EVALUASI PELAKSANAAN KTSP OLEH TIM PENGEMBANG KURIKULUM PROPINSI

PUSAT KURIKULUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA 2008

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendinas) No. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23 tahun 2006 tentang standar isi dan standar kompetensi lulusan disebutkan bahwa salah satu tugas pokok Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dalam hal ini, Pusat Kurikulum adalah memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. 22

Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, mengevaluasinya, dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri. Salah satu yang menjadi bagian dari monitoring tersebut adalah melakukan monitoring secara nasional penerapan peraturan menteri pendidikan nasional dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelaksanaannya. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut perlu dilakukan serangkaian langkah kegiatan mencakup penyusunan panduan dan intrumen evaluasi, pelaksanaan evaluasi dan penyusunan laporan. Panduan digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan instumen dan melaksanakan evaluasi untuk mendapatkan data dan informasi tentang pelaksanaan KTSP pada setiap daerah secara kualitatif maupun kuantitatif. Pelaksanaan evaluasi merupakan langkah kegiatan untuk mendapatkan data dan informasi penerapan KTSP pada daerah yang menjadi objek atau sasaran evaluasi. Penyusunan laporan memuat temuan, masukan atau rekomendasi berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui evaluasi pelaksanaan KTSP agar kebijakan tentang pengembangan kurikulum dapat diterapkan secara efisien dan efektif. B. TUJUAN Kegiatan ini bertujuan untuk melaksanakan evaluasi pengembangan dan pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan sehingga didapat data dan informasi tentang tingkat penerapan KTSP secara kualitatif ataupun kuantitatif pada tiap daerah yang dapat dimanfaatkan satuan pendidikan (sekolah) dalam implementasi kurikulum pada tataran sekolah/daerah.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

1

C. RUANG LINGKUP Kegiatan ini memonitor dan mengevaluasi penerapan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di 33 propinsi D. HASIL YANG DIHARAPKAN Melalui kegiatan ini akan dihasilkan laporan gambaran penerapan KTSP di 33 provinsi, pada satuan pendidikan dasar dan menengah E. PELAKSANAAN Kegiatan penyusunan laporan dilaksanakan pada tanggal 9 – 13 Desember 2008 di Cisarua, Kabupaten Bogor. F. PESERTA Peserta yang dilibatkan dalam kegiatan ini terdiri dari unsure: Satuan Pendidikan, LPMP, Perguruan Tinggi, dan Pusat Kurikulum. Rincian Peserta terlampir

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

2

BAB II KERANGKA BERPIKIR

A. STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Menurut Undang-Undang (UU) No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan kurikulum dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Hal ini dimaksudkan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan pada satuan pendidikan dengan kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, kurikulum dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Selanjutnya pada pasal 36 disebutkan bahwa pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan harus disempurnakan dan ditingkatkan secara berencana, terarah dan berkala sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Kata standar memiliki makna tingkat atau level kualitas atau keunggulan yang harus dicapai dengan kriteria, benchmark, persayaratan atau spesifikasi tertentu. Hal ini sesuai dengan pengertian di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa standar nasional pendidikan merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar nasional pendidikan terdiri atas: 1. standar isi Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

3

Kerangka dasar kurikulum adalah rambu-rambu yang dijadikan pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan. Kerangka dasar dan struktur kurikulum mengatur tentang kelompok mata pelajaran serta kedalaman muatan kurikulum yang dituangkan dalam kompetensi, yaitu standar kompetensi dan kompetensi dasar. Beban belajar mengatur tentang jam pembelajaran dengan sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, pelaksanaan pembelajaran sistem paket dan satuan kredit semester (SKS), serta pemberian pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP. KTSP untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB,

SMA/MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK. Kalender pendidikan/kalender akademik mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur. 2. standar proses Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Standar proses mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. 3. standar kompetensi lulusan

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

4

Standar kompetensi lulusan (SKL) adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Standar ini meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran 4. standar pendidik dan tenaga kependidikan Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Standar ini mengatur tentang pendidik yang harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, Rasio pendidik terhadap peserta didik, kelengkapan dan kualifikasi tenaga kependidikan satuan pendidikan, pengawas satuan pendidikan. 5. standar sarana dan prasarana Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Standar ini mengatur tentang kelengkapan, jenis dan kualitas sarana dan prasarana satuan pendidikan. 6. standar pengelolaan Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Standar ini terdiri atas standar pengelolaan oleh satuan pendidikan, standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan standar pengelolaan oleh pemerintah. Standar pengelolaan oleh satuan pendidikan mengatur tentang penerapan prinsip manajemen berbasis sekolah (MBS), proses pengambilan keputusan, pedoman, rencana kerja tahunan, Pelaksanaan pengelolaan dan pengawasan satuan pendidikan.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

5

pemantauan. evaluasi kinerja pendidikan oleh lembaga mandiri Pemerintah melakukan akreditasi pada setiap jenjang dan satuan pendidikan untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan. oleh satuan pendidikan dan oleh pemerintah. Pencapaian kompetensi akhir peserta didik dinyatakan dalam dokumen ijazah dan/atau sertifikat kompetensi. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah (menteri) 3. 7.Standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan pemerintah mengatur tentang rencana kerja tahunan. prosedur. Standar ini mengatur tentang biaya investasi. evaluasi kinerja pendidikan oleh satuan pendidikan pada tiap akhir semester. penyelenggaraan satuan pendidikan bertaraf internasional. standar pembiayaan Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. dan biaya personal satuan pendidikan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 6 . evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah kabupaten/kota 5. standar penilaian pendidikan Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme. dan pelaporan pencapaian standar nasional pendidikan. dan terencana dalam suatu program penjaminan mutu yang memiliki target dan kerangka waktu yang jelas. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bertugas melakukan pengembangan. Pemerintah. LPMP mensurpervisi dan membantu satuan pendidikan dalam penjaminan mutu. Dalam melaksanakan tugasnya BSNP menunjuk tim ahli yang bersifat ad-hoc sesuai kebutuhan. serta tentang kelulusan peserta didik. Standar ini mengatur tentang penilaian hasil belajar oleh pendidik. dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. secara bertahap. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah propinsi 4. biaya operasi. 8. pemerintah kabupaten/kota. 2. sistematis. Sedangkan evaluasi pendidikan meliputi: 1. Setiap satuan pendidikan pada jalur formal dan nonformal wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan. pemerintah propinsi.

(2) beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah. 2. (3) kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi. Pendahuluan Bagian ini menjelaskan cakupan standar isi yang meliputi: (1) kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan.Penyelenggaraan satuan pendidikan yang tidak mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan dapat memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari BSNP didasarkan pada penilaian khusus. Sistematika Standar Isi dalam lampiran Permendiknas No. B. STANDAR ISI Di dalam Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Standar Isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang selanjutnya disebut Standar Isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Bagian ini meliputi: a) Kerangka Dasar Kurikulum 1) Kelompok Mata Pelajaran Bagian ini menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum. 22 tahun 2006 adalah sebagai berikut. dan (4) kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. kejuruan. 1. Ini berarti ketentuan di dalam Permendiknas tersebut bersifat minimal yang harus dicapai peserta didik pada setiap satuan pendidikan. dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 7 .

2) Prinsip Pengembangan Kurikulum Bagian ini menyatakan bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. (1) Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi. serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 8 . olahraga dan kesehatan. kebutuhan. (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. dinamis dan menyenangkan. (5) kelompok mata pelajaran jasmani. (4) kelompok mata pelajaran estetika. (1) Berpusat pada potensi. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya (2) Beragam dan terpadu (3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut.(1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. dan seni (4) Relevan dengan kebutuhan kehidupan (5) Menyeluruh dan berkesinambungan (6) Belajar sepanjang hayat (7) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah 3) Prinsip Pelaksanaan Kurikulum Bagian ini menyatakan bahwa pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut. perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu. perkembangan. teknologi.

dan hangat. dan menyenangkan. dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri. (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif. dan moral. dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan. kesosialan. (b) belajar untuk memahami dan menghayati. ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan. keindividuan. dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi. (6) Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam. yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. (3) Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan. dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. kreatif. terbuka.(2) Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar. pengayaan. (5) Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia. melalui proses pembelajaran yang aktif. efektif. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 9 . (4) Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai. akrab. muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan. tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar. tahap perkembangan. (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain. (7) Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran. sumber belajar dan teknologi yang memadai. sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal. dan/atau percepatan sesuai dengan potensi. keterkaitan. dengan prinsip tut wuri handayani. di tengah membangun semangat dan prakarsa. ing madia mangun karsa. di depan memberikan contoh dan teladan). dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan. contoh dan teladan).

bakat. muatan lokal.d. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Kurikulum SD/MI memuat 8 mata pelajaran. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. muatan lokal dan pengembangan diri. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. guru. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 10 . VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Struktur kurikulum pendidikan umum memuat komponen mata pelajaran. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. VI adalah 32 jam pelajaran per minggu. sedangkan pada Kelas IV s. belajar. 1) Struktur Kurikulum SD/MI Struktur kurikulum SD/MI meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai Kelas I sampai dengan Kelas VI. dan III adalah 26. termasuk keunggulan daerah. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. dan pengembangan karir peserta didik. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. II. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum untuk kelas I . dan pengembangan diri Pembelajaran pada Kelas I s.d. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. 27 dan 28 jam pelajaran per minggu. Sedangkan untuk kelas IV s.d. III dilaksanakan melalui pendekatan tematik.b) Struktur Kurikulum Pendidikan Umum Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 35 menit.

Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. yaitu kelas X merupakan program umum yang diikuti oleh seluruh peserta didik. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum kelas X adalah 38 jam pelajaran. (2) Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Program Bahasa. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum adalah 32 jam pelajaran per minggu. muatan lokal. dan (4) Program Keagamaan. (3) Program Bahasa. Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII Program IPA. dan kelas XI dan XII merupakan program penjurusan yang terdiri atas empat program: (1) Program Ilmu Pengetahuan Alam. dan pengembangan diri c) Struktur Kurikulum Pendidikan Kejuruan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 11 . khusus untuk MA. Pengorganisasian kelas-kelas pada SMA/MA dibagi ke dalam dua kelompok. Kurikulum SMP/MTs memuat 10 mata pelajaran. kelas XI dan XII adalah 39 jam pelajaran dan kelas XI dan XII untuk MA program keagamaan adalah 38 jam pelajaran per minggu. dan pengembangan diri. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 40 menit. Substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu”. dan pengembangan diri. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. dan Program Keagamaan terdiri atas 13 mata pelajaran. 3) Struktur Kurikulum SMA/MA Struktur kurikulum SMA/MA meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas X sampai dengan Kelas XII. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 45 menit. Program IPS.2) Struktur Kurikulum SMP/MTs Struktur kurikulum SMP/MTs meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas VII sampai dengan Kelas IX. muatan lokal. muatan lokal. Kurikulum SMA/MA Kelas X terdiri atas 16 mata pelajaran.

Pengembangan diri bagi peserta didik Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 12 . akhlak mulia. kepribadian. Pendidikan Kewarganegaraan. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Muatan Lokal. dan pembentukan karier peserta didik. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. bakat. serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. mata pelajaran Kejuruan. mereka harus memiliki stamina yang tinggi. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. dan mampu berkomunikasi sesuai dengan tuntutan pekerjaannya. Mata pelajaran wajib terdiri atas Pendidikan Agama. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan program keahlian yang diselenggarakan. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. Bahasa. dan prospek pengembangan daerah termasuk keunggulan daerah. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi. dan Keterampilan/Kejuruan. pengetahuan. potensi daerah. serta memiliki kemampuan mengembangkan diri Kurikulum SMK/MAK berisi mata pelajaran wajib. Mata pelajaran Kejuruan terdiri atas beberapa mata pelajaran yang bertujuan untuk menunjang pembentukan kompetensi kejuruan dan pengembangan kemampuan menyesuaikan diri dalam bidang keahliannya. memiliki etos kerja yang tinggi. dan Pengembangan Diri. belajar. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Mata pelajaran ini bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam spektrum manusia kerja. Seni dan Budaya. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada.Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan. IPA. IPS. Matematika. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta mengembangkan keahlian dan keterampilan. guru.

Alokasi waktu satu jam pelajaran tatap muka adalah 45 menit. Jumlah jam Kompetensi Kejuruan pada dasarnya sesuai dengan kebutuhan standard kompetensi kerja yang berlaku di dunia kerja tetapi tidak boleh kurang dari 1044 jam. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. IPS. Bahasa Indonesia. Pendidikan SMK/MAK diselenggarakan dalam bentuk pendidikan sistem ganda. Matematika. praktik di sekolah dan kegiatan kerja praktik di dunia usaha/industri ekuivalen dengan 36 jam pelajaran Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 13 . Pendidikan Kewarganegaraan. Di dalam penyusunan kurikulum SMK/MAK mata pelajaran dibagi ke dalam tiga kelompok: (1) Kelompok normatif adalah mata pelajaran yang dialokasikan secara tetap yang meliputi Pendidikan Agama. Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi. Evaluasi pembelajaran dilakukan setiap akhir penyelesaian satu standar kompetensi atau beberapa penyelesaian kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran. Kelompok adaptif dan produktif adalah mata pelajaran yang alokasi waktunya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian.SMK/MAK terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. Struktur kurikulum SMK/MAK meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun atau dapat diperpanjang hingga empat tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII atau kelas XIII. yang materinya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian untuk memenuhi standar kompetensi kerja di dunia kerja. Beban belajar SMK/MAK meliputi kegiatan pembelajaran tatap muka. dan dapat diselenggarakan dalam blok waktu atau alternatif lain. IPA. dan Kewirausahaan (3) Kelompok produktif terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang dikelompokkan dalam Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi Kejuruan. dan Seni Budaya (2) Kelompok adaptif terdiri atas mata pelajaran Bahasa Inggris. Struktur kurikulum SMK/MAK disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran.

Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. intelektual dan/atau sosial. d) Struktur Kurikulum Pendidikan Khusus Struktur Kurikulum dikembangkan untuk peserta didik berkelainan fisik. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. bina komunikasi persepsi bunyi dan irama untuk peserta didik tunarungu. termasuk keunggulan daerah. bina gerak untuk peserta didik tunadaksa. yaitu program orientasi dan mobilitas untuk peserta didik tunanetra. bakat. bina diri untuk peserta didik tunagrahita. mental. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Peserta didik ini yang berkeinginan untuk melanjutkan sampai ke jenjang pendidikan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 14 . Peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. Kurikulum Pendidikan Khusus terdiri atas delapan sampai dengan 10 mata pelajaran. kemampuan. dan bina pribadi dan sosial untuk peserta didik tunalaras. program khusus. dalam batas-batas tertentu masih dimungkinkan dapat mengikuti kurikulum standar meskipun harus dengan penyesuaian-penyesuaian. guru. maksimum empat tahun sesuai dengan tuntutan program keahlian. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. dan pengembangan diri. emosional.per minggu. Pengembangan diri terutama ditujukan untuk peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. belajar. muatan lokal. Program khusus berisi kegiatan yang bervariasi sesuai degan jenis ketunaannya. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Lama penyelenggaraan pendidikan SMK/MAK tiga tahun. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. dan pengembangan karir peserta didik. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.

E (A = tunanetra. Pada satuan pendidikan SMPLB A. Kurikulum SDLB A. SDLB SMPLB SMALB MASYARAKAT ANAK LUAR BIASA/ANAK BERKELAINAN PERGURUAN TINGGI/ MASYARAKAT SD/MI SMP/ MTs SMA/MA SMK/MAK Kurikulum untuk peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. sedangkan kompetensi untuk mata pelajaran Program Khusus. dan SMALB.B.B.E dirancang untuk peserta didik yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang pendidikan tinggi.E relatif sama dengan kurikulum SD umum.B. diperlukan kurikulum yang sangat spesifik. E. SMPLB. B.D.D.E mengacu kepada satuan pendidikan umum yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan khusus peserta didik. menggunakan sebutan Kurikulum SDLB A. sederhana dan bersifat tematik untuk mendorong kemandirian dalam hidup sehari-hari. dan Keterampilan dikembangkan oleh satuan Pendidikan Khusus dengan memperhatikan jenjang dan jenis satuan pendidikan. dan SMALB A. Peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata.D. Mekanisme perpindahan jalur pendidikan adalah sebagai berikut. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 15 .D.tinggi. SMALB A. B.B. Kompetensi mata pelajaran umum SDLB. semaksimal mungkin didorong untuk dapat mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan umum sejak SD atau SMP.E dan SMALB A. E = tunalaras). B. D. D. D. E. Bagi mereka yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. D = tunadaksa ringan. B = tunarungu. setelah menyelesaikan pada jenjang SDLB dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMPLB. SMPLB A .

70% aspek akademik dan 40% . Program Khusus sesuai jenis kelainan peserta didik meliputi sebagai berikut.D. C1. (1) Orientasi dan Mobilitas untuk peserta didik Tunanetra (2) Bina Komunikasi.D1. SMPLB adalah 35 menit dan SMALB adalah 40 menit sesuai dengan kondisi peserta didik yang berkaelainan. Kurikulum ini dirancang sangat sederhana sesuai dengan batas-batas kemampuan peserta didik dan sifatnya lebih individual. G = tunaganda). D1.30% berisi aspek keterampilan vokasional. Persepsi Bunyi dan Irama untuk peserta didik Tunarungu (3) Bina Diri untuk peserta didik Tunagrahita Ringan dan Sedang (4) Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Ringan (5) Bina Pribadi dan Sosial untuk peserta didik Tunalaras (6) Bina Diri dan Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Sedang. G. dan tidak dihitung sebagai beban belajar. Satuan pendidikan khusus SDLB dan SMPLB dapat menambah maksimum 6 jam pembelajaran/minggu untuk keseluruhan jam pembelajaran. (C = tunagrahita ringan. Untuk jenjang SMALB. menggunakan sebutan Kurikulum SDLB C. Muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMALB A. C1.E terdiri atas 40% – 50% aspek akademik dan 60% . D1 = tunadaksa sedang. C1.B.B. dan SMALB C. Satu jam pelajaran untuk SDLB adalah 30 menit. D1. Pembelajaran menggunakan pendekatan tematik. D1. SMPLB C. dan 4 jam Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 16 . Struktur kurikulum pada satuan Pendidikan Khusus SDLB dan SMPLB mengacu pada Struktur Kurikulum SD dan SMP dengan penambahan Program Khusus sesuai jenis kelainan.E terdiri atas 60% . C1 = tunagrahita sedang.G dikembangkan satuan Pendidikan Khusus yang bersangkutan dengan memperhatikan tingkat dan jenis satuan pendidikan.50% aspek keterampilan vokasional. dengan alokasi waktu 2 jam/minggu. G. program khusus bersifat kasuistik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik tertentu. Kurikulum untuk peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. SMPLB dan SMALB C.Proporsi muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMPLB A. G.C1.D. Kompetensi mata pelajaran pada SDLB. dan Tunaganda.

dan Lampiran 3 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK. 3.pembelajaran untuk tingkat SMALB sesuai kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan yang bersangkutan. Beban Belajar Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 17 . Sisanya sekitar 40% . diserahkan kepada satuan pendidikan sesuai dengan minat.C1. penugasan terstruktur. Oleh karena itu.B. Muatan isi mata pelajaran untuk SMALB A.G lebih ditekankan pada kemampuan menolong diri sendiri dan keterampilan sederhana yang memungkinkan untuk menunjang kemandirian peserta didik. dan sekitar 60% – 50% bidang keterampilan vokasional.D. kemampuan dan kebutuhan peserta didik serta kondisi satuan pendidikan. Lampiran 2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMP/MTs dan SMPLB. tingkat terampil dan tingkat mahir.E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMP umum sehingga menjadi sekitar 60% – 70%. SMPLB.E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMA umum sehingga menjadi sekitar 40% – 50% bidang akademik. potensi.B. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi yang terdir atas: Lampiran 1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI dan SDLB. Muatan isi mata pelajaran SMPLB A.D. Muatan kurikulum SDLB.D1.30% muatan isi kurikulum ditekankan pada bidang keterampilan vokasional yang meliputi tingkat dasar. Beban belajar atau alokasi waktu yang diatur dalam struktur kurikulum adalah beban belajar dalam bentuk tatap muka. Jenis keterampilan yang akan dikembangkan. SMALB C. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. proporsi muatan keterampilan vokasional lebih diutamakan e) Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran pada setiap tingkat dan semester disajikan pada lampiran-lampiran Permendiknas No.

waktu pembelajaran efektif dan hari libur. satu jam penugasan terstruktur. SMA/MA/SMALB/SMK/MAK maksimum 60% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB. Beban belajar satu sks meliputi satu jam pembelajaran tatap muka. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori standar menggunakan sistem paket atau dapat menggunakan sistem kredit semester. c. dan satu jam kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sistem kredit semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. minggu efektif belajar. sedangkan untuk kegiatan mandiri tidak terstruktur diatur sendiri oleh peserta didik. Kalender Pendidikan Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran. Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem kredit semester dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). SD/MI/SDLB maksimum 40% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan b. SMP/MTs/SMPLB maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. 4.Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. a) Alokasi Waktu Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 18 . Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada untuk: a. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem kredit semester. Satuan pendidikan SD/MI/SDLB melaksanakan program pendidikan dengan menggunakan sistem paket. Program percepatan dapat diselenggarakan untuk mengakomodasi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Alokasi waktu minggu efektif belajar. Pemerintah Pusat/Provinsi /Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional. Libur akhir tahun pelajaran Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah 5. Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing-masing Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif 8. dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus. dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan. Jeda tengah semester Maksimum 2 minggu Maksimum 2 minggu Maksimum 3 minggu 2 – 4 minggu 3. No 1. Jeda antarsemester Antara semester I dan II 4. Kegiatan Minggu efektif belajar Alokasi Waktu 34 – 38 minggu Keterangan Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan Satu minggu setiap semester 2. Kegiatan khusus sekolah/madrasah b) Penetapan Kalender Pendidikan Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya. Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 19 . waktu libur dan kegiatan lainnya adalah sebagai berikut. Hari libur keagamaan 6. Hari libur umum/nasional Hari libur khusus Maksimum 2 minggu Maksimum 1 minggu Maksimum 3 minggu 7.

SMP/MTs/SMPLB*/Paket B terdiri atas 21 butir. SKL meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Di dalam Permendiknas No. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut 2. 1. 23 tahun 2006 adalah sebagai berikut. Pendidikan Menengah yang terdiri atas SMA/MA/SMALB/Paket C bertujuan: Meningkatkan kecerdasan. Pendidikan Menengah Kejuruan yang terdiri atas SMK/MAK akhlak bertujuan: serta Meningkatkan kecerdasan. keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya Standar kompetensi lulusan satuan pendidikan SD/MI/SDLB*/Paket A terdiri atas 17 butir. mulia. standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran. yakni: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 20 . akhlak mulia. yang meliputi SD/MI/SDLB/Paket A dan SMP/MTs. SMA/MA/SMALB*/Paket C terdiri atas 23 butir. kepribadian. kepribadian. Ini berarti ketentuan di dalam Permendiknas tersebut bersifat minimal yang harus dicapai lulusan peserta didik pada setiap satuan pendidikan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut 3. dan SMK/MAK terdiri atas 23 butir./SMPLB/Paket B bertujuan: Meletakkan dasar kecerdasan. Tujuan setiap satuan pendidikan yang tertuang dalam lampiran Permendiknas No. pengetahuan. kepribadian. Pendidikan Dasar. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. pengetahuan.waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah. Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran dikembangkan berdasarkan tujuan dan cakupan muatan dan/ atau kegiatan setiap kelompok mata pelajaran. akhlak mulia. C. pengetahuan. dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran.

matematika. dan muatan lokal yang relevan. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. kewarganegaraan. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. olahraga. ilmu pengetahuan dan teknologi. matematika. serta muatan lokal yang relevan Pada satuan pendidikan SMK/MAK. ilmu pengetahuan sosial. ilmu pengetahuan sosial. dan/atau teknologi informasi dan komunikasi. Tujuan tersebut dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama. Kelompok mata pelajaran Estetika bertujuan: membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. dan muatan lokal yang relevan. Pada satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB/Paket B. ilmu pengetahuan alam. keterampilan. matematika. teknologi informasi dan komunikasi. Kelompok mata pelajaran Agama dan Akhlak Mulia bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. keterampilan. 2. ilmu pengetahuan sosial. akhlak mulia. kewarganegaraan. bahasa. Pada satuan pendidikan SD/MI/SDLB/Paket A. serta muatan lokal yang relevan 4. jasmani. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. teknologi informasi dan komunikasi. keterampilan/kejuruan. seni dan budaya. estetika. keterampilan/kejuruan. keterampilan/kejuruan. 3. kejuruan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 21 . Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama. ilmu pengetahuan sosial. kepribadian. matematika.1. Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan: mengembangkan logika. kemampuan berpikir dan analisis peserta didik. ilmu pengetahuan alam. serta muatan lokal yang relevan Pada satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/Paket C. dan kesehatan. ilmu pengetahuan alam. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. dan pendidikan jasmani. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. Kelompok mata pelajaran Kewarganegaraan dan Kepribadian bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. ilmu pengetahuan alam. seni dan budaya.

Sejarah Program IPA. Matematika Program IPS. D. Bahasa Inggris. Geografi. Matematika. Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bahasa Indonesia. Matematika. dan Bahasa Inggris. Olah Raga. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan Agama Buddha. IPA. Ekonomi. Pendidikan Agama Hindu. Bahasa Indonesia. IPA. ilmu pengetahuan alam. Pendidikan Kewarganegaraan. Bahasa Arab. Pendidikan Agama Buddha. pendidikan kesehatan. Sastra Indonesia Program Bahasa. IPA. dan Kesehatan bertujuan: membentuk karakter peserta didik agar sehat jasmani dan rohani. Bahasa Jerman. Sejarah Program IPS. IPS. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SD/MI terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Biologi.5. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 22 . Sosiologi. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan pendidikan jasmani. Pendidikan Agama Hindu. Bahasa Mandarin. Sejarah Program Bahasa. olahraga. Seni Budaya dan Keterampilan. Seni Budaya. B. Bahasa Jepang. Matematika. dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. dan Bahasa Inggris. Keterampilan. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Agama Katolik. Matematika Program Bahasa. Pendidikan Agama Buddha. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMA/MA terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Bahasa Inggris Program Bahasa. Bahasa Inggris. Kelompok mata pelajaran Jasmani. Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Kewarganegaraan. Seni Budaya dan Keterampilan. Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Agama Hindu. IPS. Fisika. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Kewarganegaraan. Seni Budaya. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SDLB A. Bahasa Perancis. dan muatan lokal yang relevan. Pendidikan Agama Kristen. IPS. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Agama Buddha. Bahasa Indonesia Program IPA/IPS. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Agama Kristen. Keterampilan. dan Antropologi Program Bahasa. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia Program Bahasa. Kimia. Pendidikan Agama Hindu. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Matematika Program IPA. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMP/MTs terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Agama Kristen. dan menumbuhkan rasa sportivitas.

potensi daerah/karakteristik daerah. Bahasa Indonesia. Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Agama Kristen. Bahasa Indonesia. IPA. Administrasi Perkantoran dan Akuntasi. dan peserta didik. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan.Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMPLB A. dan Kewirausahaan. Pendidikan Agama Hindu. Matematika. B. Seni Budaya. Seni Budaya. Bahasa Inggris. Pendidikan Agama Katolik. Biologi Kelompok Kesehatan. Pendidikan Kewarganegaraan. D. Keterampilan Vokasional/Teknologi Informasi dan Komunikasi. dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. IPS. Biologi Kelompok Pertanian. Matematika Kelompok Teknologi. Seni Budaya. IPS. Fisika Kelompok Teknologi. Matematika. Pendidikan Agama Hindu. Pendidikan Agama Kristen. Pariwisata. Pendidikan Agama Buddha. D. Kimia Kelompok Pertanian. Bahasa Indonesia. Matematika Kelompok Sosial. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. IPS. Pendidikan Kewarganegaraan. Bahasa Inggris. Pendidikan Agama Hindu. Bahasa Inggris. dan Pertanian. sosial budaya masyarakat setempat. Fisika Kelompok Pertanian. Pendidikan Agama Buddha. Penyususnan kurikulum juga dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan. Pendidikan Agama Kristen. Pengembangan kurikulum yang disssun oleh satuan pendidikan berdampak pada perubahan dalam proses dan mekanisme penyusunan kurikulum dan orientasi kerja Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 23 . IPA. D. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMK/MAK terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMALB A. Pendidikan Agama Katolik. Kesehatan. Kimia Kelompok Teknologi dan Kesehatan. Pendidikan Agama Buddha. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. IPA. Matematika Kelompok Seni. B. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Keterampilan. dan Teknologi Kerumahtanggaan. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam.

pengetahuan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. akhlak mulia. Khusus untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya untuk program paket A. potensi. kepribadian. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan. b. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan.Pendidikan/Kanwil Depag di tingkat propinsi. kepribadian. namun pencapaian minimalnya sama untuk setiap satuan pendidikan. kota dan sekolah. Salah satu dampak tersebut adalah bahwa kurikulum tidak ditetapkan lagi secara nasional. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan. pengetahuan. 2. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. c. (1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 24 . Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut. pengetahuan. kabupaten. Pada buku ”Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah” yang diterbitkan oleh BSNP tahun 2006. B dan C ditetapkan oleh dinas kabupaten/kota berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. akhlak mulia. komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan yang perlu dikembangkan oleh sekolah adalah: 1. akhlak mulia. kepribadian. tetapi disusun oleh masing-masing sekolah atau kelompok sekolah dengan mengacu pada standar isi dan standar kompetensi lulusan. dan kebutuhan satuan pendidikan. Sehingga pencapaian hasil pendidikan optimal sesuai dengan kondisi. terutama dalam mengembangkan dan menerapkan kurikulum di tingkat sekolah. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut. a. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

a. yang materinya belum tertuang pada mata pelajaran yang ada. potensi. c. Dinas pendidikan dapat mengkoordinasikan pengembangan muatan lokal sejenis untuk satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. Mata pelajaran Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi.(2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian (3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi (4) Kelompok mata pelajaran estetika (5) Kelompok mata pelajaran jasmani. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. Kegiatan Pengembangan Diri Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran sehingga tidak harus dirumuskan dalam bentuk standar kompetensi dan kompetensi dasar. b. sesuai kebutuhan. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran. olahraga dan kesehatan Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 Pasal 7. Satuan pendidikan dapat mengembangkannya dalam bentuk program kegiatan yang berisi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 25 . tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. atau keunggulan daerah. Ini berarti bahwa dalam satua tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Muatan Lokal Muatan lokal merupakan mata pelajaran yang isinya disesuaikan dengan ciri khas. Perlu diperhatikan bahwa bagi satuan pendidikan yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi memungkinkan menambah atau menyesuaikan mata pelajaran dan alokasi waktunya. sebagai berikut.

3. Untuk satuan pendidikan khusus menekankan pada peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. di samping dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di dalam Standar Isi. Khusus untuk sekolah menengah kejuruan pengembangan diri terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/SMALB /SMK/MAK kategori standar dapat menggunakan sistem paket atau sistem SKS. kepemimpinan.tujuan kegiatan dan bentuk dan pengelolaan kegiatan. tidak terlepas kaitannya dari struktur kurikulum sebagai Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 26 . dan sekolah/ madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa Pemerintah mengkategorikan sekolah/ madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem SKS. belajar. Beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh satuan pendidikan SD/MI/SDLB. tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Kegiatan ini difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor.. Pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap. Pengaturan Beban Belajar Di dalam penjelasan PP No. guru. dan pengembangan karier peserta didik serta dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler seperti keparamukaan. Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif. dan kelompok ilmiah remaja. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Penambahan maksimum empat jam. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi.

tentu dapat menambah jam sesuai dengan kondisi. Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Sesuai dengan ketentuan PP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 27 . Satu SKS pada SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: 45 menit tatap muka. Alokasi waktu untuk praktik.60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. SMP/MTs/SMPLB 0% . 4. dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. yang sifatnya minimal. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. Alokasi waktu untuk tatap muka. 5. Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait. Kenaikan Kelas dan Kelulusan Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. a. Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket untuk SD/MI/SDLB 0% . b. 25 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. penugasan terstruktur.50% dan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK 0% .40%. Ketuntasan Belajar Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. 20 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. potensi dan kebutuhan. Satu SKS pada SMP/MTs terdiri atas: 40 menit tatap muka. Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran.bagian dari standar isi. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK yang menggunakan sistem SKS mengikuti aturan sebagai berikut. Bagi satuan pendidikan dan komite yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi.

kelompok mata pelajaran estetika. Materi ujian nasional dikembangkan tentu mengacu kepada Standar Isi dan SKL yang sifatnya minimal. peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah: a. dan kesehatan. lulus Ujian Nasional. Keempat syarat diatas bersifat ururtan prasyarat. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 28 . dan d. dan tentu saja belum bisa mengikuti ujian nasional. belum bisa mengikuti ujian sekolah.19/2005 Pasal 72 Ayat (1). SMK/MAK dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup. 6. Pendidikan Kecakapan Hidup Kurikulum untuk SD/MI/SDLB. Apabila satuan pendidikan telah mengembangkan dan menerapkan kurikulum yang mengacu standar isi dan SKL (apalagi kurikulum dengan standar lebih tinggi). Kriteria penjurusan diatur oleh direktorat teknis terkait. SMA/MA/ SMALB. olahraga. lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Penjurusan Penjurusan dilakukan pada kelas XI dan XII di SMA/MA. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. artinya seorang peserta didik yang belum menyelesaikan seluruh program pemebelajaran berarti belum mendapat nilai baik untuk kelompok non iptek. kelompok kewarganegaraan dan kepribadian. kecakapan sosial. SMP/MTs/SMPLB. 7. kecakapan akademik dan/atau kecakapan vokasional. tentunya siap untuk mengikuti ujian nasional. yang mencakup kecakapan pribadi. c. menyelesaikan seluruh program pembelajaran. dan kelompok mata pelajaran jasmani. Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian integral dari pendidikan semua mata pelajaran dan/atau berupa paket/modul yang direncanakan secara khusus. b.

bahasa. ekologi. dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. pelaksanaan proses pembelajaran. 8. 10. dan lain-lain. penilaian hasil pembelajaran. Bagi sekolah yang belum memungkinkan memberikan pendidikan kecakapan hidup.Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan/atau dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal. dapat meminta peserta didik untuk mendapatkannya dari satuan pendidikan formal dan non formal lainnya. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi. teknologi informasi dan komunikasi. Teknik penilaian tersebut dapat berupa tes tertulis. dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana yang dimuat dalam Standar Isi. dan penugasan perseorangan atau Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 29 . kebutuhan peserta didik dan masyarakat. yang dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran dan juga dapat menjadi mata pelajaran muatan lokal. Penilaian yang dimaksud menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi. Kurikulum untuk semua tingkat satuan pendidikan dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. budaya. yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik. Kalender Pendidikan Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah. 9. observasi. tes praktek. karakteristik sekolah. Silabus Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran.

materi dan metode pengajaran. kegiatan pembelajaran. dengan memperhatikan hal berikut. kegiatan pembelajaran.kelompok. b. per tahun. Khusus untuk SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi. alokasi waktu. Disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik siswa. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 30 . Sedangkan unit waktu silabus diatur sebagai berikut: a. Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester. dan penilaian hasil belajar. penilaian. indikator. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran. Di dalam panduan penyusuan kurikulum disebutkan bahwa silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi. serta teknik penilaiannya sesuai dengan karakteristik hasil pembelajaran dan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. materi pokok/pembelajaran. c. Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah. dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus dan RPP merupakan bagian tak terpisahkan dari komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan. kompetensi dasar. sumber belajar. kondisi sekolah dan lingkungannya. dan Dinas Pendikan. dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. a. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran. kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG). dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok.

b. sebaiknya bergabung dengan sekolah-sekolah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolahsekolah dalam lingkup MGMP/PKG setempat. dari kelas I sampai dengan kelas VI. d. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran Materi ini dapat berupa konsep. dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. a. pokok bahasan. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik. Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing. Sekolah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri. nantinya diperinci dalam RPP. Materi ini. menyusun silabus secara bersama. c. lingkungan. Di SD/MI semua guru kelas. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 31 . tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI. Langkah-langkah Pengembangan Silabus dapat dilakukan sebagai berikut. c. Satuan pendidikan yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri. tentu perlu mengembangkan silabus yang sesuai b. maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah tersebut. e. potensi. peserta didik dengan guru. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi. keterkaitan antar kompetensi dalam satu mata pelajaran atau antar mata pelajaran. atau tema yang bersifat kontekstual dan dipilih sesuai dengan kondisi. Di SMP/MTs untuk mata pelajaran IPA dan IPS terpadu disusun secara bersama oleh guru yang terkait. karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik.

penilaian hasil karya berupa tugas.melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. kedalaman. proyek dan/atau produk. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. Penentuan Jenis Penilaian Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Kegiatan pembelajaran dalam silabus merupakan pokok-pokok kegiatan siswa untuk mencapai kompetensi. dapat dimasukkan bentuk penilaian dan jenis tugas yang perlu dilakukan siswa untuk melihat pencapaian kompetensi siswa. mata pelajaran. tingkat kesulitan. satuan pendidikan. d. pengukuran sikap. Cakupan jenis penilaian dalam silabus tentu harus mengakomodasi kompetensi dan indikator yang telah dirumuskan. 6. dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. agar penjabaran kompetensi lebih jelas. rinci dan terukur. Menentukan Alokasi Waktu Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar. Karena indikator dirumuskan dari kompetensi dasar berarti setiap kompetensi dasar memiliki lebih dari satu indikator. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 32 . penggunaan portofolio. dan penilaian diri. dan keterampilan. potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. keluasan. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap. yang nantinya diperinci dalam RPP. pengamatan kinerja. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik. e. Di dalam penilaian. pengetahuan.

potensi.Silabus tidak harus dirancang untuk satu kali pertemuan (tatap muka). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan penjabaran sistematis dan terurut dari silabus yang dituangkan dalam tujuan pembelajaran. sumber belajar. dan budaya. dan indikator pencapaian kompetensi. Metode dan organisasi pembelajaran dapat berupa diskusi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 33 . Pemilihan materi ajar ditentukan oleh kondisi. Dengan demikian alokasi waktu yang ditetapkan dalam silabus dapat lebih dari satu kali pertemuan. 7. Metode Metode atau strategi pembelajaran yang dituangkan dalam RPP merupakan bentuk kegiatan dan organisasi kelas yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. kebutuhan dan daya dukung sumber daya satuan pendidikan dan siswa. Menentukan Sumber Belajar Sumber belajar adalah rujukan. materi ajar. penilaian hasil belajar. objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. serta lingkungan fisik. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran. metode. yang berupa media cetak dan elektronik. Tujuan pembelajaran Tujuan pembelejaran dirumuskan dalam bentuk uraian proses kegiatan belajar dan kemampuan atau hasil belajar peserta didik untuk mencapai kompetensi atau indikator yang telah dirumuskan dalam silabus. narasumber. kegiatan pembelajaran. c. alam. sosial. b. dan alokasi waktu untuk mencapai satu kompetensi dasar atau beberapa indikator dalam silabus tersebut. langkah-langkah pembelajaran. 11. a. tetapi dirancang satu kompetensi atau sekelompok kompetensi. Materi Ajar Materi ajar dirumuskan dari materi pokok atau materi pembelajaran pada silabus yang dapat berupa rincian secara runtut subpokok bahasan atau subtema.

Langkah pembelajaran Langkah pembelajaran dirumuskan dan dirinci dari pokok-pokok kegiatan belajar yang telah ditetapkan dalam silabus sehingga kegiatan belajar menjadi efektif. atau rencana pembelajaran yang dirancang dalam satu pertemuan atau beberapa pertemuan. diskusi. tanya jawab. Langkah pembelajaran memuat bentuk kegiatan belajar dan strategi pengorganisasian belajar kelas serta urutan kegiatannya sebagai berikut. atau rangkuman hasil belajar.informasi. penugsan. penugasan lebih lanjut atau lebih mendalam. (2) Kegiatan inti Kegiatan ini merupakan kegiatan dan organisasi belajar secara yang bervariasi dan terurut sistematis untuk mencapai kompetensi dan beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. dan sebagainya. RPP merupakan persiapan. review (mengulang beberapa hal yang bersifat prasyarat). contoh penilaian dan pedoman penskoran dari bentuk penilaian dan jenis tugas yang telah dirumuskan dalam silabus. (1) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi. Penilaian Penilaian ini memuat rincian bentuk. (1) Kegiatan awal Kegiatan ini dapat berupa apersepsi. kegiatan problem solving aplikasi yang berkaitan dengan materi ajar. skenario. d. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 34 . e. Pelaksanaan penilaian terintegrasi dalam selama kegiatan belajar berlangsung. yang biasanya dilengkapi dengan LK (lembar kerja) atau lembar tugas. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian. termasuk menjelaskan tujuan pembelajaran. (3) Penutup Kegiatan penutup dari RPP dapat diisi dalam bentuk refleksi (perenungan) tentang pencapaian hasil belajar. kerja kelompok. problem solving.

yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. termasuk cara penggunaannya.(2) Penilaian menggunakan acuan kriteria. program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan. alat. bahan. (4) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya. Di sini perlu dijelaskan ketersediaan dan banyaknya sumber belajar. g. kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum. dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya. maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan. dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan. jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara. (3) Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. termasuk perlu diperjelas proporsi waktu untuk kegiatan awal. f. Alokasi waktu RPP dirancang menggunakan jam pembelajarn sehingga alokasi waktunya merupakan perkiraan jumlah jam pelajaran yang diperlukan untuk untuk mencapai kompetensi atau beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. media. (5) Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya. kegiatan inti dan penutup. dan alat bantu belajar yang digunakan untuk mencapai kompetensi atau beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 35 . serta untuk mengetahui kesulitan siswa. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih. Sumber Belajar Sumber belajar meliputi bahan ajar.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 sampai dengan Pasal 38. potensi dan kebutuhan satuan pendidikan. mengatur sistem akselerasi atau percepatan belajar dan sebagainya. sesuai dengan kondisi. penambahan mata pelajaran atau penambahan muatan lainnya. 23 tahun 2006 Standar isi dan standar kompetensi lulusan merupakan ketentuan yang bersifat minimal sehingga satuan pendidikan dimungkinkan menyusun kurikulum dengan standar lebih tinggi. 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Kurikulum dengan standar lebih tinggi dapat berupa penambahan lingkup materi dan kompetensi. b. dan memahami dokumen tersebut agar dapat mengembangkan kurikulum secara optimal. PENERAPAN STANDAR ISI DAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Implementasi. 22 dan No. d. kondisi dan kebutuhannya. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 36 . 24 tahun 2006 disebutkan bahwa: (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan berdasarkan pada : a. mengkaji. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.E. Pada Permendiknas No. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. maka satuan pendidikan dapat menyesuaikan alokasi waktu pada struktur kurikulum. Dengan mengembangkan dan menerapkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. dan Pasal 25 sampai dengan Pasal 27. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 5 sampai dengan Pasal 18. 22 tentang standar isi dan Permendiknas No. mengatur kalender pendidikan. pendalaman kompetensi. penerapan atau pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan diatur dalam Permendiknas No. c. mengatur sistem beban belajar. potensi dan kebutuhan satuan pendidikan. sesuai potensi. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. Setiap satuan pendidikan yang akan mengembangkan kurikulum perlu memiliki dokumen yang berisi ketentuan-ketentuan di atas. sesuai dengan kondisi. Satuan pendidikan perlu memiliki.

23 Tahun 2006 mulai tahun ajaran 2006/2007. 23 Tahun 2006. di dalam Permendiknas No. PP Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas pelaksanaannya. Perlu dikritisi bahwa pengembangan dan penetapan kurikulum merupakan tanggung jawab sekolah sehingga sekolah perlu secara mandiri menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan kurikulum dengan tetap mengacu pada ketentuan yang ada seperti pada UU sisdiknas. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa pada dasarnya satuan pendidikan tidak diharuskan mengembangkan kurikulum apabila belum memiliki kesiapan berbagai sumber daya yang diperlukan.(3) Pengembangan dan penetapan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah memperhatikan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Standar Kompetensi Lulusan dan ketentuan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 37 . (4) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengadopsi atau mengadaptasi model kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun oleh BSNP. 22. 23 dan 24 tahun 2006. Pertimbangan komite dapat berarti berupa persetujuan setelah KTSP disusun oleh sekolah atau komite berpatisipasi aktif dan bekerjasama dalam proses penyusunan kurikulum dengan sekolah/madrasah. tetapi harus menerapkan kurikulum sesuai dengan Permendiknas No. Mengenai mekanisme dan strategi pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan. Hal ini untuk mengakomodasi kemungkinan terdapat satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan yang belum siap mengembangkan kurikulum sendiri. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa penetapan kurikulum satuan pendidikan merupakan tanggung jawab satuan pendidikan dan komitenya. setelah tahun 2006 sampai tahun 2009 Standar Isi. 24 tahun 2006 disebutkan bahwa: (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menerapkan Permendiknas No. (5) Kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah. 22 dan No. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa satuan pendidikan memungkinkan menerapkan Permendiknas No. Panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan masih bersifat umum sehingga hal-hal lebih lanjut dan rinci perlu ditetapkan sendiri oleh satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. 22 dan No.

: kelas 1. mempelajari dokumen yang diperlukan.tahun II . (5) Penyimpangan terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir (2) di atas dapat dilakukan setelah mendapat izin Menteri Pendidikan Nasional.3. dan 5. dengan tahapan: a Untuk sekolah dasar (SD).2. 23 Tahun 2006 untuk semua tingkatan kelasnya mulai tahun ajaran 2006/2007. madrasah tsanawiyah (MTs). 23 Tahun 2006.2. : kelas 1. : kelas 1.tahun I . situasi belum memungkinkan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 38 . sekolah menengah atas (SMA). 22 dan No. 23 Tahun 2006 paling lambat tahun ajaran 2009/2010. 22 dan No.2. dan sejenisnya. atau mungkin menerapkannya secara bertahap mulai melengkapi perangkat pendukung. : kelas 1 dan 2. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah harus sudah mulai menerapkan Permendiknas No. dan sekolah menengah atas luar biasa (SMALB) : .tahun III b : kelas 1 dan 4. (3) Satuan pendidikan dasar dan menengah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang telah melaksanakan uji coba kurikulum 2004 secara menyeluruh dapat menerapkan secara menyeluruh Permendiknas No. setelah setelah tahun 2009 apabila kondisi satuan pendidikan belum siap disebabkan kondisi. 23 Tahun 2006 secara bertahap dalam waktu paling lama 3 tahun. melaksanakan Permendiknas No.4. sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB).5 dan 6. sekolah menengah kejuruan (SMK).tahun II . dan sekolah dasar luar biasa (SDLB): . 22 dan No. madrasah aliyah (MA). (4) Satuan pendidikan dasar dan menengah yang belum melaksanakan uji coba kurikulum 2004. madrasah aliyah kejuruan (MAK). dan 3. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa satuan pendidikan memungkinkan menerapkan Permendiknas No. Untuk sekolah menengah pertama (SMP).tahun III : kelas 1. 22 dan No. madrasah ibtidaiyah (MI).tahun I .4.apabila kondisi satuan pendidikan belum siap.

walikota dan menteri Agama lebih berperan dalam pengaturan jadwal atau mengkoordinasikan pelaksanaan Permendiknas No. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan yang bersangkutan.Permendiknas No. dan madrasah aliyah kejuruan (MAK). (2) Bupati/walikota dapat mengatur jadwal pelaksanaan . BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) memilki tugas sebagai berikut. untuk satuan pendidikan dasar. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa gubernur.Permendiknas No. 23 Tahun 2006. 22 dan No. 23 Tahun 2006. 23 Tahun 2006. pada tingkat satuan pendidikan. 22 dan No. 23 Tahun 2006 sesuai dengan keperluan berdasarkan pemantauan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada butir (1). Di dalam Permendiknas No. 23 Tahun 2006. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 39 . 23 Tahun 2006. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. memiliki tugas berikut: (1) menggandakan Permendiknas No. (2) BSNP dapat mengajukan usul revisi . untuk satuan pendidikan menengah dan satuan pendidikan khusus. Peran satuan pendidikan tetap merupakan pelaksana dalam penerapan Permendiknas tersebut dan semua satuan pendidikan dalam suatu wilayah tidak harus melaksanakan secara serempak. madrasah aliyah (MA). 23 Tahun 2006. untuk satuan pendidikan madrasah ibtidaiyah (MI). Sedangkan. 22 dan No. 22 dan No. 22 dan No. 24 tahun 2006. madrasah tsanawiyah (MTs). 22 dan No. tetapi disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di provinsi masing-masing. 24 tahun 2006 juga disebutkan bahwa: (1) Gubernur dapat mengatur jadwal pelaksanaan Permendiknas No.Peran Pemerintah dan Pemerintah Daerah pada implementasi atau penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dalam Permendiknas No. bupati. (1) BSNP melakukan pemantauan perkembangan dan evaluasi pelaksanaan Permendiknas No. untuk mendukung dan mendorong satuan pendidikan dalam menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. serta mendistribusikannya kepada setiap satuan pendidikan secara nasional. secara nasional. 22 dan No. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di kabupaten/kota masing-masing (3) Menteri Agama dapat mengatur jadwal pelaksanaan Permendiknas No.

23 Tahun 2006. dan dewan pendidikan. memiliki tugas berikut: (1) mengembangkan model-model kurikulum sebagai masukan bagi BSNP. 22 dan No. 22 dan No. (3) mengembangkan dan mengujicobakan model kurikulum untuk pendidikan layanan khusus. (2) mengembangkan dan mengujicobakan model-model kurikulum inovatif. pengawas. 23 Tahun 2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri.(2) melakukan usaha secara nasional agar sarana dan prasarana satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mendukung penerapan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan:. memiliki tugas berikut: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 40 . memiliki tugas berikut: (1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. 22 dan No. (6) mengembangkan pangkalan data yang rinci tentang pelaksanaan Permendiknas No. 23 Tahun 2006. 22 dan No. (4) bekerjasama dengan perguruan tinggi dan/atau LPMP melakukan pendampingan satuan pendidikan dasar dan menengah dalam pengembangan kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah. mengevaluasinya. dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP. (2) melakukan sosialisasi Permendiknas No. (3) membantu pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam penjaminan mutu satuan pendidikan dasar dan menengah agar dapat memenuhi Permendiknas No. 22 dan No. kepala sekolah. 22 dan No. dinas pendidikan kabupaten/kota. 23 Tahun 2006. (5) memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. terhadap guru. melalui LPMP. dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP kepada dinas pendidikan provinsi. dan tenaga kependidikan lainnya yang relevan melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan/atau Pusat Pengembangan dan Penataran Guru (PPPG). 23 Tahun 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional.

b. 22 dan No. dan sumber daya manusia satuan pendidikan yang berada di bawah kewenangannya mendukung Permendiknas No. 23 Tahun 2006 (3) melakukan supervisi. dan d. 23 Tahun 2006 Sekretariat Jenderal melakukan sosialisasi Permendiknas No. Departemen pendidikan nasional memiliki peran Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 41 . dan mengevaluasi pelaksanaan Permendiknas No. bupati/walikota. 22 dan No. 22 dan No. Nomor 080/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan. 24 tahun 2006 jelas bahwa efektifitas pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan ditentukan oleh komitmen dan peran satuan pendidikan. departemen agama dan departemen lain yang terkait). 24 Tahun 2006. menyusun. (2) mengusahakan secara nasional sesuai dengan kewenangannya agar sarana. lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK). 22 dan No. Dari ketentuan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 sesuai dengan kewenangannya dan berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan Nasional. Nomor 061/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Umum. Satuan pendidikan dan komite berperan dalam mengembangkan. memantau. Bupati/walikota dan gubernur berperan dalam melakukan sosialisasi.(1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. mengatur jadwal. di kalangan (2) memfasilitasi pengembangan kurikulum dan tenaga dosen LPTK yang mendukung pelaksanaan Permendiknas No. dan pemerintah (departemen pendidikan nasional. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan : a. Nomor 060/U/1993 tentang Kurikulum Pendidikan Dasar. 23 Tahun 2006. gubernur. c. Dengan berlakunya Permendiknas No. memonitor dan mendorong satuan pendidikan untuk menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. Nomor 0126/U/1994 tentang Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. 23 Tahun 2006. 22 dan No. dinyatakan tidak berlaku bagi satuan pendidikan dasar dan menengah sejak satuan pendidikan dasar dan menengah yang bersangkutan melaksanakan Permendiknas No. prasarana. komite satuan pendidikan. kepada pemangku kepentingan umum. mengevaluasi dan melaksanakan kurikulum sesuai dengan standar isi dan standar kompetensi lulusan. 22 dan No. 23 Tahun 2006 sesuai dengan kewenangannya. 24 Tahun 2006. Sedangkan Departemen lain yang menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah : (1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. mengkoordinasikan.

SISTEM MONITORING KURIKULUM Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas keberhasilan implementasi kurikulum yang dilakukan oleh suatu lembaga adalah melakukan monitoring terhadap program tersebut. F. evaluasi dan supervisi. mengatur jadwal. workshop. Monitoring tersebut dapat dilakukan mulai dari perencanaan (termasuk needs analysis) . proses dan pelaksanaan. mengkoordinasikan. mengeluarkan kebijakan teknis. terdapat berbagai istilah yang hampir sepadan yaitu monitoring. Keitga istilah tersebut pada dasarnya tidak terpisahkan satu sama lain karena sama-sama digunkan dalam konteks menyempurnakan atau memperbaiki program dan hasil pelaksanaan implementasi kurikulum. maupun outputnya. dan memonitor satuan pendidikan dalam penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan.dalam melakukan sosialisasi. Departemen agama dan departemen lain terkait berperan dalam melakukan sosialisasi. Monitoring (pemantauan) secara umum dimaknai sebagai sebuah kegiatan yang berfungsi untuk melihat kesesuaian rencana program implementasi kurikulum dengan pelaksanaan yang terjadi yang mencakup semua aspek dalam implementasi kurikulum diantaranya : Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 42 . Dalam kaitannya dengan peningkatan mutu implementasi kurikulum. Semua istilah tersebut secara umum mengacu pada fungsi pengawasan pelaksanaan program implementasi kurikulum. mengevaluasi dan mendorong satuan pendidikan di bawah kewenangannya untuk menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. mengusahakan sarana dan prasarana. Proses dan kedudukan monitoring dapat digambarkan sebagai berikut : Analisis SWOT Implementasi kurikulum Evaluasi dampak MONITORING Disain dan perencanaan kurikulum Pelaksanaan kurikulum Monitoring merupakan bagian dari bentuk pengendalian (control) yaitu proses yang memastikan bahwa aktifitas aktual (yang terjadi) sesuai dengan aktifitas yang direncanakan.

supervisi merupakan program berencana untuk memperbaiki pengajaran. Standar diuraikan atau dirumuskan dalam bentuk kriteria hasil monitoring. ketepatan dalam pelaksanaan implementasi kurikulum. LAN mendefinisikan evaluasi sebagai proses atau kegiatan untuk menentukan kemajuan implementasi kurikulum dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan dan usaha untuk memperoleh informasi atau umpan balik bagi penyempurnaan program implementasi kurikulum. ketepatan perencanaan program kurikulum. Terdapat berbagai konsep mengenai supervisi. evaluasi hasilnya lebih dipergunakan untuk perbaikan program implementasi kurikulum berikutnya walaupun pelaksanaan evaluasi dapat dilakukan pada saat implementasi kurikulum berlangsung. Dari ketiga pengertian di atas tampak bahwa monitoring digunakan untuk memperbaiki proses implementasi kurikulum yang sedang berjalan untuk mengoptimalkan hasil. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memperbaiki program implementasi kurikulum yang sedang berjalan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 43 . Fungsi monitoring mencakup tiga unsur utama: (1) Menetapkan standar ketepatan program implementasi kurikulum. sedangkan supervisi lebih menekankan pada perbaikan pembelajaran secara langsung yang diberikan oleh fasilitator atau narasumber. Salah satu pengertiannya. Hasil evaluasi biasanya dipergunakan untuk memperbaiki program implementasi kurikulum yang akan dilakukan berikutnya. Dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistimatis untuk melihat apakah sebuah program implementasi kurikulum telah berhasil dan efisien dalam pelaksanaannya. Secara sederhana. supervisi merupakan suatu aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu program pendidikan dan tenaga pendidik dan kependidikan dalam melakukan profesi mereka secara efektif. akuntabilitas dan relevansi program implementasi kurikulum. 1988 mendefiniisikan evaluasi adalah proses pengumpulan data yang sistematis untuk mengukur evektivitas. Evaluasi menurut the trainer’s Library.ketepatan perumusan analisis kebutuhan. ketepatan dalam mengidentifikasi dampak implementasi kurikulum. efisiensi. Suatu kegiatan evaluasi diharapkan dapat mengukur keberhasilan apakah tujuan implementasi kurikulum yang ditetapkan dapat dicapai. Monitoring memiliki cakupan prosedur dan cakupan proses lebih luas dari sekedar yang dilakukan dalam pekerjaan evaluasi atau supervisi.

yang dapat diilustrasikan sebagai berikut. dan mengambil tindakan perbaikan. penyelesaian masalah bersama untuk memperbaiki program yang belum sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. memahami orang lain. Ini sangat mudah dilakukan karena pada dasarnya manusia sebagai Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 44 . Kompetensi yang dimaksud di sini tentu kompetensi atau kemampuan profesional yang terkait langsung dengan perencanaan. Kompetensi meliputi keterampilan teknis dalam menggunakan prosedur kerja dalam program implementasi kurikulum. membandingkan kinerja aktual dengan standar yang ditetapkan. 1.(2) Memantau dan mengukur aktifitas program yang sedang berjalan dengan menggunakan teknik monitoring tertentu. Hasilnya dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan. menentukan apakah terdapat penyimpangan. merancang sistem umpan balik informasi. dan memotivasi orang lain. keterampilan manusiawi dalam bekerja dengan orang lain. Unsur-unsur pokok dalam proses monitoring adalah penetapan standar ketepatan program implementasi kurikulum. (3) Mengambil tindakan dalam bentuk pemberian bantuan. pengarahan. Teknik – teknik monitoring dan penerapannya. Penetapan standar dan metode monitoring implementasi kurikulum Monitoring Apakah kinerja sesuai standar? tidak Pengambilan tindakan perbaikan Selesai ya Monitoring harus dilakukan oleh seseorang yang berkompeten sesuai dengan bidang yang akan dimonitor. serta keterampilan konseptual dalam mengkoordinasi dan memadukan berbagai kepentingan dan kegiatan dalam implementasi kurikulum. pengembangan dan penyelenggaraan program implementasi kurikulum. Model monitoring yang konvensional atau tradisional adalah yang bersifat mencari kesalahan.

atau kesulitan penyelenggara pendidikan. serta umpan balik (feedback) yang diberikan harus secepat mungkin dan objektif untuk segera dilakukan perbaikan. dikombinasikan dan dilakukan secara terpadu (terintegrasi) agar proses monitoring dapat berjalan secara efisien dan sesuai sasaran. Metode-metode ini dikemas.Wawancara tentang perencanaan kurikulum : pewawancara harus mengetahui dan menngidentifikasi apakah struktur program kurikulum. dekat dan terbuka. dipilih dan ditetapkan sebagai bagian dari tahapan – tahapan implementasi kurikulum. Metode monitoring dapat berupa : konsultasi atau wawancara. kuesioner. Misalnya : . observasi (pengamatan). Monitoring perlu dilakukan secara ilmiah yang terencana. silabus dan bahan ajarnya telah lengkap sesuai dengan tujuan dan sistematis serta terarah ? Hal yang terpenting dalam melakukan wawancara adalah pewawancara sudah mempersiapkan diri dengan pedoman wawancara yang isinya memuat semua aspek – aspek yang akan dimonitor. Pendekatan yang digunakan dalam monitoring dapat berupa pendekatan langsung (direct). Metode – metode ini harus sudah direncanakan. Dalam metode ini yang perlu dilakukan bahwa pewawancara harus memiliki aspek – aspek apa saja yang perlu diketahui atau dimonitor sebagai bagian dari monitoring. yaitu memberi bantuan dan arahan secara langsung atau pendekatan tidak langsung (indirect) di mana pemonitor mendengar keluhan. hambatan. dikembangkan.Wawancara mengenai analisis kebutuhan : pewawancara harus mengetahui apakah kebutuhan – kebutuhan proram implementasi kurikulum sudah sesuai dengan apa yang diharapkan ? . atau metode pengumpulan data lainnya.penyelenggara implementasi kurikulum. memiliki banyak kekurangan. kemudian mendiskusikan pemecahan atau solusi dari problem dan hambatan yang dihadapi. Metode wawancara dapat dilakukan secara tertulis ataupun langsung. Dalam melakukan wawancara perlu diperhatikan bahwa kegiatan ini tidak mengganggu semua aspek program implementasi kurikulum. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 45 . sistematis dan menggunakan instrumen tertentu. suasana yang hangat. penilaian diri. Cara ini tentu saja tidak sesuai dengan tujuan monitoring dan berdampak pada sikap acuh tak acuh atau menentang dari pihak penyelenggara program. Dalam monitoring yang ditekankan adalah bantuan agar program implementasi kurikulum terlaksana sesuai tujuan.

cukup baik dan baik. Selanjutnya.Metode observasi biasanya digunakan untuk mengamati unjuk kerja (kinerja) dari setiap orang yang terlibat dalam kegiatan program implementasi kurikulum. laporan ini dianalisis untuk diperoleh hal-hal atau aspek apa saja yang perlu diperbaiki dan ditindaklanjuti agar segera dilakukan perbaikan program implementasi kurikulum. pemonitor dapat juga menggunakan metode deskripsi. perekam suara (tape recorder) hasil wawancara atau kegiatan lainnya. misalkan suatu aspek ditunjukkan melalui empat kategori yaitu : tidak baik. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 46 . Dalam melakukan observasi perlu dillakukan dalam situasi yang wajar (tidak mengganggu program pembelajaran). Hal ini dapat memberikan beberapa manfaat: (1) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan akan belajar bagaimana menganalisis peristiwa yang dialami sendiri selama program implementasi kurikulum berlangsung (2) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan dapat memperoleh pengalaman dalam memberi umpan balik perbaikan implementasi kurikulum secara langsung (3) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan akan belajar bagaimana menggunakan sumber daya yang dipakai untuk melakukan analisis. mencatat hal-hal yang penting dan menekankan pada upaya perbaikan program implementasi kurikulum. Selain menggunakan format observasi secara khusus. observasi dapat pula dilakukan oleh penyelenggara (guru. kepala sekolah. Selain oleh pemonitor dari penyelenggara implementasi kurikulum. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan yang memuat aspek – aspek yang akan dilihat saat monitoring dilakukan. Alat bantu lain yang sangat berguna dalam metode observasi/wawancara adalah kamera untuk bukti dokumentasi pelaksanaan implementasi kurikulum. Unjuk kerja untuk setiap aspek yang dimonitor dapat dikategorikan dalam bentuk laporan teramati (tepat) atau tidak teramati (tidak tepat). yaitu : menguraikan hasil pengamatan secara komprehensif dan ditulis secara lengkap dalam sebuah laporan. kurang baik. serta data yang dihasilkan haruslah faktual dan bukan opini pemonitor. Boleh juga digunakan sekala rentang. atau pengawas sekolah). dan peralatan audio visual (video) sebagai dokumentasi pelaksanaan implementasi kurikulum.

angket. melalui pos atau dengan alat bantu teknologi informasi melalui internet (website). atupun fihak lain yang terkait). atau penilaian diri) dapat diperoleh secara langsung oleh petugas kuesioner kepada responden. Kuesioner dengan jawaban (options) tertutup mudah dianalisis tetapi tidak memberi peluang responden memberi tanggapan lain yang mungkin sangat berguna. Walaupun perlu dilakukan kroscek atau verifikasi dengan sumber data yang lain untuk mendapat informasi yang lebih otentik. atau pernyataan sikap. kepala sekolah. Pengembangan instrumen monitoring. kegunaan informasi yang dijaring. Aspek lain yang tidak mungkin dimonitor melalui kuesioner dapat dimonitor melalui observasi atau teknik monitoring lainnya. baru dilakukan pengembangan instrument monitoring dan pedoman yang memuat criteria hasil monitoring. 2. Alat penilaian diri dapat berupa daftar ceklis tentang pandangan/pendapat. kepala sekolah. pengawas dan fihak lain yang relevan. dan keakuratan jawaban. Penilaian diri cukup bermanfaat untuk dilakukan karena pelaksana akan lebih jujur mengungkapkan pendapatnya tentang pelaksanaan program implementasi kurikulum. Monitoring melalui pos atau internet lebih membutuhkan keaktifan dan proaktif dari pihak responden. yang disusun dalam bentuk pertanyaan tertutup atau terbuka. Dengan demikian sebelum Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 47 . Data dan informasi dari monitoring secara tertulis (kuesioner. Kuesioner dapat berupa pertanyaan dengan jawaban tertutup. Kuesioner dengan jawaban terbuka memberi peluang pada responden menyatakan pendapatnya secara bebas tetapi memerlukan waktu untuk menganalisis dan melakukan perbaikan program implementasi kurikulum. Dalam kegiatan pengembangan instrument monitoring diawali dengan kegiatan mengidentifikasi aspek yang akan dimonitor. Yang terpenting dalam pengembangan kuesioner harus memperhatikan aspek kepraktisan. dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan tertulis yang telah disiapkan. terbuka. Dilanjutkan dengan pemilihan teknik monitoring yang tepat.Metode kuesioner biasanya digunakan untuk memonitor. daya inovasi dan kreasi dari guru. Dalam metode ini semua aspek yang dimonitor informasinya didapatkan melalui pertanyaan atau pernyataan tertulis yang diberikan pada sumber data (guru. Penilaian diri merupakan salah satu bentuk kuisioner yang khusus ditujukan kepada fihak pelaksana penyelenggara pendidikan untuk melakukan evaluasi diri misalnya mengenai tanggapan tentang komitmen.

Pelaksanaan atau penerapan kurikulum oleh satuan pendidikan 8. Kemampuan dan kesiapan tenaga kependidikan Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 6. Pelaksanaan SI dan SKL Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 2. Pengembangan Kurikulum (KTSP) Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 10. Kemampuan dan kesiapan pendidik Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 5. Pengembangan Silabus dan RPP Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Bentuk instrumen Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 48 . Pemahaman dan persepsi tentang kebijakan kurikulum 1. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 3. Kesiapan sarana dan prasarana Tertulis Observasi Wawancara 7. Subaspek Standar Isi (SI) Teknik monitoring Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 2.pengembangan instrument monitoring perlu disusun kisi – kisi instrumen monitoring yang secara umum dapat ditampilkan dalam contoh tabel kisi-kisi berikut. Kemampuan dan kesiapan sumber daya pendidikan 4. Kesiapan orangtua dan masyarakat Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Observasi Lembar observasi Panduan Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 3. Aspek yang dimonitor 1. Sosialisasi SI dan SKL Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 9.

Misalkan sub aspek isi silabus dapat dirinci menjadi lima komponen yaitu : 1. pengolahan dan analisis data TNA. Hal ini agar mempermudah dalam melakukan monitoring nantinya. Aspek Perencanaan implementasi kurikulum. dan tantangan untuk penyempurnaan kurikulum. system pengambilan data TNA. evaluasi efektifitas dampak pelaksanaan kurikulum. peluang. yang mencakup sub-subaspek: Isi struktur program implementasi kurikulum. Standar isi. Aspek – aspek yang lebih rinci akan mampu menggambarkan pelaksanaan implementasi kurikulum dengan baik atau tidak suatu implementasi kurikulum dilaksanakan. penyusunan instrument TNA. kelemahan. Setiap aspek atau sub aspek tersebut dapat di jabarkan kedalam aspek yang lebih kecil. serta analisis kekuatan. ketepatan menentukan kompetensi yang akan dicapai. 1. Isi bahan ajar. hambatan.. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 49 . serta akan meningkatkan nilai ketepatan pengamatan. Aspek pemahaman dan persepsi. pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan. 2. pemetaan kebutuhan implementasi kurikulum. Pengembangan Penilaian Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 12. yang mencakup sub-subaspek berikut. Penerapan pembelajaran di sekolah Observasi Wawancara Panduan Wawancara Panduan Observasi Lembar observasi Aspek yang dimonitor mencakup semua komponen – komponen penting mulai dari perencanaan kurikulum. Isi silabus. yang meliputi:.Aspek yang dimonitor Subaspek Teknik monitoring Bentuk instrumen Angket 11.

atau dapat diamati (observable). Di sisi lain. Kriteria atau tolok ukur hasil monitoring merupakan ukuran ketepatan. atau sarana lainnya. 4.2. kuesioner atau penilaian diri dan monitoring unjuk kerja dan sikap yang dilakukan dalam bentuk observasi saat implementasi kurikulum berlangsung. komitmen atau sikap penyelenggara dan peserta implementasi kurikulum terhadap program implementasi kurikulum. ketepatan metode implementasi kurikulum yang digunakan. jika aspek yang dimonitor berupa kinerja atau performa dari penyelenggara dan peserta implementasi kurikulum. minat dan ketertarikan peserta. serta silabus hasil karya peserta. 3. Perumusan yang samar-samar seperti ’meningkatkan mutu bahan ajar’. Terdapat beberapa jenis teknik monitoring. ketepatan indicator yang dirumuskan. Namun. Kriteria ini merupakan pedoman atau acuan bagi pemonitor untuk memeriksa ketepatan setiap aspek yang dimonitor pada setiap tahapan program implementasi kurikulum. tidak akan dapat dimonitor karena tidak jelas ukuran peningkatannya. Teknik monitoring dipilih dengan mempertimbangkan karakteristik dari setiap aspek yang dimonitor. Cara paling sederhana menentukan kriteria adalah dengan daftar ceklis. Biasanya untuk membuat efektif monitoring. maka monitoring paling tepat dilakukan dalam bentuk observasi. maka monitoring dapat dilakukan dalam bentuk tertulis misalnya berupa kuesioner. ketepatan materi yang dipilih sebagai bahan implementasi kurikulum. 5. serta dapat dicapai dengan tenggang waktu tertentu. Misalnya. kelengkapan atau kebenaran prosedur kerja dari setiap tahapan program implementasi kurikulum sesuai dengan aspek-aspeknya. kualitas isi dokumen atau peralatan. yaitu menetapkan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 50 . Apabila aspek yang dimonitor berupa kelengkapan dokumen atau peralatan. dapat dimonitor dengan metode observasi untuk melihat komitmen. komitmen fasilitator selama program implementasi kurikulum dilaksanakan. ketepatan waktu yang disediakan. Perumusan kriteria ini harus jelas. subaspek materi implementasi kurikulum penyusunan silabus dapat dimonitor dengan metode kuesioner untuk melihat kelengkapan dan isi kualitas dari dokumen silabus yang digunakan. suatu aspek dimonitor dengan menggunakan lebih dari satu teknik monitoring. yaitu teknik tertulis yang dapat dilakukan dengan wawancara tertulis. dapat diukur (measurable).

walaupun analisis kualititatif juga sangat penting untuk dicermati. Kebanyakan orang lebih tertarik dengan analisis kuantitatif. hasil montoring sudah harus dapat dijadikan sebagai masukan perbaikan implementasi kurikulum sejak tahapan implementasi kurikulum dimulai. cukup berhasil. tepat atau tidak tepat. Hasil analisiis data digunakan untuk memvalidasi program penyelenggaraan implementasi kurikulum dan kesesuaiam dengan potensi dan kebutuhan implementasi kurikulum. Apapun metode analisis yang digunakan. 3. cukup tepat atau tidak tepat.apakah setiap aspek dilakukan atau tidak dilakukan. Data juga akan dianalisis secara kuantitatif dengan pendekatan descriptive statistically analysis untuk mendeskripsikan berbagai aspek variabel yang diperoleh dari temuan selama implementasi kurikulum. Yang penting diperhatikan bahwa hasil monitoring harus menjadi umpan balik secara langsung sehingga proses implementasi kurikulum berjalan sesuai dengan track atau tujuan yang ditetapkan. kurang tepat. Untuk itu ketepatan kuantitas dan kualitas dari proses monitoring sangat menentukan hasil analisis. 4. Tingkat analisis bergantung pada detil data yang dibutuhkan dan kompleksitas permasalahan selama implementasi kurikulum. Pemanfaatan hasil monitoring. atau tidak berhasil atau dengan criteria sangat tepat. Dengan demikian. Namun ukuran ini terlalu kasar karena banyak tahapan program implementasi kurikulum yang dilakukan dengan ukuran sangat berhasil. Pengolahan dan analisis hasil monitoring dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. harus menjawab pertanyaan apakah program implementasi kurikulum telah berhasil dan efektif dilakukan sesuai tujuan implementasi kurikulum. yang selanjutnya juga menentukan apakah tujuan implementasi kurikulum telah tercapai. sangat setuju atau tidak setuju. mereka biasanya ada yang setuju. Pengolahan dan analisis hasil monitoring. Data yang diperoleh dari hasil monitoring perlu dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan content analysis untuk membandingkan berbagai temuan yang memiliki karakteristik berbeda-beda dan narrative analysis untuk melihat kohorensi temuan atau informasi dari tanggapan para stakeholder program implementasi kurikulum. Demikian juga apabila kita minta pendapat peserta tentang program implementasi kurikulum. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 51 .

yaitu agar praktek pelaksanaan program implementasi kurikulum sesuai dengan perencanaan. 3. Manfaat proses monitoring lainnya adalah: 1. memberi motivasi bagi peserta dan pelaksana pendidikan untuk melaksanakan program implementasi kurikulum secara optimal. Dengan demikian. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 52 . manfaat pokok dari proses monitoring adalah mengendalikan pelaksanaan program implementasi kurikulum berlangsung secara efisien dan sukses sesuai dengan tujuan. mendorong semua pihak dalam program implementasi kurikulum lebih berdisiplin dan bertanggung jawab.Seperti yang telah dikemukakan di muka bahwa tujuan monitoring atau pemantauan adalah untuk menjamin suatu kegiatan atau program implementasi kurikulum tetap on the track sesuai dengan tujuan program yang telah ditetapkan. hasil analisis monitoring dapat digunakan sebagai bahan evaluasi secara menyeluruh untuk meningkatkan kualitas program implementasi atau penerapan kurikulum oleh satuan pendidikan. 2.

melakukan monitoring. Instrumen yang disusun berbentuk tes. penyusunan dan presentasi rekomendasi mengenai hasil kegiatan keseluruhan. metodologi. workshop. Selain itu. (1) Penyusunan desain Desain ini merupakan master plan yang disusun untuk dijadikan pedoman atau acuan dalam kegiatan monitoring yang meliputi: latar belakang dan tujuan monitoring. ruang lingkup. 22 dan 23 tahun 2006 tentang Standar Isi dan SKL oleh satuan pendidikan. penyusunan dan presentasi rekomendasi. pelaksanaan kegiatan. pengembangan desain. hasil monitoring ini dilakukan sebagai bahan pertimbangan dalam merekomendasikan perencanaan dan pelaksanaan penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan agar lebih efektif dan efisien pada satuan pendidikan dasar dan menengah. Penyusunan desain dilaksanakan dalam bentuk workshop. A. rapat kerja dan koordinasi. hasil yang diharapkan. dan stakeholder lain yang relevan. rapat kerja dan diskusi fokus yang melibatkan berbagai nara sumber perguruan tinggi. pengembangan instrumen.BAB III METODOLOGI Pendekatan dalam monitoring ini bersifat descriptive-explanatory berbentuk studi (survey) dengan menggunakan data kualitatif dan kuantitatif yang digunakan secara seimbang dan saling melengkapi untuk melihat profil pencapaian satuan pendidikan dalam penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan pada tingkat propinsi. pengolahan hasil monitoring. kerangka berpikir atau landasan teori. (2) Pengembangan instrumen Instrumen dikembangkan dan disusun untuk menjaring atau mendapatkan data dan informasi kualitatif dan kuantitaif mengenai pencapaian pelaksanaan Permendiknas No. diskusi fokus. Sumber data yang digunakan adalah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 53 . pedoman wawancara. STRATEGI MONITORING Kegiatan ini dilakukan melalui berbagai metode dalam bentuk studi dokumen. analisis hasil monitoring. pedoman observasi situasi dan pelaksanaan pembelajaran. sebagai berikut. praktisi pendidik dan tenaga kependidikan. kuesioner.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 54 . Mekanisme satuan pendidikan dalam menyusun dan melaksanakan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan daya dukungnya. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan pada setiap propinsi. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan Rapat kerja ini juga untuk mengatur koordinasi dalam pelaksanaan monitoring sehingga diperoleh cukup data dan informasi kualittaif dan kuantitatif yang akurat dan aktual tentang pencapaian penerapan dan pelaksanaan Permendiknas No. 22. Hal-hal yang harus dilaksanakan dan dicapai satuan pendidikan seperti yang dituntut dalam Permendiknas No. Peran pemerintah kabupaten/kota/propinsi dalam mendukung pelaksanaan Permendiknas No. pemerintah. guru. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan d. 22. Peran pemerintah (Depdiknas dan departemen lain terkait) dalam merumuskan kebijakan untuk mendukung pelaksanaan Permendiknas No. Pelaksanaan monitoring mengacu pada pedoman monitoring yang mengatur tentang: kriteria petugas pelaksana monitoring. dikombinasikan dan dilakukan secara terpadu (terintegrasi) agar proses monitoring dapat berjalan secara efisien dan sesuai sasaran dan kebutuhan. c. dinas pendidikan. 23 dan 24 tahun 2006 Rapat kerja ini terutama untuk menentukan kesamaan persepsi dan pemahaman berbagai pihak pengelola pendidikan dari unsur sekolah. kelengkapan jumlah dan jenis intrumen. 23 dan tahun 2006 tentang: a. Instrumen yang telah disusun diujicoba secara terbatas untuk memvalidasi keterbacaan dan kesesuaiannya dengan tujuan monitoring (3) Rapat koordinasi membahas implikasi Permendiknas No. pengawas sekolah. metode penggunaan instrumen dan sumber data yang diperlukan. (4) Pelaksanaan monitoring Monitoring dilakukan dengan menggunakan instrumen-instrumen yang dikemas. 22 dan 23 tahun 2006 b. dan kelengkapan data dan informasi yang diperlukan sebagai hasil monitoring serta hal-hal lain yang ditemukan selama pelaksanaan monitoring. dan pihak lain mengenai implikasi Permendiknas No. orangtua. dan dinas pendidikan kabupaten/kota/ propinsi. serta dokumen yang relevan.siswa. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lain.

B. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi kepala sekolah. dan pedoman observasi. (6) Rekomendasi kebijakan kurikulum Rekomendasi atau saran kebijakan kurikulum disusun berdasarkan analisis hasil monitoring meliputi rekomendasi bagi satuan pendidikan dan komite. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan pada seluruh propinsi. tindakan kebijakan oleh pemerintah dan stakeholder terkait. 22 dan 23 tahun 2006. PENGEMBANGAN INSTRUMEN Instrumen disusun dan digunakan untuk mengukur atau mendapatkan data dan informasi pencapaian pelaksanaan Peremndiknas No. Observasi digunakan untuk mengamati unjuk kerja (kinerja) pada saat pembelajaran di sekolah maupun obaservasi situasi dan kondisi pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan yang memuat aspek – aspek yang akan dilihat saat monitoring dilakukan. supervisi atau pembinaannya oleh pengawas sekolah. Metode wawancara dapat dilakukan secara tertulis ataupun langsung dengan mengacu pada panduan wawancara. potret atau profil tingkat pencapaian dan efektifitas penerapan atau pelaksanaan Permendiknas No. bentuk pembinaan oleh dinas kabupaten/kota/propinsi.(5) Analisis Hasil Monitoring Data dan informasi hasil monitoring dan kajian dokumen pendukund yang relevan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan gambaran. Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan penyusunan rekomendasi kebijakan dalam penyusunan dan pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan dan evaluasu. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan. Bentuk Instrumen yang dikembangkan dalam monitoring ini berupa kuesioner. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 55 . dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi dan pemerintah. guru. komite sekolah maupun dinas pendidikan di daerah. perlu dibuat laporan beserta hasil-hasilnya pada tiap langkah kegiatan. (7) Penyusunan laporan Sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan secara keseluruhan. dalam mengefektifkan pelaksanaan Permendiknas No. pedoman wawancara.

Penilaian diri merupakan salah satu bentuk kuisioner yang khusus untuk melakukan evaluasi diri tentang komitmen Penilaian diri cukup bermanfaat untuk dilakukan karena pelaksana diklat akan lebih jujur mengungkapkan pendapatnya tentang pelaksanaan program diklat. atau pernyataan sikap. pengawas. Kuesioner dengan jawaban (options) tertutup mudah dianalisis tetapi tidak memberi peluang responden memberi tanggapan lain yang mungkin sangat berguna. komite. dan orang tua.Metode kuesioner disusun dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan tertulis yang telah disiapkan yang dapat berbentuk pertanyaan dengan jawaban tertutup. kegunaan informasi yang dijaring. Selain itu. dan sarana pendukungnya. TEKNIK ANALISIS DATA Analisis data yang digunakan adalah content analysis berupa studi dokumen untuk membandingkan berbagai temuan yang memiliki karakteristik berbeda-beda dan narrative analysis untuk melihat kohorensi temuan / informasi dari dokumen ataupun tanggapan para responden yang berkaitan dengan ketersediaan buku-buku pelajaran dan kesesuaiannya dengan kurikulum. D. dan SMP/MTs. kepala sekolah. 22 dan 23 tahun 2006. Walaupun perlu dilakukan kroscek atau verifikasi dengan sumber data yang lain untuk mendapat informasi yang lebih otentik. Pada masing-masing propinsi akan dilakukan monitoring pada tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang meliputi pendidik. dan keakuratan jawaban. orangtua. juga digunakan descriptive statistically Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 56 . guru. Dalam pengembangan kuesioner memperhatikan aspek kepraktisan. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Populasi dalam monitoring ini adalah unsure dari satuan pendidikan dasar dan menengah dan komitenya serta dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi pada 33 propinsi. Aspek lain yang tidak mungkin dimonitor melalui kuesioner dapat dimonitor melalui observasi atau teknik monitoring lainnya. tenaga kependidikan. Direncanakan keseluruhan responden monitoring pada setiap propinsi melibatkan siswa SD/MTs. terbuka. siswa. Kuesioner dengan jawaban terbuka memberi peluang pada responden menyatakan pendapatnya secara bebas tetapi memerlukan waktu untuk menganalisis. Monitoring pada tingkat dinas penddikan kab/kota/propinsi meliputi ketenagaan dan program kerja dalam mendukung pelaksanaan Permendiknas No. C. Dinas pendidikan. Teknik sampling dilakukan secara multi-stages dengan mengkombinasikan sistem cluster samples dan purposive samples.

namun karena semua responden berasal dari ibu kota provinsi. Responden yang berlatar belakang pendidikan SLTA adalah staf teknis yang hadir mewakili atasannya. 2. E. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 57 .0%). hasil monitoring dapat dijadikan sebagai barometer (memprediksi) bagaimana kondisi di luar ibu kota provinsi.4% yang masa kerjanya 10 tahun ke bawah. dan sekolah-sekolah yang berada di ibukota provinsi.7 berpendidikan sarjana strata 2. Sebagian besar (53.7%). dan 19.9 sarjanan strata 2.3% responden kepala sekolah berpendidikan sarjana strata 1. sarjana strata 2 (18.4 masih berpendidikan diploma.5) responden mengaku belum pernah ikut sosialisasi.8) menyatakan ikut sosialisasi kurang dari seminggu. 1. SLTA (13. 11. Dinas Pendidikan Sebagain besar responden yang berasal dari pejabat struktural Dinas Pendidikan berlatar belakang pendidikan sarjana strata 1 (64. PROFIL RESPONDEN Responden yang dilibatkan dalam monitoring ini berasal dari dinas pendidikan provinsi. serta 2. Dari responden yang mengikuti sosialisasi. umumnya (97. 84.5%). untuk memperkirakan 1. data yang diberikan belum mewakili daerah-daerah di luar ibukota provinsi. Sedangkan guru. 80.analysis untuk mendeskripsikan berbagai aspek variabel yang berkaitan dengan bukubuku pelajaran.2% sarjanan strata 3. dan hanya 14. Responden dipilih secara acak. dan diploma (3. Lebih separoh (58. Sekolah Responden yang terdiri atas kepala sekolah dan guru dengan latar belakang pendidikan sebagian besar sarjana.8%).9%) telah memiliki masa kerja antara 21-30 tahun. Namun demikian. dinas pendidikan kota di ibu kota provinsi.5% adalah sarjana starta 1.

Sedangkan guru yang menjadi responden monitoring ini lebih separo (57. 13.6% di antara kepala sekolah berasal dari SM/MA dan 42.1%) memiliki pekerjaan berwiraswasta. Selebihnya (30. Tidak ada yang berlatar belakang pendidikan SD. 57.6% diploma. 3. 7.6% dengan masa kerja 10 tahun ke bawah.7%. Hal ini disebabkan belum optimalnya koordinasi antara Dinas Pendidikan Provinsi dengan Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 58 . dan dosen 5.4% dari SMK.8% dengan masa kerja 21-30 tahun.5% kepala sekolah yang menjadi responden memiliki masa kerja 11-20 tahun. Komite/Orang Tua Siswa Lebih dari separoh (69%) responden yang berasal dari orang tua/komite berpendidikan sarjana strata 1.3%). dan hanya 6. BAB IV PEMBAHASAN HASIL MONITORING A. 48.8% di bawah 10 tahun. 16. dan 5.1%) memiliki masa kerja 11-20 tahun.3 % antara 21-30 tahun. Pengembangan dan Penerapan KTSP secara Nasional Informasi tentang pengembangan dan penerapan KTSP secara nasional menggunakan sumber data yang diperoleh dari dinas pendidikan propinsi. dan 41. 37. 8.8%). lebih separoh responden guru berasal dari SMA/MA (58.6 % sarjana strata 2. Tim studi belum bisa mendapatkan data kuantitatif pelaksanaan KTSP oleh satuan pendidikan pada tingkat propinsi karena propinsi belum memiliki data rincinya dari kabupaten/kota maupun dari sekolah di wilayahnya.1 % yang memiliki masa kerja di atas 31 tahun.3% SLTA. Sebagian besar dari mereka memiliki pekerjaan tetap sebagai pegawai negeri sipil dengan rincian sebagai berikut: karyawan PNS sebanyak 41.Berdasarkan masa kerjanya.7% berasal dari SMK. Keadaan ini hampir sama dengan guru.6%. 29. guru (27.

setiap pergantian kebijakan tentang kurikulum sangat dirasakan bahwa proses sosialisasi kurang optimal. (2) sasarn sosialisasi di masing-masing daerah. Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Bengkulu Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Selatan Lampung Kepulauan BangkaBelitung Kepulauan Riau Banten Jawa Barat 21 25 9 10 11 19 14 10 7 7 6 25 21 25 9 10 11 19 14 10 7 6 6 25 1 2 1 1 1 2 1 1 2 2 1 3 V V V V V V V V V V V V V V V V V V v - v v V V V V V V V - - Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 59 . Data yang yang diambil adalah (1) jumlah daerah yang telah melakukan sosialisasi di tiap provinsi. Kegiatan-kegiatan yang bersifat mandiri yang dilaksanakan oleh masing-masing Kabupaten/Kota melalui MGMP atau tidak semuanya terpantau oleh Dinas Provinsi. 2. 10. SKL dan KTSP pada tiap propinsi No Provinsi Jumlah kab/ kota Kab/Kota yang sudah sosialisasi Frekuensi Kegiatan Puskur Penyelenggara PUSAT Ditjen Mandikdasmen LPMP/PMPTK DAERAH Dinas pddk Dinas Provinsi Pddk Kab/kota 1. Untuk itu data yang digunakan adalah data kualitatif mengenai pengembangan dan penerapan KTSP yang bersumber dari persepsi dinas propinsi. 3. 5.pendidikan Kabupaten/Kota dalam hal pendataan. 7. demikian juga kegiatan yang dilakukan oleh sekolah-sekolah dengan memanfaatkan dana swadaya. 8. 9. 4. Akibatnya. Atas dasar pengalaman tersebut. Pelaksanaan Sosialisasi di Setiap Provinsi Berdasarkan pengalaman yang lalu. 12. pelaksanaan monitoring pada tahun 2007 ini diawali dengan melihat proses sosialisasi di masing-masing provinsi. terutama terkait dengan pelaksanaan KTSP. 1. Para pejabat struktural maupun staf teknis di Provinsi hanya bisa memberikan gambaran tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan melalui kegiatan provinsi. tingkat pemaham pelaksana dilapangan kurang memadai. Kegiatan-kegiatan seperti ini cukup banyak dilakukan karena di beberapa daerah karena mereka sangat proaktif. baik Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota maupun sekolah. 6. 11. Berikut gambaran secara umum pelakasanaan sosialisasi di masing-masing provinsi. Tabel 1 : Gambaran jumlah kabupaten/kota yang sudah mendapat sosialisasi atau workshop SI.

34. DKI. 23. 25. 14. 17. dan dana APBN yang ada di Dinas Pendidikan Provinsi serta APBD provinsi. 22 dan 23 tahun 2006 tentang SI (standar isi) dan SKL (standar kompetensi lulusan). 30. yaitu kegiatan yang dilakukan melalui pembiayaan APBN. 20. 27. Tabel di atas juga menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan oleh langsung oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota hampir tidak terpantau oleh Dinas Pendidikan Provinsi. 33. Kegiatan yang menggunakan biaya APBD Kabupaten/Kota atau swadaya sekolah umumnya tidak dilaporkan ke Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 60 . 31.13. seperti yang terlihat pada table di atas. hal ini bukan berarti daerah lain tidak melaksanakan. 32. data yang ada di Dinas Pendidikan provinsi. Menurut prediksi Dinas Pendidikan provinsi. 16. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada keharusan bagi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau sekolah untuk melaporkan pelaksanaan kegiatan sosialisasi yang dilakukan secara swadaya atau melalui APBD tingkat II. 29. 26. 15. umumnya data kegiatan sosialisasi yang melibatkan Dinas Pendidikan Provinsi. 18. sosialisasi pada umumnya adalah unit Pusat dan Daerah Penyelenggara Pendidikan (Dinas Propinsi/Kab/Kota). 28. 21. hampir semua daerah telah melakukan sosialisasi secara mandiri. Oleh karena itu. Meskipun pada tabel di atas terlihat bahwa hanya 4 kabupaten/kota yang melaksanakan kegiatan sosialisasi. tetapi belum ada laporan resmi sehingga Dinas Pendidikan Provinsi tidak memiliki data tentang itu. 22. 24. 19. Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Daerah Istimewa Yogyakarta Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Gorontalo Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Irianjaya Barat Papua (Irianjaya) Total 6 35 38 5 9 9 16 12 13 14 13 5 23 10 10 9 6 8 8 9 20 442 6 35 38 5 9 9 16 12 13 14 13 5 23 10 10 9 5 8 8 9 20 440 4 3 4 2 2 2 2 1 2 2 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 V V V V V V V V V V V V V V V V - V V V v v v V v v v v V V V V V V V V - V V V v v v v v v v v v v v v v - v V V v - Dari tabel jelas bahwa secara keseluruhan semua kabupaten/kota telah mendapatkan sosialisasi atau workshop tentang kebijakan dan penerapan Permendiknas No. seperti yang dilakukan oleh Diraktorat terkait.

e. Penerapan KTSP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 61 . Sasaran Sosialisasi a. d. g. sosialisasi juga dilakukan terhadap organisasi profesi pendidikan lain berikut ini. KKKS (kelompok kerja kepala sekolah).Pendidikan Provinsi. Hal ini mungkin disebabkan sekolah masih menganggap tingkat keprofesionalan orangtua masih bervariasi. Padahal secara kebijakan. c. mereka telah ikut di beberapa kegiatan seperti yang digambarkan pada tabel berikut: Tabel 2 : Organisasi Profesi dan Unit terkait yang menjadi sasaran ssosialisasi SI. pengembangan KTSP disusun bersama oleh pihak sekolah dan komite sekolah. Hal ini mengibatkan Tim Monitoring kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang kabupaten/kota atau sekolah mana saja yang telah melakukan sosialisasi secara mandiri. Jelas bahwa unit yang terlibat dalam sosialisasi sudah mewakili keseluruhan stakeholder pendidikan. orangtua sudah menyerahkan urusan ini ke sekolah.1 63. b.9 21. tampaknya peran komite sekolah masih dianggap kecil (26. Menurut Dinas Propinsi belum ada pihak terkait lain seperti perusahaan penerbitan buku pelajaran. Selain sekolah.3 26. atau lembaga profesional lainnya yang cukup partisipasif dalam program KTSP ini. dan KTSP.3%) dalam pelibatan pengembangan KTSP. atau pemahaman pengembangan KTSP yang perlu dipertajam.3 Dari tabel tersebut jelas bahwa sasaran utama sosialisasi atau workshop KTSP adalah sekolah ditambah gugus sekolah (kelompok sekolah). Namun. LSM Pendidikan.7 26.2 36. Hal ini mungkin disebabkan belum meluasnya sosialisasi dan mungkin penyelenggaraan oleh lembaga profesional lain tidak terpantau oleh Dinas. Menurut responden. f. 2. dewan pendidikan dan komite sekolah. Perusahaan swasta/BUMN. pengawas sekolah. MGMP (musyawarah guru mata pelajaran). MGMP KKKS PGRI Organisasi Pengawas Yayasan Dewan Pendidikan Komite % 78.9 78. baru kemudian yayasan. SKL.

dan yang menyatakan intensif hanya (15. Hal yang perlu dicermati hádala. dalam arti. mereka menyebut menyusun sendiri tetapi secara bersama di gusus. Lebih separoh daerah Kondisi (57. Untuk kategori ini. beberapa sekolah menyusun sendiri. belum menjadi prioritas (26. Beberapa sekolah menyusun di bawah koordinasi dinas dengan menggunakan tim pengembang dari dinas. mengadaptasi. d. e. adaptasi dan sebagainyaP . Dalam pengembangan KTSP. umumnya sekolah-sekolah menyusun sendiri KTSP ( 73. Satuan pendidikan menyusun sendiri mengacu SI. dan pada bagianbagian tertentu diadopsi. Menurut pemantauan Dinas Propinsi.9%) menyatakan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 62 .8 26. masih cukup banyak sekolah yang baru pada taraf mempelajari kebijkan KTSP dan menggunakan kurikulum sebelumnya. dan bahkan ada yang menyusun secara bersama-sama beberapa sekolah. Berikut secara lengkap informasi tentang proses penyusunan KTSP menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi (mulai dari yang frekuensinya tinggi.3% Total persentase respon melebihi dari 100% karena umumnya responden menjawab lebih dari satu pilihan. lainya tidak memberikan jawaban (26. b. menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi. menggunakan tim. f. c.9 26. sebagian besar penerapan KTSP pada tiap kabupaten/kota selama tahun 2006 belum intensif (31.3 57. Banyak guru yang belum siap menyusun silabus sendiri. serta menyusun senidiri.3%).3%). penyusunan KTSP oleh sekolah dilakukan dengan metode kombinasi melalui koordinasi.6%). sehingga ada yang mengadopsi. namur terbatas pada beberapa bagian saja.3 42.1 36. Ada unsur adopsi dan adaptasi. jawaban boleh lebih dari satu). Ada yang menyatakan bahwa KTSP disusun oleh sekolah di bawah koordinasi Dinas pendidikan.Dalam hal penyusunan KTSP. misalnya mengenai seilabus.8 15. serta mengadaptasi dan mengadopsi model kurikulum. tersebut berbeda dengan tahun 2007. Tabel 3 : Penusunan KTSP oleh Satuan Pendidikan Penyusunan KTSP a.8%).7%). sehingga silabusnya sama. SKL dan model kurikulum KTSP KTSP disusun oleh sekolah dengan koordinasi Dinas Pendidikan KTSP disusun oleh tim yang dibentuk oleh Dinas Pendidikan Satuan pendidikan mengadaptasi model kurikulum KTSP dari pusat Satuan pendidikan mengadopsi atau menggunakan model kurikulum KTSP dari pusat Masih pada taraf sosialisasi dan mempelajari perangkat dokumen Masih menggunakan kurikulum sebelumnya % 73. g.

7%). c. Umumnya sekolah yang menerapkan secara kelseluruhan adalah sekolahsekolah yang sudah melaksanakan piloting KBK (2004). Pada umumnya sekolah mulai menerapkan KTSP pada awal tahun pelajaran 2007 secara bertahap (73. Beberapa alasan yang dikemukakan oleh daerah. mengapa intesitas penerapan KTSP masih beragam. b. Faktor yang paling mentukan keterlaksanaan KTSP menurut pernyataan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 63 . rata-rata melaksanakan secara bertahap. sosialisasi dan workshop KTSP yang mulai meluas dan tingkat pemahaman KTSP yang membaik bagi seluruh stakholder. Tingkat kesadaran dan komitmen sekolah untuk mengembangkan dan menerapkan KTSP cukup tinggi.6%). diantaranya adalah: menunggu sampai 2009 (batas akhir yang diberikan oleh pemerintah untuk menerapkan KTSP). Alasan lain adalah kurangnya dana pendukung untuk penyusunan KTSP. d. 10% menyatakan sangat baik.8 73. Tentang kondisi yang berkaitan dengan pelaksanaan KTSP. Ini menunjukkan KTSP telah menjadi program dengan prioritas bagi tiap propinsi/kabupaten/kota. dan sebagian lagi menyatakan bahwa masih perlu waktu untuk melakukan sosialisasi di kalangan warga sekolah dan masyarakat karena sebagian besar di antara warga sekolah dan masyarakat belum memahami kebijakan tentang KTSP ini. Tabel: 4 Proses penerapan KTSP Proses/Tahapan a. Telah menerapkan secara efektif pada seluruh kelas dengan silabus dan RPP yang disusun sendiri Telah menerapkan secara efektif pada seluruh kelas dengan silabus dan RPP yang diadopsi Telah menerapkan secara bertahap Masih menggunakan kurikulum sebelumnya % 31.6 36. dan 26.3% yang menyatakan kurang. Sebanyak 15.kabupaten/kota mulai menerapkan KTSP secara intensif.8% daerah menyatakan kabupaten/kota belum menempatkan penerapan KTSP sebagai prioritas.3% responden tidak memberikan jawaban. Berkaitan dengan hal ini. sebagian besar daerah memprogramkan mulai tahun 2007 menerapkan KTSP.Jadi.7 31. Sebagian sekolah (36. dan hanya 5. peningkatan prioritas program KTSPdisebabkan oleh tuntutan bahwa tahun 2009 KTSP harus sudah diterapkan menyeluruh pada setiap satuan pendidikan. melihat sekolah yang terdekat dengan mereka agar dapat secara bersama-sama menyusun KTSP.6 Tabel di atas menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil sekolah yang masih menggunakan kurikulum sebelumnya (31. sebagian besar daerah menyatakan sudah cukup baik (84.8%) telah menerapkan secara efektif di semua kelas.2%).

3 C 52. kesiapan guru berkaitan dengan pengembangan dan penerapan KTSP oleh sekolah cukup memadai.1 37.7 73. Namun yang perlu dicermati dan ditingkatkan kompetensi guru Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 64 . dan model KTSP (94.1 21. h.8 5.3 26. Keberhasilan program KTSP sangat ditentukan oleh sumberdaya pendidik dan tenaga kependidikan.5 10.3 26.8%).5%).7 68.9 47. orang tua dan masyarakat (10.3 26.3 26.3 15. 4.5 5. silabus. SKL dan model KTSP sudah tersedia pada tingkat kabupaten/kota.4%). akses informasi oleh satuan pendidikan tentang kebijakan KTSP seharusnya mudah.5 5.8 19. kecuali dalam pengembangan bahan ajar mandiri Lebih lengkap informasi tentang kesiapan guru dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel: 5 Kesiapan Guru dalam Pengembangan dan Penerapan KTSP SMA (%) Aspek a.3 10.9%). c.Dinas pendidikan Provinsi adalah guru (78.8 10. menurut informasi dari Dinas Pendidikan. Kualifikasi akademik Penguasaan isi mata pelajaran Menyusun kurikulum (KTSP) Menyusun silabus Menyusun RPP Menilai kualitas kurikulum. silabus dan RPP Mengembangkan alat penilaian berbasi kompetensi Menyusun bahan ajar (LKS dsb) Membuat sumber belajar mandiri S 21.10%).6 K 15. Dokumen SI.2 57. penguasaan mata pelajaran.3 5.9 73.1 15.4 S 26.6 47. b.3 10.5 10.7 78.5 10. penyusunan kurikulum.9 63.1 21.8 15.4 63.8 10.9 68.7%). Perlu dilakukan berbagai upaya komunikasi interaktif dan komitmen sekolah dan Dinas melalui hubungan langsung. d. i.9 68. g.2 52.4 K 26.3 31. dan RPP.5 15.3 5. Keberadaan Dokumen SI dan SKL Menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi.4 63.1%). Sebagian besar menyatakan ketersediaan dokumen cukup memadai (52. e.8 15.6 57. umumnya kabupaten/kota sudah mendaptkan dokumen SI. Hal ini mennjukkan perlu adanya komitmen manajemen yang profesional pada tingkat sekolah untuk mengembangkan dan menerapkan KTSP 3.2 57.5%.6%) dan kurang memadai (15.9 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum guru telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik.5 SMK (%) C 57.5 5. SKL.4 73.6 31. dan yang menyatakan sangat memadai hanya 10.8 15. siswa (21.3 10. Sebagian responden menjawab gabungan antara siswa dan orang tua (20.8 15. ini berarti. f. serta pemanfaatan teknologi informasi agar sekolah terbantu dalam mengembangkan dan menerapkan KTSP. sarana dan prasarana (47. Kesiapan Sekolah dalam melaksanakan KTSP: Secara umum.2 63.

modul maupun referensi lainnya juga perlu dipertimbangkan karena guru lebih bergantung kepada penerbit buku Kesiapan kepala sekolah dalam pengembangan dan penerapan KTSP. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 65 . menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut. Pengembangan bahan ajar yang meliputi buku teks. seorang guru harus melakukan penilaian secara profesional dan dapat dipertanggungjawabkan. pengembangan bahan ajar serta pengembangan sumber belajar mandiri.adalah dalam melakukan pengembangan penilaian berbasis kompetensi. padahal dalam KTSP. Tampaknya guru belum konfiden dalam mengembangkan alat penilaian walaupun itu sudah dijalani sehari-hari.

9 47. penyusunan kurikulum.3 5.5 C 42.9 68.6 15.1 21.3.7 S 31.8 36.6 36. dan RPP.2 68. menilai kualitas kurikulum. e.6 36.3 15. Gaya Kepeminpinan kepala sekolah juga perlu ditingkatkan untuk mengelola guru dan tenaga lain dalam pengembangan KTSP. 5.4 68.1 5. f. e.8 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum kepala sekolah telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik.8 26. menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut.6 31.6 31.9 63.1 94.3 C 42.1 63.8 10. Kualifikasi akademik Menyusun kurikulum (KTSP) Menilai kualitas kurikulum.3 5.7 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum pengawas sekolah telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik (namun ini masih perlu ditingkatkan. b.3 10. Pada jenjang pendidikan dasar.8 21.8 SMK C 57.1 5.Tabel 6 : Kesiapan Kepala Sekolah SMA Aspek a. namun tidak mendalam pada tingkat detil kurikulum maupun silabus mata pelajaran.6 15. silabus. Kualifikasi akademik Menyusun kurikulum (KTSP) Menilai kualitas kurikulum.4 68. d.4 K 21.8 36.3 5.5 15. Program peningkatan kompetensi pengawas dapat berbentuk Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 66 . c.4 57.6 15.3 S 21. Tabel 7 : Kesiapan Pengawas SMA Aspek a.1 52.1 26. penguasaan mata pelajaran.6 94.8 10.9 63. penyusunan kurikulum. b. karena angkanya baru 47.2 57. Yang perlu dicermati dan ditingkatkan kompetensi kepala sekolah adalah walaupun secara umum kepala sekolah berkompeten dalam pengembangan kurikulum.8 5.6 K 26.3 26.5 15.2 K 31. membantu masalah guru dalam pengembangan silabus dan RPP (namun ini masih ditingkatkan karena angkanya baru 47.9 K 15. c.1 26. Tentang kesiapan pengawasa sekolah.3 5.4 68.3 21. silabus.9 31.3 29. silabus dan RPP Membantu masalah guru dalam menyusun silabus dan RPP Mengelola guru dan tenaga kependidikan menyusun KTSP Membina guru dalam melaksanakan pembelajaran S 31.9 57. serta mengelola guru dalam pengembangan KTSP.6 63. f.2 57. silabus dan RPP Membantu masalah guru dalam menyusun silabus dan RPP Mengelola guru dan tenaga kependidikan menyusun KTSP Membina guru dalam melaksanakan pembelajaran S 26.4 52.3 5.4%).5 15. d. penguasaan ini secara umum masih diperlukan.3 26.4%).4 68.6 57.3 10.3 SMK C 52.8 21. dan RPP.

5 10.1 21. Perlu juga ditingkatkan program mandiri pengembangan alternatif sarana. Blockgrant. 47. 5. artinya sarana-sarana yang tidak tersedia atau rusak. maupun sumber lainnya yang sah. silabus dan RPP dengan melibatkan berbagai sekolah. Ini berarti peran pengawas harus ditingkatkan fungsinya dalam pembianaan substansial sekolah mulai dari pengembangan kurikulum sampai pelaksanaan pembelajaran. Sarana dan Pendanaan Hampir separoh responden menyatakan sarana dan prasarana sekolah sebagai pendukung KTSP masing kurang memadai (47.9 63.5 Lain nya 21. Berikut tabel tentang sumber pendanaan sosialisasi KTSP: Tabel : 8 Sumber Pendanaan KTSP Tahun 2006 (dlm juta rupiah) Jenis Sosialisasi / Workshop APBD a.2 15. SKL dan KTSP Workshop /pengembangan KTSP. Hal dimungkinkan karena berbagai hal yaitu: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 67 .1 36.1 78.6 Dari tabel tersebut jelas bahwa program KTSP melibatkan berbagai sumber mencakup dana APBD. KKG. silabus dan RPP pada sekolah tertentu secara bertahap Pengembangan kompetensi guru melalui uji kompetensi.9 63.2 d. tidak sekedar memeriksa adminstrasi kurikulum dan pembelajaran di sekolah.6 63.5 - 15.4 57.8 21.8 15. 10.5 10. sekolah dapat mengembangkan sendiri alternatif sarana yang tersedia dari lingkungan sekolah.5 Block Grant 21.3 15.4 31. - 5. Perlu dicermati di sini.6 57.1 Tdk Mjwb 47. Berkaitan dengan pembiayaan. kebutuhan dan karakteristik sekolah dan peserta didik. umumnya responden menyatakan bahwa penerapan KTSP berdampak pada penyediaan dana. Sosialisasi SI.7 21.8 73. Perlu dikritisi di sini bahwa pengembangan dan penerapan KTSP harus disesuaikan dengan kondisi. banyak responden justru memilih tidak menjawab.2 52.3 % yang menyatakan sangat baik. Ini berarti.3%).1 10.1 - 15.6 Tdk Mjwb 52. diklat atau tugas belajar Penyediaan dan pemeliharaan prasarana dan sarana pendidikan 10.5 - 21.5 Block Grant 10.9 Tahun 2007 (dlm juta rupiah) APBD 10. e.9 c.8 10.4% menyatakan sangat baik. serta membina guru dalam melaksanakan pembelajaran. bagi sekolah dengan sarana dan prasarana kurang memadai perlu mengembangkan KTSP yang sesuai dengan sekolah tersebut dan dapat dilaksanakan oleh sekolah tersebut. MGMP dsb Workshop pendampingan pengembangan KTSP.workshop pengembangan kurikulum.5 Lain nya 26. dan hanya 5. potensi. Umumnya sekolah menyediakan dana dari anggaran belanja sekolah. b.

5 15. dan pendapingan satuan pendidikan dalam mengembangkan KTSP. 33/MPN/SE/2007 tentang Pembentukan Tim Sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 68 .3 15. 36.8 2 15. b.8 c.1 Dari tabel tersebut jelas bahwa prioritas pertama Dinas Propinsi dalam program KTSP adalah melakukan koordinasi tingkat internal.3 36. ditetapkan berbagai prioritas. workshop.8 36.5 15. sebagian besar (73. Tabel: 9 Urutan Prioritas Kegiatan Jenis Program 1 a. Program Sosialisasi yang Berkelanjutan Menurut Dinas Pendidikan Provinsi.8 5. Prioritas utama adalah melakukan koordinasi program dengan kabupaten/kota (52.6%). maupun pendampingan satuan pendidikan untuk mengembangkan KTSP.3 ksg 10. 6. dan tidak bersedia menjawab.5 26. SKL. penyediaan dokumen SI.8 5. terutama koordinasi dengan kabupaten/kota. Tampaknya koordinasi menjadi hal penting karena dengan adanya otonomi daerah. Melakukan koordinasi program dengan kab/kota Melakukan pendataan pencapaian penerapan KTSP pada tiap kab/kota Melakukan workshop pengembangan KTSP dan program supervisi klinis dengan kab/kota Melakukan supervisi klinis langsung ke sekolah-sekolah terpilih Penyediaan dokumen SI. SKL dan model KTSP 52.6 36. Untuk merealisasikan program tersebut. 26. dengan dinas kabupaten/kota dan dengan pusat.8 10.8 d.pengetahuan responden yang rendah dalam masalah anggaran (hanya fokus pada program/kegiatan yang dijalankan).1 15.3 - 10. workshop pengembangan KTSP dan supervisi klinis ke kab/kota dan 7.5 21.7%) kabupaten/kota memiliki program sosialisasi.8 e. Tim Pengembang Kurikulum (TPK) Provinsi (a). peran ini menjadi kurang.3% yang menyatakan bahwa kabupaten/kota belum memiliki program sosialisasi. untuk Hanya 26. 36. tidak tahu.3 5.8 Angka Prioritas 3 15. Prioritas kedua adalah melakukan pendataan kuantitatif penerapan KTSP pada tingkat kab/kota. workshop. Berikut urutan priritas kegiatan di Dinas Pendidikan Provinsi. keberadaan TPK Kesiapan tim sosialisasi KTSP tingkat provinsi (sesuai dengan SE Mendiknas No.8 20.3 4 5.8 21.

dan keterlibatan relatif swasta masih kecil (21. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 69 . dan sebagian lagi digali dari sumber lain(21. Guru (84.5%). Ini dapat dipahami mengingat perubahan kebijkan kurikulum selama ini lebih bersifat adminstratif dari pada akademik. pejabat struktural dan staf dinas pendidikan (89. seperti pengawas (89. banyak daerah yang masih bingung. perguruan tinggi(63. (c) Sumber dana untuk membiayai kegiatan TPK Propinsi Dalam hal pendanaan.7 68.2%).4%) keberadaan tim tersebut telah dikukuhkan melalui Surat Keputusan Pemerintah Daerah.1%).1%) misalnya APBS.7 %) telah membentuk Tim Pengembang Kurikulum. keterlibatan unsur di luar sekolah (pejabat struktural dan staf teknis. yang dalam hal ini disebut Tim Pengembang Kurikulum Propinsi dalam membantu kabupaten/kota atau satuan pendidikan di wilayahnya dalam pengembangan KTSP adalah sebagai berikut. sudah mengusulkan lewat APBD (42.8 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa hampir semu provinsi (94.6 36. kepala sekolah (73. Sebagaian daerah yang tergolong proaktif. Tabel 10 : Keberadaan Tim Pengembang Kurikulum Provinsi No Keberadaan Tim TPK Provinsi 1 1.2%) telah menyusun program kegiatan yang terdiri dari program jangka panjang. Pengukuhan Tim Pengembang Kurikulum melalui Surat Keputusan 3 Program Kerja TPK Propinsi Sudah 94. pengawas) cukup dominan.2%).3 31. dan jangka pendek. Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab pengembangan profesi bagi tim pengembang kurikulum lebih cenderung didominasi oleh nuansa birokratis. dan keterlibatan perguruan tinggi dan swasta relatif lebih kecil. Dari semu daerah yang sudah membentuk Tim Pengembang Kurikulum.3%).3%). Surat Keputusan ditandatangani langsung oleh Gubernur. Pembentukan Tim Pengembang Kurikulum tingkat propinsi 2 2. (b) Anggota TPK Propinsi Tim Pengembang Kurikulum (TPK) provinsi melibatkan berbagai unsur Keanggotaan terkait.1%).Pendidikan). Pengesahan ini sangat diperlukan sebagai dasar pengajuan anggaran pembiayaan kegiatan tim pengembang kurikulum. Pada sebagian daerah.4 63. jangka menengah. dan bantuan para sponsor seperti penrbit buku. Kelihatannya. sebagian daerah mengkombinasikan antara APBD dengan APBN (10. dan sebagian besar (68.5%). umumnya (63. dan sebagian lagi ditandatangani oleh Kepala Dinas Dinas Pendidikan atasnama Gubernur.2 Belum 5.

Ini berarti. sumber acuan pengembangan KTSP telah dimiliki oleh sekolah-sekolah tersebut. Dokumen-dokumen tersebut dikemas dalam bentuk file dan direkam ke CD. 33/MPN/SE/2007 (Tentang Sosialisasi Kurikulum Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model-Model Program Khusus (PLB) Tabel di atas memberikan gambaran bahwa secara umum kepala sekolah (93. Pengembangang dan Penerapan KTSP oleh Sekolah Selain menggunakan data kualitatif dari dinas propinsi.4 92. SKL.7 42.6 41. 90. 23 tahun 2006 Permendiknas No.1 11. Namun demikian.7 9. Frekuensi kepala sekolah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 70 .9 66. Hal ini sangat memungkinan untuk mempercepat proses distribusi. banyak sekolah yang terlambat menerima informasi dan dokumen kurikulum.9 yang mulai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Permendiknas No. setiap pergantian kebijakan kurikulum.4 92. Namun terdapat perbedaan pernyataan antara kepala sekolah dan guru.7 82.2 92.1 77.6 13.7 56. pemerintah memanfaatkan teknologi komputer. ada kendala berkaitan dengan ketersediaan perangkat dan keterbatasan tenaga pengoperasion komputer.9% untuk pelaksanaan SI dan SKL) menyatakan telah memiliki. Sudah bukan hal yang aneh ketika suatu sekolah baru menerima dokumen kurikulum pada saat kebijakan kurikulum telah berganti. 24 tahun 2006 Surat Edaran Mendiknas No.1 47. Hanya saja. tim studi juga melakukan studi pengembangan dan penerapan KTSP bersumber dari pihak sekolah (sebagai sekolah sampel) yang terlibat dalam kegiatan ini.1 40. 22 tahun 2006 Permendiknas No. Kelengkapan Dokumen KTSP Berdasarkan pengalaman yang lalu. 92. dan KTSP disosialisasikan sejak tahun 2006. Berikut adalah tabel latar belakang responden yang terlibat dalam studi. setidaknya proses penyempaian informasi relatif lebih cepat. Tabel 11: Kepemilikan dan Kelengkapan Dokumen KTSP No Jenis Dokumen Sudah Memiliki (%) Kepala Guru Sekolah 93.7 90. Untuk mengantisipasi hal ini.9 70.5 89.4 % untuk SKL.7 22. Untuk daerah terpencil bisa mencapai 5 – 10 tahun.B.9 % SI. dan didukung oleh kemajuan perangkat teknologi.4 16.4 85.4 66. 1. Berikut tabel kepemiliakn dokumen kelangkapan SI.4 74.2 69.

Hal ini agar segera diupayakan untuk menjamin pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan berjalan secara efektif dan efisien. Hal lain yang perlu juga dicermati adalah bahan-bahan tersebut harus bisa diakses secara mudah oleh semua insan di sekolah terssebut.7 %untuk SKL dan aturan pelaksanaannya. sementara guru dan kepala sekolah yang diundang berasal dari sekolah yang sama.yang telah menenrima dokumen tersebut lebih tinggi dari pada guru. Secara rinci adalah seperti tabel berikut Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 71 . dari dinas pendidikan maupun piha lainnya. cetakan. Menurut guru baru sekitar 70. 2.2 % yang menyatakan telah menerima dokumen SI. Sayangnya tim studi tidak sempat melacak alasan mengapa terjdi perbedaan yang cukup signifikan. Sumber acuan lain yang harus dimiliki sekolah adalah model muatan lokal. model pengembangan diri. 66. Perbedaan ini menunjukkan bahwa mungkin saja sebagian kepala sekolah belum sempat menyampaikan dokumen tersebut kepada guru oleh karena berbagai alasan. model pembelajaran tematik di SD dan model program khusus untuk pendidikan khusus. model pembelajaran terpadu IPA/IPS di SMP. Cara Memperoleh Dokumen Pada umunya sekolah/satuan pendidikan mendapat dokumen tersebut dengan berbagai cara melalui mengkopi sendiri dalam bentuk CD.

Orientasi dan mobilitas b.6 (%) Dari Dinas Pendidikan dalam bentuk cetak KS GR 6.1 13.9%.1 6.1 9.1 8.2 - - 3.Tabel 12 : Cara memperoleh dokumen kelengkapan KTSP No Jenis Dokumen Copy sendiri dalam bentuk CD KS 30.4 2.5 - GR 2.2 2.5 15.5 1.4 1.8 33. Bina pribadi dan sosial f.5 4.0 2.3 9.9 8.3 3.2 22.6 15. Bina diri dan bina gerak KS 1.1 3.1 10.2 13.1 6.1 11.8 13.3 30. 23 tahun 2006 Permendiknas No.5 9.1 12. guru 48.1 8.2 3. Pemahaman Isi dokumen berkaitan KTSP Sebagian besar responden (Kepala sekolah 68.2 1.5 6.5 1.1 3.5 4.8 25.8%)`menyatakan sulit memperoleh dokumen KTSP. dan irama c. 22 tahun 2006 Permendiknas No.6 23.1 13.2 1.2 4.2 31.9%.4 1.5 9.1 6.6 9. 24 tahun 2006 SE Mendiknas No. 33/MPN/SE/2007 (Ttg Sosialisasi Kurikulum Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model Program Khusus (PLB) a.1 10.4 4.1 7.4 1.1 1.2 1.3 6.1 12. Guru 67.1 15.3 9. persepsi bunyi.1 9.5 Dibeli dari pihak lain 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Permendiknas No.3 33.1 7. Bagi kepala sekolah yang belum memperoleh dokumen tapi sudah pernah mendapatkan informasi tentang peraturan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 72 .3 34. Bina Komunikasi.1 9.5 12.0 1.3 28.8 26. umumnya responden (Kepala Sekolah 87.1 20.4 2.5 9.1 3.0 16.6 10.1 7.6 12.5 1.6 16.7 GR 23.2 1.0 - 1.1 7.8 2.0 3.1 7.1 6.0 1.0 7.7 23.0 9.6 Cara Memperoleh Dari Dinas Pendidikan dalam bentuk CD GR KS GR 15.8 23.2 12.7 13. Bina diri d.5 9.8 22. Bagi yang sudah memperoleh.8 19. Bina gerak e.0 4.5 Copy sendiri dalam bentuk cetak KS 15.2 22.2 - 1.5 1.) menyatakan sudah mempelajari.2%.2 6.2 3.7 16.7 8.0 3.7 13.5 7.2 1.1 9.5 4.

c. 24 tahun 2006 Surat Edaran Mendknas No. Hal ini dapat dilakukan tidak hanya dalam bentuk sosialisasi saja tetapi juga melalui workshop dengan menggunakan media langsung (rapat kerja). Sedangkan bagi para guru. SKL. media Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 73 . mereka mendengar dari Kepala Sekolah (22. lainya dari pengawas atau teman sejawat yang pernah mengikuti sosialisasi. dan KTSP No 1 Jenis Dokumen Permendiknas No. fleksibel. sesuai kondisi sekolah.7%) dan teman (10. Ketika diminta untuk mendeskripsikan isi dokumen tersebut untuk melihat apakah mereka telah mempelajari dan memahaminya. 23 tahun 2006 Permendiknas No. tentang bina emosi dan sosial dan buku tentang keterampilan yang menunjang 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa responden mengetahui dokumen hanya sekadar kulitnya saja. Babel Pada pembelajaran tematik guru harus lebih kreatif membuat alat peraga atau pembelajaran atau menyenangkan sehingga anak tidak bosan Berisikan tentang program khusus: a. BPM.7%). 22 tahun 2006 Permendiknas No. tentang bina diri. Perlu dilakukan berbagai upaya agar pemahaman tentang kebijakan pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan memiliki persepsi yang sama. berikut jawaban yang mereka berikan: Tabel 13 Jawaban Responden tantang Dokumen SI. d. b.2%. sedangkan apa yang tertera secara eksplisit dan implisit di dalamnya. pengawas (10. tentang OM. e.tersebut. sama sekali belum dipahami. tentang bina diri dan gerak. Mereka mendapatkan informasi tersebut dari Kepala Dinas 15. 33/MPN/SE/2007 (Tentang Sosialisasi Kurikulum) Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model-Model Program Khusus (PLB) Deskripsi Singkat Tentang standar isi yaitu lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan Berisi tentang standar kompetensi lulusan utk satuan pendidikan dasar dan menengah Mengatur tentang pelaksanaan peraturan mendiknas tentang standar isi dan SKL untuk stuan pendidikan dasar dan menengah Edaran/himbauan untuk segera mensosialisikan & menerapkan KTSP mulai tahun pelajaran 2006/2007 Yaitu tentang contoh kurikulum tingkat satuan pendidikan yang bisa dikembangkan Yaitu tentang contoh format silabus (deskripsi tentang pokokpokok materi pembelajaran) Contoh format rencana pelaksanaan pembelajaran yang bisa dikembangkan Yaitu contoh format silabus dari muatan lokal yang bisa dikembangkan sesuai karakteristik lingkungan di sekitar sekolah Yaitu format kegiatan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekpresikan dirinya IPA terpadu diartahkan ke lingkungan ttg pengelolaan alam sesuai dgn kondisi lingkungan di kep.6%).

disusun sendiri (13.1%).0%). dan III Dalam kegiatan pembelajaran terkendala pada waktu yang terbatas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 74 . sebagian besar penyusunan dilakukan dengan cara adaptasi atau penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan sekolah (62. sederhana.cetak. Penyusunan KTSP Sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah mereka telah menyusun KTSP.2%) tidak memberikan jawaban. Berdasarkan pendapat responden. 4.7%). 60% kepala sekolah menganggap tidak sulit menyusun KTSP. dan adopsi dari contoh-contoh yang ada (3.1%).9%). Demikian pula 51. dan adopsi dari contoh-contoh yang ada (7. disusun sendiri (16. di antaranya sebaai berikut: Tabel 14 : Kesulitan dalam Menyusun KTSP Aspek Merumuskan Visi dan Misi Sekolah Merumuskan tujuan sekolah Menetapkan mata pelajaran Menetapkan dan mengembangkan muatan lokal Menetapkan dan mengembangkan kegiatan pengembangan diri Menetapkan pengaturan beban belajar Menetapkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) Menetapkan kriteria kenaikan kelas Kesulitan dan Alasan menyamakan persepsi dengan semua guru & karyawan kesesuaian antara tujuan sekolah dgn situasi.9%). Sedangkan responden guru yang menyampaikan sekolahnya telah menyusun KTSP adalah 86. (93. dan praktis. Penyusunan dilakukan sebagian besar dengan cara adaptasi atau penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan sekolah (61. media televisi radio. dengan menggunakan bahan yang jelas.2% responden guru beranggapan demikian. Menurut pernyataan responden. sisanya (9. II. kondisi masyarakat Mata pelajaran mana yang diajarakan lebih banyak jamnya SDM yg ada belum mampu.9%. Bagi yang merasakan kesulitan dalam penyusunan KTSP menyampaikan berbagai alasan. dan internet secara interaktif. masih kurang memadai sarana dan prasarana pendukung Belum ada tenaga pemikir/pakar dalam hal pengembangan diri Kemampuan menyusun masih belum maksimal Sulit menentukan KKM karena harus melihat setiap SKL dan KD yang banyak Jika siswa mendapat nilai yang sama untuk menetapkan kriterianya agak sulit namun sudah diulang dengan tes-tes yang lain Tidak diberikan kepada pihak sekolah dalam pengambilan keputusan terakhir Tidak semua budang studi mudah dalam menerapkan pendidikan kecakapan hidup khususnya bidang studi PKN Tidak cukupnya panduan untuk itu Menetapkan kriteria kelulusan Menentukan pelaksanaan kegiatan pendidikan kecakapan hidup Menetapkan dan mengembangkan pendidikan berbasis keunggulan lokal Mengembangkan dan melaksanakan pendidikan berbasis keunggulan global Menyusun kalender Pendidikan Menjabarkan standar kompetensi/kompetensi dasar menjadi indikator Menyusun kegiatan pembelajaran Belum ada tenaga yang dipersiapkan untuk itu Dalam penyususnan kalender pendidikan sudah disusun oleh dinas pendidikan disesuaikan dengan daerah masing-masing Dalam penyusunan berpedoman pada silabus yang ada buku yang dijadikan masih harus dirancang sendiri karena tingkat kesukarannya da ditingkat kelas I.1%).

Umumnya responden menyatakan bahwa kurikulum sebelumnya (1994) perlu diubah menjadi KTSP dengan alasan (1) Karena dengan pembelajaran berdasarkan kompetensi. RPP (2) visi.Menetapkan materi pokok Menyusun bahan ajar Menentukan strategi dan alat penilaian Menindaklanjuti hasil penilaian Menentukan alokasi waktu Ada perbedaan pada referensi pendukung sehingga harus penuh teliti berdasarkan tuntutan dan SI Masih kurangnya buku sumber yang ada diperpustakaan atau toko buku yang ada Banyaknya tugas guru dalam penilaian yang terlalu rumit Melakukan remedial terhadap siswa yang belum tuntas Di alokasi waktu kadang-kadang tidak cukup karena siswasiswa asik dengan percobaan-percobaan yang di cobanya kerna jika belum berhasil siswa tidak akan meninggalkan tempatnya walaupun guru mengatakan sudah selesai jam pertemuannya Sulit mencari sumber dan alat untuk kompetensi tertentu Membedakan KD dan indikator perlu pemahaman para guru Cara mengembangkan indikator kegiatan pembelajaran/penilaian Cara menentukan strategi/model pembelajaran/evaluasi Menentukan sumber dan alat pembelajaran Merumuskan tujuan pembelajaran Menyusun silabus Menyusun RPP Data di atas menunjukan masih terdapat inkonsistensi antara pemahaman isi dokumen berkaitan dengan KTSP dengan kesulitan yang dialami guru dan kepala sekolah dalam mengembangkan dan menerapkan KTSP. pengaturan beban belajar. misi. Sedangkan hal-hal yang harus dilakukan guru agar dapat melaksanakan KTSP secara optimal adalah guru harus memiliki pemahaman yang baik terhadap konsep dan falsafah implementasinya di lapangan. struktur dan muatan. anak dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih optimal (2) layak disempurnakan dalam kerangka inovasi pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah agar dapat melaksanakan KTSP Responden berpendapat bahwa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah dalam melaksanakan KTSP adalah adanya kesatuan pendapat dan dukungan dari warga sekolah dalam menentukan tujuan sekolah serta keinginan masyarakat yang dituangkan dalam KTSP. yaitu (1) visi misi dan tujuan pendidikan. yang sifatnya sudah harus menjabarkan secara teknis dan rinci. Umumnya responden telah mengetahui komponen-komponen KTSP. Pemahaman Tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan KTSP Sebagian besar responden menyatakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang menitikberatkan atau berorientasi pada kompetensi/kemampuan siswa dengan harapan setelah siswa selesai sekolah memiliki suatu kompetensi diri yang kompeten. kalender pendidikan. 5. Juga perlu didukung oleh kesiapan semua komponen sekolah. tujuan Sekolah. silabus. standar kompetensi lulusan dan SKBM/KKM. ketersediaan dana. kalender pendidikan standar kompetensi. struktur kurikulum. KTSP serta teknis Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 75 . muatan lokal. bahan yg akan dijadikan acuan. 6.

Persoalan yang umumnya dialami oleh sekolah dalam menyusun KTSP menurut responden adalah pemahaman yang belum maksimal dari warga sekolah. berpusat pada siswa. indikator sebagai pedoman dalam pelaksanaan KBM. abstrak. Umumnya sekolah melibatkan pengawas dalam penyusunan silabus. penilaian. serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung yang belum memadai. Strategi sekolah dalam mensosialisasikan KTSP kepada warga sekolah (guru. kegiatan pembelajaran. Pelaksanaan KTSP Umumnya responden memahami silabus sebagai penjabaran SK. serta warga sekolah lain dengan dibimbing oleh pengawas dan kepala UPT Dinas Pendidikan setempat. Umumnya responden meyakini bahwa silabus dan RPP dapat menuntun atau membantu guru dalam pelaksanaan pembelajaran. di antaranya kurikulum KTSP lebih menampung inspirasi dari warga sekolah serta mencakup perubahan/menyesuaikan dengan kondisi yang ada. guru sebagai fasilitator. Umumnya responden melihat hal-hal positif yang ada dalam KTSP. Sedangkan kurikulum 1994 berorientasi pada tujuan. terutama guru. pertemuan rutin guru. waktu dan sumber. KD. baik sebagai pembimbing maupun sebagai narasumber. work shop. 6. Secara umum responden menyatakan bahwa kondisi (sumber/alat/dan sumber daya di sekolah belum memadai untuk mendorong keterlaksanaan KTSP. 7.Umumnya responden menyatakan perbedaan antara KTSP dengan kurikulum 1994 adalah bahwa KTSP berorientasi pada penguasaan kompetensi. Upaya untuk mengatasi kesulitan adalah dengan terus meningkatkan pemahaman aspek-aspek yang terdapat dalam KTSP serta peningkatan penggunaan TIK untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Caranya dengan mengadakan diklat. guru sebagai sumber belajar. berpusat pada guru. Sebagian besar responden menyatakan bahwa umumnya silabus disusun oleh para guru secara bersama-sama dengan rekan satu sekolah maupun dalam MGMP. dan masyarakat adalah dengan melakukan diskusi di antara guru. Permasalahan dan upaya mengatasinya Secara umum. KD. masih ada permasalahan dalam implementasi KTSP. KTSP memerlukan silabus karena silabus merupakan penjabaran dari standar kompetensi yang mengacu pada pencapaian standar kelulusan. orang tua). Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 76 . konteksual. Unsur-unsur yang harus ada dalam silabus adalah SK. Persyaratan dan Kebutuhan sekolah dalam menyusun KTSP adalah adanya kemauan yang keras dari pihak sekolah untuk menyusun dan mengimplementasikan KTSP serta dukungan dana yang besar. dan KKKS. Dalam implementasinya. Umumnya responden menyatakan bahwa perbedaan antara silabus dan RPP adalah: RPP sifatnya lebih operasional dari silabus. indikator. materi pokok. kepsek. KKG. RPP dibuat untuk setiap pertemuan. sedangkan Silabus dibuat untuk beberapa kali pertemuan.

C. dalam monitoring ini juga dilakukan analisis tentang KTSP dengan sumber data dari oorangtua yang bertindak sebagai komite sekolah. mendatangkan tenaga LPMP.1%). 2. Memberi motivasi bagi guru dan reward bagi yang telah menyusun silabus dan RPP. melibatkan pengawas sekolah.7%) atau bersumber dari APBN (12. Persepsi Komite Sekolah (Orangtua) dalam Pengembangang dan Penerapan KTSP Selain menggunakan sumber data dari dinas pendidikan.5%) untuk menyusun KTSP. Membantu memberikan petunjuk. Sedangkan untuk melakukan sosialisasikan KTSP di lingkungan warga sekolah pada umumnya dana diperoleh secara swadaya (19. 3. Juga dengan melakukan supervisi. dan tim pengembangan kurikulum sekolah. Dana itu bukan dari dana BOS. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 77 . Sekolah umumnya memanfaatkan sumber dana lain (48. Berikut adalah berbagai informasi yang berkaitan tentang KTSP menurut persepsi orangtua. dan bukan dipungut dari siswa. Pendanaan Umumnya responden kepala sekolah menyatakan bahwa penyusunan KTSP membutuhkan biaya yang besar. Memberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengikuti diklat dan banyak bertanya pada rekan sejawat yang lebih paham. guru dan kepala sekolah.Strategi sekolah dalam melakukan pemantauan pelaksanaan KTSPdi antaranya dengan membentuk tim kecil di bawah naungan wakil kepala skeolah bidang kurikulum dan wakil kepala skeolah bidang pengendali mutu untuk melakukan pemantauan. mendatangkan tenaga ahli. 8. Upaya sekolah dalam mendorong guru dalam melaksanakan KTSP antara lain dengan: 1. juga bukan dari Dinas Pendidikan (APBD).

Sebanyak 50 % menyatakan mengetahuinya dari sekolah sedangkan 50 % lagi tanpa penjelasan.00 % 78 . Dengan adanya otonomi sekolah dalam pengembangan kurikulum. Perbedaaan KTSP dengan Kurikulum sebelumnya Memahami kurikulum yang berlaku termasuk hal yang harus dilakukan oleh orang tua. Berdasarkan hasil wawancara. Hal ini menjadi penting karena perubahan kebijakan tentang kurikulum saat ini memiliki konsekuensi terhadap peranan orang tua. perlu digali sejauhmana orang tua siswa memahami perbedaan kurikulum yang sekarang dengan kurikulum yang berlaku selama ini. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi KTSP yang telah dilakukan cukup berhasil. Berkaitan dengan perubahan kebijakan kurikulum saat ini. Pemahaman Orang Tua Siswa/Komite tentang Pelaksanaan Kurikulum a.0 0% % Tahu Tidak Tahu Tidak berbeda Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 10 .00 Diagram 1. orang tua dituntut untuk berperan aktif dalam mendukung keberhasilan siswa dalam pencapaian kompetensi yang diharapkan. dan hanya 10% menyatakan tidak. diperoleh gambaran bahwa umumnya (90%) orangtua siswa menyatakan bahwa KTSP berbeda dengan Kurikulum 2004.1. Pemahaman orang tua terhadap perbedaan kurikulum yang sebelumnya dengan KTSP 85 . Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam penyusunan KTSP pihak sekolah telah mensosialisasikan kepada orang tua melalui komite Berikut diagram tentang pemahaman orang tua/komite tentang KTSP. 5.

Respon yang sangat baik ini memberikan indikasi bahwa KTSP mendapat sambutan yang sangat positif dikalangan orang tua (stake holder) sehingga sosialisasinya perlu ditingkatkan dan strategi implementasinya perlu dievaluasi secara berkala agar implementasinya maksimal. Konsep dan Strategi Sosialisasi KTSP Pemahaman yang benar bagi setiap orang tua terhadap KTSP sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran siswa. c. 2. dan 24. Sedangkan 80 % lainnya sudah menerima penjelasan tapi tidak mengetahui dengan pasti arti penjelasan tersebut. sedangkan 20% belum pernah sama sekali menerima sosialisasi KTSP. Namun hanya 20 % yang menyatakan mengerti penjelasan yang diberikan sehingga dapat memberikan dukungan dan kerja sama dengan pihak sekolah. Ini menunjukkan bahwa pemahaman orang tua tentang KTSP belum memadai sehingga perlu sosialisasi lebih lanjut agar orang tua dapat berpartisipasi lebih aktif dalam pendidikan putra/putrinya. Penjelasan Kebijakan Kurikulum terhadap Orang Tua Siswa` Untuk mendukung pemahaman orang tua. berdasarkan wawancara dengan orang tua siswa. 23. Sedangkan 15 % lainnya sudah mendengar tapi belum menunjukkan pemahaman tentang KTSP. Respon Orang Tua terhadap pelaksanaan KTSP di sekolah Hampir semua responden (99 %) menyatakan senang dengan pengunaan KTSP sebab membuat perhatian siswa terhadap kegiatan belajarnya lebih besar (siswa lebih aktif belajar) dan kemampuanya lebih dieksplorasi. diperoleh informasi bahwa sebanyak 65% orang tua cukup mengerti bahwa KTSP disusun dengan memperhitungkan potensi lingkungan dan didasarkan atas Permen Mendiknas Nomor 22.b. perlu ada upaya sekolah untuk melibatkan orang tua dalam sosialisasi kurikulum. Berdasarkan wawancara dengan orang tua. sebanyak 90% orang tua menyatakan menerima penjelasan tentang KBK dari pihak sekolah dan dinas pendidikan setempat. sedangkan 10 % menyatakan belum pernah. Namun demikian memberi indikasi bahwa sosialisasi KTSP di tingkat satuan pendidikan SMA (khususnya) dan SMK sudah dilakukan sekolah dengan baik kepada orang tua (stake holder) namun perlu ditingkatkan dan dilakukan lebih intensif. Namun secara implisit orang tua (25%) mengharapkan kemampuan dan komitmen sekolah yang sungguh-sungguh untuk menyusun dan melaksanakan KTSP sesuai potensi daerah dan karakteristik sekolah. Berikut diagram respon orang tua terhadap pelaksanaan KTSP di sekolah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 79 . Sehubungan dengan tersebut.

Dengan demikian walaupun penerapan KTSP mempunyai implikasi pengeluaran dana yang lebih namun dapat diterima secara positif sebab dana-dana tambahan yang dikeluarkan dialokasikan langsung untuk peningkatan kompetensi siswa.86% (yang menyatakan tidak pernah/hampir tidak pernah mengeluarkan biaya tambahan setelah penerapan KTSP) menyatakan bahwa sekolah di mana putra/i mereka bersekolah telah menyusun anggaran yang lengkap sehinga semua pembiayaan sudah dibayar pada awal tahun ajaran. asalkan siswa menjadi lebih pandai dan disiplin 55.00% 20. Tanggapan orang tua terhadap pelaksanaan KTSP dan peluangnya dalam peningkatan kemampuan siswa 3.00% Sangat Senang Senang. karena kemampauan siswa yang dikembangkan banyak dan fokus. Hubungan penerapan KTSP dengan biaya yang dikeluarkan siswa dalam proses belajar mengajar (a). Sedangkan 42.25. Ini menunjukkan bahwa pengeluaran tambahan untuk biaya studi setelah KTSP diterapkan cukup signifikan.29% sering dan 42.86% kadang-kadang orang tua mengeluarkan uang tambahan) orang tua menyatakan adanya tambahan pengeluaran biaya yang signifikan dengan penerapan KTSP. Namun dari data rersponden tidak ditemukan keluhan atau keberatan orang tua (stake holder) sehubungan dengan tambahan biaya ini. frekuensi siswa meminta uang tambahan untuk biaya belajar setelah menggunakan KTSP Sebanyak 57. Untuk itu sosialisasi KTSP yang akan datang tidak saja difokuskan pada konsep-konsep KTSP tetapi lebih dari itu difokuskan pada strategi implementasi dan teknik pelaksanaan.15 % (14. Berikut diagram frekuensi siswa meminta uang tambahan untuk beiaya belajar setelah menggunakan KTSP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 80 . Senang.00% Diagram 2.

14.29%
Sering

Kadang-Kadang

42.86%
Tidak Pernah

42.86%

Diagram 3. Hubungan penerapan KTSP dengan biaya yang dikeluarkan siswa dalam proses belajar mengajar

(b). Biaya tambahan yang dibayarkan orangtua setelah menggunakan KTSP Semua responden menyatakan adanya tambahan biaya yang besar dan frekuensinya sangat bergantung pada kegiatan yang direncanakan sekolah masing-masing. Namun jawaban responden tengan pengeluaran tambahan ini sangat beragam antara yang sudah terencana melalui APBS sekolah sampai dengan yang tidak memiliki rencana sama sekali. Khusus sekolah-sekolah yang belum memiliki APBS yang baik tambahan pengeluaran ini menambah volume pekerjaan bertambah. Untuk itu dalam pelaksanaan sosialisasi KTSP pada level strategi peleksanaan dan di tingkat teknis operasional perlu diberikan bimbingan pengelolaan keuangan sekolah sehingga baik sekolah maupun orang tua mendapat kemudahankemudahan dalam memberikan layanan kepada putra/i-nya. Berikut diagram biaya tambahan sehubungan dengan penerapan KTSP
10 .00 % % .00 30
<= Rp.10.000,00 Rp.10.000,00 <= - <= Rp.80.000,00

3. Ketersediaan Buku Pelajaran

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

60 .00 %

Relatif, sesuai kebutuhan

Diagram 4. Besarnya biaya tambahan yang dibayarkan orang tua dalam pelaksanaan KTSP di sekolah

81

Responden yang menyatakan buku yang dimiliki siswa cukup memadai dengan yang menyatakan tidak cukup memadai sama besar. Sementara responden yang menyatakan bahwa buku cukup memadai dalam menunjang proses pembelajaran tidak memberikan penjelasan atas jawaban yang diberikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengadaan bukubuku yang sesuai dengan potensi daerah dan sesuai dengan karakteristik siswa perlu diupayakan secara sungguh-sungguh baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Berikut diagram tentang ketersediaan buku pelajaran

20.00% Cukup 40.00% Tidak Cukup Tidak Tahu

40.00%

Diagram 5. Dukungan buku dalam Proses Pembelajaran KTSP

4.

Penjelasan dari Guru tentang Rapor Siswa

Hanya 45% orang tua yang menganggap rapor hasil belajar yang disampaikan sekolah ke pada orang tua memberikan informasi tentang prestasi belajar siswa. Selain itu data responden menunjukkan bahwa yang merasa kurang jelas adalah 25% demikian pula yang tidak memahami sama sekali. Kemungkinannya adalah sekolah belum mampu

medayagunakan format rapor yang ada untuk menginformasikan pencapaian kompetensi siswa, atau format rapor terlalu rumit sehingga untuk memahaminya diperlukan penjelasanpenjelasan yang khusus. Ini menunjukkan bahwa diperlukan suatu penelitian lebih lanjut tentang format laporan hasil belajar dan cara penggunaannya yang diikuti oleh sosialisasi yang intensif dari pihak sekolah terhadap orang tua.

30.00% Jelas 45.00% Kurang Jelas Tidak Jelas

25.00% Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

82

Diagram 6. Informasi hasil belajar siswa melalui rapor hasil belajar.

5. Perubahan Sikap Siswa Setelah Sekolah Menerapkan KTSP Secara umum responden menyatakan adanya perubahan sikap belajar putra/putri mereka yaitu peningkatan minat dan semangat belajar yang signifikan dengan penerapan KTSP. Dengan demikian peningkatan pemahaman dan penguasaan KTSP secara konsep, strategi implementasi, dan teknik pelaksanaan perlu disosialisasikan lebih intensif, luas, dan efektif.
15.00%

Lebih Rajin Belajar Relatif Lebih Rajin Tidak Berubah

55.00% 30.00%

Gambar 7. Pengaruh KTSP terhadap sikap belajar siswa

Informasi 65% responden menyatakan tidak pernah/hampir tidak pernah menerima keluhan dari putra/putri mereka dan 10% yang kadang-kadang menerima keluhan

mengindikasikan bahwa penerapan KTSP cukup signifikan meningkatkan gairah belajar siswa. Kegiatan-kegiatan di luar sekolah yang timbul setelah penerapan KTSP disikapi sebagai implikasi dari semangat KTSP untuk meningkatkan mutu hasil belajar siswa. Dengan demikian KTSP mendapat sambutan positif dari orang tua karena dipandang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. 6. Keluhan Siswa Kepada Orang Tua setelah Sekolah menerapkan KTSP Sebagian besar orang tua (65%0 menyatakan bahwa anaknya tidak pernah mengeluh sehubungan dengan penerapan KTSP, 25 % menyatakan anaknya sering mengeluh, dan 10 % menyatakan kadang-kadang.

Berikut diagram pernyataan orang tua tentang keluhan anak-anak mereka sehubungan dengan penerapan KTSP.

.0 0%

Kadang-kadang Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008
25

10

.0 0%

83

Tidak Pernah

Hal ini menunjukkan bahwa masih ada sekitar 35-37% reseponden belum memahami pengertian standar isi dan standar kompetensi lulusan dengan benar. Sebanyak 63. kepala. Tes melibatkan seluruh responden dari dinas pendidikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara pemahaman Dinas Pendidikan dengan sekolah tentang standar Isi. Hal ini senada dengan pemahaman kepala sekolah dan guru. Selain untuk melihat persepsi tentang KTSP. Perbandingan Hasil Tes Pemahaman KTSP antara Pejabat Struktral di Dinas pendidikan dengan Sekolah (Kepala Sekolah dan Guru) Dalam monitoring ini juga dilakukan tes pemahaman atau tes persepsi tentang persepsi KTSP menurut responden. sekolah. tes dimaksudkan juga untuk mendukung temuan-temuan yang diperoleh melalui kuesioner guru. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 84 . Pemahaman Tentang Pengertian Standar Isi Sebagian besar responden dari kalangan pejabat struktural Dinas Pendidikan memahami bahwa Standar Isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu (65. orangtua dan dinas pendidikan. Identitas dari para responden adalah sebagai berikut.5% kepala sekolah dan guru menjawab dengan jawaban yang sama. 1. kepala sekolah dan orangtua.D.5%). guru.

8% sekolah menjawab muatan lokal di tetapkan dari pusat.5 % responden yang berasal dari sekolah meberikan jawaban yang sama. meskipun untuk responden yang berbeda tampaknya pemahaman kedua unsur tidak terlalu jauh berbeda.9 10.5%.7 responden dari pejabat struktural Dinas pendidikan yang menjawab demikian.Tabel 15 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Standar Isi Unsur (%) Jawaban a. Dari kelompok responden yang belum menjawab dengan benar.5 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 85.5%) menjawab bahwa yang berwenang menetapkan kurikulum muatan lokal adalah satuan pendidikan yang bersangkutan.5 9. d. masih ada sekitar 13-16 % responden belum memahaminya dengan benar.9 3 Tabel di atas memperlihatkan pemahaman responden terhadap Permendiknas No. Pengembangan Substansi Muatan Lokal Tentang kewenangan penyusunan dan penentapan kurikulum muatan lokal. b.5 Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 85 . terdapat sedikit perbedaan antara responden dari Struktural Dinas Pendidikan dengan sekolah.3 Sekolah (Guru dan Kepsek) 22.5 8 7. sebagian besar responden dari pejabat struktural Dinas Pendidikan (84. yaitu sebanyak 87. 12. Sebanyak 9.9% responden dari pejabat struktural Dinas pendidikan menjawab bahwa muatan lokal ditetapkan oleh Dinas Pendidikan. d.9 0.7 4.3 3.7 3. Satuan pendidikan Dinas pendidikan Pusat Komite sekolah Dinas Pendidikan 84.6 65. 2. sementara hanya 0.5 63. Hal senada juga terlihat dari jawaban responden yang bearasal dari sekolah (guru dan kepala sekolah). c. sementara 4. b. Tabel 16 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Pengembangan Substansi Muatan Lokal Jawaban a. Ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi Mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. 22 Tahun 2006 sangat variatif.5 c. Artinya. Mengatur tentang struktur kurikulum satuan pendidikan Mengatur tentang kompetensi lulusan Dinas Pendidikan 18.

5 19. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 18 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Sistem pembelajaran pada SMA/MA/SMK/MAK Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 86 . Data ini menunjukkan bahwa Belem semua pihak yang memahami tentang pengaturan beban relajar sebagaimana yang tertuang dalam PP nomor 19 tahun 2005 tersebut. Dinas Pendidikan 3.9 %.4 2. d.0 75. Namur hanya sedikit (sekitar 45%) responden (baik Dinas Pendidikan maupun sekolah) yang menyatakan pengaturan pembelejaran berdasarkan sistem kredit semester. Namur hal ini berbeda dengan pandangan sekolah.5 73. Hal yang sama juga terjadi pada responden dari sekolah (Kepala Sekolah dan Guru).6%. Tujuan dari Kegiatan Pengembangan Diri Mengenai kegiatan pengembangan diri. diperoleh gambaran bahwa sebagain besar responden menyatakan penyelenggaraan pembelajaran menggunakan sistem paket (60%). Memperdalam penguasaan mata pelajaran Menciptakan wahana kegiatan sesuai minat dan bakat siswa Memberi pelayanan konseling pada siswa memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri.3. sebesar 75. yaitu sebesar 73. dinyatakan bahwa bagi sekolah yang kategori mandiri bebena relajar diatur dengan sistem keredit semester. Sistem Pembelajaran pada SMA/MA/SMK/MAK Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005. Berdasarkan tes pemahaman terhadap Dinas pendidikan dan sekolah. b.0 3. Hal ini Belem banyak dipahami oleh pelaksana pendidikan di lapangan.5 18. c. Ini berarti terdapat sekitar 24-27% responden memberikan jawaban yang salah atau belum memahami dengan benar.6 4. hanya 48. sebagian besar responden dari Dinas pendidikan menjawab ” memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri”. Tabel 17 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah Tentang Tujuan Kegiatan Pengembangan Diri Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 1.9% sekolah yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pembelajaran menggunakan sistem paket.9 Jawaban a.

3 Jawaban a. KTSP disusun oleh sekolah dan disesuaikan dengan kondisi yang ada. Pedoman penilaian kelas Pedoman penilaian tertulis pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik.1 6.7 % responden sekolah (kepala sekolah dan guru) menjawab sama.Jawaban a. b. Kemungkinan besar yang disebut sebagai kurikulum nasional itu adalah Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan.0 25. Menggunakan sistem paket Menggunakan sistem SKS Dapat menggunakan sistem SKS Dapat menggunakan sistem paket Dinas Pendidikan 64. Data ini menunjukkan bahwa terdapat sekitar 10% responden yang belum menjawab dengan benar.5 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 48.8 4. Hanya 68 % responden dari Dinas pendidikan yang menjawab dengan benar.5%.5 % responden dari pejabat struktural Dinas Pendidikan menjawab dengan benar.8 1.5 5. sekitar 25 % responden masih beranggapan bahwa masih ada kurikulum nasional. Dan ternyata. Penggunaan Standar Kompetensi Lulusan Dalam hal penggunaan Standar Kompetensi Lulusan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik 90. c. Penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Sebagai kurikulum operasional.6 5.6 5.5 3.9 89. Tabel 20 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Jawaban Unsur (%) Sekolah (Guru dan Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 87 .9 4. c.5 6.1 90. Panduan penilaian kinerja dan portofolio Dinas Pendidikan 1. Tabel 19 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Penggunaan Standar Kompetensi Lulusan Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 0. terdapat sekitar 30 % responden belum memahami dengan benar. dan sebanyak 70. Sejalan dengan hal tersebut. d.6 22.8 2. sekolah (kepala sekolah dan guru) menjawab dengan benar sebanyak 89. d. b. Artinya.

Lebih dari separuh (55.3 8. c. d. Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 4. b. Artinya.6 6.6%) responden dari dinas pendidikan menyatakan hal tersebut mungkin dilakukan asal tetap mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagai ukuran kompetensi minimal..3%) menyatakan bahwa ”model Kurikulum yang dikembangkan oleh satuan pendidikan lain tidak dapat dijadikan sebagai acuan pengembangan KTSP. Acuan Penyusunan KTSP.3 74.5 24. Ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa KTSP harus disusun sendiri mengingat situasi dan kondisi sekolah yang berbeda-beda..7 70. tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pandangan dinas pendidikan dengan sekolah dalam pengembangan kompetensi yang lebih tinggi untuk satuan pendidikan tertentu.9 4. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 21 pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Acuan yang Digunakan dalam Menyusun KTSP..5 7.. b. Sebagian besar responden yang berasal dari Dinas Pendidikan (74.. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh pernyataan kepala sekolah dan guru (52.6 68. Hal senada juga ditunjukan oleh pernyataan kepala sekolah dan guru (79. kebutuhan dan potensi sekolah Disusun oleh sekolah sebagai model kurikulum Pendidikan 3. d.7%).6%)...7 1. c.7 Jawaban a.. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 88 .5 Kepsek) 2.6 23. kecuali.4 79. Disusun oleh pusat Disusun oleh sekolah dengan mengacu pada kurikulum nasional Disusun oleh sekolah sesuai dengan kondisi. Kemungkinan Satuan pendidikan Menyusun KTSP dengan Standar yang Lebih Tinggi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Standar isi dan Standar Kompetensi lulusan memnyatakan bahwa satuan pendidikan dapat mengembangkan kurikulum dengan kompetensi yang lebih tinggi dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan.0 2.7 11.1 9. Standar Isi Standar kompetensi lulusan Panduan penyusunan kurikulum dari BSNP Model kurikulum satuan pendidikan lain Dinas Pendidikan 5. Kecuali..a.

d.9%).4%) menyatakan bahwa hal itu mungkin dilakukan dengan menambah dan memperdalam kompetensi atau materi sesuai dengan ciri dan kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan. dengan menambah. asal tetap mengacu pada Standar Isi dan SKL sebagai kompetensi minimal Mungkin dengan tidak menambah mata pelajaran Mungkin. c.0%).0 52. memperdalam kompetensi atau materi sesuai ciri dan kebutuhan satuan pendidikan Mungkin. harapan Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Batas Akhir penerapan KTSP Hampir semua responden (sekitar 96%) baik yang berasal dari Dinas pendidikan maupun kepala sekolah dan guru menyatakan bahwa paling lambat penerapan KTSP pada tahun Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 89 . sebagian responden dari dinas pendidikan (38. Hal ini tidak jauh berbeda dengan pemahaman kepala sekolah dan guru (38. 9.4 55.6 1. Agak berbeda dengan pernyataan kepala sekolah dan guru yang cenderung menambah jam pelajaran (7.5 7.9 Jawaban a. Lebih lanjut lihat pada tabel dan diagram berikut: Tabel 22 Pemahaman Dinas dan Sekolah tentang Kemungkinan Satuan pendidikan Menyusun KTSP dengan Standar yang Lebih Tinggi Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 38.6 1. Tabel dan diagram di atas memperlihatkan bahwa semua responden menyatakan tidak ada masalah apabila satuan pendidikan mampu mengembangkan kurikulumnya melebihi standar SI dan SKL asalkan dengan kriteria tertetu. asal tidak menambah waktu lebih dari 4 jam pelajaran per minggu Dinas Pendidikan 38.1 4.Namun demikian. Hanya sebagian kecil responden dari dinas pendidikan yang menyatakan perlu penambahan jam sebagai konsekuensi dari penaikan standar kompetensi oleh satuan pendidikan.9 b. Mungkin.

2009/2010. Sebagian daerah optimis dengan batas akhir tahuan 2007/2008 (14. Daerah dan sekolah yang berpandangan demikian umumnya bagi mereka yang telah menerapkan KBK secara keseluruhan.A 2008/2009 T. Lebih lanjut lihat pada tabel dan diagram berikut. Peranan Gubernur.3 4.6 57.1 4.1 Harapan Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Limit Waktu Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan 60 40 Dinas Pendidikan 20 0 T. Tabel 23 Harapan Dinas pendidikan dan Sekolah Tentang Penjadualan Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Jawaban a. 22 dan 23 tahun 2006 oleh Satuan Pendidikan Sebagian besar responden berpendapat bahwa pengaturan jadual pelaksanaan Permendiknas No. C d Tahun Ajaran 2007/2008 Tahun Ajaran 2008/2009 Tahun Ajaran 2009/2010 Tahun Ajaran 2010/2011 Dinas Pendidikan 14.A 2009/2010 T.2 52. Lebih lanjut lihat tabel dan grafik di bawah ini. b.4 25.9 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 18.A 2010/2011 Sekolah T abel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden berharap bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah seharusnya sudah mulai menerapkan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah paling lambat Tahun Ajaran 2009/2010 10.4% untuk sekolah).4% untuk Dinas pendidikan dan 18. Bupati dan walikota dalam Pengaturan Jadual Pelaksanaan Permendiknas No.A 2007/2008 T. 22 dan 23 Tahun 2006 telah sesuai dengan kesiapan satuan pendidikan atas pertimbangan dinas pendidikan setempat.4 23. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 90 .

22 dan 23 tahun 2006 oleh Satuan Pendidikan Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 51. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 91 .4 33.7 Jawaban a. d. c.3 32.5 7. Sesuai dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan Secara serempak di seluruh wilayahnya Ditetapkan dan dipertimbangkan oleh dinas pendidikan Ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan pertimbangan dinas pendidikan Dinas Pendidikan 46. melakukan sosialisasi dan mengkoordinasikan pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan.1 Dari tes pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa peran dinas pendidikan adalah sangat vital dalam membentuk persepsi.5 8.Tabel 24 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Peranan Gubernur. b.4 7. Bupati dan walikota dalam Pengaturan Jadual Pelaksanaan Permendiknas No.1 13.

aplikasi konsep atau orientasi kelas (2) Kegiatan inti. penugasan. indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai d. Oleh sebab itu RPP sangat bergantung pada silabus yang telah di buat. dan kuesiner orangtua. Dari data hasil observasi menunjukkan bahwa secara rata-rata guru masih menemukan kesulitan dalam membuat RPP yang sesuai agar siswa memperoleh kompetensi seperti yang diharapkan. Tujuan observasi adalah untuk memotret secara faktual perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dilihat dari segi: kesesuaianya dengan kebijakan pengembangan KTSP. dari segi: Pembahasan hasil Observasi Dalam hal pembuatan silabus. prinsip pembelajaran yang aktif dan umpan baliknya. Observasi Kegiatan Pembelajaran Selain menggunakan tes pemahaman atau tes persepsi KTSP. Rumusan materi. dari segi: (1) Menggunakan variasi metode (individual. Ketepatan rumusan penilaian dengan KD: (1)Teknik/bentuk penilaian dengan kompetensi: (2) Rumusan tugas: f. metode pemecahan masalah dsb. juga dilakukan observasi pembelajaran. yaitu jaminan kompetensi dicapai: c. Rumusan Metode. Memuat materi pembelajaran: d. kelompok. pada aspek: (1) Kegiatan awal: memuat konsep/kegiatan prasyarat. No 1 Aspek Ketepatan rumusan Komponen Silabus : a. Rumusan Indikator dengan KD : (1) Minimal dua indikator: (2) Menggunakan kata kerja kemampuan: (3) Rumusan mengacu kompetensi. Memuat alokasi waktu: g. tampak bahwa guru belum memahami konsep dan teknik pembuatan silabus terutama pada bagian perumusan indikator. (2) Hubungan metode dengan kompetensi. luar kelas. telah merinci dari silabus: c. klasikal. dan teknik penilaian yang dapat mengukur pencapaian kompetensi siswa.E. kuesioner dinas pendidikan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 92 . Ketepatan rumusan kegiatan pembelajaran dengan KD (1) Kegiatan pembelajaran bervariasi: (2) Pokok pokok kegiatan dengan kompetensi yang ingin dicapai: e. pengalaman belajar yang sesuai.Memuat sumber belajar: Ketepatan rumusan komponen RPP: a. dalam kelas. hasilnya adalah sebagai berikut. Hubungan Indikator dengan tujuan pembelajaran: b. SK dan KD dengan SI dan SKL : b. Ketepatan rumusan langkah langkah kegiatan. diskusi. kuesioner guru dan kepala sekolah. ceramah. 2 RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan penjabaran operasional dari silabus untuk waktu yang lebih singkat yaitu tiap tatap muka dilaksanakan. Secara umum. problem solving. Kesulitan dalam membuat silabus akan berdampak pada rumusan RPP yang tidak saling berhubungan.

indikator atau tujuan pembelajaran: (3) Organisasi kelas yang digunakan dengan tujuan pembelajaran: (4) Kegiatan pembelajaran efektif: c.Tingkat pencapaian siswa: c. Ketepatan rumusan penilaian dengan indikator. Kegiatan awal: (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai: * Memuat lampiran lembar kerja (LK) apabila terdapat penugasan menggunakan lembar kerja (3) Kegiatan penutup. penugasan lebih lanjut. Kualitas dari konstruksi soal/penilaian: Sumber belajar: 4 Secara rata-rata data ebservasi menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru sudah melaksanakan sesuai dengan RPP yang di buat. Bentuk/teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran: b. dari segi: (1) Teknik/bentuk penilaian dengan indikator: (2) Memuat contoh penilaian: (3) Memuat pedoman skoring/kunci jawaban: f. indikator atau tujuan pembelajaran: Penilaian: a. saat: a.* Telah merinci kegiatan pada silabus: * Kegiatan dengan kompetensi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 93 . Kegiatan inti: (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. renungan atau lainnya e. 6 Secara rata-rata guru sudah menggunakan sumber belajar dengan baik dan efektif dalam melaksanakan pembelajaran. Memuat alokasi waktu: g. Kegiatan Akhir (penutup): (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. memuat rangkuman. Tetapi hal ini bertentangan dengan kenyataan sebelumnya yaitu bahwa guru belum mampu membuat RPP yang sesuai dengan silabus.Memuat sumber belajar: PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN Kesesuaian pelaksanaan kegiatan belajar dengan RPP. indikator atau tujuan pembelajaran: b. 5 Secara rata-rata guru sudah mampu menerapkan prinsipprinsip penilaian untuk mengetahui hasil belajar siswa.

dan wawancara. serta Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. yaitu: (1) Pemahaman terhadap isi kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Satndar Isi. Unsur-unsur yang dikaji adalah (a) apakah jumlah sumber daya manusia memadai. dan (3) Implementasi atau penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. workshop. 23. Informasi ini diperoleh melalui pejabat struktural dan staf Dinas Pendidikan. dan pelatihan. guru. Unsur-unsur yang dimonitor adalah (a) apakah responden telah memeiliki dokumen dan bagaiaman cara mendapatkan dokumen tersebut. Pemahaman terhadap Standar Isi Dan Standar Kompetensi Lulusan Unsur-nsur yang dijadikan patokan pengkajian adalah (a) hal-hal apa saja yang diatur dalam peraturan tersebut. Aspek Analisis Monitoring ini memnfokuskan pada tiga aspek. (2) Kesiapan dan kemampuan sumber daya yang ada. Unsur-unsur tersebut digali melalui tes pemahaman. pengembangan. . Kemampuan dan Kesiapan Sumber Daya Kemampuan dan kesiapan sumber daya sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan kebijakan. (c) fungsi Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar yang terdapat dalam Standar Isi dan (d) fungsi Standar Kompetensi Lulusan. Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. (b) apakah kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan memadai. dan implementasi. angket. (c) apakah ada program peningkatan kompetensi melalui sosialisasi. (f) bagaimana pengganggaran dan pembiayaan kegiatan mulai dari persiapan (sosialisasi). dan 34 Tahun 2006. tes pemahaman dan wawancara. 23.BAB V ANALISIS HASIL MONITORING A. Hal ini akan menggambarkan sejauhmana Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 94 . (b) hal-hal apa saja yang dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah/satuan pendidikan. (d) apakah sarana dan prasarana memadai. Implementasi atau Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. dan 24 Tahun 2006. (e) sejauhmana dukungan komite/orang tua siswa terhadap pelaksanaan kurikulum. 3. 2. kepala sekolah. 1. komite/orang tua siswa melalui angket.

Hal senada juga diakui oleh responden yang berasal dari sekolah (kepala sekolah. silabus. (d) apa dampak. masih banyak persoalan yang harus dituntaskan. potenai. dapat disimpulkan bahwa secara konseptual sebagian besar responden cukup memahami peraturan mendiknas tersebut. Berdasarkan angket yang diberikan kepada pejabat dan staf struktural Dinas Pendidikan provinsi dapat disimpulkan bahwa semua daerah telah melakukan sosialisasi tentang Peraturan Mendiknas Nomor 22.pihak-pihak terkait proaktif dalam mendapatkan informasi. (f) bagaimana penjadualan penerapan . (c) apakah sudah melaksanakan KTSP. Sungguhpun demikian. Namun. kepala sekolah. Hasil Analisis Pemahaman Responden Terhadap Standar Isi. kendala. Sebagai contoh. RPP. guru. parsoalan tersebut antara lain adalah : Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 95 . Akibatnya. dan upaya yang dilakukan. 23. Pemberlakuan KTSP sebagai impelementasi dari kebijakan pemerintah sebagaimana yang diamantkan oleh berbagai peraturan perundang-undangan yang mendasarinya. (h) apakah ada koordinasi antar pihak-pihak terkait? Informasi ini diperoleh melalui pejabat struktural dan staf Dinas Pendidikan. dan kebutuhan daerah serta peserta didik. dan komite/orang tua siswa). . penilaian dan sebagainya). misalnya dengan meng-copy sendiri atau menunggu informasi dikirimkan oleh pihak yang berwenang. tes pemahaman dan wawancara. umumnya responden memahami KTSP disusun dan ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan mempertimbangkan keragaman kondisi. dan 24 tahun 2006. dan KTSP. (b) apakah sudah menyusun KTSP dan perangkatnya (struktur kurikulum. substansi dan strategi strategi implementasi KTSP belum cukup dipahami. Hal ini dilihat dari naskah KTSP dan perangkatnya yang disusun oleh masing-masing satuan pendidikan. komite/orang tua siswa melalui angket. penerapkan KTSP di masing-masing satuan pendidikan belum begitu kuat karakteristiknya. Umunya naskah tersebut baru pada tahap ”copy-paste”. B. tes pemahaman dan wawancara kepada semua responden. Standar Kompetensi Lulusan. (g) berapa persen daerah (kabupaten/kota) yang telah melaksanakan sosialisasi. Dilihat dari pemahaman yang diperoleh melalui jawaban angket. 1. (e) sejauhmana peran serta masyarakat. dapat diterima secara baik oleh pelaksana di lapangan. guru.

2. termasuk dalam hal pengunaan sumber belajar yang tidak terbatas pada buku tertentu saja. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. Informasi ini diperoleh melalui observasi dan wawancara yang dilakukan tehadap siswa. tugas-tugas yang harus mereka selesaikan menjadi bertambah banyak sehingga melelahkan. perlu dikembangkan suatu sistem sosialisasi dan pembinaan terhadap satuan pendidikan agar pengelolaan pembelajaran lebih efisien dan efektif.Sebagian orang tua mengeluhkan tentang adanya penambahan biaya pendidikan shubungan dengan penerapan KTSP. Guru belum mampu membuat silabus yang baik dan kontekstual Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 96 . Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. Silabus yang di buat guru belum menunjukkan penjabaran SK dan KD yang disesuaikan dengan potensi daerah/wilayah. Sejauh ini. Kemampuan dan Kesiapan Sumber Daya 1. 3. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 3. 2. terutama dalam hal pengadaan buku-buku pelajaran dan biaya kegiatan pembelajaran. dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. daerah dan sekolah mampu mengatasi berbagai persoalan tersebut melalui pemberian pengertian kepada semua pihak. Hal ini mengkibatkan proses pembelajaran belum efisien dan efektif. Guru sudah membuat silabus dan RPP 2. terutama dalam penggunaan metode pemeblajaran yang monoton. Format rapor KTSP berlum mampu memberikan informasi tentang prestasi peserta akademik maupun non akademik peserta didik. penggunaan sumber belajar belum bervariasi. Perlu pendampingan yang lebih strategis dan teknis dalam penyusunan KTSP 1. menurut pengakuan responden. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. Sebagian orang tua sering menerima keluhan dari anak-anak mereka bahwa setelah menerapkan KTSP. Namun upaya belum cukup mengingat proses pembelajaran yang berlangsung masih mengikuti pola lama. Dengan adanya sejumlah persoalan di atas. proses penilaian belum sesuai dengan karakter dan tingkat kompetensi yang dituntut. potensi sekolah.

11. dan 34 Tahun 2006. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. Perlu pendampingan yang lebih strategis dan teknis dalam penyusunan KTSP seperti penyusunan APBS. Silabus yang di buat guru belum menunjukkan penjabaran SK dan KD yang disesuaikan dengan potensi daerah/wilayah. 6. 1. 23. namun masih perlu obsevasi yang lebih rinci berkaitan dengan kualitas instrumen penilaian yang digunakan. Guru belum mampu membuat RPP 5. Dalam merencanakan sumber belajar yang akan digunakan guru sudah merencanakan dengan baik. Implementasi atau Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. efisiensi dan tingkat kesesuaiannya denga kompetensi dasar yang hendak di capai. dan program pengembangan diri. program mulok. Guru belum mampu membuat silabus yang baik dan kontekstual Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 97 . 8. Secara rata-rata guru sudah baik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan kesusuaian isi materi yang diajarkan dengan silabus yang telah di susun. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. 7. Guru sudah mampu merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar dengan baik . tetapi dari silabus dan RPP yang dibuat tampak bahwa guru belum menguasai konsep pengembangan silabus dan teknik implementasinya sesuai kondisi wilayah. 9. 2.4. 3. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 10. dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. potensi sekolah. 3. Walaupun sebagian guru dalam observasi ini sudah membuat silabus dan RPP. kondisi sekolah dan karakteristik peserta didik. namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan efektivitas.

6. penerapan KTSP pada penyelenggaraan pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan SI dan SKL. Guru sudah mampu merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar dengan baik. Dari hasil observasi pembelajaran. pengalaman belajar dan penilaian. Dalam merencanakan sumber belajar yang akan digunakan guru sudah merencanakan dengan baik. Guru belum mampu membuat RPP 5. dan dinas pendidikan. efisiensi dan tingkat kesesuaiannya denga kompetensi dasar yang hendak di capai. serta hasil tes pemahaman. sekolah. Implikasinya adalah guru belum mampu mengembangkan indikator soal dan mengembangkan instrumen penilaian yang tepat. pemahaman tentang KTSP sudah memadai. Guru belum memahami prinsip pengembangan SK menjadi KD dan menjabarkannya menjadi indikator. Secara rata-rata guru sudah baik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan kesesuaian isi materi yang diajarkan dengan silabus yang telah di buat 7. kuesioner guru. dinas pendidikan dan masyarakat. namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan efektivitas. 2. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 98 . Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dari SDM pada tingkat sekolah maupun dinas pendidikan.4. namun ini perlu dipertajam sampai tingkat operasionalisasi dalam pengembangan dan penerapan kurikulum mencakup komite sekolah. 1. orangtua siswa. namun masih perlu obsevasi yang lebih rinci berkaitan dengan kualitas instrumen penilaian yang digunakan. kepala sekolah. pengawas. 8. dapat disimpulkan beberapa hal berikut.

KESIMPULAN Secara umum. dinas pendidikan dan masyarakat. 4. Penggunaan KTSP di tingkat satuan pendidikan cukup signifikan dalam meningkatkan motivasi. aktifitas dan kreatitivitas siswa dalam belajar hampir semua responden menyatakan bahwa penggunaan KTSP membuat putra/putri mereka lebih rajin belajar. pemahaman tentang KTSP sudah memadai. namun ini perlu dipertajam sampai tingkat operasionalisasi dalam pengembangan dan penerapan kurikulum mencakup komite sekolah. namun dapat mengatasinya dengan memberikan pemahaman dan pengertian). Ada peningkatan biaya yang signifikan dengan penggunaan KTSP (85 % responden menyatakan tambahan biaya yang timbul cukup signifikan dengan aktivitas belajar yang terjadi).BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Penggunaan KTSP sebagai kurikulum pendidikan saat ini diterima dengan baik oleh orang tua walaupun muncul keluhan-keluhan dari pihak siswa karena perubahan pola pembelajaran (responden menyatakan senang dengan penggunaan KTSP. 5. 1. pengawas. 82 % responden menyatakan menerima keluhan dari putra/putrinya berkaitan dengan tugas-tugas yang diberikan. Format rapor KTSP berlum mampu memberikan informasi tentang prestasi peserta akademik maupun non akademik peserta didik. (77% orang tua menyatakan tidak puas dengan format rapor hasil belajar yang diterima) B. Hasil monitoring menunjukkan 81 % responden menyatakan telah mengetahuinya. KTSP sebagai model kurikulum yang berdasar pada Standar Isi dan dikembangkan dengan memperhatikan potensi dan karakteristik wilayah/sekolah belum disosialisasikan dengan baik. 6. 3. namun tidak memahami subtansinya 2. Hasil monitoring menunjukkan 81 % responenden menyatakan tahu tentang KTSP tetapi tidak memahaminya dengan baik. Substansi KTSP dan strategi implementasinya belum dipahami dengan jelas oleh pihak sekolah dan orang tua. REKOMENDASI Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 99 . sekolah.

maka untuk melihat adanya perkembangan kemampuan guru-guru dalam melaksanakan KTSP di lapangan. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 6. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. sebaiknya secara periodik (1 tahun sekali) dilakukan monitoring dan berupaya untuk membandingkannya. Agar monitoring ini dapat jauh lebih bermanfaat. 5. 4. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dari SDM pada tingkat sekolah maupun dinas pendidikan.Penerapan KTSP pada penyelenggaraan pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan SI dan SKL. 7. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 100 . Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan.

MP.Daftar Pustaka - Subagio A. Fakultas psikologi Universitas Pajajaran.M. Ardadizya Jaya. Sc.. Admistrasi Pendidikan. PT Remaja Rosdakarya. Ngalim Purwanto..Ed. Sahertian. 2003.. Drs. 2002 - Piet A. Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.. Angkasa. M.. Bandung. Manajemen Pelatihan. 2000 Oteng sutisna. Modul Implementasi kurikulum Management of Trainers. Rineka Cipta. 1983 Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 101 . Prof. Bandung. Pusimplementasi kurikulum Pegawai Depdiknas.Drs. 2001 - M. - Suryana Sumantri.Ed.. Drs. Prof. Supervisi Pendidikan.. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jakarta.. 2002 Agus Dharma. Dr.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful