EVALUASI PELAKSANAAN KTSP OLEH TIM PENGEMBANG KURIKULUM PROPINSI

PUSAT KURIKULUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA 2008

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendinas) No. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23 tahun 2006 tentang standar isi dan standar kompetensi lulusan disebutkan bahwa salah satu tugas pokok Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dalam hal ini, Pusat Kurikulum adalah memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. 22

Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, mengevaluasinya, dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri. Salah satu yang menjadi bagian dari monitoring tersebut adalah melakukan monitoring secara nasional penerapan peraturan menteri pendidikan nasional dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelaksanaannya. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut perlu dilakukan serangkaian langkah kegiatan mencakup penyusunan panduan dan intrumen evaluasi, pelaksanaan evaluasi dan penyusunan laporan. Panduan digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan instumen dan melaksanakan evaluasi untuk mendapatkan data dan informasi tentang pelaksanaan KTSP pada setiap daerah secara kualitatif maupun kuantitatif. Pelaksanaan evaluasi merupakan langkah kegiatan untuk mendapatkan data dan informasi penerapan KTSP pada daerah yang menjadi objek atau sasaran evaluasi. Penyusunan laporan memuat temuan, masukan atau rekomendasi berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui evaluasi pelaksanaan KTSP agar kebijakan tentang pengembangan kurikulum dapat diterapkan secara efisien dan efektif. B. TUJUAN Kegiatan ini bertujuan untuk melaksanakan evaluasi pengembangan dan pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan sehingga didapat data dan informasi tentang tingkat penerapan KTSP secara kualitatif ataupun kuantitatif pada tiap daerah yang dapat dimanfaatkan satuan pendidikan (sekolah) dalam implementasi kurikulum pada tataran sekolah/daerah.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

1

C. RUANG LINGKUP Kegiatan ini memonitor dan mengevaluasi penerapan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di 33 propinsi D. HASIL YANG DIHARAPKAN Melalui kegiatan ini akan dihasilkan laporan gambaran penerapan KTSP di 33 provinsi, pada satuan pendidikan dasar dan menengah E. PELAKSANAAN Kegiatan penyusunan laporan dilaksanakan pada tanggal 9 – 13 Desember 2008 di Cisarua, Kabupaten Bogor. F. PESERTA Peserta yang dilibatkan dalam kegiatan ini terdiri dari unsure: Satuan Pendidikan, LPMP, Perguruan Tinggi, dan Pusat Kurikulum. Rincian Peserta terlampir

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

2

BAB II KERANGKA BERPIKIR

A. STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Menurut Undang-Undang (UU) No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan kurikulum dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Hal ini dimaksudkan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan pada satuan pendidikan dengan kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, kurikulum dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Selanjutnya pada pasal 36 disebutkan bahwa pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan harus disempurnakan dan ditingkatkan secara berencana, terarah dan berkala sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Kata standar memiliki makna tingkat atau level kualitas atau keunggulan yang harus dicapai dengan kriteria, benchmark, persayaratan atau spesifikasi tertentu. Hal ini sesuai dengan pengertian di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa standar nasional pendidikan merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar nasional pendidikan terdiri atas: 1. standar isi Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

3

Kerangka dasar kurikulum adalah rambu-rambu yang dijadikan pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan. Kerangka dasar dan struktur kurikulum mengatur tentang kelompok mata pelajaran serta kedalaman muatan kurikulum yang dituangkan dalam kompetensi, yaitu standar kompetensi dan kompetensi dasar. Beban belajar mengatur tentang jam pembelajaran dengan sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, pelaksanaan pembelajaran sistem paket dan satuan kredit semester (SKS), serta pemberian pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP. KTSP untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB,

SMA/MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK. Kalender pendidikan/kalender akademik mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur. 2. standar proses Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Standar proses mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. 3. standar kompetensi lulusan

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

4

Standar kompetensi lulusan (SKL) adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Standar ini meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran 4. standar pendidik dan tenaga kependidikan Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Standar ini mengatur tentang pendidik yang harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, Rasio pendidik terhadap peserta didik, kelengkapan dan kualifikasi tenaga kependidikan satuan pendidikan, pengawas satuan pendidikan. 5. standar sarana dan prasarana Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Standar ini mengatur tentang kelengkapan, jenis dan kualitas sarana dan prasarana satuan pendidikan. 6. standar pengelolaan Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Standar ini terdiri atas standar pengelolaan oleh satuan pendidikan, standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan standar pengelolaan oleh pemerintah. Standar pengelolaan oleh satuan pendidikan mengatur tentang penerapan prinsip manajemen berbasis sekolah (MBS), proses pengambilan keputusan, pedoman, rencana kerja tahunan, Pelaksanaan pengelolaan dan pengawasan satuan pendidikan.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

5

evaluasi kinerja pendidikan oleh satuan pendidikan pada tiap akhir semester. penyelenggaraan satuan pendidikan bertaraf internasional. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bertugas melakukan pengembangan. Pencapaian kompetensi akhir peserta didik dinyatakan dalam dokumen ijazah dan/atau sertifikat kompetensi. standar penilaian pendidikan Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme. dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah propinsi 4. pemerintah kabupaten/kota. dan terencana dalam suatu program penjaminan mutu yang memiliki target dan kerangka waktu yang jelas. biaya operasi. Pemerintah.Standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan pemerintah mengatur tentang rencana kerja tahunan. LPMP mensurpervisi dan membantu satuan pendidikan dalam penjaminan mutu. Standar ini mengatur tentang penilaian hasil belajar oleh pendidik. Standar ini mengatur tentang biaya investasi. pemantauan. 7. dan pelaporan pencapaian standar nasional pendidikan. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah kabupaten/kota 5. Dalam melaksanakan tugasnya BSNP menunjuk tim ahli yang bersifat ad-hoc sesuai kebutuhan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 6 . evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah (menteri) 3. oleh satuan pendidikan dan oleh pemerintah. dan biaya personal satuan pendidikan. sistematis. serta tentang kelulusan peserta didik. prosedur. pemerintah propinsi. Setiap satuan pendidikan pada jalur formal dan nonformal wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan. secara bertahap. 2. 8. Sedangkan evaluasi pendidikan meliputi: 1. standar pembiayaan Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. evaluasi kinerja pendidikan oleh lembaga mandiri Pemerintah melakukan akreditasi pada setiap jenjang dan satuan pendidikan untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan.

22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Standar Isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang selanjutnya disebut Standar Isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. B. dan (4) kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. Bagian ini meliputi: a) Kerangka Dasar Kurikulum 1) Kelompok Mata Pelajaran Bagian ini menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum. Ini berarti ketentuan di dalam Permendiknas tersebut bersifat minimal yang harus dicapai peserta didik pada setiap satuan pendidikan. dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 7 . 22 tahun 2006 adalah sebagai berikut. 1. (2) beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum. Pendahuluan Bagian ini menjelaskan cakupan standar isi yang meliputi: (1) kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan. Sistematika Standar Isi dalam lampiran Permendiknas No. (3) kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi. kejuruan.Penyelenggaraan satuan pendidikan yang tidak mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan dapat memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari BSNP didasarkan pada penilaian khusus. STANDAR ISI Di dalam Permendiknas No. 2.

(2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut. perkembangan. perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas. dinamis dan menyenangkan. (1) Berpusat pada potensi. (1) Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu. teknologi. kebutuhan. (4) kelompok mata pelajaran estetika. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 8 . (5) kelompok mata pelajaran jasmani. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya (2) Beragam dan terpadu (3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. olahraga dan kesehatan.(1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. dan seni (4) Relevan dengan kebutuhan kehidupan (5) Menyeluruh dan berkesinambungan (6) Belajar sepanjang hayat (7) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah 3) Prinsip Pelaksanaan Kurikulum Bagian ini menyatakan bahwa pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut. 2) Prinsip Pengembangan Kurikulum Bagian ini menyatakan bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP.

(2) Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar. efektif. ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan. di depan memberikan contoh dan teladan). melalui proses pembelajaran yang aktif. dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan. sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal. sumber belajar dan teknologi yang memadai. muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan. (5) Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 9 . dan moral. kesosialan. (7) Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran. (6) Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam. (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif. ing madia mangun karsa. dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan. pengayaan. (3) Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan. yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan menyenangkan. tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar. dengan prinsip tut wuri handayani. keindividuan. dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri. dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi. di tengah membangun semangat dan prakarsa. terbuka. contoh dan teladan). dan hangat. keterkaitan. dan/atau percepatan sesuai dengan potensi. tahap perkembangan. akrab. (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain. (4) Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai. kreatif. (b) belajar untuk memahami dan menghayati. dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.

II. guru. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. dan pengembangan diri Pembelajaran pada Kelas I s. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 35 menit. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 10 . 27 dan 28 jam pelajaran per minggu. Sedangkan untuk kelas IV s. III dilaksanakan melalui pendekatan tematik. belajar. sedangkan pada Kelas IV s. termasuk keunggulan daerah. VI adalah 32 jam pelajaran per minggu. dan III adalah 26. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Kurikulum SD/MI memuat 8 mata pelajaran. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. muatan lokal. muatan lokal dan pengembangan diri. dan pengembangan karir peserta didik.b) Struktur Kurikulum Pendidikan Umum Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah.d.d. Struktur kurikulum pendidikan umum memuat komponen mata pelajaran.d. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum untuk kelas I . bakat. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. 1) Struktur Kurikulum SD/MI Struktur kurikulum SD/MI meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai Kelas I sampai dengan Kelas VI.

dan (4) Program Keagamaan. Kurikulum SMP/MTs memuat 10 mata pelajaran. khusus untuk MA.2) Struktur Kurikulum SMP/MTs Struktur kurikulum SMP/MTs meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas VII sampai dengan Kelas IX. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. dan pengembangan diri. yaitu kelas X merupakan program umum yang diikuti oleh seluruh peserta didik. (3) Program Bahasa. Kurikulum SMA/MA Kelas X terdiri atas 16 mata pelajaran. Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII Program IPA. dan Program Keagamaan terdiri atas 13 mata pelajaran. muatan lokal. Substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu”. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Pengorganisasian kelas-kelas pada SMA/MA dibagi ke dalam dua kelompok. muatan lokal. (2) Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Program Bahasa. 3) Struktur Kurikulum SMA/MA Struktur kurikulum SMA/MA meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas X sampai dengan Kelas XII. muatan lokal. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum adalah 32 jam pelajaran per minggu. dan pengembangan diri. dan kelas XI dan XII merupakan program penjurusan yang terdiri atas empat program: (1) Program Ilmu Pengetahuan Alam. Alokasi waktu yang ditetapkan dalam struktur kurikulum kelas X adalah 38 jam pelajaran. Program IPS. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 40 menit. kelas XI dan XII adalah 39 jam pelajaran dan kelas XI dan XII untuk MA program keagamaan adalah 38 jam pelajaran per minggu. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 45 menit. dan pengembangan diri c) Struktur Kurikulum Pendidikan Kejuruan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 11 .

dan Pengembangan Diri. bakat. pengetahuan. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan program keahlian yang diselenggarakan.Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan. dan prospek pengembangan daerah termasuk keunggulan daerah. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta mengembangkan keahlian dan keterampilan. belajar. Pendidikan Kewarganegaraan. dan Keterampilan/Kejuruan. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas. Pengembangan diri bagi peserta didik Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 12 . Seni dan Budaya. dan mampu berkomunikasi sesuai dengan tuntutan pekerjaannya. Mata pelajaran ini bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam spektrum manusia kerja. IPA. akhlak mulia. Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. potensi daerah. IPS. guru. dan pembentukan karier peserta didik. kepribadian. mata pelajaran Kejuruan. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. Mata pelajaran wajib terdiri atas Pendidikan Agama. Bahasa. Muatan Lokal. mereka harus memiliki stamina yang tinggi. Mata pelajaran Kejuruan terdiri atas beberapa mata pelajaran yang bertujuan untuk menunjang pembentukan kompetensi kejuruan dan pengembangan kemampuan menyesuaikan diri dalam bidang keahliannya. serta memiliki kemampuan mengembangkan diri Kurikulum SMK/MAK berisi mata pelajaran wajib. Matematika. menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi. memiliki etos kerja yang tinggi.

Struktur kurikulum SMK/MAK meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun atau dapat diperpanjang hingga empat tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII atau kelas XIII. Kelompok adaptif dan produktif adalah mata pelajaran yang alokasi waktunya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian. Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi. Jumlah jam Kompetensi Kejuruan pada dasarnya sesuai dengan kebutuhan standard kompetensi kerja yang berlaku di dunia kerja tetapi tidak boleh kurang dari 1044 jam. Matematika. Beban belajar SMK/MAK meliputi kegiatan pembelajaran tatap muka. Pendidikan Kewarganegaraan. dan Seni Budaya (2) Kelompok adaptif terdiri atas mata pelajaran Bahasa Inggris. dan Kewirausahaan (3) Kelompok produktif terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang dikelompokkan dalam Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi Kejuruan. yang materinya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian untuk memenuhi standar kompetensi kerja di dunia kerja. Struktur kurikulum SMK/MAK disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. IPA. dan dapat diselenggarakan dalam blok waktu atau alternatif lain. Pendidikan SMK/MAK diselenggarakan dalam bentuk pendidikan sistem ganda. IPS. praktik di sekolah dan kegiatan kerja praktik di dunia usaha/industri ekuivalen dengan 36 jam pelajaran Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 13 . Bahasa Indonesia.SMK/MAK terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. Alokasi waktu satu jam pelajaran tatap muka adalah 45 menit. Evaluasi pembelajaran dilakukan setiap akhir penyelesaian satu standar kompetensi atau beberapa penyelesaian kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran. Di dalam penyusunan kurikulum SMK/MAK mata pelajaran dibagi ke dalam tiga kelompok: (1) Kelompok normatif adalah mata pelajaran yang dialokasikan secara tetap yang meliputi Pendidikan Agama.

maksimum empat tahun sesuai dengan tuntutan program keahlian. dan bina pribadi dan sosial untuk peserta didik tunalaras. yaitu program orientasi dan mobilitas untuk peserta didik tunanetra. emosional. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. program khusus. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. bina diri untuk peserta didik tunagrahita. termasuk keunggulan daerah. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Lama penyelenggaraan pendidikan SMK/MAK tiga tahun. belajar. Pengembangan diri terutama ditujukan untuk peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. muatan lokal. dan pengembangan karir peserta didik.per minggu. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Kurikulum Pendidikan Khusus terdiri atas delapan sampai dengan 10 mata pelajaran. mental. bina gerak untuk peserta didik tunadaksa. bakat. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. kemampuan. intelektual dan/atau sosial. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. d) Struktur Kurikulum Pendidikan Khusus Struktur Kurikulum dikembangkan untuk peserta didik berkelainan fisik. dalam batas-batas tertentu masih dimungkinkan dapat mengikuti kurikulum standar meskipun harus dengan penyesuaian-penyesuaian. Peserta didik ini yang berkeinginan untuk melanjutkan sampai ke jenjang pendidikan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 14 . dan pengembangan diri. guru. bina komunikasi persepsi bunyi dan irama untuk peserta didik tunarungu. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Program khusus berisi kegiatan yang bervariasi sesuai degan jenis ketunaannya. Peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata.

E dan SMALB A. dan SMALB.E dirancang untuk peserta didik yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang pendidikan tinggi.B.B. B. E (A = tunanetra.D. menggunakan sebutan Kurikulum SDLB A. E. D. diperlukan kurikulum yang sangat spesifik. Kompetensi mata pelajaran umum SDLB.B. Mekanisme perpindahan jalur pendidikan adalah sebagai berikut. B. D = tunadaksa ringan. SDLB SMPLB SMALB MASYARAKAT ANAK LUAR BIASA/ANAK BERKELAINAN PERGURUAN TINGGI/ MASYARAKAT SD/MI SMP/ MTs SMA/MA SMK/MAK Kurikulum untuk peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 15 . sedangkan kompetensi untuk mata pelajaran Program Khusus. SMPLB A . sederhana dan bersifat tematik untuk mendorong kemandirian dalam hidup sehari-hari. SMPLB. E. setelah menyelesaikan pada jenjang SDLB dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMPLB. E = tunalaras).tinggi. Peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata.E relatif sama dengan kurikulum SD umum. dan SMALB A.D. SMALB A. B. D. semaksimal mungkin didorong untuk dapat mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan umum sejak SD atau SMP. D. B = tunarungu.D. dan Keterampilan dikembangkan oleh satuan Pendidikan Khusus dengan memperhatikan jenjang dan jenis satuan pendidikan.E mengacu kepada satuan pendidikan umum yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan khusus peserta didik.D. Kurikulum SDLB A.B. Bagi mereka yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Pada satuan pendidikan SMPLB A.

Proporsi muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMPLB A. dan SMALB C.70% aspek akademik dan 40% . G = tunaganda). G. menggunakan sebutan Kurikulum SDLB C. G. Pembelajaran menggunakan pendekatan tematik. SMPLB C.B. Satuan pendidikan khusus SDLB dan SMPLB dapat menambah maksimum 6 jam pembelajaran/minggu untuk keseluruhan jam pembelajaran.D1. Struktur kurikulum pada satuan Pendidikan Khusus SDLB dan SMPLB mengacu pada Struktur Kurikulum SD dan SMP dengan penambahan Program Khusus sesuai jenis kelainan. dan tidak dihitung sebagai beban belajar. C1. Kurikulum untuk peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata.30% berisi aspek keterampilan vokasional. Persepsi Bunyi dan Irama untuk peserta didik Tunarungu (3) Bina Diri untuk peserta didik Tunagrahita Ringan dan Sedang (4) Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Ringan (5) Bina Pribadi dan Sosial untuk peserta didik Tunalaras (6) Bina Diri dan Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Sedang. C1 = tunagrahita sedang. SMPLB dan SMALB C. dan 4 jam Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 16 . D1. D1. D1 = tunadaksa sedang. Kurikulum ini dirancang sangat sederhana sesuai dengan batas-batas kemampuan peserta didik dan sifatnya lebih individual. (1) Orientasi dan Mobilitas untuk peserta didik Tunanetra (2) Bina Komunikasi. D1. Kompetensi mata pelajaran pada SDLB. G. dan Tunaganda. dengan alokasi waktu 2 jam/minggu.50% aspek keterampilan vokasional.D. SMPLB adalah 35 menit dan SMALB adalah 40 menit sesuai dengan kondisi peserta didik yang berkaelainan. Program Khusus sesuai jenis kelainan peserta didik meliputi sebagai berikut.E terdiri atas 40% – 50% aspek akademik dan 60% . C1.C1.E terdiri atas 60% .G dikembangkan satuan Pendidikan Khusus yang bersangkutan dengan memperhatikan tingkat dan jenis satuan pendidikan. (C = tunagrahita ringan. Untuk jenjang SMALB.B.D. Satu jam pelajaran untuk SDLB adalah 30 menit. Muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMALB A. program khusus bersifat kasuistik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik tertentu. C1.

Beban belajar atau alokasi waktu yang diatur dalam struktur kurikulum adalah beban belajar dalam bentuk tatap muka.B. Muatan kurikulum SDLB.E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMA umum sehingga menjadi sekitar 40% – 50% bidang akademik. kemampuan dan kebutuhan peserta didik serta kondisi satuan pendidikan.D1.E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMP umum sehingga menjadi sekitar 60% – 70%.C1.D. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi yang terdir atas: Lampiran 1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI dan SDLB. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 17 . proporsi muatan keterampilan vokasional lebih diutamakan e) Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran pada setiap tingkat dan semester disajikan pada lampiran-lampiran Permendiknas No. penugasan terstruktur.pembelajaran untuk tingkat SMALB sesuai kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan yang bersangkutan.G lebih ditekankan pada kemampuan menolong diri sendiri dan keterampilan sederhana yang memungkinkan untuk menunjang kemandirian peserta didik. diserahkan kepada satuan pendidikan sesuai dengan minat. 3. SMALB C. Jenis keterampilan yang akan dikembangkan. tingkat terampil dan tingkat mahir. Lampiran 2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMP/MTs dan SMPLB. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. dan sekitar 60% – 50% bidang keterampilan vokasional. dan Lampiran 3 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK.B. Muatan isi mata pelajaran untuk SMALB A. SMPLB.D. Muatan isi mata pelajaran SMPLB A. Sisanya sekitar 40% .30% muatan isi kurikulum ditekankan pada bidang keterampilan vokasional yang meliputi tingkat dasar. potensi. Beban Belajar Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka. Oleh karena itu.

a) Alokasi Waktu Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 18 . Kalender Pendidikan Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran. Sistem kredit semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. waktu pembelajaran efektif dan hari libur. Satuan pendidikan SD/MI/SDLB melaksanakan program pendidikan dengan menggunakan sistem paket. Beban belajar satu sks meliputi satu jam pembelajaran tatap muka. SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori standar menggunakan sistem paket atau dapat menggunakan sistem kredit semester. SMP/MTs/SMPLB maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem kredit semester dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). dan satu jam kegiatan mandiri tidak terstruktur. satu jam penugasan terstruktur. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada untuk: a. Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. sedangkan untuk kegiatan mandiri tidak terstruktur diatur sendiri oleh peserta didik.Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. SD/MI/SDLB maksimum 40% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan b. c. SMA/MA/SMALB/SMK/MAK maksimum 60% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. 4. minggu efektif belajar. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem kredit semester. Program percepatan dapat diselenggarakan untuk mengakomodasi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Hari libur umum/nasional Hari libur khusus Maksimum 2 minggu Maksimum 1 minggu Maksimum 3 minggu 7.Alokasi waktu minggu efektif belajar. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 19 . Jeda tengah semester Maksimum 2 minggu Maksimum 2 minggu Maksimum 3 minggu 2 – 4 minggu 3. Pemerintah Pusat/Provinsi /Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan. waktu libur dan kegiatan lainnya adalah sebagai berikut. Jeda antarsemester Antara semester I dan II 4. dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan. Libur akhir tahun pelajaran Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah 5. dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus. Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota. Kegiatan Minggu efektif belajar Alokasi Waktu 34 – 38 minggu Keterangan Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan Satu minggu setiap semester 2. No 1. Hari libur keagamaan 6. Kegiatan khusus sekolah/madrasah b) Penetapan Kalender Pendidikan Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya. Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing-masing Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif 8.

Pendidikan Menengah yang terdiri atas SMA/MA/SMALB/Paket C bertujuan: Meningkatkan kecerdasan. akhlak mulia. C. Pendidikan Dasar. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran. kepribadian. pengetahuan. keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya Standar kompetensi lulusan satuan pendidikan SD/MI/SDLB*/Paket A terdiri atas 17 butir. yang meliputi SD/MI/SDLB/Paket A dan SMP/MTs. 23 tahun 2006 adalah sebagai berikut. yakni: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 20 . dan SMK/MAK terdiri atas 23 butir. Ini berarti ketentuan di dalam Permendiknas tersebut bersifat minimal yang harus dicapai lulusan peserta didik pada setiap satuan pendidikan. dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran. SMA/MA/SMALB*/Paket C terdiri atas 23 butir. SMP/MTs/SMPLB*/Paket B terdiri atas 21 butir. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut 3./SMPLB/Paket B bertujuan: Meletakkan dasar kecerdasan. Tujuan setiap satuan pendidikan yang tertuang dalam lampiran Permendiknas No. kepribadian. Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran dikembangkan berdasarkan tujuan dan cakupan muatan dan/ atau kegiatan setiap kelompok mata pelajaran. SKL meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah. kepribadian.waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Di dalam Permendiknas No. Pendidikan Menengah Kejuruan yang terdiri atas SMK/MAK akhlak bertujuan: serta Meningkatkan kecerdasan. pengetahuan. akhlak mulia. mulia. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut 2. 1. pengetahuan.

dan muatan lokal yang relevan. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. matematika. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 21 . keterampilan/kejuruan. kejuruan. matematika. serta muatan lokal yang relevan Pada satuan pendidikan SMK/MAK. matematika. seni dan budaya. Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan: mengembangkan logika. keterampilan/kejuruan. ilmu pengetahuan dan teknologi. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. ilmu pengetahuan alam. jasmani. 2. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. Pada satuan pendidikan SD/MI/SDLB/Paket A. ilmu pengetahuan sosial. keterampilan. dan/atau teknologi informasi dan komunikasi. dan muatan lokal yang relevan. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. kewarganegaraan. dan pendidikan jasmani. ilmu pengetahuan sosial. teknologi informasi dan komunikasi. keterampilan/kejuruan. teknologi informasi dan komunikasi. olahraga. ilmu pengetahuan alam. Kelompok mata pelajaran Kewarganegaraan dan Kepribadian bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. bahasa. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama. serta muatan lokal yang relevan Pada satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/Paket C. ilmu pengetahuan alam. serta muatan lokal yang relevan 4. 3. estetika. kemampuan berpikir dan analisis peserta didik. dan kesehatan. ilmu pengetahuan sosial. keterampilan. Tujuan tersebut dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama. kewarganegaraan. matematika. kepribadian. seni dan budaya. akhlak mulia. Pada satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB/Paket B. ilmu pengetahuan sosial.1. ilmu pengetahuan alam. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. Kelompok mata pelajaran Estetika bertujuan: membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. Kelompok mata pelajaran Agama dan Akhlak Mulia bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.

Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SDLB A. pendidikan kesehatan. olahraga. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Kewarganegaraan. Bahasa Mandarin. Keterampilan. Seni Budaya. IPS. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMP/MTs terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Geografi. Bahasa Indonesia. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMA/MA terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Seni Budaya. Bahasa Jerman. Pendidikan Agama Hindu. Pendidikan Agama Katolik. Bahasa Indonesia Program IPA/IPS. Pendidikan Agama Buddha. Ekonomi. Pendidikan Kewarganegaraan. Olah Raga. D. Bahasa Inggris. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan pendidikan jasmani. Keterampilan. dan Kesehatan bertujuan: membentuk karakter peserta didik agar sehat jasmani dan rohani. Seni Budaya dan Keterampilan. Seni Budaya dan Keterampilan. Sastra Indonesia Program Bahasa. Matematika. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan Kewarganegaraan. Bahasa Inggris. B. Pendidikan Agama Buddha. Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. dan Bahasa Inggris. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SD/MI terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Agama Buddha. Pendidikan Agama Kristen. dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Teknologi Informasi dan Komunikasi. Matematika Program Bahasa. Matematika. IPA. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan Agama Hindu. IPS. Pendidikan Agama Buddha. Bahasa Indonesia Program Bahasa. Matematika. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. dan Bahasa Inggris. Sejarah Program IPS. dan Antropologi Program Bahasa. Bahasa Arab. Kimia. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 22 . ilmu pengetahuan alam. Pendidikan Agama Katolik. Pendidikan Agama Hindu. Pendidikan Agama Kristen. Bahasa Indonesia. Sosiologi. Sejarah Program Bahasa. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Bahasa Perancis. Kelompok mata pelajaran Jasmani. IPA. Fisika. Pendidikan Agama Hindu. Matematika Program IPA. Bahasa Jepang. Pendidikan Agama Kristen. Bahasa Inggris Program Bahasa. Biologi.5. IPS. Bahasa Indonesia. Pendidikan Kewarganegaraan. IPA. Sejarah Program IPA. Matematika Program IPS. dan muatan lokal yang relevan. dan menumbuhkan rasa sportivitas.

Pendidikan Agama Katolik. D. IPA. Pendidikan Agama Katolik. Penyususnan kurikulum juga dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan. Keterampilan Vokasional/Teknologi Informasi dan Komunikasi. B. Pendidikan Kewarganegaraan. IPA. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Biologi Kelompok Pertanian. Kimia Kelompok Teknologi dan Kesehatan. D. Pendidikan Agama Katolik. D. Kesehatan. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMK/MAK terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. dan peserta didik. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. B. Pendidikan Agama Hindu. Pendidikan Agama Buddha. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Bahasa Inggris. IPA. IPS. Bahasa Indonesia. dan Pertanian. Biologi Kelompok Kesehatan. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Fisika Kelompok Pertanian. Matematika Kelompok Sosial. Pendidikan Agama Kristen. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMALB A. Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Agama Buddha. Seni Budaya. Matematika. IPS. Pendidikan Kewarganegaraan. Matematika Kelompok Teknologi. Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Agama Hindu. Bahasa Inggris. dan Kewirausahaan. sosial budaya masyarakat setempat. potensi daerah/karakteristik daerah. Bahasa Indonesia. Pendidikan Agama Buddha. IPS. Bahasa Inggris. Pengembangan kurikulum yang disssun oleh satuan pendidikan berdampak pada perubahan dalam proses dan mekanisme penyusunan kurikulum dan orientasi kerja Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 23 . Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Agama Hindu. Fisika Kelompok Teknologi. Seni Budaya. E terdiri atas mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam. Keterampilan. dan Teknologi Informasi dan Komunikasi.Standar kompetensi lulusan mata pelajaran untuk SMPLB A. Matematika Kelompok Seni. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Bahasa Indonesia. dan Teknologi Kerumahtanggaan. Matematika. Pariwisata. Seni Budaya. Kimia Kelompok Pertanian. Administrasi Perkantoran dan Akuntasi. Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi.

Pendidikan/Kanwil Depag di tingkat propinsi. pengetahuan. dan kebutuhan satuan pendidikan. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan. b. akhlak mulia. komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan yang perlu dikembangkan oleh sekolah adalah: 1. Pada buku ”Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah” yang diterbitkan oleh BSNP tahun 2006. pengetahuan. kepribadian. kabupaten. c. B dan C ditetapkan oleh dinas kabupaten/kota berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan. tetapi disusun oleh masing-masing sekolah atau kelompok sekolah dengan mengacu pada standar isi dan standar kompetensi lulusan. Sehingga pencapaian hasil pendidikan optimal sesuai dengan kondisi. a. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut. kota dan sekolah. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. namun pencapaian minimalnya sama untuk setiap satuan pendidikan. akhlak mulia. Salah satu dampak tersebut adalah bahwa kurikulum tidak ditetapkan lagi secara nasional. (1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 24 . Khusus untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya untuk program paket A. kepribadian. terutama dalam mengembangkan dan menerapkan kurikulum di tingkat sekolah. pengetahuan. kepribadian. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan. akhlak mulia. potensi. 2. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut.

olahraga dan kesehatan Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 Pasal 7. yang materinya belum tertuang pada mata pelajaran yang ada. c. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran. muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Kegiatan Pengembangan Diri Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran sehingga tidak harus dirumuskan dalam bentuk standar kompetensi dan kompetensi dasar. potensi. tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. Dinas pendidikan dapat mengkoordinasikan pengembangan muatan lokal sejenis untuk satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. Muatan Lokal Muatan lokal merupakan mata pelajaran yang isinya disesuaikan dengan ciri khas. a. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Ini berarti bahwa dalam satua tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal. Satuan pendidikan dapat mengembangkannya dalam bentuk program kegiatan yang berisi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 25 . Satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. Mata pelajaran Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. b. sebagai berikut.(2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian (3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi (4) Kelompok mata pelajaran estetika (5) Kelompok mata pelajaran jasmani. sesuai kebutuhan. Perlu diperhatikan bahwa bagi satuan pendidikan yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi memungkinkan menambah atau menyesuaikan mata pelajaran dan alokasi waktunya. atau keunggulan daerah.

19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa Pemerintah mengkategorikan sekolah/ madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri. kepemimpinan. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Kegiatan ini difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor. Khusus untuk sekolah menengah kejuruan pengembangan diri terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. tidak terlepas kaitannya dari struktur kurikulum sebagai Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 26 . Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/SMALB /SMK/MAK kategori standar dapat menggunakan sistem paket atau sistem SKS.tujuan kegiatan dan bentuk dan pengelolaan kegiatan. Pengaturan Beban Belajar Di dalam penjelasan PP No. Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. dan kelompok ilmiah remaja. Untuk satuan pendidikan khusus menekankan pada peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. dan pengembangan karier peserta didik serta dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler seperti keparamukaan. Penambahan maksimum empat jam. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran. belajar. Pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap. dan sekolah/ madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. guru. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. di samping dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di dalam Standar Isi. 3. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem SKS. Beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh satuan pendidikan SD/MI/SDLB..

Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. b.bagian dari standar isi. Ketuntasan Belajar Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%. Sesuai dengan ketentuan PP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 27 .40%.60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. 20 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Satu SKS pada SMP/MTs terdiri atas: 40 menit tatap muka. Kenaikan Kelas dan Kelulusan Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. 4. 25 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.50% dan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK 0% . Satu SKS pada SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: 45 menit tatap muka. 5. penugasan terstruktur. Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait. a. dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. yang sifatnya minimal. Alokasi waktu untuk tatap muka. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. SMP/MTs/SMPLB 0% . Bagi satuan pendidikan dan komite yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. tentu dapat menambah jam sesuai dengan kondisi. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal. Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket untuk SD/MI/SDLB 0% . Alokasi waktu untuk praktik. potensi dan kebutuhan. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK yang menggunakan sistem SKS mengikuti aturan sebagai berikut. Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka.

lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. 6. Materi ujian nasional dikembangkan tentu mengacu kepada Standar Isi dan SKL yang sifatnya minimal. SMK/MAK dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup. kecakapan akademik dan/atau kecakapan vokasional. Pendidikan Kecakapan Hidup Kurikulum untuk SD/MI/SDLB. Kriteria penjurusan diatur oleh direktorat teknis terkait. kelompok mata pelajaran estetika. Keempat syarat diatas bersifat ururtan prasyarat. menyelesaikan seluruh program pembelajaran. b. peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah: a. 7. dan kelompok mata pelajaran jasmani. lulus Ujian Nasional. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 28 . belum bisa mengikuti ujian sekolah. olahraga. dan d. Penjurusan Penjurusan dilakukan pada kelas XI dan XII di SMA/MA. tentunya siap untuk mengikuti ujian nasional.19/2005 Pasal 72 Ayat (1). yang mencakup kecakapan pribadi. kecakapan sosial. dan kesehatan. dan tentu saja belum bisa mengikuti ujian nasional. kelompok kewarganegaraan dan kepribadian. SMP/MTs/SMPLB. artinya seorang peserta didik yang belum menyelesaikan seluruh program pemebelajaran berarti belum mendapat nilai baik untuk kelompok non iptek. Apabila satuan pendidikan telah mengembangkan dan menerapkan kurikulum yang mengacu standar isi dan SKL (apalagi kurikulum dengan standar lebih tinggi). c. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian integral dari pendidikan semua mata pelajaran dan/atau berupa paket/modul yang direncanakan secara khusus. SMA/MA/ SMALB.

dapat meminta peserta didik untuk mendapatkannya dari satuan pendidikan formal dan non formal lainnya. penilaian hasil pembelajaran. 10. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi. yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik. bahasa. Penilaian yang dimaksud menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik. dan penugasan perseorangan atau Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 29 . Kurikulum untuk semua tingkat satuan pendidikan dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. tes praktek. dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana yang dimuat dalam Standar Isi. Bagi sekolah yang belum memungkinkan memberikan pendidikan kecakapan hidup. kebutuhan peserta didik dan masyarakat. dan lain-lain. karakteristik sekolah. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi. yang dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran dan juga dapat menjadi mata pelajaran muatan lokal. budaya.Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan/atau dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal. pelaksanaan proses pembelajaran. ekologi. observasi. Silabus Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran. Teknik penilaian tersebut dapat berupa tes tertulis. Kalender Pendidikan Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah. 9. teknologi informasi dan komunikasi. 8.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 30 . Sedangkan unit waktu silabus diatur sebagai berikut: a. indikator. Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran. Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester. dan Dinas Pendikan. serta teknik penilaiannya sesuai dengan karakteristik hasil pembelajaran dan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. materi dan metode pengajaran.kelompok. kompetensi dasar. alokasi waktu. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. b. penilaian. sumber belajar. kegiatan pembelajaran. kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG). Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah. dan sumber/bahan/alat belajar. materi pokok/pembelajaran. per tahun. c. Di dalam panduan penyusuan kurikulum disebutkan bahwa silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi. Khusus untuk SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi. Disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik siswa. Silabus dan RPP merupakan bagian tak terpisahkan dari komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan. a. Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran. dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok. dan penilaian hasil belajar. kegiatan pembelajaran. kondisi sekolah dan lingkungannya. dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. dengan memperhatikan hal berikut.

atau tema yang bersifat kontekstual dan dipilih sesuai dengan kondisi. peserta didik dengan guru. menyusun silabus secara bersama. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi. Materi ini. dari kelas I sampai dengan kelas VI. c. tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI. sebaiknya bergabung dengan sekolah-sekolah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolahsekolah dalam lingkup MGMP/PKG setempat. d. karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik. Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing. Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri. nantinya diperinci dalam RPP. maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah tersebut. a. Di SD/MI semua guru kelas.b. potensi. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran Materi ini dapat berupa konsep. Satuan pendidikan yang mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. Langkah-langkah Pengembangan Silabus dapat dilakukan sebagai berikut. Sekolah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 31 . tentu perlu mengembangkan silabus yang sesuai b. lingkungan. keterkaitan antar kompetensi dalam satu mata pelajaran atau antar mata pelajaran. pokok bahasan. Di SMP/MTs untuk mata pelajaran IPA dan IPS terpadu disusun secara bersama oleh guru yang terkait. c. e. dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik.

Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. satuan pendidikan. yang nantinya diperinci dalam RPP. dan penilaian diri. penilaian hasil karya berupa tugas. mata pelajaran. Kegiatan pembelajaran dalam silabus merupakan pokok-pokok kegiatan siswa untuk mencapai kompetensi. kedalaman. pengetahuan. d. dapat dimasukkan bentuk penilaian dan jenis tugas yang perlu dilakukan siswa untuk melihat pencapaian kompetensi siswa. Menentukan Alokasi Waktu Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar. 6. agar penjabaran kompetensi lebih jelas. keluasan. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. dan keterampilan. e.melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. penggunaan portofolio. pengamatan kinerja. tingkat kesulitan. Cakupan jenis penilaian dalam silabus tentu harus mengakomodasi kompetensi dan indikator yang telah dirumuskan. dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan. pengukuran sikap. proyek dan/atau produk. rinci dan terukur. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 32 . Penentuan Jenis Penilaian Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Di dalam penilaian. Karena indikator dirumuskan dari kompetensi dasar berarti setiap kompetensi dasar memiliki lebih dari satu indikator. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik.

yang berupa media cetak dan elektronik.Silabus tidak harus dirancang untuk satu kali pertemuan (tatap muka). kegiatan pembelajaran. b. potensi. Menentukan Sumber Belajar Sumber belajar adalah rujukan. serta lingkungan fisik. Metode dan organisasi pembelajaran dapat berupa diskusi Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 33 . 11. c. Pemilihan materi ajar ditentukan oleh kondisi. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan penjabaran sistematis dan terurut dari silabus yang dituangkan dalam tujuan pembelajaran. narasumber. penilaian hasil belajar. langkah-langkah pembelajaran. objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran. dan alokasi waktu untuk mencapai satu kompetensi dasar atau beberapa indikator dalam silabus tersebut. alam. dan budaya. Tujuan pembelajaran Tujuan pembelejaran dirumuskan dalam bentuk uraian proses kegiatan belajar dan kemampuan atau hasil belajar peserta didik untuk mencapai kompetensi atau indikator yang telah dirumuskan dalam silabus. tetapi dirancang satu kompetensi atau sekelompok kompetensi. kebutuhan dan daya dukung sumber daya satuan pendidikan dan siswa. metode. Dengan demikian alokasi waktu yang ditetapkan dalam silabus dapat lebih dari satu kali pertemuan. a. 7. dan indikator pencapaian kompetensi. sosial. materi ajar. Metode Metode atau strategi pembelajaran yang dituangkan dalam RPP merupakan bentuk kegiatan dan organisasi kelas yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi Ajar Materi ajar dirumuskan dari materi pokok atau materi pembelajaran pada silabus yang dapat berupa rincian secara runtut subpokok bahasan atau subtema. sumber belajar.

problem solving. penugasan lebih lanjut atau lebih mendalam. RPP merupakan persiapan. yang biasanya dilengkapi dengan LK (lembar kerja) atau lembar tugas. d. atau rangkuman hasil belajar. contoh penilaian dan pedoman penskoran dari bentuk penilaian dan jenis tugas yang telah dirumuskan dalam silabus. skenario. (1) Kegiatan awal Kegiatan ini dapat berupa apersepsi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 34 . (2) Kegiatan inti Kegiatan ini merupakan kegiatan dan organisasi belajar secara yang bervariasi dan terurut sistematis untuk mencapai kompetensi dan beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. kegiatan problem solving aplikasi yang berkaitan dengan materi ajar. Langkah pembelajaran memuat bentuk kegiatan belajar dan strategi pengorganisasian belajar kelas serta urutan kegiatannya sebagai berikut. tanya jawab. (1) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi. penugsan. (3) Penutup Kegiatan penutup dari RPP dapat diisi dalam bentuk refleksi (perenungan) tentang pencapaian hasil belajar. e. Langkah pembelajaran Langkah pembelajaran dirumuskan dan dirinci dari pokok-pokok kegiatan belajar yang telah ditetapkan dalam silabus sehingga kegiatan belajar menjadi efektif. Pelaksanaan penilaian terintegrasi dalam selama kegiatan belajar berlangsung. atau rencana pembelajaran yang dirancang dalam satu pertemuan atau beberapa pertemuan. review (mengulang beberapa hal yang bersifat prasyarat). termasuk menjelaskan tujuan pembelajaran. kerja kelompok.informasi. dan sebagainya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian. diskusi. Penilaian Penilaian ini memuat rincian bentuk.

Di sini perlu dijelaskan ketersediaan dan banyaknya sumber belajar. (5) Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. alat. termasuk cara penggunaannya. program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan. dan alat bantu belajar yang digunakan untuk mencapai kompetensi atau beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. f. termasuk perlu diperjelas proporsi waktu untuk kegiatan awal. g. jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara. kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum. serta untuk mengetahui kesulitan siswa. maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih. yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. bahan. (4) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya. dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan. kegiatan inti dan penutup. (3) Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Sumber Belajar Sumber belajar meliputi bahan ajar. media. Misalnya. dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 35 . Alokasi waktu RPP dirancang menggunakan jam pembelajarn sehingga alokasi waktunya merupakan perkiraan jumlah jam pelajaran yang diperlukan untuk untuk mencapai kompetensi atau beberapa indikator yang telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran.(2) Penilaian menggunakan acuan kriteria.

mengatur sistem beban belajar. dan memahami dokumen tersebut agar dapat mengembangkan kurikulum secara optimal. penerapan atau pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan diatur dalam Permendiknas No. potensi dan kebutuhan satuan pendidikan. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. sesuai dengan kondisi. 23 tahun 2006 Standar isi dan standar kompetensi lulusan merupakan ketentuan yang bersifat minimal sehingga satuan pendidikan dimungkinkan menyusun kurikulum dengan standar lebih tinggi. pendalaman kompetensi. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. dan Pasal 25 sampai dengan Pasal 27. mengatur kalender pendidikan. PENERAPAN STANDAR ISI DAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Implementasi. Pada Permendiknas No. sesuai potensi. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan. 24 tahun 2006 disebutkan bahwa: (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan berdasarkan pada : a. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Dengan mengembangkan dan menerapkan kurikulum dengan standar lebih tinggi.E. c. maka satuan pendidikan dapat menyesuaikan alokasi waktu pada struktur kurikulum. d. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 5 sampai dengan Pasal 18. kondisi dan kebutuhannya. Satuan pendidikan perlu memiliki. sesuai dengan kondisi. 22 tentang standar isi dan Permendiknas No. mengatur sistem akselerasi atau percepatan belajar dan sebagainya. 22 dan No. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 sampai dengan Pasal 38. Kurikulum dengan standar lebih tinggi dapat berupa penambahan lingkup materi dan kompetensi. potensi dan kebutuhan satuan pendidikan. b. Setiap satuan pendidikan yang akan mengembangkan kurikulum perlu memiliki dokumen yang berisi ketentuan-ketentuan di atas. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 36 . penambahan mata pelajaran atau penambahan muatan lainnya. mengkaji.

23 Tahun 2006 mulai tahun ajaran 2006/2007. (4) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengadopsi atau mengadaptasi model kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun oleh BSNP. 22. Panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan masih bersifat umum sehingga hal-hal lebih lanjut dan rinci perlu ditetapkan sendiri oleh satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. 23 Tahun 2006. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa satuan pendidikan memungkinkan menerapkan Permendiknas No. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa penetapan kurikulum satuan pendidikan merupakan tanggung jawab satuan pendidikan dan komitenya. Hal ini untuk mengakomodasi kemungkinan terdapat satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan yang belum siap mengembangkan kurikulum sendiri. 24 tahun 2006 disebutkan bahwa: (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menerapkan Permendiknas No. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa pada dasarnya satuan pendidikan tidak diharuskan mengembangkan kurikulum apabila belum memiliki kesiapan berbagai sumber daya yang diperlukan. di dalam Permendiknas No. tetapi harus menerapkan kurikulum sesuai dengan Permendiknas No. 22 dan No. Standar Kompetensi Lulusan dan ketentuan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 37 . (5) Kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah. PP Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas pelaksanaannya. Pertimbangan komite dapat berarti berupa persetujuan setelah KTSP disusun oleh sekolah atau komite berpatisipasi aktif dan bekerjasama dalam proses penyusunan kurikulum dengan sekolah/madrasah. setelah tahun 2006 sampai tahun 2009 Standar Isi.(3) Pengembangan dan penetapan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah memperhatikan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Mengenai mekanisme dan strategi pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan. 23 dan 24 tahun 2006. Perlu dikritisi bahwa pengembangan dan penetapan kurikulum merupakan tanggung jawab sekolah sehingga sekolah perlu secara mandiri menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan kurikulum dengan tetap mengacu pada ketentuan yang ada seperti pada UU sisdiknas. 22 dan No.

: kelas 1.tahun III : kelas 1. (4) Satuan pendidikan dasar dan menengah yang belum melaksanakan uji coba kurikulum 2004. dan sejenisnya. Untuk sekolah menengah pertama (SMP).4. (5) Penyimpangan terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir (2) di atas dapat dilakukan setelah mendapat izin Menteri Pendidikan Nasional.3. setelah setelah tahun 2009 apabila kondisi satuan pendidikan belum siap disebabkan kondisi.2.5 dan 6.apabila kondisi satuan pendidikan belum siap.tahun II . (3) Satuan pendidikan dasar dan menengah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang telah melaksanakan uji coba kurikulum 2004 secara menyeluruh dapat menerapkan secara menyeluruh Permendiknas No. 22 dan No. dan sekolah menengah atas luar biasa (SMALB) : .4. 22 dan No. dan 3. 23 Tahun 2006 untuk semua tingkatan kelasnya mulai tahun ajaran 2006/2007.tahun I . : kelas 1 dan 2. dengan tahapan: a Untuk sekolah dasar (SD). situasi belum memungkinkan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 38 . (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah harus sudah mulai menerapkan Permendiknas No. dan 5. madrasah aliyah kejuruan (MAK). 23 Tahun 2006.2. 23 Tahun 2006 secara bertahap dalam waktu paling lama 3 tahun.tahun II . Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa satuan pendidikan memungkinkan menerapkan Permendiknas No.tahun I .2. : kelas 1. madrasah tsanawiyah (MTs). 22 dan No. melaksanakan Permendiknas No. sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB).tahun III b : kelas 1 dan 4. madrasah ibtidaiyah (MI). : kelas 1. 22 dan No. atau mungkin menerapkannya secara bertahap mulai melengkapi perangkat pendukung. sekolah menengah atas (SMA). dan sekolah dasar luar biasa (SDLB): . sekolah menengah kejuruan (SMK). madrasah aliyah (MA). 23 Tahun 2006 paling lambat tahun ajaran 2009/2010. mempelajari dokumen yang diperlukan.

disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di kabupaten/kota masing-masing (3) Menteri Agama dapat mengatur jadwal pelaksanaan Permendiknas No. (2) BSNP dapat mengajukan usul revisi .Peran Pemerintah dan Pemerintah Daerah pada implementasi atau penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dalam Permendiknas No. 23 Tahun 2006 sesuai dengan keperluan berdasarkan pemantauan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada butir (1). Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa gubernur. madrasah aliyah (MA). 22 dan No. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. untuk satuan pendidikan menengah dan satuan pendidikan khusus.Permendiknas No. walikota dan menteri Agama lebih berperan dalam pengaturan jadwal atau mengkoordinasikan pelaksanaan Permendiknas No. (1) BSNP melakukan pemantauan perkembangan dan evaluasi pelaksanaan Permendiknas No. 23 Tahun 2006. untuk mendukung dan mendorong satuan pendidikan dalam menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. 23 Tahun 2006. 22 dan No. 22 dan No. secara nasional. disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di provinsi masing-masing. BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) memilki tugas sebagai berikut.Permendiknas No. bupati. 22 dan No. 23 Tahun 2006. untuk satuan pendidikan dasar. 23 Tahun 2006. 22 dan No. 22 dan No. dan madrasah aliyah kejuruan (MAK). 24 tahun 2006. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 39 . disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan yang bersangkutan. 24 tahun 2006 juga disebutkan bahwa: (1) Gubernur dapat mengatur jadwal pelaksanaan Permendiknas No. (2) Bupati/walikota dapat mengatur jadwal pelaksanaan . Di dalam Permendiknas No. Peran satuan pendidikan tetap merupakan pelaksana dalam penerapan Permendiknas tersebut dan semua satuan pendidikan dalam suatu wilayah tidak harus melaksanakan secara serempak. tetapi disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan. pada tingkat satuan pendidikan. 23 Tahun 2006. madrasah tsanawiyah (MTs). Sedangkan. 22 dan No. serta mendistribusikannya kepada setiap satuan pendidikan secara nasional. 23 Tahun 2006. memiliki tugas berikut: (1) menggandakan Permendiknas No. untuk satuan pendidikan madrasah ibtidaiyah (MI).

Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional. (4) bekerjasama dengan perguruan tinggi dan/atau LPMP melakukan pendampingan satuan pendidikan dasar dan menengah dalam pengembangan kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah.(2) melakukan usaha secara nasional agar sarana dan prasarana satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mendukung penerapan Permendiknas No. (3) membantu pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam penjaminan mutu satuan pendidikan dasar dan menengah agar dapat memenuhi Permendiknas No. 22 dan No. memiliki tugas berikut: (1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. 23 Tahun 2006 Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan:. 23 Tahun 2006. (3) mengembangkan dan mengujicobakan model kurikulum untuk pendidikan layanan khusus. 22 dan No. 23 Tahun 2006. (2) melakukan sosialisasi Permendiknas No. pengawas. 22 dan No. (2) mengembangkan dan mengujicobakan model-model kurikulum inovatif. dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri. melalui LPMP. 22 dan No. dan dewan pendidikan. dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP kepada dinas pendidikan provinsi. (5) memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. 22 dan No. memiliki tugas berikut: (1) mengembangkan model-model kurikulum sebagai masukan bagi BSNP. dinas pendidikan kabupaten/kota. 23 Tahun 2006. mengevaluasinya. 23 Tahun 2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP. 22 dan No. 23 Tahun 2006. terhadap guru. (6) mengembangkan pangkalan data yang rinci tentang pelaksanaan Permendiknas No. dan tenaga kependidikan lainnya yang relevan melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan/atau Pusat Pengembangan dan Penataran Guru (PPPG). memiliki tugas berikut: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 40 . kepala sekolah.

dan d. lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK). bupati/walikota. 22 dan No.(1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. komite satuan pendidikan. Nomor 060/U/1993 tentang Kurikulum Pendidikan Dasar. memantau. 22 dan No. mengkoordinasikan. dan pemerintah (departemen pendidikan nasional. Departemen pendidikan nasional memiliki peran Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 41 . 23 Tahun 2006 sesuai dengan kewenangannya dan berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan Nasional. Dari ketentuan Permendiknas No. departemen agama dan departemen lain yang terkait). Nomor 061/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Umum. menyusun. b. mengevaluasi dan melaksanakan kurikulum sesuai dengan standar isi dan standar kompetensi lulusan. 22 dan No. prasarana. dan mengevaluasi pelaksanaan Permendiknas No. Bupati/walikota dan gubernur berperan dalam melakukan sosialisasi. mengatur jadwal. 24 Tahun 2006. di kalangan (2) memfasilitasi pengembangan kurikulum dan tenaga dosen LPTK yang mendukung pelaksanaan Permendiknas No. (2) mengusahakan secara nasional sesuai dengan kewenangannya agar sarana. 23 Tahun 2006. Nomor 0126/U/1994 tentang Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. 24 Tahun 2006. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan : a. gubernur. 22 dan No. Sedangkan Departemen lain yang menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah : (1) melakukan sosialisasi Permendiknas No. kepada pemangku kepentingan umum. Nomor 080/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan. 24 tahun 2006 jelas bahwa efektifitas pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan ditentukan oleh komitmen dan peran satuan pendidikan. c. 23 Tahun 2006. dinyatakan tidak berlaku bagi satuan pendidikan dasar dan menengah sejak satuan pendidikan dasar dan menengah yang bersangkutan melaksanakan Permendiknas No. 22 dan No. Dengan berlakunya Permendiknas No. dan sumber daya manusia satuan pendidikan yang berada di bawah kewenangannya mendukung Permendiknas No. 22 dan No. 23 Tahun 2006 sesuai dengan kewenangannya. 23 Tahun 2006 Sekretariat Jenderal melakukan sosialisasi Permendiknas No. Satuan pendidikan dan komite berperan dalam mengembangkan. 23 Tahun 2006 (3) melakukan supervisi. memonitor dan mendorong satuan pendidikan untuk menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan.

mengatur jadwal. Proses dan kedudukan monitoring dapat digambarkan sebagai berikut : Analisis SWOT Implementasi kurikulum Evaluasi dampak MONITORING Disain dan perencanaan kurikulum Pelaksanaan kurikulum Monitoring merupakan bagian dari bentuk pengendalian (control) yaitu proses yang memastikan bahwa aktifitas aktual (yang terjadi) sesuai dengan aktifitas yang direncanakan. Departemen agama dan departemen lain terkait berperan dalam melakukan sosialisasi. Keitga istilah tersebut pada dasarnya tidak terpisahkan satu sama lain karena sama-sama digunkan dalam konteks menyempurnakan atau memperbaiki program dan hasil pelaksanaan implementasi kurikulum. mengeluarkan kebijakan teknis. terdapat berbagai istilah yang hampir sepadan yaitu monitoring. Semua istilah tersebut secara umum mengacu pada fungsi pengawasan pelaksanaan program implementasi kurikulum. evaluasi dan supervisi. F.dalam melakukan sosialisasi. dan memonitor satuan pendidikan dalam penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan. Dalam kaitannya dengan peningkatan mutu implementasi kurikulum. mengevaluasi dan mendorong satuan pendidikan di bawah kewenangannya untuk menerapkan standar isi dan standar kompetensi lulusan. SISTEM MONITORING KURIKULUM Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas keberhasilan implementasi kurikulum yang dilakukan oleh suatu lembaga adalah melakukan monitoring terhadap program tersebut. proses dan pelaksanaan. Monitoring tersebut dapat dilakukan mulai dari perencanaan (termasuk needs analysis) . workshop. mengusahakan sarana dan prasarana. maupun outputnya. mengkoordinasikan. Monitoring (pemantauan) secara umum dimaknai sebagai sebuah kegiatan yang berfungsi untuk melihat kesesuaian rencana program implementasi kurikulum dengan pelaksanaan yang terjadi yang mencakup semua aspek dalam implementasi kurikulum diantaranya : Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 42 .

evaluasi hasilnya lebih dipergunakan untuk perbaikan program implementasi kurikulum berikutnya walaupun pelaksanaan evaluasi dapat dilakukan pada saat implementasi kurikulum berlangsung. supervisi merupakan program berencana untuk memperbaiki pengajaran. efisiensi. akuntabilitas dan relevansi program implementasi kurikulum. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memperbaiki program implementasi kurikulum yang sedang berjalan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 43 . 1988 mendefiniisikan evaluasi adalah proses pengumpulan data yang sistematis untuk mengukur evektivitas. Terdapat berbagai konsep mengenai supervisi. LAN mendefinisikan evaluasi sebagai proses atau kegiatan untuk menentukan kemajuan implementasi kurikulum dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan dan usaha untuk memperoleh informasi atau umpan balik bagi penyempurnaan program implementasi kurikulum. Hasil evaluasi biasanya dipergunakan untuk memperbaiki program implementasi kurikulum yang akan dilakukan berikutnya. Evaluasi menurut the trainer’s Library. sedangkan supervisi lebih menekankan pada perbaikan pembelajaran secara langsung yang diberikan oleh fasilitator atau narasumber. Fungsi monitoring mencakup tiga unsur utama: (1) Menetapkan standar ketepatan program implementasi kurikulum. ketepatan dalam pelaksanaan implementasi kurikulum. Dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistimatis untuk melihat apakah sebuah program implementasi kurikulum telah berhasil dan efisien dalam pelaksanaannya. Secara sederhana. Salah satu pengertiannya. ketepatan dalam mengidentifikasi dampak implementasi kurikulum. Dari ketiga pengertian di atas tampak bahwa monitoring digunakan untuk memperbaiki proses implementasi kurikulum yang sedang berjalan untuk mengoptimalkan hasil. Suatu kegiatan evaluasi diharapkan dapat mengukur keberhasilan apakah tujuan implementasi kurikulum yang ditetapkan dapat dicapai. ketepatan perencanaan program kurikulum.ketepatan perumusan analisis kebutuhan. Monitoring memiliki cakupan prosedur dan cakupan proses lebih luas dari sekedar yang dilakukan dalam pekerjaan evaluasi atau supervisi. Standar diuraikan atau dirumuskan dalam bentuk kriteria hasil monitoring. supervisi merupakan suatu aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu program pendidikan dan tenaga pendidik dan kependidikan dalam melakukan profesi mereka secara efektif.

Kompetensi yang dimaksud di sini tentu kompetensi atau kemampuan profesional yang terkait langsung dengan perencanaan. Unsur-unsur pokok dalam proses monitoring adalah penetapan standar ketepatan program implementasi kurikulum. Penetapan standar dan metode monitoring implementasi kurikulum Monitoring Apakah kinerja sesuai standar? tidak Pengambilan tindakan perbaikan Selesai ya Monitoring harus dilakukan oleh seseorang yang berkompeten sesuai dengan bidang yang akan dimonitor. menentukan apakah terdapat penyimpangan. Teknik – teknik monitoring dan penerapannya. serta keterampilan konseptual dalam mengkoordinasi dan memadukan berbagai kepentingan dan kegiatan dalam implementasi kurikulum. dan mengambil tindakan perbaikan. Ini sangat mudah dilakukan karena pada dasarnya manusia sebagai Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 44 . Hasilnya dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan. memahami orang lain. keterampilan manusiawi dalam bekerja dengan orang lain. 1. dan memotivasi orang lain. penyelesaian masalah bersama untuk memperbaiki program yang belum sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. pengembangan dan penyelenggaraan program implementasi kurikulum.(2) Memantau dan mengukur aktifitas program yang sedang berjalan dengan menggunakan teknik monitoring tertentu. yang dapat diilustrasikan sebagai berikut. Kompetensi meliputi keterampilan teknis dalam menggunakan prosedur kerja dalam program implementasi kurikulum. merancang sistem umpan balik informasi. (3) Mengambil tindakan dalam bentuk pemberian bantuan. pengarahan. membandingkan kinerja aktual dengan standar yang ditetapkan. Model monitoring yang konvensional atau tradisional adalah yang bersifat mencari kesalahan.

Monitoring perlu dilakukan secara ilmiah yang terencana. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 45 . yaitu memberi bantuan dan arahan secara langsung atau pendekatan tidak langsung (indirect) di mana pemonitor mendengar keluhan. penilaian diri. dikembangkan. dekat dan terbuka.Wawancara mengenai analisis kebutuhan : pewawancara harus mengetahui apakah kebutuhan – kebutuhan proram implementasi kurikulum sudah sesuai dengan apa yang diharapkan ? . Metode monitoring dapat berupa : konsultasi atau wawancara. suasana yang hangat. dipilih dan ditetapkan sebagai bagian dari tahapan – tahapan implementasi kurikulum. atau metode pengumpulan data lainnya. serta umpan balik (feedback) yang diberikan harus secepat mungkin dan objektif untuk segera dilakukan perbaikan.Wawancara tentang perencanaan kurikulum : pewawancara harus mengetahui dan menngidentifikasi apakah struktur program kurikulum.penyelenggara implementasi kurikulum. Metode – metode ini harus sudah direncanakan. Dalam melakukan wawancara perlu diperhatikan bahwa kegiatan ini tidak mengganggu semua aspek program implementasi kurikulum. Misalnya : . Metode wawancara dapat dilakukan secara tertulis ataupun langsung. kemudian mendiskusikan pemecahan atau solusi dari problem dan hambatan yang dihadapi. Dalam monitoring yang ditekankan adalah bantuan agar program implementasi kurikulum terlaksana sesuai tujuan. Pendekatan yang digunakan dalam monitoring dapat berupa pendekatan langsung (direct). hambatan. Cara ini tentu saja tidak sesuai dengan tujuan monitoring dan berdampak pada sikap acuh tak acuh atau menentang dari pihak penyelenggara program. atau kesulitan penyelenggara pendidikan. memiliki banyak kekurangan. kuesioner. Metode-metode ini dikemas. silabus dan bahan ajarnya telah lengkap sesuai dengan tujuan dan sistematis serta terarah ? Hal yang terpenting dalam melakukan wawancara adalah pewawancara sudah mempersiapkan diri dengan pedoman wawancara yang isinya memuat semua aspek – aspek yang akan dimonitor. Dalam metode ini yang perlu dilakukan bahwa pewawancara harus memiliki aspek – aspek apa saja yang perlu diketahui atau dimonitor sebagai bagian dari monitoring. observasi (pengamatan). dikombinasikan dan dilakukan secara terpadu (terintegrasi) agar proses monitoring dapat berjalan secara efisien dan sesuai sasaran. sistematis dan menggunakan instrumen tertentu.

pemonitor dapat juga menggunakan metode deskripsi. yaitu : menguraikan hasil pengamatan secara komprehensif dan ditulis secara lengkap dalam sebuah laporan. kurang baik. mencatat hal-hal yang penting dan menekankan pada upaya perbaikan program implementasi kurikulum. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 46 .Metode observasi biasanya digunakan untuk mengamati unjuk kerja (kinerja) dari setiap orang yang terlibat dalam kegiatan program implementasi kurikulum. misalkan suatu aspek ditunjukkan melalui empat kategori yaitu : tidak baik. kepala sekolah. laporan ini dianalisis untuk diperoleh hal-hal atau aspek apa saja yang perlu diperbaiki dan ditindaklanjuti agar segera dilakukan perbaikan program implementasi kurikulum. atau pengawas sekolah). dan peralatan audio visual (video) sebagai dokumentasi pelaksanaan implementasi kurikulum. Selain menggunakan format observasi secara khusus. perekam suara (tape recorder) hasil wawancara atau kegiatan lainnya. Dalam melakukan observasi perlu dillakukan dalam situasi yang wajar (tidak mengganggu program pembelajaran). Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan yang memuat aspek – aspek yang akan dilihat saat monitoring dilakukan. Alat bantu lain yang sangat berguna dalam metode observasi/wawancara adalah kamera untuk bukti dokumentasi pelaksanaan implementasi kurikulum. Hal ini dapat memberikan beberapa manfaat: (1) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan akan belajar bagaimana menganalisis peristiwa yang dialami sendiri selama program implementasi kurikulum berlangsung (2) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan dapat memperoleh pengalaman dalam memberi umpan balik perbaikan implementasi kurikulum secara langsung (3) Pelaksana atau penyelenggara pendidikan akan belajar bagaimana menggunakan sumber daya yang dipakai untuk melakukan analisis. Boleh juga digunakan sekala rentang. Selanjutnya. serta data yang dihasilkan haruslah faktual dan bukan opini pemonitor. observasi dapat pula dilakukan oleh penyelenggara (guru. Selain oleh pemonitor dari penyelenggara implementasi kurikulum. cukup baik dan baik. Unjuk kerja untuk setiap aspek yang dimonitor dapat dikategorikan dalam bentuk laporan teramati (tepat) atau tidak teramati (tidak tepat).

Penilaian diri merupakan salah satu bentuk kuisioner yang khusus ditujukan kepada fihak pelaksana penyelenggara pendidikan untuk melakukan evaluasi diri misalnya mengenai tanggapan tentang komitmen. Dilanjutkan dengan pemilihan teknik monitoring yang tepat. Kuesioner dapat berupa pertanyaan dengan jawaban tertutup. Pengembangan instrumen monitoring. atau pernyataan sikap. Yang terpenting dalam pengembangan kuesioner harus memperhatikan aspek kepraktisan. angket. Dalam kegiatan pengembangan instrument monitoring diawali dengan kegiatan mengidentifikasi aspek yang akan dimonitor. kepala sekolah. yang disusun dalam bentuk pertanyaan tertutup atau terbuka. Monitoring melalui pos atau internet lebih membutuhkan keaktifan dan proaktif dari pihak responden.Metode kuesioner biasanya digunakan untuk memonitor. Penilaian diri cukup bermanfaat untuk dilakukan karena pelaksana akan lebih jujur mengungkapkan pendapatnya tentang pelaksanaan program implementasi kurikulum. Walaupun perlu dilakukan kroscek atau verifikasi dengan sumber data yang lain untuk mendapat informasi yang lebih otentik. Aspek lain yang tidak mungkin dimonitor melalui kuesioner dapat dimonitor melalui observasi atau teknik monitoring lainnya. melalui pos atau dengan alat bantu teknologi informasi melalui internet (website). dan keakuratan jawaban. kegunaan informasi yang dijaring. terbuka. Dalam metode ini semua aspek yang dimonitor informasinya didapatkan melalui pertanyaan atau pernyataan tertulis yang diberikan pada sumber data (guru. Alat penilaian diri dapat berupa daftar ceklis tentang pandangan/pendapat. Dengan demikian sebelum Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 47 . Data dan informasi dari monitoring secara tertulis (kuesioner. daya inovasi dan kreasi dari guru. Kuesioner dengan jawaban (options) tertutup mudah dianalisis tetapi tidak memberi peluang responden memberi tanggapan lain yang mungkin sangat berguna. 2. dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan tertulis yang telah disiapkan. Kuesioner dengan jawaban terbuka memberi peluang pada responden menyatakan pendapatnya secara bebas tetapi memerlukan waktu untuk menganalisis dan melakukan perbaikan program implementasi kurikulum. pengawas dan fihak lain yang relevan. atupun fihak lain yang terkait). atau penilaian diri) dapat diperoleh secara langsung oleh petugas kuesioner kepada responden. baru dilakukan pengembangan instrument monitoring dan pedoman yang memuat criteria hasil monitoring. kepala sekolah.

Kemampuan dan kesiapan tenaga kependidikan Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 6. Pengembangan Silabus dan RPP Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Bentuk instrumen Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 48 .pengembangan instrument monitoring perlu disusun kisi – kisi instrumen monitoring yang secara umum dapat ditampilkan dalam contoh tabel kisi-kisi berikut. Pemahaman dan persepsi tentang kebijakan kurikulum 1. Sosialisasi SI dan SKL Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 9. Kemampuan dan kesiapan sumber daya pendidikan 4. Pengembangan Kurikulum (KTSP) Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 10. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 3. Subaspek Standar Isi (SI) Teknik monitoring Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 2. Kesiapan sarana dan prasarana Tertulis Observasi Wawancara 7. Pelaksanaan atau penerapan kurikulum oleh satuan pendidikan 8. Pelaksanaan SI dan SKL Tertulis Wawancara (diskusi fokus) Tes Kuesioner Panduan wawancara 2. Kemampuan dan kesiapan pendidik Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 5. Aspek yang dimonitor 1. Kesiapan orangtua dan masyarakat Tertulis Wawancara Kuesioner Panduan Observasi Lembar observasi Panduan Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 3.

hambatan. system pengambilan data TNA. yang mencakup sub-subaspek berikut. Hal ini agar mempermudah dalam melakukan monitoring nantinya. Isi silabus. 2. evaluasi efektifitas dampak pelaksanaan kurikulum.. Aspek Perencanaan implementasi kurikulum. pengolahan dan analisis data TNA. ketepatan menentukan kompetensi yang akan dicapai. Penerapan pembelajaran di sekolah Observasi Wawancara Panduan Wawancara Panduan Observasi Lembar observasi Aspek yang dimonitor mencakup semua komponen – komponen penting mulai dari perencanaan kurikulum. penyusunan instrument TNA. Standar isi. kelemahan. serta analisis kekuatan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 49 . serta akan meningkatkan nilai ketepatan pengamatan. pemetaan kebutuhan implementasi kurikulum. dan tantangan untuk penyempurnaan kurikulum. yang meliputi:. pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan. Pengembangan Penilaian Tertulis Dokumen Wawancara Kuesioner Panduan Wawancara Penilaian diri Angket 12. 1.Aspek yang dimonitor Subaspek Teknik monitoring Bentuk instrumen Angket 11. Setiap aspek atau sub aspek tersebut dapat di jabarkan kedalam aspek yang lebih kecil. Aspek – aspek yang lebih rinci akan mampu menggambarkan pelaksanaan implementasi kurikulum dengan baik atau tidak suatu implementasi kurikulum dilaksanakan. Isi bahan ajar. Misalkan sub aspek isi silabus dapat dirinci menjadi lima komponen yaitu : 1. yang mencakup sub-subaspek: Isi struktur program implementasi kurikulum. Aspek pemahaman dan persepsi. peluang.

suatu aspek dimonitor dengan menggunakan lebih dari satu teknik monitoring. ketepatan materi yang dipilih sebagai bahan implementasi kurikulum. atau dapat diamati (observable). komitmen atau sikap penyelenggara dan peserta implementasi kurikulum terhadap program implementasi kurikulum. Kriteria ini merupakan pedoman atau acuan bagi pemonitor untuk memeriksa ketepatan setiap aspek yang dimonitor pada setiap tahapan program implementasi kurikulum. atau sarana lainnya. ketepatan indicator yang dirumuskan. 4. dapat diukur (measurable). subaspek materi implementasi kurikulum penyusunan silabus dapat dimonitor dengan metode kuesioner untuk melihat kelengkapan dan isi kualitas dari dokumen silabus yang digunakan. Teknik monitoring dipilih dengan mempertimbangkan karakteristik dari setiap aspek yang dimonitor. Biasanya untuk membuat efektif monitoring. maka monitoring paling tepat dilakukan dalam bentuk observasi. Cara paling sederhana menentukan kriteria adalah dengan daftar ceklis. 3. Misalnya. Apabila aspek yang dimonitor berupa kelengkapan dokumen atau peralatan. kualitas isi dokumen atau peralatan. ketepatan metode implementasi kurikulum yang digunakan. yaitu teknik tertulis yang dapat dilakukan dengan wawancara tertulis. kuesioner atau penilaian diri dan monitoring unjuk kerja dan sikap yang dilakukan dalam bentuk observasi saat implementasi kurikulum berlangsung. ketepatan waktu yang disediakan. Namun. kelengkapan atau kebenaran prosedur kerja dari setiap tahapan program implementasi kurikulum sesuai dengan aspek-aspeknya. maka monitoring dapat dilakukan dalam bentuk tertulis misalnya berupa kuesioner.2. Perumusan yang samar-samar seperti ’meningkatkan mutu bahan ajar’. 5. Perumusan kriteria ini harus jelas. serta silabus hasil karya peserta. serta dapat dicapai dengan tenggang waktu tertentu. Terdapat beberapa jenis teknik monitoring. Di sisi lain. komitmen fasilitator selama program implementasi kurikulum dilaksanakan. minat dan ketertarikan peserta. jika aspek yang dimonitor berupa kinerja atau performa dari penyelenggara dan peserta implementasi kurikulum. yaitu menetapkan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 50 . Kriteria atau tolok ukur hasil monitoring merupakan ukuran ketepatan. tidak akan dapat dimonitor karena tidak jelas ukuran peningkatannya. dapat dimonitor dengan metode observasi untuk melihat komitmen.

sangat setuju atau tidak setuju. atau tidak berhasil atau dengan criteria sangat tepat. Data yang diperoleh dari hasil monitoring perlu dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan content analysis untuk membandingkan berbagai temuan yang memiliki karakteristik berbeda-beda dan narrative analysis untuk melihat kohorensi temuan atau informasi dari tanggapan para stakeholder program implementasi kurikulum. yang selanjutnya juga menentukan apakah tujuan implementasi kurikulum telah tercapai. 4. Kebanyakan orang lebih tertarik dengan analisis kuantitatif. Pemanfaatan hasil monitoring. Pengolahan dan analisis hasil monitoring dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. mereka biasanya ada yang setuju. cukup tepat atau tidak tepat. Hasil analisiis data digunakan untuk memvalidasi program penyelenggaraan implementasi kurikulum dan kesesuaiam dengan potensi dan kebutuhan implementasi kurikulum.apakah setiap aspek dilakukan atau tidak dilakukan. Untuk itu ketepatan kuantitas dan kualitas dari proses monitoring sangat menentukan hasil analisis. kurang tepat. 3. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 51 . cukup berhasil. Namun ukuran ini terlalu kasar karena banyak tahapan program implementasi kurikulum yang dilakukan dengan ukuran sangat berhasil. Pengolahan dan analisis hasil monitoring. Data juga akan dianalisis secara kuantitatif dengan pendekatan descriptive statistically analysis untuk mendeskripsikan berbagai aspek variabel yang diperoleh dari temuan selama implementasi kurikulum. Apapun metode analisis yang digunakan. hasil montoring sudah harus dapat dijadikan sebagai masukan perbaikan implementasi kurikulum sejak tahapan implementasi kurikulum dimulai. Yang penting diperhatikan bahwa hasil monitoring harus menjadi umpan balik secara langsung sehingga proses implementasi kurikulum berjalan sesuai dengan track atau tujuan yang ditetapkan. Tingkat analisis bergantung pada detil data yang dibutuhkan dan kompleksitas permasalahan selama implementasi kurikulum. Dengan demikian. harus menjawab pertanyaan apakah program implementasi kurikulum telah berhasil dan efektif dilakukan sesuai tujuan implementasi kurikulum. walaupun analisis kualititatif juga sangat penting untuk dicermati. tepat atau tidak tepat. Demikian juga apabila kita minta pendapat peserta tentang program implementasi kurikulum.

3. Manfaat proses monitoring lainnya adalah: 1. memberi motivasi bagi peserta dan pelaksana pendidikan untuk melaksanakan program implementasi kurikulum secara optimal. mendorong semua pihak dalam program implementasi kurikulum lebih berdisiplin dan bertanggung jawab. manfaat pokok dari proses monitoring adalah mengendalikan pelaksanaan program implementasi kurikulum berlangsung secara efisien dan sukses sesuai dengan tujuan. yaitu agar praktek pelaksanaan program implementasi kurikulum sesuai dengan perencanaan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 52 . Dengan demikian. hasil analisis monitoring dapat digunakan sebagai bahan evaluasi secara menyeluruh untuk meningkatkan kualitas program implementasi atau penerapan kurikulum oleh satuan pendidikan.Seperti yang telah dikemukakan di muka bahwa tujuan monitoring atau pemantauan adalah untuk menjamin suatu kegiatan atau program implementasi kurikulum tetap on the track sesuai dengan tujuan program yang telah ditetapkan. 2.

diskusi fokus. pengolahan hasil monitoring. melakukan monitoring. metodologi. workshop. Instrumen yang disusun berbentuk tes. kuesioner. rapat kerja dan diskusi fokus yang melibatkan berbagai nara sumber perguruan tinggi. sebagai berikut. Penyusunan desain dilaksanakan dalam bentuk workshop. pelaksanaan kegiatan. penyusunan dan presentasi rekomendasi mengenai hasil kegiatan keseluruhan. Selain itu. kerangka berpikir atau landasan teori. A. ruang lingkup. praktisi pendidik dan tenaga kependidikan. hasil yang diharapkan. STRATEGI MONITORING Kegiatan ini dilakukan melalui berbagai metode dalam bentuk studi dokumen. pedoman observasi situasi dan pelaksanaan pembelajaran. Sumber data yang digunakan adalah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 53 . hasil monitoring ini dilakukan sebagai bahan pertimbangan dalam merekomendasikan perencanaan dan pelaksanaan penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan agar lebih efektif dan efisien pada satuan pendidikan dasar dan menengah. analisis hasil monitoring. (2) Pengembangan instrumen Instrumen dikembangkan dan disusun untuk menjaring atau mendapatkan data dan informasi kualitatif dan kuantitaif mengenai pencapaian pelaksanaan Permendiknas No. penyusunan dan presentasi rekomendasi. dan stakeholder lain yang relevan. rapat kerja dan koordinasi. 22 dan 23 tahun 2006 tentang Standar Isi dan SKL oleh satuan pendidikan. pengembangan desain. pengembangan instrumen.BAB III METODOLOGI Pendekatan dalam monitoring ini bersifat descriptive-explanatory berbentuk studi (survey) dengan menggunakan data kualitatif dan kuantitatif yang digunakan secara seimbang dan saling melengkapi untuk melihat profil pencapaian satuan pendidikan dalam penerapan standar isi dan standar kompetensi lulusan pada tingkat propinsi. (1) Penyusunan desain Desain ini merupakan master plan yang disusun untuk dijadikan pedoman atau acuan dalam kegiatan monitoring yang meliputi: latar belakang dan tujuan monitoring. pedoman wawancara.

c. (4) Pelaksanaan monitoring Monitoring dilakukan dengan menggunakan instrumen-instrumen yang dikemas. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan Rapat kerja ini juga untuk mengatur koordinasi dalam pelaksanaan monitoring sehingga diperoleh cukup data dan informasi kualittaif dan kuantitatif yang akurat dan aktual tentang pencapaian penerapan dan pelaksanaan Permendiknas No. dan pihak lain mengenai implikasi Permendiknas No. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan d. pengawas sekolah. orangtua. serta dokumen yang relevan. pemerintah. Instrumen yang telah disusun diujicoba secara terbatas untuk memvalidasi keterbacaan dan kesesuaiannya dengan tujuan monitoring (3) Rapat koordinasi membahas implikasi Permendiknas No. dan dinas pendidikan kabupaten/kota/ propinsi. Peran pemerintah kabupaten/kota/propinsi dalam mendukung pelaksanaan Permendiknas No. Peran pemerintah (Depdiknas dan departemen lain terkait) dalam merumuskan kebijakan untuk mendukung pelaksanaan Permendiknas No. dinas pendidikan. Mekanisme satuan pendidikan dalam menyusun dan melaksanakan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan daya dukungnya. 23 dan 24 tahun 2006 Rapat kerja ini terutama untuk menentukan kesamaan persepsi dan pemahaman berbagai pihak pengelola pendidikan dari unsur sekolah. Hal-hal yang harus dilaksanakan dan dicapai satuan pendidikan seperti yang dituntut dalam Permendiknas No. kepala sekolah dan tenaga kependidikan lain. kelengkapan jumlah dan jenis intrumen. dikombinasikan dan dilakukan secara terpadu (terintegrasi) agar proses monitoring dapat berjalan secara efisien dan sesuai sasaran dan kebutuhan. metode penggunaan instrumen dan sumber data yang diperlukan. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan pada setiap propinsi. 23 dan tahun 2006 tentang: a.siswa. dan kelengkapan data dan informasi yang diperlukan sebagai hasil monitoring serta hal-hal lain yang ditemukan selama pelaksanaan monitoring. 22. 22. Pelaksanaan monitoring mengacu pada pedoman monitoring yang mengatur tentang: kriteria petugas pelaksana monitoring. 22 dan 23 tahun 2006 b. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 54 . guru.

pedoman wawancara. dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi dan pemerintah.(5) Analisis Hasil Monitoring Data dan informasi hasil monitoring dan kajian dokumen pendukund yang relevan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan gambaran. dan pedoman observasi. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan. (6) Rekomendasi kebijakan kurikulum Rekomendasi atau saran kebijakan kurikulum disusun berdasarkan analisis hasil monitoring meliputi rekomendasi bagi satuan pendidikan dan komite. bentuk pembinaan oleh dinas kabupaten/kota/propinsi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 55 . potret atau profil tingkat pencapaian dan efektifitas penerapan atau pelaksanaan Permendiknas No. Bentuk Instrumen yang dikembangkan dalam monitoring ini berupa kuesioner. Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan penyusunan rekomendasi kebijakan dalam penyusunan dan pelaksanaan kurikulum oleh satuan pendidikan dan evaluasu. guru. 22 dan 23 tahun 2006 oleh satuan pendidikan pada seluruh propinsi. komite sekolah maupun dinas pendidikan di daerah. Metode wawancara dapat dilakukan secara tertulis ataupun langsung dengan mengacu pada panduan wawancara. 22 dan 23 tahun 2006. dalam mengefektifkan pelaksanaan Permendiknas No. PENGEMBANGAN INSTRUMEN Instrumen disusun dan digunakan untuk mengukur atau mendapatkan data dan informasi pencapaian pelaksanaan Peremndiknas No. Observasi digunakan untuk mengamati unjuk kerja (kinerja) pada saat pembelajaran di sekolah maupun obaservasi situasi dan kondisi pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan yang memuat aspek – aspek yang akan dilihat saat monitoring dilakukan. perlu dibuat laporan beserta hasil-hasilnya pada tiap langkah kegiatan. B. (7) Penyusunan laporan Sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan secara keseluruhan. supervisi atau pembinaannya oleh pengawas sekolah. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi kepala sekolah. tindakan kebijakan oleh pemerintah dan stakeholder terkait.

Dalam pengembangan kuesioner memperhatikan aspek kepraktisan. 22 dan 23 tahun 2006. pengawas. orangtua. kegunaan informasi yang dijaring. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Populasi dalam monitoring ini adalah unsure dari satuan pendidikan dasar dan menengah dan komitenya serta dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi pada 33 propinsi. Pada masing-masing propinsi akan dilakukan monitoring pada tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang meliputi pendidik. atau pernyataan sikap. dan SMP/MTs. Dinas pendidikan. dan keakuratan jawaban.Metode kuesioner disusun dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan tertulis yang telah disiapkan yang dapat berbentuk pertanyaan dengan jawaban tertutup. Direncanakan keseluruhan responden monitoring pada setiap propinsi melibatkan siswa SD/MTs. terbuka. Selain itu. TEKNIK ANALISIS DATA Analisis data yang digunakan adalah content analysis berupa studi dokumen untuk membandingkan berbagai temuan yang memiliki karakteristik berbeda-beda dan narrative analysis untuk melihat kohorensi temuan / informasi dari dokumen ataupun tanggapan para responden yang berkaitan dengan ketersediaan buku-buku pelajaran dan kesesuaiannya dengan kurikulum. Penilaian diri merupakan salah satu bentuk kuisioner yang khusus untuk melakukan evaluasi diri tentang komitmen Penilaian diri cukup bermanfaat untuk dilakukan karena pelaksana diklat akan lebih jujur mengungkapkan pendapatnya tentang pelaksanaan program diklat. kepala sekolah. Teknik sampling dilakukan secara multi-stages dengan mengkombinasikan sistem cluster samples dan purposive samples. Walaupun perlu dilakukan kroscek atau verifikasi dengan sumber data yang lain untuk mendapat informasi yang lebih otentik. Kuesioner dengan jawaban terbuka memberi peluang pada responden menyatakan pendapatnya secara bebas tetapi memerlukan waktu untuk menganalisis. tenaga kependidikan. siswa. Kuesioner dengan jawaban (options) tertutup mudah dianalisis tetapi tidak memberi peluang responden memberi tanggapan lain yang mungkin sangat berguna. dan sarana pendukungnya. Aspek lain yang tidak mungkin dimonitor melalui kuesioner dapat dimonitor melalui observasi atau teknik monitoring lainnya. komite. guru. D. Monitoring pada tingkat dinas penddikan kab/kota/propinsi meliputi ketenagaan dan program kerja dalam mendukung pelaksanaan Permendiknas No. juga digunakan descriptive statistically Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 56 . dan orang tua. C.

umumnya (97. 80. dinas pendidikan kota di ibu kota provinsi.0%). dan sekolah-sekolah yang berada di ibukota provinsi. 1. hasil monitoring dapat dijadikan sebagai barometer (memprediksi) bagaimana kondisi di luar ibu kota provinsi.5% adalah sarjana starta 1. data yang diberikan belum mewakili daerah-daerah di luar ibukota provinsi.5) responden mengaku belum pernah ikut sosialisasi. Sebagian besar (53.5%).7%).9 sarjanan strata 2.8) menyatakan ikut sosialisasi kurang dari seminggu. Responden yang berlatar belakang pendidikan SLTA adalah staf teknis yang hadir mewakili atasannya. serta 2.7 berpendidikan sarjana strata 2. Responden dipilih secara acak. PROFIL RESPONDEN Responden yang dilibatkan dalam monitoring ini berasal dari dinas pendidikan provinsi. dan 19. Sekolah Responden yang terdiri atas kepala sekolah dan guru dengan latar belakang pendidikan sebagian besar sarjana. sarjana strata 2 (18. dan diploma (3. Sedangkan guru. Dari responden yang mengikuti sosialisasi. 11. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 57 .9%) telah memiliki masa kerja antara 21-30 tahun.4 masih berpendidikan diploma. untuk memperkirakan 1. E. Dinas Pendidikan Sebagain besar responden yang berasal dari pejabat struktural Dinas Pendidikan berlatar belakang pendidikan sarjana strata 1 (64.2% sarjanan strata 3.analysis untuk mendeskripsikan berbagai aspek variabel yang berkaitan dengan bukubuku pelajaran.4% yang masa kerjanya 10 tahun ke bawah. SLTA (13. 84. namun karena semua responden berasal dari ibu kota provinsi. dan hanya 14. 2. Namun demikian.3% responden kepala sekolah berpendidikan sarjana strata 1.8%). Lebih separoh (58.

3%).Berdasarkan masa kerjanya.6% di antara kepala sekolah berasal dari SM/MA dan 42.1%) memiliki masa kerja 11-20 tahun. Hal ini disebabkan belum optimalnya koordinasi antara Dinas Pendidikan Provinsi dengan Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 58 . dan hanya 6. 48. 13.8% dengan masa kerja 21-30 tahun. 29. 57. Tim studi belum bisa mendapatkan data kuantitatif pelaksanaan KTSP oleh satuan pendidikan pada tingkat propinsi karena propinsi belum memiliki data rincinya dari kabupaten/kota maupun dari sekolah di wilayahnya. Keadaan ini hampir sama dengan guru. 3.1%) memiliki pekerjaan berwiraswasta. guru (27.4% dari SMK. dan 41. Komite/Orang Tua Siswa Lebih dari separoh (69%) responden yang berasal dari orang tua/komite berpendidikan sarjana strata 1.1 % yang memiliki masa kerja di atas 31 tahun. Pengembangan dan Penerapan KTSP secara Nasional Informasi tentang pengembangan dan penerapan KTSP secara nasional menggunakan sumber data yang diperoleh dari dinas pendidikan propinsi. Sedangkan guru yang menjadi responden monitoring ini lebih separo (57. 16.5% kepala sekolah yang menjadi responden memiliki masa kerja 11-20 tahun.8% di bawah 10 tahun.3% SLTA.6% diploma. dan 5.7%. 7. Selebihnya (30.8%). 37.6 % sarjana strata 2. 8.3 % antara 21-30 tahun.6%. lebih separoh responden guru berasal dari SMA/MA (58.6% dengan masa kerja 10 tahun ke bawah. dan dosen 5. Tidak ada yang berlatar belakang pendidikan SD.7% berasal dari SMK. BAB IV PEMBAHASAN HASIL MONITORING A. Sebagian besar dari mereka memiliki pekerjaan tetap sebagai pegawai negeri sipil dengan rincian sebagai berikut: karyawan PNS sebanyak 41.

baik Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota maupun sekolah. 11. Tabel 1 : Gambaran jumlah kabupaten/kota yang sudah mendapat sosialisasi atau workshop SI. 9. 5. 1. 3. Kegiatan-kegiatan seperti ini cukup banyak dilakukan karena di beberapa daerah karena mereka sangat proaktif. Kegiatan-kegiatan yang bersifat mandiri yang dilaksanakan oleh masing-masing Kabupaten/Kota melalui MGMP atau tidak semuanya terpantau oleh Dinas Provinsi. Para pejabat struktural maupun staf teknis di Provinsi hanya bisa memberikan gambaran tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan melalui kegiatan provinsi. 4. Untuk itu data yang digunakan adalah data kualitatif mengenai pengembangan dan penerapan KTSP yang bersumber dari persepsi dinas propinsi. demikian juga kegiatan yang dilakukan oleh sekolah-sekolah dengan memanfaatkan dana swadaya. tingkat pemaham pelaksana dilapangan kurang memadai. pelaksanaan monitoring pada tahun 2007 ini diawali dengan melihat proses sosialisasi di masing-masing provinsi. Data yang yang diambil adalah (1) jumlah daerah yang telah melakukan sosialisasi di tiap provinsi. 6. 8. Berikut gambaran secara umum pelakasanaan sosialisasi di masing-masing provinsi. 12. (2) sasarn sosialisasi di masing-masing daerah. Pelaksanaan Sosialisasi di Setiap Provinsi Berdasarkan pengalaman yang lalu. 2.pendidikan Kabupaten/Kota dalam hal pendataan. SKL dan KTSP pada tiap propinsi No Provinsi Jumlah kab/ kota Kab/Kota yang sudah sosialisasi Frekuensi Kegiatan Puskur Penyelenggara PUSAT Ditjen Mandikdasmen LPMP/PMPTK DAERAH Dinas pddk Dinas Provinsi Pddk Kab/kota 1. Akibatnya. terutama terkait dengan pelaksanaan KTSP. 10. Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Bengkulu Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Selatan Lampung Kepulauan BangkaBelitung Kepulauan Riau Banten Jawa Barat 21 25 9 10 11 19 14 10 7 7 6 25 21 25 9 10 11 19 14 10 7 6 6 25 1 2 1 1 1 2 1 1 2 2 1 3 V V V V V V V V V V V V V V V V V V v - v v V V V V V V V - - Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 59 . setiap pergantian kebijakan tentang kurikulum sangat dirasakan bahwa proses sosialisasi kurang optimal. Atas dasar pengalaman tersebut. 7.

dan dana APBN yang ada di Dinas Pendidikan Provinsi serta APBD provinsi. Oleh karena itu. 34. 17. 18. seperti yang terlihat pada table di atas. hampir semua daerah telah melakukan sosialisasi secara mandiri. Menurut prediksi Dinas Pendidikan provinsi. tetapi belum ada laporan resmi sehingga Dinas Pendidikan Provinsi tidak memiliki data tentang itu. umumnya data kegiatan sosialisasi yang melibatkan Dinas Pendidikan Provinsi. Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Daerah Istimewa Yogyakarta Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Gorontalo Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Irianjaya Barat Papua (Irianjaya) Total 6 35 38 5 9 9 16 12 13 14 13 5 23 10 10 9 6 8 8 9 20 442 6 35 38 5 9 9 16 12 13 14 13 5 23 10 10 9 5 8 8 9 20 440 4 3 4 2 2 2 2 1 2 2 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 V V V V V V V V V V V V V V V V - V V V v v v V v v v v V V V V V V V V - V V V v v v v v v v v v v v v v - v V V v - Dari tabel jelas bahwa secara keseluruhan semua kabupaten/kota telah mendapatkan sosialisasi atau workshop tentang kebijakan dan penerapan Permendiknas No. 28. 29. data yang ada di Dinas Pendidikan provinsi. DKI. 27. 26. 15. Kegiatan yang menggunakan biaya APBD Kabupaten/Kota atau swadaya sekolah umumnya tidak dilaporkan ke Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 60 . 31. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada keharusan bagi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau sekolah untuk melaporkan pelaksanaan kegiatan sosialisasi yang dilakukan secara swadaya atau melalui APBD tingkat II. 25. 22 dan 23 tahun 2006 tentang SI (standar isi) dan SKL (standar kompetensi lulusan). 20. Meskipun pada tabel di atas terlihat bahwa hanya 4 kabupaten/kota yang melaksanakan kegiatan sosialisasi. 16. 22. 33. 24. 30. sosialisasi pada umumnya adalah unit Pusat dan Daerah Penyelenggara Pendidikan (Dinas Propinsi/Kab/Kota). 21. 19.13. 14. 23. yaitu kegiatan yang dilakukan melalui pembiayaan APBN. Tabel di atas juga menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan oleh langsung oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota hampir tidak terpantau oleh Dinas Pendidikan Provinsi. 32. seperti yang dilakukan oleh Diraktorat terkait. hal ini bukan berarti daerah lain tidak melaksanakan.

dewan pendidikan dan komite sekolah.9 78.2 36. b. Perusahaan swasta/BUMN.3 26. c. LSM Pendidikan. Menurut responden.7 26. Namun. atau lembaga profesional lainnya yang cukup partisipasif dalam program KTSP ini. dan KTSP. e. Menurut Dinas Propinsi belum ada pihak terkait lain seperti perusahaan penerbitan buku pelajaran. g. Hal ini mungkin disebabkan sekolah masih menganggap tingkat keprofesionalan orangtua masih bervariasi. MGMP (musyawarah guru mata pelajaran). tampaknya peran komite sekolah masih dianggap kecil (26. Penerapan KTSP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 61 . Sasaran Sosialisasi a.3%) dalam pelibatan pengembangan KTSP. orangtua sudah menyerahkan urusan ini ke sekolah. d. mereka telah ikut di beberapa kegiatan seperti yang digambarkan pada tabel berikut: Tabel 2 : Organisasi Profesi dan Unit terkait yang menjadi sasaran ssosialisasi SI. Hal ini mengibatkan Tim Monitoring kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang kabupaten/kota atau sekolah mana saja yang telah melakukan sosialisasi secara mandiri.1 63. Hal ini mungkin disebabkan belum meluasnya sosialisasi dan mungkin penyelenggaraan oleh lembaga profesional lain tidak terpantau oleh Dinas. Selain sekolah.3 Dari tabel tersebut jelas bahwa sasaran utama sosialisasi atau workshop KTSP adalah sekolah ditambah gugus sekolah (kelompok sekolah). Padahal secara kebijakan.9 21. 2. KKKS (kelompok kerja kepala sekolah).Pendidikan Provinsi. pengembangan KTSP disusun bersama oleh pihak sekolah dan komite sekolah. atau pemahaman pengembangan KTSP yang perlu dipertajam. Jelas bahwa unit yang terlibat dalam sosialisasi sudah mewakili keseluruhan stakeholder pendidikan. f. MGMP KKKS PGRI Organisasi Pengawas Yayasan Dewan Pendidikan Komite % 78. baru kemudian yayasan. sosialisasi juga dilakukan terhadap organisasi profesi pendidikan lain berikut ini. SKL. pengawas sekolah.

dan bahkan ada yang menyusun secara bersama-sama beberapa sekolah. Ada yang menyatakan bahwa KTSP disusun oleh sekolah di bawah koordinasi Dinas pendidikan. Beberapa sekolah menyusun di bawah koordinasi dinas dengan menggunakan tim pengembang dari dinas. Banyak guru yang belum siap menyusun silabus sendiri. tersebut berbeda dengan tahun 2007. Untuk kategori ini.6%). lainya tidak memberikan jawaban (26. Dalam pengembangan KTSP.8%). menggunakan tim. sebagian besar penerapan KTSP pada tiap kabupaten/kota selama tahun 2006 belum intensif (31. jawaban boleh lebih dari satu).3 42. penyusunan KTSP oleh sekolah dilakukan dengan metode kombinasi melalui koordinasi. b.9%) menyatakan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 62 . belum menjadi prioritas (26. sehingga ada yang mengadopsi. Ada unsur adopsi dan adaptasi. Satuan pendidikan menyusun sendiri mengacu SI. misalnya mengenai seilabus. Berikut secara lengkap informasi tentang proses penyusunan KTSP menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi (mulai dari yang frekuensinya tinggi.9 26. menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi. namur terbatas pada beberapa bagian saja. d.3% Total persentase respon melebihi dari 100% karena umumnya responden menjawab lebih dari satu pilihan. Tabel 3 : Penusunan KTSP oleh Satuan Pendidikan Penyusunan KTSP a. dan pada bagianbagian tertentu diadopsi. mengadaptasi.1 36. mereka menyebut menyusun sendiri tetapi secara bersama di gusus. Lebih separoh daerah Kondisi (57. sehingga silabusnya sama.3%).3%).7%). dalam arti. f. beberapa sekolah menyusun sendiri. c.8 15.3 57. umumnya sekolah-sekolah menyusun sendiri KTSP ( 73. e.8 26. Hal yang perlu dicermati hádala. adaptasi dan sebagainyaP . g. Menurut pemantauan Dinas Propinsi. masih cukup banyak sekolah yang baru pada taraf mempelajari kebijkan KTSP dan menggunakan kurikulum sebelumnya. serta menyusun senidiri. SKL dan model kurikulum KTSP KTSP disusun oleh sekolah dengan koordinasi Dinas Pendidikan KTSP disusun oleh tim yang dibentuk oleh Dinas Pendidikan Satuan pendidikan mengadaptasi model kurikulum KTSP dari pusat Satuan pendidikan mengadopsi atau menggunakan model kurikulum KTSP dari pusat Masih pada taraf sosialisasi dan mempelajari perangkat dokumen Masih menggunakan kurikulum sebelumnya % 73. serta mengadaptasi dan mengadopsi model kurikulum. dan yang menyatakan intensif hanya (15.Dalam hal penyusunan KTSP.

Sebanyak 15. dan sebagian lagi menyatakan bahwa masih perlu waktu untuk melakukan sosialisasi di kalangan warga sekolah dan masyarakat karena sebagian besar di antara warga sekolah dan masyarakat belum memahami kebijakan tentang KTSP ini. c. peningkatan prioritas program KTSPdisebabkan oleh tuntutan bahwa tahun 2009 KTSP harus sudah diterapkan menyeluruh pada setiap satuan pendidikan.7%). Alasan lain adalah kurangnya dana pendukung untuk penyusunan KTSP. dan 26. Sebagian sekolah (36. b.8% daerah menyatakan kabupaten/kota belum menempatkan penerapan KTSP sebagai prioritas. sebagian besar daerah memprogramkan mulai tahun 2007 menerapkan KTSP.3% yang menyatakan kurang. sebagian besar daerah menyatakan sudah cukup baik (84.2%).6 36.6 Tabel di atas menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil sekolah yang masih menggunakan kurikulum sebelumnya (31. Ini menunjukkan KTSP telah menjadi program dengan prioritas bagi tiap propinsi/kabupaten/kota. 10% menyatakan sangat baik. dan hanya 5. Beberapa alasan yang dikemukakan oleh daerah.3% responden tidak memberikan jawaban. Tabel: 4 Proses penerapan KTSP Proses/Tahapan a.8%) telah menerapkan secara efektif di semua kelas.kabupaten/kota mulai menerapkan KTSP secara intensif.Jadi. d. mengapa intesitas penerapan KTSP masih beragam. Umumnya sekolah yang menerapkan secara kelseluruhan adalah sekolahsekolah yang sudah melaksanakan piloting KBK (2004). rata-rata melaksanakan secara bertahap. Tingkat kesadaran dan komitmen sekolah untuk mengembangkan dan menerapkan KTSP cukup tinggi.6%). diantaranya adalah: menunggu sampai 2009 (batas akhir yang diberikan oleh pemerintah untuk menerapkan KTSP). Pada umumnya sekolah mulai menerapkan KTSP pada awal tahun pelajaran 2007 secara bertahap (73.8 73. Faktor yang paling mentukan keterlaksanaan KTSP menurut pernyataan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 63 . Telah menerapkan secara efektif pada seluruh kelas dengan silabus dan RPP yang disusun sendiri Telah menerapkan secara efektif pada seluruh kelas dengan silabus dan RPP yang diadopsi Telah menerapkan secara bertahap Masih menggunakan kurikulum sebelumnya % 31.7 31. sosialisasi dan workshop KTSP yang mulai meluas dan tingkat pemahaman KTSP yang membaik bagi seluruh stakholder. melihat sekolah yang terdekat dengan mereka agar dapat secara bersama-sama menyusun KTSP. Tentang kondisi yang berkaitan dengan pelaksanaan KTSP. Berkaitan dengan hal ini.

3 26. serta pemanfaatan teknologi informasi agar sekolah terbantu dalam mengembangkan dan menerapkan KTSP.4%).1 15. Keberadaan Dokumen SI dan SKL Menurut informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi.3 10.1%).3 5.1 21.5 15. silabus.9 47. Keberhasilan program KTSP sangat ditentukan oleh sumberdaya pendidik dan tenaga kependidikan.6 57. Sebagian responden menjawab gabungan antara siswa dan orang tua (20.3 26.4 63. Perlu dilakukan berbagai upaya komunikasi interaktif dan komitmen sekolah dan Dinas melalui hubungan langsung.9 73. d.6 31.5%).7 68.8 10. 4. SKL dan model KTSP sudah tersedia pada tingkat kabupaten/kota.2 57.5%.3 31.3 10. f. g.5 5.5 5.8 15.9 68. h.3 26.8 5. dan yang menyatakan sangat memadai hanya 10. menurut informasi dari Dinas Pendidikan.7%).3 5.Dinas pendidikan Provinsi adalah guru (78.8 19.2 63. kesiapan guru berkaitan dengan pengembangan dan penerapan KTSP oleh sekolah cukup memadai.7 78.8 15.9%).7 73.4 73. penguasaan mata pelajaran. c. Kualifikasi akademik Penguasaan isi mata pelajaran Menyusun kurikulum (KTSP) Menyusun silabus Menyusun RPP Menilai kualitas kurikulum.5 SMK (%) C 57.5 10.8 15. Sebagian besar menyatakan ketersediaan dokumen cukup memadai (52.9 63. b.6%) dan kurang memadai (15. ini berarti. siswa (21. penyusunan kurikulum. kecuali dalam pengembangan bahan ajar mandiri Lebih lengkap informasi tentang kesiapan guru dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel: 5 Kesiapan Guru dalam Pengembangan dan Penerapan KTSP SMA (%) Aspek a.3 15.10%). Hal ini mennjukkan perlu adanya komitmen manajemen yang profesional pada tingkat sekolah untuk mengembangkan dan menerapkan KTSP 3.5 10. Namun yang perlu dicermati dan ditingkatkan kompetensi guru Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 64 .5 5.3 10.3 26.4 K 26.9 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum guru telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik.6 47.9 68. e.2 52.5 10.2 57.6 K 15.8 10. Kesiapan Sekolah dalam melaksanakan KTSP: Secara umum.4 63. akses informasi oleh satuan pendidikan tentang kebijakan KTSP seharusnya mudah.1 21. i. Dokumen SI. umumnya kabupaten/kota sudah mendaptkan dokumen SI.1 37. silabus dan RPP Mengembangkan alat penilaian berbasi kompetensi Menyusun bahan ajar (LKS dsb) Membuat sumber belajar mandiri S 21. dan model KTSP (94. dan RPP.3 C 52.8%). sarana dan prasarana (47. SKL.4 S 26.8 15. orang tua dan masyarakat (10.

adalah dalam melakukan pengembangan penilaian berbasis kompetensi. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 65 . pengembangan bahan ajar serta pengembangan sumber belajar mandiri. modul maupun referensi lainnya juga perlu dipertimbangkan karena guru lebih bergantung kepada penerbit buku Kesiapan kepala sekolah dalam pengembangan dan penerapan KTSP. seorang guru harus melakukan penilaian secara profesional dan dapat dipertanggungjawabkan. Pengembangan bahan ajar yang meliputi buku teks. menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut. Tampaknya guru belum konfiden dalam mengembangkan alat penilaian walaupun itu sudah dijalani sehari-hari. padahal dalam KTSP.

d. silabus.1 94.6 94. silabus dan RPP Membantu masalah guru dalam menyusun silabus dan RPP Mengelola guru dan tenaga kependidikan menyusun KTSP Membina guru dalam melaksanakan pembelajaran S 31. silabus.4 68.2 57.4 68.9 47. penyusunan kurikulum.4%).3. menilai kualitas kurikulum.1 5.3 5. Tentang kesiapan pengawasa sekolah.3 10. 5. Tabel 7 : Kesiapan Pengawas SMA Aspek a.3 S 21. serta mengelola guru dalam pengembangan KTSP.6 K 26. c. d. karena angkanya baru 47.8 21.1 5.1 21.6 15.9 63. Yang perlu dicermati dan ditingkatkan kompetensi kepala sekolah adalah walaupun secara umum kepala sekolah berkompeten dalam pengembangan kurikulum.5 15.3 SMK C 52.8 5.7 S 31. Kualifikasi akademik Menyusun kurikulum (KTSP) Menilai kualitas kurikulum.1 26.2 68.9 68.3 26.3 5. e. Gaya Kepeminpinan kepala sekolah juga perlu ditingkatkan untuk mengelola guru dan tenaga lain dalam pengembangan KTSP.6 15. penguasaan mata pelajaran.6 31.2 K 31.5 15.7 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum pengawas sekolah telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik (namun ini masih perlu ditingkatkan.8 SMK C 57.4 K 21.6 36.1 52. f.9 63.4 68.1 63.4 52.3 26.8 36. namun tidak mendalam pada tingkat detil kurikulum maupun silabus mata pelajaran.9 K 15. penyusunan kurikulum.Tabel 6 : Kesiapan Kepala Sekolah SMA Aspek a.3 29. silabus dan RPP Membantu masalah guru dalam menyusun silabus dan RPP Mengelola guru dan tenaga kependidikan menyusun KTSP Membina guru dalam melaksanakan pembelajaran S 26.3 21.8 21.5 15. penguasaan ini secara umum masih diperlukan.9 31.6 31.6 36. dan RPP. membantu masalah guru dalam pengembangan silabus dan RPP (namun ini masih ditingkatkan karena angkanya baru 47.5 C 42. Kualifikasi akademik Menyusun kurikulum (KTSP) Menilai kualitas kurikulum.6 57.4 68. b. f.3 C 42.8 26. dan RPP.6 63.3 15.6 15.9 57.3 5. c. Program peningkatan kompetensi pengawas dapat berbentuk Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 66 .8 10.4%).8 36.8 10.4 57.2 57. menurut dinas pendidikan adalah sebagai berikut. b.8 Dari tabel tersebut jelas bahwa bahwa secara umum kepala sekolah telah siap dalam pengembangan dan penerapan KTSP dari kualifikasi akademik.3 5.1 26. Pada jenjang pendidikan dasar. e.3 10.3 5.

7 21.5 Block Grant 21. 10. artinya sarana-sarana yang tidak tersedia atau rusak.5 10. Sosialisasi SI. Ini berarti.8 21.1 - 15. diklat atau tugas belajar Penyediaan dan pemeliharaan prasarana dan sarana pendidikan 10. Perlu dikritisi di sini bahwa pengembangan dan penerapan KTSP harus disesuaikan dengan kondisi.9 63. Berkaitan dengan pembiayaan. sekolah dapat mengembangkan sendiri alternatif sarana yang tersedia dari lingkungan sekolah.9 c. banyak responden justru memilih tidak menjawab. 47.3 % yang menyatakan sangat baik. maupun sumber lainnya yang sah.2 d. umumnya responden menyatakan bahwa penerapan KTSP berdampak pada penyediaan dana.4 57.9 63. silabus dan RPP pada sekolah tertentu secara bertahap Pengembangan kompetensi guru melalui uji kompetensi.8 15.5 - 15.6 Tdk Mjwb 52.4% menyatakan sangat baik.9 Tahun 2007 (dlm juta rupiah) APBD 10.5 - 21.5 Lain nya 21.3%).5 Block Grant 10.1 78. potensi. Perlu juga ditingkatkan program mandiri pengembangan alternatif sarana. SKL dan KTSP Workshop /pengembangan KTSP. Umumnya sekolah menyediakan dana dari anggaran belanja sekolah. Perlu dicermati di sini.8 10. dan hanya 5. serta membina guru dalam melaksanakan pembelajaran.8 73.6 Dari tabel tersebut jelas bahwa program KTSP melibatkan berbagai sumber mencakup dana APBD.3 15.1 21.2 15.2 52. MGMP dsb Workshop pendampingan pengembangan KTSP. b. Ini berarti peran pengawas harus ditingkatkan fungsinya dalam pembianaan substansial sekolah mulai dari pengembangan kurikulum sampai pelaksanaan pembelajaran. kebutuhan dan karakteristik sekolah dan peserta didik. Hal dimungkinkan karena berbagai hal yaitu: Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 67 . Berikut tabel tentang sumber pendanaan sosialisasi KTSP: Tabel : 8 Sumber Pendanaan KTSP Tahun 2006 (dlm juta rupiah) Jenis Sosialisasi / Workshop APBD a.1 Tdk Mjwb 47. bagi sekolah dengan sarana dan prasarana kurang memadai perlu mengembangkan KTSP yang sesuai dengan sekolah tersebut dan dapat dilaksanakan oleh sekolah tersebut. Sarana dan Pendanaan Hampir separoh responden menyatakan sarana dan prasarana sekolah sebagai pendukung KTSP masing kurang memadai (47. 5.6 57. KKG.1 10.5 Lain nya 26.4 31.6 63.5 10. e.workshop pengembangan kurikulum. - 5. tidak sekedar memeriksa adminstrasi kurikulum dan pembelajaran di sekolah. Blockgrant. silabus dan RPP dengan melibatkan berbagai sekolah.1 36.

dan tidak bersedia menjawab.6 36. dengan dinas kabupaten/kota dan dengan pusat.8 10. dan pendapingan satuan pendidikan dalam mengembangkan KTSP.8 20.3 4 5.8 Angka Prioritas 3 15. maupun pendampingan satuan pendidikan untuk mengembangkan KTSP.5 15.1 Dari tabel tersebut jelas bahwa prioritas pertama Dinas Propinsi dalam program KTSP adalah melakukan koordinasi tingkat internal.1 15.3 ksg 10.8 5. 36. Tampaknya koordinasi menjadi hal penting karena dengan adanya otonomi daerah. SKL dan model KTSP 52. b. workshop.3 - 10. Berikut urutan priritas kegiatan di Dinas Pendidikan Provinsi. Melakukan koordinasi program dengan kab/kota Melakukan pendataan pencapaian penerapan KTSP pada tiap kab/kota Melakukan workshop pengembangan KTSP dan program supervisi klinis dengan kab/kota Melakukan supervisi klinis langsung ke sekolah-sekolah terpilih Penyediaan dokumen SI. workshop.8 36.7%) kabupaten/kota memiliki program sosialisasi. Prioritas utama adalah melakukan koordinasi program dengan kabupaten/kota (52.8 5. ditetapkan berbagai prioritas. penyediaan dokumen SI. terutama koordinasi dengan kabupaten/kota. SKL. 33/MPN/SE/2007 tentang Pembentukan Tim Sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 68 .3 36.pengetahuan responden yang rendah dalam masalah anggaran (hanya fokus pada program/kegiatan yang dijalankan).8 c.3 5. peran ini menjadi kurang. 26.5 26. Untuk merealisasikan program tersebut.3% yang menyatakan bahwa kabupaten/kota belum memiliki program sosialisasi.5 15.8 2 15. Tabel: 9 Urutan Prioritas Kegiatan Jenis Program 1 a. 6. keberadaan TPK Kesiapan tim sosialisasi KTSP tingkat provinsi (sesuai dengan SE Mendiknas No. Program Sosialisasi yang Berkelanjutan Menurut Dinas Pendidikan Provinsi. Prioritas kedua adalah melakukan pendataan kuantitatif penerapan KTSP pada tingkat kab/kota.5 21. workshop pengembangan KTSP dan supervisi klinis ke kab/kota dan 7.6%).8 21. tidak tahu. sebagian besar (73.8 d.8 e. Tim Pengembang Kurikulum (TPK) Provinsi (a). untuk Hanya 26.3 15. 36.

5%).5%).1%). pejabat struktural dan staf dinas pendidikan (89.4%) keberadaan tim tersebut telah dikukuhkan melalui Surat Keputusan Pemerintah Daerah.4 63. keterlibatan unsur di luar sekolah (pejabat struktural dan staf teknis. perguruan tinggi(63. dan sebagian besar (68. Dari semu daerah yang sudah membentuk Tim Pengembang Kurikulum. Pembentukan Tim Pengembang Kurikulum tingkat propinsi 2 2.3%).7 %) telah membentuk Tim Pengembang Kurikulum. Sebagaian daerah yang tergolong proaktif. dan bantuan para sponsor seperti penrbit buku.Pendidikan).6 36.3 31. Pengukuhan Tim Pengembang Kurikulum melalui Surat Keputusan 3 Program Kerja TPK Propinsi Sudah 94. Pengesahan ini sangat diperlukan sebagai dasar pengajuan anggaran pembiayaan kegiatan tim pengembang kurikulum.2 Belum 5. kepala sekolah (73. Surat Keputusan ditandatangani langsung oleh Gubernur. dan sebagian lagi digali dari sumber lain(21. sudah mengusulkan lewat APBD (42. Tabel 10 : Keberadaan Tim Pengembang Kurikulum Provinsi No Keberadaan Tim TPK Provinsi 1 1. pengawas) cukup dominan.1%) misalnya APBS. Pada sebagian daerah. dan keterlibatan relatif swasta masih kecil (21. seperti pengawas (89. jangka menengah. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 69 . Guru (84. sebagian daerah mengkombinasikan antara APBD dengan APBN (10. dan keterlibatan perguruan tinggi dan swasta relatif lebih kecil. yang dalam hal ini disebut Tim Pengembang Kurikulum Propinsi dalam membantu kabupaten/kota atau satuan pendidikan di wilayahnya dalam pengembangan KTSP adalah sebagai berikut.2%). dan jangka pendek.2%). dan sebagian lagi ditandatangani oleh Kepala Dinas Dinas Pendidikan atasnama Gubernur. Ini dapat dipahami mengingat perubahan kebijkan kurikulum selama ini lebih bersifat adminstratif dari pada akademik.3%).1%). umumnya (63. banyak daerah yang masih bingung.8 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa hampir semu provinsi (94. Kelihatannya. (c) Sumber dana untuk membiayai kegiatan TPK Propinsi Dalam hal pendanaan. (b) Anggota TPK Propinsi Tim Pengembang Kurikulum (TPK) provinsi melibatkan berbagai unsur Keanggotaan terkait. Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab pengembangan profesi bagi tim pengembang kurikulum lebih cenderung didominasi oleh nuansa birokratis.2%) telah menyusun program kegiatan yang terdiri dari program jangka panjang.7 68.

1.6 41. 24 tahun 2006 Surat Edaran Mendiknas No.1 77.9 yang mulai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Permendiknas No. Dokumen-dokumen tersebut dikemas dalam bentuk file dan direkam ke CD.4 66. Frekuensi kepala sekolah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 70 . dan didukung oleh kemajuan perangkat teknologi. 90.9% untuk pelaksanaan SI dan SKL) menyatakan telah memiliki.2 69.9 % SI. pemerintah memanfaatkan teknologi komputer.4 % untuk SKL.4 74. setiap pergantian kebijakan kurikulum. Kelengkapan Dokumen KTSP Berdasarkan pengalaman yang lalu.7 22.1 47.2 92.7 82. tim studi juga melakukan studi pengembangan dan penerapan KTSP bersumber dari pihak sekolah (sebagai sekolah sampel) yang terlibat dalam kegiatan ini. Berikut adalah tabel latar belakang responden yang terlibat dalam studi. 23 tahun 2006 Permendiknas No. Tabel 11: Kepemilikan dan Kelengkapan Dokumen KTSP No Jenis Dokumen Sudah Memiliki (%) Kepala Guru Sekolah 93. Hal ini sangat memungkinan untuk mempercepat proses distribusi. Sudah bukan hal yang aneh ketika suatu sekolah baru menerima dokumen kurikulum pada saat kebijakan kurikulum telah berganti.7 42. Ini berarti.4 92. setidaknya proses penyempaian informasi relatif lebih cepat.1 11. Berikut tabel kepemiliakn dokumen kelangkapan SI. 22 tahun 2006 Permendiknas No.B.6 13.4 85.9 70.7 90. Hanya saja. Pengembangang dan Penerapan KTSP oleh Sekolah Selain menggunakan data kualitatif dari dinas propinsi.1 40. dan KTSP disosialisasikan sejak tahun 2006. sumber acuan pengembangan KTSP telah dimiliki oleh sekolah-sekolah tersebut.7 9.5 89.4 92. 33/MPN/SE/2007 (Tentang Sosialisasi Kurikulum Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model-Model Program Khusus (PLB) Tabel di atas memberikan gambaran bahwa secara umum kepala sekolah (93.7 56. Untuk mengantisipasi hal ini.9 66. banyak sekolah yang terlambat menerima informasi dan dokumen kurikulum.4 16. Namun demikian. Namun terdapat perbedaan pernyataan antara kepala sekolah dan guru. Untuk daerah terpencil bisa mencapai 5 – 10 tahun. SKL. 92. ada kendala berkaitan dengan ketersediaan perangkat dan keterbatasan tenaga pengoperasion komputer.

2. Sumber acuan lain yang harus dimiliki sekolah adalah model muatan lokal. Cara Memperoleh Dokumen Pada umunya sekolah/satuan pendidikan mendapat dokumen tersebut dengan berbagai cara melalui mengkopi sendiri dalam bentuk CD.7 %untuk SKL dan aturan pelaksanaannya. Hal ini agar segera diupayakan untuk menjamin pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan berjalan secara efektif dan efisien. cetakan. Sayangnya tim studi tidak sempat melacak alasan mengapa terjdi perbedaan yang cukup signifikan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa mungkin saja sebagian kepala sekolah belum sempat menyampaikan dokumen tersebut kepada guru oleh karena berbagai alasan. dari dinas pendidikan maupun piha lainnya. 66. sementara guru dan kepala sekolah yang diundang berasal dari sekolah yang sama.2 % yang menyatakan telah menerima dokumen SI. Menurut guru baru sekitar 70. Hal lain yang perlu juga dicermati adalah bahan-bahan tersebut harus bisa diakses secara mudah oleh semua insan di sekolah terssebut. model pengembangan diri. model pembelajaran terpadu IPA/IPS di SMP. Secara rinci adalah seperti tabel berikut Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 71 .yang telah menenrima dokumen tersebut lebih tinggi dari pada guru. model pembelajaran tematik di SD dan model program khusus untuk pendidikan khusus.

6 Cara Memperoleh Dari Dinas Pendidikan dalam bentuk CD GR KS GR 15.6 12.0 3. 23 tahun 2006 Permendiknas No.5 7.2 31. Bina Komunikasi.8 33.8 13.8 26.5 1.5 12.2 4.3 33.Tabel 12 : Cara memperoleh dokumen kelengkapan KTSP No Jenis Dokumen Copy sendiri dalam bentuk CD KS 30.2 12.1 7.3 9.8 22.5 1.8 25.1 3.4 1.1 11.8 19.5 9.3 3.0 3.0 4.5 9.7 8.5 4.0 2.0 1.1 7.9%.1 7.3 9.5 4.1 13.0 1.4 1.8%)`menyatakan sulit memperoleh dokumen KTSP.3 28.9 8.1 7. 33/MPN/SE/2007 (Ttg Sosialisasi Kurikulum Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model Program Khusus (PLB) a.1 12.1 15. Guru 67.4 2.1 13.1 1.3 34.5 Dibeli dari pihak lain 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Permendiknas No.8 2.4 2.0 - 1.2 - - 3.7 GR 23.5 15.2%.2 1.2 1.1 9. 24 tahun 2006 SE Mendiknas No. persepsi bunyi.0 7.2 3.1 3. Bagi yang sudah memperoleh.2 22.1 9. 22 tahun 2006 Permendiknas No.5 4.1 6.1 9. Bina gerak e.4 1. Bina diri d.3 30.5 9. Pemahaman Isi dokumen berkaitan KTSP Sebagian besar responden (Kepala sekolah 68.7 23.5 9. guru 48.0 9.3 6.2 2.6 10.5 6. umumnya responden (Kepala Sekolah 87.1 3.2 1.6 16.2 3.) menyatakan sudah mempelajari. dan irama c.7 13.5 1.6 23.4 4.1 8.9%.2 13.1 9.2 1.1 20. Orientasi dan mobilitas b.1 7.2 22.2 1.0 16.7 13. Bina diri dan bina gerak KS 1.6 (%) Dari Dinas Pendidikan dalam bentuk cetak KS GR 6.5 - GR 2.1 6.1 12.5 1.2 6.7 16.6 15.1 10.1 8. Bina pribadi dan sosial f.1 6.1 6.8 23.1 10.5 Copy sendiri dalam bentuk cetak KS 15.6 9.2 - 1. Bagi kepala sekolah yang belum memperoleh dokumen tapi sudah pernah mendapatkan informasi tentang peraturan Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 72 .

sama sekali belum dipahami. 22 tahun 2006 Permendiknas No. Mereka mendapatkan informasi tersebut dari Kepala Dinas 15. pengawas (10. media Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 73 . 24 tahun 2006 Surat Edaran Mendknas No. Ketika diminta untuk mendeskripsikan isi dokumen tersebut untuk melihat apakah mereka telah mempelajari dan memahaminya. tentang bina emosi dan sosial dan buku tentang keterampilan yang menunjang 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa responden mengetahui dokumen hanya sekadar kulitnya saja. sedangkan apa yang tertera secara eksplisit dan implisit di dalamnya.7%). SKL.7%) dan teman (10. Perlu dilakukan berbagai upaya agar pemahaman tentang kebijakan pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan memiliki persepsi yang sama. d. tentang bina diri dan gerak.2%.tersebut. 23 tahun 2006 Permendiknas No. dan KTSP No 1 Jenis Dokumen Permendiknas No. c. e. tentang bina diri. 33/MPN/SE/2007 (Tentang Sosialisasi Kurikulum) Model-Model KTSP Model-Model Silabus Model-Model RPP Model-Model Muatan Lokal Model-Model Penembangan Diri Model-Model Pembelajaran IPA/IPS terpadu Model-Model Pembelajaran Tematik Model-Model Program Khusus (PLB) Deskripsi Singkat Tentang standar isi yaitu lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan Berisi tentang standar kompetensi lulusan utk satuan pendidikan dasar dan menengah Mengatur tentang pelaksanaan peraturan mendiknas tentang standar isi dan SKL untuk stuan pendidikan dasar dan menengah Edaran/himbauan untuk segera mensosialisikan & menerapkan KTSP mulai tahun pelajaran 2006/2007 Yaitu tentang contoh kurikulum tingkat satuan pendidikan yang bisa dikembangkan Yaitu tentang contoh format silabus (deskripsi tentang pokokpokok materi pembelajaran) Contoh format rencana pelaksanaan pembelajaran yang bisa dikembangkan Yaitu contoh format silabus dari muatan lokal yang bisa dikembangkan sesuai karakteristik lingkungan di sekitar sekolah Yaitu format kegiatan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekpresikan dirinya IPA terpadu diartahkan ke lingkungan ttg pengelolaan alam sesuai dgn kondisi lingkungan di kep. b. Hal ini dapat dilakukan tidak hanya dalam bentuk sosialisasi saja tetapi juga melalui workshop dengan menggunakan media langsung (rapat kerja). Sedangkan bagi para guru. lainya dari pengawas atau teman sejawat yang pernah mengikuti sosialisasi. sesuai kondisi sekolah. berikut jawaban yang mereka berikan: Tabel 13 Jawaban Responden tantang Dokumen SI. fleksibel. tentang OM. mereka mendengar dari Kepala Sekolah (22.6%). Babel Pada pembelajaran tematik guru harus lebih kreatif membuat alat peraga atau pembelajaran atau menyenangkan sehingga anak tidak bosan Berisikan tentang program khusus: a. BPM.

1%).2%) tidak memberikan jawaban.1%).9%).9%). 4. dan adopsi dari contoh-contoh yang ada (7. media televisi radio.9%. Menurut pernyataan responden. Demikian pula 51. dengan menggunakan bahan yang jelas. sederhana.1%). disusun sendiri (16. dan adopsi dari contoh-contoh yang ada (3. Bagi yang merasakan kesulitan dalam penyusunan KTSP menyampaikan berbagai alasan. dan internet secara interaktif.0%). Sedangkan responden guru yang menyampaikan sekolahnya telah menyusun KTSP adalah 86. masih kurang memadai sarana dan prasarana pendukung Belum ada tenaga pemikir/pakar dalam hal pengembangan diri Kemampuan menyusun masih belum maksimal Sulit menentukan KKM karena harus melihat setiap SKL dan KD yang banyak Jika siswa mendapat nilai yang sama untuk menetapkan kriterianya agak sulit namun sudah diulang dengan tes-tes yang lain Tidak diberikan kepada pihak sekolah dalam pengambilan keputusan terakhir Tidak semua budang studi mudah dalam menerapkan pendidikan kecakapan hidup khususnya bidang studi PKN Tidak cukupnya panduan untuk itu Menetapkan kriteria kelulusan Menentukan pelaksanaan kegiatan pendidikan kecakapan hidup Menetapkan dan mengembangkan pendidikan berbasis keunggulan lokal Mengembangkan dan melaksanakan pendidikan berbasis keunggulan global Menyusun kalender Pendidikan Menjabarkan standar kompetensi/kompetensi dasar menjadi indikator Menyusun kegiatan pembelajaran Belum ada tenaga yang dipersiapkan untuk itu Dalam penyususnan kalender pendidikan sudah disusun oleh dinas pendidikan disesuaikan dengan daerah masing-masing Dalam penyusunan berpedoman pada silabus yang ada buku yang dijadikan masih harus dirancang sendiri karena tingkat kesukarannya da ditingkat kelas I. kondisi masyarakat Mata pelajaran mana yang diajarakan lebih banyak jamnya SDM yg ada belum mampu. sisanya (9.2% responden guru beranggapan demikian. II. di antaranya sebaai berikut: Tabel 14 : Kesulitan dalam Menyusun KTSP Aspek Merumuskan Visi dan Misi Sekolah Merumuskan tujuan sekolah Menetapkan mata pelajaran Menetapkan dan mengembangkan muatan lokal Menetapkan dan mengembangkan kegiatan pengembangan diri Menetapkan pengaturan beban belajar Menetapkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) Menetapkan kriteria kenaikan kelas Kesulitan dan Alasan menyamakan persepsi dengan semua guru & karyawan kesesuaian antara tujuan sekolah dgn situasi. 60% kepala sekolah menganggap tidak sulit menyusun KTSP.cetak. dan praktis. sebagian besar penyusunan dilakukan dengan cara adaptasi atau penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan sekolah (62. disusun sendiri (13. (93. Penyusunan KTSP Sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah mereka telah menyusun KTSP. Berdasarkan pendapat responden. Penyusunan dilakukan sebagian besar dengan cara adaptasi atau penyesuaian dengan keadaan dan kebutuhan sekolah (61. dan III Dalam kegiatan pembelajaran terkendala pada waktu yang terbatas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 74 .7%).

silabus. muatan lokal. struktur kurikulum. KTSP serta teknis Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 75 . standar kompetensi lulusan dan SKBM/KKM. yang sifatnya sudah harus menjabarkan secara teknis dan rinci. struktur dan muatan. anak dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih optimal (2) layak disempurnakan dalam kerangka inovasi pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. kalender pendidikan standar kompetensi. pengaturan beban belajar. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah agar dapat melaksanakan KTSP Responden berpendapat bahwa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah dalam melaksanakan KTSP adalah adanya kesatuan pendapat dan dukungan dari warga sekolah dalam menentukan tujuan sekolah serta keinginan masyarakat yang dituangkan dalam KTSP. kalender pendidikan. Pemahaman Tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan KTSP Sebagian besar responden menyatakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang menitikberatkan atau berorientasi pada kompetensi/kemampuan siswa dengan harapan setelah siswa selesai sekolah memiliki suatu kompetensi diri yang kompeten. ketersediaan dana. 5. Sedangkan hal-hal yang harus dilakukan guru agar dapat melaksanakan KTSP secara optimal adalah guru harus memiliki pemahaman yang baik terhadap konsep dan falsafah implementasinya di lapangan. yaitu (1) visi misi dan tujuan pendidikan.Menetapkan materi pokok Menyusun bahan ajar Menentukan strategi dan alat penilaian Menindaklanjuti hasil penilaian Menentukan alokasi waktu Ada perbedaan pada referensi pendukung sehingga harus penuh teliti berdasarkan tuntutan dan SI Masih kurangnya buku sumber yang ada diperpustakaan atau toko buku yang ada Banyaknya tugas guru dalam penilaian yang terlalu rumit Melakukan remedial terhadap siswa yang belum tuntas Di alokasi waktu kadang-kadang tidak cukup karena siswasiswa asik dengan percobaan-percobaan yang di cobanya kerna jika belum berhasil siswa tidak akan meninggalkan tempatnya walaupun guru mengatakan sudah selesai jam pertemuannya Sulit mencari sumber dan alat untuk kompetensi tertentu Membedakan KD dan indikator perlu pemahaman para guru Cara mengembangkan indikator kegiatan pembelajaran/penilaian Cara menentukan strategi/model pembelajaran/evaluasi Menentukan sumber dan alat pembelajaran Merumuskan tujuan pembelajaran Menyusun silabus Menyusun RPP Data di atas menunjukan masih terdapat inkonsistensi antara pemahaman isi dokumen berkaitan dengan KTSP dengan kesulitan yang dialami guru dan kepala sekolah dalam mengembangkan dan menerapkan KTSP. RPP (2) visi. bahan yg akan dijadikan acuan. Umumnya responden menyatakan bahwa kurikulum sebelumnya (1994) perlu diubah menjadi KTSP dengan alasan (1) Karena dengan pembelajaran berdasarkan kompetensi. Juga perlu didukung oleh kesiapan semua komponen sekolah. Umumnya responden telah mengetahui komponen-komponen KTSP. tujuan Sekolah. 6. misi.

Umumnya sekolah melibatkan pengawas dalam penyusunan silabus. Caranya dengan mengadakan diklat. terutama guru. Strategi sekolah dalam mensosialisasikan KTSP kepada warga sekolah (guru. penilaian. work shop. 7. berpusat pada guru. Sebagian besar responden menyatakan bahwa umumnya silabus disusun oleh para guru secara bersama-sama dengan rekan satu sekolah maupun dalam MGMP. abstrak. Umumnya responden melihat hal-hal positif yang ada dalam KTSP. konteksual. serta warga sekolah lain dengan dibimbing oleh pengawas dan kepala UPT Dinas Pendidikan setempat. baik sebagai pembimbing maupun sebagai narasumber. indikator sebagai pedoman dalam pelaksanaan KBM. berpusat pada siswa. waktu dan sumber. sedangkan Silabus dibuat untuk beberapa kali pertemuan. KD. dan masyarakat adalah dengan melakukan diskusi di antara guru. kepsek. guru sebagai fasilitator. Permasalahan dan upaya mengatasinya Secara umum. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 76 . Persoalan yang umumnya dialami oleh sekolah dalam menyusun KTSP menurut responden adalah pemahaman yang belum maksimal dari warga sekolah. KTSP memerlukan silabus karena silabus merupakan penjabaran dari standar kompetensi yang mengacu pada pencapaian standar kelulusan. serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung yang belum memadai. RPP dibuat untuk setiap pertemuan.Umumnya responden menyatakan perbedaan antara KTSP dengan kurikulum 1994 adalah bahwa KTSP berorientasi pada penguasaan kompetensi. 6. indikator. Sedangkan kurikulum 1994 berorientasi pada tujuan. Secara umum responden menyatakan bahwa kondisi (sumber/alat/dan sumber daya di sekolah belum memadai untuk mendorong keterlaksanaan KTSP. KD. guru sebagai sumber belajar. Dalam implementasinya. masih ada permasalahan dalam implementasi KTSP. Pelaksanaan KTSP Umumnya responden memahami silabus sebagai penjabaran SK. KKG. dan KKKS. Upaya untuk mengatasi kesulitan adalah dengan terus meningkatkan pemahaman aspek-aspek yang terdapat dalam KTSP serta peningkatan penggunaan TIK untuk mendukung kegiatan pembelajaran. orang tua). di antaranya kurikulum KTSP lebih menampung inspirasi dari warga sekolah serta mencakup perubahan/menyesuaikan dengan kondisi yang ada. kegiatan pembelajaran. Umumnya responden menyatakan bahwa perbedaan antara silabus dan RPP adalah: RPP sifatnya lebih operasional dari silabus. materi pokok. pertemuan rutin guru. Unsur-unsur yang harus ada dalam silabus adalah SK. Persyaratan dan Kebutuhan sekolah dalam menyusun KTSP adalah adanya kemauan yang keras dari pihak sekolah untuk menyusun dan mengimplementasikan KTSP serta dukungan dana yang besar. Umumnya responden meyakini bahwa silabus dan RPP dapat menuntun atau membantu guru dalam pelaksanaan pembelajaran.

mendatangkan tenaga LPMP.7%) atau bersumber dari APBN (12. dalam monitoring ini juga dilakukan analisis tentang KTSP dengan sumber data dari oorangtua yang bertindak sebagai komite sekolah. C. 3. guru dan kepala sekolah. Pendanaan Umumnya responden kepala sekolah menyatakan bahwa penyusunan KTSP membutuhkan biaya yang besar. Memberi motivasi bagi guru dan reward bagi yang telah menyusun silabus dan RPP. melibatkan pengawas sekolah. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 77 . dan bukan dipungut dari siswa.1%). Membantu memberikan petunjuk.Strategi sekolah dalam melakukan pemantauan pelaksanaan KTSPdi antaranya dengan membentuk tim kecil di bawah naungan wakil kepala skeolah bidang kurikulum dan wakil kepala skeolah bidang pengendali mutu untuk melakukan pemantauan. 2. Persepsi Komite Sekolah (Orangtua) dalam Pengembangang dan Penerapan KTSP Selain menggunakan sumber data dari dinas pendidikan. mendatangkan tenaga ahli. Juga dengan melakukan supervisi. Berikut adalah berbagai informasi yang berkaitan tentang KTSP menurut persepsi orangtua.5%) untuk menyusun KTSP. Sekolah umumnya memanfaatkan sumber dana lain (48. Sedangkan untuk melakukan sosialisasikan KTSP di lingkungan warga sekolah pada umumnya dana diperoleh secara swadaya (19. Dana itu bukan dari dana BOS. Upaya sekolah dalam mendorong guru dalam melaksanakan KTSP antara lain dengan: 1. 8. dan tim pengembangan kurikulum sekolah. Memberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengikuti diklat dan banyak bertanya pada rekan sejawat yang lebih paham. juga bukan dari Dinas Pendidikan (APBD).

Berdasarkan hasil wawancara. orang tua dituntut untuk berperan aktif dalam mendukung keberhasilan siswa dalam pencapaian kompetensi yang diharapkan. Berkaitan dengan perubahan kebijakan kurikulum saat ini.0 0% % Tahu Tidak Tahu Tidak berbeda Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 10 .1. Sebanyak 50 % menyatakan mengetahuinya dari sekolah sedangkan 50 % lagi tanpa penjelasan. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi KTSP yang telah dilakukan cukup berhasil. diperoleh gambaran bahwa umumnya (90%) orangtua siswa menyatakan bahwa KTSP berbeda dengan Kurikulum 2004.00 % 78 .00 Diagram 1. Perbedaaan KTSP dengan Kurikulum sebelumnya Memahami kurikulum yang berlaku termasuk hal yang harus dilakukan oleh orang tua. Pemahaman Orang Tua Siswa/Komite tentang Pelaksanaan Kurikulum a. Pemahaman orang tua terhadap perbedaan kurikulum yang sebelumnya dengan KTSP 85 . perlu digali sejauhmana orang tua siswa memahami perbedaan kurikulum yang sekarang dengan kurikulum yang berlaku selama ini. Dengan adanya otonomi sekolah dalam pengembangan kurikulum. Hal ini menjadi penting karena perubahan kebijakan tentang kurikulum saat ini memiliki konsekuensi terhadap peranan orang tua. 5. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam penyusunan KTSP pihak sekolah telah mensosialisasikan kepada orang tua melalui komite Berikut diagram tentang pemahaman orang tua/komite tentang KTSP. dan hanya 10% menyatakan tidak.

Respon Orang Tua terhadap pelaksanaan KTSP di sekolah Hampir semua responden (99 %) menyatakan senang dengan pengunaan KTSP sebab membuat perhatian siswa terhadap kegiatan belajarnya lebih besar (siswa lebih aktif belajar) dan kemampuanya lebih dieksplorasi. Konsep dan Strategi Sosialisasi KTSP Pemahaman yang benar bagi setiap orang tua terhadap KTSP sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran siswa. perlu ada upaya sekolah untuk melibatkan orang tua dalam sosialisasi kurikulum. c. Namun secara implisit orang tua (25%) mengharapkan kemampuan dan komitmen sekolah yang sungguh-sungguh untuk menyusun dan melaksanakan KTSP sesuai potensi daerah dan karakteristik sekolah. Namun hanya 20 % yang menyatakan mengerti penjelasan yang diberikan sehingga dapat memberikan dukungan dan kerja sama dengan pihak sekolah. Berikut diagram respon orang tua terhadap pelaksanaan KTSP di sekolah Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 79 . Sedangkan 80 % lainnya sudah menerima penjelasan tapi tidak mengetahui dengan pasti arti penjelasan tersebut. Berdasarkan wawancara dengan orang tua. Namun demikian memberi indikasi bahwa sosialisasi KTSP di tingkat satuan pendidikan SMA (khususnya) dan SMK sudah dilakukan sekolah dengan baik kepada orang tua (stake holder) namun perlu ditingkatkan dan dilakukan lebih intensif. sedangkan 10 % menyatakan belum pernah. Sehubungan dengan tersebut. Penjelasan Kebijakan Kurikulum terhadap Orang Tua Siswa` Untuk mendukung pemahaman orang tua. diperoleh informasi bahwa sebanyak 65% orang tua cukup mengerti bahwa KTSP disusun dengan memperhitungkan potensi lingkungan dan didasarkan atas Permen Mendiknas Nomor 22. 2. dan 24. sedangkan 20% belum pernah sama sekali menerima sosialisasi KTSP.b. Ini menunjukkan bahwa pemahaman orang tua tentang KTSP belum memadai sehingga perlu sosialisasi lebih lanjut agar orang tua dapat berpartisipasi lebih aktif dalam pendidikan putra/putrinya. sebanyak 90% orang tua menyatakan menerima penjelasan tentang KBK dari pihak sekolah dan dinas pendidikan setempat. berdasarkan wawancara dengan orang tua siswa. 23. Respon yang sangat baik ini memberikan indikasi bahwa KTSP mendapat sambutan yang sangat positif dikalangan orang tua (stake holder) sehingga sosialisasinya perlu ditingkatkan dan strategi implementasinya perlu dievaluasi secara berkala agar implementasinya maksimal. Sedangkan 15 % lainnya sudah mendengar tapi belum menunjukkan pemahaman tentang KTSP.

Untuk itu sosialisasi KTSP yang akan datang tidak saja difokuskan pada konsep-konsep KTSP tetapi lebih dari itu difokuskan pada strategi implementasi dan teknik pelaksanaan.86% kadang-kadang orang tua mengeluarkan uang tambahan) orang tua menyatakan adanya tambahan pengeluaran biaya yang signifikan dengan penerapan KTSP. Namun dari data rersponden tidak ditemukan keluhan atau keberatan orang tua (stake holder) sehubungan dengan tambahan biaya ini. karena kemampauan siswa yang dikembangkan banyak dan fokus. Dengan demikian walaupun penerapan KTSP mempunyai implikasi pengeluaran dana yang lebih namun dapat diterima secara positif sebab dana-dana tambahan yang dikeluarkan dialokasikan langsung untuk peningkatan kompetensi siswa.86% (yang menyatakan tidak pernah/hampir tidak pernah mengeluarkan biaya tambahan setelah penerapan KTSP) menyatakan bahwa sekolah di mana putra/i mereka bersekolah telah menyusun anggaran yang lengkap sehinga semua pembiayaan sudah dibayar pada awal tahun ajaran. Hubungan penerapan KTSP dengan biaya yang dikeluarkan siswa dalam proses belajar mengajar (a). Senang.00% Diagram 2.25. frekuensi siswa meminta uang tambahan untuk biaya belajar setelah menggunakan KTSP Sebanyak 57. Berikut diagram frekuensi siswa meminta uang tambahan untuk beiaya belajar setelah menggunakan KTSP Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 80 .00% Sangat Senang Senang. asalkan siswa menjadi lebih pandai dan disiplin 55.15 % (14. Ini menunjukkan bahwa pengeluaran tambahan untuk biaya studi setelah KTSP diterapkan cukup signifikan. Sedangkan 42.29% sering dan 42. Tanggapan orang tua terhadap pelaksanaan KTSP dan peluangnya dalam peningkatan kemampuan siswa 3.00% 20.

14.29%
Sering

Kadang-Kadang

42.86%
Tidak Pernah

42.86%

Diagram 3. Hubungan penerapan KTSP dengan biaya yang dikeluarkan siswa dalam proses belajar mengajar

(b). Biaya tambahan yang dibayarkan orangtua setelah menggunakan KTSP Semua responden menyatakan adanya tambahan biaya yang besar dan frekuensinya sangat bergantung pada kegiatan yang direncanakan sekolah masing-masing. Namun jawaban responden tengan pengeluaran tambahan ini sangat beragam antara yang sudah terencana melalui APBS sekolah sampai dengan yang tidak memiliki rencana sama sekali. Khusus sekolah-sekolah yang belum memiliki APBS yang baik tambahan pengeluaran ini menambah volume pekerjaan bertambah. Untuk itu dalam pelaksanaan sosialisasi KTSP pada level strategi peleksanaan dan di tingkat teknis operasional perlu diberikan bimbingan pengelolaan keuangan sekolah sehingga baik sekolah maupun orang tua mendapat kemudahankemudahan dalam memberikan layanan kepada putra/i-nya. Berikut diagram biaya tambahan sehubungan dengan penerapan KTSP
10 .00 % % .00 30
<= Rp.10.000,00 Rp.10.000,00 <= - <= Rp.80.000,00

3. Ketersediaan Buku Pelajaran

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

60 .00 %

Relatif, sesuai kebutuhan

Diagram 4. Besarnya biaya tambahan yang dibayarkan orang tua dalam pelaksanaan KTSP di sekolah

81

Responden yang menyatakan buku yang dimiliki siswa cukup memadai dengan yang menyatakan tidak cukup memadai sama besar. Sementara responden yang menyatakan bahwa buku cukup memadai dalam menunjang proses pembelajaran tidak memberikan penjelasan atas jawaban yang diberikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengadaan bukubuku yang sesuai dengan potensi daerah dan sesuai dengan karakteristik siswa perlu diupayakan secara sungguh-sungguh baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Berikut diagram tentang ketersediaan buku pelajaran

20.00% Cukup 40.00% Tidak Cukup Tidak Tahu

40.00%

Diagram 5. Dukungan buku dalam Proses Pembelajaran KTSP

4.

Penjelasan dari Guru tentang Rapor Siswa

Hanya 45% orang tua yang menganggap rapor hasil belajar yang disampaikan sekolah ke pada orang tua memberikan informasi tentang prestasi belajar siswa. Selain itu data responden menunjukkan bahwa yang merasa kurang jelas adalah 25% demikian pula yang tidak memahami sama sekali. Kemungkinannya adalah sekolah belum mampu

medayagunakan format rapor yang ada untuk menginformasikan pencapaian kompetensi siswa, atau format rapor terlalu rumit sehingga untuk memahaminya diperlukan penjelasanpenjelasan yang khusus. Ini menunjukkan bahwa diperlukan suatu penelitian lebih lanjut tentang format laporan hasil belajar dan cara penggunaannya yang diikuti oleh sosialisasi yang intensif dari pihak sekolah terhadap orang tua.

30.00% Jelas 45.00% Kurang Jelas Tidak Jelas

25.00% Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008

82

Diagram 6. Informasi hasil belajar siswa melalui rapor hasil belajar.

5. Perubahan Sikap Siswa Setelah Sekolah Menerapkan KTSP Secara umum responden menyatakan adanya perubahan sikap belajar putra/putri mereka yaitu peningkatan minat dan semangat belajar yang signifikan dengan penerapan KTSP. Dengan demikian peningkatan pemahaman dan penguasaan KTSP secara konsep, strategi implementasi, dan teknik pelaksanaan perlu disosialisasikan lebih intensif, luas, dan efektif.
15.00%

Lebih Rajin Belajar Relatif Lebih Rajin Tidak Berubah

55.00% 30.00%

Gambar 7. Pengaruh KTSP terhadap sikap belajar siswa

Informasi 65% responden menyatakan tidak pernah/hampir tidak pernah menerima keluhan dari putra/putri mereka dan 10% yang kadang-kadang menerima keluhan

mengindikasikan bahwa penerapan KTSP cukup signifikan meningkatkan gairah belajar siswa. Kegiatan-kegiatan di luar sekolah yang timbul setelah penerapan KTSP disikapi sebagai implikasi dari semangat KTSP untuk meningkatkan mutu hasil belajar siswa. Dengan demikian KTSP mendapat sambutan positif dari orang tua karena dipandang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. 6. Keluhan Siswa Kepada Orang Tua setelah Sekolah menerapkan KTSP Sebagian besar orang tua (65%0 menyatakan bahwa anaknya tidak pernah mengeluh sehubungan dengan penerapan KTSP, 25 % menyatakan anaknya sering mengeluh, dan 10 % menyatakan kadang-kadang.

Berikut diagram pernyataan orang tua tentang keluhan anak-anak mereka sehubungan dengan penerapan KTSP.

.0 0%

Kadang-kadang Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008
25

10

.0 0%

83

Tidak Pernah

Pemahaman Tentang Pengertian Standar Isi Sebagian besar responden dari kalangan pejabat struktural Dinas Pendidikan memahami bahwa Standar Isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu (65. Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara pemahaman Dinas Pendidikan dengan sekolah tentang standar Isi. kepala. sekolah. Hal ini senada dengan pemahaman kepala sekolah dan guru. Perbandingan Hasil Tes Pemahaman KTSP antara Pejabat Struktral di Dinas pendidikan dengan Sekolah (Kepala Sekolah dan Guru) Dalam monitoring ini juga dilakukan tes pemahaman atau tes persepsi tentang persepsi KTSP menurut responden.5% kepala sekolah dan guru menjawab dengan jawaban yang sama. Tes melibatkan seluruh responden dari dinas pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada sekitar 35-37% reseponden belum memahami pengertian standar isi dan standar kompetensi lulusan dengan benar.D. guru.5%). Selain untuk melihat persepsi tentang KTSP. orangtua dan dinas pendidikan. 1. tes dimaksudkan juga untuk mendukung temuan-temuan yang diperoleh melalui kuesioner guru. Identitas dari para responden adalah sebagai berikut. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 84 . kepala sekolah dan orangtua. Sebanyak 63.

22 Tahun 2006 sangat variatif.6 65. Hal senada juga terlihat dari jawaban responden yang bearasal dari sekolah (guru dan kepala sekolah).5 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 85. Satuan pendidikan Dinas pendidikan Pusat Komite sekolah Dinas Pendidikan 84. d. Tabel 16 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Pengembangan Substansi Muatan Lokal Jawaban a.5 Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 85 . sementara 4. masih ada sekitar 13-16 % responden belum memahaminya dengan benar.5 c. Dari kelompok responden yang belum menjawab dengan benar. b.3 3. terdapat sedikit perbedaan antara responden dari Struktural Dinas Pendidikan dengan sekolah. Ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi Mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.9 0.9 10. Sebanyak 9. yaitu sebanyak 87. d.5 63.7 4.7 3.9% responden dari pejabat struktural Dinas pendidikan menjawab bahwa muatan lokal ditetapkan oleh Dinas Pendidikan.7 responden dari pejabat struktural Dinas pendidikan yang menjawab demikian. Pengembangan Substansi Muatan Lokal Tentang kewenangan penyusunan dan penentapan kurikulum muatan lokal. sementara hanya 0. 8% sekolah menjawab muatan lokal di tetapkan dari pusat. Artinya.5%. 12.9 3 Tabel di atas memperlihatkan pemahaman responden terhadap Permendiknas No.5 9. c.5%) menjawab bahwa yang berwenang menetapkan kurikulum muatan lokal adalah satuan pendidikan yang bersangkutan. meskipun untuk responden yang berbeda tampaknya pemahaman kedua unsur tidak terlalu jauh berbeda. b.5 8 7. Mengatur tentang struktur kurikulum satuan pendidikan Mengatur tentang kompetensi lulusan Dinas Pendidikan 18.3 Sekolah (Guru dan Kepsek) 22. sebagian besar responden dari pejabat struktural Dinas Pendidikan (84. 2.5 % responden yang berasal dari sekolah meberikan jawaban yang sama.Tabel 15 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Standar Isi Unsur (%) Jawaban a.

Hal yang sama juga terjadi pada responden dari sekolah (Kepala Sekolah dan Guru). Namur hal ini berbeda dengan pandangan sekolah. diperoleh gambaran bahwa sebagain besar responden menyatakan penyelenggaraan pembelajaran menggunakan sistem paket (60%).9 %. b.9% sekolah yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pembelajaran menggunakan sistem paket. Sistem Pembelajaran pada SMA/MA/SMK/MAK Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005.3.6 4.6%. hanya 48. Berdasarkan tes pemahaman terhadap Dinas pendidikan dan sekolah. Hal ini Belem banyak dipahami oleh pelaksana pendidikan di lapangan.4 2.5 73. Ini berarti terdapat sekitar 24-27% responden memberikan jawaban yang salah atau belum memahami dengan benar. sebesar 75. yaitu sebesar 73. dinyatakan bahwa bagi sekolah yang kategori mandiri bebena relajar diatur dengan sistem keredit semester. Tujuan dari Kegiatan Pengembangan Diri Mengenai kegiatan pengembangan diri. Data ini menunjukkan bahwa Belem semua pihak yang memahami tentang pengaturan beban relajar sebagaimana yang tertuang dalam PP nomor 19 tahun 2005 tersebut.9 Jawaban a. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 18 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Sistem pembelajaran pada SMA/MA/SMK/MAK Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 86 . Namur hanya sedikit (sekitar 45%) responden (baik Dinas Pendidikan maupun sekolah) yang menyatakan pengaturan pembelejaran berdasarkan sistem kredit semester. sebagian besar responden dari Dinas pendidikan menjawab ” memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri”. Memperdalam penguasaan mata pelajaran Menciptakan wahana kegiatan sesuai minat dan bakat siswa Memberi pelayanan konseling pada siswa memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri.0 3. Tabel 17 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah Tentang Tujuan Kegiatan Pengembangan Diri Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 1. d.0 75. c.5 18.5 19. Dinas Pendidikan 3.

5 3. c. b.3 Jawaban a. terdapat sekitar 30 % responden belum memahami dengan benar. Dan ternyata.1 90. KTSP disusun oleh sekolah dan disesuaikan dengan kondisi yang ada.5%.5 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 48. Hanya 68 % responden dari Dinas pendidikan yang menjawab dengan benar.0 25. Tabel 19 Pemahaman Dinas pendidikan dan Sekolah tentang Penggunaan Standar Kompetensi Lulusan Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 0.5 5. Penggunaan Standar Kompetensi Lulusan Dalam hal penggunaan Standar Kompetensi Lulusan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik 90. b. d.9 4.9 89.8 2.1 6.6 5. dan sebanyak 70. Kemungkinan besar yang disebut sebagai kurikulum nasional itu adalah Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan.Jawaban a. Sejalan dengan hal tersebut. Panduan penilaian kinerja dan portofolio Dinas Pendidikan 1.6 22. Artinya.5 6. sekolah (kepala sekolah dan guru) menjawab dengan benar sebanyak 89. Tabel 20 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Jawaban Unsur (%) Sekolah (Guru dan Dinas Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 87 .5 % responden dari pejabat struktural Dinas Pendidikan menjawab dengan benar. sekitar 25 % responden masih beranggapan bahwa masih ada kurikulum nasional. Pedoman penilaian kelas Pedoman penilaian tertulis pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. Menggunakan sistem paket Menggunakan sistem SKS Dapat menggunakan sistem SKS Dapat menggunakan sistem paket Dinas Pendidikan 64. Penyusunan Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Sebagai kurikulum operasional. d.7 % responden sekolah (kepala sekolah dan guru) menjawab sama.6 5.8 4. c. Data ini menunjukkan bahwa terdapat sekitar 10% responden yang belum menjawab dengan benar.8 1.

Hal yang sama juga ditunjukkan oleh pernyataan kepala sekolah dan guru (52. b.. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 88 .3%) menyatakan bahwa ”model Kurikulum yang dikembangkan oleh satuan pendidikan lain tidak dapat dijadikan sebagai acuan pengembangan KTSP.5 24.7 1.7 Jawaban a.1 9.5 Kepsek) 2.3 74... kebutuhan dan potensi sekolah Disusun oleh sekolah sebagai model kurikulum Pendidikan 3.0 2. Kecuali.. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 21 pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Acuan yang Digunakan dalam Menyusun KTSP.9 4. Sebagian besar responden yang berasal dari Dinas Pendidikan (74.. Ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa KTSP harus disusun sendiri mengingat situasi dan kondisi sekolah yang berbeda-beda. tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pandangan dinas pendidikan dengan sekolah dalam pengembangan kompetensi yang lebih tinggi untuk satuan pendidikan tertentu. Artinya. Standar Isi Standar kompetensi lulusan Panduan penyusunan kurikulum dari BSNP Model kurikulum satuan pendidikan lain Dinas Pendidikan 5. Hal senada juga ditunjukan oleh pernyataan kepala sekolah dan guru (79. c.. Lebih dari separuh (55. c.7 11.4 79. Kemungkinan Satuan pendidikan Menyusun KTSP dengan Standar yang Lebih Tinggi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Standar isi dan Standar Kompetensi lulusan memnyatakan bahwa satuan pendidikan dapat mengembangkan kurikulum dengan kompetensi yang lebih tinggi dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. b. Acuan Penyusunan KTSP. d...6 6.7 70. kecuali.6 23.3 8. Disusun oleh pusat Disusun oleh sekolah dengan mengacu pada kurikulum nasional Disusun oleh sekolah sesuai dengan kondisi. d.5 7.6%) responden dari dinas pendidikan menyatakan hal tersebut mungkin dilakukan asal tetap mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagai ukuran kompetensi minimal.6 68.7%).a..6%). Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 4.

c. d.4%) menyatakan bahwa hal itu mungkin dilakukan dengan menambah dan memperdalam kompetensi atau materi sesuai dengan ciri dan kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan. Agak berbeda dengan pernyataan kepala sekolah dan guru yang cenderung menambah jam pelajaran (7. dengan menambah.0%).Namun demikian.4 55.1 4.0 52. Mungkin. asal tidak menambah waktu lebih dari 4 jam pelajaran per minggu Dinas Pendidikan 38. harapan Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Batas Akhir penerapan KTSP Hampir semua responden (sekitar 96%) baik yang berasal dari Dinas pendidikan maupun kepala sekolah dan guru menyatakan bahwa paling lambat penerapan KTSP pada tahun Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 89 .6 1. Tabel dan diagram di atas memperlihatkan bahwa semua responden menyatakan tidak ada masalah apabila satuan pendidikan mampu mengembangkan kurikulumnya melebihi standar SI dan SKL asalkan dengan kriteria tertetu. Lebih lanjut lihat pada tabel dan diagram berikut: Tabel 22 Pemahaman Dinas dan Sekolah tentang Kemungkinan Satuan pendidikan Menyusun KTSP dengan Standar yang Lebih Tinggi Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 38.9 Jawaban a.5 7. asal tetap mengacu pada Standar Isi dan SKL sebagai kompetensi minimal Mungkin dengan tidak menambah mata pelajaran Mungkin. Hal ini tidak jauh berbeda dengan pemahaman kepala sekolah dan guru (38. 9.9%). memperdalam kompetensi atau materi sesuai ciri dan kebutuhan satuan pendidikan Mungkin. Hanya sebagian kecil responden dari dinas pendidikan yang menyatakan perlu penambahan jam sebagai konsekuensi dari penaikan standar kompetensi oleh satuan pendidikan.6 1. sebagian responden dari dinas pendidikan (38.9 b.

Sebagian daerah optimis dengan batas akhir tahuan 2007/2008 (14.3 4. 22 dan 23 tahun 2006 oleh Satuan Pendidikan Sebagian besar responden berpendapat bahwa pengaturan jadual pelaksanaan Permendiknas No.A 2010/2011 Sekolah T abel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden berharap bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah seharusnya sudah mulai menerapkan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah paling lambat Tahun Ajaran 2009/2010 10.A 2008/2009 T. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 90 .6 57.2009/2010.A 2007/2008 T. Peranan Gubernur.4 25.4% untuk sekolah).2 52. Lebih lanjut lihat pada tabel dan diagram berikut. b. C d Tahun Ajaran 2007/2008 Tahun Ajaran 2008/2009 Tahun Ajaran 2009/2010 Tahun Ajaran 2010/2011 Dinas Pendidikan 14.1 Harapan Dinas Pendidikan dan Sekolah tentang Limit Waktu Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan 60 40 Dinas Pendidikan 20 0 T.A 2009/2010 T.1 4.4 23. Daerah dan sekolah yang berpandangan demikian umumnya bagi mereka yang telah menerapkan KBK secara keseluruhan.4% untuk Dinas pendidikan dan 18. Bupati dan walikota dalam Pengaturan Jadual Pelaksanaan Permendiknas No. Lebih lanjut lihat tabel dan grafik di bawah ini. 22 dan 23 Tahun 2006 telah sesuai dengan kesiapan satuan pendidikan atas pertimbangan dinas pendidikan setempat.9 Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 18. Tabel 23 Harapan Dinas pendidikan dan Sekolah Tentang Penjadualan Penerapan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Jawaban a.

Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 91 . c.Tabel 24 Pemahaman Dinas Pendidikan dan Sekolah terhadap Peranan Gubernur.7 Jawaban a.1 Dari tes pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa peran dinas pendidikan adalah sangat vital dalam membentuk persepsi. d.4 7.1 13. 22 dan 23 tahun 2006 oleh Satuan Pendidikan Unsur (%) Sekolah (Guru dan Kepsek) 51. Sesuai dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan Secara serempak di seluruh wilayahnya Ditetapkan dan dipertimbangkan oleh dinas pendidikan Ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan pertimbangan dinas pendidikan Dinas Pendidikan 46.3 32.5 8. melakukan sosialisasi dan mengkoordinasikan pengembangan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan. Bupati dan walikota dalam Pengaturan Jadual Pelaksanaan Permendiknas No.4 33. b.5 7.

telah merinci dari silabus: c. Ketepatan rumusan langkah langkah kegiatan. tampak bahwa guru belum memahami konsep dan teknik pembuatan silabus terutama pada bagian perumusan indikator.E. prinsip pembelajaran yang aktif dan umpan baliknya. Rumusan materi. dalam kelas. pada aspek: (1) Kegiatan awal: memuat konsep/kegiatan prasyarat. No 1 Aspek Ketepatan rumusan Komponen Silabus : a. pengalaman belajar yang sesuai. Ketepatan rumusan kegiatan pembelajaran dengan KD (1) Kegiatan pembelajaran bervariasi: (2) Pokok pokok kegiatan dengan kompetensi yang ingin dicapai: e. Secara umum. kuesioner dinas pendidikan. kelompok. Kesulitan dalam membuat silabus akan berdampak pada rumusan RPP yang tidak saling berhubungan. Tujuan observasi adalah untuk memotret secara faktual perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dilihat dari segi: kesesuaianya dengan kebijakan pengembangan KTSP. Dari data hasil observasi menunjukkan bahwa secara rata-rata guru masih menemukan kesulitan dalam membuat RPP yang sesuai agar siswa memperoleh kompetensi seperti yang diharapkan. penugasan. indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai d. problem solving. dari segi: (1) Menggunakan variasi metode (individual. (2) Hubungan metode dengan kompetensi. Ketepatan rumusan penilaian dengan KD: (1)Teknik/bentuk penilaian dengan kompetensi: (2) Rumusan tugas: f. Observasi Kegiatan Pembelajaran Selain menggunakan tes pemahaman atau tes persepsi KTSP. Memuat materi pembelajaran: d. ceramah. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 92 . juga dilakukan observasi pembelajaran. diskusi. yaitu jaminan kompetensi dicapai: c. Rumusan Indikator dengan KD : (1) Minimal dua indikator: (2) Menggunakan kata kerja kemampuan: (3) Rumusan mengacu kompetensi. Memuat alokasi waktu: g. metode pemecahan masalah dsb. hasilnya adalah sebagai berikut. dari segi: Pembahasan hasil Observasi Dalam hal pembuatan silabus. dan kuesiner orangtua. Rumusan Metode. 2 RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan penjabaran operasional dari silabus untuk waktu yang lebih singkat yaitu tiap tatap muka dilaksanakan. SK dan KD dengan SI dan SKL : b. Oleh sebab itu RPP sangat bergantung pada silabus yang telah di buat.aplikasi konsep atau orientasi kelas (2) Kegiatan inti. luar kelas. Hubungan Indikator dengan tujuan pembelajaran: b. klasikal. kuesioner guru dan kepala sekolah.Memuat sumber belajar: Ketepatan rumusan komponen RPP: a. dan teknik penilaian yang dapat mengukur pencapaian kompetensi siswa.

Memuat sumber belajar: PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN Kesesuaian pelaksanaan kegiatan belajar dengan RPP.* Telah merinci kegiatan pada silabus: * Kegiatan dengan kompetensi. Kegiatan inti: (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. saat: a. Kegiatan awal: (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. Ketepatan rumusan penilaian dengan indikator. Kegiatan Akhir (penutup): (1) Lama kegiatan: (2) Hubungan konteks kegiatan dengan materi. indikator atau tujuan pembelajaran: (3) Organisasi kelas yang digunakan dengan tujuan pembelajaran: (4) Kegiatan pembelajaran efektif: c. dari segi: (1) Teknik/bentuk penilaian dengan indikator: (2) Memuat contoh penilaian: (3) Memuat pedoman skoring/kunci jawaban: f.Tingkat pencapaian siswa: c. Tetapi hal ini bertentangan dengan kenyataan sebelumnya yaitu bahwa guru belum mampu membuat RPP yang sesuai dengan silabus. 6 Secara rata-rata guru sudah menggunakan sumber belajar dengan baik dan efektif dalam melaksanakan pembelajaran. penugasan lebih lanjut. indikator atau tujuan pembelajaran: Penilaian: a. 5 Secara rata-rata guru sudah mampu menerapkan prinsipprinsip penilaian untuk mengetahui hasil belajar siswa. Bentuk/teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran: b. indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai: * Memuat lampiran lembar kerja (LK) apabila terdapat penugasan menggunakan lembar kerja (3) Kegiatan penutup. renungan atau lainnya e. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 93 . indikator atau tujuan pembelajaran: b. Kualitas dari konstruksi soal/penilaian: Sumber belajar: 4 Secara rata-rata data ebservasi menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru sudah melaksanakan sesuai dengan RPP yang di buat. memuat rangkuman. Memuat alokasi waktu: g.

3. guru. Aspek Analisis Monitoring ini memnfokuskan pada tiga aspek. (f) bagaimana pengganggaran dan pembiayaan kegiatan mulai dari persiapan (sosialisasi). (c) apakah ada program peningkatan kompetensi melalui sosialisasi. Kemampuan dan Kesiapan Sumber Daya Kemampuan dan kesiapan sumber daya sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan kebijakan. komite/orang tua siswa melalui angket. serta Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. . (c) fungsi Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar yang terdapat dalam Standar Isi dan (d) fungsi Standar Kompetensi Lulusan. workshop. (b) hal-hal apa saja yang dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah/satuan pendidikan. (2) Kesiapan dan kemampuan sumber daya yang ada. dan 34 Tahun 2006. 2. dan implementasi. pengembangan. yaitu: (1) Pemahaman terhadap isi kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Satndar Isi. dan (3) Implementasi atau penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22.BAB V ANALISIS HASIL MONITORING A. Implementasi atau Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. 23. dan wawancara. (d) apakah sarana dan prasarana memadai. kepala sekolah. dan 24 Tahun 2006. Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. tes pemahaman dan wawancara. Unsur-unsur tersebut digali melalui tes pemahaman. Hal ini akan menggambarkan sejauhmana Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 94 . Unsur-unsur yang dikaji adalah (a) apakah jumlah sumber daya manusia memadai. Informasi ini diperoleh melalui pejabat struktural dan staf Dinas Pendidikan. (e) sejauhmana dukungan komite/orang tua siswa terhadap pelaksanaan kurikulum. 1. angket. (b) apakah kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan memadai. dan pelatihan. 23. Unsur-unsur yang dimonitor adalah (a) apakah responden telah memeiliki dokumen dan bagaiaman cara mendapatkan dokumen tersebut. Pemahaman terhadap Standar Isi Dan Standar Kompetensi Lulusan Unsur-nsur yang dijadikan patokan pengkajian adalah (a) hal-hal apa saja yang diatur dalam peraturan tersebut.

silabus. Hal ini dilihat dari naskah KTSP dan perangkatnya yang disusun oleh masing-masing satuan pendidikan. RPP. tes pemahaman dan wawancara. kepala sekolah. Hal senada juga diakui oleh responden yang berasal dari sekolah (kepala sekolah. penilaian dan sebagainya). (e) sejauhmana peran serta masyarakat. Pemberlakuan KTSP sebagai impelementasi dari kebijakan pemerintah sebagaimana yang diamantkan oleh berbagai peraturan perundang-undangan yang mendasarinya. substansi dan strategi strategi implementasi KTSP belum cukup dipahami. 23. Berdasarkan angket yang diberikan kepada pejabat dan staf struktural Dinas Pendidikan provinsi dapat disimpulkan bahwa semua daerah telah melakukan sosialisasi tentang Peraturan Mendiknas Nomor 22. komite/orang tua siswa melalui angket. dapat diterima secara baik oleh pelaksana di lapangan. (g) berapa persen daerah (kabupaten/kota) yang telah melaksanakan sosialisasi. guru. Dilihat dari pemahaman yang diperoleh melalui jawaban angket. Namun. Sebagai contoh. masih banyak persoalan yang harus dituntaskan. tes pemahaman dan wawancara kepada semua responden. penerapkan KTSP di masing-masing satuan pendidikan belum begitu kuat karakteristiknya. (b) apakah sudah menyusun KTSP dan perangkatnya (struktur kurikulum. (c) apakah sudah melaksanakan KTSP. dan upaya yang dilakukan. 1. dan komite/orang tua siswa). . Sungguhpun demikian. dan kebutuhan daerah serta peserta didik. dan 24 tahun 2006.pihak-pihak terkait proaktif dalam mendapatkan informasi. guru. dan KTSP. Hasil Analisis Pemahaman Responden Terhadap Standar Isi. (d) apa dampak. (h) apakah ada koordinasi antar pihak-pihak terkait? Informasi ini diperoleh melalui pejabat struktural dan staf Dinas Pendidikan. B. (f) bagaimana penjadualan penerapan . Standar Kompetensi Lulusan. Akibatnya. Umunya naskah tersebut baru pada tahap ”copy-paste”. misalnya dengan meng-copy sendiri atau menunggu informasi dikirimkan oleh pihak yang berwenang. umumnya responden memahami KTSP disusun dan ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan mempertimbangkan keragaman kondisi. dapat disimpulkan bahwa secara konseptual sebagian besar responden cukup memahami peraturan mendiknas tersebut. kendala. parsoalan tersebut antara lain adalah : Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 95 . potenai.

Perlu pendampingan yang lebih strategis dan teknis dalam penyusunan KTSP 1. 2. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. terutama dalam penggunaan metode pemeblajaran yang monoton. tugas-tugas yang harus mereka selesaikan menjadi bertambah banyak sehingga melelahkan. menurut pengakuan responden. penggunaan sumber belajar belum bervariasi. Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. Hal ini mengkibatkan proses pembelajaran belum efisien dan efektif. termasuk dalam hal pengunaan sumber belajar yang tidak terbatas pada buku tertentu saja. Namun upaya belum cukup mengingat proses pembelajaran yang berlangsung masih mengikuti pola lama. dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. 2. Format rapor KTSP berlum mampu memberikan informasi tentang prestasi peserta akademik maupun non akademik peserta didik. Dengan adanya sejumlah persoalan di atas. Kemampuan dan Kesiapan Sumber Daya 1. daerah dan sekolah mampu mengatasi berbagai persoalan tersebut melalui pemberian pengertian kepada semua pihak. terutama dalam hal pengadaan buku-buku pelajaran dan biaya kegiatan pembelajaran. proses penilaian belum sesuai dengan karakter dan tingkat kompetensi yang dituntut. perlu dikembangkan suatu sistem sosialisasi dan pembinaan terhadap satuan pendidikan agar pengelolaan pembelajaran lebih efisien dan efektif.Sebagian orang tua mengeluhkan tentang adanya penambahan biaya pendidikan shubungan dengan penerapan KTSP. potensi sekolah. Sebagian orang tua sering menerima keluhan dari anak-anak mereka bahwa setelah menerapkan KTSP. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. Guru belum mampu membuat silabus yang baik dan kontekstual Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 96 . Silabus yang di buat guru belum menunjukkan penjabaran SK dan KD yang disesuaikan dengan potensi daerah/wilayah. 3. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 3. Informasi ini diperoleh melalui observasi dan wawancara yang dilakukan tehadap siswa. Guru sudah membuat silabus dan RPP 2. Sejauh ini.

3. efisiensi dan tingkat kesesuaiannya denga kompetensi dasar yang hendak di capai. Walaupun sebagian guru dalam observasi ini sudah membuat silabus dan RPP. tetapi dari silabus dan RPP yang dibuat tampak bahwa guru belum menguasai konsep pengembangan silabus dan teknik implementasinya sesuai kondisi wilayah. 7. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan.4. 1. program mulok. 9. Guru belum mampu membuat RPP 5. dan program pengembangan diri. Silabus yang di buat guru belum menunjukkan penjabaran SK dan KD yang disesuaikan dengan potensi daerah/wilayah. Secara rata-rata guru sudah baik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan kesusuaian isi materi yang diajarkan dengan silabus yang telah di susun. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. namun masih perlu obsevasi yang lebih rinci berkaitan dengan kualitas instrumen penilaian yang digunakan. 6. 23. 8. 2. Implementasi atau Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22. Guru sudah mampu merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar dengan baik . 11. kondisi sekolah dan karakteristik peserta didik. potensi sekolah. dan 34 Tahun 2006. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 10. Guru belum mampu membuat silabus yang baik dan kontekstual Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 97 . Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan efektivitas. dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. 3. Perlu pendampingan yang lebih strategis dan teknis dalam penyusunan KTSP seperti penyusunan APBS. Dalam merencanakan sumber belajar yang akan digunakan guru sudah merencanakan dengan baik.

serta hasil tes pemahaman. Dari hasil observasi pembelajaran. Secara rata-rata guru sudah baik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan kesesuaian isi materi yang diajarkan dengan silabus yang telah di buat 7. dan dinas pendidikan. Guru belum memahami prinsip pengembangan SK menjadi KD dan menjabarkannya menjadi indikator. kuesioner guru. Implikasinya adalah guru belum mampu mengembangkan indikator soal dan mengembangkan instrumen penilaian yang tepat. 8. Guru belum mampu membuat RPP 5. Dalam merencanakan sumber belajar yang akan digunakan guru sudah merencanakan dengan baik. namun ini perlu dipertajam sampai tingkat operasionalisasi dalam pengembangan dan penerapan kurikulum mencakup komite sekolah. 6. orangtua siswa. efisiensi dan tingkat kesesuaiannya denga kompetensi dasar yang hendak di capai. kepala sekolah. dinas pendidikan dan masyarakat. Guru sudah mampu merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar dengan baik. penerapan KTSP pada penyelenggaraan pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan SI dan SKL. namun perlu kajian lebih mendalam berkaitan dengan efektivitas. pengawas. dapat disimpulkan beberapa hal berikut. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dari SDM pada tingkat sekolah maupun dinas pendidikan. 2. pemahaman tentang KTSP sudah memadai.4. namun masih perlu obsevasi yang lebih rinci berkaitan dengan kualitas instrumen penilaian yang digunakan. 1. sekolah. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 98 . pengalaman belajar dan penilaian.

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Hasil monitoring menunjukkan 81 % responden menyatakan telah mengetahuinya. Hasil monitoring menunjukkan 81 % responenden menyatakan tahu tentang KTSP tetapi tidak memahaminya dengan baik. 5. KTSP sebagai model kurikulum yang berdasar pada Standar Isi dan dikembangkan dengan memperhatikan potensi dan karakteristik wilayah/sekolah belum disosialisasikan dengan baik. dinas pendidikan dan masyarakat. aktifitas dan kreatitivitas siswa dalam belajar hampir semua responden menyatakan bahwa penggunaan KTSP membuat putra/putri mereka lebih rajin belajar. REKOMENDASI Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 99 . namun ini perlu dipertajam sampai tingkat operasionalisasi dalam pengembangan dan penerapan kurikulum mencakup komite sekolah. pengawas. 82 % responden menyatakan menerima keluhan dari putra/putrinya berkaitan dengan tugas-tugas yang diberikan. Penggunaan KTSP di tingkat satuan pendidikan cukup signifikan dalam meningkatkan motivasi. 3. 1. Penggunaan KTSP sebagai kurikulum pendidikan saat ini diterima dengan baik oleh orang tua walaupun muncul keluhan-keluhan dari pihak siswa karena perubahan pola pembelajaran (responden menyatakan senang dengan penggunaan KTSP. Format rapor KTSP berlum mampu memberikan informasi tentang prestasi peserta akademik maupun non akademik peserta didik. KESIMPULAN Secara umum. sekolah. namun tidak memahami subtansinya 2. (77% orang tua menyatakan tidak puas dengan format rapor hasil belajar yang diterima) B. 6. 4. Substansi KTSP dan strategi implementasinya belum dipahami dengan jelas oleh pihak sekolah dan orang tua. pemahaman tentang KTSP sudah memadai. namun dapat mengatasinya dengan memberikan pemahaman dan pengertian). Ada peningkatan biaya yang signifikan dengan penggunaan KTSP (85 % responden menyatakan tambahan biaya yang timbul cukup signifikan dengan aktivitas belajar yang terjadi).

Perlu sosialisasi lebih jauh tentang teknik penilaian (PPK. 7. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kompetensi dari SDM pada tingkat sekolah maupun dinas pendidikan. 4. Perlu tindak lanjut dalam sosialisasi pemahaman susbstansi KTSP kepada para stake holder dan satuan pendidikan. Afektif dan Psikomotor) dan penggunaan rapor sebagai informasi prestasi akademik dan non akademik peserta didik. maka untuk melihat adanya perkembangan kemampuan guru-guru dalam melaksanakan KTSP di lapangan. Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 100 . Agar monitoring ini dapat jauh lebih bermanfaat.Penerapan KTSP pada penyelenggaraan pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan SI dan SKL. Perlu perbaikan dalam teknik sosialisasi (pendampingan dan monitoring KTSP) agar hasil yang dicapai lebih maksimal 6. 5. sebaiknya secara periodik (1 tahun sekali) dilakukan monitoring dan berupaya untuk membandingkannya.

Prof... Sahertian. Jakarta. - Suryana Sumantri. Sc. PT Remaja Rosdakarya. Drs.Ed.. 2001 - M.M. Manajemen Pelatihan..Drs. 2002 Agus Dharma. Admistrasi Pendidikan. Angkasa.. Ngalim Purwanto. Drs. Bandung.Daftar Pustaka - Subagio A. Supervisi Pendidikan. MP. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung. Fakultas psikologi Universitas Pajajaran. Modul Implementasi kurikulum Management of Trainers. Ardadizya Jaya. Rineka Cipta. 2003. Dr. Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. 2000 Oteng sutisna. M. 2002 - Piet A.Ed. Prof... 1983 Laporan AkhirEvaluasi pelaksanaan KTSP oleh Satuan Pendidikan 2008 101 .. Pusimplementasi kurikulum Pegawai Depdiknas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful