EVALUASI PELAKSANAAN KTSP OLEH TIM PENGEMBANG KURIKULUM PROPINSI

PUSAT KURIKULUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA 2008

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendinas) No. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23 tahun 2006 tentang standar isi dan standar kompetensi lulusan disebutkan bahwa salah satu tugas pokok Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dalam hal ini, Pusat Kurikulum adalah memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. 22

Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, mengevaluasinya, dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri. Salah satu yang menjadi bagian dari monitoring tersebut adalah melakukan monitoring secara nasional penerapan peraturan menteri pendidikan nasional dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelaksanaannya. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut perlu dilakukan serangkaian langkah kegiatan mencakup penyusunan panduan dan intrumen evaluasi, pelaksanaan evaluasi dan penyusunan laporan. Panduan digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan instumen dan melaksanakan evaluasi untuk mendapatkan data dan informasi tentang pelaksanaan KTSP pada setiap daerah secara kualitatif maupun kuantitatif. Pelaksanaan evaluasi merupakan langkah kegiatan untuk mendapatkan data dan informasi penerapan KTSP pada daerah yang menjadi objek atau sasaran evaluasi. Penyusunan laporan memuat temuan, masukan atau rekomendasi berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui evaluasi pelaksanaan KTSP agar kebijakan tentang pengembangan kurikulum dapat diterapkan secara efisien dan efektif. B. TUJUAN Kegiatan ini bertujuan untuk melaksanakan evaluasi pengembangan dan pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan sehingga didapat data dan informasi tentang tingkat penerapan KTSP secara kualitatif ataupun kuantitatif pada tiap daerah yang dapat dimanfaatkan satuan pendidikan (sekolah) dalam implementasi kurikulum pada tataran sekolah/daerah.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

1

C. RUANG LINGKUP Kegiatan ini memonitor dan mengevaluasi penerapan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di 33 propinsi D. HASIL YANG DIHARAPKAN Melalui kegiatan ini akan dihasilkan laporan gambaran penerapan KTSP di 33 provinsi, pada satuan pendidikan dasar dan menengah E. PELAKSANAAN Kegiatan penyusunan laporan dilaksanakan pada tanggal 9 – 13 Desember 2008 di Cisarua, Kabupaten Bogor. F. PESERTA Peserta yang dilibatkan dalam kegiatan ini terdiri dari unsure: Satuan Pendidikan, LPMP, Perguruan Tinggi, dan Pusat Kurikulum. Rincian Peserta terlampir

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

2

BAB II KERANGKA BERPIKIR

A. STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Menurut Undang-Undang (UU) No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan kurikulum dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Hal ini dimaksudkan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan pada satuan pendidikan dengan kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, kurikulum dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Selanjutnya pada pasal 36 disebutkan bahwa pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan harus disempurnakan dan ditingkatkan secara berencana, terarah dan berkala sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Kata standar memiliki makna tingkat atau level kualitas atau keunggulan yang harus dicapai dengan kriteria, benchmark, persayaratan atau spesifikasi tertentu. Hal ini sesuai dengan pengertian di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa standar nasional pendidikan merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar nasional pendidikan terdiri atas: 1. standar isi Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

3

Kerangka dasar kurikulum adalah rambu-rambu yang dijadikan pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan. Kerangka dasar dan struktur kurikulum mengatur tentang kelompok mata pelajaran serta kedalaman muatan kurikulum yang dituangkan dalam kompetensi, yaitu standar kompetensi dan kompetensi dasar. Beban belajar mengatur tentang jam pembelajaran dengan sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, pelaksanaan pembelajaran sistem paket dan satuan kredit semester (SKS), serta pemberian pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP. KTSP untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB,

SMA/MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK. Kalender pendidikan/kalender akademik mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur. 2. standar proses Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Standar proses mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. 3. standar kompetensi lulusan

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

4

Standar kompetensi lulusan (SKL) adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Standar ini meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran 4. standar pendidik dan tenaga kependidikan Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Standar ini mengatur tentang pendidik yang harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, Rasio pendidik terhadap peserta didik, kelengkapan dan kualifikasi tenaga kependidikan satuan pendidikan, pengawas satuan pendidikan. 5. standar sarana dan prasarana Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Standar ini mengatur tentang kelengkapan, jenis dan kualitas sarana dan prasarana satuan pendidikan. 6. standar pengelolaan Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Standar ini terdiri atas standar pengelolaan oleh satuan pendidikan, standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan standar pengelolaan oleh pemerintah. Standar pengelolaan oleh satuan pendidikan mengatur tentang penerapan prinsip manajemen berbasis sekolah (MBS), proses pengambilan keputusan, pedoman, rencana kerja tahunan, Pelaksanaan pengelolaan dan pengawasan satuan pendidikan.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

5

biaya operasi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 6 . 8. Setiap satuan pendidikan pada jalur formal dan nonformal wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan. penyelenggaraan satuan pendidikan bertaraf internasional. standar penilaian pendidikan Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah propinsi 4. Sedangkan evaluasi pendidikan meliputi: 1. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah kabupaten/kota 5. dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. dan pelaporan pencapaian standar nasional pendidikan. 7. prosedur. pemerintah propinsi. standar pembiayaan Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. dan terencana dalam suatu program penjaminan mutu yang memiliki target dan kerangka waktu yang jelas. sistematis. 2. pemantauan. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bertugas melakukan pengembangan. LPMP mensurpervisi dan membantu satuan pendidikan dalam penjaminan mutu. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah (menteri) 3. Pencapaian kompetensi akhir peserta didik dinyatakan dalam dokumen ijazah dan/atau sertifikat kompetensi. evaluasi kinerja pendidikan oleh lembaga mandiri Pemerintah melakukan akreditasi pada setiap jenjang dan satuan pendidikan untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan. Pemerintah. secara bertahap. Standar ini mengatur tentang penilaian hasil belajar oleh pendidik. serta tentang kelulusan peserta didik. Dalam melaksanakan tugasnya BSNP menunjuk tim ahli yang bersifat ad-hoc sesuai kebutuhan.Standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan pemerintah mengatur tentang rencana kerja tahunan. dan biaya personal satuan pendidikan. oleh satuan pendidikan dan oleh pemerintah. pemerintah kabupaten/kota. Standar ini mengatur tentang biaya investasi. evaluasi kinerja pendidikan oleh satuan pendidikan pada tiap akhir semester.

1. kejuruan. STANDAR ISI Di dalam Permendiknas No. dan (4) kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum. B. (2) beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah. Bagian ini meliputi: a) Kerangka Dasar Kurikulum 1) Kelompok Mata Pelajaran Bagian ini menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum.Penyelenggaraan satuan pendidikan yang tidak mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan dapat memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari BSNP didasarkan pada penilaian khusus. Ini berarti ketentuan di dalam Permendiknas tersebut bersifat minimal yang harus dicapai peserta didik pada setiap satuan pendidikan. dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 7 . 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Standar Isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang selanjutnya disebut Standar Isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. 2. (3) kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi. 22 tahun 2006 adalah sebagai berikut. Pendahuluan Bagian ini menjelaskan cakupan standar isi yang meliputi: (1) kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan. Sistematika Standar Isi dalam lampiran Permendiknas No.

(2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas. (1) Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 8 . (1) Berpusat pada potensi. dinamis dan menyenangkan.(1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. 2) Prinsip Pengembangan Kurikulum Bagian ini menyatakan bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. olahraga dan kesehatan. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut. teknologi. (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu. (4) kelompok mata pelajaran estetika. dan seni (4) Relevan dengan kebutuhan kehidupan (5) Menyeluruh dan berkesinambungan (6) Belajar sepanjang hayat (7) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah 3) Prinsip Pelaksanaan Kurikulum Bagian ini menyatakan bahwa pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya (2) Beragam dan terpadu (3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. perkembangan. perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. kebutuhan. (5) kelompok mata pelajaran jasmani.

dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan. tahap perkembangan. ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan. akrab. (6) Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam. tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 9 . sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal. dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan. dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. melalui proses pembelajaran yang aktif. sumber belajar dan teknologi yang memadai. efektif. dengan prinsip tut wuri handayani. dan menyenangkan. (b) belajar untuk memahami dan menghayati. dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri. (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif. terbuka. kreatif.(2) Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar. keterkaitan. (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain. keindividuan. (7) Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran. dan/atau percepatan sesuai dengan potensi. dan hangat. pengayaan. contoh dan teladan). dan moral. dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi. (5) Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia. di depan memberikan contoh dan teladan). (4) Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai. ing madia mangun karsa. (3) Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan. di tengah membangun semangat dan prakarsa. kesosialan. yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan.

dan III adalah 26. VI adalah 32 jam pelajaran per minggu. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. 1) Struktur Kurikulum SD/MI Struktur kurikulum SD/MI meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai Kelas I sampai dengan Kelas VI. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.b) Struktur Kurikulum Pendidikan Umum Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. guru. III dilaksanakan melalui pendekatan tematik. dan pengembangan diri Pembelajaran pada Kelas I s. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 10 .d. muatan lokal. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan untuk kelas IV s. 27 dan 28 jam pelajaran per minggu. muatan lokal dan pengembangan diri. belajar. sedangkan pada Kelas IV s. II. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. Struktur kurikulum pendidikan umum memuat komponen mata pelajaran. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. termasuk keunggulan daerah. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 35 menit. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Kurikulum SD/MI memuat 8 mata pelajaran. bakat. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor.d.d. dan pengembangan karir peserta didik. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum untuk kelas I .

dan kelas XI dan XII merupakan program penjurusan yang terdiri atas empat program: (1) Program Ilmu Pengetahuan Alam. muatan lokal. (2) Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII Program IPA. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 45 menit. 3) Struktur Kurikulum SMA/MA Struktur kurikulum SMA/MA meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas X sampai dengan Kelas XII. muatan lokal. dan pengembangan diri. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum adalah 32 jam pelajaran per minggu. Kurikulum SMA/MA Kelas X terdiri atas 16 mata pelajaran. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 40 menit. Pengorganisasian kelas-kelas pada SMA/MA dibagi ke dalam dua kelompok. Program IPS. muatan lokal. khusus untuk MA. dan Program Keagamaan terdiri atas 13 mata pelajaran. (3) Program Bahasa. dan pengembangan diri c) Struktur Kurikulum Pendidikan Kejuruan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 11 . Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum kelas X adalah 38 jam pelajaran. Substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu”. dan (4) Program Keagamaan.2) Struktur Kurikulum SMP/MTs Struktur kurikulum SMP/MTs meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas VII sampai dengan Kelas IX. dan pengembangan diri. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. kelas XI dan XII adalah 39 jam pelajaran dan kelas XI dan XII untuk MA program keagamaan adalah 38 jam pelajaran per minggu. Kurikulum SMP/MTs memuat 10 mata pelajaran. Program Bahasa. yaitu kelas X merupakan program umum yang diikuti oleh seluruh peserta didik.

Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan. pengetahuan. dan Keterampilan/Kejuruan. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Pendidikan Jasmani dan Olahraga. memiliki etos kerja yang tinggi. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta mengembangkan keahlian dan keterampilan. Seni dan Budaya. serta memiliki kemampuan mengembangkan diri Kurikulum SMK/MAK berisi mata pelajaran wajib. IPS. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Mata pelajaran Kejuruan terdiri atas beberapa mata pelajaran yang bertujuan untuk menunjang pembentukan kompetensi kejuruan dan pengembangan kemampuan menyesuaikan diri dalam bidang keahliannya. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan program keahlian yang diselenggarakan. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. dan Pengembangan Diri. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. dan prospek pengembangan daerah termasuk keunggulan daerah. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. guru. dan mampu berkomunikasi sesuai dengan tuntutan pekerjaannya. bakat. IPA. mata pelajaran Kejuruan. dan pembentukan karier peserta didik. Bahasa. belajar. Muatan Lokal. Pengembangan diri bagi peserta didik Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 12 . Matematika. Pendidikan Kewarganegaraan. menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. Mata pelajaran ini bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam spektrum manusia kerja. kepribadian. mereka harus memiliki stamina yang tinggi. Mata pelajaran wajib terdiri atas Pendidikan Agama. potensi daerah. akhlak mulia.

Pendidikan SMK/MAK diselenggarakan dalam bentuk pendidikan sistem ganda. Kelompok adaptif dan produktif adalah mata pelajaran yang alokasi waktunya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian. Beban belajar SMK/MAK meliputi kegiatan pembelajaran tatap muka. yang materinya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian untuk memenuhi standar kompetensi kerja di dunia kerja. Evaluasi pembelajaran dilakukan setiap akhir penyelesaian satu standar kompetensi atau beberapa penyelesaian kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Jumlah jam Kompetensi Kejuruan pada dasarnya sesuai dengan kebutuhan standard kompetensi kerja yang berlaku di dunia kerja tetapi tidak boleh kurang dari 1044 jam. dan Kewirausahaan (3) Kelompok produktif terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang dikelompokkan dalam Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi Kejuruan. Matematika. Bahasa Indonesia. dan dapat diselenggarakan dalam blok waktu atau alternatif lain. Struktur kurikulum SMK/MAK meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun atau dapat diperpanjang hingga empat tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII atau kelas XIII. Pendidikan Kewarganegaraan. praktik di sekolah dan kegiatan kerja praktik di dunia usaha/industri ekuivalen dengan 36 jam pelajaran Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 13 . Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi.SMK/MAK terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. IPS. Struktur kurikulum SMK/MAK disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran. Alokasi waktu satu jam pelajaran tatap muka adalah 45 menit. Di dalam penyusunan kurikulum SMK/MAK mata pelajaran dibagi ke dalam tiga kelompok: (1) Kelompok normatif adalah mata pelajaran yang dialokasikan secara tetap yang meliputi Pendidikan Agama. IPA. dan Seni Budaya (2) Kelompok adaptif terdiri atas mata pelajaran Bahasa Inggris.

Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. maksimum empat tahun sesuai dengan tuntutan program keahlian. emosional. Program khusus berisi kegiatan yang bervariasi sesuai degan jenis ketunaannya. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. belajar. bina diri untuk peserta didik tunagrahita. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. intelektual dan/atau sosial. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. dan pengembangan diri. dan pengembangan karir peserta didik. dalam batas-batas tertentu masih dimungkinkan dapat mengikuti kurikulum standar meskipun harus dengan penyesuaian-penyesuaian. Peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Peserta didik ini yang berkeinginan untuk melanjutkan sampai ke jenjang pendidikan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 14 . dan bina pribadi dan sosial untuk peserta didik tunalaras. muatan lokal. termasuk keunggulan daerah. guru. d) Struktur Kurikulum Pendidikan Khusus Struktur Kurikulum dikembangkan untuk peserta didik berkelainan fisik. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada.per minggu. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Lama penyelenggaraan pendidikan SMK/MAK tiga tahun. Pengembangan diri terutama ditujukan untuk peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. program khusus. kemampuan. yaitu program orientasi dan mobilitas untuk peserta didik tunanetra. bakat. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. bina gerak untuk peserta didik tunadaksa. bina komunikasi persepsi bunyi dan irama untuk peserta didik tunarungu. Kurikulum Pendidikan Khusus terdiri atas delapan sampai dengan 10 mata pelajaran. mental.

semaksimal mungkin didorong untuk dapat mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan umum sejak SD atau SMP. SDLB SMPLB SMALB MASYARAKAT ANAK LUAR BIASA/ANAK BERKELAINAN PERGURUAN TINGGI/ MASYARAKAT SD/MI SMP/ MTs SMA/MA SMK/MAK Kurikulum untuk peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata.D. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 15 . D.E dirancang untuk peserta didik yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang pendidikan tinggi.E dan SMALB A.B.E mengacu kepada satuan pendidikan umum yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan khusus peserta didik. Pada satuan pendidikan SMPLB A. E = tunalaras). Kompetensi mata pelajaran umum SDLB. E.tinggi. dan Keterampilan dikembangkan oleh satuan Pendidikan Khusus dengan memperhatikan jenjang dan jenis satuan pendidikan. SMPLB A . D. B. B. E. SMPLB. B = tunarungu.D.E relatif sama dengan kurikulum SD umum. sedangkan kompetensi untuk mata pelajaran Program Khusus. SMALB A.B.B.D.D. D = tunadaksa ringan. D. Peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Bagi mereka yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. diperlukan kurikulum yang sangat spesifik. menggunakan sebutan Kurikulum SDLB A. dan SMALB. sederhana dan bersifat tematik untuk mendorong kemandirian dalam hidup sehari-hari. Kurikulum SDLB A. dan SMALB A. Mekanisme perpindahan jalur pendidikan adalah sebagai berikut. setelah menyelesaikan pada jenjang SDLB dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMPLB.B. B. E (A = tunanetra.

C1. Struktur kurikulum pada satuan Pendidikan Khusus SDLB dan SMPLB mengacu pada Struktur Kurikulum SD dan SMP dengan penambahan Program Khusus sesuai jenis kelainan. program khusus bersifat kasuistik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik tertentu. G.D1. dan Tunaganda. dan SMALB C. (C = tunagrahita ringan. Kompetensi mata pelajaran pada SDLB. D1. (1) Orientasi dan Mobilitas untuk peserta didik Tunanetra (2) Bina Komunikasi.G dikembangkan satuan Pendidikan Khusus yang bersangkutan dengan memperhatikan tingkat dan jenis satuan pendidikan.C1. Kurikulum untuk peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Untuk jenjang SMALB.D.30% berisi aspek keterampilan vokasional. Muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMALB A.D.50% aspek keterampilan vokasional.E terdiri atas 60% . Kurikulum ini dirancang sangat sederhana sesuai dengan batas-batas kemampuan peserta didik dan sifatnya lebih individual. D1. Program Khusus sesuai jenis kelainan peserta didik meliputi sebagai berikut. D1.B. Persepsi Bunyi dan Irama untuk peserta didik Tunarungu (3) Bina Diri untuk peserta didik Tunagrahita Ringan dan Sedang (4) Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Ringan (5) Bina Pribadi dan Sosial untuk peserta didik Tunalaras (6) Bina Diri dan Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Sedang. Satuan pendidikan khusus SDLB dan SMPLB dapat menambah maksimum 6 jam pembelajaran/minggu untuk keseluruhan jam pembelajaran. G. SMPLB C. C1. Pembelajaran menggunakan pendekatan tematik.Proporsi muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMPLB A.B. Satu jam pelajaran untuk SDLB adalah 30 menit. dan tidak dihitung sebagai beban belajar. G = tunaganda). C1. dengan alokasi waktu 2 jam/minggu. C1 = tunagrahita sedang. SMPLB adalah 35 menit dan SMALB adalah 40 menit sesuai dengan kondisi peserta didik yang berkaelainan. menggunakan sebutan Kurikulum SDLB C. G. D1 = tunadaksa sedang.70% aspek akademik dan 40% .E terdiri atas 40% – 50% aspek akademik dan 60% . dan 4 jam Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 16 . SMPLB dan SMALB C.

pembelajaran untuk tingkat SMALB sesuai kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan yang bersangkutan. tingkat terampil dan tingkat mahir. Muatan isi mata pelajaran untuk SMALB A. Oleh karena itu. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi yang terdir atas: Lampiran 1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI dan SDLB. Lampiran 2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMP/MTs dan SMPLB. proporsi muatan keterampilan vokasional lebih diutamakan e) Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran pada setiap tingkat dan semester disajikan pada lampiran-lampiran Permendiknas No.30% muatan isi kurikulum ditekankan pada bidang keterampilan vokasional yang meliputi tingkat dasar. Muatan kurikulum SDLB. dan sekitar 60% – 50% bidang keterampilan vokasional. penugasan terstruktur.E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMP umum sehingga menjadi sekitar 60% – 70%.E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMA umum sehingga menjadi sekitar 40% – 50% bidang akademik. kemampuan dan kebutuhan peserta didik serta kondisi satuan pendidikan. Jenis keterampilan yang akan dikembangkan. SMPLB. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 17 .G lebih ditekankan pada kemampuan menolong diri sendiri dan keterampilan sederhana yang memungkinkan untuk menunjang kemandirian peserta didik. 3. dan Lampiran 3 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK.D. diserahkan kepada satuan pendidikan sesuai dengan minat. Beban Belajar Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka. SMALB C. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.B.D.D1.B. Muatan isi mata pelajaran SMPLB A. Beban belajar atau alokasi waktu yang diatur dalam struktur kurikulum adalah beban belajar dalam bentuk tatap muka.C1. potensi. Sisanya sekitar 40% .

c. minggu efektif belajar. dan satu jam kegiatan mandiri tidak terstruktur. Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem kredit semester dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks).Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. SMP/MTs/SMPLB maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem kredit semester. satu jam penugasan terstruktur. Kalender Pendidikan Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran. 4. Satuan pendidikan SD/MI/SDLB melaksanakan program pendidikan dengan menggunakan sistem paket. sedangkan untuk kegiatan mandiri tidak terstruktur diatur sendiri oleh peserta didik. SMA/MA/SMALB/SMK/MAK maksimum 60% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. a) Alokasi Waktu Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 18 . waktu pembelajaran efektif dan hari libur. Sistem kredit semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori standar menggunakan sistem paket atau dapat menggunakan sistem kredit semester. Program percepatan dapat diselenggarakan untuk mengakomodasi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. SD/MI/SDLB maksimum 40% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan b. Beban belajar satu sks meliputi satu jam pembelajaran tatap muka. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada untuk: a. Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB.

Libur akhir tahun pelajaran Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah 5. dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus. dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan. No 1. Jeda antarsemester Antara semester I dan II 4. Hari libur keagamaan 6. Kegiatan Minggu efektif belajar Alokasi Waktu 34 – 38 minggu Keterangan Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan Satu minggu setiap semester 2. Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota.Alokasi waktu minggu efektif belajar. Pemerintah Pusat/Provinsi /Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan. Jeda tengah semester Maksimum 2 minggu Maksimum 2 minggu Maksimum 3 minggu 2 – 4 minggu 3. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional. Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing-masing Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif 8. waktu libur dan kegiatan lainnya adalah sebagai berikut. Kegiatan khusus sekolah/madrasah b) Penetapan Kalender Pendidikan Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya. Hari libur umum/nasional Hari libur khusus Maksimum 2 minggu Maksimum 1 minggu Maksimum 3 minggu 7. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 19 .

Pendidikan Menengah Kejuruan yang terdiri atas SMK/MAK akhlak bertujuan: serta Meningkatkan kecerdasan. 1.waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Di dalam Permendiknas No. SMA/MA/SMALB*/Paket C terdiri atas 23 butir. yakni: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 20 . pengetahuan. kepribadian. Tujuan setiap satuan pendidikan yang tertuang dalam lampiran Permendiknas No. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut 3. akhlak mulia. Pendidikan Dasar. Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran dikembangkan berdasarkan tujuan dan cakupan muatan dan/ atau kegiatan setiap kelompok mata pelajaran. kepribadian. kepribadian. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut 2. C. Ini berarti ketentuan di dalam Permendiknas tersebut bersifat minimal yang harus dicapai lulusan peserta didik pada setiap satuan pendidikan. standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran. yang meliputi SD/MI/SDLB/Paket A dan SMP/MTs. dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran. SKL meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah. dan SMK/MAK terdiri atas 23 butir. keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya Standar kompetensi lulusan satuan pendidikan SD/MI/SDLB*/Paket A terdiri atas 17 butir./SMPLB/Paket B bertujuan: Meletakkan dasar kecerdasan. SMP/MTs/SMPLB*/Paket B terdiri atas 21 butir. 23 tahun 2006 adalah sebagai berikut. pengetahuan. mulia. Pendidikan Menengah yang terdiri atas SMA/MA/SMALB/Paket C bertujuan: Meningkatkan kecerdasan. akhlak mulia. pengetahuan.

matematika. keterampilan/kejuruan. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama. Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan: mengembangkan logika. keterampilan. jasmani. matematika. serta muatan lokal yang relevan Pada satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/Paket C. ilmu pengetahuan sosial. keterampilan/kejuruan. kemampuan berpikir dan analisis peserta didik. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa.1. dan muatan lokal yang relevan. teknologi informasi dan komunikasi. Pada satuan pendidikan SD/MI/SDLB/Paket A. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. dan kesehatan. Kelompok mata pelajaran Agama dan Akhlak Mulia bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. bahasa. ilmu pengetahuan dan teknologi. kejuruan. Pada satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB/Paket B. olahraga. kewarganegaraan. keterampilan/kejuruan. Kelompok mata pelajaran Estetika bertujuan: membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. Kelompok mata pelajaran Kewarganegaraan dan Kepribadian bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. seni dan budaya. ilmu pengetahuan sosial. dan pendidikan jasmani. matematika. 3. seni dan budaya. ilmu pengetahuan alam. dan/atau teknologi informasi dan komunikasi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 21 . akhlak mulia. dan muatan lokal yang relevan. serta muatan lokal yang relevan Pada satuan pendidikan SMK/MAK. teknologi informasi dan komunikasi. ilmu pengetahuan sosial. estetika. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. kewarganegaraan. ilmu pengetahuan alam. matematika. keterampilan. ilmu pengetahuan sosial. ilmu pengetahuan alam. kepribadian. 2. serta muatan lokal yang relevan 4. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. ilmu pengetahuan alam. Tujuan tersebut dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama.

dan menumbuhkan rasa sportivitas. Pendidikan Kewarganegaraan. Seni Budaya dan Keterampilan. D. Matematika. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SD/MI terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Bahasa Indonesia. Pendidikan Kewarganegaraan. dan Antropologi Program Bahasa. Sejarah Program IPA. Sejarah Program Bahasa. Seni Budaya. dan Bahasa Inggris. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan Agama Hindu. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan pendidikan jasmani. Bahasa Jerman. IPS. IPA. Bahasa Indonesia Program Bahasa. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Kelompok mata pelajaran Jasmani. Pendidikan Agama Hindu. Pendidikan Kewarganegaraan. Matematika. Bahasa Indonesia. Bahasa Jepang. Pendidikan Agama Hindu. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. olahraga. Pendidikan Agama Katolik. Keterampilan. Sosiologi. Bahasa Inggris.5. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMA/MA terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Ekonomi. Pendidikan Agama Kristen. Fisika. Pendidikan Agama Kristen. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMP/MTs terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Agama Buddha. Sastra Indonesia Program Bahasa. dan Bahasa Inggris. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SDLB A. Pendidikan Agama Kristen. dan muatan lokal yang relevan. Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Agama Katolik. IPA. Teknologi Informasi dan Komunikasi. IPA. Kimia. dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. ilmu pengetahuan alam. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. B. IPS. Seni Budaya dan Keterampilan. IPS. Pendidikan Kewarganegaraan. Bahasa Arab. Matematika Program Bahasa. Matematika Program IPS. Pendidikan Agama Katolik. Bahasa Indonesia. Sejarah Program IPS. Matematika Program IPA. pendidikan kesehatan. Olah Raga. Bahasa Indonesia Program IPA/IPS. Pendidikan Agama Buddha. Bahasa Inggris Program Bahasa. Bahasa Mandarin. Bahasa Inggris. Biologi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 22 . dan Kesehatan bertujuan: membentuk karakter peserta didik agar sehat jasmani dan rohani. Pendidikan Agama Katolik. Matematika. Geografi. Pendidikan Agama Buddha. Seni Budaya. Pendidikan Agama Hindu. Bahasa Perancis. Keterampilan. Pendidikan Agama Buddha.

Seni Budaya. Matematika. dan Pertanian. IPA. Pendidikan Agama Kristen. Bahasa Inggris. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Agama Buddha. Pariwisata. Administrasi Perkantoran dan Akuntasi. Bahasa Inggris. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Kewarganegaraan. dan peserta didik. D. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMALB A. Pendidikan Agama Hindu. Fisika Kelompok Pertanian. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Bahasa Indonesia. Pendidikan Agama Buddha. dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. dan Teknologi Kerumahtanggaan. Matematika Kelompok Sosial. IPS. Matematika Kelompok Teknologi. Pendidikan Agama Hindu. Keterampilan Vokasional/Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bahasa Indonesia. Pendidikan Kewarganegaraan. Kimia Kelompok Teknologi dan Kesehatan. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Agama Katolik. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. Biologi Kelompok Kesehatan. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMK/MAK terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Kimia Kelompok Pertanian. potensi daerah/karakteristik daerah. Pendidikan Agama Kristen. Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi. Pendidikan Agama Buddha.Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMPLB A. D. Kesehatan. Fisika Kelompok Teknologi. Matematika. Keterampilan. Pengembangan kurikulum yang disssun oleh satuan pendidikan berdampak pada perubahan dalam proses dan mekanisme penyusunan kurikulum dan orientasi kerja Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 23 . B. Bahasa Inggris. Pendidikan Agama Hindu. Pendidikan Agama Kristen. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). D. Penyususnan kurikulum juga dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan. Biologi Kelompok Pertanian. B. Pendidikan Kewarganegaraan. dan Kewirausahaan. Bahasa Indonesia. IPA. IPA. Seni Budaya. IPS. IPS. sosial budaya masyarakat setempat. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Matematika Kelompok Seni. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Seni Budaya. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam.

pengetahuan. B dan C ditetapkan oleh dinas kabupaten/kota berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan.Pendidikan/Kanwil Depag di tingkat propinsi. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut. 2. terutama dalam mengembangkan dan menerapkan kurikulum di tingkat sekolah. akhlak mulia. akhlak mulia. Sehingga pencapaian hasil pendidikan optimal sesuai dengan kondisi. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. kepribadian. potensi. dan kebutuhan satuan pendidikan. a. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. kabupaten. b. Pada buku ”Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah” yang diterbitkan oleh BSNP tahun 2006. komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan yang perlu dikembangkan oleh sekolah adalah: 1. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut. (1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 24 . Salah satu dampak tersebut adalah bahwa kurikulum tidak ditetapkan lagi secara nasional. kepribadian. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan. namun pencapaian minimalnya sama untuk setiap satuan pendidikan. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan. pengetahuan. kota dan sekolah. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. kepribadian. pengetahuan. akhlak mulia. tetapi disusun oleh masing-masing sekolah atau kelompok sekolah dengan mengacu pada standar isi dan standar kompetensi lulusan. Khusus untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya untuk program paket A. c.

olahraga dan kesehatan Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 Pasal 7. tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. sesuai kebutuhan. potensi. sebagai berikut. Ini berarti bahwa dalam satua tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran. a. Mata pelajaran Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi. c. yang materinya belum tertuang pada mata pelajaran yang ada. Perlu diperhatikan bahwa bagi satuan pendidikan yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi memungkinkan menambah atau menyesuaikan mata pelajaran dan alokasi waktunya.(2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian (3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi (4) Kelompok mata pelajaran estetika (5) Kelompok mata pelajaran jasmani. Kegiatan Pengembangan Diri Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran sehingga tidak harus dirumuskan dalam bentuk standar kompetensi dan kompetensi dasar. Satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Dinas pendidikan dapat mengkoordinasikan pengembangan muatan lokal sejenis untuk satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. atau keunggulan daerah. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. b. Muatan Lokal Muatan lokal merupakan mata pelajaran yang isinya disesuaikan dengan ciri khas. Satuan pendidikan dapat mengembangkannya dalam bentuk program kegiatan yang berisi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 25 .

kepemimpinan. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa Pemerintah mengkategorikan sekolah/ madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri. Kegiatan ini difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor.. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. belajar. Untuk satuan pendidikan khusus menekankan pada peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Khusus untuk sekolah menengah kejuruan pengembangan diri terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem SKS. Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/SMALB /SMK/MAK kategori standar dapat menggunakan sistem paket atau sistem SKS. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. Pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap. Penambahan maksimum empat jam. dan kelompok ilmiah remaja. di samping dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di dalam Standar Isi. Pengaturan Beban Belajar Di dalam penjelasan PP No. tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran.tujuan kegiatan dan bentuk dan pengelolaan kegiatan. guru. dan sekolah/ madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif. tidak terlepas kaitannya dari struktur kurikulum sebagai Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 26 . atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh satuan pendidikan SD/MI/SDLB. 3. dan pengembangan karier peserta didik serta dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler seperti keparamukaan.

Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. tentu dapat menambah jam sesuai dengan kondisi. Alokasi waktu untuk praktik. yang sifatnya minimal. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK yang menggunakan sistem SKS mengikuti aturan sebagai berikut. 20 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.50% dan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK 0% . Kenaikan Kelas dan Kelulusan Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. Ketuntasan Belajar Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%.bagian dari standar isi. SMP/MTs/SMPLB 0% . dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. 5. 25 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. potensi dan kebutuhan. penugasan terstruktur. Bagi satuan pendidikan dan komite yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket untuk SD/MI/SDLB 0% . Alokasi waktu untuk tatap muka. Satu SKS pada SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: 45 menit tatap muka.40%. Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait. Satu SKS pada SMP/MTs terdiri atas: 40 menit tatap muka. 4. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal.60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. a. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. Sesuai dengan ketentuan PP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 27 . b. Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka.

kecakapan sosial. Penjurusan Penjurusan dilakukan pada kelas XI dan XII di SMA/MA. dan kelompok mata pelajaran jasmani. dan kesehatan. Keempat syarat diatas bersifat ururtan prasyarat. Apabila satuan pendidikan telah mengembangkan dan menerapkan kurikulum yang mengacu standar isi dan SKL (apalagi kurikulum dengan standar lebih tinggi). Materi ujian nasional dikembangkan tentu mengacu kepada Standar Isi dan SKL yang sifatnya minimal. b. olahraga. dan tentu saja belum bisa mengikuti ujian nasional. kelompok kewarganegaraan dan kepribadian. kecakapan akademik dan/atau kecakapan vokasional. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. Kriteria penjurusan diatur oleh direktorat teknis terkait. lulus Ujian Nasional. dan d. SMP/MTs/SMPLB. menyelesaikan seluruh program pembelajaran. c. yang mencakup kecakapan pribadi. SMK/MAK dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup.19/2005 Pasal 72 Ayat (1). peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah: a. 7. SMA/MA/ SMALB. Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian integral dari pendidikan semua mata pelajaran dan/atau berupa paket/modul yang direncanakan secara khusus. belum bisa mengikuti ujian sekolah. Pendidikan Kecakapan Hidup Kurikulum untuk SD/MI/SDLB. lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. artinya seorang peserta didik yang belum menyelesaikan seluruh program pemebelajaran berarti belum mendapat nilai baik untuk kelompok non iptek. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 28 . 6. tentunya siap untuk mengikuti ujian nasional. kelompok mata pelajaran estetika.

Bagi sekolah yang belum memungkinkan memberikan pendidikan kecakapan hidup. dan penugasan perseorangan atau Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 29 . yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik. Silabus Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran. bahasa. ekologi. dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan/atau dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal. Kurikulum untuk semua tingkat satuan pendidikan dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. budaya. penilaian hasil pembelajaran. observasi. dan lain-lain. dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana yang dimuat dalam Standar Isi. kebutuhan peserta didik dan masyarakat. dapat meminta peserta didik untuk mendapatkannya dari satuan pendidikan formal dan non formal lainnya. tes praktek. 9. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi. pelaksanaan proses pembelajaran. Teknik penilaian tersebut dapat berupa tes tertulis. 8. 10. Kalender Pendidikan Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah. karakteristik sekolah. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi. yang dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran dan juga dapat menjadi mata pelajaran muatan lokal. Penilaian yang dimaksud menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik. teknologi informasi dan komunikasi.

indikator. dan Dinas Pendikan. alokasi waktu. Sedangkan unit waktu silabus diatur sebagai berikut: a. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG). kondisi sekolah dan lingkungannya. Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran. c. serta teknik penilaiannya sesuai dengan karakteristik hasil pembelajaran dan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. Di dalam panduan penyusuan kurikulum disebutkan bahwa silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi. Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah. dan sumber/bahan/alat belajar. dan penilaian hasil belajar.kelompok. Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester. per tahun. a. b. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran. dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok. Disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik siswa. sumber belajar. materi dan metode pengajaran. kompetensi dasar. kegiatan pembelajaran. kegiatan pembelajaran. materi pokok/pembelajaran. dengan memperhatikan hal berikut. Khusus untuk SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi. Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. penilaian. Silabus dan RPP merupakan bagian tak terpisahkan dari komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan. dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 30 .

nantinya diperinci dalam RPP. potensi. keterkaitan antar kompetensi dalam satu mata pelajaran atau antar mata pelajaran. Di SD/MI semua guru kelas. menyusun silabus secara bersama.b. Materi ini. c. a. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 31 . atau tema yang bersifat kontekstual dan dipilih sesuai dengan kondisi. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi. c. e. Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik. peserta didik dengan guru. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran Materi ini dapat berupa konsep. lingkungan. Satuan pendidikan yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. Langkah-langkah Pengembangan Silabus dapat dilakukan sebagai berikut. tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI. Di SMP/MTs untuk mata pelajaran IPA dan IPS terpadu disusun secara bersama oleh guru yang terkait. Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri. sebaiknya bergabung dengan sekolah-sekolah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolahsekolah dalam lingkup MGMP/PKG setempat. dari kelas I sampai dengan kelas VI. pokok bahasan. tentu perlu mengembangkan silabus yang sesuai b. karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik. maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah tersebut. Sekolah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri. d. dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar.

e. Menentukan Alokasi Waktu Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar. potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. pengetahuan. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Kegiatan pembelajaran dalam silabus merupakan pokok-pokok kegiatan siswa untuk mencapai kompetensi. dan penilaian diri. satuan pendidikan. pengamatan kinerja. mata pelajaran. agar penjabaran kompetensi lebih jelas. penggunaan portofolio. Cakupan jenis penilaian dalam silabus tentu harus mengakomodasi kompetensi dan indikator yang telah dirumuskan. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. d. 6. keluasan. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan. pengukuran sikap. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap. penilaian hasil karya berupa tugas. dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Karena indikator dirumuskan dari kompetensi dasar berarti setiap kompetensi dasar memiliki lebih dari satu indikator. dapat dimasukkan bentuk penilaian dan jenis tugas yang perlu dilakukan siswa untuk melihat pencapaian kompetensi siswa. rinci dan terukur. tingkat kesulitan.melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Penentuan Jenis Penilaian Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 32 . dan keterampilan. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. proyek dan/atau produk. Di dalam penilaian. yang nantinya diperinci dalam RPP. kedalaman.

dan alokasi waktu untuk mencapai satu kompetensi dasar atau beberapa indikator dalam silabus tersebut. b. Materi Ajar Materi ajar dirumuskan dari materi pokok atau materi pembelajaran pada silabus yang dapat berupa rincian secara runtut subpokok bahasan atau subtema. kebutuhan dan daya dukung sumber daya satuan pendidikan dan siswa. potensi. 11. 7. Metode Metode atau strategi pembelajaran yang dituangkan dalam RPP merupakan bentuk kegiatan dan organisasi kelas yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. sosial. langkah-langkah pembelajaran. Metode dan organisasi pembelajaran dapat berupa diskusi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 33 .Silabus tidak harus dirancang untuk satu kali pertemuan (tatap muka). yang berupa media cetak dan elektronik. kegiatan pembelajaran. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran. tetapi dirancang satu kompetensi atau sekelompok kompetensi. Tujuan pembelajaran Tujuan pembelejaran dirumuskan dalam bentuk uraian proses kegiatan belajar dan kemampuan atau hasil belajar peserta didik untuk mencapai kompetensi atau indikator yang telah dirumuskan dalam silabus. sumber belajar. metode. dan indikator pencapaian kompetensi. narasumber. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan penjabaran sistematis dan terurut dari silabus yang dituangkan dalam tujuan pembelajaran. objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Dengan demikian alokasi waktu yang ditetapkan dalam silabus dapat lebih dari satu kali pertemuan. Menentukan Sumber Belajar Sumber belajar adalah rujukan. penilaian hasil belajar. c. Pemilihan materi ajar ditentukan oleh kondisi. serta lingkungan fisik. alam. materi ajar. dan budaya. a.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian. (1) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi. termasuk menjelaskan tujuan pembelajaran.informasi. atau rangkuman hasil belajar. penugsan. (1) Kegiatan awal Kegiatan ini dapat berupa apersepsi. Pelaksanaan penilaian terintegrasi dalam selama kegiatan belajar berlangsung. penugasan lebih lanjut atau lebih mendalam. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 34 . d. Langkah pembelajaran Langkah pembelajaran dirumuskan dan dirinci dari pokok-pokok kegiatan belajar yang telah ditetapkan dalam silabus sehingga kegiatan belajar menjadi efektif. Penilaian Penilaian ini memuat rincian bentuk. dan sebagainya. diskusi. problem solving. yang biasanya dilengkapi dengan LK (lembar kerja) atau lembar tugas. atau rencana pembelajaran yang dirancang dalam satu pertemuan atau beberapa pertemuan. (2) Kegiatan inti Kegiatan ini merupakan kegiatan dan organisasi belajar secara yang bervariasi dan terurut sistematis untuk mencapai kompetensi dan beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. (3) Penutup Kegiatan penutup dari RPP dapat diisi dalam bentuk refleksi (perenungan) tentang pencapaian hasil belajar. kerja kelompok. review (mengulang beberapa hal yang bersifat prasyarat). e. Langkah pembelajaran memuat bentuk kegiatan belajar dan strategi pengorganisasian belajar kelas serta urutan kegiatannya sebagai berikut. tanya jawab. kegiatan problem solving aplikasi yang berkaitan dengan materi ajar. RPP merupakan persiapan. skenario. contoh penilaian dan pedoman penskoran dari bentuk penilaian dan jenis tugas yang telah dirumuskan dalam silabus.

dan alat bantu belajar yang digunakan untuk mencapai kompetensi atau beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. bahan. media. program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan. dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya. termasuk cara penggunaannya. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 35 . alat. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya. f. g. Sumber Belajar Sumber belajar meliputi bahan ajar.(2) Penilaian menggunakan acuan kriteria. (3) Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. serta untuk mengetahui kesulitan siswa. yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. (5) Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara. Alokasi waktu RPP dirancang menggunakan jam pembelajarn sehingga alokasi waktunya merupakan perkiraan jumlah jam pelajaran yang diperlukan untuk untuk mencapai kompetensi atau beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. Misalnya. termasuk perlu diperjelas proporsi waktu untuk kegiatan awal. dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan. maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan. kegiatan inti dan penutup. (4) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih. kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum. Di sini perlu dijelaskan ketersediaan dan banyaknya sumber belajar.

kondisi dan kebutuhannya. Satuan pendidikan perlu memiliki. Pada Permendiknas No.E. potensi dan kebutuhan satuan pendidikan. Setiap satuan pendidikan yang akan mengembangkan kurikulum perlu memiliki dokumen yang berisi ketentuan-ketentuan di atas. maka satuan pendidikan dapat menyesuaikan alokasi waktu pada struktur kurikulum. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. pendalaman kompetensi. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 sampai dengan Pasal 38. Dengan mengembangkan dan menerapkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. potensi dan kebutuhan satuan pendidikan. penerapan atau pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan diatur dalam Permendiknas No. sesuai dengan kondisi. mengatur sistem beban belajar. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 24 tahun 2006 disebutkan bahwa: (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan berdasarkan pada : a. sesuai dengan kondisi. mengatur sistem akselerasi atau percepatan belajar dan sebagainya. Kurikulum dengan standar lebih tinggi dapat berupa penambahan lingkup materi dan kompetensi. c. mengkaji. sesuai potensi. PENERAPAN STANDAR ISI DAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Implementasi. b. penambahan mata pelajaran atau penambahan muatan lainnya. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 36 . dan memahami dokumen tersebut agar dapat mengembangkan kurikulum secara optimal. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 5 sampai dengan Pasal 18. 22 dan No. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. dan Pasal 25 sampai dengan Pasal 27. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. d. 23 tahun 2006 Standar isi dan standar kompetensi lulusan merupakan ketentuan yang bersifat minimal sehingga satuan pendidikan dimungkinkan menyusun kurikulum dengan standar lebih tinggi. mengatur kalender pendidikan. 22 tentang standar isi dan Permendiknas No. 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan.

Panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan masih bersifat umum sehingga hal-hal lebih lanjut dan rinci perlu ditetapkan sendiri oleh satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. 24 tahun 2006 disebutkan bahwa: (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menerapkan Permendiknas No. Mengenai mekanisme dan strategi pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan. Perlu dikritisi bahwa pengembangan dan penetapan kurikulum merupakan tanggung jawab sekolah sehingga sekolah perlu secara mandiri menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan kurikulum dengan tetap mengacu pada ketentuan yang ada seperti pada UU sisdiknas. 23 dan 24 tahun 2006. 23 Tahun 2006. 23 Tahun 2006 mulai tahun ajaran 2006/2007.(3) Pengembangan dan penetapan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah memperhatikan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa penetapan kurikulum satuan pendidikan merupakan tanggung jawab satuan pendidikan dan komitenya. Hal ini untuk mengakomodasi kemungkinan terdapat satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan yang belum siap mengembangkan kurikulum sendiri. PP Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas pelaksanaannya. (5) Kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah. 22 dan No. tetapi harus menerapkan kurikulum sesuai dengan Permendiknas No. Standar Kompetensi Lulusan dan ketentuan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 37 . Pertimbangan komite dapat berarti berupa persetujuan setelah KTSP disusun oleh sekolah atau komite berpatisipasi aktif dan bekerjasama dalam proses penyusunan kurikulum dengan sekolah/madrasah. di dalam Permendiknas No. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa satuan pendidikan memungkinkan menerapkan Permendiknas No. 22 dan No. setelah tahun 2006 sampai tahun 2009 Standar Isi. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa pada dasarnya satuan pendidikan tidak diharuskan mengembangkan kurikulum apabila belum memiliki kesiapan berbagai sumber daya yang diperlukan. (4) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengadopsi atau mengadaptasi model kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun oleh BSNP. 22.

: kelas 1.apabila kondisi satuan pendidikan belum siap.2. mempelajari dokumen yang diperlukan. 22 dan No. dan 5. Untuk sekolah menengah pertama (SMP). dan sejenisnya. : kelas 1.3.2. dengan tahapan: a Untuk sekolah dasar (SD). 22 dan No. madrasah ibtidaiyah (MI). madrasah tsanawiyah (MTs). (3) Satuan pendidikan dasar dan menengah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang telah melaksanakan uji coba kurikulum 2004 secara menyeluruh dapat menerapkan secara menyeluruh Permendiknas No. situasi belum memungkinkan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 38 . 22 dan No. dan sekolah menengah atas luar biasa (SMALB) : . : kelas 1 dan 2. dan 3. sekolah menengah atas (SMA).tahun I .4. 23 Tahun 2006 untuk semua tingkatan kelasnya mulai tahun ajaran 2006/2007.4. 23 Tahun 2006 paling lambat tahun ajaran 2009/2010.tahun I . 23 Tahun 2006. madrasah aliyah kejuruan (MAK). Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa satuan pendidikan memungkinkan menerapkan Permendiknas No. (4) Satuan pendidikan dasar dan menengah yang belum melaksanakan uji coba kurikulum 2004. sekolah menengah kejuruan (SMK). melaksanakan Permendiknas No.tahun II . madrasah aliyah (MA). 23 Tahun 2006 secara bertahap dalam waktu paling lama 3 tahun. sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB). atau mungkin menerapkannya secara bertahap mulai melengkapi perangkat pendukung. : kelas 1.tahun III b : kelas 1 dan 4. 22 dan No.tahun III : kelas 1. dan sekolah dasar luar biasa (SDLB): . (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah harus sudah mulai menerapkan Permendiknas No. (5) Penyimpangan terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir (2) di atas dapat dilakukan setelah mendapat izin Menteri Pendidikan Nasional.2.5 dan 6.tahun II . setelah setelah tahun 2009 apabila kondisi satuan pendidikan belum siap disebabkan kondisi.

23 Tahun 2006.Peran Pemerintah dan Pemerintah Daerah pada implementasi atau penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dalam Permendiknas No.Permendiknas No. 22 dan No. 23 Tahun 2006. 22 dan No. 23 Tahun 2006. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 39 . untuk satuan pendidikan menengah dan satuan pendidikan khusus. 23 Tahun 2006 sesuai dengan keperluan berdasarkan pemantauan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada butir (1). 22 dan No. memiliki tugas berikut: (1) menggandakan Permendiknas No. Di dalam Permendiknas No. (2) Bupati/walikota dapat mengatur jadwal pelaksanaan . untuk satuan pendidikan dasar. walikota dan menteri Agama lebih berperan dalam pengaturan jadwal atau mengkoordinasikan pelaksanaan Permendiknas No. Peran satuan pendidikan tetap merupakan pelaksana dalam penerapan Permendiknas tersebut dan semua satuan pendidikan dalam suatu wilayah tidak harus melaksanakan secara serempak. BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) memilki tugas sebagai berikut. untuk satuan pendidikan madrasah ibtidaiyah (MI). pada tingkat satuan pendidikan. serta mendistribusikannya kepada setiap satuan pendidikan secara nasional. Sedangkan. 23 Tahun 2006. 22 dan No. (2) BSNP dapat mengajukan usul revisi . Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa gubernur. 24 tahun 2006 juga disebutkan bahwa: (1) Gubernur dapat mengatur jadwal pelaksanaan Permendiknas No. madrasah aliyah (MA). disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di provinsi masing-masing. (1) BSNP melakukan pemantauan perkembangan dan evaluasi pelaksanaan Permendiknas No. tetapi disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan. untuk mendukung dan mendorong satuan pendidikan dalam menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. madrasah tsanawiyah (MTs). 22 dan No. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan yang bersangkutan. 24 tahun 2006. bupati. dan madrasah aliyah kejuruan (MAK). disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di kabupaten/kota masing-masing (3) Menteri Agama dapat mengatur jadwal pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. secara nasional.Permendiknas No. 23 Tahun 2006. 23 Tahun 2006. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. 22 dan No.

memiliki tugas berikut: (1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. memiliki tugas berikut: (1) mengembangkan model-model kurikulum sebagai masukan bagi BSNP. (2) mengembangkan dan mengujicobakan model-model kurikulum inovatif. terhadap guru. memiliki tugas berikut: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 40 . (2) melakukan sosialisasi Permendiknas No. melalui LPMP. kepala sekolah. 22 dan No. (5) memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. mengevaluasinya. dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri. 22 dan No. 23 Tahun 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional. dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP kepada dinas pendidikan provinsi. (3) membantu pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam penjaminan mutu satuan pendidikan dasar dan menengah agar dapat memenuhi Permendiknas No. 23 Tahun 2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. (4) bekerjasama dengan perguruan tinggi dan/atau LPMP melakukan pendampingan satuan pendidikan dasar dan menengah dalam pengembangan kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah. (3) mengembangkan dan mengujicobakan model kurikulum untuk pendidikan layanan khusus. 23 Tahun 2006. 22 dan No. 23 Tahun 2006 Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan:. 22 dan No. dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP. dan dewan pendidikan. 23 Tahun 2006. (6) mengembangkan pangkalan data yang rinci tentang pelaksanaan Permendiknas No. dan tenaga kependidikan lainnya yang relevan melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan/atau Pusat Pengembangan dan Penataran Guru (PPPG). 22 dan No. 23 Tahun 2006. pengawas. 22 dan No.(2) melakukan usaha secara nasional agar sarana dan prasarana satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mendukung penerapan Permendiknas No. dinas pendidikan kabupaten/kota.

mengkoordinasikan. Nomor 0126/U/1994 tentang Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. Dengan berlakunya Permendiknas No. mengatur jadwal. mengevaluasi dan melaksanakan kurikulum sesuai dengan standar isi dan standar kompetensi lulusan. Satuan pendidikan dan komite berperan dalam mengembangkan. memantau. 23 Tahun 2006. c. 22 dan No. Nomor 060/U/1993 tentang Kurikulum Pendidikan Dasar. 22 dan No. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan : a. kepada pemangku kepentingan umum. 23 Tahun 2006. dan mengevaluasi pelaksanaan Permendiknas No. Sedangkan Departemen lain yang menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah : (1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. (2) mengusahakan secara nasional sesuai dengan kewenangannya agar sarana. Nomor 080/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan. dan sumber daya manusia satuan pendidikan yang berada di bawah kewenangannya mendukung Permendiknas No. 22 dan No. dinyatakan tidak berlaku bagi satuan pendidikan dasar dan menengah sejak satuan pendidikan dasar dan menengah yang bersangkutan melaksanakan Permendiknas No. Dari ketentuan Permendiknas No. gubernur. b. di kalangan (2) memfasilitasi pengembangan kurikulum dan tenaga dosen LPTK yang mendukung pelaksanaan Permendiknas No. Nomor 061/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Umum. 22 dan No. 24 Tahun 2006. 22 dan No. komite satuan pendidikan. 23 Tahun 2006 sesuai dengan kewenangannya dan berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan Nasional. 24 tahun 2006 jelas bahwa efektifitas pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan ditentukan oleh komitmen dan peran satuan pendidikan. bupati/walikota. dan d. 22 dan No. menyusun. departemen agama dan departemen lain yang terkait). memonitor dan mendorong satuan pendidikan untuk menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. prasarana. Bupati/walikota dan gubernur berperan dalam melakukan sosialisasi. Departemen pendidikan nasional memiliki peran Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 41 . 24 Tahun 2006.(1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. 23 Tahun 2006 (3) melakukan supervisi. dan pemerintah (departemen pendidikan nasional. lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK). 23 Tahun 2006 sesuai dengan kewenangannya. 23 Tahun 2006 Sekretariat Jenderal melakukan sosialisasi Permendiknas No.

Departemen agama dan departemen lain terkait berperan dalam melakukan sosialisasi.dalam melakukan sosialisasi. Monitoring (pemantauan) secara umum dimaknai sebagai sebuah kegiatan yang berfungsi untuk melihat kesesuaian rencana program implementasi kurikulum dengan pelaksanaan yang terjadi yang mencakup semua aspek dalam implementasi kurikulum diantaranya : Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 42 . mengevaluasi dan mendorong satuan pendidikan di bawah kewenangannya untuk menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. maupun outputnya. dan memonitor satuan pendidikan dalam penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan. mengkoordinasikan. mengatur jadwal. Monitoring tersebut dapat dilakukan mulai dari perencanaan (termasuk needs analysis) . F. proses dan pelaksanaan. mengusahakan sarana dan prasarana. evaluasi dan supervisi. Keitga istilah tersebut pada dasarnya tidak terpisahkan satu sama lain karena sama-sama digunkan dalam konteks menyempurnakan atau memperbaiki program dan hasil pelaksanaan implementasi kurikulum. Semua istilah tersebut secara umum mengacu pada fungsi pengawasan pelaksanaan program implementasi kurikulum. workshop. Dalam kaitannya dengan peningkatan mutu implementasi kurikulum. SISTEM MONITORING KURIKULUM Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas keberhasilan implementasi kurikulum yang dilakukan oleh suatu lembaga adalah melakukan monitoring terhadap program tersebut. mengeluarkan kebijakan teknis. terdapat berbagai istilah yang hampir sepadan yaitu monitoring. Proses dan kedudukan monitoring dapat digambarkan sebagai berikut : Analisis SWOT Implementasi kurikulum Evaluasi dampak MONITORING Disain dan perencanaan kurikulum Pelaksanaan kurikulum Monitoring merupakan bagian dari bentuk pengendalian (control) yaitu proses yang memastikan bahwa aktifitas aktual (yang terjadi) sesuai dengan aktifitas yang direncanakan.

Hasil evaluasi biasanya dipergunakan untuk memperbaiki program implementasi kurikulum yang akan dilakukan berikutnya. ketepatan dalam mengidentifikasi dampak implementasi kurikulum. 1988 mendefiniisikan evaluasi adalah proses pengumpulan data yang sistematis untuk mengukur evektivitas. evaluasi hasilnya lebih dipergunakan untuk perbaikan program implementasi kurikulum berikutnya walaupun pelaksanaan evaluasi dapat dilakukan pada saat implementasi kurikulum berlangsung. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memperbaiki program implementasi kurikulum yang sedang berjalan. Suatu kegiatan evaluasi diharapkan dapat mengukur keberhasilan apakah tujuan implementasi kurikulum yang ditetapkan dapat dicapai. ketepatan dalam pelaksanaan implementasi kurikulum. ketepatan perencanaan program kurikulum. Terdapat berbagai konsep mengenai supervisi. Monitoring memiliki cakupan prosedur dan cakupan proses lebih luas dari sekedar yang dilakukan dalam pekerjaan evaluasi atau supervisi. Fungsi monitoring mencakup tiga unsur utama: (1) Menetapkan standar ketepatan program implementasi kurikulum. efisiensi. supervisi merupakan suatu aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu program pendidikan dan tenaga pendidik dan kependidikan dalam melakukan profesi mereka secara efektif. sedangkan supervisi lebih menekankan pada perbaikan pembelajaran secara langsung yang diberikan oleh fasilitator atau narasumber. LAN mendefinisikan evaluasi sebagai proses atau kegiatan untuk menentukan kemajuan implementasi kurikulum dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan dan usaha untuk memperoleh informasi atau umpan balik bagi penyempurnaan program implementasi kurikulum. supervisi merupakan program berencana untuk memperbaiki pengajaran. Dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistimatis untuk melihat apakah sebuah program implementasi kurikulum telah berhasil dan efisien dalam pelaksanaannya. Evaluasi menurut the trainer’s Library. Dari ketiga pengertian di atas tampak bahwa monitoring digunakan untuk memperbaiki proses implementasi kurikulum yang sedang berjalan untuk mengoptimalkan hasil. Standar diuraikan atau dirumuskan dalam bentuk kriteria hasil monitoring. Salah satu pengertiannya. Secara sederhana.ketepatan perumusan analisis kebutuhan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 43 . akuntabilitas dan relevansi program implementasi kurikulum.

keterampilan manusiawi dalam bekerja dengan orang lain. Ini sangat mudah dilakukan karena pada dasarnya manusia sebagai Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 44 . yang dapat diilustrasikan sebagai berikut. Teknik – teknik monitoring dan penerapannya. menentukan apakah terdapat penyimpangan. merancang sistem umpan balik informasi. dan mengambil tindakan perbaikan. memahami orang lain. Penetapan standar dan metode monitoring implementasi kurikulum Monitoring Apakah kinerja sesuai standar? tidak Pengambilan tindakan perbaikan Selesai ya Monitoring harus dilakukan oleh seseorang yang berkompeten sesuai dengan bidang yang akan dimonitor. Hasilnya dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan.(2) Memantau dan mengukur aktifitas program yang sedang berjalan dengan menggunakan teknik monitoring tertentu. 1. membandingkan kinerja aktual dengan standar yang ditetapkan. dan memotivasi orang lain. (3) Mengambil tindakan dalam bentuk pemberian bantuan. Model monitoring yang konvensional atau tradisional adalah yang bersifat mencari kesalahan. Kompetensi meliputi keterampilan teknis dalam menggunakan prosedur kerja dalam program implementasi kurikulum. Unsur-unsur pokok dalam proses monitoring adalah penetapan standar ketepatan program implementasi kurikulum. pengembangan dan penyelenggaraan program implementasi kurikulum. pengarahan. serta keterampilan konseptual dalam mengkoordinasi dan memadukan berbagai kepentingan dan kegiatan dalam implementasi kurikulum. Kompetensi yang dimaksud di sini tentu kompetensi atau kemampuan profesional yang terkait langsung dengan perencanaan. penyelesaian masalah bersama untuk memperbaiki program yang belum sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Pendekatan yang digunakan dalam monitoring dapat berupa pendekatan langsung (direct). penilaian diri. observasi (pengamatan).Wawancara mengenai analisis kebutuhan : pewawancara harus mengetahui apakah kebutuhan – kebutuhan proram implementasi kurikulum sudah sesuai dengan apa yang diharapkan ? . dekat dan terbuka. atau metode pengumpulan data lainnya. dikembangkan.penyelenggara implementasi kurikulum. serta umpan balik (feedback) yang diberikan harus secepat mungkin dan objektif untuk segera dilakukan perbaikan. silabus dan bahan ajarnya telah lengkap sesuai dengan tujuan dan sistematis serta terarah ? Hal yang terpenting dalam melakukan wawancara adalah pewawancara sudah mempersiapkan diri dengan pedoman wawancara yang isinya memuat semua aspek – aspek yang akan dimonitor. Metode wawancara dapat dilakukan secara tertulis ataupun langsung. Monitoring perlu dilakukan secara ilmiah yang terencana. memiliki banyak kekurangan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 45 . hambatan. Dalam melakukan wawancara perlu diperhatikan bahwa kegiatan ini tidak mengganggu semua aspek program implementasi kurikulum. yaitu memberi bantuan dan arahan secara langsung atau pendekatan tidak langsung (indirect) di mana pemonitor mendengar keluhan. Dalam monitoring yang ditekankan adalah bantuan agar program implementasi kurikulum terlaksana sesuai tujuan. Misalnya : . suasana yang hangat.Wawancara tentang perencanaan kurikulum : pewawancara harus mengetahui dan menngidentifikasi apakah struktur program kurikulum. kemudian mendiskusikan pemecahan atau solusi dari problem dan hambatan yang dihadapi. Dalam metode ini yang perlu dilakukan bahwa pewawancara harus memiliki aspek – aspek apa saja yang perlu diketahui atau dimonitor sebagai bagian dari monitoring. Metode monitoring dapat berupa : konsultasi atau wawancara. dikombinasikan dan dilakukan secara terpadu (terintegrasi) agar proses monitoring dapat berjalan secara efisien dan sesuai sasaran. kuesioner. Metode-metode ini dikemas. atau kesulitan penyelenggara pendidikan. dipilih dan ditetapkan sebagai bagian dari tahapan – tahapan implementasi kurikulum. sistematis dan menggunakan instrumen tertentu. Metode – metode ini harus sudah direncanakan. Cara ini tentu saja tidak sesuai dengan tujuan monitoring dan berdampak pada sikap acuh tak acuh atau menentang dari pihak penyelenggara program.

yaitu : menguraikan hasil pengamatan secara komprehensif dan ditulis secara lengkap dalam sebuah laporan.Metode observasi biasanya digunakan untuk mengamati unjuk kerja (kinerja) dari setiap orang yang terlibat dalam kegiatan program implementasi kurikulum. observasi dapat pula dilakukan oleh penyelenggara (guru. Dalam melakukan observasi perlu dillakukan dalam situasi yang wajar (tidak mengganggu program pembelajaran). Selain menggunakan format observasi secara khusus. mencatat hal-hal yang penting dan menekankan pada upaya perbaikan program implementasi kurikulum. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan yang memuat aspek – aspek yang akan dilihat saat monitoring dilakukan. cukup baik dan baik. Unjuk kerja untuk setiap aspek yang dimonitor dapat dikategorikan dalam bentuk laporan teramati (tepat) atau tidak teramati (tidak tepat). laporan ini dianalisis untuk diperoleh hal-hal atau aspek apa saja yang perlu diperbaiki dan ditindaklanjuti agar segera dilakukan perbaikan program implementasi kurikulum. pemonitor dapat juga menggunakan metode deskripsi. atau pengawas sekolah). Boleh juga digunakan sekala rentang. perekam suara (tape recorder) hasil wawancara atau kegiatan lainnya. serta data yang dihasilkan haruslah faktual dan bukan opini pemonitor. misalkan suatu aspek ditunjukkan melalui empat kategori yaitu : tidak baik. Selain oleh pemonitor dari penyelenggara implementasi kurikulum. Alat bantu lain yang sangat berguna dalam metode observasi/wawancara adalah kamera untuk bukti dokumentasi pelaksanaan implementasi kurikulum. Selanjutnya. dan peralatan audio visual (video) sebagai dokumentasi pelaksanaan implementasi kurikulum. kepala sekolah. kurang baik. Hal ini dapat memberikan beberapa manfaat: (1) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan akan belajar bagaimana menganalisis peristiwa yang dialami sendiri selama program implementasi kurikulum berlangsung (2) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan dapat memperoleh pengalaman dalam memberi umpan balik perbaikan implementasi kurikulum secara langsung (3) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan akan belajar bagaimana menggunakan sumber daya yang dipakai untuk melakukan analisis. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 46 .

Alat penilaian diri dapat berupa daftar ceklis tentang pandangan/pendapat. dan keakuratan jawaban. atau penilaian diri) dapat diperoleh secara langsung oleh petugas kuesioner kepada responden. atau pernyataan sikap. Aspek lain yang tidak mungkin dimonitor melalui kuesioner dapat dimonitor melalui observasi atau teknik monitoring lainnya. melalui pos atau dengan alat bantu teknologi informasi melalui internet (website). Dalam kegiatan pengembangan instrument monitoring diawali dengan kegiatan mengidentifikasi aspek yang akan dimonitor. baru dilakukan pengembangan instrument monitoring dan pedoman yang memuat criteria hasil monitoring. dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan tertulis yang telah disiapkan. Yang terpenting dalam pengembangan kuesioner harus memperhatikan aspek kepraktisan. daya inovasi dan kreasi dari guru. atupun fihak lain yang terkait). Penilaian diri cukup bermanfaat untuk dilakukan karena pelaksana akan lebih jujur mengungkapkan pendapatnya tentang pelaksanaan program implementasi kurikulum. Dilanjutkan dengan pemilihan teknik monitoring yang tepat. Kuesioner dengan jawaban (options) tertutup mudah dianalisis tetapi tidak memberi peluang responden memberi tanggapan lain yang mungkin sangat berguna. Walaupun perlu dilakukan kroscek atau verifikasi dengan sumber data yang lain untuk mendapat informasi yang lebih otentik. 2. Kuesioner dengan jawaban terbuka memberi peluang pada responden menyatakan pendapatnya secara bebas tetapi memerlukan waktu untuk menganalisis dan melakukan perbaikan program implementasi kurikulum. Monitoring melalui pos atau internet lebih membutuhkan keaktifan dan proaktif dari pihak responden. kepala sekolah. Kuesioner dapat berupa pertanyaan dengan jawaban tertutup. pengawas dan fihak lain yang relevan. kegunaan informasi yang dijaring. Dengan demikian sebelum Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 47 . Data dan informasi dari monitoring secara tertulis (kuesioner. terbuka. Penilaian diri merupakan salah satu bentuk kuisioner yang khusus ditujukan kepada fihak pelaksana penyelenggara pendidikan untuk melakukan evaluasi diri misalnya mengenai tanggapan tentang komitmen.Metode kuesioner biasanya digunakan untuk memonitor. angket. Pengembangan instrumen monitoring. yang disusun dalam bentuk pertanyaan tertutup atau terbuka. kepala sekolah. Dalam metode ini semua aspek yang dimonitor informasinya didapatkan melalui pertanyaan atau pernyataan tertulis yang diberikan pada sumber data (guru.

Subaspek Standar Isi (SI) Teknik monitoring Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 2. Aspek yang dimonitor 1. Pelaksanaan SI dan SKL Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 2.pengembangan instrument monitoring perlu disusun kisi – kisi instrumen monitoring yang secara umum dapat ditampilkan dalam contoh tabel kisi-kisi berikut. Kesiapan orangtua dan masyarakat Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Observasi Lembar observasi Panduan Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 3. Pengembangan Silabus dan RPP Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Bentuk instrumen Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 48 . Pelaksanaan atau penerapan kurikulum oleh satuan pendidikan 8. Kemampuan dan kesiapan sumber daya pendidikan 4. Kemampuan dan kesiapan pendidik Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 5. Pemahaman dan persepsi tentang kebijakan kurikulum 1. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 3. Kemampuan dan kesiapan tenaga kependidikan Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 6. Sosialisasi SI dan SKL Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 9. Kesiapan sarana dan prasarana Tertulis Observasi Wawancara 7. Pengembangan Kurikulum (KTSP) Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 10.

Penerapan pembelajaran di sekolah Observasi Wawancara Panduan Wawancara Panduan Observasi Lembar observasi Aspek yang dimonitor mencakup semua komponen – komponen penting mulai dari perencanaan kurikulum. pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan. Misalkan sub aspek isi silabus dapat dirinci menjadi lima komponen yaitu : 1. ketepatan menentukan kompetensi yang akan dicapai. hambatan. evaluasi efektifitas dampak pelaksanaan kurikulum.. Setiap aspek atau sub aspek tersebut dapat di jabarkan kedalam aspek yang lebih kecil. pemetaan kebutuhan implementasi kurikulum. Isi silabus. Hal ini agar mempermudah dalam melakukan monitoring nantinya. Aspek – aspek yang lebih rinci akan mampu menggambarkan pelaksanaan implementasi kurikulum dengan baik atau tidak suatu implementasi kurikulum dilaksanakan. penyusunan instrument TNA. 2. Pengembangan Penilaian Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 12. serta analisis kekuatan. peluang. Isi bahan ajar. 1. yang meliputi:. Aspek pemahaman dan persepsi. dan tantangan untuk penyempurnaan kurikulum. kelemahan. serta akan meningkatkan nilai ketepatan pengamatan. yang mencakup sub-subaspek: Isi struktur program implementasi kurikulum. Aspek Perencanaan implementasi kurikulum. yang mencakup sub-subaspek berikut. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 49 .Aspek yang dimonitor Subaspek Teknik monitoring Bentuk instrumen Angket 11. system pengambilan data TNA. Standar isi. pengolahan dan analisis data TNA.

4. maka monitoring paling tepat dilakukan dalam bentuk observasi. ketepatan indicator yang dirumuskan. minat dan ketertarikan peserta. Teknik monitoring dipilih dengan mempertimbangkan karakteristik dari setiap aspek yang dimonitor. yaitu menetapkan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 50 . dapat diukur (measurable). Kriteria atau tolok ukur hasil monitoring merupakan ukuran ketepatan. kuesioner atau penilaian diri dan monitoring unjuk kerja dan sikap yang dilakukan dalam bentuk observasi saat implementasi kurikulum berlangsung.2. atau dapat diamati (observable). yaitu teknik tertulis yang dapat dilakukan dengan wawancara tertulis. Misalnya. suatu aspek dimonitor dengan menggunakan lebih dari satu teknik monitoring. Perumusan kriteria ini harus jelas. maka monitoring dapat dilakukan dalam bentuk tertulis misalnya berupa kuesioner. Cara paling sederhana menentukan kriteria adalah dengan daftar ceklis. jika aspek yang dimonitor berupa kinerja atau performa dari penyelenggara dan peserta implementasi kurikulum. Kriteria ini merupakan pedoman atau acuan bagi pemonitor untuk memeriksa ketepatan setiap aspek yang dimonitor pada setiap tahapan program implementasi kurikulum. Namun. 5. kelengkapan atau kebenaran prosedur kerja dari setiap tahapan program implementasi kurikulum sesuai dengan aspek-aspeknya. subaspek materi implementasi kurikulum penyusunan silabus dapat dimonitor dengan metode kuesioner untuk melihat kelengkapan dan isi kualitas dari dokumen silabus yang digunakan. tidak akan dapat dimonitor karena tidak jelas ukuran peningkatannya. Terdapat beberapa jenis teknik monitoring. Apabila aspek yang dimonitor berupa kelengkapan dokumen atau peralatan. kualitas isi dokumen atau peralatan. komitmen fasilitator selama program implementasi kurikulum dilaksanakan. Di sisi lain. serta dapat dicapai dengan tenggang waktu tertentu. Perumusan yang samar-samar seperti ’meningkatkan mutu bahan ajar’. 3. ketepatan waktu yang disediakan. dapat dimonitor dengan metode observasi untuk melihat komitmen. Biasanya untuk membuat efektif monitoring. serta silabus hasil karya peserta. ketepatan materi yang dipilih sebagai bahan implementasi kurikulum. komitmen atau sikap penyelenggara dan peserta implementasi kurikulum terhadap program implementasi kurikulum. ketepatan metode implementasi kurikulum yang digunakan. atau sarana lainnya.

Kebanyakan orang lebih tertarik dengan analisis kuantitatif. Namun ukuran ini terlalu kasar karena banyak tahapan program implementasi kurikulum yang dilakukan dengan ukuran sangat berhasil. cukup berhasil. sangat setuju atau tidak setuju. atau tidak berhasil atau dengan criteria sangat tepat. hasil montoring sudah harus dapat dijadikan sebagai masukan perbaikan implementasi kurikulum sejak tahapan implementasi kurikulum dimulai. Hasil analisiis data digunakan untuk memvalidasi program penyelenggaraan implementasi kurikulum dan kesesuaiam dengan potensi dan kebutuhan implementasi kurikulum. Dengan demikian. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 51 . 4. kurang tepat. Pengolahan dan analisis hasil monitoring. Yang penting diperhatikan bahwa hasil monitoring harus menjadi umpan balik secara langsung sehingga proses implementasi kurikulum berjalan sesuai dengan track atau tujuan yang ditetapkan. Pengolahan dan analisis hasil monitoring dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. Apapun metode analisis yang digunakan. harus menjawab pertanyaan apakah program implementasi kurikulum telah berhasil dan efektif dilakukan sesuai tujuan implementasi kurikulum. walaupun analisis kualititatif juga sangat penting untuk dicermati. Data yang diperoleh dari hasil monitoring perlu dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan content analysis untuk membandingkan berbagai temuan yang memiliki karakteristik berbeda-beda dan narrative analysis untuk melihat kohorensi temuan atau informasi dari tanggapan para stakeholder program implementasi kurikulum. Tingkat analisis bergantung pada detil data yang dibutuhkan dan kompleksitas permasalahan selama implementasi kurikulum. Data juga akan dianalisis secara kuantitatif dengan pendekatan descriptive statistically analysis untuk mendeskripsikan berbagai aspek variabel yang diperoleh dari temuan selama implementasi kurikulum. Untuk itu ketepatan kuantitas dan kualitas dari proses monitoring sangat menentukan hasil analisis. Pemanfaatan hasil monitoring.apakah setiap aspek dilakukan atau tidak dilakukan. yang selanjutnya juga menentukan apakah tujuan implementasi kurikulum telah tercapai. tepat atau tidak tepat. mereka biasanya ada yang setuju. 3. cukup tepat atau tidak tepat. Demikian juga apabila kita minta pendapat peserta tentang program implementasi kurikulum.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 52 . Dengan demikian. 3. Manfaat proses monitoring lainnya adalah: 1.Seperti yang telah dikemukakan di muka bahwa tujuan monitoring atau pemantauan adalah untuk menjamin suatu kegiatan atau program implementasi kurikulum tetap on the track sesuai dengan tujuan program yang telah ditetapkan. 2. hasil analisis monitoring dapat digunakan sebagai bahan evaluasi secara menyeluruh untuk meningkatkan kualitas program implementasi atau penerapan kurikulum oleh satuan pendidikan. manfaat pokok dari proses monitoring adalah mengendalikan pelaksanaan program implementasi kurikulum berlangsung secara efisien dan sukses sesuai dengan tujuan. memberi motivasi bagi peserta dan pelaksana pendidikan untuk melaksanakan program implementasi kurikulum secara optimal. mendorong semua pihak dalam program implementasi kurikulum lebih berdisiplin dan bertanggung jawab. yaitu agar praktek pelaksanaan program implementasi kurikulum sesuai dengan perencanaan.

BAB III METODOLOGI Pendekatan dalam monitoring ini bersifat descriptive-explanatory berbentuk studi (survey) dengan menggunakan data kualitatif dan kuantitatif yang digunakan secara seimbang dan saling melengkapi untuk melihat profil pencapaian satuan pendidikan dalam penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan pada tingkat propinsi. kuesioner. Penyusunan desain dilaksanakan dalam bentuk workshop. praktisi pendidik dan tenaga kependidikan. Sumber data yang digunakan adalah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 53 . diskusi fokus. hasil yang diharapkan. sebagai berikut. kerangka berpikir atau landasan teori. pengolahan hasil monitoring. melakukan monitoring. A. pedoman wawancara. rapat kerja dan koordinasi. (1) Penyusunan desain Desain ini merupakan master plan yang disusun untuk dijadikan pedoman atau acuan dalam kegiatan monitoring yang meliputi: latar belakang dan tujuan monitoring. metodologi. pedoman observasi situasi dan pelaksanaan pembelajaran. hasil monitoring ini dilakukan sebagai bahan pertimbangan dalam merekomendasikan perencanaan dan pelaksanaan penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan agar lebih efektif dan efisien pada satuan pendidikan dasar dan menengah. Instrumen yang disusun berbentuk tes. ruang lingkup. penyusunan dan presentasi rekomendasi mengenai hasil kegiatan keseluruhan. STRATEGI MONITORING Kegiatan ini dilakukan melalui berbagai metode dalam bentuk studi dokumen. rapat kerja dan diskusi fokus yang melibatkan berbagai nara sumber perguruan tinggi. dan stakeholder lain yang relevan. Selain itu. (2) Pengembangan instrumen Instrumen dikembangkan dan disusun untuk menjaring atau mendapatkan data dan informasi kualitatif dan kuantitaif mengenai pencapaian pelaksanaan Permendiknas No. pengembangan desain. pelaksanaan kegiatan. penyusunan dan presentasi rekomendasi. workshop. analisis hasil monitoring. 22 dan 23 tahun 2006 tentang Standar Isi dan SKL oleh satuan pendidikan. pengembangan instrumen.

Peran pemerintah kabupaten/kota/propinsi dalam mendukung pelaksanaan Permendiknas No. Hal-hal yang harus dilaksanakan dan dicapai satuan pendidikan seperti yang dituntut dalam Permendiknas No. kelengkapan jumlah dan jenis intrumen. 22. serta dokumen yang relevan.siswa. guru. 22 dan 23 tahun 2006 b. orangtua. 23 dan 24 tahun 2006 Rapat kerja ini terutama untuk menentukan kesamaan persepsi dan pemahaman berbagai pihak pengelola pendidikan dari unsur sekolah. pengawas sekolah. 22. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan d. Mekanisme satuan pendidikan dalam menyusun dan melaksanakan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan daya dukungnya. dan dinas pendidikan kabupaten/kota/ propinsi. Peran pemerintah (Depdiknas dan departemen lain terkait) dalam merumuskan kebijakan untuk mendukung pelaksanaan Permendiknas No. (4) Pelaksanaan monitoring Monitoring dilakukan dengan menggunakan instrumen-instrumen yang dikemas. pemerintah. dan pihak lain mengenai implikasi Permendiknas No. dinas pendidikan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 54 . Pelaksanaan monitoring mengacu pada pedoman monitoring yang mengatur tentang: kriteria petugas pelaksana monitoring. c. metode penggunaan instrumen dan sumber data yang diperlukan. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan pada setiap propinsi. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan Rapat kerja ini juga untuk mengatur koordinasi dalam pelaksanaan monitoring sehingga diperoleh cukup data dan informasi kualittaif dan kuantitatif yang akurat dan aktual tentang pencapaian penerapan dan pelaksanaan Permendiknas No. dan kelengkapan data dan informasi yang diperlukan sebagai hasil monitoring serta hal-hal lain yang ditemukan selama pelaksanaan monitoring. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lain. 23 dan tahun 2006 tentang: a. dikombinasikan dan dilakukan secara terpadu (terintegrasi) agar proses monitoring dapat berjalan secara efisien dan sesuai sasaran dan kebutuhan. Instrumen yang telah disusun diujicoba secara terbatas untuk memvalidasi keterbacaan dan kesesuaiannya dengan tujuan monitoring (3) Rapat koordinasi membahas implikasi Permendiknas No.

supervisi atau pembinaannya oleh pengawas sekolah. komite sekolah maupun dinas pendidikan di daerah. dalam mengefektifkan pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan. potret atau profil tingkat pencapaian dan efektifitas penerapan atau pelaksanaan Permendiknas No. (7) Penyusunan laporan Sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan secara keseluruhan.(5) Analisis Hasil Monitoring Data dan informasi hasil monitoring dan kajian dokumen pendukund yang relevan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan gambaran. dan pedoman observasi. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan pada seluruh propinsi. PENGEMBANGAN INSTRUMEN Instrumen disusun dan digunakan untuk mengukur atau mendapatkan data dan informasi pencapaian pelaksanaan Peremndiknas No. Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan penyusunan rekomendasi kebijakan dalam penyusunan dan pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan dan evaluasu. 22 dan 23 tahun 2006. dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi dan pemerintah. (6) Rekomendasi kebijakan kurikulum Rekomendasi atau saran kebijakan kurikulum disusun berdasarkan analisis hasil monitoring meliputi rekomendasi bagi satuan pendidikan dan komite. tindakan kebijakan oleh pemerintah dan stakeholder terkait. Observasi digunakan untuk mengamati unjuk kerja (kinerja) pada saat pembelajaran di sekolah maupun obaservasi situasi dan kondisi pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan yang memuat aspek – aspek yang akan dilihat saat monitoring dilakukan. Bentuk Instrumen yang dikembangkan dalam monitoring ini berupa kuesioner. pedoman wawancara. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi kepala sekolah. guru. Metode wawancara dapat dilakukan secara tertulis ataupun langsung dengan mengacu pada panduan wawancara. bentuk pembinaan oleh dinas kabupaten/kota/propinsi. perlu dibuat laporan beserta hasil-hasilnya pada tiap langkah kegiatan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 55 . B.

komite. pengawas. tenaga kependidikan. Aspek lain yang tidak mungkin dimonitor melalui kuesioner dapat dimonitor melalui observasi atau teknik monitoring lainnya. Selain itu. Penilaian diri merupakan salah satu bentuk kuisioner yang khusus untuk melakukan evaluasi diri tentang komitmen Penilaian diri cukup bermanfaat untuk dilakukan karena pelaksana diklat akan lebih jujur mengungkapkan pendapatnya tentang pelaksanaan program diklat. atau pernyataan sikap. Direncanakan keseluruhan responden monitoring pada setiap propinsi melibatkan siswa SD/MTs. terbuka. C.Metode kuesioner disusun dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan tertulis yang telah disiapkan yang dapat berbentuk pertanyaan dengan jawaban tertutup. guru. kegunaan informasi yang dijaring. Kuesioner dengan jawaban (options) tertutup mudah dianalisis tetapi tidak memberi peluang responden memberi tanggapan lain yang mungkin sangat berguna. dan orang tua. kepala sekolah. Teknik sampling dilakukan secara multi-stages dengan mengkombinasikan sistem cluster samples dan purposive samples. siswa. Dinas pendidikan. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Populasi dalam monitoring ini adalah unsure dari satuan pendidikan dasar dan menengah dan komitenya serta dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi pada 33 propinsi. D. dan SMP/MTs. dan sarana pendukungnya. Dalam pengembangan kuesioner memperhatikan aspek kepraktisan. Walaupun perlu dilakukan kroscek atau verifikasi dengan sumber data yang lain untuk mendapat informasi yang lebih otentik. Kuesioner dengan jawaban terbuka memberi peluang pada responden menyatakan pendapatnya secara bebas tetapi memerlukan waktu untuk menganalisis. TEKNIK ANALISIS DATA Analisis data yang digunakan adalah content analysis berupa studi dokumen untuk membandingkan berbagai temuan yang memiliki karakteristik berbeda-beda dan narrative analysis untuk melihat kohorensi temuan / informasi dari dokumen ataupun tanggapan para responden yang berkaitan dengan ketersediaan buku-buku pelajaran dan kesesuaiannya dengan kurikulum. 22 dan 23 tahun 2006. juga digunakan descriptive statistically Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 56 . dan keakuratan jawaban. orangtua. Pada masing-masing propinsi akan dilakukan monitoring pada tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang meliputi pendidik. Monitoring pada tingkat dinas penddikan kab/kota/propinsi meliputi ketenagaan dan program kerja dalam mendukung pelaksanaan Permendiknas No.

0%).2% sarjanan strata 3. SLTA (13. 1. umumnya (97.5) responden mengaku belum pernah ikut sosialisasi. Lebih separoh (58.7 berpendidikan sarjana strata 2. 2. serta 2. dan diploma (3.analysis untuk mendeskripsikan berbagai aspek variabel yang berkaitan dengan bukubuku pelajaran.5%). sarjana strata 2 (18. dan 19. 80. hasil monitoring dapat dijadikan sebagai barometer (memprediksi) bagaimana kondisi di luar ibu kota provinsi.3% responden kepala sekolah berpendidikan sarjana strata 1. dan sekolah-sekolah yang berada di ibukota provinsi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 57 . untuk memperkirakan 1. Responden dipilih secara acak.9%) telah memiliki masa kerja antara 21-30 tahun. 84.5% adalah sarjana starta 1.4% yang masa kerjanya 10 tahun ke bawah. data yang diberikan belum mewakili daerah-daerah di luar ibukota provinsi. Responden yang berlatar belakang pendidikan SLTA adalah staf teknis yang hadir mewakili atasannya. dan hanya 14. Sebagian besar (53.8%). Sedangkan guru. Namun demikian.9 sarjanan strata 2.4 masih berpendidikan diploma. Sekolah Responden yang terdiri atas kepala sekolah dan guru dengan latar belakang pendidikan sebagian besar sarjana. PROFIL RESPONDEN Responden yang dilibatkan dalam monitoring ini berasal dari dinas pendidikan provinsi. Dari responden yang mengikuti sosialisasi. namun karena semua responden berasal dari ibu kota provinsi. Dinas Pendidikan Sebagain besar responden yang berasal dari pejabat struktural Dinas Pendidikan berlatar belakang pendidikan sarjana strata 1 (64. E.8) menyatakan ikut sosialisasi kurang dari seminggu. 11. dinas pendidikan kota di ibu kota provinsi.7%).

6%. 7.6 % sarjana strata 2.1 % yang memiliki masa kerja di atas 31 tahun.8% dengan masa kerja 21-30 tahun. Pengembangan dan Penerapan KTSP secara Nasional Informasi tentang pengembangan dan penerapan KTSP secara nasional menggunakan sumber data yang diperoleh dari dinas pendidikan propinsi. 3. BAB IV PEMBAHASAN HASIL MONITORING A. 29.3% SLTA. Sedangkan guru yang menjadi responden monitoring ini lebih separo (57. 13. Komite/Orang Tua Siswa Lebih dari separoh (69%) responden yang berasal dari orang tua/komite berpendidikan sarjana strata 1.3 % antara 21-30 tahun.6% dengan masa kerja 10 tahun ke bawah.8%). 57. Tim studi belum bisa mendapatkan data kuantitatif pelaksanaan KTSP oleh satuan pendidikan pada tingkat propinsi karena propinsi belum memiliki data rincinya dari kabupaten/kota maupun dari sekolah di wilayahnya. guru (27.7%.6% di antara kepala sekolah berasal dari SM/MA dan 42. 48. lebih separoh responden guru berasal dari SMA/MA (58.Berdasarkan masa kerjanya. Tidak ada yang berlatar belakang pendidikan SD.1%) memiliki pekerjaan berwiraswasta. dan dosen 5. Keadaan ini hampir sama dengan guru. Sebagian besar dari mereka memiliki pekerjaan tetap sebagai pegawai negeri sipil dengan rincian sebagai berikut: karyawan PNS sebanyak 41.3%).5% kepala sekolah yang menjadi responden memiliki masa kerja 11-20 tahun. 16.4% dari SMK. dan 41.8% di bawah 10 tahun. 37. Hal ini disebabkan belum optimalnya koordinasi antara Dinas Pendidikan Provinsi dengan Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 58 . Selebihnya (30. dan 5.7% berasal dari SMK.6% diploma. dan hanya 6.1%) memiliki masa kerja 11-20 tahun. 8.

Para pejabat struktural maupun staf teknis di Provinsi hanya bisa memberikan gambaran tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan melalui kegiatan provinsi. Atas dasar pengalaman tersebut. 2. setiap pergantian kebijakan tentang kurikulum sangat dirasakan bahwa proses sosialisasi kurang optimal. 4. Data yang yang diambil adalah (1) jumlah daerah yang telah melakukan sosialisasi di tiap provinsi. terutama terkait dengan pelaksanaan KTSP. Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Bengkulu Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Selatan Lampung Kepulauan BangkaBelitung Kepulauan Riau Banten Jawa Barat 21 25 9 10 11 19 14 10 7 7 6 25 21 25 9 10 11 19 14 10 7 6 6 25 1 2 1 1 1 2 1 1 2 2 1 3 V V V V V V V V V V V V V V V V V V v - v v V V V V V V V - - Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 59 . Berikut gambaran secara umum pelakasanaan sosialisasi di masing-masing provinsi. 8. 11.pendidikan Kabupaten/Kota dalam hal pendataan. Kegiatan-kegiatan yang bersifat mandiri yang dilaksanakan oleh masing-masing Kabupaten/Kota melalui MGMP atau tidak semuanya terpantau oleh Dinas Provinsi. SKL dan KTSP pada tiap propinsi No Provinsi Jumlah kab/ kota Kab/Kota yang sudah sosialisasi Frekuensi Kegiatan Puskur Penyelenggara PUSAT Ditjen Mandikdasmen LPMP/PMPTK DAERAH Dinas pddk Dinas Provinsi Pddk Kab/kota 1. Tabel 1 : Gambaran jumlah kabupaten/kota yang sudah mendapat sosialisasi atau workshop SI. pelaksanaan monitoring pada tahun 2007 ini diawali dengan melihat proses sosialisasi di masing-masing provinsi. 5. Kegiatan-kegiatan seperti ini cukup banyak dilakukan karena di beberapa daerah karena mereka sangat proaktif. (2) sasarn sosialisasi di masing-masing daerah. baik Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota maupun sekolah. 1. 10. Akibatnya. 7. 12. Untuk itu data yang digunakan adalah data kualitatif mengenai pengembangan dan penerapan KTSP yang bersumber dari persepsi dinas propinsi. demikian juga kegiatan yang dilakukan oleh sekolah-sekolah dengan memanfaatkan dana swadaya. Pelaksanaan Sosialisasi di Setiap Provinsi Berdasarkan pengalaman yang lalu. 6. 9. 3. tingkat pemaham pelaksana dilapangan kurang memadai.

25. seperti yang dilakukan oleh Diraktorat terkait. DKI. Menurut prediksi Dinas Pendidikan provinsi. hal ini bukan berarti daerah lain tidak melaksanakan. tetapi belum ada laporan resmi sehingga Dinas Pendidikan Provinsi tidak memiliki data tentang itu. 22. hampir semua daerah telah melakukan sosialisasi secara mandiri. Meskipun pada tabel di atas terlihat bahwa hanya 4 kabupaten/kota yang melaksanakan kegiatan sosialisasi. 32. Oleh karena itu. Tabel di atas juga menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan oleh langsung oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota hampir tidak terpantau oleh Dinas Pendidikan Provinsi. 24. 26. 31. 22 dan 23 tahun 2006 tentang SI (standar isi) dan SKL (standar kompetensi lulusan). 33. 28. 15. 21. 18. 30. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada keharusan bagi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau sekolah untuk melaporkan pelaksanaan kegiatan sosialisasi yang dilakukan secara swadaya atau melalui APBD tingkat II. 27.13. 14. umumnya data kegiatan sosialisasi yang melibatkan Dinas Pendidikan Provinsi. 19. 34. 16. yaitu kegiatan yang dilakukan melalui pembiayaan APBN. sosialisasi pada umumnya adalah unit Pusat dan Daerah Penyelenggara Pendidikan (Dinas Propinsi/Kab/Kota). dan dana APBN yang ada di Dinas Pendidikan Provinsi serta APBD provinsi. seperti yang terlihat pada table di atas. 23. Kegiatan yang menggunakan biaya APBD Kabupaten/Kota atau swadaya sekolah umumnya tidak dilaporkan ke Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 60 . Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Daerah Istimewa Yogyakarta Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Gorontalo Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Irianjaya Barat Papua (Irianjaya) Total 6 35 38 5 9 9 16 12 13 14 13 5 23 10 10 9 6 8 8 9 20 442 6 35 38 5 9 9 16 12 13 14 13 5 23 10 10 9 5 8 8 9 20 440 4 3 4 2 2 2 2 1 2 2 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 V V V V V V V V V V V V V V V V - V V V v v v V v v v v V V V V V V V V - V V V v v v v v v v v v v v v v - v V V v - Dari tabel jelas bahwa secara keseluruhan semua kabupaten/kota telah mendapatkan sosialisasi atau workshop tentang kebijakan dan penerapan Permendiknas No. data yang ada di Dinas Pendidikan provinsi. 17. 20. 29.

Menurut responden. mereka telah ikut di beberapa kegiatan seperti yang digambarkan pada tabel berikut: Tabel 2 : Organisasi Profesi dan Unit terkait yang menjadi sasaran ssosialisasi SI.9 21. KKKS (kelompok kerja kepala sekolah). baru kemudian yayasan. atau lembaga profesional lainnya yang cukup partisipasif dalam program KTSP ini.Pendidikan Provinsi. b.2 36.3%) dalam pelibatan pengembangan KTSP.1 63. Padahal secara kebijakan. dewan pendidikan dan komite sekolah. dan KTSP. Perusahaan swasta/BUMN. orangtua sudah menyerahkan urusan ini ke sekolah. MGMP (musyawarah guru mata pelajaran). Selain sekolah. Namun. 2. f. atau pemahaman pengembangan KTSP yang perlu dipertajam. pengembangan KTSP disusun bersama oleh pihak sekolah dan komite sekolah. e. sosialisasi juga dilakukan terhadap organisasi profesi pendidikan lain berikut ini.3 26. MGMP KKKS PGRI Organisasi Pengawas Yayasan Dewan Pendidikan Komite % 78.9 78. Menurut Dinas Propinsi belum ada pihak terkait lain seperti perusahaan penerbitan buku pelajaran. Hal ini mungkin disebabkan belum meluasnya sosialisasi dan mungkin penyelenggaraan oleh lembaga profesional lain tidak terpantau oleh Dinas. SKL. Jelas bahwa unit yang terlibat dalam sosialisasi sudah mewakili keseluruhan stakeholder pendidikan. LSM Pendidikan. d. pengawas sekolah. Hal ini mungkin disebabkan sekolah masih menganggap tingkat keprofesionalan orangtua masih bervariasi. Sasaran Sosialisasi a. Hal ini mengibatkan Tim Monitoring kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang kabupaten/kota atau sekolah mana saja yang telah melakukan sosialisasi secara mandiri. c.3 Dari tabel tersebut jelas bahwa sasaran utama sosialisasi atau workshop KTSP adalah sekolah ditambah gugus sekolah (kelompok sekolah).7 26. Penerapan KTSP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 61 . g. tampaknya peran komite sekolah masih dianggap kecil (26.

sehingga ada yang mengadopsi. dalam arti. Untuk kategori ini.8 15. masih cukup banyak sekolah yang baru pada taraf mempelajari kebijkan KTSP dan menggunakan kurikulum sebelumnya. g.7%). Ada yang menyatakan bahwa KTSP disusun oleh sekolah di bawah koordinasi Dinas pendidikan. lainya tidak memberikan jawaban (26.9%) menyatakan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 62 . dan bahkan ada yang menyusun secara bersama-sama beberapa sekolah.3 42.1 36. e. Banyak guru yang belum siap menyusun silabus sendiri. Hal yang perlu dicermati hádala.3%). Menurut pemantauan Dinas Propinsi. mereka menyebut menyusun sendiri tetapi secara bersama di gusus. Dalam pengembangan KTSP. Tabel 3 : Penusunan KTSP oleh Satuan Pendidikan Penyusunan KTSP a. Satuan pendidikan menyusun sendiri mengacu SI. dan yang menyatakan intensif hanya (15. menggunakan tim. Beberapa sekolah menyusun di bawah koordinasi dinas dengan menggunakan tim pengembang dari dinas. f. b.3%). sebagian besar penerapan KTSP pada tiap kabupaten/kota selama tahun 2006 belum intensif (31.6%). namur terbatas pada beberapa bagian saja. umumnya sekolah-sekolah menyusun sendiri KTSP ( 73. sehingga silabusnya sama. penyusunan KTSP oleh sekolah dilakukan dengan metode kombinasi melalui koordinasi.8 26. Lebih separoh daerah Kondisi (57. menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi. Ada unsur adopsi dan adaptasi. d.3 57. serta menyusun senidiri. c.Dalam hal penyusunan KTSP. belum menjadi prioritas (26. tersebut berbeda dengan tahun 2007. beberapa sekolah menyusun sendiri.8%). misalnya mengenai seilabus. adaptasi dan sebagainyaP .3% Total persentase respon melebihi dari 100% karena umumnya responden menjawab lebih dari satu pilihan.9 26. mengadaptasi. SKL dan model kurikulum KTSP KTSP disusun oleh sekolah dengan koordinasi Dinas Pendidikan KTSP disusun oleh tim yang dibentuk oleh Dinas Pendidikan Satuan pendidikan mengadaptasi model kurikulum KTSP dari pusat Satuan pendidikan mengadopsi atau menggunakan model kurikulum KTSP dari pusat Masih pada taraf sosialisasi dan mempelajari perangkat dokumen Masih menggunakan kurikulum sebelumnya % 73. jawaban boleh lebih dari satu). serta mengadaptasi dan mengadopsi model kurikulum. Berikut secara lengkap informasi tentang proses penyusunan KTSP menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi (mulai dari yang frekuensinya tinggi. dan pada bagianbagian tertentu diadopsi.

c. Sebagian sekolah (36.7 31. rata-rata melaksanakan secara bertahap. dan hanya 5. Beberapa alasan yang dikemukakan oleh daerah. peningkatan prioritas program KTSPdisebabkan oleh tuntutan bahwa tahun 2009 KTSP harus sudah diterapkan menyeluruh pada setiap satuan pendidikan.6%). b. dan 26. Ini menunjukkan KTSP telah menjadi program dengan prioritas bagi tiap propinsi/kabupaten/kota. 10% menyatakan sangat baik. Berkaitan dengan hal ini.7%). Telah menerapkan secara efektif pada seluruh kelas dengan silabus dan RPP yang disusun sendiri Telah menerapkan secara efektif pada seluruh kelas dengan silabus dan RPP yang diadopsi Telah menerapkan secara bertahap Masih menggunakan kurikulum sebelumnya % 31. Tabel: 4 Proses penerapan KTSP Proses/Tahapan a.3% responden tidak memberikan jawaban.8% daerah menyatakan kabupaten/kota belum menempatkan penerapan KTSP sebagai prioritas. mengapa intesitas penerapan KTSP masih beragam.3% yang menyatakan kurang. Alasan lain adalah kurangnya dana pendukung untuk penyusunan KTSP. Tingkat kesadaran dan komitmen sekolah untuk mengembangkan dan menerapkan KTSP cukup tinggi. dan sebagian lagi menyatakan bahwa masih perlu waktu untuk melakukan sosialisasi di kalangan warga sekolah dan masyarakat karena sebagian besar di antara warga sekolah dan masyarakat belum memahami kebijakan tentang KTSP ini. Umumnya sekolah yang menerapkan secara kelseluruhan adalah sekolahsekolah yang sudah melaksanakan piloting KBK (2004). Sebanyak 15. d.2%). sosialisasi dan workshop KTSP yang mulai meluas dan tingkat pemahaman KTSP yang membaik bagi seluruh stakholder. Tentang kondisi yang berkaitan dengan pelaksanaan KTSP. sebagian besar daerah menyatakan sudah cukup baik (84. melihat sekolah yang terdekat dengan mereka agar dapat secara bersama-sama menyusun KTSP.Jadi.8%) telah menerapkan secara efektif di semua kelas. Pada umumnya sekolah mulai menerapkan KTSP pada awal tahun pelajaran 2007 secara bertahap (73.6 36.8 73. Faktor yang paling mentukan keterlaksanaan KTSP menurut pernyataan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 63 . diantaranya adalah: menunggu sampai 2009 (batas akhir yang diberikan oleh pemerintah untuk menerapkan KTSP). sebagian besar daerah memprogramkan mulai tahun 2007 menerapkan KTSP.6 Tabel di atas menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil sekolah yang masih menggunakan kurikulum sebelumnya (31.kabupaten/kota mulai menerapkan KTSP secara intensif.

3 10.3 26. serta pemanfaatan teknologi informasi agar sekolah terbantu dalam mengembangkan dan menerapkan KTSP.4 73. silabus dan RPP Mengembangkan alat penilaian berbasi kompetensi Menyusun bahan ajar (LKS dsb) Membuat sumber belajar mandiri S 21. b. c.3 26.3 5.3 10.8 10.4 63.8 10.Dinas pendidikan Provinsi adalah guru (78.1 37.5 10.6 57. dan model KTSP (94.5%.5%). menurut informasi dari Dinas Pendidikan. Sebagian besar menyatakan ketersediaan dokumen cukup memadai (52. siswa (21. g.9 68.4 S 26.4%).5 10.8 15.9 68.1 21.9 47. dan RPP.2 52.3 26. kecuali dalam pengembangan bahan ajar mandiri Lebih lengkap informasi tentang kesiapan guru dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel: 5 Kesiapan Guru dalam Pengembangan dan Penerapan KTSP SMA (%) Aspek a.2 57. kesiapan guru berkaitan dengan pengembangan dan penerapan KTSP oleh sekolah cukup memadai. silabus. SKL. Keberadaan Dokumen SI dan SKL Menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi.9 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum guru telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik.5 5. i.8 15. Perlu dilakukan berbagai upaya komunikasi interaktif dan komitmen sekolah dan Dinas melalui hubungan langsung. h.3 26.8 15.6 47.8 19.4 K 26. d. Kesiapan Sekolah dalam melaksanakan KTSP: Secara umum.9 63.3 31. orang tua dan masyarakat (10. penguasaan mata pelajaran. Hal ini mennjukkan perlu adanya komitmen manajemen yang profesional pada tingkat sekolah untuk mengembangkan dan menerapkan KTSP 3.5 SMK (%) C 57. Kualifikasi akademik Penguasaan isi mata pelajaran Menyusun kurikulum (KTSP) Menyusun silabus Menyusun RPP Menilai kualitas kurikulum.9%).8 15.5 10. Keberhasilan program KTSP sangat ditentukan oleh sumberdaya pendidik dan tenaga kependidikan. 4.5 5.5 15. Sebagian responden menjawab gabungan antara siswa dan orang tua (20.9 73.1 21.3 5. f.7 73.7 68. sarana dan prasarana (47.2 57.8%). ini berarti.3 C 52. akses informasi oleh satuan pendidikan tentang kebijakan KTSP seharusnya mudah.6%) dan kurang memadai (15.7 78.5 5.6 31.4 63.1 15. Namun yang perlu dicermati dan ditingkatkan kompetensi guru Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 64 .3 15. penyusunan kurikulum. SKL dan model KTSP sudah tersedia pada tingkat kabupaten/kota. Dokumen SI.6 K 15.1%).10%). e.3 10.2 63. umumnya kabupaten/kota sudah mendaptkan dokumen SI.7%).8 5. dan yang menyatakan sangat memadai hanya 10.

modul maupun referensi lainnya juga perlu dipertimbangkan karena guru lebih bergantung kepada penerbit buku Kesiapan kepala sekolah dalam pengembangan dan penerapan KTSP.adalah dalam melakukan pengembangan penilaian berbasis kompetensi. menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut. seorang guru harus melakukan penilaian secara profesional dan dapat dipertanggungjawabkan. padahal dalam KTSP. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 65 . pengembangan bahan ajar serta pengembangan sumber belajar mandiri. Tampaknya guru belum konfiden dalam mengembangkan alat penilaian walaupun itu sudah dijalani sehari-hari. Pengembangan bahan ajar yang meliputi buku teks.

6 15.2 K 31.1 5.6 31.8 21. Gaya Kepeminpinan kepala sekolah juga perlu ditingkatkan untuk mengelola guru dan tenaga lain dalam pengembangan KTSP. membantu masalah guru dalam pengembangan silabus dan RPP (namun ini masih ditingkatkan karena angkanya baru 47. c.9 63.3 10. 5.3 5.2 57. e.1 94. Kualifikasi akademik Menyusun kurikulum (KTSP) Menilai kualitas kurikulum.6 57. penguasaan mata pelajaran. penyusunan kurikulum. menilai kualitas kurikulum.3 26.9 68.6 94.3 29.4 68.8 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum kepala sekolah telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik. silabus.8 36.4 68. silabus dan RPP Membantu masalah guru dalam menyusun silabus dan RPP Mengelola guru dan tenaga kependidikan menyusun KTSP Membina guru dalam melaksanakan pembelajaran S 31.3 S 21.4 K 21.8 21.8 SMK C 57. dan RPP.3 26.2 57. Program peningkatan kompetensi pengawas dapat berbentuk Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 66 .4%).4 68.8 36.3 SMK C 52.1 26. karena angkanya baru 47.3 5.1 21. Tabel 7 : Kesiapan Pengawas SMA Aspek a.5 15. Yang perlu dicermati dan ditingkatkan kompetensi kepala sekolah adalah walaupun secara umum kepala sekolah berkompeten dalam pengembangan kurikulum.Tabel 6 : Kesiapan Kepala Sekolah SMA Aspek a. f. penyusunan kurikulum.1 26. f. penguasaan ini secara umum masih diperlukan.4 68.9 57. d.6 36.1 63.3 21.3 5. serta mengelola guru dalam pengembangan KTSP.3 15. dan RPP. namun tidak mendalam pada tingkat detil kurikulum maupun silabus mata pelajaran.2 68.4%).8 10.6 36.7 S 31.3 5. e.4 57.3 10. menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut.6 31. c. d.3.9 K 15.8 5.7 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum pengawas sekolah telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik (namun ini masih perlu ditingkatkan.6 K 26.1 52.3 C 42.8 10.4 52.6 15. silabus.1 5.3 5.9 47.8 26. b.9 31.9 63. b.6 15.5 15.6 63. Kualifikasi akademik Menyusun kurikulum (KTSP) Menilai kualitas kurikulum. silabus dan RPP Membantu masalah guru dalam menyusun silabus dan RPP Mengelola guru dan tenaga kependidikan menyusun KTSP Membina guru dalam melaksanakan pembelajaran S 26. Tentang kesiapan pengawasa sekolah. Pada jenjang pendidikan dasar.5 C 42.5 15.

e. Perlu dicermati di sini. Sosialisasi SI.9 Tahun 2007 (dlm juta rupiah) APBD 10. banyak responden justru memilih tidak menjawab.6 Tdk Mjwb 52.7 21.4% menyatakan sangat baik. artinya sarana-sarana yang tidak tersedia atau rusak. 47.5 Block Grant 21.4 31. silabus dan RPP pada sekolah tertentu secara bertahap Pengembangan kompetensi guru melalui uji kompetensi. silabus dan RPP dengan melibatkan berbagai sekolah.2 52. sekolah dapat mengembangkan sendiri alternatif sarana yang tersedia dari lingkungan sekolah. serta membina guru dalam melaksanakan pembelajaran.1 21.1 Tdk Mjwb 47.6 63. MGMP dsb Workshop pendampingan pengembangan KTSP. KKG.workshop pengembangan kurikulum.5 - 15.2 15.2 d.5 Lain nya 26. Berkaitan dengan pembiayaan. bagi sekolah dengan sarana dan prasarana kurang memadai perlu mengembangkan KTSP yang sesuai dengan sekolah tersebut dan dapat dilaksanakan oleh sekolah tersebut. Sarana dan Pendanaan Hampir separoh responden menyatakan sarana dan prasarana sekolah sebagai pendukung KTSP masing kurang memadai (47. Hal dimungkinkan karena berbagai hal yaitu: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 67 . maupun sumber lainnya yang sah. Ini berarti.5 10. tidak sekedar memeriksa adminstrasi kurikulum dan pembelajaran di sekolah.1 36. 10. Perlu juga ditingkatkan program mandiri pengembangan alternatif sarana. Perlu dikritisi di sini bahwa pengembangan dan penerapan KTSP harus disesuaikan dengan kondisi. - 5.8 21.9 63.3 15. Umumnya sekolah menyediakan dana dari anggaran belanja sekolah.1 - 15. Berikut tabel tentang sumber pendanaan sosialisasi KTSP: Tabel : 8 Sumber Pendanaan KTSP Tahun 2006 (dlm juta rupiah) Jenis Sosialisasi / Workshop APBD a.3%). dan hanya 5. diklat atau tugas belajar Penyediaan dan pemeliharaan prasarana dan sarana pendidikan 10. SKL dan KTSP Workshop /pengembangan KTSP.3 % yang menyatakan sangat baik.4 57.8 73.6 Dari tabel tersebut jelas bahwa program KTSP melibatkan berbagai sumber mencakup dana APBD.8 10.1 10.5 10. umumnya responden menyatakan bahwa penerapan KTSP berdampak pada penyediaan dana.6 57.1 78.9 63. kebutuhan dan karakteristik sekolah dan peserta didik.5 Lain nya 21.9 c. potensi. 5. Ini berarti peran pengawas harus ditingkatkan fungsinya dalam pembianaan substansial sekolah mulai dari pengembangan kurikulum sampai pelaksanaan pembelajaran.5 - 21. b. Blockgrant.8 15.5 Block Grant 10.

Tampaknya koordinasi menjadi hal penting karena dengan adanya otonomi daerah.3% yang menyatakan bahwa kabupaten/kota belum memiliki program sosialisasi.8 21. maupun pendampingan satuan pendidikan untuk mengembangkan KTSP. untuk Hanya 26.3 4 5.8 Angka Prioritas 3 15. Berikut urutan priritas kegiatan di Dinas Pendidikan Provinsi.1 15. Tabel: 9 Urutan Prioritas Kegiatan Jenis Program 1 a. Melakukan koordinasi program dengan kab/kota Melakukan pendataan pencapaian penerapan KTSP pada tiap kab/kota Melakukan workshop pengembangan KTSP dan program supervisi klinis dengan kab/kota Melakukan supervisi klinis langsung ke sekolah-sekolah terpilih Penyediaan dokumen SI.1 Dari tabel tersebut jelas bahwa prioritas pertama Dinas Propinsi dalam program KTSP adalah melakukan koordinasi tingkat internal. 36. workshop.8 5. tidak tahu. 6.8 5. Tim Pengembang Kurikulum (TPK) Provinsi (a). b. ditetapkan berbagai prioritas. sebagian besar (73. keberadaan TPK Kesiapan tim sosialisasi KTSP tingkat provinsi (sesuai dengan SE Mendiknas No. Prioritas kedua adalah melakukan pendataan kuantitatif penerapan KTSP pada tingkat kab/kota. dengan dinas kabupaten/kota dan dengan pusat.3 15.3 ksg 10.5 15. Program Sosialisasi yang Berkelanjutan Menurut Dinas Pendidikan Provinsi. dan pendapingan satuan pendidikan dalam mengembangkan KTSP. SKL. Untuk merealisasikan program tersebut.8 c.3 - 10.8 d.8 e.6%). 33/MPN/SE/2007 tentang Pembentukan Tim Sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 68 .8 2 15.8 36.7%) kabupaten/kota memiliki program sosialisasi. 36.5 21. terutama koordinasi dengan kabupaten/kota.8 20. SKL dan model KTSP 52. 26.5 26.3 36. peran ini menjadi kurang.5 15. Prioritas utama adalah melakukan koordinasi program dengan kabupaten/kota (52. workshop. workshop pengembangan KTSP dan supervisi klinis ke kab/kota dan 7.pengetahuan responden yang rendah dalam masalah anggaran (hanya fokus pada program/kegiatan yang dijalankan). dan tidak bersedia menjawab.3 5.8 10.6 36. penyediaan dokumen SI.

sebagian daerah mengkombinasikan antara APBD dengan APBN (10.2%). Dari semu daerah yang sudah membentuk Tim Pengembang Kurikulum. sudah mengusulkan lewat APBD (42.8 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa hampir semu provinsi (94.4 63.3%). jangka menengah.4%) keberadaan tim tersebut telah dikukuhkan melalui Surat Keputusan Pemerintah Daerah.2%). Pengesahan ini sangat diperlukan sebagai dasar pengajuan anggaran pembiayaan kegiatan tim pengembang kurikulum.3%). Pengukuhan Tim Pengembang Kurikulum melalui Surat Keputusan 3 Program Kerja TPK Propinsi Sudah 94. Pembentukan Tim Pengembang Kurikulum tingkat propinsi 2 2. umumnya (63. dan sebagian lagi digali dari sumber lain(21. dan sebagian besar (68.1%).1%) misalnya APBS. Pada sebagian daerah. (c) Sumber dana untuk membiayai kegiatan TPK Propinsi Dalam hal pendanaan. yang dalam hal ini disebut Tim Pengembang Kurikulum Propinsi dalam membantu kabupaten/kota atau satuan pendidikan di wilayahnya dalam pengembangan KTSP adalah sebagai berikut.2%) telah menyusun program kegiatan yang terdiri dari program jangka panjang. dan jangka pendek.1%). (b) Anggota TPK Propinsi Tim Pengembang Kurikulum (TPK) provinsi melibatkan berbagai unsur Keanggotaan terkait. Sebagaian daerah yang tergolong proaktif.5%). pejabat struktural dan staf dinas pendidikan (89. pengawas) cukup dominan.3 31. dan keterlibatan relatif swasta masih kecil (21.6 36. Tabel 10 : Keberadaan Tim Pengembang Kurikulum Provinsi No Keberadaan Tim TPK Provinsi 1 1. seperti pengawas (89.5%). kepala sekolah (73. banyak daerah yang masih bingung. dan sebagian lagi ditandatangani oleh Kepala Dinas Dinas Pendidikan atasnama Gubernur. Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab pengembangan profesi bagi tim pengembang kurikulum lebih cenderung didominasi oleh nuansa birokratis. keterlibatan unsur di luar sekolah (pejabat struktural dan staf teknis. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 69 . dan bantuan para sponsor seperti penrbit buku. perguruan tinggi(63. Guru (84. Kelihatannya.7 %) telah membentuk Tim Pengembang Kurikulum.7 68.Pendidikan).2 Belum 5. Surat Keputusan ditandatangani langsung oleh Gubernur. dan keterlibatan perguruan tinggi dan swasta relatif lebih kecil. Ini dapat dipahami mengingat perubahan kebijkan kurikulum selama ini lebih bersifat adminstratif dari pada akademik.

24 tahun 2006 Surat Edaran Mendiknas No. Hanya saja.7 90. 22 tahun 2006 Permendiknas No. Hal ini sangat memungkinan untuk mempercepat proses distribusi.4 66.7 22.1 11. Pengembangang dan Penerapan KTSP oleh Sekolah Selain menggunakan data kualitatif dari dinas propinsi.B. Frekuensi kepala sekolah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 70 .4 % untuk SKL.9% untuk pelaksanaan SI dan SKL) menyatakan telah memiliki.7 42. Berikut adalah tabel latar belakang responden yang terlibat dalam studi. Sudah bukan hal yang aneh ketika suatu sekolah baru menerima dokumen kurikulum pada saat kebijakan kurikulum telah berganti. Namun demikian. Namun terdapat perbedaan pernyataan antara kepala sekolah dan guru. Berikut tabel kepemiliakn dokumen kelangkapan SI.2 92.4 74. Dokumen-dokumen tersebut dikemas dalam bentuk file dan direkam ke CD.5 89.9 66. setiap pergantian kebijakan kurikulum.4 85. Kelengkapan Dokumen KTSP Berdasarkan pengalaman yang lalu. setidaknya proses penyempaian informasi relatif lebih cepat. dan didukung oleh kemajuan perangkat teknologi.1 40. sumber acuan pengembangan KTSP telah dimiliki oleh sekolah-sekolah tersebut.2 69. SKL.6 13.4 16. 90. 92.7 9.9 yang mulai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Permendiknas No.1 77.6 41. 33/MPN/SE/2007 (Tentang Sosialisasi Kurikulum Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model-Model Program Khusus (PLB) Tabel di atas memberikan gambaran bahwa secara umum kepala sekolah (93. Untuk daerah terpencil bisa mencapai 5 – 10 tahun.9 70.7 82. pemerintah memanfaatkan teknologi komputer. Untuk mengantisipasi hal ini. Ini berarti. 1. tim studi juga melakukan studi pengembangan dan penerapan KTSP bersumber dari pihak sekolah (sebagai sekolah sampel) yang terlibat dalam kegiatan ini.1 47.4 92.4 92. dan KTSP disosialisasikan sejak tahun 2006. banyak sekolah yang terlambat menerima informasi dan dokumen kurikulum. 23 tahun 2006 Permendiknas No.7 56.9 % SI. ada kendala berkaitan dengan ketersediaan perangkat dan keterbatasan tenaga pengoperasion komputer. Tabel 11: Kepemilikan dan Kelengkapan Dokumen KTSP No Jenis Dokumen Sudah Memiliki (%) Kepala Guru Sekolah 93.

Menurut guru baru sekitar 70.7 %untuk SKL dan aturan pelaksanaannya. 2. model pembelajaran terpadu IPA/IPS di SMP.yang telah menenrima dokumen tersebut lebih tinggi dari pada guru. Sumber acuan lain yang harus dimiliki sekolah adalah model muatan lokal. Hal ini agar segera diupayakan untuk menjamin pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan berjalan secara efektif dan efisien. Perbedaan ini menunjukkan bahwa mungkin saja sebagian kepala sekolah belum sempat menyampaikan dokumen tersebut kepada guru oleh karena berbagai alasan. Hal lain yang perlu juga dicermati adalah bahan-bahan tersebut harus bisa diakses secara mudah oleh semua insan di sekolah terssebut. Secara rinci adalah seperti tabel berikut Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 71 .2 % yang menyatakan telah menerima dokumen SI. cetakan. dari dinas pendidikan maupun piha lainnya. Sayangnya tim studi tidak sempat melacak alasan mengapa terjdi perbedaan yang cukup signifikan. model pembelajaran tematik di SD dan model program khusus untuk pendidikan khusus. 66. model pengembangan diri. sementara guru dan kepala sekolah yang diundang berasal dari sekolah yang sama. Cara Memperoleh Dokumen Pada umunya sekolah/satuan pendidikan mendapat dokumen tersebut dengan berbagai cara melalui mengkopi sendiri dalam bentuk CD.

8 19.3 34.3 9.7 13. Bina diri dan bina gerak KS 1.1 3.1 3.5 1.0 7.2 - - 3.6 12.1 6.2%.0 3. umumnya responden (Kepala Sekolah 87.0 4.4 1.8%)`menyatakan sulit memperoleh dokumen KTSP. Orientasi dan mobilitas b.5 9.8 22.2 1.4 2. 24 tahun 2006 SE Mendiknas No.5 4.0 - 1.9 8.2 22.3 28.1 6.9%.5 4.1 9.6 9.0 3.6 23.5 15.1 3.0 2.4 1.5 4.2 1.2 3.3 3. dan irama c.9%.1 10.1 9.5 12.5 9.0 9.6 15.3 33.8 23.7 13.1 10.2 4.5 Dibeli dari pihak lain 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Permendiknas No.1 12.1 1. Bina Komunikasi.1 7.7 23.1 15. Pemahaman Isi dokumen berkaitan KTSP Sebagian besar responden (Kepala sekolah 68. Bina gerak e.0 16. Bagi yang sudah memperoleh.3 9.1 13.1 7.8 33. Bagi kepala sekolah yang belum memperoleh dokumen tapi sudah pernah mendapatkan informasi tentang peraturan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 72 .1 13. 33/MPN/SE/2007 (Ttg Sosialisasi Kurikulum Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model Program Khusus (PLB) a.1 8. 22 tahun 2006 Permendiknas No.1 7.8 26.1 8.2 3. guru 48.1 20.2 1.6 Cara Memperoleh Dari Dinas Pendidikan dalam bentuk CD GR KS GR 15.1 7.7 GR 23.2 13.6 16.2 2. Bina pribadi dan sosial f. 23 tahun 2006 Permendiknas No.0 1.7 8.3 30. Bina diri d.2 1.1 6.1 9.8 13.) menyatakan sudah mempelajari.8 2.5 9.5 Copy sendiri dalam bentuk cetak KS 15.1 11.1 7.2 1.5 1.2 - 1.2 12.6 10.4 4.Tabel 12 : Cara memperoleh dokumen kelengkapan KTSP No Jenis Dokumen Copy sendiri dalam bentuk CD KS 30.2 22.5 1.1 9.7 16.1 6. Guru 67.0 1.5 7.6 (%) Dari Dinas Pendidikan dalam bentuk cetak KS GR 6.4 1. persepsi bunyi.5 6.3 6.4 2.5 1.5 9.8 25.1 12.2 6.5 - GR 2.2 31.

6%). lainya dari pengawas atau teman sejawat yang pernah mengikuti sosialisasi.7%). mereka mendengar dari Kepala Sekolah (22. tentang bina diri. Sedangkan bagi para guru. media Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 73 . tentang bina diri dan gerak. tentang OM. fleksibel. 33/MPN/SE/2007 (Tentang Sosialisasi Kurikulum) Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model-Model Program Khusus (PLB) Deskripsi Singkat Tentang standar isi yaitu lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan Berisi tentang standar kompetensi lulusan utk satuan pendidikan dasar dan menengah Mengatur tentang pelaksanaan peraturan mendiknas tentang standar isi dan SKL untuk stuan pendidikan dasar dan menengah Edaran/himbauan untuk segera mensosialisikan & menerapkan KTSP mulai tahun pelajaran 2006/2007 Yaitu tentang contoh kurikulum tingkat satuan pendidikan yang bisa dikembangkan Yaitu tentang contoh format silabus (deskripsi tentang pokokpokok materi pembelajaran) Contoh format rencana pelaksanaan pembelajaran yang bisa dikembangkan Yaitu contoh format silabus dari muatan lokal yang bisa dikembangkan sesuai karakteristik lingkungan di sekitar sekolah Yaitu format kegiatan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekpresikan dirinya IPA terpadu diartahkan ke lingkungan ttg pengelolaan alam sesuai dgn kondisi lingkungan di kep. e. tentang bina emosi dan sosial dan buku tentang keterampilan yang menunjang 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa responden mengetahui dokumen hanya sekadar kulitnya saja. Hal ini dapat dilakukan tidak hanya dalam bentuk sosialisasi saja tetapi juga melalui workshop dengan menggunakan media langsung (rapat kerja). Perlu dilakukan berbagai upaya agar pemahaman tentang kebijakan pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan memiliki persepsi yang sama. sesuai kondisi sekolah. dan KTSP No 1 Jenis Dokumen Permendiknas No. Ketika diminta untuk mendeskripsikan isi dokumen tersebut untuk melihat apakah mereka telah mempelajari dan memahaminya. BPM. sama sekali belum dipahami. d. SKL.7%) dan teman (10. Babel Pada pembelajaran tematik guru harus lebih kreatif membuat alat peraga atau pembelajaran atau menyenangkan sehingga anak tidak bosan Berisikan tentang program khusus: a. pengawas (10. Mereka mendapatkan informasi tersebut dari Kepala Dinas 15. berikut jawaban yang mereka berikan: Tabel 13 Jawaban Responden tantang Dokumen SI.2%. sedangkan apa yang tertera secara eksplisit dan implisit di dalamnya. 23 tahun 2006 Permendiknas No. 24 tahun 2006 Surat Edaran Mendknas No. b.tersebut. 22 tahun 2006 Permendiknas No. c.

9%). sisanya (9. di antaranya sebaai berikut: Tabel 14 : Kesulitan dalam Menyusun KTSP Aspek Merumuskan Visi dan Misi Sekolah Merumuskan tujuan sekolah Menetapkan mata pelajaran Menetapkan dan mengembangkan muatan lokal Menetapkan dan mengembangkan kegiatan pengembangan diri Menetapkan pengaturan beban belajar Menetapkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) Menetapkan kriteria kenaikan kelas Kesulitan dan Alasan menyamakan persepsi dengan semua guru & karyawan kesesuaian antara tujuan sekolah dgn situasi. Menurut pernyataan responden. (93. II.1%).cetak.1%). Penyusunan dilakukan sebagian besar dengan cara adaptasi atau penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan sekolah (61. kondisi masyarakat Mata pelajaran mana yang diajarakan lebih banyak jamnya SDM yg ada belum mampu.2% responden guru beranggapan demikian. dan praktis. Penyusunan KTSP Sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah mereka telah menyusun KTSP. dan internet secara interaktif. disusun sendiri (13.9%. 60% kepala sekolah menganggap tidak sulit menyusun KTSP. sederhana. Berdasarkan pendapat responden. dengan menggunakan bahan yang jelas. dan adopsi dari contoh-contoh yang ada (3. Sedangkan responden guru yang menyampaikan sekolahnya telah menyusun KTSP adalah 86. Bagi yang merasakan kesulitan dalam penyusunan KTSP menyampaikan berbagai alasan. media televisi radio.1%). dan adopsi dari contoh-contoh yang ada (7.9%). sebagian besar penyusunan dilakukan dengan cara adaptasi atau penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan sekolah (62. Demikian pula 51. disusun sendiri (16. dan III Dalam kegiatan pembelajaran terkendala pada waktu yang terbatas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 74 . 4.0%).7%).2%) tidak memberikan jawaban. masih kurang memadai sarana dan prasarana pendukung Belum ada tenaga pemikir/pakar dalam hal pengembangan diri Kemampuan menyusun masih belum maksimal Sulit menentukan KKM karena harus melihat setiap SKL dan KD yang banyak Jika siswa mendapat nilai yang sama untuk menetapkan kriterianya agak sulit namun sudah diulang dengan tes-tes yang lain Tidak diberikan kepada pihak sekolah dalam pengambilan keputusan terakhir Tidak semua budang studi mudah dalam menerapkan pendidikan kecakapan hidup khususnya bidang studi PKN Tidak cukupnya panduan untuk itu Menetapkan kriteria kelulusan Menentukan pelaksanaan kegiatan pendidikan kecakapan hidup Menetapkan dan mengembangkan pendidikan berbasis keunggulan lokal Mengembangkan dan melaksanakan pendidikan berbasis keunggulan global Menyusun kalender Pendidikan Menjabarkan standar kompetensi/kompetensi dasar menjadi indikator Menyusun kegiatan pembelajaran Belum ada tenaga yang dipersiapkan untuk itu Dalam penyususnan kalender pendidikan sudah disusun oleh dinas pendidikan disesuaikan dengan daerah masing-masing Dalam penyusunan berpedoman pada silabus yang ada buku yang dijadikan masih harus dirancang sendiri karena tingkat kesukarannya da ditingkat kelas I.

Persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah agar dapat melaksanakan KTSP Responden berpendapat bahwa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah dalam melaksanakan KTSP adalah adanya kesatuan pendapat dan dukungan dari warga sekolah dalam menentukan tujuan sekolah serta keinginan masyarakat yang dituangkan dalam KTSP. struktur dan muatan. misi. Umumnya responden telah mengetahui komponen-komponen KTSP. KTSP serta teknis Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 75 . Juga perlu didukung oleh kesiapan semua komponen sekolah. ketersediaan dana. Umumnya responden menyatakan bahwa kurikulum sebelumnya (1994) perlu diubah menjadi KTSP dengan alasan (1) Karena dengan pembelajaran berdasarkan kompetensi. yang sifatnya sudah harus menjabarkan secara teknis dan rinci. tujuan Sekolah. Sedangkan hal-hal yang harus dilakukan guru agar dapat melaksanakan KTSP secara optimal adalah guru harus memiliki pemahaman yang baik terhadap konsep dan falsafah implementasinya di lapangan. pengaturan beban belajar. kalender pendidikan. yaitu (1) visi misi dan tujuan pendidikan. silabus. struktur kurikulum. muatan lokal. RPP (2) visi. Pemahaman Tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan KTSP Sebagian besar responden menyatakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang menitikberatkan atau berorientasi pada kompetensi/kemampuan siswa dengan harapan setelah siswa selesai sekolah memiliki suatu kompetensi diri yang kompeten. standar kompetensi lulusan dan SKBM/KKM. 5. kalender pendidikan standar kompetensi. anak dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih optimal (2) layak disempurnakan dalam kerangka inovasi pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.Menetapkan materi pokok Menyusun bahan ajar Menentukan strategi dan alat penilaian Menindaklanjuti hasil penilaian Menentukan alokasi waktu Ada perbedaan pada referensi pendukung sehingga harus penuh teliti berdasarkan tuntutan dan SI Masih kurangnya buku sumber yang ada diperpustakaan atau toko buku yang ada Banyaknya tugas guru dalam penilaian yang terlalu rumit Melakukan remedial terhadap siswa yang belum tuntas Di alokasi waktu kadang-kadang tidak cukup karena siswasiswa asik dengan percobaan-percobaan yang di cobanya kerna jika belum berhasil siswa tidak akan meninggalkan tempatnya walaupun guru mengatakan sudah selesai jam pertemuannya Sulit mencari sumber dan alat untuk kompetensi tertentu Membedakan KD dan indikator perlu pemahaman para guru Cara mengembangkan indikator kegiatan pembelajaran/penilaian Cara menentukan strategi/model pembelajaran/evaluasi Menentukan sumber dan alat pembelajaran Merumuskan tujuan pembelajaran Menyusun silabus Menyusun RPP Data di atas menunjukan masih terdapat inkonsistensi antara pemahaman isi dokumen berkaitan dengan KTSP dengan kesulitan yang dialami guru dan kepala sekolah dalam mengembangkan dan menerapkan KTSP. bahan yg akan dijadikan acuan. 6.

Unsur-unsur yang harus ada dalam silabus adalah SK. pertemuan rutin guru. serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung yang belum memadai. Umumnya sekolah melibatkan pengawas dalam penyusunan silabus. materi pokok. Umumnya responden melihat hal-hal positif yang ada dalam KTSP. RPP dibuat untuk setiap pertemuan. Umumnya responden meyakini bahwa silabus dan RPP dapat menuntun atau membantu guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Secara umum responden menyatakan bahwa kondisi (sumber/alat/dan sumber daya di sekolah belum memadai untuk mendorong keterlaksanaan KTSP. Pelaksanaan KTSP Umumnya responden memahami silabus sebagai penjabaran SK. kegiatan pembelajaran. sedangkan Silabus dibuat untuk beberapa kali pertemuan. kepsek. KD. 7. work shop. Sedangkan kurikulum 1994 berorientasi pada tujuan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 76 . Persyaratan dan Kebutuhan sekolah dalam menyusun KTSP adalah adanya kemauan yang keras dari pihak sekolah untuk menyusun dan mengimplementasikan KTSP serta dukungan dana yang besar. KD. Strategi sekolah dalam mensosialisasikan KTSP kepada warga sekolah (guru. guru sebagai fasilitator.Umumnya responden menyatakan perbedaan antara KTSP dengan kurikulum 1994 adalah bahwa KTSP berorientasi pada penguasaan kompetensi. serta warga sekolah lain dengan dibimbing oleh pengawas dan kepala UPT Dinas Pendidikan setempat. indikator. Permasalahan dan upaya mengatasinya Secara umum. di antaranya kurikulum KTSP lebih menampung inspirasi dari warga sekolah serta mencakup perubahan/menyesuaikan dengan kondisi yang ada. 6. orang tua). Sebagian besar responden menyatakan bahwa umumnya silabus disusun oleh para guru secara bersama-sama dengan rekan satu sekolah maupun dalam MGMP. KTSP memerlukan silabus karena silabus merupakan penjabaran dari standar kompetensi yang mengacu pada pencapaian standar kelulusan. Dalam implementasinya. masih ada permasalahan dalam implementasi KTSP. Persoalan yang umumnya dialami oleh sekolah dalam menyusun KTSP menurut responden adalah pemahaman yang belum maksimal dari warga sekolah. Caranya dengan mengadakan diklat. indikator sebagai pedoman dalam pelaksanaan KBM. Umumnya responden menyatakan bahwa perbedaan antara silabus dan RPP adalah: RPP sifatnya lebih operasional dari silabus. berpusat pada guru. berpusat pada siswa. waktu dan sumber. penilaian. dan masyarakat adalah dengan melakukan diskusi di antara guru. terutama guru. Upaya untuk mengatasi kesulitan adalah dengan terus meningkatkan pemahaman aspek-aspek yang terdapat dalam KTSP serta peningkatan penggunaan TIK untuk mendukung kegiatan pembelajaran. dan KKKS. abstrak. guru sebagai sumber belajar. konteksual. baik sebagai pembimbing maupun sebagai narasumber. KKG.

7%) atau bersumber dari APBN (12. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 77 . 8. Juga dengan melakukan supervisi. guru dan kepala sekolah. dalam monitoring ini juga dilakukan analisis tentang KTSP dengan sumber data dari oorangtua yang bertindak sebagai komite sekolah. Memberi motivasi bagi guru dan reward bagi yang telah menyusun silabus dan RPP. mendatangkan tenaga ahli. Pendanaan Umumnya responden kepala sekolah menyatakan bahwa penyusunan KTSP membutuhkan biaya yang besar. Membantu memberikan petunjuk. Dana itu bukan dari dana BOS. mendatangkan tenaga LPMP. Upaya sekolah dalam mendorong guru dalam melaksanakan KTSP antara lain dengan: 1. dan bukan dipungut dari siswa. 3.Strategi sekolah dalam melakukan pemantauan pelaksanaan KTSPdi antaranya dengan membentuk tim kecil di bawah naungan wakil kepala skeolah bidang kurikulum dan wakil kepala skeolah bidang pengendali mutu untuk melakukan pemantauan. Sekolah umumnya memanfaatkan sumber dana lain (48. Berikut adalah berbagai informasi yang berkaitan tentang KTSP menurut persepsi orangtua. melibatkan pengawas sekolah. Sedangkan untuk melakukan sosialisasikan KTSP di lingkungan warga sekolah pada umumnya dana diperoleh secara swadaya (19. Persepsi Komite Sekolah (Orangtua) dalam Pengembangang dan Penerapan KTSP Selain menggunakan sumber data dari dinas pendidikan.5%) untuk menyusun KTSP. 2. C. dan tim pengembangan kurikulum sekolah.1%). juga bukan dari Dinas Pendidikan (APBD). Memberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengikuti diklat dan banyak bertanya pada rekan sejawat yang lebih paham.

Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi KTSP yang telah dilakukan cukup berhasil. orang tua dituntut untuk berperan aktif dalam mendukung keberhasilan siswa dalam pencapaian kompetensi yang diharapkan. perlu digali sejauhmana orang tua siswa memahami perbedaan kurikulum yang sekarang dengan kurikulum yang berlaku selama ini. diperoleh gambaran bahwa umumnya (90%) orangtua siswa menyatakan bahwa KTSP berbeda dengan Kurikulum 2004. Pemahaman orang tua terhadap perbedaan kurikulum yang sebelumnya dengan KTSP 85 . 5. Sebanyak 50 % menyatakan mengetahuinya dari sekolah sedangkan 50 % lagi tanpa penjelasan. dan hanya 10% menyatakan tidak. Perbedaaan KTSP dengan Kurikulum sebelumnya Memahami kurikulum yang berlaku termasuk hal yang harus dilakukan oleh orang tua.00 Diagram 1. Pemahaman Orang Tua Siswa/Komite tentang Pelaksanaan Kurikulum a.1. Hal ini menjadi penting karena perubahan kebijakan tentang kurikulum saat ini memiliki konsekuensi terhadap peranan orang tua. Berdasarkan hasil wawancara.0 0% % Tahu Tidak Tahu Tidak berbeda Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 10 . Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam penyusunan KTSP pihak sekolah telah mensosialisasikan kepada orang tua melalui komite Berikut diagram tentang pemahaman orang tua/komite tentang KTSP.00 % 78 . Dengan adanya otonomi sekolah dalam pengembangan kurikulum. Berkaitan dengan perubahan kebijakan kurikulum saat ini.

dan 24. sedangkan 20% belum pernah sama sekali menerima sosialisasi KTSP. Sedangkan 80 % lainnya sudah menerima penjelasan tapi tidak mengetahui dengan pasti arti penjelasan tersebut. Respon yang sangat baik ini memberikan indikasi bahwa KTSP mendapat sambutan yang sangat positif dikalangan orang tua (stake holder) sehingga sosialisasinya perlu ditingkatkan dan strategi implementasinya perlu dievaluasi secara berkala agar implementasinya maksimal. Berdasarkan wawancara dengan orang tua. sebanyak 90% orang tua menyatakan menerima penjelasan tentang KBK dari pihak sekolah dan dinas pendidikan setempat. c. Sedangkan 15 % lainnya sudah mendengar tapi belum menunjukkan pemahaman tentang KTSP. Namun demikian memberi indikasi bahwa sosialisasi KTSP di tingkat satuan pendidikan SMA (khususnya) dan SMK sudah dilakukan sekolah dengan baik kepada orang tua (stake holder) namun perlu ditingkatkan dan dilakukan lebih intensif. Sehubungan dengan tersebut. perlu ada upaya sekolah untuk melibatkan orang tua dalam sosialisasi kurikulum. berdasarkan wawancara dengan orang tua siswa. 2. Namun hanya 20 % yang menyatakan mengerti penjelasan yang diberikan sehingga dapat memberikan dukungan dan kerja sama dengan pihak sekolah. Berikut diagram respon orang tua terhadap pelaksanaan KTSP di sekolah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 79 . Konsep dan Strategi Sosialisasi KTSP Pemahaman yang benar bagi setiap orang tua terhadap KTSP sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran siswa. Namun secara implisit orang tua (25%) mengharapkan kemampuan dan komitmen sekolah yang sungguh-sungguh untuk menyusun dan melaksanakan KTSP sesuai potensi daerah dan karakteristik sekolah. sedangkan 10 % menyatakan belum pernah. Ini menunjukkan bahwa pemahaman orang tua tentang KTSP belum memadai sehingga perlu sosialisasi lebih lanjut agar orang tua dapat berpartisipasi lebih aktif dalam pendidikan putra/putrinya. Respon Orang Tua terhadap pelaksanaan KTSP di sekolah Hampir semua responden (99 %) menyatakan senang dengan pengunaan KTSP sebab membuat perhatian siswa terhadap kegiatan belajarnya lebih besar (siswa lebih aktif belajar) dan kemampuanya lebih dieksplorasi.b. diperoleh informasi bahwa sebanyak 65% orang tua cukup mengerti bahwa KTSP disusun dengan memperhitungkan potensi lingkungan dan didasarkan atas Permen Mendiknas Nomor 22. 23. Penjelasan Kebijakan Kurikulum terhadap Orang Tua Siswa` Untuk mendukung pemahaman orang tua.

25. frekuensi siswa meminta uang tambahan untuk biaya belajar setelah menggunakan KTSP Sebanyak 57.86% kadang-kadang orang tua mengeluarkan uang tambahan) orang tua menyatakan adanya tambahan pengeluaran biaya yang signifikan dengan penerapan KTSP.86% (yang menyatakan tidak pernah/hampir tidak pernah mengeluarkan biaya tambahan setelah penerapan KTSP) menyatakan bahwa sekolah di mana putra/i mereka bersekolah telah menyusun anggaran yang lengkap sehinga semua pembiayaan sudah dibayar pada awal tahun ajaran. asalkan siswa menjadi lebih pandai dan disiplin 55. Ini menunjukkan bahwa pengeluaran tambahan untuk biaya studi setelah KTSP diterapkan cukup signifikan. Untuk itu sosialisasi KTSP yang akan datang tidak saja difokuskan pada konsep-konsep KTSP tetapi lebih dari itu difokuskan pada strategi implementasi dan teknik pelaksanaan. Berikut diagram frekuensi siswa meminta uang tambahan untuk beiaya belajar setelah menggunakan KTSP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 80 . Sedangkan 42.00% 20. Namun dari data rersponden tidak ditemukan keluhan atau keberatan orang tua (stake holder) sehubungan dengan tambahan biaya ini.00% Diagram 2. Tanggapan orang tua terhadap pelaksanaan KTSP dan peluangnya dalam peningkatan kemampuan siswa 3.00% Sangat Senang Senang.29% sering dan 42. Hubungan penerapan KTSP dengan biaya yang dikeluarkan siswa dalam proses belajar mengajar (a). Senang. Dengan demikian walaupun penerapan KTSP mempunyai implikasi pengeluaran dana yang lebih namun dapat diterima secara positif sebab dana-dana tambahan yang dikeluarkan dialokasikan langsung untuk peningkatan kompetensi siswa. karena kemampauan siswa yang dikembangkan banyak dan fokus.15 % (14.

14.29%
Sering

Kadang-Kadang

42.86%
Tidak Pernah

42.86%

Diagram 3. Hubungan penerapan KTSP dengan biaya yang dikeluarkan siswa dalam proses belajar mengajar

(b). Biaya tambahan yang dibayarkan orangtua setelah menggunakan KTSP Semua responden menyatakan adanya tambahan biaya yang besar dan frekuensinya sangat bergantung pada kegiatan yang direncanakan sekolah masing-masing. Namun jawaban responden tengan pengeluaran tambahan ini sangat beragam antara yang sudah terencana melalui APBS sekolah sampai dengan yang tidak memiliki rencana sama sekali. Khusus sekolah-sekolah yang belum memiliki APBS yang baik tambahan pengeluaran ini menambah volume pekerjaan bertambah. Untuk itu dalam pelaksanaan sosialisasi KTSP pada level strategi peleksanaan dan di tingkat teknis operasional perlu diberikan bimbingan pengelolaan keuangan sekolah sehingga baik sekolah maupun orang tua mendapat kemudahankemudahan dalam memberikan layanan kepada putra/i-nya. Berikut diagram biaya tambahan sehubungan dengan penerapan KTSP
10 .00 % % .00 30
<= Rp.10.000,00 Rp.10.000,00 <= - <= Rp.80.000,00

3. Ketersediaan Buku Pelajaran

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

60 .00 %

Relatif, sesuai kebutuhan

Diagram 4. Besarnya biaya tambahan yang dibayarkan orang tua dalam pelaksanaan KTSP di sekolah

81

Responden yang menyatakan buku yang dimiliki siswa cukup memadai dengan yang menyatakan tidak cukup memadai sama besar. Sementara responden yang menyatakan bahwa buku cukup memadai dalam menunjang proses pembelajaran tidak memberikan penjelasan atas jawaban yang diberikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengadaan bukubuku yang sesuai dengan potensi daerah dan sesuai dengan karakteristik siswa perlu diupayakan secara sungguh-sungguh baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Berikut diagram tentang ketersediaan buku pelajaran

20.00% Cukup 40.00% Tidak Cukup Tidak Tahu

40.00%

Diagram 5. Dukungan buku dalam Proses Pembelajaran KTSP

4.

Penjelasan dari Guru tentang Rapor Siswa

Hanya 45% orang tua yang menganggap rapor hasil belajar yang disampaikan sekolah ke pada orang tua memberikan informasi tentang prestasi belajar siswa. Selain itu data responden menunjukkan bahwa yang merasa kurang jelas adalah 25% demikian pula yang tidak memahami sama sekali. Kemungkinannya adalah sekolah belum mampu

medayagunakan format rapor yang ada untuk menginformasikan pencapaian kompetensi siswa, atau format rapor terlalu rumit sehingga untuk memahaminya diperlukan penjelasanpenjelasan yang khusus. Ini menunjukkan bahwa diperlukan suatu penelitian lebih lanjut tentang format laporan hasil belajar dan cara penggunaannya yang diikuti oleh sosialisasi yang intensif dari pihak sekolah terhadap orang tua.

30.00% Jelas 45.00% Kurang Jelas Tidak Jelas

25.00% Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

82

Diagram 6. Informasi hasil belajar siswa melalui rapor hasil belajar.

5. Perubahan Sikap Siswa Setelah Sekolah Menerapkan KTSP Secara umum responden menyatakan adanya perubahan sikap belajar putra/putri mereka yaitu peningkatan minat dan semangat belajar yang signifikan dengan penerapan KTSP. Dengan demikian peningkatan pemahaman dan penguasaan KTSP secara konsep, strategi implementasi, dan teknik pelaksanaan perlu disosialisasikan lebih intensif, luas, dan efektif.
15.00%

Lebih Rajin Belajar Relatif Lebih Rajin Tidak Berubah

55.00% 30.00%

Gambar 7. Pengaruh KTSP terhadap sikap belajar siswa

Informasi 65% responden menyatakan tidak pernah/hampir tidak pernah menerima keluhan dari putra/putri mereka dan 10% yang kadang-kadang menerima keluhan

mengindikasikan bahwa penerapan KTSP cukup signifikan meningkatkan gairah belajar siswa. Kegiatan-kegiatan di luar sekolah yang timbul setelah penerapan KTSP disikapi sebagai implikasi dari semangat KTSP untuk meningkatkan mutu hasil belajar siswa. Dengan demikian KTSP mendapat sambutan positif dari orang tua karena dipandang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. 6. Keluhan Siswa Kepada Orang Tua setelah Sekolah menerapkan KTSP Sebagian besar orang tua (65%0 menyatakan bahwa anaknya tidak pernah mengeluh sehubungan dengan penerapan KTSP, 25 % menyatakan anaknya sering mengeluh, dan 10 % menyatakan kadang-kadang.

Berikut diagram pernyataan orang tua tentang keluhan anak-anak mereka sehubungan dengan penerapan KTSP.

.0 0%

Kadang-kadang Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008
25

10

.0 0%

83

Tidak Pernah

1. Identitas dari para responden adalah sebagai berikut. Pemahaman Tentang Pengertian Standar Isi Sebagian besar responden dari kalangan pejabat struktural Dinas Pendidikan memahami bahwa Standar Isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu (65. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada sekitar 35-37% reseponden belum memahami pengertian standar isi dan standar kompetensi lulusan dengan benar.5% kepala sekolah dan guru menjawab dengan jawaban yang sama.5%). Hal ini senada dengan pemahaman kepala sekolah dan guru. Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara pemahaman Dinas Pendidikan dengan sekolah tentang standar Isi. kepala. tes dimaksudkan juga untuk mendukung temuan-temuan yang diperoleh melalui kuesioner guru. Tes melibatkan seluruh responden dari dinas pendidikan. Perbandingan Hasil Tes Pemahaman KTSP antara Pejabat Struktral di Dinas pendidikan dengan Sekolah (Kepala Sekolah dan Guru) Dalam monitoring ini juga dilakukan tes pemahaman atau tes persepsi tentang persepsi KTSP menurut responden. guru. orangtua dan dinas pendidikan. Sebanyak 63. sekolah. kepala sekolah dan orangtua. Selain untuk melihat persepsi tentang KTSP. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 84 .D.

Satuan pendidikan Dinas pendidikan Pusat Komite sekolah Dinas Pendidikan 84.5 9. d.5%. sementara 4. sementara hanya 0.9% responden dari pejabat struktural Dinas pendidikan menjawab bahwa muatan lokal ditetapkan oleh Dinas Pendidikan. Pengembangan Substansi Muatan Lokal Tentang kewenangan penyusunan dan penentapan kurikulum muatan lokal. Mengatur tentang struktur kurikulum satuan pendidikan Mengatur tentang kompetensi lulusan Dinas Pendidikan 18. sebagian besar responden dari pejabat struktural Dinas Pendidikan (84.5%) menjawab bahwa yang berwenang menetapkan kurikulum muatan lokal adalah satuan pendidikan yang bersangkutan. 12.3 Sekolah (Guru dan Kepsek) 22. b.6 65.9 0. Tabel 16 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Pengembangan Substansi Muatan Lokal Jawaban a. 8% sekolah menjawab muatan lokal di tetapkan dari pusat. Artinya. Ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi Mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.5 63. b.9 3 Tabel di atas memperlihatkan pemahaman responden terhadap Permendiknas No. masih ada sekitar 13-16 % responden belum memahaminya dengan benar.5 8 7.Tabel 15 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Standar Isi Unsur (%) Jawaban a.5 Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 85 .5 c.9 10. 22 Tahun 2006 sangat variatif. Dari kelompok responden yang belum menjawab dengan benar. c.5 % responden yang berasal dari sekolah meberikan jawaban yang sama.7 4.7 responden dari pejabat struktural Dinas pendidikan yang menjawab demikian.7 3. meskipun untuk responden yang berbeda tampaknya pemahaman kedua unsur tidak terlalu jauh berbeda. Hal senada juga terlihat dari jawaban responden yang bearasal dari sekolah (guru dan kepala sekolah).5 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 85. d. terdapat sedikit perbedaan antara responden dari Struktural Dinas Pendidikan dengan sekolah. Sebanyak 9.3 3. yaitu sebanyak 87. 2.

3. diperoleh gambaran bahwa sebagain besar responden menyatakan penyelenggaraan pembelajaran menggunakan sistem paket (60%). Tabel 17 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah Tentang Tujuan Kegiatan Pengembangan Diri Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 1.0 75.5 18. Namur hal ini berbeda dengan pandangan sekolah. Data ini menunjukkan bahwa Belem semua pihak yang memahami tentang pengaturan beban relajar sebagaimana yang tertuang dalam PP nomor 19 tahun 2005 tersebut. b.6%. Memperdalam penguasaan mata pelajaran Menciptakan wahana kegiatan sesuai minat dan bakat siswa Memberi pelayanan konseling pada siswa memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri. hanya 48. Hal ini Belem banyak dipahami oleh pelaksana pendidikan di lapangan. d.0 3.5 19.4 2. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 18 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Sistem pembelajaran pada SMA/MA/SMK/MAK Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 86 .6 4.9% sekolah yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pembelajaran menggunakan sistem paket.9 Jawaban a. Berdasarkan tes pemahaman terhadap Dinas pendidikan dan sekolah. sebagian besar responden dari Dinas pendidikan menjawab ” memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri”. Namur hanya sedikit (sekitar 45%) responden (baik Dinas Pendidikan maupun sekolah) yang menyatakan pengaturan pembelejaran berdasarkan sistem kredit semester. Ini berarti terdapat sekitar 24-27% responden memberikan jawaban yang salah atau belum memahami dengan benar. dinyatakan bahwa bagi sekolah yang kategori mandiri bebena relajar diatur dengan sistem keredit semester. Hal yang sama juga terjadi pada responden dari sekolah (Kepala Sekolah dan Guru).5 73.9 %. Sistem Pembelajaran pada SMA/MA/SMK/MAK Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005. sebesar 75. yaitu sebesar 73. c. Dinas Pendidikan 3. Tujuan dari Kegiatan Pengembangan Diri Mengenai kegiatan pengembangan diri.

5 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 48. Hanya 68 % responden dari Dinas pendidikan yang menjawab dengan benar.9 89. terdapat sekitar 30 % responden belum memahami dengan benar.3 Jawaban a.7 % responden sekolah (kepala sekolah dan guru) menjawab sama.6 22. Tabel 19 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Penggunaan Standar Kompetensi Lulusan Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 0.Jawaban a.5%. d. sekolah (kepala sekolah dan guru) menjawab dengan benar sebanyak 89. Penggunaan Standar Kompetensi Lulusan Dalam hal penggunaan Standar Kompetensi Lulusan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik 90. Data ini menunjukkan bahwa terdapat sekitar 10% responden yang belum menjawab dengan benar.0 25. c.8 1.5 % responden dari pejabat struktural Dinas Pendidikan menjawab dengan benar.5 5.9 4.5 3.5 6. b.6 5.1 6.8 2. Sejalan dengan hal tersebut. KTSP disusun oleh sekolah dan disesuaikan dengan kondisi yang ada. Kemungkinan besar yang disebut sebagai kurikulum nasional itu adalah Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. dan sebanyak 70.1 90. Tabel 20 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Jawaban Unsur (%) Sekolah (Guru dan Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 87 . Panduan penilaian kinerja dan portofolio Dinas Pendidikan 1.6 5. b. d. sekitar 25 % responden masih beranggapan bahwa masih ada kurikulum nasional. Pedoman penilaian kelas Pedoman penilaian tertulis pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. Penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Sebagai kurikulum operasional.8 4. Artinya. Menggunakan sistem paket Menggunakan sistem SKS Dapat menggunakan sistem SKS Dapat menggunakan sistem paket Dinas Pendidikan 64. Dan ternyata. c.

. Sebagian besar responden yang berasal dari Dinas Pendidikan (74. Disusun oleh pusat Disusun oleh sekolah dengan mengacu pada kurikulum nasional Disusun oleh sekolah sesuai dengan kondisi.0 2. Standar Isi Standar kompetensi lulusan Panduan penyusunan kurikulum dari BSNP Model kurikulum satuan pendidikan lain Dinas Pendidikan 5..1 9. Lebih dari separuh (55.7 Jawaban a. b. Kecuali. Ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa KTSP harus disusun sendiri mengingat situasi dan kondisi sekolah yang berbeda-beda. tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pandangan dinas pendidikan dengan sekolah dalam pengembangan kompetensi yang lebih tinggi untuk satuan pendidikan tertentu.a...7 1. d.5 7. c.7 70. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 21 pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Acuan yang Digunakan dalam Menyusun KTSP. Acuan Penyusunan KTSP.4 79.. kebutuhan dan potensi sekolah Disusun oleh sekolah sebagai model kurikulum Pendidikan 3.. Artinya. d.7%). Hal senada juga ditunjukan oleh pernyataan kepala sekolah dan guru (79. c.6%).3 74.6 23.5 24.6 68..9 4. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh pernyataan kepala sekolah dan guru (52.5 Kepsek) 2.. Kemungkinan Satuan pendidikan Menyusun KTSP dengan Standar yang Lebih Tinggi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Standar isi dan Standar Kompetensi lulusan memnyatakan bahwa satuan pendidikan dapat mengembangkan kurikulum dengan kompetensi yang lebih tinggi dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 88 .6%) responden dari dinas pendidikan menyatakan hal tersebut mungkin dilakukan asal tetap mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagai ukuran kompetensi minimal..3%) menyatakan bahwa ”model Kurikulum yang dikembangkan oleh satuan pendidikan lain tidak dapat dijadikan sebagai acuan pengembangan KTSP. kecuali. Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 4.6 6. b.7 11.3 8.

9.1 4.0%). Mungkin.6 1.6 1. Lebih lanjut lihat pada tabel dan diagram berikut: Tabel 22 Pemahaman Dinas dan Sekolah tentang Kemungkinan Satuan pendidikan Menyusun KTSP dengan Standar yang Lebih Tinggi Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 38.4 55.9%).4%) menyatakan bahwa hal itu mungkin dilakukan dengan menambah dan memperdalam kompetensi atau materi sesuai dengan ciri dan kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan. d.5 7. asal tetap mengacu pada Standar Isi dan SKL sebagai kompetensi minimal Mungkin dengan tidak menambah mata pelajaran Mungkin.9 b. Tabel dan diagram di atas memperlihatkan bahwa semua responden menyatakan tidak ada masalah apabila satuan pendidikan mampu mengembangkan kurikulumnya melebihi standar SI dan SKL asalkan dengan kriteria tertetu. sebagian responden dari dinas pendidikan (38.Namun demikian.9 Jawaban a.0 52. Hanya sebagian kecil responden dari dinas pendidikan yang menyatakan perlu penambahan jam sebagai konsekuensi dari penaikan standar kompetensi oleh satuan pendidikan. memperdalam kompetensi atau materi sesuai ciri dan kebutuhan satuan pendidikan Mungkin. c. harapan Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Batas Akhir penerapan KTSP Hampir semua responden (sekitar 96%) baik yang berasal dari Dinas pendidikan maupun kepala sekolah dan guru menyatakan bahwa paling lambat penerapan KTSP pada tahun Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 89 . Agak berbeda dengan pernyataan kepala sekolah dan guru yang cenderung menambah jam pelajaran (7. asal tidak menambah waktu lebih dari 4 jam pelajaran per minggu Dinas Pendidikan 38. dengan menambah. Hal ini tidak jauh berbeda dengan pemahaman kepala sekolah dan guru (38.

22 dan 23 tahun 2006 oleh Satuan Pendidikan Sebagian besar responden berpendapat bahwa pengaturan jadual pelaksanaan Permendiknas No. Lebih lanjut lihat pada tabel dan diagram berikut.9 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 18.4 25.1 Harapan Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Limit Waktu Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan 60 40 Dinas Pendidikan 20 0 T. 22 dan 23 Tahun 2006 telah sesuai dengan kesiapan satuan pendidikan atas pertimbangan dinas pendidikan setempat. Daerah dan sekolah yang berpandangan demikian umumnya bagi mereka yang telah menerapkan KBK secara keseluruhan. Lebih lanjut lihat tabel dan grafik di bawah ini.A 2009/2010 T. Tabel 23 Harapan Dinas pendidikan dan Sekolah Tentang Penjadualan Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Jawaban a.1 4.4% untuk sekolah).A 2008/2009 T.2009/2010. Bupati dan walikota dalam Pengaturan Jadual Pelaksanaan Permendiknas No. b.4 23. C d Tahun Ajaran 2007/2008 Tahun Ajaran 2008/2009 Tahun Ajaran 2009/2010 Tahun Ajaran 2010/2011 Dinas Pendidikan 14.4% untuk Dinas pendidikan dan 18.2 52.3 4. Sebagian daerah optimis dengan batas akhir tahuan 2007/2008 (14.6 57.A 2007/2008 T.A 2010/2011 Sekolah T abel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden berharap bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah seharusnya sudah mulai menerapkan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah paling lambat Tahun Ajaran 2009/2010 10. Peranan Gubernur. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 90 .

Bupati dan walikota dalam Pengaturan Jadual Pelaksanaan Permendiknas No.1 13.4 33.4 7.5 8.Tabel 24 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Peranan Gubernur.3 32. Sesuai dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan Secara serempak di seluruh wilayahnya Ditetapkan dan dipertimbangkan oleh dinas pendidikan Ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan pertimbangan dinas pendidikan Dinas Pendidikan 46. 22 dan 23 tahun 2006 oleh Satuan Pendidikan Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 51.7 Jawaban a.1 Dari tes pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa peran dinas pendidikan adalah sangat vital dalam membentuk persepsi.5 7. d. c. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 91 . melakukan sosialisasi dan mengkoordinasikan pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan. b.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 92 . Kesulitan dalam membuat silabus akan berdampak pada rumusan RPP yang tidak saling berhubungan. kuesioner dinas pendidikan. yaitu jaminan kompetensi dicapai: c. Ketepatan rumusan langkah langkah kegiatan. telah merinci dari silabus: c. pengalaman belajar yang sesuai.aplikasi konsep atau orientasi kelas (2) Kegiatan inti. metode pemecahan masalah dsb. 2 RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan penjabaran operasional dari silabus untuk waktu yang lebih singkat yaitu tiap tatap muka dilaksanakan. hasilnya adalah sebagai berikut. Rumusan materi. penugasan. dalam kelas. Rumusan Indikator dengan KD : (1) Minimal dua indikator: (2) Menggunakan kata kerja kemampuan: (3) Rumusan mengacu kompetensi. No 1 Aspek Ketepatan rumusan Komponen Silabus : a. tampak bahwa guru belum memahami konsep dan teknik pembuatan silabus terutama pada bagian perumusan indikator. Secara umum. Hubungan Indikator dengan tujuan pembelajaran: b. dari segi: (1) Menggunakan variasi metode (individual. ceramah.Memuat sumber belajar: Ketepatan rumusan komponen RPP: a. Oleh sebab itu RPP sangat bergantung pada silabus yang telah di buat. indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai d. problem solving. Dari data hasil observasi menunjukkan bahwa secara rata-rata guru masih menemukan kesulitan dalam membuat RPP yang sesuai agar siswa memperoleh kompetensi seperti yang diharapkan. Rumusan Metode. diskusi. juga dilakukan observasi pembelajaran. Ketepatan rumusan penilaian dengan KD: (1)Teknik/bentuk penilaian dengan kompetensi: (2) Rumusan tugas: f. pada aspek: (1) Kegiatan awal: memuat konsep/kegiatan prasyarat. Observasi Kegiatan Pembelajaran Selain menggunakan tes pemahaman atau tes persepsi KTSP. dan kuesiner orangtua. prinsip pembelajaran yang aktif dan umpan baliknya. kelompok. Ketepatan rumusan kegiatan pembelajaran dengan KD (1) Kegiatan pembelajaran bervariasi: (2) Pokok pokok kegiatan dengan kompetensi yang ingin dicapai: e. Tujuan observasi adalah untuk memotret secara faktual perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dilihat dari segi: kesesuaianya dengan kebijakan pengembangan KTSP. kuesioner guru dan kepala sekolah. klasikal. luar kelas. (2) Hubungan metode dengan kompetensi. Memuat materi pembelajaran: d.E. dari segi: Pembahasan hasil Observasi Dalam hal pembuatan silabus. dan teknik penilaian yang dapat mengukur pencapaian kompetensi siswa. SK dan KD dengan SI dan SKL : b. Memuat alokasi waktu: g.

5 Secara rata-rata guru sudah mampu menerapkan prinsipprinsip penilaian untuk mengetahui hasil belajar siswa. Tetapi hal ini bertentangan dengan kenyataan sebelumnya yaitu bahwa guru belum mampu membuat RPP yang sesuai dengan silabus. Bentuk/teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran: b. Memuat alokasi waktu: g. dari segi: (1) Teknik/bentuk penilaian dengan indikator: (2) Memuat contoh penilaian: (3) Memuat pedoman skoring/kunci jawaban: f.Memuat sumber belajar: PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN Kesesuaian pelaksanaan kegiatan belajar dengan RPP.Tingkat pencapaian siswa: c. indikator atau tujuan pembelajaran: b. Kegiatan Akhir (penutup): (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi.* Telah merinci kegiatan pada silabus: * Kegiatan dengan kompetensi. Kegiatan inti: (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 93 . penugasan lebih lanjut. Ketepatan rumusan penilaian dengan indikator. saat: a. memuat rangkuman. Kegiatan awal: (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. indikator atau tujuan pembelajaran: (3) Organisasi kelas yang digunakan dengan tujuan pembelajaran: (4) Kegiatan pembelajaran efektif: c. indikator atau tujuan pembelajaran: Penilaian: a. indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai: * Memuat lampiran lembar kerja (LK) apabila terdapat penugasan menggunakan lembar kerja (3) Kegiatan penutup. 6 Secara rata-rata guru sudah menggunakan sumber belajar dengan baik dan efektif dalam melaksanakan pembelajaran. Kualitas dari konstruksi soal/penilaian: Sumber belajar: 4 Secara rata-rata data ebservasi menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru sudah melaksanakan sesuai dengan RPP yang di buat. renungan atau lainnya e.

Implementasi atau Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. guru. Unsur-unsur yang dimonitor adalah (a) apakah responden telah memeiliki dokumen dan bagaiaman cara mendapatkan dokumen tersebut. (2) Kesiapan dan kemampuan sumber daya yang ada. 3. Unsur-unsur tersebut digali melalui tes pemahaman. komite/orang tua siswa melalui angket. 23. workshop. dan 34 Tahun 2006. Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. tes pemahaman dan wawancara. dan wawancara. (e) sejauhmana dukungan komite/orang tua siswa terhadap pelaksanaan kurikulum. Aspek Analisis Monitoring ini memnfokuskan pada tiga aspek. 2. (d) apakah sarana dan prasarana memadai. . 1. dan pelatihan. dan implementasi. dan (3) Implementasi atau penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. (c) fungsi Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar yang terdapat dalam Standar Isi dan (d) fungsi Standar Kompetensi Lulusan.BAB V ANALISIS HASIL MONITORING A. (c) apakah ada program peningkatan kompetensi melalui sosialisasi. Pemahaman terhadap Standar Isi Dan Standar Kompetensi Lulusan Unsur-nsur yang dijadikan patokan pengkajian adalah (a) hal-hal apa saja yang diatur dalam peraturan tersebut. Informasi ini diperoleh melalui pejabat struktural dan staf Dinas Pendidikan. kepala sekolah. Hal ini akan menggambarkan sejauhmana Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 94 . (b) apakah kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan memadai. Kemampuan dan Kesiapan Sumber Daya Kemampuan dan kesiapan sumber daya sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan kebijakan. (b) hal-hal apa saja yang dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah/satuan pendidikan. 23. pengembangan. serta Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. yaitu: (1) Pemahaman terhadap isi kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Satndar Isi. dan 24 Tahun 2006. (f) bagaimana pengganggaran dan pembiayaan kegiatan mulai dari persiapan (sosialisasi). Unsur-unsur yang dikaji adalah (a) apakah jumlah sumber daya manusia memadai. angket.

Standar Kompetensi Lulusan. RPP. (f) bagaimana penjadualan penerapan . dan komite/orang tua siswa). dan 24 tahun 2006. penilaian dan sebagainya). (h) apakah ada koordinasi antar pihak-pihak terkait? Informasi ini diperoleh melalui pejabat struktural dan staf Dinas Pendidikan. Pemberlakuan KTSP sebagai impelementasi dari kebijakan pemerintah sebagaimana yang diamantkan oleh berbagai peraturan perundang-undangan yang mendasarinya. 23. dan KTSP.pihak-pihak terkait proaktif dalam mendapatkan informasi. masih banyak persoalan yang harus dituntaskan. (d) apa dampak. potenai. tes pemahaman dan wawancara kepada semua responden. misalnya dengan meng-copy sendiri atau menunggu informasi dikirimkan oleh pihak yang berwenang. dan kebutuhan daerah serta peserta didik. umumnya responden memahami KTSP disusun dan ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan mempertimbangkan keragaman kondisi. parsoalan tersebut antara lain adalah : Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 95 . Akibatnya. B. penerapkan KTSP di masing-masing satuan pendidikan belum begitu kuat karakteristiknya. guru. Hal senada juga diakui oleh responden yang berasal dari sekolah (kepala sekolah. dan upaya yang dilakukan. (c) apakah sudah melaksanakan KTSP. Namun. silabus. Hasil Analisis Pemahaman Responden Terhadap Standar Isi. 1. (b) apakah sudah menyusun KTSP dan perangkatnya (struktur kurikulum. Dilihat dari pemahaman yang diperoleh melalui jawaban angket. dapat diterima secara baik oleh pelaksana di lapangan. Umunya naskah tersebut baru pada tahap ”copy-paste”. substansi dan strategi strategi implementasi KTSP belum cukup dipahami. kendala. Berdasarkan angket yang diberikan kepada pejabat dan staf struktural Dinas Pendidikan provinsi dapat disimpulkan bahwa semua daerah telah melakukan sosialisasi tentang Peraturan Mendiknas Nomor 22. Hal ini dilihat dari naskah KTSP dan perangkatnya yang disusun oleh masing-masing satuan pendidikan. komite/orang tua siswa melalui angket. tes pemahaman dan wawancara. (e) sejauhmana peran serta masyarakat. . Sebagai contoh. dapat disimpulkan bahwa secara konseptual sebagian besar responden cukup memahami peraturan mendiknas tersebut. kepala sekolah. guru. Sungguhpun demikian. (g) berapa persen daerah (kabupaten/kota) yang telah melaksanakan sosialisasi.

daerah dan sekolah mampu mengatasi berbagai persoalan tersebut melalui pemberian pengertian kepada semua pihak. Informasi ini diperoleh melalui observasi dan wawancara yang dilakukan tehadap siswa. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. Kemampuan dan Kesiapan Sumber Daya 1. terutama dalam hal pengadaan buku-buku pelajaran dan biaya kegiatan pembelajaran. menurut pengakuan responden. penggunaan sumber belajar belum bervariasi. 2. perlu dikembangkan suatu sistem sosialisasi dan pembinaan terhadap satuan pendidikan agar pengelolaan pembelajaran lebih efisien dan efektif. Hal ini mengkibatkan proses pembelajaran belum efisien dan efektif. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. Guru belum mampu membuat silabus yang baik dan kontekstual Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 96 . proses penilaian belum sesuai dengan karakter dan tingkat kompetensi yang dituntut. Namun upaya belum cukup mengingat proses pembelajaran yang berlangsung masih mengikuti pola lama. 2. Guru sudah membuat silabus dan RPP 2. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK.Sebagian orang tua mengeluhkan tentang adanya penambahan biaya pendidikan shubungan dengan penerapan KTSP. dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Dengan adanya sejumlah persoalan di atas. potensi sekolah. termasuk dalam hal pengunaan sumber belajar yang tidak terbatas pada buku tertentu saja. tugas-tugas yang harus mereka selesaikan menjadi bertambah banyak sehingga melelahkan. Format rapor KTSP berlum mampu memberikan informasi tentang prestasi peserta akademik maupun non akademik peserta didik. terutama dalam penggunaan metode pemeblajaran yang monoton. Silabus yang di buat guru belum menunjukkan penjabaran SK dan KD yang disesuaikan dengan potensi daerah/wilayah. 3. Perlu pendampingan yang lebih strategis dan teknis dalam penyusunan KTSP 1. Sebagian orang tua sering menerima keluhan dari anak-anak mereka bahwa setelah menerapkan KTSP. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 3. Sejauh ini.

Secara rata-rata guru sudah baik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan kesusuaian isi materi yang diajarkan dengan silabus yang telah di susun. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. Dalam merencanakan sumber belajar yang akan digunakan guru sudah merencanakan dengan baik. dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. 7. Guru sudah mampu merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar dengan baik . namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan efektivitas. potensi sekolah. Implementasi atau Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. 9. namun masih perlu obsevasi yang lebih rinci berkaitan dengan kualitas instrumen penilaian yang digunakan. 23. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. 3. Perlu pendampingan yang lebih strategis dan teknis dalam penyusunan KTSP seperti penyusunan APBS. Walaupun sebagian guru dalam observasi ini sudah membuat silabus dan RPP. Silabus yang di buat guru belum menunjukkan penjabaran SK dan KD yang disesuaikan dengan potensi daerah/wilayah. efisiensi dan tingkat kesesuaiannya denga kompetensi dasar yang hendak di capai. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 10. program mulok. 11. Guru belum mampu membuat silabus yang baik dan kontekstual Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 97 . 1. 2. 8. kondisi sekolah dan karakteristik peserta didik. tetapi dari silabus dan RPP yang dibuat tampak bahwa guru belum menguasai konsep pengembangan silabus dan teknik implementasinya sesuai kondisi wilayah.4. dan program pengembangan diri. 6. Guru belum mampu membuat RPP 5. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. dan 34 Tahun 2006. 3.

Guru belum memahami prinsip pengembangan SK menjadi KD dan menjabarkannya menjadi indikator. pengalaman belajar dan penilaian. dinas pendidikan dan masyarakat. serta hasil tes pemahaman.4. efisiensi dan tingkat kesesuaiannya denga kompetensi dasar yang hendak di capai. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dari SDM pada tingkat sekolah maupun dinas pendidikan. dan dinas pendidikan. penerapan KTSP pada penyelenggaraan pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan SI dan SKL. Dalam merencanakan sumber belajar yang akan digunakan guru sudah merencanakan dengan baik. namun masih perlu obsevasi yang lebih rinci berkaitan dengan kualitas instrumen penilaian yang digunakan. kuesioner guru. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 98 . Dari hasil observasi pembelajaran. 2. 1. dapat disimpulkan beberapa hal berikut. Implikasinya adalah guru belum mampu mengembangkan indikator soal dan mengembangkan instrumen penilaian yang tepat. 8. namun ini perlu dipertajam sampai tingkat operasionalisasi dalam pengembangan dan penerapan kurikulum mencakup komite sekolah. pengawas. namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan efektivitas. Secara rata-rata guru sudah baik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan kesesuaian isi materi yang diajarkan dengan silabus yang telah di buat 7. 6. Guru belum mampu membuat RPP 5. kepala sekolah. Guru sudah mampu merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar dengan baik. orangtua siswa. pemahaman tentang KTSP sudah memadai. sekolah.

82 % responden menyatakan menerima keluhan dari putra/putrinya berkaitan dengan tugas-tugas yang diberikan. namun ini perlu dipertajam sampai tingkat operasionalisasi dalam pengembangan dan penerapan kurikulum mencakup komite sekolah. KESIMPULAN Secara umum. dinas pendidikan dan masyarakat. Penggunaan KTSP sebagai kurikulum pendidikan saat ini diterima dengan baik oleh orang tua walaupun muncul keluhan-keluhan dari pihak siswa karena perubahan pola pembelajaran (responden menyatakan senang dengan penggunaan KTSP. sekolah. pemahaman tentang KTSP sudah memadai. Format rapor KTSP berlum mampu memberikan informasi tentang prestasi peserta akademik maupun non akademik peserta didik. Hasil monitoring menunjukkan 81 % responden menyatakan telah mengetahuinya. 5. Substansi KTSP dan strategi implementasinya belum dipahami dengan jelas oleh pihak sekolah dan orang tua. REKOMENDASI Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 99 . aktifitas dan kreatitivitas siswa dalam belajar hampir semua responden menyatakan bahwa penggunaan KTSP membuat putra/putri mereka lebih rajin belajar. 1. pengawas. Penggunaan KTSP di tingkat satuan pendidikan cukup signifikan dalam meningkatkan motivasi. KTSP sebagai model kurikulum yang berdasar pada Standar Isi dan dikembangkan dengan memperhatikan potensi dan karakteristik wilayah/sekolah belum disosialisasikan dengan baik. namun dapat mengatasinya dengan memberikan pemahaman dan pengertian). 3. namun tidak memahami subtansinya 2. (77% orang tua menyatakan tidak puas dengan format rapor hasil belajar yang diterima) B. Hasil monitoring menunjukkan 81 % responenden menyatakan tahu tentang KTSP tetapi tidak memahaminya dengan baik. 4.BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. 6. Ada peningkatan biaya yang signifikan dengan penggunaan KTSP (85 % responden menyatakan tambahan biaya yang timbul cukup signifikan dengan aktivitas belajar yang terjadi).

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 100 . Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dari SDM pada tingkat sekolah maupun dinas pendidikan. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. 5. sebaiknya secara periodik (1 tahun sekali) dilakukan monitoring dan berupaya untuk membandingkannya. 7.Penerapan KTSP pada penyelenggaraan pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan SI dan SKL. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 6. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. Agar monitoring ini dapat jauh lebih bermanfaat. maka untuk melihat adanya perkembangan kemampuan guru-guru dalam melaksanakan KTSP di lapangan. 4.

. PT Remaja Rosdakarya. 2002 - Piet A. Dr. Fakultas psikologi Universitas Pajajaran. Bandung. Jakarta.M. Drs.Drs. Rineka Cipta. 2001 - M. 2002 Agus Dharma. Pusimplementasi kurikulum Pegawai Depdiknas..Ed. Angkasa. Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. M. Bandung. Prof. 2000 Oteng sutisna. Admistrasi Pendidikan.. Manajemen Pelatihan. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Sc..Daftar Pustaka - Subagio A.. Sahertian. 1983 Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 101 . MP. - Suryana Sumantri.Ed. Prof... Modul Implementasi kurikulum Management of Trainers. 2003. Ardadizya Jaya.. Supervisi Pendidikan. Drs. Ngalim Purwanto.