EVALUASI PELAKSANAAN KTSP OLEH TIM PENGEMBANG KURIKULUM PROPINSI

PUSAT KURIKULUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA 2008

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendinas) No. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23 tahun 2006 tentang standar isi dan standar kompetensi lulusan disebutkan bahwa salah satu tugas pokok Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dalam hal ini, Pusat Kurikulum adalah memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. 22

Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, mengevaluasinya, dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri. Salah satu yang menjadi bagian dari monitoring tersebut adalah melakukan monitoring secara nasional penerapan peraturan menteri pendidikan nasional dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelaksanaannya. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut perlu dilakukan serangkaian langkah kegiatan mencakup penyusunan panduan dan intrumen evaluasi, pelaksanaan evaluasi dan penyusunan laporan. Panduan digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan instumen dan melaksanakan evaluasi untuk mendapatkan data dan informasi tentang pelaksanaan KTSP pada setiap daerah secara kualitatif maupun kuantitatif. Pelaksanaan evaluasi merupakan langkah kegiatan untuk mendapatkan data dan informasi penerapan KTSP pada daerah yang menjadi objek atau sasaran evaluasi. Penyusunan laporan memuat temuan, masukan atau rekomendasi berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui evaluasi pelaksanaan KTSP agar kebijakan tentang pengembangan kurikulum dapat diterapkan secara efisien dan efektif. B. TUJUAN Kegiatan ini bertujuan untuk melaksanakan evaluasi pengembangan dan pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan sehingga didapat data dan informasi tentang tingkat penerapan KTSP secara kualitatif ataupun kuantitatif pada tiap daerah yang dapat dimanfaatkan satuan pendidikan (sekolah) dalam implementasi kurikulum pada tataran sekolah/daerah.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

1

C. RUANG LINGKUP Kegiatan ini memonitor dan mengevaluasi penerapan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di 33 propinsi D. HASIL YANG DIHARAPKAN Melalui kegiatan ini akan dihasilkan laporan gambaran penerapan KTSP di 33 provinsi, pada satuan pendidikan dasar dan menengah E. PELAKSANAAN Kegiatan penyusunan laporan dilaksanakan pada tanggal 9 – 13 Desember 2008 di Cisarua, Kabupaten Bogor. F. PESERTA Peserta yang dilibatkan dalam kegiatan ini terdiri dari unsure: Satuan Pendidikan, LPMP, Perguruan Tinggi, dan Pusat Kurikulum. Rincian Peserta terlampir

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

2

BAB II KERANGKA BERPIKIR

A. STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Menurut Undang-Undang (UU) No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan kurikulum dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Hal ini dimaksudkan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan pada satuan pendidikan dengan kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, kurikulum dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Selanjutnya pada pasal 36 disebutkan bahwa pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan harus disempurnakan dan ditingkatkan secara berencana, terarah dan berkala sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Kata standar memiliki makna tingkat atau level kualitas atau keunggulan yang harus dicapai dengan kriteria, benchmark, persayaratan atau spesifikasi tertentu. Hal ini sesuai dengan pengertian di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa standar nasional pendidikan merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar nasional pendidikan terdiri atas: 1. standar isi Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

3

Kerangka dasar kurikulum adalah rambu-rambu yang dijadikan pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan. Kerangka dasar dan struktur kurikulum mengatur tentang kelompok mata pelajaran serta kedalaman muatan kurikulum yang dituangkan dalam kompetensi, yaitu standar kompetensi dan kompetensi dasar. Beban belajar mengatur tentang jam pembelajaran dengan sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, pelaksanaan pembelajaran sistem paket dan satuan kredit semester (SKS), serta pemberian pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP. KTSP untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB,

SMA/MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK. Kalender pendidikan/kalender akademik mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur. 2. standar proses Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Standar proses mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. 3. standar kompetensi lulusan

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

4

Standar kompetensi lulusan (SKL) adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Standar ini meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran 4. standar pendidik dan tenaga kependidikan Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Standar ini mengatur tentang pendidik yang harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, Rasio pendidik terhadap peserta didik, kelengkapan dan kualifikasi tenaga kependidikan satuan pendidikan, pengawas satuan pendidikan. 5. standar sarana dan prasarana Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Standar ini mengatur tentang kelengkapan, jenis dan kualitas sarana dan prasarana satuan pendidikan. 6. standar pengelolaan Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Standar ini terdiri atas standar pengelolaan oleh satuan pendidikan, standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan standar pengelolaan oleh pemerintah. Standar pengelolaan oleh satuan pendidikan mengatur tentang penerapan prinsip manajemen berbasis sekolah (MBS), proses pengambilan keputusan, pedoman, rencana kerja tahunan, Pelaksanaan pengelolaan dan pengawasan satuan pendidikan.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

5

8. Pemerintah. evaluasi kinerja pendidikan oleh lembaga mandiri Pemerintah melakukan akreditasi pada setiap jenjang dan satuan pendidikan untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan. pemerintah kabupaten/kota. dan terencana dalam suatu program penjaminan mutu yang memiliki target dan kerangka waktu yang jelas.Standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan pemerintah mengatur tentang rencana kerja tahunan. penyelenggaraan satuan pendidikan bertaraf internasional. dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Standar ini mengatur tentang penilaian hasil belajar oleh pendidik. oleh satuan pendidikan dan oleh pemerintah. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah kabupaten/kota 5. 2. Standar ini mengatur tentang biaya investasi. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bertugas melakukan pengembangan. pemantauan. sistematis. pemerintah propinsi. standar penilaian pendidikan Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme. Pencapaian kompetensi akhir peserta didik dinyatakan dalam dokumen ijazah dan/atau sertifikat kompetensi. biaya operasi. LPMP mensurpervisi dan membantu satuan pendidikan dalam penjaminan mutu. serta tentang kelulusan peserta didik. 7. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah (menteri) 3. evaluasi kinerja pendidikan oleh satuan pendidikan pada tiap akhir semester. dan biaya personal satuan pendidikan. dan pelaporan pencapaian standar nasional pendidikan. Setiap satuan pendidikan pada jalur formal dan nonformal wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 6 . prosedur. standar pembiayaan Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah propinsi 4. Dalam melaksanakan tugasnya BSNP menunjuk tim ahli yang bersifat ad-hoc sesuai kebutuhan. Sedangkan evaluasi pendidikan meliputi: 1. secara bertahap.

2. Sistematika Standar Isi dalam lampiran Permendiknas No. STANDAR ISI Di dalam Permendiknas No. B. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum. dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 7 . Ini berarti ketentuan di dalam Permendiknas tersebut bersifat minimal yang harus dicapai peserta didik pada setiap satuan pendidikan. Bagian ini meliputi: a) Kerangka Dasar Kurikulum 1) Kelompok Mata Pelajaran Bagian ini menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum. kejuruan. 1. dan (4) kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Standar Isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang selanjutnya disebut Standar Isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. (3) kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi.Penyelenggaraan satuan pendidikan yang tidak mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan dapat memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari BSNP didasarkan pada penilaian khusus. 22 tahun 2006 adalah sebagai berikut. Pendahuluan Bagian ini menjelaskan cakupan standar isi yang meliputi: (1) kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan. (2) beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah.

(1) Berpusat pada potensi. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut.(1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. (5) kelompok mata pelajaran jasmani. dan seni (4) Relevan dengan kebutuhan kehidupan (5) Menyeluruh dan berkesinambungan (6) Belajar sepanjang hayat (7) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah 3) Prinsip Pelaksanaan Kurikulum Bagian ini menyatakan bahwa pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu. olahraga dan kesehatan. (1) Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi. 2) Prinsip Pengembangan Kurikulum Bagian ini menyatakan bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. (2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. kebutuhan. serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas. (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. dinamis dan menyenangkan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 8 . perkembangan. (4) kelompok mata pelajaran estetika. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya (2) Beragam dan terpadu (3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. teknologi. perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 9 . dan hangat. dan menyenangkan. kreatif. dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi. keterkaitan. kesosialan. terbuka. (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain. dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan. sumber belajar dan teknologi yang memadai. dengan prinsip tut wuri handayani.(2) Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar. ing madia mangun karsa. pengayaan. akrab. (4) Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai. tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar. (6) Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam. dan moral. muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan. sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal. dan/atau percepatan sesuai dengan potensi. melalui proses pembelajaran yang aktif. keindividuan. (3) Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan. yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. contoh dan teladan). dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri. di depan memberikan contoh dan teladan). (b) belajar untuk memahami dan menghayati. ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan. tahap perkembangan. (5) Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia. dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan. (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif. dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. efektif. (7) Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran. di tengah membangun semangat dan prakarsa.

termasuk keunggulan daerah. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. VI adalah 32 jam pelajaran per minggu. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 10 . III dilaksanakan melalui pendekatan tematik. Struktur kurikulum pendidikan umum memuat komponen mata pelajaran. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. guru.b) Struktur Kurikulum Pendidikan Umum Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. dan III adalah 26. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. muatan lokal. dan pengembangan diri Pembelajaran pada Kelas I s. 27 dan 28 jam pelajaran per minggu. bakat. Sedangkan untuk kelas IV s. Kurikulum SD/MI memuat 8 mata pelajaran. belajar. VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran.d.d. dan pengembangan karir peserta didik. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. sedangkan pada Kelas IV s. II. 1) Struktur Kurikulum SD/MI Struktur kurikulum SD/MI meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai Kelas I sampai dengan Kelas VI. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 35 menit.d. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum untuk kelas I . muatan lokal dan pengembangan diri.

Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. dan kelas XI dan XII merupakan program penjurusan yang terdiri atas empat program: (1) Program Ilmu Pengetahuan Alam. Kurikulum SMP/MTs memuat 10 mata pelajaran. dan pengembangan diri. Pengorganisasian kelas-kelas pada SMA/MA dibagi ke dalam dua kelompok.2) Struktur Kurikulum SMP/MTs Struktur kurikulum SMP/MTs meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas VII sampai dengan Kelas IX. Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII Program IPA. Program IPS. khusus untuk MA. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. dan Program Keagamaan terdiri atas 13 mata pelajaran. muatan lokal. yaitu kelas X merupakan program umum yang diikuti oleh seluruh peserta didik. Substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu”. (3) Program Bahasa. 3) Struktur Kurikulum SMA/MA Struktur kurikulum SMA/MA meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas X sampai dengan Kelas XII. Program Bahasa. dan pengembangan diri. Kurikulum SMA/MA Kelas X terdiri atas 16 mata pelajaran. kelas XI dan XII adalah 39 jam pelajaran dan kelas XI dan XII untuk MA program keagamaan adalah 38 jam pelajaran per minggu. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum adalah 32 jam pelajaran per minggu. muatan lokal. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 40 menit. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum kelas X adalah 38 jam pelajaran. dan pengembangan diri c) Struktur Kurikulum Pendidikan Kejuruan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 11 . Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 45 menit. (2) Program Ilmu Pengetahuan Sosial. dan (4) Program Keagamaan. muatan lokal.

yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. akhlak mulia. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta mengembangkan keahlian dan keterampilan. bakat. pengetahuan.Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan. serta memiliki kemampuan mengembangkan diri Kurikulum SMK/MAK berisi mata pelajaran wajib. dan Keterampilan/Kejuruan. Bahasa. dan prospek pengembangan daerah termasuk keunggulan daerah. kepribadian. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Pengembangan diri bagi peserta didik Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 12 . mata pelajaran Kejuruan. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan program keahlian yang diselenggarakan. Muatan Lokal. IPS. Seni dan Budaya. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas. memiliki etos kerja yang tinggi. menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi. mereka harus memiliki stamina yang tinggi. dan mampu berkomunikasi sesuai dengan tuntutan pekerjaannya. dan pembentukan karier peserta didik. IPA. Mata pelajaran wajib terdiri atas Pendidikan Agama. Mata pelajaran Kejuruan terdiri atas beberapa mata pelajaran yang bertujuan untuk menunjang pembentukan kompetensi kejuruan dan pengembangan kemampuan menyesuaikan diri dalam bidang keahliannya. belajar. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. dan Pengembangan Diri. Mata pelajaran ini bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam spektrum manusia kerja. serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Pendidikan Kewarganegaraan. potensi daerah. guru. Matematika.

Pendidikan Kewarganegaraan. Bahasa Indonesia. Struktur kurikulum SMK/MAK disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran. dan dapat diselenggarakan dalam blok waktu atau alternatif lain. Evaluasi pembelajaran dilakukan setiap akhir penyelesaian satu standar kompetensi atau beberapa penyelesaian kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran. Pendidikan SMK/MAK diselenggarakan dalam bentuk pendidikan sistem ganda. Struktur kurikulum SMK/MAK meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun atau dapat diperpanjang hingga empat tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII atau kelas XIII. IPS. Matematika. Alokasi waktu satu jam pelajaran tatap muka adalah 45 menit. Beban belajar SMK/MAK meliputi kegiatan pembelajaran tatap muka. praktik di sekolah dan kegiatan kerja praktik di dunia usaha/industri ekuivalen dengan 36 jam pelajaran Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 13 . Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. dan Seni Budaya (2) Kelompok adaptif terdiri atas mata pelajaran Bahasa Inggris. Di dalam penyusunan kurikulum SMK/MAK mata pelajaran dibagi ke dalam tiga kelompok: (1) Kelompok normatif adalah mata pelajaran yang dialokasikan secara tetap yang meliputi Pendidikan Agama. yang materinya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian untuk memenuhi standar kompetensi kerja di dunia kerja. Jumlah jam Kompetensi Kejuruan pada dasarnya sesuai dengan kebutuhan standard kompetensi kerja yang berlaku di dunia kerja tetapi tidak boleh kurang dari 1044 jam. Kelompok adaptif dan produktif adalah mata pelajaran yang alokasi waktunya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian. Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi. IPA. dan Kewirausahaan (3) Kelompok produktif terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang dikelompokkan dalam Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi Kejuruan.SMK/MAK terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier.

Pengembangan diri terutama ditujukan untuk peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. dan bina pribadi dan sosial untuk peserta didik tunalaras. bina komunikasi persepsi bunyi dan irama untuk peserta didik tunarungu. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. dan pengembangan diri. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. kemampuan. Program khusus berisi kegiatan yang bervariasi sesuai degan jenis ketunaannya. yaitu program orientasi dan mobilitas untuk peserta didik tunanetra. bakat. maksimum empat tahun sesuai dengan tuntutan program keahlian. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. termasuk keunggulan daerah. dalam batas-batas tertentu masih dimungkinkan dapat mengikuti kurikulum standar meskipun harus dengan penyesuaian-penyesuaian. intelektual dan/atau sosial. guru. bina gerak untuk peserta didik tunadaksa. emosional. belajar. Kurikulum Pendidikan Khusus terdiri atas delapan sampai dengan 10 mata pelajaran. Peserta didik ini yang berkeinginan untuk melanjutkan sampai ke jenjang pendidikan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 14 . Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. d) Struktur Kurikulum Pendidikan Khusus Struktur Kurikulum dikembangkan untuk peserta didik berkelainan fisik. program khusus. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.per minggu. dan pengembangan karir peserta didik. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. mental. muatan lokal. Lama penyelenggaraan pendidikan SMK/MAK tiga tahun. bina diri untuk peserta didik tunagrahita. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru.

Kompetensi mata pelajaran umum SDLB. SDLB SMPLB SMALB MASYARAKAT ANAK LUAR BIASA/ANAK BERKELAINAN PERGURUAN TINGGI/ MASYARAKAT SD/MI SMP/ MTs SMA/MA SMK/MAK Kurikulum untuk peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Pada satuan pendidikan SMPLB A. B = tunarungu.B. dan SMALB. Kurikulum SDLB A.tinggi. Bagi mereka yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. dan SMALB A. B. sederhana dan bersifat tematik untuk mendorong kemandirian dalam hidup sehari-hari. Mekanisme perpindahan jalur pendidikan adalah sebagai berikut. diperlukan kurikulum yang sangat spesifik. B. E = tunalaras).E relatif sama dengan kurikulum SD umum. E.B.B. Peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata.D.D. E (A = tunanetra. E. SMPLB A . SMPLB. menggunakan sebutan Kurikulum SDLB A. semaksimal mungkin didorong untuk dapat mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan umum sejak SD atau SMP.E dan SMALB A.D. dan Keterampilan dikembangkan oleh satuan Pendidikan Khusus dengan memperhatikan jenjang dan jenis satuan pendidikan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 15 .E dirancang untuk peserta didik yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang pendidikan tinggi.E mengacu kepada satuan pendidikan umum yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan khusus peserta didik. sedangkan kompetensi untuk mata pelajaran Program Khusus.B. D.D. setelah menyelesaikan pada jenjang SDLB dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMPLB. SMALB A. D. D = tunadaksa ringan. B. D.

G. Kurikulum untuk peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. SMPLB C.B. Untuk jenjang SMALB. D1. Kurikulum ini dirancang sangat sederhana sesuai dengan batas-batas kemampuan peserta didik dan sifatnya lebih individual.70% aspek akademik dan 40% . D1. dan tidak dihitung sebagai beban belajar. D1 = tunadaksa sedang.C1. dan 4 jam Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 16 . C1 = tunagrahita sedang. Persepsi Bunyi dan Irama untuk peserta didik Tunarungu (3) Bina Diri untuk peserta didik Tunagrahita Ringan dan Sedang (4) Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Ringan (5) Bina Pribadi dan Sosial untuk peserta didik Tunalaras (6) Bina Diri dan Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Sedang. Struktur kurikulum pada satuan Pendidikan Khusus SDLB dan SMPLB mengacu pada Struktur Kurikulum SD dan SMP dengan penambahan Program Khusus sesuai jenis kelainan.E terdiri atas 60% .D1. (C = tunagrahita ringan. Muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMALB A. program khusus bersifat kasuistik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik tertentu. menggunakan sebutan Kurikulum SDLB C.Proporsi muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMPLB A. SMPLB dan SMALB C. dan SMALB C. G. D1. Program Khusus sesuai jenis kelainan peserta didik meliputi sebagai berikut. (1) Orientasi dan Mobilitas untuk peserta didik Tunanetra (2) Bina Komunikasi. Kompetensi mata pelajaran pada SDLB. dan Tunaganda. Satuan pendidikan khusus SDLB dan SMPLB dapat menambah maksimum 6 jam pembelajaran/minggu untuk keseluruhan jam pembelajaran.30% berisi aspek keterampilan vokasional. C1.D.50% aspek keterampilan vokasional. Satu jam pelajaran untuk SDLB adalah 30 menit.E terdiri atas 40% – 50% aspek akademik dan 60% . G = tunaganda). C1.D. G. SMPLB adalah 35 menit dan SMALB adalah 40 menit sesuai dengan kondisi peserta didik yang berkaelainan. C1. Pembelajaran menggunakan pendekatan tematik.B.G dikembangkan satuan Pendidikan Khusus yang bersangkutan dengan memperhatikan tingkat dan jenis satuan pendidikan. dengan alokasi waktu 2 jam/minggu.

D.B.G lebih ditekankan pada kemampuan menolong diri sendiri dan keterampilan sederhana yang memungkinkan untuk menunjang kemandirian peserta didik. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi yang terdir atas: Lampiran 1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI dan SDLB.pembelajaran untuk tingkat SMALB sesuai kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan yang bersangkutan. Jenis keterampilan yang akan dikembangkan. Oleh karena itu. dan Lampiran 3 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK. Muatan kurikulum SDLB. Muatan isi mata pelajaran SMPLB A. 3. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 17 . dan sekitar 60% – 50% bidang keterampilan vokasional.D.E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMP umum sehingga menjadi sekitar 60% – 70%. penugasan terstruktur. proporsi muatan keterampilan vokasional lebih diutamakan e) Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran pada setiap tingkat dan semester disajikan pada lampiran-lampiran Permendiknas No. kemampuan dan kebutuhan peserta didik serta kondisi satuan pendidikan. tingkat terampil dan tingkat mahir. Lampiran 2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMP/MTs dan SMPLB. diserahkan kepada satuan pendidikan sesuai dengan minat. SMPLB. potensi. Beban belajar atau alokasi waktu yang diatur dalam struktur kurikulum adalah beban belajar dalam bentuk tatap muka.C1.E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMA umum sehingga menjadi sekitar 40% – 50% bidang akademik. Beban Belajar Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka.30% muatan isi kurikulum ditekankan pada bidang keterampilan vokasional yang meliputi tingkat dasar. SMALB C. Muatan isi mata pelajaran untuk SMALB A. Sisanya sekitar 40% .B.D1. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.

Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem kredit semester dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). minggu efektif belajar. SMP/MTs/SMPLB maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. SD/MI/SDLB maksimum 40% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan b. waktu pembelajaran efektif dan hari libur. Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB. Beban belajar satu sks meliputi satu jam pembelajaran tatap muka. Kalender Pendidikan Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran. sedangkan untuk kegiatan mandiri tidak terstruktur diatur sendiri oleh peserta didik. satu jam penugasan terstruktur. SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori standar menggunakan sistem paket atau dapat menggunakan sistem kredit semester. SMA/MA/SMALB/SMK/MAK maksimum 60% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. 4. a) Alokasi Waktu Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 18 . Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem kredit semester. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. c. Satuan pendidikan SD/MI/SDLB melaksanakan program pendidikan dengan menggunakan sistem paket.Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada untuk: a. Program percepatan dapat diselenggarakan untuk mengakomodasi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. dan satu jam kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sistem kredit semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan.

dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus. Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing-masing Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif 8. Libur akhir tahun pelajaran Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah 5. Hari libur keagamaan 6. Kegiatan Minggu efektif belajar Alokasi Waktu 34 – 38 minggu Keterangan Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan Satu minggu setiap semester 2. No 1.Alokasi waktu minggu efektif belajar. Kegiatan khusus sekolah/madrasah b) Penetapan Kalender Pendidikan Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya. waktu libur dan kegiatan lainnya adalah sebagai berikut. Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota. dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan. Jeda tengah semester Maksimum 2 minggu Maksimum 2 minggu Maksimum 3 minggu 2 – 4 minggu 3. Jeda antarsemester Antara semester I dan II 4. Hari libur umum/nasional Hari libur khusus Maksimum 2 minggu Maksimum 1 minggu Maksimum 3 minggu 7. Pemerintah Pusat/Provinsi /Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 19 . Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional.

SMP/MTs/SMPLB*/Paket B terdiri atas 21 butir. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut 2. kepribadian. standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran. Pendidikan Menengah yang terdiri atas SMA/MA/SMALB/Paket C bertujuan: Meningkatkan kecerdasan. SMA/MA/SMALB*/Paket C terdiri atas 23 butir. 23 tahun 2006 adalah sebagai berikut.waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah. Pendidikan Dasar. dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran. Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran dikembangkan berdasarkan tujuan dan cakupan muatan dan/ atau kegiatan setiap kelompok mata pelajaran. yakni: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 20 . pengetahuan. SKL meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah./SMPLB/Paket B bertujuan: Meletakkan dasar kecerdasan. C. Pendidikan Menengah Kejuruan yang terdiri atas SMK/MAK akhlak bertujuan: serta Meningkatkan kecerdasan. 1. mulia. Tujuan setiap satuan pendidikan yang tertuang dalam lampiran Permendiknas No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. kepribadian. yang meliputi SD/MI/SDLB/Paket A dan SMP/MTs. dan SMK/MAK terdiri atas 23 butir. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut 3. pengetahuan. pengetahuan. akhlak mulia. kepribadian. Ini berarti ketentuan di dalam Permendiknas tersebut bersifat minimal yang harus dicapai lulusan peserta didik pada setiap satuan pendidikan. akhlak mulia. keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya Standar kompetensi lulusan satuan pendidikan SD/MI/SDLB*/Paket A terdiri atas 17 butir. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Di dalam Permendiknas No.

keterampilan/kejuruan. ilmu pengetahuan alam. Pada satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB/Paket B. dan/atau teknologi informasi dan komunikasi. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. teknologi informasi dan komunikasi. ilmu pengetahuan sosial. matematika. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. seni dan budaya. kewarganegaraan. ilmu pengetahuan alam. Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan: mengembangkan logika. dan muatan lokal yang relevan. seni dan budaya. ilmu pengetahuan alam. serta muatan lokal yang relevan Pada satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/Paket C. serta muatan lokal yang relevan 4. keterampilan/kejuruan. dan pendidikan jasmani.1. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. 2. estetika. teknologi informasi dan komunikasi. Kelompok mata pelajaran Estetika bertujuan: membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. matematika. kejuruan. bahasa. Kelompok mata pelajaran Kewarganegaraan dan Kepribadian bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama. Kelompok mata pelajaran Agama dan Akhlak Mulia bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. ilmu pengetahuan dan teknologi. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. ilmu pengetahuan alam. keterampilan. kepribadian. Tujuan tersebut dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama. matematika. matematika. akhlak mulia. dan muatan lokal yang relevan. ilmu pengetahuan sosial. kewarganegaraan. ilmu pengetahuan sosial. 3. Pada satuan pendidikan SD/MI/SDLB/Paket A. dan kesehatan. olahraga. ilmu pengetahuan sosial. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 21 . serta muatan lokal yang relevan Pada satuan pendidikan SMK/MAK. jasmani. keterampilan. keterampilan/kejuruan. kemampuan berpikir dan analisis peserta didik.

IPS. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SDLB A. Pendidikan Agama Buddha. Bahasa Indonesia Program IPA/IPS. dan Antropologi Program Bahasa. Bahasa Mandarin. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SD/MI terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Matematika. Sejarah Program IPS. Pendidikan Agama Hindu. IPA. Pendidikan Agama Hindu. Pendidikan Kewarganegaraan. Bahasa Jerman. Bahasa Indonesia Program Bahasa. Matematika. IPS. Sosiologi.5. Pendidikan Agama Katolik. Teknologi Informasi dan Komunikasi. Matematika Program IPS. Bahasa Inggris Program Bahasa. Pendidikan Agama Kristen. Sastra Indonesia Program Bahasa. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 22 . Sejarah Program IPA. Seni Budaya dan Keterampilan. Bahasa Indonesia. Keterampilan. dan Bahasa Inggris. Pendidikan Agama Katolik. Bahasa Arab. Pendidikan Agama Buddha. Seni Budaya dan Keterampilan. Pendidikan Agama Hindu. pendidikan kesehatan. Bahasa Perancis. D. Bahasa Jepang. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMP/MTs terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. B. Pendidikan Agama Kristen. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan pendidikan jasmani. Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Agama Buddha. Kelompok mata pelajaran Jasmani. IPA. IPS. Matematika Program IPA. Pendidikan Agama Hindu. Bahasa Inggris. Kimia. Sejarah Program Bahasa. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMA/MA terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Olah Raga. Fisika. IPA. dan muatan lokal yang relevan. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Seni Budaya. olahraga. Ekonomi. dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Bahasa Indonesia. dan Kesehatan bertujuan: membentuk karakter peserta didik agar sehat jasmani dan rohani. Bahasa Inggris. Matematika Program Bahasa. Pendidikan Agama Buddha. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Bahasa Indonesia. Pendidikan Agama Kristen. Biologi. Pendidikan Agama Katolik. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Matematika. Seni Budaya. Pendidikan Agama Kristen. Geografi. ilmu pengetahuan alam. dan Bahasa Inggris. dan menumbuhkan rasa sportivitas. Keterampilan. Pendidikan Kewarganegaraan.

Seni Budaya. Pendidikan Agama Hindu. Pendidikan Agama Katolik. D. dan Kewirausahaan. Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Agama Katolik. IPS. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Administrasi Perkantoran dan Akuntasi. Biologi Kelompok Kesehatan. Pendidikan Agama Buddha. Seni Budaya. Pendidikan Agama Buddha. Pendidikan Agama Kristen. dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Fisika Kelompok Pertanian. Fisika Kelompok Teknologi. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Bahasa Inggris. Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi. Kimia Kelompok Pertanian. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMALB A. IPA. potensi daerah/karakteristik daerah. Pariwisata. B. Bahasa Indonesia. D. Pendidikan Agama Buddha. dan Teknologi Kerumahtanggaan. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Bahasa Indonesia. Pendidikan Kewarganegaraan. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. dan peserta didik. Pendidikan Kewarganegaraan. Bahasa Inggris. Pendidikan Agama Katolik. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMK/MAK terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Matematika. dan Pertanian. Kimia Kelompok Teknologi dan Kesehatan. Kesehatan. Matematika Kelompok Seni. Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Agama Hindu. IPS. Keterampilan. Bahasa Indonesia. IPS. D. Penyususnan kurikulum juga dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan. B. Biologi Kelompok Pertanian. IPA.Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMPLB A. Keterampilan Vokasional/Teknologi Informasi dan Komunikasi. Matematika Kelompok Sosial. Matematika Kelompok Teknologi. sosial budaya masyarakat setempat. Pendidikan Agama Hindu. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Bahasa Inggris. IPA. Pengembangan kurikulum yang disssun oleh satuan pendidikan berdampak pada perubahan dalam proses dan mekanisme penyusunan kurikulum dan orientasi kerja Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 23 . Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. Matematika. Seni Budaya.

potensi. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan. kota dan sekolah. akhlak mulia. kabupaten. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Pada buku ”Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah” yang diterbitkan oleh BSNP tahun 2006. kepribadian. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut. a. kepribadian. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.Pendidikan/Kanwil Depag di tingkat propinsi. (1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 24 . tetapi disusun oleh masing-masing sekolah atau kelompok sekolah dengan mengacu pada standar isi dan standar kompetensi lulusan. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut. B dan C ditetapkan oleh dinas kabupaten/kota berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. pengetahuan. kepribadian. terutama dalam mengembangkan dan menerapkan kurikulum di tingkat sekolah. akhlak mulia. pengetahuan. dan kebutuhan satuan pendidikan. b. namun pencapaian minimalnya sama untuk setiap satuan pendidikan. Sehingga pencapaian hasil pendidikan optimal sesuai dengan kondisi. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan. komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan yang perlu dikembangkan oleh sekolah adalah: 1. akhlak mulia. Khusus untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya untuk program paket A. Salah satu dampak tersebut adalah bahwa kurikulum tidak ditetapkan lagi secara nasional. pengetahuan. 2. c.

Kegiatan Pengembangan Diri Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran sehingga tidak harus dirumuskan dalam bentuk standar kompetensi dan kompetensi dasar. potensi. Dinas pendidikan dapat mengkoordinasikan pengembangan muatan lokal sejenis untuk satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. b. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran. tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. olahraga dan kesehatan Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 Pasal 7. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. a. yang materinya belum tertuang pada mata pelajaran yang ada. Muatan Lokal Muatan lokal merupakan mata pelajaran yang isinya disesuaikan dengan ciri khas. atau keunggulan daerah. muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Perlu diperhatikan bahwa bagi satuan pendidikan yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi memungkinkan menambah atau menyesuaikan mata pelajaran dan alokasi waktunya. Ini berarti bahwa dalam satua tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal. Satuan pendidikan dapat mengembangkannya dalam bentuk program kegiatan yang berisi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 25 . Mata pelajaran Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi.(2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian (3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi (4) Kelompok mata pelajaran estetika (5) Kelompok mata pelajaran jasmani. sesuai kebutuhan. sebagai berikut. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. c.

Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem SKS. Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/SMALB /SMK/MAK kategori standar dapat menggunakan sistem paket atau sistem SKS. dan sekolah/ madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. dan pengembangan karier peserta didik serta dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler seperti keparamukaan. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. 3. di samping dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di dalam Standar Isi. tidak terlepas kaitannya dari struktur kurikulum sebagai Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 26 . Untuk satuan pendidikan khusus menekankan pada peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. Kegiatan ini difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor. belajar. Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif. tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran.. Pengaturan Beban Belajar Di dalam penjelasan PP No. Khusus untuk sekolah menengah kejuruan pengembangan diri terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. Beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh satuan pendidikan SD/MI/SDLB. kepemimpinan. Penambahan maksimum empat jam. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa Pemerintah mengkategorikan sekolah/ madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri. dan kelompok ilmiah remaja. guru. Pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi.tujuan kegiatan dan bentuk dan pengelolaan kegiatan.

Alokasi waktu untuk praktik. Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket untuk SD/MI/SDLB 0% . Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. Satu SKS pada SMP/MTs terdiri atas: 40 menit tatap muka. dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka.bagian dari standar isi. Alokasi waktu untuk tatap muka. Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait. Satu SKS pada SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: 45 menit tatap muka. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal. 4. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK yang menggunakan sistem SKS mengikuti aturan sebagai berikut. b. SMP/MTs/SMPLB 0% . 20 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.40%. potensi dan kebutuhan. Kenaikan Kelas dan Kelulusan Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. Ketuntasan Belajar Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%. penugasan terstruktur. Bagi satuan pendidikan dan komite yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. yang sifatnya minimal. Sesuai dengan ketentuan PP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 27 . tentu dapat menambah jam sesuai dengan kondisi. 25 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.50% dan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK 0% . a.60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. 5.

kelompok mata pelajaran estetika. lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. dan kelompok mata pelajaran jasmani. Penjurusan Penjurusan dilakukan pada kelas XI dan XII di SMA/MA. artinya seorang peserta didik yang belum menyelesaikan seluruh program pemebelajaran berarti belum mendapat nilai baik untuk kelompok non iptek. c. kelompok kewarganegaraan dan kepribadian. Keempat syarat diatas bersifat ururtan prasyarat. Apabila satuan pendidikan telah mengembangkan dan menerapkan kurikulum yang mengacu standar isi dan SKL (apalagi kurikulum dengan standar lebih tinggi). Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 28 . SMA/MA/ SMALB. 7. SMP/MTs/SMPLB. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. yang mencakup kecakapan pribadi. menyelesaikan seluruh program pembelajaran. belum bisa mengikuti ujian sekolah. olahraga. Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian integral dari pendidikan semua mata pelajaran dan/atau berupa paket/modul yang direncanakan secara khusus.19/2005 Pasal 72 Ayat (1). dan kesehatan. dan tentu saja belum bisa mengikuti ujian nasional. kecakapan akademik dan/atau kecakapan vokasional. Materi ujian nasional dikembangkan tentu mengacu kepada Standar Isi dan SKL yang sifatnya minimal. 6. peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah: a. kecakapan sosial. Pendidikan Kecakapan Hidup Kurikulum untuk SD/MI/SDLB. dan d. tentunya siap untuk mengikuti ujian nasional. Kriteria penjurusan diatur oleh direktorat teknis terkait. b. lulus Ujian Nasional. SMK/MAK dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup.

kebutuhan peserta didik dan masyarakat. yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik. Kurikulum untuk semua tingkat satuan pendidikan dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. yang dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran dan juga dapat menjadi mata pelajaran muatan lokal. 8. dan lain-lain. Silabus Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran. pelaksanaan proses pembelajaran. teknologi informasi dan komunikasi. penilaian hasil pembelajaran. dapat meminta peserta didik untuk mendapatkannya dari satuan pendidikan formal dan non formal lainnya. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi. dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana yang dimuat dalam Standar Isi. karakteristik sekolah. 9. Kalender Pendidikan Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah. tes praktek. dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. bahasa. 10. Teknik penilaian tersebut dapat berupa tes tertulis. observasi. dan penugasan perseorangan atau Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 29 . Bagi sekolah yang belum memungkinkan memberikan pendidikan kecakapan hidup. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi.Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan/atau dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal. budaya. Penilaian yang dimaksud menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik. ekologi.

dan Dinas Pendikan. kompetensi dasar. Di dalam panduan penyusuan kurikulum disebutkan bahwa silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi. c. Khusus untuk SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi. kegiatan pembelajaran. dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran. a. sumber belajar. dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. penilaian. dengan memperhatikan hal berikut. materi dan metode pengajaran. Sedangkan unit waktu silabus diatur sebagai berikut: a. Silabus dan RPP merupakan bagian tak terpisahkan dari komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan. alokasi waktu. per tahun. b. Disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik siswa. materi pokok/pembelajaran. Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah. kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG). Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester.kelompok. indikator. dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok. dan penilaian hasil belajar. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 30 . Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran. serta teknik penilaiannya sesuai dengan karakteristik hasil pembelajaran dan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. kondisi sekolah dan lingkungannya. Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. kegiatan pembelajaran.

pokok bahasan. potensi. maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah tersebut. nantinya diperinci dalam RPP. keterkaitan antar kompetensi dalam satu mata pelajaran atau antar mata pelajaran. c. tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik.b. c. menyusun silabus secara bersama. Materi ini. Di SMP/MTs untuk mata pelajaran IPA dan IPS terpadu disusun secara bersama oleh guru yang terkait. e. atau tema yang bersifat kontekstual dan dipilih sesuai dengan kondisi. peserta didik dengan guru. karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 31 . Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi. dari kelas I sampai dengan kelas VI. sebaiknya bergabung dengan sekolah-sekolah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolahsekolah dalam lingkup MGMP/PKG setempat. Di SD/MI semua guru kelas. Langkah-langkah Pengembangan Silabus dapat dilakukan sebagai berikut. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran Materi ini dapat berupa konsep. a. d. Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri. dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Satuan pendidikan yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. Sekolah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri. tentu perlu mengembangkan silabus yang sesuai b. lingkungan. Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing.

Menentukan Alokasi Waktu Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar. pengetahuan. tingkat kesulitan. mata pelajaran. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan. Di dalam penilaian. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. 6. proyek dan/atau produk. keluasan. satuan pendidikan. penilaian hasil karya berupa tugas. potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. dan keterampilan. dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. penggunaan portofolio. rinci dan terukur. yang nantinya diperinci dalam RPP.melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Karena indikator dirumuskan dari kompetensi dasar berarti setiap kompetensi dasar memiliki lebih dari satu indikator. Penentuan Jenis Penilaian Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. dan penilaian diri. dapat dimasukkan bentuk penilaian dan jenis tugas yang perlu dilakukan siswa untuk melihat pencapaian kompetensi siswa. Kegiatan pembelajaran dalam silabus merupakan pokok-pokok kegiatan siswa untuk mencapai kompetensi. kedalaman. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 32 . pengamatan kinerja. agar penjabaran kompetensi lebih jelas. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap. e. pengukuran sikap. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. d. Cakupan jenis penilaian dalam silabus tentu harus mengakomodasi kompetensi dan indikator yang telah dirumuskan.

dan alokasi waktu untuk mencapai satu kompetensi dasar atau beberapa indikator dalam silabus tersebut. kegiatan pembelajaran. b. potensi. sumber belajar. serta lingkungan fisik. Metode Metode atau strategi pembelajaran yang dituangkan dalam RPP merupakan bentuk kegiatan dan organisasi kelas yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pemilihan materi ajar ditentukan oleh kondisi. metode. dan budaya. Materi Ajar Materi ajar dirumuskan dari materi pokok atau materi pembelajaran pada silabus yang dapat berupa rincian secara runtut subpokok bahasan atau subtema. yang berupa media cetak dan elektronik. alam. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran. 11. narasumber. dan indikator pencapaian kompetensi. Menentukan Sumber Belajar Sumber belajar adalah rujukan. tetapi dirancang satu kompetensi atau sekelompok kompetensi. materi ajar. Dengan demikian alokasi waktu yang ditetapkan dalam silabus dapat lebih dari satu kali pertemuan. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan penjabaran sistematis dan terurut dari silabus yang dituangkan dalam tujuan pembelajaran. Metode dan organisasi pembelajaran dapat berupa diskusi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 33 . a. penilaian hasil belajar.Silabus tidak harus dirancang untuk satu kali pertemuan (tatap muka). objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. langkah-langkah pembelajaran. 7. sosial. kebutuhan dan daya dukung sumber daya satuan pendidikan dan siswa. c. Tujuan pembelajaran Tujuan pembelejaran dirumuskan dalam bentuk uraian proses kegiatan belajar dan kemampuan atau hasil belajar peserta didik untuk mencapai kompetensi atau indikator yang telah dirumuskan dalam silabus.

(1) Kegiatan awal Kegiatan ini dapat berupa apersepsi. review (mengulang beberapa hal yang bersifat prasyarat). (2) Kegiatan inti Kegiatan ini merupakan kegiatan dan organisasi belajar secara yang bervariasi dan terurut sistematis untuk mencapai kompetensi dan beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. diskusi. yang biasanya dilengkapi dengan LK (lembar kerja) atau lembar tugas. e. termasuk menjelaskan tujuan pembelajaran. Penilaian Penilaian ini memuat rincian bentuk. dan sebagainya. contoh penilaian dan pedoman penskoran dari bentuk penilaian dan jenis tugas yang telah dirumuskan dalam silabus. kerja kelompok. penugasan lebih lanjut atau lebih mendalam. (1) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi. kegiatan problem solving aplikasi yang berkaitan dengan materi ajar. Langkah pembelajaran Langkah pembelajaran dirumuskan dan dirinci dari pokok-pokok kegiatan belajar yang telah ditetapkan dalam silabus sehingga kegiatan belajar menjadi efektif. tanya jawab. atau rangkuman hasil belajar. problem solving. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian. atau rencana pembelajaran yang dirancang dalam satu pertemuan atau beberapa pertemuan. d. skenario. penugsan. Pelaksanaan penilaian terintegrasi dalam selama kegiatan belajar berlangsung. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 34 . Langkah pembelajaran memuat bentuk kegiatan belajar dan strategi pengorganisasian belajar kelas serta urutan kegiatannya sebagai berikut. RPP merupakan persiapan. (3) Penutup Kegiatan penutup dari RPP dapat diisi dalam bentuk refleksi (perenungan) tentang pencapaian hasil belajar.informasi.

(2) Penilaian menggunakan acuan kriteria. Sumber Belajar Sumber belajar meliputi bahan ajar. jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 35 . Di sini perlu dijelaskan ketersediaan dan banyaknya sumber belajar. g. maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan. bahan. dan alat bantu belajar yang digunakan untuk mencapai kompetensi atau beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih. dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan. dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya. serta untuk mengetahui kesulitan siswa. media. termasuk perlu diperjelas proporsi waktu untuk kegiatan awal. Alokasi waktu RPP dirancang menggunakan jam pembelajarn sehingga alokasi waktunya merupakan perkiraan jumlah jam pelajaran yang diperlukan untuk untuk mencapai kompetensi atau beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. (4) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. kegiatan inti dan penutup. kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum. termasuk cara penggunaannya. (5) Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan. Misalnya. f. (3) Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. alat.

22 dan No. maka satuan pendidikan dapat menyesuaikan alokasi waktu pada struktur kurikulum. Satuan pendidikan perlu memiliki. sesuai dengan kondisi. potensi dan kebutuhan satuan pendidikan. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. mengatur sistem akselerasi atau percepatan belajar dan sebagainya. Pada Permendiknas No. pendalaman kompetensi. 24 tahun 2006 disebutkan bahwa: (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan berdasarkan pada : a. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. dan Pasal 25 sampai dengan Pasal 27. Kurikulum dengan standar lebih tinggi dapat berupa penambahan lingkup materi dan kompetensi. 23 tahun 2006 Standar isi dan standar kompetensi lulusan merupakan ketentuan yang bersifat minimal sehingga satuan pendidikan dimungkinkan menyusun kurikulum dengan standar lebih tinggi. Setiap satuan pendidikan yang akan mengembangkan kurikulum perlu memiliki dokumen yang berisi ketentuan-ketentuan di atas. PENERAPAN STANDAR ISI DAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Implementasi. potensi dan kebutuhan satuan pendidikan. b. mengkaji. 22 tentang standar isi dan Permendiknas No. dan memahami dokumen tersebut agar dapat mengembangkan kurikulum secara optimal. 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan. Dengan mengembangkan dan menerapkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. penambahan mata pelajaran atau penambahan muatan lainnya. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. d. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 sampai dengan Pasal 38. sesuai dengan kondisi. kondisi dan kebutuhannya. penerapan atau pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan diatur dalam Permendiknas No. mengatur sistem beban belajar. c. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 5 sampai dengan Pasal 18. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 36 .E. mengatur kalender pendidikan. sesuai potensi.

setelah tahun 2006 sampai tahun 2009 Standar Isi. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa penetapan kurikulum satuan pendidikan merupakan tanggung jawab satuan pendidikan dan komitenya. tetapi harus menerapkan kurikulum sesuai dengan Permendiknas No. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa pada dasarnya satuan pendidikan tidak diharuskan mengembangkan kurikulum apabila belum memiliki kesiapan berbagai sumber daya yang diperlukan. (4) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengadopsi atau mengadaptasi model kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun oleh BSNP. 23 Tahun 2006.(3) Pengembangan dan penetapan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah memperhatikan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Hal ini untuk mengakomodasi kemungkinan terdapat satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan yang belum siap mengembangkan kurikulum sendiri. 23 Tahun 2006 mulai tahun ajaran 2006/2007. di dalam Permendiknas No. 22 dan No. PP Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas pelaksanaannya. Pertimbangan komite dapat berarti berupa persetujuan setelah KTSP disusun oleh sekolah atau komite berpatisipasi aktif dan bekerjasama dalam proses penyusunan kurikulum dengan sekolah/madrasah. 22 dan No. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa satuan pendidikan memungkinkan menerapkan Permendiknas No. Panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan masih bersifat umum sehingga hal-hal lebih lanjut dan rinci perlu ditetapkan sendiri oleh satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. Mengenai mekanisme dan strategi pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan. 22. (5) Kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah. Standar Kompetensi Lulusan dan ketentuan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 37 . 23 dan 24 tahun 2006. Perlu dikritisi bahwa pengembangan dan penetapan kurikulum merupakan tanggung jawab sekolah sehingga sekolah perlu secara mandiri menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan kurikulum dengan tetap mengacu pada ketentuan yang ada seperti pada UU sisdiknas. 24 tahun 2006 disebutkan bahwa: (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menerapkan Permendiknas No.

: kelas 1. dan sejenisnya. dengan tahapan: a Untuk sekolah dasar (SD). setelah setelah tahun 2009 apabila kondisi satuan pendidikan belum siap disebabkan kondisi. : kelas 1. dan sekolah menengah atas luar biasa (SMALB) : . madrasah tsanawiyah (MTs).4.5 dan 6.tahun II . sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB).2. : kelas 1. (4) Satuan pendidikan dasar dan menengah yang belum melaksanakan uji coba kurikulum 2004. 23 Tahun 2006 paling lambat tahun ajaran 2009/2010.2. : kelas 1 dan 2. 23 Tahun 2006 secara bertahap dalam waktu paling lama 3 tahun. madrasah aliyah kejuruan (MAK). dan 5. situasi belum memungkinkan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 38 . atau mungkin menerapkannya secara bertahap mulai melengkapi perangkat pendukung.tahun III b : kelas 1 dan 4.apabila kondisi satuan pendidikan belum siap. melaksanakan Permendiknas No. (5) Penyimpangan terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir (2) di atas dapat dilakukan setelah mendapat izin Menteri Pendidikan Nasional. sekolah menengah kejuruan (SMK). 22 dan No.tahun III : kelas 1. 23 Tahun 2006. 23 Tahun 2006 untuk semua tingkatan kelasnya mulai tahun ajaran 2006/2007. madrasah aliyah (MA). (3) Satuan pendidikan dasar dan menengah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang telah melaksanakan uji coba kurikulum 2004 secara menyeluruh dapat menerapkan secara menyeluruh Permendiknas No.2. 22 dan No. sekolah menengah atas (SMA).tahun I . madrasah ibtidaiyah (MI).3. mempelajari dokumen yang diperlukan.tahun I . 22 dan No. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa satuan pendidikan memungkinkan menerapkan Permendiknas No. dan sekolah dasar luar biasa (SDLB): .tahun II . Untuk sekolah menengah pertama (SMP). 22 dan No.4. dan 3. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah harus sudah mulai menerapkan Permendiknas No.

Di dalam Permendiknas No.Peran Pemerintah dan Pemerintah Daerah pada implementasi atau penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dalam Permendiknas No. pada tingkat satuan pendidikan. 22 dan No. 23 Tahun 2006 sesuai dengan keperluan berdasarkan pemantauan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada butir (1). tetapi disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan. 23 Tahun 2006. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 39 . memiliki tugas berikut: (1) menggandakan Permendiknas No. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa gubernur. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di provinsi masing-masing. dan madrasah aliyah kejuruan (MAK). (1) BSNP melakukan pemantauan perkembangan dan evaluasi pelaksanaan Permendiknas No. (2) BSNP dapat mengajukan usul revisi . 22 dan No. 22 dan No. 23 Tahun 2006.Permendiknas No. BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) memilki tugas sebagai berikut. 24 tahun 2006. untuk satuan pendidikan dasar. 22 dan No. Sedangkan. untuk mendukung dan mendorong satuan pendidikan dalam menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. madrasah aliyah (MA). untuk satuan pendidikan madrasah ibtidaiyah (MI). 22 dan No. walikota dan menteri Agama lebih berperan dalam pengaturan jadwal atau mengkoordinasikan pelaksanaan Permendiknas No. 23 Tahun 2006. Peran satuan pendidikan tetap merupakan pelaksana dalam penerapan Permendiknas tersebut dan semua satuan pendidikan dalam suatu wilayah tidak harus melaksanakan secara serempak. 23 Tahun 2006. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan yang bersangkutan. bupati.Permendiknas No. secara nasional. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. untuk satuan pendidikan menengah dan satuan pendidikan khusus. 22 dan No. 23 Tahun 2006. 23 Tahun 2006. serta mendistribusikannya kepada setiap satuan pendidikan secara nasional. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di kabupaten/kota masing-masing (3) Menteri Agama dapat mengatur jadwal pelaksanaan Permendiknas No. (2) Bupati/walikota dapat mengatur jadwal pelaksanaan . madrasah tsanawiyah (MTs). 24 tahun 2006 juga disebutkan bahwa: (1) Gubernur dapat mengatur jadwal pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No.

pengawas. 23 Tahun 2006 Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan:. (3) membantu pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam penjaminan mutu satuan pendidikan dasar dan menengah agar dapat memenuhi Permendiknas No. (5) memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. terhadap guru. 23 Tahun 2006. (2) mengembangkan dan mengujicobakan model-model kurikulum inovatif. (2) melakukan sosialisasi Permendiknas No. 22 dan No. mengevaluasinya. (6) mengembangkan pangkalan data yang rinci tentang pelaksanaan Permendiknas No. 23 Tahun 2006.(2) melakukan usaha secara nasional agar sarana dan prasarana satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mendukung penerapan Permendiknas No. 23 Tahun 2006. dan tenaga kependidikan lainnya yang relevan melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan/atau Pusat Pengembangan dan Penataran Guru (PPPG). dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP. 22 dan No. (3) mengembangkan dan mengujicobakan model kurikulum untuk pendidikan layanan khusus. dan dewan pendidikan. memiliki tugas berikut: (1) mengembangkan model-model kurikulum sebagai masukan bagi BSNP. 23 Tahun 2006. dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP kepada dinas pendidikan provinsi. dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri. 22 dan No. (4) bekerjasama dengan perguruan tinggi dan/atau LPMP melakukan pendampingan satuan pendidikan dasar dan menengah dalam pengembangan kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah. 22 dan No. 23 Tahun 2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. memiliki tugas berikut: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 40 . dinas pendidikan kabupaten/kota. melalui LPMP. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional. kepala sekolah. 22 dan No. 22 dan No. memiliki tugas berikut: (1) melakukan sosialisasi Permendiknas No.

dan pemerintah (departemen pendidikan nasional. 24 Tahun 2006. mengatur jadwal. (2) mengusahakan secara nasional sesuai dengan kewenangannya agar sarana. c. Dari ketentuan Permendiknas No. b. 22 dan No. 24 tahun 2006 jelas bahwa efektifitas pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan ditentukan oleh komitmen dan peran satuan pendidikan. mengevaluasi dan melaksanakan kurikulum sesuai dengan standar isi dan standar kompetensi lulusan. Bupati/walikota dan gubernur berperan dalam melakukan sosialisasi. lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK). komite satuan pendidikan. 23 Tahun 2006 Sekretariat Jenderal melakukan sosialisasi Permendiknas No. 23 Tahun 2006 (3) melakukan supervisi. Sedangkan Departemen lain yang menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah : (1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. 22 dan No. 23 Tahun 2006. 23 Tahun 2006 sesuai dengan kewenangannya.(1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. Nomor 060/U/1993 tentang Kurikulum Pendidikan Dasar. mengkoordinasikan. kepada pemangku kepentingan umum. dan mengevaluasi pelaksanaan Permendiknas No. gubernur. dinyatakan tidak berlaku bagi satuan pendidikan dasar dan menengah sejak satuan pendidikan dasar dan menengah yang bersangkutan melaksanakan Permendiknas No. 24 Tahun 2006. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan : a. Departemen pendidikan nasional memiliki peran Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 41 . bupati/walikota. memonitor dan mendorong satuan pendidikan untuk menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. di kalangan (2) memfasilitasi pengembangan kurikulum dan tenaga dosen LPTK yang mendukung pelaksanaan Permendiknas No. dan sumber daya manusia satuan pendidikan yang berada di bawah kewenangannya mendukung Permendiknas No. 22 dan No. departemen agama dan departemen lain yang terkait). 23 Tahun 2006. 23 Tahun 2006 sesuai dengan kewenangannya dan berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan Nasional. Satuan pendidikan dan komite berperan dalam mengembangkan. memantau. 22 dan No. Nomor 080/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan. menyusun. 22 dan No. dan d. prasarana. Dengan berlakunya Permendiknas No. Nomor 061/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Umum. Nomor 0126/U/1994 tentang Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. 22 dan No.

maupun outputnya. SISTEM MONITORING KURIKULUM Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas keberhasilan implementasi kurikulum yang dilakukan oleh suatu lembaga adalah melakukan monitoring terhadap program tersebut. F.dalam melakukan sosialisasi. mengeluarkan kebijakan teknis. Keitga istilah tersebut pada dasarnya tidak terpisahkan satu sama lain karena sama-sama digunkan dalam konteks menyempurnakan atau memperbaiki program dan hasil pelaksanaan implementasi kurikulum. evaluasi dan supervisi. Monitoring tersebut dapat dilakukan mulai dari perencanaan (termasuk needs analysis) . Dalam kaitannya dengan peningkatan mutu implementasi kurikulum. Monitoring (pemantauan) secara umum dimaknai sebagai sebuah kegiatan yang berfungsi untuk melihat kesesuaian rencana program implementasi kurikulum dengan pelaksanaan yang terjadi yang mencakup semua aspek dalam implementasi kurikulum diantaranya : Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 42 . mengusahakan sarana dan prasarana. dan memonitor satuan pendidikan dalam penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan. mengevaluasi dan mendorong satuan pendidikan di bawah kewenangannya untuk menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. Proses dan kedudukan monitoring dapat digambarkan sebagai berikut : Analisis SWOT Implementasi kurikulum Evaluasi dampak MONITORING Disain dan perencanaan kurikulum Pelaksanaan kurikulum Monitoring merupakan bagian dari bentuk pengendalian (control) yaitu proses yang memastikan bahwa aktifitas aktual (yang terjadi) sesuai dengan aktifitas yang direncanakan. Semua istilah tersebut secara umum mengacu pada fungsi pengawasan pelaksanaan program implementasi kurikulum. mengkoordinasikan. proses dan pelaksanaan. Departemen agama dan departemen lain terkait berperan dalam melakukan sosialisasi. mengatur jadwal. workshop. terdapat berbagai istilah yang hampir sepadan yaitu monitoring.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 43 . Terdapat berbagai konsep mengenai supervisi. ketepatan dalam mengidentifikasi dampak implementasi kurikulum. Dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistimatis untuk melihat apakah sebuah program implementasi kurikulum telah berhasil dan efisien dalam pelaksanaannya.ketepatan perumusan analisis kebutuhan. supervisi merupakan program berencana untuk memperbaiki pengajaran. sedangkan supervisi lebih menekankan pada perbaikan pembelajaran secara langsung yang diberikan oleh fasilitator atau narasumber. Secara sederhana. ketepatan perencanaan program kurikulum. Standar diuraikan atau dirumuskan dalam bentuk kriteria hasil monitoring. Hasil evaluasi biasanya dipergunakan untuk memperbaiki program implementasi kurikulum yang akan dilakukan berikutnya. efisiensi. ketepatan dalam pelaksanaan implementasi kurikulum. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memperbaiki program implementasi kurikulum yang sedang berjalan. LAN mendefinisikan evaluasi sebagai proses atau kegiatan untuk menentukan kemajuan implementasi kurikulum dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan dan usaha untuk memperoleh informasi atau umpan balik bagi penyempurnaan program implementasi kurikulum. Dari ketiga pengertian di atas tampak bahwa monitoring digunakan untuk memperbaiki proses implementasi kurikulum yang sedang berjalan untuk mengoptimalkan hasil. evaluasi hasilnya lebih dipergunakan untuk perbaikan program implementasi kurikulum berikutnya walaupun pelaksanaan evaluasi dapat dilakukan pada saat implementasi kurikulum berlangsung. Monitoring memiliki cakupan prosedur dan cakupan proses lebih luas dari sekedar yang dilakukan dalam pekerjaan evaluasi atau supervisi. supervisi merupakan suatu aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu program pendidikan dan tenaga pendidik dan kependidikan dalam melakukan profesi mereka secara efektif. 1988 mendefiniisikan evaluasi adalah proses pengumpulan data yang sistematis untuk mengukur evektivitas. Salah satu pengertiannya. Evaluasi menurut the trainer’s Library. Fungsi monitoring mencakup tiga unsur utama: (1) Menetapkan standar ketepatan program implementasi kurikulum. Suatu kegiatan evaluasi diharapkan dapat mengukur keberhasilan apakah tujuan implementasi kurikulum yang ditetapkan dapat dicapai. akuntabilitas dan relevansi program implementasi kurikulum.

Kompetensi meliputi keterampilan teknis dalam menggunakan prosedur kerja dalam program implementasi kurikulum. 1. pengembangan dan penyelenggaraan program implementasi kurikulum. serta keterampilan konseptual dalam mengkoordinasi dan memadukan berbagai kepentingan dan kegiatan dalam implementasi kurikulum. dan mengambil tindakan perbaikan. Hasilnya dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan.(2) Memantau dan mengukur aktifitas program yang sedang berjalan dengan menggunakan teknik monitoring tertentu. keterampilan manusiawi dalam bekerja dengan orang lain. menentukan apakah terdapat penyimpangan. Penetapan standar dan metode monitoring implementasi kurikulum Monitoring Apakah kinerja sesuai standar? tidak Pengambilan tindakan perbaikan Selesai ya Monitoring harus dilakukan oleh seseorang yang berkompeten sesuai dengan bidang yang akan dimonitor. Model monitoring yang konvensional atau tradisional adalah yang bersifat mencari kesalahan. Teknik – teknik monitoring dan penerapannya. membandingkan kinerja aktual dengan standar yang ditetapkan. penyelesaian masalah bersama untuk memperbaiki program yang belum sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. memahami orang lain. Unsur-unsur pokok dalam proses monitoring adalah penetapan standar ketepatan program implementasi kurikulum. Ini sangat mudah dilakukan karena pada dasarnya manusia sebagai Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 44 . dan memotivasi orang lain. Kompetensi yang dimaksud di sini tentu kompetensi atau kemampuan profesional yang terkait langsung dengan perencanaan. pengarahan. (3) Mengambil tindakan dalam bentuk pemberian bantuan. yang dapat diilustrasikan sebagai berikut. merancang sistem umpan balik informasi.

observasi (pengamatan). Metode monitoring dapat berupa : konsultasi atau wawancara. atau kesulitan penyelenggara pendidikan. Metode-metode ini dikemas. Pendekatan yang digunakan dalam monitoring dapat berupa pendekatan langsung (direct). Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 45 . Cara ini tentu saja tidak sesuai dengan tujuan monitoring dan berdampak pada sikap acuh tak acuh atau menentang dari pihak penyelenggara program. dikombinasikan dan dilakukan secara terpadu (terintegrasi) agar proses monitoring dapat berjalan secara efisien dan sesuai sasaran. Monitoring perlu dilakukan secara ilmiah yang terencana. Dalam monitoring yang ditekankan adalah bantuan agar program implementasi kurikulum terlaksana sesuai tujuan. Metode – metode ini harus sudah direncanakan. dikembangkan. Dalam metode ini yang perlu dilakukan bahwa pewawancara harus memiliki aspek – aspek apa saja yang perlu diketahui atau dimonitor sebagai bagian dari monitoring. sistematis dan menggunakan instrumen tertentu. memiliki banyak kekurangan. kemudian mendiskusikan pemecahan atau solusi dari problem dan hambatan yang dihadapi.Wawancara tentang perencanaan kurikulum : pewawancara harus mengetahui dan menngidentifikasi apakah struktur program kurikulum. serta umpan balik (feedback) yang diberikan harus secepat mungkin dan objektif untuk segera dilakukan perbaikan. Dalam melakukan wawancara perlu diperhatikan bahwa kegiatan ini tidak mengganggu semua aspek program implementasi kurikulum. Metode wawancara dapat dilakukan secara tertulis ataupun langsung.Wawancara mengenai analisis kebutuhan : pewawancara harus mengetahui apakah kebutuhan – kebutuhan proram implementasi kurikulum sudah sesuai dengan apa yang diharapkan ? . hambatan. yaitu memberi bantuan dan arahan secara langsung atau pendekatan tidak langsung (indirect) di mana pemonitor mendengar keluhan. penilaian diri.penyelenggara implementasi kurikulum. dipilih dan ditetapkan sebagai bagian dari tahapan – tahapan implementasi kurikulum. suasana yang hangat. dekat dan terbuka. kuesioner. Misalnya : . atau metode pengumpulan data lainnya. silabus dan bahan ajarnya telah lengkap sesuai dengan tujuan dan sistematis serta terarah ? Hal yang terpenting dalam melakukan wawancara adalah pewawancara sudah mempersiapkan diri dengan pedoman wawancara yang isinya memuat semua aspek – aspek yang akan dimonitor.

Selain menggunakan format observasi secara khusus. Hal ini dapat memberikan beberapa manfaat: (1) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan akan belajar bagaimana menganalisis peristiwa yang dialami sendiri selama program implementasi kurikulum berlangsung (2) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan dapat memperoleh pengalaman dalam memberi umpan balik perbaikan implementasi kurikulum secara langsung (3) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan akan belajar bagaimana menggunakan sumber daya yang dipakai untuk melakukan analisis. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 46 . dan peralatan audio visual (video) sebagai dokumentasi pelaksanaan implementasi kurikulum. perekam suara (tape recorder) hasil wawancara atau kegiatan lainnya. yaitu : menguraikan hasil pengamatan secara komprehensif dan ditulis secara lengkap dalam sebuah laporan. pemonitor dapat juga menggunakan metode deskripsi. mencatat hal-hal yang penting dan menekankan pada upaya perbaikan program implementasi kurikulum. kepala sekolah. observasi dapat pula dilakukan oleh penyelenggara (guru. Selain oleh pemonitor dari penyelenggara implementasi kurikulum. Alat bantu lain yang sangat berguna dalam metode observasi/wawancara adalah kamera untuk bukti dokumentasi pelaksanaan implementasi kurikulum. Selanjutnya. Unjuk kerja untuk setiap aspek yang dimonitor dapat dikategorikan dalam bentuk laporan teramati (tepat) atau tidak teramati (tidak tepat). cukup baik dan baik. laporan ini dianalisis untuk diperoleh hal-hal atau aspek apa saja yang perlu diperbaiki dan ditindaklanjuti agar segera dilakukan perbaikan program implementasi kurikulum. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan yang memuat aspek – aspek yang akan dilihat saat monitoring dilakukan. Boleh juga digunakan sekala rentang. misalkan suatu aspek ditunjukkan melalui empat kategori yaitu : tidak baik. Dalam melakukan observasi perlu dillakukan dalam situasi yang wajar (tidak mengganggu program pembelajaran). atau pengawas sekolah). serta data yang dihasilkan haruslah faktual dan bukan opini pemonitor.Metode observasi biasanya digunakan untuk mengamati unjuk kerja (kinerja) dari setiap orang yang terlibat dalam kegiatan program implementasi kurikulum. kurang baik.

Pengembangan instrumen monitoring. 2. daya inovasi dan kreasi dari guru. angket. Yang terpenting dalam pengembangan kuesioner harus memperhatikan aspek kepraktisan. pengawas dan fihak lain yang relevan. dan keakuratan jawaban. kepala sekolah. yang disusun dalam bentuk pertanyaan tertutup atau terbuka. Dilanjutkan dengan pemilihan teknik monitoring yang tepat. melalui pos atau dengan alat bantu teknologi informasi melalui internet (website). terbuka. Kuesioner dapat berupa pertanyaan dengan jawaban tertutup. Kuesioner dengan jawaban (options) tertutup mudah dianalisis tetapi tidak memberi peluang responden memberi tanggapan lain yang mungkin sangat berguna.Metode kuesioner biasanya digunakan untuk memonitor. Aspek lain yang tidak mungkin dimonitor melalui kuesioner dapat dimonitor melalui observasi atau teknik monitoring lainnya. atau pernyataan sikap. Data dan informasi dari monitoring secara tertulis (kuesioner. Alat penilaian diri dapat berupa daftar ceklis tentang pandangan/pendapat. Dalam kegiatan pengembangan instrument monitoring diawali dengan kegiatan mengidentifikasi aspek yang akan dimonitor. Walaupun perlu dilakukan kroscek atau verifikasi dengan sumber data yang lain untuk mendapat informasi yang lebih otentik. baru dilakukan pengembangan instrument monitoring dan pedoman yang memuat criteria hasil monitoring. Dengan demikian sebelum Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 47 . Penilaian diri merupakan salah satu bentuk kuisioner yang khusus ditujukan kepada fihak pelaksana penyelenggara pendidikan untuk melakukan evaluasi diri misalnya mengenai tanggapan tentang komitmen. Monitoring melalui pos atau internet lebih membutuhkan keaktifan dan proaktif dari pihak responden. kepala sekolah. atupun fihak lain yang terkait). Kuesioner dengan jawaban terbuka memberi peluang pada responden menyatakan pendapatnya secara bebas tetapi memerlukan waktu untuk menganalisis dan melakukan perbaikan program implementasi kurikulum. Dalam metode ini semua aspek yang dimonitor informasinya didapatkan melalui pertanyaan atau pernyataan tertulis yang diberikan pada sumber data (guru. Penilaian diri cukup bermanfaat untuk dilakukan karena pelaksana akan lebih jujur mengungkapkan pendapatnya tentang pelaksanaan program implementasi kurikulum. atau penilaian diri) dapat diperoleh secara langsung oleh petugas kuesioner kepada responden. dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan tertulis yang telah disiapkan. kegunaan informasi yang dijaring.

Kesiapan sarana dan prasarana Tertulis Observasi Wawancara 7. Aspek yang dimonitor 1. Kemampuan dan kesiapan sumber daya pendidikan 4. Pelaksanaan SI dan SKL Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 2. Kemampuan dan kesiapan pendidik Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 5. Kemampuan dan kesiapan tenaga kependidikan Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 6. Pelaksanaan atau penerapan kurikulum oleh satuan pendidikan 8. Sosialisasi SI dan SKL Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 9. Kesiapan orangtua dan masyarakat Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Observasi Lembar observasi Panduan Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 3. Pemahaman dan persepsi tentang kebijakan kurikulum 1. Pengembangan Kurikulum (KTSP) Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 10. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 3. Subaspek Standar Isi (SI) Teknik monitoring Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 2. Pengembangan Silabus dan RPP Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Bentuk instrumen Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 48 .pengembangan instrument monitoring perlu disusun kisi – kisi instrumen monitoring yang secara umum dapat ditampilkan dalam contoh tabel kisi-kisi berikut.

Pengembangan Penilaian Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 12. penyusunan instrument TNA.. pemetaan kebutuhan implementasi kurikulum. system pengambilan data TNA. Hal ini agar mempermudah dalam melakukan monitoring nantinya. peluang. Setiap aspek atau sub aspek tersebut dapat di jabarkan kedalam aspek yang lebih kecil. pengolahan dan analisis data TNA. 2. yang meliputi:. Aspek – aspek yang lebih rinci akan mampu menggambarkan pelaksanaan implementasi kurikulum dengan baik atau tidak suatu implementasi kurikulum dilaksanakan. Standar isi.Aspek yang dimonitor Subaspek Teknik monitoring Bentuk instrumen Angket 11. 1. dan tantangan untuk penyempurnaan kurikulum. yang mencakup sub-subaspek berikut. Misalkan sub aspek isi silabus dapat dirinci menjadi lima komponen yaitu : 1. evaluasi efektifitas dampak pelaksanaan kurikulum. Isi silabus. ketepatan menentukan kompetensi yang akan dicapai. serta analisis kekuatan. serta akan meningkatkan nilai ketepatan pengamatan. Penerapan pembelajaran di sekolah Observasi Wawancara Panduan Wawancara Panduan Observasi Lembar observasi Aspek yang dimonitor mencakup semua komponen – komponen penting mulai dari perencanaan kurikulum. pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan. kelemahan. Isi bahan ajar. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 49 . yang mencakup sub-subaspek: Isi struktur program implementasi kurikulum. Aspek Perencanaan implementasi kurikulum. Aspek pemahaman dan persepsi. hambatan.

ketepatan metode implementasi kurikulum yang digunakan. Perumusan kriteria ini harus jelas. Perumusan yang samar-samar seperti ’meningkatkan mutu bahan ajar’. yaitu teknik tertulis yang dapat dilakukan dengan wawancara tertulis. Misalnya. kelengkapan atau kebenaran prosedur kerja dari setiap tahapan program implementasi kurikulum sesuai dengan aspek-aspeknya. ketepatan materi yang dipilih sebagai bahan implementasi kurikulum. komitmen fasilitator selama program implementasi kurikulum dilaksanakan. atau sarana lainnya. minat dan ketertarikan peserta. Terdapat beberapa jenis teknik monitoring. 4. maka monitoring paling tepat dilakukan dalam bentuk observasi. Di sisi lain. Cara paling sederhana menentukan kriteria adalah dengan daftar ceklis. yaitu menetapkan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 50 . Apabila aspek yang dimonitor berupa kelengkapan dokumen atau peralatan. ketepatan waktu yang disediakan. komitmen atau sikap penyelenggara dan peserta implementasi kurikulum terhadap program implementasi kurikulum. serta silabus hasil karya peserta. jika aspek yang dimonitor berupa kinerja atau performa dari penyelenggara dan peserta implementasi kurikulum. subaspek materi implementasi kurikulum penyusunan silabus dapat dimonitor dengan metode kuesioner untuk melihat kelengkapan dan isi kualitas dari dokumen silabus yang digunakan. 5. serta dapat dicapai dengan tenggang waktu tertentu. kualitas isi dokumen atau peralatan. tidak akan dapat dimonitor karena tidak jelas ukuran peningkatannya. maka monitoring dapat dilakukan dalam bentuk tertulis misalnya berupa kuesioner. Biasanya untuk membuat efektif monitoring. dapat diukur (measurable). Kriteria ini merupakan pedoman atau acuan bagi pemonitor untuk memeriksa ketepatan setiap aspek yang dimonitor pada setiap tahapan program implementasi kurikulum. suatu aspek dimonitor dengan menggunakan lebih dari satu teknik monitoring. atau dapat diamati (observable). kuesioner atau penilaian diri dan monitoring unjuk kerja dan sikap yang dilakukan dalam bentuk observasi saat implementasi kurikulum berlangsung. Teknik monitoring dipilih dengan mempertimbangkan karakteristik dari setiap aspek yang dimonitor. 3. Kriteria atau tolok ukur hasil monitoring merupakan ukuran ketepatan. ketepatan indicator yang dirumuskan. dapat dimonitor dengan metode observasi untuk melihat komitmen.2. Namun.

Apapun metode analisis yang digunakan. 4. Yang penting diperhatikan bahwa hasil monitoring harus menjadi umpan balik secara langsung sehingga proses implementasi kurikulum berjalan sesuai dengan track atau tujuan yang ditetapkan. mereka biasanya ada yang setuju. Dengan demikian. sangat setuju atau tidak setuju. tepat atau tidak tepat. Kebanyakan orang lebih tertarik dengan analisis kuantitatif. Data yang diperoleh dari hasil monitoring perlu dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan content analysis untuk membandingkan berbagai temuan yang memiliki karakteristik berbeda-beda dan narrative analysis untuk melihat kohorensi temuan atau informasi dari tanggapan para stakeholder program implementasi kurikulum. Hasil analisiis data digunakan untuk memvalidasi program penyelenggaraan implementasi kurikulum dan kesesuaiam dengan potensi dan kebutuhan implementasi kurikulum. 3. kurang tepat. Namun ukuran ini terlalu kasar karena banyak tahapan program implementasi kurikulum yang dilakukan dengan ukuran sangat berhasil. Pengolahan dan analisis hasil monitoring dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. walaupun analisis kualititatif juga sangat penting untuk dicermati. hasil montoring sudah harus dapat dijadikan sebagai masukan perbaikan implementasi kurikulum sejak tahapan implementasi kurikulum dimulai. cukup berhasil. Pengolahan dan analisis hasil monitoring. cukup tepat atau tidak tepat. Tingkat analisis bergantung pada detil data yang dibutuhkan dan kompleksitas permasalahan selama implementasi kurikulum. atau tidak berhasil atau dengan criteria sangat tepat. yang selanjutnya juga menentukan apakah tujuan implementasi kurikulum telah tercapai. Pemanfaatan hasil monitoring. Demikian juga apabila kita minta pendapat peserta tentang program implementasi kurikulum.apakah setiap aspek dilakukan atau tidak dilakukan. harus menjawab pertanyaan apakah program implementasi kurikulum telah berhasil dan efektif dilakukan sesuai tujuan implementasi kurikulum. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 51 . Data juga akan dianalisis secara kuantitatif dengan pendekatan descriptive statistically analysis untuk mendeskripsikan berbagai aspek variabel yang diperoleh dari temuan selama implementasi kurikulum. Untuk itu ketepatan kuantitas dan kualitas dari proses monitoring sangat menentukan hasil analisis.

hasil analisis monitoring dapat digunakan sebagai bahan evaluasi secara menyeluruh untuk meningkatkan kualitas program implementasi atau penerapan kurikulum oleh satuan pendidikan. 2. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 52 . manfaat pokok dari proses monitoring adalah mengendalikan pelaksanaan program implementasi kurikulum berlangsung secara efisien dan sukses sesuai dengan tujuan. mendorong semua pihak dalam program implementasi kurikulum lebih berdisiplin dan bertanggung jawab. memberi motivasi bagi peserta dan pelaksana pendidikan untuk melaksanakan program implementasi kurikulum secara optimal. yaitu agar praktek pelaksanaan program implementasi kurikulum sesuai dengan perencanaan. Manfaat proses monitoring lainnya adalah: 1.Seperti yang telah dikemukakan di muka bahwa tujuan monitoring atau pemantauan adalah untuk menjamin suatu kegiatan atau program implementasi kurikulum tetap on the track sesuai dengan tujuan program yang telah ditetapkan. 3. Dengan demikian.

metodologi. workshop. STRATEGI MONITORING Kegiatan ini dilakukan melalui berbagai metode dalam bentuk studi dokumen. (2) Pengembangan instrumen Instrumen dikembangkan dan disusun untuk menjaring atau mendapatkan data dan informasi kualitatif dan kuantitaif mengenai pencapaian pelaksanaan Permendiknas No. pedoman observasi situasi dan pelaksanaan pembelajaran. melakukan monitoring. pengembangan desain. pelaksanaan kegiatan. dan stakeholder lain yang relevan. Sumber data yang digunakan adalah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 53 . rapat kerja dan diskusi fokus yang melibatkan berbagai nara sumber perguruan tinggi. pengolahan hasil monitoring. penyusunan dan presentasi rekomendasi. kuesioner. analisis hasil monitoring.BAB III METODOLOGI Pendekatan dalam monitoring ini bersifat descriptive-explanatory berbentuk studi (survey) dengan menggunakan data kualitatif dan kuantitatif yang digunakan secara seimbang dan saling melengkapi untuk melihat profil pencapaian satuan pendidikan dalam penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan pada tingkat propinsi. pedoman wawancara. kerangka berpikir atau landasan teori. diskusi fokus. Instrumen yang disusun berbentuk tes. 22 dan 23 tahun 2006 tentang Standar Isi dan SKL oleh satuan pendidikan. hasil yang diharapkan. penyusunan dan presentasi rekomendasi mengenai hasil kegiatan keseluruhan. hasil monitoring ini dilakukan sebagai bahan pertimbangan dalam merekomendasikan perencanaan dan pelaksanaan penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan agar lebih efektif dan efisien pada satuan pendidikan dasar dan menengah. rapat kerja dan koordinasi. Selain itu. praktisi pendidik dan tenaga kependidikan. Penyusunan desain dilaksanakan dalam bentuk workshop. (1) Penyusunan desain Desain ini merupakan master plan yang disusun untuk dijadikan pedoman atau acuan dalam kegiatan monitoring yang meliputi: latar belakang dan tujuan monitoring. ruang lingkup. pengembangan instrumen. A. sebagai berikut.

dinas pendidikan. Mekanisme satuan pendidikan dalam menyusun dan melaksanakan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan daya dukungnya. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan d. dan kelengkapan data dan informasi yang diperlukan sebagai hasil monitoring serta hal-hal lain yang ditemukan selama pelaksanaan monitoring. 23 dan tahun 2006 tentang: a. dan pihak lain mengenai implikasi Permendiknas No. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan Rapat kerja ini juga untuk mengatur koordinasi dalam pelaksanaan monitoring sehingga diperoleh cukup data dan informasi kualittaif dan kuantitatif yang akurat dan aktual tentang pencapaian penerapan dan pelaksanaan Permendiknas No. guru. Peran pemerintah kabupaten/kota/propinsi dalam mendukung pelaksanaan Permendiknas No. 23 dan 24 tahun 2006 Rapat kerja ini terutama untuk menentukan kesamaan persepsi dan pemahaman berbagai pihak pengelola pendidikan dari unsur sekolah. metode penggunaan instrumen dan sumber data yang diperlukan.siswa. Instrumen yang telah disusun diujicoba secara terbatas untuk memvalidasi keterbacaan dan kesesuaiannya dengan tujuan monitoring (3) Rapat koordinasi membahas implikasi Permendiknas No. Pelaksanaan monitoring mengacu pada pedoman monitoring yang mengatur tentang: kriteria petugas pelaksana monitoring. 22 dan 23 tahun 2006 b. Peran pemerintah (Depdiknas dan departemen lain terkait) dalam merumuskan kebijakan untuk mendukung pelaksanaan Permendiknas No. orangtua. dikombinasikan dan dilakukan secara terpadu (terintegrasi) agar proses monitoring dapat berjalan secara efisien dan sesuai sasaran dan kebutuhan. pengawas sekolah. 22. c. serta dokumen yang relevan. dan dinas pendidikan kabupaten/kota/ propinsi. kelengkapan jumlah dan jenis intrumen. (4) Pelaksanaan monitoring Monitoring dilakukan dengan menggunakan instrumen-instrumen yang dikemas. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 54 . Hal-hal yang harus dilaksanakan dan dicapai satuan pendidikan seperti yang dituntut dalam Permendiknas No. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan pada setiap propinsi. pemerintah. 22. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lain.

Observasi digunakan untuk mengamati unjuk kerja (kinerja) pada saat pembelajaran di sekolah maupun obaservasi situasi dan kondisi pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan yang memuat aspek – aspek yang akan dilihat saat monitoring dilakukan. Bentuk Instrumen yang dikembangkan dalam monitoring ini berupa kuesioner. perlu dibuat laporan beserta hasil-hasilnya pada tiap langkah kegiatan. dalam mengefektifkan pelaksanaan Permendiknas No. (6) Rekomendasi kebijakan kurikulum Rekomendasi atau saran kebijakan kurikulum disusun berdasarkan analisis hasil monitoring meliputi rekomendasi bagi satuan pendidikan dan komite. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 55 . 22 dan 23 tahun 2006. dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi dan pemerintah.(5) Analisis Hasil Monitoring Data dan informasi hasil monitoring dan kajian dokumen pendukund yang relevan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan gambaran. tindakan kebijakan oleh pemerintah dan stakeholder terkait. B. potret atau profil tingkat pencapaian dan efektifitas penerapan atau pelaksanaan Permendiknas No. (7) Penyusunan laporan Sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan secara keseluruhan. PENGEMBANGAN INSTRUMEN Instrumen disusun dan digunakan untuk mengukur atau mendapatkan data dan informasi pencapaian pelaksanaan Peremndiknas No. dan pedoman observasi. Metode wawancara dapat dilakukan secara tertulis ataupun langsung dengan mengacu pada panduan wawancara. komite sekolah maupun dinas pendidikan di daerah. bentuk pembinaan oleh dinas kabupaten/kota/propinsi. pedoman wawancara. supervisi atau pembinaannya oleh pengawas sekolah. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan pada seluruh propinsi. Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan penyusunan rekomendasi kebijakan dalam penyusunan dan pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan dan evaluasu. guru. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi kepala sekolah.

TEKNIK ANALISIS DATA Analisis data yang digunakan adalah content analysis berupa studi dokumen untuk membandingkan berbagai temuan yang memiliki karakteristik berbeda-beda dan narrative analysis untuk melihat kohorensi temuan / informasi dari dokumen ataupun tanggapan para responden yang berkaitan dengan ketersediaan buku-buku pelajaran dan kesesuaiannya dengan kurikulum. Kuesioner dengan jawaban (options) tertutup mudah dianalisis tetapi tidak memberi peluang responden memberi tanggapan lain yang mungkin sangat berguna. D. Teknik sampling dilakukan secara multi-stages dengan mengkombinasikan sistem cluster samples dan purposive samples. tenaga kependidikan. Kuesioner dengan jawaban terbuka memberi peluang pada responden menyatakan pendapatnya secara bebas tetapi memerlukan waktu untuk menganalisis. dan SMP/MTs. Dinas pendidikan. kepala sekolah. Selain itu. Dalam pengembangan kuesioner memperhatikan aspek kepraktisan. pengawas. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Populasi dalam monitoring ini adalah unsure dari satuan pendidikan dasar dan menengah dan komitenya serta dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi pada 33 propinsi. Pada masing-masing propinsi akan dilakukan monitoring pada tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang meliputi pendidik. Monitoring pada tingkat dinas penddikan kab/kota/propinsi meliputi ketenagaan dan program kerja dalam mendukung pelaksanaan Permendiknas No. Penilaian diri merupakan salah satu bentuk kuisioner yang khusus untuk melakukan evaluasi diri tentang komitmen Penilaian diri cukup bermanfaat untuk dilakukan karena pelaksana diklat akan lebih jujur mengungkapkan pendapatnya tentang pelaksanaan program diklat. komite. dan keakuratan jawaban. atau pernyataan sikap. juga digunakan descriptive statistically Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 56 . kegunaan informasi yang dijaring. Aspek lain yang tidak mungkin dimonitor melalui kuesioner dapat dimonitor melalui observasi atau teknik monitoring lainnya. orangtua. 22 dan 23 tahun 2006. C. terbuka.Metode kuesioner disusun dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan tertulis yang telah disiapkan yang dapat berbentuk pertanyaan dengan jawaban tertutup. dan orang tua. guru. Direncanakan keseluruhan responden monitoring pada setiap propinsi melibatkan siswa SD/MTs. Walaupun perlu dilakukan kroscek atau verifikasi dengan sumber data yang lain untuk mendapat informasi yang lebih otentik. dan sarana pendukungnya. siswa.

umumnya (97.9%) telah memiliki masa kerja antara 21-30 tahun. E.8) menyatakan ikut sosialisasi kurang dari seminggu. hasil monitoring dapat dijadikan sebagai barometer (memprediksi) bagaimana kondisi di luar ibu kota provinsi. untuk memperkirakan 1. serta 2.0%).3% responden kepala sekolah berpendidikan sarjana strata 1.5% adalah sarjana starta 1. Responden yang berlatar belakang pendidikan SLTA adalah staf teknis yang hadir mewakili atasannya. dinas pendidikan kota di ibu kota provinsi.4% yang masa kerjanya 10 tahun ke bawah.7%). Lebih separoh (58. sarjana strata 2 (18.4 masih berpendidikan diploma. Namun demikian. dan 19. Dari responden yang mengikuti sosialisasi. 11. 84. 2. Sebagian besar (53. dan hanya 14.9 sarjanan strata 2.5) responden mengaku belum pernah ikut sosialisasi. data yang diberikan belum mewakili daerah-daerah di luar ibukota provinsi.8%). Sekolah Responden yang terdiri atas kepala sekolah dan guru dengan latar belakang pendidikan sebagian besar sarjana. dan diploma (3. PROFIL RESPONDEN Responden yang dilibatkan dalam monitoring ini berasal dari dinas pendidikan provinsi.7 berpendidikan sarjana strata 2.5%).2% sarjanan strata 3. Sedangkan guru. 1. dan sekolah-sekolah yang berada di ibukota provinsi. SLTA (13.analysis untuk mendeskripsikan berbagai aspek variabel yang berkaitan dengan bukubuku pelajaran. 80. Dinas Pendidikan Sebagain besar responden yang berasal dari pejabat struktural Dinas Pendidikan berlatar belakang pendidikan sarjana strata 1 (64. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 57 . Responden dipilih secara acak. namun karena semua responden berasal dari ibu kota provinsi.

dan hanya 6. Selebihnya (30.6% di antara kepala sekolah berasal dari SM/MA dan 42. 13. 3.3%).3 % antara 21-30 tahun. Keadaan ini hampir sama dengan guru. Sedangkan guru yang menjadi responden monitoring ini lebih separo (57. Tidak ada yang berlatar belakang pendidikan SD. dan 5.3% SLTA. 48.8% di bawah 10 tahun.6% diploma. BAB IV PEMBAHASAN HASIL MONITORING A. 29. 7.4% dari SMK.6% dengan masa kerja 10 tahun ke bawah.Berdasarkan masa kerjanya.1%) memiliki masa kerja 11-20 tahun.1 % yang memiliki masa kerja di atas 31 tahun. Sebagian besar dari mereka memiliki pekerjaan tetap sebagai pegawai negeri sipil dengan rincian sebagai berikut: karyawan PNS sebanyak 41. 37.7%. Pengembangan dan Penerapan KTSP secara Nasional Informasi tentang pengembangan dan penerapan KTSP secara nasional menggunakan sumber data yang diperoleh dari dinas pendidikan propinsi.6%. Hal ini disebabkan belum optimalnya koordinasi antara Dinas Pendidikan Provinsi dengan Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 58 . 16.6 % sarjana strata 2. guru (27.7% berasal dari SMK. Tim studi belum bisa mendapatkan data kuantitatif pelaksanaan KTSP oleh satuan pendidikan pada tingkat propinsi karena propinsi belum memiliki data rincinya dari kabupaten/kota maupun dari sekolah di wilayahnya.8% dengan masa kerja 21-30 tahun. lebih separoh responden guru berasal dari SMA/MA (58.5% kepala sekolah yang menjadi responden memiliki masa kerja 11-20 tahun.8%). Komite/Orang Tua Siswa Lebih dari separoh (69%) responden yang berasal dari orang tua/komite berpendidikan sarjana strata 1. dan dosen 5.1%) memiliki pekerjaan berwiraswasta. dan 41. 8. 57.

11. demikian juga kegiatan yang dilakukan oleh sekolah-sekolah dengan memanfaatkan dana swadaya. 6. Berikut gambaran secara umum pelakasanaan sosialisasi di masing-masing provinsi. (2) sasarn sosialisasi di masing-masing daerah. 12. 9. 7. Akibatnya. 4. Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Bengkulu Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Selatan Lampung Kepulauan BangkaBelitung Kepulauan Riau Banten Jawa Barat 21 25 9 10 11 19 14 10 7 7 6 25 21 25 9 10 11 19 14 10 7 6 6 25 1 2 1 1 1 2 1 1 2 2 1 3 V V V V V V V V V V V V V V V V V V v - v v V V V V V V V - - Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 59 . terutama terkait dengan pelaksanaan KTSP. 1. Para pejabat struktural maupun staf teknis di Provinsi hanya bisa memberikan gambaran tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan melalui kegiatan provinsi. Pelaksanaan Sosialisasi di Setiap Provinsi Berdasarkan pengalaman yang lalu.pendidikan Kabupaten/Kota dalam hal pendataan. 8. pelaksanaan monitoring pada tahun 2007 ini diawali dengan melihat proses sosialisasi di masing-masing provinsi. Kegiatan-kegiatan yang bersifat mandiri yang dilaksanakan oleh masing-masing Kabupaten/Kota melalui MGMP atau tidak semuanya terpantau oleh Dinas Provinsi. Atas dasar pengalaman tersebut. baik Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota maupun sekolah. 3. setiap pergantian kebijakan tentang kurikulum sangat dirasakan bahwa proses sosialisasi kurang optimal. SKL dan KTSP pada tiap propinsi No Provinsi Jumlah kab/ kota Kab/Kota yang sudah sosialisasi Frekuensi Kegiatan Puskur Penyelenggara PUSAT Ditjen Mandikdasmen LPMP/PMPTK DAERAH Dinas pddk Dinas Provinsi Pddk Kab/kota 1. Tabel 1 : Gambaran jumlah kabupaten/kota yang sudah mendapat sosialisasi atau workshop SI. 10. Data yang yang diambil adalah (1) jumlah daerah yang telah melakukan sosialisasi di tiap provinsi. 5. tingkat pemaham pelaksana dilapangan kurang memadai. Kegiatan-kegiatan seperti ini cukup banyak dilakukan karena di beberapa daerah karena mereka sangat proaktif. Untuk itu data yang digunakan adalah data kualitatif mengenai pengembangan dan penerapan KTSP yang bersumber dari persepsi dinas propinsi. 2.

18.13. data yang ada di Dinas Pendidikan provinsi. 22. hampir semua daerah telah melakukan sosialisasi secara mandiri. dan dana APBN yang ada di Dinas Pendidikan Provinsi serta APBD provinsi. umumnya data kegiatan sosialisasi yang melibatkan Dinas Pendidikan Provinsi. yaitu kegiatan yang dilakukan melalui pembiayaan APBN. DKI. 28. seperti yang dilakukan oleh Diraktorat terkait. 14. 26. 22 dan 23 tahun 2006 tentang SI (standar isi) dan SKL (standar kompetensi lulusan). Hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada keharusan bagi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau sekolah untuk melaporkan pelaksanaan kegiatan sosialisasi yang dilakukan secara swadaya atau melalui APBD tingkat II. 31. 23. 33. 30. 25. 32. Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Daerah Istimewa Yogyakarta Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Gorontalo Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Irianjaya Barat Papua (Irianjaya) Total 6 35 38 5 9 9 16 12 13 14 13 5 23 10 10 9 6 8 8 9 20 442 6 35 38 5 9 9 16 12 13 14 13 5 23 10 10 9 5 8 8 9 20 440 4 3 4 2 2 2 2 1 2 2 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 V V V V V V V V V V V V V V V V - V V V v v v V v v v v V V V V V V V V - V V V v v v v v v v v v v v v v - v V V v - Dari tabel jelas bahwa secara keseluruhan semua kabupaten/kota telah mendapatkan sosialisasi atau workshop tentang kebijakan dan penerapan Permendiknas No. 17. hal ini bukan berarti daerah lain tidak melaksanakan. 29. Menurut prediksi Dinas Pendidikan provinsi. seperti yang terlihat pada table di atas. 21. tetapi belum ada laporan resmi sehingga Dinas Pendidikan Provinsi tidak memiliki data tentang itu. Oleh karena itu. 16. 27. 24. 19. 34. Tabel di atas juga menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan oleh langsung oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota hampir tidak terpantau oleh Dinas Pendidikan Provinsi. Kegiatan yang menggunakan biaya APBD Kabupaten/Kota atau swadaya sekolah umumnya tidak dilaporkan ke Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 60 . 15. Meskipun pada tabel di atas terlihat bahwa hanya 4 kabupaten/kota yang melaksanakan kegiatan sosialisasi. sosialisasi pada umumnya adalah unit Pusat dan Daerah Penyelenggara Pendidikan (Dinas Propinsi/Kab/Kota). 20.

tampaknya peran komite sekolah masih dianggap kecil (26. sosialisasi juga dilakukan terhadap organisasi profesi pendidikan lain berikut ini. 2. Menurut responden. KKKS (kelompok kerja kepala sekolah). pengembangan KTSP disusun bersama oleh pihak sekolah dan komite sekolah.9 78.9 21.Pendidikan Provinsi.1 63.3 Dari tabel tersebut jelas bahwa sasaran utama sosialisasi atau workshop KTSP adalah sekolah ditambah gugus sekolah (kelompok sekolah). Jelas bahwa unit yang terlibat dalam sosialisasi sudah mewakili keseluruhan stakeholder pendidikan. Menurut Dinas Propinsi belum ada pihak terkait lain seperti perusahaan penerbitan buku pelajaran. dewan pendidikan dan komite sekolah.3 26. orangtua sudah menyerahkan urusan ini ke sekolah.7 26. atau pemahaman pengembangan KTSP yang perlu dipertajam. Selain sekolah. LSM Pendidikan. mereka telah ikut di beberapa kegiatan seperti yang digambarkan pada tabel berikut: Tabel 2 : Organisasi Profesi dan Unit terkait yang menjadi sasaran ssosialisasi SI. d. dan KTSP. Namun. b. Sasaran Sosialisasi a.3%) dalam pelibatan pengembangan KTSP. f. Penerapan KTSP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 61 . atau lembaga profesional lainnya yang cukup partisipasif dalam program KTSP ini. SKL. baru kemudian yayasan. Hal ini mengibatkan Tim Monitoring kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang kabupaten/kota atau sekolah mana saja yang telah melakukan sosialisasi secara mandiri. Hal ini mungkin disebabkan belum meluasnya sosialisasi dan mungkin penyelenggaraan oleh lembaga profesional lain tidak terpantau oleh Dinas. c. Hal ini mungkin disebabkan sekolah masih menganggap tingkat keprofesionalan orangtua masih bervariasi. MGMP KKKS PGRI Organisasi Pengawas Yayasan Dewan Pendidikan Komite % 78. pengawas sekolah.2 36. g. MGMP (musyawarah guru mata pelajaran). Perusahaan swasta/BUMN. e. Padahal secara kebijakan.

Dalam hal penyusunan KTSP. Lebih separoh daerah Kondisi (57. namur terbatas pada beberapa bagian saja. masih cukup banyak sekolah yang baru pada taraf mempelajari kebijkan KTSP dan menggunakan kurikulum sebelumnya.9 26.3 57. umumnya sekolah-sekolah menyusun sendiri KTSP ( 73. SKL dan model kurikulum KTSP KTSP disusun oleh sekolah dengan koordinasi Dinas Pendidikan KTSP disusun oleh tim yang dibentuk oleh Dinas Pendidikan Satuan pendidikan mengadaptasi model kurikulum KTSP dari pusat Satuan pendidikan mengadopsi atau menggunakan model kurikulum KTSP dari pusat Masih pada taraf sosialisasi dan mempelajari perangkat dokumen Masih menggunakan kurikulum sebelumnya % 73. c.3% Total persentase respon melebihi dari 100% karena umumnya responden menjawab lebih dari satu pilihan. lainya tidak memberikan jawaban (26. sehingga silabusnya sama. sebagian besar penerapan KTSP pada tiap kabupaten/kota selama tahun 2006 belum intensif (31. beberapa sekolah menyusun sendiri. Satuan pendidikan menyusun sendiri mengacu SI.3%). Hal yang perlu dicermati hádala. tersebut berbeda dengan tahun 2007.3%). serta mengadaptasi dan mengadopsi model kurikulum. Ada unsur adopsi dan adaptasi. mereka menyebut menyusun sendiri tetapi secara bersama di gusus.3 42. e. dan bahkan ada yang menyusun secara bersama-sama beberapa sekolah. d.6%). misalnya mengenai seilabus. sehingga ada yang mengadopsi. b. Dalam pengembangan KTSP. f. Berikut secara lengkap informasi tentang proses penyusunan KTSP menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi (mulai dari yang frekuensinya tinggi. dan yang menyatakan intensif hanya (15.8 26. menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi.9%) menyatakan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 62 . jawaban boleh lebih dari satu). menggunakan tim.8%). Beberapa sekolah menyusun di bawah koordinasi dinas dengan menggunakan tim pengembang dari dinas.1 36. Untuk kategori ini. Menurut pemantauan Dinas Propinsi. dan pada bagianbagian tertentu diadopsi.8 15. penyusunan KTSP oleh sekolah dilakukan dengan metode kombinasi melalui koordinasi. g.7%). dalam arti. belum menjadi prioritas (26. adaptasi dan sebagainyaP . Banyak guru yang belum siap menyusun silabus sendiri. Tabel 3 : Penusunan KTSP oleh Satuan Pendidikan Penyusunan KTSP a. serta menyusun senidiri. Ada yang menyatakan bahwa KTSP disusun oleh sekolah di bawah koordinasi Dinas pendidikan. mengadaptasi.

6%). Tabel: 4 Proses penerapan KTSP Proses/Tahapan a.3% responden tidak memberikan jawaban. dan sebagian lagi menyatakan bahwa masih perlu waktu untuk melakukan sosialisasi di kalangan warga sekolah dan masyarakat karena sebagian besar di antara warga sekolah dan masyarakat belum memahami kebijakan tentang KTSP ini.8% daerah menyatakan kabupaten/kota belum menempatkan penerapan KTSP sebagai prioritas. Tingkat kesadaran dan komitmen sekolah untuk mengembangkan dan menerapkan KTSP cukup tinggi. dan hanya 5.8%) telah menerapkan secara efektif di semua kelas. b. diantaranya adalah: menunggu sampai 2009 (batas akhir yang diberikan oleh pemerintah untuk menerapkan KTSP). Beberapa alasan yang dikemukakan oleh daerah. Pada umumnya sekolah mulai menerapkan KTSP pada awal tahun pelajaran 2007 secara bertahap (73.6 Tabel di atas menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil sekolah yang masih menggunakan kurikulum sebelumnya (31. Alasan lain adalah kurangnya dana pendukung untuk penyusunan KTSP.7 31. 10% menyatakan sangat baik.kabupaten/kota mulai menerapkan KTSP secara intensif. Tentang kondisi yang berkaitan dengan pelaksanaan KTSP. Umumnya sekolah yang menerapkan secara kelseluruhan adalah sekolahsekolah yang sudah melaksanakan piloting KBK (2004). Ini menunjukkan KTSP telah menjadi program dengan prioritas bagi tiap propinsi/kabupaten/kota. melihat sekolah yang terdekat dengan mereka agar dapat secara bersama-sama menyusun KTSP.8 73. sebagian besar daerah memprogramkan mulai tahun 2007 menerapkan KTSP. Berkaitan dengan hal ini.Jadi.7%).6 36. dan 26. Sebagian sekolah (36.3% yang menyatakan kurang. mengapa intesitas penerapan KTSP masih beragam. peningkatan prioritas program KTSPdisebabkan oleh tuntutan bahwa tahun 2009 KTSP harus sudah diterapkan menyeluruh pada setiap satuan pendidikan. d.2%). Telah menerapkan secara efektif pada seluruh kelas dengan silabus dan RPP yang disusun sendiri Telah menerapkan secara efektif pada seluruh kelas dengan silabus dan RPP yang diadopsi Telah menerapkan secara bertahap Masih menggunakan kurikulum sebelumnya % 31. rata-rata melaksanakan secara bertahap. sosialisasi dan workshop KTSP yang mulai meluas dan tingkat pemahaman KTSP yang membaik bagi seluruh stakholder. sebagian besar daerah menyatakan sudah cukup baik (84. Sebanyak 15. c. Faktor yang paling mentukan keterlaksanaan KTSP menurut pernyataan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 63 .

7 78. SKL dan model KTSP sudah tersedia pada tingkat kabupaten/kota.6 57. silabus dan RPP Mengembangkan alat penilaian berbasi kompetensi Menyusun bahan ajar (LKS dsb) Membuat sumber belajar mandiri S 21. penyusunan kurikulum. silabus.6%) dan kurang memadai (15. Sebagian besar menyatakan ketersediaan dokumen cukup memadai (52.8 5.2 57.6 31.5 15.2 57.4 63. Keberadaan Dokumen SI dan SKL Menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi. umumnya kabupaten/kota sudah mendaptkan dokumen SI.3 10.8 10. Kesiapan Sekolah dalam melaksanakan KTSP: Secara umum.5 10.2 52. dan RPP.3 10. Perlu dilakukan berbagai upaya komunikasi interaktif dan komitmen sekolah dan Dinas melalui hubungan langsung.8 19. c.3 26.9 68. 4. d.3 31. i.10%). dan model KTSP (94.1 21.9 47.3 5.8 15. siswa (21. kesiapan guru berkaitan dengan pengembangan dan penerapan KTSP oleh sekolah cukup memadai.3 26. f. dan yang menyatakan sangat memadai hanya 10.9 73.9 63.5%).7%). Dokumen SI.5 SMK (%) C 57. e.5%. sarana dan prasarana (47. Sebagian responden menjawab gabungan antara siswa dan orang tua (20.1 37. ini berarti. akses informasi oleh satuan pendidikan tentang kebijakan KTSP seharusnya mudah.9%).5 5.7 68.5 10. SKL.4 73. Kualifikasi akademik Penguasaan isi mata pelajaran Menyusun kurikulum (KTSP) Menyusun silabus Menyusun RPP Menilai kualitas kurikulum.3 5.1 21. h. menurut informasi dari Dinas Pendidikan.5 10.3 26.3 C 52. Hal ini mennjukkan perlu adanya komitmen manajemen yang profesional pada tingkat sekolah untuk mengembangkan dan menerapkan KTSP 3.1%).8 15.4 S 26.4 63. orang tua dan masyarakat (10.Dinas pendidikan Provinsi adalah guru (78. g. serta pemanfaatan teknologi informasi agar sekolah terbantu dalam mengembangkan dan menerapkan KTSP.3 10.5 5.5 5.1 15.8 15.4%).9 68.3 26.7 73.6 47.8 15. kecuali dalam pengembangan bahan ajar mandiri Lebih lengkap informasi tentang kesiapan guru dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel: 5 Kesiapan Guru dalam Pengembangan dan Penerapan KTSP SMA (%) Aspek a. Namun yang perlu dicermati dan ditingkatkan kompetensi guru Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 64 .3 15.6 K 15.9 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum guru telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik.8%).4 K 26. penguasaan mata pelajaran. b. Keberhasilan program KTSP sangat ditentukan oleh sumberdaya pendidik dan tenaga kependidikan.8 10.2 63.

pengembangan bahan ajar serta pengembangan sumber belajar mandiri. menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut. modul maupun referensi lainnya juga perlu dipertimbangkan karena guru lebih bergantung kepada penerbit buku Kesiapan kepala sekolah dalam pengembangan dan penerapan KTSP. Tampaknya guru belum konfiden dalam mengembangkan alat penilaian walaupun itu sudah dijalani sehari-hari. seorang guru harus melakukan penilaian secara profesional dan dapat dipertanggungjawabkan. Pengembangan bahan ajar yang meliputi buku teks. padahal dalam KTSP. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 65 .adalah dalam melakukan pengembangan penilaian berbasis kompetensi.

9 63. menilai kualitas kurikulum.3.8 21.5 C 42. d.1 63. c.7 S 31. Tabel 7 : Kesiapan Pengawas SMA Aspek a.4%). penguasaan mata pelajaran.6 15.9 57.8 26. menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut. karena angkanya baru 47. penguasaan ini secara umum masih diperlukan.4 68. Gaya Kepeminpinan kepala sekolah juga perlu ditingkatkan untuk mengelola guru dan tenaga lain dalam pengembangan KTSP.1 94.4 68.1 26.1 5.3 5. serta mengelola guru dalam pengembangan KTSP. f.8 10.5 15.6 15.3 10.3 21.4 57. silabus. 5. Yang perlu dicermati dan ditingkatkan kompetensi kepala sekolah adalah walaupun secara umum kepala sekolah berkompeten dalam pengembangan kurikulum.7 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum pengawas sekolah telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik (namun ini masih perlu ditingkatkan.5 15.5 15.3 SMK C 52.1 21.3 26. b.6 57. f.3 C 42. Program peningkatan kompetensi pengawas dapat berbentuk Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 66 .6 36.3 15. d.Tabel 6 : Kesiapan Kepala Sekolah SMA Aspek a.6 31.2 57. penyusunan kurikulum. Pada jenjang pendidikan dasar. dan RPP.8 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum kepala sekolah telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik. penyusunan kurikulum. dan RPP. e.8 10.2 68.4 K 21.1 26.4 52.2 57.1 5.8 36.8 36.3 5.9 68. membantu masalah guru dalam pengembangan silabus dan RPP (namun ini masih ditingkatkan karena angkanya baru 47. silabus. Tentang kesiapan pengawasa sekolah.9 31.3 5.4 68.3 29.2 K 31.6 15. e.6 K 26. silabus dan RPP Membantu masalah guru dalam menyusun silabus dan RPP Mengelola guru dan tenaga kependidikan menyusun KTSP Membina guru dalam melaksanakan pembelajaran S 26.3 5.3 10. c.4 68.9 47.3 S 21. Kualifikasi akademik Menyusun kurikulum (KTSP) Menilai kualitas kurikulum.6 94.8 5. silabus dan RPP Membantu masalah guru dalam menyusun silabus dan RPP Mengelola guru dan tenaga kependidikan menyusun KTSP Membina guru dalam melaksanakan pembelajaran S 31.6 63. b.1 52.8 SMK C 57.8 21.9 63. Kualifikasi akademik Menyusun kurikulum (KTSP) Menilai kualitas kurikulum.4%).3 26.6 31.3 5. namun tidak mendalam pada tingkat detil kurikulum maupun silabus mata pelajaran.9 K 15.6 36.

3%).4% menyatakan sangat baik.5 - 21. artinya sarana-sarana yang tidak tersedia atau rusak. Hal dimungkinkan karena berbagai hal yaitu: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 67 .6 Tdk Mjwb 52. e. Ini berarti.1 Tdk Mjwb 47. dan hanya 5. Perlu dikritisi di sini bahwa pengembangan dan penerapan KTSP harus disesuaikan dengan kondisi.4 57. b. serta membina guru dalam melaksanakan pembelajaran. diklat atau tugas belajar Penyediaan dan pemeliharaan prasarana dan sarana pendidikan 10.8 21.3 15.9 c. Berkaitan dengan pembiayaan. Blockgrant. Sarana dan Pendanaan Hampir separoh responden menyatakan sarana dan prasarana sekolah sebagai pendukung KTSP masing kurang memadai (47. kebutuhan dan karakteristik sekolah dan peserta didik.5 10.workshop pengembangan kurikulum.8 15. maupun sumber lainnya yang sah. 47. Perlu dicermati di sini. banyak responden justru memilih tidak menjawab. MGMP dsb Workshop pendampingan pengembangan KTSP.5 Lain nya 26.5 10. sekolah dapat mengembangkan sendiri alternatif sarana yang tersedia dari lingkungan sekolah.2 d.1 36. silabus dan RPP dengan melibatkan berbagai sekolah. 5.5 Block Grant 10. SKL dan KTSP Workshop /pengembangan KTSP.9 Tahun 2007 (dlm juta rupiah) APBD 10. potensi.2 52. Umumnya sekolah menyediakan dana dari anggaran belanja sekolah.2 15. silabus dan RPP pada sekolah tertentu secara bertahap Pengembangan kompetensi guru melalui uji kompetensi.9 63.4 31.8 10. bagi sekolah dengan sarana dan prasarana kurang memadai perlu mengembangkan KTSP yang sesuai dengan sekolah tersebut dan dapat dilaksanakan oleh sekolah tersebut. Berikut tabel tentang sumber pendanaan sosialisasi KTSP: Tabel : 8 Sumber Pendanaan KTSP Tahun 2006 (dlm juta rupiah) Jenis Sosialisasi / Workshop APBD a.6 63. - 5.9 63.6 Dari tabel tersebut jelas bahwa program KTSP melibatkan berbagai sumber mencakup dana APBD.8 73. KKG.6 57. tidak sekedar memeriksa adminstrasi kurikulum dan pembelajaran di sekolah.1 78.5 Block Grant 21. umumnya responden menyatakan bahwa penerapan KTSP berdampak pada penyediaan dana. Sosialisasi SI.1 21. 10. Ini berarti peran pengawas harus ditingkatkan fungsinya dalam pembianaan substansial sekolah mulai dari pengembangan kurikulum sampai pelaksanaan pembelajaran. Perlu juga ditingkatkan program mandiri pengembangan alternatif sarana.5 Lain nya 21.1 - 15.5 - 15.3 % yang menyatakan sangat baik.1 10.7 21.

dan tidak bersedia menjawab. 36.7%) kabupaten/kota memiliki program sosialisasi.1 Dari tabel tersebut jelas bahwa prioritas pertama Dinas Propinsi dalam program KTSP adalah melakukan koordinasi tingkat internal.8 20. sebagian besar (73.3% yang menyatakan bahwa kabupaten/kota belum memiliki program sosialisasi.8 c. 6.6%).8 36. Tabel: 9 Urutan Prioritas Kegiatan Jenis Program 1 a.5 26. keberadaan TPK Kesiapan tim sosialisasi KTSP tingkat provinsi (sesuai dengan SE Mendiknas No.3 5. Tim Pengembang Kurikulum (TPK) Provinsi (a). workshop. Prioritas utama adalah melakukan koordinasi program dengan kabupaten/kota (52.3 4 5.1 15.6 36. SKL dan model KTSP 52.8 2 15. 36. Untuk merealisasikan program tersebut. dan pendapingan satuan pendidikan dalam mengembangkan KTSP. tidak tahu. Berikut urutan priritas kegiatan di Dinas Pendidikan Provinsi. b.3 ksg 10.8 5.3 - 10.8 d. dengan dinas kabupaten/kota dan dengan pusat.3 15. peran ini menjadi kurang.5 21.5 15.8 21. Prioritas kedua adalah melakukan pendataan kuantitatif penerapan KTSP pada tingkat kab/kota. untuk Hanya 26.8 Angka Prioritas 3 15. workshop.pengetahuan responden yang rendah dalam masalah anggaran (hanya fokus pada program/kegiatan yang dijalankan).3 36. 26.5 15. Program Sosialisasi yang Berkelanjutan Menurut Dinas Pendidikan Provinsi. Tampaknya koordinasi menjadi hal penting karena dengan adanya otonomi daerah. workshop pengembangan KTSP dan supervisi klinis ke kab/kota dan 7. ditetapkan berbagai prioritas.8 5. terutama koordinasi dengan kabupaten/kota. SKL. 33/MPN/SE/2007 tentang Pembentukan Tim Sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 68 .8 e.8 10. maupun pendampingan satuan pendidikan untuk mengembangkan KTSP. penyediaan dokumen SI. Melakukan koordinasi program dengan kab/kota Melakukan pendataan pencapaian penerapan KTSP pada tiap kab/kota Melakukan workshop pengembangan KTSP dan program supervisi klinis dengan kab/kota Melakukan supervisi klinis langsung ke sekolah-sekolah terpilih Penyediaan dokumen SI.

3%).Pendidikan). dan sebagian lagi ditandatangani oleh Kepala Dinas Dinas Pendidikan atasnama Gubernur.1%) misalnya APBS.5%). Pengukuhan Tim Pengembang Kurikulum melalui Surat Keputusan 3 Program Kerja TPK Propinsi Sudah 94. seperti pengawas (89. kepala sekolah (73. Pengesahan ini sangat diperlukan sebagai dasar pengajuan anggaran pembiayaan kegiatan tim pengembang kurikulum.3 31. dan bantuan para sponsor seperti penrbit buku. dan keterlibatan perguruan tinggi dan swasta relatif lebih kecil.7 68. Pada sebagian daerah.5%). Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab pengembangan profesi bagi tim pengembang kurikulum lebih cenderung didominasi oleh nuansa birokratis. yang dalam hal ini disebut Tim Pengembang Kurikulum Propinsi dalam membantu kabupaten/kota atau satuan pendidikan di wilayahnya dalam pengembangan KTSP adalah sebagai berikut.1%). sudah mengusulkan lewat APBD (42. banyak daerah yang masih bingung. dan jangka pendek.7 %) telah membentuk Tim Pengembang Kurikulum. Sebagaian daerah yang tergolong proaktif.2 Belum 5. dan keterlibatan relatif swasta masih kecil (21. dan sebagian lagi digali dari sumber lain(21.6 36. Kelihatannya. dan sebagian besar (68.3%). Ini dapat dipahami mengingat perubahan kebijkan kurikulum selama ini lebih bersifat adminstratif dari pada akademik. pengawas) cukup dominan.2%). (c) Sumber dana untuk membiayai kegiatan TPK Propinsi Dalam hal pendanaan.4%) keberadaan tim tersebut telah dikukuhkan melalui Surat Keputusan Pemerintah Daerah. Pembentukan Tim Pengembang Kurikulum tingkat propinsi 2 2. (b) Anggota TPK Propinsi Tim Pengembang Kurikulum (TPK) provinsi melibatkan berbagai unsur Keanggotaan terkait.1%).4 63. Surat Keputusan ditandatangani langsung oleh Gubernur. jangka menengah. pejabat struktural dan staf dinas pendidikan (89. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 69 .2%) telah menyusun program kegiatan yang terdiri dari program jangka panjang. perguruan tinggi(63. Dari semu daerah yang sudah membentuk Tim Pengembang Kurikulum. Tabel 10 : Keberadaan Tim Pengembang Kurikulum Provinsi No Keberadaan Tim TPK Provinsi 1 1. sebagian daerah mengkombinasikan antara APBD dengan APBN (10. keterlibatan unsur di luar sekolah (pejabat struktural dan staf teknis. umumnya (63.2%). Guru (84.8 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa hampir semu provinsi (94.

Kelengkapan Dokumen KTSP Berdasarkan pengalaman yang lalu. Untuk mengantisipasi hal ini.5 89.9% untuk pelaksanaan SI dan SKL) menyatakan telah memiliki.7 82.2 69. banyak sekolah yang terlambat menerima informasi dan dokumen kurikulum. 24 tahun 2006 Surat Edaran Mendiknas No.7 56.B. Untuk daerah terpencil bisa mencapai 5 – 10 tahun. Tabel 11: Kepemilikan dan Kelengkapan Dokumen KTSP No Jenis Dokumen Sudah Memiliki (%) Kepala Guru Sekolah 93. sumber acuan pengembangan KTSP telah dimiliki oleh sekolah-sekolah tersebut.7 90.1 47. Ini berarti.9 yang mulai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Permendiknas No. Berikut tabel kepemiliakn dokumen kelangkapan SI.7 22.7 9.4 74. ada kendala berkaitan dengan ketersediaan perangkat dan keterbatasan tenaga pengoperasion komputer. dan KTSP disosialisasikan sejak tahun 2006.6 41. Hanya saja.7 42. SKL. Hal ini sangat memungkinan untuk mempercepat proses distribusi.4 16.9 % SI.9 66.4 % untuk SKL. Dokumen-dokumen tersebut dikemas dalam bentuk file dan direkam ke CD.4 85. 1. Namun terdapat perbedaan pernyataan antara kepala sekolah dan guru.1 11.9 70. setiap pergantian kebijakan kurikulum. pemerintah memanfaatkan teknologi komputer.4 66.4 92. Namun demikian. dan didukung oleh kemajuan perangkat teknologi. Berikut adalah tabel latar belakang responden yang terlibat dalam studi.1 40.1 77. 22 tahun 2006 Permendiknas No. Sudah bukan hal yang aneh ketika suatu sekolah baru menerima dokumen kurikulum pada saat kebijakan kurikulum telah berganti. 92. 23 tahun 2006 Permendiknas No. 90. Frekuensi kepala sekolah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 70 . tim studi juga melakukan studi pengembangan dan penerapan KTSP bersumber dari pihak sekolah (sebagai sekolah sampel) yang terlibat dalam kegiatan ini.6 13.2 92. setidaknya proses penyempaian informasi relatif lebih cepat.4 92. Pengembangang dan Penerapan KTSP oleh Sekolah Selain menggunakan data kualitatif dari dinas propinsi. 33/MPN/SE/2007 (Tentang Sosialisasi Kurikulum Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model-Model Program Khusus (PLB) Tabel di atas memberikan gambaran bahwa secara umum kepala sekolah (93.

Hal ini agar segera diupayakan untuk menjamin pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan berjalan secara efektif dan efisien. Perbedaan ini menunjukkan bahwa mungkin saja sebagian kepala sekolah belum sempat menyampaikan dokumen tersebut kepada guru oleh karena berbagai alasan. model pembelajaran terpadu IPA/IPS di SMP. 2. 66. dari dinas pendidikan maupun piha lainnya. model pengembangan diri.7 %untuk SKL dan aturan pelaksanaannya. Sayangnya tim studi tidak sempat melacak alasan mengapa terjdi perbedaan yang cukup signifikan. sementara guru dan kepala sekolah yang diundang berasal dari sekolah yang sama. Menurut guru baru sekitar 70.2 % yang menyatakan telah menerima dokumen SI. Sumber acuan lain yang harus dimiliki sekolah adalah model muatan lokal. Cara Memperoleh Dokumen Pada umunya sekolah/satuan pendidikan mendapat dokumen tersebut dengan berbagai cara melalui mengkopi sendiri dalam bentuk CD.yang telah menenrima dokumen tersebut lebih tinggi dari pada guru. model pembelajaran tematik di SD dan model program khusus untuk pendidikan khusus. cetakan. Hal lain yang perlu juga dicermati adalah bahan-bahan tersebut harus bisa diakses secara mudah oleh semua insan di sekolah terssebut. Secara rinci adalah seperti tabel berikut Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 71 .

2 22.1 8.5 4.1 7.7 13.3 9.2 3.1 6.3 6.) menyatakan sudah mempelajari.3 34. umumnya responden (Kepala Sekolah 87.1 9.2 12.5 1.8%)`menyatakan sulit memperoleh dokumen KTSP.0 3.4 1.3 3.3 33. Bina Komunikasi.8 13.2 1.5 4.1 7.1 7.7 13.1 15.5 Dibeli dari pihak lain 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Permendiknas No. dan irama c.1 7. Bina diri dan bina gerak KS 1.6 Cara Memperoleh Dari Dinas Pendidikan dalam bentuk CD GR KS GR 15.1 13.8 25.8 33.9%.5 9.1 3.8 26.7 8. Bina pribadi dan sosial f.1 10.1 9.0 2.1 12.0 4. Bagi yang sudah memperoleh.8 2. Bina diri d.5 7. Guru 67.5 9.3 30.5 12.2 1.6 23.0 9. Pemahaman Isi dokumen berkaitan KTSP Sebagian besar responden (Kepala sekolah 68.5 6.2 - - 3.1 3.1 1.1 13.5 1.6 10.4 2.0 3.2 22.5 Copy sendiri dalam bentuk cetak KS 15.0 1.3 9.1 20.1 7.1 6.2 3.2 1.2 2.9%. Bagi kepala sekolah yang belum memperoleh dokumen tapi sudah pernah mendapatkan informasi tentang peraturan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 72 .1 9.0 - 1.6 15.1 9. Bina gerak e.Tabel 12 : Cara memperoleh dokumen kelengkapan KTSP No Jenis Dokumen Copy sendiri dalam bentuk CD KS 30. guru 48.7 23.8 23.5 9.8 22. 22 tahun 2006 Permendiknas No.3 28.5 9.0 1.1 10.1 3.0 16.2 - 1.2 6.1 8.2 1.2 1.5 4. 33/MPN/SE/2007 (Ttg Sosialisasi Kurikulum Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model Program Khusus (PLB) a.5 15.1 11. Orientasi dan mobilitas b.9 8.6 9.5 - GR 2.2%.1 6.4 2.2 31.4 1.2 4.7 16.6 (%) Dari Dinas Pendidikan dalam bentuk cetak KS GR 6.0 7.4 1. 24 tahun 2006 SE Mendiknas No.6 16.4 4.5 1.5 1. persepsi bunyi.6 12.1 12.8 19.7 GR 23.2 13. 23 tahun 2006 Permendiknas No.1 6.

sedangkan apa yang tertera secara eksplisit dan implisit di dalamnya. lainya dari pengawas atau teman sejawat yang pernah mengikuti sosialisasi. tentang bina diri. 33/MPN/SE/2007 (Tentang Sosialisasi Kurikulum) Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model-Model Program Khusus (PLB) Deskripsi Singkat Tentang standar isi yaitu lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan Berisi tentang standar kompetensi lulusan utk satuan pendidikan dasar dan menengah Mengatur tentang pelaksanaan peraturan mendiknas tentang standar isi dan SKL untuk stuan pendidikan dasar dan menengah Edaran/himbauan untuk segera mensosialisikan & menerapkan KTSP mulai tahun pelajaran 2006/2007 Yaitu tentang contoh kurikulum tingkat satuan pendidikan yang bisa dikembangkan Yaitu tentang contoh format silabus (deskripsi tentang pokokpokok materi pembelajaran) Contoh format rencana pelaksanaan pembelajaran yang bisa dikembangkan Yaitu contoh format silabus dari muatan lokal yang bisa dikembangkan sesuai karakteristik lingkungan di sekitar sekolah Yaitu format kegiatan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekpresikan dirinya IPA terpadu diartahkan ke lingkungan ttg pengelolaan alam sesuai dgn kondisi lingkungan di kep. Hal ini dapat dilakukan tidak hanya dalam bentuk sosialisasi saja tetapi juga melalui workshop dengan menggunakan media langsung (rapat kerja). Mereka mendapatkan informasi tersebut dari Kepala Dinas 15. SKL. fleksibel. sama sekali belum dipahami. tentang bina emosi dan sosial dan buku tentang keterampilan yang menunjang 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa responden mengetahui dokumen hanya sekadar kulitnya saja.7%) dan teman (10. pengawas (10. media Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 73 . tentang bina diri dan gerak. 22 tahun 2006 Permendiknas No. d.7%). Babel Pada pembelajaran tematik guru harus lebih kreatif membuat alat peraga atau pembelajaran atau menyenangkan sehingga anak tidak bosan Berisikan tentang program khusus: a. dan KTSP No 1 Jenis Dokumen Permendiknas No. Perlu dilakukan berbagai upaya agar pemahaman tentang kebijakan pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan memiliki persepsi yang sama. c. mereka mendengar dari Kepala Sekolah (22. sesuai kondisi sekolah. 23 tahun 2006 Permendiknas No. e.2%.tersebut. Ketika diminta untuk mendeskripsikan isi dokumen tersebut untuk melihat apakah mereka telah mempelajari dan memahaminya. 24 tahun 2006 Surat Edaran Mendknas No. BPM. Sedangkan bagi para guru. tentang OM. berikut jawaban yang mereka berikan: Tabel 13 Jawaban Responden tantang Dokumen SI. b.6%).

7%).cetak.9%. dan adopsi dari contoh-contoh yang ada (7. Menurut pernyataan responden. sederhana. 60% kepala sekolah menganggap tidak sulit menyusun KTSP. masih kurang memadai sarana dan prasarana pendukung Belum ada tenaga pemikir/pakar dalam hal pengembangan diri Kemampuan menyusun masih belum maksimal Sulit menentukan KKM karena harus melihat setiap SKL dan KD yang banyak Jika siswa mendapat nilai yang sama untuk menetapkan kriterianya agak sulit namun sudah diulang dengan tes-tes yang lain Tidak diberikan kepada pihak sekolah dalam pengambilan keputusan terakhir Tidak semua budang studi mudah dalam menerapkan pendidikan kecakapan hidup khususnya bidang studi PKN Tidak cukupnya panduan untuk itu Menetapkan kriteria kelulusan Menentukan pelaksanaan kegiatan pendidikan kecakapan hidup Menetapkan dan mengembangkan pendidikan berbasis keunggulan lokal Mengembangkan dan melaksanakan pendidikan berbasis keunggulan global Menyusun kalender Pendidikan Menjabarkan standar kompetensi/kompetensi dasar menjadi indikator Menyusun kegiatan pembelajaran Belum ada tenaga yang dipersiapkan untuk itu Dalam penyususnan kalender pendidikan sudah disusun oleh dinas pendidikan disesuaikan dengan daerah masing-masing Dalam penyusunan berpedoman pada silabus yang ada buku yang dijadikan masih harus dirancang sendiri karena tingkat kesukarannya da ditingkat kelas I. dengan menggunakan bahan yang jelas.9%).2% responden guru beranggapan demikian. disusun sendiri (16. 4. Berdasarkan pendapat responden.1%). Penyusunan dilakukan sebagian besar dengan cara adaptasi atau penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan sekolah (61. sebagian besar penyusunan dilakukan dengan cara adaptasi atau penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan sekolah (62.1%). Demikian pula 51. Penyusunan KTSP Sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah mereka telah menyusun KTSP. media televisi radio. (93. kondisi masyarakat Mata pelajaran mana yang diajarakan lebih banyak jamnya SDM yg ada belum mampu.2%) tidak memberikan jawaban. dan adopsi dari contoh-contoh yang ada (3. Sedangkan responden guru yang menyampaikan sekolahnya telah menyusun KTSP adalah 86.9%). disusun sendiri (13. Bagi yang merasakan kesulitan dalam penyusunan KTSP menyampaikan berbagai alasan. dan III Dalam kegiatan pembelajaran terkendala pada waktu yang terbatas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 74 .1%). dan praktis. di antaranya sebaai berikut: Tabel 14 : Kesulitan dalam Menyusun KTSP Aspek Merumuskan Visi dan Misi Sekolah Merumuskan tujuan sekolah Menetapkan mata pelajaran Menetapkan dan mengembangkan muatan lokal Menetapkan dan mengembangkan kegiatan pengembangan diri Menetapkan pengaturan beban belajar Menetapkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) Menetapkan kriteria kenaikan kelas Kesulitan dan Alasan menyamakan persepsi dengan semua guru & karyawan kesesuaian antara tujuan sekolah dgn situasi. dan internet secara interaktif. sisanya (9.0%). II.

ketersediaan dana. 6. Sedangkan hal-hal yang harus dilakukan guru agar dapat melaksanakan KTSP secara optimal adalah guru harus memiliki pemahaman yang baik terhadap konsep dan falsafah implementasinya di lapangan. kalender pendidikan. Umumnya responden telah mengetahui komponen-komponen KTSP. yang sifatnya sudah harus menjabarkan secara teknis dan rinci. Juga perlu didukung oleh kesiapan semua komponen sekolah. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah agar dapat melaksanakan KTSP Responden berpendapat bahwa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah dalam melaksanakan KTSP adalah adanya kesatuan pendapat dan dukungan dari warga sekolah dalam menentukan tujuan sekolah serta keinginan masyarakat yang dituangkan dalam KTSP. KTSP serta teknis Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 75 . standar kompetensi lulusan dan SKBM/KKM. struktur dan muatan. RPP (2) visi. yaitu (1) visi misi dan tujuan pendidikan. pengaturan beban belajar. tujuan Sekolah. anak dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih optimal (2) layak disempurnakan dalam kerangka inovasi pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pemahaman Tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan KTSP Sebagian besar responden menyatakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang menitikberatkan atau berorientasi pada kompetensi/kemampuan siswa dengan harapan setelah siswa selesai sekolah memiliki suatu kompetensi diri yang kompeten. bahan yg akan dijadikan acuan. muatan lokal. misi. silabus. 5.Menetapkan materi pokok Menyusun bahan ajar Menentukan strategi dan alat penilaian Menindaklanjuti hasil penilaian Menentukan alokasi waktu Ada perbedaan pada referensi pendukung sehingga harus penuh teliti berdasarkan tuntutan dan SI Masih kurangnya buku sumber yang ada diperpustakaan atau toko buku yang ada Banyaknya tugas guru dalam penilaian yang terlalu rumit Melakukan remedial terhadap siswa yang belum tuntas Di alokasi waktu kadang-kadang tidak cukup karena siswasiswa asik dengan percobaan-percobaan yang di cobanya kerna jika belum berhasil siswa tidak akan meninggalkan tempatnya walaupun guru mengatakan sudah selesai jam pertemuannya Sulit mencari sumber dan alat untuk kompetensi tertentu Membedakan KD dan indikator perlu pemahaman para guru Cara mengembangkan indikator kegiatan pembelajaran/penilaian Cara menentukan strategi/model pembelajaran/evaluasi Menentukan sumber dan alat pembelajaran Merumuskan tujuan pembelajaran Menyusun silabus Menyusun RPP Data di atas menunjukan masih terdapat inkonsistensi antara pemahaman isi dokumen berkaitan dengan KTSP dengan kesulitan yang dialami guru dan kepala sekolah dalam mengembangkan dan menerapkan KTSP. Umumnya responden menyatakan bahwa kurikulum sebelumnya (1994) perlu diubah menjadi KTSP dengan alasan (1) Karena dengan pembelajaran berdasarkan kompetensi. kalender pendidikan standar kompetensi. struktur kurikulum.

dan KKKS. guru sebagai sumber belajar. indikator. orang tua). RPP dibuat untuk setiap pertemuan. indikator sebagai pedoman dalam pelaksanaan KBM. pertemuan rutin guru. masih ada permasalahan dalam implementasi KTSP. Umumnya sekolah melibatkan pengawas dalam penyusunan silabus. KKG. sedangkan Silabus dibuat untuk beberapa kali pertemuan. Sebagian besar responden menyatakan bahwa umumnya silabus disusun oleh para guru secara bersama-sama dengan rekan satu sekolah maupun dalam MGMP. Permasalahan dan upaya mengatasinya Secara umum. Persoalan yang umumnya dialami oleh sekolah dalam menyusun KTSP menurut responden adalah pemahaman yang belum maksimal dari warga sekolah. berpusat pada siswa. 6. penilaian. dan masyarakat adalah dengan melakukan diskusi di antara guru. Upaya untuk mengatasi kesulitan adalah dengan terus meningkatkan pemahaman aspek-aspek yang terdapat dalam KTSP serta peningkatan penggunaan TIK untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Unsur-unsur yang harus ada dalam silabus adalah SK. konteksual. Umumnya responden meyakini bahwa silabus dan RPP dapat menuntun atau membantu guru dalam pelaksanaan pembelajaran. 7. kegiatan pembelajaran. Secara umum responden menyatakan bahwa kondisi (sumber/alat/dan sumber daya di sekolah belum memadai untuk mendorong keterlaksanaan KTSP. kepsek. di antaranya kurikulum KTSP lebih menampung inspirasi dari warga sekolah serta mencakup perubahan/menyesuaikan dengan kondisi yang ada. KTSP memerlukan silabus karena silabus merupakan penjabaran dari standar kompetensi yang mengacu pada pencapaian standar kelulusan. Umumnya responden menyatakan bahwa perbedaan antara silabus dan RPP adalah: RPP sifatnya lebih operasional dari silabus. work shop. Caranya dengan mengadakan diklat. abstrak. KD. berpusat pada guru. baik sebagai pembimbing maupun sebagai narasumber. waktu dan sumber. Persyaratan dan Kebutuhan sekolah dalam menyusun KTSP adalah adanya kemauan yang keras dari pihak sekolah untuk menyusun dan mengimplementasikan KTSP serta dukungan dana yang besar. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 76 . Strategi sekolah dalam mensosialisasikan KTSP kepada warga sekolah (guru. Umumnya responden melihat hal-hal positif yang ada dalam KTSP. materi pokok. guru sebagai fasilitator. Dalam implementasinya.Umumnya responden menyatakan perbedaan antara KTSP dengan kurikulum 1994 adalah bahwa KTSP berorientasi pada penguasaan kompetensi. serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung yang belum memadai. Sedangkan kurikulum 1994 berorientasi pada tujuan. KD. serta warga sekolah lain dengan dibimbing oleh pengawas dan kepala UPT Dinas Pendidikan setempat. Pelaksanaan KTSP Umumnya responden memahami silabus sebagai penjabaran SK. terutama guru.

5%) untuk menyusun KTSP. dalam monitoring ini juga dilakukan analisis tentang KTSP dengan sumber data dari oorangtua yang bertindak sebagai komite sekolah. mendatangkan tenaga ahli. juga bukan dari Dinas Pendidikan (APBD).Strategi sekolah dalam melakukan pemantauan pelaksanaan KTSPdi antaranya dengan membentuk tim kecil di bawah naungan wakil kepala skeolah bidang kurikulum dan wakil kepala skeolah bidang pengendali mutu untuk melakukan pemantauan. C. Berikut adalah berbagai informasi yang berkaitan tentang KTSP menurut persepsi orangtua. 3. Juga dengan melakukan supervisi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 77 . Sekolah umumnya memanfaatkan sumber dana lain (48. 8. Memberi motivasi bagi guru dan reward bagi yang telah menyusun silabus dan RPP.1%). Upaya sekolah dalam mendorong guru dalam melaksanakan KTSP antara lain dengan: 1.7%) atau bersumber dari APBN (12. melibatkan pengawas sekolah. Dana itu bukan dari dana BOS. Membantu memberikan petunjuk. Persepsi Komite Sekolah (Orangtua) dalam Pengembangang dan Penerapan KTSP Selain menggunakan sumber data dari dinas pendidikan. dan bukan dipungut dari siswa. Sedangkan untuk melakukan sosialisasikan KTSP di lingkungan warga sekolah pada umumnya dana diperoleh secara swadaya (19. mendatangkan tenaga LPMP. 2. Pendanaan Umumnya responden kepala sekolah menyatakan bahwa penyusunan KTSP membutuhkan biaya yang besar. guru dan kepala sekolah. dan tim pengembangan kurikulum sekolah. Memberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengikuti diklat dan banyak bertanya pada rekan sejawat yang lebih paham.

dan hanya 10% menyatakan tidak. Berkaitan dengan perubahan kebijakan kurikulum saat ini. Pemahaman orang tua terhadap perbedaan kurikulum yang sebelumnya dengan KTSP 85 . Pemahaman Orang Tua Siswa/Komite tentang Pelaksanaan Kurikulum a.00 Diagram 1. Hal ini menjadi penting karena perubahan kebijakan tentang kurikulum saat ini memiliki konsekuensi terhadap peranan orang tua. diperoleh gambaran bahwa umumnya (90%) orangtua siswa menyatakan bahwa KTSP berbeda dengan Kurikulum 2004. Berdasarkan hasil wawancara. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi KTSP yang telah dilakukan cukup berhasil. orang tua dituntut untuk berperan aktif dalam mendukung keberhasilan siswa dalam pencapaian kompetensi yang diharapkan.0 0% % Tahu Tidak Tahu Tidak berbeda Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 10 . perlu digali sejauhmana orang tua siswa memahami perbedaan kurikulum yang sekarang dengan kurikulum yang berlaku selama ini. Sebanyak 50 % menyatakan mengetahuinya dari sekolah sedangkan 50 % lagi tanpa penjelasan.1.00 % 78 . Perbedaaan KTSP dengan Kurikulum sebelumnya Memahami kurikulum yang berlaku termasuk hal yang harus dilakukan oleh orang tua. 5. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam penyusunan KTSP pihak sekolah telah mensosialisasikan kepada orang tua melalui komite Berikut diagram tentang pemahaman orang tua/komite tentang KTSP. Dengan adanya otonomi sekolah dalam pengembangan kurikulum.

sedangkan 20% belum pernah sama sekali menerima sosialisasi KTSP.b. Konsep dan Strategi Sosialisasi KTSP Pemahaman yang benar bagi setiap orang tua terhadap KTSP sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran siswa. diperoleh informasi bahwa sebanyak 65% orang tua cukup mengerti bahwa KTSP disusun dengan memperhitungkan potensi lingkungan dan didasarkan atas Permen Mendiknas Nomor 22. Berikut diagram respon orang tua terhadap pelaksanaan KTSP di sekolah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 79 . Sehubungan dengan tersebut. dan 24. sedangkan 10 % menyatakan belum pernah. Ini menunjukkan bahwa pemahaman orang tua tentang KTSP belum memadai sehingga perlu sosialisasi lebih lanjut agar orang tua dapat berpartisipasi lebih aktif dalam pendidikan putra/putrinya. Respon yang sangat baik ini memberikan indikasi bahwa KTSP mendapat sambutan yang sangat positif dikalangan orang tua (stake holder) sehingga sosialisasinya perlu ditingkatkan dan strategi implementasinya perlu dievaluasi secara berkala agar implementasinya maksimal. sebanyak 90% orang tua menyatakan menerima penjelasan tentang KBK dari pihak sekolah dan dinas pendidikan setempat. Namun demikian memberi indikasi bahwa sosialisasi KTSP di tingkat satuan pendidikan SMA (khususnya) dan SMK sudah dilakukan sekolah dengan baik kepada orang tua (stake holder) namun perlu ditingkatkan dan dilakukan lebih intensif. berdasarkan wawancara dengan orang tua siswa. Penjelasan Kebijakan Kurikulum terhadap Orang Tua Siswa` Untuk mendukung pemahaman orang tua. Sedangkan 15 % lainnya sudah mendengar tapi belum menunjukkan pemahaman tentang KTSP. Namun hanya 20 % yang menyatakan mengerti penjelasan yang diberikan sehingga dapat memberikan dukungan dan kerja sama dengan pihak sekolah. 23. Respon Orang Tua terhadap pelaksanaan KTSP di sekolah Hampir semua responden (99 %) menyatakan senang dengan pengunaan KTSP sebab membuat perhatian siswa terhadap kegiatan belajarnya lebih besar (siswa lebih aktif belajar) dan kemampuanya lebih dieksplorasi. Berdasarkan wawancara dengan orang tua. Namun secara implisit orang tua (25%) mengharapkan kemampuan dan komitmen sekolah yang sungguh-sungguh untuk menyusun dan melaksanakan KTSP sesuai potensi daerah dan karakteristik sekolah. c. Sedangkan 80 % lainnya sudah menerima penjelasan tapi tidak mengetahui dengan pasti arti penjelasan tersebut. perlu ada upaya sekolah untuk melibatkan orang tua dalam sosialisasi kurikulum. 2.

Namun dari data rersponden tidak ditemukan keluhan atau keberatan orang tua (stake holder) sehubungan dengan tambahan biaya ini.15 % (14.29% sering dan 42. Berikut diagram frekuensi siswa meminta uang tambahan untuk beiaya belajar setelah menggunakan KTSP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 80 . karena kemampauan siswa yang dikembangkan banyak dan fokus.00% Sangat Senang Senang. Senang.86% kadang-kadang orang tua mengeluarkan uang tambahan) orang tua menyatakan adanya tambahan pengeluaran biaya yang signifikan dengan penerapan KTSP. Untuk itu sosialisasi KTSP yang akan datang tidak saja difokuskan pada konsep-konsep KTSP tetapi lebih dari itu difokuskan pada strategi implementasi dan teknik pelaksanaan. frekuensi siswa meminta uang tambahan untuk biaya belajar setelah menggunakan KTSP Sebanyak 57. Dengan demikian walaupun penerapan KTSP mempunyai implikasi pengeluaran dana yang lebih namun dapat diterima secara positif sebab dana-dana tambahan yang dikeluarkan dialokasikan langsung untuk peningkatan kompetensi siswa.25.00% 20. Ini menunjukkan bahwa pengeluaran tambahan untuk biaya studi setelah KTSP diterapkan cukup signifikan.86% (yang menyatakan tidak pernah/hampir tidak pernah mengeluarkan biaya tambahan setelah penerapan KTSP) menyatakan bahwa sekolah di mana putra/i mereka bersekolah telah menyusun anggaran yang lengkap sehinga semua pembiayaan sudah dibayar pada awal tahun ajaran.00% Diagram 2. Sedangkan 42. Tanggapan orang tua terhadap pelaksanaan KTSP dan peluangnya dalam peningkatan kemampuan siswa 3. Hubungan penerapan KTSP dengan biaya yang dikeluarkan siswa dalam proses belajar mengajar (a). asalkan siswa menjadi lebih pandai dan disiplin 55.

14.29%
Sering

Kadang-Kadang

42.86%
Tidak Pernah

42.86%

Diagram 3. Hubungan penerapan KTSP dengan biaya yang dikeluarkan siswa dalam proses belajar mengajar

(b). Biaya tambahan yang dibayarkan orangtua setelah menggunakan KTSP Semua responden menyatakan adanya tambahan biaya yang besar dan frekuensinya sangat bergantung pada kegiatan yang direncanakan sekolah masing-masing. Namun jawaban responden tengan pengeluaran tambahan ini sangat beragam antara yang sudah terencana melalui APBS sekolah sampai dengan yang tidak memiliki rencana sama sekali. Khusus sekolah-sekolah yang belum memiliki APBS yang baik tambahan pengeluaran ini menambah volume pekerjaan bertambah. Untuk itu dalam pelaksanaan sosialisasi KTSP pada level strategi peleksanaan dan di tingkat teknis operasional perlu diberikan bimbingan pengelolaan keuangan sekolah sehingga baik sekolah maupun orang tua mendapat kemudahankemudahan dalam memberikan layanan kepada putra/i-nya. Berikut diagram biaya tambahan sehubungan dengan penerapan KTSP
10 .00 % % .00 30
<= Rp.10.000,00 Rp.10.000,00 <= - <= Rp.80.000,00

3. Ketersediaan Buku Pelajaran

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

60 .00 %

Relatif, sesuai kebutuhan

Diagram 4. Besarnya biaya tambahan yang dibayarkan orang tua dalam pelaksanaan KTSP di sekolah

81

Responden yang menyatakan buku yang dimiliki siswa cukup memadai dengan yang menyatakan tidak cukup memadai sama besar. Sementara responden yang menyatakan bahwa buku cukup memadai dalam menunjang proses pembelajaran tidak memberikan penjelasan atas jawaban yang diberikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengadaan bukubuku yang sesuai dengan potensi daerah dan sesuai dengan karakteristik siswa perlu diupayakan secara sungguh-sungguh baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Berikut diagram tentang ketersediaan buku pelajaran

20.00% Cukup 40.00% Tidak Cukup Tidak Tahu

40.00%

Diagram 5. Dukungan buku dalam Proses Pembelajaran KTSP

4.

Penjelasan dari Guru tentang Rapor Siswa

Hanya 45% orang tua yang menganggap rapor hasil belajar yang disampaikan sekolah ke pada orang tua memberikan informasi tentang prestasi belajar siswa. Selain itu data responden menunjukkan bahwa yang merasa kurang jelas adalah 25% demikian pula yang tidak memahami sama sekali. Kemungkinannya adalah sekolah belum mampu

medayagunakan format rapor yang ada untuk menginformasikan pencapaian kompetensi siswa, atau format rapor terlalu rumit sehingga untuk memahaminya diperlukan penjelasanpenjelasan yang khusus. Ini menunjukkan bahwa diperlukan suatu penelitian lebih lanjut tentang format laporan hasil belajar dan cara penggunaannya yang diikuti oleh sosialisasi yang intensif dari pihak sekolah terhadap orang tua.

30.00% Jelas 45.00% Kurang Jelas Tidak Jelas

25.00% Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

82

Diagram 6. Informasi hasil belajar siswa melalui rapor hasil belajar.

5. Perubahan Sikap Siswa Setelah Sekolah Menerapkan KTSP Secara umum responden menyatakan adanya perubahan sikap belajar putra/putri mereka yaitu peningkatan minat dan semangat belajar yang signifikan dengan penerapan KTSP. Dengan demikian peningkatan pemahaman dan penguasaan KTSP secara konsep, strategi implementasi, dan teknik pelaksanaan perlu disosialisasikan lebih intensif, luas, dan efektif.
15.00%

Lebih Rajin Belajar Relatif Lebih Rajin Tidak Berubah

55.00% 30.00%

Gambar 7. Pengaruh KTSP terhadap sikap belajar siswa

Informasi 65% responden menyatakan tidak pernah/hampir tidak pernah menerima keluhan dari putra/putri mereka dan 10% yang kadang-kadang menerima keluhan

mengindikasikan bahwa penerapan KTSP cukup signifikan meningkatkan gairah belajar siswa. Kegiatan-kegiatan di luar sekolah yang timbul setelah penerapan KTSP disikapi sebagai implikasi dari semangat KTSP untuk meningkatkan mutu hasil belajar siswa. Dengan demikian KTSP mendapat sambutan positif dari orang tua karena dipandang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. 6. Keluhan Siswa Kepada Orang Tua setelah Sekolah menerapkan KTSP Sebagian besar orang tua (65%0 menyatakan bahwa anaknya tidak pernah mengeluh sehubungan dengan penerapan KTSP, 25 % menyatakan anaknya sering mengeluh, dan 10 % menyatakan kadang-kadang.

Berikut diagram pernyataan orang tua tentang keluhan anak-anak mereka sehubungan dengan penerapan KTSP.

.0 0%

Kadang-kadang Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008
25

10

.0 0%

83

Tidak Pernah

orangtua dan dinas pendidikan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 84 . kepala sekolah dan orangtua. Hal ini senada dengan pemahaman kepala sekolah dan guru. Pemahaman Tentang Pengertian Standar Isi Sebagian besar responden dari kalangan pejabat struktural Dinas Pendidikan memahami bahwa Standar Isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu (65. Sebanyak 63. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada sekitar 35-37% reseponden belum memahami pengertian standar isi dan standar kompetensi lulusan dengan benar. Tes melibatkan seluruh responden dari dinas pendidikan. guru. Selain untuk melihat persepsi tentang KTSP. Perbandingan Hasil Tes Pemahaman KTSP antara Pejabat Struktral di Dinas pendidikan dengan Sekolah (Kepala Sekolah dan Guru) Dalam monitoring ini juga dilakukan tes pemahaman atau tes persepsi tentang persepsi KTSP menurut responden. tes dimaksudkan juga untuk mendukung temuan-temuan yang diperoleh melalui kuesioner guru. sekolah.D.5% kepala sekolah dan guru menjawab dengan jawaban yang sama. kepala. Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara pemahaman Dinas Pendidikan dengan sekolah tentang standar Isi. 1. Identitas dari para responden adalah sebagai berikut.5%).

9 0.3 Sekolah (Guru dan Kepsek) 22. Tabel 16 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Pengembangan Substansi Muatan Lokal Jawaban a. 8% sekolah menjawab muatan lokal di tetapkan dari pusat.3 3.5 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 85. Artinya. c. Satuan pendidikan Dinas pendidikan Pusat Komite sekolah Dinas Pendidikan 84. b. meskipun untuk responden yang berbeda tampaknya pemahaman kedua unsur tidak terlalu jauh berbeda. d.5 63.9% responden dari pejabat struktural Dinas pendidikan menjawab bahwa muatan lokal ditetapkan oleh Dinas Pendidikan.7 4. sementara 4. 22 Tahun 2006 sangat variatif.5 9. Mengatur tentang struktur kurikulum satuan pendidikan Mengatur tentang kompetensi lulusan Dinas Pendidikan 18.5 8 7. Pengembangan Substansi Muatan Lokal Tentang kewenangan penyusunan dan penentapan kurikulum muatan lokal.9 10. Hal senada juga terlihat dari jawaban responden yang bearasal dari sekolah (guru dan kepala sekolah). Sebanyak 9. sementara hanya 0.7 3.5 Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 85 .5 % responden yang berasal dari sekolah meberikan jawaban yang sama. Dari kelompok responden yang belum menjawab dengan benar.5 c.9 3 Tabel di atas memperlihatkan pemahaman responden terhadap Permendiknas No. 2.7 responden dari pejabat struktural Dinas pendidikan yang menjawab demikian. terdapat sedikit perbedaan antara responden dari Struktural Dinas Pendidikan dengan sekolah.Tabel 15 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Standar Isi Unsur (%) Jawaban a. yaitu sebanyak 87.5%) menjawab bahwa yang berwenang menetapkan kurikulum muatan lokal adalah satuan pendidikan yang bersangkutan. Ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi Mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. d. masih ada sekitar 13-16 % responden belum memahaminya dengan benar. sebagian besar responden dari pejabat struktural Dinas Pendidikan (84.6 65.5%. b. 12.

6%.5 73. dinyatakan bahwa bagi sekolah yang kategori mandiri bebena relajar diatur dengan sistem keredit semester.9 %. diperoleh gambaran bahwa sebagain besar responden menyatakan penyelenggaraan pembelajaran menggunakan sistem paket (60%). Data ini menunjukkan bahwa Belem semua pihak yang memahami tentang pengaturan beban relajar sebagaimana yang tertuang dalam PP nomor 19 tahun 2005 tersebut. Namur hanya sedikit (sekitar 45%) responden (baik Dinas Pendidikan maupun sekolah) yang menyatakan pengaturan pembelejaran berdasarkan sistem kredit semester.0 75. Ini berarti terdapat sekitar 24-27% responden memberikan jawaban yang salah atau belum memahami dengan benar. Sistem Pembelajaran pada SMA/MA/SMK/MAK Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005. Memperdalam penguasaan mata pelajaran Menciptakan wahana kegiatan sesuai minat dan bakat siswa Memberi pelayanan konseling pada siswa memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri. Dinas Pendidikan 3. Tujuan dari Kegiatan Pengembangan Diri Mengenai kegiatan pengembangan diri.3.0 3. b. sebesar 75.5 19. Berdasarkan tes pemahaman terhadap Dinas pendidikan dan sekolah. Hal ini Belem banyak dipahami oleh pelaksana pendidikan di lapangan. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 18 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Sistem pembelajaran pada SMA/MA/SMK/MAK Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 86 . hanya 48. sebagian besar responden dari Dinas pendidikan menjawab ” memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri”. Hal yang sama juga terjadi pada responden dari sekolah (Kepala Sekolah dan Guru). d.9 Jawaban a.4 2. yaitu sebesar 73. Namur hal ini berbeda dengan pandangan sekolah. c.6 4.9% sekolah yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pembelajaran menggunakan sistem paket. Tabel 17 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah Tentang Tujuan Kegiatan Pengembangan Diri Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 1.5 18.

3 Jawaban a.5 5.6 5.9 4. Panduan penilaian kinerja dan portofolio Dinas Pendidikan 1.5 % responden dari pejabat struktural Dinas Pendidikan menjawab dengan benar.Jawaban a. Sejalan dengan hal tersebut.8 4. Pedoman penilaian kelas Pedoman penilaian tertulis pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik.9 89. d.0 25.8 2. KTSP disusun oleh sekolah dan disesuaikan dengan kondisi yang ada. c. Tabel 20 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Jawaban Unsur (%) Sekolah (Guru dan Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 87 . Penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Sebagai kurikulum operasional. Tabel 19 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Penggunaan Standar Kompetensi Lulusan Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 0. sekitar 25 % responden masih beranggapan bahwa masih ada kurikulum nasional.6 22.1 90.5 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 48. sekolah (kepala sekolah dan guru) menjawab dengan benar sebanyak 89.6 5. d.5 6. Data ini menunjukkan bahwa terdapat sekitar 10% responden yang belum menjawab dengan benar. b.7 % responden sekolah (kepala sekolah dan guru) menjawab sama. Artinya. dan sebanyak 70. Hanya 68 % responden dari Dinas pendidikan yang menjawab dengan benar.1 6. Dan ternyata. c.8 1. Kemungkinan besar yang disebut sebagai kurikulum nasional itu adalah Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. b.5 3.5%. Menggunakan sistem paket Menggunakan sistem SKS Dapat menggunakan sistem SKS Dapat menggunakan sistem paket Dinas Pendidikan 64. terdapat sekitar 30 % responden belum memahami dengan benar. Penggunaan Standar Kompetensi Lulusan Dalam hal penggunaan Standar Kompetensi Lulusan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik 90.

kebutuhan dan potensi sekolah Disusun oleh sekolah sebagai model kurikulum Pendidikan 3..6%). Kemungkinan Satuan pendidikan Menyusun KTSP dengan Standar yang Lebih Tinggi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Standar isi dan Standar Kompetensi lulusan memnyatakan bahwa satuan pendidikan dapat mengembangkan kurikulum dengan kompetensi yang lebih tinggi dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. Acuan Penyusunan KTSP. kecuali..6 23.7 11. d.3%) menyatakan bahwa ”model Kurikulum yang dikembangkan oleh satuan pendidikan lain tidak dapat dijadikan sebagai acuan pengembangan KTSP.. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 88 . Artinya.0 2. Kecuali.6%) responden dari dinas pendidikan menyatakan hal tersebut mungkin dilakukan asal tetap mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagai ukuran kompetensi minimal.9 4. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh pernyataan kepala sekolah dan guru (52. b.7 Jawaban a. Ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa KTSP harus disusun sendiri mengingat situasi dan kondisi sekolah yang berbeda-beda.4 79. b..5 Kepsek) 2.3 74.7 70.. Lebih dari separuh (55.6 68.1 9.a. Hal senada juga ditunjukan oleh pernyataan kepala sekolah dan guru (79. c.6 6. d.7%). Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 4. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 21 pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Acuan yang Digunakan dalam Menyusun KTSP.5 7... Sebagian besar responden yang berasal dari Dinas Pendidikan (74..7 1. Disusun oleh pusat Disusun oleh sekolah dengan mengacu pada kurikulum nasional Disusun oleh sekolah sesuai dengan kondisi.3 8.. c. Standar Isi Standar kompetensi lulusan Panduan penyusunan kurikulum dari BSNP Model kurikulum satuan pendidikan lain Dinas Pendidikan 5. tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pandangan dinas pendidikan dengan sekolah dalam pengembangan kompetensi yang lebih tinggi untuk satuan pendidikan tertentu.5 24.

harapan Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Batas Akhir penerapan KTSP Hampir semua responden (sekitar 96%) baik yang berasal dari Dinas pendidikan maupun kepala sekolah dan guru menyatakan bahwa paling lambat penerapan KTSP pada tahun Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 89 . Agak berbeda dengan pernyataan kepala sekolah dan guru yang cenderung menambah jam pelajaran (7. Tabel dan diagram di atas memperlihatkan bahwa semua responden menyatakan tidak ada masalah apabila satuan pendidikan mampu mengembangkan kurikulumnya melebihi standar SI dan SKL asalkan dengan kriteria tertetu.9 Jawaban a. 9.6 1.4%) menyatakan bahwa hal itu mungkin dilakukan dengan menambah dan memperdalam kompetensi atau materi sesuai dengan ciri dan kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan.9%). asal tetap mengacu pada Standar Isi dan SKL sebagai kompetensi minimal Mungkin dengan tidak menambah mata pelajaran Mungkin.0 52.1 4.Namun demikian. asal tidak menambah waktu lebih dari 4 jam pelajaran per minggu Dinas Pendidikan 38. Lebih lanjut lihat pada tabel dan diagram berikut: Tabel 22 Pemahaman Dinas dan Sekolah tentang Kemungkinan Satuan pendidikan Menyusun KTSP dengan Standar yang Lebih Tinggi Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 38.5 7. dengan menambah.0%). d. Mungkin. c.4 55.6 1. sebagian responden dari dinas pendidikan (38. Hal ini tidak jauh berbeda dengan pemahaman kepala sekolah dan guru (38. memperdalam kompetensi atau materi sesuai ciri dan kebutuhan satuan pendidikan Mungkin. Hanya sebagian kecil responden dari dinas pendidikan yang menyatakan perlu penambahan jam sebagai konsekuensi dari penaikan standar kompetensi oleh satuan pendidikan.9 b.

4 23.4 25.4% untuk Dinas pendidikan dan 18. 22 dan 23 tahun 2006 oleh Satuan Pendidikan Sebagian besar responden berpendapat bahwa pengaturan jadual pelaksanaan Permendiknas No.A 2009/2010 T. C d Tahun Ajaran 2007/2008 Tahun Ajaran 2008/2009 Tahun Ajaran 2009/2010 Tahun Ajaran 2010/2011 Dinas Pendidikan 14.4% untuk sekolah).A 2007/2008 T.6 57. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 90 . b.2 52.A 2010/2011 Sekolah T abel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden berharap bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah seharusnya sudah mulai menerapkan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah paling lambat Tahun Ajaran 2009/2010 10.1 4. 22 dan 23 Tahun 2006 telah sesuai dengan kesiapan satuan pendidikan atas pertimbangan dinas pendidikan setempat. Tabel 23 Harapan Dinas pendidikan dan Sekolah Tentang Penjadualan Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Jawaban a. Bupati dan walikota dalam Pengaturan Jadual Pelaksanaan Permendiknas No.2009/2010. Lebih lanjut lihat tabel dan grafik di bawah ini. Daerah dan sekolah yang berpandangan demikian umumnya bagi mereka yang telah menerapkan KBK secara keseluruhan.1 Harapan Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Limit Waktu Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan 60 40 Dinas Pendidikan 20 0 T. Sebagian daerah optimis dengan batas akhir tahuan 2007/2008 (14.9 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 18.A 2008/2009 T. Peranan Gubernur. Lebih lanjut lihat pada tabel dan diagram berikut.3 4.

4 7.Tabel 24 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Peranan Gubernur. c.1 13.1 Dari tes pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa peran dinas pendidikan adalah sangat vital dalam membentuk persepsi.3 32. b.5 7. melakukan sosialisasi dan mengkoordinasikan pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan.7 Jawaban a. Bupati dan walikota dalam Pengaturan Jadual Pelaksanaan Permendiknas No. Sesuai dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan Secara serempak di seluruh wilayahnya Ditetapkan dan dipertimbangkan oleh dinas pendidikan Ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan pertimbangan dinas pendidikan Dinas Pendidikan 46.5 8. 22 dan 23 tahun 2006 oleh Satuan Pendidikan Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 51.4 33. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 91 . d.

dari segi: (1) Menggunakan variasi metode (individual. dan kuesiner orangtua. tampak bahwa guru belum memahami konsep dan teknik pembuatan silabus terutama pada bagian perumusan indikator. (2) Hubungan metode dengan kompetensi. luar kelas. Rumusan materi. 2 RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan penjabaran operasional dari silabus untuk waktu yang lebih singkat yaitu tiap tatap muka dilaksanakan. pada aspek: (1) Kegiatan awal: memuat konsep/kegiatan prasyarat. juga dilakukan observasi pembelajaran. kelompok. indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai d. hasilnya adalah sebagai berikut. Secara umum. kuesioner dinas pendidikan.E. dalam kelas. Ketepatan rumusan kegiatan pembelajaran dengan KD (1) Kegiatan pembelajaran bervariasi: (2) Pokok pokok kegiatan dengan kompetensi yang ingin dicapai: e. Ketepatan rumusan langkah langkah kegiatan. prinsip pembelajaran yang aktif dan umpan baliknya. Observasi Kegiatan Pembelajaran Selain menggunakan tes pemahaman atau tes persepsi KTSP. dari segi: Pembahasan hasil Observasi Dalam hal pembuatan silabus.aplikasi konsep atau orientasi kelas (2) Kegiatan inti. Memuat alokasi waktu: g. Rumusan Metode. diskusi. yaitu jaminan kompetensi dicapai: c. No 1 Aspek Ketepatan rumusan Komponen Silabus : a. SK dan KD dengan SI dan SKL : b. Tujuan observasi adalah untuk memotret secara faktual perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dilihat dari segi: kesesuaianya dengan kebijakan pengembangan KTSP. Hubungan Indikator dengan tujuan pembelajaran: b. kuesioner guru dan kepala sekolah. metode pemecahan masalah dsb. Ketepatan rumusan penilaian dengan KD: (1)Teknik/bentuk penilaian dengan kompetensi: (2) Rumusan tugas: f. ceramah. dan teknik penilaian yang dapat mengukur pencapaian kompetensi siswa. Memuat materi pembelajaran: d. pengalaman belajar yang sesuai. klasikal. Dari data hasil observasi menunjukkan bahwa secara rata-rata guru masih menemukan kesulitan dalam membuat RPP yang sesuai agar siswa memperoleh kompetensi seperti yang diharapkan. telah merinci dari silabus: c. Kesulitan dalam membuat silabus akan berdampak pada rumusan RPP yang tidak saling berhubungan. Oleh sebab itu RPP sangat bergantung pada silabus yang telah di buat. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 92 . problem solving. Rumusan Indikator dengan KD : (1) Minimal dua indikator: (2) Menggunakan kata kerja kemampuan: (3) Rumusan mengacu kompetensi.Memuat sumber belajar: Ketepatan rumusan komponen RPP: a. penugasan.

Kualitas dari konstruksi soal/penilaian: Sumber belajar: 4 Secara rata-rata data ebservasi menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru sudah melaksanakan sesuai dengan RPP yang di buat. memuat rangkuman. Kegiatan inti: (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi.* Telah merinci kegiatan pada silabus: * Kegiatan dengan kompetensi. Kegiatan Akhir (penutup): (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. Kegiatan awal: (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. 6 Secara rata-rata guru sudah menggunakan sumber belajar dengan baik dan efektif dalam melaksanakan pembelajaran. Memuat alokasi waktu: g. indikator atau tujuan pembelajaran: (3) Organisasi kelas yang digunakan dengan tujuan pembelajaran: (4) Kegiatan pembelajaran efektif: c.Tingkat pencapaian siswa: c. dari segi: (1) Teknik/bentuk penilaian dengan indikator: (2) Memuat contoh penilaian: (3) Memuat pedoman skoring/kunci jawaban: f. saat: a. indikator atau tujuan pembelajaran: Penilaian: a. Bentuk/teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran: b. renungan atau lainnya e. 5 Secara rata-rata guru sudah mampu menerapkan prinsipprinsip penilaian untuk mengetahui hasil belajar siswa. indikator atau tujuan pembelajaran: b. penugasan lebih lanjut. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 93 . Ketepatan rumusan penilaian dengan indikator. Tetapi hal ini bertentangan dengan kenyataan sebelumnya yaitu bahwa guru belum mampu membuat RPP yang sesuai dengan silabus.Memuat sumber belajar: PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN Kesesuaian pelaksanaan kegiatan belajar dengan RPP. indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai: * Memuat lampiran lembar kerja (LK) apabila terdapat penugasan menggunakan lembar kerja (3) Kegiatan penutup.

angket.BAB V ANALISIS HASIL MONITORING A. dan 34 Tahun 2006. pengembangan. dan wawancara. workshop. (b) hal-hal apa saja yang dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah/satuan pendidikan. Informasi ini diperoleh melalui pejabat struktural dan staf Dinas Pendidikan. Kemampuan dan Kesiapan Sumber Daya Kemampuan dan kesiapan sumber daya sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan kebijakan. Unsur-unsur tersebut digali melalui tes pemahaman. dan pelatihan. serta Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. Unsur-unsur yang dikaji adalah (a) apakah jumlah sumber daya manusia memadai. Unsur-unsur yang dimonitor adalah (a) apakah responden telah memeiliki dokumen dan bagaiaman cara mendapatkan dokumen tersebut. dan implementasi. (d) apakah sarana dan prasarana memadai. (c) apakah ada program peningkatan kompetensi melalui sosialisasi. yaitu: (1) Pemahaman terhadap isi kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Satndar Isi. dan 24 Tahun 2006. guru. Implementasi atau Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. Hal ini akan menggambarkan sejauhmana Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 94 . (f) bagaimana pengganggaran dan pembiayaan kegiatan mulai dari persiapan (sosialisasi). (2) Kesiapan dan kemampuan sumber daya yang ada. . Pemahaman terhadap Standar Isi Dan Standar Kompetensi Lulusan Unsur-nsur yang dijadikan patokan pengkajian adalah (a) hal-hal apa saja yang diatur dalam peraturan tersebut. komite/orang tua siswa melalui angket. 23. 23. kepala sekolah. tes pemahaman dan wawancara. 2. (e) sejauhmana dukungan komite/orang tua siswa terhadap pelaksanaan kurikulum. 1. 3. dan (3) Implementasi atau penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. (b) apakah kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan memadai. Aspek Analisis Monitoring ini memnfokuskan pada tiga aspek. (c) fungsi Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar yang terdapat dalam Standar Isi dan (d) fungsi Standar Kompetensi Lulusan. Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan.

tes pemahaman dan wawancara. Hal senada juga diakui oleh responden yang berasal dari sekolah (kepala sekolah. (f) bagaimana penjadualan penerapan . Sungguhpun demikian. Sebagai contoh. (g) berapa persen daerah (kabupaten/kota) yang telah melaksanakan sosialisasi. Dilihat dari pemahaman yang diperoleh melalui jawaban angket. RPP. umumnya responden memahami KTSP disusun dan ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan mempertimbangkan keragaman kondisi. penerapkan KTSP di masing-masing satuan pendidikan belum begitu kuat karakteristiknya.pihak-pihak terkait proaktif dalam mendapatkan informasi. 1. Umunya naskah tersebut baru pada tahap ”copy-paste”. tes pemahaman dan wawancara kepada semua responden. dan komite/orang tua siswa). silabus. dan 24 tahun 2006. parsoalan tersebut antara lain adalah : Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 95 . kepala sekolah. Berdasarkan angket yang diberikan kepada pejabat dan staf struktural Dinas Pendidikan provinsi dapat disimpulkan bahwa semua daerah telah melakukan sosialisasi tentang Peraturan Mendiknas Nomor 22. (b) apakah sudah menyusun KTSP dan perangkatnya (struktur kurikulum. guru. guru. 23. dan kebutuhan daerah serta peserta didik. (h) apakah ada koordinasi antar pihak-pihak terkait? Informasi ini diperoleh melalui pejabat struktural dan staf Dinas Pendidikan. misalnya dengan meng-copy sendiri atau menunggu informasi dikirimkan oleh pihak yang berwenang. Hal ini dilihat dari naskah KTSP dan perangkatnya yang disusun oleh masing-masing satuan pendidikan. (e) sejauhmana peran serta masyarakat. Namun. dan KTSP. penilaian dan sebagainya). substansi dan strategi strategi implementasi KTSP belum cukup dipahami. (c) apakah sudah melaksanakan KTSP. B. kendala. Standar Kompetensi Lulusan. masih banyak persoalan yang harus dituntaskan. komite/orang tua siswa melalui angket. (d) apa dampak. potenai. dapat disimpulkan bahwa secara konseptual sebagian besar responden cukup memahami peraturan mendiknas tersebut. . Akibatnya. dapat diterima secara baik oleh pelaksana di lapangan. dan upaya yang dilakukan. Hasil Analisis Pemahaman Responden Terhadap Standar Isi. Pemberlakuan KTSP sebagai impelementasi dari kebijakan pemerintah sebagaimana yang diamantkan oleh berbagai peraturan perundang-undangan yang mendasarinya.

Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. menurut pengakuan responden. proses penilaian belum sesuai dengan karakter dan tingkat kompetensi yang dituntut. terutama dalam penggunaan metode pemeblajaran yang monoton. Dengan adanya sejumlah persoalan di atas.Sebagian orang tua mengeluhkan tentang adanya penambahan biaya pendidikan shubungan dengan penerapan KTSP. penggunaan sumber belajar belum bervariasi. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. tugas-tugas yang harus mereka selesaikan menjadi bertambah banyak sehingga melelahkan. Informasi ini diperoleh melalui observasi dan wawancara yang dilakukan tehadap siswa. Perlu pendampingan yang lebih strategis dan teknis dalam penyusunan KTSP 1. 3. Kemampuan dan Kesiapan Sumber Daya 1. Namun upaya belum cukup mengingat proses pembelajaran yang berlangsung masih mengikuti pola lama. daerah dan sekolah mampu mengatasi berbagai persoalan tersebut melalui pemberian pengertian kepada semua pihak. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 3. perlu dikembangkan suatu sistem sosialisasi dan pembinaan terhadap satuan pendidikan agar pengelolaan pembelajaran lebih efisien dan efektif. Hal ini mengkibatkan proses pembelajaran belum efisien dan efektif. dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. 2. potensi sekolah. Sejauh ini. Sebagian orang tua sering menerima keluhan dari anak-anak mereka bahwa setelah menerapkan KTSP. terutama dalam hal pengadaan buku-buku pelajaran dan biaya kegiatan pembelajaran. Format rapor KTSP berlum mampu memberikan informasi tentang prestasi peserta akademik maupun non akademik peserta didik. Guru sudah membuat silabus dan RPP 2. Silabus yang di buat guru belum menunjukkan penjabaran SK dan KD yang disesuaikan dengan potensi daerah/wilayah. 2. termasuk dalam hal pengunaan sumber belajar yang tidak terbatas pada buku tertentu saja. Guru belum mampu membuat silabus yang baik dan kontekstual Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 96 . Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik.

efisiensi dan tingkat kesesuaiannya denga kompetensi dasar yang hendak di capai. dan 34 Tahun 2006. 9. namun masih perlu obsevasi yang lebih rinci berkaitan dengan kualitas instrumen penilaian yang digunakan. Guru sudah mampu merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar dengan baik . 2. program mulok. Silabus yang di buat guru belum menunjukkan penjabaran SK dan KD yang disesuaikan dengan potensi daerah/wilayah. Guru belum mampu membuat RPP 5. 7. Walaupun sebagian guru dalam observasi ini sudah membuat silabus dan RPP. Dalam merencanakan sumber belajar yang akan digunakan guru sudah merencanakan dengan baik. tetapi dari silabus dan RPP yang dibuat tampak bahwa guru belum menguasai konsep pengembangan silabus dan teknik implementasinya sesuai kondisi wilayah. kondisi sekolah dan karakteristik peserta didik. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan efektivitas. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik.4. 3. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 10. 3. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Perlu pendampingan yang lebih strategis dan teknis dalam penyusunan KTSP seperti penyusunan APBS. dan program pengembangan diri. 23. 6. Implementasi atau Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. 1. Guru belum mampu membuat silabus yang baik dan kontekstual Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 97 . 8. Secara rata-rata guru sudah baik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan kesusuaian isi materi yang diajarkan dengan silabus yang telah di susun. potensi sekolah. 11.

namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan efektivitas. sekolah. 6. namun masih perlu obsevasi yang lebih rinci berkaitan dengan kualitas instrumen penilaian yang digunakan. dapat disimpulkan beberapa hal berikut. orangtua siswa. Dalam merencanakan sumber belajar yang akan digunakan guru sudah merencanakan dengan baik. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dari SDM pada tingkat sekolah maupun dinas pendidikan. Guru belum mampu membuat RPP 5. kepala sekolah. Implikasinya adalah guru belum mampu mengembangkan indikator soal dan mengembangkan instrumen penilaian yang tepat.4. serta hasil tes pemahaman. dinas pendidikan dan masyarakat. efisiensi dan tingkat kesesuaiannya denga kompetensi dasar yang hendak di capai. Guru sudah mampu merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar dengan baik. Dari hasil observasi pembelajaran. Guru belum memahami prinsip pengembangan SK menjadi KD dan menjabarkannya menjadi indikator. namun ini perlu dipertajam sampai tingkat operasionalisasi dalam pengembangan dan penerapan kurikulum mencakup komite sekolah. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 98 . kuesioner guru. Secara rata-rata guru sudah baik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan kesesuaian isi materi yang diajarkan dengan silabus yang telah di buat 7. 1. pemahaman tentang KTSP sudah memadai. penerapan KTSP pada penyelenggaraan pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan SI dan SKL. 8. 2. pengawas. pengalaman belajar dan penilaian. dan dinas pendidikan.

pemahaman tentang KTSP sudah memadai. Ada peningkatan biaya yang signifikan dengan penggunaan KTSP (85 % responden menyatakan tambahan biaya yang timbul cukup signifikan dengan aktivitas belajar yang terjadi). namun ini perlu dipertajam sampai tingkat operasionalisasi dalam pengembangan dan penerapan kurikulum mencakup komite sekolah. 1. Hasil monitoring menunjukkan 81 % responenden menyatakan tahu tentang KTSP tetapi tidak memahaminya dengan baik. 82 % responden menyatakan menerima keluhan dari putra/putrinya berkaitan dengan tugas-tugas yang diberikan. 6. KESIMPULAN Secara umum. Format rapor KTSP berlum mampu memberikan informasi tentang prestasi peserta akademik maupun non akademik peserta didik.BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. namun dapat mengatasinya dengan memberikan pemahaman dan pengertian). pengawas. REKOMENDASI Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 99 . aktifitas dan kreatitivitas siswa dalam belajar hampir semua responden menyatakan bahwa penggunaan KTSP membuat putra/putri mereka lebih rajin belajar. namun tidak memahami subtansinya 2. 4. (77% orang tua menyatakan tidak puas dengan format rapor hasil belajar yang diterima) B. KTSP sebagai model kurikulum yang berdasar pada Standar Isi dan dikembangkan dengan memperhatikan potensi dan karakteristik wilayah/sekolah belum disosialisasikan dengan baik. Penggunaan KTSP di tingkat satuan pendidikan cukup signifikan dalam meningkatkan motivasi. sekolah. Substansi KTSP dan strategi implementasinya belum dipahami dengan jelas oleh pihak sekolah dan orang tua. Hasil monitoring menunjukkan 81 % responden menyatakan telah mengetahuinya. Penggunaan KTSP sebagai kurikulum pendidikan saat ini diterima dengan baik oleh orang tua walaupun muncul keluhan-keluhan dari pihak siswa karena perubahan pola pembelajaran (responden menyatakan senang dengan penggunaan KTSP. 5. dinas pendidikan dan masyarakat. 3.

sebaiknya secara periodik (1 tahun sekali) dilakukan monitoring dan berupaya untuk membandingkannya. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 100 . Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK.Penerapan KTSP pada penyelenggaraan pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan SI dan SKL. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. 5. Agar monitoring ini dapat jauh lebih bermanfaat. 7. 4. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dari SDM pada tingkat sekolah maupun dinas pendidikan. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 6. maka untuk melihat adanya perkembangan kemampuan guru-guru dalam melaksanakan KTSP di lapangan.

. Rineka Cipta. Prof. Dr. Sc. Angkasa. PT Remaja Rosdakarya. Ngalim Purwanto. 2003. Drs. Fakultas psikologi Universitas Pajajaran. Pusimplementasi kurikulum Pegawai Depdiknas. Drs. MP. 1983 Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 101 . 2002 Agus Dharma. - Suryana Sumantri.. Jakarta. Bandung. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Ardadizya Jaya.Daftar Pustaka - Subagio A.M. Manajemen Pelatihan. Sahertian. M..Ed.Ed. Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.Drs. 2001 - M. Prof. 2002 - Piet A.. Modul Implementasi kurikulum Management of Trainers.. Supervisi Pendidikan. Bandung. 2000 Oteng sutisna... Admistrasi Pendidikan..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful