P. 1
LAPORAN KULTUR JARINGAN

LAPORAN KULTUR JARINGAN

|Views: 6,518|Likes:
Published by Saccharifera

More info:

Published by: Saccharifera on Sep 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2013

pdf

text

original

Sections

  • A.PENDAHULUAN
  • 2.Tujuan
  • 3. Waktu dan Tempat Praktikum
  • 1.Pembuatan Larutan Stock
  • 2.Pembuatan Media
  • 3.Sterilisasi
  • Bagian-bagian autoklaf :
  • C.ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA 1.Alat
  • c.Sterilisasi
  • 2.Bahan
  • 3.Cara Kerja a.Pembuatan Larutan Stock
  • D.HASIL DAN PEMBAHASAN
  • A.PENDAHULUAN 1.Latar Belakang
  • 3.Waktu dan Tempat Praktikum
  • B.TINJAUAN PUSTAKA
  • C.ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA
  • D.HASIL DAN PEMBAHASAN 1.Saat Muncul Akar
  • 2.Saat muncul tunas tanaman mawar
  • 3.Saat muncul daun tanaman mawar
  • E.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
  • Saran
  • 2.Saat Muncul Tunas
  • 4.Saat muncul kalus
  • 5.Presentase keberhasilan
  • E.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
  • 2. Tujuan
  • B. TINJAUAN PUSTAKA
  • C. ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA
  • 3.Saat Muncul Daun
  • 4.Saat Muncul Kalus
  • 2.Saran
  • A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

ACARA I PEMBUATAN LARUTAN STOCK, PEMBUATAN MEDIA TANAM, DAN STERILISASINYA

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Bioteknologi di bidang pertanian telah berkembang pesat, salah satu contohnya adalah kultur jaringan. Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkembangkan bagian tanaman, baik berupa sel jaringan atau organ tanaman dalam kondisi aseptis secara in vitro. Ciri teknik ini adalah kondisi kultur yang aseptis, penggunaan media kultur buatan dengan kandungan nutrisi lengkap, dan kondisi lingkungan kultur yang sesuai. Lingkungan yang sesuai dapat dipenuhi dengan menentukan media tumbuh yang sesuai dan penempatan pada kondisi yang terkendali berkaitan dengan intensitas dan periodisitas, cahaya, temperatur, dan kelembaban serta keharusan sterilisasi. Sterilisasi alat merupakan hal mutlak yang harus dilakukan dalam kultur jaringan. Ha ini untuk menciptakan kondisi aseptis perlu dilakukan proses pensterilan atau sterilisasi untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Sterilisasi alat (petridish, pinset, gunting, dll) biasanya dilakukan dengan pemanasan secara langsung diatas api atau dibakar atau dengan pemasan menggunakan autoklaf selama 30 menit pada suhu 115ºC 135ºC. Media kultur jaringan merupakan faktor penting penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. Media kultur fisiknya dapat berbentuk padat atau cair. Media berbentuk padat menggunakan pemadat media seperti agar. Media kultur yang memenuhi syarat

1

adalah yang mengandung nutrient makro dan mikro dalam kadar dan perbandingan tertentu, sumber energi (sukrosa), serta mengandung berbagai macam vitamin dan ZPT. Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi sehingga larutan stock ini berfungsi sebagai salah satu cara untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil, oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan stock. Untuk itulah tahapan pembuatan larutan stock merupakan tahapan yang sangat penting dalam metode kultur jaringan agar tidak terjadi kesalahan dalam penimbangan bahan-bahan kimia yang akan digunakan. Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Media sebagai tempat pertumbuhan aksplan yang akan dikulturkan sehingga pembuatan media harus dilakukan dalam tahapan perbantakan tanaman secara kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

2

Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa kondisi yang aseptic merupakan syarat yang mutlak dalam tahapan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Oleh karena itu tahapan sterilisasi harus dilaksanakan dalam praktikum kali ini. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

2. Tujuan Tujuan praktikum acara yang pertama ini adalah : 1. Mengetahui prosedur pembuatan larutan stock. 2. Mengetahui langkah-langkah dalam pembuatan media kultur jaringan. 3. Mengetahui prosedur sterilisasi alat dan media kultur.

3. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara pertama ini berjudul pembuatan larutan stock, media tanam, dan sterilisasi dilaksanakan pada : Waktu praktikum Tempat : Senin, 13 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. TINJAUAN PUSTAKA
3

1. Pembuatan Larutan Stock Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil, oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. (Yuniastuti, Endang. 2008: 4) Seperti diungkapkan oleh Lydiane Kyte dan John Klein dalam Plant for Test Tubes “Stock solutions are concentrated solutions of groups of media chemicals that are preparated ahead of time and used to make several batches of media. They may be made in liter quantities of 10 to 100 times the concentration required in the final formula. Having stock solutions eliminates the need to weigh so many different chemicals every time you want to make a batch of medium. Also, the quantities will be more accurate because they are on larger scale than would be required for a single batch of medium, and thus minor inaccuracies have less impact”. Larutan stock merupakan sekelompok larutan media kimia berkonsentrasi yang disiapkan di awal dan digunakan untuk membuat beberapa kumpulan media. Larutan stock dibuat dalam satuan jumlah liter pada 10 sampai 100 kali konsentrasi yang dibutuhkan pada formula akhir. Pembuatan larutan stock mengurangi resiko perbedaan berat kimiawi yang besar setiap kali kita ingin membuat kumpulan media. Juga, jumlah akan lebih akurat sebab larutan stock dibuat dalam skala yang lebih besar daripada jika kita membuat medium tunggal, dan berkurangnya ketidakakuratan ini akan mengurangi dampak yang buruk bagi kultur jaringan. ( Lydiane Kyte & John Kleyn. 1996: 76) Beberapa komposisi akan mengendap (membentuk komponen padat) jika dicampurkan bersama dalam bentuk konsentrasi yang sama, jadi tiap kelompok kimiawi dibuat dalam bentuk kimia yang biasanya tidak mengendap pada konsentrasi larutan stock. Sebelum menambahkan bahan kimia apapun pada pembuatan larutan stock, harus ada air dalam labu, sehingga pengendapan sulit untuk terjadi.
4

(Bernice M. seperti pada garam anorganik. Namun. larutan-larutan tersebut dapat disimpan pada cup atau wadah-wadah kecil. Larutan stok adalah larutan berisi satu atau lebih komponen media yang konsentrasinya lebih besar dari konsentrasi komponen tersebut dalam formulasi media akan dibuat (Hemawan dan Na”em. Sebagian besar larutan stock dapat disimpan untuk watu yang terbatas tanpa reaksi yang berlawanan atau berkebalikan. kemudian komposisi kimianya akan stabil dalam waktu yang lama apabila larutan stock tersebut disimpan dalam refrigerator. Bila larutan stock tidak mudah untuk mengendap. memanaskan larutan tersebut pada hot plate atau stirer akan menjadi solusi permasalahan ini.Tidak ada kesepakatan umum mengenai kombinasi komposisi larutan stock. Apabila larutan membentuk endapan. Martin. Masalah tersebut dapat diatasi dengan pembuatan larutan stok. 2006). 1994: 39). sehingga risiko human error dalam percobaan dapat dikurangi. untuk menghilangkan endapan. larutan-larutan tersebut dapat dibawa pada suhu ruang. hormone cenderung memiliki waktu hidup yang pendek yang menyebabkannya harus dibuat dalam jumlah yang kecil sekitar 25 mg dalam 250 ml air. larutan-larutan tersebut akan mengendap pada suhu dingin di refrigerator sebab kelarutan suatu larutan akan menurun dengan menurunnya temperature. kemudian digunakan. Pembuatan media pada prinsipnya dilakukan dengan melarutkan semua komponen media dalam air sesuai dengan konsentrasinya pada formulasi yang diinginkan. juga tentang bagaimana larutan stock dibuat dan berapa lama larutan tersebut dapat disimpan sebagai larutan stock. penimbangan langsung komponen media. Apabila komposisi larutan stock memiliki daur hidup yang lebih panjang. Lebih dari itu. Apabila larutan stock tersebut memiliki daur hidup yang pendek. namun larutan-larutan tersebut beresiko tinggi untuk tumbuhnya kontaminan karena temperatur yang lebih tinggi. Dengan kata lain. misalnya mikronutrien dan hormon yang 5 . atau sedikit dipanaskan. seperti pada material organic. Penggunaan larutan stok mengurangi pekerjaan yang rumit dalam persiapan media. jika larutan garam mendekati proses pengendapan. penimbangan satu persatu komponen media untuk setiap pembuatan media kultur adalah tidak praktis dan hanya dapat dilakukan jika jumlah zatnya cukup besar.

dibutuhkan hanya dalam ukuran milligram atau microgram dalam formulasi akhir tidak dapat dilakukan dengan cukup akurat untuk pekerjaan kultur jaringan (Rahardja.  Gula (umumnya sukrosa) sebagai sumber energy. Komponen media kultur yang lengkap sebagai berikut :  Air distilata (akuades) atau air bebas ion sebagai pelarut atau solven. asam amino dan bahan organic lain.  Hara-hara makro dan mikro. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. Gamborg dkk B5 (1976). dan hormon. Nitsch dan Nitsch (1972). Heller (1953). vitamin. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi. Media yang 6 . diperlukan juga bahan tambahan seperti agar. Murashige dan Skoog MS (1962) serta woody plant medium-WPM (Lloyd dan Mc Known. Contohnya komposisi Knudson C (1946).  Suplemen berupa bahan-bahan alami. Pembuatan Media Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. ( Endang Yuniastuti. dan lain-lain. baik jenisnya maupun jumlahnya.  Agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media. 2008: 5) Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. jika diperlukan.  Vitamin.  Zat pengatur tumbuh. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Selain itu. tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. 2. gula. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral. 1995). Linsmaier dan Skoog-LS (1965). 1980).

Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf. asam amino. media dasar Vacin dan Went (1949) digunakan untuk kultur jaringan anggrek. Dari sekian banyak media dasar di atas. gula. media dasar WPM (Woody Plant Medium. yang paling banyak digunakan adalah media Murashige dan Skoog (MS). 1981) khusus untuk tanaman berkayu.iptek.sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. media dasar White (1934) sangat cocok untuk kultur akar tanaman tomat. arang aktif. media dasar B5 untuk kultur sel kedelai dan legume lainnya. Kombinasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) pada kultur jaringan sangat menentukan keberhasilan kultur. baik tanaman sayuran. buffer. persenyawaan kompleks alamiah.sinarharapan.com) Formula dasar untuk media kultur jaringan telah ditetapkan oleh berbagai penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu. media dasar Nitsch dan Nitsch (1969) digunakan dalam kultur tepung sari (pollen) dan kultur sel. media dasar Schenk dan Hildebrandt (1972) untuk kultur jaringan tanaman monokotil. vitamin. buah-buahan ataupun tanaman perkebunan menggunakan metode Mohr untuk pemakaian ZPT. (http: www. net.id/ ind/?ch=isti&id=221) Dalam teknik kultur jaringan dikenal berbagai macam media dasar yang penamaannya berdasarkan nama penemunya atau peneliti yang menggunakan pertama kali dan memperoleh hasil yang berarti. Media kultur jaringan dibuat untuk menyediakan nutrisi dan mengatur pertumbuhan yang optimal untuk tanaman yang spesifik. zat pengatur tumbuh (hormon). Media kultur terdiri dari beberapa atau seluruh komponen berikut: garam-garam anorganik. sering dikenal dengan media MS (Murashige dan Skoog’s). media dasar N6 (1975) untuk serealia terutama padi. dan bahan pemadat media yaitu agar. Penelitian pada berbagai macam jenis tanaman. Beberapa media dasar yang banyak digunakan antara lain media dasar Murashige dan Skoog (1962) yang dapat digunakan untuk hampir semua jenis kultur. mungkin 7 . yaitu penggunaan kombinasi ZPT antara kelompok sitokinin dan kelompok auksin. Formulasi media yang dikembangkan oleh Toshio Murashige dan rekan kerjanya . (http://www.

9738 39. 1996: 62-64) 8 .064 65.08 12. Tabel di bawah ini menunjukkan berat atomic dari elemen kimia yang pada umumnya digunakan dalam teknik kultur jaringan yaitu : Elemen Boron Kalsium Karbon Klor Kobalt Tembaga Hidrogen Iod Besi Magnesium Mangan Molibdenum Nitrogen Oksigen Potassium Kalium Natrium Belerang Seng Simbol B Ca C Cl Co Cu H I Fe Mg Mn Mo N O P K Na S Zn Berat Atomic 10.9994 30. dan digunakan sebagian besar pada tanaman herba.102 22. dikembangkan oleh Brent Mc Cown dan Greg Lloyd.811 40.merupakan media yang terbaik dari beberapa media yang telah diketahui.938 95.9898 32.94 14. didesign sesuai dengan nama yang cocok yaitu optimal untuk kultur jaringan tanaman berkayu.00797 126.453 58.37 (Lydiane Kyte & John Kleyn.9332 63.847 24.312 54.54 1.0067 15.9044 55.01115 35. Woody plant medium (WPM).

300 8.800 1.6H2O Na2EDTA FeSO4.Untuk perbanyakan klonal. Di bawah ini merupakan tabel komposisi salah satu media yang paling umum digunakan yaitu Murashige and Skoog’s (Media MS).2H2O CuSO4. 1997).600 0.7H2O Vitamin dan Asam amino Thiamin Asam nikotinat Pyridoxin HCl 9 Komposisi 1.500 .650 1.830 6.2H2O MgSO4. Komponen Unsur makro NH4NO3 KNO3 CaCl2.4H2O ZnSO4.025 37. pada umumnya dipakai media dasar Murashige dan Skoog.025 0.5H2O CoCl2.500 0.200 27.2H2O KH2PO4 Unsur mikro KI H3BO3 MnSO4.200 22. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa pengurangan komponen senyawa penyusun media berpengaruh baik terhadap pertumbuhan biakan tanaman dalam botol (Husni. Media tersebut mempunyai konsentrasi garam anorganik yang tinggi dibandingkan medium lainnya terutama ion NH4 dan NO3.000 0.7H2O Na2SO4.900 440 370 0.250 0.

larutan formalin).000 30. digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan. dan media nutrisi dapat disterilisasi dengan autoklaf. seperti pada saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba). air.000 100.ac.000 3. Sterilisasi secara fisik (pemanasan. penyaring. Sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat tembus uap air dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110-1210C. Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan. misalnya adalah dengan saringan/filter.unram. plastik penutup.Glycine Asam sistein Asam pantotenat Myo-inositol Sukrosa Agar 2. Kapas penyumbat. c. Sterilisasi secara mekanik. perlatan laboratorium. dipergunakan alat “bejana/ruang panas” (oven dengan temperatur 170o – 180oC dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas). kasa.ht) Sterilisasi dengan autoklaf adalah salah satu metode sterilisasi dengan uap air dibawah tekanan. Sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa: a. (http://elearning.id/KulJar/BAB%20IV%20STERILISASI/IV2%20Sterilisasi %20Alat. Dengan udara panas. b.000 70. Sterilisasi Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. 2004) 3.000 50.000 ( Buletin Teknik Pertanian Vol 9 . Nomor 1. peralatan gelas. Sistem kerja filter. 10 . larutan alkohol. penggunaan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi).

1989). Dengan autoklaf sederhana ini. Kelemahannya adalah bila salah satu pengatur tidak bekerja. mulai dari yang sederhana sampai digital (terprogram). Bila pengatur automatis ini berjalan dengan baik. Sebagai sumber uap. Alcohol mudah terbakar. dan mencelupkan peralatan dengan atau tanpa pembakaran. Tetapi pada autoklaf yang sederhana hal ini harus diatur secara manual. Kelemahan autoklaf ini adalah bahwa perlu penjagaan dan pengaturan panas secara manual. Tipe autoklaf yang dapat digunakan untuk sterilisasi ada bermacam-macam. Maka autoklaf dapat dijalankan sambil mengerjakan pekerjaan lain. Etil alcohol (70-90%) sangat berguna untuk mengusap permukaan tempat pelaksanaan. Pemanasan air dapat menggunakan kompor atau api Bunsen. diperlukan autoklaf dengan kapasitas besar dan sumber uap biasanya dari boiler yang terpisah. Untuk laboratorium komersial. juga berasal dari air yang ditambahkan ke dalam autoklaf dan didihkan. Alatnya dilengkapi dengan timer dan thermostat. tidak tergantung dari aliran listrik yang sering merupakan problema untuk negara-negara yang sedang berkembang. serta lebih cepat dari autoklaf listrik yang seukuran dan setaraf. serta waktu pendinginan. membilas tangan. selama masa sterilisasi dilakukan. sehingga harus sangat hati-hati saat menggunakannya diatas api. Alat sterilisasi baik media maupun peralatan yang digunakan untuk proses isolasi dan penanaman eksplan yang sering digunakan adalah autoklaf. Autoklaf yang sederhana menggunakan sumber uap dari pemanasan air yang ditambahkan ke dalam autoklaf. Autoklaf yang lebih komplit menggunakan sumber energi dari listrik. harga relatif murah. 2004). temperatur dan tekanan autoklaf diturunkan secara perlahan-lahan dalam waktu 15-20 menit. maka pekerjaan persiapan media menjadi sia-sia dan kemungkinan menyebabkan kerusakkan total pada autoklaf. 11 . Tetapi autoklaf ini mempunyai keuntungan: sederhana.Hampir semua mikroba mati bial terkena uap yang sangat panas dari autoklaf selama 1015 menit/ semua obyek hendaknya disterilisasi pada suhu 121ºC dan tekanan 15 Psi selama 15-20 menit (Torres. Kalsium atau Natrium hipoklorit digunakan sebagai sterilisasi peralatan dan sebagai desinfektan bagi jaringan tanaman tanpa melukainya (Afriastini. panas ini diatur secara atomatis. Pada autoklaf yang programmable. Autoklaf ini sangat cepat dan dapat diprogam waktu sterilisasi. Setelah sterilisasi bahan atau alat selesai. tekanan dan temperatur diatur dengan jumlah panas dari api.

5. Media disterilkan dalam autoklaf. 1996 : 169) Autoklaf gas atau listrik portable pada umumnya mempergunakan sumber uap dari pemanasan air yang ditambahkan ke dalam autoklaf. Dalam sterilisasi aquadest. Alat-alat dan air disterilkan selama 1 jam. Degradasi vitamin dan asam-asam amino. Perubahan pH yang berakibatkan depolimerisasi agar. 2. 3. 4. tetapi media antara 20-40 menit tergantung dari volume bahan yang disterilkan. tekanan antara 15 psi atau 1 atm dengan waktu antara 20-25 menit tergantung dari volume wadah dan volume media. Untuk 20 botol volume 12 . Panci luar. sterilisasi autoclave menggunakan panas dan tekanan dari uap air. Panci dalam tempat meletakkan botol dengan alur tempat saluran uap. atau 1 atm. dan tutup dengan kertas.Lamanya sterilisasi tergantung dari volume dan jenis. Pengunci atau klem. Waktu sterilisasi sama dengan waktu untuk sterilisasi alat-alat waktu 30 menit pada tekanan 15 psi. 4. Tutup beserta penunjuk tekanan dan saluran uap. Untuk aquadest sebaiknya dimasukkan dalam wadah kecil misalnya erlemeyer 250 ml dengan isi maksimum 100 ml. sterilisasi dilakukan dengan autoklaf pada temperatur 121oC. Penguraian gula. Temperature sterilasi biasanya 121o C. Bagian-bagian autoklaf : 1. Untuk 15-50 ml media dalam tabung reaksi atau botol kecil berukuran 50-100 ml. 3. Katup pengeluaran uap. Sterilisasi media yang terlalu lama menyebabkan : 1. sterilisasi dilakukan pada tekanan 15 psi dengan waktu 20 menit. ( Lydiane Kyte & John Kleyn. Untuk media kultur yang tidak mengandung bahan-bahan yang Heat-labile. agar sterilisasi lebih efektif.Pada prinsipnya. 2.5 psi (pound per square inci) atau 1 atm. Inaktifasi sitokinin zeatin riboside. sedangkan autoklaf besar pada laboratorium komersil pada umumnya menggunakan uap dari boiler sentral. tekanan yang biasa digunakan antara 15-17. serta kencangkan dengan karet gelang. lebih efektif bila digunakan wadah yang mempunyai volume antara 300 – 500 ml. Isi wadah tersebut sampai 80% volume.

Diameter filter yang bermacam-macam tergantung dari volume larutan yang ingin disterilkan. maka sewaktu sterilisasi. Alat a. Ca-panthothenate. Botol-botol/tabung reaksi/erlenmeyer yang dipergunakan sebagai wadah.22 um.net) C. (http://www. dipergunakan filter yang dipasang di ujung jarum suntik.20-0. Thiamin-HCL.iptek. 10 botol volume 2 liter memerlukan waktu 37 menit. sterilisasi dilakukan dengan menyaring larutan melalui filter yang mempunyai ukuran pori 0. mulut botol harus ditutup dengan alumunium foil. autoklaf tidak boleh diturunkan tekanannya secara mendadak. Dalam sterilisasi aquadest dan media. cairan didalamnya mendidih dan meluap (bubbled up). Antibiotik: carbenocilin. Setelah disterilkan dapat langsung digunakan. Untuk bahan-bahan yang heat-labile dalam bentuk larutan. dimasukkan ke dalam oven dan dipanaskan selama 4 jam pada temperatur 160o C. 5 botol 4 liter waktu yang digunakan 52 menit. Pembuatan Larutan Stock    Timbangan analitik Sendok Erlenmeyer Timbangan analitik Botol-botol kultur Magnetik stirrer pH meter 13 b. Bahan yang heat labile antara lain : GA3. Botol-botol yang sudah dicuci bersih. ALAT. DAN CARA KERJA 1.1 liter membutuhkan waktu yang lebih lama yaitu 34 menit. Untuk volume larutan 10 ml. Dengan waktu yang lebih lama. biasanya disterilkan dalam oven. BAHAN. Bila botol akan disimpan untuk beberapa lama. Bila tekanan diturunkan mendadak. Pembuatan Media Tanam     . setelah waktu sterilisasi yang diinginkan sudah tercapai.

FeEDTA. Pembuatan Larutan Stock 1. Sterilisasi  2. ZPT Aquadest Aquadest Larutan stock. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. terdiri atas hara makro dan mikro.3 mm Karet gelang Kertas label Autoklaf a. Cara Kerja a. vitamin. Bahan Gelas piala Pipet Plastik pp 0.     c. vitamin. Pembuatan Media Tanam      3. Pembuatan Larutan Stock   Bahan-bahan kimia untuk nutrisi. Larutan Stock Media Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relative kecil. Larutan stock merupakan larutaaan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi. serta ZPT Agar-agar Gula NaOH 1N dan HCl 1 N b. Langkah-langkah pembuatan larutan stock meliputi : 14 .

misalnya 500 ml. Heller (1953). Nitsch dan Nitsch (1972). misalnya untuk unsure hara makro dikalikan 20 dan unsur hara mikro dikalikan 100 kali konsentrasi. Linsmaier dan Skoog-LS (1965). Menimbang bahan-bahan kimia yang telah dikalikan menjadi beberapa kali konsentrasi. Memasukkan masing-masing larutan tersebut ke dalam botol dan menyimpannya ke dalam refrigerator. Memasukkan masing-masing larutan ke dalam botol dan menyimpan ke dalam refrigerator. Menghitung kebutuhan bahan BAP 100 ppm sebanyak 300 ml adalah sebagai berikut : 100 ppm = 100 mg/l = 30 mg/0. (4). 2. Larutan Stock Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Zat pengatur tumbuh hanya diperlukan dalam jumlah yang sedikit sekali.1 l = 10 mg/100 ml (3). Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. Biasanya zat pengatur tumbuh ini dibuat dengan kepekatan 1-10 mg/ml .3 l = 30 mg/300 ml (2). (2). Melarutkan bahan-bahan kimia tersebut ke dalam aquadest dengan volume tertentu. Menghitung kebutuhan bahan IBA 100 ppm sebanyak 100 ml adalah sebagai berikut : 100 ppm = 100 mg/l = 10 mg/0. Gamborg dkk B5 (1976). Pembuatan Media Kultur Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. (3).(1). Cara membuat larutan stock masing-masing ZPT adalah sebagai berikut : (1). b. Melarutkan bahan dengan Alkohol atau NaOH 1 N kemudian ditambah dengan aquadest sampai 300 ml untuk BAP dan 100 ml untuk IBA. Contohnya komposisi Knudson C (1946). Murashige dan Skoog MS 15 .

Komponen media kultur yang lengkap sebagai berikut :        Air distilata (akuades) atau air bebas ion sebagai pelarut atau solven. maka = V2 x M2 = 20 ml/L Untuk membuat media 1 L dengan konsentrasi IAA 0. jika diperlukan. Mengambil masing-masing larutan stock sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan dan memasukkannya ke dalam gelas piala. misalnya :  V1 x M1 V1  V1 x M1 V1 x 100 ppm Untuk membuat media 1 L dengan konsentrasi BAP 2 ppm. maka = V2 x M2 = 1000 ml x 0.5 ppm. Langkah-langkah pembuatan media (1 liter) adalah sebagai berikut : (1). Hara-hara makro dan mikro. media yang digunakan adalah media Murashige dan Skoog’s (MS) yang dimodifikasi dengan penambahan ZPT BAP 2 ppm dan IAA 0. (2).5 ppm 16 volume larutan stock yang diambil adalah : V1 X 100 ppm = 1000 ml x 0. Dalam praktikum kali ini. Media tersebut digunakan untuk penanaman masing-masing eksplan yang masing-masing eksplan diulang sebanyak 2 kali untuk tiap mahasiswa. 1980). Mengambil larutan stock ZPT sesuai dengan perlakuan. Gula (umumnya sukrosa) sebagai sumber energy. asam amino dan bahan organic lain. Zat pengatur tumbuh.(1962) serta woody plant medium-WPM (Lloyd dan Mc Known.5 ppm. Agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media. Vitamin. Suplemen berupa bahan-bahan alami.5 ppm volume larutan stock yang diambil adalah : .

HASIL DAN PEMBAHASAN 1.  c.8. Pembuatan Media Tanam 17 . Langkah-langkah sterilisasi alat dan media kultur jaringan :  Membungkus alat-alat kultur seperti petridish.  dibungkus kertas koran ke dalam autoklaf untuk proses sterilisasi pada suhu 121° C. Sterilisasi Alat dan Media Kultur Sterilisasi alat dan media kultur jaringan dilakukan secara bersamaan menggunakan autoklaf.   Menambahkan agar-agar 8 gr kemudian dididihkan.3 dengan menambahkan Ket : V1 : volume larutan stock yang diambil    beberapa tetes NaOH untuk menaikkan pH atau HCl untuk menurunkan pH. pisau scalpel dan pinset Memasukkan botol-botol berisi media dan alat-alat kultur yang telah dengan kertas koran.V1 = 5 ml/L V2 : volume media yang akan dibuat M1 : dosis larutan stock yang tersedia M2 : dosis media yang akan dibuat Menambah aquadest sampai 1000 ml Menambah gula sebanyak 30 gr Mengatur pH dalam kisaran 5. Menuangkan larutan media ke dalam botol-botol kultur kurang Menutup botol berisi larutan media dengan plastik.6. Menyimpan media pada rak penyimpan media yang bertujuan untuk mengantisipasi ada tidaknya kontaminasi pada media sehingga dapat dicegah penggunaan media yang telah terkontaminasi pada saat penanaman. larutan media diaduk dengan magnetic stirrer. lebih 25 ml tiap botol. Pada saat pengukuran pH.   Menyimpan alat-alat kultur dalam oven.5 kg/cm2 selama 45 menit. tekanan 1. D.

025 37. Zat pengatur tumbuh yang ditambahkan juga bervariasi baik jenis maupun jumlahnya. dan hormone.650 1. tergantung dengan kultur jaringan yang akan dilakukan.500 .300 8.Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.200 22. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral.500 0.2H2O KH2PO4 Unsur mikro KI H3BO3 MnSO4.4H2O ZnSO4.830 6.5H2O CoCl2.000 0.025 0.800 1. vitamin.900 440 370 0.7H2O Vitamin dan Asam amino Thiamin Asam nikotinat Pyridoxin HCl 18 Komposisi 1.2H2O CuSO4.2H2O MgSO4. Pada percobaan kali ini media yang dibuat adalah media Murashige and Skoog’s dengan komposisi : Komponen Unsur makro NH4NO3 KNO3 CaCl2.6H2O Na2EDTA FeSO4. Selain itu perlu ditambahkan bahan tambahan seperti agar. dan lain-lain. Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan tergantung pada jenis tanaman yang akan diperbanyak.200 27.600 0. gula.250 0.7H2O Na2SO4.

Larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan pengukuran berat dan konsentrasi senyawa dalam meia. media Gamborg dan White untuk kultur akar. Jenis media kultur yang paling banyak digunakan adalah media Murashige and Skoog (MS) cocok untuk hamper semua jenis tanaman terutama monokotil. Larutan stok dibuat dalam konsentrasi pekat (10 atau 100 kali konsentrasi akhir yang dibutuhkan untuk media. Ca. yaitu larutan pekat senyawasenyawa kimia penyusun media. Mg). dan vitamin. terdapat banyak jenis media yang lain seperti woody plant medium (WPM) yang cocok untuk kultur tanaman keras atau tanaman berkayu. K.Glycine Asam sistein Asam pantotenat Myo-inositol Sukrosa Agar 2. O. N. H. Media yang kedua adalah media perlakuan yaitu media dasar yang ditambahkan dengan penambahan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) atau hormone. sehingga memastikan bahwa jumlah/ volume masing-masing komponen media yang diberikan dalam jumlah tepat. P.000 30. Mg dan S didapatkan dari 19 . asam amino. Sebelumnya telah dibuat larutan stock media. Media kultur dibedakan menjadi dua yaitu media dasar yang terdiri dari garam-garam organik (makro dan mikro). Selain itu. senyawa sumber karbon. Pada praktikum kali ini hanya digunakan media dasar berupa media Murashige Skoog. N didapatkan dari NO3. karena berat yang dibutuhkan sangat sedikit seperti yang tertera dalam table komposisi di atas dan penimbangan seringkali tidak akurat.000 50.atau NH4+ atau asam amino. kalau tidak dibuat larutan stocknya akan menyulitkan dalam penimbangan komponen media. Komponen-komponen media MS yaitu :  Garam-garam anorganik terdiri dari makronutrient (C. Sebab.000 Pemilihan jenis media kultur yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan eksplan sesuai yang diinginkan. S.000 70.000 3.000 100.

Co. Pada praktikum kali ini. Asam amino yang sering digunakan adalah glutamine.  Sumber karbon yang digunakan adalah sukrosa. K didapat dari KCl. Syarat utama keberhasilan kultur in vitro adalah menghindari kontaminasi yang dapat terjadi pada setiap saat dalam masa kultur . Dan Cl dari KCl atau CaCl2. Pada pembuatan media harus diperhatikan pH.7H2O.nya yaitu harus dijaga pada pH 5. Vitamin yang dibutuhkan pada sebagian besar kultur jaringan tumbuhan adalah thiamin. Konsentrasi sukrosa yang digunakan adalah 20.  Asam amino merupakan sumber N organik. Namun harus juga dihindari penambahan HCl dan NaOH secara berlebihan karena akan mengurangi tingkat keberhasilan pembuatan media. sebagai sumber energy. 2.2H2O dibuat larutan stocknya.000.3 dengan penambahan KOH atau NaOH untuk menaikkan pH dan dan HCl untuk menurunkan pH. Zn. Vitamin lain yang biasa digunakan adalah asam nikotinat dan piridoksin HCl (vitamin B6). Media yang terlalu asam menyebabkan media sukar mengendap.8 sampai 6. K2NO3 atau KH2PO4. K2NO3 atau KH2PO4.2H2O atau Ca(NO3)2.  Vitamin berfungsi sebagai katalisator dalam system enzim dan diperlukan dalam jumlah kecil. dan Eksplan Tanaman.3 sebab pada kawasan pH ini merupakan pH yang optimum untuk penyerapan hara oleh tanaman.000 mg/L. K didapatkan dari KCl. Setelah media masak dan dituang di botol-botol kultur serta ditutup plastik. media dimasukkan dalam autoklaf untuk disterilisasi. untuk hara makro kecuali CaCl2.45.H2O dan KH2PO4. asparagin. P didapat dari NaH2PO4. dan I. yang diberikan dalam bentuk Thiamin-HCl. dan glisin. Sterilisasi Media Tanam.8 sampai 6. Kontaminasi umumnya disebabkan oleh sterilisasi media yang kurang sempurna. Pada praktikum kali ini dilakukan penambahan HCl sebanyak kurang lebih 5 tetes karena campuran media yang didapat terlalu basa dan setelah dilakukan penambahan HCl dilakukan pula penambahan NaOH sebanyak 2 tetes karena pH yang didapat terlalu asam. sistein. FeEDTA. Alat-alat Penanaman. untuk CaCl2. Ca didapatkan dari CaCl2. B. lingkungan kerja dan pelaksanaan atau cara kerja 20 .2H2O dibuat larutan stock tersendiri karena apabila di campur zat ini akan mengendap.MgSO4. Selain itu dibutuhkan juga mikronutrient yang terdiri dari Cu. pH harus dijaga pada 5. Mo.

Bagian yang ada tulisan dari kertas pembungkus harus diletakkan di bagian luar agar tinta yang larut nanti tidak mengotori alat yang ada di dalamnya. Uap air panas inilah yang akan membunuh mikroorganisme dan mensterilkan alat atau media yang akan digunakan. Agar kontaminasi tidak terjadi maka faktor-faktor tersebut harus berada dalam kondisi aseptik. Autoklaf merupakan alat yang dilengkapi dengan klep pengatur tekanan yang berasal dari air yang diuapkan. Sebelum dimasukkan petridish. Petridish akan mudah rusak (pecah) jika mengalami kontak langsung dengan uap air yang panas. 21 . untuk mensterilisasi media dan alat-alat untuk penanaman eksplan menggunakan metode sterilisasi pemanasan basah dengan menggunakan autoklaf. eksplan. metode sterilisasi laminar air flow cabinet menggunakan sinar UV. Secara umum. apabila langsung dibuka dapat menimbulkan ledakan dan dapat merusak klep pengatur tekanan pada autoklaf sehingga kerja alat akan terganggu untuk pemakaian selanjutnya.saat penanaman (kecerobohan pelaksana). Untuk sterilisasi media dilakukan selama 15-20 menit sedangkan untuk sterilisasi alat dan aquades dilakukan selama kurang lebih 1 jam. pisau scalpel. Sebelum dinyalakan. metode sterilisasi pemanasan basah menggunakan autoklaf. apabila hal itu terjadi proses sterilisasi tidak akan berhasil. Setelah proses sterilisasi selesai dan autoklaf mati. Kondisi aseptik dapat dicapai dengan metode sterilisasi. dan alat-alat yang lain terlebih dahulu dibungkus dengan kertas agar tidak kontak langsung dengan uap air autoklaf. metode sterilisasi dengan bahan kimia bisa menggunakan alkohol 70 % atau 80 %. metode sterilisasi dikelompokkan dalam metode sterilisasi pemanasan kering menggunakan oven. pinset. Sedangkan alat-alat seperti pisau scalpel dan pinset akan mudah berkarat jika berkontak langsung dengan uap air. metode ultrafiltrasi dengan menggunakan filter milipore (digunakan untuk hormone dan ZPT). molekul-molekul atau benda-benda asing berukuran kecil yang jatuh atau masuk ke dalam botol kultur setelah penanaman dan ketika diletakkan di ruang kultur. Pada praktikum kali ini. harus dipastikan bahwa semua kunci harus menutup agar tekanan yang timbul tidak bocor keluar. autoklaf tidak boleh langsung dibuka melainkan ditunggu hingga semua air yang berada di dalam autoklaf keluar (kunci dibuka dulu) dan tekanan di dalam autoklaf menurun.

Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.  Kegagalan sterilisasi akibat sebelum tekanan dalam autoklaf menurun dan semua air yang ada di autoklaf belum habis autoklaf sudah terbuka sehingga dapat menimbulkan ledakan atau kerusakan klep pengatur tekanan pada autoklaf.Sedangkan eksplan yang akan dikulturkan pada praktikum ini disterilkan secara kimiawi yaitu dengan merendam eksplan dalam larutan Dithane M-45 3 mg/l yaitu sebagai fungisida yang berfungsi untuk mencegah timbulnya jamur. oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak.25 % (Sunclin 100 %) selama kurang lebih 2 menit. Dalam proses sterilisasi memungkinkan dapat terjadi kegagalan sterilisasi seperti :  Ketidakberhasilan sterilisasi akibat adanya salah satu atau beberapa kunci pada autoklaf yang tidak menutup dengan sempurna sehingga tekanan yang timbul dari autoklaf bocor ke luar. E. dan 22 . vitamin. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil. Kegagalan sterilisasi dapat dihindari dengan jalan mengikuti semua ketentuan dan prosedur pelaksanaan sterilisasi meliputi penggunaan alat dan pelaksanaan prosedur sterilisasi. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral. Setelah itu dilanjutkan dengan merendam eksplan dalam larutan Chlorox 5.

Saran Dari pembahasan dan kesimpuan yang telah ditarik. saran yang dapat penulis sampaikan untuk praktikum-praktikum yang akan dating tentang pembuatan larutan stock. Selain itu. Pada tahap sterilisasi harus diperhatikan betul tahapan-tahapan dan prosedur sterilisasi agar dapat meminimalisir kegagalan sterilisasi. Pada pembuatan media harus diperhatikan jenis eksplan yang akan dikulturkan sehingga dapat memilih dan menentukan media yang tepat yang akan digunakan. Syarat utama keberhasilan kultur in vitro adalah menghindari kontaminasi yang dapat terjadi pada setiap saat dalam masa kultur .hormon.  23 . tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. metode ultrafiltrasi dengan menggunakan filter milipore (digunakan untuk hormone dan ZPT). metode sterilisasi laminar air flow cabinet menggunakan sinar UV. dan sterilisasi yaitu antara lain : 1. 2. baik jenisnya maupun jumlahnya. eksplan. media tanam. dan lain-lain. Agar kontaminasi tidak terjadi maka faktor-faktor tersebut harus berada dalam kondisi aseptik. metode sterilisasi dikelompokkan dalam metode sterilisasi pemanasan kering menggunakan oven. Larutan stok sebaiknya dibuat untuk menghindari terjadinya kesalahan penimbangan sebab bahan-bahan kimia untuk membuat media diperlukan dalam jumlah yang sedikit. Kondisi aseptik dapat dicapai dengan metode sterilisasi. Kontaminasi umumnya disebabkan oleh sterilisasi media yang kurang sempurna. Secara umum. diperlukan juga bahan tambahan seperti agar. lingkungan kerja dan pelaksanaan atau cara kerja saat penanaman (kecerobohan pelaksana). gula. metode sterilisasi dengan bahan kimia bisa menggunakan alkohol 70 % atau 80 %. metode sterilisasi pemanasan basah menggunakan autoklaf. molekul-molekul atau benda-benda asing berukuran kecil yang jatuh atau masuk ke dalam botol kultur setelah penanaman dan ketika diletakkan di ruang kultur. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi. 3.

Buku Petunjuk Praktikum Kultur Jaringan.ac. Tissue Culture techniques for Horticultural Crops. 2004.C. P. Diakses 15 Desember 2007 Bernice.ht 24 .unram. Nomor 1. Jurnal Agrosains 19(2) : 103-109.com http://elearning. http://www. Torres. Yuniastuti.id/KulJar/BAB%20IV%20STERILISASI/IV2%20Sterilisasi %20Alat. Kultur Jaringan Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern. Von Hostrand Reinheld. M.sinarharapan.wikipedia. Na’iem. USA: Timber Press Rahardja. 2006.2008. T dan M. Pengaruh Jenis Media dan Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Perakaran pada Kultur Jaringan Cendana (Santalum album Linn.id/ind/?ch=isti&id=211 http://www. Tissue Culture Technique. Husni. Martin. 2004 Herawan. Surakarta : UNS Press http://www. Plants from Test Tubes. K.1994. A. 1997. Kyte.net. USA : Boston University Buletin Teknik Pertanian Vol. New York. Perbanyakan Vegetatif : Kultur Jaringan. Buletin Plasma Nuftah II(1) : 9. 1995. Perbanyakan dan Penyimpanan Tanaman Inggu melalui Kultur Jaringan.iptek. F. Penebar Swadaya. 1996. Jakarta.org/ teknik/veg. Endang. 1989. Lydiane & John Kleyn. 9.).C.DAFTAR PUSTAKA Afriastini.id.

5 dan 9. Beberapa komoditas bunga potong yang menjadi andalan di Indonesia saat ini antara lain: Mawar. Dalam perkembangannya. Tahun Baru dan hari-hari besar lainnya (Hasyim. Mawar berasal dari dataran Cina. Bunga potong sebagai salah satu komoditas pertanian yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. PENDAHULUAN 1. Gladiol. Krisan. Meningkatnya permintaan ini sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang memberikan peluang besar untuk pengembangan usahatani dan pemasaran tanaman hias serta bunga potong. 1989 dalam Effendie. Permintaan nasional akan tanaman hias dan bunga potong meningkat tidak kurang dari 10% setiap tahunnya. Latar Belakang Mawar (Rosa sp. Anggrek. menyebar luas dari daerah-daerah beriklim dingin (subtropis) dan panas (tropis).ACARA II KULTUR JARINGAN MAWAR (Rosa sp) A. telah diusahakan secara komersial sejak lama dalam upaya memenuhi permintaan yang semakin meningkat. 1994). Permintaan bunga potong semakin meningkat pada saat menjelang Idul Fitri. Di Indonesia yang merupakan salah satu wilayah pemasok konsumen tanaman hias secara Nasional adalah Jawa Tengah dan Jawa Barat serta Jawa Timur. Sedap malam dan Anthurium. 25 . Lily.) merupakan tanaman bunga hias berupa herba dengan batang berduri. Gladiol dan Lily masing-masing menduduki peringkat 1. Hari Natal. Permintaan bunga potong Mawar. Timur Tengah dan Eropa Timur.

Okulasi mata tunas dilakukan pada saat kulit batang bawah mudah dikelupas. terutama mawar di Indonesia tergolong lambat karena adanya kendala dalam penyediaan bibit. Konsumen akan cenderung memilih produk yang mempunyai kualitas lebih tinggi.Mengingat manfaat bunga yang demikian besar. stek. Mawar merupakan komoditas hortikultura yang bernilai tinggi. Selain itu. Pada saat 26 . umbi. Metode perbanyakan bunga potong yang dilakukan oleh petani saat ini masih menggunakan teknologi pebanyakan melalui benih. hal ini akan merugikan petani apabila ketersediaan varietas unggul di tingkat petani tidak disediakan dan terdesak oleh komoditas import. yang banyak diminati konsumen dan dapat dibudidayakan secara komersial. dan mata tempel akan menghasilkan tanaman yang mempunyai sifat sama dengan induknya tetapi bibit yang dihasilkan relatif sedikit dan memerlukan waktuyang lama. Perbanyakan mawar bunga potong umumnya diperbanyak secara okulasi. sudah saatnya memproduksi bunga yang berkualitas. Indikasi ini terlihat dari permintaan konsumen terhadap bunga potong bukan saja terjadi pada hari-hari besar tetapi kini bunga potong dibutuhkan hampir setiap hari (Sanjaya. kegiatan penelitian tanaman hias yang semakin berkembang belum diimbangi dengan kegiatan pengelolaan atau konservasi plasma nutfah yang memadai. Salah satu kendala yang dihadapi petani bunga potong antara lain ketersediaan bibit yang bermutu. Bibit yang bermutu adalah bibit yang mempunyai sifat unggul dan seragam. sedangkan secara generatif hanya ditujukan untuk pemuliaan. Salah satu alternatif yang mampu menjawab tantangan tersebut adalah dengan menggunakan teknologi perbanyakan secara kultur jaringan (in vitro). 1996). Permintaan mawar sebagai bunga potong meningkat pada hari raya dan keagamaan dan tahun baru. okulasi mata tunas atau okulasi mata berkayu. stek dan sambungan mata tempel. sedangkan perbanyakan menggunakan umbi. yang tersedia di pasar. Permintaan pasar sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas komoditas yang dihasilkan petani.) biasa diperbanyak secara vegetatif. Teknologi tersebut ternyata belum mampu menjawab tantangan untuk mengantisipasi berkembangnya agribisnis bunga potong. Pengembangan bunga potong. Mawar (Rosa hybrida L. Perbanyakan menggunakan benih akan menghasilkan tanaman dengan keragaman yang tinggi.

Salah satu cara perbanyakan yang lebih efisien. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. Dengan cara ini okulasi dapat dilakukan pada stek batang bawah yang belum berakar ataupun yang sudah berakar. Tujuan Praktikum acara kedua ini bertujuan untuk : a. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan mawar.) digunakan bahan tanam berupa ruas-ruas batang muda tanaman mawar. Penggunaan ruas batang muda mawar bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. artinya organ tersebut masih aktif membelah. b. Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan tipis.tersebut sel-sel tanaman dan sel-sel kambium tersebut sedang dalam keadaan aktif. tidak memerlukan ruangan yang luas dan mencegah penularan penyakit sistemik.Pelaksanaan dari teknik okulasi mata berkayu hampir sama dengan okulasi mata tunas. Perbanyakan mawar dengan teknik kultur jaringan merupakan salah satu alternatif unggul perbanyakan tanaman yang dapat menyediakan bibit tanaman dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang cepat. 27 . Pada kultur jaringan mawar (Rosa sp. Eksplan yang akan digunakan pada praktikum kali ini adalah mawar (Rosa sp) yaitu bagian batangnya. Namun demikian sebaiknya okulasi mata tunas dilakukan setelah batang bawah berumur lebih dari satu bulan. hanya pada okulasi mata berkayu tidak harus menunggu batang bawah mudah dikelupas. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. 2. Selain itu. Mengetahui teknik perkembangbiakan atau mengembangbiakkan mawar secara teknik kultur jaringan (in vitro). Cara ini merupakan gabungan dari penyetekan dan penyambungan (grafting) yang dilakukan pada saat yang bersamaan. yang sekarang banyak dilakukan pengusaha benih/bibit mawar di luar negeri adalah stenting.

yaitu diperolehnya bibit yang seragam dalam jumlah besar. Dalam taksonomi. Walaupun jarang ditemui. 2008a). Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. TINJAUAN PUSTAKA Pembentukan tunas adventitif secara langsung menggunakan eksplan potongan batang muda yang memiliki calon tunas samping. selanjutnya diakarkan menjadi planlet. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara II yang berjudul Kultur Jaringan Mawar (Rosa sp) ini dilaksanakan pada : Waktu Tempat : Senin. Dengan adanya sitokinin di dalam medium menyebabkan tunas mengandakan diri secara terus menerus membentuk tunastunas baru dalam jumlah ribuan bahkan jutaan tunas. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Suarakarta B. Adapun tanaman yang telah berhasil diperbanyak antara lain tanaman hias (misal: anggrek dan mawar) (Anonim. mawar diklasifikasikan sebagai berikut. Kingdom Divisi : Plantae : Spermatophyta 28 . Proses ini disebut organogenesis atau dikena juga dengan istilah mikropropagasi.3. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter (Anonim. 2008b). Teknik ini sangat bermanfaat untuk tanaman-tanaman yang diperbanyak secara vegatatif. Perbanyakan tanaman melalui teknik kultur jaringan memeiliki beberapa keuntungan.

Penggunaan mata berdaun pada teknik stenting ini memerlukan penanganan khusus untuk menghindari 29 . bentuk dan baunya berkembangbiak (Ashari. (Sartika. banyak diminati konsumen. Namun demikian sebaiknya okulasi mata tunas dilakukan setelah batang bawah berumur lebih dari satu bulan. yang akhirnya akan meringankan biaya pemeliharaan. Perbanyakan mawar bunga potong umumnya diperbanyak secara okulasi.Pelaksanaan dari teknik okulasi mata berkayu hampir sama dengan okulasi mata tunas. sedangkan secara generatif hanya ditujukan untuk pemuliaan. Cara ini merupakan gabungan dari penyetekan dan penyambungan (grafting) yang dilakukan pada saat yang bersamaan.1990) Mawar berasal dari daerah subtropik pada belahan bumi utara. karena saat penyambungan tidak menunggu batang bawah berakar terlebih dahulu. yang sekarang banyak dilakukan pengusaha benih/bibit mawar di luar negeri adalah stenting. 1996) Mawar (Rosa sp) biasa diperbanyak secara vegetatif. Di daerah sejuk. Dengan cara ini okulasi dapat dilakukan pada stek batang bawah yang belum berakar ataupun yang sudah berakar. bahan tanaman yang digunakan lebih sedikit (satu mata tunas + daun dari batang atas dan satu ruas batang bawah tanpa daun).Beberapa keuntungan dari teknik stenting ialah perbanyakan lebih cepat. ukuran bunga.Salah satu cara perbanyakan yang lebih efisien. Okulasi mata tunas dilakukan pada saat kulit batang bawah mudah dikelupas. serta dapat dibudidayakan secara komersial dan terencana sesuai permintaan.Sub divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Angiospermae : Dicotyledoneae : Rosales : Rosaceae : Rosa : Rosa sp (Gembong Tjitrosoepomo. Mawar (Rosa sp) merupakan komoditas holtikultura yang bernilai ekonomi tinggi. sehingga pada saat tanaman ditanam di lapang tidak tumbuh tunas liar dari batang bawah. hanya pada okulasi mata berkayu tidak harus menunggu batang bawah mudah dikelupas. okulasi mata tunas atau okulasi mata berkayu. Jenis mawar hibrida sebagian besar menyukai teampat yang sejuk (cocok untuk pegunungan). Pada saat tersebut sel-sel tanaman dan sel-sel kambium tersebut sedang dalam keadaan aktif. warna. 1995).

et al. perubahan warna tetap dipertahankan. Medium MS dan modifikasi konsentrasi persenyawaan dengan penambahan auksin dan sitokinin merupakan komposisi media tumbuh yang biasa digunakan untuk inisiasi kalus Keberhasilan perbanyakan massal secara invitro sangat bergantung pada komposisi media tumbuh dan pemilihan bahan eksplan yang tepat tetapi kebutuhan optimal unsur hara dan zat pengatur tumbuh bervariasi antar setiap fase pertumbuhan dan perbanyakan antar varietas dan klon. tanaman asal eksplan tersebut. Setelah diaklimatisasi dan diperbanyak secara konvensional. 2003).id. eksplan yang digunakan dalam kultur mata tunas dapat berasal dari tunas lateral. Cara yang banyak dilakukan untuk mempertinggi kelembaban ini yaitu dengan pengkabutan secara periodik (intermitten misting). 30 . Teknik ini memberikan lapisan air pada permukaan daun dan batang.Katalog teknologi unggulan holtikultura).go. Perubahan sifat genetik yang diekspresikan pada perubahan kelopak dan warna bunga dapat dilihat mulai dari biakan dalam botol. Kultur mata tunas merupakan salah satu teknik in-vitro yang digunakan untuk perbanyakan tanaman dengan merangsang munculnya tunas-tunas aksilar dari mata tunas yang dikulturkan. (Prihardini. Terjadinya perubahan pada kelopak dan warna bunga dapat terjadi karena adanya mutasi pada kumpulan sel somatik dan dapat terekspresi pada sel meristem dan akan membentuk suatu sektor yang stabil (Boertjes dan Van Harten 1978). 1978). Untuk menjamin keperluan tersebut.kelayuan sampai bertautnya kambium serta tum.buhnya akar dan tunas. maka disekeliling daun harus dipertahankan agar selalu dalam keadaan lembab. bahkan varietas.deptan. tunas samping atau bagian dari batang yang mengandung satu atau lebih mata tunas (Allen.Keberhasilan penyambungan sebagian besar disebabkan hubungan kambium yang rapat dari kedua tanaman (batang bawah dan batang atas) yang disambungkan atau terjadinya pertautan/jalinan meristematik antara keduanya. Seperti halnya kultur pucuk. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. merendahkan suhu dan meningkatkan kelembaban sekitar daun.litbang. sehingga akan mengurangi laju respirasi dan transpirasi. (http://holtikultura. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi.

Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro. Bahan Eksplan : mawar (Rosa sp. C. . 2001). Kelebihan teknik tersebut.. ALAT. Untuk saat ini. Bentuk kontaminasi ini biasanya terjadi melalui udara dan dapat disebabkan sterilisasi yang kurang tepat. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi media dan zat penghambat tumbuh terhadap umur simpan dan ketahanan planlet untuk konservasi tanaman mawar Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda jenis bahan kimia atau konsentrasinya. 1994). a. Pembentukan kultivar mawar baru melalui persilangan memerlukan persiapan seperti suhu yang konstan pada siang dan malam hari yaitu 18ºc dan kelembaban udara sekitar 70%. DAN CARA KERJA 1. penyimpanan yang kurang baik serta teknik aseptic yang kurang memadai (Martin.) Media kultur Alkohol 96 % 31 b. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes 2. Bentuk kontaminasi yang paling umum terjadi adalah bakteri dan jamur. BAHAN. dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman. 2004). b. (Marlina. a. dapat menghasilkan tanaman secara kesinambungan atau berkala (Hoesen. Alat LAFC lengkap dengan lampu Bunsen Petridsh dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. Salah satu teknologi alternatif untuk mendapatkan genotipe-genotipe baru yaitu melalui kultur jaringan (Handayati. 2001). Teknik kultur jaringan merupakan salah satu alternatif untuk menyediakan bahan tanam secara massal dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional. mikro. c. c. et al.Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro. kondisi tersebut sulit dicapai karena memerlukan kondisi rumah kaca yang terkontrol.

a. dilanjutkan dengan chlorox 5. tunas. dilakukan pada akhir pengamatan. b. diamati setiap hari Jumlah akar. diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). 32 .25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 3 menit Membilas eksplan dengan aquadest steril Penanaman eksplan Membuka plastik penutup botol media kultur Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. • • • Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja Persiapan eksplan Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. g. • • c. dilakukan pada akhir pengamatan d. daun dan kalus (HST). Setelah digunakan. pinset selalu dibakar diatas api Selama penanaman. • • • Persentase keberhasilan. 3. • • • e. tunas dan daun. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk menghindari kontaminasi Pemeliharaan Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. e. meliputi Saat muncul akar. f.d. kelembaban dan cahayanya Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi Pengamatan selama 5 minggu.

Dithane M-45 dan Agrept 33 . keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Mushage and Skoog (MS). Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah mawar (Rosa sp) yaitu bagian batangnya. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus.) digunakan bahan tanam berupa ruas-ruas batang muda tanaman mawar.D. penggunaan media yang sesuai.1 Saat Muncul Akar Tanaman Mawar Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan.3 gram dalam 100 ml aquadest. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan tipis. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. Pada kultur jaringan mawar (Rosa sp. Penggunaan ruas batang muda mawar bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. artinya organ tersebut masih aktif membelah. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Saat Muncul Akar Tabel 2.

dan mineral. tunas. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. Dalam aktivitas kultur jaringan. maupun kalus. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine).merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur mawar. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. mendorong proliferasi meristem ujung. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. menstimulir terjadinya pembelahan sel. 34 . Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan mawar diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. BAP berperan dalam pembentukan tunas. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. proliferasi kalus. Kontaminasi sangat beragam. vitamin. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan mawar terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula.

Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. 35 . pengirisan. penggunaan bahan sterilisasi.2. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. penggunaan api dan lain-lain. media dan suplemen media yang beragam.2 Saat muncul tunas tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. kuning. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. hijau. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. Saat muncul tunas tanaman mawar Tabel 2. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas.

Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. pengirisan. media dan suplemen media yang beragam. Saat muncul kalus tanaman mawar 36 .3. Saat muncul daun tanaman mawar Tabel 2. kuning. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. 4. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. penggunaan api dan lain-lain. hijau. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. penggunaan bahan sterilisasi.3 Saat muncul daun tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun.

Tabel 2.4 Saat muncul kalus tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus -

Mawar

Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam, hijau, kuning, dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal, media dan suplemen media yang beragam, penggunaan bahan sterilisasi, pengirisan, penggunaan api dan lain-lain.

5. Presentase Keberhasilan
37

Tabel 2.5 Persentase Keberhasilan Kultur Mawar Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%)
0 × 100% = 0% 10

Mawar 0 10 Sumber : Laporan Sementara

Berdasarkan data diatas eksplan mawar memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat, media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. Praktikum acara kultur jaringan mawar ini menggunakan eksplan berupa batang. Media kultur yang digunakan adalah media MS dengan tambahan ZPT berupa BAP dan IBA. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan mawar tidak ada akar, tunas, daun, dan kalus yang muncul. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya; a. Media yang telah terkontaminasi jamur. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. Disamping itu, terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. b. Eksplan yang terkontaminasi. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. c. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. Peralatan – peralatan seperti pinset, botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan
38

pensterilan. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. Dalam praktikum ini, komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Setelah eksplan ditanam, botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu, cahaya dan kelembabannya. Selain ZPT, faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis, umur ontogenik, ukuran eksplan, dan bagian tanaman yang diambil. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi, sel-selnya masih aktif membelah, dan relatif sedikit mengandung kontaminan. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. Pada fase juvenil, pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem, yaitu dapat berupa ujung akar, tunas atau daun muda. E. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum acara II adalah : a. adanya jamur dan bakteri. b. c. d. Penggunaan media yang sesuai dan keadaan yang aseptik mempengaruhi keberhasilan kultur jaringan. Faktor yang penyebab kontaminasi adalah sterilisasi yang kurang sempurna dari media atau eksplan dan kecerobohan manusia. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP.
39

Eksplan dan media terkontaminasi dengan ditandai

e.
f. g.

Fungsi

dari

IBA

yaitu

berpengaruh

dalam

pembentukan akar. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas.
Kematian eksplan disebabkan karena media dan eksplan yang terkontaminasi serta peralatan yang kurang steril.

Pada akhir pengamatan tidak terbentuk akar, tunas, daun, dan kalus. Saran


o

Harus diperhatikan prosedur pelaksanaan sterilisasi baik alat maupun bahan yang digunakan harus disterilisasi sehingga benar-benar steril. Pemeliharaan eksplan harus diperhatikan dengan benar. Sebaiknya bahan eksplan yang digunakan dipilih dari jaringan tanaman yang masih muda (meristem) yang masih aktif membelah.

o

o

DAFTAR PUSTAKA
40

kuljar. D. M. Mawr Hias. ---------.deptan. Jurnal Ilmiah : Berita Biologi.M. N. Marlina. Martin. http://warintek.Gembong. Purnomo.Yogyakarta : UGM Press http://holtikultura. E. 2004. Diakses tanggal 18 Desember 2008. Applied Mutation Breeding for Vegetatively Propagated Crops. Elsevier. Anonim. Perbanyakan dan penyimpanan Kultur Sambung Nyawa(Gynura procumbers) dengan Teknik In Vitro. http://www.com. Ilmiah : Berita biologi. How To Growth Roses. I. Id : diakses tanggal 2007 Ashari. 1995. P. B.Katalog teknologi unggulan holtikultura 15 Desember ACARA III KULTUR JARINGAN WORTEL (Daucus carota) 41 . Handayati. Nedherland.Allen. S. C.Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. 2008a.org/wiki/Mawar.. Birkhavser Inc. Anonim.id. Nina. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk Konservasi In Vitro Mawar (Rosa sp. 2003. 2004.go. California.biogenonline. Or.1949. Lane Magazine and Book Company. 345 p. 5(4) 279-285. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk konservasi in vitro mawar (Rossa sp). Marlina. D. 1978. Mawar. 2008b. http://id. Vol 5(2):15-24. Jurnal Penelitian Hortikultura.progressio. Hortikultura Aspek Budidaya. Tissue Culture Techniques : An Introduction. Hoesen. Purnamaningsih. W. Jakarta.E. 2004. Mariska dan R. diakses tanggal 15 Desember 2007. Boertjes. Darliah. Buletin Teknik Pertanian Vol 9 No. http://www.pustaka -deptan. Sudaryono dan S. USA.). Peningkatan Keragaman Genetik Mawar Mini Melalui Kultur In Vitro dan Iradiasi Sinar Gamma. T. Boston.go. 1978. Indonesia University Press. 2001.R. 2001. 5(4) : 365-371. Sumeru. Anonim. Prihardini.id. 18 Desember 2008. and A. Van Harten. Tjitrosoepomo. 1994. Diakses tanggal. Komposisi Media dan Eksplan Untuk Inisiasi Poliferasi Salak Secara Invitro. J. 1. H.litbang. Biologi Sel dan Jaringan.

yakni tanaman tumbuh subur normal. Di Indonesia kondisi seperti itu biasanya terdapat di daerah berketinggian antara 1. buah berumur tua. dan kotiledon dalam keadaaan sehat. Benih yang akan dijadikan bibit harus dipilih benih yang baik. Wortel (Daucus carota) merupakan tanaman sayuran dataran tinggi yang telah lama dikenal petani di Indonesia selain bawang putih. Wortel tidak tahan disimpan sebagai benih lebih dari satu bulan sejak berkecambah di pohon karena tidak memiliki masa dormansi sehingga diduga wortel termasuk dalam rekalsitran tinggi (highly rekalsitran). terletak pada batang utama.5. bermutu. labu siam. Perbanyakan tanaman wortel selama ini dilakukan secara generatif dengan penanaman umbi akar yang matang dan telah berkecambah. kubis. Latar Belakang Wortel merupakan tanaman subtropis yang memerlukan suhu dingin (22-24° C). lembap. Berdasarkan ciri fisiknya diduga benih wortel tergolong sebagai benih rekalsitran dengan karakteristik kadar airnya tinggi sehingga mudah terkontaminasi mikroba dan lebih cepat mengalami kemunduran.500 m dpl. lobak dan tomat. Perbanyakan tanaman dengan cara vegetatif adalah dengan stek yang telah berakar sempurna yang diperoleh dari batang yang muda namun cara ini jarang dilakukan karena produksi dan produktivitas buahnya rendah. tanah perlu dikapur. mempunyai ciri-ciri fisik yang baik. PENDAHULUAN 1. Benih yang baik dihasilkan dari pohon induk yang baik. Tanah yang kurang subur masih dapat ditanami wortel asalkan dilakukan pemupukan intensif. berbuah lebat stabil. dan cukup sinar matahari. Dianjurkan untuk menanam wortel pada tanah yang subur. Bila demikian.200-1. karena tanah yang asam menghambat perkembangan umbi. Umumnya benih rekalsitran tidak mempunyai masa dormansi proses metabolisme perkecambahan berjalan terus (Copeland dan McDonald 1995) bahkan benih wortel dapat berkecambah ketika masih di pohon (perkecambahan dini) atau bersifat vivipary. Kebanyakan tanah dataran tinggi di Indonesia mempunyai pH rendah. gembur dan kaya humus dengan pH antara 5. sawi . Sekarang wortel sudah dapat ditanam di daerah berketinggian 600 m dpl. Buah yang dipakai sebagai benih merupakan panenan pertama. umur tanaman cukup dan keadaan tanaman sehat tidak berpenyakit atau terserang hama.A.5-6. dan 42 .

Penelitian mengenai kandungan gizi kegunaan dan jumlah species wortel telah banyak dilakukan di Luar Negeri seperti di Negara Amerika Tengah. dapat menyediakan bibit dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat. 43 . 3. buah telah berakar dan berkecambah sepanjang 2-4 cm dengan daun sepasang. terletak di bagian tengah batang atau pada batang pokok. Benih wortel yang digunakan untuk perbanyakan tanaman beratnya rata-rata 300-400 gram dengan kondisi voluminous dan resiko kerusakan yang tinggi. 20 Oktober 2008. eksplan yang digunakan untuk kultur jaringan adalah umbi akarnya. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara kedua ini yaitu Kultur jaringan wortel dilaksanakan pada : Waktu : Senin. 2. benih tidak diserang hama dan penyakit. b. Selama ini benih wortel dikembang biakkan dalam bentuk umbi yang sudah berkecambah dan sehat pada umur 42 hari setelah anthesis (HSA). Tujuan Tujuan praktikum ini adalah : a. Untuk memenuhi permintaan pasar yang banyak dapat dilakukan perbanyakan dengan kultur jaringan. jaringan floem dan sekitarnya. Transportasi benih dari daerah pertanaman wortel yang menyebar ke seluruh wilayah Indonesia merupakan hal yang sulit. Dalam praktikum kultur jaringan wortel ini. Mengetahui teknik kultur jaringan wortel.umbi wortel yang di ambil langsung dari lapangan jauh lebih baik dari pada yang dibeli dari pasar. dan lebih baik jika memakai jaringan cambium.bentuknya normal. ukuran benih seragam. Masih banyak permasalahan yang belum diketahui pada benih wortel khususnya mengenai fenomena vivipary wortel varietas lokal daerah Cipanas yang merupakan daerah sentra wortel. Kultur jaringan merupakan salah satu alternatif perbanyakan tanaman secara vegetatif yang memiliki keunggulan antara lain. Mengetahui pengaruh IBA dan BAP terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan wortel.

Umbi akar wortel berwarna khas oranye. A karena memiliki kadar karotena (provitamin A). Linn. . yakni wortel yang memiliki umbi akar berbentuk bulat panjang dan rasanya manis. . wortel juga mengandung vit. yakni wortel hasil kornbinasi dari jenis wortel imperator dan chantenang.jenis chantenang. kurang lebih pada ketinggian 1200 ineter di atas permukaan laut. yakni wortel yang memiliki umbi akar berukuran panjang dengan ujung meruncing dan rasanya kurang manis. B. Batang bunga tumbuh setinggi sekitar 1 m. Menurut para botanis.Tempat : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Selain itu.b) Sayuran ini sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia dan populer sebagai sumber vit. B. wortel (Daucus carota) dapat dibedakan atas beberapa jenis. Wortel mempunyai batang daun basah yang berupa sekumpulan pelepah (tangkai daun) yang muncul dari pangkal buah bagian atas (umbi akar). Terutama di daerah pegunungan yang memiliki suhu udara dingin dan lembab.) . Bagian yang dapat dimakan dari wortel adalah bagian umbi atau akarnya.2008. (Anonim. dengan bunga berwarna putih. 44 . Wortel adalah tumbuhan biennial (siklus hidup 12 .jenis mantes. di antaranya: WORTEL (Daucus carota.jenis imperator. TINJAUAN PUSTAKA Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan jenis sayuran umbi yang biasanya berwarna jingga atau putih dengan tekstur serupa kayu.24 bulan) yang menyimpan karbohidrat dalam jumlah besar untuk tumbuhan tersebut berbunga pada tahun kedua.2008. Kerajaan: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Apiales Famili: Apiaceae Genus: Daucus Spesies: Daucus carota (Anonim. mirip daun seledri. Tumbuhan wortel mernbutuhkan sinar matahari dan dapat turnbuh pada sernua musim. Wortel menyukai tanah yang gembur dan subur.a) Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan sayur yang ditanam sepanjang tahun.

dapat diterapkan untuk kultur jaringan. Kultur jaringan (sel) adalah mengkultur/membiakkan jaringan (sel) untuk memperoleh individu baru. chantenay yang tumpul.c) Wortel berumbi sedang memiliki tiga bentuk. Penelitian mereka pada tembakau mengindikasikan bahwa perbandingan auksin dan sitokinin yang tinggi akan menginduksi pengakaran. berakar tunggang yang bentuk dan fungsinya berubah menjadi umbi bulat dan memanjang. (Anonim. (Anonim. Proses ini diawali oleh hormon pertumbuhan. Pada tahun 1957. G. berkulit tipis. memanjang seperti kerucut dengan ujung umbi bertipe imperator (meruncing). Sifat TOTIPOTENSIAL tanaman. (Lydiane Kyte.vit. sedangkan rasio sebaliknya akan menginduksi pembentukan tunas. baik sendiri maupun dalam kombinasi dengan asam naftalenasetat atau asam indolasetat dan kadang dengan asam giberelat.2008. Sosok tanamannya berupa rumput dan menyimpan cadangan makanannya di dalam umbi. Bensil adenin dan sitokinin. menyebabkan diferensiasi dan pembentukan tunas (Moore. Wortel berumbi panjang berbentuk kerucut dengan ujung bertipe imperator atau meruncing. C. Steward menggunakan jaringan floem akar wortel. Mempunyai batang pendek. sedikit vit. dan jika dimakan mentah terasa renyah dan agak manis. Pada tahun 1939. Umbi berwarna kuning kemerah-merahan. Bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi atau bahan kimiawi. serta zat-zat lain yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. memanjang seperti silinder dengan ujung umbi bertipe nantes. Whiter melaporkan keberhasilannya dalam membuat kultur kalus dari wortel (link to kultur kalus wortel) dan tembakau.2008. sel atau kalus menjadi tunas dan tanaman sempurna. Dari pihak lain. tulisan penting Skoog dan Miller dipublikasikan dimana mereka menyatakan bahwa interkasi kuantitatif antara auksin dan sitokinin menentukan tipe pertumbuhan dan morfogenik yang akan terjadi.d) Kultur jaringan tanaman pertama kali berhasil dilakukan ole White pada thaun 1934. 1990). Pemilihan metode didasarkan pada sifat bahan yang akan 45 . Penemu F. Organogenesis adalah proses yang menginduksi pembentukan jaringan. Akan tetapi pola respon ini tidak berlaku universal.C.1996 : 128) Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah.

Media tumbuh untuk kultur in vitro diusahakan mempunyai kondisi lingkungan yang terkontrol. Yang umum digunakan secara rutin di laboratorium adalah menggunakan panas (Hadioetomo. tunas samping atau bagian dari batang yang mengandung satu atau lebih mata tunas (Allen. alkohol dan hormon (Widiastuti dan Anggraini. membentuk akar atau tunas. serta dapat mempengaruhi kestabilan genetic tanaman (Wetter and Corstabel. air. mendorong morfogenesis kalus. Setelah diaklimatisasi dan diperbanyak secara konvensional. Kultur mata tunas merupakan salah satu teknik in-vitro yang digunakan untuk perbanyakan tanaman dengan merangsang munculnya tunas-tunas aksilar dari mata tunas yang dikulturkan. menghambat kerja sitokinin. bahan organik. Medium MS dan modifikasi konsentrasi persenyawaan dengan penambahan auksin dan sitokinin merupakan komposisi media tumbuh yang biasa digunakan untuk inisiasi kalus Keberhasilan perbanyakan massal secara invitro sangat bergantung pada komposisi media tumbuh dan pemilihan bahan eksplan yang tepat tetapi kebutuhan optimal unsur hara 46 . Dalam aktivitas kultur jaringan. bahkan varietas. Sebagian besar kultur aseptik tidak mampu melakukan fotosintesis sehingga diperlukan sumber karbon dalam bentuk sukrosa atau glukosa. eksplan yang digunakan dalam kultur mata tunas dapat berasal dari tunas lateral. perubahan warna tetap dipertahankan. 1990). serta hara mineral.disterilkan. tanaman asal eksplan tersebut. 1982). auksin sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus. Seperti halnya kultur pucuk. vitamin. 1978). mendorong proses embryogenesis. 1994). membentuk klorofil dalam kalus. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. Perubahan sifat genetik yang diekspresikan pada perubahan kelopak dan warna bunga dapat dilihat mulai dari biakan dalam botol. Terjadinya perubahan pada kelopak dan warna bunga dapat terjadi karena adanya mutasi pada kumpulan sel somatik dan dapat terekspresi pada sel meristem dan akan membentuk suatu sektor yang stabil (Boertjes dan Van Harten 1978).

seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. c. c. mikro. Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro. (Prihardini.25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 . d. BAHAN. ALAT. g. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi media dan zat penghambat tumbuh terhadap umur simpan dan ketahanan planlet untuk konservasi tanaman mawar Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda jenis bahan kimia atau konsentrasinya. f. C. b. Bahan Eksplan : nanas (Ananas comosus ) dan wortel (Daucus carota) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja a. 2003). (Marlina. Persiapan eksplan b. et al. LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridsh dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. 2004). a. e. dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman. DAN CARA KERJA Alat a. Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. dilanjutkan dengan chlorox 5. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • Membilas eksplan dengan aquadest steril 47 b.dan zat pengatur tumbuh bervariasi antar setiap fase pertumbuhan dan perbanyakan antar varietas dan klon. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro.

tunas dan daun. dilakukan pada akhir pengamatan f.c. D. dilakukan pada akhir pengamatan. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Persentase keberhasilan. Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. meliputi • • • Saat muncul akar. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk Setelah digunakan. Pengamatan selama 5 minggu. menghindari kontaminasi. Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. diamati setiap hari Jumlah akar. Selama penanaman. Saat Muncul Akar 48 . Penanaman eksplan • • • Membuka plastik penutup botol media kultur. pinset harus selalu dibakar diatas api. d. e. diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). kelembaban dan cahayanya. daun dan kalus (HST). tunas. Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur.

Tabel 3.3 gram dalam 100 ml aquadest. Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan floem dan cambium di sekitarnya. 49 . Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). Pada kultur jaringan wortel (Daucus carota) digunakan bahan tanam berupa bagian tengah dari umbi akarnya yang berwarna kuning. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. penggunaan media yang sesuai. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. artinya organ tersebut masih aktif membelah. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah wortel (Daucus carota) yaitu bagian umbi akarnya. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur wortel. Penggunaan bagian tengah dari umbi akar wortel yang berwarna kuning oranye ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi.1 Saat Muncul Akar Tanaman Wortel Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan.

vitamin.Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. hitam. menstimulir terjadinya pembelahan sel. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan 50 . IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan wortel diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. vitamin. daun. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. dan mineral. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan wortel terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. tunas. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. BAP berperan dalam pembentukan tunas. Pada penanaman eksplan wortel tidak ada yang membentuk akar. mendorong proliferasi meristem ujung. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. dan mineral. proliferasi kalus. Dalam aktivitas kultur jaringan. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. Pada penanaman eksplan wortel semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. tunas. maupun kalus. dan putih. Kontaminasi sangat beragam. maupun kalus. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula.

Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. 2. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. penggunaan bahan sterilisasi. hijau. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Saat Muncul Tunas Tabel 3. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas.berulang-ulang menggunkan spirtus. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. media dan suplemen media yang beragam. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. kuning. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. penggunaan api dan lain-lain. pengirisan.2 Saat muncul tunas tanaman wortel Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. Hasil-hasil 51 . Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal.

zat pengatur tumbuh. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan.penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. bahkan varietas. Saat muncul kalus Tabel 3. tanaman asal eksplan tersebut. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. komposisi media. media dan suplemen media yang beragam. penggunaan bahan sterilisasi. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. lingkungan kultur. seperti kebutuhan nutrisi. penggunaan api dan lain-lain. dll. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. hijau. Oleh karena itu. Saat muncul daun Tabel 3. kuning. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal.4 Saat muncul kalus tanaman wortel 52 . Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. 3. pengirisan. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. 4. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media.3 Saat muncul daun tanaman wortel Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun.

Presentase keberhasilan Tabel 3. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. media dan suplemen media yang beragam. 5. penggunaan api dan lain-lain. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri.5 Persentase Keberhasilan Kultur Wortel Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 53 . dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media.Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - Wortel Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. kuning. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. pengirisan. hijau. penggunaan bahan sterilisasi. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus.

d. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. 54 . Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Peralatan – peralatan seperti pinset. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. daun. f. Praktikum acara kultur jaringan wortel ini menggunakan eksplan berupa bagian tengah atau jaringan floem dari umbi akar. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. Disamping itu. Eksplan yang terkontaminasi. e. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. dan kalus yang muncul. tunas.Wortel 0 10 Sumber : Laporan Sementara 0 × 100% = 0% 10 Berdasarkan data diatas eksplan wortel memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan wortel tidak ada akar. Media kultur yang digunakan adalah media MS dengan tambahan ZPT berupa BAP dan IBA. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. Media yang telah terkontaminasi jamur. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan.

Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama 55 . dll. yaitu dapat berupa ujung akar. Setelah eksplan ditanam. lingkungan kultur. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Pada fase juvenil. tunas atau daun muda. seperti kebutuhan nutrisi. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. zat pengatur tumbuh. Selain ZPT. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem. komposisi media. Oleh karena itu. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. ukuran eksplan.Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. Dalam praktikum ini. cahaya dan kelembabannya. sel-selnya masih aktif membelah. dan relatif sedikit mengandung kontaminan. umur ontogenik. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. bahkan varietas. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. dan bagian tanaman yang diambil. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. tanaman asal eksplan tersebut. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu.

KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Dari praktikum kultur jaringan wortel yang telah dilakukan. California. c. d. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal mungkin. D. Persentase keberhasilan dari kultur jaringan wortel adalah 0 %  Saran Untuk meningkatkan presentase keberhasilan. Lane Magazine and Book Company. How To Growth Roses. Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. E. DAFTAR PUSTAKA Allen. Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat.E. baik untuk peralatan maupun media itu sendiri. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan.http://en. b.2008. 3 ulangan terdapat jamur. Pada kultur jaringan wortel. medianya berwarna kuning. Anonim. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman. e. USA.org/wiki/wortel 56 . sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan.Wortel. 1978. dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a. 2 ulangan terdapat bakteri dan 2 ulangan. Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. dari 10 eksplan yang ditanam tidak ada yang berhasil tumbuh.wikipedia.

Plant Tissue Culture Methods.R.Katalog teknologi unggulan holtikultura ACARA IV KULTUR JARINGAN NANAS (Ananas comosus) A.http://plantasia. 1. Jurnal Penelitian Hortikultura.2008. R and F. Hadioetomo. Meldia. 2003. Buletin Teknik Pertanian Vol 9 No.litbang. S. Marlina. S. 1982. Elsevier. I. Springer-Verlag. 1994. Corstabel. Pengaruh Air Kelapa Terhadap Pembentukan Protocorm Like Bodies (PLBS) dari Anggrek Vanda dalam Medium Cair. 2004. T. 2003. D dan Anggraini.id/ind/pd_tanobat /view. Purnomo.deptan. Gramedia. http://www.Anonim. Y. 1990..com Boertjes.2008. Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Nanas. Widiastuti. Jakarta..Perbanyakan tanaman wortel. Prihardini. N. T. Komposisi Media dan Eksplan Untuk Inisiasi Poliferasi Salak Secara Invitro. PENDAHULUAN Latar Belakang 57 . 1978. Berlin. dan Kartono. Hardiati.go. Sudaryono dan S. J. Biochemistry and Physiology of Plant Hormone. Moore. L. Sukmayadi. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk konservasi in vitro mawar (Rossa sp). Nedherland.net. 1990. The Prairie Regional Laboratory of The National Research.M. P. Purnomo.iptek. and A. 345 p. C. Van Harten. Hort 13(3) : 157-168. http://holtikultura. Jurnal Hortikultura. Vol 4(2):71-73. Vol 5(2):15-24. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium.php? mnu=2&id=150 Anonim.id. S. Wetter.C.E.Teknik Perbanyakan tanaman Wortel. Mikrobia Dasar Dalam Praktek. 1. Applied Mutation Breeding for Vegetatively Propagated Crops. P.S.cybermediaclips.

Untuk skala industri. karena nenas (Ananas comusus (L. sehingga meningkatkan pendapatan devisa negara dan selanjutnya akan berkait dengan peningkatan pendapatan pelaku-pelaku agribisnis tanaman nenas. Salah satu komoditas yang dikembangkan adalah nenas. potensi agroklimat dan luasan lahan yang tersedia sangat memadai. Perbanyakan melalui kultur jaringan merupakan metode alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. atau modifikasi antara keduanya. Permasalahan yang dihadapi agribisnis tanaman nenas antara lain: 1. Salah satu komponen yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan tanaman dalam kultur jaringan adalah keadaan media secara fisik. yaitu media padat. Nanas merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas. Buah nanas selain dikonsumsi segar juga diolah menjadi berbagai macam makanan dan minuman. perbanyakan secara konvensional kurang efektif karena jumlah bibit yang dihasilkan sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang relatif lama. buah dalam sirop dan lain-lain.) Merr. ketersediaan varietas lokal yang potensial untuk komersialisasi. perbanyakan secara konvensional kurang efektif karena jumlah bibit yang dihasilkan sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang relatife lama. sehingga disukai masyarakat luas. oleh karena adanya keengganan para peneliti melakukannya. Rasa buah nanas manis sampai agak masam segar. media cair. Hal ini karena kegiatan pengembangan varietas dalam pengertian pemuliaan tanaman belum banyak dilakukan. yang disebabkan perlunya waktu yang relatif lama untuk memperoleh hibrida unggul hasil 58 . Untuk skala industri. padahal sebagai negara yang berada di wilayah tropik. seperti selai. Peran Indonesia dalam pasar global nenas belum berarti.Nenas (Ananas comosus L. Merr. Apabila potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimum maka nenas dapat dijadikan buah-buahan andalan. terutama untuk konsumsi segar. Varietas nenas yang ada saat ini umumnya belum dapat memenuhi standar mutu yang disyaratkan dalam pengembangan skala industri. maupun konsumsi dalam negeri.) merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas.) merupakan salah satu dari tiga buah terpenting dari wilayah tropika. Perbanyakan melalui kultur jaringan merupakan metode alternatife untuk memecahkan masalah tersebut. baik untuk ekspor.

sehingga memerlukan peremajaan secara teratur dan dukungan teknologi perbanyakan bibit yang mampu menjamin keseragaman dalam waktu yang cepat. Waktu dan Tempat Praktikum 59 . 2. Belum tersedianya paket teknologi produksi dan pasca panen bagi optimasi produktivitas. dan material genetik untuk keperluan pemuliaan tanaman masih belum tersedia. eksplan yang digunakan adalah bagian atas dari bonggol nanas yang berwarna putih yang merupakan bagian dari ibu tangkai bunga nanas.persilangan. Dalam praktikum kultur jaringan nanas ini. Pada saat ini masih dihadapi masalah ketidakseragaman ukuran dan ketidaksesuaian bentuk buah dan waktu panen sehingga proses pengolahan nenas. Masih rendahnya penerimaan konsumen terhadap nenas yang disebabkan oleh tingginya kadar Ca-oksalat yang memberikan rasa gatal yang tidak nyaman dan mitos bahwa nenas tidak baik bagi wanita dan dapat menyebabkan keguguran. a. Belum tersedianya teknologi pembibitan yang cepat dan menjamin keseragaman dan kestabilan hasil dan kualitas hasil. penjaminan mutu hasil dan upaya mempertahan-kan mutu dalam jangka waktu lebih panjang. 3. Tujuan Mengetahui teknik kultur jaringan nanas dan wortel. terutama pengalengan. 3. padahal tanaman nenas Executive Summary Nenas mengalami penurunan produktivitas setelah tiga generasi bibit. padahal untuk menghasilkan nenas dengan mutu yang baik diperlukan kawalan teknologi. Jenis jaringan yang digunakan adalah jaringan meristem yang masih terus aktif membelah. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan Tujuan dari praktikum kultur jaringan nanas (Ananas comosus) ini adalah : perkembangan eksplan nanas dan wortel. menjadi tidak efisien. 4. b. termasuk untuk memperpanjang daya simpan (shelf life). Terbatasnya teknik budidaya yang diterapkan oleh petani nenas juga menyebabkan kualitas nenas menjadi tidak baik. 2.

TINJAUAN PUSTAKA Varietas cultivar nanas yang banyak ditanam di Indonesia adalah golongan Cayene dan Queen. 2003). Golongan Abacaxi banyak ditanam di Brazilia. Tanaman ini kini dipelihara di daerah tropik dan sub tropik.Praktikum acara kedua ini yaitu kultur jaringan (Ananas comosus) dilaksanakan pada : Waktu Tempat : Senin. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Puerte Rico. Dalam bahasa Inggris disebut pineapple dan orang-orang Spanyol menyebutnya pina. Dewasa ini ragam varietas/cultivar nanas yang dikategorikan unggul adalah nanas Bogor. Nanas berasal dari Brasilia (Amerika Selatan) yang telah di domestikasi disana sebelum masa Colombus. Golongan Spanish dikembangkan di kepulauan India Barat. Di Indonesia pada mulanya hanya sebagai tanaman pekarangan. Memiliki nama daerah danas (Sunda) dan neneh (Sumatera).. merupakan salah satu komoditas buah tropis yang penting bila dilihat dari kegunaan dan nilai ekonomis serta mempunyai kontribusi 8% dari produksi segar dunia. Klasifikasi tanaman nanas adalah: Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus : Plantae (tumbuh-tumbuhan) : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) : Angiospermae (berbiji tertutup) : Farinosae (Bromeliales) : Bromiliaceae : Ananas 60 . dan Indonesia merupakan negara penghasil nanas olahan dan segar terbesar ketiga setelah Thailand dan Philipina (Hardiati et al. dan meluas dikebunkan di lahan kering (tegalan) di seluruh wilayah nusantara. Subang dan Palembang (Anonim. Nanas merupakan tanaman buah berupa semak yang memiliki nama ilmiah Ananas comosus. Nanas (Ananas comosus (L) Merr. Pada abad ke-16 orang Spanyol membawa nanas ini ke Filipina dan Semenanjung Malaysia. (1599). masuk ke Indonesia pada abad ke-15. Mexico dan Malaysia. B. 2008a).

dan 6) stek batang. ujung lancip tepi berduri kecil dan tajam. asam. yaitu dua anakan per tanaman per tahun. Sedangkan kelemahan pengembangan tanaman nanas dengan metode kultur jaringan yaitu : 61 . 4) tunas dasar buah. Bibit yang dihasilkan sehat.Species (Anonim. (Naibaho. Transportasi pengiriman mudah. Bunganya majemuk.50 cm mempunyai batang dalam bentuk roset dengan pangkal yang melebar dan menjadi pelepah.c) : Ananas comosus (L) Merr Herba yang mempunyai batang semu dengan tinggi 30 .2008. Naekman.c) Nenas merupakan salah satu komoditas penting unggulan Indonesia dilihat dari kegunaan dan nilai ekonominya serta mempunyai kandungan gizi yang tinggi. Daun tunggal bentuk pedang.2008. Selain itu perbanyakan nenas dapat dilakukan melalui kultur jaringan. Alternatif yang dapat dilakukan adalah melalui cara teknik kultur jaringan in vitro dan cara stek daun. bentuk malai terdapat di ujung batang berwarna ungu kemerahan. 3) tunas tangkai buah. Indonesia mempunyai peluang yang sangat baik untuk memposisikan diri sebagai salah satu produsen dan eksportir utama produk nenas. Bibit yang dihasilkan relatif seragam. biasanya petani menggunakan bibit yang berasal dari anakan yang tidak diketahui kesehatannya dan tidak seragam. warna hijau kekuningan sampai jingga. permukaan buah seperti sisik atau genting kecil yang tersusun rapi. 5) mahkota buah. Dari beberapa metode perbanyakan yang ada. Perbanyakan tanaman nenas secara umum dapat dilakukan secara vegetatif menggunakan: 1) tunas akar. Keunggulan pengembangan tanaman nanas dengan metode kultur jaringan atau secara in vitro yaitu :     Dapat menyediakan bibit secara cepat dan massal dalam waktu relatif singkat. 2) tunas batang. Daging buah berwarna putih kekuningan mengandung banyak cairan yang rasanya manis. seragam. Ketersediaan bibit anakan juga sangat terbatas. dan lebih mudah untuk pengangkutannya. (Anonim. Kedua teknik ini memungkinkan untuk menyediakan bibit nenas dalam jumlah banyak. harum dan tidak berbiji. 2008). Buah berbentuk menyilinder.

Kendala produksi di lapangan adalah belum tersedianya teknologi bagi pengendalian pertumbuhan vegetatif maupun reproduktif agar produktivitas dan kualitas hasil tinggi. 2008b).2008) Kendala yang dihadapi dalam pengembangan agroindustri nenas antara lain adalah belum tersedianya varietas yang sesuai dengan permintaan industri pengolahan. sehingga belum dapat ditransfer ke pada kalangan petani biasa Tahap-tahap perbanyakan bibit secara kultur jaringan adalah :  Pemilihan pohon induk  Persiapan bahan perbanyakan  Inisiasi  Multiplikasi (regenerasi)  Aklimatisasi  Pembesaran di nursery/pembibitan  Penanaman di lapangan (Darma. keinginan konsumen dan eksportir buah segar. yang pada gilirannya perlu ditunjang dengan penanganan pasca panen yang tepat (Anonim.Kusuma.   Kemungkinan terjadinya variasi somaklonal Proses produksi bibit memerlukan investasi relatif besar Membutuhkan keahlian khusus. Masalah dalam pengembangan nenas adalah penyediaan bibit dalam jumlah banyak secara cepat. karena melalui perbanyakan vegetatif konvensional lajunya sangat lambat. 62 .

1982). Yang umum digunakan secara rutin di laboratorium adalah menggunakan panas (Hadioetomo. serta hara mineral. f. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. vitamin. menghambat kerja sitokinin.Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah. e. Sebagian besar kultur aseptik tidak mampu melakukan fotosintesis sehingga diperlukan sumber karbon dalam bentuk sukrosa atau glukosa. BAHAN. DAN CARA KERJA Alat LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridish dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. Pemilihan metode didasarkan pada sifat bahan yang akan disterilkan. d. 1994). ALAT. c. 1. alkohol dan hormon (Widiastuti dan Anggraini. a. serta dapat mempengaruhi kestabilan genetic tanaman (Wetter and Corstabel. a. Bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi atau bahan kimiawi. air. c. b. membentuk klorofil dalam kalus. 1990). mendorong morfogenesis kalus. C. Dalam aktivitas kultur jaringan. Persiapan eksplan Eksplan : nanas (Ananas comosus ) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja 63 . mendorong proses embryogenesis. Media tumbuh untuk kultur in vitro diusahakan mempunyai kondisi lingkungan yang terkontrol. Bahan a. bahan organik. g. auksin sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus. 2. 3. Dari pihak lain. membentuk akar atau tunas. b.

dilakukan pada akhir pengamatan. Selama penanaman. d. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk c. Penanaman eksplan Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. tunas dan daun. Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. dilanjutkan dengan chlorox 5. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. pinset harus selalu dibakar diatas api. Pengamatan selama 5 minggu. Saat Muncul Akar Tabel 4. diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). D.b.1 Saat Muncul Akar Tanaman Nanas 64 . menghindari kontaminasi. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • • • • Membilas eksplan dengan aquadest steril Membuka plastik penutup botol media kultur. diamati setiap hari Jumlah akar. meliputi • • • Saat muncul akar.25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 Setelah digunakan. Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. kelembaban dan cahayanya. Persentase keberhasilan. tunas. dilakukan pada akhir pengamatan f. daun dan kalus (HST). HASIL DAN PEMBAHASAN 1. e.

Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan 65 . keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. artinya organ tersebut masih aktif membelah. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah nanas (Ananas comosus) yaitu bagian dari bonggol yang berwarna putih yang merupakan ibu dari tangkai bunga sedangkan jaringannya merupakan jaringan meristem yang masih aktif membelah.Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur nanas. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. penggunaan media yang sesuai.3 gram dalam 100 ml aquadest. Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Penggunaan bagian berwarna putih dari bonggol nanas yang berwarna putih ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan.

proliferasi kalus. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan nanas diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. vitamin. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. menstimulir terjadinya pembelahan sel. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. daun. vitamin. dan putih. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan nanas terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi.yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. BAP berperan dalam pembentukan tunas. hitam. mendorong proliferasi meristem ujung. Pada penanaman eksplan nanas semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Kontaminasi sangat beragam. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko 66 . Pada penanaman eksplan nanas tidak ada yang membentuk akar. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. Dalam aktivitas kultur jaringan. Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula. dan mineral. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. tunas. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. tunas. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). maupun kalus. dan mineral. maupun kalus. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus.

terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. penggunaan api dan lain-lain. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. pengirisan. Saat Muncul Tunas Tabel 4.2 Saat muncul tunas tanaman Nanas Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. kuning. 2. media dan suplemen media yang beragam. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. 67 . Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. penggunaan bahan sterilisasi. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. hijau.

Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan 68 . Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. zat pengatur tumbuh. komposisi media. hijau.3 Saat muncul daun tanaman Nanas Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. tanaman asal eksplan tersebut. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. Saat Muncul Daun Tabel 4. seperti kebutuhan nutrisi. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. lingkungan kultur. dll. 3. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. bahkan varietas. kuning. Oleh karena itu. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi.

Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. penggunaan bahan sterilisasi. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna 69 . penggunaan api dan lain-lain. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. media dan suplemen media yang beragam. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Saat Muncul Kalus Tabel 4.4 Saat muncul kalus tanaman nanas Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - nanas Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. hijau. kuning. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. 4. pengirisan. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus.perkembangan eksplan. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media.

penggunaan api dan lain-lain. media dan suplemen media yang beragam. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. tunas. Disamping itu. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. a. pengirisan. daun. 5. 70 .coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. Presentase keberhasilan Tabel 4. penggunaan bahan sterilisasi. Media yang telah terkontaminasi jamur. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan nanas tidak ada akar.5 Persentase Keberhasilan Kultur Nanas Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 0 × 100% = 0% 10 Nanas 0 10 Sumber : Laporan Sementara Berdasarkan data diatas eksplan nanas memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. dan kalus yang muncul. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal.

Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung 71 . Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. Pada fase juvenil.b. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. yaitu dapat berupa ujung akar. dan bagian tanaman yang diambil. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. cahaya dan kelembabannya. Selain ZPT. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem. Peralatan –peralatan seperti pinset. Setelah eksplan ditanam. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. ukuran eksplan. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. sel-selnya masih aktif membelah. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Dalam praktikum ini. Eksplan yang terkontaminasi. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. umur ontogenik. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. c. tunas atau daun muda. dan relatif sedikit mengandung kontaminan.

baik untuk peralatan maupun media itu sendiri.  Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. 3 ulangan terdapat jamur. dari 10 eksplan yang ditanam tidak ada yang Kesimpulan Dari praktikum kultur jaringan nanas yang telah dilakukan. 2 ulangan terdapat bakteri dan 2 ulangan. bahkan varietas. dll. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. medianya berwarna kuning. tanaman asal eksplan tersebut.  Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. lingkungan kultur. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. sebagai berikut :  Pada kultur jaringan nanas. Saran Untuk meningkatkan presentase keberhasilan. E. komposisi media.  Persentase keberhasilan dari kultur jaringan nanas adalah 0% 2. seperti kebutuhan nutrisi.  Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat. dapat ditarik kesimpulan berhasil tumbuh. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal 72 . Oleh karena itu. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. KESIMPULAN DAN SARAN 1.dari spesies. zat pengatur tumbuh. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman.

rusnasbuah. Nanas (Ananas comosus). 2008b. Gramedia. T. 2003. Diakses tanggal 18 Desember 2008.ristek. Darma. 1994.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=2&doc=2a17. Y.or. Hardiati. Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Nanas. D dan Anggraini. S. Corstabel. Jakarta: Litbang Departemen Pertanian Wetter.iptek. Diakses tanggal 18 Desember 2008. S. 1990. Biochemistry and Physiology of Plant Hormone. Kusuma. Naibaho. Jakarta : Litbang Departemen Pertanian Hadioetomo. Executive Summary Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia Komoditas Nenas. Purnomo.C. S. 2008. Jurnal Hortikultura. Pengaruh Air Kelapa Terhadap Pembentukan Protocorm Like Bodies (PLBS) dari Anggrek Vanda dalam Medium Cair. 2008b. Plant Tissue Culture Methods. 73 .. http://www. The Prairie Regional Laboratory of The National Research. Meldia. Mikrobia Dasar Dalam Praktek. http://www. 2008.warintek. 1990.id. Perbanyakan Massal Nanas dengan Stek Daun. Berlin. Sukmayadi. http://www. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium.S. Diakses tanggal 20 Desember 2008.id.net. Springer-Verlag. 2008a. Anonim.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Vol 4(2):71-73. 1982. Widiastuti. Jakarta. ----------. I. J. Moore. Perbanyakan Massal Nanas secara In Vitro. R and F. L. dan Kartono. P.go. Hort 13(3) : 157-168. Naekman.

dan kultur jaringan (cloning). 1. Perbanyakan tanaman dapat dilakukan secara generatif dengan biji ataupun secara vegetatif dengan setek. Salah satu tanaman hias yang banyak digemari masyarakat saat ini adalah sanseviera. Selain itu. 74 . sumber penghasilan.ACARA V KULTUR JARINGAN SANSIVIERIA A. pemisahan anakan. suatu penelitian juga menunjukkan bahwa tanaman sansiveira dapat bermanfaat untuk menyerap polusi. Sansivieria termasuk tanaman yang sangat mudah perbanyakannya. Ada juga yang menjulukinya snake plant (tanaman ular) mungkin karena corak beberapa jenis tanaman in mirip dengan corak ular. Tanaman hias bagi masyarakat bermanfaat sebagai pengindah rumah atau pekarangan. PENDAHULUAN Latar Belakang Di Indonesia. nama sansivieria lebih dikenal dengan sebutan lidah mertua (mother in-laws-tongue). menyerap polusi sehingga menimbulkan kepuasan tersendiri bagi pemiliknya. Kebutuhan masyarakat akan tanaman hias semakin hari semakin meningkat. cabut pucuk. Sanseviera merupakan tanaman yang unik yang mempunyai sifat berbeda dengan tanaman lain yaitu apabila tanaman ini distek akan menghasilkan tanaman yang berbeda dengan induknya berbeda tanaman kebanyakan yang bila diperbanyak dengan stek maka keturunannya akan sama dengan induk.

Di Indonesia. Meningkatnya permintaan tersebut masih belum dapat terpenuhi akibat petani masih menggunakan perbanyakan secara konvesional yang memerlukan waktu dan bahan tanam dalam jumlah yang banyak. Jenis yang mendominasi adalah pedang-pedangan dan kodok-kodokan. Perbanyakan secara vegetative dari sansivieria dapat diperbanyak menggunakan setek. Sansevieria (Sansevieria trifasciata) termasuk tanaman hias yang mempunyai penggemar di berbagai masyarakat dunia. Selain itu. tidak semua spesies mampu menghasilkan bunga dan biji. pemisahan anakan. Keunggulan perbanyakan tanaman menggunakan biji antara lain dapat diperoleh tanaman dalam jumlah banyak dan seragam serta tidak merusak tanaman induk.Perbanyakan secara generatif dilakukan menggunakan biji. Kelemahan cara generatif ini adalah memerlukan waktu yang lama. tetapi usaha perbanyakan belum cukup memadai maka diperlukan suatu teknik perbanyakan yang lebih efektif yang mampu menghasilkan tanaman dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatif singkat. Dengan semakin meningkatnya permintaan akan tanaman sansiveira. Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkembangkan bagian tanaman. Teknik perbanyakan yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut adalah perbanyakan dengan kultur jaringan. sifat biji sansivieria umumnya diploid sehingga menyebabkan minimal dua keragaman dalam satu biji. Selain itu. Pada praktikum ini eksplan yang digunakan adalah tanaman Sansivieria trifasciata yaitu bagian daun tapi pada bagian bawah yang merupakan jaringan tebal yang meristematis yaitu jaringan yang masih aktif mengalami pembelahan. Cara ini biasanya digunakan oleh para breeder untuk memperoleh hibrida baru. Tujuan Praktikum acara kelima yaitu kultur jaringan sansivieria ini bertujuan untuk : 75 . Teknik yang mungkin digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah secara in vitro. 2. teknik cabut pucuk. sejak tahun 2000 permintaan tanaman ini meningkat pesat dan terus meningkat hingga kini. dan kultur jaringan. baik berupa sel jaringan atau organ tanaman dalam kondisi aseptis secara in vitro.

B. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan sansivieria. TINJAUAN PUSTAKA Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama Lidah Mertua.a. Sanseviera memiliki keistimewaan menyerap bahan beracun. sansiviera bisa tumbuh subur. seperti karbondioksida. dan trichloroethylene. Waktu Tempat Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara kelima yaitu kultur jaringan sansivieria ini dilakukan pada : : Senin. 3. Sekitar 40 persen air saja yang diperlukan tanaman yang berkembang biak melalui umbi lapis ini untuk tumbuh. dan karena ini ada yang menyebut Sansevieria sebagai tanaman pedang-pedangan. Sanseviera kerap ditaruh di sudut dapur atau kamar mandi untuk meredam bau. Mengetahui teknik kultur jaringan sansivieria. (Anonim.2008b) Dibanding tumbuhan lain. Namun dalam kondisi lembap atau basah. Jenis sanseviera yang banyak ditanam adalah Sanseviera trifasciata atau dikenal dengan nama “lidah mertua”. atau sebagai penyekat jalan. Biasanya sansevieria banyak ditanam sebagai pagar rumah. sehingga tahan kekeringan. yaitu jenis yang tumbuh memanjang ke atas dengan ukuran 50-75 cm dan jenis berdaun pendek melingkar dalam bentuk roset dengan panjang 8 cm dan lebar 3-6 cm. Selain sebagai tanaman hias. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Sansevieria dibagi menjadi dua jenis. Kelompok panjang memiliki daun meruncing seperti mata pedang. Sansevieria memang termasuk tanaman hias yang sering disimpan di dalam rumah karena tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi dengan sedikit air dan cahaya matahari. Sekarang ini. formaldehyde. banyak ditemukan ratusan species sanseviera lain yang bentuk dan warna daunnya beragam. b.(Anonim.2008a) Sansevieria termasuk tanaman tropis yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan di Indonesia. Tumbuhan ini berdaun tebal dan memiliki kandungan air sukulen. benzene. 76 .

Mutasi sansevieria juga dapat terjadi dari perbanyakan melalui stek daun. Namun ada juga yang menyebutnya dengan tanaman ular dan pedang-pedangan karena bentuk tanaman ini yang berbentuk seperti ular dan pedang-pedangan (Anonim. 2007). daun berkedudukan seperti roset mengelilingi batang semu. ada yang mengikuti arah serat daun. Penelitian NASA bekerja sama dengan ALCA telah menemukan bukti-bukti bahwa tanaman ini secara alami mampu mengurangi polusi tersebut. Keistimewaan lidah mertua adalah memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan. perak. Dari bentuk hibrid inilah sansevieria akan tercipta dengan karakter dan fisik yang berbeda dari induknya atau yang sering disebut dengan spesies hibrid atau sansevieria hibrid. 77 . dan ada juga yang zig-zag.Warna daun Sansevieria beragam. Motif alur atau garis-garis yang terdapat pada helai daun juga bervariasi. tanaman sansivieria dicirikan dengan daun yang tebal karena kandungan airnya yang tinggi. (Anonim. dan warna kombinasi putih kuning atau hijau kuning. Ditinjau berdasarkan jenisnya sansevieria ada dua jenis yakni yang pertama yaitu sansevieria keturunan asli/spesies sedangkan yang kedua adalah jenis hasil persilangan/hibridasi yang bisa disebut dengan jenis sansevieria hibrid. mulai hijau tua. (W. tidak beraturan.2006) Sanseviera sering dikenal dengan dengan nama lidah mertua “Mother in Law Tongue”.Purwanto. hijau muda. daun berbentuk silinder. Arie. Pada jenis yang lain.2008d) Klasifikasi ilmiah dari sansiviera yaitu : Regnum: Divisio: Kelas: Ordo: Familia: Genus: Plantae Magnoliophyta Liliopsida Asparagales Ruscaceae Sansevieria Secara morfologi. Disebut batang semu karena sesungguhnya sansivieria tidak mempunyai batang. hijau abu-abu. Pada beberapa jenis sansivieria. Jenis yang lain lagi mempunyai helaian daun kaku seperti pedang.

a. cahaya. Jaringan tanaman sansivieria yang dikulturkan dipilih dari jaringan yang masih muda (meristematis). kadar medium. Sedang ukuran eksplan. b. dan cabut pucuk tidak lagi bisa mencukupi. Berhasilnya pertumbuhan tunas terutama tergantung pada sumber jaringan. ALAT.B Juan. Satusatunya cara perbanyakan yang sanggup memenuhi kebutuhan permintaan bibit dalam jumlah besar itu hanyalah kultur jaringan. BAHAN. Jaringan muda umumnya mempunyai kemampuan berdiferensiasi lebih baik. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. 1.1986) C. 78 c.Sebagai teknik kultur jaringan dapat dipahami perkembangannya karena didukung oleh marak dan berkembangnya studi tentang sel. et al. Zat pengatur tubuh sitokinin lebih banyak berperan dibandingkan dengan auksin pada tahap multiplikadi prodiferasi akar. hara. biomolekul dan fisiologi sel. 2005). 2005).. kimia dan biokimia nutrisi. (Chahinian. cara perbanyakan secara konvensional menggunakan stek. Jaringan meristematis ini selanjutnya ditanam di dalam botol yang berisi media buatan. maka akan lebih banyak ditekankan penggunaan ZPT auksin (Supriati. . Perbanyakan sansiviera secara kultur jaringan (tissue culture) bertujuan untuk mendapatkan tanaman dalam jumlah besar dan seragam pertumbuhannya. suhu. dalam lingkungan steril. Pada perkembangan sekarang teknik ini justru banyak membantu lahirnya konsep-konsep baru berbagai cabang ilmu itu sehingga keberadaannya saling menopang dalam perkembangannya (Santoso dan Nursandi. DAN CARA KERJA Alat LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridish dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. tetapi sampai ke tingkat karakterisasi atau kualitas selnya. anakan. Hal tersebut mempunyai pengaruh yang cukup besar (Wetter and Corstabel. waktu inokulasi dan jenis media mempengaruhi pertumbuhan eksplan (Irawati. 1982). Seiring dengan permintaan bibit sansivieria yang semakin meningkat. 2001). Kemampuan regenerasi jaringan tidak hanya tergantung pada umur fisiologinya. dan jenis serta kadar hormon pertumbuhan yang digunakan.

Bahan Eksplan : Sansiviera (Sansivieria trifasciata ) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja b. g. e. menghindari kontaminasi. Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. d. diamati 1 minggu sekali 79 . Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. Penanaman eksplan Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. Persiapan eksplan b. diamati setiap hari Jumlah akar. pinset harus selalu dibakar diatas api. a.25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 Setelah digunakan. Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. kelembaban dan cahayanya. a. daun dan kalus (HST). d. Pengamatan selama 5 minggu. c. tunas dan daun. 3. meliputi • • Saat muncul akar. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk c. tunas. Selama penanaman. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • • • • Membilas eksplan dengan aquadest steril Membuka plastik penutup botol media kultur. f. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu.2. dilanjutkan dengan chlorox 5. e.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Saat Muncul Akar Tabel 5. artinya organ tersebut masih aktif membelah. Penggunaan bagian bawah dari daun yang masi muda ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. 80 . D. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan.• Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). penggunaan media yang sesuai. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. dilakukan pada akhir pengamatan f. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah sansiviera (Sansiviera trifasciata) yaitu bagian dari daun yang masih muda yaitu bagian bawah yang merupakan jaringan meristematik atau jaringan yang masih terus aktif membelah. Persentase keberhasilan. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus.1 Saat Muncul Akar Tanaman Sansiviera Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Sansiviera 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. dilakukan pada akhir pengamatan.

Dalam aktivitas kultur jaringan. Pada penanaman eksplan sansivieria semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. vitamin. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. 81 . Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan sansivieria terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. proliferasi kalus. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. tunas. Kontaminasi sangat beragam. menstimulir terjadinya pembelahan sel. maupun kalus.Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. mendorong proliferasi meristem ujung. dan mineral. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur sansivieria. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan sansivieria diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin.3 gram dalam 100 ml aquadest. dan putih. hitam. BAP berperan dalam pembentukan tunas. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine).

media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. vitamin. dan mineral. Pada penanaman eksplan sansivieria tidak ada yang membentuk akar.2 Saat muncul tunas tanaman Sansivieria Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Sansivieria 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. tunas. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan 2. maupun kalus. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam.Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Saat Muncul Tunas Tabel 5. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan 82 . daun. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. hijau. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. kuning. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media.

Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. Pada 83 . Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. zat pengatur tumbuh. dll. penggunaan bahan sterilisasi. bahkan varietas. Saat Muncul Daun Tabel 4. penggunaan api dan lain-lain. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama.tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. pengirisan. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. kuning. hijau. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. seperti kebutuhan nutrisi. komposisi media. lingkungan kultur. 3. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. Oleh karena itu. tanaman asal eksplan tersebut.3 Saat muncul daun tanaman sansivieria Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 sansivieria 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. media dan suplemen media yang beragam.

eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan.4 Saat muncul kalus tanaman sansivieria Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - sansivieria Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. pengirisan. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. 4. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. Saat Muncul Kalus Tabel 5. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. penggunaan api dan lain-lain. media dan suplemen media yang beragam. kuning. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. hijau. penggunaan bahan sterilisasi. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan 84 . Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam.

Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. penggunaan api dan lain-lain. 5. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi.kultur jaringan. Presentase keberhasilan Tabel 4. Eksplan yang terkontaminasi. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. d.5 Persentase Keberhasilan Kultur Sansivieria Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 0 × 100% = 0% 10 Sansivieria 0 10 Sumber : Laporan Sementara Berdasarkan data diatas eksplan sansivieria memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. daun. tunas. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan sansivieria tidak ada akar. pengirisan. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Media yang telah terkontaminasi jamur. 85 . Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. dan kalus yang muncul. media dan suplemen media yang beragam. Disamping itu. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. e. penggunaan bahan sterilisasi.

ukuran eksplan. Peralatan –peralatan seperti pinset. Setelah eksplan ditanam. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. lingkungan kultur. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. dan relatif sedikit mengandung kontaminan. dll. Pada fase juvenil. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. seperti kebutuhan nutrisi. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu. dan bagian tanaman yang diambil.f. sel-selnya masih aktif membelah. zat pengatur tumbuh. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh 86 . Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. cahaya dan kelembabannya. bahkan varietas. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. komposisi media. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. yaitu dapat berupa ujung akar. Selain ZPT. tanaman asal eksplan tersebut. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. tunas atau daun muda. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Oleh karena itu. Dalam praktikum ini. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem. umur ontogenik. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan.

Sebaiknya bahan eksplan yang digunakan dipilih dari jaringan tanaman yang masih muda (meristem) yang masih aktif membelah. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. tunas. Semua eksplan terkontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. daun. c. 5. Persentase keberhasilan dari kultur jaringan sansivieria adalah 0 %. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan. Pemeliharaan eksplan harus diperhatikan dengan benar. Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat. Sebaiknya alat maupun bahan yang digunakan harus disterilisasi sehingga benarbenar steril. 2. 4. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan 1. a. baik untuk peralatan maupun media itu sendiri. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal mungkin. dari 10 eksplan yang telah ditanam tidak ada yang tumbuh baik akar. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman. 87 . b. Pada kultur jaringan sansivieria. Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. 3. Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. maupun kalus.  Saran Untuk menghindari kegagalan dalam penanaman kultur sansivieria.masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama E.

B. Canada. Sansivieria. Flora Cantik Penyerap Racun.7(4):207-214. Sansivieria trifasciata Varieties Succulent Edition of Huntington Book. 1982.http://www. Pembentukan Kalus dan Embriogenesis Kultur Pelepah daun Caladium hibrida. Malang. Diakses pada tanggal 27 Desember 2007.net. 2005.2008.com/2007/12/13/httpwwwta bloidnovacomartic lesaspid11386/ Chahinian.go. and Corstabel.Sansivieria si tajam Anti Poluai.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Nursandi.2008.http://sensasp. Untung dan F. Unibraw Press.deptan. Anonim.iptek. Jakarta: Kanisius 88 . R. Ilmiah.1986. The Prairie Regional Laboratory of The National ResearchCouncil of Canada.id. 2001. Ilmiah : Berita Biologi. Hutami. L.) Tanaman Sumber Karbohidrat Alternaria. I. W. Mariska dan S.2006.id Anonim. 2005. Juan. Supriati Y. Florida Irawati. J.Kultur Jaringan Sansivieria. Kultur Jaringan. Mikropropagasi Sukun (Artocarpus communis Forst. Kultur Jaringan Tanaman. 7(5):257-260. www. Santoso. Plant Tissue Culture Methods. 2007. J. Wetter.wordpress.Arie. Purwanto.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->