P. 1
Validitas Penelitian

Validitas Penelitian

|Views: 5,349|Likes:
Published by Ristinikov

More info:

Published by: Ristinikov on Sep 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/30/2013

pdf

text

original

“VALIDITAS PENELITIAN”

Kelompok : Arif Hariadi Annisya Noer.W Suci Ramadani Benny Hasmoro Ika Akyuni Andry Ristiawan Antoni Wijaya 084674004 084674012 084674026 084674027 084674044 084674049 074674212

S-1 ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA 2010

Validitas Penelitian
Pengertian Validitas terkait dengan keabsahan data dalam penelitian kuantitatif adalah merujuk pada Validitas instrumen/ skala. Validitas merujuk pada tingkat keaslian satu butir dalm satu skala. Valid bermakna kemempuan butir dalam mendukung konstruk dalam instrumen. Tingkat Validitas dibagi menjadi dua,yaitu validitas internel dan validitas eksternal. Suatu instrumen dapat dikatakan valid (Syah) apabila instrumen tersebut betul-betul mengukur apa yang seharusnya diukur. Meteran valid untuk mengukur panjang dan tidak valid utuk mengukur berat, atau isi suatu benda. Suatu instrumen hendaknya menanyakan soal-soal yang cukup penting, artinya relevan dengan apa yang diukur. Pengertian valid dapat dilihat dari dua segi yaitu:
1. Bila dalam menyusun suatu instrumen, penyusun berusaha memilih soal-soal

secara logis di perkirakan dapat mengukur apa yang mau diukur, baik menurut pertimbangan sendiri maupun setelah bertukar pikiran(berkunsultasi) dengan orang lain atau bahkan ahli-ahli bidang pengetahuan yang bersangkutan, maka penelitian tersbut dinyatakan telah memiliki content validity. Artinya isinya diperkirakan sama dengan apa-apa yang seharusnya diukur. Istilh lain yang berhubungan adalah face vasdility yitu kelihatan dari luar sudah valid. 2. Bila instrumen yang telah dipergunakan, maka validitasnya dapat diukur dengan memperbandingkan hasil-hasil pengukuranya dengan hasil pengukuran lainya. Cara ini menghasilkan Emperical Validity, yang artinya secara empiris dibandingkan dengan hasil pengukuran lain yang telah diketahui atau dianggap valid, atau statistical validity (karena dalam proses) pembandingan ini biasanya diperlukan perhitungan-perhitungan statistik). Suatu instrumen dinyatakan valid apabila instrumen itu “tepat” tatapi istilah tepat belum dapat mencakup semua arti yang tersirat dalam kata “valid”, dan kata tepat kadang-kadang dipergunakan dalam konteks yang lain. Akan tetapi tambahan kata tepat dalam menerangkan valid dapat diperjelas apa yang dimaksud. Contoh untuk mengukur besarnya partisipasi mahasiswa dalam proses belajar mengajar bukan diukur dari nialai yang diperoleh pada waktu ulangan, tetapi dilihat melalui kehadiran, terpusatnya perhatian pada pelajaran, menjawa pertanyaan yang telah diberikan, dll.

Istilah valid memberikan pengertian bahwa alat ukkur yang digunakan mampu memberikan nilai yang sesungguhnya dari apa yang diinginkan. Dalam konsep valid ini secara sederhana mencakup pengertian bahwa skala atau instrumen yang digunakan dapat mengukur atau mengungkap apa yang seharusnya diukur atau diungkap. Dengan begitu jika peneliti ingin mengukur atau mengetaui tentang bagaimana kecerdasan spiritual (misalnya), maka skala atau instrumen tersebut memang memuat pertanyaan atau pernyataan hal-hal yang menyangkut kecerdasan penelitian. Dari pemahaman diatas konsep valid sebuah penelitian/ skala/ yang pada akhirnya akan juga menentukan valid tidaknya data yang diperoleh peneliti, akan merujuk apda ketepatan alat ukur/ skala/ instrumen yang digunakan oleh peneliti. Dalam bidang psikologi konsep validitas setidaknya memiliki tiga konteks yaitu
1. Validitas penelitian (research validity) 2. Validitas soal (item validity) 3. Validitas alat ukur(tes validity)

Dalam pelaksanaan penelitian ketiga konteks tersebut harus terpenuhi, agar penelitian yang dilakukan dapat memberikan data yang senyatanya, sebagaimana diharapkan, sehingga proses pengambilan kesimpulanya juga memiliki nilai jaminan tinggi.

Validitas Penelitian Konsep validitas penelitian ini bermakna adanya kesesuaian hasil-hasil simpulan sebuah penelitian dengan kondisi senyatanya dilapangan. Dalam konsep ini terkandung makna tingkat kesesuaian hasil penelitian yang dilakukan. Dengan begitu satu hasil penelitian dinyatakan valid jika hasil tersebut memiliki tingkat kesesuaian yang tinggi dengan kondisi riil masyarakat. Terkait dengan konsep validitas penelitian ini, suryabrata (1998) menyatakan bahwa validitas penelitian mengandung dua sisi, yaitu (1) validitas internal dan (2) validitas eksternal. Konsep validitas internal menyangkut tentang kesesuaian antara hasil penelitian dengan kondisi sebenarnya, sedangkan validitas eksternal menyangkut kesesuaian antara generalisasi hasil penelitian dengan keadaan yang sebenarnya.

Adapun untuk mengungkap validitas internal ini dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen yang disusun berdasarkan pada tahapan penulisan instrumen yang baik, dan untuk mendapatkan hasil validitas eksternal dilakukan dengan memilih sampel yang tepat dari populasi yang diteliti. Validitas Item (Butir Soal) Hendaklah dipahami bahwa butir soal merupakan bagian dari sebuah instrumen, sehingga dalam memaknai validitas butir soal (item) ini tidak terlalu menyamakannya dengan validitas seluruh butir soal atau validitas instrumen. Validitas item merujuk pada tingkat kesesuaian item (butir soal) dengan perangkat soal-soal lainnya, secara sederhana dapat pula dinyatakan bahwa yang dimaksud validitas item adalah tingkat korelasi antara skor butir soal (item) dengan Skor total (seluruh). Dari pemaknaan inilah maka untuk mengetahui tingkat validitas item dilakukan dengan cara mencari korelasi skor item dengan skor totalnya yang biasanya menggunakan formula statistik korelasi biserial. Validitas item mengungkapkan tentang kemampuan satu butir soal untuk membedakan teste kelompok atas dengan testee kelompok bawah. Jadi sebenarnya validitas item lebih merujuk pada konsep yang dinamakan item discriminating power. Untuk itu hendaklah para peneliti tidak serta merta menyatakan bahwa jika telah memperoleh validitas item, lalu menyatakan bahwa instrumenya telah memenuhi syarat validitas, selain itu, analisis item juga merujuk pada tingkat kesukaran sebuah item.

Validitas Tes Konsep validitas tes merujuk pada makna kemampuan sebuah alat ukur (instrumen/ skala/ tes) untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Bedakan konsep ini dengan konsep validitas butir soal (item), yang sebenarnya tidak bermakna validnya instrumen secara keseluruhan, namin hanya bagian dari nstrumen itu, yaitu salah satu butir soal, sedangkan konsep validitas tes adalah kemampuan intrument secara keseluruhan, untuk mengetahui kemampuan alat ukur ini dapat dilihat dari tiga sisi yaitu:
1. Dari isi yang ingin diukur (content validity)

2. Dari konstruk teoritis (Atribut) yang ingin diukur (criterion validity) 3. Denga membandibgakan berdasarkan kriteria (Creterion Related Validity)

Validitas isi (content validity) menunjukn sejauh mana isi sebuah tes/ skala/ instrumen dapat diukur apa yang seharusnya diukur. Secara sederhana jika skala tersebut ingin ,mengukur tentang motivasi, maka seharusnya skala atau tes tersebut secara representatif berisi pernyataan atau pertanyaan tentang motivasi. Biasanya validitas isi ditentukan melalui metode professional judgment , yaitu pendapat ahli tentang isi materi tes atau skala tersebut. Tentu saja dalam memutuskan valid tidaknya sebuah alat ukur ahli tersebut harus secara cermat melihat apakah keseluruhan materi yang seharusnya ada dalam sebuah alat ukur memang telah secara representatif terwakili oleh pertanyaan atau pernyataan yang ada.

Uji Validitas Validitas menunjukkan sejauh mana skor/ nilai/ ukuran yang diperoleh benar-benar menyatakan hasil pengukuran/ pengamatan yang ingin diukur (Agung, 1990). Validitas pada umumnya dipermasalahkan berkaitan dengan hasil pengukuran psikologis atau non fisik. Berkaitan dengan karakteristik psikologis, hasil pengukuran yang diperoleh sebenarnya diharapkan dapat menggambarkan atau memberikan skor/ nilai suatu karakteristik lain yang menjadi perhatian utama. Macam validitas umumnya digolongkan dalam tiga kategori besar, yaitu validitas isi (content validity), validitas berdasarkan kriteria (criterion-related validity) dan validitas konstruk. Pada penelitian ini akan dibahas hal menyangkut validitas untuk menguji apakah pertanyaanpertanyaan itu telah mengukur aspek yang sama. Untuk itu dipergunakanlah validitas konstruk. Uji validitas dilakukan dengan mengukur korelasi antara variabel/ item dengan skor total variabel. Cara mengukur validitas konstruk yaitu dengan mencari korelasi antara masing-masing pertanyaan dengan skor total menggunakan rumus teknik korelasi product moment, sebagai berikut :

dimana r : koefisien korelasi product moment X : skor tiap pertanyaan/ item Y : skor total N : jumlah responden Setelah semua korelasi untuk setiap pertanyaan dengan skor total diperoleh, nilai-nilai tersebut dibandingkan dengan nilai kritik. Selanjutnya, jika nilai koefisien korelasi product moment dari suatu pertanyaan tersebut berada diatas nilai tabel kritik, maka pertanyaan tersebut signifikan.

PERMASALAHAN VALIDITAS Dalam penelitian kuanitatif dikenal adanya validitas internal yang menunjuk pada seberapa besar variansi pada suatu variabel terikat dapat digunakan untuk mengontrol variansi pada variabel bebas. Cara menguji ada tidaknya validitas internal adalah dengan cara menilai seberapa banyak hasil penelitian menunjukan adanya hubungan dengan realitas kehidupan (Lincoln dan Guba, 1985 : 290). Dari sudut pandang peneliti kualitatif, realitas kehidupan harus dipandang sebagai suatu perangkat kostruksi mental yang bersifat majemuk. Manusia sebagai pembuat konstruksi tersebut memiliki pikiran yang dapat nmengarahkan agar konstruksi mental tersebut diterima atau ditolak oleh orang lain meski harus melalui persuasi atau bahkan hipnotis. Oleh karena itu, mengukur validitas berdasarkan ada tidaknya hubungan dengan realitas kehidupan bukan merupakan suatu keharusan tetapi sekedar pilihan (Lincoln dan Guba, 1985 : 295).

Dalam penelitian kualitatif, untuk menunjukan validitas atau nilai kebenaran (truth value) harus dibuktikan dengan ada atau tidaknya konstruksi mental yang bersifat majemuk secara tepat. Artinya, bahwa penemuan dan interpretasinya memiliki kredibilitas yang menurut istilah konvensional disebut validitas internal. Kredibilitas dalam penelitian kualitatif dicapai dengan cara : (1) mengusahakan agar penelitian dilakukan sedemikian rupa sehingga penemuan dan penafsirannya sesuai dengan hal yang sebenarnya; (2) mendemonstrasikan kredibilitas penemuan dengan jalan mengusahakan agar penemuan penelitian disetujui oleh penyusun realitas yang bersifat majemuk tersebut (subjek yang diteliti). Cara yang terakhir biasa disebut dengan istilah “triangulasi” dengan jalan meminta subjek yang diteliti untuk mengecek kebenaran interpretasi peneliti dengan meminta mereka membaca (atau dibacakan peneliti) draft laporan penelitianan. Meskipun bias yang disebabkan oleh instrumentasi mungkin sekali terjadi dalam penelitian kualitatif, interaksi secara kontinyu dan dalam jangka waktu yang lama memungkinkan peneliti kualitatif mengatasi bias penelitiannya. Penelitian kualitatif didisain sehingga ada kecocokan antara data dengan apa yang benar-benar dikatakan dan dilakukan oleh subjek penelitian. Dengan mengamati subjek dalam kehidupannya sehari-hari, mendengar apa yang dipikirkannya, peneliti kualitatif memperoleh pengetahuan tentang kehidupan sosial dari tangan pertama (Bogdan dan Taylor, 1984 : 7). Mengenai hal keterterapan (applicability) hasil penelitian, peneliti kualitatif mempertimbangkan konteks. Hasil penelitian dapat diransfer ke fenomena yang lain apabila fenomena lain tersebut memiliki tingkat kesamaan konteks yang relatif tinggi. Dengan kata lain applikabilitas hasil penelitian kualitatif bersifat kontekstual. Hal ini berbeda dengan istilah generalisasi dalam penelitian kuantitatif. Peneliti kuantitatif menyarankan penerapan hasil penelitian pada populasi dalam konteks yang mungkin sekali berbeda. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa yang dapat menentukan suatu temuan penelitian kualitatif dapat ditransfer ke konteks tertentu atau tidak adalah pihak yang akan menerapkan temuan penelitian tersebut. Pihak yang akan menerapkan temuan penelitian harus mengumpulkan bukti empiris tentang persamaan kontekstual. Tanggung jawab peneliti terbatas pada memberikan deskripsi yang lengkap dengan

disertai bukti-bukti yang meyakinkan sehingga memungkinka pihak yang bermaksud menerapkan temuan penelitian membuat keputusan mengenai ada atau tidaknya persamaan konteks penelitian dengan konteks fenomena yang akan diterapi temuan tersebut. Metode multitrait-mutimetod dapat juga digunakan untuk menentukan valid tidaknya satu instrumen tertentu yang ttelah dibuat peneliti. Penerapan model ini dilakukan dengan cara membuat beberapa alat ukur metode untuk mengukur satu konsep atau atributyang sama. Kemudian dari hasil masing-masing tersebut dicari interkorelasi antar alat ukur metode. Selanjutnya validitas instrumen/ skala dapat dilihat dengan cara

membandingkan berdasarkan kriteria (criterion related validity). Untuk kebutuhan penggunaan metode ini memang telah terlebih dahulu ada sebuah alat ukur/ instrumen pembanding yang dijadikan sebagai kriteria. Alat ukur instrumen pembanding ini biasanya adalah alat ukur/ instrumen yang telah dianggap sebagai alat ukur/ instrumen yang baik, yang memiliki tingkat validitas dan reabilitas tinggi serta diakui para ahli pengukuran. Sebagai misal jika seorang peneliti hendak membuat alat ukur untuk mengukur tingkat kecerdasan seorang individu, maka dia dapat saja mengambil kriteria dari alat ukur kecerdasan yang dibuat oleh wechsler, atau stanford-binet yang terkenal tersebut. Dengan begitu alat ukur yang djadikan kriteria memang alat ukur yang betulbetul telah mengalami proses validasi yang ketat, serta sudah dikenal sebelumnya. Harus diketahui, bahwa tidak semua alat ukur yang ada dapat dijadikan sebagai kriteria atau pembanding. Terkadang sulit untuk menemukan alat ukur sebagaimana yang dibutuhkan yang tekah memiliki tingkat validitas dan reabilitas yang baik. Beberapa alat ukur yang baik, biasanya berasal dari negara-negara arab, hanya saja hendaknya dipahami adanya perbedaan buaya asal alat ukur tersebut terkadang dapat saja berdampak pada ahasil yang dicapai. Hal ini dapat karena berasal dari kesalahan dalam proses penerjemahan atau juga perbedaaan buadaya yang sangat kuat antara testee yang akan dijadikan sbujek penelitian dengan testee saat alat ukur yang dijadikan kriteria tersebutdigunakan. Terkait dengan validitas berdasr kriteria ini biadsanya dibedakan menjadi dua macam, yang dilihat kapan kriteria tersebut dimanfaatkan. Jika kriteria tersebut dimanfaatkan saat sekarang atau pada saat yang sama disebut dengan (cuncurrent

validity). Namun jika pemanfaatannya masih menunggu beberapa waktu, maka disebut dengan validitas prediktif (predictive)validity contoh untuk cuncurrent validity adalah menggunakan tes kecerdasan stanford-binet sebagai kriteria untuk alat ukur kecerdasan yang hendak digunakan. Sementara yang dimaksudkan dengan predictive validity misalnya jika memakai indeks prestasi komulatif (IPK) sebagai tolok ukur keberhasilan belajar. Lazimnya IPK baru akan didapat setelah minimal seorang mahasiswa mengikuti proses belajar diperguruan tinggi. Adapun untuk mengetahui tingkat validitas berdasar kriteria ini, digunakan angka determinan yang merupakan kuadrat dari harga korelasi antara dua perangkat alat ukur (yang dibuat peneliti dengan yang dijadikan standart atau kriteria) harap dipahami bahwa validitas bukanlah dengan cara membandingkan harga korelasi ayng diperoleh dengan harga kritik tabel, sebagaimana dalan mengintepretasikan harga korelasi pada umunya. Namun, hendaknya harga tersebut dikuadratkan yang kemudian disebut sebaigai data determinan. Harga inilah yang menunjukkan tingkat validitas alat ukur yang digunakan. Dengan begitu, jika dari hasil perhitungan diperoleh harga korelasi sebesar 0,75 maka sebanarnya harga validitasnya adalah 0,5625 yang merupakan koefisien determinan (kuadrat dari harga korelasi). Semakn tinggi harga ini menunjukkan semakin baik tingkat validitasnya.

DAFTAR PUSTAKA Idrus, Muhammad, Metode Penelitian Ilmu-ilmu Sosial (Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif); Yogyakarta: UII Press, 2007

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->