P. 1
Pendidikan Indonesia Dalam Kerancuan Ideologi

Pendidikan Indonesia Dalam Kerancuan Ideologi

|Views: 1,031|Likes:
Published by ziyya_elhakim

More info:

Published by: ziyya_elhakim on Sep 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/21/2013

pdf

text

original

PENDIDIKAN INDONESIA DALAM KERANCUAN IDEOLOGI: Ilusi Kurikulum Pendidikan dalam Kuasa Neoliberalisme Oleh Rum Rosyid Diakui

atau tidak, dunia pendidikan kita sungguh telah terperangkap ke dalam kemelut yang mungkin belum pernah terbayangkan semula. Kritik sistim dan bongkar-pasang kurikulum -seperti yang ditempuh selama ini- ternyata tak pernah memuaskan. Maka apa salahnya jika kita melirik kepada ideologinya. Mungkin di sana ada jawabnya. Dikatakan oleh seorang filsuf pendidikan, Paulo Freire, bahwa tidak ada pendidikan yang netral dan bebas nilai. Bahkan tulisan yang Anda baca sekarang inipun cukup banyak memuat ideologi yang saya yakini. Permasalahannya adalah,apakah Anda peduli? jika ideologi kita sama,maka Anda akan melanjutkan membaca,dan jika ideologi Anda berbeda dengan saya, sebaiknya Anda juga melanjutkan membaca karena paling tidak Anda mulai belajar untuk menerima perbedaan ideologis. Semoga ini akan menyenangkan. Pendidikan hingga saat ini diyakini oleh sebagian besar orang sebagai kegiatan mulia,mengandung kebajikan, dan sekali lagi bebas nilai. Pikiran kita selama ini masih terendam mitos, tak luput juga para pendidik banyak yang tidak kunjung siuman bahwa mereka punya andil besar dalam pertarungan ideologi dan politik. Ideologi (inggris);berasal dari bahasa Yunani ide (idea/gagasan) dan logos (studi tentang, ilmu pengetahuan tentang). Secara harfiah,sebagaimana dalam metafisika klasik, ideologi merupakan ilmu pengetahuan tentang ide-ide, studi tentang asal-usul ide. Dalam pengertian modern, ideologi mempunyai arti negatif sebagai teorisasi atau spekulasi dogmatik dan khayalan kosong yang tidak betul atau tidak realistis; atau bahkan palsu dan menutup-nutupi realitas yang sesungguhnya. Dalam pengertian yang lebih netral, ideologi adalah setiap sistem gagasan yang mempelajari keyakinan-keyakinan dan hal-hal ideal filosofis, ekonomis, politis, sosial. IDEOLOGI • Diciptakan oleh Desstutt de Tracy tahun 1796 di perancis. Science of ideas, the study of origins, evolution and nature of ideas. Namun telah terjadi pergeseran sehingga tidak ada satu-satunya pengertian subtansial. • Ricoeur (1986) ; mengandung sifat dasar permulaan yang sangat mendua, ambigu: positif dan negatif Konstruktif dan destruktif. Karena itu ideologi perlu disertai presisi dan proporsinya yang jelas. Presisi: • Pranarka ( 1985) Ideologi suatu cara berpikir dan ideologi sebagai materi yg dibahas dalam pemikiran itu. • Sydney Hook / Bachtiar (1976) Ideologi sebagai pandangan dunia/kosmos tempat manusia di dalamnya, yang merupakan bimbingan kegiatan politik dlm arti yang seluas- luasnya. • Karl Marx Ideologi sebagai kesadaran palsu mengenai kenyataan- kenyataan sosial ekonomi dan merupakan angan-angan kolektif yg diperbuat & ditanggung bersama oleh kelas sosial tertentu. Ideologi Pendidikan Pendidikan dimanapun dikepung situasi dilematis,pro status quo ataukah ingin menjadi agen transformasi sosial menuju masyarakat yang sadar. Dalam buku Ideologi-ideologi Pendidikan oleh William F O’neil, ahli pendidikan University Of Southern California AS ini mengupas enam ideologi yang berkembang di masyarakat dunia. ideologi-ideologi itu adalah: fundamentalisme, intelektualisme, konservatisme, liberalisme, liberasionisme, dan anarkisme. Berbagai ideologi ini kemudian disederhanakan kedalam tiga kelompok besar: konservatif, liberal, dan kritis.

Para pendukung konservatif menganggap ketidak adilan sosial sebagai kodrat. Mereka berpandangan kaum miskin, anak jalanan, dan kaum kriminal, semuanya menderita karena kesalahan mereka sendiri. Kaum konservatif mengajukan bukti-bukti dari mereka yang mau berusaha banyak yang berhasil dalam studi,karier,dan hidup bebas di luar penjara. Pendukung liberal beranggapan, pendidikan tidak berkaitan dengan persoalan ekonomi dan politik. Mereka tidak melihat kaitan pendidikan dengan struktur kelas,dominasi politik ,hegemoni budaya,dan diskriminasi jender. Inilah paradigma pendidikan yang berkembang saat ini di Indonesia. Mekanisme pe-rangking-an, untuk memacu persaingan antar murid,membangun gedung-gedung,dan semua hal yang dominan kepada hal-hal fisik, pada akhirnya melalaikan pembangunan mental dan moral. Akibatnya kini kita terperosok dalam pertikaian antar etnis,agama, dan integrasi wilayah. Paradigma liberal hanyalah kosmetik. Ujung-ujungnya adalah human investment. Bangsa Indonesia telah menjadi bagian sekaligus korban dari mesin besar industri kapitalisme. Paradigma liberal inilah yang mendominasi segenap pemikiran maupun praktik pendidikan. Paradigma ini berakar pada cita-cita masyarakat Barat tentang individiualisme. Sejarah paham ini terkait erat dengan kebangkitan kelas menengah yang diuntungkan kapitalisme. Pengaruh paradigma liberal, di Indonesia, tampak dalam pendidikan yang mengutamakan prestasi melalui mekanisme persaingan antarmurid. Pe-ranking-an murid implikasi belaka dari paradigma ini. Penganut paradigma liberal hanya sibuk dengan reformasi bersifat kosmetik: membangun prasarana dan sarana pendidikan seperti perluasan gedung sekolah, perpustakaan, fasilitas olahraga, laboratorium, komputer, dan menyehatkan rasio jumlah guru-murid. Pun investasi untuk meningkatkan pengajaran seperti cara belajar siswa aktif (CBSA). Paradigma kritis pendidikan menghendaki perubahan struktur sosial secara fundamental. Pendidikan ini mendekonstruksi struktur-struktur sosial,ekonomi, politik, dan budaya yang melambangkan ketidakadilan. Paradigma kritis menghendaki perubahan struktur sosial secara fundamental. Pendidikan mendekonstruksi struktur-struktur sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang melambangkan ketidakadilan. Visi pendidikan adalah melakukan kritik atas ideologi dominan sebagai wujud preferential option for the poorpemihakan terhadap rakyat miskin yang menderita. Tugas utama pendidikan, meminjam istilah sosiolog Peter L Berger, meniadakan piramida korban manusia buntut pembangunanisme yang gelojoh, tamak, korup, zalim, dan manipulatif. Paradigma konservatif memelihara status quo, sedangkan paradigma liberal ujungujungnya human invesments untuk mesin besar industri kapitalistik. Paradigma kritis pendidikan menghendaki perubahan struktur sosial secara fundamental Paradigma kritis pendidikan menghendaki perubahan struktur sosial secara fundamental. Menurut William O'neil(2001) bahwa pendidikan kalau boleh diibaratkan seperti seorang musafir yang sedang berada pada persimpangan jalan. Jalan mana yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan adalah pilihan. Begitu juga dengan pendidikan, memilih jalan itu merupakan hal yang amat penting dan menentukan keberhasilan. Akan tetapi, dalam pendidikan yang menjadi persoalan adalah apakah pendidikan akan melegitimasi sistem dan struktur sosial yang ada ataukah berperan ritis dalam usaha melakukan perubahan

sosial dan transformasi menuju dunia yang lebih adil. Dari adanya dua pilihan itulah, akhirnya melahirkan Ideologi pendidikan liberal dan Kritis. Kedua paradigma tersebut dijabarkan sebagai berikut. Menurut paradigma kritis, pendidikan merupakan arena perjuangan politik. Dalam perspektif kritis, urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis, terhadap 'the dominant ideologi' kearah transformasi sosial. Tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistim dan sruktur ketidak adilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistim sosial yang lebih adil. Pendidikan tidak bisa bersikap netral, bersikap obyektif maupun berjarak dengan masyarakat (detachment) seperti anjuran positivisme. Visi pendidikan adalah melakukan kritik terhadap sistim dominan sebagai pemihakan terhadap rakyat kecil dan yang tertindas untuk mencipta sistim sosial baru dan lebih adil. Dalam perspektif kritis, pendidikan harus mampu menciptakan ruang untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis untuk transformasi sosial. Dengan kata lain tugas utama pendidikan adalah 'memanusiakan' kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistim dan struktur yang tidak adil. Kedua yakni paradigma Liberal, berangkat dari keyakinan bahwa tidak ada masalah dalam sistim yang berlaku ditengah masyarakat, masalahnya terletak pada mentalitas, kreativitas, motivasi, ketrampilan teknis, serta kecerdasan anak didik. Paradigma pendidikan liberal kemudian menimbulkan suatu kesadaran, yang dengan meminjam istilah Freire (1970) disebut sebagai kesadaran naif. Keadaan yang di katagorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat 'aspek manusia' menjadi akar penyebab masalah masyarakat. Dalam kesadaran ini 'masalah etika, kreativitas, 'need for achevement' dianggap sebagai penentu perubahan sosial. Jadi dalam menganalisis misalnya mengapa suatu masyarakat miskin menurut paradigma pendidikan liberal karena 'salah' masyarakat yang miskin itu sendiri, yakni mereka malas, tidak memiliki kewiraswataan, atau tidak memiliki budaya 'membangunan' dan seterusnya. Oleh karena itu 'man power development' adalah sesuatu yang diharapkan akan menjadi pemicu perubahan. Pendidikan dalam kontek ini tidak mempertanyakan systim dan struktur yang berlaku, bahkan systim dan struktur yang ada dianggap sudah baik dan benar. Dalam memandang tentang realitas sosial yang sedang berjalan, kaum liberal lebih berorientasi pada upaya menyesuaikan “subyek” terhadap realitas yang melingkupinya. Dengan demikian, berdasarkan pandangan ini, yang harus berubah adalah “subyeknya”, dalam hal ini peserta didik, agar bisa beradaptasi dengan sistem dan struktur yang sedang berjalan. Berkaitan dengan pendidikan, kaum liberal beranggapan bahwa persoalan pendidikan terlepas dari persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Dan pendidikan tidak memiliki kewajiban untuk menjadi pendorong terjadinya perubahan sosial. Pendidikan kemudian lebih diarahkan pada penyesuaian atas sistem dan struktur sosial yang berjalan. Yang lebih diperhatikan adalah bagaimana meningkatkan kualitas dari proses belajar mengajar sendiri, melalui pembangunan fasilitas dan kelas yang baru, modernisasi peralatan sekolah, penyeimbangan rasio guru-murid. Selain itu juga berbagai investasi untuk meningkatkan metodologi pengajaran dan pelatihan yang lebih effisien dan partisipatif, seperti kelompok dinamik (group dynamics) 'learning by doing', 'experimental learning', ataupun bahkan Cara Belajar Siswa Aktif

(CBSA) sebagainya. Usaha peninkatan tersebut terisolasi dengan system dan struktur ketidak adilan kelas dan gender, dominasi budaya dan represi politik yang ada dalam masyarakat. Kaum Liberal sama sama berpendirian bahwa pendidikan adalah a-politik, dan "excellence" haruslah merupakan target utama pendidikan. Kaum Liberal beranggapan bahwa masalah mayarakat dan pendidikan adalah dua masalah yang berbeda. Mereka tidak melihat kaitan pendidikan dalam struktur kelas dan dominasi politik dan budaya serta diskriminasi gender dimasyarakat luas. Bahkan pendidikan bagi salah satu aliran liberal yakni 'structural functionalisme' justu dimaksud sebagai sarana untuk menstabilkan norma dan nilai masyarakat. Pendidikan justru dimaskudkan sebagai media untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai nilai tata susila keyakinan dan nilai nilai dasar agar masyarakat luas berfungsi secara baik. Pendidikan macam apa yang melahirkan pemuda seperti Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir atau Haji Agus Salim. Sekolah seperti apa yang kemudian meluluskan anak-anak muda yang punya pikiran raksasa dan tindakan besar. Sebab zaman dimana mereka tumbuh adalah masa dimana kolonialisme primitif sedang tumbuh begitu kejam dan keras. Masa itu dunia sedang mengalami pertarungan ideologi yang keras dan pertempuran yang tak henti antar berbagai negara. Pemuda-pemuda itu tumbuh tidak di masyarakat yang sudah mengalami kemajuan pendidikan tetapi di tengah iklim feodalisme yang masih mencekik. Dalam usia yang masih belasan tahun mereka punya pikiran yang melampaui batas-batas geografis negeri, dan bahkan pada usia 20-an ada banyak diantara mereka yang menjadi pemimpin pergerakan. Sekolah seperti apa yang mampu mencetak pemuda semacam mereka? Saya ingin kutipkan sekolah guru yang diikuti oleh Tan Malaka pada tahun 1895: -Setiap hari para murid harus belajar dari pukul 8 sampai pukul 17 dengan istirahat dua jam pada tengah hari. Juga pada hari rabu sore dan sabtu sore bel baru berbunyi pukul 5. Tetapi setiap hari diadakan satu jam gerak badan. Jumat pagi di lapangan dan pada Rabu sore dan Sabtu sore dilakukan pekerjaan tangan (kayu, karton dan tanah liat) Mata pelajaran yang terpenting adalah bahasa Belanda. Mata pelajaran lain: berhitung, ilmu ukur, mengukur tanah, ilmu bumi, sejarah pribumi, ilmu alam (yang dianggap penting untuk melenyapkan takhayul), ilmu hayat, ilmu hewan, ilmu tumbuh-tumbuhan (sebuah kebun di pekarangan belakang sekolah dipakai dalam mata pelajaran ini, yang membicarakan masalah penyuluhan pertanian) ilmu pendidikan, menggambar, menulis dan menyanyi... mereka tinggal di asrama dengan syarat yang ditentukan, dan ‘mereka pun harus menyeka bersih ruang depan dan pinggiran-pinggiran selokan’Kita kemudian tahu, dalam sejarah kelak Tan Malaka adalah salah satu pencetus sekolah SI yang sangat anti kolonial dan itu sebabnya sekolah itu dipaksa tutup oleh Belanda. Sekolah guru (kweekscholl), dimana Tan Malaka sempat mendapat pendidikan, resmi dibuka pada bulan April 1852 dengan batas usia murid yang diterima 14-17 tahun dan mereka harus berasal dari keluarga baik-baik. Perkembangan paling pesat dalam pendidikan di masa kolonial adalah dibuatnya UU Pendidikan yang merupakan rancangan dari kaum Liberal yang dikomandoi oleh Menteri Jajahan van de Putte . Tak cukup dengan itu, pada tahun 1869 pembiayaan sekolah yang merupakan tanggungan

sekolah, sejak 1869 oleh Raja Belanda ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Sikap politik Belanda mengalami perubahan besar ketika kaum liberal memenangkan pertarungan politik dengan menempatkan Mr JH Abendanon sebagai Direktur Pendidikan dan Industri (1900-5) dan A.W.F Idenburg sebagai menteri Jajahan (1902-5) Abendanon kemudian sangat terkenal dengan konsep pendidikan bagi ibu Jawa, yang kelak akan memunculkan perempuan besar, Kartini. Hasrat untuk menjangkau Barat itulah yang kemudian dirumuskan dalam sekolah kolonial di masa itu dan kebijakan politik etis memang membuka kesempatan bagi banyak pribumi untuk mencicipi sekolah Barat. Tapi bukan tidak ada kritik atas pendidikan kolonial saat itu. Haji Agus Salim adalah seorang diantara banyak tokoh pergerakan yang beranggapan bahwa pendidikan kolonial hanya meluluskan manusia-manusia budak yang kelak akan berhamba pada sistem penjajah. Di tahun 1912 Haji Agus Salim mendirikan sebuah sekolah HIS (Hollandsche Inlandsche Scholl) di Kota Gedang sebagai petunjuk kalau dirinya tak setuju dengan model pendidikan kolonial. Tak hanya dengan itu, dididiknya anak-anak Agus Salim dengan caranya sendiri dan sejarah mengetahui bagaimana kecerdasan anakanak Salim. Dalam bahasa yang lebih ringkas, pendidikan pada masa-masa itu merupakan cara untuk menegaskan dimana posisi kita! Itu pulalah yang kemudian membangun hubungan antara murid dan guru bukan semata-mata fungsional melainkan ideologis. Sukarno misalnya, mengenal Marxisme bukan dari buku melainkan guru HBS-nya yang bernama C Hartogh. Ia seorang guru bahasa Jerman sekaligus anggota dari Indische Social-Democratische Vereeniging (ISDV) yang menjadi embrio bagi gerakan kiri. Paling tidak ada tiga mahaguru politik etis yang memang kemudian memberi banyak pengaruh pada kaum pergerakan, yakni: Ch Snouck Hurgronje, C van Vollehnoven dan G.A. J Hazeu. Ketiganya itulah yang mulai memandang pendidikan bukan saja sebagai upaya untuk menstransfer pengetahuan melainkan juga taktik bagi kaum pergerakan. Pendidikan, pada masa itu adalah, upaya pembebasan. Makanya Sjahrir dan Hatta kemudian mendirikan gerakan yang bernama: Pendidikan Nasional Indonesia, yang tujuanya: pertama-tama hendak mendidik, dan dengan demikian memetakan jalan menuju kemerdekaan... karenanya tujuan pendidikan, bukanlah ‘untuk menciptakan agitasi’ melainkan untuk ‘membawakan kejernihan’. Kilasan historis ini membawa kita pada jawaban mengapa pendidikan mampu mencetak manusia-manusia besar itu tadi. Pendidikan adalah pembebasan dari belenggu penindasan maupun kepercayaan yang naif. Kutipan Sjahrir diatas menjelaskan bagaimana sesungguhnya ideologi pendidikan kita itu berdiri: pendidikan, kata Sjahrir: pertama memperbaiki hidup lebih dulu, dan kemudian menunjukkan sikap panutan, kemudian membangkitkan kekuatan dan semangat rakyat dan rela mengorbankan kepentingan diri sendiri. Tujuan ideologis pendidikan itulah yang hari-hari ini begitu kita prihatinkan. Silang-sengketa masalah pendidikan makin hari makin kerdil dari tujuan utama pendidikan: urusan soal kesejahteraan, ongkos sekolah, bangunan sekolah yang buruk, siswa yang tidak lulus dan buku pelajaran yang meluapkan kasus korupsi telah memadamkan peran pendidikan dari tujuan utama: pembebasan. Mengerikan menyaksikan pendidikan berjalan tanpa sandaran ideologis bahkan tidak melahirkan

peserta didik yang mampu berpikir dan bertindak besar. Yang menonjol misalnya dalam perumusan buku pelajaran. Buku sejarah hanya menyorongkan citra sejarah. Kelemahanya yang paling berat adalah diproyeksikannya masa sekarang ke dalam masa lampau secara tetap. Kedua pelajaran sejarah hampir tanpa teori sehingga pelajaran sejarah menjadi berat, karena daya imajinasi-kesadaran serta citra sejarah-tidak dihidupkan. Itu sebabnya pelajaran sejarah banyak sekali menghidupkan mithos-mithos yang sering dimanfaatkan untuk kegunaan taktis politik . Buku pelajaran hampir tidak mengenalkan gambaran tentang realitas, apalagi dengan mengandalkan soal-soal yang sepenuhnya hapalan. Buku pelajaran yang didesain tidak menarik, tanpa ada lukisan kenyataan yang imaginatif dan kurang menampung berbagai perkara-perkara masyarakat akan menumpulkan nalar berpikir peserta didik dan tidak mendorong sikap berpihak mereka. Sedikit upaya dilakukan oleh guru tetapi itu selalu menambang gugatan dari beberapa pihak yang dirasa menganggu. Hal yang sama pula pada methode pengajaran yang sifatnya masih mengkonfirmasi. Beberapa methode baru yang ditawarkan nyatanya hanya berlaku pada beberapa lembaga pendidikan mahal dan selalu membutuhkan pembiayaan tinggi. Penghambaan pada kekuasaan didorong sedemikian rupa dalam dunia pendidikan kita melalui, pembelajaran bahwa keluarga dan jaringan perluasanya merupakan dasar bagi kehidupan mereka, dan bahwa hubungan-hubungan itulah yang membentuk bangsa. Bangsa dan keluarga kemudian tak bisa dibedakan secara lugas, bahkan kekuasaan dengan keluarga kemudian batasanya begitu tipis. Itu sebabnya pendidikan kemudian memunculkan para terdidik yang kadang susah membedakan antara kepentingan umum dengan kepentingan keluarganya sendiri. Alumni pendidikan pada masa Orde Baru, diantaranya adalah mereka yang mencicipi kursi kekuasaan sekarang ini. Tanpa pandangan besar, picik terhadap perbedaan, tidak tahu malu pada keadaan rakyat dan kurang terdidik. Jika kita ingin melampaui apa yang sudah dihasilkan oleh pendidikan kolonial, maka mandat pendidikan bukan lagi mencerdaskan akan tetapi berpihak pada kepentingan luas rakyat. Hendaknya pendidikan mengembalikan fungsi pembebasan dan keberpihakan, bukan hanya memenuhi kepentingan-kepentingan pasar. Tak bisa lagi pendidikan hanya meluluskan anak-anak yang sekedar memenuhi nilai ujian nasional, tetapi juga mampu untuk merumuskan dan mengartikulasikan tuntutan-tuntutan lingkunganya dalam bahasa yang lebih sistematis dan segar. Ideologi pendidikan memang tak bisa ditemukan hanya dalam bunyi undang-undang melainkan dihidupkan dalam pratek-praktek pembelajaran. Guru merupakan salah satu sendi bagaimana hidupnya ideologi keberpihakan dalam dunia pendidikan dan pemerintah merupakan tiang utama penyangganya. Sudah barang tentu jangan bertanya banyak tentang apa saja yang dilakukan oleh pemerintah dalam soal pendidikan, karena kita tahu sendiri, pendidikan bukan soal yang menarik diurus! Mencari basis ideologi Pendidikan bukan hanya mengharuskan kita untuk berkaca pada masa lalu melainkan juga meraba ‘keinginan’ kita terhadap pendidikan. Pendidikan adalah bagian dari rekayasa sosial. Melalui pendidikanlah masyarakat dibentuk dan diarahkan kepada tujuan-tujuan tertentu. Tetapi pendidikan juga merupakan produk masyarakat. Dengan kata lain, ia juga bisa dilihat sebagai sebuah proses sosial.

Sebab, bagaimanapun sistim atau modelnya, pendidikan tak mungkin terbebas dari pengaruh kesadaran dunia, cita-rasa, dan selera tertentu. Bahkan sangat boleh jadi ia dibentuk di bawah tekanan belenggu-belenggu struktural yang sedang berlaku. Di dalam kritik ideologi (bukan kritik sistim) kita tak akan bertanya, misalnya; berapa sekolah telah dibangun, berapa sarjana telah dihasilkan, serta bagaimana kualitasnya atau bagaimana meningkatkan semangat belajar pada siswa. Kritik ideologi berbicara tentang sejarah, aspek psiko-sosiologis, bentuk dan isi pendidikan, serta hubungannya dengan tingkah laku masyarakat. Feodalisme, masyarakat agraris, pengalaman dijajah 350 tahun, dan situasi dunia internasional merupakan di antara faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk dan ideologi pendidikan bangsa Indonesia. Tentu saja kita pun tak boleh lupa, bahwa “Politik Ada Maunya” merupakan pelajaran pertama yang kita warisi dari penjajahan Belanda. Pribumi -ketika itu- dididik dan dicetak menjadi administrateur, tidak lain untuk dijadikan kaki-tangan politik kolonialis-imperialis mereka. Karena nya, wajar kalau kemudian setelah merdeka, kursi para pengambil keputusan didominasi mereka yang berselera dan bercita-rasa “indo”. Sebab hanya merekalah yang siap. Meski mereka adalah nasionalis-nasionalis sejati dan telah berjasa bagi republik ini, namun tak bisa dipungkiri bahwa -secara tak langsung- lewat sebagian dari mereka pulalah pengkultusan terhadap “barat” mulai ditanamkan. Dan yang demikian terjadi hampir di setiap bekas negara jajahan. Dendam terhadap penjajah secara menakjubkan berubah menjadi rasa “berterimakasih”. Kemudian mulailah “barat” menjadi acuan segala nilai kebajikan. Menjadi tolok ukur kesejahteraan, demokrasi, toleransi, atau apa saja. Di dalam suasana kejiwaan semacam inilah bangsa kita tumbuh dan dibesarkan Di awal masa kemerdekaan kita tak punya pilihan selain meneruskan target-target lama. Tentu saja kali ini di dalam semangat nasionalisme. Pendidikan diselenggarakan dalam rangka memenuhi kebutuhan sektor negara. Dan karena hampir seluruh sektor swasta hanya dikuasai keturunan Arab, Cina, dan India, mengabdi sebagai pegawai negeri seakan menjadi manifestasi semangat mengisi kemerdekaan ketika itu. Tetapi karena belum banyak orang pintar, apalagi karena sebelumnya Belanda hanya mendirikan sekolah tinggi untuk hukum, teknik, dan kedokteran saja, jangan heran kalau ketika itu ada sarjana duduk di kementerian mengurus masalah di luar disiplin ilmu yang ia kuasai. Begitu juga di dunia pendidikan, tak sedikit yang mengajar bahkan diangkat menjadi guru besar di bidang spesialis yang mereka bukan ahlinya. Tentu ini berakibat tidak saja kepada mutu, tetapi juga kepada paradigma ilmunya. Lahirnya jaringan kerja-sama antara perguruan tinggi nasional dengan universitasuniversitas seperti Cornell University, UCLA, atau Massachusetss Institute of Technology di tahun 50-an ikut mewarnai perkembangan ilmu dan pendidikan kita. Indonesia pernah menjalin hubungan “Bapak-Anak Angkat” dengan Cornell University. Program ini secara tak langsung mempengaruhi bentuk kurikulum perguruan tinggi kita ketika itu dalam hal: apa yang harus dan apa yang tak perlu dipelajari, obyek penelitian, serta metodenya. Kalau Marshall Plan “membantu” kita supaya bisa jadi partner dagang, maka program -yang popular dengan sebutan Formington Scheme ini- “membantu” kita agar bisa jadi sparing partner berpikir. Ini merupakan pelajaran selanjutnya bagi bangsa kita tentang “Politik Ada Maunya”. Situasi politik awal tahun 60-an merubah arah perkembangan keilmuan dan pendidikan kita ketika itu. Kerja sama dengan universitas-universitas Amerika terputus. Ilmu-ilmu

sosial berparadigma sosialis mulai tampil. Buku pelajaran sejarah juga ikut disesuaikan dengan haluan politik saat itu. Menjadi orang kaya ketika itu identik dengan kapitalis. Meski telah berjasa menciptakan lapangan kerja, wiraswastawan yang sukses mudah dicurigai telah berkolaborasi dengan imperialis, atau dituduh sebagai antek-anteknya. Akhirnya tak sedikit orang menempuh “jalur partai berkuasa” sekedar demi mempertahankan hidup. Ketika Orde Baru berkuasa, keadaan berbalik. Pulangnya para sarjana kita dari studinya di Barat menambah barisan orang pintar. Para pendekar yang baru turun gunung itu mengoleh-olehi kita ilmu dan teori-teori sosial yang lagi “ngetren”, Modernism-nya Mc Clelland misalnya. Kita juga diperkenalkan dengan macam-macam isme pembangunan. Dan kita menjadi tak lagi canggung bergaul dengan mazhab-mazhab yang dominan di Berkeley, Sorbone, atau tempat-tempat lainnya, yang sedikit banyak juga bicara pendidikan. Meski tidak semua agennya dari bangsa kita itu langsung berselera Amerika atau Prancis, tetapi kesan keberpihakan kepada logika-logika liberalis -baik dalam teori-teori yang diajarkan di sekolah-sekolah maupun dalam praktek sosialnya yang berwujud kebijakankebijakan pemerintah- sangat terasa. Ditandai dengan banyaknya orang pintar memainkan peran ganda, sebagai teoritisi yang mengajar di perguruan-perguruan tinggi sekaligus sebagi teknokrat. Keadaan ini menguntungkan pemerintah, tetapi tidak bagi perkembangan ilmu. Yang diajarkan di perguruan tinggi tak lebih dari teori-teori yang membenarkan kebijakan pemerintah. Meski demikian, ada pula baiknya, karena hal itu telah menghidupkan banyak pihak. Dan entah, apakah ini juga termasuk pelajaran tentang “Politik Ada Maunya”? Agaknya zaman ketika itu pun berpihak untuk memenangkan isme yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Dan ini sangat sesuai dengan kepentingan negara-negara kapitalis. Modal asing masuk, MNC-MNC (Multi National Corporation) hadir, kemudian industri-industri swasta pun tumbuh. Artinya, terbuka lagi lapangan kerja baru. Tetapi ternyata ini hanya menolong sesaat dan bagi sebagian orang saja. Sebabnya jelas. Industri-industri tersebut sudah tentu tidak dimaksudkan untuk jadi “panti asuhan”. Dan memaksakan konsep Padat Karya menurut logika bisnis mereka sama saja dengan bunuh diri. Ketika ternyata pengangguran tidak berkurang, orang masih percaya bahwa kesalahan terletak pada skill, atau mental -kata sebagian lain. Solusinya, pendidikan kewiraswastaan masuk kurikulum, fakultas-fakultas politeknik dibuka, serta BLK-BLK didirikan dan perusahaan-perusahaan swasta dihimbau untuk membuka kesempatan magang. Hasilnya? Lahirlah istilah “Tenaga Siap pakai”. Setiap orang bangga dengan status ini. Sekolahsekolah menjadikannya tema promosi dan perusahaan-perusahaan pun berjanji membelinya. Maka ketika industri tercanggih yang kita miliki, seperti IPTN -yang tidak semua orang Indonesia pantas direkrut kecuali putra terbaiknya saja-, ternyata harus juga mengurangi karyawannya, kita pun terperangah. Ternyata kita memiliki begitu banyak orang pintar lagi siap pakai sampai-sampai sulit menampungnya dan terpaksa tidak dipakai. Boleh jadi ada yang bertanya; kenapa surplus orang pintar dan siap pakai itu tidak dimanfaatkan untuk membuat cabang-cabang IPTN, walau sekedar untuk memproduksi layang-layang? Lantas apa artinya “Tenaga Siap pakai”? Kenapa ternyata mereka tidak siap untuk tidak

dipakai? Kenapa tak kita didik saja mereka sejak awal untuk menjadi “Tenaga Siap Tak Terpakai”? Dengan kata lain, kenapa bukan istilah “Tenaga Siap Cipta” -misalnya- yang kita masyarakatkan? Di dalam “cipta” ada makna kemandirian dan kemampuan. Sedang di dalam “pakai” ada makna ketergantungan dan ketidakberdayaan. Tergantung dan tak berdaya di dalam memilih dan menentukan, seakan tak punya pilihan, serta dipaksa untuk menerima apa yang disodorkan. Manusia menjadi tak lebih dari sekedar operator bagi sebuah teknologi, bahkan untuk sebuah ideologi. Lantas, siapa yang diuntungkan dengan istilah itu? Mudah diduga, untuk kepentingan siapa sebenarnya istilah itu dimunculkan. Tentu itu bukan sekedar bahasa teknologi, apalagi psikologi. Itu bahasa ideologi! Akhirnya, orientasi “Lapangan Kerja Selepas Sekolah” semakin mendominasi pertimbangan memilih bidang studi. Terlihat sekali ketika industri perbankan tumbuh menjamur, sekolah-sekolah manajemen keuangan dan yang sejenisnya pun langsung surplus peminat. Gayung pun bersambut, karena “Politik Ada Maunya” semua orang pun ramai-ramai bikin sekolahnya. Mencetak orang untuk dijadikan administrateur para konglomerat. Kalau kemudian para alumninya berwiraswasta di bidang lain, itu terpaksa, karena ternyata penawaran lebih besar dari permintaan. Herannya, kita tak pernah berhenti percaya kepada janji-janji yang telah berulang kali memperdayakan, tak pernah berhenti berharap kepada teori-teori yang telah berulang kali mengecewakan. Jelas ini masalah ideologi, jika pola-pola kebijakan pendidikan sepanjang sejarah ternyata tak pernah bersih dari “Politik Ada Maunya”. Selalu saja ada “vested interest”. Selalu saja berbau eksploitasi dari yang kuat terhadap yang lemah,yang kaya terhadap yang miskin, yang pintar terhadap yang bodoh, dan yang merdeka terhadap yang tak punya pilihan. Akhirnya kita dipaksa mengerti mengapa misalnya, sekolah melarang murid membeli buku kecuali yang telah disediakan. Mengapa guru-guru ikut mengatur pengadaan seragam murid. Mengapa di kota besar murid diperebutkan sementara di desa mereka yang wajib belajar sulit menemukan sekolah. Lebih dari itu, “Politik Ada Maunya” menimbulkan dampak psikologis sekaligus sosiologis bagi kita. Budaya curiga dan buruk sangka merupakan dampak psikologisnya. Kita curiga kalau ada siswa akrab dengan dosennya, curiga kalau mendengar ada rencana perubahan kurikulum. Kita menjadi tak percaya pada keluhuran budi serta cenderung mencemoohkan sebagian orang -yang masih tulus- dengan tuduhan dan anggapananggapan yang menghinakan. Dampak sosiologisnya, lahirnya berbagai bentuk kolusi dan nepotisme di dalam sistim sosial kita. Mekanisme pertahanan diri -untuk bertahan hidup- pun memaksa kita beradaptasi dengan situasi ini. Symbiosis mutualistis!!! Semua berusaha mengambil keuntungan di dalam posisinya sebagai apa pun atau siapa pun. Tak perlu ada yang merasa dirugikan atau ditipu. Yang ada hanya kepura-puraan. Pura-pura mengerti sekaligus pura-pura tidak mengerti!!! Nah, kritik ideologi - yang saya maksudkan di atas- itu bukan mempertanyakan ideologi dalam artian normatif. Dan jawabannya bukan pada deklarasi-deklarasi resmi, motto, atau retorika pejabat pemerintah. Tetapi di dalam rangkaian fakta; pengangguran terpelajar, ijazah AsPal, orientasi lapangan kerja selepas sekolah, minimnya guru dan sekolah di pedesaan (-sedangkan di perkotaan murid diperebutkan, sekolah mewah bertebaran, dan guru bejibun-), lembaga pendidikan bermasalah, komersialisasi, bentuk ketergantungan yang semakin kuat justru setelah melalui proses pendidikan, serta konsep-konsep

-obyektif, ilmiah, netral atau rasional, bahkan indikator kesejahteraan, kemajuan, dan keterbelakangan- yang melulu mengacu pada tolak ukur Barat. Kita tidak pernah membuang keyakinan “pendidikan merupakan proses moderenisasi, segala yang tidak sejalan dengan moderenisasi bukanlah pendidikan”. Itulah soalnya, itulah akar masalahnya. Ini andil sejarah!!! Kemudian pendidikan menjadi “gengsi”, karena menyandang sekaligus menghasilkan atribut-atribut moderenisme. Karenanya, tenaga, uang, dan waktu harus dikerahkan ke sana. Otomatis pendidikan menjadi komoditi. Sehingga kebijakan apapun yang ditempuh, “Politik Ada Maunya” pasti ikut berpartisipasi. Meletakkan akar masalah ini selalu dalam posisi di luar pembicaraan -sebagaimana yang terjadi selama ini- justru memperkuat dugaan bahwa itulah ideologi pendidikan yang kita anut selama ini. Atau, mungkin ada yang masih mau coba-coba mengatakan: ini bukan masalah ideologi? Pertarungan antar Ideologi Keyakinan-keyakinan yang ideal dalam masyarakat dunia, sampai saat ini tidak membawa hasil yang memuaskan. Ia yang awalnya,diharapkan membawa pembebasan dan jalan keselamatan,ternyata malah membawa kita menuju jurang pertikaian yang menelan banyak korban. Revolusi Perancis,civil war di Amerika, pembantaian oleh Nazi Jerman, rezim Stalin di Rusia,rezim Pol Pot di Kamboja, tragedi PKI di Indonesia, dan seterusnya adalah sebagian bukti-bukti yang menggiring pemahaman masyarakat bahwa ideologi berarti pembantaian antar manusia atas nama cita-cita luhur dan gagasan yang agung. Ideologi sebagai bagian dari peradaban manusia memang menampilkan wajah ganda. Hingga kini, ia dianggap sebagai sebuah kesadaran palsu. Ini seperti yang pernah dikatakan Karl Marx, kaum elit mendominasi pandangan awam tentang dunia yang kemudian menghasilkan kesadaran palsu. Tetapi menariknya ia juga seperti candu. Beberapa kali kita menyaksikan ideologi dipuja bagai sebuah agama sehingga penganutnya sanggup berjuang hingga meregang nyawa. Dari Kamus Wikipedia, ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata tersebut diciptakan Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan ‘’sains tentang ide”. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, cara memandang segala sesuatu, akal sehat dan beberapa kecenderungan filosofis, atau serangkaian ide yang dikemukakan kelas masyarakat dominan –walaupun minoritas– kepada seluruh anggota masyarakat yang mayoritas. Ideologi juga dapat didefinisikan sebagai aqidah ‘aqliyah (akidah yang sampai melalui proses berpikir) plus aqidah naqliyah yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan. Di sini akidah ialah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup; serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan di samping hubungannya dengan sebelum dan sesudah alam kehidupan. Dari definisi di atas, sesuatu bisa disebut ideologi jika memiliki dua syarat, yakni: 1. Ide yang meliputi aqidah ‘aqliyah dan aqidah naqliyah yang keduanya memberi jalan dan aturan bagi kehidupan dan masalah kehidupan. Jadi, ideologi harus unik karena harus bisa memecahkan problematika kehidupan. 2. Metode yang meliputi metode penerapan, penjagaan, dan penyebarluasan ideologi. Jadi, ideologi harus khas karena harus disebarluaskan ke luar wilayah lahirnya ideologi itu. Jadi, suatu ideologi bukan semata berupa pemikiran teoretis seperti filsafat,

melainkan dapat dijelmakan secara operasional dalam kehidupan. Menurut definisi kedua tersebut, apabila sesuatu tidak memiliki dua hal di atas, maka tidak bisa disebut ideologi, melainkan sekedar paham. Dalam ilmu sosial, ideologi politik adalah sebuah himpunan ide dan prinsip yang menjelaskan bagaimana seharusnya masyarakat bekerja, dan menawarkan ringkasan order masyarakat tertentu. Ideologi politik biasanya mengenai dirinya dengan bagaimana mengatur kekuasaan dan bagaimana seharusnya dilaksanakan. Jadi, hakikat ”perang ideologi” dalam konteks ”perang melawan terorisme” seperti dimaksud AS dan sekutunya, termasuk di dalamnya aktor-aktor individu yang ada di Indonesia, dapat diartikan menjadi tiga hal yaitu: 1. perang terhadap sistem keyakinan, jalan hidup, dan sistem kehidupan; 2. perang terhadap pelaksanan dan penyebarluasan dari kosep-konsep pemikiran yang bersumber dari sistem keyakinan hidup; 3. ”pemusnahan” terhadap kelompok/individu yang melaksanakan dan memiliki pemikiran/ideologi yang bertentangan dengan ideologi dan kepentingan AS dan sekutunya. Bagaimanapun pertarungan ideologi ini tetap berlangsung. Kaum kapitalis dan sosialis membawa dialektika dalam keseharian hidup sosial kita. Mereka berlomba mencipta teori-teori baru untuk meyakinkan masyarakat dunia, bahwa ini adalah jalan menuju masa depan yang baik. Para teoritisi kapitalis, misalnya, melahirkan teori-teori modernisasi, antara lain: teori pembangunan,teori tabungan dan investasi, dan sebagainya. Teori kaum ini yang mutakhir adalah ide tentang Neoliberalisme melalui gerakan globalisasi dan pasar bebas. Di sisi lain,kaum sosialis pun,tak kalah “gertakan”. Karl Marx,mempelopori untuk menelanjangi keserahan kaum kapitalis melalui teori Materialisme dialektikahistoris, Althusser dengan teori Strukturalis, Antonio Gramsci dengan Hegemoni, hingga teori “kritis”oleh Max Hokreimer dan para penerusnya yang mengajukan kembali konsep dasar Marx, yakni pembebasan manusia dari segala belenggu penindasan dan penghisapan, tetapi secara kritis dan antidogmatis sebagai antitesis dari teori-teori pembangunan. Di luar dua pemain besar ini,muncul juga pemikiran postmodernisme yang keluar dari tradisi enlightenment. Ragam pemikiran postmodernisme bersatu dalam sebuah ide bersama,penolakan atas “cerita-cerita besar penyelamatan manusia,menolak obyektifitas ilmu pengetahuan,dan menolak pemikiran dikotomis. Penekanan ideologi ini kepada hak untuk berbeda (the right of different). Melalui teori dekonstruksi, faham ini memutus rantai perdebatan ideologi yang bertikai beserta seluruh rasionalitas yang membenarkannya. Lalu siapakah pemenang pertarungan ideologi? The end of History and The last man,oleh Francis Fukuyama mewartakan kemenangan kaum kapitalisme.”Kita dapat menyaksikan,” demikian katanya…akhir sejarah yang sedemikian itu: yakni akhir dari evolusi ideologis umat manusia dan universalisasi demokrasi liberal barat sebagai bentuk final dari sistem pemerintahan umat manusia.” Sedangkan,ilmu pengetahuan modern (teori modernisasi) telah menghasilkan pandangan seragam tentang corak produksi secara ekonomis (kapitalisme). George Ritzer,dari kubu sosialis ,jauh-jauh hari telah mengkritisi paradigma ini dengan mengatakan kemenangan kapitalisme disebabkan karena pendukungnya lebih mempunyai kekuatan dan kekuasaan, bukan karena teori ini lebih manusiawi,lebih baik,apalagi lebih benar. Apakah pesimisme ini mengakhiri pertarungan dan juga sejarah ideologi manusia?

Perang merupakan salah satu upaya untuk mencapai tujuan. Selain itu perang juga identik dengan kekerasan fisik. Tapi perang yang satu ini berbeda dengan perang-perang lainnya, yang lebih menonjolkan kekuatan fisik. Perang ini adalah Perang Ideologi. Dalam memaksakan tujuannya perang ideologi lebih mengarah kepada perang pemikiran. Inilah masalah pelik yang sedang dialami oleh negara-negara yang mulai beranjak setelah sekian lama tertidur . Karena perang ideologi adalah perang pemikiran maka, dampaknya pun tidak langsung terasa. Perang ideologi lebih mengacu pada upaya pemecah belahan suatu negara melalui rakyat, dari negara itu sendiri, dengan kata lain perang ideologi berarti upaya pemecah belahan bangsa. Di Indonesia sendiri hal ini sudah mulai tampak, contohnya adalah timbulnya beragam konflik, mulai dari antar pelajar, antar masyarakat, antar suku, bahkan yang lebih memalukan lagi Antar Anggota Dewan. Kalau ini terus berlanjut, gak menutup kemungkinan bahwa di masa depan nanti bangsa kita akan terpecah belah. Padahal negara ini mempunyai beragam suku bangsa dengan berbagai budaya_nya. Inilah salah satu hal yang membuat Indonesia kaya dimata dunia. Selain timbulnya konflik, perang ini juga menyerang melalui aspek agama. Berhubung di Indonesia mayoritas beragama Islam jadi yang akan saya bahas disini juga manyangkut Agama Islam (maaf gak bermaksud mengucilkan Agama lain). Saya akan menjelaskan yang paling sederhana saja. Dalam Islam kita tahu bahwa babi itu haram, namun dalam perkembangannya babi justru dijadikan barang yang lucu. Kini mulai banyak aksesories-aksesories yang memakai babi sebagai simbolnya seperti, gambar sablon pada pakaian, boneka (yang menurut beberapa orang menggemaskan), dan pernak-pernik lainnya. Kepentingan ekonomi-politik Setelah Perang Dunia II berakhir, dunia memasuki era Perang Dingin antara Uni Soviet dan AS. Pada era ini, ada perlombaan persenjataan, perebutan pengaruh ideologi, dan peningkatan fungsi spionase (mata-mata/intrik intelijen) tanpa ada perang konvensional terbuka. Upaya lain yang tak kalah pentingnya adalah melalui tekanan ekonomi, pergerakan diplomatik, propaganda, dan bahkan pembunuhan. Pada era Perang Dingin ini, kemampuan AS memanipulasi negara-negara Islam dan kelompok-kelompok Islam di dunia untuk berada di pihak mereka dengan masuk dan menyusup serta memberikan simpati-simpati palsu yang pada dasarnya hanya menguntungkan kepentingan negara mereka sendiri– pada akhirnya mampu mengalahkan ideologi komunis Uni Soviet dan kroninya. Kepandaian kaum kapitalis pimpinan AS dalam membaca dan mempengaruhi berbagai aliran dan kelompok Islam yang secara tegas dan nyata menentang ideologi komunis memberikan keleluasaan kepada kaum kapitalis liberal untuk memperalat umat Islam dan negara-negara Islam sebagai ujung tombak melawan kaum komunis. Setelah berakhirnya era Perang Dingin, dunia bipolar berubah menjadi unipolar. Pada masa ini terjadi transformasi radikal dalam tata hubungan Timur-Barat dan Barat-Islam. Berbagai bentuk keterbatasan AS membuat mereka memutar otak untuk dapat mempengaruhi dan memenangkan dominasi atas dunia. Maka metode yang efektif dan efisien untuk memenangkan dominasi ini adalah jalan propaganda. Kerajaan ekonomi dunia yang dikuasai oleh AS tetap eksis dan bertahan dengan segala keterbatasan sumber daya alam yang mereka miliki. Filsafat ekonomi-politik

neoliberalisme memandang manusia beserta seluruh aspeknya semata-mata sebagai homo economicus dan menetapkannya sebagai satu-satunya model yang mendasari tindakan relasi manusia. Di antara propaganda mereka adalah senjata pemusnah massal yang dapat membahayakan dunia. Dengan alasan itu AS menginvasi Irak. Setelah Irak takluk, AS melakukan propaganda lanjutan dengan cara membayar dan menyogok koran-koran Irak melalui perusahaan Lincoln Group agar memberitakan bahwa pihaknya yang telah menjatuhkan kelompok-kelompok perlawan di Irak dan keberhasilan AS membangun kembali Irak. Lusinan artikel ditulis militer dan Departemen Pertahanan AS yang kemudian ”dipaksakan” dimuat di koran-koran Irak sebagaimana diungkap Los Angeles Time seperti dilansir Sydney Morning Herald. Propaganda yang akhir-akhir ini sering didengungkan AS dan kroninya adalah terorisme. Dibalik isu itu, sebenarnya tersembunyi ketakutan besar yaitu bangkitnya kekuatan khilafah Islam dan kekuatan ekonomi Cina dan India. Propaganda untuk menghambat bahkan menutupi perjuangan umat Islam semakin tampak jelas. Berbagai pemikiran tentang konsep Barat terhadap pandangan-pandangan Islam muncul. Ideologi Islam pun selalu dipertentangkan dengan berbagai pemikiran kapitalis liberal mereka. Modus operandi ideologi yang digunakan untuk melemahkan lawan ideologi AS dan sekutunya adalah unifikasi dan fragmentasi. Yang pertama adalah menempatkan bahwa seolah-olah kaum kapitalis liberal beserta seluruh ideologinya adalah yang benar dan membawa misi Tuhan serta wajib disebarluaskan. Juga menempatkan ideologi selain kapitalisme liberal sebagai sebuah sistem yang jahat, kejam, tidak berperikemanusiaan, diktator, dan pengikut setan. Hal itulah yang menjelaskan mengapa AS selalu memasukkan Irak dan Afghanistan sebelum diinvasi dan Iran ke dalam ”poros setan”. Hal ini pula yang menjawab mengapa George Walker Bush mengatakan ”Tuhan berbisik dan menyuruhnya berperang di Afghanistan dan Irak untuk mengakhiri tirani dan kediktatoran.”Modus operandi yang kedua adalah dengan memecah belah umat Islam sehingga muncullah kelompokkelompok Islam dengan julukan moderat, liberal, kultural, radikal, fundamentalis dan sebagainya. Kelompok-kelompok Islam yang mendukung dan mengusung ideologi kapitalis liberal dimunculkan sebagai ‘Islam yang benar’, Islam yang sesungguhnya, dan Islam demokratis. Corporatocracy Dalam soal demokrasi ini ada fakta menarik yang perlu kita lihat sebagai contoh hipokrasi AS. Daniel Pipes, salah seorang arsitek perang Irak dan juru kampanye baru tentang demokrasi di Timur Tengah, mengatakan,”Amerika harus memperlambat proses demokrasi untuk mencegah pemerintahan Islam berkuasa di negara-negara Arab.” AS khawatir jalan demokrasi akan membawa kemenangan bagi partai-partai Islam dan kekuatan Islam di Timur Tengah. Karena itu, AS lebih memilih menghentikan laju demokrasi yang akan memberikan kemenangan partai-partai Islam daripada ”menghormati” demokrasi yang mereka agung-agungkan. Rupanya, demokrasi bagi AS adalah demokrasi yang mendukung keberadaan sistem kapitalisme-liberal mereka. Di luar itu, jangan harap AS menganggap sebuah sistem sebagai sistem demokratis. John Perkins dalam bukunya Confession of an Economic Hit Man menyebut dengan tepat istilahnya sebagai corporatocracy. Yaitu demokrasi yang menjadi penopang kekuasaan

perusahaan-perusahaan AS untuk menghisap kekayaan negara-negara seperti Indonesia dan menindas mayoritas umat. Dalam konteks perang ideologi dan memapankan kepentingan ekonomi politik AS ini pula, upaya untuk mengubah kurikulum pesantren yang didanai AS sebesar 157 juta dolar AS, menjadi hal yang patut diwaspadai. Karena perang ideologi tersebut telah secara jelas menempatkan para pejabat dan sebagian kelompok elite di Indonesia menjadi ”antek AS”, baik secara sukarela maupun karena ”terpaksa”. Penghembusan isu teroris ini selalu mendominasi seluruh kegiatan umat Islam. Hal ini dilakukan agar setiap kegiatan umat Islam dapat dibatasi, sehingga prinsip kapitalisme dan liberalisme yang dianut AS dapat semakin leluasa merasuk ke negara-negara Islam. Karena tidak adanya kontrol secara sistematis dari para pemuka agama Islam, dengan mudah AS menguasai umat Islam terutama di Indonesia. Dengan demikian, AS dengan mudah mempertahankan ”kerajaan ekonomi”-nya yang menggunakan sistem jahiliyah dan zalim. Melakukan perlawanan terhadap sistem yang jahil dan zalim secara membabi buta dengan menebar bom di mana-mana tidak menyelesaikan masalah, malah justru merugikan umat dan negara-negara ketiga secara keseluruhan. Bukankah sistem jahiliyah dan zalim menghendaki kita terjebak dalam kesesatan sehingga gampang digiring ke jurang kehancuran dan ladang pembantaian? Perlawanan terhadap sistem jahiliyah dan zalim harus dilakukan melalui pemikiran yang konsepsional dan melalui tindakan yang strategis, agar tidak menjatuhkan korban sia-sia dan mubazir. Peran Media Massa “Saya lebih takut pada media massa dibanding senjata” Demikian ungkap Napoleon Bonaparte ratusan tahun yang lalu. Memang, sejak dulu media masa memiliki peran penting dalam peta percaturan politik dunia, sehingga pengaruhnya melebihi kemampuan pedang dalam membunuh. Media massa kini menjadi medan baru perang antar ideologi. Peperangan dimulai dari game, film, buku, surat kabar, majalah, dan bahkan internet. Intinya, segala sarana yang terkategori media massa, menjadi senjata paling efektif melancarkan serangan. Tentu saja, yang dibidik bukan melukai fisik, tapi mengoyak iman dan akidah. Itu target utamanya. Media massa telah menjelma menjadi alat propaganda paling efektif. Media massa mampu menjadi lokomotif perubahan masyarakat. Terlebih saat ini, dengan kemajuan teknologi, jaringan-jaringan pemberitaan dunia mengalami perkembangan sangat pesat. Masyarakat dari berbagai penjuru bumi dapat dengan mudah dipengaruhi arah opini yang di-blow-up media massa dengan sangat cepat. Eksistensi ideologi kapitalisme-sekular saat ini, tak lepas dari keberhasilan para kapitalis dalam menggenggam media massa. Ya, para pemilik modal itulah aktor utama di balik berbagai propaganda pro-sekularisme. Tak ayal jika demokrasi, hak asasi manusia, seks bebas, gaya hidup hedonis dan berbagai budaya Barat dengan mudah merasuk ke berbagai penjuru dunia. Semua itu disokong penuh oleh media massa. Iqbal Shadiqi, pemimpin redaksi majalah terbitan Inggris, Cressent International, mengatakan, “Media-media AS sangat bergantung kepada para investor dan orang-orang Zionis. Kedua kelompok inilah yang mengontrol pemerintah dan media AS.” Saat ini mayoritas media massa internasional dikuasai oleh jaringan Zionis. Sejak awal terbentuknya Gerakan Zionisme Internasional, para aktivis gerakan ini telah

memanfaatkan media massa untuk mempropagandakan pemikiran mereka kepada dunia. Dalam Protokol ke-12 Gerakan Zionisme, disebutkan, “Media massa dunia harus berada di bawah pengaruh kita.” Theodore Hertzl, peletak dasar Gerakan Zionisme Internasional, dalam konferensi di Swiss tahun 1897 mengatakan, “Kita akan berhasil mendirikan pemerintah Israel dengan memanfaatkan dan menguasai fasilitas propaganda dunia dan media massa dunia.” Hertzl adalah wartawan internasional yang dengan pengalamannya berkecimpung di dunia jurnalistik tahu persis bagaimana melakukan lobi-lobi terhadap media massa. Hasilnya, kantor berita ternama seperti AFP, AP, dan Reuters, berada di bawah kontrol mereka. Dari sinilah perang ideologi di media massa dimulai. Zionisme merancang berita-berita dan opini yang menampilkan citra bahwa mereka adalah gerakan legal dan lahir dari ketertindasan. Diciptakanlah opini bahwa penjajahan Isreal terhadap Palestina adalah sah. Sebaliknya, diluncurkan opini dan berita yang kerap menyerang ideologi Islam. Labellabel negatif dilekatkan pada komunitas Muslim, seperti fanatik, fundamentalis, radikal, teroris, dll. Para pejuang Palestina diposisikan sebagai teroris. Setiap kejadian terorisme, tanpa menunggu penyelidikan terlebih dahulu, akan langsung diliput media massa dengan tendensi anti-Islam. Dalam atmosfer propaganda dunia yang teracuni oleh media-media pro-Zionis, opini dunia menjadi terarahkan pada satu topik: stigmatisasi buruk terhadap Islam. Kasus paling gres adalah dimuatnya kembali kartun yang menghinakan Nabi Muhammad saw di 11 media massa dan televisi nasional di Denmark, serta tiga harian di Eropa, yakni Swedia, Belanda dan Spanyol. Tindakan tersebut merupakan kesengajaan sebagai sinyal perang terhadap Islam. Betapa tidak, Nabi Muhammad sebagai pengusung ideologi Islam digambarkan sebagai lelaki bersorban yang menyembunyikan bom di baliknya. Islam digambarkan sebagai agama yang penuh kekerasan dan darah. Sayang, umat Islam seolah tak berdaya menghadapi penistaan ini. Para penguasa di negeri-negeri Muslim diam seribu bahasa. Contoh lain ketika gagasan formalisasi syariah Islam bergema, segera serangan balik terhadap gagasan ini ditebar media massa. Terutama meminjam corong para “tokoh” atau “alim ulama.” Dihembuskan opini bahwa syariah Islam tidak wajib diterapkan, bahwa Khilafah adalah utopia, dan sejenisnya. Ideologi Islam yang terdiri dari akidah dan syariah pun mendapat serangan bertubi-tubi, yang ironisnya justru dilakukan oleh sebagian umat Islam sendiri. Microsoft Ensemble Studios pernah meluncurkan game yang menggambarkan perang peradaban lewat trilogi Age of Empire. Sejarah peradaban manusia di jaman Messopotamia, Babilonia, sampai jamannya Shalahuddin al-Ayubi yang melakukan penaklukan Yerusalem, Joan of Arc yang biasa dipanggil Maid of Orleans dan lainnya dengan detil bibliografi yang lengkap. Memainkan game Rise of Nations, dimana peradaban yang bisa dimainkan di sini adalah kapitalisme, sosialisme, dan mungkin Islam diwakili Turki, meski tak nyata pemerintahan Islam. Simulasi dalam game ini seperti menjalin kerjasama perdagangan dengan negara lain, hubungan diplomatik, pencapaian teknologi, sampai ekspansi besar-besaran dengan mengerahkan kekuatan militer untuk menjajah negara lain. Selain game, bertebaran pula buku-buku, majalah, zine, dan bahkan tulisan di internet yang nyata-nyata sebagai bentuk benturan peradaban. Islam selalu dihadapkan dengan

Kapitalisme dan Sosialisme. Bahkan saat ini, pertarungan Islam dengan KapitalismeSekularisme sedang panas-panasnya. Internet bahkan menjadi medan perang ideologi paling efektif untuk membidik kaum intelektual. Sudah banyak website yang menyerang Islam, meskipun berlabel Islam. Perang ideologi pun bisa kita jumpai lewat film. Islam, Kapitalisme, dan Sosialisme juga getol mempropagandakan ideologinya lewat film. Di film Die Hard 4.0 yang dibintangi Bruce Willis bahkan ada dialog yang secara implisit menyebut kaum muslimin sebagai teroris. Film “True Lies” (1994), menggambarkan seorang teroris berkebangsaan Arab yang membawa senjata nuklir. Film yang dibintangi aktor kekar Arnold Schwarzenegger sedang memerangi teroris Crimpson Jihad. Islam juga tak tinggal diam. Film ar-Risalah alias The Message yang dibesut oleh sutradara Moustapha Akkad pada tahun 1976 telah menjadi film yang sangat bagus dan cukup detil dalam menyampaikan pesan Islam kepada seluruh dunia. Bahkan konon kabarnya di Jepang ketika film in diputar di bioskop-bioskop di sana, banyak orang Jepang yang masuk Islam. Moustapha Akkad pernah mengatakan, “Film-film sejarah memiliki daya kreativitas yang sangat tinggi. Film-film modern hanya memiliki kelebihan di bidang dialog dan teknik pembuatannya, akan tetapi ia tidak memiliki kreativitas tersebut. Kita umat muslimin memiliki masa lalu yang indah, yang sangat berguna untuk kita jadikan sebagai pelajaran bagi masa depan kita. Kekhawatiran besar saya ialah terhadap jebakan-jebakan yang dipasang oleh musuh-musuh kita. Jebakan-jebakan ini mereka tebarkan melalui propaganda lewat media-media massa mereka. Media massa dapat dijadikan sebagai senjata yang jauh lebih mematikan daripada bom dan tank.”. Perjalanan Ideologi bangsa Indonesia Bangsa Indonesia sebagai bagian dunia, tak terlepas dari pengaruh ideologi sejak pra kemerdekaannya. Namun,secara umum perbedaan pandangan dari ideologi dapat dikemas menjadi sebuah alat pemersatu. Sukarno menulis dalam Suluh Indonesia Muda,tahun 1926 tentang Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme sebagai faham-faham yang menjadi roh pergerakan di Indonesia,bahkan di Asia. Tetapi jauh sebelumnya Indische Partij,Sarekat Islam,I.S.D.V (Indisch Sociaal Democratische Vereniging) telah merumuskan ideologinya masing-masing sebagai alat perjuangan. Setelah kemerdekaan,pemerintah mulai mengalami kesulitan menangani perbedaan ideologiideologi ini,mulai dari pemberontakan kaum komunis di Madiun, DI/TII hingga tragedi PKI tahun 1965. Sejak saat itu,seolah-olah bangsa Indonesia trauma dengan sejarah pertarungan ideologi. Maka mulailah represi rezim penguasa dengan mewajibkan semua ormas dan orpol menggunakan satu asas sebagai ideologi,Pancasila. Meski dalam prakteknya bangsa ini terseret jauh dalam sistem ekonomi kapitalisme, bahkan kapitalisme global. Berbeda dengan masa Orde Baru yang menggunakan represi, hegemoni ,dan proses indoktrinisasi melalui P4 sebagai alat untuk meneguhkan kekuasaan,sejak era Reformasi bangsa ini mulai kembali diramaikan oleh berbagai ideologi Islam, Nasionalisme, Sosialisme, Marhaenisme, Kristen, dan sebagainya. Disisi lain,terperangkapnya Indonesia ke dalam “ideologi “Pancasila adalah pengalaman masa lalu. Ahli etika politik Prof.Dr.Franz Magnis Suseno SJ berpendapat,jangan pernah lagi menyerahkan negara dan bangsa Indonesia ini kepada ideologi manapun. Menurutnya, Pancasila sebagai dasar

negara lebih tepat disebut kerangka nilai atau cita-cita luhur bangsa Indonesia secara keseluruhan. Lebih lanjut ia mengatakan, ideologi manapun termasuk komunisme,selalu punya cacat metodologik yang serius. Alasannya,karena ia telah menyelundupkan kategori paham benar-salah ke dalam politik praktis. “Kalau kategori benar-salah itu sudah menjadi sebuah praksis berpolitik, konsekuensi logikanya jelas, yakni pemerintahan akan menjadi totaliter. Padahal,dalam politik praktis sebenarnya hanya dikenal kategori baik-buruk dengan beberapa variannya. Kategori benar-salah itu hanya ada dalam kerangka sebuah teori atau ajaran dan bukan pada tataran praktis,” jelasnya. Penafsiran lain tentang Pancasila muncul dari Dr.Onghokham. Ia menyatakan, pandangan bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah salah. Sejarawan ini mengungkapkan,dalam notulen Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia,rumusan Pancasila ada dalam dokumen yang disiapkan dalam proses pembentukan negara baru,yakni Republik Indonesia. Dengan demikian, jelasnya, Pancasila merupakan suatu dokumen politik, bukan falsafah atau ideologi. Sebuah dokumen politik dalam proses pembentukan negara baru biasanya merupakan sebuah kontrak sosial, artinya persetujuan atau kompromi antara sesama warga negara tentang asas-asas negara baru itu. Risalah badan persiapan ini menunjukkan perundingan (musyawarah) tersebut akhirnya menghasilkan sebuah kompromi. Ragam ideologi tanah air kita belakangan ini,dengan berbagai tuntutan seperti penegakan syariah Islam,Pemilu 2004 yang bisa menjadi ajang deideologisasi Partai Politik memberi pertimbangan bagi kita bahwa sebaiknya Pancasila tidak disandingkan dengan Ideologiideologi tersebut. Saya (penulis) sepakat dengan pemikiran Pancasila sebagai kontrak sosial. Sebagai kontrak sosial,ia berdiri diatas semua ideologi karena ia merupakan suatu kontrak pembentukan negara. Sehingga berarti, jika Pancasila diubah maka mensyaratkan pembubaran Negara Kesatuan Repulik Indonesia terlebih dahulu. Sekilas Sistem Pendidikan di USA Untuk memberikan gambaran aplikasi penerapan konsep-konsep pemikiran sekulerkapitalisme dalam bidang pendididikan, akan kita berikan sekilas gambaran sistem pendidikan di USA. Walaupun model sistem pendidikan di USA bukan merupakan satusatunya model penerapan konsep sekuler-kapitalisme dalam bidang pendidikan, tetapi karena saat ini USA merupakan negara adidaya, maka konsepnya dalam berbagai bidang akan terasa pengaruhnya di negeri-negeri lain, khususnya di Indonesia. Sistem pendidikan di Amerika memiliki sifat yang khas yang berbeda dari sistem pendidikan di negara-negara lain, hal ini terutama karena sistem pemerintahannya yang mendelegasikan kebanyakan wewenang kepada pemerintahan negara bagian dan pemerintahan lokal (distrik atau kota). Amerika tidak memiliki sistem pendidikan nasional, yang ada adalah sistem pendidikan dalam artian terbatas, pada masing-masing negara bagian. Hal ini berdasarakan pada filosofi bahwa pemerintah (federal/pusat) harus dibatasi perannya, terutama dalam pengendalian kebanyakan fungsi-fungsi publik seperti sekolah, pelayanan sosial dsb. Kendali semacam itu harus berada di tangan negara bagian atau masyarakat dan pemerintahan lokal. Karena itu di Amerika dalam bidang pendidikan dasar dan menengah, tidak ada kurikulum nasional, bahkan tidak ada kurikulum negara bagian. Apa yang ada hanyalah semacam standar-standar kompetensi lulusan yang ditetapkan oleh pemerintahan negara

bagian ataupun pemerintahan lokal. Walaupun begitu pemerintah federal (pusat) diberi wewenang terbatas untuk mengintervensi dalam masalah pendidikan, bila terkait dengan empat hal, yaitu untuk : - memajukan demokrasi, - menjamin kesamaan dalam peluang pendidikan, - meningkatkan produktivitas nasional, - memperkuat pertahanan/ketahanan nasional. Bentuk intervensi pemerintah pusat tidak dalam bentuk penentuan materi ajar, tetapi dalam bentuk usulan-usulan maupun program-program pendanaan dengan tujuan-tujuan tertentu. Sebagai akibatnya pendanaan pemerintah federal di bidang pendidikan sangat kecil, sebagai gambaran di tahun 2005 hanya 2,9 persen dari total budjet pemerintah federal yang dialokasikan untuk pendidikan. Total 2,9 persen dari dana federal tersebut hanya menyumbang antara 8 sampai 10 persen budjet pendidikan di seluruh Amerika. Ini berarti sumbangan terbesar pendanaan pendidikan ada pada pemerintah negara bagian dan dana masyarakat. Sebagian besar sekolah tingkat dasar dan menengah dimiliki dan didanai oleh negara bagian dan pemerintah lokal, dan semuanya gratis. Tetapi terdapat juga sejumlah sekolah swasta yang tidak mendapat dana dari pemerintah, dan biasanya sangat mahal tetapi memiliki kualitas yang terkenal. Sekolah semacam ini biasanya dikelola oleh lembaga keagamaan, dan biasanya hanya dapat diakses oleh kelompok elit dan keluarga-keluarga kaya di Amerika. Kebanyakan para politikus dan negarawan Amerika adalah alumni sekolah-sekolah elit semacam ini. Dalam bidang pendidikan tinggi, semua universitas memiliki otonomi yang sangat besar dalam masalah akademik dan pendanaan. Tidak ada kurikulum nasional dan juga tidak ada standarisasi kompetensi kelulusan di perguruan tinggi. Terdapat beberapa lembaga, khususnya kebanyakan majalah, yang melakukan perangkingan terhadap unviersitasuniversitas, seperti US News and World Reports (menerbitkan America’s Best Colleges dan America’s Best Graduates Schools), dan Business Week (menerbitkan Best Business Schools), tetapi lembaga-lembaga ini bukan lembaga pemerintah. Juga terdapat berbagai lembaga akreditasi regional maupun nasional, yang mengakreditasi berbagai bidang pendidikan maupun bidang profesional. Tetapi lembaga akreditasi ini tidak terkait dengan pemerintah baik pusat maupun pemerintahan negara bagian. Lembaga-lembaga akreditasi tadi semacam yayasan non profit yang kebanyakan anggotanya adalah para profesional terkait bidang yang diakreditasi. Lembaga-lembaga akreditasi tersebut memperoleh pengakuan melalui dua lembaga, Council of Higher Education Accreditation (CHEA suatu lembaga swasta - non pemerintah) dan US. Department of Education. Ketiadaan kurikulum maupun standar nasional maupun lokal di bidang pendidikan tinggi, menyebabkan kebanyakan universitas-unversitas di Amerika, membentuk kurikulumnya berdasarkan pada perkembangan pasar dunia kerja dan industri. Kerjasama dengan pihak perusahaan/industri juga sering dilakukan, dalam bentuk magang (internship), yang tentunya menguntungkan perusahaan karena mendapatkan sumberdaya manusia yang murah dengan kualitas yang memadai. Bentuk kerjasama dengan pihak industri, secara terbatas, juga menentukan pola kurikulum yang ada di suatu universitas. Sebagian besar unversitas adalah universitas publik (negeri) yang dimiliki oleh negara bagian. Sebanyak 92 dari 100 universitas terbesar di Amerika adalah universitas publik

(negeri) yang dimiliki negara-negara bagian. Tidak ada institusi pendidikan yang dimiliki negara federal kecuali beberapa akademi militer. Universitas-universitas publik tersebut dipimpin oleh board of trustees (semacam majelis wali amanat) yang bertanggung jawab kepada pemerintah negara bagian yang menjadi pemiliknya. Walaupun didanai oleh negara bagian, tetapi sebagian pendanaan universitas-unversitas publik juga berasal dari masyarakat, terutama peserta didik dalam bentuk SPP dan biaya-biaya lain, bahkan hanya sekitar 10 sampai 30 persen budjet universitas publik yang berasal dari pemerintah negara bagian di mana universitas itu berada. Selebihnya budjet universitas publik, berasal dari hibah, spp mahasiswa, kontrak-kontrak kerjasama dan sumbangan. Walaupun tidak semahal SPP univesitas privat/swasta, SPP di universitas publik masih termasuk tinggi, sehingga masyarakat dari kalangan menengah bawah kesulitan dalam memasukinya, kecuali dengan bantuan sistem pendanaan. Banyak siswa yang tidak akan dapat merasakan pendidikan tinggi kecuali mendapat bantuan berupa grant (hibah) atau scholarship(beasiswa). Banyak juga siswa yang mengambil pinjaman khusus pendidikan (student loans) untuk biaya kuliahnya, yang nantinya dilunasi ketika dia sudah lulus. Untuk membantu mengurangi beban biaya pendidikan, kebanyakan universitas juga membuka pekerjaan untuk mahasiswanya, seperti bekerja sebagai asisten riset, maupun pekerjaan administrasi. Dengan mekanisme semacam ini, universitas dapat menjalankan fungsi-fungsinya dengan biaya yang lebih murah, karena mahasiswa pekerja (student worker) ini digaji dengan honor yang lebih rendah dari honor pekerja biasa, dan sering tidak mendapat keuntungan-keuntungan sebagaimana layaknya pekerja biasa di Amerika. Selain universitas-universitas publik, terdapat sejumlah universitas privat (swasta). Tentu saja biaya kuliah di universitas-universitas ini sangat mahal, mencapai lima kali lipat dari biaya di universitas publik kebanyakan. Tetapi dalam bidang kualitas, hampir 25 posisi teratas dalam rangking-rangking berbagai bidang, kecuali tiga atau empat posisi, dikuasai oleh universitas-unversitas privat. Karena tidak menggunakan dana publik maka pengelolaan universitas-universitas privat ini lebih fleksibel dan bebas. Bila universitas publik tidak boleh membuka cabang di luar negara bagiannya, sebaliknya universitas privat dapat bebas menbuka cabang di berbagai tepat termasuk di luar negeri. Universitas-universitas privat inilah yang banyak `mengekspor pendidikan’ ke berbagai negera. Mereka juga lebih bebas dalam memperoleh sumber-sumber pendanaan maupun bekerjasama dengan berbagai pihak (industri). Ketika berkaitan dengan pendanaan riset, pemerintah federal berkewajiban untuk memperlakukan semua lembaga pendidikan secara sama, sehingga universitas privat memiliki peluang yang sama dalam mendapat dana riset seperti halnya universitas publik. Kesemua hal di atas, ditambah dengan kebebasan dalam memperoleh dana-dana tambahan dari industri dan sumbangan pribadi yang tidak mudah diakses universitas publik, menyebabkan universitas-universitas privat lebih berkualitas dan beberapa di antaranya menjadi universitas unggulan taraf internasional. Terlepas dari bentuk dan sistem pendidikan yang saat ini diterapkan di Amerika, dalam sejarah perkembangan Amerika terdapat beberapa hal fundamental yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan dikalangan para ahli-ahli mereka antara lain: 1.Bagaimana seharusnya materi yang diajarkan di sekolah 2.Bagaimana seharusnya pendidikan dibagi/didistribusi 3.Bagaimana seharusnya mendistribusi otoritas pendidikan 4.Siapa yang seharusnya menanggung beban biaya pendidikan

5.Seberapa banyak sumber daya kita yang harus dikerahkan untuk dunia pendidikan. Dan masih banyak lagi. R.Freeman Butts, pakar dari universitas Columbia dan pengarang banyak buku pendidikan, mengatakan bahwa akar penyebab perdebatan-perdebatan tersebut adalah adanya tiga pemikiran kuat yang berbeda dalam masyarakat Amerika: 1.Pemikiran nilai perekat, menginginkan sistem pendidikan menghasilkan warga negara yang efektif, terpelajar dan bertanggungjawab, 2.Pemikiran nilai-nilai pembeda, menginginkan nilai-nilai (minoritas) mereka terlayani, 3.Pemikiran modernisasi dan globalisasi, menekankan pentingnya membentuk `warga negara dunia’ dalam dunia yang saling berketergantungan, modern dan urban. Pemanfaatan Sistem Pendidikan dalam Penjajahan Dalam rangka penjajahan terhadap suatu negara, di mana di sana ada ideologi tertentu (Islam) yang diemban oleh sebagian masyarakatnya, maka pihak kapitalis penjajah akan melakukan serangan pemikiran untuk melemahkan dan melenyapkan ideologi musuh serta memperkuat masuknya ideologi sekuler kapitaliseme di negeri tersebut. Bidang pendidikan telah menjadi andalan mereka untuk memasukkan pemikiran-pemikiran ideologi mereka ke benak umat, sejak sebelum runtuhnya daulah khilafah Turki Usmani – dengan sekolah-sekolah misionaris yang menjadi awal penyebab keruntuhan daulah– sampai sekarang - dalam rangka menghabiskan sisa-sisa ideologi Islam sampai ke akarakarnya. Penanaman pemikiran-pemikiran barat ke benak masyarakat dilakukan dengan mendidik putra-putri kaum muslimin yang memiliki potensial dalam institusi-institusi pendidikan mereka, melalui berbagai program beasiswa yang mereka tawarkan, seperti misalnya program beasiswa Fulbright (USA), khususnya dalam bidang ilmu sosial-humaniora, ilmu pemerintahan, ilmu agama, dan ilmu ekonomi. Orang-orang ini, setelah menyelesaikan pendidikan tingkat tinggi mereka, biasanya berpotensi menduduki posisi-posisi penting di berbagai bidang, dan setelah kembali ke tengah-tengah masyarakatnya akan secara langsung atau tidak langsung, sadar atau tidak sadar mempropagandakan dan memperjuangkan pemikiran-pemikiran Barat dan merusak pemikiran-pemikiran Islam di tengah masyarkat. Mereka juga secara sadar atau tidak sadar menjalankan program-program penjajah Barat, seperti misalnya kelompok Mafia Berkley yang terkenal di jaman orde baru, yang memformat sistem ekonomi Indonesia mengikuti program penjajah. Ketika cengkraman penjajah Barat pada suatu negeri cukup kuat, berikutnya mereka akan mengarahkan sistem pendidikan negara tersebut agar dapat menopang rencana mereka untuk menjajah negeri tersebut, dengan menjadikannya seperti sistem pendidikan dalam sistem sekuler kapitalisme. Dengan itu mereka dapat mencetak pengemban dan pembela-pembela ideologi mereka langsung di negeri jajahan. Selain itu dengan terbukanya (globalisasi) sistem pendidikan di negara tersebut, maka penjajah akan dapat lebih leluasa mengendalikan sumberdaya manusia di negeri tersebut, termasuk akses terhadap data-data penting sumberdaya alamnya. Termasuk juga menjadikan para ilmuwan di negeri tersebut untuk bekerja bagi kepentingan mereka. Ini dilakukan misalnya dengan memberikan dana bantuan penelitian di bidang-bidang non sains dan teknologi maupun kerjasama-kerjasama langsung antar perguruan tinggi terutama dalam bidang eksplorasi sumber daya alam.

Dalam masalah pendanaan pendidikan, negara terjajah, yang biasanya lemah secara ekonomi, dipaksa agar memperkecil subsidi pendidikan ataupun menghilangkan subsidi negara pada institusi pendidikan milik negara, serta mengubah institusi-institusi pendidikannya menjadi sekedar semacam "perusahaan milik negara". Akibatnya tentu adalah mahalnya biaya pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Walhasil negara tersebut akan kekurangan sumber daya manusia yang berpendidikan tinggi. Kekurangan SDM berkualitas tinggi ini justru menjadi keuntungan bagi penjajah, karena dengan begitu kebanyakan SDM adalah tenaga teknis maupun tenaga kasar, yang murah dan menguntungkan para pemilik modal. Penerapan sistem pendidikan sekuler kapitalis serta masuknya pemikiran-pemikiran sekuler kapitalis dalam bidang pendidikan dapat sangat jelas dilihat di Indonesia. Antara lain dalam bidang pendanaan, pemerintah mulai mengubah perguruan tinggi-perguruan tinggi (PT) negeri terkenal menjadi bentuk BHMN dan nantinya BHP, yang memiliki otonomi luas terpisah dari pemiliknya (pemerintah). Dalam masalah dana dari pemerintah (dana hibah maupun dana penelitian), sekarang memperlakukan antara PTS dan PTN secara sama, yaitu memiliki peluang yang sama untuk mendapat dana-dana tersebut. Di bidang kurikulum pun sekarang tidak ada lagi kurikulum nasional, yang akan ada hanya standar-standar kompetensi siswa. Peran lembaga rangking perguruan tinggi asing pun sudah mulai terasa. Keberadaan majelis wali amanat, yang merupakan copy paste dari sistem board of trustee di universitas-universitas Amerika USA, lebih memperjelas pengaruh pemikiran sekuler kapitalis dalam sistem pendidikan tinggi. Walhasil, dapat kita prediksi bila penjajahan sekuler kapitalisme dalam bidang pendidikan tidak dihentikan, maka gambaran dunia pendidikan di Indonesia akan semakin suram. Akan kita lihat PTS menjadi lebih kuat lebih berkualitas dan lebih dominan dalam dunia pendidikan, disertai dengan munculnya PT-PT swasta asing. Orientasi kurikulum PT akan mengikuti perkembangan pasar. Mahalnya pendidikan (khususnya pendidikan tinggi) bagi kebanyakan masyarakat. Munculnya sistem pinjaman siswa (student loans) untuk membayar biaya kuliah. Munculnya lembaga akreditasi dan perangkingan swasta. Desentralisasi sistem pendidikan dasar dan menengah, dan otonomi total (bidang pendanaan maupun akademik) universitas-universitas milik negara Ideology Liberalisme dalam pendidikan kita PARA praktisi pendidikan, seperti guru dan dosen di sekolah formal, trainer di tempat kursus atau lokakarya, maupun fasilitator pelatihan di kalangan buruh dan petani miskin, banyak yang tak kunjung siuman bahwa mereka punya andil dalam pertarungan politik dan ideologi di arena pendidikan.Pikiran mereka masih terendam mitos. Pendidikan diyakini sebagai kegiatan mulia, mengandung kebajikan, dan bebas nilai. Paulo Freire, dalam Pedagogy of The Oppresed (1973), Educational for Critical Consciousness (1981), dan Pedagogy of Hope (1994), melakukan gebrakan baru guna membangunkan para praktisi pendidikan dari amnesia sejarah. Freire, melalui paradigma pembebasan dan konsientisasinya, menyadarkan bahwa pendidikan yang dimitoskan luhur itu ternyata tidak netral, melainkan sarat berbagai agenda ideologis, arena pertarungan kepentingan, dan diam-diam melegitimasi sistem sosial pengekal kezaliman. Apa yang terjadi di dunia pendidikan, bagi pemikir Brasil yang meninggal pada tahun 1996 itu, adalah apa yang terjadi dalam masyarakat riil yang dikendalikan kekuatan

kapital, yakni penindasan mereka yang kuat terhadap mereka yang miskin dan tidak berdaya. Penindasan itu tidak hanya bersifat fisik. Pun membatin sampai ke relung terdalam kesadaran manusia. Menggunakan metafora kodok rebus, peningkatan suhu penindasan itu berlangsung perlahan-lahan namun pasti dan akhirnya matilah sang kodok; matilah kebebasan anak didik. Prinsip kaum liberalisme pendidikan adalah mengangkat perilaku personal yang efektif. Dalam hal ini, tak lebih hanya sebagai sarana untuk pembelajaran bagi siswa tentang bagaimana cara menyelesaikan persoalan praktis melalui penerapan tatacara-tatacara pemecahan masalah secara personal maupun kelompok, dengan berdasar pada metode ilmiah-rasional. Adapun ciri-ciri umum dari liberalisme pendidikan antara lain; Pertama, Pengetahuan adalah alat yang digunakan untuk memecahkan masalah praktis. Kedua, Individu adalah pribadi yang unik, yang mampu menemukan kepuasan terbesar dalam mengungkapkan dirinya menanggapi kondisi yang berubah; pemikiran efektif (kecerdasan praktis)-kemampuan menyelesaikan problema-problema personal secara efektif-adalah perangkat yang mesti digunakan. Ketiga, pendidikan adalah pengembangan efektifitas personal, yang berpusat pada tatacara-tatacara pemecahan masalah perseorangan maupun kelompok dengan menekankan pada situasi dan masa depan yang dekat sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhan dan persoalan-persoalan individu sekarang. Pendekatan liberal inilah yang mendominasi segenap pemikiran tentang pendidikan baik pendidikan formal seperti sekolah, maupun pendidikan non-formal seperti berbagai macam pelatihan. Akar dari pendidikan ini adalah Liberalisme, yakni suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak, dan kebebasan (freedoms), serta mengidentifikasi problem dan upaya perubahan social secara inskrimental demi menjaga stabilitas jangka panjang. Konsep pendidikan dalam tradisi liberal berakar pada cita cita Barat tentang individualisme. Ide politik liberalisme sejarahnya berkait erat dengan bangkitnya kelas menengah yang diuntungkan oleh kapitalisme. Pengaruh liberalisme dalam pendidikan dapat dianalisa dengan melihat komponen komponennya. Komponen pertama, adalah komponen pengaruh filsafat Barat tentang model manusia universal yaitu manusia yang "rational liberal". Ada beberapa asumsi yang mendukung konsep manusia "rasional liberal" seperti: pertama bahwa semua manusia memiliki potensi sama dalam intelektual, kedua baik tatanan alam maupun norma sosial dapat ditangkap oleh akal. Ketiga adalah "individualis" yakni adanya angapan bahwa manusia adalah atomistik dan otonom (Bay,1988). Menempatkan individu secara atomistic, membawa pada keyakinan bahwa hubungan sosial sebagai kebetulan, dan masyarakat dianggap tidak stabil karena interest anggotanya yang tidak stabil. Pengaruh liberal ini kelihatan dalam pendidikan yang mengutamakan prestasi melalui proses persaingan antar murid. Perankingan untuk menentukan murid terbaik, adalah implikasi dari paham pendidikan ini. Pengaruh pendidikan liberal juga dapat dilihat dalam berbagai training management, kewiraswastaan, dan training-training yang lain. Contoh kongkrit pendekatan liberal bisa kita lihat pada Achievement Motivation Training (AMT) yang diciptakan oleh David McClelland. McClelland berpendapat bahwa akar masalah keterbelakangan dunia ketiga karena mereka tidak memiliki apa yang

dinamakannya N Ach. Oleh karena sarat pembangunan bagi rakyat dunia ketiga adalah perlu virus "N ach" yang membuat individu agresif dan rasional (McClelland, 1961). Komponen kedua adalah Positivisme. Positivisme sebagai suatu paradigma ilmu sosial yang dominan sewasa ini juga menjadi dasar bagi model pendidikan Liberal. Positivisme pada dasarnya adalah ilmu sosial yang dipinjam dari pandangan, metode dan teknik ilmu alam memahami realitas. Positivisme sebagai suatu aliran filsafat berakar pada tradisi ilmu ilmu sosial yang dikembangkan dengan mengambil cara ilmu alam menguasai benda, yakni dengan kepercayaan adanya universalisme and generalisasi, melalui metode determinasi, 'fixed law' atau kumpulan hukum teori (Schoyer, 1973). Positivisme berasumsi bahwa penjelasan tungal dianggap 'appropriate' untuk semua fenomena. Oleh karena itu riset sosial ataupun pendidikan dan pelatihan harus didekati dengan metode ilmiah dengan berpijak pada positivisme yang melibatkan unsur-unsur seperti obyektivitas, empiris, tidak memihak, detachment, rasional dan bebas nilai. Pengetahuan selalu menganut hukum ilmiah yang bersifat universal, prosedur harus dikuantifisir dan diverifikasi dengan metode "scientific". Dengan kata lain, positivisme mensaratkan pemisahan fakta dan nilai dalam rangka menuju pada pemahaman obyektif atas realitas sosial. Pendidikan dan pelatihan dalam positivistik bersifat fabrikasi dan mekanisasi untuk memproduksi keluaran pendidikan yang harus sesuai dengan 'pasar kerja'. Dalam pola pemikiran positivistic Murid dididik untuk tunduk pada struktur yang ada. Dari sana, bisa kita lihat bahwa pada paradigma liberal pendidikan biasanya lebih melanggengkan system yang ada dengan melahirkan anak-anak didik yang berperan dalam mempertahankan system tersebut. Tradisi liberal telah mendominasi konsep pendidikan hingga saat ini. Pendidikan liberal adalah menjadi bagian dari globalisasi ekonomi 'liberal' kapitalisme. Dalam kontek lokal, paradigma pendidikan liberal telah menjadi bagian dari sistim developmentalisme, dimana sistim tersebut ditegakan pada suatu asumsi bahwa akar 'underdevelopment' karena rakyat tidak mampu terlibat dalam sistim kapitalisme. Pendidikan harus membantu peserta didik untuk masuk dalam sistim developmentalisme tersebut, sehingga masyarakat memiliki kemampuan dalam kompetisi di system kapitalis. Pada paradigma pendidikan liberal, fokus utama terletak pada bagaimana membuat anak didik memiliki kemampuan sehingga mereka bisa bersaing di tengah sistem yang berlaku pada masyarakat. Pendidikan liberal tidak melihat masalah yang berkembang dalam masyarakat karena sistem sosial masyarakat tersebut, tetapi karena ketidaksiapan manusia dalam menghadapi sistem. Sehingga ini akan mengakibatkan pembelajaran yang bersifat memberikan pengetahuan dan keterampilan yang berguna sebanyak-banyaknya kepada anak didik, pengetahuan bersifat doktriner dan menilai sesuatu hanya dengan melihat kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh anak didik. Menariknya ideologi pendidikan inilah yang sekarang sedang berkembang ditengah-tengah masyarakat global. Ilusi Kurikulum Pendidikan dalam Kuasa Neoliberalisme Tema yang menyorot tentang problem-problem pendidikan kerap menjadi perhatian besar. Tidak hanya karena pendidikan dipikir penting, tetapi pendidikan menjelma menjadi kebutuhan mendasar yang hampir secara keseluruhan menyita perhatian hidup

manusia. Tanpa pendidikan manusia seakan menjadi kehilangan separuh hidupnya. Diskusi-siskusi pendidikan tidak urung selalu menarik untuk dilakukan, tetapi anehnya sekian waktu proses berjalan, pendidikan justru terasa berjalan sangat lamban. Problem pendidikan tidak justru berkurang melainkan semakin memunculkan species-species problem yang lain. Problemnya kemudian bergerak sangat politis. Ada mata rantai yang kerap terputus dalam membaca proses pendidikan terutama berkait dengan persoalan ekonomi politik; pendidikan ini . Mengapa harus tema ekonomi politik kita angkat kembali? Apakah pembahasan tentang isi kurikulum juga bisa berkait dengan persoalan tersebut? Menarik jika kita memulai untuk melakukan penelusuran tersebut. Pengetahuan dan kekuasaan saling terkait satu sama yang lain. Kita tidak bisa membayangkan bahwa suatu ketika ;pengetahuan tidak lagi bergantung pada kekuasaan, sebagaimaa mustahil pengetahuan tidak mengandung kekuasaan (Michel Foucault) Sejak indonesia mencanangkan pembukaan pasar dengan ruang kebijakan liberal, maka sejarah mengalirnya berbagai kepentingan modal yang menyentuh pendidikan mulai dirasakan. Modal-modal asing masuk bersamaan dengan masuknya berbagai ilmu kepentingan barat. Hampir bertahun-tahun wacana yang dikonstruksi oleh proyek pendidikan telah memperoleh status kebenaran dan secara efektif membentuk sekaligus memaksa suatu cara agar kepentingan-kepentingan pasar berbicara dan bertindak terhadap dunia ketiga. Maka sejak lama pula proyek-proyek pendidikan didesain oleh para perancang dan penggagasnya sebagai sebagai proyek yang seakan-akan netral dan bebas nilai yang lebih didorong oleh semangat humanisme. Narasi pendidikan kemudian selalu menghindari analisis yang bersifat politis dan ideologis. Pembahasan tentang tema-tema pendidikan dalam banyak hal kemudian dipisahkan dari lingkungan produksi sosialnya dan dijauhkan dari aspek;relasi kuasa Tidak ada sesuatu hal yang begitu saja ada dan a-historis, yang sesungguhnya muncul adalah diadakan demikianlah yan dilontarkan Edward W.Said. Seperti juga yang pernah diungkapkan Michel Foucault bahwa tidak ada relasi kuasa tanpa keberadaan wilayah pengetahuan, dan juga tidak ada pengetahuan yang tidak menimbulkan relasi kuasa. Ketika pengetahuan dalam pendidikan jatuh pada relasi kuasa ini maka ia membentuk apa yang dinamakan oleh Rita Abrahamsen sebagai rezim kebenaran. Atas kepentingan itu pula maka sejak neoliberalisme diangkat sebagai matra suci bagi pembangunan pendidikan saat ini, maka pasar telah menciptakan komoditas baru yang disebut pendidikan. Pertimbangan itu mempengaruhi kepentingan pasar melalui negaranegara maju untuk memaksakan agenda-agenda penting dalam komersialisasi sektor ilmu pengetahuan ini. Pendidikan kemudian menjadikan jembatan bagi masuknya ide-ide dan gagasan bagi kepentingan neoliberal. Tidak heran jika kepentingan pasar saat ini telah berhasil memasukkan klausul pendidikan sebagai salah satu sektor jasa yang bisa dijual dan diperdsgangkan. Problem sekolah mahal, isi kurikulum dan menjamurnya kebijakan privatisasi pendidikan sangat terkait dengan bagaimana perubahan pada tingkatan makro ini terjadi. Sebagai mana kedigdayaan neoliberalisme yang telah mampu memaksa semua negara untuk membuka pasar dan mencabut semua subsidi yang penting bagi masyarakat. Pasar selalu menjanjikan bahwa dalam situasi pasar terbuka maka kompetisi dapat berjalan dan selanjutnya membuka tingkat pertumbuhan dan kemjuan masyarakat secara lebih sehat. Inilah mitos yang selalu dibangun. Mungkin kompetisi menjadi sangat menyenangkan bagi kekuatan-kekuatan

negara dengan tingkat modal raksasa yang dimilikinya dan tentu sangat menyakitkan bagi negeri-negeri miskin yang selalu tergantung seperti Indonesia. Seiring dengan berjalannya pasar, negara justru tidak pernah hadir untuk menjadi benteng pelindung bagi terciptanya akses yang adil bagi seluruh masyarakat. Negara berubah menjadi entitas pengetok palusekaligus pemberi legitimasi bagi berjalannya mesin-mesin pasar pendidikan. Tidak jarang pula, negara justru mengeluarkan berbagai kebijakan dan aturan hukum yang memberikan legitimasi dan kebebasan seluas-luasnya pada pasar untuk bisa mengelola pendidikan. Kasus yang paling bisa kita baca adalah kebijakan privatisasi dan pembentukan universitas menjadi lembaga dan badan hukum yang bisa dikelola secara swasta. Pada titik ini mata rantai sudah bisa kita baca. Negara justru telah merelakan sepenuhnya bahwa persoalan pendidikan menjadi sasaran liberalisasi pendidikan. Desakan-desakan untuk melakukan bentuk-bentuk perubahan kurikulum pendidikan jika ditelisik lebih mendasar justru banyak mempertimbangkan problem basis produksi ini. Kepentingan modal telah ditransformasikan melalui berbagai agen dan aktor pendidikan seperti negara, pelaku pasar, organ filantropi, kekuatan media dan kelompok kepentingan politik untuk menjadi aparatus yang sangat efektif mendukung kepentingan modal tersebut. Sejarah pengembangan kurikulum dengan berbagai variasi perubahnnyan baik pada wilayah isi dan pengelolaan tema-tema pendidikan, pembiayaan dan tahapan pelaksanaan, selalu dekat dengan gesekan-gesekan berbagai kepentingan itu. Tuntutan yang secara normatif ditegaskan dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional bahwa tujuan pendidikan harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global, terasa menjadi bermasalah ketika dihadapkan pada struktur mata rantai yang sebenarnya. Kurikulum Berbasis Kompetensi yang secara meluas telah diberlakukan di semua jenjang pendidikan dan dimantapkan lagi melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah atau yang kerap disebut sebagai KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dalam tingkat substansi dan pelaksanaan masih membawa persoalan yang serius. Pertama bahwa komitemen perubahan pada satuan kurikumum sama sekali masih belum meneyntuh pada komitmen dan keseriusan negara untuk menjamin proses pembangunan pendidikan secara lebih adil. Atmosfir yang dirasakan masih pada pola pola kebijakan fragmentatif dan pragmatis. Kedua, perubahan kurikulum menjadi terlihat sebagai keniscayaan yang tidak mampu dihindari oleh negara untuk keluar dari keterjebakan intervensi pasar dalam pengelolaan pendidikan. Ketiga, pada tingkat implementatif tidak juga disertai dengan upaya secara komprehensif menyertakan dukungan-dukungan pada kebijakan-kebijakan sektor lain yang terkait. Kebijakan kurikulum bukanlah entitas netral yang yang hanya menjadi kepedulian sektor pendidikan. Kurikulum adalah prototype wajah generasi pendidikan yang harus disusun dalam kerangka yang luas menyertakan seluas-luasnya keterlibatan masyarakat. Problem pendidikan daerah menjadi cukup signifikan mengingat perubahan-perubahan dalam tingkatan global memaksa daerah sekaligus telah menjadi ruang sekaligus aktor dalam percaturan politik ekonomi internasional. Bagi kepentingan modal, daerah adalah peluang. Iklim pasar membutuhkan berbagai kebijakan daerah yang harus merespon

secara positif. Desentralisasi merupakan jargon dan narasi yang dianggap menjanjikan bagi kepentingan daerah. Inilah titik masalah yang perlu kita kaji dan kita angkat berkait dengan harapan desentralisasi yang juga nerambah pada sektor kebijakan pendidikan. Dalam sistem ekonomi politik yang masih timpang, harapan pada kemajuan pendidikan yang juga berdampak pada pembangunan daerah kerap terjebak pada logika-logika ekonomis praktis. Pertumbuhan pembangunan daerah tetap masih akrab dengan roh perspektif developmentalisme. Kemajuan pendidikan menjadi sarat dengan hitungan-hitungan angka ekonomis yang meletakkan kebijakan pendidikan bak entitas mesin penghasil keuntungan. Inilah ironi pasar yang saat ini Indonesia hadapi. Langkah serius dan mendesak yang harus dilakukan adalah, pertama-tama tentu adalah mengkaji dan merumuskan kembali secara mendalam persoalan mendasar bangunan ideology pendidikan terutama untuk menghindari dasar orientasi yang selalu menghamba pada kepentingan laba. Di titik ini, strukur kepentingan pendidikan selalu akan menyentuh pada mata rantai struktur ekonomi politik yang lebih besar. Dalam catatan sejarah, pendidikan adalah bagian sektor yang selalu menjadi tarikmenarik untuk diperebutkan. Apa yang menjadi gagasan Louis Althusser barangkali menjadi benar bagwa pendidikan mampu menjadi mesin aparatus ideologis yang paling efektif untuk membangun berbagai narasi pengetahuan yang mendukung formasi sosial yang dibangun oleh kekuasaan. Tinggal yang terpenting bagi kita saat ini adalah formasi hubungan sosial apa yang saat ini akan Indoneisia rumuskan untuk membangun modelmodel pendidikan yang tepat bagi masyarakat. Selamat berdiskusi. Revolusi adalah sebuah proses kritis yang tidak akan terwujud tanpa ilmu pengetahuan dan refleksi (Paulo Freire). Konstruktivisme Menurut Von Glasersfeld (1988) pengertian konstruktif kognitif muncul pada pertengahan abad ke-19 dalam tulisan Marx Baldwin yang secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget. Namun bila ditelusuri lebih jauh, gagasan pokok konstruktifisme sebenarnya sudah dimulai oleh Giambatissta Vico, seorang epistemolog dari Itali. Dialah cikal bakal konstruktivisme. Pada tahun 1710 Vico dalam De Antiquissima Italorum Sapienta, mengungkapkan filsafatnya dengan berkata "Tuhan adalah pencipta alam, dan manusia adalah tuan dari ciptaannya". Ia menjelaskan bahwa "mengetahui" berarti "mengetahui bagaimana cara membuat sesuatu". Ini berarti orang dapat mengetahui sesuatu setelah ia dapat menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu. Dalam dunia pendidikan konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan adalah hasil dari konstruksi manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena dan lingkungan sekitar. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena. Bagi kaum konstruktifisme, pengetahuan tidak bisa begitu saja ditransfer dari seseorang kepada seseorang lainnya, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Tiap orang harus mengkonstruksi pengetahuan sendiri, karena pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang

terus menerus. Dalam proses ini keaktifan seseorang yang ingin tahu amat berperan dalam perkembangan pengetahuannya. Pendidikan di Indonesia telah lama menjadi instrumen pembangunan. Tanpa pernah dipersoalkan agenda ideologis macam apa yang mendasari pembangunan. Fenomena "sekolah unggulan" dan "link and match" merupakan contoh bagus tentang pendidikan yang begitu bersimpuh dan mengabdi secara membabi buta pada pembangunanisme yang tak lain kemasan baru dari anggur lama kapitalisme. Ideologi itu sejak dari tempat asalnya, Amerika Serikat, tidak adil. Terbukti, pembangunan di Indonesia yang lebih mementingkan segi fisik, ternyata membuat bangsa Indonesia berputar-putar dalam lingkaran setan krisis multidimensi dan represi rezim kleptokratik puluhan tahun. Orientasi pembangunan yang dominan ke segi fisik dan melalaikan pembangunan mental dan moral, akhirnya memerosokkan bangsa Indonesia dalam perang antaretnik, konflik agama, dan disintegrasi wilayah. Ideologi pembangunan yang sebetulnya dimanipulasi itu, juga nyaris menenggelamkan perekonomian Indonesia akibat belitan gurita korupsi. Konyolnya, pendidikan justru menjadi bagian dari masalah dan gagal memberikan solusi. Setiap usaha pendidikan yang pernah dilakukan, sebagaimana diuraikan Mansour Fakih, tanpa visi dan pemihakan yang jelas, sulit diharapkan menjadi media perwujudan nilainilai keadilan, kerendahan hati, kejujuran, ugahari, demokrasi, dan toleransi. Pendidikan, menurut pengamatan doktor andragogi (pendidikan orang dewasa) lulusan Universitas Massachusetts Amerika Serikat ini, akan tetap menjadi media pelestari ideologi bercorak kapitalistik, konsumeristik, hedonistik, materialistik, feodalistik, dan kleptokratik. Hasil pendidikan macam itu, katanya, bukan manusia bermartabat yang memiliki integritas moral sebagai pelaku perubahan; melainkan manusia tidak otentik, berotak kerdil, bermental pencuri, dan penjaga status quo. Dunia pendidikan yang idealnya menjadi penjaga gawang moral yang berbasis budi pekerti kini semakin memprihatinkan. Dunia pendidikan di negeri ini kian terpuruk menjadi sebuah komoditas yang dibanderol dengan angka-angka rupiah. Dunia pendidikan tidak ubahnya menjadi lembaga bisnis yang mengeruk keuntungan maksimum dari para konsumennya, yakni para siswa dan orangtua siswa. Dunia pendidikan dalam pemahaman "birokrasi institusional" tidak luput pula dari deraan praktik korupsi nilai, korupsi budaya, dan korupsi idealisme. Korupsi nilai terjadi manakala dunia pendidikan terjebak dalam arus liberalisasi (kapitalisasi) yang menjadikan dunia pendidikan sebagai matra ekonomi. Korupsi budaya, dunia pendidikan tidak luput dari praktik budaya menjiplak di kalangan siswa, kebiasaan mendongkrak nilai yang dilakukan para guru, kultur membantu standar penilaian bagi anak-anak guru karena ikatan "bina lingkungan" dan sebagainya. Sedangkan korupsi idealisme dunia pendidikan kian pragmatis menjual "jargon-jargon" keunggulan tanpa bukti. Dengan demikian, kini banyak bermunculan label sekolah unggulan, sekolah berstandar internasional, kelas akselerasi, dan sebagainya. Jargon-jargon yang konon menempatkan satuan (unit) dunia pendidikan sebagai sesuatu yang "unggul" dan berkualitas ditengarai oleh para pemerhati pendidikan kritis sebagai strategi jitu untuk menaikkan biaya pendidikan setinggi langit. Padahal, jika ditelaah kualitas berbagai unit pendidikan semacam sekolah berstandar internasional, sekolah

unggulan, kelas akselerasi sangat diragukan. Mengapa demikian, karena dalam fakta kualitas pendidikan nasional Indonesia masih terpuruk dibanding negara-negara lain, bahkan ketinggalan dengan indeks mutu pendidikan negara semacam Vietnam atau Malaysia. Labeling dunia pendidikan yang konon berkualitas memang dalam realitasnya adalah strategi untuk mengeruk keuntungan ekonomis dari para konsumen yang dilayani. Tidak mengherankan sering terlansir di media, biaya pendidikan berbagai sekolah "unggulan" dan sejenisnya setiap tahun ajaran baru mencapai angka jutaan atau bahkan puluhan juta rupiah. Mahalnya dunia pendidikan di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, masih kuatnya kultur korupsi dan ego kapitalisme dalam dunia pendidikan. Tidak dimungkiri dan bahkan menjadi rahasia umum bahwa korupsi di dunia pendidikaninstitusional formal-termasuk rangking 10 besar menurut catatan Trancparancy International. Hasil penelitian ICW tahun 2007 bahkan menyebut sekolah sebagai unit kerja juga sering menjadi arena korupsi sistemik yang dibiarkan tumbuh berkembang secara pesat. Kedua, lepasnya tanggung jawab negara dalam pembiayaan pendidikan. Melalui UU Sisdiknas tahun 2003 dilegitimasi ideologi liberalisasi pendidikan. Dunia pendidikan ibaratnya semakin tumbuh kembang menjadi lembaga bisnis yang menggiurkan dan menguntungkan bagi para pemilik sahamnya. Menyoal dunia pendidikan di Indonesia memang akan dijumpai kondisi yang paradoks. Di satu sisi ada kabar siswa-siswa dari sekolah unggulan memenangkan kejuaraan olimpiade pendidikan, namun di sisi lain semakin meningkat persentase angka DO di kalangan masyarakat miskin. Ada kabar menyenangkan meningkatnya angka kelulusan UN yang kontroversial, di sisi lain ada kabar kecurangan dalam pelaksanaan UN yang ironisnya sering melibatkan perilaku para pendidik. Saat ini integritas moral dalam dunia pendidikan semakin tenggelam. Ibaratnya semakin tenggelam di dalam "catacomb" (baca" katakomba, sebuah goa penguburan di dalam tanah). Dunia pendidikan di Indonesia semakin kehilangan aksentuasi moral keberpihakan kepada kepentingan aksesibilitas hak publik. Pendidikan yang dibuat semakin mahal biayanya mengabaikan makna tanggung jawab negara dalam melayani hak memperoleh pendidikan bagi rakyatnya. Karena itu, lambatlaun pendidikan menjadi barang yang mahal bagi siswa dari keluarga miskin. Pendidikan yang masih mengembangkan kultur KKN juga mendiskriminasi hak potensial para pembelajar. Contoh aktual adalah masih dipraktikkannya kultur bina lingkungan, di mana anak guru memperoleh prioritas meraih kursi tempat orangtua mereka mengajar dan bahkan sering dibantu dalam upaya mendongkrak standar penilaian dalam kegiatan belajar-mengajar. Pendidikan yang menjadi alat menumpuk keuntungan ekonomis dari pemegang kekuasaan birokrasi pendidikan pada hakikatnya juga mencederai hakikat pendidikan sebagai pengembang nilai kejujuran. Bagaimana bisa menjadi alat pembentuk karakter anak didik (generasi muda) bangsa yang cerdas dan jujur bila dunia pendidikan dalam dunia pendidikan masih tumbuh budaya korupsi? Negara ini jika ingin maju dunia pendidikannya bisa memilih satu di antara dua Opsi. Pertama, pendidikan harus berkiblat ke arah negara maju. Konsekuensinya pilihan liberalisasi pendidikan, pendidikan berbiaya mahal namun berkualitas. Syarat

fundamentalnya adalah segala praktik korupsi, feodalisme, dan pragmatisme harus dicuci bersih. Opsi kedua, pendidikan berpaling kepada sistem pendidikan egaliter semacam yang ada di negara sosial demokrat atau sosialis seperti Prancis, Kuba, Libia di mana biaya pendidikan dibuat murah sehingga masyarakat bisa mengakses fasilitasi pendidikan yang berkualitas. Selama ini karakter dunia pendidikan di Indonesia hanya mengambil setengah bagian dari nilai positif dua opsi sistem/budaya pendidikan di atas. Pendidikan dijadikan alat pengeruk keuntugan ekonomis dengan biaya mahal dan jargon sekolah unggulan dan sejenisnya, namun masih diliputi kultur feodalisme/kapitalisme dan KKN. Di era Orde Baru, pendidikan berbiaya murah namun kontrol ideologi pendidikan mematikan proses perkembangan ilmu pengetahuan yang objektif sehingga sekolah (dunia pendidikan) ibaratnya menjadi aparatus ideologi untuk membungkam perkembangan kesadaran kritis masyarakat dan generasi muda. Melihat pada realitas pendidikan di Indonesia, termasuk pendidikan dasar, maka secara umum ideologi pendidikan Indonesia sekarang ini berkecenderungan pada ideologi pendidikan liberal. Hal tersebut terlihat dari beberapa kebijakan yang relatif liberal. Pertama, pengacuan pendidikan lebih menitikberatkan pada penguasaan kompetensi, sedangkan kompetensi yang dimakdus selalu mengacu pada kebutuhan dunia kerja kapitalis. Dengan kata lain pendidikan pada akhirnya hanyalah menjadi sekrup kecil dari roda-roda kapitalisme. Seakan persepsi yang didesakkan pada peserta didik, dunia pendidikan, dan bahkan masyarakat luas adalah, “pendidikan untuk bekerja”. Sedikit banyak memang benar, tapi pada akhirnya hal itu justru menjadikan perspektif memandang pendidikan kian sempit dan menafikan dimensi lain pendidikan, yakni dimensi kemanusiaan. Jadi pembelajaran tidak banyak diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik sebagai manusia secara utuh seperti untuk aktualisasi diri, sebagai manusia yang merdeka dan berdaulat dengan dirinya sendiri untuk berproses menjadi manusia. Mereka dikooptasi oleh orientasi kerja, kerja, dan kerja. Di sinilah dalam ranah sosial timbul yang dinamakan dehumanisasi pendidikan; pendidikan tidak menghasilkan manusia yang manusiawi, melainkan manusia-manusia robot, mekanistis, individualis. Kehalusan budi, sopan santun, akhlak mulia, kerendah hatian, tidak diasah dalam pendidikan yang berideologi liberal yang mengabdi pada kapitalisme an sich. Kedua, pendidikan berideologi liberal menitikberatkan proses pembelajaran pada peserta didik, sementara guru sekadar sebagai motivator, pengarah, bukan aktor utama dalam proses pembelajaran, bukan satu-satunya sumber pembelajaran. Yang dituju adalah aktualisasi diri siswa sepenuhnya. Hal ini artinya merombak tradisi pembelajaran yang telah mendarah daging selama ini di lembaga pendidikan, yakni guru adalah pusat pembelajaran di kelas, yang di-gugu lan ditiru (diiyakan petuahnya dan dianut keteladanannya). Kebijakan ini tidak serta merta menjadikan pembelajaran dan siswa dapat sepenuhnya mengaktualisasikan diri hingga berprestasi menggembirakan. Guru banyak yang masih konservatif dan tidak dapat memerankan diri sekadar sebagai motivator pembelajaran. Di sisi lain siswa pun belum dapat menerima kehadiran guru sekadar sebagai motivator, siswa masih saja pasif dalam proses pembelajaran. Siswa belum dapat mandiri dan menjadi kritis sebagaimana diharapkan oleh paradigma dan/atau pendidikan liberal. Hal itu terjadi karena mereka masih kentalnya kultur belajar teacher

centered selama ini. Yang terjadi selanjutnya adalah gagap proses pembelajaran dalam memadukan antara idealisme sebagaimana kebijakan pemerintah melalui Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang student centered dengan realitas pembelajaran di lapangan yang belum dapat melepaskan diri dari konsep teacher centered. Ketiga, desentralisasi pendidikan yang satu paket dengan otonomi daerah sebagai kebijakan yang dikeluarkan pascareformasi dengan agenda politik demokratisasi. Demokrasi sebagai anak dari liberalisme dalam konsepsi politik melahirkan kebijakan desentralisasi pengelolaan pemerintahan yang juga berimbas dengan kebijakan desentralisasi pengelolaan pendidikan. Pada dasarnya kebijakan ini bertujuan untuk memberrikan kewenangan untuk mengelola secara mandiri bagi daerah dan satuan pendidikan masing-masing. Kebijakan ini pada akhirnya menuai masalah, terutama ketika pemerintah ngotot memberlakukan ujian nasional (UN) dengan acuan standar nasional, padahal di sisi lain pemerintah juga mengeluarkan kebijakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang memberikan kebebasan pada masing-masing daerah dan institusi pendidikan untuk memberikan proses pembelajaran optimal namun menyesuaikan dengan kemampuan dan lokal. Akhirnya timbul protes ketika dilaksanakan UN yang mengacu pada standar nasional yang belum tentu sesuai dengan standar lokal masing-masing daerah dan satuan pendidikan. Terjadi semacam ketidakadilan dan kerancuan paradigmatik di mana masingmasing satuan pendidikan diberi kebebasan menyusun proses pembelajaran sesuai dengan kekhasan, potensi, dan kemampuan yang ada dengan tanpa menafikan upaya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, namun di sisi lain kebebasan tersebut dirampas oleh adanya standarisasi nasional UN sebagai penentu kelulusan siswa. Standar inilah yang seringkali tidak dapat dijangkau oleh satuan pendidikan di daerah yang relatif terbelakang. Pelaksanaan UN ini pun pada akhirnya berakibat pada banyak kecurangankecurangan dalam pelaksanaannya. Konsepsi ideologis yang menghegemoni pemikiran dan kebijakan pendidikan pada akhirnya memberi warna cukup beragam untuk dunia pendidikan kita. Selayaknya dalam gerusan globalisasi, neoliberalisme, dan kapitalisme sekarang ini semua stakeholder dunia pendidikan, terutama pemerintah dan Depdiknas memiliki konsep yang jelas, tegas, dan kuat secara ideologis untuk menentukan kebijakan-kebijakan pendidikan yang tepat, hingga tidak terlalu berisiko menimbulkan problem paradigmatik dan implementatif. Jika tidak, maka agaknya selamanya dunia pendidikan kita akan selalu disibukkan untuk mengatasi masalah-masalah yang sebetulnya tidak perlu terjadi jika pemerintah memiliki landasan ideologis pendidikan yang jelas dan sesuai dengan konteks keindonesiaan. Beberapa pendidik kritis Indonesia telah memulai langkah besar menggali filosofi dan ideologi pendidikan kita, H.A.R Tilaar dengan pedagogik transformatifnya, (alm) Mansour Fakih dengan pendidikan partisipatoris-emansipatorisnya, Y.B Mangunwijaya dengan SD Mangunan yang humanisnya, Winarno Surakhmad dengan paradigma Gurunya, Mochtar Buchori, Darmaningtyas, dan lainnya. (Wallohu A’lam Bishawab). Kepustakaan Cahyana, Ade, Indonesia 2010: Merubah Mitos menjadi Realitas Pembangunan, From: http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/26/indonesia 2010 Ade Cahyana.htm, sabtu, 16/9/ 2006, jam. 13.10.

Freire, Paulo, 1995, Pendidikan Kaum Tertindas, Terjemahan, Utomo Dananjaya, LP3ES, Jakarta. Kelompok Kerja Pengkajian dan Perumusan, Rangkuman Filosofi, Kebijaksanaan dan Strategi Pendidikan Nasional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1999, Jakarta. Mastuhu, 2003, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21, Safiria Insania Press dan MSI, Yogyakarta. Musa, Ibrahim, Otonomi Penyelenggaraan Pendidikan Dasar dan Menengah, From: http://202.159.18.43/jp/22ibrahim.htm, Akses, 5 Juni 2002 Nomida Musnir, Diana, 2000, Arah Pendidikan Nasional dalam Perspektif Historis, dalam Buku: Sindhunata [editor], 2000, Menggagas Paradigma Baru Pendidikan, Demokratisasi, Otonomi, Civil Society, Globalisasi, Kanisius, Yogyakarta. Purbo, Onno W., Pergeseran Drastis Paradigma Dunia Pendidikan, From: http://bebas.vlsm.org/v09/onno-ind-1/application/education/pergeserandrastis-paradigma-dunia-pendidikan-1998.rtf, 7/11/2003. Sanaky, Hujair AH., 2003, Paradigma Pendidikan Islam, Membangun Masyarakat Madani Indonesia, Safiria Insania dan MSI, Yogyakarta. --------, 2005, Sertifikasi dan Profesionalisme Guru di Era Reformasi Pendidikan, Jurnal Pendidikan Islam [JPI], Volume XII TH VIII Juni 2005, ISSN: 0853-7437, Jurusan Tarbiyah Fakultas Ilmu Agama UII, Yogyakarta. ----------, Paradigma Pembangunan Pendidikan di Indonesia Pasca Reformasi Antara Mitos dan Realitas. Suryadi, Ace, Pengelolaan Pendidikan Perlu Paradigma Baru, From:http://www. Kompas.com/kompas-cetak/0010/16/DIKBUD/peng09.htm.,akses, Sabtu, 23/8/ 2003. Suyanto & Djihad Hisyam, 2000, Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III, Adicita Karya Nusa, Yogyakarta. Suyanto, 2006, Dinamika Pendidikan Nasional [Dalam Percaturan Dunia Global], PSAP Muhammadiyah, Jakarta. Soedjiarto, 1999. "Memahami Arahan Kebijakan GBHN 1999-2004 tentang Pendidikan Sebagai Upaya Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Membangun Peradaban Negara bangsa Indonesia", Makalah, Primagama-IPSI-PGRI, Yogyakarta. Tilaar, H.A.R., 1998, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Abad 21, Tera Indonesia, Magelang. Yacub, Muhammad, From: http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/27/suatu opini mengenai reformasi_s.htm, akses, Rabu,20/9/2006, jam.13.35. Zamroni, 2000, Paradigma Pendidikan Masa Depan, Adipura, Yogyakarta. Insentif bagi Industri yang Lakukan Pelatihan, Kompas, Kamis, 26 Juni 1997 Tempo, 7 Januari 2001 Lewat Persentase Anggaran, Belajar dari Negara Lain, Kompas, Sabtu, 2 Mei 1998 Kabupaten dan Kota Menjadi Basis Pengelolaan Pendidikan Dasar, Kompas, Rabu, 24 Februari 1999 Sekolah Plus, Menghitung Dengan Dollar, Suplemen, Tempo, 18 Maret 2001 Kasrai, Reza, Corporate University, CFS-Quebec Education Action, edisi musim gugur 2001. http://www.newyouth.com/archives/campaigns/mexico/UNAM.asp

RUU BHP, Skenario Neoliberalisme, SUARA PEMBARUAN DAILY, September 5, 2007 BHMN, Neoliberalisme Pendidikan, Suara Pembaruan March 15, 2007 Muhammad Roqib, M.Ag , Politik Pendidikan dan Pendidikan Politik Sebagai Upaya Memajukan Bangsa, Jumat, 2008 Agustus 08 Pan Mohamad Faiz (New Delhi) , Polemik Inkonstitusionalitas Anggaran Pendidikan, Dimuat pada H.U. Seputar Indonesia (05/05/07) Pan Mohamad Faiz , Menanti Political Will Pemerintah di Sektor Pendidikan, Pikiran Rakyat Bandung , October 05, 2006 Abu Khaulah Zainal Abidin , “Ideologi Pendidikan Kita” Maret 22, 2008, Posted by rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan. Greg Russell, Bentuk Pemerintahan Berdasarkan Konstitusi (terj.), Demokrasi, Office of International Information Programs, US. Dept. of States., tanpa tahun. Richard C.Schroeder, Garis Besar Pemerintahan Amerika Serikat (terj.), Office of International Information Programs – United States Dept. of States, 2000. The center on Education Policy, Washington D.C., The Federal Role in US Education, US Society and Values, e-journals of the U.S.. Department of State, vol 5 no. 2, June 2000. Tiffany Danitz, The Standards Revolution In U.S. Schools, US Society and Values, ejournals of the U.S.. Department of State, vol 5 no. 2, June 2000. Anonim, The Federal Role in Education - Overview , US Department of Education in http://www.ed.gov Anonim, College Rankings, America’s "Top" Schools, US Society and Values, e-journals of the U.S.. Department of State, , vol 10 no. 2, November 2005. Judith S. Eaton, An Overview of U.S. Accreditation, publication of Council for Higher Education Accreditation, tanpa tahun . Robert H. Bruininks, Public Universities In The United States, US Society and Values, ejournals of the U.S.. Department of State, , vol 10 no. 2, November 2005. James W. Wagner, What Is A Large, Private Research University?, US Society and Values, e-journals of the U.S.. Department of State, , vol 10 no. 2, November 2005. Anonim, The Cost Of College In The United States, US Society and Values, e-journals of the U.S.. Department of State, , vol 10 no. 2, November 2005. Martina Schulze, Possible Sources Of Financial Aid, US Society and Values, e-journals of the U.S.. Department of State, , vol 10 no. 2, November 2005. Margaret S. Branson, At The Core Of U.S. Education, A Passion For Learning, US Society and Values, e-journals of the U.S.. Department of State, vol 5 no. 2, June 2000. Hizbut Tahrir, How the Khilafah was Destroyed, Khilafah Publication, London 2000 Ideologi Pendidikan Sebuah Pengantar , Tuesday, March 18, 2008 http://www.fppm.org/Info%20Anda/pendidikan%20yang%20membebaskan.htm. Mansour Faqih dan Toto Rahardjo. Pendidikan yang membebaskan, 09 Agustus 2002 http://www.pikiran-rakyat.com/Artikel/0802.htm. Ahmad Dahidi & Miftachul Amri. Potret Pendidikan di Jepang, Sebuah Refleksi. 22 Mei 2003.

Agus Syafii <agussyafii@yaho...>, Problem Pendidikan di Era Reformasi, February 18, 2008 Kepentingan Politik Masih Terlihat Lebih Menonjol, http://www.kompas.co.id/kompascetak/0708/08/humaniora/3750060.htm Pendidikan Indonesia Alami Proses Involusi, Harian Kompas, 4 September 2004 Agung Pramanto (JIP'98)/Redaksi AP, Dilema Otonomi Pendidikan: Catatan Dari Seminar Otonomi Pendidikan Nasional 2001 SMFSUI Otonomi Pendidikan Masih Hadapi Banyak Kendala, Jakarta, Sinar Harapan, 2003 St Kartono , Memahami Otonomi Pendidikan beserta Implikasinya, SUARA PEMBARUAN DAILY , 2002 Uni Eropa: Perdamaian Aceh Bukti Kekuatan Soft Power, TEMPO Interaktif, Jakarta, Rabu, 13 Desember 2006 | 21:15 WIB "Soft Power" dan Jejak Bush , Kompas, 21 Nopember 2006 Muhammad Roqib, M.Ag, Politik Pendidikan dan Pendidikan Politik Sebagai Upaya memajukan Bangsa, http://roqibstain.blogspot.com/2008/08/politikpendidikan-dan-pendidikan.html Marsudi Budi Utomo, 50 Tahun RI-Jepang, December 24, 2007 Novian Widiadharma, UIN Yogyakarta , Art, Soft Power, dan Tata Dunia Baru, Wednesday, 13 August 2008 07:15 Nurani Soyomukti (Esai Politik): "Soft Power", Strategi Gerakan Anti Teror(Isme), Sabtu, 2007 Agustus 25 Dino Patti Djalal Juru Bicara Kepresidenan, SBY dan "Soft Power" , URL Source: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/13/opini/1806887.htm Megawati: Pandangan Tentang Pendidikan Murah dan Gratis, Menyesatkan, Rabu, 05 Mei 2004 Khoirul Anwar , Membangun Moral di abad Global , 15 Juni 2008 - 17:05 Iskandar Alisjahbana , Cyberspace dari Peradaban Gelombang-Ketiga "Sifat dan Hakekat Manusia & Masyarakat di Dalam Era-Informasi" , Edisi ke Tujuh, April 1997 Baridul Islam Pr, “Abuse of Power” Kaum Intelektual, Purwokerto, 16 Maret 2003 Anonym, Masalah Pendidikan Di Indonesia, August 29, 2007 Yusufhadi Miarso, Pengembangan Terkini Sistem Pendidikan dan Pembelajaran di Perguruan Tinggi, Disampaikan dalam Semiloka Pengajaran dan Program Magang, Departemen Ilmu Hubungan Internasional, FISIP-UI, 2 Mei 2008 Banathy, Bela H. (1991). Systems Design of Education. A journey to create the future. Englewood Cliffs, NJ: Educational Technology Publications Dabbagh, Nada & Brenda Bannan-Ritland. Online Learning. Concept, strategies and application. Columbus,OH : Pearson. 2005 Miarso, Yusufhadi. (2005). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: PustekkomKencana Reigeluth, Charles M. and Robert J. Garfinkle. (eds.)(1994). Systemic Change in Education. Englewood Cliffs, NJ: Educational Technology Publications Toffler, Alvin. The Third Wave. London : Pan Books Ltd. UNSCTD. Knowledge Society. Published for and on behalf of The Unted Nations. Oxford,NY : Oxford University Press. 1998

Tim MWA Wakil Mahasiswa KM ITB dan Kastrat Kabinet KM ITB, Positioning Paper. Pernyataan Sikap KM ITB terhadap RUU BHP BHP: Gaya Baru Otokrasi Pendidikan Indonesia NIM. Sistem Pendidikan Yang Berkarakter dan Berbudaya, February 28, 2007 Benedict Richard O'Gorman Anderson. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. Edition: 2, revised. Verso, 1991 Bertrand Russell. Power: A New Social Analysis. Edition: 2. W.W.Norton & company, 1938 Chantal Mouffe . Gramsci and Marxist Theory: essays. Routledge, 1979 Dewey, John, 1974, The Child and The Curriculum,and The School and Society, Chicago and London, The University of Chicago Press. Giddens, Anthony, The Nation States and Violence: Volume Two of a Contemporary Immanuel Maurice Wallerstein, Immanuel Wallerstein. The Modern Worldsystem II. Edition: 2. Academic Press, 1980 Masinambow, EKM (ed), 1997, Koentjaraningrat dan Antropologi Indonesia, Jakarta, AAI dan Yayasan Obor Indonesia. McQuail, Denis, 2000, Mass Communication Theories, Fourth edition, Sage Publication, London Michael Wallerstein : The Political Economy of Inequality, Unions, amd Social Democracy. New York: Cambridge University Press, 2008 Renate Holub. Antonio Gramsci: Beyond Marxism and Postmodernism. Routledge, 1992 Rudolf Ekstein, Robert S. Wallerstein. The Teaching and Learning of Psychotherapy. Edition: 2. Basic Books, 1958 Siswanta, Relasi kekuasaan: telaah pemikiran Antonio Gramsci dalam konteks politik Indonesia kontemporer. Media Wacana, 2006 Sutaarga, Moh. Amir. 1997/1998. Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Museum. Jakarta: Proyek Pembangunan Permuseuman Jakarta Vedi R. Hadiz, Benedict Richard O'Gorman Anderson. Politik, budaya, dan perubahan sosial: Ben Anderson dalam studi politik Indonesia. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan Yayasan SPES, 1992 FX Sugiyanto, Ilusi Kurikulum Pendidikan dalam Kuasa Neoliberalisme , Saturday, 02 August 2008

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->