ACARA I PEMBUATAN LARUTAN STOCK, PEMBUATAN MEDIA TANAM, DAN STERILISASINYA

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Bioteknologi di bidang pertanian telah berkembang pesat, salah satu contohnya adalah kultur jaringan. Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkembangkan bagian tanaman, baik berupa sel jaringan atau organ tanaman dalam kondisi aseptis secara in vitro. Ciri teknik ini adalah kondisi kultur yang aseptis, penggunaan media kultur buatan dengan kandungan nutrisi lengkap, dan kondisi lingkungan kultur yang sesuai. Lingkungan yang sesuai dapat dipenuhi dengan menentukan media tumbuh yang sesuai dan penempatan pada kondisi yang terkendali berkaitan dengan intensitas dan periodisitas, cahaya, temperatur, dan kelembaban serta keharusan sterilisasi. Sterilisasi alat merupakan hal mutlak yang harus dilakukan dalam kultur jaringan. Ha ini untuk menciptakan kondisi aseptis perlu dilakukan proses pensterilan atau sterilisasi untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Sterilisasi alat (petridish, pinset, gunting, dll) biasanya dilakukan dengan pemanasan secara langsung diatas api atau dibakar atau dengan pemasan menggunakan autoklaf selama 30 menit pada suhu 115ºC 135ºC. Media kultur jaringan merupakan faktor penting penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. Media kultur fisiknya dapat berbentuk padat atau cair. Media berbentuk padat menggunakan pemadat media seperti agar. Media kultur yang memenuhi syarat

1

adalah yang mengandung nutrient makro dan mikro dalam kadar dan perbandingan tertentu, sumber energi (sukrosa), serta mengandung berbagai macam vitamin dan ZPT. Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi sehingga larutan stock ini berfungsi sebagai salah satu cara untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil, oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan stock. Untuk itulah tahapan pembuatan larutan stock merupakan tahapan yang sangat penting dalam metode kultur jaringan agar tidak terjadi kesalahan dalam penimbangan bahan-bahan kimia yang akan digunakan. Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Media sebagai tempat pertumbuhan aksplan yang akan dikulturkan sehingga pembuatan media harus dilakukan dalam tahapan perbantakan tanaman secara kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

2

Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa kondisi yang aseptic merupakan syarat yang mutlak dalam tahapan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Oleh karena itu tahapan sterilisasi harus dilaksanakan dalam praktikum kali ini. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

2. Tujuan Tujuan praktikum acara yang pertama ini adalah : 1. Mengetahui prosedur pembuatan larutan stock. 2. Mengetahui langkah-langkah dalam pembuatan media kultur jaringan. 3. Mengetahui prosedur sterilisasi alat dan media kultur.

3. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara pertama ini berjudul pembuatan larutan stock, media tanam, dan sterilisasi dilaksanakan pada : Waktu praktikum Tempat : Senin, 13 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. TINJAUAN PUSTAKA
3

1. Pembuatan Larutan Stock Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil, oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. (Yuniastuti, Endang. 2008: 4) Seperti diungkapkan oleh Lydiane Kyte dan John Klein dalam Plant for Test Tubes “Stock solutions are concentrated solutions of groups of media chemicals that are preparated ahead of time and used to make several batches of media. They may be made in liter quantities of 10 to 100 times the concentration required in the final formula. Having stock solutions eliminates the need to weigh so many different chemicals every time you want to make a batch of medium. Also, the quantities will be more accurate because they are on larger scale than would be required for a single batch of medium, and thus minor inaccuracies have less impact”. Larutan stock merupakan sekelompok larutan media kimia berkonsentrasi yang disiapkan di awal dan digunakan untuk membuat beberapa kumpulan media. Larutan stock dibuat dalam satuan jumlah liter pada 10 sampai 100 kali konsentrasi yang dibutuhkan pada formula akhir. Pembuatan larutan stock mengurangi resiko perbedaan berat kimiawi yang besar setiap kali kita ingin membuat kumpulan media. Juga, jumlah akan lebih akurat sebab larutan stock dibuat dalam skala yang lebih besar daripada jika kita membuat medium tunggal, dan berkurangnya ketidakakuratan ini akan mengurangi dampak yang buruk bagi kultur jaringan. ( Lydiane Kyte & John Kleyn. 1996: 76) Beberapa komposisi akan mengendap (membentuk komponen padat) jika dicampurkan bersama dalam bentuk konsentrasi yang sama, jadi tiap kelompok kimiawi dibuat dalam bentuk kimia yang biasanya tidak mengendap pada konsentrasi larutan stock. Sebelum menambahkan bahan kimia apapun pada pembuatan larutan stock, harus ada air dalam labu, sehingga pengendapan sulit untuk terjadi.
4

Pembuatan media pada prinsipnya dilakukan dengan melarutkan semua komponen media dalam air sesuai dengan konsentrasinya pada formulasi yang diinginkan. larutan-larutan tersebut akan mengendap pada suhu dingin di refrigerator sebab kelarutan suatu larutan akan menurun dengan menurunnya temperature. misalnya mikronutrien dan hormon yang 5 . (Bernice M. juga tentang bagaimana larutan stock dibuat dan berapa lama larutan tersebut dapat disimpan sebagai larutan stock. Penggunaan larutan stok mengurangi pekerjaan yang rumit dalam persiapan media. larutan-larutan tersebut dapat disimpan pada cup atau wadah-wadah kecil.Tidak ada kesepakatan umum mengenai kombinasi komposisi larutan stock. Apabila larutan membentuk endapan. memanaskan larutan tersebut pada hot plate atau stirer akan menjadi solusi permasalahan ini. seperti pada material organic. Namun. penimbangan satu persatu komponen media untuk setiap pembuatan media kultur adalah tidak praktis dan hanya dapat dilakukan jika jumlah zatnya cukup besar. 1994: 39). Masalah tersebut dapat diatasi dengan pembuatan larutan stok. kemudian komposisi kimianya akan stabil dalam waktu yang lama apabila larutan stock tersebut disimpan dalam refrigerator. 2006). jika larutan garam mendekati proses pengendapan. Apabila larutan stock tersebut memiliki daur hidup yang pendek. hormone cenderung memiliki waktu hidup yang pendek yang menyebabkannya harus dibuat dalam jumlah yang kecil sekitar 25 mg dalam 250 ml air. Larutan stok adalah larutan berisi satu atau lebih komponen media yang konsentrasinya lebih besar dari konsentrasi komponen tersebut dalam formulasi media akan dibuat (Hemawan dan Na”em. atau sedikit dipanaskan. untuk menghilangkan endapan. Apabila komposisi larutan stock memiliki daur hidup yang lebih panjang. larutan-larutan tersebut dapat dibawa pada suhu ruang. sehingga risiko human error dalam percobaan dapat dikurangi. Lebih dari itu. Sebagian besar larutan stock dapat disimpan untuk watu yang terbatas tanpa reaksi yang berlawanan atau berkebalikan. kemudian digunakan. namun larutan-larutan tersebut beresiko tinggi untuk tumbuhnya kontaminan karena temperatur yang lebih tinggi. Bila larutan stock tidak mudah untuk mengendap. Dengan kata lain. penimbangan langsung komponen media. Martin. seperti pada garam anorganik.

Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. vitamin. jika diperlukan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. 2008: 5) Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral.  Vitamin. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi.  Zat pengatur tumbuh. 2. Media yang 6 . Murashige dan Skoog MS (1962) serta woody plant medium-WPM (Lloyd dan Mc Known. dan hormon. Komponen media kultur yang lengkap sebagai berikut :  Air distilata (akuades) atau air bebas ion sebagai pelarut atau solven.  Suplemen berupa bahan-bahan alami. diperlukan juga bahan tambahan seperti agar. ( Endang Yuniastuti. Linsmaier dan Skoog-LS (1965). gula. asam amino dan bahan organic lain. 1980). Nitsch dan Nitsch (1972). Gamborg dkk B5 (1976).dibutuhkan hanya dalam ukuran milligram atau microgram dalam formulasi akhir tidak dapat dilakukan dengan cukup akurat untuk pekerjaan kultur jaringan (Rahardja.  Agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media. dan lain-lain.  Hara-hara makro dan mikro. Contohnya komposisi Knudson C (1946). Selain itu. Heller (1953).  Gula (umumnya sukrosa) sebagai sumber energy. Pembuatan Media Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. baik jenisnya maupun jumlahnya. 1995).

dan bahan pemadat media yaitu agar. arang aktif. media dasar Vacin dan Went (1949) digunakan untuk kultur jaringan anggrek. 1981) khusus untuk tanaman berkayu. Kombinasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) pada kultur jaringan sangat menentukan keberhasilan kultur.id/ ind/?ch=isti&id=221) Dalam teknik kultur jaringan dikenal berbagai macam media dasar yang penamaannya berdasarkan nama penemunya atau peneliti yang menggunakan pertama kali dan memperoleh hasil yang berarti. media dasar B5 untuk kultur sel kedelai dan legume lainnya.com) Formula dasar untuk media kultur jaringan telah ditetapkan oleh berbagai penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu. sering dikenal dengan media MS (Murashige dan Skoog’s). media dasar Nitsch dan Nitsch (1969) digunakan dalam kultur tepung sari (pollen) dan kultur sel. Dari sekian banyak media dasar di atas. Media kultur terdiri dari beberapa atau seluruh komponen berikut: garam-garam anorganik. media dasar White (1934) sangat cocok untuk kultur akar tanaman tomat. Formulasi media yang dikembangkan oleh Toshio Murashige dan rekan kerjanya . Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf. asam amino. zat pengatur tumbuh (hormon). mungkin 7 . baik tanaman sayuran. media dasar WPM (Woody Plant Medium. yang paling banyak digunakan adalah media Murashige dan Skoog (MS). Media kultur jaringan dibuat untuk menyediakan nutrisi dan mengatur pertumbuhan yang optimal untuk tanaman yang spesifik. yaitu penggunaan kombinasi ZPT antara kelompok sitokinin dan kelompok auksin. media dasar N6 (1975) untuk serealia terutama padi. media dasar Schenk dan Hildebrandt (1972) untuk kultur jaringan tanaman monokotil. vitamin. (http: www. persenyawaan kompleks alamiah.sinarharapan. Beberapa media dasar yang banyak digunakan antara lain media dasar Murashige dan Skoog (1962) yang dapat digunakan untuk hampir semua jenis kultur. buffer. Penelitian pada berbagai macam jenis tanaman.iptek. (http://www. gula.sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. buah-buahan ataupun tanaman perkebunan menggunakan metode Mohr untuk pemakaian ZPT. net.

Tabel di bawah ini menunjukkan berat atomic dari elemen kimia yang pada umumnya digunakan dalam teknik kultur jaringan yaitu : Elemen Boron Kalsium Karbon Klor Kobalt Tembaga Hidrogen Iod Besi Magnesium Mangan Molibdenum Nitrogen Oksigen Potassium Kalium Natrium Belerang Seng Simbol B Ca C Cl Co Cu H I Fe Mg Mn Mo N O P K Na S Zn Berat Atomic 10.9994 30.08 12.merupakan media yang terbaik dari beberapa media yang telah diketahui.00797 126.37 (Lydiane Kyte & John Kleyn.811 40.9898 32.064 65.9332 63.312 54. dikembangkan oleh Brent Mc Cown dan Greg Lloyd. 1996: 62-64) 8 .01115 35. didesign sesuai dengan nama yang cocok yaitu optimal untuk kultur jaringan tanaman berkayu. dan digunakan sebagian besar pada tanaman herba.453 58.938 95.9044 55.54 1.94 14.0067 15. Woody plant medium (WPM).847 24.9738 39.102 22.

2H2O MgSO4.2H2O KH2PO4 Unsur mikro KI H3BO3 MnSO4. Komponen Unsur makro NH4NO3 KNO3 CaCl2.800 1. Media tersebut mempunyai konsentrasi garam anorganik yang tinggi dibandingkan medium lainnya terutama ion NH4 dan NO3.6H2O Na2EDTA FeSO4.5H2O CoCl2. Di bawah ini merupakan tabel komposisi salah satu media yang paling umum digunakan yaitu Murashige and Skoog’s (Media MS).025 37.7H2O Na2SO4.200 27. pada umumnya dipakai media dasar Murashige dan Skoog.250 0.650 1.4H2O ZnSO4.500 .025 0.500 0. 1997).600 0.2H2O CuSO4.000 0.Untuk perbanyakan klonal.7H2O Vitamin dan Asam amino Thiamin Asam nikotinat Pyridoxin HCl 9 Komposisi 1.900 440 370 0.200 22. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa pengurangan komponen senyawa penyusun media berpengaruh baik terhadap pertumbuhan biakan tanaman dalam botol (Husni.830 6.300 8.

Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan. Sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa: a. (http://elearning. Sterilisasi Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. larutan alkohol.ac. Sistem kerja filter. dan media nutrisi dapat disterilisasi dengan autoklaf. perlatan laboratorium. kasa. Sterilisasi secara mekanik. peralatan gelas. air.000 70. dipergunakan alat “bejana/ruang panas” (oven dengan temperatur 170o – 180oC dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas). digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan. penggunaan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi).000 50. plastik penutup. 10 .000 30. b.000 ( Buletin Teknik Pertanian Vol 9 . 2004) 3. misalnya adalah dengan saringan/filter. c. seperti pada saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba). penyaring. Sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat tembus uap air dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110-1210C.000 100. Dengan udara panas.Glycine Asam sistein Asam pantotenat Myo-inositol Sukrosa Agar 2.000 3. Sterilisasi secara fisik (pemanasan. larutan formalin).unram. Nomor 1.id/KulJar/BAB%20IV%20STERILISASI/IV2%20Sterilisasi %20Alat. Kapas penyumbat.ht) Sterilisasi dengan autoklaf adalah salah satu metode sterilisasi dengan uap air dibawah tekanan.

panas ini diatur secara atomatis. serta waktu pendinginan. Kalsium atau Natrium hipoklorit digunakan sebagai sterilisasi peralatan dan sebagai desinfektan bagi jaringan tanaman tanpa melukainya (Afriastini. Alat sterilisasi baik media maupun peralatan yang digunakan untuk proses isolasi dan penanaman eksplan yang sering digunakan adalah autoklaf. dan mencelupkan peralatan dengan atau tanpa pembakaran. Autoklaf yang lebih komplit menggunakan sumber energi dari listrik. Sebagai sumber uap. tekanan dan temperatur diatur dengan jumlah panas dari api. Tetapi pada autoklaf yang sederhana hal ini harus diatur secara manual. diperlukan autoklaf dengan kapasitas besar dan sumber uap biasanya dari boiler yang terpisah. Autoklaf yang sederhana menggunakan sumber uap dari pemanasan air yang ditambahkan ke dalam autoklaf. juga berasal dari air yang ditambahkan ke dalam autoklaf dan didihkan. Pemanasan air dapat menggunakan kompor atau api Bunsen. maka pekerjaan persiapan media menjadi sia-sia dan kemungkinan menyebabkan kerusakkan total pada autoklaf. Tetapi autoklaf ini mempunyai keuntungan: sederhana. selama masa sterilisasi dilakukan. serta lebih cepat dari autoklaf listrik yang seukuran dan setaraf. Kelemahan autoklaf ini adalah bahwa perlu penjagaan dan pengaturan panas secara manual. Dengan autoklaf sederhana ini. Pada autoklaf yang programmable. Alcohol mudah terbakar.Hampir semua mikroba mati bial terkena uap yang sangat panas dari autoklaf selama 1015 menit/ semua obyek hendaknya disterilisasi pada suhu 121ºC dan tekanan 15 Psi selama 15-20 menit (Torres. temperatur dan tekanan autoklaf diturunkan secara perlahan-lahan dalam waktu 15-20 menit. Maka autoklaf dapat dijalankan sambil mengerjakan pekerjaan lain. Autoklaf ini sangat cepat dan dapat diprogam waktu sterilisasi. 1989). Alatnya dilengkapi dengan timer dan thermostat. mulai dari yang sederhana sampai digital (terprogram). Untuk laboratorium komersial. membilas tangan. harga relatif murah. Kelemahannya adalah bila salah satu pengatur tidak bekerja. 11 . Tipe autoklaf yang dapat digunakan untuk sterilisasi ada bermacam-macam. Setelah sterilisasi bahan atau alat selesai. Bila pengatur automatis ini berjalan dengan baik. sehingga harus sangat hati-hati saat menggunakannya diatas api. Etil alcohol (70-90%) sangat berguna untuk mengusap permukaan tempat pelaksanaan. 2004). tidak tergantung dari aliran listrik yang sering merupakan problema untuk negara-negara yang sedang berkembang.

Untuk 15-50 ml media dalam tabung reaksi atau botol kecil berukuran 50-100 ml. ( Lydiane Kyte & John Kleyn. 5. 4. Perubahan pH yang berakibatkan depolimerisasi agar. Panci luar. Penguraian gula. Temperature sterilasi biasanya 121o C. lebih efektif bila digunakan wadah yang mempunyai volume antara 300 – 500 ml. Untuk 20 botol volume 12 . tetapi media antara 20-40 menit tergantung dari volume bahan yang disterilkan. Alat-alat dan air disterilkan selama 1 jam. sedangkan autoklaf besar pada laboratorium komersil pada umumnya menggunakan uap dari boiler sentral. Media disterilkan dalam autoklaf. Degradasi vitamin dan asam-asam amino. tekanan yang biasa digunakan antara 15-17. Untuk media kultur yang tidak mengandung bahan-bahan yang Heat-labile. sterilisasi dilakukan pada tekanan 15 psi dengan waktu 20 menit. agar sterilisasi lebih efektif. atau 1 atm. tekanan antara 15 psi atau 1 atm dengan waktu antara 20-25 menit tergantung dari volume wadah dan volume media. Untuk aquadest sebaiknya dimasukkan dalam wadah kecil misalnya erlemeyer 250 ml dengan isi maksimum 100 ml. Isi wadah tersebut sampai 80% volume. 2. 2.Lamanya sterilisasi tergantung dari volume dan jenis. 3. serta kencangkan dengan karet gelang. dan tutup dengan kertas. Waktu sterilisasi sama dengan waktu untuk sterilisasi alat-alat waktu 30 menit pada tekanan 15 psi. 4. Panci dalam tempat meletakkan botol dengan alur tempat saluran uap. Pengunci atau klem. sterilisasi dilakukan dengan autoklaf pada temperatur 121oC. 1996 : 169) Autoklaf gas atau listrik portable pada umumnya mempergunakan sumber uap dari pemanasan air yang ditambahkan ke dalam autoklaf.Pada prinsipnya. Bagian-bagian autoklaf : 1.5 psi (pound per square inci) atau 1 atm. 3. Katup pengeluaran uap. sterilisasi autoclave menggunakan panas dan tekanan dari uap air. Sterilisasi media yang terlalu lama menyebabkan : 1. Tutup beserta penunjuk tekanan dan saluran uap. Inaktifasi sitokinin zeatin riboside. Dalam sterilisasi aquadest.

Bila botol akan disimpan untuk beberapa lama.iptek. Thiamin-HCL. cairan didalamnya mendidih dan meluap (bubbled up). 10 botol volume 2 liter memerlukan waktu 37 menit.22 um. DAN CARA KERJA 1. maka sewaktu sterilisasi.net) C. autoklaf tidak boleh diturunkan tekanannya secara mendadak. sterilisasi dilakukan dengan menyaring larutan melalui filter yang mempunyai ukuran pori 0. BAHAN. Setelah disterilkan dapat langsung digunakan. 5 botol 4 liter waktu yang digunakan 52 menit. biasanya disterilkan dalam oven. setelah waktu sterilisasi yang diinginkan sudah tercapai. Bahan yang heat labile antara lain : GA3. Untuk volume larutan 10 ml.20-0. dimasukkan ke dalam oven dan dipanaskan selama 4 jam pada temperatur 160o C. Dalam sterilisasi aquadest dan media. mulut botol harus ditutup dengan alumunium foil. ALAT. Antibiotik: carbenocilin. Alat a. Botol-botol yang sudah dicuci bersih. Pembuatan Larutan Stock    Timbangan analitik Sendok Erlenmeyer Timbangan analitik Botol-botol kultur Magnetik stirrer pH meter 13 b. Dengan waktu yang lebih lama. Botol-botol/tabung reaksi/erlenmeyer yang dipergunakan sebagai wadah. Diameter filter yang bermacam-macam tergantung dari volume larutan yang ingin disterilkan. Ca-panthothenate. Pembuatan Media Tanam     . (http://www. Untuk bahan-bahan yang heat-labile dalam bentuk larutan.1 liter membutuhkan waktu yang lebih lama yaitu 34 menit. dipergunakan filter yang dipasang di ujung jarum suntik. Bila tekanan diturunkan mendadak.

Pembuatan Larutan Stock   Bahan-bahan kimia untuk nutrisi.     c. oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. vitamin. Cara Kerja a. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. Pembuatan Media Tanam      3. Larutan Stock Media Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relative kecil. vitamin. Larutan stock merupakan larutaaan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi. Pembuatan Larutan Stock 1. serta ZPT Agar-agar Gula NaOH 1N dan HCl 1 N b. terdiri atas hara makro dan mikro. FeEDTA. ZPT Aquadest Aquadest Larutan stock. Bahan Gelas piala Pipet Plastik pp 0.3 mm Karet gelang Kertas label Autoklaf a. Sterilisasi  2. Langkah-langkah pembuatan larutan stock meliputi : 14 .

(4). Gamborg dkk B5 (1976). Menghitung kebutuhan bahan IBA 100 ppm sebanyak 100 ml adalah sebagai berikut : 100 ppm = 100 mg/l = 10 mg/0. b. Linsmaier dan Skoog-LS (1965). (2). Memasukkan masing-masing larutan ke dalam botol dan menyimpan ke dalam refrigerator. Cara membuat larutan stock masing-masing ZPT adalah sebagai berikut : (1). Contohnya komposisi Knudson C (1946). (3). Larutan Stock Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Zat pengatur tumbuh hanya diperlukan dalam jumlah yang sedikit sekali. Menghitung kebutuhan bahan BAP 100 ppm sebanyak 300 ml adalah sebagai berikut : 100 ppm = 100 mg/l = 30 mg/0. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan.3 l = 30 mg/300 ml (2).1 l = 10 mg/100 ml (3). Murashige dan Skoog MS 15 . Memasukkan masing-masing larutan tersebut ke dalam botol dan menyimpannya ke dalam refrigerator. Nitsch dan Nitsch (1972). Heller (1953). Melarutkan bahan-bahan kimia tersebut ke dalam aquadest dengan volume tertentu. misalnya untuk unsure hara makro dikalikan 20 dan unsur hara mikro dikalikan 100 kali konsentrasi. 2. Pembuatan Media Kultur Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Biasanya zat pengatur tumbuh ini dibuat dengan kepekatan 1-10 mg/ml . Menimbang bahan-bahan kimia yang telah dikalikan menjadi beberapa kali konsentrasi. Melarutkan bahan dengan Alkohol atau NaOH 1 N kemudian ditambah dengan aquadest sampai 300 ml untuk BAP dan 100 ml untuk IBA. misalnya 500 ml.(1).

Mengambil larutan stock ZPT sesuai dengan perlakuan. (2). Zat pengatur tumbuh.5 ppm. asam amino dan bahan organic lain. 1980). Hara-hara makro dan mikro. jika diperlukan. Agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media. maka = V2 x M2 = 1000 ml x 0. media yang digunakan adalah media Murashige dan Skoog’s (MS) yang dimodifikasi dengan penambahan ZPT BAP 2 ppm dan IAA 0.5 ppm. Langkah-langkah pembuatan media (1 liter) adalah sebagai berikut : (1). Vitamin. Media tersebut digunakan untuk penanaman masing-masing eksplan yang masing-masing eksplan diulang sebanyak 2 kali untuk tiap mahasiswa. Gula (umumnya sukrosa) sebagai sumber energy. Suplemen berupa bahan-bahan alami.(1962) serta woody plant medium-WPM (Lloyd dan Mc Known.5 ppm 16 volume larutan stock yang diambil adalah : V1 X 100 ppm = 1000 ml x 0.5 ppm volume larutan stock yang diambil adalah : . Mengambil masing-masing larutan stock sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan dan memasukkannya ke dalam gelas piala. Dalam praktikum kali ini. Komponen media kultur yang lengkap sebagai berikut :        Air distilata (akuades) atau air bebas ion sebagai pelarut atau solven. misalnya :  V1 x M1 V1  V1 x M1 V1 x 100 ppm Untuk membuat media 1 L dengan konsentrasi BAP 2 ppm. maka = V2 x M2 = 20 ml/L Untuk membuat media 1 L dengan konsentrasi IAA 0.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Menuangkan larutan media ke dalam botol-botol kultur kurang Menutup botol berisi larutan media dengan plastik. pisau scalpel dan pinset Memasukkan botol-botol berisi media dan alat-alat kultur yang telah dengan kertas koran. larutan media diaduk dengan magnetic stirrer. D. Pada saat pengukuran pH.  c.   Menambahkan agar-agar 8 gr kemudian dididihkan. Menyimpan media pada rak penyimpan media yang bertujuan untuk mengantisipasi ada tidaknya kontaminasi pada media sehingga dapat dicegah penggunaan media yang telah terkontaminasi pada saat penanaman.3 dengan menambahkan Ket : V1 : volume larutan stock yang diambil    beberapa tetes NaOH untuk menaikkan pH atau HCl untuk menurunkan pH.6. lebih 25 ml tiap botol.V1 = 5 ml/L V2 : volume media yang akan dibuat M1 : dosis larutan stock yang tersedia M2 : dosis media yang akan dibuat Menambah aquadest sampai 1000 ml Menambah gula sebanyak 30 gr Mengatur pH dalam kisaran 5.   Menyimpan alat-alat kultur dalam oven. Pembuatan Media Tanam 17 . Sterilisasi Alat dan Media Kultur Sterilisasi alat dan media kultur jaringan dilakukan secara bersamaan menggunakan autoklaf.  dibungkus kertas koran ke dalam autoklaf untuk proses sterilisasi pada suhu 121° C.8. Langkah-langkah sterilisasi alat dan media kultur jaringan :  Membungkus alat-alat kultur seperti petridish. tekanan 1.5 kg/cm2 selama 45 menit.

Pada percobaan kali ini media yang dibuat adalah media Murashige and Skoog’s dengan komposisi : Komponen Unsur makro NH4NO3 KNO3 CaCl2. vitamin. Selain itu perlu ditambahkan bahan tambahan seperti agar.200 22. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral. gula.500 0.2H2O CuSO4.900 440 370 0.2H2O KH2PO4 Unsur mikro KI H3BO3 MnSO4. dan lain-lain.300 8.000 0.2H2O MgSO4.830 6.200 27. Zat pengatur tumbuh yang ditambahkan juga bervariasi baik jenis maupun jumlahnya.500 .4H2O ZnSO4. Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan tergantung pada jenis tanaman yang akan diperbanyak.025 37.025 0.7H2O Na2SO4.600 0.650 1.800 1.6H2O Na2EDTA FeSO4. dan hormone. tergantung dengan kultur jaringan yang akan dilakukan.250 0.Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.7H2O Vitamin dan Asam amino Thiamin Asam nikotinat Pyridoxin HCl 18 Komposisi 1.5H2O CoCl2.

Sebab. kalau tidak dibuat larutan stocknya akan menyulitkan dalam penimbangan komponen media. dan vitamin. senyawa sumber karbon.atau NH4+ atau asam amino. terdapat banyak jenis media yang lain seperti woody plant medium (WPM) yang cocok untuk kultur tanaman keras atau tanaman berkayu. S.Glycine Asam sistein Asam pantotenat Myo-inositol Sukrosa Agar 2. N didapatkan dari NO3. Mg). O. Ca. Media yang kedua adalah media perlakuan yaitu media dasar yang ditambahkan dengan penambahan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) atau hormone. Jenis media kultur yang paling banyak digunakan adalah media Murashige and Skoog (MS) cocok untuk hamper semua jenis tanaman terutama monokotil. Larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan pengukuran berat dan konsentrasi senyawa dalam meia. media Gamborg dan White untuk kultur akar. Komponen-komponen media MS yaitu :  Garam-garam anorganik terdiri dari makronutrient (C. Pada praktikum kali ini hanya digunakan media dasar berupa media Murashige Skoog. H. Selain itu. K.000 30.000 70. N.000 3. karena berat yang dibutuhkan sangat sedikit seperti yang tertera dalam table komposisi di atas dan penimbangan seringkali tidak akurat. Larutan stok dibuat dalam konsentrasi pekat (10 atau 100 kali konsentrasi akhir yang dibutuhkan untuk media. Mg dan S didapatkan dari 19 . Media kultur dibedakan menjadi dua yaitu media dasar yang terdiri dari garam-garam organik (makro dan mikro). yaitu larutan pekat senyawasenyawa kimia penyusun media.000 Pemilihan jenis media kultur yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan eksplan sesuai yang diinginkan. asam amino. P. Sebelumnya telah dibuat larutan stock media. sehingga memastikan bahwa jumlah/ volume masing-masing komponen media yang diberikan dalam jumlah tepat.000 50.000 100.

3 dengan penambahan KOH atau NaOH untuk menaikkan pH dan dan HCl untuk menurunkan pH. B.000. dan I. Media yang terlalu asam menyebabkan media sukar mengendap. untuk hara makro kecuali CaCl2.000 mg/L.8 sampai 6. Sterilisasi Media Tanam. media dimasukkan dalam autoklaf untuk disterilisasi. Selain itu dibutuhkan juga mikronutrient yang terdiri dari Cu. K2NO3 atau KH2PO4. Ca didapatkan dari CaCl2. K didapatkan dari KCl. dan glisin. lingkungan kerja dan pelaksanaan atau cara kerja 20 .  Sumber karbon yang digunakan adalah sukrosa. yang diberikan dalam bentuk Thiamin-HCl. Pada pembuatan media harus diperhatikan pH. asparagin.8 sampai 6. sistein.3 sebab pada kawasan pH ini merupakan pH yang optimum untuk penyerapan hara oleh tanaman.MgSO4. Asam amino yang sering digunakan adalah glutamine. Setelah media masak dan dituang di botol-botol kultur serta ditutup plastik.2H2O atau Ca(NO3)2. sebagai sumber energy.  Vitamin berfungsi sebagai katalisator dalam system enzim dan diperlukan dalam jumlah kecil. dan Eksplan Tanaman. P didapat dari NaH2PO4. Mo. K didapat dari KCl. Vitamin yang dibutuhkan pada sebagian besar kultur jaringan tumbuhan adalah thiamin. Kontaminasi umumnya disebabkan oleh sterilisasi media yang kurang sempurna. Pada praktikum kali ini. FeEDTA.7H2O.2H2O dibuat larutan stock tersendiri karena apabila di campur zat ini akan mengendap.H2O dan KH2PO4.2H2O dibuat larutan stocknya. Konsentrasi sukrosa yang digunakan adalah 20. Dan Cl dari KCl atau CaCl2. Zn. 2.  Asam amino merupakan sumber N organik. Namun harus juga dihindari penambahan HCl dan NaOH secara berlebihan karena akan mengurangi tingkat keberhasilan pembuatan media. Alat-alat Penanaman. untuk CaCl2.nya yaitu harus dijaga pada pH 5.45. K2NO3 atau KH2PO4. Vitamin lain yang biasa digunakan adalah asam nikotinat dan piridoksin HCl (vitamin B6). Co. Syarat utama keberhasilan kultur in vitro adalah menghindari kontaminasi yang dapat terjadi pada setiap saat dalam masa kultur . pH harus dijaga pada 5. Pada praktikum kali ini dilakukan penambahan HCl sebanyak kurang lebih 5 tetes karena campuran media yang didapat terlalu basa dan setelah dilakukan penambahan HCl dilakukan pula penambahan NaOH sebanyak 2 tetes karena pH yang didapat terlalu asam.

Sedangkan alat-alat seperti pisau scalpel dan pinset akan mudah berkarat jika berkontak langsung dengan uap air. Sebelum dinyalakan. molekul-molekul atau benda-benda asing berukuran kecil yang jatuh atau masuk ke dalam botol kultur setelah penanaman dan ketika diletakkan di ruang kultur. metode sterilisasi dikelompokkan dalam metode sterilisasi pemanasan kering menggunakan oven. Petridish akan mudah rusak (pecah) jika mengalami kontak langsung dengan uap air yang panas. Untuk sterilisasi media dilakukan selama 15-20 menit sedangkan untuk sterilisasi alat dan aquades dilakukan selama kurang lebih 1 jam. metode sterilisasi pemanasan basah menggunakan autoklaf. harus dipastikan bahwa semua kunci harus menutup agar tekanan yang timbul tidak bocor keluar. Secara umum. Kondisi aseptik dapat dicapai dengan metode sterilisasi. dan alat-alat yang lain terlebih dahulu dibungkus dengan kertas agar tidak kontak langsung dengan uap air autoklaf. metode ultrafiltrasi dengan menggunakan filter milipore (digunakan untuk hormone dan ZPT). Setelah proses sterilisasi selesai dan autoklaf mati. pinset. Uap air panas inilah yang akan membunuh mikroorganisme dan mensterilkan alat atau media yang akan digunakan. pisau scalpel. metode sterilisasi laminar air flow cabinet menggunakan sinar UV. eksplan. Sebelum dimasukkan petridish. Agar kontaminasi tidak terjadi maka faktor-faktor tersebut harus berada dalam kondisi aseptik. apabila langsung dibuka dapat menimbulkan ledakan dan dapat merusak klep pengatur tekanan pada autoklaf sehingga kerja alat akan terganggu untuk pemakaian selanjutnya. Pada praktikum kali ini. autoklaf tidak boleh langsung dibuka melainkan ditunggu hingga semua air yang berada di dalam autoklaf keluar (kunci dibuka dulu) dan tekanan di dalam autoklaf menurun. apabila hal itu terjadi proses sterilisasi tidak akan berhasil. Bagian yang ada tulisan dari kertas pembungkus harus diletakkan di bagian luar agar tinta yang larut nanti tidak mengotori alat yang ada di dalamnya. 21 .saat penanaman (kecerobohan pelaksana). untuk mensterilisasi media dan alat-alat untuk penanaman eksplan menggunakan metode sterilisasi pemanasan basah dengan menggunakan autoklaf. metode sterilisasi dengan bahan kimia bisa menggunakan alkohol 70 % atau 80 %. Autoklaf merupakan alat yang dilengkapi dengan klep pengatur tekanan yang berasal dari air yang diuapkan.

Dalam proses sterilisasi memungkinkan dapat terjadi kegagalan sterilisasi seperti :  Ketidakberhasilan sterilisasi akibat adanya salah satu atau beberapa kunci pada autoklaf yang tidak menutup dengan sempurna sehingga tekanan yang timbul dari autoklaf bocor ke luar. Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.25 % (Sunclin 100 %) selama kurang lebih 2 menit. E. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil.  Kegagalan sterilisasi akibat sebelum tekanan dalam autoklaf menurun dan semua air yang ada di autoklaf belum habis autoklaf sudah terbuka sehingga dapat menimbulkan ledakan atau kerusakan klep pengatur tekanan pada autoklaf. oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. vitamin. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. dan 22 . Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi. Kegagalan sterilisasi dapat dihindari dengan jalan mengikuti semua ketentuan dan prosedur pelaksanaan sterilisasi meliputi penggunaan alat dan pelaksanaan prosedur sterilisasi. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral. Setelah itu dilanjutkan dengan merendam eksplan dalam larutan Chlorox 5.Sedangkan eksplan yang akan dikulturkan pada praktikum ini disterilkan secara kimiawi yaitu dengan merendam eksplan dalam larutan Dithane M-45 3 mg/l yaitu sebagai fungisida yang berfungsi untuk mencegah timbulnya jamur. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil.

saran yang dapat penulis sampaikan untuk praktikum-praktikum yang akan dating tentang pembuatan larutan stock.hormon. 3. Larutan stok sebaiknya dibuat untuk menghindari terjadinya kesalahan penimbangan sebab bahan-bahan kimia untuk membuat media diperlukan dalam jumlah yang sedikit. metode sterilisasi laminar air flow cabinet menggunakan sinar UV. metode ultrafiltrasi dengan menggunakan filter milipore (digunakan untuk hormone dan ZPT). metode sterilisasi dikelompokkan dalam metode sterilisasi pemanasan kering menggunakan oven. Kontaminasi umumnya disebabkan oleh sterilisasi media yang kurang sempurna. 2. eksplan. Saran Dari pembahasan dan kesimpuan yang telah ditarik. metode sterilisasi pemanasan basah menggunakan autoklaf. Pada tahap sterilisasi harus diperhatikan betul tahapan-tahapan dan prosedur sterilisasi agar dapat meminimalisir kegagalan sterilisasi. Agar kontaminasi tidak terjadi maka faktor-faktor tersebut harus berada dalam kondisi aseptik. molekul-molekul atau benda-benda asing berukuran kecil yang jatuh atau masuk ke dalam botol kultur setelah penanaman dan ketika diletakkan di ruang kultur. diperlukan juga bahan tambahan seperti agar. dan sterilisasi yaitu antara lain : 1.  23 . Syarat utama keberhasilan kultur in vitro adalah menghindari kontaminasi yang dapat terjadi pada setiap saat dalam masa kultur . baik jenisnya maupun jumlahnya. tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Secara umum. media tanam. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi. Selain itu. Kondisi aseptik dapat dicapai dengan metode sterilisasi. dan lain-lain. Pada pembuatan media harus diperhatikan jenis eksplan yang akan dikulturkan sehingga dapat memilih dan menentukan media yang tepat yang akan digunakan. metode sterilisasi dengan bahan kimia bisa menggunakan alkohol 70 % atau 80 %. gula. lingkungan kerja dan pelaksanaan atau cara kerja saat penanaman (kecerobohan pelaksana).

2006. Yuniastuti. 2004.C.iptek. Husni. 2004 Herawan. Nomor 1. New York.unram. Jurnal Agrosains 19(2) : 103-109. Tissue Culture techniques for Horticultural Crops. P. Kyte. Buletin Plasma Nuftah II(1) : 9.id/KulJar/BAB%20IV%20STERILISASI/IV2%20Sterilisasi %20Alat. 1989. Na’iem.sinarharapan. Buku Petunjuk Praktikum Kultur Jaringan.com http://elearning.1994. USA: Timber Press Rahardja.ht 24 .2008. USA : Boston University Buletin Teknik Pertanian Vol. Diakses 15 Desember 2007 Bernice. http://www. Pengaruh Jenis Media dan Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Perakaran pada Kultur Jaringan Cendana (Santalum album Linn. 1995. M. 9.org/ teknik/veg. Lydiane & John Kleyn. T dan M. 1996.). Perbanyakan Vegetatif : Kultur Jaringan. F.net. Von Hostrand Reinheld. A.wikipedia.C.DAFTAR PUSTAKA Afriastini. K. Endang. Kultur Jaringan Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern. Penebar Swadaya.id/ind/?ch=isti&id=211 http://www. Plants from Test Tubes. 1997.id.ac. Tissue Culture Technique. Torres. Perbanyakan dan Penyimpanan Tanaman Inggu melalui Kultur Jaringan. Martin. Jakarta. Surakarta : UNS Press http://www.

Gladiol. Sedap malam dan Anthurium. 25 . menyebar luas dari daerah-daerah beriklim dingin (subtropis) dan panas (tropis). Tahun Baru dan hari-hari besar lainnya (Hasyim. 5 dan 9. Dalam perkembangannya. PENDAHULUAN 1. Hari Natal.ACARA II KULTUR JARINGAN MAWAR (Rosa sp) A. Permintaan bunga potong Mawar. Permintaan bunga potong semakin meningkat pada saat menjelang Idul Fitri. Beberapa komoditas bunga potong yang menjadi andalan di Indonesia saat ini antara lain: Mawar. Anggrek.) merupakan tanaman bunga hias berupa herba dengan batang berduri. Permintaan nasional akan tanaman hias dan bunga potong meningkat tidak kurang dari 10% setiap tahunnya. Krisan. Gladiol dan Lily masing-masing menduduki peringkat 1. Bunga potong sebagai salah satu komoditas pertanian yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. Mawar berasal dari dataran Cina. Latar Belakang Mawar (Rosa sp. Lily. 1994). Di Indonesia yang merupakan salah satu wilayah pemasok konsumen tanaman hias secara Nasional adalah Jawa Tengah dan Jawa Barat serta Jawa Timur. Timur Tengah dan Eropa Timur. Meningkatnya permintaan ini sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang memberikan peluang besar untuk pengembangan usahatani dan pemasaran tanaman hias serta bunga potong. telah diusahakan secara komersial sejak lama dalam upaya memenuhi permintaan yang semakin meningkat. 1989 dalam Effendie.

1996). kegiatan penelitian tanaman hias yang semakin berkembang belum diimbangi dengan kegiatan pengelolaan atau konservasi plasma nutfah yang memadai. sudah saatnya memproduksi bunga yang berkualitas. yang banyak diminati konsumen dan dapat dibudidayakan secara komersial. Selain itu. hal ini akan merugikan petani apabila ketersediaan varietas unggul di tingkat petani tidak disediakan dan terdesak oleh komoditas import. Metode perbanyakan bunga potong yang dilakukan oleh petani saat ini masih menggunakan teknologi pebanyakan melalui benih. Pada saat 26 . sedangkan perbanyakan menggunakan umbi. terutama mawar di Indonesia tergolong lambat karena adanya kendala dalam penyediaan bibit.) biasa diperbanyak secara vegetatif. Teknologi tersebut ternyata belum mampu menjawab tantangan untuk mengantisipasi berkembangnya agribisnis bunga potong. Salah satu kendala yang dihadapi petani bunga potong antara lain ketersediaan bibit yang bermutu. Konsumen akan cenderung memilih produk yang mempunyai kualitas lebih tinggi. Salah satu alternatif yang mampu menjawab tantangan tersebut adalah dengan menggunakan teknologi perbanyakan secara kultur jaringan (in vitro). Mawar (Rosa hybrida L. Perbanyakan menggunakan benih akan menghasilkan tanaman dengan keragaman yang tinggi. okulasi mata tunas atau okulasi mata berkayu. stek. Perbanyakan mawar bunga potong umumnya diperbanyak secara okulasi. dan mata tempel akan menghasilkan tanaman yang mempunyai sifat sama dengan induknya tetapi bibit yang dihasilkan relatif sedikit dan memerlukan waktuyang lama. umbi. Indikasi ini terlihat dari permintaan konsumen terhadap bunga potong bukan saja terjadi pada hari-hari besar tetapi kini bunga potong dibutuhkan hampir setiap hari (Sanjaya. Permintaan mawar sebagai bunga potong meningkat pada hari raya dan keagamaan dan tahun baru. Permintaan pasar sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas komoditas yang dihasilkan petani. Pengembangan bunga potong. Bibit yang bermutu adalah bibit yang mempunyai sifat unggul dan seragam. Okulasi mata tunas dilakukan pada saat kulit batang bawah mudah dikelupas. yang tersedia di pasar. Mawar merupakan komoditas hortikultura yang bernilai tinggi. stek dan sambungan mata tempel.Mengingat manfaat bunga yang demikian besar. sedangkan secara generatif hanya ditujukan untuk pemuliaan.

tidak memerlukan ruangan yang luas dan mencegah penularan penyakit sistemik.Salah satu cara perbanyakan yang lebih efisien. yang sekarang banyak dilakukan pengusaha benih/bibit mawar di luar negeri adalah stenting. Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan tipis. Tujuan Praktikum acara kedua ini bertujuan untuk : a. Eksplan yang akan digunakan pada praktikum kali ini adalah mawar (Rosa sp) yaitu bagian batangnya. Namun demikian sebaiknya okulasi mata tunas dilakukan setelah batang bawah berumur lebih dari satu bulan. Selain itu. 2.tersebut sel-sel tanaman dan sel-sel kambium tersebut sedang dalam keadaan aktif. b. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. artinya organ tersebut masih aktif membelah. Cara ini merupakan gabungan dari penyetekan dan penyambungan (grafting) yang dilakukan pada saat yang bersamaan. Penggunaan ruas batang muda mawar bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. Perbanyakan mawar dengan teknik kultur jaringan merupakan salah satu alternatif unggul perbanyakan tanaman yang dapat menyediakan bibit tanaman dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang cepat.Pelaksanaan dari teknik okulasi mata berkayu hampir sama dengan okulasi mata tunas. hanya pada okulasi mata berkayu tidak harus menunggu batang bawah mudah dikelupas. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Pada kultur jaringan mawar (Rosa sp.) digunakan bahan tanam berupa ruas-ruas batang muda tanaman mawar. Dengan cara ini okulasi dapat dilakukan pada stek batang bawah yang belum berakar ataupun yang sudah berakar. 27 . Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan mawar. Mengetahui teknik perkembangbiakan atau mengembangbiakkan mawar secara teknik kultur jaringan (in vitro).

Walaupun jarang ditemui. yaitu diperolehnya bibit yang seragam dalam jumlah besar. 2008b). Dengan adanya sitokinin di dalam medium menyebabkan tunas mengandakan diri secara terus menerus membentuk tunastunas baru dalam jumlah ribuan bahkan jutaan tunas. Teknik ini sangat bermanfaat untuk tanaman-tanaman yang diperbanyak secara vegatatif. Perbanyakan tanaman melalui teknik kultur jaringan memeiliki beberapa keuntungan. Kingdom Divisi : Plantae : Spermatophyta 28 . mawar diklasifikasikan sebagai berikut. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. selanjutnya diakarkan menjadi planlet. tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter (Anonim. 2008a). Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Suarakarta B. TINJAUAN PUSTAKA Pembentukan tunas adventitif secara langsung menggunakan eksplan potongan batang muda yang memiliki calon tunas samping. Adapun tanaman yang telah berhasil diperbanyak antara lain tanaman hias (misal: anggrek dan mawar) (Anonim. Proses ini disebut organogenesis atau dikena juga dengan istilah mikropropagasi.3. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara II yang berjudul Kultur Jaringan Mawar (Rosa sp) ini dilaksanakan pada : Waktu Tempat : Senin. Dalam taksonomi.

1995). bentuk dan baunya berkembangbiak (Ashari. Pada saat tersebut sel-sel tanaman dan sel-sel kambium tersebut sedang dalam keadaan aktif. Di daerah sejuk. Cara ini merupakan gabungan dari penyetekan dan penyambungan (grafting) yang dilakukan pada saat yang bersamaan. Okulasi mata tunas dilakukan pada saat kulit batang bawah mudah dikelupas.1990) Mawar berasal dari daerah subtropik pada belahan bumi utara. karena saat penyambungan tidak menunggu batang bawah berakar terlebih dahulu. banyak diminati konsumen. (Sartika.Pelaksanaan dari teknik okulasi mata berkayu hampir sama dengan okulasi mata tunas. Perbanyakan mawar bunga potong umumnya diperbanyak secara okulasi.Salah satu cara perbanyakan yang lebih efisien.Penggunaan mata berdaun pada teknik stenting ini memerlukan penanganan khusus untuk menghindari 29 . bahan tanaman yang digunakan lebih sedikit (satu mata tunas + daun dari batang atas dan satu ruas batang bawah tanpa daun). warna. Jenis mawar hibrida sebagian besar menyukai teampat yang sejuk (cocok untuk pegunungan). okulasi mata tunas atau okulasi mata berkayu. sehingga pada saat tanaman ditanam di lapang tidak tumbuh tunas liar dari batang bawah.Sub divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Angiospermae : Dicotyledoneae : Rosales : Rosaceae : Rosa : Rosa sp (Gembong Tjitrosoepomo. Namun demikian sebaiknya okulasi mata tunas dilakukan setelah batang bawah berumur lebih dari satu bulan. serta dapat dibudidayakan secara komersial dan terencana sesuai permintaan. sedangkan secara generatif hanya ditujukan untuk pemuliaan.Beberapa keuntungan dari teknik stenting ialah perbanyakan lebih cepat. 1996) Mawar (Rosa sp) biasa diperbanyak secara vegetatif. ukuran bunga. Mawar (Rosa sp) merupakan komoditas holtikultura yang bernilai ekonomi tinggi. yang sekarang banyak dilakukan pengusaha benih/bibit mawar di luar negeri adalah stenting. yang akhirnya akan meringankan biaya pemeliharaan. Dengan cara ini okulasi dapat dilakukan pada stek batang bawah yang belum berakar ataupun yang sudah berakar. hanya pada okulasi mata berkayu tidak harus menunggu batang bawah mudah dikelupas.

1978). (http://holtikultura. Perubahan sifat genetik yang diekspresikan pada perubahan kelopak dan warna bunga dapat dilihat mulai dari biakan dalam botol. Teknik ini memberikan lapisan air pada permukaan daun dan batang. Medium MS dan modifikasi konsentrasi persenyawaan dengan penambahan auksin dan sitokinin merupakan komposisi media tumbuh yang biasa digunakan untuk inisiasi kalus Keberhasilan perbanyakan massal secara invitro sangat bergantung pada komposisi media tumbuh dan pemilihan bahan eksplan yang tepat tetapi kebutuhan optimal unsur hara dan zat pengatur tumbuh bervariasi antar setiap fase pertumbuhan dan perbanyakan antar varietas dan klon. et al. Cara yang banyak dilakukan untuk mempertinggi kelembaban ini yaitu dengan pengkabutan secara periodik (intermitten misting).buhnya akar dan tunas.go. Kultur mata tunas merupakan salah satu teknik in-vitro yang digunakan untuk perbanyakan tanaman dengan merangsang munculnya tunas-tunas aksilar dari mata tunas yang dikulturkan. (Prihardini. 2003). bahkan varietas. tanaman asal eksplan tersebut.kelayuan sampai bertautnya kambium serta tum. merendahkan suhu dan meningkatkan kelembaban sekitar daun. Seperti halnya kultur pucuk.id. sehingga akan mengurangi laju respirasi dan transpirasi.Katalog teknologi unggulan holtikultura). Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Untuk menjamin keperluan tersebut. perubahan warna tetap dipertahankan.deptan. eksplan yang digunakan dalam kultur mata tunas dapat berasal dari tunas lateral. maka disekeliling daun harus dipertahankan agar selalu dalam keadaan lembab.litbang. Terjadinya perubahan pada kelopak dan warna bunga dapat terjadi karena adanya mutasi pada kumpulan sel somatik dan dapat terekspresi pada sel meristem dan akan membentuk suatu sektor yang stabil (Boertjes dan Van Harten 1978).Keberhasilan penyambungan sebagian besar disebabkan hubungan kambium yang rapat dari kedua tanaman (batang bawah dan batang atas) yang disambungkan atau terjadinya pertautan/jalinan meristematik antara keduanya. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. Setelah diaklimatisasi dan diperbanyak secara konvensional. tunas samping atau bagian dari batang yang mengandung satu atau lebih mata tunas (Allen. 30 .

) Media kultur Alkohol 96 % 31 b. penyimpanan yang kurang baik serta teknik aseptic yang kurang memadai (Martin. Bahan Eksplan : mawar (Rosa sp. Bentuk kontaminasi ini biasanya terjadi melalui udara dan dapat disebabkan sterilisasi yang kurang tepat. et al. Kelebihan teknik tersebut. ALAT.. Salah satu teknologi alternatif untuk mendapatkan genotipe-genotipe baru yaitu melalui kultur jaringan (Handayati. kondisi tersebut sulit dicapai karena memerlukan kondisi rumah kaca yang terkontrol. mikro. c. Pembentukan kultivar mawar baru melalui persilangan memerlukan persiapan seperti suhu yang konstan pada siang dan malam hari yaitu 18ºc dan kelembaban udara sekitar 70%. BAHAN. C.Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro. Alat LAFC lengkap dengan lampu Bunsen Petridsh dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. c. dapat menghasilkan tanaman secara kesinambungan atau berkala (Hoesen. a. 1994). Bentuk kontaminasi yang paling umum terjadi adalah bakteri dan jamur. b. Teknik kultur jaringan merupakan salah satu alternatif untuk menyediakan bahan tanam secara massal dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional. . 2004). Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi media dan zat penghambat tumbuh terhadap umur simpan dan ketahanan planlet untuk konservasi tanaman mawar Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda jenis bahan kimia atau konsentrasinya. DAN CARA KERJA 1. 2001). Untuk saat ini. dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman. 2001). seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes 2. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro. a. (Marlina.

daun dan kalus (HST). dilakukan pada akhir pengamatan. pinset selalu dibakar diatas api Selama penanaman. 3. tunas. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk menghindari kontaminasi Pemeliharaan Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. meliputi Saat muncul akar.25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 3 menit Membilas eksplan dengan aquadest steril Penanaman eksplan Membuka plastik penutup botol media kultur Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. e. b. dilanjutkan dengan chlorox 5. • • • Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja Persiapan eksplan Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. • • • Persentase keberhasilan. g. f. tunas dan daun. kelembaban dan cahayanya Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi Pengamatan selama 5 minggu. • • c. dilakukan pada akhir pengamatan d. diamati setiap hari Jumlah akar. 32 . Setelah digunakan. a. diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus).d. • • • e.

Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah mawar (Rosa sp) yaitu bagian batangnya. Saat Muncul Akar Tabel 2. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Penggunaan ruas batang muda mawar bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik.) digunakan bahan tanam berupa ruas-ruas batang muda tanaman mawar.1 Saat Muncul Akar Tanaman Mawar Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung.3 gram dalam 100 ml aquadest. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. artinya organ tersebut masih aktif membelah. Dithane M-45 dan Agrept 33 . Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Mushage and Skoog (MS). Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan tipis. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. Pada kultur jaringan mawar (Rosa sp. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan.D. penggunaan media yang sesuai.

mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. menstimulir terjadinya pembelahan sel. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. Kontaminasi sangat beragam. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. dan mineral. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. BAP berperan dalam pembentukan tunas. 34 . proliferasi kalus. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. Dalam aktivitas kultur jaringan. Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali.merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur mawar. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan mawar diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan mawar terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. tunas. vitamin. mendorong proliferasi meristem ujung. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. maupun kalus.

35 . pengirisan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. hijau. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. penggunaan bahan sterilisasi. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP.2. media dan suplemen media yang beragam. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. kuning. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Saat muncul tunas tanaman mawar Tabel 2. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. penggunaan api dan lain-lain.2 Saat muncul tunas tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan.

pengirisan. media dan suplemen media yang beragam. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. kuning. 4.3 Saat muncul daun tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal.3. hijau. Saat muncul daun tanaman mawar Tabel 2. penggunaan bahan sterilisasi. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Saat muncul kalus tanaman mawar 36 . Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. penggunaan api dan lain-lain.

Tabel 2.4 Saat muncul kalus tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus -

Mawar

Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam, hijau, kuning, dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal, media dan suplemen media yang beragam, penggunaan bahan sterilisasi, pengirisan, penggunaan api dan lain-lain.

5. Presentase Keberhasilan
37

Tabel 2.5 Persentase Keberhasilan Kultur Mawar Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%)
0 × 100% = 0% 10

Mawar 0 10 Sumber : Laporan Sementara

Berdasarkan data diatas eksplan mawar memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat, media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. Praktikum acara kultur jaringan mawar ini menggunakan eksplan berupa batang. Media kultur yang digunakan adalah media MS dengan tambahan ZPT berupa BAP dan IBA. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan mawar tidak ada akar, tunas, daun, dan kalus yang muncul. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya; a. Media yang telah terkontaminasi jamur. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. Disamping itu, terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. b. Eksplan yang terkontaminasi. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. c. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. Peralatan – peralatan seperti pinset, botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan
38

pensterilan. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. Dalam praktikum ini, komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Setelah eksplan ditanam, botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu, cahaya dan kelembabannya. Selain ZPT, faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis, umur ontogenik, ukuran eksplan, dan bagian tanaman yang diambil. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi, sel-selnya masih aktif membelah, dan relatif sedikit mengandung kontaminan. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. Pada fase juvenil, pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem, yaitu dapat berupa ujung akar, tunas atau daun muda. E. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum acara II adalah : a. adanya jamur dan bakteri. b. c. d. Penggunaan media yang sesuai dan keadaan yang aseptik mempengaruhi keberhasilan kultur jaringan. Faktor yang penyebab kontaminasi adalah sterilisasi yang kurang sempurna dari media atau eksplan dan kecerobohan manusia. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP.
39

Eksplan dan media terkontaminasi dengan ditandai

e.
f. g.

Fungsi

dari

IBA

yaitu

berpengaruh

dalam

pembentukan akar. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas.
Kematian eksplan disebabkan karena media dan eksplan yang terkontaminasi serta peralatan yang kurang steril.

Pada akhir pengamatan tidak terbentuk akar, tunas, daun, dan kalus. Saran


o

Harus diperhatikan prosedur pelaksanaan sterilisasi baik alat maupun bahan yang digunakan harus disterilisasi sehingga benar-benar steril. Pemeliharaan eksplan harus diperhatikan dengan benar. Sebaiknya bahan eksplan yang digunakan dipilih dari jaringan tanaman yang masih muda (meristem) yang masih aktif membelah.

o

o

DAFTAR PUSTAKA
40

Handayati. T.id.biogenonline. diakses tanggal 15 Desember 2007.kuljar. 2003. Ilmiah : Berita biologi.pustaka -deptan. Prihardini. Lane Magazine and Book Company. 2004. ---------. M. 5(4) 279-285. Elsevier. Diakses tanggal. 2004. 1978. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk konservasi in vitro mawar (Rossa sp). 345 p. Birkhavser Inc. Jurnal Penelitian Hortikultura. Sumeru. 2001. Purnamaningsih. http://www. Van Harten. 2001. Purnomo. Boston. Jurnal Ilmiah : Berita Biologi. and A. N.Gembong. Buletin Teknik Pertanian Vol 9 No. Anonim.deptan.progressio.Yogyakarta : UGM Press http://holtikultura. Indonesia University Press. C.org/wiki/Mawar. D. Anonim.go. Hortikultura Aspek Budidaya.com.). Boertjes. http://warintek. Id : diakses tanggal 2007 Ashari. http://www. Mawar. I. 1994. Tissue Culture Techniques : An Introduction. Vol 5(2):15-24. 1. 2004.id. 2008b. Marlina. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk Konservasi In Vitro Mawar (Rosa sp. P.M. Nina. http://id. Sudaryono dan S.1949. Nedherland. H. USA.R. Or. Darliah. How To Growth Roses. Anonim. 18 Desember 2008. Marlina. Diakses tanggal 18 Desember 2008.Katalog teknologi unggulan holtikultura 15 Desember ACARA III KULTUR JARINGAN WORTEL (Daucus carota) 41 .E. J. B. Hoesen. Jakarta. Mawr Hias. 1978. Applied Mutation Breeding for Vegetatively Propagated Crops. 1995. W. Peningkatan Keragaman Genetik Mawar Mini Melalui Kultur In Vitro dan Iradiasi Sinar Gamma. Mariska dan R. D. 5(4) : 365-371.litbang. California..go. S. E. Tjitrosoepomo.Allen. Komposisi Media dan Eksplan Untuk Inisiasi Poliferasi Salak Secara Invitro. Perbanyakan dan penyimpanan Kultur Sambung Nyawa(Gynura procumbers) dengan Teknik In Vitro. Martin.Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. 2008a. Biologi Sel dan Jaringan.

Bila demikian. Berdasarkan ciri fisiknya diduga benih wortel tergolong sebagai benih rekalsitran dengan karakteristik kadar airnya tinggi sehingga mudah terkontaminasi mikroba dan lebih cepat mengalami kemunduran. Benih yang akan dijadikan bibit harus dipilih benih yang baik. Kebanyakan tanah dataran tinggi di Indonesia mempunyai pH rendah. lembap. Perbanyakan tanaman dengan cara vegetatif adalah dengan stek yang telah berakar sempurna yang diperoleh dari batang yang muda namun cara ini jarang dilakukan karena produksi dan produktivitas buahnya rendah. berbuah lebat stabil. Latar Belakang Wortel merupakan tanaman subtropis yang memerlukan suhu dingin (22-24° C).5.A. yakni tanaman tumbuh subur normal. Perbanyakan tanaman wortel selama ini dilakukan secara generatif dengan penanaman umbi akar yang matang dan telah berkecambah.200-1. Di Indonesia kondisi seperti itu biasanya terdapat di daerah berketinggian antara 1. buah berumur tua. umur tanaman cukup dan keadaan tanaman sehat tidak berpenyakit atau terserang hama. Dianjurkan untuk menanam wortel pada tanah yang subur. Benih yang baik dihasilkan dari pohon induk yang baik. mempunyai ciri-ciri fisik yang baik. lobak dan tomat. Buah yang dipakai sebagai benih merupakan panenan pertama. Wortel tidak tahan disimpan sebagai benih lebih dari satu bulan sejak berkecambah di pohon karena tidak memiliki masa dormansi sehingga diduga wortel termasuk dalam rekalsitran tinggi (highly rekalsitran). terletak pada batang utama. Sekarang wortel sudah dapat ditanam di daerah berketinggian 600 m dpl. Tanah yang kurang subur masih dapat ditanami wortel asalkan dilakukan pemupukan intensif. Umumnya benih rekalsitran tidak mempunyai masa dormansi proses metabolisme perkecambahan berjalan terus (Copeland dan McDonald 1995) bahkan benih wortel dapat berkecambah ketika masih di pohon (perkecambahan dini) atau bersifat vivipary. gembur dan kaya humus dengan pH antara 5. sawi . labu siam. Wortel (Daucus carota) merupakan tanaman sayuran dataran tinggi yang telah lama dikenal petani di Indonesia selain bawang putih. dan cukup sinar matahari. tanah perlu dikapur. PENDAHULUAN 1. bermutu.5-6.500 m dpl. karena tanah yang asam menghambat perkembangan umbi. dan kotiledon dalam keadaaan sehat. dan 42 . kubis.

terletak di bagian tengah batang atau pada batang pokok. Tujuan Tujuan praktikum ini adalah : a. Untuk memenuhi permintaan pasar yang banyak dapat dilakukan perbanyakan dengan kultur jaringan. Benih wortel yang digunakan untuk perbanyakan tanaman beratnya rata-rata 300-400 gram dengan kondisi voluminous dan resiko kerusakan yang tinggi. Kultur jaringan merupakan salah satu alternatif perbanyakan tanaman secara vegetatif yang memiliki keunggulan antara lain. 20 Oktober 2008. dapat menyediakan bibit dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat. jaringan floem dan sekitarnya. 43 . benih tidak diserang hama dan penyakit. 3. eksplan yang digunakan untuk kultur jaringan adalah umbi akarnya.bentuknya normal. dan lebih baik jika memakai jaringan cambium. 2. Mengetahui teknik kultur jaringan wortel. Penelitian mengenai kandungan gizi kegunaan dan jumlah species wortel telah banyak dilakukan di Luar Negeri seperti di Negara Amerika Tengah. buah telah berakar dan berkecambah sepanjang 2-4 cm dengan daun sepasang. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara kedua ini yaitu Kultur jaringan wortel dilaksanakan pada : Waktu : Senin. Selama ini benih wortel dikembang biakkan dalam bentuk umbi yang sudah berkecambah dan sehat pada umur 42 hari setelah anthesis (HSA). Mengetahui pengaruh IBA dan BAP terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan wortel.umbi wortel yang di ambil langsung dari lapangan jauh lebih baik dari pada yang dibeli dari pasar. Masih banyak permasalahan yang belum diketahui pada benih wortel khususnya mengenai fenomena vivipary wortel varietas lokal daerah Cipanas yang merupakan daerah sentra wortel. Transportasi benih dari daerah pertanaman wortel yang menyebar ke seluruh wilayah Indonesia merupakan hal yang sulit. ukuran benih seragam. b. Dalam praktikum kultur jaringan wortel ini.

Wortel menyukai tanah yang gembur dan subur. Tumbuhan wortel mernbutuhkan sinar matahari dan dapat turnbuh pada sernua musim. B.2008. yakni wortel yang memiliki umbi akar berbentuk bulat panjang dan rasanya manis. dengan bunga berwarna putih.) . kurang lebih pada ketinggian 1200 ineter di atas permukaan laut. . wortel (Daucus carota) dapat dibedakan atas beberapa jenis.Tempat : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. mirip daun seledri.jenis chantenang. TINJAUAN PUSTAKA Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan jenis sayuran umbi yang biasanya berwarna jingga atau putih dengan tekstur serupa kayu. yakni wortel hasil kornbinasi dari jenis wortel imperator dan chantenang. Wortel mempunyai batang daun basah yang berupa sekumpulan pelepah (tangkai daun) yang muncul dari pangkal buah bagian atas (umbi akar). Menurut para botanis. (Anonim. A karena memiliki kadar karotena (provitamin A).a) Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan sayur yang ditanam sepanjang tahun.b) Sayuran ini sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia dan populer sebagai sumber vit. yakni wortel yang memiliki umbi akar berukuran panjang dengan ujung meruncing dan rasanya kurang manis. Linn. B. wortel juga mengandung vit. Umbi akar wortel berwarna khas oranye. 44 . Bagian yang dapat dimakan dari wortel adalah bagian umbi atau akarnya. Kerajaan: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Apiales Famili: Apiaceae Genus: Daucus Spesies: Daucus carota (Anonim.2008. di antaranya: WORTEL (Daucus carota. Batang bunga tumbuh setinggi sekitar 1 m.jenis mantes.jenis imperator. . Selain itu. Terutama di daerah pegunungan yang memiliki suhu udara dingin dan lembab. Wortel adalah tumbuhan biennial (siklus hidup 12 .24 bulan) yang menyimpan karbohidrat dalam jumlah besar untuk tumbuhan tersebut berbunga pada tahun kedua.

Sosok tanamannya berupa rumput dan menyimpan cadangan makanannya di dalam umbi. menyebabkan diferensiasi dan pembentukan tunas (Moore. Akan tetapi pola respon ini tidak berlaku universal. serta zat-zat lain yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Wortel berumbi panjang berbentuk kerucut dengan ujung bertipe imperator atau meruncing. Bensil adenin dan sitokinin. Whiter melaporkan keberhasilannya dalam membuat kultur kalus dari wortel (link to kultur kalus wortel) dan tembakau. Pada tahun 1957. Steward menggunakan jaringan floem akar wortel. (Lydiane Kyte.C.1996 : 128) Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah. memanjang seperti silinder dengan ujung umbi bertipe nantes. Sifat TOTIPOTENSIAL tanaman. sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi atau bahan kimiawi. berkulit tipis. G. Pemilihan metode didasarkan pada sifat bahan yang akan 45 .vit. Proses ini diawali oleh hormon pertumbuhan.d) Kultur jaringan tanaman pertama kali berhasil dilakukan ole White pada thaun 1934. sel atau kalus menjadi tunas dan tanaman sempurna.c) Wortel berumbi sedang memiliki tiga bentuk. memanjang seperti kerucut dengan ujung umbi bertipe imperator (meruncing). baik sendiri maupun dalam kombinasi dengan asam naftalenasetat atau asam indolasetat dan kadang dengan asam giberelat. chantenay yang tumpul. dan jika dimakan mentah terasa renyah dan agak manis. 1990). Organogenesis adalah proses yang menginduksi pembentukan jaringan. Kultur jaringan (sel) adalah mengkultur/membiakkan jaringan (sel) untuk memperoleh individu baru. Penemu F. C. Penelitian mereka pada tembakau mengindikasikan bahwa perbandingan auksin dan sitokinin yang tinggi akan menginduksi pengakaran. tulisan penting Skoog dan Miller dipublikasikan dimana mereka menyatakan bahwa interkasi kuantitatif antara auksin dan sitokinin menentukan tipe pertumbuhan dan morfogenik yang akan terjadi. sedangkan rasio sebaliknya akan menginduksi pembentukan tunas. Bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. sedikit vit. Umbi berwarna kuning kemerah-merahan. Mempunyai batang pendek. (Anonim.2008. Dari pihak lain. berakar tunggang yang bentuk dan fungsinya berubah menjadi umbi bulat dan memanjang.2008. (Anonim. dapat diterapkan untuk kultur jaringan. Pada tahun 1939.

serta hara mineral. Sebagian besar kultur aseptik tidak mampu melakukan fotosintesis sehingga diperlukan sumber karbon dalam bentuk sukrosa atau glukosa. eksplan yang digunakan dalam kultur mata tunas dapat berasal dari tunas lateral. tanaman asal eksplan tersebut. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. alkohol dan hormon (Widiastuti dan Anggraini. 1994). Setelah diaklimatisasi dan diperbanyak secara konvensional. Terjadinya perubahan pada kelopak dan warna bunga dapat terjadi karena adanya mutasi pada kumpulan sel somatik dan dapat terekspresi pada sel meristem dan akan membentuk suatu sektor yang stabil (Boertjes dan Van Harten 1978). serta dapat mempengaruhi kestabilan genetic tanaman (Wetter and Corstabel. mendorong morfogenesis kalus. Dalam aktivitas kultur jaringan. Yang umum digunakan secara rutin di laboratorium adalah menggunakan panas (Hadioetomo.disterilkan. bahan organik. bahkan varietas. 1982). Seperti halnya kultur pucuk. vitamin. mendorong proses embryogenesis. Kultur mata tunas merupakan salah satu teknik in-vitro yang digunakan untuk perbanyakan tanaman dengan merangsang munculnya tunas-tunas aksilar dari mata tunas yang dikulturkan. 1978). perubahan warna tetap dipertahankan. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. 1990). menghambat kerja sitokinin. air. membentuk klorofil dalam kalus. tunas samping atau bagian dari batang yang mengandung satu atau lebih mata tunas (Allen. Perubahan sifat genetik yang diekspresikan pada perubahan kelopak dan warna bunga dapat dilihat mulai dari biakan dalam botol. membentuk akar atau tunas. Medium MS dan modifikasi konsentrasi persenyawaan dengan penambahan auksin dan sitokinin merupakan komposisi media tumbuh yang biasa digunakan untuk inisiasi kalus Keberhasilan perbanyakan massal secara invitro sangat bergantung pada komposisi media tumbuh dan pemilihan bahan eksplan yang tepat tetapi kebutuhan optimal unsur hara 46 . Media tumbuh untuk kultur in vitro diusahakan mempunyai kondisi lingkungan yang terkontrol. auksin sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus.

seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. Bahan Eksplan : nanas (Ananas comosus ) dan wortel (Daucus carota) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja a. LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridsh dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. et al. (Marlina. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • Membilas eksplan dengan aquadest steril 47 b. dilanjutkan dengan chlorox 5. g. BAHAN. a.dan zat pengatur tumbuh bervariasi antar setiap fase pertumbuhan dan perbanyakan antar varietas dan klon. Persiapan eksplan b. f. c. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro. DAN CARA KERJA Alat a. b. (Prihardini. C. 2003). mikro. Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi media dan zat penghambat tumbuh terhadap umur simpan dan ketahanan planlet untuk konservasi tanaman mawar Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda jenis bahan kimia atau konsentrasinya. c. d.25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 . e. Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro. dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman. ALAT. 2004).

menghindari kontaminasi. Pengamatan selama 5 minggu. d. Selama penanaman. daun dan kalus (HST).c. dilakukan pada akhir pengamatan f. diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. Persentase keberhasilan. Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. pinset harus selalu dibakar diatas api. D. Saat Muncul Akar 48 . Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. diamati setiap hari Jumlah akar. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. e. kelembaban dan cahayanya. Penanaman eksplan • • • Membuka plastik penutup botol media kultur. tunas. meliputi • • • Saat muncul akar. dilakukan pada akhir pengamatan. Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk Setelah digunakan. tunas dan daun.

Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah wortel (Daucus carota) yaitu bagian umbi akarnya. Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai.3 gram dalam 100 ml aquadest. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. Pada kultur jaringan wortel (Daucus carota) digunakan bahan tanam berupa bagian tengah dari umbi akarnya yang berwarna kuning.1 Saat Muncul Akar Tanaman Wortel Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). Penggunaan bagian tengah dari umbi akar wortel yang berwarna kuning oranye ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan floem dan cambium di sekitarnya. Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur wortel. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. penggunaan media yang sesuai. artinya organ tersebut masih aktif membelah. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi.Tabel 3. 49 .

Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. Dalam aktivitas kultur jaringan. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan wortel terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. mendorong proliferasi meristem ujung. proliferasi kalus. hitam. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. vitamin. menstimulir terjadinya pembelahan sel. Pada penanaman eksplan wortel semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. dan mineral. vitamin. BAP berperan dalam pembentukan tunas. dan mineral. Kontaminasi sangat beragam. maupun kalus. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. tunas. daun. dan putih. tunas. Pada penanaman eksplan wortel tidak ada yang membentuk akar. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. maupun kalus. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan wortel diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi.Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan 50 . Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur.

penggunaan bahan sterilisasi. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. penggunaan api dan lain-lain.2 Saat muncul tunas tanaman wortel Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. media dan suplemen media yang beragam. hijau.berulang-ulang menggunkan spirtus. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Saat Muncul Tunas Tabel 3. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. 2. pengirisan. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Hasil-hasil 51 . Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. kuning.

4 Saat muncul kalus tanaman wortel 52 . tanaman asal eksplan tersebut. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. lingkungan kultur. hijau. zat pengatur tumbuh. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media.penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. bahkan varietas. komposisi media. 4. media dan suplemen media yang beragam.3 Saat muncul daun tanaman wortel Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. kuning. Saat muncul daun Tabel 3. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. penggunaan api dan lain-lain. seperti kebutuhan nutrisi. Saat muncul kalus Tabel 3. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Oleh karena itu. 3. pengirisan. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. dll. penggunaan bahan sterilisasi. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan.

Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. pengirisan. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. penggunaan bahan sterilisasi. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. 5. kuning. penggunaan api dan lain-lain.Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - Wortel Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus.5 Persentase Keberhasilan Kultur Wortel Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 53 . Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Presentase keberhasilan Tabel 3. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. media dan suplemen media yang beragam. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. hijau.

Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. tunas. dan kalus yang muncul. f. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. daun. Praktikum acara kultur jaringan wortel ini menggunakan eksplan berupa bagian tengah atau jaringan floem dari umbi akar. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. Peralatan – peralatan seperti pinset. e. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media.Wortel 0 10 Sumber : Laporan Sementara 0 × 100% = 0% 10 Berdasarkan data diatas eksplan wortel memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. d. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Media yang telah terkontaminasi jamur. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. Disamping itu. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan wortel tidak ada akar. Eksplan yang terkontaminasi. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. Media kultur yang digunakan adalah media MS dengan tambahan ZPT berupa BAP dan IBA. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. 54 . Peralatan dan ruangan yang kurang steril.

yaitu dapat berupa ujung akar. pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. cahaya dan kelembabannya. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. zat pengatur tumbuh. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. komposisi media. Selain ZPT. dan relatif sedikit mengandung kontaminan. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama 55 . dll. dan bagian tanaman yang diambil. bahkan varietas. lingkungan kultur. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. sel-selnya masih aktif membelah. tunas atau daun muda. Setelah eksplan ditanam.Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. tanaman asal eksplan tersebut. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. Pada fase juvenil. umur ontogenik. Dalam praktikum ini. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. seperti kebutuhan nutrisi. Oleh karena itu. ukuran eksplan. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan.

d.2008.org/wiki/wortel 56 . Pada kultur jaringan wortel.wikipedia. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan. medianya berwarna kuning. 1978.E.Wortel. USA. b. dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a. Persentase keberhasilan dari kultur jaringan wortel adalah 0 %  Saran Untuk meningkatkan presentase keberhasilan. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Dari praktikum kultur jaringan wortel yang telah dilakukan. How To Growth Roses. Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. California. Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat. Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media.http://en. DAFTAR PUSTAKA Allen. c. baik untuk peralatan maupun media itu sendiri. e. E. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman. Lane Magazine and Book Company. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan. 2 ulangan terdapat bakteri dan 2 ulangan. D. 3 ulangan terdapat jamur. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal mungkin. dari 10 eksplan yang ditanam tidak ada yang berhasil tumbuh. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. Anonim.

Elsevier..net. Plant Tissue Culture Methods. T. Jakarta. 1990. Pengaruh Air Kelapa Terhadap Pembentukan Protocorm Like Bodies (PLBS) dari Anggrek Vanda dalam Medium Cair. L. Sudaryono dan S. 1. 2003. Jurnal Hortikultura. Widiastuti.Katalog teknologi unggulan holtikultura ACARA IV KULTUR JARINGAN NANAS (Ananas comosus) A. Mikrobia Dasar Dalam Praktek. Buletin Teknik Pertanian Vol 9 No. Y. Biochemistry and Physiology of Plant Hormone. and A.cybermediaclips. S.2008.S.. 2003.E. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium.R.go. 1. http://holtikultura.Perbanyakan tanaman wortel. Applied Mutation Breeding for Vegetatively Propagated Crops. Prihardini. S. Nedherland.Anonim. 1978. Jurnal Penelitian Hortikultura. dan Kartono. Sukmayadi. http://www. PENDAHULUAN Latar Belakang 57 . Komposisi Media dan Eksplan Untuk Inisiasi Poliferasi Salak Secara Invitro. Vol 4(2):71-73. P. D dan Anggraini. Purnomo. Gramedia.Teknik Perbanyakan tanaman Wortel. Marlina. Wetter. Meldia. C.2008.http://plantasia.M.com Boertjes. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk konservasi in vitro mawar (Rossa sp). N. Hort 13(3) : 157-168. Moore. 2004.id. Springer-Verlag. R and F. Vol 5(2):15-24. 1982. I. Hardiati. Purnomo. T.C. P.deptan.id/ind/pd_tanobat /view.iptek. Van Harten. 1994.litbang. J. 1990. The Prairie Regional Laboratory of The National Research. Corstabel. 345 p. Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Nanas. S.php? mnu=2&id=150 Anonim. Berlin. Hadioetomo.

potensi agroklimat dan luasan lahan yang tersedia sangat memadai. Nanas merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas.) merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas. ketersediaan varietas lokal yang potensial untuk komersialisasi. sehingga meningkatkan pendapatan devisa negara dan selanjutnya akan berkait dengan peningkatan pendapatan pelaku-pelaku agribisnis tanaman nenas. maupun konsumsi dalam negeri. Rasa buah nanas manis sampai agak masam segar. Perbanyakan melalui kultur jaringan merupakan metode alternatife untuk memecahkan masalah tersebut. Buah nanas selain dikonsumsi segar juga diolah menjadi berbagai macam makanan dan minuman. Apabila potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimum maka nenas dapat dijadikan buah-buahan andalan. Salah satu komoditas yang dikembangkan adalah nenas. Peran Indonesia dalam pasar global nenas belum berarti. oleh karena adanya keengganan para peneliti melakukannya.) merupakan salah satu dari tiga buah terpenting dari wilayah tropika. Untuk skala industri. Permasalahan yang dihadapi agribisnis tanaman nenas antara lain: 1. Untuk skala industri. yaitu media padat. baik untuk ekspor. Merr. Hal ini karena kegiatan pengembangan varietas dalam pengertian pemuliaan tanaman belum banyak dilakukan. padahal sebagai negara yang berada di wilayah tropik. Perbanyakan melalui kultur jaringan merupakan metode alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. terutama untuk konsumsi segar. perbanyakan secara konvensional kurang efektif karena jumlah bibit yang dihasilkan sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang relatife lama. atau modifikasi antara keduanya. Salah satu komponen yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan tanaman dalam kultur jaringan adalah keadaan media secara fisik.Nenas (Ananas comosus L.) Merr. seperti selai. media cair. Varietas nenas yang ada saat ini umumnya belum dapat memenuhi standar mutu yang disyaratkan dalam pengembangan skala industri. sehingga disukai masyarakat luas. karena nenas (Ananas comusus (L. yang disebabkan perlunya waktu yang relatif lama untuk memperoleh hibrida unggul hasil 58 . perbanyakan secara konvensional kurang efektif karena jumlah bibit yang dihasilkan sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang relatif lama. buah dalam sirop dan lain-lain.

Jenis jaringan yang digunakan adalah jaringan meristem yang masih terus aktif membelah. b. Waktu dan Tempat Praktikum 59 . 4. padahal untuk menghasilkan nenas dengan mutu yang baik diperlukan kawalan teknologi. 3. Belum tersedianya paket teknologi produksi dan pasca panen bagi optimasi produktivitas. a. sehingga memerlukan peremajaan secara teratur dan dukungan teknologi perbanyakan bibit yang mampu menjamin keseragaman dalam waktu yang cepat. Tujuan Mengetahui teknik kultur jaringan nanas dan wortel. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan Tujuan dari praktikum kultur jaringan nanas (Ananas comosus) ini adalah : perkembangan eksplan nanas dan wortel. padahal tanaman nenas Executive Summary Nenas mengalami penurunan produktivitas setelah tiga generasi bibit. Terbatasnya teknik budidaya yang diterapkan oleh petani nenas juga menyebabkan kualitas nenas menjadi tidak baik. Masih rendahnya penerimaan konsumen terhadap nenas yang disebabkan oleh tingginya kadar Ca-oksalat yang memberikan rasa gatal yang tidak nyaman dan mitos bahwa nenas tidak baik bagi wanita dan dapat menyebabkan keguguran. Pada saat ini masih dihadapi masalah ketidakseragaman ukuran dan ketidaksesuaian bentuk buah dan waktu panen sehingga proses pengolahan nenas. terutama pengalengan. 2.persilangan. 2. dan material genetik untuk keperluan pemuliaan tanaman masih belum tersedia. penjaminan mutu hasil dan upaya mempertahan-kan mutu dalam jangka waktu lebih panjang. Belum tersedianya teknologi pembibitan yang cepat dan menjamin keseragaman dan kestabilan hasil dan kualitas hasil. eksplan yang digunakan adalah bagian atas dari bonggol nanas yang berwarna putih yang merupakan bagian dari ibu tangkai bunga nanas. menjadi tidak efisien. Dalam praktikum kultur jaringan nanas ini. 3. termasuk untuk memperpanjang daya simpan (shelf life).

2003). dan Indonesia merupakan negara penghasil nanas olahan dan segar terbesar ketiga setelah Thailand dan Philipina (Hardiati et al. Nanas (Ananas comosus (L) Merr. masuk ke Indonesia pada abad ke-15. Pada abad ke-16 orang Spanyol membawa nanas ini ke Filipina dan Semenanjung Malaysia. Golongan Spanish dikembangkan di kepulauan India Barat. Nanas berasal dari Brasilia (Amerika Selatan) yang telah di domestikasi disana sebelum masa Colombus. Mexico dan Malaysia. 2008a).. Dalam bahasa Inggris disebut pineapple dan orang-orang Spanyol menyebutnya pina. Di Indonesia pada mulanya hanya sebagai tanaman pekarangan. dan meluas dikebunkan di lahan kering (tegalan) di seluruh wilayah nusantara. Klasifikasi tanaman nanas adalah: Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus : Plantae (tumbuh-tumbuhan) : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) : Angiospermae (berbiji tertutup) : Farinosae (Bromeliales) : Bromiliaceae : Ananas 60 . B. Dewasa ini ragam varietas/cultivar nanas yang dikategorikan unggul adalah nanas Bogor. Puerte Rico. Nanas merupakan tanaman buah berupa semak yang memiliki nama ilmiah Ananas comosus. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.Praktikum acara kedua ini yaitu kultur jaringan (Ananas comosus) dilaksanakan pada : Waktu Tempat : Senin. (1599). Golongan Abacaxi banyak ditanam di Brazilia. Tanaman ini kini dipelihara di daerah tropik dan sub tropik. TINJAUAN PUSTAKA Varietas cultivar nanas yang banyak ditanam di Indonesia adalah golongan Cayene dan Queen. Memiliki nama daerah danas (Sunda) dan neneh (Sumatera). Subang dan Palembang (Anonim. merupakan salah satu komoditas buah tropis yang penting bila dilihat dari kegunaan dan nilai ekonomis serta mempunyai kontribusi 8% dari produksi segar dunia.

yaitu dua anakan per tanaman per tahun. ujung lancip tepi berduri kecil dan tajam. harum dan tidak berbiji. Transportasi pengiriman mudah. permukaan buah seperti sisik atau genting kecil yang tersusun rapi. Alternatif yang dapat dilakukan adalah melalui cara teknik kultur jaringan in vitro dan cara stek daun. Bibit yang dihasilkan sehat. 2) tunas batang. dan lebih mudah untuk pengangkutannya. Daun tunggal bentuk pedang. bentuk malai terdapat di ujung batang berwarna ungu kemerahan. biasanya petani menggunakan bibit yang berasal dari anakan yang tidak diketahui kesehatannya dan tidak seragam.c) Nenas merupakan salah satu komoditas penting unggulan Indonesia dilihat dari kegunaan dan nilai ekonominya serta mempunyai kandungan gizi yang tinggi. Ketersediaan bibit anakan juga sangat terbatas. Bibit yang dihasilkan relatif seragam. Daging buah berwarna putih kekuningan mengandung banyak cairan yang rasanya manis. seragam.2008. Dari beberapa metode perbanyakan yang ada. Indonesia mempunyai peluang yang sangat baik untuk memposisikan diri sebagai salah satu produsen dan eksportir utama produk nenas. 3) tunas tangkai buah. Buah berbentuk menyilinder. asam. (Anonim. 2008). Keunggulan pengembangan tanaman nanas dengan metode kultur jaringan atau secara in vitro yaitu :     Dapat menyediakan bibit secara cepat dan massal dalam waktu relatif singkat.50 cm mempunyai batang dalam bentuk roset dengan pangkal yang melebar dan menjadi pelepah. dan 6) stek batang.2008. Perbanyakan tanaman nenas secara umum dapat dilakukan secara vegetatif menggunakan: 1) tunas akar. Selain itu perbanyakan nenas dapat dilakukan melalui kultur jaringan. (Naibaho. warna hijau kekuningan sampai jingga. 4) tunas dasar buah.c) : Ananas comosus (L) Merr Herba yang mempunyai batang semu dengan tinggi 30 .Species (Anonim. Naekman. Kedua teknik ini memungkinkan untuk menyediakan bibit nenas dalam jumlah banyak. Sedangkan kelemahan pengembangan tanaman nanas dengan metode kultur jaringan yaitu : 61 . Bunganya majemuk. 5) mahkota buah.

Masalah dalam pengembangan nenas adalah penyediaan bibit dalam jumlah banyak secara cepat. Kendala produksi di lapangan adalah belum tersedianya teknologi bagi pengendalian pertumbuhan vegetatif maupun reproduktif agar produktivitas dan kualitas hasil tinggi.Kusuma. keinginan konsumen dan eksportir buah segar. yang pada gilirannya perlu ditunjang dengan penanganan pasca panen yang tepat (Anonim.   Kemungkinan terjadinya variasi somaklonal Proses produksi bibit memerlukan investasi relatif besar Membutuhkan keahlian khusus. 2008b). sehingga belum dapat ditransfer ke pada kalangan petani biasa Tahap-tahap perbanyakan bibit secara kultur jaringan adalah :  Pemilihan pohon induk  Persiapan bahan perbanyakan  Inisiasi  Multiplikasi (regenerasi)  Aklimatisasi  Pembesaran di nursery/pembibitan  Penanaman di lapangan (Darma. 62 .2008) Kendala yang dihadapi dalam pengembangan agroindustri nenas antara lain adalah belum tersedianya varietas yang sesuai dengan permintaan industri pengolahan. karena melalui perbanyakan vegetatif konvensional lajunya sangat lambat.

serta dapat mempengaruhi kestabilan genetic tanaman (Wetter and Corstabel. 1982). c. b. membentuk akar atau tunas. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. mendorong proses embryogenesis. BAHAN. mendorong morfogenesis kalus. 3. Yang umum digunakan secara rutin di laboratorium adalah menggunakan panas (Hadioetomo.Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah. sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi atau bahan kimiawi. 2. d. e. a. Bahan a. Sebagian besar kultur aseptik tidak mampu melakukan fotosintesis sehingga diperlukan sumber karbon dalam bentuk sukrosa atau glukosa. menghambat kerja sitokinin. membentuk klorofil dalam kalus. auksin sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus. bahan organik. DAN CARA KERJA Alat LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridish dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. Bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. c. g. Media tumbuh untuk kultur in vitro diusahakan mempunyai kondisi lingkungan yang terkontrol. ALAT. air. Pemilihan metode didasarkan pada sifat bahan yang akan disterilkan. 1. 1994). C. a. b. Dari pihak lain. f. vitamin. Dalam aktivitas kultur jaringan. 1990). serta hara mineral. Persiapan eksplan Eksplan : nanas (Ananas comosus ) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja 63 . alkohol dan hormon (Widiastuti dan Anggraini.

Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • • • • Membilas eksplan dengan aquadest steril Membuka plastik penutup botol media kultur.b. Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). Persentase keberhasilan. meliputi • • • Saat muncul akar. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk c. e. Selama penanaman. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. d. tunas. daun dan kalus (HST). Pengamatan selama 5 minggu. Penanaman eksplan Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. menghindari kontaminasi. dilanjutkan dengan chlorox 5.1 Saat Muncul Akar Tanaman Nanas 64 . kelembaban dan cahayanya. Saat Muncul Akar Tabel 4. pinset harus selalu dibakar diatas api.25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 Setelah digunakan. diamati setiap hari Jumlah akar. dilakukan pada akhir pengamatan f. D. dilakukan pada akhir pengamatan. tunas dan daun. Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset.

Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. artinya organ tersebut masih aktif membelah. penggunaan media yang sesuai. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan 65 . Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah nanas (Ananas comosus) yaitu bagian dari bonggol yang berwarna putih yang merupakan ibu dari tangkai bunga sedangkan jaringannya merupakan jaringan meristem yang masih aktif membelah. Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan.3 gram dalam 100 ml aquadest. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot.Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur nanas. Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. Penggunaan bagian berwarna putih dari bonggol nanas yang berwarna putih ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik.

Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. Pada penanaman eksplan nanas semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. dan mineral. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. Dalam aktivitas kultur jaringan. Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. maupun kalus. Kontaminasi sangat beragam. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko 66 . daun. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan nanas diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. menstimulir terjadinya pembelahan sel. proliferasi kalus. vitamin. dan putih. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat.yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. maupun kalus. Pada penanaman eksplan nanas tidak ada yang membentuk akar. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. tunas. mendorong proliferasi meristem ujung. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan nanas terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. BAP berperan dalam pembentukan tunas. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. vitamin. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. dan mineral. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. tunas. Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. hitam.

media dan suplemen media yang beragam. kuning.terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. penggunaan api dan lain-lain. Saat Muncul Tunas Tabel 4.2 Saat muncul tunas tanaman Nanas Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. 2. penggunaan bahan sterilisasi. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. hijau. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. 67 . pengirisan.

Oleh karena itu. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan 68 . seperti kebutuhan nutrisi. dll. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. kuning. 3. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. lingkungan kultur. zat pengatur tumbuh. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. bahkan varietas. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. komposisi media. Saat Muncul Daun Tabel 4. tanaman asal eksplan tersebut. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. hijau. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies.3 Saat muncul daun tanaman Nanas Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan.Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP.

Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. hijau. media dan suplemen media yang beragam. 4. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna 69 . Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. penggunaan api dan lain-lain. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. penggunaan bahan sterilisasi. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Saat Muncul Kalus Tabel 4. kuning. pengirisan.perkembangan eksplan.4 Saat muncul kalus tanaman nanas Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - nanas Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar.

media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Disamping itu. media dan suplemen media yang beragam. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. 70 . Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. penggunaan bahan sterilisasi. tunas. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. 5. daun. dan kalus yang muncul. a.coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan nanas tidak ada akar. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. penggunaan api dan lain-lain. pengirisan.5 Persentase Keberhasilan Kultur Nanas Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 0 × 100% = 0% 10 Nanas 0 10 Sumber : Laporan Sementara Berdasarkan data diatas eksplan nanas memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. Presentase keberhasilan Tabel 4. Media yang telah terkontaminasi jamur.

b. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. Peralatan –peralatan seperti pinset. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Setelah eksplan ditanam. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. Selain ZPT. dan relatif sedikit mengandung kontaminan. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. dan bagian tanaman yang diambil. yaitu dapat berupa ujung akar. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. Eksplan yang terkontaminasi. ukuran eksplan. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. tunas atau daun muda. Dalam praktikum ini. umur ontogenik. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. sel-selnya masih aktif membelah. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. Pada fase juvenil. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. c. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung 71 . cahaya dan kelembabannya. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu.

 Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat. zat pengatur tumbuh. medianya berwarna kuning.  Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. komposisi media. dll. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan.dari spesies. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. bahkan varietas. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal 72 .  Persentase keberhasilan dari kultur jaringan nanas adalah 0% 2. Saran Untuk meningkatkan presentase keberhasilan. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan. dapat ditarik kesimpulan berhasil tumbuh.  Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. Oleh karena itu. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. 3 ulangan terdapat jamur. dari 10 eksplan yang ditanam tidak ada yang Kesimpulan Dari praktikum kultur jaringan nanas yang telah dilakukan. seperti kebutuhan nutrisi. E. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman. 2 ulangan terdapat bakteri dan 2 ulangan. lingkungan kultur. tanaman asal eksplan tersebut. baik untuk peralatan maupun media itu sendiri. sebagai berikut :  Pada kultur jaringan nanas. KESIMPULAN DAN SARAN 1.

Vol 4(2):71-73.id. Naibaho. Berlin. Moore. T.S. Naekman.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. Jurnal Hortikultura. S. Purnomo. Gramedia. Sukmayadi. Diakses tanggal 20 Desember 2008. http://www. Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Nanas. Jakarta: Litbang Departemen Pertanian Wetter. Darma. 2008b.iptek. 2003. dan Kartono. http://www. 2008a. Plant Tissue Culture Methods.rusnasbuah. D dan Anggraini. 2008b. 2008. S.or. L. http://www. The Prairie Regional Laboratory of The National Research. 1990. 2008. Diakses tanggal 18 Desember 2008. Widiastuti. J. Mikrobia Dasar Dalam Praktek. ----------. R and F. Executive Summary Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia Komoditas Nenas. Corstabel. 1982. Hort 13(3) : 157-168.. Perbanyakan Massal Nanas dengan Stek Daun. Perbanyakan Massal Nanas secara In Vitro. P. 73 . Y. Hardiati. Jakarta : Litbang Departemen Pertanian Hadioetomo. Meldia. Nanas (Ananas comosus). Anonim. Kusuma.id. I. Springer-Verlag.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=2&doc=2a17. Diakses tanggal 18 Desember 2008. Pengaruh Air Kelapa Terhadap Pembentukan Protocorm Like Bodies (PLBS) dari Anggrek Vanda dalam Medium Cair. 1990. 1994.go. S.warintek.ristek. Jakarta.C. Biochemistry and Physiology of Plant Hormone.net.

sumber penghasilan. Sanseviera merupakan tanaman yang unik yang mempunyai sifat berbeda dengan tanaman lain yaitu apabila tanaman ini distek akan menghasilkan tanaman yang berbeda dengan induknya berbeda tanaman kebanyakan yang bila diperbanyak dengan stek maka keturunannya akan sama dengan induk. PENDAHULUAN Latar Belakang Di Indonesia. Salah satu tanaman hias yang banyak digemari masyarakat saat ini adalah sanseviera. Tanaman hias bagi masyarakat bermanfaat sebagai pengindah rumah atau pekarangan. Selain itu. Perbanyakan tanaman dapat dilakukan secara generatif dengan biji ataupun secara vegetatif dengan setek. nama sansivieria lebih dikenal dengan sebutan lidah mertua (mother in-laws-tongue). menyerap polusi sehingga menimbulkan kepuasan tersendiri bagi pemiliknya. Kebutuhan masyarakat akan tanaman hias semakin hari semakin meningkat. dan kultur jaringan (cloning). Sansivieria termasuk tanaman yang sangat mudah perbanyakannya. 74 . Ada juga yang menjulukinya snake plant (tanaman ular) mungkin karena corak beberapa jenis tanaman in mirip dengan corak ular.ACARA V KULTUR JARINGAN SANSIVIERIA A. cabut pucuk. 1. suatu penelitian juga menunjukkan bahwa tanaman sansiveira dapat bermanfaat untuk menyerap polusi. pemisahan anakan.

Selain itu. Jenis yang mendominasi adalah pedang-pedangan dan kodok-kodokan. Pada praktikum ini eksplan yang digunakan adalah tanaman Sansivieria trifasciata yaitu bagian daun tapi pada bagian bawah yang merupakan jaringan tebal yang meristematis yaitu jaringan yang masih aktif mengalami pembelahan. dan kultur jaringan. pemisahan anakan. teknik cabut pucuk. sifat biji sansivieria umumnya diploid sehingga menyebabkan minimal dua keragaman dalam satu biji. Dengan semakin meningkatnya permintaan akan tanaman sansiveira. tidak semua spesies mampu menghasilkan bunga dan biji. Selain itu.Perbanyakan secara generatif dilakukan menggunakan biji. Keunggulan perbanyakan tanaman menggunakan biji antara lain dapat diperoleh tanaman dalam jumlah banyak dan seragam serta tidak merusak tanaman induk. Cara ini biasanya digunakan oleh para breeder untuk memperoleh hibrida baru. Kelemahan cara generatif ini adalah memerlukan waktu yang lama. Teknik yang mungkin digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah secara in vitro. sejak tahun 2000 permintaan tanaman ini meningkat pesat dan terus meningkat hingga kini. Perbanyakan secara vegetative dari sansivieria dapat diperbanyak menggunakan setek. 2. Teknik perbanyakan yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut adalah perbanyakan dengan kultur jaringan. Tujuan Praktikum acara kelima yaitu kultur jaringan sansivieria ini bertujuan untuk : 75 . Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkembangkan bagian tanaman. baik berupa sel jaringan atau organ tanaman dalam kondisi aseptis secara in vitro. Di Indonesia. Sansevieria (Sansevieria trifasciata) termasuk tanaman hias yang mempunyai penggemar di berbagai masyarakat dunia. tetapi usaha perbanyakan belum cukup memadai maka diperlukan suatu teknik perbanyakan yang lebih efektif yang mampu menghasilkan tanaman dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatif singkat. Meningkatnya permintaan tersebut masih belum dapat terpenuhi akibat petani masih menggunakan perbanyakan secara konvesional yang memerlukan waktu dan bahan tanam dalam jumlah yang banyak.

Namun dalam kondisi lembap atau basah. seperti karbondioksida. Jenis sanseviera yang banyak ditanam adalah Sanseviera trifasciata atau dikenal dengan nama “lidah mertua”. Sanseviera memiliki keistimewaan menyerap bahan beracun. Sansevieria dibagi menjadi dua jenis. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. sehingga tahan kekeringan.(Anonim. dan trichloroethylene. 3. formaldehyde. b. (Anonim. sansiviera bisa tumbuh subur. Tumbuhan ini berdaun tebal dan memiliki kandungan air sukulen. Sanseviera kerap ditaruh di sudut dapur atau kamar mandi untuk meredam bau. 76 .2008a) Sansevieria termasuk tanaman tropis yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan di Indonesia. Selain sebagai tanaman hias. B. banyak ditemukan ratusan species sanseviera lain yang bentuk dan warna daunnya beragam. Biasanya sansevieria banyak ditanam sebagai pagar rumah. Sekitar 40 persen air saja yang diperlukan tanaman yang berkembang biak melalui umbi lapis ini untuk tumbuh. dan karena ini ada yang menyebut Sansevieria sebagai tanaman pedang-pedangan. benzene. Sekarang ini. Kelompok panjang memiliki daun meruncing seperti mata pedang. Mengetahui teknik kultur jaringan sansivieria. TINJAUAN PUSTAKA Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama Lidah Mertua. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan sansivieria. Waktu Tempat Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara kelima yaitu kultur jaringan sansivieria ini dilakukan pada : : Senin.2008b) Dibanding tumbuhan lain.a. yaitu jenis yang tumbuh memanjang ke atas dengan ukuran 50-75 cm dan jenis berdaun pendek melingkar dalam bentuk roset dengan panjang 8 cm dan lebar 3-6 cm. Sansevieria memang termasuk tanaman hias yang sering disimpan di dalam rumah karena tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi dengan sedikit air dan cahaya matahari. atau sebagai penyekat jalan.

Penelitian NASA bekerja sama dengan ALCA telah menemukan bukti-bukti bahwa tanaman ini secara alami mampu mengurangi polusi tersebut.Warna daun Sansevieria beragam.2006) Sanseviera sering dikenal dengan dengan nama lidah mertua “Mother in Law Tongue”. Ditinjau berdasarkan jenisnya sansevieria ada dua jenis yakni yang pertama yaitu sansevieria keturunan asli/spesies sedangkan yang kedua adalah jenis hasil persilangan/hibridasi yang bisa disebut dengan jenis sansevieria hibrid.Purwanto. tidak beraturan. daun berbentuk silinder. Motif alur atau garis-garis yang terdapat pada helai daun juga bervariasi. Pada beberapa jenis sansivieria. dan ada juga yang zig-zag. (W. hijau muda. Keistimewaan lidah mertua adalah memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan. tanaman sansivieria dicirikan dengan daun yang tebal karena kandungan airnya yang tinggi. Dari bentuk hibrid inilah sansevieria akan tercipta dengan karakter dan fisik yang berbeda dari induknya atau yang sering disebut dengan spesies hibrid atau sansevieria hibrid. 2007). Arie. (Anonim. perak. daun berkedudukan seperti roset mengelilingi batang semu.2008d) Klasifikasi ilmiah dari sansiviera yaitu : Regnum: Divisio: Kelas: Ordo: Familia: Genus: Plantae Magnoliophyta Liliopsida Asparagales Ruscaceae Sansevieria Secara morfologi. dan warna kombinasi putih kuning atau hijau kuning. Pada jenis yang lain. mulai hijau tua. hijau abu-abu. Namun ada juga yang menyebutnya dengan tanaman ular dan pedang-pedangan karena bentuk tanaman ini yang berbentuk seperti ular dan pedang-pedangan (Anonim. Disebut batang semu karena sesungguhnya sansivieria tidak mempunyai batang. ada yang mengikuti arah serat daun. Jenis yang lain lagi mempunyai helaian daun kaku seperti pedang. 77 . Mutasi sansevieria juga dapat terjadi dari perbanyakan melalui stek daun.

a. waktu inokulasi dan jenis media mempengaruhi pertumbuhan eksplan (Irawati. ALAT. Satusatunya cara perbanyakan yang sanggup memenuhi kebutuhan permintaan bibit dalam jumlah besar itu hanyalah kultur jaringan. anakan. tetapi sampai ke tingkat karakterisasi atau kualitas selnya.B Juan. Kemampuan regenerasi jaringan tidak hanya tergantung pada umur fisiologinya. dan jenis serta kadar hormon pertumbuhan yang digunakan. Hal tersebut mempunyai pengaruh yang cukup besar (Wetter and Corstabel. 1982). . 78 c. dalam lingkungan steril. kimia dan biokimia nutrisi. Jaringan meristematis ini selanjutnya ditanam di dalam botol yang berisi media buatan. 2005). BAHAN. Jaringan muda umumnya mempunyai kemampuan berdiferensiasi lebih baik. DAN CARA KERJA Alat LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridish dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. dan cabut pucuk tidak lagi bisa mencukupi. et al. suhu. Zat pengatur tubuh sitokinin lebih banyak berperan dibandingkan dengan auksin pada tahap multiplikadi prodiferasi akar. 1. 2005). hara. biomolekul dan fisiologi sel. Pada perkembangan sekarang teknik ini justru banyak membantu lahirnya konsep-konsep baru berbagai cabang ilmu itu sehingga keberadaannya saling menopang dalam perkembangannya (Santoso dan Nursandi. 2001). cara perbanyakan secara konvensional menggunakan stek.Sebagai teknik kultur jaringan dapat dipahami perkembangannya karena didukung oleh marak dan berkembangnya studi tentang sel. b. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. Jaringan tanaman sansivieria yang dikulturkan dipilih dari jaringan yang masih muda (meristematis).1986) C. Seiring dengan permintaan bibit sansivieria yang semakin meningkat. Sedang ukuran eksplan. (Chahinian. cahaya. Berhasilnya pertumbuhan tunas terutama tergantung pada sumber jaringan.. Perbanyakan sansiviera secara kultur jaringan (tissue culture) bertujuan untuk mendapatkan tanaman dalam jumlah besar dan seragam pertumbuhannya. maka akan lebih banyak ditekankan penggunaan ZPT auksin (Supriati. kadar medium.

d. Selama penanaman. a. e. e.25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 Setelah digunakan. menghindari kontaminasi. dilanjutkan dengan chlorox 5. tunas. Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. tunas dan daun. kelembaban dan cahayanya. diamati 1 minggu sekali 79 .2. pinset harus selalu dibakar diatas api. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • • • • Membilas eksplan dengan aquadest steril Membuka plastik penutup botol media kultur. c. f. diamati setiap hari Jumlah akar. Persiapan eksplan b. Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. Pengamatan selama 5 minggu. daun dan kalus (HST). d. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. meliputi • • Saat muncul akar. g. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk c. Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. Bahan Eksplan : Sansiviera (Sansivieria trifasciata ) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja b. 3. a. Penanaman eksplan Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam.

• Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. penggunaan media yang sesuai. dilakukan pada akhir pengamatan f. artinya organ tersebut masih aktif membelah.1 Saat Muncul Akar Tanaman Sansiviera Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Sansiviera 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. 80 . Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah sansiviera (Sansiviera trifasciata) yaitu bagian dari daun yang masih muda yaitu bagian bawah yang merupakan jaringan meristematik atau jaringan yang masih terus aktif membelah. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. Persentase keberhasilan. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). dilakukan pada akhir pengamatan. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. Saat Muncul Akar Tabel 5. D. Penggunaan bagian bawah dari daun yang masi muda ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan.

Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur sansivieria. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. dan mineral. dan putih. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. 81 . Dalam media untuk menumbuhkan eksplan sansivieria terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. Pada penanaman eksplan sansivieria semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. vitamin. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. hitam. tunas. Dalam aktivitas kultur jaringan. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). Kontaminasi sangat beragam. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0.3 gram dalam 100 ml aquadest. BAP berperan dalam pembentukan tunas. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. maupun kalus.Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. proliferasi kalus. mendorong proliferasi meristem ujung. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. menstimulir terjadinya pembelahan sel. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan sansivieria diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar.

Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan 82 . Saat Muncul Tunas Tabel 5. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. hijau. kuning. dan mineral. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam.2 Saat muncul tunas tanaman Sansivieria Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Sansivieria 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. tunas. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan 2. vitamin.Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula. Pada penanaman eksplan sansivieria tidak ada yang membentuk akar. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. daun. maupun kalus. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan.

media dan suplemen media yang beragam. komposisi media. seperti kebutuhan nutrisi. Pada 83 . penggunaan api dan lain-lain. pengirisan. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media.3 Saat muncul daun tanaman sansivieria Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 sansivieria 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Oleh karena itu. 3. dll. zat pengatur tumbuh. tanaman asal eksplan tersebut.tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. penggunaan bahan sterilisasi. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. Saat Muncul Daun Tabel 4. bahkan varietas. lingkungan kultur. hijau. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. kuning. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi.

hijau. pengirisan. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Saat Muncul Kalus Tabel 5.4 Saat muncul kalus tanaman sansivieria Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - sansivieria Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. 4. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. media dan suplemen media yang beragam. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. penggunaan api dan lain-lain. penggunaan bahan sterilisasi. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. kuning.eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan 84 . dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam.

Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril.kultur jaringan. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. daun. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. penggunaan bahan sterilisasi. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. d. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. media dan suplemen media yang beragam. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan sansivieria tidak ada akar. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. e. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. Presentase keberhasilan Tabel 4.5 Persentase Keberhasilan Kultur Sansivieria Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 0 × 100% = 0% 10 Sansivieria 0 10 Sumber : Laporan Sementara Berdasarkan data diatas eksplan sansivieria memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. 5. Disamping itu. Eksplan yang terkontaminasi. tunas. pengirisan. Media yang telah terkontaminasi jamur. 85 . Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. penggunaan api dan lain-lain. dan kalus yang muncul. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur.

debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Setelah eksplan ditanam. komposisi media. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. sel-selnya masih aktif membelah. dan relatif sedikit mengandung kontaminan. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. dll. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. ukuran eksplan. Pada fase juvenil. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. tanaman asal eksplan tersebut. seperti kebutuhan nutrisi. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. cahaya dan kelembabannya. lingkungan kultur. Peralatan –peralatan seperti pinset. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. tunas atau daun muda. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu. bahkan varietas. yaitu dapat berupa ujung akar. Oleh karena itu. Selain ZPT. pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. zat pengatur tumbuh. umur ontogenik.f. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh 86 . Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. Dalam praktikum ini. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. dan bagian tanaman yang diambil. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi.

baik untuk peralatan maupun media itu sendiri. Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. tunas.  Saran Untuk menghindari kegagalan dalam penanaman kultur sansivieria. b. Pemeliharaan eksplan harus diperhatikan dengan benar. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan. Pada kultur jaringan sansivieria. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal mungkin. dari 10 eksplan yang telah ditanam tidak ada yang tumbuh baik akar. 2. 87 . Semua eksplan terkontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. 5. Persentase keberhasilan dari kultur jaringan sansivieria adalah 0 %. maupun kalus. daun. a. Sebaiknya alat maupun bahan yang digunakan harus disterilisasi sehingga benarbenar steril. Sebaiknya bahan eksplan yang digunakan dipilih dari jaringan tanaman yang masih muda (meristem) yang masih aktif membelah. Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman. c. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan 1.masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama E. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. 3. 4. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan. Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat.

Untung dan F. Kultur Jaringan.2008. Mariska dan S. Florida Irawati.go. www. Wetter.DAFTAR PUSTAKA Anonim.) Tanaman Sumber Karbohidrat Alternaria. Supriati Y.2008.http://sensasp. Canada. Ilmiah : Berita Biologi. 7(5):257-260.wordpress. 2007. The Prairie Regional Laboratory of The National ResearchCouncil of Canada. Juan. Anonim. Pembentukan Kalus dan Embriogenesis Kultur Pelepah daun Caladium hibrida. Diakses pada tanggal 27 Desember 2007.Kultur Jaringan Sansivieria. 2005. 1982. Jakarta: Kanisius 88 . Plant Tissue Culture Methods.iptek.net. L. 2005.id.id Anonim. B. Sansivieria trifasciata Varieties Succulent Edition of Huntington Book. Purwanto. Mikropropagasi Sukun (Artocarpus communis Forst. Sansivieria. J. W.deptan.2006. Kultur Jaringan Tanaman. Hutami.1986. 2001. Santoso. Flora Cantik Penyerap Racun. Unibraw Press. J. I. and Corstabel.http://www. Ilmiah.Arie.7(4):207-214.Sansivieria si tajam Anti Poluai. Malang. Nursandi.com/2007/12/13/httpwwwta bloidnovacomartic lesaspid11386/ Chahinian. R.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful