ACARA I PEMBUATAN LARUTAN STOCK, PEMBUATAN MEDIA TANAM, DAN STERILISASINYA

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Bioteknologi di bidang pertanian telah berkembang pesat, salah satu contohnya adalah kultur jaringan. Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkembangkan bagian tanaman, baik berupa sel jaringan atau organ tanaman dalam kondisi aseptis secara in vitro. Ciri teknik ini adalah kondisi kultur yang aseptis, penggunaan media kultur buatan dengan kandungan nutrisi lengkap, dan kondisi lingkungan kultur yang sesuai. Lingkungan yang sesuai dapat dipenuhi dengan menentukan media tumbuh yang sesuai dan penempatan pada kondisi yang terkendali berkaitan dengan intensitas dan periodisitas, cahaya, temperatur, dan kelembaban serta keharusan sterilisasi. Sterilisasi alat merupakan hal mutlak yang harus dilakukan dalam kultur jaringan. Ha ini untuk menciptakan kondisi aseptis perlu dilakukan proses pensterilan atau sterilisasi untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Sterilisasi alat (petridish, pinset, gunting, dll) biasanya dilakukan dengan pemanasan secara langsung diatas api atau dibakar atau dengan pemasan menggunakan autoklaf selama 30 menit pada suhu 115ºC 135ºC. Media kultur jaringan merupakan faktor penting penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. Media kultur fisiknya dapat berbentuk padat atau cair. Media berbentuk padat menggunakan pemadat media seperti agar. Media kultur yang memenuhi syarat

1

adalah yang mengandung nutrient makro dan mikro dalam kadar dan perbandingan tertentu, sumber energi (sukrosa), serta mengandung berbagai macam vitamin dan ZPT. Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi sehingga larutan stock ini berfungsi sebagai salah satu cara untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil, oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan stock. Untuk itulah tahapan pembuatan larutan stock merupakan tahapan yang sangat penting dalam metode kultur jaringan agar tidak terjadi kesalahan dalam penimbangan bahan-bahan kimia yang akan digunakan. Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Media sebagai tempat pertumbuhan aksplan yang akan dikulturkan sehingga pembuatan media harus dilakukan dalam tahapan perbantakan tanaman secara kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

2

Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa kondisi yang aseptic merupakan syarat yang mutlak dalam tahapan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Oleh karena itu tahapan sterilisasi harus dilaksanakan dalam praktikum kali ini. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

2. Tujuan Tujuan praktikum acara yang pertama ini adalah : 1. Mengetahui prosedur pembuatan larutan stock. 2. Mengetahui langkah-langkah dalam pembuatan media kultur jaringan. 3. Mengetahui prosedur sterilisasi alat dan media kultur.

3. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara pertama ini berjudul pembuatan larutan stock, media tanam, dan sterilisasi dilaksanakan pada : Waktu praktikum Tempat : Senin, 13 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. TINJAUAN PUSTAKA
3

1. Pembuatan Larutan Stock Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil, oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. (Yuniastuti, Endang. 2008: 4) Seperti diungkapkan oleh Lydiane Kyte dan John Klein dalam Plant for Test Tubes “Stock solutions are concentrated solutions of groups of media chemicals that are preparated ahead of time and used to make several batches of media. They may be made in liter quantities of 10 to 100 times the concentration required in the final formula. Having stock solutions eliminates the need to weigh so many different chemicals every time you want to make a batch of medium. Also, the quantities will be more accurate because they are on larger scale than would be required for a single batch of medium, and thus minor inaccuracies have less impact”. Larutan stock merupakan sekelompok larutan media kimia berkonsentrasi yang disiapkan di awal dan digunakan untuk membuat beberapa kumpulan media. Larutan stock dibuat dalam satuan jumlah liter pada 10 sampai 100 kali konsentrasi yang dibutuhkan pada formula akhir. Pembuatan larutan stock mengurangi resiko perbedaan berat kimiawi yang besar setiap kali kita ingin membuat kumpulan media. Juga, jumlah akan lebih akurat sebab larutan stock dibuat dalam skala yang lebih besar daripada jika kita membuat medium tunggal, dan berkurangnya ketidakakuratan ini akan mengurangi dampak yang buruk bagi kultur jaringan. ( Lydiane Kyte & John Kleyn. 1996: 76) Beberapa komposisi akan mengendap (membentuk komponen padat) jika dicampurkan bersama dalam bentuk konsentrasi yang sama, jadi tiap kelompok kimiawi dibuat dalam bentuk kimia yang biasanya tidak mengendap pada konsentrasi larutan stock. Sebelum menambahkan bahan kimia apapun pada pembuatan larutan stock, harus ada air dalam labu, sehingga pengendapan sulit untuk terjadi.
4

Masalah tersebut dapat diatasi dengan pembuatan larutan stok. 1994: 39). namun larutan-larutan tersebut beresiko tinggi untuk tumbuhnya kontaminan karena temperatur yang lebih tinggi.Tidak ada kesepakatan umum mengenai kombinasi komposisi larutan stock. Apabila komposisi larutan stock memiliki daur hidup yang lebih panjang. larutan-larutan tersebut dapat disimpan pada cup atau wadah-wadah kecil. Namun. larutan-larutan tersebut dapat dibawa pada suhu ruang. memanaskan larutan tersebut pada hot plate atau stirer akan menjadi solusi permasalahan ini. seperti pada material organic. jika larutan garam mendekati proses pengendapan. kemudian komposisi kimianya akan stabil dalam waktu yang lama apabila larutan stock tersebut disimpan dalam refrigerator. untuk menghilangkan endapan. 2006). Penggunaan larutan stok mengurangi pekerjaan yang rumit dalam persiapan media. Apabila larutan membentuk endapan. Larutan stok adalah larutan berisi satu atau lebih komponen media yang konsentrasinya lebih besar dari konsentrasi komponen tersebut dalam formulasi media akan dibuat (Hemawan dan Na”em. seperti pada garam anorganik. misalnya mikronutrien dan hormon yang 5 . Pembuatan media pada prinsipnya dilakukan dengan melarutkan semua komponen media dalam air sesuai dengan konsentrasinya pada formulasi yang diinginkan. Bila larutan stock tidak mudah untuk mengendap. penimbangan satu persatu komponen media untuk setiap pembuatan media kultur adalah tidak praktis dan hanya dapat dilakukan jika jumlah zatnya cukup besar. penimbangan langsung komponen media. Sebagian besar larutan stock dapat disimpan untuk watu yang terbatas tanpa reaksi yang berlawanan atau berkebalikan. juga tentang bagaimana larutan stock dibuat dan berapa lama larutan tersebut dapat disimpan sebagai larutan stock. kemudian digunakan. (Bernice M. Martin. Apabila larutan stock tersebut memiliki daur hidup yang pendek. atau sedikit dipanaskan. Dengan kata lain. hormone cenderung memiliki waktu hidup yang pendek yang menyebabkannya harus dibuat dalam jumlah yang kecil sekitar 25 mg dalam 250 ml air. larutan-larutan tersebut akan mengendap pada suhu dingin di refrigerator sebab kelarutan suatu larutan akan menurun dengan menurunnya temperature. Lebih dari itu. sehingga risiko human error dalam percobaan dapat dikurangi.

Nitsch dan Nitsch (1972). baik jenisnya maupun jumlahnya. 1995). 2008: 5) Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.  Vitamin. diperlukan juga bahan tambahan seperti agar.  Suplemen berupa bahan-bahan alami.dibutuhkan hanya dalam ukuran milligram atau microgram dalam formulasi akhir tidak dapat dilakukan dengan cukup akurat untuk pekerjaan kultur jaringan (Rahardja. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan.  Zat pengatur tumbuh. Gamborg dkk B5 (1976). tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. dan lain-lain.  Hara-hara makro dan mikro. ( Endang Yuniastuti. Contohnya komposisi Knudson C (1946). gula. Komponen media kultur yang lengkap sebagai berikut :  Air distilata (akuades) atau air bebas ion sebagai pelarut atau solven. Murashige dan Skoog MS (1962) serta woody plant medium-WPM (Lloyd dan Mc Known. Linsmaier dan Skoog-LS (1965). jika diperlukan. dan hormon. 2. vitamin. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi. asam amino dan bahan organic lain. Media yang 6 . Heller (1953). Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Pembuatan Media Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan.  Agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media. Selain itu. 1980).  Gula (umumnya sukrosa) sebagai sumber energy.

media dasar Vacin dan Went (1949) digunakan untuk kultur jaringan anggrek. persenyawaan kompleks alamiah. yaitu penggunaan kombinasi ZPT antara kelompok sitokinin dan kelompok auksin. (http: www. media dasar Schenk dan Hildebrandt (1972) untuk kultur jaringan tanaman monokotil.sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Formulasi media yang dikembangkan oleh Toshio Murashige dan rekan kerjanya . Media kultur terdiri dari beberapa atau seluruh komponen berikut: garam-garam anorganik. Dari sekian banyak media dasar di atas. Kombinasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) pada kultur jaringan sangat menentukan keberhasilan kultur. media dasar WPM (Woody Plant Medium. yang paling banyak digunakan adalah media Murashige dan Skoog (MS). buffer. (http://www. buah-buahan ataupun tanaman perkebunan menggunakan metode Mohr untuk pemakaian ZPT. gula. zat pengatur tumbuh (hormon).iptek. asam amino.com) Formula dasar untuk media kultur jaringan telah ditetapkan oleh berbagai penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu. baik tanaman sayuran. sering dikenal dengan media MS (Murashige dan Skoog’s). Media kultur jaringan dibuat untuk menyediakan nutrisi dan mengatur pertumbuhan yang optimal untuk tanaman yang spesifik. dan bahan pemadat media yaitu agar. net. media dasar N6 (1975) untuk serealia terutama padi. vitamin. media dasar B5 untuk kultur sel kedelai dan legume lainnya. media dasar Nitsch dan Nitsch (1969) digunakan dalam kultur tepung sari (pollen) dan kultur sel. 1981) khusus untuk tanaman berkayu. arang aktif. media dasar White (1934) sangat cocok untuk kultur akar tanaman tomat.sinarharapan. Penelitian pada berbagai macam jenis tanaman.id/ ind/?ch=isti&id=221) Dalam teknik kultur jaringan dikenal berbagai macam media dasar yang penamaannya berdasarkan nama penemunya atau peneliti yang menggunakan pertama kali dan memperoleh hasil yang berarti. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf. mungkin 7 . Beberapa media dasar yang banyak digunakan antara lain media dasar Murashige dan Skoog (1962) yang dapat digunakan untuk hampir semua jenis kultur.

312 54. 1996: 62-64) 8 .37 (Lydiane Kyte & John Kleyn.00797 126.064 65.811 40. dan digunakan sebagian besar pada tanaman herba.938 95.9332 63.453 58.102 22. dikembangkan oleh Brent Mc Cown dan Greg Lloyd.9044 55.9898 32. didesign sesuai dengan nama yang cocok yaitu optimal untuk kultur jaringan tanaman berkayu.9994 30.9738 39.847 24.08 12. Tabel di bawah ini menunjukkan berat atomic dari elemen kimia yang pada umumnya digunakan dalam teknik kultur jaringan yaitu : Elemen Boron Kalsium Karbon Klor Kobalt Tembaga Hidrogen Iod Besi Magnesium Mangan Molibdenum Nitrogen Oksigen Potassium Kalium Natrium Belerang Seng Simbol B Ca C Cl Co Cu H I Fe Mg Mn Mo N O P K Na S Zn Berat Atomic 10. Woody plant medium (WPM).01115 35.54 1.0067 15.merupakan media yang terbaik dari beberapa media yang telah diketahui.94 14.

7H2O Vitamin dan Asam amino Thiamin Asam nikotinat Pyridoxin HCl 9 Komposisi 1. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa pengurangan komponen senyawa penyusun media berpengaruh baik terhadap pertumbuhan biakan tanaman dalam botol (Husni. Di bawah ini merupakan tabel komposisi salah satu media yang paling umum digunakan yaitu Murashige and Skoog’s (Media MS).2H2O CuSO4.7H2O Na2SO4.200 22. 1997).6H2O Na2EDTA FeSO4.500 .025 0.300 8.5H2O CoCl2.2H2O MgSO4. Media tersebut mempunyai konsentrasi garam anorganik yang tinggi dibandingkan medium lainnya terutama ion NH4 dan NO3.600 0.Untuk perbanyakan klonal.900 440 370 0. Komponen Unsur makro NH4NO3 KNO3 CaCl2.830 6.000 0.025 37.650 1.4H2O ZnSO4.800 1.500 0.2H2O KH2PO4 Unsur mikro KI H3BO3 MnSO4.200 27. pada umumnya dipakai media dasar Murashige dan Skoog.250 0.

penyaring. misalnya adalah dengan saringan/filter.000 30. Sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat tembus uap air dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110-1210C. (http://elearning.000 ( Buletin Teknik Pertanian Vol 9 . air. larutan alkohol. penggunaan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi). dipergunakan alat “bejana/ruang panas” (oven dengan temperatur 170o – 180oC dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas). dan media nutrisi dapat disterilisasi dengan autoklaf.id/KulJar/BAB%20IV%20STERILISASI/IV2%20Sterilisasi %20Alat.000 70. c. Sistem kerja filter. Sterilisasi secara mekanik.unram. larutan formalin). perlatan laboratorium. seperti pada saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba). plastik penutup.000 3.ht) Sterilisasi dengan autoklaf adalah salah satu metode sterilisasi dengan uap air dibawah tekanan.000 100.000 50.ac. Dengan udara panas. kasa. Sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa: a. Kapas penyumbat. b. digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan. 10 . Sterilisasi Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Sterilisasi secara fisik (pemanasan. Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan. peralatan gelas.Glycine Asam sistein Asam pantotenat Myo-inositol Sukrosa Agar 2. Nomor 1. 2004) 3.

membilas tangan. selama masa sterilisasi dilakukan. Kelemahannya adalah bila salah satu pengatur tidak bekerja. Pemanasan air dapat menggunakan kompor atau api Bunsen. Alatnya dilengkapi dengan timer dan thermostat. Sebagai sumber uap. mulai dari yang sederhana sampai digital (terprogram). Tetapi autoklaf ini mempunyai keuntungan: sederhana. Dengan autoklaf sederhana ini. tekanan dan temperatur diatur dengan jumlah panas dari api. maka pekerjaan persiapan media menjadi sia-sia dan kemungkinan menyebabkan kerusakkan total pada autoklaf. Autoklaf yang sederhana menggunakan sumber uap dari pemanasan air yang ditambahkan ke dalam autoklaf. Autoklaf yang lebih komplit menggunakan sumber energi dari listrik. serta lebih cepat dari autoklaf listrik yang seukuran dan setaraf. Alcohol mudah terbakar. Tetapi pada autoklaf yang sederhana hal ini harus diatur secara manual. Bila pengatur automatis ini berjalan dengan baik. harga relatif murah. Setelah sterilisasi bahan atau alat selesai. diperlukan autoklaf dengan kapasitas besar dan sumber uap biasanya dari boiler yang terpisah. juga berasal dari air yang ditambahkan ke dalam autoklaf dan didihkan. Pada autoklaf yang programmable. sehingga harus sangat hati-hati saat menggunakannya diatas api. 2004). Kalsium atau Natrium hipoklorit digunakan sebagai sterilisasi peralatan dan sebagai desinfektan bagi jaringan tanaman tanpa melukainya (Afriastini. Maka autoklaf dapat dijalankan sambil mengerjakan pekerjaan lain. temperatur dan tekanan autoklaf diturunkan secara perlahan-lahan dalam waktu 15-20 menit. panas ini diatur secara atomatis. Tipe autoklaf yang dapat digunakan untuk sterilisasi ada bermacam-macam. 1989). Untuk laboratorium komersial. Kelemahan autoklaf ini adalah bahwa perlu penjagaan dan pengaturan panas secara manual. Alat sterilisasi baik media maupun peralatan yang digunakan untuk proses isolasi dan penanaman eksplan yang sering digunakan adalah autoklaf. Etil alcohol (70-90%) sangat berguna untuk mengusap permukaan tempat pelaksanaan. dan mencelupkan peralatan dengan atau tanpa pembakaran.Hampir semua mikroba mati bial terkena uap yang sangat panas dari autoklaf selama 1015 menit/ semua obyek hendaknya disterilisasi pada suhu 121ºC dan tekanan 15 Psi selama 15-20 menit (Torres. serta waktu pendinginan. 11 . tidak tergantung dari aliran listrik yang sering merupakan problema untuk negara-negara yang sedang berkembang. Autoklaf ini sangat cepat dan dapat diprogam waktu sterilisasi.

Pada prinsipnya. 2. Isi wadah tersebut sampai 80% volume. Perubahan pH yang berakibatkan depolimerisasi agar. Dalam sterilisasi aquadest. Untuk aquadest sebaiknya dimasukkan dalam wadah kecil misalnya erlemeyer 250 ml dengan isi maksimum 100 ml. agar sterilisasi lebih efektif. Inaktifasi sitokinin zeatin riboside. 3. dan tutup dengan kertas. 4. tetapi media antara 20-40 menit tergantung dari volume bahan yang disterilkan. 1996 : 169) Autoklaf gas atau listrik portable pada umumnya mempergunakan sumber uap dari pemanasan air yang ditambahkan ke dalam autoklaf. Panci luar. 5. Tutup beserta penunjuk tekanan dan saluran uap. 3. Pengunci atau klem. Media disterilkan dalam autoklaf. 2. Untuk media kultur yang tidak mengandung bahan-bahan yang Heat-labile. sterilisasi dilakukan pada tekanan 15 psi dengan waktu 20 menit. sterilisasi dilakukan dengan autoklaf pada temperatur 121oC. Sterilisasi media yang terlalu lama menyebabkan : 1. lebih efektif bila digunakan wadah yang mempunyai volume antara 300 – 500 ml. 4. Untuk 15-50 ml media dalam tabung reaksi atau botol kecil berukuran 50-100 ml. Katup pengeluaran uap. tekanan yang biasa digunakan antara 15-17. Untuk 20 botol volume 12 . sterilisasi autoclave menggunakan panas dan tekanan dari uap air. Panci dalam tempat meletakkan botol dengan alur tempat saluran uap. Temperature sterilasi biasanya 121o C. ( Lydiane Kyte & John Kleyn. sedangkan autoklaf besar pada laboratorium komersil pada umumnya menggunakan uap dari boiler sentral. Alat-alat dan air disterilkan selama 1 jam. Bagian-bagian autoklaf : 1. Waktu sterilisasi sama dengan waktu untuk sterilisasi alat-alat waktu 30 menit pada tekanan 15 psi. atau 1 atm. tekanan antara 15 psi atau 1 atm dengan waktu antara 20-25 menit tergantung dari volume wadah dan volume media.5 psi (pound per square inci) atau 1 atm. Degradasi vitamin dan asam-asam amino. Penguraian gula. serta kencangkan dengan karet gelang.Lamanya sterilisasi tergantung dari volume dan jenis.

BAHAN. Bila botol akan disimpan untuk beberapa lama. cairan didalamnya mendidih dan meluap (bubbled up). setelah waktu sterilisasi yang diinginkan sudah tercapai. Bahan yang heat labile antara lain : GA3. Dalam sterilisasi aquadest dan media. Botol-botol/tabung reaksi/erlenmeyer yang dipergunakan sebagai wadah. (http://www. 5 botol 4 liter waktu yang digunakan 52 menit. dipergunakan filter yang dipasang di ujung jarum suntik. Ca-panthothenate. Pembuatan Larutan Stock    Timbangan analitik Sendok Erlenmeyer Timbangan analitik Botol-botol kultur Magnetik stirrer pH meter 13 b. Antibiotik: carbenocilin.20-0.22 um. Alat a. DAN CARA KERJA 1. 10 botol volume 2 liter memerlukan waktu 37 menit. maka sewaktu sterilisasi.net) C. Dengan waktu yang lebih lama. Botol-botol yang sudah dicuci bersih. Pembuatan Media Tanam     . autoklaf tidak boleh diturunkan tekanannya secara mendadak. sterilisasi dilakukan dengan menyaring larutan melalui filter yang mempunyai ukuran pori 0. Untuk volume larutan 10 ml. Setelah disterilkan dapat langsung digunakan. dimasukkan ke dalam oven dan dipanaskan selama 4 jam pada temperatur 160o C. ALAT. Untuk bahan-bahan yang heat-labile dalam bentuk larutan.iptek. mulut botol harus ditutup dengan alumunium foil.1 liter membutuhkan waktu yang lebih lama yaitu 34 menit. biasanya disterilkan dalam oven. Thiamin-HCL. Diameter filter yang bermacam-macam tergantung dari volume larutan yang ingin disterilkan. Bila tekanan diturunkan mendadak.

Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. terdiri atas hara makro dan mikro. Bahan Gelas piala Pipet Plastik pp 0. vitamin. Larutan stock merupakan larutaaan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi. Larutan Stock Media Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relative kecil. Langkah-langkah pembuatan larutan stock meliputi : 14 . serta ZPT Agar-agar Gula NaOH 1N dan HCl 1 N b. FeEDTA.3 mm Karet gelang Kertas label Autoklaf a. Sterilisasi  2. vitamin. Pembuatan Larutan Stock   Bahan-bahan kimia untuk nutrisi. Pembuatan Larutan Stock 1. oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. Cara Kerja a. ZPT Aquadest Aquadest Larutan stock.     c. Pembuatan Media Tanam      3.

Memasukkan masing-masing larutan tersebut ke dalam botol dan menyimpannya ke dalam refrigerator.3 l = 30 mg/300 ml (2). Melarutkan bahan dengan Alkohol atau NaOH 1 N kemudian ditambah dengan aquadest sampai 300 ml untuk BAP dan 100 ml untuk IBA. misalnya untuk unsure hara makro dikalikan 20 dan unsur hara mikro dikalikan 100 kali konsentrasi. Murashige dan Skoog MS 15 . Memasukkan masing-masing larutan ke dalam botol dan menyimpan ke dalam refrigerator.(1).1 l = 10 mg/100 ml (3). Pembuatan Media Kultur Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. 2. b. (4). Menghitung kebutuhan bahan BAP 100 ppm sebanyak 300 ml adalah sebagai berikut : 100 ppm = 100 mg/l = 30 mg/0. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. Contohnya komposisi Knudson C (1946). Heller (1953). Melarutkan bahan-bahan kimia tersebut ke dalam aquadest dengan volume tertentu. Gamborg dkk B5 (1976). Nitsch dan Nitsch (1972). misalnya 500 ml. Menimbang bahan-bahan kimia yang telah dikalikan menjadi beberapa kali konsentrasi. Linsmaier dan Skoog-LS (1965). (2). Larutan Stock Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Zat pengatur tumbuh hanya diperlukan dalam jumlah yang sedikit sekali. (3). Menghitung kebutuhan bahan IBA 100 ppm sebanyak 100 ml adalah sebagai berikut : 100 ppm = 100 mg/l = 10 mg/0. Cara membuat larutan stock masing-masing ZPT adalah sebagai berikut : (1). Biasanya zat pengatur tumbuh ini dibuat dengan kepekatan 1-10 mg/ml .

Zat pengatur tumbuh. 1980). Agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media.5 ppm 16 volume larutan stock yang diambil adalah : V1 X 100 ppm = 1000 ml x 0. Mengambil masing-masing larutan stock sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan dan memasukkannya ke dalam gelas piala. Mengambil larutan stock ZPT sesuai dengan perlakuan.5 ppm. Dalam praktikum kali ini. (2). maka = V2 x M2 = 1000 ml x 0. maka = V2 x M2 = 20 ml/L Untuk membuat media 1 L dengan konsentrasi IAA 0. Langkah-langkah pembuatan media (1 liter) adalah sebagai berikut : (1).(1962) serta woody plant medium-WPM (Lloyd dan Mc Known. jika diperlukan.5 ppm. Suplemen berupa bahan-bahan alami. asam amino dan bahan organic lain. Hara-hara makro dan mikro. media yang digunakan adalah media Murashige dan Skoog’s (MS) yang dimodifikasi dengan penambahan ZPT BAP 2 ppm dan IAA 0. misalnya :  V1 x M1 V1  V1 x M1 V1 x 100 ppm Untuk membuat media 1 L dengan konsentrasi BAP 2 ppm. Vitamin. Gula (umumnya sukrosa) sebagai sumber energy.5 ppm volume larutan stock yang diambil adalah : . Media tersebut digunakan untuk penanaman masing-masing eksplan yang masing-masing eksplan diulang sebanyak 2 kali untuk tiap mahasiswa. Komponen media kultur yang lengkap sebagai berikut :        Air distilata (akuades) atau air bebas ion sebagai pelarut atau solven.

D.8. Pembuatan Media Tanam 17 .V1 = 5 ml/L V2 : volume media yang akan dibuat M1 : dosis larutan stock yang tersedia M2 : dosis media yang akan dibuat Menambah aquadest sampai 1000 ml Menambah gula sebanyak 30 gr Mengatur pH dalam kisaran 5. Menyimpan media pada rak penyimpan media yang bertujuan untuk mengantisipasi ada tidaknya kontaminasi pada media sehingga dapat dicegah penggunaan media yang telah terkontaminasi pada saat penanaman. pisau scalpel dan pinset Memasukkan botol-botol berisi media dan alat-alat kultur yang telah dengan kertas koran.  dibungkus kertas koran ke dalam autoklaf untuk proses sterilisasi pada suhu 121° C. Menuangkan larutan media ke dalam botol-botol kultur kurang Menutup botol berisi larutan media dengan plastik. HASIL DAN PEMBAHASAN 1.   Menyimpan alat-alat kultur dalam oven.  c. Pada saat pengukuran pH. lebih 25 ml tiap botol.3 dengan menambahkan Ket : V1 : volume larutan stock yang diambil    beberapa tetes NaOH untuk menaikkan pH atau HCl untuk menurunkan pH. larutan media diaduk dengan magnetic stirrer. tekanan 1.5 kg/cm2 selama 45 menit. Sterilisasi Alat dan Media Kultur Sterilisasi alat dan media kultur jaringan dilakukan secara bersamaan menggunakan autoklaf.6.   Menambahkan agar-agar 8 gr kemudian dididihkan. Langkah-langkah sterilisasi alat dan media kultur jaringan :  Membungkus alat-alat kultur seperti petridish.

000 0. Zat pengatur tumbuh yang ditambahkan juga bervariasi baik jenis maupun jumlahnya.025 37.500 0.500 .2H2O MgSO4.200 27.800 1.025 0. tergantung dengan kultur jaringan yang akan dilakukan. dan lain-lain. gula.7H2O Na2SO4.600 0.7H2O Vitamin dan Asam amino Thiamin Asam nikotinat Pyridoxin HCl 18 Komposisi 1.200 22.2H2O KH2PO4 Unsur mikro KI H3BO3 MnSO4.5H2O CoCl2.2H2O CuSO4. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral.830 6.300 8. Selain itu perlu ditambahkan bahan tambahan seperti agar.Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.250 0.6H2O Na2EDTA FeSO4. Pada percobaan kali ini media yang dibuat adalah media Murashige and Skoog’s dengan komposisi : Komponen Unsur makro NH4NO3 KNO3 CaCl2.900 440 370 0. vitamin. Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan tergantung pada jenis tanaman yang akan diperbanyak. dan hormone.4H2O ZnSO4.650 1.

yaitu larutan pekat senyawasenyawa kimia penyusun media.atau NH4+ atau asam amino. dan vitamin.000 70. H. senyawa sumber karbon. S. Media yang kedua adalah media perlakuan yaitu media dasar yang ditambahkan dengan penambahan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) atau hormone. Larutan stok dibuat dalam konsentrasi pekat (10 atau 100 kali konsentrasi akhir yang dibutuhkan untuk media.000 100. K.000 Pemilihan jenis media kultur yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan eksplan sesuai yang diinginkan. Pada praktikum kali ini hanya digunakan media dasar berupa media Murashige Skoog. P.000 30. Larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan pengukuran berat dan konsentrasi senyawa dalam meia.000 3. sehingga memastikan bahwa jumlah/ volume masing-masing komponen media yang diberikan dalam jumlah tepat. Selain itu. Komponen-komponen media MS yaitu :  Garam-garam anorganik terdiri dari makronutrient (C.Glycine Asam sistein Asam pantotenat Myo-inositol Sukrosa Agar 2. Mg). karena berat yang dibutuhkan sangat sedikit seperti yang tertera dalam table komposisi di atas dan penimbangan seringkali tidak akurat. Sebelumnya telah dibuat larutan stock media. Media kultur dibedakan menjadi dua yaitu media dasar yang terdiri dari garam-garam organik (makro dan mikro). Jenis media kultur yang paling banyak digunakan adalah media Murashige and Skoog (MS) cocok untuk hamper semua jenis tanaman terutama monokotil. Ca. Sebab. terdapat banyak jenis media yang lain seperti woody plant medium (WPM) yang cocok untuk kultur tanaman keras atau tanaman berkayu. kalau tidak dibuat larutan stocknya akan menyulitkan dalam penimbangan komponen media. O. N.000 50. Mg dan S didapatkan dari 19 . asam amino. media Gamborg dan White untuk kultur akar. N didapatkan dari NO3.

media dimasukkan dalam autoklaf untuk disterilisasi. K2NO3 atau KH2PO4. Media yang terlalu asam menyebabkan media sukar mengendap. Sterilisasi Media Tanam. Namun harus juga dihindari penambahan HCl dan NaOH secara berlebihan karena akan mengurangi tingkat keberhasilan pembuatan media. B. Ca didapatkan dari CaCl2.3 sebab pada kawasan pH ini merupakan pH yang optimum untuk penyerapan hara oleh tanaman.nya yaitu harus dijaga pada pH 5.2H2O atau Ca(NO3)2. Vitamin yang dibutuhkan pada sebagian besar kultur jaringan tumbuhan adalah thiamin. 2. Pada praktikum kali ini.MgSO4. Zn.000 mg/L.45. K didapat dari KCl. Alat-alat Penanaman. sebagai sumber energy. dan I. Setelah media masak dan dituang di botol-botol kultur serta ditutup plastik. sistein. Dan Cl dari KCl atau CaCl2.7H2O. dan Eksplan Tanaman.  Asam amino merupakan sumber N organik. Co. Syarat utama keberhasilan kultur in vitro adalah menghindari kontaminasi yang dapat terjadi pada setiap saat dalam masa kultur .2H2O dibuat larutan stocknya. Kontaminasi umumnya disebabkan oleh sterilisasi media yang kurang sempurna. Vitamin lain yang biasa digunakan adalah asam nikotinat dan piridoksin HCl (vitamin B6). yang diberikan dalam bentuk Thiamin-HCl. untuk CaCl2.  Sumber karbon yang digunakan adalah sukrosa.  Vitamin berfungsi sebagai katalisator dalam system enzim dan diperlukan dalam jumlah kecil. Selain itu dibutuhkan juga mikronutrient yang terdiri dari Cu. Asam amino yang sering digunakan adalah glutamine. Konsentrasi sukrosa yang digunakan adalah 20. Pada praktikum kali ini dilakukan penambahan HCl sebanyak kurang lebih 5 tetes karena campuran media yang didapat terlalu basa dan setelah dilakukan penambahan HCl dilakukan pula penambahan NaOH sebanyak 2 tetes karena pH yang didapat terlalu asam.8 sampai 6. K2NO3 atau KH2PO4. FeEDTA.2H2O dibuat larutan stock tersendiri karena apabila di campur zat ini akan mengendap. untuk hara makro kecuali CaCl2.8 sampai 6. dan glisin. pH harus dijaga pada 5. Mo. Pada pembuatan media harus diperhatikan pH. asparagin. lingkungan kerja dan pelaksanaan atau cara kerja 20 .H2O dan KH2PO4. P didapat dari NaH2PO4.000.3 dengan penambahan KOH atau NaOH untuk menaikkan pH dan dan HCl untuk menurunkan pH. K didapatkan dari KCl.

metode sterilisasi laminar air flow cabinet menggunakan sinar UV. untuk mensterilisasi media dan alat-alat untuk penanaman eksplan menggunakan metode sterilisasi pemanasan basah dengan menggunakan autoklaf. pisau scalpel. Sebelum dinyalakan. metode sterilisasi dengan bahan kimia bisa menggunakan alkohol 70 % atau 80 %. 21 . eksplan. Bagian yang ada tulisan dari kertas pembungkus harus diletakkan di bagian luar agar tinta yang larut nanti tidak mengotori alat yang ada di dalamnya. Uap air panas inilah yang akan membunuh mikroorganisme dan mensterilkan alat atau media yang akan digunakan. Sedangkan alat-alat seperti pisau scalpel dan pinset akan mudah berkarat jika berkontak langsung dengan uap air. Sebelum dimasukkan petridish. Agar kontaminasi tidak terjadi maka faktor-faktor tersebut harus berada dalam kondisi aseptik. metode sterilisasi dikelompokkan dalam metode sterilisasi pemanasan kering menggunakan oven. pinset. Petridish akan mudah rusak (pecah) jika mengalami kontak langsung dengan uap air yang panas. metode ultrafiltrasi dengan menggunakan filter milipore (digunakan untuk hormone dan ZPT). metode sterilisasi pemanasan basah menggunakan autoklaf.saat penanaman (kecerobohan pelaksana). harus dipastikan bahwa semua kunci harus menutup agar tekanan yang timbul tidak bocor keluar. Kondisi aseptik dapat dicapai dengan metode sterilisasi. autoklaf tidak boleh langsung dibuka melainkan ditunggu hingga semua air yang berada di dalam autoklaf keluar (kunci dibuka dulu) dan tekanan di dalam autoklaf menurun. Autoklaf merupakan alat yang dilengkapi dengan klep pengatur tekanan yang berasal dari air yang diuapkan. apabila langsung dibuka dapat menimbulkan ledakan dan dapat merusak klep pengatur tekanan pada autoklaf sehingga kerja alat akan terganggu untuk pemakaian selanjutnya. molekul-molekul atau benda-benda asing berukuran kecil yang jatuh atau masuk ke dalam botol kultur setelah penanaman dan ketika diletakkan di ruang kultur. dan alat-alat yang lain terlebih dahulu dibungkus dengan kertas agar tidak kontak langsung dengan uap air autoklaf. Untuk sterilisasi media dilakukan selama 15-20 menit sedangkan untuk sterilisasi alat dan aquades dilakukan selama kurang lebih 1 jam. Pada praktikum kali ini. apabila hal itu terjadi proses sterilisasi tidak akan berhasil. Setelah proses sterilisasi selesai dan autoklaf mati. Secara umum.

E.  Kegagalan sterilisasi akibat sebelum tekanan dalam autoklaf menurun dan semua air yang ada di autoklaf belum habis autoklaf sudah terbuka sehingga dapat menimbulkan ledakan atau kerusakan klep pengatur tekanan pada autoklaf. oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. vitamin.25 % (Sunclin 100 %) selama kurang lebih 2 menit.Sedangkan eksplan yang akan dikulturkan pada praktikum ini disterilkan secara kimiawi yaitu dengan merendam eksplan dalam larutan Dithane M-45 3 mg/l yaitu sebagai fungisida yang berfungsi untuk mencegah timbulnya jamur. Dalam proses sterilisasi memungkinkan dapat terjadi kegagalan sterilisasi seperti :  Ketidakberhasilan sterilisasi akibat adanya salah satu atau beberapa kunci pada autoklaf yang tidak menutup dengan sempurna sehingga tekanan yang timbul dari autoklaf bocor ke luar. Setelah itu dilanjutkan dengan merendam eksplan dalam larutan Chlorox 5. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi. Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil. Kegagalan sterilisasi dapat dihindari dengan jalan mengikuti semua ketentuan dan prosedur pelaksanaan sterilisasi meliputi penggunaan alat dan pelaksanaan prosedur sterilisasi. dan 22 . Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral.

Kontaminasi umumnya disebabkan oleh sterilisasi media yang kurang sempurna. diperlukan juga bahan tambahan seperti agar. Pada pembuatan media harus diperhatikan jenis eksplan yang akan dikulturkan sehingga dapat memilih dan menentukan media yang tepat yang akan digunakan. lingkungan kerja dan pelaksanaan atau cara kerja saat penanaman (kecerobohan pelaksana). dan sterilisasi yaitu antara lain : 1. molekul-molekul atau benda-benda asing berukuran kecil yang jatuh atau masuk ke dalam botol kultur setelah penanaman dan ketika diletakkan di ruang kultur. Secara umum. dan lain-lain.  23 . baik jenisnya maupun jumlahnya. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi. Kondisi aseptik dapat dicapai dengan metode sterilisasi. gula. Syarat utama keberhasilan kultur in vitro adalah menghindari kontaminasi yang dapat terjadi pada setiap saat dalam masa kultur . Agar kontaminasi tidak terjadi maka faktor-faktor tersebut harus berada dalam kondisi aseptik.hormon. eksplan. saran yang dapat penulis sampaikan untuk praktikum-praktikum yang akan dating tentang pembuatan larutan stock. tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. metode ultrafiltrasi dengan menggunakan filter milipore (digunakan untuk hormone dan ZPT). metode sterilisasi pemanasan basah menggunakan autoklaf. 2. Saran Dari pembahasan dan kesimpuan yang telah ditarik. metode sterilisasi dikelompokkan dalam metode sterilisasi pemanasan kering menggunakan oven. metode sterilisasi laminar air flow cabinet menggunakan sinar UV. Larutan stok sebaiknya dibuat untuk menghindari terjadinya kesalahan penimbangan sebab bahan-bahan kimia untuk membuat media diperlukan dalam jumlah yang sedikit. media tanam. Selain itu. 3. metode sterilisasi dengan bahan kimia bisa menggunakan alkohol 70 % atau 80 %. Pada tahap sterilisasi harus diperhatikan betul tahapan-tahapan dan prosedur sterilisasi agar dapat meminimalisir kegagalan sterilisasi.

Nomor 1. Plants from Test Tubes. USA : Boston University Buletin Teknik Pertanian Vol. F. Jurnal Agrosains 19(2) : 103-109.C. 1996. Lydiane & John Kleyn. Yuniastuti. 1989.C. K. Perbanyakan Vegetatif : Kultur Jaringan. http://www. Endang.id. Von Hostrand Reinheld. A.ac.org/ teknik/veg.). 2006. Diakses 15 Desember 2007 Bernice. Buku Petunjuk Praktikum Kultur Jaringan. Na’iem. 2004 Herawan. 1995. Tissue Culture techniques for Horticultural Crops. M.id/ind/?ch=isti&id=211 http://www. Buletin Plasma Nuftah II(1) : 9. 9. Penebar Swadaya.ht 24 .net. T dan M. Martin.unram.id/KulJar/BAB%20IV%20STERILISASI/IV2%20Sterilisasi %20Alat. Tissue Culture Technique. P.wikipedia.iptek. 2004. Kyte.sinarharapan.com http://elearning. Torres. Husni. Surakarta : UNS Press http://www. Jakarta. New York.DAFTAR PUSTAKA Afriastini. Pengaruh Jenis Media dan Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Perakaran pada Kultur Jaringan Cendana (Santalum album Linn. Perbanyakan dan Penyimpanan Tanaman Inggu melalui Kultur Jaringan. Kultur Jaringan Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern.2008.1994. 1997. USA: Timber Press Rahardja.

25 . Hari Natal.ACARA II KULTUR JARINGAN MAWAR (Rosa sp) A. Beberapa komoditas bunga potong yang menjadi andalan di Indonesia saat ini antara lain: Mawar. PENDAHULUAN 1. Permintaan nasional akan tanaman hias dan bunga potong meningkat tidak kurang dari 10% setiap tahunnya. Lily.) merupakan tanaman bunga hias berupa herba dengan batang berduri. Mawar berasal dari dataran Cina. 1994). Permintaan bunga potong semakin meningkat pada saat menjelang Idul Fitri. Permintaan bunga potong Mawar. Gladiol. Latar Belakang Mawar (Rosa sp. menyebar luas dari daerah-daerah beriklim dingin (subtropis) dan panas (tropis). Anggrek. Bunga potong sebagai salah satu komoditas pertanian yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. 1989 dalam Effendie. Tahun Baru dan hari-hari besar lainnya (Hasyim. Gladiol dan Lily masing-masing menduduki peringkat 1. Timur Tengah dan Eropa Timur. Sedap malam dan Anthurium. telah diusahakan secara komersial sejak lama dalam upaya memenuhi permintaan yang semakin meningkat. Krisan. Meningkatnya permintaan ini sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang memberikan peluang besar untuk pengembangan usahatani dan pemasaran tanaman hias serta bunga potong. Di Indonesia yang merupakan salah satu wilayah pemasok konsumen tanaman hias secara Nasional adalah Jawa Tengah dan Jawa Barat serta Jawa Timur. Dalam perkembangannya. 5 dan 9.

Permintaan mawar sebagai bunga potong meningkat pada hari raya dan keagamaan dan tahun baru. Selain itu. terutama mawar di Indonesia tergolong lambat karena adanya kendala dalam penyediaan bibit. Bibit yang bermutu adalah bibit yang mempunyai sifat unggul dan seragam. Perbanyakan mawar bunga potong umumnya diperbanyak secara okulasi. Salah satu alternatif yang mampu menjawab tantangan tersebut adalah dengan menggunakan teknologi perbanyakan secara kultur jaringan (in vitro). Teknologi tersebut ternyata belum mampu menjawab tantangan untuk mengantisipasi berkembangnya agribisnis bunga potong. stek dan sambungan mata tempel. Mawar (Rosa hybrida L. sedangkan secara generatif hanya ditujukan untuk pemuliaan. Salah satu kendala yang dihadapi petani bunga potong antara lain ketersediaan bibit yang bermutu. Permintaan pasar sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas komoditas yang dihasilkan petani. Konsumen akan cenderung memilih produk yang mempunyai kualitas lebih tinggi. umbi. kegiatan penelitian tanaman hias yang semakin berkembang belum diimbangi dengan kegiatan pengelolaan atau konservasi plasma nutfah yang memadai. yang banyak diminati konsumen dan dapat dibudidayakan secara komersial. 1996). Pengembangan bunga potong. hal ini akan merugikan petani apabila ketersediaan varietas unggul di tingkat petani tidak disediakan dan terdesak oleh komoditas import. Okulasi mata tunas dilakukan pada saat kulit batang bawah mudah dikelupas. Metode perbanyakan bunga potong yang dilakukan oleh petani saat ini masih menggunakan teknologi pebanyakan melalui benih.) biasa diperbanyak secara vegetatif. Indikasi ini terlihat dari permintaan konsumen terhadap bunga potong bukan saja terjadi pada hari-hari besar tetapi kini bunga potong dibutuhkan hampir setiap hari (Sanjaya. sudah saatnya memproduksi bunga yang berkualitas. Mawar merupakan komoditas hortikultura yang bernilai tinggi. okulasi mata tunas atau okulasi mata berkayu. sedangkan perbanyakan menggunakan umbi. dan mata tempel akan menghasilkan tanaman yang mempunyai sifat sama dengan induknya tetapi bibit yang dihasilkan relatif sedikit dan memerlukan waktuyang lama. Perbanyakan menggunakan benih akan menghasilkan tanaman dengan keragaman yang tinggi. Pada saat 26 . stek.Mengingat manfaat bunga yang demikian besar. yang tersedia di pasar.

Eksplan yang akan digunakan pada praktikum kali ini adalah mawar (Rosa sp) yaitu bagian batangnya. Tujuan Praktikum acara kedua ini bertujuan untuk : a. Cara ini merupakan gabungan dari penyetekan dan penyambungan (grafting) yang dilakukan pada saat yang bersamaan. Selain itu. Namun demikian sebaiknya okulasi mata tunas dilakukan setelah batang bawah berumur lebih dari satu bulan. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan mawar. Mengetahui teknik perkembangbiakan atau mengembangbiakkan mawar secara teknik kultur jaringan (in vitro). artinya organ tersebut masih aktif membelah.tersebut sel-sel tanaman dan sel-sel kambium tersebut sedang dalam keadaan aktif. yang sekarang banyak dilakukan pengusaha benih/bibit mawar di luar negeri adalah stenting. Dengan cara ini okulasi dapat dilakukan pada stek batang bawah yang belum berakar ataupun yang sudah berakar. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot.Salah satu cara perbanyakan yang lebih efisien. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. Pada kultur jaringan mawar (Rosa sp. Perbanyakan mawar dengan teknik kultur jaringan merupakan salah satu alternatif unggul perbanyakan tanaman yang dapat menyediakan bibit tanaman dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang cepat.Pelaksanaan dari teknik okulasi mata berkayu hampir sama dengan okulasi mata tunas. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. 2. Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan tipis. b. Penggunaan ruas batang muda mawar bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik.) digunakan bahan tanam berupa ruas-ruas batang muda tanaman mawar. hanya pada okulasi mata berkayu tidak harus menunggu batang bawah mudah dikelupas. tidak memerlukan ruangan yang luas dan mencegah penularan penyakit sistemik. 27 .

Dengan adanya sitokinin di dalam medium menyebabkan tunas mengandakan diri secara terus menerus membentuk tunastunas baru dalam jumlah ribuan bahkan jutaan tunas. Dalam taksonomi. Proses ini disebut organogenesis atau dikena juga dengan istilah mikropropagasi. Walaupun jarang ditemui. selanjutnya diakarkan menjadi planlet. Adapun tanaman yang telah berhasil diperbanyak antara lain tanaman hias (misal: anggrek dan mawar) (Anonim. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Suarakarta B. Teknik ini sangat bermanfaat untuk tanaman-tanaman yang diperbanyak secara vegatatif. tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter (Anonim. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. TINJAUAN PUSTAKA Pembentukan tunas adventitif secara langsung menggunakan eksplan potongan batang muda yang memiliki calon tunas samping. 2008b). Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara II yang berjudul Kultur Jaringan Mawar (Rosa sp) ini dilaksanakan pada : Waktu Tempat : Senin. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. Kingdom Divisi : Plantae : Spermatophyta 28 . 2008a).3. Perbanyakan tanaman melalui teknik kultur jaringan memeiliki beberapa keuntungan. yaitu diperolehnya bibit yang seragam dalam jumlah besar. mawar diklasifikasikan sebagai berikut.

ukuran bunga. okulasi mata tunas atau okulasi mata berkayu.Penggunaan mata berdaun pada teknik stenting ini memerlukan penanganan khusus untuk menghindari 29 .Sub divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Angiospermae : Dicotyledoneae : Rosales : Rosaceae : Rosa : Rosa sp (Gembong Tjitrosoepomo. bentuk dan baunya berkembangbiak (Ashari.Salah satu cara perbanyakan yang lebih efisien. 1995).Pelaksanaan dari teknik okulasi mata berkayu hampir sama dengan okulasi mata tunas. sedangkan secara generatif hanya ditujukan untuk pemuliaan. Cara ini merupakan gabungan dari penyetekan dan penyambungan (grafting) yang dilakukan pada saat yang bersamaan. warna. sehingga pada saat tanaman ditanam di lapang tidak tumbuh tunas liar dari batang bawah.1990) Mawar berasal dari daerah subtropik pada belahan bumi utara. Namun demikian sebaiknya okulasi mata tunas dilakukan setelah batang bawah berumur lebih dari satu bulan. (Sartika. Perbanyakan mawar bunga potong umumnya diperbanyak secara okulasi. Dengan cara ini okulasi dapat dilakukan pada stek batang bawah yang belum berakar ataupun yang sudah berakar. bahan tanaman yang digunakan lebih sedikit (satu mata tunas + daun dari batang atas dan satu ruas batang bawah tanpa daun). Mawar (Rosa sp) merupakan komoditas holtikultura yang bernilai ekonomi tinggi. Di daerah sejuk. serta dapat dibudidayakan secara komersial dan terencana sesuai permintaan. Pada saat tersebut sel-sel tanaman dan sel-sel kambium tersebut sedang dalam keadaan aktif. 1996) Mawar (Rosa sp) biasa diperbanyak secara vegetatif. yang akhirnya akan meringankan biaya pemeliharaan.Beberapa keuntungan dari teknik stenting ialah perbanyakan lebih cepat. banyak diminati konsumen. Jenis mawar hibrida sebagian besar menyukai teampat yang sejuk (cocok untuk pegunungan). hanya pada okulasi mata berkayu tidak harus menunggu batang bawah mudah dikelupas. Okulasi mata tunas dilakukan pada saat kulit batang bawah mudah dikelupas. karena saat penyambungan tidak menunggu batang bawah berakar terlebih dahulu. yang sekarang banyak dilakukan pengusaha benih/bibit mawar di luar negeri adalah stenting.

(http://holtikultura.deptan.kelayuan sampai bertautnya kambium serta tum. Perubahan sifat genetik yang diekspresikan pada perubahan kelopak dan warna bunga dapat dilihat mulai dari biakan dalam botol. et al. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi.go. bahkan varietas. Seperti halnya kultur pucuk. perubahan warna tetap dipertahankan. merendahkan suhu dan meningkatkan kelembaban sekitar daun.id. Untuk menjamin keperluan tersebut. 30 . 1978). sehingga akan mengurangi laju respirasi dan transpirasi. maka disekeliling daun harus dipertahankan agar selalu dalam keadaan lembab. eksplan yang digunakan dalam kultur mata tunas dapat berasal dari tunas lateral. Medium MS dan modifikasi konsentrasi persenyawaan dengan penambahan auksin dan sitokinin merupakan komposisi media tumbuh yang biasa digunakan untuk inisiasi kalus Keberhasilan perbanyakan massal secara invitro sangat bergantung pada komposisi media tumbuh dan pemilihan bahan eksplan yang tepat tetapi kebutuhan optimal unsur hara dan zat pengatur tumbuh bervariasi antar setiap fase pertumbuhan dan perbanyakan antar varietas dan klon. (Prihardini.Katalog teknologi unggulan holtikultura). tunas samping atau bagian dari batang yang mengandung satu atau lebih mata tunas (Allen. 2003). Cara yang banyak dilakukan untuk mempertinggi kelembaban ini yaitu dengan pengkabutan secara periodik (intermitten misting). Terjadinya perubahan pada kelopak dan warna bunga dapat terjadi karena adanya mutasi pada kumpulan sel somatik dan dapat terekspresi pada sel meristem dan akan membentuk suatu sektor yang stabil (Boertjes dan Van Harten 1978). tanaman asal eksplan tersebut. Kultur mata tunas merupakan salah satu teknik in-vitro yang digunakan untuk perbanyakan tanaman dengan merangsang munculnya tunas-tunas aksilar dari mata tunas yang dikulturkan. Teknik ini memberikan lapisan air pada permukaan daun dan batang.Keberhasilan penyambungan sebagian besar disebabkan hubungan kambium yang rapat dari kedua tanaman (batang bawah dan batang atas) yang disambungkan atau terjadinya pertautan/jalinan meristematik antara keduanya.litbang. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. Setelah diaklimatisasi dan diperbanyak secara konvensional.buhnya akar dan tunas.

Bentuk kontaminasi ini biasanya terjadi melalui udara dan dapat disebabkan sterilisasi yang kurang tepat. DAN CARA KERJA 1. . seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes 2. Pembentukan kultivar mawar baru melalui persilangan memerlukan persiapan seperti suhu yang konstan pada siang dan malam hari yaitu 18ºc dan kelembaban udara sekitar 70%. 2001). mikro. ALAT. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro.Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro. penyimpanan yang kurang baik serta teknik aseptic yang kurang memadai (Martin. Kelebihan teknik tersebut. C. Bahan Eksplan : mawar (Rosa sp. dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman. 1994). dapat menghasilkan tanaman secara kesinambungan atau berkala (Hoesen. Salah satu teknologi alternatif untuk mendapatkan genotipe-genotipe baru yaitu melalui kultur jaringan (Handayati. Untuk saat ini. Bentuk kontaminasi yang paling umum terjadi adalah bakteri dan jamur. BAHAN. a. 2001). Alat LAFC lengkap dengan lampu Bunsen Petridsh dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. c. (Marlina. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi media dan zat penghambat tumbuh terhadap umur simpan dan ketahanan planlet untuk konservasi tanaman mawar Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda jenis bahan kimia atau konsentrasinya. 2004). b.) Media kultur Alkohol 96 % 31 b. Teknik kultur jaringan merupakan salah satu alternatif untuk menyediakan bahan tanam secara massal dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional. kondisi tersebut sulit dicapai karena memerlukan kondisi rumah kaca yang terkontrol. a. et al. c..

daun dan kalus (HST). dilakukan pada akhir pengamatan d. pinset selalu dibakar diatas api Selama penanaman. g. b. dilakukan pada akhir pengamatan. • • • e. • • • Persentase keberhasilan. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk menghindari kontaminasi Pemeliharaan Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. kelembaban dan cahayanya Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi Pengamatan selama 5 minggu. diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). diamati setiap hari Jumlah akar. tunas dan daun. 32 .25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 3 menit Membilas eksplan dengan aquadest steril Penanaman eksplan Membuka plastik penutup botol media kultur Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. e. • • c. meliputi Saat muncul akar. a. tunas. • • • Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja Persiapan eksplan Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. Setelah digunakan.d. 3. f. dilanjutkan dengan chlorox 5.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus.D. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. Dithane M-45 dan Agrept 33 . Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. Penggunaan ruas batang muda mawar bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik.1 Saat Muncul Akar Tanaman Mawar Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah mawar (Rosa sp) yaitu bagian batangnya.3 gram dalam 100 ml aquadest. Saat Muncul Akar Tabel 2. penggunaan media yang sesuai. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan.) digunakan bahan tanam berupa ruas-ruas batang muda tanaman mawar. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Mushage and Skoog (MS). Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. artinya organ tersebut masih aktif membelah. Pada kultur jaringan mawar (Rosa sp. Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan tipis. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0.

mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. maupun kalus. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). Kontaminasi sangat beragam. menstimulir terjadinya pembelahan sel. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan mawar terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. vitamin. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus.merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur mawar. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. BAP berperan dalam pembentukan tunas. tunas. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. mendorong proliferasi meristem ujung. Dalam aktivitas kultur jaringan. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. 34 . proliferasi kalus. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan mawar diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. dan mineral.

Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. media dan suplemen media yang beragam. penggunaan api dan lain-lain. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. pengirisan. penggunaan bahan sterilisasi. kuning. 35 .2.2 Saat muncul tunas tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Saat muncul tunas tanaman mawar Tabel 2. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. hijau.

Saat muncul daun tanaman mawar Tabel 2. penggunaan api dan lain-lain. penggunaan bahan sterilisasi. pengirisan. kuning. 4. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. media dan suplemen media yang beragam. Saat muncul kalus tanaman mawar 36 . hijau. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan.3. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan.3 Saat muncul daun tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media.

Tabel 2.4 Saat muncul kalus tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus -

Mawar

Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam, hijau, kuning, dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal, media dan suplemen media yang beragam, penggunaan bahan sterilisasi, pengirisan, penggunaan api dan lain-lain.

5. Presentase Keberhasilan
37

Tabel 2.5 Persentase Keberhasilan Kultur Mawar Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%)
0 × 100% = 0% 10

Mawar 0 10 Sumber : Laporan Sementara

Berdasarkan data diatas eksplan mawar memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat, media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. Praktikum acara kultur jaringan mawar ini menggunakan eksplan berupa batang. Media kultur yang digunakan adalah media MS dengan tambahan ZPT berupa BAP dan IBA. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan mawar tidak ada akar, tunas, daun, dan kalus yang muncul. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya; a. Media yang telah terkontaminasi jamur. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. Disamping itu, terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. b. Eksplan yang terkontaminasi. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. c. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. Peralatan – peralatan seperti pinset, botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan
38

pensterilan. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. Dalam praktikum ini, komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Setelah eksplan ditanam, botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu, cahaya dan kelembabannya. Selain ZPT, faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis, umur ontogenik, ukuran eksplan, dan bagian tanaman yang diambil. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi, sel-selnya masih aktif membelah, dan relatif sedikit mengandung kontaminan. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. Pada fase juvenil, pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem, yaitu dapat berupa ujung akar, tunas atau daun muda. E. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum acara II adalah : a. adanya jamur dan bakteri. b. c. d. Penggunaan media yang sesuai dan keadaan yang aseptik mempengaruhi keberhasilan kultur jaringan. Faktor yang penyebab kontaminasi adalah sterilisasi yang kurang sempurna dari media atau eksplan dan kecerobohan manusia. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP.
39

Eksplan dan media terkontaminasi dengan ditandai

e.
f. g.

Fungsi

dari

IBA

yaitu

berpengaruh

dalam

pembentukan akar. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas.
Kematian eksplan disebabkan karena media dan eksplan yang terkontaminasi serta peralatan yang kurang steril.

Pada akhir pengamatan tidak terbentuk akar, tunas, daun, dan kalus. Saran


o

Harus diperhatikan prosedur pelaksanaan sterilisasi baik alat maupun bahan yang digunakan harus disterilisasi sehingga benar-benar steril. Pemeliharaan eksplan harus diperhatikan dengan benar. Sebaiknya bahan eksplan yang digunakan dipilih dari jaringan tanaman yang masih muda (meristem) yang masih aktif membelah.

o

o

DAFTAR PUSTAKA
40

2003. Nedherland.Katalog teknologi unggulan holtikultura 15 Desember ACARA III KULTUR JARINGAN WORTEL (Daucus carota) 41 . 1978. http://warintek. D. and A. 2001. B. 5(4) : 365-371. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk Konservasi In Vitro Mawar (Rosa sp. Sumeru. http://www. J.Allen. Ilmiah : Berita biologi.Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. Anonim.com. Anonim.progressio.id. 2008a. Birkhavser Inc.litbang. Applied Mutation Breeding for Vegetatively Propagated Crops. Tissue Culture Techniques : An Introduction. Marlina. 1994. 2004. Hoesen.1949. Perbanyakan dan penyimpanan Kultur Sambung Nyawa(Gynura procumbers) dengan Teknik In Vitro.deptan. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk konservasi in vitro mawar (Rossa sp). Lane Magazine and Book Company.. 2001. How To Growth Roses. 1995. P. Purnamaningsih. Jurnal Ilmiah : Berita Biologi.E. I.go. Or. ---------. Boertjes. http://www.Yogyakarta : UGM Press http://holtikultura. Sudaryono dan S. N. Jurnal Penelitian Hortikultura. M.go. Diakses tanggal 18 Desember 2008.Gembong. T. Indonesia University Press. Vol 5(2):15-24. S. E. 2004. Buletin Teknik Pertanian Vol 9 No.id. 345 p. Tjitrosoepomo. Handayati.R. Id : diakses tanggal 2007 Ashari. Mawar. Boston. 2008b. Elsevier.pustaka -deptan. Diakses tanggal. Van Harten. Darliah. Prihardini. D. 1. USA. W. Purnomo. 1978. C. http://id. Hortikultura Aspek Budidaya. H.org/wiki/Mawar. California. Mawr Hias.biogenonline.). 18 Desember 2008.kuljar. Jakarta. Biologi Sel dan Jaringan. Martin. diakses tanggal 15 Desember 2007. Peningkatan Keragaman Genetik Mawar Mini Melalui Kultur In Vitro dan Iradiasi Sinar Gamma. Marlina. Anonim.M. 2004. Komposisi Media dan Eksplan Untuk Inisiasi Poliferasi Salak Secara Invitro. Mariska dan R. 5(4) 279-285. Nina.

Tanah yang kurang subur masih dapat ditanami wortel asalkan dilakukan pemupukan intensif. Latar Belakang Wortel merupakan tanaman subtropis yang memerlukan suhu dingin (22-24° C). bermutu. umur tanaman cukup dan keadaan tanaman sehat tidak berpenyakit atau terserang hama. yakni tanaman tumbuh subur normal. labu siam. kubis.A. Di Indonesia kondisi seperti itu biasanya terdapat di daerah berketinggian antara 1. Perbanyakan tanaman dengan cara vegetatif adalah dengan stek yang telah berakar sempurna yang diperoleh dari batang yang muda namun cara ini jarang dilakukan karena produksi dan produktivitas buahnya rendah. Umumnya benih rekalsitran tidak mempunyai masa dormansi proses metabolisme perkecambahan berjalan terus (Copeland dan McDonald 1995) bahkan benih wortel dapat berkecambah ketika masih di pohon (perkecambahan dini) atau bersifat vivipary. lembap. dan cukup sinar matahari. Sekarang wortel sudah dapat ditanam di daerah berketinggian 600 m dpl.500 m dpl. Berdasarkan ciri fisiknya diduga benih wortel tergolong sebagai benih rekalsitran dengan karakteristik kadar airnya tinggi sehingga mudah terkontaminasi mikroba dan lebih cepat mengalami kemunduran. terletak pada batang utama. dan kotiledon dalam keadaaan sehat.5. PENDAHULUAN 1.5-6. berbuah lebat stabil. Benih yang akan dijadikan bibit harus dipilih benih yang baik. tanah perlu dikapur. sawi . Wortel tidak tahan disimpan sebagai benih lebih dari satu bulan sejak berkecambah di pohon karena tidak memiliki masa dormansi sehingga diduga wortel termasuk dalam rekalsitran tinggi (highly rekalsitran). Dianjurkan untuk menanam wortel pada tanah yang subur. Wortel (Daucus carota) merupakan tanaman sayuran dataran tinggi yang telah lama dikenal petani di Indonesia selain bawang putih. Kebanyakan tanah dataran tinggi di Indonesia mempunyai pH rendah. gembur dan kaya humus dengan pH antara 5. buah berumur tua. karena tanah yang asam menghambat perkembangan umbi. mempunyai ciri-ciri fisik yang baik.200-1. lobak dan tomat. dan 42 . Perbanyakan tanaman wortel selama ini dilakukan secara generatif dengan penanaman umbi akar yang matang dan telah berkecambah. Bila demikian. Buah yang dipakai sebagai benih merupakan panenan pertama. Benih yang baik dihasilkan dari pohon induk yang baik.

20 Oktober 2008. Benih wortel yang digunakan untuk perbanyakan tanaman beratnya rata-rata 300-400 gram dengan kondisi voluminous dan resiko kerusakan yang tinggi. Tujuan Tujuan praktikum ini adalah : a.umbi wortel yang di ambil langsung dari lapangan jauh lebih baik dari pada yang dibeli dari pasar. buah telah berakar dan berkecambah sepanjang 2-4 cm dengan daun sepasang. dan lebih baik jika memakai jaringan cambium. Dalam praktikum kultur jaringan wortel ini. Kultur jaringan merupakan salah satu alternatif perbanyakan tanaman secara vegetatif yang memiliki keunggulan antara lain. jaringan floem dan sekitarnya. Untuk memenuhi permintaan pasar yang banyak dapat dilakukan perbanyakan dengan kultur jaringan. Penelitian mengenai kandungan gizi kegunaan dan jumlah species wortel telah banyak dilakukan di Luar Negeri seperti di Negara Amerika Tengah. 43 . Mengetahui teknik kultur jaringan wortel. 3. eksplan yang digunakan untuk kultur jaringan adalah umbi akarnya. 2. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara kedua ini yaitu Kultur jaringan wortel dilaksanakan pada : Waktu : Senin. ukuran benih seragam. Masih banyak permasalahan yang belum diketahui pada benih wortel khususnya mengenai fenomena vivipary wortel varietas lokal daerah Cipanas yang merupakan daerah sentra wortel. b. Mengetahui pengaruh IBA dan BAP terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan wortel.bentuknya normal. benih tidak diserang hama dan penyakit. Selama ini benih wortel dikembang biakkan dalam bentuk umbi yang sudah berkecambah dan sehat pada umur 42 hari setelah anthesis (HSA). dapat menyediakan bibit dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat. Transportasi benih dari daerah pertanaman wortel yang menyebar ke seluruh wilayah Indonesia merupakan hal yang sulit. terletak di bagian tengah batang atau pada batang pokok.

Wortel menyukai tanah yang gembur dan subur.b) Sayuran ini sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia dan populer sebagai sumber vit. Menurut para botanis. yakni wortel yang memiliki umbi akar berbentuk bulat panjang dan rasanya manis. mirip daun seledri.jenis mantes. yakni wortel hasil kornbinasi dari jenis wortel imperator dan chantenang.Tempat : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.a) Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan sayur yang ditanam sepanjang tahun. B. Kerajaan: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Apiales Famili: Apiaceae Genus: Daucus Spesies: Daucus carota (Anonim. kurang lebih pada ketinggian 1200 ineter di atas permukaan laut. Linn.24 bulan) yang menyimpan karbohidrat dalam jumlah besar untuk tumbuhan tersebut berbunga pada tahun kedua.jenis chantenang. wortel juga mengandung vit. Tumbuhan wortel mernbutuhkan sinar matahari dan dapat turnbuh pada sernua musim. Batang bunga tumbuh setinggi sekitar 1 m. Selain itu.2008. TINJAUAN PUSTAKA Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan jenis sayuran umbi yang biasanya berwarna jingga atau putih dengan tekstur serupa kayu.) . Terutama di daerah pegunungan yang memiliki suhu udara dingin dan lembab. . . Wortel mempunyai batang daun basah yang berupa sekumpulan pelepah (tangkai daun) yang muncul dari pangkal buah bagian atas (umbi akar).2008. A karena memiliki kadar karotena (provitamin A). Wortel adalah tumbuhan biennial (siklus hidup 12 . di antaranya: WORTEL (Daucus carota. Bagian yang dapat dimakan dari wortel adalah bagian umbi atau akarnya. dengan bunga berwarna putih. B. Umbi akar wortel berwarna khas oranye. (Anonim. 44 . wortel (Daucus carota) dapat dibedakan atas beberapa jenis.jenis imperator. yakni wortel yang memiliki umbi akar berukuran panjang dengan ujung meruncing dan rasanya kurang manis.

C. baik sendiri maupun dalam kombinasi dengan asam naftalenasetat atau asam indolasetat dan kadang dengan asam giberelat. Sifat TOTIPOTENSIAL tanaman. dapat diterapkan untuk kultur jaringan. Penelitian mereka pada tembakau mengindikasikan bahwa perbandingan auksin dan sitokinin yang tinggi akan menginduksi pengakaran. menyebabkan diferensiasi dan pembentukan tunas (Moore.c) Wortel berumbi sedang memiliki tiga bentuk. tulisan penting Skoog dan Miller dipublikasikan dimana mereka menyatakan bahwa interkasi kuantitatif antara auksin dan sitokinin menentukan tipe pertumbuhan dan morfogenik yang akan terjadi. Pemilihan metode didasarkan pada sifat bahan yang akan 45 . Sosok tanamannya berupa rumput dan menyimpan cadangan makanannya di dalam umbi.C. berkulit tipis. sel atau kalus menjadi tunas dan tanaman sempurna. 1990). Kultur jaringan (sel) adalah mengkultur/membiakkan jaringan (sel) untuk memperoleh individu baru. Bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering.2008. Bensil adenin dan sitokinin. dan jika dimakan mentah terasa renyah dan agak manis.vit. G. chantenay yang tumpul. memanjang seperti silinder dengan ujung umbi bertipe nantes. Penemu F. Dari pihak lain. Organogenesis adalah proses yang menginduksi pembentukan jaringan. Whiter melaporkan keberhasilannya dalam membuat kultur kalus dari wortel (link to kultur kalus wortel) dan tembakau. (Anonim. sedikit vit.2008. Steward menggunakan jaringan floem akar wortel. Akan tetapi pola respon ini tidak berlaku universal. memanjang seperti kerucut dengan ujung umbi bertipe imperator (meruncing).d) Kultur jaringan tanaman pertama kali berhasil dilakukan ole White pada thaun 1934. serta zat-zat lain yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Wortel berumbi panjang berbentuk kerucut dengan ujung bertipe imperator atau meruncing. Umbi berwarna kuning kemerah-merahan. sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi atau bahan kimiawi. Pada tahun 1957. Mempunyai batang pendek.1996 : 128) Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah. (Anonim. sedangkan rasio sebaliknya akan menginduksi pembentukan tunas. Pada tahun 1939. berakar tunggang yang bentuk dan fungsinya berubah menjadi umbi bulat dan memanjang. (Lydiane Kyte. Proses ini diawali oleh hormon pertumbuhan.

Setelah diaklimatisasi dan diperbanyak secara konvensional. Kultur mata tunas merupakan salah satu teknik in-vitro yang digunakan untuk perbanyakan tanaman dengan merangsang munculnya tunas-tunas aksilar dari mata tunas yang dikulturkan. vitamin. tanaman asal eksplan tersebut. Seperti halnya kultur pucuk. perubahan warna tetap dipertahankan. menghambat kerja sitokinin. air. mendorong proses embryogenesis. auksin sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus. bahan organik.disterilkan. serta dapat mempengaruhi kestabilan genetic tanaman (Wetter and Corstabel. Sebagian besar kultur aseptik tidak mampu melakukan fotosintesis sehingga diperlukan sumber karbon dalam bentuk sukrosa atau glukosa. bahkan varietas. mendorong morfogenesis kalus. Dalam aktivitas kultur jaringan. Terjadinya perubahan pada kelopak dan warna bunga dapat terjadi karena adanya mutasi pada kumpulan sel somatik dan dapat terekspresi pada sel meristem dan akan membentuk suatu sektor yang stabil (Boertjes dan Van Harten 1978). Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Medium MS dan modifikasi konsentrasi persenyawaan dengan penambahan auksin dan sitokinin merupakan komposisi media tumbuh yang biasa digunakan untuk inisiasi kalus Keberhasilan perbanyakan massal secara invitro sangat bergantung pada komposisi media tumbuh dan pemilihan bahan eksplan yang tepat tetapi kebutuhan optimal unsur hara 46 . eksplan yang digunakan dalam kultur mata tunas dapat berasal dari tunas lateral. alkohol dan hormon (Widiastuti dan Anggraini. membentuk akar atau tunas. membentuk klorofil dalam kalus. serta hara mineral. 1994). 1982). Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. tunas samping atau bagian dari batang yang mengandung satu atau lebih mata tunas (Allen. Perubahan sifat genetik yang diekspresikan pada perubahan kelopak dan warna bunga dapat dilihat mulai dari biakan dalam botol. 1990). Yang umum digunakan secara rutin di laboratorium adalah menggunakan panas (Hadioetomo. 1978). Media tumbuh untuk kultur in vitro diusahakan mempunyai kondisi lingkungan yang terkontrol.

f. e. DAN CARA KERJA Alat a. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro. d. g. ALAT. a. Bahan Eksplan : nanas (Ananas comosus ) dan wortel (Daucus carota) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja a. Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro. et al. Persiapan eksplan b. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi media dan zat penghambat tumbuh terhadap umur simpan dan ketahanan planlet untuk konservasi tanaman mawar Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda jenis bahan kimia atau konsentrasinya. C. LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridsh dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. dilanjutkan dengan chlorox 5. 2003).25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 . (Marlina. BAHAN. c. c. b. (Prihardini. dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman. 2004).dan zat pengatur tumbuh bervariasi antar setiap fase pertumbuhan dan perbanyakan antar varietas dan klon. mikro. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • Membilas eksplan dengan aquadest steril 47 b. Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam.

Selama penanaman. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. pinset harus selalu dibakar diatas api. dilakukan pada akhir pengamatan. diamati setiap hari Jumlah akar. Persentase keberhasilan. tunas. diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). meliputi • • • Saat muncul akar. Saat Muncul Akar 48 . HASIL DAN PEMBAHASAN 1. dilakukan pada akhir pengamatan f. Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. d. menghindari kontaminasi. e. Penanaman eksplan • • • Membuka plastik penutup botol media kultur. Pengamatan selama 5 minggu.c. D. daun dan kalus (HST). mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk Setelah digunakan. kelembaban dan cahayanya. Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. tunas dan daun.

Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. Pada kultur jaringan wortel (Daucus carota) digunakan bahan tanam berupa bagian tengah dari umbi akarnya yang berwarna kuning. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah wortel (Daucus carota) yaitu bagian umbi akarnya. Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur wortel. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. artinya organ tersebut masih aktif membelah.1 Saat Muncul Akar Tanaman Wortel Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. Penggunaan bagian tengah dari umbi akar wortel yang berwarna kuning oranye ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. penggunaan media yang sesuai.Tabel 3. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus.3 gram dalam 100 ml aquadest. 49 . Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan floem dan cambium di sekitarnya.

Kontaminasi sangat beragam. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. vitamin. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. tunas. Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. BAP berperan dalam pembentukan tunas. Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula. dan mineral.Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Pada penanaman eksplan wortel semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. menstimulir terjadinya pembelahan sel. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Pada penanaman eksplan wortel tidak ada yang membentuk akar. vitamin. dan mineral. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. dan putih. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. tunas. proliferasi kalus. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. hitam. maupun kalus. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan wortel terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan wortel diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. daun. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan 50 . Dalam aktivitas kultur jaringan. mendorong proliferasi meristem ujung. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. maupun kalus.

Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. pengirisan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. kuning. 2. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Hasil-hasil 51 . Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi.berulang-ulang menggunkan spirtus. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. media dan suplemen media yang beragam. penggunaan api dan lain-lain. Saat Muncul Tunas Tabel 3. hijau. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar.2 Saat muncul tunas tanaman wortel Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. penggunaan bahan sterilisasi.

kuning. Saat muncul daun Tabel 3. hijau.penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. penggunaan api dan lain-lain. seperti kebutuhan nutrisi. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. media dan suplemen media yang beragam. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. Saat muncul kalus Tabel 3. penggunaan bahan sterilisasi. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Oleh karena itu.4 Saat muncul kalus tanaman wortel 52 . komposisi media. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. 3. bahkan varietas. dll. pengirisan.3 Saat muncul daun tanaman wortel Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. zat pengatur tumbuh. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. lingkungan kultur. 4. tanaman asal eksplan tersebut.

penggunaan bahan sterilisasi. hijau. Presentase keberhasilan Tabel 3. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal.Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - Wortel Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. media dan suplemen media yang beragam. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. pengirisan.5 Persentase Keberhasilan Kultur Wortel Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 53 . Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. 5. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. kuning. penggunaan api dan lain-lain. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri.

Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan.Wortel 0 10 Sumber : Laporan Sementara 0 × 100% = 0% 10 Berdasarkan data diatas eksplan wortel memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. Praktikum acara kultur jaringan wortel ini menggunakan eksplan berupa bagian tengah atau jaringan floem dari umbi akar. Eksplan yang terkontaminasi. Disamping itu. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. tunas. e. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. d. 54 . Media yang telah terkontaminasi jamur. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan wortel tidak ada akar. Peralatan – peralatan seperti pinset. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. f. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. dan kalus yang muncul. daun. Media kultur yang digunakan adalah media MS dengan tambahan ZPT berupa BAP dan IBA. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi.

zat pengatur tumbuh. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. Setelah eksplan ditanam. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. dan relatif sedikit mengandung kontaminan. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. cahaya dan kelembabannya. pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. dll. dan bagian tanaman yang diambil. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. seperti kebutuhan nutrisi. tanaman asal eksplan tersebut. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. komposisi media. bahkan varietas. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu. tunas atau daun muda. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Dalam praktikum ini. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. sel-selnya masih aktif membelah. yaitu dapat berupa ujung akar. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. umur ontogenik. Pada fase juvenil. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama 55 . ukuran eksplan. Selain ZPT.Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. lingkungan kultur. Oleh karena itu.

USA. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan. d. dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Dari praktikum kultur jaringan wortel yang telah dilakukan. D. 2 ulangan terdapat bakteri dan 2 ulangan.org/wiki/wortel 56 . baik untuk peralatan maupun media itu sendiri. Persentase keberhasilan dari kultur jaringan wortel adalah 0 %  Saran Untuk meningkatkan presentase keberhasilan. Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat.E.Wortel. Pada kultur jaringan wortel. Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. California. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal mungkin. medianya berwarna kuning. E. Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. dari 10 eksplan yang ditanam tidak ada yang berhasil tumbuh. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. Lane Magazine and Book Company. c. 1978. e. DAFTAR PUSTAKA Allen.http://en. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan. b.wikipedia. 3 ulangan terdapat jamur.2008. How To Growth Roses. Anonim. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman.

E. Plant Tissue Culture Methods. D dan Anggraini. I.Katalog teknologi unggulan holtikultura ACARA IV KULTUR JARINGAN NANAS (Ananas comosus) A.litbang. 1.C. 1990. Hort 13(3) : 157-168.S. 1982. Nedherland. 1990. R and F. The Prairie Regional Laboratory of The National Research. 2003. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk konservasi in vitro mawar (Rossa sp). N.2008. C. 1. Vol 4(2):71-73. Moore.deptan. and A.2008.id/ind/pd_tanobat /view. Corstabel. http://www. S.http://plantasia.id. T. P. Jurnal Penelitian Hortikultura. Mikrobia Dasar Dalam Praktek. T. Elsevier..iptek. Purnomo.M. Jakarta.php? mnu=2&id=150 Anonim. Y. Sukmayadi. Sudaryono dan S.cybermediaclips. http://holtikultura. 345 p. Meldia.com Boertjes. Pengaruh Air Kelapa Terhadap Pembentukan Protocorm Like Bodies (PLBS) dari Anggrek Vanda dalam Medium Cair. Wetter. S. Hardiati. Jurnal Hortikultura.Teknik Perbanyakan tanaman Wortel. L. Gramedia. Biochemistry and Physiology of Plant Hormone. 1994.R. dan Kartono. Buletin Teknik Pertanian Vol 9 No. J. Berlin. Prihardini. Widiastuti. Purnomo. Van Harten. 2004.go. Springer-Verlag.. PENDAHULUAN Latar Belakang 57 . 1978.net. Applied Mutation Breeding for Vegetatively Propagated Crops. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium.Anonim. P. 2003. Vol 5(2):15-24.Perbanyakan tanaman wortel. Marlina. Komposisi Media dan Eksplan Untuk Inisiasi Poliferasi Salak Secara Invitro. S. Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Nanas. Hadioetomo.

Hal ini karena kegiatan pengembangan varietas dalam pengertian pemuliaan tanaman belum banyak dilakukan. Permasalahan yang dihadapi agribisnis tanaman nenas antara lain: 1. oleh karena adanya keengganan para peneliti melakukannya. ketersediaan varietas lokal yang potensial untuk komersialisasi. yang disebabkan perlunya waktu yang relatif lama untuk memperoleh hibrida unggul hasil 58 . karena nenas (Ananas comusus (L. Buah nanas selain dikonsumsi segar juga diolah menjadi berbagai macam makanan dan minuman. seperti selai. sehingga meningkatkan pendapatan devisa negara dan selanjutnya akan berkait dengan peningkatan pendapatan pelaku-pelaku agribisnis tanaman nenas. Apabila potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimum maka nenas dapat dijadikan buah-buahan andalan. Untuk skala industri. Salah satu komponen yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan tanaman dalam kultur jaringan adalah keadaan media secara fisik. Varietas nenas yang ada saat ini umumnya belum dapat memenuhi standar mutu yang disyaratkan dalam pengembangan skala industri.) merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas. Rasa buah nanas manis sampai agak masam segar. potensi agroklimat dan luasan lahan yang tersedia sangat memadai. sehingga disukai masyarakat luas. maupun konsumsi dalam negeri. yaitu media padat. perbanyakan secara konvensional kurang efektif karena jumlah bibit yang dihasilkan sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang relatif lama. Perbanyakan melalui kultur jaringan merupakan metode alternatife untuk memecahkan masalah tersebut. Merr. Perbanyakan melalui kultur jaringan merupakan metode alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. terutama untuk konsumsi segar. Salah satu komoditas yang dikembangkan adalah nenas. padahal sebagai negara yang berada di wilayah tropik.) Merr. media cair.) merupakan salah satu dari tiga buah terpenting dari wilayah tropika. Nanas merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas. perbanyakan secara konvensional kurang efektif karena jumlah bibit yang dihasilkan sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang relatife lama. Untuk skala industri. baik untuk ekspor. atau modifikasi antara keduanya. buah dalam sirop dan lain-lain. Peran Indonesia dalam pasar global nenas belum berarti.Nenas (Ananas comosus L.

Tujuan Mengetahui teknik kultur jaringan nanas dan wortel. 3. padahal tanaman nenas Executive Summary Nenas mengalami penurunan produktivitas setelah tiga generasi bibit. padahal untuk menghasilkan nenas dengan mutu yang baik diperlukan kawalan teknologi. Masih rendahnya penerimaan konsumen terhadap nenas yang disebabkan oleh tingginya kadar Ca-oksalat yang memberikan rasa gatal yang tidak nyaman dan mitos bahwa nenas tidak baik bagi wanita dan dapat menyebabkan keguguran. Waktu dan Tempat Praktikum 59 . sehingga memerlukan peremajaan secara teratur dan dukungan teknologi perbanyakan bibit yang mampu menjamin keseragaman dalam waktu yang cepat. eksplan yang digunakan adalah bagian atas dari bonggol nanas yang berwarna putih yang merupakan bagian dari ibu tangkai bunga nanas. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan Tujuan dari praktikum kultur jaringan nanas (Ananas comosus) ini adalah : perkembangan eksplan nanas dan wortel. 3. dan material genetik untuk keperluan pemuliaan tanaman masih belum tersedia.persilangan. 2. termasuk untuk memperpanjang daya simpan (shelf life). menjadi tidak efisien. 4. terutama pengalengan. Terbatasnya teknik budidaya yang diterapkan oleh petani nenas juga menyebabkan kualitas nenas menjadi tidak baik. Jenis jaringan yang digunakan adalah jaringan meristem yang masih terus aktif membelah. penjaminan mutu hasil dan upaya mempertahan-kan mutu dalam jangka waktu lebih panjang. 2. a. Belum tersedianya paket teknologi produksi dan pasca panen bagi optimasi produktivitas. Belum tersedianya teknologi pembibitan yang cepat dan menjamin keseragaman dan kestabilan hasil dan kualitas hasil. Pada saat ini masih dihadapi masalah ketidakseragaman ukuran dan ketidaksesuaian bentuk buah dan waktu panen sehingga proses pengolahan nenas. b. Dalam praktikum kultur jaringan nanas ini.

2008a). Nanas (Ananas comosus (L) Merr. Golongan Spanish dikembangkan di kepulauan India Barat. dan meluas dikebunkan di lahan kering (tegalan) di seluruh wilayah nusantara. merupakan salah satu komoditas buah tropis yang penting bila dilihat dari kegunaan dan nilai ekonomis serta mempunyai kontribusi 8% dari produksi segar dunia. Dewasa ini ragam varietas/cultivar nanas yang dikategorikan unggul adalah nanas Bogor. Golongan Abacaxi banyak ditanam di Brazilia. dan Indonesia merupakan negara penghasil nanas olahan dan segar terbesar ketiga setelah Thailand dan Philipina (Hardiati et al. Puerte Rico. Nanas merupakan tanaman buah berupa semak yang memiliki nama ilmiah Ananas comosus. Subang dan Palembang (Anonim. Tanaman ini kini dipelihara di daerah tropik dan sub tropik. masuk ke Indonesia pada abad ke-15. Nanas berasal dari Brasilia (Amerika Selatan) yang telah di domestikasi disana sebelum masa Colombus. B.Praktikum acara kedua ini yaitu kultur jaringan (Ananas comosus) dilaksanakan pada : Waktu Tempat : Senin.. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2003). (1599). Di Indonesia pada mulanya hanya sebagai tanaman pekarangan. Dalam bahasa Inggris disebut pineapple dan orang-orang Spanyol menyebutnya pina. Pada abad ke-16 orang Spanyol membawa nanas ini ke Filipina dan Semenanjung Malaysia. Klasifikasi tanaman nanas adalah: Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus : Plantae (tumbuh-tumbuhan) : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) : Angiospermae (berbiji tertutup) : Farinosae (Bromeliales) : Bromiliaceae : Ananas 60 . Memiliki nama daerah danas (Sunda) dan neneh (Sumatera). Mexico dan Malaysia. TINJAUAN PUSTAKA Varietas cultivar nanas yang banyak ditanam di Indonesia adalah golongan Cayene dan Queen.

Keunggulan pengembangan tanaman nanas dengan metode kultur jaringan atau secara in vitro yaitu :     Dapat menyediakan bibit secara cepat dan massal dalam waktu relatif singkat. dan 6) stek batang. Transportasi pengiriman mudah. Sedangkan kelemahan pengembangan tanaman nanas dengan metode kultur jaringan yaitu : 61 . Dari beberapa metode perbanyakan yang ada. Bunganya majemuk. Naekman. bentuk malai terdapat di ujung batang berwarna ungu kemerahan. biasanya petani menggunakan bibit yang berasal dari anakan yang tidak diketahui kesehatannya dan tidak seragam. 5) mahkota buah. asam. permukaan buah seperti sisik atau genting kecil yang tersusun rapi. Indonesia mempunyai peluang yang sangat baik untuk memposisikan diri sebagai salah satu produsen dan eksportir utama produk nenas. Ketersediaan bibit anakan juga sangat terbatas. (Anonim.c) Nenas merupakan salah satu komoditas penting unggulan Indonesia dilihat dari kegunaan dan nilai ekonominya serta mempunyai kandungan gizi yang tinggi.Species (Anonim. 2008).50 cm mempunyai batang dalam bentuk roset dengan pangkal yang melebar dan menjadi pelepah. harum dan tidak berbiji. Daun tunggal bentuk pedang. 2) tunas batang. warna hijau kekuningan sampai jingga. Daging buah berwarna putih kekuningan mengandung banyak cairan yang rasanya manis. Buah berbentuk menyilinder. (Naibaho. dan lebih mudah untuk pengangkutannya.c) : Ananas comosus (L) Merr Herba yang mempunyai batang semu dengan tinggi 30 . Perbanyakan tanaman nenas secara umum dapat dilakukan secara vegetatif menggunakan: 1) tunas akar. Alternatif yang dapat dilakukan adalah melalui cara teknik kultur jaringan in vitro dan cara stek daun. ujung lancip tepi berduri kecil dan tajam. Selain itu perbanyakan nenas dapat dilakukan melalui kultur jaringan. seragam. 4) tunas dasar buah. yaitu dua anakan per tanaman per tahun. Bibit yang dihasilkan sehat. Bibit yang dihasilkan relatif seragam.2008. Kedua teknik ini memungkinkan untuk menyediakan bibit nenas dalam jumlah banyak. 3) tunas tangkai buah.2008.

Masalah dalam pengembangan nenas adalah penyediaan bibit dalam jumlah banyak secara cepat. sehingga belum dapat ditransfer ke pada kalangan petani biasa Tahap-tahap perbanyakan bibit secara kultur jaringan adalah :  Pemilihan pohon induk  Persiapan bahan perbanyakan  Inisiasi  Multiplikasi (regenerasi)  Aklimatisasi  Pembesaran di nursery/pembibitan  Penanaman di lapangan (Darma.   Kemungkinan terjadinya variasi somaklonal Proses produksi bibit memerlukan investasi relatif besar Membutuhkan keahlian khusus. 62 . keinginan konsumen dan eksportir buah segar.2008) Kendala yang dihadapi dalam pengembangan agroindustri nenas antara lain adalah belum tersedianya varietas yang sesuai dengan permintaan industri pengolahan. yang pada gilirannya perlu ditunjang dengan penanganan pasca panen yang tepat (Anonim.Kusuma. 2008b). karena melalui perbanyakan vegetatif konvensional lajunya sangat lambat. Kendala produksi di lapangan adalah belum tersedianya teknologi bagi pengendalian pertumbuhan vegetatif maupun reproduktif agar produktivitas dan kualitas hasil tinggi.

Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah. g. membentuk klorofil dalam kalus. c. Sebagian besar kultur aseptik tidak mampu melakukan fotosintesis sehingga diperlukan sumber karbon dalam bentuk sukrosa atau glukosa. c. vitamin. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. C. serta hara mineral. a. air. 1990). 3. b. sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi atau bahan kimiawi. 1994). membentuk akar atau tunas. alkohol dan hormon (Widiastuti dan Anggraini. Pemilihan metode didasarkan pada sifat bahan yang akan disterilkan. BAHAN. e. Bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. Bahan a. ALAT. mendorong proses embryogenesis. Dalam aktivitas kultur jaringan. Dari pihak lain. mendorong morfogenesis kalus. Persiapan eksplan Eksplan : nanas (Ananas comosus ) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja 63 . auksin sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus. Yang umum digunakan secara rutin di laboratorium adalah menggunakan panas (Hadioetomo. d. a. 2. serta dapat mempengaruhi kestabilan genetic tanaman (Wetter and Corstabel. Media tumbuh untuk kultur in vitro diusahakan mempunyai kondisi lingkungan yang terkontrol. b. f. menghambat kerja sitokinin. DAN CARA KERJA Alat LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridish dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. bahan organik. 1. 1982).

D. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Pengamatan selama 5 minggu. Saat Muncul Akar Tabel 4. diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk c. meliputi • • • Saat muncul akar. Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. d. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • • • • Membilas eksplan dengan aquadest steril Membuka plastik penutup botol media kultur. Persentase keberhasilan.b. Selama penanaman. tunas. dilakukan pada akhir pengamatan. menghindari kontaminasi. daun dan kalus (HST). Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. dilanjutkan dengan chlorox 5. kelembaban dan cahayanya. Penanaman eksplan Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. tunas dan daun. dilakukan pada akhir pengamatan f. e. pinset harus selalu dibakar diatas api.1 Saat Muncul Akar Tanaman Nanas 64 .25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 Setelah digunakan. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. diamati setiap hari Jumlah akar.

Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan 65 . Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan.Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. Penggunaan bagian berwarna putih dari bonggol nanas yang berwarna putih ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. artinya organ tersebut masih aktif membelah. Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali.3 gram dalam 100 ml aquadest. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah nanas (Ananas comosus) yaitu bagian dari bonggol yang berwarna putih yang merupakan ibu dari tangkai bunga sedangkan jaringannya merupakan jaringan meristem yang masih aktif membelah. Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. penggunaan media yang sesuai. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur nanas.

vitamin. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. dan putih. maupun kalus. dan mineral. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko 66 . Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan nanas diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. menstimulir terjadinya pembelahan sel. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. Dalam aktivitas kultur jaringan. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine).yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan nanas terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. vitamin. Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. dan mineral. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. tunas. maupun kalus. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. daun. mendorong proliferasi meristem ujung. proliferasi kalus. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. Pada penanaman eksplan nanas tidak ada yang membentuk akar. Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula. Pada penanaman eksplan nanas semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. hitam. tunas. Kontaminasi sangat beragam. BAP berperan dalam pembentukan tunas.

media dan suplemen media yang beragam. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. 2.2 Saat muncul tunas tanaman Nanas Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. penggunaan bahan sterilisasi. pengirisan. penggunaan api dan lain-lain. 67 .terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. Saat Muncul Tunas Tabel 4. hijau. kuning. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam.

dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. kuning.3 Saat muncul daun tanaman Nanas Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. bahkan varietas. komposisi media. zat pengatur tumbuh. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. dll. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama.Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Saat Muncul Daun Tabel 4. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. lingkungan kultur. Oleh karena itu. hijau. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan 68 . Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. tanaman asal eksplan tersebut. 3. seperti kebutuhan nutrisi.

Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan.perkembangan eksplan. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. media dan suplemen media yang beragam. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus.4 Saat muncul kalus tanaman nanas Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - nanas Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. penggunaan api dan lain-lain. Saat Muncul Kalus Tabel 4. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. pengirisan. 4. penggunaan bahan sterilisasi. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. kuning. hijau. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna 69 .

5. dan kalus yang muncul. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. Media yang telah terkontaminasi jamur. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. daun. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat.5 Persentase Keberhasilan Kultur Nanas Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 0 × 100% = 0% 10 Nanas 0 10 Sumber : Laporan Sementara Berdasarkan data diatas eksplan nanas memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. media dan suplemen media yang beragam. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. pengirisan. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. penggunaan api dan lain-lain. Disamping itu. 70 .coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. a. tunas. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan nanas tidak ada akar. Presentase keberhasilan Tabel 4. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. penggunaan bahan sterilisasi.

tunas atau daun muda. Eksplan yang terkontaminasi. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. Pada fase juvenil. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Setelah eksplan ditanam. dan relatif sedikit mengandung kontaminan. Dalam praktikum ini. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi.b. ukuran eksplan. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. Selain ZPT. dan bagian tanaman yang diambil. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. sel-selnya masih aktif membelah. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. cahaya dan kelembabannya. umur ontogenik. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Peralatan –peralatan seperti pinset. c. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung 71 . Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. yaitu dapat berupa ujung akar. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem.

bahkan varietas. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal 72 . dapat ditarik kesimpulan berhasil tumbuh. 3 ulangan terdapat jamur.dari spesies.  Persentase keberhasilan dari kultur jaringan nanas adalah 0% 2. dari 10 eksplan yang ditanam tidak ada yang Kesimpulan Dari praktikum kultur jaringan nanas yang telah dilakukan. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan. lingkungan kultur.  Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat.  Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. medianya berwarna kuning. sebagai berikut :  Pada kultur jaringan nanas. E. tanaman asal eksplan tersebut. Saran Untuk meningkatkan presentase keberhasilan. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. Oleh karena itu.  Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan. dll. KESIMPULAN DAN SARAN 1. zat pengatur tumbuh. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. seperti kebutuhan nutrisi. komposisi media. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. baik untuk peralatan maupun media itu sendiri. 2 ulangan terdapat bakteri dan 2 ulangan.

Jakarta : Litbang Departemen Pertanian Hadioetomo. T. http://www. Widiastuti. Hardiati. Jakarta: Litbang Departemen Pertanian Wetter. Perbanyakan Massal Nanas secara In Vitro. ----------.or. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium.id. Jakarta. Hort 13(3) : 157-168. Jurnal Hortikultura. Nanas (Ananas comosus). I. dan Kartono.go.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Y.ristek. 1994.rusnasbuah. Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Nanas. Naibaho.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=2&doc=2a17. P. Pengaruh Air Kelapa Terhadap Pembentukan Protocorm Like Bodies (PLBS) dari Anggrek Vanda dalam Medium Cair. Purnomo.C. Moore.. Vol 4(2):71-73. D dan Anggraini. Mikrobia Dasar Dalam Praktek. Springer-Verlag. 1990. 2008b. Sukmayadi. http://www. Berlin.net. Biochemistry and Physiology of Plant Hormone. 73 . The Prairie Regional Laboratory of The National Research. Darma. 2008.iptek. 1982. Kusuma. 2003. Naekman. Diakses tanggal 18 Desember 2008. Gramedia. Anonim. R and F. http://www.S. S. Meldia. Plant Tissue Culture Methods.warintek. L. J. 1990. Perbanyakan Massal Nanas dengan Stek Daun. S. 2008a. Corstabel. 2008. Executive Summary Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia Komoditas Nenas. 2008b. Diakses tanggal 20 Desember 2008.id. S. Diakses tanggal 18 Desember 2008.

Selain itu. Perbanyakan tanaman dapat dilakukan secara generatif dengan biji ataupun secara vegetatif dengan setek. 1. nama sansivieria lebih dikenal dengan sebutan lidah mertua (mother in-laws-tongue). Salah satu tanaman hias yang banyak digemari masyarakat saat ini adalah sanseviera. cabut pucuk. Tanaman hias bagi masyarakat bermanfaat sebagai pengindah rumah atau pekarangan. PENDAHULUAN Latar Belakang Di Indonesia. suatu penelitian juga menunjukkan bahwa tanaman sansiveira dapat bermanfaat untuk menyerap polusi. Ada juga yang menjulukinya snake plant (tanaman ular) mungkin karena corak beberapa jenis tanaman in mirip dengan corak ular. Sansivieria termasuk tanaman yang sangat mudah perbanyakannya. sumber penghasilan. Kebutuhan masyarakat akan tanaman hias semakin hari semakin meningkat.ACARA V KULTUR JARINGAN SANSIVIERIA A. dan kultur jaringan (cloning). Sanseviera merupakan tanaman yang unik yang mempunyai sifat berbeda dengan tanaman lain yaitu apabila tanaman ini distek akan menghasilkan tanaman yang berbeda dengan induknya berbeda tanaman kebanyakan yang bila diperbanyak dengan stek maka keturunannya akan sama dengan induk. pemisahan anakan. 74 . menyerap polusi sehingga menimbulkan kepuasan tersendiri bagi pemiliknya.

Di Indonesia. Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkembangkan bagian tanaman. Selain itu. Jenis yang mendominasi adalah pedang-pedangan dan kodok-kodokan. Kelemahan cara generatif ini adalah memerlukan waktu yang lama. pemisahan anakan. teknik cabut pucuk. Selain itu. Teknik yang mungkin digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah secara in vitro. Sansevieria (Sansevieria trifasciata) termasuk tanaman hias yang mempunyai penggemar di berbagai masyarakat dunia. Meningkatnya permintaan tersebut masih belum dapat terpenuhi akibat petani masih menggunakan perbanyakan secara konvesional yang memerlukan waktu dan bahan tanam dalam jumlah yang banyak. Pada praktikum ini eksplan yang digunakan adalah tanaman Sansivieria trifasciata yaitu bagian daun tapi pada bagian bawah yang merupakan jaringan tebal yang meristematis yaitu jaringan yang masih aktif mengalami pembelahan. sejak tahun 2000 permintaan tanaman ini meningkat pesat dan terus meningkat hingga kini. baik berupa sel jaringan atau organ tanaman dalam kondisi aseptis secara in vitro. sifat biji sansivieria umumnya diploid sehingga menyebabkan minimal dua keragaman dalam satu biji. 2. tidak semua spesies mampu menghasilkan bunga dan biji. dan kultur jaringan. Cara ini biasanya digunakan oleh para breeder untuk memperoleh hibrida baru.Perbanyakan secara generatif dilakukan menggunakan biji. tetapi usaha perbanyakan belum cukup memadai maka diperlukan suatu teknik perbanyakan yang lebih efektif yang mampu menghasilkan tanaman dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatif singkat. Teknik perbanyakan yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut adalah perbanyakan dengan kultur jaringan. Perbanyakan secara vegetative dari sansivieria dapat diperbanyak menggunakan setek. Dengan semakin meningkatnya permintaan akan tanaman sansiveira. Tujuan Praktikum acara kelima yaitu kultur jaringan sansivieria ini bertujuan untuk : 75 . Keunggulan perbanyakan tanaman menggunakan biji antara lain dapat diperoleh tanaman dalam jumlah banyak dan seragam serta tidak merusak tanaman induk.

76 .2008b) Dibanding tumbuhan lain. formaldehyde. b. Sansevieria memang termasuk tanaman hias yang sering disimpan di dalam rumah karena tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi dengan sedikit air dan cahaya matahari. benzene. banyak ditemukan ratusan species sanseviera lain yang bentuk dan warna daunnya beragam.a. sansiviera bisa tumbuh subur. 3. Biasanya sansevieria banyak ditanam sebagai pagar rumah.2008a) Sansevieria termasuk tanaman tropis yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan di Indonesia. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. dan trichloroethylene. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan sansivieria. yaitu jenis yang tumbuh memanjang ke atas dengan ukuran 50-75 cm dan jenis berdaun pendek melingkar dalam bentuk roset dengan panjang 8 cm dan lebar 3-6 cm. dan karena ini ada yang menyebut Sansevieria sebagai tanaman pedang-pedangan. Sekarang ini. Tumbuhan ini berdaun tebal dan memiliki kandungan air sukulen. Jenis sanseviera yang banyak ditanam adalah Sanseviera trifasciata atau dikenal dengan nama “lidah mertua”. Mengetahui teknik kultur jaringan sansivieria. Sansevieria dibagi menjadi dua jenis. Sanseviera memiliki keistimewaan menyerap bahan beracun. B. Waktu Tempat Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara kelima yaitu kultur jaringan sansivieria ini dilakukan pada : : Senin. sehingga tahan kekeringan. seperti karbondioksida. atau sebagai penyekat jalan. TINJAUAN PUSTAKA Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama Lidah Mertua. (Anonim. Namun dalam kondisi lembap atau basah.(Anonim. Sekitar 40 persen air saja yang diperlukan tanaman yang berkembang biak melalui umbi lapis ini untuk tumbuh. Kelompok panjang memiliki daun meruncing seperti mata pedang. Sanseviera kerap ditaruh di sudut dapur atau kamar mandi untuk meredam bau. Selain sebagai tanaman hias.

Motif alur atau garis-garis yang terdapat pada helai daun juga bervariasi. perak. 2007). 77 . Dari bentuk hibrid inilah sansevieria akan tercipta dengan karakter dan fisik yang berbeda dari induknya atau yang sering disebut dengan spesies hibrid atau sansevieria hibrid. tidak beraturan. tanaman sansivieria dicirikan dengan daun yang tebal karena kandungan airnya yang tinggi. Keistimewaan lidah mertua adalah memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan. daun berbentuk silinder. Namun ada juga yang menyebutnya dengan tanaman ular dan pedang-pedangan karena bentuk tanaman ini yang berbentuk seperti ular dan pedang-pedangan (Anonim. Ditinjau berdasarkan jenisnya sansevieria ada dua jenis yakni yang pertama yaitu sansevieria keturunan asli/spesies sedangkan yang kedua adalah jenis hasil persilangan/hibridasi yang bisa disebut dengan jenis sansevieria hibrid. Arie. Mutasi sansevieria juga dapat terjadi dari perbanyakan melalui stek daun.2006) Sanseviera sering dikenal dengan dengan nama lidah mertua “Mother in Law Tongue”. (W. Penelitian NASA bekerja sama dengan ALCA telah menemukan bukti-bukti bahwa tanaman ini secara alami mampu mengurangi polusi tersebut. dan warna kombinasi putih kuning atau hijau kuning.Warna daun Sansevieria beragam. (Anonim. hijau abu-abu.2008d) Klasifikasi ilmiah dari sansiviera yaitu : Regnum: Divisio: Kelas: Ordo: Familia: Genus: Plantae Magnoliophyta Liliopsida Asparagales Ruscaceae Sansevieria Secara morfologi. dan ada juga yang zig-zag.Purwanto. hijau muda. Disebut batang semu karena sesungguhnya sansivieria tidak mempunyai batang. Pada beberapa jenis sansivieria. Pada jenis yang lain. daun berkedudukan seperti roset mengelilingi batang semu. mulai hijau tua. Jenis yang lain lagi mempunyai helaian daun kaku seperti pedang. ada yang mengikuti arah serat daun.

B Juan. 78 c. et al. Satusatunya cara perbanyakan yang sanggup memenuhi kebutuhan permintaan bibit dalam jumlah besar itu hanyalah kultur jaringan. 2005). Kemampuan regenerasi jaringan tidak hanya tergantung pada umur fisiologinya.Sebagai teknik kultur jaringan dapat dipahami perkembangannya karena didukung oleh marak dan berkembangnya studi tentang sel. dan cabut pucuk tidak lagi bisa mencukupi. suhu. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. Zat pengatur tubuh sitokinin lebih banyak berperan dibandingkan dengan auksin pada tahap multiplikadi prodiferasi akar. cahaya. a. anakan. hara. cara perbanyakan secara konvensional menggunakan stek. Jaringan tanaman sansivieria yang dikulturkan dipilih dari jaringan yang masih muda (meristematis). . Sedang ukuran eksplan. kadar medium. Jaringan meristematis ini selanjutnya ditanam di dalam botol yang berisi media buatan.. dan jenis serta kadar hormon pertumbuhan yang digunakan. dalam lingkungan steril. 1. DAN CARA KERJA Alat LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridish dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. tetapi sampai ke tingkat karakterisasi atau kualitas selnya. waktu inokulasi dan jenis media mempengaruhi pertumbuhan eksplan (Irawati. Hal tersebut mempunyai pengaruh yang cukup besar (Wetter and Corstabel. kimia dan biokimia nutrisi. maka akan lebih banyak ditekankan penggunaan ZPT auksin (Supriati. 1982). b. Pada perkembangan sekarang teknik ini justru banyak membantu lahirnya konsep-konsep baru berbagai cabang ilmu itu sehingga keberadaannya saling menopang dalam perkembangannya (Santoso dan Nursandi. ALAT. biomolekul dan fisiologi sel. (Chahinian. Seiring dengan permintaan bibit sansivieria yang semakin meningkat. BAHAN. Perbanyakan sansiviera secara kultur jaringan (tissue culture) bertujuan untuk mendapatkan tanaman dalam jumlah besar dan seragam pertumbuhannya. Berhasilnya pertumbuhan tunas terutama tergantung pada sumber jaringan. 2001).1986) C. Jaringan muda umumnya mempunyai kemampuan berdiferensiasi lebih baik. 2005).

3. meliputi • • Saat muncul akar. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. c. Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. Persiapan eksplan b. d. diamati 1 minggu sekali 79 .25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 Setelah digunakan. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk c. f. Bahan Eksplan : Sansiviera (Sansivieria trifasciata ) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja b. kelembaban dan cahayanya. g.2. a. e. Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. menghindari kontaminasi. Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. dilanjutkan dengan chlorox 5. tunas dan daun. a. pinset harus selalu dibakar diatas api. tunas. Penanaman eksplan Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. Pengamatan selama 5 minggu. Selama penanaman. e. daun dan kalus (HST). Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • • • • Membilas eksplan dengan aquadest steril Membuka plastik penutup botol media kultur. diamati setiap hari Jumlah akar. d.

Saat Muncul Akar Tabel 5. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. 80 . HASIL DAN PEMBAHASAN 1. dilakukan pada akhir pengamatan f. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. Persentase keberhasilan. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan.1 Saat Muncul Akar Tanaman Sansiviera Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Sansiviera 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. artinya organ tersebut masih aktif membelah. dilakukan pada akhir pengamatan. penggunaan media yang sesuai.• Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). Penggunaan bagian bawah dari daun yang masi muda ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. D. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah sansiviera (Sansiviera trifasciata) yaitu bagian dari daun yang masih muda yaitu bagian bawah yang merupakan jaringan meristematik atau jaringan yang masih terus aktif membelah.

dan putih. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan sansivieria diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. tunas. Kontaminasi sangat beragam. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan sansivieria terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. menstimulir terjadinya pembelahan sel.3 gram dalam 100 ml aquadest. vitamin. mendorong proliferasi meristem ujung. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. Dalam aktivitas kultur jaringan. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. 81 . serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus.Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur sansivieria. maupun kalus. BAP berperan dalam pembentukan tunas. Pada penanaman eksplan sansivieria semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. dan mineral. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. hitam. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. proliferasi kalus. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula.

Saat Muncul Tunas Tabel 5. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan 2. tunas. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan 82 . vitamin. hijau. dan mineral. maupun kalus. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan.Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula. Pada penanaman eksplan sansivieria tidak ada yang membentuk akar. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. daun. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan.2 Saat muncul tunas tanaman Sansivieria Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Sansivieria 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. kuning.

Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. dll. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. bahkan varietas. Oleh karena itu. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. penggunaan bahan sterilisasi. Pada 83 . komposisi media. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP.tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. kuning. tanaman asal eksplan tersebut. hijau. pengirisan. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. penggunaan api dan lain-lain.3 Saat muncul daun tanaman sansivieria Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 sansivieria 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. 3. Saat Muncul Daun Tabel 4. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. seperti kebutuhan nutrisi. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. media dan suplemen media yang beragam. zat pengatur tumbuh. lingkungan kultur. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan.

dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. penggunaan api dan lain-lain. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan 84 . penggunaan bahan sterilisasi. media dan suplemen media yang beragam. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. hijau. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. 4. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. pengirisan.eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Saat Muncul Kalus Tabel 5.4 Saat muncul kalus tanaman sansivieria Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - sansivieria Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. kuning.

media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. e. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan sansivieria tidak ada akar. Eksplan yang terkontaminasi. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. penggunaan bahan sterilisasi.kultur jaringan. media dan suplemen media yang beragam. penggunaan api dan lain-lain. d. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. 5. Presentase keberhasilan Tabel 4.5 Persentase Keberhasilan Kultur Sansivieria Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 0 × 100% = 0% 10 Sansivieria 0 10 Sumber : Laporan Sementara Berdasarkan data diatas eksplan sansivieria memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. daun. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. tunas. dan kalus yang muncul. Disamping itu. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. 85 . pengirisan. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. Media yang telah terkontaminasi jamur. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur.

sel-selnya masih aktif membelah. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. seperti kebutuhan nutrisi. cahaya dan kelembabannya. dll. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. Pada fase juvenil. umur ontogenik. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. tanaman asal eksplan tersebut. Setelah eksplan ditanam. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. dan relatif sedikit mengandung kontaminan. Peralatan –peralatan seperti pinset. Selain ZPT. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem. yaitu dapat berupa ujung akar. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga.f. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. zat pengatur tumbuh. dan bagian tanaman yang diambil. Oleh karena itu. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. ukuran eksplan. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh 86 . pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. Dalam praktikum ini. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. komposisi media. tunas atau daun muda. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. lingkungan kultur. bahkan varietas. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan.

Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. 3. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan.  Saran Untuk menghindari kegagalan dalam penanaman kultur sansivieria. b.masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama E. baik untuk peralatan maupun media itu sendiri. Pada kultur jaringan sansivieria. tunas. Sebaiknya bahan eksplan yang digunakan dipilih dari jaringan tanaman yang masih muda (meristem) yang masih aktif membelah. Pemeliharaan eksplan harus diperhatikan dengan benar. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan. dari 10 eksplan yang telah ditanam tidak ada yang tumbuh baik akar. 87 . putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. Persentase keberhasilan dari kultur jaringan sansivieria adalah 0 %. daun. Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal mungkin. a. 4. Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat. c. maupun kalus. Semua eksplan terkontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan 1. 2. 5. Sebaiknya alat maupun bahan yang digunakan harus disterilisasi sehingga benarbenar steril.

2007. Plant Tissue Culture Methods.http://sensasp.deptan.com/2007/12/13/httpwwwta bloidnovacomartic lesaspid11386/ Chahinian.net. Unibraw Press. Untung dan F.go.1986.http://www.wordpress. Sansivieria. I. 2005. W. J.7(4):207-214. Malang. Ilmiah : Berita Biologi. Hutami. J. R.DAFTAR PUSTAKA Anonim.2008. www. Florida Irawati. Ilmiah. Supriati Y. Diakses pada tanggal 27 Desember 2007. Kultur Jaringan.Sansivieria si tajam Anti Poluai.iptek. L.id. Pembentukan Kalus dan Embriogenesis Kultur Pelepah daun Caladium hibrida. Canada. Juan.2006. Santoso. Flora Cantik Penyerap Racun. Anonim.Arie. Mariska dan S. Nursandi.id Anonim. The Prairie Regional Laboratory of The National ResearchCouncil of Canada.Kultur Jaringan Sansivieria. 1982. 2005. Wetter. 2001. Mikropropagasi Sukun (Artocarpus communis Forst. B. Purwanto.2008. Kultur Jaringan Tanaman. Jakarta: Kanisius 88 . 7(5):257-260. and Corstabel.) Tanaman Sumber Karbohidrat Alternaria. Sansivieria trifasciata Varieties Succulent Edition of Huntington Book.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful