ACARA I PEMBUATAN LARUTAN STOCK, PEMBUATAN MEDIA TANAM, DAN STERILISASINYA

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Bioteknologi di bidang pertanian telah berkembang pesat, salah satu contohnya adalah kultur jaringan. Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkembangkan bagian tanaman, baik berupa sel jaringan atau organ tanaman dalam kondisi aseptis secara in vitro. Ciri teknik ini adalah kondisi kultur yang aseptis, penggunaan media kultur buatan dengan kandungan nutrisi lengkap, dan kondisi lingkungan kultur yang sesuai. Lingkungan yang sesuai dapat dipenuhi dengan menentukan media tumbuh yang sesuai dan penempatan pada kondisi yang terkendali berkaitan dengan intensitas dan periodisitas, cahaya, temperatur, dan kelembaban serta keharusan sterilisasi. Sterilisasi alat merupakan hal mutlak yang harus dilakukan dalam kultur jaringan. Ha ini untuk menciptakan kondisi aseptis perlu dilakukan proses pensterilan atau sterilisasi untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Sterilisasi alat (petridish, pinset, gunting, dll) biasanya dilakukan dengan pemanasan secara langsung diatas api atau dibakar atau dengan pemasan menggunakan autoklaf selama 30 menit pada suhu 115ºC 135ºC. Media kultur jaringan merupakan faktor penting penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. Media kultur fisiknya dapat berbentuk padat atau cair. Media berbentuk padat menggunakan pemadat media seperti agar. Media kultur yang memenuhi syarat

1

adalah yang mengandung nutrient makro dan mikro dalam kadar dan perbandingan tertentu, sumber energi (sukrosa), serta mengandung berbagai macam vitamin dan ZPT. Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi sehingga larutan stock ini berfungsi sebagai salah satu cara untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil, oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan stock. Untuk itulah tahapan pembuatan larutan stock merupakan tahapan yang sangat penting dalam metode kultur jaringan agar tidak terjadi kesalahan dalam penimbangan bahan-bahan kimia yang akan digunakan. Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Media sebagai tempat pertumbuhan aksplan yang akan dikulturkan sehingga pembuatan media harus dilakukan dalam tahapan perbantakan tanaman secara kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

2

Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa kondisi yang aseptic merupakan syarat yang mutlak dalam tahapan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Oleh karena itu tahapan sterilisasi harus dilaksanakan dalam praktikum kali ini. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

2. Tujuan Tujuan praktikum acara yang pertama ini adalah : 1. Mengetahui prosedur pembuatan larutan stock. 2. Mengetahui langkah-langkah dalam pembuatan media kultur jaringan. 3. Mengetahui prosedur sterilisasi alat dan media kultur.

3. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara pertama ini berjudul pembuatan larutan stock, media tanam, dan sterilisasi dilaksanakan pada : Waktu praktikum Tempat : Senin, 13 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. TINJAUAN PUSTAKA
3

1. Pembuatan Larutan Stock Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil, oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. (Yuniastuti, Endang. 2008: 4) Seperti diungkapkan oleh Lydiane Kyte dan John Klein dalam Plant for Test Tubes “Stock solutions are concentrated solutions of groups of media chemicals that are preparated ahead of time and used to make several batches of media. They may be made in liter quantities of 10 to 100 times the concentration required in the final formula. Having stock solutions eliminates the need to weigh so many different chemicals every time you want to make a batch of medium. Also, the quantities will be more accurate because they are on larger scale than would be required for a single batch of medium, and thus minor inaccuracies have less impact”. Larutan stock merupakan sekelompok larutan media kimia berkonsentrasi yang disiapkan di awal dan digunakan untuk membuat beberapa kumpulan media. Larutan stock dibuat dalam satuan jumlah liter pada 10 sampai 100 kali konsentrasi yang dibutuhkan pada formula akhir. Pembuatan larutan stock mengurangi resiko perbedaan berat kimiawi yang besar setiap kali kita ingin membuat kumpulan media. Juga, jumlah akan lebih akurat sebab larutan stock dibuat dalam skala yang lebih besar daripada jika kita membuat medium tunggal, dan berkurangnya ketidakakuratan ini akan mengurangi dampak yang buruk bagi kultur jaringan. ( Lydiane Kyte & John Kleyn. 1996: 76) Beberapa komposisi akan mengendap (membentuk komponen padat) jika dicampurkan bersama dalam bentuk konsentrasi yang sama, jadi tiap kelompok kimiawi dibuat dalam bentuk kimia yang biasanya tidak mengendap pada konsentrasi larutan stock. Sebelum menambahkan bahan kimia apapun pada pembuatan larutan stock, harus ada air dalam labu, sehingga pengendapan sulit untuk terjadi.
4

jika larutan garam mendekati proses pengendapan. Namun. seperti pada material organic. Larutan stok adalah larutan berisi satu atau lebih komponen media yang konsentrasinya lebih besar dari konsentrasi komponen tersebut dalam formulasi media akan dibuat (Hemawan dan Na”em. 2006). larutan-larutan tersebut dapat dibawa pada suhu ruang. memanaskan larutan tersebut pada hot plate atau stirer akan menjadi solusi permasalahan ini. larutan-larutan tersebut akan mengendap pada suhu dingin di refrigerator sebab kelarutan suatu larutan akan menurun dengan menurunnya temperature. penimbangan langsung komponen media. Apabila komposisi larutan stock memiliki daur hidup yang lebih panjang. larutan-larutan tersebut dapat disimpan pada cup atau wadah-wadah kecil. Dengan kata lain. untuk menghilangkan endapan.Tidak ada kesepakatan umum mengenai kombinasi komposisi larutan stock. Penggunaan larutan stok mengurangi pekerjaan yang rumit dalam persiapan media. atau sedikit dipanaskan. Apabila larutan stock tersebut memiliki daur hidup yang pendek. Martin. sehingga risiko human error dalam percobaan dapat dikurangi. Lebih dari itu. penimbangan satu persatu komponen media untuk setiap pembuatan media kultur adalah tidak praktis dan hanya dapat dilakukan jika jumlah zatnya cukup besar. Masalah tersebut dapat diatasi dengan pembuatan larutan stok. misalnya mikronutrien dan hormon yang 5 . hormone cenderung memiliki waktu hidup yang pendek yang menyebabkannya harus dibuat dalam jumlah yang kecil sekitar 25 mg dalam 250 ml air. namun larutan-larutan tersebut beresiko tinggi untuk tumbuhnya kontaminan karena temperatur yang lebih tinggi. Apabila larutan membentuk endapan. juga tentang bagaimana larutan stock dibuat dan berapa lama larutan tersebut dapat disimpan sebagai larutan stock. (Bernice M. kemudian digunakan. Sebagian besar larutan stock dapat disimpan untuk watu yang terbatas tanpa reaksi yang berlawanan atau berkebalikan. seperti pada garam anorganik. kemudian komposisi kimianya akan stabil dalam waktu yang lama apabila larutan stock tersebut disimpan dalam refrigerator. 1994: 39). Pembuatan media pada prinsipnya dilakukan dengan melarutkan semua komponen media dalam air sesuai dengan konsentrasinya pada formulasi yang diinginkan. Bila larutan stock tidak mudah untuk mengendap.

dan lain-lain. Murashige dan Skoog MS (1962) serta woody plant medium-WPM (Lloyd dan Mc Known. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral. 1980). diperlukan juga bahan tambahan seperti agar. Gamborg dkk B5 (1976).  Agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media. 1995).  Suplemen berupa bahan-bahan alami. Selain itu. vitamin.  Vitamin. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. Linsmaier dan Skoog-LS (1965). gula. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak.  Zat pengatur tumbuh. jika diperlukan. dan hormon. tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. baik jenisnya maupun jumlahnya. Heller (1953). Komponen media kultur yang lengkap sebagai berikut :  Air distilata (akuades) atau air bebas ion sebagai pelarut atau solven. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi. ( Endang Yuniastuti. Pembuatan Media Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Media yang 6 . asam amino dan bahan organic lain.dibutuhkan hanya dalam ukuran milligram atau microgram dalam formulasi akhir tidak dapat dilakukan dengan cukup akurat untuk pekerjaan kultur jaringan (Rahardja. 2008: 5) Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.  Gula (umumnya sukrosa) sebagai sumber energy. Contohnya komposisi Knudson C (1946).  Hara-hara makro dan mikro. Nitsch dan Nitsch (1972). 2.

dan bahan pemadat media yaitu agar. asam amino. media dasar Nitsch dan Nitsch (1969) digunakan dalam kultur tepung sari (pollen) dan kultur sel. sering dikenal dengan media MS (Murashige dan Skoog’s).com) Formula dasar untuk media kultur jaringan telah ditetapkan oleh berbagai penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu. buah-buahan ataupun tanaman perkebunan menggunakan metode Mohr untuk pemakaian ZPT.id/ ind/?ch=isti&id=221) Dalam teknik kultur jaringan dikenal berbagai macam media dasar yang penamaannya berdasarkan nama penemunya atau peneliti yang menggunakan pertama kali dan memperoleh hasil yang berarti. (http://www. yang paling banyak digunakan adalah media Murashige dan Skoog (MS). media dasar Vacin dan Went (1949) digunakan untuk kultur jaringan anggrek. Media kultur jaringan dibuat untuk menyediakan nutrisi dan mengatur pertumbuhan yang optimal untuk tanaman yang spesifik. Beberapa media dasar yang banyak digunakan antara lain media dasar Murashige dan Skoog (1962) yang dapat digunakan untuk hampir semua jenis kultur.sinarharapan. buffer. baik tanaman sayuran. Penelitian pada berbagai macam jenis tanaman.sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Dari sekian banyak media dasar di atas. arang aktif. zat pengatur tumbuh (hormon). Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf. media dasar WPM (Woody Plant Medium. media dasar N6 (1975) untuk serealia terutama padi.iptek. vitamin. Formulasi media yang dikembangkan oleh Toshio Murashige dan rekan kerjanya . Media kultur terdiri dari beberapa atau seluruh komponen berikut: garam-garam anorganik. (http: www. media dasar B5 untuk kultur sel kedelai dan legume lainnya. mungkin 7 . media dasar White (1934) sangat cocok untuk kultur akar tanaman tomat. media dasar Schenk dan Hildebrandt (1972) untuk kultur jaringan tanaman monokotil. persenyawaan kompleks alamiah. net. Kombinasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) pada kultur jaringan sangat menentukan keberhasilan kultur. 1981) khusus untuk tanaman berkayu. yaitu penggunaan kombinasi ZPT antara kelompok sitokinin dan kelompok auksin. gula.

453 58.847 24.37 (Lydiane Kyte & John Kleyn.94 14.811 40.9898 32.9332 63. 1996: 62-64) 8 . Woody plant medium (WPM).08 12.0067 15.00797 126.312 54. dikembangkan oleh Brent Mc Cown dan Greg Lloyd. dan digunakan sebagian besar pada tanaman herba.9738 39.54 1.01115 35.9994 30.9044 55. didesign sesuai dengan nama yang cocok yaitu optimal untuk kultur jaringan tanaman berkayu. Tabel di bawah ini menunjukkan berat atomic dari elemen kimia yang pada umumnya digunakan dalam teknik kultur jaringan yaitu : Elemen Boron Kalsium Karbon Klor Kobalt Tembaga Hidrogen Iod Besi Magnesium Mangan Molibdenum Nitrogen Oksigen Potassium Kalium Natrium Belerang Seng Simbol B Ca C Cl Co Cu H I Fe Mg Mn Mo N O P K Na S Zn Berat Atomic 10.064 65.merupakan media yang terbaik dari beberapa media yang telah diketahui.102 22.938 95.

7H2O Na2SO4.2H2O KH2PO4 Unsur mikro KI H3BO3 MnSO4.4H2O ZnSO4.600 0.6H2O Na2EDTA FeSO4.250 0.7H2O Vitamin dan Asam amino Thiamin Asam nikotinat Pyridoxin HCl 9 Komposisi 1.650 1. Media tersebut mempunyai konsentrasi garam anorganik yang tinggi dibandingkan medium lainnya terutama ion NH4 dan NO3. Komponen Unsur makro NH4NO3 KNO3 CaCl2. pada umumnya dipakai media dasar Murashige dan Skoog.200 27.900 440 370 0.025 37. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa pengurangan komponen senyawa penyusun media berpengaruh baik terhadap pertumbuhan biakan tanaman dalam botol (Husni.200 22.500 0.000 0.830 6.500 . 1997).5H2O CoCl2.2H2O CuSO4.2H2O MgSO4. Di bawah ini merupakan tabel komposisi salah satu media yang paling umum digunakan yaitu Murashige and Skoog’s (Media MS).300 8.800 1.Untuk perbanyakan klonal.025 0.

unram.id/KulJar/BAB%20IV%20STERILISASI/IV2%20Sterilisasi %20Alat. Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan.ht) Sterilisasi dengan autoklaf adalah salah satu metode sterilisasi dengan uap air dibawah tekanan. larutan formalin). peralatan gelas.000 100. dipergunakan alat “bejana/ruang panas” (oven dengan temperatur 170o – 180oC dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas). Sterilisasi secara fisik (pemanasan. Nomor 1. 10 . larutan alkohol. seperti pada saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba). penyaring. Sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat tembus uap air dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110-1210C. kasa. c. plastik penutup. Kapas penyumbat.ac. 2004) 3. misalnya adalah dengan saringan/filter. b. penggunaan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi).000 3. Sistem kerja filter. (http://elearning. perlatan laboratorium. Dengan udara panas.Glycine Asam sistein Asam pantotenat Myo-inositol Sukrosa Agar 2. Sterilisasi Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Sterilisasi secara mekanik. Sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa: a.000 50.000 ( Buletin Teknik Pertanian Vol 9 . dan media nutrisi dapat disterilisasi dengan autoklaf. air. digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan.000 70.000 30.

Kelemahan autoklaf ini adalah bahwa perlu penjagaan dan pengaturan panas secara manual. tidak tergantung dari aliran listrik yang sering merupakan problema untuk negara-negara yang sedang berkembang. maka pekerjaan persiapan media menjadi sia-sia dan kemungkinan menyebabkan kerusakkan total pada autoklaf. 1989). Pemanasan air dapat menggunakan kompor atau api Bunsen. mulai dari yang sederhana sampai digital (terprogram). serta lebih cepat dari autoklaf listrik yang seukuran dan setaraf. temperatur dan tekanan autoklaf diturunkan secara perlahan-lahan dalam waktu 15-20 menit. sehingga harus sangat hati-hati saat menggunakannya diatas api. 11 . Autoklaf yang lebih komplit menggunakan sumber energi dari listrik. Bila pengatur automatis ini berjalan dengan baik. Pada autoklaf yang programmable. Tetapi autoklaf ini mempunyai keuntungan: sederhana. harga relatif murah. Dengan autoklaf sederhana ini. Alat sterilisasi baik media maupun peralatan yang digunakan untuk proses isolasi dan penanaman eksplan yang sering digunakan adalah autoklaf. Autoklaf ini sangat cepat dan dapat diprogam waktu sterilisasi. membilas tangan. Sebagai sumber uap. Setelah sterilisasi bahan atau alat selesai. Maka autoklaf dapat dijalankan sambil mengerjakan pekerjaan lain. diperlukan autoklaf dengan kapasitas besar dan sumber uap biasanya dari boiler yang terpisah. Untuk laboratorium komersial. Alatnya dilengkapi dengan timer dan thermostat. panas ini diatur secara atomatis. tekanan dan temperatur diatur dengan jumlah panas dari api. Tipe autoklaf yang dapat digunakan untuk sterilisasi ada bermacam-macam. selama masa sterilisasi dilakukan. Kelemahannya adalah bila salah satu pengatur tidak bekerja. serta waktu pendinginan. Etil alcohol (70-90%) sangat berguna untuk mengusap permukaan tempat pelaksanaan. 2004). Tetapi pada autoklaf yang sederhana hal ini harus diatur secara manual. dan mencelupkan peralatan dengan atau tanpa pembakaran. Kalsium atau Natrium hipoklorit digunakan sebagai sterilisasi peralatan dan sebagai desinfektan bagi jaringan tanaman tanpa melukainya (Afriastini. Autoklaf yang sederhana menggunakan sumber uap dari pemanasan air yang ditambahkan ke dalam autoklaf.Hampir semua mikroba mati bial terkena uap yang sangat panas dari autoklaf selama 1015 menit/ semua obyek hendaknya disterilisasi pada suhu 121ºC dan tekanan 15 Psi selama 15-20 menit (Torres. Alcohol mudah terbakar. juga berasal dari air yang ditambahkan ke dalam autoklaf dan didihkan.

Untuk media kultur yang tidak mengandung bahan-bahan yang Heat-labile. Isi wadah tersebut sampai 80% volume. Inaktifasi sitokinin zeatin riboside. Pengunci atau klem. Dalam sterilisasi aquadest. Bagian-bagian autoklaf : 1. sterilisasi dilakukan dengan autoklaf pada temperatur 121oC. Alat-alat dan air disterilkan selama 1 jam. Tutup beserta penunjuk tekanan dan saluran uap. tekanan yang biasa digunakan antara 15-17. Katup pengeluaran uap. sedangkan autoklaf besar pada laboratorium komersil pada umumnya menggunakan uap dari boiler sentral. tetapi media antara 20-40 menit tergantung dari volume bahan yang disterilkan.5 psi (pound per square inci) atau 1 atm. agar sterilisasi lebih efektif. 1996 : 169) Autoklaf gas atau listrik portable pada umumnya mempergunakan sumber uap dari pemanasan air yang ditambahkan ke dalam autoklaf. sterilisasi autoclave menggunakan panas dan tekanan dari uap air. Media disterilkan dalam autoklaf. Panci dalam tempat meletakkan botol dengan alur tempat saluran uap. 3. Untuk 20 botol volume 12 .Pada prinsipnya. 2. sterilisasi dilakukan pada tekanan 15 psi dengan waktu 20 menit. Untuk 15-50 ml media dalam tabung reaksi atau botol kecil berukuran 50-100 ml. Untuk aquadest sebaiknya dimasukkan dalam wadah kecil misalnya erlemeyer 250 ml dengan isi maksimum 100 ml. Degradasi vitamin dan asam-asam amino. tekanan antara 15 psi atau 1 atm dengan waktu antara 20-25 menit tergantung dari volume wadah dan volume media. 3. dan tutup dengan kertas. 4. 2. Waktu sterilisasi sama dengan waktu untuk sterilisasi alat-alat waktu 30 menit pada tekanan 15 psi. atau 1 atm.Lamanya sterilisasi tergantung dari volume dan jenis. Temperature sterilasi biasanya 121o C. Sterilisasi media yang terlalu lama menyebabkan : 1. serta kencangkan dengan karet gelang. Penguraian gula. lebih efektif bila digunakan wadah yang mempunyai volume antara 300 – 500 ml. Perubahan pH yang berakibatkan depolimerisasi agar. ( Lydiane Kyte & John Kleyn. 5. 4. Panci luar.

BAHAN. Bila tekanan diturunkan mendadak.22 um.1 liter membutuhkan waktu yang lebih lama yaitu 34 menit. Untuk bahan-bahan yang heat-labile dalam bentuk larutan. ALAT. Thiamin-HCL. Pembuatan Larutan Stock    Timbangan analitik Sendok Erlenmeyer Timbangan analitik Botol-botol kultur Magnetik stirrer pH meter 13 b. Bila botol akan disimpan untuk beberapa lama. biasanya disterilkan dalam oven. Dalam sterilisasi aquadest dan media. Botol-botol yang sudah dicuci bersih. Antibiotik: carbenocilin. setelah waktu sterilisasi yang diinginkan sudah tercapai. Alat a.20-0. Untuk volume larutan 10 ml. Dengan waktu yang lebih lama. Botol-botol/tabung reaksi/erlenmeyer yang dipergunakan sebagai wadah. cairan didalamnya mendidih dan meluap (bubbled up). Bahan yang heat labile antara lain : GA3.iptek. Diameter filter yang bermacam-macam tergantung dari volume larutan yang ingin disterilkan.net) C. dipergunakan filter yang dipasang di ujung jarum suntik. Pembuatan Media Tanam     . Setelah disterilkan dapat langsung digunakan. 5 botol 4 liter waktu yang digunakan 52 menit. autoklaf tidak boleh diturunkan tekanannya secara mendadak. DAN CARA KERJA 1. Ca-panthothenate. sterilisasi dilakukan dengan menyaring larutan melalui filter yang mempunyai ukuran pori 0. maka sewaktu sterilisasi. mulut botol harus ditutup dengan alumunium foil. (http://www. 10 botol volume 2 liter memerlukan waktu 37 menit. dimasukkan ke dalam oven dan dipanaskan selama 4 jam pada temperatur 160o C.

3 mm Karet gelang Kertas label Autoklaf a. Larutan Stock Media Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relative kecil. Bahan Gelas piala Pipet Plastik pp 0. vitamin. oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. Pembuatan Media Tanam      3. Pembuatan Larutan Stock   Bahan-bahan kimia untuk nutrisi. Langkah-langkah pembuatan larutan stock meliputi : 14 . terdiri atas hara makro dan mikro. FeEDTA. Larutan stock merupakan larutaaan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi.     c. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. Pembuatan Larutan Stock 1. vitamin. ZPT Aquadest Aquadest Larutan stock. Sterilisasi  2. serta ZPT Agar-agar Gula NaOH 1N dan HCl 1 N b. Cara Kerja a.

Memasukkan masing-masing larutan ke dalam botol dan menyimpan ke dalam refrigerator. Menghitung kebutuhan bahan IBA 100 ppm sebanyak 100 ml adalah sebagai berikut : 100 ppm = 100 mg/l = 10 mg/0. Melarutkan bahan dengan Alkohol atau NaOH 1 N kemudian ditambah dengan aquadest sampai 300 ml untuk BAP dan 100 ml untuk IBA.1 l = 10 mg/100 ml (3). (3).(1). misalnya 500 ml. Gamborg dkk B5 (1976). Menimbang bahan-bahan kimia yang telah dikalikan menjadi beberapa kali konsentrasi. misalnya untuk unsure hara makro dikalikan 20 dan unsur hara mikro dikalikan 100 kali konsentrasi. Nitsch dan Nitsch (1972).3 l = 30 mg/300 ml (2). Menghitung kebutuhan bahan BAP 100 ppm sebanyak 300 ml adalah sebagai berikut : 100 ppm = 100 mg/l = 30 mg/0. Heller (1953). Linsmaier dan Skoog-LS (1965). Contohnya komposisi Knudson C (1946). Biasanya zat pengatur tumbuh ini dibuat dengan kepekatan 1-10 mg/ml . Pembuatan Media Kultur Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. Memasukkan masing-masing larutan tersebut ke dalam botol dan menyimpannya ke dalam refrigerator. Larutan Stock Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Zat pengatur tumbuh hanya diperlukan dalam jumlah yang sedikit sekali. Murashige dan Skoog MS 15 . b. (4). Melarutkan bahan-bahan kimia tersebut ke dalam aquadest dengan volume tertentu. 2. Cara membuat larutan stock masing-masing ZPT adalah sebagai berikut : (1). (2).

Hara-hara makro dan mikro.5 ppm. misalnya :  V1 x M1 V1  V1 x M1 V1 x 100 ppm Untuk membuat media 1 L dengan konsentrasi BAP 2 ppm.(1962) serta woody plant medium-WPM (Lloyd dan Mc Known. Suplemen berupa bahan-bahan alami. Komponen media kultur yang lengkap sebagai berikut :        Air distilata (akuades) atau air bebas ion sebagai pelarut atau solven. Gula (umumnya sukrosa) sebagai sumber energy. 1980). maka = V2 x M2 = 1000 ml x 0.5 ppm volume larutan stock yang diambil adalah : . asam amino dan bahan organic lain. Zat pengatur tumbuh. Media tersebut digunakan untuk penanaman masing-masing eksplan yang masing-masing eksplan diulang sebanyak 2 kali untuk tiap mahasiswa. Agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media. Langkah-langkah pembuatan media (1 liter) adalah sebagai berikut : (1).5 ppm 16 volume larutan stock yang diambil adalah : V1 X 100 ppm = 1000 ml x 0. Mengambil larutan stock ZPT sesuai dengan perlakuan. Mengambil masing-masing larutan stock sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan dan memasukkannya ke dalam gelas piala. Vitamin. maka = V2 x M2 = 20 ml/L Untuk membuat media 1 L dengan konsentrasi IAA 0. media yang digunakan adalah media Murashige dan Skoog’s (MS) yang dimodifikasi dengan penambahan ZPT BAP 2 ppm dan IAA 0. jika diperlukan. (2). Dalam praktikum kali ini.5 ppm.

V1 = 5 ml/L V2 : volume media yang akan dibuat M1 : dosis larutan stock yang tersedia M2 : dosis media yang akan dibuat Menambah aquadest sampai 1000 ml Menambah gula sebanyak 30 gr Mengatur pH dalam kisaran 5. Sterilisasi Alat dan Media Kultur Sterilisasi alat dan media kultur jaringan dilakukan secara bersamaan menggunakan autoklaf. Menyimpan media pada rak penyimpan media yang bertujuan untuk mengantisipasi ada tidaknya kontaminasi pada media sehingga dapat dicegah penggunaan media yang telah terkontaminasi pada saat penanaman.  c. Menuangkan larutan media ke dalam botol-botol kultur kurang Menutup botol berisi larutan media dengan plastik. Pembuatan Media Tanam 17 .8. HASIL DAN PEMBAHASAN 1.3 dengan menambahkan Ket : V1 : volume larutan stock yang diambil    beberapa tetes NaOH untuk menaikkan pH atau HCl untuk menurunkan pH. Langkah-langkah sterilisasi alat dan media kultur jaringan :  Membungkus alat-alat kultur seperti petridish. D.   Menyimpan alat-alat kultur dalam oven. tekanan 1. Pada saat pengukuran pH. larutan media diaduk dengan magnetic stirrer. pisau scalpel dan pinset Memasukkan botol-botol berisi media dan alat-alat kultur yang telah dengan kertas koran.   Menambahkan agar-agar 8 gr kemudian dididihkan.6. lebih 25 ml tiap botol.  dibungkus kertas koran ke dalam autoklaf untuk proses sterilisasi pada suhu 121° C.5 kg/cm2 selama 45 menit.

Zat pengatur tumbuh yang ditambahkan juga bervariasi baik jenis maupun jumlahnya.025 37.200 27.800 1.025 0.5H2O CoCl2.650 1. dan hormone.500 0.200 22.250 0.500 . vitamin.900 440 370 0. tergantung dengan kultur jaringan yang akan dilakukan.2H2O KH2PO4 Unsur mikro KI H3BO3 MnSO4.6H2O Na2EDTA FeSO4. Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan tergantung pada jenis tanaman yang akan diperbanyak. Pada percobaan kali ini media yang dibuat adalah media Murashige and Skoog’s dengan komposisi : Komponen Unsur makro NH4NO3 KNO3 CaCl2. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral.600 0.7H2O Na2SO4. dan lain-lain.4H2O ZnSO4.Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.300 8. Selain itu perlu ditambahkan bahan tambahan seperti agar.2H2O CuSO4.830 6. gula.000 0.2H2O MgSO4.7H2O Vitamin dan Asam amino Thiamin Asam nikotinat Pyridoxin HCl 18 Komposisi 1.

K. Selain itu. Sebelumnya telah dibuat larutan stock media.000 70. senyawa sumber karbon. Pada praktikum kali ini hanya digunakan media dasar berupa media Murashige Skoog.000 30. terdapat banyak jenis media yang lain seperti woody plant medium (WPM) yang cocok untuk kultur tanaman keras atau tanaman berkayu. Larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan pengukuran berat dan konsentrasi senyawa dalam meia. Media kultur dibedakan menjadi dua yaitu media dasar yang terdiri dari garam-garam organik (makro dan mikro).atau NH4+ atau asam amino. asam amino. N. O. N didapatkan dari NO3. kalau tidak dibuat larutan stocknya akan menyulitkan dalam penimbangan komponen media. Sebab. Ca. karena berat yang dibutuhkan sangat sedikit seperti yang tertera dalam table komposisi di atas dan penimbangan seringkali tidak akurat.000 Pemilihan jenis media kultur yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan eksplan sesuai yang diinginkan. Jenis media kultur yang paling banyak digunakan adalah media Murashige and Skoog (MS) cocok untuk hamper semua jenis tanaman terutama monokotil. Media yang kedua adalah media perlakuan yaitu media dasar yang ditambahkan dengan penambahan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) atau hormone. sehingga memastikan bahwa jumlah/ volume masing-masing komponen media yang diberikan dalam jumlah tepat. S. yaitu larutan pekat senyawasenyawa kimia penyusun media.000 3. media Gamborg dan White untuk kultur akar.000 50.000 100. H.Glycine Asam sistein Asam pantotenat Myo-inositol Sukrosa Agar 2. Komponen-komponen media MS yaitu :  Garam-garam anorganik terdiri dari makronutrient (C. Mg). dan vitamin. P. Larutan stok dibuat dalam konsentrasi pekat (10 atau 100 kali konsentrasi akhir yang dibutuhkan untuk media. Mg dan S didapatkan dari 19 .

Asam amino yang sering digunakan adalah glutamine. Setelah media masak dan dituang di botol-botol kultur serta ditutup plastik.8 sampai 6.2H2O dibuat larutan stocknya. sistein.  Vitamin berfungsi sebagai katalisator dalam system enzim dan diperlukan dalam jumlah kecil. Pada praktikum kali ini.2H2O dibuat larutan stock tersendiri karena apabila di campur zat ini akan mengendap. Syarat utama keberhasilan kultur in vitro adalah menghindari kontaminasi yang dapat terjadi pada setiap saat dalam masa kultur .MgSO4. sebagai sumber energy. Vitamin yang dibutuhkan pada sebagian besar kultur jaringan tumbuhan adalah thiamin. asparagin.000. Vitamin lain yang biasa digunakan adalah asam nikotinat dan piridoksin HCl (vitamin B6).000 mg/L.7H2O.8 sampai 6.  Asam amino merupakan sumber N organik. dan I. untuk hara makro kecuali CaCl2. Sterilisasi Media Tanam. dan Eksplan Tanaman. Zn. 2. Selain itu dibutuhkan juga mikronutrient yang terdiri dari Cu. Media yang terlalu asam menyebabkan media sukar mengendap. Pada praktikum kali ini dilakukan penambahan HCl sebanyak kurang lebih 5 tetes karena campuran media yang didapat terlalu basa dan setelah dilakukan penambahan HCl dilakukan pula penambahan NaOH sebanyak 2 tetes karena pH yang didapat terlalu asam. P didapat dari NaH2PO4. pH harus dijaga pada 5. Alat-alat Penanaman. Co.3 dengan penambahan KOH atau NaOH untuk menaikkan pH dan dan HCl untuk menurunkan pH. K2NO3 atau KH2PO4. K2NO3 atau KH2PO4. dan glisin.H2O dan KH2PO4. Dan Cl dari KCl atau CaCl2. Konsentrasi sukrosa yang digunakan adalah 20. untuk CaCl2. yang diberikan dalam bentuk Thiamin-HCl.nya yaitu harus dijaga pada pH 5. K didapat dari KCl.2H2O atau Ca(NO3)2.  Sumber karbon yang digunakan adalah sukrosa.3 sebab pada kawasan pH ini merupakan pH yang optimum untuk penyerapan hara oleh tanaman.45. K didapatkan dari KCl. B. Kontaminasi umumnya disebabkan oleh sterilisasi media yang kurang sempurna. lingkungan kerja dan pelaksanaan atau cara kerja 20 . Ca didapatkan dari CaCl2. Namun harus juga dihindari penambahan HCl dan NaOH secara berlebihan karena akan mengurangi tingkat keberhasilan pembuatan media. Mo. FeEDTA. media dimasukkan dalam autoklaf untuk disterilisasi. Pada pembuatan media harus diperhatikan pH.

apabila hal itu terjadi proses sterilisasi tidak akan berhasil. harus dipastikan bahwa semua kunci harus menutup agar tekanan yang timbul tidak bocor keluar. Bagian yang ada tulisan dari kertas pembungkus harus diletakkan di bagian luar agar tinta yang larut nanti tidak mengotori alat yang ada di dalamnya. 21 . Pada praktikum kali ini. Sebelum dimasukkan petridish. autoklaf tidak boleh langsung dibuka melainkan ditunggu hingga semua air yang berada di dalam autoklaf keluar (kunci dibuka dulu) dan tekanan di dalam autoklaf menurun.saat penanaman (kecerobohan pelaksana). Uap air panas inilah yang akan membunuh mikroorganisme dan mensterilkan alat atau media yang akan digunakan. eksplan. Petridish akan mudah rusak (pecah) jika mengalami kontak langsung dengan uap air yang panas. Agar kontaminasi tidak terjadi maka faktor-faktor tersebut harus berada dalam kondisi aseptik. metode sterilisasi dengan bahan kimia bisa menggunakan alkohol 70 % atau 80 %. molekul-molekul atau benda-benda asing berukuran kecil yang jatuh atau masuk ke dalam botol kultur setelah penanaman dan ketika diletakkan di ruang kultur. metode sterilisasi pemanasan basah menggunakan autoklaf. untuk mensterilisasi media dan alat-alat untuk penanaman eksplan menggunakan metode sterilisasi pemanasan basah dengan menggunakan autoklaf. metode sterilisasi laminar air flow cabinet menggunakan sinar UV. Setelah proses sterilisasi selesai dan autoklaf mati. pisau scalpel. apabila langsung dibuka dapat menimbulkan ledakan dan dapat merusak klep pengatur tekanan pada autoklaf sehingga kerja alat akan terganggu untuk pemakaian selanjutnya. Sebelum dinyalakan. pinset. Sedangkan alat-alat seperti pisau scalpel dan pinset akan mudah berkarat jika berkontak langsung dengan uap air. Untuk sterilisasi media dilakukan selama 15-20 menit sedangkan untuk sterilisasi alat dan aquades dilakukan selama kurang lebih 1 jam. metode ultrafiltrasi dengan menggunakan filter milipore (digunakan untuk hormone dan ZPT). metode sterilisasi dikelompokkan dalam metode sterilisasi pemanasan kering menggunakan oven. Kondisi aseptik dapat dicapai dengan metode sterilisasi. Autoklaf merupakan alat yang dilengkapi dengan klep pengatur tekanan yang berasal dari air yang diuapkan. Secara umum. dan alat-alat yang lain terlebih dahulu dibungkus dengan kertas agar tidak kontak langsung dengan uap air autoklaf.

Sedangkan eksplan yang akan dikulturkan pada praktikum ini disterilkan secara kimiawi yaitu dengan merendam eksplan dalam larutan Dithane M-45 3 mg/l yaitu sebagai fungisida yang berfungsi untuk mencegah timbulnya jamur. Kegagalan sterilisasi dapat dihindari dengan jalan mengikuti semua ketentuan dan prosedur pelaksanaan sterilisasi meliputi penggunaan alat dan pelaksanaan prosedur sterilisasi.25 % (Sunclin 100 %) selama kurang lebih 2 menit. E. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil. oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Dalam proses sterilisasi memungkinkan dapat terjadi kegagalan sterilisasi seperti :  Ketidakberhasilan sterilisasi akibat adanya salah satu atau beberapa kunci pada autoklaf yang tidak menutup dengan sempurna sehingga tekanan yang timbul dari autoklaf bocor ke luar.  Kegagalan sterilisasi akibat sebelum tekanan dalam autoklaf menurun dan semua air yang ada di autoklaf belum habis autoklaf sudah terbuka sehingga dapat menimbulkan ledakan atau kerusakan klep pengatur tekanan pada autoklaf. Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Setelah itu dilanjutkan dengan merendam eksplan dalam larutan Chlorox 5. vitamin. dan 22 .

metode sterilisasi dengan bahan kimia bisa menggunakan alkohol 70 % atau 80 %. 3. gula. Syarat utama keberhasilan kultur in vitro adalah menghindari kontaminasi yang dapat terjadi pada setiap saat dalam masa kultur . metode sterilisasi dikelompokkan dalam metode sterilisasi pemanasan kering menggunakan oven. Saran Dari pembahasan dan kesimpuan yang telah ditarik. media tanam. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi. Agar kontaminasi tidak terjadi maka faktor-faktor tersebut harus berada dalam kondisi aseptik. Pada pembuatan media harus diperhatikan jenis eksplan yang akan dikulturkan sehingga dapat memilih dan menentukan media yang tepat yang akan digunakan.hormon. molekul-molekul atau benda-benda asing berukuran kecil yang jatuh atau masuk ke dalam botol kultur setelah penanaman dan ketika diletakkan di ruang kultur. lingkungan kerja dan pelaksanaan atau cara kerja saat penanaman (kecerobohan pelaksana). dan sterilisasi yaitu antara lain : 1. Secara umum. baik jenisnya maupun jumlahnya. dan lain-lain.  23 . metode sterilisasi laminar air flow cabinet menggunakan sinar UV. Pada tahap sterilisasi harus diperhatikan betul tahapan-tahapan dan prosedur sterilisasi agar dapat meminimalisir kegagalan sterilisasi. saran yang dapat penulis sampaikan untuk praktikum-praktikum yang akan dating tentang pembuatan larutan stock. Kondisi aseptik dapat dicapai dengan metode sterilisasi. eksplan. Larutan stok sebaiknya dibuat untuk menghindari terjadinya kesalahan penimbangan sebab bahan-bahan kimia untuk membuat media diperlukan dalam jumlah yang sedikit. tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Kontaminasi umumnya disebabkan oleh sterilisasi media yang kurang sempurna. diperlukan juga bahan tambahan seperti agar. Selain itu. 2. metode ultrafiltrasi dengan menggunakan filter milipore (digunakan untuk hormone dan ZPT). metode sterilisasi pemanasan basah menggunakan autoklaf.

org/ teknik/veg.2008. M. Diakses 15 Desember 2007 Bernice. 1995.). 1997.unram. Tissue Culture Technique. Yuniastuti. 2004. Perbanyakan Vegetatif : Kultur Jaringan. Jurnal Agrosains 19(2) : 103-109. P.id. 1996.id/ind/?ch=isti&id=211 http://www. Tissue Culture techniques for Horticultural Crops. Plants from Test Tubes. Nomor 1.C.1994.C. Endang.net. Von Hostrand Reinheld.id/KulJar/BAB%20IV%20STERILISASI/IV2%20Sterilisasi %20Alat. Pengaruh Jenis Media dan Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Perakaran pada Kultur Jaringan Cendana (Santalum album Linn.ac. 2006. Buletin Plasma Nuftah II(1) : 9.iptek.com http://elearning. T dan M. New York. Buku Petunjuk Praktikum Kultur Jaringan. Kultur Jaringan Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern. Husni. Martin. USA: Timber Press Rahardja. Torres. F. Kyte. USA : Boston University Buletin Teknik Pertanian Vol. Jakarta. Penebar Swadaya. Lydiane & John Kleyn.sinarharapan. A. 2004 Herawan.ht 24 . 9. Perbanyakan dan Penyimpanan Tanaman Inggu melalui Kultur Jaringan.wikipedia. http://www. Na’iem. Surakarta : UNS Press http://www.DAFTAR PUSTAKA Afriastini. 1989. K.

Latar Belakang Mawar (Rosa sp. Permintaan bunga potong Mawar. 1994). Beberapa komoditas bunga potong yang menjadi andalan di Indonesia saat ini antara lain: Mawar. Lily. Sedap malam dan Anthurium. menyebar luas dari daerah-daerah beriklim dingin (subtropis) dan panas (tropis). Krisan. Timur Tengah dan Eropa Timur. Bunga potong sebagai salah satu komoditas pertanian yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. Mawar berasal dari dataran Cina.) merupakan tanaman bunga hias berupa herba dengan batang berduri. Tahun Baru dan hari-hari besar lainnya (Hasyim. PENDAHULUAN 1. Permintaan nasional akan tanaman hias dan bunga potong meningkat tidak kurang dari 10% setiap tahunnya. Anggrek.ACARA II KULTUR JARINGAN MAWAR (Rosa sp) A. 1989 dalam Effendie. 25 . Permintaan bunga potong semakin meningkat pada saat menjelang Idul Fitri. Gladiol. Hari Natal. Gladiol dan Lily masing-masing menduduki peringkat 1. Di Indonesia yang merupakan salah satu wilayah pemasok konsumen tanaman hias secara Nasional adalah Jawa Tengah dan Jawa Barat serta Jawa Timur. telah diusahakan secara komersial sejak lama dalam upaya memenuhi permintaan yang semakin meningkat. 5 dan 9. Meningkatnya permintaan ini sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang memberikan peluang besar untuk pengembangan usahatani dan pemasaran tanaman hias serta bunga potong. Dalam perkembangannya.

sedangkan secara generatif hanya ditujukan untuk pemuliaan. yang banyak diminati konsumen dan dapat dibudidayakan secara komersial. Permintaan pasar sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas komoditas yang dihasilkan petani. Selain itu. umbi. Metode perbanyakan bunga potong yang dilakukan oleh petani saat ini masih menggunakan teknologi pebanyakan melalui benih. Perbanyakan mawar bunga potong umumnya diperbanyak secara okulasi. Perbanyakan menggunakan benih akan menghasilkan tanaman dengan keragaman yang tinggi. Teknologi tersebut ternyata belum mampu menjawab tantangan untuk mengantisipasi berkembangnya agribisnis bunga potong. stek dan sambungan mata tempel. Mawar merupakan komoditas hortikultura yang bernilai tinggi. Bibit yang bermutu adalah bibit yang mempunyai sifat unggul dan seragam. sudah saatnya memproduksi bunga yang berkualitas. Salah satu alternatif yang mampu menjawab tantangan tersebut adalah dengan menggunakan teknologi perbanyakan secara kultur jaringan (in vitro). hal ini akan merugikan petani apabila ketersediaan varietas unggul di tingkat petani tidak disediakan dan terdesak oleh komoditas import. Indikasi ini terlihat dari permintaan konsumen terhadap bunga potong bukan saja terjadi pada hari-hari besar tetapi kini bunga potong dibutuhkan hampir setiap hari (Sanjaya. Okulasi mata tunas dilakukan pada saat kulit batang bawah mudah dikelupas. sedangkan perbanyakan menggunakan umbi.Mengingat manfaat bunga yang demikian besar. terutama mawar di Indonesia tergolong lambat karena adanya kendala dalam penyediaan bibit. okulasi mata tunas atau okulasi mata berkayu. Pengembangan bunga potong. stek. Mawar (Rosa hybrida L. 1996). Pada saat 26 .) biasa diperbanyak secara vegetatif. Permintaan mawar sebagai bunga potong meningkat pada hari raya dan keagamaan dan tahun baru. yang tersedia di pasar. Konsumen akan cenderung memilih produk yang mempunyai kualitas lebih tinggi. Salah satu kendala yang dihadapi petani bunga potong antara lain ketersediaan bibit yang bermutu. kegiatan penelitian tanaman hias yang semakin berkembang belum diimbangi dengan kegiatan pengelolaan atau konservasi plasma nutfah yang memadai. dan mata tempel akan menghasilkan tanaman yang mempunyai sifat sama dengan induknya tetapi bibit yang dihasilkan relatif sedikit dan memerlukan waktuyang lama.

Eksplan yang akan digunakan pada praktikum kali ini adalah mawar (Rosa sp) yaitu bagian batangnya.Pelaksanaan dari teknik okulasi mata berkayu hampir sama dengan okulasi mata tunas.) digunakan bahan tanam berupa ruas-ruas batang muda tanaman mawar. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan mawar. Tujuan Praktikum acara kedua ini bertujuan untuk : a. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. Penggunaan ruas batang muda mawar bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan tipis. 27 . Cara ini merupakan gabungan dari penyetekan dan penyambungan (grafting) yang dilakukan pada saat yang bersamaan. tidak memerlukan ruangan yang luas dan mencegah penularan penyakit sistemik. Dengan cara ini okulasi dapat dilakukan pada stek batang bawah yang belum berakar ataupun yang sudah berakar. Pada kultur jaringan mawar (Rosa sp. 2. Mengetahui teknik perkembangbiakan atau mengembangbiakkan mawar secara teknik kultur jaringan (in vitro). Namun demikian sebaiknya okulasi mata tunas dilakukan setelah batang bawah berumur lebih dari satu bulan.tersebut sel-sel tanaman dan sel-sel kambium tersebut sedang dalam keadaan aktif. yang sekarang banyak dilakukan pengusaha benih/bibit mawar di luar negeri adalah stenting. artinya organ tersebut masih aktif membelah. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi.Salah satu cara perbanyakan yang lebih efisien. Selain itu. b. Perbanyakan mawar dengan teknik kultur jaringan merupakan salah satu alternatif unggul perbanyakan tanaman yang dapat menyediakan bibit tanaman dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang cepat. hanya pada okulasi mata berkayu tidak harus menunggu batang bawah mudah dikelupas.

yaitu diperolehnya bibit yang seragam dalam jumlah besar. mawar diklasifikasikan sebagai berikut.3. Kingdom Divisi : Plantae : Spermatophyta 28 . Dengan adanya sitokinin di dalam medium menyebabkan tunas mengandakan diri secara terus menerus membentuk tunastunas baru dalam jumlah ribuan bahkan jutaan tunas. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Dalam taksonomi. Proses ini disebut organogenesis atau dikena juga dengan istilah mikropropagasi. 2008b). 2008a). Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. selanjutnya diakarkan menjadi planlet. Perbanyakan tanaman melalui teknik kultur jaringan memeiliki beberapa keuntungan. TINJAUAN PUSTAKA Pembentukan tunas adventitif secara langsung menggunakan eksplan potongan batang muda yang memiliki calon tunas samping. Adapun tanaman yang telah berhasil diperbanyak antara lain tanaman hias (misal: anggrek dan mawar) (Anonim. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara II yang berjudul Kultur Jaringan Mawar (Rosa sp) ini dilaksanakan pada : Waktu Tempat : Senin. Walaupun jarang ditemui. Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. Teknik ini sangat bermanfaat untuk tanaman-tanaman yang diperbanyak secara vegatatif. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Suarakarta B. tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter (Anonim.

yang sekarang banyak dilakukan pengusaha benih/bibit mawar di luar negeri adalah stenting. 1996) Mawar (Rosa sp) biasa diperbanyak secara vegetatif. Pada saat tersebut sel-sel tanaman dan sel-sel kambium tersebut sedang dalam keadaan aktif. Di daerah sejuk. sedangkan secara generatif hanya ditujukan untuk pemuliaan.Salah satu cara perbanyakan yang lebih efisien.1990) Mawar berasal dari daerah subtropik pada belahan bumi utara. serta dapat dibudidayakan secara komersial dan terencana sesuai permintaan.Pelaksanaan dari teknik okulasi mata berkayu hampir sama dengan okulasi mata tunas. banyak diminati konsumen. Perbanyakan mawar bunga potong umumnya diperbanyak secara okulasi. Namun demikian sebaiknya okulasi mata tunas dilakukan setelah batang bawah berumur lebih dari satu bulan. okulasi mata tunas atau okulasi mata berkayu. Mawar (Rosa sp) merupakan komoditas holtikultura yang bernilai ekonomi tinggi. Okulasi mata tunas dilakukan pada saat kulit batang bawah mudah dikelupas.Sub divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Angiospermae : Dicotyledoneae : Rosales : Rosaceae : Rosa : Rosa sp (Gembong Tjitrosoepomo. Dengan cara ini okulasi dapat dilakukan pada stek batang bawah yang belum berakar ataupun yang sudah berakar. hanya pada okulasi mata berkayu tidak harus menunggu batang bawah mudah dikelupas. warna. sehingga pada saat tanaman ditanam di lapang tidak tumbuh tunas liar dari batang bawah. Cara ini merupakan gabungan dari penyetekan dan penyambungan (grafting) yang dilakukan pada saat yang bersamaan. yang akhirnya akan meringankan biaya pemeliharaan.Beberapa keuntungan dari teknik stenting ialah perbanyakan lebih cepat. Jenis mawar hibrida sebagian besar menyukai teampat yang sejuk (cocok untuk pegunungan).Penggunaan mata berdaun pada teknik stenting ini memerlukan penanganan khusus untuk menghindari 29 . ukuran bunga. karena saat penyambungan tidak menunggu batang bawah berakar terlebih dahulu. bahan tanaman yang digunakan lebih sedikit (satu mata tunas + daun dari batang atas dan satu ruas batang bawah tanpa daun). (Sartika. bentuk dan baunya berkembangbiak (Ashari. 1995).

tunas samping atau bagian dari batang yang mengandung satu atau lebih mata tunas (Allen. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. maka disekeliling daun harus dipertahankan agar selalu dalam keadaan lembab. 2003). merendahkan suhu dan meningkatkan kelembaban sekitar daun.Keberhasilan penyambungan sebagian besar disebabkan hubungan kambium yang rapat dari kedua tanaman (batang bawah dan batang atas) yang disambungkan atau terjadinya pertautan/jalinan meristematik antara keduanya. Cara yang banyak dilakukan untuk mempertinggi kelembaban ini yaitu dengan pengkabutan secara periodik (intermitten misting). (http://holtikultura. 30 .litbang. sehingga akan mengurangi laju respirasi dan transpirasi. Seperti halnya kultur pucuk.buhnya akar dan tunas. Medium MS dan modifikasi konsentrasi persenyawaan dengan penambahan auksin dan sitokinin merupakan komposisi media tumbuh yang biasa digunakan untuk inisiasi kalus Keberhasilan perbanyakan massal secara invitro sangat bergantung pada komposisi media tumbuh dan pemilihan bahan eksplan yang tepat tetapi kebutuhan optimal unsur hara dan zat pengatur tumbuh bervariasi antar setiap fase pertumbuhan dan perbanyakan antar varietas dan klon. Kultur mata tunas merupakan salah satu teknik in-vitro yang digunakan untuk perbanyakan tanaman dengan merangsang munculnya tunas-tunas aksilar dari mata tunas yang dikulturkan.kelayuan sampai bertautnya kambium serta tum. 1978). Perubahan sifat genetik yang diekspresikan pada perubahan kelopak dan warna bunga dapat dilihat mulai dari biakan dalam botol. et al. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. tanaman asal eksplan tersebut. Untuk menjamin keperluan tersebut. (Prihardini. Setelah diaklimatisasi dan diperbanyak secara konvensional. Teknik ini memberikan lapisan air pada permukaan daun dan batang.deptan.id. perubahan warna tetap dipertahankan.go.Katalog teknologi unggulan holtikultura). bahkan varietas. eksplan yang digunakan dalam kultur mata tunas dapat berasal dari tunas lateral. Terjadinya perubahan pada kelopak dan warna bunga dapat terjadi karena adanya mutasi pada kumpulan sel somatik dan dapat terekspresi pada sel meristem dan akan membentuk suatu sektor yang stabil (Boertjes dan Van Harten 1978).

2001). 2004). dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman. penyimpanan yang kurang baik serta teknik aseptic yang kurang memadai (Martin. ALAT. kondisi tersebut sulit dicapai karena memerlukan kondisi rumah kaca yang terkontrol. Teknik kultur jaringan merupakan salah satu alternatif untuk menyediakan bahan tanam secara massal dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional. a. DAN CARA KERJA 1. (Marlina. Bahan Eksplan : mawar (Rosa sp.. b. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro. . 1994). Alat LAFC lengkap dengan lampu Bunsen Petridsh dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. Bentuk kontaminasi yang paling umum terjadi adalah bakteri dan jamur. c. c. a. et al. Untuk saat ini. Kelebihan teknik tersebut. Pembentukan kultivar mawar baru melalui persilangan memerlukan persiapan seperti suhu yang konstan pada siang dan malam hari yaitu 18ºc dan kelembaban udara sekitar 70%. BAHAN.Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro. Bentuk kontaminasi ini biasanya terjadi melalui udara dan dapat disebabkan sterilisasi yang kurang tepat. 2001). Salah satu teknologi alternatif untuk mendapatkan genotipe-genotipe baru yaitu melalui kultur jaringan (Handayati. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes 2. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi media dan zat penghambat tumbuh terhadap umur simpan dan ketahanan planlet untuk konservasi tanaman mawar Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda jenis bahan kimia atau konsentrasinya.) Media kultur Alkohol 96 % 31 b. C. mikro. dapat menghasilkan tanaman secara kesinambungan atau berkala (Hoesen.

tunas dan daun. pinset selalu dibakar diatas api Selama penanaman. meliputi Saat muncul akar. f. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk menghindari kontaminasi Pemeliharaan Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. • • • Persentase keberhasilan. 3. dilakukan pada akhir pengamatan d. b. diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). • • c. • • • Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja Persiapan eksplan Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. kelembaban dan cahayanya Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi Pengamatan selama 5 minggu. dilanjutkan dengan chlorox 5. a. daun dan kalus (HST). • • • e. g.25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 3 menit Membilas eksplan dengan aquadest steril Penanaman eksplan Membuka plastik penutup botol media kultur Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. tunas.d. Setelah digunakan. e. 32 . diamati setiap hari Jumlah akar. dilakukan pada akhir pengamatan.

Penggunaan ruas batang muda mawar bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Saat Muncul Akar Tabel 2. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah mawar (Rosa sp) yaitu bagian batangnya. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Mushage and Skoog (MS). Pada kultur jaringan mawar (Rosa sp.) digunakan bahan tanam berupa ruas-ruas batang muda tanaman mawar.1 Saat Muncul Akar Tanaman Mawar Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. artinya organ tersebut masih aktif membelah. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan.D. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. Dithane M-45 dan Agrept 33 . HASIL DAN PEMBAHASAN 1. penggunaan media yang sesuai. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0.3 gram dalam 100 ml aquadest. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan tipis.

Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. menstimulir terjadinya pembelahan sel. proliferasi kalus.merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur mawar. tunas. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan mawar diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. mendorong proliferasi meristem ujung. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. dan mineral. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Dalam aktivitas kultur jaringan. BAP berperan dalam pembentukan tunas. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. maupun kalus. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). 34 . IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. Kontaminasi sangat beragam. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. vitamin. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan mawar terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali.

pengirisan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan.2. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. 35 . kuning. media dan suplemen media yang beragam. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Saat muncul tunas tanaman mawar Tabel 2. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar.2 Saat muncul tunas tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. hijau. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. penggunaan api dan lain-lain. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. penggunaan bahan sterilisasi. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan.

kuning. penggunaan api dan lain-lain. media dan suplemen media yang beragam. penggunaan bahan sterilisasi. hijau. pengirisan. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Saat muncul kalus tanaman mawar 36 .3 Saat muncul daun tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Saat muncul daun tanaman mawar Tabel 2. 4.3. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan.

Tabel 2.4 Saat muncul kalus tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus -

Mawar

Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam, hijau, kuning, dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal, media dan suplemen media yang beragam, penggunaan bahan sterilisasi, pengirisan, penggunaan api dan lain-lain.

5. Presentase Keberhasilan
37

Tabel 2.5 Persentase Keberhasilan Kultur Mawar Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%)
0 × 100% = 0% 10

Mawar 0 10 Sumber : Laporan Sementara

Berdasarkan data diatas eksplan mawar memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat, media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. Praktikum acara kultur jaringan mawar ini menggunakan eksplan berupa batang. Media kultur yang digunakan adalah media MS dengan tambahan ZPT berupa BAP dan IBA. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan mawar tidak ada akar, tunas, daun, dan kalus yang muncul. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya; a. Media yang telah terkontaminasi jamur. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. Disamping itu, terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. b. Eksplan yang terkontaminasi. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. c. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. Peralatan – peralatan seperti pinset, botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan
38

pensterilan. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. Dalam praktikum ini, komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Setelah eksplan ditanam, botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu, cahaya dan kelembabannya. Selain ZPT, faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis, umur ontogenik, ukuran eksplan, dan bagian tanaman yang diambil. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi, sel-selnya masih aktif membelah, dan relatif sedikit mengandung kontaminan. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. Pada fase juvenil, pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem, yaitu dapat berupa ujung akar, tunas atau daun muda. E. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum acara II adalah : a. adanya jamur dan bakteri. b. c. d. Penggunaan media yang sesuai dan keadaan yang aseptik mempengaruhi keberhasilan kultur jaringan. Faktor yang penyebab kontaminasi adalah sterilisasi yang kurang sempurna dari media atau eksplan dan kecerobohan manusia. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP.
39

Eksplan dan media terkontaminasi dengan ditandai

e.
f. g.

Fungsi

dari

IBA

yaitu

berpengaruh

dalam

pembentukan akar. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas.
Kematian eksplan disebabkan karena media dan eksplan yang terkontaminasi serta peralatan yang kurang steril.

Pada akhir pengamatan tidak terbentuk akar, tunas, daun, dan kalus. Saran


o

Harus diperhatikan prosedur pelaksanaan sterilisasi baik alat maupun bahan yang digunakan harus disterilisasi sehingga benar-benar steril. Pemeliharaan eksplan harus diperhatikan dengan benar. Sebaiknya bahan eksplan yang digunakan dipilih dari jaringan tanaman yang masih muda (meristem) yang masih aktif membelah.

o

o

DAFTAR PUSTAKA
40

2001. Vol 5(2):15-24. M. http://www. Sudaryono dan S. Marlina.E.1949. Diakses tanggal.go.Yogyakarta : UGM Press http://holtikultura.pustaka -deptan. 2001. S. Marlina. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk konservasi in vitro mawar (Rossa sp). 2004. 2004. Anonim. H. 18 Desember 2008.Allen. 2003. California. Perbanyakan dan penyimpanan Kultur Sambung Nyawa(Gynura procumbers) dengan Teknik In Vitro. B. W. T. E. Mawar. Handayati. Diakses tanggal 18 Desember 2008. I.org/wiki/Mawar. Buletin Teknik Pertanian Vol 9 No. Purnomo. Mawr Hias. P.id. J. 2008a. Id : diakses tanggal 2007 Ashari. Ilmiah : Berita biologi. Purnamaningsih.).Gembong. Applied Mutation Breeding for Vegetatively Propagated Crops. Or. Elsevier. Anonim. and A. http://warintek. N. D. Sumeru. Boertjes. 1995.id.litbang. Lane Magazine and Book Company.biogenonline. Tissue Culture Techniques : An Introduction. Hoesen. Jurnal Ilmiah : Berita Biologi. Nina. Birkhavser Inc. Nedherland.kuljar. Darliah. Jakarta. Biologi Sel dan Jaringan.com. Mariska dan R. http://www.Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta.deptan. C. USA. 5(4) 279-285.. Prihardini. How To Growth Roses. D. Peningkatan Keragaman Genetik Mawar Mini Melalui Kultur In Vitro dan Iradiasi Sinar Gamma.go. 345 p.progressio.Katalog teknologi unggulan holtikultura 15 Desember ACARA III KULTUR JARINGAN WORTEL (Daucus carota) 41 . 1994.R. Martin. 1978. Anonim. Hortikultura Aspek Budidaya. 2004. diakses tanggal 15 Desember 2007. 1. http://id. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk Konservasi In Vitro Mawar (Rosa sp. Boston. ---------. Jurnal Penelitian Hortikultura.M. 5(4) : 365-371. 2008b. Van Harten. Indonesia University Press. Tjitrosoepomo. 1978. Komposisi Media dan Eksplan Untuk Inisiasi Poliferasi Salak Secara Invitro.

umur tanaman cukup dan keadaan tanaman sehat tidak berpenyakit atau terserang hama. kubis. Buah yang dipakai sebagai benih merupakan panenan pertama.A. karena tanah yang asam menghambat perkembangan umbi. dan 42 . PENDAHULUAN 1.5.500 m dpl. terletak pada batang utama. lembap. tanah perlu dikapur.200-1. Sekarang wortel sudah dapat ditanam di daerah berketinggian 600 m dpl. Umumnya benih rekalsitran tidak mempunyai masa dormansi proses metabolisme perkecambahan berjalan terus (Copeland dan McDonald 1995) bahkan benih wortel dapat berkecambah ketika masih di pohon (perkecambahan dini) atau bersifat vivipary. Dianjurkan untuk menanam wortel pada tanah yang subur. berbuah lebat stabil. Tanah yang kurang subur masih dapat ditanami wortel asalkan dilakukan pemupukan intensif. Perbanyakan tanaman wortel selama ini dilakukan secara generatif dengan penanaman umbi akar yang matang dan telah berkecambah. Benih yang baik dihasilkan dari pohon induk yang baik. Di Indonesia kondisi seperti itu biasanya terdapat di daerah berketinggian antara 1. labu siam. Benih yang akan dijadikan bibit harus dipilih benih yang baik. buah berumur tua. dan kotiledon dalam keadaaan sehat. gembur dan kaya humus dengan pH antara 5. Perbanyakan tanaman dengan cara vegetatif adalah dengan stek yang telah berakar sempurna yang diperoleh dari batang yang muda namun cara ini jarang dilakukan karena produksi dan produktivitas buahnya rendah. Kebanyakan tanah dataran tinggi di Indonesia mempunyai pH rendah. lobak dan tomat. dan cukup sinar matahari. Berdasarkan ciri fisiknya diduga benih wortel tergolong sebagai benih rekalsitran dengan karakteristik kadar airnya tinggi sehingga mudah terkontaminasi mikroba dan lebih cepat mengalami kemunduran. Bila demikian. Wortel tidak tahan disimpan sebagai benih lebih dari satu bulan sejak berkecambah di pohon karena tidak memiliki masa dormansi sehingga diduga wortel termasuk dalam rekalsitran tinggi (highly rekalsitran).5-6. mempunyai ciri-ciri fisik yang baik. yakni tanaman tumbuh subur normal. Wortel (Daucus carota) merupakan tanaman sayuran dataran tinggi yang telah lama dikenal petani di Indonesia selain bawang putih. bermutu. sawi . Latar Belakang Wortel merupakan tanaman subtropis yang memerlukan suhu dingin (22-24° C).

Benih wortel yang digunakan untuk perbanyakan tanaman beratnya rata-rata 300-400 gram dengan kondisi voluminous dan resiko kerusakan yang tinggi. 43 . b. eksplan yang digunakan untuk kultur jaringan adalah umbi akarnya. Untuk memenuhi permintaan pasar yang banyak dapat dilakukan perbanyakan dengan kultur jaringan.umbi wortel yang di ambil langsung dari lapangan jauh lebih baik dari pada yang dibeli dari pasar. Masih banyak permasalahan yang belum diketahui pada benih wortel khususnya mengenai fenomena vivipary wortel varietas lokal daerah Cipanas yang merupakan daerah sentra wortel. Transportasi benih dari daerah pertanaman wortel yang menyebar ke seluruh wilayah Indonesia merupakan hal yang sulit. Mengetahui teknik kultur jaringan wortel. 2. Tujuan Tujuan praktikum ini adalah : a. Dalam praktikum kultur jaringan wortel ini. ukuran benih seragam. benih tidak diserang hama dan penyakit. Kultur jaringan merupakan salah satu alternatif perbanyakan tanaman secara vegetatif yang memiliki keunggulan antara lain. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara kedua ini yaitu Kultur jaringan wortel dilaksanakan pada : Waktu : Senin.bentuknya normal. 3. jaringan floem dan sekitarnya. dan lebih baik jika memakai jaringan cambium. buah telah berakar dan berkecambah sepanjang 2-4 cm dengan daun sepasang. terletak di bagian tengah batang atau pada batang pokok. Selama ini benih wortel dikembang biakkan dalam bentuk umbi yang sudah berkecambah dan sehat pada umur 42 hari setelah anthesis (HSA). 20 Oktober 2008. dapat menyediakan bibit dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat. Mengetahui pengaruh IBA dan BAP terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan wortel. Penelitian mengenai kandungan gizi kegunaan dan jumlah species wortel telah banyak dilakukan di Luar Negeri seperti di Negara Amerika Tengah.

Menurut para botanis.jenis mantes. . Wortel adalah tumbuhan biennial (siklus hidup 12 . wortel (Daucus carota) dapat dibedakan atas beberapa jenis.Tempat : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.2008. yakni wortel yang memiliki umbi akar berukuran panjang dengan ujung meruncing dan rasanya kurang manis. Linn. di antaranya: WORTEL (Daucus carota. B.24 bulan) yang menyimpan karbohidrat dalam jumlah besar untuk tumbuhan tersebut berbunga pada tahun kedua. Selain itu. (Anonim. Tumbuhan wortel mernbutuhkan sinar matahari dan dapat turnbuh pada sernua musim.jenis chantenang. dengan bunga berwarna putih. Bagian yang dapat dimakan dari wortel adalah bagian umbi atau akarnya. . Umbi akar wortel berwarna khas oranye. TINJAUAN PUSTAKA Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan jenis sayuran umbi yang biasanya berwarna jingga atau putih dengan tekstur serupa kayu. 44 .) . kurang lebih pada ketinggian 1200 ineter di atas permukaan laut. wortel juga mengandung vit. yakni wortel yang memiliki umbi akar berbentuk bulat panjang dan rasanya manis.jenis imperator. yakni wortel hasil kornbinasi dari jenis wortel imperator dan chantenang. Batang bunga tumbuh setinggi sekitar 1 m. Wortel mempunyai batang daun basah yang berupa sekumpulan pelepah (tangkai daun) yang muncul dari pangkal buah bagian atas (umbi akar). A karena memiliki kadar karotena (provitamin A). B. Wortel menyukai tanah yang gembur dan subur. mirip daun seledri. Terutama di daerah pegunungan yang memiliki suhu udara dingin dan lembab. Kerajaan: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Apiales Famili: Apiaceae Genus: Daucus Spesies: Daucus carota (Anonim.b) Sayuran ini sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia dan populer sebagai sumber vit.2008.a) Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan sayur yang ditanam sepanjang tahun.

Sifat TOTIPOTENSIAL tanaman. C. serta zat-zat lain yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. Wortel berumbi panjang berbentuk kerucut dengan ujung bertipe imperator atau meruncing. baik sendiri maupun dalam kombinasi dengan asam naftalenasetat atau asam indolasetat dan kadang dengan asam giberelat. memanjang seperti kerucut dengan ujung umbi bertipe imperator (meruncing). Akan tetapi pola respon ini tidak berlaku universal. sedangkan rasio sebaliknya akan menginduksi pembentukan tunas. Pada tahun 1939. (Lydiane Kyte. 1990). Penelitian mereka pada tembakau mengindikasikan bahwa perbandingan auksin dan sitokinin yang tinggi akan menginduksi pengakaran.c) Wortel berumbi sedang memiliki tiga bentuk. memanjang seperti silinder dengan ujung umbi bertipe nantes. Mempunyai batang pendek. menyebabkan diferensiasi dan pembentukan tunas (Moore. G.1996 : 128) Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah. Proses ini diawali oleh hormon pertumbuhan. Umbi berwarna kuning kemerah-merahan. Sosok tanamannya berupa rumput dan menyimpan cadangan makanannya di dalam umbi. Whiter melaporkan keberhasilannya dalam membuat kultur kalus dari wortel (link to kultur kalus wortel) dan tembakau. Bensil adenin dan sitokinin. sedikit vit. (Anonim.vit. Pada tahun 1957. (Anonim. chantenay yang tumpul.C.2008. sel atau kalus menjadi tunas dan tanaman sempurna.d) Kultur jaringan tanaman pertama kali berhasil dilakukan ole White pada thaun 1934. Dari pihak lain.2008. dapat diterapkan untuk kultur jaringan. berkulit tipis. Organogenesis adalah proses yang menginduksi pembentukan jaringan. Steward menggunakan jaringan floem akar wortel. tulisan penting Skoog dan Miller dipublikasikan dimana mereka menyatakan bahwa interkasi kuantitatif antara auksin dan sitokinin menentukan tipe pertumbuhan dan morfogenik yang akan terjadi. berakar tunggang yang bentuk dan fungsinya berubah menjadi umbi bulat dan memanjang. Pemilihan metode didasarkan pada sifat bahan yang akan 45 . sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi atau bahan kimiawi. Kultur jaringan (sel) adalah mengkultur/membiakkan jaringan (sel) untuk memperoleh individu baru. Penemu F. dan jika dimakan mentah terasa renyah dan agak manis.

1990). Yang umum digunakan secara rutin di laboratorium adalah menggunakan panas (Hadioetomo. 1982). mendorong proses embryogenesis. bahkan varietas. Medium MS dan modifikasi konsentrasi persenyawaan dengan penambahan auksin dan sitokinin merupakan komposisi media tumbuh yang biasa digunakan untuk inisiasi kalus Keberhasilan perbanyakan massal secara invitro sangat bergantung pada komposisi media tumbuh dan pemilihan bahan eksplan yang tepat tetapi kebutuhan optimal unsur hara 46 . Media tumbuh untuk kultur in vitro diusahakan mempunyai kondisi lingkungan yang terkontrol. tunas samping atau bagian dari batang yang mengandung satu atau lebih mata tunas (Allen. eksplan yang digunakan dalam kultur mata tunas dapat berasal dari tunas lateral. Kultur mata tunas merupakan salah satu teknik in-vitro yang digunakan untuk perbanyakan tanaman dengan merangsang munculnya tunas-tunas aksilar dari mata tunas yang dikulturkan. Dalam aktivitas kultur jaringan. 1994). membentuk klorofil dalam kalus. menghambat kerja sitokinin. Setelah diaklimatisasi dan diperbanyak secara konvensional. bahan organik. Perubahan sifat genetik yang diekspresikan pada perubahan kelopak dan warna bunga dapat dilihat mulai dari biakan dalam botol. serta dapat mempengaruhi kestabilan genetic tanaman (Wetter and Corstabel. auksin sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. 1978). Seperti halnya kultur pucuk. membentuk akar atau tunas. serta hara mineral. air. Sebagian besar kultur aseptik tidak mampu melakukan fotosintesis sehingga diperlukan sumber karbon dalam bentuk sukrosa atau glukosa. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies.disterilkan. mendorong morfogenesis kalus. vitamin. Terjadinya perubahan pada kelopak dan warna bunga dapat terjadi karena adanya mutasi pada kumpulan sel somatik dan dapat terekspresi pada sel meristem dan akan membentuk suatu sektor yang stabil (Boertjes dan Van Harten 1978). perubahan warna tetap dipertahankan. tanaman asal eksplan tersebut. alkohol dan hormon (Widiastuti dan Anggraini.

25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 . mikro. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridsh dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. c.dan zat pengatur tumbuh bervariasi antar setiap fase pertumbuhan dan perbanyakan antar varietas dan klon. g. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • Membilas eksplan dengan aquadest steril 47 b. C. c. 2004). d. Persiapan eksplan b. (Marlina. e. a. Bahan Eksplan : nanas (Ananas comosus ) dan wortel (Daucus carota) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja a. DAN CARA KERJA Alat a. dilanjutkan dengan chlorox 5. b. f. et al. (Prihardini. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro. dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman. Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. BAHAN. 2003). ALAT. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi media dan zat penghambat tumbuh terhadap umur simpan dan ketahanan planlet untuk konservasi tanaman mawar Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda jenis bahan kimia atau konsentrasinya. Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro.

daun dan kalus (HST). tunas dan daun. Penanaman eksplan • • • Membuka plastik penutup botol media kultur. Saat Muncul Akar 48 . diamati setiap hari Jumlah akar. Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). tunas. D. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk Setelah digunakan. dilakukan pada akhir pengamatan. Persentase keberhasilan. e. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. menghindari kontaminasi. Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. d. dilakukan pada akhir pengamatan f. meliputi • • • Saat muncul akar. Pengamatan selama 5 minggu.c. pinset harus selalu dibakar diatas api. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. Selama penanaman. Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. kelembaban dan cahayanya.

penggunaan media yang sesuai. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah wortel (Daucus carota) yaitu bagian umbi akarnya. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0.3 gram dalam 100 ml aquadest.1 Saat Muncul Akar Tanaman Wortel Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. artinya organ tersebut masih aktif membelah. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur wortel. Pada kultur jaringan wortel (Daucus carota) digunakan bahan tanam berupa bagian tengah dari umbi akarnya yang berwarna kuning.Tabel 3. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan floem dan cambium di sekitarnya. Penggunaan bagian tengah dari umbi akar wortel yang berwarna kuning oranye ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. 49 . Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot.

maupun kalus. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). dan mineral. Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. menstimulir terjadinya pembelahan sel. proliferasi kalus. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. BAP berperan dalam pembentukan tunas. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Pada penanaman eksplan wortel tidak ada yang membentuk akar. vitamin. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. Kontaminasi sangat beragam. Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. dan putih. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan wortel terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. hitam. tunas. Pada penanaman eksplan wortel semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. vitamin. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. dan mineral.Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. tunas. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. Dalam aktivitas kultur jaringan. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan 50 . mendorong proliferasi meristem ujung. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. daun. maupun kalus. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan wortel diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar.

media dan suplemen media yang beragam.berulang-ulang menggunkan spirtus. 2. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. pengirisan. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Saat Muncul Tunas Tabel 3. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. penggunaan api dan lain-lain. penggunaan bahan sterilisasi. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. hijau.2 Saat muncul tunas tanaman wortel Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Hasil-hasil 51 . Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. kuning. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar.

Saat muncul kalus Tabel 3.4 Saat muncul kalus tanaman wortel 52 . zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. bahkan varietas. dll. hijau. pengirisan. zat pengatur tumbuh.penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. 3. penggunaan bahan sterilisasi. penggunaan api dan lain-lain. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. 4.3 Saat muncul daun tanaman wortel Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. seperti kebutuhan nutrisi. Oleh karena itu. kuning. Saat muncul daun Tabel 3. media dan suplemen media yang beragam. komposisi media. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. lingkungan kultur. tanaman asal eksplan tersebut. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan.

hijau. penggunaan api dan lain-lain. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. media dan suplemen media yang beragam. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. 5. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. kuning. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Presentase keberhasilan Tabel 3.Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - Wortel Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri.5 Persentase Keberhasilan Kultur Wortel Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 53 . pengirisan. penggunaan bahan sterilisasi.

dan kalus yang muncul. daun. Media yang telah terkontaminasi jamur. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. Peralatan – peralatan seperti pinset. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan wortel tidak ada akar. d. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. 54 . e. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. Eksplan yang terkontaminasi.Wortel 0 10 Sumber : Laporan Sementara 0 × 100% = 0% 10 Berdasarkan data diatas eksplan wortel memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. tunas. Praktikum acara kultur jaringan wortel ini menggunakan eksplan berupa bagian tengah atau jaringan floem dari umbi akar. Disamping itu. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. f. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Media kultur yang digunakan adalah media MS dengan tambahan ZPT berupa BAP dan IBA. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus.

BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. ukuran eksplan. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama 55 . tanaman asal eksplan tersebut. sel-selnya masih aktif membelah. komposisi media. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. seperti kebutuhan nutrisi. Selain ZPT. dan bagian tanaman yang diambil. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. umur ontogenik. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. dan relatif sedikit mengandung kontaminan. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies.Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. tunas atau daun muda. lingkungan kultur. Dalam praktikum ini. Pada fase juvenil. Oleh karena itu. Setelah eksplan ditanam. zat pengatur tumbuh. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. yaitu dapat berupa ujung akar. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu. dll. pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. bahkan varietas. cahaya dan kelembabannya. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem.

Wortel. D. Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat. Pada kultur jaringan wortel. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan. California. Lane Magazine and Book Company.org/wiki/wortel 56 . DAFTAR PUSTAKA Allen. 3 ulangan terdapat jamur. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan. medianya berwarna kuning.wikipedia. d. 1978.2008. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Dari praktikum kultur jaringan wortel yang telah dilakukan.E. USA. Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. 2 ulangan terdapat bakteri dan 2 ulangan. Anonim. b. How To Growth Roses. dari 10 eksplan yang ditanam tidak ada yang berhasil tumbuh.http://en. Persentase keberhasilan dari kultur jaringan wortel adalah 0 %  Saran Untuk meningkatkan presentase keberhasilan. e. E. dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal mungkin. c. Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. baik untuk peralatan maupun media itu sendiri.

N. T. I. Sudaryono dan S. 1. 1978.iptek. J. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk konservasi in vitro mawar (Rossa sp). Meldia. Corstabel. Wetter. S. Mikrobia Dasar Dalam Praktek.cybermediaclips. Jakarta.php? mnu=2&id=150 Anonim.R. Komposisi Media dan Eksplan Untuk Inisiasi Poliferasi Salak Secara Invitro.S. Widiastuti.id/ind/pd_tanobat /view.. Moore.. 1990. PENDAHULUAN Latar Belakang 57 .id. T. D dan Anggraini. Berlin. Applied Mutation Breeding for Vegetatively Propagated Crops. and A. C. http://holtikultura. The Prairie Regional Laboratory of The National Research. Pengaruh Air Kelapa Terhadap Pembentukan Protocorm Like Bodies (PLBS) dari Anggrek Vanda dalam Medium Cair. 345 p.com Boertjes. Jurnal Penelitian Hortikultura. Gramedia. Hadioetomo. 1994. Purnomo. Buletin Teknik Pertanian Vol 9 No.M. Hardiati. dan Kartono. http://www. S. Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Nanas. S. Elsevier. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. Hort 13(3) : 157-168.Teknik Perbanyakan tanaman Wortel. Biochemistry and Physiology of Plant Hormone.2008. 2004. Vol 5(2):15-24. Plant Tissue Culture Methods. 1982. R and F. Y.litbang.C. Vol 4(2):71-73. 2003. Jurnal Hortikultura. 1. Van Harten.net.Perbanyakan tanaman wortel. L. 1990. Purnomo. Sukmayadi.deptan. Marlina. Prihardini. Springer-Verlag.Anonim.go. P.2008. 2003.E. P. Nedherland.http://plantasia.Katalog teknologi unggulan holtikultura ACARA IV KULTUR JARINGAN NANAS (Ananas comosus) A.

buah dalam sirop dan lain-lain. sehingga disukai masyarakat luas. Perbanyakan melalui kultur jaringan merupakan metode alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. yang disebabkan perlunya waktu yang relatif lama untuk memperoleh hibrida unggul hasil 58 . ketersediaan varietas lokal yang potensial untuk komersialisasi. Peran Indonesia dalam pasar global nenas belum berarti. maupun konsumsi dalam negeri. Apabila potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimum maka nenas dapat dijadikan buah-buahan andalan. terutama untuk konsumsi segar. Untuk skala industri. sehingga meningkatkan pendapatan devisa negara dan selanjutnya akan berkait dengan peningkatan pendapatan pelaku-pelaku agribisnis tanaman nenas. karena nenas (Ananas comusus (L.) merupakan salah satu dari tiga buah terpenting dari wilayah tropika. Nanas merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas. Untuk skala industri.) merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas. Hal ini karena kegiatan pengembangan varietas dalam pengertian pemuliaan tanaman belum banyak dilakukan. Merr. potensi agroklimat dan luasan lahan yang tersedia sangat memadai. perbanyakan secara konvensional kurang efektif karena jumlah bibit yang dihasilkan sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang relatif lama. Permasalahan yang dihadapi agribisnis tanaman nenas antara lain: 1.Nenas (Ananas comosus L. media cair. Salah satu komponen yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan tanaman dalam kultur jaringan adalah keadaan media secara fisik. atau modifikasi antara keduanya. Rasa buah nanas manis sampai agak masam segar. Perbanyakan melalui kultur jaringan merupakan metode alternatife untuk memecahkan masalah tersebut. baik untuk ekspor. Varietas nenas yang ada saat ini umumnya belum dapat memenuhi standar mutu yang disyaratkan dalam pengembangan skala industri. Buah nanas selain dikonsumsi segar juga diolah menjadi berbagai macam makanan dan minuman. seperti selai. oleh karena adanya keengganan para peneliti melakukannya. yaitu media padat. perbanyakan secara konvensional kurang efektif karena jumlah bibit yang dihasilkan sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang relatife lama. padahal sebagai negara yang berada di wilayah tropik. Salah satu komoditas yang dikembangkan adalah nenas.) Merr.

3. sehingga memerlukan peremajaan secara teratur dan dukungan teknologi perbanyakan bibit yang mampu menjamin keseragaman dalam waktu yang cepat. a. penjaminan mutu hasil dan upaya mempertahan-kan mutu dalam jangka waktu lebih panjang. Belum tersedianya paket teknologi produksi dan pasca panen bagi optimasi produktivitas. Belum tersedianya teknologi pembibitan yang cepat dan menjamin keseragaman dan kestabilan hasil dan kualitas hasil. Jenis jaringan yang digunakan adalah jaringan meristem yang masih terus aktif membelah. dan material genetik untuk keperluan pemuliaan tanaman masih belum tersedia. 3. 4. Pada saat ini masih dihadapi masalah ketidakseragaman ukuran dan ketidaksesuaian bentuk buah dan waktu panen sehingga proses pengolahan nenas. eksplan yang digunakan adalah bagian atas dari bonggol nanas yang berwarna putih yang merupakan bagian dari ibu tangkai bunga nanas. Masih rendahnya penerimaan konsumen terhadap nenas yang disebabkan oleh tingginya kadar Ca-oksalat yang memberikan rasa gatal yang tidak nyaman dan mitos bahwa nenas tidak baik bagi wanita dan dapat menyebabkan keguguran. Terbatasnya teknik budidaya yang diterapkan oleh petani nenas juga menyebabkan kualitas nenas menjadi tidak baik. Tujuan Mengetahui teknik kultur jaringan nanas dan wortel. termasuk untuk memperpanjang daya simpan (shelf life). 2.persilangan. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan Tujuan dari praktikum kultur jaringan nanas (Ananas comosus) ini adalah : perkembangan eksplan nanas dan wortel. Dalam praktikum kultur jaringan nanas ini. Waktu dan Tempat Praktikum 59 . padahal tanaman nenas Executive Summary Nenas mengalami penurunan produktivitas setelah tiga generasi bibit. b. padahal untuk menghasilkan nenas dengan mutu yang baik diperlukan kawalan teknologi. 2. menjadi tidak efisien. terutama pengalengan.

Nanas berasal dari Brasilia (Amerika Selatan) yang telah di domestikasi disana sebelum masa Colombus. Mexico dan Malaysia.Praktikum acara kedua ini yaitu kultur jaringan (Ananas comosus) dilaksanakan pada : Waktu Tempat : Senin. Nanas merupakan tanaman buah berupa semak yang memiliki nama ilmiah Ananas comosus. dan Indonesia merupakan negara penghasil nanas olahan dan segar terbesar ketiga setelah Thailand dan Philipina (Hardiati et al. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. B. Dalam bahasa Inggris disebut pineapple dan orang-orang Spanyol menyebutnya pina. Memiliki nama daerah danas (Sunda) dan neneh (Sumatera). Subang dan Palembang (Anonim. (1599). Klasifikasi tanaman nanas adalah: Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus : Plantae (tumbuh-tumbuhan) : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) : Angiospermae (berbiji tertutup) : Farinosae (Bromeliales) : Bromiliaceae : Ananas 60 . Golongan Abacaxi banyak ditanam di Brazilia. Di Indonesia pada mulanya hanya sebagai tanaman pekarangan. Nanas (Ananas comosus (L) Merr. masuk ke Indonesia pada abad ke-15. 2008a). TINJAUAN PUSTAKA Varietas cultivar nanas yang banyak ditanam di Indonesia adalah golongan Cayene dan Queen. Pada abad ke-16 orang Spanyol membawa nanas ini ke Filipina dan Semenanjung Malaysia. 2003). Puerte Rico. Tanaman ini kini dipelihara di daerah tropik dan sub tropik. dan meluas dikebunkan di lahan kering (tegalan) di seluruh wilayah nusantara. Dewasa ini ragam varietas/cultivar nanas yang dikategorikan unggul adalah nanas Bogor. merupakan salah satu komoditas buah tropis yang penting bila dilihat dari kegunaan dan nilai ekonomis serta mempunyai kontribusi 8% dari produksi segar dunia.. Golongan Spanish dikembangkan di kepulauan India Barat.

permukaan buah seperti sisik atau genting kecil yang tersusun rapi. 5) mahkota buah. ujung lancip tepi berduri kecil dan tajam. 4) tunas dasar buah. Daging buah berwarna putih kekuningan mengandung banyak cairan yang rasanya manis. Bibit yang dihasilkan sehat. Transportasi pengiriman mudah. dan lebih mudah untuk pengangkutannya. Dari beberapa metode perbanyakan yang ada. Alternatif yang dapat dilakukan adalah melalui cara teknik kultur jaringan in vitro dan cara stek daun. Selain itu perbanyakan nenas dapat dilakukan melalui kultur jaringan. Ketersediaan bibit anakan juga sangat terbatas.c) Nenas merupakan salah satu komoditas penting unggulan Indonesia dilihat dari kegunaan dan nilai ekonominya serta mempunyai kandungan gizi yang tinggi. Naekman. 3) tunas tangkai buah.Species (Anonim. Kedua teknik ini memungkinkan untuk menyediakan bibit nenas dalam jumlah banyak. harum dan tidak berbiji. asam. Daun tunggal bentuk pedang. (Naibaho. Perbanyakan tanaman nenas secara umum dapat dilakukan secara vegetatif menggunakan: 1) tunas akar. 2008). (Anonim.c) : Ananas comosus (L) Merr Herba yang mempunyai batang semu dengan tinggi 30 . seragam.2008.2008. warna hijau kekuningan sampai jingga. Bibit yang dihasilkan relatif seragam. Buah berbentuk menyilinder. biasanya petani menggunakan bibit yang berasal dari anakan yang tidak diketahui kesehatannya dan tidak seragam.50 cm mempunyai batang dalam bentuk roset dengan pangkal yang melebar dan menjadi pelepah. yaitu dua anakan per tanaman per tahun. Bunganya majemuk. bentuk malai terdapat di ujung batang berwarna ungu kemerahan. 2) tunas batang. dan 6) stek batang. Keunggulan pengembangan tanaman nanas dengan metode kultur jaringan atau secara in vitro yaitu :     Dapat menyediakan bibit secara cepat dan massal dalam waktu relatif singkat. Sedangkan kelemahan pengembangan tanaman nanas dengan metode kultur jaringan yaitu : 61 . Indonesia mempunyai peluang yang sangat baik untuk memposisikan diri sebagai salah satu produsen dan eksportir utama produk nenas.

62 . keinginan konsumen dan eksportir buah segar.2008) Kendala yang dihadapi dalam pengembangan agroindustri nenas antara lain adalah belum tersedianya varietas yang sesuai dengan permintaan industri pengolahan.   Kemungkinan terjadinya variasi somaklonal Proses produksi bibit memerlukan investasi relatif besar Membutuhkan keahlian khusus.Kusuma. 2008b). Kendala produksi di lapangan adalah belum tersedianya teknologi bagi pengendalian pertumbuhan vegetatif maupun reproduktif agar produktivitas dan kualitas hasil tinggi. karena melalui perbanyakan vegetatif konvensional lajunya sangat lambat. Masalah dalam pengembangan nenas adalah penyediaan bibit dalam jumlah banyak secara cepat. yang pada gilirannya perlu ditunjang dengan penanganan pasca panen yang tepat (Anonim. sehingga belum dapat ditransfer ke pada kalangan petani biasa Tahap-tahap perbanyakan bibit secara kultur jaringan adalah :  Pemilihan pohon induk  Persiapan bahan perbanyakan  Inisiasi  Multiplikasi (regenerasi)  Aklimatisasi  Pembesaran di nursery/pembibitan  Penanaman di lapangan (Darma.

2. membentuk klorofil dalam kalus. air. 1. a. Pemilihan metode didasarkan pada sifat bahan yang akan disterilkan. a. serta hara mineral. membentuk akar atau tunas. ALAT. c. Dari pihak lain. Sebagian besar kultur aseptik tidak mampu melakukan fotosintesis sehingga diperlukan sumber karbon dalam bentuk sukrosa atau glukosa. 1994). 3. bahan organik. Media tumbuh untuk kultur in vitro diusahakan mempunyai kondisi lingkungan yang terkontrol. Bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. b. sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi atau bahan kimiawi. alkohol dan hormon (Widiastuti dan Anggraini. d. e. 1982). f. menghambat kerja sitokinin. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. c. mendorong morfogenesis kalus. serta dapat mempengaruhi kestabilan genetic tanaman (Wetter and Corstabel. Yang umum digunakan secara rutin di laboratorium adalah menggunakan panas (Hadioetomo. 1990). mendorong proses embryogenesis. Dalam aktivitas kultur jaringan. Bahan a. Persiapan eksplan Eksplan : nanas (Ananas comosus ) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja 63 .Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah. DAN CARA KERJA Alat LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridish dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. g. BAHAN. vitamin. b. C. auksin sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus.

pinset harus selalu dibakar diatas api. menghindari kontaminasi. dilanjutkan dengan chlorox 5. diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • • • • Membilas eksplan dengan aquadest steril Membuka plastik penutup botol media kultur. tunas dan daun. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk c. e. meliputi • • • Saat muncul akar.1 Saat Muncul Akar Tanaman Nanas 64 . Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. Pengamatan selama 5 minggu.25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 Setelah digunakan. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. D. Persentase keberhasilan. Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. Penanaman eksplan Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. d. kelembaban dan cahayanya. dilakukan pada akhir pengamatan. dilakukan pada akhir pengamatan f.b. Selama penanaman. diamati setiap hari Jumlah akar. tunas. daun dan kalus (HST). Saat Muncul Akar Tabel 4.

Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot.Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah nanas (Ananas comosus) yaitu bagian dari bonggol yang berwarna putih yang merupakan ibu dari tangkai bunga sedangkan jaringannya merupakan jaringan meristem yang masih aktif membelah. Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur nanas. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan 65 . Penggunaan bagian berwarna putih dari bonggol nanas yang berwarna putih ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik.3 gram dalam 100 ml aquadest. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. artinya organ tersebut masih aktif membelah. penggunaan media yang sesuai. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan.

dan putih. BAP berperan dalam pembentukan tunas. Dalam aktivitas kultur jaringan. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko 66 . Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula. dan mineral. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. Kontaminasi sangat beragam. proliferasi kalus. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. daun. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. dan mineral. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan nanas terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. maupun kalus. Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan nanas diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar.yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. tunas. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Pada penanaman eksplan nanas tidak ada yang membentuk akar. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. tunas. hitam. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. maupun kalus. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). Pada penanaman eksplan nanas semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. mendorong proliferasi meristem ujung. vitamin. vitamin. menstimulir terjadinya pembelahan sel.

Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan.2 Saat muncul tunas tanaman Nanas Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. Saat Muncul Tunas Tabel 4. 67 .terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. pengirisan. media dan suplemen media yang beragam. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. penggunaan bahan sterilisasi. 2. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. kuning. penggunaan api dan lain-lain. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. hijau.

tanaman asal eksplan tersebut. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. dll. lingkungan kultur. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. zat pengatur tumbuh. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. komposisi media. 3.Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. hijau. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan 68 . zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. seperti kebutuhan nutrisi. kuning. Oleh karena itu.3 Saat muncul daun tanaman Nanas Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. bahkan varietas. Saat Muncul Daun Tabel 4. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi.

penggunaan bahan sterilisasi. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. hijau. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan.perkembangan eksplan. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Saat Muncul Kalus Tabel 4. penggunaan api dan lain-lain.4 Saat muncul kalus tanaman nanas Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - nanas Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. kuning. media dan suplemen media yang beragam. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. 4. pengirisan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna 69 . Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan.

Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. 5. Media yang telah terkontaminasi jamur.coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. tunas. a. 70 . Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Presentase keberhasilan Tabel 4. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. dan kalus yang muncul. daun. penggunaan bahan sterilisasi. media dan suplemen media yang beragam. penggunaan api dan lain-lain. Disamping itu.5 Persentase Keberhasilan Kultur Nanas Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 0 × 100% = 0% 10 Nanas 0 10 Sumber : Laporan Sementara Berdasarkan data diatas eksplan nanas memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan nanas tidak ada akar. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. pengirisan.

c. yaitu dapat berupa ujung akar. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. ukuran eksplan. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan.b. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. Selain ZPT. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung 71 . umur ontogenik. Eksplan yang terkontaminasi. Setelah eksplan ditanam. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. Dalam praktikum ini. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Pada fase juvenil. tunas atau daun muda. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu. dan bagian tanaman yang diambil. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem. sel-selnya masih aktif membelah. Peralatan –peralatan seperti pinset. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. dan relatif sedikit mengandung kontaminan. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. cahaya dan kelembabannya. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan.

dari 10 eksplan yang ditanam tidak ada yang Kesimpulan Dari praktikum kultur jaringan nanas yang telah dilakukan. medianya berwarna kuning. KESIMPULAN DAN SARAN 1. zat pengatur tumbuh. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan.  Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat. Oleh karena itu. tanaman asal eksplan tersebut. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan. lingkungan kultur.dari spesies. komposisi media. bahkan varietas. seperti kebutuhan nutrisi. 3 ulangan terdapat jamur.  Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. 2 ulangan terdapat bakteri dan 2 ulangan. dapat ditarik kesimpulan berhasil tumbuh. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal 72 . baik untuk peralatan maupun media itu sendiri.  Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman. E. dll.  Persentase keberhasilan dari kultur jaringan nanas adalah 0% 2. Saran Untuk meningkatkan presentase keberhasilan. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. sebagai berikut :  Pada kultur jaringan nanas.

R and F. Mikrobia Dasar Dalam Praktek.warintek. T. ----------. http://www. Jakarta: Litbang Departemen Pertanian Wetter. Pengaruh Air Kelapa Terhadap Pembentukan Protocorm Like Bodies (PLBS) dari Anggrek Vanda dalam Medium Cair.ristek.iptek. Meldia. Jurnal Hortikultura.rusnasbuah.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=2&doc=2a17. Nanas (Ananas comosus). Moore. P. 1990. http://www. 73 . Naibaho. Purnomo. Perbanyakan Massal Nanas secara In Vitro. S. 2008a.net.id. Berlin. 1994. Executive Summary Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia Komoditas Nenas. Gramedia. Hort 13(3) : 157-168. Biochemistry and Physiology of Plant Hormone.S. Jakarta : Litbang Departemen Pertanian Hadioetomo.id. I. Sukmayadi. Corstabel. Widiastuti. Hardiati.C. 1990. 1982. Springer-Verlag. Diakses tanggal 18 Desember 2008. Darma. The Prairie Regional Laboratory of The National Research. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. D dan Anggraini. Jakarta. Naekman.. Diakses tanggal 20 Desember 2008. 2008. S. Perbanyakan Massal Nanas dengan Stek Daun. 2003. 2008. dan Kartono. Plant Tissue Culture Methods. Kusuma. J. 2008b. Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Nanas. http://www. Diakses tanggal 18 Desember 2008.or. Y. 2008b. Anonim. S.go.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Vol 4(2):71-73. L.

Perbanyakan tanaman dapat dilakukan secara generatif dengan biji ataupun secara vegetatif dengan setek. Ada juga yang menjulukinya snake plant (tanaman ular) mungkin karena corak beberapa jenis tanaman in mirip dengan corak ular. nama sansivieria lebih dikenal dengan sebutan lidah mertua (mother in-laws-tongue). Kebutuhan masyarakat akan tanaman hias semakin hari semakin meningkat. Tanaman hias bagi masyarakat bermanfaat sebagai pengindah rumah atau pekarangan.ACARA V KULTUR JARINGAN SANSIVIERIA A. Sansivieria termasuk tanaman yang sangat mudah perbanyakannya. 1. 74 . menyerap polusi sehingga menimbulkan kepuasan tersendiri bagi pemiliknya. pemisahan anakan. sumber penghasilan. dan kultur jaringan (cloning). Sanseviera merupakan tanaman yang unik yang mempunyai sifat berbeda dengan tanaman lain yaitu apabila tanaman ini distek akan menghasilkan tanaman yang berbeda dengan induknya berbeda tanaman kebanyakan yang bila diperbanyak dengan stek maka keturunannya akan sama dengan induk. cabut pucuk. suatu penelitian juga menunjukkan bahwa tanaman sansiveira dapat bermanfaat untuk menyerap polusi. Salah satu tanaman hias yang banyak digemari masyarakat saat ini adalah sanseviera. PENDAHULUAN Latar Belakang Di Indonesia. Selain itu.

tetapi usaha perbanyakan belum cukup memadai maka diperlukan suatu teknik perbanyakan yang lebih efektif yang mampu menghasilkan tanaman dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatif singkat.Perbanyakan secara generatif dilakukan menggunakan biji. Tujuan Praktikum acara kelima yaitu kultur jaringan sansivieria ini bertujuan untuk : 75 . pemisahan anakan. Selain itu. Dengan semakin meningkatnya permintaan akan tanaman sansiveira. Keunggulan perbanyakan tanaman menggunakan biji antara lain dapat diperoleh tanaman dalam jumlah banyak dan seragam serta tidak merusak tanaman induk. Teknik yang mungkin digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah secara in vitro. dan kultur jaringan. Teknik perbanyakan yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut adalah perbanyakan dengan kultur jaringan. Sansevieria (Sansevieria trifasciata) termasuk tanaman hias yang mempunyai penggemar di berbagai masyarakat dunia. Perbanyakan secara vegetative dari sansivieria dapat diperbanyak menggunakan setek. Meningkatnya permintaan tersebut masih belum dapat terpenuhi akibat petani masih menggunakan perbanyakan secara konvesional yang memerlukan waktu dan bahan tanam dalam jumlah yang banyak. Pada praktikum ini eksplan yang digunakan adalah tanaman Sansivieria trifasciata yaitu bagian daun tapi pada bagian bawah yang merupakan jaringan tebal yang meristematis yaitu jaringan yang masih aktif mengalami pembelahan. Jenis yang mendominasi adalah pedang-pedangan dan kodok-kodokan. 2. Cara ini biasanya digunakan oleh para breeder untuk memperoleh hibrida baru. Di Indonesia. tidak semua spesies mampu menghasilkan bunga dan biji. Selain itu. teknik cabut pucuk. baik berupa sel jaringan atau organ tanaman dalam kondisi aseptis secara in vitro. Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkembangkan bagian tanaman. sejak tahun 2000 permintaan tanaman ini meningkat pesat dan terus meningkat hingga kini. Kelemahan cara generatif ini adalah memerlukan waktu yang lama. sifat biji sansivieria umumnya diploid sehingga menyebabkan minimal dua keragaman dalam satu biji.

20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.2008b) Dibanding tumbuhan lain. Biasanya sansevieria banyak ditanam sebagai pagar rumah. Sanseviera kerap ditaruh di sudut dapur atau kamar mandi untuk meredam bau. Mengetahui teknik kultur jaringan sansivieria. Sekitar 40 persen air saja yang diperlukan tanaman yang berkembang biak melalui umbi lapis ini untuk tumbuh. TINJAUAN PUSTAKA Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama Lidah Mertua. yaitu jenis yang tumbuh memanjang ke atas dengan ukuran 50-75 cm dan jenis berdaun pendek melingkar dalam bentuk roset dengan panjang 8 cm dan lebar 3-6 cm. benzene. sansiviera bisa tumbuh subur.(Anonim. dan trichloroethylene. dan karena ini ada yang menyebut Sansevieria sebagai tanaman pedang-pedangan.a. Kelompok panjang memiliki daun meruncing seperti mata pedang. 76 . Sekarang ini. banyak ditemukan ratusan species sanseviera lain yang bentuk dan warna daunnya beragam. Sansevieria dibagi menjadi dua jenis. Selain sebagai tanaman hias. Tumbuhan ini berdaun tebal dan memiliki kandungan air sukulen.2008a) Sansevieria termasuk tanaman tropis yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan di Indonesia. 3. Namun dalam kondisi lembap atau basah. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan sansivieria. Jenis sanseviera yang banyak ditanam adalah Sanseviera trifasciata atau dikenal dengan nama “lidah mertua”. formaldehyde. Sansevieria memang termasuk tanaman hias yang sering disimpan di dalam rumah karena tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi dengan sedikit air dan cahaya matahari. Waktu Tempat Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara kelima yaitu kultur jaringan sansivieria ini dilakukan pada : : Senin. b. sehingga tahan kekeringan. Sanseviera memiliki keistimewaan menyerap bahan beracun. seperti karbondioksida. (Anonim. B. atau sebagai penyekat jalan.

77 . daun berbentuk silinder. (Anonim. dan ada juga yang zig-zag. daun berkedudukan seperti roset mengelilingi batang semu. Mutasi sansevieria juga dapat terjadi dari perbanyakan melalui stek daun. (W. Pada jenis yang lain. Namun ada juga yang menyebutnya dengan tanaman ular dan pedang-pedangan karena bentuk tanaman ini yang berbentuk seperti ular dan pedang-pedangan (Anonim.2008d) Klasifikasi ilmiah dari sansiviera yaitu : Regnum: Divisio: Kelas: Ordo: Familia: Genus: Plantae Magnoliophyta Liliopsida Asparagales Ruscaceae Sansevieria Secara morfologi. Motif alur atau garis-garis yang terdapat pada helai daun juga bervariasi. tidak beraturan. tanaman sansivieria dicirikan dengan daun yang tebal karena kandungan airnya yang tinggi. ada yang mengikuti arah serat daun. Jenis yang lain lagi mempunyai helaian daun kaku seperti pedang.Purwanto. Ditinjau berdasarkan jenisnya sansevieria ada dua jenis yakni yang pertama yaitu sansevieria keturunan asli/spesies sedangkan yang kedua adalah jenis hasil persilangan/hibridasi yang bisa disebut dengan jenis sansevieria hibrid. mulai hijau tua. Dari bentuk hibrid inilah sansevieria akan tercipta dengan karakter dan fisik yang berbeda dari induknya atau yang sering disebut dengan spesies hibrid atau sansevieria hibrid. Pada beberapa jenis sansivieria. Arie.Warna daun Sansevieria beragam. hijau muda. hijau abu-abu. dan warna kombinasi putih kuning atau hijau kuning. perak. Disebut batang semu karena sesungguhnya sansivieria tidak mempunyai batang. Penelitian NASA bekerja sama dengan ALCA telah menemukan bukti-bukti bahwa tanaman ini secara alami mampu mengurangi polusi tersebut. 2007).2006) Sanseviera sering dikenal dengan dengan nama lidah mertua “Mother in Law Tongue”. Keistimewaan lidah mertua adalah memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan.

1982). dan jenis serta kadar hormon pertumbuhan yang digunakan. cahaya. Satusatunya cara perbanyakan yang sanggup memenuhi kebutuhan permintaan bibit dalam jumlah besar itu hanyalah kultur jaringan. 78 c.B Juan. 2001). dan cabut pucuk tidak lagi bisa mencukupi. biomolekul dan fisiologi sel. Pada perkembangan sekarang teknik ini justru banyak membantu lahirnya konsep-konsep baru berbagai cabang ilmu itu sehingga keberadaannya saling menopang dalam perkembangannya (Santoso dan Nursandi. . hara. a. Sedang ukuran eksplan. Kemampuan regenerasi jaringan tidak hanya tergantung pada umur fisiologinya. dalam lingkungan steril. waktu inokulasi dan jenis media mempengaruhi pertumbuhan eksplan (Irawati. et al. 1. maka akan lebih banyak ditekankan penggunaan ZPT auksin (Supriati. Hal tersebut mempunyai pengaruh yang cukup besar (Wetter and Corstabel. Perbanyakan sansiviera secara kultur jaringan (tissue culture) bertujuan untuk mendapatkan tanaman dalam jumlah besar dan seragam pertumbuhannya. DAN CARA KERJA Alat LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridish dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. Zat pengatur tubuh sitokinin lebih banyak berperan dibandingkan dengan auksin pada tahap multiplikadi prodiferasi akar. b. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes.Sebagai teknik kultur jaringan dapat dipahami perkembangannya karena didukung oleh marak dan berkembangnya studi tentang sel. Jaringan meristematis ini selanjutnya ditanam di dalam botol yang berisi media buatan.1986) C.. (Chahinian. tetapi sampai ke tingkat karakterisasi atau kualitas selnya. cara perbanyakan secara konvensional menggunakan stek. suhu. Jaringan muda umumnya mempunyai kemampuan berdiferensiasi lebih baik. kimia dan biokimia nutrisi. Berhasilnya pertumbuhan tunas terutama tergantung pada sumber jaringan. ALAT. Seiring dengan permintaan bibit sansivieria yang semakin meningkat. 2005). BAHAN. 2005). anakan. Jaringan tanaman sansivieria yang dikulturkan dipilih dari jaringan yang masih muda (meristematis). kadar medium.

mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk c. kelembaban dan cahayanya. diamati setiap hari Jumlah akar. e. Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset.25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 Setelah digunakan. a.2. pinset harus selalu dibakar diatas api. a. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • • • • Membilas eksplan dengan aquadest steril Membuka plastik penutup botol media kultur. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. g. e. Persiapan eksplan b. daun dan kalus (HST). Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. meliputi • • Saat muncul akar. d. Pengamatan selama 5 minggu. c. Bahan Eksplan : Sansiviera (Sansivieria trifasciata ) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja b. Selama penanaman. diamati 1 minggu sekali 79 . tunas. Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. 3. tunas dan daun. menghindari kontaminasi. dilanjutkan dengan chlorox 5. f. Penanaman eksplan Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. d.

penggunaan media yang sesuai. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah sansiviera (Sansiviera trifasciata) yaitu bagian dari daun yang masih muda yaitu bagian bawah yang merupakan jaringan meristematik atau jaringan yang masih terus aktif membelah. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Persentase keberhasilan. D. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. dilakukan pada akhir pengamatan. dilakukan pada akhir pengamatan f. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. 80 . Saat Muncul Akar Tabel 5. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus.1 Saat Muncul Akar Tanaman Sansiviera Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Sansiviera 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung.• Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Penggunaan bagian bawah dari daun yang masi muda ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. artinya organ tersebut masih aktif membelah.

Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. mendorong proliferasi meristem ujung. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. Pada penanaman eksplan sansivieria semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. Kontaminasi sangat beragam. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. menstimulir terjadinya pembelahan sel. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan sansivieria terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan sansivieria diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. BAP berperan dalam pembentukan tunas. Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. maupun kalus. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan.Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. Dalam aktivitas kultur jaringan. dan putih. Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur sansivieria. tunas. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. hitam. proliferasi kalus. vitamin. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. 81 . Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. dan mineral.3 gram dalam 100 ml aquadest.

Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. tunas. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. kuning. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. daun. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan 82 . Pada penanaman eksplan sansivieria tidak ada yang membentuk akar. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. maupun kalus. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. dan mineral.Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula. vitamin.2 Saat muncul tunas tanaman Sansivieria Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Sansivieria 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. Saat Muncul Tunas Tabel 5. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan 2. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. hijau.

Pada 83 .3 Saat muncul daun tanaman sansivieria Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 sansivieria 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. penggunaan api dan lain-lain. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. seperti kebutuhan nutrisi. media dan suplemen media yang beragam. penggunaan bahan sterilisasi. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. dll. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. Saat Muncul Daun Tabel 4. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. tanaman asal eksplan tersebut. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. komposisi media. kuning. lingkungan kultur. zat pengatur tumbuh. hijau. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar.tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Oleh karena itu. 3. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. pengirisan. bahkan varietas. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi.

kuning. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Saat Muncul Kalus Tabel 5. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. hijau. penggunaan bahan sterilisasi. 4. media dan suplemen media yang beragam. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam.4 Saat muncul kalus tanaman sansivieria Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - sansivieria Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. penggunaan api dan lain-lain. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan 84 . dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media.eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. pengirisan.

Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. 5. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. penggunaan bahan sterilisasi. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Eksplan yang terkontaminasi. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. Media yang telah terkontaminasi jamur. tunas. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. dan kalus yang muncul.kultur jaringan. Disamping itu. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan sansivieria tidak ada akar. pengirisan. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. penggunaan api dan lain-lain. e. 85 . Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya.5 Persentase Keberhasilan Kultur Sansivieria Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 0 × 100% = 0% 10 Sansivieria 0 10 Sumber : Laporan Sementara Berdasarkan data diatas eksplan sansivieria memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. daun. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. d. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. Presentase keberhasilan Tabel 4. media dan suplemen media yang beragam. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus.

cahaya dan kelembabannya. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. lingkungan kultur. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. dan bagian tanaman yang diambil. zat pengatur tumbuh. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. Dalam praktikum ini. Selain ZPT. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Oleh karena itu. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. Setelah eksplan ditanam. ukuran eksplan. yaitu dapat berupa ujung akar. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. Peralatan –peralatan seperti pinset. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. tunas atau daun muda. seperti kebutuhan nutrisi. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. bahkan varietas. umur ontogenik.f. dll. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. tanaman asal eksplan tersebut. komposisi media. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh 86 . dan relatif sedikit mengandung kontaminan. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. sel-selnya masih aktif membelah. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. Pada fase juvenil.

daun. 5. 87 . 2. c. tunas. b. 3. 4. Persentase keberhasilan dari kultur jaringan sansivieria adalah 0 %.masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama E. Pemeliharaan eksplan harus diperhatikan dengan benar. dari 10 eksplan yang telah ditanam tidak ada yang tumbuh baik akar. Sebaiknya alat maupun bahan yang digunakan harus disterilisasi sehingga benarbenar steril. Sebaiknya bahan eksplan yang digunakan dipilih dari jaringan tanaman yang masih muda (meristem) yang masih aktif membelah.  Saran Untuk menghindari kegagalan dalam penanaman kultur sansivieria. a. Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. Pada kultur jaringan sansivieria. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan 1. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan. Semua eksplan terkontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman. Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat. baik untuk peralatan maupun media itu sendiri. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal mungkin. Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. maupun kalus.

Kultur Jaringan Tanaman. Hutami. Purwanto. Mariska dan S.DAFTAR PUSTAKA Anonim.1986.2006. B. Canada.iptek.Sansivieria si tajam Anti Poluai.2008. J. 1982. 2001. Pembentukan Kalus dan Embriogenesis Kultur Pelepah daun Caladium hibrida. The Prairie Regional Laboratory of The National ResearchCouncil of Canada. 2005.go. Diakses pada tanggal 27 Desember 2007. Nursandi.) Tanaman Sumber Karbohidrat Alternaria.2008. Santoso. Malang. Ilmiah : Berita Biologi. I. Sansivieria trifasciata Varieties Succulent Edition of Huntington Book.com/2007/12/13/httpwwwta bloidnovacomartic lesaspid11386/ Chahinian. Flora Cantik Penyerap Racun.7(4):207-214. Anonim.id Anonim.http://www. L. Jakarta: Kanisius 88 .Kultur Jaringan Sansivieria. Unibraw Press. www. Untung dan F. Plant Tissue Culture Methods.net.http://sensasp. Mikropropagasi Sukun (Artocarpus communis Forst. Ilmiah. Sansivieria. W.wordpress. Florida Irawati. Supriati Y. 2005. R.deptan. 7(5):257-260.id. 2007. and Corstabel. J. Juan. Wetter.Arie. Kultur Jaringan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful