P. 1
Evaluasi Pelaks KTSP_2008

Evaluasi Pelaks KTSP_2008

|Views: 664|Likes:

More info:

Published by: Hendi Nurdian Hidayat on Sep 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2012

pdf

text

original

EVALUASI PELAKSANAAN KTSP OLEH TIM PENGEMBANG KURIKULUM PROPINSI

PUSAT KURIKULUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA 2008

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendinas) No. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23 tahun 2006 tentang standar isi dan standar kompetensi lulusan disebutkan bahwa salah satu tugas pokok Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dalam hal ini, Pusat Kurikulum adalah memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. 22

Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, mengevaluasinya, dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri. Salah satu yang menjadi bagian dari monitoring tersebut adalah melakukan monitoring secara nasional penerapan peraturan menteri pendidikan nasional dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelaksanaannya. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut perlu dilakukan serangkaian langkah kegiatan mencakup penyusunan panduan dan intrumen evaluasi, pelaksanaan evaluasi dan penyusunan laporan. Panduan digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan instumen dan melaksanakan evaluasi untuk mendapatkan data dan informasi tentang pelaksanaan KTSP pada setiap daerah secara kualitatif maupun kuantitatif. Pelaksanaan evaluasi merupakan langkah kegiatan untuk mendapatkan data dan informasi penerapan KTSP pada daerah yang menjadi objek atau sasaran evaluasi. Penyusunan laporan memuat temuan, masukan atau rekomendasi berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui evaluasi pelaksanaan KTSP agar kebijakan tentang pengembangan kurikulum dapat diterapkan secara efisien dan efektif. B. TUJUAN Kegiatan ini bertujuan untuk melaksanakan evaluasi pengembangan dan pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan sehingga didapat data dan informasi tentang tingkat penerapan KTSP secara kualitatif ataupun kuantitatif pada tiap daerah yang dapat dimanfaatkan satuan pendidikan (sekolah) dalam implementasi kurikulum pada tataran sekolah/daerah.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

1

C. RUANG LINGKUP Kegiatan ini memonitor dan mengevaluasi penerapan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di 33 propinsi D. HASIL YANG DIHARAPKAN Melalui kegiatan ini akan dihasilkan laporan gambaran penerapan KTSP di 33 provinsi, pada satuan pendidikan dasar dan menengah E. PELAKSANAAN Kegiatan penyusunan laporan dilaksanakan pada tanggal 9 – 13 Desember 2008 di Cisarua, Kabupaten Bogor. F. PESERTA Peserta yang dilibatkan dalam kegiatan ini terdiri dari unsure: Satuan Pendidikan, LPMP, Perguruan Tinggi, dan Pusat Kurikulum. Rincian Peserta terlampir

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

2

BAB II KERANGKA BERPIKIR

A. STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Menurut Undang-Undang (UU) No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan kurikulum dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Hal ini dimaksudkan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan pada satuan pendidikan dengan kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, kurikulum dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Selanjutnya pada pasal 36 disebutkan bahwa pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan harus disempurnakan dan ditingkatkan secara berencana, terarah dan berkala sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Kata standar memiliki makna tingkat atau level kualitas atau keunggulan yang harus dicapai dengan kriteria, benchmark, persayaratan atau spesifikasi tertentu. Hal ini sesuai dengan pengertian di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa standar nasional pendidikan merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar nasional pendidikan terdiri atas: 1. standar isi Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

3

Kerangka dasar kurikulum adalah rambu-rambu yang dijadikan pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan. Kerangka dasar dan struktur kurikulum mengatur tentang kelompok mata pelajaran serta kedalaman muatan kurikulum yang dituangkan dalam kompetensi, yaitu standar kompetensi dan kompetensi dasar. Beban belajar mengatur tentang jam pembelajaran dengan sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, pelaksanaan pembelajaran sistem paket dan satuan kredit semester (SKS), serta pemberian pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP. KTSP untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB,

SMA/MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK. Kalender pendidikan/kalender akademik mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur. 2. standar proses Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Standar proses mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. 3. standar kompetensi lulusan

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

4

Standar kompetensi lulusan (SKL) adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Standar ini meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran 4. standar pendidik dan tenaga kependidikan Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Standar ini mengatur tentang pendidik yang harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, Rasio pendidik terhadap peserta didik, kelengkapan dan kualifikasi tenaga kependidikan satuan pendidikan, pengawas satuan pendidikan. 5. standar sarana dan prasarana Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Standar ini mengatur tentang kelengkapan, jenis dan kualitas sarana dan prasarana satuan pendidikan. 6. standar pengelolaan Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Standar ini terdiri atas standar pengelolaan oleh satuan pendidikan, standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan standar pengelolaan oleh pemerintah. Standar pengelolaan oleh satuan pendidikan mengatur tentang penerapan prinsip manajemen berbasis sekolah (MBS), proses pengambilan keputusan, pedoman, rencana kerja tahunan, Pelaksanaan pengelolaan dan pengawasan satuan pendidikan.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

5

2. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah propinsi 4. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah (menteri) 3. dan terencana dalam suatu program penjaminan mutu yang memiliki target dan kerangka waktu yang jelas. prosedur. pemerintah propinsi. Pemerintah. Setiap satuan pendidikan pada jalur formal dan nonformal wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan. dan biaya personal satuan pendidikan. pemantauan. oleh satuan pendidikan dan oleh pemerintah. Standar ini mengatur tentang penilaian hasil belajar oleh pendidik. LPMP mensurpervisi dan membantu satuan pendidikan dalam penjaminan mutu. pemerintah kabupaten/kota. Sedangkan evaluasi pendidikan meliputi: 1. penyelenggaraan satuan pendidikan bertaraf internasional. biaya operasi. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bertugas melakukan pengembangan. standar penilaian pendidikan Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 6 . Standar ini mengatur tentang biaya investasi. serta tentang kelulusan peserta didik. 7. dan pelaporan pencapaian standar nasional pendidikan. Pencapaian kompetensi akhir peserta didik dinyatakan dalam dokumen ijazah dan/atau sertifikat kompetensi. Dalam melaksanakan tugasnya BSNP menunjuk tim ahli yang bersifat ad-hoc sesuai kebutuhan. 8. sistematis.Standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan pemerintah mengatur tentang rencana kerja tahunan. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah kabupaten/kota 5. dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. secara bertahap. standar pembiayaan Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. evaluasi kinerja pendidikan oleh lembaga mandiri Pemerintah melakukan akreditasi pada setiap jenjang dan satuan pendidikan untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan. evaluasi kinerja pendidikan oleh satuan pendidikan pada tiap akhir semester.

dan (4) kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pendahuluan Bagian ini menjelaskan cakupan standar isi yang meliputi: (1) kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan. Bagian ini meliputi: a) Kerangka Dasar Kurikulum 1) Kelompok Mata Pelajaran Bagian ini menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum.Penyelenggaraan satuan pendidikan yang tidak mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan dapat memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari BSNP didasarkan pada penilaian khusus. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum. 2. 22 tahun 2006 adalah sebagai berikut. Ini berarti ketentuan di dalam Permendiknas tersebut bersifat minimal yang harus dicapai peserta didik pada setiap satuan pendidikan. kejuruan. B. STANDAR ISI Di dalam Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Standar Isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang selanjutnya disebut Standar Isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Sistematika Standar Isi dalam lampiran Permendiknas No. (3) kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi. 1. (2) beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah. dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 7 .

dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya (2) Beragam dan terpadu (3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.(1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu. (5) kelompok mata pelajaran jasmani. teknologi. dinamis dan menyenangkan. kebutuhan. dan seni (4) Relevan dengan kebutuhan kehidupan (5) Menyeluruh dan berkesinambungan (6) Belajar sepanjang hayat (7) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah 3) Prinsip Pelaksanaan Kurikulum Bagian ini menyatakan bahwa pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut. (1) Berpusat pada potensi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 8 . (2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. (1) Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi. (4) kelompok mata pelajaran estetika. 2) Prinsip Pengembangan Kurikulum Bagian ini menyatakan bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut. perkembangan. (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. olahraga dan kesehatan.

dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan. (5) Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia. keterkaitan. (7) Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran. dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. dan menyenangkan. (3) Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan. pengayaan. dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi. keindividuan. dengan prinsip tut wuri handayani. kesosialan. (b) belajar untuk memahami dan menghayati. sumber belajar dan teknologi yang memadai.(2) Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar. (4) Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai. ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan. akrab. terbuka. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 9 . dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri. dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan. (6) Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam. (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain. dan/atau percepatan sesuai dengan potensi. efektif. tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar. ing madia mangun karsa. muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan. sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal. melalui proses pembelajaran yang aktif. di tengah membangun semangat dan prakarsa. dan moral. tahap perkembangan. di depan memberikan contoh dan teladan). (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif. yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan hangat. contoh dan teladan). kreatif.

guru. II. Sedangkan untuk kelas IV s.d.d. dan pengembangan diri Pembelajaran pada Kelas I s. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.d. bakat.b) Struktur Kurikulum Pendidikan Umum Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. dan pengembangan karir peserta didik. Struktur kurikulum pendidikan umum memuat komponen mata pelajaran. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. muatan lokal. Kurikulum SD/MI memuat 8 mata pelajaran. III dilaksanakan melalui pendekatan tematik. dan III adalah 26. 1) Struktur Kurikulum SD/MI Struktur kurikulum SD/MI meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai Kelas I sampai dengan Kelas VI. 27 dan 28 jam pelajaran per minggu. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. VI adalah 32 jam pelajaran per minggu. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 35 menit. muatan lokal dan pengembangan diri. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 10 . Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. sedangkan pada Kelas IV s. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. termasuk keunggulan daerah. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum untuk kelas I . Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. belajar.

kelas XI dan XII adalah 39 jam pelajaran dan kelas XI dan XII untuk MA program keagamaan adalah 38 jam pelajaran per minggu. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum adalah 32 jam pelajaran per minggu. muatan lokal. Program IPS. dan Program Keagamaan terdiri atas 13 mata pelajaran. yaitu kelas X merupakan program umum yang diikuti oleh seluruh peserta didik. Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII Program IPA. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 40 menit. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 45 menit. dan (4) Program Keagamaan. dan pengembangan diri c) Struktur Kurikulum Pendidikan Kejuruan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 11 . Substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu”. Kurikulum SMP/MTs memuat 10 mata pelajaran. khusus untuk MA. 3) Struktur Kurikulum SMA/MA Struktur kurikulum SMA/MA meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas X sampai dengan Kelas XII. Kurikulum SMA/MA Kelas X terdiri atas 16 mata pelajaran.2) Struktur Kurikulum SMP/MTs Struktur kurikulum SMP/MTs meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas VII sampai dengan Kelas IX. Pengorganisasian kelas-kelas pada SMA/MA dibagi ke dalam dua kelompok. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. dan pengembangan diri. (2) Program Ilmu Pengetahuan Sosial. muatan lokal. dan kelas XI dan XII merupakan program penjurusan yang terdiri atas empat program: (1) Program Ilmu Pengetahuan Alam. muatan lokal. Program Bahasa. (3) Program Bahasa. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum kelas X adalah 38 jam pelajaran. dan pengembangan diri.

Muatan Lokal. serta memiliki kemampuan mengembangkan diri Kurikulum SMK/MAK berisi mata pelajaran wajib. belajar.Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. dan pembentukan karier peserta didik. IPA. guru. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas. serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Pendidikan Kewarganegaraan. kepribadian. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. mata pelajaran Kejuruan. Seni dan Budaya. Matematika. Bahasa. dan Keterampilan/Kejuruan. akhlak mulia. pengetahuan. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta mengembangkan keahlian dan keterampilan. dan prospek pengembangan daerah termasuk keunggulan daerah. Pengembangan diri bagi peserta didik Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 12 . mereka harus memiliki stamina yang tinggi. memiliki etos kerja yang tinggi. dan Pengembangan Diri. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Pendidikan Jasmani dan Olahraga. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. IPS. dan mampu berkomunikasi sesuai dengan tuntutan pekerjaannya. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan program keahlian yang diselenggarakan. potensi daerah. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Mata pelajaran ini bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam spektrum manusia kerja. Mata pelajaran wajib terdiri atas Pendidikan Agama. bakat. Mata pelajaran Kejuruan terdiri atas beberapa mata pelajaran yang bertujuan untuk menunjang pembentukan kompetensi kejuruan dan pengembangan kemampuan menyesuaikan diri dalam bidang keahliannya.

Struktur kurikulum SMK/MAK disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran. Bahasa Indonesia. Beban belajar SMK/MAK meliputi kegiatan pembelajaran tatap muka. Jumlah jam Kompetensi Kejuruan pada dasarnya sesuai dengan kebutuhan standard kompetensi kerja yang berlaku di dunia kerja tetapi tidak boleh kurang dari 1044 jam. Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. IPA. Alokasi waktu satu jam pelajaran tatap muka adalah 45 menit. Di dalam penyusunan kurikulum SMK/MAK mata pelajaran dibagi ke dalam tiga kelompok: (1) Kelompok normatif adalah mata pelajaran yang dialokasikan secara tetap yang meliputi Pendidikan Agama. dan dapat diselenggarakan dalam blok waktu atau alternatif lain. IPS. Pendidikan Kewarganegaraan. Struktur kurikulum SMK/MAK meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun atau dapat diperpanjang hingga empat tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII atau kelas XIII. Matematika. Kelompok adaptif dan produktif adalah mata pelajaran yang alokasi waktunya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian.SMK/MAK terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. Pendidikan SMK/MAK diselenggarakan dalam bentuk pendidikan sistem ganda. praktik di sekolah dan kegiatan kerja praktik di dunia usaha/industri ekuivalen dengan 36 jam pelajaran Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 13 . Evaluasi pembelajaran dilakukan setiap akhir penyelesaian satu standar kompetensi atau beberapa penyelesaian kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran. dan Seni Budaya (2) Kelompok adaptif terdiri atas mata pelajaran Bahasa Inggris. dan Kewirausahaan (3) Kelompok produktif terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang dikelompokkan dalam Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi Kejuruan. yang materinya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian untuk memenuhi standar kompetensi kerja di dunia kerja.

Program khusus berisi kegiatan yang bervariasi sesuai degan jenis ketunaannya. dan bina pribadi dan sosial untuk peserta didik tunalaras. kemampuan. termasuk keunggulan daerah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. Pengembangan diri terutama ditujukan untuk peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. muatan lokal. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. intelektual dan/atau sosial. yaitu program orientasi dan mobilitas untuk peserta didik tunanetra. bina diri untuk peserta didik tunagrahita. program khusus. d) Struktur Kurikulum Pendidikan Khusus Struktur Kurikulum dikembangkan untuk peserta didik berkelainan fisik. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. maksimum empat tahun sesuai dengan tuntutan program keahlian. dalam batas-batas tertentu masih dimungkinkan dapat mengikuti kurikulum standar meskipun harus dengan penyesuaian-penyesuaian.per minggu. mental. emosional. guru. dan pengembangan diri. bina komunikasi persepsi bunyi dan irama untuk peserta didik tunarungu. belajar. Lama penyelenggaraan pendidikan SMK/MAK tiga tahun. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Kurikulum Pendidikan Khusus terdiri atas delapan sampai dengan 10 mata pelajaran. Peserta didik ini yang berkeinginan untuk melanjutkan sampai ke jenjang pendidikan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 14 . bakat. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. dan pengembangan karir peserta didik. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. bina gerak untuk peserta didik tunadaksa. Peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata.

dan SMALB A. sederhana dan bersifat tematik untuk mendorong kemandirian dalam hidup sehari-hari.E dirancang untuk peserta didik yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang pendidikan tinggi.E mengacu kepada satuan pendidikan umum yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan khusus peserta didik. sedangkan kompetensi untuk mata pelajaran Program Khusus. D = tunadaksa ringan. Pada satuan pendidikan SMPLB A. B.D.D. semaksimal mungkin didorong untuk dapat mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan umum sejak SD atau SMP. B. Bagi mereka yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.D. SDLB SMPLB SMALB MASYARAKAT ANAK LUAR BIASA/ANAK BERKELAINAN PERGURUAN TINGGI/ MASYARAKAT SD/MI SMP/ MTs SMA/MA SMK/MAK Kurikulum untuk peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata.tinggi. Peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. diperlukan kurikulum yang sangat spesifik. B = tunarungu. D. dan SMALB. B.D. E (A = tunanetra.E dan SMALB A. dan Keterampilan dikembangkan oleh satuan Pendidikan Khusus dengan memperhatikan jenjang dan jenis satuan pendidikan. E. D. Kompetensi mata pelajaran umum SDLB. E = tunalaras).B. menggunakan sebutan Kurikulum SDLB A. setelah menyelesaikan pada jenjang SDLB dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMPLB. E.B.B.B. SMALB A.E relatif sama dengan kurikulum SD umum. SMPLB. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 15 . Mekanisme perpindahan jalur pendidikan adalah sebagai berikut. SMPLB A . Kurikulum SDLB A. D.

SMPLB C. (1) Orientasi dan Mobilitas untuk peserta didik Tunanetra (2) Bina Komunikasi. dan tidak dihitung sebagai beban belajar.Proporsi muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMPLB A. G = tunaganda). Kompetensi mata pelajaran pada SDLB.D1.30% berisi aspek keterampilan vokasional. C1.E terdiri atas 40% – 50% aspek akademik dan 60% . Kurikulum untuk peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. dan 4 jam Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 16 . program khusus bersifat kasuistik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik tertentu. D1.G dikembangkan satuan Pendidikan Khusus yang bersangkutan dengan memperhatikan tingkat dan jenis satuan pendidikan.B. D1. Struktur kurikulum pada satuan Pendidikan Khusus SDLB dan SMPLB mengacu pada Struktur Kurikulum SD dan SMP dengan penambahan Program Khusus sesuai jenis kelainan. SMPLB adalah 35 menit dan SMALB adalah 40 menit sesuai dengan kondisi peserta didik yang berkaelainan.B.D. dengan alokasi waktu 2 jam/minggu. C1. C1. SMPLB dan SMALB C. menggunakan sebutan Kurikulum SDLB C. Program Khusus sesuai jenis kelainan peserta didik meliputi sebagai berikut. D1. Kurikulum ini dirancang sangat sederhana sesuai dengan batas-batas kemampuan peserta didik dan sifatnya lebih individual. Satuan pendidikan khusus SDLB dan SMPLB dapat menambah maksimum 6 jam pembelajaran/minggu untuk keseluruhan jam pembelajaran. G.50% aspek keterampilan vokasional.C1. Muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMALB A. dan Tunaganda. C1 = tunagrahita sedang. dan SMALB C.70% aspek akademik dan 40% . Satu jam pelajaran untuk SDLB adalah 30 menit. D1 = tunadaksa sedang. (C = tunagrahita ringan. Persepsi Bunyi dan Irama untuk peserta didik Tunarungu (3) Bina Diri untuk peserta didik Tunagrahita Ringan dan Sedang (4) Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Ringan (5) Bina Pribadi dan Sosial untuk peserta didik Tunalaras (6) Bina Diri dan Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Sedang. G. Untuk jenjang SMALB. G.D. Pembelajaran menggunakan pendekatan tematik.E terdiri atas 60% .

Lampiran 2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMP/MTs dan SMPLB. Beban Belajar Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka. Beban belajar atau alokasi waktu yang diatur dalam struktur kurikulum adalah beban belajar dalam bentuk tatap muka. tingkat terampil dan tingkat mahir.D. SMALB C. 3.D1. kemampuan dan kebutuhan peserta didik serta kondisi satuan pendidikan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 17 . Jenis keterampilan yang akan dikembangkan.E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMA umum sehingga menjadi sekitar 40% – 50% bidang akademik. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.B. Muatan isi mata pelajaran SMPLB A.pembelajaran untuk tingkat SMALB sesuai kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan yang bersangkutan.G lebih ditekankan pada kemampuan menolong diri sendiri dan keterampilan sederhana yang memungkinkan untuk menunjang kemandirian peserta didik. potensi. Sisanya sekitar 40% . proporsi muatan keterampilan vokasional lebih diutamakan e) Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran pada setiap tingkat dan semester disajikan pada lampiran-lampiran Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi yang terdir atas: Lampiran 1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI dan SDLB.30% muatan isi kurikulum ditekankan pada bidang keterampilan vokasional yang meliputi tingkat dasar.E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMP umum sehingga menjadi sekitar 60% – 70%.B. diserahkan kepada satuan pendidikan sesuai dengan minat. Muatan isi mata pelajaran untuk SMALB A.C1. dan sekitar 60% – 50% bidang keterampilan vokasional. penugasan terstruktur. Oleh karena itu.D. Muatan kurikulum SDLB. SMPLB. dan Lampiran 3 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK.

dan satu jam kegiatan mandiri tidak terstruktur. SMA/MA/SMALB/SMK/MAK maksimum 60% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik.Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. waktu pembelajaran efektif dan hari libur. a) Alokasi Waktu Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 18 . satu jam penugasan terstruktur. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada untuk: a. Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem kredit semester dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). Sistem kredit semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. Satuan pendidikan SD/MI/SDLB melaksanakan program pendidikan dengan menggunakan sistem paket. 4. Kalender Pendidikan Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran. SD/MI/SDLB maksimum 40% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan b. c. Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB. minggu efektif belajar. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem kredit semester. Beban belajar satu sks meliputi satu jam pembelajaran tatap muka. SMP/MTs/SMPLB maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. sedangkan untuk kegiatan mandiri tidak terstruktur diatur sendiri oleh peserta didik. Program percepatan dapat diselenggarakan untuk mengakomodasi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori standar menggunakan sistem paket atau dapat menggunakan sistem kredit semester.

Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional. waktu libur dan kegiatan lainnya adalah sebagai berikut. No 1. Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing-masing Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif 8. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 19 . dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus. Pemerintah Pusat/Provinsi /Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan. Libur akhir tahun pelajaran Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah 5. Kegiatan Minggu efektif belajar Alokasi Waktu 34 – 38 minggu Keterangan Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan Satu minggu setiap semester 2. dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan. Jeda tengah semester Maksimum 2 minggu Maksimum 2 minggu Maksimum 3 minggu 2 – 4 minggu 3. Kegiatan khusus sekolah/madrasah b) Penetapan Kalender Pendidikan Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya. Hari libur keagamaan 6. Hari libur umum/nasional Hari libur khusus Maksimum 2 minggu Maksimum 1 minggu Maksimum 3 minggu 7. Jeda antarsemester Antara semester I dan II 4.Alokasi waktu minggu efektif belajar.

kepribadian. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut 3. dan SMK/MAK terdiri atas 23 butir. Tujuan setiap satuan pendidikan yang tertuang dalam lampiran Permendiknas No. yakni: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 20 . STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Di dalam Permendiknas No. 1. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. yang meliputi SD/MI/SDLB/Paket A dan SMP/MTs. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut 2. SMA/MA/SMALB*/Paket C terdiri atas 23 butir. SKL meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah. C./SMPLB/Paket B bertujuan: Meletakkan dasar kecerdasan. Pendidikan Dasar. pengetahuan. 23 tahun 2006 adalah sebagai berikut. pengetahuan. kepribadian. Pendidikan Menengah yang terdiri atas SMA/MA/SMALB/Paket C bertujuan: Meningkatkan kecerdasan. pengetahuan. Pendidikan Menengah Kejuruan yang terdiri atas SMK/MAK akhlak bertujuan: serta Meningkatkan kecerdasan. kepribadian. standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran. Ini berarti ketentuan di dalam Permendiknas tersebut bersifat minimal yang harus dicapai lulusan peserta didik pada setiap satuan pendidikan. dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran. keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya Standar kompetensi lulusan satuan pendidikan SD/MI/SDLB*/Paket A terdiri atas 17 butir. akhlak mulia.waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah. mulia. Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran dikembangkan berdasarkan tujuan dan cakupan muatan dan/ atau kegiatan setiap kelompok mata pelajaran. SMP/MTs/SMPLB*/Paket B terdiri atas 21 butir. akhlak mulia.

dan/atau teknologi informasi dan komunikasi. ilmu pengetahuan alam. dan kesehatan. 3. keterampilan. ilmu pengetahuan dan teknologi. matematika. ilmu pengetahuan sosial. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. Kelompok mata pelajaran Estetika bertujuan: membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. ilmu pengetahuan sosial. ilmu pengetahuan alam. estetika. keterampilan/kejuruan. olahraga. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. 2. ilmu pengetahuan sosial. teknologi informasi dan komunikasi. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. ilmu pengetahuan alam. teknologi informasi dan komunikasi. Tujuan tersebut dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama. seni dan budaya. akhlak mulia. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. seni dan budaya. matematika. Kelompok mata pelajaran Kewarganegaraan dan Kepribadian bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. ilmu pengetahuan sosial. kepribadian. kewarganegaraan. serta muatan lokal yang relevan 4. bahasa. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 21 . serta muatan lokal yang relevan Pada satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/Paket C. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. dan muatan lokal yang relevan. ilmu pengetahuan alam. serta muatan lokal yang relevan Pada satuan pendidikan SMK/MAK. keterampilan/kejuruan. Kelompok mata pelajaran Agama dan Akhlak Mulia bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. kewarganegaraan. keterampilan/kejuruan. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama. Pada satuan pendidikan SD/MI/SDLB/Paket A. keterampilan. matematika. kemampuan berpikir dan analisis peserta didik. Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan: mengembangkan logika. matematika. kejuruan. dan muatan lokal yang relevan. Pada satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB/Paket B. dan pendidikan jasmani. jasmani.1.

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan pendidikan jasmani. Pendidikan Agama Hindu. Keterampilan. Seni Budaya dan Keterampilan. IPA. pendidikan kesehatan. Matematika Program Bahasa. Matematika. Pendidikan Agama Kristen. Bahasa Indonesia Program Bahasa. Matematika. Pendidikan Kewarganegaraan. Bahasa Indonesia. Bahasa Inggris. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMP/MTs terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Kewarganegaraan. Bahasa Mandarin. Seni Budaya. Pendidikan Agama Hindu. Kelompok mata pelajaran Jasmani. Pendidikan Agama Kristen. Kimia. dan muatan lokal yang relevan. dan menumbuhkan rasa sportivitas. Sejarah Program IPS. Seni Budaya. dan Kesehatan bertujuan: membentuk karakter peserta didik agar sehat jasmani dan rohani. Bahasa Arab. Bahasa Indonesia Program IPA/IPS. Matematika Program IPA. olahraga. Pendidikan Agama Katolik. Teknologi Informasi dan Komunikasi.5. Bahasa Indonesia. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. dan Bahasa Inggris. IPS. Pendidikan Kewarganegaraan. Matematika. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Agama Hindu. Bahasa Perancis. Bahasa Indonesia. Pendidikan Kewarganegaraan. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SD/MI terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. IPS. IPA. Pendidikan Agama Katolik. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 22 . Matematika Program IPS. Pendidikan Agama Hindu. dan Bahasa Inggris. Pendidikan Agama Buddha. dan Antropologi Program Bahasa. Seni Budaya dan Keterampilan. Olah Raga. Bahasa Jepang. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. ilmu pengetahuan alam. Biologi. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMA/MA terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Sejarah Program IPA. Bahasa Inggris. Geografi. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan Agama Buddha. Sosiologi. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SDLB A. Ekonomi. IPS. Sastra Indonesia Program Bahasa. D. IPA. Pendidikan Agama Buddha. Keterampilan. Bahasa Jerman. B. Fisika. Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Agama Buddha. dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Sejarah Program Bahasa. Bahasa Inggris Program Bahasa. Pendidikan Agama Kristen.

Pendidikan Agama Hindu. Biologi Kelompok Pertanian. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Fisika Kelompok Teknologi. Keterampilan. Seni Budaya. dan peserta didik. Penyususnan kurikulum juga dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan. sosial budaya masyarakat setempat. Kimia Kelompok Pertanian. IPS. D. IPS. Kimia Kelompok Teknologi dan Kesehatan. Kesehatan. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. B. D. Matematika Kelompok Seni. Biologi Kelompok Kesehatan. Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi. Pendidikan Agama Hindu. Pendidikan Agama Buddha. Pengembangan kurikulum yang disssun oleh satuan pendidikan berdampak pada perubahan dalam proses dan mekanisme penyusunan kurikulum dan orientasi kerja Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 23 . Bahasa Inggris. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMALB A. Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Agama Hindu. Bahasa Indonesia. Pendidikan Agama Buddha. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. IPA. Matematika Kelompok Teknologi. IPS. Seni Budaya. Bahasa Inggris. Administrasi Perkantoran dan Akuntasi. Keterampilan Vokasional/Teknologi Informasi dan Komunikasi. B. Matematika Kelompok Sosial. Pendidikan Agama Buddha. potensi daerah/karakteristik daerah. Bahasa Indonesia. IPA. Bahasa Inggris. Pendidikan Agama Kristen. dan Teknologi Kerumahtanggaan. dan Kewirausahaan. Pariwisata. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan.Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMPLB A. Pendidikan Agama Kristen. IPA. Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Agama Katolik. D. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMK/MAK terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Bahasa Indonesia. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Kewarganegaraan. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. dan Pertanian. Fisika Kelompok Pertanian. Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Agama Katolik. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Matematika. Seni Budaya. Matematika.

Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut. terutama dalam mengembangkan dan menerapkan kurikulum di tingkat sekolah. (1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 24 . kabupaten. Khusus untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya untuk program paket A. a. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. kepribadian. c. Pada buku ”Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah” yang diterbitkan oleh BSNP tahun 2006. akhlak mulia. Sehingga pencapaian hasil pendidikan optimal sesuai dengan kondisi. kepribadian. akhlak mulia. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut. kepribadian. pengetahuan. namun pencapaian minimalnya sama untuk setiap satuan pendidikan. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. potensi. tetapi disusun oleh masing-masing sekolah atau kelompok sekolah dengan mengacu pada standar isi dan standar kompetensi lulusan. pengetahuan. komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan yang perlu dikembangkan oleh sekolah adalah: 1. dan kebutuhan satuan pendidikan. Salah satu dampak tersebut adalah bahwa kurikulum tidak ditetapkan lagi secara nasional. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan.Pendidikan/Kanwil Depag di tingkat propinsi. akhlak mulia. B dan C ditetapkan oleh dinas kabupaten/kota berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. kota dan sekolah. 2. pengetahuan. b.

a. Satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. sesuai kebutuhan. olahraga dan kesehatan Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 Pasal 7. b. Muatan Lokal Muatan lokal merupakan mata pelajaran yang isinya disesuaikan dengan ciri khas. potensi. Satuan pendidikan dapat mengembangkannya dalam bentuk program kegiatan yang berisi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 25 . yang materinya belum tertuang pada mata pelajaran yang ada. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Dinas pendidikan dapat mengkoordinasikan pengembangan muatan lokal sejenis untuk satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. atau keunggulan daerah. Kegiatan Pengembangan Diri Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran sehingga tidak harus dirumuskan dalam bentuk standar kompetensi dan kompetensi dasar. tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. c. Mata pelajaran Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi. Ini berarti bahwa dalam satua tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal. sebagai berikut. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran. muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan.(2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian (3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi (4) Kelompok mata pelajaran estetika (5) Kelompok mata pelajaran jasmani. Perlu diperhatikan bahwa bagi satuan pendidikan yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi memungkinkan menambah atau menyesuaikan mata pelajaran dan alokasi waktunya.

Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif. belajar. Pengaturan Beban Belajar Di dalam penjelasan PP No. Beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh satuan pendidikan SD/MI/SDLB. kepemimpinan. Khusus untuk sekolah menengah kejuruan pengembangan diri terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier.tujuan kegiatan dan bentuk dan pengelolaan kegiatan. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem SKS. Penambahan maksimum empat jam. dan pengembangan karier peserta didik serta dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler seperti keparamukaan. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. 3. di samping dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di dalam Standar Isi. tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran.. tidak terlepas kaitannya dari struktur kurikulum sebagai Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 26 . Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/SMALB /SMK/MAK kategori standar dapat menggunakan sistem paket atau sistem SKS. Pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap. Untuk satuan pendidikan khusus menekankan pada peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. dan kelompok ilmiah remaja. Kegiatan ini difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor. dan sekolah/ madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa Pemerintah mengkategorikan sekolah/ madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri. guru.

a. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. penugasan terstruktur. dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka. 4. Alokasi waktu untuk tatap muka. Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait. Satu SKS pada SMP/MTs terdiri atas: 40 menit tatap muka. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi.bagian dari standar isi. Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket untuk SD/MI/SDLB 0% .40%. 25 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. tentu dapat menambah jam sesuai dengan kondisi. 20 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK yang menggunakan sistem SKS mengikuti aturan sebagai berikut. Kenaikan Kelas dan Kelulusan Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. potensi dan kebutuhan. yang sifatnya minimal. Sesuai dengan ketentuan PP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 27 . SMP/MTs/SMPLB 0% . Ketuntasan Belajar Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%.50% dan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK 0% . Bagi satuan pendidikan dan komite yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi.60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. 5. b. Satu SKS pada SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: 45 menit tatap muka. Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal. Alokasi waktu untuk praktik.

c. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 28 . dan kesehatan. b. Materi ujian nasional dikembangkan tentu mengacu kepada Standar Isi dan SKL yang sifatnya minimal. lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. tentunya siap untuk mengikuti ujian nasional. dan kelompok mata pelajaran jasmani. olahraga. Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian integral dari pendidikan semua mata pelajaran dan/atau berupa paket/modul yang direncanakan secara khusus. Kriteria penjurusan diatur oleh direktorat teknis terkait. Pendidikan Kecakapan Hidup Kurikulum untuk SD/MI/SDLB. kelompok mata pelajaran estetika. SMK/MAK dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup. kecakapan sosial. Apabila satuan pendidikan telah mengembangkan dan menerapkan kurikulum yang mengacu standar isi dan SKL (apalagi kurikulum dengan standar lebih tinggi). Keempat syarat diatas bersifat ururtan prasyarat. dan d. belum bisa mengikuti ujian sekolah. kecakapan akademik dan/atau kecakapan vokasional. Penjurusan Penjurusan dilakukan pada kelas XI dan XII di SMA/MA.19/2005 Pasal 72 Ayat (1). menyelesaikan seluruh program pembelajaran. lulus Ujian Nasional. dan tentu saja belum bisa mengikuti ujian nasional. peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah: a. 7. yang mencakup kecakapan pribadi. 6. SMA/MA/ SMALB. artinya seorang peserta didik yang belum menyelesaikan seluruh program pemebelajaran berarti belum mendapat nilai baik untuk kelompok non iptek. SMP/MTs/SMPLB. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. kelompok kewarganegaraan dan kepribadian.

teknologi informasi dan komunikasi. yang dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran dan juga dapat menjadi mata pelajaran muatan lokal. tes praktek. 9. 10. karakteristik sekolah. Silabus Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran. penilaian hasil pembelajaran. Teknik penilaian tersebut dapat berupa tes tertulis.Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan/atau dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal. dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana yang dimuat dalam Standar Isi. dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. kebutuhan peserta didik dan masyarakat. dan lain-lain. dapat meminta peserta didik untuk mendapatkannya dari satuan pendidikan formal dan non formal lainnya. ekologi. yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi. Penilaian yang dimaksud menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik. dan penugasan perseorangan atau Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 29 . Kalender Pendidikan Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi. budaya. pelaksanaan proses pembelajaran. 8. Bagi sekolah yang belum memungkinkan memberikan pendidikan kecakapan hidup. Kurikulum untuk semua tingkat satuan pendidikan dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. observasi. bahasa.

dan penilaian hasil belajar. dengan memperhatikan hal berikut. kondisi sekolah dan lingkungannya. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran. kegiatan pembelajaran. materi dan metode pengajaran. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. Di dalam panduan penyusuan kurikulum disebutkan bahwa silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi. alokasi waktu. Silabus dan RPP merupakan bagian tak terpisahkan dari komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan. Khusus untuk SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi. kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG). per tahun. c. serta teknik penilaiannya sesuai dengan karakteristik hasil pembelajaran dan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah. kompetensi dasar. Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 30 . dan sumber/bahan/alat belajar. penilaian. sumber belajar. Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester. b. indikator. dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok. kegiatan pembelajaran. Sedangkan unit waktu silabus diatur sebagai berikut: a. a. materi pokok/pembelajaran. Disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik siswa. dan Dinas Pendikan.kelompok.

Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi. Di SMP/MTs untuk mata pelajaran IPA dan IPS terpadu disusun secara bersama oleh guru yang terkait. peserta didik dengan guru. Langkah-langkah Pengembangan Silabus dapat dilakukan sebagai berikut. Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing. c. c. d. Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri. dari kelas I sampai dengan kelas VI. menyusun silabus secara bersama. Di SD/MI semua guru kelas. pokok bahasan. a.b. keterkaitan antar kompetensi dalam satu mata pelajaran atau antar mata pelajaran. maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah tersebut. e. Materi ini. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran Materi ini dapat berupa konsep. Sekolah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik. lingkungan. karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik. sebaiknya bergabung dengan sekolah-sekolah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolahsekolah dalam lingkup MGMP/PKG setempat. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 31 . tentu perlu mengembangkan silabus yang sesuai b. tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI. atau tema yang bersifat kontekstual dan dipilih sesuai dengan kondisi. dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Satuan pendidikan yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. potensi. nantinya diperinci dalam RPP.

Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. Cakupan jenis penilaian dalam silabus tentu harus mengakomodasi kompetensi dan indikator yang telah dirumuskan. yang nantinya diperinci dalam RPP. tingkat kesulitan. potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. pengukuran sikap. satuan pendidikan. d. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik. dan keterampilan. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan. proyek dan/atau produk. penilaian hasil karya berupa tugas. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Kegiatan pembelajaran dalam silabus merupakan pokok-pokok kegiatan siswa untuk mencapai kompetensi. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap. keluasan. agar penjabaran kompetensi lebih jelas. kedalaman. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. mata pelajaran. rinci dan terukur. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 32 . pengetahuan. Penentuan Jenis Penilaian Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. dapat dimasukkan bentuk penilaian dan jenis tugas yang perlu dilakukan siswa untuk melihat pencapaian kompetensi siswa. 6.melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. pengamatan kinerja. dan penilaian diri. e. penggunaan portofolio. Di dalam penilaian. Menentukan Alokasi Waktu Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar. Karena indikator dirumuskan dari kompetensi dasar berarti setiap kompetensi dasar memiliki lebih dari satu indikator.

b. c. Materi Ajar Materi ajar dirumuskan dari materi pokok atau materi pembelajaran pada silabus yang dapat berupa rincian secara runtut subpokok bahasan atau subtema. sumber belajar. Metode dan organisasi pembelajaran dapat berupa diskusi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 33 . sosial. 11. Pemilihan materi ajar ditentukan oleh kondisi. metode. penilaian hasil belajar. 7. dan indikator pencapaian kompetensi. potensi. kegiatan pembelajaran. Tujuan pembelajaran Tujuan pembelejaran dirumuskan dalam bentuk uraian proses kegiatan belajar dan kemampuan atau hasil belajar peserta didik untuk mencapai kompetensi atau indikator yang telah dirumuskan dalam silabus. Dengan demikian alokasi waktu yang ditetapkan dalam silabus dapat lebih dari satu kali pertemuan. narasumber. a. Menentukan Sumber Belajar Sumber belajar adalah rujukan. langkah-langkah pembelajaran. serta lingkungan fisik. tetapi dirancang satu kompetensi atau sekelompok kompetensi.Silabus tidak harus dirancang untuk satu kali pertemuan (tatap muka). alam. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan penjabaran sistematis dan terurut dari silabus yang dituangkan dalam tujuan pembelajaran. yang berupa media cetak dan elektronik. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran. dan budaya. Metode Metode atau strategi pembelajaran yang dituangkan dalam RPP merupakan bentuk kegiatan dan organisasi kelas yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. dan alokasi waktu untuk mencapai satu kompetensi dasar atau beberapa indikator dalam silabus tersebut. materi ajar. kebutuhan dan daya dukung sumber daya satuan pendidikan dan siswa. objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.

problem solving. skenario. dan sebagainya. tanya jawab. yang biasanya dilengkapi dengan LK (lembar kerja) atau lembar tugas. atau rencana pembelajaran yang dirancang dalam satu pertemuan atau beberapa pertemuan. termasuk menjelaskan tujuan pembelajaran. atau rangkuman hasil belajar. (1) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi. Langkah pembelajaran Langkah pembelajaran dirumuskan dan dirinci dari pokok-pokok kegiatan belajar yang telah ditetapkan dalam silabus sehingga kegiatan belajar menjadi efektif. contoh penilaian dan pedoman penskoran dari bentuk penilaian dan jenis tugas yang telah dirumuskan dalam silabus. d. penugsan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian. (1) Kegiatan awal Kegiatan ini dapat berupa apersepsi. RPP merupakan persiapan. Langkah pembelajaran memuat bentuk kegiatan belajar dan strategi pengorganisasian belajar kelas serta urutan kegiatannya sebagai berikut. Penilaian Penilaian ini memuat rincian bentuk. review (mengulang beberapa hal yang bersifat prasyarat). e. diskusi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 34 . kerja kelompok.informasi. penugasan lebih lanjut atau lebih mendalam. (3) Penutup Kegiatan penutup dari RPP dapat diisi dalam bentuk refleksi (perenungan) tentang pencapaian hasil belajar. (2) Kegiatan inti Kegiatan ini merupakan kegiatan dan organisasi belajar secara yang bervariasi dan terurut sistematis untuk mencapai kompetensi dan beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. Pelaksanaan penilaian terintegrasi dalam selama kegiatan belajar berlangsung. kegiatan problem solving aplikasi yang berkaitan dengan materi ajar.

dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya. program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan. (5) Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Sumber Belajar Sumber belajar meliputi bahan ajar. termasuk perlu diperjelas proporsi waktu untuk kegiatan awal. (4) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara. maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan. Alokasi waktu RPP dirancang menggunakan jam pembelajarn sehingga alokasi waktunya merupakan perkiraan jumlah jam pelajaran yang diperlukan untuk untuk mencapai kompetensi atau beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan. yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran.(2) Penilaian menggunakan acuan kriteria. serta untuk mengetahui kesulitan siswa. kegiatan inti dan penutup. media. (3) Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. g. termasuk cara penggunaannya. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya. alat. bahan. kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum. Misalnya. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 35 . dan alat bantu belajar yang digunakan untuk mencapai kompetensi atau beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. f. Di sini perlu dijelaskan ketersediaan dan banyaknya sumber belajar.

Satuan pendidikan perlu memiliki.E. penerapan atau pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan diatur dalam Permendiknas No. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 36 . Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 5 sampai dengan Pasal 18. potensi dan kebutuhan satuan pendidikan. Setiap satuan pendidikan yang akan mengembangkan kurikulum perlu memiliki dokumen yang berisi ketentuan-ketentuan di atas. penambahan mata pelajaran atau penambahan muatan lainnya. 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan. c. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 sampai dengan Pasal 38. sesuai potensi. maka satuan pendidikan dapat menyesuaikan alokasi waktu pada struktur kurikulum. kondisi dan kebutuhannya. PENERAPAN STANDAR ISI DAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Implementasi. Dengan mengembangkan dan menerapkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. potensi dan kebutuhan satuan pendidikan. mengatur sistem beban belajar. mengatur sistem akselerasi atau percepatan belajar dan sebagainya. 23 tahun 2006 Standar isi dan standar kompetensi lulusan merupakan ketentuan yang bersifat minimal sehingga satuan pendidikan dimungkinkan menyusun kurikulum dengan standar lebih tinggi. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. sesuai dengan kondisi. Kurikulum dengan standar lebih tinggi dapat berupa penambahan lingkup materi dan kompetensi. mengkaji. 22 dan No. dan Pasal 25 sampai dengan Pasal 27. dan memahami dokumen tersebut agar dapat mengembangkan kurikulum secara optimal. pendalaman kompetensi. 24 tahun 2006 disebutkan bahwa: (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan berdasarkan pada : a. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. d. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. mengatur kalender pendidikan. sesuai dengan kondisi. b. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Pada Permendiknas No. 22 tentang standar isi dan Permendiknas No.

Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa satuan pendidikan memungkinkan menerapkan Permendiknas No. di dalam Permendiknas No. 23 Tahun 2006. (5) Kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah.(3) Pengembangan dan penetapan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah memperhatikan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Perlu dikritisi bahwa pengembangan dan penetapan kurikulum merupakan tanggung jawab sekolah sehingga sekolah perlu secara mandiri menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan kurikulum dengan tetap mengacu pada ketentuan yang ada seperti pada UU sisdiknas. 22 dan No. 23 dan 24 tahun 2006. Pertimbangan komite dapat berarti berupa persetujuan setelah KTSP disusun oleh sekolah atau komite berpatisipasi aktif dan bekerjasama dalam proses penyusunan kurikulum dengan sekolah/madrasah. (4) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengadopsi atau mengadaptasi model kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun oleh BSNP. 22. tetapi harus menerapkan kurikulum sesuai dengan Permendiknas No. Hal ini untuk mengakomodasi kemungkinan terdapat satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan yang belum siap mengembangkan kurikulum sendiri. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa pada dasarnya satuan pendidikan tidak diharuskan mengembangkan kurikulum apabila belum memiliki kesiapan berbagai sumber daya yang diperlukan. Standar Kompetensi Lulusan dan ketentuan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 37 . Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa penetapan kurikulum satuan pendidikan merupakan tanggung jawab satuan pendidikan dan komitenya. Panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan masih bersifat umum sehingga hal-hal lebih lanjut dan rinci perlu ditetapkan sendiri oleh satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. setelah tahun 2006 sampai tahun 2009 Standar Isi. 23 Tahun 2006 mulai tahun ajaran 2006/2007. 22 dan No. Mengenai mekanisme dan strategi pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan. PP Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas pelaksanaannya. 24 tahun 2006 disebutkan bahwa: (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menerapkan Permendiknas No.

4. : kelas 1. atau mungkin menerapkannya secara bertahap mulai melengkapi perangkat pendukung. 23 Tahun 2006 untuk semua tingkatan kelasnya mulai tahun ajaran 2006/2007. sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB). dengan tahapan: a Untuk sekolah dasar (SD).2. 23 Tahun 2006 paling lambat tahun ajaran 2009/2010. madrasah aliyah kejuruan (MAK).tahun II . Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa satuan pendidikan memungkinkan menerapkan Permendiknas No. sekolah menengah kejuruan (SMK). melaksanakan Permendiknas No. dan sekolah dasar luar biasa (SDLB): . setelah setelah tahun 2009 apabila kondisi satuan pendidikan belum siap disebabkan kondisi.tahun I . 22 dan No. (3) Satuan pendidikan dasar dan menengah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang telah melaksanakan uji coba kurikulum 2004 secara menyeluruh dapat menerapkan secara menyeluruh Permendiknas No.2. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah harus sudah mulai menerapkan Permendiknas No.tahun III : kelas 1. dan 5.tahun II . 22 dan No. 23 Tahun 2006 secara bertahap dalam waktu paling lama 3 tahun. : kelas 1 dan 2. mempelajari dokumen yang diperlukan. : kelas 1. madrasah aliyah (MA). dan sekolah menengah atas luar biasa (SMALB) : . (4) Satuan pendidikan dasar dan menengah yang belum melaksanakan uji coba kurikulum 2004. madrasah ibtidaiyah (MI). dan 3.tahun III b : kelas 1 dan 4. 22 dan No.apabila kondisi satuan pendidikan belum siap. madrasah tsanawiyah (MTs). : kelas 1.2.3. 22 dan No.4. Untuk sekolah menengah pertama (SMP). dan sejenisnya. sekolah menengah atas (SMA). (5) Penyimpangan terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir (2) di atas dapat dilakukan setelah mendapat izin Menteri Pendidikan Nasional. situasi belum memungkinkan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 38 .5 dan 6. 23 Tahun 2006.tahun I .

(1) BSNP melakukan pemantauan perkembangan dan evaluasi pelaksanaan Permendiknas No. madrasah aliyah (MA). 23 Tahun 2006. tetapi disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan. 22 dan No. Di dalam Permendiknas No. 23 Tahun 2006. untuk satuan pendidikan madrasah ibtidaiyah (MI). Peran satuan pendidikan tetap merupakan pelaksana dalam penerapan Permendiknas tersebut dan semua satuan pendidikan dalam suatu wilayah tidak harus melaksanakan secara serempak. 23 Tahun 2006 sesuai dengan keperluan berdasarkan pemantauan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada butir (1). untuk mendukung dan mendorong satuan pendidikan dalam menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. 24 tahun 2006 juga disebutkan bahwa: (1) Gubernur dapat mengatur jadwal pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. serta mendistribusikannya kepada setiap satuan pendidikan secara nasional. memiliki tugas berikut: (1) menggandakan Permendiknas No. untuk satuan pendidikan menengah dan satuan pendidikan khusus. 23 Tahun 2006. 22 dan No. pada tingkat satuan pendidikan.Permendiknas No. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa gubernur. 23 Tahun 2006.Peran Pemerintah dan Pemerintah Daerah pada implementasi atau penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dalam Permendiknas No. Sedangkan. 22 dan No. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 39 . 23 Tahun 2006. 23 Tahun 2006. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di kabupaten/kota masing-masing (3) Menteri Agama dapat mengatur jadwal pelaksanaan Permendiknas No. madrasah tsanawiyah (MTs). BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) memilki tugas sebagai berikut. walikota dan menteri Agama lebih berperan dalam pengaturan jadwal atau mengkoordinasikan pelaksanaan Permendiknas No. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di provinsi masing-masing. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan yang bersangkutan. 22 dan No. secara nasional. 24 tahun 2006. bupati. 22 dan No. (2) Bupati/walikota dapat mengatur jadwal pelaksanaan . 22 dan No. dan madrasah aliyah kejuruan (MAK).Permendiknas No. untuk satuan pendidikan dasar. (2) BSNP dapat mengajukan usul revisi .

mengevaluasinya. memiliki tugas berikut: (1) mengembangkan model-model kurikulum sebagai masukan bagi BSNP. 23 Tahun 2006. 22 dan No. kepala sekolah. dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri. (2) melakukan sosialisasi Permendiknas No. 22 dan No. 22 dan No. terhadap guru. 23 Tahun 2006. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional. (5) memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. dan dewan pendidikan. (3) mengembangkan dan mengujicobakan model kurikulum untuk pendidikan layanan khusus. 22 dan No. dan tenaga kependidikan lainnya yang relevan melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan/atau Pusat Pengembangan dan Penataran Guru (PPPG). memiliki tugas berikut: (1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP. 22 dan No. dinas pendidikan kabupaten/kota.(2) melakukan usaha secara nasional agar sarana dan prasarana satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mendukung penerapan Permendiknas No. (6) mengembangkan pangkalan data yang rinci tentang pelaksanaan Permendiknas No. (3) membantu pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam penjaminan mutu satuan pendidikan dasar dan menengah agar dapat memenuhi Permendiknas No. 23 Tahun 2006 Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan:. 23 Tahun 2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. (4) bekerjasama dengan perguruan tinggi dan/atau LPMP melakukan pendampingan satuan pendidikan dasar dan menengah dalam pengembangan kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah. (2) mengembangkan dan mengujicobakan model-model kurikulum inovatif. 22 dan No. 23 Tahun 2006. pengawas. memiliki tugas berikut: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 40 . melalui LPMP. 23 Tahun 2006. dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP kepada dinas pendidikan provinsi.

23 Tahun 2006 Sekretariat Jenderal melakukan sosialisasi Permendiknas No. dan pemerintah (departemen pendidikan nasional. 24 Tahun 2006. mengkoordinasikan.(1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. Dengan berlakunya Permendiknas No. dinyatakan tidak berlaku bagi satuan pendidikan dasar dan menengah sejak satuan pendidikan dasar dan menengah yang bersangkutan melaksanakan Permendiknas No. Bupati/walikota dan gubernur berperan dalam melakukan sosialisasi. lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK). 22 dan No. memantau. departemen agama dan departemen lain yang terkait). 22 dan No. gubernur. 24 Tahun 2006. Sedangkan Departemen lain yang menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah : (1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. memonitor dan mendorong satuan pendidikan untuk menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. 22 dan No. komite satuan pendidikan. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan : a. 22 dan No. b. mengatur jadwal. 23 Tahun 2006. Nomor 080/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan. Dari ketentuan Permendiknas No. dan mengevaluasi pelaksanaan Permendiknas No. (2) mengusahakan secara nasional sesuai dengan kewenangannya agar sarana. Nomor 0126/U/1994 tentang Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. kepada pemangku kepentingan umum. 23 Tahun 2006 sesuai dengan kewenangannya dan berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan Nasional. c. 22 dan No. dan d. Departemen pendidikan nasional memiliki peran Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 41 . mengevaluasi dan melaksanakan kurikulum sesuai dengan standar isi dan standar kompetensi lulusan. 23 Tahun 2006. di kalangan (2) memfasilitasi pengembangan kurikulum dan tenaga dosen LPTK yang mendukung pelaksanaan Permendiknas No. dan sumber daya manusia satuan pendidikan yang berada di bawah kewenangannya mendukung Permendiknas No. bupati/walikota. 23 Tahun 2006 (3) melakukan supervisi. 23 Tahun 2006 sesuai dengan kewenangannya. 22 dan No. prasarana. Satuan pendidikan dan komite berperan dalam mengembangkan. Nomor 061/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Umum. 24 tahun 2006 jelas bahwa efektifitas pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan ditentukan oleh komitmen dan peran satuan pendidikan. menyusun. Nomor 060/U/1993 tentang Kurikulum Pendidikan Dasar.

Dalam kaitannya dengan peningkatan mutu implementasi kurikulum. workshop. maupun outputnya. mengatur jadwal. Departemen agama dan departemen lain terkait berperan dalam melakukan sosialisasi. Monitoring (pemantauan) secara umum dimaknai sebagai sebuah kegiatan yang berfungsi untuk melihat kesesuaian rencana program implementasi kurikulum dengan pelaksanaan yang terjadi yang mencakup semua aspek dalam implementasi kurikulum diantaranya : Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 42 . Proses dan kedudukan monitoring dapat digambarkan sebagai berikut : Analisis SWOT Implementasi kurikulum Evaluasi dampak MONITORING Disain dan perencanaan kurikulum Pelaksanaan kurikulum Monitoring merupakan bagian dari bentuk pengendalian (control) yaitu proses yang memastikan bahwa aktifitas aktual (yang terjadi) sesuai dengan aktifitas yang direncanakan. F. Semua istilah tersebut secara umum mengacu pada fungsi pengawasan pelaksanaan program implementasi kurikulum. terdapat berbagai istilah yang hampir sepadan yaitu monitoring. mengeluarkan kebijakan teknis. dan memonitor satuan pendidikan dalam penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan.dalam melakukan sosialisasi. proses dan pelaksanaan. Keitga istilah tersebut pada dasarnya tidak terpisahkan satu sama lain karena sama-sama digunkan dalam konteks menyempurnakan atau memperbaiki program dan hasil pelaksanaan implementasi kurikulum. SISTEM MONITORING KURIKULUM Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas keberhasilan implementasi kurikulum yang dilakukan oleh suatu lembaga adalah melakukan monitoring terhadap program tersebut. Monitoring tersebut dapat dilakukan mulai dari perencanaan (termasuk needs analysis) . mengusahakan sarana dan prasarana. evaluasi dan supervisi. mengkoordinasikan. mengevaluasi dan mendorong satuan pendidikan di bawah kewenangannya untuk menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan.

Fungsi monitoring mencakup tiga unsur utama: (1) Menetapkan standar ketepatan program implementasi kurikulum. LAN mendefinisikan evaluasi sebagai proses atau kegiatan untuk menentukan kemajuan implementasi kurikulum dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan dan usaha untuk memperoleh informasi atau umpan balik bagi penyempurnaan program implementasi kurikulum. akuntabilitas dan relevansi program implementasi kurikulum. ketepatan perencanaan program kurikulum. ketepatan dalam mengidentifikasi dampak implementasi kurikulum. Hasil evaluasi biasanya dipergunakan untuk memperbaiki program implementasi kurikulum yang akan dilakukan berikutnya. Dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistimatis untuk melihat apakah sebuah program implementasi kurikulum telah berhasil dan efisien dalam pelaksanaannya. Dari ketiga pengertian di atas tampak bahwa monitoring digunakan untuk memperbaiki proses implementasi kurikulum yang sedang berjalan untuk mengoptimalkan hasil. efisiensi. 1988 mendefiniisikan evaluasi adalah proses pengumpulan data yang sistematis untuk mengukur evektivitas. Evaluasi menurut the trainer’s Library. Salah satu pengertiannya. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 43 . supervisi merupakan suatu aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu program pendidikan dan tenaga pendidik dan kependidikan dalam melakukan profesi mereka secara efektif. Terdapat berbagai konsep mengenai supervisi. Secara sederhana. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memperbaiki program implementasi kurikulum yang sedang berjalan. sedangkan supervisi lebih menekankan pada perbaikan pembelajaran secara langsung yang diberikan oleh fasilitator atau narasumber. Monitoring memiliki cakupan prosedur dan cakupan proses lebih luas dari sekedar yang dilakukan dalam pekerjaan evaluasi atau supervisi. evaluasi hasilnya lebih dipergunakan untuk perbaikan program implementasi kurikulum berikutnya walaupun pelaksanaan evaluasi dapat dilakukan pada saat implementasi kurikulum berlangsung. supervisi merupakan program berencana untuk memperbaiki pengajaran.ketepatan perumusan analisis kebutuhan. ketepatan dalam pelaksanaan implementasi kurikulum. Suatu kegiatan evaluasi diharapkan dapat mengukur keberhasilan apakah tujuan implementasi kurikulum yang ditetapkan dapat dicapai. Standar diuraikan atau dirumuskan dalam bentuk kriteria hasil monitoring.

pengembangan dan penyelenggaraan program implementasi kurikulum. memahami orang lain. merancang sistem umpan balik informasi. Unsur-unsur pokok dalam proses monitoring adalah penetapan standar ketepatan program implementasi kurikulum. dan memotivasi orang lain. dan mengambil tindakan perbaikan. penyelesaian masalah bersama untuk memperbaiki program yang belum sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Kompetensi yang dimaksud di sini tentu kompetensi atau kemampuan profesional yang terkait langsung dengan perencanaan. pengarahan. serta keterampilan konseptual dalam mengkoordinasi dan memadukan berbagai kepentingan dan kegiatan dalam implementasi kurikulum. Ini sangat mudah dilakukan karena pada dasarnya manusia sebagai Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 44 . membandingkan kinerja aktual dengan standar yang ditetapkan. (3) Mengambil tindakan dalam bentuk pemberian bantuan. Kompetensi meliputi keterampilan teknis dalam menggunakan prosedur kerja dalam program implementasi kurikulum. Model monitoring yang konvensional atau tradisional adalah yang bersifat mencari kesalahan. menentukan apakah terdapat penyimpangan.(2) Memantau dan mengukur aktifitas program yang sedang berjalan dengan menggunakan teknik monitoring tertentu. Penetapan standar dan metode monitoring implementasi kurikulum Monitoring Apakah kinerja sesuai standar? tidak Pengambilan tindakan perbaikan Selesai ya Monitoring harus dilakukan oleh seseorang yang berkompeten sesuai dengan bidang yang akan dimonitor. 1. keterampilan manusiawi dalam bekerja dengan orang lain. Hasilnya dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan. yang dapat diilustrasikan sebagai berikut. Teknik – teknik monitoring dan penerapannya.

yaitu memberi bantuan dan arahan secara langsung atau pendekatan tidak langsung (indirect) di mana pemonitor mendengar keluhan. silabus dan bahan ajarnya telah lengkap sesuai dengan tujuan dan sistematis serta terarah ? Hal yang terpenting dalam melakukan wawancara adalah pewawancara sudah mempersiapkan diri dengan pedoman wawancara yang isinya memuat semua aspek – aspek yang akan dimonitor. Pendekatan yang digunakan dalam monitoring dapat berupa pendekatan langsung (direct). penilaian diri. Metode – metode ini harus sudah direncanakan. Dalam metode ini yang perlu dilakukan bahwa pewawancara harus memiliki aspek – aspek apa saja yang perlu diketahui atau dimonitor sebagai bagian dari monitoring.Wawancara mengenai analisis kebutuhan : pewawancara harus mengetahui apakah kebutuhan – kebutuhan proram implementasi kurikulum sudah sesuai dengan apa yang diharapkan ? . sistematis dan menggunakan instrumen tertentu. Metode wawancara dapat dilakukan secara tertulis ataupun langsung. hambatan. kuesioner. atau metode pengumpulan data lainnya. Dalam monitoring yang ditekankan adalah bantuan agar program implementasi kurikulum terlaksana sesuai tujuan. Cara ini tentu saja tidak sesuai dengan tujuan monitoring dan berdampak pada sikap acuh tak acuh atau menentang dari pihak penyelenggara program. dekat dan terbuka. atau kesulitan penyelenggara pendidikan. dikombinasikan dan dilakukan secara terpadu (terintegrasi) agar proses monitoring dapat berjalan secara efisien dan sesuai sasaran. Metode monitoring dapat berupa : konsultasi atau wawancara. serta umpan balik (feedback) yang diberikan harus secepat mungkin dan objektif untuk segera dilakukan perbaikan. dikembangkan.penyelenggara implementasi kurikulum. Metode-metode ini dikemas. Dalam melakukan wawancara perlu diperhatikan bahwa kegiatan ini tidak mengganggu semua aspek program implementasi kurikulum. dipilih dan ditetapkan sebagai bagian dari tahapan – tahapan implementasi kurikulum. Monitoring perlu dilakukan secara ilmiah yang terencana. memiliki banyak kekurangan.Wawancara tentang perencanaan kurikulum : pewawancara harus mengetahui dan menngidentifikasi apakah struktur program kurikulum. kemudian mendiskusikan pemecahan atau solusi dari problem dan hambatan yang dihadapi. observasi (pengamatan). Misalnya : . Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 45 . suasana yang hangat.

yaitu : menguraikan hasil pengamatan secara komprehensif dan ditulis secara lengkap dalam sebuah laporan. misalkan suatu aspek ditunjukkan melalui empat kategori yaitu : tidak baik. Selain oleh pemonitor dari penyelenggara implementasi kurikulum. atau pengawas sekolah). perekam suara (tape recorder) hasil wawancara atau kegiatan lainnya. kurang baik. Alat bantu lain yang sangat berguna dalam metode observasi/wawancara adalah kamera untuk bukti dokumentasi pelaksanaan implementasi kurikulum. cukup baik dan baik. Selanjutnya. mencatat hal-hal yang penting dan menekankan pada upaya perbaikan program implementasi kurikulum. Hal ini dapat memberikan beberapa manfaat: (1) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan akan belajar bagaimana menganalisis peristiwa yang dialami sendiri selama program implementasi kurikulum berlangsung (2) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan dapat memperoleh pengalaman dalam memberi umpan balik perbaikan implementasi kurikulum secara langsung (3) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan akan belajar bagaimana menggunakan sumber daya yang dipakai untuk melakukan analisis. Selain menggunakan format observasi secara khusus. dan peralatan audio visual (video) sebagai dokumentasi pelaksanaan implementasi kurikulum. Unjuk kerja untuk setiap aspek yang dimonitor dapat dikategorikan dalam bentuk laporan teramati (tepat) atau tidak teramati (tidak tepat). Boleh juga digunakan sekala rentang. observasi dapat pula dilakukan oleh penyelenggara (guru. pemonitor dapat juga menggunakan metode deskripsi. Dalam melakukan observasi perlu dillakukan dalam situasi yang wajar (tidak mengganggu program pembelajaran). Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 46 . kepala sekolah. serta data yang dihasilkan haruslah faktual dan bukan opini pemonitor. laporan ini dianalisis untuk diperoleh hal-hal atau aspek apa saja yang perlu diperbaiki dan ditindaklanjuti agar segera dilakukan perbaikan program implementasi kurikulum. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan yang memuat aspek – aspek yang akan dilihat saat monitoring dilakukan.Metode observasi biasanya digunakan untuk mengamati unjuk kerja (kinerja) dari setiap orang yang terlibat dalam kegiatan program implementasi kurikulum.

Dilanjutkan dengan pemilihan teknik monitoring yang tepat. kegunaan informasi yang dijaring. Kuesioner dapat berupa pertanyaan dengan jawaban tertutup. Alat penilaian diri dapat berupa daftar ceklis tentang pandangan/pendapat. Data dan informasi dari monitoring secara tertulis (kuesioner. baru dilakukan pengembangan instrument monitoring dan pedoman yang memuat criteria hasil monitoring. atau pernyataan sikap. Kuesioner dengan jawaban terbuka memberi peluang pada responden menyatakan pendapatnya secara bebas tetapi memerlukan waktu untuk menganalisis dan melakukan perbaikan program implementasi kurikulum. pengawas dan fihak lain yang relevan. kepala sekolah. Kuesioner dengan jawaban (options) tertutup mudah dianalisis tetapi tidak memberi peluang responden memberi tanggapan lain yang mungkin sangat berguna. melalui pos atau dengan alat bantu teknologi informasi melalui internet (website). terbuka. Dengan demikian sebelum Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 47 . Pengembangan instrumen monitoring. kepala sekolah. dan keakuratan jawaban. atupun fihak lain yang terkait). yang disusun dalam bentuk pertanyaan tertutup atau terbuka. Yang terpenting dalam pengembangan kuesioner harus memperhatikan aspek kepraktisan. Aspek lain yang tidak mungkin dimonitor melalui kuesioner dapat dimonitor melalui observasi atau teknik monitoring lainnya. Walaupun perlu dilakukan kroscek atau verifikasi dengan sumber data yang lain untuk mendapat informasi yang lebih otentik. Penilaian diri cukup bermanfaat untuk dilakukan karena pelaksana akan lebih jujur mengungkapkan pendapatnya tentang pelaksanaan program implementasi kurikulum. Dalam metode ini semua aspek yang dimonitor informasinya didapatkan melalui pertanyaan atau pernyataan tertulis yang diberikan pada sumber data (guru. atau penilaian diri) dapat diperoleh secara langsung oleh petugas kuesioner kepada responden. dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan tertulis yang telah disiapkan. Monitoring melalui pos atau internet lebih membutuhkan keaktifan dan proaktif dari pihak responden. daya inovasi dan kreasi dari guru.Metode kuesioner biasanya digunakan untuk memonitor. 2. Penilaian diri merupakan salah satu bentuk kuisioner yang khusus ditujukan kepada fihak pelaksana penyelenggara pendidikan untuk melakukan evaluasi diri misalnya mengenai tanggapan tentang komitmen. angket. Dalam kegiatan pengembangan instrument monitoring diawali dengan kegiatan mengidentifikasi aspek yang akan dimonitor.

Aspek yang dimonitor 1. Kesiapan sarana dan prasarana Tertulis Observasi Wawancara 7. Subaspek Standar Isi (SI) Teknik monitoring Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 2. Kemampuan dan kesiapan tenaga kependidikan Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 6. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 3. Pengembangan Kurikulum (KTSP) Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 10. Pengembangan Silabus dan RPP Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Bentuk instrumen Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 48 . Pelaksanaan SI dan SKL Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 2. Pelaksanaan atau penerapan kurikulum oleh satuan pendidikan 8. Kemampuan dan kesiapan sumber daya pendidikan 4. Kesiapan orangtua dan masyarakat Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Observasi Lembar observasi Panduan Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 3. Kemampuan dan kesiapan pendidik Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 5. Sosialisasi SI dan SKL Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 9.pengembangan instrument monitoring perlu disusun kisi – kisi instrumen monitoring yang secara umum dapat ditampilkan dalam contoh tabel kisi-kisi berikut. Pemahaman dan persepsi tentang kebijakan kurikulum 1.

dan tantangan untuk penyempurnaan kurikulum. ketepatan menentukan kompetensi yang akan dicapai. pemetaan kebutuhan implementasi kurikulum. yang mencakup sub-subaspek berikut. Pengembangan Penilaian Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 12. Misalkan sub aspek isi silabus dapat dirinci menjadi lima komponen yaitu : 1. yang meliputi:. Isi bahan ajar. system pengambilan data TNA. peluang. 1. Aspek Perencanaan implementasi kurikulum. penyusunan instrument TNA. Isi silabus. Aspek pemahaman dan persepsi. serta analisis kekuatan.Aspek yang dimonitor Subaspek Teknik monitoring Bentuk instrumen Angket 11. 2. Hal ini agar mempermudah dalam melakukan monitoring nantinya. Aspek – aspek yang lebih rinci akan mampu menggambarkan pelaksanaan implementasi kurikulum dengan baik atau tidak suatu implementasi kurikulum dilaksanakan. kelemahan. hambatan. Standar isi. serta akan meningkatkan nilai ketepatan pengamatan. Penerapan pembelajaran di sekolah Observasi Wawancara Panduan Wawancara Panduan Observasi Lembar observasi Aspek yang dimonitor mencakup semua komponen – komponen penting mulai dari perencanaan kurikulum. Setiap aspek atau sub aspek tersebut dapat di jabarkan kedalam aspek yang lebih kecil. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 49 . pengolahan dan analisis data TNA. evaluasi efektifitas dampak pelaksanaan kurikulum.. pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan. yang mencakup sub-subaspek: Isi struktur program implementasi kurikulum.

Apabila aspek yang dimonitor berupa kelengkapan dokumen atau peralatan. tidak akan dapat dimonitor karena tidak jelas ukuran peningkatannya. ketepatan indicator yang dirumuskan. Teknik monitoring dipilih dengan mempertimbangkan karakteristik dari setiap aspek yang dimonitor. minat dan ketertarikan peserta. atau sarana lainnya. Misalnya. ketepatan waktu yang disediakan.2. yaitu menetapkan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 50 . Namun. dapat diukur (measurable). maka monitoring dapat dilakukan dalam bentuk tertulis misalnya berupa kuesioner. dapat dimonitor dengan metode observasi untuk melihat komitmen. serta silabus hasil karya peserta. 3. atau dapat diamati (observable). Kriteria ini merupakan pedoman atau acuan bagi pemonitor untuk memeriksa ketepatan setiap aspek yang dimonitor pada setiap tahapan program implementasi kurikulum. subaspek materi implementasi kurikulum penyusunan silabus dapat dimonitor dengan metode kuesioner untuk melihat kelengkapan dan isi kualitas dari dokumen silabus yang digunakan. kualitas isi dokumen atau peralatan. jika aspek yang dimonitor berupa kinerja atau performa dari penyelenggara dan peserta implementasi kurikulum. Kriteria atau tolok ukur hasil monitoring merupakan ukuran ketepatan. komitmen fasilitator selama program implementasi kurikulum dilaksanakan. kuesioner atau penilaian diri dan monitoring unjuk kerja dan sikap yang dilakukan dalam bentuk observasi saat implementasi kurikulum berlangsung. kelengkapan atau kebenaran prosedur kerja dari setiap tahapan program implementasi kurikulum sesuai dengan aspek-aspeknya. 5. serta dapat dicapai dengan tenggang waktu tertentu. Perumusan yang samar-samar seperti ’meningkatkan mutu bahan ajar’. yaitu teknik tertulis yang dapat dilakukan dengan wawancara tertulis. maka monitoring paling tepat dilakukan dalam bentuk observasi. komitmen atau sikap penyelenggara dan peserta implementasi kurikulum terhadap program implementasi kurikulum. Biasanya untuk membuat efektif monitoring. ketepatan metode implementasi kurikulum yang digunakan. Terdapat beberapa jenis teknik monitoring. Cara paling sederhana menentukan kriteria adalah dengan daftar ceklis. Di sisi lain. ketepatan materi yang dipilih sebagai bahan implementasi kurikulum. 4. suatu aspek dimonitor dengan menggunakan lebih dari satu teknik monitoring. Perumusan kriteria ini harus jelas.

mereka biasanya ada yang setuju. Apapun metode analisis yang digunakan. Hasil analisiis data digunakan untuk memvalidasi program penyelenggaraan implementasi kurikulum dan kesesuaiam dengan potensi dan kebutuhan implementasi kurikulum. kurang tepat. yang selanjutnya juga menentukan apakah tujuan implementasi kurikulum telah tercapai. 4. Pemanfaatan hasil monitoring. atau tidak berhasil atau dengan criteria sangat tepat. 3. Tingkat analisis bergantung pada detil data yang dibutuhkan dan kompleksitas permasalahan selama implementasi kurikulum. Kebanyakan orang lebih tertarik dengan analisis kuantitatif. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 51 . Data yang diperoleh dari hasil monitoring perlu dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan content analysis untuk membandingkan berbagai temuan yang memiliki karakteristik berbeda-beda dan narrative analysis untuk melihat kohorensi temuan atau informasi dari tanggapan para stakeholder program implementasi kurikulum. Data juga akan dianalisis secara kuantitatif dengan pendekatan descriptive statistically analysis untuk mendeskripsikan berbagai aspek variabel yang diperoleh dari temuan selama implementasi kurikulum. hasil montoring sudah harus dapat dijadikan sebagai masukan perbaikan implementasi kurikulum sejak tahapan implementasi kurikulum dimulai. Demikian juga apabila kita minta pendapat peserta tentang program implementasi kurikulum.apakah setiap aspek dilakukan atau tidak dilakukan. Yang penting diperhatikan bahwa hasil monitoring harus menjadi umpan balik secara langsung sehingga proses implementasi kurikulum berjalan sesuai dengan track atau tujuan yang ditetapkan. Pengolahan dan analisis hasil monitoring dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. tepat atau tidak tepat. cukup berhasil. sangat setuju atau tidak setuju. Pengolahan dan analisis hasil monitoring. cukup tepat atau tidak tepat. harus menjawab pertanyaan apakah program implementasi kurikulum telah berhasil dan efektif dilakukan sesuai tujuan implementasi kurikulum. Namun ukuran ini terlalu kasar karena banyak tahapan program implementasi kurikulum yang dilakukan dengan ukuran sangat berhasil. Untuk itu ketepatan kuantitas dan kualitas dari proses monitoring sangat menentukan hasil analisis. Dengan demikian. walaupun analisis kualititatif juga sangat penting untuk dicermati.

hasil analisis monitoring dapat digunakan sebagai bahan evaluasi secara menyeluruh untuk meningkatkan kualitas program implementasi atau penerapan kurikulum oleh satuan pendidikan. Manfaat proses monitoring lainnya adalah: 1. yaitu agar praktek pelaksanaan program implementasi kurikulum sesuai dengan perencanaan. Dengan demikian.Seperti yang telah dikemukakan di muka bahwa tujuan monitoring atau pemantauan adalah untuk menjamin suatu kegiatan atau program implementasi kurikulum tetap on the track sesuai dengan tujuan program yang telah ditetapkan. mendorong semua pihak dalam program implementasi kurikulum lebih berdisiplin dan bertanggung jawab. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 52 . memberi motivasi bagi peserta dan pelaksana pendidikan untuk melaksanakan program implementasi kurikulum secara optimal. manfaat pokok dari proses monitoring adalah mengendalikan pelaksanaan program implementasi kurikulum berlangsung secara efisien dan sukses sesuai dengan tujuan. 2. 3.

Sumber data yang digunakan adalah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 53 . pengembangan instrumen. ruang lingkup. Penyusunan desain dilaksanakan dalam bentuk workshop. hasil monitoring ini dilakukan sebagai bahan pertimbangan dalam merekomendasikan perencanaan dan pelaksanaan penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan agar lebih efektif dan efisien pada satuan pendidikan dasar dan menengah. pengembangan desain.BAB III METODOLOGI Pendekatan dalam monitoring ini bersifat descriptive-explanatory berbentuk studi (survey) dengan menggunakan data kualitatif dan kuantitatif yang digunakan secara seimbang dan saling melengkapi untuk melihat profil pencapaian satuan pendidikan dalam penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan pada tingkat propinsi. Instrumen yang disusun berbentuk tes. praktisi pendidik dan tenaga kependidikan. pedoman observasi situasi dan pelaksanaan pembelajaran. pedoman wawancara. pelaksanaan kegiatan. metodologi. kerangka berpikir atau landasan teori. workshop. dan stakeholder lain yang relevan. rapat kerja dan koordinasi. sebagai berikut. STRATEGI MONITORING Kegiatan ini dilakukan melalui berbagai metode dalam bentuk studi dokumen. pengolahan hasil monitoring. rapat kerja dan diskusi fokus yang melibatkan berbagai nara sumber perguruan tinggi. Selain itu. diskusi fokus. hasil yang diharapkan. penyusunan dan presentasi rekomendasi mengenai hasil kegiatan keseluruhan. 22 dan 23 tahun 2006 tentang Standar Isi dan SKL oleh satuan pendidikan. (1) Penyusunan desain Desain ini merupakan master plan yang disusun untuk dijadikan pedoman atau acuan dalam kegiatan monitoring yang meliputi: latar belakang dan tujuan monitoring. A. melakukan monitoring. analisis hasil monitoring. (2) Pengembangan instrumen Instrumen dikembangkan dan disusun untuk menjaring atau mendapatkan data dan informasi kualitatif dan kuantitaif mengenai pencapaian pelaksanaan Permendiknas No. penyusunan dan presentasi rekomendasi. kuesioner.

Pelaksanaan monitoring mengacu pada pedoman monitoring yang mengatur tentang: kriteria petugas pelaksana monitoring. 23 dan 24 tahun 2006 Rapat kerja ini terutama untuk menentukan kesamaan persepsi dan pemahaman berbagai pihak pengelola pendidikan dari unsur sekolah. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lain. c. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan Rapat kerja ini juga untuk mengatur koordinasi dalam pelaksanaan monitoring sehingga diperoleh cukup data dan informasi kualittaif dan kuantitatif yang akurat dan aktual tentang pencapaian penerapan dan pelaksanaan Permendiknas No. metode penggunaan instrumen dan sumber data yang diperlukan. guru. dinas pendidikan. pengawas sekolah. dan kelengkapan data dan informasi yang diperlukan sebagai hasil monitoring serta hal-hal lain yang ditemukan selama pelaksanaan monitoring. 22 dan 23 tahun 2006 b. Peran pemerintah (Depdiknas dan departemen lain terkait) dalam merumuskan kebijakan untuk mendukung pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan pada setiap propinsi. dan dinas pendidikan kabupaten/kota/ propinsi. (4) Pelaksanaan monitoring Monitoring dilakukan dengan menggunakan instrumen-instrumen yang dikemas. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan d. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 54 . Hal-hal yang harus dilaksanakan dan dicapai satuan pendidikan seperti yang dituntut dalam Permendiknas No. Mekanisme satuan pendidikan dalam menyusun dan melaksanakan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan daya dukungnya. orangtua. serta dokumen yang relevan. pemerintah. kelengkapan jumlah dan jenis intrumen.siswa. 23 dan tahun 2006 tentang: a. 22. 22. Instrumen yang telah disusun diujicoba secara terbatas untuk memvalidasi keterbacaan dan kesesuaiannya dengan tujuan monitoring (3) Rapat koordinasi membahas implikasi Permendiknas No. Peran pemerintah kabupaten/kota/propinsi dalam mendukung pelaksanaan Permendiknas No. dikombinasikan dan dilakukan secara terpadu (terintegrasi) agar proses monitoring dapat berjalan secara efisien dan sesuai sasaran dan kebutuhan. dan pihak lain mengenai implikasi Permendiknas No.

(6) Rekomendasi kebijakan kurikulum Rekomendasi atau saran kebijakan kurikulum disusun berdasarkan analisis hasil monitoring meliputi rekomendasi bagi satuan pendidikan dan komite. B. komite sekolah maupun dinas pendidikan di daerah. guru. dan pedoman observasi. Metode wawancara dapat dilakukan secara tertulis ataupun langsung dengan mengacu pada panduan wawancara. Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan penyusunan rekomendasi kebijakan dalam penyusunan dan pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan dan evaluasu. (7) Penyusunan laporan Sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan secara keseluruhan. dalam mengefektifkan pelaksanaan Permendiknas No. potret atau profil tingkat pencapaian dan efektifitas penerapan atau pelaksanaan Permendiknas No.(5) Analisis Hasil Monitoring Data dan informasi hasil monitoring dan kajian dokumen pendukund yang relevan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan gambaran. tindakan kebijakan oleh pemerintah dan stakeholder terkait. pedoman wawancara. PENGEMBANGAN INSTRUMEN Instrumen disusun dan digunakan untuk mengukur atau mendapatkan data dan informasi pencapaian pelaksanaan Peremndiknas No. bentuk pembinaan oleh dinas kabupaten/kota/propinsi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 55 . 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan pada seluruh propinsi. dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi dan pemerintah. supervisi atau pembinaannya oleh pengawas sekolah. Observasi digunakan untuk mengamati unjuk kerja (kinerja) pada saat pembelajaran di sekolah maupun obaservasi situasi dan kondisi pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan yang memuat aspek – aspek yang akan dilihat saat monitoring dilakukan. perlu dibuat laporan beserta hasil-hasilnya pada tiap langkah kegiatan. Bentuk Instrumen yang dikembangkan dalam monitoring ini berupa kuesioner. 22 dan 23 tahun 2006. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi kepala sekolah.

juga digunakan descriptive statistically Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 56 . D. kepala sekolah. Walaupun perlu dilakukan kroscek atau verifikasi dengan sumber data yang lain untuk mendapat informasi yang lebih otentik.Metode kuesioner disusun dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan tertulis yang telah disiapkan yang dapat berbentuk pertanyaan dengan jawaban tertutup. Selain itu. C. Pada masing-masing propinsi akan dilakukan monitoring pada tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang meliputi pendidik. Penilaian diri merupakan salah satu bentuk kuisioner yang khusus untuk melakukan evaluasi diri tentang komitmen Penilaian diri cukup bermanfaat untuk dilakukan karena pelaksana diklat akan lebih jujur mengungkapkan pendapatnya tentang pelaksanaan program diklat. kegunaan informasi yang dijaring. dan sarana pendukungnya. siswa. Kuesioner dengan jawaban terbuka memberi peluang pada responden menyatakan pendapatnya secara bebas tetapi memerlukan waktu untuk menganalisis. Direncanakan keseluruhan responden monitoring pada setiap propinsi melibatkan siswa SD/MTs. terbuka. komite. Aspek lain yang tidak mungkin dimonitor melalui kuesioner dapat dimonitor melalui observasi atau teknik monitoring lainnya. Teknik sampling dilakukan secara multi-stages dengan mengkombinasikan sistem cluster samples dan purposive samples. TEKNIK ANALISIS DATA Analisis data yang digunakan adalah content analysis berupa studi dokumen untuk membandingkan berbagai temuan yang memiliki karakteristik berbeda-beda dan narrative analysis untuk melihat kohorensi temuan / informasi dari dokumen ataupun tanggapan para responden yang berkaitan dengan ketersediaan buku-buku pelajaran dan kesesuaiannya dengan kurikulum. guru. tenaga kependidikan. Monitoring pada tingkat dinas penddikan kab/kota/propinsi meliputi ketenagaan dan program kerja dalam mendukung pelaksanaan Permendiknas No. dan SMP/MTs. atau pernyataan sikap. Dalam pengembangan kuesioner memperhatikan aspek kepraktisan. Kuesioner dengan jawaban (options) tertutup mudah dianalisis tetapi tidak memberi peluang responden memberi tanggapan lain yang mungkin sangat berguna. dan orang tua. 22 dan 23 tahun 2006. orangtua. pengawas. dan keakuratan jawaban. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Populasi dalam monitoring ini adalah unsure dari satuan pendidikan dasar dan menengah dan komitenya serta dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi pada 33 propinsi. Dinas pendidikan.

untuk memperkirakan 1. Namun demikian.5) responden mengaku belum pernah ikut sosialisasi. 80.8) menyatakan ikut sosialisasi kurang dari seminggu. hasil monitoring dapat dijadikan sebagai barometer (memprediksi) bagaimana kondisi di luar ibu kota provinsi. dan diploma (3. dinas pendidikan kota di ibu kota provinsi. Sedangkan guru. sarjana strata 2 (18. SLTA (13. 84. E. Sebagian besar (53.9 sarjanan strata 2. namun karena semua responden berasal dari ibu kota provinsi.4% yang masa kerjanya 10 tahun ke bawah. 2. Lebih separoh (58.analysis untuk mendeskripsikan berbagai aspek variabel yang berkaitan dengan bukubuku pelajaran. umumnya (97. Dari responden yang mengikuti sosialisasi. Responden yang berlatar belakang pendidikan SLTA adalah staf teknis yang hadir mewakili atasannya.7 berpendidikan sarjana strata 2. 11. dan hanya 14.2% sarjanan strata 3.0%). serta 2. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 57 . 1. PROFIL RESPONDEN Responden yang dilibatkan dalam monitoring ini berasal dari dinas pendidikan provinsi.8%).3% responden kepala sekolah berpendidikan sarjana strata 1. data yang diberikan belum mewakili daerah-daerah di luar ibukota provinsi.4 masih berpendidikan diploma.7%).9%) telah memiliki masa kerja antara 21-30 tahun. Dinas Pendidikan Sebagain besar responden yang berasal dari pejabat struktural Dinas Pendidikan berlatar belakang pendidikan sarjana strata 1 (64. Sekolah Responden yang terdiri atas kepala sekolah dan guru dengan latar belakang pendidikan sebagian besar sarjana. dan sekolah-sekolah yang berada di ibukota provinsi. dan 19.5%).5% adalah sarjana starta 1. Responden dipilih secara acak.

6 % sarjana strata 2. Tidak ada yang berlatar belakang pendidikan SD.4% dari SMK. 57. 16. dan 41.3% SLTA.1%) memiliki masa kerja 11-20 tahun.1%) memiliki pekerjaan berwiraswasta.7%. dan 5. 29. 8. BAB IV PEMBAHASAN HASIL MONITORING A. 48. Selebihnya (30.8% di bawah 10 tahun.5% kepala sekolah yang menjadi responden memiliki masa kerja 11-20 tahun. 37.6% diploma.6% dengan masa kerja 10 tahun ke bawah. Pengembangan dan Penerapan KTSP secara Nasional Informasi tentang pengembangan dan penerapan KTSP secara nasional menggunakan sumber data yang diperoleh dari dinas pendidikan propinsi.7% berasal dari SMK.8% dengan masa kerja 21-30 tahun. guru (27. Sedangkan guru yang menjadi responden monitoring ini lebih separo (57.Berdasarkan masa kerjanya. 13.3 % antara 21-30 tahun.3%). 7. Tim studi belum bisa mendapatkan data kuantitatif pelaksanaan KTSP oleh satuan pendidikan pada tingkat propinsi karena propinsi belum memiliki data rincinya dari kabupaten/kota maupun dari sekolah di wilayahnya. Keadaan ini hampir sama dengan guru. Sebagian besar dari mereka memiliki pekerjaan tetap sebagai pegawai negeri sipil dengan rincian sebagai berikut: karyawan PNS sebanyak 41. Hal ini disebabkan belum optimalnya koordinasi antara Dinas Pendidikan Provinsi dengan Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 58 .1 % yang memiliki masa kerja di atas 31 tahun. Komite/Orang Tua Siswa Lebih dari separoh (69%) responden yang berasal dari orang tua/komite berpendidikan sarjana strata 1.6% di antara kepala sekolah berasal dari SM/MA dan 42. lebih separoh responden guru berasal dari SMA/MA (58. dan dosen 5. 3.6%.8%). dan hanya 6.

demikian juga kegiatan yang dilakukan oleh sekolah-sekolah dengan memanfaatkan dana swadaya. Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Bengkulu Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Selatan Lampung Kepulauan BangkaBelitung Kepulauan Riau Banten Jawa Barat 21 25 9 10 11 19 14 10 7 7 6 25 21 25 9 10 11 19 14 10 7 6 6 25 1 2 1 1 1 2 1 1 2 2 1 3 V V V V V V V V V V V V V V V V V V v - v v V V V V V V V - - Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 59 . 2. 1.pendidikan Kabupaten/Kota dalam hal pendataan. pelaksanaan monitoring pada tahun 2007 ini diawali dengan melihat proses sosialisasi di masing-masing provinsi. Data yang yang diambil adalah (1) jumlah daerah yang telah melakukan sosialisasi di tiap provinsi. 7. terutama terkait dengan pelaksanaan KTSP. Kegiatan-kegiatan seperti ini cukup banyak dilakukan karena di beberapa daerah karena mereka sangat proaktif. 6. Para pejabat struktural maupun staf teknis di Provinsi hanya bisa memberikan gambaran tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan melalui kegiatan provinsi. 12. Akibatnya. Tabel 1 : Gambaran jumlah kabupaten/kota yang sudah mendapat sosialisasi atau workshop SI. 4. baik Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota maupun sekolah. 5. Untuk itu data yang digunakan adalah data kualitatif mengenai pengembangan dan penerapan KTSP yang bersumber dari persepsi dinas propinsi. Atas dasar pengalaman tersebut. 11. 8. Berikut gambaran secara umum pelakasanaan sosialisasi di masing-masing provinsi. Pelaksanaan Sosialisasi di Setiap Provinsi Berdasarkan pengalaman yang lalu. 9. 3. SKL dan KTSP pada tiap propinsi No Provinsi Jumlah kab/ kota Kab/Kota yang sudah sosialisasi Frekuensi Kegiatan Puskur Penyelenggara PUSAT Ditjen Mandikdasmen LPMP/PMPTK DAERAH Dinas pddk Dinas Provinsi Pddk Kab/kota 1. 10. tingkat pemaham pelaksana dilapangan kurang memadai. Kegiatan-kegiatan yang bersifat mandiri yang dilaksanakan oleh masing-masing Kabupaten/Kota melalui MGMP atau tidak semuanya terpantau oleh Dinas Provinsi. (2) sasarn sosialisasi di masing-masing daerah. setiap pergantian kebijakan tentang kurikulum sangat dirasakan bahwa proses sosialisasi kurang optimal.

sosialisasi pada umumnya adalah unit Pusat dan Daerah Penyelenggara Pendidikan (Dinas Propinsi/Kab/Kota). umumnya data kegiatan sosialisasi yang melibatkan Dinas Pendidikan Provinsi. 26. 27. seperti yang terlihat pada table di atas. 31. 20. 19. yaitu kegiatan yang dilakukan melalui pembiayaan APBN. tetapi belum ada laporan resmi sehingga Dinas Pendidikan Provinsi tidak memiliki data tentang itu. 22. DKI. Oleh karena itu. 25. 14. 23. 33. 22 dan 23 tahun 2006 tentang SI (standar isi) dan SKL (standar kompetensi lulusan). hal ini bukan berarti daerah lain tidak melaksanakan. Menurut prediksi Dinas Pendidikan provinsi. 24. Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Daerah Istimewa Yogyakarta Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Gorontalo Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Irianjaya Barat Papua (Irianjaya) Total 6 35 38 5 9 9 16 12 13 14 13 5 23 10 10 9 6 8 8 9 20 442 6 35 38 5 9 9 16 12 13 14 13 5 23 10 10 9 5 8 8 9 20 440 4 3 4 2 2 2 2 1 2 2 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 V V V V V V V V V V V V V V V V - V V V v v v V v v v v V V V V V V V V - V V V v v v v v v v v v v v v v - v V V v - Dari tabel jelas bahwa secara keseluruhan semua kabupaten/kota telah mendapatkan sosialisasi atau workshop tentang kebijakan dan penerapan Permendiknas No. Meskipun pada tabel di atas terlihat bahwa hanya 4 kabupaten/kota yang melaksanakan kegiatan sosialisasi. Kegiatan yang menggunakan biaya APBD Kabupaten/Kota atau swadaya sekolah umumnya tidak dilaporkan ke Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 60 . 16. 18. Tabel di atas juga menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan oleh langsung oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota hampir tidak terpantau oleh Dinas Pendidikan Provinsi. 30. 28. 17. dan dana APBN yang ada di Dinas Pendidikan Provinsi serta APBD provinsi. data yang ada di Dinas Pendidikan provinsi. 32. 15. hampir semua daerah telah melakukan sosialisasi secara mandiri. 21. seperti yang dilakukan oleh Diraktorat terkait. 29. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada keharusan bagi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau sekolah untuk melaporkan pelaksanaan kegiatan sosialisasi yang dilakukan secara swadaya atau melalui APBD tingkat II.13. 34.

pengembangan KTSP disusun bersama oleh pihak sekolah dan komite sekolah. c. b. Hal ini mungkin disebabkan sekolah masih menganggap tingkat keprofesionalan orangtua masih bervariasi.9 78. e.9 21. MGMP (musyawarah guru mata pelajaran). Penerapan KTSP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 61 . 2.2 36. Namun.1 63. SKL. Hal ini mungkin disebabkan belum meluasnya sosialisasi dan mungkin penyelenggaraan oleh lembaga profesional lain tidak terpantau oleh Dinas. dan KTSP. atau pemahaman pengembangan KTSP yang perlu dipertajam. orangtua sudah menyerahkan urusan ini ke sekolah. atau lembaga profesional lainnya yang cukup partisipasif dalam program KTSP ini.7 26. Padahal secara kebijakan. pengawas sekolah. LSM Pendidikan. Sasaran Sosialisasi a. MGMP KKKS PGRI Organisasi Pengawas Yayasan Dewan Pendidikan Komite % 78. Menurut Dinas Propinsi belum ada pihak terkait lain seperti perusahaan penerbitan buku pelajaran.3 Dari tabel tersebut jelas bahwa sasaran utama sosialisasi atau workshop KTSP adalah sekolah ditambah gugus sekolah (kelompok sekolah). tampaknya peran komite sekolah masih dianggap kecil (26. mereka telah ikut di beberapa kegiatan seperti yang digambarkan pada tabel berikut: Tabel 2 : Organisasi Profesi dan Unit terkait yang menjadi sasaran ssosialisasi SI. Menurut responden. Selain sekolah.3 26.Pendidikan Provinsi. Hal ini mengibatkan Tim Monitoring kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang kabupaten/kota atau sekolah mana saja yang telah melakukan sosialisasi secara mandiri. g. d. sosialisasi juga dilakukan terhadap organisasi profesi pendidikan lain berikut ini. KKKS (kelompok kerja kepala sekolah). baru kemudian yayasan.3%) dalam pelibatan pengembangan KTSP. Perusahaan swasta/BUMN. dewan pendidikan dan komite sekolah. Jelas bahwa unit yang terlibat dalam sosialisasi sudah mewakili keseluruhan stakeholder pendidikan. f.

8%). sehingga silabusnya sama. serta menyusun senidiri. e. adaptasi dan sebagainyaP . sebagian besar penerapan KTSP pada tiap kabupaten/kota selama tahun 2006 belum intensif (31. dan yang menyatakan intensif hanya (15. Lebih separoh daerah Kondisi (57. dan bahkan ada yang menyusun secara bersama-sama beberapa sekolah. beberapa sekolah menyusun sendiri.9%) menyatakan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 62 .3%). jawaban boleh lebih dari satu). c. misalnya mengenai seilabus. SKL dan model kurikulum KTSP KTSP disusun oleh sekolah dengan koordinasi Dinas Pendidikan KTSP disusun oleh tim yang dibentuk oleh Dinas Pendidikan Satuan pendidikan mengadaptasi model kurikulum KTSP dari pusat Satuan pendidikan mengadopsi atau menggunakan model kurikulum KTSP dari pusat Masih pada taraf sosialisasi dan mempelajari perangkat dokumen Masih menggunakan kurikulum sebelumnya % 73. masih cukup banyak sekolah yang baru pada taraf mempelajari kebijkan KTSP dan menggunakan kurikulum sebelumnya. mereka menyebut menyusun sendiri tetapi secara bersama di gusus. g. serta mengadaptasi dan mengadopsi model kurikulum. Untuk kategori ini. Beberapa sekolah menyusun di bawah koordinasi dinas dengan menggunakan tim pengembang dari dinas. Banyak guru yang belum siap menyusun silabus sendiri. umumnya sekolah-sekolah menyusun sendiri KTSP ( 73. Ada yang menyatakan bahwa KTSP disusun oleh sekolah di bawah koordinasi Dinas pendidikan. b. dalam arti.8 15. Ada unsur adopsi dan adaptasi.1 36. f. d.3%).3 42. lainya tidak memberikan jawaban (26.6%). penyusunan KTSP oleh sekolah dilakukan dengan metode kombinasi melalui koordinasi. menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi.9 26. Tabel 3 : Penusunan KTSP oleh Satuan Pendidikan Penyusunan KTSP a. menggunakan tim. Menurut pemantauan Dinas Propinsi. dan pada bagianbagian tertentu diadopsi. sehingga ada yang mengadopsi. belum menjadi prioritas (26. tersebut berbeda dengan tahun 2007. Berikut secara lengkap informasi tentang proses penyusunan KTSP menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi (mulai dari yang frekuensinya tinggi.7%).3 57. Hal yang perlu dicermati hádala. Satuan pendidikan menyusun sendiri mengacu SI.Dalam hal penyusunan KTSP. Dalam pengembangan KTSP.8 26. namur terbatas pada beberapa bagian saja.3% Total persentase respon melebihi dari 100% karena umumnya responden menjawab lebih dari satu pilihan. mengadaptasi.

sosialisasi dan workshop KTSP yang mulai meluas dan tingkat pemahaman KTSP yang membaik bagi seluruh stakholder. Tentang kondisi yang berkaitan dengan pelaksanaan KTSP. mengapa intesitas penerapan KTSP masih beragam. dan 26. sebagian besar daerah memprogramkan mulai tahun 2007 menerapkan KTSP.Jadi. dan sebagian lagi menyatakan bahwa masih perlu waktu untuk melakukan sosialisasi di kalangan warga sekolah dan masyarakat karena sebagian besar di antara warga sekolah dan masyarakat belum memahami kebijakan tentang KTSP ini.8%) telah menerapkan secara efektif di semua kelas. dan hanya 5.6 36. Pada umumnya sekolah mulai menerapkan KTSP pada awal tahun pelajaran 2007 secara bertahap (73. Telah menerapkan secara efektif pada seluruh kelas dengan silabus dan RPP yang disusun sendiri Telah menerapkan secara efektif pada seluruh kelas dengan silabus dan RPP yang diadopsi Telah menerapkan secara bertahap Masih menggunakan kurikulum sebelumnya % 31. Ini menunjukkan KTSP telah menjadi program dengan prioritas bagi tiap propinsi/kabupaten/kota.3% yang menyatakan kurang. 10% menyatakan sangat baik.kabupaten/kota mulai menerapkan KTSP secara intensif.7%). Tingkat kesadaran dan komitmen sekolah untuk mengembangkan dan menerapkan KTSP cukup tinggi.8 73. c.2%). Umumnya sekolah yang menerapkan secara kelseluruhan adalah sekolahsekolah yang sudah melaksanakan piloting KBK (2004).6%).7 31. diantaranya adalah: menunggu sampai 2009 (batas akhir yang diberikan oleh pemerintah untuk menerapkan KTSP). Beberapa alasan yang dikemukakan oleh daerah. rata-rata melaksanakan secara bertahap. b. Berkaitan dengan hal ini.6 Tabel di atas menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil sekolah yang masih menggunakan kurikulum sebelumnya (31. d. Tabel: 4 Proses penerapan KTSP Proses/Tahapan a. peningkatan prioritas program KTSPdisebabkan oleh tuntutan bahwa tahun 2009 KTSP harus sudah diterapkan menyeluruh pada setiap satuan pendidikan.3% responden tidak memberikan jawaban. Sebagian sekolah (36. sebagian besar daerah menyatakan sudah cukup baik (84. melihat sekolah yang terdekat dengan mereka agar dapat secara bersama-sama menyusun KTSP. Faktor yang paling mentukan keterlaksanaan KTSP menurut pernyataan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 63 . Sebanyak 15. Alasan lain adalah kurangnya dana pendukung untuk penyusunan KTSP.8% daerah menyatakan kabupaten/kota belum menempatkan penerapan KTSP sebagai prioritas.

5 15.3 10.3 5. SKL.2 63. orang tua dan masyarakat (10.5 10.6 47.5 5.2 57.3 10.5 5.10%).5 5.8 15.2 57. g. Keberhasilan program KTSP sangat ditentukan oleh sumberdaya pendidik dan tenaga kependidikan.9 68. i. f. c.3 26.1 37. penyusunan kurikulum. Dokumen SI.7 73.5%.6 K 15.3 15. kecuali dalam pengembangan bahan ajar mandiri Lebih lengkap informasi tentang kesiapan guru dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel: 5 Kesiapan Guru dalam Pengembangan dan Penerapan KTSP SMA (%) Aspek a.1 15.1 21.9 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum guru telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik.5%). Namun yang perlu dicermati dan ditingkatkan kompetensi guru Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 64 .3 26. akses informasi oleh satuan pendidikan tentang kebijakan KTSP seharusnya mudah. umumnya kabupaten/kota sudah mendaptkan dokumen SI. Keberadaan Dokumen SI dan SKL Menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi.9 63.1 21. Hal ini mennjukkan perlu adanya komitmen manajemen yang profesional pada tingkat sekolah untuk mengembangkan dan menerapkan KTSP 3.4 73.7 68.8 19. silabus dan RPP Mengembangkan alat penilaian berbasi kompetensi Menyusun bahan ajar (LKS dsb) Membuat sumber belajar mandiri S 21.4%).9 47. serta pemanfaatan teknologi informasi agar sekolah terbantu dalam mengembangkan dan menerapkan KTSP. Sebagian responden menjawab gabungan antara siswa dan orang tua (20. b. Kesiapan Sekolah dalam melaksanakan KTSP: Secara umum.8 10. menurut informasi dari Dinas Pendidikan.4 63.9%).3 5. silabus.3 31. penguasaan mata pelajaran.8 5. kesiapan guru berkaitan dengan pengembangan dan penerapan KTSP oleh sekolah cukup memadai.Dinas pendidikan Provinsi adalah guru (78.2 52. siswa (21. dan model KTSP (94. Kualifikasi akademik Penguasaan isi mata pelajaran Menyusun kurikulum (KTSP) Menyusun silabus Menyusun RPP Menilai kualitas kurikulum.3 10.9 68. e. ini berarti.7 78. SKL dan model KTSP sudah tersedia pada tingkat kabupaten/kota.1%). dan yang menyatakan sangat memadai hanya 10.3 26.8 15. h.8 10.3 26. sarana dan prasarana (47.3 C 52. Sebagian besar menyatakan ketersediaan dokumen cukup memadai (52.8%).5 10.5 SMK (%) C 57. Perlu dilakukan berbagai upaya komunikasi interaktif dan komitmen sekolah dan Dinas melalui hubungan langsung.6%) dan kurang memadai (15.9 73.4 63. 4.8 15. dan RPP.4 K 26.6 31. d.4 S 26.6 57.5 10.7%).8 15.

adalah dalam melakukan pengembangan penilaian berbasis kompetensi. menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut. modul maupun referensi lainnya juga perlu dipertimbangkan karena guru lebih bergantung kepada penerbit buku Kesiapan kepala sekolah dalam pengembangan dan penerapan KTSP. seorang guru harus melakukan penilaian secara profesional dan dapat dipertanggungjawabkan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 65 . Pengembangan bahan ajar yang meliputi buku teks. pengembangan bahan ajar serta pengembangan sumber belajar mandiri. Tampaknya guru belum konfiden dalam mengembangkan alat penilaian walaupun itu sudah dijalani sehari-hari. padahal dalam KTSP.

5 15. c. serta mengelola guru dalam pengembangan KTSP.4 68.3 5. b. namun tidak mendalam pada tingkat detil kurikulum maupun silabus mata pelajaran.3 SMK C 52.6 36.1 26. c.4 68. e.6 15.9 63.3 5.8 21.4 68.6 57.9 68.9 K 15. dan RPP.3 5. menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut. penyusunan kurikulum.4 68. dan RPP.9 63.1 63.3 29. e. silabus dan RPP Membantu masalah guru dalam menyusun silabus dan RPP Mengelola guru dan tenaga kependidikan menyusun KTSP Membina guru dalam melaksanakan pembelajaran S 31.3 S 21.1 94.8 26.2 68. f.2 57.4%). b.6 15. Program peningkatan kompetensi pengawas dapat berbentuk Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 66 . silabus.4 57.5 15.5 15.3 15.3 10.6 63.6 94.7 S 31.Tabel 6 : Kesiapan Kepala Sekolah SMA Aspek a. penguasaan ini secara umum masih diperlukan.4 K 21. f.3 21.5 C 42.6 36. Tabel 7 : Kesiapan Pengawas SMA Aspek a.1 26.9 47.1 5.2 K 31.8 5. Tentang kesiapan pengawasa sekolah. penyusunan kurikulum. penguasaan mata pelajaran.3 C 42.6 31.9 57. Gaya Kepeminpinan kepala sekolah juga perlu ditingkatkan untuk mengelola guru dan tenaga lain dalam pengembangan KTSP.7 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum pengawas sekolah telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik (namun ini masih perlu ditingkatkan.8 36.1 5. Kualifikasi akademik Menyusun kurikulum (KTSP) Menilai kualitas kurikulum.3 5.1 52. membantu masalah guru dalam pengembangan silabus dan RPP (namun ini masih ditingkatkan karena angkanya baru 47.3 10. Pada jenjang pendidikan dasar. Yang perlu dicermati dan ditingkatkan kompetensi kepala sekolah adalah walaupun secara umum kepala sekolah berkompeten dalam pengembangan kurikulum.2 57. menilai kualitas kurikulum.3 5.9 31. d.8 SMK C 57.1 21.8 10.6 31. d.6 15.8 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum kepala sekolah telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik. Kualifikasi akademik Menyusun kurikulum (KTSP) Menilai kualitas kurikulum.8 10.8 21. silabus dan RPP Membantu masalah guru dalam menyusun silabus dan RPP Mengelola guru dan tenaga kependidikan menyusun KTSP Membina guru dalam melaksanakan pembelajaran S 26. silabus. 5.3 26.4 52.3.8 36. karena angkanya baru 47.4%).3 26.6 K 26.

1 Tdk Mjwb 47.9 Tahun 2007 (dlm juta rupiah) APBD 10.6 63.6 57. Berkaitan dengan pembiayaan. 5. SKL dan KTSP Workshop /pengembangan KTSP. Ini berarti. Blockgrant.3 15.5 Block Grant 10.1 36. Umumnya sekolah menyediakan dana dari anggaran belanja sekolah. banyak responden justru memilih tidak menjawab. dan hanya 5. umumnya responden menyatakan bahwa penerapan KTSP berdampak pada penyediaan dana. Ini berarti peran pengawas harus ditingkatkan fungsinya dalam pembianaan substansial sekolah mulai dari pengembangan kurikulum sampai pelaksanaan pembelajaran. tidak sekedar memeriksa adminstrasi kurikulum dan pembelajaran di sekolah.1 21.8 21.workshop pengembangan kurikulum.5 Lain nya 21. Hal dimungkinkan karena berbagai hal yaitu: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 67 .9 63.1 78.5 - 15. potensi. serta membina guru dalam melaksanakan pembelajaran. Sarana dan Pendanaan Hampir separoh responden menyatakan sarana dan prasarana sekolah sebagai pendukung KTSP masing kurang memadai (47. Berikut tabel tentang sumber pendanaan sosialisasi KTSP: Tabel : 8 Sumber Pendanaan KTSP Tahun 2006 (dlm juta rupiah) Jenis Sosialisasi / Workshop APBD a.5 Block Grant 21.4 57.2 52.2 d. diklat atau tugas belajar Penyediaan dan pemeliharaan prasarana dan sarana pendidikan 10.6 Tdk Mjwb 52. MGMP dsb Workshop pendampingan pengembangan KTSP.9 63.5 - 21.5 Lain nya 26. 47.7 21. bagi sekolah dengan sarana dan prasarana kurang memadai perlu mengembangkan KTSP yang sesuai dengan sekolah tersebut dan dapat dilaksanakan oleh sekolah tersebut. e. Perlu dikritisi di sini bahwa pengembangan dan penerapan KTSP harus disesuaikan dengan kondisi.5 10. maupun sumber lainnya yang sah.3 % yang menyatakan sangat baik.5 10. - 5. sekolah dapat mengembangkan sendiri alternatif sarana yang tersedia dari lingkungan sekolah.4 31. KKG. 10. b.3%). Perlu dicermati di sini.8 15.1 - 15. silabus dan RPP pada sekolah tertentu secara bertahap Pengembangan kompetensi guru melalui uji kompetensi.8 10. Sosialisasi SI. kebutuhan dan karakteristik sekolah dan peserta didik. artinya sarana-sarana yang tidak tersedia atau rusak.4% menyatakan sangat baik. silabus dan RPP dengan melibatkan berbagai sekolah.2 15.8 73. Perlu juga ditingkatkan program mandiri pengembangan alternatif sarana.6 Dari tabel tersebut jelas bahwa program KTSP melibatkan berbagai sumber mencakup dana APBD.1 10.9 c.

Tim Pengembang Kurikulum (TPK) Provinsi (a). Berikut urutan priritas kegiatan di Dinas Pendidikan Provinsi.8 21. 33/MPN/SE/2007 tentang Pembentukan Tim Sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 68 . Prioritas utama adalah melakukan koordinasi program dengan kabupaten/kota (52. Untuk merealisasikan program tersebut. dengan dinas kabupaten/kota dan dengan pusat. workshop.3% yang menyatakan bahwa kabupaten/kota belum memiliki program sosialisasi. SKL dan model KTSP 52. Melakukan koordinasi program dengan kab/kota Melakukan pendataan pencapaian penerapan KTSP pada tiap kab/kota Melakukan workshop pengembangan KTSP dan program supervisi klinis dengan kab/kota Melakukan supervisi klinis langsung ke sekolah-sekolah terpilih Penyediaan dokumen SI. sebagian besar (73.8 Angka Prioritas 3 15. 6.6%).1 Dari tabel tersebut jelas bahwa prioritas pertama Dinas Propinsi dalam program KTSP adalah melakukan koordinasi tingkat internal. peran ini menjadi kurang.3 4 5. penyediaan dokumen SI.5 26. SKL.8 e.5 21.5 15. Tampaknya koordinasi menjadi hal penting karena dengan adanya otonomi daerah.3 - 10. ditetapkan berbagai prioritas.8 5. 26.pengetahuan responden yang rendah dalam masalah anggaran (hanya fokus pada program/kegiatan yang dijalankan). dan pendapingan satuan pendidikan dalam mengembangkan KTSP. dan tidak bersedia menjawab.8 36. Program Sosialisasi yang Berkelanjutan Menurut Dinas Pendidikan Provinsi.8 c.3 15.3 5.3 36.3 ksg 10. Prioritas kedua adalah melakukan pendataan kuantitatif penerapan KTSP pada tingkat kab/kota. workshop. Tabel: 9 Urutan Prioritas Kegiatan Jenis Program 1 a. 36.5 15.8 10.8 d. untuk Hanya 26.1 15. keberadaan TPK Kesiapan tim sosialisasi KTSP tingkat provinsi (sesuai dengan SE Mendiknas No.8 20. maupun pendampingan satuan pendidikan untuk mengembangkan KTSP.8 5. 36. terutama koordinasi dengan kabupaten/kota. b.8 2 15. workshop pengembangan KTSP dan supervisi klinis ke kab/kota dan 7. tidak tahu.7%) kabupaten/kota memiliki program sosialisasi.6 36.

perguruan tinggi(63. dan jangka pendek.3%).1%).2 Belum 5. dan sebagian lagi digali dari sumber lain(21.3 31. Pembentukan Tim Pengembang Kurikulum tingkat propinsi 2 2. Pengesahan ini sangat diperlukan sebagai dasar pengajuan anggaran pembiayaan kegiatan tim pengembang kurikulum.2%). dan keterlibatan perguruan tinggi dan swasta relatif lebih kecil. Guru (84.1%).2%). Pengukuhan Tim Pengembang Kurikulum melalui Surat Keputusan 3 Program Kerja TPK Propinsi Sudah 94. seperti pengawas (89. dan bantuan para sponsor seperti penrbit buku. (b) Anggota TPK Propinsi Tim Pengembang Kurikulum (TPK) provinsi melibatkan berbagai unsur Keanggotaan terkait.5%). Tabel 10 : Keberadaan Tim Pengembang Kurikulum Provinsi No Keberadaan Tim TPK Provinsi 1 1. kepala sekolah (73. keterlibatan unsur di luar sekolah (pejabat struktural dan staf teknis. Dari semu daerah yang sudah membentuk Tim Pengembang Kurikulum. sebagian daerah mengkombinasikan antara APBD dengan APBN (10.5%).Pendidikan). Ini dapat dipahami mengingat perubahan kebijkan kurikulum selama ini lebih bersifat adminstratif dari pada akademik. umumnya (63. Kelihatannya.7 68.4 63.6 36. Surat Keputusan ditandatangani langsung oleh Gubernur. Sebagaian daerah yang tergolong proaktif. (c) Sumber dana untuk membiayai kegiatan TPK Propinsi Dalam hal pendanaan. banyak daerah yang masih bingung.3%). dan keterlibatan relatif swasta masih kecil (21. Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab pengembangan profesi bagi tim pengembang kurikulum lebih cenderung didominasi oleh nuansa birokratis. yang dalam hal ini disebut Tim Pengembang Kurikulum Propinsi dalam membantu kabupaten/kota atau satuan pendidikan di wilayahnya dalam pengembangan KTSP adalah sebagai berikut. sudah mengusulkan lewat APBD (42.7 %) telah membentuk Tim Pengembang Kurikulum. jangka menengah. pengawas) cukup dominan.2%) telah menyusun program kegiatan yang terdiri dari program jangka panjang. dan sebagian lagi ditandatangani oleh Kepala Dinas Dinas Pendidikan atasnama Gubernur. Pada sebagian daerah. pejabat struktural dan staf dinas pendidikan (89.1%) misalnya APBS. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 69 .4%) keberadaan tim tersebut telah dikukuhkan melalui Surat Keputusan Pemerintah Daerah.8 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa hampir semu provinsi (94. dan sebagian besar (68.

4 74.4 66.6 13.7 42.1 47. dan didukung oleh kemajuan perangkat teknologi.9 66. tim studi juga melakukan studi pengembangan dan penerapan KTSP bersumber dari pihak sekolah (sebagai sekolah sampel) yang terlibat dalam kegiatan ini.7 9.4 92. Namun terdapat perbedaan pernyataan antara kepala sekolah dan guru.6 41. SKL.7 56. Dokumen-dokumen tersebut dikemas dalam bentuk file dan direkam ke CD. ada kendala berkaitan dengan ketersediaan perangkat dan keterbatasan tenaga pengoperasion komputer.1 11. Berikut adalah tabel latar belakang responden yang terlibat dalam studi. 23 tahun 2006 Permendiknas No. Namun demikian. setiap pergantian kebijakan kurikulum.5 89. Hanya saja.B. 90. dan KTSP disosialisasikan sejak tahun 2006.1 40. 33/MPN/SE/2007 (Tentang Sosialisasi Kurikulum Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model-Model Program Khusus (PLB) Tabel di atas memberikan gambaran bahwa secara umum kepala sekolah (93. Pengembangang dan Penerapan KTSP oleh Sekolah Selain menggunakan data kualitatif dari dinas propinsi.7 22.9 yang mulai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Permendiknas No.9 % SI.9% untuk pelaksanaan SI dan SKL) menyatakan telah memiliki. Hal ini sangat memungkinan untuk mempercepat proses distribusi. Ini berarti.2 69. Sudah bukan hal yang aneh ketika suatu sekolah baru menerima dokumen kurikulum pada saat kebijakan kurikulum telah berganti.7 90. Berikut tabel kepemiliakn dokumen kelangkapan SI. 1. Tabel 11: Kepemilikan dan Kelengkapan Dokumen KTSP No Jenis Dokumen Sudah Memiliki (%) Kepala Guru Sekolah 93. 24 tahun 2006 Surat Edaran Mendiknas No. banyak sekolah yang terlambat menerima informasi dan dokumen kurikulum.9 70.7 82.1 77. pemerintah memanfaatkan teknologi komputer.4 % untuk SKL.2 92. Frekuensi kepala sekolah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 70 . 22 tahun 2006 Permendiknas No. sumber acuan pengembangan KTSP telah dimiliki oleh sekolah-sekolah tersebut. Untuk daerah terpencil bisa mencapai 5 – 10 tahun. Untuk mengantisipasi hal ini. 92. setidaknya proses penyempaian informasi relatif lebih cepat.4 85.4 92.4 16. Kelengkapan Dokumen KTSP Berdasarkan pengalaman yang lalu.

66. cetakan.7 %untuk SKL dan aturan pelaksanaannya. 2. Perbedaan ini menunjukkan bahwa mungkin saja sebagian kepala sekolah belum sempat menyampaikan dokumen tersebut kepada guru oleh karena berbagai alasan. Cara Memperoleh Dokumen Pada umunya sekolah/satuan pendidikan mendapat dokumen tersebut dengan berbagai cara melalui mengkopi sendiri dalam bentuk CD. model pengembangan diri. model pembelajaran terpadu IPA/IPS di SMP. Menurut guru baru sekitar 70. Hal lain yang perlu juga dicermati adalah bahan-bahan tersebut harus bisa diakses secara mudah oleh semua insan di sekolah terssebut. Secara rinci adalah seperti tabel berikut Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 71 . Sayangnya tim studi tidak sempat melacak alasan mengapa terjdi perbedaan yang cukup signifikan. dari dinas pendidikan maupun piha lainnya. model pembelajaran tematik di SD dan model program khusus untuk pendidikan khusus.2 % yang menyatakan telah menerima dokumen SI. Sumber acuan lain yang harus dimiliki sekolah adalah model muatan lokal. sementara guru dan kepala sekolah yang diundang berasal dari sekolah yang sama. Hal ini agar segera diupayakan untuk menjamin pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan berjalan secara efektif dan efisien.yang telah menenrima dokumen tersebut lebih tinggi dari pada guru.

1 6. Guru 67. 33/MPN/SE/2007 (Ttg Sosialisasi Kurikulum Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model Program Khusus (PLB) a.5 9.1 6.0 2.7 16.5 4.5 15.0 16.8 19.2 6.6 10.3 34.1 7.5 9.) menyatakan sudah mempelajari.4 4. 24 tahun 2006 SE Mendiknas No.Tabel 12 : Cara memperoleh dokumen kelengkapan KTSP No Jenis Dokumen Copy sendiri dalam bentuk CD KS 30.1 8.2 2.9%.2 1.1 10.2 - 1.3 3.0 1.7 GR 23.1 8.1 9.2 3.1 9.4 2.1 7. 22 tahun 2006 Permendiknas No. Bagi yang sudah memperoleh.6 12.8 22.0 4. dan irama c.3 9.3 30.5 7.6 Cara Memperoleh Dari Dinas Pendidikan dalam bentuk CD GR KS GR 15.5 1.4 1.3 33.2 13.6 23.9 8.8%)`menyatakan sulit memperoleh dokumen KTSP.1 11.8 23.5 4.0 3.1 7.5 9.2 1.7 8.2 1.2 31. umumnya responden (Kepala Sekolah 87. Bina Komunikasi.1 9.5 4.6 15.3 28.1 3.5 Dibeli dari pihak lain 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Permendiknas No.0 - 1. persepsi bunyi.1 13.7 23. guru 48.5 1. 23 tahun 2006 Permendiknas No.0 7. Bina diri d.8 26.2 4.5 - GR 2.5 6.1 6.2 - - 3.8 25.8 13.2 1.2 22.0 9.9%.6 16.1 20.2%. Pemahaman Isi dokumen berkaitan KTSP Sebagian besar responden (Kepala sekolah 68. Bina diri dan bina gerak KS 1. Bina gerak e.6 9.2 22.1 3.2 1.1 7.4 2.3 9. Bagi kepala sekolah yang belum memperoleh dokumen tapi sudah pernah mendapatkan informasi tentang peraturan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 72 .5 Copy sendiri dalam bentuk cetak KS 15.1 13.5 1.0 1.6 (%) Dari Dinas Pendidikan dalam bentuk cetak KS GR 6. Bina pribadi dan sosial f.7 13.1 12.1 10.2 3.4 1.0 3.1 1.5 12.8 33.7 13.5 9.3 6.1 12. Orientasi dan mobilitas b.4 1.2 12.1 7.5 1.1 15.8 2.1 6.1 3.1 9.

tersebut. sesuai kondisi sekolah. c. b. tentang bina diri. SKL. Perlu dilakukan berbagai upaya agar pemahaman tentang kebijakan pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan memiliki persepsi yang sama.2%. 33/MPN/SE/2007 (Tentang Sosialisasi Kurikulum) Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model-Model Program Khusus (PLB) Deskripsi Singkat Tentang standar isi yaitu lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan Berisi tentang standar kompetensi lulusan utk satuan pendidikan dasar dan menengah Mengatur tentang pelaksanaan peraturan mendiknas tentang standar isi dan SKL untuk stuan pendidikan dasar dan menengah Edaran/himbauan untuk segera mensosialisikan & menerapkan KTSP mulai tahun pelajaran 2006/2007 Yaitu tentang contoh kurikulum tingkat satuan pendidikan yang bisa dikembangkan Yaitu tentang contoh format silabus (deskripsi tentang pokokpokok materi pembelajaran) Contoh format rencana pelaksanaan pembelajaran yang bisa dikembangkan Yaitu contoh format silabus dari muatan lokal yang bisa dikembangkan sesuai karakteristik lingkungan di sekitar sekolah Yaitu format kegiatan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekpresikan dirinya IPA terpadu diartahkan ke lingkungan ttg pengelolaan alam sesuai dgn kondisi lingkungan di kep. sama sekali belum dipahami. Babel Pada pembelajaran tematik guru harus lebih kreatif membuat alat peraga atau pembelajaran atau menyenangkan sehingga anak tidak bosan Berisikan tentang program khusus: a. tentang bina emosi dan sosial dan buku tentang keterampilan yang menunjang 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa responden mengetahui dokumen hanya sekadar kulitnya saja. Ketika diminta untuk mendeskripsikan isi dokumen tersebut untuk melihat apakah mereka telah mempelajari dan memahaminya. pengawas (10. e. sedangkan apa yang tertera secara eksplisit dan implisit di dalamnya. BPM.7%) dan teman (10.6%). dan KTSP No 1 Jenis Dokumen Permendiknas No. mereka mendengar dari Kepala Sekolah (22. fleksibel.7%). 24 tahun 2006 Surat Edaran Mendknas No. media Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 73 . d. berikut jawaban yang mereka berikan: Tabel 13 Jawaban Responden tantang Dokumen SI. lainya dari pengawas atau teman sejawat yang pernah mengikuti sosialisasi. Mereka mendapatkan informasi tersebut dari Kepala Dinas 15. Hal ini dapat dilakukan tidak hanya dalam bentuk sosialisasi saja tetapi juga melalui workshop dengan menggunakan media langsung (rapat kerja). tentang bina diri dan gerak. 23 tahun 2006 Permendiknas No. tentang OM. 22 tahun 2006 Permendiknas No. Sedangkan bagi para guru.

kondisi masyarakat Mata pelajaran mana yang diajarakan lebih banyak jamnya SDM yg ada belum mampu.2%) tidak memberikan jawaban.2% responden guru beranggapan demikian.7%). Berdasarkan pendapat responden. dan III Dalam kegiatan pembelajaran terkendala pada waktu yang terbatas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 74 . dan adopsi dari contoh-contoh yang ada (3. Sedangkan responden guru yang menyampaikan sekolahnya telah menyusun KTSP adalah 86.9%).1%). sisanya (9. 60% kepala sekolah menganggap tidak sulit menyusun KTSP. dan adopsi dari contoh-contoh yang ada (7. di antaranya sebaai berikut: Tabel 14 : Kesulitan dalam Menyusun KTSP Aspek Merumuskan Visi dan Misi Sekolah Merumuskan tujuan sekolah Menetapkan mata pelajaran Menetapkan dan mengembangkan muatan lokal Menetapkan dan mengembangkan kegiatan pengembangan diri Menetapkan pengaturan beban belajar Menetapkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) Menetapkan kriteria kenaikan kelas Kesulitan dan Alasan menyamakan persepsi dengan semua guru & karyawan kesesuaian antara tujuan sekolah dgn situasi.1%). Penyusunan dilakukan sebagian besar dengan cara adaptasi atau penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan sekolah (61.9%). Demikian pula 51. sebagian besar penyusunan dilakukan dengan cara adaptasi atau penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan sekolah (62. disusun sendiri (13. dan praktis. Bagi yang merasakan kesulitan dalam penyusunan KTSP menyampaikan berbagai alasan. Menurut pernyataan responden. (93. dengan menggunakan bahan yang jelas.0%). disusun sendiri (16. sederhana. Penyusunan KTSP Sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah mereka telah menyusun KTSP.9%. masih kurang memadai sarana dan prasarana pendukung Belum ada tenaga pemikir/pakar dalam hal pengembangan diri Kemampuan menyusun masih belum maksimal Sulit menentukan KKM karena harus melihat setiap SKL dan KD yang banyak Jika siswa mendapat nilai yang sama untuk menetapkan kriterianya agak sulit namun sudah diulang dengan tes-tes yang lain Tidak diberikan kepada pihak sekolah dalam pengambilan keputusan terakhir Tidak semua budang studi mudah dalam menerapkan pendidikan kecakapan hidup khususnya bidang studi PKN Tidak cukupnya panduan untuk itu Menetapkan kriteria kelulusan Menentukan pelaksanaan kegiatan pendidikan kecakapan hidup Menetapkan dan mengembangkan pendidikan berbasis keunggulan lokal Mengembangkan dan melaksanakan pendidikan berbasis keunggulan global Menyusun kalender Pendidikan Menjabarkan standar kompetensi/kompetensi dasar menjadi indikator Menyusun kegiatan pembelajaran Belum ada tenaga yang dipersiapkan untuk itu Dalam penyususnan kalender pendidikan sudah disusun oleh dinas pendidikan disesuaikan dengan daerah masing-masing Dalam penyusunan berpedoman pada silabus yang ada buku yang dijadikan masih harus dirancang sendiri karena tingkat kesukarannya da ditingkat kelas I. media televisi radio. II.cetak.1%). dan internet secara interaktif. 4.

kalender pendidikan standar kompetensi. pengaturan beban belajar. RPP (2) visi. Pemahaman Tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan KTSP Sebagian besar responden menyatakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang menitikberatkan atau berorientasi pada kompetensi/kemampuan siswa dengan harapan setelah siswa selesai sekolah memiliki suatu kompetensi diri yang kompeten. 5. kalender pendidikan. Sedangkan hal-hal yang harus dilakukan guru agar dapat melaksanakan KTSP secara optimal adalah guru harus memiliki pemahaman yang baik terhadap konsep dan falsafah implementasinya di lapangan. anak dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih optimal (2) layak disempurnakan dalam kerangka inovasi pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah agar dapat melaksanakan KTSP Responden berpendapat bahwa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah dalam melaksanakan KTSP adalah adanya kesatuan pendapat dan dukungan dari warga sekolah dalam menentukan tujuan sekolah serta keinginan masyarakat yang dituangkan dalam KTSP. muatan lokal. KTSP serta teknis Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 75 . bahan yg akan dijadikan acuan.Menetapkan materi pokok Menyusun bahan ajar Menentukan strategi dan alat penilaian Menindaklanjuti hasil penilaian Menentukan alokasi waktu Ada perbedaan pada referensi pendukung sehingga harus penuh teliti berdasarkan tuntutan dan SI Masih kurangnya buku sumber yang ada diperpustakaan atau toko buku yang ada Banyaknya tugas guru dalam penilaian yang terlalu rumit Melakukan remedial terhadap siswa yang belum tuntas Di alokasi waktu kadang-kadang tidak cukup karena siswasiswa asik dengan percobaan-percobaan yang di cobanya kerna jika belum berhasil siswa tidak akan meninggalkan tempatnya walaupun guru mengatakan sudah selesai jam pertemuannya Sulit mencari sumber dan alat untuk kompetensi tertentu Membedakan KD dan indikator perlu pemahaman para guru Cara mengembangkan indikator kegiatan pembelajaran/penilaian Cara menentukan strategi/model pembelajaran/evaluasi Menentukan sumber dan alat pembelajaran Merumuskan tujuan pembelajaran Menyusun silabus Menyusun RPP Data di atas menunjukan masih terdapat inkonsistensi antara pemahaman isi dokumen berkaitan dengan KTSP dengan kesulitan yang dialami guru dan kepala sekolah dalam mengembangkan dan menerapkan KTSP. Umumnya responden menyatakan bahwa kurikulum sebelumnya (1994) perlu diubah menjadi KTSP dengan alasan (1) Karena dengan pembelajaran berdasarkan kompetensi. Umumnya responden telah mengetahui komponen-komponen KTSP. misi. ketersediaan dana. yang sifatnya sudah harus menjabarkan secara teknis dan rinci. tujuan Sekolah. struktur dan muatan. 6. Juga perlu didukung oleh kesiapan semua komponen sekolah. struktur kurikulum. silabus. yaitu (1) visi misi dan tujuan pendidikan. standar kompetensi lulusan dan SKBM/KKM.

Permasalahan dan upaya mengatasinya Secara umum. Umumnya responden menyatakan bahwa perbedaan antara silabus dan RPP adalah: RPP sifatnya lebih operasional dari silabus. Pelaksanaan KTSP Umumnya responden memahami silabus sebagai penjabaran SK. KTSP memerlukan silabus karena silabus merupakan penjabaran dari standar kompetensi yang mengacu pada pencapaian standar kelulusan. kepsek. materi pokok. sedangkan Silabus dibuat untuk beberapa kali pertemuan. 6.Umumnya responden menyatakan perbedaan antara KTSP dengan kurikulum 1994 adalah bahwa KTSP berorientasi pada penguasaan kompetensi. berpusat pada guru. Upaya untuk mengatasi kesulitan adalah dengan terus meningkatkan pemahaman aspek-aspek yang terdapat dalam KTSP serta peningkatan penggunaan TIK untuk mendukung kegiatan pembelajaran. berpusat pada siswa. work shop. indikator sebagai pedoman dalam pelaksanaan KBM. Umumnya responden meyakini bahwa silabus dan RPP dapat menuntun atau membantu guru dalam pelaksanaan pembelajaran. KD. di antaranya kurikulum KTSP lebih menampung inspirasi dari warga sekolah serta mencakup perubahan/menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Persyaratan dan Kebutuhan sekolah dalam menyusun KTSP adalah adanya kemauan yang keras dari pihak sekolah untuk menyusun dan mengimplementasikan KTSP serta dukungan dana yang besar. terutama guru. waktu dan sumber. orang tua). Umumnya sekolah melibatkan pengawas dalam penyusunan silabus. RPP dibuat untuk setiap pertemuan. penilaian. indikator. Sebagian besar responden menyatakan bahwa umumnya silabus disusun oleh para guru secara bersama-sama dengan rekan satu sekolah maupun dalam MGMP. Strategi sekolah dalam mensosialisasikan KTSP kepada warga sekolah (guru. KKG. pertemuan rutin guru. serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung yang belum memadai. konteksual. Umumnya responden melihat hal-hal positif yang ada dalam KTSP. Unsur-unsur yang harus ada dalam silabus adalah SK. Dalam implementasinya. 7. Secara umum responden menyatakan bahwa kondisi (sumber/alat/dan sumber daya di sekolah belum memadai untuk mendorong keterlaksanaan KTSP. kegiatan pembelajaran. dan masyarakat adalah dengan melakukan diskusi di antara guru. Sedangkan kurikulum 1994 berorientasi pada tujuan. Caranya dengan mengadakan diklat. masih ada permasalahan dalam implementasi KTSP. guru sebagai fasilitator. dan KKKS. guru sebagai sumber belajar. KD. Persoalan yang umumnya dialami oleh sekolah dalam menyusun KTSP menurut responden adalah pemahaman yang belum maksimal dari warga sekolah. baik sebagai pembimbing maupun sebagai narasumber. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 76 . serta warga sekolah lain dengan dibimbing oleh pengawas dan kepala UPT Dinas Pendidikan setempat. abstrak.

Dana itu bukan dari dana BOS. mendatangkan tenaga LPMP. mendatangkan tenaga ahli. dalam monitoring ini juga dilakukan analisis tentang KTSP dengan sumber data dari oorangtua yang bertindak sebagai komite sekolah. Berikut adalah berbagai informasi yang berkaitan tentang KTSP menurut persepsi orangtua.1%). dan bukan dipungut dari siswa. melibatkan pengawas sekolah. Persepsi Komite Sekolah (Orangtua) dalam Pengembangang dan Penerapan KTSP Selain menggunakan sumber data dari dinas pendidikan. Memberi motivasi bagi guru dan reward bagi yang telah menyusun silabus dan RPP. juga bukan dari Dinas Pendidikan (APBD).Strategi sekolah dalam melakukan pemantauan pelaksanaan KTSPdi antaranya dengan membentuk tim kecil di bawah naungan wakil kepala skeolah bidang kurikulum dan wakil kepala skeolah bidang pengendali mutu untuk melakukan pemantauan. dan tim pengembangan kurikulum sekolah. Juga dengan melakukan supervisi. Sedangkan untuk melakukan sosialisasikan KTSP di lingkungan warga sekolah pada umumnya dana diperoleh secara swadaya (19. Pendanaan Umumnya responden kepala sekolah menyatakan bahwa penyusunan KTSP membutuhkan biaya yang besar. Upaya sekolah dalam mendorong guru dalam melaksanakan KTSP antara lain dengan: 1. guru dan kepala sekolah. 3.5%) untuk menyusun KTSP. C. Memberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengikuti diklat dan banyak bertanya pada rekan sejawat yang lebih paham. 2. Membantu memberikan petunjuk. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 77 .7%) atau bersumber dari APBN (12. 8. Sekolah umumnya memanfaatkan sumber dana lain (48.

Sebanyak 50 % menyatakan mengetahuinya dari sekolah sedangkan 50 % lagi tanpa penjelasan.0 0% % Tahu Tidak Tahu Tidak berbeda Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 10 . Berkaitan dengan perubahan kebijakan kurikulum saat ini. Perbedaaan KTSP dengan Kurikulum sebelumnya Memahami kurikulum yang berlaku termasuk hal yang harus dilakukan oleh orang tua. Pemahaman Orang Tua Siswa/Komite tentang Pelaksanaan Kurikulum a. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi KTSP yang telah dilakukan cukup berhasil. 5. Dengan adanya otonomi sekolah dalam pengembangan kurikulum. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam penyusunan KTSP pihak sekolah telah mensosialisasikan kepada orang tua melalui komite Berikut diagram tentang pemahaman orang tua/komite tentang KTSP.00 % 78 . Pemahaman orang tua terhadap perbedaan kurikulum yang sebelumnya dengan KTSP 85 . orang tua dituntut untuk berperan aktif dalam mendukung keberhasilan siswa dalam pencapaian kompetensi yang diharapkan.1. dan hanya 10% menyatakan tidak. perlu digali sejauhmana orang tua siswa memahami perbedaan kurikulum yang sekarang dengan kurikulum yang berlaku selama ini. Hal ini menjadi penting karena perubahan kebijakan tentang kurikulum saat ini memiliki konsekuensi terhadap peranan orang tua. diperoleh gambaran bahwa umumnya (90%) orangtua siswa menyatakan bahwa KTSP berbeda dengan Kurikulum 2004.00 Diagram 1. Berdasarkan hasil wawancara.

Berikut diagram respon orang tua terhadap pelaksanaan KTSP di sekolah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 79 . Berdasarkan wawancara dengan orang tua. Sedangkan 80 % lainnya sudah menerima penjelasan tapi tidak mengetahui dengan pasti arti penjelasan tersebut. Respon Orang Tua terhadap pelaksanaan KTSP di sekolah Hampir semua responden (99 %) menyatakan senang dengan pengunaan KTSP sebab membuat perhatian siswa terhadap kegiatan belajarnya lebih besar (siswa lebih aktif belajar) dan kemampuanya lebih dieksplorasi. sebanyak 90% orang tua menyatakan menerima penjelasan tentang KBK dari pihak sekolah dan dinas pendidikan setempat. Namun demikian memberi indikasi bahwa sosialisasi KTSP di tingkat satuan pendidikan SMA (khususnya) dan SMK sudah dilakukan sekolah dengan baik kepada orang tua (stake holder) namun perlu ditingkatkan dan dilakukan lebih intensif. 2. 23. Konsep dan Strategi Sosialisasi KTSP Pemahaman yang benar bagi setiap orang tua terhadap KTSP sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran siswa. Ini menunjukkan bahwa pemahaman orang tua tentang KTSP belum memadai sehingga perlu sosialisasi lebih lanjut agar orang tua dapat berpartisipasi lebih aktif dalam pendidikan putra/putrinya. berdasarkan wawancara dengan orang tua siswa. Namun hanya 20 % yang menyatakan mengerti penjelasan yang diberikan sehingga dapat memberikan dukungan dan kerja sama dengan pihak sekolah. Respon yang sangat baik ini memberikan indikasi bahwa KTSP mendapat sambutan yang sangat positif dikalangan orang tua (stake holder) sehingga sosialisasinya perlu ditingkatkan dan strategi implementasinya perlu dievaluasi secara berkala agar implementasinya maksimal. Sehubungan dengan tersebut. diperoleh informasi bahwa sebanyak 65% orang tua cukup mengerti bahwa KTSP disusun dengan memperhitungkan potensi lingkungan dan didasarkan atas Permen Mendiknas Nomor 22. sedangkan 10 % menyatakan belum pernah. Namun secara implisit orang tua (25%) mengharapkan kemampuan dan komitmen sekolah yang sungguh-sungguh untuk menyusun dan melaksanakan KTSP sesuai potensi daerah dan karakteristik sekolah.b. sedangkan 20% belum pernah sama sekali menerima sosialisasi KTSP. Sedangkan 15 % lainnya sudah mendengar tapi belum menunjukkan pemahaman tentang KTSP. perlu ada upaya sekolah untuk melibatkan orang tua dalam sosialisasi kurikulum. c. dan 24. Penjelasan Kebijakan Kurikulum terhadap Orang Tua Siswa` Untuk mendukung pemahaman orang tua.

00% Sangat Senang Senang.29% sering dan 42.00% 20. Senang.86% kadang-kadang orang tua mengeluarkan uang tambahan) orang tua menyatakan adanya tambahan pengeluaran biaya yang signifikan dengan penerapan KTSP. Untuk itu sosialisasi KTSP yang akan datang tidak saja difokuskan pada konsep-konsep KTSP tetapi lebih dari itu difokuskan pada strategi implementasi dan teknik pelaksanaan. Sedangkan 42.00% Diagram 2. Berikut diagram frekuensi siswa meminta uang tambahan untuk beiaya belajar setelah menggunakan KTSP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 80 .86% (yang menyatakan tidak pernah/hampir tidak pernah mengeluarkan biaya tambahan setelah penerapan KTSP) menyatakan bahwa sekolah di mana putra/i mereka bersekolah telah menyusun anggaran yang lengkap sehinga semua pembiayaan sudah dibayar pada awal tahun ajaran.25. Tanggapan orang tua terhadap pelaksanaan KTSP dan peluangnya dalam peningkatan kemampuan siswa 3. Dengan demikian walaupun penerapan KTSP mempunyai implikasi pengeluaran dana yang lebih namun dapat diterima secara positif sebab dana-dana tambahan yang dikeluarkan dialokasikan langsung untuk peningkatan kompetensi siswa. Ini menunjukkan bahwa pengeluaran tambahan untuk biaya studi setelah KTSP diterapkan cukup signifikan. asalkan siswa menjadi lebih pandai dan disiplin 55. frekuensi siswa meminta uang tambahan untuk biaya belajar setelah menggunakan KTSP Sebanyak 57. Namun dari data rersponden tidak ditemukan keluhan atau keberatan orang tua (stake holder) sehubungan dengan tambahan biaya ini. karena kemampauan siswa yang dikembangkan banyak dan fokus.15 % (14. Hubungan penerapan KTSP dengan biaya yang dikeluarkan siswa dalam proses belajar mengajar (a).

14.29%
Sering

Kadang-Kadang

42.86%
Tidak Pernah

42.86%

Diagram 3. Hubungan penerapan KTSP dengan biaya yang dikeluarkan siswa dalam proses belajar mengajar

(b). Biaya tambahan yang dibayarkan orangtua setelah menggunakan KTSP Semua responden menyatakan adanya tambahan biaya yang besar dan frekuensinya sangat bergantung pada kegiatan yang direncanakan sekolah masing-masing. Namun jawaban responden tengan pengeluaran tambahan ini sangat beragam antara yang sudah terencana melalui APBS sekolah sampai dengan yang tidak memiliki rencana sama sekali. Khusus sekolah-sekolah yang belum memiliki APBS yang baik tambahan pengeluaran ini menambah volume pekerjaan bertambah. Untuk itu dalam pelaksanaan sosialisasi KTSP pada level strategi peleksanaan dan di tingkat teknis operasional perlu diberikan bimbingan pengelolaan keuangan sekolah sehingga baik sekolah maupun orang tua mendapat kemudahankemudahan dalam memberikan layanan kepada putra/i-nya. Berikut diagram biaya tambahan sehubungan dengan penerapan KTSP
10 .00 % % .00 30
<= Rp.10.000,00 Rp.10.000,00 <= - <= Rp.80.000,00

3. Ketersediaan Buku Pelajaran

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

60 .00 %

Relatif, sesuai kebutuhan

Diagram 4. Besarnya biaya tambahan yang dibayarkan orang tua dalam pelaksanaan KTSP di sekolah

81

Responden yang menyatakan buku yang dimiliki siswa cukup memadai dengan yang menyatakan tidak cukup memadai sama besar. Sementara responden yang menyatakan bahwa buku cukup memadai dalam menunjang proses pembelajaran tidak memberikan penjelasan atas jawaban yang diberikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengadaan bukubuku yang sesuai dengan potensi daerah dan sesuai dengan karakteristik siswa perlu diupayakan secara sungguh-sungguh baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Berikut diagram tentang ketersediaan buku pelajaran

20.00% Cukup 40.00% Tidak Cukup Tidak Tahu

40.00%

Diagram 5. Dukungan buku dalam Proses Pembelajaran KTSP

4.

Penjelasan dari Guru tentang Rapor Siswa

Hanya 45% orang tua yang menganggap rapor hasil belajar yang disampaikan sekolah ke pada orang tua memberikan informasi tentang prestasi belajar siswa. Selain itu data responden menunjukkan bahwa yang merasa kurang jelas adalah 25% demikian pula yang tidak memahami sama sekali. Kemungkinannya adalah sekolah belum mampu

medayagunakan format rapor yang ada untuk menginformasikan pencapaian kompetensi siswa, atau format rapor terlalu rumit sehingga untuk memahaminya diperlukan penjelasanpenjelasan yang khusus. Ini menunjukkan bahwa diperlukan suatu penelitian lebih lanjut tentang format laporan hasil belajar dan cara penggunaannya yang diikuti oleh sosialisasi yang intensif dari pihak sekolah terhadap orang tua.

30.00% Jelas 45.00% Kurang Jelas Tidak Jelas

25.00% Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

82

Diagram 6. Informasi hasil belajar siswa melalui rapor hasil belajar.

5. Perubahan Sikap Siswa Setelah Sekolah Menerapkan KTSP Secara umum responden menyatakan adanya perubahan sikap belajar putra/putri mereka yaitu peningkatan minat dan semangat belajar yang signifikan dengan penerapan KTSP. Dengan demikian peningkatan pemahaman dan penguasaan KTSP secara konsep, strategi implementasi, dan teknik pelaksanaan perlu disosialisasikan lebih intensif, luas, dan efektif.
15.00%

Lebih Rajin Belajar Relatif Lebih Rajin Tidak Berubah

55.00% 30.00%

Gambar 7. Pengaruh KTSP terhadap sikap belajar siswa

Informasi 65% responden menyatakan tidak pernah/hampir tidak pernah menerima keluhan dari putra/putri mereka dan 10% yang kadang-kadang menerima keluhan

mengindikasikan bahwa penerapan KTSP cukup signifikan meningkatkan gairah belajar siswa. Kegiatan-kegiatan di luar sekolah yang timbul setelah penerapan KTSP disikapi sebagai implikasi dari semangat KTSP untuk meningkatkan mutu hasil belajar siswa. Dengan demikian KTSP mendapat sambutan positif dari orang tua karena dipandang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. 6. Keluhan Siswa Kepada Orang Tua setelah Sekolah menerapkan KTSP Sebagian besar orang tua (65%0 menyatakan bahwa anaknya tidak pernah mengeluh sehubungan dengan penerapan KTSP, 25 % menyatakan anaknya sering mengeluh, dan 10 % menyatakan kadang-kadang.

Berikut diagram pernyataan orang tua tentang keluhan anak-anak mereka sehubungan dengan penerapan KTSP.

.0 0%

Kadang-kadang Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008
25

10

.0 0%

83

Tidak Pernah

Tes melibatkan seluruh responden dari dinas pendidikan. sekolah. 1. Pemahaman Tentang Pengertian Standar Isi Sebagian besar responden dari kalangan pejabat struktural Dinas Pendidikan memahami bahwa Standar Isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu (65. kepala.5%). tes dimaksudkan juga untuk mendukung temuan-temuan yang diperoleh melalui kuesioner guru. Sebanyak 63.5% kepala sekolah dan guru menjawab dengan jawaban yang sama.D. Selain untuk melihat persepsi tentang KTSP. guru. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 84 . Hal ini senada dengan pemahaman kepala sekolah dan guru. orangtua dan dinas pendidikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara pemahaman Dinas Pendidikan dengan sekolah tentang standar Isi. Perbandingan Hasil Tes Pemahaman KTSP antara Pejabat Struktral di Dinas pendidikan dengan Sekolah (Kepala Sekolah dan Guru) Dalam monitoring ini juga dilakukan tes pemahaman atau tes persepsi tentang persepsi KTSP menurut responden. kepala sekolah dan orangtua. Identitas dari para responden adalah sebagai berikut. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada sekitar 35-37% reseponden belum memahami pengertian standar isi dan standar kompetensi lulusan dengan benar.

b. Mengatur tentang struktur kurikulum satuan pendidikan Mengatur tentang kompetensi lulusan Dinas Pendidikan 18. Ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi Mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Sebanyak 9. yaitu sebanyak 87.9 3 Tabel di atas memperlihatkan pemahaman responden terhadap Permendiknas No. masih ada sekitar 13-16 % responden belum memahaminya dengan benar. Artinya.5 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 85.Tabel 15 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Standar Isi Unsur (%) Jawaban a.7 3.5 63. d. c. 22 Tahun 2006 sangat variatif.5 c. meskipun untuk responden yang berbeda tampaknya pemahaman kedua unsur tidak terlalu jauh berbeda.5 8 7. Tabel 16 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Pengembangan Substansi Muatan Lokal Jawaban a.6 65.5%) menjawab bahwa yang berwenang menetapkan kurikulum muatan lokal adalah satuan pendidikan yang bersangkutan. 12. Satuan pendidikan Dinas pendidikan Pusat Komite sekolah Dinas Pendidikan 84.9 0. Dari kelompok responden yang belum menjawab dengan benar. 2.3 3.9% responden dari pejabat struktural Dinas pendidikan menjawab bahwa muatan lokal ditetapkan oleh Dinas Pendidikan.5%. d. Hal senada juga terlihat dari jawaban responden yang bearasal dari sekolah (guru dan kepala sekolah). 8% sekolah menjawab muatan lokal di tetapkan dari pusat.5 % responden yang berasal dari sekolah meberikan jawaban yang sama.7 responden dari pejabat struktural Dinas pendidikan yang menjawab demikian.7 4.3 Sekolah (Guru dan Kepsek) 22. sementara hanya 0.9 10. b. sementara 4. Pengembangan Substansi Muatan Lokal Tentang kewenangan penyusunan dan penentapan kurikulum muatan lokal.5 Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 85 . sebagian besar responden dari pejabat struktural Dinas Pendidikan (84.5 9. terdapat sedikit perbedaan antara responden dari Struktural Dinas Pendidikan dengan sekolah.

sebesar 75. Data ini menunjukkan bahwa Belem semua pihak yang memahami tentang pengaturan beban relajar sebagaimana yang tertuang dalam PP nomor 19 tahun 2005 tersebut.9% sekolah yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pembelajaran menggunakan sistem paket.6 4. diperoleh gambaran bahwa sebagain besar responden menyatakan penyelenggaraan pembelajaran menggunakan sistem paket (60%). Memperdalam penguasaan mata pelajaran Menciptakan wahana kegiatan sesuai minat dan bakat siswa Memberi pelayanan konseling pada siswa memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri. Dinas Pendidikan 3. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 18 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Sistem pembelajaran pada SMA/MA/SMK/MAK Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 86 . b.5 19. Berdasarkan tes pemahaman terhadap Dinas pendidikan dan sekolah. Namur hanya sedikit (sekitar 45%) responden (baik Dinas Pendidikan maupun sekolah) yang menyatakan pengaturan pembelejaran berdasarkan sistem kredit semester.6%.0 3.5 18.0 75. Ini berarti terdapat sekitar 24-27% responden memberikan jawaban yang salah atau belum memahami dengan benar. sebagian besar responden dari Dinas pendidikan menjawab ” memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri”. Tabel 17 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah Tentang Tujuan Kegiatan Pengembangan Diri Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 1. Namur hal ini berbeda dengan pandangan sekolah.4 2. Hal ini Belem banyak dipahami oleh pelaksana pendidikan di lapangan. Hal yang sama juga terjadi pada responden dari sekolah (Kepala Sekolah dan Guru). c. yaitu sebesar 73.9 Jawaban a. d.3.5 73. Tujuan dari Kegiatan Pengembangan Diri Mengenai kegiatan pengembangan diri. dinyatakan bahwa bagi sekolah yang kategori mandiri bebena relajar diatur dengan sistem keredit semester. Sistem Pembelajaran pada SMA/MA/SMK/MAK Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005. hanya 48.9 %.

Menggunakan sistem paket Menggunakan sistem SKS Dapat menggunakan sistem SKS Dapat menggunakan sistem paket Dinas Pendidikan 64.9 89. sekolah (kepala sekolah dan guru) menjawab dengan benar sebanyak 89.0 25.1 90. Artinya. Penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Sebagai kurikulum operasional.9 4.6 22. b. Dan ternyata.Jawaban a.8 4. Hanya 68 % responden dari Dinas pendidikan yang menjawab dengan benar.5 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 48.7 % responden sekolah (kepala sekolah dan guru) menjawab sama.6 5. b. Panduan penilaian kinerja dan portofolio Dinas Pendidikan 1. Data ini menunjukkan bahwa terdapat sekitar 10% responden yang belum menjawab dengan benar.8 2.5 5. dan sebanyak 70. Sejalan dengan hal tersebut.6 5. KTSP disusun oleh sekolah dan disesuaikan dengan kondisi yang ada. c.5 3. d. c.3 Jawaban a. Tabel 20 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Jawaban Unsur (%) Sekolah (Guru dan Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 87 .5 % responden dari pejabat struktural Dinas Pendidikan menjawab dengan benar. sekitar 25 % responden masih beranggapan bahwa masih ada kurikulum nasional. terdapat sekitar 30 % responden belum memahami dengan benar. Pedoman penilaian kelas Pedoman penilaian tertulis pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. Kemungkinan besar yang disebut sebagai kurikulum nasional itu adalah Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan.1 6.5%. Tabel 19 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Penggunaan Standar Kompetensi Lulusan Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 0. d. Penggunaan Standar Kompetensi Lulusan Dalam hal penggunaan Standar Kompetensi Lulusan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik 90.8 1.5 6.

. Acuan Penyusunan KTSP. tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pandangan dinas pendidikan dengan sekolah dalam pengembangan kompetensi yang lebih tinggi untuk satuan pendidikan tertentu.5 Kepsek) 2. Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 4. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh pernyataan kepala sekolah dan guru (52. Ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa KTSP harus disusun sendiri mengingat situasi dan kondisi sekolah yang berbeda-beda. Hal senada juga ditunjukan oleh pernyataan kepala sekolah dan guru (79. Artinya. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 88 .. c. Kemungkinan Satuan pendidikan Menyusun KTSP dengan Standar yang Lebih Tinggi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Standar isi dan Standar Kompetensi lulusan memnyatakan bahwa satuan pendidikan dapat mengembangkan kurikulum dengan kompetensi yang lebih tinggi dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. b.9 4.6 68.3 8. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 21 pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Acuan yang Digunakan dalam Menyusun KTSP. d.7 1. kebutuhan dan potensi sekolah Disusun oleh sekolah sebagai model kurikulum Pendidikan 3.6%) responden dari dinas pendidikan menyatakan hal tersebut mungkin dilakukan asal tetap mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagai ukuran kompetensi minimal.6 23..3 74. c.a.6%). Disusun oleh pusat Disusun oleh sekolah dengan mengacu pada kurikulum nasional Disusun oleh sekolah sesuai dengan kondisi.4 79. Standar Isi Standar kompetensi lulusan Panduan penyusunan kurikulum dari BSNP Model kurikulum satuan pendidikan lain Dinas Pendidikan 5.5 7... b.1 9..5 24.7 70.. Sebagian besar responden yang berasal dari Dinas Pendidikan (74..7 Jawaban a.7 11.7%).6 6.3%) menyatakan bahwa ”model Kurikulum yang dikembangkan oleh satuan pendidikan lain tidak dapat dijadikan sebagai acuan pengembangan KTSP. Kecuali.0 2. d. Lebih dari separuh (55.. kecuali.

9%). c.Namun demikian.0%). Hal ini tidak jauh berbeda dengan pemahaman kepala sekolah dan guru (38.4%) menyatakan bahwa hal itu mungkin dilakukan dengan menambah dan memperdalam kompetensi atau materi sesuai dengan ciri dan kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan. harapan Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Batas Akhir penerapan KTSP Hampir semua responden (sekitar 96%) baik yang berasal dari Dinas pendidikan maupun kepala sekolah dan guru menyatakan bahwa paling lambat penerapan KTSP pada tahun Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 89 . dengan menambah.9 b.4 55.9 Jawaban a. asal tidak menambah waktu lebih dari 4 jam pelajaran per minggu Dinas Pendidikan 38. d. Tabel dan diagram di atas memperlihatkan bahwa semua responden menyatakan tidak ada masalah apabila satuan pendidikan mampu mengembangkan kurikulumnya melebihi standar SI dan SKL asalkan dengan kriteria tertetu. memperdalam kompetensi atau materi sesuai ciri dan kebutuhan satuan pendidikan Mungkin. 9.1 4.5 7. Hanya sebagian kecil responden dari dinas pendidikan yang menyatakan perlu penambahan jam sebagai konsekuensi dari penaikan standar kompetensi oleh satuan pendidikan. Agak berbeda dengan pernyataan kepala sekolah dan guru yang cenderung menambah jam pelajaran (7. Lebih lanjut lihat pada tabel dan diagram berikut: Tabel 22 Pemahaman Dinas dan Sekolah tentang Kemungkinan Satuan pendidikan Menyusun KTSP dengan Standar yang Lebih Tinggi Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 38.6 1. Mungkin.6 1. sebagian responden dari dinas pendidikan (38.0 52. asal tetap mengacu pada Standar Isi dan SKL sebagai kompetensi minimal Mungkin dengan tidak menambah mata pelajaran Mungkin.

4% untuk sekolah).A 2008/2009 T.A 2007/2008 T. Lebih lanjut lihat tabel dan grafik di bawah ini.A 2009/2010 T.4 23. b. 22 dan 23 tahun 2006 oleh Satuan Pendidikan Sebagian besar responden berpendapat bahwa pengaturan jadual pelaksanaan Permendiknas No.4 25.4% untuk Dinas pendidikan dan 18.6 57.9 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 18.2009/2010.3 4.A 2010/2011 Sekolah T abel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden berharap bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah seharusnya sudah mulai menerapkan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah paling lambat Tahun Ajaran 2009/2010 10. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 90 .1 4. Sebagian daerah optimis dengan batas akhir tahuan 2007/2008 (14. Bupati dan walikota dalam Pengaturan Jadual Pelaksanaan Permendiknas No. Lebih lanjut lihat pada tabel dan diagram berikut.2 52.1 Harapan Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Limit Waktu Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan 60 40 Dinas Pendidikan 20 0 T. Daerah dan sekolah yang berpandangan demikian umumnya bagi mereka yang telah menerapkan KBK secara keseluruhan. Peranan Gubernur. 22 dan 23 Tahun 2006 telah sesuai dengan kesiapan satuan pendidikan atas pertimbangan dinas pendidikan setempat. C d Tahun Ajaran 2007/2008 Tahun Ajaran 2008/2009 Tahun Ajaran 2009/2010 Tahun Ajaran 2010/2011 Dinas Pendidikan 14. Tabel 23 Harapan Dinas pendidikan dan Sekolah Tentang Penjadualan Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Jawaban a.

melakukan sosialisasi dan mengkoordinasikan pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan. Sesuai dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan Secara serempak di seluruh wilayahnya Ditetapkan dan dipertimbangkan oleh dinas pendidikan Ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan pertimbangan dinas pendidikan Dinas Pendidikan 46.3 32. c.1 13.5 8. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 91 .4 7.1 Dari tes pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa peran dinas pendidikan adalah sangat vital dalam membentuk persepsi.4 33. 22 dan 23 tahun 2006 oleh Satuan Pendidikan Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 51.7 Jawaban a.Tabel 24 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Peranan Gubernur. Bupati dan walikota dalam Pengaturan Jadual Pelaksanaan Permendiknas No.5 7. d. b.

pada aspek: (1) Kegiatan awal: memuat konsep/kegiatan prasyarat. Dari data hasil observasi menunjukkan bahwa secara rata-rata guru masih menemukan kesulitan dalam membuat RPP yang sesuai agar siswa memperoleh kompetensi seperti yang diharapkan. prinsip pembelajaran yang aktif dan umpan baliknya. hasilnya adalah sebagai berikut. Rumusan Indikator dengan KD : (1) Minimal dua indikator: (2) Menggunakan kata kerja kemampuan: (3) Rumusan mengacu kompetensi. Observasi Kegiatan Pembelajaran Selain menggunakan tes pemahaman atau tes persepsi KTSP. Ketepatan rumusan langkah langkah kegiatan. luar kelas.E. Tujuan observasi adalah untuk memotret secara faktual perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dilihat dari segi: kesesuaianya dengan kebijakan pengembangan KTSP. juga dilakukan observasi pembelajaran. Kesulitan dalam membuat silabus akan berdampak pada rumusan RPP yang tidak saling berhubungan. dari segi: (1) Menggunakan variasi metode (individual. Memuat alokasi waktu: g. Ketepatan rumusan kegiatan pembelajaran dengan KD (1) Kegiatan pembelajaran bervariasi: (2) Pokok pokok kegiatan dengan kompetensi yang ingin dicapai: e. dan teknik penilaian yang dapat mengukur pencapaian kompetensi siswa. Rumusan materi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 92 . kuesioner guru dan kepala sekolah. metode pemecahan masalah dsb. klasikal. 2 RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan penjabaran operasional dari silabus untuk waktu yang lebih singkat yaitu tiap tatap muka dilaksanakan. yaitu jaminan kompetensi dicapai: c. (2) Hubungan metode dengan kompetensi. Secara umum. dari segi: Pembahasan hasil Observasi Dalam hal pembuatan silabus. problem solving. Memuat materi pembelajaran: d. dalam kelas. dan kuesiner orangtua.Memuat sumber belajar: Ketepatan rumusan komponen RPP: a. kuesioner dinas pendidikan. Hubungan Indikator dengan tujuan pembelajaran: b.aplikasi konsep atau orientasi kelas (2) Kegiatan inti. tampak bahwa guru belum memahami konsep dan teknik pembuatan silabus terutama pada bagian perumusan indikator. SK dan KD dengan SI dan SKL : b. telah merinci dari silabus: c. ceramah. Oleh sebab itu RPP sangat bergantung pada silabus yang telah di buat. indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai d. No 1 Aspek Ketepatan rumusan Komponen Silabus : a. pengalaman belajar yang sesuai. kelompok. Rumusan Metode. diskusi. penugasan. Ketepatan rumusan penilaian dengan KD: (1)Teknik/bentuk penilaian dengan kompetensi: (2) Rumusan tugas: f.

* Telah merinci kegiatan pada silabus: * Kegiatan dengan kompetensi. Tetapi hal ini bertentangan dengan kenyataan sebelumnya yaitu bahwa guru belum mampu membuat RPP yang sesuai dengan silabus. memuat rangkuman. Bentuk/teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran: b. Kegiatan Akhir (penutup): (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. Kegiatan inti: (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. Memuat alokasi waktu: g. 6 Secara rata-rata guru sudah menggunakan sumber belajar dengan baik dan efektif dalam melaksanakan pembelajaran. Ketepatan rumusan penilaian dengan indikator. Kualitas dari konstruksi soal/penilaian: Sumber belajar: 4 Secara rata-rata data ebservasi menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru sudah melaksanakan sesuai dengan RPP yang di buat. indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai: * Memuat lampiran lembar kerja (LK) apabila terdapat penugasan menggunakan lembar kerja (3) Kegiatan penutup.Memuat sumber belajar: PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN Kesesuaian pelaksanaan kegiatan belajar dengan RPP. penugasan lebih lanjut.Tingkat pencapaian siswa: c. indikator atau tujuan pembelajaran: Penilaian: a. Kegiatan awal: (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. indikator atau tujuan pembelajaran: (3) Organisasi kelas yang digunakan dengan tujuan pembelajaran: (4) Kegiatan pembelajaran efektif: c. saat: a. renungan atau lainnya e. 5 Secara rata-rata guru sudah mampu menerapkan prinsipprinsip penilaian untuk mengetahui hasil belajar siswa. dari segi: (1) Teknik/bentuk penilaian dengan indikator: (2) Memuat contoh penilaian: (3) Memuat pedoman skoring/kunci jawaban: f. indikator atau tujuan pembelajaran: b. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 93 .

(b) apakah kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan memadai. Hal ini akan menggambarkan sejauhmana Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 94 . (c) apakah ada program peningkatan kompetensi melalui sosialisasi. guru. tes pemahaman dan wawancara. dan wawancara. . Pemahaman terhadap Standar Isi Dan Standar Kompetensi Lulusan Unsur-nsur yang dijadikan patokan pengkajian adalah (a) hal-hal apa saja yang diatur dalam peraturan tersebut. 23. dan 34 Tahun 2006. (c) fungsi Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar yang terdapat dalam Standar Isi dan (d) fungsi Standar Kompetensi Lulusan. dan (3) Implementasi atau penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22.BAB V ANALISIS HASIL MONITORING A. Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Unsur-unsur yang dimonitor adalah (a) apakah responden telah memeiliki dokumen dan bagaiaman cara mendapatkan dokumen tersebut. dan pelatihan. dan 24 Tahun 2006. Implementasi atau Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. Unsur-unsur tersebut digali melalui tes pemahaman. serta Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. komite/orang tua siswa melalui angket. 3. 1. Kemampuan dan Kesiapan Sumber Daya Kemampuan dan kesiapan sumber daya sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan kebijakan. (e) sejauhmana dukungan komite/orang tua siswa terhadap pelaksanaan kurikulum. Unsur-unsur yang dikaji adalah (a) apakah jumlah sumber daya manusia memadai. angket. yaitu: (1) Pemahaman terhadap isi kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Satndar Isi. dan implementasi. Informasi ini diperoleh melalui pejabat struktural dan staf Dinas Pendidikan. (d) apakah sarana dan prasarana memadai. (b) hal-hal apa saja yang dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah/satuan pendidikan. pengembangan. kepala sekolah. (2) Kesiapan dan kemampuan sumber daya yang ada. (f) bagaimana pengganggaran dan pembiayaan kegiatan mulai dari persiapan (sosialisasi). Aspek Analisis Monitoring ini memnfokuskan pada tiga aspek. workshop. 23. 2.

B. misalnya dengan meng-copy sendiri atau menunggu informasi dikirimkan oleh pihak yang berwenang. tes pemahaman dan wawancara kepada semua responden. Sungguhpun demikian. (b) apakah sudah menyusun KTSP dan perangkatnya (struktur kurikulum. Berdasarkan angket yang diberikan kepada pejabat dan staf struktural Dinas Pendidikan provinsi dapat disimpulkan bahwa semua daerah telah melakukan sosialisasi tentang Peraturan Mendiknas Nomor 22. 23. Standar Kompetensi Lulusan. penerapkan KTSP di masing-masing satuan pendidikan belum begitu kuat karakteristiknya. (e) sejauhmana peran serta masyarakat. Hal senada juga diakui oleh responden yang berasal dari sekolah (kepala sekolah. Pemberlakuan KTSP sebagai impelementasi dari kebijakan pemerintah sebagaimana yang diamantkan oleh berbagai peraturan perundang-undangan yang mendasarinya. silabus. komite/orang tua siswa melalui angket. . Hasil Analisis Pemahaman Responden Terhadap Standar Isi. masih banyak persoalan yang harus dituntaskan. umumnya responden memahami KTSP disusun dan ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan mempertimbangkan keragaman kondisi. substansi dan strategi strategi implementasi KTSP belum cukup dipahami. kendala. dapat diterima secara baik oleh pelaksana di lapangan. tes pemahaman dan wawancara. (c) apakah sudah melaksanakan KTSP. potenai. dan 24 tahun 2006. Sebagai contoh. (f) bagaimana penjadualan penerapan . Dilihat dari pemahaman yang diperoleh melalui jawaban angket. parsoalan tersebut antara lain adalah : Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 95 . Akibatnya. penilaian dan sebagainya). dapat disimpulkan bahwa secara konseptual sebagian besar responden cukup memahami peraturan mendiknas tersebut. Namun. dan komite/orang tua siswa). 1. Hal ini dilihat dari naskah KTSP dan perangkatnya yang disusun oleh masing-masing satuan pendidikan. Umunya naskah tersebut baru pada tahap ”copy-paste”. kepala sekolah. guru. RPP.pihak-pihak terkait proaktif dalam mendapatkan informasi. guru. (h) apakah ada koordinasi antar pihak-pihak terkait? Informasi ini diperoleh melalui pejabat struktural dan staf Dinas Pendidikan. dan KTSP. (d) apa dampak. dan kebutuhan daerah serta peserta didik. dan upaya yang dilakukan. (g) berapa persen daerah (kabupaten/kota) yang telah melaksanakan sosialisasi.

menurut pengakuan responden.Sebagian orang tua mengeluhkan tentang adanya penambahan biaya pendidikan shubungan dengan penerapan KTSP. Kemampuan dan Kesiapan Sumber Daya 1. 2. dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. 2. Guru belum mampu membuat silabus yang baik dan kontekstual Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 96 . Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. Format rapor KTSP berlum mampu memberikan informasi tentang prestasi peserta akademik maupun non akademik peserta didik. proses penilaian belum sesuai dengan karakter dan tingkat kompetensi yang dituntut. Guru sudah membuat silabus dan RPP 2. Hal ini mengkibatkan proses pembelajaran belum efisien dan efektif. Silabus yang di buat guru belum menunjukkan penjabaran SK dan KD yang disesuaikan dengan potensi daerah/wilayah. terutama dalam penggunaan metode pemeblajaran yang monoton. Informasi ini diperoleh melalui observasi dan wawancara yang dilakukan tehadap siswa. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. termasuk dalam hal pengunaan sumber belajar yang tidak terbatas pada buku tertentu saja. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 3. tugas-tugas yang harus mereka selesaikan menjadi bertambah banyak sehingga melelahkan. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. terutama dalam hal pengadaan buku-buku pelajaran dan biaya kegiatan pembelajaran. perlu dikembangkan suatu sistem sosialisasi dan pembinaan terhadap satuan pendidikan agar pengelolaan pembelajaran lebih efisien dan efektif. Sejauh ini. Perlu pendampingan yang lebih strategis dan teknis dalam penyusunan KTSP 1. daerah dan sekolah mampu mengatasi berbagai persoalan tersebut melalui pemberian pengertian kepada semua pihak. Sebagian orang tua sering menerima keluhan dari anak-anak mereka bahwa setelah menerapkan KTSP. Dengan adanya sejumlah persoalan di atas. penggunaan sumber belajar belum bervariasi. potensi sekolah. Namun upaya belum cukup mengingat proses pembelajaran yang berlangsung masih mengikuti pola lama. 3.

8. program mulok. kondisi sekolah dan karakteristik peserta didik. 1. Implementasi atau Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. dan 34 Tahun 2006. Secara rata-rata guru sudah baik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan kesusuaian isi materi yang diajarkan dengan silabus yang telah di susun. 9. Dalam merencanakan sumber belajar yang akan digunakan guru sudah merencanakan dengan baik. namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan efektivitas. 23. Guru belum mampu membuat RPP 5. dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.4. 7. Guru belum mampu membuat silabus yang baik dan kontekstual Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 97 . 3. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. 2. 6. Walaupun sebagian guru dalam observasi ini sudah membuat silabus dan RPP. dan program pengembangan diri. 3. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. Silabus yang di buat guru belum menunjukkan penjabaran SK dan KD yang disesuaikan dengan potensi daerah/wilayah. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 10. 11. tetapi dari silabus dan RPP yang dibuat tampak bahwa guru belum menguasai konsep pengembangan silabus dan teknik implementasinya sesuai kondisi wilayah. Guru sudah mampu merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar dengan baik . namun masih perlu obsevasi yang lebih rinci berkaitan dengan kualitas instrumen penilaian yang digunakan. Perlu pendampingan yang lebih strategis dan teknis dalam penyusunan KTSP seperti penyusunan APBS. potensi sekolah. efisiensi dan tingkat kesesuaiannya denga kompetensi dasar yang hendak di capai. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik.

pemahaman tentang KTSP sudah memadai. namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan efektivitas. namun ini perlu dipertajam sampai tingkat operasionalisasi dalam pengembangan dan penerapan kurikulum mencakup komite sekolah. efisiensi dan tingkat kesesuaiannya denga kompetensi dasar yang hendak di capai. dinas pendidikan dan masyarakat. pengalaman belajar dan penilaian. 1. serta hasil tes pemahaman. Implikasinya adalah guru belum mampu mengembangkan indikator soal dan mengembangkan instrumen penilaian yang tepat. Guru sudah mampu merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar dengan baik. 6. Secara rata-rata guru sudah baik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan kesesuaian isi materi yang diajarkan dengan silabus yang telah di buat 7. kepala sekolah. Guru belum mampu membuat RPP 5. namun masih perlu obsevasi yang lebih rinci berkaitan dengan kualitas instrumen penilaian yang digunakan. dapat disimpulkan beberapa hal berikut. 8. Dalam merencanakan sumber belajar yang akan digunakan guru sudah merencanakan dengan baik. 2. dan dinas pendidikan. Guru belum memahami prinsip pengembangan SK menjadi KD dan menjabarkannya menjadi indikator. penerapan KTSP pada penyelenggaraan pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan SI dan SKL. kuesioner guru. orangtua siswa. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 98 . Dari hasil observasi pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dari SDM pada tingkat sekolah maupun dinas pendidikan. sekolah. pengawas.4.

Penggunaan KTSP di tingkat satuan pendidikan cukup signifikan dalam meningkatkan motivasi. aktifitas dan kreatitivitas siswa dalam belajar hampir semua responden menyatakan bahwa penggunaan KTSP membuat putra/putri mereka lebih rajin belajar. Ada peningkatan biaya yang signifikan dengan penggunaan KTSP (85 % responden menyatakan tambahan biaya yang timbul cukup signifikan dengan aktivitas belajar yang terjadi). namun tidak memahami subtansinya 2. Format rapor KTSP berlum mampu memberikan informasi tentang prestasi peserta akademik maupun non akademik peserta didik. pengawas. 6. Hasil monitoring menunjukkan 81 % responenden menyatakan tahu tentang KTSP tetapi tidak memahaminya dengan baik. Penggunaan KTSP sebagai kurikulum pendidikan saat ini diterima dengan baik oleh orang tua walaupun muncul keluhan-keluhan dari pihak siswa karena perubahan pola pembelajaran (responden menyatakan senang dengan penggunaan KTSP. 3. sekolah. 82 % responden menyatakan menerima keluhan dari putra/putrinya berkaitan dengan tugas-tugas yang diberikan. namun dapat mengatasinya dengan memberikan pemahaman dan pengertian). (77% orang tua menyatakan tidak puas dengan format rapor hasil belajar yang diterima) B. namun ini perlu dipertajam sampai tingkat operasionalisasi dalam pengembangan dan penerapan kurikulum mencakup komite sekolah. KTSP sebagai model kurikulum yang berdasar pada Standar Isi dan dikembangkan dengan memperhatikan potensi dan karakteristik wilayah/sekolah belum disosialisasikan dengan baik. Substansi KTSP dan strategi implementasinya belum dipahami dengan jelas oleh pihak sekolah dan orang tua.BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. dinas pendidikan dan masyarakat. 4. 1. REKOMENDASI Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 99 . pemahaman tentang KTSP sudah memadai. Hasil monitoring menunjukkan 81 % responden menyatakan telah mengetahuinya. KESIMPULAN Secara umum. 5.

Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. maka untuk melihat adanya perkembangan kemampuan guru-guru dalam melaksanakan KTSP di lapangan. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 100 . Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 6. Agar monitoring ini dapat jauh lebih bermanfaat. sebaiknya secara periodik (1 tahun sekali) dilakukan monitoring dan berupaya untuk membandingkannya. 5.Penerapan KTSP pada penyelenggaraan pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan SI dan SKL. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dari SDM pada tingkat sekolah maupun dinas pendidikan. 7. 4.

Dr..Drs. Supervisi Pendidikan. Sahertian.. 2001 - M. Ardadizya Jaya. 2002 - Piet A... 2000 Oteng sutisna. Admistrasi Pendidikan. Prof. MP. Bandung.. Fakultas psikologi Universitas Pajajaran.. Prof. 2002 Agus Dharma. PT Remaja Rosdakarya. Rineka Cipta.Daftar Pustaka - Subagio A. Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.Ed. Manajemen Pelatihan.M. Modul Implementasi kurikulum Management of Trainers. 2003. 1983 Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 101 .Ed. Sc. M.. Ngalim Purwanto.. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Angkasa. Drs. Jakarta. - Suryana Sumantri. Pusimplementasi kurikulum Pegawai Depdiknas. Drs. Bandung.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->