EVALUASI PELAKSANAAN KTSP OLEH TIM PENGEMBANG KURIKULUM PROPINSI

PUSAT KURIKULUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA 2008

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendinas) No. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23 tahun 2006 tentang standar isi dan standar kompetensi lulusan disebutkan bahwa salah satu tugas pokok Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dalam hal ini, Pusat Kurikulum adalah memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. 22

Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, mengevaluasinya, dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri. Salah satu yang menjadi bagian dari monitoring tersebut adalah melakukan monitoring secara nasional penerapan peraturan menteri pendidikan nasional dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelaksanaannya. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut perlu dilakukan serangkaian langkah kegiatan mencakup penyusunan panduan dan intrumen evaluasi, pelaksanaan evaluasi dan penyusunan laporan. Panduan digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan instumen dan melaksanakan evaluasi untuk mendapatkan data dan informasi tentang pelaksanaan KTSP pada setiap daerah secara kualitatif maupun kuantitatif. Pelaksanaan evaluasi merupakan langkah kegiatan untuk mendapatkan data dan informasi penerapan KTSP pada daerah yang menjadi objek atau sasaran evaluasi. Penyusunan laporan memuat temuan, masukan atau rekomendasi berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui evaluasi pelaksanaan KTSP agar kebijakan tentang pengembangan kurikulum dapat diterapkan secara efisien dan efektif. B. TUJUAN Kegiatan ini bertujuan untuk melaksanakan evaluasi pengembangan dan pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan sehingga didapat data dan informasi tentang tingkat penerapan KTSP secara kualitatif ataupun kuantitatif pada tiap daerah yang dapat dimanfaatkan satuan pendidikan (sekolah) dalam implementasi kurikulum pada tataran sekolah/daerah.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

1

C. RUANG LINGKUP Kegiatan ini memonitor dan mengevaluasi penerapan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di 33 propinsi D. HASIL YANG DIHARAPKAN Melalui kegiatan ini akan dihasilkan laporan gambaran penerapan KTSP di 33 provinsi, pada satuan pendidikan dasar dan menengah E. PELAKSANAAN Kegiatan penyusunan laporan dilaksanakan pada tanggal 9 – 13 Desember 2008 di Cisarua, Kabupaten Bogor. F. PESERTA Peserta yang dilibatkan dalam kegiatan ini terdiri dari unsure: Satuan Pendidikan, LPMP, Perguruan Tinggi, dan Pusat Kurikulum. Rincian Peserta terlampir

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

2

BAB II KERANGKA BERPIKIR

A. STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Menurut Undang-Undang (UU) No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan kurikulum dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Hal ini dimaksudkan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan pada satuan pendidikan dengan kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, kurikulum dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Selanjutnya pada pasal 36 disebutkan bahwa pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan harus disempurnakan dan ditingkatkan secara berencana, terarah dan berkala sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Kata standar memiliki makna tingkat atau level kualitas atau keunggulan yang harus dicapai dengan kriteria, benchmark, persayaratan atau spesifikasi tertentu. Hal ini sesuai dengan pengertian di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa standar nasional pendidikan merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar nasional pendidikan terdiri atas: 1. standar isi Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

3

Kerangka dasar kurikulum adalah rambu-rambu yang dijadikan pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan. Kerangka dasar dan struktur kurikulum mengatur tentang kelompok mata pelajaran serta kedalaman muatan kurikulum yang dituangkan dalam kompetensi, yaitu standar kompetensi dan kompetensi dasar. Beban belajar mengatur tentang jam pembelajaran dengan sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, pelaksanaan pembelajaran sistem paket dan satuan kredit semester (SKS), serta pemberian pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP. KTSP untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB,

SMA/MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK. Kalender pendidikan/kalender akademik mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur. 2. standar proses Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Standar proses mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. 3. standar kompetensi lulusan

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

4

Standar kompetensi lulusan (SKL) adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Standar ini meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran 4. standar pendidik dan tenaga kependidikan Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Standar ini mengatur tentang pendidik yang harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, Rasio pendidik terhadap peserta didik, kelengkapan dan kualifikasi tenaga kependidikan satuan pendidikan, pengawas satuan pendidikan. 5. standar sarana dan prasarana Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Standar ini mengatur tentang kelengkapan, jenis dan kualitas sarana dan prasarana satuan pendidikan. 6. standar pengelolaan Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Standar ini terdiri atas standar pengelolaan oleh satuan pendidikan, standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan standar pengelolaan oleh pemerintah. Standar pengelolaan oleh satuan pendidikan mengatur tentang penerapan prinsip manajemen berbasis sekolah (MBS), proses pengambilan keputusan, pedoman, rencana kerja tahunan, Pelaksanaan pengelolaan dan pengawasan satuan pendidikan.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

5

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 6 . Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bertugas melakukan pengembangan. dan biaya personal satuan pendidikan. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah kabupaten/kota 5. standar penilaian pendidikan Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme. Sedangkan evaluasi pendidikan meliputi: 1. pemantauan.Standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan pemerintah mengatur tentang rencana kerja tahunan. 7. Dalam melaksanakan tugasnya BSNP menunjuk tim ahli yang bersifat ad-hoc sesuai kebutuhan. dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. serta tentang kelulusan peserta didik. biaya operasi. Pemerintah. standar pembiayaan Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. evaluasi kinerja pendidikan oleh lembaga mandiri Pemerintah melakukan akreditasi pada setiap jenjang dan satuan pendidikan untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan. LPMP mensurpervisi dan membantu satuan pendidikan dalam penjaminan mutu. secara bertahap. Pencapaian kompetensi akhir peserta didik dinyatakan dalam dokumen ijazah dan/atau sertifikat kompetensi. oleh satuan pendidikan dan oleh pemerintah. sistematis. Standar ini mengatur tentang biaya investasi. Standar ini mengatur tentang penilaian hasil belajar oleh pendidik. pemerintah kabupaten/kota. 2. 8. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah (menteri) 3. dan terencana dalam suatu program penjaminan mutu yang memiliki target dan kerangka waktu yang jelas. penyelenggaraan satuan pendidikan bertaraf internasional. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah propinsi 4. evaluasi kinerja pendidikan oleh satuan pendidikan pada tiap akhir semester. pemerintah propinsi. dan pelaporan pencapaian standar nasional pendidikan. Setiap satuan pendidikan pada jalur formal dan nonformal wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan. prosedur.

Pendahuluan Bagian ini menjelaskan cakupan standar isi yang meliputi: (1) kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan.Penyelenggaraan satuan pendidikan yang tidak mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan dapat memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari BSNP didasarkan pada penilaian khusus. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Standar Isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang selanjutnya disebut Standar Isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 7 . 1. STANDAR ISI Di dalam Permendiknas No. (2) beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah. Sistematika Standar Isi dalam lampiran Permendiknas No. Bagian ini meliputi: a) Kerangka Dasar Kurikulum 1) Kelompok Mata Pelajaran Bagian ini menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum. Ini berarti ketentuan di dalam Permendiknas tersebut bersifat minimal yang harus dicapai peserta didik pada setiap satuan pendidikan. 2. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum. 22 tahun 2006 adalah sebagai berikut. kejuruan. (3) kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi. dan (4) kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. B.

Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu.(1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. perkembangan. 2) Prinsip Pengembangan Kurikulum Bagian ini menyatakan bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. olahraga dan kesehatan. dan seni (4) Relevan dengan kebutuhan kehidupan (5) Menyeluruh dan berkesinambungan (6) Belajar sepanjang hayat (7) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah 3) Prinsip Pelaksanaan Kurikulum Bagian ini menyatakan bahwa pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut. (2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 8 . perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. dinamis dan menyenangkan. kebutuhan. teknologi. (5) kelompok mata pelajaran jasmani. serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas. (1) Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi. (4) kelompok mata pelajaran estetika. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya (2) Beragam dan terpadu (3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. (1) Berpusat pada potensi. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 9 . muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan. dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan. (4) Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai. keindividuan. (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain.(2) Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar. dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan. (3) Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan. terbuka. (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif. efektif. sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal. dengan prinsip tut wuri handayani. dan hangat. dan moral. ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan. (7) Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran. di tengah membangun semangat dan prakarsa. yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi. (6) Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam. kesosialan. dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri. sumber belajar dan teknologi yang memadai. contoh dan teladan). dan/atau percepatan sesuai dengan potensi. pengayaan. kreatif. melalui proses pembelajaran yang aktif. tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar. (5) Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia. ing madia mangun karsa. tahap perkembangan. keterkaitan. dan menyenangkan. dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. akrab. (b) belajar untuk memahami dan menghayati. di depan memberikan contoh dan teladan).

d. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum untuk kelas I . atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. Kurikulum SD/MI memuat 8 mata pelajaran. dan III adalah 26. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 35 menit. II. bakat. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. III dilaksanakan melalui pendekatan tematik. dan pengembangan karir peserta didik. muatan lokal. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 10 . VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. 1) Struktur Kurikulum SD/MI Struktur kurikulum SD/MI meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai Kelas I sampai dengan Kelas VI. VI adalah 32 jam pelajaran per minggu. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. sedangkan pada Kelas IV s. 27 dan 28 jam pelajaran per minggu. Sedangkan untuk kelas IV s. dan pengembangan diri Pembelajaran pada Kelas I s. termasuk keunggulan daerah. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial.b) Struktur Kurikulum Pendidikan Umum Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.d. guru. belajar. Struktur kurikulum pendidikan umum memuat komponen mata pelajaran.d. muatan lokal dan pengembangan diri.

(3) Program Bahasa. muatan lokal. muatan lokal. Program Bahasa. Kurikulum SMP/MTs memuat 10 mata pelajaran. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 45 menit. dan Program Keagamaan terdiri atas 13 mata pelajaran.2) Struktur Kurikulum SMP/MTs Struktur kurikulum SMP/MTs meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas VII sampai dengan Kelas IX. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum adalah 32 jam pelajaran per minggu. 3) Struktur Kurikulum SMA/MA Struktur kurikulum SMA/MA meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas X sampai dengan Kelas XII. muatan lokal. dan pengembangan diri c) Struktur Kurikulum Pendidikan Kejuruan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 11 . Program IPS. dan pengembangan diri. dan (4) Program Keagamaan. yaitu kelas X merupakan program umum yang diikuti oleh seluruh peserta didik. (2) Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu”. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. khusus untuk MA. dan pengembangan diri. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 40 menit. Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII Program IPA. Kurikulum SMA/MA Kelas X terdiri atas 16 mata pelajaran. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Pengorganisasian kelas-kelas pada SMA/MA dibagi ke dalam dua kelompok. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum kelas X adalah 38 jam pelajaran. dan kelas XI dan XII merupakan program penjurusan yang terdiri atas empat program: (1) Program Ilmu Pengetahuan Alam. kelas XI dan XII adalah 39 jam pelajaran dan kelas XI dan XII untuk MA program keagamaan adalah 38 jam pelajaran per minggu.

serta memiliki kemampuan mengembangkan diri Kurikulum SMK/MAK berisi mata pelajaran wajib. Pengembangan diri bagi peserta didik Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 12 . pengetahuan. Mata pelajaran ini bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam spektrum manusia kerja. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Mata pelajaran Kejuruan terdiri atas beberapa mata pelajaran yang bertujuan untuk menunjang pembentukan kompetensi kejuruan dan pengembangan kemampuan menyesuaikan diri dalam bidang keahliannya. serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. akhlak mulia. Bahasa. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. mereka harus memiliki stamina yang tinggi. memiliki etos kerja yang tinggi. dan prospek pengembangan daerah termasuk keunggulan daerah. guru. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta mengembangkan keahlian dan keterampilan. dan mampu berkomunikasi sesuai dengan tuntutan pekerjaannya. Matematika. Seni dan Budaya. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Muatan Lokal. Pendidikan Jasmani dan Olahraga. dan Keterampilan/Kejuruan. dan Pengembangan Diri. IPS. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. IPA. Pendidikan Kewarganegaraan. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan program keahlian yang diselenggarakan. dan pembentukan karier peserta didik. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas.Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. potensi daerah. Mata pelajaran wajib terdiri atas Pendidikan Agama. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. mata pelajaran Kejuruan. kepribadian. belajar. menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi. bakat.

dan Kewirausahaan (3) Kelompok produktif terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang dikelompokkan dalam Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi Kejuruan. Matematika. Struktur kurikulum SMK/MAK meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun atau dapat diperpanjang hingga empat tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII atau kelas XIII. Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi. Pendidikan Kewarganegaraan. Evaluasi pembelajaran dilakukan setiap akhir penyelesaian satu standar kompetensi atau beberapa penyelesaian kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran. Beban belajar SMK/MAK meliputi kegiatan pembelajaran tatap muka.SMK/MAK terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. Jumlah jam Kompetensi Kejuruan pada dasarnya sesuai dengan kebutuhan standard kompetensi kerja yang berlaku di dunia kerja tetapi tidak boleh kurang dari 1044 jam. IPA. Bahasa Indonesia. yang materinya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian untuk memenuhi standar kompetensi kerja di dunia kerja. Struktur kurikulum SMK/MAK disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran. Alokasi waktu satu jam pelajaran tatap muka adalah 45 menit. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. praktik di sekolah dan kegiatan kerja praktik di dunia usaha/industri ekuivalen dengan 36 jam pelajaran Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 13 . Pendidikan SMK/MAK diselenggarakan dalam bentuk pendidikan sistem ganda. dan dapat diselenggarakan dalam blok waktu atau alternatif lain. Kelompok adaptif dan produktif adalah mata pelajaran yang alokasi waktunya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian. IPS. dan Seni Budaya (2) Kelompok adaptif terdiri atas mata pelajaran Bahasa Inggris. Di dalam penyusunan kurikulum SMK/MAK mata pelajaran dibagi ke dalam tiga kelompok: (1) Kelompok normatif adalah mata pelajaran yang dialokasikan secara tetap yang meliputi Pendidikan Agama.

Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Program khusus berisi kegiatan yang bervariasi sesuai degan jenis ketunaannya. termasuk keunggulan daerah. dan pengembangan diri. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. dan pengembangan karir peserta didik. Peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. emosional. yaitu program orientasi dan mobilitas untuk peserta didik tunanetra. guru. intelektual dan/atau sosial. dan bina pribadi dan sosial untuk peserta didik tunalaras. Peserta didik ini yang berkeinginan untuk melanjutkan sampai ke jenjang pendidikan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 14 . maksimum empat tahun sesuai dengan tuntutan program keahlian. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. program khusus. mental. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Kurikulum Pendidikan Khusus terdiri atas delapan sampai dengan 10 mata pelajaran. bina komunikasi persepsi bunyi dan irama untuk peserta didik tunarungu. bina diri untuk peserta didik tunagrahita. bina gerak untuk peserta didik tunadaksa. kemampuan. belajar. dalam batas-batas tertentu masih dimungkinkan dapat mengikuti kurikulum standar meskipun harus dengan penyesuaian-penyesuaian. bakat. d) Struktur Kurikulum Pendidikan Khusus Struktur Kurikulum dikembangkan untuk peserta didik berkelainan fisik.per minggu. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Pengembangan diri terutama ditujukan untuk peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. muatan lokal. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Lama penyelenggaraan pendidikan SMK/MAK tiga tahun.

D = tunadaksa ringan. E = tunalaras). setelah menyelesaikan pada jenjang SDLB dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMPLB.E dirancang untuk peserta didik yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang pendidikan tinggi.tinggi. D.E dan SMALB A.D.B. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 15 . B.D. B = tunarungu. SMPLB. Kurikulum SDLB A. SDLB SMPLB SMALB MASYARAKAT ANAK LUAR BIASA/ANAK BERKELAINAN PERGURUAN TINGGI/ MASYARAKAT SD/MI SMP/ MTs SMA/MA SMK/MAK Kurikulum untuk peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. dan SMALB. sederhana dan bersifat tematik untuk mendorong kemandirian dalam hidup sehari-hari. Bagi mereka yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. E. semaksimal mungkin didorong untuk dapat mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan umum sejak SD atau SMP. dan SMALB A. menggunakan sebutan Kurikulum SDLB A.B. sedangkan kompetensi untuk mata pelajaran Program Khusus. B. Peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. SMALB A.E mengacu kepada satuan pendidikan umum yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan khusus peserta didik. SMPLB A .D.B. Kompetensi mata pelajaran umum SDLB. D. B.D.B. E. D. diperlukan kurikulum yang sangat spesifik. Pada satuan pendidikan SMPLB A. dan Keterampilan dikembangkan oleh satuan Pendidikan Khusus dengan memperhatikan jenjang dan jenis satuan pendidikan. E (A = tunanetra.E relatif sama dengan kurikulum SD umum. Mekanisme perpindahan jalur pendidikan adalah sebagai berikut.

Struktur kurikulum pada satuan Pendidikan Khusus SDLB dan SMPLB mengacu pada Struktur Kurikulum SD dan SMP dengan penambahan Program Khusus sesuai jenis kelainan.B. Satu jam pelajaran untuk SDLB adalah 30 menit.G dikembangkan satuan Pendidikan Khusus yang bersangkutan dengan memperhatikan tingkat dan jenis satuan pendidikan.B.D1. program khusus bersifat kasuistik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik tertentu. dan 4 jam Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 16 . Persepsi Bunyi dan Irama untuk peserta didik Tunarungu (3) Bina Diri untuk peserta didik Tunagrahita Ringan dan Sedang (4) Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Ringan (5) Bina Pribadi dan Sosial untuk peserta didik Tunalaras (6) Bina Diri dan Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Sedang. (1) Orientasi dan Mobilitas untuk peserta didik Tunanetra (2) Bina Komunikasi. C1. dan SMALB C. G = tunaganda). C1 = tunagrahita sedang. Satuan pendidikan khusus SDLB dan SMPLB dapat menambah maksimum 6 jam pembelajaran/minggu untuk keseluruhan jam pembelajaran. dan tidak dihitung sebagai beban belajar. SMPLB adalah 35 menit dan SMALB adalah 40 menit sesuai dengan kondisi peserta didik yang berkaelainan.Proporsi muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMPLB A. D1. C1. Muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMALB A.C1. Program Khusus sesuai jenis kelainan peserta didik meliputi sebagai berikut. SMPLB dan SMALB C. (C = tunagrahita ringan.E terdiri atas 60% . G. G. Kompetensi mata pelajaran pada SDLB.D.D. dengan alokasi waktu 2 jam/minggu. C1. Pembelajaran menggunakan pendekatan tematik.70% aspek akademik dan 40% . D1. dan Tunaganda.30% berisi aspek keterampilan vokasional. D1. G.50% aspek keterampilan vokasional. menggunakan sebutan Kurikulum SDLB C. Kurikulum untuk peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata.E terdiri atas 40% – 50% aspek akademik dan 60% . SMPLB C. D1 = tunadaksa sedang. Kurikulum ini dirancang sangat sederhana sesuai dengan batas-batas kemampuan peserta didik dan sifatnya lebih individual. Untuk jenjang SMALB.

G lebih ditekankan pada kemampuan menolong diri sendiri dan keterampilan sederhana yang memungkinkan untuk menunjang kemandirian peserta didik. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi yang terdir atas: Lampiran 1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI dan SDLB. Oleh karena itu.D. Lampiran 2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMP/MTs dan SMPLB.E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMP umum sehingga menjadi sekitar 60% – 70%. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.B. dan sekitar 60% – 50% bidang keterampilan vokasional. Muatan isi mata pelajaran SMPLB A. penugasan terstruktur.B. proporsi muatan keterampilan vokasional lebih diutamakan e) Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran pada setiap tingkat dan semester disajikan pada lampiran-lampiran Permendiknas No. Sisanya sekitar 40% .E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMA umum sehingga menjadi sekitar 40% – 50% bidang akademik.D. tingkat terampil dan tingkat mahir. 3. Beban Belajar Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka. diserahkan kepada satuan pendidikan sesuai dengan minat. Beban belajar atau alokasi waktu yang diatur dalam struktur kurikulum adalah beban belajar dalam bentuk tatap muka.D1. dan Lampiran 3 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK. Muatan isi mata pelajaran untuk SMALB A. potensi.pembelajaran untuk tingkat SMALB sesuai kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan yang bersangkutan. kemampuan dan kebutuhan peserta didik serta kondisi satuan pendidikan.C1. Muatan kurikulum SDLB.30% muatan isi kurikulum ditekankan pada bidang keterampilan vokasional yang meliputi tingkat dasar. SMPLB. Jenis keterampilan yang akan dikembangkan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 17 . SMALB C.

SD/MI/SDLB maksimum 40% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan b. Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem kredit semester dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). satu jam penugasan terstruktur.Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Program percepatan dapat diselenggarakan untuk mengakomodasi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Satuan pendidikan SD/MI/SDLB melaksanakan program pendidikan dengan menggunakan sistem paket. Kalender Pendidikan Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran. a) Alokasi Waktu Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 18 . minggu efektif belajar. Sistem kredit semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. sedangkan untuk kegiatan mandiri tidak terstruktur diatur sendiri oleh peserta didik. SMA/MA/SMALB/SMK/MAK maksimum 60% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori standar menggunakan sistem paket atau dapat menggunakan sistem kredit semester. waktu pembelajaran efektif dan hari libur. dan satu jam kegiatan mandiri tidak terstruktur. Beban belajar satu sks meliputi satu jam pembelajaran tatap muka. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem kredit semester. SMP/MTs/SMPLB maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada untuk: a. Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB. 4. c.

Pemerintah Pusat/Provinsi /Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan. No 1. Jeda antarsemester Antara semester I dan II 4. Hari libur umum/nasional Hari libur khusus Maksimum 2 minggu Maksimum 1 minggu Maksimum 3 minggu 7. Kegiatan khusus sekolah/madrasah b) Penetapan Kalender Pendidikan Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya. Hari libur keagamaan 6. Libur akhir tahun pelajaran Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah 5. dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 19 . Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing-masing Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif 8. Kegiatan Minggu efektif belajar Alokasi Waktu 34 – 38 minggu Keterangan Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan Satu minggu setiap semester 2. waktu libur dan kegiatan lainnya adalah sebagai berikut. Jeda tengah semester Maksimum 2 minggu Maksimum 2 minggu Maksimum 3 minggu 2 – 4 minggu 3. Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota.Alokasi waktu minggu efektif belajar. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional. dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus.

akhlak mulia. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Di dalam Permendiknas No.waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah. SMA/MA/SMALB*/Paket C terdiri atas 23 butir./SMPLB/Paket B bertujuan: Meletakkan dasar kecerdasan. C. Pendidikan Menengah Kejuruan yang terdiri atas SMK/MAK akhlak bertujuan: serta Meningkatkan kecerdasan. keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya Standar kompetensi lulusan satuan pendidikan SD/MI/SDLB*/Paket A terdiri atas 17 butir. pengetahuan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut 2. kepribadian. mulia. SKL meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah. 1. kepribadian. 23 tahun 2006 adalah sebagai berikut. yang meliputi SD/MI/SDLB/Paket A dan SMP/MTs. Pendidikan Menengah yang terdiri atas SMA/MA/SMALB/Paket C bertujuan: Meningkatkan kecerdasan. Ini berarti ketentuan di dalam Permendiknas tersebut bersifat minimal yang harus dicapai lulusan peserta didik pada setiap satuan pendidikan. standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran. dan SMK/MAK terdiri atas 23 butir. Tujuan setiap satuan pendidikan yang tertuang dalam lampiran Permendiknas No. SMP/MTs/SMPLB*/Paket B terdiri atas 21 butir. Pendidikan Dasar. pengetahuan. akhlak mulia. dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran. kepribadian. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut 3. Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran dikembangkan berdasarkan tujuan dan cakupan muatan dan/ atau kegiatan setiap kelompok mata pelajaran. yakni: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 20 . 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. pengetahuan.

ilmu pengetahuan alam. seni dan budaya. ilmu pengetahuan alam. kemampuan berpikir dan analisis peserta didik. matematika. Kelompok mata pelajaran Estetika bertujuan: membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. keterampilan/kejuruan. 2. seni dan budaya. dan kesehatan. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama. kewarganegaraan. ilmu pengetahuan sosial. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. matematika. matematika. ilmu pengetahuan sosial. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. Kelompok mata pelajaran Agama dan Akhlak Mulia bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. dan pendidikan jasmani. kejuruan. keterampilan/kejuruan. akhlak mulia. teknologi informasi dan komunikasi. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. serta muatan lokal yang relevan 4. 3. dan/atau teknologi informasi dan komunikasi. Pada satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB/Paket B. ilmu pengetahuan sosial. kewarganegaraan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 21 . kepribadian.1. Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan: mengembangkan logika. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. dan muatan lokal yang relevan. Kelompok mata pelajaran Kewarganegaraan dan Kepribadian bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. keterampilan. bahasa. serta muatan lokal yang relevan Pada satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/Paket C. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. ilmu pengetahuan alam. Tujuan tersebut dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama. dan muatan lokal yang relevan. estetika. serta muatan lokal yang relevan Pada satuan pendidikan SMK/MAK. olahraga. Pada satuan pendidikan SD/MI/SDLB/Paket A. ilmu pengetahuan dan teknologi. keterampilan/kejuruan. ilmu pengetahuan sosial. teknologi informasi dan komunikasi. keterampilan. jasmani. ilmu pengetahuan alam. matematika.

Pendidikan Agama Buddha. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Agama Hindu. Bahasa Indonesia. Pendidikan Agama Hindu. D. Matematika. Matematika Program IPA. Pendidikan Kewarganegaraan. Bahasa Indonesia Program Bahasa.5. Bahasa Indonesia. Keterampilan. Pendidikan Agama Kristen. B. Sejarah Program IPS. Bahasa Indonesia Program IPA/IPS. dan muatan lokal yang relevan. Pendidikan Agama Katolik. Bahasa Mandarin. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SDLB A. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMA/MA terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Kewarganegaraan. Bahasa Inggris Program Bahasa. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SD/MI terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. IPS. Seni Budaya. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Sosiologi. Bahasa Arab. Bahasa Inggris. Seni Budaya dan Keterampilan. Ekonomi. Sejarah Program IPA. Fisika. Teknologi Informasi dan Komunikasi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 22 . Pendidikan Agama Hindu. IPA. Bahasa Jepang. Bahasa Inggris. Matematika Program IPS. Sastra Indonesia Program Bahasa. Bahasa Jerman. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMP/MTs terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Sejarah Program Bahasa. Matematika Program Bahasa. dan menumbuhkan rasa sportivitas. dan Bahasa Inggris. IPS. Matematika. Pendidikan Agama Kristen. Bahasa Perancis. Seni Budaya dan Keterampilan. Bahasa Indonesia. Pendidikan Agama Katolik. Geografi. dan Kesehatan bertujuan: membentuk karakter peserta didik agar sehat jasmani dan rohani. Pendidikan Agama Hindu. ilmu pengetahuan alam. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Keterampilan. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan pendidikan jasmani. dan Antropologi Program Bahasa. Pendidikan Agama Buddha. Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Agama Buddha. olahraga. Pendidikan Agama Katolik. Kelompok mata pelajaran Jasmani. IPS. Biologi. Pendidikan Agama Kristen. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Seni Budaya. Matematika. dan Bahasa Inggris. Kimia. pendidikan kesehatan. Pendidikan Kewarganegaraan. IPA. Olah Raga. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. IPA. Pendidikan Agama Buddha.

Pendidikan Agama Buddha. IPS. D. D. Seni Budaya. Matematika Kelompok Seni. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. dan Teknologi Kerumahtanggaan. Biologi Kelompok Pertanian. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMK/MAK terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Bahasa Inggris. Matematika Kelompok Sosial. Administrasi Perkantoran dan Akuntasi. Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Kewarganegaraan. Kimia Kelompok Pertanian.Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMPLB A. Bahasa Inggris. Seni Budaya. Matematika Kelompok Teknologi. Pendidikan Agama Buddha. Keterampilan Vokasional/Teknologi Informasi dan Komunikasi. Pendidikan Kewarganegaraan. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMALB A. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). IPA. Pariwisata. Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Agama Hindu. Penyususnan kurikulum juga dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan. dan Kewirausahaan. Kimia Kelompok Teknologi dan Kesehatan. Pendidikan Agama Hindu. dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. sosial budaya masyarakat setempat. Fisika Kelompok Pertanian. Kesehatan. IPA. Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi. B. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Bahasa Indonesia. Biologi Kelompok Kesehatan. Pengembangan kurikulum yang disssun oleh satuan pendidikan berdampak pada perubahan dalam proses dan mekanisme penyusunan kurikulum dan orientasi kerja Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 23 . D. Pendidikan Agama Kristen. IPS. Pendidikan Agama Hindu. IPA. Pendidikan Agama Katolik. Bahasa Inggris. Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Agama Katolik. dan Pertanian. Pendidikan Agama Buddha. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Agama Katolik. Bahasa Indonesia. potensi daerah/karakteristik daerah. Matematika. dan peserta didik. Seni Budaya. B. Bahasa Indonesia. Matematika. IPS. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Keterampilan. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Fisika Kelompok Teknologi.

(1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 24 . dan kebutuhan satuan pendidikan. tetapi disusun oleh masing-masing sekolah atau kelompok sekolah dengan mengacu pada standar isi dan standar kompetensi lulusan. Pada buku ”Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah” yang diterbitkan oleh BSNP tahun 2006. kota dan sekolah. kepribadian. kepribadian. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan. Salah satu dampak tersebut adalah bahwa kurikulum tidak ditetapkan lagi secara nasional. pengetahuan. c. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut. pengetahuan. akhlak mulia.Pendidikan/Kanwil Depag di tingkat propinsi. b. kepribadian. kabupaten. 2. a. pengetahuan. Sehingga pencapaian hasil pendidikan optimal sesuai dengan kondisi. B dan C ditetapkan oleh dinas kabupaten/kota berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan. Khusus untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya untuk program paket A. komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan yang perlu dikembangkan oleh sekolah adalah: 1. akhlak mulia. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. namun pencapaian minimalnya sama untuk setiap satuan pendidikan. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut. terutama dalam mengembangkan dan menerapkan kurikulum di tingkat sekolah. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. akhlak mulia. potensi.

tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. olahraga dan kesehatan Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 Pasal 7. atau keunggulan daerah. a. c. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Ini berarti bahwa dalam satua tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal. Satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Kegiatan Pengembangan Diri Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran sehingga tidak harus dirumuskan dalam bentuk standar kompetensi dan kompetensi dasar. Muatan Lokal Muatan lokal merupakan mata pelajaran yang isinya disesuaikan dengan ciri khas. muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Dinas pendidikan dapat mengkoordinasikan pengembangan muatan lokal sejenis untuk satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. b. potensi. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran. Perlu diperhatikan bahwa bagi satuan pendidikan yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi memungkinkan menambah atau menyesuaikan mata pelajaran dan alokasi waktunya. sesuai kebutuhan. Mata pelajaran Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi. sebagai berikut. Satuan pendidikan dapat mengembangkannya dalam bentuk program kegiatan yang berisi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 25 . yang materinya belum tertuang pada mata pelajaran yang ada.(2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian (3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi (4) Kelompok mata pelajaran estetika (5) Kelompok mata pelajaran jasmani.

dan kelompok ilmiah remaja.tujuan kegiatan dan bentuk dan pengelolaan kegiatan. Pengaturan Beban Belajar Di dalam penjelasan PP No. Penambahan maksimum empat jam. Beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh satuan pendidikan SD/MI/SDLB. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa Pemerintah mengkategorikan sekolah/ madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri. Pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap. Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/SMALB /SMK/MAK kategori standar dapat menggunakan sistem paket atau sistem SKS. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem SKS. dan sekolah/ madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. Untuk satuan pendidikan khusus menekankan pada peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif. tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. Kegiatan ini difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor. 3. di samping dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di dalam Standar Isi. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Khusus untuk sekolah menengah kejuruan pengembangan diri terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. belajar. tidak terlepas kaitannya dari struktur kurikulum sebagai Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 26 . kepemimpinan.. guru. dan pengembangan karier peserta didik serta dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler seperti keparamukaan.

a. potensi dan kebutuhan. b. Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. Alokasi waktu untuk praktik. Satu SKS pada SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: 45 menit tatap muka. Ketuntasan Belajar Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%. Satu SKS pada SMP/MTs terdiri atas: 40 menit tatap muka. 4. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK yang menggunakan sistem SKS mengikuti aturan sebagai berikut. SMP/MTs/SMPLB 0% . Kenaikan Kelas dan Kelulusan Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. 20 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. 25 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal. Alokasi waktu untuk tatap muka.50% dan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK 0% .40%.60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Sesuai dengan ketentuan PP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 27 . Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. yang sifatnya minimal. Bagi satuan pendidikan dan komite yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. 5. penugasan terstruktur. Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket untuk SD/MI/SDLB 0% . tentu dapat menambah jam sesuai dengan kondisi. Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait. dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi.bagian dari standar isi.

Keempat syarat diatas bersifat ururtan prasyarat. lulus Ujian Nasional. Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian integral dari pendidikan semua mata pelajaran dan/atau berupa paket/modul yang direncanakan secara khusus. olahraga. dan kelompok mata pelajaran jasmani. 6. dan d. yang mencakup kecakapan pribadi. peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah: a. Materi ujian nasional dikembangkan tentu mengacu kepada Standar Isi dan SKL yang sifatnya minimal. belum bisa mengikuti ujian sekolah. lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.19/2005 Pasal 72 Ayat (1). kelompok mata pelajaran estetika. b. SMP/MTs/SMPLB. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 28 . dan kesehatan. SMA/MA/ SMALB. Penjurusan Penjurusan dilakukan pada kelas XI dan XII di SMA/MA. artinya seorang peserta didik yang belum menyelesaikan seluruh program pemebelajaran berarti belum mendapat nilai baik untuk kelompok non iptek. c. kecakapan sosial. menyelesaikan seluruh program pembelajaran. Kriteria penjurusan diatur oleh direktorat teknis terkait. dan tentu saja belum bisa mengikuti ujian nasional. kelompok kewarganegaraan dan kepribadian. tentunya siap untuk mengikuti ujian nasional. kecakapan akademik dan/atau kecakapan vokasional. Apabila satuan pendidikan telah mengembangkan dan menerapkan kurikulum yang mengacu standar isi dan SKL (apalagi kurikulum dengan standar lebih tinggi). Pendidikan Kecakapan Hidup Kurikulum untuk SD/MI/SDLB. SMK/MAK dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. 7.

10. kebutuhan peserta didik dan masyarakat. tes praktek.Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan/atau dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi. Bagi sekolah yang belum memungkinkan memberikan pendidikan kecakapan hidup. karakteristik sekolah. 8. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi. Silabus Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran. bahasa. dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. observasi. dan lain-lain. dapat meminta peserta didik untuk mendapatkannya dari satuan pendidikan formal dan non formal lainnya. dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana yang dimuat dalam Standar Isi. yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik. Teknik penilaian tersebut dapat berupa tes tertulis. ekologi. budaya. dan penugasan perseorangan atau Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 29 . Penilaian yang dimaksud menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik. pelaksanaan proses pembelajaran. yang dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran dan juga dapat menjadi mata pelajaran muatan lokal. teknologi informasi dan komunikasi. 9. Kurikulum untuk semua tingkat satuan pendidikan dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. Kalender Pendidikan Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah. penilaian hasil pembelajaran.

penilaian. b. per tahun. sumber belajar. kegiatan pembelajaran. a. kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG). Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran. serta teknik penilaiannya sesuai dengan karakteristik hasil pembelajaran dan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. Disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik siswa. Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah. Sedangkan unit waktu silabus diatur sebagai berikut: a. materi dan metode pengajaran. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran. Khusus untuk SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi. alokasi waktu. dan penilaian hasil belajar. materi pokok/pembelajaran. Silabus dan RPP merupakan bagian tak terpisahkan dari komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan. indikator. Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. dan sumber/bahan/alat belajar.kelompok. kompetensi dasar. dan Dinas Pendikan. Di dalam panduan penyusuan kurikulum disebutkan bahwa silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 30 . dengan memperhatikan hal berikut. c. kondisi sekolah dan lingkungannya. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok. Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester. kegiatan pembelajaran. dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.

sebaiknya bergabung dengan sekolah-sekolah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolahsekolah dalam lingkup MGMP/PKG setempat. e. pokok bahasan. tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI. keterkaitan antar kompetensi dalam satu mata pelajaran atau antar mata pelajaran. c. karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik. menyusun silabus secara bersama. potensi. Satuan pendidikan yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. Sekolah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri. dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi. lingkungan. Langkah-langkah Pengembangan Silabus dapat dilakukan sebagai berikut. Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing. atau tema yang bersifat kontekstual dan dipilih sesuai dengan kondisi. dari kelas I sampai dengan kelas VI. c. Di SMP/MTs untuk mata pelajaran IPA dan IPS terpadu disusun secara bersama oleh guru yang terkait. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 31 . Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran Materi ini dapat berupa konsep. maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah tersebut. nantinya diperinci dalam RPP. Di SD/MI semua guru kelas. peserta didik dengan guru. a. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik. Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri.b. tentu perlu mengembangkan silabus yang sesuai b. d. Materi ini.

Menentukan Alokasi Waktu Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar. Di dalam penilaian. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. tingkat kesulitan. Kegiatan pembelajaran dalam silabus merupakan pokok-pokok kegiatan siswa untuk mencapai kompetensi. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan. mata pelajaran. d. e. potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. dan penilaian diri. satuan pendidikan. penggunaan portofolio. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. pengamatan kinerja. agar penjabaran kompetensi lebih jelas. dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. pengukuran sikap. pengetahuan. Karena indikator dirumuskan dari kompetensi dasar berarti setiap kompetensi dasar memiliki lebih dari satu indikator. Penentuan Jenis Penilaian Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. kedalaman. dan keterampilan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 32 . dapat dimasukkan bentuk penilaian dan jenis tugas yang perlu dilakukan siswa untuk melihat pencapaian kompetensi siswa. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap. proyek dan/atau produk. yang nantinya diperinci dalam RPP. keluasan.melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. rinci dan terukur. Cakupan jenis penilaian dalam silabus tentu harus mengakomodasi kompetensi dan indikator yang telah dirumuskan. 6. penilaian hasil karya berupa tugas. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Materi Ajar Materi ajar dirumuskan dari materi pokok atau materi pembelajaran pada silabus yang dapat berupa rincian secara runtut subpokok bahasan atau subtema. serta lingkungan fisik. Metode dan organisasi pembelajaran dapat berupa diskusi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 33 . kebutuhan dan daya dukung sumber daya satuan pendidikan dan siswa. objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. potensi. penilaian hasil belajar. sosial. Pemilihan materi ajar ditentukan oleh kondisi. dan alokasi waktu untuk mencapai satu kompetensi dasar atau beberapa indikator dalam silabus tersebut. kegiatan pembelajaran. 7. yang berupa media cetak dan elektronik. dan indikator pencapaian kompetensi. sumber belajar. c. Metode Metode atau strategi pembelajaran yang dituangkan dalam RPP merupakan bentuk kegiatan dan organisasi kelas yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. metode.Silabus tidak harus dirancang untuk satu kali pertemuan (tatap muka). b. alam. dan budaya. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan penjabaran sistematis dan terurut dari silabus yang dituangkan dalam tujuan pembelajaran. Dengan demikian alokasi waktu yang ditetapkan dalam silabus dapat lebih dari satu kali pertemuan. 11. narasumber. tetapi dirancang satu kompetensi atau sekelompok kompetensi. materi ajar. Tujuan pembelajaran Tujuan pembelejaran dirumuskan dalam bentuk uraian proses kegiatan belajar dan kemampuan atau hasil belajar peserta didik untuk mencapai kompetensi atau indikator yang telah dirumuskan dalam silabus. a. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran. Menentukan Sumber Belajar Sumber belajar adalah rujukan. langkah-langkah pembelajaran.

(1) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi. diskusi. kegiatan problem solving aplikasi yang berkaitan dengan materi ajar. penugsan.informasi. problem solving. kerja kelompok. review (mengulang beberapa hal yang bersifat prasyarat). penugasan lebih lanjut atau lebih mendalam. tanya jawab. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian. termasuk menjelaskan tujuan pembelajaran. Penilaian Penilaian ini memuat rincian bentuk. atau rencana pembelajaran yang dirancang dalam satu pertemuan atau beberapa pertemuan. (1) Kegiatan awal Kegiatan ini dapat berupa apersepsi. skenario. Pelaksanaan penilaian terintegrasi dalam selama kegiatan belajar berlangsung. Langkah pembelajaran memuat bentuk kegiatan belajar dan strategi pengorganisasian belajar kelas serta urutan kegiatannya sebagai berikut. d. atau rangkuman hasil belajar. dan sebagainya. contoh penilaian dan pedoman penskoran dari bentuk penilaian dan jenis tugas yang telah dirumuskan dalam silabus. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 34 . Langkah pembelajaran Langkah pembelajaran dirumuskan dan dirinci dari pokok-pokok kegiatan belajar yang telah ditetapkan dalam silabus sehingga kegiatan belajar menjadi efektif. yang biasanya dilengkapi dengan LK (lembar kerja) atau lembar tugas. RPP merupakan persiapan. (3) Penutup Kegiatan penutup dari RPP dapat diisi dalam bentuk refleksi (perenungan) tentang pencapaian hasil belajar. (2) Kegiatan inti Kegiatan ini merupakan kegiatan dan organisasi belajar secara yang bervariasi dan terurut sistematis untuk mencapai kompetensi dan beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. e.

f. media. program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan. dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya. (3) Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. (4) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. g. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 35 . Alokasi waktu RPP dirancang menggunakan jam pembelajarn sehingga alokasi waktunya merupakan perkiraan jumlah jam pelajaran yang diperlukan untuk untuk mencapai kompetensi atau beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih.(2) Penilaian menggunakan acuan kriteria. Sumber Belajar Sumber belajar meliputi bahan ajar. kegiatan inti dan penutup. termasuk perlu diperjelas proporsi waktu untuk kegiatan awal. bahan. termasuk cara penggunaannya. dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan. kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum. Di sini perlu dijelaskan ketersediaan dan banyaknya sumber belajar. maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan. alat. yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara. serta untuk mengetahui kesulitan siswa. (5) Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya. dan alat bantu belajar yang digunakan untuk mencapai kompetensi atau beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran.

Pada Permendiknas No. Setiap satuan pendidikan yang akan mengembangkan kurikulum perlu memiliki dokumen yang berisi ketentuan-ketentuan di atas. mengatur sistem akselerasi atau percepatan belajar dan sebagainya. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. Satuan pendidikan perlu memiliki. 22 tentang standar isi dan Permendiknas No. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 5 sampai dengan Pasal 18. Kurikulum dengan standar lebih tinggi dapat berupa penambahan lingkup materi dan kompetensi. b. kondisi dan kebutuhannya. 22 dan No. mengkaji. d. 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 36 . sesuai potensi. 24 tahun 2006 disebutkan bahwa: (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan berdasarkan pada : a. mengatur kalender pendidikan.E. 23 tahun 2006 Standar isi dan standar kompetensi lulusan merupakan ketentuan yang bersifat minimal sehingga satuan pendidikan dimungkinkan menyusun kurikulum dengan standar lebih tinggi. maka satuan pendidikan dapat menyesuaikan alokasi waktu pada struktur kurikulum. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 sampai dengan Pasal 38. pendalaman kompetensi. dan Pasal 25 sampai dengan Pasal 27. Dengan mengembangkan dan menerapkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. penambahan mata pelajaran atau penambahan muatan lainnya. PENERAPAN STANDAR ISI DAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Implementasi. mengatur sistem beban belajar. potensi dan kebutuhan satuan pendidikan. c. sesuai dengan kondisi. penerapan atau pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan diatur dalam Permendiknas No. sesuai dengan kondisi. dan memahami dokumen tersebut agar dapat mengembangkan kurikulum secara optimal. potensi dan kebutuhan satuan pendidikan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

22 dan No. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa satuan pendidikan memungkinkan menerapkan Permendiknas No. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa pada dasarnya satuan pendidikan tidak diharuskan mengembangkan kurikulum apabila belum memiliki kesiapan berbagai sumber daya yang diperlukan. (4) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengadopsi atau mengadaptasi model kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun oleh BSNP. Mengenai mekanisme dan strategi pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan. di dalam Permendiknas No. 23 Tahun 2006. tetapi harus menerapkan kurikulum sesuai dengan Permendiknas No. 22.(3) Pengembangan dan penetapan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah memperhatikan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). setelah tahun 2006 sampai tahun 2009 Standar Isi. 24 tahun 2006 disebutkan bahwa: (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menerapkan Permendiknas No. (5) Kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah. 23 dan 24 tahun 2006. Standar Kompetensi Lulusan dan ketentuan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 37 . Pertimbangan komite dapat berarti berupa persetujuan setelah KTSP disusun oleh sekolah atau komite berpatisipasi aktif dan bekerjasama dalam proses penyusunan kurikulum dengan sekolah/madrasah. Panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan masih bersifat umum sehingga hal-hal lebih lanjut dan rinci perlu ditetapkan sendiri oleh satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa penetapan kurikulum satuan pendidikan merupakan tanggung jawab satuan pendidikan dan komitenya. Perlu dikritisi bahwa pengembangan dan penetapan kurikulum merupakan tanggung jawab sekolah sehingga sekolah perlu secara mandiri menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan kurikulum dengan tetap mengacu pada ketentuan yang ada seperti pada UU sisdiknas. 22 dan No. 23 Tahun 2006 mulai tahun ajaran 2006/2007. PP Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas pelaksanaannya. Hal ini untuk mengakomodasi kemungkinan terdapat satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan yang belum siap mengembangkan kurikulum sendiri.

: kelas 1. setelah setelah tahun 2009 apabila kondisi satuan pendidikan belum siap disebabkan kondisi.2.2. : kelas 1. (3) Satuan pendidikan dasar dan menengah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang telah melaksanakan uji coba kurikulum 2004 secara menyeluruh dapat menerapkan secara menyeluruh Permendiknas No.5 dan 6. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah harus sudah mulai menerapkan Permendiknas No. dengan tahapan: a Untuk sekolah dasar (SD). dan 3.apabila kondisi satuan pendidikan belum siap.4. 23 Tahun 2006 secara bertahap dalam waktu paling lama 3 tahun. 22 dan No.tahun II . madrasah aliyah kejuruan (MAK). Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa satuan pendidikan memungkinkan menerapkan Permendiknas No.tahun III : kelas 1. madrasah ibtidaiyah (MI). 23 Tahun 2006 paling lambat tahun ajaran 2009/2010.tahun I .3. madrasah tsanawiyah (MTs). (4) Satuan pendidikan dasar dan menengah yang belum melaksanakan uji coba kurikulum 2004. 23 Tahun 2006 untuk semua tingkatan kelasnya mulai tahun ajaran 2006/2007. 23 Tahun 2006. dan sekolah dasar luar biasa (SDLB): . 22 dan No. sekolah menengah kejuruan (SMK). 22 dan No.4.tahun III b : kelas 1 dan 4. atau mungkin menerapkannya secara bertahap mulai melengkapi perangkat pendukung. : kelas 1. dan 5. : kelas 1 dan 2. madrasah aliyah (MA). (5) Penyimpangan terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir (2) di atas dapat dilakukan setelah mendapat izin Menteri Pendidikan Nasional.tahun I . dan sejenisnya.2. 22 dan No. situasi belum memungkinkan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 38 . sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB). Untuk sekolah menengah pertama (SMP). sekolah menengah atas (SMA).tahun II . mempelajari dokumen yang diperlukan. melaksanakan Permendiknas No. dan sekolah menengah atas luar biasa (SMALB) : .

Sedangkan. tetapi disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan yang bersangkutan. memiliki tugas berikut: (1) menggandakan Permendiknas No. dan madrasah aliyah kejuruan (MAK). Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 39 . (2) Bupati/walikota dapat mengatur jadwal pelaksanaan . disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di kabupaten/kota masing-masing (3) Menteri Agama dapat mengatur jadwal pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23 Tahun 2006. 23 Tahun 2006. Di dalam Permendiknas No. untuk satuan pendidikan madrasah ibtidaiyah (MI). secara nasional. 23 Tahun 2006. madrasah tsanawiyah (MTs). 24 tahun 2006 juga disebutkan bahwa: (1) Gubernur dapat mengatur jadwal pelaksanaan Permendiknas No. pada tingkat satuan pendidikan. untuk mendukung dan mendorong satuan pendidikan dalam menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. Peran satuan pendidikan tetap merupakan pelaksana dalam penerapan Permendiknas tersebut dan semua satuan pendidikan dalam suatu wilayah tidak harus melaksanakan secara serempak. 22 dan No. bupati. (2) BSNP dapat mengajukan usul revisi . (1) BSNP melakukan pemantauan perkembangan dan evaluasi pelaksanaan Permendiknas No. madrasah aliyah (MA). 22 dan No.Permendiknas No. 22 dan No. 23 Tahun 2006. serta mendistribusikannya kepada setiap satuan pendidikan secara nasional. 22 dan No. 22 dan No. 23 Tahun 2006. untuk satuan pendidikan menengah dan satuan pendidikan khusus. 22 dan No. 23 Tahun 2006 sesuai dengan keperluan berdasarkan pemantauan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada butir (1).Permendiknas No. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di provinsi masing-masing. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa gubernur.Peran Pemerintah dan Pemerintah Daerah pada implementasi atau penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dalam Permendiknas No. BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) memilki tugas sebagai berikut. untuk satuan pendidikan dasar. walikota dan menteri Agama lebih berperan dalam pengaturan jadwal atau mengkoordinasikan pelaksanaan Permendiknas No. 23 Tahun 2006. 24 tahun 2006.

pengawas. memiliki tugas berikut: (1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. 23 Tahun 2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 23 Tahun 2006. dinas pendidikan kabupaten/kota. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional. melalui LPMP. 23 Tahun 2006. memiliki tugas berikut: (1) mengembangkan model-model kurikulum sebagai masukan bagi BSNP. (6) mengembangkan pangkalan data yang rinci tentang pelaksanaan Permendiknas No. dan dewan pendidikan. memiliki tugas berikut: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 40 . dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP. terhadap guru. kepala sekolah. mengevaluasinya. 22 dan No. 22 dan No.(2) melakukan usaha secara nasional agar sarana dan prasarana satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mendukung penerapan Permendiknas No. 22 dan No. 23 Tahun 2006. (3) mengembangkan dan mengujicobakan model kurikulum untuk pendidikan layanan khusus. 23 Tahun 2006. dan tenaga kependidikan lainnya yang relevan melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan/atau Pusat Pengembangan dan Penataran Guru (PPPG). 22 dan No. (2) melakukan sosialisasi Permendiknas No. 22 dan No. 23 Tahun 2006 Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan:. (4) bekerjasama dengan perguruan tinggi dan/atau LPMP melakukan pendampingan satuan pendidikan dasar dan menengah dalam pengembangan kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah. dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP kepada dinas pendidikan provinsi. (3) membantu pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam penjaminan mutu satuan pendidikan dasar dan menengah agar dapat memenuhi Permendiknas No. (2) mengembangkan dan mengujicobakan model-model kurikulum inovatif. (5) memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. 22 dan No. dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri.

Sedangkan Departemen lain yang menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah : (1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. departemen agama dan departemen lain yang terkait). 23 Tahun 2006 sesuai dengan kewenangannya dan berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan Nasional. prasarana. lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK). kepada pemangku kepentingan umum. 23 Tahun 2006 sesuai dengan kewenangannya. Nomor 080/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan. Dengan berlakunya Permendiknas No. dinyatakan tidak berlaku bagi satuan pendidikan dasar dan menengah sejak satuan pendidikan dasar dan menengah yang bersangkutan melaksanakan Permendiknas No. 24 Tahun 2006. (2) mengusahakan secara nasional sesuai dengan kewenangannya agar sarana. komite satuan pendidikan. dan d. Departemen pendidikan nasional memiliki peran Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 41 . 22 dan No. memonitor dan mendorong satuan pendidikan untuk menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. 23 Tahun 2006. mengevaluasi dan melaksanakan kurikulum sesuai dengan standar isi dan standar kompetensi lulusan. bupati/walikota. mengatur jadwal. memantau. Dari ketentuan Permendiknas No. di kalangan (2) memfasilitasi pengembangan kurikulum dan tenaga dosen LPTK yang mendukung pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. mengkoordinasikan. 22 dan No. menyusun. b. 23 Tahun 2006 Sekretariat Jenderal melakukan sosialisasi Permendiknas No. 22 dan No. Nomor 061/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Umum. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan : a. gubernur. dan sumber daya manusia satuan pendidikan yang berada di bawah kewenangannya mendukung Permendiknas No.(1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. Nomor 060/U/1993 tentang Kurikulum Pendidikan Dasar. 24 tahun 2006 jelas bahwa efektifitas pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan ditentukan oleh komitmen dan peran satuan pendidikan. Bupati/walikota dan gubernur berperan dalam melakukan sosialisasi. 23 Tahun 2006. c. Nomor 0126/U/1994 tentang Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. 24 Tahun 2006. 22 dan No. 23 Tahun 2006 (3) melakukan supervisi. Satuan pendidikan dan komite berperan dalam mengembangkan. 22 dan No. dan mengevaluasi pelaksanaan Permendiknas No. dan pemerintah (departemen pendidikan nasional.

mengeluarkan kebijakan teknis. F. evaluasi dan supervisi. Departemen agama dan departemen lain terkait berperan dalam melakukan sosialisasi. SISTEM MONITORING KURIKULUM Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas keberhasilan implementasi kurikulum yang dilakukan oleh suatu lembaga adalah melakukan monitoring terhadap program tersebut. maupun outputnya. Keitga istilah tersebut pada dasarnya tidak terpisahkan satu sama lain karena sama-sama digunkan dalam konteks menyempurnakan atau memperbaiki program dan hasil pelaksanaan implementasi kurikulum. mengkoordinasikan. Monitoring tersebut dapat dilakukan mulai dari perencanaan (termasuk needs analysis) . terdapat berbagai istilah yang hampir sepadan yaitu monitoring.dalam melakukan sosialisasi. Proses dan kedudukan monitoring dapat digambarkan sebagai berikut : Analisis SWOT Implementasi kurikulum Evaluasi dampak MONITORING Disain dan perencanaan kurikulum Pelaksanaan kurikulum Monitoring merupakan bagian dari bentuk pengendalian (control) yaitu proses yang memastikan bahwa aktifitas aktual (yang terjadi) sesuai dengan aktifitas yang direncanakan. Monitoring (pemantauan) secara umum dimaknai sebagai sebuah kegiatan yang berfungsi untuk melihat kesesuaian rencana program implementasi kurikulum dengan pelaksanaan yang terjadi yang mencakup semua aspek dalam implementasi kurikulum diantaranya : Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 42 . Semua istilah tersebut secara umum mengacu pada fungsi pengawasan pelaksanaan program implementasi kurikulum. mengevaluasi dan mendorong satuan pendidikan di bawah kewenangannya untuk menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. Dalam kaitannya dengan peningkatan mutu implementasi kurikulum. mengusahakan sarana dan prasarana. mengatur jadwal. proses dan pelaksanaan. workshop. dan memonitor satuan pendidikan dalam penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan.

Dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistimatis untuk melihat apakah sebuah program implementasi kurikulum telah berhasil dan efisien dalam pelaksanaannya. efisiensi. ketepatan dalam pelaksanaan implementasi kurikulum. Dari ketiga pengertian di atas tampak bahwa monitoring digunakan untuk memperbaiki proses implementasi kurikulum yang sedang berjalan untuk mengoptimalkan hasil. Terdapat berbagai konsep mengenai supervisi. Secara sederhana. LAN mendefinisikan evaluasi sebagai proses atau kegiatan untuk menentukan kemajuan implementasi kurikulum dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan dan usaha untuk memperoleh informasi atau umpan balik bagi penyempurnaan program implementasi kurikulum. Evaluasi menurut the trainer’s Library. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 43 . Monitoring memiliki cakupan prosedur dan cakupan proses lebih luas dari sekedar yang dilakukan dalam pekerjaan evaluasi atau supervisi. Fungsi monitoring mencakup tiga unsur utama: (1) Menetapkan standar ketepatan program implementasi kurikulum. Salah satu pengertiannya. sedangkan supervisi lebih menekankan pada perbaikan pembelajaran secara langsung yang diberikan oleh fasilitator atau narasumber. 1988 mendefiniisikan evaluasi adalah proses pengumpulan data yang sistematis untuk mengukur evektivitas. supervisi merupakan suatu aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu program pendidikan dan tenaga pendidik dan kependidikan dalam melakukan profesi mereka secara efektif. supervisi merupakan program berencana untuk memperbaiki pengajaran. Standar diuraikan atau dirumuskan dalam bentuk kriteria hasil monitoring.ketepatan perumusan analisis kebutuhan. evaluasi hasilnya lebih dipergunakan untuk perbaikan program implementasi kurikulum berikutnya walaupun pelaksanaan evaluasi dapat dilakukan pada saat implementasi kurikulum berlangsung. Suatu kegiatan evaluasi diharapkan dapat mengukur keberhasilan apakah tujuan implementasi kurikulum yang ditetapkan dapat dicapai. ketepatan dalam mengidentifikasi dampak implementasi kurikulum. akuntabilitas dan relevansi program implementasi kurikulum. ketepatan perencanaan program kurikulum. Hasil evaluasi biasanya dipergunakan untuk memperbaiki program implementasi kurikulum yang akan dilakukan berikutnya. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memperbaiki program implementasi kurikulum yang sedang berjalan.

Ini sangat mudah dilakukan karena pada dasarnya manusia sebagai Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 44 . Unsur-unsur pokok dalam proses monitoring adalah penetapan standar ketepatan program implementasi kurikulum. Hasilnya dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan. membandingkan kinerja aktual dengan standar yang ditetapkan. Kompetensi yang dimaksud di sini tentu kompetensi atau kemampuan profesional yang terkait langsung dengan perencanaan. penyelesaian masalah bersama untuk memperbaiki program yang belum sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Model monitoring yang konvensional atau tradisional adalah yang bersifat mencari kesalahan. serta keterampilan konseptual dalam mengkoordinasi dan memadukan berbagai kepentingan dan kegiatan dalam implementasi kurikulum. 1. pengarahan. yang dapat diilustrasikan sebagai berikut. merancang sistem umpan balik informasi. memahami orang lain. Teknik – teknik monitoring dan penerapannya. menentukan apakah terdapat penyimpangan.(2) Memantau dan mengukur aktifitas program yang sedang berjalan dengan menggunakan teknik monitoring tertentu. Kompetensi meliputi keterampilan teknis dalam menggunakan prosedur kerja dalam program implementasi kurikulum. pengembangan dan penyelenggaraan program implementasi kurikulum. dan memotivasi orang lain. (3) Mengambil tindakan dalam bentuk pemberian bantuan. dan mengambil tindakan perbaikan. keterampilan manusiawi dalam bekerja dengan orang lain. Penetapan standar dan metode monitoring implementasi kurikulum Monitoring Apakah kinerja sesuai standar? tidak Pengambilan tindakan perbaikan Selesai ya Monitoring harus dilakukan oleh seseorang yang berkompeten sesuai dengan bidang yang akan dimonitor.

Wawancara mengenai analisis kebutuhan : pewawancara harus mengetahui apakah kebutuhan – kebutuhan proram implementasi kurikulum sudah sesuai dengan apa yang diharapkan ? . Misalnya : . Pendekatan yang digunakan dalam monitoring dapat berupa pendekatan langsung (direct). atau metode pengumpulan data lainnya.Wawancara tentang perencanaan kurikulum : pewawancara harus mengetahui dan menngidentifikasi apakah struktur program kurikulum. Metode – metode ini harus sudah direncanakan. suasana yang hangat. Dalam monitoring yang ditekankan adalah bantuan agar program implementasi kurikulum terlaksana sesuai tujuan. observasi (pengamatan). atau kesulitan penyelenggara pendidikan. kuesioner. kemudian mendiskusikan pemecahan atau solusi dari problem dan hambatan yang dihadapi. Metode-metode ini dikemas. serta umpan balik (feedback) yang diberikan harus secepat mungkin dan objektif untuk segera dilakukan perbaikan. silabus dan bahan ajarnya telah lengkap sesuai dengan tujuan dan sistematis serta terarah ? Hal yang terpenting dalam melakukan wawancara adalah pewawancara sudah mempersiapkan diri dengan pedoman wawancara yang isinya memuat semua aspek – aspek yang akan dimonitor. yaitu memberi bantuan dan arahan secara langsung atau pendekatan tidak langsung (indirect) di mana pemonitor mendengar keluhan. Monitoring perlu dilakukan secara ilmiah yang terencana. Cara ini tentu saja tidak sesuai dengan tujuan monitoring dan berdampak pada sikap acuh tak acuh atau menentang dari pihak penyelenggara program. dekat dan terbuka. dipilih dan ditetapkan sebagai bagian dari tahapan – tahapan implementasi kurikulum. sistematis dan menggunakan instrumen tertentu.penyelenggara implementasi kurikulum. Dalam metode ini yang perlu dilakukan bahwa pewawancara harus memiliki aspek – aspek apa saja yang perlu diketahui atau dimonitor sebagai bagian dari monitoring. penilaian diri. Metode monitoring dapat berupa : konsultasi atau wawancara. dikombinasikan dan dilakukan secara terpadu (terintegrasi) agar proses monitoring dapat berjalan secara efisien dan sesuai sasaran. Metode wawancara dapat dilakukan secara tertulis ataupun langsung. dikembangkan. hambatan. memiliki banyak kekurangan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 45 . Dalam melakukan wawancara perlu diperhatikan bahwa kegiatan ini tidak mengganggu semua aspek program implementasi kurikulum.

pemonitor dapat juga menggunakan metode deskripsi. kurang baik. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan yang memuat aspek – aspek yang akan dilihat saat monitoring dilakukan. observasi dapat pula dilakukan oleh penyelenggara (guru. dan peralatan audio visual (video) sebagai dokumentasi pelaksanaan implementasi kurikulum. Selain menggunakan format observasi secara khusus. misalkan suatu aspek ditunjukkan melalui empat kategori yaitu : tidak baik. Hal ini dapat memberikan beberapa manfaat: (1) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan akan belajar bagaimana menganalisis peristiwa yang dialami sendiri selama program implementasi kurikulum berlangsung (2) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan dapat memperoleh pengalaman dalam memberi umpan balik perbaikan implementasi kurikulum secara langsung (3) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan akan belajar bagaimana menggunakan sumber daya yang dipakai untuk melakukan analisis. yaitu : menguraikan hasil pengamatan secara komprehensif dan ditulis secara lengkap dalam sebuah laporan. Alat bantu lain yang sangat berguna dalam metode observasi/wawancara adalah kamera untuk bukti dokumentasi pelaksanaan implementasi kurikulum. perekam suara (tape recorder) hasil wawancara atau kegiatan lainnya. atau pengawas sekolah). laporan ini dianalisis untuk diperoleh hal-hal atau aspek apa saja yang perlu diperbaiki dan ditindaklanjuti agar segera dilakukan perbaikan program implementasi kurikulum. Dalam melakukan observasi perlu dillakukan dalam situasi yang wajar (tidak mengganggu program pembelajaran). kepala sekolah. mencatat hal-hal yang penting dan menekankan pada upaya perbaikan program implementasi kurikulum. Selain oleh pemonitor dari penyelenggara implementasi kurikulum. serta data yang dihasilkan haruslah faktual dan bukan opini pemonitor. cukup baik dan baik. Unjuk kerja untuk setiap aspek yang dimonitor dapat dikategorikan dalam bentuk laporan teramati (tepat) atau tidak teramati (tidak tepat). Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 46 . Selanjutnya.Metode observasi biasanya digunakan untuk mengamati unjuk kerja (kinerja) dari setiap orang yang terlibat dalam kegiatan program implementasi kurikulum. Boleh juga digunakan sekala rentang.

Penilaian diri cukup bermanfaat untuk dilakukan karena pelaksana akan lebih jujur mengungkapkan pendapatnya tentang pelaksanaan program implementasi kurikulum.Metode kuesioner biasanya digunakan untuk memonitor. Aspek lain yang tidak mungkin dimonitor melalui kuesioner dapat dimonitor melalui observasi atau teknik monitoring lainnya. Yang terpenting dalam pengembangan kuesioner harus memperhatikan aspek kepraktisan. Pengembangan instrumen monitoring. Monitoring melalui pos atau internet lebih membutuhkan keaktifan dan proaktif dari pihak responden. atau pernyataan sikap. dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan tertulis yang telah disiapkan. atupun fihak lain yang terkait). Dengan demikian sebelum Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 47 . Dalam kegiatan pengembangan instrument monitoring diawali dengan kegiatan mengidentifikasi aspek yang akan dimonitor. yang disusun dalam bentuk pertanyaan tertutup atau terbuka. Data dan informasi dari monitoring secara tertulis (kuesioner. baru dilakukan pengembangan instrument monitoring dan pedoman yang memuat criteria hasil monitoring. daya inovasi dan kreasi dari guru. terbuka. atau penilaian diri) dapat diperoleh secara langsung oleh petugas kuesioner kepada responden. kepala sekolah. Kuesioner dengan jawaban (options) tertutup mudah dianalisis tetapi tidak memberi peluang responden memberi tanggapan lain yang mungkin sangat berguna. kegunaan informasi yang dijaring. Dalam metode ini semua aspek yang dimonitor informasinya didapatkan melalui pertanyaan atau pernyataan tertulis yang diberikan pada sumber data (guru. pengawas dan fihak lain yang relevan. angket. Kuesioner dapat berupa pertanyaan dengan jawaban tertutup. Alat penilaian diri dapat berupa daftar ceklis tentang pandangan/pendapat. 2. dan keakuratan jawaban. melalui pos atau dengan alat bantu teknologi informasi melalui internet (website). Penilaian diri merupakan salah satu bentuk kuisioner yang khusus ditujukan kepada fihak pelaksana penyelenggara pendidikan untuk melakukan evaluasi diri misalnya mengenai tanggapan tentang komitmen. Kuesioner dengan jawaban terbuka memberi peluang pada responden menyatakan pendapatnya secara bebas tetapi memerlukan waktu untuk menganalisis dan melakukan perbaikan program implementasi kurikulum. kepala sekolah. Walaupun perlu dilakukan kroscek atau verifikasi dengan sumber data yang lain untuk mendapat informasi yang lebih otentik. Dilanjutkan dengan pemilihan teknik monitoring yang tepat.

Aspek yang dimonitor 1. Pengembangan Kurikulum (KTSP) Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 10. Subaspek Standar Isi (SI) Teknik monitoring Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 2. Kemampuan dan kesiapan pendidik Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 5. Pengembangan Silabus dan RPP Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Bentuk instrumen Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 48 .pengembangan instrument monitoring perlu disusun kisi – kisi instrumen monitoring yang secara umum dapat ditampilkan dalam contoh tabel kisi-kisi berikut. Kemampuan dan kesiapan sumber daya pendidikan 4. Pelaksanaan SI dan SKL Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 2. Pelaksanaan atau penerapan kurikulum oleh satuan pendidikan 8. Pemahaman dan persepsi tentang kebijakan kurikulum 1. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 3. Kesiapan orangtua dan masyarakat Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Observasi Lembar observasi Panduan Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 3. Kemampuan dan kesiapan tenaga kependidikan Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 6. Kesiapan sarana dan prasarana Tertulis Observasi Wawancara 7. Sosialisasi SI dan SKL Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 9.

kelemahan. peluang. 1. hambatan. pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan. Misalkan sub aspek isi silabus dapat dirinci menjadi lima komponen yaitu : 1. evaluasi efektifitas dampak pelaksanaan kurikulum. dan tantangan untuk penyempurnaan kurikulum. Setiap aspek atau sub aspek tersebut dapat di jabarkan kedalam aspek yang lebih kecil. Isi silabus. Isi bahan ajar. 2. Aspek pemahaman dan persepsi. Aspek Perencanaan implementasi kurikulum. system pengambilan data TNA. pengolahan dan analisis data TNA. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 49 . Pengembangan Penilaian Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 12. penyusunan instrument TNA.. Hal ini agar mempermudah dalam melakukan monitoring nantinya. serta akan meningkatkan nilai ketepatan pengamatan. ketepatan menentukan kompetensi yang akan dicapai. Standar isi. Aspek – aspek yang lebih rinci akan mampu menggambarkan pelaksanaan implementasi kurikulum dengan baik atau tidak suatu implementasi kurikulum dilaksanakan. yang mencakup sub-subaspek: Isi struktur program implementasi kurikulum. Penerapan pembelajaran di sekolah Observasi Wawancara Panduan Wawancara Panduan Observasi Lembar observasi Aspek yang dimonitor mencakup semua komponen – komponen penting mulai dari perencanaan kurikulum. yang meliputi:. yang mencakup sub-subaspek berikut. pemetaan kebutuhan implementasi kurikulum.Aspek yang dimonitor Subaspek Teknik monitoring Bentuk instrumen Angket 11. serta analisis kekuatan.

Namun. Perumusan yang samar-samar seperti ’meningkatkan mutu bahan ajar’. suatu aspek dimonitor dengan menggunakan lebih dari satu teknik monitoring. komitmen atau sikap penyelenggara dan peserta implementasi kurikulum terhadap program implementasi kurikulum. ketepatan indicator yang dirumuskan. 3. yaitu menetapkan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 50 . subaspek materi implementasi kurikulum penyusunan silabus dapat dimonitor dengan metode kuesioner untuk melihat kelengkapan dan isi kualitas dari dokumen silabus yang digunakan. Cara paling sederhana menentukan kriteria adalah dengan daftar ceklis. yaitu teknik tertulis yang dapat dilakukan dengan wawancara tertulis. minat dan ketertarikan peserta. kuesioner atau penilaian diri dan monitoring unjuk kerja dan sikap yang dilakukan dalam bentuk observasi saat implementasi kurikulum berlangsung.2. Kriteria atau tolok ukur hasil monitoring merupakan ukuran ketepatan. 5. maka monitoring paling tepat dilakukan dalam bentuk observasi. Di sisi lain. maka monitoring dapat dilakukan dalam bentuk tertulis misalnya berupa kuesioner. atau dapat diamati (observable). Biasanya untuk membuat efektif monitoring. ketepatan materi yang dipilih sebagai bahan implementasi kurikulum. serta dapat dicapai dengan tenggang waktu tertentu. ketepatan metode implementasi kurikulum yang digunakan. kelengkapan atau kebenaran prosedur kerja dari setiap tahapan program implementasi kurikulum sesuai dengan aspek-aspeknya. serta silabus hasil karya peserta. jika aspek yang dimonitor berupa kinerja atau performa dari penyelenggara dan peserta implementasi kurikulum. Teknik monitoring dipilih dengan mempertimbangkan karakteristik dari setiap aspek yang dimonitor. ketepatan waktu yang disediakan. kualitas isi dokumen atau peralatan. dapat dimonitor dengan metode observasi untuk melihat komitmen. Misalnya. atau sarana lainnya. komitmen fasilitator selama program implementasi kurikulum dilaksanakan. Terdapat beberapa jenis teknik monitoring. tidak akan dapat dimonitor karena tidak jelas ukuran peningkatannya. Perumusan kriteria ini harus jelas. 4. dapat diukur (measurable). Apabila aspek yang dimonitor berupa kelengkapan dokumen atau peralatan. Kriteria ini merupakan pedoman atau acuan bagi pemonitor untuk memeriksa ketepatan setiap aspek yang dimonitor pada setiap tahapan program implementasi kurikulum.

kurang tepat. Data juga akan dianalisis secara kuantitatif dengan pendekatan descriptive statistically analysis untuk mendeskripsikan berbagai aspek variabel yang diperoleh dari temuan selama implementasi kurikulum. Data yang diperoleh dari hasil monitoring perlu dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan content analysis untuk membandingkan berbagai temuan yang memiliki karakteristik berbeda-beda dan narrative analysis untuk melihat kohorensi temuan atau informasi dari tanggapan para stakeholder program implementasi kurikulum. hasil montoring sudah harus dapat dijadikan sebagai masukan perbaikan implementasi kurikulum sejak tahapan implementasi kurikulum dimulai. Apapun metode analisis yang digunakan. 3. Pemanfaatan hasil monitoring. cukup berhasil. Demikian juga apabila kita minta pendapat peserta tentang program implementasi kurikulum. Pengolahan dan analisis hasil monitoring. Untuk itu ketepatan kuantitas dan kualitas dari proses monitoring sangat menentukan hasil analisis.apakah setiap aspek dilakukan atau tidak dilakukan. Dengan demikian. harus menjawab pertanyaan apakah program implementasi kurikulum telah berhasil dan efektif dilakukan sesuai tujuan implementasi kurikulum. cukup tepat atau tidak tepat. sangat setuju atau tidak setuju. Kebanyakan orang lebih tertarik dengan analisis kuantitatif. 4. Yang penting diperhatikan bahwa hasil monitoring harus menjadi umpan balik secara langsung sehingga proses implementasi kurikulum berjalan sesuai dengan track atau tujuan yang ditetapkan. walaupun analisis kualititatif juga sangat penting untuk dicermati. tepat atau tidak tepat. Namun ukuran ini terlalu kasar karena banyak tahapan program implementasi kurikulum yang dilakukan dengan ukuran sangat berhasil. mereka biasanya ada yang setuju. Tingkat analisis bergantung pada detil data yang dibutuhkan dan kompleksitas permasalahan selama implementasi kurikulum. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 51 . Pengolahan dan analisis hasil monitoring dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. Hasil analisiis data digunakan untuk memvalidasi program penyelenggaraan implementasi kurikulum dan kesesuaiam dengan potensi dan kebutuhan implementasi kurikulum. atau tidak berhasil atau dengan criteria sangat tepat. yang selanjutnya juga menentukan apakah tujuan implementasi kurikulum telah tercapai.

memberi motivasi bagi peserta dan pelaksana pendidikan untuk melaksanakan program implementasi kurikulum secara optimal. mendorong semua pihak dalam program implementasi kurikulum lebih berdisiplin dan bertanggung jawab.Seperti yang telah dikemukakan di muka bahwa tujuan monitoring atau pemantauan adalah untuk menjamin suatu kegiatan atau program implementasi kurikulum tetap on the track sesuai dengan tujuan program yang telah ditetapkan. Manfaat proses monitoring lainnya adalah: 1. hasil analisis monitoring dapat digunakan sebagai bahan evaluasi secara menyeluruh untuk meningkatkan kualitas program implementasi atau penerapan kurikulum oleh satuan pendidikan. Dengan demikian. yaitu agar praktek pelaksanaan program implementasi kurikulum sesuai dengan perencanaan. manfaat pokok dari proses monitoring adalah mengendalikan pelaksanaan program implementasi kurikulum berlangsung secara efisien dan sukses sesuai dengan tujuan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 52 . 3. 2.

pengolahan hasil monitoring. A. melakukan monitoring. pedoman observasi situasi dan pelaksanaan pembelajaran. Sumber data yang digunakan adalah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 53 . pengembangan desain. hasil yang diharapkan. ruang lingkup.BAB III METODOLOGI Pendekatan dalam monitoring ini bersifat descriptive-explanatory berbentuk studi (survey) dengan menggunakan data kualitatif dan kuantitatif yang digunakan secara seimbang dan saling melengkapi untuk melihat profil pencapaian satuan pendidikan dalam penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan pada tingkat propinsi. Penyusunan desain dilaksanakan dalam bentuk workshop. diskusi fokus. kerangka berpikir atau landasan teori. STRATEGI MONITORING Kegiatan ini dilakukan melalui berbagai metode dalam bentuk studi dokumen. dan stakeholder lain yang relevan. 22 dan 23 tahun 2006 tentang Standar Isi dan SKL oleh satuan pendidikan. penyusunan dan presentasi rekomendasi. rapat kerja dan diskusi fokus yang melibatkan berbagai nara sumber perguruan tinggi. sebagai berikut. pengembangan instrumen. praktisi pendidik dan tenaga kependidikan. workshop. analisis hasil monitoring. pedoman wawancara. kuesioner. rapat kerja dan koordinasi. Instrumen yang disusun berbentuk tes. hasil monitoring ini dilakukan sebagai bahan pertimbangan dalam merekomendasikan perencanaan dan pelaksanaan penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan agar lebih efektif dan efisien pada satuan pendidikan dasar dan menengah. (2) Pengembangan instrumen Instrumen dikembangkan dan disusun untuk menjaring atau mendapatkan data dan informasi kualitatif dan kuantitaif mengenai pencapaian pelaksanaan Permendiknas No. (1) Penyusunan desain Desain ini merupakan master plan yang disusun untuk dijadikan pedoman atau acuan dalam kegiatan monitoring yang meliputi: latar belakang dan tujuan monitoring. pelaksanaan kegiatan. penyusunan dan presentasi rekomendasi mengenai hasil kegiatan keseluruhan. metodologi. Selain itu.

Peran pemerintah (Depdiknas dan departemen lain terkait) dalam merumuskan kebijakan untuk mendukung pelaksanaan Permendiknas No. dan dinas pendidikan kabupaten/kota/ propinsi. Peran pemerintah kabupaten/kota/propinsi dalam mendukung pelaksanaan Permendiknas No. dan pihak lain mengenai implikasi Permendiknas No. 23 dan tahun 2006 tentang: a. kelengkapan jumlah dan jenis intrumen. (4) Pelaksanaan monitoring Monitoring dilakukan dengan menggunakan instrumen-instrumen yang dikemas. dikombinasikan dan dilakukan secara terpadu (terintegrasi) agar proses monitoring dapat berjalan secara efisien dan sesuai sasaran dan kebutuhan. Mekanisme satuan pendidikan dalam menyusun dan melaksanakan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan daya dukungnya. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lain. c. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan pada setiap propinsi. pengawas sekolah. Hal-hal yang harus dilaksanakan dan dicapai satuan pendidikan seperti yang dituntut dalam Permendiknas No. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan d. 23 dan 24 tahun 2006 Rapat kerja ini terutama untuk menentukan kesamaan persepsi dan pemahaman berbagai pihak pengelola pendidikan dari unsur sekolah. 22. Instrumen yang telah disusun diujicoba secara terbatas untuk memvalidasi keterbacaan dan kesesuaiannya dengan tujuan monitoring (3) Rapat koordinasi membahas implikasi Permendiknas No. orangtua. dinas pendidikan. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan Rapat kerja ini juga untuk mengatur koordinasi dalam pelaksanaan monitoring sehingga diperoleh cukup data dan informasi kualittaif dan kuantitatif yang akurat dan aktual tentang pencapaian penerapan dan pelaksanaan Permendiknas No.siswa. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 54 . 22 dan 23 tahun 2006 b. pemerintah. 22. metode penggunaan instrumen dan sumber data yang diperlukan. guru. Pelaksanaan monitoring mengacu pada pedoman monitoring yang mengatur tentang: kriteria petugas pelaksana monitoring. dan kelengkapan data dan informasi yang diperlukan sebagai hasil monitoring serta hal-hal lain yang ditemukan selama pelaksanaan monitoring. serta dokumen yang relevan.

22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan pada seluruh propinsi. Bentuk Instrumen yang dikembangkan dalam monitoring ini berupa kuesioner. Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan penyusunan rekomendasi kebijakan dalam penyusunan dan pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan dan evaluasu. dalam mengefektifkan pelaksanaan Permendiknas No. dan pedoman observasi. pedoman wawancara. PENGEMBANGAN INSTRUMEN Instrumen disusun dan digunakan untuk mengukur atau mendapatkan data dan informasi pencapaian pelaksanaan Peremndiknas No. 22 dan 23 tahun 2006. (6) Rekomendasi kebijakan kurikulum Rekomendasi atau saran kebijakan kurikulum disusun berdasarkan analisis hasil monitoring meliputi rekomendasi bagi satuan pendidikan dan komite. potret atau profil tingkat pencapaian dan efektifitas penerapan atau pelaksanaan Permendiknas No. (7) Penyusunan laporan Sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan secara keseluruhan. komite sekolah maupun dinas pendidikan di daerah. Metode wawancara dapat dilakukan secara tertulis ataupun langsung dengan mengacu pada panduan wawancara. guru. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 55 . bentuk pembinaan oleh dinas kabupaten/kota/propinsi. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan. tindakan kebijakan oleh pemerintah dan stakeholder terkait. B. Observasi digunakan untuk mengamati unjuk kerja (kinerja) pada saat pembelajaran di sekolah maupun obaservasi situasi dan kondisi pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan yang memuat aspek – aspek yang akan dilihat saat monitoring dilakukan. supervisi atau pembinaannya oleh pengawas sekolah. perlu dibuat laporan beserta hasil-hasilnya pada tiap langkah kegiatan. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi kepala sekolah. dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi dan pemerintah.(5) Analisis Hasil Monitoring Data dan informasi hasil monitoring dan kajian dokumen pendukund yang relevan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan gambaran.

C. siswa. Dalam pengembangan kuesioner memperhatikan aspek kepraktisan. Selain itu. Teknik sampling dilakukan secara multi-stages dengan mengkombinasikan sistem cluster samples dan purposive samples. Walaupun perlu dilakukan kroscek atau verifikasi dengan sumber data yang lain untuk mendapat informasi yang lebih otentik. komite. Kuesioner dengan jawaban (options) tertutup mudah dianalisis tetapi tidak memberi peluang responden memberi tanggapan lain yang mungkin sangat berguna. Pada masing-masing propinsi akan dilakukan monitoring pada tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang meliputi pendidik. kepala sekolah. terbuka. guru. Aspek lain yang tidak mungkin dimonitor melalui kuesioner dapat dimonitor melalui observasi atau teknik monitoring lainnya. atau pernyataan sikap. Direncanakan keseluruhan responden monitoring pada setiap propinsi melibatkan siswa SD/MTs. juga digunakan descriptive statistically Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 56 . tenaga kependidikan.Metode kuesioner disusun dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan tertulis yang telah disiapkan yang dapat berbentuk pertanyaan dengan jawaban tertutup. dan orang tua. dan SMP/MTs. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Populasi dalam monitoring ini adalah unsure dari satuan pendidikan dasar dan menengah dan komitenya serta dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi pada 33 propinsi. Penilaian diri merupakan salah satu bentuk kuisioner yang khusus untuk melakukan evaluasi diri tentang komitmen Penilaian diri cukup bermanfaat untuk dilakukan karena pelaksana diklat akan lebih jujur mengungkapkan pendapatnya tentang pelaksanaan program diklat. dan sarana pendukungnya. D. kegunaan informasi yang dijaring. Kuesioner dengan jawaban terbuka memberi peluang pada responden menyatakan pendapatnya secara bebas tetapi memerlukan waktu untuk menganalisis. dan keakuratan jawaban. orangtua. Dinas pendidikan. TEKNIK ANALISIS DATA Analisis data yang digunakan adalah content analysis berupa studi dokumen untuk membandingkan berbagai temuan yang memiliki karakteristik berbeda-beda dan narrative analysis untuk melihat kohorensi temuan / informasi dari dokumen ataupun tanggapan para responden yang berkaitan dengan ketersediaan buku-buku pelajaran dan kesesuaiannya dengan kurikulum. Monitoring pada tingkat dinas penddikan kab/kota/propinsi meliputi ketenagaan dan program kerja dalam mendukung pelaksanaan Permendiknas No. pengawas. 22 dan 23 tahun 2006.

Sedangkan guru. PROFIL RESPONDEN Responden yang dilibatkan dalam monitoring ini berasal dari dinas pendidikan provinsi. Sebagian besar (53. umumnya (97.3% responden kepala sekolah berpendidikan sarjana strata 1.2% sarjanan strata 3. data yang diberikan belum mewakili daerah-daerah di luar ibukota provinsi.7 berpendidikan sarjana strata 2.7%). dan hanya 14. SLTA (13. dan sekolah-sekolah yang berada di ibukota provinsi. namun karena semua responden berasal dari ibu kota provinsi. sarjana strata 2 (18.8%). 80. 1. 84. Lebih separoh (58. dan 19.0%). Responden dipilih secara acak. 11. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 57 . Sekolah Responden yang terdiri atas kepala sekolah dan guru dengan latar belakang pendidikan sebagian besar sarjana.4% yang masa kerjanya 10 tahun ke bawah. E.8) menyatakan ikut sosialisasi kurang dari seminggu. hasil monitoring dapat dijadikan sebagai barometer (memprediksi) bagaimana kondisi di luar ibu kota provinsi. 2. Dari responden yang mengikuti sosialisasi. untuk memperkirakan 1. serta 2. Responden yang berlatar belakang pendidikan SLTA adalah staf teknis yang hadir mewakili atasannya.5%). Dinas Pendidikan Sebagain besar responden yang berasal dari pejabat struktural Dinas Pendidikan berlatar belakang pendidikan sarjana strata 1 (64.9%) telah memiliki masa kerja antara 21-30 tahun.4 masih berpendidikan diploma.5% adalah sarjana starta 1.9 sarjanan strata 2. dinas pendidikan kota di ibu kota provinsi.5) responden mengaku belum pernah ikut sosialisasi. dan diploma (3.analysis untuk mendeskripsikan berbagai aspek variabel yang berkaitan dengan bukubuku pelajaran. Namun demikian.

guru (27. 57.4% dari SMK. Keadaan ini hampir sama dengan guru. 29. Komite/Orang Tua Siswa Lebih dari separoh (69%) responden yang berasal dari orang tua/komite berpendidikan sarjana strata 1.6 % sarjana strata 2.1 % yang memiliki masa kerja di atas 31 tahun. Pengembangan dan Penerapan KTSP secara Nasional Informasi tentang pengembangan dan penerapan KTSP secara nasional menggunakan sumber data yang diperoleh dari dinas pendidikan propinsi.6% dengan masa kerja 10 tahun ke bawah. lebih separoh responden guru berasal dari SMA/MA (58.6% diploma. dan hanya 6. 13. BAB IV PEMBAHASAN HASIL MONITORING A. 8.3 % antara 21-30 tahun.8% dengan masa kerja 21-30 tahun.1%) memiliki pekerjaan berwiraswasta.7% berasal dari SMK.3% SLTA. 3.6% di antara kepala sekolah berasal dari SM/MA dan 42.5% kepala sekolah yang menjadi responden memiliki masa kerja 11-20 tahun. dan 5.3%).Berdasarkan masa kerjanya. Hal ini disebabkan belum optimalnya koordinasi antara Dinas Pendidikan Provinsi dengan Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 58 . 37. Sebagian besar dari mereka memiliki pekerjaan tetap sebagai pegawai negeri sipil dengan rincian sebagai berikut: karyawan PNS sebanyak 41. 48.8% di bawah 10 tahun. Selebihnya (30.8%). 16.7%. Tidak ada yang berlatar belakang pendidikan SD. Sedangkan guru yang menjadi responden monitoring ini lebih separo (57. dan 41. dan dosen 5.6%. 7.1%) memiliki masa kerja 11-20 tahun. Tim studi belum bisa mendapatkan data kuantitatif pelaksanaan KTSP oleh satuan pendidikan pada tingkat propinsi karena propinsi belum memiliki data rincinya dari kabupaten/kota maupun dari sekolah di wilayahnya.

tingkat pemaham pelaksana dilapangan kurang memadai. pelaksanaan monitoring pada tahun 2007 ini diawali dengan melihat proses sosialisasi di masing-masing provinsi. Kegiatan-kegiatan yang bersifat mandiri yang dilaksanakan oleh masing-masing Kabupaten/Kota melalui MGMP atau tidak semuanya terpantau oleh Dinas Provinsi. 8. Tabel 1 : Gambaran jumlah kabupaten/kota yang sudah mendapat sosialisasi atau workshop SI. 10. 3. 4.pendidikan Kabupaten/Kota dalam hal pendataan. Atas dasar pengalaman tersebut. Para pejabat struktural maupun staf teknis di Provinsi hanya bisa memberikan gambaran tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan melalui kegiatan provinsi. Pelaksanaan Sosialisasi di Setiap Provinsi Berdasarkan pengalaman yang lalu. SKL dan KTSP pada tiap propinsi No Provinsi Jumlah kab/ kota Kab/Kota yang sudah sosialisasi Frekuensi Kegiatan Puskur Penyelenggara PUSAT Ditjen Mandikdasmen LPMP/PMPTK DAERAH Dinas pddk Dinas Provinsi Pddk Kab/kota 1. 1. Data yang yang diambil adalah (1) jumlah daerah yang telah melakukan sosialisasi di tiap provinsi. Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Bengkulu Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Selatan Lampung Kepulauan BangkaBelitung Kepulauan Riau Banten Jawa Barat 21 25 9 10 11 19 14 10 7 7 6 25 21 25 9 10 11 19 14 10 7 6 6 25 1 2 1 1 1 2 1 1 2 2 1 3 V V V V V V V V V V V V V V V V V V v - v v V V V V V V V - - Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 59 . 5. 6. 7. demikian juga kegiatan yang dilakukan oleh sekolah-sekolah dengan memanfaatkan dana swadaya. 11. Akibatnya. terutama terkait dengan pelaksanaan KTSP. 9. Kegiatan-kegiatan seperti ini cukup banyak dilakukan karena di beberapa daerah karena mereka sangat proaktif. Untuk itu data yang digunakan adalah data kualitatif mengenai pengembangan dan penerapan KTSP yang bersumber dari persepsi dinas propinsi. Berikut gambaran secara umum pelakasanaan sosialisasi di masing-masing provinsi. baik Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota maupun sekolah. 2. (2) sasarn sosialisasi di masing-masing daerah. setiap pergantian kebijakan tentang kurikulum sangat dirasakan bahwa proses sosialisasi kurang optimal. 12.

21. 34. 28. Tabel di atas juga menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan oleh langsung oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota hampir tidak terpantau oleh Dinas Pendidikan Provinsi. 32. 29. umumnya data kegiatan sosialisasi yang melibatkan Dinas Pendidikan Provinsi. seperti yang dilakukan oleh Diraktorat terkait. 15. tetapi belum ada laporan resmi sehingga Dinas Pendidikan Provinsi tidak memiliki data tentang itu. hampir semua daerah telah melakukan sosialisasi secara mandiri. 16. 20. 22 dan 23 tahun 2006 tentang SI (standar isi) dan SKL (standar kompetensi lulusan). 22. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada keharusan bagi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau sekolah untuk melaporkan pelaksanaan kegiatan sosialisasi yang dilakukan secara swadaya atau melalui APBD tingkat II. 27. dan dana APBN yang ada di Dinas Pendidikan Provinsi serta APBD provinsi. 30. 24. Oleh karena itu. 31. 26. 18. Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Daerah Istimewa Yogyakarta Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Gorontalo Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Irianjaya Barat Papua (Irianjaya) Total 6 35 38 5 9 9 16 12 13 14 13 5 23 10 10 9 6 8 8 9 20 442 6 35 38 5 9 9 16 12 13 14 13 5 23 10 10 9 5 8 8 9 20 440 4 3 4 2 2 2 2 1 2 2 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 V V V V V V V V V V V V V V V V - V V V v v v V v v v v V V V V V V V V - V V V v v v v v v v v v v v v v - v V V v - Dari tabel jelas bahwa secara keseluruhan semua kabupaten/kota telah mendapatkan sosialisasi atau workshop tentang kebijakan dan penerapan Permendiknas No. yaitu kegiatan yang dilakukan melalui pembiayaan APBN. Meskipun pada tabel di atas terlihat bahwa hanya 4 kabupaten/kota yang melaksanakan kegiatan sosialisasi. data yang ada di Dinas Pendidikan provinsi. Kegiatan yang menggunakan biaya APBD Kabupaten/Kota atau swadaya sekolah umumnya tidak dilaporkan ke Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 60 . 25. Menurut prediksi Dinas Pendidikan provinsi. sosialisasi pada umumnya adalah unit Pusat dan Daerah Penyelenggara Pendidikan (Dinas Propinsi/Kab/Kota). 19. 33. 23.13. 14. seperti yang terlihat pada table di atas. hal ini bukan berarti daerah lain tidak melaksanakan. DKI. 17.

orangtua sudah menyerahkan urusan ini ke sekolah. Padahal secara kebijakan. Hal ini mungkin disebabkan belum meluasnya sosialisasi dan mungkin penyelenggaraan oleh lembaga profesional lain tidak terpantau oleh Dinas. pengembangan KTSP disusun bersama oleh pihak sekolah dan komite sekolah.7 26. Perusahaan swasta/BUMN. atau lembaga profesional lainnya yang cukup partisipasif dalam program KTSP ini. 2. MGMP KKKS PGRI Organisasi Pengawas Yayasan Dewan Pendidikan Komite % 78.Pendidikan Provinsi. dewan pendidikan dan komite sekolah. sosialisasi juga dilakukan terhadap organisasi profesi pendidikan lain berikut ini. MGMP (musyawarah guru mata pelajaran).3 26. c. b. Selain sekolah. Jelas bahwa unit yang terlibat dalam sosialisasi sudah mewakili keseluruhan stakeholder pendidikan. atau pemahaman pengembangan KTSP yang perlu dipertajam. Hal ini mungkin disebabkan sekolah masih menganggap tingkat keprofesionalan orangtua masih bervariasi.3%) dalam pelibatan pengembangan KTSP. f. baru kemudian yayasan. Penerapan KTSP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 61 . LSM Pendidikan. KKKS (kelompok kerja kepala sekolah). g. Sasaran Sosialisasi a. Namun. pengawas sekolah. Hal ini mengibatkan Tim Monitoring kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang kabupaten/kota atau sekolah mana saja yang telah melakukan sosialisasi secara mandiri. e. tampaknya peran komite sekolah masih dianggap kecil (26.2 36.9 78. SKL.9 21. d. dan KTSP.1 63. mereka telah ikut di beberapa kegiatan seperti yang digambarkan pada tabel berikut: Tabel 2 : Organisasi Profesi dan Unit terkait yang menjadi sasaran ssosialisasi SI. Menurut Dinas Propinsi belum ada pihak terkait lain seperti perusahaan penerbitan buku pelajaran.3 Dari tabel tersebut jelas bahwa sasaran utama sosialisasi atau workshop KTSP adalah sekolah ditambah gugus sekolah (kelompok sekolah). Menurut responden.

Hal yang perlu dicermati hádala. Banyak guru yang belum siap menyusun silabus sendiri. g. belum menjadi prioritas (26.7%). penyusunan KTSP oleh sekolah dilakukan dengan metode kombinasi melalui koordinasi.8 26. masih cukup banyak sekolah yang baru pada taraf mempelajari kebijkan KTSP dan menggunakan kurikulum sebelumnya. Ada yang menyatakan bahwa KTSP disusun oleh sekolah di bawah koordinasi Dinas pendidikan. adaptasi dan sebagainyaP .3%). Satuan pendidikan menyusun sendiri mengacu SI. dan pada bagianbagian tertentu diadopsi. e. b. namur terbatas pada beberapa bagian saja. mereka menyebut menyusun sendiri tetapi secara bersama di gusus. d.Dalam hal penyusunan KTSP. sebagian besar penerapan KTSP pada tiap kabupaten/kota selama tahun 2006 belum intensif (31.3%). jawaban boleh lebih dari satu). Tabel 3 : Penusunan KTSP oleh Satuan Pendidikan Penyusunan KTSP a. menggunakan tim. sehingga silabusnya sama. sehingga ada yang mengadopsi. beberapa sekolah menyusun sendiri. menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi. serta menyusun senidiri.9 26. Ada unsur adopsi dan adaptasi. f. dalam arti. Menurut pemantauan Dinas Propinsi. serta mengadaptasi dan mengadopsi model kurikulum. dan yang menyatakan intensif hanya (15.6%). c.9%) menyatakan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 62 .1 36. mengadaptasi. Lebih separoh daerah Kondisi (57. Untuk kategori ini. lainya tidak memberikan jawaban (26.3% Total persentase respon melebihi dari 100% karena umumnya responden menjawab lebih dari satu pilihan. SKL dan model kurikulum KTSP KTSP disusun oleh sekolah dengan koordinasi Dinas Pendidikan KTSP disusun oleh tim yang dibentuk oleh Dinas Pendidikan Satuan pendidikan mengadaptasi model kurikulum KTSP dari pusat Satuan pendidikan mengadopsi atau menggunakan model kurikulum KTSP dari pusat Masih pada taraf sosialisasi dan mempelajari perangkat dokumen Masih menggunakan kurikulum sebelumnya % 73. umumnya sekolah-sekolah menyusun sendiri KTSP ( 73.3 42. dan bahkan ada yang menyusun secara bersama-sama beberapa sekolah.3 57.8%). Beberapa sekolah menyusun di bawah koordinasi dinas dengan menggunakan tim pengembang dari dinas. tersebut berbeda dengan tahun 2007. Berikut secara lengkap informasi tentang proses penyusunan KTSP menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi (mulai dari yang frekuensinya tinggi. Dalam pengembangan KTSP.8 15. misalnya mengenai seilabus.

Tentang kondisi yang berkaitan dengan pelaksanaan KTSP. Beberapa alasan yang dikemukakan oleh daerah.2%). Ini menunjukkan KTSP telah menjadi program dengan prioritas bagi tiap propinsi/kabupaten/kota. dan hanya 5.kabupaten/kota mulai menerapkan KTSP secara intensif. Sebagian sekolah (36. mengapa intesitas penerapan KTSP masih beragam.Jadi. Tabel: 4 Proses penerapan KTSP Proses/Tahapan a. c. dan 26.6 Tabel di atas menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil sekolah yang masih menggunakan kurikulum sebelumnya (31. Pada umumnya sekolah mulai menerapkan KTSP pada awal tahun pelajaran 2007 secara bertahap (73.6%). 10% menyatakan sangat baik. b. dan sebagian lagi menyatakan bahwa masih perlu waktu untuk melakukan sosialisasi di kalangan warga sekolah dan masyarakat karena sebagian besar di antara warga sekolah dan masyarakat belum memahami kebijakan tentang KTSP ini.7%). Faktor yang paling mentukan keterlaksanaan KTSP menurut pernyataan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 63 .6 36.8 73. rata-rata melaksanakan secara bertahap.8%) telah menerapkan secara efektif di semua kelas. Tingkat kesadaran dan komitmen sekolah untuk mengembangkan dan menerapkan KTSP cukup tinggi. melihat sekolah yang terdekat dengan mereka agar dapat secara bersama-sama menyusun KTSP. Umumnya sekolah yang menerapkan secara kelseluruhan adalah sekolahsekolah yang sudah melaksanakan piloting KBK (2004). sosialisasi dan workshop KTSP yang mulai meluas dan tingkat pemahaman KTSP yang membaik bagi seluruh stakholder. sebagian besar daerah memprogramkan mulai tahun 2007 menerapkan KTSP. Alasan lain adalah kurangnya dana pendukung untuk penyusunan KTSP. diantaranya adalah: menunggu sampai 2009 (batas akhir yang diberikan oleh pemerintah untuk menerapkan KTSP). peningkatan prioritas program KTSPdisebabkan oleh tuntutan bahwa tahun 2009 KTSP harus sudah diterapkan menyeluruh pada setiap satuan pendidikan.3% responden tidak memberikan jawaban. Berkaitan dengan hal ini.7 31. d.3% yang menyatakan kurang. Sebanyak 15. sebagian besar daerah menyatakan sudah cukup baik (84. Telah menerapkan secara efektif pada seluruh kelas dengan silabus dan RPP yang disusun sendiri Telah menerapkan secara efektif pada seluruh kelas dengan silabus dan RPP yang diadopsi Telah menerapkan secara bertahap Masih menggunakan kurikulum sebelumnya % 31.8% daerah menyatakan kabupaten/kota belum menempatkan penerapan KTSP sebagai prioritas.

dan yang menyatakan sangat memadai hanya 10.2 63. e.7 73.7 78.1%).5 10.3 31.5 10.4 63. Keberadaan Dokumen SI dan SKL Menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi. penyusunan kurikulum.8 15.8 10.1 37. dan model KTSP (94. Namun yang perlu dicermati dan ditingkatkan kompetensi guru Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 64 . sarana dan prasarana (47. d.2 57.5 5.5 10.4 K 26.3 26.9%). i.3 15. Perlu dilakukan berbagai upaya komunikasi interaktif dan komitmen sekolah dan Dinas melalui hubungan langsung.3 5.3 26. menurut informasi dari Dinas Pendidikan.4 S 26. g.8 5. kesiapan guru berkaitan dengan pengembangan dan penerapan KTSP oleh sekolah cukup memadai. dan RPP.9 47. f.9 68. Sebagian responden menjawab gabungan antara siswa dan orang tua (20.9 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum guru telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik. Kesiapan Sekolah dalam melaksanakan KTSP: Secara umum. Hal ini mennjukkan perlu adanya komitmen manajemen yang profesional pada tingkat sekolah untuk mengembangkan dan menerapkan KTSP 3.6 47.5 15. Keberhasilan program KTSP sangat ditentukan oleh sumberdaya pendidik dan tenaga kependidikan.8 19. c.6 31. ini berarti.5%).2 52. Kualifikasi akademik Penguasaan isi mata pelajaran Menyusun kurikulum (KTSP) Menyusun silabus Menyusun RPP Menilai kualitas kurikulum.8%).7 68.5 5.2 57.1 21.3 10.10%). b. kecuali dalam pengembangan bahan ajar mandiri Lebih lengkap informasi tentang kesiapan guru dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel: 5 Kesiapan Guru dalam Pengembangan dan Penerapan KTSP SMA (%) Aspek a. Dokumen SI.3 10. h.8 15.4%).3 5. silabus dan RPP Mengembangkan alat penilaian berbasi kompetensi Menyusun bahan ajar (LKS dsb) Membuat sumber belajar mandiri S 21.4 73.4 63.Dinas pendidikan Provinsi adalah guru (78. penguasaan mata pelajaran.3 C 52.6%) dan kurang memadai (15.6 K 15.5 5.9 63.3 26. 4.9 73.7%). SKL dan model KTSP sudah tersedia pada tingkat kabupaten/kota. orang tua dan masyarakat (10. Sebagian besar menyatakan ketersediaan dokumen cukup memadai (52.5%.9 68.8 15.8 10.3 10. SKL.1 15.6 57. akses informasi oleh satuan pendidikan tentang kebijakan KTSP seharusnya mudah. serta pemanfaatan teknologi informasi agar sekolah terbantu dalam mengembangkan dan menerapkan KTSP.8 15.5 SMK (%) C 57. umumnya kabupaten/kota sudah mendaptkan dokumen SI. silabus.3 26.1 21. siswa (21.

adalah dalam melakukan pengembangan penilaian berbasis kompetensi. Pengembangan bahan ajar yang meliputi buku teks. Tampaknya guru belum konfiden dalam mengembangkan alat penilaian walaupun itu sudah dijalani sehari-hari. modul maupun referensi lainnya juga perlu dipertimbangkan karena guru lebih bergantung kepada penerbit buku Kesiapan kepala sekolah dalam pengembangan dan penerapan KTSP. menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut. pengembangan bahan ajar serta pengembangan sumber belajar mandiri. padahal dalam KTSP. seorang guru harus melakukan penilaian secara profesional dan dapat dipertanggungjawabkan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 65 .

9 57.3 15. namun tidak mendalam pada tingkat detil kurikulum maupun silabus mata pelajaran.9 31.6 63. silabus dan RPP Membantu masalah guru dalam menyusun silabus dan RPP Mengelola guru dan tenaga kependidikan menyusun KTSP Membina guru dalam melaksanakan pembelajaran S 26.8 21.1 52.8 36.7 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum pengawas sekolah telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik (namun ini masih perlu ditingkatkan. silabus.6 K 26.1 21.3 26.3 S 21. silabus dan RPP Membantu masalah guru dalam menyusun silabus dan RPP Mengelola guru dan tenaga kependidikan menyusun KTSP Membina guru dalam melaksanakan pembelajaran S 31.4 52.3 29.3 5. dan RPP.5 C 42.1 26.Tabel 6 : Kesiapan Kepala Sekolah SMA Aspek a.9 47.8 21.2 57.8 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum kepala sekolah telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik. e.8 SMK C 57.4%).4 K 21.3 5.4 68.6 94.3 10. Program peningkatan kompetensi pengawas dapat berbentuk Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 66 .9 63.3 21.8 5.9 63. menilai kualitas kurikulum.1 94.5 15. Kualifikasi akademik Menyusun kurikulum (KTSP) Menilai kualitas kurikulum. e.3 5.2 57.6 15.2 68. d. penyusunan kurikulum.6 31. penguasaan mata pelajaran.4 68. serta mengelola guru dalam pengembangan KTSP. 5. Yang perlu dicermati dan ditingkatkan kompetensi kepala sekolah adalah walaupun secara umum kepala sekolah berkompeten dalam pengembangan kurikulum.3 5.6 36.6 36. c. dan RPP.4%). karena angkanya baru 47.4 57.3. penguasaan ini secara umum masih diperlukan. f.1 5. Pada jenjang pendidikan dasar. membantu masalah guru dalam pengembangan silabus dan RPP (namun ini masih ditingkatkan karena angkanya baru 47. b.3 10. Kualifikasi akademik Menyusun kurikulum (KTSP) Menilai kualitas kurikulum.6 15.6 31. Gaya Kepeminpinan kepala sekolah juga perlu ditingkatkan untuk mengelola guru dan tenaga lain dalam pengembangan KTSP.3 5.1 5. silabus. Tentang kesiapan pengawasa sekolah. b.1 26. Tabel 7 : Kesiapan Pengawas SMA Aspek a.3 C 42.6 15.6 57.3 SMK C 52. c.5 15.3 26.2 K 31.4 68.8 10.8 26.8 10. d. f.1 63. penyusunan kurikulum.9 68.4 68. menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut.7 S 31.9 K 15.8 36.5 15.

1 36. dan hanya 5.5 Lain nya 26. kebutuhan dan karakteristik sekolah dan peserta didik.5 - 21.5 10. Hal dimungkinkan karena berbagai hal yaitu: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 67 . Umumnya sekolah menyediakan dana dari anggaran belanja sekolah.1 78.1 21. serta membina guru dalam melaksanakan pembelajaran. Sosialisasi SI. b. diklat atau tugas belajar Penyediaan dan pemeliharaan prasarana dan sarana pendidikan 10. umumnya responden menyatakan bahwa penerapan KTSP berdampak pada penyediaan dana.6 63. bagi sekolah dengan sarana dan prasarana kurang memadai perlu mengembangkan KTSP yang sesuai dengan sekolah tersebut dan dapat dilaksanakan oleh sekolah tersebut.workshop pengembangan kurikulum.3 15. - 5. KKG.4 57. Ini berarti peran pengawas harus ditingkatkan fungsinya dalam pembianaan substansial sekolah mulai dari pengembangan kurikulum sampai pelaksanaan pembelajaran.9 c.9 63.5 Block Grant 21.4% menyatakan sangat baik. SKL dan KTSP Workshop /pengembangan KTSP.5 10.6 57.6 Tdk Mjwb 52. maupun sumber lainnya yang sah. silabus dan RPP pada sekolah tertentu secara bertahap Pengembangan kompetensi guru melalui uji kompetensi.4 31.9 63. MGMP dsb Workshop pendampingan pengembangan KTSP. banyak responden justru memilih tidak menjawab.5 - 15. 10.3 % yang menyatakan sangat baik. sekolah dapat mengembangkan sendiri alternatif sarana yang tersedia dari lingkungan sekolah.7 21. Sarana dan Pendanaan Hampir separoh responden menyatakan sarana dan prasarana sekolah sebagai pendukung KTSP masing kurang memadai (47. potensi.2 15. tidak sekedar memeriksa adminstrasi kurikulum dan pembelajaran di sekolah. Perlu dikritisi di sini bahwa pengembangan dan penerapan KTSP harus disesuaikan dengan kondisi.8 73. Blockgrant. Perlu juga ditingkatkan program mandiri pengembangan alternatif sarana. 47.1 - 15. Perlu dicermati di sini.5 Block Grant 10.8 21.5 Lain nya 21.2 d.1 Tdk Mjwb 47.8 10. Berikut tabel tentang sumber pendanaan sosialisasi KTSP: Tabel : 8 Sumber Pendanaan KTSP Tahun 2006 (dlm juta rupiah) Jenis Sosialisasi / Workshop APBD a. artinya sarana-sarana yang tidak tersedia atau rusak.9 Tahun 2007 (dlm juta rupiah) APBD 10. Berkaitan dengan pembiayaan.1 10.8 15.3%).2 52. silabus dan RPP dengan melibatkan berbagai sekolah. e. Ini berarti. 5.6 Dari tabel tersebut jelas bahwa program KTSP melibatkan berbagai sumber mencakup dana APBD.

Prioritas kedua adalah melakukan pendataan kuantitatif penerapan KTSP pada tingkat kab/kota. 36. penyediaan dokumen SI.8 d.8 5.5 15. workshop. Tampaknya koordinasi menjadi hal penting karena dengan adanya otonomi daerah.8 5. Melakukan koordinasi program dengan kab/kota Melakukan pendataan pencapaian penerapan KTSP pada tiap kab/kota Melakukan workshop pengembangan KTSP dan program supervisi klinis dengan kab/kota Melakukan supervisi klinis langsung ke sekolah-sekolah terpilih Penyediaan dokumen SI.6 36.3 4 5. dengan dinas kabupaten/kota dan dengan pusat.3 ksg 10.8 21. peran ini menjadi kurang. ditetapkan berbagai prioritas. b.8 2 15.8 10. Tabel: 9 Urutan Prioritas Kegiatan Jenis Program 1 a.1 15. workshop pengembangan KTSP dan supervisi klinis ke kab/kota dan 7. maupun pendampingan satuan pendidikan untuk mengembangkan KTSP.6%).5 15.5 26. Tim Pengembang Kurikulum (TPK) Provinsi (a). tidak tahu.3% yang menyatakan bahwa kabupaten/kota belum memiliki program sosialisasi. dan pendapingan satuan pendidikan dalam mengembangkan KTSP. keberadaan TPK Kesiapan tim sosialisasi KTSP tingkat provinsi (sesuai dengan SE Mendiknas No.7%) kabupaten/kota memiliki program sosialisasi.8 e. workshop. SKL dan model KTSP 52.3 - 10. Untuk merealisasikan program tersebut.5 21. terutama koordinasi dengan kabupaten/kota.8 20. 6. 33/MPN/SE/2007 tentang Pembentukan Tim Sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 68 . Prioritas utama adalah melakukan koordinasi program dengan kabupaten/kota (52. 26.pengetahuan responden yang rendah dalam masalah anggaran (hanya fokus pada program/kegiatan yang dijalankan).3 5. 36.8 c. untuk Hanya 26. dan tidak bersedia menjawab. Program Sosialisasi yang Berkelanjutan Menurut Dinas Pendidikan Provinsi.8 36. sebagian besar (73.3 15.1 Dari tabel tersebut jelas bahwa prioritas pertama Dinas Propinsi dalam program KTSP adalah melakukan koordinasi tingkat internal. Berikut urutan priritas kegiatan di Dinas Pendidikan Provinsi.3 36. SKL.8 Angka Prioritas 3 15.

pejabat struktural dan staf dinas pendidikan (89. yang dalam hal ini disebut Tim Pengembang Kurikulum Propinsi dalam membantu kabupaten/kota atau satuan pendidikan di wilayahnya dalam pengembangan KTSP adalah sebagai berikut.2 Belum 5. Ini dapat dipahami mengingat perubahan kebijkan kurikulum selama ini lebih bersifat adminstratif dari pada akademik.1%) misalnya APBS. dan sebagian lagi digali dari sumber lain(21. dan sebagian lagi ditandatangani oleh Kepala Dinas Dinas Pendidikan atasnama Gubernur. (c) Sumber dana untuk membiayai kegiatan TPK Propinsi Dalam hal pendanaan. dan jangka pendek.2%) telah menyusun program kegiatan yang terdiri dari program jangka panjang.8 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa hampir semu provinsi (94. (b) Anggota TPK Propinsi Tim Pengembang Kurikulum (TPK) provinsi melibatkan berbagai unsur Keanggotaan terkait. jangka menengah. Kelihatannya.7 %) telah membentuk Tim Pengembang Kurikulum. Pada sebagian daerah. keterlibatan unsur di luar sekolah (pejabat struktural dan staf teknis. sebagian daerah mengkombinasikan antara APBD dengan APBN (10.5%). perguruan tinggi(63. Pengukuhan Tim Pengembang Kurikulum melalui Surat Keputusan 3 Program Kerja TPK Propinsi Sudah 94. Pembentukan Tim Pengembang Kurikulum tingkat propinsi 2 2. sudah mengusulkan lewat APBD (42.4%) keberadaan tim tersebut telah dikukuhkan melalui Surat Keputusan Pemerintah Daerah.3%).2%). umumnya (63.7 68.6 36.1%). Tabel 10 : Keberadaan Tim Pengembang Kurikulum Provinsi No Keberadaan Tim TPK Provinsi 1 1.5%). kepala sekolah (73. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 69 .3%). dan sebagian besar (68. seperti pengawas (89. dan keterlibatan perguruan tinggi dan swasta relatif lebih kecil.3 31.1%). Pengesahan ini sangat diperlukan sebagai dasar pengajuan anggaran pembiayaan kegiatan tim pengembang kurikulum. Surat Keputusan ditandatangani langsung oleh Gubernur.Pendidikan). dan keterlibatan relatif swasta masih kecil (21.4 63.2%). Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab pengembangan profesi bagi tim pengembang kurikulum lebih cenderung didominasi oleh nuansa birokratis. Guru (84. dan bantuan para sponsor seperti penrbit buku. banyak daerah yang masih bingung. pengawas) cukup dominan. Dari semu daerah yang sudah membentuk Tim Pengembang Kurikulum. Sebagaian daerah yang tergolong proaktif.

setidaknya proses penyempaian informasi relatif lebih cepat. Namun demikian.9 yang mulai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Permendiknas No. 90. Untuk mengantisipasi hal ini.4 66. 1.9 66. pemerintah memanfaatkan teknologi komputer.4 % untuk SKL. Namun terdapat perbedaan pernyataan antara kepala sekolah dan guru.7 82. Kelengkapan Dokumen KTSP Berdasarkan pengalaman yang lalu. Ini berarti. ada kendala berkaitan dengan ketersediaan perangkat dan keterbatasan tenaga pengoperasion komputer. Untuk daerah terpencil bisa mencapai 5 – 10 tahun. 23 tahun 2006 Permendiknas No.2 92. 24 tahun 2006 Surat Edaran Mendiknas No.4 92.7 42.6 41. 33/MPN/SE/2007 (Tentang Sosialisasi Kurikulum Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model-Model Program Khusus (PLB) Tabel di atas memberikan gambaran bahwa secara umum kepala sekolah (93.4 74. 92. dan KTSP disosialisasikan sejak tahun 2006.5 89.2 69.9% untuk pelaksanaan SI dan SKL) menyatakan telah memiliki.1 47. banyak sekolah yang terlambat menerima informasi dan dokumen kurikulum. tim studi juga melakukan studi pengembangan dan penerapan KTSP bersumber dari pihak sekolah (sebagai sekolah sampel) yang terlibat dalam kegiatan ini.4 92.7 56. Pengembangang dan Penerapan KTSP oleh Sekolah Selain menggunakan data kualitatif dari dinas propinsi.1 40.7 9. Sudah bukan hal yang aneh ketika suatu sekolah baru menerima dokumen kurikulum pada saat kebijakan kurikulum telah berganti.6 13. Berikut tabel kepemiliakn dokumen kelangkapan SI. Dokumen-dokumen tersebut dikemas dalam bentuk file dan direkam ke CD. Hanya saja. dan didukung oleh kemajuan perangkat teknologi. sumber acuan pengembangan KTSP telah dimiliki oleh sekolah-sekolah tersebut. 22 tahun 2006 Permendiknas No.7 90.1 11.4 16. SKL.9 70. Hal ini sangat memungkinan untuk mempercepat proses distribusi.B. setiap pergantian kebijakan kurikulum. Berikut adalah tabel latar belakang responden yang terlibat dalam studi. Frekuensi kepala sekolah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 70 . Tabel 11: Kepemilikan dan Kelengkapan Dokumen KTSP No Jenis Dokumen Sudah Memiliki (%) Kepala Guru Sekolah 93.1 77.9 % SI.7 22.4 85.

66. dari dinas pendidikan maupun piha lainnya.yang telah menenrima dokumen tersebut lebih tinggi dari pada guru. cetakan. model pengembangan diri. model pembelajaran tematik di SD dan model program khusus untuk pendidikan khusus. Menurut guru baru sekitar 70. Sayangnya tim studi tidak sempat melacak alasan mengapa terjdi perbedaan yang cukup signifikan. Hal ini agar segera diupayakan untuk menjamin pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan berjalan secara efektif dan efisien.7 %untuk SKL dan aturan pelaksanaannya. Sumber acuan lain yang harus dimiliki sekolah adalah model muatan lokal. model pembelajaran terpadu IPA/IPS di SMP. Perbedaan ini menunjukkan bahwa mungkin saja sebagian kepala sekolah belum sempat menyampaikan dokumen tersebut kepada guru oleh karena berbagai alasan. Secara rinci adalah seperti tabel berikut Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 71 . Hal lain yang perlu juga dicermati adalah bahan-bahan tersebut harus bisa diakses secara mudah oleh semua insan di sekolah terssebut.2 % yang menyatakan telah menerima dokumen SI. 2. Cara Memperoleh Dokumen Pada umunya sekolah/satuan pendidikan mendapat dokumen tersebut dengan berbagai cara melalui mengkopi sendiri dalam bentuk CD. sementara guru dan kepala sekolah yang diundang berasal dari sekolah yang sama.

1 7.7 13.2 22.8 25.1 7.6 15.2 1.1 9.3 9.1 6. 22 tahun 2006 Permendiknas No.1 3.2 12.0 9.0 1.5 - GR 2. 24 tahun 2006 SE Mendiknas No.3 34.1 12.5 12. Orientasi dan mobilitas b.1 8.3 30.0 - 1.2 - - 3.4 1. 23 tahun 2006 Permendiknas No.4 1.2 3.1 13.7 13.2 1.5 4. Bagi yang sudah memperoleh. Guru 67.9%.Tabel 12 : Cara memperoleh dokumen kelengkapan KTSP No Jenis Dokumen Copy sendiri dalam bentuk CD KS 30.5 1.9 8.8 26. Bina Komunikasi.5 4.1 9.7 GR 23. Bina gerak e.2 13.1 6.6 23. Bina diri dan bina gerak KS 1.2 2.8 13.5 9.9%.1 7.2 4.2 1.8 23.4 4.2 6.3 3.1 12.1 1.6 12.6 9.8%)`menyatakan sulit memperoleh dokumen KTSP.2 1.1 20.5 9.1 10.3 28.5 Copy sendiri dalam bentuk cetak KS 15.0 7.6 16.1 8.5 1.8 33.1 9.8 22.5 Dibeli dari pihak lain 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Permendiknas No.7 16.0 3.5 4.2%. guru 48.1 9. Pemahaman Isi dokumen berkaitan KTSP Sebagian besar responden (Kepala sekolah 68.2 31.1 3.1 15.5 9.1 7.5 7. Bagi kepala sekolah yang belum memperoleh dokumen tapi sudah pernah mendapatkan informasi tentang peraturan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 72 .4 1.1 6.1 13.2 22.2 - 1.1 7.0 4.7 23.1 11.5 15. Bina diri d.6 (%) Dari Dinas Pendidikan dalam bentuk cetak KS GR 6.5 6. Bina pribadi dan sosial f.3 6. umumnya responden (Kepala Sekolah 87.2 3.0 16.8 2.4 2.7 8.5 1.) menyatakan sudah mempelajari. persepsi bunyi.4 2.3 33.1 3.2 1.8 19.0 2.0 1.6 10.3 9. dan irama c. 33/MPN/SE/2007 (Ttg Sosialisasi Kurikulum Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model Program Khusus (PLB) a.5 9.1 10.5 1.6 Cara Memperoleh Dari Dinas Pendidikan dalam bentuk CD GR KS GR 15.0 3.1 6.

Sedangkan bagi para guru. Hal ini dapat dilakukan tidak hanya dalam bentuk sosialisasi saja tetapi juga melalui workshop dengan menggunakan media langsung (rapat kerja). tentang bina diri dan gerak. fleksibel.6%).7%). media Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 73 . 24 tahun 2006 Surat Edaran Mendknas No. Mereka mendapatkan informasi tersebut dari Kepala Dinas 15. dan KTSP No 1 Jenis Dokumen Permendiknas No. berikut jawaban yang mereka berikan: Tabel 13 Jawaban Responden tantang Dokumen SI. lainya dari pengawas atau teman sejawat yang pernah mengikuti sosialisasi. 22 tahun 2006 Permendiknas No. tentang bina emosi dan sosial dan buku tentang keterampilan yang menunjang 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa responden mengetahui dokumen hanya sekadar kulitnya saja. pengawas (10. SKL. sedangkan apa yang tertera secara eksplisit dan implisit di dalamnya.2%. b. tentang bina diri.tersebut. d. sesuai kondisi sekolah. c. Ketika diminta untuk mendeskripsikan isi dokumen tersebut untuk melihat apakah mereka telah mempelajari dan memahaminya.7%) dan teman (10. 33/MPN/SE/2007 (Tentang Sosialisasi Kurikulum) Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model-Model Program Khusus (PLB) Deskripsi Singkat Tentang standar isi yaitu lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan Berisi tentang standar kompetensi lulusan utk satuan pendidikan dasar dan menengah Mengatur tentang pelaksanaan peraturan mendiknas tentang standar isi dan SKL untuk stuan pendidikan dasar dan menengah Edaran/himbauan untuk segera mensosialisikan & menerapkan KTSP mulai tahun pelajaran 2006/2007 Yaitu tentang contoh kurikulum tingkat satuan pendidikan yang bisa dikembangkan Yaitu tentang contoh format silabus (deskripsi tentang pokokpokok materi pembelajaran) Contoh format rencana pelaksanaan pembelajaran yang bisa dikembangkan Yaitu contoh format silabus dari muatan lokal yang bisa dikembangkan sesuai karakteristik lingkungan di sekitar sekolah Yaitu format kegiatan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekpresikan dirinya IPA terpadu diartahkan ke lingkungan ttg pengelolaan alam sesuai dgn kondisi lingkungan di kep. Perlu dilakukan berbagai upaya agar pemahaman tentang kebijakan pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan memiliki persepsi yang sama. 23 tahun 2006 Permendiknas No. Babel Pada pembelajaran tematik guru harus lebih kreatif membuat alat peraga atau pembelajaran atau menyenangkan sehingga anak tidak bosan Berisikan tentang program khusus: a. sama sekali belum dipahami. BPM. mereka mendengar dari Kepala Sekolah (22. e. tentang OM.

9%.0%). dengan menggunakan bahan yang jelas. dan adopsi dari contoh-contoh yang ada (7.2% responden guru beranggapan demikian. Demikian pula 51. disusun sendiri (13. dan adopsi dari contoh-contoh yang ada (3. kondisi masyarakat Mata pelajaran mana yang diajarakan lebih banyak jamnya SDM yg ada belum mampu. disusun sendiri (16.2%) tidak memberikan jawaban.1%).1%). (93.9%). Penyusunan KTSP Sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah mereka telah menyusun KTSP. Sedangkan responden guru yang menyampaikan sekolahnya telah menyusun KTSP adalah 86.cetak. 60% kepala sekolah menganggap tidak sulit menyusun KTSP. dan praktis.7%). II. media televisi radio. 4. dan internet secara interaktif. sederhana.9%). Bagi yang merasakan kesulitan dalam penyusunan KTSP menyampaikan berbagai alasan. dan III Dalam kegiatan pembelajaran terkendala pada waktu yang terbatas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 74 . di antaranya sebaai berikut: Tabel 14 : Kesulitan dalam Menyusun KTSP Aspek Merumuskan Visi dan Misi Sekolah Merumuskan tujuan sekolah Menetapkan mata pelajaran Menetapkan dan mengembangkan muatan lokal Menetapkan dan mengembangkan kegiatan pengembangan diri Menetapkan pengaturan beban belajar Menetapkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) Menetapkan kriteria kenaikan kelas Kesulitan dan Alasan menyamakan persepsi dengan semua guru & karyawan kesesuaian antara tujuan sekolah dgn situasi. Penyusunan dilakukan sebagian besar dengan cara adaptasi atau penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan sekolah (61. masih kurang memadai sarana dan prasarana pendukung Belum ada tenaga pemikir/pakar dalam hal pengembangan diri Kemampuan menyusun masih belum maksimal Sulit menentukan KKM karena harus melihat setiap SKL dan KD yang banyak Jika siswa mendapat nilai yang sama untuk menetapkan kriterianya agak sulit namun sudah diulang dengan tes-tes yang lain Tidak diberikan kepada pihak sekolah dalam pengambilan keputusan terakhir Tidak semua budang studi mudah dalam menerapkan pendidikan kecakapan hidup khususnya bidang studi PKN Tidak cukupnya panduan untuk itu Menetapkan kriteria kelulusan Menentukan pelaksanaan kegiatan pendidikan kecakapan hidup Menetapkan dan mengembangkan pendidikan berbasis keunggulan lokal Mengembangkan dan melaksanakan pendidikan berbasis keunggulan global Menyusun kalender Pendidikan Menjabarkan standar kompetensi/kompetensi dasar menjadi indikator Menyusun kegiatan pembelajaran Belum ada tenaga yang dipersiapkan untuk itu Dalam penyususnan kalender pendidikan sudah disusun oleh dinas pendidikan disesuaikan dengan daerah masing-masing Dalam penyusunan berpedoman pada silabus yang ada buku yang dijadikan masih harus dirancang sendiri karena tingkat kesukarannya da ditingkat kelas I.1%). sebagian besar penyusunan dilakukan dengan cara adaptasi atau penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan sekolah (62. Berdasarkan pendapat responden. sisanya (9. Menurut pernyataan responden.

anak dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih optimal (2) layak disempurnakan dalam kerangka inovasi pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. struktur dan muatan. silabus. kalender pendidikan.Menetapkan materi pokok Menyusun bahan ajar Menentukan strategi dan alat penilaian Menindaklanjuti hasil penilaian Menentukan alokasi waktu Ada perbedaan pada referensi pendukung sehingga harus penuh teliti berdasarkan tuntutan dan SI Masih kurangnya buku sumber yang ada diperpustakaan atau toko buku yang ada Banyaknya tugas guru dalam penilaian yang terlalu rumit Melakukan remedial terhadap siswa yang belum tuntas Di alokasi waktu kadang-kadang tidak cukup karena siswasiswa asik dengan percobaan-percobaan yang di cobanya kerna jika belum berhasil siswa tidak akan meninggalkan tempatnya walaupun guru mengatakan sudah selesai jam pertemuannya Sulit mencari sumber dan alat untuk kompetensi tertentu Membedakan KD dan indikator perlu pemahaman para guru Cara mengembangkan indikator kegiatan pembelajaran/penilaian Cara menentukan strategi/model pembelajaran/evaluasi Menentukan sumber dan alat pembelajaran Merumuskan tujuan pembelajaran Menyusun silabus Menyusun RPP Data di atas menunjukan masih terdapat inkonsistensi antara pemahaman isi dokumen berkaitan dengan KTSP dengan kesulitan yang dialami guru dan kepala sekolah dalam mengembangkan dan menerapkan KTSP. 6. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah agar dapat melaksanakan KTSP Responden berpendapat bahwa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah dalam melaksanakan KTSP adalah adanya kesatuan pendapat dan dukungan dari warga sekolah dalam menentukan tujuan sekolah serta keinginan masyarakat yang dituangkan dalam KTSP. Umumnya responden telah mengetahui komponen-komponen KTSP. pengaturan beban belajar. tujuan Sekolah. Juga perlu didukung oleh kesiapan semua komponen sekolah. standar kompetensi lulusan dan SKBM/KKM. RPP (2) visi. kalender pendidikan standar kompetensi. bahan yg akan dijadikan acuan. 5. yaitu (1) visi misi dan tujuan pendidikan. struktur kurikulum. yang sifatnya sudah harus menjabarkan secara teknis dan rinci. KTSP serta teknis Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 75 . ketersediaan dana. misi. Sedangkan hal-hal yang harus dilakukan guru agar dapat melaksanakan KTSP secara optimal adalah guru harus memiliki pemahaman yang baik terhadap konsep dan falsafah implementasinya di lapangan. Pemahaman Tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan KTSP Sebagian besar responden menyatakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang menitikberatkan atau berorientasi pada kompetensi/kemampuan siswa dengan harapan setelah siswa selesai sekolah memiliki suatu kompetensi diri yang kompeten. Umumnya responden menyatakan bahwa kurikulum sebelumnya (1994) perlu diubah menjadi KTSP dengan alasan (1) Karena dengan pembelajaran berdasarkan kompetensi. muatan lokal.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 76 . KD. serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung yang belum memadai. Upaya untuk mengatasi kesulitan adalah dengan terus meningkatkan pemahaman aspek-aspek yang terdapat dalam KTSP serta peningkatan penggunaan TIK untuk mendukung kegiatan pembelajaran. guru sebagai sumber belajar.Umumnya responden menyatakan perbedaan antara KTSP dengan kurikulum 1994 adalah bahwa KTSP berorientasi pada penguasaan kompetensi. KTSP memerlukan silabus karena silabus merupakan penjabaran dari standar kompetensi yang mengacu pada pencapaian standar kelulusan. guru sebagai fasilitator. RPP dibuat untuk setiap pertemuan. kepsek. dan masyarakat adalah dengan melakukan diskusi di antara guru. 6. berpusat pada siswa. Sebagian besar responden menyatakan bahwa umumnya silabus disusun oleh para guru secara bersama-sama dengan rekan satu sekolah maupun dalam MGMP. indikator sebagai pedoman dalam pelaksanaan KBM. serta warga sekolah lain dengan dibimbing oleh pengawas dan kepala UPT Dinas Pendidikan setempat. masih ada permasalahan dalam implementasi KTSP. Persyaratan dan Kebutuhan sekolah dalam menyusun KTSP adalah adanya kemauan yang keras dari pihak sekolah untuk menyusun dan mengimplementasikan KTSP serta dukungan dana yang besar. Umumnya responden melihat hal-hal positif yang ada dalam KTSP. Permasalahan dan upaya mengatasinya Secara umum. orang tua). 7. Umumnya sekolah melibatkan pengawas dalam penyusunan silabus. sedangkan Silabus dibuat untuk beberapa kali pertemuan. waktu dan sumber. Umumnya responden menyatakan bahwa perbedaan antara silabus dan RPP adalah: RPP sifatnya lebih operasional dari silabus. work shop. Caranya dengan mengadakan diklat. dan KKKS. KKG. KD. Dalam implementasinya. konteksual. Unsur-unsur yang harus ada dalam silabus adalah SK. kegiatan pembelajaran. penilaian. Umumnya responden meyakini bahwa silabus dan RPP dapat menuntun atau membantu guru dalam pelaksanaan pembelajaran. berpusat pada guru. Pelaksanaan KTSP Umumnya responden memahami silabus sebagai penjabaran SK. di antaranya kurikulum KTSP lebih menampung inspirasi dari warga sekolah serta mencakup perubahan/menyesuaikan dengan kondisi yang ada. pertemuan rutin guru. terutama guru. Persoalan yang umumnya dialami oleh sekolah dalam menyusun KTSP menurut responden adalah pemahaman yang belum maksimal dari warga sekolah. baik sebagai pembimbing maupun sebagai narasumber. materi pokok. Strategi sekolah dalam mensosialisasikan KTSP kepada warga sekolah (guru. abstrak. indikator. Sedangkan kurikulum 1994 berorientasi pada tujuan. Secara umum responden menyatakan bahwa kondisi (sumber/alat/dan sumber daya di sekolah belum memadai untuk mendorong keterlaksanaan KTSP.

5%) untuk menyusun KTSP. Persepsi Komite Sekolah (Orangtua) dalam Pengembangang dan Penerapan KTSP Selain menggunakan sumber data dari dinas pendidikan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 77 . dalam monitoring ini juga dilakukan analisis tentang KTSP dengan sumber data dari oorangtua yang bertindak sebagai komite sekolah. 8. Berikut adalah berbagai informasi yang berkaitan tentang KTSP menurut persepsi orangtua. C. dan tim pengembangan kurikulum sekolah. Upaya sekolah dalam mendorong guru dalam melaksanakan KTSP antara lain dengan: 1.7%) atau bersumber dari APBN (12. Dana itu bukan dari dana BOS. melibatkan pengawas sekolah.1%). juga bukan dari Dinas Pendidikan (APBD). Sedangkan untuk melakukan sosialisasikan KTSP di lingkungan warga sekolah pada umumnya dana diperoleh secara swadaya (19. 2. Sekolah umumnya memanfaatkan sumber dana lain (48. Juga dengan melakukan supervisi. dan bukan dipungut dari siswa.Strategi sekolah dalam melakukan pemantauan pelaksanaan KTSPdi antaranya dengan membentuk tim kecil di bawah naungan wakil kepala skeolah bidang kurikulum dan wakil kepala skeolah bidang pengendali mutu untuk melakukan pemantauan. Memberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengikuti diklat dan banyak bertanya pada rekan sejawat yang lebih paham. Pendanaan Umumnya responden kepala sekolah menyatakan bahwa penyusunan KTSP membutuhkan biaya yang besar. Memberi motivasi bagi guru dan reward bagi yang telah menyusun silabus dan RPP. 3. mendatangkan tenaga ahli. Membantu memberikan petunjuk. mendatangkan tenaga LPMP. guru dan kepala sekolah.

Berkaitan dengan perubahan kebijakan kurikulum saat ini. 5. Sebanyak 50 % menyatakan mengetahuinya dari sekolah sedangkan 50 % lagi tanpa penjelasan. diperoleh gambaran bahwa umumnya (90%) orangtua siswa menyatakan bahwa KTSP berbeda dengan Kurikulum 2004. dan hanya 10% menyatakan tidak. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi KTSP yang telah dilakukan cukup berhasil. perlu digali sejauhmana orang tua siswa memahami perbedaan kurikulum yang sekarang dengan kurikulum yang berlaku selama ini. Pemahaman Orang Tua Siswa/Komite tentang Pelaksanaan Kurikulum a. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam penyusunan KTSP pihak sekolah telah mensosialisasikan kepada orang tua melalui komite Berikut diagram tentang pemahaman orang tua/komite tentang KTSP. Dengan adanya otonomi sekolah dalam pengembangan kurikulum.00 % 78 . Berdasarkan hasil wawancara. Pemahaman orang tua terhadap perbedaan kurikulum yang sebelumnya dengan KTSP 85 . Perbedaaan KTSP dengan Kurikulum sebelumnya Memahami kurikulum yang berlaku termasuk hal yang harus dilakukan oleh orang tua.1. orang tua dituntut untuk berperan aktif dalam mendukung keberhasilan siswa dalam pencapaian kompetensi yang diharapkan.0 0% % Tahu Tidak Tahu Tidak berbeda Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 10 .00 Diagram 1. Hal ini menjadi penting karena perubahan kebijakan tentang kurikulum saat ini memiliki konsekuensi terhadap peranan orang tua.

Berikut diagram respon orang tua terhadap pelaksanaan KTSP di sekolah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 79 . Sedangkan 15 % lainnya sudah mendengar tapi belum menunjukkan pemahaman tentang KTSP. 2. sedangkan 20% belum pernah sama sekali menerima sosialisasi KTSP. c. berdasarkan wawancara dengan orang tua siswa. Berdasarkan wawancara dengan orang tua.b. diperoleh informasi bahwa sebanyak 65% orang tua cukup mengerti bahwa KTSP disusun dengan memperhitungkan potensi lingkungan dan didasarkan atas Permen Mendiknas Nomor 22. Namun secara implisit orang tua (25%) mengharapkan kemampuan dan komitmen sekolah yang sungguh-sungguh untuk menyusun dan melaksanakan KTSP sesuai potensi daerah dan karakteristik sekolah. Namun hanya 20 % yang menyatakan mengerti penjelasan yang diberikan sehingga dapat memberikan dukungan dan kerja sama dengan pihak sekolah. Ini menunjukkan bahwa pemahaman orang tua tentang KTSP belum memadai sehingga perlu sosialisasi lebih lanjut agar orang tua dapat berpartisipasi lebih aktif dalam pendidikan putra/putrinya. dan 24. Sehubungan dengan tersebut. Respon Orang Tua terhadap pelaksanaan KTSP di sekolah Hampir semua responden (99 %) menyatakan senang dengan pengunaan KTSP sebab membuat perhatian siswa terhadap kegiatan belajarnya lebih besar (siswa lebih aktif belajar) dan kemampuanya lebih dieksplorasi. 23. Penjelasan Kebijakan Kurikulum terhadap Orang Tua Siswa` Untuk mendukung pemahaman orang tua. perlu ada upaya sekolah untuk melibatkan orang tua dalam sosialisasi kurikulum. Respon yang sangat baik ini memberikan indikasi bahwa KTSP mendapat sambutan yang sangat positif dikalangan orang tua (stake holder) sehingga sosialisasinya perlu ditingkatkan dan strategi implementasinya perlu dievaluasi secara berkala agar implementasinya maksimal. Konsep dan Strategi Sosialisasi KTSP Pemahaman yang benar bagi setiap orang tua terhadap KTSP sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran siswa. sedangkan 10 % menyatakan belum pernah. sebanyak 90% orang tua menyatakan menerima penjelasan tentang KBK dari pihak sekolah dan dinas pendidikan setempat. Sedangkan 80 % lainnya sudah menerima penjelasan tapi tidak mengetahui dengan pasti arti penjelasan tersebut. Namun demikian memberi indikasi bahwa sosialisasi KTSP di tingkat satuan pendidikan SMA (khususnya) dan SMK sudah dilakukan sekolah dengan baik kepada orang tua (stake holder) namun perlu ditingkatkan dan dilakukan lebih intensif.

karena kemampauan siswa yang dikembangkan banyak dan fokus.00% 20.29% sering dan 42. Dengan demikian walaupun penerapan KTSP mempunyai implikasi pengeluaran dana yang lebih namun dapat diterima secara positif sebab dana-dana tambahan yang dikeluarkan dialokasikan langsung untuk peningkatan kompetensi siswa.00% Sangat Senang Senang. Sedangkan 42.00% Diagram 2.15 % (14. asalkan siswa menjadi lebih pandai dan disiplin 55.25. Untuk itu sosialisasi KTSP yang akan datang tidak saja difokuskan pada konsep-konsep KTSP tetapi lebih dari itu difokuskan pada strategi implementasi dan teknik pelaksanaan. frekuensi siswa meminta uang tambahan untuk biaya belajar setelah menggunakan KTSP Sebanyak 57.86% (yang menyatakan tidak pernah/hampir tidak pernah mengeluarkan biaya tambahan setelah penerapan KTSP) menyatakan bahwa sekolah di mana putra/i mereka bersekolah telah menyusun anggaran yang lengkap sehinga semua pembiayaan sudah dibayar pada awal tahun ajaran.86% kadang-kadang orang tua mengeluarkan uang tambahan) orang tua menyatakan adanya tambahan pengeluaran biaya yang signifikan dengan penerapan KTSP. Hubungan penerapan KTSP dengan biaya yang dikeluarkan siswa dalam proses belajar mengajar (a). Ini menunjukkan bahwa pengeluaran tambahan untuk biaya studi setelah KTSP diterapkan cukup signifikan. Tanggapan orang tua terhadap pelaksanaan KTSP dan peluangnya dalam peningkatan kemampuan siswa 3. Senang. Namun dari data rersponden tidak ditemukan keluhan atau keberatan orang tua (stake holder) sehubungan dengan tambahan biaya ini. Berikut diagram frekuensi siswa meminta uang tambahan untuk beiaya belajar setelah menggunakan KTSP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 80 .

14.29%
Sering

Kadang-Kadang

42.86%
Tidak Pernah

42.86%

Diagram 3. Hubungan penerapan KTSP dengan biaya yang dikeluarkan siswa dalam proses belajar mengajar

(b). Biaya tambahan yang dibayarkan orangtua setelah menggunakan KTSP Semua responden menyatakan adanya tambahan biaya yang besar dan frekuensinya sangat bergantung pada kegiatan yang direncanakan sekolah masing-masing. Namun jawaban responden tengan pengeluaran tambahan ini sangat beragam antara yang sudah terencana melalui APBS sekolah sampai dengan yang tidak memiliki rencana sama sekali. Khusus sekolah-sekolah yang belum memiliki APBS yang baik tambahan pengeluaran ini menambah volume pekerjaan bertambah. Untuk itu dalam pelaksanaan sosialisasi KTSP pada level strategi peleksanaan dan di tingkat teknis operasional perlu diberikan bimbingan pengelolaan keuangan sekolah sehingga baik sekolah maupun orang tua mendapat kemudahankemudahan dalam memberikan layanan kepada putra/i-nya. Berikut diagram biaya tambahan sehubungan dengan penerapan KTSP
10 .00 % % .00 30
<= Rp.10.000,00 Rp.10.000,00 <= - <= Rp.80.000,00

3. Ketersediaan Buku Pelajaran

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

60 .00 %

Relatif, sesuai kebutuhan

Diagram 4. Besarnya biaya tambahan yang dibayarkan orang tua dalam pelaksanaan KTSP di sekolah

81

Responden yang menyatakan buku yang dimiliki siswa cukup memadai dengan yang menyatakan tidak cukup memadai sama besar. Sementara responden yang menyatakan bahwa buku cukup memadai dalam menunjang proses pembelajaran tidak memberikan penjelasan atas jawaban yang diberikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengadaan bukubuku yang sesuai dengan potensi daerah dan sesuai dengan karakteristik siswa perlu diupayakan secara sungguh-sungguh baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Berikut diagram tentang ketersediaan buku pelajaran

20.00% Cukup 40.00% Tidak Cukup Tidak Tahu

40.00%

Diagram 5. Dukungan buku dalam Proses Pembelajaran KTSP

4.

Penjelasan dari Guru tentang Rapor Siswa

Hanya 45% orang tua yang menganggap rapor hasil belajar yang disampaikan sekolah ke pada orang tua memberikan informasi tentang prestasi belajar siswa. Selain itu data responden menunjukkan bahwa yang merasa kurang jelas adalah 25% demikian pula yang tidak memahami sama sekali. Kemungkinannya adalah sekolah belum mampu

medayagunakan format rapor yang ada untuk menginformasikan pencapaian kompetensi siswa, atau format rapor terlalu rumit sehingga untuk memahaminya diperlukan penjelasanpenjelasan yang khusus. Ini menunjukkan bahwa diperlukan suatu penelitian lebih lanjut tentang format laporan hasil belajar dan cara penggunaannya yang diikuti oleh sosialisasi yang intensif dari pihak sekolah terhadap orang tua.

30.00% Jelas 45.00% Kurang Jelas Tidak Jelas

25.00% Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

82

Diagram 6. Informasi hasil belajar siswa melalui rapor hasil belajar.

5. Perubahan Sikap Siswa Setelah Sekolah Menerapkan KTSP Secara umum responden menyatakan adanya perubahan sikap belajar putra/putri mereka yaitu peningkatan minat dan semangat belajar yang signifikan dengan penerapan KTSP. Dengan demikian peningkatan pemahaman dan penguasaan KTSP secara konsep, strategi implementasi, dan teknik pelaksanaan perlu disosialisasikan lebih intensif, luas, dan efektif.
15.00%

Lebih Rajin Belajar Relatif Lebih Rajin Tidak Berubah

55.00% 30.00%

Gambar 7. Pengaruh KTSP terhadap sikap belajar siswa

Informasi 65% responden menyatakan tidak pernah/hampir tidak pernah menerima keluhan dari putra/putri mereka dan 10% yang kadang-kadang menerima keluhan

mengindikasikan bahwa penerapan KTSP cukup signifikan meningkatkan gairah belajar siswa. Kegiatan-kegiatan di luar sekolah yang timbul setelah penerapan KTSP disikapi sebagai implikasi dari semangat KTSP untuk meningkatkan mutu hasil belajar siswa. Dengan demikian KTSP mendapat sambutan positif dari orang tua karena dipandang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. 6. Keluhan Siswa Kepada Orang Tua setelah Sekolah menerapkan KTSP Sebagian besar orang tua (65%0 menyatakan bahwa anaknya tidak pernah mengeluh sehubungan dengan penerapan KTSP, 25 % menyatakan anaknya sering mengeluh, dan 10 % menyatakan kadang-kadang.

Berikut diagram pernyataan orang tua tentang keluhan anak-anak mereka sehubungan dengan penerapan KTSP.

.0 0%

Kadang-kadang Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008
25

10

.0 0%

83

Tidak Pernah

guru. Pemahaman Tentang Pengertian Standar Isi Sebagian besar responden dari kalangan pejabat struktural Dinas Pendidikan memahami bahwa Standar Isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu (65. Sebanyak 63. Perbandingan Hasil Tes Pemahaman KTSP antara Pejabat Struktral di Dinas pendidikan dengan Sekolah (Kepala Sekolah dan Guru) Dalam monitoring ini juga dilakukan tes pemahaman atau tes persepsi tentang persepsi KTSP menurut responden.5%). kepala. tes dimaksudkan juga untuk mendukung temuan-temuan yang diperoleh melalui kuesioner guru. kepala sekolah dan orangtua. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada sekitar 35-37% reseponden belum memahami pengertian standar isi dan standar kompetensi lulusan dengan benar. Hal ini senada dengan pemahaman kepala sekolah dan guru.5% kepala sekolah dan guru menjawab dengan jawaban yang sama. orangtua dan dinas pendidikan. sekolah. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 84 . Identitas dari para responden adalah sebagai berikut. Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara pemahaman Dinas Pendidikan dengan sekolah tentang standar Isi.D. Selain untuk melihat persepsi tentang KTSP. Tes melibatkan seluruh responden dari dinas pendidikan. 1.

Ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi Mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. d. d.3 Sekolah (Guru dan Kepsek) 22. Mengatur tentang struktur kurikulum satuan pendidikan Mengatur tentang kompetensi lulusan Dinas Pendidikan 18.5 % responden yang berasal dari sekolah meberikan jawaban yang sama. terdapat sedikit perbedaan antara responden dari Struktural Dinas Pendidikan dengan sekolah. masih ada sekitar 13-16 % responden belum memahaminya dengan benar. Hal senada juga terlihat dari jawaban responden yang bearasal dari sekolah (guru dan kepala sekolah).Tabel 15 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Standar Isi Unsur (%) Jawaban a. Dari kelompok responden yang belum menjawab dengan benar. c. Pengembangan Substansi Muatan Lokal Tentang kewenangan penyusunan dan penentapan kurikulum muatan lokal. sementara 4. Sebanyak 9.5 63.3 3.5 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 85. 2. 8% sekolah menjawab muatan lokal di tetapkan dari pusat. 12.5 c.5 9. b. sementara hanya 0. meskipun untuk responden yang berbeda tampaknya pemahaman kedua unsur tidak terlalu jauh berbeda.5%.9 3 Tabel di atas memperlihatkan pemahaman responden terhadap Permendiknas No.5%) menjawab bahwa yang berwenang menetapkan kurikulum muatan lokal adalah satuan pendidikan yang bersangkutan. sebagian besar responden dari pejabat struktural Dinas Pendidikan (84. Artinya.9 10.9 0.6 65. 22 Tahun 2006 sangat variatif. Satuan pendidikan Dinas pendidikan Pusat Komite sekolah Dinas Pendidikan 84. b. Tabel 16 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Pengembangan Substansi Muatan Lokal Jawaban a.5 8 7.9% responden dari pejabat struktural Dinas pendidikan menjawab bahwa muatan lokal ditetapkan oleh Dinas Pendidikan.5 Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 85 .7 4.7 3. yaitu sebanyak 87.7 responden dari pejabat struktural Dinas pendidikan yang menjawab demikian.

0 3.9 %. hanya 48. Sistem Pembelajaran pada SMA/MA/SMK/MAK Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005. Hal yang sama juga terjadi pada responden dari sekolah (Kepala Sekolah dan Guru). sebagian besar responden dari Dinas pendidikan menjawab ” memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri”. Berdasarkan tes pemahaman terhadap Dinas pendidikan dan sekolah.5 19. Hal ini Belem banyak dipahami oleh pelaksana pendidikan di lapangan. dinyatakan bahwa bagi sekolah yang kategori mandiri bebena relajar diatur dengan sistem keredit semester. Data ini menunjukkan bahwa Belem semua pihak yang memahami tentang pengaturan beban relajar sebagaimana yang tertuang dalam PP nomor 19 tahun 2005 tersebut. Tujuan dari Kegiatan Pengembangan Diri Mengenai kegiatan pengembangan diri.5 73.6 4. d. c. b. Memperdalam penguasaan mata pelajaran Menciptakan wahana kegiatan sesuai minat dan bakat siswa Memberi pelayanan konseling pada siswa memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri. yaitu sebesar 73.4 2. Namur hal ini berbeda dengan pandangan sekolah. diperoleh gambaran bahwa sebagain besar responden menyatakan penyelenggaraan pembelajaran menggunakan sistem paket (60%).3.5 18. Namur hanya sedikit (sekitar 45%) responden (baik Dinas Pendidikan maupun sekolah) yang menyatakan pengaturan pembelejaran berdasarkan sistem kredit semester. sebesar 75.0 75.6%. Tabel 17 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah Tentang Tujuan Kegiatan Pengembangan Diri Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 1. Dinas Pendidikan 3. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 18 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Sistem pembelajaran pada SMA/MA/SMK/MAK Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 86 .9% sekolah yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pembelajaran menggunakan sistem paket.9 Jawaban a. Ini berarti terdapat sekitar 24-27% responden memberikan jawaban yang salah atau belum memahami dengan benar.

6 5.5 6.8 1. terdapat sekitar 30 % responden belum memahami dengan benar.5 % responden dari pejabat struktural Dinas Pendidikan menjawab dengan benar.6 5. c.5 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 48.Jawaban a. Tabel 19 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Penggunaan Standar Kompetensi Lulusan Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 0.1 90. c.9 4. Panduan penilaian kinerja dan portofolio Dinas Pendidikan 1. Data ini menunjukkan bahwa terdapat sekitar 10% responden yang belum menjawab dengan benar. Penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Sebagai kurikulum operasional. Kemungkinan besar yang disebut sebagai kurikulum nasional itu adalah Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. b.9 89.6 22. Penggunaan Standar Kompetensi Lulusan Dalam hal penggunaan Standar Kompetensi Lulusan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik 90.8 2. sekolah (kepala sekolah dan guru) menjawab dengan benar sebanyak 89. Hanya 68 % responden dari Dinas pendidikan yang menjawab dengan benar. dan sebanyak 70.5%. d. d.7 % responden sekolah (kepala sekolah dan guru) menjawab sama. Sejalan dengan hal tersebut. Menggunakan sistem paket Menggunakan sistem SKS Dapat menggunakan sistem SKS Dapat menggunakan sistem paket Dinas Pendidikan 64. Artinya. sekitar 25 % responden masih beranggapan bahwa masih ada kurikulum nasional. Pedoman penilaian kelas Pedoman penilaian tertulis pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik.3 Jawaban a. KTSP disusun oleh sekolah dan disesuaikan dengan kondisi yang ada.8 4. Dan ternyata.1 6.5 3. b.0 25. Tabel 20 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Jawaban Unsur (%) Sekolah (Guru dan Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 87 .5 5.

3%) menyatakan bahwa ”model Kurikulum yang dikembangkan oleh satuan pendidikan lain tidak dapat dijadikan sebagai acuan pengembangan KTSP.6 68.6%). Kemungkinan Satuan pendidikan Menyusun KTSP dengan Standar yang Lebih Tinggi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Standar isi dan Standar Kompetensi lulusan memnyatakan bahwa satuan pendidikan dapat mengembangkan kurikulum dengan kompetensi yang lebih tinggi dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan.7 70.5 24. Ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa KTSP harus disusun sendiri mengingat situasi dan kondisi sekolah yang berbeda-beda..7 1. kebutuhan dan potensi sekolah Disusun oleh sekolah sebagai model kurikulum Pendidikan 3.. Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 4.6%) responden dari dinas pendidikan menyatakan hal tersebut mungkin dilakukan asal tetap mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagai ukuran kompetensi minimal. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 21 pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Acuan yang Digunakan dalam Menyusun KTSP..7%). Acuan Penyusunan KTSP.7 11.4 79. b.0 2. Standar Isi Standar kompetensi lulusan Panduan penyusunan kurikulum dari BSNP Model kurikulum satuan pendidikan lain Dinas Pendidikan 5. tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pandangan dinas pendidikan dengan sekolah dalam pengembangan kompetensi yang lebih tinggi untuk satuan pendidikan tertentu. Artinya. d. b.3 8. c. kecuali.5 7. Disusun oleh pusat Disusun oleh sekolah dengan mengacu pada kurikulum nasional Disusun oleh sekolah sesuai dengan kondisi.5 Kepsek) 2.7 Jawaban a.3 74. Lebih dari separuh (55.a. c.6 23... Hal yang sama juga ditunjukkan oleh pernyataan kepala sekolah dan guru (52. Kecuali... Sebagian besar responden yang berasal dari Dinas Pendidikan (74. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 88 ..1 9..6 6.9 4. d. Hal senada juga ditunjukan oleh pernyataan kepala sekolah dan guru (79.

Hanya sebagian kecil responden dari dinas pendidikan yang menyatakan perlu penambahan jam sebagai konsekuensi dari penaikan standar kompetensi oleh satuan pendidikan. sebagian responden dari dinas pendidikan (38.9 b.0 52. Lebih lanjut lihat pada tabel dan diagram berikut: Tabel 22 Pemahaman Dinas dan Sekolah tentang Kemungkinan Satuan pendidikan Menyusun KTSP dengan Standar yang Lebih Tinggi Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 38. Agak berbeda dengan pernyataan kepala sekolah dan guru yang cenderung menambah jam pelajaran (7.9%). asal tidak menambah waktu lebih dari 4 jam pelajaran per minggu Dinas Pendidikan 38.5 7. dengan menambah. d.1 4.6 1. 9.4 55. Hal ini tidak jauh berbeda dengan pemahaman kepala sekolah dan guru (38. Mungkin.0%). harapan Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Batas Akhir penerapan KTSP Hampir semua responden (sekitar 96%) baik yang berasal dari Dinas pendidikan maupun kepala sekolah dan guru menyatakan bahwa paling lambat penerapan KTSP pada tahun Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 89 .6 1.Namun demikian. memperdalam kompetensi atau materi sesuai ciri dan kebutuhan satuan pendidikan Mungkin.9 Jawaban a. asal tetap mengacu pada Standar Isi dan SKL sebagai kompetensi minimal Mungkin dengan tidak menambah mata pelajaran Mungkin. Tabel dan diagram di atas memperlihatkan bahwa semua responden menyatakan tidak ada masalah apabila satuan pendidikan mampu mengembangkan kurikulumnya melebihi standar SI dan SKL asalkan dengan kriteria tertetu.4%) menyatakan bahwa hal itu mungkin dilakukan dengan menambah dan memperdalam kompetensi atau materi sesuai dengan ciri dan kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan. c.

6 57.A 2010/2011 Sekolah T abel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden berharap bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah seharusnya sudah mulai menerapkan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah paling lambat Tahun Ajaran 2009/2010 10. Bupati dan walikota dalam Pengaturan Jadual Pelaksanaan Permendiknas No.4 23.2009/2010.9 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 18. Lebih lanjut lihat pada tabel dan diagram berikut. Lebih lanjut lihat tabel dan grafik di bawah ini.A 2009/2010 T. Daerah dan sekolah yang berpandangan demikian umumnya bagi mereka yang telah menerapkan KBK secara keseluruhan. 22 dan 23 tahun 2006 oleh Satuan Pendidikan Sebagian besar responden berpendapat bahwa pengaturan jadual pelaksanaan Permendiknas No. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 90 .4 25.A 2007/2008 T.4% untuk Dinas pendidikan dan 18. C d Tahun Ajaran 2007/2008 Tahun Ajaran 2008/2009 Tahun Ajaran 2009/2010 Tahun Ajaran 2010/2011 Dinas Pendidikan 14.4% untuk sekolah). Sebagian daerah optimis dengan batas akhir tahuan 2007/2008 (14. Tabel 23 Harapan Dinas pendidikan dan Sekolah Tentang Penjadualan Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Jawaban a.2 52.3 4. Peranan Gubernur.1 4.1 Harapan Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Limit Waktu Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan 60 40 Dinas Pendidikan 20 0 T.A 2008/2009 T. 22 dan 23 Tahun 2006 telah sesuai dengan kesiapan satuan pendidikan atas pertimbangan dinas pendidikan setempat. b.

22 dan 23 tahun 2006 oleh Satuan Pendidikan Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 51. Sesuai dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan Secara serempak di seluruh wilayahnya Ditetapkan dan dipertimbangkan oleh dinas pendidikan Ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan pertimbangan dinas pendidikan Dinas Pendidikan 46.7 Jawaban a. d.1 13.5 7. Bupati dan walikota dalam Pengaturan Jadual Pelaksanaan Permendiknas No.1 Dari tes pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa peran dinas pendidikan adalah sangat vital dalam membentuk persepsi.3 32. c.4 33.4 7.5 8. b.Tabel 24 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Peranan Gubernur. melakukan sosialisasi dan mengkoordinasikan pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 91 .

problem solving. Memuat alokasi waktu: g. kuesioner dinas pendidikan. indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai d. tampak bahwa guru belum memahami konsep dan teknik pembuatan silabus terutama pada bagian perumusan indikator. No 1 Aspek Ketepatan rumusan Komponen Silabus : a. kelompok. (2) Hubungan metode dengan kompetensi. hasilnya adalah sebagai berikut. dan kuesiner orangtua. juga dilakukan observasi pembelajaran. luar kelas. pada aspek: (1) Kegiatan awal: memuat konsep/kegiatan prasyarat. Oleh sebab itu RPP sangat bergantung pada silabus yang telah di buat. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 92 . dan teknik penilaian yang dapat mengukur pencapaian kompetensi siswa.E. Rumusan Indikator dengan KD : (1) Minimal dua indikator: (2) Menggunakan kata kerja kemampuan: (3) Rumusan mengacu kompetensi. prinsip pembelajaran yang aktif dan umpan baliknya. telah merinci dari silabus: c. SK dan KD dengan SI dan SKL : b. klasikal. dari segi: (1) Menggunakan variasi metode (individual. penugasan. yaitu jaminan kompetensi dicapai: c. Ketepatan rumusan kegiatan pembelajaran dengan KD (1) Kegiatan pembelajaran bervariasi: (2) Pokok pokok kegiatan dengan kompetensi yang ingin dicapai: e. Ketepatan rumusan langkah langkah kegiatan. Ketepatan rumusan penilaian dengan KD: (1)Teknik/bentuk penilaian dengan kompetensi: (2) Rumusan tugas: f. Tujuan observasi adalah untuk memotret secara faktual perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dilihat dari segi: kesesuaianya dengan kebijakan pengembangan KTSP. Observasi Kegiatan Pembelajaran Selain menggunakan tes pemahaman atau tes persepsi KTSP. Rumusan materi. dari segi: Pembahasan hasil Observasi Dalam hal pembuatan silabus. Memuat materi pembelajaran: d. Rumusan Metode. ceramah.Memuat sumber belajar: Ketepatan rumusan komponen RPP: a. diskusi. Kesulitan dalam membuat silabus akan berdampak pada rumusan RPP yang tidak saling berhubungan. dalam kelas. pengalaman belajar yang sesuai. kuesioner guru dan kepala sekolah. Hubungan Indikator dengan tujuan pembelajaran: b. 2 RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan penjabaran operasional dari silabus untuk waktu yang lebih singkat yaitu tiap tatap muka dilaksanakan.aplikasi konsep atau orientasi kelas (2) Kegiatan inti. metode pemecahan masalah dsb. Secara umum. Dari data hasil observasi menunjukkan bahwa secara rata-rata guru masih menemukan kesulitan dalam membuat RPP yang sesuai agar siswa memperoleh kompetensi seperti yang diharapkan.

indikator atau tujuan pembelajaran: (3) Organisasi kelas yang digunakan dengan tujuan pembelajaran: (4) Kegiatan pembelajaran efektif: c. indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai: * Memuat lampiran lembar kerja (LK) apabila terdapat penugasan menggunakan lembar kerja (3) Kegiatan penutup. 5 Secara rata-rata guru sudah mampu menerapkan prinsipprinsip penilaian untuk mengetahui hasil belajar siswa. renungan atau lainnya e. indikator atau tujuan pembelajaran: Penilaian: a. Kualitas dari konstruksi soal/penilaian: Sumber belajar: 4 Secara rata-rata data ebservasi menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru sudah melaksanakan sesuai dengan RPP yang di buat.* Telah merinci kegiatan pada silabus: * Kegiatan dengan kompetensi. Kegiatan inti: (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. Memuat alokasi waktu: g.Tingkat pencapaian siswa: c. 6 Secara rata-rata guru sudah menggunakan sumber belajar dengan baik dan efektif dalam melaksanakan pembelajaran. Kegiatan Akhir (penutup): (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. Bentuk/teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran: b. saat: a. Tetapi hal ini bertentangan dengan kenyataan sebelumnya yaitu bahwa guru belum mampu membuat RPP yang sesuai dengan silabus. penugasan lebih lanjut. Ketepatan rumusan penilaian dengan indikator. dari segi: (1) Teknik/bentuk penilaian dengan indikator: (2) Memuat contoh penilaian: (3) Memuat pedoman skoring/kunci jawaban: f. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 93 .Memuat sumber belajar: PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN Kesesuaian pelaksanaan kegiatan belajar dengan RPP. indikator atau tujuan pembelajaran: b. Kegiatan awal: (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. memuat rangkuman.

(2) Kesiapan dan kemampuan sumber daya yang ada. dan 24 Tahun 2006. (d) apakah sarana dan prasarana memadai. Unsur-unsur yang dimonitor adalah (a) apakah responden telah memeiliki dokumen dan bagaiaman cara mendapatkan dokumen tersebut. Hal ini akan menggambarkan sejauhmana Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 94 . serta Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. (f) bagaimana pengganggaran dan pembiayaan kegiatan mulai dari persiapan (sosialisasi). guru.BAB V ANALISIS HASIL MONITORING A. yaitu: (1) Pemahaman terhadap isi kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Satndar Isi. 1. 2. Unsur-unsur yang dikaji adalah (a) apakah jumlah sumber daya manusia memadai. dan 34 Tahun 2006. Pemahaman terhadap Standar Isi Dan Standar Kompetensi Lulusan Unsur-nsur yang dijadikan patokan pengkajian adalah (a) hal-hal apa saja yang diatur dalam peraturan tersebut. Kemampuan dan Kesiapan Sumber Daya Kemampuan dan kesiapan sumber daya sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan kebijakan. Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. (e) sejauhmana dukungan komite/orang tua siswa terhadap pelaksanaan kurikulum. (b) hal-hal apa saja yang dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah/satuan pendidikan. dan wawancara. (b) apakah kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan memadai. angket. Implementasi atau Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. 23. komite/orang tua siswa melalui angket. dan implementasi. kepala sekolah. . dan pelatihan. 23. Informasi ini diperoleh melalui pejabat struktural dan staf Dinas Pendidikan. workshop. dan (3) Implementasi atau penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. pengembangan. (c) fungsi Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar yang terdapat dalam Standar Isi dan (d) fungsi Standar Kompetensi Lulusan. Aspek Analisis Monitoring ini memnfokuskan pada tiga aspek. (c) apakah ada program peningkatan kompetensi melalui sosialisasi. 3. Unsur-unsur tersebut digali melalui tes pemahaman. tes pemahaman dan wawancara.

Namun. dapat disimpulkan bahwa secara konseptual sebagian besar responden cukup memahami peraturan mendiknas tersebut. tes pemahaman dan wawancara kepada semua responden. Akibatnya. silabus. RPP. (c) apakah sudah melaksanakan KTSP. (d) apa dampak. kepala sekolah. (h) apakah ada koordinasi antar pihak-pihak terkait? Informasi ini diperoleh melalui pejabat struktural dan staf Dinas Pendidikan. parsoalan tersebut antara lain adalah : Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 95 . dan KTSP. dan 24 tahun 2006. Dilihat dari pemahaman yang diperoleh melalui jawaban angket. dan komite/orang tua siswa). dan kebutuhan daerah serta peserta didik. (g) berapa persen daerah (kabupaten/kota) yang telah melaksanakan sosialisasi. penerapkan KTSP di masing-masing satuan pendidikan belum begitu kuat karakteristiknya. (e) sejauhmana peran serta masyarakat. 1. substansi dan strategi strategi implementasi KTSP belum cukup dipahami. Sebagai contoh. potenai. B. guru. (b) apakah sudah menyusun KTSP dan perangkatnya (struktur kurikulum. Umunya naskah tersebut baru pada tahap ”copy-paste”. dan upaya yang dilakukan. penilaian dan sebagainya). masih banyak persoalan yang harus dituntaskan. misalnya dengan meng-copy sendiri atau menunggu informasi dikirimkan oleh pihak yang berwenang. Standar Kompetensi Lulusan. (f) bagaimana penjadualan penerapan . umumnya responden memahami KTSP disusun dan ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan mempertimbangkan keragaman kondisi. Berdasarkan angket yang diberikan kepada pejabat dan staf struktural Dinas Pendidikan provinsi dapat disimpulkan bahwa semua daerah telah melakukan sosialisasi tentang Peraturan Mendiknas Nomor 22. kendala. Sungguhpun demikian. Pemberlakuan KTSP sebagai impelementasi dari kebijakan pemerintah sebagaimana yang diamantkan oleh berbagai peraturan perundang-undangan yang mendasarinya. tes pemahaman dan wawancara. guru. komite/orang tua siswa melalui angket. Hal ini dilihat dari naskah KTSP dan perangkatnya yang disusun oleh masing-masing satuan pendidikan. Hasil Analisis Pemahaman Responden Terhadap Standar Isi. Hal senada juga diakui oleh responden yang berasal dari sekolah (kepala sekolah. dapat diterima secara baik oleh pelaksana di lapangan.pihak-pihak terkait proaktif dalam mendapatkan informasi. 23. .

Perlu pendampingan yang lebih strategis dan teknis dalam penyusunan KTSP 1. menurut pengakuan responden. daerah dan sekolah mampu mengatasi berbagai persoalan tersebut melalui pemberian pengertian kepada semua pihak. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. Guru belum mampu membuat silabus yang baik dan kontekstual Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 96 . 3. Sebagian orang tua sering menerima keluhan dari anak-anak mereka bahwa setelah menerapkan KTSP. potensi sekolah. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 3. terutama dalam penggunaan metode pemeblajaran yang monoton. proses penilaian belum sesuai dengan karakter dan tingkat kompetensi yang dituntut.Sebagian orang tua mengeluhkan tentang adanya penambahan biaya pendidikan shubungan dengan penerapan KTSP. dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Format rapor KTSP berlum mampu memberikan informasi tentang prestasi peserta akademik maupun non akademik peserta didik. Silabus yang di buat guru belum menunjukkan penjabaran SK dan KD yang disesuaikan dengan potensi daerah/wilayah. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. perlu dikembangkan suatu sistem sosialisasi dan pembinaan terhadap satuan pendidikan agar pengelolaan pembelajaran lebih efisien dan efektif. termasuk dalam hal pengunaan sumber belajar yang tidak terbatas pada buku tertentu saja. tugas-tugas yang harus mereka selesaikan menjadi bertambah banyak sehingga melelahkan. Guru sudah membuat silabus dan RPP 2. terutama dalam hal pengadaan buku-buku pelajaran dan biaya kegiatan pembelajaran. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. 2. Namun upaya belum cukup mengingat proses pembelajaran yang berlangsung masih mengikuti pola lama. 2. Hal ini mengkibatkan proses pembelajaran belum efisien dan efektif. penggunaan sumber belajar belum bervariasi. Sejauh ini. Kemampuan dan Kesiapan Sumber Daya 1. Informasi ini diperoleh melalui observasi dan wawancara yang dilakukan tehadap siswa. Dengan adanya sejumlah persoalan di atas.

2. Perlu pendampingan yang lebih strategis dan teknis dalam penyusunan KTSP seperti penyusunan APBS. 3. 6. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. Guru belum mampu membuat silabus yang baik dan kontekstual Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 97 . Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. 1. dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.4. program mulok. 7. tetapi dari silabus dan RPP yang dibuat tampak bahwa guru belum menguasai konsep pengembangan silabus dan teknik implementasinya sesuai kondisi wilayah. Dalam merencanakan sumber belajar yang akan digunakan guru sudah merencanakan dengan baik. 8. 9. kondisi sekolah dan karakteristik peserta didik. Silabus yang di buat guru belum menunjukkan penjabaran SK dan KD yang disesuaikan dengan potensi daerah/wilayah. dan program pengembangan diri. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 10. Secara rata-rata guru sudah baik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan kesusuaian isi materi yang diajarkan dengan silabus yang telah di susun. efisiensi dan tingkat kesesuaiannya denga kompetensi dasar yang hendak di capai. 3. 23. namun masih perlu obsevasi yang lebih rinci berkaitan dengan kualitas instrumen penilaian yang digunakan. potensi sekolah. Implementasi atau Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan efektivitas. dan 34 Tahun 2006. Walaupun sebagian guru dalam observasi ini sudah membuat silabus dan RPP. 11. Guru belum mampu membuat RPP 5. Guru sudah mampu merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar dengan baik .

6. Guru sudah mampu merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar dengan baik. namun ini perlu dipertajam sampai tingkat operasionalisasi dalam pengembangan dan penerapan kurikulum mencakup komite sekolah.4. dinas pendidikan dan masyarakat. pengawas. dan dinas pendidikan. efisiensi dan tingkat kesesuaiannya denga kompetensi dasar yang hendak di capai. Dari hasil observasi pembelajaran. Secara rata-rata guru sudah baik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan kesesuaian isi materi yang diajarkan dengan silabus yang telah di buat 7. 2. penerapan KTSP pada penyelenggaraan pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan SI dan SKL. kepala sekolah. Implikasinya adalah guru belum mampu mengembangkan indikator soal dan mengembangkan instrumen penilaian yang tepat. namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan efektivitas. kuesioner guru. Guru belum memahami prinsip pengembangan SK menjadi KD dan menjabarkannya menjadi indikator. orangtua siswa. Guru belum mampu membuat RPP 5. sekolah. pengalaman belajar dan penilaian. namun masih perlu obsevasi yang lebih rinci berkaitan dengan kualitas instrumen penilaian yang digunakan. serta hasil tes pemahaman. pemahaman tentang KTSP sudah memadai. 1. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dari SDM pada tingkat sekolah maupun dinas pendidikan. Dalam merencanakan sumber belajar yang akan digunakan guru sudah merencanakan dengan baik. 8. dapat disimpulkan beberapa hal berikut. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 98 .

KTSP sebagai model kurikulum yang berdasar pada Standar Isi dan dikembangkan dengan memperhatikan potensi dan karakteristik wilayah/sekolah belum disosialisasikan dengan baik. 1. sekolah. Substansi KTSP dan strategi implementasinya belum dipahami dengan jelas oleh pihak sekolah dan orang tua. aktifitas dan kreatitivitas siswa dalam belajar hampir semua responden menyatakan bahwa penggunaan KTSP membuat putra/putri mereka lebih rajin belajar. 4. Ada peningkatan biaya yang signifikan dengan penggunaan KTSP (85 % responden menyatakan tambahan biaya yang timbul cukup signifikan dengan aktivitas belajar yang terjadi). dinas pendidikan dan masyarakat. 6. namun tidak memahami subtansinya 2. namun ini perlu dipertajam sampai tingkat operasionalisasi dalam pengembangan dan penerapan kurikulum mencakup komite sekolah. REKOMENDASI Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 99 . KESIMPULAN Secara umum.BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. 3. Hasil monitoring menunjukkan 81 % responden menyatakan telah mengetahuinya. (77% orang tua menyatakan tidak puas dengan format rapor hasil belajar yang diterima) B. Penggunaan KTSP di tingkat satuan pendidikan cukup signifikan dalam meningkatkan motivasi. Hasil monitoring menunjukkan 81 % responenden menyatakan tahu tentang KTSP tetapi tidak memahaminya dengan baik. Penggunaan KTSP sebagai kurikulum pendidikan saat ini diterima dengan baik oleh orang tua walaupun muncul keluhan-keluhan dari pihak siswa karena perubahan pola pembelajaran (responden menyatakan senang dengan penggunaan KTSP. 5. pengawas. namun dapat mengatasinya dengan memberikan pemahaman dan pengertian). Format rapor KTSP berlum mampu memberikan informasi tentang prestasi peserta akademik maupun non akademik peserta didik. 82 % responden menyatakan menerima keluhan dari putra/putrinya berkaitan dengan tugas-tugas yang diberikan. pemahaman tentang KTSP sudah memadai.

Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 6. 4. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 100 . 5. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. sebaiknya secara periodik (1 tahun sekali) dilakukan monitoring dan berupaya untuk membandingkannya. maka untuk melihat adanya perkembangan kemampuan guru-guru dalam melaksanakan KTSP di lapangan. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. 7. Agar monitoring ini dapat jauh lebih bermanfaat.Penerapan KTSP pada penyelenggaraan pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan SI dan SKL. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dari SDM pada tingkat sekolah maupun dinas pendidikan.

2001 - M.. 2002 Agus Dharma. Ardadizya Jaya.Daftar Pustaka - Subagio A. Dr.. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. 1983 Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 101 . - Suryana Sumantri.Ed.M. Bandung. M.Ed. Bandung. Manajemen Pelatihan. Drs. Rineka Cipta. 2002 - Piet A. Prof.. Sc. MP. 2003..Drs. Sahertian. PT Remaja Rosdakarya. Modul Implementasi kurikulum Management of Trainers. Jakarta. Fakultas psikologi Universitas Pajajaran. Supervisi Pendidikan. Admistrasi Pendidikan. Pusimplementasi kurikulum Pegawai Depdiknas. Drs... 2000 Oteng sutisna.. Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Ngalim Purwanto.. Prof. Angkasa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful