EVALUASI PELAKSANAAN KTSP OLEH TIM PENGEMBANG KURIKULUM PROPINSI

PUSAT KURIKULUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA 2008

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendinas) No. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23 tahun 2006 tentang standar isi dan standar kompetensi lulusan disebutkan bahwa salah satu tugas pokok Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dalam hal ini, Pusat Kurikulum adalah memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. 22

Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, mengevaluasinya, dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri. Salah satu yang menjadi bagian dari monitoring tersebut adalah melakukan monitoring secara nasional penerapan peraturan menteri pendidikan nasional dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelaksanaannya. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut perlu dilakukan serangkaian langkah kegiatan mencakup penyusunan panduan dan intrumen evaluasi, pelaksanaan evaluasi dan penyusunan laporan. Panduan digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan instumen dan melaksanakan evaluasi untuk mendapatkan data dan informasi tentang pelaksanaan KTSP pada setiap daerah secara kualitatif maupun kuantitatif. Pelaksanaan evaluasi merupakan langkah kegiatan untuk mendapatkan data dan informasi penerapan KTSP pada daerah yang menjadi objek atau sasaran evaluasi. Penyusunan laporan memuat temuan, masukan atau rekomendasi berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui evaluasi pelaksanaan KTSP agar kebijakan tentang pengembangan kurikulum dapat diterapkan secara efisien dan efektif. B. TUJUAN Kegiatan ini bertujuan untuk melaksanakan evaluasi pengembangan dan pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan sehingga didapat data dan informasi tentang tingkat penerapan KTSP secara kualitatif ataupun kuantitatif pada tiap daerah yang dapat dimanfaatkan satuan pendidikan (sekolah) dalam implementasi kurikulum pada tataran sekolah/daerah.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

1

C. RUANG LINGKUP Kegiatan ini memonitor dan mengevaluasi penerapan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di 33 propinsi D. HASIL YANG DIHARAPKAN Melalui kegiatan ini akan dihasilkan laporan gambaran penerapan KTSP di 33 provinsi, pada satuan pendidikan dasar dan menengah E. PELAKSANAAN Kegiatan penyusunan laporan dilaksanakan pada tanggal 9 – 13 Desember 2008 di Cisarua, Kabupaten Bogor. F. PESERTA Peserta yang dilibatkan dalam kegiatan ini terdiri dari unsure: Satuan Pendidikan, LPMP, Perguruan Tinggi, dan Pusat Kurikulum. Rincian Peserta terlampir

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

2

BAB II KERANGKA BERPIKIR

A. STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Menurut Undang-Undang (UU) No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan kurikulum dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Hal ini dimaksudkan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan pada satuan pendidikan dengan kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, kurikulum dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Selanjutnya pada pasal 36 disebutkan bahwa pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan harus disempurnakan dan ditingkatkan secara berencana, terarah dan berkala sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Kata standar memiliki makna tingkat atau level kualitas atau keunggulan yang harus dicapai dengan kriteria, benchmark, persayaratan atau spesifikasi tertentu. Hal ini sesuai dengan pengertian di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa standar nasional pendidikan merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar nasional pendidikan terdiri atas: 1. standar isi Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

3

Kerangka dasar kurikulum adalah rambu-rambu yang dijadikan pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan. Kerangka dasar dan struktur kurikulum mengatur tentang kelompok mata pelajaran serta kedalaman muatan kurikulum yang dituangkan dalam kompetensi, yaitu standar kompetensi dan kompetensi dasar. Beban belajar mengatur tentang jam pembelajaran dengan sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, pelaksanaan pembelajaran sistem paket dan satuan kredit semester (SKS), serta pemberian pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP. KTSP untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB,

SMA/MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK. Kalender pendidikan/kalender akademik mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur. 2. standar proses Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Standar proses mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. 3. standar kompetensi lulusan

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

4

Standar kompetensi lulusan (SKL) adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Standar ini meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran 4. standar pendidik dan tenaga kependidikan Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Standar ini mengatur tentang pendidik yang harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, Rasio pendidik terhadap peserta didik, kelengkapan dan kualifikasi tenaga kependidikan satuan pendidikan, pengawas satuan pendidikan. 5. standar sarana dan prasarana Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Standar ini mengatur tentang kelengkapan, jenis dan kualitas sarana dan prasarana satuan pendidikan. 6. standar pengelolaan Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Standar ini terdiri atas standar pengelolaan oleh satuan pendidikan, standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan standar pengelolaan oleh pemerintah. Standar pengelolaan oleh satuan pendidikan mengatur tentang penerapan prinsip manajemen berbasis sekolah (MBS), proses pengambilan keputusan, pedoman, rencana kerja tahunan, Pelaksanaan pengelolaan dan pengawasan satuan pendidikan.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

5

oleh satuan pendidikan dan oleh pemerintah. 7. pemerintah propinsi. Dalam melaksanakan tugasnya BSNP menunjuk tim ahli yang bersifat ad-hoc sesuai kebutuhan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 6 . standar penilaian pendidikan Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah propinsi 4. evaluasi kinerja pendidikan oleh satuan pendidikan pada tiap akhir semester. Standar ini mengatur tentang biaya investasi. dan pelaporan pencapaian standar nasional pendidikan. Setiap satuan pendidikan pada jalur formal dan nonformal wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan. standar pembiayaan Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. pemerintah kabupaten/kota. Pemerintah. sistematis. Pencapaian kompetensi akhir peserta didik dinyatakan dalam dokumen ijazah dan/atau sertifikat kompetensi. evaluasi kinerja pendidikan oleh lembaga mandiri Pemerintah melakukan akreditasi pada setiap jenjang dan satuan pendidikan untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan. LPMP mensurpervisi dan membantu satuan pendidikan dalam penjaminan mutu. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah kabupaten/kota 5.Standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan pemerintah mengatur tentang rencana kerja tahunan. dan biaya personal satuan pendidikan. Standar ini mengatur tentang penilaian hasil belajar oleh pendidik. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah (menteri) 3. secara bertahap. pemantauan. penyelenggaraan satuan pendidikan bertaraf internasional. dan terencana dalam suatu program penjaminan mutu yang memiliki target dan kerangka waktu yang jelas. 2. biaya operasi. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bertugas melakukan pengembangan. dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. 8. Sedangkan evaluasi pendidikan meliputi: 1. serta tentang kelulusan peserta didik. prosedur.

Bagian ini meliputi: a) Kerangka Dasar Kurikulum 1) Kelompok Mata Pelajaran Bagian ini menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum. (2) beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Standar Isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang selanjutnya disebut Standar Isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. 22 tahun 2006 adalah sebagai berikut. Sistematika Standar Isi dalam lampiran Permendiknas No. B. 2. STANDAR ISI Di dalam Permendiknas No. kejuruan. 1. (3) kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi. dan (4) kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 7 .Penyelenggaraan satuan pendidikan yang tidak mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan dapat memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari BSNP didasarkan pada penilaian khusus. Ini berarti ketentuan di dalam Permendiknas tersebut bersifat minimal yang harus dicapai peserta didik pada setiap satuan pendidikan. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum. Pendahuluan Bagian ini menjelaskan cakupan standar isi yang meliputi: (1) kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan.

Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu. (2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. dinamis dan menyenangkan. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya (2) Beragam dan terpadu (3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. (1) Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi. perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut.(1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. olahraga dan kesehatan. dan seni (4) Relevan dengan kebutuhan kehidupan (5) Menyeluruh dan berkesinambungan (6) Belajar sepanjang hayat (7) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah 3) Prinsip Pelaksanaan Kurikulum Bagian ini menyatakan bahwa pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut. (4) kelompok mata pelajaran estetika. kebutuhan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 8 . (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. teknologi. 2) Prinsip Pengembangan Kurikulum Bagian ini menyatakan bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. (5) kelompok mata pelajaran jasmani. serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas. (1) Berpusat pada potensi. perkembangan.

yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan menyenangkan. (b) belajar untuk memahami dan menghayati. (5) Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia. (6) Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam. tahap perkembangan. dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan. dan hangat. di tengah membangun semangat dan prakarsa. dan moral. (3) Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan. dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi. keindividuan. keterkaitan. dengan prinsip tut wuri handayani. (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif. ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan. kesosialan. terbuka. dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan. muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan. pengayaan. akrab. di depan memberikan contoh dan teladan). tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar. dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. sumber belajar dan teknologi yang memadai. efektif. melalui proses pembelajaran yang aktif. ing madia mangun karsa. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 9 . (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain. sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.(2) Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar. (7) Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran. contoh dan teladan). kreatif. dan/atau percepatan sesuai dengan potensi. dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri. (4) Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai.

d. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. guru. VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. dan pengembangan diri Pembelajaran pada Kelas I s. belajar. dan III adalah 26. sedangkan pada Kelas IV s.b) Struktur Kurikulum Pendidikan Umum Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 10 . muatan lokal.d. Sedangkan untuk kelas IV s. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. 27 dan 28 jam pelajaran per minggu. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Struktur kurikulum pendidikan umum memuat komponen mata pelajaran. II. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 35 menit. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. Kurikulum SD/MI memuat 8 mata pelajaran. muatan lokal dan pengembangan diri. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum untuk kelas I . Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. bakat. termasuk keunggulan daerah. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.d. dan pengembangan karir peserta didik. III dilaksanakan melalui pendekatan tematik. 1) Struktur Kurikulum SD/MI Struktur kurikulum SD/MI meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai Kelas I sampai dengan Kelas VI. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. VI adalah 32 jam pelajaran per minggu.

Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum adalah 32 jam pelajaran per minggu. dan kelas XI dan XII merupakan program penjurusan yang terdiri atas empat program: (1) Program Ilmu Pengetahuan Alam. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum kelas X adalah 38 jam pelajaran. Program IPS. muatan lokal.2) Struktur Kurikulum SMP/MTs Struktur kurikulum SMP/MTs meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas VII sampai dengan Kelas IX. dan Program Keagamaan terdiri atas 13 mata pelajaran. khusus untuk MA. yaitu kelas X merupakan program umum yang diikuti oleh seluruh peserta didik. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 45 menit. dan pengembangan diri. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 40 menit. Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII Program IPA. Pengorganisasian kelas-kelas pada SMA/MA dibagi ke dalam dua kelompok. (3) Program Bahasa. Substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu”. Program Bahasa. muatan lokal. (2) Program Ilmu Pengetahuan Sosial. dan (4) Program Keagamaan. muatan lokal. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Kurikulum SMA/MA Kelas X terdiri atas 16 mata pelajaran. dan pengembangan diri. 3) Struktur Kurikulum SMA/MA Struktur kurikulum SMA/MA meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas X sampai dengan Kelas XII. dan pengembangan diri c) Struktur Kurikulum Pendidikan Kejuruan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 11 . kelas XI dan XII adalah 39 jam pelajaran dan kelas XI dan XII untuk MA program keagamaan adalah 38 jam pelajaran per minggu. Kurikulum SMP/MTs memuat 10 mata pelajaran.

Pendidikan Kewarganegaraan. pengetahuan. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan program keahlian yang diselenggarakan. Pengembangan diri bagi peserta didik Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 12 . menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi. dan mampu berkomunikasi sesuai dengan tuntutan pekerjaannya.Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan. serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. IPA. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. mata pelajaran Kejuruan. Mata pelajaran Kejuruan terdiri atas beberapa mata pelajaran yang bertujuan untuk menunjang pembentukan kompetensi kejuruan dan pengembangan kemampuan menyesuaikan diri dalam bidang keahliannya. dan prospek pengembangan daerah termasuk keunggulan daerah. kepribadian. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. bakat. dan Keterampilan/Kejuruan. akhlak mulia. Muatan Lokal. Matematika. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Bahasa. dan pembentukan karier peserta didik. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Seni dan Budaya. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta mengembangkan keahlian dan keterampilan. belajar. Pendidikan Jasmani dan Olahraga. memiliki etos kerja yang tinggi. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas. guru. dan Pengembangan Diri. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. serta memiliki kemampuan mengembangkan diri Kurikulum SMK/MAK berisi mata pelajaran wajib. Mata pelajaran ini bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam spektrum manusia kerja. Mata pelajaran wajib terdiri atas Pendidikan Agama. potensi daerah. mereka harus memiliki stamina yang tinggi. IPS.

Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Di dalam penyusunan kurikulum SMK/MAK mata pelajaran dibagi ke dalam tiga kelompok: (1) Kelompok normatif adalah mata pelajaran yang dialokasikan secara tetap yang meliputi Pendidikan Agama. yang materinya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian untuk memenuhi standar kompetensi kerja di dunia kerja. Pendidikan SMK/MAK diselenggarakan dalam bentuk pendidikan sistem ganda. Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi. Kelompok adaptif dan produktif adalah mata pelajaran yang alokasi waktunya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian. Evaluasi pembelajaran dilakukan setiap akhir penyelesaian satu standar kompetensi atau beberapa penyelesaian kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran.SMK/MAK terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. dan dapat diselenggarakan dalam blok waktu atau alternatif lain. Matematika. Bahasa Indonesia. Alokasi waktu satu jam pelajaran tatap muka adalah 45 menit. dan Kewirausahaan (3) Kelompok produktif terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang dikelompokkan dalam Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi Kejuruan. IPS. Struktur kurikulum SMK/MAK meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun atau dapat diperpanjang hingga empat tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII atau kelas XIII. Jumlah jam Kompetensi Kejuruan pada dasarnya sesuai dengan kebutuhan standard kompetensi kerja yang berlaku di dunia kerja tetapi tidak boleh kurang dari 1044 jam. Struktur kurikulum SMK/MAK disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran. IPA. Beban belajar SMK/MAK meliputi kegiatan pembelajaran tatap muka. praktik di sekolah dan kegiatan kerja praktik di dunia usaha/industri ekuivalen dengan 36 jam pelajaran Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 13 . dan Seni Budaya (2) Kelompok adaptif terdiri atas mata pelajaran Bahasa Inggris.

Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. d) Struktur Kurikulum Pendidikan Khusus Struktur Kurikulum dikembangkan untuk peserta didik berkelainan fisik. kemampuan. maksimum empat tahun sesuai dengan tuntutan program keahlian. dan pengembangan diri. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. emosional. belajar. Kurikulum Pendidikan Khusus terdiri atas delapan sampai dengan 10 mata pelajaran. Peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata.per minggu. Peserta didik ini yang berkeinginan untuk melanjutkan sampai ke jenjang pendidikan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 14 . muatan lokal. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. dan bina pribadi dan sosial untuk peserta didik tunalaras. guru. Lama penyelenggaraan pendidikan SMK/MAK tiga tahun. termasuk keunggulan daerah. mental. yaitu program orientasi dan mobilitas untuk peserta didik tunanetra. bina diri untuk peserta didik tunagrahita. program khusus. dan pengembangan karir peserta didik. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Pengembangan diri terutama ditujukan untuk peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. bina gerak untuk peserta didik tunadaksa. Program khusus berisi kegiatan yang bervariasi sesuai degan jenis ketunaannya. bina komunikasi persepsi bunyi dan irama untuk peserta didik tunarungu. bakat. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. intelektual dan/atau sosial. dalam batas-batas tertentu masih dimungkinkan dapat mengikuti kurikulum standar meskipun harus dengan penyesuaian-penyesuaian.

E = tunalaras). B = tunarungu. sederhana dan bersifat tematik untuk mendorong kemandirian dalam hidup sehari-hari. semaksimal mungkin didorong untuk dapat mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan umum sejak SD atau SMP.D.B. E. Mekanisme perpindahan jalur pendidikan adalah sebagai berikut. Peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. dan SMALB A. D.E dirancang untuk peserta didik yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang pendidikan tinggi. Kurikulum SDLB A.E mengacu kepada satuan pendidikan umum yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan khusus peserta didik.E relatif sama dengan kurikulum SD umum.B. setelah menyelesaikan pada jenjang SDLB dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMPLB. SMPLB A . Pada satuan pendidikan SMPLB A.E dan SMALB A.D. sedangkan kompetensi untuk mata pelajaran Program Khusus.tinggi. diperlukan kurikulum yang sangat spesifik. Bagi mereka yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.D. menggunakan sebutan Kurikulum SDLB A. E (A = tunanetra.B. D = tunadaksa ringan. dan Keterampilan dikembangkan oleh satuan Pendidikan Khusus dengan memperhatikan jenjang dan jenis satuan pendidikan. D. D. SDLB SMPLB SMALB MASYARAKAT ANAK LUAR BIASA/ANAK BERKELAINAN PERGURUAN TINGGI/ MASYARAKAT SD/MI SMP/ MTs SMA/MA SMK/MAK Kurikulum untuk peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 15 . dan SMALB. Kompetensi mata pelajaran umum SDLB. B. SMPLB. SMALB A.B. E. B.D. B.

B. dan Tunaganda. D1. dan tidak dihitung sebagai beban belajar. menggunakan sebutan Kurikulum SDLB C.D1. Program Khusus sesuai jenis kelainan peserta didik meliputi sebagai berikut. dan SMALB C.E terdiri atas 60% . G. Pembelajaran menggunakan pendekatan tematik.Proporsi muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMPLB A. C1. SMPLB dan SMALB C. SMPLB adalah 35 menit dan SMALB adalah 40 menit sesuai dengan kondisi peserta didik yang berkaelainan.30% berisi aspek keterampilan vokasional. Kurikulum untuk peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Persepsi Bunyi dan Irama untuk peserta didik Tunarungu (3) Bina Diri untuk peserta didik Tunagrahita Ringan dan Sedang (4) Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Ringan (5) Bina Pribadi dan Sosial untuk peserta didik Tunalaras (6) Bina Diri dan Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Sedang. SMPLB C. Struktur kurikulum pada satuan Pendidikan Khusus SDLB dan SMPLB mengacu pada Struktur Kurikulum SD dan SMP dengan penambahan Program Khusus sesuai jenis kelainan. Kompetensi mata pelajaran pada SDLB. Kurikulum ini dirancang sangat sederhana sesuai dengan batas-batas kemampuan peserta didik dan sifatnya lebih individual.E terdiri atas 40% – 50% aspek akademik dan 60% . Untuk jenjang SMALB.D. G.C1. G. C1. Satu jam pelajaran untuk SDLB adalah 30 menit. Satuan pendidikan khusus SDLB dan SMPLB dapat menambah maksimum 6 jam pembelajaran/minggu untuk keseluruhan jam pembelajaran.50% aspek keterampilan vokasional. dan 4 jam Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 16 .D. C1 = tunagrahita sedang.B. G = tunaganda). (C = tunagrahita ringan. (1) Orientasi dan Mobilitas untuk peserta didik Tunanetra (2) Bina Komunikasi.70% aspek akademik dan 40% . dengan alokasi waktu 2 jam/minggu.G dikembangkan satuan Pendidikan Khusus yang bersangkutan dengan memperhatikan tingkat dan jenis satuan pendidikan. program khusus bersifat kasuistik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik tertentu. D1. Muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMALB A. C1. D1 = tunadaksa sedang. D1.

Muatan kurikulum SDLB. diserahkan kepada satuan pendidikan sesuai dengan minat.D.E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMA umum sehingga menjadi sekitar 40% – 50% bidang akademik. SMPLB. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 17 . Oleh karena itu. Lampiran 2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMP/MTs dan SMPLB. Beban belajar atau alokasi waktu yang diatur dalam struktur kurikulum adalah beban belajar dalam bentuk tatap muka. Sisanya sekitar 40% . dan Lampiran 3 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK.D. Beban Belajar Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka.B. proporsi muatan keterampilan vokasional lebih diutamakan e) Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran pada setiap tingkat dan semester disajikan pada lampiran-lampiran Permendiknas No. Muatan isi mata pelajaran SMPLB A. dan sekitar 60% – 50% bidang keterampilan vokasional. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.C1. SMALB C. kemampuan dan kebutuhan peserta didik serta kondisi satuan pendidikan.30% muatan isi kurikulum ditekankan pada bidang keterampilan vokasional yang meliputi tingkat dasar.B. potensi. tingkat terampil dan tingkat mahir. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi yang terdir atas: Lampiran 1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI dan SDLB.pembelajaran untuk tingkat SMALB sesuai kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan yang bersangkutan.D1. 3.G lebih ditekankan pada kemampuan menolong diri sendiri dan keterampilan sederhana yang memungkinkan untuk menunjang kemandirian peserta didik. Muatan isi mata pelajaran untuk SMALB A.E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMP umum sehingga menjadi sekitar 60% – 70%. penugasan terstruktur. Jenis keterampilan yang akan dikembangkan.

Satuan pendidikan SD/MI/SDLB melaksanakan program pendidikan dengan menggunakan sistem paket. SMP/MTs/SMPLB maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. waktu pembelajaran efektif dan hari libur. Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem kredit semester dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori standar menggunakan sistem paket atau dapat menggunakan sistem kredit semester. dan satu jam kegiatan mandiri tidak terstruktur. satu jam penugasan terstruktur. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB. a) Alokasi Waktu Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 18 . SD/MI/SDLB maksimum 40% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan b. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada untuk: a. c. 4. Sistem kredit semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. Beban belajar satu sks meliputi satu jam pembelajaran tatap muka. sedangkan untuk kegiatan mandiri tidak terstruktur diatur sendiri oleh peserta didik. Kalender Pendidikan Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem kredit semester.Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. SMA/MA/SMALB/SMK/MAK maksimum 60% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. minggu efektif belajar. Program percepatan dapat diselenggarakan untuk mengakomodasi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Libur akhir tahun pelajaran Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah 5. Hari libur umum/nasional Hari libur khusus Maksimum 2 minggu Maksimum 1 minggu Maksimum 3 minggu 7. No 1. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 19 . Kegiatan khusus sekolah/madrasah b) Penetapan Kalender Pendidikan Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya.Alokasi waktu minggu efektif belajar. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional. Pemerintah Pusat/Provinsi /Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan. dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus. dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan. Jeda antarsemester Antara semester I dan II 4. Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing-masing Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif 8. Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota. Jeda tengah semester Maksimum 2 minggu Maksimum 2 minggu Maksimum 3 minggu 2 – 4 minggu 3. Hari libur keagamaan 6. Kegiatan Minggu efektif belajar Alokasi Waktu 34 – 38 minggu Keterangan Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan Satu minggu setiap semester 2. waktu libur dan kegiatan lainnya adalah sebagai berikut.

pengetahuan. mulia. Pendidikan Menengah Kejuruan yang terdiri atas SMK/MAK akhlak bertujuan: serta Meningkatkan kecerdasan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut 2. Pendidikan Dasar. 23 tahun 2006 adalah sebagai berikut.waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah. akhlak mulia. yang meliputi SD/MI/SDLB/Paket A dan SMP/MTs. pengetahuan. SKL meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. C. kepribadian. Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran dikembangkan berdasarkan tujuan dan cakupan muatan dan/ atau kegiatan setiap kelompok mata pelajaran. yakni: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 20 . keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya Standar kompetensi lulusan satuan pendidikan SD/MI/SDLB*/Paket A terdiri atas 17 butir./SMPLB/Paket B bertujuan: Meletakkan dasar kecerdasan. kepribadian. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut 3. Ini berarti ketentuan di dalam Permendiknas tersebut bersifat minimal yang harus dicapai lulusan peserta didik pada setiap satuan pendidikan. dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran. Tujuan setiap satuan pendidikan yang tertuang dalam lampiran Permendiknas No. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Di dalam Permendiknas No. akhlak mulia. 1. Pendidikan Menengah yang terdiri atas SMA/MA/SMALB/Paket C bertujuan: Meningkatkan kecerdasan. kepribadian. pengetahuan. SMA/MA/SMALB*/Paket C terdiri atas 23 butir. standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran. SMP/MTs/SMPLB*/Paket B terdiri atas 21 butir. dan SMK/MAK terdiri atas 23 butir.

1. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. bahasa. ilmu pengetahuan sosial. kewarganegaraan. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. ilmu pengetahuan sosial. matematika. matematika. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 21 . ilmu pengetahuan sosial. dan kesehatan. keterampilan/kejuruan. Kelompok mata pelajaran Kewarganegaraan dan Kepribadian bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Kelompok mata pelajaran Estetika bertujuan: membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. dan pendidikan jasmani. Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan: mengembangkan logika. Pada satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB/Paket B. 2. kemampuan berpikir dan analisis peserta didik. matematika. ilmu pengetahuan alam. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama. matematika. Pada satuan pendidikan SD/MI/SDLB/Paket A. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. olahraga. kepribadian. 3. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. keterampilan. ilmu pengetahuan alam. kewarganegaraan. teknologi informasi dan komunikasi. keterampilan/kejuruan. Kelompok mata pelajaran Agama dan Akhlak Mulia bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. estetika. ilmu pengetahuan dan teknologi. ilmu pengetahuan alam. jasmani. ilmu pengetahuan alam. kejuruan. teknologi informasi dan komunikasi. ilmu pengetahuan sosial. serta muatan lokal yang relevan Pada satuan pendidikan SMK/MAK. dan muatan lokal yang relevan. keterampilan. dan muatan lokal yang relevan. seni dan budaya. serta muatan lokal yang relevan 4. dan/atau teknologi informasi dan komunikasi. akhlak mulia. seni dan budaya. serta muatan lokal yang relevan Pada satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/Paket C. keterampilan/kejuruan. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. Tujuan tersebut dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama.

Pendidikan Agama Buddha. Bahasa Perancis. Seni Budaya. Pendidikan Agama Hindu. Bahasa Indonesia. olahraga. B. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMP/MTs terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. dan muatan lokal yang relevan. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan Agama Kristen. Biologi. Bahasa Inggris Program Bahasa. Olah Raga. Matematika Program IPS. Bahasa Indonesia. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Agama Buddha. Seni Budaya. ilmu pengetahuan alam. Bahasa Mandarin. Bahasa Inggris. IPA. Kimia. Pendidikan Kewarganegaraan. Matematika. Pendidikan Agama Kristen. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SD/MI terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Kewarganegaraan.5. Sejarah Program Bahasa. Matematika Program Bahasa. Bahasa Indonesia Program Bahasa. Bahasa Jepang. Sastra Indonesia Program Bahasa. IPA. IPS. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Ekonomi. Teknologi Informasi dan Komunikasi. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan pendidikan jasmani. Geografi. Matematika Program IPA. dan Bahasa Inggris. dan Bahasa Inggris. Keterampilan. Kelompok mata pelajaran Jasmani. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Agama Hindu. Fisika. Pendidikan Agama Hindu. Pendidikan Agama Buddha. IPS. dan Kesehatan bertujuan: membentuk karakter peserta didik agar sehat jasmani dan rohani. Pendidikan Kewarganegaraan. Bahasa Arab. Keterampilan. Seni Budaya dan Keterampilan. Sosiologi. D. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SDLB A. Matematika. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMA/MA terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Agama Katolik. Bahasa Indonesia Program IPA/IPS. IPA. Bahasa Indonesia. Bahasa Inggris. Matematika. dan Antropologi Program Bahasa. Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Bahasa Jerman. Pendidikan Agama Buddha. dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Sejarah Program IPA. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. dan menumbuhkan rasa sportivitas. IPS. Seni Budaya dan Keterampilan. Pendidikan Agama Hindu. pendidikan kesehatan. Sejarah Program IPS. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 22 .

Pendidikan Agama Buddha. Bahasa Indonesia. Pendidikan Agama Buddha. Pendidikan Agama Kristen. Pengembangan kurikulum yang disssun oleh satuan pendidikan berdampak pada perubahan dalam proses dan mekanisme penyusunan kurikulum dan orientasi kerja Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 23 . Matematika Kelompok Teknologi. dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Pendidikan Agama Hindu. IPA. Pendidikan Kewarganegaraan. Kesehatan. IPA. Kimia Kelompok Teknologi dan Kesehatan. Pendidikan Agama Hindu. Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi. Penyususnan kurikulum juga dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan. Seni Budaya. B. Bahasa Indonesia. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMALB A. Pendidikan Agama Katolik. dan Kewirausahaan. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMK/MAK terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. potensi daerah/karakteristik daerah.Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMPLB A. Keterampilan Vokasional/Teknologi Informasi dan Komunikasi. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. D. Pariwisata. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan Agama Katolik. Fisika Kelompok Teknologi. Bahasa Inggris. sosial budaya masyarakat setempat. Biologi Kelompok Pertanian. dan peserta didik. Pendidikan Agama Kristen. IPS. Matematika Kelompok Seni. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. Administrasi Perkantoran dan Akuntasi. Biologi Kelompok Kesehatan. Pendidikan Kewarganegaraan. Matematika Kelompok Sosial. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan Agama Hindu. Pendidikan Agama Buddha. IPA. Bahasa Inggris. Matematika. B. Seni Budaya. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. dan Pertanian. IPS. Matematika. IPS. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. dan Teknologi Kerumahtanggaan. Pendidikan Agama Katolik. D. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Fisika Kelompok Pertanian. Pendidikan Agama Kristen. Bahasa Indonesia. Seni Budaya. D. Keterampilan. Bahasa Inggris. Pendidikan Kewarganegaraan. Kimia Kelompok Pertanian.

Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan. namun pencapaian minimalnya sama untuk setiap satuan pendidikan. pengetahuan. b. c. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan. kota dan sekolah. a. tetapi disusun oleh masing-masing sekolah atau kelompok sekolah dengan mengacu pada standar isi dan standar kompetensi lulusan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. kepribadian. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan. 2. kepribadian. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut. akhlak mulia. pengetahuan. B dan C ditetapkan oleh dinas kabupaten/kota berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. akhlak mulia. dan kebutuhan satuan pendidikan. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut. akhlak mulia. Khusus untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya untuk program paket A.Pendidikan/Kanwil Depag di tingkat propinsi. (1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 24 . pengetahuan. komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan yang perlu dikembangkan oleh sekolah adalah: 1. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. terutama dalam mengembangkan dan menerapkan kurikulum di tingkat sekolah. kepribadian. Salah satu dampak tersebut adalah bahwa kurikulum tidak ditetapkan lagi secara nasional. kabupaten. potensi. Sehingga pencapaian hasil pendidikan optimal sesuai dengan kondisi. Pada buku ”Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah” yang diterbitkan oleh BSNP tahun 2006.

Muatan Lokal Muatan lokal merupakan mata pelajaran yang isinya disesuaikan dengan ciri khas. atau keunggulan daerah. tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. yang materinya belum tertuang pada mata pelajaran yang ada. Perlu diperhatikan bahwa bagi satuan pendidikan yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi memungkinkan menambah atau menyesuaikan mata pelajaran dan alokasi waktunya. c. olahraga dan kesehatan Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 Pasal 7. Satuan pendidikan dapat mengembangkannya dalam bentuk program kegiatan yang berisi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 25 . muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Mata pelajaran Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi.(2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian (3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi (4) Kelompok mata pelajaran estetika (5) Kelompok mata pelajaran jasmani. sebagai berikut. Ini berarti bahwa dalam satua tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal. Satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. potensi. sesuai kebutuhan. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Kegiatan Pengembangan Diri Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran sehingga tidak harus dirumuskan dalam bentuk standar kompetensi dan kompetensi dasar. a. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran. b. Dinas pendidikan dapat mengkoordinasikan pengembangan muatan lokal sejenis untuk satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan.

Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif. Khusus untuk sekolah menengah kejuruan pengembangan diri terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. belajar. Kegiatan ini difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor. dan sekolah/ madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran.tujuan kegiatan dan bentuk dan pengelolaan kegiatan. Beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh satuan pendidikan SD/MI/SDLB. di samping dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di dalam Standar Isi. Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/SMALB /SMK/MAK kategori standar dapat menggunakan sistem paket atau sistem SKS. Untuk satuan pendidikan khusus menekankan pada peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. kepemimpinan. Penambahan maksimum empat jam. 3. dan kelompok ilmiah remaja. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem SKS. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa Pemerintah mengkategorikan sekolah/ madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri. guru. tidak terlepas kaitannya dari struktur kurikulum sebagai Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 26 . Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. Pengaturan Beban Belajar Di dalam penjelasan PP No. dan pengembangan karier peserta didik serta dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler seperti keparamukaan.. Pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap.

Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. b. a. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. SMP/MTs/SMPLB 0% . penugasan terstruktur. potensi dan kebutuhan. Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket untuk SD/MI/SDLB 0% .60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. Satu SKS pada SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: 45 menit tatap muka. Sesuai dengan ketentuan PP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 27 .50% dan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK 0% . tentu dapat menambah jam sesuai dengan kondisi.40%. Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Alokasi waktu untuk praktik. yang sifatnya minimal. 4. Satu SKS pada SMP/MTs terdiri atas: 40 menit tatap muka. 20 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK yang menggunakan sistem SKS mengikuti aturan sebagai berikut. 25 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Alokasi waktu untuk tatap muka. Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal.bagian dari standar isi. 5. Bagi satuan pendidikan dan komite yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. Ketuntasan Belajar Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%. Kenaikan Kelas dan Kelulusan Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran.

19/2005 Pasal 72 Ayat (1). dan kesehatan. kecakapan sosial. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. dan d. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 28 . dan tentu saja belum bisa mengikuti ujian nasional. Apabila satuan pendidikan telah mengembangkan dan menerapkan kurikulum yang mengacu standar isi dan SKL (apalagi kurikulum dengan standar lebih tinggi). Penjurusan Penjurusan dilakukan pada kelas XI dan XII di SMA/MA. b. kecakapan akademik dan/atau kecakapan vokasional. belum bisa mengikuti ujian sekolah. SMP/MTs/SMPLB. kelompok kewarganegaraan dan kepribadian. peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah: a. c. Kriteria penjurusan diatur oleh direktorat teknis terkait. menyelesaikan seluruh program pembelajaran. artinya seorang peserta didik yang belum menyelesaikan seluruh program pemebelajaran berarti belum mendapat nilai baik untuk kelompok non iptek. 7. SMA/MA/ SMALB. lulus Ujian Nasional. Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian integral dari pendidikan semua mata pelajaran dan/atau berupa paket/modul yang direncanakan secara khusus. tentunya siap untuk mengikuti ujian nasional. yang mencakup kecakapan pribadi. Pendidikan Kecakapan Hidup Kurikulum untuk SD/MI/SDLB. SMK/MAK dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup. kelompok mata pelajaran estetika. dan kelompok mata pelajaran jasmani. 6. lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. olahraga. Keempat syarat diatas bersifat ururtan prasyarat. Materi ujian nasional dikembangkan tentu mengacu kepada Standar Isi dan SKL yang sifatnya minimal.

dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Silabus Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran. 8. teknologi informasi dan komunikasi. observasi.Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan/atau dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal. Teknik penilaian tersebut dapat berupa tes tertulis. Kurikulum untuk semua tingkat satuan pendidikan dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. budaya. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi. dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana yang dimuat dalam Standar Isi. kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Penilaian yang dimaksud menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik. 9. tes praktek. dan lain-lain. Kalender Pendidikan Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah. penilaian hasil pembelajaran. yang dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran dan juga dapat menjadi mata pelajaran muatan lokal. Bagi sekolah yang belum memungkinkan memberikan pendidikan kecakapan hidup. pelaksanaan proses pembelajaran. ekologi. dapat meminta peserta didik untuk mendapatkannya dari satuan pendidikan formal dan non formal lainnya. 10. dan penugasan perseorangan atau Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 29 . yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik. bahasa. karakteristik sekolah. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi.

dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok. kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG). Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. dan Dinas Pendikan. Di dalam panduan penyusuan kurikulum disebutkan bahwa silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi. alokasi waktu. dengan memperhatikan hal berikut. kegiatan pembelajaran. indikator. Khusus untuk SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi. sumber belajar. penilaian. Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran. materi dan metode pengajaran. dan sumber/bahan/alat belajar. dan penilaian hasil belajar. Silabus dan RPP merupakan bagian tak terpisahkan dari komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan. Disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik siswa. kompetensi dasar. kegiatan pembelajaran. dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. kondisi sekolah dan lingkungannya. b. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran. Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester. materi pokok/pembelajaran.kelompok. Sedangkan unit waktu silabus diatur sebagai berikut: a. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 30 . per tahun. Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah. serta teknik penilaiannya sesuai dengan karakteristik hasil pembelajaran dan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. c. a.

dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. c. Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing. menyusun silabus secara bersama. d. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 31 . Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi. potensi. Materi ini. Di SMP/MTs untuk mata pelajaran IPA dan IPS terpadu disusun secara bersama oleh guru yang terkait. Langkah-langkah Pengembangan Silabus dapat dilakukan sebagai berikut. c. nantinya diperinci dalam RPP. e.b. sebaiknya bergabung dengan sekolah-sekolah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolahsekolah dalam lingkup MGMP/PKG setempat. peserta didik dengan guru. a. lingkungan. Satuan pendidikan yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. pokok bahasan. Di SD/MI semua guru kelas. karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik. tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI. Sekolah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri. atau tema yang bersifat kontekstual dan dipilih sesuai dengan kondisi. keterkaitan antar kompetensi dalam satu mata pelajaran atau antar mata pelajaran. Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri. tentu perlu mengembangkan silabus yang sesuai b. dari kelas I sampai dengan kelas VI. maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah tersebut. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran Materi ini dapat berupa konsep.

potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. mata pelajaran. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Cakupan jenis penilaian dalam silabus tentu harus mengakomodasi kompetensi dan indikator yang telah dirumuskan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik. yang nantinya diperinci dalam RPP. rinci dan terukur. pengukuran sikap. pengetahuan. Kegiatan pembelajaran dalam silabus merupakan pokok-pokok kegiatan siswa untuk mencapai kompetensi. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 32 . kedalaman. proyek dan/atau produk. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap. Karena indikator dirumuskan dari kompetensi dasar berarti setiap kompetensi dasar memiliki lebih dari satu indikator.melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. dan penilaian diri. penggunaan portofolio. dan keterampilan. penilaian hasil karya berupa tugas. Penentuan Jenis Penilaian Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. Di dalam penilaian. Menentukan Alokasi Waktu Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar. d. dapat dimasukkan bentuk penilaian dan jenis tugas yang perlu dilakukan siswa untuk melihat pencapaian kompetensi siswa. tingkat kesulitan. pengamatan kinerja. e. 6. keluasan. satuan pendidikan. dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. agar penjabaran kompetensi lebih jelas.

penilaian hasil belajar. metode. Pemilihan materi ajar ditentukan oleh kondisi. yang berupa media cetak dan elektronik. sosial. 11. dan indikator pencapaian kompetensi. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran. dan alokasi waktu untuk mencapai satu kompetensi dasar atau beberapa indikator dalam silabus tersebut. Metode Metode atau strategi pembelajaran yang dituangkan dalam RPP merupakan bentuk kegiatan dan organisasi kelas yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. dan budaya. Materi Ajar Materi ajar dirumuskan dari materi pokok atau materi pembelajaran pada silabus yang dapat berupa rincian secara runtut subpokok bahasan atau subtema. potensi. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan penjabaran sistematis dan terurut dari silabus yang dituangkan dalam tujuan pembelajaran. kegiatan pembelajaran. langkah-langkah pembelajaran. alam. objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. narasumber. c. Metode dan organisasi pembelajaran dapat berupa diskusi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 33 . materi ajar. sumber belajar. a. Tujuan pembelajaran Tujuan pembelejaran dirumuskan dalam bentuk uraian proses kegiatan belajar dan kemampuan atau hasil belajar peserta didik untuk mencapai kompetensi atau indikator yang telah dirumuskan dalam silabus. b. 7. serta lingkungan fisik. Dengan demikian alokasi waktu yang ditetapkan dalam silabus dapat lebih dari satu kali pertemuan. kebutuhan dan daya dukung sumber daya satuan pendidikan dan siswa. tetapi dirancang satu kompetensi atau sekelompok kompetensi. Menentukan Sumber Belajar Sumber belajar adalah rujukan.Silabus tidak harus dirancang untuk satu kali pertemuan (tatap muka).

atau rangkuman hasil belajar. atau rencana pembelajaran yang dirancang dalam satu pertemuan atau beberapa pertemuan. Penilaian Penilaian ini memuat rincian bentuk. Langkah pembelajaran Langkah pembelajaran dirumuskan dan dirinci dari pokok-pokok kegiatan belajar yang telah ditetapkan dalam silabus sehingga kegiatan belajar menjadi efektif. termasuk menjelaskan tujuan pembelajaran. kerja kelompok. dan sebagainya. (1) Kegiatan awal Kegiatan ini dapat berupa apersepsi. Pelaksanaan penilaian terintegrasi dalam selama kegiatan belajar berlangsung.informasi. yang biasanya dilengkapi dengan LK (lembar kerja) atau lembar tugas. (3) Penutup Kegiatan penutup dari RPP dapat diisi dalam bentuk refleksi (perenungan) tentang pencapaian hasil belajar. penugsan. problem solving. diskusi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 34 . RPP merupakan persiapan. tanya jawab. d. penugasan lebih lanjut atau lebih mendalam. e. contoh penilaian dan pedoman penskoran dari bentuk penilaian dan jenis tugas yang telah dirumuskan dalam silabus. (1) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi. review (mengulang beberapa hal yang bersifat prasyarat). Langkah pembelajaran memuat bentuk kegiatan belajar dan strategi pengorganisasian belajar kelas serta urutan kegiatannya sebagai berikut. kegiatan problem solving aplikasi yang berkaitan dengan materi ajar. skenario. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian. (2) Kegiatan inti Kegiatan ini merupakan kegiatan dan organisasi belajar secara yang bervariasi dan terurut sistematis untuk mencapai kompetensi dan beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran.

yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. Sumber Belajar Sumber belajar meliputi bahan ajar. bahan. (3) Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara. dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan. kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum. serta untuk mengetahui kesulitan siswa. kegiatan inti dan penutup. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih. f. (4) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. termasuk cara penggunaannya. (5) Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan. Misalnya.(2) Penilaian menggunakan acuan kriteria. Di sini perlu dijelaskan ketersediaan dan banyaknya sumber belajar. program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan. Alokasi waktu RPP dirancang menggunakan jam pembelajarn sehingga alokasi waktunya merupakan perkiraan jumlah jam pelajaran yang diperlukan untuk untuk mencapai kompetensi atau beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. alat. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 35 . dan alat bantu belajar yang digunakan untuk mencapai kompetensi atau beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya. media. termasuk perlu diperjelas proporsi waktu untuk kegiatan awal. g.

22 dan No. potensi dan kebutuhan satuan pendidikan. mengatur sistem akselerasi atau percepatan belajar dan sebagainya. mengkaji. Satuan pendidikan perlu memiliki. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 sampai dengan Pasal 38. sesuai dengan kondisi. kondisi dan kebutuhannya. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 36 . (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. Dengan mengembangkan dan menerapkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. 23 tahun 2006 Standar isi dan standar kompetensi lulusan merupakan ketentuan yang bersifat minimal sehingga satuan pendidikan dimungkinkan menyusun kurikulum dengan standar lebih tinggi. mengatur kalender pendidikan. sesuai dengan kondisi.E. Kurikulum dengan standar lebih tinggi dapat berupa penambahan lingkup materi dan kompetensi. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. b. c. dan memahami dokumen tersebut agar dapat mengembangkan kurikulum secara optimal. 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan. sesuai potensi. Setiap satuan pendidikan yang akan mengembangkan kurikulum perlu memiliki dokumen yang berisi ketentuan-ketentuan di atas. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 5 sampai dengan Pasal 18. pendalaman kompetensi. dan Pasal 25 sampai dengan Pasal 27. penerapan atau pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan diatur dalam Permendiknas No. 22 tentang standar isi dan Permendiknas No. maka satuan pendidikan dapat menyesuaikan alokasi waktu pada struktur kurikulum. PENERAPAN STANDAR ISI DAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Implementasi. mengatur sistem beban belajar. penambahan mata pelajaran atau penambahan muatan lainnya. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Pada Permendiknas No. d. 24 tahun 2006 disebutkan bahwa: (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan berdasarkan pada : a. potensi dan kebutuhan satuan pendidikan.

Pertimbangan komite dapat berarti berupa persetujuan setelah KTSP disusun oleh sekolah atau komite berpatisipasi aktif dan bekerjasama dalam proses penyusunan kurikulum dengan sekolah/madrasah. (4) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengadopsi atau mengadaptasi model kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun oleh BSNP.(3) Pengembangan dan penetapan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah memperhatikan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). 22 dan No. di dalam Permendiknas No. 23 dan 24 tahun 2006. Hal ini untuk mengakomodasi kemungkinan terdapat satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan yang belum siap mengembangkan kurikulum sendiri. (5) Kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah. Mengenai mekanisme dan strategi pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan. tetapi harus menerapkan kurikulum sesuai dengan Permendiknas No. Panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan masih bersifat umum sehingga hal-hal lebih lanjut dan rinci perlu ditetapkan sendiri oleh satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. 23 Tahun 2006 mulai tahun ajaran 2006/2007. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa penetapan kurikulum satuan pendidikan merupakan tanggung jawab satuan pendidikan dan komitenya. 23 Tahun 2006. 24 tahun 2006 disebutkan bahwa: (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menerapkan Permendiknas No. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa satuan pendidikan memungkinkan menerapkan Permendiknas No. Standar Kompetensi Lulusan dan ketentuan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 37 . Perlu dikritisi bahwa pengembangan dan penetapan kurikulum merupakan tanggung jawab sekolah sehingga sekolah perlu secara mandiri menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan kurikulum dengan tetap mengacu pada ketentuan yang ada seperti pada UU sisdiknas. 22. setelah tahun 2006 sampai tahun 2009 Standar Isi. PP Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas pelaksanaannya. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa pada dasarnya satuan pendidikan tidak diharuskan mengembangkan kurikulum apabila belum memiliki kesiapan berbagai sumber daya yang diperlukan. 22 dan No.

Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa satuan pendidikan memungkinkan menerapkan Permendiknas No.3. : kelas 1. 23 Tahun 2006. atau mungkin menerapkannya secara bertahap mulai melengkapi perangkat pendukung.4. (4) Satuan pendidikan dasar dan menengah yang belum melaksanakan uji coba kurikulum 2004. dan sekolah dasar luar biasa (SDLB): . situasi belum memungkinkan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 38 . (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah harus sudah mulai menerapkan Permendiknas No. 22 dan No. madrasah aliyah kejuruan (MAK).2. 22 dan No. madrasah ibtidaiyah (MI).tahun I . sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB). setelah setelah tahun 2009 apabila kondisi satuan pendidikan belum siap disebabkan kondisi.5 dan 6. 22 dan No. 23 Tahun 2006 paling lambat tahun ajaran 2009/2010. sekolah menengah atas (SMA). dan sekolah menengah atas luar biasa (SMALB) : .apabila kondisi satuan pendidikan belum siap. : kelas 1 dan 2.tahun II .tahun III : kelas 1. dan sejenisnya.tahun III b : kelas 1 dan 4.2.tahun II .tahun I . : kelas 1.2. : kelas 1. 22 dan No. 23 Tahun 2006 secara bertahap dalam waktu paling lama 3 tahun. (5) Penyimpangan terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir (2) di atas dapat dilakukan setelah mendapat izin Menteri Pendidikan Nasional. dan 3. madrasah tsanawiyah (MTs). melaksanakan Permendiknas No. (3) Satuan pendidikan dasar dan menengah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang telah melaksanakan uji coba kurikulum 2004 secara menyeluruh dapat menerapkan secara menyeluruh Permendiknas No. Untuk sekolah menengah pertama (SMP). sekolah menengah kejuruan (SMK). mempelajari dokumen yang diperlukan. dengan tahapan: a Untuk sekolah dasar (SD). dan 5.4. madrasah aliyah (MA). 23 Tahun 2006 untuk semua tingkatan kelasnya mulai tahun ajaran 2006/2007.

22 dan No. 22 dan No. madrasah tsanawiyah (MTs). secara nasional. BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) memilki tugas sebagai berikut. 24 tahun 2006 juga disebutkan bahwa: (1) Gubernur dapat mengatur jadwal pelaksanaan Permendiknas No. bupati. 22 dan No. 22 dan No. untuk satuan pendidikan dasar. 22 dan No. serta mendistribusikannya kepada setiap satuan pendidikan secara nasional.Permendiknas No. pada tingkat satuan pendidikan. 22 dan No. walikota dan menteri Agama lebih berperan dalam pengaturan jadwal atau mengkoordinasikan pelaksanaan Permendiknas No. 24 tahun 2006. 23 Tahun 2006. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 39 . madrasah aliyah (MA). untuk satuan pendidikan menengah dan satuan pendidikan khusus. Sedangkan. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan yang bersangkutan. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di kabupaten/kota masing-masing (3) Menteri Agama dapat mengatur jadwal pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. (2) Bupati/walikota dapat mengatur jadwal pelaksanaan . (2) BSNP dapat mengajukan usul revisi .Peran Pemerintah dan Pemerintah Daerah pada implementasi atau penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dalam Permendiknas No. Di dalam Permendiknas No. untuk satuan pendidikan madrasah ibtidaiyah (MI). 23 Tahun 2006 sesuai dengan keperluan berdasarkan pemantauan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada butir (1). memiliki tugas berikut: (1) menggandakan Permendiknas No. Peran satuan pendidikan tetap merupakan pelaksana dalam penerapan Permendiknas tersebut dan semua satuan pendidikan dalam suatu wilayah tidak harus melaksanakan secara serempak. 23 Tahun 2006.Permendiknas No. untuk mendukung dan mendorong satuan pendidikan dalam menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. dan madrasah aliyah kejuruan (MAK). (1) BSNP melakukan pemantauan perkembangan dan evaluasi pelaksanaan Permendiknas No. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di provinsi masing-masing. 23 Tahun 2006. 23 Tahun 2006. 23 Tahun 2006. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa gubernur. 23 Tahun 2006. tetapi disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan.

pengawas. 22 dan No. 22 dan No. memiliki tugas berikut: (1) mengembangkan model-model kurikulum sebagai masukan bagi BSNP. 22 dan No. 22 dan No.(2) melakukan usaha secara nasional agar sarana dan prasarana satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mendukung penerapan Permendiknas No. memiliki tugas berikut: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 40 . (3) mengembangkan dan mengujicobakan model kurikulum untuk pendidikan layanan khusus. dan dewan pendidikan. 23 Tahun 2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. terhadap guru. (5) memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan:. 23 Tahun 2006. (2) mengembangkan dan mengujicobakan model-model kurikulum inovatif. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional. (4) bekerjasama dengan perguruan tinggi dan/atau LPMP melakukan pendampingan satuan pendidikan dasar dan menengah dalam pengembangan kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah. mengevaluasinya. (2) melakukan sosialisasi Permendiknas No. memiliki tugas berikut: (1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. 22 dan No. (3) membantu pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam penjaminan mutu satuan pendidikan dasar dan menengah agar dapat memenuhi Permendiknas No. 23 Tahun 2006. 23 Tahun 2006. 22 dan No. 23 Tahun 2006. dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri. dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP. dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP kepada dinas pendidikan provinsi. dan tenaga kependidikan lainnya yang relevan melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan/atau Pusat Pengembangan dan Penataran Guru (PPPG). kepala sekolah. melalui LPMP. (6) mengembangkan pangkalan data yang rinci tentang pelaksanaan Permendiknas No. dinas pendidikan kabupaten/kota.

Nomor 0126/U/1994 tentang Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. komite satuan pendidikan. menyusun. departemen agama dan departemen lain yang terkait). dinyatakan tidak berlaku bagi satuan pendidikan dasar dan menengah sejak satuan pendidikan dasar dan menengah yang bersangkutan melaksanakan Permendiknas No. Dengan berlakunya Permendiknas No. b. Sedangkan Departemen lain yang menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah : (1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. 22 dan No. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan : a. 23 Tahun 2006 sesuai dengan kewenangannya dan berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan Nasional. dan mengevaluasi pelaksanaan Permendiknas No. memantau. Nomor 061/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Umum. bupati/walikota. (2) mengusahakan secara nasional sesuai dengan kewenangannya agar sarana. dan sumber daya manusia satuan pendidikan yang berada di bawah kewenangannya mendukung Permendiknas No. dan pemerintah (departemen pendidikan nasional. dan d. 22 dan No. 24 tahun 2006 jelas bahwa efektifitas pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan ditentukan oleh komitmen dan peran satuan pendidikan. 24 Tahun 2006. c. Nomor 080/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan. Bupati/walikota dan gubernur berperan dalam melakukan sosialisasi. Departemen pendidikan nasional memiliki peran Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 41 . 24 Tahun 2006. kepada pemangku kepentingan umum. 23 Tahun 2006. mengatur jadwal. 22 dan No. 22 dan No. 22 dan No.(1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. mengevaluasi dan melaksanakan kurikulum sesuai dengan standar isi dan standar kompetensi lulusan. memonitor dan mendorong satuan pendidikan untuk menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. 23 Tahun 2006 (3) melakukan supervisi. Dari ketentuan Permendiknas No. gubernur. 23 Tahun 2006 Sekretariat Jenderal melakukan sosialisasi Permendiknas No. 23 Tahun 2006. lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK). prasarana. Satuan pendidikan dan komite berperan dalam mengembangkan. 23 Tahun 2006 sesuai dengan kewenangannya. di kalangan (2) memfasilitasi pengembangan kurikulum dan tenaga dosen LPTK yang mendukung pelaksanaan Permendiknas No. mengkoordinasikan. 22 dan No. Nomor 060/U/1993 tentang Kurikulum Pendidikan Dasar.

mengatur jadwal. F.dalam melakukan sosialisasi. mengusahakan sarana dan prasarana. Monitoring (pemantauan) secara umum dimaknai sebagai sebuah kegiatan yang berfungsi untuk melihat kesesuaian rencana program implementasi kurikulum dengan pelaksanaan yang terjadi yang mencakup semua aspek dalam implementasi kurikulum diantaranya : Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 42 . workshop. maupun outputnya. mengkoordinasikan. terdapat berbagai istilah yang hampir sepadan yaitu monitoring. mengeluarkan kebijakan teknis. proses dan pelaksanaan. Monitoring tersebut dapat dilakukan mulai dari perencanaan (termasuk needs analysis) . Dalam kaitannya dengan peningkatan mutu implementasi kurikulum. Semua istilah tersebut secara umum mengacu pada fungsi pengawasan pelaksanaan program implementasi kurikulum. Proses dan kedudukan monitoring dapat digambarkan sebagai berikut : Analisis SWOT Implementasi kurikulum Evaluasi dampak MONITORING Disain dan perencanaan kurikulum Pelaksanaan kurikulum Monitoring merupakan bagian dari bentuk pengendalian (control) yaitu proses yang memastikan bahwa aktifitas aktual (yang terjadi) sesuai dengan aktifitas yang direncanakan. evaluasi dan supervisi. Keitga istilah tersebut pada dasarnya tidak terpisahkan satu sama lain karena sama-sama digunkan dalam konteks menyempurnakan atau memperbaiki program dan hasil pelaksanaan implementasi kurikulum. Departemen agama dan departemen lain terkait berperan dalam melakukan sosialisasi. mengevaluasi dan mendorong satuan pendidikan di bawah kewenangannya untuk menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. SISTEM MONITORING KURIKULUM Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas keberhasilan implementasi kurikulum yang dilakukan oleh suatu lembaga adalah melakukan monitoring terhadap program tersebut. dan memonitor satuan pendidikan dalam penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 43 . Monitoring memiliki cakupan prosedur dan cakupan proses lebih luas dari sekedar yang dilakukan dalam pekerjaan evaluasi atau supervisi. Salah satu pengertiannya. akuntabilitas dan relevansi program implementasi kurikulum. efisiensi. supervisi merupakan suatu aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu program pendidikan dan tenaga pendidik dan kependidikan dalam melakukan profesi mereka secara efektif. Hasil evaluasi biasanya dipergunakan untuk memperbaiki program implementasi kurikulum yang akan dilakukan berikutnya. ketepatan dalam mengidentifikasi dampak implementasi kurikulum. Standar diuraikan atau dirumuskan dalam bentuk kriteria hasil monitoring. Fungsi monitoring mencakup tiga unsur utama: (1) Menetapkan standar ketepatan program implementasi kurikulum. LAN mendefinisikan evaluasi sebagai proses atau kegiatan untuk menentukan kemajuan implementasi kurikulum dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan dan usaha untuk memperoleh informasi atau umpan balik bagi penyempurnaan program implementasi kurikulum. Terdapat berbagai konsep mengenai supervisi. Dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistimatis untuk melihat apakah sebuah program implementasi kurikulum telah berhasil dan efisien dalam pelaksanaannya.ketepatan perumusan analisis kebutuhan. Dari ketiga pengertian di atas tampak bahwa monitoring digunakan untuk memperbaiki proses implementasi kurikulum yang sedang berjalan untuk mengoptimalkan hasil. ketepatan dalam pelaksanaan implementasi kurikulum. evaluasi hasilnya lebih dipergunakan untuk perbaikan program implementasi kurikulum berikutnya walaupun pelaksanaan evaluasi dapat dilakukan pada saat implementasi kurikulum berlangsung. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memperbaiki program implementasi kurikulum yang sedang berjalan. Suatu kegiatan evaluasi diharapkan dapat mengukur keberhasilan apakah tujuan implementasi kurikulum yang ditetapkan dapat dicapai. supervisi merupakan program berencana untuk memperbaiki pengajaran. 1988 mendefiniisikan evaluasi adalah proses pengumpulan data yang sistematis untuk mengukur evektivitas. sedangkan supervisi lebih menekankan pada perbaikan pembelajaran secara langsung yang diberikan oleh fasilitator atau narasumber. Evaluasi menurut the trainer’s Library. Secara sederhana. ketepatan perencanaan program kurikulum.

Unsur-unsur pokok dalam proses monitoring adalah penetapan standar ketepatan program implementasi kurikulum. Kompetensi meliputi keterampilan teknis dalam menggunakan prosedur kerja dalam program implementasi kurikulum. Model monitoring yang konvensional atau tradisional adalah yang bersifat mencari kesalahan. yang dapat diilustrasikan sebagai berikut. memahami orang lain. pengembangan dan penyelenggaraan program implementasi kurikulum. menentukan apakah terdapat penyimpangan. membandingkan kinerja aktual dengan standar yang ditetapkan. Kompetensi yang dimaksud di sini tentu kompetensi atau kemampuan profesional yang terkait langsung dengan perencanaan. penyelesaian masalah bersama untuk memperbaiki program yang belum sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. dan memotivasi orang lain. serta keterampilan konseptual dalam mengkoordinasi dan memadukan berbagai kepentingan dan kegiatan dalam implementasi kurikulum. (3) Mengambil tindakan dalam bentuk pemberian bantuan. Teknik – teknik monitoring dan penerapannya.(2) Memantau dan mengukur aktifitas program yang sedang berjalan dengan menggunakan teknik monitoring tertentu. Ini sangat mudah dilakukan karena pada dasarnya manusia sebagai Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 44 . pengarahan. keterampilan manusiawi dalam bekerja dengan orang lain. merancang sistem umpan balik informasi. 1. Penetapan standar dan metode monitoring implementasi kurikulum Monitoring Apakah kinerja sesuai standar? tidak Pengambilan tindakan perbaikan Selesai ya Monitoring harus dilakukan oleh seseorang yang berkompeten sesuai dengan bidang yang akan dimonitor. dan mengambil tindakan perbaikan. Hasilnya dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan.

Wawancara tentang perencanaan kurikulum : pewawancara harus mengetahui dan menngidentifikasi apakah struktur program kurikulum.penyelenggara implementasi kurikulum. silabus dan bahan ajarnya telah lengkap sesuai dengan tujuan dan sistematis serta terarah ? Hal yang terpenting dalam melakukan wawancara adalah pewawancara sudah mempersiapkan diri dengan pedoman wawancara yang isinya memuat semua aspek – aspek yang akan dimonitor. atau metode pengumpulan data lainnya. observasi (pengamatan). Metode monitoring dapat berupa : konsultasi atau wawancara. Monitoring perlu dilakukan secara ilmiah yang terencana. dipilih dan ditetapkan sebagai bagian dari tahapan – tahapan implementasi kurikulum. dikombinasikan dan dilakukan secara terpadu (terintegrasi) agar proses monitoring dapat berjalan secara efisien dan sesuai sasaran. dekat dan terbuka. Metode – metode ini harus sudah direncanakan.Wawancara mengenai analisis kebutuhan : pewawancara harus mengetahui apakah kebutuhan – kebutuhan proram implementasi kurikulum sudah sesuai dengan apa yang diharapkan ? . atau kesulitan penyelenggara pendidikan. kuesioner. hambatan. Metode-metode ini dikemas. kemudian mendiskusikan pemecahan atau solusi dari problem dan hambatan yang dihadapi. Cara ini tentu saja tidak sesuai dengan tujuan monitoring dan berdampak pada sikap acuh tak acuh atau menentang dari pihak penyelenggara program. penilaian diri. sistematis dan menggunakan instrumen tertentu. Dalam metode ini yang perlu dilakukan bahwa pewawancara harus memiliki aspek – aspek apa saja yang perlu diketahui atau dimonitor sebagai bagian dari monitoring. suasana yang hangat. yaitu memberi bantuan dan arahan secara langsung atau pendekatan tidak langsung (indirect) di mana pemonitor mendengar keluhan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 45 . dikembangkan. Metode wawancara dapat dilakukan secara tertulis ataupun langsung. Pendekatan yang digunakan dalam monitoring dapat berupa pendekatan langsung (direct). Dalam melakukan wawancara perlu diperhatikan bahwa kegiatan ini tidak mengganggu semua aspek program implementasi kurikulum. memiliki banyak kekurangan. Dalam monitoring yang ditekankan adalah bantuan agar program implementasi kurikulum terlaksana sesuai tujuan. serta umpan balik (feedback) yang diberikan harus secepat mungkin dan objektif untuk segera dilakukan perbaikan. Misalnya : .

kepala sekolah. yaitu : menguraikan hasil pengamatan secara komprehensif dan ditulis secara lengkap dalam sebuah laporan. atau pengawas sekolah). Selain menggunakan format observasi secara khusus. misalkan suatu aspek ditunjukkan melalui empat kategori yaitu : tidak baik. cukup baik dan baik. serta data yang dihasilkan haruslah faktual dan bukan opini pemonitor. Alat bantu lain yang sangat berguna dalam metode observasi/wawancara adalah kamera untuk bukti dokumentasi pelaksanaan implementasi kurikulum. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 46 . perekam suara (tape recorder) hasil wawancara atau kegiatan lainnya. kurang baik. laporan ini dianalisis untuk diperoleh hal-hal atau aspek apa saja yang perlu diperbaiki dan ditindaklanjuti agar segera dilakukan perbaikan program implementasi kurikulum. Hal ini dapat memberikan beberapa manfaat: (1) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan akan belajar bagaimana menganalisis peristiwa yang dialami sendiri selama program implementasi kurikulum berlangsung (2) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan dapat memperoleh pengalaman dalam memberi umpan balik perbaikan implementasi kurikulum secara langsung (3) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan akan belajar bagaimana menggunakan sumber daya yang dipakai untuk melakukan analisis. Dalam melakukan observasi perlu dillakukan dalam situasi yang wajar (tidak mengganggu program pembelajaran). dan peralatan audio visual (video) sebagai dokumentasi pelaksanaan implementasi kurikulum. pemonitor dapat juga menggunakan metode deskripsi. mencatat hal-hal yang penting dan menekankan pada upaya perbaikan program implementasi kurikulum. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan yang memuat aspek – aspek yang akan dilihat saat monitoring dilakukan.Metode observasi biasanya digunakan untuk mengamati unjuk kerja (kinerja) dari setiap orang yang terlibat dalam kegiatan program implementasi kurikulum. Boleh juga digunakan sekala rentang. observasi dapat pula dilakukan oleh penyelenggara (guru. Unjuk kerja untuk setiap aspek yang dimonitor dapat dikategorikan dalam bentuk laporan teramati (tepat) atau tidak teramati (tidak tepat). Selain oleh pemonitor dari penyelenggara implementasi kurikulum. Selanjutnya.

Walaupun perlu dilakukan kroscek atau verifikasi dengan sumber data yang lain untuk mendapat informasi yang lebih otentik. Kuesioner dengan jawaban (options) tertutup mudah dianalisis tetapi tidak memberi peluang responden memberi tanggapan lain yang mungkin sangat berguna. Yang terpenting dalam pengembangan kuesioner harus memperhatikan aspek kepraktisan. Penilaian diri cukup bermanfaat untuk dilakukan karena pelaksana akan lebih jujur mengungkapkan pendapatnya tentang pelaksanaan program implementasi kurikulum. kepala sekolah. atau penilaian diri) dapat diperoleh secara langsung oleh petugas kuesioner kepada responden. 2. dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan tertulis yang telah disiapkan. yang disusun dalam bentuk pertanyaan tertutup atau terbuka. kepala sekolah. Monitoring melalui pos atau internet lebih membutuhkan keaktifan dan proaktif dari pihak responden. dan keakuratan jawaban. melalui pos atau dengan alat bantu teknologi informasi melalui internet (website). Dalam metode ini semua aspek yang dimonitor informasinya didapatkan melalui pertanyaan atau pernyataan tertulis yang diberikan pada sumber data (guru. Kuesioner dapat berupa pertanyaan dengan jawaban tertutup. atau pernyataan sikap. Alat penilaian diri dapat berupa daftar ceklis tentang pandangan/pendapat. Data dan informasi dari monitoring secara tertulis (kuesioner. Dengan demikian sebelum Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 47 .Metode kuesioner biasanya digunakan untuk memonitor. atupun fihak lain yang terkait). kegunaan informasi yang dijaring. Aspek lain yang tidak mungkin dimonitor melalui kuesioner dapat dimonitor melalui observasi atau teknik monitoring lainnya. daya inovasi dan kreasi dari guru. Kuesioner dengan jawaban terbuka memberi peluang pada responden menyatakan pendapatnya secara bebas tetapi memerlukan waktu untuk menganalisis dan melakukan perbaikan program implementasi kurikulum. pengawas dan fihak lain yang relevan. Dalam kegiatan pengembangan instrument monitoring diawali dengan kegiatan mengidentifikasi aspek yang akan dimonitor. Pengembangan instrumen monitoring. baru dilakukan pengembangan instrument monitoring dan pedoman yang memuat criteria hasil monitoring. terbuka. Dilanjutkan dengan pemilihan teknik monitoring yang tepat. Penilaian diri merupakan salah satu bentuk kuisioner yang khusus ditujukan kepada fihak pelaksana penyelenggara pendidikan untuk melakukan evaluasi diri misalnya mengenai tanggapan tentang komitmen. angket.

Pengembangan Silabus dan RPP Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Bentuk instrumen Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 48 . Subaspek Standar Isi (SI) Teknik monitoring Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 2. Kemampuan dan kesiapan pendidik Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 5. Pelaksanaan SI dan SKL Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 2. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 3. Kesiapan sarana dan prasarana Tertulis Observasi Wawancara 7. Pemahaman dan persepsi tentang kebijakan kurikulum 1. Kesiapan orangtua dan masyarakat Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Observasi Lembar observasi Panduan Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 3.pengembangan instrument monitoring perlu disusun kisi – kisi instrumen monitoring yang secara umum dapat ditampilkan dalam contoh tabel kisi-kisi berikut. Kemampuan dan kesiapan sumber daya pendidikan 4. Kemampuan dan kesiapan tenaga kependidikan Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 6. Aspek yang dimonitor 1. Pelaksanaan atau penerapan kurikulum oleh satuan pendidikan 8. Pengembangan Kurikulum (KTSP) Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 10. Sosialisasi SI dan SKL Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 9.

serta akan meningkatkan nilai ketepatan pengamatan. pengolahan dan analisis data TNA. 2. ketepatan menentukan kompetensi yang akan dicapai. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 49 . Penerapan pembelajaran di sekolah Observasi Wawancara Panduan Wawancara Panduan Observasi Lembar observasi Aspek yang dimonitor mencakup semua komponen – komponen penting mulai dari perencanaan kurikulum. Isi bahan ajar. Misalkan sub aspek isi silabus dapat dirinci menjadi lima komponen yaitu : 1. yang meliputi:. 1.Aspek yang dimonitor Subaspek Teknik monitoring Bentuk instrumen Angket 11. Standar isi. system pengambilan data TNA. Aspek pemahaman dan persepsi. peluang. yang mencakup sub-subaspek berikut. pemetaan kebutuhan implementasi kurikulum. Setiap aspek atau sub aspek tersebut dapat di jabarkan kedalam aspek yang lebih kecil. penyusunan instrument TNA. Aspek – aspek yang lebih rinci akan mampu menggambarkan pelaksanaan implementasi kurikulum dengan baik atau tidak suatu implementasi kurikulum dilaksanakan. Isi silabus. hambatan. pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan. Hal ini agar mempermudah dalam melakukan monitoring nantinya. Aspek Perencanaan implementasi kurikulum. serta analisis kekuatan. Pengembangan Penilaian Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 12. evaluasi efektifitas dampak pelaksanaan kurikulum.. yang mencakup sub-subaspek: Isi struktur program implementasi kurikulum. dan tantangan untuk penyempurnaan kurikulum. kelemahan.

subaspek materi implementasi kurikulum penyusunan silabus dapat dimonitor dengan metode kuesioner untuk melihat kelengkapan dan isi kualitas dari dokumen silabus yang digunakan. Cara paling sederhana menentukan kriteria adalah dengan daftar ceklis. dapat dimonitor dengan metode observasi untuk melihat komitmen. ketepatan metode implementasi kurikulum yang digunakan. suatu aspek dimonitor dengan menggunakan lebih dari satu teknik monitoring. kualitas isi dokumen atau peralatan. Perumusan kriteria ini harus jelas. 4. atau sarana lainnya. atau dapat diamati (observable). maka monitoring paling tepat dilakukan dalam bentuk observasi. yaitu teknik tertulis yang dapat dilakukan dengan wawancara tertulis. dapat diukur (measurable). yaitu menetapkan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 50 . Apabila aspek yang dimonitor berupa kelengkapan dokumen atau peralatan. Misalnya. Biasanya untuk membuat efektif monitoring. Di sisi lain. minat dan ketertarikan peserta. kelengkapan atau kebenaran prosedur kerja dari setiap tahapan program implementasi kurikulum sesuai dengan aspek-aspeknya. tidak akan dapat dimonitor karena tidak jelas ukuran peningkatannya. ketepatan indicator yang dirumuskan. Perumusan yang samar-samar seperti ’meningkatkan mutu bahan ajar’. Namun. kuesioner atau penilaian diri dan monitoring unjuk kerja dan sikap yang dilakukan dalam bentuk observasi saat implementasi kurikulum berlangsung.2. Kriteria ini merupakan pedoman atau acuan bagi pemonitor untuk memeriksa ketepatan setiap aspek yang dimonitor pada setiap tahapan program implementasi kurikulum. Teknik monitoring dipilih dengan mempertimbangkan karakteristik dari setiap aspek yang dimonitor. jika aspek yang dimonitor berupa kinerja atau performa dari penyelenggara dan peserta implementasi kurikulum. ketepatan materi yang dipilih sebagai bahan implementasi kurikulum. maka monitoring dapat dilakukan dalam bentuk tertulis misalnya berupa kuesioner. ketepatan waktu yang disediakan. serta dapat dicapai dengan tenggang waktu tertentu. komitmen atau sikap penyelenggara dan peserta implementasi kurikulum terhadap program implementasi kurikulum. serta silabus hasil karya peserta. Kriteria atau tolok ukur hasil monitoring merupakan ukuran ketepatan. 5. 3. Terdapat beberapa jenis teknik monitoring. komitmen fasilitator selama program implementasi kurikulum dilaksanakan.

4. 3. Pengolahan dan analisis hasil monitoring dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. sangat setuju atau tidak setuju. yang selanjutnya juga menentukan apakah tujuan implementasi kurikulum telah tercapai. Untuk itu ketepatan kuantitas dan kualitas dari proses monitoring sangat menentukan hasil analisis. harus menjawab pertanyaan apakah program implementasi kurikulum telah berhasil dan efektif dilakukan sesuai tujuan implementasi kurikulum. Dengan demikian. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 51 . Demikian juga apabila kita minta pendapat peserta tentang program implementasi kurikulum. kurang tepat. atau tidak berhasil atau dengan criteria sangat tepat. Tingkat analisis bergantung pada detil data yang dibutuhkan dan kompleksitas permasalahan selama implementasi kurikulum. Data juga akan dianalisis secara kuantitatif dengan pendekatan descriptive statistically analysis untuk mendeskripsikan berbagai aspek variabel yang diperoleh dari temuan selama implementasi kurikulum. Namun ukuran ini terlalu kasar karena banyak tahapan program implementasi kurikulum yang dilakukan dengan ukuran sangat berhasil. Data yang diperoleh dari hasil monitoring perlu dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan content analysis untuk membandingkan berbagai temuan yang memiliki karakteristik berbeda-beda dan narrative analysis untuk melihat kohorensi temuan atau informasi dari tanggapan para stakeholder program implementasi kurikulum. Pengolahan dan analisis hasil monitoring. Apapun metode analisis yang digunakan. Pemanfaatan hasil monitoring. tepat atau tidak tepat. mereka biasanya ada yang setuju. Kebanyakan orang lebih tertarik dengan analisis kuantitatif. Yang penting diperhatikan bahwa hasil monitoring harus menjadi umpan balik secara langsung sehingga proses implementasi kurikulum berjalan sesuai dengan track atau tujuan yang ditetapkan. walaupun analisis kualititatif juga sangat penting untuk dicermati. Hasil analisiis data digunakan untuk memvalidasi program penyelenggaraan implementasi kurikulum dan kesesuaiam dengan potensi dan kebutuhan implementasi kurikulum. cukup berhasil. cukup tepat atau tidak tepat.apakah setiap aspek dilakukan atau tidak dilakukan. hasil montoring sudah harus dapat dijadikan sebagai masukan perbaikan implementasi kurikulum sejak tahapan implementasi kurikulum dimulai.

2. 3. memberi motivasi bagi peserta dan pelaksana pendidikan untuk melaksanakan program implementasi kurikulum secara optimal. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 52 . mendorong semua pihak dalam program implementasi kurikulum lebih berdisiplin dan bertanggung jawab. hasil analisis monitoring dapat digunakan sebagai bahan evaluasi secara menyeluruh untuk meningkatkan kualitas program implementasi atau penerapan kurikulum oleh satuan pendidikan. manfaat pokok dari proses monitoring adalah mengendalikan pelaksanaan program implementasi kurikulum berlangsung secara efisien dan sukses sesuai dengan tujuan.Seperti yang telah dikemukakan di muka bahwa tujuan monitoring atau pemantauan adalah untuk menjamin suatu kegiatan atau program implementasi kurikulum tetap on the track sesuai dengan tujuan program yang telah ditetapkan. yaitu agar praktek pelaksanaan program implementasi kurikulum sesuai dengan perencanaan. Manfaat proses monitoring lainnya adalah: 1. Dengan demikian.

rapat kerja dan koordinasi. sebagai berikut. dan stakeholder lain yang relevan. (1) Penyusunan desain Desain ini merupakan master plan yang disusun untuk dijadikan pedoman atau acuan dalam kegiatan monitoring yang meliputi: latar belakang dan tujuan monitoring. pedoman observasi situasi dan pelaksanaan pembelajaran. workshop. kuesioner. (2) Pengembangan instrumen Instrumen dikembangkan dan disusun untuk menjaring atau mendapatkan data dan informasi kualitatif dan kuantitaif mengenai pencapaian pelaksanaan Permendiknas No. hasil monitoring ini dilakukan sebagai bahan pertimbangan dalam merekomendasikan perencanaan dan pelaksanaan penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan agar lebih efektif dan efisien pada satuan pendidikan dasar dan menengah. Selain itu. melakukan monitoring. STRATEGI MONITORING Kegiatan ini dilakukan melalui berbagai metode dalam bentuk studi dokumen. pedoman wawancara.BAB III METODOLOGI Pendekatan dalam monitoring ini bersifat descriptive-explanatory berbentuk studi (survey) dengan menggunakan data kualitatif dan kuantitatif yang digunakan secara seimbang dan saling melengkapi untuk melihat profil pencapaian satuan pendidikan dalam penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan pada tingkat propinsi. pengolahan hasil monitoring. metodologi. rapat kerja dan diskusi fokus yang melibatkan berbagai nara sumber perguruan tinggi. ruang lingkup. Penyusunan desain dilaksanakan dalam bentuk workshop. Sumber data yang digunakan adalah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 53 . pelaksanaan kegiatan. kerangka berpikir atau landasan teori. pengembangan desain. hasil yang diharapkan. praktisi pendidik dan tenaga kependidikan. pengembangan instrumen. diskusi fokus. A. penyusunan dan presentasi rekomendasi. penyusunan dan presentasi rekomendasi mengenai hasil kegiatan keseluruhan. Instrumen yang disusun berbentuk tes. 22 dan 23 tahun 2006 tentang Standar Isi dan SKL oleh satuan pendidikan. analisis hasil monitoring.

(4) Pelaksanaan monitoring Monitoring dilakukan dengan menggunakan instrumen-instrumen yang dikemas. Instrumen yang telah disusun diujicoba secara terbatas untuk memvalidasi keterbacaan dan kesesuaiannya dengan tujuan monitoring (3) Rapat koordinasi membahas implikasi Permendiknas No.siswa. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan d. Pelaksanaan monitoring mengacu pada pedoman monitoring yang mengatur tentang: kriteria petugas pelaksana monitoring. serta dokumen yang relevan. c. metode penggunaan instrumen dan sumber data yang diperlukan. pengawas sekolah. 23 dan 24 tahun 2006 Rapat kerja ini terutama untuk menentukan kesamaan persepsi dan pemahaman berbagai pihak pengelola pendidikan dari unsur sekolah. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan Rapat kerja ini juga untuk mengatur koordinasi dalam pelaksanaan monitoring sehingga diperoleh cukup data dan informasi kualittaif dan kuantitatif yang akurat dan aktual tentang pencapaian penerapan dan pelaksanaan Permendiknas No. 23 dan tahun 2006 tentang: a. orangtua. guru. dan dinas pendidikan kabupaten/kota/ propinsi. dan pihak lain mengenai implikasi Permendiknas No. Peran pemerintah kabupaten/kota/propinsi dalam mendukung pelaksanaan Permendiknas No. 22. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 54 . dan kelengkapan data dan informasi yang diperlukan sebagai hasil monitoring serta hal-hal lain yang ditemukan selama pelaksanaan monitoring. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan pada setiap propinsi. dikombinasikan dan dilakukan secara terpadu (terintegrasi) agar proses monitoring dapat berjalan secara efisien dan sesuai sasaran dan kebutuhan. 22 dan 23 tahun 2006 b. kelengkapan jumlah dan jenis intrumen. Mekanisme satuan pendidikan dalam menyusun dan melaksanakan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan daya dukungnya. dinas pendidikan. pemerintah. Hal-hal yang harus dilaksanakan dan dicapai satuan pendidikan seperti yang dituntut dalam Permendiknas No. Peran pemerintah (Depdiknas dan departemen lain terkait) dalam merumuskan kebijakan untuk mendukung pelaksanaan Permendiknas No. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lain. 22.

22 dan 23 tahun 2006. (7) Penyusunan laporan Sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan secara keseluruhan. dalam mengefektifkan pelaksanaan Permendiknas No. (6) Rekomendasi kebijakan kurikulum Rekomendasi atau saran kebijakan kurikulum disusun berdasarkan analisis hasil monitoring meliputi rekomendasi bagi satuan pendidikan dan komite. PENGEMBANGAN INSTRUMEN Instrumen disusun dan digunakan untuk mengukur atau mendapatkan data dan informasi pencapaian pelaksanaan Peremndiknas No. Observasi digunakan untuk mengamati unjuk kerja (kinerja) pada saat pembelajaran di sekolah maupun obaservasi situasi dan kondisi pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan yang memuat aspek – aspek yang akan dilihat saat monitoring dilakukan. pedoman wawancara. guru. dan pedoman observasi. Bentuk Instrumen yang dikembangkan dalam monitoring ini berupa kuesioner. potret atau profil tingkat pencapaian dan efektifitas penerapan atau pelaksanaan Permendiknas No. Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan penyusunan rekomendasi kebijakan dalam penyusunan dan pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan dan evaluasu. komite sekolah maupun dinas pendidikan di daerah.(5) Analisis Hasil Monitoring Data dan informasi hasil monitoring dan kajian dokumen pendukund yang relevan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan gambaran. Metode wawancara dapat dilakukan secara tertulis ataupun langsung dengan mengacu pada panduan wawancara. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan pada seluruh propinsi. B. bentuk pembinaan oleh dinas kabupaten/kota/propinsi. tindakan kebijakan oleh pemerintah dan stakeholder terkait. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 55 . Hasil kegiatan ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi kepala sekolah. dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi dan pemerintah. perlu dibuat laporan beserta hasil-hasilnya pada tiap langkah kegiatan. supervisi atau pembinaannya oleh pengawas sekolah.

TEKNIK PENGUMPULAN DATA Populasi dalam monitoring ini adalah unsure dari satuan pendidikan dasar dan menengah dan komitenya serta dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi pada 33 propinsi. guru. Walaupun perlu dilakukan kroscek atau verifikasi dengan sumber data yang lain untuk mendapat informasi yang lebih otentik. Aspek lain yang tidak mungkin dimonitor melalui kuesioner dapat dimonitor melalui observasi atau teknik monitoring lainnya. orangtua. dan SMP/MTs. Kuesioner dengan jawaban (options) tertutup mudah dianalisis tetapi tidak memberi peluang responden memberi tanggapan lain yang mungkin sangat berguna. juga digunakan descriptive statistically Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 56 . 22 dan 23 tahun 2006. Penilaian diri merupakan salah satu bentuk kuisioner yang khusus untuk melakukan evaluasi diri tentang komitmen Penilaian diri cukup bermanfaat untuk dilakukan karena pelaksana diklat akan lebih jujur mengungkapkan pendapatnya tentang pelaksanaan program diklat. tenaga kependidikan. siswa. dan sarana pendukungnya. Teknik sampling dilakukan secara multi-stages dengan mengkombinasikan sistem cluster samples dan purposive samples. terbuka. kegunaan informasi yang dijaring. Monitoring pada tingkat dinas penddikan kab/kota/propinsi meliputi ketenagaan dan program kerja dalam mendukung pelaksanaan Permendiknas No. TEKNIK ANALISIS DATA Analisis data yang digunakan adalah content analysis berupa studi dokumen untuk membandingkan berbagai temuan yang memiliki karakteristik berbeda-beda dan narrative analysis untuk melihat kohorensi temuan / informasi dari dokumen ataupun tanggapan para responden yang berkaitan dengan ketersediaan buku-buku pelajaran dan kesesuaiannya dengan kurikulum. Selain itu. pengawas. Kuesioner dengan jawaban terbuka memberi peluang pada responden menyatakan pendapatnya secara bebas tetapi memerlukan waktu untuk menganalisis. kepala sekolah. C. Pada masing-masing propinsi akan dilakukan monitoring pada tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang meliputi pendidik. Dinas pendidikan. atau pernyataan sikap. Direncanakan keseluruhan responden monitoring pada setiap propinsi melibatkan siswa SD/MTs. komite.Metode kuesioner disusun dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan tertulis yang telah disiapkan yang dapat berbentuk pertanyaan dengan jawaban tertutup. Dalam pengembangan kuesioner memperhatikan aspek kepraktisan. D. dan keakuratan jawaban. dan orang tua.

9%) telah memiliki masa kerja antara 21-30 tahun. 2.5) responden mengaku belum pernah ikut sosialisasi. Dari responden yang mengikuti sosialisasi.9 sarjanan strata 2. dan hanya 14. 11. E. dinas pendidikan kota di ibu kota provinsi.3% responden kepala sekolah berpendidikan sarjana strata 1. Dinas Pendidikan Sebagain besar responden yang berasal dari pejabat struktural Dinas Pendidikan berlatar belakang pendidikan sarjana strata 1 (64.8) menyatakan ikut sosialisasi kurang dari seminggu.4 masih berpendidikan diploma.0%). PROFIL RESPONDEN Responden yang dilibatkan dalam monitoring ini berasal dari dinas pendidikan provinsi. Responden yang berlatar belakang pendidikan SLTA adalah staf teknis yang hadir mewakili atasannya. 84.5%). Responden dipilih secara acak. dan diploma (3.5% adalah sarjana starta 1. hasil monitoring dapat dijadikan sebagai barometer (memprediksi) bagaimana kondisi di luar ibu kota provinsi.analysis untuk mendeskripsikan berbagai aspek variabel yang berkaitan dengan bukubuku pelajaran. untuk memperkirakan 1.8%). Sekolah Responden yang terdiri atas kepala sekolah dan guru dengan latar belakang pendidikan sebagian besar sarjana.2% sarjanan strata 3. 1. namun karena semua responden berasal dari ibu kota provinsi. Lebih separoh (58. serta 2. Sedangkan guru.7 berpendidikan sarjana strata 2. sarjana strata 2 (18. dan 19. data yang diberikan belum mewakili daerah-daerah di luar ibukota provinsi. SLTA (13. umumnya (97. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 57 .4% yang masa kerjanya 10 tahun ke bawah. Sebagian besar (53. Namun demikian. 80.7%). dan sekolah-sekolah yang berada di ibukota provinsi.

Komite/Orang Tua Siswa Lebih dari separoh (69%) responden yang berasal dari orang tua/komite berpendidikan sarjana strata 1. Keadaan ini hampir sama dengan guru.6% di antara kepala sekolah berasal dari SM/MA dan 42. dan hanya 6.6 % sarjana strata 2.6%.1%) memiliki masa kerja 11-20 tahun.7%. Tim studi belum bisa mendapatkan data kuantitatif pelaksanaan KTSP oleh satuan pendidikan pada tingkat propinsi karena propinsi belum memiliki data rincinya dari kabupaten/kota maupun dari sekolah di wilayahnya.7% berasal dari SMK. Hal ini disebabkan belum optimalnya koordinasi antara Dinas Pendidikan Provinsi dengan Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 58 . 3.8% dengan masa kerja 21-30 tahun.1%) memiliki pekerjaan berwiraswasta.3%). 7. 48. lebih separoh responden guru berasal dari SMA/MA (58. Selebihnya (30. 57. Sebagian besar dari mereka memiliki pekerjaan tetap sebagai pegawai negeri sipil dengan rincian sebagai berikut: karyawan PNS sebanyak 41. dan dosen 5. Tidak ada yang berlatar belakang pendidikan SD.8%). dan 5.6% dengan masa kerja 10 tahun ke bawah. guru (27.8% di bawah 10 tahun. 37. BAB IV PEMBAHASAN HASIL MONITORING A. 29. 8.3% SLTA. Pengembangan dan Penerapan KTSP secara Nasional Informasi tentang pengembangan dan penerapan KTSP secara nasional menggunakan sumber data yang diperoleh dari dinas pendidikan propinsi. Sedangkan guru yang menjadi responden monitoring ini lebih separo (57. 13. 16.Berdasarkan masa kerjanya.5% kepala sekolah yang menjadi responden memiliki masa kerja 11-20 tahun. dan 41.3 % antara 21-30 tahun.4% dari SMK.1 % yang memiliki masa kerja di atas 31 tahun.6% diploma.

(2) sasarn sosialisasi di masing-masing daerah. Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Bengkulu Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Selatan Lampung Kepulauan BangkaBelitung Kepulauan Riau Banten Jawa Barat 21 25 9 10 11 19 14 10 7 7 6 25 21 25 9 10 11 19 14 10 7 6 6 25 1 2 1 1 1 2 1 1 2 2 1 3 V V V V V V V V V V V V V V V V V V v - v v V V V V V V V - - Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 59 . Data yang yang diambil adalah (1) jumlah daerah yang telah melakukan sosialisasi di tiap provinsi. Akibatnya. 6. Para pejabat struktural maupun staf teknis di Provinsi hanya bisa memberikan gambaran tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan melalui kegiatan provinsi. 2. Untuk itu data yang digunakan adalah data kualitatif mengenai pengembangan dan penerapan KTSP yang bersumber dari persepsi dinas propinsi. 8. 4. Kegiatan-kegiatan seperti ini cukup banyak dilakukan karena di beberapa daerah karena mereka sangat proaktif. baik Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota maupun sekolah. 5. terutama terkait dengan pelaksanaan KTSP. Pelaksanaan Sosialisasi di Setiap Provinsi Berdasarkan pengalaman yang lalu. 12. pelaksanaan monitoring pada tahun 2007 ini diawali dengan melihat proses sosialisasi di masing-masing provinsi. 1. 10. Berikut gambaran secara umum pelakasanaan sosialisasi di masing-masing provinsi. SKL dan KTSP pada tiap propinsi No Provinsi Jumlah kab/ kota Kab/Kota yang sudah sosialisasi Frekuensi Kegiatan Puskur Penyelenggara PUSAT Ditjen Mandikdasmen LPMP/PMPTK DAERAH Dinas pddk Dinas Provinsi Pddk Kab/kota 1. 7. setiap pergantian kebijakan tentang kurikulum sangat dirasakan bahwa proses sosialisasi kurang optimal. tingkat pemaham pelaksana dilapangan kurang memadai. Tabel 1 : Gambaran jumlah kabupaten/kota yang sudah mendapat sosialisasi atau workshop SI. 9. Kegiatan-kegiatan yang bersifat mandiri yang dilaksanakan oleh masing-masing Kabupaten/Kota melalui MGMP atau tidak semuanya terpantau oleh Dinas Provinsi. Atas dasar pengalaman tersebut. 11.pendidikan Kabupaten/Kota dalam hal pendataan. 3. demikian juga kegiatan yang dilakukan oleh sekolah-sekolah dengan memanfaatkan dana swadaya.

Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Daerah Istimewa Yogyakarta Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Gorontalo Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Irianjaya Barat Papua (Irianjaya) Total 6 35 38 5 9 9 16 12 13 14 13 5 23 10 10 9 6 8 8 9 20 442 6 35 38 5 9 9 16 12 13 14 13 5 23 10 10 9 5 8 8 9 20 440 4 3 4 2 2 2 2 1 2 2 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 V V V V V V V V V V V V V V V V - V V V v v v V v v v v V V V V V V V V - V V V v v v v v v v v v v v v v - v V V v - Dari tabel jelas bahwa secara keseluruhan semua kabupaten/kota telah mendapatkan sosialisasi atau workshop tentang kebijakan dan penerapan Permendiknas No. 33. 25. 16. 27. DKI. 30. 26. 21.13. yaitu kegiatan yang dilakukan melalui pembiayaan APBN. Oleh karena itu. 18. 19. 15. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada keharusan bagi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau sekolah untuk melaporkan pelaksanaan kegiatan sosialisasi yang dilakukan secara swadaya atau melalui APBD tingkat II. 17. 32. 22 dan 23 tahun 2006 tentang SI (standar isi) dan SKL (standar kompetensi lulusan). seperti yang terlihat pada table di atas. 20. 29. Menurut prediksi Dinas Pendidikan provinsi. tetapi belum ada laporan resmi sehingga Dinas Pendidikan Provinsi tidak memiliki data tentang itu. Kegiatan yang menggunakan biaya APBD Kabupaten/Kota atau swadaya sekolah umumnya tidak dilaporkan ke Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 60 . seperti yang dilakukan oleh Diraktorat terkait. data yang ada di Dinas Pendidikan provinsi. umumnya data kegiatan sosialisasi yang melibatkan Dinas Pendidikan Provinsi. 28. sosialisasi pada umumnya adalah unit Pusat dan Daerah Penyelenggara Pendidikan (Dinas Propinsi/Kab/Kota). dan dana APBN yang ada di Dinas Pendidikan Provinsi serta APBD provinsi. Tabel di atas juga menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan oleh langsung oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota hampir tidak terpantau oleh Dinas Pendidikan Provinsi. 24. hal ini bukan berarti daerah lain tidak melaksanakan. 34. 14. hampir semua daerah telah melakukan sosialisasi secara mandiri. Meskipun pada tabel di atas terlihat bahwa hanya 4 kabupaten/kota yang melaksanakan kegiatan sosialisasi. 22. 31. 23.

Jelas bahwa unit yang terlibat dalam sosialisasi sudah mewakili keseluruhan stakeholder pendidikan. Selain sekolah. pengembangan KTSP disusun bersama oleh pihak sekolah dan komite sekolah. SKL.3 26. 2. g.7 26. Padahal secara kebijakan. Menurut responden. c.1 63. Hal ini mengibatkan Tim Monitoring kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang kabupaten/kota atau sekolah mana saja yang telah melakukan sosialisasi secara mandiri. MGMP (musyawarah guru mata pelajaran).Pendidikan Provinsi. atau pemahaman pengembangan KTSP yang perlu dipertajam. dewan pendidikan dan komite sekolah. Namun. KKKS (kelompok kerja kepala sekolah). Penerapan KTSP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 61 . LSM Pendidikan. Hal ini mungkin disebabkan sekolah masih menganggap tingkat keprofesionalan orangtua masih bervariasi. baru kemudian yayasan. MGMP KKKS PGRI Organisasi Pengawas Yayasan Dewan Pendidikan Komite % 78. orangtua sudah menyerahkan urusan ini ke sekolah.9 21. tampaknya peran komite sekolah masih dianggap kecil (26.2 36. d. f. b. atau lembaga profesional lainnya yang cukup partisipasif dalam program KTSP ini. pengawas sekolah. Hal ini mungkin disebabkan belum meluasnya sosialisasi dan mungkin penyelenggaraan oleh lembaga profesional lain tidak terpantau oleh Dinas. mereka telah ikut di beberapa kegiatan seperti yang digambarkan pada tabel berikut: Tabel 2 : Organisasi Profesi dan Unit terkait yang menjadi sasaran ssosialisasi SI.9 78. e. dan KTSP. sosialisasi juga dilakukan terhadap organisasi profesi pendidikan lain berikut ini.3%) dalam pelibatan pengembangan KTSP. Menurut Dinas Propinsi belum ada pihak terkait lain seperti perusahaan penerbitan buku pelajaran. Perusahaan swasta/BUMN. Sasaran Sosialisasi a.3 Dari tabel tersebut jelas bahwa sasaran utama sosialisasi atau workshop KTSP adalah sekolah ditambah gugus sekolah (kelompok sekolah).

namur terbatas pada beberapa bagian saja. jawaban boleh lebih dari satu). Menurut pemantauan Dinas Propinsi.6%).8 15. Banyak guru yang belum siap menyusun silabus sendiri.7%).3 42. lainya tidak memberikan jawaban (26. g. e. dalam arti. mengadaptasi. Hal yang perlu dicermati hádala.9%) menyatakan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 62 .3 57. dan yang menyatakan intensif hanya (15. tersebut berbeda dengan tahun 2007. menggunakan tim. beberapa sekolah menyusun sendiri.1 36. Untuk kategori ini. Dalam pengembangan KTSP. b. misalnya mengenai seilabus. f.3% Total persentase respon melebihi dari 100% karena umumnya responden menjawab lebih dari satu pilihan. menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi. adaptasi dan sebagainyaP . Lebih separoh daerah Kondisi (57. sehingga ada yang mengadopsi. mereka menyebut menyusun sendiri tetapi secara bersama di gusus. Beberapa sekolah menyusun di bawah koordinasi dinas dengan menggunakan tim pengembang dari dinas.Dalam hal penyusunan KTSP. dan bahkan ada yang menyusun secara bersama-sama beberapa sekolah. sebagian besar penerapan KTSP pada tiap kabupaten/kota selama tahun 2006 belum intensif (31.3%). Berikut secara lengkap informasi tentang proses penyusunan KTSP menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi (mulai dari yang frekuensinya tinggi. c. masih cukup banyak sekolah yang baru pada taraf mempelajari kebijkan KTSP dan menggunakan kurikulum sebelumnya.9 26. penyusunan KTSP oleh sekolah dilakukan dengan metode kombinasi melalui koordinasi.8%). serta menyusun senidiri. d. Tabel 3 : Penusunan KTSP oleh Satuan Pendidikan Penyusunan KTSP a. sehingga silabusnya sama. Satuan pendidikan menyusun sendiri mengacu SI. dan pada bagianbagian tertentu diadopsi. umumnya sekolah-sekolah menyusun sendiri KTSP ( 73. Ada unsur adopsi dan adaptasi.8 26. belum menjadi prioritas (26. serta mengadaptasi dan mengadopsi model kurikulum. Ada yang menyatakan bahwa KTSP disusun oleh sekolah di bawah koordinasi Dinas pendidikan. SKL dan model kurikulum KTSP KTSP disusun oleh sekolah dengan koordinasi Dinas Pendidikan KTSP disusun oleh tim yang dibentuk oleh Dinas Pendidikan Satuan pendidikan mengadaptasi model kurikulum KTSP dari pusat Satuan pendidikan mengadopsi atau menggunakan model kurikulum KTSP dari pusat Masih pada taraf sosialisasi dan mempelajari perangkat dokumen Masih menggunakan kurikulum sebelumnya % 73.3%).

diantaranya adalah: menunggu sampai 2009 (batas akhir yang diberikan oleh pemerintah untuk menerapkan KTSP).2%). Telah menerapkan secara efektif pada seluruh kelas dengan silabus dan RPP yang disusun sendiri Telah menerapkan secara efektif pada seluruh kelas dengan silabus dan RPP yang diadopsi Telah menerapkan secara bertahap Masih menggunakan kurikulum sebelumnya % 31.6 36. Alasan lain adalah kurangnya dana pendukung untuk penyusunan KTSP. mengapa intesitas penerapan KTSP masih beragam. b. sosialisasi dan workshop KTSP yang mulai meluas dan tingkat pemahaman KTSP yang membaik bagi seluruh stakholder. 10% menyatakan sangat baik.Jadi.kabupaten/kota mulai menerapkan KTSP secara intensif.7 31. dan 26. sebagian besar daerah menyatakan sudah cukup baik (84.3% responden tidak memberikan jawaban. dan sebagian lagi menyatakan bahwa masih perlu waktu untuk melakukan sosialisasi di kalangan warga sekolah dan masyarakat karena sebagian besar di antara warga sekolah dan masyarakat belum memahami kebijakan tentang KTSP ini. Tentang kondisi yang berkaitan dengan pelaksanaan KTSP. Tabel: 4 Proses penerapan KTSP Proses/Tahapan a. Berkaitan dengan hal ini. d. Faktor yang paling mentukan keterlaksanaan KTSP menurut pernyataan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 63 . sebagian besar daerah memprogramkan mulai tahun 2007 menerapkan KTSP.6 Tabel di atas menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil sekolah yang masih menggunakan kurikulum sebelumnya (31. c.7%). Ini menunjukkan KTSP telah menjadi program dengan prioritas bagi tiap propinsi/kabupaten/kota. Sebanyak 15. Beberapa alasan yang dikemukakan oleh daerah. Pada umumnya sekolah mulai menerapkan KTSP pada awal tahun pelajaran 2007 secara bertahap (73. melihat sekolah yang terdekat dengan mereka agar dapat secara bersama-sama menyusun KTSP. rata-rata melaksanakan secara bertahap. Umumnya sekolah yang menerapkan secara kelseluruhan adalah sekolahsekolah yang sudah melaksanakan piloting KBK (2004).8 73. dan hanya 5.6%).8% daerah menyatakan kabupaten/kota belum menempatkan penerapan KTSP sebagai prioritas. Tingkat kesadaran dan komitmen sekolah untuk mengembangkan dan menerapkan KTSP cukup tinggi. Sebagian sekolah (36. peningkatan prioritas program KTSPdisebabkan oleh tuntutan bahwa tahun 2009 KTSP harus sudah diterapkan menyeluruh pada setiap satuan pendidikan.8%) telah menerapkan secara efektif di semua kelas.3% yang menyatakan kurang.

5 10. Dokumen SI.8 15.2 57.4%). ini berarti.3 10.8 15.5 SMK (%) C 57. SKL dan model KTSP sudah tersedia pada tingkat kabupaten/kota. siswa (21.8%).3 26.9 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum guru telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik. menurut informasi dari Dinas Pendidikan.8 10. Sebagian besar menyatakan ketersediaan dokumen cukup memadai (52.2 52. akses informasi oleh satuan pendidikan tentang kebijakan KTSP seharusnya mudah.3 15.9 63. Kualifikasi akademik Penguasaan isi mata pelajaran Menyusun kurikulum (KTSP) Menyusun silabus Menyusun RPP Menilai kualitas kurikulum. sarana dan prasarana (47. f.10%). Perlu dilakukan berbagai upaya komunikasi interaktif dan komitmen sekolah dan Dinas melalui hubungan langsung.1 21. silabus dan RPP Mengembangkan alat penilaian berbasi kompetensi Menyusun bahan ajar (LKS dsb) Membuat sumber belajar mandiri S 21.4 63.7 68.1 37. c. silabus.1 21.9 68.6 K 15.6 31. Namun yang perlu dicermati dan ditingkatkan kompetensi guru Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 64 .5%).1%). d.2 57. dan model KTSP (94.3 26. dan yang menyatakan sangat memadai hanya 10. Sebagian responden menjawab gabungan antara siswa dan orang tua (20.3 26.3 10. umumnya kabupaten/kota sudah mendaptkan dokumen SI. orang tua dan masyarakat (10.9%).4 K 26.2 63.4 S 26.3 31.3 5.5 5.1 15.3 10.9 68. dan RPP. Keberhasilan program KTSP sangat ditentukan oleh sumberdaya pendidik dan tenaga kependidikan.8 15. h. SKL.5 10.4 63.4 73. Hal ini mennjukkan perlu adanya komitmen manajemen yang profesional pada tingkat sekolah untuk mengembangkan dan menerapkan KTSP 3.6%) dan kurang memadai (15.8 5.7 78. penguasaan mata pelajaran.5 10.7%). Keberadaan Dokumen SI dan SKL Menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi. b. serta pemanfaatan teknologi informasi agar sekolah terbantu dalam mengembangkan dan menerapkan KTSP.8 19.5%.7 73.9 47. Kesiapan Sekolah dalam melaksanakan KTSP: Secara umum.5 15. 4.6 57. penyusunan kurikulum.5 5.8 10.3 C 52.8 15. g.3 26. e.9 73.5 5. kecuali dalam pengembangan bahan ajar mandiri Lebih lengkap informasi tentang kesiapan guru dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel: 5 Kesiapan Guru dalam Pengembangan dan Penerapan KTSP SMA (%) Aspek a.6 47.3 5.Dinas pendidikan Provinsi adalah guru (78. i. kesiapan guru berkaitan dengan pengembangan dan penerapan KTSP oleh sekolah cukup memadai.

adalah dalam melakukan pengembangan penilaian berbasis kompetensi. modul maupun referensi lainnya juga perlu dipertimbangkan karena guru lebih bergantung kepada penerbit buku Kesiapan kepala sekolah dalam pengembangan dan penerapan KTSP. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 65 . seorang guru harus melakukan penilaian secara profesional dan dapat dipertanggungjawabkan. padahal dalam KTSP. pengembangan bahan ajar serta pengembangan sumber belajar mandiri. Pengembangan bahan ajar yang meliputi buku teks. Tampaknya guru belum konfiden dalam mengembangkan alat penilaian walaupun itu sudah dijalani sehari-hari. menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut.

8 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum kepala sekolah telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik.3 15.8 36.1 5.8 SMK C 57. silabus.4 68.1 21.1 63.3 SMK C 52. Program peningkatan kompetensi pengawas dapat berbentuk Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 66 .3 10.8 21.9 K 15.8 5. c.3 26.5 15. menilai kualitas kurikulum.3 29. silabus.3 S 21. Tentang kesiapan pengawasa sekolah. Kualifikasi akademik Menyusun kurikulum (KTSP) Menilai kualitas kurikulum.8 21.1 26.5 C 42. penyusunan kurikulum.8 26. serta mengelola guru dalam pengembangan KTSP.8 10.9 47.7 S 31.3 C 42.6 36.6 57. f. dan RPP. e. silabus dan RPP Membantu masalah guru dalam menyusun silabus dan RPP Mengelola guru dan tenaga kependidikan menyusun KTSP Membina guru dalam melaksanakan pembelajaran S 26.3 5. Pada jenjang pendidikan dasar. e.Tabel 6 : Kesiapan Kepala Sekolah SMA Aspek a.3 21. karena angkanya baru 47.3 10. d. penyusunan kurikulum. menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut.8 36.3 5.1 5.6 31. b.2 68.9 63.1 94. d.1 26.6 15.5 15. Tabel 7 : Kesiapan Pengawas SMA Aspek a.4 68. Gaya Kepeminpinan kepala sekolah juga perlu ditingkatkan untuk mengelola guru dan tenaga lain dalam pengembangan KTSP. b.8 10.7 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum pengawas sekolah telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik (namun ini masih perlu ditingkatkan.2 K 31.3.3 5.9 63.6 63. c.4 52.6 15. namun tidak mendalam pada tingkat detil kurikulum maupun silabus mata pelajaran. Yang perlu dicermati dan ditingkatkan kompetensi kepala sekolah adalah walaupun secara umum kepala sekolah berkompeten dalam pengembangan kurikulum.3 26. dan RPP.9 31. penguasaan mata pelajaran.6 K 26. f.6 94. membantu masalah guru dalam pengembangan silabus dan RPP (namun ini masih ditingkatkan karena angkanya baru 47. silabus dan RPP Membantu masalah guru dalam menyusun silabus dan RPP Mengelola guru dan tenaga kependidikan menyusun KTSP Membina guru dalam melaksanakan pembelajaran S 31. penguasaan ini secara umum masih diperlukan.3 5.2 57.4 57.4 K 21.6 15.4%).4 68. Kualifikasi akademik Menyusun kurikulum (KTSP) Menilai kualitas kurikulum.9 57.9 68. 5.4%).5 15.2 57.6 31.3 5.1 52.6 36.4 68.

5.9 63. Blockgrant. kebutuhan dan karakteristik sekolah dan peserta didik. silabus dan RPP pada sekolah tertentu secara bertahap Pengembangan kompetensi guru melalui uji kompetensi. Berikut tabel tentang sumber pendanaan sosialisasi KTSP: Tabel : 8 Sumber Pendanaan KTSP Tahun 2006 (dlm juta rupiah) Jenis Sosialisasi / Workshop APBD a.6 Tdk Mjwb 52.9 Tahun 2007 (dlm juta rupiah) APBD 10. serta membina guru dalam melaksanakan pembelajaran.6 Dari tabel tersebut jelas bahwa program KTSP melibatkan berbagai sumber mencakup dana APBD.5 - 15.5 10.4 57. Perlu juga ditingkatkan program mandiri pengembangan alternatif sarana.2 d. e. Sosialisasi SI.1 10.5 - 21. Perlu dikritisi di sini bahwa pengembangan dan penerapan KTSP harus disesuaikan dengan kondisi. artinya sarana-sarana yang tidak tersedia atau rusak.6 57. Perlu dicermati di sini.7 21.8 10. KKG. b.6 63. sekolah dapat mengembangkan sendiri alternatif sarana yang tersedia dari lingkungan sekolah. Ini berarti peran pengawas harus ditingkatkan fungsinya dalam pembianaan substansial sekolah mulai dari pengembangan kurikulum sampai pelaksanaan pembelajaran. 47.1 78. 10. tidak sekedar memeriksa adminstrasi kurikulum dan pembelajaran di sekolah. bagi sekolah dengan sarana dan prasarana kurang memadai perlu mengembangkan KTSP yang sesuai dengan sekolah tersebut dan dapat dilaksanakan oleh sekolah tersebut. Hal dimungkinkan karena berbagai hal yaitu: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 67 . diklat atau tugas belajar Penyediaan dan pemeliharaan prasarana dan sarana pendidikan 10. dan hanya 5. banyak responden justru memilih tidak menjawab.8 73.5 10.1 - 15.3%).9 c. umumnya responden menyatakan bahwa penerapan KTSP berdampak pada penyediaan dana.4% menyatakan sangat baik.3 % yang menyatakan sangat baik. Sarana dan Pendanaan Hampir separoh responden menyatakan sarana dan prasarana sekolah sebagai pendukung KTSP masing kurang memadai (47. maupun sumber lainnya yang sah.3 15. SKL dan KTSP Workshop /pengembangan KTSP.2 15. Umumnya sekolah menyediakan dana dari anggaran belanja sekolah.workshop pengembangan kurikulum. silabus dan RPP dengan melibatkan berbagai sekolah.1 36.1 21.1 Tdk Mjwb 47.5 Lain nya 21.2 52.4 31. - 5.5 Lain nya 26.9 63. MGMP dsb Workshop pendampingan pengembangan KTSP.8 21.5 Block Grant 21.5 Block Grant 10.8 15. Ini berarti. potensi. Berkaitan dengan pembiayaan.

Berikut urutan priritas kegiatan di Dinas Pendidikan Provinsi.8 Angka Prioritas 3 15. dengan dinas kabupaten/kota dan dengan pusat.8 36.7%) kabupaten/kota memiliki program sosialisasi. penyediaan dokumen SI. ditetapkan berbagai prioritas.8 c. Melakukan koordinasi program dengan kab/kota Melakukan pendataan pencapaian penerapan KTSP pada tiap kab/kota Melakukan workshop pengembangan KTSP dan program supervisi klinis dengan kab/kota Melakukan supervisi klinis langsung ke sekolah-sekolah terpilih Penyediaan dokumen SI. keberadaan TPK Kesiapan tim sosialisasi KTSP tingkat provinsi (sesuai dengan SE Mendiknas No. 36.3 36. 33/MPN/SE/2007 tentang Pembentukan Tim Sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 68 .5 21.pengetahuan responden yang rendah dalam masalah anggaran (hanya fokus pada program/kegiatan yang dijalankan).1 Dari tabel tersebut jelas bahwa prioritas pertama Dinas Propinsi dalam program KTSP adalah melakukan koordinasi tingkat internal. Tabel: 9 Urutan Prioritas Kegiatan Jenis Program 1 a. dan pendapingan satuan pendidikan dalam mengembangkan KTSP.8 5. maupun pendampingan satuan pendidikan untuk mengembangkan KTSP.3 ksg 10. 6. Prioritas kedua adalah melakukan pendataan kuantitatif penerapan KTSP pada tingkat kab/kota. 36.8 d. Prioritas utama adalah melakukan koordinasi program dengan kabupaten/kota (52. terutama koordinasi dengan kabupaten/kota.1 15.6 36.3 5. peran ini menjadi kurang. Untuk merealisasikan program tersebut. untuk Hanya 26. workshop. sebagian besar (73. b.6%). 26.3 15. workshop. workshop pengembangan KTSP dan supervisi klinis ke kab/kota dan 7.5 26. SKL dan model KTSP 52.5 15. SKL. tidak tahu. Tim Pengembang Kurikulum (TPK) Provinsi (a).8 10.5 15.3 4 5.8 e. dan tidak bersedia menjawab.8 5.8 2 15.8 21.3% yang menyatakan bahwa kabupaten/kota belum memiliki program sosialisasi. Program Sosialisasi yang Berkelanjutan Menurut Dinas Pendidikan Provinsi.8 20. Tampaknya koordinasi menjadi hal penting karena dengan adanya otonomi daerah.3 - 10.

6 36.2 Belum 5. dan keterlibatan relatif swasta masih kecil (21. umumnya (63. sebagian daerah mengkombinasikan antara APBD dengan APBN (10. dan bantuan para sponsor seperti penrbit buku. kepala sekolah (73. Surat Keputusan ditandatangani langsung oleh Gubernur. Pengukuhan Tim Pengembang Kurikulum melalui Surat Keputusan 3 Program Kerja TPK Propinsi Sudah 94. dan sebagian besar (68. banyak daerah yang masih bingung. (b) Anggota TPK Propinsi Tim Pengembang Kurikulum (TPK) provinsi melibatkan berbagai unsur Keanggotaan terkait. Tabel 10 : Keberadaan Tim Pengembang Kurikulum Provinsi No Keberadaan Tim TPK Provinsi 1 1.4 63. dan sebagian lagi digali dari sumber lain(21. Pengesahan ini sangat diperlukan sebagai dasar pengajuan anggaran pembiayaan kegiatan tim pengembang kurikulum.1%) misalnya APBS. Pembentukan Tim Pengembang Kurikulum tingkat propinsi 2 2.3 31.2%). Pada sebagian daerah. dan sebagian lagi ditandatangani oleh Kepala Dinas Dinas Pendidikan atasnama Gubernur. seperti pengawas (89. Ini dapat dipahami mengingat perubahan kebijkan kurikulum selama ini lebih bersifat adminstratif dari pada akademik. dan keterlibatan perguruan tinggi dan swasta relatif lebih kecil. dan jangka pendek.5%). keterlibatan unsur di luar sekolah (pejabat struktural dan staf teknis. sudah mengusulkan lewat APBD (42.7 %) telah membentuk Tim Pengembang Kurikulum.3%).2%) telah menyusun program kegiatan yang terdiri dari program jangka panjang. Dari semu daerah yang sudah membentuk Tim Pengembang Kurikulum. Guru (84. pejabat struktural dan staf dinas pendidikan (89. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 69 . Kelihatannya. jangka menengah.2%).Pendidikan). Sebagaian daerah yang tergolong proaktif. yang dalam hal ini disebut Tim Pengembang Kurikulum Propinsi dalam membantu kabupaten/kota atau satuan pendidikan di wilayahnya dalam pengembangan KTSP adalah sebagai berikut.1%). Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab pengembangan profesi bagi tim pengembang kurikulum lebih cenderung didominasi oleh nuansa birokratis.8 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa hampir semu provinsi (94.3%).7 68.4%) keberadaan tim tersebut telah dikukuhkan melalui Surat Keputusan Pemerintah Daerah.1%). perguruan tinggi(63. (c) Sumber dana untuk membiayai kegiatan TPK Propinsi Dalam hal pendanaan. pengawas) cukup dominan.5%).

Berikut tabel kepemiliakn dokumen kelangkapan SI. Pengembangang dan Penerapan KTSP oleh Sekolah Selain menggunakan data kualitatif dari dinas propinsi.B. Dokumen-dokumen tersebut dikemas dalam bentuk file dan direkam ke CD. 24 tahun 2006 Surat Edaran Mendiknas No.2 92.4 92. setiap pergantian kebijakan kurikulum.6 13. Berikut adalah tabel latar belakang responden yang terlibat dalam studi.9 yang mulai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Permendiknas No. 33/MPN/SE/2007 (Tentang Sosialisasi Kurikulum Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model-Model Program Khusus (PLB) Tabel di atas memberikan gambaran bahwa secara umum kepala sekolah (93. tim studi juga melakukan studi pengembangan dan penerapan KTSP bersumber dari pihak sekolah (sebagai sekolah sampel) yang terlibat dalam kegiatan ini.7 22.9 % SI.4 92.9% untuk pelaksanaan SI dan SKL) menyatakan telah memiliki.6 41.1 40. Ini berarti. Namun demikian.4 85.1 11.7 82.1 47. setidaknya proses penyempaian informasi relatif lebih cepat. 92. 1.1 77. dan didukung oleh kemajuan perangkat teknologi.4 16.9 66.7 56. sumber acuan pengembangan KTSP telah dimiliki oleh sekolah-sekolah tersebut. 23 tahun 2006 Permendiknas No. Kelengkapan Dokumen KTSP Berdasarkan pengalaman yang lalu. Hanya saja. 90. dan KTSP disosialisasikan sejak tahun 2006.7 90. Untuk daerah terpencil bisa mencapai 5 – 10 tahun. banyak sekolah yang terlambat menerima informasi dan dokumen kurikulum. Tabel 11: Kepemilikan dan Kelengkapan Dokumen KTSP No Jenis Dokumen Sudah Memiliki (%) Kepala Guru Sekolah 93. Namun terdapat perbedaan pernyataan antara kepala sekolah dan guru.2 69. pemerintah memanfaatkan teknologi komputer. SKL.7 9. Frekuensi kepala sekolah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 70 . ada kendala berkaitan dengan ketersediaan perangkat dan keterbatasan tenaga pengoperasion komputer. Sudah bukan hal yang aneh ketika suatu sekolah baru menerima dokumen kurikulum pada saat kebijakan kurikulum telah berganti.4 % untuk SKL. 22 tahun 2006 Permendiknas No.9 70.4 74.7 42.4 66. Untuk mengantisipasi hal ini. Hal ini sangat memungkinan untuk mempercepat proses distribusi.5 89.

2. model pengembangan diri. model pembelajaran terpadu IPA/IPS di SMP.2 % yang menyatakan telah menerima dokumen SI. Hal lain yang perlu juga dicermati adalah bahan-bahan tersebut harus bisa diakses secara mudah oleh semua insan di sekolah terssebut. Secara rinci adalah seperti tabel berikut Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 71 . Perbedaan ini menunjukkan bahwa mungkin saja sebagian kepala sekolah belum sempat menyampaikan dokumen tersebut kepada guru oleh karena berbagai alasan. cetakan. Sayangnya tim studi tidak sempat melacak alasan mengapa terjdi perbedaan yang cukup signifikan. model pembelajaran tematik di SD dan model program khusus untuk pendidikan khusus.7 %untuk SKL dan aturan pelaksanaannya. Cara Memperoleh Dokumen Pada umunya sekolah/satuan pendidikan mendapat dokumen tersebut dengan berbagai cara melalui mengkopi sendiri dalam bentuk CD. sementara guru dan kepala sekolah yang diundang berasal dari sekolah yang sama.yang telah menenrima dokumen tersebut lebih tinggi dari pada guru. 66. Sumber acuan lain yang harus dimiliki sekolah adalah model muatan lokal. dari dinas pendidikan maupun piha lainnya. Hal ini agar segera diupayakan untuk menjamin pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan berjalan secara efektif dan efisien. Menurut guru baru sekitar 70.

6 16.0 2.5 4. 24 tahun 2006 SE Mendiknas No.4 1.6 9.9 8.8%)`menyatakan sulit memperoleh dokumen KTSP.1 13.0 7.4 2.4 1. Bagi kepala sekolah yang belum memperoleh dokumen tapi sudah pernah mendapatkan informasi tentang peraturan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 72 .2 12.1 1.0 9.1 7.3 30.1 3.1 7.2 1.3 9.0 1.1 15.5 4.6 10. Bina Komunikasi.5 1.2 1.3 6.5 6. Bina diri d. Pemahaman Isi dokumen berkaitan KTSP Sebagian besar responden (Kepala sekolah 68.1 8.7 13.3 9.1 12. dan irama c. 33/MPN/SE/2007 (Ttg Sosialisasi Kurikulum Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model Program Khusus (PLB) a.Tabel 12 : Cara memperoleh dokumen kelengkapan KTSP No Jenis Dokumen Copy sendiri dalam bentuk CD KS 30.1 9.6 12.1 10. Orientasi dan mobilitas b.1 6.6 (%) Dari Dinas Pendidikan dalam bentuk cetak KS GR 6.9%. persepsi bunyi.0 1.1 3.2 3.9%.2 - 1.5 9.1 6. Bina pribadi dan sosial f.2 22.3 28.8 25.8 22.2 3.2 1.4 4. Bina diri dan bina gerak KS 1.7 8. Guru 67.6 23.0 3.7 GR 23.8 19.1 8.1 3.0 - 1.3 3.5 - GR 2.2 1.1 11.1 7.1 9.7 16.5 1.2 31.) menyatakan sudah mempelajari.6 15.8 23.0 16.5 1.2 13.3 34.1 7.4 1. Bagi yang sudah memperoleh. umumnya responden (Kepala Sekolah 87.1 12.5 7.1 6.1 13. Bina gerak e.5 15.0 4.8 2. 22 tahun 2006 Permendiknas No.1 9.2 22.2 1.1 10.5 Copy sendiri dalam bentuk cetak KS 15.5 9.0 3.5 9.8 26.3 33.1 6.5 12.8 33.2 2.8 13. 23 tahun 2006 Permendiknas No. guru 48.4 2.2%.5 1.7 13.6 Cara Memperoleh Dari Dinas Pendidikan dalam bentuk CD GR KS GR 15.1 7.2 6.2 - - 3.1 20.5 Dibeli dari pihak lain 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Permendiknas No.5 9.5 4.1 9.7 23.2 4.

pengawas (10. berikut jawaban yang mereka berikan: Tabel 13 Jawaban Responden tantang Dokumen SI. Ketika diminta untuk mendeskripsikan isi dokumen tersebut untuk melihat apakah mereka telah mempelajari dan memahaminya. Perlu dilakukan berbagai upaya agar pemahaman tentang kebijakan pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan memiliki persepsi yang sama. Sedangkan bagi para guru. 22 tahun 2006 Permendiknas No. lainya dari pengawas atau teman sejawat yang pernah mengikuti sosialisasi. e.tersebut. fleksibel. c. 33/MPN/SE/2007 (Tentang Sosialisasi Kurikulum) Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model-Model Program Khusus (PLB) Deskripsi Singkat Tentang standar isi yaitu lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan Berisi tentang standar kompetensi lulusan utk satuan pendidikan dasar dan menengah Mengatur tentang pelaksanaan peraturan mendiknas tentang standar isi dan SKL untuk stuan pendidikan dasar dan menengah Edaran/himbauan untuk segera mensosialisikan & menerapkan KTSP mulai tahun pelajaran 2006/2007 Yaitu tentang contoh kurikulum tingkat satuan pendidikan yang bisa dikembangkan Yaitu tentang contoh format silabus (deskripsi tentang pokokpokok materi pembelajaran) Contoh format rencana pelaksanaan pembelajaran yang bisa dikembangkan Yaitu contoh format silabus dari muatan lokal yang bisa dikembangkan sesuai karakteristik lingkungan di sekitar sekolah Yaitu format kegiatan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekpresikan dirinya IPA terpadu diartahkan ke lingkungan ttg pengelolaan alam sesuai dgn kondisi lingkungan di kep. d. 23 tahun 2006 Permendiknas No. tentang bina diri dan gerak. Hal ini dapat dilakukan tidak hanya dalam bentuk sosialisasi saja tetapi juga melalui workshop dengan menggunakan media langsung (rapat kerja). mereka mendengar dari Kepala Sekolah (22. 24 tahun 2006 Surat Edaran Mendknas No. Mereka mendapatkan informasi tersebut dari Kepala Dinas 15. sesuai kondisi sekolah. BPM. tentang bina diri.6%).2%. media Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 73 . sama sekali belum dipahami.7%). dan KTSP No 1 Jenis Dokumen Permendiknas No. tentang bina emosi dan sosial dan buku tentang keterampilan yang menunjang 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa responden mengetahui dokumen hanya sekadar kulitnya saja. b. SKL. Babel Pada pembelajaran tematik guru harus lebih kreatif membuat alat peraga atau pembelajaran atau menyenangkan sehingga anak tidak bosan Berisikan tentang program khusus: a.7%) dan teman (10. sedangkan apa yang tertera secara eksplisit dan implisit di dalamnya. tentang OM.

di antaranya sebaai berikut: Tabel 14 : Kesulitan dalam Menyusun KTSP Aspek Merumuskan Visi dan Misi Sekolah Merumuskan tujuan sekolah Menetapkan mata pelajaran Menetapkan dan mengembangkan muatan lokal Menetapkan dan mengembangkan kegiatan pengembangan diri Menetapkan pengaturan beban belajar Menetapkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) Menetapkan kriteria kenaikan kelas Kesulitan dan Alasan menyamakan persepsi dengan semua guru & karyawan kesesuaian antara tujuan sekolah dgn situasi. sederhana.1%). dan adopsi dari contoh-contoh yang ada (3. media televisi radio. masih kurang memadai sarana dan prasarana pendukung Belum ada tenaga pemikir/pakar dalam hal pengembangan diri Kemampuan menyusun masih belum maksimal Sulit menentukan KKM karena harus melihat setiap SKL dan KD yang banyak Jika siswa mendapat nilai yang sama untuk menetapkan kriterianya agak sulit namun sudah diulang dengan tes-tes yang lain Tidak diberikan kepada pihak sekolah dalam pengambilan keputusan terakhir Tidak semua budang studi mudah dalam menerapkan pendidikan kecakapan hidup khususnya bidang studi PKN Tidak cukupnya panduan untuk itu Menetapkan kriteria kelulusan Menentukan pelaksanaan kegiatan pendidikan kecakapan hidup Menetapkan dan mengembangkan pendidikan berbasis keunggulan lokal Mengembangkan dan melaksanakan pendidikan berbasis keunggulan global Menyusun kalender Pendidikan Menjabarkan standar kompetensi/kompetensi dasar menjadi indikator Menyusun kegiatan pembelajaran Belum ada tenaga yang dipersiapkan untuk itu Dalam penyususnan kalender pendidikan sudah disusun oleh dinas pendidikan disesuaikan dengan daerah masing-masing Dalam penyusunan berpedoman pada silabus yang ada buku yang dijadikan masih harus dirancang sendiri karena tingkat kesukarannya da ditingkat kelas I.1%). Bagi yang merasakan kesulitan dalam penyusunan KTSP menyampaikan berbagai alasan. sebagian besar penyusunan dilakukan dengan cara adaptasi atau penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan sekolah (62. Penyusunan KTSP Sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah mereka telah menyusun KTSP. dan praktis. (93.2% responden guru beranggapan demikian. Menurut pernyataan responden. disusun sendiri (16. II. kondisi masyarakat Mata pelajaran mana yang diajarakan lebih banyak jamnya SDM yg ada belum mampu. Demikian pula 51. dan adopsi dari contoh-contoh yang ada (7. Sedangkan responden guru yang menyampaikan sekolahnya telah menyusun KTSP adalah 86.7%).2%) tidak memberikan jawaban. disusun sendiri (13. Berdasarkan pendapat responden. dengan menggunakan bahan yang jelas. Penyusunan dilakukan sebagian besar dengan cara adaptasi atau penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan sekolah (61. 4.9%. sisanya (9. dan III Dalam kegiatan pembelajaran terkendala pada waktu yang terbatas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 74 .cetak.1%). 60% kepala sekolah menganggap tidak sulit menyusun KTSP.9%). dan internet secara interaktif.9%).0%).

Umumnya responden telah mengetahui komponen-komponen KTSP. RPP (2) visi. tujuan Sekolah. anak dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih optimal (2) layak disempurnakan dalam kerangka inovasi pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. ketersediaan dana. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah agar dapat melaksanakan KTSP Responden berpendapat bahwa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah dalam melaksanakan KTSP adalah adanya kesatuan pendapat dan dukungan dari warga sekolah dalam menentukan tujuan sekolah serta keinginan masyarakat yang dituangkan dalam KTSP. Sedangkan hal-hal yang harus dilakukan guru agar dapat melaksanakan KTSP secara optimal adalah guru harus memiliki pemahaman yang baik terhadap konsep dan falsafah implementasinya di lapangan. kalender pendidikan standar kompetensi. kalender pendidikan. bahan yg akan dijadikan acuan. Juga perlu didukung oleh kesiapan semua komponen sekolah. misi. silabus. struktur kurikulum. 6. Pemahaman Tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan KTSP Sebagian besar responden menyatakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang menitikberatkan atau berorientasi pada kompetensi/kemampuan siswa dengan harapan setelah siswa selesai sekolah memiliki suatu kompetensi diri yang kompeten. muatan lokal. Umumnya responden menyatakan bahwa kurikulum sebelumnya (1994) perlu diubah menjadi KTSP dengan alasan (1) Karena dengan pembelajaran berdasarkan kompetensi. pengaturan beban belajar. 5. yang sifatnya sudah harus menjabarkan secara teknis dan rinci.Menetapkan materi pokok Menyusun bahan ajar Menentukan strategi dan alat penilaian Menindaklanjuti hasil penilaian Menentukan alokasi waktu Ada perbedaan pada referensi pendukung sehingga harus penuh teliti berdasarkan tuntutan dan SI Masih kurangnya buku sumber yang ada diperpustakaan atau toko buku yang ada Banyaknya tugas guru dalam penilaian yang terlalu rumit Melakukan remedial terhadap siswa yang belum tuntas Di alokasi waktu kadang-kadang tidak cukup karena siswasiswa asik dengan percobaan-percobaan yang di cobanya kerna jika belum berhasil siswa tidak akan meninggalkan tempatnya walaupun guru mengatakan sudah selesai jam pertemuannya Sulit mencari sumber dan alat untuk kompetensi tertentu Membedakan KD dan indikator perlu pemahaman para guru Cara mengembangkan indikator kegiatan pembelajaran/penilaian Cara menentukan strategi/model pembelajaran/evaluasi Menentukan sumber dan alat pembelajaran Merumuskan tujuan pembelajaran Menyusun silabus Menyusun RPP Data di atas menunjukan masih terdapat inkonsistensi antara pemahaman isi dokumen berkaitan dengan KTSP dengan kesulitan yang dialami guru dan kepala sekolah dalam mengembangkan dan menerapkan KTSP. KTSP serta teknis Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 75 . yaitu (1) visi misi dan tujuan pendidikan. standar kompetensi lulusan dan SKBM/KKM. struktur dan muatan.

orang tua). baik sebagai pembimbing maupun sebagai narasumber. berpusat pada guru. KTSP memerlukan silabus karena silabus merupakan penjabaran dari standar kompetensi yang mengacu pada pencapaian standar kelulusan. Sedangkan kurikulum 1994 berorientasi pada tujuan. serta warga sekolah lain dengan dibimbing oleh pengawas dan kepala UPT Dinas Pendidikan setempat. Permasalahan dan upaya mengatasinya Secara umum. kegiatan pembelajaran. Dalam implementasinya. pertemuan rutin guru. Pelaksanaan KTSP Umumnya responden memahami silabus sebagai penjabaran SK. masih ada permasalahan dalam implementasi KTSP. waktu dan sumber. Secara umum responden menyatakan bahwa kondisi (sumber/alat/dan sumber daya di sekolah belum memadai untuk mendorong keterlaksanaan KTSP. 7. Umumnya sekolah melibatkan pengawas dalam penyusunan silabus. Persoalan yang umumnya dialami oleh sekolah dalam menyusun KTSP menurut responden adalah pemahaman yang belum maksimal dari warga sekolah. penilaian.Umumnya responden menyatakan perbedaan antara KTSP dengan kurikulum 1994 adalah bahwa KTSP berorientasi pada penguasaan kompetensi. serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung yang belum memadai. Persyaratan dan Kebutuhan sekolah dalam menyusun KTSP adalah adanya kemauan yang keras dari pihak sekolah untuk menyusun dan mengimplementasikan KTSP serta dukungan dana yang besar. 6. KD. indikator. Strategi sekolah dalam mensosialisasikan KTSP kepada warga sekolah (guru. dan masyarakat adalah dengan melakukan diskusi di antara guru. guru sebagai sumber belajar. Umumnya responden menyatakan bahwa perbedaan antara silabus dan RPP adalah: RPP sifatnya lebih operasional dari silabus. Umumnya responden melihat hal-hal positif yang ada dalam KTSP. work shop. Sebagian besar responden menyatakan bahwa umumnya silabus disusun oleh para guru secara bersama-sama dengan rekan satu sekolah maupun dalam MGMP. terutama guru. dan KKKS. Caranya dengan mengadakan diklat. RPP dibuat untuk setiap pertemuan. Umumnya responden meyakini bahwa silabus dan RPP dapat menuntun atau membantu guru dalam pelaksanaan pembelajaran. konteksual. Upaya untuk mengatasi kesulitan adalah dengan terus meningkatkan pemahaman aspek-aspek yang terdapat dalam KTSP serta peningkatan penggunaan TIK untuk mendukung kegiatan pembelajaran. sedangkan Silabus dibuat untuk beberapa kali pertemuan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 76 . KKG. di antaranya kurikulum KTSP lebih menampung inspirasi dari warga sekolah serta mencakup perubahan/menyesuaikan dengan kondisi yang ada. indikator sebagai pedoman dalam pelaksanaan KBM. berpusat pada siswa. KD. Unsur-unsur yang harus ada dalam silabus adalah SK. abstrak. materi pokok. kepsek. guru sebagai fasilitator.

juga bukan dari Dinas Pendidikan (APBD). Memberi motivasi bagi guru dan reward bagi yang telah menyusun silabus dan RPP. 8. Sedangkan untuk melakukan sosialisasikan KTSP di lingkungan warga sekolah pada umumnya dana diperoleh secara swadaya (19.7%) atau bersumber dari APBN (12. mendatangkan tenaga ahli.Strategi sekolah dalam melakukan pemantauan pelaksanaan KTSPdi antaranya dengan membentuk tim kecil di bawah naungan wakil kepala skeolah bidang kurikulum dan wakil kepala skeolah bidang pengendali mutu untuk melakukan pemantauan. dan bukan dipungut dari siswa. 3. dan tim pengembangan kurikulum sekolah. Dana itu bukan dari dana BOS. Persepsi Komite Sekolah (Orangtua) dalam Pengembangang dan Penerapan KTSP Selain menggunakan sumber data dari dinas pendidikan. mendatangkan tenaga LPMP.5%) untuk menyusun KTSP. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 77 . Pendanaan Umumnya responden kepala sekolah menyatakan bahwa penyusunan KTSP membutuhkan biaya yang besar. Upaya sekolah dalam mendorong guru dalam melaksanakan KTSP antara lain dengan: 1. Juga dengan melakukan supervisi. Sekolah umumnya memanfaatkan sumber dana lain (48. Memberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengikuti diklat dan banyak bertanya pada rekan sejawat yang lebih paham. melibatkan pengawas sekolah. Berikut adalah berbagai informasi yang berkaitan tentang KTSP menurut persepsi orangtua.1%). dalam monitoring ini juga dilakukan analisis tentang KTSP dengan sumber data dari oorangtua yang bertindak sebagai komite sekolah. guru dan kepala sekolah. Membantu memberikan petunjuk. 2. C.

Sebanyak 50 % menyatakan mengetahuinya dari sekolah sedangkan 50 % lagi tanpa penjelasan. 5. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam penyusunan KTSP pihak sekolah telah mensosialisasikan kepada orang tua melalui komite Berikut diagram tentang pemahaman orang tua/komite tentang KTSP. Berdasarkan hasil wawancara. Pemahaman Orang Tua Siswa/Komite tentang Pelaksanaan Kurikulum a.0 0% % Tahu Tidak Tahu Tidak berbeda Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 10 . diperoleh gambaran bahwa umumnya (90%) orangtua siswa menyatakan bahwa KTSP berbeda dengan Kurikulum 2004. Hal ini menjadi penting karena perubahan kebijakan tentang kurikulum saat ini memiliki konsekuensi terhadap peranan orang tua. Berkaitan dengan perubahan kebijakan kurikulum saat ini. Pemahaman orang tua terhadap perbedaan kurikulum yang sebelumnya dengan KTSP 85 . Perbedaaan KTSP dengan Kurikulum sebelumnya Memahami kurikulum yang berlaku termasuk hal yang harus dilakukan oleh orang tua. dan hanya 10% menyatakan tidak. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi KTSP yang telah dilakukan cukup berhasil. Dengan adanya otonomi sekolah dalam pengembangan kurikulum. orang tua dituntut untuk berperan aktif dalam mendukung keberhasilan siswa dalam pencapaian kompetensi yang diharapkan. perlu digali sejauhmana orang tua siswa memahami perbedaan kurikulum yang sekarang dengan kurikulum yang berlaku selama ini.00 Diagram 1.1.00 % 78 .

dan 24. berdasarkan wawancara dengan orang tua siswa. 23. Respon Orang Tua terhadap pelaksanaan KTSP di sekolah Hampir semua responden (99 %) menyatakan senang dengan pengunaan KTSP sebab membuat perhatian siswa terhadap kegiatan belajarnya lebih besar (siswa lebih aktif belajar) dan kemampuanya lebih dieksplorasi. sedangkan 20% belum pernah sama sekali menerima sosialisasi KTSP. Konsep dan Strategi Sosialisasi KTSP Pemahaman yang benar bagi setiap orang tua terhadap KTSP sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran siswa. diperoleh informasi bahwa sebanyak 65% orang tua cukup mengerti bahwa KTSP disusun dengan memperhitungkan potensi lingkungan dan didasarkan atas Permen Mendiknas Nomor 22. sebanyak 90% orang tua menyatakan menerima penjelasan tentang KBK dari pihak sekolah dan dinas pendidikan setempat. c. Ini menunjukkan bahwa pemahaman orang tua tentang KTSP belum memadai sehingga perlu sosialisasi lebih lanjut agar orang tua dapat berpartisipasi lebih aktif dalam pendidikan putra/putrinya. Namun demikian memberi indikasi bahwa sosialisasi KTSP di tingkat satuan pendidikan SMA (khususnya) dan SMK sudah dilakukan sekolah dengan baik kepada orang tua (stake holder) namun perlu ditingkatkan dan dilakukan lebih intensif. perlu ada upaya sekolah untuk melibatkan orang tua dalam sosialisasi kurikulum. Sedangkan 80 % lainnya sudah menerima penjelasan tapi tidak mengetahui dengan pasti arti penjelasan tersebut. Respon yang sangat baik ini memberikan indikasi bahwa KTSP mendapat sambutan yang sangat positif dikalangan orang tua (stake holder) sehingga sosialisasinya perlu ditingkatkan dan strategi implementasinya perlu dievaluasi secara berkala agar implementasinya maksimal. Sehubungan dengan tersebut. 2.b. sedangkan 10 % menyatakan belum pernah. Sedangkan 15 % lainnya sudah mendengar tapi belum menunjukkan pemahaman tentang KTSP. Penjelasan Kebijakan Kurikulum terhadap Orang Tua Siswa` Untuk mendukung pemahaman orang tua. Berikut diagram respon orang tua terhadap pelaksanaan KTSP di sekolah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 79 . Namun secara implisit orang tua (25%) mengharapkan kemampuan dan komitmen sekolah yang sungguh-sungguh untuk menyusun dan melaksanakan KTSP sesuai potensi daerah dan karakteristik sekolah. Namun hanya 20 % yang menyatakan mengerti penjelasan yang diberikan sehingga dapat memberikan dukungan dan kerja sama dengan pihak sekolah. Berdasarkan wawancara dengan orang tua.

Tanggapan orang tua terhadap pelaksanaan KTSP dan peluangnya dalam peningkatan kemampuan siswa 3. Ini menunjukkan bahwa pengeluaran tambahan untuk biaya studi setelah KTSP diterapkan cukup signifikan. Sedangkan 42.15 % (14. Hubungan penerapan KTSP dengan biaya yang dikeluarkan siswa dalam proses belajar mengajar (a).25.00% 20. Senang.29% sering dan 42. Untuk itu sosialisasi KTSP yang akan datang tidak saja difokuskan pada konsep-konsep KTSP tetapi lebih dari itu difokuskan pada strategi implementasi dan teknik pelaksanaan. karena kemampauan siswa yang dikembangkan banyak dan fokus. asalkan siswa menjadi lebih pandai dan disiplin 55. Berikut diagram frekuensi siswa meminta uang tambahan untuk beiaya belajar setelah menggunakan KTSP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 80 . frekuensi siswa meminta uang tambahan untuk biaya belajar setelah menggunakan KTSP Sebanyak 57. Dengan demikian walaupun penerapan KTSP mempunyai implikasi pengeluaran dana yang lebih namun dapat diterima secara positif sebab dana-dana tambahan yang dikeluarkan dialokasikan langsung untuk peningkatan kompetensi siswa.86% kadang-kadang orang tua mengeluarkan uang tambahan) orang tua menyatakan adanya tambahan pengeluaran biaya yang signifikan dengan penerapan KTSP.00% Sangat Senang Senang.00% Diagram 2.86% (yang menyatakan tidak pernah/hampir tidak pernah mengeluarkan biaya tambahan setelah penerapan KTSP) menyatakan bahwa sekolah di mana putra/i mereka bersekolah telah menyusun anggaran yang lengkap sehinga semua pembiayaan sudah dibayar pada awal tahun ajaran. Namun dari data rersponden tidak ditemukan keluhan atau keberatan orang tua (stake holder) sehubungan dengan tambahan biaya ini.

14.29%
Sering

Kadang-Kadang

42.86%
Tidak Pernah

42.86%

Diagram 3. Hubungan penerapan KTSP dengan biaya yang dikeluarkan siswa dalam proses belajar mengajar

(b). Biaya tambahan yang dibayarkan orangtua setelah menggunakan KTSP Semua responden menyatakan adanya tambahan biaya yang besar dan frekuensinya sangat bergantung pada kegiatan yang direncanakan sekolah masing-masing. Namun jawaban responden tengan pengeluaran tambahan ini sangat beragam antara yang sudah terencana melalui APBS sekolah sampai dengan yang tidak memiliki rencana sama sekali. Khusus sekolah-sekolah yang belum memiliki APBS yang baik tambahan pengeluaran ini menambah volume pekerjaan bertambah. Untuk itu dalam pelaksanaan sosialisasi KTSP pada level strategi peleksanaan dan di tingkat teknis operasional perlu diberikan bimbingan pengelolaan keuangan sekolah sehingga baik sekolah maupun orang tua mendapat kemudahankemudahan dalam memberikan layanan kepada putra/i-nya. Berikut diagram biaya tambahan sehubungan dengan penerapan KTSP
10 .00 % % .00 30
<= Rp.10.000,00 Rp.10.000,00 <= - <= Rp.80.000,00

3. Ketersediaan Buku Pelajaran

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

60 .00 %

Relatif, sesuai kebutuhan

Diagram 4. Besarnya biaya tambahan yang dibayarkan orang tua dalam pelaksanaan KTSP di sekolah

81

Responden yang menyatakan buku yang dimiliki siswa cukup memadai dengan yang menyatakan tidak cukup memadai sama besar. Sementara responden yang menyatakan bahwa buku cukup memadai dalam menunjang proses pembelajaran tidak memberikan penjelasan atas jawaban yang diberikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengadaan bukubuku yang sesuai dengan potensi daerah dan sesuai dengan karakteristik siswa perlu diupayakan secara sungguh-sungguh baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Berikut diagram tentang ketersediaan buku pelajaran

20.00% Cukup 40.00% Tidak Cukup Tidak Tahu

40.00%

Diagram 5. Dukungan buku dalam Proses Pembelajaran KTSP

4.

Penjelasan dari Guru tentang Rapor Siswa

Hanya 45% orang tua yang menganggap rapor hasil belajar yang disampaikan sekolah ke pada orang tua memberikan informasi tentang prestasi belajar siswa. Selain itu data responden menunjukkan bahwa yang merasa kurang jelas adalah 25% demikian pula yang tidak memahami sama sekali. Kemungkinannya adalah sekolah belum mampu

medayagunakan format rapor yang ada untuk menginformasikan pencapaian kompetensi siswa, atau format rapor terlalu rumit sehingga untuk memahaminya diperlukan penjelasanpenjelasan yang khusus. Ini menunjukkan bahwa diperlukan suatu penelitian lebih lanjut tentang format laporan hasil belajar dan cara penggunaannya yang diikuti oleh sosialisasi yang intensif dari pihak sekolah terhadap orang tua.

30.00% Jelas 45.00% Kurang Jelas Tidak Jelas

25.00% Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

82

Diagram 6. Informasi hasil belajar siswa melalui rapor hasil belajar.

5. Perubahan Sikap Siswa Setelah Sekolah Menerapkan KTSP Secara umum responden menyatakan adanya perubahan sikap belajar putra/putri mereka yaitu peningkatan minat dan semangat belajar yang signifikan dengan penerapan KTSP. Dengan demikian peningkatan pemahaman dan penguasaan KTSP secara konsep, strategi implementasi, dan teknik pelaksanaan perlu disosialisasikan lebih intensif, luas, dan efektif.
15.00%

Lebih Rajin Belajar Relatif Lebih Rajin Tidak Berubah

55.00% 30.00%

Gambar 7. Pengaruh KTSP terhadap sikap belajar siswa

Informasi 65% responden menyatakan tidak pernah/hampir tidak pernah menerima keluhan dari putra/putri mereka dan 10% yang kadang-kadang menerima keluhan

mengindikasikan bahwa penerapan KTSP cukup signifikan meningkatkan gairah belajar siswa. Kegiatan-kegiatan di luar sekolah yang timbul setelah penerapan KTSP disikapi sebagai implikasi dari semangat KTSP untuk meningkatkan mutu hasil belajar siswa. Dengan demikian KTSP mendapat sambutan positif dari orang tua karena dipandang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. 6. Keluhan Siswa Kepada Orang Tua setelah Sekolah menerapkan KTSP Sebagian besar orang tua (65%0 menyatakan bahwa anaknya tidak pernah mengeluh sehubungan dengan penerapan KTSP, 25 % menyatakan anaknya sering mengeluh, dan 10 % menyatakan kadang-kadang.

Berikut diagram pernyataan orang tua tentang keluhan anak-anak mereka sehubungan dengan penerapan KTSP.

.0 0%

Kadang-kadang Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008
25

10

.0 0%

83

Tidak Pernah

1. Hal ini senada dengan pemahaman kepala sekolah dan guru. tes dimaksudkan juga untuk mendukung temuan-temuan yang diperoleh melalui kuesioner guru. guru.5%). Identitas dari para responden adalah sebagai berikut. Sebanyak 63.D. orangtua dan dinas pendidikan. Selain untuk melihat persepsi tentang KTSP. kepala. Perbandingan Hasil Tes Pemahaman KTSP antara Pejabat Struktral di Dinas pendidikan dengan Sekolah (Kepala Sekolah dan Guru) Dalam monitoring ini juga dilakukan tes pemahaman atau tes persepsi tentang persepsi KTSP menurut responden. Tes melibatkan seluruh responden dari dinas pendidikan.5% kepala sekolah dan guru menjawab dengan jawaban yang sama. Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara pemahaman Dinas Pendidikan dengan sekolah tentang standar Isi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 84 . sekolah. kepala sekolah dan orangtua. Pemahaman Tentang Pengertian Standar Isi Sebagian besar responden dari kalangan pejabat struktural Dinas Pendidikan memahami bahwa Standar Isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu (65. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada sekitar 35-37% reseponden belum memahami pengertian standar isi dan standar kompetensi lulusan dengan benar.

9 10.5%. Satuan pendidikan Dinas pendidikan Pusat Komite sekolah Dinas Pendidikan 84. b.5 8 7. Pengembangan Substansi Muatan Lokal Tentang kewenangan penyusunan dan penentapan kurikulum muatan lokal. d.9 3 Tabel di atas memperlihatkan pemahaman responden terhadap Permendiknas No.Tabel 15 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Standar Isi Unsur (%) Jawaban a. sementara hanya 0.7 responden dari pejabat struktural Dinas pendidikan yang menjawab demikian.5 63. Tabel 16 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Pengembangan Substansi Muatan Lokal Jawaban a. Mengatur tentang struktur kurikulum satuan pendidikan Mengatur tentang kompetensi lulusan Dinas Pendidikan 18.7 3. Sebanyak 9. 2.3 3. sebagian besar responden dari pejabat struktural Dinas Pendidikan (84.5 9. meskipun untuk responden yang berbeda tampaknya pemahaman kedua unsur tidak terlalu jauh berbeda. yaitu sebanyak 87. terdapat sedikit perbedaan antara responden dari Struktural Dinas Pendidikan dengan sekolah. Artinya. sementara 4. 8% sekolah menjawab muatan lokal di tetapkan dari pusat.5 Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 85 . 12.9% responden dari pejabat struktural Dinas pendidikan menjawab bahwa muatan lokal ditetapkan oleh Dinas Pendidikan.5 c. b. Dari kelompok responden yang belum menjawab dengan benar. c.9 0. 22 Tahun 2006 sangat variatif.5 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 85.7 4. Ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi Mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.5%) menjawab bahwa yang berwenang menetapkan kurikulum muatan lokal adalah satuan pendidikan yang bersangkutan.5 % responden yang berasal dari sekolah meberikan jawaban yang sama. masih ada sekitar 13-16 % responden belum memahaminya dengan benar.3 Sekolah (Guru dan Kepsek) 22. d.6 65. Hal senada juga terlihat dari jawaban responden yang bearasal dari sekolah (guru dan kepala sekolah).

d. Ini berarti terdapat sekitar 24-27% responden memberikan jawaban yang salah atau belum memahami dengan benar.0 3. b. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 18 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Sistem pembelajaran pada SMA/MA/SMK/MAK Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 86 .5 19.9 %. Data ini menunjukkan bahwa Belem semua pihak yang memahami tentang pengaturan beban relajar sebagaimana yang tertuang dalam PP nomor 19 tahun 2005 tersebut.9% sekolah yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pembelajaran menggunakan sistem paket.5 73. Namur hanya sedikit (sekitar 45%) responden (baik Dinas Pendidikan maupun sekolah) yang menyatakan pengaturan pembelejaran berdasarkan sistem kredit semester. Memperdalam penguasaan mata pelajaran Menciptakan wahana kegiatan sesuai minat dan bakat siswa Memberi pelayanan konseling pada siswa memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri.5 18. sebesar 75. Berdasarkan tes pemahaman terhadap Dinas pendidikan dan sekolah.9 Jawaban a.6%.6 4.0 75. dinyatakan bahwa bagi sekolah yang kategori mandiri bebena relajar diatur dengan sistem keredit semester. Sistem Pembelajaran pada SMA/MA/SMK/MAK Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005. Hal ini Belem banyak dipahami oleh pelaksana pendidikan di lapangan. Tabel 17 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah Tentang Tujuan Kegiatan Pengembangan Diri Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 1.3.4 2. Hal yang sama juga terjadi pada responden dari sekolah (Kepala Sekolah dan Guru). Tujuan dari Kegiatan Pengembangan Diri Mengenai kegiatan pengembangan diri. Dinas Pendidikan 3. Namur hal ini berbeda dengan pandangan sekolah. hanya 48. diperoleh gambaran bahwa sebagain besar responden menyatakan penyelenggaraan pembelajaran menggunakan sistem paket (60%). c. yaitu sebesar 73. sebagian besar responden dari Dinas pendidikan menjawab ” memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri”.

d.1 6.9 4.0 25.1 90.5 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 48. b.8 1.3 Jawaban a.8 2. Penggunaan Standar Kompetensi Lulusan Dalam hal penggunaan Standar Kompetensi Lulusan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik 90. KTSP disusun oleh sekolah dan disesuaikan dengan kondisi yang ada. Tabel 20 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Jawaban Unsur (%) Sekolah (Guru dan Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 87 . c.Jawaban a. b. Dan ternyata. dan sebanyak 70. terdapat sekitar 30 % responden belum memahami dengan benar. Hanya 68 % responden dari Dinas pendidikan yang menjawab dengan benar. d. Penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Sebagai kurikulum operasional. Panduan penilaian kinerja dan portofolio Dinas Pendidikan 1. sekolah (kepala sekolah dan guru) menjawab dengan benar sebanyak 89.5 % responden dari pejabat struktural Dinas Pendidikan menjawab dengan benar. Kemungkinan besar yang disebut sebagai kurikulum nasional itu adalah Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan.5%.8 4. c.6 22.5 3. Pedoman penilaian kelas Pedoman penilaian tertulis pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. Tabel 19 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Penggunaan Standar Kompetensi Lulusan Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 0. Artinya. Sejalan dengan hal tersebut.9 89.7 % responden sekolah (kepala sekolah dan guru) menjawab sama. Menggunakan sistem paket Menggunakan sistem SKS Dapat menggunakan sistem SKS Dapat menggunakan sistem paket Dinas Pendidikan 64. Data ini menunjukkan bahwa terdapat sekitar 10% responden yang belum menjawab dengan benar.6 5.5 6.5 5.6 5. sekitar 25 % responden masih beranggapan bahwa masih ada kurikulum nasional.

7%).6 23.1 9. Hal senada juga ditunjukan oleh pernyataan kepala sekolah dan guru (79.9 4.. c.3 74.5 7.7 70.. Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 4.6 68.. Artinya. Standar Isi Standar kompetensi lulusan Panduan penyusunan kurikulum dari BSNP Model kurikulum satuan pendidikan lain Dinas Pendidikan 5. Kemungkinan Satuan pendidikan Menyusun KTSP dengan Standar yang Lebih Tinggi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Standar isi dan Standar Kompetensi lulusan memnyatakan bahwa satuan pendidikan dapat mengembangkan kurikulum dengan kompetensi yang lebih tinggi dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan.0 2. b.5 Kepsek) 2.6 6. b.6%).6%) responden dari dinas pendidikan menyatakan hal tersebut mungkin dilakukan asal tetap mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagai ukuran kompetensi minimal..7 Jawaban a.3 8. Disusun oleh pusat Disusun oleh sekolah dengan mengacu pada kurikulum nasional Disusun oleh sekolah sesuai dengan kondisi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 88 ..a.. Ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa KTSP harus disusun sendiri mengingat situasi dan kondisi sekolah yang berbeda-beda. Acuan Penyusunan KTSP. kebutuhan dan potensi sekolah Disusun oleh sekolah sebagai model kurikulum Pendidikan 3.. d. kecuali.4 79. Sebagian besar responden yang berasal dari Dinas Pendidikan (74. Kecuali.3%) menyatakan bahwa ”model Kurikulum yang dikembangkan oleh satuan pendidikan lain tidak dapat dijadikan sebagai acuan pengembangan KTSP.7 11.. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 21 pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Acuan yang Digunakan dalam Menyusun KTSP.5 24. Lebih dari separuh (55.. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh pernyataan kepala sekolah dan guru (52. tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pandangan dinas pendidikan dengan sekolah dalam pengembangan kompetensi yang lebih tinggi untuk satuan pendidikan tertentu.7 1. c. d.

Lebih lanjut lihat pada tabel dan diagram berikut: Tabel 22 Pemahaman Dinas dan Sekolah tentang Kemungkinan Satuan pendidikan Menyusun KTSP dengan Standar yang Lebih Tinggi Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 38. Tabel dan diagram di atas memperlihatkan bahwa semua responden menyatakan tidak ada masalah apabila satuan pendidikan mampu mengembangkan kurikulumnya melebihi standar SI dan SKL asalkan dengan kriteria tertetu.4%) menyatakan bahwa hal itu mungkin dilakukan dengan menambah dan memperdalam kompetensi atau materi sesuai dengan ciri dan kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan. d. Mungkin. harapan Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Batas Akhir penerapan KTSP Hampir semua responden (sekitar 96%) baik yang berasal dari Dinas pendidikan maupun kepala sekolah dan guru menyatakan bahwa paling lambat penerapan KTSP pada tahun Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 89 .9 Jawaban a. 9. dengan menambah. asal tetap mengacu pada Standar Isi dan SKL sebagai kompetensi minimal Mungkin dengan tidak menambah mata pelajaran Mungkin.0%). Hal ini tidak jauh berbeda dengan pemahaman kepala sekolah dan guru (38. memperdalam kompetensi atau materi sesuai ciri dan kebutuhan satuan pendidikan Mungkin.Namun demikian. sebagian responden dari dinas pendidikan (38.9 b.6 1.0 52.4 55. Hanya sebagian kecil responden dari dinas pendidikan yang menyatakan perlu penambahan jam sebagai konsekuensi dari penaikan standar kompetensi oleh satuan pendidikan. c.6 1. asal tidak menambah waktu lebih dari 4 jam pelajaran per minggu Dinas Pendidikan 38.1 4.9%).5 7. Agak berbeda dengan pernyataan kepala sekolah dan guru yang cenderung menambah jam pelajaran (7.

22 dan 23 Tahun 2006 telah sesuai dengan kesiapan satuan pendidikan atas pertimbangan dinas pendidikan setempat.2 52. b. Bupati dan walikota dalam Pengaturan Jadual Pelaksanaan Permendiknas No.A 2009/2010 T.3 4.4% untuk Dinas pendidikan dan 18.1 Harapan Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Limit Waktu Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan 60 40 Dinas Pendidikan 20 0 T. Daerah dan sekolah yang berpandangan demikian umumnya bagi mereka yang telah menerapkan KBK secara keseluruhan. Lebih lanjut lihat tabel dan grafik di bawah ini.2009/2010.6 57. C d Tahun Ajaran 2007/2008 Tahun Ajaran 2008/2009 Tahun Ajaran 2009/2010 Tahun Ajaran 2010/2011 Dinas Pendidikan 14.A 2010/2011 Sekolah T abel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden berharap bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah seharusnya sudah mulai menerapkan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah paling lambat Tahun Ajaran 2009/2010 10. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 90 . Sebagian daerah optimis dengan batas akhir tahuan 2007/2008 (14. Peranan Gubernur. Tabel 23 Harapan Dinas pendidikan dan Sekolah Tentang Penjadualan Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Jawaban a.A 2007/2008 T.4% untuk sekolah).4 25.1 4.4 23.A 2008/2009 T. 22 dan 23 tahun 2006 oleh Satuan Pendidikan Sebagian besar responden berpendapat bahwa pengaturan jadual pelaksanaan Permendiknas No. Lebih lanjut lihat pada tabel dan diagram berikut.9 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 18.

5 7.4 33.5 8.1 Dari tes pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa peran dinas pendidikan adalah sangat vital dalam membentuk persepsi. 22 dan 23 tahun 2006 oleh Satuan Pendidikan Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 51.Tabel 24 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Peranan Gubernur. d. Sesuai dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan Secara serempak di seluruh wilayahnya Ditetapkan dan dipertimbangkan oleh dinas pendidikan Ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan pertimbangan dinas pendidikan Dinas Pendidikan 46. melakukan sosialisasi dan mengkoordinasikan pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan. b.3 32. c. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 91 . Bupati dan walikota dalam Pengaturan Jadual Pelaksanaan Permendiknas No.4 7.1 13.7 Jawaban a.

Ketepatan rumusan penilaian dengan KD: (1)Teknik/bentuk penilaian dengan kompetensi: (2) Rumusan tugas: f. Rumusan Indikator dengan KD : (1) Minimal dua indikator: (2) Menggunakan kata kerja kemampuan: (3) Rumusan mengacu kompetensi. dalam kelas. luar kelas. Secara umum. 2 RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan penjabaran operasional dari silabus untuk waktu yang lebih singkat yaitu tiap tatap muka dilaksanakan. dari segi: (1) Menggunakan variasi metode (individual. Tujuan observasi adalah untuk memotret secara faktual perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dilihat dari segi: kesesuaianya dengan kebijakan pengembangan KTSP. kuesioner guru dan kepala sekolah. Ketepatan rumusan kegiatan pembelajaran dengan KD (1) Kegiatan pembelajaran bervariasi: (2) Pokok pokok kegiatan dengan kompetensi yang ingin dicapai: e. (2) Hubungan metode dengan kompetensi. hasilnya adalah sebagai berikut. dan teknik penilaian yang dapat mengukur pencapaian kompetensi siswa. Rumusan materi. Memuat materi pembelajaran: d. Rumusan Metode. Oleh sebab itu RPP sangat bergantung pada silabus yang telah di buat. klasikal. ceramah. Hubungan Indikator dengan tujuan pembelajaran: b. Kesulitan dalam membuat silabus akan berdampak pada rumusan RPP yang tidak saling berhubungan. diskusi. tampak bahwa guru belum memahami konsep dan teknik pembuatan silabus terutama pada bagian perumusan indikator. dari segi: Pembahasan hasil Observasi Dalam hal pembuatan silabus. kelompok. penugasan.E. Observasi Kegiatan Pembelajaran Selain menggunakan tes pemahaman atau tes persepsi KTSP.Memuat sumber belajar: Ketepatan rumusan komponen RPP: a. pada aspek: (1) Kegiatan awal: memuat konsep/kegiatan prasyarat. Memuat alokasi waktu: g. juga dilakukan observasi pembelajaran. telah merinci dari silabus: c. kuesioner dinas pendidikan. No 1 Aspek Ketepatan rumusan Komponen Silabus : a. metode pemecahan masalah dsb. pengalaman belajar yang sesuai. yaitu jaminan kompetensi dicapai: c. SK dan KD dengan SI dan SKL : b. problem solving. dan kuesiner orangtua. Ketepatan rumusan langkah langkah kegiatan. prinsip pembelajaran yang aktif dan umpan baliknya. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 92 . Dari data hasil observasi menunjukkan bahwa secara rata-rata guru masih menemukan kesulitan dalam membuat RPP yang sesuai agar siswa memperoleh kompetensi seperti yang diharapkan. indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai d.aplikasi konsep atau orientasi kelas (2) Kegiatan inti.

Tetapi hal ini bertentangan dengan kenyataan sebelumnya yaitu bahwa guru belum mampu membuat RPP yang sesuai dengan silabus. 6 Secara rata-rata guru sudah menggunakan sumber belajar dengan baik dan efektif dalam melaksanakan pembelajaran. Ketepatan rumusan penilaian dengan indikator. Kegiatan awal: (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. indikator atau tujuan pembelajaran: Penilaian: a.Tingkat pencapaian siswa: c. renungan atau lainnya e. dari segi: (1) Teknik/bentuk penilaian dengan indikator: (2) Memuat contoh penilaian: (3) Memuat pedoman skoring/kunci jawaban: f. memuat rangkuman. Kualitas dari konstruksi soal/penilaian: Sumber belajar: 4 Secara rata-rata data ebservasi menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru sudah melaksanakan sesuai dengan RPP yang di buat. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 93 . saat: a. indikator atau tujuan pembelajaran: b.Memuat sumber belajar: PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN Kesesuaian pelaksanaan kegiatan belajar dengan RPP. Kegiatan Akhir (penutup): (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. Memuat alokasi waktu: g. Bentuk/teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran: b. Kegiatan inti: (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. penugasan lebih lanjut. indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai: * Memuat lampiran lembar kerja (LK) apabila terdapat penugasan menggunakan lembar kerja (3) Kegiatan penutup.* Telah merinci kegiatan pada silabus: * Kegiatan dengan kompetensi. indikator atau tujuan pembelajaran: (3) Organisasi kelas yang digunakan dengan tujuan pembelajaran: (4) Kegiatan pembelajaran efektif: c. 5 Secara rata-rata guru sudah mampu menerapkan prinsipprinsip penilaian untuk mengetahui hasil belajar siswa.

23. Implementasi atau Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. Aspek Analisis Monitoring ini memnfokuskan pada tiga aspek. kepala sekolah. komite/orang tua siswa melalui angket. serta Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. 3.BAB V ANALISIS HASIL MONITORING A. pengembangan. Hal ini akan menggambarkan sejauhmana Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 94 . workshop. guru. yaitu: (1) Pemahaman terhadap isi kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Satndar Isi. Informasi ini diperoleh melalui pejabat struktural dan staf Dinas Pendidikan. dan 34 Tahun 2006. Unsur-unsur yang dikaji adalah (a) apakah jumlah sumber daya manusia memadai. (d) apakah sarana dan prasarana memadai. angket. dan pelatihan. 23. Unsur-unsur yang dimonitor adalah (a) apakah responden telah memeiliki dokumen dan bagaiaman cara mendapatkan dokumen tersebut. Kemampuan dan Kesiapan Sumber Daya Kemampuan dan kesiapan sumber daya sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan kebijakan. dan (3) Implementasi atau penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. tes pemahaman dan wawancara. 2. dan wawancara. (c) apakah ada program peningkatan kompetensi melalui sosialisasi. 1. (b) apakah kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan memadai. (e) sejauhmana dukungan komite/orang tua siswa terhadap pelaksanaan kurikulum. Unsur-unsur tersebut digali melalui tes pemahaman. . (2) Kesiapan dan kemampuan sumber daya yang ada. Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. dan 24 Tahun 2006. dan implementasi. Pemahaman terhadap Standar Isi Dan Standar Kompetensi Lulusan Unsur-nsur yang dijadikan patokan pengkajian adalah (a) hal-hal apa saja yang diatur dalam peraturan tersebut. (b) hal-hal apa saja yang dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah/satuan pendidikan. (c) fungsi Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar yang terdapat dalam Standar Isi dan (d) fungsi Standar Kompetensi Lulusan. (f) bagaimana pengganggaran dan pembiayaan kegiatan mulai dari persiapan (sosialisasi).

tes pemahaman dan wawancara kepada semua responden. Hal senada juga diakui oleh responden yang berasal dari sekolah (kepala sekolah. guru. umumnya responden memahami KTSP disusun dan ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan mempertimbangkan keragaman kondisi. . Sebagai contoh. substansi dan strategi strategi implementasi KTSP belum cukup dipahami. Sungguhpun demikian. 1. tes pemahaman dan wawancara. Umunya naskah tersebut baru pada tahap ”copy-paste”. dan kebutuhan daerah serta peserta didik.pihak-pihak terkait proaktif dalam mendapatkan informasi. RPP. kendala. Standar Kompetensi Lulusan. dapat diterima secara baik oleh pelaksana di lapangan. (b) apakah sudah menyusun KTSP dan perangkatnya (struktur kurikulum. (h) apakah ada koordinasi antar pihak-pihak terkait? Informasi ini diperoleh melalui pejabat struktural dan staf Dinas Pendidikan. potenai. dan KTSP. (d) apa dampak. misalnya dengan meng-copy sendiri atau menunggu informasi dikirimkan oleh pihak yang berwenang. B. (f) bagaimana penjadualan penerapan . 23. Namun. parsoalan tersebut antara lain adalah : Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 95 . dan komite/orang tua siswa). penerapkan KTSP di masing-masing satuan pendidikan belum begitu kuat karakteristiknya. silabus. (e) sejauhmana peran serta masyarakat. dapat disimpulkan bahwa secara konseptual sebagian besar responden cukup memahami peraturan mendiknas tersebut. dan 24 tahun 2006. penilaian dan sebagainya). Hasil Analisis Pemahaman Responden Terhadap Standar Isi. komite/orang tua siswa melalui angket. kepala sekolah. Pemberlakuan KTSP sebagai impelementasi dari kebijakan pemerintah sebagaimana yang diamantkan oleh berbagai peraturan perundang-undangan yang mendasarinya. dan upaya yang dilakukan. Hal ini dilihat dari naskah KTSP dan perangkatnya yang disusun oleh masing-masing satuan pendidikan. guru. masih banyak persoalan yang harus dituntaskan. Berdasarkan angket yang diberikan kepada pejabat dan staf struktural Dinas Pendidikan provinsi dapat disimpulkan bahwa semua daerah telah melakukan sosialisasi tentang Peraturan Mendiknas Nomor 22. (c) apakah sudah melaksanakan KTSP. Akibatnya. Dilihat dari pemahaman yang diperoleh melalui jawaban angket. (g) berapa persen daerah (kabupaten/kota) yang telah melaksanakan sosialisasi.

Perlu pendampingan yang lebih strategis dan teknis dalam penyusunan KTSP 1. Dengan adanya sejumlah persoalan di atas. menurut pengakuan responden. terutama dalam penggunaan metode pemeblajaran yang monoton. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. 2. Kemampuan dan Kesiapan Sumber Daya 1. Informasi ini diperoleh melalui observasi dan wawancara yang dilakukan tehadap siswa. Guru belum mampu membuat silabus yang baik dan kontekstual Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 96 . Sebagian orang tua sering menerima keluhan dari anak-anak mereka bahwa setelah menerapkan KTSP. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. perlu dikembangkan suatu sistem sosialisasi dan pembinaan terhadap satuan pendidikan agar pengelolaan pembelajaran lebih efisien dan efektif. potensi sekolah. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 3. penggunaan sumber belajar belum bervariasi. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Format rapor KTSP berlum mampu memberikan informasi tentang prestasi peserta akademik maupun non akademik peserta didik. Hal ini mengkibatkan proses pembelajaran belum efisien dan efektif. 2. proses penilaian belum sesuai dengan karakter dan tingkat kompetensi yang dituntut. 3. Sejauh ini. Silabus yang di buat guru belum menunjukkan penjabaran SK dan KD yang disesuaikan dengan potensi daerah/wilayah. daerah dan sekolah mampu mengatasi berbagai persoalan tersebut melalui pemberian pengertian kepada semua pihak. Namun upaya belum cukup mengingat proses pembelajaran yang berlangsung masih mengikuti pola lama. termasuk dalam hal pengunaan sumber belajar yang tidak terbatas pada buku tertentu saja. tugas-tugas yang harus mereka selesaikan menjadi bertambah banyak sehingga melelahkan. terutama dalam hal pengadaan buku-buku pelajaran dan biaya kegiatan pembelajaran. Guru sudah membuat silabus dan RPP 2.Sebagian orang tua mengeluhkan tentang adanya penambahan biaya pendidikan shubungan dengan penerapan KTSP.

Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 10. 1. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. 7.4. Implementasi atau Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. tetapi dari silabus dan RPP yang dibuat tampak bahwa guru belum menguasai konsep pengembangan silabus dan teknik implementasinya sesuai kondisi wilayah. 9. Guru belum mampu membuat RPP 5. 8. 2. namun masih perlu obsevasi yang lebih rinci berkaitan dengan kualitas instrumen penilaian yang digunakan. potensi sekolah. Perlu pendampingan yang lebih strategis dan teknis dalam penyusunan KTSP seperti penyusunan APBS. dan 34 Tahun 2006. 11. kondisi sekolah dan karakteristik peserta didik. program mulok. Silabus yang di buat guru belum menunjukkan penjabaran SK dan KD yang disesuaikan dengan potensi daerah/wilayah. Dalam merencanakan sumber belajar yang akan digunakan guru sudah merencanakan dengan baik. Guru sudah mampu merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar dengan baik . 6. Secara rata-rata guru sudah baik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan kesusuaian isi materi yang diajarkan dengan silabus yang telah di susun. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. 23. dan program pengembangan diri. 3. efisiensi dan tingkat kesesuaiannya denga kompetensi dasar yang hendak di capai. dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. 3. namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan efektivitas. Guru belum mampu membuat silabus yang baik dan kontekstual Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 97 . Walaupun sebagian guru dalam observasi ini sudah membuat silabus dan RPP.

dinas pendidikan dan masyarakat. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 98 . namun masih perlu obsevasi yang lebih rinci berkaitan dengan kualitas instrumen penilaian yang digunakan. namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan efektivitas. Guru belum mampu membuat RPP 5. 2. Implikasinya adalah guru belum mampu mengembangkan indikator soal dan mengembangkan instrumen penilaian yang tepat. sekolah. penerapan KTSP pada penyelenggaraan pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan SI dan SKL. efisiensi dan tingkat kesesuaiannya denga kompetensi dasar yang hendak di capai. orangtua siswa. serta hasil tes pemahaman. pengawas. kepala sekolah. Dari hasil observasi pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dari SDM pada tingkat sekolah maupun dinas pendidikan. namun ini perlu dipertajam sampai tingkat operasionalisasi dalam pengembangan dan penerapan kurikulum mencakup komite sekolah.4. Guru belum memahami prinsip pengembangan SK menjadi KD dan menjabarkannya menjadi indikator. 1. 6. dapat disimpulkan beberapa hal berikut. Secara rata-rata guru sudah baik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan kesesuaian isi materi yang diajarkan dengan silabus yang telah di buat 7. pemahaman tentang KTSP sudah memadai. 8. Guru sudah mampu merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar dengan baik. kuesioner guru. Dalam merencanakan sumber belajar yang akan digunakan guru sudah merencanakan dengan baik. dan dinas pendidikan. pengalaman belajar dan penilaian.

3. Penggunaan KTSP di tingkat satuan pendidikan cukup signifikan dalam meningkatkan motivasi. (77% orang tua menyatakan tidak puas dengan format rapor hasil belajar yang diterima) B. Ada peningkatan biaya yang signifikan dengan penggunaan KTSP (85 % responden menyatakan tambahan biaya yang timbul cukup signifikan dengan aktivitas belajar yang terjadi). Penggunaan KTSP sebagai kurikulum pendidikan saat ini diterima dengan baik oleh orang tua walaupun muncul keluhan-keluhan dari pihak siswa karena perubahan pola pembelajaran (responden menyatakan senang dengan penggunaan KTSP. KTSP sebagai model kurikulum yang berdasar pada Standar Isi dan dikembangkan dengan memperhatikan potensi dan karakteristik wilayah/sekolah belum disosialisasikan dengan baik. 4. 82 % responden menyatakan menerima keluhan dari putra/putrinya berkaitan dengan tugas-tugas yang diberikan. pengawas.BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. dinas pendidikan dan masyarakat. Substansi KTSP dan strategi implementasinya belum dipahami dengan jelas oleh pihak sekolah dan orang tua. KESIMPULAN Secara umum. 6. 1. sekolah. pemahaman tentang KTSP sudah memadai. Hasil monitoring menunjukkan 81 % responden menyatakan telah mengetahuinya. aktifitas dan kreatitivitas siswa dalam belajar hampir semua responden menyatakan bahwa penggunaan KTSP membuat putra/putri mereka lebih rajin belajar. Hasil monitoring menunjukkan 81 % responenden menyatakan tahu tentang KTSP tetapi tidak memahaminya dengan baik. Format rapor KTSP berlum mampu memberikan informasi tentang prestasi peserta akademik maupun non akademik peserta didik. namun tidak memahami subtansinya 2. REKOMENDASI Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 99 . namun dapat mengatasinya dengan memberikan pemahaman dan pengertian). namun ini perlu dipertajam sampai tingkat operasionalisasi dalam pengembangan dan penerapan kurikulum mencakup komite sekolah. 5.

Penerapan KTSP pada penyelenggaraan pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan SI dan SKL. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 6. Agar monitoring ini dapat jauh lebih bermanfaat. 7. 4. 5. maka untuk melihat adanya perkembangan kemampuan guru-guru dalam melaksanakan KTSP di lapangan. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 100 . sebaiknya secara periodik (1 tahun sekali) dilakukan monitoring dan berupaya untuk membandingkannya. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dari SDM pada tingkat sekolah maupun dinas pendidikan.

Pusimplementasi kurikulum Pegawai Depdiknas. Angkasa. 2000 Oteng sutisna. M. Rineka Cipta. Admistrasi Pendidikan.. Manajemen Pelatihan. 2001 - M.M.Ed. Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. PT Remaja Rosdakarya. Drs. 1983 Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 101 .Drs.. Drs. Jakarta. MP. Ngalim Purwanto..Ed. Sahertian.Daftar Pustaka - Subagio A. Bandung. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Fakultas psikologi Universitas Pajajaran. Prof. 2003.. 2002 - Piet A. Dr.. Sc. Bandung. 2002 Agus Dharma. Modul Implementasi kurikulum Management of Trainers. - Suryana Sumantri. Ardadizya Jaya.... Prof. Supervisi Pendidikan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful