ketransmigrasian

60

18. Pertanahan 19. Kesatuan bangsa dan politik dalam negeri 20. Otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian dan persandian 21. Pemberdayaan masyarakat dan desa 22. Sosial 23. Kebudayaan 24. Statistik 25. Kearsipan 26. Perpustakaan Sumber: Biro Desentralisasi Pemprov Jabar, 2008

Urusan-urusan tersebut menjadi bahan masukan untuk merumuskan tugas pokok dan fungsi organisasi perangkat daerah. Karena itu, struktur dan tata kerja organisasi perangkat daerah harus disesuaikan dengan lingkup urusan wajib dan urusan pilihan yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Mengacu pada PP No. 41 Tahun 2007, kondisi riil Provinsi Jawa Barat memenuhi kriteria untuk menerapkan pola maksimal dalam penataan organisasi perangkat daerah. Peraturan Pemerintah ini menetapkan kriteria untuk menentukan jumlah besaran organisasi perangkat daerah masing-masing pemerintah daerah dengan variabel jumlah penduduk, luas wilayah dan jumlah APBD, yang kemudian ditetapkan pembobotan masing-masing variabel yaitu 40% (empat puluh persen) untuk variabel jumlah penduduk, 35% (tiga puluh lima persen) untuk variabel luas wilayah dan 25% (dua puluh lima persen) untuk variabel jumlah APBD, serta menetapkan variabel tersebut dalam beberapa kelas interval, sebagaimana ditetapkan dalam lampiran Peraturan Pemerintah ini. Demikian juga mengenai jumlah susunan organisasi disesuaikan dengan beban tugas masing-masing perangkat daerah. Berdasarkan ketentuan tersebut, hasil perhitungan besaran organisasi perangkat daerah untuk Pemerintah Provinsi Jawa Barat adalah sebagai berikut:

61

Tabel 3.4 Hasil Perhitungan Besaran Organisasi menurut PP No. 41 Tahun 2007 Kriteria Jumlah penduduk = 44 juta > 30.000.000 2. Luas wilayah = 44.354,61 km2 > 40.000 km2 3. Jumlah APBD = Rp 5.273.196.799.606,83 > Rp2.000.000.000.000,00 JUMLAH Sumber: Hasil Penelitian, 2007 No 1. Nilai 40 35 25 100

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, besaran organisasi perangkat daerah Provinsi Jawa Barat dapat disusun dengan menggunakan pola maksimal sebagai berikut: a. Sekretariat daerah, terdiri dari paling banyak 4 (empat) asisten b. Sekretariat DPRD c. Dinas paling banyak 18 (delapan belas) d. Lembaga Teknis daerah paling banyak 12 (dua belas) Selain pola tersebut, terdapat organisasi perangkat daerah yang dapat dibentuk mengingat tugas dan fungsinya merupakan amanat perundang-undangan sehingga tidak mengurangi jumlah perangkat daerah (di luar kuota), yakni yang menangani bidang kepegawaian, keuangan dan aset, inspektorat, rumah sakit, dan satuan polisi pamong praja serta lembaga lain yang melaksanakan

penyelenggaraan urusan pemerintahan di daerah. Berdasarkan hasil perhitungan menurut ketentuan PP No. 41 Tahun 2007, Pemerintah Provinsi Jawa Barat (c.q. Biro Organisasi) mengajukan rancangan desain organisasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai berikut:

62

Tabel 3.5 Desain Organisasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang diusulkan Pemerintah Provinsi

Sumber: Biro Organisasi Pemprov Jawa Barat, 2008

Sehubungan dengan banyaknya urusan yang perlu ditangani oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang meliputi urusan wajib dan urusan pilihan yang berjumlah 34 urusan, dan kuota yang diberikan oleh PP No. 41 Tahun 2007 yang membatasi jumlah organisasi perangkat daerah, maka digunakan sejumlah pertimbangan dalam menentukan urusan yang mana yang diwadahi dalam organisasi tersendiri atau digabungkan bersama urusan-urusan lain. Pertimbanganpertimbangan yang digunakan, yaitu kompleksitas masalah; beban tugas yang akan diemban oleh organisasi yang akan dibentuk; luas cakupan kerja/wilayah yang akan diurus; organisasi perangkat daerah provinsi sederajat (hasil studi banding); hasil konsultasi dengan Depdagri, efektivitas, dan efisiensi anggaran. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, maka analisis terhadap kebutuhan penataan organisasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat adalah sebagai berikut:

63

1. Organisasi Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat dan Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Barat Dalam susunan organisasi Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat, dipandang perlu untuk memunculkan fungsi kehumasan dan pengelolaan barang daerah secara khusus. Fungsi kehumasan penting untuk mendapat perhatian mengingat salahsatu faktor keberhasilan pembangunan adalah adanya keterlibatan dan partisipasi masyarakat yang akan meningkat jika komunikasi antara pemerintah provinsi dan masyarakat dapat terjalin dengan baik. Untuk itu, pembentukan Biro Humas, Protokol, dan Umum pada Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat menjadi penting untuk dilakukan. Dalam hal pengelolaan barang daerah, perlu mendapat perhatian tersendiri mengingat banyaknya persoalan yang terkait dengan barang daerah meliputi inventarisasi yang kurang cermat, sertifikasi yang belum memadai, serta adanya beberapa sengketa yang menimpa barang daerah Provinsi Jawa Barat. Untuk itu, perlu dibentuk biro tersendiri yang menangani barang daerah di bawah Asisten Pemerintahan. Selain itu, juga dipandang perlu adanya pertimbangan khusus terhadap Biro Keuangan Sekretariat Daerah. Dalam pelaksanaan tugas Biro Keuangan, ada tugas yang penting dan menyangkut kepentingan publik Jawa Barat, yaitu evaluasi terhadap APBD Kabupaten/Kota. Karena itu, perlu ada penambahan bagian tersendiri yang menangani urusan dimaksud, sehingga jumlah bagian di Biro Keuangan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat, yang semula 4 (empat) bagian menjadi 5 (lima) bagian. Dalam mengkaji organisasi tata kerja pada Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Barat, juga terdapat pertimbangan khusus terhadap penanganan urusan keuangan yang perlu dilakukan oleh suatu bagian tersendiri, karena itu terjadi perubahan pada Sekretariat DPRD yang semula terdapat 4 (empat) bagian menjadi 5 (lima) bagian, yaitu Bagian Persidangan, Bagian Perundang-undangan, Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol, Bagian Umum, Bagian Administrasi dan Bagian Keuangan. 2. Organisasi Dinas Daerah Provinsi Jawa Barat

64

pengelolaan fungsi pendidikan luar biasa pada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. fungsi ini dilaksanakan oleh unit kerja setingkat seksi di bawah Bidang Manajemen Pendidikan Dasar. tetap 4 (empat) bidang. yaitu Dinas Kehutanan. alat bantu media pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus dan bina promosi kompetensi siswa. Terhadap usulan tersebut. terkait dengan pengelolaan fungsi Pendidikan Luar Biasa (PLB) pada Dinas Pendidikan yang sangat penting. karena kata manajemen memiliki makna terlalu luas sehingga dapat menimbulkan persepsi yang salah seolah-olah 65 . Pansus berpandangan bahwa untuk memperkuat fungsi unit kerja yang mengelola kehutanan dalam upaya mewujudkan 45% kawasan lindung sebagaimana diamanatkan dalam Perda No. 3 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat. Sementara itu. dan usaha perkebunan rakyat yang melibatkan petani dalam rangka pencegahan perambahan hutan. Sedangkan untuk pengelolaan fungsi perkebunan yang meliputi produksi perkebunan. Semula. serta tingginya potensi hutan Jawa Barat dalam meningkatkan perekonomian masyarakat Jawa Barat. luasnya kawasan hutan Jawa Barat. kelembagaan dan permodalan. pengembangan dan pengendalian perkebunan. unit kerja yang menanganinya perlu diperkuat sehingga menjadi dinas tersendiri. kemudian diubah menjadi setingkat bidang karena beban kerja fungsi PLB cukup tinggi. Pansus DPRD memberikan tanggapan terkait dengan perlunya pemisahan Dinas Kehutanan dan Perkebunan.Berdasarkan usulan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. banyaknya masyarakat desa sekitar hutan. Penggunaan nomenklatur “manajemen” pada pembidangan Dinas Pendidikan juga dihapus. maka urusan kehutuanan perlu ditingkatkan menjadi dinas yang berdiri sendiri. pengolahan. pengembangan sumber daya manusia. perubahan ini tidak mengubah jumlah bidang pada Dinas Pendidikan. Namun. pemasaran. terdapat 20 dinas yang diajukan untuk dibentuk sebagai perangkat daerah di tingkat provinsi. yaitu Dinas Perkebunan. meliputi kurikulum pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. maka terjadi perubahan. serta pembentukan Dinas Olah Raga dan Pemuda.

lebih tepat nomenklaturnya Dinas Olah Raga dan Pemuda. c. yaitu maksimal sebanyak 19 dinas daerah termasuk Dinas Pendapatan Daerah. hal ini dimungkinkan. Dinas Pertambangan dan Energi diubah menjadi Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral. soliditas. Dalam pembentukan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pansus DPRD menyarankan agar pembentukan UPTD memperhatikan aspek kebutuhan daerah dan dinas/badan serta efektivitas dan efisiensi. Berdasarkan UU No. Dinas Pemuda dan Olah Raga diubah menjadi Dinas Olah Raga dan Pemuda. dan kebutuhan riil daerah maka Pansus DPRD bersepakat dengan Pemerintah Provinsi untuk membentuk 20 (dua puluh) dinas. Pertimbangan pembentukan Dinas Olah Raga dan Pemuda. sesuai pula dengan bobot pekerjaan yang harus ditangani oleh provinsi lebih besar fungsi olah raga daripada fungsi pemuda. Selain itu. sebagai jaring koordinasi dan mendukung pengalokasian anggaran kegiatan pengembangan keolahrgaan dan kepemudaan yang lebih dapat dipertanggungjawabkan. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. meskipun jumlah ini melebihi kuota yang diberikan untuk Provinsi Jawa Barat. berdasarkan kebutuhan daerah dalam rangka memfasilitasi terselenggaranya pengembangan olah raga masyarakat. yang ditindaklanjuti dengan Surat Menteri Dalam Negeri Nomor 061/3114/SJ tanggal 17 Oktober 2008. Dinas Pengairan diubah menjadi Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air. Dengan 66 . Memperhatikan kompleksitas masalah. b. Selain itu. Namun. berdasarkan hasil konsultasi dengan Departemen Dalam Negeri tanggal 11 September 2008.tanggung jawab manajerial berada pada kepala bidang tersebut. dan sportivitas yang selama ini belum ada yang menangani karena lembaga yang ada. Pansus DPRD juga berpendapat bahwa nomenklatur sejumlah dinas perlu diubah. jumlah penduduk. seperti KONI difokuskan pada penanganan olah raga prestasi. mendukung penanaman nilai-nilai solidaritas. yang seharusnya fungsi manajer ada pada kepala dinas. antara lain: a.

l. Organisasi Lembaga Teknis Daerah Provinsi Jawa Barat Berdasarkan PP No. Dinas Koperasi dan Usaha Mikro. i. Dinas Sosial.demikian. Dinas Perkebunan. Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air. Dinas Perhubungan. h. Dinas Perikanan dan Kelautan. Menanggapi usulan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang menyampaikan usulan pembentukan 13 (tiga belas) lembaga teknis daerah. Dinas Peternakan. 67 . q. dan Menengah. o. g. Provinsi Jawa Barat mendapatkan kuota lembaga teknis daerah sebanyak 12 lembaga di luar Bappeda dan Kantor Perwakilan. maka Pansus DPRD memberikan tanggapan dengan menyatakan bahwa upaya pemberdayaan masyarakat dan pemerintahan desa serta penanganan keluarga berencana perlu mendapatkan perhatian tersendiri. r. Dinas Permukiman dan Perumahan. jumlah dinas daerah yang dibentuk menjadi 20 (dua puluh) buah. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Kecil. Dinas Olah Raga dan Pemuda. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. c. Dinas Kehutanan. Dinas Pendapatan Daerah. j. Hal ini mengingat tingginya jumlah desa di Jawa Barat. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. d. Dinas Pendidikan. p. dan banyaknya program nasional yang berkaitan dengan upaya pemberdayaan masyarakat desa. Dinas Pertanian Tanaman Pangan. s. meliputi: a. Dinas Bina Marga. f. 41 Tahun 2007. n. Dinas Kesehatan. kondisi desa yang masih perlu upaya pemberdayaan. k. e. m. b. Dinas Komunikasi dan Informatika. 3.

j. l. o. k. dan Perlindungan Masyarakat Daerah. b. Kantor Perwakilan Pemerintah. Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah. Badan Pendidikan dan Pelatihan Daerah. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. hal ini dimungkinkan. Pansus berpendapat perlunya pembentukan badan tersendiri yang menangani pemberdayaan masyarakat dan pemerintahan desa. Pansus memandang perlunya pemunculan nomenklatur keluarga berencana ini pada Badan Pemberdayaan Perempuan. Sedangkan mengenai keluarga berencana. 4. Badan Penanaman Modal Daerah Nomenklatur untuk badan ini mengalami perubahan menjadi Badan Koordinasi dan Promosi Penanaman Modal. c. f. Badan Kepegawaian Daerah. mengingat kebutuhan daerah dan hasil konsultasi dengan Departemen Dalam Negeri. Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah I. d. Karena itu. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana. memperhatikan hasil konsultasi dengan Departemen Dalam Negeri dan masih tingginya pertumbuhan penduduk Jawa Barat. Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah IV. lembaga teknis daerah yang dibentuk adalah: a. Badan Kesatuan Bangsa. badan yang semula bernama Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Sejahtera diubah menjadi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana. e. Dengan demikian. dengan pertimbangan bahwa 68 . Badan Koordinasi Promosi dan Penanaman Modal Daerah. n.Oleh karena itu. Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah III. m. Badan Ketahanan Pangan Daerah. Dengan demikian. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa. i. h. terdapat kelebihan kuota 1 (satu) lembaga teknis daerah. g. Namun. Politik. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah. Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah II.

5. nomenklaturnya menjadi Badan Koordinasi dan Promosi Penanaman Modal Daerah. Hal ini dilakukan melalui perubahan dalam susunan organisasi Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat. sehingga tercermin jelas obyek yang harus dikoordinasikan. perlu ada penguatan dalam struktur rumah sakit daerah. menjadi terdiri atas 1 (satu) orang direktur dan 2 (dua) wakil direktur. Keuangan dan Umum. Selain itu. penguatan pada tugas pokok dan fungsi Bakorwil perlu dilakukan untuk menunjang perannya sebagai koordinator pembangunan di wilayah Jawa Barat. yaitu fungsi pemerintahan dan pembangunan yang menjadi tugas gubernur sebagai kepala daerah maupun wakil pemerintah. panjangnya rentang kendali pemerintahan Jawa Barat serta untuk meningkatkan sinergitas pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih memerlukan Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) ini. Karena itu. sehingga akan lebih efisien dan sinergi dalam mempromosikan daerah. Karena itu. Pelayanan Perawatan. khususnya dalam upaya peningkatan pelayanan masyarakat. 6. dan Penunjang Medik. keberadaan Bakorwil tetap dipertahankan dan nomenklaturnya diubah menjadi Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah. Rumah Sakit Daerah Rumah sakit daerah merupakan unsur pelaksana kesehatan. Badan Koordinasi Wilayah Luasnya wilayah Provinsi Jawa Barat. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat fungsi Bakorwil. susunan organisasi terdiri 69 . Sedangkan susunan organisasi Rumah Sakit Paru Provinsi Jawa Barat terdiri dari Direktur dengan 3 (tiga) seksi. yaitu Seksi Pelayanan Medik. fungsi promosi yang selama ini dilaksanakan oleh masing-masing organisasi perangkat daerah terkait perlu penanganan khusus dan terkoordinasi oleh unit kerja yang menangani penanaman modal.selain menangani fasilitasi penanaman modal. Rumah sakit ini mempunyai tugas pokok melaksanakan upaya pelayanan kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna. Untuk Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan. besarnya jumlah penduduk. Oleh karena itu. serta Wakil Direktur Bidang Pelayanan. yaitu Direktur Bidang Sumber Daya Manusia.

yaitu Bidang Umum dan Keuangan dan Wakil Direktur Bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan. serta Sekretariat Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Barat. e. Sekretariat Badan Pelaksana Pengembangan Bandara Internasionl dan Kertajati Aerocity. 1 Inspektorat. c. 12 Biro. Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian. yaitu Sekretariat Badan Pelaksana Pengembangan Bandara Internasional dan Kertajati Aerocity. Lembaga Lain Dalam raperda tentang lembaga lain. d. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Provinsi Jawa Barat. Sekretariat Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Provinsi Jawa Barat. 4 Asisten. serta 3 Lembaga Lain Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan kesepakatan DPRD dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sementara terhadap ketiga lembaga lainnya. dan Kehutanan Provinsi Jawa Barat. 70 . 20 Dinas Daerah dan 1 Satuan Polisi Pamong Praja. f. Sekretariat Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Barat. b. 7. Terhadap ketiga lembaga lain yang diusulkan dalam raperda. Sekretariat Badan Narkotika Provinsi Jawa Barat. Perikanan. terdiri dari 14 Badan. Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian. 19 Lembaga Teknis Daerah. 1 Kantor. dan 3 Rumah Sakit. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengusulkan adanya 6 (enam) lembaga lain. yakni: a. ditetapkan bahwa organisasi perangkat daerah Provinsi Jawa Barat terdiri dari: 1 Sekretaris Daerah. disepakati pembentukannya mengingat urgensi dari keberadaan lembaga-lembaga lain tersebut. Perikanan. Sekretariat Badan Narkotika Provinsi Jawa Barat.dari direktur dan 2 (dua) wakil direktur. dan Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Sekretariat DPRD. Sekretariat Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Provinsi Jawa Barat. pembentukannya ditangguhkan karena sampai dengan saat ini peraturan pelaksanaannya masih belum ditetapkan. yaitu Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Provinsi Jawa Barat.

28 0.22 0. Nama Jabatan Fungsional 1 Analisis kepegawaian 2 Apoteker 3 Arsiparis 4 Asisten apoteker 5 Auditor 6 Dokter 7 Dokter gigi 8 Epidemiolog kesehatan 9 Fisioterapi 10 Guru 11 Instruktur 12 Medik veteriner 13 Nutrisionis 14 Pamong budaya 15 Pekerja sosial 16 Peneliti 17 Penera 18 Pengantar kerja 19 Pengawas benih tanaman 20 Pengawas bibit ternak 21 Pengawas ketenagakerjaan 22 Pengawas sekolah 23 Pengendali OPT 24 Penguji kendaraan bermotor 25 Penyuluh kehutanan 26 Penyuluh kesehatan Formasi Ahli 14 4 7 44 26 5 2 202 3 4 6 25 5 6 1 6 13 7 6 Jumlah Terampil 36 58 6 10 4 4 10 1 48 5 9 10 13 16 50 4 65 6 54 26 5 2 4 202 4 13 1 52 6 30 5 15 11 6 13 20 16 6 % 5. sebanyak 915 orang (6.64 1.55 0.46 0.10 0.20 0.44 22.4.75 0.867 orang yang tersebar pada 48 unit kerja.44 1. Kapasitas Pengelolaan Sumber Daya Aparatur Pemerintah Daerah Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat hingga Juni 2008 sebanyak 14.66 71 .66 5. yang terdiri dari jabatan-jabatan berikut ini: Tabel 3.15%) merupakan PNS dengan jabatan fungsional.66 1.55 1.44 7.42 2. Dari jumlah tersebut.84 0.08 0.III.66 3.42 0.6 Jumlah PNS yang Menduduki Jabatan Fungsional di Jawa Barat Tahun 2008 No.19 1.68 0.11 5.90 2.4.

22 0.30 0. Jumlah aparat yang mengikuti diklat teknis dan fungsional selama periode 2003-2007 sebanyak 2. misalnya belum ada (0%) padahal Jawa Barat memiliki luas hutan lindung sebanyak 45% dari keseluruhan luas Jawa Barat. Jumlah pegawai pengawas infrastruktur ketenagakerjaan meningkat menjadi 70 orang dan pelaksanaan rakornis anggota 72 . Jabatan penyuluh kehutanan. perawat (11.267 orang.27 28 Penyuluh pertanian 4 Perantara hubungan 5 industrial 29 Perawat 12 30 Perawat gigi 31 Perekam medis 32 Perencana 26 33 Pranata komputer 10 34 Pranata lab.10%).33 0.55 0. apoteker. arsiparis (7. Selain jabatan ini.55 11.08%).66 2. Nama Jabatan Formasi Fungsional Ahli 35 Pustakawan 3 36 Radiografer 37 Sandiman 38 Sanitarian 2 39 Surveyor Pemetaan 40 Teknisi elektromedis 41 Widyaiswara 24 JUMLAH 474 Sumber: Jawa Barat Dalam Angka.75 7. Mayoritas jabatan fungsional didominasi oleh guru (22. sehingga di masa mendatang perlu ada peningkatan sumber daya manusia yang akan mengisi jabatan-jabatan fungsional yang terkait langsung dengan pencapaian visi dan misi Jawa Barat.98 0. pamong budaya.15%). padahal banyak jabatan fungsional yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi dan pengelolaan potensi sumber daya di Jawa Barat. fungsional penyuluh pertanian. dll juga masih sedikit. 2 Kesehatan No. Jabatan-jabatan fungsional lainnya masih berada di bawah 5%. masih banyak jabatan fungsional yang jumlahnya sedikit padahal fungsinya sangat penting untuk menunjang pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang lebih tinggi. pranata komputer (7.87 0.90%). 2008 1 90 3 8 56 11 5 5 102 3 8 26 66 13 Jumlah 0.21%).11 0.42 % 2. tapi jumlahnya belum memadai.21 1.62 100 Terampil 18 9 2 6 1 6 441 21 9 2 8 1 6 24 915 Berdasarkan data tersebut.87 1. dan auditor (5.15 0.

fasilitasi penataran. Tahun 2003-2008 774 596 800 700 600 500 400 300 200 100 0 D3 D4 81 0 109 5 344 Tugas Belajar Izin Belajar 46 S 1 S 2 2 26 S 3 Sumber: LKPJ Akhir Masa Jabatan Gubernur (2003-2008) 73 . adalah sebagai berikut: Gambar 3. pelatihan.6 PNS yang Mengikuti Tugas Belajar dan Izin Belajar Berdasarkan Jenjang Pendidikan. dan kepemimpinan sebanyak 100 orang. kemampuan pejabat pengawas sebanyak 25 orang. Kegiatan Diknalma “A” Ketenagakerjaan sebanyak 25 orang. selama periode 2003-2007 juga telah dilakukan fasilitasi diklat teknis. Jumlah aparatur yang mengikuti pendidikan kedinasan (formal) melalui jalur tugas belajar dan izin belajar pada jenjang pendidikan menengah. seminar dan kursus sebanyak 27 orang.739 orang (Diklat Teknis Substantif). Selain itu. peningkatan kemampuan pejabat hubinsnaker sebanyak 25 orang. dan S3 selama tahun 20032008. 3. dan Rakornis anggota sebanyak 40 orang.285 orang (Diklat Kepemimpinan III dan IV).MPU sebanyak 30 orang. 1. jumlah aparatur yang mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) adalah sebanyak 7. S1. serta 490 orang (Diklat Fungsional). fungsional. Selama kurun waktu 2003-2007. dan terlaksananya pelatihan pegawai fungsional pengantar kerja sebanyak 30 orang. Bimtek Pegawai Perantara sebanyak 20 orang. peningkatan pelayanan sumber pendapatan daerah sebanyak 8 orang. S2.550 pegawai (Diklat Prajabatan).

IV Sumber: LKPJ Akhir Masa Jabatan Gubernur (2003-2008) Komposisi seperti di atas sebenarnya cukup dapat menunjang peran pemerintah provinsi sebagai fasilitator bagi penyelenggaraan pemerintahan daerah di tingkat kabupaten/kota. maka perannya akan turut menunjang dalam menyiapkan beragam kebijakan serta model-moderl fasilitasi yang diperlukan oleh kabupaten/kota. III Gol.41% 2.91% 27.76% 61. I Gol. Kondisi ini akan membantu mengurangi beban anggaran kedinasan pada pemerintah daerah. terutama dalam penyelenggaraan pelayanan umum yang hanya berskala lintas kabupaten. mengingat fungsi rumah tangganya sangat terbatas. Dalam rangka peningkatan produktivitas kerja pegawai. telah dilakukan mutasi pegawai Provinsi Jawa Barat selama tahun 2003-2007 sebagai berikut: 74 . namun tetap dilakukan pengendalian dalam pemilihan jenis-jenis kompetensi yang diikuti para pegawai yang mengikuti izin belajar. untuk tetap relevan dengan komposisi kebutuhan kompetensi yang menunjang fungsi pemerintah provinsi.7 Komposisi PNS Pemerintah Provinsi Jawa Barat berdasarkan Golongan 7.Melalui upaya diklat dan pendidikan kedinasan. II Gol. Ditinjau dari golongan kepangkatan. Gambar 3. Dengan komposisi kepangkatan penata.92% Gol. komposisi PNS di Provinsi Jawa Barat mayoritas berada pada Golongan III atau berpangkat pada kategori penata. diharapkan kompetensi pegawai di lingkungan pemerintah provinsi dapat meningkat.

566 1.445 - 6 - - 258 - 400 7 32 17 16 9 15 8 280 160 160 120 120 Sumber: LKPJ Akhir Masa Jabatan Gubernur (2003-2008) Untuk menambah kebutuhan pegawai pada berbagai unit kerja di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.815 2006 25.175 2004 21.275 2005 26.617 1.646 1.325 557 543 564 569 579 3 43 277 426 383 268 4 2.722 5 - - - 2. telah dilakukan pengangkatan pegawai baru.Tabel 3.7 Kegiatan Mutasi Pegawai Provinsi Jawa Barat No.067 2. Kegiatan 1 Kenaikan Pangkat 2 Pelaksanaan Penyelesaian Surat Keputusan KP Kenaikan Gaji Penyelesaian Berkala Surat Pemberitahuan KGB Pemensiunan Penyelesaian Surat Keputusan Pensiun Perpindahan Penyelesaian Perpindahan PNS Inpassing Penyelesaian inpassing gaji pokok PNS Peningkatan Penyelesaian status CPNS SK CPNS menjadi PNS Perpanjangan Pelaksanaan BUP Tes Kesehatan Pejabat Eselon I dan II berusia di atas 55 tahun Pembekalan Pembinaan kewirausahaan PNS yang bagi PNS yang menjelang menjelang pensiun pensiun 2003 12. dengan data sebagai berikut: 75 .714 2007 20.

115 Berdasarkan data di atas. terjadi peningkatan dalam rekrutmen CPNS di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terutama pada tahun 2006. Meski mengalami penurunan pada tahun 2007. namun jumlahnya masih cukup banyak.443 2007 (orang) 1.4. III.443 1. Kebijakan untuk setiap komponen pendapatan daerah diarahkan pada upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan daerah dari setiap sumber dana. Adapun kondisi capaian pendapatan daerah sepanjang periode 2003-2007 adalah sebagai berikut: 76 . Hal ini menunjukkan suatu kondisi kontradiktif. sehingga komposisi kepegawaian belum sejalan dengan semangat reformasi birokrasi untuk meningkatkan kinerja pemerintahan. Kegiatan 2003 2004 2005 (orang) (orang) (orang) 1 Rekrutmen dari 260 120 pelamar umum 2 Rekrutmen dari 280 tenaga honorer JUMLAH 260 400 Sumber: LKPJ Akhir Masa Jabatan Gubernur (2003-2008) 2006 (orang) 1. 2008). Pendapatan daerah untuk APBD diproyeksikan pertumbuhannya sekitar 15% per tahun (LKPJ Akhir Masa Jabatan Gubernur. Kondisi ini mengindikasikan masih belum optimalnya perencanaan kepegawaian karena kompetensi pegawai yang tersedia masih belum sesuai dengan kebutuhan. selain itu.5.8 Rekrutmen CPNSD di Lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2003-2007 No.Tabel 3. Sumber Dana dan Pembiayaan Pembangunan Kebijakan pendapatan daerah diarahkan melalui upaya peningkatan kapasitas fiskal (fiscal capacity) sebagai pencerminan dari kesungguhan pemerintah daerah melakukan pemberdayaan sumber-sumber potensi daerah untuk mewujudkan otonomi yang diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat yang didukung dengan penguatan keuangan daerah. distribusi PNS untuk jabatan-jabatan fungsional masih belum memadai.115 1. jumlah PNS dirasakan terlampau banyak tapi rekrutmen tetap dilakukan terutama untuk mencari PNS yang memiliki kualifikasi yang diperlukan organisasi.

00 7.40 5.60 14.00 15.203.659.000.61 161.425.60 16.61 3.25 dan dapat direalisasikan sebesar 77 .116.592. A 1 Pendapatan Daerah Pendapatan Daerah Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah Retribusi Daerah Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Perimbangan Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Anggaran Setelah Perubahan (Rp) 19.147. retribusi.218. termasuk pengembangan aset BUMD.221.201.999.00 447.842.376.358. Dalam kaitannya dengan departemen terkait.566.421.83 Pencapaian Target (%) 117.97 129.738.848.842.784.045.842.95 Sumber: LKPJ Akhir Masa Jabatan Gubernur (2003-2008) Data di atas menunjukkan bahwa kapasitas fiskal Jawa Barat masih belum optimal.00 3.738.194.064.482.000.883. antara lain belum terdatanya semua obyek dan wajib pajak daerah.348.056.00 0.887.000.628.872.176.629.040.00 114. Dari sisi pembiayaan.958.9 Target dan Realisasi Pendapatan Daerah Jawa Barat Tahun 20032007 No.540. belanja daerah dialokasikan sebesar Rp 22.76 383.090.474. dalam tahun anggaran 2003-2007.269.496.39 6.182.117.00 297. belum tercapai kesepakatan dalam perhitungan data produksi dan lifting migas.00 4045.906. BPHTB.000.027.617.507. retribusi daerah.814.968.034.244.918.83 100.485.70 451.82 109.812.908.734. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral belum sepenuhnya melibatkan daerah penghasil migas dalam moonitoring produksi migas sebagai dasar perhitungan lifting migas. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan dan perkuatan BUMD antara lain belum optimalnya pihak manajemen perusahaan dalam mengimplementasikan pengelolaan perusahaan yang baik.792.189.218.092.35 112.07 2 3 3. dan PPh Perseorangan.00 0.Tabel 3. permasalahan yang dihadapi antara lain masih belum akuratnya data obyek dan subyek PBB.596. dan lain-lain pendapatan daerah yang sah masih belum optimal karena sejumlah kendala.10 125.489.350.00 100. Dari sisi potensi pajak.912.484.00 0.000.256. Dalam hal optimalisasi penerimaan dari dana perimbangan.80 13.46 116.60 117.80 619.635.38 Realisasi (Rp) 23. serta lain-lain pendapatan daerah yang sah.931.550.80 2.451.377.594.

misalnya PP tentang Urusan Wajib dan Urusan Pilihan yang belum ditetapkan dan diberlakukan oleh pemerintah sehingga kegiatan sosialisasi terhadap peraturan dimaksud tidak mungkin dapat dilaksanakan.369.384.041.158.90 4.642.90 atau 94.893.123.079.205.10 4.662.812.294.443.380.36 Realisasi (Rp) 16. 1 2 3 Belanja Daerah Belanja Aparatur Belanja Publik Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan Belanja Tidak Tersangka Anggaran Setelah Perubahan (Rp) 16.00 Pencapaian Target (%) 95.444.00 Tidak Langsung 2 Belanja 1.47 4 317.539. Untuk belanja publik.572.60 Sumber: LKPJ Akhir Masa Jabatan Gubernur (2003-2008) Tabel 3.326. Belanja Anggaran Setelah Realisasi Daerah Perubahan (Rp) (Rp) 1 Belanja 4.10 Alokasi Anggaran dan Realisasi Belanja Daerah Jawa Barat Tahun Anggaran 2003-2006 No.58 88.664.080.35 7.251.203. Rincian lengkap untuk alokasi anggaran dan realisasi belanja daerah dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 3.109.100.721.399.563.00 Langsung Sumber: LKPJ Akhir Masa Jabatan Gubernur (2003-2008) Pencapaian Target (%) 92.344. dapat direalisasikan sebesar 95% karena adanya efisiensi pada beberapa kegiatan dan adanya bagian kegiatan yang tidak 78 .264.43%.Rp 21.28 Untuk belanja aparatur dari tahun 2003-2006 direalisaikan sebesar 93. Kinerja penyerapan anggaran belanja mencapai 94.404.878.273.34 3.484.00 85.145.81 1.104.00 97.781.416.475.282.412.020.423.016.00 7. baik yang bersifat faktor internal maupun faktor eksternal.424.43% menunjukkan bahwa tingkat penyerapan dalam batas proporsi yang masih ideal karena dalam realisasi sebuah anggaran akan dipengaruhi berbagai hal.16 271.511.867.807.656.47% disebabkan oleh adanya pegawai yang pensiun atau alih tugas ke kabupaten/kota serta adanya peraturan lanjutan.11 Alokasi Anggaran dan Realisasi Belanja Daerah Jawa Barat Tahun Anggaran 2007 No.47 95.742.022.

97%. yaitu untuk belanja pegawai karena adanya pegawai yang pensiun atau alih tugas ke kabupaten/kota.82%. bantuan sosial. sedangkan realisasinya sesuai kebutuhan dan diberitahukan kepada DPRD. realisasi pembiayaan daerah selama periode 2003-2007 adalah sebagai berikut: 79 . Untuk belanja bunga tidak terdapat realisasi karena realisasi belanja bunga menyatu dengan pembayaran pokok utang.48% karena alokasi dana pada pos Belanja Tidak Tersangka merupakan penyediaan anggaran. sisa penyerapan belanja tersebut disebabkan oleh beberapa hal. Untuk belanja tidak langsung pada tahun 2007 direalisasikan sebesar 92.28% karena adanya efisiensi pada beberapa kegiatan dan adanya bagian kegiatan yang tidak direalisasikan akibat dana dan waktunya tidak mencukupi. belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintah desa serta belanja bagi hasil kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintah desa direalisasikan sebesar 96. Realisasinya diseleksi dengan jumlah proposal yang masuk dan yang telah memenuhi syarat sesuai dengan peraturan perundang-undangan serta karena masih terdapat kabupaten/kota yang belum meminta haknya. dan adanya pengangkatan PNS baru untuk formasi 2007 yang baru dibayarkan pada tahun 2008. terutama untuk bagi hasil retribusi dan untuk belanja tidak terduga disebabkan karena pada tahun 2007 tidak terjadi kejadian yang luar biasa seperti bencana alam dan bencana sosial. belanja hibah direalisasikan sebesar 73.118%.direalisasikan akibat dana maupun waktunya tidak mencukupi untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Untuk belanja langsung pada tahun 2007 direalisasikan sebesar 88. Namun hal tersebut masih dalam batas proporsi yang ideal. Belanja tidak tersangka dan tidak terduga direalisasikan sebesar 76. Belanja subsidi direalisasikan sebesar 89. adanya peraturan lanjutan yang belum diterapkan. Selain pendapatan dan belanja daerah.58%.

032.760.746.69 158.00 3 Sumber: LKPJ Akhir Masa Jabatan Gubernur (2003-2008) III.00 Pencapaian Target (%) 99.950. seperti kemiskinan.951. Pembayaran utang pokok yang jatuh tempo d.040.000.124.00 0. Hasil penjualan saham daerah c.00 10.00 302.00 58.979.000.000.147.91 341.692.660.65 99.71 0.000.00 98.78 4.000.708.00 798.000.00 0. Bahkan isu 80 .00 100. pengangguran.730.132.126.347.25 19.00 303.12 Alokasi Anggaran dan Realisasi Pembiayaan Tahun Anggaran 2003-2007 No.062.00 0.048.861.254.153. Jawa Barat menghadapi permasalahan yang cukup kompleks dalam hal rentang kendali dan penyebaran pembangunan.527.000. Penerimaan kembali pemberian pinjaman Pengeluaran Daerah a.00 2 1.00 58.335.945.00 31.00 0.00 10.000.614.Tabel 3.40 0.347.271.6.00 100.00 250.876. dll. Tertatanya Daerah Otonom Baru Sebagai provinsi dengan luas daerah dan jumlah penduduk yang cukup besar.07 100.730. Sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu e. Kesenjangan pembangunan akibat pemusatan pertumbuhan ekonomi di sejumlah kawasan menimbulkan persoalanpersoalan kesejahteraan.822.705.962.00 0.91 100.874.13 809.606.00 3.271.040.78 3.4. 1 Pembiayaan Penerimaan Daerah a.561.306.485.00 Realisasi (Rp) 4.048.000.861.40 341.000.00 0.94 250.043.271. Pencairan dana cadangan f.630.843.000.843.00 315. Penyertaan modal c.387.69 99. Transfer ke dana cadangan b. Penerimaan pinjaman dan obligasi daerah d.000. Transfer dari dana cadangan b.000.94 100.996. Pemberian piutang kepada pihak lain Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan Anggaran Setelah Perubahan (Rp) 4.621.760.506.370.141.00 3.335. Sisa lebih perhitungan anggaran tahun berjalan e.000.78 158.000.035.000.25 63.017.506.000.000.230.

Meskipun demikian. Bila merujuk pada desain penataan wilayah yang dibuat Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 1990 yang termuat dalam Pola Induk Pengembangan Wilayah Propinsi DATI I Jawa Barat dalam jangka panjang (2530 tahun). Kota Bekasi (2001). sedangkan Kota Depok (1999).etnisitas yang membedakan antara Priangan dengan non Priangan turut mewarnai wacana pemekaran daerah di Jawa Barat. Apakah daerah yang semula kotif relatif lebih “mulus” perkembangannya karena telah melalui masa transisi ataukah tidak ada perbedaan signifikan dengan daerah yang muncul melalui pemekaran murni? Meskipun demikian. Meski demikian. yang nantinya dapat mengkritisi kebijakan Pola Induk Pengembangan Wilayah tahun 1990. jumlah daerah otonom di Jawa Barat masih berjumlah 26 termasuk dengan Kabupaten Bandung Barat yang dibentuk pada akhir tahun 2006. Kota Cimahi (2000). apakah masih relevan dengan kondisi sekarang atau perlu disempurnakan. tapi terhadap keseluruhan kabupaten/kota di Jawa Barat. Hasil evaluasi ini menjadi bahan untuk melakukan penataan wilayah secara komprehensif. Hal ini berarti bahwa pengalaman penataan wilayah di Provinsi Jawa Barat sebenarnya relatif unik dan menarik untuk dijadikan perbandingan tersendiri. Bahkan idealnya. Hasil evaluasi juga dapat menjadi bahan pertimbangan obyektif agar wacana pemekaran atau pembentukan daerah otonom 81 . hingga tahun 2006. bagaimana perkembangan daerah otonom baru yang muncul dari hasil pemekaran dibandingkan dengan daerah yang terbentuk melalui proses peningkatan status kotif. sehingga belum bisa dievaluasi secara menyeluruh terkait dengan kinerja pemerintahannya. yang benar-benar merupakan hasil pemekaran hanya Kabupaten Bandung Barat. dan Kota Banjar (2002) merupakan peningkatan status dari kota administratif (kotif) yang merupakan bagian kabupaten. perbandingan ini bisa menjadi bias bila dilakukan sekarang karena Kabupaten Bandung Barat baru berusia kurang dari 1 tahun. tidak hanya daerah otonom yang baru terbentuk. evaluasi awal tentang perkembangan daerah otonom baru di Jawa Barat tetap perlu dilakukan. Dari daerah otonom baru yang terbentuk pada periode 1999-2006. kebijakan kemungkinan penataan kembali Daerah Tingkat II di Jawa Barat diarahkan untuk berkembang dari 24 menjadi 42 Daerah Tingkat II. Kota Tasikmalaya (2001).

bahwa penataan wilayah bukan hanya pemekaran tapi bisa juga penggabungan daerah. Apapun pilihan yang dihasilkan dari penataan wilayah ini. Kota Bekasi. dan Kabupaten Tasikmalaya (induk Kota Tasikmalaya) mencapai IPM sebesar 65. 82 . terjadi peningkatan dalam capaian IPM.3. sehingga biaya politiknya dapat ditekan seminimal mungkin.8.6. dll. Karena itu. Kabupaten Ciamis (induk Kota Banjar) mencapai IPM sebesar 64. evaluasi daerah-daerah otonom di Jawa Barat perlu didahului dengan kejelasan konsep penataan wilayah untuk membangun kesamaan visi dan pemahaman. Kabupaten Bandung (induk Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat) mencapai IPM sebesar 66. bahwa penataan wilayah tidak harus selalu menghasilkan daerah otonom baru tapi bisa juga berupa kawasan khusus yang bersifat administratif.6. pembentukan unit-unit pelayanan. Secara umum. prasangka negatif. bahwa penataan wilayah bisa memunculkan model alternatif manajemen pemerintahan. Kota Cimahi. orientasi utamanya harus diarahkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. bahkan konflik antara daerah induk dengan daerah calon pemekaran. seperti pelimpahan kewenangan. dengan membandingkan kondisi capaian Indeks Pembangunan Manusia di daerah-daerah sebelum dan setelah pemekaran. pembentukan manajer kota. capaian IPM untuk daerah induk dan daerah baru adalah sebagai berikut.6. penyelenggaraan kerjasama antar daerah. Kabupaten Bekasi (induk Kota Bekasi) mencapai IPM sebesar 64. Pada tahun 2003. maka untuk Kota Depok. Kota Banjar.tidak direspon secara apriori. Hasil pengukuran IPM untuk daerah induk kelima kota tersebut pada tahun 1999 berdasarkan pengukuran yang dilakukan UNDP menunjukan bahwa Kabupaten Bogor (induk Kota Depok) mencapai IPM sebesar 66. dan Kota Tasikmalaya.

25 70. potensi daerah. sepintas dapat disimpulkan bahwa pemekaran berkorelasi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.15 2004 76.16 66.16 2006 69.92 71.41 Kota Depok Kota Cimahi Kabupaten Bandung Barat Kota Bekasi Kota Banjar Kota Tasikmalaya IPM 2003 76. manajemen pemerintahan di daerah baru. 2007 (diolah) Berdasarkan data tersebut. Namun.78 74.62 75.85 73.81 67.74 73. Daerah-daerah baru tersebut memang sejak awal telah berkembang menjadi daerah potensial.33 Sumber: Basis Data Analisis IPM Jabar. seperti Banjar.48 71.00 65.11 3 4 5 Kabupaten Bekasi Kabupaten Ciamis Kabupaten Tasikmalaya 70.97 75.96 69.13 72.82 71. 1 2 Daerah Induk Kabupaten Bogor Kabupaten Bandung IPM 2003 67. Selain itu.81 75.08 69. pemekaran tidak serta merta mewujudkan kesejahteran daerah baru karena diperlukan faktor-faktor lain untuk mengoptimalkan dan 83 .95 69.94 72. Bila melihat data tersebut. Dengan kata lain.08 71.46 73.89 68.52 2005 68.78 70. Variabel usia daerah baru.05 75.86 2006 77.06 2005 77.Tabel 3.95 71. 2007. bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan ketika daerah induknya belum dimekarkan.65 71. figur kepemimpinan yang kreatif dan inovatif di sejumlah daerah baru.13.52 71.79 70.83 66. Cimahi. jelas bahwa daerah-daerah baru ternyata berhasil meraih IPM yang lebih tinggi dibandingkan daerah-daerah induknya. Kabupaten Bandung Dalam Angka. sehingga tidak heran bila daerah-daerah baru tersebut mampu melaju meninggalkan daerah-daerah induknya.33 69. dan Depok turut berkontribusi dalam perumusan kebijakankebijakan pro publik untuk meningkatkan kesejahteraan di daerah baru tersebut.06 73.52 Daerah Baru 2004 68.08 71. Rentang waktu dari kotif menjadi kota otonom pun relatif memadai untuk mempersiapkan struktur dan manajemen pemerintahan. data ini tidak cukup memadai untuk menyimpulkan bahwa pemekaran mempunyai dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan karena banyak variabel lain yang perlu dipertimbangkan. sehingga statusnya pun meningkat dari kecamatan menjadi kotif. serta faktor kepemimpinan adalah sejumlah variabel yang turut menentukan arah perkembangan daerah-daerah baru.49 70.99 69.10 68.93 67. Perbandingan Capaian IPM sebelum dan setelah Dimekarkan (Data Tahun 2003-2006) No.

peralihan aset dan bagian keuangan daerah. periode transisi juga rentan dengan potensi konflik. Kota Cimahi masih berdebat dengan Kabupaten Bandung mengenai perluasan wilayah karena Kota Cimahi merasa mulai “sesak” dengan hanya 3 wilayah kecamatan sementara laju pertumbuhan penduduk mulai meningkat pesat. pemekaran daerah di Jawa Barat pun menyisakan sejumlah permasalahan yang harus segera diselesaikan. Perkembangan Kota Bekasi dan Kota Depok sebagai kota satelit Jakarta memunculkan wacana megapolitan yang menjadi perdebatan antara Jawa Barat dan Jakarta. Bila tidak terkelola dengan baik. belum akan tampak perubahan signifikan dalam kualitas pelayanan publik. dst. maupun antara elit-elit di daerah baru yang berpotensi memunculkan para free riders yang hanya memanfaatkan “arena baru” untuk memperoleh jabatan-jabatan politik. apalagi dalam tingkat kesejahteraan masyarakat. hingga sekarang masih belum menuntaskan sengketa peralihan aset daerah. Selain sisi positif peningkatan kesejahteraan tersebut. alokasi anggaran. Selain terkonsentrasi pada biaya birokrasi. baik dari provinsi maupun daerah induk akan terkonsentrasi untuk pembiayaan birokrasi. Kabupaten Bandung Barat hingga saat ini masih berkutat pada konsolidasi birokrasi pemerintahan baru dan persiapan pembentukan pemerintahan definitif melalui pilkada. sehingga belum sepenuhnya berkonsentrasi pada peningkatan pelayanan publik. misalnya. pengesahan pemerintahan definitif. Masalah-masalah khas perkotaan (urban) pun mulai dihadapi Kota Bekasi dan Kota Depok yang semakin merasa “dekat” dengan Jakarta dibanding dengan Jawa Barat. sehingga tidak heran bila pada periode awal pemekaran. potensi konflik ini akan berdampak panjang. seperti penunjukkan pejabat kepala daerah. Pada periode ini. seperti pada 84 . Berbagai permasalahan tersebut sesungguhnya merefleksikan “pekerjaan rumah” yang akan dihadapi pascapembentukan daerah baru. Selama periode transisi (minimal 1 tahun pertama). pengisian DPRD. pengisian struktur birokrasi. baik antara daerah induk dengan daerah baru. penyelenggaraan pilkada.menerjemahkan otonomi yang diperoleh daerah baru tersebut ke dalam kebijakankebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. daerah baru akan dihadapkan dengan persoalan-persoalan elitis. Kabupaten Tasik dan Kota Tasik.

78 Tahun 2007 tentang Pembentukan. dimekarkan menjadi Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bogor Barat. Selama periode 2007-2008 berkembang tuntutan pembentukan daerah otonom baru yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Indramayu (menjadi Kota Indramayu). Kasus pembentukan Kota Cipanas (pemekaran dari Kabupaten Cianjur) dan Kabupaten Ciamis Selatan (pemekaran dari Kabupaten Ciamis) menunjukkan hasil penilaian total menunjukkan kedua daerah tersebut dapat dimekarkan. Sementara itu. Kabupaten Sukabumi (menjadi Kabupaten Sukabumi Selatan. baru 1 (satu) usulan yang disetujui oleh DPRD Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Cianjur (menjadi Kota Cipanas). Kelimat usulan lainnya masih dalam tahap pengkajian untuk mengukur kelayakan pemekaran. namun karena ada komponen nilai yang kurang memenuhi skor minimal maka usulan pembentukan daerah otonom baru masih harus melalui proses politik berupa pembahasan di DPRD induk untuk membentuk persetujuan dan kesepakatan dengan pemerintah daerah induk untuk melanjutkan usulan pada pemerintahan yang lebih tinggi. yang pada akhirnya merugikan masyarakat.78 Tahun 2007 berbeda dengan kriteria dan prosedur 85 . PP No. ternyata capaian skor potensi keuangan daerah untuk daerah induk menjadi menurun setelah dimekarkan sehingga nilainya kurang dari batas minimal. kajian kelayakan pembentukan daerah otonom baru tidak mudah dilakukan karena seringkali daerah calon atau daerah induk tidak dapat memenuhi skor minimal untuk layak dimekarkan.78 Tahun 2007 merupakan pedoman yang harus dirujuk dalam proses pembentukan suatu daerah otonom baru. Dari keenam usulan pembentukan daerah otonom baru tersebut. Kabupaten Ciamis (menjadi Kabupaten Ciamis Selatan). yakni Kabupaten Bogor. dan Kabupaten Palabuhanratu). Kabupaten Sukabumi Utara. dan Kabupaten Bogor (menjadi Kabupaten Bogor Barat). Penggabungan. Kriteria dan prosedur teknis yang ditetapkan dalam PP No. dan Penghapusan Daerah Otonom. Kabupaten Garut (menjadi Kabupaten Garut Selatan). atau Kabupaten dan Kota Tasikmalaya. Pada kasus pembentukan Kota Cipanas. Dengan menggunakan PP No.kasus Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi. untuk kajian pembentukan Kabupaten Ciamis Selatan menunjukkan capaian skor untuk potensi daerah kurang dari skor minimal.

78 Tahun 2007 dapat dilihat pada hal-hal berikut ini. indikator yang dipilih belum sepenuhnya tepat untuk merepresentasikan faktor atau variabel yang digunakan sebagai kriteria penilaian. padahal sebagaimana halnya yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia. 86 . data yang valid untuk indikatorindikator berikut ini tidak ditemukan: • Wilayah efektif yang dapat dimanfaatkan: Wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kawasan budi daya di luar kawasan lindung.78 Tahun 2007 dapat lebih efektif dan efisien untuk digunakan sebagai pedoman pengganti. kalaupun data tentang indikator tersebut tersedia. 2 Sebagai ilustrasi tentang sulitnya mendapatkan data sekunder yang valid dan uptodate adalah ketika hendak dilakukan pemetaan penduduk miskin dalam rangka pembagian dan penyaluran dana BLT beberapa waktu yang lalu. maka ketersediaannya tidak meliputi semua daerah yang akan dikaji. metode penilaian indikator yang digunakan dalam PP No. Pertama. judgement atau persepsi seseorang. BAPPEDA). ketersediaan basis data sekunder yang valid sangat terbatas 2. yang dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ketatanegaraan dan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah. Ketiga. yaitu tentang ketaktersediaan data dari sumber-sumber resmi (BPS. Kesulitan penerapan metode penilaian yang digunakan dalam PP No.78 Tahun 2007. Seyogianya PP No. Departemen Sosial. 1 Yang dimaksud dengan hard data disini adalah data yang bersifat objektif. Departemen Kesehatan dan lembaga lainnya. BKKBN. namun demikian dalam praktiknya PP No.78 Tahun 2007 belum sepenuhnya dapat diterapkan secara praktis dalam proses penilaian kelayakan pembentukan daerah otonom baru. dimana terdapat perbedaan nilai dari berbagai sumber data resmi yang ada di Indonesia. 129 Tahun 2000. Data yang dimaksud seperti halnya data-data yang diperoleh melalui pengukuran gejala fisik. Kedua. Pendapat ini muncul mengingat secara praktis sulit untuk mendapatkan data-data yang valid dan aktual tentang indikator-indikator yang ditetapkan dalam PP No.78 Tahun 2007 mayoritas (bahkan nyaris seluruh indikatornya) berbasis penggunaan data sekunder dan bersifat hard data 1. jelasnya bahwa BPS di tiap-tiap kabupaten/kota memiliki format dan konten dokumen statistik (misalnya daerah dalam angka) yang berbeda satu dengan yang lainnya. misalnya terdapat perbedaan antara BPS. bukan merupakan data hasil penilaian.teknis yang ditetapkan dalam PP No. Pada masalah yang pertama dan kedua.

Namun terkait dengan kendala ketiga yakni indikator yang dipilih belum sepenuhnya tepat untuk merepresentasikan faktor atau variabel yang digunakan sebagai kriteria penilaian. namun demikian tim peneliti mendapatkan data ini dari sumber terkait seperti Polda. Balai Pertemuan: Tempat (gedung) yang digunakan untuk pertemuan masyarakat melakukan berbagai kegiatan interaksi sosial.• • • • • • • Persentase rumah tangga yang mempunyai kendaraan bermotor atau perahu atau perahu motor atau kapal motor. Perihal jumlah personil keamanan dan pertahanan tentu tidak terdapat dalam dokumen statistik. dengan demikian terdapat tingkat kesulitan yang cukup tinggi dalam mentransformasikan nilai subjektifnya ke dalam ukuran-ukuran objektifnya. atau kepulauan). tetapi hanya sebatas jumlah tanda bukti kepemilikan seperti BPKB dan STNK. atau daratan dan pantai/laut. 87 . PP No. Hampir semua dokumen resmi di Kabupaten/Kota tidak mencantumkan data tentang luas wilayah efektif sebagaimana yang didefinisikan di atas. Sebagaimana penjelasan dari komandan Kodim dan Polres yang kami temui. Kodim dan Kodam. misalnya yang terkait dengan jumlah aparat keamanan dan pertahanan. Demikian pula berkenaan dengan data ketenagakerjaan. dan posisi calon daerah otonom (berbatasan dengan negara lain atau tidak berbatasan dengan negara lain). Sedangkan data mengenai kepemilikan kendaraan bermotor biasanya tidak didasarkan atas jumlah rumah tangga atau keluarga yang memilikinya. Polres. umumnya data ketenagakerjaan tidak didistribusikan seperti indikator yang digunakan dalam PP No. Persentase pekerja yang berpendidikan minimal S-1 terhadap penduduk usia 25 tahun ke atas. Sementara mengenai karakteristik wilayah. 78 tahun 2007. Persentase pekerja yang berpendidikan minimal SLTA terhadap penduduk usia 18 tahun ke atas. Personil Aparat Pertahanan Personil Aparat Keamanan Karakteristik Wilayah: Adalah ciri wilayah yang ditunjukan oleh hamparan permukaan fisik calon daerah otonom (berupa daratan. 78 tahun 2007 menyebutkan penilaian skor menggunakan judment subjektif.

Pencapaian Tata Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa III. demikian pula di TNI AD. ada juga anggota TNI yang ditempatkan pada satuan-satuan lain.5. Kebijakan penempatan anggota itu pun memiliki aturan dan logikanya tersendiri yang ditentukan oleh pemerintah pusat. namun demikian sebatas ketersediaan para ahli dan data proxy yang tersedia maka dapat disimpulkan bahwa potensi error yang terjadi masih dapat ditolerir. TNI AD menggunakan kriteria jumlah penduduk. Jumlah Praktik Korupsi yang Melibatkan Pejabat Pemerintah Daerah dan Penanganannya Berdasarkan data yang termuat dalam buku Jawa Barat dalam Angka Tahun 2008. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa data dan proses skoring dengan PP No. di samping itu selain anggota TNI yang bertugas di staf komando teritorial atau komando kewilayahan. III. TNI AL dan Polri. terungkap bahwa jumlah perkara pidana korupsi selama periode 2005-2007 mengalami penurunan. Dalam hal ini ada data yang diganatikan oleh proxy-nya dan ada pula proses penilaian skor dengan menggunakan judgement pakar. dalam hal ini Mabes TNI dan Mabes Polri. seperti batalyon infanteri. batalyon Armed dan sebagainya. Terhadap persoalan data di atas dapat digunakan proxy dalam penilaian terhadap data-data yang “bermasalah” tersebut.5.distribusi gelar pasukan TNI AD dan penempatan anggota Polri telah diatur secara tersendiri. misalnya untuk jumlah komado teritorial dan anggotanya.78 tahun 2007 ini tidak dapat 100% mengikuti kaidah yang ditetapkan. Gambar 3.8 Jumlah Kasus Pidana Korupsi di Jawa Barat Tahun 2005-2007 100 80 60 40 20 0 2005 2006 2007 Masuk Putus Sisa 84 60 48 36 6 54 58 50 8 88 . sebagaimana tampak pada gambar berikut ini.1.

atau kasus-kasus yang ditangani Bawasda dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dengan memanfaatkan media teknologi informasi dan komunikasi dalam bentuk situs Pemerintah Provinsi. yang diindikasikan dari perluasan akses informasi bagi publik untuk memantau kinerja pemerintahan. Pemerintah Kota Bandung dan Pemerintah Kabupaten Indramayu.Sumber: Jawa Barat dalam Angka.5. Namun. dan akuntabilitas dalam pemerintahan. dan harus segera ditindaklanjuti dengan langkah-langkah konkret dalam penegakan hukum maupun upaya preventif lainnya. Sebagai terobosan dalam pencegahan tindak pidana korupsi. seperti pembenahan birokrasi. Jumlahnya memang mengalami penurunan meski tidak terlalu signifikan. Kepolisian Daerah. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadi salah satu dari empat provinsi di Indonesia yang mendapatkan kepercayaan untuk menerapkan sistem pengadaan barang dan jasa pemerintah 89 . perlu diingat bahwa data ini belum memuat kasus-kasus yang masih dalam tahap penyidikan oleh kepolisian. KADIN. Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama-sama dengan DPRD. Perwakilan BPKP. GAPENSI. Persatuan Wartawan Indonesia. Guna memperkuat transparansi dalam pengadaan barang dan jasa.2. peningkatan transparansi. kalangan Perguruan Tinggi. diproses di pengadilan dan diputus secara hukum. telah menandatangani Kesepakatan Bersama untuk mendukung penyusunan Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi. Informasi mengenai kasus-kasus ini tidak mudah diakses oleh publik. dan Bandung Institute of Governance Studies. masyarakat dapat mengakses dokumen-dokumen perencanaan dan data tertentu yang terkait dengan capaian kinerja pembangunan dan pemerintahan daerah. sehingga dapat menyulitkan pemantauan terhadap upaya pemberantasan korupsi. Upaya ini patut diapresiasi sebagai bentuk komitmen politik dalam memberantas korupsi. Kejaksaan Tinggi. 2006-2008 Data tersebut menunjukkan jumlah perkara korupsi yang sudah masuk ke Kejaksaan Tinggi. Tingkat Transparansi dan Akuntabilitas Kinerja Daerah Tingkat transparansi dalam kinerja pemerintah di Provinsi Jawa Barat relatif baik. III.

Pilihan ini menegaskan ketidakpuasan masyarakat Jawa Barat terhadap kinerja pemerintahan dan pembangunan selama periode 2003-2008. upaya ini dapat diapresiasi sebagai langkah awal untuk menyelenggarakan pembangunan daerah secara partisipatif. Akuntabilitas kinerja pemerintahan daerah. namun secara riil peningkatan ini belum dirasakan oleh masyarakat. Peluang partisipasi publik juga diperluas melalui penyelenggaraan Musrenbang mulai dari tingkat desa/kelurahan hingga tingkat provinsi untuk membahas rencana pembangunan jangka panjang. menengah. Meskipun kadar efektivitas dari partisipasi publik ini masih belum optimal. kemiskinan. Dari sisi politik. III. antara lain terkait target penanganan pengangguran.3. dan tahunan. melalui kelembagaan khusus berupa unit pengadaan barang dan jasa. yang saat ini telah dibangun instalasi operasionalisasinya. dan peningkatan daya beli masyarakat yang berdampak pada peningkatan capaian IPM yang tidak banyak beranjak dari kondisi sebelumnya. yakni Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf pada pemilihan gubernur. 13 April 2008 lalu.secara elektronik (e-government procurement). penilaian terhadap akuntabilitas kinerja pemerintahan pasangan Danny Setiawan dan Nu’man Abdul Hakim tampaknya telah terjawab dengan pilihan mayoritas masyarakat Jawa Barat untuk memilih pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur baru. karena masih ada target pembangunan yang belum dapat dicapai. Tingkat Partisipasi Masyarakat Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbangda) telah mulai dilaksanakan sejak pemberlakuan UU No. meskipun perhitungan secara kuantitatif yang termuat dalam buku Statistik Pembangunan Jawa Barat 2008 menunjukkan peningkatan angka-angka.5. Meskipun ditinjau dari sisi pencapaian target masih belum optimal. namun dari sisi transparansi. setidaknya dari sisi administratif sudah menunjukkan perbaikan yang ditandai dengan pelaksanaan program pembangunan sesuai dengan rencana yang telah disusun. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional yang mewajibkan 90 .

Musrenbang yang mengambil bentuk diskusi kelompok dihadiri 91 . sebanyak 10 orang. dan kepala Bappeda dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat. Kondisi sejenis juga terjadi pada Musrenbang RPJMD Provinsi Jawa Barat Bidang Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup. Musrenbang tingkat Provinsi melibatkan para kepala daerah. sebanyak 15 orang. maupun tahunan. dihadiri oleh 52 orang peserta yang berasal dari unsur-unsur sebagai berikut: 1. diperlukan kehadiran seluruh warga masyarakat bukan hanya diwakili oleh organisasi masyarakat. Perguruan Tinggi sebanyak 1 orang. Baru beberapa daerah kabupaten/kota di Jawa Barat yang telah membuat Perda Partisipasi. Idealnya. Delegasi SKPD/Forum Gabungan SKPD. Selain para pejabat dan kelompok masyarakat di daerah. Wakil dari pelaku pembangunan lainnya sebanyak 16 orang. menengah. Sekalipun telah dilaksanakan sejak tahun 2005. 4. Dalam penyelenggaraan Musrenbang Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Barat 2008-2013. yang diselenggarakan tanggal 14 Agustus 2008. peraturan pelaksanaan yang mengatur mekanisme partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan belum dibuat di tingkat provinsi. antara lain Kabupaten Bandung. dan Kota Bandung. Ia menjadi jembatan untuk mengkomunikasikan rencana-rencana pembangunan yang disusun pemerintah bersama teknokrat. Kota Cimahi. misalnya. para akademisi. 5.dibukanya peluang partisipasi masyarakat dalam perumusan rencana pembangunan. ketua DPRD. Instansi vertikal sebanyak 2 orang. Musrenbang seharusnya memainkan peran penting sebagai wahana untuk menghubungkan antara masyarakat dengan pemerintah dan para teknokrat. atau segelintir pelaku usaha. Musrenbang juga dihadiri para pejabat dari Pemerintah Pusat yang akan memantau penyelenggaraan Musrenbang. dan perwakilan lembaga swadaya masyarakat. 2. 3. LSM. baik dalam jangka panjang. para pejabat di lingkungan Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Jawa Barat. untuk Kelompok Sosial dan Budaya yang membahas naskah RPJMD Bidang Sosial dan Budaya. sekaligus mengklarifikasi sejauhmana rencana tersebut sesuai dengan aspirasi masyarakat. Delegasi Kabupaten/Kota. untuk menghasilkan klarifikasi yang valid dan obyektif.

peraturan perundang-undangan. dan pertanahan. seperti kriteria gender. 2008). khususnya yang dilakukan melalui forumforum resmi masih bersifat terbatas baik dari sisi jumlah maupun lingkup pelibatannya. kolusi. Data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas aspirasi masyarakat yang disampaikan pada para wakil rakyat terkait dengan isu ketenagakerjaan dan isu 92 . Kehadiran akademisi. Dengan demikian. sebanyak 139 aspirasi dengan substansi aspirasi pada masalah politik. pemerintahan. dll. di mana pada perkembangan setiap tahunnya mengalami penurunan yaitu rata-rata mencapai 10% sampai dengan 15% (LKPJ Akhir Masa Jabatan Gubernur. dan nepotisme. marginalitas. ketenagakerjaan. dan nepotisme. 5. Bakorwil. Tahun 2003. dengan rincian: 1. Tahun 2006. masalah hukum. sebanyak 104 aspirasi dengan substansi aspirasi pada masalah korupsi. 4. dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan. Tahun 2007. Aspirasi yang masuk ke DPRD selama periode 2003-2007 sebanyak 761 aspirasi. sebagai lembaga perwakilan rakyat. Penyampaian aspirasi masyarakat kepada DPRD. kelompok adat. Tahun 2005. peraturan perundang-undangan. dengan substansi aspirasi pada masalah perekonomian. ormas atau LSM sebagai representasi masyarakat dalam forum-forum tersebut lebih bersifat perwakilan dari sisi isu dan belum sepenuhnya mewakili kriteria-kriteria lain dalam masyarakat. ketenagakerjaan.sekitar 87 orang dari unsur: Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) provinsi terkait Bidang Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup. dan pemerintahan. 2. Tahun 2004. dan ketenagakerjaan. sebanyak 83 aspirasi dengan substansi aspirasi pada masalah politik. dan ketenagakerjaan. antara lain ditandai jumlah unjuk rasa yang disampaikan kepada lembaga DPRD. sebanyak 201 aspirasi dengan substansi aspirasi pada masalah pemerintahan. sebanyak 138 aspirasi. 3. Kabupaten/Kota. dan penegakan hukum. kolusi. pendidikan. Partisipasi masyarakat tidak hanya dilihat dari keikutsertaan masyarakat dalam pelaksanaan Musrenbang tapi juga dari penyampaian aspirasi masyarakat kepada DPRD. hukum/korupsi. serta unsur LSM. Asosiasi Masyarakat.

2% dan sebanyak 24. Perwujudan Lembaga Demokrasi yang makin Kokoh III. Jumlah ini relatif tinggi dibandingkan dengan partisipasi pemilih dalam Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Bekasi pada tahun 2007 yang hanya diikuti oleh 93 .7%. tingkat partisipasi pemilih mengalami penurunan menjadi 75.5%. mulai dari pemberlakuan UU No. dan Kota Bandung yang berunjuk rasa ke kantor DPRD Provinsi Jawa Barat untuk menyampaikan aspirasi soal isuisu ketenagakerjaan. banyak organisasi buruh atau serikat pekerja dari Kota Cimahi. Di Kabupaten Majalengka yang menyelenggarakan pemilihan bupati dan wakil bupati pada tahun 2008. Jumlah ini tidak jauh berbeda dengan hasil Pemilihan Bupati Kuningan pada tahun 2008 sebesar 67%. pemilihan bupati ditandai dengan tingkat partisipasi pemilih yang cukup tinggi sebesar 73. dan nepotisme atau terkait dengan penegakan hukum. Di Kabupaten Ciamis. Menurunnya tingkat partisipasi pemilih pada Pilpres ini disebabkan oleh kejenuhan masyarakat ketika pemilihan memasuki putaran kedua.korupsi. Kabupaten Bandung. Kedua isu ini tampaknya masih menjadi permasalahan strategis yang perlu menjadi perhatian bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat.34%. Sebagai kawasan industri. tingkat partisipasi pemilih mencapai 73. Jujur. Di Kabupaten Garut. seperti juga di Kota Bandung. Dalam Pemilihan Presiden Tahun 2004. khususnya dan Pemerintah Pusat umumnya. kolusi.6.6. Terkait dengan isu ketenagakerjaan.8% tidak menggunakan hak pilihnya. Terselenggaranya Pemilu yang Demokratis. Tingkat partisipasi pemilih dalam sejumlah pemilihan kepala daerah yang berlangsung di kabupaten/kota di Jawa Barat selama rentang waktu 2005-2008 sangat bervariasi. dan Adil Tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilu DPR/DPD/DPRD untuk tahun 1999 mencapai 72. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan hingga pemberlakuan SKB 4 Menteri soal upah buruh.1. III.5% dan pada Pemilu Tahun 2004 mengalami peningkatan menjadi 95%. sejumlah unjuk rasa seringkali dilakukan untuk memprotes kebijakan ketenagakerjaan. tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilihan Bupati Garut pada tahun 2008 adalah sebesar 65.21%. partisipasi pemilih dalam Pemilihan Walikota Bandung tahun 2008 adalah sebesar 73.

31%.99% dari keseluruhan jumlah pemilih yang terdaftar. Kendati angka golput sangat tinggi. Dari pemilih yang menggunakan hak suaranya ini.4 juta suara atau 24. Pasangan Hade hanya memperoleh suara 7. sebanyak 806.86% pemilih. Pasangan Hade mengungguli pasangan Agum Gumelar-Nu’man Abdulhakim (Aman) yang memperoleh 6. Angka partisipasi ini jauh lebih tinggi dibandingkan angka partisipasi pilkada di provinsi lainnya.9 juta orang.21 juta suara atau 34. Jumlah golput ini mengungguli pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade) yang memenangkan Pemilihan Gubernur Jawa Barat. Tingginya golput disebabkan oleh banyak hal. jumlah golput mencapai 9. Tingginya jumlah masyarakat yang tidak memberikan suara (golput) juga tampak pada Pilkada Kota Bogor yang berjumlah 35. Jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya sebanyak 17. Banyaknya golput bukan berarti Pemilihan Gubernur Jawa Barat gagal. namun dari sisi partisipasi dianggap cukup bagus. Selain itu.13 juta orang. 94 .28 juta (40. Pemilih kritis ini menganggap ketiga cagub-cawagub tidak sesuai dengan aspirasi politik yang dikehendaki. Pemilih yang tak menggunakan hak pilih (golput) dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat tahun 2008 relatif tinggi. pilpres.95%.55%. tingkat partisipasi politik ini relatif sedang.03%) suara dari pemilih yang menggunakan hak pilihnya. termasuk adanya pemilih yang tidak menggunakan hak pilih karena sedang bekerja di luar negeri. Angka partisipasi dalam Pemilihan Gubernur ini 67. Sedangkan pasangan Danny Setiawan-Iwan R Sulanjana (Aman) memperoleh 4. karena di negara lain yang demokrasinya sudah bagus.560 suara dinyatakan tidak sah. angka golput bisa mencapai 60%. maupun pilkada di Jawa Barat rata-rata berada pada level 50% sampai dengan 70%. Demikian pula jumlah golput dalam Pemilihan Bupati Cianjur tahun 2006 cukup tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kecenderungan berpartisipasi politik dengan memberikan suara dalam pemilu. Artinya. kecenderungan golput juga menjadi pilihan dari kalangan pemilih yang bersikap kritis. Dari 27.52. meskipun angka golput dalam beberapa pilkada menunjukkan kecenderungan meningkat.9 juta pemilih yang terdaftar.

Perkembangan jumlah partai politik di Jawa Barat yang ditetapkan menjadi peserta Pemilu tahun 1999 mencapai 48 partai politik dan pada Pemilu 2004 mencapai 24 partai politik. 3. dan Lembaga Swadaya Masyarakat Perkembangan jumlah partai politik yang ada di Jawa Barat menjelang pelaksanaan Pemilu tahun 1999 yang terdaftar mencapai 74 partai politik dan pada tahun 2004 terdaftar sebanyak 48 partai politik. DP V meliputi Kota Depok. DP II meliputi Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. maupun pilkada tidak hanya dilihat dari angka partisipasi dan angka golput. buruh pabrik. 2. 6. Kabupaten Sukabumi. DP IV meliputi Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Organisasi Non Pemerintah. seperti buruh tani. Jumlah Partai Politik. Melihat kecenderungan budaya politik di Jawa Barat. tapi yang lebih penting adalah dari kesadaran politik masyarakat untuk berpartisipasi dalam beragam pemilihan tersebut. yakni: 1. baik yang berwujud pemilu.6. 2008). 95 . dan Kabupaten Cianjur.2. dll. Jumlah ini mengalami peningkatan menjelang Pemilu 2009 yang diikuti oleh 44 partai politik di Jawa Barat (KPU Jabar. 4.Kualitas penyelenggaraan pesta demokrasi. untuk meningkatkan partisipasi politik sesungguhnya tidak hanya diperlukan pendidikan politik tapi juga peningkatan kesejahteraan sehingga masyarakat dapat memberikan suaranya dengan kesadaran politik yang otonom. 5. DP VI meliputi Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi. Artinya. Banyak masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya karena lebih memilih untuk bekerja. pilpres. DP I meliputi Kota Bandung dan Kota Cimahi. terutama mereka yang bekerja untuk memperoleh upah harian. DP III meliputi Kota Sukabumi. III. tampaknya tingginya angka golput cenderung disebabkan oleh faktor teknis bukan karena penyebab politis atau ideologis. KPU Provinsi Jawa Barat telah menetapkan Daftar Calon Tetap (DCT) Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dalam Pemilu 2009 sebanyak 11 (sebelas) Daerah Pemilihan.

mengalami peningkatan sejak tahun 2003.9 Jumlah LSM dan Anggota LSM di Jawa Barat Tahun 2003-2006 4466 4500 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 LS M 1129 57 377 543 62 2004 211 2005 127 2006 Anggota 2003 Sumber: Jawa Barat Dalam Angka. terutama pada tahun 2005 pascapelaksanaan Pemilu 2004 dan menjelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah secara langsung. 2003-2006. tercatat terjadi peningkatan jumlah LSM menjadi 190 LSM dan 394 ormas dengan berbagai klasifikasi.7. Kondisi ini mengindikasikan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki semangat berpartisipasi yang cukup tinggi dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pemerintahan. DP IX meliputi Kabupaten Subang. DP X meliputi Kota Banjar. Ditinjau dari jumlah organisasi non pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat (LSM). dan Kabupaten Garut. basis data yang aktual dan valid 96 . DP XI meliputi Kota Tasikmalaya. Kabupaten Sumedang. 10. Perubahan wilayah pada daerah-daerah pemilihan ini hanya terjadi pada DP II yang ditambah dengan Kabupaten Bandung Barat sebagai kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Bandung. DP VII meliputi Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta. 9. sebagaimana ditunjukkan pada data berikut ini. Namun. 8. dan Kabupaten Majalengka. Gambar 3. DP VIII meliputi Kota Cirebon. dan Kabupaten Kuningan. diolah Data tersebut menunjukkan bahwa animo masyarakat untuk membentuk organisasi cukup tinggi. Kabupaten Ciamis. 11. dan Kabupaten Indramayu. Kabupaten Tasikmalaya. Kabupaten Cirebon. Pada tahun 2007.

sehingga sulit dipetakan karakteristik dan keaktifan LSM tersebut sebagai institusi mediasi yang berperan dalam pemberdayaan masyarakat. termasuk profil LSM yang ada di Jawa Barat.mengenai jumlah riil LSM dan anggota-anggotanya belum tersedia. 97 .

32 juta jiwa. terjadi penurunan sebesar 0. Persentase penduduk miskin yang tinggal di daerah perdesaan pada bulan Maret tahun 2008 terhadap penduduk miskin Jawa Barat adalah sebesar 50. atau 13.218.46 juta jiwa (13. Dari jumlah PMKS tersebut. Dalam kurun waktu setahun terakhir (Maret 2007-Maret 2008) penduduk miskin yang tinggal di daerah perdesaan turun sebesar 0. Berdasarkan data BPS Jabar. Berdasarkan kondisi tersebut tentunya upaya untuk meningkatkan penggalian Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) perlu ditingkatkan sehingga dapat mendorong pemulihan PMKS untuk kembali berperan dan berfungsi di masyarakat sesuai dengan fungsi sosialnya.33 persen.3%.82 persen.872 PMKS. Di Jawa Barat pada tahun 2007 jumlah PMKS mencapai 3.32 persen). jumlah penduduk miskin di Jawa Barat berjumlah 5. maka telah terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 0. Secara absolute selama periode Maret 2007 – Maret 2008. 58.01% dari total penduduk Jawa Barat yang diperkirakan mencapai diatas 40 juta jiwa. Jika dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan yang sama tahun 2007 yang berjumlah 5.04 juta orang. sementara masalah anak terlantar dan lanjut usia terlantar masing-masing sebesar 10.1% didominasi oleh masalah fakir miskin. Penanggulangan Kemiskinan Kondisi kesejahteraan sosial masyarakat diindikasikan dengan jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).83 persen sedangkan di daerah perkotaan turun 0.55%).10 juta orang sementara di perkotaan turun sebanyak 0.50 persen jika dibanding tahun 2007 (51.1.BAB IV AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT IV. Penurunan tingkat kemiskinan Jawa Barat di lokasi perkotaan yang lebih lambat dibandingkan kota kemungkinan 98 .3% dan 7. penduduk miskin di perdesaan berkurang 0. sampai dengan Maret 2008.14 juta jiwa. Namun ditengarai bahwa resmi angka terakhir dari BPS akhir 2008 akan menunjukkan kembali naiknya angka kemiskinan Jawa Barat karena adanya kenaikan harga BBM akibat dikuranginya subsidi karena tekana harga minyak mentah internasional.

diikuti oleh Kabupaten Subang (0. dan perikanan). palawija. 7%. Berdasarkan lapangan pekerjaan (data tahun 2005). yaitu masing-masing sebesar 12. Jelasnya dapat dilihat table berikut: 99 .233) dan Kabupaten Majalengka (0. Dari 25 kota/kabupaten di Jawa Barat. sebagian besar penduduk miskin di Jawa Barat memiliki mata pencaharian sebagai petani (padi. dari 0. perdagangan.13%.247. perkebunan. angka gini rasio untuk tahun 2007 diperkirakan tidak mengalami perubahan dibandingkan tahun sebelumnya. daerah yang memiliki tingkat ketimpangan tertinggi adalah Kabupaten Cirebon dengan gini rasio sebesar 0. Kemiskinan di Jawa Barat tercermin pula dari semakin memburuknya angka gini rasio Jawa Barat. yang tidak memiliki pekerjaan sebesar 24. diikuti oleh Kabupaten Ciamis (0. dan angkutan.232).190 pada tahun 2006.165) dan Kabupaten Bandung (0.4%. Sisanya berasal dari sektor jasa.besar tetap diakibatkan faktor urbanisasi diperkirakan menjadi salah satu penyebab kenapa jumlah penduduk miskin di perkotaan menurun lebih lambat dibandingkan di perdesaan.8%. Daerah yang memiliki tingkat ketimpangan terendah adalah Kabupaten Kuningan (0. yaitu sebesar 34.171). peternakan.185 pada tahun 2004 menjadi 0. dan 3%. Hal ini sesuai dengan karakteristik masyarakat pedesaan yang lebih banyak mengandalkan sector pertanian sebagai mata pencahariannya.154). Sementara itu. Sementara itu.

1. diantaranya dengan meningkatkan kesempatan kerja dan pemberdayaan keluarga miskin melalui Bantuan Modal Usaha.Tabel 4. 2004-2006 Dalam rangka mengurangi jumlah penduduk miskin di Jawa Barat. dalam rangka mengurangi beban pengeluaran rumah tangga miskin (RTM). pada tahun 2007 ini pemerintah provinsi Jawa Barat melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat miskin. serta penyesuaian upah dengan pertimbangan pemenuhan kebutuhan fisik minimal dan inflasi yang terjadi. Selain itu. pemerintah pusat melalui program raskin memberikan bantuan sebagian kebutuhan pangan dalam 100 . Gini Ratio dan 40% Kelompok Penduduk dengan pendapatan Terkecil Jawa Barat Berdasarkan Kabupaten/Kota.

Di Jawa Barat pada tahun 2007 akan disalurkan beras bersubsidi kepada 2. serta menghindari terjadinya perkawinan pada usia muda. sandang.per kapita per bulan pada Maret 2007 menjadi Rp.pada Maret 2008.734..491.176. Selama kurun waktu Maret 2007 – Maret 2008 garis kemiskinan naik sebesar 6. dan kesehatan). Apabila kita memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK).00/kg. Garis Kemiskinan.055 RTM yang tergolong sangat miskin dan miskin menurut data BPS sebanyak 10 kg/RTM/bulan selama 12 bulan dengan harga Rp1.216. Tabel 4. yaitu dari Rp. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Lokasi.165.bentuk beras kepada rumah tangga miskin. meningkatkan akses masyarakat terhadap alat kontrasepsi baik di pedesaan maupun di perkotaan. pendidikan. Maret 2007 – Maret 2008 Upaya lainnya adalah melalui pengendalian pertambahan jumlah penduduk dengan meningkatkan pengendalian migrasi.2. terlihat bahwa peranan komoditi makanan sangat dominan dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan.. Sebagai cerminan bahwa pola konsumsi masyarakat pada tingkat ekonomi rendah didominasi oleh pengeluaran untuk kebutuhan makanan.000. yang disusun dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM).32 persen. Selain langkah-langkah di 101 .

33 point dari angka 68. yang terdiri dari kesejahteraan pendidikan. AMH pada tahun 2007 adalah sebesar 95.38 poin dibandingkan tahun sebelumnya. IPM dihitung berdasarkan tiga indikator yaitu Indeks Pendidikan.36 pada Tahun 2004 menjadi 70. Indeks Pendidikan meningkat sebesar 1.19 poin. Pemprov Jabar berupaya pula meningkatkan peran pemkab/pemkot dalam percepatan pencapaian IPM antara lain melalui Program Pendanaan Kompetisi akselerasi Indeks Pembangunan Manusia (PPK-IPM).97 pada Tahun 2007. 102 . Kualitas Hidup Manusia Jawa Barat Pembangunan kualitas hidup penduduk Jawa Barat tetap menjadi prioritas pembangunan daerah.02 pada Tahun 2004 menjadi 80. Indeks Kesehatan. dari 67. Perkembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) Jawa Barat menunjukkan perkembangan yang semakin membaik. dari 79. kesehatan dan pendapatan masyarakat. Dalam rentang waktu yang sama.50 tahun (angka sementara).31. Dalam rentang 2004–2007. Indeks Kesehatan mengalami peningkatan sebesar 3. dan Indeks Daya Beli.74 poin.58 tahun pada tahun 2007.80. 2006 yaitu sebesar 70. Jika masyarakat memiliki pendidikan yang memadai.23 pada Tahun 2004 menjadi 70. Peningkatan IPM sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui tiga pilar utama. Angka Harapan Hidup (AHH) menunjukkan angka sebesar 67. Tahun 2007 RLS mencapai 7.32% (angka sementara).1. tingkat kesehatan yang baik serta pendapatan atau tingkat daya beli yang tinggi. Pencapaian indeks pendidikan merupakan gabungan dari Angka Melek Huruf (AMH) dan rata-rata lama sekolah (RLS).69.atas.90 pada Tahun 2007. dari 58.07 poin.21 pada Tahun 2007. IPM Jawa Barat meningkat sebesar 2.1. dan Indeks Daya Beli sebesar 2.69 pada Tahun 2007. meningkat sebesar 0. menggambarkan sebuah kehidupan masyarakat yang sejahtera IV.83 pada Tahun 2004 menjadi 60. angka capaian ini sedikit lebih kecil dibandingkan dengan angkat target IPM 2007 yang diharapkan sebesar 70. IPM Jawa Barat mencapai angka 70. Hal tersebut antara lain ditunjukkan dengan pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada Tahun 2007.

26/1000 kelahiran hidup.543 penderita (jumlah kumulatif tahun 1998 – Desember 2007). Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.673 dari jumlah 3.Sedangkan paritas daya beli (purchasing power parity) menunjukkan angka Rp 623. pencapaian indikator kesehatan di Jawa Barat masih berada di bawah rata-rata nasional. Seiring dengan hal tersebut upaya mengedepankan sekolah kejuruan juga telah dimulai dengan mengubah proporsi jumlah sekolah dan siswa antara SMA dan SMK. Pembangunan bidang pendidikan telah dilaksanakan dengan menitik beratkan pada upaya akselerasi penuntasan program Wajib Belajar 9 tahun melalui pendidikan formal maupun non formal.526. yang semula 60:40 menjadi 40:60.000 kelahiran hidup. Namun demikian. diantaranya jumlah puskesmas yang pada tahun 2007 berjumlah 1. yaitu sebanyak 38. Di samping itu masih adanya kasus yang disebabkan oleh penyakit menular. Faktor lain yang mempengaruhi indikator kesehatan adalah pelayanan kesehatan dasar. sedangkan AKI nasional sebesar 307/100.536. tenaga bidan 103 .981 balita yang ditimbang. Pada tahun 2006 angka kematian bayi (AKB) di Jawa Barat sebesar 40. dan sekolah sebagai media untuk meningkatkan kualitas pendidikan kejuruan.000 kelahiran hidup.760 dan gizi kurang sebanyak 380. Peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan pengembangan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat terus dilakukan. pencapaian yang cukup penting ditunjukkan oleh telah terbentuknya lembaga tri partit antara pemerintah.00 pada tahun 2007.578 penderita dan HIV positif sebesar 1. relevansi dan daya saing.007 puskesmas dari kebutuhan sebesar 1. dengan fokus pembelajaran pada pendidikan vokasional (life skill) yang mengutamakan kompetensi daerah. Untuk aspek peningkatan mutu. serta rintisan Wajib Belajar 12 tahun untuk kota-kota dengan angka partisipasi di jenjang pendidikan dasar yang sudah optimal. dunia usaha. termasuk penyerapan lulusannya di dunia kerja. antara lain masih tingginya kasus penderita gizi buruk balita.358 puskesmas. sedangkan AKB nasional sebesar 38/1000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan pada tahun 2003 sebesar 321/100. seperti flu burung dari 60 suspect tercatat 6 orang penderita meninggal dunia pada bulan Maret 2007 dan kasus AIDS sebesar 1.

yaitu kurangnya ketersediaan beberapa bahan makanan terutama beras.167 orang dari kebutuhan 5.952 orang baru memiliki tingkat pendidikan Diploma I (D1). Namun hal ini tentunya tidak bisa dilakukan untuk mendorong indeks daya beli. lebih jauh lagi data dari BI menunjukkan bahwa tingkat inflasi (kenaikan harga secara umum) yang terjadi di Jawa Barat turun naiknya sangat dipengaruhi lebih banyak oleh aspek sisi penawaran selain oleh sisi permintaan. sedangkan bidan lainnya berjumlah 4. Terlihat bahwa kinerja pembangunan Jawa Barat sangat kurang berhasil dalam upaya memperbaiki kemampuan daya beli masyarakatnya. 104 . Dengan melihat relatif lebih baiknya tingkat sarana dan prasarana (infrastruktur dan suprastruktur) di Jawa Barat dibandingkan daerah lain.desa/kelurahan berjumlah 7. Dalam rangka penyelamatan Ibu dan Anak telah dilaksanakan pengembangan pelayanan kegawat daruratan kebidanan dan Bayi Baru Lahir melalui pengembangan Puskemas mampu melaksanakan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergency Dasar (PONED) masing-masing 4 Puskesmas di 16 Kabupaten (65 Puskesmas mampu PONED) dan kini sudah berkembang menjadi 92 Puskesmas mampu PONED. rendahnya indeks daya beli ini ini memang mengkhawatirkan. nilai indeks kesehatan dapat didorong lebih tinggi lagi dengan suntikan dana APBD sesuai dengan fungsi pemerintah sebagai dinamisator. Peningkatan PDRB Jawa Barat yang juga dibarengi oleh makin tingginya minat dan realisasi investasi tidak dapat mendorong indeks daya beli untuk menjadi lebih baik lagi. Memang seperti halnya peningkatan indeks pendidikan. Secara riil memang menurunnya indeks daya beli tercermin dari meningkatnya jumlah kemiskinan dan pengangguran. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa pemerataan distribusi dan penyaluran barang-barang kebutuhan pokok masyarakat Jawa Barat masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah propinsi Jawa Barat.873 orang. Namun demikian berdasarkan standar pendidikan bidan yang dapat melayani pelayanan kesehatan minimal Diploma III (D3) dan saat ini baru berjumlah 2.215 orang.

IV.01%. peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tersebut didukung oleh stabilitas ekonomi nasional yang tetap terjaga dan bersumber dari meningkatnya perdagangan luar negeri.1.62 6. hal ini ditunjukan dengan peningkatan LPE sebesar 4. Menurut Bank Indonesia (2007).77% pada tahun 2004 menjadi 6.56 2007 6. pada Tahun 2007 masih TAHUN 2005 2006 5.77 7.76%.10%. Hal yang juga mendukung peningkatan LPE adalah terkendalinya laju inflasi.3 Laju Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Jawa Barat Tahun 20042007 URAIAN Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) (%) Inflasi (%) Sumber : BPS Jawa Barat. sektor Perdagangan. Tabel 4. **) hasil estimasi triwulanan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).01*) 2004 4.84% dan sektor Pertanian sebesar 13. Inflasi pada tahun 2007 tercatat sebesar 5. Laju Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan PDRB Kondisi perekonomian makro Jawa Barat mengalami pertumbuhan pada kurun waktu tahun 2004-2007.56%. turun dari tahun 2004 sebesar 7.2.41% pada tahun 2007.40**) 5.51 6. 105 .10 18. Hotel dan Restoran sebesar 20. 2004-2007 *) angka sementara.15 didominasi oleh sektor Industri Manufaktur sebesar 43. konsumsi dan bertambahnya kegiatan investasi.

73 persen. mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh minus 0.11 persen.60 2007 542. 2003-2007 *) angka sementara estimasi triwulan III 2007. Sementara itu jika dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi secara year on year (dibandingkan dengan triwulan II tahun 2007).47 2006 473.68 persen.40 22.28 persen.450.70*) 18.46 45. Kinerja perekonomian Jawa Barat yang tergambarkan dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan memasuki triwulan II tahun 2008.4 Produk Domestik Regional Bruto Jawa Barat Tahun 2004-2007 URAIAN 2004 PDRB adh berlaku (juta Rp) Kontribusi sektor industri manufaktur (%) Kontribusi sektor perdagangan.45 **) Sumber : BPS Jawa Barat.757.08 19. jika dilihat secara qtq ada sektor-sektor yang mengalami pertumbuhan positif diantaranya. kinerja perekonomian Jawa Barat mampu tumbuh sebesar 4.41 persen. hotel dan restoran sebesar 0.03 persen.649.268. sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 6. persewaan dan jasa mampu tumbuh sebesar 8. **) angka sementara estimasi triwulan IV 2007.Tabel 4. Untuk data triwulanan terbaru BPS. sektor industry pengolahan sebesar 6. sector bangunan sebesar 1. Sedangkan empat sektor lainnya mengalami pertumbuhan yang 106 .31 **) 13. sektor keuangan.12 12.69 TAHUN 2005 389. Peningkatan LPE Jawa Barat yang cukup signifikan ini tentunya diharapkan dapat mengurangi angka kemiskinan dan jumlah pengangguran di Jawa Barat.93 11.21 **) 304.88 44.08 persen.49 11. hotel dan restoran (%) Kontribusi sektor pertanian (%) 41. Pada triwulan II ini.272.20 persen dan sektor perdagangan. namun peningkatan pertumbuhan ekonomi secara makro tersebut belum sepenuhnya dapat mempengaruhi proporsi penduduk miskin dan tingkat pengangguran terbuka di Jawa Barat.556.458.91 19.24 41.108. mengalami pertumbuhan sebesar 1.

95 persen. Berdasarkan Tabel berikut.45 persen. 2008 Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).64 persen.90 persen dan 6.18 persen.29 persen dan sektor pertambangan dan penggalian sebesar 1.58 persen dan sektor jasa-jasa sebesar minus 0. sektor yang memiliki peranan terbesar dalam pembentukan PDRB Jawa Barat berturut-turut adalah sektor industri pengolahan sebesar 43. listrik. hotel dan restoran sebesar 19.47 persen dan sektor jasa-jasa serta sektor pengangkutan dan komunikasi masing-masing sebesar 7. sector pertambangan dan penggalian sebesar minus 4.5 Struktur Ekonomi Jawa Barat Menurut Lapangan Usaha Triwulan I 2008 dan Triwulan II Tahun 2008 (Persentase) Sumber: BPS. jika dibandingkan dengan 107 . Sektor-sektor tersebut adalah sector pertanian sebesar minus 14.94 persen. sektor LGA sebesar 2. sektor pertanian sebesar 13.137 trilyun (atas dasar harga berlaku). Tabel 4. sektor perdagangan.25 persen.08 persen. pada Tahun 2007 tercatat sebesar Rp 87.67 persen. Sedangkan sektor-sektor yang memiliki peranan relatif kecil dalam pembentukan PDRB triwulan II tahun 2008 adalah sektor bangunan sebesar 2.negatif. gas dan air bersih sebesar minus 2. pada triwulan II tahun 2008.18 persen. sektor keuangan. persewaan dan jasa perusahaan sebesar 2.

Tabel 4.82 juta (tumbuh 49. terjadi kenaikan kurang lebih sebesar 75%.35 triliun). Sementara itu.142.24%).86 juta (tumbuh 16. **) angka sementara estimasi triwulan III 2007 Data terakhir Triwulan II Tahun 2008 juga menunjukkan bahwa Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan dari Rp.174.78*) 87.09 triliun pada triwulan I menjadi Rp. dan barang dari kertas mencapai USD899. atau tumbuh 5. kertas. 26.574. lebih besar dari triwulan sebelumnya yang sebesar 17. Peningkatan Ekspor Non Migas dan Investasi Nilai ekspor Jawa Barat hingga November 2007 mencapai USD16.93% (yoy).60 milyar. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan ekspor terhadap produk kulit dan barang dari kulit serta produk pulp.96**) Sumber : BPS Jawa Barat. 108 . IV.2. 25.39 75.137.01%) serta komoditas mesin dan perlengkapan elektronik (32. Peranan PMTB pada triwulan II tahun 2008 sebesar 17.641.Tahun 2004 yaitu sebesar Rp 49. PMTB atas dasar harga konstan 2000 pada triwulan II tahun 2008 (Rp 12.93 triliun pada triwulan II tahun 2008.646. dilihat dari kontribusinya.6 Pembentukan Modal Tetap Bruto Jawa Barat Tahun 2004-2007 TAHUN URAIAN 2004 Pembentukan Modal Tetap Broto (PMTB) a.749 trilyun.Berlaku (juta Rp.25% (yoy)). ekspor Jawa Barat didominasi oleh komoditas tekstil dan produk tekstil (26.32% (yoy)). 2004-2007 *) angka sementara.47 persen. dan barang dari kertas.68 persen.749. PMTB secara year on year meningkat sebesar 8.75 persen.59 triliun) naik sebesar 2 persen bila dibandingkan dengan triwulan I (Rp. kertas.) 2005 2006 2007 49.d.h. 12. Nilai ekspor produk kulit dan barang dari kulit mencapai USD157. sedangkan nilai ekspor pulp.82 63.372.

Volatilitas nilai tukar yang semakin besar mendorong importir untuk cenderung menahan impor dari negara lain.).1 Perkembangan Ekspor Jawa Barat 2006-2007 Disisi lain.Gambar 4. Kinerja impor Jawa Barat diperkirakan tumbuh 2. serta produk telekomunikasi.November 2007) terkoreksi cukup tajam sebesar 21. Gambar 4. Komoditas impor yang mengalami penurunan terbesar antara lain adalah produk mesin listrik dan alat-alatnya.52% (yoy).20% (yoy).31% (yoy) (Grafik 1. Perlambatan kinerja impor ini antara lain dipengaruhi oleh peningkatan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah yang terjadi selama semester kedua tahun 2007. lebih rendah dibandingkan pertumbuhan peridoe sebelumnya yang sebesar 9.20.2 Perkembangan Impor Jawa Barat 2006-2007 109 . Nilai impor pada triwulan ini (Oktober.

Apabila dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun 2007. Peningkatan kinerja ekspor Jawa Barat tercermin dari pertumbuhan nilai ekspor selama periode Juli 2008 hingga Agustus 2008 yang tumbuh 15.84% (yoy). Nilai impor Jawa Barat triwulan III-2008 (JuliAgustus 2008) mencapai USD1.4 ribu ton. Nilai ekspor pada triwulan II tahun 2008 berdasarkan harga konstan 2000 turun sebesar 5. khususnya untuk pemenuhan kebutuhan investasi. atau tumbuh 22.71% (yoy) dengan nilai kurang lebih USD 3.Perkembangan selanjutnya. 31. sedangkan volume ekspor tumbuh 5. nilai ekspor atas dasar konstan 2000 triwulan II tahun 2008 turun sebesar 10.28% (yoy) mencapai 1.26 triliun pada triwulan II tahun 2008.62 persen dibanding triwulan I. Data terakhir menunjukkan pula bahwa Impor Jawa Barat tumbuh sejalan dengan meningkatnya permintaan dalam negeri nasional. dengan nilai mencapai USD971 juta atau tumbuh 8. Kontribusi nilai ekspor terhadap PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan II tahun 2008 sebesar 41. nilai ekspor non migas Jawa Barat atas dasar harga berlaku naik dari Rp.71 persen lebih rendah jika dibanding dengan triwulan I yang sebesar 42. 60.63. yaitu dari Rp.85% (yoy). 110 . atau tumbuh sebesar 4. Impor Jawa Barat ini didominasi oleh impor barang modal dengan nilai mencapai USD589 juta. ekspor kendaraan bermotor Jawa Barat mencapai USD159 juta.58 miliar.18 triliun menjadi Rp.11 persen.45% (yoy).87 persen dan lebih rendah jika dibanding dengan triwulan II tahun 2007 sebesar 43. Sementara itu. Kontribusi ekspor terbesar disumbangkan oleh produk TPT. kinerja ekspor Jawa Barat triwulan III-2008 diperkirakan mengalami ekspansi dengan pertumbuhan sebesar 4.62 miliar. 29.53 persen Berbeda dengan kondisi triwulan II-2008 yang mengalami kontraksi.43 triliun.60% (yoy).83 triliun pada triwulan I menjadi Rp.

Oleh sebab itu melihat kecenderungan yang semakin besar pada aktivitas ekspor-impor Jawa Barat. Semakin besar hubungan ekspor-impor tersebut menunjukkan bahwa Jawa Barat memiliki tingkat openness yang membesar. Namun tidak dipungkiri pula bahwa dengan adanya kontraksi pertumbuhan ekonomi internasional akibat krisis keuangan global akan menurunkan ekspektasi ini karena dianggap berlebihan dan tidak mempertimbangkan turunya permintaan impor dari luar negeri. 111 .3 Perkembangan Ekspor dan Impor 2006-2008 Kondisi ekspor-impor Jawa Barat sekaligus memberikan gambaran mengenai posisi perekonomian Jawa Barat yang bersifat terbuka terhadap perdagangan regional maupun internasional.Gambar 4. baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Para pengamat ekonom sepakat bahwa ada hubungan yang positif antara tingkat keterbukaan suatu daerah dengan pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Terlihat bahwa propinsi ini telah berusaha memaksimumkan potensi aktivitas ekonomi daerahnya dari hubungan dengan wilayah sekitarnya. maka diprediksi potensi pertumbuhan ekonominya pun akan tumbuh lebih baik di masa yang akan datang.

Tabel 4. Realisasi PMA dan PMDN di Jawa Barat periode Januari–Juli 2008 mencapai Rp19. Namun investasi yang cukup besar di Jawa Barat tersebut.23%.146 trilyun pada Tahun 2004. pada periode Tahun 2004–2007.161 20. Realisasi investasi PMA dan PMDN pada Tahun 2006 sebesar Rp.382 23. dan pada Tahun 2007 sebesar Rp 20.741 285 76. menjadi Rp.7 Realisasi Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri Jawa Barat Tahun 2004-2007 URAIAN Realisasi PMA dan PMDN : Jumlah investasi (trilyun Rp) Jumlah proyek (buah) Jumlah tenaga kerja (orang) 14. 5. Pada periode 2004 .041 TAHUN 2005 2006 2004 2007 Sumber : BPPMD Provinsi Jawa Barat.371 350 97. yaitu sebesar Rp. pada periode tersebut (2005-2006) merupakan pencapaian pertumbuhan investasi terbesar.371 trilyun Tahun 2005. Kondisi ini memberikan sinyalemen bahwa iklim investasi di Jawa Barat cukup memberikan peluang bagi para pemodal untuk menanamkan investasinya di Jawa Barat. 18.146 221 58.371 trilyun. 23.914 trilyun.846 262 61. 2004-2007 Laju pertumbuhan investasi yang ditanamkan di Jawa Barat melalui Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).281 18.741 trilyun. 18.43 triliun atau 82. dari Rp. memperlihatkan kecenderungan meningkat.823 orang.435 orang Gambaran ini menunjukkan terjadinya kecenderungan peningkatan investasi yang merupakan kontribusi dari peningkatan investasi PMA maupun 112 . Sebagian besar realisasi investasi tersebut (88%) adalah PMA dengan jumlah 216 proyek dan menyerap tenaga kerja sebesar 65.5% total realisasi tahun 2007. rata-rata pertumbuhan investasi PMA dan PMDN mencapai 19. Secara keseluruhan nilai realisasi investasi PMA dan PMDN mengalami peningkatan.37 trilyun atau 29. sedangkan sisanya 12% adalah PMDN dengan 37 proyek dan menyerap tenaga kerja sebesar 10. belum sepenuhnya dapat memberikan efek langsung dalam meningkatkan kualitas dan menyerap sumber daya manusia daerah.2007. 14. jika dibanding dengan Tahun 2005 sebesar Rp.13% pertahun.

15% (yoy). kinerja sektor industri pengolahan masih didorong oleh pertumbuhan sektor non migas. hal ini didorong oleh tiga sektor utama yaitu sektor Industri Pengolahan. Hotel dan Restoran serta sektor Pertanian. Namun demikian. sedangkan kinerja sektor migas masih menunjukkan tren yang menurun. Posisi Jawa Barat yang strategis menempatkan Jawa Barat menjadi tujuan utama untuk investasi. Iklim investasi di Jawa Barat menunjukkan perkembangan yang terus membaik. pertumbuhan ekonomi tersebut belum dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ditandai dengan masih tingginya jumlah penduduk miskin dan pengangguran. Sebagaimana pola periode sebelumnya. Sektor industri pengolahan diperkirakan tumbuh sekitar 5. hal ini disebabkan oleh tingginya ketergantungan pada bahan baku impor. Hal ini ditengarai akibat belum efisien dan efektifnya birokrasi perizinan. mesin. Kinerja subsektor tersebut 113 . Pertumbuhan sector non migas terutama didorong oleh meningkatnya kinerja subsektor alat angkutan. Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pasca krisis tahun 1997 mengalami peningkatan. Namun demikian. IV.68%. dan memberikan kontribusi yang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. rendahnya kemampuan dalam pengembangan teknologi.PMDN sebagai dampak membaiknya iklim investasi. dan peralatannya. sektor Perdagangan.3. baik Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). hal ini didukung oleh banyaknya kawasan industri. daya saing industri tersebut masih rendah. pertumbuhan investasi belum mampu meningkatkan keterkaitan dengan usaha ekonomi lokal dan kesempatan kerja. belum adanya kepastian hukum dan kepastian berusaha dalam bidang penanaman modal. masih rendahnya infrastruktur pendukung adalah merupakan kendala dalam upaya peningkatan investasi di Jawa Barat. rendahnya kemampuan dan keterampilan sumber daya industri serta tingginya pencemaran limbah industri. Sektor industri manufaktur Jawa Barat merupakan kontributor utama ekonomi daerah yang mampu memberikan kontribusi sebesar 44. Namun demikian.

20% (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2007 (Grafik 1. sandang. lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp11.81 triliun. namun lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2007. Indikator kinerja ekspor TPT Jawa Barat mengindikasikan bahwa produksi subsektor TPT relatif stagnan. namun hal ini mungkin akibat order asing/luar negeri yang masih tersisa dari tahun 2007. Selain itu. dan alas kaki diperkirakan mengalami penurunan.). Daihatsu di Cikampek) mencatat peningkatan produksi yang cukup tinggi pada tahun 2008 ini. barang kulit. penggunaan kapasitas produksi subsektor tersebut pada triwulan IV-2007 (60%) lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2007 (10%).60% (yoy) dan volumenya tumbuh 12. Program peremajaan mesin TPT yang dilaksanakan pada akhir tahun 2007. Tingginya pertumbuhan sektor industri pengolahan terutama ditopang oleh subsektor industri alat angkut dan mesin dan subsektor industri tekstil barang kulit dan alas kaki. dan kulit.30% (yoy). karena ke depan dikhawatirkan nilai akan turun seiring 114 . Total penjualan mobil di Jawa Barat mencapai 47. penyaluran kredit bank umum ke sektor industri pengolahan tumbuh 23. Dari sisi pembiayaan.99% (yoy). yaitu mencapai sekitar 70% dari total kredit yang disalurkan ke sektor industri pengolahan. sedikit melambat dibandingkan dengan triwulan II-2008.379 unit. Penyaluran kredit sektor industri pengolahan didominasi oleh penyaluran kredit ke industri tekstil. Sektor industri pengolahan triwulan III-2008 diperkirakan tumbuh 9. Bahkan permintaan luar negeri mengalami peningkatan signifikan untuk produk-produk tertentu. Nilai ekspor produk TPT Jawa Barat selama Juli dan Agustus 2008 masih tumbuh sekitar 9% (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2007.14 triliun ( Grafik 1.15% (yoy). Berbagai perusahaan kendaraan bermotor yang memiliki pabrik di Jawa Barat (antara lain Honda dan Toyota di Cikarang dan Karawang. Nilai ekspor kendaraan bermotor pada Juli dan Agustus 2008 tumbuh 22. Nilai kredit ke sektor industri pengolahan mencapai Rp13. Kinerja subsektor tekstil.22).tumbuh sejalan dengan meningkatnya permintaan produk mesin dan alat angkut untuk pasar dalam negeri. atau tumbuh 17. belum berdampak signifikan terhadap peningkatan produksi TPT.22. baik untuk memenuhi permintaan domestik maupun luar negeri.

dan didukung oleh kondisi agroekosistem yang cocok untuk pengembangan komoditas pertanian dalam arti luas (tanaman. Sektor pertanian juga memiliki tingkat penyerapan tenaga kerja yang tinggi yaitu rata-rata sebesar 29. kendala yang dihadapi adalah belum tertatanya objek wisata dan masih rendahnya kualitas infrastruktur pendukung. dan hutan).65 persen dari jumlah penduduk bekerja. ternak.4. Berdasarkan data kunjungan wisatawan. Pengembangan sistem distribusi diarahkan untuk memperlancar arus barang. Keragaman alam dan budaya yang dimiliki tersebut merupakan modal dasar dalam pengembangan daya tarik wisata. secara nasional Jawa Barat menduduki peringkat ke tiga setelah DKI Jakarta dan Bali.penurunan pertumbuhan ekonomi internasional terlebih dengan adanya krisis listrik yang menghantam dunia industry manufaktur khususnya di Jawa Barat. memperkecil disparitas antar daerah. ikan. meskipun prosentasi penyerapannya cenderung menurun. Jawa Barat sebagai produsen terbesar pada 40 (empat puluh) komoditas agribisnis di Indonesia. IV. regional dan nasional. Revitalisasi Pertanian Pertanian di Provinsi Jawa Barat secara umum memiliki potensi yang besar dan variatif. baik pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. khususnya komoditas padi yang memberikan kontribusi terbesar terhadap produksi padi nasional. Pengembangan yang bersifat sektoral pada sistem pertanian serta ketidaksiapan dalam menghadapi persaingan global 115 . Sedangkan peningkatan akses pasar. hal ini tercermin dari pengembangan agroindustri yang belum optimal dalam pengolahan dan pemasarannya. Sektor perdagangan di Jawa Barat pengembangannya difokuskan pada sistem distribusi barang dan peningkatan akses pasar. baik dalam negeri maupun luar negeri dilakukan melalui promosi produk Jawa Barat. Provinsi Jawa Barat memiliki potensi pariwisata yang sangat beragam baik dari sisi produk wisata maupun pasar wisatawan. Namun hubungan antar subsistem pertanian dan sektor lain (linkages) belum sepenuhnya menunjukkan sinergitas pada skala lokal. mengurangi fluktuasi harga dan menjamin ketersediaan barang yang terjangkau oleh masyarakat. Untuk pengembangan sektor pariwisata.

5). Komoditas tanaman pangan yang mengalami peningkatan signifikan adalah padi. atau 1.171 ton. khususnya padi. berhasil dengan baik di berbagai sentra produksi padi. Berdasarkan angka perkiraan produksi padi tersebut. Berdasarkan Angka Ramalan III BPS.67% (yoy). Panen padi yang terjadi pada triwulan III-2008. Menurut data dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat.merupakan kendala yang masih dihadapi sektor pertanian. Kinerja sektor pertanian pada triwulan IV-2007 mengalami perkembangan yang positif dan diperkirakan tumbuh 7. produksi padi Jawa Barat sepanjang tahun 2008 diramalkan akan mencapai 10. Tabel 4. produksi beras tahun 2008 diperkirakan mencapai 6. Perbaikan kinerja tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan subsektor tanaman pangan.96% lebih tinggi dibandingkan produksi padi pada tahun 2007 (Tabel 1.d.50% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2007. Agustus 2008 telah mencapai 8.48 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). realisasi produksi padi dari Januari s. Pertumbuhan sektor pertanian selama triwulan III-2008 terutama didorong oleh meningkatnya produksi subsektor tanaman pangan. Pertumbuhan sektor pertanian terutama didorong oleh peningkatan produktivitas pada subsektor tanaman pangan dan subsektor perkenbunan.11 juta ton GKG.79% (yoy).388.8 Kinerja Sektor Pertanian Jawa Barat 2006-2007 Pada triwulan III. atau tumbuh 9. sektor pertanian diperkirakan tumbuh cukup tinggi yakni sebesar 10. 2008. Produksi sektor pertanian pada triwulan ini lebih baik dibandingkan produksi pada periode yang sama tahun lalu kecuali pada komoditas kedelai. Peningkatan produksi padi tahun 2008 diperkirakan karena adanya peningkatan 116 .

Masih tingginya kredit konsumsi dibandingkan dengan kredit investasi juga menghambat kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi 117 . usaha budidaya laut. Kecil dan Menengah (UMKM). Kecil dan Menengah dalam pembangunan serta rentannya UMKM terhadap perubahan harga bahan bakar.84 kuintal per hektar pada tahun 2008 meskipun luas panen terjadi penurunan sebesar 18.82. Namun kondisi dan potensi sumber daya perikanan dan kelautan yang besar ini belum diikuti dengan perkembangan bisnis dan usaha perikanan dan kelautan yang baik. Tingkat investasi sarana dan prasarana pendukung bisnis kelautan serta produksi sumber daya perikanan dan kelautan masih jauh dari potensi yang ada. bioteknologi kelautan. lemahnya kondisi pembudidaya dan nelayan sebagai produsen menyebabkan kurang berkembangnya kegiatan dan pengelolaan industri pengolahan hasil perikanan dan kelautan. Hal ini memang terasa belum maksimal karena tetap saja indeks harga yang dibayar petani tetap rendah dibandingkan indeks harga yang dibayarkan. Jawa Barat memiliki potensi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan terutama dalam pengembangan usaha perikanan tangkap di pesisir selatan. meningkat 1. Pemberdayaan Koperasi.produktivitas sebesar 3.878 hektar atau turun sebesar 1. dan UMKM Peranan Usaha Mikro. Dilain pihak. Dalam triwulan III tahun 2008 ini juga ditunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan petani dengan berdasarkan hasil pemantauan BPS Jawa Barat terhadap perkembangan harga-harga di perdesaan di 16 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat. namun setidaknya ini merupakan indicator yang peingkatannya positif.85. serta berbagai macam jasa lingkungan kelautan.5.03% jika dibandingkan dengan tahun 2007. dan koperasi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi masih perlu ditumbuhkembangkan. Hal tersebut disebabkan kurangnya efektifitas fungsi dan peranan Usaha Mikro.03% yaitu dari 54. Nilai Tukar petani NTP pada bulan September 2008 sebesar 96.07% dibandingkan angka NTP pada bulan Juni 2008 yang sebesar 95.20 kuintal per hektar pada tahun 2007 menjadi 55. IV.

hampir setengah dari kredit 3 Berita dari Bappeda Jabar.80% dibandingkan periode sebelumnya. tumbuh 5. menunjukkan arah yang meyakinkan. sedangkan 59% dari posisi kredit UMKM merupakan kredit konsumsi. yaitu : Pertanian (52.. kecil dan menengah (UMKM) bank umum konvensional di Jawa Barat tetap tinggi. Dengan jumlah KUKM di Jawa Barat sebanyak 7. Pada akhir tahun 2006. KUKM mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 12. perkembangan kredit UMKM di Jawa Barat pada tahun 2007 di dua triwulan pertama.24%) dan investasi (6.id 118 . Hanya pada 6 bulan pertama di tahun 2007 saja. Permasalahan lainnya adalah penyaluran dana kredit untuk usaha mikro kecil dan menengah.56 % pada tahun 2006.bappeda-jabar. Jika dibandingkan dengan posisi total kredit bank umum konvensional di Jawa Barat pada triwulan laporan sebesar Rp 57.2 Juta unit menunjukkan. sedangkan 60% dari posisi kredit UMKM merupakan kredit konsumsi. 41% dari posisi kredit UMKM yang disalurkan untuk modal kerja (34. bahwa lembaga ini sangat strategis dalam menopang perekonomian Jawa Barat yang dibuktikan dengan kontribusi terhadap PDRB Jawa Barat yang mencapai 63. posisi kredit UMKM telah mencapai Rp 46. Selain itu.43% dari total kredit bank umum konvensional di Jawa Barat. Menurut skala jumlah kredit.81%) 3. Jumlah tenaga kerja itu. Selain itu. Dilihat dari jenis penggunaan.18 triliun.52 %).sehingga kurang menopang aktivitas sektor riil.55%. pangsa kredit UMKM pada triwulan IV-2006 mencapai 80.go. kinerja pemberian kredit UMKM ini semakin menjanjikan. Nilai kredit UMKM ini mencapai 80. penyaluran kredit UMKM mencapai Rp 50. Sampai dengan akhir 2006. diperoleh melalui tiga sector utama. Pada akhir twulan II tahun 2007.75 %) dan Angkutan Komunikasi (8.77 triliun. Sekitar 40% dari posisi kredit UMKM tersebut merupakan kredit modal kerja (34%) dan investasi (6%).37%). penyerapan kredit usaha mikro.069.220 orang atau 92 % terhadap total pekerja. Perdagangan-Hotel Restoran (26. Dalam upaya memperkuat ekonomi secara partisipatif lewat peran usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sesuai dengan nafas Perencanaan pembangunan berdasarkan RPJM 2004-2009.53 triliun. www. dibutuhkan pengembangan UMKM dan koperasi yang mampu mengembangkan agroindustri dan bisnis kelautan guna menunjang daya beli dan ketahanan pangan.

angka rata-rata kredit macet UMKM mulai turun dari 3. Dengan membandingkan kinerja pemanfaatan kredit UMKM antara tahun 2006 dengan triwulan II tahun 2007 (Table 5. Dapat disimpulkan sementara bahwa program pemberdayaan ekonomi masyarakat di Jawa Barat telah berjalan sesuai dengan tujuan yang salah satunya ingin diarahkan oleh RPJMN dalam salah satu misinya.83 triliun atau 21. Yang terkecil adalah Kabupaten Tasikmalaya yang hanya memperoleh 0. penyaluran kredit UMKM terbesar terjadi di Kota Bandung.59% pada tahun 2006 menjadi hanya 3.58% kredit UMKM di bulan Juni 2007. Subsektor yang merupakan penyerap kredit UMKM terbesar pada sektor ini adalah subsektor perdagangan eceran. yakni mencapai Rp 10.UMKM disalurkan dalam bentuk kredit mikro. mencapai Rp4.92 triliun. yang dapat dilihat dari angka kredit macet yang terjadi (non performing loan) terlihat bahwa kinerja pemanfaatan kredit UMKM ini makin membaik. Selanjutnya. sektor Perdagangan. dan kulit. yaitu lebih dari 40% total kredit UMKM bank umum konvensional di Jawa Barat. yang mencapai jumlah Rp 23.88 triliun (9.05 triliun dan Rp 12. 2007. hotel dan restoran selalu menjadi sektor penyerap kredit MKM terbesar. didasarkan pada kabupaten/kota. sedangkan untuk kredit kecil dan menengah masing-masing sebesar Rp 14.73 %).21 triliun.05% pada akhir Juni. sandang. sektor industri pengolahan adalah sector yang menyerap kredit UMKM terbesar kedua.9 dan 5. Selama tahun 2006 sampai dengan triwulan ke II tahun 2007. 119 . Data bulan Juni 2007.10).46% saja. yang sebagian besar diserap oleh subsektor industri tekstil.

Tabel 4.9 Penyaluran Kredit dan Kredit Macet UMKM per Kabupaten/Kota di Jawa Barat 2006 (Rp Juta dan persen) Sumber: LBU KBI Bandung 120 .

39%).49 (yoy).16% kredit 121 .2008 menjadi 77. Berdasarkan bank penyalur kredit.06% (qtq) atau 20.85 triliun.79%) dan investasi (6. Menurut skala kreditnya.10 Penyaluran Kredit dan Kredit Macet UMKM per Kabupaten/Kota di Jawa Barat.99% pada triwulan II. Pertumbuhan kredit MKM tersebut tidak secepat pertumbuhan total kredit yang tumbuh 6.36%). bank pemerintah di Jawa Barat menyalurkan lebih dari setengah total kredit MKM (57. pangsa kredit MKM terhadap total kredit mengalami sedikit penurunan dari 77. kecil dan menengah (MKM) oleh bank umum konvensional di Jawa Barat pada triwulan III-2008. tumbuh 5.65%.82% (yoy) menjadi Rp63. Oleh karena itu. sedangkan 57.35 (qtq) atau 25.05% pada triwulan III-2008. Sekitar 77% dari porsi kredit MKM tersebut merupakan kredit modal kerja (35. sedangkan bank swasta dan bank asing campuran menyalurkan masing-masing sebesar 41% dan 1.84% dari porsi kredit MKM merupakan kredit konsumsi. penyaluran kredit mikro. Juni 2007 (Rp Juta dan persen) Sumber: LBU KBI Bandung Untuk data triwulanan. 41.Tabel 4.

yakni mencapai Rp14. mencapai Rp5.05% dari total angkatan kerja) pada Agustus 2007. 6. Kondisi ketenagakerjaan di Jawa Barat menunjukkan perkembangan yang cukup baik.85 juta pada Agustus 2007.62% dan 27. Hal ini diindikasikan antara lain oleh nilai tukar petani yang menurun serta persentase penduduk miskin yang meningkat. Angka pengangguran turun 7% (yoy) menjadi 2.MKM disalurkan dalam bentuk kredit mikro.74%).58 triliun (8. Di urutan ketiga adalah sektor jasa dunia usaha yang menyerap sekitar 4.13 triliun.98 triliun). Penyebaran kredit MKM di Jawa Barat masih terpusat di kota-kota besar dan pusat industri. diikuti Kota Bogor dengan pangsa 7.07% dari total kredit MKM atau sebesar Rp2.32%.20% Berdasarkan sektor ekonomi. distribusi pendapatan di Jawa Barat juga masih belum menunjukkan perbaikan (lihat bahasan kemiskinan di sub-bab III. yang sebagian besar diserap oleh subsektor industri tekstil. Kota Bandung merupakan penyerap kredit MKM terbesar dengan pangsa sebesar 39. sandang. sedangkan untuk kredit kecil dan menengah dengan pangsa 31. Di sisi lain. Jumlah penduduk yang bekerja naik 5. dan kulit. Kualitas kredit MKM bank umum konvensional di Jawa Barat pada triwulan III-2008 lebih baik dibandingkan kualitas total kredit. sektor PHR adalah penyerap kredit MKM terbesar.36% atau 25. Selanjutnya. Berdasarkan hasil Survei Indikator Ekonomi yang dilakukan oleh BPS.38 juta jiwa (13.7% (yoy) menjadi 15. Di urutan kedua Kota Bekasi dengan pangsa 8. indikator kesejahteraan masyarakat lainnya relatif tidak banyak mengalami perubahan.60 triliun.61 triliun atau 22.57%. IV. lebih rendah dibandingkan rasio gross NPL total kredit yang sebesar 3. data terakhir penyerapan tenaga kerja di Jawa 122 .68% (Rp5.54 triliun).80% (Rp4.88% dari total kredit MKM. sektor industri pengolahan adalah penyerap kredit MKM terbesar kedua. Gross NPL kredit MKM adalah sebesar 3.7). Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan. Namun demikian.

50%. jumlah angkatan kerja di Jawa Barat pada tahun 2007 menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.41% dari total penduduk usia kerja). Selain itu. Peningkatan tenaga kerja ini terutama terjadi di sektor industri pengolahan dan PHR.56 juta orang (61. Namun demikian.58%. Sebagian 123 . yaitu dari 14. peningkatan tersebut terutama didorong oleh peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor perdagangan. komposisi status pekerjaan utama masyarakat Jawa Barat tidak mengalami perubahan. sektor pertanian masih merupakan mata pencaharian utama bagi 27% penduduk bekerja di Jawa Barat. yaitu dari 1. sektor jasa kemasyarakatan (12%) dan sektor angkutan (9%). Berdasarkan sektor ekonomi.46 juta orang pada Agustus 2007. Sementara itu. pertanian dan angkutan.4 Komposisi Penduduk Pekerja Berdasarkan Profesi dan Jenis Pekerjaan 2007 Berdasarkan hasil sakernas tahun 2005 – 2007. sector angkutan menunjukkan penurunan.3 juta orang. Meningkatnya jumlah angkatan kerja tersebut disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk bekerja. Gambar 4. atau turun 4. 0.Barat pada triwulan III-2008 mengalami peningkatan sebesar 1.87% dibandingkan angkatan kerja pada bulan Agustus 2006 yang sebesar 17. yang masing-masing bertambah sebanyak 0.85 juta pada Agustus 2007. Lapangan pekerjaan dengan jumlah tenaga kerja kedua terbesar adalah sektor perdagangan (26%) diikuti oleh sektor industry (17.53 juta orang pada Agustus 2006 menjadi 1.5%). dan 0.38 juta orang. angkatan kerja di Jawa Barat tercatat 18.23 juta orang.99 juta pada Agustus 2006 menjadi 15.51% dari total penduduk usia kerja). meningkat 3. Sampai dengan bulan Agustus 2007.24 juta orang (62.

sebanyak 15. pejabat pengantar kerja. Berdasarkan status daerah. Pengawasan diarahkan pada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Jabar. sekarang tercatat tenaga pengawas ketenagakerjaan di Jabar telah mencapai 119 orang dengan jumlah perusahaan yang beroperasi sebanyak 24. Sementara itu. yang salah satunya keikutsertaan dalam Jamsostek. maka persentase pengangguran di Jawa Barat mengalami penurunan dari 14. pengangguran di Jawa Barat lebih banyak terdapat di wilayah perkotaan. sedangkan sisanya berada di pedesaan (37. dan melakukan usaha sendiri (24%). sekarang telah memperketat pengawasan ketenagakerjaan. memegang peranan kuat dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing masyarakat (tenaga kerja). secara penuh bertugas mengawasi aktivitas perusahaan dan tidak mengawasi pelaksanaan proyek-proyek di perusahaan yang bersangkutan.05%. yaitu dari 2. melalui pengawasan ketenagakerjaan juga telah dapat melakukan evaluasi atas kepatuhan perusahaan atas kewajiban yang harus dipenuhinya.58% menjadi 13.besar bekerja sebagai karyawan/buruh (32%). dalam rangka pengembangan ketenagakerjaan. 124 . apabila dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja. mempunyai peran strategis.38 juta jiwa.82%). Para pengawas ketenagakerjaan tersebut. Sementara itu. jumlah penduduk yang menganggur di Jawa Barat menunjukkan perkembangan yang cukup baik. pengawas ketenagakerjaan dan perantara hubungan industrial.56 juta orang menjadi 2. Jabar.519 perusahaan yang beroperasi di Jabar.18%). mengingat tugas. Adanya kegiatan tersebut. untuk menentukan skala prioritas penanganan masalah. di sisi lain.48 juta jiwa (62. wewenang dan tanggung jawabnya erat kaitannya dengan pengembangan SDM tenaga kerja. Pejabat fungsional ketenagakerjaan dalam menghadapi Masalah ketenagakerjaan diharapkan dapat melakukan pemetaan masalah disertai data dasar yang kuat. angka pengangguran pada Agustus 2007 turun 7% dibandingkan angka pada Agustus 2006.098 perusahaan baru mengikuti Jamsostek. Hasil evaluasi saat ini. Jabar. dalam rangka memperketat pengawasan ketenagakerjaan sekarang telah melatih masyarakat untuk dididik menjadi tenaga pengawas. dari 24. Berdasarkan data BPS. Keseluruhan pejabat fungsional tersebut.519 orang. yaitu berjumlah 1.

Menurut Sukarto. Sedangkan urutan ketiga hambatan yaitu masalah peraturan perpajakan. Sedangkan hambatan lainnya yakni persoalan komponen biaya bahan bakar minyak (BBM). dan kemudian hambatan persoalan komponen biaya buruh (9%). penghubung dan pengantar tenaga kerja merupakan instrumen utama di lingkungan Disnakertrans. biaya listrik. ketrampilan dan integritas dalam mengiringi perkembangan masyarakat untuk memenuhi standar pelayanan yang prima. Hal ini menyangkut persoalan kerusakan jalan. hambatan masuknya investasi atau keengganan investor semata-mata 125 . Hambatan lainnya yakni masalah korupsi (11%). Persoalan buruh berada pada posisi ketujuh dari sebelas hambatan masuknya investasi. atau hanya sekitar 10% dari kebutuhan ideal. Pejabat fungsional ketenagakerjaan diharapkan dapat memacu diri untuk terus meningkatkan pengetahuan. Hambatan kedua ada pada persoalan infrastruktur yang tidak memadai yakni sebesar 19%. Jabar juga masih kekurangan tenaga pengantar tenaga kerja dan penghubung industrial. sekiranya dilakukan kajian secara ilmiah dan objektif. transportasi. yakni hambatannya 15%. kemampyan.upaya preventif yang edukatif. ada sebelas hambatan masuknya investasi ke Indonesia termasuk ke Jawa Barat. kebijakan pemerintah yang berubahubah sehingga mengakibatkan instabilitas kebijakan (7%). dan prasarana pendukung. adanya pungutan liar serta pungutan yang dilakukan daerah. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertans) Provinsi Jawa Barat memerlukan sedikitnya sekitar 600 tenaga pengawas untuk mengoptimalkan pengawasan ketenagakerjaan di wilayahnya. pemberdayaan dan kerjasama dengan para pemangku kepentingan. Dari hasil survei yang dilakukan Disnakertrans Jawa Barat 2007. Di sisi lain. Selain minim pengawas tenaga kerja. Perangkat pengawas. jumlah PNS pengawas tenaga kerja di Jawa Barat saat ini hanya sekitar 70 orang. sarana. menurut survey ini. kualitas sumber daya manusia (9). Sangat disayangkan bahwa data masalah ketenagakerjaan seperti jumlah demonstrasi dan pemogokan hingga penyelesaian masalah hubungan industrialisasi antar buruh dan pengusaha data tidak terekam terlalu baik. Urutan pertama hambatan tersebut yakni birokrasi pemerintahan.

000. Pada tahun 2004. infrastruktur. Bidang Perikanan. peraturan perpajakan.500. 366. pada tahun 2005 meningkat menjadi Rp. 126 . Pemantapan penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Capaian Kinerja dalam pelaksanaan bidang tersebut selama kurun waktu 2004-2007. Sedangkan hambatan utama terletak pada masalah birokrasi pemerintahan. IV. 408. Walaupun mendapat tentangan dari pihak buruh. Pada tahun 2008 UMP Propinsi Jawa Barat ditetapkan lebih tinggi lagi menjadi Rp. karena pada faktanya data upah minimum yang digunakan diserahkan pada pemerintah kabupaten dan kota. namun setidaknya penetapan UMP ini dapat dijadikan jarring pengaman bagi upaya penanggulangan kemiskinan. Karena. dimana pada tahun 2008 UMK tertinggi ada di Kota bekasi sebesar Rp. dan Bidang Lingkungan Hidup. Bidang Sosial. UMP Jawa Barat adalah sebesar Rp.654 pada tahun 2006 dan akhirnya pada tahun 2007 naik menjadi Rp.bukan disebabkan persoalan buruh atau tenaga kerja. dan Pemantapan Program Raksa Desa. korupsi serta kebijakan yang dikeluarkan pemerintah yang berubah-ubah. 447.840.7. 568. 516. Fokus pembangunan bidang pemerintahan dan pembangunan desa yaitu Terselenggaranya tugas pembantuan dari Provinsi ke Desa. persoalan ini ada pada posisi ketujuh. Bidang Perindustrian dan Perdagangan. Pembangunan Pedesaan Bidang pembangunan Desa menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian khusus selama periode 2004-2008. kebutuhan hidup layak dan pertimbangan produktifitas yang cukup terwakili.antara lain : 1. 990.000. Bidang Kesehatan.260. kemudian meningkat lagi menjadi Rp.000. Besaran upah minimum propinsi juga menunjukkan peningkatan yang sesuai dan layak dengan adanya peningkatan laju inflasi. Terselenggaranya tugas pembantuan dari provinsi ke desa yang meliputi Bidang Pertanian Tanaman Pangan. sedangkan UMK terendah ada di Kota Banjar yakni sebesar Rp 570. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa UMP Propinsi Jawa Barat meningkat dengan laju 41% dari tahun 2004 ke tahun 2007.

821 2006 Tambahan 5. Meningkatnya fasilitasi pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap penyelenggaraan pemerintahan desa dan kelurahan.000.000.00 14.807.827 2007 5. Pemberian bantuan operasional kinerja aparatur pemerintah desa dan kelurahan masing-masing sebesar Rp. 2008 c.000.995.000.000.00 43.105. Pemberian fasilitasi dalam pemekaran desa dan kelurahan dalam rangka meningkatkan kapasitas pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah desa dan kelurahan.125.567.500.000.000.808 2006 5.00 5.125. dengan rincian sebagai berikut : Tabel 4.000. 5.12 Bantuan Rehabilitasi Kantor Desa dan Kelurahan serta Sarana Olahraga di Jawa Barat Tahun 2005 – 2007 Tahun Jumlah Desa/Kel Jumlah Besar Bantuan (dalam rupiah) 5.040.000.841 TOTAL BANTUAN SELAMA 5 TAHUN Sumber: Bapeda Jabar.00 6. Pemberian bantuan rehabilitasi kantor desa dan kelurahan dan sarana olah raga.00 16. antara lain dalam wujud : a.000.00 (lima juta rupiah).380. 2008 b.000.000.00 2004 5.000.00 29.000.00 2005 200 2006 178 2007 245 JUMLAH BANTUAN SELAMA 3 TAHUN Sumber: Bapeda Jabar.000.500.000. dengan rincian sebagai berikut : Tabel 4.11 Bantuan Operasional Kinerja Aparatur Pemerintah Desa dan Kelurahan se.2.000.Jawa Barat Tahun 200 – 2007 Tahun Jumlah Desa/Kel Total Besar Bantuan (dalam rupiah) 28.000.799 2005 5.000.000.00 29.000. dimana sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2007 127 .000.00 174.

Kabupaten Sumedang sebanyak 8 desa. Perubahan status desa menjadi kelurahan pada tahun 2004 sampai dengan tahun 2007 sebanyak 70 desa terdapat di Kabupaten Bogor 2. Kabupaten Sukabumi sebanyak 17 desa.telah terjadi pemekaran sebanyak 70 desa. Kabupaten Garut sebanyak 14 desa. Kabupaten Tasikmalaya sebanyak 3 desa. Kabupaten Indramayu sebanyak 3 desa. Kabupaten Kuningan sebanyak 3 desa. Kabupaten Subang sebanyak 1 desa dan Kota Banjar sebanyak 2 desa. tahun 2005 sebanyak 10 desa. Kabupaten Cianjur sebanyak 7 desa. Kabupaten Majalengka sebanyak 3 desa. Adapun kabupaten yang telah melaksanakan pemekaran meliputi Kabupaten Bogor sebanyak 2 desa. tahun 2006 sebanyak 12 desa. Gambar 4.5 Jumlah Desa dan Kelurahan di Provinsi Jawa Barat Tahun 2004 – 2007 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 2004 2005 2006 2007 550 609 611 632 5249 5199 5212 5231 DESA KELURAHAN Sumber: Bapeda. Kabupaten Bandung 1. Jabar 2008 128 . Kota Tasikmalaya 54 dan Kota Banjar 8. dengan perincian : pada 2004 terjadi pemekaran jumlah desa sebanyak 23 desa. sedangkan pemekaran kelurahan sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2007 terdapat 18 kelurahan dengan rincian di Kabupaten Karawang 2 kelurahan. Kabupaten Garut 5. Kabupaten Bandung sebanyak 3 desa. Kabupaten Ciamis sebanyak 2 desa. Kota Bandung 12 kelurahan dan Kota Bekasi 4 kelurahan. tahun 2007 sebanyak 25 desa.

866 Kegiatan fisik.340. Terhimpunnya swadaya masyarakat dalam pembangunan infrastruktur perdesaan sebesar Rp.700 desa. Infrastruktur yang terbangun di desa sebanyak 10. Terwujudnya kemanunggalan TNI dan Masyarakat yang dilaksanakan sebanyak 10 kemanunggalan dengan cakupan terlaksananya pembangunan pada desa terpencil.384. h.351 108.(77.00. 2008 129 . Meningkatnya jumlah KK yang mendapat pinjaman bergulir sebanyak 332.583.000. terisolir dan tertinggal sebanyak 275 desa yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat.505.000.163 KK.00 dengan jumlah desa sebanyak 3.96%) dari jumlah bantuan infrastruktur sebesar Rp.920. 115. dengan capaian kinerjanya berupa : f. g.317 89. Terselenggaranya program Raksa Desa yang telah menyerap anggaran pemerintah daerah mencapai Rp. e.295 68.d.000. Gambar 4.000.6 Jumlah KK Yang Mendapat Pinjaman Bergulir dari Program Raksa Desa Tahun 2003-2006 120000 100000 80000 60000 40000 20000 66.200 0 2003 2004 2005 2006 Sumber: Bapeda Jabar..204.148.

573.18.12. (2) kecurangan praktek bisnis dan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan. Rendahnya kemampuan mengakses kesempatan berusaha disebabkan oleh terbatasnya kepemilikan produktif. serta rendahnya tingkat kewirausahaan sosial.36. dan (b) terbatasnya ruang publik.373.48. (2) kurang berkembangnya kepemimpinan kelompok.221.7 Jumlah Swadaya Masyarakat Dalam Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Pada Program Raksa Desa Tahun 2003-2007 60 milyar 50 milyar 40 milyar 30 milyar 20 milyar 10 milyar Rp.Gambar 4.434. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi berkurangnya kesempatan ekonomi/berusaha adalah : (1) ketimpangan distribusi kekayaan. Kurangnya representasi orang miskin disebabkan oleh: (1) lemahnya swa-organisasi.720. dan (b) berkurangnya kesempatan ekonomi/ berusaha.203 Rp.215. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbatasnya ruang publik disebabkan oleh: aparat pemerintah 130 . terbatasnya pasar dan informasi pasar kurang sempurna/asimetris. dan (3) lemahnya jejaring kaum miskin.133 Rp. lemahnya sumberdaya modal usaha.953.650 0 2003 2004 2005 2006 Sumber: Bapeda Jabar.934 Rp.096. 2008 Permasalahan yang dihadapi dalam bidang pembangunan pedesaan antara lain masih rendahnya keterlibatan masyarakat perdesaan dalam kegiatan ekonomi produktif adalah: (a) rendahnya kemampuan mengakses kesempatan berusaha. Di samping itu tingkat partsipasi masyarakat perdesaan dalam penetapan kebijakan masih rendah disebabkan : (a) kurangnya representasi orang miskin.

IV.23 % apabila dibandingkan dengan tahun 2005 yang baru 61. Pencapaian indeks pendidikan merupakan gabungan dari Angka Melek Huruf (AMH) dan rata-rata lama sekolah (RLS).00 pada tahun 2007.32% (angka sangat sementara) meningkat dibandingkan tahun 2002 sebesar 93. sedangkan paritas daya beli (purchasing power parity) mengalami kenaikan sebesar Rp 31. 8. dan tata pemerintahan yang otokratis. atau mengalami peningkatan sebesar 0.34 %.20 tahun atau rata-rata tingkat pendidikan penduduk Jawa Barat adalah tidak tamat SLTP atau baru mencapai kelas 1 SLTP.526. AMH pada tahun 2007 adalah sebesar 95.50 tahun (angka sangat sementara). atau naik sebesar 0. atau naik sebesar 3. sebagai indikator kemampuan pendidikan SLTP dalam menyerap penduduk usia 13-15 tahun.74 %.08 tahun dibanding tahun 2002.58 tahun pada tahun 2007. Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) sampai dengan tahun 2002 masih sebesar 7.15 % apabila dibandingkan dengan tahun 2005 sebelumnya yang baru mencapai 77. Peningkatan Akses Pendidikan yang Berkualitas pada Masyarakat Untuk bidang pendidikan.19 %. Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs pada tahun 2006 mencapai 61. Angka Harapan Hidup (AHH) menunjukkan kenaikan dari 64. Tahun 2007 RLS mencapai 7. Tahun 2002 menjadi 60.00 pada tahun 2002 menjadi Rp 623.3 tahun dibanding tahun 2002.yang kurang memberi ruang partisipasi.22% dibanding Tahun 2002. atau menunjukkan adanya kenaikan sebesar 2.00. capaian kinerjanya diawali dari Angka Partisipasi Kasar (APK) SMP/MTs Jawa Barat. Kondisi kualitas pendidikan di Jawa Barat saat ini dapat dilihat tabel berikut: 131 .atau mengalami kenaikan sebesar 0.526.000. dimana pada tahun 2006 telah mencapai 77. elit politik yang tidak responsif. dari Rp 592.90 pada Tahun 2007.10%.97 %.50 tahun pada Tahun 2002 menjadi 67.

Kondisi Ruang Kelas : a. PPKn b.25 0.94 14.49 SMP/M Ts 0.80 100. Jasmani g. Lain-lain 6. Inggeris e.95 64. Pendidikan Seni o. Semi Layak c.Tabel 4. Indonensia d.55 102. Tidak Layak 5. Layak b.42 93.54 94.34 99. 1. Biologi h.22 101.57 101.56 98.20 SD/MI 0.55 76. Agama c. 3.21 101.91 108. 2.43 104.15 101. Pend.16 60. Baik 44.3.92 98.98 102. IPS i.77 96.61 100.95 99.1. 4.13 Indikator Mutu Pendidikan Di Jawa Barat (%) Tahun 2005/2006 No.98 100.93 92. Fisika h.25 101.23 0.60 11.89 132 .24 98.44 86.45 11. Bahasa Asing p. Tata Negara m. IPA h.98 99.38 114.02 100.2.2. Sosiologi i. Indikator Angka Mengulang Angka Putus Sekolah Angka Lulusan Angka Kelayakan Mengajar : a. Matematika h.81 91. Bhs.94 74. B dan P q. Pend. Bhs. Sejarah & Sejarah Budaya f.27 93. Ekonomi i. Antropologi n.51 10.37 24. Kimia i. Geografi j.05 42.21 103.15 0.35 75. Muatan Lokal l.43 11.3. Kesesuaian Guru Mengajar : a.08 106.1.36 106. Seni dan Kerajinan k.06 SMA/S MK/MA 0.

67 - SMP/M Ts 16. UKS d.81 45.22 % apabila dibandingkan tahun 2005 yang baru mencapai 78.75 47.No. Ruang Praktek 81.10 Sumber: Profil Pendidikan Tahun 2006.53 7. 75 milyar.50 - SMA/S MK/MA 9.24 57.16 52.47 46. Perpustakaan b. Rusak Ringan c. Indikator b. Serba Guna h.81 17.38 11.47 24.92 12.38 %. Bengkel i. Keterampilan f.51 102. Rusak Berat SD/MI 27.93 22.16 %.95 36. (Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat) Angka Partisipasi Sekolah (APS) SLTP/MTs pada tahun 2006 mencapai 79. 133 .41 4.09 8.84 27. Lapangan OR c. atau mengalami kenaikan sebesar 1.39 47. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan partisipasi sekolah pada tahun 2006 telah dilakukan upaya-upaya. antara lain akselerasi penuntasan Wajar Dikdas 9 Tahun dengan memberikan bantuan beasiswa kepada 150. Fasilitas Sekolah : a. Bimbingan & Penyuluhan g.000 siswa dari keluarga tidak mampu untuk tetap melanjutkan sekolahnya atau belajar di SMP/MTs dan PKBM untuk Paket B dengan alokasi anggaran sebesar Rp.93 59.24 17. Laboratorium e.

54 4.32 11.26 26.56 27.78 SLTP 14.92 0.31 16.06%).36 33.94 28.52 20.41 8. Kab.07 15.68 15.97%.36 15.00 100.71 1.00 100.53 10.17 42.47 11.30 22.23 38.39 31.22 17.51 63.21 12.17 4.12 12.17 11.67 28.00 100.00 100.Tabel 4.29 9.92 10.86 17. dan hanya sebagian kecil dari penduduk Jawa Barat yang bisa menamatkan pendidikan sampai dengan jenjang pendidikan tingkat tinggi (4.50 Ak/Univ 3.40 26.30 10.62 9. tingkat SLTP 15.64 19.28 19.62 14. Kab.13 17.69 SD 33.56 10.67 31.55 49.00 100.00 100.02 11.33 10. Presentase Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Menurut Pendidikan Yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Barat Tahun 2005 No.70 5.55 30. Kab.24 15.36 20.46 1.11 51. Kab.49 3.64 58.93 50.40 42.00 100.93 15.36 2.21 35.83 12.37 34.00 100.78 19. Kab.50%.76 49.00 100.60 28. Kab.10 3. Kab.97 31.66 19.67 7.86 24.81 3.26 30.20 2.60 15.63 51.14.72 28.49 1.13. Kab. Kab.79 36.97 SLTA 15.00 100.08 14.92 28.74 12. tingkat SLTA 15.56 52.58 1.98 37.05 11. 78%.00 100.00 Jawa Barat Sumber : Bapeda dan BPS Provinsi Jawa Barat Suseda 2005 Berdasarkan data yang tertera pada Tabel 4.18 8.14 15.59 5.63 22.20 17.00 100.61 37.14 24.58 24.19 35. Kab.00 100. Kab.11 17.46 14.63 15.00 100. Kab.41 13.03 30.00 100. Kab.68 2.08 1.00 100.94 1.95 35.93 14.27 2.26 1.00 100.81 6.64 30.15 10.72 10.00 100.45 10.02 5.31 14.77 34.21 6.00 100.94 45. Data tersebut di atas relevan dan memiliki hubungan yang signifikan dengan angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk Provinsi Jawa Barat yang 134 .11 21.00 100.84 21. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Kabupaten/Kota Kab. Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Bogor Sukabumi Cianjur Bandung Garut Tasikmalaya Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Purwakarta Karawang Bekasi Bogor Sukabumi Bandung Cirebon Bekasi Depok Cimahi Tasikmalaya Banjar Persentase Pendidikan Yang Di Tamatkan < SD 32. Kab.43 32.94 2.00 100.37 20.15 26.21 42.00 100.91 13. Kab.34 20.23 19.06 Jumlah 100.72 23.04 18. dapat diketahui bahwa pada tahun 2005 sebagian besar penduduk Jawa Barat baru bisa menyelesaikan pendidikan sampai dengan tingkat Sekolah Dasar (SD) yaitu 37.00 100.00 100.00 100.51 12.37 39.

Pendanaan tersebut untuk merehabilitasi 44. pada tahun 2006 juga mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan alokasi anggaran sebesar Rp. maka pada tahun 2008 sampai dengan 2013 ini dicanangkan Wajib Belajar Dua Belas Tahun bagi kabupaten/kota se-Jawa Barat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah melakukan kesepakatan role sharing pendanaan rehabilitasi dan ruang kelas baru (RKB) SD/MI dan SMP/MTs antara Pemerintah yang berkontribusi 50 %. 17. Berkaitan dengan upaya peningkatan kesejahteraan guru PNS dan guru bantu sementara (GBS). Disamping itu.baru mencapai angka 7.102 ruang kelas SMP/MTs dengan target pada tahun 2008 dapat diselesaikan. yang secara tidak langsung terkait dengan upaya penuntasan Wajar Dikdas 9 tahun.721 guru PNS dan kepada 1. Kesepakatan role sharing pendanaan tersebut. Pemerintah Provinsi berkontribusi 30 % serta Pemerintah Kabupaten dan Kota berkontribusi 20 %.38 tahun.124 ruang kelas. 172. Kondisi seperti inilah yang perlu dikaji dan dianalisis secara lebih mendalam.Sementara itu. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mendukungnya yaitu peningkatan sarana dan prasarana pendidikan menengah dan 135 .9 milyar yang diberikan kepada 2. Pemerintah Provinsi telah mengalokasikan anggaran untuk membantu siswa dari keluarga tidak mampu melalui program Bantuan Gubernur untuk siswa Adapun prioritas pembangunan pendidikan setelah tuntasnya penanganan Wajib Belajar Sembilan Tahun pada Tahun 2008 dan dimulainya Rintisan Wajib Belajar Dua Belas Tahun di kota–kota terpilih. program lain yang menunjang bidang pendidikan sebagai bentuk konkrit kepedulian terhadap peningkatan pendidikan di Jawa Barat. mengalokasikan anggaran sebesar Rp. dengan cara mencari faktor-faktor penyebabnya agar dapat dicari solusinya yang paling mungkin untuk dapat direalisasikan.007 milyar dari APBD Provinsi Jawa Barat tahun 2006 untuk merehabilitasi SD/MI sebanyak 2.223 ruang kelas dan SMP/MTs sebanyak 350 ruang kelas serta RKB SMP/MTs sebanyak 1. dalam upaya peningkatan sarana dan prasarana pendidikan untuk meningkatkan daya tampung pendidikan dasar.600 guru bantu sementara SD/MI di daerah terpencil.695 ruang kelas SD/MI dan 1.

17 6.40 10.96 10.32 10.56 8.81 8.93 9.04 6.48 8.79 7.63 9.70 9.73 8.73 8.84 10.07 8. Sukabumi Kab.44 9.80 6.68 10.89 9.74 9.80 7.68 8.45 7.72 6.77 7.63 6.79 7.99 9.10 6.49 10.04 7.bantuan beasiswa bagi siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu.60 9.74 9.68 6. Sumedang Kab.56 6.35 6.74 9.69 8.82 7.93 8.89 9.05 5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 KABUPATEN/KOTA 2002 Kab.84 8.15 Rencana Pencapaian Angka (RLS) Tahun 2002 – 2010 NO.02 6.01 9.08 6.16 2007 7.60 8.21 7.40 8.76 9.78 10.60 8. Bandung Kab.90 9.93 2010 8.96 7.01 7.65 7.41 6.06 8.87 7.81 7.35 7. Bogor Kab.35 9.77 8.31 7.42 9.97 10.89 9.47 6.90 8.90 6.92 2006 7.48 6.14 6.42 6.19 5.58 7.61 7.41 2008 8.36 7.95 7. Tabel 4.37 8.54 7.05 8.14 7.69 6.11 6.70 6.73 8.43 6.86 6.29 8.50 7.68 6. Purwakarta Kab.95 10.71 8.74 7.08 9.66 10.74 6.56 7.00 Sumber: Analisis 136 .93 10.80 9.94 9.91 10.49 6.44 8.96 8.33 7.79 8.58 7.84 9.61 6.04 9.67 7.64 8.19 9.96 9.87 7. Majalengka Kab.04 7.24 7.10 9.14 6.10 9.90 9.88 7.01 7.12 7.84 7.29 7.85 7.19 9.66 9.61 10.43 6.51 9.34 7.25 9. ditetapkan target pencapaian RLS hingga tahun 2010.35 9.98 7.75 6.20 6.88 9.55 6.07 7.00 10.06 6.26 10.87 5.53 10.43 7.10 7.34 6.23 10.28 8. Indramayu Kab.25 7. Dalam dokumen Bapeda Propinsi Jabar.79 9.88 9.23 9.99 8.91 10.48 8. Cirebon Kab.68 8.63 7.45 7.48 6.09 6.66 9.90 7.23 RLS  2003 6.50 9.36 6. Karawang Kab.60 8.60 7.28 6.29 8.40 7.58 8.99 7.84 9.15 8.13 7.70 9.99 9.88 8.05 6.08 7.71 7.18 7.45 2004 6.22 6.52 8. Subang Kab.77 6.45 6.66 2009 8.75 8.12 10.50 8.69 9.38 10.79 9.62 8.36 9.32 8. Garut Kab.68 2005 7.42 6.86 9. Bekasi Kota Bogor Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Depok Kota Tasikmalaya Kota Cimahi Kota Banjar Jawa Barat 8.40 7. Kuningan Kab.87 7.88 10.26 8.14 9.71 9.13 8.34 7.35 7.54 8.72 6.36 8.11 6.55 10.51 8.24 8. Cianjur Kab.71 7.60 6.98 9.15 9.73 8.67 6.20 8.40 9. Ciamis Kab. Tasikmalaya Kab.

dengan upaya peningkatan sarana dan prasarana serta tenaga pendidik PAUD terutama di daerah perdesaan dan daerah terpencil. namun juga merupakan tanggung jawab Departemen Pendidikan Nasional.Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan sasaran utama lainnya pada periode ini. Dalam Pembangunan bidang kebudayaan diprioritaskan pada pelestarian nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal masyarakat Jawa Barat. Selain itu pengembangan PKBM masih tetap diprioritaskan. Mengingat kinerja bidang pendidikan Jawa Barat terbentuk dari kinerja bidang pendidikan di Kabupaten/Kota maka Pemerintah Propinsi Jawa Barat memandang perlu untuk menyusun Skema Role sharing rehabilitasi ruang kelas dan pembangunan RKB Kabupaten/Kota di Jawa Barat berdasarkan kesepakatan dengan Menteri Depdiknas dan Bupati/Walikota se.Jawa Barat (Tabel 4. kelautan dan pariwisata serta pengembangan lembaga pendidikan tinggi berbasis penelitian dan IPTEK. Skema Dana Dekonsentrasi dan Desentralisasi peranan pembiayaan sharing dalam pembangunan pendidikan terutama dalam pembangunan sarana dan prasarana serta perbaikan/rehabilitasi ruangan kelas. dengan target dapat menampung seluruh masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan formal. antara lain dengan melestarikan nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal masyarakat Jawa Barat guna mengantisipasi perkembangan globalisasi. Untuk pengembangan pendidikan menengah dan tinggi diupayakan melalui pengembangan sekolah kejuruan berbasis agroindustri. Upaya pengembangan bidang pendidikan memang tidaklah hanya tugas dan wewenang dari dinas di daerah propinsi dan Kabupaten/Kota. 137 .15). Langkah dan upaya yang dilakukan untuk mewujudkan prioritas pembangunan kebudayaan tersebut. Upaya-upaya tersebut didukung dengan perangkat kurikulum yang tetap berbasis kompetensi dengan memprioritaskan nilai-nilai kearifan lokal.

35 86 59 54 30 23 7 12 4 67 14 29 6 10 20 9 4 14 4 21 20 2 2 33 2 13 545 121 79 85 62 92 35 45 61 48 10 21 16 53 40 37 56 104 3 10 48 20 7 52 9 12 1.30 155 34 100 66 151 52 102 16 52 48 39 28 33 40 69 81 77 3 9 64 16 20 54 16 28 1.2 438 288 443 317 151 123 38 48 257 115 50 7 101 210 32 166 55 23 138 28 8 12 137 8 69 3.42 272 960 1.48 1. INDRAMAYU KAB.16 Data Role Sharing Rehabilitasi Ruang Kelas Dan Pembangunan RKB .02 953 554 536 603 690 229 567 832 218 625 405 25 82 177 88 53 201 63 246 12.9 231 50 151 100 228 78 155 22 78 70 57 42 49 60 105 124 114 6 14 95 24 28 82 24 43 2.58 924 894 1. TASIKMALAYA KOTA BANDUNG KOTA BANJAR KOTA BEKASI KOTA BOGOR KOTA CIMAHI KOTA CIREBON KOTA DEPOK KOTA SUKABUMI KOTA TASIKMALAYA JUMLAH LOKAL Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat. CIANJUR KAB.8 6 161 87 20 188 61 25 41 20 9 30 5 10 28 20 16 13 2 7 24 3 69 3 3 851 1.35 301 197 215 155 229 87 113 154 116 28 51 41 132 98 94 139 259 8 28 122 50 18 129 22 28 2. SUKABUMI KAB. BANDUNG 2.38 365 1. CIAMIS KAB. MAJALENGKA KAB. SUMEDANG KAB. CIREBON KAB.68 3 97 52 13 113 36 16 25 12 5 18 3 6 17 13 9 7 2 3 15 2 41 2 2 512 949 182 640 689 596 680 634 370 358 403 460 154 379 554 146 416 271 15 55 117 58 33 135 40 164 8.49 175 115 177 127 60 50 15 20 102 47 21 2 41 83 12 67 23 8 55 12 3 4 55 2 28 1.03 131 89 82 47 33 12 16 5 102 20 46 8 16 28 11 9 18 6 32 30 4 3 51 3 17 819 181 119 130 94 138 52 69 93 69 16 30 24 80 58 55 83 156 4 16 74 30 10 78 12 17 1.60 1. KUNINGAN KAB. PURWAKARTA KAB. BEKASI KAB.Tabel 4. Dengan meningkatnya derajat kesehatan masyarakat maka produktivitas SDM diharapkan akan meningkat sehingga upaya pengentasan kemiskinan akan dapat lebih dipacu. Tahun 2006-2008 PUSAT NO KAB/KOTA SD KAB/KOTA RKB REHAB MTS SD MI SMP MTS REHAB MI SMP MTS RKB SMP MTS SD REHAB MI SMP MTS RKB SMP MTS SMP 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 KAB.69 1.7 263 173 267 191 91 74 24 28 155 69 30 3 60 127 18 100 33 13 83 17 4 6 82 4 42 1. SUBANG KAB.72 1.12 4 65 35 7 75 25 9 16 8 5 12 3 4 11 7 7 6 1 2 9 1 28 1 2 343 KAB. Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan yang Berkualitas Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat akan tercapai bila derajat kesehatan masyarakat meningkat.37 53 1.00 1.262 386 83 250 166 378 130 257 38 129 117 95 70 82 99 174 205 190 11 25 158 42 48 136 42 73 3.14 382 946 1. BOGOR KAB. 2008 IV.9. 138 .03 892 1.04 675 41 138 296 148 88 335 104 410 21.38 217 148 135 77 55 21 28 10 168 35 75 14 25 47 19 15 31 11 52 49 8 7 84 5 29 1. Hal ini dapat terjadi apabila mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan masyarakat yang merata dapat ditingkatkan serta kesadaran dan perilaku hidup sehat di kalangan masyarakat pun dikembangkan. KARAWANG KAB. GARUT KAB.

puskesmas keliling sebanyak 566 unit pada tahun 2006. 526 unit pada tahun 2005 dan 461 unit pada tahun 2004. menyediakan berbagai fasilitas kesehatan umum seperti puskesmas. Pada periode tahun 2004-2006. 139 .Peningkatan derajat kesehatan masyarakat dilakukan pemerintah melalui berbagai upaya dan program. Dengan upaya ini diharapkan derajat kesehatan masyarakat akan meningkat. 994 unit tahun 2005 dan 979 unit pada tahun 2004. puskesmas pembantu 1. Di antaranya adalah dengan memberikan penyuluhan kesehatan agar tercipta perilaku hidup sehat. Salah satu indikator yang digunakan untuk menentukan derajat kesehatan penduduk adalah angka kesakitan (morbidity rate).004 unit menunjukan adanya peningkatan dari 994 unit pada tahun 2005 dan 979 unit pada tahun 2004. memenuhi kebutuhan obat serta meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan. yang semula 185 unit pada tahun 2005 dan 149 unit pada tahun 2004.149 unit pada tahun 2005 menjadi 2. meningkatkan sumberdaya tenaga kesehatan baik kuantitas maupun kualitas.917 unit pada tahun 2006.447 unit pada tahun 2006. Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Jawa Barat adalah pada ahun 2006. pemerintah meningkatkan sarana dan prasarana pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) berikut jaringannya. posyandu. Jumlah puskesmas induk tahun 2006 yaitu 1. Juga program dana kesehatan untuk masyarakat miskin merupakan usaha agar pelayanan kesehatan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Sedangkan balai pengobatan menunjukkan adanya penurunan dari 3. pondok bersalin desa serta mengupayakan tersedianya fasilitas air bersih. terdapat peningkatan jumlah rumah sakit yaitu 205 unit pada tahun 2006.

49 Khusus) 45. 141 DTP) 94 1.8.415 1.919 bidan di desa 7.657 Gambar 4.475 613 38 (30 RSUD.231 bidan 17 18 5867 6562 3.Tabel 4.2006 Sumber: Dinkes Propinsi Jabar.903 3263 210 2. 49 Khusus) 45.631 575 884 6. 144 DTP) 65 1438 475 34 (27 RSUD.808 bidan di desa 7.105 1085 218 3140 1. 45 Khusus) 45.393 505 623 6. 8 RS Khusus D) 12 7 16 138 (89 Umum.522 2007 1007 (867 Non DTP.150 bidan 4. 25 Khusus) 41. 7 RS Khusus D) 5 6 11 83(58 Umum.465 527 37 (30 RSUD. Sarana Rumah Sakit di Jawa Barat tahun 2004 .622 523 856 2006 1001 (860 Non DTP.851 2005 994 (857 Non DTP.17.917 1600 592 864 7. 7 RS Khusus D) 12 7 16 138(89 Umum. 2007 140 . 40TP) 94 1. 7 RS Khusus D) 9 7 11 119 (74 Umum. 137 DTP) 85 1.475 612 37 (30 RSUD.721 210 2. Data Umum Kesehatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 JENIS DATA Puskesmas (Non DTP+DTP) Puskesmas Poned Puskesmas Pembantu Puskesmas Keliling Rumah Sakit Pemerintah Rumah Sakit Penek Rumah Sakit Umum BUMN Rumah Sakit TNI/POLRI Rumah Sakit Swasta Posyandu Polindes Klinik KB (RB/KIA) Klinik Swasta (BP) Dokter Umum di Puskesmas Dokter Spesialis di RSUD Dokter gigi di Puskesmas Bidan/Bidan tinggal di desa Perawat 2004 966 (842 NonDTP.424 bidan di desa 8.815 1.951 1290 218 1.917 1.951 bidan 4.

Jumlah tenaga kesehatan di puskesmas menunjukkan adanya peningkatan dari tahun 2004 sebanyak 16. Dibandingkan dengan tahun 2006. persentase balita yang kelahirannya ditolong oleh dukun mengalami penurunan sebesar 3. Sedangkan yang ditolong oleh tenaga non medis seperti dukun sekitar 38. Penolong kelahiran terakhir balita yang dilakukan oleh tenaga medis pada tahun 2006 sebesar 56. Dilihat dari kesehatan ibu dan anak.2007 Sumber: Profil Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2007 Angka rasio tempat tidur di seluruh RS terhadap penduduk yang terus menurun menunjukkan meningkatnya ketersediaan fasilitas RS untuk melayani masyarakat. Dari 3.Gambar 4. dan 0. 49. sementara yang ditolong oleh tenaga paramedis naik sebesar 4.53 persen ditolong oleh famili/lainnya. bidan. atau lainnya.22 persen pada tahun 2007. menjadi 17.788 orang pada tahun 2006.160 orang pada tahun 2005.40 persen oleh bidan. Di samping itu kesehatan ibu juga memberi andil terhadap kesehatan bayi yang akan dilahirkannya.24 persen dan 0. dan tenaga medis lainnya) dianggap lebih baik dibandingkan yang ditolong oleh dukun.51 persen oleh tenaga medis lainnya.6 poin.8 juta balita di Jawa Barat pada tahun 2007. persalinan yang ditolong oleh tenaga medis (dokter. famili. Penolong kelahiran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan balita.9 Rasio Tempat Tidur Di Seluruh Rumah Sakit TerhadapPenduduk Provinsi Jawa Barat Tahun 2004 .31 persen kelahirannya ditolong oleh dokter. 141 .64 persen naik menjadi 61. sekitar 11.58 poin.

Semakin lama balita mendapat ASI sesuai waktu yang ditentukan (24 bulan) akan berpengaruh terhadap kesehatan balita.98 persen pada tahun 2006 menjadi 36. Persentase balita yang disusui oleh ibunya selama 2 tahun atau lebih mengalami peningkatan dari 33.50 persen pada tahun 2006 menjadi 26.18.46 persen pada tahun 2007.Perhatian masyarakat terhadap kesehatan balita merupakan indikasi bahwa masyarakat telah memahami pentingnya hal ini.40 persen pernah diberi ASI. Lama Balita Menyusui dan Persentase Penolong KelahiranTerakhir Menurut Jenis Kelamin di Jawa Barat Tahun 2007 142 . sebanyak 3.33 persen di tahun 2007 ini. Tabel 4. Fenomena peningkatan persentase balita yang disusui lebih dari satu tahun ini menunjukkan bahwa semakin banyak kaum ibu yang menyadari pentingnya ASI bagi kesehatan bayi. Air susu ibu (ASI) sangat penting bagi perkembangan dan kesehatan balita. ASI merupakan zat yang sempurna untuk pertumbuhan bayi dan mempercepat perkembangan berat badan. Dari seluruh balita di Jawa Barat pada tahun 2007. Sedangkan yang disusui selama satu sampai kurang dari dua tahun sebesar 37.20 persen. Salah satu indikator yang bias merefleksikan hal ini adalah lama menyusui. dan sisanya yaitu balita yang disusui kurang dari satu tahun naik dari 25.617 juta balita atau 94.

72 (thn 2007)* 321. Angka kematian bayi di Provinsi Jawa Barat dari 143 . Data Derajat Kesehatan No Indikator 1 AKB 2 AKABA 3 UHH AKI (Per 100. AKB juga dipengaruhi oleh pendapatan keluarga. kualitas lingkungan hidup.92 (thn 2003)* 21.15 (thn 2003)* 8.09% (2006)**** 2007 39 64.10 (thn 2000)** 1. upaya pelayanan kesehatan dan lain-lain.40 (thn 2004)* 64. jumlah anggota keluarga.67 (thn 2000)** 66.15 (thn 2003)* 8.60 (thn 2000)** 2005 40. utamanya berkaitan dengan kematian ibu dan bayi adalah besarnya tingkat kelahiran dalam masyarakat.10 (thn 2000) 1.19. Berbagai faktor yang berkaitan dengan penyebab kematian maupun kesakitan antara lain tingkat sosial ekonomi. Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (IMR) merupakan indikator yang sangat sensitif terhadap ketersediaan kualitas dan pemanfaatan pelayanan kesehatan terutama yang berhubungan dengan Perinatal. Beberapa faktor penting yang perlu mendapat perhatian khusus di Provinsi Jawa Barat.40 (thn 2006)* 321.4% (2004)**** 22.01% (2006)**** 21. diolah kembali.13% (2007)**** 21.15 (thn 2003)* 8. umur masa paritas. serta penolong persalinan. Kematian Peristiwa kematian yang terjadi dalam suatu wilayah dapat menggambarkan derajat kesehatan.26 (thn 2008)* 64. pendidikan ibu dan gizi keluarga.67 (thn 2000)*** 67.67 (thn 2000)** 67.10 (thn 2000)** 1.10 (thn 2000) 1.15 (thn 2003)* 8.07 (thn 2004)* 321.59 (thn 2005)* 2006 40. maupun hal lain misalnya rawan keamanan atau bencana alam yang terjadi di wilayah tersebut.57 (thn 2005)* 321. Sehingga AKB dapat dipakai sebagai tolok ukur pembangunan sosial ekonomi masyarakat menyeluruh AKB dihitung sebagai jumlah kematian bayi dibawah usia 1 tahun pada setiap 1000 kelahiran hidup.Tabel 4.000 4 KLH) AKK (per 1.67 (thn 2000)** 66. jumlah anak yang dilahirkan.000 5 penduduk) Status Gizi Buruk 6 Balita Angka kelahiran 7 Kasar 2004 43.87 (thn 2005)* 64.92 (thn 2003)* Sumber: Dinkes Propinsi Jawa Barat.

Angka Kematian Bayi (AKB) menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Jawa Barat tahun 2005 AKB JAWA BARAT: 40.32) Kab. Majalengka (44.57 %). Sedangkan jumlah kematian bayi di Jawa Barat tahun 2006 sebanyak 3. Cirebon (31. Indramayu (51. Garut (54. Kematian bayi dalam kandungan (21.83) Kota Banjar (42.50) = < 51 = rendah = 51 . Bekasi Kota Bekasi (45.39 %). Gambar 4. Angka Kematian Balita (AKABA) Angka Kematian Balita adalah jumlah kematian anak umur 0 – 4 tahun per 1000 kelahiran hidup. Karawang (31. Bandung (43.45.42) Kab. di tahun 2005 menjadi 43.50) Kota Tasikmalaya (41.17 %). Sumedang (39.57 = menengah = > 57 = tinggi Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat Kab. Sukabumi (44.Bogor (42.07) (40.95) (48.10.40 per 1000 kelahiran hidup. penyebab kematian neonatal terbanyak adalah Hipoksia Intra Uterus dan Asfiksia lahir (29.69 per 1000 kelahiran hidup tahun 2000.50) (49.67) Kota Bogor (26.338 kelahiran hidup.67) Kab. Sementara itu di Provinsi Jawa Barat estimasi AKABA dari tahun ke tahun menunjukan penurunan tetapi masih berada diatas angka nasional yaitu 132 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1986. Estimasi Angka Kematian Balita di Indonesia dihitung oleh Badan Pusat Statistik. Subang (28.24) Kota Sukabumi (32.87 Kab. Purwakarta (41. dan Bayi yang lahir dengan Berat Badan Rendah (12. Hal ini dapat mencerminkan kurangnya perawatan ibu dan bayi yang adekuat maupun defisiensi gizi ibu hamil. 105 per 1000 kelahiran 144 .29) Kota Depok Kab.67) (52. Kuningan (42. Cianjur (48.52) Kab.580 dari 818.50) Kota Cimahi (31.15) Kab. Tasikmalaya Kab.43) Kab.27) Kab.36) Kab. Ciamis (45.01) Kab.50) Kab.24) Kota Bandung (35.91) Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Kota tahun 2006.33) Kota Cirebon Kab.02) Kab.

hidup pada tahun 1992 dan 101 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1993.000 kelahiran hidup di Provinsi Jawa Barat dibandingkan dengan angka Nasional tahun 1986. dan Diare/Gastroenteritis. Sejak tahun 1993 telah dilaksanakan berbagai macam kegiatan untuk menurunkan angka kematian balita tersebut sehingga pada tahun 2000 angka kematian balita di Jawa Barat menjadi 64.71 pada tahun yang sama. Tabel 4. Angka Kematian Balita (AKABA) dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan serta faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak dan balita seperti. walaupun angka ini masih jauh diatas angka nasional sebesar 44. penyebab utama kematian pada anak balita adalah Pneumonia.20. 1992. jumlah balita mati di Jawa Barat adalah 306 orang. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan rendahnya kualitas kesehatan lingkungan. sanitasi. gizi.67. survey program Jawa Barat tahun 2000 Berdasarkan laporan penyakit penyebab kematian anak balita di RS tahun 2006. 145 . Berdasarkan laporan dari sarana pelayanan kesehatan tahun 2006. penyakit infeksi dan kecelakaan. 1993 dan 2000 Sumber: Profil Kesehatan Indonesia tahun 2001. Angka Kematian Balita per 1.

25 19 Morbili 10 Tetanus 2. Kematian akibat Pneumonia dan atau bronkhopneumonia dapat disebabkan karena rendahnya pengetahuan ibu tentang deteksi dini penyakit ini dan pencarian pengobatan.14 16 usus tanpa hernia Peny.64 11 Asma 2 Diare & Gastroenteritis 10.80 19. status gizi dan kesehatan ibu.26 .96 0.93 1.80 0.75 12 Anemia Lainnya Penyakit Infeksi dan Parasit 3 Kejang YTT 9.85 17 Combusio cerebri 8 Septisemia 2.09 1.61 1. AKI berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat. Pola Penyakit Penyebab Kematian Anak Balita (1 – 4 Tahun) Yang Dirawat Di Rumah Sakit Di Provinsi Jawa Barat. disamping itu disebabkan pula oleh masih rendahnya pengetahuan akan penggunaan Oralit atau Larutan Gula Garam (LGG) dalam menaggulangi dehidrasi akibat diare.44 1.25 20 Penyakit Jantung 21 Penyakit Lainnya Sumber: Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2006 No Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Maternal atau Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal Mortality Rate (MMR) menunjukan jumlah kematian ibu karena kehamilan.73 18 Malnutrisi Demam Typhoid dan 9 paratyphoid 2. Tahun 2006 Tahun 2006 Jenis Penyakit % No Jenis Penyakit Pneumonia & 1 Bronchopneumonia 13.12 1.80 0.63 14 Gizi buruk Bronkhitis & Bronkhiolitis 5 Meningitis 8.21. persalinan dan masa nifas pada setiap 1000 kelahiran hidup dalam satu wilayah pada kurun waktu tertentu. tingkat pelayanan 146 % 2.12 0. kondisi lingkungan.79 13 lainnya Encephalitis & 4 Meningoencephalitis 9.03 15 Akut Ileus paralitik & obstruksi 6 Demam Berdarah Dengue 5. Tabel 4. Radang susunan 7 syaraf 3.Kematian akibat diare dapat disebabkan oleh karena rujukan ke rumah sakit terlambat dilakukan.

70%). Adapun penyebab kematian secara langsung pada persalinan dengan komplikasi adalah perdarahan. Faktor mendasar penyebab kematian ibu maternal adalah tingkat pendidikan ibu.Dinkes Provinsi Jawa Barat 147 . status gizi.kesehatan terutama untuk ibu hamil. pelayanan kesehatan sewaktu ibu melahirkan dan masa nifas. Hal ini sejalan dengan data mengenai jumlah kematian ibu maternal dari laporan sarana pelayanan kesehatan. Adanya pandangan masyarakat bahwa ibu hamil. keadaan ekonomi keluarga dan pola kerja rumah tangga. Beberapa determinan penting yang mempengaruhi AKI secara langsung antara lain. robekan jalan lahir. Tahun 2003-2005 1000 800 600 400 200 0 2003 Perdarahan 311 228 148 43 282 67 47 287 256 96 39 253 2004 Infeksi Eklampsia Lain-lain 2005 Sumber: Subdin Pelayanan Kesehatan. seperti dibiarkan dan membiarkan diri untuk bekerja berat. Penyebab Kematian Ibu Maternal di Provinsi Jawa Barat.11. Penyebab tidak langsung tingginya AKI adalah faktor pendidikan ibu yang rendah. Gambar 4. keadaan tiga terlambat dan empat terlalu.43%) dan waktu hamil (8. pre-eklamsia dan eklamsia. status gizi ibu yang kurang serta terlalu muda usia ibu pada saat hamil. makan dengan gizi dan porsi yang kurang memadai. Hasil Survei BPS tahun 2003 menunjukan bahwa umumnya kematian ibu terjadi pada saat melahirkan (60. kesehatan lingkungan fisik maupun budaya. septik aborsi. menyebabkan ibu maternal tidak diperlakukan secara khusus.87%). waktu nifas (30. infeksi jalan lahir serta emboli. melahirkan dan menyusui adalah proses alami. anemia pada kehamilan.

19. Pola penyakit penyebab kematian untuk kelompok Lansia dan Pralansia tahun 2006 adalah karena penyakit kardiovaskuler.29 64.01 67.20 65.d.14 66.80 66.90 67.60 63.59 dan laki-laki 20.00 66.50 66.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 PROYEKSI TARGET 148 .87 67.07 64. 2010 68.80 66. kondisi kesehatan di dalam masyarakat.00 65.47 66. Umur Harapan Hidup Gambar 4.68 66.00 65.30 67.74 66.00 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat 66. AKK menjadi dasar penghitungan laju pertambahan penduduk.10 67. TBC dan penyakit degeneratif lainnya merupakan penyebab kematian terbesar untuk kelompok usia tersebut. Perbandingan Proyeksi UHH dan Target UHH Provinsi Jawa Barat. secara tidak langsung menggambarkan kondisi lingkungan ekonomi. penyakit sirkulasi darah maupun penyakit degeneratif.00 64. perkiraan tingkat kematian tahun 20002005 untuk perempuan berkisar sebesar 20. Gambaran pola penyakit penyebab kematian menunjukkan bahwa penyakit dengan beban ganda (double burden) merupakan masalah di Provinsi Jawa Barat.00 62.80 64. Menurut BPS Provinsi Jawa Barat. disertai dengan faktor risiko gaya hidup seperti konsumsi makanan berlemak tinggi dan kurang olah raga. fisik dan biologis. walaupun penilaian yang diberikan secara kasar dan tidak langsung.12.Kematian Kasar Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) dapat digunakan sebagai petunjuk umum status kesehatan masyarakat. Tahun 2000 s.40 67.00 67.90 64. dengan pokok penyebab pada infeksi.63 65.00 66.

Pemberian vitamin A untuk anak balita 1-4 tahun dan ibu nifas.11 %. berarti telah terjadi penurunan prevalensi sebesar 92.5 %). Obesitas perlu diwaspadai mengingat keadaan tersebut merupakan faktor predisposisi. Dengan keberhasilan ini maka masalah KVA klinis bukan lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat jika mengacu kepada kriteria WHO (X1B = 0. pemberian tablet Fe pada ibu hamil. Masalah utama gizi masih diwarnai dengan masalah Gizi buruk (khususnya pada kelompok umur balita). prevalensi xerophthalmia yang dinyatakan sebagai prevalensi X1B di Jawa Barat sebesar 0. 149 . anemia gizi besi (AGB) dan kurang vitamin A (KVA). gangguan akibat kurang yodium (GAKY). Gizi buruk pada balita perlu diwaspadai karena akan berdampak pada lemahnya sumber daya manusia di masa mendatang (lost generation).1 %. Kurang Vitamin A Tujuan utama program penanggulangan KVA (Kurang Vitamin A) adalah menurunkan prevalensi Xerophthalmia sampai 0.90% jika dibandingkan dengan tahun 1978 (1. distribusi kapsul yodium untuk penduduk sasaran (WUS) pada daerah rawan GAKY. Program perbaikan gizi bertujuan meningkatkan mutu konsumsi pangan sehingga berdampak pada keadaan atau status gizi masyarakat. utamanya pada kelompok penduduk tertentu seperti anak-anak dan wanita. Kecenderungan berat badan lebih berkaitan dengan gaya hidup mencakup pola makan dan kebiasaan berolahraga.Status Gizi Berbagai Upaya dilakukan untuk mengatasi masalah gizi antara lain Program Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK). Dari hasil Susenas 1992 .55%).

Tahun 2003 s.75 11.84 81. pendidikan gizi ibu di posyandu.46 12.94 1. Hal ini menggambarkan bahwa untuk mencegah terjadinya kembali prevalensi xerophthalmia yang tinggi. disamping itu pula kepada ibu 150 . program penanggulangan kurang vitamin A perlu diteruskan dengan dukungan konsumsi makanan sumber vitamin A bagi anak balita.d 2006 25 20 18.42 20.03 85.79 2001 1.000 IU) setiap 6 bulan sekali.41 2005 1.88 0.52 1. fortifikasi bahan makanan yang banyak dikonsumsi anak balita dengan vitamin A (1.83 85. 2008 Tahun Gambar 4.59 84.09 2007 2.96 2000 4. Persentase Desa/Kelurahan dengan Garam Beriodium yang Baik Di Provinsi Jawa Barat.32 2004 2.Tabel 4.06 11.62 86.23 11.98 23. Penanggulangan defisiensi vitamin A pada anak balita dapat dilakukan dengan cara pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi (200. Pemberian satu kapsul vitamin A pada ibu sehabis melahirkan bertujuan untuk meningkatkan kadar vitamin A dalam ASI bagi ibu dalam 1-2 minggu.91 85.95 20.13.7 1.26 4.15 1.01 2006 1.800 IU).27 11.36 11.42 15 10 5 0 2003 2004 2005 2006 Sumber: Profil Kesehatan Kabupaten/Kota tahun 2006 Hasil analisis vitamin A dalam serum mengungkapkan bahwa 50% status vitamin A anak balita masih rendah atau marjinal.45 17.33 54.22.41 1. Status Gizi Balita Tahun 1999-2001 dan 2004-2007 Status Gizi Balita ( % ) Lebih Baik Kurang Buruk 1999 23.13 Sumber: Disnaker Propinsi Jawa Barat.

8 36.1 42. Gangguan Akibat Kurang Yodium Tujuan utama program penanggulangan GAKY adalah untuk menurunkan angka gondok total (Total Goitre Rate/TGR) dan angka gondok nyata (Visible Goiter Rate/VGR) serta mencegah munculnya kasus kretin pada bayi baru lahir di daerah endemik sedang dan berat.8 54. C rt a K ot ireb a on C ir In ebo dr am n ay C u im ah K De i ab p . menunjukkan 7 % (1.4 51.1 52.2 38. Ta B r K ab sik og . Hasil pemeriksaan TGR pada anak sekolah pada tahun 2004.5 44 45. tahun 2003 K un P ing ur a K wa n ab ka .6 44.7 51.5 57.5 41. Hasil beberapa penelitian yang dilakukan di Jawa Barat menunjukkan adanya kecenderungan bahwa semakin lama usia kehamilan jumlah bumil yang menderita anemia berat semakin tinggi.13.4 51.menyusui dapat diberikan pendidikan gizi di posyandu tentang pentingnya mengkonsumsi makanan sumber vitamin A. Hasil penelitian pada tahun 2003 mengenai masalah Ibu hamil kurang energi kronis dan anemia gizi besi di 24 Kabupaten/ Kota di Provinsi Jawa Barat tercantum pada grafik berikut ini.5 41. S bu uk mi ab M um a K jale i ab ng . meskipun persentasenya baru berkisar pada angka 20 %.5 48.4 56. Persentase desa/kelurahan dengan garam beriodium baik dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan.9 42. T m or as ala ik y m a al ay a S u S ba um n ed g an C g ia nj C ur J a ia m w a is B ar at 151 .7 52.B an ka K ot d a B ung an du ng K Ga ot a rut B K K og ot o a ab.7 77. B ok K ek ot a asi B ek K Ka as ot ra i a S wa K u ab ka ng . Prevalensi Anemia Gizi Ibu Hamil di Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 76 65.218 orang) menderita penyakit gondok.3 77 Sumber : P3Gizi dan Makanan Depkes dan DinKes Jabar.7 43. Gambar 4.4 52 47. Anemia Gizi Anemia gizi masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia.

Demikian juga masalah anemia gizi besi pada anak sekolah. disebabkan oleh infeksi cacing atau pola konsumsi makanan yang kurang.Berdasarkan data mengenai prevalensi anemia pada ibu hamil di provinsi Jawa Barat tahun 2003. Namun demikian perhatian terhadap pelayanan kesehatan bagi masyarakat. demikian juga penanganan kasus-kasus gizi buruk pada balita. Hal ini ditandai dengan kembali bergairahnya pelaksanaan program-program Desa/Kelurahan Siaga hingga Kabupaten/Kota Siaga. fokus upaya kesehatan mulai bergeser dari kegiatan-kegiatan kuratif ke kegiatan-kegiatan preventif dan promotif. Namun memasuki tahun 2007. kasus tinggi > 55 % terdapat di daerah pesisir Kabupaten Karawang. sehingga masalah anemia gizi besi pada Nakerwan menjadi penting menyangkut produktivitasnya sebagai pekerja wanita dan calon ibu. utamanya didalam rangka penurunan angka kematian ibu dan kematian bayi. Gerakan Sayang Ibu. khususnya masyarakat miskin tetap mendapat perhatian yang seksama.6 % . malaria. dan berbagai program pembudayaan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kabupaten Cianjur dan Wilayah timur Jawa Barat yaitu Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Ciamis. Kabupaten.37. Penempatan dokter-dokter residen (yang sedang menyelesaikan pendidikan spesialis) dilaksanakan di wilayah Jawa Barat Selatan untuk mengembangkan pelayanan kegawatdaruratan kebidanan pada PuskesmasPuskesmas. Dari bidang kesehatan. yakni melalui penyuksesan pemberian jaminan asuransi kesehatan bagi masyarakat miskin (Askeskin) dan juga pengalokasian dana tambahan dari APBD Provinsi untuk program Askeskin. Adanya peningkatan jumlah pekerja wanita yang bekerja di sektor formal maupun informal di Jawa Barat. 152 . seiring dengan telah tertanggulanginya berbagai wabah penyakit menular tersebut. Tingginya prevalensi anemia pada ibu hamil maupun remaja putri perlu mendapat perhatian khusus. polio. hingga wabah flu burung. Sampai saat ini prevalensi anemia pada pekerja wanita adalah 35. upaya dan energi pemerintah daerah dalam kurun waktu tahun 2003 hingga tahun 2006 banyak tersita untuk penanggulangan wabah-wabah penyakit menular. mulai dari demam berdarah. Indramayu.6 %.

fakir miskin. gelandangan atau pengemis.10. dengan jumlah terbanyak 443 orang di Kabupaten Ciamis dan 102 orang di Kabupaten Tasikmalaya. Demikian pula halnya dengan intensitas tanam padi pada daerah irigasi yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Barat dirasakan masih belum optimal. anak nakal.330 2. anak jalan dan lain-lain.169 1. Masalah lainnya adalah anak terlantar.IV.345 1.227 1.073 2. penyandang cacat.394 68. wanita rawan sosial ekonomi.581 3.23. korban penyalahgunaan narkotik (Narkoba). Bencana banjir dan kekeringan juga masih terus terjadi antara lain akibat menurunnya kapasitas infrastruktur sumber daya air dan daya dukung lingkungan serta tersumbatnya muara sungai karena sedimentasi yang tinggi. Pada tahun 2006.345 Tidak ada data Sumber: Dinas Sosial Propinsi Jawa Barat. tuna susila. Selain itu kondisi jaringan irigasi juga belum memadai. Jumlah Kerugian Akibat Bencana Alam Menurut Jenis di Jawa Barat Korban Jiwa Meninggal 8 . 2007 153 . Peningkatan Perlindungan Dan Kesejahteraan Sosial Permasalahan sosial termasuk terjadinya bencana alam.428 612 3. orang jompo. Jumlah korban jiwa yang meninggal akibat bencana sebanyak 612 orang.777 Ringan Kerusakan Rumah Berat Hancur Terancam Terendam Tahun 2005 2006 2. walaupun dari tahun 2003 s/d 2007 jaringan irigasi dalam kondisi rusak berat dan ringan telah berkurang dari sekitar 74 % menjadi 46 %. walaupun dalam kurun waktu tersebut telah meningkat dari 182 % menjadi 190 %. Tabel 4. terjadi bencana Tsunami yang melanda pantai selatan Jawa Barat.

234 66.679 34.239 84.448 6.419 6.598 3. Sedangkan jumlah panti asuhan yang dikelola oleh pemerntah tidak mengalami perubahan berdasarkan data tahun 2004 – 2006. 2007 2006 1.161 54.389 125.246 5.655 2. dan tahun 2006 didapatkan 629 panti.371 42. Tabel 4.046 26.659 Tahun Anak.851 58. tahun 2005 didapatkan 574 panti.143 5.101 44.456 280.721 3.679 34.321 1.426 5.825 6.824 128.335 19. berdasarkan data dari Dinas Sosial didapatkan pada tahun 2004 didapatkan 464 panti.356 Sumber: Dinas Sosial Propinsi Jawa Barat.886.428 Jumlah fasilitas panti asuhan yang dikelola oleh swasta mengalami peningkatan jumlah.819 236.Wanita dan Lansia Korban Tindak Kekerasan Penyandang Cacat Bekas Penderita Penyakit Kronis Bekas Narapidana Wanita Rawan Sosial Ekonomi 2005 2006 5.090.103 105.24.442 2006 196.151 280. yaitu sejumlah 6 panti. Jumlah Panti Wreda Berdasarkan Data Dinas Sosial 2004 2005 Pemerintah 605 605 Swasta 22. Jumlah Permasalahan Sosial Menurut Jenis di Jawa Barat Tahun Anak Terlantar Lansia/ Jompo Anak Nakal Korban Narlotika Penyand ang cacat Gelandangan /pengemis Tuna Susila Fakir miskin/ Keluarga Miskin 877.094 67.223 5.389 125.Tabel 4.456 197.25.692 25.811 Sumber: Dinas Sosial Propinsi Jawa Barat.120.321 1.890 2003 2004 2005 2006 78.232 Sumber: Dinas Sosial Propinsi Jawa Barat.092 13.223 5.129 1. Jumlah panti wreda yang dikelola oleh swasta dan pemerintah mengalami peningkatan jumlah dari tahun ke tahun. 2007 4.414 Sumber: Dinas Sosial Propinsi Jawa Barat.525 171.584 Anak Jalanan 8.419 6.346 18.234 66.472 154 .180 Tahun Masyarakat Tinggal Di Daerah Rawan Bencana 2005 124.523 4. 2007 Keluarga Berumah Tidak Layak Huni Anak Balita Terlantar 29. 2007 8.598 5.

Jumlah kabupaten/kota di Jawa Barat yang semula sebanyak 25 kabupaten/kota bertambah menjadi 26 kabupaten/kota.807 orang dan penduduk perempuan tahun 2006 sebesar 20.563. terdapat 102 orang laki-laki dan sex ratio pada tahun 2007 sebesar 101.922 orang. Jumlah penduduk Jawa Barat tahun 2006 sebesar 40. Sumber daya manusia yang berkualitas menjadi modal yang kuat bagi terlaksananya program pembangunan. serta jumlah pekerja sosial masyarakat.729 orang.286 orang dan tahun 2007 sebesar 20. tercatat bahwa jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) menunjukkan peningkatan. Tetapi.919.594 orang dan tahun 2007 sebesar 41. pemekaran wilayah di Kabupaten Bandung menjadi Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat telah diakomodir.308 orang dan tahun 2007 sebesar 20.158. Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga Kependudukan Pada hakekatnya pembangunan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk sehingga penduduk dapat menikmati hidup layak sehingga mampu memenuhi kebutuhannya seiring dengan tuntutan perkembangan jaman. di sisi lain peran masyarakat dalam upaya peningkatan kesejahteraan sosial dirasakan meningkat.579.017 lakilaki.02. Sex Ratio tahun 2006 menunjukkan angka 1. Perubahan komposisi penduduk berdasarkan Kelompok Usia dimana terdapat peningkatan kelompok usia muda menjadi kelompok usia produktif.000 perempuan berbanding dengan 1. Pada periode tahun 2004 – 2006. Berdasarkan Suseda.7 yang berarti setiap 1. Penduduk laki-laki tahun 2006 sebesar 20.737. artinya bahwa setiap 100 orang perempuan. IV. Data tentang kependudukan menjadi hal yang krusial mengingat target pembangunan itu sendiri adalah penduduk. 155 .483.Berbagai program pembangunan bertujuan untuk menjamin standar hidup yang memadai bagi semua anggota masyarakat. Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. terlihat dari meningkatnya jumlah panti sosial yang diselenggarakan oleh swasta.11.

Muda (0 – 14 tahun) 2. Tabel 4.24 100 2004 30.06 4.41 100 2006 29.62 65.26 100 2002 30.73 4.81 4.35 100 2005 29.23 100 2003 28. Jumlah Penduduk Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2000 – 2006 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat.35 65.83 4. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur di Provinsi Jawa Barat Tahun 2000 – 2006 Kelompok Umur 1.14.76 65.70 67.59 4.57 100 Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat 156 . Tua (> 65 tahun) Jumlah 2000 30.39 4.Gambar 4.71 64.21 65.06 65.56 4.26.56 100 2001 30. Produktif (15 – 64 tahun) 3.

LPP periode 2006-2007 sebesar 1.09 persen dan di periode tahun 2005-2006 LPP-nya mengalami penurunan menjadi 1. Kondisi tersebut menunjukkan upaya pengendalian penduduk di Provinsi Jawa Barat relatif cukup baik. 157 .61 terus menurun menjadi 2.64 persen pada periode berikutnya (tahun 2003-2004).Gambar 4.146 orang perkilometer perseginya. LPP Provinsi Jawa Barat mencapai 2. Angka Kelahiran Kasar (CBR) dan Angka Kesuburan Total (TFR) Selama periode 2000 – 2006.130 orang perkilometer persegi di tahun 2005 serta pada tahun 2006 meningkat lagi menjadi 1.84 persen.39 di tahun 2006.25 persen meningkat menjadi hanya 2. Demikian juga Angka Kelahiran Kasar yang terus menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun.15. tren Fertilitas di Jawa Barat terus mengalami penurunan. tetapi terus mengalami penurunan pada periode tahun 2004-2005 menjadi hanya sekitar 2.94 persen. laju pertumbuhan penduduk (LPP) di Provinsi Jawa Barat dari tahun ke tahun relatif terus menurun. Kepadatan penduduk di Provinsi Jawa Barat menunjukkan perubahan dari tahun ke tahun. menjadi 972 orang per kilometer persegi pada tahun 2000 dan 1085 orang per kilometer persegi pada tahun 2003 menjadi 1. Laju Pertumbuhan Penduduk Di Provinsi Jawa Barat Selama Kurun Waktu 2002-2007 Menurut data Suseda. terjadi peningkatan yaitu 798 orang per kilometer persegi pada tahun 1980. Pada periode 2002-2003. Rata-rata jumlah anak yang dilahirkan setiap perempuan (Total Fertility Rate) di tahun 2000 masih menunjukan angka 2.

41 24.98 21.83 2.37 29.51 25.98 21.28.Tabel 4. 16 Tahun 13.26 3.20 2003 2.67 5.50 16.02 16. Angka Kelahiran Kasar (CBR) dan Angka Kesuburan Total (TFR) di Provinsi Jawa Barat.31 12.53 2006 2. Tahun 2000 – 2006 Total Fertility Rate = TFR = Angka Kesuburan Total 2000 2.61 5. Makin muda usia perempuan pada perkawinan pertama maka kecenderungan untuk memiliki anak lebih banyak semakin tinggi. < 15 tahun 18.41 5.28 4.61 2001 2. secara mental perempuan muda yang cepat menikah umumnya sangat rentan perceraian karena emosi yang belum stabil dan belum siap untuk menjalankan rumah tangga serta belum siap menerima pengetahuan tentang kehamilan dan persalinan.84 12. Tabel 4.84 12. 17 . 19 – 24 tahun 33. > 25 tahun 5.34 28.57 12.37 29.50 16.70 29. Penduduk Wanita berusia 10 tahun ke atas yang pernah menikah Menurut usia perkawinan pertama di Provinsi Jawa Barat Tahun 2002 – 2006 Usia Perkawinan 2002 2003 2004 2005 2006 Pertama 1. semakin besar risiko yang dihadapi bagi keselamatan kesehatan ibu maupun bayi.33 25.18 tahun 29.27.67 5. karena pangjangnya masa reproduksi berkaitan dengan umur pertama kali perempuan melakukan pernikahan.71 6. Semakin muda usia perkawinan pertama.39 Sumber : Suseda tahun 2002 – 2006 Tahun Crude Birth Rate = CBR = Angka Kelahiran Kasar 23.54 2005 2.01 Perkawinan Umur perkawinan pertama mempunyai pengaruh yang besar terhadap tinggi rendahnya tingkat fertilitas.82 2004 2.62 36.36 35.62 35.28 18.11 34.51 2002 2.90 28.21 Jumlah 100 100 100 100 100 Sumber : Suseda tahun 2002 – 2006 158 .

Pada tahun 2005 alat kontrasepsi yang paling banyak diminati oleh akseptor baru adalah suntik sebanyak 464. Pil 309. Pada tahun 2006 alat yang paling diminati adalah pil sebanyak 564. Cakupan Peserta KB Baru di Provinsi Jawa Barat Tahun 2001s/d 2006 Keluarga Berencana Keberhasilan program Keluarga Berencana dapat diketahui dari beberapa indikator ditunjukan melalui pencapaian cakupan KB Aktif dan peserta KB Baru terhadap pasangan usia subur(PUS) dan persentase peserta KB Aktif Metode Kontrasepsi Efetif Terpilih (MKET). di mana berdasarkan hasil pendataan keluarga yang dilaksanakan oleh BKKBN Provinsi Jawa Barat.005 orang dan IUD sebanyak 105. Pil 238 095 orang dan IUD sebanyak 79 704 akseptor. Pencapaian KB Baru pada tahun 2006 sebesar 12.941 akseptor. dibandingkan dengan tahun sebelumnya.16.Gambar 4. Sedangkan petugas jasa konsultasi maupun jasa pelayanan KB adalah Bidan sebesar 5. cakupan ini mengalami kenaikan (10.72%. 159 .159 akseptor.883 buah dan tahun 2006 berjumlah 7 439 buah.433 orang pada tahun 2005 dan 5. Jumlah sarana pelayanan KB yang dimanfaatkan oleh akseptor KB baru di Provinsi Jawa Barat terbanyak adalah Pos KB desa yang pada tahun 2005 berjumlah 8.513 akseptor.547 orang pada tahun 2006.66%). tahun 2005 Program KB dipengaruhi juga oleh kondisi perekonomian.

4 juta keluarga yang berada dalam tahapan Keluarga Pra Sejahtera.38%.17 Tahapan Keluarga Sejahtera di Propinsi Jawa Barat 2005-2006 Sumber : Dinas Sosial Propinsi Jawa Barat 2007 160 .48% dari total 10. menunjukkan peningkatan dibandingkan proporsi pada tahun 2005 sebesar 13.pada tahun 2006 masih terdapat 17. Gambar 4.

Perkembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) Jawa Barat menunjukkan perkembangan yang semakin membaik. Peluang. Perhatian terhadap olahraga telah dilakukan melalui pembinaan terhadap atlet-atlet pelajar di PPLP Jawa Barat. Kekuatan. Beberapa hal yang telah dicapai pada olahraga prestasi dalam kurun waktu 2003-2007 antara lain menduduki urutan ke 3 (tiga) pada Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2004 di Palembang. IPM dihitung berdasarkan tiga indikator yaitu Indeks Pendidikan. Selain itu pemberian penghargaan senantiasa diberikan kepada atlet-atlet yang berprestasi nasional maupun internasional.Pemuda dan Olah Raga Dari aspek pemberdayaan perempuan serta pembinaan pemuda dan olahraga. menduduki urutan ke 2 (dua) Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) di Medan. untuk mendongkrak prestasi jabar yang ditargetkan merebut posisi dua besar PON. Pada Tahun 2007. Khusus menghadapi PON 2008 bersama dengan KONI Jawa Barat digelar program “Jabar 100”. dan Isu Strategis Pembangunan kualitas hidup penduduk Jawa Barat tetap menjadi prioritas pembangunan daerah. Hal tersebut antara lain ditunjukkan dengan pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). menjadi juara umum pada kejurnas beberapa cabang olahraga sebagai kualifikasi PON ke di Kalimantan Timur. ditandai dengan mulai dilaksanakannya pembangunan Bandung West Java Stadium di Gedebage Kota Bandung serta sarana prasarana olahraga di kecamatan terpilih mulai tahun 2008. upaya pembinaan generasi muda dilakukan melalui revitalisasi dan penguatan kelembagaan kepemudaan. juga melalui pengiriman atlet pelajar pada POPWIL dan POPDA. Tantangan. Selain itu dilakukan pembinaan dan pemberian penghargaan kepada para pemuda pelopor berprestasi. Upaya pengembangan olahraga di daerah dilakukan melalui pengembangan olahraga masyarakat. IPM Jawa Barat mencapai angka 70. dan Indeks Daya Beli.76 161 . Selain itu Jawa Barat juga menjadi juara umum berturut-turut pada Pekan Olahraga dan Seni Antar Pondok Pesantren (POSPENAS) tahun 2003 dan 2005. Kelemahan. Indeks Kesehatan.

IPM Jawa Barat meningkat sebesar 2. meningkat sebesar 0. Kekuatan Dengan jumlah penduduk yang banyak sehingga dapat berpotensi untuk memberikan kontribusi positif a) Kebijakan wajar dikdas 9 tahun dapat meningkatkan rata-rata lama sekolah b) Kebijakan pembangunan kesehatan yang diarahkan pada peningkatan kesehatan seluruh lapisan masyarakat sehingga dihasilkan masyarakat yang berkualitas c) Keterwakilnya perempuan dalam kegiatan politik makin meningkat d) Meningkatnya program-program dalam pembinaan olahraga e) Memiliki perda tentang pencegahan dan penanganan perdagangan orang.89 dari angka 67.87 pada tahun 2003 menjadi 70.(angka sangat sementara).76 pada tahun 2007. c) Rata-rata tingkat pendidikan masyarakat Jawa Barat masih rendah.05.71 poin dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 70. terutama perempuan d) Tingginya kesenjangan status kesehatan (angka-angka yang menjadi indikator dalam menilai derajat kesehatan) e) Masih terdapatnya permasalahan dalam kesetaraan dan keadilan jender dalam pelaksanaan pembangunan f) Masih tingginya tingkat Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) g) Tingginya AKI dan AKB h) Tingginya morbiditas penyakit menular dan tidak menular i) Terdapat wilayah yang rawan bencana 162 . Dalam rentang 2003–2007. termasuk di dalamnya perlindungan terhadap anak-anak f) Ketersediaan sarana dan prasarana di bidang kesehatan dan kesejahteraan sosial yang semakin meningkat dan dapat dijadikan sebagai modal dasar dalam pembangunan Kelemahan a) Upaya peningkatan kualitas dan produktivitas SDM Jawa Barat belum optimal b) Kurang kesadaran masyarakat dalam menjalankan kehidupan berbudaya.

d) Masyarakat dengan tingkat kesejahteraan sosial rendah pada wilayah urban akan menimbulkan permukiman yang kumuh serta kerawanan sosial dan kriminalitas. HIV-AIDS. perdagangan perempuan.Peluang a) Otonomi pendidikan formal berbasis kompetensi dengan memperhatikan keseimbangan kurikulum nasional dengan muatan lokal guna mengembangkan potensi daerah b) Otonomi peningkatan pelayanan kesehatan c) Kesadaran terhadap kesetaraan gender yang semakin luas akan mendorong potensi dan semangat kaum perempuan untuk lebih berperan dalam peningkatan kehidupan. Tantangan a) Semakin derasnya arus informasi dan akulturasi budaya asing melalui media massa b) Tingginya penyakit menular (TBC. c) Perubahan lingkungan yang merugikan kesehatan masyarakat sebagai dampak perubahan iklim global. Pemerintah Provinsi diberi membuat arahan peraturan. e) Exploitasi terhadap potensi dan peranan perempuan Indonesia untuk tujuan dan kepentingan illegal dan komersial (pornografi. DBD. akan memperberat upaya peningkatan status kesehatan dan gizi masyarakat. pornoaksi. Diare. pelecehan seksual) f) Masalah kemiskinan dan keterbelakangan yang mempengaruhi pendidikan masyarakat g) Meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan meningkatnya jumlah wewenang untuk penduduk usia produktif yang mencari pekerjaan h) Penyebaran penduduk yang tidak merata di seluruh wilayah Jawa Barat 163 . penyakit jiwa dan pembuluh darah. AI) dan penyakit-penyakit tidak menular seperti jantung.

i) Pengembangan sarana dan prasarana sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta diharapkan pengembangan dapat merata di seluruh wilayah Jawa Barat j) Untuk mengurangi bencana alam diharapkan masyarakat dapat berperilaku ramah terhadap lingkungan

IV. 12. Kehidupan Beragama Kualitas kehidupan beragama di Jawa Barat telah mengarah pada kesadaran masyarakat untuk melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat, serta kesadaran dan toleransi antar umat beragama. Kondisi tersebut menciptakan hubungan yang harmonis dan kondusif baik antara sesama pemeluk agama maupun antar umat beragama. Hal-hal tersebut dapat menunjang kesalehan sosial di masyarakat. Namun dalam proses mewujudkan kesalehan sosial di masyarakat, masih terdapat ajaran-ajaran sesat yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah agama dan mengganggu kehidupan beragama dan bermasyarakat. Bidang agama merupakan bidang yang menjadi urusan wajib pemerintah pusat, karenanya tidak akan dibahas terlalu banyak dalam kajian, ini. Namun secara jelas terlihat bahwa apa yang diinginkan oleh RPJMN 2004-2009 untuk agenda pembangunan kehidupan beragama ini diterjemahkan juga dalam perencanaan propinsi RPJPD, RPJMD hingga ke program dan kegiatan.

IV.13. Perbaikan Pengelolaan SDA dan Pelestarian Mutu Lingkungan Hidup

Penyusunan strategi lingkungan hidup Propinsi Jawa Barat merupakan upaya untuk menunjang perbaikan dan peningkatan kualitas lingkungan hidup melalui peningkatan kemampuan daerah dalam mengendalikan kerusakan dan gangguan lingkungan hidup yang telah terjadi, beberapa strategi tersebuta diantaranya adalah penyiapan instrumen kebijakan, serta strategi dan upaya-upaya yang tertuang dalam program pembangunan yang dilaksanakan oleh masingmasing daerah dalam mengatasi masalah lingkungannya.

164

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 menekankan kepada perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup yang diarahkan untuk dapat memperbaiki sistem pengelolaan sumber daya alam agar memiliki kemampuan memberikan manfaat ekonomi, termasuk jasa lingkungannya, dalam jangka panjang dengan tetap menjamin kelestariannya. Sasaran yang ingin dicapai dari RPJM Tahun 2004-2009 dalam bidang pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup itu sendiri adalah membaiknya fungsi lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam yang mengarah pada pengarusutamaan prinsip pembangunan berkelanjutan di seluruh sektor pembangunan. Penjabaran RPJMN tahun 2006, 2007 dan 2008 dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) pada masingmasing tahun yang antara lain memuat prioritas pembangunan, rancangan serta program pembangunan dalam bentuk kerangka regulasi dan pendanaan serta instrumen kebijakan. Salah satu kerangka RKP Provinsi Jawa Barat adalah mengaktualisasikan strategi untuk mewujudkan struktural dan pola pemanfaatan ruang yang ditetapkan dan disesuaikan dengan visi dan misi Provinsi Jawa Barat. Kondisi struktur ruang diuraikan dalam kondisi sistem kota-kota, infrastruktur wilayah, dan kawasan andalan. Sementara kondisi pola ruang diuraikan dalam kondisi kawasan budidaya sawah dan kawasan lindung. Seperti tertuang dalam RPJMN Daerah Jawa Barat 2008-2013, strategi tersebut adalah rencana struktur ruang wilayah Jawa Barat ditetapkan kedalam 3 (tiga) Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan 7 (tujuh) Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). PKN tersebut meliputi: Metropolitan Bogor-Depok-Bekasi (Bodebek), Metropolitan Bandung, dan Metropolitan Cirebon. Sedangkan PKW meliputi Sukabumi, Cikampek-Cikopo, Pelabuhanratu, Indramayu, Kadipaten, Tasikmalaya, dan Pangandaran.

Keterkaitan antar PKN, antar PKW, dan antara PKN-PKW diwujudkan melalui pengembangan infrastruktur wilayah. Seluruh rencana dari implementasi pengembangan PKN yang ditetapkan tersebut dituangkan dalam RTRW Provinsi Jawa Barat 2010, yang masih belum memperlihatkan kondisi fungsi dan peran secara optimal. Hal tersebut dilihat dari skala kegiatan ekonomi, pelayanan infrastruktur, serta daya dukung dan daya

165

tampung ruangnya. Secara umum hampir seluruh sistem kota mengalami masalah dalam penyediaan sistem sarana prasarana, meskipun PKN Bodebek memiliki keberadaan prasarana dan sarana yang lebih optimal dibandingkan PKN Metropolitan Bandung dan PKN Cirebon. Pusat Kegiatan Nasional (PKN) Metropolitan Bodebek dan Metropolitan Bandung memiliki keterkaitan yang tinggi, dan dianggap sebagai salah satu penyebab terjadinya kesenjangan antar wilayah, terutama antara wilayah Jawa Barat bagian utara dengan bagian selatan serta antara bagian barat, tengah dan timur. Seperti juga kondisi PKN, Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) secara umum masih memerlukan perbaikan dan dukungan dalam peningkatan kinerja, diantaranya kawasan andalan yang ditetapkan (Bodebek dan Bopunjur, Cekungan Bandung, Priatim-Pangandaran, Ciayumajakuning, Purwasuka, dan Sukabumi) memperlihatkan kondisi perkembangan yang lebih tinggi, dibandingkan dengan PKW lainnya karena didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana wilayah kawasan yang mendukung perkembangan sektor unggulan di kawasan tersebut. Pada aspek lingkungan, pencapaian kebijakan tata ruang dapat dilihat dari rencanan kawasan lindung (KL) yang ingin dicapai sebesar 45% pada tahun 2010, dan berdasarkan kesesuaian tutupan lahan 2005 dengan kawasan lindung yang ditetapkan RTRW Provinsi Jawa Barat, pencapaian kawasan lindung hingga tahun 2007/2008 yang dapat dicapai serta sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan adalah sebesar 27,5% (KL dalam kawasan hutan 11,3 % dan KL diluar kawasan hutan 16,2 %), sedangkan yang kurang sesuai sebesar 14,8% dan yang tidak sesuai sebesar 6,6%. Permasalahan yang teridentifikasi dari penyelesaian tata ruang kawasan lindung tersebut adalah terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang berupa alih fungsi lahan produktif yang dipengaruhi oleh kegiatan ekonomi, perkembangan penduduk maupun kondisi sosial budaya. Pada umumnya alih fungsi lahan yang terjadi karena mengabaikan rencana tata ruang yang telah direncanakan sebelumnya. Perbaikan dari kondisi pengalihfungsian lahan tersebut terlihat dari data alih fungsi lahan kawasan lindung menjadi kawasan budidaya (lahan terbangun) pada kurun waktu 1994-2005 sebesar 242.922,26 Ha (28,48%) dan sawah sebesar 253.281,71 Ha (27,13%). Upaya pengelolaan lingkungan

ditinjau dari kebijakan adalah telah ditetapkannya regulasi dalam bidang penataan

166

ruang, yaitu UU Nomor 26 Tahun 2007 yang dapat dipergunakan sebagai acuan yang lebih tegas dengan penerapan sanksi pidana maupun perdata bagi pelaku penyimpangan tata ruang. Undang-undang tersebut memberi peluang Pemerintah Provinsi antara lain memiliki kewenangan dalam pengaturan, pembinaan, pengawasan dan pelaksanaan penataan ruang serta pengembangan kawasan strategis provinsi sesuai dengan kewenangan di tingkat provinsi. Upaya pengelolaan lingkungan di wilayah Provinsi Jawa Barat dari aspek sumber energi adalah terlihat dari pengembangan potensi berbagai jenis sumberdaya alam yang terbaharukan. Potensi sumberdaya terbaharukan yang dikembangkan diantaranya adalah potensi panas bumi sekitar 6.101 MW atau (21,7%) dari total potensi panas bumi Indonesia. Sampai dengan tahun 2007, sekitar 92,81% energi nasional yang dihasilkan dari panas bumi dipasok oleh pembangkit panas bumi yang berada di Jawa Barat. Sementara untuk pasokan energi nasional yang berusumber dari PLTA, Jawa Barat memberikan kontribusi sebesar 46,21%. Perbaikan pengelolaan sumber-sumber potensi penyebab bencana alam di Jawa Barat dilakukan dengan mengidentifikasi kawasan-kawasan sumber penyebab bencana, diantaranya 7 (tujuh) gunung api aktif, 5 (lima) sesar aktif serta aktivitas lempeng tektonik di selatan Jawa Barat. Sumber penyebab bencana gerakan tanah antara lain di wilayah jawa Barat bagian selatan, serta banjir di wilayah pantai utara, Cekungan Bandung, Bogor, serta depok. Sekaligus untuk mewujudkan fungsi 45% Kawasan Lindung Jawa Barat dalam kurun waktu lima tahun terakhir dilaksanakan melalui kegiatan rehabiliasi lahan kritis serta penandaan batas kawasan lindung. Rehabilitasi lahan kritis antara lain dilakukan melalui GRLK (Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis). Sisa lahan kritis sampai tahun 2007 mencapai 202.130,05 ha. Sementara untuk kegiatan penandaan batas telah dilaksanakan sepanjang 1.040 m selama tiga tahun dan dapat diselesaikan tahun 2007. Perwujudan 45% kawasan lindung tersebut melibatkan insitusi di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota serta partisipasi dunia usaha dan masyarakat. Dalam pelaksanaanya, pencapaian kawasan lindung 45% dihadapkan pada permasalahan semakin meningkatnya tekanan sosial-ekonomi terhadap sumber hutan, serta sinergitas lintas instansi.

167

Dalam jangka panjang. perkembangan ekonomi wilayah perlu diarahkan pada aktivitas ekonomi yang berkarakter hemat konsumsi air tanah untuk menekan laju pemanfaatan air tanah.Sampai dengan tahun 2007 berbagai upaya perbaikan pengelolaan sumber daya alam. meskipun upaya-upaya pengendalian tingkat pencemaran air yang telah dilakukan terhadap kualitas air sungai di 7 sungai utama. Peningkatan perbaikan pengelolaan dari aspek kualitas udara dari aktivitas konsumsi bahan bakar yang cukup tinggi di daerah perkotaan yang telah mengakibatkan polusi udara yang cukup memprihatinkan. serta mendorong partisipasi sector industri di dalam mengembangkan sumur resapan dalam di kawasan tapak industri. serta penegakkan hukum lingkungan. Kontribusi gas buang kendaraan bermotor terhadap polusi udara telah mencapai 60-70%. Dari aspek penegakkan hukum lingkungan telah dilakukan penanganan terhadap industri pencemar. Penguatan kapasitas kelembagaan melalui program tersebut telah dapat membangun komitmen industri di dalam mewujudkan pemulihan kualitas air sungai. Langkah-langkah konservasi dan pengendalian pemanfaatan air bawah tanah telah dilakukan dalam lima tahun terakhir yaitu meliputi pemantauan kondisi air tanah. khususnya sumber daya air telah dilakukan melalui mengendalian tingkat pencemaran air sungai di Jawa Barat. masih belum dapat memberikan efek signifikan terhadap pergeseran status mutu air ke tingkat yang lebih baik. serta pembuatan percontohan sumur resapan dalam di kawasan tapak industri. pengendalian pemanfaatan pengambilan air tanah melalui perijinan dan mekanisme disinsentif. Upaya perbaikan pengelolaan masa datang adalah dengan memulihkan kondisi air tanah di cekungan kritis dengan penguatan dan peningkatan efektivitas dari pola langkah-langkah sebagaimana telah ditempuh. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa pada saat ini semakin banyak industri yang mulai menggunakan batu bara sebagai sumber 168 . Upaya tersebut antara lain melalui pemantauan kualitas air sungai secara periodik di 7 sungai utama dan penguatan kapasitas kelembagaan melalui program Environmental Pollution Control Management (EPCM). pengawasan dan penertiban pengambilan air tanah secara ilegal. Terkait dengan perbaikan pengelolaan perkembangan kondisi air tanah di Jawa Barat yang semakin menurun dari tahun ke tahun dengan laju penurunan sekitar 2-5 m setiap tahunnya.

Rehabilitasi/reboisasi mangrove terutama ditujukan untuk kawasan-kawasan perlindungan dan budidaya perikanan baik di pesisir utara maupun selatan Jawa Barat. Meskipun upaya diterapkannya kebijakan konversi bahan bakar dari minyak tanah ke gas pada tahun 2007 telah memunculkan berbagai permasalahan di tingkat masyarakat dan dunia usaha. serta pendangkalan muara sungai serta indeks pencemar air laut yang menunjukan kondisi rata-rata tercemar berat. Upaya yang telah dilakukan oleh BPLHD Propinsi Jawa Barat adalah mengantisipasi.energi yang berkontribusi terhadap penurunan kualitas udara. zona konservasi dan zona pemanfaatan intensif Pengendalian pencemaran dan kerusakan wilayah pesisir Jawa Barat. perikanan. perdagangan dan pemukiman di pantai utara serta 169 . Dimana perbaikan ekosistem kawasan pesisir dan laut diarahkan pelaksanaannya secara terpadu dan sinergis yang melibatkan pelbagai kelompok masyarakat pesisir dan pelaku pembangunan lainnya diantaranya: Rehabilitasi/Reboisasi Mangrove. Perkembangan industri. abarasi pantai. mengatasi dan mengendalikan kerusakan pesisir pantai di Jawa Barat melalui beberapa program pengelolaan dan pengendalian kerusakan pesisir dan laut yang telah dilaksanakan sejak tahun 2000 sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Hal ini sesui dengan fungsi dari mangrove itu sendiri. antara lain zona preservasi. Dalam hal ini ditentukan dan ditetapkan zonasi-zonasi tertentu di wilayah pesisir sebagaimana fungsi wilayahnya. mencegah serta mengendalikan potensi pencemaran dan kerusakan wilayah pesisir dan laut. Penyusunan Tata Ruang Wilayah Pesisir secara terpadu. Persoalan lingkungan pesisir yang dihadapi di Jawa Barat adalah belum tertanganinya kerusakan kawasan pesisir berupa kerusakan kawasan seperti ditandai oleh menyusutnya hutan bakau. di Jawa Barat implementasi kebijakan tersebut dihadapkan pada ketidaksiapan adaptasi sistem institusi dan teknologi. Pemilihan jenis-jenis energi alternatif belum dapat dipilih akibat tingkat biaya ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan bakar gas. Program ini bertujuan untuk mengantisipasi. Jenis mangrove yang ditanam disesuaiakan dengan kondisi alam wilayahnya.

di selatan berpotensi menimbulkan Abrasi yang terjadi di wilayah pesisir utara pada umumnya terjadi akibat perubahan peruntukan lahan di kawasan tersebut dimana hanya sedikit kawasan pesisir utara yang stabil yaitu 13 % di daerah Bekasi dan 22 % di daerah Cirebon. Program ini dimaksudkan agar tangkapan dari para nelayan berupa ikan atau biota laut dapat meningkat dan berkesinambungan sehingga taraf hidup dan kesejahteraan nelayan meningkat. permasalahan abrasi lebih disebabkan oleh aktivitas pertambangan sehingga sangat penting untuk diterapkan kegitan pertambangan berwawasan lingkungan. Kegiatan pertambangan yang marak di era otonomi daerah untuk meningkatkan pendapatan daerah telah menyebabkan terjadinya potensi permasalahan lingkungan hidup yang semakin meningkat. Penguatan instrumen penegakan hukum sebagai upaya legal pengelolaan pesisir dan laut 170 . Sedangkan di wilayah pesisir selatan Jawa Barat. Penataan dan pengendalian kegiatan pertambangan di wilayah pesisir. Oleh sebab itu penanganan abrasi di pesisir utara lebih diarahkan kepada pengendalian perubahan fungsi lahan. Pertambangan pasir besi di wilayah pesisir selatan Jawa Barat yang membentang dari Sukabumi hingga Ciamis telah mengakibatkan permasalahan lingkungan sekitarnya seperti rusaknya jalan menuju pantai wisata di Ciamis Selatan. Penataan dan perlindungan daerah tangkapan ikan nelayan lokal. Sedangkan akresi umumnya terjadi di sekitar muara sungai akibat pasokan sedimen dari darat dan diendapkan disepanjang pantai. Beberapa Pengembangan pendidikan lingkungan berbasis masyarakat dan penguatan peran kelembagaan lokal dalam meningkatkan kemampuan partisipasi masyarakat. Untuk itu konsep pengelolaan melalui pendekatan DAS harus ditingkatkan.pertumbuhan wisata dan perikanan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan upaya pengendalian pertambangan di pesisir selatan Jawa Barat sehingga kegiatan pertambangan yang dilaksanakan tetap memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan hidup berkelanjutan.

namun juga pada sejumlah kecil wilayah kabupaten/kota yang dianggap memiliki potensial persoalan yang bila tidak diantisipasi sejak dini dapat menimbulkan dampak serius di kemudian waktu. sehingga akan dapat ditemukan penggunaan data dari dua tahun sebelumnya. Hambatan. Berkenaan dengan kerangka pembangunan berkelanjutan tersebut. Adapun evaluasi kinerja pembangunan lingkungan yang dilakukan difokuskan kepada permasalahan isu-isu lingkungan yang menonjol. Peluang yang strategis dalam mempengaruhi Pembangunan di Daerah Jawa Barat Kerangka pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah kegiatan pembangunan yang bertumpu pada pemanfaatan sumber daya alam tanpa menghilangkan peluang generasi mendatang untuk menikmati berbagai manfaat dari kekayaan alam yang tersedia secara adil. dan pada dokumen evaluasi ini adalah kinerja selama tiga tahun yaitu dari tahun 2006 – 2008. sehingga penanganannya masih berlangsung dan belum dapat diselesaikan. Hal ini didasarkan kepada bahwa dari banyak permasalahan yang teridentifikasi pada evaluasi kinerja sebelumnya. Persoalan lingkungan yang menonjol dibahas dalam laporan ini tidak selalu menggambarkan persoalan yang terjadi di seluruh wilayah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat. Potensi. Kajian dilakukan secara cepat (rapid assessment) di antaranya dengan teknik diskusi kelompok yang melibatkan berbagai sektor pemerintah di tingkat provinsi. 171 . diperlukan waktu yang relatif panjang untuk dapat mengatasinya.Permasalahan. Tantangan. maka evaluasi atas kinerja pembangunan yang terkait dengan permasalahan lingkungan merupakan bagian dari strategi pengelolaan lingkungan sesuai dengan kebijakan nasional dan kepedulian wilayah (provinsi) setempat. Penekanan pada isu-isu lingkungan menonjol yang teridentifikasi pada tiga tahun terakhir. Hal lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah data-data yang dapat mendukung kinerja evaluasi ini seperti dokumen status lingkungan hidup 2008 belum tersedia. baik yang memperlihatkan perbedaan secara berarti atau masih relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Tunutan kondisi lingkungan harus terjaga dan lestari diyakini sebagai bentuk keberlanjutan ekologis dari keberlanjutan pembangunan yang berwawasan lingkungan.

5% (KL dalam kawasan hutan 11. Dalam dekade terakhir.3 % dan KL diluar kawasan hutan 16. perkembangan penduduk maupun kondisi sosial budaya.26 Ha (28. Kerusakan Lahan/Daerah Aliran Sungai (DAS) Permasalahan.Degradasi Sumberdaya Alam dan Inkonsistensi Rencana Tata Ruang Degradasi sumber daya alam yang mencakup air dan lahan.48%) dan sawah sebesar 253. permasalahan berupa pengalihfungsian lahan dari hutan menjadi lahan pertanian dan pertambangan serta pengalihfungsian lahan pertanian menjadi lahan permukiman atau bentuk lahan lainnya serta inkonsistensi penggunaan lahan dan ruang dengan arahan pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) merupakan salah satu sumber dari kerusakan lahan/DAS. Pada kurun waktu tiga tahun terakhir terdapat sekitar 33% luas lahan Jawa Barat tidak digunakan sesuai dengan arahan tata guna tanah dalam Rencana Tata Ruang bahkan sekitar 12. penurunan produktifitas lahan. Alih fungsi yang terjadi umumnya mengabaikan rencana tata ruang yang telah direncanakan sebelumnya. berupa meluasnya tanah kritis dan DAS kritis.922. RTRW tidak mampu mengendalikan perencanaan regional yang menciptakan kesenjangan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.2 %).9% luas lahan diantaranya terjadi pada kawasan lindung.71 Ha (27.281. semakin meluasnya kerusakan hutan (terutama karena perambahan) baik hutan pegunungan maupun hutan pantai (mangrove). namun penyimpangan pemanfaatan ruang diperlihatkan dengan tingginya alih fungsi lahan produktif karena pengaruh kegiatan ekonomi. Alih fungsi lahan kawasan lindung menjadi kawasan budidaya (lahan terbangun) selama kurun waktu 1994-2005 terjadi penurunan luas lahan hutan sebesar 242. dan konservasi lingkungan. hingga tahun 2006/2007. 172 . Pembangunan infrastruktur di Jawa Barat belum bisa mengikuti secara penuh pedoman yang diberikan dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah termasuk transportasi. irigasi.13%). Meskipun Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah berupaya untuk mencapai kawasan lindung sebesar 27.

dan Kabupaten Garut 33. menurut Harian Umum Pikiran Rakyat (22 September 2005).061 ton per tahun beban erosi di wilayah Jawa Barat.Kondisi tersebut berkenaan dengan kaitannya terhadap kerusakan lahan/DAS di Jawa Barat. belum dapat menunjukkan hasilnya. Berkaitan dengan luasan lahan kritis ini. Sedangkan data/informasi dari keberhasilan program UPSA (upaya pengelolaan sumber daya air) yang telah dicanangkan sejak tahun 2001. Sementara itu. hutan sekunder dan semak belukar 17% yang kemudian menyumbangkan sekitar 32.000 ha).000 ha).760 Ha (tahun 2000) diindikasi menjadi penyebab peningkatan volume banjir periodik 25 tahunan dari 330 m3/detik (tahun 1973) menjadi 740 m3/detik (tahun 2000). alih fungsi lahan telah menyebabkan berubahnya fungsi kawasan hutan lindung sekitar 106. DAS Citanduy (64. Citarum. Adapun pencanangan penanaman satu juta pohon oleh Presiden RI pada awal tahun 2008. dari sekitar 40 Daerah Aliran Sungai/DAS di Jawa Barat. Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh West Java Environmental Management Project (2004) melaporkan bahwa hingga tahun 2004. 173 .903 ha (17%) berubah menjadi lahan bukan persawahan (Pola Dasar Pembangunan Jawa Barat 2001-2007).000 ha) dan DAS Ciliwung Hulu (9000 ha). data pemantauan memperlihatkan bahwa luas lahan kritis. Sementara itu.851 ha (24%). Data yang menunjukkan adanya perubahan tidak diperoleh pada tahun 2007/2008. dan Citanduy.945 ha.698 ha. Dampak yang diperkirakan terjadi akibat degradasi lahan/DAS tersebut adalah perubahan tata guna tanah yang cukup besar berupa berkurangnya hutan primer sebanyak 24%. Sedangkan hal lain yang terkait dengan perubahan penggunaan lahan di DAS Ciliwung berupa peningkatan luasan lahan budidaya dari 3. terutama DAS Cimanuk. di Kabupaten Cianjur 44.761 Ha (tahun 1990) menjadi 13. tidak terinformasikan secara lengkap. DAS Cimanuk Hulu (24. Sebagaimana dilaporkan dalam laporan evaluasi tahun 2006. Ciliwung. hutan produksi sekitar 130.589 ha (31 %) dan persawahan sekitar 165.084 ha.931. 20 DAS di antaranya dalam kondisi sangat kritis (50%). di DAS Citarum Hulu (150. mengingat program tersebut belum satu tahun. misalnya di Kabupaten Bandung berjumlah 36. 25 DAS ada dalam kondisi kritis.

hal tersebut dimaksudkan agar dapat mengintegrasikan struktur dan pola pemanfaatan ruang yang menjaga keberadaan kawasan lindung. Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL/GERHAN). maupun fungsi evaluasi provinsi terhadap peraturan daerah kabupaten dan kota tentang rencana tata ruang. Perbaikan pengelolaan yang perlu dilakukan adalah perlu terus dilakukan hal tersebut sesuai dengan RPJMN 2004-2009 untuk mencegah penurunan kondisi DAS yang terus meningkat. maupun 174 . jumlah dan luas serta DAS yang telah mengalami konversi sangat besar dengan tingkat kekritisan yang juga tinggi (super kritis) yaitu 13% (tahun 1995) menjadi 27% (tahun 1997) dan 35% (tahun 2004). Sehingga upaya yang dilakukan selain terintegrasi juga harus mencakup jangka waktu pendek (program jangka pendek) seperti revitalisasi lahan dan penerapan aspek hukum dan jangka panjang seperti upaya rehabilitasi dan konservasi lahan untuk pengembalian kondisi lahan/DAS kepada kondisi yang lebih baik serta program partisipasi masyarakat dalam memelihara dan menjaga hutan. Pemerintah Jawa Barat telah melaksanakan kegiatan terpadu. baik melalui Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK). Tantangan. dan mengoptimalkan fungsi ruang kawasan budidaya. baik melalui Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah Provinsi Jawa Barat. Untuk penanganan lahan kritis. Faktor penyebab dari degradasi lahan/DAS terbesar disebabkan oleh pengalihfungsian lahan. Permasalahan dari degradasi lahan dalam tatanan DAS di Propinsi Jawa Barat dapat dikategorikan sangat rawan. inkonsistensi atau ketidaksesuaian antara penggunaan lahan dan ruang yang ada sesuai arahan pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan bencana alam.Hambatan. Penetapan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung Jawa Barat. Upaya tersebut telah dilakukan melalui kegiatan penyelarasan RTRW kabupaten dan kota dengan RTRW provinsi.

pelaksanaan. pengawasan. misalnya: Perda No 19 tahun 2001 tentang Pengurusan Hutan. 2 tahun 2006 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Beberapa hal di antaranya adalah: 1.000. masih belum optimal. tentang pengaturan rehabilitasi lahan kritis mulai dari perencanaan. Di tahun 2005 dilakukan berbagai penyempurnaan dalam sistem dan regulasi. sebagai dokumen acuan operasional rehabilitasi lahan kritis di Jawa Barat. Selain dari upaya yang telah dilakukan. 1 tahun 2006 tentang Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis. Perda No. 175 . Cianjur) dan Kawasan Bandung Utara. RTRW Kabupaten/Kota mengacu pada RTRW Propinsi. Perda No. pemerintah Jawa Barat dalam 5 tahun terakhir telah membuat kebijakan yang diatur dalam berbagai peraturan daerah. Namun. Sebagai upaya mengatasi permasalahan kerusakan lahan. pengelolaan lingkungan untuk menekan konversi lahan/DAS perlu dilakukan dengan menekankan ketegasan kepada ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Setiap pembangunan atau pengelolaan sumberdaya alam yang dilakukan harus mengacu pada Rencana Umum Tata Ruang Wilayah yang telah ditetapkan. rehabilitasi lahan kritis dan pelibatan masyarakat dalam pengelolaan lahan/DAS. 8 tahun 2005 tentang Sempadan Sumber Air. Potensi dan Peluang. diantaranya telah ditetapkan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Pengendalian dan Rehabilitasi Lahan Kritis. Dan sebagai tindak lanjut dari Perda tersebut. Perda No. Puncak. misalnya pengelolaan Kawasan Bopunjur (Bogor. penyelenggaraan GRLK yang telah dilakukan sejak Tahun 2004. dengan fokus utama pada penanganan lahan kritis dalam kawasan lindung. Pada kasus khusus. penegakan hukum. Misalnya RTRW Propinsi mengacu pada RTRN.kegiatan reboisasi (penanaman dalam kawasan hutan oleh Perum Perhutani). perlu dibuat RTRD (Rencana Tata Ruang Detail) dengan menggunakan peta skala 1: 10. dan peranserta masyarakat. pada tahun 2006 telah disusun Rencana Induk Rehabilitasi Lahan Kritis.

sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Keputusan Gubernur Nomor 33 Tahun 2005 tentang IDSD. Perlu adanya kegiatan konservasi tanah yang dilaksanakan melalui program rehabilitasi lahan kritis. Potensi dan peluang dari pencanangan gerakan rehabilitasi lahan kritis tahun 2003. Potensi dan peluang lainnya yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat adalah pada tahun 2006. 4. Meningkatkan pemantauan/pengawasan terhadap perijinan yang telah diterbitkan serta meningkatkan penertiban perijinan pemanfaatan lahan. Kegiatan ini khususnya diprioritaskan di DAS kritis yang mengacu pada tingkat kekritisan DAS yang ditetapkan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. Perijinan harus dijadikan sebagai mekanisme pengendalian pemanfaatan lahan dan/atau pengelolaan sumberdaya alam. Keberhasilan ini juga mendapat apresiasi dari pemerintah dan secara Nasional Provinsi Jawa Barat mendapat 176 . mulai dari tahap perencanaan. Melalui bantuan tersebut diharapkan mampu mendorong upaya mewujudkan integrasi data dan informasi spasial antar sektor dan antar tingkat pemerintahan. adaptif dan transparan/ akuntabel. 3. pemanfaatan dan pengendalian tata ruang Mensyaratkan rencana tata ruang wilayah dan kawasan sebagai acuan dalam pembahasan program dan proyek sektoral dan daerah Menetapkan proses penyusunan tata ruang yang partisipatif. terutama Pemerintah Kabupaten/Kota. Infrastruktur ini juga telah diterima oleh 8 Kabupaten/Kota. sehingga GRLK merupakan gerakan massal rakyat Jawa Barat. yang secara intensif bersama-sama Provinsi mengembangkan Sistem Informasi Geografisnya. Strategi pengelolaan tata ruang dan tata guna lahan yang dikembangkan adalah: • • • Memasukan pertimbangan lingkungan pada setiap tahap penataan ruang.2. pengembangan Infrastruktur Data Spasial Daerah (IDSD) Jawa Barat mendapatkan bantuan technical assistance dan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis dari pihak Integraph Amerika Serikat. telah memberikan dampak positif untuk meningkatkan kepedulian masyarakat Jawa Barat.

Luas lahan hutan di Propinsi Jawa Barat hingga akhir tahun 2005 menunjukkan telah terjadi penyusutan/penurunan luas lahan hutan. hutan lindung 271.138 ha.000-500.904 ha.5 juta m3 per tahun untuk bahan bakunya dengan kemampuan produksi kayu legal dari Perum Perhutani hanya berkisar antara 300.110 ha) dan sisanya terdiri dari hutan yang dapat dimanfaatkan seperti hutan produksi (472. hal ini terlihat dari hanya tersisanya sekitar 22% (791. dan hutan konservasi 108. namun perbedaan rasio dan ketidak-seimbangan antara permintaan dan pemenuhan kayu membuat penebangan-penebangan liar menjadi lebih tampak karena diperkirakan terdapat sekitar satu juta m3 kayu per tahun dicurigai berasal dari penebangan liar baik di dalam dan di luar Jawa Barat. Meskipun tidak dapat menjelaskan hubungan secara langsung antara data statistik yang menunjukkan bahwa industri-industri kayu di Jawa Barat memerlukan sekitar 2.303 ha) dan hutan lindung (203. total areal hutan negara adalah 791.074 ha. dan menurut Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Propinsi Jawa Barat. Kehutanan Permasalahan. 1. Dan dari luas lahan hutan yang tersisa tersebut diketahui bahwa sekitar 14.665 ha.098 ha. hutan lindung 210.000 m3 per tahun.024.7% diantaranya berupa hutan alam seperti hutan konservasi (116.penghargaan tertinggi dalam Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL). dan hutan konservasi sekitar 208. perusakan hutan 25 177 .106 ha). areal hutan produksi sekitar 465. atau dengan total areal hutan sekitar 917.972 ha.748 ha yang jauh lebih kecil dari total areal hutan menurut BPLHD Jawa Barat (2000).267 ha. menurut Bagian Kehutanan.907. Hal tersebut didukung oleh data tahun 2007 dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat bahwa telah terjadi perambahan hutan hingga 491 Ha. Kondisi ini semakin besar permasalahannya akibat belum adanya kesepakatan mengenai besarnya luas lahan hutan menurut instansi pemerintah yang berkepentingan seperti Perum Perhutani yang menjelaskan areal hutan produksi sekitar 437.519 ha) dari total areal lahan di Jawa Barat.

Hambatan. Hal ini disebabkan oleh adanya sifat akumulasi dari berbagai kegiatan yang menyebabkan penurunan hutan. Permasalahan penyusutan/penurunan hutan yang terjadi di Propinsi Jawa Barat dikategorikan sangat rawan. penggembalaan di kawasan hutan 50 ha dan kebakaran hutan mencapai 8. dan karenanya perlu diberikan prioritas tinggi untuk perbaikannya. karena percepatan dari penyusutan/penurunan hutan yang terjadi sudah cukup tinggi (15%-20%) dengan dampak yang ditimbulkan tidak hanya terjadi pada kawasan hutan itu sendiri namun juga pada kawasan lain yang berada dalam DAS yang sama dari hulu hingga hilir. menurunan perekonomian yang mengandalkan hutan sebagai fungsi ekonomi dan ekologi. Beberapa faktor diantaranya adalah perambahan hutan yang berkaitan dengan krisis ekonomi. membuktikan bahwa penyusutan/penurunan hutan sudah tidak dapat ditolerir karena telah dan akan menyebabkan menurunnya keanekaragaman hayati. Hal ini terlihat dari sekitar 40 sub-DAS yang dikenal. namun juga telah mencakup sebagian besar bagian hulu daerah aliran sungai (DAS) akibatnya potensi banjir dalam periode musim hujan dan kekurangan air pada musim kemarau cenderung meningkat setiap tahunnya. Penurunan hutan yang terjadi di Propinsi Jawa Barat tidak hanya terjadi di bagian tengah dan hilir sungai.Ha. Tersisanya sekitar 22% hutan di Jawa Barat pada akhir tahun 2005. 15 sub-DAS (38%) ditemukan dalam kondisi super kritis. Ditinjau dari hambatan yang akan dihadapi dalam upaya peningkatan perbaikan kualitas hutan adalah faktor penyebab penurunan hutan di Jawa Barat tidak dapat secara mudah ditetapkan. Nilai indeks sedimentasi dipergunakan sebagai data untuk melihat hubungan antara laju pertambahan erosi tanah di daerah-daerah tangkapan air yang pada beberapa kasus sebanding dengan laju penurunan luas hutan pada DAS tersebut. 178 . Dampak yang timbul akibat penyusutan/penurunan luas lahan adalah meningkatnya sedimentasi sungai dan waduk/bendungan yang mengakibatkan berkurangnya produktifitas pertanian dan gangguan terhadap infrastruktur lainnya secara signifikan bagi pembangunan daerah dan nasional.509 Ha hanya untuk wilayah Perum Perhutani unit III Jawa Barat dan Banten.

seperti program partisipasi masyarakat dalam memelihara dan menjaga hutan. (3) restrukturisasi sektor kehutanan.tingginya kebutuhan lahan pertanian. Tantangan. Potensi dan Peluang. serta (5) penguatan desentralisasi kehutanan. Pengelolaan hutan agar dapat memberikan manfaat langsung dan tidak langsung merupakan salah satu sasaran pembangunan di bidang lingkungan hidup dalam RPJMN 2004-2009. serta tidak sesuainya perencanaan tata ruang dengan implementasi yang disebabkan oleh diantaranya lemahnya penegakan hukum. Kebijakan prioritas tersebut dimaksudkan untuk mengurangi laju kerusakan sumberdaya hutan. Namun terdapat potensi dan peluang dari program memelihara dan menjada hutan melalui pencanangan gerakan rehabilitasi lahan kritis. keterlibatan rehabilitasi hutan seperti di CA Gunung Tilu. (2) penanggulangan kebakaran hutan. mempercepat pemulihannya. Pemecahan masalah penyusutan/penurunan hutan di Jawa Barat memerlukan penanganan segera dan dalam waktu yang singkat atau termasuk program jangka pendek. CA Kamojang. (4) rehabilitasi dan konservasi sumberdaya hutan. dan memberikan peran dan tanggung jawab yang lebih besar kepada pemerintah daerah dan masyarakat. CA Papandayan. Kegiatan-kegiatan pengelolaan hutan memerlukan waktu relatif panjang (berjangka menengah dan panjang). yang telah memberikan dampak positif dari kepedulian masyarakat 179 . maupun di tanah masyarakat secara perseorangan. Tantangan yang dihadapi adalah segera ditetapkan sistem pengelolaan hutan yang didukung oleh berbagai kebijakan prioritas pembangunan kehutanan seperti: (1) pemberantasan penebangan liar (illegal logging). persoalan kelembagaan dalam pengelolaan sumber daya hutan. Sehingga tindak lanjut yang dilakukan adalah melibatkan masyarakat dalam kegiatan pengamanan dan penyuluhan kepada masyarakat untuk turut berpatisipasi melalui penyadaran dan motivasi pengamanan hutan.

Namun masih sedikit industri yang tidak melanggar sistem pengolahan air limbah (IPAL) dan melakukan pembuangan air limbah ke badan air (sungai. Tidak ada data/informasi lebih lanjut dari data dua tahun terakhir tentang permasalahan pencemaran limbah cair yang terjadi di Jawa Barat. udara dan tanah terutama sampah. Sekitar 17. baru sekitar 5% yang dikelola baik sedangkan hampir sebagian besar lumpur tinja dari tangki septik yang telah dikumpulkan/disedot dibuang langsung ke sungai dan kanal-kanal tanpa mengindahkan prosedur pembuangan limbah yang semestinya. Pencemaran air. Data tersebut terlihat dari tahun 2002. yaitu permasalahan limbah cair dari belum tersedianya instalasi pengolahan tinja secara baik seperti yang diketahui terjadi di Kota Bandung. pertanian dan domestik.Jawa Barat. danau dan selokan). gerakan massal rakyat Jawa Barat dapat diarahkan kepada pola pemanfaatan hutan rakyat yang menguntungkan seluruh pihak. Hal tersebut terlihat dari 40 sungai yang terdapat di Jawa Barat. Kontaminasi Pasokan Air.5 milyar m3 kebutuhan air pertahun diperlukan untuk kebutuhan air industri. Kontaminasi air tanah terjadi disebabkan oleh pencemaran 180 . Secara umum pembuangan sistem limbah industri di Jawa Bara masih banyak yang belum memenuhi standar baku mutu yang berlaku pada setiap Kabupaten/Kota atau Provinsi. Juga diketahui bahwa dari fasilitas Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) yang beroperasi tersebut. 17 sungai utama diantaranya (sungai besar) seluruhnya dalam kondisi buruk secara kualitas. baru sekitar 20% konsumen yang mendapat pelayanan sistem perpipaan baru dan pelayanan penyedotan septic tanks oleh Dinas Kebersihan Kota. Permasalahan dari limbah cair yang berasal dari domestik diperkirakan terjadi pada sebagian besar kota di Jawa Barat. Pencemaran Air Permasalahan Limbah Cair (Sewage). Melalui GRLK. baik oleh pencemaran industri maupun dosmestik serta pertanian. Relatif kecil pasokan air kebutuhan domestik yang tidak mengalami kontaminasi akibat pencemaran seperti yang diungkapkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.

karena pengembalian kondisi ekosisitem yang telah mengalami kerusakan perlu dilakukan secara sinergis dari beberapa aspek. dan menurunnya kehati serta potensi sumberdaya perikanan darat. selokan dan danau yang mengalami pencemaran dan terkontaminasi sehingga menyebabkan ketersediaan sumberdaya air semakin menurun. khususnya pada sungai-sungai besar di Jawa Barat yang disebabkan oleh pelanggaran sistem IPAL industri dan PLT dari domestik. Kondisi ini menandakan bahwa kandungan logam berat yang terdapat di dalam waduk terakumulasi juga di dalam tubuh ikan yang nanti akan di konsumsi oleh manusia.limbah domestik yang terjadi pad asumur-sumur dangkal. Permasalahan limbah cari dan kontaminasi juga telah menyebabkan menurunnya kehati perairan darat dari hulu hingga hilir bahkan pesisir muara. Tembaga. Keterkaitan permasalahan pencemaran limbah cair di Jawa Barat dengan RPJMN adalah semakin meningkatnya badan air berupa sungai. sedangkan tiga parameter lainnya terdeteksi walaupun persentasenya kecil di bendungan Saguling dan Cirata. Krom dan Kadmium yang tidak terdeteksi. 181 . Tingkat keparahan dari pencemaran limbah cair dapat dikatakan sangat parah. Hal ini dapat terlihat dari sedikitnya sungai yang memenuhi kriteria baku mutu peruntukkan golongan A dan B. termasuk pula dari industri-industri yang masuk ke dalam sungai-sungai seperti yang terinformasikan dari hasil penelitian bahwa dari tujuh parameter yang diperiksa hanya parameter Arsen. penataan sistem pembuangan limbah cair dari industri dan domestik serta melibatkan masyarakat dalam kontrol penggunaan bahan kimia pertanian. seperti rehabilitasi ekosistem hulu dan hilir. Sedangkan pada daerah perdesaan kontaminasi disebabkan oleh penggunaan bahan beracun pestisida/pupuk untuk sistem pertanian yang masuk ke dalam badan air mengalir maupun diam (danau/situ). Tantangan. Waktu yang diperlukan untuk tindak lanjut dari upaya pengembalian kualitas lingkungan sungai dan danau serta badan air lainnya membutuhkan waktu yang lama (jangka panjang).

Upaya pengembalian kualitas sungai melalui program PROKASIH dan SUPERKASIH yang tidak hanya melibatkan industri namun juga masyarakat. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya membantu pelaksanaan pemantauan dan evaluasi dari pencemaran kualitas air sungai melalui sentrasentra budidaya perikanan. Beberapa strategi pengendalian pencemaran air diarahkan untuk mengurangi beban pencemaran dari sumber-sumber pencemaran adalah: upaya pengendalian pencemaran. Pengembalian kualitas air sungai dan danau (situ) serta badan air lainnya perlu dilakukan secara bertahap. dengan melibatkan peran masyarakat dan dunia usaha untuk turut melestarikan fungsi lingkungan. pertanian dan domestik/rumah tangga merupakan faktor penyebab utama dari pencemaran air di Jawa Barat. Upaya yang dicanangkan oleh pemerintah tersebut perlu mendapat dukungan berupa tegasnya penegakan hukum dan konsistensi hukum. serta mengkoordinasikannya dengan badan riset dan UPT Ditjen Perikanan Budidaya untuk dapat melakukan monitoring kandungan bahan-bahan pencemar yang berpengaruh pada budidaya perikanan. Potensi dan peluang di masa mendatang adalah sejak tahun 2006 pelaksanaan program pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan difasilitasi melalui berbagai program peningkatan kapasitas pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan. Pemerintah Jawa Barat dan stakeholder lainnya. Potensi dan Peluang. dan pembatasan pembangunan komersial yang berpotensi besar menghasilkan limbah.Hambatan. pengetatan baku mutu limbah cair. Rendahnya pengelolaan lingkungan oleh industri. seperti pembangunan sistem pengumpulan dan pengolahan limbah. Lemahnya kontrol pemerintah dan masyarakat serta lemahnya penegakan hukum atas pelanggar hukum merupakan faktor yang kemudian mendukung dari lemahnya sistem pengelolaan lingkungan yang ada. Program kemitraan 182 . tindak lanjut yang perlu dilakukan terhadap industri besar hingga kecil adalah melalui keterlibatan dalam environmental pollution control management (EPCM) yaitu suatu kegiatan manajemen pengelolaan (kontrol) dari bahan pencemar (limbah cair). efektifitas pengawasan.

Seperti di kutip dari data yang dilaporkan Soedomo (2001). Meningkatnya persoalan pencemaran udara. (2006) bahwa penyumbang terbesar polusi udara adalah emisi kendaraan bermotor. Wangsaatmadja. polusi udara di Jawa Barat. Program–program tersebut sudah mulai diarahkan tidak hanya kepada upaya penanganan secara fisik.tersebut yang terus dilakukan adalah Produksi Bersih dan Environmental Pollution Control Management (EPCM) bagi industri. khususnya di kawasan Cekungan Bandung masih menunjukkan tingkat kekritisan yang perlu segera diatasi hingga tahun 2008 ini. dkk. serta pendidikan lingkungan bagi aparat. Ecoschool atau Sekolah Berbudaya Lingkungan. masyarakat. terutama dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dalam periode 2 tahun terakhir yang mencapai sekitar 4. Sekitar 60% emisi SO2 dihasilkan dari industri. namun mulai ditekankan pada upaya perubahan perilaku dan budaya yang lebih ramah lingkungan. berdasarkan 183 . 80% emisi hidrokarbon. Dari hasil pemantauan emisi kendaraan bermotor yang dilakukan oleh BPLH Kodya Bandung (2004) menunjukan bahwa terdapat lebih dari 40% kendaraan bermotor dengan bahan bakar bensin dan diesel yang tidak memenuhi persyaratan Baku Mutu Emisi Sumber Bergerak (Kepmen LH 13/1995). Kota Bogor.5% pertahunnya. Seperti telah dilaporkan pada evaluasi kinerja pembangunan tahun 2006. Sementara itu. dan Pesantren Ramah Lingkungan. yang sekaligus dapat dijadikan tolok ukur dari kontribusi sektor transportasi terhadap menurunnya kualitas udara (meningkatnya gejala hujan asam) di Cekungan Bandung. Pencemaran Udara Permasalahan. Indikasi terjadinya hujan asam di kota Bandung yang telah terjadi sejak 1998 di beberapa titik pengamatan masih terjadi di tempat-tempat tertentu di Cekungan Bandung. Sekitar 97% emisi karbonmonoksida. juga ditandai dengan meningkatnya kasus masyarakat yang menderita penyakit ISPA. dan guru. khususnya di kota-kota besar seperti Kota dan Kabupaten Bandung. dan lebih 50% emisi nitrogen oksida (NOx) dihasilkan dari kendaraan bermotor. dan Kota Cirebon antara tahun 2000-2003 (BPLHD 2005).

Tantangan. mempunyai kadar Pb lebih besar dari standard yang diperbolehkan (BPLHD 2006). Meskipun untuk sektor transportasi telah ada kebijakan penggunaan bensin bebas timbal yang mulai efektif berlaku sejak akhir 2006/ 2007. Aspek pengalihan sumber energi fosil minyak menjadi batu bara untuk industri pada tahun 2005/2006 dan masih terbatasnya penggunaan bensin bebas timbal untuk Jawa Barat merupakan hambatan yang perlu segera di tanggulangi oleh pihak pemerintah. diakibatkan oleh sumber-sumber tidak bergerak (point sources) seperti pabrik/industri yang tidak melakukan upaya untuk mengurangi emisi bahan bahan/gas yang berbahaya dan oleh sumber-sumber bergerak (non-point sources) seperti kendaraan bermotor yang jumlahnya semakin banyak yang memberikan kontribusi sebanyak 60-70% terhadap pencemaran udara. Hambatan. khususnya di Cekungan Bandung. khususnya di 10 kota besar di Indonesia. Kondisi tersebut juga diperparah oleh inkosistensinya perencanaan tata ruang dan lemahnya penegakan aturan yang berkaitan dengan 184 . diketahui bahwa lebih dari setengah anak sekolah yang diambil contoh darahnya. khususnya berkaitan dengan gangguan kesehatan masyarakat. seperti dilaporkan pada tahun 2006.penelitian di Kota Bandung. Satu di antaranya adalah Kota Bandung. Dari hasil pemantauan kualitas udara menunjukkan bahwa perbaikan (menurunnya kadar timbal di udara) belum tercapai bahkan dirasakan semakin memburuk. Gejala pencemaran udara/hujan asam mulai menunjukkan tingkat kekritisan yang perlu segera diatasi/diantisipasi agar tidak terjadi dampak yang merugikan pada waktu yang akan datang. Selain kegiatan/aspek yang langsung menyebabkan terjadinya pencemaran udara yang kemudian menyebabkan hujan asam. Telah ditetapkannya program perbaikan kualitas udara. Pencemaran udara yang terjadi di Jawa Barat. kebijakan pemerintah daerah dalam memberikan peluang kepada investor kegiatan usaha potensial menimbulkan pencemaran udara menjadi penyebab secara tidak langsung terhadap terjadinya pencemaran udara/hujan asam.

Pelaksanaan pemantauan kualitas udara yang berkelanjutan. 2) kebijakan pengendalian jumlah dan atau kelayakan kendaraan dan kebijakan tentang penyediaan bahan bakar bensin bebas timbal. Berkaitan dengan permasalahan pencemaran udara. Berkaitan dengan ini. diperlukan pula peningkatan SDM untuk mengatasi keterbatasan tenaga ahli bidang kualitas udara dan upaya penambahan dana untuk mengatasi keterbatasan dana yang selama ini dialami. pemerintah provinsi Jawa Barat telah membuat Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pengendalian Pencemaran udara. Pemantauan yang dilakukan pada tahun 2007 tidak menemukan indikasi adanya upaya yang signifikan untuk mengembangkan sistem investasi yang ramah lingkungan walaupun gagasan tentang perlunya relokasi kawasan industri sempat menjadi wacana di kalangan pemerintah. Hambatan yang akan dihadapi saat ini adalah upaya mengatasi permasalahan pencemaran udara memerlukan kebijakan-kebijakan dan program yang berkaitan dengan pengelolaan sumber-sumber pencemar (non-point dan point sources) di tingkat kota/kabupaten. 185 . diantaranya: 1) kebijakan relokasi kegiatan industri. Selain ini. upaya perbaikan lingkungan. yang berfungsi sebagai filter udara. Seperti juga pencemaran limbah cair. 3) penetapan dan implementasi kebijakan yang berkaitan dengan penyediaan sarana dan prasarana pemantauan udara yang mencukupi dan 4) penetapan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan hutan kota dan penghijauan di lahan masyarakat. juga sedang disusun rancangan peraturan Gubernur yang berkaitan dengan upaya mengatasi pencemaran udara. Potensi dan Peluang. potensi dan peluang di masa mendatang adalah sejak tahun 2006 pelaksanaan program pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan difasilitasi melalui berbagai program peningkatan kapasitas pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan. serta 5) penetapan kebijakan yang memberikan prioritas pada kegiatan investasi yang ramah lingkungan. swasta dan masyarakat luas. dan pengaturan/pengelolaan lebih lanjut atas sumber-sumber pencemar bergerak (non-point sources) dan tidak bergerak (point sources) serta penetapan kebijakan yang memberikan prioritas pada kegiatan investasi yang ramah lingkungan.upaya pencegahan terjadinya pencemaran udara.

Program–program tersebut sudah mulai diarahkan tidak hanya kepada upaya penanganan secara fisik. khususnya di wilayah administratif yang berada di kawasan Cekungan Bandung. Tidak berfungsinya TPA Leuwi Gajah secara optimal dan sistem open dumping dan atau sanitary landfill.dengan melibatkan peran masyarakat dan dunia usaha untuk turut melestarikan fungsi lingkungan. timbulan sampah di Jawa Barat mencapai 85500 m3/hari dengan lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) berjumlah sekitar 255 ha (BPLHD. Bahkan sejak terjadinya bencana longsoran sampah di TPA Leuwi Gajah pada tahun 2005 dan TPA Bantar Gebang pada tahun 2006. serta pendidikan lingkungan bagi aparat. 2005). khususnya di wilayah Cekungan Bandung. Sebagaimana dilaporkan dalam laporan evaluasi kinerja pembangunan 2006. Persoalan terjadinya timbulan sampah yang tidak terkelola telah menjadi fenomena di Jawa Barat. persoalan timbulan sampah pada tahun 2007/2008 membutuhkan biaya yang besar. Persoalan serupa pada tahun 2007. Indramayu. Kota Depok.000 m3/hari yang tidak dapat ditanggulangi. jumlah timbulan sampah rata-rata lebih dari 5000 m3/hari (BPLHD. Limbah Padat (Sampah Domestik) Permasalahan. timbulan mencapai lebih dari 1. dan Kuningan. Majalengka. Ecoschool atau Sekolah Berbudaya Lingkungan. Kabupaten Bogor dan Kab. dan Bekasi. menyebabkan terjadinya timbulan sampah di berbagai Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan kawasan perkotaan lainnya di Kota Bandung pada tahun 2004 dan 2006. Bahkan ketika isu mengenai relokasi TPA tidak terlaksana. tidak hanya dialami oleh Kota Bandung. namun menajdi persoalan di masa mendatang bagi 186 . namun mulai ditekankan pada upaya perubahan perilaku dan budaya yang lebih ramah lingkungan. masyarakat. Bekasi.000 m3/hari. 2003). sejak 5 tahun terakhir. timbulan sampah mencapai lebih dari 2. Sementara di wilayah Cirebon. dan Pesantren Ramah Lingkungan. wilayah Kabupaten Bogor. Program kemitraan tersebut yang terus dilakukan adalah Produksi Bersih dan Environmental Pollution Control Management (EPCM) bagi industri. Dan di beberapa kota/kabupaten. dan guru.

Konsep pengelolaan sampah hingga tahun 2007 yang masih mengandalkan sistem open dumping/sanitary lanfill sangat potensial menimbulkan masalah manakala TPA-TPA yang ada tidak mampu lagi menampung timbulan sampah. Nota kesepahaman (MOU) di antara lima pemerintah kota dan kabupaten tentang pengelolaan sampah yang telah ada belum dapat dijalankan dan bahkan terjadi inkonsistensi dalam menjalankan kesepahaman tersebut. Rencana pemecahan pengelolaan sampah perkotaan ini merupakan salah satu sasaran pembangunan di bidang lingkungan hidup dalam RPJMN 20042009. termasuk penolakan oleh masyarakat pada setiap rencana relokasi pengelolaan sampah. 187 . sanitary lanfill.kota-kota lain di Jawa Barat yang masih mengandalkan TPA dengan sistem open dumping. Dan masih rendahnya pemahaman dan kemauan masyarakat untuk memperlakukan limbah rumah tangga dengan cara yang baik. karena sampah yang dihasilkan mayoritas adalah sampah basah (organik). seperti rencana pengolahan sampah sebagai sumberdaya bagi pembangkit listri (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah/PLTSa) mendapatkan reaksi penolakan yang besar dari penduduk di sekitar lokasi rencana PLTSa dan juga dari kalangan pengamat lingkungan dan akademisi yang meragukan efektivitas dan efisiensi PLTSa. serta belum adanya implementasi kebijakan pengelolaan sampah terintegrasi antar beberapa daerah kota dan kabupaten akan memerlukan biaya besar untuk suatu kota. Kondisi tersebut disebabkan sistem pengelolaan sampah yang masih mengandalkan cara-cara konvensional (open dumping dan atau sanitary landfill). Hambatan. Tantangan. masih merupakan persoalan yang memperburuk permasalah sampah. Kasus yang terjadi di Kota Bandung ini merupakan tantangan bagi pemerintah untuk mencari solusi bentuk pengelolaan (pengolahan) sampah tanpa penolakan masyarakat. atau controled landfill. Rencana pengembangan sistem pengolahan sampah (bukan pembuangan).

gempa bumi (tektonik dan vulkanik) serta kekeringan yang disebabkan oleh faktor alami dan akibat/dampak dari kegiatan manusia pada lingkungan. 188 . Termasuk peluang menginternalisasikan pemahaman agar warga masyarakat mau “mengurangi” produksi sampahnya. namun mulai ditekankan pada upaya perubahan perilaku dan budaya yang lebih ramah lingkungan. Beberapa wilayah di Jawa Barat menyimpan potensi timbulan bencana seperti banjir. dengan melibatkan peran masyarakat dan dunia usaha untuk turut melestarikan fungsi lingkungan. tanah longsor. angin ribut. serta pendidikan lingkungan bagi aparat. Termasuk didalamnya program kemitraan melalui Produksi Bersih dan Environmental Pollution Control Management (EPCM) bagi industri. reuse.Potensi dan Peluang. masyarakat. terutama sampah jenis anorganik yang sulit didaur-ulang. Pengembangan tempat-tempat pengolahan sampah yang ramah lingkungan dengan melibatkan partisipasi masyarakat merupakan peluang dari desiminasi masyarakat di sekitar lokasi yang direncanakan. Peluang tersebut tidak dapat terselesaikan dalam waktu yang singkat. mengingat konsep-konsep reduce. Kebencanaan Permasalahan. dan guru. Sehingga pelaksanaan program pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan yang telah difasilitasi melalui berbagai program peningkatan kapasitas pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan. Ecoschool atau Sekolah Berbudaya Lingkungan. dan Pesantren Ramah Lingkungan. Dimana seluruh program tersebut tidak hanya diarahkan kepada upaya penanganan secara fisik. Adanya nota kesepakatan untuk membangun sistem pengolahan sampah terpadu dan terintegrasi seperti yang telah dikemukakan pada laporan tahun 2006 dan tindak lanjut penetapan sistem pengelolaan sampah dan pengembangan tempattempat pengolahan sampah yang ramah lingkungan merupakan potensi yang masih dapat ditindaklanjuti dan dikembangkan. dan recycle dan pengolahan sampah secara kolektif oleh masyarakat adalah merubah perilaku yang membutuhkan waktu yang panjang namun mungkin untuk dilaksanakan.

angin topan sebanyak 84 kali.664 Kepala Keluarga. tidak kurang hasil 15 lokasi rawan bencana dari inventigasi pemerintah yang diprediksi dan tidak bisa dikendalikan. misalnya meskipun curah hujan yang tinggi namun apabila kondisi ekosistem yang masih baik maka daya dukung lingkungan akan mampu menekan terjadi bencana atau sebaliknya. diprediksi oleh PPGL (2004) bahwa kenaikan pasang air laut di pantura Jawa Barat akan terjadi kenaikan antara 2 hingga 6 meter dan diperkirakan akan mencapai ketinggian lebih pada beberapa tahun kedepan. Di Jawa Barat terdapat wilayah yang berbakat dan mudah terancam bencana.Bencana yang disebabkan olej faktor alam merupakan bencana yang tidak dapat dikendalikan manusia namun dapat diprediksi oleh manusia. korban menderita akibat bencana sebanyak 23. Beberapa kasus yang berhasil dicatat selama dua tahun terakhir adalah terjadinya sekurang-kurangnya 60% kejadian bencana alam geologi berupa gerakan tanah longsor terjadi di Jawa Barat seperti data tahun 2006 yaitu kejadian tanah longsor 98 kali. gempa bumi 16 kali. kerusakan hutan/kawasan lindung maka permasalahan kebencanaan tidak saja dari faktor alam. sehingga memerlukan pengaruh sosial-ekonomi-budaya masyarakat untuk memindahkan infrastruktur yang telah dibangunnya. sedangkan bencana yang disebabkan oleh dampak/akibat merupakan suatu bentuk bencana karena kelalaian yang harus diperbaiki. Kondisi ini disebabkan oleh faktor alami dari kenaikan muka air laut dan sifat gelombang laut utara Jawa namun juga diperparah oleh kondisi eksositem pesisir pantai dan laut yang semakin rusak/hilang sehingga tidak mampu menahan laju gelombang dan kenaikan air laut yang menyebabkan banjir dan abrasi pantai. Potensi bencana di wilayah pantai utara Jawa juga terjadi akibat naiknya pasang air laut seperti yang telah terjadi saat ini.404 Ha. yang menimbulkan korban meninggal sebanyak 600 jiwa. Namun demikian dari dua faktor tersebut terdapat faktor lain yaitu bencana yang ditimbulkan oleh alam tetapi karena pengelolaan lingkungan yang tidak mempertimbangkan persoalan lingkungan maka bencana tersebut menjadi semakin parah. banjir awal tahun terjadi pada bulan Januari sampai Maret di 5 kabupaten dengan luas 106. kebakaran 262 kali. 189 . Terkait dengan permasalahan sebelumnya seperti kerusakan lahan/DAS.

dan juga pada tahapan pasca bencana. Hambatan. Hambatan lainnya yang juga ditemukan adalah minimnya kemampuan aparat pemerintah untuk melakukan suatu standar operasional prosedur atau SOP kebencanaan.Tantangan. kekeringan. Hal ini tidak lain dari pesoalan sosial-ekonomi-budaya masyarakat atas lahan. menunjukkan masih belum siapnnya setiap lapisan dan jajaran dalam menghadapi bencana alam. Faktor lain yang juga penting dari kebencanaan adalah rendahnya penegakan hukum atas gangguan/kerusakan lingkungan yang telah dilakukan oleh manusia secara sengaja. Hasil mitigasi dan penanganan bencana alam pada tahun 2006. merebaknya penyakit flu burung. juga telah dilaksanakan langkah-langkah guna meningkatkan kesiapan masyarakat didalam menghadapi bencana alam. akses sumber daya. Beberapa penyebab dari masalah kebencanaan saat ini adalah: (1) faktor alami (fenoma alam) yang perkiraan/prediksi kejadiannya tidak dapat di perkirakan serta rendahnya kemampuan untuk mengantisipasi fenoma alam tersebut. seperti gempa. Beberapa upaya yang telah ditempuh dalam rangka mengantisipasi resiko yang ditimbulkannya tersebut adalah penyediaan anggaran pos dana tak tersangka. tsunami. Faktor kedua adalah gangguan lingkungan/eksositem yang ditimbulkan akibat dampak kegiatan manusia saat memanfaatkan dan menggunakan sumberdaya alam yang telah menyebabkan menurunnya daya dukung lingkungan. 190 . banjir. tahapan tanggap darurat. longsor. pendidikan dan kekerabatan. karena berbagai faktor termasuk faktor sumber daya manusia. Hambatan yang umumnya ditemukan dari permasalahan kebencanaan adalah sulitnya melakukan relokasi masyarakat/penduduk dari daerah bencana. Meningkatkan faktor kesiapan masyarakat dan aparat dalam mengantisipasi serta menanggulangi bencana alam menjadi penting dan untuk terus ditingkatkan. dan DBD masih menimbulkan kepanikan dan ketidaksiapan baik pada tahapan mitigasi. Padahal meningkatnya frekuensi dan jenis bencana yang melanda Jawa Barat.

penyebaran pamflet dan poster kebencanaan bagi masyarakat. Perda Pengendalian Pencemaran Udara.Masih minimnya sistem informasi kebencanaan dan mitigasinya merupakan faktor penting juga yang segera perlu di selesaikan. Potensi dan Peluang. d) membuat dan pengembangan sistem peringatan dini (early warning) pada beberapa kawasan yang rawan bencana dan e) pengendalian pemanfaatan/penggunaan sumberdaya alam yang potensial menyebabkan bencana. Upaya yang telah dilakukan tersebut. Berbagai upaya yang telah dilakukan dalam rangka meningkatkan kesiapan masyarakat dan aparat dalam mitigasi bencana antara lain. Eksosistem Pesisir dan Laut Permasalahan pada ekosistem pesisir dan laut adalah perubahan fungsi lahan. dan sosialisasi Perda Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perlindungan Lingkungan Geologi. abrasi dan sedimentasi. Peluang yang masih dapat dilaksanakan adalah menindaklanjuti: a) pemetaan distribusi kawasan rawan bencana Jawa Barat yang dapat dipergunakan sebagai bagian dari kebijakan penataan kependudukan dan daya dukung lingkungan. namun untuk mitigasi kebencanaan lainnya masih belum tersedia. merupakan langkah awal dalam mengembangkan mekanisme mitigasi dan penanganan bencana alam yang lebih baik di Jawa Barat ke depan. Selain upaya tersebut. pencemaran pantai serta 191 . degradasi hutan bakau. hingga saat ini baru beberapa sistem informasi terpadu mitigasi bencana tsunami yang telah dikembangkan pada beberapa pantai yang rawan akan bencana tersebut. penetapan Perda Kawasan Lindung. b) sosialisasi kepada masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana untuk melakukan resettlement ketempat yang lebih aman dan stabil. menyiapkan peta zonasi kerentanan gerakan tanah. pemerintah daerah telah merancang desain dan sosialisasi penanganan daerah rawan gerakan longsor di kabupaten rawan gerakan tanah. Dalam hal ini Jawa Barat merupakan provinsi pertama yang memiliki kebijakan pada bidang geologi. c) rehabilitasi kawasan-kawasan rawan bencana.

Konversi lahan yang telah terjadi di pantai selatan berupa kerusakan hutan bakau seluas 15 ha terjadi di Ciamis. hilangnya sekitar 1000 ha eksositem pesisir di Karawang. Permasalahan tanah timbul atau akresi juga terjad pada wilayah utara Jawa Barat yaitu sejauh 5-7 km sepanjang garis pantai terjadi di Indramayu. dan kerusakan sekitar 50% untuk terumbu karang dengan kedalaman 3m. hilangnya 6000 tumbuhan di eksositem pesisir di Subang. dan hilangnya sekitar 64% dari total hutan bakau di Bekasi. 5 km di Subang dan 300 m di Karawang. sekitar 100 ha di Tasikmalaya.intrusi air laut ke wilayah daratan. Kerusakan terumbu karang disebabkan oleh pemanfaatan (pengambilan) langsung oleh nelayan ikan karang dan penambang kapur karang. sekitar 100 ha di Tasikmalaya. terjadinya pengendapan (sedimentasi) yang menyebabkan menutupnya sekitar 6000 ha daratan. 192 . pulau Biawak dan pulau Cantikan (Indramayu) yang mencapai tingkat kerusakan lebih dari 75%. namun diindikasikan peningkatan abrasi semakin besar. dan 1500 ha di Garut. Dan di wilayah pantai Subang. khususnya wilayah Ujung Genteng (sukabumi). Pada bidang kelautan berdasarkan data citra landsat dan Coremap (2003) diketahui bahwa telah terjadi penurunan distribusi dan luas terumbu karang di pantai selatan Jawa Barat. pulau Rakit. Panjang garis pantai Jawa Barat sepanjang 365 km di sebelah utara dan 355 km di sebelah selatan telah mengalami abrasi sejauh 400-500 m terjadi di Indramayu. dan 1500 ha di Garut. Cilauteureun (Garut) dan Pangandaran (Ciamis) untuk wilayah selatan dan di Tempuran dan Cilamaya (Karawang). Kerusakan pantai karena penambangan pasir laut (sekitar 450 ha) juga terjadi di daerah pantai selatan Cianjur. meskipun data tahun 2007/2008 tidak tersedia. Kerusakan pantai karena penambangan pasir laut (sekitar 450 ha) juga terjadi di daerah pantai selatan Cianjur. pulau Gosong. Abrasi di pantai utara dan selatan Jawa Barat semakin juga memperhatinkan (lihat tabel) dimana peingkatan terus terjadi. Sedangkan kerusakan hutan bakau seluas 15 ha terjadi di Ciamis. Proses terjadinya konversi lahan di ekosistem pesisir telah menyebabkan hilangnya luas hutan bakau di Indramayu sepanjang 1 km. 5 km di Subang dan 2 mil / tahun di Karawang dan sejauh 1 km untuk wilayah Ciamis dan 22 km di wilayah Tasikmalaya. pantai Bobos. Majakarta.

pertanian dan industri. Termasuk kondisi laut di pesisir Jawa Barat bagian selatan seperti Cilacap dan bagian utara di wilayah Kerawang. Pengelolaan lingkungan pada ekosistem pesisir dan laut dapat mengancam kelestarian sumber daya alam dan hayati. Luasan Abrasi Pesisir Jawa Barat Berdasarkan Wilayah. permasalahan konversi ekosistem pesisir dan laut di Provinsi Jawa Barat dapat dikategorikan belum terselesaikan. Propinsi Jawa Barat. Kerusakan terumbu karang saat ini telah mencapai 40%.35 370. Indramayu dan Cirebon yang seluruh muara sungainya dipengaruhi oleh kegiatan industri.05 Pantai Utara 392.Menurunnya kualitas laut yang disebabkan oleh tingkat pencemaran limbah padat dan limbah cair akibat kegiatan industri dan pertambangan. yang disebabkan oleh kegiatan manusia seperti penangkapan ikan dengan cara merusak dan eksploitatif. timbulan sedimentasi dan pencemaran air. keanekaragaman hayati dan potensi sumberdaya alam.3 1995 ‐2001  Pantai Selatan 30. permukiman. Beberapa faktor penyebab yang diindikasikan sangat kuat hubungannya dengan perubahan ekosistem pesisir adalah konversi ekosistem pesisir menjadi bentukan lahan lain seperti daratan. diolah kembali Hambatan. Apabila membandingkan terhadap RPJMN 2004-2009 mengenai upaya pengelolaan kawasan pesisir dan laut sebagai langkah untuk mempertahankan fungsi ekosistem. Tantangannya adalah masih ditemukan lebih dari 50% panjang pesisir pantai utara dan lebih dari 30% pantai selatan yang memiliki potensi sumberdaya hayati dan sumberdaya alam serta ekosistem telah mengalami perubahan yang mengarah kepada hilangnya ekosistem pesisir. Wilayah  Luasan Abrasi  (Ha/thn)  2001 – 2003  35. Tantangan. Subang. Tabel 4. Kerusakan hutan pada ekosistem pesisir erat dipengaruhi oleh konversi lahan dan 193 .29.32 Sumber: BPLH.

yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Pengendalian dan Rehabilitasi Lahan Kritis. sebagai bentuk 194 . dan peranserta masyarakat. kabupaten/kota dan sampai di tingkat desa. Pengendalian dan penertiban perizinan pertambangan di wilayah pesisir dan laut. penegakan hukum.perambahan hutan untuk dimanfaatkan biomassanya dan kegiatan pertambangan galian C. Tindak lanjut yang dilakukan untuk menekan laju kerusakan ekosistem pesisir dan laut adalah upaya pengurangan perusakan. dilakukan program perlindungan dan rehabilitasi sumber daya kelautan dan perikanan dengan cara melakukan rehabilitasi terumbu karang. Faktor lain yang juga memberikan peran atas kerusakan ekosistem pesisir dan laut adalah masih lemahnya penegakan hukum dan peralatan/teknologi untuk membantu pelaksanaan tugas penegakan hukum. Kegiatan konservasi pesisir dan laut harus dilakukan pada tingkat pemerntah daerah. dengan fokus utama pada penanganan lahan kritis dalam kawasan lindung. Khususnya mengenai tentang pengaturan rehabilitasi lahan kritis mulai dari perencanaan. pengawasan. Mengembangkan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) yang mengikutsertakan mengikutsertakan pemerintahan lokal di tingkat provinsi. Dukungan pengembangan Infrastruktur Data Spasial Daerah (IDSD) Jawa Barat dan bantuan technical assistance dan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis dari pihak Integraph Amerika Serikat merupakan peluang yang dapat dikembangkan oleh 8 Kabupaten/Kota yang telah menerimanya. Tidak seluruh program rehabilitasi kawasan pesisir dapat tercapai dengan baik. Hambatan dalam penyelenggaraan rehabilitasi lahan termasuk kawasan pesisir adalah penyempurnaan sistem dan regulasi. pelaksanaan. hambatan yang ditemui adalah meskipun kepedulian masyarakat Jawa Barat tinggi untuk melakukannya namun konsep membangun pesisir berbasis masyarakat perlu terus disempurnakan agar seluruh pihak diuntungkan Potensi dan Peluang. dan pengelolaan konservasi kawasan dan jenis melalui kesepahaman dan kerjasama dengan seluruh stakeholder. penanaman mangrove. khususnya mengingat dampak yang timbul dapat hingga tingkat nasional.

pemacu pertumbuhan wilayah. serta pengikat wilayah.insentif kepada upaya pengelolaan sumber daya alam seperti yang diamanatkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Keputusan Gubernur Nomor 33 Tahun 2005 tentang IDSD. melalui kegiatan terpadu Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK). Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL/GERHAN). (ii) sumber daya air dan irigasi. IV. Batas kawasan lindung di luar kawasan hutan di Jawa Barat tersebut mencapai panjang trayek 8. Dan pada tahun 2005 telah dilaksanakan penandaan batas sebanyak 200 titik patok. melalui penataan batas kawasan hutan konservasi secara bertahap guna menjamin kepastian hukum terhadap lokasi dan status kawasan.397 Ha.14. yaitu sebagai pengarah dan pembentuk struktur tata ruang. dengan kata lain causalitas antara pertumbuhan/produktifitas ekonomi dengan infrastruktur lebih kentara adanya hubungan satu arah dari terwujudnya infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi dibandingkan hubungan sebaliknya. dilakukan pemerintah daerah melalui pemulihan kualitas lingkungan dan mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan. Salah satunya adlaah pemulihan terhadap lahan kritis di Jawa Barat seluas 580. Percepatan Pembangunan Infrastruktur Infrastruktur dalam kajian ini mengikuti standar Bapeda Propinsi Jawa Barat yang terdiri dari: (i) infrastruktur transportasi.062 titik patok. pemenuhan kebutuhan wilayah. (iii) listrik dan energi. Peluang lainnya adalah perwujudan kawasan lindung di Jawa Barat.243 Km atau setara dengan 1. (iv) telekomunikasi. 195 . sedangkan pada tahun 2006 sebanyak 500 titik patok dan sisa dilaksanakan pada tahun 2007 agar tercapai secara 1. Rehabilitasi kerusakan lingkungan dan pencemaran. Dalam beberapa kajian ekonomi disebutkan bahwa pengaruh eksogenitas dari infrastruktur terhadap pertumbuhan dan produktifitas ekonomi merupakan yang terkuat dibandingkan variable ekonomi lainnya. maupun kegiatan reboisasi (penanaman dalam kawasan hutan oleh Perum Perhutani).062 titik patok. serta (v)sarana dan prasarana permukiman. Kebutuhan akan terwujudnya infrastruktur yang baik karena fungsi dan peranannya terhadap pengembangan wilayah.

2007. Hal ini disebabkan karena sudah habisnya umur rencana jalan pada sebagian besar ruas jalan provinsi sehingga kondisi struktur jalan menjadi labil. longsor) serta beban lalu lintas yang sering melebihi standar muatan sumbu terberat (MST). masih kurangnya jaringan jalan tol.31% tersebut. dan jembatan timbang.36% dari panjang jaringan jalan provinsi berada pada kondisi sedang. pengaman jalan. marka. terminal.Bidang infrastruktur transportasi terdiri dari transportasi darat. 64. serta belum optimalnya kondisi dan penataan sistem hirarki terminal sebagai tempat pertukaran moda. ketertiban. Rendahnya tingkat kemantapan jalan ini juga disebabkan oleh tingginya frekuensi bencana alam (terutama banjir. serta belum terintegrasinya seluruh jaringan jalan di Jawa Barat dengan baik termasuk dengan sistem jaringan jalan tol. Pada kurun waktu tahun 2004 .31%. Pada aspek transportasi darat. menyebabkan rendahnya kualitas dan cakupan pelayanan infrastuktur jaringan jalan di Jawa Barat. menyebabkan kurangnya kelancaran. Demikian pula halnya dengan pelayanan angkutan massal seperti kereta api dan bis. keberadaan bandar udara utama di Jawa Barat masih belum memadai untuk menampung permintaan pasar yang ada.199. udara dan laut. tingkat kemantapan jaringan jalan provinsi sepanjang 2. keamanan serta pengawasan pergerakan lalu lintas. Kondisi infrastruktur transportasi darat yang lain seperti kurangnya ketersediaan perlengkapan jalan dan fasilitas lalu lintas seperti rambu. Bandara Husein Sastranegara sebagai bandara terbesar dan tersibuk yang dimiliki Provinsi Jawa Barat saat ini serta beberapa bandara perintis lainnya belum dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menampung kebutuhan penumpang dan kargo baik jalur domestik terlebih untuk jalur internasional.18 km telah meningkat menjadi 87. Dengan tingkat kemantapan sebesar 87. masih belum optimal mengingat infrastruktur transportasi darat yang tersedia belum mampu mengakomodir jumlah pergerakan yang terjadi khususnya pergerakan di wilayah tengah Jawa Barat. Pada transportasi udara. dalam beberapa tahun terakhir ini telah dilakukan berbagai persiapan 196 . Selain itu. Oleh karena itu. salah satu indikator tingkat keberhasilan penanganan infrastruktur jalan adalah meningkatnya tingkat kemantapan dan kondisi jalan. angka yang masih rendah namun disadari lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

serta memfungsikan keberadaan Bandara Cakrabhuwana di Kabupaten Cirebon dan Bandara Nusawiru di Kabupaten Ciamis. serta meningkatkan ketersediaan dan kualitas pada pelabuhan-pelabuhan pengumpan yang ada di Jawa Barat. kondisi jaringan irigasi juga belum memadai. persiapan pengembangan fungsi Pelabuhan laut Cirebon. pengendalian daya rusak air. Pelabuhan Laut Cirebon sebagai pelabuhan terbesar yang dimiliki Provinsi Jawa Barat saat ini hanya difungsikan sebagai pelabuhan niaga saja akibat kondisi fisik pelabuhan dan fasilitas yang kurang memadai serta adanya keterbatasan pengembangan karena kondisi alam yang tidak mendukung. rehabilitasi dan perbaikan pada Bandara Husein Sastranegara Kota Bandung. Selain itu beberapa pelabuhan laut lain yang ada di Jawa Barat hanya berfungsi sebagai pelabuhan transit dan pelabuhan ikan saja karena kapasitas pelabuhan yang tidak memadai. pendayagunaan sumber daya air. industri.2007 jaringan irigasi dalam kondisi rusak berat dan ringan telah berkurang dari sekitar 74% menjadi 46% seperti diklaim oleh Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Jawa Barat. keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air dan sistem informasi sumber daya air dirasakan masih belum memadai. Potensi sumber daya air di Jawa Barat yang besar belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang kegiatan pertanian. Bencana banjir dan kekeringan juga masih terus terjadi antara lain akibat menurunnya kapasitas infrastruktur sumber daya air dan daya dukung lingkungan serta tersumbatnya muara sungai karena sedimentasi yang tinggi. dan kebutuhan domestik. Oleh karena itu. keberadaan pelabuhan laut di Jawa Barat masih belum memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar. telah dilakukan berbagai upaya persiapan pembangunan Pelabuhan Utama Cilamaya di Kabupaten Karawang.pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat di Majalengka. walaupun dalam kurun waktu tersebut telah meningkat dari 182% menjadi 190%. 197 . walaupun dari tahun 2004 . Selain itu. kondisi infrastruktur yang mendukung upaya konservasi. Demikian pula halnya dengan intensitas tanam padi pada daerah irigasi yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Barat dirasakan masih belum optimal. Pada transportasi laut. Pada aspek infrastruktur sumber daya air dan irigasi. dalam beberapa tahun terakhir.

73% pada tahun 2006 menjadi sekitar 62% pada pertengahan tahun 2008. Sedangkan untuk listrik perdesaan. surya. cakupan layanan untuk infrastruktur telekomunikasi belum bisa menjangkau setiap pelosok wilayah.044 rumah tangga baru. dicirikan dengan adanya beberapa wilayah yang belum terlayani.847 rumah tangga telah memperoleh akses aliran listrik yang bersumber dari PLN (murni dipasok PLN ataupun non PLN).011.Pada aspek infrastruktur listrik dan energi. cakupan desa yang sudah mendapatkan tenaga listrik pada pertengahan tahun 2008 hampir mencapai 100%. Lambatnya pertumbuhan pembangunan sambungan tetap tersebut salah satunya disebabkan oleh bergesernya fokus bisnis penyelenggara telekominikasi kepada pengembangan telekomunikasi bergerak (selular). telah terjadi peningkatan rasio elektrifikasi rumah tangga dari 57. sedangkan untuk daerah kabupaten kondisi teledensitasnya masih rendah. Peningkatan rasio elektrifikasi perdesaan masih terus diupayakan untuk mewujudkan “Jabar Caang” pada tahun 2010. Untuk pengembangan jaringan telekomunikasi perdesaan saat ini telah dilakukan berbagai upaya salah satunya melalui program Kemampuan Pelayanan Universal (KPU)/Universal Service Obligation (USO) yang digagas oleh pemerintah pusat. Pada bidang telekomunikasi. sedangkan peningkatan rasio elektrifikasi rumah tangga terus diupayakan baik melalui pembangunan jaringan listrik yang bersumber dari PLN. tingkat keberhasilan penanganan listrik dapat dilihat dari rasio elektrifikasi desa dan rumah tangga. terutama untuk jaringan telekomunikasi perdesaan. bahkan sampah seperti yang diwacanakan di Kota bandung. yang artinya dari 11. dimana hanya tinggal 6 desa yang belum memiliki infrastruktur listrik yaitu sebanyak 2 desa di Kabupaten Garut Selatan dan 4 desa di Kabupaten Cianjur Selatan. Khusus untuk layanan jasa telepon kabel. gas bumi dan angin. sekitar 6. Sampai dengan pertengahan tahun 2008. maupun penyediaan sumber-sumber energi alternatif seperti Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) mikro hidro. Namun dari sebagian penyelenggara telekomunikasi seluler terutama jaringan CDMA yang memperoleh ijin dan mendapatkan public service obligation (PSO) untuk membuka jaringan 198 .826. beberapa daerah perkotaan pada tahun 2005 angka teledensitasnya sudah tinggi (>10).

peningkatan cakupan pelayanan air minum difokuskan pada masyarakat miskin di wilayah Pantura dan perdesaan melalui kerjasama antara pemerintah daerah dengan masyarakat. Kota Bandung. terbatasnya sumber air baku khususnya di wilayah perkotaan. Kondisi prasarana pengelolaan limbah domestik sampai dengan saat ini menunjukkan bahwa dari 17 unit Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) hanya 11 unit yang beroperasi dengan baik dan baru 4 kabupaten/kota yang memiliki sistem penyaluran air limbah domestik perkotaan yaitu Kabupaten Bandung. Terlebih lagi sekitar 90% pengolahan sampah di TPA masih dilakukan secara open dumping (untuk detailnya dapat kembali dibaca pada bahasan sub-bab sebelumnya tentang perbaikan pengelolaan SDA dan pelestarian mutu lingkungan hidup). Tingkat pelayanan pengelolaan limbah domestik hingga akhir tahun 2007 masih sangat rendah. tarif/retribusi air yang belum berorientasi pada cost recovery. Untuk aspek persampahan. masih rendahnya partisipasi masyarakat dan swasta dalam pembangunan sarana dan prasarana air minum. Bogor. Selama periode 2004-2007. 199 . Sesuai dengan data Suseda 2007. Strategi penyediaan air minum berbasis masyarakat ini dirasakan oleh pemerintah propinsi telah cukup mampu mendorong peningkatan cakupan pelayanan dan keberlanjutan sarana dan prasarana air minum yang telah dibangun. dan Cirebon. Cakupan pelayanan persampahan hingga akhir tahun 2007 hanya sebesar 53%. Kondisi sarana dan prasarana permukiman hingga akhir tahun 2007 masih belum memadai. 2007). Rendahnya cakupan pelayanan air minum disebabkan oleh masih tingginya angka kebocoran air (rata-rata 38%). terdapat 49.32% (Suseda.pesawat telepon tetap seluler di daerah pedesaan tidak sepenuhnya memenuhi kewajiban mereka.01% rumah tangga yang menggunakan tangki/septik tank sebagai tempat pembuangan tinja dan sisanya menggunakan kolam/sawah/kebun/sungai/lubang tanah/lainnya. Pada tahun 2007 rumah tangga yang menggunakan sumber air minum yang berasal dari air kemasan/ledeng/pompa sebesar 45. serta terbatasnya sumber dana yang dimiliki oleh pemerintah. tingkat pelayanan persampahan di Jawa Barat terutama di daerah perkotaan dan daerah kabupaten satelitnya secara umum masih sangat rendah.

875 ha yang umumnya terdapat di wilayah perkotaan dan permukiman nelayan. percepatan pembangunan rumah layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah perlu segera dilakukan dan pelibatan masyarakat serta dunia usaha dalam pengembangan perumahan di Jawa Barat perlu terus ditingkatkan.000 unit dan diperkirakan akan mencapai 1. Di samping itu.164 juta unit pada tahun 2013.Untuk aspek perumahan. backlog rumah pada tahun 2007 sebesar 980. Selama kurun waktu 2003 .2007.035 kawasan kumuh dengan luas sekitar 25. implementasi pengembangan kasiba/lisiba di daerah masih cukup rendah sehingga upaya-upaya untuk mendorong percepatan pengembangan kasiba/lisiba sangat diperlukan. terdapat pula 1. serta pengembangan kawasan permukiman baru yang lebih tertata. penanganan perumahan difokuskan pada upaya untuk mendorong pembangunan rumah susun di kota-kota metropolitan. Selain itu. Upaya ini dirasakan telah cukup mampu untuk mendorong penyediaan rumah yang layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah. 200 . pengembangan kasiba/lisiba serta penataan kawasan kumuh di perkotaan dan permukiman nelayan melalui kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Tingginya backlog rumah dan kawasan kumuh di perkotaan disebabkan oleh terbatasnya sumber pembiayaan yang berpihak pada masyarakat berpenghasilan rendah dan belum seimbangnya pembangunan di perkotaan dan perdesaan sehingga sulit untuk mengendalikan migrasi penduduk khususnya ke kota-kota besar. peningkatan kualitas lingkungan perumahan oleh masyarakat. Namun demikian.

Belum optimalnya kapasitas dan kompetensi aparat hukum baik secara kualitas maupun kuantitas. Lemahnya budaya hukum masyarakat.BAB V ISU-ISU STRATEGIS DI DAERAH V. Hal ini kurang menguntungkan bagi upaya untuk mewujudkan stabilitas ketertiban dan ketentraman masyarakat. 2. 2. sehingga ketika terdapat tuntutan masyarakat yang tidak tersalurkan dan terselesaikan secara memadai. Peraturan perUndang-undangan tidak konsisten.4. V. Kondisi eforia reformasi berkaitan dengan otonomi daerah yang memberikan peluang kepada masyarakat untuk menentukan kebijakannya.1. 3. dapat menimbulkan kerawanan sosial yang pada gilirannya dapat menimbulkan terjadinya gejolak dan kerusuhan sosial di lingkungan masyarakat. Krisis kepercayaan terhadap pemerintah yang akan mengakibatkan menurunnya kewibawaan pemerintah daerah dan rendahnya respon masyarakat dalam menangkal berbagai friksi sosial politik yang bernuansa kepentingan kelompok maupun golongan. Bidang Hukum Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan Bidang Hukum yakni : 1.2. Belum ada grand design tentang pembuatan program legislasi daerah. Menghadapi kondisi tersebut. termasuk tindakan anarkis. Keamanan dan Ketertiban Permasalahan yang akan mengganggu ketertiban dan ketentraman masyarakat antara lain : 1. pembangunan di ketertiban dan ketentraman masyarakat menghadapi tantangan yang cukup berat terutama dalam hal menghadapi ancaman 201 . sehingga terjadi pertentangan antara peraturan yang satu dengan lainnya.

sehingga mengurangi wawasan kebangsaan dan kesadaran bela negara. pembangunan di ketertiban dan ketentraman masyarakat menghadapi tantangan yang cukup berat terutama dalam hal menghadapi ancaman stabilitas serta tuntutan perubahan dan dinamika perkembangan masyarakat yang begitu cepat seiring dengan perubahan sosial politik yang membawa implikasi pada segala bidang kehidupan berbangsa. 2. sehingga mengurangi wawasan kebangsaan dan kesadaran bela negara. dapat menimbulkan kerawanan sosial yang pada gilirannya dapat menimbulkan terjadinya gejolak dan kerusuhan sosial di lingkungan masyarakat. bernegara. Menghadapi kondisi tersebut. Meningkatnya potensi konflik kepentingan dan pengaruh negatif arus globalisasi yang penuh keterbukaan. Meningkatnya potensi konflik kepentingan dan pengaruh negatif arus globalisasi yang penuh keterbukaan. 202 . termasuk tindakan anarkis. sehingga ketika terdapat tuntutan masyarakat yang tidak tersalurkan dan terselesaikan secara memadai. dan bermasyarakat. Hal ini kurang menguntungkan bagi upaya untuk mewujudkan stabilitas ketertiban dan ketentraman masyarakat. 3.stabilitas serta tuntutan perubahan dan dinamika perkembangan masyarakat yang begitu cepat seiring dengan perubahan sosial politik yang membawa implikasi pada segala bidangkehidupan berbangsa. bernegara. Krisis kepercayaan terhadap pemerintah yang akan mengakibatkan menurunnya kewibawaan pemerintah daerah dan rendahnya respon masyarakat dalam menangkal berbagai friksi sosial politik yang bernuansa kepentingan kelompok maupun golongan. Ketertiban dan Ketentraman Masyarakat 1.3. dan bermasyarakat. 3. Kondisi eforia reformasi berkaitan dengan otonomi daerah yang memberikan peluang kepada masyarakat untuk menentukan kebijakannya. V.

dan bukan membentuk struktur untuk melaksanakan fungsi. selain merupakan pelaksanaan ketentuan dari UU No. Hal ini menunjukkan bahwa penataan kelembagaan perangkat daerah masih belum sepenuhnya diarahkan sebagai bagian dari reformasi birokrasi untuk mewujudkan struktur pemerintahan yang ramping. Dalam Permendagri ini diatur secara detil jumlah dan nomenklatur dari setiap unit kerja dalam organisasi perangkat daerah. Penataan kelembagaan pemerintah daerah sebagai bagian reformasi birokrasi. Kecenderungan membentuk struktur untuk mewadahi orang. 57 Tahun 2007 sebagai petunjuk teknis dari PP No. antara lain untuk memudahkan alokasi dana kegiatan.V. Masih ada kecenderungan praktik resentralisasi dalam penataan kelembagaan daerah melalui keluarnya Permendagri No. c.4. Bidang Politik dan Pemerintahan 1. sehingga timbul kesan intervensi Pemerintah Pusat dalam penataan organisasi perangkat daerah. Kasus pembentukan Badan Daerah Penanggulangan Bencana (BDPB) yang diwajibkan oleh UU No. b. juga untuk memudahkan turunnya alokasi dana dari departemen terkait. yakni: a. Banyak hal yang diduga menjadi penyebab masih belum berhasilnya perampingan struktur birokrasi daerah. 24 203 . Banyaknya peraturan perundang-undangan sektoral yang mewajibkan pembentukan institusi formal untuk melaksanakan ketentuan peraturan tersebut menyebabkan terjadinya penumpukan lembaga di tingkat daerah. baik yang berupa lembaga struktural maupun non struktural pemerintahan yang harus diimbangi dengan penyediaan sekretariat bagi lembaga tersebut. meskipun sudah termasuk kategori pola maksimal tapi jumlah organisasi perangkat daerah tetap melebihi kuota maksimal tersebut dan hal ini dimungkinkan setelah ada persetujuan Departemen Dalam Negeri. Demikian pula dalam kasus penataan organisasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Misalnya dalam kasus pembentukan Dinas Olah Raga dan Pemuda. 41 Tahun 2007. 3 Tahun 2005. Kecenderungan membentuk struktur untuk mengakomodasi kepentingan institusi pemerintah di tingkat pusat.

dan sumber daya manusia birokrasi yang tersedia di daerah. Selain itu. Pembentukan BDPB yang tidak satu paket dengan pembentukan organisasi perangkat daerah lainnya juga menambah panjang prosedur birokratis dan politis. kecenderungan menyebabkan mengalokasikan daerah seolah anggaran terpaksa secara departemental membuat organisasi perangkat daerah dengan nomenklatur yang sama dengan lembaga di tingkat pusat. ketatalaksanaan. sehingga pola penganggaran seharusnya bersifat fungsional. Tambahan lembaga-lembaga ini seringkali menjadi beban bagi pemerintah daerah karena kewajiban untuk membentuk sekretariat bagi lembaga-lembaga tersebut. 204 .Tahun 2007 tentang Penanganan Bencana. Berbagai kendala tersebut menyebabkan isu penataan kelembagaan pemerintah daerah masih perlu ditangani secara khusus sebagai isu strategis dalam kaitannya dengan reformasi birokrasi. Praktik semacam ini perlu diubah. misalnya. sehingga menjadi tidak efektif dan efisien. Penataan kelembagaan perlu dikaitkan dengan pembenahan dalam kelembagaan. di Jawa Barat belum berhasil dibentuk karena Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang seharusnya membentuk BDPB ternyata belum dibentuk. serta harus pula ada kepastian insentif dan disinsentif agar pedoman penataan organisasi perangkat daerah benar-benar dipatuhi oleh daerah maupun pusat. Akibatnya. Hal ini perlu dilakukan agar semangat penataan kelembagaan yang proporsional tidak menjadi sia-sia karena keharusan daerah untuk membentuk lembaga-lembaga tambahan sebagai konsekuensi dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang dibuat di tingkat nasional. sehingga pertimbangan pragmatis untuk kemudahan memperoleh alokasi dana menjadi lebih mengemuka dibanding pertimbangan kebutuhan daerah. pembentukan BDPB menjadi tertunda padahal kasus bencana alam banyak terjadi di Jawa Barat.

Sebagai provinsi 205 . Karena itu. Pembenahan ketatalaksanaan dalam penyediaan pelayanan publik yang berkualitas. pembenahan sistem dan kurikulum pendidikan kedinasan dan diklat aparatur. Nilai strategis dari isu ini terletak pada komitmen Pemerintah Pusat untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik sebagai bagian dari upaya untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. termasuk dalam hal peningkatan capaian IPM Jawa Barat. Penataan manajemen sumber daya manusia aparat birokrasi daerah. Dengan demikian. Pemerintah Pusat seyogianya mulai mengembangkan dan menerapkan upaya-upaya untuk mendorong pergeseran aparat non fungsional menjadi aparat fungsional. peran pemerintah sangat diperlukan untuk memulihkan stabilitas bukan dengan mengandalkan kekuatan tetapi dengan kepemimpinan dan kapasitas yang kuat untuk membuat regulasi yang menjamin penyediaan dan distribusi barang-barang publik yang mudah diakses oleh masyarakat. Kondisi ini menyebabkan kinerja pemerintahan menjadi tidak optimal karena banyak fungsi yang belum dapat dilaksanakan dengan memadai. ketersediaan aparat fungsional untuk mengembangkan sektor ini menjadi sangat penting. 3. Tapi. Hal ini harus dilakukan mulai dari pembenahan sistem rekrutmen. serta penerapan tunjangan kinerja yang proporsional bagi aparat fungsional. Dalam kondisi krisis. 2. sementara jumlah aparat fungsional masih sangat sedikit dibandingkan jumlah keseluruhan aparat birokrasi di Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Demikian pula bila dikaitkan dengan kondisi Jawa Barat yang masih didominasi oleh kawasan perdesaan dengan mata pencaharian utama di sektor pertanian. baik dalam hal jaminan kepastian karir maupun besaran tunjangan. kenyataannya sekarang belum banyak aparat birokrasi yang bersedia menjadi aparat fungsional karena ketidakjelasan skema insentif bagi mereka. proporsi dan kompetensi aparat fungsional dapat semakin ditingkatkan untuk menunjang pencapaian IPM dan kesejahteraan daerah. dalam kerangka reformasi birokrasi. Jumlah aparat birokrasi di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih cukup banyak.sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang dilakukan suatu organisasi perangkat daerah bukan berdasarkan kesamaan nomenklatur.

tapi juga sebagai bentuk peringatan akan penyelenggaraan pembangunan kewilayahan yang selama ini belum merata. namun kenyataannya hingga tahun 2007 baru terbentuk 1 daerah otonom baru hasil pemekaran yakni Kabupaten Bandung Barat. seperti juga Kota Banjar yang sebelumnya merupakan Kotif dalam wilayah Kabupaten Ciamis. Kepastian regulasi yang menjadi landasan hukum bagi pelayanan investasi dan kerjasama antardaerah menjadi penting agar potensi Jawa Barat dapat dikembangkan dengan lebih optimal untuk mengatasi masalah-masalah rendahnya daya beli. Penataan daerah otonom baru Tuntutan masyarakat kabupaten/kota untuk membentuk daerah otonom baru atau lazim disebut pemekaran menunjukkan kecenderungan untuk makin meningkat selama periode 2003-2008. antara wilayah Jawa Barat bagian utara. dan lemahnya daya beli masyarakat. Kabupaten Indramayu. sebagian besar dari potensi ini justru dinikmati oleh orang-orang di luar Jawa Barat. Sementara Kota Cimahi yang terbentuk pada tahun 2001 merupakan daerah otonom baru yang terbentuk melalui mekanisme peningkatan status dari Kota Administratif (Kotif) menjadi Kota. Namun. sumber daya manusia. seperti yang terjadi di Kabupaten Ciamis. dan selatan. dan sumber daya buatan. Sekalipun Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah melakukan kajian pada tahun 1990-an yang hasilnya merekomendasikan pemekaran kabupaten/kota di Jawa Barat dari 24 kabupaten/kota menjadi 42 kabupaten/kota. semangat berbagai kelompok masyarakat mulai bertambah untuk mengajukan usul pemekaran daerah. dan Kabupaten Garut. Kabupaten Bogor. Karena itu. Kabupaten Cianjur. 206 . Tuntutan ini hendaknya dipahami bukan semata sebagai bentuk emosi masyarakat atau juga politisasi yang dilakukan para elit. rendahnya tingkat kesehatan.yang cukup besar dan letaknya berdekatan dengan ibukota negara. Pemerintah Pusat perlu memberikan dukungan dalam bentuk regulasi yang dapat mendorong inovasi pelayanan publik di Jawa Barat. Provinsi Jawa Barat masih menghadapi masalah yang pelik terkait dengan tingginya angka putus sekolah. 4. Jawa Barat kaya dengan potensi sumber daya alam. Padahal. tengah. Setelah Kabupaten Bandung Barat terbentuk.

namun kenyataannya. DAU Jawa Barat masih lebih sedikit dibanding Provinsi Jawa Timur yang jumlah penduduknya lebih sedikit dibanding Jawa Barat. Provinsi Jawa Barat memiliki jumlah penduduk dan luas wilayah yang besar. dan potensi masalah sosial yang tinggi. maraknya tuntutan pembentukan daerah otonom baru di Jawa Barat sesungguhnya merupakan bentuk protes terhadap pola hubungan keuangan pusat dan daerah yang selama ini dirasakan tidak adil bagi Provinsi Jawa Barat. Seluruh permasalahan ini seharusnya menyebabkan Jawa Barat memperoleh Dana Alokasi Umum (DAU) yang lebih tinggi dibanding kondisi sekarang. di masa mendatang. khususnya yang disebabkan oleh kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan masyarakat banyak. 78 Tahun 2007. kondisi geografis yang sangat beragam. 5. Pemerataan pembangunan dan pertumbuhan pusat-pusat kegiatan ekonomi baru juga harus terus menjadi prioritas yang memerlukan fasilitasi dari Pemerintah Pusat. tetapi untuk meredam tuntutan pemekaran ini Pemerintah Pusat perlu merumuskan formula baru yang lebih adil dalam hal perimbangan keuangan pusat dan daerah. Dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Untuk meminimalkan kerentanan akan potensi bencana sosial dan bencana kebijakan ini. Provinsi Jawa Barat rentan dengan terjadinya bencana alam dan bencana sosial. diperlukan peningkatan kapasitas pemerintahan untuk menyelenggarakan pembangunan 207 . Ketidakadilan dalam pola perimbangan keuangan inilah yang mendorong makin maraknya tuntutan pembentukan daerah otonom baru sebagai upaya untuk menarik lebih banyak DAU untuk kabupaten/kota di Jawa Barat. Pemerintah Pusat tidak bisa semata-mata menyatakan moratorium pembentukan daerah otonom baru atau ‘mempersulitnya’ melalui perhitungan hasil kajian sebagaimana sekarang terjadi dengan PP No. antara lain ditandai oleh tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan di Jawa Barat. Peningkatan kapasitas pemerintahan dan pembangunan daerah secara berkelanjutan. Karena itu. terutama dalam memfasilitasi pembangunan infrastruktur ke daerah-daerah terpencil sehingga kesan ‘ditinggalkan’ dalam pencapaian kesejahteraan yang selama ini dirasakan oleh masyarakat yang menuntut pemekaran dapat diatasi.Selain itu.

Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat seyogianya didukung oleh ketegasan dalam alokasi hak anggaran dan sumber daya personalia untuk melakukan terobosan-terobosan yang diperlukan daerahnya. antara lain melalui jaminan kesinambungan kapasitas fiskal yang memadai. pengembangan wilayah perbatasan. Demikian pula. 3. Padahal program pembangunan trans Jawa Selatan sebagai sarana transportasi sudah menjadi program Pemerintah Pusat. yang sangat diperlukan untuk membuka akses ke wilayah Jawa Barat bagian selatan yang saat ini masih terisolir. sehingga dapat menambah pendapatan daerah. dalam hal menuntut perimbangan keuangan yang lebih adil dari hasil Dana Perimbangan yang berasal dari sumber daya alam dan dari potensi pajak. Ekonomi. misalnya dalam hal pembangunan infrastruktur di kawasan Jawa Barat bagian selatan yang sejak tahun 1980-an belum juga terealisasi secara menyeluruh. pro-job. pengembangan desa tertinggal. V. Belum fokusnya kebijakan pengembangan kawasan andalan berdasarkan keunggulan kawasan andalan tersebut. posisi Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat belum secara optimal dimanfaatkan oleh Provinsi Jawa Barat untuk melakukan bargaining politics dengan Pemerintah Pusat maupun dengan pihak-pihak lain untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi Jawa Barat. bargaining politics dengan departemen terkait perlu didukung dengan ketersediaan basis data yang aktual dan valid tentang potensi obyek dan subyek dana perimbangan tersebut. Infrastruktur dan Hal Terkait Kesejahteraan 1. Pemerataan pembangunan. Penanganan kemiskinan.secara berkelanjutan. progender. Selama ini. kepemimpinan politik yang kuat.5. dan keberanian dari Gubernur untuk melakukan lobby dengan Pemerintah Pusat demi melaksanakan program-program prioritas yang pro-poor. Peningkatan kapasitas pemerintahan ini dapat dicapai. dan pro-environment. pengangguran dan ketenagakerjaan yhang belum optimal. keseimbangan pembangunan perkotaan 208 . 2. kinerja birokrasi yang profesional.

Rendahnya kualitas dan kuantitas infrastruktur wilayah. Rendahnya kondisi infrastruktur yang menghubungkan antar kabupaten/kota dan provinsi. Rendahnya penyerapan tenaga kerja lokal. 6. Kesehatan. 12. Transformasi struktural dari perdesaan ke perkotaan. Belum tersedianya sarana rehabilitasi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). 8.dan perdesaan. 13. 209 . Belum optimalnya pemanfaatan dana-dana yang bersumber dari swasta (masyarakat) seperti program CSR (Corporate Social Responsibilty). 2. Aksesibilitas dan pelayanan pendidikan. 10. Bidang Pendidikan. Masih sulitnya upaya diversifikasi komoditas ekspor dari komoditi konvensional Propinsi Jawa Barat seperti tekstil dan TPT. Sektor modern (industrialisasi) berkembang pesat. 11. yang disebabkan oleh rendahnya keterampilan dan keahlian. trasional ke modern tanpa ada persiapan system social dan ekonomi masyarakat. serta tingginya migrasi masuk dari luar Jawa Barat.6. 7. Ketersediaan dan kualitas sarana dan prasarana. persampahan serta air bersih. Ketimpangan sosial dan ekonomi (daya beli). 9. penanganan masalah perkotaan dan kerjasama antar daerah belum terwujud. Rendahnya kondisi infrastruktur yang menghubungkan antar kabupaten/ kota dan provinsi. seperti infrastruktur jalan dan jembatan. Gender dan Kekerasan pada anak dan wanita 1. 3. 5. menjadi magnet tingginya arus migrasi. V. Aksesibilitas Pelayanan Kesehatan masyarakat. 4.

6. yaitu Jawa Barat terutama bagian tengah dan selatan termasuk wilayah rawan gempa dan volkanisme. perubahan tataguna lahan di wilayah pesisir. terutama sampah. Permasalahan pencemaran. dan pencemaran air laut. pengangguran dan ketenagakerjaan. Inkonsistensi antara Rencana Tata Ruang Wilayah dengan eksisting penggunaan lahan/pemanfaatan ruang yang tidak berwawasan lingkungan. Wilayah ini termasuk daerah yang paling sering tertimpa musibah tanah longsor dibanding wilayah lainnya di Indonesia. yang terkait dengan "irrational land use" dan juga kegiatan pertambangan. 4. Penanganan terhadap tindakan kekerasan pada anak-anak dan wanita V. Permasalahan Lingkungan 1. pedagang kaki lima . semakin meluasnya kerusakan hutan (terutama karena perambahan) baik hutan pegunungan maupun hutan pantai (mangrove). 2. 210 . Permasalahan kebencanaan alam. yaitu kerusakan hutan mangrove. Permasalahan kawasan pesisir dan pantai. abrasi dan akresi pantai. 6. Penanganan kemiskinan.7. baik kuantitas maupun kualitasnya). penurunan produktifitas lahan. Degradasi sumberdaya alam khususnya air dan lahan.4.PKL dan kesemrawutan lalu lintas. baik pencemaran air. rumah tangga dengan segala jenis limbahnya. intrusi air laut. Permasalahan sosial kependudukan. Penanganan terhadap permasalahan gender/diskriminasi 7. udara maupun tanah yang penyebarannya sudah cukup meluas dan terkait dengan industri. semakin meluasnya tanah kritis dan DAS kritis. munculnya permukiman kumuh pada hampir seluruh kota di Jawa Barat. Kesiagaan penanganan bencana alam dan pengendalian serta peningkatan kualitas lingkungan hidup. 5. 3. 5. ditandai dengan tingginya urbanisasi. yang ditandai dengan deplesi sumber air (permukaan dan air bawah tanah.

baik dari interpretasi materi maupun implementasinya di lapangan. Tumpang-tindih peraturan perundang-undangan terhadap lingkungan. 211 .7.

serta kebutuhan daerah berdasarkan kacamata akademisi dari perguruan tinggi. Badan dan Lembaga tinggi Negara lainnya untuk selalu menyusun perencanaan pembangunan serta implementasinya dengan berdasarkan pada fenomena. Dengan demikian diharapkan untuk penyusunan RPJMN kedepan. warna agenda pembangunan yang akan disusun benar-benar mencerminkan agregasi preference dari seluruh daerah propinsi di Indonesia.BAB VI PENUTUP Seperti telah diuraikan pada awal laporan kajian ini bahwa buku ini tidak dimaksudkan untuk menilai keberhasilan kinerja pemerintahan daerah propinsi Jawa Barat dalam perencanaan dan implementasi pembangunannya tetapi dimaksudkan untuk menginspirasi pemerintah pusat dalam hal ini Bappenas dan Departemen. diharapkan hasil kajian ini dapat menjadi dasar pengembangan pola pikir perencanaan dan implementasi pembangunan di pemerintahan tingkat pusat yang lebih mumpuni serta dapat menyumbangkan masukan berharga dari kacamata yang sedikitnya lebih obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan. keunikan. 212 . Oleh karena itu.

Kajian Ekonomi Regional Propinsi Jawa Barat. Profil Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2007 BPS. 2003-2008 213 . Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Jawa Barat 2005-2025 Bapeda Jawa Barat. 26/08/32/Th. No.DAFTAR PUSTAKA Bapeda Jawa Barat. Basis Data Analisis IPM Jabar. berbagai tahun terbitan BPS Propinsi Jawa Barat. berbagai terbitan LKPJ Akhir Masa Jabatan Gubernur. No. 06/02/32/Th. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2001 BPS. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Propinsi Jawa Barat 2004-2009 Bapeda Jawa Barat. 2007 BPS Propinsi Jawa Barat. X. 14 Agustus 2008 BPS Propinsi Jawa Barat. No. X. Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2006 Disdik Jawa Barat. Berita Resmi Statistik. Berita Resmi Statistik. 15 Februari 2008 Bapeda Jawa Barat. berbagai tahun terbitan Kantor Bank Indonesia Bandung. Survey Ekonomi Daerah (SUSEDA). Draft Rencana Tata Ruang dan Wilayah Jawa Barat 2025 Bapeda Jawa Barat. 1 Juli 2008 BPS Propinsi Jawa Barat. 22/07/32/Th. X. Berita Resmi Statistik. DRAFT Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Propinsi Jawa Barat 2008-2013 Bapeda Jawa Barat. Profil Pendidikan.

dan pencucian uang Menurunnya jumlah pecandu narkoba dan mengunggkap kasus serta dapat diberantasnya jaringan utama supply narkoba dan prekusor Terungkapnya jaringan utama pencurian sumber daya kehutanan. Permasalahan Konflik antar kelompok masyrakat masih merupakan bahaya laten terutama di daerah pinggiran dan pedesaan Rekomendasi Dibuatnya mekanisme terarah dalam bentuk forum antar kelompok masyarakat serta perangkat-perangkat aturan daerahnya 2.Jumlah kasus peredaran Narkoba . Pengakuan terhadap bahasa daerah non sunda seperti cirebon Akomodasi keterwakilan aspirasi di tingkat DPRD Propinsi Capaian Minimnya konflik antar masyarakat dalam aspek agama maupun budaya.LAMPIRAN: MATRIKS KELUARAN EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN BEBERAPA AGENDA SASARAN PEMBANGUNAN 1. agama dll. serta meningkatnya penuntasan kasus kriminalitas untuk menciptakan rasa aman masyarakat Terungkapnya jaringan kejahatan internasional terutama narkotika. 6. Menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antar kelompok masyarakat atau antar golongan di daerah-daerah rawan konflik Terpeliharanya situasi aman dan dapai Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan kebikjakan public dan penyelesaian persoalan social masyarakat INDIKATOR Konflik horizontal antara kelompok masyarakat berdasar sub budaya etnik. serta membaiknya praktek penegakan hokum dalam pengelolaan sumbar daya kehutanan dalam memberantas illegal logging. 5. pelanggaran hokum dan meningkatnya . over cutting dan illegal trading Meningkatnya kepatuhan dan disiplin masyarakat terhadap hokum Meningkatnya kinerja Polri tercermin dengan menurunnya angka kriminalitas. Upaya Penciptaan kondisi aman dan kondusif lewat pendekatan dialog budaya dan agama. 3. 4. Menurunnya angka pelanggaran hukum dan indeks kriminalitas.Jumlah kasus penyalahgunaan narkoba Peningkatan kesadaran hukum Ketegasan dari petugas/Polri Tingkat kriminalitas masih cukup tinggi Tingkat Penyelesaian kasus meningkat Ketidak tegasan petugas dan ketidak konsistenan Petugas bersikaptegas/objekt if dan konsisten Penyuluhan/pembinaan Penciptaan kesempatan kerja Pelibatan institusi pendidikan dan kepemudaan Dialog antar kelompok masyarakat Kurangnya penyuluhan Tingkat Pengangguran Ketimpangan Ekonomi Kurangnya koordinasi dengan pihak terkait terutama dengan Penyuluhan secara berkala Program Pengelolaan Hutan bersama Masyarakat (PHBM) Operasi Hutan Lestari Lodaya Menurunnya pelanggaran Perda Meningkatnya penggunaan Narkoba Illegal 215 .Tingkat kasus kriminalitas yang dapat diselesaikan . 2. perdagangan manusia. 3. 1.

Jumlah regulasi yang dapat gender) terjaminnya konsistensi seluruh memperbaiki kualitas paraturan perundang undangan pada tingkat pelayanan pusat dan daerah. sasaran yang akan dilakukan yang disusun dalam tahun 2004-2009 adalah terciptanya system hokum nasional yang adil. kearifan local.penyelesaian kasus-kasus hukum Logging di jabar selatan makin mengkhawatir kan lingkungan keluarga Konsistensi Penegakan Hukum Kompetensi anggota Legislatif dalam hal budgeting dan legal drafting Tingkat Pengangguran In House Training yang lebih frekuentif dan terstruktur Keterlibatan dalam asosiasi internasional legislative Screening/ Kualifikasi anggota calon dewan Peraturan substansi hokum Untuk mendukung pembenahan system dan . Terlaksananya berbagai langkah-langkah Terwujudnya harmonisasi produk rencana aksi yang terkait dengan hukum provinsi dengan pengarmatan. 1.Jumlah regulasi yang dapat memperbaiki efektivitas dan tidak diskriminatif (termasuk tidak pemerintahan diskriminatif terhadap perempuan atau bias . dan kelembagaan peradilan dan penegak hokum yang berwibawa. bersih. yang berkeadilan . serta tidak bertentangan . pajak dan retribusi daerah In-House training tentang legal drafting rutin 4 buah raperda retribusi daerah dibatalkan pusat Inisiatif DPRD yang meningkat Integrasi aparat LINMAS Terwujudnya keserasian produk hokum dengan perundang-undangan yang lebih tinggi Angka pelanggaran HAM sangat kecil tercatat resmi hanya 2 Tingkat kesadaran hukum masih rendah Kurangnya sosialisasi produk hukum Perlu dilakukan sosialisasi/pembinaa n hokum terhadap masyarakat Penegakan disiplin dan bersikap jujur Peningkatan kasus korupsi yang dapat Masih lambatnya penaganan oleh kejati Perlu dilakukan keseragaman dalam penyelesaian kasus 216 . hidup lainnya yang maupun lembaga swasta/dunia usaha secara berkeadilan konsisten dan transparan 2. HAM 1. Terkoordinasinya dan terharmonisasinya .Tingkat kesadaran hokum dan Terciptanga aparat dan system pelayanan penaatan hokum masyarakat public yang adil dan dapat diterima oleh serta penegakan hukum dan setiam warga Negara. konsekuwen .produk hukum pelaksanaan peraturan perundang-undangan yangmengakomodasi nilaiyang tidak menonjolkan kepentingan tertentu nilai agama. lembaga/instansi pemerintah. kearifan local. professional dalam upaya memulihkan kembali kepercayaan hokum masyarakat secara keseluruhan. dan diskriminasi baik kepada setiap warga nilainilai Negara.Jumlah regulasi yang dapat dengan peraturan dan perundanganyang lebih menurunkan praktik korupsi tinggi.Jumlah peraturan daerah politik hokum. Terlaksananya peraturan perundangTersedianya produk hukum yang undangan yang tidak mengandung perlakuan mengakomodasi nilai-nilai agama. pemenuhan dan penegakan pemerintah pusat dan terhadap hukum dan hak azasi manusia Evaluasi terhadap raperda. sehinghga dapat mengurangi perlakuan dan nilai-nilai hidup lainnya diskriminatif terhadap warga Negara.

2. 5. 3. program pembangunan dan kebijakan public Menurunnya kesenjangan pencapaian pembangunan antara perempuan dan lakilaki yang diukur oleh angka GDI dan GEM Menurunnya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak Meningkatnya kesejahteraan dan perlindungan anak kabupaten/kota . Implementasi Perda tentang penanganan perdagangan orang dengan lebih baik.Jumlah produk hukumyang tidak saling bertentangan . 2.Pemberantasan korupsi Profesionalisme aparat pemerintahan daerah diselesaikan meningkat Akselerasi penerapan pengelolaan keuangan daerah sesuai aturan perundang2an (sama) Sidak langsung dari atasan Sosialisasi dan Pelatihan pengeloalaan keuangan daerah Penguatan kualitas pengawas keuangan dan bidang monitoring dan evaluasi Pemberdayaan gender . lapangan kerja dan politik Mengurangi jumlah kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan dan anak Indeks Pemberdayaan Gender Jawa Barat mencapai 54. 4. 1.4 (dibawah capaian nasional) Indeks Pembangunan Gender 60.indeks Pembangunan gender dan Indeks Pemberdayaan gender . dan Program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBA) 2015 Terjaminnya keadilan gender dalam berbagai perundangan. 4.Perempuan pekerja professional .Perempuan dalam angkatan kerja .8 (dibawah capaian nasional) Diskriminasi yang masih jelas terhadap kaum perempuan Angka kekerasan dan perdagangan anak masih tinggi 3800 kasus (2007) Tingkat pendidikan wanita yang rendah Kualitas hidup perempuan yang rendah Kesadaran Lingkungan masyarakat dan nilai di masyarakat masih apatis Peningkatan tingkat pendidikan perempuan Peningkatan kualitas hidup perempuan secara menyeluruh Sosialisasi pada stakeholders daerah. antara lain rencana aksi hak asasi Manusia 2004-2009 Rencana aksi pemberantasan korupsi Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi seksual Komersial anak Rencana aksi Nasional Penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak.Jumlah kekerasan baik terhadap perempuan maupun anak Peningkatan peran Perempuan dalam berbagai aspek kehidupan terutama dalam pendidikan. 217 . 3.Perempuan upah pekerja non pertanian (rasio) .Perempuan di parlemen .

10 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Pembahasan 6 (enam) raperda tentang penyertaan modal daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 6 (enam) Badan Usaha Milik Daerah Berkurangnya perda yang dibatalkan oleh pemerintah pusat Jumlah produk hukum daerah. termasuk di dalamnya perlindungan terhadap anakanak. Kepgub. akuntabel dan professional Tertatanya daerah otonom baru • • • • • • • Jumlah Rancangan perda Jumlah Raperda yang disahkan menjadi Perda Jumlah Pergub Jumlah Kepgub Jumlah aspirasi pemekaran wilayah Jumlah aspirasi pemekaran yang disetujui Gubernur Wilayah efektif yang dapat dimanfaatkan: Wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kawasan budi daya di luar kawasan lindung. 1. Mengembangkan 2. 5. Kepgub 3. 3. Pergub 350 bh. Persentase pekerja yang berpendidikan minimal SLTA terhadap penduduk usia 18 tahun ke atas. Persentase pekerja yang Perda No. • • • 218 . 4. menegakkan. efisien dan akuntabel Terbentuknya sumber dana dan pembiayaan pembangunan secara transparan. dalam bentuk Perda.Jabar telah memiliki perda tentang pencegahan dan penanganan perdagangan orang.756 bh Instruksi Gubernur 4 bh Masih dirasakan kurangnya kompetensi anggota legislative Masih kurangnya korespondensi produk hokum terhadap kebutuhan bersama masyarakat Masih sporadicnya kegiatan evaluasi produk hokum Kesenjangan pembangunan akibat pemusatan pertumbuhan ekonomi di sejumlah kawasan Membangun. dan mengembangkan pemberian reward and punishment secara tegas dan adil serta meningkatkan koordinasi dengan aparat penegak hokum Membangun networking dalam penyusunan peraturan perundangundangan antar susunan pemerintahan serta meningkatkan kerjasama dengan perguruan tinggi dalam penyusunan naskah akademik. Tercapainya sinkronisasi dan harmonisasi peraturan perundang-undangan pusat dan daerah. termasuk yang mengatur tentang otonomi khusus Meningkatnya kerjasama antara antar pemerintah daerah Terbentuknya kelembagaan pemerintah yang efektif. Pergub. P er sen t as e r u ma h tangga yang me mp un ya i kendaraan bermotor atau perahu atau perahu motor atau kapal motor.175 buah. dan lain-lain sepanjang tahun 20042008 mencapai 4. dengan perincian: Perda 65 bh. 7 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Perda No.

21 Tahun 2004 tentang Pedoman Kerjasama Daerah dengan Pihak Luar Negeri dan Keputusan Gubernur Jawa Barat No. Masih belum padunya koordinasi antar daerah kabupaten/kota Masih belum inline-nya perencanaan antar kabupaten/kota dengan provinsi secara vertical maupun horizontal Masih tidak efisien dan efektifnya penyelenggaraan tata kepemerintahan Masih banyak Terwujudnya perampingan struktur kelembagaan Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadi terdiri dari 3 Asisten (11 Biro). Berkurangnya secara nyata praktek korupsi di birokrasi dan dimulai dari tatanan pejabat yang paling atas 2. tenaga kerja dan transmigrasi. seperti kemiskinan. Pengajuan rancangan desain organisasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat Distribusi pegawai pemda Sosialisasi Jabatan fungsional 219 . dan 10 Lembaga Teknis. 1 Kantor Perwakilan. Balai Pertemuan: Tempat (gedung) yang digunakan untuk pertemuan masyarakat melakukan berbagai kegiatan interaksi sosial. Terciptanya system kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintah yang bersih.efisien. pengangguran. yang meliputi bidang kesehatan. peraturan dan praktek yang bersifat diskriminatif terhadap warga Negara. transparan dan akuntabel 3. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan 5. koperasi dan usaha kecil dan menengah serta penanaman menimbulkan persoalanpersoalan kesejahteraan. 14 Dinas. konsultasi publik yang menempatkan masyarakat sebagai subyek hukum yang berhak menyampaikan pendapat sebagai wahana public sphere dalam menjaring aspirasi masyarakat. 1 Sekretariat DPRD. Terjaminnya konsistensi seluruh paraturan pusat dan daerah dan tidak bertentangan peraturan dan perundangan di atasnya • Jumlah Produk kebijakan • Jumlah kersama antar daerah • Jumlah kerjasama antar propinsi • Jumlah kerjasama dengan luar negeri ditetapkan Keputusan Gubernur Jawa Barat No. pendidikan.• • • • berpendidikan minimal S-1 terhadap penduduk usia 25 tahun ke atas. 28 Tahun 2005 tentang Pedoman Kerjasama Daerah dengan Pihak Ketiga Membentuk perda dan petunjuk pelaksanaan mengenai penyusunan perda yang di dalamnya mengatur program legislasi daerah serta penguatan peran Panitia Legislasi DPRD Tersusunnya 11 (sebelas) kebijakan SPM untuk kabupaten/kota di Jawa Barat dan 5 (lima) dasar kebijakan SPM untuk Pemerintah Provinsi. kelompok atau gangguan masyarakat 4. dll. Terhapusnya aturan. Personil Aparat Pertahanan Personil Aparat Keamanan Karakteristik Wilayah 1.

Tingkat pemeliharaan sarana dan prasarana operasional SKPD/Balai/UPT/UPTD. kerjasama dengan pihak ketiga sebanyak 35 buah.Tingkat kasus pelanggaran disiplin dan kasus kepegawaian . dan kerjasama dengan pihak luar negeri sebanyak 24 buah jabatan fungsional yang jumlahnya sedikit padahal fungsinya sangat penting Komposisi PNS di Provinsi Jawa Barat mayoritas berada pada Golongan III atau berpangkat pada kategori piñata yang seimbang Aspirasi pemekaran wilayah yang tidak memperhatikan kapasitas nyata dari daerah calon Mutasi terstruktur Rekruitmen pegawai berdasarkan kebutuhan Perencanaan daya tampung kabupaten/kota di propinsi Jawa Barat 25 tahun ke depan sebanyak 42 wilayah . .Tingkat akuntabilitas penggunaan anggaran . Terselenggara nya kerjasama antardaerah sebanyak 43 buah.Tingkat kenyamanan dan pelayanan kepada masyarakat.Tingkat pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana kerja aparatur sesuai standar daerah .Tingkat kenyamanan dan pelayanan kepada masyarakat. 50% 75% 60% 70% 70% 60% 50% 220 .modal. .

waktu kerja dan kebutuhan real keluarga Rasional Political participation yang menurun Riskannya aksi aspirasi melalui unjuk rasa pada persepsi dunia usaha terutama investor luar Jawa Barat Sosialisasi pentingnya aspirasi politik bagi kepentingan masyarakat Memperketat syarat kualifikasi dan aturan calon legislative dan calon kepala daerah Meningkatkan mutu infrastruktur daerah guna kemudahan aspirasi masyarakat pinggiran Peningkatan pendidikan politik terstruktur dengan bantuan pihak institusi pendidikan 2.25 96.8% tidak menggunakan hak pilihnya Tingkat partisipasi politik berada pada tingkat sedang. 3. • • • • PENANGGULANGAN KEMISKINAN 1.65 88.Mengunrang tingkat korupsi 1. baik 221 .00 1. 4. Terpenuhinya kecukupan pangan yang bermutu dan terjangkau Terpenuhinya pelayanan kesehatan yang bermutu Tersedianya pelayanan pendidikan dasar yang bermutu dan merata Program Wajib Belajar Pendidikan dasar Pendidikan • Prosentase APK • Prosentase APM • Prosentase APK • Prosentase APM • Prosentase angka Penyuluhan Mendorong produksi pertanian Mendorong aktivitas UMKM 37. Tingkat Golput yang meningkat bukan hanya karena sifat politis namun juga teknis seperti jam kerja.2 % pada tahun 2009.. LSM dan NGO Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berpolitik Menurunnya tingkat unjuk rasa masyarakat menurunkan jumlah kasus korupsi Menurunya tingkat unjuk rasa kepada DPRD Meningkatkan tingkat partisipasi pemilih Meningkatkan aspirasi masyarakat yang disampaikan melalui system Tingkat perkara kasus korupsi menurun Meningkatnya jumlah kehadirdan peserta musrenbang Tingkat partisipasi pemilih mengalami penurunan menjadi 75. Menurunnya presentase penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan menjadi 8.90 79. Terlaksananya peran dan fungsi lembaga penyelenggara Negara dan lembaga kemasyarakatan sesuai konstitusi dan peraturan perundangan yang berlaku Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan kebijakan public Terlaksananya pemilihan umum yang demokratis jujur dan adil pada tahun 2008 • • • Jumlah perkara kasus korupsi Akuntabilitas kinerja pemerintahan Tingkat kehadiran peserta musrenbang untuk berbagai produk kebijakan pemerintah daerah Jumlah unjuk rasa kepada lembaga DPRD Tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilu DPR/DPD/DPRD Tingkat partisipasi pemilih dalam sejumlah pemilihan kepala daerah Jumlah partai politik.2% dan sebanyak 24.00 80. 3.35 Sistem penganggaran dan birokrasi Situasi ekonomi dunia yang melemah Sosialisasi pentingnya wajib belajar Reformasi Kelembagaan (Institutional Reform) 2.

Terbukanya kesempatan kerja dan berusaha 6. Manajemen perencanaan.31% 12. Terbukanya akses masyarakat miskin dalam pemanfaatan SDA dan terjaganya kualitas lingkungan hidup 9.2% 22. Meningkatnya partisipasi masyarakat miskin dalam pengambilan keputusan melanjutkan • Rasio rungbel ruang kelas • Prosentase sarana memadai • Prosentase penerima beasiswa • LPE • Inflasi • PMTB • Kontribusi sektor industri manufaktur (%) • Kontribusi sektor perdagangan. Mengundang investor asing Membenahi procedural perizinan usaha Mengurangi praktek pungli 6. Terpenuhinya kebutuhan air bersih dan aman bagi masyarakat miskin 8.45% Pemberdayaan manusia pelaku usaha (swasta/pengusaha) terutama pelaku usaha kecil. pelaksanaan dan pengendalian peningkatan daya beli perlu di integrasikan di dalam satu pusat kewenangan dan pertanggungjawaban .137 trilyun 42. dan 11. hotel dan restoran (%) • Kontribusi sektor pertanian (%) Mendorong swadaya masyarakat Keterlibatan sector swasta 60. Terpenuhinya kebutuhan dan sanitasi yang layak dan sehat 7. Semua hambatan terhadap peluang ekonomi dan politik dihapuskan sehingga semua orang dapat berpartisipasi dan mendapatkan keuntungan dari peluang yang tersedia Keberpihakan pemerintah untuk melindungi 222 . Terjamin dan terlindunginya hak perorangan dan hak komunitas atas tanah 10.00 70 % Kecenderungan naiknya angka tingkat pengangguran Berkurangnya kecepatan realisasi penyerapan APBD Tidak stabilnya cuaca perubahan iklim kelembagaan pemerintah maupun kelembagaan ekonomi. Terjaminnya rasa aman dari tindak kekerasan.4% 5.5.1% Rp 87. menengah dan koperasi.

Efisiensi dan efektivitas distribusi barang kebutuhan pokok masyarakat dan barang strategis .2% 75 % . Dalam 3(tiga) tahun pertama diharapkan setengahnya telah dicapai.Volume dan nilai impor Jawa Barat per tahun . 4.Jumlah transaksi produk agro Melemahnya permintaan impor dari Negara tujuan ekspor Persaingan dengan Negara eksportir lain terutama China Biaya produksi yang makin tinggi akibat harga BBM Membuka gerbang ekspor langsung via pelabuhan/bandara berskala internasional Membangun jalur infrastruktur transportasi antar kab/kota yang lebih baik Insentif terstruktur dan tersistem terhadap para pelaku 122 Milyar 223 . inpor kepelabuhan. Peningkatan efisiensi pelayanan ekspor3.7 Juta Ton US $ 7.6% 8.kelompok masyarakat dari persaingan pasar yang tidak adil dan tidak seimbang. kepabeanan dan administrasi (verifikasi dan restitusi) perpajakan ke tingkat efisien di Negaranegara tetangga yang maju perekonomiannya di lingkungan ASEAN.Laju Pertumbuhan ekspor Jawa barat . Terwujudnya iklim investasi yang sehat dengan reformasi kelembagaan ekonomi diberbagai tingkatan pemerintah yang mampu menguragi praktek ekonomi tinggi 2.7 Juta Ton US $ 18. Pemangkasan prosedur perijinan start up dan operasi bisnis ke tingkatan efisieni di Negara-negara tetangga yang maju - Volume dan nilai ekspor Jawa Barat per tahun Memperbaiki system procedural perizinan Eksibisi-eksibisi internasional Kerjasama dengan Kadin dan Apindo Mengundang investor asing Ekstensifikasi dan intensifikasi komoditi ekspor 9. Tersedianya data pokok untuk dapat mengukur keadaan dan perkembangan daya beli tidak hanya di tingkat propinsi tetapi juga di setiap kabupaten/kota partisipasi angkatan kerja terutama wanita penciptaan lapangan kerja (job creation) PENINGKATAN INVESTASI DAN EKSPOR NON MIGAS 1.10 M 2.Laju Pertumbuhan impor Jawa Barat .9 M 5.

Meningkatnya investasi secara bertahap sehingga peranannya terhadap Produk Nasional Bruto meningkat dari 20. 6.901. mesin. target peningkatan - Jumlah wirausaha industry kecil menengah Jumlah Penyerapan tenaga kerja industri kecil menengah Persentase Tingkat pelayanan Mendorong produksi dan peningkatan kapasitas produksi Kerjasama dengan 195. dan peralatannya sebagai 224 .5 persen pada tahun 2004 menjadi 27.8 persen pada tahun 2009 dengan komposisi produk yang lebih beragam dan kandungan teknologi yang semakin tinggi Meningkatnya efisiensi dan efektivitas system distribusi nasional. Dengan tingkat operasi rata-rata hanya sekitar 60 persen pada tahun 2003.Tingkat Advokasi perlindungan konsumen per tahun .2 persen pada tahun 2005 menjadi sekitar 9.4 persen pada tahun 2009 dengan penyebaran yang makin banyak pada kawasan-kawasan di luar Jawa. sehingga sector pariwisata diharapkan mampu menjadi salah satu penghasilan devisa besar.600 buah -BDKT : 1.878 unit 1. Meningkatnya kontribusi kiriman dari tenaga kerja Indonesia yang berada di luar negeri dari perkiraan sekarang yang berkisar sekitar USD 1 miliar Jawa Barat per tahun . bentuk) Pengembangan Promosi 200 perusahaan 90% 90 % 12 event PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR 1.Jumlah peneraan UTTP dan BDKT per tahun Mengurangi aturanaturan daerah yang tidak ramah terhadap investor Standardisasi komoditi 80 % 70 % 15 Kali 5 kali 20 % -UTTP : 1.Persentase Tingkat Penyelesaian sengketa konsumen . perekonomiannya di lingkungan ASEAN. 7. Meningkatnya pertumbuhan ekspor secara bettahap dari sekitar 5. Dalam 3(tiga) tahun pertama diharapkan setengahnya telah dicapai. Sektor industry manufaktur (non-migas) ditargetkan tumbuh dengan laju rata-rata 8.Persentase penyediaan sarana dan prasarana perdagangan yang memadai . terutama Kawasan Timut Indonesia.780 Orang 40 Produktifitas pekerja yang rendah Kurangnya Meningkatkan kinerja subsektor alat angkutan. skala.Tingkat pengawasan barang beredar per tahun .5.958. 9. tertib niaga dan kepastian berusaha untuk menwujudkan perdagangan dalam negeri yang kondusif dan dinamis Meningkatnya kontribusi pariwisata dalam perolehan devisa menjadi sekitar USD 10 miliar pada tahun 2009.820 SIUP industry yang cenderung sulit turun Kurangnya inisiatif dan kreatifitas dari para pengusaha local Kondisi nilai tukar rupiah/dollar yang tidak stabil Koordinasi antar kab/kota dalam upaya mendorong ekspor ekspor Jaminan pemda secara sektorral yang mendukung eksistensi dari investasi komoditas ekspor Pemenuhan standard komoditas ekspor Skema terstruktur dan saling menguntungkan untuk peremajaan alat-alat produksi komoditas pertanian - - Jumlah pelaku usaha yang dibina di Jawa Barat Presentase ketepatan waktu pelayanan Perizinan Prosentase kepatian & ketepatan biayapelayanan perizinan Jumlah sarana promosi investasi (event.56 persen per tahun.Persentase Tingkat penggunaan produk dalam negeri .179 TDP dan 19.105 53. 8.

sebagai cermin daya saing sector ini dalam menghadapi produk-produk impor.965. kapasitas utilisasi khususnya sub-sektor yang masih berdaya saing akan meningkat ke titik optimum yaitu sekitar 80 % dalam dua sampai tiga tahun pertama. terutama industry pengolahan hasil sumber daya alam. baik untuk bahan baku maupun produk akhir. sumber-sumber pendanaan yang terjangkau dan kebijakan fiscal yang menunjang.2. 6.134 Orang kualitas calon pekerja dari sisi keahlian dan skill Kurang ramahnya lingkungan masyarakat terhadap para pengusaha dan pemilik modal Hambatan procedural perizinan usaha Masih tingginya import contain Persaingan global dan melemahnya daya beli masyarakat Lambatnya braindrain dan proses alih teknologi Daya saing industri tersebut masih rendah Tingginya ketergantungan pada bahan baku impor rendahnya upaya diversifikasi Menyelesaikan krisis kelistrikan Pengembangan system distribusi dan sarana prasarana infrastruktur Mengoptimalkan modal dasar perekonomian Jawa Barat dari industry pariwisata Pemetaan potensi industry dan tindak lanjut pembenahan pada berbagai aspek penunjang. terutama untuk industry yang dinilai memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Terciptanya iklim usaha yang lebih kondusif baik bagi industry yang sudah ada maupun investasi baru dalam bentuk tersedianya layanan umum yang baik dan bersih dari KKN. Meningkatnya vlume ekspor produk manufaktur dalam total ekspor nasional Meningkatnya proses alih teknologi dari forign direct investment (FDI)pasar yang dicerminkan dari meningkatnya pemasokan bahan antar dari bahan local Meningkatnya penerapan standarisasi produk industry manufaktu sebagai factor ke luar pulau jawa.500 Perusahaan 3. Peningkatan pangsa sector industry manufaktur di pasar domestic. - - - usaha IKM Persentase Tingkat koordinasi dan konsolidasi industry Jumlah Keterlibatan perusahaan dalam pengembangan klaster industry Jumlah Penerapan standarisasi dan sertifikasi industry Jumlah penyerapan tenaga kerja oleh industry besar institusi pendidikan 70 % Penerapan standarisasi dan upaya sosialisasi sertifikasi industry 80 Perusahaan 1. 225 . 7. 4. 3. 5. Target penyerapan tenaga kerja dalam lima tahun terakhir mendatang adalah sekitar 500 per tahun (termasuk pengadaan migas).

Meningkatnya kemampuan petani untuk dapat menghasilkan komoditas yang berdaya saing tinggi 2. dll Mengoptimalkan aturan penetaan dan Tingkat penyerapan TK dari sector pertanian Pertumbuhan sector pertanian Pertumbuhan produksi padi Peningkatan kesejahteraan petani (Nilai Tukar Petani) 7.5% 96. Meningkatnya kemampuan petani dan nelayan dalam mengelola sumber daya alam secara lestari dan bertanggung jawab 9. Meningkatnya daya saing dan nilai tambah produk pertanian dan perikanan 7. agroindustri. untuk pengamanan kemandirian pangan 3. ketersediaan dan konsumsi pangan untuk menurunkan ketergantungan pada beras. Meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap protein hewani yang berasal dari ternak dan ikan 6.85% 226 . Terjaganya tingkat produksi beras dalam negeri dengan tingkat ketersediaan minimal 90 % dari dari kebutuhan domestic.79% 9. Optimalnya nilai tambah dan manfaat hasil Tingkat kontribusi sector pertanian Gerakan Multi Aktivitas Agribisnis (GEMAR) Pelatihan dan penyuluhan Distribusi pupuk dan permodalan UMKM Jawa Barat sebagai produsen terbesar nasional untuk 40 komoditi agribisnis khususnya padi 29. Diversifikasi produksi. Meningkatnya produksi dan ekspor hasil pertanian dan perikanan 8.65% Skala efisiensi yang rendah Belum tergalinya potensi subsector pertanian yang lain seperti perikanan dan kelautan Lemahnya pembudidaya dan kualifikasi nelayan Belum adanya upaya diversifikasi produk pertanian Distribusi pupuk yang terhambat Cuaca dan iklim Perkembangan dan diversifikasi produk pertanian Pengembangan sumber daya perikanan dan kelautan Mendorong penerapan teknologi pertanian berbasis agroindustri Pemetaan visi misi kabupaten kota dalam rangka mengarahkan pengembangan agrowisata. 4.kemampuan dalam pengembangan teknologi Rendahnya kemampuan dan keterampilan sumber daya industry Tingginya pencemaran limbah industry REVITALISASI PERTANIAN 1. Meningkatnya ketersediaan pangan ternak dan ikan dari dalam negeri 5.

Meningkatnya nilai ekspor produk usaha kecil dan menengah dengan laju pertumbuhan lebih tinggi dan laju pertumbuhan nilai tambahnya 4.600 KUMKM 400 KUMKM 25 KUMKM 249 KUMKM 1.100 KUMKM 4. akreditasi dan sertifikasi) Tingkat kapasitas SDM KUMKM per tahun Ketersediaan aspek legalitas bagi KUMKM per tahun Ketersediaan sarana dan parasana bagi KUMKM per tahun Akses permodalan ke lembaga keuangan mikro per tahun Akses terhadap teknologi tepat guna per tahun Promosi Produk KUMKM per tahun melalui Jaringan KUMKM Promosi Produk KUMKM per tahun melalui Pameran KUMKM Kontribusi keberadaan BUMD terhadap PAD per tahun Koordinasi antar lembaga/dinas horizontal pemerintahan dan vertical departemen Penggalakan dan sosialisasi sumber permodalan Upaya penciptaan perda terkait UMKM seperti aturan pasar modern dan tradisional Kerjasama dengan institusi pendidikan dan usaha skala besar dibidang perbankan dan BUMN Mendorong UMKM dengan cara membuka peluang diversifikasi usaha di beidang non konvensional seperti perikanan dan produk kelautan 6. Meningkatnya hasil hutan non kayu 30 % dari produksi tahun 2004 11.hutan kayu 10.BPR dan PD. Dan penyelesaian penetapan kesatuan pemangkuan hutan sebagai acuan pengelolaan hutan produksi yang tidak menentu peruntukan lahan PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO KECIL/MENENGAH 1. - - - - - - Jumlah wirausaha baru per tahun Jumlah wirausaha yang berdaya saing per tahun Kualitas kelembagaan KUMKM per tahun (standarisasi. Bertambahnya hutan tanaman minimal seluas 5 juta ha. Meningkatnya proporsi usaha kecil formal 3. Meningkatnya produktivitas UMKM dengan laju pertumbuhan lebih tinggi dari laju pertumbuhan produktivitas nasional 2.000 wirausaha Baru 250 wirausaha 1. Berfungsinya system untuk menumbuhkan wirausaha baru berbasis Iptek 5.PK sebesar Rp rentannya UMKM terhadap perubahan harga bahan bakar tingginya kredit konsumsi dibandingkan dengan kredit investasi penyaluran dana kredit untuk usaha mikro kecil dan menengah belum optimal Kasus kredit macet Potensi PHR harus dikaitkan dengan tujuan pengembangan UMKM Skema terstruktur untuk pengembangan UMKM secara menyeluruh Koordinasi antar dinas/badan/lembag a/pemerintahan kota/kabupaten yang secara sinergi Pengawasan dan evaluasi terstruktur terhadap penggunaan dana permodalan UMKM Pembinaan via diklat terkait dengan pengayaan iptek dalam kegiatan operasional usaha 227 . Meningkatnya kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi sesuai dengan jatidiri koperasi.00 KUMKM 43 KUMKM 484 KUMKM Setoran dividen BUMD terhadap PAD sebesar 10% Jumlah penyaluran Kredit PD.

- Keuangan Non Perbankan 211 milyar 228 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->