EVALUASI PELAKSANAAN KTSP OLEH TIM PENGEMBANG KURIKULUM PROPINSI

PUSAT KURIKULUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA 2008

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendinas) No. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23 tahun 2006 tentang standar isi dan standar kompetensi lulusan disebutkan bahwa salah satu tugas pokok Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dalam hal ini, Pusat Kurikulum adalah memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. 22

Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, mengevaluasinya, dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri. Salah satu yang menjadi bagian dari monitoring tersebut adalah melakukan monitoring secara nasional penerapan peraturan menteri pendidikan nasional dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelaksanaannya. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut perlu dilakukan serangkaian langkah kegiatan mencakup penyusunan panduan dan intrumen evaluasi, pelaksanaan evaluasi dan penyusunan laporan. Panduan digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan instumen dan melaksanakan evaluasi untuk mendapatkan data dan informasi tentang pelaksanaan KTSP pada setiap daerah secara kualitatif maupun kuantitatif. Pelaksanaan evaluasi merupakan langkah kegiatan untuk mendapatkan data dan informasi penerapan KTSP pada daerah yang menjadi objek atau sasaran evaluasi. Penyusunan laporan memuat temuan, masukan atau rekomendasi berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui evaluasi pelaksanaan KTSP agar kebijakan tentang pengembangan kurikulum dapat diterapkan secara efisien dan efektif. B. TUJUAN Kegiatan ini bertujuan untuk melaksanakan evaluasi pengembangan dan pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan sehingga didapat data dan informasi tentang tingkat penerapan KTSP secara kualitatif ataupun kuantitatif pada tiap daerah yang dapat dimanfaatkan satuan pendidikan (sekolah) dalam implementasi kurikulum pada tataran sekolah/daerah.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

1

C. RUANG LINGKUP Kegiatan ini memonitor dan mengevaluasi penerapan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di 33 propinsi D. HASIL YANG DIHARAPKAN Melalui kegiatan ini akan dihasilkan laporan gambaran penerapan KTSP di 33 provinsi, pada satuan pendidikan dasar dan menengah E. PELAKSANAAN Kegiatan penyusunan laporan dilaksanakan pada tanggal 9 – 13 Desember 2008 di Cisarua, Kabupaten Bogor. F. PESERTA Peserta yang dilibatkan dalam kegiatan ini terdiri dari unsure: Satuan Pendidikan, LPMP, Perguruan Tinggi, dan Pusat Kurikulum. Rincian Peserta terlampir

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

2

BAB II KERANGKA BERPIKIR

A. STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Menurut Undang-Undang (UU) No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan kurikulum dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Hal ini dimaksudkan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan pada satuan pendidikan dengan kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, kurikulum dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Selanjutnya pada pasal 36 disebutkan bahwa pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan harus disempurnakan dan ditingkatkan secara berencana, terarah dan berkala sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Kata standar memiliki makna tingkat atau level kualitas atau keunggulan yang harus dicapai dengan kriteria, benchmark, persayaratan atau spesifikasi tertentu. Hal ini sesuai dengan pengertian di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa standar nasional pendidikan merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar nasional pendidikan terdiri atas: 1. standar isi Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

3

Kerangka dasar kurikulum adalah rambu-rambu yang dijadikan pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan. Kerangka dasar dan struktur kurikulum mengatur tentang kelompok mata pelajaran serta kedalaman muatan kurikulum yang dituangkan dalam kompetensi, yaitu standar kompetensi dan kompetensi dasar. Beban belajar mengatur tentang jam pembelajaran dengan sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, pelaksanaan pembelajaran sistem paket dan satuan kredit semester (SKS), serta pemberian pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP. KTSP untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB,

SMA/MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK. Kalender pendidikan/kalender akademik mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur. 2. standar proses Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Standar proses mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. 3. standar kompetensi lulusan

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

4

Standar kompetensi lulusan (SKL) adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Standar ini meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran 4. standar pendidik dan tenaga kependidikan Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Standar ini mengatur tentang pendidik yang harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, Rasio pendidik terhadap peserta didik, kelengkapan dan kualifikasi tenaga kependidikan satuan pendidikan, pengawas satuan pendidikan. 5. standar sarana dan prasarana Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Standar ini mengatur tentang kelengkapan, jenis dan kualitas sarana dan prasarana satuan pendidikan. 6. standar pengelolaan Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Standar ini terdiri atas standar pengelolaan oleh satuan pendidikan, standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan standar pengelolaan oleh pemerintah. Standar pengelolaan oleh satuan pendidikan mengatur tentang penerapan prinsip manajemen berbasis sekolah (MBS), proses pengambilan keputusan, pedoman, rencana kerja tahunan, Pelaksanaan pengelolaan dan pengawasan satuan pendidikan.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

5

secara bertahap. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah kabupaten/kota 5. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah (menteri) 3. standar pembiayaan Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. dan biaya personal satuan pendidikan. 7. 2. Dalam melaksanakan tugasnya BSNP menunjuk tim ahli yang bersifat ad-hoc sesuai kebutuhan. Standar ini mengatur tentang biaya investasi. prosedur. serta tentang kelulusan peserta didik. dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 6 . pemerintah propinsi. Pencapaian kompetensi akhir peserta didik dinyatakan dalam dokumen ijazah dan/atau sertifikat kompetensi. evaluasi kinerja pendidikan oleh satuan pendidikan pada tiap akhir semester. Setiap satuan pendidikan pada jalur formal dan nonformal wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan. evaluasi kinerja pendidikan oleh lembaga mandiri Pemerintah melakukan akreditasi pada setiap jenjang dan satuan pendidikan untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan. dan terencana dalam suatu program penjaminan mutu yang memiliki target dan kerangka waktu yang jelas. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bertugas melakukan pengembangan. dan pelaporan pencapaian standar nasional pendidikan. sistematis. Standar ini mengatur tentang penilaian hasil belajar oleh pendidik. LPMP mensurpervisi dan membantu satuan pendidikan dalam penjaminan mutu. pemerintah kabupaten/kota. standar penilaian pendidikan Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme. penyelenggaraan satuan pendidikan bertaraf internasional. pemantauan. Sedangkan evaluasi pendidikan meliputi: 1. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah propinsi 4.Standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan pemerintah mengatur tentang rencana kerja tahunan. 8. oleh satuan pendidikan dan oleh pemerintah. Pemerintah. biaya operasi.

Bagian ini meliputi: a) Kerangka Dasar Kurikulum 1) Kelompok Mata Pelajaran Bagian ini menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum. dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 7 . STANDAR ISI Di dalam Permendiknas No. 2. B. 22 tahun 2006 adalah sebagai berikut. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum.Penyelenggaraan satuan pendidikan yang tidak mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan dapat memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari BSNP didasarkan pada penilaian khusus. (3) kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi. dan (4) kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. (2) beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Standar Isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang selanjutnya disebut Standar Isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Sistematika Standar Isi dalam lampiran Permendiknas No. Ini berarti ketentuan di dalam Permendiknas tersebut bersifat minimal yang harus dicapai peserta didik pada setiap satuan pendidikan. kejuruan. Pendahuluan Bagian ini menjelaskan cakupan standar isi yang meliputi: (1) kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan. 1.

serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas. 2) Prinsip Pengembangan Kurikulum Bagian ini menyatakan bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. kebutuhan. (5) kelompok mata pelajaran jasmani. (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. (4) kelompok mata pelajaran estetika.(1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya (2) Beragam dan terpadu (3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. teknologi. dan seni (4) Relevan dengan kebutuhan kehidupan (5) Menyeluruh dan berkesinambungan (6) Belajar sepanjang hayat (7) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah 3) Prinsip Pelaksanaan Kurikulum Bagian ini menyatakan bahwa pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut. perkembangan. (1) Berpusat pada potensi. perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut. (1) Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi. dinamis dan menyenangkan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 8 . olahraga dan kesehatan. (2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian.

dengan prinsip tut wuri handayani. tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar. dan moral. dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan. yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. (7) Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran. keindividuan. (6) Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam. tahap perkembangan. akrab. sumber belajar dan teknologi yang memadai.(2) Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar. ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan. (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif. muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan. terbuka. contoh dan teladan). dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. ing madia mangun karsa. (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain. dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri. kesosialan. kreatif. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 9 . dan menyenangkan. efektif. (b) belajar untuk memahami dan menghayati. (3) Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan. dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan. di depan memberikan contoh dan teladan). dan/atau percepatan sesuai dengan potensi. (4) Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai. dan hangat. pengayaan. (5) Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia. keterkaitan. dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi. sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal. melalui proses pembelajaran yang aktif. di tengah membangun semangat dan prakarsa.

III dilaksanakan melalui pendekatan tematik. 1) Struktur Kurikulum SD/MI Struktur kurikulum SD/MI meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai Kelas I sampai dengan Kelas VI. Kurikulum SD/MI memuat 8 mata pelajaran. dan pengembangan karir peserta didik. dan pengembangan diri Pembelajaran pada Kelas I s. VI adalah 32 jam pelajaran per minggu. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 35 menit. VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan.d. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.b) Struktur Kurikulum Pendidikan Umum Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. sedangkan pada Kelas IV s. termasuk keunggulan daerah. muatan lokal. bakat. Sedangkan untuk kelas IV s. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 10 . Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. belajar. II. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum untuk kelas I . Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Struktur kurikulum pendidikan umum memuat komponen mata pelajaran. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. dan III adalah 26.d. guru. muatan lokal dan pengembangan diri. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. 27 dan 28 jam pelajaran per minggu.d. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah.

dan pengembangan diri. (2) Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum adalah 32 jam pelajaran per minggu. Kurikulum SMA/MA Kelas X terdiri atas 16 mata pelajaran. dan (4) Program Keagamaan. (3) Program Bahasa. Substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu”. Kurikulum SMP/MTs memuat 10 mata pelajaran. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum kelas X adalah 38 jam pelajaran. Program Bahasa. dan pengembangan diri. muatan lokal.2) Struktur Kurikulum SMP/MTs Struktur kurikulum SMP/MTs meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas VII sampai dengan Kelas IX. dan Program Keagamaan terdiri atas 13 mata pelajaran. Program IPS. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. dan pengembangan diri c) Struktur Kurikulum Pendidikan Kejuruan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 11 . Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. muatan lokal. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 45 menit. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 40 menit. kelas XI dan XII adalah 39 jam pelajaran dan kelas XI dan XII untuk MA program keagamaan adalah 38 jam pelajaran per minggu. Pengorganisasian kelas-kelas pada SMA/MA dibagi ke dalam dua kelompok. yaitu kelas X merupakan program umum yang diikuti oleh seluruh peserta didik. Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII Program IPA. muatan lokal. khusus untuk MA. dan kelas XI dan XII merupakan program penjurusan yang terdiri atas empat program: (1) Program Ilmu Pengetahuan Alam. 3) Struktur Kurikulum SMA/MA Struktur kurikulum SMA/MA meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas X sampai dengan Kelas XII.

yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas. Pengembangan diri bagi peserta didik Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 12 . serta memiliki kemampuan mengembangkan diri Kurikulum SMK/MAK berisi mata pelajaran wajib. Matematika. Seni dan Budaya. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pendidikan Kewarganegaraan. dan Keterampilan/Kejuruan. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. guru. dan prospek pengembangan daerah termasuk keunggulan daerah. Mata pelajaran Kejuruan terdiri atas beberapa mata pelajaran yang bertujuan untuk menunjang pembentukan kompetensi kejuruan dan pengembangan kemampuan menyesuaikan diri dalam bidang keahliannya. mereka harus memiliki stamina yang tinggi. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. kepribadian. dan pembentukan karier peserta didik. bakat. Mata pelajaran wajib terdiri atas Pendidikan Agama. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. Muatan Lokal. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. dan mampu berkomunikasi sesuai dengan tuntutan pekerjaannya. IPS. akhlak mulia. memiliki etos kerja yang tinggi. potensi daerah.Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan. Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Bahasa. IPA. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. dan Pengembangan Diri. belajar. Mata pelajaran ini bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam spektrum manusia kerja. pengetahuan. menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta mengembangkan keahlian dan keterampilan. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan program keahlian yang diselenggarakan. mata pelajaran Kejuruan.

Pendidikan SMK/MAK diselenggarakan dalam bentuk pendidikan sistem ganda. dan Seni Budaya (2) Kelompok adaptif terdiri atas mata pelajaran Bahasa Inggris. Matematika. Jumlah jam Kompetensi Kejuruan pada dasarnya sesuai dengan kebutuhan standard kompetensi kerja yang berlaku di dunia kerja tetapi tidak boleh kurang dari 1044 jam. Di dalam penyusunan kurikulum SMK/MAK mata pelajaran dibagi ke dalam tiga kelompok: (1) Kelompok normatif adalah mata pelajaran yang dialokasikan secara tetap yang meliputi Pendidikan Agama. dan Kewirausahaan (3) Kelompok produktif terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang dikelompokkan dalam Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi Kejuruan. IPS. Struktur kurikulum SMK/MAK meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun atau dapat diperpanjang hingga empat tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII atau kelas XIII. Alokasi waktu satu jam pelajaran tatap muka adalah 45 menit. Evaluasi pembelajaran dilakukan setiap akhir penyelesaian satu standar kompetensi atau beberapa penyelesaian kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran. Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi. dan dapat diselenggarakan dalam blok waktu atau alternatif lain. Beban belajar SMK/MAK meliputi kegiatan pembelajaran tatap muka. Kelompok adaptif dan produktif adalah mata pelajaran yang alokasi waktunya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian. praktik di sekolah dan kegiatan kerja praktik di dunia usaha/industri ekuivalen dengan 36 jam pelajaran Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 13 . Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan Kewarganegaraan. Struktur kurikulum SMK/MAK disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran. yang materinya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian untuk memenuhi standar kompetensi kerja di dunia kerja.SMK/MAK terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. Bahasa Indonesia. IPA.

muatan lokal. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. bina gerak untuk peserta didik tunadaksa. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. dan pengembangan karir peserta didik.per minggu. guru. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. dalam batas-batas tertentu masih dimungkinkan dapat mengikuti kurikulum standar meskipun harus dengan penyesuaian-penyesuaian. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. intelektual dan/atau sosial. dan pengembangan diri. Peserta didik ini yang berkeinginan untuk melanjutkan sampai ke jenjang pendidikan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 14 . kemampuan. yaitu program orientasi dan mobilitas untuk peserta didik tunanetra. bina diri untuk peserta didik tunagrahita. bina komunikasi persepsi bunyi dan irama untuk peserta didik tunarungu. belajar. emosional. bakat. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. program khusus. mental. Program khusus berisi kegiatan yang bervariasi sesuai degan jenis ketunaannya. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Lama penyelenggaraan pendidikan SMK/MAK tiga tahun. termasuk keunggulan daerah. d) Struktur Kurikulum Pendidikan Khusus Struktur Kurikulum dikembangkan untuk peserta didik berkelainan fisik. Kurikulum Pendidikan Khusus terdiri atas delapan sampai dengan 10 mata pelajaran. Peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. maksimum empat tahun sesuai dengan tuntutan program keahlian. dan bina pribadi dan sosial untuk peserta didik tunalaras. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Pengembangan diri terutama ditujukan untuk peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor.

B. D. setelah menyelesaikan pada jenjang SDLB dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMPLB. B = tunarungu. E = tunalaras).E relatif sama dengan kurikulum SD umum. semaksimal mungkin didorong untuk dapat mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan umum sejak SD atau SMP. D = tunadaksa ringan. dan SMALB A.E mengacu kepada satuan pendidikan umum yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan khusus peserta didik. Pada satuan pendidikan SMPLB A.D. SMALB A. B.E dan SMALB A. Mekanisme perpindahan jalur pendidikan adalah sebagai berikut.tinggi. E.D. diperlukan kurikulum yang sangat spesifik. E.D. dan Keterampilan dikembangkan oleh satuan Pendidikan Khusus dengan memperhatikan jenjang dan jenis satuan pendidikan.B.D. menggunakan sebutan Kurikulum SDLB A.B. SMPLB A . B. Kompetensi mata pelajaran umum SDLB. D. sederhana dan bersifat tematik untuk mendorong kemandirian dalam hidup sehari-hari. D. B. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 15 . E (A = tunanetra. Kurikulum SDLB A. Peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Bagi mereka yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. SDLB SMPLB SMALB MASYARAKAT ANAK LUAR BIASA/ANAK BERKELAINAN PERGURUAN TINGGI/ MASYARAKAT SD/MI SMP/ MTs SMA/MA SMK/MAK Kurikulum untuk peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata.B. dan SMALB. SMPLB.E dirancang untuk peserta didik yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang pendidikan tinggi. sedangkan kompetensi untuk mata pelajaran Program Khusus.

50% aspek keterampilan vokasional. Kurikulum ini dirancang sangat sederhana sesuai dengan batas-batas kemampuan peserta didik dan sifatnya lebih individual. menggunakan sebutan Kurikulum SDLB C. G. SMPLB dan SMALB C. SMPLB adalah 35 menit dan SMALB adalah 40 menit sesuai dengan kondisi peserta didik yang berkaelainan.D.E terdiri atas 40% – 50% aspek akademik dan 60% .30% berisi aspek keterampilan vokasional.70% aspek akademik dan 40% .Proporsi muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMPLB A. D1. C1. Satuan pendidikan khusus SDLB dan SMPLB dapat menambah maksimum 6 jam pembelajaran/minggu untuk keseluruhan jam pembelajaran. Kompetensi mata pelajaran pada SDLB. (C = tunagrahita ringan.G dikembangkan satuan Pendidikan Khusus yang bersangkutan dengan memperhatikan tingkat dan jenis satuan pendidikan. SMPLB C. dengan alokasi waktu 2 jam/minggu. Struktur kurikulum pada satuan Pendidikan Khusus SDLB dan SMPLB mengacu pada Struktur Kurikulum SD dan SMP dengan penambahan Program Khusus sesuai jenis kelainan. Satu jam pelajaran untuk SDLB adalah 30 menit. Muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMALB A.B. G. Kurikulum untuk peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. dan 4 jam Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 16 . D1 = tunadaksa sedang. dan SMALB C. Pembelajaran menggunakan pendekatan tematik. C1. dan tidak dihitung sebagai beban belajar.D1. dan Tunaganda. C1. Persepsi Bunyi dan Irama untuk peserta didik Tunarungu (3) Bina Diri untuk peserta didik Tunagrahita Ringan dan Sedang (4) Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Ringan (5) Bina Pribadi dan Sosial untuk peserta didik Tunalaras (6) Bina Diri dan Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Sedang. G. D1. (1) Orientasi dan Mobilitas untuk peserta didik Tunanetra (2) Bina Komunikasi.C1. Program Khusus sesuai jenis kelainan peserta didik meliputi sebagai berikut. G = tunaganda). D1.B. program khusus bersifat kasuistik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik tertentu.E terdiri atas 60% .D. C1 = tunagrahita sedang. Untuk jenjang SMALB.

dan Lampiran 3 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK.B. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi yang terdir atas: Lampiran 1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI dan SDLB.D. potensi. kemampuan dan kebutuhan peserta didik serta kondisi satuan pendidikan. Sisanya sekitar 40% . tingkat terampil dan tingkat mahir. Oleh karena itu. Beban belajar atau alokasi waktu yang diatur dalam struktur kurikulum adalah beban belajar dalam bentuk tatap muka. Beban Belajar Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka. Muatan isi mata pelajaran SMPLB A. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Muatan kurikulum SDLB. Lampiran 2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMP/MTs dan SMPLB. Muatan isi mata pelajaran untuk SMALB A. SMALB C.B. dan sekitar 60% – 50% bidang keterampilan vokasional.G lebih ditekankan pada kemampuan menolong diri sendiri dan keterampilan sederhana yang memungkinkan untuk menunjang kemandirian peserta didik.E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMA umum sehingga menjadi sekitar 40% – 50% bidang akademik.D. 3.C1. SMPLB. proporsi muatan keterampilan vokasional lebih diutamakan e) Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran pada setiap tingkat dan semester disajikan pada lampiran-lampiran Permendiknas No.E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMP umum sehingga menjadi sekitar 60% – 70%.pembelajaran untuk tingkat SMALB sesuai kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan yang bersangkutan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 17 . diserahkan kepada satuan pendidikan sesuai dengan minat.D1. Jenis keterampilan yang akan dikembangkan. penugasan terstruktur.30% muatan isi kurikulum ditekankan pada bidang keterampilan vokasional yang meliputi tingkat dasar.

Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem kredit semester dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). Beban belajar satu sks meliputi satu jam pembelajaran tatap muka. Kalender Pendidikan Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran. Satuan pendidikan SD/MI/SDLB melaksanakan program pendidikan dengan menggunakan sistem paket. SD/MI/SDLB maksimum 40% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan b. satu jam penugasan terstruktur. SMA/MA/SMALB/SMK/MAK maksimum 60% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. 4. sedangkan untuk kegiatan mandiri tidak terstruktur diatur sendiri oleh peserta didik. dan satu jam kegiatan mandiri tidak terstruktur. c. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem kredit semester.Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. SMP/MTs/SMPLB maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori standar menggunakan sistem paket atau dapat menggunakan sistem kredit semester. Program percepatan dapat diselenggarakan untuk mengakomodasi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Sistem kredit semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. a) Alokasi Waktu Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 18 . Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada untuk: a. waktu pembelajaran efektif dan hari libur. minggu efektif belajar. Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB.

Kegiatan khusus sekolah/madrasah b) Penetapan Kalender Pendidikan Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya. Jeda tengah semester Maksimum 2 minggu Maksimum 2 minggu Maksimum 3 minggu 2 – 4 minggu 3. No 1. dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan. dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus. Kegiatan Minggu efektif belajar Alokasi Waktu 34 – 38 minggu Keterangan Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan Satu minggu setiap semester 2.Alokasi waktu minggu efektif belajar. Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing-masing Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif 8. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 19 . Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota. Hari libur umum/nasional Hari libur khusus Maksimum 2 minggu Maksimum 1 minggu Maksimum 3 minggu 7. waktu libur dan kegiatan lainnya adalah sebagai berikut. Libur akhir tahun pelajaran Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah 5. Pemerintah Pusat/Provinsi /Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan. Hari libur keagamaan 6. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional. Jeda antarsemester Antara semester I dan II 4.

dan SMK/MAK terdiri atas 23 butir. pengetahuan. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik./SMPLB/Paket B bertujuan: Meletakkan dasar kecerdasan. SKL meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah. Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran dikembangkan berdasarkan tujuan dan cakupan muatan dan/ atau kegiatan setiap kelompok mata pelajaran. pengetahuan. akhlak mulia. Pendidikan Dasar. SMA/MA/SMALB*/Paket C terdiri atas 23 butir. Ini berarti ketentuan di dalam Permendiknas tersebut bersifat minimal yang harus dicapai lulusan peserta didik pada setiap satuan pendidikan. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Di dalam Permendiknas No. mulia. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut 2. kepribadian. pengetahuan.waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah. standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran. Pendidikan Menengah Kejuruan yang terdiri atas SMK/MAK akhlak bertujuan: serta Meningkatkan kecerdasan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut 3. 1. Tujuan setiap satuan pendidikan yang tertuang dalam lampiran Permendiknas No. dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran. 23 tahun 2006 adalah sebagai berikut. SMP/MTs/SMPLB*/Paket B terdiri atas 21 butir. kepribadian. keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya Standar kompetensi lulusan satuan pendidikan SD/MI/SDLB*/Paket A terdiri atas 17 butir. yakni: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 20 . yang meliputi SD/MI/SDLB/Paket A dan SMP/MTs. kepribadian. akhlak mulia. C. Pendidikan Menengah yang terdiri atas SMA/MA/SMALB/Paket C bertujuan: Meningkatkan kecerdasan.

matematika. kewarganegaraan. serta muatan lokal yang relevan Pada satuan pendidikan SMK/MAK. kewarganegaraan. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. dan pendidikan jasmani. Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan: mengembangkan logika. 3. Tujuan tersebut dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama. serta muatan lokal yang relevan Pada satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/Paket C. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 21 . tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. kepribadian. dan muatan lokal yang relevan. ilmu pengetahuan sosial. keterampilan/kejuruan. matematika. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. seni dan budaya. ilmu pengetahuan alam. teknologi informasi dan komunikasi. kejuruan. jasmani. seni dan budaya. Pada satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB/Paket B. keterampilan. ilmu pengetahuan sosial. olahraga. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. Kelompok mata pelajaran Agama dan Akhlak Mulia bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. estetika. kemampuan berpikir dan analisis peserta didik. 2. matematika. matematika. ilmu pengetahuan alam. dan kesehatan. Pada satuan pendidikan SD/MI/SDLB/Paket A. akhlak mulia. dan/atau teknologi informasi dan komunikasi. teknologi informasi dan komunikasi. ilmu pengetahuan dan teknologi. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. bahasa. ilmu pengetahuan alam. ilmu pengetahuan sosial. dan muatan lokal yang relevan. ilmu pengetahuan sosial. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama. keterampilan/kejuruan. Kelompok mata pelajaran Estetika bertujuan: membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. Kelompok mata pelajaran Kewarganegaraan dan Kepribadian bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. keterampilan/kejuruan. keterampilan. serta muatan lokal yang relevan 4.1. ilmu pengetahuan alam.

Bahasa Jepang. Kimia. Bahasa Indonesia. Matematika. Pendidikan Agama Hindu. dan Kesehatan bertujuan: membentuk karakter peserta didik agar sehat jasmani dan rohani. IPS. Matematika Program IPA. Matematika. Matematika. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SDLB A. Sejarah Program IPA.5. Geografi. dan muatan lokal yang relevan. dan Bahasa Inggris. Pendidikan Agama Kristen. Bahasa Indonesia. Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan Agama Buddha. Pendidikan Agama Hindu. Pendidikan Kewarganegaraan. Bahasa Inggris Program Bahasa. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. IPS. Bahasa Mandarin. Bahasa Perancis. Pendidikan Agama Kristen. Fisika. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMP/MTs terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Sastra Indonesia Program Bahasa. Pendidikan Agama Hindu. Keterampilan. IPA. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan pendidikan jasmani. Bahasa Indonesia Program Bahasa. IPA. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMA/MA terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. dan Bahasa Inggris. Teknologi Informasi dan Komunikasi. Sejarah Program Bahasa. Pendidikan Agama Kristen. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SD/MI terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Bahasa Arab. Seni Budaya. pendidikan kesehatan. Seni Budaya dan Keterampilan. Pendidikan Agama Hindu. Bahasa Jerman. Matematika Program IPS. Seni Budaya. IPS. IPA. Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Agama Katolik. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 22 . Pendidikan Agama Buddha. D. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Seni Budaya dan Keterampilan. Pendidikan Agama Buddha. Biologi. Pendidikan Agama Buddha. Matematika Program Bahasa. dan Antropologi Program Bahasa. Olah Raga. B. olahraga. Pendidikan Agama Katolik. Sejarah Program IPS. Pendidikan Agama Katolik. Bahasa Inggris. Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia Program IPA/IPS. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Kewarganegaraan. Keterampilan. dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Pendidikan Agama Katolik. Sosiologi. ilmu pengetahuan alam. dan menumbuhkan rasa sportivitas. Kelompok mata pelajaran Jasmani. Bahasa Inggris. Ekonomi. Pendidikan Kewarganegaraan.

IPS. Bahasa Indonesia. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Kewarganegaraan. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMK/MAK terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Agama Buddha. Kimia Kelompok Pertanian. potensi daerah/karakteristik daerah. Keterampilan Vokasional/Teknologi Informasi dan Komunikasi. Seni Budaya. Bahasa Inggris. Seni Budaya. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Agama Hindu. Biologi Kelompok Pertanian. Fisika Kelompok Pertanian. Bahasa Indonesia. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. IPS. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMALB A. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. D. Pendidikan Agama Hindu. Pendidikan Agama Kristen. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. IPS. B. Pendidikan Agama Buddha. Matematika Kelompok Sosial. D. sosial budaya masyarakat setempat. Administrasi Perkantoran dan Akuntasi. Matematika. Bahasa Inggris. B. Matematika Kelompok Teknologi. IPA. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan Agama Kristen. dan Teknologi Kerumahtanggaan. IPA. Pendidikan Agama Katolik.Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMPLB A. Kesehatan. dan Pertanian. Fisika Kelompok Teknologi. Matematika Kelompok Seni. Pengembangan kurikulum yang disssun oleh satuan pendidikan berdampak pada perubahan dalam proses dan mekanisme penyusunan kurikulum dan orientasi kerja Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 23 . dan Kewirausahaan. Seni Budaya. Pendidikan Agama Hindu. Pendidikan Agama Kristen. Biologi Kelompok Kesehatan. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). dan peserta didik. Pendidikan Agama Katolik. Kimia Kelompok Teknologi dan Kesehatan. Bahasa Inggris. Pariwisata. Matematika. IPA. Keterampilan. D. Pendidikan Kewarganegaraan. dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Penyususnan kurikulum juga dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan. Pendidikan Agama Buddha. Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi. Bahasa Indonesia.

Salah satu dampak tersebut adalah bahwa kurikulum tidak ditetapkan lagi secara nasional. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan. komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan yang perlu dikembangkan oleh sekolah adalah: 1. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan. akhlak mulia. dan kebutuhan satuan pendidikan. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut. kabupaten. a. terutama dalam mengembangkan dan menerapkan kurikulum di tingkat sekolah. (1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 24 . serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan.Pendidikan/Kanwil Depag di tingkat propinsi. kepribadian. Sehingga pencapaian hasil pendidikan optimal sesuai dengan kondisi. B dan C ditetapkan oleh dinas kabupaten/kota berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. pengetahuan. Pada buku ”Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah” yang diterbitkan oleh BSNP tahun 2006. potensi. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. namun pencapaian minimalnya sama untuk setiap satuan pendidikan. kepribadian. b. Khusus untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya untuk program paket A. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut. kepribadian. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. pengetahuan. 2. tetapi disusun oleh masing-masing sekolah atau kelompok sekolah dengan mengacu pada standar isi dan standar kompetensi lulusan. kota dan sekolah. akhlak mulia. c. akhlak mulia. pengetahuan.

Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. atau keunggulan daerah. muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. potensi. Ini berarti bahwa dalam satua tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal. Muatan Lokal Muatan lokal merupakan mata pelajaran yang isinya disesuaikan dengan ciri khas. a. Kegiatan Pengembangan Diri Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran sehingga tidak harus dirumuskan dalam bentuk standar kompetensi dan kompetensi dasar. c. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran. yang materinya belum tertuang pada mata pelajaran yang ada. olahraga dan kesehatan Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 Pasal 7. Satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan.(2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian (3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi (4) Kelompok mata pelajaran estetika (5) Kelompok mata pelajaran jasmani. tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. Mata pelajaran Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi. Dinas pendidikan dapat mengkoordinasikan pengembangan muatan lokal sejenis untuk satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. Perlu diperhatikan bahwa bagi satuan pendidikan yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi memungkinkan menambah atau menyesuaikan mata pelajaran dan alokasi waktunya. b. Satuan pendidikan dapat mengembangkannya dalam bentuk program kegiatan yang berisi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 25 . sesuai kebutuhan. sebagai berikut.

. Khusus untuk sekolah menengah kejuruan pengembangan diri terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. tidak terlepas kaitannya dari struktur kurikulum sebagai Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 26 . atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. 3. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa Pemerintah mengkategorikan sekolah/ madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri. Kegiatan ini difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor. Penambahan maksimum empat jam. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. guru. Untuk satuan pendidikan khusus menekankan pada peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. di samping dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di dalam Standar Isi. tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem SKS. dan pengembangan karier peserta didik serta dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler seperti keparamukaan.tujuan kegiatan dan bentuk dan pengelolaan kegiatan. Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif. dan sekolah/ madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. dan kelompok ilmiah remaja. Beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh satuan pendidikan SD/MI/SDLB. kepemimpinan. belajar. Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/SMALB /SMK/MAK kategori standar dapat menggunakan sistem paket atau sistem SKS. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap. Pengaturan Beban Belajar Di dalam penjelasan PP No.

25 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Bagi satuan pendidikan dan komite yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. potensi dan kebutuhan. 4. Kenaikan Kelas dan Kelulusan Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. yang sifatnya minimal. Ketuntasan Belajar Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%. Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Alokasi waktu untuk tatap muka. tentu dapat menambah jam sesuai dengan kondisi. Satu SKS pada SMP/MTs terdiri atas: 40 menit tatap muka. Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. Satu SKS pada SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: 45 menit tatap muka. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait. b. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal.bagian dari standar isi. 20 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK yang menggunakan sistem SKS mengikuti aturan sebagai berikut.60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Sesuai dengan ketentuan PP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 27 . penugasan terstruktur. Alokasi waktu untuk praktik. 5. dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka.50% dan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK 0% . Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi.40%. SMP/MTs/SMPLB 0% . Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket untuk SD/MI/SDLB 0% . a.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 28 . belum bisa mengikuti ujian sekolah. olahraga. kelompok kewarganegaraan dan kepribadian. dan d. Apabila satuan pendidikan telah mengembangkan dan menerapkan kurikulum yang mengacu standar isi dan SKL (apalagi kurikulum dengan standar lebih tinggi). memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. b. Materi ujian nasional dikembangkan tentu mengacu kepada Standar Isi dan SKL yang sifatnya minimal. Penjurusan Penjurusan dilakukan pada kelas XI dan XII di SMA/MA. menyelesaikan seluruh program pembelajaran. kelompok mata pelajaran estetika. dan kelompok mata pelajaran jasmani. SMA/MA/ SMALB. 7. lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. kecakapan sosial. Keempat syarat diatas bersifat ururtan prasyarat. yang mencakup kecakapan pribadi. peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah: a. dan kesehatan. Pendidikan Kecakapan Hidup Kurikulum untuk SD/MI/SDLB. Kriteria penjurusan diatur oleh direktorat teknis terkait. c. SMK/MAK dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup. kecakapan akademik dan/atau kecakapan vokasional. artinya seorang peserta didik yang belum menyelesaikan seluruh program pemebelajaran berarti belum mendapat nilai baik untuk kelompok non iptek. SMP/MTs/SMPLB. lulus Ujian Nasional. Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian integral dari pendidikan semua mata pelajaran dan/atau berupa paket/modul yang direncanakan secara khusus.19/2005 Pasal 72 Ayat (1). dan tentu saja belum bisa mengikuti ujian nasional. 6. tentunya siap untuk mengikuti ujian nasional.

observasi. dapat meminta peserta didik untuk mendapatkannya dari satuan pendidikan formal dan non formal lainnya. kebutuhan peserta didik dan masyarakat. dan lain-lain. dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. dan penugasan perseorangan atau Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 29 . 9. karakteristik sekolah. yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik. 8. Bagi sekolah yang belum memungkinkan memberikan pendidikan kecakapan hidup. teknologi informasi dan komunikasi. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi. bahasa. 10. yang dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran dan juga dapat menjadi mata pelajaran muatan lokal. Kurikulum untuk semua tingkat satuan pendidikan dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana yang dimuat dalam Standar Isi.Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan/atau dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal. tes praktek. Teknik penilaian tersebut dapat berupa tes tertulis. penilaian hasil pembelajaran. ekologi. budaya. Kalender Pendidikan Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi. Silabus Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran. Penilaian yang dimaksud menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik. pelaksanaan proses pembelajaran.

indikator. per tahun. kegiatan pembelajaran. kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG). kondisi sekolah dan lingkungannya. dan sumber/bahan/alat belajar. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. serta teknik penilaiannya sesuai dengan karakteristik hasil pembelajaran dan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. Khusus untuk SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi. dan Dinas Pendikan. penilaian. dengan memperhatikan hal berikut. c. b. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran. Di dalam panduan penyusuan kurikulum disebutkan bahwa silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi. alokasi waktu. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 30 . Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester. a. kompetensi dasar.kelompok. Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Sedangkan unit waktu silabus diatur sebagai berikut: a. kegiatan pembelajaran. dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah. materi pokok/pembelajaran. dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok. materi dan metode pengajaran. Silabus dan RPP merupakan bagian tak terpisahkan dari komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan. dan penilaian hasil belajar. sumber belajar. Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran. Disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik siswa.

peserta didik dengan guru. potensi. Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri. Sekolah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri. tentu perlu mengembangkan silabus yang sesuai b. Langkah-langkah Pengembangan Silabus dapat dilakukan sebagai berikut. a. Di SD/MI semua guru kelas. pokok bahasan. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi. menyusun silabus secara bersama. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran Materi ini dapat berupa konsep. Di SMP/MTs untuk mata pelajaran IPA dan IPS terpadu disusun secara bersama oleh guru yang terkait. karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 31 . Satuan pendidikan yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. dari kelas I sampai dengan kelas VI. keterkaitan antar kompetensi dalam satu mata pelajaran atau antar mata pelajaran.b. Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing. d. sebaiknya bergabung dengan sekolah-sekolah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolahsekolah dalam lingkup MGMP/PKG setempat. nantinya diperinci dalam RPP. Materi ini. c. dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. e. maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah tersebut. lingkungan. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik. tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI. c. atau tema yang bersifat kontekstual dan dipilih sesuai dengan kondisi.

rinci dan terukur. Menentukan Alokasi Waktu Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar. 6. Cakupan jenis penilaian dalam silabus tentu harus mengakomodasi kompetensi dan indikator yang telah dirumuskan. dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. pengamatan kinerja. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap. pengetahuan. tingkat kesulitan.melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Penentuan Jenis Penilaian Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. penggunaan portofolio. keluasan. satuan pendidikan. dan keterampilan. dan penilaian diri. e. potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. mata pelajaran. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik. kedalaman. Kegiatan pembelajaran dalam silabus merupakan pokok-pokok kegiatan siswa untuk mencapai kompetensi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 32 . Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan. yang nantinya diperinci dalam RPP. penilaian hasil karya berupa tugas. dapat dimasukkan bentuk penilaian dan jenis tugas yang perlu dilakukan siswa untuk melihat pencapaian kompetensi siswa. pengukuran sikap. Karena indikator dirumuskan dari kompetensi dasar berarti setiap kompetensi dasar memiliki lebih dari satu indikator. proyek dan/atau produk. d. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. agar penjabaran kompetensi lebih jelas. Di dalam penilaian. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

Metode Metode atau strategi pembelajaran yang dituangkan dalam RPP merupakan bentuk kegiatan dan organisasi kelas yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. b. 7. 11. Dengan demikian alokasi waktu yang ditetapkan dalam silabus dapat lebih dari satu kali pertemuan. Materi Ajar Materi ajar dirumuskan dari materi pokok atau materi pembelajaran pada silabus yang dapat berupa rincian secara runtut subpokok bahasan atau subtema. dan indikator pencapaian kompetensi. narasumber. Pemilihan materi ajar ditentukan oleh kondisi. objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. a. serta lingkungan fisik. potensi. Metode dan organisasi pembelajaran dapat berupa diskusi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 33 . penilaian hasil belajar. kegiatan pembelajaran. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran. alam. Tujuan pembelajaran Tujuan pembelejaran dirumuskan dalam bentuk uraian proses kegiatan belajar dan kemampuan atau hasil belajar peserta didik untuk mencapai kompetensi atau indikator yang telah dirumuskan dalam silabus. Menentukan Sumber Belajar Sumber belajar adalah rujukan. langkah-langkah pembelajaran. dan alokasi waktu untuk mencapai satu kompetensi dasar atau beberapa indikator dalam silabus tersebut. dan budaya. materi ajar. sumber belajar. kebutuhan dan daya dukung sumber daya satuan pendidikan dan siswa. metode. tetapi dirancang satu kompetensi atau sekelompok kompetensi. yang berupa media cetak dan elektronik.Silabus tidak harus dirancang untuk satu kali pertemuan (tatap muka). sosial. c. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan penjabaran sistematis dan terurut dari silabus yang dituangkan dalam tujuan pembelajaran.

penugsan. termasuk menjelaskan tujuan pembelajaran. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 34 . tanya jawab. (1) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi. atau rencana pembelajaran yang dirancang dalam satu pertemuan atau beberapa pertemuan. skenario. Penilaian Penilaian ini memuat rincian bentuk. RPP merupakan persiapan. Langkah pembelajaran Langkah pembelajaran dirumuskan dan dirinci dari pokok-pokok kegiatan belajar yang telah ditetapkan dalam silabus sehingga kegiatan belajar menjadi efektif. review (mengulang beberapa hal yang bersifat prasyarat). (3) Penutup Kegiatan penutup dari RPP dapat diisi dalam bentuk refleksi (perenungan) tentang pencapaian hasil belajar. Pelaksanaan penilaian terintegrasi dalam selama kegiatan belajar berlangsung. kerja kelompok. (2) Kegiatan inti Kegiatan ini merupakan kegiatan dan organisasi belajar secara yang bervariasi dan terurut sistematis untuk mencapai kompetensi dan beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. Langkah pembelajaran memuat bentuk kegiatan belajar dan strategi pengorganisasian belajar kelas serta urutan kegiatannya sebagai berikut. contoh penilaian dan pedoman penskoran dari bentuk penilaian dan jenis tugas yang telah dirumuskan dalam silabus. kegiatan problem solving aplikasi yang berkaitan dengan materi ajar. (1) Kegiatan awal Kegiatan ini dapat berupa apersepsi. d. atau rangkuman hasil belajar. yang biasanya dilengkapi dengan LK (lembar kerja) atau lembar tugas. dan sebagainya. diskusi. e. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian. penugasan lebih lanjut atau lebih mendalam.informasi. problem solving.

dan alat bantu belajar yang digunakan untuk mencapai kompetensi atau beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. Di sini perlu dijelaskan ketersediaan dan banyaknya sumber belajar. maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan. g. dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan. jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih. termasuk cara penggunaannya. f. Alokasi waktu RPP dirancang menggunakan jam pembelajarn sehingga alokasi waktunya merupakan perkiraan jumlah jam pelajaran yang diperlukan untuk untuk mencapai kompetensi atau beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. (4) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Misalnya. (3) Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. termasuk perlu diperjelas proporsi waktu untuk kegiatan awal. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 35 . kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum. (5) Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. serta untuk mengetahui kesulitan siswa. kegiatan inti dan penutup.(2) Penilaian menggunakan acuan kriteria. media. dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya. bahan. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya. Sumber Belajar Sumber belajar meliputi bahan ajar. alat. program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan. yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran.

Dengan mengembangkan dan menerapkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. mengatur sistem akselerasi atau percepatan belajar dan sebagainya. potensi dan kebutuhan satuan pendidikan. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 sampai dengan Pasal 38. 24 tahun 2006 disebutkan bahwa: (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan berdasarkan pada : a. maka satuan pendidikan dapat menyesuaikan alokasi waktu pada struktur kurikulum. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. PENERAPAN STANDAR ISI DAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Implementasi.E. dan Pasal 25 sampai dengan Pasal 27. mengkaji. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. pendalaman kompetensi. mengatur kalender pendidikan. kondisi dan kebutuhannya. sesuai potensi. potensi dan kebutuhan satuan pendidikan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 5 sampai dengan Pasal 18. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 36 . d. mengatur sistem beban belajar. Setiap satuan pendidikan yang akan mengembangkan kurikulum perlu memiliki dokumen yang berisi ketentuan-ketentuan di atas. dan memahami dokumen tersebut agar dapat mengembangkan kurikulum secara optimal. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. penambahan mata pelajaran atau penambahan muatan lainnya. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. b. sesuai dengan kondisi. 22 tentang standar isi dan Permendiknas No. Kurikulum dengan standar lebih tinggi dapat berupa penambahan lingkup materi dan kompetensi. 23 tahun 2006 Standar isi dan standar kompetensi lulusan merupakan ketentuan yang bersifat minimal sehingga satuan pendidikan dimungkinkan menyusun kurikulum dengan standar lebih tinggi. penerapan atau pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan diatur dalam Permendiknas No. Satuan pendidikan perlu memiliki. sesuai dengan kondisi. 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan. c. Pada Permendiknas No.

22 dan No. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa penetapan kurikulum satuan pendidikan merupakan tanggung jawab satuan pendidikan dan komitenya. Perlu dikritisi bahwa pengembangan dan penetapan kurikulum merupakan tanggung jawab sekolah sehingga sekolah perlu secara mandiri menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan kurikulum dengan tetap mengacu pada ketentuan yang ada seperti pada UU sisdiknas. setelah tahun 2006 sampai tahun 2009 Standar Isi. (5) Kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah. 24 tahun 2006 disebutkan bahwa: (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menerapkan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 mulai tahun ajaran 2006/2007. Standar Kompetensi Lulusan dan ketentuan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 37 . di dalam Permendiknas No. tetapi harus menerapkan kurikulum sesuai dengan Permendiknas No. Panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan masih bersifat umum sehingga hal-hal lebih lanjut dan rinci perlu ditetapkan sendiri oleh satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. Pertimbangan komite dapat berarti berupa persetujuan setelah KTSP disusun oleh sekolah atau komite berpatisipasi aktif dan bekerjasama dalam proses penyusunan kurikulum dengan sekolah/madrasah. PP Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas pelaksanaannya. Mengenai mekanisme dan strategi pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan. 23 Tahun 2006. 22 dan No. (4) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengadopsi atau mengadaptasi model kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun oleh BSNP.(3) Pengembangan dan penetapan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah memperhatikan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). 23 dan 24 tahun 2006. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa satuan pendidikan memungkinkan menerapkan Permendiknas No. 22. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa pada dasarnya satuan pendidikan tidak diharuskan mengembangkan kurikulum apabila belum memiliki kesiapan berbagai sumber daya yang diperlukan. Hal ini untuk mengakomodasi kemungkinan terdapat satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan yang belum siap mengembangkan kurikulum sendiri.

sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB). : kelas 1 dan 2.2. 22 dan No.2.2. dan 3.tahun III : kelas 1. 23 Tahun 2006 paling lambat tahun ajaran 2009/2010. (3) Satuan pendidikan dasar dan menengah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang telah melaksanakan uji coba kurikulum 2004 secara menyeluruh dapat menerapkan secara menyeluruh Permendiknas No. melaksanakan Permendiknas No.apabila kondisi satuan pendidikan belum siap.tahun II .tahun I . situasi belum memungkinkan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 38 .tahun I . sekolah menengah atas (SMA). dan sejenisnya. mempelajari dokumen yang diperlukan.tahun III b : kelas 1 dan 4.4. atau mungkin menerapkannya secara bertahap mulai melengkapi perangkat pendukung. (5) Penyimpangan terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir (2) di atas dapat dilakukan setelah mendapat izin Menteri Pendidikan Nasional. 23 Tahun 2006.4. madrasah ibtidaiyah (MI). dan 5.3. : kelas 1.tahun II . (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah harus sudah mulai menerapkan Permendiknas No.5 dan 6. 23 Tahun 2006 secara bertahap dalam waktu paling lama 3 tahun. dan sekolah menengah atas luar biasa (SMALB) : . madrasah tsanawiyah (MTs). Untuk sekolah menengah pertama (SMP). madrasah aliyah kejuruan (MAK). sekolah menengah kejuruan (SMK). 23 Tahun 2006 untuk semua tingkatan kelasnya mulai tahun ajaran 2006/2007. dengan tahapan: a Untuk sekolah dasar (SD). 22 dan No. (4) Satuan pendidikan dasar dan menengah yang belum melaksanakan uji coba kurikulum 2004. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa satuan pendidikan memungkinkan menerapkan Permendiknas No. : kelas 1. dan sekolah dasar luar biasa (SDLB): . setelah setelah tahun 2009 apabila kondisi satuan pendidikan belum siap disebabkan kondisi. : kelas 1. 22 dan No. madrasah aliyah (MA). 22 dan No.

23 Tahun 2006. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.Permendiknas No. Peran satuan pendidikan tetap merupakan pelaksana dalam penerapan Permendiknas tersebut dan semua satuan pendidikan dalam suatu wilayah tidak harus melaksanakan secara serempak. serta mendistribusikannya kepada setiap satuan pendidikan secara nasional. (2) BSNP dapat mengajukan usul revisi . 24 tahun 2006. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di provinsi masing-masing. BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) memilki tugas sebagai berikut. (2) Bupati/walikota dapat mengatur jadwal pelaksanaan . Sedangkan. walikota dan menteri Agama lebih berperan dalam pengaturan jadwal atau mengkoordinasikan pelaksanaan Permendiknas No. tetapi disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan. 23 Tahun 2006 sesuai dengan keperluan berdasarkan pemantauan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada butir (1). 23 Tahun 2006. 23 Tahun 2006. untuk satuan pendidikan dasar. untuk satuan pendidikan madrasah ibtidaiyah (MI). dan madrasah aliyah kejuruan (MAK). disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di kabupaten/kota masing-masing (3) Menteri Agama dapat mengatur jadwal pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 39 . madrasah aliyah (MA). untuk mendukung dan mendorong satuan pendidikan dalam menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. Di dalam Permendiknas No.Peran Pemerintah dan Pemerintah Daerah pada implementasi atau penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dalam Permendiknas No. 23 Tahun 2006. secara nasional. memiliki tugas berikut: (1) menggandakan Permendiknas No. 22 dan No. 22 dan No. 24 tahun 2006 juga disebutkan bahwa: (1) Gubernur dapat mengatur jadwal pelaksanaan Permendiknas No. untuk satuan pendidikan menengah dan satuan pendidikan khusus. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan yang bersangkutan.Permendiknas No. 23 Tahun 2006. madrasah tsanawiyah (MTs). 22 dan No. bupati. (1) BSNP melakukan pemantauan perkembangan dan evaluasi pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23 Tahun 2006. pada tingkat satuan pendidikan. 22 dan No. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa gubernur. 22 dan No.

23 Tahun 2006 Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan:.(2) melakukan usaha secara nasional agar sarana dan prasarana satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mendukung penerapan Permendiknas No. 23 Tahun 2006. 22 dan No. 22 dan No. 22 dan No. melalui LPMP. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional. 23 Tahun 2006. memiliki tugas berikut: (1) mengembangkan model-model kurikulum sebagai masukan bagi BSNP. (3) membantu pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam penjaminan mutu satuan pendidikan dasar dan menengah agar dapat memenuhi Permendiknas No. dan tenaga kependidikan lainnya yang relevan melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan/atau Pusat Pengembangan dan Penataran Guru (PPPG). dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP. 22 dan No. (4) bekerjasama dengan perguruan tinggi dan/atau LPMP melakukan pendampingan satuan pendidikan dasar dan menengah dalam pengembangan kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah. dan dewan pendidikan. 22 dan No. dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP kepada dinas pendidikan provinsi. 22 dan No. mengevaluasinya. (3) mengembangkan dan mengujicobakan model kurikulum untuk pendidikan layanan khusus. 23 Tahun 2006. (5) memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri. kepala sekolah. memiliki tugas berikut: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 40 . memiliki tugas berikut: (1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. 23 Tahun 2006. (6) mengembangkan pangkalan data yang rinci tentang pelaksanaan Permendiknas No. (2) melakukan sosialisasi Permendiknas No. pengawas. (2) mengembangkan dan mengujicobakan model-model kurikulum inovatif. 23 Tahun 2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. dinas pendidikan kabupaten/kota. terhadap guru.

departemen agama dan departemen lain yang terkait). komite satuan pendidikan. Sedangkan Departemen lain yang menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah : (1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. dan sumber daya manusia satuan pendidikan yang berada di bawah kewenangannya mendukung Permendiknas No. dinyatakan tidak berlaku bagi satuan pendidikan dasar dan menengah sejak satuan pendidikan dasar dan menengah yang bersangkutan melaksanakan Permendiknas No. memonitor dan mendorong satuan pendidikan untuk menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. Nomor 0126/U/1994 tentang Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. dan mengevaluasi pelaksanaan Permendiknas No. lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK). (2) mengusahakan secara nasional sesuai dengan kewenangannya agar sarana.(1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. memantau. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan : a. Bupati/walikota dan gubernur berperan dalam melakukan sosialisasi. 24 Tahun 2006. Nomor 080/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan. Dari ketentuan Permendiknas No. 24 tahun 2006 jelas bahwa efektifitas pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan ditentukan oleh komitmen dan peran satuan pendidikan. dan pemerintah (departemen pendidikan nasional. 23 Tahun 2006. Nomor 061/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Umum. mengatur jadwal. 23 Tahun 2006. 24 Tahun 2006. 23 Tahun 2006 sesuai dengan kewenangannya dan berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan Nasional. 23 Tahun 2006 sesuai dengan kewenangannya. 23 Tahun 2006 (3) melakukan supervisi. kepada pemangku kepentingan umum. gubernur. c. mengkoordinasikan. prasarana. dan d. mengevaluasi dan melaksanakan kurikulum sesuai dengan standar isi dan standar kompetensi lulusan. 22 dan No. 22 dan No. di kalangan (2) memfasilitasi pengembangan kurikulum dan tenaga dosen LPTK yang mendukung pelaksanaan Permendiknas No. Dengan berlakunya Permendiknas No. 23 Tahun 2006 Sekretariat Jenderal melakukan sosialisasi Permendiknas No. 22 dan No. Satuan pendidikan dan komite berperan dalam mengembangkan. bupati/walikota. Departemen pendidikan nasional memiliki peran Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 41 . Nomor 060/U/1993 tentang Kurikulum Pendidikan Dasar. 22 dan No. 22 dan No. b. 22 dan No. menyusun.

F. Monitoring tersebut dapat dilakukan mulai dari perencanaan (termasuk needs analysis) . maupun outputnya. mengevaluasi dan mendorong satuan pendidikan di bawah kewenangannya untuk menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. SISTEM MONITORING KURIKULUM Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas keberhasilan implementasi kurikulum yang dilakukan oleh suatu lembaga adalah melakukan monitoring terhadap program tersebut. mengusahakan sarana dan prasarana. Keitga istilah tersebut pada dasarnya tidak terpisahkan satu sama lain karena sama-sama digunkan dalam konteks menyempurnakan atau memperbaiki program dan hasil pelaksanaan implementasi kurikulum. Departemen agama dan departemen lain terkait berperan dalam melakukan sosialisasi. Semua istilah tersebut secara umum mengacu pada fungsi pengawasan pelaksanaan program implementasi kurikulum. Monitoring (pemantauan) secara umum dimaknai sebagai sebuah kegiatan yang berfungsi untuk melihat kesesuaian rencana program implementasi kurikulum dengan pelaksanaan yang terjadi yang mencakup semua aspek dalam implementasi kurikulum diantaranya : Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 42 . mengkoordinasikan. workshop. proses dan pelaksanaan. evaluasi dan supervisi. terdapat berbagai istilah yang hampir sepadan yaitu monitoring. Proses dan kedudukan monitoring dapat digambarkan sebagai berikut : Analisis SWOT Implementasi kurikulum Evaluasi dampak MONITORING Disain dan perencanaan kurikulum Pelaksanaan kurikulum Monitoring merupakan bagian dari bentuk pengendalian (control) yaitu proses yang memastikan bahwa aktifitas aktual (yang terjadi) sesuai dengan aktifitas yang direncanakan. dan memonitor satuan pendidikan dalam penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan. mengeluarkan kebijakan teknis. mengatur jadwal.dalam melakukan sosialisasi. Dalam kaitannya dengan peningkatan mutu implementasi kurikulum.

Dari ketiga pengertian di atas tampak bahwa monitoring digunakan untuk memperbaiki proses implementasi kurikulum yang sedang berjalan untuk mengoptimalkan hasil. Fungsi monitoring mencakup tiga unsur utama: (1) Menetapkan standar ketepatan program implementasi kurikulum. efisiensi. Suatu kegiatan evaluasi diharapkan dapat mengukur keberhasilan apakah tujuan implementasi kurikulum yang ditetapkan dapat dicapai. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memperbaiki program implementasi kurikulum yang sedang berjalan. supervisi merupakan program berencana untuk memperbaiki pengajaran. Secara sederhana. 1988 mendefiniisikan evaluasi adalah proses pengumpulan data yang sistematis untuk mengukur evektivitas. evaluasi hasilnya lebih dipergunakan untuk perbaikan program implementasi kurikulum berikutnya walaupun pelaksanaan evaluasi dapat dilakukan pada saat implementasi kurikulum berlangsung. Standar diuraikan atau dirumuskan dalam bentuk kriteria hasil monitoring. ketepatan dalam pelaksanaan implementasi kurikulum. Terdapat berbagai konsep mengenai supervisi. sedangkan supervisi lebih menekankan pada perbaikan pembelajaran secara langsung yang diberikan oleh fasilitator atau narasumber. akuntabilitas dan relevansi program implementasi kurikulum. ketepatan perencanaan program kurikulum. Hasil evaluasi biasanya dipergunakan untuk memperbaiki program implementasi kurikulum yang akan dilakukan berikutnya. LAN mendefinisikan evaluasi sebagai proses atau kegiatan untuk menentukan kemajuan implementasi kurikulum dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan dan usaha untuk memperoleh informasi atau umpan balik bagi penyempurnaan program implementasi kurikulum. supervisi merupakan suatu aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu program pendidikan dan tenaga pendidik dan kependidikan dalam melakukan profesi mereka secara efektif. Evaluasi menurut the trainer’s Library. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 43 . Monitoring memiliki cakupan prosedur dan cakupan proses lebih luas dari sekedar yang dilakukan dalam pekerjaan evaluasi atau supervisi. ketepatan dalam mengidentifikasi dampak implementasi kurikulum. Dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistimatis untuk melihat apakah sebuah program implementasi kurikulum telah berhasil dan efisien dalam pelaksanaannya. Salah satu pengertiannya.ketepatan perumusan analisis kebutuhan.

(3) Mengambil tindakan dalam bentuk pemberian bantuan. Hasilnya dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan. Unsur-unsur pokok dalam proses monitoring adalah penetapan standar ketepatan program implementasi kurikulum. Teknik – teknik monitoring dan penerapannya. pengembangan dan penyelenggaraan program implementasi kurikulum. menentukan apakah terdapat penyimpangan. Kompetensi yang dimaksud di sini tentu kompetensi atau kemampuan profesional yang terkait langsung dengan perencanaan. membandingkan kinerja aktual dengan standar yang ditetapkan. memahami orang lain. Kompetensi meliputi keterampilan teknis dalam menggunakan prosedur kerja dalam program implementasi kurikulum. Ini sangat mudah dilakukan karena pada dasarnya manusia sebagai Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 44 . penyelesaian masalah bersama untuk memperbaiki program yang belum sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. serta keterampilan konseptual dalam mengkoordinasi dan memadukan berbagai kepentingan dan kegiatan dalam implementasi kurikulum. merancang sistem umpan balik informasi. dan mengambil tindakan perbaikan. Penetapan standar dan metode monitoring implementasi kurikulum Monitoring Apakah kinerja sesuai standar? tidak Pengambilan tindakan perbaikan Selesai ya Monitoring harus dilakukan oleh seseorang yang berkompeten sesuai dengan bidang yang akan dimonitor. dan memotivasi orang lain. pengarahan.(2) Memantau dan mengukur aktifitas program yang sedang berjalan dengan menggunakan teknik monitoring tertentu. keterampilan manusiawi dalam bekerja dengan orang lain. 1. Model monitoring yang konvensional atau tradisional adalah yang bersifat mencari kesalahan. yang dapat diilustrasikan sebagai berikut.

yaitu memberi bantuan dan arahan secara langsung atau pendekatan tidak langsung (indirect) di mana pemonitor mendengar keluhan. dipilih dan ditetapkan sebagai bagian dari tahapan – tahapan implementasi kurikulum.Wawancara tentang perencanaan kurikulum : pewawancara harus mengetahui dan menngidentifikasi apakah struktur program kurikulum. memiliki banyak kekurangan. Metode-metode ini dikemas.Wawancara mengenai analisis kebutuhan : pewawancara harus mengetahui apakah kebutuhan – kebutuhan proram implementasi kurikulum sudah sesuai dengan apa yang diharapkan ? . dikembangkan. hambatan. Dalam monitoring yang ditekankan adalah bantuan agar program implementasi kurikulum terlaksana sesuai tujuan. dikombinasikan dan dilakukan secara terpadu (terintegrasi) agar proses monitoring dapat berjalan secara efisien dan sesuai sasaran. dekat dan terbuka. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 45 . observasi (pengamatan). kuesioner. kemudian mendiskusikan pemecahan atau solusi dari problem dan hambatan yang dihadapi. silabus dan bahan ajarnya telah lengkap sesuai dengan tujuan dan sistematis serta terarah ? Hal yang terpenting dalam melakukan wawancara adalah pewawancara sudah mempersiapkan diri dengan pedoman wawancara yang isinya memuat semua aspek – aspek yang akan dimonitor.penyelenggara implementasi kurikulum. suasana yang hangat. Metode wawancara dapat dilakukan secara tertulis ataupun langsung. atau metode pengumpulan data lainnya. Cara ini tentu saja tidak sesuai dengan tujuan monitoring dan berdampak pada sikap acuh tak acuh atau menentang dari pihak penyelenggara program. Pendekatan yang digunakan dalam monitoring dapat berupa pendekatan langsung (direct). Monitoring perlu dilakukan secara ilmiah yang terencana. Dalam metode ini yang perlu dilakukan bahwa pewawancara harus memiliki aspek – aspek apa saja yang perlu diketahui atau dimonitor sebagai bagian dari monitoring. penilaian diri. atau kesulitan penyelenggara pendidikan. serta umpan balik (feedback) yang diberikan harus secepat mungkin dan objektif untuk segera dilakukan perbaikan. Dalam melakukan wawancara perlu diperhatikan bahwa kegiatan ini tidak mengganggu semua aspek program implementasi kurikulum. sistematis dan menggunakan instrumen tertentu. Metode monitoring dapat berupa : konsultasi atau wawancara. Metode – metode ini harus sudah direncanakan. Misalnya : .

Selain menggunakan format observasi secara khusus. yaitu : menguraikan hasil pengamatan secara komprehensif dan ditulis secara lengkap dalam sebuah laporan. Hal ini dapat memberikan beberapa manfaat: (1) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan akan belajar bagaimana menganalisis peristiwa yang dialami sendiri selama program implementasi kurikulum berlangsung (2) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan dapat memperoleh pengalaman dalam memberi umpan balik perbaikan implementasi kurikulum secara langsung (3) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan akan belajar bagaimana menggunakan sumber daya yang dipakai untuk melakukan analisis. laporan ini dianalisis untuk diperoleh hal-hal atau aspek apa saja yang perlu diperbaiki dan ditindaklanjuti agar segera dilakukan perbaikan program implementasi kurikulum. Alat bantu lain yang sangat berguna dalam metode observasi/wawancara adalah kamera untuk bukti dokumentasi pelaksanaan implementasi kurikulum. kepala sekolah.Metode observasi biasanya digunakan untuk mengamati unjuk kerja (kinerja) dari setiap orang yang terlibat dalam kegiatan program implementasi kurikulum. dan peralatan audio visual (video) sebagai dokumentasi pelaksanaan implementasi kurikulum. Unjuk kerja untuk setiap aspek yang dimonitor dapat dikategorikan dalam bentuk laporan teramati (tepat) atau tidak teramati (tidak tepat). Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan yang memuat aspek – aspek yang akan dilihat saat monitoring dilakukan. Selain oleh pemonitor dari penyelenggara implementasi kurikulum. serta data yang dihasilkan haruslah faktual dan bukan opini pemonitor. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 46 . pemonitor dapat juga menggunakan metode deskripsi. observasi dapat pula dilakukan oleh penyelenggara (guru. Dalam melakukan observasi perlu dillakukan dalam situasi yang wajar (tidak mengganggu program pembelajaran). mencatat hal-hal yang penting dan menekankan pada upaya perbaikan program implementasi kurikulum. kurang baik. atau pengawas sekolah). Selanjutnya. Boleh juga digunakan sekala rentang. cukup baik dan baik. misalkan suatu aspek ditunjukkan melalui empat kategori yaitu : tidak baik. perekam suara (tape recorder) hasil wawancara atau kegiatan lainnya.

angket. Aspek lain yang tidak mungkin dimonitor melalui kuesioner dapat dimonitor melalui observasi atau teknik monitoring lainnya. Kuesioner dengan jawaban terbuka memberi peluang pada responden menyatakan pendapatnya secara bebas tetapi memerlukan waktu untuk menganalisis dan melakukan perbaikan program implementasi kurikulum. Dalam metode ini semua aspek yang dimonitor informasinya didapatkan melalui pertanyaan atau pernyataan tertulis yang diberikan pada sumber data (guru. terbuka. Alat penilaian diri dapat berupa daftar ceklis tentang pandangan/pendapat.Metode kuesioner biasanya digunakan untuk memonitor. Penilaian diri cukup bermanfaat untuk dilakukan karena pelaksana akan lebih jujur mengungkapkan pendapatnya tentang pelaksanaan program implementasi kurikulum. Data dan informasi dari monitoring secara tertulis (kuesioner. kepala sekolah. Pengembangan instrumen monitoring. baru dilakukan pengembangan instrument monitoring dan pedoman yang memuat criteria hasil monitoring. Dilanjutkan dengan pemilihan teknik monitoring yang tepat. melalui pos atau dengan alat bantu teknologi informasi melalui internet (website). dan keakuratan jawaban. Walaupun perlu dilakukan kroscek atau verifikasi dengan sumber data yang lain untuk mendapat informasi yang lebih otentik. dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan tertulis yang telah disiapkan. pengawas dan fihak lain yang relevan. yang disusun dalam bentuk pertanyaan tertutup atau terbuka. atupun fihak lain yang terkait). 2. kepala sekolah. atau pernyataan sikap. atau penilaian diri) dapat diperoleh secara langsung oleh petugas kuesioner kepada responden. Dengan demikian sebelum Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 47 . Dalam kegiatan pengembangan instrument monitoring diawali dengan kegiatan mengidentifikasi aspek yang akan dimonitor. kegunaan informasi yang dijaring. Penilaian diri merupakan salah satu bentuk kuisioner yang khusus ditujukan kepada fihak pelaksana penyelenggara pendidikan untuk melakukan evaluasi diri misalnya mengenai tanggapan tentang komitmen. daya inovasi dan kreasi dari guru. Yang terpenting dalam pengembangan kuesioner harus memperhatikan aspek kepraktisan. Kuesioner dengan jawaban (options) tertutup mudah dianalisis tetapi tidak memberi peluang responden memberi tanggapan lain yang mungkin sangat berguna. Monitoring melalui pos atau internet lebih membutuhkan keaktifan dan proaktif dari pihak responden. Kuesioner dapat berupa pertanyaan dengan jawaban tertutup.

Kemampuan dan kesiapan tenaga kependidikan Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 6. Kesiapan orangtua dan masyarakat Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Observasi Lembar observasi Panduan Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 3. Aspek yang dimonitor 1. Kemampuan dan kesiapan sumber daya pendidikan 4. Sosialisasi SI dan SKL Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 9. Kemampuan dan kesiapan pendidik Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 5. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 3.pengembangan instrument monitoring perlu disusun kisi – kisi instrumen monitoring yang secara umum dapat ditampilkan dalam contoh tabel kisi-kisi berikut. Subaspek Standar Isi (SI) Teknik monitoring Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 2. Pengembangan Silabus dan RPP Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Bentuk instrumen Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 48 . Kesiapan sarana dan prasarana Tertulis Observasi Wawancara 7. Pelaksanaan atau penerapan kurikulum oleh satuan pendidikan 8. Pelaksanaan SI dan SKL Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 2. Pengembangan Kurikulum (KTSP) Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 10. Pemahaman dan persepsi tentang kebijakan kurikulum 1.

penyusunan instrument TNA. pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan. pengolahan dan analisis data TNA. yang mencakup sub-subaspek berikut. Aspek Perencanaan implementasi kurikulum. pemetaan kebutuhan implementasi kurikulum. system pengambilan data TNA. hambatan.. yang mencakup sub-subaspek: Isi struktur program implementasi kurikulum. Standar isi. Pengembangan Penilaian Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 12. kelemahan. 1. Penerapan pembelajaran di sekolah Observasi Wawancara Panduan Wawancara Panduan Observasi Lembar observasi Aspek yang dimonitor mencakup semua komponen – komponen penting mulai dari perencanaan kurikulum. serta analisis kekuatan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 49 . Isi silabus. dan tantangan untuk penyempurnaan kurikulum. peluang. Aspek pemahaman dan persepsi. Hal ini agar mempermudah dalam melakukan monitoring nantinya. yang meliputi:.Aspek yang dimonitor Subaspek Teknik monitoring Bentuk instrumen Angket 11. Isi bahan ajar. ketepatan menentukan kompetensi yang akan dicapai. Misalkan sub aspek isi silabus dapat dirinci menjadi lima komponen yaitu : 1. evaluasi efektifitas dampak pelaksanaan kurikulum. 2. serta akan meningkatkan nilai ketepatan pengamatan. Aspek – aspek yang lebih rinci akan mampu menggambarkan pelaksanaan implementasi kurikulum dengan baik atau tidak suatu implementasi kurikulum dilaksanakan. Setiap aspek atau sub aspek tersebut dapat di jabarkan kedalam aspek yang lebih kecil.

2. Perumusan kriteria ini harus jelas. 5. Kriteria ini merupakan pedoman atau acuan bagi pemonitor untuk memeriksa ketepatan setiap aspek yang dimonitor pada setiap tahapan program implementasi kurikulum. kelengkapan atau kebenaran prosedur kerja dari setiap tahapan program implementasi kurikulum sesuai dengan aspek-aspeknya. jika aspek yang dimonitor berupa kinerja atau performa dari penyelenggara dan peserta implementasi kurikulum. yaitu menetapkan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 50 . Misalnya. dapat diukur (measurable). Terdapat beberapa jenis teknik monitoring. serta dapat dicapai dengan tenggang waktu tertentu. Perumusan yang samar-samar seperti ’meningkatkan mutu bahan ajar’. Di sisi lain. ketepatan indicator yang dirumuskan. Kriteria atau tolok ukur hasil monitoring merupakan ukuran ketepatan. 4. minat dan ketertarikan peserta. serta silabus hasil karya peserta. 3. Cara paling sederhana menentukan kriteria adalah dengan daftar ceklis. yaitu teknik tertulis yang dapat dilakukan dengan wawancara tertulis. ketepatan materi yang dipilih sebagai bahan implementasi kurikulum. maka monitoring dapat dilakukan dalam bentuk tertulis misalnya berupa kuesioner. suatu aspek dimonitor dengan menggunakan lebih dari satu teknik monitoring. komitmen atau sikap penyelenggara dan peserta implementasi kurikulum terhadap program implementasi kurikulum. Apabila aspek yang dimonitor berupa kelengkapan dokumen atau peralatan. Biasanya untuk membuat efektif monitoring. ketepatan waktu yang disediakan. Teknik monitoring dipilih dengan mempertimbangkan karakteristik dari setiap aspek yang dimonitor. tidak akan dapat dimonitor karena tidak jelas ukuran peningkatannya. ketepatan metode implementasi kurikulum yang digunakan. dapat dimonitor dengan metode observasi untuk melihat komitmen. subaspek materi implementasi kurikulum penyusunan silabus dapat dimonitor dengan metode kuesioner untuk melihat kelengkapan dan isi kualitas dari dokumen silabus yang digunakan. Namun. atau sarana lainnya. kuesioner atau penilaian diri dan monitoring unjuk kerja dan sikap yang dilakukan dalam bentuk observasi saat implementasi kurikulum berlangsung. kualitas isi dokumen atau peralatan. maka monitoring paling tepat dilakukan dalam bentuk observasi. atau dapat diamati (observable). komitmen fasilitator selama program implementasi kurikulum dilaksanakan.

mereka biasanya ada yang setuju. Dengan demikian. Apapun metode analisis yang digunakan. 3. Kebanyakan orang lebih tertarik dengan analisis kuantitatif. yang selanjutnya juga menentukan apakah tujuan implementasi kurikulum telah tercapai. Tingkat analisis bergantung pada detil data yang dibutuhkan dan kompleksitas permasalahan selama implementasi kurikulum. Demikian juga apabila kita minta pendapat peserta tentang program implementasi kurikulum. cukup tepat atau tidak tepat. cukup berhasil. 4. harus menjawab pertanyaan apakah program implementasi kurikulum telah berhasil dan efektif dilakukan sesuai tujuan implementasi kurikulum. Data yang diperoleh dari hasil monitoring perlu dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan content analysis untuk membandingkan berbagai temuan yang memiliki karakteristik berbeda-beda dan narrative analysis untuk melihat kohorensi temuan atau informasi dari tanggapan para stakeholder program implementasi kurikulum. kurang tepat. Pengolahan dan analisis hasil monitoring dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif.apakah setiap aspek dilakukan atau tidak dilakukan. Pengolahan dan analisis hasil monitoring. Yang penting diperhatikan bahwa hasil monitoring harus menjadi umpan balik secara langsung sehingga proses implementasi kurikulum berjalan sesuai dengan track atau tujuan yang ditetapkan. atau tidak berhasil atau dengan criteria sangat tepat. walaupun analisis kualititatif juga sangat penting untuk dicermati. sangat setuju atau tidak setuju. Pemanfaatan hasil monitoring. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 51 . Namun ukuran ini terlalu kasar karena banyak tahapan program implementasi kurikulum yang dilakukan dengan ukuran sangat berhasil. Data juga akan dianalisis secara kuantitatif dengan pendekatan descriptive statistically analysis untuk mendeskripsikan berbagai aspek variabel yang diperoleh dari temuan selama implementasi kurikulum. hasil montoring sudah harus dapat dijadikan sebagai masukan perbaikan implementasi kurikulum sejak tahapan implementasi kurikulum dimulai. tepat atau tidak tepat. Untuk itu ketepatan kuantitas dan kualitas dari proses monitoring sangat menentukan hasil analisis. Hasil analisiis data digunakan untuk memvalidasi program penyelenggaraan implementasi kurikulum dan kesesuaiam dengan potensi dan kebutuhan implementasi kurikulum.

hasil analisis monitoring dapat digunakan sebagai bahan evaluasi secara menyeluruh untuk meningkatkan kualitas program implementasi atau penerapan kurikulum oleh satuan pendidikan. 2. manfaat pokok dari proses monitoring adalah mengendalikan pelaksanaan program implementasi kurikulum berlangsung secara efisien dan sukses sesuai dengan tujuan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 52 . yaitu agar praktek pelaksanaan program implementasi kurikulum sesuai dengan perencanaan.Seperti yang telah dikemukakan di muka bahwa tujuan monitoring atau pemantauan adalah untuk menjamin suatu kegiatan atau program implementasi kurikulum tetap on the track sesuai dengan tujuan program yang telah ditetapkan. Dengan demikian. mendorong semua pihak dalam program implementasi kurikulum lebih berdisiplin dan bertanggung jawab. 3. memberi motivasi bagi peserta dan pelaksana pendidikan untuk melaksanakan program implementasi kurikulum secara optimal. Manfaat proses monitoring lainnya adalah: 1.

analisis hasil monitoring. penyusunan dan presentasi rekomendasi mengenai hasil kegiatan keseluruhan. rapat kerja dan koordinasi. dan stakeholder lain yang relevan. (2) Pengembangan instrumen Instrumen dikembangkan dan disusun untuk menjaring atau mendapatkan data dan informasi kualitatif dan kuantitaif mengenai pencapaian pelaksanaan Permendiknas No. ruang lingkup. hasil monitoring ini dilakukan sebagai bahan pertimbangan dalam merekomendasikan perencanaan dan pelaksanaan penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan agar lebih efektif dan efisien pada satuan pendidikan dasar dan menengah. kuesioner. hasil yang diharapkan. Selain itu. workshop. diskusi fokus. (1) Penyusunan desain Desain ini merupakan master plan yang disusun untuk dijadikan pedoman atau acuan dalam kegiatan monitoring yang meliputi: latar belakang dan tujuan monitoring. 22 dan 23 tahun 2006 tentang Standar Isi dan SKL oleh satuan pendidikan. pedoman wawancara.BAB III METODOLOGI Pendekatan dalam monitoring ini bersifat descriptive-explanatory berbentuk studi (survey) dengan menggunakan data kualitatif dan kuantitatif yang digunakan secara seimbang dan saling melengkapi untuk melihat profil pencapaian satuan pendidikan dalam penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan pada tingkat propinsi. melakukan monitoring. pelaksanaan kegiatan. STRATEGI MONITORING Kegiatan ini dilakukan melalui berbagai metode dalam bentuk studi dokumen. praktisi pendidik dan tenaga kependidikan. pengolahan hasil monitoring. sebagai berikut. pedoman observasi situasi dan pelaksanaan pembelajaran. rapat kerja dan diskusi fokus yang melibatkan berbagai nara sumber perguruan tinggi. A. metodologi. Instrumen yang disusun berbentuk tes. pengembangan instrumen. Sumber data yang digunakan adalah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 53 . kerangka berpikir atau landasan teori. pengembangan desain. penyusunan dan presentasi rekomendasi. Penyusunan desain dilaksanakan dalam bentuk workshop.

23 dan 24 tahun 2006 Rapat kerja ini terutama untuk menentukan kesamaan persepsi dan pemahaman berbagai pihak pengelola pendidikan dari unsur sekolah. Pelaksanaan monitoring mengacu pada pedoman monitoring yang mengatur tentang: kriteria petugas pelaksana monitoring. orangtua. dikombinasikan dan dilakukan secara terpadu (terintegrasi) agar proses monitoring dapat berjalan secara efisien dan sesuai sasaran dan kebutuhan. metode penggunaan instrumen dan sumber data yang diperlukan. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan pada setiap propinsi. (4) Pelaksanaan monitoring Monitoring dilakukan dengan menggunakan instrumen-instrumen yang dikemas. Mekanisme satuan pendidikan dalam menyusun dan melaksanakan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan daya dukungnya. Peran pemerintah kabupaten/kota/propinsi dalam mendukung pelaksanaan Permendiknas No. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lain. dan dinas pendidikan kabupaten/kota/ propinsi. pemerintah. 22. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan Rapat kerja ini juga untuk mengatur koordinasi dalam pelaksanaan monitoring sehingga diperoleh cukup data dan informasi kualittaif dan kuantitatif yang akurat dan aktual tentang pencapaian penerapan dan pelaksanaan Permendiknas No. Instrumen yang telah disusun diujicoba secara terbatas untuk memvalidasi keterbacaan dan kesesuaiannya dengan tujuan monitoring (3) Rapat koordinasi membahas implikasi Permendiknas No. dan kelengkapan data dan informasi yang diperlukan sebagai hasil monitoring serta hal-hal lain yang ditemukan selama pelaksanaan monitoring. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan d. dan pihak lain mengenai implikasi Permendiknas No. kelengkapan jumlah dan jenis intrumen. serta dokumen yang relevan. dinas pendidikan. pengawas sekolah. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 54 . 22. guru. 23 dan tahun 2006 tentang: a. c. Hal-hal yang harus dilaksanakan dan dicapai satuan pendidikan seperti yang dituntut dalam Permendiknas No. 22 dan 23 tahun 2006 b. Peran pemerintah (Depdiknas dan departemen lain terkait) dalam merumuskan kebijakan untuk mendukung pelaksanaan Permendiknas No.siswa.

Metode wawancara dapat dilakukan secara tertulis ataupun langsung dengan mengacu pada panduan wawancara. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan. dalam mengefektifkan pelaksanaan Permendiknas No. pedoman wawancara. Bentuk Instrumen yang dikembangkan dalam monitoring ini berupa kuesioner. (6) Rekomendasi kebijakan kurikulum Rekomendasi atau saran kebijakan kurikulum disusun berdasarkan analisis hasil monitoring meliputi rekomendasi bagi satuan pendidikan dan komite. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi kepala sekolah. dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi dan pemerintah. komite sekolah maupun dinas pendidikan di daerah. PENGEMBANGAN INSTRUMEN Instrumen disusun dan digunakan untuk mengukur atau mendapatkan data dan informasi pencapaian pelaksanaan Peremndiknas No. Observasi digunakan untuk mengamati unjuk kerja (kinerja) pada saat pembelajaran di sekolah maupun obaservasi situasi dan kondisi pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan yang memuat aspek – aspek yang akan dilihat saat monitoring dilakukan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 55 . potret atau profil tingkat pencapaian dan efektifitas penerapan atau pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan 23 tahun 2006. Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan penyusunan rekomendasi kebijakan dalam penyusunan dan pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan dan evaluasu. perlu dibuat laporan beserta hasil-hasilnya pada tiap langkah kegiatan. B. dan pedoman observasi. supervisi atau pembinaannya oleh pengawas sekolah. guru. tindakan kebijakan oleh pemerintah dan stakeholder terkait. (7) Penyusunan laporan Sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan secara keseluruhan.(5) Analisis Hasil Monitoring Data dan informasi hasil monitoring dan kajian dokumen pendukund yang relevan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan gambaran. bentuk pembinaan oleh dinas kabupaten/kota/propinsi. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan pada seluruh propinsi.

Pada masing-masing propinsi akan dilakukan monitoring pada tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang meliputi pendidik. dan SMP/MTs. C. Walaupun perlu dilakukan kroscek atau verifikasi dengan sumber data yang lain untuk mendapat informasi yang lebih otentik. Penilaian diri merupakan salah satu bentuk kuisioner yang khusus untuk melakukan evaluasi diri tentang komitmen Penilaian diri cukup bermanfaat untuk dilakukan karena pelaksana diklat akan lebih jujur mengungkapkan pendapatnya tentang pelaksanaan program diklat. Kuesioner dengan jawaban terbuka memberi peluang pada responden menyatakan pendapatnya secara bebas tetapi memerlukan waktu untuk menganalisis. kepala sekolah. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Populasi dalam monitoring ini adalah unsure dari satuan pendidikan dasar dan menengah dan komitenya serta dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi pada 33 propinsi. dan keakuratan jawaban. 22 dan 23 tahun 2006. guru. D. Aspek lain yang tidak mungkin dimonitor melalui kuesioner dapat dimonitor melalui observasi atau teknik monitoring lainnya. kegunaan informasi yang dijaring. siswa. dan orang tua. Direncanakan keseluruhan responden monitoring pada setiap propinsi melibatkan siswa SD/MTs. Monitoring pada tingkat dinas penddikan kab/kota/propinsi meliputi ketenagaan dan program kerja dalam mendukung pelaksanaan Permendiknas No. tenaga kependidikan. Teknik sampling dilakukan secara multi-stages dengan mengkombinasikan sistem cluster samples dan purposive samples. Dalam pengembangan kuesioner memperhatikan aspek kepraktisan.Metode kuesioner disusun dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan tertulis yang telah disiapkan yang dapat berbentuk pertanyaan dengan jawaban tertutup. pengawas. komite. TEKNIK ANALISIS DATA Analisis data yang digunakan adalah content analysis berupa studi dokumen untuk membandingkan berbagai temuan yang memiliki karakteristik berbeda-beda dan narrative analysis untuk melihat kohorensi temuan / informasi dari dokumen ataupun tanggapan para responden yang berkaitan dengan ketersediaan buku-buku pelajaran dan kesesuaiannya dengan kurikulum. orangtua. juga digunakan descriptive statistically Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 56 . Dinas pendidikan. atau pernyataan sikap. Kuesioner dengan jawaban (options) tertutup mudah dianalisis tetapi tidak memberi peluang responden memberi tanggapan lain yang mungkin sangat berguna. dan sarana pendukungnya. Selain itu. terbuka.

sarjana strata 2 (18.7%). Namun demikian. namun karena semua responden berasal dari ibu kota provinsi. untuk memperkirakan 1. Dinas Pendidikan Sebagain besar responden yang berasal dari pejabat struktural Dinas Pendidikan berlatar belakang pendidikan sarjana strata 1 (64.4 masih berpendidikan diploma.5) responden mengaku belum pernah ikut sosialisasi.analysis untuk mendeskripsikan berbagai aspek variabel yang berkaitan dengan bukubuku pelajaran. Sedangkan guru. Dari responden yang mengikuti sosialisasi.5%).7 berpendidikan sarjana strata 2. dinas pendidikan kota di ibu kota provinsi.9%) telah memiliki masa kerja antara 21-30 tahun.0%). SLTA (13. umumnya (97. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 57 .8%). Responden dipilih secara acak. E. Sekolah Responden yang terdiri atas kepala sekolah dan guru dengan latar belakang pendidikan sebagian besar sarjana. dan diploma (3. data yang diberikan belum mewakili daerah-daerah di luar ibukota provinsi. Responden yang berlatar belakang pendidikan SLTA adalah staf teknis yang hadir mewakili atasannya.8) menyatakan ikut sosialisasi kurang dari seminggu. 84. 80. Sebagian besar (53. serta 2. 11. hasil monitoring dapat dijadikan sebagai barometer (memprediksi) bagaimana kondisi di luar ibu kota provinsi. PROFIL RESPONDEN Responden yang dilibatkan dalam monitoring ini berasal dari dinas pendidikan provinsi. 2. Lebih separoh (58.3% responden kepala sekolah berpendidikan sarjana strata 1. 1.4% yang masa kerjanya 10 tahun ke bawah. dan 19. dan sekolah-sekolah yang berada di ibukota provinsi.9 sarjanan strata 2.2% sarjanan strata 3.5% adalah sarjana starta 1. dan hanya 14.

7% berasal dari SMK. Pengembangan dan Penerapan KTSP secara Nasional Informasi tentang pengembangan dan penerapan KTSP secara nasional menggunakan sumber data yang diperoleh dari dinas pendidikan propinsi.3% SLTA. Sebagian besar dari mereka memiliki pekerjaan tetap sebagai pegawai negeri sipil dengan rincian sebagai berikut: karyawan PNS sebanyak 41. Keadaan ini hampir sama dengan guru. dan 41. lebih separoh responden guru berasal dari SMA/MA (58. Komite/Orang Tua Siswa Lebih dari separoh (69%) responden yang berasal dari orang tua/komite berpendidikan sarjana strata 1.5% kepala sekolah yang menjadi responden memiliki masa kerja 11-20 tahun.6%.3%).6% diploma. dan hanya 6. Tidak ada yang berlatar belakang pendidikan SD.1%) memiliki masa kerja 11-20 tahun. Sedangkan guru yang menjadi responden monitoring ini lebih separo (57. 3. Selebihnya (30. dan dosen 5. Hal ini disebabkan belum optimalnya koordinasi antara Dinas Pendidikan Provinsi dengan Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 58 . 37.8%). 57. 48.3 % antara 21-30 tahun.6 % sarjana strata 2. guru (27.4% dari SMK.1%) memiliki pekerjaan berwiraswasta.8% dengan masa kerja 21-30 tahun.8% di bawah 10 tahun.Berdasarkan masa kerjanya.1 % yang memiliki masa kerja di atas 31 tahun.7%. 13. dan 5. 29. 7. 16. 8. BAB IV PEMBAHASAN HASIL MONITORING A.6% dengan masa kerja 10 tahun ke bawah.6% di antara kepala sekolah berasal dari SM/MA dan 42. Tim studi belum bisa mendapatkan data kuantitatif pelaksanaan KTSP oleh satuan pendidikan pada tingkat propinsi karena propinsi belum memiliki data rincinya dari kabupaten/kota maupun dari sekolah di wilayahnya.

pendidikan Kabupaten/Kota dalam hal pendataan. 10. tingkat pemaham pelaksana dilapangan kurang memadai. 5. 6. demikian juga kegiatan yang dilakukan oleh sekolah-sekolah dengan memanfaatkan dana swadaya. Kegiatan-kegiatan yang bersifat mandiri yang dilaksanakan oleh masing-masing Kabupaten/Kota melalui MGMP atau tidak semuanya terpantau oleh Dinas Provinsi. Berikut gambaran secara umum pelakasanaan sosialisasi di masing-masing provinsi. Atas dasar pengalaman tersebut. Data yang yang diambil adalah (1) jumlah daerah yang telah melakukan sosialisasi di tiap provinsi. setiap pergantian kebijakan tentang kurikulum sangat dirasakan bahwa proses sosialisasi kurang optimal. Tabel 1 : Gambaran jumlah kabupaten/kota yang sudah mendapat sosialisasi atau workshop SI. Kegiatan-kegiatan seperti ini cukup banyak dilakukan karena di beberapa daerah karena mereka sangat proaktif. 4. terutama terkait dengan pelaksanaan KTSP. 9. Para pejabat struktural maupun staf teknis di Provinsi hanya bisa memberikan gambaran tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan melalui kegiatan provinsi. (2) sasarn sosialisasi di masing-masing daerah. 1. 2. 8. 11. SKL dan KTSP pada tiap propinsi No Provinsi Jumlah kab/ kota Kab/Kota yang sudah sosialisasi Frekuensi Kegiatan Puskur Penyelenggara PUSAT Ditjen Mandikdasmen LPMP/PMPTK DAERAH Dinas pddk Dinas Provinsi Pddk Kab/kota 1. Pelaksanaan Sosialisasi di Setiap Provinsi Berdasarkan pengalaman yang lalu. 3. 7. Untuk itu data yang digunakan adalah data kualitatif mengenai pengembangan dan penerapan KTSP yang bersumber dari persepsi dinas propinsi. pelaksanaan monitoring pada tahun 2007 ini diawali dengan melihat proses sosialisasi di masing-masing provinsi. Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Bengkulu Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Selatan Lampung Kepulauan BangkaBelitung Kepulauan Riau Banten Jawa Barat 21 25 9 10 11 19 14 10 7 7 6 25 21 25 9 10 11 19 14 10 7 6 6 25 1 2 1 1 1 2 1 1 2 2 1 3 V V V V V V V V V V V V V V V V V V v - v v V V V V V V V - - Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 59 . baik Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota maupun sekolah. 12. Akibatnya.

hal ini bukan berarti daerah lain tidak melaksanakan. dan dana APBN yang ada di Dinas Pendidikan Provinsi serta APBD provinsi. 19. 25. 22. 26. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada keharusan bagi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau sekolah untuk melaporkan pelaksanaan kegiatan sosialisasi yang dilakukan secara swadaya atau melalui APBD tingkat II. Meskipun pada tabel di atas terlihat bahwa hanya 4 kabupaten/kota yang melaksanakan kegiatan sosialisasi. umumnya data kegiatan sosialisasi yang melibatkan Dinas Pendidikan Provinsi. 28. sosialisasi pada umumnya adalah unit Pusat dan Daerah Penyelenggara Pendidikan (Dinas Propinsi/Kab/Kota). hampir semua daerah telah melakukan sosialisasi secara mandiri. 14. 15. 18.13. Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Daerah Istimewa Yogyakarta Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Gorontalo Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Irianjaya Barat Papua (Irianjaya) Total 6 35 38 5 9 9 16 12 13 14 13 5 23 10 10 9 6 8 8 9 20 442 6 35 38 5 9 9 16 12 13 14 13 5 23 10 10 9 5 8 8 9 20 440 4 3 4 2 2 2 2 1 2 2 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 V V V V V V V V V V V V V V V V - V V V v v v V v v v v V V V V V V V V - V V V v v v v v v v v v v v v v - v V V v - Dari tabel jelas bahwa secara keseluruhan semua kabupaten/kota telah mendapatkan sosialisasi atau workshop tentang kebijakan dan penerapan Permendiknas No. tetapi belum ada laporan resmi sehingga Dinas Pendidikan Provinsi tidak memiliki data tentang itu. 30. yaitu kegiatan yang dilakukan melalui pembiayaan APBN. DKI. Tabel di atas juga menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan oleh langsung oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota hampir tidak terpantau oleh Dinas Pendidikan Provinsi. 23. 22 dan 23 tahun 2006 tentang SI (standar isi) dan SKL (standar kompetensi lulusan). 16. Oleh karena itu. 29. 20. 24. 21. seperti yang terlihat pada table di atas. 27. seperti yang dilakukan oleh Diraktorat terkait. 32. 34. Menurut prediksi Dinas Pendidikan provinsi. data yang ada di Dinas Pendidikan provinsi. Kegiatan yang menggunakan biaya APBD Kabupaten/Kota atau swadaya sekolah umumnya tidak dilaporkan ke Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 60 . 31. 17. 33.

g.2 36. Selain sekolah. pengembangan KTSP disusun bersama oleh pihak sekolah dan komite sekolah. LSM Pendidikan. atau lembaga profesional lainnya yang cukup partisipasif dalam program KTSP ini.3%) dalam pelibatan pengembangan KTSP. Perusahaan swasta/BUMN. Padahal secara kebijakan.3 26. b.7 26. MGMP KKKS PGRI Organisasi Pengawas Yayasan Dewan Pendidikan Komite % 78. MGMP (musyawarah guru mata pelajaran). tampaknya peran komite sekolah masih dianggap kecil (26. f. d. baru kemudian yayasan.3 Dari tabel tersebut jelas bahwa sasaran utama sosialisasi atau workshop KTSP adalah sekolah ditambah gugus sekolah (kelompok sekolah). 2. e. Hal ini mungkin disebabkan belum meluasnya sosialisasi dan mungkin penyelenggaraan oleh lembaga profesional lain tidak terpantau oleh Dinas. mereka telah ikut di beberapa kegiatan seperti yang digambarkan pada tabel berikut: Tabel 2 : Organisasi Profesi dan Unit terkait yang menjadi sasaran ssosialisasi SI. Hal ini mungkin disebabkan sekolah masih menganggap tingkat keprofesionalan orangtua masih bervariasi. Namun. Jelas bahwa unit yang terlibat dalam sosialisasi sudah mewakili keseluruhan stakeholder pendidikan. sosialisasi juga dilakukan terhadap organisasi profesi pendidikan lain berikut ini. orangtua sudah menyerahkan urusan ini ke sekolah. pengawas sekolah. Menurut Dinas Propinsi belum ada pihak terkait lain seperti perusahaan penerbitan buku pelajaran. Penerapan KTSP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 61 . Sasaran Sosialisasi a.1 63. Menurut responden. dan KTSP. c.9 78. KKKS (kelompok kerja kepala sekolah). SKL. dewan pendidikan dan komite sekolah.9 21. atau pemahaman pengembangan KTSP yang perlu dipertajam.Pendidikan Provinsi. Hal ini mengibatkan Tim Monitoring kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang kabupaten/kota atau sekolah mana saja yang telah melakukan sosialisasi secara mandiri.

tersebut berbeda dengan tahun 2007. Banyak guru yang belum siap menyusun silabus sendiri. d.3 57.3% Total persentase respon melebihi dari 100% karena umumnya responden menjawab lebih dari satu pilihan.9 26. g.8 26. Ada unsur adopsi dan adaptasi. Hal yang perlu dicermati hádala. adaptasi dan sebagainyaP . serta menyusun senidiri.6%). dan pada bagianbagian tertentu diadopsi. menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi. penyusunan KTSP oleh sekolah dilakukan dengan metode kombinasi melalui koordinasi. f. jawaban boleh lebih dari satu). lainya tidak memberikan jawaban (26. Lebih separoh daerah Kondisi (57. masih cukup banyak sekolah yang baru pada taraf mempelajari kebijkan KTSP dan menggunakan kurikulum sebelumnya. misalnya mengenai seilabus. SKL dan model kurikulum KTSP KTSP disusun oleh sekolah dengan koordinasi Dinas Pendidikan KTSP disusun oleh tim yang dibentuk oleh Dinas Pendidikan Satuan pendidikan mengadaptasi model kurikulum KTSP dari pusat Satuan pendidikan mengadopsi atau menggunakan model kurikulum KTSP dari pusat Masih pada taraf sosialisasi dan mempelajari perangkat dokumen Masih menggunakan kurikulum sebelumnya % 73.8 15. menggunakan tim. dan bahkan ada yang menyusun secara bersama-sama beberapa sekolah. mereka menyebut menyusun sendiri tetapi secara bersama di gusus. sehingga ada yang mengadopsi.8%). serta mengadaptasi dan mengadopsi model kurikulum.3 42.3%). belum menjadi prioritas (26. dan yang menyatakan intensif hanya (15.7%).Dalam hal penyusunan KTSP. Menurut pemantauan Dinas Propinsi.9%) menyatakan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 62 . sebagian besar penerapan KTSP pada tiap kabupaten/kota selama tahun 2006 belum intensif (31. Berikut secara lengkap informasi tentang proses penyusunan KTSP menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi (mulai dari yang frekuensinya tinggi. e. Ada yang menyatakan bahwa KTSP disusun oleh sekolah di bawah koordinasi Dinas pendidikan. mengadaptasi. beberapa sekolah menyusun sendiri. namur terbatas pada beberapa bagian saja. c. Beberapa sekolah menyusun di bawah koordinasi dinas dengan menggunakan tim pengembang dari dinas. Untuk kategori ini. Tabel 3 : Penusunan KTSP oleh Satuan Pendidikan Penyusunan KTSP a. Dalam pengembangan KTSP.3%). umumnya sekolah-sekolah menyusun sendiri KTSP ( 73. Satuan pendidikan menyusun sendiri mengacu SI. sehingga silabusnya sama.1 36. b. dalam arti.

Faktor yang paling mentukan keterlaksanaan KTSP menurut pernyataan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 63 .7%). b.3% yang menyatakan kurang.8% daerah menyatakan kabupaten/kota belum menempatkan penerapan KTSP sebagai prioritas.6%). Pada umumnya sekolah mulai menerapkan KTSP pada awal tahun pelajaran 2007 secara bertahap (73. d. sebagian besar daerah menyatakan sudah cukup baik (84. dan 26. dan sebagian lagi menyatakan bahwa masih perlu waktu untuk melakukan sosialisasi di kalangan warga sekolah dan masyarakat karena sebagian besar di antara warga sekolah dan masyarakat belum memahami kebijakan tentang KTSP ini.6 36. rata-rata melaksanakan secara bertahap.7 31. dan hanya 5. c.3% responden tidak memberikan jawaban. Tingkat kesadaran dan komitmen sekolah untuk mengembangkan dan menerapkan KTSP cukup tinggi. melihat sekolah yang terdekat dengan mereka agar dapat secara bersama-sama menyusun KTSP. Ini menunjukkan KTSP telah menjadi program dengan prioritas bagi tiap propinsi/kabupaten/kota. sebagian besar daerah memprogramkan mulai tahun 2007 menerapkan KTSP. peningkatan prioritas program KTSPdisebabkan oleh tuntutan bahwa tahun 2009 KTSP harus sudah diterapkan menyeluruh pada setiap satuan pendidikan. Telah menerapkan secara efektif pada seluruh kelas dengan silabus dan RPP yang disusun sendiri Telah menerapkan secara efektif pada seluruh kelas dengan silabus dan RPP yang diadopsi Telah menerapkan secara bertahap Masih menggunakan kurikulum sebelumnya % 31.Jadi.8%) telah menerapkan secara efektif di semua kelas. 10% menyatakan sangat baik. diantaranya adalah: menunggu sampai 2009 (batas akhir yang diberikan oleh pemerintah untuk menerapkan KTSP). Berkaitan dengan hal ini. Umumnya sekolah yang menerapkan secara kelseluruhan adalah sekolahsekolah yang sudah melaksanakan piloting KBK (2004). Beberapa alasan yang dikemukakan oleh daerah. Tabel: 4 Proses penerapan KTSP Proses/Tahapan a. Tentang kondisi yang berkaitan dengan pelaksanaan KTSP. sosialisasi dan workshop KTSP yang mulai meluas dan tingkat pemahaman KTSP yang membaik bagi seluruh stakholder. Alasan lain adalah kurangnya dana pendukung untuk penyusunan KTSP.8 73. Sebanyak 15.6 Tabel di atas menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil sekolah yang masih menggunakan kurikulum sebelumnya (31. mengapa intesitas penerapan KTSP masih beragam.2%).kabupaten/kota mulai menerapkan KTSP secara intensif. Sebagian sekolah (36.

5%.2 57.6%) dan kurang memadai (15.9 68. Keberadaan Dokumen SI dan SKL Menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi. menurut informasi dari Dinas Pendidikan.8 15. Sebagian besar menyatakan ketersediaan dokumen cukup memadai (52.3 26.9 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum guru telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik.3 26. orang tua dan masyarakat (10. siswa (21. Kesiapan Sekolah dalam melaksanakan KTSP: Secara umum.3 26.2 57.3 5.9 73. kesiapan guru berkaitan dengan pengembangan dan penerapan KTSP oleh sekolah cukup memadai.5 10.2 63.8 15.3 10. dan model KTSP (94.3 5.5 15.3 15.1 37.4%). penyusunan kurikulum.9 68.7 73.1 21.10%).3 26. silabus dan RPP Mengembangkan alat penilaian berbasi kompetensi Menyusun bahan ajar (LKS dsb) Membuat sumber belajar mandiri S 21.6 47. c. silabus. akses informasi oleh satuan pendidikan tentang kebijakan KTSP seharusnya mudah.8 5.5 5. e. h. Perlu dilakukan berbagai upaya komunikasi interaktif dan komitmen sekolah dan Dinas melalui hubungan langsung.8 10.6 57. kecuali dalam pengembangan bahan ajar mandiri Lebih lengkap informasi tentang kesiapan guru dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel: 5 Kesiapan Guru dalam Pengembangan dan Penerapan KTSP SMA (%) Aspek a. Hal ini mennjukkan perlu adanya komitmen manajemen yang profesional pada tingkat sekolah untuk mengembangkan dan menerapkan KTSP 3. dan RPP. f.9%).Dinas pendidikan Provinsi adalah guru (78. d.4 K 26. Kualifikasi akademik Penguasaan isi mata pelajaran Menyusun kurikulum (KTSP) Menyusun silabus Menyusun RPP Menilai kualitas kurikulum.3 10. 4.8%). Keberhasilan program KTSP sangat ditentukan oleh sumberdaya pendidik dan tenaga kependidikan. g.8 10.5 SMK (%) C 57. Dokumen SI. Namun yang perlu dicermati dan ditingkatkan kompetensi guru Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 64 .3 31. ini berarti. Sebagian responden menjawab gabungan antara siswa dan orang tua (20.4 63.5 10.7 78.1%).8 15.5 5. umumnya kabupaten/kota sudah mendaptkan dokumen SI.4 S 26.1 21. SKL dan model KTSP sudah tersedia pada tingkat kabupaten/kota.4 73.5%).1 15.5 5. serta pemanfaatan teknologi informasi agar sekolah terbantu dalam mengembangkan dan menerapkan KTSP.6 31. penguasaan mata pelajaran.8 15. sarana dan prasarana (47.2 52. i.3 C 52.6 K 15.5 10. SKL. dan yang menyatakan sangat memadai hanya 10.3 10.8 19.9 63. b.4 63.7 68.7%).9 47.

padahal dalam KTSP. pengembangan bahan ajar serta pengembangan sumber belajar mandiri. menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 65 . Pengembangan bahan ajar yang meliputi buku teks. seorang guru harus melakukan penilaian secara profesional dan dapat dipertanggungjawabkan. Tampaknya guru belum konfiden dalam mengembangkan alat penilaian walaupun itu sudah dijalani sehari-hari.adalah dalam melakukan pengembangan penilaian berbasis kompetensi. modul maupun referensi lainnya juga perlu dipertimbangkan karena guru lebih bergantung kepada penerbit buku Kesiapan kepala sekolah dalam pengembangan dan penerapan KTSP.

3 29. d.9 68. menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut.6 15.6 36.3 SMK C 52. Yang perlu dicermati dan ditingkatkan kompetensi kepala sekolah adalah walaupun secara umum kepala sekolah berkompeten dalam pengembangan kurikulum. serta mengelola guru dalam pengembangan KTSP.2 68. Kualifikasi akademik Menyusun kurikulum (KTSP) Menilai kualitas kurikulum.1 21.7 S 31.6 36.6 94.9 K 15.2 K 31.3 5. Tabel 7 : Kesiapan Pengawas SMA Aspek a.8 26.3 S 21.4 68.6 15.1 5. Pada jenjang pendidikan dasar.5 15.6 63.4 52.3. silabus.4 68.1 26.2 57. e.6 K 26.1 63. Kualifikasi akademik Menyusun kurikulum (KTSP) Menilai kualitas kurikulum. f.8 36. c. Program peningkatan kompetensi pengawas dapat berbentuk Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 66 .3 26.3 C 42.8 21. dan RPP.3 15. dan RPP. penguasaan ini secara umum masih diperlukan.8 SMK C 57.4%). Tentang kesiapan pengawasa sekolah.8 21.5 15.6 31.8 10.9 31.9 47.8 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum kepala sekolah telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik.4 68.2 57.3 26. penyusunan kurikulum.9 57. silabus dan RPP Membantu masalah guru dalam menyusun silabus dan RPP Mengelola guru dan tenaga kependidikan menyusun KTSP Membina guru dalam melaksanakan pembelajaran S 26.3 10.5 C 42. menilai kualitas kurikulum.4%).8 36. c. silabus dan RPP Membantu masalah guru dalam menyusun silabus dan RPP Mengelola guru dan tenaga kependidikan menyusun KTSP Membina guru dalam melaksanakan pembelajaran S 31. silabus.1 5.1 94. Gaya Kepeminpinan kepala sekolah juga perlu ditingkatkan untuk mengelola guru dan tenaga lain dalam pengembangan KTSP.9 63.6 57. d.9 63.7 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum pengawas sekolah telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik (namun ini masih perlu ditingkatkan.3 5. e.3 5.3 5.3 10. b. penyusunan kurikulum. penguasaan mata pelajaran. 5.4 57.Tabel 6 : Kesiapan Kepala Sekolah SMA Aspek a.8 5.6 15.1 52.3 5. karena angkanya baru 47. membantu masalah guru dalam pengembangan silabus dan RPP (namun ini masih ditingkatkan karena angkanya baru 47.6 31.8 10. namun tidak mendalam pada tingkat detil kurikulum maupun silabus mata pelajaran. b.1 26.5 15.4 68.4 K 21. f.3 21.

7 21. 10.8 73.5 10. Berikut tabel tentang sumber pendanaan sosialisasi KTSP: Tabel : 8 Sumber Pendanaan KTSP Tahun 2006 (dlm juta rupiah) Jenis Sosialisasi / Workshop APBD a.2 52.5 Block Grant 21.6 57. sekolah dapat mengembangkan sendiri alternatif sarana yang tersedia dari lingkungan sekolah.1 - 15.5 Lain nya 21.workshop pengembangan kurikulum. Ini berarti peran pengawas harus ditingkatkan fungsinya dalam pembianaan substansial sekolah mulai dari pengembangan kurikulum sampai pelaksanaan pembelajaran. bagi sekolah dengan sarana dan prasarana kurang memadai perlu mengembangkan KTSP yang sesuai dengan sekolah tersebut dan dapat dilaksanakan oleh sekolah tersebut. Ini berarti.5 Lain nya 26.4 57. banyak responden justru memilih tidak menjawab. diklat atau tugas belajar Penyediaan dan pemeliharaan prasarana dan sarana pendidikan 10. Perlu dicermati di sini. 47. b.2 15. tidak sekedar memeriksa adminstrasi kurikulum dan pembelajaran di sekolah.8 15.1 Tdk Mjwb 47. maupun sumber lainnya yang sah. MGMP dsb Workshop pendampingan pengembangan KTSP.9 63.8 10.6 63.6 Tdk Mjwb 52. Hal dimungkinkan karena berbagai hal yaitu: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 67 . Sosialisasi SI. umumnya responden menyatakan bahwa penerapan KTSP berdampak pada penyediaan dana.9 63. SKL dan KTSP Workshop /pengembangan KTSP.9 Tahun 2007 (dlm juta rupiah) APBD 10.1 78.5 - 21. silabus dan RPP dengan melibatkan berbagai sekolah. artinya sarana-sarana yang tidak tersedia atau rusak.3 15. Perlu dikritisi di sini bahwa pengembangan dan penerapan KTSP harus disesuaikan dengan kondisi. kebutuhan dan karakteristik sekolah dan peserta didik.5 10.4% menyatakan sangat baik. Blockgrant.5 Block Grant 10. Umumnya sekolah menyediakan dana dari anggaran belanja sekolah. potensi.8 21.3%). e. Perlu juga ditingkatkan program mandiri pengembangan alternatif sarana.3 % yang menyatakan sangat baik. Sarana dan Pendanaan Hampir separoh responden menyatakan sarana dan prasarana sekolah sebagai pendukung KTSP masing kurang memadai (47.9 c.1 36. - 5.5 - 15.6 Dari tabel tersebut jelas bahwa program KTSP melibatkan berbagai sumber mencakup dana APBD. silabus dan RPP pada sekolah tertentu secara bertahap Pengembangan kompetensi guru melalui uji kompetensi.2 d. dan hanya 5.4 31. serta membina guru dalam melaksanakan pembelajaran.1 10.1 21. 5. Berkaitan dengan pembiayaan. KKG.

3 4 5. Tabel: 9 Urutan Prioritas Kegiatan Jenis Program 1 a.3 ksg 10. dengan dinas kabupaten/kota dan dengan pusat. dan tidak bersedia menjawab. 6. maupun pendampingan satuan pendidikan untuk mengembangkan KTSP. 33/MPN/SE/2007 tentang Pembentukan Tim Sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 68 .3 15. 36.8 5. tidak tahu. peran ini menjadi kurang. Tim Pengembang Kurikulum (TPK) Provinsi (a). penyediaan dokumen SI.1 15. Prioritas kedua adalah melakukan pendataan kuantitatif penerapan KTSP pada tingkat kab/kota. untuk Hanya 26.1 Dari tabel tersebut jelas bahwa prioritas pertama Dinas Propinsi dalam program KTSP adalah melakukan koordinasi tingkat internal.6 36.8 36. workshop. Program Sosialisasi yang Berkelanjutan Menurut Dinas Pendidikan Provinsi.5 15. sebagian besar (73.3 - 10.8 Angka Prioritas 3 15.8 10. 26.8 21.8 c.pengetahuan responden yang rendah dalam masalah anggaran (hanya fokus pada program/kegiatan yang dijalankan). workshop pengembangan KTSP dan supervisi klinis ke kab/kota dan 7. keberadaan TPK Kesiapan tim sosialisasi KTSP tingkat provinsi (sesuai dengan SE Mendiknas No. Berikut urutan priritas kegiatan di Dinas Pendidikan Provinsi. workshop. Prioritas utama adalah melakukan koordinasi program dengan kabupaten/kota (52. Melakukan koordinasi program dengan kab/kota Melakukan pendataan pencapaian penerapan KTSP pada tiap kab/kota Melakukan workshop pengembangan KTSP dan program supervisi klinis dengan kab/kota Melakukan supervisi klinis langsung ke sekolah-sekolah terpilih Penyediaan dokumen SI. Tampaknya koordinasi menjadi hal penting karena dengan adanya otonomi daerah. terutama koordinasi dengan kabupaten/kota.3% yang menyatakan bahwa kabupaten/kota belum memiliki program sosialisasi. dan pendapingan satuan pendidikan dalam mengembangkan KTSP. ditetapkan berbagai prioritas.8 20.3 5.5 15.8 5. 36. Untuk merealisasikan program tersebut.8 2 15. SKL.5 21.3 36. SKL dan model KTSP 52.8 d.8 e.6%).5 26. b.7%) kabupaten/kota memiliki program sosialisasi.

Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab pengembangan profesi bagi tim pengembang kurikulum lebih cenderung didominasi oleh nuansa birokratis. dan sebagian lagi ditandatangani oleh Kepala Dinas Dinas Pendidikan atasnama Gubernur. Pembentukan Tim Pengembang Kurikulum tingkat propinsi 2 2.3%). sebagian daerah mengkombinasikan antara APBD dengan APBN (10. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 69 .Pendidikan). jangka menengah. Guru (84.2%). Pengukuhan Tim Pengembang Kurikulum melalui Surat Keputusan 3 Program Kerja TPK Propinsi Sudah 94.5%).1%). pejabat struktural dan staf dinas pendidikan (89. yang dalam hal ini disebut Tim Pengembang Kurikulum Propinsi dalam membantu kabupaten/kota atau satuan pendidikan di wilayahnya dalam pengembangan KTSP adalah sebagai berikut. Pada sebagian daerah. dan sebagian lagi digali dari sumber lain(21. (b) Anggota TPK Propinsi Tim Pengembang Kurikulum (TPK) provinsi melibatkan berbagai unsur Keanggotaan terkait.2%).1%) misalnya APBS.3%). perguruan tinggi(63. Tabel 10 : Keberadaan Tim Pengembang Kurikulum Provinsi No Keberadaan Tim TPK Provinsi 1 1.1%). dan keterlibatan perguruan tinggi dan swasta relatif lebih kecil. pengawas) cukup dominan. sudah mengusulkan lewat APBD (42. umumnya (63.6 36. Sebagaian daerah yang tergolong proaktif. keterlibatan unsur di luar sekolah (pejabat struktural dan staf teknis. kepala sekolah (73. dan bantuan para sponsor seperti penrbit buku. banyak daerah yang masih bingung. Kelihatannya.3 31. Pengesahan ini sangat diperlukan sebagai dasar pengajuan anggaran pembiayaan kegiatan tim pengembang kurikulum. Ini dapat dipahami mengingat perubahan kebijkan kurikulum selama ini lebih bersifat adminstratif dari pada akademik. Surat Keputusan ditandatangani langsung oleh Gubernur. dan jangka pendek.4%) keberadaan tim tersebut telah dikukuhkan melalui Surat Keputusan Pemerintah Daerah.4 63.7 68.2%) telah menyusun program kegiatan yang terdiri dari program jangka panjang.7 %) telah membentuk Tim Pengembang Kurikulum. dan keterlibatan relatif swasta masih kecil (21.5%). dan sebagian besar (68. seperti pengawas (89.8 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa hampir semu provinsi (94. Dari semu daerah yang sudah membentuk Tim Pengembang Kurikulum.2 Belum 5. (c) Sumber dana untuk membiayai kegiatan TPK Propinsi Dalam hal pendanaan.

4 85. Namun terdapat perbedaan pernyataan antara kepala sekolah dan guru. 92.4 66.4 92.7 42.4 % untuk SKL. Hal ini sangat memungkinan untuk mempercepat proses distribusi.9 % SI. sumber acuan pengembangan KTSP telah dimiliki oleh sekolah-sekolah tersebut. 23 tahun 2006 Permendiknas No. dan KTSP disosialisasikan sejak tahun 2006.9 66. Dokumen-dokumen tersebut dikemas dalam bentuk file dan direkam ke CD. ada kendala berkaitan dengan ketersediaan perangkat dan keterbatasan tenaga pengoperasion komputer. Kelengkapan Dokumen KTSP Berdasarkan pengalaman yang lalu.1 77. Berikut adalah tabel latar belakang responden yang terlibat dalam studi. Ini berarti.4 74. Hanya saja.1 47.9 yang mulai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Permendiknas No. Namun demikian. 33/MPN/SE/2007 (Tentang Sosialisasi Kurikulum Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model-Model Program Khusus (PLB) Tabel di atas memberikan gambaran bahwa secara umum kepala sekolah (93. 22 tahun 2006 Permendiknas No. Frekuensi kepala sekolah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 70 .7 22. setiap pergantian kebijakan kurikulum.9% untuk pelaksanaan SI dan SKL) menyatakan telah memiliki. 1. tim studi juga melakukan studi pengembangan dan penerapan KTSP bersumber dari pihak sekolah (sebagai sekolah sampel) yang terlibat dalam kegiatan ini. setidaknya proses penyempaian informasi relatif lebih cepat. pemerintah memanfaatkan teknologi komputer.2 69.2 92. dan didukung oleh kemajuan perangkat teknologi. 24 tahun 2006 Surat Edaran Mendiknas No. banyak sekolah yang terlambat menerima informasi dan dokumen kurikulum.6 13. Pengembangang dan Penerapan KTSP oleh Sekolah Selain menggunakan data kualitatif dari dinas propinsi.4 92.B. Tabel 11: Kepemilikan dan Kelengkapan Dokumen KTSP No Jenis Dokumen Sudah Memiliki (%) Kepala Guru Sekolah 93. Berikut tabel kepemiliakn dokumen kelangkapan SI. Sudah bukan hal yang aneh ketika suatu sekolah baru menerima dokumen kurikulum pada saat kebijakan kurikulum telah berganti.7 56. Untuk mengantisipasi hal ini.7 82.9 70. SKL.7 90.1 40. Untuk daerah terpencil bisa mencapai 5 – 10 tahun.1 11.4 16.7 9. 90.6 41.5 89.

cetakan. Menurut guru baru sekitar 70. Perbedaan ini menunjukkan bahwa mungkin saja sebagian kepala sekolah belum sempat menyampaikan dokumen tersebut kepada guru oleh karena berbagai alasan. Hal ini agar segera diupayakan untuk menjamin pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan berjalan secara efektif dan efisien. Sayangnya tim studi tidak sempat melacak alasan mengapa terjdi perbedaan yang cukup signifikan.yang telah menenrima dokumen tersebut lebih tinggi dari pada guru. sementara guru dan kepala sekolah yang diundang berasal dari sekolah yang sama.7 %untuk SKL dan aturan pelaksanaannya. Secara rinci adalah seperti tabel berikut Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 71 . Cara Memperoleh Dokumen Pada umunya sekolah/satuan pendidikan mendapat dokumen tersebut dengan berbagai cara melalui mengkopi sendiri dalam bentuk CD. Sumber acuan lain yang harus dimiliki sekolah adalah model muatan lokal. model pembelajaran tematik di SD dan model program khusus untuk pendidikan khusus. 66. 2. model pembelajaran terpadu IPA/IPS di SMP.2 % yang menyatakan telah menerima dokumen SI. dari dinas pendidikan maupun piha lainnya. Hal lain yang perlu juga dicermati adalah bahan-bahan tersebut harus bisa diakses secara mudah oleh semua insan di sekolah terssebut. model pengembangan diri.

1 11.1 12. Bina gerak e.6 10.2 - 1.5 4.7 8.0 - 1.1 7.2 1.6 23.4 1.0 2.8 25.5 1. Bina diri dan bina gerak KS 1.2 3.8 26.8 22.1 13.1 6.1 12.6 15.5 - GR 2.5 15.1 6.2 1.1 1. 23 tahun 2006 Permendiknas No. Bagi kepala sekolah yang belum memperoleh dokumen tapi sudah pernah mendapatkan informasi tentang peraturan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 72 .3 6.5 Copy sendiri dalam bentuk cetak KS 15.4 1.6 16.1 9.2 22.5 4.1 7.2 2.2%.7 13.1 7.1 20. 22 tahun 2006 Permendiknas No.2 6.1 8.0 1. Bina pribadi dan sosial f.1 3.1 7.8 23.7 13.1 13.8 33. umumnya responden (Kepala Sekolah 87.1 6.1 6.5 7.8 19.4 2.3 33.9 8.0 16.6 9.8 2. persepsi bunyi.6 (%) Dari Dinas Pendidikan dalam bentuk cetak KS GR 6.1 10.1 3.3 34.5 12.Tabel 12 : Cara memperoleh dokumen kelengkapan KTSP No Jenis Dokumen Copy sendiri dalam bentuk CD KS 30.8 13. 33/MPN/SE/2007 (Ttg Sosialisasi Kurikulum Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model Program Khusus (PLB) a.3 28.5 6.1 9. Bina diri d.2 3.5 9.1 3.5 1.0 7.2 1.2 1.6 Cara Memperoleh Dari Dinas Pendidikan dalam bentuk CD GR KS GR 15.4 2.1 9. Guru 67.2 12.3 9. dan irama c.8%)`menyatakan sulit memperoleh dokumen KTSP. Bina Komunikasi.3 9.2 4.9%.1 8.0 1. Pemahaman Isi dokumen berkaitan KTSP Sebagian besar responden (Kepala sekolah 68. 24 tahun 2006 SE Mendiknas No.1 15.0 3.6 12.2 22.5 9.1 10.7 16.2 - - 3.1 7.7 23.9%.1 9.5 1.2 1.7 GR 23.3 3.5 1.5 9. Orientasi dan mobilitas b.4 1.0 9.3 30.5 4.0 3.5 9.0 4.5 Dibeli dari pihak lain 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Permendiknas No.4 4. Bagi yang sudah memperoleh.) menyatakan sudah mempelajari.2 13. guru 48.2 31.

b. Ketika diminta untuk mendeskripsikan isi dokumen tersebut untuk melihat apakah mereka telah mempelajari dan memahaminya. sesuai kondisi sekolah. Hal ini dapat dilakukan tidak hanya dalam bentuk sosialisasi saja tetapi juga melalui workshop dengan menggunakan media langsung (rapat kerja). tentang bina emosi dan sosial dan buku tentang keterampilan yang menunjang 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa responden mengetahui dokumen hanya sekadar kulitnya saja. Sedangkan bagi para guru. sama sekali belum dipahami. mereka mendengar dari Kepala Sekolah (22. c. berikut jawaban yang mereka berikan: Tabel 13 Jawaban Responden tantang Dokumen SI. Babel Pada pembelajaran tematik guru harus lebih kreatif membuat alat peraga atau pembelajaran atau menyenangkan sehingga anak tidak bosan Berisikan tentang program khusus: a. sedangkan apa yang tertera secara eksplisit dan implisit di dalamnya.7%). 24 tahun 2006 Surat Edaran Mendknas No. tentang OM. tentang bina diri.7%) dan teman (10. BPM. e. 22 tahun 2006 Permendiknas No. pengawas (10.6%). Perlu dilakukan berbagai upaya agar pemahaman tentang kebijakan pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan memiliki persepsi yang sama.2%. d. SKL. 33/MPN/SE/2007 (Tentang Sosialisasi Kurikulum) Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model-Model Program Khusus (PLB) Deskripsi Singkat Tentang standar isi yaitu lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan Berisi tentang standar kompetensi lulusan utk satuan pendidikan dasar dan menengah Mengatur tentang pelaksanaan peraturan mendiknas tentang standar isi dan SKL untuk stuan pendidikan dasar dan menengah Edaran/himbauan untuk segera mensosialisikan & menerapkan KTSP mulai tahun pelajaran 2006/2007 Yaitu tentang contoh kurikulum tingkat satuan pendidikan yang bisa dikembangkan Yaitu tentang contoh format silabus (deskripsi tentang pokokpokok materi pembelajaran) Contoh format rencana pelaksanaan pembelajaran yang bisa dikembangkan Yaitu contoh format silabus dari muatan lokal yang bisa dikembangkan sesuai karakteristik lingkungan di sekitar sekolah Yaitu format kegiatan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekpresikan dirinya IPA terpadu diartahkan ke lingkungan ttg pengelolaan alam sesuai dgn kondisi lingkungan di kep. 23 tahun 2006 Permendiknas No. tentang bina diri dan gerak. fleksibel.tersebut. dan KTSP No 1 Jenis Dokumen Permendiknas No. lainya dari pengawas atau teman sejawat yang pernah mengikuti sosialisasi. Mereka mendapatkan informasi tersebut dari Kepala Dinas 15. media Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 73 .

4. dan adopsi dari contoh-contoh yang ada (3. (93. dengan menggunakan bahan yang jelas.9%. kondisi masyarakat Mata pelajaran mana yang diajarakan lebih banyak jamnya SDM yg ada belum mampu. 60% kepala sekolah menganggap tidak sulit menyusun KTSP. dan adopsi dari contoh-contoh yang ada (7. media televisi radio. sisanya (9.2% responden guru beranggapan demikian. Bagi yang merasakan kesulitan dalam penyusunan KTSP menyampaikan berbagai alasan. Demikian pula 51. sebagian besar penyusunan dilakukan dengan cara adaptasi atau penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan sekolah (62.9%).9%). II. masih kurang memadai sarana dan prasarana pendukung Belum ada tenaga pemikir/pakar dalam hal pengembangan diri Kemampuan menyusun masih belum maksimal Sulit menentukan KKM karena harus melihat setiap SKL dan KD yang banyak Jika siswa mendapat nilai yang sama untuk menetapkan kriterianya agak sulit namun sudah diulang dengan tes-tes yang lain Tidak diberikan kepada pihak sekolah dalam pengambilan keputusan terakhir Tidak semua budang studi mudah dalam menerapkan pendidikan kecakapan hidup khususnya bidang studi PKN Tidak cukupnya panduan untuk itu Menetapkan kriteria kelulusan Menentukan pelaksanaan kegiatan pendidikan kecakapan hidup Menetapkan dan mengembangkan pendidikan berbasis keunggulan lokal Mengembangkan dan melaksanakan pendidikan berbasis keunggulan global Menyusun kalender Pendidikan Menjabarkan standar kompetensi/kompetensi dasar menjadi indikator Menyusun kegiatan pembelajaran Belum ada tenaga yang dipersiapkan untuk itu Dalam penyususnan kalender pendidikan sudah disusun oleh dinas pendidikan disesuaikan dengan daerah masing-masing Dalam penyusunan berpedoman pada silabus yang ada buku yang dijadikan masih harus dirancang sendiri karena tingkat kesukarannya da ditingkat kelas I. disusun sendiri (13. dan internet secara interaktif. di antaranya sebaai berikut: Tabel 14 : Kesulitan dalam Menyusun KTSP Aspek Merumuskan Visi dan Misi Sekolah Merumuskan tujuan sekolah Menetapkan mata pelajaran Menetapkan dan mengembangkan muatan lokal Menetapkan dan mengembangkan kegiatan pengembangan diri Menetapkan pengaturan beban belajar Menetapkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) Menetapkan kriteria kenaikan kelas Kesulitan dan Alasan menyamakan persepsi dengan semua guru & karyawan kesesuaian antara tujuan sekolah dgn situasi. Sedangkan responden guru yang menyampaikan sekolahnya telah menyusun KTSP adalah 86.1%).0%).1%). Menurut pernyataan responden.2%) tidak memberikan jawaban. sederhana. dan III Dalam kegiatan pembelajaran terkendala pada waktu yang terbatas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 74 . disusun sendiri (16.1%).7%). dan praktis. Penyusunan KTSP Sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah mereka telah menyusun KTSP.cetak. Berdasarkan pendapat responden. Penyusunan dilakukan sebagian besar dengan cara adaptasi atau penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan sekolah (61.

pengaturan beban belajar. struktur dan muatan.Menetapkan materi pokok Menyusun bahan ajar Menentukan strategi dan alat penilaian Menindaklanjuti hasil penilaian Menentukan alokasi waktu Ada perbedaan pada referensi pendukung sehingga harus penuh teliti berdasarkan tuntutan dan SI Masih kurangnya buku sumber yang ada diperpustakaan atau toko buku yang ada Banyaknya tugas guru dalam penilaian yang terlalu rumit Melakukan remedial terhadap siswa yang belum tuntas Di alokasi waktu kadang-kadang tidak cukup karena siswasiswa asik dengan percobaan-percobaan yang di cobanya kerna jika belum berhasil siswa tidak akan meninggalkan tempatnya walaupun guru mengatakan sudah selesai jam pertemuannya Sulit mencari sumber dan alat untuk kompetensi tertentu Membedakan KD dan indikator perlu pemahaman para guru Cara mengembangkan indikator kegiatan pembelajaran/penilaian Cara menentukan strategi/model pembelajaran/evaluasi Menentukan sumber dan alat pembelajaran Merumuskan tujuan pembelajaran Menyusun silabus Menyusun RPP Data di atas menunjukan masih terdapat inkonsistensi antara pemahaman isi dokumen berkaitan dengan KTSP dengan kesulitan yang dialami guru dan kepala sekolah dalam mengembangkan dan menerapkan KTSP. Pemahaman Tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan KTSP Sebagian besar responden menyatakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang menitikberatkan atau berorientasi pada kompetensi/kemampuan siswa dengan harapan setelah siswa selesai sekolah memiliki suatu kompetensi diri yang kompeten. Juga perlu didukung oleh kesiapan semua komponen sekolah. 5. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah agar dapat melaksanakan KTSP Responden berpendapat bahwa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah dalam melaksanakan KTSP adalah adanya kesatuan pendapat dan dukungan dari warga sekolah dalam menentukan tujuan sekolah serta keinginan masyarakat yang dituangkan dalam KTSP. tujuan Sekolah. silabus. Umumnya responden telah mengetahui komponen-komponen KTSP. yang sifatnya sudah harus menjabarkan secara teknis dan rinci. Umumnya responden menyatakan bahwa kurikulum sebelumnya (1994) perlu diubah menjadi KTSP dengan alasan (1) Karena dengan pembelajaran berdasarkan kompetensi. kalender pendidikan. anak dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih optimal (2) layak disempurnakan dalam kerangka inovasi pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. kalender pendidikan standar kompetensi. standar kompetensi lulusan dan SKBM/KKM. muatan lokal. KTSP serta teknis Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 75 . ketersediaan dana. Sedangkan hal-hal yang harus dilakukan guru agar dapat melaksanakan KTSP secara optimal adalah guru harus memiliki pemahaman yang baik terhadap konsep dan falsafah implementasinya di lapangan. struktur kurikulum. 6. yaitu (1) visi misi dan tujuan pendidikan. misi. RPP (2) visi. bahan yg akan dijadikan acuan.

orang tua). pertemuan rutin guru. Upaya untuk mengatasi kesulitan adalah dengan terus meningkatkan pemahaman aspek-aspek yang terdapat dalam KTSP serta peningkatan penggunaan TIK untuk mendukung kegiatan pembelajaran. abstrak. Umumnya responden menyatakan bahwa perbedaan antara silabus dan RPP adalah: RPP sifatnya lebih operasional dari silabus. konteksual. kegiatan pembelajaran. Caranya dengan mengadakan diklat. kepsek. Umumnya sekolah melibatkan pengawas dalam penyusunan silabus. Strategi sekolah dalam mensosialisasikan KTSP kepada warga sekolah (guru. baik sebagai pembimbing maupun sebagai narasumber. indikator sebagai pedoman dalam pelaksanaan KBM. serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung yang belum memadai. Persoalan yang umumnya dialami oleh sekolah dalam menyusun KTSP menurut responden adalah pemahaman yang belum maksimal dari warga sekolah. Umumnya responden meyakini bahwa silabus dan RPP dapat menuntun atau membantu guru dalam pelaksanaan pembelajaran. KD. berpusat pada siswa. materi pokok. berpusat pada guru. dan masyarakat adalah dengan melakukan diskusi di antara guru. RPP dibuat untuk setiap pertemuan. indikator. guru sebagai fasilitator. Permasalahan dan upaya mengatasinya Secara umum. dan KKKS. penilaian. KD. Secara umum responden menyatakan bahwa kondisi (sumber/alat/dan sumber daya di sekolah belum memadai untuk mendorong keterlaksanaan KTSP. Persyaratan dan Kebutuhan sekolah dalam menyusun KTSP adalah adanya kemauan yang keras dari pihak sekolah untuk menyusun dan mengimplementasikan KTSP serta dukungan dana yang besar. terutama guru. Sebagian besar responden menyatakan bahwa umumnya silabus disusun oleh para guru secara bersama-sama dengan rekan satu sekolah maupun dalam MGMP. waktu dan sumber. serta warga sekolah lain dengan dibimbing oleh pengawas dan kepala UPT Dinas Pendidikan setempat. 7. Pelaksanaan KTSP Umumnya responden memahami silabus sebagai penjabaran SK. Sedangkan kurikulum 1994 berorientasi pada tujuan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 76 . guru sebagai sumber belajar. sedangkan Silabus dibuat untuk beberapa kali pertemuan. di antaranya kurikulum KTSP lebih menampung inspirasi dari warga sekolah serta mencakup perubahan/menyesuaikan dengan kondisi yang ada. masih ada permasalahan dalam implementasi KTSP.Umumnya responden menyatakan perbedaan antara KTSP dengan kurikulum 1994 adalah bahwa KTSP berorientasi pada penguasaan kompetensi. 6. KKG. KTSP memerlukan silabus karena silabus merupakan penjabaran dari standar kompetensi yang mengacu pada pencapaian standar kelulusan. Dalam implementasinya. Unsur-unsur yang harus ada dalam silabus adalah SK. Umumnya responden melihat hal-hal positif yang ada dalam KTSP. work shop.

mendatangkan tenaga ahli. 8.5%) untuk menyusun KTSP. Memberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengikuti diklat dan banyak bertanya pada rekan sejawat yang lebih paham. Sedangkan untuk melakukan sosialisasikan KTSP di lingkungan warga sekolah pada umumnya dana diperoleh secara swadaya (19. Berikut adalah berbagai informasi yang berkaitan tentang KTSP menurut persepsi orangtua. Dana itu bukan dari dana BOS.1%). C. Pendanaan Umumnya responden kepala sekolah menyatakan bahwa penyusunan KTSP membutuhkan biaya yang besar.Strategi sekolah dalam melakukan pemantauan pelaksanaan KTSPdi antaranya dengan membentuk tim kecil di bawah naungan wakil kepala skeolah bidang kurikulum dan wakil kepala skeolah bidang pengendali mutu untuk melakukan pemantauan. guru dan kepala sekolah. Memberi motivasi bagi guru dan reward bagi yang telah menyusun silabus dan RPP. Persepsi Komite Sekolah (Orangtua) dalam Pengembangang dan Penerapan KTSP Selain menggunakan sumber data dari dinas pendidikan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 77 . dan bukan dipungut dari siswa. dan tim pengembangan kurikulum sekolah. Juga dengan melakukan supervisi. Membantu memberikan petunjuk. Upaya sekolah dalam mendorong guru dalam melaksanakan KTSP antara lain dengan: 1. 3.7%) atau bersumber dari APBN (12. Sekolah umumnya memanfaatkan sumber dana lain (48. mendatangkan tenaga LPMP. dalam monitoring ini juga dilakukan analisis tentang KTSP dengan sumber data dari oorangtua yang bertindak sebagai komite sekolah. melibatkan pengawas sekolah. juga bukan dari Dinas Pendidikan (APBD). 2.

Berdasarkan hasil wawancara. Perbedaaan KTSP dengan Kurikulum sebelumnya Memahami kurikulum yang berlaku termasuk hal yang harus dilakukan oleh orang tua. Sebanyak 50 % menyatakan mengetahuinya dari sekolah sedangkan 50 % lagi tanpa penjelasan.0 0% % Tahu Tidak Tahu Tidak berbeda Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 10 . dan hanya 10% menyatakan tidak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam penyusunan KTSP pihak sekolah telah mensosialisasikan kepada orang tua melalui komite Berikut diagram tentang pemahaman orang tua/komite tentang KTSP. Pemahaman Orang Tua Siswa/Komite tentang Pelaksanaan Kurikulum a. Hal ini menjadi penting karena perubahan kebijakan tentang kurikulum saat ini memiliki konsekuensi terhadap peranan orang tua. orang tua dituntut untuk berperan aktif dalam mendukung keberhasilan siswa dalam pencapaian kompetensi yang diharapkan. Berkaitan dengan perubahan kebijakan kurikulum saat ini. Pemahaman orang tua terhadap perbedaan kurikulum yang sebelumnya dengan KTSP 85 .1. 5.00 % 78 . perlu digali sejauhmana orang tua siswa memahami perbedaan kurikulum yang sekarang dengan kurikulum yang berlaku selama ini. diperoleh gambaran bahwa umumnya (90%) orangtua siswa menyatakan bahwa KTSP berbeda dengan Kurikulum 2004.00 Diagram 1. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi KTSP yang telah dilakukan cukup berhasil. Dengan adanya otonomi sekolah dalam pengembangan kurikulum.

Ini menunjukkan bahwa pemahaman orang tua tentang KTSP belum memadai sehingga perlu sosialisasi lebih lanjut agar orang tua dapat berpartisipasi lebih aktif dalam pendidikan putra/putrinya. Penjelasan Kebijakan Kurikulum terhadap Orang Tua Siswa` Untuk mendukung pemahaman orang tua. diperoleh informasi bahwa sebanyak 65% orang tua cukup mengerti bahwa KTSP disusun dengan memperhitungkan potensi lingkungan dan didasarkan atas Permen Mendiknas Nomor 22. Namun secara implisit orang tua (25%) mengharapkan kemampuan dan komitmen sekolah yang sungguh-sungguh untuk menyusun dan melaksanakan KTSP sesuai potensi daerah dan karakteristik sekolah. Sedangkan 15 % lainnya sudah mendengar tapi belum menunjukkan pemahaman tentang KTSP. sebanyak 90% orang tua menyatakan menerima penjelasan tentang KBK dari pihak sekolah dan dinas pendidikan setempat. sedangkan 10 % menyatakan belum pernah. 2. Berdasarkan wawancara dengan orang tua. Konsep dan Strategi Sosialisasi KTSP Pemahaman yang benar bagi setiap orang tua terhadap KTSP sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran siswa. Sedangkan 80 % lainnya sudah menerima penjelasan tapi tidak mengetahui dengan pasti arti penjelasan tersebut. dan 24. Respon yang sangat baik ini memberikan indikasi bahwa KTSP mendapat sambutan yang sangat positif dikalangan orang tua (stake holder) sehingga sosialisasinya perlu ditingkatkan dan strategi implementasinya perlu dievaluasi secara berkala agar implementasinya maksimal. Respon Orang Tua terhadap pelaksanaan KTSP di sekolah Hampir semua responden (99 %) menyatakan senang dengan pengunaan KTSP sebab membuat perhatian siswa terhadap kegiatan belajarnya lebih besar (siswa lebih aktif belajar) dan kemampuanya lebih dieksplorasi. sedangkan 20% belum pernah sama sekali menerima sosialisasi KTSP. Namun hanya 20 % yang menyatakan mengerti penjelasan yang diberikan sehingga dapat memberikan dukungan dan kerja sama dengan pihak sekolah.b. Sehubungan dengan tersebut. Namun demikian memberi indikasi bahwa sosialisasi KTSP di tingkat satuan pendidikan SMA (khususnya) dan SMK sudah dilakukan sekolah dengan baik kepada orang tua (stake holder) namun perlu ditingkatkan dan dilakukan lebih intensif. Berikut diagram respon orang tua terhadap pelaksanaan KTSP di sekolah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 79 . c. 23. berdasarkan wawancara dengan orang tua siswa. perlu ada upaya sekolah untuk melibatkan orang tua dalam sosialisasi kurikulum.

Namun dari data rersponden tidak ditemukan keluhan atau keberatan orang tua (stake holder) sehubungan dengan tambahan biaya ini. Berikut diagram frekuensi siswa meminta uang tambahan untuk beiaya belajar setelah menggunakan KTSP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 80 .00% Sangat Senang Senang. Untuk itu sosialisasi KTSP yang akan datang tidak saja difokuskan pada konsep-konsep KTSP tetapi lebih dari itu difokuskan pada strategi implementasi dan teknik pelaksanaan.00% 20. Ini menunjukkan bahwa pengeluaran tambahan untuk biaya studi setelah KTSP diterapkan cukup signifikan. karena kemampauan siswa yang dikembangkan banyak dan fokus. frekuensi siswa meminta uang tambahan untuk biaya belajar setelah menggunakan KTSP Sebanyak 57.00% Diagram 2. Senang. Tanggapan orang tua terhadap pelaksanaan KTSP dan peluangnya dalam peningkatan kemampuan siswa 3.15 % (14.86% kadang-kadang orang tua mengeluarkan uang tambahan) orang tua menyatakan adanya tambahan pengeluaran biaya yang signifikan dengan penerapan KTSP.29% sering dan 42. Hubungan penerapan KTSP dengan biaya yang dikeluarkan siswa dalam proses belajar mengajar (a). asalkan siswa menjadi lebih pandai dan disiplin 55. Sedangkan 42.25.86% (yang menyatakan tidak pernah/hampir tidak pernah mengeluarkan biaya tambahan setelah penerapan KTSP) menyatakan bahwa sekolah di mana putra/i mereka bersekolah telah menyusun anggaran yang lengkap sehinga semua pembiayaan sudah dibayar pada awal tahun ajaran. Dengan demikian walaupun penerapan KTSP mempunyai implikasi pengeluaran dana yang lebih namun dapat diterima secara positif sebab dana-dana tambahan yang dikeluarkan dialokasikan langsung untuk peningkatan kompetensi siswa.

14.29%
Sering

Kadang-Kadang

42.86%
Tidak Pernah

42.86%

Diagram 3. Hubungan penerapan KTSP dengan biaya yang dikeluarkan siswa dalam proses belajar mengajar

(b). Biaya tambahan yang dibayarkan orangtua setelah menggunakan KTSP Semua responden menyatakan adanya tambahan biaya yang besar dan frekuensinya sangat bergantung pada kegiatan yang direncanakan sekolah masing-masing. Namun jawaban responden tengan pengeluaran tambahan ini sangat beragam antara yang sudah terencana melalui APBS sekolah sampai dengan yang tidak memiliki rencana sama sekali. Khusus sekolah-sekolah yang belum memiliki APBS yang baik tambahan pengeluaran ini menambah volume pekerjaan bertambah. Untuk itu dalam pelaksanaan sosialisasi KTSP pada level strategi peleksanaan dan di tingkat teknis operasional perlu diberikan bimbingan pengelolaan keuangan sekolah sehingga baik sekolah maupun orang tua mendapat kemudahankemudahan dalam memberikan layanan kepada putra/i-nya. Berikut diagram biaya tambahan sehubungan dengan penerapan KTSP
10 .00 % % .00 30
<= Rp.10.000,00 Rp.10.000,00 <= - <= Rp.80.000,00

3. Ketersediaan Buku Pelajaran

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

60 .00 %

Relatif, sesuai kebutuhan

Diagram 4. Besarnya biaya tambahan yang dibayarkan orang tua dalam pelaksanaan KTSP di sekolah

81

Responden yang menyatakan buku yang dimiliki siswa cukup memadai dengan yang menyatakan tidak cukup memadai sama besar. Sementara responden yang menyatakan bahwa buku cukup memadai dalam menunjang proses pembelajaran tidak memberikan penjelasan atas jawaban yang diberikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengadaan bukubuku yang sesuai dengan potensi daerah dan sesuai dengan karakteristik siswa perlu diupayakan secara sungguh-sungguh baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Berikut diagram tentang ketersediaan buku pelajaran

20.00% Cukup 40.00% Tidak Cukup Tidak Tahu

40.00%

Diagram 5. Dukungan buku dalam Proses Pembelajaran KTSP

4.

Penjelasan dari Guru tentang Rapor Siswa

Hanya 45% orang tua yang menganggap rapor hasil belajar yang disampaikan sekolah ke pada orang tua memberikan informasi tentang prestasi belajar siswa. Selain itu data responden menunjukkan bahwa yang merasa kurang jelas adalah 25% demikian pula yang tidak memahami sama sekali. Kemungkinannya adalah sekolah belum mampu

medayagunakan format rapor yang ada untuk menginformasikan pencapaian kompetensi siswa, atau format rapor terlalu rumit sehingga untuk memahaminya diperlukan penjelasanpenjelasan yang khusus. Ini menunjukkan bahwa diperlukan suatu penelitian lebih lanjut tentang format laporan hasil belajar dan cara penggunaannya yang diikuti oleh sosialisasi yang intensif dari pihak sekolah terhadap orang tua.

30.00% Jelas 45.00% Kurang Jelas Tidak Jelas

25.00% Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

82

Diagram 6. Informasi hasil belajar siswa melalui rapor hasil belajar.

5. Perubahan Sikap Siswa Setelah Sekolah Menerapkan KTSP Secara umum responden menyatakan adanya perubahan sikap belajar putra/putri mereka yaitu peningkatan minat dan semangat belajar yang signifikan dengan penerapan KTSP. Dengan demikian peningkatan pemahaman dan penguasaan KTSP secara konsep, strategi implementasi, dan teknik pelaksanaan perlu disosialisasikan lebih intensif, luas, dan efektif.
15.00%

Lebih Rajin Belajar Relatif Lebih Rajin Tidak Berubah

55.00% 30.00%

Gambar 7. Pengaruh KTSP terhadap sikap belajar siswa

Informasi 65% responden menyatakan tidak pernah/hampir tidak pernah menerima keluhan dari putra/putri mereka dan 10% yang kadang-kadang menerima keluhan

mengindikasikan bahwa penerapan KTSP cukup signifikan meningkatkan gairah belajar siswa. Kegiatan-kegiatan di luar sekolah yang timbul setelah penerapan KTSP disikapi sebagai implikasi dari semangat KTSP untuk meningkatkan mutu hasil belajar siswa. Dengan demikian KTSP mendapat sambutan positif dari orang tua karena dipandang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. 6. Keluhan Siswa Kepada Orang Tua setelah Sekolah menerapkan KTSP Sebagian besar orang tua (65%0 menyatakan bahwa anaknya tidak pernah mengeluh sehubungan dengan penerapan KTSP, 25 % menyatakan anaknya sering mengeluh, dan 10 % menyatakan kadang-kadang.

Berikut diagram pernyataan orang tua tentang keluhan anak-anak mereka sehubungan dengan penerapan KTSP.

.0 0%

Kadang-kadang Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008
25

10

.0 0%

83

Tidak Pernah

Sebanyak 63. sekolah. Pemahaman Tentang Pengertian Standar Isi Sebagian besar responden dari kalangan pejabat struktural Dinas Pendidikan memahami bahwa Standar Isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu (65. Tes melibatkan seluruh responden dari dinas pendidikan. guru.5% kepala sekolah dan guru menjawab dengan jawaban yang sama. Selain untuk melihat persepsi tentang KTSP. Perbandingan Hasil Tes Pemahaman KTSP antara Pejabat Struktral di Dinas pendidikan dengan Sekolah (Kepala Sekolah dan Guru) Dalam monitoring ini juga dilakukan tes pemahaman atau tes persepsi tentang persepsi KTSP menurut responden. Identitas dari para responden adalah sebagai berikut. Hal ini senada dengan pemahaman kepala sekolah dan guru. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada sekitar 35-37% reseponden belum memahami pengertian standar isi dan standar kompetensi lulusan dengan benar. kepala sekolah dan orangtua. orangtua dan dinas pendidikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara pemahaman Dinas Pendidikan dengan sekolah tentang standar Isi.5%). kepala. tes dimaksudkan juga untuk mendukung temuan-temuan yang diperoleh melalui kuesioner guru. 1.D. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 84 .

Mengatur tentang struktur kurikulum satuan pendidikan Mengatur tentang kompetensi lulusan Dinas Pendidikan 18. masih ada sekitar 13-16 % responden belum memahaminya dengan benar. 8% sekolah menjawab muatan lokal di tetapkan dari pusat.6 65. sebagian besar responden dari pejabat struktural Dinas Pendidikan (84.9 10.5%) menjawab bahwa yang berwenang menetapkan kurikulum muatan lokal adalah satuan pendidikan yang bersangkutan.5 c. yaitu sebanyak 87. meskipun untuk responden yang berbeda tampaknya pemahaman kedua unsur tidak terlalu jauh berbeda.5 8 7. b.5 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 85. 22 Tahun 2006 sangat variatif. sementara hanya 0. d. 2. Tabel 16 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Pengembangan Substansi Muatan Lokal Jawaban a.5 Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 85 . b.9 0. c.7 3.5%.5 9.5 % responden yang berasal dari sekolah meberikan jawaban yang sama.7 4. 12. Ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi Mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Satuan pendidikan Dinas pendidikan Pusat Komite sekolah Dinas Pendidikan 84.9 3 Tabel di atas memperlihatkan pemahaman responden terhadap Permendiknas No.3 3. d. sementara 4.7 responden dari pejabat struktural Dinas pendidikan yang menjawab demikian. Dari kelompok responden yang belum menjawab dengan benar. Artinya.Tabel 15 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Standar Isi Unsur (%) Jawaban a. Hal senada juga terlihat dari jawaban responden yang bearasal dari sekolah (guru dan kepala sekolah).5 63.9% responden dari pejabat struktural Dinas pendidikan menjawab bahwa muatan lokal ditetapkan oleh Dinas Pendidikan. Sebanyak 9. Pengembangan Substansi Muatan Lokal Tentang kewenangan penyusunan dan penentapan kurikulum muatan lokal. terdapat sedikit perbedaan antara responden dari Struktural Dinas Pendidikan dengan sekolah.3 Sekolah (Guru dan Kepsek) 22.

9 %. Hal yang sama juga terjadi pada responden dari sekolah (Kepala Sekolah dan Guru). hanya 48. dinyatakan bahwa bagi sekolah yang kategori mandiri bebena relajar diatur dengan sistem keredit semester.0 3. Tujuan dari Kegiatan Pengembangan Diri Mengenai kegiatan pengembangan diri. Data ini menunjukkan bahwa Belem semua pihak yang memahami tentang pengaturan beban relajar sebagaimana yang tertuang dalam PP nomor 19 tahun 2005 tersebut.4 2. c. d.3. Sistem Pembelajaran pada SMA/MA/SMK/MAK Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005. yaitu sebesar 73. Memperdalam penguasaan mata pelajaran Menciptakan wahana kegiatan sesuai minat dan bakat siswa Memberi pelayanan konseling pada siswa memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri. Tabel 17 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah Tentang Tujuan Kegiatan Pengembangan Diri Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 1.9 Jawaban a.9% sekolah yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pembelajaran menggunakan sistem paket.0 75. Dinas Pendidikan 3. diperoleh gambaran bahwa sebagain besar responden menyatakan penyelenggaraan pembelajaran menggunakan sistem paket (60%). sebagian besar responden dari Dinas pendidikan menjawab ” memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri”. b. Namur hal ini berbeda dengan pandangan sekolah. Namur hanya sedikit (sekitar 45%) responden (baik Dinas Pendidikan maupun sekolah) yang menyatakan pengaturan pembelejaran berdasarkan sistem kredit semester. sebesar 75.5 73. Hal ini Belem banyak dipahami oleh pelaksana pendidikan di lapangan.5 18.6%.5 19. Ini berarti terdapat sekitar 24-27% responden memberikan jawaban yang salah atau belum memahami dengan benar. Berdasarkan tes pemahaman terhadap Dinas pendidikan dan sekolah.6 4. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 18 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Sistem pembelajaran pada SMA/MA/SMK/MAK Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 86 .

d.5 5. Tabel 19 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Penggunaan Standar Kompetensi Lulusan Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 0.9 89.1 6.6 22. Penggunaan Standar Kompetensi Lulusan Dalam hal penggunaan Standar Kompetensi Lulusan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik 90. Dan ternyata. Menggunakan sistem paket Menggunakan sistem SKS Dapat menggunakan sistem SKS Dapat menggunakan sistem paket Dinas Pendidikan 64. sekitar 25 % responden masih beranggapan bahwa masih ada kurikulum nasional. d. Artinya.3 Jawaban a. Hanya 68 % responden dari Dinas pendidikan yang menjawab dengan benar.5 6. c.9 4.Jawaban a. Sejalan dengan hal tersebut.5 3. Tabel 20 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Jawaban Unsur (%) Sekolah (Guru dan Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 87 . c. dan sebanyak 70. Penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Sebagai kurikulum operasional.6 5. b.8 4. b. terdapat sekitar 30 % responden belum memahami dengan benar.6 5.7 % responden sekolah (kepala sekolah dan guru) menjawab sama. Kemungkinan besar yang disebut sebagai kurikulum nasional itu adalah Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan.5 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 48.1 90.8 2. Data ini menunjukkan bahwa terdapat sekitar 10% responden yang belum menjawab dengan benar. Pedoman penilaian kelas Pedoman penilaian tertulis pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik.5%. sekolah (kepala sekolah dan guru) menjawab dengan benar sebanyak 89.8 1.0 25. KTSP disusun oleh sekolah dan disesuaikan dengan kondisi yang ada.5 % responden dari pejabat struktural Dinas Pendidikan menjawab dengan benar. Panduan penilaian kinerja dan portofolio Dinas Pendidikan 1.

7 70.7 11. c. Artinya.9 4. Kecuali.6 6.6 68..3 74. d.7 Jawaban a. Kemungkinan Satuan pendidikan Menyusun KTSP dengan Standar yang Lebih Tinggi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Standar isi dan Standar Kompetensi lulusan memnyatakan bahwa satuan pendidikan dapat mengembangkan kurikulum dengan kompetensi yang lebih tinggi dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan.7 1. Sebagian besar responden yang berasal dari Dinas Pendidikan (74.1 9. d. Acuan Penyusunan KTSP. Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 4. Lebih dari separuh (55. kecuali.6%) responden dari dinas pendidikan menyatakan hal tersebut mungkin dilakukan asal tetap mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagai ukuran kompetensi minimal..3 8.4 79.. Hal senada juga ditunjukan oleh pernyataan kepala sekolah dan guru (79.0 2.5 Kepsek) 2...6 23. b.. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 21 pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Acuan yang Digunakan dalam Menyusun KTSP. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 88 .3%) menyatakan bahwa ”model Kurikulum yang dikembangkan oleh satuan pendidikan lain tidak dapat dijadikan sebagai acuan pengembangan KTSP. kebutuhan dan potensi sekolah Disusun oleh sekolah sebagai model kurikulum Pendidikan 3. b.6%). Ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa KTSP harus disusun sendiri mengingat situasi dan kondisi sekolah yang berbeda-beda.a. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh pernyataan kepala sekolah dan guru (52. Disusun oleh pusat Disusun oleh sekolah dengan mengacu pada kurikulum nasional Disusun oleh sekolah sesuai dengan kondisi.7%). tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pandangan dinas pendidikan dengan sekolah dalam pengembangan kompetensi yang lebih tinggi untuk satuan pendidikan tertentu.5 7...5 24. Standar Isi Standar kompetensi lulusan Panduan penyusunan kurikulum dari BSNP Model kurikulum satuan pendidikan lain Dinas Pendidikan 5. c..

d. memperdalam kompetensi atau materi sesuai ciri dan kebutuhan satuan pendidikan Mungkin. Hal ini tidak jauh berbeda dengan pemahaman kepala sekolah dan guru (38.1 4.9 b. harapan Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Batas Akhir penerapan KTSP Hampir semua responden (sekitar 96%) baik yang berasal dari Dinas pendidikan maupun kepala sekolah dan guru menyatakan bahwa paling lambat penerapan KTSP pada tahun Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 89 .9 Jawaban a.9%). Agak berbeda dengan pernyataan kepala sekolah dan guru yang cenderung menambah jam pelajaran (7.4 55. Mungkin.0 52. sebagian responden dari dinas pendidikan (38. asal tidak menambah waktu lebih dari 4 jam pelajaran per minggu Dinas Pendidikan 38.6 1. 9. c. Tabel dan diagram di atas memperlihatkan bahwa semua responden menyatakan tidak ada masalah apabila satuan pendidikan mampu mengembangkan kurikulumnya melebihi standar SI dan SKL asalkan dengan kriteria tertetu.6 1.0%). Hanya sebagian kecil responden dari dinas pendidikan yang menyatakan perlu penambahan jam sebagai konsekuensi dari penaikan standar kompetensi oleh satuan pendidikan. dengan menambah.5 7. asal tetap mengacu pada Standar Isi dan SKL sebagai kompetensi minimal Mungkin dengan tidak menambah mata pelajaran Mungkin. Lebih lanjut lihat pada tabel dan diagram berikut: Tabel 22 Pemahaman Dinas dan Sekolah tentang Kemungkinan Satuan pendidikan Menyusun KTSP dengan Standar yang Lebih Tinggi Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 38.Namun demikian.4%) menyatakan bahwa hal itu mungkin dilakukan dengan menambah dan memperdalam kompetensi atau materi sesuai dengan ciri dan kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan.

3 4.4% untuk sekolah). Sebagian daerah optimis dengan batas akhir tahuan 2007/2008 (14.2 52. C d Tahun Ajaran 2007/2008 Tahun Ajaran 2008/2009 Tahun Ajaran 2009/2010 Tahun Ajaran 2010/2011 Dinas Pendidikan 14. 22 dan 23 tahun 2006 oleh Satuan Pendidikan Sebagian besar responden berpendapat bahwa pengaturan jadual pelaksanaan Permendiknas No. Bupati dan walikota dalam Pengaturan Jadual Pelaksanaan Permendiknas No. Lebih lanjut lihat pada tabel dan diagram berikut. b. 22 dan 23 Tahun 2006 telah sesuai dengan kesiapan satuan pendidikan atas pertimbangan dinas pendidikan setempat. Tabel 23 Harapan Dinas pendidikan dan Sekolah Tentang Penjadualan Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Jawaban a.9 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 18. Lebih lanjut lihat tabel dan grafik di bawah ini. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 90 .A 2010/2011 Sekolah T abel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden berharap bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah seharusnya sudah mulai menerapkan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah paling lambat Tahun Ajaran 2009/2010 10.A 2009/2010 T.1 4.1 Harapan Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Limit Waktu Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan 60 40 Dinas Pendidikan 20 0 T.6 57.4 23.A 2007/2008 T.2009/2010. Daerah dan sekolah yang berpandangan demikian umumnya bagi mereka yang telah menerapkan KBK secara keseluruhan.A 2008/2009 T. Peranan Gubernur.4% untuk Dinas pendidikan dan 18.4 25.

4 7.Tabel 24 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Peranan Gubernur.1 Dari tes pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa peran dinas pendidikan adalah sangat vital dalam membentuk persepsi. d.5 8.5 7. melakukan sosialisasi dan mengkoordinasikan pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan. Sesuai dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan Secara serempak di seluruh wilayahnya Ditetapkan dan dipertimbangkan oleh dinas pendidikan Ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan pertimbangan dinas pendidikan Dinas Pendidikan 46. Bupati dan walikota dalam Pengaturan Jadual Pelaksanaan Permendiknas No. b.1 13.3 32. 22 dan 23 tahun 2006 oleh Satuan Pendidikan Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 51. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 91 . c.7 Jawaban a.4 33.

pengalaman belajar yang sesuai. 2 RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan penjabaran operasional dari silabus untuk waktu yang lebih singkat yaitu tiap tatap muka dilaksanakan. No 1 Aspek Ketepatan rumusan Komponen Silabus : a. (2) Hubungan metode dengan kompetensi. Rumusan Metode. Oleh sebab itu RPP sangat bergantung pada silabus yang telah di buat. metode pemecahan masalah dsb.aplikasi konsep atau orientasi kelas (2) Kegiatan inti. diskusi. Observasi Kegiatan Pembelajaran Selain menggunakan tes pemahaman atau tes persepsi KTSP. kelompok. kuesioner dinas pendidikan. kuesioner guru dan kepala sekolah.Memuat sumber belajar: Ketepatan rumusan komponen RPP: a. Secara umum. Memuat alokasi waktu: g. tampak bahwa guru belum memahami konsep dan teknik pembuatan silabus terutama pada bagian perumusan indikator. problem solving. luar kelas. telah merinci dari silabus: c.E. indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai d. dalam kelas. Ketepatan rumusan kegiatan pembelajaran dengan KD (1) Kegiatan pembelajaran bervariasi: (2) Pokok pokok kegiatan dengan kompetensi yang ingin dicapai: e. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 92 . yaitu jaminan kompetensi dicapai: c. SK dan KD dengan SI dan SKL : b. Dari data hasil observasi menunjukkan bahwa secara rata-rata guru masih menemukan kesulitan dalam membuat RPP yang sesuai agar siswa memperoleh kompetensi seperti yang diharapkan. Ketepatan rumusan langkah langkah kegiatan. Ketepatan rumusan penilaian dengan KD: (1)Teknik/bentuk penilaian dengan kompetensi: (2) Rumusan tugas: f. juga dilakukan observasi pembelajaran. ceramah. hasilnya adalah sebagai berikut. Tujuan observasi adalah untuk memotret secara faktual perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dilihat dari segi: kesesuaianya dengan kebijakan pengembangan KTSP. pada aspek: (1) Kegiatan awal: memuat konsep/kegiatan prasyarat. Kesulitan dalam membuat silabus akan berdampak pada rumusan RPP yang tidak saling berhubungan. Rumusan Indikator dengan KD : (1) Minimal dua indikator: (2) Menggunakan kata kerja kemampuan: (3) Rumusan mengacu kompetensi. dan teknik penilaian yang dapat mengukur pencapaian kompetensi siswa. Memuat materi pembelajaran: d. Hubungan Indikator dengan tujuan pembelajaran: b. dari segi: Pembahasan hasil Observasi Dalam hal pembuatan silabus. Rumusan materi. dari segi: (1) Menggunakan variasi metode (individual. penugasan. dan kuesiner orangtua. prinsip pembelajaran yang aktif dan umpan baliknya. klasikal.

* Telah merinci kegiatan pada silabus: * Kegiatan dengan kompetensi. renungan atau lainnya e. Kegiatan awal: (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. indikator atau tujuan pembelajaran: b. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 93 . indikator atau tujuan pembelajaran: (3) Organisasi kelas yang digunakan dengan tujuan pembelajaran: (4) Kegiatan pembelajaran efektif: c. indikator atau tujuan pembelajaran: Penilaian: a. Ketepatan rumusan penilaian dengan indikator. Kegiatan Akhir (penutup): (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. 6 Secara rata-rata guru sudah menggunakan sumber belajar dengan baik dan efektif dalam melaksanakan pembelajaran. dari segi: (1) Teknik/bentuk penilaian dengan indikator: (2) Memuat contoh penilaian: (3) Memuat pedoman skoring/kunci jawaban: f.Tingkat pencapaian siswa: c. Kegiatan inti: (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. memuat rangkuman. Kualitas dari konstruksi soal/penilaian: Sumber belajar: 4 Secara rata-rata data ebservasi menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru sudah melaksanakan sesuai dengan RPP yang di buat. indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai: * Memuat lampiran lembar kerja (LK) apabila terdapat penugasan menggunakan lembar kerja (3) Kegiatan penutup. Tetapi hal ini bertentangan dengan kenyataan sebelumnya yaitu bahwa guru belum mampu membuat RPP yang sesuai dengan silabus. Memuat alokasi waktu: g. Bentuk/teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran: b.Memuat sumber belajar: PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN Kesesuaian pelaksanaan kegiatan belajar dengan RPP. saat: a. penugasan lebih lanjut. 5 Secara rata-rata guru sudah mampu menerapkan prinsipprinsip penilaian untuk mengetahui hasil belajar siswa.

Unsur-unsur yang dikaji adalah (a) apakah jumlah sumber daya manusia memadai. dan (3) Implementasi atau penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. tes pemahaman dan wawancara. angket. Hal ini akan menggambarkan sejauhmana Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 94 . Unsur-unsur tersebut digali melalui tes pemahaman. komite/orang tua siswa melalui angket. Informasi ini diperoleh melalui pejabat struktural dan staf Dinas Pendidikan. pengembangan. (d) apakah sarana dan prasarana memadai. Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. dan implementasi. workshop. Implementasi atau Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. yaitu: (1) Pemahaman terhadap isi kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Satndar Isi. dan 24 Tahun 2006. (b) hal-hal apa saja yang dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah/satuan pendidikan. (b) apakah kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan memadai. (e) sejauhmana dukungan komite/orang tua siswa terhadap pelaksanaan kurikulum. (c) apakah ada program peningkatan kompetensi melalui sosialisasi. (f) bagaimana pengganggaran dan pembiayaan kegiatan mulai dari persiapan (sosialisasi). dan wawancara. dan 34 Tahun 2006. Unsur-unsur yang dimonitor adalah (a) apakah responden telah memeiliki dokumen dan bagaiaman cara mendapatkan dokumen tersebut. 3. 23. Kemampuan dan Kesiapan Sumber Daya Kemampuan dan kesiapan sumber daya sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan kebijakan. 1.BAB V ANALISIS HASIL MONITORING A. (2) Kesiapan dan kemampuan sumber daya yang ada. serta Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. 2. guru. . (c) fungsi Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar yang terdapat dalam Standar Isi dan (d) fungsi Standar Kompetensi Lulusan. dan pelatihan. kepala sekolah. Aspek Analisis Monitoring ini memnfokuskan pada tiga aspek. 23. Pemahaman terhadap Standar Isi Dan Standar Kompetensi Lulusan Unsur-nsur yang dijadikan patokan pengkajian adalah (a) hal-hal apa saja yang diatur dalam peraturan tersebut.

Pemberlakuan KTSP sebagai impelementasi dari kebijakan pemerintah sebagaimana yang diamantkan oleh berbagai peraturan perundang-undangan yang mendasarinya.pihak-pihak terkait proaktif dalam mendapatkan informasi. Berdasarkan angket yang diberikan kepada pejabat dan staf struktural Dinas Pendidikan provinsi dapat disimpulkan bahwa semua daerah telah melakukan sosialisasi tentang Peraturan Mendiknas Nomor 22. komite/orang tua siswa melalui angket. kepala sekolah. guru. Umunya naskah tersebut baru pada tahap ”copy-paste”. dapat diterima secara baik oleh pelaksana di lapangan. umumnya responden memahami KTSP disusun dan ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan mempertimbangkan keragaman kondisi. (e) sejauhmana peran serta masyarakat. silabus. kendala. (h) apakah ada koordinasi antar pihak-pihak terkait? Informasi ini diperoleh melalui pejabat struktural dan staf Dinas Pendidikan. tes pemahaman dan wawancara kepada semua responden. dan kebutuhan daerah serta peserta didik. dan komite/orang tua siswa). parsoalan tersebut antara lain adalah : Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 95 . Akibatnya. Hal senada juga diakui oleh responden yang berasal dari sekolah (kepala sekolah. Hasil Analisis Pemahaman Responden Terhadap Standar Isi. (b) apakah sudah menyusun KTSP dan perangkatnya (struktur kurikulum. dan 24 tahun 2006. Hal ini dilihat dari naskah KTSP dan perangkatnya yang disusun oleh masing-masing satuan pendidikan. Sungguhpun demikian. . potenai. (g) berapa persen daerah (kabupaten/kota) yang telah melaksanakan sosialisasi. (d) apa dampak. (c) apakah sudah melaksanakan KTSP. penilaian dan sebagainya). RPP. dan upaya yang dilakukan. Standar Kompetensi Lulusan. guru. substansi dan strategi strategi implementasi KTSP belum cukup dipahami. Sebagai contoh. masih banyak persoalan yang harus dituntaskan. penerapkan KTSP di masing-masing satuan pendidikan belum begitu kuat karakteristiknya. misalnya dengan meng-copy sendiri atau menunggu informasi dikirimkan oleh pihak yang berwenang. B. dapat disimpulkan bahwa secara konseptual sebagian besar responden cukup memahami peraturan mendiknas tersebut. tes pemahaman dan wawancara. 23. 1. Namun. dan KTSP. Dilihat dari pemahaman yang diperoleh melalui jawaban angket. (f) bagaimana penjadualan penerapan .

Sebagian orang tua sering menerima keluhan dari anak-anak mereka bahwa setelah menerapkan KTSP. 2. potensi sekolah. tugas-tugas yang harus mereka selesaikan menjadi bertambah banyak sehingga melelahkan. penggunaan sumber belajar belum bervariasi. dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Guru sudah membuat silabus dan RPP 2. termasuk dalam hal pengunaan sumber belajar yang tidak terbatas pada buku tertentu saja. Hal ini mengkibatkan proses pembelajaran belum efisien dan efektif. Dengan adanya sejumlah persoalan di atas. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. 3. Informasi ini diperoleh melalui observasi dan wawancara yang dilakukan tehadap siswa. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. terutama dalam hal pengadaan buku-buku pelajaran dan biaya kegiatan pembelajaran. perlu dikembangkan suatu sistem sosialisasi dan pembinaan terhadap satuan pendidikan agar pengelolaan pembelajaran lebih efisien dan efektif. Kemampuan dan Kesiapan Sumber Daya 1. proses penilaian belum sesuai dengan karakter dan tingkat kompetensi yang dituntut. 2. terutama dalam penggunaan metode pemeblajaran yang monoton. menurut pengakuan responden. Format rapor KTSP berlum mampu memberikan informasi tentang prestasi peserta akademik maupun non akademik peserta didik. Sejauh ini. Guru belum mampu membuat silabus yang baik dan kontekstual Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 96 .Sebagian orang tua mengeluhkan tentang adanya penambahan biaya pendidikan shubungan dengan penerapan KTSP. Perlu pendampingan yang lebih strategis dan teknis dalam penyusunan KTSP 1. Namun upaya belum cukup mengingat proses pembelajaran yang berlangsung masih mengikuti pola lama. daerah dan sekolah mampu mengatasi berbagai persoalan tersebut melalui pemberian pengertian kepada semua pihak. Silabus yang di buat guru belum menunjukkan penjabaran SK dan KD yang disesuaikan dengan potensi daerah/wilayah. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 3.

dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. potensi sekolah. Dalam merencanakan sumber belajar yang akan digunakan guru sudah merencanakan dengan baik. Guru belum mampu membuat silabus yang baik dan kontekstual Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 97 . kondisi sekolah dan karakteristik peserta didik. namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan efektivitas. program mulok. 2. 1. tetapi dari silabus dan RPP yang dibuat tampak bahwa guru belum menguasai konsep pengembangan silabus dan teknik implementasinya sesuai kondisi wilayah. dan program pengembangan diri. 7. Secara rata-rata guru sudah baik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan kesusuaian isi materi yang diajarkan dengan silabus yang telah di susun. dan 34 Tahun 2006.4. efisiensi dan tingkat kesesuaiannya denga kompetensi dasar yang hendak di capai. 11. Guru sudah mampu merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar dengan baik . Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. 9. namun masih perlu obsevasi yang lebih rinci berkaitan dengan kualitas instrumen penilaian yang digunakan. Walaupun sebagian guru dalam observasi ini sudah membuat silabus dan RPP. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 10. Implementasi atau Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. 8. Perlu pendampingan yang lebih strategis dan teknis dalam penyusunan KTSP seperti penyusunan APBS. 3. Guru belum mampu membuat RPP 5. 3. 6. Silabus yang di buat guru belum menunjukkan penjabaran SK dan KD yang disesuaikan dengan potensi daerah/wilayah. 23.

4. pemahaman tentang KTSP sudah memadai. namun ini perlu dipertajam sampai tingkat operasionalisasi dalam pengembangan dan penerapan kurikulum mencakup komite sekolah. Guru belum memahami prinsip pengembangan SK menjadi KD dan menjabarkannya menjadi indikator. orangtua siswa. kuesioner guru. Dari hasil observasi pembelajaran. namun masih perlu obsevasi yang lebih rinci berkaitan dengan kualitas instrumen penilaian yang digunakan. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dari SDM pada tingkat sekolah maupun dinas pendidikan. Implikasinya adalah guru belum mampu mengembangkan indikator soal dan mengembangkan instrumen penilaian yang tepat. pengalaman belajar dan penilaian. dan dinas pendidikan. dapat disimpulkan beberapa hal berikut. serta hasil tes pemahaman. namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan efektivitas. 6. efisiensi dan tingkat kesesuaiannya denga kompetensi dasar yang hendak di capai. Guru sudah mampu merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar dengan baik. kepala sekolah. 2. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 98 . pengawas. 8. dinas pendidikan dan masyarakat. penerapan KTSP pada penyelenggaraan pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan SI dan SKL. Secara rata-rata guru sudah baik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan kesesuaian isi materi yang diajarkan dengan silabus yang telah di buat 7. 1. Dalam merencanakan sumber belajar yang akan digunakan guru sudah merencanakan dengan baik. Guru belum mampu membuat RPP 5. sekolah.

Hasil monitoring menunjukkan 81 % responenden menyatakan tahu tentang KTSP tetapi tidak memahaminya dengan baik. 6. aktifitas dan kreatitivitas siswa dalam belajar hampir semua responden menyatakan bahwa penggunaan KTSP membuat putra/putri mereka lebih rajin belajar. KESIMPULAN Secara umum.BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. 1. namun tidak memahami subtansinya 2. Hasil monitoring menunjukkan 81 % responden menyatakan telah mengetahuinya. 4. dinas pendidikan dan masyarakat. 3. namun ini perlu dipertajam sampai tingkat operasionalisasi dalam pengembangan dan penerapan kurikulum mencakup komite sekolah. namun dapat mengatasinya dengan memberikan pemahaman dan pengertian). Substansi KTSP dan strategi implementasinya belum dipahami dengan jelas oleh pihak sekolah dan orang tua. REKOMENDASI Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 99 . 82 % responden menyatakan menerima keluhan dari putra/putrinya berkaitan dengan tugas-tugas yang diberikan. Format rapor KTSP berlum mampu memberikan informasi tentang prestasi peserta akademik maupun non akademik peserta didik. Ada peningkatan biaya yang signifikan dengan penggunaan KTSP (85 % responden menyatakan tambahan biaya yang timbul cukup signifikan dengan aktivitas belajar yang terjadi). pemahaman tentang KTSP sudah memadai. pengawas. KTSP sebagai model kurikulum yang berdasar pada Standar Isi dan dikembangkan dengan memperhatikan potensi dan karakteristik wilayah/sekolah belum disosialisasikan dengan baik. Penggunaan KTSP sebagai kurikulum pendidikan saat ini diterima dengan baik oleh orang tua walaupun muncul keluhan-keluhan dari pihak siswa karena perubahan pola pembelajaran (responden menyatakan senang dengan penggunaan KTSP. Penggunaan KTSP di tingkat satuan pendidikan cukup signifikan dalam meningkatkan motivasi. 5. sekolah. (77% orang tua menyatakan tidak puas dengan format rapor hasil belajar yang diterima) B.

Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 6. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. 5. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. Agar monitoring ini dapat jauh lebih bermanfaat. 7. 4. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dari SDM pada tingkat sekolah maupun dinas pendidikan. maka untuk melihat adanya perkembangan kemampuan guru-guru dalam melaksanakan KTSP di lapangan.Penerapan KTSP pada penyelenggaraan pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan SI dan SKL. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 100 . sebaiknya secara periodik (1 tahun sekali) dilakukan monitoring dan berupaya untuk membandingkannya.

Dr. Bandung. 2001 - M. Sc... Modul Implementasi kurikulum Management of Trainers. - Suryana Sumantri. 2003. Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. PT Remaja Rosdakarya.Drs.Ed. Jakarta. Ngalim Purwanto. Pusimplementasi kurikulum Pegawai Depdiknas. Supervisi Pendidikan. Rineka Cipta. 1983 Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 101 . Sahertian. 2002 Agus Dharma.. Ardadizya Jaya. 2002 - Piet A.Ed. Prof. Angkasa.M.. Admistrasi Pendidikan. Fakultas psikologi Universitas Pajajaran. Drs. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung.. MP. Manajemen Pelatihan. Drs.Daftar Pustaka - Subagio A... M. 2000 Oteng sutisna.. Prof.