ACARA I PEMBUATAN LARUTAN STOCK, PEMBUATAN MEDIA TANAM, DAN STERILISASINYA

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Bioteknologi di bidang pertanian telah berkembang pesat, salah satu contohnya adalah kultur jaringan. Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkembangkan bagian tanaman, baik berupa sel jaringan atau organ tanaman dalam kondisi aseptis secara in vitro. Ciri teknik ini adalah kondisi kultur yang aseptis, penggunaan media kultur buatan dengan kandungan nutrisi lengkap, dan kondisi lingkungan kultur yang sesuai. Lingkungan yang sesuai dapat dipenuhi dengan menentukan media tumbuh yang sesuai dan penempatan pada kondisi yang terkendali berkaitan dengan intensitas dan periodisitas, cahaya, temperatur, dan kelembaban serta keharusan sterilisasi. Sterilisasi alat merupakan hal mutlak yang harus dilakukan dalam kultur jaringan. Ha ini untuk menciptakan kondisi aseptis perlu dilakukan proses pensterilan atau sterilisasi untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Sterilisasi alat (petridish, pinset, gunting, dll) biasanya dilakukan dengan pemanasan secara langsung diatas api atau dibakar atau dengan pemasan menggunakan autoklaf selama 30 menit pada suhu 115ºC 135ºC. Media kultur jaringan merupakan faktor penting penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. Media kultur fisiknya dapat berbentuk padat atau cair. Media berbentuk padat menggunakan pemadat media seperti agar. Media kultur yang memenuhi syarat

1

adalah yang mengandung nutrient makro dan mikro dalam kadar dan perbandingan tertentu, sumber energi (sukrosa), serta mengandung berbagai macam vitamin dan ZPT. Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi sehingga larutan stock ini berfungsi sebagai salah satu cara untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil, oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan stock. Untuk itulah tahapan pembuatan larutan stock merupakan tahapan yang sangat penting dalam metode kultur jaringan agar tidak terjadi kesalahan dalam penimbangan bahan-bahan kimia yang akan digunakan. Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Media sebagai tempat pertumbuhan aksplan yang akan dikulturkan sehingga pembuatan media harus dilakukan dalam tahapan perbantakan tanaman secara kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

2

Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa kondisi yang aseptic merupakan syarat yang mutlak dalam tahapan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Oleh karena itu tahapan sterilisasi harus dilaksanakan dalam praktikum kali ini. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

2. Tujuan Tujuan praktikum acara yang pertama ini adalah : 1. Mengetahui prosedur pembuatan larutan stock. 2. Mengetahui langkah-langkah dalam pembuatan media kultur jaringan. 3. Mengetahui prosedur sterilisasi alat dan media kultur.

3. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara pertama ini berjudul pembuatan larutan stock, media tanam, dan sterilisasi dilaksanakan pada : Waktu praktikum Tempat : Senin, 13 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. TINJAUAN PUSTAKA
3

1. Pembuatan Larutan Stock Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil, oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. (Yuniastuti, Endang. 2008: 4) Seperti diungkapkan oleh Lydiane Kyte dan John Klein dalam Plant for Test Tubes “Stock solutions are concentrated solutions of groups of media chemicals that are preparated ahead of time and used to make several batches of media. They may be made in liter quantities of 10 to 100 times the concentration required in the final formula. Having stock solutions eliminates the need to weigh so many different chemicals every time you want to make a batch of medium. Also, the quantities will be more accurate because they are on larger scale than would be required for a single batch of medium, and thus minor inaccuracies have less impact”. Larutan stock merupakan sekelompok larutan media kimia berkonsentrasi yang disiapkan di awal dan digunakan untuk membuat beberapa kumpulan media. Larutan stock dibuat dalam satuan jumlah liter pada 10 sampai 100 kali konsentrasi yang dibutuhkan pada formula akhir. Pembuatan larutan stock mengurangi resiko perbedaan berat kimiawi yang besar setiap kali kita ingin membuat kumpulan media. Juga, jumlah akan lebih akurat sebab larutan stock dibuat dalam skala yang lebih besar daripada jika kita membuat medium tunggal, dan berkurangnya ketidakakuratan ini akan mengurangi dampak yang buruk bagi kultur jaringan. ( Lydiane Kyte & John Kleyn. 1996: 76) Beberapa komposisi akan mengendap (membentuk komponen padat) jika dicampurkan bersama dalam bentuk konsentrasi yang sama, jadi tiap kelompok kimiawi dibuat dalam bentuk kimia yang biasanya tidak mengendap pada konsentrasi larutan stock. Sebelum menambahkan bahan kimia apapun pada pembuatan larutan stock, harus ada air dalam labu, sehingga pengendapan sulit untuk terjadi.
4

(Bernice M. Bila larutan stock tidak mudah untuk mengendap. penimbangan langsung komponen media. larutan-larutan tersebut akan mengendap pada suhu dingin di refrigerator sebab kelarutan suatu larutan akan menurun dengan menurunnya temperature. untuk menghilangkan endapan. kemudian digunakan. sehingga risiko human error dalam percobaan dapat dikurangi. Apabila larutan stock tersebut memiliki daur hidup yang pendek. Apabila larutan membentuk endapan. namun larutan-larutan tersebut beresiko tinggi untuk tumbuhnya kontaminan karena temperatur yang lebih tinggi. juga tentang bagaimana larutan stock dibuat dan berapa lama larutan tersebut dapat disimpan sebagai larutan stock. Dengan kata lain. Sebagian besar larutan stock dapat disimpan untuk watu yang terbatas tanpa reaksi yang berlawanan atau berkebalikan. penimbangan satu persatu komponen media untuk setiap pembuatan media kultur adalah tidak praktis dan hanya dapat dilakukan jika jumlah zatnya cukup besar. jika larutan garam mendekati proses pengendapan. Martin. atau sedikit dipanaskan. Penggunaan larutan stok mengurangi pekerjaan yang rumit dalam persiapan media. hormone cenderung memiliki waktu hidup yang pendek yang menyebabkannya harus dibuat dalam jumlah yang kecil sekitar 25 mg dalam 250 ml air. Larutan stok adalah larutan berisi satu atau lebih komponen media yang konsentrasinya lebih besar dari konsentrasi komponen tersebut dalam formulasi media akan dibuat (Hemawan dan Na”em.Tidak ada kesepakatan umum mengenai kombinasi komposisi larutan stock. larutan-larutan tersebut dapat disimpan pada cup atau wadah-wadah kecil. memanaskan larutan tersebut pada hot plate atau stirer akan menjadi solusi permasalahan ini. larutan-larutan tersebut dapat dibawa pada suhu ruang. seperti pada garam anorganik. Lebih dari itu. Pembuatan media pada prinsipnya dilakukan dengan melarutkan semua komponen media dalam air sesuai dengan konsentrasinya pada formulasi yang diinginkan. seperti pada material organic. 1994: 39). Masalah tersebut dapat diatasi dengan pembuatan larutan stok. Namun. Apabila komposisi larutan stock memiliki daur hidup yang lebih panjang. 2006). misalnya mikronutrien dan hormon yang 5 . kemudian komposisi kimianya akan stabil dalam waktu yang lama apabila larutan stock tersebut disimpan dalam refrigerator.

1995). asam amino dan bahan organic lain. dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi.  Gula (umumnya sukrosa) sebagai sumber energy.  Suplemen berupa bahan-bahan alami. Gamborg dkk B5 (1976). diperlukan juga bahan tambahan seperti agar. gula. 2008: 5) Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. ( Endang Yuniastuti. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. Linsmaier dan Skoog-LS (1965). Murashige dan Skoog MS (1962) serta woody plant medium-WPM (Lloyd dan Mc Known. Komponen media kultur yang lengkap sebagai berikut :  Air distilata (akuades) atau air bebas ion sebagai pelarut atau solven. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak.  Vitamin.  Hara-hara makro dan mikro. Contohnya komposisi Knudson C (1946). 2. 1980). Heller (1953).  Agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media.  Zat pengatur tumbuh. Selain itu. Media yang 6 . Nitsch dan Nitsch (1972). Pembuatan Media Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan.dibutuhkan hanya dalam ukuran milligram atau microgram dalam formulasi akhir tidak dapat dilakukan dengan cukup akurat untuk pekerjaan kultur jaringan (Rahardja. dan hormon. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral. jika diperlukan. tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. baik jenisnya maupun jumlahnya. vitamin.

iptek. Beberapa media dasar yang banyak digunakan antara lain media dasar Murashige dan Skoog (1962) yang dapat digunakan untuk hampir semua jenis kultur. zat pengatur tumbuh (hormon). Formulasi media yang dikembangkan oleh Toshio Murashige dan rekan kerjanya .com) Formula dasar untuk media kultur jaringan telah ditetapkan oleh berbagai penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu.id/ ind/?ch=isti&id=221) Dalam teknik kultur jaringan dikenal berbagai macam media dasar yang penamaannya berdasarkan nama penemunya atau peneliti yang menggunakan pertama kali dan memperoleh hasil yang berarti. media dasar Schenk dan Hildebrandt (1972) untuk kultur jaringan tanaman monokotil. gula. persenyawaan kompleks alamiah. buah-buahan ataupun tanaman perkebunan menggunakan metode Mohr untuk pemakaian ZPT.sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. (http: www. arang aktif. asam amino. 1981) khusus untuk tanaman berkayu. yaitu penggunaan kombinasi ZPT antara kelompok sitokinin dan kelompok auksin. media dasar B5 untuk kultur sel kedelai dan legume lainnya. Media kultur jaringan dibuat untuk menyediakan nutrisi dan mengatur pertumbuhan yang optimal untuk tanaman yang spesifik. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf. Media kultur terdiri dari beberapa atau seluruh komponen berikut: garam-garam anorganik. media dasar White (1934) sangat cocok untuk kultur akar tanaman tomat. vitamin. dan bahan pemadat media yaitu agar. media dasar Vacin dan Went (1949) digunakan untuk kultur jaringan anggrek. media dasar Nitsch dan Nitsch (1969) digunakan dalam kultur tepung sari (pollen) dan kultur sel. media dasar WPM (Woody Plant Medium. baik tanaman sayuran. Dari sekian banyak media dasar di atas. media dasar N6 (1975) untuk serealia terutama padi. buffer. Kombinasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) pada kultur jaringan sangat menentukan keberhasilan kultur.sinarharapan. mungkin 7 . Penelitian pada berbagai macam jenis tanaman. sering dikenal dengan media MS (Murashige dan Skoog’s). (http://www. net. yang paling banyak digunakan adalah media Murashige dan Skoog (MS).

didesign sesuai dengan nama yang cocok yaitu optimal untuk kultur jaringan tanaman berkayu.9332 63. Tabel di bawah ini menunjukkan berat atomic dari elemen kimia yang pada umumnya digunakan dalam teknik kultur jaringan yaitu : Elemen Boron Kalsium Karbon Klor Kobalt Tembaga Hidrogen Iod Besi Magnesium Mangan Molibdenum Nitrogen Oksigen Potassium Kalium Natrium Belerang Seng Simbol B Ca C Cl Co Cu H I Fe Mg Mn Mo N O P K Na S Zn Berat Atomic 10.811 40.08 12. 1996: 62-64) 8 . dikembangkan oleh Brent Mc Cown dan Greg Lloyd.0067 15.064 65.9994 30.312 54.54 1. Woody plant medium (WPM).9044 55.merupakan media yang terbaik dari beberapa media yang telah diketahui.9738 39.37 (Lydiane Kyte & John Kleyn.938 95. dan digunakan sebagian besar pada tanaman herba.453 58.01115 35.847 24.94 14.9898 32.102 22.00797 126.

200 22.2H2O CuSO4.800 1.250 0. Media tersebut mempunyai konsentrasi garam anorganik yang tinggi dibandingkan medium lainnya terutama ion NH4 dan NO3.5H2O CoCl2.830 6.000 0.2H2O MgSO4. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa pengurangan komponen senyawa penyusun media berpengaruh baik terhadap pertumbuhan biakan tanaman dalam botol (Husni.7H2O Na2SO4.6H2O Na2EDTA FeSO4.650 1.300 8.500 . Di bawah ini merupakan tabel komposisi salah satu media yang paling umum digunakan yaitu Murashige and Skoog’s (Media MS).600 0. 1997). pada umumnya dipakai media dasar Murashige dan Skoog.Untuk perbanyakan klonal.900 440 370 0.4H2O ZnSO4. Komponen Unsur makro NH4NO3 KNO3 CaCl2.2H2O KH2PO4 Unsur mikro KI H3BO3 MnSO4.200 27.025 37.025 0.500 0.7H2O Vitamin dan Asam amino Thiamin Asam nikotinat Pyridoxin HCl 9 Komposisi 1.

10 . larutan formalin). c. Sterilisasi secara mekanik. perlatan laboratorium. (http://elearning. 2004) 3.000 100. Sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat tembus uap air dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110-1210C.ac. Nomor 1. penyaring. Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan. air.Glycine Asam sistein Asam pantotenat Myo-inositol Sukrosa Agar 2. dipergunakan alat “bejana/ruang panas” (oven dengan temperatur 170o – 180oC dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas). Kapas penyumbat.000 3. penggunaan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi). Sterilisasi secara fisik (pemanasan. seperti pada saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba).000 ( Buletin Teknik Pertanian Vol 9 . dan media nutrisi dapat disterilisasi dengan autoklaf.ht) Sterilisasi dengan autoklaf adalah salah satu metode sterilisasi dengan uap air dibawah tekanan. Sistem kerja filter. Dengan udara panas. misalnya adalah dengan saringan/filter.000 50.000 30. Sterilisasi Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda.id/KulJar/BAB%20IV%20STERILISASI/IV2%20Sterilisasi %20Alat.000 70. b. plastik penutup. peralatan gelas. kasa.unram. larutan alkohol. Sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa: a. digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan.

Alatnya dilengkapi dengan timer dan thermostat. Alat sterilisasi baik media maupun peralatan yang digunakan untuk proses isolasi dan penanaman eksplan yang sering digunakan adalah autoklaf. serta lebih cepat dari autoklaf listrik yang seukuran dan setaraf.Hampir semua mikroba mati bial terkena uap yang sangat panas dari autoklaf selama 1015 menit/ semua obyek hendaknya disterilisasi pada suhu 121ºC dan tekanan 15 Psi selama 15-20 menit (Torres. membilas tangan. Kelemahan autoklaf ini adalah bahwa perlu penjagaan dan pengaturan panas secara manual. Dengan autoklaf sederhana ini. Sebagai sumber uap. Bila pengatur automatis ini berjalan dengan baik. Tetapi pada autoklaf yang sederhana hal ini harus diatur secara manual. Autoklaf ini sangat cepat dan dapat diprogam waktu sterilisasi. Autoklaf yang sederhana menggunakan sumber uap dari pemanasan air yang ditambahkan ke dalam autoklaf. selama masa sterilisasi dilakukan. Kalsium atau Natrium hipoklorit digunakan sebagai sterilisasi peralatan dan sebagai desinfektan bagi jaringan tanaman tanpa melukainya (Afriastini. diperlukan autoklaf dengan kapasitas besar dan sumber uap biasanya dari boiler yang terpisah. 2004). Autoklaf yang lebih komplit menggunakan sumber energi dari listrik. Pada autoklaf yang programmable. Kelemahannya adalah bila salah satu pengatur tidak bekerja. panas ini diatur secara atomatis. Pemanasan air dapat menggunakan kompor atau api Bunsen. tekanan dan temperatur diatur dengan jumlah panas dari api. dan mencelupkan peralatan dengan atau tanpa pembakaran. Tipe autoklaf yang dapat digunakan untuk sterilisasi ada bermacam-macam. 1989). Etil alcohol (70-90%) sangat berguna untuk mengusap permukaan tempat pelaksanaan. serta waktu pendinginan. Untuk laboratorium komersial. Tetapi autoklaf ini mempunyai keuntungan: sederhana. Setelah sterilisasi bahan atau alat selesai. sehingga harus sangat hati-hati saat menggunakannya diatas api. mulai dari yang sederhana sampai digital (terprogram). maka pekerjaan persiapan media menjadi sia-sia dan kemungkinan menyebabkan kerusakkan total pada autoklaf. temperatur dan tekanan autoklaf diturunkan secara perlahan-lahan dalam waktu 15-20 menit. 11 . Maka autoklaf dapat dijalankan sambil mengerjakan pekerjaan lain. tidak tergantung dari aliran listrik yang sering merupakan problema untuk negara-negara yang sedang berkembang. juga berasal dari air yang ditambahkan ke dalam autoklaf dan didihkan. Alcohol mudah terbakar. harga relatif murah.

( Lydiane Kyte & John Kleyn. Panci luar. Media disterilkan dalam autoklaf. Katup pengeluaran uap. Inaktifasi sitokinin zeatin riboside. 2. atau 1 atm. 1996 : 169) Autoklaf gas atau listrik portable pada umumnya mempergunakan sumber uap dari pemanasan air yang ditambahkan ke dalam autoklaf. Isi wadah tersebut sampai 80% volume. tetapi media antara 20-40 menit tergantung dari volume bahan yang disterilkan. dan tutup dengan kertas. sterilisasi dilakukan dengan autoklaf pada temperatur 121oC. lebih efektif bila digunakan wadah yang mempunyai volume antara 300 – 500 ml. Penguraian gula. Untuk aquadest sebaiknya dimasukkan dalam wadah kecil misalnya erlemeyer 250 ml dengan isi maksimum 100 ml. 4. 4. Untuk media kultur yang tidak mengandung bahan-bahan yang Heat-labile. Sterilisasi media yang terlalu lama menyebabkan : 1. sterilisasi dilakukan pada tekanan 15 psi dengan waktu 20 menit. Waktu sterilisasi sama dengan waktu untuk sterilisasi alat-alat waktu 30 menit pada tekanan 15 psi.Lamanya sterilisasi tergantung dari volume dan jenis. agar sterilisasi lebih efektif.Pada prinsipnya. Perubahan pH yang berakibatkan depolimerisasi agar. Untuk 15-50 ml media dalam tabung reaksi atau botol kecil berukuran 50-100 ml. serta kencangkan dengan karet gelang. sedangkan autoklaf besar pada laboratorium komersil pada umumnya menggunakan uap dari boiler sentral. Bagian-bagian autoklaf : 1. tekanan antara 15 psi atau 1 atm dengan waktu antara 20-25 menit tergantung dari volume wadah dan volume media. Pengunci atau klem. 3. Dalam sterilisasi aquadest. 5. 3. Degradasi vitamin dan asam-asam amino. Untuk 20 botol volume 12 . tekanan yang biasa digunakan antara 15-17. Tutup beserta penunjuk tekanan dan saluran uap. Temperature sterilasi biasanya 121o C. 2.5 psi (pound per square inci) atau 1 atm. Panci dalam tempat meletakkan botol dengan alur tempat saluran uap. Alat-alat dan air disterilkan selama 1 jam. sterilisasi autoclave menggunakan panas dan tekanan dari uap air.

20-0. dipergunakan filter yang dipasang di ujung jarum suntik. 5 botol 4 liter waktu yang digunakan 52 menit. ALAT. Bila tekanan diturunkan mendadak. cairan didalamnya mendidih dan meluap (bubbled up). Untuk volume larutan 10 ml. Diameter filter yang bermacam-macam tergantung dari volume larutan yang ingin disterilkan. Dalam sterilisasi aquadest dan media.iptek. Alat a. Botol-botol/tabung reaksi/erlenmeyer yang dipergunakan sebagai wadah. Ca-panthothenate. 10 botol volume 2 liter memerlukan waktu 37 menit. setelah waktu sterilisasi yang diinginkan sudah tercapai. Antibiotik: carbenocilin. Pembuatan Media Tanam     . maka sewaktu sterilisasi. Setelah disterilkan dapat langsung digunakan. Thiamin-HCL. autoklaf tidak boleh diturunkan tekanannya secara mendadak.22 um. biasanya disterilkan dalam oven. Botol-botol yang sudah dicuci bersih. sterilisasi dilakukan dengan menyaring larutan melalui filter yang mempunyai ukuran pori 0.1 liter membutuhkan waktu yang lebih lama yaitu 34 menit.net) C. BAHAN. Dengan waktu yang lebih lama. Bila botol akan disimpan untuk beberapa lama. Untuk bahan-bahan yang heat-labile dalam bentuk larutan. DAN CARA KERJA 1. dimasukkan ke dalam oven dan dipanaskan selama 4 jam pada temperatur 160o C. Bahan yang heat labile antara lain : GA3. Pembuatan Larutan Stock    Timbangan analitik Sendok Erlenmeyer Timbangan analitik Botol-botol kultur Magnetik stirrer pH meter 13 b. mulut botol harus ditutup dengan alumunium foil. (http://www.

Sterilisasi  2. serta ZPT Agar-agar Gula NaOH 1N dan HCl 1 N b. Larutan stock merupakan larutaaan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. Pembuatan Media Tanam      3. FeEDTA. terdiri atas hara makro dan mikro. vitamin. Langkah-langkah pembuatan larutan stock meliputi : 14 . Larutan Stock Media Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relative kecil. oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock.     c. ZPT Aquadest Aquadest Larutan stock. Bahan Gelas piala Pipet Plastik pp 0.3 mm Karet gelang Kertas label Autoklaf a. Pembuatan Larutan Stock 1. Pembuatan Larutan Stock   Bahan-bahan kimia untuk nutrisi. vitamin. Cara Kerja a.

1 l = 10 mg/100 ml (3). Murashige dan Skoog MS 15 . Linsmaier dan Skoog-LS (1965). Menimbang bahan-bahan kimia yang telah dikalikan menjadi beberapa kali konsentrasi. (4). Nitsch dan Nitsch (1972). Melarutkan bahan dengan Alkohol atau NaOH 1 N kemudian ditambah dengan aquadest sampai 300 ml untuk BAP dan 100 ml untuk IBA.3 l = 30 mg/300 ml (2). 2. Cara membuat larutan stock masing-masing ZPT adalah sebagai berikut : (1). Menghitung kebutuhan bahan IBA 100 ppm sebanyak 100 ml adalah sebagai berikut : 100 ppm = 100 mg/l = 10 mg/0. Pembuatan Media Kultur Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Memasukkan masing-masing larutan tersebut ke dalam botol dan menyimpannya ke dalam refrigerator. Contohnya komposisi Knudson C (1946). (2). Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan.(1). Menghitung kebutuhan bahan BAP 100 ppm sebanyak 300 ml adalah sebagai berikut : 100 ppm = 100 mg/l = 30 mg/0. Gamborg dkk B5 (1976). (3). Melarutkan bahan-bahan kimia tersebut ke dalam aquadest dengan volume tertentu. b. misalnya 500 ml. Biasanya zat pengatur tumbuh ini dibuat dengan kepekatan 1-10 mg/ml . misalnya untuk unsure hara makro dikalikan 20 dan unsur hara mikro dikalikan 100 kali konsentrasi. Memasukkan masing-masing larutan ke dalam botol dan menyimpan ke dalam refrigerator. Heller (1953). Larutan Stock Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Zat pengatur tumbuh hanya diperlukan dalam jumlah yang sedikit sekali.

asam amino dan bahan organic lain. jika diperlukan. Dalam praktikum kali ini. misalnya :  V1 x M1 V1  V1 x M1 V1 x 100 ppm Untuk membuat media 1 L dengan konsentrasi BAP 2 ppm.5 ppm volume larutan stock yang diambil adalah : . Zat pengatur tumbuh. (2). Vitamin.5 ppm. Hara-hara makro dan mikro. Agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media. maka = V2 x M2 = 20 ml/L Untuk membuat media 1 L dengan konsentrasi IAA 0.5 ppm. Mengambil masing-masing larutan stock sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan dan memasukkannya ke dalam gelas piala. Media tersebut digunakan untuk penanaman masing-masing eksplan yang masing-masing eksplan diulang sebanyak 2 kali untuk tiap mahasiswa.(1962) serta woody plant medium-WPM (Lloyd dan Mc Known.5 ppm 16 volume larutan stock yang diambil adalah : V1 X 100 ppm = 1000 ml x 0. Komponen media kultur yang lengkap sebagai berikut :        Air distilata (akuades) atau air bebas ion sebagai pelarut atau solven. Langkah-langkah pembuatan media (1 liter) adalah sebagai berikut : (1). Suplemen berupa bahan-bahan alami. 1980). maka = V2 x M2 = 1000 ml x 0. Mengambil larutan stock ZPT sesuai dengan perlakuan. media yang digunakan adalah media Murashige dan Skoog’s (MS) yang dimodifikasi dengan penambahan ZPT BAP 2 ppm dan IAA 0. Gula (umumnya sukrosa) sebagai sumber energy.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1.   Menambahkan agar-agar 8 gr kemudian dididihkan. Langkah-langkah sterilisasi alat dan media kultur jaringan :  Membungkus alat-alat kultur seperti petridish. Menuangkan larutan media ke dalam botol-botol kultur kurang Menutup botol berisi larutan media dengan plastik.8. D. Menyimpan media pada rak penyimpan media yang bertujuan untuk mengantisipasi ada tidaknya kontaminasi pada media sehingga dapat dicegah penggunaan media yang telah terkontaminasi pada saat penanaman. Pembuatan Media Tanam 17 . lebih 25 ml tiap botol. larutan media diaduk dengan magnetic stirrer.  dibungkus kertas koran ke dalam autoklaf untuk proses sterilisasi pada suhu 121° C.   Menyimpan alat-alat kultur dalam oven. pisau scalpel dan pinset Memasukkan botol-botol berisi media dan alat-alat kultur yang telah dengan kertas koran. tekanan 1. Sterilisasi Alat dan Media Kultur Sterilisasi alat dan media kultur jaringan dilakukan secara bersamaan menggunakan autoklaf.5 kg/cm2 selama 45 menit.V1 = 5 ml/L V2 : volume media yang akan dibuat M1 : dosis larutan stock yang tersedia M2 : dosis media yang akan dibuat Menambah aquadest sampai 1000 ml Menambah gula sebanyak 30 gr Mengatur pH dalam kisaran 5.6.  c. Pada saat pengukuran pH.3 dengan menambahkan Ket : V1 : volume larutan stock yang diambil    beberapa tetes NaOH untuk menaikkan pH atau HCl untuk menurunkan pH.

900 440 370 0.7H2O Vitamin dan Asam amino Thiamin Asam nikotinat Pyridoxin HCl 18 Komposisi 1.7H2O Na2SO4. Zat pengatur tumbuh yang ditambahkan juga bervariasi baik jenis maupun jumlahnya.600 0.025 37. tergantung dengan kultur jaringan yang akan dilakukan. Pada percobaan kali ini media yang dibuat adalah media Murashige and Skoog’s dengan komposisi : Komponen Unsur makro NH4NO3 KNO3 CaCl2. gula.2H2O MgSO4.650 1. Selain itu perlu ditambahkan bahan tambahan seperti agar. dan lain-lain.200 27.000 0. Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan tergantung pada jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral.Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.025 0.6H2O Na2EDTA FeSO4.2H2O CuSO4.500 .830 6.5H2O CoCl2.250 0.4H2O ZnSO4. vitamin. dan hormone.500 0.800 1.300 8.200 22.2H2O KH2PO4 Unsur mikro KI H3BO3 MnSO4.

N. yaitu larutan pekat senyawasenyawa kimia penyusun media. media Gamborg dan White untuk kultur akar. Jenis media kultur yang paling banyak digunakan adalah media Murashige and Skoog (MS) cocok untuk hamper semua jenis tanaman terutama monokotil. kalau tidak dibuat larutan stocknya akan menyulitkan dalam penimbangan komponen media. P.000 50. senyawa sumber karbon. Media kultur dibedakan menjadi dua yaitu media dasar yang terdiri dari garam-garam organik (makro dan mikro).000 3. Mg). dan vitamin. sehingga memastikan bahwa jumlah/ volume masing-masing komponen media yang diberikan dalam jumlah tepat.000 30. Larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan pengukuran berat dan konsentrasi senyawa dalam meia. K. karena berat yang dibutuhkan sangat sedikit seperti yang tertera dalam table komposisi di atas dan penimbangan seringkali tidak akurat.Glycine Asam sistein Asam pantotenat Myo-inositol Sukrosa Agar 2. O. Selain itu. N didapatkan dari NO3. Sebelumnya telah dibuat larutan stock media. Ca. asam amino. Pada praktikum kali ini hanya digunakan media dasar berupa media Murashige Skoog. H.000 Pemilihan jenis media kultur yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan eksplan sesuai yang diinginkan.atau NH4+ atau asam amino. Media yang kedua adalah media perlakuan yaitu media dasar yang ditambahkan dengan penambahan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) atau hormone.000 70. S. Sebab. Komponen-komponen media MS yaitu :  Garam-garam anorganik terdiri dari makronutrient (C. Mg dan S didapatkan dari 19 . Larutan stok dibuat dalam konsentrasi pekat (10 atau 100 kali konsentrasi akhir yang dibutuhkan untuk media. terdapat banyak jenis media yang lain seperti woody plant medium (WPM) yang cocok untuk kultur tanaman keras atau tanaman berkayu.000 100.

pH harus dijaga pada 5. Kontaminasi umumnya disebabkan oleh sterilisasi media yang kurang sempurna. Selain itu dibutuhkan juga mikronutrient yang terdiri dari Cu.  Sumber karbon yang digunakan adalah sukrosa. Ca didapatkan dari CaCl2. K didapat dari KCl. Media yang terlalu asam menyebabkan media sukar mengendap. Zn.8 sampai 6.MgSO4. K didapatkan dari KCl.  Vitamin berfungsi sebagai katalisator dalam system enzim dan diperlukan dalam jumlah kecil. Dan Cl dari KCl atau CaCl2. B.8 sampai 6. Konsentrasi sukrosa yang digunakan adalah 20. P didapat dari NaH2PO4. sistein. K2NO3 atau KH2PO4. Setelah media masak dan dituang di botol-botol kultur serta ditutup plastik. asparagin. sebagai sumber energy.  Asam amino merupakan sumber N organik. untuk hara makro kecuali CaCl2. K2NO3 atau KH2PO4.7H2O. Mo.2H2O dibuat larutan stock tersendiri karena apabila di campur zat ini akan mengendap. FeEDTA. Pada praktikum kali ini dilakukan penambahan HCl sebanyak kurang lebih 5 tetes karena campuran media yang didapat terlalu basa dan setelah dilakukan penambahan HCl dilakukan pula penambahan NaOH sebanyak 2 tetes karena pH yang didapat terlalu asam. dan I.H2O dan KH2PO4. 2. yang diberikan dalam bentuk Thiamin-HCl.3 dengan penambahan KOH atau NaOH untuk menaikkan pH dan dan HCl untuk menurunkan pH. untuk CaCl2. media dimasukkan dalam autoklaf untuk disterilisasi.000 mg/L.2H2O atau Ca(NO3)2.000. Asam amino yang sering digunakan adalah glutamine.2H2O dibuat larutan stocknya. Sterilisasi Media Tanam. Co. Namun harus juga dihindari penambahan HCl dan NaOH secara berlebihan karena akan mengurangi tingkat keberhasilan pembuatan media.45. dan Eksplan Tanaman. Alat-alat Penanaman. lingkungan kerja dan pelaksanaan atau cara kerja 20 .nya yaitu harus dijaga pada pH 5.3 sebab pada kawasan pH ini merupakan pH yang optimum untuk penyerapan hara oleh tanaman. Pada pembuatan media harus diperhatikan pH. Pada praktikum kali ini. dan glisin. Syarat utama keberhasilan kultur in vitro adalah menghindari kontaminasi yang dapat terjadi pada setiap saat dalam masa kultur . Vitamin lain yang biasa digunakan adalah asam nikotinat dan piridoksin HCl (vitamin B6). Vitamin yang dibutuhkan pada sebagian besar kultur jaringan tumbuhan adalah thiamin.

21 . Uap air panas inilah yang akan membunuh mikroorganisme dan mensterilkan alat atau media yang akan digunakan. pisau scalpel. molekul-molekul atau benda-benda asing berukuran kecil yang jatuh atau masuk ke dalam botol kultur setelah penanaman dan ketika diletakkan di ruang kultur. metode ultrafiltrasi dengan menggunakan filter milipore (digunakan untuk hormone dan ZPT). Pada praktikum kali ini. harus dipastikan bahwa semua kunci harus menutup agar tekanan yang timbul tidak bocor keluar. metode sterilisasi dikelompokkan dalam metode sterilisasi pemanasan kering menggunakan oven. metode sterilisasi pemanasan basah menggunakan autoklaf. Autoklaf merupakan alat yang dilengkapi dengan klep pengatur tekanan yang berasal dari air yang diuapkan. Sebelum dinyalakan. apabila langsung dibuka dapat menimbulkan ledakan dan dapat merusak klep pengatur tekanan pada autoklaf sehingga kerja alat akan terganggu untuk pemakaian selanjutnya. dan alat-alat yang lain terlebih dahulu dibungkus dengan kertas agar tidak kontak langsung dengan uap air autoklaf. metode sterilisasi laminar air flow cabinet menggunakan sinar UV. pinset. metode sterilisasi dengan bahan kimia bisa menggunakan alkohol 70 % atau 80 %. Setelah proses sterilisasi selesai dan autoklaf mati. Kondisi aseptik dapat dicapai dengan metode sterilisasi. Bagian yang ada tulisan dari kertas pembungkus harus diletakkan di bagian luar agar tinta yang larut nanti tidak mengotori alat yang ada di dalamnya. Untuk sterilisasi media dilakukan selama 15-20 menit sedangkan untuk sterilisasi alat dan aquades dilakukan selama kurang lebih 1 jam. Secara umum. apabila hal itu terjadi proses sterilisasi tidak akan berhasil. Sebelum dimasukkan petridish. eksplan. Agar kontaminasi tidak terjadi maka faktor-faktor tersebut harus berada dalam kondisi aseptik. Petridish akan mudah rusak (pecah) jika mengalami kontak langsung dengan uap air yang panas.saat penanaman (kecerobohan pelaksana). Sedangkan alat-alat seperti pisau scalpel dan pinset akan mudah berkarat jika berkontak langsung dengan uap air. untuk mensterilisasi media dan alat-alat untuk penanaman eksplan menggunakan metode sterilisasi pemanasan basah dengan menggunakan autoklaf. autoklaf tidak boleh langsung dibuka melainkan ditunggu hingga semua air yang berada di dalam autoklaf keluar (kunci dibuka dulu) dan tekanan di dalam autoklaf menurun.

Sedangkan eksplan yang akan dikulturkan pada praktikum ini disterilkan secara kimiawi yaitu dengan merendam eksplan dalam larutan Dithane M-45 3 mg/l yaitu sebagai fungisida yang berfungsi untuk mencegah timbulnya jamur. Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.25 % (Sunclin 100 %) selama kurang lebih 2 menit. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. Setelah itu dilanjutkan dengan merendam eksplan dalam larutan Chlorox 5. E. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak.  Kegagalan sterilisasi akibat sebelum tekanan dalam autoklaf menurun dan semua air yang ada di autoklaf belum habis autoklaf sudah terbuka sehingga dapat menimbulkan ledakan atau kerusakan klep pengatur tekanan pada autoklaf. Kegagalan sterilisasi dapat dihindari dengan jalan mengikuti semua ketentuan dan prosedur pelaksanaan sterilisasi meliputi penggunaan alat dan pelaksanaan prosedur sterilisasi. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral. oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. Dalam proses sterilisasi memungkinkan dapat terjadi kegagalan sterilisasi seperti :  Ketidakberhasilan sterilisasi akibat adanya salah satu atau beberapa kunci pada autoklaf yang tidak menutup dengan sempurna sehingga tekanan yang timbul dari autoklaf bocor ke luar. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi. vitamin. dan 22 .

3. Secara umum. lingkungan kerja dan pelaksanaan atau cara kerja saat penanaman (kecerobohan pelaksana). eksplan.hormon. Saran Dari pembahasan dan kesimpuan yang telah ditarik. metode sterilisasi dengan bahan kimia bisa menggunakan alkohol 70 % atau 80 %. metode sterilisasi pemanasan basah menggunakan autoklaf. dan sterilisasi yaitu antara lain : 1. saran yang dapat penulis sampaikan untuk praktikum-praktikum yang akan dating tentang pembuatan larutan stock. gula.  23 . metode sterilisasi laminar air flow cabinet menggunakan sinar UV. Larutan stok sebaiknya dibuat untuk menghindari terjadinya kesalahan penimbangan sebab bahan-bahan kimia untuk membuat media diperlukan dalam jumlah yang sedikit. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi. dan lain-lain. Selain itu. diperlukan juga bahan tambahan seperti agar. Kontaminasi umumnya disebabkan oleh sterilisasi media yang kurang sempurna. Agar kontaminasi tidak terjadi maka faktor-faktor tersebut harus berada dalam kondisi aseptik. baik jenisnya maupun jumlahnya. Syarat utama keberhasilan kultur in vitro adalah menghindari kontaminasi yang dapat terjadi pada setiap saat dalam masa kultur . tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Pada tahap sterilisasi harus diperhatikan betul tahapan-tahapan dan prosedur sterilisasi agar dapat meminimalisir kegagalan sterilisasi. molekul-molekul atau benda-benda asing berukuran kecil yang jatuh atau masuk ke dalam botol kultur setelah penanaman dan ketika diletakkan di ruang kultur. metode sterilisasi dikelompokkan dalam metode sterilisasi pemanasan kering menggunakan oven. Pada pembuatan media harus diperhatikan jenis eksplan yang akan dikulturkan sehingga dapat memilih dan menentukan media yang tepat yang akan digunakan. metode ultrafiltrasi dengan menggunakan filter milipore (digunakan untuk hormone dan ZPT). media tanam. Kondisi aseptik dapat dicapai dengan metode sterilisasi. 2.

1995.C.ht 24 .unram. P. Penebar Swadaya.ac. Buku Petunjuk Praktikum Kultur Jaringan. Torres. Surakarta : UNS Press http://www. 1996. Lydiane & John Kleyn. Perbanyakan dan Penyimpanan Tanaman Inggu melalui Kultur Jaringan. USA : Boston University Buletin Teknik Pertanian Vol. Pengaruh Jenis Media dan Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Perakaran pada Kultur Jaringan Cendana (Santalum album Linn. Husni. New York. Plants from Test Tubes. Tissue Culture Technique. M.iptek. Jurnal Agrosains 19(2) : 103-109.com http://elearning.sinarharapan.DAFTAR PUSTAKA Afriastini. 2004 Herawan. 9. Von Hostrand Reinheld. 1989.C. 2006.id/ind/?ch=isti&id=211 http://www. F. Jakarta. A. Nomor 1. Yuniastuti. Endang.id/KulJar/BAB%20IV%20STERILISASI/IV2%20Sterilisasi %20Alat.org/ teknik/veg. Martin. Tissue Culture techniques for Horticultural Crops. K. USA: Timber Press Rahardja. Na’iem. Buletin Plasma Nuftah II(1) : 9. Perbanyakan Vegetatif : Kultur Jaringan. 1997.net.2008.).1994.wikipedia. Kyte. Diakses 15 Desember 2007 Bernice. T dan M. 2004.id. Kultur Jaringan Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern. http://www.

Mawar berasal dari dataran Cina. Hari Natal. Bunga potong sebagai salah satu komoditas pertanian yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. Latar Belakang Mawar (Rosa sp. 25 . Permintaan bunga potong semakin meningkat pada saat menjelang Idul Fitri. Anggrek. Sedap malam dan Anthurium. menyebar luas dari daerah-daerah beriklim dingin (subtropis) dan panas (tropis). Gladiol. Dalam perkembangannya. 5 dan 9. 1994). Gladiol dan Lily masing-masing menduduki peringkat 1. Timur Tengah dan Eropa Timur. Meningkatnya permintaan ini sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang memberikan peluang besar untuk pengembangan usahatani dan pemasaran tanaman hias serta bunga potong. PENDAHULUAN 1. Permintaan bunga potong Mawar. Beberapa komoditas bunga potong yang menjadi andalan di Indonesia saat ini antara lain: Mawar.) merupakan tanaman bunga hias berupa herba dengan batang berduri.ACARA II KULTUR JARINGAN MAWAR (Rosa sp) A. telah diusahakan secara komersial sejak lama dalam upaya memenuhi permintaan yang semakin meningkat. Lily. Di Indonesia yang merupakan salah satu wilayah pemasok konsumen tanaman hias secara Nasional adalah Jawa Tengah dan Jawa Barat serta Jawa Timur. Permintaan nasional akan tanaman hias dan bunga potong meningkat tidak kurang dari 10% setiap tahunnya. 1989 dalam Effendie. Tahun Baru dan hari-hari besar lainnya (Hasyim. Krisan.

Permintaan pasar sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas komoditas yang dihasilkan petani. hal ini akan merugikan petani apabila ketersediaan varietas unggul di tingkat petani tidak disediakan dan terdesak oleh komoditas import. Perbanyakan menggunakan benih akan menghasilkan tanaman dengan keragaman yang tinggi. sedangkan secara generatif hanya ditujukan untuk pemuliaan. Salah satu kendala yang dihadapi petani bunga potong antara lain ketersediaan bibit yang bermutu. Perbanyakan mawar bunga potong umumnya diperbanyak secara okulasi. Pada saat 26 . dan mata tempel akan menghasilkan tanaman yang mempunyai sifat sama dengan induknya tetapi bibit yang dihasilkan relatif sedikit dan memerlukan waktuyang lama. sedangkan perbanyakan menggunakan umbi. Okulasi mata tunas dilakukan pada saat kulit batang bawah mudah dikelupas. Pengembangan bunga potong. Metode perbanyakan bunga potong yang dilakukan oleh petani saat ini masih menggunakan teknologi pebanyakan melalui benih. Konsumen akan cenderung memilih produk yang mempunyai kualitas lebih tinggi. Salah satu alternatif yang mampu menjawab tantangan tersebut adalah dengan menggunakan teknologi perbanyakan secara kultur jaringan (in vitro). 1996). stek dan sambungan mata tempel.) biasa diperbanyak secara vegetatif. stek. Bibit yang bermutu adalah bibit yang mempunyai sifat unggul dan seragam. umbi. sudah saatnya memproduksi bunga yang berkualitas. Selain itu. yang banyak diminati konsumen dan dapat dibudidayakan secara komersial. Mawar (Rosa hybrida L.Mengingat manfaat bunga yang demikian besar. Mawar merupakan komoditas hortikultura yang bernilai tinggi. yang tersedia di pasar. Teknologi tersebut ternyata belum mampu menjawab tantangan untuk mengantisipasi berkembangnya agribisnis bunga potong. okulasi mata tunas atau okulasi mata berkayu. kegiatan penelitian tanaman hias yang semakin berkembang belum diimbangi dengan kegiatan pengelolaan atau konservasi plasma nutfah yang memadai. terutama mawar di Indonesia tergolong lambat karena adanya kendala dalam penyediaan bibit. Indikasi ini terlihat dari permintaan konsumen terhadap bunga potong bukan saja terjadi pada hari-hari besar tetapi kini bunga potong dibutuhkan hampir setiap hari (Sanjaya. Permintaan mawar sebagai bunga potong meningkat pada hari raya dan keagamaan dan tahun baru.

Pada kultur jaringan mawar (Rosa sp. Mengetahui teknik perkembangbiakan atau mengembangbiakkan mawar secara teknik kultur jaringan (in vitro). hanya pada okulasi mata berkayu tidak harus menunggu batang bawah mudah dikelupas. Dengan cara ini okulasi dapat dilakukan pada stek batang bawah yang belum berakar ataupun yang sudah berakar. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan mawar. 2. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. Tujuan Praktikum acara kedua ini bertujuan untuk : a. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. yang sekarang banyak dilakukan pengusaha benih/bibit mawar di luar negeri adalah stenting. tidak memerlukan ruangan yang luas dan mencegah penularan penyakit sistemik.tersebut sel-sel tanaman dan sel-sel kambium tersebut sedang dalam keadaan aktif. Selain itu.Pelaksanaan dari teknik okulasi mata berkayu hampir sama dengan okulasi mata tunas. 27 . b.) digunakan bahan tanam berupa ruas-ruas batang muda tanaman mawar.Salah satu cara perbanyakan yang lebih efisien. Cara ini merupakan gabungan dari penyetekan dan penyambungan (grafting) yang dilakukan pada saat yang bersamaan. artinya organ tersebut masih aktif membelah. Penggunaan ruas batang muda mawar bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. Eksplan yang akan digunakan pada praktikum kali ini adalah mawar (Rosa sp) yaitu bagian batangnya. Perbanyakan mawar dengan teknik kultur jaringan merupakan salah satu alternatif unggul perbanyakan tanaman yang dapat menyediakan bibit tanaman dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang cepat. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan tipis. Namun demikian sebaiknya okulasi mata tunas dilakukan setelah batang bawah berumur lebih dari satu bulan.

Proses ini disebut organogenesis atau dikena juga dengan istilah mikropropagasi. Dalam taksonomi. Teknik ini sangat bermanfaat untuk tanaman-tanaman yang diperbanyak secara vegatatif. Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. Adapun tanaman yang telah berhasil diperbanyak antara lain tanaman hias (misal: anggrek dan mawar) (Anonim. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter (Anonim. Dengan adanya sitokinin di dalam medium menyebabkan tunas mengandakan diri secara terus menerus membentuk tunastunas baru dalam jumlah ribuan bahkan jutaan tunas. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. selanjutnya diakarkan menjadi planlet. Kingdom Divisi : Plantae : Spermatophyta 28 . 2008a). 2008b). mawar diklasifikasikan sebagai berikut. Perbanyakan tanaman melalui teknik kultur jaringan memeiliki beberapa keuntungan. TINJAUAN PUSTAKA Pembentukan tunas adventitif secara langsung menggunakan eksplan potongan batang muda yang memiliki calon tunas samping.3. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Suarakarta B. yaitu diperolehnya bibit yang seragam dalam jumlah besar. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara II yang berjudul Kultur Jaringan Mawar (Rosa sp) ini dilaksanakan pada : Waktu Tempat : Senin. Walaupun jarang ditemui.

Pelaksanaan dari teknik okulasi mata berkayu hampir sama dengan okulasi mata tunas. Mawar (Rosa sp) merupakan komoditas holtikultura yang bernilai ekonomi tinggi. Dengan cara ini okulasi dapat dilakukan pada stek batang bawah yang belum berakar ataupun yang sudah berakar. banyak diminati konsumen. Namun demikian sebaiknya okulasi mata tunas dilakukan setelah batang bawah berumur lebih dari satu bulan. ukuran bunga. Perbanyakan mawar bunga potong umumnya diperbanyak secara okulasi. yang akhirnya akan meringankan biaya pemeliharaan. Cara ini merupakan gabungan dari penyetekan dan penyambungan (grafting) yang dilakukan pada saat yang bersamaan. 1996) Mawar (Rosa sp) biasa diperbanyak secara vegetatif.Sub divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Angiospermae : Dicotyledoneae : Rosales : Rosaceae : Rosa : Rosa sp (Gembong Tjitrosoepomo.Penggunaan mata berdaun pada teknik stenting ini memerlukan penanganan khusus untuk menghindari 29 . Okulasi mata tunas dilakukan pada saat kulit batang bawah mudah dikelupas. sedangkan secara generatif hanya ditujukan untuk pemuliaan. bentuk dan baunya berkembangbiak (Ashari. sehingga pada saat tanaman ditanam di lapang tidak tumbuh tunas liar dari batang bawah. Pada saat tersebut sel-sel tanaman dan sel-sel kambium tersebut sedang dalam keadaan aktif.Beberapa keuntungan dari teknik stenting ialah perbanyakan lebih cepat. bahan tanaman yang digunakan lebih sedikit (satu mata tunas + daun dari batang atas dan satu ruas batang bawah tanpa daun). karena saat penyambungan tidak menunggu batang bawah berakar terlebih dahulu.1990) Mawar berasal dari daerah subtropik pada belahan bumi utara. warna. (Sartika. hanya pada okulasi mata berkayu tidak harus menunggu batang bawah mudah dikelupas.Salah satu cara perbanyakan yang lebih efisien. Di daerah sejuk. okulasi mata tunas atau okulasi mata berkayu. serta dapat dibudidayakan secara komersial dan terencana sesuai permintaan. yang sekarang banyak dilakukan pengusaha benih/bibit mawar di luar negeri adalah stenting. Jenis mawar hibrida sebagian besar menyukai teampat yang sejuk (cocok untuk pegunungan). 1995).

Terjadinya perubahan pada kelopak dan warna bunga dapat terjadi karena adanya mutasi pada kumpulan sel somatik dan dapat terekspresi pada sel meristem dan akan membentuk suatu sektor yang stabil (Boertjes dan Van Harten 1978). tanaman asal eksplan tersebut.id. (http://holtikultura.kelayuan sampai bertautnya kambium serta tum.deptan. bahkan varietas. (Prihardini.buhnya akar dan tunas. Cara yang banyak dilakukan untuk mempertinggi kelembaban ini yaitu dengan pengkabutan secara periodik (intermitten misting). Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. sehingga akan mengurangi laju respirasi dan transpirasi. Setelah diaklimatisasi dan diperbanyak secara konvensional. merendahkan suhu dan meningkatkan kelembaban sekitar daun. Untuk menjamin keperluan tersebut. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Teknik ini memberikan lapisan air pada permukaan daun dan batang. Perubahan sifat genetik yang diekspresikan pada perubahan kelopak dan warna bunga dapat dilihat mulai dari biakan dalam botol.Katalog teknologi unggulan holtikultura). et al. eksplan yang digunakan dalam kultur mata tunas dapat berasal dari tunas lateral. Medium MS dan modifikasi konsentrasi persenyawaan dengan penambahan auksin dan sitokinin merupakan komposisi media tumbuh yang biasa digunakan untuk inisiasi kalus Keberhasilan perbanyakan massal secara invitro sangat bergantung pada komposisi media tumbuh dan pemilihan bahan eksplan yang tepat tetapi kebutuhan optimal unsur hara dan zat pengatur tumbuh bervariasi antar setiap fase pertumbuhan dan perbanyakan antar varietas dan klon. maka disekeliling daun harus dipertahankan agar selalu dalam keadaan lembab. tunas samping atau bagian dari batang yang mengandung satu atau lebih mata tunas (Allen. Kultur mata tunas merupakan salah satu teknik in-vitro yang digunakan untuk perbanyakan tanaman dengan merangsang munculnya tunas-tunas aksilar dari mata tunas yang dikulturkan. 1978).go.litbang. 30 . Seperti halnya kultur pucuk. perubahan warna tetap dipertahankan.Keberhasilan penyambungan sebagian besar disebabkan hubungan kambium yang rapat dari kedua tanaman (batang bawah dan batang atas) yang disambungkan atau terjadinya pertautan/jalinan meristematik antara keduanya. 2003).

) Media kultur Alkohol 96 % 31 b. dapat menghasilkan tanaman secara kesinambungan atau berkala (Hoesen. ALAT. penyimpanan yang kurang baik serta teknik aseptic yang kurang memadai (Martin. DAN CARA KERJA 1. 2001). BAHAN. kondisi tersebut sulit dicapai karena memerlukan kondisi rumah kaca yang terkontrol. b. Bentuk kontaminasi yang paling umum terjadi adalah bakteri dan jamur.Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro. et al. 2004). Salah satu teknologi alternatif untuk mendapatkan genotipe-genotipe baru yaitu melalui kultur jaringan (Handayati. a. . Bahan Eksplan : mawar (Rosa sp. Untuk saat ini. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes 2. 1994). (Marlina. mikro. Pembentukan kultivar mawar baru melalui persilangan memerlukan persiapan seperti suhu yang konstan pada siang dan malam hari yaitu 18ºc dan kelembaban udara sekitar 70%. C. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi media dan zat penghambat tumbuh terhadap umur simpan dan ketahanan planlet untuk konservasi tanaman mawar Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda jenis bahan kimia atau konsentrasinya. a. Kelebihan teknik tersebut.. Alat LAFC lengkap dengan lampu Bunsen Petridsh dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro. dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman. c. Bentuk kontaminasi ini biasanya terjadi melalui udara dan dapat disebabkan sterilisasi yang kurang tepat. 2001). c. Teknik kultur jaringan merupakan salah satu alternatif untuk menyediakan bahan tanam secara massal dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional.

diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus).25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 3 menit Membilas eksplan dengan aquadest steril Penanaman eksplan Membuka plastik penutup botol media kultur Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset.d. meliputi Saat muncul akar. tunas dan daun. • • • e. b. • • • Persentase keberhasilan. dilakukan pada akhir pengamatan d. 3. f. e. g. 32 . pinset selalu dibakar diatas api Selama penanaman. diamati setiap hari Jumlah akar. • • c. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk menghindari kontaminasi Pemeliharaan Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. daun dan kalus (HST). dilanjutkan dengan chlorox 5. Setelah digunakan. tunas. kelembaban dan cahayanya Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi Pengamatan selama 5 minggu. • • • Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja Persiapan eksplan Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. a. dilakukan pada akhir pengamatan.

Penggunaan ruas batang muda mawar bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. Dithane M-45 dan Agrept 33 . Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Mushage and Skoog (MS). yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Pada kultur jaringan mawar (Rosa sp. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. artinya organ tersebut masih aktif membelah. Saat Muncul Akar Tabel 2. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. penggunaan media yang sesuai.1 Saat Muncul Akar Tanaman Mawar Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan tipis. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah mawar (Rosa sp) yaitu bagian batangnya.) digunakan bahan tanam berupa ruas-ruas batang muda tanaman mawar.3 gram dalam 100 ml aquadest. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi.D.

Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. 34 . menstimulir terjadinya pembelahan sel. BAP berperan dalam pembentukan tunas. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. Kontaminasi sangat beragam. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula.merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur mawar. tunas. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan mawar diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. mendorong proliferasi meristem ujung. dan mineral. vitamin. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. proliferasi kalus. Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. maupun kalus. Dalam aktivitas kultur jaringan. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan mawar terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan.

media dan suplemen media yang beragam. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. hijau. kuning. penggunaan bahan sterilisasi. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. penggunaan api dan lain-lain. 35 . Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. Saat muncul tunas tanaman mawar Tabel 2.2 Saat muncul tunas tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. pengirisan.2. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan.

Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan.3. 4. penggunaan api dan lain-lain. penggunaan bahan sterilisasi. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. kuning. pengirisan. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan.3 Saat muncul daun tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. hijau. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Saat muncul kalus tanaman mawar 36 . media dan suplemen media yang beragam. Saat muncul daun tanaman mawar Tabel 2. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan.

Tabel 2.4 Saat muncul kalus tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus -

Mawar

Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam, hijau, kuning, dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal, media dan suplemen media yang beragam, penggunaan bahan sterilisasi, pengirisan, penggunaan api dan lain-lain.

5. Presentase Keberhasilan
37

Tabel 2.5 Persentase Keberhasilan Kultur Mawar Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%)
0 × 100% = 0% 10

Mawar 0 10 Sumber : Laporan Sementara

Berdasarkan data diatas eksplan mawar memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat, media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. Praktikum acara kultur jaringan mawar ini menggunakan eksplan berupa batang. Media kultur yang digunakan adalah media MS dengan tambahan ZPT berupa BAP dan IBA. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan mawar tidak ada akar, tunas, daun, dan kalus yang muncul. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya; a. Media yang telah terkontaminasi jamur. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. Disamping itu, terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. b. Eksplan yang terkontaminasi. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. c. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. Peralatan – peralatan seperti pinset, botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan
38

pensterilan. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. Dalam praktikum ini, komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Setelah eksplan ditanam, botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu, cahaya dan kelembabannya. Selain ZPT, faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis, umur ontogenik, ukuran eksplan, dan bagian tanaman yang diambil. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi, sel-selnya masih aktif membelah, dan relatif sedikit mengandung kontaminan. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. Pada fase juvenil, pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem, yaitu dapat berupa ujung akar, tunas atau daun muda. E. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum acara II adalah : a. adanya jamur dan bakteri. b. c. d. Penggunaan media yang sesuai dan keadaan yang aseptik mempengaruhi keberhasilan kultur jaringan. Faktor yang penyebab kontaminasi adalah sterilisasi yang kurang sempurna dari media atau eksplan dan kecerobohan manusia. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP.
39

Eksplan dan media terkontaminasi dengan ditandai

e.
f. g.

Fungsi

dari

IBA

yaitu

berpengaruh

dalam

pembentukan akar. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas.
Kematian eksplan disebabkan karena media dan eksplan yang terkontaminasi serta peralatan yang kurang steril.

Pada akhir pengamatan tidak terbentuk akar, tunas, daun, dan kalus. Saran


o

Harus diperhatikan prosedur pelaksanaan sterilisasi baik alat maupun bahan yang digunakan harus disterilisasi sehingga benar-benar steril. Pemeliharaan eksplan harus diperhatikan dengan benar. Sebaiknya bahan eksplan yang digunakan dipilih dari jaringan tanaman yang masih muda (meristem) yang masih aktif membelah.

o

o

DAFTAR PUSTAKA
40

Gembong. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk konservasi in vitro mawar (Rossa sp).id. 2003. 345 p. Or.org/wiki/Mawar. Handayati.go. 1995.Yogyakarta : UGM Press http://holtikultura. D. Vol 5(2):15-24. Boertjes. M. Hoesen.kuljar. Marlina. Darliah. J.). http://www. ---------. and A. Anonim. E.pustaka -deptan. H. Birkhavser Inc.progressio. Applied Mutation Breeding for Vegetatively Propagated Crops. S.1949.com. Sudaryono dan S. 2001. 2008b. Tissue Culture Techniques : An Introduction. How To Growth Roses. T.Katalog teknologi unggulan holtikultura 15 Desember ACARA III KULTUR JARINGAN WORTEL (Daucus carota) 41 . http://id. C. Jakarta.id. 2004. USA. 18 Desember 2008. Indonesia University Press. 1978. diakses tanggal 15 Desember 2007. Mawr Hias. Diakses tanggal. 1. Komposisi Media dan Eksplan Untuk Inisiasi Poliferasi Salak Secara Invitro.Allen. 5(4) 279-285. B. Mawar. Anonim. 2008a. Nina. Marlina. Id : diakses tanggal 2007 Ashari. http://www. Biologi Sel dan Jaringan. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk Konservasi In Vitro Mawar (Rosa sp. Martin. Hortikultura Aspek Budidaya. W.E.deptan.Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. http://warintek.. 2001. Diakses tanggal 18 Desember 2008. Van Harten. 1978. Peningkatan Keragaman Genetik Mawar Mini Melalui Kultur In Vitro dan Iradiasi Sinar Gamma.biogenonline. Perbanyakan dan penyimpanan Kultur Sambung Nyawa(Gynura procumbers) dengan Teknik In Vitro. California. Purnomo. 2004. 5(4) : 365-371. Nedherland. N.M. 1994. Prihardini. Purnamaningsih. Boston.litbang. Jurnal Penelitian Hortikultura. Elsevier. Sumeru.R. Ilmiah : Berita biologi. D. Tjitrosoepomo.go. Buletin Teknik Pertanian Vol 9 No. Lane Magazine and Book Company. 2004. P. Anonim. I. Mariska dan R. Jurnal Ilmiah : Berita Biologi.

sawi .200-1. mempunyai ciri-ciri fisik yang baik. dan kotiledon dalam keadaaan sehat.5. Perbanyakan tanaman wortel selama ini dilakukan secara generatif dengan penanaman umbi akar yang matang dan telah berkecambah. umur tanaman cukup dan keadaan tanaman sehat tidak berpenyakit atau terserang hama. berbuah lebat stabil. dan cukup sinar matahari. kubis. PENDAHULUAN 1.500 m dpl. terletak pada batang utama. labu siam. karena tanah yang asam menghambat perkembangan umbi. gembur dan kaya humus dengan pH antara 5. tanah perlu dikapur. lembap. Umumnya benih rekalsitran tidak mempunyai masa dormansi proses metabolisme perkecambahan berjalan terus (Copeland dan McDonald 1995) bahkan benih wortel dapat berkecambah ketika masih di pohon (perkecambahan dini) atau bersifat vivipary.5-6. Benih yang akan dijadikan bibit harus dipilih benih yang baik.A. dan 42 . lobak dan tomat. Sekarang wortel sudah dapat ditanam di daerah berketinggian 600 m dpl. Perbanyakan tanaman dengan cara vegetatif adalah dengan stek yang telah berakar sempurna yang diperoleh dari batang yang muda namun cara ini jarang dilakukan karena produksi dan produktivitas buahnya rendah. Wortel (Daucus carota) merupakan tanaman sayuran dataran tinggi yang telah lama dikenal petani di Indonesia selain bawang putih. Latar Belakang Wortel merupakan tanaman subtropis yang memerlukan suhu dingin (22-24° C). bermutu. Wortel tidak tahan disimpan sebagai benih lebih dari satu bulan sejak berkecambah di pohon karena tidak memiliki masa dormansi sehingga diduga wortel termasuk dalam rekalsitran tinggi (highly rekalsitran). Buah yang dipakai sebagai benih merupakan panenan pertama. Dianjurkan untuk menanam wortel pada tanah yang subur. Kebanyakan tanah dataran tinggi di Indonesia mempunyai pH rendah. Benih yang baik dihasilkan dari pohon induk yang baik. Berdasarkan ciri fisiknya diduga benih wortel tergolong sebagai benih rekalsitran dengan karakteristik kadar airnya tinggi sehingga mudah terkontaminasi mikroba dan lebih cepat mengalami kemunduran. Bila demikian. yakni tanaman tumbuh subur normal. buah berumur tua. Tanah yang kurang subur masih dapat ditanami wortel asalkan dilakukan pemupukan intensif. Di Indonesia kondisi seperti itu biasanya terdapat di daerah berketinggian antara 1.

umbi wortel yang di ambil langsung dari lapangan jauh lebih baik dari pada yang dibeli dari pasar. buah telah berakar dan berkecambah sepanjang 2-4 cm dengan daun sepasang. ukuran benih seragam. b. Penelitian mengenai kandungan gizi kegunaan dan jumlah species wortel telah banyak dilakukan di Luar Negeri seperti di Negara Amerika Tengah. Transportasi benih dari daerah pertanaman wortel yang menyebar ke seluruh wilayah Indonesia merupakan hal yang sulit. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara kedua ini yaitu Kultur jaringan wortel dilaksanakan pada : Waktu : Senin. benih tidak diserang hama dan penyakit. jaringan floem dan sekitarnya. 43 . 20 Oktober 2008. Kultur jaringan merupakan salah satu alternatif perbanyakan tanaman secara vegetatif yang memiliki keunggulan antara lain. Mengetahui pengaruh IBA dan BAP terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan wortel. 2. dapat menyediakan bibit dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat. Benih wortel yang digunakan untuk perbanyakan tanaman beratnya rata-rata 300-400 gram dengan kondisi voluminous dan resiko kerusakan yang tinggi. Dalam praktikum kultur jaringan wortel ini. Mengetahui teknik kultur jaringan wortel. Tujuan Tujuan praktikum ini adalah : a. Untuk memenuhi permintaan pasar yang banyak dapat dilakukan perbanyakan dengan kultur jaringan. Masih banyak permasalahan yang belum diketahui pada benih wortel khususnya mengenai fenomena vivipary wortel varietas lokal daerah Cipanas yang merupakan daerah sentra wortel.bentuknya normal. terletak di bagian tengah batang atau pada batang pokok. 3. eksplan yang digunakan untuk kultur jaringan adalah umbi akarnya. Selama ini benih wortel dikembang biakkan dalam bentuk umbi yang sudah berkecambah dan sehat pada umur 42 hari setelah anthesis (HSA). dan lebih baik jika memakai jaringan cambium.

) .a) Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan sayur yang ditanam sepanjang tahun.2008. Menurut para botanis.b) Sayuran ini sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia dan populer sebagai sumber vit. yakni wortel yang memiliki umbi akar berbentuk bulat panjang dan rasanya manis. . B. Umbi akar wortel berwarna khas oranye. yakni wortel yang memiliki umbi akar berukuran panjang dengan ujung meruncing dan rasanya kurang manis.24 bulan) yang menyimpan karbohidrat dalam jumlah besar untuk tumbuhan tersebut berbunga pada tahun kedua. Bagian yang dapat dimakan dari wortel adalah bagian umbi atau akarnya.jenis chantenang. dengan bunga berwarna putih. Kerajaan: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Apiales Famili: Apiaceae Genus: Daucus Spesies: Daucus carota (Anonim. Wortel adalah tumbuhan biennial (siklus hidup 12 .2008. . B. A karena memiliki kadar karotena (provitamin A). wortel juga mengandung vit.jenis mantes. yakni wortel hasil kornbinasi dari jenis wortel imperator dan chantenang. wortel (Daucus carota) dapat dibedakan atas beberapa jenis. Selain itu. di antaranya: WORTEL (Daucus carota.Tempat : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. (Anonim.jenis imperator. Linn. mirip daun seledri. Batang bunga tumbuh setinggi sekitar 1 m. Wortel mempunyai batang daun basah yang berupa sekumpulan pelepah (tangkai daun) yang muncul dari pangkal buah bagian atas (umbi akar). Wortel menyukai tanah yang gembur dan subur. 44 . kurang lebih pada ketinggian 1200 ineter di atas permukaan laut. Terutama di daerah pegunungan yang memiliki suhu udara dingin dan lembab. TINJAUAN PUSTAKA Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan jenis sayuran umbi yang biasanya berwarna jingga atau putih dengan tekstur serupa kayu. Tumbuhan wortel mernbutuhkan sinar matahari dan dapat turnbuh pada sernua musim.

berkulit tipis.2008.1996 : 128) Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah. Proses ini diawali oleh hormon pertumbuhan. menyebabkan diferensiasi dan pembentukan tunas (Moore.2008. (Anonim. Whiter melaporkan keberhasilannya dalam membuat kultur kalus dari wortel (link to kultur kalus wortel) dan tembakau. dan jika dimakan mentah terasa renyah dan agak manis. Pada tahun 1957. serta zat-zat lain yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. (Anonim. G. memanjang seperti silinder dengan ujung umbi bertipe nantes. Umbi berwarna kuning kemerah-merahan. Penemu F. Mempunyai batang pendek.d) Kultur jaringan tanaman pertama kali berhasil dilakukan ole White pada thaun 1934. sedikit vit. Pemilihan metode didasarkan pada sifat bahan yang akan 45 . Penelitian mereka pada tembakau mengindikasikan bahwa perbandingan auksin dan sitokinin yang tinggi akan menginduksi pengakaran. Sifat TOTIPOTENSIAL tanaman. Bensil adenin dan sitokinin. baik sendiri maupun dalam kombinasi dengan asam naftalenasetat atau asam indolasetat dan kadang dengan asam giberelat.vit. sel atau kalus menjadi tunas dan tanaman sempurna. memanjang seperti kerucut dengan ujung umbi bertipe imperator (meruncing). Sosok tanamannya berupa rumput dan menyimpan cadangan makanannya di dalam umbi. berakar tunggang yang bentuk dan fungsinya berubah menjadi umbi bulat dan memanjang. sedangkan rasio sebaliknya akan menginduksi pembentukan tunas. Organogenesis adalah proses yang menginduksi pembentukan jaringan. Wortel berumbi panjang berbentuk kerucut dengan ujung bertipe imperator atau meruncing. Bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. (Lydiane Kyte. sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi atau bahan kimiawi. tulisan penting Skoog dan Miller dipublikasikan dimana mereka menyatakan bahwa interkasi kuantitatif antara auksin dan sitokinin menentukan tipe pertumbuhan dan morfogenik yang akan terjadi. dapat diterapkan untuk kultur jaringan.c) Wortel berumbi sedang memiliki tiga bentuk. C. Kultur jaringan (sel) adalah mengkultur/membiakkan jaringan (sel) untuk memperoleh individu baru. Dari pihak lain.C. 1990). Pada tahun 1939. Steward menggunakan jaringan floem akar wortel. chantenay yang tumpul. Akan tetapi pola respon ini tidak berlaku universal.

Medium MS dan modifikasi konsentrasi persenyawaan dengan penambahan auksin dan sitokinin merupakan komposisi media tumbuh yang biasa digunakan untuk inisiasi kalus Keberhasilan perbanyakan massal secara invitro sangat bergantung pada komposisi media tumbuh dan pemilihan bahan eksplan yang tepat tetapi kebutuhan optimal unsur hara 46 . Media tumbuh untuk kultur in vitro diusahakan mempunyai kondisi lingkungan yang terkontrol. mendorong proses embryogenesis. Dalam aktivitas kultur jaringan. Terjadinya perubahan pada kelopak dan warna bunga dapat terjadi karena adanya mutasi pada kumpulan sel somatik dan dapat terekspresi pada sel meristem dan akan membentuk suatu sektor yang stabil (Boertjes dan Van Harten 1978). vitamin. 1994). tunas samping atau bagian dari batang yang mengandung satu atau lebih mata tunas (Allen.disterilkan. serta hara mineral. air. Setelah diaklimatisasi dan diperbanyak secara konvensional. bahkan varietas. alkohol dan hormon (Widiastuti dan Anggraini. membentuk akar atau tunas. Kultur mata tunas merupakan salah satu teknik in-vitro yang digunakan untuk perbanyakan tanaman dengan merangsang munculnya tunas-tunas aksilar dari mata tunas yang dikulturkan. Sebagian besar kultur aseptik tidak mampu melakukan fotosintesis sehingga diperlukan sumber karbon dalam bentuk sukrosa atau glukosa. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. 1978). 1990). serta dapat mempengaruhi kestabilan genetic tanaman (Wetter and Corstabel. auksin sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus. bahan organik. Seperti halnya kultur pucuk. perubahan warna tetap dipertahankan. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. menghambat kerja sitokinin. Yang umum digunakan secara rutin di laboratorium adalah menggunakan panas (Hadioetomo. 1982). mendorong morfogenesis kalus. Perubahan sifat genetik yang diekspresikan pada perubahan kelopak dan warna bunga dapat dilihat mulai dari biakan dalam botol. eksplan yang digunakan dalam kultur mata tunas dapat berasal dari tunas lateral. tanaman asal eksplan tersebut. membentuk klorofil dalam kalus.

Persiapan eksplan b. c. g. a. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro. Bahan Eksplan : nanas (Ananas comosus ) dan wortel (Daucus carota) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja a. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • Membilas eksplan dengan aquadest steril 47 b. d. 2003). (Prihardini.25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 . LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridsh dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. dilanjutkan dengan chlorox 5. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. et al. e. 2004). f. DAN CARA KERJA Alat a.dan zat pengatur tumbuh bervariasi antar setiap fase pertumbuhan dan perbanyakan antar varietas dan klon. ALAT. BAHAN. dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman. mikro. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi media dan zat penghambat tumbuh terhadap umur simpan dan ketahanan planlet untuk konservasi tanaman mawar Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda jenis bahan kimia atau konsentrasinya. Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. (Marlina. b. c. C. Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro.

menghindari kontaminasi. tunas. e. daun dan kalus (HST). diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). pinset harus selalu dibakar diatas api. tunas dan daun. Pengamatan selama 5 minggu.c. kelembaban dan cahayanya. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. diamati setiap hari Jumlah akar. d. dilakukan pada akhir pengamatan f. dilakukan pada akhir pengamatan. Saat Muncul Akar 48 . Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk Setelah digunakan. Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. Selama penanaman. Penanaman eksplan • • • Membuka plastik penutup botol media kultur. D. meliputi • • • Saat muncul akar. Persentase keberhasilan.

1 Saat Muncul Akar Tanaman Wortel Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. artinya organ tersebut masih aktif membelah.3 gram dalam 100 ml aquadest. Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. penggunaan media yang sesuai. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah wortel (Daucus carota) yaitu bagian umbi akarnya. Pada kultur jaringan wortel (Daucus carota) digunakan bahan tanam berupa bagian tengah dari umbi akarnya yang berwarna kuning. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). 49 .Tabel 3. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur wortel. Penggunaan bagian tengah dari umbi akar wortel yang berwarna kuning oranye ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan floem dan cambium di sekitarnya. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0.

vitamin.Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. daun. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan 50 . Pada penanaman eksplan wortel semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. maupun kalus. hitam. dan mineral. Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan wortel diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. dan mineral. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. tunas. mendorong proliferasi meristem ujung. Dalam aktivitas kultur jaringan. BAP berperan dalam pembentukan tunas. dan putih. maupun kalus. menstimulir terjadinya pembelahan sel. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan wortel terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. proliferasi kalus. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. Kontaminasi sangat beragam. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. Pada penanaman eksplan wortel tidak ada yang membentuk akar. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. tunas. vitamin.

Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. Hasil-hasil 51 .2 Saat muncul tunas tanaman wortel Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. kuning. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media.berulang-ulang menggunkan spirtus. penggunaan api dan lain-lain. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. media dan suplemen media yang beragam. penggunaan bahan sterilisasi. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Saat Muncul Tunas Tabel 3. hijau. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. pengirisan. 2.

pengirisan. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. bahkan varietas. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. zat pengatur tumbuh. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Oleh karena itu.3 Saat muncul daun tanaman wortel Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. dll. seperti kebutuhan nutrisi. hijau.penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. 3. penggunaan api dan lain-lain. media dan suplemen media yang beragam. Saat muncul daun Tabel 3. lingkungan kultur. tanaman asal eksplan tersebut. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. komposisi media. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. 4. penggunaan bahan sterilisasi. kuning. Saat muncul kalus Tabel 3. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan.4 Saat muncul kalus tanaman wortel 52 .

Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. penggunaan api dan lain-lain. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. penggunaan bahan sterilisasi. 5. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. media dan suplemen media yang beragam. Presentase keberhasilan Tabel 3. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. hijau. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. pengirisan.5 Persentase Keberhasilan Kultur Wortel Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 53 . kuning.Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - Wortel Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar.

Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. Praktikum acara kultur jaringan wortel ini menggunakan eksplan berupa bagian tengah atau jaringan floem dari umbi akar. Media yang telah terkontaminasi jamur. e. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan wortel tidak ada akar. daun. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. tunas. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. 54 . Media kultur yang digunakan adalah media MS dengan tambahan ZPT berupa BAP dan IBA. f. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. Eksplan yang terkontaminasi.Wortel 0 10 Sumber : Laporan Sementara 0 × 100% = 0% 10 Berdasarkan data diatas eksplan wortel memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. d. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. Disamping itu. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. Peralatan – peralatan seperti pinset. dan kalus yang muncul. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk.

lingkungan kultur. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Selain ZPT. dan bagian tanaman yang diambil. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. seperti kebutuhan nutrisi. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. zat pengatur tumbuh. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem. Setelah eksplan ditanam. pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. umur ontogenik. Pada fase juvenil. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. bahkan varietas. tanaman asal eksplan tersebut. tunas atau daun muda. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. komposisi media. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu.Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. dll. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. Oleh karena itu. cahaya dan kelembabannya. Dalam praktikum ini. dan relatif sedikit mengandung kontaminan. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama 55 . sel-selnya masih aktif membelah. yaitu dapat berupa ujung akar. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. ukuran eksplan.

e. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan.http://en.E. Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat. USA. E. D. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman. dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a. 1978. medianya berwarna kuning.wikipedia. 3 ulangan terdapat jamur. Pada kultur jaringan wortel. Lane Magazine and Book Company. California.Wortel. d.org/wiki/wortel 56 . Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. DAFTAR PUSTAKA Allen. 2 ulangan terdapat bakteri dan 2 ulangan. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal mungkin. How To Growth Roses. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Dari praktikum kultur jaringan wortel yang telah dilakukan. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan. Anonim.2008. dari 10 eksplan yang ditanam tidak ada yang berhasil tumbuh. Persentase keberhasilan dari kultur jaringan wortel adalah 0 %  Saran Untuk meningkatkan presentase keberhasilan. Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. c. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. baik untuk peralatan maupun media itu sendiri. b.

S. Vol 4(2):71-73. http://www. dan Kartono. N.id/ind/pd_tanobat /view. Berlin.com Boertjes.S. Purnomo. Hadioetomo. 2003.iptek.deptan. 1982.. Corstabel. 1. PENDAHULUAN Latar Belakang 57 . Sudaryono dan S. Mikrobia Dasar Dalam Praktek.Anonim. Sukmayadi.M. P. Jurnal Penelitian Hortikultura. Pengaruh Air Kelapa Terhadap Pembentukan Protocorm Like Bodies (PLBS) dari Anggrek Vanda dalam Medium Cair. Plant Tissue Culture Methods. Nedherland. Van Harten.2008.E.2008. S. 2003. Meldia. 1990. Vol 5(2):15-24.. J. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk konservasi in vitro mawar (Rossa sp). http://holtikultura. Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Nanas. R and F.R. Elsevier. 1990. Marlina. Hardiati.litbang.net.cybermediaclips. 1. Prihardini. D dan Anggraini. I. Hort 13(3) : 157-168. Biochemistry and Physiology of Plant Hormone. C.php? mnu=2&id=150 Anonim.http://plantasia.C. Applied Mutation Breeding for Vegetatively Propagated Crops.Perbanyakan tanaman wortel. and A. T. Moore. Purnomo. P. Y. 2004. S. Buletin Teknik Pertanian Vol 9 No.Katalog teknologi unggulan holtikultura ACARA IV KULTUR JARINGAN NANAS (Ananas comosus) A. 1994. Jakarta. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. Springer-Verlag. Wetter. 1978. T.go. Gramedia.id. The Prairie Regional Laboratory of The National Research. 345 p. Komposisi Media dan Eksplan Untuk Inisiasi Poliferasi Salak Secara Invitro.Teknik Perbanyakan tanaman Wortel. L. Widiastuti. Jurnal Hortikultura.

maupun konsumsi dalam negeri. Untuk skala industri. seperti selai. yaitu media padat. ketersediaan varietas lokal yang potensial untuk komersialisasi. Perbanyakan melalui kultur jaringan merupakan metode alternatife untuk memecahkan masalah tersebut. Peran Indonesia dalam pasar global nenas belum berarti. Salah satu komponen yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan tanaman dalam kultur jaringan adalah keadaan media secara fisik. sehingga disukai masyarakat luas. Hal ini karena kegiatan pengembangan varietas dalam pengertian pemuliaan tanaman belum banyak dilakukan. atau modifikasi antara keduanya. media cair. sehingga meningkatkan pendapatan devisa negara dan selanjutnya akan berkait dengan peningkatan pendapatan pelaku-pelaku agribisnis tanaman nenas. Salah satu komoditas yang dikembangkan adalah nenas. Untuk skala industri. yang disebabkan perlunya waktu yang relatif lama untuk memperoleh hibrida unggul hasil 58 . karena nenas (Ananas comusus (L. padahal sebagai negara yang berada di wilayah tropik. terutama untuk konsumsi segar. oleh karena adanya keengganan para peneliti melakukannya.) merupakan salah satu dari tiga buah terpenting dari wilayah tropika. perbanyakan secara konvensional kurang efektif karena jumlah bibit yang dihasilkan sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang relatife lama. Apabila potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimum maka nenas dapat dijadikan buah-buahan andalan. Varietas nenas yang ada saat ini umumnya belum dapat memenuhi standar mutu yang disyaratkan dalam pengembangan skala industri. baik untuk ekspor. Permasalahan yang dihadapi agribisnis tanaman nenas antara lain: 1. Buah nanas selain dikonsumsi segar juga diolah menjadi berbagai macam makanan dan minuman. Rasa buah nanas manis sampai agak masam segar.) merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas. Perbanyakan melalui kultur jaringan merupakan metode alternatif untuk memecahkan masalah tersebut.Nenas (Ananas comosus L. Merr. buah dalam sirop dan lain-lain. Nanas merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas. potensi agroklimat dan luasan lahan yang tersedia sangat memadai. perbanyakan secara konvensional kurang efektif karena jumlah bibit yang dihasilkan sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang relatif lama.) Merr.

Waktu dan Tempat Praktikum 59 . Masih rendahnya penerimaan konsumen terhadap nenas yang disebabkan oleh tingginya kadar Ca-oksalat yang memberikan rasa gatal yang tidak nyaman dan mitos bahwa nenas tidak baik bagi wanita dan dapat menyebabkan keguguran. padahal tanaman nenas Executive Summary Nenas mengalami penurunan produktivitas setelah tiga generasi bibit. menjadi tidak efisien. sehingga memerlukan peremajaan secara teratur dan dukungan teknologi perbanyakan bibit yang mampu menjamin keseragaman dalam waktu yang cepat. penjaminan mutu hasil dan upaya mempertahan-kan mutu dalam jangka waktu lebih panjang. eksplan yang digunakan adalah bagian atas dari bonggol nanas yang berwarna putih yang merupakan bagian dari ibu tangkai bunga nanas. Tujuan Mengetahui teknik kultur jaringan nanas dan wortel. Belum tersedianya teknologi pembibitan yang cepat dan menjamin keseragaman dan kestabilan hasil dan kualitas hasil. a.persilangan. Pada saat ini masih dihadapi masalah ketidakseragaman ukuran dan ketidaksesuaian bentuk buah dan waktu panen sehingga proses pengolahan nenas. termasuk untuk memperpanjang daya simpan (shelf life). 3. Terbatasnya teknik budidaya yang diterapkan oleh petani nenas juga menyebabkan kualitas nenas menjadi tidak baik. Jenis jaringan yang digunakan adalah jaringan meristem yang masih terus aktif membelah. 2. 4. dan material genetik untuk keperluan pemuliaan tanaman masih belum tersedia. terutama pengalengan. padahal untuk menghasilkan nenas dengan mutu yang baik diperlukan kawalan teknologi. 2. 3. Belum tersedianya paket teknologi produksi dan pasca panen bagi optimasi produktivitas. Dalam praktikum kultur jaringan nanas ini. b. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan Tujuan dari praktikum kultur jaringan nanas (Ananas comosus) ini adalah : perkembangan eksplan nanas dan wortel.

Nanas (Ananas comosus (L) Merr. Pada abad ke-16 orang Spanyol membawa nanas ini ke Filipina dan Semenanjung Malaysia.Praktikum acara kedua ini yaitu kultur jaringan (Ananas comosus) dilaksanakan pada : Waktu Tempat : Senin. Klasifikasi tanaman nanas adalah: Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus : Plantae (tumbuh-tumbuhan) : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) : Angiospermae (berbiji tertutup) : Farinosae (Bromeliales) : Bromiliaceae : Ananas 60 . Memiliki nama daerah danas (Sunda) dan neneh (Sumatera). Di Indonesia pada mulanya hanya sebagai tanaman pekarangan. Golongan Abacaxi banyak ditanam di Brazilia. dan meluas dikebunkan di lahan kering (tegalan) di seluruh wilayah nusantara. Nanas berasal dari Brasilia (Amerika Selatan) yang telah di domestikasi disana sebelum masa Colombus. 2003).. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. masuk ke Indonesia pada abad ke-15. Puerte Rico. Nanas merupakan tanaman buah berupa semak yang memiliki nama ilmiah Ananas comosus. Mexico dan Malaysia. B. dan Indonesia merupakan negara penghasil nanas olahan dan segar terbesar ketiga setelah Thailand dan Philipina (Hardiati et al. Subang dan Palembang (Anonim. Dalam bahasa Inggris disebut pineapple dan orang-orang Spanyol menyebutnya pina. TINJAUAN PUSTAKA Varietas cultivar nanas yang banyak ditanam di Indonesia adalah golongan Cayene dan Queen. 2008a). Dewasa ini ragam varietas/cultivar nanas yang dikategorikan unggul adalah nanas Bogor. (1599). Tanaman ini kini dipelihara di daerah tropik dan sub tropik. Golongan Spanish dikembangkan di kepulauan India Barat. merupakan salah satu komoditas buah tropis yang penting bila dilihat dari kegunaan dan nilai ekonomis serta mempunyai kontribusi 8% dari produksi segar dunia.

4) tunas dasar buah. 5) mahkota buah. warna hijau kekuningan sampai jingga. (Naibaho. Perbanyakan tanaman nenas secara umum dapat dilakukan secara vegetatif menggunakan: 1) tunas akar. seragam. Sedangkan kelemahan pengembangan tanaman nanas dengan metode kultur jaringan yaitu : 61 .2008. Bibit yang dihasilkan sehat. Alternatif yang dapat dilakukan adalah melalui cara teknik kultur jaringan in vitro dan cara stek daun. yaitu dua anakan per tanaman per tahun. biasanya petani menggunakan bibit yang berasal dari anakan yang tidak diketahui kesehatannya dan tidak seragam. dan lebih mudah untuk pengangkutannya. Bunganya majemuk.Species (Anonim. permukaan buah seperti sisik atau genting kecil yang tersusun rapi. Keunggulan pengembangan tanaman nanas dengan metode kultur jaringan atau secara in vitro yaitu :     Dapat menyediakan bibit secara cepat dan massal dalam waktu relatif singkat. Naekman. Selain itu perbanyakan nenas dapat dilakukan melalui kultur jaringan. 2) tunas batang. Daging buah berwarna putih kekuningan mengandung banyak cairan yang rasanya manis.c) Nenas merupakan salah satu komoditas penting unggulan Indonesia dilihat dari kegunaan dan nilai ekonominya serta mempunyai kandungan gizi yang tinggi.50 cm mempunyai batang dalam bentuk roset dengan pangkal yang melebar dan menjadi pelepah. bentuk malai terdapat di ujung batang berwarna ungu kemerahan. asam. ujung lancip tepi berduri kecil dan tajam. Indonesia mempunyai peluang yang sangat baik untuk memposisikan diri sebagai salah satu produsen dan eksportir utama produk nenas. 3) tunas tangkai buah. Kedua teknik ini memungkinkan untuk menyediakan bibit nenas dalam jumlah banyak.2008. Transportasi pengiriman mudah. 2008). Dari beberapa metode perbanyakan yang ada. Buah berbentuk menyilinder. dan 6) stek batang. Bibit yang dihasilkan relatif seragam.c) : Ananas comosus (L) Merr Herba yang mempunyai batang semu dengan tinggi 30 . (Anonim. harum dan tidak berbiji. Daun tunggal bentuk pedang. Ketersediaan bibit anakan juga sangat terbatas.

Kendala produksi di lapangan adalah belum tersedianya teknologi bagi pengendalian pertumbuhan vegetatif maupun reproduktif agar produktivitas dan kualitas hasil tinggi. keinginan konsumen dan eksportir buah segar. karena melalui perbanyakan vegetatif konvensional lajunya sangat lambat. Masalah dalam pengembangan nenas adalah penyediaan bibit dalam jumlah banyak secara cepat. yang pada gilirannya perlu ditunjang dengan penanganan pasca panen yang tepat (Anonim. 62 .   Kemungkinan terjadinya variasi somaklonal Proses produksi bibit memerlukan investasi relatif besar Membutuhkan keahlian khusus.Kusuma.2008) Kendala yang dihadapi dalam pengembangan agroindustri nenas antara lain adalah belum tersedianya varietas yang sesuai dengan permintaan industri pengolahan. sehingga belum dapat ditransfer ke pada kalangan petani biasa Tahap-tahap perbanyakan bibit secara kultur jaringan adalah :  Pemilihan pohon induk  Persiapan bahan perbanyakan  Inisiasi  Multiplikasi (regenerasi)  Aklimatisasi  Pembesaran di nursery/pembibitan  Penanaman di lapangan (Darma. 2008b).

BAHAN. vitamin. b. membentuk akar atau tunas. 1990). mendorong proses embryogenesis. e. 3. c. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. f. c. C.Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah. Bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. 1994). 2. a. serta dapat mempengaruhi kestabilan genetic tanaman (Wetter and Corstabel. serta hara mineral. membentuk klorofil dalam kalus. air. auksin sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus. Yang umum digunakan secara rutin di laboratorium adalah menggunakan panas (Hadioetomo. Bahan a. d. Persiapan eksplan Eksplan : nanas (Ananas comosus ) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja 63 . Sebagian besar kultur aseptik tidak mampu melakukan fotosintesis sehingga diperlukan sumber karbon dalam bentuk sukrosa atau glukosa. mendorong morfogenesis kalus. Dari pihak lain. ALAT. DAN CARA KERJA Alat LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridish dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. a. g. Pemilihan metode didasarkan pada sifat bahan yang akan disterilkan. 1982). sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi atau bahan kimiawi. Dalam aktivitas kultur jaringan. alkohol dan hormon (Widiastuti dan Anggraini. Media tumbuh untuk kultur in vitro diusahakan mempunyai kondisi lingkungan yang terkontrol. b. menghambat kerja sitokinin. bahan organik. 1.

e. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk c. Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. d. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Selama penanaman. diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus).25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 Setelah digunakan. Persentase keberhasilan. dilanjutkan dengan chlorox 5. menghindari kontaminasi. daun dan kalus (HST). Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • • • • Membilas eksplan dengan aquadest steril Membuka plastik penutup botol media kultur. tunas dan daun.1 Saat Muncul Akar Tanaman Nanas 64 . Saat Muncul Akar Tabel 4. kelembaban dan cahayanya. D. diamati setiap hari Jumlah akar. Penanaman eksplan Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. tunas. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. pinset harus selalu dibakar diatas api. meliputi • • • Saat muncul akar. dilakukan pada akhir pengamatan f.b. Pengamatan selama 5 minggu. dilakukan pada akhir pengamatan. Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi.

Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah nanas (Ananas comosus) yaitu bagian dari bonggol yang berwarna putih yang merupakan ibu dari tangkai bunga sedangkan jaringannya merupakan jaringan meristem yang masih aktif membelah. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. penggunaan media yang sesuai. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. Penggunaan bagian berwarna putih dari bonggol nanas yang berwarna putih ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik.3 gram dalam 100 ml aquadest. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan 65 . keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan.Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur nanas. artinya organ tersebut masih aktif membelah. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot.

mendorong proliferasi meristem ujung. dan mineral. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan nanas diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. vitamin. menstimulir terjadinya pembelahan sel. BAP berperan dalam pembentukan tunas. Dalam aktivitas kultur jaringan. Pada penanaman eksplan nanas semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula.yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan nanas terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. daun. proliferasi kalus. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). vitamin. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. maupun kalus. Pada penanaman eksplan nanas tidak ada yang membentuk akar. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko 66 . Kontaminasi sangat beragam. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. hitam. maupun kalus. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. dan mineral. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. dan putih. tunas. Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. tunas.

Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. hijau.2 Saat muncul tunas tanaman Nanas Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. kuning. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. 67 . penggunaan bahan sterilisasi. media dan suplemen media yang beragam. 2. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Saat Muncul Tunas Tabel 4.terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. pengirisan. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. penggunaan api dan lain-lain.

Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam.3 Saat muncul daun tanaman Nanas Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. Oleh karena itu. bahkan varietas. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. 3. lingkungan kultur. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. komposisi media. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. kuning. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. dll. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan 68 . tanaman asal eksplan tersebut.Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. seperti kebutuhan nutrisi. Saat Muncul Daun Tabel 4. zat pengatur tumbuh. hijau. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi.

media dan suplemen media yang beragam. Saat Muncul Kalus Tabel 4. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. penggunaan bahan sterilisasi. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. hijau. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. pengirisan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna 69 .4 Saat muncul kalus tanaman nanas Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - nanas Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. 4.perkembangan eksplan. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. penggunaan api dan lain-lain. kuning.

penggunaan api dan lain-lain. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. a. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. Presentase keberhasilan Tabel 4. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. daun. Media yang telah terkontaminasi jamur. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus.coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. pengirisan. penggunaan bahan sterilisasi. media dan suplemen media yang beragam. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur.5 Persentase Keberhasilan Kultur Nanas Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 0 × 100% = 0% 10 Nanas 0 10 Sumber : Laporan Sementara Berdasarkan data diatas eksplan nanas memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. Disamping itu. 70 . tunas. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan nanas tidak ada akar. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. dan kalus yang muncul. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. 5.

cahaya dan kelembabannya. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu. Selain ZPT. tunas atau daun muda. sel-selnya masih aktif membelah. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. Eksplan yang terkontaminasi. Peralatan –peralatan seperti pinset. ukuran eksplan. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Dalam praktikum ini. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. umur ontogenik. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Pada fase juvenil. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA.b. yaitu dapat berupa ujung akar. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung 71 . Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. dan bagian tanaman yang diambil. dan relatif sedikit mengandung kontaminan. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. Setelah eksplan ditanam. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. c.

lingkungan kultur. bahkan varietas. dapat ditarik kesimpulan berhasil tumbuh. KESIMPULAN DAN SARAN 1.dari spesies. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan. zat pengatur tumbuh.  Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal 72 . Saran Untuk meningkatkan presentase keberhasilan. 2 ulangan terdapat bakteri dan 2 ulangan. baik untuk peralatan maupun media itu sendiri. Oleh karena itu. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. 3 ulangan terdapat jamur. dll. komposisi media. medianya berwarna kuning. E.  Persentase keberhasilan dari kultur jaringan nanas adalah 0% 2.  Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat.  Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. dari 10 eksplan yang ditanam tidak ada yang Kesimpulan Dari praktikum kultur jaringan nanas yang telah dilakukan. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan. sebagai berikut :  Pada kultur jaringan nanas. tanaman asal eksplan tersebut. seperti kebutuhan nutrisi.

warintek. Sukmayadi. Diakses tanggal 18 Desember 2008. Moore.. Naekman. ----------.iptek.rusnasbuah. Nanas (Ananas comosus). Hardiati.ristek. Widiastuti. Pengaruh Air Kelapa Terhadap Pembentukan Protocorm Like Bodies (PLBS) dari Anggrek Vanda dalam Medium Cair.or. Diakses tanggal 20 Desember 2008. Springer-Verlag. Corstabel. The Prairie Regional Laboratory of The National Research. Y.id. 1994.net. 73 . Plant Tissue Culture Methods. Perbanyakan Massal Nanas dengan Stek Daun. 1982. Darma. 1990. Jakarta. S.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=2&doc=2a17. 2003. J. 1990. http://www. 2008. Purnomo.S.id. S. R and F. Berlin. Diakses tanggal 18 Desember 2008. http://www. Perbanyakan Massal Nanas secara In Vitro. Jurnal Hortikultura. Meldia. Vol 4(2):71-73. Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Nanas. Kusuma.C. Gramedia.go. 2008a. Mikrobia Dasar Dalam Praktek. 2008b. L. I. Hort 13(3) : 157-168. Anonim. Jakarta : Litbang Departemen Pertanian Hadioetomo. http://www. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. 2008b.DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2008. S. T. Executive Summary Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia Komoditas Nenas. Jakarta: Litbang Departemen Pertanian Wetter. dan Kartono. Biochemistry and Physiology of Plant Hormone. Naibaho. D dan Anggraini. P.

sumber penghasilan. Sanseviera merupakan tanaman yang unik yang mempunyai sifat berbeda dengan tanaman lain yaitu apabila tanaman ini distek akan menghasilkan tanaman yang berbeda dengan induknya berbeda tanaman kebanyakan yang bila diperbanyak dengan stek maka keturunannya akan sama dengan induk. Salah satu tanaman hias yang banyak digemari masyarakat saat ini adalah sanseviera.ACARA V KULTUR JARINGAN SANSIVIERIA A. Selain itu. 1. Kebutuhan masyarakat akan tanaman hias semakin hari semakin meningkat. 74 . menyerap polusi sehingga menimbulkan kepuasan tersendiri bagi pemiliknya. Tanaman hias bagi masyarakat bermanfaat sebagai pengindah rumah atau pekarangan. Perbanyakan tanaman dapat dilakukan secara generatif dengan biji ataupun secara vegetatif dengan setek. nama sansivieria lebih dikenal dengan sebutan lidah mertua (mother in-laws-tongue). PENDAHULUAN Latar Belakang Di Indonesia. dan kultur jaringan (cloning). Sansivieria termasuk tanaman yang sangat mudah perbanyakannya. suatu penelitian juga menunjukkan bahwa tanaman sansiveira dapat bermanfaat untuk menyerap polusi. Ada juga yang menjulukinya snake plant (tanaman ular) mungkin karena corak beberapa jenis tanaman in mirip dengan corak ular. cabut pucuk. pemisahan anakan.

Di Indonesia. Selain itu. tetapi usaha perbanyakan belum cukup memadai maka diperlukan suatu teknik perbanyakan yang lebih efektif yang mampu menghasilkan tanaman dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatif singkat. dan kultur jaringan.Perbanyakan secara generatif dilakukan menggunakan biji. baik berupa sel jaringan atau organ tanaman dalam kondisi aseptis secara in vitro. Kelemahan cara generatif ini adalah memerlukan waktu yang lama. Meningkatnya permintaan tersebut masih belum dapat terpenuhi akibat petani masih menggunakan perbanyakan secara konvesional yang memerlukan waktu dan bahan tanam dalam jumlah yang banyak. Jenis yang mendominasi adalah pedang-pedangan dan kodok-kodokan. Tujuan Praktikum acara kelima yaitu kultur jaringan sansivieria ini bertujuan untuk : 75 . Selain itu. sifat biji sansivieria umumnya diploid sehingga menyebabkan minimal dua keragaman dalam satu biji. Cara ini biasanya digunakan oleh para breeder untuk memperoleh hibrida baru. 2. Pada praktikum ini eksplan yang digunakan adalah tanaman Sansivieria trifasciata yaitu bagian daun tapi pada bagian bawah yang merupakan jaringan tebal yang meristematis yaitu jaringan yang masih aktif mengalami pembelahan. Keunggulan perbanyakan tanaman menggunakan biji antara lain dapat diperoleh tanaman dalam jumlah banyak dan seragam serta tidak merusak tanaman induk. tidak semua spesies mampu menghasilkan bunga dan biji. Sansevieria (Sansevieria trifasciata) termasuk tanaman hias yang mempunyai penggemar di berbagai masyarakat dunia. Teknik perbanyakan yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut adalah perbanyakan dengan kultur jaringan. Teknik yang mungkin digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah secara in vitro. teknik cabut pucuk. Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkembangkan bagian tanaman. Perbanyakan secara vegetative dari sansivieria dapat diperbanyak menggunakan setek. Dengan semakin meningkatnya permintaan akan tanaman sansiveira. pemisahan anakan. sejak tahun 2000 permintaan tanaman ini meningkat pesat dan terus meningkat hingga kini.

sansiviera bisa tumbuh subur. seperti karbondioksida. Kelompok panjang memiliki daun meruncing seperti mata pedang.a. Sekarang ini. banyak ditemukan ratusan species sanseviera lain yang bentuk dan warna daunnya beragam. B. Jenis sanseviera yang banyak ditanam adalah Sanseviera trifasciata atau dikenal dengan nama “lidah mertua”. Sansevieria dibagi menjadi dua jenis. sehingga tahan kekeringan. yaitu jenis yang tumbuh memanjang ke atas dengan ukuran 50-75 cm dan jenis berdaun pendek melingkar dalam bentuk roset dengan panjang 8 cm dan lebar 3-6 cm. Selain sebagai tanaman hias.2008b) Dibanding tumbuhan lain. benzene. Waktu Tempat Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara kelima yaitu kultur jaringan sansivieria ini dilakukan pada : : Senin. dan trichloroethylene.2008a) Sansevieria termasuk tanaman tropis yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan di Indonesia. Sanseviera memiliki keistimewaan menyerap bahan beracun. Sekitar 40 persen air saja yang diperlukan tanaman yang berkembang biak melalui umbi lapis ini untuk tumbuh. Sansevieria memang termasuk tanaman hias yang sering disimpan di dalam rumah karena tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi dengan sedikit air dan cahaya matahari. Sanseviera kerap ditaruh di sudut dapur atau kamar mandi untuk meredam bau. Biasanya sansevieria banyak ditanam sebagai pagar rumah. atau sebagai penyekat jalan. Mengetahui teknik kultur jaringan sansivieria. 76 . Tumbuhan ini berdaun tebal dan memiliki kandungan air sukulen. (Anonim. dan karena ini ada yang menyebut Sansevieria sebagai tanaman pedang-pedangan. Namun dalam kondisi lembap atau basah. formaldehyde. 3. b. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan sansivieria.(Anonim. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. TINJAUAN PUSTAKA Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama Lidah Mertua.

tidak beraturan. daun berbentuk silinder. Mutasi sansevieria juga dapat terjadi dari perbanyakan melalui stek daun. Motif alur atau garis-garis yang terdapat pada helai daun juga bervariasi.Warna daun Sansevieria beragam. hijau muda. Jenis yang lain lagi mempunyai helaian daun kaku seperti pedang. mulai hijau tua. Namun ada juga yang menyebutnya dengan tanaman ular dan pedang-pedangan karena bentuk tanaman ini yang berbentuk seperti ular dan pedang-pedangan (Anonim.Purwanto.2006) Sanseviera sering dikenal dengan dengan nama lidah mertua “Mother in Law Tongue”. perak. dan ada juga yang zig-zag.2008d) Klasifikasi ilmiah dari sansiviera yaitu : Regnum: Divisio: Kelas: Ordo: Familia: Genus: Plantae Magnoliophyta Liliopsida Asparagales Ruscaceae Sansevieria Secara morfologi. dan warna kombinasi putih kuning atau hijau kuning. Pada beberapa jenis sansivieria. tanaman sansivieria dicirikan dengan daun yang tebal karena kandungan airnya yang tinggi. Dari bentuk hibrid inilah sansevieria akan tercipta dengan karakter dan fisik yang berbeda dari induknya atau yang sering disebut dengan spesies hibrid atau sansevieria hibrid. Ditinjau berdasarkan jenisnya sansevieria ada dua jenis yakni yang pertama yaitu sansevieria keturunan asli/spesies sedangkan yang kedua adalah jenis hasil persilangan/hibridasi yang bisa disebut dengan jenis sansevieria hibrid. ada yang mengikuti arah serat daun. Penelitian NASA bekerja sama dengan ALCA telah menemukan bukti-bukti bahwa tanaman ini secara alami mampu mengurangi polusi tersebut. Pada jenis yang lain. Keistimewaan lidah mertua adalah memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan. Arie. hijau abu-abu. 77 . 2007). Disebut batang semu karena sesungguhnya sansivieria tidak mempunyai batang. daun berkedudukan seperti roset mengelilingi batang semu. (W. (Anonim.

Jaringan muda umumnya mempunyai kemampuan berdiferensiasi lebih baik. Berhasilnya pertumbuhan tunas terutama tergantung pada sumber jaringan. kimia dan biokimia nutrisi. et al. dalam lingkungan steril. Zat pengatur tubuh sitokinin lebih banyak berperan dibandingkan dengan auksin pada tahap multiplikadi prodiferasi akar. b. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. Seiring dengan permintaan bibit sansivieria yang semakin meningkat. 78 c. kadar medium. biomolekul dan fisiologi sel. Pada perkembangan sekarang teknik ini justru banyak membantu lahirnya konsep-konsep baru berbagai cabang ilmu itu sehingga keberadaannya saling menopang dalam perkembangannya (Santoso dan Nursandi. BAHAN. . Perbanyakan sansiviera secara kultur jaringan (tissue culture) bertujuan untuk mendapatkan tanaman dalam jumlah besar dan seragam pertumbuhannya. cara perbanyakan secara konvensional menggunakan stek. suhu. dan cabut pucuk tidak lagi bisa mencukupi. Satusatunya cara perbanyakan yang sanggup memenuhi kebutuhan permintaan bibit dalam jumlah besar itu hanyalah kultur jaringan. Jaringan tanaman sansivieria yang dikulturkan dipilih dari jaringan yang masih muda (meristematis). hara. Sedang ukuran eksplan. tetapi sampai ke tingkat karakterisasi atau kualitas selnya.Sebagai teknik kultur jaringan dapat dipahami perkembangannya karena didukung oleh marak dan berkembangnya studi tentang sel. a. cahaya.B Juan. 2005). 1. 2001). dan jenis serta kadar hormon pertumbuhan yang digunakan.. waktu inokulasi dan jenis media mempengaruhi pertumbuhan eksplan (Irawati. 1982).1986) C. ALAT. Hal tersebut mempunyai pengaruh yang cukup besar (Wetter and Corstabel. Kemampuan regenerasi jaringan tidak hanya tergantung pada umur fisiologinya. (Chahinian. 2005). anakan. Jaringan meristematis ini selanjutnya ditanam di dalam botol yang berisi media buatan. DAN CARA KERJA Alat LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridish dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. maka akan lebih banyak ditekankan penggunaan ZPT auksin (Supriati.

Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • • • • Membilas eksplan dengan aquadest steril Membuka plastik penutup botol media kultur. meliputi • • Saat muncul akar. a. tunas. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk c. Persiapan eksplan b. dilanjutkan dengan chlorox 5. Pengamatan selama 5 minggu. Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. pinset harus selalu dibakar diatas api. g. d. kelembaban dan cahayanya. Penanaman eksplan Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. f. diamati setiap hari Jumlah akar. e.25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 Setelah digunakan. c. d. Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. 3. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. a.2. diamati 1 minggu sekali 79 . menghindari kontaminasi. Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. daun dan kalus (HST). Selama penanaman. e. tunas dan daun. Bahan Eksplan : Sansiviera (Sansivieria trifasciata ) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja b.

1 Saat Muncul Akar Tanaman Sansiviera Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Sansiviera 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah sansiviera (Sansiviera trifasciata) yaitu bagian dari daun yang masih muda yaitu bagian bawah yang merupakan jaringan meristematik atau jaringan yang masih terus aktif membelah. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. Saat Muncul Akar Tabel 5. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). dilakukan pada akhir pengamatan.• Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Penggunaan bagian bawah dari daun yang masi muda ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. 80 . dilakukan pada akhir pengamatan f. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. artinya organ tersebut masih aktif membelah. penggunaan media yang sesuai. Persentase keberhasilan. D.

Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. Pada penanaman eksplan sansivieria semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan sansivieria diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. 81 . Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. maupun kalus. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. hitam. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. tunas. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula.3 gram dalam 100 ml aquadest. BAP berperan dalam pembentukan tunas. menstimulir terjadinya pembelahan sel. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur sansivieria. mendorong proliferasi meristem ujung. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. proliferasi kalus. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). Dalam aktivitas kultur jaringan. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. dan mineral. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. dan putih. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. Kontaminasi sangat beragam. vitamin. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan sansivieria terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus.

Saat Muncul Tunas Tabel 5. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. tunas. maupun kalus. kuning. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan 2. vitamin. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus.Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula. daun. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan 82 . Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Pada penanaman eksplan sansivieria tidak ada yang membentuk akar. hijau.2 Saat muncul tunas tanaman Sansivieria Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Sansivieria 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. dan mineral.

penggunaan api dan lain-lain. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. bahkan varietas. lingkungan kultur. dll. Saat Muncul Daun Tabel 4. penggunaan bahan sterilisasi. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. Pada 83 . Oleh karena itu. zat pengatur tumbuh. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas.tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal.3 Saat muncul daun tanaman sansivieria Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 sansivieria 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. komposisi media. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. kuning. hijau. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. tanaman asal eksplan tersebut. media dan suplemen media yang beragam. seperti kebutuhan nutrisi. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. pengirisan. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. 3.

Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Saat Muncul Kalus Tabel 5. hijau. media dan suplemen media yang beragam. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. kuning. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan 84 . Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. penggunaan bahan sterilisasi. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri.4 Saat muncul kalus tanaman sansivieria Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - sansivieria Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus.eksplan terjadi browning atau pencoklatan. 4. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. pengirisan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. penggunaan api dan lain-lain.

Eksplan yang terkontaminasi. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. penggunaan api dan lain-lain. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. 85 . dan kalus yang muncul. Presentase keberhasilan Tabel 4. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Media yang telah terkontaminasi jamur.5 Persentase Keberhasilan Kultur Sansivieria Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 0 × 100% = 0% 10 Sansivieria 0 10 Sumber : Laporan Sementara Berdasarkan data diatas eksplan sansivieria memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. media dan suplemen media yang beragam.kultur jaringan. daun. 5. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. d. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. tunas. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. pengirisan. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. penggunaan bahan sterilisasi. Disamping itu. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan sansivieria tidak ada akar. e.

dan relatif sedikit mengandung kontaminan. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu.f. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. zat pengatur tumbuh. ukuran eksplan. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. bahkan varietas. Oleh karena itu. tunas atau daun muda. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh 86 . pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. Selain ZPT. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. lingkungan kultur. dan bagian tanaman yang diambil. yaitu dapat berupa ujung akar. dll. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Setelah eksplan ditanam. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Dalam praktikum ini. seperti kebutuhan nutrisi. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. cahaya dan kelembabannya. tanaman asal eksplan tersebut. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. umur ontogenik. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem. Pada fase juvenil. komposisi media. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. sel-selnya masih aktif membelah. Peralatan –peralatan seperti pinset. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis.

4. Pada kultur jaringan sansivieria. Semua eksplan terkontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. Persentase keberhasilan dari kultur jaringan sansivieria adalah 0 %. Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat. Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan 1. Sebaiknya alat maupun bahan yang digunakan harus disterilisasi sehingga benarbenar steril. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman. 3. daun.masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama E. maupun kalus. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan. dari 10 eksplan yang telah ditanam tidak ada yang tumbuh baik akar. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. b.  Saran Untuk menghindari kegagalan dalam penanaman kultur sansivieria. Pemeliharaan eksplan harus diperhatikan dengan benar. 2. c. 87 . 5. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal mungkin. tunas. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan. a. Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. baik untuk peralatan maupun media itu sendiri. Sebaiknya bahan eksplan yang digunakan dipilih dari jaringan tanaman yang masih muda (meristem) yang masih aktif membelah.

W. Flora Cantik Penyerap Racun. Diakses pada tanggal 27 Desember 2007. 2005. 7(5):257-260.2006.Kultur Jaringan Sansivieria. 1982. www.Arie. Nursandi. Plant Tissue Culture Methods. Jakarta: Kanisius 88 .id. R. Wetter.1986. Mariska dan S.iptek. Sansivieria trifasciata Varieties Succulent Edition of Huntington Book.id Anonim. Pembentukan Kalus dan Embriogenesis Kultur Pelepah daun Caladium hibrida. Purwanto. 2001.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Ilmiah. B. Anonim. Juan.net.7(4):207-214. I. Ilmiah : Berita Biologi.http://sensasp. J. 2005.) Tanaman Sumber Karbohidrat Alternaria.go.http://www.wordpress. Kultur Jaringan Tanaman. Kultur Jaringan. Untung dan F. Florida Irawati. and Corstabel. J. Mikropropagasi Sukun (Artocarpus communis Forst. The Prairie Regional Laboratory of The National ResearchCouncil of Canada.com/2007/12/13/httpwwwta bloidnovacomartic lesaspid11386/ Chahinian. 2007. Malang. Unibraw Press.2008.2008. Sansivieria.Sansivieria si tajam Anti Poluai. Supriati Y.deptan. Santoso. Hutami. L. Canada.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful