ACARA I PEMBUATAN LARUTAN STOCK, PEMBUATAN MEDIA TANAM, DAN STERILISASINYA

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Bioteknologi di bidang pertanian telah berkembang pesat, salah satu contohnya adalah kultur jaringan. Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkembangkan bagian tanaman, baik berupa sel jaringan atau organ tanaman dalam kondisi aseptis secara in vitro. Ciri teknik ini adalah kondisi kultur yang aseptis, penggunaan media kultur buatan dengan kandungan nutrisi lengkap, dan kondisi lingkungan kultur yang sesuai. Lingkungan yang sesuai dapat dipenuhi dengan menentukan media tumbuh yang sesuai dan penempatan pada kondisi yang terkendali berkaitan dengan intensitas dan periodisitas, cahaya, temperatur, dan kelembaban serta keharusan sterilisasi. Sterilisasi alat merupakan hal mutlak yang harus dilakukan dalam kultur jaringan. Ha ini untuk menciptakan kondisi aseptis perlu dilakukan proses pensterilan atau sterilisasi untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Sterilisasi alat (petridish, pinset, gunting, dll) biasanya dilakukan dengan pemanasan secara langsung diatas api atau dibakar atau dengan pemasan menggunakan autoklaf selama 30 menit pada suhu 115ºC 135ºC. Media kultur jaringan merupakan faktor penting penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. Media kultur fisiknya dapat berbentuk padat atau cair. Media berbentuk padat menggunakan pemadat media seperti agar. Media kultur yang memenuhi syarat

1

adalah yang mengandung nutrient makro dan mikro dalam kadar dan perbandingan tertentu, sumber energi (sukrosa), serta mengandung berbagai macam vitamin dan ZPT. Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi sehingga larutan stock ini berfungsi sebagai salah satu cara untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil, oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan stock. Untuk itulah tahapan pembuatan larutan stock merupakan tahapan yang sangat penting dalam metode kultur jaringan agar tidak terjadi kesalahan dalam penimbangan bahan-bahan kimia yang akan digunakan. Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Media sebagai tempat pertumbuhan aksplan yang akan dikulturkan sehingga pembuatan media harus dilakukan dalam tahapan perbantakan tanaman secara kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

2

Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa kondisi yang aseptic merupakan syarat yang mutlak dalam tahapan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Oleh karena itu tahapan sterilisasi harus dilaksanakan dalam praktikum kali ini. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

2. Tujuan Tujuan praktikum acara yang pertama ini adalah : 1. Mengetahui prosedur pembuatan larutan stock. 2. Mengetahui langkah-langkah dalam pembuatan media kultur jaringan. 3. Mengetahui prosedur sterilisasi alat dan media kultur.

3. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara pertama ini berjudul pembuatan larutan stock, media tanam, dan sterilisasi dilaksanakan pada : Waktu praktikum Tempat : Senin, 13 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. TINJAUAN PUSTAKA
3

1. Pembuatan Larutan Stock Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil, oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. (Yuniastuti, Endang. 2008: 4) Seperti diungkapkan oleh Lydiane Kyte dan John Klein dalam Plant for Test Tubes “Stock solutions are concentrated solutions of groups of media chemicals that are preparated ahead of time and used to make several batches of media. They may be made in liter quantities of 10 to 100 times the concentration required in the final formula. Having stock solutions eliminates the need to weigh so many different chemicals every time you want to make a batch of medium. Also, the quantities will be more accurate because they are on larger scale than would be required for a single batch of medium, and thus minor inaccuracies have less impact”. Larutan stock merupakan sekelompok larutan media kimia berkonsentrasi yang disiapkan di awal dan digunakan untuk membuat beberapa kumpulan media. Larutan stock dibuat dalam satuan jumlah liter pada 10 sampai 100 kali konsentrasi yang dibutuhkan pada formula akhir. Pembuatan larutan stock mengurangi resiko perbedaan berat kimiawi yang besar setiap kali kita ingin membuat kumpulan media. Juga, jumlah akan lebih akurat sebab larutan stock dibuat dalam skala yang lebih besar daripada jika kita membuat medium tunggal, dan berkurangnya ketidakakuratan ini akan mengurangi dampak yang buruk bagi kultur jaringan. ( Lydiane Kyte & John Kleyn. 1996: 76) Beberapa komposisi akan mengendap (membentuk komponen padat) jika dicampurkan bersama dalam bentuk konsentrasi yang sama, jadi tiap kelompok kimiawi dibuat dalam bentuk kimia yang biasanya tidak mengendap pada konsentrasi larutan stock. Sebelum menambahkan bahan kimia apapun pada pembuatan larutan stock, harus ada air dalam labu, sehingga pengendapan sulit untuk terjadi.
4

Apabila larutan stock tersebut memiliki daur hidup yang pendek. kemudian komposisi kimianya akan stabil dalam waktu yang lama apabila larutan stock tersebut disimpan dalam refrigerator. Martin. juga tentang bagaimana larutan stock dibuat dan berapa lama larutan tersebut dapat disimpan sebagai larutan stock. namun larutan-larutan tersebut beresiko tinggi untuk tumbuhnya kontaminan karena temperatur yang lebih tinggi. seperti pada garam anorganik. 2006). penimbangan langsung komponen media. Lebih dari itu. sehingga risiko human error dalam percobaan dapat dikurangi. larutan-larutan tersebut akan mengendap pada suhu dingin di refrigerator sebab kelarutan suatu larutan akan menurun dengan menurunnya temperature. misalnya mikronutrien dan hormon yang 5 . Namun. untuk menghilangkan endapan. Bila larutan stock tidak mudah untuk mengendap. Masalah tersebut dapat diatasi dengan pembuatan larutan stok. hormone cenderung memiliki waktu hidup yang pendek yang menyebabkannya harus dibuat dalam jumlah yang kecil sekitar 25 mg dalam 250 ml air. Apabila larutan membentuk endapan. Pembuatan media pada prinsipnya dilakukan dengan melarutkan semua komponen media dalam air sesuai dengan konsentrasinya pada formulasi yang diinginkan. Sebagian besar larutan stock dapat disimpan untuk watu yang terbatas tanpa reaksi yang berlawanan atau berkebalikan. Larutan stok adalah larutan berisi satu atau lebih komponen media yang konsentrasinya lebih besar dari konsentrasi komponen tersebut dalam formulasi media akan dibuat (Hemawan dan Na”em. Apabila komposisi larutan stock memiliki daur hidup yang lebih panjang. kemudian digunakan. (Bernice M. Penggunaan larutan stok mengurangi pekerjaan yang rumit dalam persiapan media. 1994: 39). penimbangan satu persatu komponen media untuk setiap pembuatan media kultur adalah tidak praktis dan hanya dapat dilakukan jika jumlah zatnya cukup besar. Dengan kata lain. atau sedikit dipanaskan. jika larutan garam mendekati proses pengendapan. seperti pada material organic.Tidak ada kesepakatan umum mengenai kombinasi komposisi larutan stock. larutan-larutan tersebut dapat dibawa pada suhu ruang. memanaskan larutan tersebut pada hot plate atau stirer akan menjadi solusi permasalahan ini. larutan-larutan tersebut dapat disimpan pada cup atau wadah-wadah kecil.

Linsmaier dan Skoog-LS (1965). dan hormon. 2008: 5) Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. gula. baik jenisnya maupun jumlahnya. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. 1980). diperlukan juga bahan tambahan seperti agar. ( Endang Yuniastuti. tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Heller (1953). Komponen media kultur yang lengkap sebagai berikut :  Air distilata (akuades) atau air bebas ion sebagai pelarut atau solven. Pembuatan Media Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. 1995).  Agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media.  Suplemen berupa bahan-bahan alami. Murashige dan Skoog MS (1962) serta woody plant medium-WPM (Lloyd dan Mc Known.  Gula (umumnya sukrosa) sebagai sumber energy. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak.  Vitamin. Selain itu. dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi. Contohnya komposisi Knudson C (1946). Media yang 6 . 2. vitamin.  Hara-hara makro dan mikro.dibutuhkan hanya dalam ukuran milligram atau microgram dalam formulasi akhir tidak dapat dilakukan dengan cukup akurat untuk pekerjaan kultur jaringan (Rahardja. asam amino dan bahan organic lain. Gamborg dkk B5 (1976).  Zat pengatur tumbuh. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral. Nitsch dan Nitsch (1972). jika diperlukan.

Penelitian pada berbagai macam jenis tanaman. buah-buahan ataupun tanaman perkebunan menggunakan metode Mohr untuk pemakaian ZPT. net. media dasar White (1934) sangat cocok untuk kultur akar tanaman tomat. buffer. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf. arang aktif. baik tanaman sayuran. media dasar N6 (1975) untuk serealia terutama padi. media dasar B5 untuk kultur sel kedelai dan legume lainnya. Media kultur jaringan dibuat untuk menyediakan nutrisi dan mengatur pertumbuhan yang optimal untuk tanaman yang spesifik. (http: www. persenyawaan kompleks alamiah. yaitu penggunaan kombinasi ZPT antara kelompok sitokinin dan kelompok auksin. media dasar Nitsch dan Nitsch (1969) digunakan dalam kultur tepung sari (pollen) dan kultur sel. media dasar Schenk dan Hildebrandt (1972) untuk kultur jaringan tanaman monokotil.sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Dari sekian banyak media dasar di atas. Beberapa media dasar yang banyak digunakan antara lain media dasar Murashige dan Skoog (1962) yang dapat digunakan untuk hampir semua jenis kultur.sinarharapan. media dasar Vacin dan Went (1949) digunakan untuk kultur jaringan anggrek. Kombinasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) pada kultur jaringan sangat menentukan keberhasilan kultur. 1981) khusus untuk tanaman berkayu.id/ ind/?ch=isti&id=221) Dalam teknik kultur jaringan dikenal berbagai macam media dasar yang penamaannya berdasarkan nama penemunya atau peneliti yang menggunakan pertama kali dan memperoleh hasil yang berarti. dan bahan pemadat media yaitu agar. vitamin. media dasar WPM (Woody Plant Medium. sering dikenal dengan media MS (Murashige dan Skoog’s). zat pengatur tumbuh (hormon). gula. (http://www. mungkin 7 .iptek. Media kultur terdiri dari beberapa atau seluruh komponen berikut: garam-garam anorganik. yang paling banyak digunakan adalah media Murashige dan Skoog (MS).com) Formula dasar untuk media kultur jaringan telah ditetapkan oleh berbagai penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu. Formulasi media yang dikembangkan oleh Toshio Murashige dan rekan kerjanya . asam amino.

9738 39.102 22. didesign sesuai dengan nama yang cocok yaitu optimal untuk kultur jaringan tanaman berkayu.9044 55.9994 30.merupakan media yang terbaik dari beberapa media yang telah diketahui.312 54.064 65. dikembangkan oleh Brent Mc Cown dan Greg Lloyd. Tabel di bawah ini menunjukkan berat atomic dari elemen kimia yang pada umumnya digunakan dalam teknik kultur jaringan yaitu : Elemen Boron Kalsium Karbon Klor Kobalt Tembaga Hidrogen Iod Besi Magnesium Mangan Molibdenum Nitrogen Oksigen Potassium Kalium Natrium Belerang Seng Simbol B Ca C Cl Co Cu H I Fe Mg Mn Mo N O P K Na S Zn Berat Atomic 10. dan digunakan sebagian besar pada tanaman herba.938 95.00797 126.94 14.9332 63. 1996: 62-64) 8 .54 1.847 24.9898 32.453 58.37 (Lydiane Kyte & John Kleyn. Woody plant medium (WPM).08 12.0067 15.811 40.01115 35.

Di bawah ini merupakan tabel komposisi salah satu media yang paling umum digunakan yaitu Murashige and Skoog’s (Media MS).300 8.250 0.500 .600 0. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa pengurangan komponen senyawa penyusun media berpengaruh baik terhadap pertumbuhan biakan tanaman dalam botol (Husni.200 27.Untuk perbanyakan klonal.650 1.025 37.6H2O Na2EDTA FeSO4.2H2O CuSO4. 1997).000 0.7H2O Vitamin dan Asam amino Thiamin Asam nikotinat Pyridoxin HCl 9 Komposisi 1.025 0. Media tersebut mempunyai konsentrasi garam anorganik yang tinggi dibandingkan medium lainnya terutama ion NH4 dan NO3. Komponen Unsur makro NH4NO3 KNO3 CaCl2.500 0.200 22.4H2O ZnSO4.830 6.800 1.2H2O MgSO4.2H2O KH2PO4 Unsur mikro KI H3BO3 MnSO4. pada umumnya dipakai media dasar Murashige dan Skoog.5H2O CoCl2.7H2O Na2SO4.900 440 370 0.

Sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa: a.000 ( Buletin Teknik Pertanian Vol 9 .id/KulJar/BAB%20IV%20STERILISASI/IV2%20Sterilisasi %20Alat.Glycine Asam sistein Asam pantotenat Myo-inositol Sukrosa Agar 2. Sterilisasi Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. b. 10 . penyaring. air. larutan formalin). Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan.000 70. Kapas penyumbat.ht) Sterilisasi dengan autoklaf adalah salah satu metode sterilisasi dengan uap air dibawah tekanan. digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan.unram. plastik penutup. Dengan udara panas. larutan alkohol. (http://elearning.000 100. c. seperti pada saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba). Sterilisasi secara fisik (pemanasan. Sistem kerja filter. penggunaan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi). 2004) 3. kasa. misalnya adalah dengan saringan/filter.000 3. Sterilisasi secara mekanik.000 30.000 50.ac. dan media nutrisi dapat disterilisasi dengan autoklaf. Nomor 1. perlatan laboratorium. peralatan gelas. Sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat tembus uap air dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110-1210C. dipergunakan alat “bejana/ruang panas” (oven dengan temperatur 170o – 180oC dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas).

1989). 11 . sehingga harus sangat hati-hati saat menggunakannya diatas api. Alat sterilisasi baik media maupun peralatan yang digunakan untuk proses isolasi dan penanaman eksplan yang sering digunakan adalah autoklaf. Dengan autoklaf sederhana ini. selama masa sterilisasi dilakukan. Tetapi autoklaf ini mempunyai keuntungan: sederhana. Etil alcohol (70-90%) sangat berguna untuk mengusap permukaan tempat pelaksanaan. juga berasal dari air yang ditambahkan ke dalam autoklaf dan didihkan. Autoklaf ini sangat cepat dan dapat diprogam waktu sterilisasi. Kelemahannya adalah bila salah satu pengatur tidak bekerja. Kalsium atau Natrium hipoklorit digunakan sebagai sterilisasi peralatan dan sebagai desinfektan bagi jaringan tanaman tanpa melukainya (Afriastini. harga relatif murah. tekanan dan temperatur diatur dengan jumlah panas dari api. maka pekerjaan persiapan media menjadi sia-sia dan kemungkinan menyebabkan kerusakkan total pada autoklaf. Tipe autoklaf yang dapat digunakan untuk sterilisasi ada bermacam-macam. Kelemahan autoklaf ini adalah bahwa perlu penjagaan dan pengaturan panas secara manual. diperlukan autoklaf dengan kapasitas besar dan sumber uap biasanya dari boiler yang terpisah. Alcohol mudah terbakar. dan mencelupkan peralatan dengan atau tanpa pembakaran. Autoklaf yang sederhana menggunakan sumber uap dari pemanasan air yang ditambahkan ke dalam autoklaf. panas ini diatur secara atomatis. tidak tergantung dari aliran listrik yang sering merupakan problema untuk negara-negara yang sedang berkembang. membilas tangan. mulai dari yang sederhana sampai digital (terprogram). Sebagai sumber uap. Pemanasan air dapat menggunakan kompor atau api Bunsen. Setelah sterilisasi bahan atau alat selesai. Bila pengatur automatis ini berjalan dengan baik. 2004).Hampir semua mikroba mati bial terkena uap yang sangat panas dari autoklaf selama 1015 menit/ semua obyek hendaknya disterilisasi pada suhu 121ºC dan tekanan 15 Psi selama 15-20 menit (Torres. serta lebih cepat dari autoklaf listrik yang seukuran dan setaraf. temperatur dan tekanan autoklaf diturunkan secara perlahan-lahan dalam waktu 15-20 menit. Alatnya dilengkapi dengan timer dan thermostat. Tetapi pada autoklaf yang sederhana hal ini harus diatur secara manual. Maka autoklaf dapat dijalankan sambil mengerjakan pekerjaan lain. Autoklaf yang lebih komplit menggunakan sumber energi dari listrik. Pada autoklaf yang programmable. Untuk laboratorium komersial. serta waktu pendinginan.

Temperature sterilasi biasanya 121o C. Untuk 15-50 ml media dalam tabung reaksi atau botol kecil berukuran 50-100 ml. Panci luar. sterilisasi dilakukan pada tekanan 15 psi dengan waktu 20 menit. 2. Sterilisasi media yang terlalu lama menyebabkan : 1. Panci dalam tempat meletakkan botol dengan alur tempat saluran uap.Pada prinsipnya. serta kencangkan dengan karet gelang. Degradasi vitamin dan asam-asam amino. Bagian-bagian autoklaf : 1. 2. Katup pengeluaran uap. Isi wadah tersebut sampai 80% volume. agar sterilisasi lebih efektif. Inaktifasi sitokinin zeatin riboside. Dalam sterilisasi aquadest. Untuk media kultur yang tidak mengandung bahan-bahan yang Heat-labile. 4. Alat-alat dan air disterilkan selama 1 jam. sterilisasi dilakukan dengan autoklaf pada temperatur 121oC. Untuk aquadest sebaiknya dimasukkan dalam wadah kecil misalnya erlemeyer 250 ml dengan isi maksimum 100 ml. atau 1 atm. tetapi media antara 20-40 menit tergantung dari volume bahan yang disterilkan. Penguraian gula. tekanan yang biasa digunakan antara 15-17.Lamanya sterilisasi tergantung dari volume dan jenis. Waktu sterilisasi sama dengan waktu untuk sterilisasi alat-alat waktu 30 menit pada tekanan 15 psi. dan tutup dengan kertas. tekanan antara 15 psi atau 1 atm dengan waktu antara 20-25 menit tergantung dari volume wadah dan volume media. sedangkan autoklaf besar pada laboratorium komersil pada umumnya menggunakan uap dari boiler sentral. lebih efektif bila digunakan wadah yang mempunyai volume antara 300 – 500 ml. Untuk 20 botol volume 12 . 4. Media disterilkan dalam autoklaf. sterilisasi autoclave menggunakan panas dan tekanan dari uap air. 1996 : 169) Autoklaf gas atau listrik portable pada umumnya mempergunakan sumber uap dari pemanasan air yang ditambahkan ke dalam autoklaf.5 psi (pound per square inci) atau 1 atm. Pengunci atau klem. 3. 5. ( Lydiane Kyte & John Kleyn. Tutup beserta penunjuk tekanan dan saluran uap. 3. Perubahan pH yang berakibatkan depolimerisasi agar.

Pembuatan Larutan Stock    Timbangan analitik Sendok Erlenmeyer Timbangan analitik Botol-botol kultur Magnetik stirrer pH meter 13 b. cairan didalamnya mendidih dan meluap (bubbled up). Setelah disterilkan dapat langsung digunakan. Dalam sterilisasi aquadest dan media. Diameter filter yang bermacam-macam tergantung dari volume larutan yang ingin disterilkan. mulut botol harus ditutup dengan alumunium foil. sterilisasi dilakukan dengan menyaring larutan melalui filter yang mempunyai ukuran pori 0. Botol-botol yang sudah dicuci bersih. Thiamin-HCL. dipergunakan filter yang dipasang di ujung jarum suntik.20-0. autoklaf tidak boleh diturunkan tekanannya secara mendadak.iptek. ALAT. (http://www. Untuk bahan-bahan yang heat-labile dalam bentuk larutan.1 liter membutuhkan waktu yang lebih lama yaitu 34 menit. Untuk volume larutan 10 ml. Bahan yang heat labile antara lain : GA3. Bila tekanan diturunkan mendadak. Dengan waktu yang lebih lama. DAN CARA KERJA 1. biasanya disterilkan dalam oven. Botol-botol/tabung reaksi/erlenmeyer yang dipergunakan sebagai wadah. Ca-panthothenate. 10 botol volume 2 liter memerlukan waktu 37 menit.net) C. Alat a.22 um. maka sewaktu sterilisasi. BAHAN. dimasukkan ke dalam oven dan dipanaskan selama 4 jam pada temperatur 160o C. Pembuatan Media Tanam     . Antibiotik: carbenocilin. Bila botol akan disimpan untuk beberapa lama. setelah waktu sterilisasi yang diinginkan sudah tercapai. 5 botol 4 liter waktu yang digunakan 52 menit.

Pembuatan Media Tanam      3. vitamin. Larutan Stock Media Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relative kecil. FeEDTA. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. terdiri atas hara makro dan mikro. serta ZPT Agar-agar Gula NaOH 1N dan HCl 1 N b. Pembuatan Larutan Stock   Bahan-bahan kimia untuk nutrisi. ZPT Aquadest Aquadest Larutan stock.     c. oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. Langkah-langkah pembuatan larutan stock meliputi : 14 . Bahan Gelas piala Pipet Plastik pp 0. Sterilisasi  2. Larutan stock merupakan larutaaan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi.3 mm Karet gelang Kertas label Autoklaf a. Pembuatan Larutan Stock 1. Cara Kerja a. vitamin.

Heller (1953). Gamborg dkk B5 (1976). Cara membuat larutan stock masing-masing ZPT adalah sebagai berikut : (1).(1). (3). 2. Nitsch dan Nitsch (1972). Melarutkan bahan dengan Alkohol atau NaOH 1 N kemudian ditambah dengan aquadest sampai 300 ml untuk BAP dan 100 ml untuk IBA. Menghitung kebutuhan bahan BAP 100 ppm sebanyak 300 ml adalah sebagai berikut : 100 ppm = 100 mg/l = 30 mg/0. Larutan Stock Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Zat pengatur tumbuh hanya diperlukan dalam jumlah yang sedikit sekali. Linsmaier dan Skoog-LS (1965). misalnya untuk unsure hara makro dikalikan 20 dan unsur hara mikro dikalikan 100 kali konsentrasi. misalnya 500 ml. Menghitung kebutuhan bahan IBA 100 ppm sebanyak 100 ml adalah sebagai berikut : 100 ppm = 100 mg/l = 10 mg/0. b. Contohnya komposisi Knudson C (1946). Menimbang bahan-bahan kimia yang telah dikalikan menjadi beberapa kali konsentrasi. Murashige dan Skoog MS 15 . Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. Memasukkan masing-masing larutan tersebut ke dalam botol dan menyimpannya ke dalam refrigerator. (4). Melarutkan bahan-bahan kimia tersebut ke dalam aquadest dengan volume tertentu. Memasukkan masing-masing larutan ke dalam botol dan menyimpan ke dalam refrigerator. (2). Biasanya zat pengatur tumbuh ini dibuat dengan kepekatan 1-10 mg/ml . Pembuatan Media Kultur Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan.3 l = 30 mg/300 ml (2).1 l = 10 mg/100 ml (3).

5 ppm. maka = V2 x M2 = 20 ml/L Untuk membuat media 1 L dengan konsentrasi IAA 0.5 ppm. Mengambil larutan stock ZPT sesuai dengan perlakuan. Hara-hara makro dan mikro. asam amino dan bahan organic lain. Dalam praktikum kali ini. Komponen media kultur yang lengkap sebagai berikut :        Air distilata (akuades) atau air bebas ion sebagai pelarut atau solven. Agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media. maka = V2 x M2 = 1000 ml x 0. media yang digunakan adalah media Murashige dan Skoog’s (MS) yang dimodifikasi dengan penambahan ZPT BAP 2 ppm dan IAA 0. misalnya :  V1 x M1 V1  V1 x M1 V1 x 100 ppm Untuk membuat media 1 L dengan konsentrasi BAP 2 ppm. Mengambil masing-masing larutan stock sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan dan memasukkannya ke dalam gelas piala.(1962) serta woody plant medium-WPM (Lloyd dan Mc Known. Suplemen berupa bahan-bahan alami. Gula (umumnya sukrosa) sebagai sumber energy. Vitamin. jika diperlukan.5 ppm volume larutan stock yang diambil adalah : . (2).5 ppm 16 volume larutan stock yang diambil adalah : V1 X 100 ppm = 1000 ml x 0. Langkah-langkah pembuatan media (1 liter) adalah sebagai berikut : (1). 1980). Zat pengatur tumbuh. Media tersebut digunakan untuk penanaman masing-masing eksplan yang masing-masing eksplan diulang sebanyak 2 kali untuk tiap mahasiswa.

Pada saat pengukuran pH. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. lebih 25 ml tiap botol.6.8. Langkah-langkah sterilisasi alat dan media kultur jaringan :  Membungkus alat-alat kultur seperti petridish.3 dengan menambahkan Ket : V1 : volume larutan stock yang diambil    beberapa tetes NaOH untuk menaikkan pH atau HCl untuk menurunkan pH.   Menambahkan agar-agar 8 gr kemudian dididihkan.   Menyimpan alat-alat kultur dalam oven. tekanan 1.  c. D. Sterilisasi Alat dan Media Kultur Sterilisasi alat dan media kultur jaringan dilakukan secara bersamaan menggunakan autoklaf. pisau scalpel dan pinset Memasukkan botol-botol berisi media dan alat-alat kultur yang telah dengan kertas koran.5 kg/cm2 selama 45 menit. Menyimpan media pada rak penyimpan media yang bertujuan untuk mengantisipasi ada tidaknya kontaminasi pada media sehingga dapat dicegah penggunaan media yang telah terkontaminasi pada saat penanaman.  dibungkus kertas koran ke dalam autoklaf untuk proses sterilisasi pada suhu 121° C.V1 = 5 ml/L V2 : volume media yang akan dibuat M1 : dosis larutan stock yang tersedia M2 : dosis media yang akan dibuat Menambah aquadest sampai 1000 ml Menambah gula sebanyak 30 gr Mengatur pH dalam kisaran 5. Menuangkan larutan media ke dalam botol-botol kultur kurang Menutup botol berisi larutan media dengan plastik. Pembuatan Media Tanam 17 . larutan media diaduk dengan magnetic stirrer.

4H2O ZnSO4.000 0.200 22.5H2O CoCl2.500 .300 8.200 27.025 0. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral. Selain itu perlu ditambahkan bahan tambahan seperti agar. Pada percobaan kali ini media yang dibuat adalah media Murashige and Skoog’s dengan komposisi : Komponen Unsur makro NH4NO3 KNO3 CaCl2. tergantung dengan kultur jaringan yang akan dilakukan.7H2O Na2SO4. dan hormone.2H2O CuSO4. Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan tergantung pada jenis tanaman yang akan diperbanyak.250 0.025 37.6H2O Na2EDTA FeSO4. gula.600 0.7H2O Vitamin dan Asam amino Thiamin Asam nikotinat Pyridoxin HCl 18 Komposisi 1.2H2O KH2PO4 Unsur mikro KI H3BO3 MnSO4. dan lain-lain.900 440 370 0.Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. vitamin.800 1.500 0.2H2O MgSO4. Zat pengatur tumbuh yang ditambahkan juga bervariasi baik jenis maupun jumlahnya.650 1.830 6.

atau NH4+ atau asam amino.000 70.Glycine Asam sistein Asam pantotenat Myo-inositol Sukrosa Agar 2. K. Sebelumnya telah dibuat larutan stock media. media Gamborg dan White untuk kultur akar. terdapat banyak jenis media yang lain seperti woody plant medium (WPM) yang cocok untuk kultur tanaman keras atau tanaman berkayu. Komponen-komponen media MS yaitu :  Garam-garam anorganik terdiri dari makronutrient (C. Ca.000 30.000 Pemilihan jenis media kultur yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan eksplan sesuai yang diinginkan. yaitu larutan pekat senyawasenyawa kimia penyusun media. Media kultur dibedakan menjadi dua yaitu media dasar yang terdiri dari garam-garam organik (makro dan mikro). Larutan stok dibuat dalam konsentrasi pekat (10 atau 100 kali konsentrasi akhir yang dibutuhkan untuk media. dan vitamin. Mg). sehingga memastikan bahwa jumlah/ volume masing-masing komponen media yang diberikan dalam jumlah tepat.000 3.000 50. Media yang kedua adalah media perlakuan yaitu media dasar yang ditambahkan dengan penambahan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) atau hormone. senyawa sumber karbon.000 100. Pada praktikum kali ini hanya digunakan media dasar berupa media Murashige Skoog. O. P. Sebab. kalau tidak dibuat larutan stocknya akan menyulitkan dalam penimbangan komponen media. S. N. H. karena berat yang dibutuhkan sangat sedikit seperti yang tertera dalam table komposisi di atas dan penimbangan seringkali tidak akurat. Selain itu. Larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan pengukuran berat dan konsentrasi senyawa dalam meia. N didapatkan dari NO3. asam amino. Mg dan S didapatkan dari 19 . Jenis media kultur yang paling banyak digunakan adalah media Murashige and Skoog (MS) cocok untuk hamper semua jenis tanaman terutama monokotil.

000.3 dengan penambahan KOH atau NaOH untuk menaikkan pH dan dan HCl untuk menurunkan pH. Vitamin yang dibutuhkan pada sebagian besar kultur jaringan tumbuhan adalah thiamin.nya yaitu harus dijaga pada pH 5. K2NO3 atau KH2PO4. Pada pembuatan media harus diperhatikan pH.  Asam amino merupakan sumber N organik.H2O dan KH2PO4. asparagin. sebagai sumber energy. untuk CaCl2. Media yang terlalu asam menyebabkan media sukar mengendap. Kontaminasi umumnya disebabkan oleh sterilisasi media yang kurang sempurna. Pada praktikum kali ini. 2.2H2O dibuat larutan stocknya. dan Eksplan Tanaman. Ca didapatkan dari CaCl2. P didapat dari NaH2PO4.  Sumber karbon yang digunakan adalah sukrosa. Pada praktikum kali ini dilakukan penambahan HCl sebanyak kurang lebih 5 tetes karena campuran media yang didapat terlalu basa dan setelah dilakukan penambahan HCl dilakukan pula penambahan NaOH sebanyak 2 tetes karena pH yang didapat terlalu asam. Vitamin lain yang biasa digunakan adalah asam nikotinat dan piridoksin HCl (vitamin B6).2H2O atau Ca(NO3)2.8 sampai 6. pH harus dijaga pada 5. Mo.7H2O. FeEDTA. Asam amino yang sering digunakan adalah glutamine. Sterilisasi Media Tanam.  Vitamin berfungsi sebagai katalisator dalam system enzim dan diperlukan dalam jumlah kecil. K didapatkan dari KCl. yang diberikan dalam bentuk Thiamin-HCl. untuk hara makro kecuali CaCl2.45. Dan Cl dari KCl atau CaCl2. Alat-alat Penanaman. dan glisin. lingkungan kerja dan pelaksanaan atau cara kerja 20 . Zn. B.MgSO4.2H2O dibuat larutan stock tersendiri karena apabila di campur zat ini akan mengendap. Syarat utama keberhasilan kultur in vitro adalah menghindari kontaminasi yang dapat terjadi pada setiap saat dalam masa kultur . Namun harus juga dihindari penambahan HCl dan NaOH secara berlebihan karena akan mengurangi tingkat keberhasilan pembuatan media. Setelah media masak dan dituang di botol-botol kultur serta ditutup plastik. Selain itu dibutuhkan juga mikronutrient yang terdiri dari Cu. sistein. dan I. K didapat dari KCl. K2NO3 atau KH2PO4.000 mg/L. media dimasukkan dalam autoklaf untuk disterilisasi.8 sampai 6. Konsentrasi sukrosa yang digunakan adalah 20. Co.3 sebab pada kawasan pH ini merupakan pH yang optimum untuk penyerapan hara oleh tanaman.

metode sterilisasi dengan bahan kimia bisa menggunakan alkohol 70 % atau 80 %. 21 . pisau scalpel. Sedangkan alat-alat seperti pisau scalpel dan pinset akan mudah berkarat jika berkontak langsung dengan uap air. Uap air panas inilah yang akan membunuh mikroorganisme dan mensterilkan alat atau media yang akan digunakan.saat penanaman (kecerobohan pelaksana). metode sterilisasi pemanasan basah menggunakan autoklaf. molekul-molekul atau benda-benda asing berukuran kecil yang jatuh atau masuk ke dalam botol kultur setelah penanaman dan ketika diletakkan di ruang kultur. Pada praktikum kali ini. Untuk sterilisasi media dilakukan selama 15-20 menit sedangkan untuk sterilisasi alat dan aquades dilakukan selama kurang lebih 1 jam. Petridish akan mudah rusak (pecah) jika mengalami kontak langsung dengan uap air yang panas. metode sterilisasi laminar air flow cabinet menggunakan sinar UV. Kondisi aseptik dapat dicapai dengan metode sterilisasi. apabila hal itu terjadi proses sterilisasi tidak akan berhasil. Autoklaf merupakan alat yang dilengkapi dengan klep pengatur tekanan yang berasal dari air yang diuapkan. Sebelum dinyalakan. dan alat-alat yang lain terlebih dahulu dibungkus dengan kertas agar tidak kontak langsung dengan uap air autoklaf. Setelah proses sterilisasi selesai dan autoklaf mati. Agar kontaminasi tidak terjadi maka faktor-faktor tersebut harus berada dalam kondisi aseptik. harus dipastikan bahwa semua kunci harus menutup agar tekanan yang timbul tidak bocor keluar. eksplan. Secara umum. untuk mensterilisasi media dan alat-alat untuk penanaman eksplan menggunakan metode sterilisasi pemanasan basah dengan menggunakan autoklaf. Bagian yang ada tulisan dari kertas pembungkus harus diletakkan di bagian luar agar tinta yang larut nanti tidak mengotori alat yang ada di dalamnya. autoklaf tidak boleh langsung dibuka melainkan ditunggu hingga semua air yang berada di dalam autoklaf keluar (kunci dibuka dulu) dan tekanan di dalam autoklaf menurun. pinset. Sebelum dimasukkan petridish. metode ultrafiltrasi dengan menggunakan filter milipore (digunakan untuk hormone dan ZPT). metode sterilisasi dikelompokkan dalam metode sterilisasi pemanasan kering menggunakan oven. apabila langsung dibuka dapat menimbulkan ledakan dan dapat merusak klep pengatur tekanan pada autoklaf sehingga kerja alat akan terganggu untuk pemakaian selanjutnya.

Dalam proses sterilisasi memungkinkan dapat terjadi kegagalan sterilisasi seperti :  Ketidakberhasilan sterilisasi akibat adanya salah satu atau beberapa kunci pada autoklaf yang tidak menutup dengan sempurna sehingga tekanan yang timbul dari autoklaf bocor ke luar.  Kegagalan sterilisasi akibat sebelum tekanan dalam autoklaf menurun dan semua air yang ada di autoklaf belum habis autoklaf sudah terbuka sehingga dapat menimbulkan ledakan atau kerusakan klep pengatur tekanan pada autoklaf. Sehingga larutan stock ini berfungsi untuk memudahkan penimbangan dan menghindari kesalahan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil. Kegagalan sterilisasi dapat dihindari dengan jalan mengikuti semua ketentuan dan prosedur pelaksanaan sterilisasi meliputi penggunaan alat dan pelaksanaan prosedur sterilisasi. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. dan 22 . vitamin. oleh karena itu bahan-bahan tersebut disediakan dalam bentuk larutan yang disebut sebagai larutan stock. E. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral.25 % (Sunclin 100 %) selama kurang lebih 2 menit. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Bahan-bahan kimia komponen media dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil.Sedangkan eksplan yang akan dikulturkan pada praktikum ini disterilkan secara kimiawi yaitu dengan merendam eksplan dalam larutan Dithane M-45 3 mg/l yaitu sebagai fungisida yang berfungsi untuk mencegah timbulnya jamur. Larutan stock merupakan larutan bahan-bahan komponen media yang besarnya telah dikalikan menjadi beberapa konsentrasi. Setelah itu dilanjutkan dengan merendam eksplan dalam larutan Chlorox 5.

Pada tahap sterilisasi harus diperhatikan betul tahapan-tahapan dan prosedur sterilisasi agar dapat meminimalisir kegagalan sterilisasi. dan sterilisasi yaitu antara lain : 1. metode sterilisasi dengan bahan kimia bisa menggunakan alkohol 70 % atau 80 %. eksplan.  23 . metode sterilisasi dikelompokkan dalam metode sterilisasi pemanasan kering menggunakan oven. gula. metode ultrafiltrasi dengan menggunakan filter milipore (digunakan untuk hormone dan ZPT). molekul-molekul atau benda-benda asing berukuran kecil yang jatuh atau masuk ke dalam botol kultur setelah penanaman dan ketika diletakkan di ruang kultur. tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. 3. Kontaminasi umumnya disebabkan oleh sterilisasi media yang kurang sempurna. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi. Selain itu. Kondisi aseptik dapat dicapai dengan metode sterilisasi. diperlukan juga bahan tambahan seperti agar. baik jenisnya maupun jumlahnya. Secara umum. Agar kontaminasi tidak terjadi maka faktor-faktor tersebut harus berada dalam kondisi aseptik. metode sterilisasi pemanasan basah menggunakan autoklaf. saran yang dapat penulis sampaikan untuk praktikum-praktikum yang akan dating tentang pembuatan larutan stock. metode sterilisasi laminar air flow cabinet menggunakan sinar UV. dan lain-lain. Pada pembuatan media harus diperhatikan jenis eksplan yang akan dikulturkan sehingga dapat memilih dan menentukan media yang tepat yang akan digunakan.hormon. Larutan stok sebaiknya dibuat untuk menghindari terjadinya kesalahan penimbangan sebab bahan-bahan kimia untuk membuat media diperlukan dalam jumlah yang sedikit. media tanam. Saran Dari pembahasan dan kesimpuan yang telah ditarik. 2. Syarat utama keberhasilan kultur in vitro adalah menghindari kontaminasi yang dapat terjadi pada setiap saat dalam masa kultur . lingkungan kerja dan pelaksanaan atau cara kerja saat penanaman (kecerobohan pelaksana).

http://www.id. A.org/ teknik/veg.2008. 9.). Tissue Culture techniques for Horticultural Crops.net. Penebar Swadaya. M. 1995.wikipedia. 1989. Husni.id/KulJar/BAB%20IV%20STERILISASI/IV2%20Sterilisasi %20Alat. Nomor 1. USA : Boston University Buletin Teknik Pertanian Vol. Yuniastuti. P. K. Diakses 15 Desember 2007 Bernice. Buku Petunjuk Praktikum Kultur Jaringan. 2006. Perbanyakan dan Penyimpanan Tanaman Inggu melalui Kultur Jaringan.id/ind/?ch=isti&id=211 http://www. F. Lydiane & John Kleyn.ac. Plants from Test Tubes.C. Jurnal Agrosains 19(2) : 103-109. 1996. Kultur Jaringan Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern.sinarharapan. Torres. T dan M. Pengaruh Jenis Media dan Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Perakaran pada Kultur Jaringan Cendana (Santalum album Linn. Tissue Culture Technique. Von Hostrand Reinheld. 1997. USA: Timber Press Rahardja.C. Surakarta : UNS Press http://www. Kyte.DAFTAR PUSTAKA Afriastini.1994. Jakarta. Na’iem. Perbanyakan Vegetatif : Kultur Jaringan.iptek. Martin. Buletin Plasma Nuftah II(1) : 9. 2004 Herawan.ht 24 . New York. Endang.com http://elearning. 2004.unram.

Gladiol dan Lily masing-masing menduduki peringkat 1.) merupakan tanaman bunga hias berupa herba dengan batang berduri. Latar Belakang Mawar (Rosa sp. Mawar berasal dari dataran Cina. Di Indonesia yang merupakan salah satu wilayah pemasok konsumen tanaman hias secara Nasional adalah Jawa Tengah dan Jawa Barat serta Jawa Timur. Permintaan bunga potong Mawar. Meningkatnya permintaan ini sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang memberikan peluang besar untuk pengembangan usahatani dan pemasaran tanaman hias serta bunga potong.ACARA II KULTUR JARINGAN MAWAR (Rosa sp) A. telah diusahakan secara komersial sejak lama dalam upaya memenuhi permintaan yang semakin meningkat. Bunga potong sebagai salah satu komoditas pertanian yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. Sedap malam dan Anthurium. Permintaan nasional akan tanaman hias dan bunga potong meningkat tidak kurang dari 10% setiap tahunnya. Lily. Hari Natal. menyebar luas dari daerah-daerah beriklim dingin (subtropis) dan panas (tropis). Tahun Baru dan hari-hari besar lainnya (Hasyim. 25 . PENDAHULUAN 1. 5 dan 9. Permintaan bunga potong semakin meningkat pada saat menjelang Idul Fitri. Anggrek. Beberapa komoditas bunga potong yang menjadi andalan di Indonesia saat ini antara lain: Mawar. Krisan. 1994). Timur Tengah dan Eropa Timur. 1989 dalam Effendie. Dalam perkembangannya. Gladiol.

yang banyak diminati konsumen dan dapat dibudidayakan secara komersial.) biasa diperbanyak secara vegetatif. stek. terutama mawar di Indonesia tergolong lambat karena adanya kendala dalam penyediaan bibit. Perbanyakan menggunakan benih akan menghasilkan tanaman dengan keragaman yang tinggi. 1996). Pada saat 26 . sedangkan perbanyakan menggunakan umbi. Permintaan pasar sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas komoditas yang dihasilkan petani.Mengingat manfaat bunga yang demikian besar. Bibit yang bermutu adalah bibit yang mempunyai sifat unggul dan seragam. kegiatan penelitian tanaman hias yang semakin berkembang belum diimbangi dengan kegiatan pengelolaan atau konservasi plasma nutfah yang memadai. stek dan sambungan mata tempel. Konsumen akan cenderung memilih produk yang mempunyai kualitas lebih tinggi. Okulasi mata tunas dilakukan pada saat kulit batang bawah mudah dikelupas. Teknologi tersebut ternyata belum mampu menjawab tantangan untuk mengantisipasi berkembangnya agribisnis bunga potong. Salah satu kendala yang dihadapi petani bunga potong antara lain ketersediaan bibit yang bermutu. hal ini akan merugikan petani apabila ketersediaan varietas unggul di tingkat petani tidak disediakan dan terdesak oleh komoditas import. dan mata tempel akan menghasilkan tanaman yang mempunyai sifat sama dengan induknya tetapi bibit yang dihasilkan relatif sedikit dan memerlukan waktuyang lama. sedangkan secara generatif hanya ditujukan untuk pemuliaan. umbi. okulasi mata tunas atau okulasi mata berkayu. yang tersedia di pasar. Metode perbanyakan bunga potong yang dilakukan oleh petani saat ini masih menggunakan teknologi pebanyakan melalui benih. sudah saatnya memproduksi bunga yang berkualitas. Mawar merupakan komoditas hortikultura yang bernilai tinggi. Salah satu alternatif yang mampu menjawab tantangan tersebut adalah dengan menggunakan teknologi perbanyakan secara kultur jaringan (in vitro). Permintaan mawar sebagai bunga potong meningkat pada hari raya dan keagamaan dan tahun baru. Perbanyakan mawar bunga potong umumnya diperbanyak secara okulasi. Pengembangan bunga potong. Selain itu. Indikasi ini terlihat dari permintaan konsumen terhadap bunga potong bukan saja terjadi pada hari-hari besar tetapi kini bunga potong dibutuhkan hampir setiap hari (Sanjaya. Mawar (Rosa hybrida L.

27 .Pelaksanaan dari teknik okulasi mata berkayu hampir sama dengan okulasi mata tunas. Perbanyakan mawar dengan teknik kultur jaringan merupakan salah satu alternatif unggul perbanyakan tanaman yang dapat menyediakan bibit tanaman dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang cepat. Eksplan yang akan digunakan pada praktikum kali ini adalah mawar (Rosa sp) yaitu bagian batangnya. Cara ini merupakan gabungan dari penyetekan dan penyambungan (grafting) yang dilakukan pada saat yang bersamaan. Mengetahui teknik perkembangbiakan atau mengembangbiakkan mawar secara teknik kultur jaringan (in vitro). Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan tipis. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan mawar. 2. tidak memerlukan ruangan yang luas dan mencegah penularan penyakit sistemik. yang sekarang banyak dilakukan pengusaha benih/bibit mawar di luar negeri adalah stenting. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus.) digunakan bahan tanam berupa ruas-ruas batang muda tanaman mawar. artinya organ tersebut masih aktif membelah. b. Selain itu. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Pada kultur jaringan mawar (Rosa sp.Salah satu cara perbanyakan yang lebih efisien. hanya pada okulasi mata berkayu tidak harus menunggu batang bawah mudah dikelupas. Dengan cara ini okulasi dapat dilakukan pada stek batang bawah yang belum berakar ataupun yang sudah berakar. Penggunaan ruas batang muda mawar bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. Tujuan Praktikum acara kedua ini bertujuan untuk : a.tersebut sel-sel tanaman dan sel-sel kambium tersebut sedang dalam keadaan aktif. Namun demikian sebaiknya okulasi mata tunas dilakukan setelah batang bawah berumur lebih dari satu bulan.

mawar diklasifikasikan sebagai berikut. Walaupun jarang ditemui. Dengan adanya sitokinin di dalam medium menyebabkan tunas mengandakan diri secara terus menerus membentuk tunastunas baru dalam jumlah ribuan bahkan jutaan tunas. TINJAUAN PUSTAKA Pembentukan tunas adventitif secara langsung menggunakan eksplan potongan batang muda yang memiliki calon tunas samping. 2008a). Dalam taksonomi. yaitu diperolehnya bibit yang seragam dalam jumlah besar. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara II yang berjudul Kultur Jaringan Mawar (Rosa sp) ini dilaksanakan pada : Waktu Tempat : Senin. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. Adapun tanaman yang telah berhasil diperbanyak antara lain tanaman hias (misal: anggrek dan mawar) (Anonim. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Suarakarta B. Teknik ini sangat bermanfaat untuk tanaman-tanaman yang diperbanyak secara vegatatif. selanjutnya diakarkan menjadi planlet. Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. Perbanyakan tanaman melalui teknik kultur jaringan memeiliki beberapa keuntungan.3. Kingdom Divisi : Plantae : Spermatophyta 28 . tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter (Anonim. Proses ini disebut organogenesis atau dikena juga dengan istilah mikropropagasi. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. 2008b).

Pelaksanaan dari teknik okulasi mata berkayu hampir sama dengan okulasi mata tunas. serta dapat dibudidayakan secara komersial dan terencana sesuai permintaan.Beberapa keuntungan dari teknik stenting ialah perbanyakan lebih cepat. yang sekarang banyak dilakukan pengusaha benih/bibit mawar di luar negeri adalah stenting. bentuk dan baunya berkembangbiak (Ashari. sedangkan secara generatif hanya ditujukan untuk pemuliaan.Salah satu cara perbanyakan yang lebih efisien.1990) Mawar berasal dari daerah subtropik pada belahan bumi utara. 1995). Namun demikian sebaiknya okulasi mata tunas dilakukan setelah batang bawah berumur lebih dari satu bulan. Dengan cara ini okulasi dapat dilakukan pada stek batang bawah yang belum berakar ataupun yang sudah berakar. okulasi mata tunas atau okulasi mata berkayu.Sub divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Angiospermae : Dicotyledoneae : Rosales : Rosaceae : Rosa : Rosa sp (Gembong Tjitrosoepomo. banyak diminati konsumen. 1996) Mawar (Rosa sp) biasa diperbanyak secara vegetatif. bahan tanaman yang digunakan lebih sedikit (satu mata tunas + daun dari batang atas dan satu ruas batang bawah tanpa daun). Jenis mawar hibrida sebagian besar menyukai teampat yang sejuk (cocok untuk pegunungan). Okulasi mata tunas dilakukan pada saat kulit batang bawah mudah dikelupas. Cara ini merupakan gabungan dari penyetekan dan penyambungan (grafting) yang dilakukan pada saat yang bersamaan. Di daerah sejuk. karena saat penyambungan tidak menunggu batang bawah berakar terlebih dahulu. warna. Perbanyakan mawar bunga potong umumnya diperbanyak secara okulasi. sehingga pada saat tanaman ditanam di lapang tidak tumbuh tunas liar dari batang bawah. hanya pada okulasi mata berkayu tidak harus menunggu batang bawah mudah dikelupas. (Sartika. ukuran bunga. Pada saat tersebut sel-sel tanaman dan sel-sel kambium tersebut sedang dalam keadaan aktif.Penggunaan mata berdaun pada teknik stenting ini memerlukan penanganan khusus untuk menghindari 29 . yang akhirnya akan meringankan biaya pemeliharaan. Mawar (Rosa sp) merupakan komoditas holtikultura yang bernilai ekonomi tinggi.

Katalog teknologi unggulan holtikultura). Untuk menjamin keperluan tersebut.Keberhasilan penyambungan sebagian besar disebabkan hubungan kambium yang rapat dari kedua tanaman (batang bawah dan batang atas) yang disambungkan atau terjadinya pertautan/jalinan meristematik antara keduanya. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. tanaman asal eksplan tersebut. sehingga akan mengurangi laju respirasi dan transpirasi. Teknik ini memberikan lapisan air pada permukaan daun dan batang. merendahkan suhu dan meningkatkan kelembaban sekitar daun. bahkan varietas. Terjadinya perubahan pada kelopak dan warna bunga dapat terjadi karena adanya mutasi pada kumpulan sel somatik dan dapat terekspresi pada sel meristem dan akan membentuk suatu sektor yang stabil (Boertjes dan Van Harten 1978). Setelah diaklimatisasi dan diperbanyak secara konvensional.kelayuan sampai bertautnya kambium serta tum.deptan.go. Perubahan sifat genetik yang diekspresikan pada perubahan kelopak dan warna bunga dapat dilihat mulai dari biakan dalam botol. 30 . Kultur mata tunas merupakan salah satu teknik in-vitro yang digunakan untuk perbanyakan tanaman dengan merangsang munculnya tunas-tunas aksilar dari mata tunas yang dikulturkan.id. 1978). tunas samping atau bagian dari batang yang mengandung satu atau lebih mata tunas (Allen. Seperti halnya kultur pucuk. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi.buhnya akar dan tunas. eksplan yang digunakan dalam kultur mata tunas dapat berasal dari tunas lateral. Medium MS dan modifikasi konsentrasi persenyawaan dengan penambahan auksin dan sitokinin merupakan komposisi media tumbuh yang biasa digunakan untuk inisiasi kalus Keberhasilan perbanyakan massal secara invitro sangat bergantung pada komposisi media tumbuh dan pemilihan bahan eksplan yang tepat tetapi kebutuhan optimal unsur hara dan zat pengatur tumbuh bervariasi antar setiap fase pertumbuhan dan perbanyakan antar varietas dan klon. (http://holtikultura. (Prihardini.litbang. Cara yang banyak dilakukan untuk mempertinggi kelembaban ini yaitu dengan pengkabutan secara periodik (intermitten misting). perubahan warna tetap dipertahankan. 2003). et al. maka disekeliling daun harus dipertahankan agar selalu dalam keadaan lembab.

Bentuk kontaminasi ini biasanya terjadi melalui udara dan dapat disebabkan sterilisasi yang kurang tepat.Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro. . penyimpanan yang kurang baik serta teknik aseptic yang kurang memadai (Martin. Bahan Eksplan : mawar (Rosa sp. Teknik kultur jaringan merupakan salah satu alternatif untuk menyediakan bahan tanam secara massal dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional. kondisi tersebut sulit dicapai karena memerlukan kondisi rumah kaca yang terkontrol. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes 2. dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman. 2001).) Media kultur Alkohol 96 % 31 b. Alat LAFC lengkap dengan lampu Bunsen Petridsh dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. C. 1994). b. Salah satu teknologi alternatif untuk mendapatkan genotipe-genotipe baru yaitu melalui kultur jaringan (Handayati. c. 2001). Bentuk kontaminasi yang paling umum terjadi adalah bakteri dan jamur. ALAT. 2004). a. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi media dan zat penghambat tumbuh terhadap umur simpan dan ketahanan planlet untuk konservasi tanaman mawar Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda jenis bahan kimia atau konsentrasinya. (Marlina. Pembentukan kultivar mawar baru melalui persilangan memerlukan persiapan seperti suhu yang konstan pada siang dan malam hari yaitu 18ºc dan kelembaban udara sekitar 70%.. dapat menghasilkan tanaman secara kesinambungan atau berkala (Hoesen. et al. BAHAN. Untuk saat ini. DAN CARA KERJA 1. c. Kelebihan teknik tersebut. mikro. a.

• • • Persentase keberhasilan. Setelah digunakan. a. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk menghindari kontaminasi Pemeliharaan Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. tunas dan daun. diamati setiap hari Jumlah akar. daun dan kalus (HST). g. diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). kelembaban dan cahayanya Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi Pengamatan selama 5 minggu. • • c. 3. f. dilakukan pada akhir pengamatan.25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 3 menit Membilas eksplan dengan aquadest steril Penanaman eksplan Membuka plastik penutup botol media kultur Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. 32 . meliputi Saat muncul akar. dilakukan pada akhir pengamatan d. • • • Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja Persiapan eksplan Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. b. pinset selalu dibakar diatas api Selama penanaman. dilanjutkan dengan chlorox 5.d. tunas. e. • • • e.

Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. Saat Muncul Akar Tabel 2. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. penggunaan media yang sesuai. HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Saat Muncul Akar Tanaman Mawar Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung.3 gram dalam 100 ml aquadest. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Mushage and Skoog (MS). yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Dithane M-45 dan Agrept 33 . artinya organ tersebut masih aktif membelah.) digunakan bahan tanam berupa ruas-ruas batang muda tanaman mawar. Pada kultur jaringan mawar (Rosa sp. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah mawar (Rosa sp) yaitu bagian batangnya. Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan tipis. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. Penggunaan ruas batang muda mawar bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik.D.

mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan mawar terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. mendorong proliferasi meristem ujung. Kontaminasi sangat beragam. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan mawar diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. tunas. proliferasi kalus. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. menstimulir terjadinya pembelahan sel. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. Dalam aktivitas kultur jaringan. vitamin. dan mineral.merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur mawar. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. BAP berperan dalam pembentukan tunas. maupun kalus. 34 .

penggunaan bahan sterilisasi. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Saat muncul tunas tanaman mawar Tabel 2.2. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. pengirisan. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. hijau. media dan suplemen media yang beragam. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. 35 . Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. kuning. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. penggunaan api dan lain-lain.2 Saat muncul tunas tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas.

penggunaan bahan sterilisasi. Saat muncul kalus tanaman mawar 36 . pengirisan. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Saat muncul daun tanaman mawar Tabel 2. kuning. media dan suplemen media yang beragam. hijau.3 Saat muncul daun tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Mawar 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. penggunaan api dan lain-lain. 4.3. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal.

Tabel 2.4 Saat muncul kalus tanaman mawar Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus -

Mawar

Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam, hijau, kuning, dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal, media dan suplemen media yang beragam, penggunaan bahan sterilisasi, pengirisan, penggunaan api dan lain-lain.

5. Presentase Keberhasilan
37

Tabel 2.5 Persentase Keberhasilan Kultur Mawar Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%)
0 × 100% = 0% 10

Mawar 0 10 Sumber : Laporan Sementara

Berdasarkan data diatas eksplan mawar memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat, media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. Praktikum acara kultur jaringan mawar ini menggunakan eksplan berupa batang. Media kultur yang digunakan adalah media MS dengan tambahan ZPT berupa BAP dan IBA. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan mawar tidak ada akar, tunas, daun, dan kalus yang muncul. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya; a. Media yang telah terkontaminasi jamur. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. Disamping itu, terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. b. Eksplan yang terkontaminasi. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. c. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. Peralatan – peralatan seperti pinset, botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan
38

pensterilan. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. Dalam praktikum ini, komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Setelah eksplan ditanam, botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu, cahaya dan kelembabannya. Selain ZPT, faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis, umur ontogenik, ukuran eksplan, dan bagian tanaman yang diambil. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi, sel-selnya masih aktif membelah, dan relatif sedikit mengandung kontaminan. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. Pada fase juvenil, pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem, yaitu dapat berupa ujung akar, tunas atau daun muda. E. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum acara II adalah : a. adanya jamur dan bakteri. b. c. d. Penggunaan media yang sesuai dan keadaan yang aseptik mempengaruhi keberhasilan kultur jaringan. Faktor yang penyebab kontaminasi adalah sterilisasi yang kurang sempurna dari media atau eksplan dan kecerobohan manusia. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP.
39

Eksplan dan media terkontaminasi dengan ditandai

e.
f. g.

Fungsi

dari

IBA

yaitu

berpengaruh

dalam

pembentukan akar. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas.
Kematian eksplan disebabkan karena media dan eksplan yang terkontaminasi serta peralatan yang kurang steril.

Pada akhir pengamatan tidak terbentuk akar, tunas, daun, dan kalus. Saran


o

Harus diperhatikan prosedur pelaksanaan sterilisasi baik alat maupun bahan yang digunakan harus disterilisasi sehingga benar-benar steril. Pemeliharaan eksplan harus diperhatikan dengan benar. Sebaiknya bahan eksplan yang digunakan dipilih dari jaringan tanaman yang masih muda (meristem) yang masih aktif membelah.

o

o

DAFTAR PUSTAKA
40

E. Jurnal Ilmiah : Berita Biologi.Yogyakarta : UGM Press http://holtikultura. Boston. Or.litbang. Sudaryono dan S. Komposisi Media dan Eksplan Untuk Inisiasi Poliferasi Salak Secara Invitro. Diakses tanggal.biogenonline. http://www. 2008b. Mariska dan R. Van Harten.pustaka -deptan. Anonim. Darliah.go. How To Growth Roses. N.deptan.kuljar. D. Tjitrosoepomo. H. Nedherland.id. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk Konservasi In Vitro Mawar (Rosa sp. 1.. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk konservasi in vitro mawar (Rossa sp). 2003. 2004. Lane Magazine and Book Company.Allen. Vol 5(2):15-24. Hoesen. Martin.progressio. Elsevier. P. Birkhavser Inc. Buletin Teknik Pertanian Vol 9 No. Indonesia University Press. and A. Purnomo. M.M. Marlina. http://www. 2008a. 5(4) : 365-371. http://warintek. Jurnal Penelitian Hortikultura. Hortikultura Aspek Budidaya. California. Jakarta.org/wiki/Mawar.id. 2001. Anonim. 1978. Peningkatan Keragaman Genetik Mawar Mini Melalui Kultur In Vitro dan Iradiasi Sinar Gamma. 2001. W. Mawr Hias.Katalog teknologi unggulan holtikultura 15 Desember ACARA III KULTUR JARINGAN WORTEL (Daucus carota) 41 . diakses tanggal 15 Desember 2007. 345 p. Ilmiah : Berita biologi. Purnamaningsih. 1978. ---------.R. Diakses tanggal 18 Desember 2008. C.com.E. Boertjes.Gembong. Tissue Culture Techniques : An Introduction. http://id. I. 5(4) 279-285.go. Handayati. 2004. Nina. 1995. Sumeru. J. Anonim. Biologi Sel dan Jaringan. Mawar. B. Marlina. S. 18 Desember 2008.Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. Perbanyakan dan penyimpanan Kultur Sambung Nyawa(Gynura procumbers) dengan Teknik In Vitro. 2004. Applied Mutation Breeding for Vegetatively Propagated Crops. Prihardini. D. Id : diakses tanggal 2007 Ashari.1949.). T. 1994. USA.

Wortel tidak tahan disimpan sebagai benih lebih dari satu bulan sejak berkecambah di pohon karena tidak memiliki masa dormansi sehingga diduga wortel termasuk dalam rekalsitran tinggi (highly rekalsitran). dan 42 .A. Kebanyakan tanah dataran tinggi di Indonesia mempunyai pH rendah. dan cukup sinar matahari. lobak dan tomat. mempunyai ciri-ciri fisik yang baik. PENDAHULUAN 1. berbuah lebat stabil. Benih yang akan dijadikan bibit harus dipilih benih yang baik. lembap. dan kotiledon dalam keadaaan sehat. Benih yang baik dihasilkan dari pohon induk yang baik. kubis. Latar Belakang Wortel merupakan tanaman subtropis yang memerlukan suhu dingin (22-24° C). karena tanah yang asam menghambat perkembangan umbi. gembur dan kaya humus dengan pH antara 5. terletak pada batang utama. umur tanaman cukup dan keadaan tanaman sehat tidak berpenyakit atau terserang hama. labu siam. buah berumur tua. Wortel (Daucus carota) merupakan tanaman sayuran dataran tinggi yang telah lama dikenal petani di Indonesia selain bawang putih. Bila demikian. sawi . Sekarang wortel sudah dapat ditanam di daerah berketinggian 600 m dpl. Tanah yang kurang subur masih dapat ditanami wortel asalkan dilakukan pemupukan intensif. Di Indonesia kondisi seperti itu biasanya terdapat di daerah berketinggian antara 1. Perbanyakan tanaman dengan cara vegetatif adalah dengan stek yang telah berakar sempurna yang diperoleh dari batang yang muda namun cara ini jarang dilakukan karena produksi dan produktivitas buahnya rendah. Umumnya benih rekalsitran tidak mempunyai masa dormansi proses metabolisme perkecambahan berjalan terus (Copeland dan McDonald 1995) bahkan benih wortel dapat berkecambah ketika masih di pohon (perkecambahan dini) atau bersifat vivipary.200-1. Berdasarkan ciri fisiknya diduga benih wortel tergolong sebagai benih rekalsitran dengan karakteristik kadar airnya tinggi sehingga mudah terkontaminasi mikroba dan lebih cepat mengalami kemunduran.5-6. Dianjurkan untuk menanam wortel pada tanah yang subur. Perbanyakan tanaman wortel selama ini dilakukan secara generatif dengan penanaman umbi akar yang matang dan telah berkecambah.500 m dpl. Buah yang dipakai sebagai benih merupakan panenan pertama.5. yakni tanaman tumbuh subur normal. tanah perlu dikapur. bermutu.

buah telah berakar dan berkecambah sepanjang 2-4 cm dengan daun sepasang. 43 . 2. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara kedua ini yaitu Kultur jaringan wortel dilaksanakan pada : Waktu : Senin. Masih banyak permasalahan yang belum diketahui pada benih wortel khususnya mengenai fenomena vivipary wortel varietas lokal daerah Cipanas yang merupakan daerah sentra wortel. Penelitian mengenai kandungan gizi kegunaan dan jumlah species wortel telah banyak dilakukan di Luar Negeri seperti di Negara Amerika Tengah. dan lebih baik jika memakai jaringan cambium.bentuknya normal. Dalam praktikum kultur jaringan wortel ini. 3. Mengetahui pengaruh IBA dan BAP terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan wortel. 20 Oktober 2008. Untuk memenuhi permintaan pasar yang banyak dapat dilakukan perbanyakan dengan kultur jaringan. terletak di bagian tengah batang atau pada batang pokok.umbi wortel yang di ambil langsung dari lapangan jauh lebih baik dari pada yang dibeli dari pasar. benih tidak diserang hama dan penyakit. dapat menyediakan bibit dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat. Mengetahui teknik kultur jaringan wortel. ukuran benih seragam. b. Benih wortel yang digunakan untuk perbanyakan tanaman beratnya rata-rata 300-400 gram dengan kondisi voluminous dan resiko kerusakan yang tinggi. Transportasi benih dari daerah pertanaman wortel yang menyebar ke seluruh wilayah Indonesia merupakan hal yang sulit. eksplan yang digunakan untuk kultur jaringan adalah umbi akarnya. jaringan floem dan sekitarnya. Kultur jaringan merupakan salah satu alternatif perbanyakan tanaman secara vegetatif yang memiliki keunggulan antara lain. Selama ini benih wortel dikembang biakkan dalam bentuk umbi yang sudah berkecambah dan sehat pada umur 42 hari setelah anthesis (HSA). Tujuan Tujuan praktikum ini adalah : a.

Tumbuhan wortel mernbutuhkan sinar matahari dan dapat turnbuh pada sernua musim.a) Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan sayur yang ditanam sepanjang tahun. Menurut para botanis.b) Sayuran ini sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia dan populer sebagai sumber vit. B. Umbi akar wortel berwarna khas oranye. . yakni wortel hasil kornbinasi dari jenis wortel imperator dan chantenang.2008.Tempat : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. wortel juga mengandung vit. Linn. kurang lebih pada ketinggian 1200 ineter di atas permukaan laut. dengan bunga berwarna putih. 44 . TINJAUAN PUSTAKA Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan jenis sayuran umbi yang biasanya berwarna jingga atau putih dengan tekstur serupa kayu. Wortel menyukai tanah yang gembur dan subur. Batang bunga tumbuh setinggi sekitar 1 m. Selain itu. di antaranya: WORTEL (Daucus carota.jenis imperator.24 bulan) yang menyimpan karbohidrat dalam jumlah besar untuk tumbuhan tersebut berbunga pada tahun kedua.2008. mirip daun seledri.jenis chantenang. Terutama di daerah pegunungan yang memiliki suhu udara dingin dan lembab. wortel (Daucus carota) dapat dibedakan atas beberapa jenis.jenis mantes. . B. A karena memiliki kadar karotena (provitamin A). Wortel adalah tumbuhan biennial (siklus hidup 12 . Wortel mempunyai batang daun basah yang berupa sekumpulan pelepah (tangkai daun) yang muncul dari pangkal buah bagian atas (umbi akar). (Anonim. Bagian yang dapat dimakan dari wortel adalah bagian umbi atau akarnya.) . Kerajaan: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Apiales Famili: Apiaceae Genus: Daucus Spesies: Daucus carota (Anonim. yakni wortel yang memiliki umbi akar berbentuk bulat panjang dan rasanya manis. yakni wortel yang memiliki umbi akar berukuran panjang dengan ujung meruncing dan rasanya kurang manis.

G. (Anonim. sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi atau bahan kimiawi. memanjang seperti kerucut dengan ujung umbi bertipe imperator (meruncing). baik sendiri maupun dalam kombinasi dengan asam naftalenasetat atau asam indolasetat dan kadang dengan asam giberelat. sedangkan rasio sebaliknya akan menginduksi pembentukan tunas.c) Wortel berumbi sedang memiliki tiga bentuk.2008.1996 : 128) Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah. Whiter melaporkan keberhasilannya dalam membuat kultur kalus dari wortel (link to kultur kalus wortel) dan tembakau. Bensil adenin dan sitokinin. Kultur jaringan (sel) adalah mengkultur/membiakkan jaringan (sel) untuk memperoleh individu baru. Sifat TOTIPOTENSIAL tanaman. Mempunyai batang pendek. Dari pihak lain. berakar tunggang yang bentuk dan fungsinya berubah menjadi umbi bulat dan memanjang. (Lydiane Kyte. C. Pemilihan metode didasarkan pada sifat bahan yang akan 45 . serta zat-zat lain yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Pada tahun 1957. Penelitian mereka pada tembakau mengindikasikan bahwa perbandingan auksin dan sitokinin yang tinggi akan menginduksi pengakaran. Organogenesis adalah proses yang menginduksi pembentukan jaringan.C. Penemu F. Umbi berwarna kuning kemerah-merahan. dan jika dimakan mentah terasa renyah dan agak manis.d) Kultur jaringan tanaman pertama kali berhasil dilakukan ole White pada thaun 1934. chantenay yang tumpul. sedikit vit. Sosok tanamannya berupa rumput dan menyimpan cadangan makanannya di dalam umbi. Steward menggunakan jaringan floem akar wortel. memanjang seperti silinder dengan ujung umbi bertipe nantes. 1990). Pada tahun 1939. Akan tetapi pola respon ini tidak berlaku universal. Bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. berkulit tipis. Proses ini diawali oleh hormon pertumbuhan. tulisan penting Skoog dan Miller dipublikasikan dimana mereka menyatakan bahwa interkasi kuantitatif antara auksin dan sitokinin menentukan tipe pertumbuhan dan morfogenik yang akan terjadi. menyebabkan diferensiasi dan pembentukan tunas (Moore.vit.2008. Wortel berumbi panjang berbentuk kerucut dengan ujung bertipe imperator atau meruncing. (Anonim. dapat diterapkan untuk kultur jaringan. sel atau kalus menjadi tunas dan tanaman sempurna.

1990). membentuk akar atau tunas. 1994). Perubahan sifat genetik yang diekspresikan pada perubahan kelopak dan warna bunga dapat dilihat mulai dari biakan dalam botol. menghambat kerja sitokinin. Terjadinya perubahan pada kelopak dan warna bunga dapat terjadi karena adanya mutasi pada kumpulan sel somatik dan dapat terekspresi pada sel meristem dan akan membentuk suatu sektor yang stabil (Boertjes dan Van Harten 1978). membentuk klorofil dalam kalus. tanaman asal eksplan tersebut. mendorong proses embryogenesis. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies.disterilkan. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. alkohol dan hormon (Widiastuti dan Anggraini. serta hara mineral. air. perubahan warna tetap dipertahankan. serta dapat mempengaruhi kestabilan genetic tanaman (Wetter and Corstabel. Setelah diaklimatisasi dan diperbanyak secara konvensional. Dalam aktivitas kultur jaringan. vitamin. bahkan varietas. Medium MS dan modifikasi konsentrasi persenyawaan dengan penambahan auksin dan sitokinin merupakan komposisi media tumbuh yang biasa digunakan untuk inisiasi kalus Keberhasilan perbanyakan massal secara invitro sangat bergantung pada komposisi media tumbuh dan pemilihan bahan eksplan yang tepat tetapi kebutuhan optimal unsur hara 46 . auksin sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus. Sebagian besar kultur aseptik tidak mampu melakukan fotosintesis sehingga diperlukan sumber karbon dalam bentuk sukrosa atau glukosa. Kultur mata tunas merupakan salah satu teknik in-vitro yang digunakan untuk perbanyakan tanaman dengan merangsang munculnya tunas-tunas aksilar dari mata tunas yang dikulturkan. Seperti halnya kultur pucuk. 1978). Media tumbuh untuk kultur in vitro diusahakan mempunyai kondisi lingkungan yang terkontrol. eksplan yang digunakan dalam kultur mata tunas dapat berasal dari tunas lateral. mendorong morfogenesis kalus. tunas samping atau bagian dari batang yang mengandung satu atau lebih mata tunas (Allen. bahan organik. Yang umum digunakan secara rutin di laboratorium adalah menggunakan panas (Hadioetomo. 1982).

d. LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridsh dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. g.dan zat pengatur tumbuh bervariasi antar setiap fase pertumbuhan dan perbanyakan antar varietas dan klon. 2003). et al. a. ALAT. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • Membilas eksplan dengan aquadest steril 47 b. C. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi media dan zat penghambat tumbuh terhadap umur simpan dan ketahanan planlet untuk konservasi tanaman mawar Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda jenis bahan kimia atau konsentrasinya. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. 2004). dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman. BAHAN. Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. b. DAN CARA KERJA Alat a. Bahan Eksplan : nanas (Ananas comosus ) dan wortel (Daucus carota) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja a. dilanjutkan dengan chlorox 5. c. e.25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 . c. mikro. (Prihardini. (Marlina. Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro. f. Persiapan eksplan b.

daun dan kalus (HST). e. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. diamati setiap hari Jumlah akar. pinset harus selalu dibakar diatas api. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Selama penanaman. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk Setelah digunakan. Persentase keberhasilan. tunas dan daun.c. tunas. Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. d. meliputi • • • Saat muncul akar. Pengamatan selama 5 minggu. Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. D. kelembaban dan cahayanya. menghindari kontaminasi. Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. dilakukan pada akhir pengamatan f. Saat Muncul Akar 48 . Penanaman eksplan • • • Membuka plastik penutup botol media kultur. diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). dilakukan pada akhir pengamatan.

49 . Pada kultur jaringan wortel (Daucus carota) digunakan bahan tanam berupa bagian tengah dari umbi akarnya yang berwarna kuning. Eksplan yang digunakan ini merupakan jaringan floem dan cambium di sekitarnya. Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur wortel. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah wortel (Daucus carota) yaitu bagian umbi akarnya. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. penggunaan media yang sesuai. Penggunaan bagian tengah dari umbi akar wortel yang berwarna kuning oranye ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik.3 gram dalam 100 ml aquadest. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan.1 Saat Muncul Akar Tanaman Wortel Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung.Tabel 3. artinya organ tersebut masih aktif membelah.

tunas. tunas. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. proliferasi kalus. vitamin. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan 50 . mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. daun. menstimulir terjadinya pembelahan sel. BAP berperan dalam pembentukan tunas. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan wortel terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. dan putih. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan wortel diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. Dalam aktivitas kultur jaringan. Kontaminasi sangat beragam. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. mendorong proliferasi meristem ujung. dan mineral. dan mineral. Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. maupun kalus. Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula. hitam. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin.Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Pada penanaman eksplan wortel tidak ada yang membentuk akar. vitamin. maupun kalus. Pada penanaman eksplan wortel semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri.

Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. hijau. pengirisan.2 Saat muncul tunas tanaman wortel Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. kuning. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. 2. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. media dan suplemen media yang beragam. penggunaan bahan sterilisasi. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Hasil-hasil 51 . Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. penggunaan api dan lain-lain. Saat Muncul Tunas Tabel 3.berulang-ulang menggunkan spirtus. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi.

Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. media dan suplemen media yang beragam. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam.3 Saat muncul daun tanaman wortel Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Wortel 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. Saat muncul kalus Tabel 3. pengirisan. 3. penggunaan api dan lain-lain. hijau. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. zat pengatur tumbuh. penggunaan bahan sterilisasi. Saat muncul daun Tabel 3.penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. seperti kebutuhan nutrisi. tanaman asal eksplan tersebut. 4. lingkungan kultur. komposisi media.4 Saat muncul kalus tanaman wortel 52 . Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. dll. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Oleh karena itu. kuning. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. bahkan varietas.

media dan suplemen media yang beragam. penggunaan api dan lain-lain. penggunaan bahan sterilisasi. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam.5 Persentase Keberhasilan Kultur Wortel Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 53 . kuning.Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - Wortel Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. pengirisan. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. Presentase keberhasilan Tabel 3. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. hijau. 5.

Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. Media yang telah terkontaminasi jamur. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan wortel tidak ada akar. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. Media kultur yang digunakan adalah media MS dengan tambahan ZPT berupa BAP dan IBA. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. Peralatan – peralatan seperti pinset. f. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. daun. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. e. Praktikum acara kultur jaringan wortel ini menggunakan eksplan berupa bagian tengah atau jaringan floem dari umbi akar. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan.Wortel 0 10 Sumber : Laporan Sementara 0 × 100% = 0% 10 Berdasarkan data diatas eksplan wortel memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. Eksplan yang terkontaminasi. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. tunas. d. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Disamping itu. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. 54 . dan kalus yang muncul.

Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Selain ZPT. Oleh karena itu. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. dan bagian tanaman yang diambil. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. lingkungan kultur. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. dan relatif sedikit mengandung kontaminan.Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Pada fase juvenil. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu. umur ontogenik. yaitu dapat berupa ujung akar. tanaman asal eksplan tersebut. Setelah eksplan ditanam. seperti kebutuhan nutrisi. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama 55 . atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. ukuran eksplan. Dalam praktikum ini. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. bahkan varietas. komposisi media. sel-selnya masih aktif membelah. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. zat pengatur tumbuh. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. dll. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem. cahaya dan kelembabannya. tunas atau daun muda.

bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan. dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a.http://en. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. How To Growth Roses. baik untuk peralatan maupun media itu sendiri. 3 ulangan terdapat jamur. Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat. Anonim.2008. Pada kultur jaringan wortel.Wortel. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan Dari praktikum kultur jaringan wortel yang telah dilakukan. Lane Magazine and Book Company. d. 1978. c. 2 ulangan terdapat bakteri dan 2 ulangan. California.org/wiki/wortel 56 . sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal mungkin. medianya berwarna kuning. DAFTAR PUSTAKA Allen. Persentase keberhasilan dari kultur jaringan wortel adalah 0 %  Saran Untuk meningkatkan presentase keberhasilan. dari 10 eksplan yang ditanam tidak ada yang berhasil tumbuh. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan. e. D. Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. E. b. Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. USA.wikipedia.E.

1978. http://www. T. 2003.C.. Vol 4(2):71-73. Prihardini.deptan. 1. N. P.id.Anonim. Meldia. and A. Biochemistry and Physiology of Plant Hormone.Perbanyakan tanaman wortel. Mikrobia Dasar Dalam Praktek. 2003. Elsevier. 1990.com Boertjes. Applied Mutation Breeding for Vegetatively Propagated Crops. The Prairie Regional Laboratory of The National Research. Komposisi Media dan Eksplan Untuk Inisiasi Poliferasi Salak Secara Invitro. Springer-Verlag.php? mnu=2&id=150 Anonim.2008..Teknik Perbanyakan tanaman Wortel. Jurnal Penelitian Hortikultura. Pengaruh Air Kelapa Terhadap Pembentukan Protocorm Like Bodies (PLBS) dari Anggrek Vanda dalam Medium Cair. PENDAHULUAN Latar Belakang 57 . Nedherland. D dan Anggraini. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. Purnomo.litbang. 1. I. Sudaryono dan S. Marlina. Widiastuti. 345 p.R.E. S.iptek. S.http://plantasia. Jakarta. Berlin. Hort 13(3) : 157-168. 1994. T. Buletin Teknik Pertanian Vol 9 No. Purnomo. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk konservasi in vitro mawar (Rossa sp). 1982. Plant Tissue Culture Methods. Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Nanas. Vol 5(2):15-24.go. R and F. Jurnal Hortikultura. C. S. Gramedia. dan Kartono.cybermediaclips. Moore. Y.net. Hardiati. 2004. Sukmayadi. http://holtikultura.M. Hadioetomo. Van Harten.id/ind/pd_tanobat /view.2008.Katalog teknologi unggulan holtikultura ACARA IV KULTUR JARINGAN NANAS (Ananas comosus) A. Wetter. J. Corstabel.S. L. 1990. P.

maupun konsumsi dalam negeri. Salah satu komoditas yang dikembangkan adalah nenas. media cair.) Merr. oleh karena adanya keengganan para peneliti melakukannya. Perbanyakan melalui kultur jaringan merupakan metode alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. Perbanyakan melalui kultur jaringan merupakan metode alternatife untuk memecahkan masalah tersebut. potensi agroklimat dan luasan lahan yang tersedia sangat memadai. padahal sebagai negara yang berada di wilayah tropik. Merr. ketersediaan varietas lokal yang potensial untuk komersialisasi. Permasalahan yang dihadapi agribisnis tanaman nenas antara lain: 1. yaitu media padat. sehingga meningkatkan pendapatan devisa negara dan selanjutnya akan berkait dengan peningkatan pendapatan pelaku-pelaku agribisnis tanaman nenas. Rasa buah nanas manis sampai agak masam segar. buah dalam sirop dan lain-lain. Hal ini karena kegiatan pengembangan varietas dalam pengertian pemuliaan tanaman belum banyak dilakukan. Untuk skala industri. baik untuk ekspor. Varietas nenas yang ada saat ini umumnya belum dapat memenuhi standar mutu yang disyaratkan dalam pengembangan skala industri. atau modifikasi antara keduanya. sehingga disukai masyarakat luas. Salah satu komponen yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan tanaman dalam kultur jaringan adalah keadaan media secara fisik. perbanyakan secara konvensional kurang efektif karena jumlah bibit yang dihasilkan sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang relatife lama.Nenas (Ananas comosus L. Nanas merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas. perbanyakan secara konvensional kurang efektif karena jumlah bibit yang dihasilkan sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang relatif lama. terutama untuk konsumsi segar. Buah nanas selain dikonsumsi segar juga diolah menjadi berbagai macam makanan dan minuman. Untuk skala industri. Peran Indonesia dalam pasar global nenas belum berarti. Apabila potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimum maka nenas dapat dijadikan buah-buahan andalan. yang disebabkan perlunya waktu yang relatif lama untuk memperoleh hibrida unggul hasil 58 . karena nenas (Ananas comusus (L.) merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas.) merupakan salah satu dari tiga buah terpenting dari wilayah tropika. seperti selai.

Terbatasnya teknik budidaya yang diterapkan oleh petani nenas juga menyebabkan kualitas nenas menjadi tidak baik. 2. Masih rendahnya penerimaan konsumen terhadap nenas yang disebabkan oleh tingginya kadar Ca-oksalat yang memberikan rasa gatal yang tidak nyaman dan mitos bahwa nenas tidak baik bagi wanita dan dapat menyebabkan keguguran. Belum tersedianya teknologi pembibitan yang cepat dan menjamin keseragaman dan kestabilan hasil dan kualitas hasil. Belum tersedianya paket teknologi produksi dan pasca panen bagi optimasi produktivitas. Dalam praktikum kultur jaringan nanas ini. Jenis jaringan yang digunakan adalah jaringan meristem yang masih terus aktif membelah. padahal tanaman nenas Executive Summary Nenas mengalami penurunan produktivitas setelah tiga generasi bibit. penjaminan mutu hasil dan upaya mempertahan-kan mutu dalam jangka waktu lebih panjang. menjadi tidak efisien. Waktu dan Tempat Praktikum 59 . terutama pengalengan. termasuk untuk memperpanjang daya simpan (shelf life). padahal untuk menghasilkan nenas dengan mutu yang baik diperlukan kawalan teknologi. 4. eksplan yang digunakan adalah bagian atas dari bonggol nanas yang berwarna putih yang merupakan bagian dari ibu tangkai bunga nanas. 3.persilangan. sehingga memerlukan peremajaan secara teratur dan dukungan teknologi perbanyakan bibit yang mampu menjamin keseragaman dalam waktu yang cepat. Pada saat ini masih dihadapi masalah ketidakseragaman ukuran dan ketidaksesuaian bentuk buah dan waktu panen sehingga proses pengolahan nenas. 3. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan Tujuan dari praktikum kultur jaringan nanas (Ananas comosus) ini adalah : perkembangan eksplan nanas dan wortel. Tujuan Mengetahui teknik kultur jaringan nanas dan wortel. a. b. 2. dan material genetik untuk keperluan pemuliaan tanaman masih belum tersedia.

2003). Memiliki nama daerah danas (Sunda) dan neneh (Sumatera). merupakan salah satu komoditas buah tropis yang penting bila dilihat dari kegunaan dan nilai ekonomis serta mempunyai kontribusi 8% dari produksi segar dunia. Dewasa ini ragam varietas/cultivar nanas yang dikategorikan unggul adalah nanas Bogor. Puerte Rico. masuk ke Indonesia pada abad ke-15. B. Mexico dan Malaysia. dan meluas dikebunkan di lahan kering (tegalan) di seluruh wilayah nusantara. Pada abad ke-16 orang Spanyol membawa nanas ini ke Filipina dan Semenanjung Malaysia.Praktikum acara kedua ini yaitu kultur jaringan (Ananas comosus) dilaksanakan pada : Waktu Tempat : Senin. (1599). Klasifikasi tanaman nanas adalah: Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus : Plantae (tumbuh-tumbuhan) : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) : Angiospermae (berbiji tertutup) : Farinosae (Bromeliales) : Bromiliaceae : Ananas 60 . 2008a). Golongan Spanish dikembangkan di kepulauan India Barat. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.. Golongan Abacaxi banyak ditanam di Brazilia. Nanas berasal dari Brasilia (Amerika Selatan) yang telah di domestikasi disana sebelum masa Colombus. Tanaman ini kini dipelihara di daerah tropik dan sub tropik. Nanas (Ananas comosus (L) Merr. TINJAUAN PUSTAKA Varietas cultivar nanas yang banyak ditanam di Indonesia adalah golongan Cayene dan Queen. Di Indonesia pada mulanya hanya sebagai tanaman pekarangan. Subang dan Palembang (Anonim. dan Indonesia merupakan negara penghasil nanas olahan dan segar terbesar ketiga setelah Thailand dan Philipina (Hardiati et al. Nanas merupakan tanaman buah berupa semak yang memiliki nama ilmiah Ananas comosus. Dalam bahasa Inggris disebut pineapple dan orang-orang Spanyol menyebutnya pina.

Indonesia mempunyai peluang yang sangat baik untuk memposisikan diri sebagai salah satu produsen dan eksportir utama produk nenas. bentuk malai terdapat di ujung batang berwarna ungu kemerahan. Transportasi pengiriman mudah. dan 6) stek batang.2008. dan lebih mudah untuk pengangkutannya. yaitu dua anakan per tanaman per tahun. permukaan buah seperti sisik atau genting kecil yang tersusun rapi. biasanya petani menggunakan bibit yang berasal dari anakan yang tidak diketahui kesehatannya dan tidak seragam. Bibit yang dihasilkan relatif seragam. Daun tunggal bentuk pedang. harum dan tidak berbiji.c) : Ananas comosus (L) Merr Herba yang mempunyai batang semu dengan tinggi 30 . Daging buah berwarna putih kekuningan mengandung banyak cairan yang rasanya manis. 4) tunas dasar buah. Keunggulan pengembangan tanaman nanas dengan metode kultur jaringan atau secara in vitro yaitu :     Dapat menyediakan bibit secara cepat dan massal dalam waktu relatif singkat. (Naibaho. 2) tunas batang. warna hijau kekuningan sampai jingga. 5) mahkota buah. Bunganya majemuk. Ketersediaan bibit anakan juga sangat terbatas. Buah berbentuk menyilinder. Dari beberapa metode perbanyakan yang ada. seragam. Selain itu perbanyakan nenas dapat dilakukan melalui kultur jaringan.2008. Sedangkan kelemahan pengembangan tanaman nanas dengan metode kultur jaringan yaitu : 61 . 3) tunas tangkai buah. Bibit yang dihasilkan sehat. Kedua teknik ini memungkinkan untuk menyediakan bibit nenas dalam jumlah banyak. ujung lancip tepi berduri kecil dan tajam.c) Nenas merupakan salah satu komoditas penting unggulan Indonesia dilihat dari kegunaan dan nilai ekonominya serta mempunyai kandungan gizi yang tinggi. Naekman.Species (Anonim. Alternatif yang dapat dilakukan adalah melalui cara teknik kultur jaringan in vitro dan cara stek daun. Perbanyakan tanaman nenas secara umum dapat dilakukan secara vegetatif menggunakan: 1) tunas akar.50 cm mempunyai batang dalam bentuk roset dengan pangkal yang melebar dan menjadi pelepah. (Anonim. 2008). asam.

2008) Kendala yang dihadapi dalam pengembangan agroindustri nenas antara lain adalah belum tersedianya varietas yang sesuai dengan permintaan industri pengolahan. karena melalui perbanyakan vegetatif konvensional lajunya sangat lambat. 62 . keinginan konsumen dan eksportir buah segar.   Kemungkinan terjadinya variasi somaklonal Proses produksi bibit memerlukan investasi relatif besar Membutuhkan keahlian khusus.Kusuma. Kendala produksi di lapangan adalah belum tersedianya teknologi bagi pengendalian pertumbuhan vegetatif maupun reproduktif agar produktivitas dan kualitas hasil tinggi. Masalah dalam pengembangan nenas adalah penyediaan bibit dalam jumlah banyak secara cepat. 2008b). yang pada gilirannya perlu ditunjang dengan penanganan pasca panen yang tepat (Anonim. sehingga belum dapat ditransfer ke pada kalangan petani biasa Tahap-tahap perbanyakan bibit secara kultur jaringan adalah :  Pemilihan pohon induk  Persiapan bahan perbanyakan  Inisiasi  Multiplikasi (regenerasi)  Aklimatisasi  Pembesaran di nursery/pembibitan  Penanaman di lapangan (Darma.

a. b. sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi atau bahan kimiawi. ALAT. Dari pihak lain. BAHAN. membentuk akar atau tunas. serta dapat mempengaruhi kestabilan genetic tanaman (Wetter and Corstabel. Bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. Sebagian besar kultur aseptik tidak mampu melakukan fotosintesis sehingga diperlukan sumber karbon dalam bentuk sukrosa atau glukosa. 1994). Dalam aktivitas kultur jaringan. c. air. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. 1. membentuk klorofil dalam kalus. Media tumbuh untuk kultur in vitro diusahakan mempunyai kondisi lingkungan yang terkontrol.Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah. alkohol dan hormon (Widiastuti dan Anggraini. Yang umum digunakan secara rutin di laboratorium adalah menggunakan panas (Hadioetomo. a. serta hara mineral. menghambat kerja sitokinin. 3. 1990). mendorong morfogenesis kalus. c. f. g. b. 2. Bahan a. DAN CARA KERJA Alat LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridish dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. e. C. 1982). vitamin. bahan organik. auksin sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus. Persiapan eksplan Eksplan : nanas (Ananas comosus ) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja 63 . Pemilihan metode didasarkan pada sifat bahan yang akan disterilkan. mendorong proses embryogenesis. d.

Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. dilanjutkan dengan chlorox 5. menghindari kontaminasi. Persentase keberhasilan. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. d. kelembaban dan cahayanya.25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 Setelah digunakan.1 Saat Muncul Akar Tanaman Nanas 64 . mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk c. pinset harus selalu dibakar diatas api. dilakukan pada akhir pengamatan f. meliputi • • • Saat muncul akar. Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. tunas dan daun. Penanaman eksplan Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. D. Saat Muncul Akar Tabel 4. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • • • • Membilas eksplan dengan aquadest steril Membuka plastik penutup botol media kultur. Pengamatan selama 5 minggu. Selama penanaman. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. tunas. e. Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. daun dan kalus (HST).b. diamati setiap hari Jumlah akar. dilakukan pada akhir pengamatan. diamati 1 minggu sekali Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus).

artinya organ tersebut masih aktif membelah. Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan 65 . Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi. keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah nanas (Ananas comosus) yaitu bagian dari bonggol yang berwarna putih yang merupakan ibu dari tangkai bunga sedangkan jaringannya merupakan jaringan meristem yang masih aktif membelah.Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. penggunaan media yang sesuai. Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur nanas.3 gram dalam 100 ml aquadest. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. Penggunaan bagian berwarna putih dari bonggol nanas yang berwarna putih ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot.

Pada penanaman eksplan nanas tidak ada yang membentuk akar. vitamin. hitam. tunas. mendorong proliferasi meristem ujung. dan putih. maupun kalus. vitamin. tunas. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan nanas terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan nanas diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. dan mineral. daun. Pada penanaman eksplan nanas semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. dan mineral. maupun kalus. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko 66 . Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. proliferasi kalus.yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). Kontaminasi sangat beragam. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. Dalam aktivitas kultur jaringan. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. BAP berperan dalam pembentukan tunas. Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. menstimulir terjadinya pembelahan sel. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula.

terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan.2 Saat muncul tunas tanaman Nanas Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. pengirisan. penggunaan api dan lain-lain. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. kuning. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. hijau. media dan suplemen media yang beragam. Saat Muncul Tunas Tabel 4. penggunaan bahan sterilisasi. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. 2. 67 . Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan.

Oleh karena itu. seperti kebutuhan nutrisi. dll. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. kuning. komposisi media. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. tanaman asal eksplan tersebut. bahkan varietas. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama.Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. lingkungan kultur. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar. hijau. Saat Muncul Daun Tabel 4. 3.3 Saat muncul daun tanaman Nanas Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 Nanas 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan 68 . zat pengatur tumbuh.

hijau. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. penggunaan api dan lain-lain. kuning. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna 69 . 4. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. pengirisan. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Saat Muncul Kalus Tabel 4. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. penggunaan bahan sterilisasi. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri.perkembangan eksplan. media dan suplemen media yang beragam.4 Saat muncul kalus tanaman nanas Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - nanas Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar.

coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. pengirisan. Disamping itu. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. media dan suplemen media yang beragam. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan nanas tidak ada akar. penggunaan bahan sterilisasi. dan kalus yang muncul. a. daun. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. penggunaan api dan lain-lain. Media yang telah terkontaminasi jamur. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. Presentase keberhasilan Tabel 4. 5. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat.5 Persentase Keberhasilan Kultur Nanas Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 0 × 100% = 0% 10 Nanas 0 10 Sumber : Laporan Sementara Berdasarkan data diatas eksplan nanas memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. tunas. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. 70 .

Selain ZPT. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung 71 . Peralatan –peralatan seperti pinset. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. cahaya dan kelembabannya. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. tunas atau daun muda. Pada fase juvenil. umur ontogenik. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. Eksplan yang terkontaminasi. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif.b. dan relatif sedikit mengandung kontaminan. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. yaitu dapat berupa ujung akar. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. ukuran eksplan. c. sel-selnya masih aktif membelah. Dalam praktikum ini. dan bagian tanaman yang diambil. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. Setelah eksplan ditanam. pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan.

Saran Untuk meningkatkan presentase keberhasilan. zat pengatur tumbuh. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan.dari spesies. KESIMPULAN DAN SARAN 1. bahkan varietas. medianya berwarna kuning.  Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat. dll.  Persentase keberhasilan dari kultur jaringan nanas adalah 0% 2. 3 ulangan terdapat jamur. sebagai berikut :  Pada kultur jaringan nanas.  Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. baik untuk peralatan maupun media itu sendiri. tanaman asal eksplan tersebut. dari 10 eksplan yang ditanam tidak ada yang Kesimpulan Dari praktikum kultur jaringan nanas yang telah dilakukan. lingkungan kultur. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal 72 . E. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. 2 ulangan terdapat bakteri dan 2 ulangan. seperti kebutuhan nutrisi. dapat ditarik kesimpulan berhasil tumbuh. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan. Oleh karena itu.  Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan. komposisi media.

2003. 2008b. http://www. S. Anonim. Nanas (Ananas comosus). Jakarta : Litbang Departemen Pertanian Hadioetomo.ristek. 2008. R and F. Jurnal Hortikultura.iptek. J. Mikrobia Dasar Dalam Praktek. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. 1982. Pengaruh Air Kelapa Terhadap Pembentukan Protocorm Like Bodies (PLBS) dari Anggrek Vanda dalam Medium Cair.net. 2008b. S. Vol 4(2):71-73. Naibaho. Y. Purnomo. Widiastuti.S.id. http://www. S. Executive Summary Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia Komoditas Nenas. Jakarta. L. Gramedia.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Biochemistry and Physiology of Plant Hormone.. Berlin. Sukmayadi.or. Kusuma. D dan Anggraini.id. P. Jakarta: Litbang Departemen Pertanian Wetter. 1990. Diakses tanggal 20 Desember 2008. Hort 13(3) : 157-168. Plant Tissue Culture Methods. 1990. The Prairie Regional Laboratory of The National Research. Diakses tanggal 18 Desember 2008. Darma.warintek. Springer-Verlag. Moore. ----------. Diakses tanggal 18 Desember 2008.rusnasbuah.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=2&doc=2a17. Meldia. 73 . I. Hardiati. 2008a. 2008. T. Corstabel.C. Naekman. Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Nanas. Perbanyakan Massal Nanas dengan Stek Daun. 1994. Perbanyakan Massal Nanas secara In Vitro. http://www.go. dan Kartono.

Perbanyakan tanaman dapat dilakukan secara generatif dengan biji ataupun secara vegetatif dengan setek. Ada juga yang menjulukinya snake plant (tanaman ular) mungkin karena corak beberapa jenis tanaman in mirip dengan corak ular. PENDAHULUAN Latar Belakang Di Indonesia. Selain itu. cabut pucuk. sumber penghasilan. Tanaman hias bagi masyarakat bermanfaat sebagai pengindah rumah atau pekarangan. nama sansivieria lebih dikenal dengan sebutan lidah mertua (mother in-laws-tongue). dan kultur jaringan (cloning). 74 . Sanseviera merupakan tanaman yang unik yang mempunyai sifat berbeda dengan tanaman lain yaitu apabila tanaman ini distek akan menghasilkan tanaman yang berbeda dengan induknya berbeda tanaman kebanyakan yang bila diperbanyak dengan stek maka keturunannya akan sama dengan induk. Sansivieria termasuk tanaman yang sangat mudah perbanyakannya. Salah satu tanaman hias yang banyak digemari masyarakat saat ini adalah sanseviera. 1. pemisahan anakan. Kebutuhan masyarakat akan tanaman hias semakin hari semakin meningkat. menyerap polusi sehingga menimbulkan kepuasan tersendiri bagi pemiliknya. suatu penelitian juga menunjukkan bahwa tanaman sansiveira dapat bermanfaat untuk menyerap polusi.ACARA V KULTUR JARINGAN SANSIVIERIA A.

Keunggulan perbanyakan tanaman menggunakan biji antara lain dapat diperoleh tanaman dalam jumlah banyak dan seragam serta tidak merusak tanaman induk. Sansevieria (Sansevieria trifasciata) termasuk tanaman hias yang mempunyai penggemar di berbagai masyarakat dunia. pemisahan anakan. tetapi usaha perbanyakan belum cukup memadai maka diperlukan suatu teknik perbanyakan yang lebih efektif yang mampu menghasilkan tanaman dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatif singkat. sifat biji sansivieria umumnya diploid sehingga menyebabkan minimal dua keragaman dalam satu biji. Perbanyakan secara vegetative dari sansivieria dapat diperbanyak menggunakan setek. Kelemahan cara generatif ini adalah memerlukan waktu yang lama. Dengan semakin meningkatnya permintaan akan tanaman sansiveira. teknik cabut pucuk. Cara ini biasanya digunakan oleh para breeder untuk memperoleh hibrida baru. sejak tahun 2000 permintaan tanaman ini meningkat pesat dan terus meningkat hingga kini. Teknik perbanyakan yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut adalah perbanyakan dengan kultur jaringan. Teknik yang mungkin digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah secara in vitro. Pada praktikum ini eksplan yang digunakan adalah tanaman Sansivieria trifasciata yaitu bagian daun tapi pada bagian bawah yang merupakan jaringan tebal yang meristematis yaitu jaringan yang masih aktif mengalami pembelahan.Perbanyakan secara generatif dilakukan menggunakan biji. baik berupa sel jaringan atau organ tanaman dalam kondisi aseptis secara in vitro. Di Indonesia. 2. Jenis yang mendominasi adalah pedang-pedangan dan kodok-kodokan. Selain itu. tidak semua spesies mampu menghasilkan bunga dan biji. Meningkatnya permintaan tersebut masih belum dapat terpenuhi akibat petani masih menggunakan perbanyakan secara konvesional yang memerlukan waktu dan bahan tanam dalam jumlah yang banyak. dan kultur jaringan. Tujuan Praktikum acara kelima yaitu kultur jaringan sansivieria ini bertujuan untuk : 75 . Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkembangkan bagian tanaman. Selain itu.

Tumbuhan ini berdaun tebal dan memiliki kandungan air sukulen. benzene. Selain sebagai tanaman hias.a. Sanseviera memiliki keistimewaan menyerap bahan beracun.2008a) Sansevieria termasuk tanaman tropis yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan di Indonesia. banyak ditemukan ratusan species sanseviera lain yang bentuk dan warna daunnya beragam. seperti karbondioksida. 3. dan karena ini ada yang menyebut Sansevieria sebagai tanaman pedang-pedangan. Sekitar 40 persen air saja yang diperlukan tanaman yang berkembang biak melalui umbi lapis ini untuk tumbuh. Jenis sanseviera yang banyak ditanam adalah Sanseviera trifasciata atau dikenal dengan nama “lidah mertua”. 76 . formaldehyde. 20 Oktober 2008 : Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Sansevieria memang termasuk tanaman hias yang sering disimpan di dalam rumah karena tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi dengan sedikit air dan cahaya matahari. Namun dalam kondisi lembap atau basah.2008b) Dibanding tumbuhan lain. yaitu jenis yang tumbuh memanjang ke atas dengan ukuran 50-75 cm dan jenis berdaun pendek melingkar dalam bentuk roset dengan panjang 8 cm dan lebar 3-6 cm. (Anonim. Sansevieria dibagi menjadi dua jenis. atau sebagai penyekat jalan. TINJAUAN PUSTAKA Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama Lidah Mertua. Biasanya sansevieria banyak ditanam sebagai pagar rumah. sansiviera bisa tumbuh subur. B.(Anonim. dan trichloroethylene. b. Sanseviera kerap ditaruh di sudut dapur atau kamar mandi untuk meredam bau. Mengetahui pengaruh BAP dan IBA terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan sansivieria. sehingga tahan kekeringan. Sekarang ini. Kelompok panjang memiliki daun meruncing seperti mata pedang. Waktu Tempat Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara kelima yaitu kultur jaringan sansivieria ini dilakukan pada : : Senin. Mengetahui teknik kultur jaringan sansivieria.

tidak beraturan. mulai hijau tua. Dari bentuk hibrid inilah sansevieria akan tercipta dengan karakter dan fisik yang berbeda dari induknya atau yang sering disebut dengan spesies hibrid atau sansevieria hibrid. Disebut batang semu karena sesungguhnya sansivieria tidak mempunyai batang. Ditinjau berdasarkan jenisnya sansevieria ada dua jenis yakni yang pertama yaitu sansevieria keturunan asli/spesies sedangkan yang kedua adalah jenis hasil persilangan/hibridasi yang bisa disebut dengan jenis sansevieria hibrid. hijau muda. tanaman sansivieria dicirikan dengan daun yang tebal karena kandungan airnya yang tinggi. dan ada juga yang zig-zag. perak.Purwanto. Keistimewaan lidah mertua adalah memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan.2006) Sanseviera sering dikenal dengan dengan nama lidah mertua “Mother in Law Tongue”. (W. Mutasi sansevieria juga dapat terjadi dari perbanyakan melalui stek daun. hijau abu-abu. (Anonim. 2007).Warna daun Sansevieria beragam. Namun ada juga yang menyebutnya dengan tanaman ular dan pedang-pedangan karena bentuk tanaman ini yang berbentuk seperti ular dan pedang-pedangan (Anonim. Arie. dan warna kombinasi putih kuning atau hijau kuning. Pada beberapa jenis sansivieria. daun berkedudukan seperti roset mengelilingi batang semu. daun berbentuk silinder. ada yang mengikuti arah serat daun. Jenis yang lain lagi mempunyai helaian daun kaku seperti pedang. Penelitian NASA bekerja sama dengan ALCA telah menemukan bukti-bukti bahwa tanaman ini secara alami mampu mengurangi polusi tersebut. 77 .2008d) Klasifikasi ilmiah dari sansiviera yaitu : Regnum: Divisio: Kelas: Ordo: Familia: Genus: Plantae Magnoliophyta Liliopsida Asparagales Ruscaceae Sansevieria Secara morfologi. Motif alur atau garis-garis yang terdapat pada helai daun juga bervariasi. Pada jenis yang lain.

78 c. Berhasilnya pertumbuhan tunas terutama tergantung pada sumber jaringan. ALAT. Pada perkembangan sekarang teknik ini justru banyak membantu lahirnya konsep-konsep baru berbagai cabang ilmu itu sehingga keberadaannya saling menopang dalam perkembangannya (Santoso dan Nursandi. biomolekul dan fisiologi sel. Jaringan tanaman sansivieria yang dikulturkan dipilih dari jaringan yang masih muda (meristematis). dan jenis serta kadar hormon pertumbuhan yang digunakan. tetapi sampai ke tingkat karakterisasi atau kualitas selnya. a. Seiring dengan permintaan bibit sansivieria yang semakin meningkat. 2005). Perbanyakan sansiviera secara kultur jaringan (tissue culture) bertujuan untuk mendapatkan tanaman dalam jumlah besar dan seragam pertumbuhannya. waktu inokulasi dan jenis media mempengaruhi pertumbuhan eksplan (Irawati. 2005).B Juan. kadar medium. BAHAN. (Chahinian. seperti pinset besar/kecil dan pisau pemes. Jaringan meristematis ini selanjutnya ditanam di dalam botol yang berisi media buatan. DAN CARA KERJA Alat LAFC lengkap dengan lampu bunsen Petridish dan botol-botol kultur Peralatan diseksi. 1. Jaringan muda umumnya mempunyai kemampuan berdiferensiasi lebih baik. Hal tersebut mempunyai pengaruh yang cukup besar (Wetter and Corstabel. maka akan lebih banyak ditekankan penggunaan ZPT auksin (Supriati. . et al. 1982). b. anakan.. 2001). Zat pengatur tubuh sitokinin lebih banyak berperan dibandingkan dengan auksin pada tahap multiplikadi prodiferasi akar.Sebagai teknik kultur jaringan dapat dipahami perkembangannya karena didukung oleh marak dan berkembangnya studi tentang sel. cahaya.1986) C. Kemampuan regenerasi jaringan tidak hanya tergantung pada umur fisiologinya. cara perbanyakan secara konvensional menggunakan stek. dalam lingkungan steril. Sedang ukuran eksplan. hara. suhu. Satusatunya cara perbanyakan yang sanggup memenuhi kebutuhan permintaan bibit dalam jumlah besar itu hanyalah kultur jaringan. kimia dan biokimia nutrisi. dan cabut pucuk tidak lagi bisa mencukupi.

d. Lingkungan diluar botol harus dijaga suhu. f. tunas dan daun. Persiapan eksplan b. Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. a. dilanjutkan dengan chlorox 5. Bahan Eksplan : Sansiviera (Sansivieria trifasciata ) Media kultur Alkohol 96 % Aquadest steril Spirtus Chlorox (sunclin) Agrept dan Dithane Cara Kerja b. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC) • menit • • • • Membilas eksplan dengan aquadest steril Membuka plastik penutup botol media kultur.25 % (sunclin 100%) selama kira-kira 2 Setelah digunakan. diamati 1 minggu sekali 79 . kelembaban dan cahayanya. g. e. pinset harus selalu dibakar diatas api. mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk c. menghindari kontaminasi.2. Pengamatan selama 5 minggu. e. Pemeliharaan • • • Botol-botol media berisi eksplan ditempatkan di rak-rak kultur. tunas. meliputi • • Saat muncul akar. 3. daun dan kalus (HST). diamati setiap hari Jumlah akar. Penanaman eksplan Merendam eksplan kedalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama kira-kira 12 jam. c. Selama penanaman. Penyemprotan botol-botol kultur dengan spirtus dilakukan 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. d. a.

Organ tersebut akan berdeferensiasi menjadi kalus. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Dalam praktikum ini media yang digunakan adalah Murashige and Skoog (MS). penggunaan media yang sesuai. yaitu sekumpulan sel yang yang aktif membelah dan mempunyai kemungkinan menjadi zigot. artinya organ tersebut masih aktif membelah. dilakukan pada akhir pengamatan f. Saat Muncul Akar Tabel 5. Penggunaan bagian bawah dari daun yang masi muda ini bertujuan untuk mendapatkan organ yang masih juvenile sehingga bersifat meristematik. D. 80 . Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. Pada praktikum kali ini eksplan yang digunakan adalah sansiviera (Sansiviera trifasciata) yaitu bagian dari daun yang masih muda yaitu bagian bawah yang merupakan jaringan meristematik atau jaringan yang masih terus aktif membelah. Persentase keberhasilan.1 Saat Muncul Akar Tanaman Sansiviera Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Akar - 1 2 3 Sansiviera 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung.• Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus). keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. Syaratsyarat tersebut meliputi: pemilihan eksplan. dilakukan pada akhir pengamatan. Hal ini mengacu pada salah satu konsep dasar kultur jaringan yaitu organ yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai sifat totipotensi.

hitam. Dalam aktivitas kultur jaringan. yaitu dengan memotongmotong eksplan dan merendam eksplan dalam larutan campuran antara Dithane M-45 dan Agrept sebanyak 0. serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. mendorong proses embriogenesis dan mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman dalam hal ini IBA berpengaruh dalam pembentukan akar. Hifa-hifa itu memenuhi seluruh botol kultur. Fungsi dari IBA dalam aktivitas kultur jaringan yaitu sebagai hormon yang mampu menginduksi terjadinya kalus. keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminannya dan penyebab adanya bagian yang terkontaminasi bisa berasal dari media atau eksplan. Setelah disterilisasi dengan Chlorox bagian dari eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan Chlorox harus dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan Chlorox sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan. Kalus adalah sekumpulan sel yang belum terdeferensiasi menjadi akar atau batang. Setelah di rendam selama 15 sampai 30 menit eksplan diangkat dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali. proliferasi kalus. Jamur yang mengkontaminasi mempunyai hifa berwarna coklat. dan putih. BAP berperan dalam pembentukan tunas. maupun kalus. vitamin. mendorong proliferasi meristem ujung. mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. Hal ini terjadi karena terjadinya kontaminasi. Berdasarkan hasil pengamatan pada kultur jaringan sansivieria diperoleh bahwa eksplan belum mampu membentuk akar. 81 . Kontaminasi sangat beragam. tunas. Dithane M-45 dan Agrept merupakan fungisida yang berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur sansivieria.3 gram dalam 100 ml aquadest. Kontaminan terutama cendawan dan bakteri akan tumbuh secara cepat pada media yang mengandung gula. IBA (Indol Buteric Acid) merupakan hormon pengatur tumbuh yang masuk dalam kategori hormon auksin. Sedangkan BAP (6-benzylaminopurine). Pada penanaman eksplan sansivieria semua eksplan terkontaminasi oleh jamur dan ada eksplan terkontaminasi oleh bakteri. Setelah itu eksplan kembali direndam dalam Chlorox 20 % selama 3 menit dan dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali.Sebelum penanaman terlebih dulu eksplan disterilisasi. menstimulir terjadinya pembelahan sel. dan mineral. Dalam media untuk menumbuhkan eksplan sansivieria terlebih dahulu ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP.

maupun kalus.2 Saat muncul tunas tanaman Sansivieria Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Tunas - 1 2 3 Sansivieria 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan tunas. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. daun. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan 82 . Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan. tunas. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. kuning. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. dan mineral. hijau. Saat Muncul Tunas Tabel 5. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya kontaminasi eksplan dan media yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Pada penanaman eksplan sansivieria tidak ada yang membentuk akar. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan 2. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan. vitamin.Jamur/cendawan dan jamur tersebut tumbuh secara cepat karena pada media mengandung gula.

zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media. dll. pengirisan. penggunaan bahan sterilisasi. penggunaan api dan lain-lain. 3. Saat Muncul Daun Tabel 4. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. zat pengatur tumbuh.3 Saat muncul daun tanaman sansivieria Macam Eksplan Ulangan Saat muncul Daun - 1 2 3 sansivieria 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan daun. komposisi media. Dalam praktikum kali ini tidak terbentuk tunas karena eksplan mengalami kontaminasi. kuning. media dan suplemen media yang beragam. hijau. tanaman asal eksplan tersebut. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Sedangkan BAP berperan dalam pembentukan tunas. Dalam media ditambahkan ZPT yaitu IBA dan BAP. Pada 83 . Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. seperti kebutuhan nutrisi. lingkungan kultur. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. bahkan varietas. Oleh karena itu. Fungsi dari IBA yaitu berpengaruh dalam pembentukan akar.tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal.

Pada praktikum tidak ada eksplan yang memunculkan kalus. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan 84 . penggunaan bahan sterilisasi. Peristiwa pencoklatan merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi kegiatan kultur jaringan.eksplan terjadi browning atau pencoklatan. 4. kuning. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. dan ada yang putih serta terdapat bakteri yang ditandai dengan adanya lendir berwarna putih pada media.4 Saat muncul kalus tanaman sansivieria Macam Eksplan Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Saat muncul Kalus - sansivieria Sumber : Laporan Sementara Kalus merupakan sekumpulan sel yang masih aktif membelah dan belum terdeferensiasi membentuk tunas maupun akar. Pada media ditumbuhi jamur ditandai dengan adanya warna hitam. hijau. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. penggunaan api dan lain-lain. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Kalus juga dapat diartikan sebagai sekumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah diri secara terus menerus. media dan suplemen media yang beragam. pengirisan. Saat Muncul Kalus Tabel 5. Pada eksplan terjadi browning atau pencoklatan.

Hal ini dimaksudkan agar mengurangi resiko terkontaminasi eksplan terhadap jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada eksplan. penggunaan bahan sterilisasi. daun. Oleh karena itu untuk mencegah atau menghindari terjadinya eksplan yaitu dengan cara menjaga lingkungan (alat. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada eksplan sansivieria tidak ada akar. Disamping itu. pengirisan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya. Seringnya tangan keluar dari LAFC mengakibatkan eksplan dan media dapat terkontaminasi. Eksplan yang terkontaminasi.kultur jaringan. Eksplan yang terkena jamur berubah warna dari yang sebelumnya hijau menjadi hitam kecoklatan dan akhirnya membusuk. Kejadian ini dimungkinkan sekali mungkin karena bahan tanaman yang digunakan keadaannya tidak normal. terdapat koloni jamur yang ditandai dengan adanya bulu-bulu halus (spora) jamur pada media. Hal ini disebabkan seluruh eksplan yang mati baik karena mengalami browning maupun terkontaminasi oleh jamur. Presentase keberhasilan Tabel 4. dan kalus yang muncul. penggunaan api dan lain-lain. Media yang telah terkontaminasi jamur. 85 . media dan suplemen media yang beragam. Hal ini ditunjukkan pada bentuk media yang telah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi hitam kecoklatan. tunas. Kontaminasi ini disebabkan karena faktor dari luar (lingkungan) yaitu pada saat pembuatan media sampai pada pemeliharaan eksplan. Hal ini dapat dikarenakan pada saat sterilisasi perlatan maupu tangan tidak steril. media dan bahan) agar tetap steril serta saat penanaman dan pemeliharaan perlu dilakukan penyemprotan berulang-ulang menggunkan spirtus. e. d.5 Persentase Keberhasilan Kultur Sansivieria Macam Eksplan Jumlah Eksplan Hidup Mati Persentase Keberhasilan (%) 0 × 100% = 0% 10 Sansivieria 0 10 Sumber : Laporan Sementara Berdasarkan data diatas eksplan sansivieria memiliki persentase keberhasilan sebesar 0 %. 5.

zat pengatur tumbuh. zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh 86 . komponen media yang paling mempengaruhi adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) berupa BAP dan IBA. bahkan varietas. BAP merupakan ZPT golongan sitokinin yang berfungsi untuk menumbuhkan dan menggandakan tunas adventif. Sedangkan IBA berfungsi untuk mendorong terbentuknya kalus. dll. botol-botol kultur diletakkan pada rak-rak kultur yang dijaga suhu. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan. cahaya dan kelembabannya. Pada fase juvenil. ukuran eksplan.f. yaitu dapat berupa ujung akar. debu atau partikel lain yang terhambur dari tubuh praktikan. Umumnya yang sering digunakan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis. Selain ZPT. tanaman asal eksplan tersebut. Keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan juga ditentukan beberapa hal diantaranya komposisi media dan eksplan. botol kultur sebelum dan selama memakai harus sering dilakukan pensterilan. pemungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan rangsangan pembungan. komposisi media. dan bagian tanaman yang diambil. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. Dalam praktikum ini. Setelah eksplan ditanam. Oleh karena itu. Peralatan dan ruangan yang kurang steril. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Jaringan yang umumnya digunakan adalah meristem. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies. Hal ini karena jaringan muda mempunyai daya regenerasi tinggi. tunas atau daun muda. atau bahan steril yang tersentuh oleh praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi. Aliran udara yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan. Umur ontogenik yaitu masa transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. umur ontogenik. Sedangakan pada fase dewasa tanaman sudah mampu berbunga. Hal ini berkaitan dengan teknik sterilisasi eksplan. dan relatif sedikit mengandung kontaminan. sel-selnya masih aktif membelah. lingkungan kultur. Pensterilan alat dapat dilakukan dengan mencelupkannya pada alkohol atau memanaskannya diatas api. Peralatan –peralatan seperti pinset. seperti kebutuhan nutrisi.

 Saran Untuk menghindari kegagalan dalam penanaman kultur sansivieria. c. 2. 5. Pada kultur jaringan sansivieria. maupun kalus. 3. putih maupun berwarna kehitaman sedangkan bila eksplan terkontaminasi bakteri akan terlihat adanya lendir di sekitar eksplan. dari 10 eksplan yang telah ditanam tidak ada yang tumbuh baik akar.masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama E. sebaiknya bagi praktikan harus lebih memperhatikan untuk menjaga kesterilan. 87 . tunas. Untuk mencegah dan menghindari terjadinya kontaminasi dapat dilakukan sterilisasi pada alat. Sebaiknya alat maupun bahan yang digunakan harus disterilisasi sehingga benarbenar steril. baik untuk peralatan maupun media itu sendiri. KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan 1. b. Persentase keberhasilan dari kultur jaringan sansivieria adalah 0 %. 4. Eksplan yang terkontaminasi oleh jamur ditandai dengan adanya hifa pada permukaan media kultur yang berwarna cokelat. Pemeliharaan eksplan harus diperhatikan dengan benar. Eksplan yang terkontaminasi disebabkan oleh kurang sterilnya media. daun. bahan tanam maupun karena faktor lingkungan sekitar saat penanaman. Sebaiknya bahan eksplan yang digunakan dipilih dari jaringan tanaman yang masih muda (meristem) yang masih aktif membelah. media dan bahan eksplan yang digunakan serta melakukan penyemprotan dengan spirtus saat kontak langsung dengan eksplan. sehingga terjadinya kontaminasi dapat dihindari atau ditekan seminimal mungkin. Semua eksplan terkontaminasi baik oleh jamur maupun bakteri. a.

id Anonim. 2005.Arie. and Corstabel.iptek. Anonim. www. Jakarta: Kanisius 88 . J.net. Wetter. Kultur Jaringan. Untung dan F.go.com/2007/12/13/httpwwwta bloidnovacomartic lesaspid11386/ Chahinian.deptan. Ilmiah. Supriati Y. B.1986.http://sensasp. Juan. R.http://www. J. Sansivieria trifasciata Varieties Succulent Edition of Huntington Book. Santoso.Sansivieria si tajam Anti Poluai. 1982. Sansivieria. Hutami.2008. W. I. Mariska dan S. Diakses pada tanggal 27 Desember 2007. Purwanto. Ilmiah : Berita Biologi.) Tanaman Sumber Karbohidrat Alternaria. Pembentukan Kalus dan Embriogenesis Kultur Pelepah daun Caladium hibrida.7(4):207-214. 7(5):257-260.2008. 2007. 2001. Plant Tissue Culture Methods.2006. Mikropropagasi Sukun (Artocarpus communis Forst.DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2005. The Prairie Regional Laboratory of The National ResearchCouncil of Canada.Kultur Jaringan Sansivieria. Canada. Nursandi. Flora Cantik Penyerap Racun. Malang. L. Florida Irawati.wordpress.id. Unibraw Press. Kultur Jaringan Tanaman.