P. 1
Tafsir Ayat

Tafsir Ayat

|Views: 285|Likes:
Published by Adi Aprilla

More info:

Published by: Adi Aprilla on Sep 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/26/2010

pdf

text

original

Tafsir Ayat-ayat Puasa Ramadhan Allah Ta'ala berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas

kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui" (Al-Baqarah: 183-184) Allah berfirman yang ditujukan kepada orang-orang beriman dari umat ini, seraya menyuruh mereka agar berpuasa. Yaitu menahan dari makan, minum dan bersenggama dengan niat ikhlas karena Allah Ta'ala. Karena di dalamnya terdapat penyucian dan pembersihan jiwa, juga menjernihkannya dari pikiran-pikiran yang buruk dan akhlak yang rendah. Allah menyebutkan, di samping mewajibkan atas umat ini, hal yang sama juga telah diwajibkan atas orang-orang terdahulu sebelum mereka. Dari sanalah mereka mendapat teladan. Maka, hendaknya mereka berusaha menjalankan kewajiban ini secara lebih sempurna dibanding dengan apa yang telah mereka kerjakan. (Tafsir Ibn Katsir, 11313) Lalu, Dia memberikan alasan diwajibkannya puasa tersebut dengan menjelaskan manfaatnya yang besar dan hikmahnya yang tinggi. Yaitu agar orang yang berpuasa mempersiapkan diri untuk bertaqwa kepada Allah, Yakni dengan meninggalkan nafsu dan kesenangan yang dibolehkan, semata-mata untuk mentaati perintah Allah dan mengharapkan pahala di sisi-Nya. Agar orang beriman termasuk mereka yang bertaqwa kepada Allah, taat kepada semua perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan dan segala yang diharamkan-Nya. (Tafsir Ayaatul Ahkaam, oleh Ash Shabuni, I/192.) Ketika Allah menyebutkan bahwa Dia mewajibkan puasa atas mereka, maka Dia memberitahukan bahwa puasa tersebut pada hari-hari tertentu atau dalam jumlah yang relatif sedikit dan mudah. Di antara kemudahannya yaitu puasa tersebut pada bulan tertentu, di mana seluruh umat Islam melakukannya. Lalu Allah memberi kemudahan lain, seperti disebutkan dalam firman-Nya: "Maka barangsiapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada harihari yang lain." Karena biasanya berat, maka Allah memberikan keringanan kepada mereka berdua untuk tidak berpuasa. Dan agar hamba mendapatkan kemaslahatan puasa, maka Allah memerintahkan mereka berdua agar menggantinya pada hari-hari lain. Yakni ketika ia sembuh dari sakit atau tak lagi melakukan perjalanan, dan sedang dalam keadaan luang. (Lihat kitab Tafsiirul Lathifil Mannaan fi Khulaashati Tafsiiril Qur'an, oleh Ibnu Sa'di, hlm. 56.)

Dan firman Allah Ta'ala: "Maka barangsiapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari lain." Maksudnya, seseorang boleh tidak berpuasa ketika sedang sakit atau dalam keadaan bepergian, karena hal itu berat baginya. Maka ia dibolehkan berbuka dan mengqadha'nya sesuai dengan bilangan hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari lain. Adapun orang sehat dan mukim (tidak bepergian) tetapi berat (tidak kuat) menjalankan puasa, maka ia boleh memilih antara berpuasa atau memberi makan orang miskin. Ia boleh berpuasa, boleh pula berbuka dengan syarat memberi makan kepada satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Jika ia memberi makan lebih dari seorang miskin untuk setiap harinya, tentu akan lebih baik. Dan bila ia berpuasa, maka puasa lebih utama daripada memberi makanan. Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas radhiallahu 'anhum berkata: "Karena itulah Allah berfirman: "Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (Tafsir Ibnu Katsir; 1/214) Firman Allah Ta'ala: "(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petuniuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur." (Al-Baqarah: 185). Allah memberitahukan bahwa bulan yang di dalamnya diwajibkan puasa bagi mereka itu adalah bulan Ramadhan. Bulan di mana Al-Qur'an -yang dengannya Allah memuliakan umat Muhammad- diturunkan untuk pertama kalinya. Allah menjadikan Al-Qur'an sebagai undang-undang serta peraturan yang mereka pegang teguh dalam kehidupan. Di dalamnya terdapat cahaya dan petunjuk. Dan itulah jalan kebahagiaan bagi orang yang ingin menitinya. Di dalamnya terdapat pembeda antara yang hak dengan yang batil, antara petunjuk dengan kesesatan dan antara yang halal dengan yang haram. Allah menekankan puasa pada bulan Ramadhan karena bulan itu adalah bulan diturunkannya rahmat kepada segenap hamba, dan Allah tidak menghendaki kepada segenap hamba-Nya kecuali kemudahan. Karena itu Dia membolehkan orang sakit dan musafir berbuka puasa pada hari-hari bulan Ramadhan (Tafsir Ayatul Ahkam oleh Ash Shabuni, I/192), dan memerintahkan mereka menggantinya, sehingga sempurna bilangan satu bulan. Selain itu, Dia juga memerintahkan memperbanyak dzikir dan takbir ketika selesai melaksanakan ibadah puasa, yakni pada saat sempurnanya bulan Ramadhan. Karena itu Allah berfirman: "Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang

diberikan kepada kalian, agar kalian bersyukur." Maksudnya, bila kalian telah menunaikan apa yang diperintahkan Allah, taat kepada-Nya dengan menjalankan hal-hal yang diwajibkan dan meninggalkan segala yang diharamkan serta menjaga batasanbatasan (hukum)-Nya, maka hendaklah kalian menjadi orang-orang yang bersyukur karenanya. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/218) Lalu Allah berfirman : "Dan apabila para hamba-Ku bertanya kepadamu (hai Muhammad) tentang Aku maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa Kepada-Ku maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Al-Baqarah:186) Sebab Turunnya ayat : Diriwayatkan bahwa seorang Arab badui bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah Tuhan kita dekat sehingga kita berbisik atau jauh sehingga kita berteriak (memanggil-Nya ketika berdo'a)?" Nabishallallahu 'alaihi wasallam hanya terdiam, sampai Allah menurunkan ayat di atas. (Tafsir Ibnu Katsir; I/219.) Tafsiran ayat: Allah menjelaskan bahwa Diri-Nya adalah dekat. Ia mengabulkan do'a orang-orang yang memohon, serta memenuhi kebutuhan orang-orang yang meminta. Tidak ada tirai pembatas antara Diri-Nya dengan salah seorang hamba-Nya. Karena itu, seyogyanya mereka menghadap hanya kepada-Nya dalam berdo'a dan merendahkan diri, lurus dan memurnikan ketaatan pada-Nya semata. (Tafsir Ibnu Katsir, I/218.) Adapun hikmah penyebutan Allah akan ayat ini yang memotivasi memperbanyak do'a berangkaian dengan hukum-hukum puasa adalah bimbingan kepada kesungguhan dalam berdo'a, ketika bilangan puasa telah sempurna, bahkan setiap kali berbuka. Anjuran dan Keutamaan Do'a Banyak sekali nash-nash yang memotivasi untuk berdo'a, menerangkan fadhilah (keutamaan)nya dan mendorong agar suka melakukannya. Di antaranya adalah sebagai berikut : Firman Allah Ta'ala: "Dan Tuhanmu berfirman: Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu." (Ghaafir: 60). Di dalamnya Allah memerintahkan berdo'a dan Dia menjamin akan mengabulkannya. Firman Allah Ta'ala: "Berdo'alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (Al-A'raaf: 55). Maksudnya, berdo'alah kepada Allah dengan menghinakan diri dan secara rahasia, penuh khusyu' dan merendahkan diri. "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." Yakni tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas, baik dalam berdo'a atau lainnya, orang-orang yang melampaui batas dalam setiap perkara. Termasuk

melampaui batas dalam berdo'a adalah permintaan hamba akan berbagai hal yang tidak sesuai untuk dirinya atau dengan meninggikan dan mengeraskan suaranya dalam berdo'a. Dalam Shahihain, Abu Musa Al-Asy'ari berkata: "Orang-orang meninggikan suaranya ketika berdo'a, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai sekalian manusia, kasihanilah dirimu, sesungguhnya kama tidak berdo'a kepada Dzat yang tuli, tidak pula ghaib. Sesungguhnya Dzat yang kamu berdo'a pada-Nya itu Maha Mendengar lagi Maha Dekat." Firman Allah Ta'ala: "Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan?" (An Naml: 62). Maksudnya, apakah ada yang bisa mengabulkan do'a orang yang kesulitan, yang diguncang oleh berbagai kesempitan, yang sulit mendapatkan apa yang ia minta, sehingga tak ada jalan lain ia baru keluar dari keadaan yang mengungkunginya, selain Allah semata? Siapa pula yang menghilangkan keburukan (malapetaka), kejahatan dan murka, selain Allah semata? Dari An-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Do'a adalah ibadah." (HR, Abu Daud dan At-Tirmidzi, At-Tirmidzi berkata, haditshasan shahih). Dari Ubadah bin As-Shamit radhiallahu 'anhu ia berkata, sesungguhnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada seorang muslim yang berdo'a kepada Allah di dunia dengan suatu permohonan kecuali Dia mengabulkannya, atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya, selama ia tidak meminta suatu dosa atau pemutusan kerabat." Maka berkatalah seorang laki-laki dari kaum: "Kalau begitu, kita memperbanyak (do'a)." Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah memberikan kebaikanNya lebih banyak daripada yang kalian minta" (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, haditshasan shahih. Lihat kitab Riyaadhus Shaalihiin, hlm. 612 dan 622). Lalu Allah Ta'ala berfirman : "Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteriisterimu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu, dan makan minumlah hinngga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa." (Al-Baqarah:187) Sebab turunnya ayat :

" Ketika sampai tengah hari. sebagaimana mereka dibolehkan pula ketika malam hari makan dan minum: "Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa melakukan rafats dengan isteri. bahwasanya ia berkata: "Dahulu. oleh Ash-Shabuni. ia tidak makan pada malam dan siang harinya hingga sore.) Tafsiran ayat : Allah Ta'ala berfirman untuk memudahkan para hamba-Nya sekaligus untuk membolehkan mereka bersenang-senang (bersetubuh) dengan isterinya pada malam-malam bulan Ramadhan. yang semua itu merupakan batasan-batasan-Nya. sehingga turunlah ayat ini: "Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isterimu. yaitu fajar". para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Pada akhirnya Allah menutup ayat-ayat yang mulia ini dengan memperingatkan agar mereka tidak melanggar perintah-perintah-Nya dan melakukan hal-hal yang diharamkan serta berbagai maksiat. dan telah datang (waktu) berbuka. serta taat berpegang teguh dengan syari'at Allah sehingga mereka menjadi orang-orang yang bertaqwa. jika seseorang (dari mereka) berpuasa. (Tafsir Ayaatil Ahkaam. 9. karena itu ia tertidur. Tatkala ia melihat suaminya (tertidur) ia berkata: "Celaka kamu. Suatu ketika Qais bin Sharmah Al-Anshari dalam keadaan puasa. Ketika datang waktu berbuka. Karena ia adalah waktu meninggalkan segala urusan dunia untuk sepenuhnya konsentrasi beribadah. dengan bersenang-senang bersama isteri-isteri mereka. Halhal itu telah Dia jelaskan kepada para hamba-Nya agar mereka menjauhinya. ia mendatangi isterinya seraya berkata padanya: "Apakah engkau memiliki makanan?" Ia menjawab: "Tidak. mereka dilarang melakukan hal tersebut (pada malam hari). sedang pada siang harinya bekerja di kebun kurma. ia menggauli (isterinya)." Padahal siang harinya ia sibuk bekerja." Rafats adalah bersetubuh dan hal-hal yang menyebabkan terjadinya (bercumbu). tetapi aku akan pergi mencarikan untukmu. hlm. Lalu Dia mengecualikan keumuman dibolehkannya menggauli isteri (malam hari bulan puasa) pada saat i'tikaf. (Lihat kitab Ash Shahiihul Musnad min Asbaabin Nuzuul.isterimu." Maka mereka sangat bersuka cita karenanya. tetapi kemudian Allah membolehkan mereka makan minum dan melampiaskan kebutuhan biologis. Hal itu untuk menampakkan anugerah dan rahmat Allah pada mereka. Dahulu. Ibnu Abbas berkata: "Maksudnya para isteri itu merupakan ketenangan bagimu dan kamu pun merupakan ketenangan bagi mereka. Maka hal itu diberitahukan kepada Nabishallallahu alaihi wasallam. kemudian turunlah ayat berikut: "Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam.Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Al-Barra' bin 'Azib. Kemudian datanglah isterinya. begitupun sebaliknya. Maka ia adalah penutup bagi laki-laki dan pemberi ketenangan padanya.) Keutamaan Puasa Banyak sekali ayat yang tegas dan muhkam dalam Kitabullah yang mulia. Allah menyerupakan wanita dengan pakaian yang menutupi badan. I/93. memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah 'Azza wa Jalla dan . tetapi ia tidur sebelum berbuka." Dan Allah membolehkan menggauli para isteri hingga terbit fajar.

juga menjelaskan keutamaan-keutamaannya. Amin. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda (yang artinya): Shalat yang lima waktu. seperti firman Allah (yang artinya): Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat. dan kaum pria serta wanita yang banyak mengingat Allah. kaum pria yang patuh dan kaum wanita yang patuh." [Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan Al-Baihaqi 4/204 . [Hadits Riwayat Bukhari 4/99. katakan "Amin". Amin". dia berkata: "Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak terampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia. dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna. hatinya senang dalam mengamalkan. menahannya dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek. dan kaum pria serta wanita yang bersedekah. Amin?" Beliau bersabda (yang artinya): Sesungguhnya Jibril 'alaihissalam datang kepadaku. Allah Tabaraka wa Ta'ala telah mengkhususkan satu pintu surga untuk orang yang puasa. dan kaum pria serta wanita yang berpuasa. [Hadits Riwayat Muslim 233]. dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa puasa adalah benteng dari syahwat. keutamaan yang agung . Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar" [A-Ahzab : 35] Dan firman Allah (yang artinya): Dan kalau kalian berpuasa. itu lebih baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya" [Al-Baqarah:184].. makna "penuh iman dan Ihtisab" yakni membenarkan wajibnya puasa. tidak merasa berat dalam mengamalkannya] Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu juga. kaum mukminin dan mukminat. Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa yang terjadi di antara tenggang waktu-waktu tersebut selama menjauhi dosa besar". dan kaum pria serta wanita yang benar (imannya) dan kaum pria serta kaum wanita yang sabar (ketaatannya). engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin.. dan kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatannya (kemaluannya). (bahwasanya) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallampernah naik mimbar kemudian berkata: "Amin. Amin. hingga jadilah jiwa yang tenang. (bahwasanya) beliau bersabda (yang artinya): Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab (mengharap wajah Allah) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu juga. maka akupun mengucapkan Amin. Muslim 759. Jum'at ke Jum'at. Ditanyakan kepadanya: "Ya Rasulullah. tidak membencinya. dan kalau seandainya orang yang puasa mempunyai dosa seperti buih di lautan niscaya akan diampuni dengan sebab ibadah yang baik dan diberkahi ini. Inilah pahala yang besar. Puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwatnya. dan kaum pria serta wanita yang khusyu'. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. perisai dari neraka.. mengharap pahalanya. Pengampunan Dosa Allah dan Rasul-Nya memberikan targhib (spirit) untuk melakukan puasa Ramadhan dengan menjelaskan keutamaan serta tingginya kedudukan puasa.

sebagaimana akan datang penjelasannya. 60 karya AlBushri] Orang yang Puasa Termasuk Shidiqin dan Syuhada Dari 'Amr bin Murrah Al-Juhani radhiyallahu 'anhu. menenangkan seluruh anggota badan. dan lebih menjaga kehormatan. Oleh karena itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa adalah benteng dari neraka. ia berkata: Datang seorang pria kepada Nabishallallahu 'alaihi wa sallam kemudian berkata: "Ya Rasulullah. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota badan yang dhahir dan kekuatan bathin. Jika telah jelas demikian -wahai muslim. karena puasa menahan kuatnya anggota badan hingga bisa terkontrol. Dalam bab ini banyak hadits dari beberapa orang sahabat. aku shalat lima waktu. Hadits ini shahih. Do'a yang dikabulkan itu ketika berbuka.dari jalan Abu Hurairah. asalnya terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978. [Hadits Riwayat Ibnu Hibban no. karena menikah lebih menundukkan pandangan. sanadnya Shahih] Puasa Adalah Perisai (Pelindung) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh orang yang sudah kuat syahwatnya dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa. mematahkan tajamnya syahwat yang bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka.11 zawaidnya. dan perisai yang menghalangi seseorang dari neraka. dari Abu Shalih dari Jabir. diriwayatkan oleh Ibnu Majah 1643 darinya secara ringkas dari jalan yang lain. 1400 dari Ibnu Mas'ud] Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkaraperkara yang tidak disenangi. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Wahai sekalian para pemuda. barangsiapa di antara kalian telah mampu ba'ah (mampu dengan berbagai macam persiapannya) hendaklah menikah. . lihatlah dalam Fadhailu Syahri Ramadhanhal. serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. termasuk orang yang manakah aku?" Beliau menjawab (yang artinya): "Termasuk dari shidiqin (orang-orang yang benar keimanannya -pent) dan syuhada (orang-orang yang mati syahid -pent)". hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa' (pemutus syahwat) baginya" [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. Dikabulkannya Do'a dan Pembebasan Api Neraka Rasullullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka setiap siang dan malam dalam bulan Ramadhan.25-34 karya Ibnu Syahin]. Barangsiapa yang belum mampu menikah. puasa menghalangi orang yang puasa dari neraka. lihatMisbahuh Azzujajah no. aku lakukan puasa Ramadhan dan shalat tarawih di malam harinya. haditsnya shahih. dan neraka diliputi dengan syahwat. menjadikannya sebagai wijaa' (memutuskan) bagi syahwat ini. engkau adalah Rasulullah. Ahmad 2/254 dari jalan A'mas. dan semua orang muslim yang berdo'a akan dikabulkan do'anya"[Hadits Riwayat Bazzar 3142.sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat. aku tunaikan zakat. apa pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah.

sesunguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada baumisk (kesturi). Pahala Orang Puasa Tidak Terbatas Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. demikian dikatakan dalam Fathul Bari 6/48]. jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak. dan Aku yang akan membalasnya. (bahwasanya) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambersabda (yang artinya): Allah Ta'ala berfirman: "Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya". dan di dalam sanadnya ada kelemahan. karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan . kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya". jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya"[Bukhari 4/88. Jika berbuka mereka gembira. Sebagian ahlul ilmi telah memahami bahwa hadits-hadits tersebut merupakan penjelasan tentang keutamaan puasa ketika jihad dan berperang di jalan Allah. 280 dari dua jalan yakni dari Al-Qasim dari Abi Umamah. Dan pada bab dari Abi Darda'. Ahmad 4/22 dan Utsman bin Abil 'Ash. Ini adalah hadits yang shahih]. Al-Walid bin Jamil. 1624 dari hadits Abi Umamah. Di dalam riwayat Muslim (yang artinya): "Semua amalan bani Adam akan dilipatgandakan. 1151. jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya. akan tetapi di dapat diterima. Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah maka di antara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi" [Dikeluarkan oleh Tirmidzi no. Namun dhahir hadits ini mencakup semua puasa jika dilakukan dengan ikhlas karena mengharapkan wajah Allah Ta'ala. sesuai dengan apa yang dijelaskan Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam termasuk puasa di jalan Allah (seperti yang disebutkan dalam hadits ini). Sehingga hadits ini SHAHIH]. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Puasa adalah perisai. minum dan syahwatnya karena puasa untuk-Ku. 3/296 dari Jabir. ini adalah lafadz Muslim. dikeluarkan oleh AthThabrani di dalam Ash-Shagir 1/273 di dalamnya terdapat kelemahan. dia jujur tetapi sering salah. Muslim 1153 dari Abu Sa'id Al-Khudry. Di dalam riwayat Bukhari (disebutkan yang artinya): "Dia meninggalkan makan. Orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan. Lafadz ini bagi Bukhari]. Dan dikeluarkan pula oleh At-Thabrani di dalam Al-Kabir 8/260.274. maka ucapkanlah: 'Aku sedang berpuasa'. Puasa adalah perisai. Sabda Rasulullah: "70 musim" yakni: perjalanan 70 tahun.Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (yang artinya): Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim" [Hadits Riwayat Bukhari 6/35. kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya. Muslim no. Allah Ta'ala berfirman: "Kecuali puasa. seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka" [Hadits Riwayat Ahmad 3/241. sampai tujuh ratus kali lipat.

Akan jelas bagimu dalam ayat-ayat berikut ini. tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah kamu yang kamu sengaja. atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat (denda) yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. kafarat bagi pembunuh orang kafir yang punya perjanjian karena membatalkan sumpah. Puasa Sebagai Kafarat Diantara keistimewaan puasa yang tidak ada dalam amalan lain adalah. maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Allah menjadikannya sebagai kafarat bagi orang yang memotong rambut kepalanya (ketika haji) karena ada udzur sakit atau penyakit di kepalanya. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian. atau yang membunuh binatang buruan di tanah haram dan sebagai kafarat zhihar. Jika ada diantaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur). maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji). Dia (bani Adam) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku". Dan janganlah kamu mencukur rambut kepalamu. maka wajib menyembelih kurban yang mudah didapat. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)" [Al-Maidah : 89] . maka jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau sakit). Apabila kamu telah (merasa) aman.membalasnya. yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu. maka wajib atasnya berfidyah. Yang demikian itu adalah kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). hingga kurban itu sampai ke tempat penyembelihannya. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluargannya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Makkah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya" [Al-Baqarah : 196] Allah Ta'ala juga berfirman (yang artinya): "Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu. Dan jagalah sumpahmu. gembira ketika berbuka dan gembira ketika bertemu Rabbnya. Bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan. Sungguh bau mulut orang yang puasa di sisi Allah adalah lebih wangi daripada bau misk". Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu). maka hendaklah (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya): "Dan sempurnakanlah olehmu ibadah haji dan umrah karena Allah. kaparat bagi yang tidak mampu memberi kurban. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" [An-Nisaa' : 92] Allah Ta ala berfirman (yang artinya): "Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahsumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah). maka kafarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin. yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkurban. (wajiblah ia menyembelih) kurban yang mudah di dapat. Barangsiapa yang tidak memperolehnya.

dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu. maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur.. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak). Demikian pula. dan barangsiapa yang minum tidak akan merasa haus untuk selamanya". Al-Hakim 1/421. Dan itulah hukum-hukum Allah. tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Fitnah pria dalam keluarga (isteri). Ibnu Hibban hal.. [Hadits Riwayat Bukhari 4/95. maka berilah dia syafa'at karenaku". keluarga dan anaknya. dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih" [Al-Mujaadilah : 3-4] *) Zhihar di kalangan bangsa Arab waktu itu ialah bila suami mengatakan kepada isterinya: "punggungmu bagiku seperti punggung ibuku". maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. puasa dan shadaqah" [Hadits Riwayat Bukhari 2/7. Barangsiapa yang masuk akan minum. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu 'anhu. orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut. maka berilah dia syafa'at karenaku". Jika telah masuk orang terakhir ditutuplah pintu tersebut. Maksud ucapan ini ialah ia tidak mau lagi menggauli (menyetubuhi) isterinya. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. tunjukkan padaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga?" Beliau menjawab: "Hendaklah kamu sering berpuasa. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ". harta dan tetangganya. tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu" [Hadits Riwayat Nasa'i 4/165.Allah Ta ala berfirman (yang artinya): "Orang-orang yang men-zhihar *) isteri mereka kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan. AlQur'an pun berkata: "Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari. 232 Mawarid. ia berkata : Aku pernah mendengar . Maka siapa yang tidak kuasa (wajib atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Muslim 144] Puasa dan Al-Qur'an Akan Memberi Syafa'at Kepada Ahlinya di hari Kiamat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Puasa dan Al-Qur'an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat. puasa dan shadaqah bisa menghapuskan fitnah seorang pria dari harta. Muslim 1152. aku menghalanginya dari makan dan syahwat. bisa dihapuskan oleh shalat.. "Aku berkata (kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam): "Wahai Rasulullah. Ucapan ini tidak dianggap talak namun disebut zhihar. maka keduanya akan memberi syafa'at" Puasa Bisa Memasukkan Hamba ke Surga Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu katanya. sanadnya Shahih] Ar Rayyan Bagi Orang yang Puasa Dari Sahl bin Sa'ad radhiyallahu 'anhu. Puasa akan berkata: "Wahai Rabbku. dan tambahan lafadz yang akhir ada pada riwayat Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya 1903] Ancaman bagi orang yang membatalkan puasa mereka tanpa udzur Dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu 'anhu. dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam (bahwa beliau) bersabda (yang artinya): Sesungguhnya dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Rayyan.

sebanyak hari yang ditinggalkannya.. belenggu dan ashfad. membimbing kepada yang lebih lurus. Bulan Al-Qur'an Allah menurunkan kitab-Nya yang mulia sebagai petunjuk bagi manusia. dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka). Aku katakan. barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu. Aku bertanya. Ditutupnya Pintu-Pintu Neraka dan Dibukanya Pintu-Pintu Surga Pada bulan ini kejelekan menjadi sedikit. 'Siapa mereka?' Keduanya menjawab. obat bagi kaum mukminin. Akupun bertanya. 'Suara apakah ini?'. darah mengalir dari mulut mereka. Keutamaan Bulan Ramadhan Ramadhan adalah bulan kebaikan dan barokah. Sanadnya shahih]. supaya kamu bersyukur" [Al-Baqarah : 185] Ketahuilah saudaraku -mudah-mudahan Allah meberkatimu. membawaku ke satu gunung yang kasar (tidak rata). dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.sesungguhnya sifat bulan Ramadhan adalah sebagai bulan yang diturunkan padanya Al-Qur'an. Dibelenggunya Syaithan. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya. 'Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum halal puasa mereka(sebelum tiba waktu berbuka -red).. ketika itulah aku mendengar suara yang keras.RasulullahShallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : Ketika aku tidur. Allah memberkahinya dengan banyak keutamaan sebagaimana dalam penjelasan berikut ini. Keduanya berkata. 1. karena dibelenggu dan diikatnya jin-jin jahat dengansalasil (rantai). "Naik". ketika itu aku melihat orang-orang yang digantung dengan kaki di atas.1800 zawaid-nya) dan Al-Hakim 1/430 dari jalan Abdurrahman bin Yazid bin Jabir. datanglah dua orang pria kemudian memegang kedua lenganku. keduanya berkata. suatu malam di bulan Ramadhan. Akupun naik hingga sampai ke puncak gunung. 'Ini adalah teriakan penghuni neraka'. dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. 'Kami akan memudahkanmu'. Allah berfirman (yang artinya): (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan. Karena itu. Kemudian keduanya membawaku. pada hari-hari yang lain. maka (wajiblah baginya berpuasa)." [Riwayat An-Nasa'i dalam Al-Kubra sebagaimana dalamTuhfatul Asyraf 4/166 dan Ibnu Hibban (no. Allah menghendaki kemudahan bagimu. 2. dari Salim bin 'Amir dari Abu Umamah. Mereka tidak bisa bebas merusak manusia .. "Aku tidak mampu". dan kalimat sesudahnya dengan huruf (fa) yang menyatakan illat dan sebab: ". menjelaskan jalan petunjuk (Al-Qur'an) pada malam Lailatul Qadar. Mereka berkata. maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. barangsiapa yang melihatnya hendaklah berpuasa" memberikan isyarat illat (penjelas sebab) yakni sebab dipilihnya Ramadhan adalah karena bulan tersebut adalah bulan yang diturunkan padanya Al-Qur'an. bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). mulut mereka rusak/robek.

supaya kamu bersyukur" [Al-Baqarah : 185]. "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan. Malam Lailatul Qadar Engkau telah mengetahui. Sebagaiman kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu. berseru seorang penyeru. Sesungguhnya jika satu nikmat dicapai oleh kaum muslimin. tidak ada satu pintu-pintu yang dibuka. maka dibukalah pintu-pintu surga [dalam riwayat Muslim: "Dibukalah pintu-pintu rahmat"] dan ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu syetan" [Hadits Riwayat Bukhari 4/97 dan Muslim 1079] Semuanya itu sempurna di awal bulan Ramadhan yang diberkahi. kurangilah! Dan bagi Allah mempunyai orang-orang yang dibebaskan dari neraka. Dan sanad hadits ini Hasan] 3. ditutup pintu-pintu neraka. dan dibukalah pintu-pintu surga.sebagaimana bebasnya di bulan yang lain. wahai hamba yang mukmin bahwa Allah Jalla Jalaluhu memilih bulan Ramadhan karena diturunkan padanya Al-Qur'an. karena kaum muslimin sibuk dengan puasa hingga hancurlah syahwat. diikatlah para syetan dan jin-jin yang jahat. lakukanlah! Wahai orang yang ingin kejelekan. Allah berfirman (yang artinya): Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa" [Al-Baqarah : 183] Maka dari itu ditutupnya pintu-pintu jahannam dan dibukanya pintu-pintu surga. Hari yang paling mulia di sisi Allah adalah pada bulan diturunkannya Al-Qur'an hingga harus dikhususkan dengan berbagai macam amalan. Insya Allah. "Wahai orang yang ingin kebaikan. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya. pada . mengharuskan adanya tambahan amal sebagai wujud dari rasa syukur kepada Allah. Firman Allah Tabaraka wa Ta'ala setelah selesai (menyebutkan) nikmat haji (yang artinya) : Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu. (disebabkan) karena (pada bulan itu) amal-amal shaleh banyak dilakukan dan ucapan-ucapan yang baik berlimpah ruah (yakni ucapan-ucapan yang mengandung kebaikan banyak dilafadzkan oleh kaum mukminin -red). Hal ini akan dijelaskan secara terperinci dalam pembahasan malam Lailatul Qadar. tidak ada satu pintupun yang tertutup. bulan yang diberkahi. itu terjadi pada setiap malam" [Diriwayatkan oleh Tirmidzi 682 dan Ibnu Khuzaimah 3/188 dari jalan Abi Bakar bin Ayyasy dari Al-A'masy dari Abu Hurairah. berdasarkan sabda RasulullahShallallahu 'alaihi wa sallam (yang artinya): "Jika datang awal malam bulan Ramadhan. dan juga karena bacaan Al-Qur'an serta seluruh ibadah yang mengatur dan membersihkan jiwa. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Jika datang bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan firman Allah setelah menceritakan sempurnanya nikmat bulan Ramadhan (yang artinya): Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya. atau (bahkan) berdzikir lebih banyak dari itu" [Al-Baqarah : 200] Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu: Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda. maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah. dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.

bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya. Al-Mundziri berkata: "Diriwayatkan oleh an-Nasa'i dan al-Baihaqi. dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. bulan keberkahan. Adapun syarat-syarat wajibnya puasa Ramadhan ada empat. pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat. "Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu".dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam. dan di antara bagiannya ada nash-nash lain yang memperkuatnya) RINGKASAN HUKUM-HUKUM PUASA Definisi Puasa ialah menahan diri dari makan." (HR. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika telah menyelesaikan amalnya. barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.. berakal. "Bukan. sebagaimana disuruh shalat pada umur 7 tahun dan dipukul pada umur 10 tahun agar ." Beliau ditanya. dewasa dan mampu. aqil (berakal). Pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya. keduanya dari Abu Qilabah. Siapa yang wajib berpuasa Ramadhan? Puasa Ramadhan diwajibkan atas setiap muslim yang baligh (dewasa). tetapi setahuku dia tidak pemah mendengar darinya."(HR. yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi. maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Puasa Ramadhan wajib dilakukan apabila hilal awal bulan Ramadhan disaksikan seorang yang dipercaya. dan para periwayatnya terpercaya. yaitu Islam. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya. dari Abu Hurairah. menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do'a. atau setelah bulan Sya'ban genap 30 hari. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.") Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu. Firman Allah Ta'ala: " . minum dan bersenggama mulai dari terbit fajar yang kedua sampai terbenamnya matahari. AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat.AthThabrani.. dan sanggup untuk berpuasa. hal ini untuk melatihnya. bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan. sedangkan awal bulan-bulan lainnya ditentukan dengan kesaksian dua orang yang dipercaya. "Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar?" Jawab beliau. juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan.bulan ini pintu-pintu surga dibuka." (HR. yaitu fajar. Isnad hadits tersebut dha'if.. Ahmad dan An-Nasa'i) Dari Ubadah bin ash-Shamit. Karena orang yang sengsara ialah orang yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini. Allah 'Azza wa Jalla setiap hari menghiasi surga-Nya lalu berfirman (kepada surga). para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka." (Al-Baqarah:187) Kapan dan bagaimana puasa Ramadhan diwajibkan? Puasa Ramadhan wajib dikerjakan setelah terlihatnya hilal. Ahmad. Para ulama mengatakan anak kecil disuruh berpuasa jika kuat.

Syarat sahnya puasa Syarat-syarat sahnya puasa ada enam: 1. dan jika tidak punya cukup dengan air. Tidak haid: tidak sah puasa wanita haid. Dan hadits ini menunjukkan tidak sahnya puasa kecuali diiringi dengan niat sejak malam hari yaitu di salah satu bagian malam. walaupun manusia menganggapnya sebagai satu perbuatan baik. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum fajar. Tamyiz: tidak sah puasa anak kecil sebelum dapat membedakan (yang balk dengan yang buruk). . karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah datang ke Aisyah pada selain bulan Ramadhan. membaca Al-Qur'an dan amal kebajikan lainnya. Berdo'a ketika berbuka sesuai dengan yang diinginkan. Seperti membaca do'a: "Ya Allah hanya untuk-Mu aku beupuasa. Niat itu tempatnya di dalam hati. Niat: menyengaja dari malam hari untuk setiap hari dalam puasa wajib. sedekah. Mengakhirkan sahur sampai akhir waktu malam. menunaikan zakat harta benda kepada orang-orang yang berhak. dengan rizki anugerah-Mu aku berbuka. Kewajiban niat semenjak malam harinya ini hanya khusus untuk puasa wajib saja." dan jangan membalas mengejek orang yang mengejeknya.Ahmad. membalas kejahatan orang yang berbuat jahat kepadanya. Sunah Puasa Sunah puasa ada enam: 1. tetapi membalas itu semua dengan kebaikan agar mendapatkan pahala dan terhindar dari dosa. dan melafazdkannya adalah bid'ah yang sesat. 4. Memperbanyak amal kebaikan. An-Nasa'i dan At-Tirmidzi. Jika dicaci maki. Akal: tidak sah puasa orang gila sampai kembali berakal. Segera berbuka puasa bila benar-benar matahari terbenam. Abu Dawud. selama tidak dikhawatirkan terbit fajar." (HR. Berbuka dengan kurma segar. Ya Allah. Islam: tidak sah puasa orang kafir sebelum masuk Islam. terutama menjaga shalat lima waktu pada waktunya dengan berjamaah. sebelum suci dari nifas. terimalah amalku. 5. 6. memaki orang yang memakinya. 3. maka tidak sah puasanya. Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. 5. Ia adalah hadits mauquf menurut At-Tirmidzi). 2. 2. 4. Ibnu Majah. sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" 6. Tidak nifas: tidak sah puasa wanita nifas. 3.terlatih dan membiasakan diri. jika tidak punya maka dengan kurma kering. sebelum berhenti haidnya. memperbanyak shalat sunat. supaya mengatakan: "Saya berpuasa. kemudian beliau bersabda (yang artinya): "Apakah engkau punya santapan siang? Maka jika tidak ada aku akan berpuasa" [Hadits Riwayat Muslim 1154].

.. Demikian kata Ibnu Abbas menurut riwayat Al-Bukhari. Sedangkan jumlah makanan yang diberikan yaitu satu mud (genggam tangan) gandum. maka berpuasa selama dua bulan berturutturut. Lihat kitab Ar Raudhul Murbi'. d. 28. Firman Allah Ta'ala: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.." (HaditsMuttafaq 'Alaih). Hal-hal yang membatalkan puasa a. c.. Jika tidak mendapatkan. Lihat kitab 'Umdatul Fiqh." (Al-Baqarah: 285). " (Al-Baqarah:184). Jima' (bersenggama). Firman Allah Ta'ala: " . Adapun jika khawatir atas kesehatan diri mereka sendiri. Wanita hamil dan wanita menyusui. Lihat kitab Majalisu Syahri Ramadhan. Orang sakit yang berbahaya baginya jika berpuasa dan orang bepergian yang boleh baginya mengqashar shalat. Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir.Hukum orang yang tidak berpuasa Ramadhan Diperbolehkan tidak puasa pada bulan Ramadhan bagi empat golongan: a. Maksudnya.Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka). Dan siapa yang melanggarnya harus meng-qadha dan membayar kaffarah mughallazhah (denda berat) yaitu membebaskan hamba sahaya. Memasukkan makanan ke dalam perut. jika khawatir atas kesehatan anaknya boleh bagi mereka tidak berpuasa dan harus meng-qadha serta memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan. Wanita haid dan wanita nifas: mereka tidak berpuasa dan wajib mengqadha. Hukum jima' pada siang hari bulan Ramadhan Diharamkan melakukan jima' (bersenggama) pada siang hari bulan Ramadhan. 1/215. maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. oleh Ibnu Qudamah. Jika berpuasa tidak sah puasanya.. 1/124. Jika mereka berpuasa maka sah puasanya. Boleh baginya tidak berpuasa dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Jika dilakukan karena lupa maka tidak batal puasanya. Termasuk dalam hal ini adalah suntikan yang mengenyangkan dan transfusi darah. tapi wajib mengqadhanya. hlm. b. atau satu sha' (+ 3 kg) dari bahan makanan lainnya. maka mereka boleh tidak puasa dan harus meng-gadha saja. Demikian dikatakan Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan o!eh Abu Dawud. Tidak puasa bagi mereka berdua adalah afdhal. . Makan dan minum dengan sengaja. 102-108. maka diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan menggadha shalat. b. jika orang sakit dan orang yang bepergian tidak berpuasa maka wajib mengqadha (menggantinya) sejumlah hari yang ditinggalkan itu pada hari lain setelah bulan Ramadhan. dan jika tidak punya maka bebaslah ia dari kaffarah itu. Orang yang tidak kuat berpuasa karena tua atau sakit yang tidak ada harapan sembuh. him. Aisyah radhiallahu 'anha berkata: "Jika kami mengalami haid. Namun jika mereka berpuasa maka puasa mereka sah (mendapat pahala). jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin. c.

namimah (adu-domba). shalat dan berpuasa. Adapun keluar mani karena mimpi tidak membatalkan puasa karena keluamya tanpa sengaja. Demikian pula jika tenggorokannya kemasukan debu.d. e. maka hendaknya ia mandi. Ahmad. yaitu hari Arafah). ." Diriwayatkan oleh Al-Harbi dalam Gharibul Hadits(5/55/1) dari Abu Hurairah secara maudu' dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah No. laknat (mendo'akan orang dijauhkan dari rahmat Allah) dan mencaci-maki. Jika wanita nifas telah suci sebelum sempurna empat puluh hari. 923. pendengaran yang haram. lalat. Firman Allah Ta'ala: "Seandainya mereka mempersekutukan Allah." (QS. hari Senin dan Kamis. Abu Dawud. Penentuan Awal Puasa dan Iedul Fithri Awal puasa ditentukan dengan tiga cara: 1. 14 dan 15. Puasa yang disunatkan Disunatkan puasa 6 hari pada bulan Syawwal. Keluamya darah haid dan nifas. wajib menjauhkan diri dari perbuatan dusta. ghibah(menyebutkan kejelekan orang lain). Persaksian atau kabar tentang ru yah hilal. Murtad dari Islam -semoga Allah melindungi kita darinya." (HR. Hendaklah ia menjaga telinga. lidah dan perutnya dari perkataan yang haram. makan dan minum yang haram. mata. 3. penglihatan yang haram. Perbuatan ini menghapuskan segala amal kebaikan. baik pada pagi hari atau sore hari sebelum terbenam matahari. 9 hari pertama bulan Dzul Hijjah (lebih ditekankan tanggal 9. ciuman atau sebab lainnya dengan sengaja. Dalam lafazh lain disebutkan: "Barangsiapa muntah tanpa disengaja. Ibnu Majah dan AtTirmidzi). maka ia tidak (wajib) mengganti puasanya. Sengaja muntah. Menyempurnakan bilangan hari bulan Sya ban. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja maka tidak wajib qadha. atau air tanpa disengaja. dengan mengeluarkan makanan atau minuman dari perut melalui mulut. atau nifas batallah puasanya. Mengeluarkan mani dalam keadaan terjaga karena onani. 3 hari pada setiap bulan (yang afdhal yaitu tanggal 13. niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. bersentuhan. g. 2. Ru yah hilal (melihat bulan sabit pertama). f. Tidak batal puasa orang yang melakukan sesuatu yang membatalkan puasa karena tidak tahu. AlAn'aam: 88). hari 'Asyura (tanggal 10 Muharram) ditambah sehari sebelum atau sesudahnya untuk mengikuti jejak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia serta menyelisihi kaum Yahudi. disebut shaum al-biidh). lupa atau dipaksa. Manakala seorang wanita mendapati darah haid. Kewajiban orang yang berpuasa Orang yang berpuasa. sedang barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka wajib qadha. juga lainnya.

Tentang persaksian atau kabar dari seseorang berdalil dengan hadits yang keempat dengan syarat pembawa berita adalah orang Islam yang adil (dapat dipercaya karena kelurusan perilakunya dan pengetahuannya). 29) Hadits-hadits semisal itu diantaranya dari Aisyah. dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah. Jika ia (hilal) terhalang awan. At-Thahawi dalam Musykilul Atsar 105. Jabir bin Abdillah. maka sempurnakanlah Sya ban tiga puluh hari. Abu Dawud 2327. (HR. Thalhah bin Ali. Ad-Daruquthni. sebagaimana tertera dalam riwayat Ahmad dan Daraquthni. An-Nasa I 4/132. Jika (penglihatan) kalian terhalang awan. Aku beritahukan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa aku melihatnya. (HSR. Sama saja saksinya dua orang atau satu orang. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa. (HR. An-Nasa I 1/302.Tiga hal ini diambil dari hadits-hadits dibawah ini: 1. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallambersabda: Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal bulan Ramadhan) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). LihatShifatus Shaum Nabi. Syaikh Al-Albani membawakan riwayat-riwayat mereka serta takhrij-nya dalam Irwa ul Ghalil hadits ke 109. 2/167. Al-Hakim 1/423 dan Al-Baihaqi. Abu Dawud 2342. Ibnu Hibban 871. Hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang diantara kalian yang biasa berpuasa (sunnat) pada waktu itu. sebagaimana telah dinyatakan oleh Ibnu Umar radhiallahu anhuma ketika beliau berkata: Manusia sedang melihatlihat (munculnya) hilal. AlHakim 1/425. Isi dan makna hadits-hadits diatas menunjukkan bahwa awal bulan puasa dan Iedul Fithri ditetapkan dengan tiga perkara diatas. Hadits dari Adi bin Hatim radhiallahu anhu: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Apabila datang bulan Ramadhan. sanadnya Shahih sebagaimana diterangkan oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam At-Talkhisul Kabir 2/187) Perbedaan Mathla (Tempat Muncul Hilal) . maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari kemudian berbukalah (Iedul Fithri) dan satu bulan itu 29 hari. Hudzaifah dan lain-lain radliallahu anhum. Ath-Thabrani dalamAl-Kabir 17/171 dan lain-lain) 4. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Ahmad 4/321. (HR. sanadnya Hasan. Ahmad 4/377. dan di-Shahih-kan sanadnya oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi) 3. Demikian keterangan Syaikh Salim Al-Hilali serta Syaikh Ali Hasan. dan Muslim 1081) 2. Dan janganlah kalian berbuka sampai melihatnya (hilal Syawal). Ibnu Umar. (HR. Jika dua orang saksi mempersaksikan (mengaku melihat hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya. maka berpuasalah 30 hari kecuali sebelum itu kalian melihat hilal. Bukhari 4/106. hal. At-Tirmidzi 1/133. Hadits dari Abi Hurairah radhiallahu anhu. Ad-Darimi 2/4.

Hal ini dikisahkan oleh Al-Baghawi dari Syafi i. Kemudian aku tiba di Madinah pada akhir bulan." Dia berkata: "Kami melihatnya pada malam Sabtu. bagaimana cara mengkompromikan hadits-hadits diatas dengan hadits Kuraib atau hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhum yang berbunyi: Kuraib mengabarkan bahwa Ummu Fadhl bintul Harits mengutusnya kepada Muawiyyah di Syam. Pendapat Kedua: Apabila suatu negeri melihat hilal. Al-Qasim Salim dan Ishak. 2. Maka Ibnu Abbas bertanya kepadaku kemudian dia sebutkan tentang hilal : "Kapan kamu melihat Hilal?" Akupun menjawab: "Aku melihatnya pada malam Jum at. menurut kebanyakan mereka. 147. Pendapat ini masyhur dari kalangan madzhab Malikiyah. 4 hal. Ibnu Hajar berkata: Para Ulama berbeda pendapat tentang hal ini atas beberapa pendapat : Pendapat Pertama: Setiap negeri mempunyai ru yah atau mathla . Perselisihan ini disebutkan dalam Fathul Bari Juz.Hadits-hadits diatas menerangkan dengan jelas bahwa dalam mengetahui masuk dan berakhirnya bulan puasa adalah dengan ru yah hilal (melihat bulan sabit pertama). maka hal itu mengharuskan mereka semua berpuasa Sebagian pengikut madzhab Syafi i berpendapat bahwa apabila negeri-negeri berdekatan. Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi di-Shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 1/213) Dalam hadits Kuraib diatas dan hadits-hadits sebelumnya para ulama berselisih pendapat. Maka. At-Tirmidzi mengatakan bahwa keterangan dari ahli ilmu dan tidak menyatakan hal ini kecuali beliau. Beliau mengatakan bahwa para ulama sepakat bahwa ru yah tidak sama pada negara yang berjauhan seperti antara Khurasan (negara di Rusia) dan Andalus (negeri Spanyol). Kuraib berkata: "Aku sampai di Syam kemudian aku memenuhi keperluannya dan diumumkan tentang hilal Ramadhan. begitu pula Muawiyyah. Tidak wajib mengikuti. Dalilnya dengan hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dalam Shahih Muslim. kami akan berpuasa menyempurnakan tiga puluh hari atau kami melihatnya (hilal). Al-Mawardi menyatakan bahwa pendapat ini adalah salah satu pendapat madzab Syafi i. maka seluruh negeri harus mengikutinya. maka hukumnya satu dan jika berjauhan ada dua: 1. Kami melihat hilal pada malam Jum at. Al-Qurthubi berkata bahwa para syaikh mereka telah menyatakan bahwa apabila hilal tampak terang disuatu tempat kemudian diberitakan kepada yang lain dengan persaksian dua orang. Muslim 1087. Wajib mengikuti." Aku bertanya: "Tidakkah cukup bagimu ru'yah dan puasa Muawiyyah?" Beliau menjawab: "Tidak! Begitulah Rasulullah memerintahkan kami. Dan konteks kalimatnya kepada semua kaum muslimin (di seluruh kawasan dan negeri) bukan hanya kepada satu negeri atau kampung tertentu. Hal ini dipilih oleh Abu Thayib dan sekelompok ulama. Ibnul Mundzir menceritakan hal ini dari Ikrimah." Beliau bertanya lagi: "Engkau melihatnya pada malam Jum at?" Aku menjawab: "Ya. orang-orang melihatnya dan merekapun berpuasa. bukan denganhisab (perhitungan kalender). sedangkan aku masih berada di Syam. Tetapi Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa ijma telah menyelisihinya. (HR. At-Tirmidzi 647 dan Abu Dawud 1021. .

Pendapat Ibnul Majisyun: Tidak harus berpuasa karena persaksian orang lain. Dengan perbedaan mathla .. 5. Dengan perbedaan iklim. ada yang membatasi dengan perbedaan mathla seperti Hijaz dengan Syam. yakni tinggi dan rendah yang menyebabkan salah satunya mudah melihat hilal dan yang lain sulit atau bagi setiap negeri mempunyai iklim. Pendapat As-Sarkhasi: Keharusan ru yah bagi setiap negeri yang tidak samar atas mereka hilal. Oleh karena itu kapan saja penduduk suatu negeri melihat hilal. Makna ucapan karena melihatnya yaitu apabila ru yah didapati diantara kalian. Ibnu Abbas radhiallahu anhuma menghapal dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa penduduk suatu negeri tidak harus beramal dengan ru yah negeri lain. iklim dan negeri dalam kitabnya Nailul Authar 4/195. Imam Syaukani menambahkan: Tidak harus sama jika berbeda dua arah. 3. Adapun menurut jumhur ulama adalah tidak adanya perbedaan mathla (tempat munculnya hilal). Berdalil dengan wajibnya puasa dan beriedul fithri bagi orang yang melihat hilal sendiri walaupun orang lain tidak berpuasa dengan beritanya. Jadi siapa saja dari mereka melihat hilal dimanapun tempatnya.. Hal ini diceritakan oleh Al-Mahdi dalam Al-Bahr dari Imam Yahya dan Hadawiyah. . (Fiqhus Sunah 1/368) As-Shan ani rahimahullah berkata. Dengan jarak meng-qashar shalat. Iraq dengan Khurasan. maka ru yah itu berlaku bagi mereka semuanya.Sedangkan dalam menentukan jarak (jauh) ada beberapa pendapat: 1. maka wajib atas seluruh negeri berpuasa karena sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa berkata: Orang-orang yang menyatakan bahwa ru yah tidak digunakan bagi semuanya (negeri-negeri) seperti kebanyakan pengikutpengikut madzhab Syafi i. Hujjah ucapan-ucapan diatas adalah hadits Kuraib dan segi pengambilan dalil adalah perbuatan Ibnu Abbas bahwa beliau tidak beramal (berpuasa) dengan ru yah penduduk Syam dan beliau berkata pada akhir hadits : Demikian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyuruh kami. Demikian pendalilan mereka. Puasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Hal ini ditegaskan Imam Al-Baghawi dan dibenarkan oleh Ar-Rafi i dalam Ash-Shaghir dan An-Nawawi dalam Syarhul Muslim. Ucapan ini umum mencakup seluruh ummat manusia. 4. diantaranya mereka ada yang membatasi dengan jarak qashar shalat. (Subulus Salam 2/310) Imam As-Syaukani membantah pendapat-pendapat yang menyatakan bahwasanya ru yah hilal berkaitan dengan jarak. Ini ditegaskan oleh ulama Iraq dan dibenarkan oleh An-Nawawi dalam Ar-Raudlah dan Syarhul Muhadzab. 2. Hal ini menunjukkan bahwa ru yah pada suatu negeri adalah ru yah bagi semua penduduk negeri dan hukumnya wajib.

jadilah ru yah itu untuk semuanya . maka seluruh negeri harus mengikutinya. Inilah madzhab Syafi i. sama saja baik satu iklim atau banyak iklim." (HR. (Ar-Raudhah AnNadiyah 1/146). Hadits-hadits tersebut berlaku untuk semua ummat. Bolehkah Ber-Iedul Fithri Sendiri Menyelisihi Kaum Muslimin? Sekarang timbul permasalahan yaitu seseorang yang melihat hilal (bulan sabit awal Ramadhan atau awal Syawal) sendirian secara jelas. Lihat Silsilah Al-Hadits As-Shahihah 1/440). Demikian juga kalau menyaksikan hilal pada waktu siang menjelang maghrib maka harus imsak (berpuasa) untuk waktu yang tersisa... Syaikh Al-Albani berkata: Sanadnya jayyid (bagus) dan rawi-rawinya semuanya tsiqah (terpercaya).. Demikian keterangan Syaikhul Islam. Pendapat Kedua: Dia harus berpuasa (bila melihat hilal Ramadhan) tetapi tidak ber iedul fithri (bila melihat hilal Syawal) kecuali ketika bersama manusia. Pendapat Ketiga: Dia berpuasa dan ber iedul fithri bersama manusia." Apabila seseorang menyaksikan pada malam ke 30 bulan Sya ban di suatu tempat. maka wajib puasa. para ulama pun berkomentar. Orang yang mengetahui hari Ied dengan ru yah sendirian wajib baginya untuk mencocoki lainnya dan mengharuskan dia untuk mengikuti mereka didalam shalat Iedul Fithri dan Iedul Adha. Tirmidzi 2/37 dan beliau berkata hadits gharib hasan ." (Subulus Salam 2/72) . apakah dia harus beriedul fithri/berpuasa sendiri atau bersama manusia? Dalam permasalahan ini ada tiga pendapat. (Majmu Fatawa Juz 25 hal 104-105) Shidiq Hasan Khan berkata: Apabila penduduk suatu negeri melihat hilal. Di antaranya Imam At-Tirmidzi berkata setelah membawakan hadits ini: "Sebagian ahlu ilmi (ulama) mentafsirkan hadits ini bahwa puasa dan Iedul Fithri bersama mayoritas manusia. Pendapat ini masyhur dari madzhab Maliki dan Hanafi.. sebagaimana yang dirinci oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa 25/114: Pendapat Pertama: Wajib atasnya berpuasa (bila melihat hilal Ramadhan) dan ber iedul fithri (bila melihat hilal Syawal) secara sembunyi-sembunyi. dekat maupun jauh. Inilah pendapat yang paling jelas karena sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (yang artinya): "Puasa kalian adalah pada hari kalian semua berpuasa dan berbuka kalian (Iedul Fithri) adalah pada hari kalian semua berbuka (tidak berpuasa) dan (Iedul) Adha kalian adalah hari kalian berkurban. maka barangsiapa diantara mereka melihat hilal dimana saja tempatnya. yaitu karena melihat hilal dan berbuka (iedul fithri) karena hilal (Hadits Abu Hurairah dan lainlain). Bertolak dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu diatas. Hal itu dari segi pengambilan dalil hadits-hadits yang jelas mengenai puasa.kedua-duanya lemah (dha if) karena jarak qashar shalat tidak berkaitan dengan hilal.." Imam As-Shan ani berkata: "Dalam hadits itu terdapat dalil bahwa hari Ied ditetapkan bersama manusia.

jika seseorang melihat hilal sedangkan imam menolak persaksiannya. pada saat hilal terhalang oleh awan sedangkan pada waktu itu malam yang ke 30 dari bulan Sya ban? Dalam permasalahan ini. Diperkuat makna ini dengan hujjah Aisyah terhadap Masruq melarang puasa pada hari Arafah karena khawatir pada saat itu hari nahr (10 Dzulhijah). (Majmu Fatawa. dan jika salah maka pahala bagi kalian dan dosa atas mereka. Aisyah menerangkan kepadanya bahwa pendapatnya tidak dianggap dan wajib atasnya untuk mengikuti jama ah. 25/206) Jika timbul pertanyaan bagaimana hukum puasa pada hari mendung. Jika mendung atas kalian maka kirakirakanlah. maka seharusnya tidak diakui dan wajib atasnya untuk mengikuti jamaah pada yang demikian itu. tidak boleh bersendirian dalam hal itu. atau melampaui batas.Abul Hasan As-Sindi setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah pada riwayat Tirmidzi. Atas dasar ini. maka bagaimana hukumnya? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam hal ini mengatakan: Apa yang sudah menjadi ketetapan sebuah hukum tidak berbeda keadaannya pada orang yang diikuti dalam ru yah hilal. bisa jadi karena tidak mau membahas tentang keadilannya atau karena politik dan sebagainya dari alasan-alasan yang tidak syar i. Pendapat ini berdalil dengan hadits Ibnu Umarradhiallahu anhuma yang ada dalam Shahihain bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallambersabda: "Apabila kalian melihat hilal (Ramadhan). apabila ia melihat hilal. berkata dalam Shahih Ibnu Majah: Yang jelas maknanya adalah bahwa perkara-perkara (berpuasa dan berhari raya) ini bukan untuk perorangan. Syaikh Al-Albani menegaskan: Makna inilah yang terambil dari hadits tersebut. Terkadang seorang Imam meremehkan ketika disampaikan penetapan hilal dengan menolak persaksian orang yang adil. Maka kesalahan dan pelampauan batas adalah tanggung jawab mereka bukan tanggung jawab kaum muslimin yang tidak salah dan tidak melampaui batas. jika mereka benar maka pahala bagi kalian dan mereka. Dengan persempit bulan Sya ban menjadi 29 hari. Perkaranya tetap diserahkan kepada imam dan jamaah. Tentang masalah apabila hilal tidak tampak dan tidak diumumkan padahal manusia sangat bersemangat mencarinya telah tersebut dalam As-Shahihah bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang para imam: "Mereka (para imam) shalat bersama kalian. (Silsilah Al-Hadits As-Shahihah 1/443-444) Akan tetapi jika seseorang tinggal disuatu tempat yang tidak ada orang kecuali dia. Pengikut-pengikut beliau membela madzhabnya dan membantah hujjah orang yang menyelisihinya. . Abdullah bin Abdurrahman Ali Bassam menerangkan dalam kitab beliauTaudlihul Ahkam 1/139 sebagai berikut: Pendapat yang masyhur dalam madzhab Imam Ahmad adalah wajib puasa pada waktu itu. Aisyah berkata: Nahr (Iedul Adha) adalah hari orang-orang menyembelih kurban dan Iedul Fithri adalah hari orang-orang berbuka. Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa 25/117. Sama saja dia seorang mujtahid yang benar atau salah. maka wajib berpuasa karena dia sendirian di sana. maka puasalah dan apabila melihatnya (hilal Syawal) maka berbukalah.

At-Tirmidzi mengatakan bahwa berdasarkan hadits ini para ulama dari kalangan shahabat dan tabi in beramal. Mereka berdalil dengan hadits Ammar yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan: Barang siapa berpuasa pada hari yang diragukan. karena pada waktu itu adalah waktu keraguan yang dilarang puasa padanya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan : Tidak berpuasa (pada saat itu) adalah madzhab Imam Ahmad. diantaranya hadits Ammar: Tidak boleh puasa pada waktu ragu. maka tidak dianggap puasa Ramadhan. padahal tidak wajib dilakukan bahkan yang disunnahkan adalah meninggalkannya . Dan makna hadits Ammar dan selainnya menunjukkan atas haramnya puasa (pada saat itu). (Subulus Salam2/308) Kalau sudah jelas bahwa hari yang diragukan. maka dia sungguh telah bermaksiat kepada Abul Qasim (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam). maka tidak sepantasnya bagi seorang muslim untuk berpuasa sebelum Ramadhan satu atau dua hari dengan alasan ihtiyath (berhati-hati) kecuali kalau hari itu bertepatan dengan hari puasa (yang biasa ia lakukan). karena ada awan yang menghalangi atau selainnya. Dari keterangan diatas menunjukkan bahwa malam ke-30 dari bulan Sya ban apabila tidak terlihat hilal karena terhalang oleh awan dan selainnya adalah waktu yang diragukan padanya puasa. maka janganlah (pendapat diatas) dinisbatkan (dihubungkan) kepadanya. maka sunnah untuk berbuka itu lebih utama. Kalau dikatakan boleh dua perkara. Demikian penjelasan Syaikh Ali Bassam. Inilah pendapat kebanyakan ahlul ilmi (ulama). Abu Hurairah radhiallahu anhu.Sedangkan Imam Malik. Yang masih diragukan adalah tentang wajibnya berpuasa pada hari itu. Syaikh Abdul Lathief bin Ibrahim barkata bahwa orang yang melarang puasa (pada waktu diatas) mempunyai hujjah hadits-hadits. Sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah melarang hal itu. ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi . Syafi I dan Hanafi berpendapat bahwa tidak disyari atkannya puasa pada waktu itu. Bisa jadi saat itu bulan Ramadhan atau Sya ban. Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Mughni bahwa riwayat dari Imam Ahmad menyatakan bahwa pada waktu itu puasa tidak wajib dan jika dia puasa. Beliau (Ibnu Taimiyyah) berkata dalam Al-Furu: Aku tidak mendapatkan dari Ahmad bahwa beliau menegaskan wajibnya dan memerintahkannya. Syaikh Muhammad bin Hasan berkata: Tidak diragukan lagi bahwa para peneliti dari kalangan madzhab Hambali dan selainnya berpendapat tentang tidak wajibnya berpuasa bahkan dimakruhkan atau diharamkan. Oleh karena itu Imam As-Shan ani menegaskan: Ketahuilah bahwa hari yang diragukan adalah hari ke 30 dari bulan Sya ban apabila tidak terlihat hilal pada malam itu. Imam Ahmad juga mengatakan bahwa berpuasa pada hari yang diragukan adalah mendahului Ramadhan dengan puasa satu hari. Pendapat inilah pendapat Imam Ahmad yang sebenarnya.

edisi XXIII. (HR. demikian pula diwajibkan atas kaum muslimin sebagaimana telah kami terangkan di muka karena dihapus hukum tersebut. dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Tirmidzi 1/214. Abu Hanifah. Ishaq. Muhammad. Semoga tulisan yang diambil dari kitab-kitab para ulama ini bermanfaat bagi kita. maka puasalah. diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa" [Al-Baqarah : 183]. (Lihat Shifatus Shaum Nabi shallallahu alaihi wasallam karya Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Salim Al-Hilali hal. penulis Ustadz Zuhair Syarif). tidak boleh makan hingga malam selanjutnya. hal.wasallambersabda: Janganlah kalian dahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari. At-Tsauri. Dhahir hadits diatas menunjukkan bahwa shalat pada hari yang kedua itu adalah penunaian bukan qadla. Abu Yusuf. Hukum Hilal Yang Diketahui Pada Akhir Siang Dari Umair bin Anas bin Malik dari pamannya dari kalangan shahabat bahwasanya ada sekelompok pengendara datang. (Dikutip dari Majalah Salafy. dan lainlain. (HR. (Subulus Salam 2/133) Demikian keterangan para ulama tentang masalah diatas yang menunjukkan bolehnya shalat Iedul Fithri pada hari kedua. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan mereka untuk berbuka (Iedul Fithri) dan pergi pagi-pagi ke tanah lapang keesokan harinya. Demikian keterangan Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar 3/310. Allah berfirman (yang artinya): "Hai orang-orang yang beriman. Muslim) Shilah bin Zufar dari Amar berkata: Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan. Kesempurnaan itu hanya mutlak milik Allah Ta ala sedangkan makhluk tempat khilaf dan kekurangan. Ahmad. kecuali orang yang biasa berpuasa (sunnat bertepatan pada hari itu). Mereka mempersaksikan bahwa telah melihat hilal kemarin.28). apabila tidak jelas waktu Ied kecuali setelah keluar waktu shalatnya. Ahmad dan Abu Dawud. Imam As-Shan ani menyatakan: Hadits diatas sebagai dalil bahwa shalat Ied dilaksanakan hari kedua tatkala waktu Ied diketahui dengan jelas sesudah keluar (habis) waktu shalat (ied). Sahur 1. 12-22. [Lihat sebagai . Hikmah Sahur Allah mewajibkan puasa kepada kita sebagaimana telah mewajibkan kepada orang-orang sebelum kita dari kalangan Ahlul Kitab. Wallahu a lam bisshawab. Hadits ini sebagai dalil bagi orang yang berkata bahwasanya shalat Ied boleh dilakukan pada hari kedua. maka sungguh dia telah bermaksiat kepada Abul Qasim shallallahu alaihi wasallam. Syafi i. Pendapat ini adalah pendapat Al-Auza I. Waktu dan hukumnya pun sesuai dengan apa yang diwajibkan pada Ahlul Kitab. yakni tidak boleh makan dan minum serta menikah (jima') setelah tidur. Yaitu jika salah seorang dari mereka tidur. hadits ke 1026).

Hadits ini mempunyai syahid (saksi penguat) dalam riwayat Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al-Khatib dalam Munadih Auhumul Sam'i wa Tafriq 1/203. menguatkan dalam puasa. yakni sahur". Dari Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu. karena dengan makan sahur berarti mengikuti sunnah. Tafsir Quranil 'Adhim 1/213214 oleh Ibnu Katsir. maka janganlah kalian tinggalkan" [Hadits Riwayat Nasa'i 4/145 dan Ahmad 5/270 sanadnya shahih]. Nasa'i 4/145 dari jalan Yunus bin Saif dari Al-Harits bin ZIyad dari Abi Rahm dari Irbath. Dalam makan sahur juga (berarti) menyelisihi Ahlul Kitab. Ad-Durul Mantsur 1/120-121 karya Imam Suyuthi]. Al-Harits majhul (tidak dikenal). [Adapun hadits Al-Irbath diriwayatkan oleh Ahmad 4/126 dan Abu Daud 2/303. Makan Sahur Adalah Barokah. beliau bersabda (yang artinya): "Sesungguhnya makan sahur adalah barakah yang Allah berikan kepada kalian. Sedangkan hadits Abu Darda diriwayatkan oleh Ibnu Hibban 223-Mawarid dari jalan Amr bin Al- . Oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menamakannya dengan makan pagi yang diberkahi sebagaimana dalam dua hadits Al-Irbath bin Syariyah dan Abu Darda'radhiyallahu 'anhuma (yang artinya): "Marilah menuju makan pagi yang diberkahi.tambahan tafsir-tafsir berikut: Zadul Masir 1/184 oleh Ibnul Jauzi. Hadits ini hasan (baik) sebagai syawahid dan didukung oleh riwayat sebelumnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya):"Barokah itu ada pada tiga perkara: Al-Jama'ah. Keberadaan sahur sebagai barakah sangatlah jelas. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh makan sahur sebagai pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahlul Kitab. Dari Salman radhiyallahu 'anhu. sepertinya ia belum menemukan sanadnya] Dari Abdullah bin Al-Harits dari seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: Aku masuk menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika itu beliau sedang makan sahur. Keutamaannya a. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya): "Sesungguhnya Allah menjadikan barokah pada makan sahur dan takaran"[Hadits Riwayat As-Syirazy (Al-Alqzb) sebagaimana dalam Jami'us Shagir 1715 dan Al-Khatib dalam AlMuwaddih 1/263 dari Abu Hurairah dengan sanad yang lalu. Ats-Tsarid dan makan sahur" [Hadits riwayat Thabrani dalam Al-Kabir 5127. Abu Nu'aim dalam Dzikru Akhbar Ashbahan 1/57 dari Salman Al-Farisi Al-Haitsami berkata Al-Majma 3/151 dalam sanadnya ada Abu Abdullah Al-bashiri. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya): "Pembeda antara puasa kita dengan puasanya ahli kitab adalah makan sahur"[Hadits Riwayat Muslim 1096] 2. karena mereka tidak melakukan makan sahur. menambah semangat untuk menambah puasa karena merasa ringan orang yang puasa. Adz-Dzahabi berkata: "Tidak dikenal. perawi lainnya tsiqat (dipercaya). sanadnya hasan] Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Al-Manawi memutihkannya dalamFawaidul Qadir 2/223.

beliau termasuk mudallis taswiyah ?! Maka hadits ini shahih]. Ibnu Hibban 223. Sehingga Zaid pun memakai ukuran lamanya baca mushaf sebagai isyarat dari beliauradhiyallahu 'anhu bahwa waktu itu adalah waktu ibadah dan amalan mereka membaca dan mentadabbur AlQur'an". karena dia menegaskan hadits dari Syaikhya! Akan tetapi apakah itu cukup atau harus tegas-tegas dalam seluruh thabaqat hadits. Aku tanyakan (kata Anas). Dan sahurnya seorang muslim yang paling afdhal adalah korma. "Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?" Zaid menjawab. memenuhi mereka dengan rahmat-Nya. Al-Hafidz berkata dalam Al-Fath 4/238 : "Di antara kebiasaan Arab mengukur waktu dengan amalan mereka. Baihaqi 4/237 dari jalan Muhammad bin Musa dari Said Al-Maqbari dari Abu Hurairah. Anas radhiyallahu 'anhu meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu: "Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian beliau shalat". selama menyembelih onta. (misal): kira-kira selama memeras kambing. dan jarak (selang waktu) antara sahur dan masuknya shalat kira-kira lamanya seseorang membaca lima puluh ayat di Kitabullah. dsb. janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya meneguk setengah air. karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur" [Telah lewat takhrijnya]. karena keutamaan yang disebutkan tadi. Sekian dengan sedikit perubahan] . karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallamdan Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu melakukan sahur. Fawaqa naqah (waktu antara dua perasan). ketika selesai makan sahur Nabishallallahu 'alaihi wasallam bangkit untuk shalat subuh. Barangsiapa yang tidak menemukan korma. berdo'a kepada Allah agar mema'afkan mereka agar mereka termasuk orang-orang yang dibebaskan oleh Allah di bulan Ramadhan. Muslim 1097. Diriwayatkan oleh Ahmad 4/133. malaikat Allah memintakan ampunan bagi mereka. Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu. kalau selamat dari Baqiyah. "Kira-kira 50 ayat membaca Al-Qur'an" [Hadits Riwayat Bukhari 4/118. Dan sanadnya SHAHIH]. Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (yang artinya): "Sebaik-baik sahurnya seorang mukmin adalah korma" [Hadits Riwayat Abu Daud 2/303. Nasaai 4/146 sanadnya shahih. hendaknya bersungguh-sungguh untuk bersahur walau hanya dengan meneguk satu teguk air. Mungkin barakah sahur yang tersebar adalah (karena) Allah Subhanahu wa Ta'ala akan meliputi orang-orang yang sahur dengan ampunan-Nya. Oleh sebab itu seorang muslim hendaknya tidak menyia-nyiakan pahala yang besar ini dari Rabb Yang Maha Pengasih. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya): "Sahur itu makanan yang barakah. Mengakhirkan Sahur Disunnahkan mengakhirkan sahur sesaat sebelum fajar. Risydin dhaif (lemah). b. dan karena sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (yang artinya): "Makan sahurlah kalian walau dengan seteguk air" [Telah lewat Takhrijnya] 3. Allah dan Malaikat-Nya Bershalawat Kepada Orang-Orang yang Sahur. Hadits ini ada syahid (penguat)-nya dari hadits Al-Migdam bin Ma'dikarib.Harits dari Abdullah bin Salam dari Risydin bin Sa'ad.

dan pemisah antara puasa kita dan puasa Ahlul Kitab. dan Allah serta Rasul-Nya telah menerangkan batasan-batasannya sehingga menjadi jelas. Abu Ya'la 3/438. Hukumnya Oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkannya -dengan perintah yang sangat ditekankan-. Judul Asli : Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. Ifthar (Buka Puasa) . penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. 2) Sahur adalah syiarnya puasa seorang muslim. Sesunguhnya kejelasan adalah satu keyakinan yang tidak ada keraguan lagi. Edisi Indonesia:Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR). Ke 5 th 1416 H. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. beliau bersabda (yang artinya):"Sahur adalah makanan yang barakah. karena Allah Jalla Sya'nuhu mema'afkan kesalahan. AlBazzar 1/465 dari jalan Syuraik dari Abdullah bin Muhammad bin Uqail dari Jabir. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. janganlah kalian tinggalkan walaupun hanya meminum seteguk air karena Allah dan Malaikat-Nya memberi sahalawat kepada orangorang yang sahur" [Hadits Riwayat Ibnu Abi Syaibah 2/8. 3) Larangan meninggalkan sahur. Beliau bersabda (yang artinya): "Barangsiapa yang mau berpuasa hendaklah sahur dengan sesuatu" [Ibnu Abi Syaibah 3/8. hal ini terlihat dari tiga sisi: 1) Perintahnya. Sebagaimana menguatkan yang lain] Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda "Sahurlah kalian walaupun dengan seteguk air" [Hadits Riwayat Abu Ya'la 3340 dari Anas. Walaupun demikian. didukung oleh hadits Abdullah bin Amr di Ibnu Hibban no. selama belum ada kejelasan. minum dan jima. Wallahu a'lam. Inilah qarinah (isyarat) yang kuat dan dalil yang jelas. Al-Hafidz Ibnu Hajar menukilkan dalam kitabnya Fathul Bari 4/139: Ijma (adanya kesepakatan para ulama -red) atas sunnahnya. beliau bersabda (yang artinya):"Pembeda antara puasa kami dan Ahlul Kitab adalah makan sahur" [Telah lewat Takhrijnya] Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang meninggalkannya. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.884 padanya ada 'an-anah Qatadah. 4. Saya katakan: Kami berpendapat perintah Nabi ini sangat ditekankan anjurannya. jima' selama (dalam keadaan) ragu fajar telah terbit atau belum.kalian diperbolehkan makan. Ahmad 3/12. minum. Kemudian beliau menjelaskan tingginya nilai sahur bagi umatnya. 3/44 dari tiga jalan dari Abu Said Al-Khudri. Jelaslah. Muslim 1095 dari Anas].Ketahuilah wahai hamba Allah -mudah-mudahan Allah membimbingmu.] Dan beliau bersabda (yang artinya): "Makan sahurlah kalian karena dalam sahur ada barakah" [Hadits Riwayat Bukhari 4/120. Hadits Hasan]. kelupaan serta membolehkan makan. ada kelemahan. Ahmad 3/367. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. sedangkan orang yang masih ragu (dan) belum mendapat penjelasan.

karena mereka mengakhirkan berbuka. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menafsirkan dengan datangnya malam dan perginya siang serta sembunyinya bundaran matahari. 2. wajib atasmu berbuka ketika matahari telah terbenam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Umatku akan senantiasa dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa)" [Hadits Riwayat Ibnu Hibban 891 dengan sanad Shahih. Kami telah membawakan (penjelasan ini pada pembahasan yang telah lalu.1. mereka telah mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal-hal tersebut dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada paragraf-paragraf yang akan datang. Pengakhiran mereka itu sampai pada waktu tertentu yakni hingga terbitnya bintang. Menyegerakan berbuka berarti menghasilkan kebaikan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka" [Hadits Riwayat Bukhari 4/173 dan Muslim 1093]. yang kita harapkan jin dan manusia berkumpul diatasnya. Menyegerakan berbuka Wahai saudaraku seiman. inilah perkataan-perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ada di hadapanmu dapatlah engkau membacanya. a. Maka dengan mengikuti jalan dan manhaj Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berarti engkau menampakkan syiar-syiar agama. Kapan orang yang puasa berbuka? Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya): Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam" [Al-Baqarah : 187]. serta perbuatan para sahabatnya. Menyegerakan berbuka adalah sunnah Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam Jika umat Islamiyah menyegerakan berbuka berarti mereka tetap di atas sunnah RasulullahShallallahu 'alaihi wa sallam dan manhaj Salafus Shalih. janganlah dihiraukan oleh rona merah yang masih terlihat di ufuk.-ed) agar menjadi tenang hati seorang muslim yang mengikutisunnatul huda. dengan izin Allah mereka tidak akan tersesat selama "berpegang dengan Rasul mereka (dan) menolak semua yang merubah sunnah". Syaikh Abdur Razaq telah meriwayatkan dalam Mushannaf 7591 dengan sanad yang dishahihkan oleh Al-Hafidz dalam Fathul Bari 4/199 dan al-Haitsami dalam Majma' Zawaid 3/154 dari Amr bin Maimun Al Audi: "Para sahabat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling bersegera dalam berbuka dan paling akhir dalam sahur". Dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu 'anhu. b. asalnya -telah . memperkokoh petunjuk yang kita jalani. dan keadaannya yang sudah jelas dan telah engkau ketahui. Dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu 'anhu. Radhiyallahu 'anhum telah kau lihat. Wahai hamba Allah. dengan ini berarti engkau telah mengikuti sunnah Rasuullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menyelisihi Yahudi dan Nasrani.

perkaraperkara baru yang menimpa umat Islam tidak menyebabkan kita memilah syiar-syiar Allah. Ini tidak ada asalnya dalam agama Allah. jangan sampai kita mengatakan seperti perkataan kebanyakan mereka: "Ini perkara-perkara . Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : Agama ini akan senantiasa menang selama manusia menyegerakan berbuka. berdasarkan firman Allah (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman. Atas dasar inilah. dan condong bersama angin kemana saja angin beriup. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu. Ibnu Hibban 223. dan sungguh kita mengetahui buah dari menyelisihi Yahudi dan Nasrani adalah tetap (tegak)nya agama lahir dan batin. berpegang dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah dalam masalah Aqidah dan Manhaj. (yaitu) pengikut semua yang berteriak. karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya" [Hadits Riwayat Abu Dawud 2/305. red) -mudah-mudahan Allah merobohkannya-.lewat dalam shahihain. Menyegerakan berbuka berarti menyelisihi Yahudi dan Nashrani Tatkala manusia senantiasa berada di atas kebaikan dikarenakan mengikuti manhaj Rasul mereka.Kami katakan: Syi'ah Rafidhoh telah mencocoki Yahudi dan Nasrani dalam mengakhirkan buka hingga terbitnya bintang. Berpegang dengan Islam baik secara global maupun rinci. sebagai berikut: 1. (yaitu) mereka yang mengimani sebagian kitab dan mendustakan sebagian yang lainnya. jika membedakan diri dan tidak condong ke Barat ataupun ke Timur. karena mereka tidak menjadi pengekor orang Timur dan Barat. sanadnya Hasan] Hadits-hadits di atas mempunyai banyak faedah dan catatan-catatan penting. ini sebagai penjelasan bagi umat Islam. disenangi oleh semua hati. kita diperintah untuk menyelisihi mereka secara global maupun terperinci. maka orang yang membagi Islam menjadi inti dan kulit. Mudah-mudahan Allah melindungi kita semua dari kesesatan. masuklah kamu dalam Islam secara kaffah" [AlBaqarah : 208]. karena sesungguhnya Islam (senantiasa) tetap tampak dan menang. c. 2. kecuali dengan kembali kepada Islam. tidak akan memudharatkan orang yang menyelisihinya. memelihara sunnahnya. Kemenangan agama ini dan berkibarnya bendera akan tercapai dengan syarat menyelisihi orang-orang sebelum kita dari kalangan Ahlul Kitab. Dakwah ke jalan Allah dan memberi peringatan kepada mukminin tidak akan terputus. tauladan yang baik untuk diikuti. bahkan akhirnya akan merembet kepada perbuatan orang-orang yang dimurkai Allah. jika umat ini berbuat demikian mereka akan menjadi perhiasan diantara umat manusia. bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan yang banyak. menolak untuk mengekor Kremlin (Istana Kepresidenan Rusia. jadi pusat perhatian. ketika itu umat Islam akan menjadi singa pemberani di lautan kegelapan.]. ini adalah pembagian bid'ah jahiliyah modern yang bertujuan mengotori fikrah kaum muslimin dan memasukkan mereka ke dalam lingkaran kekhawatiran. Hal ini tidak akan terwujud. red) atau mencari makan di Gedung Putih (Istana Kepresidenan Amerika.

terutama badan yang sehat. d. marfu' (riwayatnya sampai kepada Nabi) dan mauquf (riwayatnya hanya sampai kepada sahabat) shahih. Abu Dawud (2356) dari Anas dengan sanad Hasan] karena menyegerakan berbuka termasuk akhlaknya para nabi. berat terasa olehnya penderitaan olehmu. furu'. da'i ke jalan Allah di atas bashirah (ilmu/dalil).tapi mempunyai hukum marfu' (yakni dianggap bersumber dari Nabi shallalahu 'alaihi wasallam)].dalam pengaruhnya terhadap hati dan mensucikannya. adapun yang marfu' ada perawi yang tidak aku ketahui biografinya". Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu (ia berkata): "Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa . Maka bertaqwalah kepada Allah (wahai) setiap orang yang menyangka berbuka ketika terbenamnya matahari adalah fitnah. amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin" [At-Taubah : 128].kecil. ini termasuk kesempurnaan kasih sayang dan semangatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (untuk kebaikan) umatnya dan dalam menasehati mereka. (yang) tidak mungkin seluruh muslimin berdiri di atasnya.. menjauhkan umat Islam dari agamanya atau menyangka (hal tersebut) sebagai dakwah yang tidak ada nilainya. 3. Karena memberikan ke tubuh yang kosong sesuatu yang manis. karena badan ketika dibawa puasa menjadi kering. engkau telah tahu dari hadits-hadits yang mulia bahwa jayanya agama ini bergantung pada disegerakannya berbuka puasa yang dilakukan tatkala lingkaran matahari telah terbenam.. Berbuka dengan apa? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berbuka dengan korma. jika didinginkan dengan air akan sempurna manfaatnya dengan makanan. dia akan menjadi kuat dengannya (korma).. sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu. Dari Abu Darda' Radhiyallahu 'anhu: "Tiga perkara yang merupakan akhlak para Nabi: menyegerakan berbuka. sesungguhnya korma mengandung berkah dan kekhususan demikian pula air. Aku katakan mauquf -sebagaimana telah jelas. Allah berfirman (yang artinya): Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. karena hal itu adalah perkara furu'. khilafiyah atau masalah kulit!! Walaa haula walaa quwwata illa billah.khilafiyah dan hawasyiyah. Adapun air. kalau tidak ada korma dengan air. Berbuka sebelum shalat maghrib Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berbuka sebelum shalat Maghrib [Hadits Riwayat Ahmad (3/164).." Perhatikanlah wahai kaum muslimin. lebih membangkitkan selera dan bermanfaat bagi badan. tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang ber-ittiba' (mengikuti sunnah Nabi shallalahu 'alaihi wasallam). mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan (kanan) di atas tangan kiri dalam shalat" [Hadits Riwayat Thabrani dalam AlKabirsebagaimana dalam Al-Majma (2/105) dia berkata: ". dan seruan untuk menghidupkan sunnah ini adalah dakwah yang sesat dan bodoh. kita wajib meninggalkannya. kita pusatkan kesungguhan kita untuk perkara besar yang memecah belah shaf kita dan mencerai-beraikan barisan kita. Ketahuilah wahai hamba yang taat.

Baihaqi (4/239). Berdo'alah kepada-Nya dengan apa yang kamu mau dari berbagai macam do'a yang baik. do'anya orang yang terdhalimi dan do'anya musafir" [Hadits Riwayat Uqaili dalam Ad-Dhu'afa' (1/72). Ibnu Sunni (128). Tirmidzi 93/70) dengan dua jalan dari Anas. Abu Dawud (2/306). jika tidak ada tamr maka minum dengan satu tegukan air" [Hadits Riwayat Ahmad (3/163). Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu. Aku katakan: memang seperti ucapannya] 5. berdo'alah kepada Allah dalam keadaan engkau yakin akan dikabulkan.sesungguhnya engkau punya do'a yang dikabulkan.untuk memberi makan orang yang puasa karena pahalanya besar dan kebaikannya banyak. -ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mengabulkan do'a dari hati yang lalai-. hadits ini punya syahid yaitu hadits selanjutnya. Thayalisi (299) dari dua jalan Al-Bushiri berkata: (2/81) ini sanad yang shahih. Hakim (1/422). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Sesungguhnya orang yang puasa ketika berbuka memiliki doa yang tidak akan ditolak" [Hadits Riwayat Ibnu Majah (1/557). sanadnya shahih]. Yang diucapkan ketika berbuka Ketahuilah wahai saudaraku yang berpuasa . Ibnu Khuzaimah (3/277. Abu Muslim Al-Kajji dalam Juz-nya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : Tiga do'a yang dikabulkan: do'anya orang yang berpuasa.sallam berbuka dengan korma basah (ruthab). Daruquthni (2/185) dia berkata: "sanadnya hasan". Do'a yang paling afdhal adalah do'a ma'tsur dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.] Do'a yang tidak tertolak ini adalah ketika waktu engkau berbuka berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Tiga orang yang tidak akan ditolak do'anya : orang yang puasa ketika berbuka. perawi-perawinya tsiqat].] Dari Abdullah bin Amr bin Al 'Ash. Memberi makan (buka) orang yang puasa Bersemangatlah wahai saudaraku -mudah-mudahan Allah memberkatimu dan memberi taufik kepadamu untuk mengamalkan kebajikan dan taqwa. dan dari jalan Ibnu Masi dalam Juzul Anshari sanadnya hasan kalau tidak ada 'an-'annah Yahya bin Abi Katsir.278). Al-Hakim (1/422) Ibnu Sunni (128). maka manfaatkanlah. Ibnu Majah (1752).mudah-mudahan Allah memberi taufiq kepada kita untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. mudahmudahan engkau bisa mengambil kebaikan di dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Barangsiapa yang memberi . 4. Nasaai dalam 'Amalul Yaum (296). jika tidak ada ruthab maka berbuka dengan korma kering (tamr). dan telah ditetapkan pahala Insya Allah" [Hadits Riwayat Abu Dawud 92/306). bahwa beliau jika berbuka mengucapkan Dzahabad-dhoma'u wabtalatil 'uruuqu watsabbatil ajru insya Allah yang artinya: Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat. Ibnu Hibban (2407) ada jahalah Abu Mudillah. Imam yang adil dan do'anya orang yang didhalimi" [Hadits Riwayat Tirmidzi (2528).

Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. ibnu Majah (1746). beliau mandi setelah fajar kemudian shalat. wa asqi man saqoonii (yang artinya): Ya Allah.] Orang yang puasa harus memenuhi undangan (makan) saudaranya. orang-orang yang berpuasa telah berbuka di sisi kalian" [Hadits Riwayat Abi Syaibah (3/100). kemudian ia mandi dan berpuasa" [Hadits Riwayat Bukhari 4/123. Memasuki waktu subuh dalam keadaan junub Diantara perbuatan yang pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah masuk fajar dalam keadaan junub karena jima' dengan isterinya (sebelum fajar).116. berilah barakah pada seluruh rizki yang Engkau berikan" [Hadits Riwayat Muslim 2042 dari Abdullah bin Busrin] Judul Asli : Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. Abdur Razak (4/311) dari berbagai jalan darinya. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Inilah perbuatan-pebuatan tersebut beserta dalil-dalilnya.5/192) Tirmidzi (804). sandnya shahih. tidak akan dikurangi pahalanya sedikitpun. Hal-hal yang dibolehkan ketika berpuasa Seorang hamba yang taat serta paham Al-Qur'an dan Sunnah tidak akan ragu bahwa Allah menginginkan kemudahan bagi hamba-hamba-Nya dan tidak menginginkan kesulitan. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. dishahihkan oleh Tirmidzi. dan tidak menganggapnya suatu kesalahan jika mengamalkannya. Bersiwak . Ke 5 th 1416 H. ampunilah mereka dan rahmatilah. Nasa'i dalam 'Amalul Yaum (268). 1. dan para malaikat bershalawat (mendo'akan kebaikan) atas kalian. berilah minum orang yang memberiku minum" [Hadits Riwayat Muslim 2055 dari Miqdad] Do a Allahummaghfir lahum warhamhum wa baarik fiima rozaqtahum (yang artinya): Ya Allah.buka orang yang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun" [Hadits Riwayat Ahmad (4/144. berilah makan orang yang memberiku makan. dia harus berkeyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun amal kebaikannya. Orang yang diundang disunnahkan mendo'akan pengundangnya setelah selesai makan dengan do'a-do'a dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam (yang artinya): Telah makan makanan kalian orang-orang bajik. karena barangsiapa yang tidak menghadiri undangan berarti telah durhaka kepada Abul Qasim Shallallahu 'alaihi wa sallam. Peringatan: Apa yang ditambahkan oleh sebagian orang tentang hadits ini: "Allah menyebutkan di majlis-Nya" adalah tidak ada asalnya. Edisi IndonesiaSifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR). Perhatikan !!] Doa Allahumma ath im man ath amanii. Allah dan Rasul-Nya telah membolehkan beberapa hal bagi orang yang puasa. Ibnu Hibban (895). Dari Aisyah dan Ummu Salamah Radhiyallahu 'anhuma: Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memasuki waktu subuh dalam keadaan junub karena jima' dengan isterinya.115. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Ahmad (3/118). penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. Muslim 1109] 2. Ibnu Sunni (129).

lihat Faqih Al-Mutafaqih 192-193 karena padanya terdapat hadits dari jalan-jalan yang lain]. 5. Shahih Ibnu Khuzaimah3/247.221 dari jalan Ibnu Lahi'ah dari Yazid bin Abu Hubaib dari Qaushar At-Tufibi darinya. Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali dalam keadaan puasa" [Hadits Riwayat Tirmidzi 3/146. Lihat Fathul Bari 4/158. tetapi melarang orang yang berpuasa berlebihan ketika ber-istinsyaq.[ Hadits Riwayat Ahmad 2/185. Ibnu Majah 407. 87 dari Laqith bin Shabrah. sanadnya SHAHIH] 4. dengan syahid ini haditsnya menjadi hasan. . maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya orang tua itu (lebih bisa) menahan dirinya". hal ini sebagai dalil bahwa bersiwak itu diperuntukkan bagi orang yang puasa dan selainnya ketika wudlu dan shalat. Muslim 252 semisalnya]. Sanadnya dhaif (lemah) karena dhaif-nya Ibnu Lahi'ah. akan tetapi beliau adalah orang yang paling bisa menahan diri" [Hadits Riwayat Bukhari 4/131. Abu Daud 2/308. "Ya Rasulullah. niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak setiap kali wudlu"[Hadits Riwayat Bukhari 2/311. "Tidak". Berkumur dan Istinsyaq Karena beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkumur dan ber-istinsyaq (memasukkan air ke hidung kemudian menghembuskannya) dalam keadan puasa. datanglah seorang pemuda seraya berkata.Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Seandainya tidak memberatkan umatku. Mengeluarkan darah dan suntikan yang tidak mengandung makanan Hal ini bukan termasuk pembatal puasa. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): . Ahmad 4/32. "Kami (para Sahabat) pernah berada di sisi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengkhususkan bersiwak untuk orang yang puasa ataupun yang lainnya.. Wallahu 'alam. Kami saling pandang satu sama lain. Syarhus Sunnah 6/298] Demikian pula hal ini umum di seluruh waktu. tetapi punya syahid (pendukung) dalam riwayat Thabrani dalam Al-Kabir11040 dari jalan Habib bin Abi Tsabit dari Mujahid dari Ibnu Abbas. Muslim 1106]. [Inilah pendapat Bukhari rahimahullah. Datang pula seorang yang sudah tua dan dia berkata: "Ya Rasulullah. demikian pula Ibnu Khuzaimah dan selain keduanya. baik sebelum zawal (tergelincir matahari di tengah hari) ataupun setelahnya. bolehkah aku mencium dalam keadaan puasa ?".. Habib seorang mudallis dan telah 'an-'anah. bolehkah aku mencium dalam keadaan puasa?" Beliau menjawab. Beliau menjawab: "Ya". Bercengkrama dan mencium isteri Aisyah Radhiyallahu 'anha pernah berkata (yang artinya): Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mencium dalam keadaan berpuasa dan bercengkrama dalam keadaan puasa. Ibnu Abi Syaibah 3/101. 3. An-Nasaai no. lihat pada pembahasan halaman sebelumnya.

Umar membasahi bajunya dengan air untuk mendinginkan badannya karena haus ketika puasa kemudian dia memakainya ketika dalam keadaan puasa.380. Mengguyurkan Air ke Atas Kepala dan Mandi Bukhari menyatakan dalam kitab Shahihnya [lihat maraji di atas] Bab Mandinya orang yang puasa.LihatRisalatani Mujizatani fiz Zakati washiyami hal. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma: "Sesungguhnya Nabishallallahu 'alaihi wa sallam berbekam. selama tidak sampai ke tenggorokan" [Hadits Riwayat Bukhari secara mu'allaq 4/154 -Fath. yang . Hasan Al-Bashri dan Ibrahim An-Nakha'i memandang.Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Fii Ramadhan. memakai tetes mata dan lainnya yang masuk ke mata Benda-benda ini tidak membatalkan puasa. Baihaqi 4/261 dari dua jalannya. 6. hadits ini Hasan. Al-Hasan berkata: "Tidak mengapa berkumur-kumur dan memakai air dingin dalam keadaan puasa". yang telah menurunkan kepada hamba-Nya kitab Al-Qur'an sebagai penjelasan atas segala sesuatu. Ke 5 th 1416 H. As-Sya'bi masuk kamar mandi dalam keadaan puasa. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad. Membaca al-Quran Segala puji bagi Allah.23 oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazrahimahullah.408.430 sanadnya shahih] Judul Asli : Shifat shaum an. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim. petunjuk. Bercelak. yaitu selama tidak sampai di tenggorokan berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbasradhiyallahu 'anhuma: Tidak mengapa mencicipi sayur atau sesuatu yang lain dalam keadaan puasa. [Hadits Riwayat Abu Daud 2365. padahal beliau sedang berpuasa" [Hadits Riwayat Bukhari 4/155-Fath. dan Taghliqut Ta'liq 3/151-152: "Anas bin Malik. penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. namun kemudian dihapus dan telah ada hadits shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengguyurkan air ke kepalanya dalam keadaan puasa karena haus atau kepanasan. baik rasanya yang dirasakan di tenggorokan atau tidak. Penerbit Al Maktabah Al Islamiyyah cet. Lihat Nasikhul Hadits wa Mansukhuhu 334-338 karya Ibnu Syahin] 7. Lihat Taghliqut Ta'liq 3/151-152] 8. tidak mengapa bagi yang berpuasa". dimaushulkan Ibnu Abi Syaibah 3/47. Mencicipi makanan Hal ini dibatasi. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. bahwa beliau berbekam ketika puasa. Imam Bukhari berkata dalam shahhihnya (4/153-Fath) hubungkan dengan Mukhtashar Shahih Bukhari 451 karya Syaikh kami Al-Albani Rahimahullah. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. Berbekam Dahulu berbekam merupakan salah satu pembatal puasa. 9. Ahmad 5/376. Edisi Indonesia:Sifat Puasa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR). Inilah yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam risalahnya yang bermanfaat dengan judul Haqiqatus Shiyam serta murid beliau yaitu Ibnul Qayim dalam kitabnya Zadul Ma'ad.

" (Thaha: 124) Di antara keutamaan Al-Qur'an: 1. kemudian diamalkan. banyak manusia yang meninggalkan kitab yang agung ini. 4. 3. Firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah." (Thaha:123) Janganlah seorang muslim memalingkan diri dari membaca kitab Allah. Allah telah mengancam orang-orang yang memalingkan diri darinya dengan firman-Nya: "Barangsiapa berpaling dari Al-Qur'an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari Kiamat" (Thaha : 100). Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Bacalah Al-Qur'an. Diantara mereka ada yang hanya membaca saat ada kematian." (An-Nahl: 89) 2. Muslim dari Abu Umamah). diantara mereka ada yang hanya menjadikannya sebagai jimat dan diantara mereka ada yang hanya mengenalnya pada saat bulan Ramadhan saja. " (Yunus: 57). dan kitab yang menerangkan. kita dianjurkan agar memperbanyak membaca Al Qur'an pada bulan ini. perintah dan larangannya. karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa 'at bagi pembacanya. direnungkan dan dipahami makna." (HR. Firman Allah Ta 'ala: "Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orangorang yang berserah diri. katanya: Aku mendengar Rasul shallallahu 'alaihi . Firman Allah Ta 'ala: "Hai manusia. Namun tidak sepantasnya seorang muslim berpaling dari kitab yang mulia ini di luar bulan Ramadhan karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjanjikan keutamaan yang begitu banyak bagi para pembacanya meskipun di luar bulan Ramadhan. maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. Dari An-Nawwas bin Sam'an radhiallahu 'anhu. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan. "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku. sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi ouang-orang yang beriman. tidak mengenalnya kecuali hanya pada saat-saat tertentu saja. Al-Qur'an diturunkan untuk dibaca oleh setiap orang muslim. dengan firmanNya: "Maka barangsiapa yang mengikuti petunjukKu. Memang benar bahwa bulan Ramadhan adalah bulan Al Qur'an.diutus Allah sebagai rahmat bagi alam semesta. dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Sesungguhnya Al Qur'an diturunkan tidak lain kecuali untuk suatu tujuan yang agung yaitu sebagai pelajaran dan hukum. ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. merenungkan dan mengamalkan isi kandungannya. Adapun pada saat ini." (Al-Ma'idah: 15-16). dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. 5. Allah telah menjamin bagi siapa yang membaca Al-Qur'an dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat. Sehingga ia akan menjadi hujjah baginya di hadapan Tuhannya dan pemberi syafa'at baginya pada hari Kiamat.

Jika ia menjumpai ayat yang memerintahkan sesuatu maka ia pun mematuhi dan menjalankannya. 6. katanya: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan. Maka bersungguh-sungguhlah -semoga Allah menunjuki Anda kepada jalan yang diridhaiNyauntuk mempelajari Al-Qur'anul Karim dan membacanya dengan niat yang ikhlas untuk Allah Ta'ala. atau menjumpai ayat yang melarang sesuatu maka iapun meninggalkan dan menjauhinya. Dari Abdullah bin Amr bin Al 'Ash radhiallahu 'anhuma." (Hadits Muttafaq 'Alaih). derajat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi. Para sahabat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dahulu jika mempelajari sepuluh ayat dari Al-Qur'an. sedangkan yang . atau menjumpai ayat adzab. Jika ia menjumpai ayat rahmat. AtTirmidzi. Al-Bukhari) 7. Dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu. naiklah dan bacalah dengan pelan sebagaimana yang telah kamu lakukan di dunia. Al-Qur'an itu menjadi hujjah bagi orang yang merenungkan dan mengamalkannya. bahwa membaca Al-Qur'an yang berguna bagi pembacanya. 9. hlm. katanya: hadits hasan shahih). dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak boleh hasad (iri) kecuali dalam dua perkara. tetapi alif satu huruf. (Hadits Muttafaq 'Alaih). bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dikatakan kepada pembaca Al-Qur'an: "Bacalah. 8. (Lihat kitab Riyadhus Shaalihiin. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan mengatakan: hadits hasan shahih). dan orang yang dikaruniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang". yaitu: orang yang dikaruniai Allah Al-Qur'an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang. Dari Aisyah radhiallahu 'anhu. Dan perlu Anda ketahui. ia memohon dan mengharap kepada Allah rahmatNya. Bersungguh-sungguhlah untuk mempelajari maknanya dan mengamalkannya. agar mendapatkan apa yang dijanjikan Allah bagi para ahli Al-Qur'an berupa keutamaan yang besar." (HR. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma. Dari Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu. Dua pahala. perintah-perintahnya dan laranganlarangannya. katanya: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang membaca Al-Qur'an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat." (HR. Yang dimaksud hasad di sini yaitu mengharapkan seperti apa yang dimiliki orang lain. 10. sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala.wasallam bersabda: "Didatangkan pada hari Kiamat Al-Qur'an dan para pembacanya yang mereka itu dahulu mengamalkannya di dunia. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf. dengan didahului oleh surat Al Baqarah dan Ali Imran yang membela pembaca kedua surat ini. yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya." (HR." (HR. ia berlindung kepada Allah dan takut akan siksa-Nya. pahala yang banyak. lam satu huruf dan mim satu huruf. 467-469). karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca. katanya: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya. Muslim). yaitu membaca disertai merenungkan dan memahami maknanya. mereka tidak melaluinya tanpa mempelajari makna dan cara pengamalannya.

Membaca ayat yang dibaca sahabat Anda. Dua Tanah Suci dan sepuluh hari Dzul Hijjah karena memanfaatkan waktu dan tempat. menghadap kiblat. Hal itu menunjukkan dianjurkannya mempelajari Al-Qur'an pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk itu. yang di dalamnya diturunkan permulaan Al-Qur'an . Dan juga menunjukkan dianjurkannya memperbanyak bacaan Al-Qur'an pada bulan Ramadhan.tidak mengamalkan dan memanfaatkannya maka Al-Qur'an itu menjadi hujjah terhadap dirinya (mencelakainya). dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Membaca ayat sesudahnya. Firman Allah Ta 'ala: "lni adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran. dengan setiap hari' membaca sepertujuh dari Al-Qur'an dengan melihat mushaf... " (Al-Baqarah: 185). Seperti dinyatakan dalam firman Allah: "Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu'). oleh Ibnu Katsir. Boleh membaca sambil berdiri. Jika membaca Al-Qur'an khatam dalam setiap tiga hari pun baik. Sedangkan Al-Qur'anul Karim merupakan dzikir yang paling agung. kecuali turunlah ketenangan atas mereka. karena malam merupakan waktu berhentinya segala kesibukan. " (Shad: 29). mencari waktu-waktu yang paling utama seperti malam. Bulan Ramadhan memiliki kekhususan dengan Al-Qura'nul Karim. berjalan dan menaiki kendaraan. Muslim). serta mereka diliputi rahmat. Namun cara pertama lebih baik. dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya. Dalam hadits Ibnu Abbas di atas disebutkan pula mudarasah antara Nabi dan Jibril terjadi pada malam hari. Ini menunjukkan dianjurkannya banyak-banyak membaca Al-Qur'an di bulan Ramadhan pada malam hari." (Al-Muzzammil: 6). Kadar bacaan yang disunatkan Disunatkan mengkhatamkan Al-Qur'an setiap minggu.. Disunatkan membaca Al-Qur'an dalam kondisi sesempurna mungkin. atau duduk. atau dalam keadaan berbaring. duduk. 169-172 dan Haasyiatu Muqaddimatit Tafsiir.. Berdasarkan firman Allah: "(Yaitu) orang-orang yang dzikir kedada Allah sambil berdiri. Ada dua cara untuk mempelajari Al-Qur'anul Karim: 1. 107. yakni dengan bersuci. him. Dan dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas. 2. berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada Abdullah bin Amr: "Bacalah AlQur'an itu dalam setiap tiga hari" (Lihat kitab Fadhaa'ilul qur'an. Tentang keutamaan berkumpul di masjid-masjid untuk mempelajari Al-Qur'anul Karim. Juga mengkhatamkannya kurang dari seminggu pada waktu-waktu yang mulia dan di tempat-tempat yang mulia. oleh Ibnu Qaasim. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertemu dengan Jibril pada bulan Ramadhan setiap malam untuk membacakan kepadanya Al-Qur'anul Karim. tidur. karena melihat mushaf merupakan ibadah. seperti: Ramadhan." (Ali Imran: 191)." (HR. juga membacakan Al-Qur'an kepada orang yang lebih hafal. kembali terkumpulnya semangat dan bertemunya hati dan lisan untuk merenungkan. setelah maghrib dan setelah fajar. Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka. hlm.) . sebagaimana firman Allah:"Bulan Ramadhan.

tunduk. mau tidak mau bagi siapa yang hendak mengetahui keuniversalan syariat. berkeinginan mengenal tujuan-tujuannya serta mengikuti jejak para ahlinya harus menjadikannya sebagai kawan bercakap dan teman duduknya sepanjang siang dan malam dalam teori dan praktek. dasarnya firman Allah Ta'ala: "Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. padahal kita diperintahkan untuk memperhatikannya sebenamya menghalangi hatinya dari apa yang dikehendaki Allah dalam kitabNya. yaitu sunnah yang menjelaskan kitab ini. maka Al-Qur'an adalah suci. yaitu yang menyerupai lagu. Adapun suara-suara dengan lagu yang diada-adakan yang terdiri atas nada dan irama yang melalaikan." (HR. Ibnu Katsir rahimahullah dalam Fadhaailul Qur'an mengatakan: "Sasaran yang diminta menurut syara' tiada lain yaitu memperindah suara yang dapat mendorong untuk merenungkan dan memahami Al-Qur'an yang mulia dengan khusyu'. Dan tidaklah mampu atas hal itu kecuali orang yang senantiasa menggunakan apa yang dapat membantunya.) Hukum melagukan Al-Qur'an : Pembaca dan pendengar Al-Qur'an yang hatinya disibukkan dengan lagu dan sejenisnya -yang dapat mengakibatkan perubahan firman Allah. oleh Asy-Syathibi. Jika hal itu dapat mengubah aturan Al-Qur'an . cahaya penglihatan dan hujjah. Mahasuci firman Allah dari hal itu semua. 31224. Imam Ahmad berkata : "Betapa berat beban Al-Qur'an itu bagi orang yang menghafalnya kemudian melupakannya. maka dekat waktunya ia mencapai tujuan dan menggapai cita-cita serta mendapati dirinya termasuk orang-orang pendahulu. Tiada jalan menuju Allah selainnya. Ath-Thabrani dan Al-Hakim dengan menyatakannya shahih). him." (Lihat kitab Fadhaa'ilul qur'an. Dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wassallam: "Tidak dibenarkan menyentuh Al-Qur'an ini kecuali orang yang suci. dan patuh penuh ketaatan. adalah ucapan para imam terkemuka dan salaf pendahulu yang dapat membimbingnya dalam tujuan yang mulia ini. sumber hikmah.) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: "Irama-irama yang dilarang para ulama untuk membaca Al-Qur'an yaitu yang dapat memendekkan huruf yang panjang. bukti kerasulan." (Al-Waqi'ah: 79). menghidupkan huruf yang mati dan mematikan yang hidup. Kalau demikian halnya." Dilarang bagi yang berhadats kecil maupun besar menyentuh mushaf.Dan makruh menunda khatam Al-Qur'an lebih dari empat puluh hari. dari hal ini dan tak layak jika dalam. Al-Qur'anul Karim syari'at sempurna: Asy-Syathibi dalam kitab Al-Muwaafaqaat mengatakan : "Sudah menjadi kesepakatan bahwa kitab yang mulia ini adalah syari'at yang sempurna. serta aturan musikal. oleh Ibnu Katsir. Selainnya. Ad-Daruquthni dan lainnya)". memanjangkan yang pendek. tiada keselamatan kecuali dengannya dan tidak ada yang dapat dijadikan pegangan sesuatu yang menyelisihinya. Imam Ahmad melarang talhin dalam membaca Al-Qur'an. bila hal tersebut dikhawatirkan membuatnya lupa." ( LihatAI Muwafaqaat. Hal ini diperkuat hadits Hakim bin Hizam yang lafazhnya: "Jangan menyentuh Al-qur'an kecuali jika kamu suci. Membacanya diperlakukan demikian. dan dalam rombongan pertama jika ia mampu. memutuskannya dari pemahaman firman-Nya." (HR. 125126. Malik dalam Al-Muwaththa. Mereka lakukan hal itu supaya sesuai dengan irama lagu-lagu yang merdu. sendi agama. beliau berkata : "Itu bid'ah.

yang disyari atkan oleh Allah Subhanahu wa Ta ala sebagai ibadah nafilah atau ibadah sunnah. dan sebagai ibadah tathowwu (sunnah) bagi umat beliau. (Lihat Haasyiatu Muqaddimatit Tafsiir. maka haram hukumnya. sholat tahajjudlah kamu sebagai ibadah nafilah bagimu. (Adz-Dzariyat: 15-18). berarti ia telah mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. (yakni) mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. (Muttafaqun alaih) Kedua: Qiyamul lail itu adalah kebiasaan orang-orang shalih dan calon penghuni surga. Pertama: Barangsiapa menunaikannya. Berat memang. ia kerjakan sholat malam. ia akan bangun di pagi hari dalam keadan jiwanya dililit kekalutan (kejelekan) dan malas untuk beramal sholeh. (HR Muslim No. Adapun makna ayat sebagai ibadah nafilah yakni sebagai tambahan bagi ibadah-ibadah yang fardhu. (lihat Zubdatut Tafsir. 375 dan Tafsir Ibnu Katsir: 3/54-55) Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda: Sholat yang paling utama sesudah sholat fardhu adalah qiyamul lail (sholat di tengah malam). mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah (yakni Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu anhuma -ed) seandainya ia sholat tengah malam.) Qiyamullail (Shalat Malam) Qiyamul lail atau yang biasa disebut juga Sholat Tahajjud atau Sholat Malam adalah salah satu ibadah yang agung dan mulia . hlm.dan menjadikan harakat sebagai huruf. dia akan terpelihara dari gangguan setan. lalu ia meninggalkannya. Disebutkan bahwa sholat lail itu merupakan ibadah yang wajib bagi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqor menerangkan: At-Tahajjud adalah sholat di waktu malam sesudah bangun tidur. . sebagaimana firman-Nya: Dan pada sebagian malam hari. Suatu hari pernah diceritakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang orang yang tidur semalam suntuk tanpa mengingat untuk sholat. Ketiga: Siapa yang menunaikan qiyamul lail itu. sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb mereka. (Muttafaqun alaih). (Al-Isro :79). oleh Ibnu Qaasim. 107. Dr. siapa yang meninggalkan qiyamul lail. maka beliau menyatakan: Orang tersebut telah dikencingi setan di kedua telinganya. dan tidak setiap muslim sanggup melakukannya. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Sebaliknya. Banyak nash dalam Al-Quran dan As-Sunnah yang menerangkan keutamaan ibadah ini. Beliau shallallahu alaihi wa sallam pernah menasihati Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhuma: Wahai Abdullah. (HR Bukhari 3/31 dan Muslim 2/185). Akan tetapi bila seorang hamba mengamalkannya dengan penuh kesungguhan. Andaikan kita tahu keutamaan dan keindahannya. dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). hal. 2478 dan 2479). janganlah engkau menjadi seperti fulan. Allahsubhanahu wa ta ala berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air. dan ia akan bangun di pagi hari dalam keadan segar dan bersih jiwanya. tentu kita akan berlomba-lomba untuk menggapainya. maka ia memiliki banyak keutamaan.

bersilaturrahmi dan sholat berjamaah. Ibnu Mas ud radhiyallahu anhu justru mulai bangun untuk shalat tahajjud. Kemudian apabila ia berwudhu. tidurlah dengan nyenyak. Dalam riwayat lain juga disebutkan oleh beliau shallallahu alaihi wa sallam: Rabb kalian turun setiap malam ke langit dunia tatkala lewat tengah malam. niscaya Aku mengampuninya. Maka apabila (ternyata) ia bangun dan menyebut nama Allah Ta ala (berdoa). akan terhalang dari qiyamul lail. Dan kemudian apabila ia sholat. Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya: Mengapa orang-orang yang suka bertahajjud itu wajahnya paling bercahaya dibanding yang lainnya? Beliau menjawab: Karena mereka suka berduaan bersama Allah Yang Maha Rahman. 757). (Muttafaqun alaih) Keempat: Ketahuilah. terurailah simpul yang terakhir. Al-Imam Hasan Al-Bashri juga pernah menegaskan: Sesungguhnya orang yang telah melakukan dosa. kelezatan dunia ini hanya ada pada tiga perkara. dan Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya bila ia memohon ampunan kepada-Nya. lalu Ia berfirman: Adakah orang yang berdoa agar Aku mengabulkan doanya? (HR Bukhari 3/25-26). Hal ini terus terjadi sampai terbitnya fajar. Seandainya tanpa adanya malam. Allah akan memberi sesuatu bagi orang yang meminta kepada-Nya. di malam hari itu ada satu waktu dimana Allah Subhanahu wa Ta ala akan mengabulkan doa orang yang berdoa. (Tafsir Ibnu Katsir 3/54) Kesungguhan Salafus Shalih untuk menegakkan Qiyamul lail Disebutkan dalam sebuah riwayat. dan siapa yang berdoa kepadaKu. Al-Imam Ibnu Al-Munkadir menyatakan : Bagiku. Maka ia berpagi hari dalam keadaan segar dan bersih jiwanya. siapa yang memohon (sesuatu) kepada-Ku. karena beliau membaca dengan suara pelan tetapi bisa terdengar oleh orang yang ada disekitarnya). bahwa Allah Subhanahu wa Ta ala juga berfirman: Barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku.Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga menceritakan: Setan mengikat pada tengkuk setiap orang diantara kalian dengan tiga ikatan (simpul) ketika kalian akan tidur. itu lebih nikmat daripada permainan mereka yang suka hidup bersantai-santai. niscaya Aku akan mengabulkannya. Jika tidak (yakni tidak bangun sholat dan ibadah di malam hari). (HR Muslim No. Dalam riwayat lain disebutkan. sungguh aku tidak suka tinggal di dunia ini. terurailah satu simpul lagi. Hal itu sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah dalam sabda beliau: Di waktu malam terdapat satu saat dimana Allah akan mengabulkan doa setiap malam. niscaya Aku pun akan memberinya. maka terurailah (terlepas) satu simpul. Abu Sulaiman berkata: Malam hari bagi orang yang setia beribadah di dalamnya. maka ia berpagi hari dalam keadaan kotor jiwanya dan malas (beramal shalih). yakni qiyamul lail. bahwa tatkala orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya. sehingga terdengar seperti suara dengungan lebah (yakni Al-Qur an yang beliau baca dalam sholat lailnya seperti dengungan lebah. sampai menjelang fajar menyingsing. maka Allah menyelimuti mereka dengan cahaya-Nya. Ada seseorang yang bertanya: Aku tidak dapat bangun . Setiap simpulnya ditiupkanlah bisikannya (kepada orang yang tidur itu): Bagimu malam yang panjang.

Mudahmudahan. Tentang ini terdapat beberapa hadits.untuk untuk qiyamul lail. inilah beberapa keutamaan dan keindahan qiyamul lail. sebagaimana riwayat Tsa'labah bin Abi Malik. dan tidak akan merasakan keindahannya bagi siapa pun yang dijauhkan dari taufik-Nya. FI'IL (Perbuatan) beliau sendiri. niscaya Dia akan membangunkanmu di waktu malam. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. maka beritahukanlah kepadaku apa yang harus kulakukan? Beliau menjawab: Jangan engkau bermaksiat (berbuat dosa) kepada-Nya di waktu siang. dan mereka shalat berjama'ah dengannya. karya Dr Ahmad Farid) Pembaca yang budiman. Ia berkata: Kami menyebut sahur dengan sebutan falaah". Sungguh. kami tidak akan mendapatkan waktu falaah. maka beliau melihat orang-orang shalat di tepi masjid.90 Abu Dawud I : 217 dan Baihaqi. B.] Penjelasan : Hadits ini telah diriwayatkan dengan MAUSHUL (sanad yang bersambung) melalui jalan lain dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Mutabaat was Syawahid. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. suatu malam di bulan Ramadhan. dan adalah Ali bin Abi Thalib menganjurkan Umar . TAQRIR Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. kemudian beliau mengimami kami pada malam ke 27 hingga kami mengira. Pertama dari Nu'man bin Basyir ia berkata : "Kami pernah shalat (malam) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada malam ke 23 di bulan Ramadhan hingga sepertiga malam yang pertama. Dan beliau tidak menampakkan kebencian terhadap mereka tersebut". (Tazkiyyatun Nufus. Disunnahkannya Shalat Tarawih Berjama'ah Tidak syak lagi bahwa shalat Tarawih dengan berjama'ah adalah sangat dianjurkan berdasarkan pada: A. Wallahu waliyyut taufiq. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. [Diriwayatkan oleh Ibnu 'Abi Syaibah dalam AlMushannaf II : 90/2. Maka sabdanya: "Mereka telah mengerjakan yang baik" atau "telah benar mereka". Ibnu Nashr halaman 89. Nasaa'i I : 238. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Sanadnya SHAHIH dan dishahkan oleh Hakim] Hakim berkata: Hadits ini merupakan dalil yang terang bahwa Shalat Tarawih di masjid-masjid kaum Muslimin adalah SUNNAH (dianjurkan). Faryabi dalam Kitab Shiam I/73 .II/72. sanadnya LA BA'SA BIHI (cukup). Ahmad IV : 272. Dikeluarkan oleh Ibnu Nashr dalam Qiyamul-Lail. sabdanya: Apa yang mereka lakukan? Salah seorang berkata : Ya Rasulullah! Mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat membaca AlQur'an dan Ubai bin Ka'ab membacakannya. kemudian kami shalat lagi bersamanya pada malam ke 25 hingga pertengahan malam. ia berkata: " Telah keluar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. akan merasakan keindahannya bagi orang yang memang hatinya telah diberi taufik oleh Allah Ta ala. hal. Judul Asli : Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. [Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam sunannya II : 495 ia berkata Hadits ini MURSAL HASAN. Ke 5 th 1416 H. kita semua termasuk diantara hamba-hamba-Nya yang diberi keutamaan menunaikan qiyamul lail secara istiqamah. Edisi IndonesiaSifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR).

Malam itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidur dengan tidak lengah. lalu aku kerjakan. sehingga waktu itu kami menjadi kelompok (berjumlah lebih kurang 10 orang). 'Aisyah melanjutkan: Beliau bertanya kepadaku: "Bagaimana orang-orang bisa menjadi seperti itu ya 'Aisyah?" Aku menjawab: Ya Rasulullah! Orang-orang mendengar tentang shalatmu bersama mereka yang di masjid tadi malam. pada bulan Ramadhan dengan sendiri-sendiri. sedangkan orang-orang mengetahui tempatnya. shalat di bulan Ramadhan. kemudian beliau masuk rumahnya dan orang-orang memastikan hal itu. Setelah selesai shalat Fajar (Shubuh). lalu aku kerjakan. maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat Isya' bersama mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar pada malam yang kedua. lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikian juga Thabrani meriwayatkan hadits ini dalam Al-Aushath dan AlJam'u III : 173] Ketiga dari 'Aisyah ia berkata : " Pernah orang-orang shalat (malam) di masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Al-Mustadrak I : 440. oleh karena itu mereka berkumpul agar engkau mau shalat bersama mereka. maka orang-orang shalat mengikuti shalatnya." Pada riwayat lain : "Tetapi aku takut diwajibkan atas kamu shalat malam (itu). Ia ('Aisyah) berkata : Lalu orang-orang yang di masjid mengerumuni beliau. [Diriwayatkan oleh Ahmad III : 199. Pada pagi harinya orang-orang menceritakan kejadian itu. beliau menghadap ke orang banyak. sehingga bertambah banyaklah pengunjung di malam yang ke tiga. kemudian aku datang dan aku berdiri di sampingnya. Beliau menjawab: "Ya. kemudian yang lain lagi. atau lebih sedikit atau lebih banyak dari jumlah itu yang mengikuti shalatnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. lalu ada kurang lebih lima atau enam orang. Ketika pagi hari orang-orang memperbincangkan shalatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersama mereka yang di masjid pada malam itu. (Akibatnya) orang-orang berkumpul lebih banyak lagi sehingga masjid menjadi penuh sesak. menyuruh aku mendirikan tikar di pintu kamarku. demi Allah dan Alhamdulillah tadi malam aku tidur pulas. dan kamu tidak sanggup mengerjakannya . ('Aisyah berkata) : Kemudian Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam. shalat bersama mereka. shalat malam yang panjang. juga Ibnu Nashr halaman 89. Ketika kami masuk waktu pagi. beliau tinggalkan tikar itu sebagaimana adanya. Ketika beliau masuk rumahnya.bin Khattab radyillahu 'anhum untuk melestarikan sunnah ini. Beliau berkata : "Gulunglah tikarmu ini ya 'Aisyah". Kemudian Ia keluar ke pintu sesudah shalat Isya' yang terakhir. keduanya dengan sanad yang SHAHIH. kemudian datang yang lain. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merasa bahwasanya kami berada di belakangnya. kami bertanya : Ya Rasulullah ! Apakah engkau tidak mengetahui kami tadi malam?. 212 dan 291. (Akhirnya) pada hari keempat masjid tidak mampu lagi menampung pengunjungnya. beliau mengerjakan shalat yang tidak dikerjakannya bersama kami. kemudian beliau berpaling dan masuk (ke rumah). kemudian masuk rumahnya. kemudian bertasyahhud dan berkata : "Amma ba'du ! Wahai orang-orang. tetapi aku khawatir akan dijadikan kewajiban buat kamu sekalian. orang-orang itu mempunyai sedikit hafalan Al-Qur'an. kemudian masuklah beberapa orang dari mereka sambil berkata : "As-Shalat !" hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar untuk shalat Shubuh. pada malam itu beliau keluar dan orang-orang shalat mengikuti shalatnya. Kedua dari Anas ia berkata : "Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. beliau meringkas shalatnya. tidak tersembunyi bagiku tempat-tempat kamu. justru itulah yang mendorongku untuk melakukan apa yang aku perbuat".

Juga oleh Imam Tirmidzi I : 303 serta Ibnu Majah dalam I : 290 dan Hakim I : 271 tentang ucapan duduk antara dua sujud. demikian juga pada masa khalifah Abu Bakar dan permulaan kekhalifahan Umar (Hadits Shahih Riwayat Bukhari. Ahmad V : 400 melalui Thalhah bin Yazid Al-Anshari dari Hudzaifah. Keempat." Pada riwayat lain Zuhri menambahkan : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat sedangkan orang-orang dalam keadaan seperti itu. pada duduk antara dua sujud beliau mengucap "Rabbigh Firli". kemudian (setelah membaca surat al-Fatihah) beliau membaca surah Al-Baqarah. kemudian duduk. Ahmad dan Faryabi serta Ibnu Nashr)..90. kemudian sujud dan berkata : "Subhana Rabbiyal A'laa". merupakan petunjuk jelas bahwa shalat Tarawih itu sebaiknya dikerjakan dengan berjama'ah. b) Shalat sendiri-sendiri (mengadakan jama'ah masingmasing). Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah II : 90/2 dan Ibnu Nashr pada halaman 80 . tidak dapat diartikan bahwa anjuran itu sudah dihapuskan. kemudian ia menuangkan setimba air (berwudhu'). Hudzaifah bin Yaman menceritakan : "Telah bangun Rasululullah shallallahu 'alaihi wa sallam di suatu malam pada bulan Ramadhan di kamarnya yang terbuat dari pelepah korma. karena ketika itu beliau menyebutkan illat-nya yaitu "aku takut/ khawatir akan diwajibkan atas kamu". kemudian mengucap (setelah bertakbiratul ihram) "Allahu Akbar Allahu Akbar" tiga kali. maka hilang pula kekhawatiran tersebut (karena tidak ada lagi perubahan hukum syariat sesudah beliau). lalu berdiri (i'tidal) sebagaimana (lama) ruku'nya dan mengucap : "Li Rabbiyal Hamdu".. Penjelasan : Perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berjama'ah selama tiga malam bersama mereka. orang-orangnya kepercayaan. Lafadz "wal amru 'ala dzalika" = keadaan orang-orang seperti itu mempunyai dua pengertian yaitu : a) meninggalkan jama'ah dalam Tarawih. Penulis lebih cenderung pada pengertian yang (b). Tetapi dengan wafatnya beliau.. dan adalah (lama) ruku'nya seperti (lama) berdirinya. "Dzal Malakut wal Jabarut wal Kibriyaa' wal 'Azhmah" (yakni doa iftitah). lama duduknya sebagaimana sujudnya.. dan dalam rukunya beliau mengucap "subhana rabbiyal azhim. Kemudian beliau sujud. dan adalah sujudnya selama berdirinya. subhana rabbiyal azhim". Beliau mengucap dalam sujudnya : "Subhana Rabbiyal A'laa". Adapun sikap Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak hadir bersama mereka pada malam ke empat. tetapi Nasa'i menganggap ini Mursal dengan menyebut illatnya bahwa Thalhah bin Yazid tidak aku ketahui mendengar (hadits ini) dari Hudzaifah. Hakim juga mengesahkannya dan Dzahabi menyetujuinya. kemudian mengangkat kepalanya dari ruku'.. kemudian mengangkat kepalanya dari sujud.. oleh karena itu Umar radyillahu 'anhu berusaha menghidupkan kembali tuntunan tersebut sebagaimana disebutkan di atas. Abu Dawud Nasa'i. . Nasa'i dalam sunannya I : 246. riwayat-riwayatnya ini saling menambah antara satu dengan yang lain. Ia (Hudzaifah) berkata selanjutnya : Kemudian beliau ruku'. Maka beliau shalat empat raka'at dan membaca padanya surah Al-Baqarah dan Ali 'Imran dan An-Nisaa' dan Al-Maidah serta Al-An'am sehingga datang Bilal untuk adzan buat shalat (Fajar)". berarti kita kembali kepada hukum yang terdahulu yaitu anjuran berjama'ah. Demikian pula sikap yang diambil oleh Jumhur Ulama'. Muslim.

"Abu Dzar radhiyallahu 'anhum berkata : Kami pernah berpuasa bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tetapi beliau tidak shalat bersama kami. Ia menjawab : Orang yang shalat bersama orang banyak . Maka jawabnya : "Sesungguhnya barangsiapa yang shalat (malam) bersama imam hingga selesai. Thahawi dalam "Al-Musykil" I : 308. Nabi shallallhu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya seorang lakilaki apabila ia shalat bersama imam. ia mendengar dari seorang laki-laki dari Absi. akan ditetapkan baginya (seperti) shalat semalam (suntuk)". sanad hadits ini telah disambung oleh 'Amr bin Marrah dari Abi Hamzah yang dia itu adalah Thalhah bin Yazid. Syu'bah memandang bahwasanya ia adalah Shillah bin Zufar dari Hudzaibah. lalu kami bertanya : Ya Rasulullah ! Alangkah baiknya kalau seandainya engkau kerjakan sunnah itu dengan kami dalam sisa malam kami ini. Tirmidzi II : 72-73. dan ia ajak keluarga dan istrinya. aku juga mendengar ia berkata : Aku menyukai orang-orang yang shalat bersama imam dan witir bersamanya. ia berkata. orang yang shalat di bulan Ramadhan bersama orang banyak atau sendirian . Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud I : 139-140. halaman 91 dari Ahmad. tapi melakukan dengan jama'ah adalah lebih utama dengan dasar bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya beberapa malam bersama para shahabat. Nasa'i I : 172. lalu ia shalat bersama kami. sehingga tinggal tujuh hari dari bulan (Ramadhan). hingga larut pertengahan malam. Thayalisi I : 115 serta Baihaqi II : 121-122. dan ia shalat bersama kami pada malam kelima. C. Semua sanad mereka SHAHIH. akan ditetapkan baginya (pahala) di sisi malamnya".Menurut pedapat saya. Jadi walaupun menta'khir shalat Tarawih itu mempunyai keutamaan sendiri. Faryabi I : 71 dan II : 72. Pengertian berjama'ah pada waktu awwal untuk shalat Tarawih lebih afdhal baginya daripada shalat sendirian. Muslim meriwayatkan II : 186 melalui jalan Al-Mustaurad bin Ahnaf dari Shillah bin Zufar yang semakna dengan ini disertai tambahan. kemudian di hari keenam ia tidak shalat bersama kami lagi. juga Ahmad V : 398 dan Baghawi pada hadits Ali bin Ja'di I : 4/1 dari Syu'bah dari 'Amr. "Saya mendengar Ahmad ditanya : Mana yang lebih engkau sukai. disahkan oleh Nasa'i I : 238 dan Ibnu Majah I : 397 dan Thahawi dalam Syarhul Ma'aanil Atsar I : 206. Kemudian setelah itu ia tidak lagi shalat bersama kami hingga tinggal tiga hari dari bulan itu. Yang seperti ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Nashr. dan demikian pula yang dilakukan kaum Muslimin mulai kekhalifahan Umar radhiyallahu 'anhumhingga sekarang. . Keterangan-keterangan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (qaul) tentang keutamaan Tarawih dengan berjama'ah. sanadnya shahih. kemudian ia shalat lagi bersama kami pada malam ketiganya. pengurangan dan beberapa perubahan kecil. Abu Dawud I : 217. Aku bertanya: "Apakah Al-Falaah itu?" Jawabnya: "Yaitu Sahur". walau mengakhirkannya hingga akhir malam. serta Baihaqi II : 494. kemudian Abu Dawud berkata : "Ahmad ditanya dan aku mendengar : bagaimana tentang mengakhirkan pelaksanaan shalat Tarawih hingga akhir malam ? Ia menjawab : "Tidak ada sunnah kaum Muslimin yang lebih baik dan lebih aku sukai dari pada itu". sebagaimana yang diceritakan pada riwayat 'Aisyah terdahulu. Mendukung hadits ini adalah riwayat Abu Dawud dalam kitab Al-Masaail hal 62. dan Ibnu Nashr hal 89. lalu ia shalat (malam) bersama kami hingga larut sepertiga malam. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah II : 90/2. hingga kami khawatir (kehilangan) al-falaah.

104. jangan engkau tanya panjang dan bagusnya kemudian ia shalat tiga raka'at". Ia shalat empat (raka'at) jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya. Baihaqi II:495-496 serta Ahmad VI:36. kemudian shalat dua raka'at (tidak sepanjang dua raka'at sebelumnya). dasarnya adalah riwayat Ibnu Nashr dalam kitab Qiyamul Lail halaman 48 dimana diceritakan : Bahwa kami (shahabat) pulang dari Hudaibiyah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. kemudian shalat dua raka'at (tidak sepanjang dua raka'at sebelumnya). kemudian ia shalat empat (raka'at). Maka ia menjawab . Pada riwayat lain bagi Abi Syaibah II:16/1 dan Muslim serta lainnya disebutkan bahwa shalat beliau di bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya adalah 13 raka'at. [Diriwayatkan oleh Malik. tetapi sebenarnya tidak demikian halnya. Nasa'i I:248. Adapun perincian 13 raka'at yang dimaksud pada riwayat di atas adalah sebagaimana riwayat Zaid bin Khalid l-Juhani. [Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim] Selain oleh Bukhari dan Muslim. Abu Awanah. Abu Dawud dan Ibnu Nashr] Untuk penulis lebih cenderung mengatakan dua raka'at yang ringan adalah dua raka'at ba'diyah Isya'. yang demikian adalah 13 raka'at".Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Tidak Pernah Shalat Lebih Dari 11 Raka'at Sehubungan dengan masalah ini kami hanya menyebutkan dua hadits yaitu : Pertama "Dari Abi Salamah bin Abdurrahman bahwasanya ia bertanya kepada 'Aisyah radyillahu anhatentang shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Tentang shalat Iftitah ini Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. kemudian shalat dua raka'at (tidak sepanjang dua raka'at sebelumnya). sebab tambahan dua raka'at yang ada pada riwayat Malik dan Bukhari bisa diartikan ba'diyah Isya' atau shalat Iftitah (Shalat pembukaan sebelum memulai shalat malam). kemudian mereka berdua shalat Isya'. ketika sampai di Suqya (kota yang terletak antara Mekkah dan Madinah). shalat malam 13 raka'at. kemudian shalat tiga belas raka'at. . Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri dan Jabir ada di sisinya. ia shalat dua raka'at yang ringan. biasa memulai shalat malam (11 raka'at) itu dengan dua raka'at yang ringan. kemudian shalat dua raka'at. Tetapi pada riwayat lain dari Malik dan juga Bukhari bahwasanya 'Aisyah berkata : Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. kemudian ia shalat dua raka'at yang panjang sekali. kemudian witir satu raka'at. yaitu (Ia) shalat dua raka'at yang ringan. bahwasanya ia berkata : "Aku perhatikan shalat malam Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam. Tirmidzi II:302-303.73. termasuk pada jumlah tersebut dua raka'at Fajar/Shubuh. dan dua raka'at ini tidak sepanjang dua raka'at sebelumnya. Pada zahirnya kedua riwayat di atas kelihatan bertentangan. Malik I:134. Muslim. hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud I:210. kemudian ketika mendengar adzan shubuh. Tidak pernah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam kerjakan (tathawwu') di bulan Ramadhan dan tidak pula di bulan lainnya lebih dari sebelas raka'at.

Al-Hafidz Ibnu Hajar memberi isyarat penguatannya dengan hadits Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban yang terdapat dalam kitab shahih mereka berdua. lalu kami berkata : Ya Rasulullah ! Tadi malam kami telah berkumpul di masjid dan kami harapkan engkau mau shalat bersama kami. sedangkan Thabrani dalam AlMu'jamus Shagir. bahwa disebut demikian. Sedang penulis memilih pendapat kedua. Kedua "Artinya : Dari Jabir bin Abdullah radyillahu 'anhum. .Kedudukan hadits ini memang tidak begitu kuat karena pada sanadnya terdapat rawi SYARHABIL BIN SA'AD. tetapi tidak keluar hingga masuk waktu pagi. Sungguhpun demikian ia dapat dijadikan pertimbangan. dua raka'at dua raka'at. Ibnu Hajar mengatakan : "Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Abbas. Begitu pula para pengikut Imam Syafi'i. untuk menunjukan bolehnya satu kali salam. KELEMAHAN HADITS 20 RAKA'AT Dalam kitab Fathul Baari IV:205-206. Imam Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan. sanad hadits ini HASAN karena dikuatkan oleh hadits yang pertama. bahkan mereka beranggapan salam satu kali itu tidak shah shalatnya. halaman 108. Penulis berpendapat : Hadits ini memang lemah sekali. bahwasanya Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat (malam) di bulan Ramadhan 20 raka'at dan beriwitir satu raka'at itu. maka sabdanya "Sesungguhnya aku khawatir (shalat itu) akan diwajibkan atas kamu sekalian". Maksudnya dengan satu kali salam. ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan (sebanyak) delapan raka'at dan witir (satu raka'at). [Hadits Riwayat Thabrani dan Ibnu Nashr]. Ibnu Nashr meriwayatkan hadits ini dalam kitabnya di halaman 90. kemudian kami masuk kepadanya. Dalam hal ini 'Aisyah lebih mengetahui hal ihwal Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada malam harinya bila dibandingkan dengan yang lain". Dalam kitab Fathul Baari III:10 dan At-Takhlis halaman 119. Pernyataan yang sama juga diungkapkan oleh Imam Az-Zaila'i dalam kitab Nashbur-Raayah : II :153. seperti yang dinyatakan Imam Suyuthi dalam Al-Hawi lil Fatawaa II:73 yang menyebabkan kelemahannya adalah rawi yang bernama ABU SYAIBAH IBRAHIM BIN 'UTSMAN. pada keterangan hadits pertama. Yang lebih afdhal adalah memberi salam dalam setiap dua raka'at sebagaimana sabda beliau : "Shalat malam dan siang. Hadits ini bertentangan dengan hadits 'Aisyah yang terdapat dalam shahihain. bahwa sunnah ba'diyah Isya' masuk dalam jumlah 13 raka'at tersebut. Wallahu A'lam. Maka pada hari berikutnya kami berkumpul di masjid dan mengharap beliau keluar (untuk shalat). padanya terdapat kelemahan. sanadnya lemah.

sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Hajar 'Asqalani dan Zaila'i di atas. seperti tentang tidak dibinasakannya ummat kecuali pada bulan Maret atau hadits hari Kiamat tidak akan datang kecuali pada bulan Maret dan lain sebagainya. dan lebih dari itu Imam AdzDzahabi memasukkan hadits ini dalam kitab Manakir-nya (kumpulan hadits-hadits Munkar). Yang sebenarnya ia itu sangat lemah sekali.Dalam kitab At-Taqriib Ibnu Hajar menyebut rawi ini sebagai Matrukul Hadits. Pada halaman 118 kitab Ikhtisar fi 'Ulumul Hadits. bahkan Ibnu Hajar mengatakan bahwa ia Matrukul Hadits (ditinggalkan haditsnya). Selanjutnya Ibnu Hajar Al-Haitsami dalam kitab Al-Fatawal Kubra I:195 menyebut rawi iniSyadidud-dha'fi yaitu sangat lemah sekali. Thabrani mengatakan bahwa tidak diriwayatkan dari Ibnu Abbas kecuali dengan sanad ini. Semua riwayat ini pasti melalui jalan Ibrahim bin 'Utsman dari Hakim dari Muqsam dari Ibnu Abbas secara marfu' (sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam). Abdun bin Hamid dalam Al-Muntakhab Minal Musnad 34:I/1. Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas penulis beranggapan bahwa haditsnya dapat disejajarkan dengan Hadits Maudlu'. setelah menyebutkan hadits riwayat Ibnu Hiban beliau berkata : "Singkatnya dua puluh raka'at itu. Bukhari berkata : Sakatu 'anhu (Ulama Hadits mendiamkannya). Ibnu Katsir mengatakan : Bahwa siapa saja yang dikatakan Bukhari "Sakatu'anhu" berarti rawi itu berada dikedudukan yang paling rendah dan jelek (menurut pandangannya). Jurjani menyebutnya "saaqit" = yang gugur. maksudnya haditsnya tidak dipakai. Baihaqi menegaskan bahwa Abi Syaibah bersendirian (tafarada bihi) dan ia ini lemah. Jadi jelas hadits ini tidak dapat dipakai karena seperti yang dikatakan As-Subki bahwa salah satu syarat bolehnya mengamalkan hadits lemah itu ialah apabila hadits itu tidak terlalu lemah. Begitu pula pernyataan Al-Haitsami dalam Majma'uz Zawaid III:172 bahwa dia itu lemah. Imam Suyuthi. adapun hadits riwayat . dan bahwasanya ia biasa meriwayatkan hadits-hadits maudlu'. Ibnu Abi Syaibah mengeluarkan hadits ini dalam Al-Mushannaf II:90/2. Adapun haditsnya di tentang shalat Tarawih ini termasuk salah satu hadits Munkarnya. begitu pula Adz-Dzahabi dalam Al-Muntaqa Minhu III:2 dan Baihaqi dalam Sunannya II:496. tidak pernah dikerjakan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. sedangkan hadits ini seperti dimaklumi adalah sangat lemah. sedangkan Syu'bah mendustakannya dalam suatu cerita/qishah. Ibnu Ma'in menyebutnya Laisa bits-tsiqah = tidak termasuk orang kepercayaan. karena isinya bertentangan dengan hadits 'Aisyah dan Jabir. Thabrani dalam Al-Mu'jamul Kabir III:148 dan Al-Aushath. Penulis telah menelusuri sumber-sumbernya tetapi tidak didapati kecuali melalui jalannya. Dari ucapan As-Subki terdapat isyarat halus bahwa Ibnu Hajar Haitsami tidak akan mengamalkan hadits dua puluh raka'at tersebut.

(Hadits Shahih riwayat : Ahmad. meskipun kejadiannya hanya sekali. masalah No. (Lihat Syarah Muslim. sampai beliau wafat kemudian istri-istri beliau melaksanakan i'tikaaf sepeninggalnya". sebab dalam riwayat Ibnu Hibban tersebut diterangkan bahwa beliau shalat Tarawih delapan raka'at. 8:66. maka beliau menghidupkan malam itu. ia berkata: "Adalah Nabishallallahu 'alaihi wasallam. istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. jadi jumlahnya sebelas raka'at". Abu . ia berkata : "Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. I'TIKAF Definisi I'tikaf I'tikaaf berasal dari kata : 'AKAFA . Indikasi lain yang menunjukkan Nabi shallallhu 'alaihi wasallam tidak pernah mengerjakan lebih dari sebelas raka'at adalah karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam (menurut kebiasaannya) apabila mengerjakan sesuatu amalan. "Dari Ibnu 'Umar. "Dari 'Aisyah.WAYA'KUFU . tentu pekerjaan itu tidak akan beliau tinggalkan sama sekali dan lebih dari itu 'Aisyah radyiallahu 'anha pun tidak akan berani membuat pernyataan yang membatas bahwa beliau tidak pernah mengerjakan lebih dari sebelas raka'at seperti disebutkan di atas". Muslim 3:176. Bukhari 2:255. Jadi kalau memang benar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengerjakan 20 raka'at. ia berkata : "Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. maka ia kerjakan dengan tetap. "Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha.Fathul Baari 4:271.Ibnu Hibban tersebut sudah sesuai dengan hadits 'Aisyah yang menyebutkan bahwa beliau tidak pernah mengerjakan lebih dari 11 raka'at. biasa i'tikaaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan".YA'KIFU . biasa i'tikaaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Sedangkan arti i'tikaaf menurut istilah syara' ialah: seseorang tinggal/menetap di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dengan shifat/cara tertentu. (Hadits Shahih riwayat Ahmad. I'tikaaf menurut bahasa ialah "menetapi sesuatu dan menahan diri padanya. Muhalla 5:179. membangunkan istrinya dan mengikat kainnya". Fathul Baari 4:271 nomor 2462. 320). baik dalam bulan Ramadhan atau lainnya. Bukhari dan Muslim). Ahmad 6:292 dan Baihaqy 4:315. Disyariatkannya Para Ulama sepakat bahwa i'tikaaf disyari'atkan dalam agama Islam dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam selalu mengerjakan sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits. baik sesuatu berupa kebaikan atau kejahatan".'UKUUFAN. (Hadist riwayat Bukhari 2:255. apabila sudah masuk sepuluh terakhir (dari bulan Ramadhan). Kemudian berwitir tiga raka'at. seperti misalnya mengqadha' dua raka'at ba'diyah Zhuhur setelah shalat Ashar. Berdasarkan ini penulis dapat menyimpulkan bahwa Imam Suyuthi cenderung memilih sebelas raka'at dan sekaligus menolak yang dua puluh raka'at karena kelemahan riwayatnya. 624). Allah berfirman: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya ?" (QS 21:52). shalat ini beliau kerjakan dengan tetap.

Maksud dari kalimat : y Menghidupkan malamnya. 2126. Fiqhul Islam Syarah Bulughul Maram 3:257-258). maka saya akan i'tikaaf dua hari dua malam. meskipun tidak disebutkan keutamaannya. Darimy 2:184. dan barangsiapa bernadzar untuk melakukan ma'shiat (kedurhakaan/ kesyirikan) kepada Allah. kecuali ada sedikit riwayat. I'tikaaf seperti ini sangat ditekankan dan lebih utama dilakukan pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam setiap bulan Ramadhan sampai beliau wafat. I'tikaaf Sunat. adakalanya dengan nadzar mutlak. Ialah yang dilakukan oleh seseorang secara sukarela dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan pahala dari pada-Nya. Atau dengan nadzar bersyarat. Berkata Imam Abu Dawud As-Sijistany: "Saya bertanya kepada Imam Ahmad: "Tahukah engkau suatu keterangan mengenai keutamaan i'tikaaf?" Jawab beliau: "Tidak kudapati. (Hadits Shahih riwayat : Bukhari. Nasa'i. 4:455-456 dan Silsilah Ahaadist Dha'ifah dan Maudhu'-ah No. (Hadits Shahih riwayat : Ahmad dan Muslim 3 : 176). misalnya ia mengatakan wajib bagi saya i'tikaaf karena Allah selama sehari semalam. 1376. begitu pula tentang i'tikaaf. bersungguh-sungguh pada sepuluh terakhir (dari bulan Ramadhan) melebihi kesungguhannya di malam-malamnya". Setiap ibadah yang nashnya sudah jelas dari Al-Qur'an dan Sunnah yang shahih. Nadzar ini wajib dilaksanakan. Membangunkan istrinya. Hukum I'tikaf Hukum i'tikaaf ada dua macam. 3289. jika Allah dengan menyembuhkan penyakit saya. Ahmad . maka janganlah lakukan ma'syiat itu". ya'ni menyuruh mereka shalat malam/tarawih serta melakukan ibadah-ibadah lainnya. sedangkan orang yang i'tikaaf tidak boleh bercampur dengan istrinya. Ibnu Majah No. ia berkata: "Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Barangsiapa yang bernadzar akan melakukan sesuatu keta'atan kepada Allah hendaklah ia penuhi nadzarnya itu. Ialah i'tikaaf yang diwajibkan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri. dan riwayat inipun lemah. adalah satu kinayah bahwa beliau sungguh-sungguh beribadah dan tidak bercampur dengan istri-istrinya. I'tikaaf Wajib. karena beliau selalu melakukan iti'kaaf setiap sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan. misalnya ia mengatakan." (Lihat Al-Mughni. 518). Malik. Nasa'i 3:218 dan Tirmidzi). serta mengikuti sunnah Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam. maka itu pasti mempunyai keutamaan. y y "Aisyah berkata: "Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Mengikat kainnya. Tirmidzi. walaupun i'tikaaf itu merupakan taqarrub kepada Allah akan tetapi tidak ditemukan sebuah hadits pun menyatakan keutamaannya. yaitu sunnat dan wajib.Dawud No. "Dari 'Aisyah. Abu Dawud No. (Lihat Subulus Salam 2:356-357. artinya beliau sedikit sekali tidur dan banyak melakukan shalat dan dzikir.

. Allah berfirman: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus" (QS. dan manusia akan mendapatkan balasan menurut apa yang diniatkannya. masalah No. Menurut Ibnul Qoyyim: Puasa sebagai syarat shahnya i'tikaaf dan ini merupakan pendapat jumhur as-salaf. 934). 'Umar bin Khattab ra. dilakukan sesuai dengan apa yang telah dinadzarkan dan di-iqrarkan seseorang. maka jika ia bernadzarkan dan di-iqrarkan seseorang. Menurut Imam Syafi'i.. dan manusia akan mendapatkan balasan menurut niat. Mengenai diwajibkannya di masjid berdasarkan firman Allah Ta'ala:". saya pernah bernadzar di zaman jahiliyah akan beri'tikaaf satu malam di Masjid Haram?" Sabda beliau: "Penuhilah nadzarmu itu !". hendaklah ia penuhi seperti yang dinadzarkannya itu. Syarat-syarat I'tikaf Orang yang i'tikaaf syaratnya ialah: y y y Seorang Muslim Mumaiyyiz (sudah baligh). Bila i'tikaaf dilakukan di luar bulan Ramadhan.224 dan Baihaqy 19/68 dan Ibnu Jarud No. 625). maka: y y Rukun-rukun I'tikaf Niat. Karena tidak shah satu amalan melainkan dengan niat. pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:"Ya Rasulullah. Waktunya I'tikaaf yang wajib. maka jika ia bernadzar akan beri'tikaaf satu hari atau lebih. (lihat Zaadul Ma'ad 2:88) Menurut Imam Syafi'i dan Ibnu Hazm. i'tikaaf yang sunat tidak ada batasnya (lihat Bidayatul Mujtahid 1:229). Tempatnya harus di Masjid. Kata Imam Nawawi: "Yang afdhal (utama) i'tikaaf dengan berpuasa dan bila ia i'tikaaf dengan tidak berpuasa juga boleh. Fathul Baari 1:9.Fathul Baari No. 2032 dan Muslim 5:89). (baca Al-Muhalla 5:179-180 masalah no. 614). 6:48). bahwa puasa bukan syarat syahnya i'tikaaf (baca AlMuhalla 5:181.. Seandainya ada orang sakit i'tikaaf di masjid maka i'tikaafnya shah. Adapun i'tikaaf yang sunnat. 98:5) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya segala perbuatan tergantung pada niat. (Hadist Shahih riwayat : Bukhari 2:256...tetapi janganlah kamu campuri mereka itu." (lihat Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab 6:484)." (Hadits Shahih riwayat Bukhari. sedangkan kamu beri'tikaaf di masjid . tidaklah terbatas waktunya. suci dari haidh dan suci dari nifas. Suci dari janabat. Kata Ibnu Hazm: "Boleh seseorang i'tikaaf siang saja. ialah tinggal di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Hakikat i'tikaaf. Abu Hanifah dan kebanyakan Ahli Fiqih.6:36.41. Inilah merupakan pendapat Imam Syafi'i dan Abu Sulaiman".

. Pendapat ini adalah pendapat Sa'ad bin AlMusayyab. dengan perbedaan pendapat diantara mereka tentang apakah masjid-masjid tertentu atau di masjid mana saja (pada umumnya) bila dilihat zhahir firman Allah:"Sedangkan kamu dalam beri'tikaaf di masjid" (QS 2:187). baca Fiqhul Islam syarah Bulughul Maram 3:260). Pendapat Fuqaha Mengenai Masjid yang Shah Dipakai Untuk I'tikaaf Para fuqaha' berbeda pendapat mengenai masjid yang shah dipakai untuk i'tikaaf. Jadi i'tikaaf itu hanya shah di masjid. Menurut jumhur ulama. Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsha). (Lihat Fiqhus Sunnah 1:402). kemudian Imam Nawawi berkata: "I'tikaaf itu shah dilakukan di setiap masjid dan tidak boleh dikhususkan masjid manapun juga kecuali dengan dalil. Imam Syafi'i dan Abu Dawud berpendapat bahwa i'tikaaf itu syah dilaksanakan pada setiap masjid. karena itu siapa saja yang mengkhususkan ma'na ayat itu mereka harus menampilkan dalil. Sedang dalam hal ini tidak ada dalil yang jelas yang mengkhususkannya".. maka gugurlah pendapat tersebut. yaitu: Sebagian ulama berpendapat bahwa i'tikaaf itu hanya dilakukan di tiga masjid. 633). Masjid Nabawi dan Masjid Aqsha. Adapun soal bolehnya para ulama membolehkan. Imam Malik. dan untuk masa sekarang harus dipikirkan tentang fitnah yang akan terjadi bila para wanita hendak i'tikaaf. Karena (pendapat yang mengkhususkan) tidak ada dalilnya. Kata Abu Bakar al-Jashshash: "Telah terjadi ittifaq diantara ulama Salaf. Imam Abu Hanifah. yang dilaksanakan pada shalat lima waktu dan didirikan jama'ah. sebagaimana halnya pendapat yang mengkhususkan hanya masjid-masjid para Nabi (yaitu Masjid Haram. lagi pula keterangan yang sudah shah menerangkan bahwa isteri-isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam." (Lihat Ahkaamul Qur'an. (Lihat Al-Muhalla 5:193. dalam hal ini ada beberapa pendapat. Imam Ahmad. Ibnu Hazm: "I'tikaaf itu shah dan boleh dilakukan di setiap masjid. Al-Jashshash 1:285 dan Rawaai'ul Bayaan Fii Tafsiiri Ayaatil Ahkam 1:41-215). Ishaaq dan Abu Tsur berpendapat bahwa i'tikaaf itu shah dilakukan di setiap masjid.. ikhtilath dengan laki-laki di tempat yang sudah semakin banyak fitnah. baik di situ dilaksanakan shalat Jum'at atau tidak". Sesudah membawakan beberapa pendapat. (Lihat Al-Mughni 4:464-465.. Ayat ini membolehkan i'tikaaf di semua masjid berdasarkan keumuman lafadznya. demikian juga yang mengkhususkan hanya masjid-masjid Jami' saja tidak ada dalilnya. . Tentang wanita i'tikaaf di masjid diharuskan membuat kemah tersendiri terpisah dari laki-laki. tidaklah akan shah bagi seorang wanita beri'tikaaf di masjid rumahnya sendiri. masalah No. melakukan i'tikaaf di Masjid Nabawi. karena masjid di dalam rumah tidak bisa dikatakan masjid. karena tidak ada keterangan yang shah yang menegaskan terbatasnya masjid sebagai tempat untuk melaksanakan i'tikaaf. (Lihat Al-Majmu' Syahrul Muhadzdzab 6:483)."(QS 2:187). Kata Imam Nawawi: "Aku kira riwayat yang dinukil bahwa beliau berpendapat demikian tidak shah". dan di usahakan untuk tidak saling pandang-memandang antara laki-laki dan wanita. bahwa diantara syarat i'tikaaf harus dilakukan di masjid. yaitu: Masjid Haram.

kemudian masuk ke tempat i'tikaaf ". (Lihat Syarah Muslim. Hadits 'Aisyah di atas maksudnya ialah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Al-Mughni 4:489-490 dan Bidayatul Mujtahid 1:230). atau bermaksud melaksanakan i'tikaaf sunnat. kemudian pagi harinya langsung pergi ke lapangan (untuk shalat I'dul Fitri)". dan keluar dari masjid bila matahari sudah terbenam. menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i waktunya adalah sesudah matahari terbenam (di akhir Ramadhan). Tentang Hadits 'Aisyah: "Kata 'Aisyah: "Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. (lihat Nailul Authar 4:296). Jadi bukan masuk masjidnya ba'da Shubuh. kemudian bersabda: "Barangsiapa yang hendak beri'tikaaf bersamaku. (Lihat Bidayaatul Mujtahid 1:230 dan Al-Mughni 4:490). Jadi keluar dari masjid ketika ia keluar ke lapangan mengerjakan shalat 'Id. beliau shalat shubuh dulu.. Kata Ibrahim : "Mereka menganggap sunnat bermalam di masjid pada malam 'Idul Fitri bagi orang yang beri'tikaaf pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. berarti ia beri'tikaaf sampai ia keluar. (Lihat Fiqhus Sunnah 1:403). Ini menurut pendapat Al-Auza'i.." (Hadits Shahih riwayat Bukhari 2:256 dan Muslim 2:171-172). Akan tetapi menurut mereka boleh pula keluar dari masjid setelah matahari terbenam. Fathul Baari 4:277. masuk ke tempat yang sudah disediakan untuk i'tikaaf di masjid setelah beliau selesai mengerjakan shalat Shubuh. Dan jika seseorang berniat hendak i'tikaaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Fiqhus . pertengahan dan akhir Ramadhan. (Hadist Shahih riwayat Bukhari 2:257 dan Muslim 3:175). adalah pendapat Imam Malik. Dan orang yang bernadzar akan beri'tikaaf satu hari atau beberapa hari tertentu. Mengenai waktu keluar dari masjid setelah selesai menjalankan i'tikaaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Al-Laits dan Ats-Tsauri. 8:68. dan bermula pada malam ke dua puluh satu atau malam ke dua puluh. dan Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya. Imam Hanafi. maka hendaklah ia mulai masuk masjid sebelum matahari terbenam. maksudnya ialah nama bilangan malam.Waktu Memulai dan Mengakhiri I'tikaf Di tulisan bagian pertama sudah disebutkan bahwa i'tikaaf sunnat waktunya tidak terbatas. maka hendaknya ia memulai i'tikaafnya itu sebelum terbit fajar. (Lihat Bidayaatul Mujtahid 1:230. Al-Majmu' Syahrul Muhadzdzab 6:494. Sedangkan menurut Imam Ahmad disunnahkan ia tinggal di masjid sampai waktu shalat 'Idul Fitri. Adapun masuk ke masjid untuk i'tikaaf tetap di awal malam sebelum terbenam matahari. Maka bila seseorang telah masuk masjid dan berniat taqarrub kepada Allah dengan tinggal di dalam masjid beribadah beberapa saat. bila hendak i'tikaaf. (Lihat Fiqhus Sunnah 1:403). Pendapat yang menerangkan bahwa masuk i'tikaaf sebelum matahari terbenam pada tanggal 20 Ramadhan malam ke 21. Jadi kesimpulan empat Imam sepakat bahwa i'tikaaf berakhir dengan terbenamnya matahari di akhir Ramadhan. Hadits ini dijadikan dalil oleh orang yang berpendapat bahwa permulaan waktu i'tikaaf adalah di permulaan siang. Imam Syafi'i. baik i'tikaaf itu di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya. "Sepuluh terakhir". hendaklah ia melakukannya pada sepuluh malam terakhir (dari bulan Ramadhan) . (Baca Al-Mughni 4:490-491). Majmu' Syahrul Muhadzdzab 6:492. Dalil mereka ialah: Riwayat i'tikaaf-nya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di awal Ramadhan.

Sunah 1:403-404). Kata Ibnu Hazm : Orang yang bernadzar hendak i'tikaaf pada satu malam atau beberapa malam tertentu, atau ia hendak melaksanakan i'tikaaf sunnat, maka hendaklah ia masuk ke masjid sebelum terbenam matahari, dan keluar dari masjid bila sudah terbitnya fajar. Sebabnya karena permulaan malam ia saat yang mengiringi terbenamnya matahari, dan ia berakhir dengan terbitnya fajar. Sedangkan permulaan siang adalah waktu terbitnya fajar dan berakhir dengan terbenamnya matahari. Dan seseorang tidak dibebani kewajiban melainkan menurut apa yang telah diikrarkan dan diniatkannya. (Lihat Al-Muhalla 5:198 masalah No. 636). Hal-hal yang Sunnat dan Makruh bagi Orang yang I'tikaf Disunnatkan bagi orang yang beri'tikaaf memperbanyak ibadat sunnat serta menyibukkan diri dengan shalat berjama'ah lima waktu dan shalat-shalat sunnat, membaca Al-Qur'an, tasbih, tahmid, takbir, istigfhar, berdo'a, membaca shalawat atas Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan ibadatibadat lain yang mendekatkan diri kita kepada Allah Ta'ala. Termasuk juga hal ini disunnatkan menuntut ilmu, membaca/menelaah kitab-kitab tafsir dan hadits, membaca riwayat para Nabi dan orang-orang shaleh, dan mempelajari kitab-kitab fiqh serta kitab-kitab yang berisi tentang masalah 'aqidah. Dimakruhkan bagi orang yang i'tikaaf melakukan hal-hal yang tidak perlu dan tidak bermanfa'at, baik berupa perkataan atau perbuatan, sabda beliau: "Diantara kebaikan Islam seseorang, ialah ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna". (Hadits riwayat Tirmidzi No. 2419. Ibnu Majah No. 3976 dan di-shahkan oleh Syaikh Al-Albani di Shahih Jami'us Shagir No. 5787). Dimakruhkan pula menahan diri dari berbicara, ya'ni: seseorang tidak mau bicara, karena mengira bahwa hal itu mendekatkan diri kepada Allah 'Azza wa Jalla. Ibnu Abbas berkata: Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang khutbah, tampak oleh beliau seorang laki-laki yang tetap berdiri (di terik matahari). Maka beliau bertanya (kepada para shahabat) siapakah orang itu? Jawab mereka: "Namanya Abu Israil, ia bernadzar akan terus berdiri, tidak akan duduk, tidak mau bernaung dan tidak mau berbicara serta akan terus berpuasa." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Suruhlah ia berbicara, bernaung dan duduk, dan hendaklah ia meneruskan puasanya". (Hadits Shahih riwayat Bukhari, Abu Dawud No.3300, Ath-Thahawy Fii-Masykilil Aatsaar. 3:44 dan Baihaqy 10:75). Hal-hal yang Membatalkan I'tikaf
y

Sengaja keluar dari masjid tanpa suatu keperluan walau hanya sebentar. Keluar dari masjid akan menjadikan bathal i'tikaafnya, karena tinggal di masjid sebagai rukun i'tikaaf. Murtad karena bertentangan dengan ma'na ibadah, dan juga berdasarkan firman Allah:"Seandainya engkau berbuat syirik, maka akan gugurlah amalanmu". (QS 39:35). Hilang akal disebabkan gila atau mabuk Haidh Nifas

y

y y y

y

Bersetubuh/bersenggama, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Dan janganlah kamu campuri mereka ketika kamu sedang i'tikaaf di masjid, itulah batas-batas Allah..." (QS 2:187) (Lihat Fiqhus Sunnah 1:406). Menyisir rambut, berpangkas, memotong kuku, membersihkan tubuh, memakai pakaian terbaik dan memakai wangi-wangian. Keluar untuk sesuatu keperluan yang tidak dapat dielakan.

Hal-hal yang Dibolehkan Sewaktu I'tikaf
y

y

"Dari 'Aisyah, bahwa ia pernah menyisir rambut Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, padahal ia sedang haidh, dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang i'tikaaf di masjid, dan 'Aisyah berada di dalam kamarnya dan kepala Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dimasukkan ke kamar 'Aisyah. Dan adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bila sedang i'tikaaf tidak pernah masuk rumah melainkan kalau untuk menunaikan hajat". (Hadits Shahih riwayat Bukhari 2:260, 256. Muslim 1:167, Abu Dawud No. 2467. Tirmidzi. Ibnu Majah No. 1776 dan 1778. Malik. Ibnul Jarud dan Ahmad 6:104,181,235,247,262). Berkata Ibnul Munzir: "Para Ulama sepakat, bahwa orang yang i'tikaaf boleh keluar dari masjid (tempat i'tikaaf-nya) untuk keperluan buang air besar atau kencing, karena hal ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan, sebab tidak mungkin dilakukan di masjid. Dalam hal ini sama hukumnya dengan kebutuhan makan minum bila tidak ada yang mengantarnya, maka boleh ia keluar (sekedarnya)." (Lihat Fiqhus Sunnah 1:405). 'Aisyah juga meriwayatkan bahwa ia tidak menjenguk orang sakit ketika ia sedang i'tikaaf melainkan hanya sambil lewat saja, misalnya ada orang sakit di dalam rumah, ia bertanya kepada si sakit sambil lewat saja. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari dan Muslim. Khatimah Sebagai khatimah dari tulisan ini, dianjurkan bagi orang-orang yang i'tikaaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan dan yang tidak i'tikaaf, berusahalah memanfa'atkan kepada Allah, perbanyaklah baca Al-Qur'an, berdzikir kepada Allah, dan melakukan shalat-shalat sunnat yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, mudah-mudahan kita termasuk orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar yang keutamaannya lebih baik dari seribu bulan dan mudahmudahan pula dosa kita diampunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. "Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda: "Barangsiapa yang berdiri (shalat tahajjud/tarawih), karena iman dan mengharapkan ganjaran dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosa-nya yang telah lalu". (Hadits Shahih riwayat Bukhari 2:252. Muslim 2:177. Abu Dawud No. 1371. Nasa'i 4:155-158. Darimy, Ibnu Majah No. 1326. Ahmad 2:281,289,408,423). Dan perbanyak pula baca dzikir di bawah ini pada malam ganjil di akhir Ramadhan yang diharapkan adanya Lailatul Qadar: "ALLAHUMMA INNAKA 'AFUUWUN TUHIBBUL 'AFWA FA' FU 'ANNII" ("Ya Allah ! Sesungguhnya Engkau Maha pemaaf dan suka mema'afkan, maka ma'afkanlah aku"). (Hadits Shahih riwayat Ahmad 6:171. Ibnu Majah No. 3850. Tirmidzi No. 3580. Lihat Shahih Tirmidzi No. 2789 dan Shahih Ibnu Majah No. 3105).

Wallahu 'Alamu Bish Shawaab. Menggapai Lailatul Qadr Makna Lailatul Qadr Lailatul Qadr adalah malam diturunkannya al-Quran oleh Allah Ta'ala. Adapun tentang makna lailatul qadr, ada beberapa pendapat para ulama. Pertama: maknanya adalah malam keputusan; atau malam penetapan. Dinamakan demikian karena pada malam itu Allah Ta'ala menetapkan perintah-Nya yang Dia kehendaki, yang berupa kematian, ajal, rezki dan lainnya sampai malam al-qadr tahun beriktunya. Ini pendapat Ibnu Abbas, Ikrimah dan Sa'id bin Jubair. Kedua: maknanya adalah malam kemuliaan. Dinamakan demikian karena keagungannya, dan kemuliaannya. Ini pendapat az-Zuhri dan lainnya. Ada juga yang mengatakan dinamakan demikian karena perbuatan-perbuatan ketaatan pada malam itu memiliki nilai yang agung dan pahala yang banyak. Abu Bakar al-Warraq berkata: "Dinamakan demikian karena orang yang tidak punya kemuliaan dan keutamaan akan mendapatkannya, jika dia menghidupkan malam tersebut." Ada juga yang mengatakan dinamakan demikian karena pada malam itu Allah Ta'ala menurunkan Kitab (al-Quran) yang memiliki kemuliaan, kepada Rasul (Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam) yang memiliki kemuliaan. Pendapat lain menyatakan, karena pada malam itu para malaikat yang memiliki kemuliaan dan kepentingan turun ke bumi. Pendapat lain menyatakan, karena pada malam itu Allah Ta'ala menurunkan kebaikan, berkah dan ampunan. Ketiga: maknanya adalah malam yang sempit. Dinamakan demikian karena pada malam itu bumi sesak/sempit dengan para malaikat. Ini dinyatakan oleh al-Khalil. (Lihat semua keterangan di atas dalam Tafsir al-Qurthuby surat al-Qadr). Keutamaannya Cukuplah sebagai keutamaannya bahwa lailatul qadr itu lebih baik daripada seribu bulan. Allah berfirman (yang artinya): "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. al-Qadr 1-3). Kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa yang dimaksudkan adalah suatu amalan yang dilakukan pada malam itu lebih baik daripada amalan yang dilakukan seribu bulan yang tidak ada lailatul qadr padanya. Ini dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, as-Syafi'i, dan lainnya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, al-Qurthuby, as-Sa'di dan lainnya dalam surat al-Qadr). Oleh karena itulah lailatul qadr merupakan malam yang diberkahi. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya): "Haa Miim. Demi Kitab (al-Quran) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul sebagai rahmat dari Rabb-mu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS ad-Dukhan 1-6). Waktunya

Ada riwayat dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa lailatul qadr terjadi pada malam Ramadhan ke 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. Pendapat terkuat waktunya adalah pada malam-malam ganjil bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Carilah lailatul qadr pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan". (HR. Bukhari, Muslim no. 1169 dari 'Aisyah). Dan memang ilmu tentang hal tersebut telah diambil oleh Allah dari Nabi gara-gara kesalahan (yaitu pertengkaran) yang dilakukan oleh dua laki-laki diantara ummmat beliau. 'Ubadah bin asShamit berkata: "Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar akan memberitahukan tentang lailatul qadr, lalu ada dua laki-laki diantara kaum muslimin bertengkar maka beliau bersabda: "Sesungguhnya aku keluar untuk memberitahukan kalian tentang lailatul qadr. Tetapi sesungguhnya si Fulan dan si Fulan bertengkar sehingga diangkatlah (ilmu tentang waktu lailatul qadr). Namun mudah-mudah hal itu lebih baik bagi kalian. Carilah lailatul qadr pada malam tujuh, sembilan dan lima (yang terakhir)." (HR. al-Bukhari). Menggapai Keutamaannya Jika kita telah mengetahui hal-hal di atas, hendaklah kita memperbanyak berbagai amalan ketaatan pada waktu-waktu di atas. Amalan-amalan itu seperti shalat tarawih, membaca al-Quran, shadaqah, dzikir berdoa dan lain-lain. 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Kebiasaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika telah masuk sepuluh akhir Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan isterinya, bersungguh-sungguh (beribadah) dan mengencangkan sarungnya (tidak menggauli isterinya)." (HR. Bukhari dan Muslim 1174). 'Aisyah juga pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda jika aku mengetahui waktu lailatul qadr, apa yang aku ucapkan di malam itu?" Beliau menjawab: "Ucapkanlah: Allaahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii (wahai Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah daku)." (HR. Ibnu Majah dan at-Tirmidzi dengan sanad yang shahih) Tanda-tandanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memberitahukan tanda-tanda lailatul qadr di dalam beberapa haditsnya, antara lain: Dari Abu Hurairah dia berkata: "Kami memperbincangkan lailatul qadr di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: "Siapa diantara kalian yang mengingat ketika bulan muncul, yang bulan itu seperti separuh piring". (HSR. Muslim). Al-Qadhi 'Iyadh berkata: "Padanya terdapat isyarat bahwa lailatul qadr hanyalah akan terjadi pada akhir-akhir bulan, karena bulan tidak akan demikian munculnya kecuali pada akhir-akhir bulan". (Sifat Shaum Nabi, hal. 90). Ubay bin Ka'b berkata: "Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui kapan lailatul qadr itu, yaitu malam yang kami diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk shalat padanya. Yaitu malam yang besok paginya (adalah hari ke) dua puluh tujuh. Adapun tandanya adalah matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan putih tidak menyilaukan." (HSR. Muslim no. 762, Tirmidzi, Abu Dawud, al-Humaidi dan lainnya). Ibnu Abbas berkata: "Lailatul Qadr adalah malam yang lembut, sedang, tidak panas, tidak dingin;

kitab Az Zuhd jilid 4 hal. Wallahul Muwaffaq(semoga Allah memberi petunjuk dan bimbingan). Bid'ah-bid'ah itu antara lain: y Shalat lailatul qadr. kitab zakat jilid 3 hal. yakni berkembang dan tumbuh" (Fathul Baari. lalu dibawa ke tempat kyai/penghulu untuk dido'akan. At-Taubah:103) 2. at-Thayalisi 349. berkembang) Firman Allah Ta'ala: "Allah memusnahkan ribaa' dan menyuburkan sedekah" (QS." (QS. 605).tazkiyatan . Membuat shadaqah dengan makanan-makanan khusus (seperti nasi kuning. dengan mendendangkan qasidah-qasidah dan memukul rebana. Berkumpul di masjid-masjid untuk menyambut lailatul qadr. (HR.matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan lembut. ZAKAT Definisi Zakat Menurut Bahasa (lughoh) Dari asal kata zakkaa .zakaatan yang berarti : 1. merah". kata Imam Tirmidzi: "Hadits ini hasan shohih") Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqolani: "Tanaman itu telah Zakka. mensucikan) Firman Allah Ta'ala: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka. 605). (Lihat Mu'jamul Bida' hal. (Lihat Mu'jamul Bida' hal. Thoharoh (membersihkan. 262) 3. supaya kita tidak terjerumus di dalamnya. 605 karya Syeikh Raid bin Shabri bin Abi 'Ulfah). AlBaqarah:276) Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari hadits Abu Rabsyah Al-An Maary: "Harta tidak akan berkurang dengan dishodaqohkan" (HR. Saba' : 39) . Yakni melakukan shalat khusus berkenaan dengan lailatul qadr. Keyakinan malam pertengahan Ramadhan adalah malam lailatul qadr. marilah berlomba-lomba di dalam kebaikan untuk meraih keutamaan lailatul qadr dan meninggalkan berbagai bid'ah yang ada. 487 no. 2325. Tirmidzi. (LihatMu'jamul Bida' hal. kue apem. dan lain-lain) pada malam ke-21 atau 29. Al-Barokah Firman Allah Ta'ala: "Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya" (QS.yuzakkii . y y y Setelah kita mengetahui semua ini. Namaa' (tumbuh. Ibnu Khuzaimah dan al-Bazzar dengan sanad yang hasan) Bid'ah-bid'ah Seputar Lailatul Qadr Kami sampaikan di sini beberapa contoh bid'ah yang berkaitan dengan lailatul qadr.

Muslim no. Kitab Zakat 7:81) 4." (Mausu'ah Fiqh Ibnu Taimiyah 2 : 876. 1. 2305.. untuk golongan tertentu pada waktu tertentu. dengan zakat itu " (At Taubah : 103) . Lisanul Arab karya Ibnul Mandzur jilid 6 hal 64-65) Menurut Hukum (Istilah Syara') 1." (QS. 5572) 5." (Al-Fath 3:262) 2. terkadang dengan ungkapan zakat. ." (HR. 307. Shodaqoh Firman Allah Ta'ala: "Ambillah shodaqoh (zakat) dari sebagian harta mereka." (Taudhihul Ahkam 3:5) Zakat Dalam Bahasa Al-Qur'an Sedangkan Al-Qur'an Al-Karim telah menyebutkan tentang zakat dengan berbagai ungkapan.. 4684.. Bukhori no. Muslim. (lihat An Nihayah karya Ibnu Al Atsir jilid 2 hal. Imam Al-Farro' mengatakan: arti 'yang lebih baik kesuciannya' adalah yang lebih baik amal sholehnya. shodaqoh. al-Kahfi 18:81). Al-Madh (Pujian) Dalam hadits Abu Hurairoh tentang kisah Zainab Ummul Mukminin: " . Al Baqoroh : 43) 2. . Pendapat Syaikh Abdullah Al-Bassaam: "Hak wajib dari harta tertentu. Fatawa 25:8) 3. Kitab Tafsir surat Hud 8 : 352. Kitab Al Azab Juz 14. Pendapat Al-Hafidz Ibnu Hajar: "Memberikan sebagian dari harta yang sejenis yang sudah sampai nashob selama setahun dan diberikan kepada orang fakir dan semisalnya yang bukan dari Bani Hasyim dan Bani Mutholib. Pendapat Ibnu Taimiyah: "Memberikan bagian tertentu dari harta yang berkembang jika sudah sampai nishob untuk keperluan tertentu. Firman Allah Ta'ala: "Dan dirikanlah sholat. hal. infaq/nafaqoh dan al-'afwu. 346 no.Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari hadits Abu Hurairoh radhiallohu anhu: Allah Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi: "Hai anak Adam berinfaklah niscaya Aku akan berinfak untukmu" (HR. tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orangorang yang ruku" (QS. Amal Sholeh Firman Allah Ta'ala: "Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu. Bahwa Zainab namanya adalah Barroh maka dikatakan 'dia memuji dirinya' maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallammenamainya Zainab. Zakat Ungkapan ini paling banyak disebutkan bahkan sering digabungkan dengan perintah shalat sampai diulang dalam 82 ayat (lihat Taudih al akham 3:5).

menegakkan sholat. Al-'Afwu Firman Allah Ta'ala: "Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Muslim. adz-Dzariyat 51:19). 121) Adapun Ijma'. Al Baqoroh:219) Hukum Menunaikan Zakat Zakat merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima dan termasuk dari pondasi Islam yang agung. 8 dari hadits Ibnu Umar." (lihat Bukhari Kitabul Iman 1:49 no. Muslim Kitabul Iman1:147 no. menunaikan haji ke Baitullah dan berpuasa di bulan Ramadhan." (QS. ini berlangsung ketika sebelum Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam hijrah. Maka hukumnya adalah wajib bagi setiap muslim yang telah memenuhi persyaratan. 113). As Sunnah dan Ijma'. Didalam surat Fushilat Allah mengancam yang tidak mengeluarkan zakat: "Orang-orang yang tidak mengeluarkan . menunaikan zakat. karya Ibnu Qudamah 4:5) Syaikh Abdullah Albassam menerangkan (Taudihul ahkam:3/12): "Para ulama berselisih kapan diwajibkannya zakat." (QS. memberi makan dan berbuat baik.3. bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusanNya. Infaq/Nafaqoh Firman Allah Ta'ala: "Hai orang-orang yang beriman. Kitabul Iman 2:130 no. Katakanlah: al-'afwu (yang lebih dari keperluan)" (QS. Juga para sahabat telah sepakat untuk memerangi orang-orang yang tidak mau membayarnya dan menghalalkan darah dan harta mereka karena zakat termasuk dari syi'ar Islam yang agung. Al-Bayyinah :5) Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Islam dibangun di atas lima dasar. Al Baqoroh:267) 4. maka kaum muslimin disetiap masa telah ijma' (sepakat) akan wajibnya zakat. nafkahkanlah (yakni keluarkanlah zakatnya) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Allah berfirman: "Pada harta-harta mereka ada hak tertentu untuk orang yang meminta dan yang tidak meminta" (QS. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mengutus Muadz bin Jabbal radhiyallahu 'anhu ke negeri Yaman: "Terangkanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka untuk mengeluarkan zakat yang dipungut dari orang-orang kaya diantara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir dari mereka" (HR. Dasarnya adalah dari Al Qur'an. Firman Allah Ta'ala: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus. Zakat diwajibkan secara mutlak tidak ada batasan atau rincian akan tetapi hanya perintah untuk memberi. akan tetapi pendapat yang paling kuat adalah bahwa kewajiban zakat di tetapkan dalam tiga fase: a. (alMughni.

memohon ampun di waktu malam dengan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana kebaikan mereka yang nampak jelas dalam memberi dan menunaikan haknya orang-orang fakir demi kasih sayang dan rohmah bagi mereka." (QS. c. Tahun kesembilan Hijriyah ketika manusia masuk Islam dengan berbondong-bondong dan semakin luas daerah Islam Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengirim petugas-petugas untuk mengambil zakat ." (QS. Memperoleh keberkahan.. Tahun kedua Hijriyah diterangkanlah hukum zakat dengan rinci..zakat. Dan kebaikan mereka nampak jelas dari menegakkan shalat malam. tambahan dan ganti yang lebih baik dari Allah Ta'ala. Hikmah Disyariatkannya Zakat y Menguatkan rasa kasih sayang antara si kaya dengan si miskin.. Juga mensucikan mereka dari kehinaan dan kerendahan dari mengambil dan makan haknya orang fakir." (QS 41:7). At Taubah : 103) Ayat ini mengajarkan untuk mengambil sedekah dari hartanya kaum mu'minin.. diterangkan harta yang wajib dizakati dan kadar nishabnya serta jumlah yang harus dikeluarkan sebagai zakat. dan tidak memberi makan orang miskin". Al Hajj:41) . (QS. Dalam surat Al-Mudatsir Allah memasukkan orang-orang yang tidak memberi makan orang miskin sebagai al-mujrimun (orang-orang yang berdosa): ". y y y y Anjuran Menunaikan Zakat Firman Allah Ta'ala: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka" (QS. niscaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat.. Membiasakan seorang muslim untuk memiliki sifat belas kasihan. Firman Allah Ta'ala: "Dan pada harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. Hal ini dikarenakan fitrahnya jiwa manusia adalah senang terhadap orang yang berbuat kebaikan (berjasa kepadanya). Adz-Dzariyat : 19) Dalam ayat ini Allah Ta'ala telah mengkhususkan sifat-sifat yang mulia dengan berbuat baik. Al-Mudatsir : 44) b. Dan juga untuk menumbuh kembangkan harta mereka dan mengangkatnya dengan kebaikan dan keberkahan akhlak dan mu'amalah sampai mengantarkan mereka menjadi orang yang berhak mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebagai ibadah kepada Allah Ta'ala (lihat Risalah Fi Zakat oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz). Firman Allah Ta'ala: "(Yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi. Mensucikan dan membersihkan jiwa serta menjauhkan jiwa dari sifat kikir dan bakhil. baik itu shodaqoh yang ditentukan (zakat) ataupun yang tidak ditentukan (tathowa) demi untuk membersihkan mereka dari kotornya kebakhilan dan rakus.

Setiap kali sudah dingin maka akan dikembalikan seperti semula yang satu hari adalah sama dengan 50. maka rasakanlah sekarang akibat dari apa yang kamu simpan itu" (QS. sapi dan kambing yang tidak ditunaikan zakatnya akan mengalami nasib yang sama pula dari siksa di hari kiamat. Firman Allah Ta'ala: "Sekali-sekali janganlah orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Ali Imron : 180) Oleh karenanya harta yang tidak ditunaikan zakatnya maka itu termasuk harta simpanan yang pemiliknya akan disiksa dengannya pada hari kiamat. Ancaman Bagi yang Tidak Menunaikan Zakat Telah banyak dalil-dalil baik itu dari Al-Kitab ataupun As-Sunnah tentang ancaman keras bagi orang yang bakhil dengan zakat dan enggan untuk mengeluarkannya.000 tahun sampai diputuskan perkaranya diantara manusia maka dia akan melihat jalannya. Dan tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta kecuali Allah akan membaginya pintu kefakiran. Muslim Kitab Zakat 7:67 no. dahi dan punggungnya. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Tidaklah seseorang yang memiliki emas atau perak kemudian tidak ditunaikan haknya. At Taubah : 34-35)." (QS. . Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahanam lalu dibakar dengannya dahi mereka lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka :"Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri. 2287 dari hadits Abu Hurairah) Kemudian lanjutan hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan orang yang memiliki onta. apabila datang hari kiamat dibentangkan baginya batu-batu yang lebar dari neraka kemudian dia akan dipanggang di atas batu-batu itu di dalam neraka jahannam kemudian disetrika perut.Allah telah menjanjikan dengan menunaikan zakat merupakan tujuan untuk bisa tegak dan kokoh di muka bumi ini. apakah ke surga atau neraka." (Turmudzi Kitab Az-Zuhd 4:487(2325) dari hadits Abi Habsyah) Dari masih banyak hadits-hadits tentang anjuran untuk menunaikan zakat serta keutamaankeutamaannya. Harta yang mereka bakhilkan itu kelak akan dikalungkan di lehernya di hari kiamat. Firman Allah Ta'ala: "Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih." (HR. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Tiga perkara yang aku bersumpah atas tiga perkara tersebut dan menceritakan kepada kalian maka jagalah : Tidak akan berkurang harta yang dishodaqohkan dan tidak seorang hamba dianiaya dengan satu kedholiman kemudian dia bersabar (atas kedholiman) kecuali Allah akan menambahkan baginya dengan kemuliaan.

Bukhori Kitab Zakat 3:268 no. harta-harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di lehernya kelak di hari kiamat. Hakim. kalau tidak mau bertaubat maka hukumnya dibunuh. Kalau yang tidak mau membayar zakat itu sekelompok orang yang mereka memiliki kekuatan tapi masih berkeyakinan akan wajibnya. Juga haditsnya Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku telah diperintahkan untuk memerangi manusia supaya mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan (bersaksi) bahwa Muhammad adalah utusan Allah. tidak halal bagi keluarga Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam darinya sedikitpun.Juga sabda Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain: "Barang siapa yang Allah telah berikan harta kepadanya kemudian dia tidak menunaikan zakatnya maka pada hari kiamat nanti hartanya akan berujud ular yang botak yang mempunyai dua titik hitam diatas kepalanya yang mengalunginya kemudian mengambil dengan kedua sisi mulutnya sambil berkata: "Aku adalah simpananmu. (HR.1403 dari hadits abu Hurairah. (lihatFatawa 7:611. Para ulama menghukumi agar diperangi sampai mereka mau membayar zakat sebagaimana kisahnya Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dalam memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat." (HR. Adapun Ibnu Taimiyah menghukumi orang yang seperti itu adalah kafir dalam batinnya. akan tetapi disikapi seperti sikapnya orang-orang murtad yang diberi kesempatan bertaubat tiga kali. Para ulama menghukumi bahwa pelakunya berdosa dan tidak mengeluarkannya dari keislamannya. Baihaqi dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya). aku adalah hartamu". 2294) Hukum bagi yang Orang Tidak Mau Bayar Zakat Dalam hal ini ada beberapa kriteria dari orang-orang yang tidak mau membayar zakat : 1. Mausu'ah Fiqh Ibnu Taimiyah 2:877. al-Mughni 4:67. Kecuali pendapatnya Imam Ahmad dan Imam Syafi'i (pendapat lama) maka mengambilnya separuh dari hartanya sebagai hukuman baginya. Kepada penguasa (hakim) agar memaksa pelakunya supaya mau membayar zakat serta memberikan hukuman pelajaran kepadanya (tahdzir). mereka menegakkan sholat dan menunaikan zakat. Jama'ah dari Abu Hurairah). Abu Dawud." (HR. sebenarnya bahwa kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. majalah Buhuts Islamiyah Darul Ifta' edisi 58 tahun 1420H hal. Seorang yang tidak mau membayar zakat tapi masih meyakini akan wajibnya. Dan mengambil hak zakat dari orang tersebut sesuai dengan kewajibannya. 11. Fiqh Sunnah 1:403) 2. maka kalau mereka telah . Sebagaimana hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: " Dan barang siapa yang tidak mau menunaikannya (zakat) maka kami akan mengambilnya dan separuh hartanya adalah hak dari hak-hak wajib bagi Tuhan kami. Ahmad. Nasa'i. Muslim Kitab Zakat 7:74 no. Kemudian beliau membaca ayat: "Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang telah Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya. tidak boleh lebih. walaupun secara dzahir tidak dikafirkan. menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka.

" (Al-Baqarah : 267) Syarat-syarat yang Wajib Mengeluarkan Zakat 1. Dewasa (baligh)." (Al-Furqon : 23) Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Muadz radhiyallahu 'anhu sewaktu mengutusnya ke negeri Yaman: "Beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shodaqoh dari "harta mereka" yang diambil dari orang-orang kaya dari mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir dari mereka. Firman Allah Ta'ala: "Dan kami hadapi segala amal yang mereka (orang-orang kafir) kerjakan lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha terpuji. Adapun kalau dia seorang muslim yang tinggal di negeri Islam di tengah-tengah ahli ilmu maka hukumnya murtad. 4. Berkata Ibnu Qudamah: "Barang siapa yang mengingkari karena jahil (tidak tahu) atau dia termasuk orang yang tidak tahu karena baru masuk Islam atau dia tinggal di daerah terpencil yang jauh dari daerah yang mengetahui akan wajibnya maka tidak dikafirkan. Zakat tidak diwajibkan kepada budak dan hamba sahaya karena hartanya adalah milik tuannya maka tuannyalah yang menzakatinya.mengerjakannya terjagalah dari darah dan harta mereka kecuali haknya Islam dan hisab mereka di sisi Allah. Firman Allah Ta'ala: "Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu." (HR. Bukhari. Hal ini karena keumuman hadits Muadz di atas (lihat Risalah Zakat oleh Syaikh bin Baz hal 13-14). Tidak mau membayar zakat dengan mengingkari akan wajibnya. Karena zakat merupakan salah satu rukun Islam maka tidak diwajibkan kepada orang kafir. Bukhari & Muslim) 3." (HR. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk kemudian kamu nafkahkan dari padanya padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Berakal. 3. Akan tetapi jika anak-anak itu memiliki harta yang sudah sampai nishob dan satu tahun maka walinya atau orang yang mengurusinya wajib untuk mengeluarkan zakat dengan niat untuk mereka." (al-Mughni 4:6-7) Zakat Maal Zakat maal (harta) adalah untuk mensucikan harta dari hal-hal yang haram (harta haram) dan menjaga harta dari haknya orang-orang fakir dan yang lainnya. 1395 dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu) 2. Zakat hanya diwajibkan kepada orang dewasa tidak kepada anak-anak yang belum baligh. Muslim. Merdeka. Orang yang tidak berakal kedudukannya sama dengan anak-anak. maka walinya yang . Kitab Zakat 3:261 no.

bahkan kalau nishobnya ada di berbagai negeri maka wajib dizakati. juga harta mukatabah yakni harta budak yang mau membeli dirinya karena seorang Mukatab mampu untuk mengurusi dirinya (lihat majalah Buhuts hal. harta yang dicuri. (Fatawa 30:325) 2. Dan As-Sunnah telah menjelaskan dan merinci batas nishob dari macam harta yang ada. akan tetapi kalau tidak bisa dibedakan maka membayar zakatnya secara bersama-sama. Misalkan Wamh dengan sya'ir (jenis gandum). mata uang dengan harta perniagaan. pemberian negara. (Fatawa 25:52) Harta yang ada dalam kekuasaan seseorang dan tidak diketahui pemiliknya secara tertentu maka hukumnya adalah seperti milik penuh yang wajib dizakati. harta yang dirampas sampai bisa kembali ke tangannya. Cukup Nishob Nishob artinya: harta yang telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan syari'at. Maka harta yang belum mencapai jumlah tertentu tersebut terbebas dari kewajiban membayar zakat.24) Tidak disyaratkan sampainya nishob di satu negeri saja. Maka barang siapa yang memiliki harta dalam kepemilikan penuh maka wajib atasnya zakat. (Fatawa 25:13. sewaan. Syarat-syarat Harta yang Wajib Dizakati 1. 13).15. 30:149) 4. Kepemilikan itu bisa berupa hasil usahanya.dibebani untuk membayar zakat (lihat Risalah Zakat oleh Syaikh bin Baz hal 13-14). kambing kacang dengan biri-biri. Milik Penuh (al-Milhuttaan) Yaitu harta tersebut berada dalam pengawasan dan kekuasaan secara khusus dimana pemiliknya berkuasa untuk mengusahakan dan mengambil manfaat daripadanya. Oleh karenanya tidak diwajibkan atas zakat yang diwaqafkan ke pihak masyarakat umum. Harta Gabungan (Syurokaa') Maka zakatnya adalah wajib bagi yang bagiannya sudah sampai nishob. Harta yang tercampur (Khulatha) Kalau harta milik masing-masing bisa dibedakan maka membayar zakat secara masing-masing. Seperti harta yang ada di tangan para perampas. Kalau hilangnya nishob sebelum mengeluarkan zakat bukan karena . harta yang dibelinya tapi belum mampu mengambilnya dari penjual. kerbau dengan sapi. pinjaman atau waqaf untuk dirinya. (Fatawa 25:23. maka yang punya tanah wajib membayar zakat dari bagian hasil tanamannya sebagaimana yang mengerjakannyapun wajib membayar zakat dari bagiannya. (Fatawa 25:38) 3. Kalau memiliki berbagai macam harta yang terkumpul dalam satu jenis dan masing-masing dari macam-macam harta itu belum sampai nishob maka untuk menyempurnakan nishobnya adalah dengan menggabungkan macam-macam harta yang satu jenis tersebut. dinar dengan dirham. Seperti dalam muzaro'ah misalkan.

Berdasarkan haditsnya Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang memanfaatkan harta maka tidak ada zakat baginya sampai genap satu tahun pada pemiliknya. Dan harta yang berkembang ini dibagi menjadi dua macam: 1. Kitab zakat 3:26 no. 631) Adapun yang keluar dari bumi seperti biji-bijian." (HR." (Al An'aam : 14) Maka barang siapa memiliki emas yang sudah sampai nishob dan telah berlalu selama satu tahun maka wajib zakat. Berkembang (namaa') Zakat hanya diwajibkan pada harta yang berkembang yakni bisa bertambah dengan diusahakan. Saya katakan: "Ini adalah contoh batasan zakat yakni harta itu tidak wajib dikeluarkan zakatnya kecuali yang dipersiapkan untuk berkembang. perabot rumah tangga. Jika sampai nishob kemudian beruntung maka keuntungannya itu dihitung dengan modal dasarnya. Firman Allah Ta'ala: "Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya dengan membayar zakatnya. senjata yang biasa digunakan. hamba sahaya. Yang berkembang dengan sendirinya seperti binatang ternak dan tanaman 2. Jika memiliki harta yang belum sampai nishob kemudian memiliki yang bisa menyempurnakan nishob maka haulnya dimulai dari memiliki harta yang menyempurnakan nishob. pakaian yang digunakan. buah-buahan maka zakatnya ketika panen dan tidak disyari'atkan menunggu haul (satu tahun). berdasarkan hadits yang terdapat falam shahihain: "Tidak wajib atas seorang muslim mengeluarkan zakat atas hamba dan kudanya". dalam artian semua harta dihitung hasilnya kecuali apa yang keluar dari bumi. tidak perlu dengan haul yang baru. Berlaku satu tahun (haul) Disyaratkan berlakunya satu tahun sudah mencapai nishob jika harta berupa mata uang atau binatang ternak. (Fatawa : 23). Yang berkembang dengan berubah dzatnya dan diusahakan seperti mata uang yang berkembang dengan diniagakan dan yang semisalnya. Perlu diketahui bahwa haul (satu tahun) disini adalah tahun qamariyah (hijriyah) sebagaimana . 5. Syaikh Abdullah Al-Bassam berkata: "Al-Wazir berkata: "Telah ijma' para ulama bahwa tidak ada zakat pada rumah yang ditempati. Untuk menyempurnakan nishob harta syuroka' (harta gabungan) tidak boleh digabung bahkan wajib membayar zakat atas masing-masing yang berserikat kalau bagiannya sudah sampai nishob kalau bagiannya belum sampai nishob maka tidak wajib zakat. adapun yang tetap yang tidak mungkin berkembang karena hanya untuk digunakan pemiliknya tidaklah wajib zakat" (Taudihul ahkam:3/28) 6. Tirmidzi. Jika modal dasarnya tidak sampai nishob kemudian ketika genap satu tahun (haul) mencapai nishob dengan keuntungannya maka menurut pendapatnya Imam Malik wajib untuk dizakati.keteledoran pemiliknya maka tidak wajib membayar zakat. (Fatawa 25:8).

Seyogyanya juga memilih orang yang dianggap bisa bermanfaat bagi Islam dan muslimin seperti para penuntut ilmu syar'i. Ketika tanaman di panen maka wajib ketika itu mengeluarkan zakatnya. Maka hendaklah cari para penuntut ilmu syar'i. menurut salah satu pendapat ulama.dijelaskan oleh Imam Nawawi. (Fatawa 25 : 39) Masalah: Apakah zakat maal hanya diberikan di bulan ramadhan saja atau apakah telah ditetapkan waktunya. mereka memang membutuhkan. maka boleh membayar zakat dan boleh menunggu sampai benar-benar yakin kalau sudah sampai hasil. jika haulnya bertepatan dengan bulan Ramadhan disalurkan ketika itu tapi jika datangnya haul tidak bulan Ramadhan dikeluarkan ketika itu juga (jangan menunggu bulan Ramadhan-pent). Masalah: Boleh membayar zakat sebelum waktunya. Jika mengganti nishab satu jenis harta dengan harta yang lain ditengah-tengah hitungan haul. Misalkan memiliki nishob dan membayar zakat sebelum berlalu satu tahun. membayar zakat tanaman setelah tumbuh sebelum bijinya siap dipanen dan zakat buah-buahan setelah tampak buahnya sebelum masak. sementara nishab yang pertama (mata uang) belum genap hasilnya. atau tertimpa kebangkrutan. maka hitungan haul binatang ternak didasarkan pada haul mata uang. . karena kebanyakan orang kebiasaannya mengeluarkan zakat maal dibulan ramadhan Syaikh Muqbil menyatakan ketika menjawab masalah yang hampir sama dengan ini (Ijabatus Sail:121): Allah Ta'ala berfirman: "Keluarkanlah haqnya (zakatnya) ketika hari panen" (QS alAn'am : 141). Aku kenal beberapa orang . Ada seorang yang baik mencari-cari para penuntut ilmu syar'i. . Contohnya kalau membeli dengan mata uang senishab dengan senishab dari binatang ternak. maka harus lah ia bersegera mengeluarkan zakat secepat-cepatnya karena mungki orang fakir sedang membutuhkannya maka (kita tegaskan kembali -pent) waktu mengeluarkan zakat adalah ketika sudah datang haul atau waktu panen. (Fatawa 25 : 100). atau akan tergambarkan berniat jelek. Demikian juga emas dan perak yang telah sampai haulnya. Jika ragu-ragu apakah sudah berlalu satu tahun (haul) atau belum. Demikianlah. maka tidak memutus (memotong) hitungan haul tersebut. Masalah ini (bolehnya menyegerakan pengeluaran zakat) bedasarkan satu riwayat: Dari Aliradiyallahu'anhu bahwasanya Abbas bin Abdul Muthalib minta ijin untuk menyegerakan pengeluaran zakatnya sebelum datang haul maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallammemberinya keringanan untuk melakukannya" (HR Tirmidzi dan Hakim dan dihasankan oleh syaikh Albani). Telah diterangkan bahwa Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu hari pernah terburu-buru masuk kerumahnya ketika selesai shalat ketika keluar beliau melihat para shahabatnya sedang terheran-heran maka beliau bersabda: "Aku meninggalkan sepotong emas dirumah" . Seyogyanya bagi seorang muslim bersegera menunaikan zakatnya karena mungkin saja datang kepadanya kematian. kalau ada sebabnya.

Ukuran orang itu cukup adalah ukuran yang lebih dari kebutuhan pokoknya bersama istri dan anaknya berupa makan. Orang-orang yang Berhak Menerima Zakat Mustahiq zakat ada delapan golongan. Dari Abu Said Alkhudri radihiallahu'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallambersabda: "Tidak halal shadaqah itu bagi orang kaya kecuali orang kaya yang menjadi amil zakat. atau membelinya dari orang miskin. dan 2."(QS. Kadar harta yang disalurkan kepada faqir dan miskin. minum. Barang siapa yang tidak bisa mencukupi ukuran ini maka ia adalah faqir. Amil zakat (pengurus zakat) Mereka adalah yang diangkat oleh imam atau naibnya. atau ikut berperang dijalan Allah atau diberi hadiah oleh seorang miskin yang mendapat bagian shadaqah" 4. Allah membatasinya dalam ayat: "Sesungguhnya zakat itu bagi orang-orang fakir miskin dan mengurusinya serta orang yang sedang ditundukkan hatinya. pakaian. budak-budak orang yang punya hutang dan yang yang berjuang dijalan Allah serta ibnu sabil kewajiban dari Allah dan Allah Maha Tahu dan Bijaksana. untuk mengumpullkan zakat dari orangorang kaya. maka keduanya diberi harta zakat (shadaqah) sekadar mengeluarkan dia dari kefaqiran menjadi cukup. mereka pengambil zakat dan termasuk ini juga para penjaganya. Tidak ada perbedaan antara faqir dan miskin dalam masalah kebutuhan dan kemiskinan serta dari sisi berhak menerima zakat. hadits ini menerangkan yang diambil zakatnya adalah orang kaya yakni yang memiliki harta sampai nishab zakat. adapun orang yang diberi adalah orang faqir yaitu yang tidak memiliki harta semisal orang kaya. Orang-orang yang sedang dilunakkan hatinya (Muallaf) . Hendaknya mencari para penuntut ilmu syar'i dan mendorong mereka untuk tenang dalam menuntut ilmu. Fakir.yang telah selesai dari belajar mereka dan Insya Allah pahalanya besar tidak akan terputus dan tidak akan disia-siakan Allah. Mereka wajib orang Islam dan bukan yang diharamkan menerima shadaqah dari keluarga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yakni Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. at-Taubah : 60) Adapun rincian mereka ini adalah sebagai berikut: 1. Diantara tujuan disyariatkannya zakat adalah mencukupi orang faqir dan memenuhi kebutuhannya. Miskin Mereka adalah orang yang tidak mempunyai sesuatu yang mencukupi mereka. tempat tidur dan perkara primer lainnya. dalam hadits Muadz:"(Zakat) diambil dari orang kaya dan diberikan kepada orang faqir". 3.

beliau berkata: "Ini adalah pemberian orang yang tidak takut faqir'. d. Mualaf dari kalangan muslimin ada empat macam: a. Mereka adalah orang-orang yang bebas dari penduduk mekah dan masuk Islam diantara mereka ada munafiq. yang ditaati kaumnya diberi bagian dengan harapan semakin kokoh keislaman dan keimanannya serta membantu dalam jihad seperti orang-orang yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beri bagian ketika pembagian ghanimah perang hawazin.'' 5. yang memberi bagian kepada Adhi bin Hatim serta Zibarqon bin Badar padahal keduanya adalah bagus keislamannya. orang yang menikah mengharapkan menjaga kehormatannya. sungguh ia dahulu adalah orang yang paling aku benci hingga terus menerus ia memberiku sampai menjadi orang yang paling aku cintai. Pemimpin-pemimpin yang lemah imannya dari kalangan muslimin. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tiga golongan haq atas Allah untuk menolongnya: mujahid yang berperang di jalan Allah. 7. Gharimun Yaitu mereka yang menanggung hutang dan tidak mampu membayarnya. Budak (Hamba sahaya) Mencakup juga mukatib (yang mempunyai perjanjian damai dengan tuannya setelah membayar dirinya).' Dia berkata: "Demi Allah dia Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberiku. Mualaf itu ada dua golongan: dari kalangan muslimin dan kafir.Mereka adalah orang-orang yang diinginkan tunduk hatinya menerima Islam atau memantapkan hatinya di atas Islam karena lemahnya iman dia atau mencegah kerusakannya terhadap muslimin dan mengharapkan bantuan darinya membela muslimin. Kaum muslimin yang tinggal diperbatasan daerah muslimin dengan daerah musuh diharapkan pembelaan mereka. Nabi memberinya seratus onta yang gemuk yang ada di lembah. yang lemah imannya setelah pembagian ghanimah itu sebagian besar mereka mantap dan bagus keislamannya. Tokoh-tokoh muslimin. mukatib yang ingin menunaikan perjanjiannya. Hal itu karena keduanya adalah pemimpin dikaumnya masing-masing. seperti Shafwan bin Umayah yang diberi keimanan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan membiarkannya selama empat bulan untuk melihat urusannya supaya ia memilih untuk dirinya. Ia pernah hadir dan ikut perang Hunain sebelum Islamnya dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meminjam pedangnya ketika menuju perang Hunain. c." 6. seperti perbuatan Abu Bakar ra. Dari Abu Hurairah. b. Orang-orang yang diperbantukan pemerintah untuk mengambil zakat dengan paksa dari orang yang tidak mau mengeluarkannya Adapun muallaf dari kalangan kafir adalah orang yang diharapkan keimanannya. mukatib ditolong untuk membebaskan dirinya dengan uang zakat (shadaqah). Orang yang berjihad dijalan Allah .

Masalah : Bolehkah memberikan zakat kepada satu golongan mustahik saja? Berkata pengarang Raudun Nadiyah: "Adapun memberikan (menyalurkan) zakat kepada satu gongan mustahiq saja merupakan masalah yang paling pantas untuk dibahas.Jumhur ulama menyatakan maksudnya adalah orang-orang yang sedang berjihad..'' Orang-orang yang Diharamkan Menerima Zakat Setelah kita ketahui mustahiq (penerima zakat/shadaqah) yang telah ditetapkan Allah.. Pengkhususan bagi mereka itu tidak mengharuskan untuk membagi hasil zakat kepada semua golongan mustahiq sama rata " Beliau menyatakan juga: ". mereka yakni para mujahidin mendapatkan bagian zakat. untuk membantu mewujudkan tujuannya. sekarang akan kita sebutkan orang-orang yang tidak boleh menerima zakat dan tidak boleh menerimanya. Para ulama mensyaratkan safarnya adalah untuk untuk ketaatan bukan untuk maksiat." 2. Dalam hadits Muadz: "(Zakat) itu diambil dari orang kaya mereka dan di bagikan kepada orang miskinnya" yakni: diambil dari orang kaya muslimin dan diberikan kepada orang faqir yang muslim.'' Keutamaan-keutamaan berinfak di jalan Allah Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang berinfaq di jalan Allah akan dicatat baginya tujuh ratus lipat" "Barang siapa yang membantu persiapan oarang yang berjihad maka ia telah berjihad. Dalam satu riwayat: "Zakat tidak halal bagi orang yang kaya kecuali orang kaya yang ikut berjihad dijalan Allah. Ibnu Sabil Para ulama telah sepakat bahwa seorang yang terputus perjalanan dari ngerinya diberi bagian shadaqah (zakat). tidak boleh diberikan kepada selain mereka.. barang siapa yang mengurusi keuarga muahidin dengan baik maka ia telah berjihad" "Shadaqah yang paling afdhal adalah memberi naungan bagi yang sedang berjihad. Bani Hasyim . Ibnul Mundzir berkata: "Telah ijma' ahlul ilmu yang kami hafal ilmunya bahwa seorang kafir dzimmitidak diberi zakat maal sedikitpun." "Kesimpulannya: Bahwasanya Allah Subhanahu waTa'ala telah mentapkan zakat itu khusus untuk delapan golongan. Orang-orang kafir dan mulhid. kaya ataupun miskin. mereka adalah: 1. memberi pembantu untuk membantu mujahidin serta meminjamkan onta pejantan" 8.kalau seseorang wajib bayar zakat dan ia mengeluarkannya untuk semua golongan mustahiq maka ia telah menjalankan perintah Allah.

Maka jika zakat disalurkan kepada mereka berarti telah mengambil manfaat sendiri dan tidak mengeluarkan zakat. sehingga tidak butuh lagi zakat. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya shadaqah itu tidak pantas untuk keluarga Muhammad. Bapak dan anak-anak sendiri Telah sepakat fuqaha bahwasanya tiddak boleh memberikan zakat kepada bapak. bapaknya atau cucunya kaya." Pendapat ini dilemahkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan yang benar adalah pendapat yang pertama. karena itu adalah kotoran harta manusia." Hasan (cucu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) radiallahu 'anhu mengambil korma shadaqah.Yang dimaksud disini adalah keluarga Ali bin Abi Thalib. kakek. Zakat Fithr Berkata Ibnul Atsir: "Zakat fitrah (fithr) adalah untuk mensucikan badan" (An Nihayah 2:307) Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqolani menukil perkataan Abu Nu'aim: "Disandarkan shodaqoh (zakat) kepada fithr (berbuka) disebabkan karena wajibnya untuk berbuka dari bulan Ramadhan. ibu. Tidakkah kau tahu bahwa kita tidak memakan shadaqah. cucu. Bukhari Kitab Zakat 3:367 no. Istri Para ulama telah ijma' bahwa seseorang tidak boleh memberikan zakat kepada istrinya." Adapun pendapatnya Ibnu Qutaibah: "Yang dimaksud Zakat Fitrah adalah zakat jiwa." (Muttafaq alaih) 3. maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Kuh. (lihat Fathul Baari 3:367) "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat Fithr (fitrah) satu sha' dari kurma atau satu sha' dari gandum kepada budak atau yang merdeka. kalaupun mereka faqir mereka tetap kaya karena anaknya. 4." (HR. keluarga Abbas serta keluarga Harits. nenek. kecuali kalau dia terlilit hutang maka diberi dari bagian gharimin untuk melunasi utangnya." (Riwayat Bukhari 3/291 dan Muslim 984 dan tambahan pada Muslim) Dan berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitri. karena orang yang berzakat itu memang wajib menafkahi bapaknya. hal ini dikarenakan dia wajib menafkahi istrinya. istilah itu di ambil dari kata fitrah yang merupakan asal dari kejadian. anak. 1503 dari hadits Ibnu Umar) Hukum zakat fithr Zakat fitri itu wajib berdasarkan hadits (dari) Ibnu Umar radhiallahu'anhuma: "Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri kepada manusia pada bulan Ramadhan. keluarga 'Aqil. laki-laki atau perempuan anak kecil ataupun dewasa dari kaum muslimin dan beliau menyuruh untuk dibayar sebelum manusia keluar untuk shalat ('ied). keluarga Ja'far. seperti dua orang tua. kuh (supaya Hasan membuangnya). anaknya." (Riwayat Abu Dawud 1622 dan An Nasaai 5/50 padanya ada .

Dan hadits sebelumnya sebagai penguat. tapi kami tidak menemukan dalil akan hal itu. anak kecil. lelaki.) Sebagian ahlul ilmi menyatakan bahwa zakat fitri telah mansukh (dihapus) oleh hadits Qais bin Sa'ad bin Ubadah radhiyallahu 'anhu. zakat fithr diwajibkan pula atas orang yang tidak berpuasa (berdosa) seperti yang diketahui keshalihannya atau orang yang masuk Islam sesaat sebelum terbenamnya matahari.Al-Hasan yang ber-'an-'anah. Al-Hafidz menjawab (3/369): "Penyebutan pensucian disebutkan untuk menghukumi yang dominan. jika berserikat dalam'illat berserikat juga dalam hukum". seluruh yang puasa butuh akan itu. dan hamba. Berdasarkan hadits Abdullah bin Umar radhiallahu'anhuma: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fithr sebanyak satu shaa' korma atau satu shaa' gandum atas hamba dan orang merdeka. beliau berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallammemerintahkan kami dengan shadaqah fitri sebelum diturunkannya (kewajiban) zakat dan tatkala diturunkan (kewajiban) zakat beliau tidak memerintahkan kami dan tidak pula melarang kami. Dan sanadnya SHAHIH. baik menurut masyarakat ataupun istilah. .) Dan kalaupun dianggap shahih tidak ada dalil yang menunjukkan atas naskh-nya (hadits Qais yang menunjukkan wajibnya zakat fitr) karena mungkin Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallammencukupkan dengan perintah yang pertama." Siapa yang diwajibkan? Zakat fithr wajib atas kaum muslimin. perempuan." (Telah lewat takhrijnya) Al-Khathabi rahimahullah (Ma'alimus Sunan 3/214) menegaskan: "Zakat fitri wajib juga atas orang puasa yang kaya atau fakir yang mendapatkannya dari makanan dia. jelek dan makanan bagi kaum miskin. besar." Al-Hafidz rahimahullah menjawab sangkaan tersebut dengan perkataannya 3/368: "Bahwa pada sanadnya ada seorang periwayat yang tidak dikenal." Sebagian lagi berpendapat bahwa zakat fithr wajib juga atas janin. dan dikeluarkan oleh An-Nasaai 5/49 dan Ibnu Majah 1/585 dan Ahmad 6/6 dan Ibnu Khuzaimah 4/81 dan Al-Hakim 1/410 dan Al-Baihaqi 4/159 dari beberapa jalan. karena turunnya suatu kewajban tidaklah menggugurkan kewajiban yang lain." (Riwayat Bukhari 3/291 dan Muslim 984) Sebagian ahlul ilmi mewajibkannya pada hamba yang kafir karena hadits Abu Hurairahradhiallahu 'anhu: "Hamba tidak ada zakatnya kecuali zakat fithr" (Riwayat Muslim (982)) Hadits ini umum sedangkan hadits Ibnu Umar khusus. jika 'illat (alasan -pent) diwajibkannya karena pensucian. kecil dan besar dari kalangan muslimin. karena janin tidak bisa disebut kecil atau besar. Yang lain berkata: "Tidak wajib atas orang puasa karena hadits Ibnu Abbasradhiallahu 'anhuma: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithr pensuci bagi yang puasa dari perbuatan sia-sia. merdeka. tapi kami mengerjakannya (mengeluarkan zakat fitri). sudah maklum hadits khusus jadi penentu hadits umum. akan tetapi hadits tersebut memiliki penguat.

berdasarkan hadits Ibnu Umarradhiallahu 'anhuma: "Timbangan-timbangan pedagang gandum memakai takaran orang Madinah.Baihaqi 6/31 dari Ibnu Umar. adalah pendapat yang marjuh/lemah." Riwayat ini menunjukkan bahwa makanan yang dibayarkan adalah makanan pokok yang paling banyak dibutuhkan oleh penduduk suatu negeri. Syaikh Abdullah ibnu Abdirrahman ibnu Shalih Al-Bassam dalam Taisirul 'Allam (keterangan beliau terhadap kitab Umdatul Ahkam I/404) mengatakan: "Bahan makanan yang paling utama untuk zakat fithri (dari bahan-bahan makanan yang ada) adalah bahan makanan pokok yang paling dibutuhkan oleh kaum muslimin (faqir dan miskin) setempat. hingga dengan jalan-jalan ini jadi hasan. karena hadits Abu Said Al-Khudri radhiyallahu 'anhu: "Kami mengeluarkan zakat pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam satu shaa' makanan." (Riwayat Bukhari 3/294 dan Muslim 985) Dan hadits Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mewajibkan satu shaa' gandum. satu shaa' susu. Nawawi 7/281. satu shaa' anggur kering." (Riwayat Abu Dawud 2340. satu shaa' korma. satu shaa' korma. dan aqith..) Dalam masalah ini. anggur kering.. munqathi juga ada jalan lagi mauquf dari Ibnu Umar. satu shaa' korma. Dan ini adalah pendapat ulama dari madzhab Malikiyyah dan Syafi'i dan diriwayatkan pula dari Imam Ahmad. tidak kita dapati penyebutan beras atau sagu sebagai bahan makanan pokok di negeri ini. wallahu a'lam. diriwayatkan pula oleh Baihaqi 2/161 dari jalan lain dari Ali.. Sebab dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id Al-Khudry mengatakan: "Kami (para sahabat Nabi) memberikan zakat fithri di masa Nabi shalallahu 'alaihi wassalam berupa satu sha' makanan. satu shaa' susu kering. Sehingga apakah kita harus mencari bahan-bahan yang tersebut dalam dua hadits di atas untuk membayar zakat fithri kita? Pendapat yang paling masyhur di dalam madzhab Hanbali (madzhabnya pengikut Imam Ahmad ibnu Hanbal) adalah pendapat bahwa membayar zakat dengan bahan-bahan selain yang disebutkan dalam dua hadits di atas adalah tidak sah. Namun pendapat yang paling kuat adalah bahwa ukuran (takaran) 1 sha' adalah sha' nabawy (seukuran 4 mud yang ditakar dengan dua tangan Nabi shalallahu 'alaihi wassalam). satu shaa' anggur kering atau salt. para ulama berbeda pendapat. satu shaa' gandum. dalam Ibnu Abi Syaibah Mushannaf 4/37 dengan sanad shahih.. Hadits Ali. Akan tetapi pendapat ini. satu shaa' salt..Macam jenis zakat fithr Zakat fitri dikeluarkan berupa satu shaa' gandum. serta dibenarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi'iy rahimahullah ta'ala." Ukuran Zakat Fithr Shaa' yang teranggap adalah shaa'-nya penduduk Madinah." Abu Sa'id Al-Khudry berkata: "Dan makanan kami pada saat itu adalah gandum." (Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 4/80 dan Al-Hakim 1/408-410) Ternyata dalam dua hadits ini. Dan apabila dikonversikan ke satuan timbangan (berat) maka 1 ..

pada Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 4/37 dengan sanad yang SHAHIH maka hadits tersebut dengan beberapa jalan menjadi HASAN) Bila dia tidak memiliki sesuatu kecuali apa yang harus dia nafkahkan untuk tanggungannya maka tidaklah wajib baginya untuk membayar. tidak dengan dinar dan dirham.04 kg. Namun beliau dan para sahabatnya tetap menunaikan zakat dengan bahan makanan. Amalan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan sahabatnya menunjukkan bahwa mereka selalu menunaikan zakat ini berupa makanan. padahal kita mengetahui bahwa di masa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pun telah beredar uang dinar dan dirham. Pertama. Siapa yang harus dikeluarkan zakatnya Setiap kaum muslimin (laki-laki dan perempuan) harus membayar zakatnya masing-masing jika dia memiliki kemampuan untuk membayarnya. dan sanadnya terputus. Tetapi punya jalan yang sampai kepada Ibnu Umar. maka wajib bagi tuannya untuk membayar zakat budak tersebut berdasarkan hadits dari Abu Hurairah: "Tidak ada kewajiban untuk membayarkan shodaqoh seorang hamba sahaya kecuali zakat fithri. Adapun bila dia tidak memiliki harta maka yang harus membayar adalah orang yang menanggung nafkahnya kalau dia memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang harus ia nafkahkan kepada orang-orang yang berada di bawah tanggungannya pada malam Ied dan esoknya. orang merdeka dan seorang hamba dari orang-orang yang membekalinya. Bolehkah menggantikan bahan pokok dengan uang yang senilai? Al-Imam An-Nawawy menukilkan dalam Syarah Muslim VII/53 bahwa seluruh ulama (kecuali Abu Hanifah) tidak membolehkan zakat fithri yang dibayarkan dengan uang.sha' nabawy setara dengan 2040 (dua ribu empat puluh) gram atau 2. Dan dikeluarkan oleh Al-Baihaqi 4/161 dari jalan lain dari Ali. sebagaimana dikatakan oleh jumhur ulama. "Kami diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (mengeluarkan) shadaqah fitri atas anak kecil dan orang tua.Kedua." (Telah lewat takhrijnya) Pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagaimana disebutkan dalam kitabnyaMajmu' Fatawa II/71-78 serta Ibnul Qoyyim dalam kitab beliau Zadul Ma'ad II/44.Wallahu a'lam. Dan inilah yang rajih (kuat) berdasarkan beberapa hal. Kepada siapa disalurkannya Dan zakat tidak boleh diberikan kecuali kepada orang yang berhak menerimanya dan mereka adalah orang-orang miskin berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma: "Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitri sebagai pembersih (diri) bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor dan sebagi makanan bagi orang-orang miskin. Hadits tentang zakat fithri menunjukkan bahwa Rasulullahshalallahu alaihi wassalam mensyariatkan zakat ini untuk ditunaikan dalam bentuk makanan. Dan sebagian Ahlul Ilmi berpendapat bahwa zakat fitri diberikan kepada delapan golongan dan . Muslim)." (Dikeluarkan oleh Ad-Daraqutni 2/141 dan Al-Baihaqi 4/161 dari Ibnu Umar dengan sanad yang lemah. Sehingga seorang wanita atau anak kecil yang memiliki harta harus menunaikan dengan hartanya. Adapun hamba sahaya." (HR.

(Lihat Sifat Puasa Nabi karya syaikh Salim Al-Hilali hal:101." (HR." (Dikeluarkan oleh Bukhari 4/396). Mereka meng-qiyas-kannya dengan zakat maal yang memang diberikan kepada 8 golongan sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta ala dalam surat At-Taubah ayat 60. Dan termasuk dari (amalan) sunnah jika ada seseorang yang mengumpulkan zakat tersebut (untuk dibagikan kepada yang berhak -pent). Dan sungguh dahulu pernah Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma mengeluarkan zakat kepada orangorang yang menangani zakat dan mereka adalah panitia yang dibentuk oleh Imam (pemerintahan) untuk mengumpulkannya dan hal tersebut (dilakukan) satu hari atau dua hari sebelum 'Iedul fitri. Karena dalil dari Al-Qur'an ini adalah dalil yang bersifat umum. Aku katakan: "Kapankah petugas itu mulai bertugas?" Beliau menjawab: "Satu hari atau dua hari sebelum 'Iedul fitri. Sungguh Nabi telah mewakilkan kepada Abu Hurairahradhiallahu'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengkhabarkan kepada aku agar aku menjaga zakat Ramadhan. dan lainnya dengan sanad yang hasan). Abu Dawud. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah dilakasanakan shalat iedul fithri maka ia dianggap sebagai salah satu jenis shodaqoh saja dan zakatnya tidak diterima.107) Udzur. Ibnu Majah. Sebagian ulama menganggap bahwa zakat fithri disalurkan kepada 8 golongan. Namun qiyas ini tidaklah dibenarkan. Qadha' dan Kaffarat Udzur (halangan) yang membolehkan orang tidak berpuasa Ada beberapa golongan yang boleh tidak berpuasa karena halangan tertentu diantaranya: . Hikmah zakat fithr Allah Ta'ala mewajibkan zakat fithr sebagai pensucian diri bagi orang-orang yang berpuasa dari (perbuatan) sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin untuk mencukupi (kehidupan) mereka pada hari yang bagus tersebut berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma yang telah lalu. Ini berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu: "Bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam memerintahkan kaum muslimin untuk membayarkan zakatnya sebelum keluarnya mereka untuk menjalankan shalat Ied. Dan Ibnu Abbas radiyallahu anhu meriwayatkan suatu hadits bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: "Barangsiapa menunaikan zakat fithri sebelum shalat ied maka ia adalah zakat yang diterima.(pendapat) ini tidak ada dalilnya. Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (4/83) dari jalan Abdul Warits dari Ayyub: "Aku katakan: "Kapankah Ibnu Umar mengeluarkan satu shaa'?" Berkata Ayyub: "Apabila petugas telah duduk (bertugas)"." Adapun memajukannya satu atau dua hari sebelum Iedul Fithri. maka hal ini diperbolehkan. sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sahabat berdasarkan riwayat dari Al-Bukhari dari Ibnu Umar radiyallahu anhu. Sedangkan untuk zakat fithri adalah dalil khusus yaitu hadits Ibnu Abbas yang telah disebut di atas." Waktu Penunaian zakat Zakat fitri ditunaikan sebelum orang-orang keluar (rumah) menuju shalat ied dan tidak boleh diakhirkan (setelah) shalat atau dimajukan penunaiannya kecuali satu hari atau dua hari (sebelum 'Ied).

tetapi berbuka lebih utama dan lebih dicintai Allah. seperti sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (yang artinya): Sesungguhnya Allah menyukai didatanginya (diamalkan) rukhsah (keringanan) yang Dia berikan... Dalam hadits -dengan dua lafadz ini. jika memberatkan hamba bukanlah suatu kebajikan sedikitpun. Yang mejelaskan masalah ini adalah riwayat dari beberapa orang sahabat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku pernah melakukan safar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di bulan Ramadhan. dan barangsiapa yang merasa lemah kemudian berbuka (maka) itu baik (baginya)" [Hadits Riwayat Tirmidzi 713. sebagaimana Allah menyukai diamalkannya perkara-perkara yang diwajibkan" [Hadits Riwayat Ibnu Hibban 364. AtThabrani dalam Al-Kabir 11881 dari Ibnu Abbas dengan sanad yang Shahih. "Para sahabat berpendapat barangsiapa yang merasa kuat kemudian puasa (maka) itu baik (baginya). Dalam riwayat lain disebutkan (yang artinya): . orang yang berpuasa tidak mencela yang berbuka dan orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa" [Hadits Riwayat Bukhari 4/163 dan Muslim 1118]. Hadits-hadits ini menunjukkan bolehnya memilih. sanadnya Shahih walaupun dalam sanadnya ada AlJurairi. Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berfirman (yang artinya): Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu. Hal ini telah dijelaskan dengan gamblang dalam satu riwayat Abu Said Al-Khudri radhiyallahu 'anhu. sebagaimana Dia membenci orang yang melakukan maksiat" [Hadits Riwayat Ahmad 2/108.] Ketahuilah saudaraku seiman -mudah-mudahan Allah membimbingmu ke jalan petunjuk dan ketaqwaan serta memberikan rizki berupa pemahaman agama.ada pembicaraan yang panjang.sesungguhnya puasa dalam safar.. Ibnu Hibban 2742 dari Ibnu Umar dengan sanad yang shahih]. Hamzah bin Amr Al-Aslami bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Apakah boleh aku berpuasa dalam safar ?" -dia banyak melakukan safar. Allah mengendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu" [Al-Baqarah:185].1. Al-Baghawi 1763 dari Abu Said.maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Berpuasalah jika kamu mau dan berbukalah jika kamu mau" [Hadits Riwayat Bukhari 4/156 dan Muslim 1121]. Tetapi mungkin hal ini dibatasi bagi orang yang tidak merasa berat dalam meng-qadha' dan menunaikannya. agar rukhshah tersebut tidak melenceng dari maksudnya. kita tidak lupa bahwa rahmat ini disebutkan di tengah-tengah kitab-Nya yang Mulia. namun mungkin kita (bisa) menyatakan bahwa yang afdhal adalah berbuka berdasarkan hadits-hadits yang umum. . Al-Bazzar 990. Musafir Banyak hadits shahih membolehkan musafir untuk tidak puasa. riwayat Abul A'la darinya termasuk riwayat yang paling shahih sebagaimana dikatakan oleh Al-Ijili dan lainnya. namun bukan di sini tempat menjelaskannya]. tidak menentukan mana yang afdhal. pada hari yang lain.

dan tidak menghendaki kesukaran bagimu" [Al-Baqarah : 185] Yakni. keduanya harus berbuka dan mengqadha. Peringatan: Sebagian orang ada yang menyangka bahwa pada zaman kita sekarang ini tidak diperbolehkan berbuka. yang tidak mampu puasa harus memberi makan setiap harinya seorang miskin" [Hadits Riwayat . (dan mereka berdo'a): "Ampunilah kami yang Tuhan kami dan kepada Engkau-lah tempat kembali" [Al-Baqarah : 285] 2. Dan juga firman-Nya: "Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui" [Al-Baqarah : 232] Dan firman-Nya di tengah ayat tentang rukhshah berbuka dalam safar (yang artinya): Allah menghendaki kemudahan bagimu. tidak ada pilihan lain bagi manusia. Insya Allah 4. kalaupun keduanya puasa (maka puasanya) tidak sah. ini termasuk salah satu tujuan syari'at. Sakit Allah membolehkan orang yang sakit untuk berbuka sebagai rahmat dari-Nya. Sakit yang membolehkan berbuka adalah sakit yang apabila dibawa berpuasa akan menyebabkan suatu madharat atau menjadi semakin parah penyakitnya atau dikhawatirkan terlambat kesembuhannya.bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda (yang artinya) : Bukanlah suatu kebajikan melakukan puasa dalam safar" [Hadits Riwayat Bukhari 4/161 dan Muslim 1110 dari Jabir]. Kakek dan nenek yang sudah lanjut usia Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Kakek dan nenek yang lanjut usia. kemudahan bagi orang yang safar adalah perkara yang diinginkan. atau berpendapat bahwa puasa itu lebih baik karena mudah dan banyaknya sarana transportasi saat ini. tempat dan manusia. Allah berfirman (yang artinya): Apakah Allah Yang Menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan) . sehingga (berakibat ada yang) mencela orang yang mengambil rukhsah tersebut. Akan datang penjelasannya. Wallahu a'alam. bahkan Allah memuji hamba-hamba-Nya yang mukmin yang tidak mendahulukan perkataan manusia di atas perkataan Allah dan Rasul-Nya (yang artinya): Kami dengar dan kami taat. Dia lebih mengetahui kebutuhan manusia dan apa yang bermanfaat bagi mereka. Aku bawakan masalah ini agar seorang muslim tahu jika Allah dan Rasul-Nya sudah menetapkan suatu perkara. Orang-orang seperti ini perlu kita usik ingatan mereka kepada firman Allah Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan nyata (yang artinya): Dan tidaklah Tuhanmu lupa" [Maryam : 64]. cukup bagimu bahwa Dzat yang mensyari'atkan agama ini adalah pencipta zaman. dan kemudahan bagi orang yang sakit tersebut. dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?" [Al-Mulk : 14]. 3. Haid dan nifas Ahlul ilmi telah bersepakat bahwa orang yang haid dan nifas tidak dihalalkan berpuasa.

Sanadnya hasan (baik) sebagaimana pernyataan Tirmidzi] *) Dia adalah Al-Ka'bi. beliau membaca ayat (yang artinya): Orang-orang yang tidak mampu puasa harus mengeluarkan fidyah makan bagi orang miskin" [Al-Baqarah : 184]. aku temukan beliau sedang makan pagi. sanadnya shahih] 5. Nailul Authar 4/315. ia berkata: "Aku mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengucapkan keduanya atau salah satunya. 129 tentang adanya ijma' (kesepakatan) dalam masalah ini]. Dari Anas bin Malik *). kenapa aku tidak (mau) makan makanan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. kemudian beliau membuat satu wadah Tsarid dan mengundang 30 orang miskin (untuk makan) hingga mereka kenyang. dan diantara mereka adalah wanita hamil dan menyusui. Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala menggugurkan 1/2 shalat atas orang musafir. Kemudian beliau berkata: "Yakni lelaki tua yang tidak mampu puasa dan kemudian berbuka. tapi ia adalah seorang pria dari bani Abdullah bin Ka'ab. Diriwayatkan oleh Daruquthni (2/207) dan dishahihkannya. Fathul Bari 8/180. Dari Anas bin Malik (bahwa) beliau lemah (tidak mampu untuk puasa) pada satu tahun. Dari Abu Hurairah tadhiyallahu 'anhu: "Barangsiapa yang mencapai usia lanjut dan tidak mampu puasa Ramadhan. Aduhai sesalnya jiwaku. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet." [Hadits Riwayat Tirmidzi 715. menggugurkan atas orang hamil dan menyusui kewajiban puasa". bukan Anas bin Malik Al-Anshari pembantu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. Wanita hamil dan menyusui Di antara rahmat Allah yang agung kepada hamba-hamba-Nya yang lemah adalah Allah memberi rukhsah (keringanan) pada mereka untuk berbuka. harus mengeluarkan setiap harinya satu mud gandum" [Hadits Riwayat Daruquthni 2/208 dalam sanadnya ada Abdullah bin Shalih dia dhaif. Nasa'i 4/180. Demi Allah. Edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR).Bukhari 4505. harus memberi makan seorang miskin setiap harinya 1/2 gantang gandum". [Hadits Riwayat Daruquthni 2/207. aku akan ceritakan kepadamu tentang masalah puasa. Lihat Syarhus Sunnah 6/316. Qadha' (Membayar Hutang Puasa) Sesegera Mungkin 1. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. Abu Daud 3408. dari jalan Manshur dari Mujahid dari Ibnu Abbas. Irwaul Ghalil4/22-25. Ibnu Majah 16687. Qadha' tidak wajib segera dilakukan . Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. pernah tinggal di Bashrah. Judul Asli : Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. tapi punya syahid(penguat)]. beliau bersabda. Ke 5 th 1416 H. yakni hadits di atas. Ibnul Mundzir menukil dalam Al-Ijma' no. "Mendekatlah. beliau hanya meriwayatkan satu hadits saja dari Nabi.

Ketahuilah wahai sauadaraku se-Islam -mudah-mudahan Allah memberikan pemahaman agama kepada kita. Muslim 1146. karena masuk dalam keumuman dalil yang menunjukkan untuk bersegera dalam berbuat baik dan tidak menunda-nunda. pada hari-hari yang lain".422 setelah membawakan hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Muslim bahwasanya beliau (yakni Aisyah) tidak mampu dan tidak dapat mengqadha' pada bulan sebelum Sya'ban. Lihat Ta liqut Ta liq (3/186). Abu Hurairah berkata: "Diselang-selingi kalau mau" [Lihat Irwaul Ghalil 4/95] Adapun yang diriwayatkan Al-Baihaqi 4/259. Kesimpulannya. Sudah diketahui dengan jelas bahwa bersegera dalam mengqadha' lebih baik daripada mengakhirkannya. Daruquthni. hendaknya diqadha' secara berturut-turut tidak boleh memisahnya" Ini adalah riwayat yang dhaif (lemah). Ibnu Hajar menukilkan dalam Talkhisul Habir 2/206 dari Abi Hatim bahwa beliau mengingkari hadits ini karena Abdurrahman. Daruquthni 2/191-192 dari jalan Abdurrahman bin Ibrahim dari Al'Ala bin Abdurrahman dari bapaknya dan Abu Hurairah secara marfu': "Barangsiapa yang punya hutang puasa Ramadhan. kewajibannya dengan jangka waktu yang luas berdasarkan satu riwayat dari Sayyidah Aisyahradhiyallahu 'anha (yang artinya): Aku punya hutang puasa Ramadhan dan tiak bisa mengqadha'nya kecuali di bulan Sya'ban" [Hadits Riwayat Bukhari 4/166. Berdasarkan firman Allah pada surah Al-Baqarah ayat 185 (yang artinya): Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu.bahwasanya mengqdha' puasa Ramadhan tidak wajib dilakukan segera. dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya" [Al-Mu'minuun : 61] 2. baik karena udzur ataupun tidak". Al-Baihaqi berkata: "dia (Abdurrahman bin Ibrahim) didhaifkan oleh Ma'in. Daruquthni bekata: "Abdurrahman bin Ibrahim dhaif". Tidak wajib berturut-turut dalam mengqadha' karena ingin menyamakan dengan sifat penunaiannya. hal ini didasarkan ayat dalam Al-Qur'an (yang artinya): Bersegeralah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Rabb kalian" [Ali Imran : 133] Firman Allah (yang artinya): Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan. dimaushulkan oleh Abdur Razak. Dikatakan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Tamamul Minnah hal. tidak ada satupun hadits yang marfu' dan shahih -menurut pengetahuan kami- . dan hal ini menunjukkan bahwa beliau kalaulah mampu niscaya dia tidak akan mengahhirkan qadha' (sampai pada ucapan Syaikh) maka menjadi tersirat darinya bahwa ketidakmampuan Aisyah adalah merupakan udzur (alasan)] Berkata Al-Hafidz di dalam Al-Fath 4/191: "Dalam hadits ini sebagai dalil atas bolehnya mengakhirkan qadha' Ramadhan secara mutlak. Dan Ibnu Abbas berkata (yang artinya): Tidak mengapa dipisah-pisah (tidak berturut-turut)". [Dibawakan oleh Bukhari secara mu'allaq. Nasa'i dan Daruquthni". Ibnu Abi Syaibah dengan sanad Shahih.

Abu Dawud berkata. Abu Dawud berkata dalam Al-Masail-nya hal. demikian pendapat sebagian Syafi'iyah (pengikut madzhab Imam Syafi'i) dan madzhabnya Ibnu Hazm (7/2. "Memberi makan". 96 dia berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata: "Tidak berpuasa atas mayit kecuali puasa nadzar". sesungguhnya ibuku wafat dan dia punya hutang puasa setahun.yang menjelaskan keharusan memisahkan atau secara berturut-turut dalam mengqadha'. Ulama telah sepakat bahwa barangsiapa yang wafat dan punya hutang shalat. Wallahu 'alam. harus dipuasakan oleh walinya berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:"Barangsiapa yang wafat dan mempunyai hutang puasa nadzar hendaknya diganti oleh walinya" [Bukhari 4/168. Beliau menjawab. kalau mau boleh juga berturut-turut". hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar" [Bukhari 4/168. Inilah yang menenangkan jiwa. seorang wali tidak puasa untuk mayit kecuali dalam puasa nadzar. Oleh karena itu dibolehkannya memisahkan tidak menafikan dibolehkannya secara berturut-turut. dengan dalil riwayat 'Ammarah bahwasanya ibunya wafat dan punya hutang puasa Ramadhan kemudian dia berkata kepada Aisyah: "Apakah aku harus . tetapi dia berpendapat untuk memberi makan (fidyah) sebagai pengganti orang yang tidak puasa Ramadhan. melapangkan dan mendinginkan hati. "Puasa Ramadhan?". Aisyah tidak memahami hadits-hadits tersebut secara mutlak yang mencakup puasa Ramadhan dan lainnya. tidak boleh dipuasakan oleh anaknya selama dia hidup. 3. tapi dia harus mengeluarkan makanan setiap harinya untuk seorang miskin. apakah aku harus membayarnya?" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Ya. demikian pendapat Imam Ahmad seperti yang terdapat dalam Masa'il Imam Ahmad riwayat Abu Dawud hal. Muslim 1147] Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma. ia berkata: "Datang seseorang kepada RasulullahShallallahu 'alaihi wa sallam kemudian berkata: "Ya Rasulullah. Demikian pendapat Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbalrahimahullah. maka walinya apalagi orang lain tidak bisa mengqadha'nya. sebagaimana yang dilakukan Anas dalam satu atsar yang kami bawakan tadi. Tetapi hadits-hadits umum ini dikhususkan. dikuatkan pula oleh pemahaman dalil karena memakai seluruh hadits yang ada tanpa menolak satu haditspun dengan pemahaman yang selamat khususnya hadits yang pertama. Muslim 1148] Hadits-hadits umum ini menegaskan disyariatkannya seorang wali untuk puasa (mempuasakan) mayit dengan seluruh macam puasa.8). Namun barangsiapa yang wafat dalam keadaan mempunyai hutang nadzar puasa. Begitu pula orang yang tidak mampu puasa. 95: "Aku mendengar Imam Ahmad ditanya tentang qadha' Ramadhan" Beliau menjawab: "Kalau mau boleh dipisah. padahal beliau adalah perawi hadits tersebut. namun yang lebih mendekati kebenaran dan mudah (dan tidak memberatkan kaum muslimin) adalah dibolehkan kedua-duanya.

Al-Hasan berkata: "Kalau yang mempuasakannya tiga puluh orang. lebih khusus lagi beliau adalah perawi hadits yang menegaskan bahwa wali berpuasa untuk mayit puasa nadzar. setiap harinya setengah gantang untuk setiap muslim". Diriwayatkan Thahawi dalam Musykilat Atsar 3/142. dishahihkan sanadnya oleh Syaikhuna Al-Albany dalam Mukhtashar Shahih Bukhari 1/58]. Diperbolehkan juga memberi makan kalau walinya mengumpulkan orang miskin sesuai dengan hutangnya. kalau tidak mampu maka puasa dua bulan berturut-turut. Perincian seperti ini sesuai dengan kaidah ushul syari'at sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam I'lamul Muwaqi'in dan ditambahkan lagi penjelasannya dalam Tahdzibu Sunan Abi Dawud 3/279-282. Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 7/4. Sudah disepakati bahwa rawi hadits lebih tahu makna riwayat hadits yang ia riwayatkan. tetapi bersedekahlah untuknya. Barangsiapa yang wafat dan punya hutang puasa nadzar dibolehkan diqadha' oleh beberapa orang sesuai dengan jumlah hutangnya. Kafarat bagi laki-laki yang menjima' isterinya Telah lewat hadits Abu Hurairah. beliau menshahihkan sanadnya] Sudah maklum bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma adalah periwayatan hadits kedua." [Diriwayatkan Abu Dawud dengan sanad shahih dan Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 7/7. maka riwayatnya lebih rajih karena perawinya lebih banyak jumlahnya dan padanya terdapat tambahan ilmu. beliau berkata: "Jika salah seorang dari kalian sakit di bulan Ramadhan kemudian wafat sebelum sempat puasa. kemudian mengenyangkan mereka. kalau punya hutang nadzar diqadha' oleh walinya. Yang berpendapat seperti ini pula adalah Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu. Ada yang mengatakan: kafarat jima' itu boleh dipilih secara tidak tertib (yaitu tidak urut seperti yang dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah di atas). Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta lainnya. bahwa dia harus mengqadha' puasanya dan membayar kafarat yaitu: membebaskan seorang budak. tetapi yang meriwayatkan dengan tertib (sesuai urutannya) perawinya lebih banyak. dibayarkan fidyah dan tidak perlu qadha'. tentang laki-laki yang menjima' (menyetubuhi) isterinya di siang hari bulan Ramadhan. dengan sanad sahih. demikian perbuatan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. kalau tidak mampu maka memberi makan enam puluh orang miskin. (Wajib) atasmu untuk membacanya karena sangat penting. dimaushulkan oleh Daruquthni dalamKitabul Mudabbij. [Bukhari 4/112 secara mu'allaq. Sa'ad bin Ubadah minta fatwa kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Ibuku wafat dan beliau punya hutang puasa nadzar?" Beliau bersabda: "Qadha'lah untuknya". seorangnya berpuasa satu hari (ini) diperbolehkan". ini lafadz dalam Al-Muhalla. Kafarat (Denda) dalam Puasa Ramadhan 1. mereka sepakat menyatakan tentang batalnya puasa karena jima'. .mengqadha' puasanya?" Aisyah menjawab: "Tidak.

Kafarat hanya bagi laki-laki Seorang wanita tidak terkena kewajiban membayar kafarat. baik bagi yang menyatakan boleh memilih atau tidak. karena ketika dikhabarkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam perbuatan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan. karena itu berpegang dengan tertib sudah cukup. 3. namun tidak mampu mebebaskan seorang budak ataupun puasa (dua bulan berturut-turut) dan juga tidak mampu memberi makan (enam puluh orang miskin). beliau hanya mewajibkan satu kafarat saja. . dan orang yang berilmu menjadi hujjah atas yang tidak berilmu. ketika mengabarkan kesulitannya dan memberinya satu wadah korma untuk memberikan keluarganya. Wallahu 'alam. Gugurnya kafarat Barang siapa yang telah wajib membayar kafarat. yang menganggap lebih rajih yang tertib disebabkan karena tertib itu lebih hati-hati. karena tidak ada beban syari'at kecuali kalau ada kemampuan. 2. Allah berfirman (yang artinya): Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kemampuan" [AlBaqarah : 286] Dan dengan dalil Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menggugurkan kafarat dari orang tersebut. maka gugurlah kewajibannya membayar kafarat.Tidak pernah terjadi hal seperti ini dalam riwayat-riwayat lain. berbeda dengan sebaliknya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->