Demokrasi

Menurut Abraham Lincoln (Presiden AS ke-16), demokrasi adalah pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat (Democracy is government of the people, by the people and for the people). Azas-azas pokok demokrasi dalam suatu pemerintahan demokratis adalah:
• •

pengakuan partisipasi rakyat dalam pemerintahan, misalnya melalui pemilihan wakil-wakil rakyat untuk parlemen secara bebas dan rahasia; dan pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak azasi manusia.

Ciri-ciri pokok pemerintahan demokratis: a) Pemerintahan berdasarkan kehendak dan kepentingan rakyat banyak, dengan ciri-ciri tambahan:
• • • •

konstitusional, yaitu bahwa prinsip-prinsip kekuasaan, kehendak dan kepentingan rakyat diatur dan ditetapkan dalam konstitusi; perwakilan, yaitu bahwa pelaksanaan kedaulatan rakyat diwakilkan kepada beberapa orang; pemilihan umum, yaitu kegiatan politik untuk memilih anggota-anggota parlemen; kepartaian, yaitu bahwa partai politik adalah media atau sarana antara dalam praktik pelaksanaan demokrasi

b) Adanya pemisahan atau pembagian kekuasaan, misalnya pembagian/ pemisahan kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. c) Adanya tanggung jawab dari pelaksana kegiatan pemerintahan.

Macam-macam demokrasi:
1) Demokrasi ditinjau dari cara penyaluran kehendak rakyat: a) Demokrasi langsung Dipraktikkan di negara-negara kota (polis, city state) pada zaman Yunani Kuno. Pada masa itu, seluruh rakyat dapat menyampaikan aspirasi dan pandangannya secara langsung. Dengan demikian, pemerintah dapat mengetahui – secara langsung pula – aspirasi dan persoalan-persoalan yang sebenarnya dihadapi masyarakat. Tetapi dalam zaman modern, demokrasi langsung sulit dilaksanakan karena:

sulitnya mencari tempat yang dapat menampung seluruh rakyat sekaligus dalam membicarakan suatu urusan;

Demokrasi formal/ liberal sering pula disebut demokrasi Barat karena pada umumnya dipraktikkan oleh negara-negara Barat. setiap warga negara yang berhak secara langsung memilih orang-orang yang akan duduk di parlemen. musyawarah tidak akan efektif. Kepentingan umum pun diabaikan. sehingga sulit menghasilkan keputusan yang baik. Namun karena kesamaan itu. b) Demokrasi Material (Demokrasi Rakyat) Demokrasi material menitikberatkan upaya-upaya menghilangkan perbedaan dalam bidang ekonomi sehingga persamaan dalam persamaan hak dalam bidang politik kurang diperhatikan. Tipe demokrasi perwakilan berlainan menurut konstitusi negara masing-masing. Dalam sistem demokrasi yang demikian. partai penguasa (sebagai representasi kekuasaan negara) akan menjadikan . Sedangkan pada pemilihan bertingkat.• • tidak setiap orang memahami persoalan-persoalan negara yang semakin rumit dan kompleks. yang dipilih rakyat adalah orang-orang di lingkungan mereka sendiri. b) Demokrasi tidak langsung atau demokrasi perwakilan Sistem demokrasi (menggantikan demokrasi langsung) yang dalam menyalurkan kehendaknya. bahkan mudah dihilangkan. penerapan azas free fight competition (persaingan bebas) dalam bidang ekonomi menyebabkan kesenjangan antara golongan kaya dan golongan miskin kian lebar. Sistem ini digunakan di salah satu negara bagian Swiss yang disebut Kanton. c) Demokrasi perwakilan dengan sistem referendum Dalam sistem demokrasi ini rakyat memilih para wakil mereka untuk duduk di parlemen. kemudian orang-orang yang terpilih itu memilih anggota-anggota parlemen. rakyat memilih wakil-wakil mereka untuk duduk dalam parlemen. yaitu: pemilihan secara langsung dan pemilihan bertingkat. Kaum komunis bahkan menyebutnya demokrasi kapitalis karena dalam pelaksanaannya kaum kapitalis selalu dimenangkan oleh pengaruh uang (money politics) yang menguasai opini masyarakat (public opinion). 2) Demokrasi ditinjau dari titik berat perhatiannya: a) Demokrasi Formal (Demokrasi Liberal) Demokrasi formal menjunjung tinggi persamaan dalam bidang politik tanpa disertai upaya untuk mengurangi atau menghilangkan kesenjangan rakyat dalam bidang ekonomi. Pada pemilihan secara langsung. Sistem pemilihan ada dua macam. tetapi parlemen tetap dikontrol oleh pengaruh rakyat dengan sistem referendum (pemungutan suara untuk mengetahui kehendak rakyat secara langsung). Aspirasi rakyat disampaikan melalui wakil-wakil mereka dalam parlemen. Untuk mengurangi perbedaan dalam bidang ekonomi. semua orang dianggap memiliki derajat dan hak yang sama.

Negara-negara Barat banyak menggunakan demokrasi parlementer sesuai dengan masyarakatnya yang cenderung liberal. 3) Demokrasi ditinjau dari hubungan antaralat perlengkapan negara: a) Demokrasi perwakilan dengan sistem parlementer Demokrasi sistem parlementer semula lahir di Inggris pada abad XVIII dan dipergunakan pula di negara-negara Belanda.segala sesuatu sebagai milik negara. c) Demokrasi Gabungan Demokrasi ini mengambil kebaikan dan membuang keburukan demokrasi formal dan material. yaitu otoritas penguasa dapat dipaksakan kepada rakyat. Maka. tetapi diperlukan pembatasan untuk mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat. sistem satu (mono) partai. Persamaan derajat dan hak setiap orang tetap diakui. 2. Para menteri yang menjalankan kekuasaan eksekutif diangkat atas usul suara terbanyak dalam sidang parlemen. kebebasan dan hak-hak azasi manusia di bidang politik diabaikan. Polandia dan Hongaria dengan ciri-ciri: 1. Pelaksanaan demokrasi ini bergantung pada ideologi negara masing-masing sejauh tidak secara jelas kecenderungannya kepada demokrasi liberal atau demokrasi rakyat. yaitu partai komunis (di Rusia). Demokrasi ini sering disebut demokrasi Timur. sistem otoriter. Penyimpangan oleh seorang menteri pun dapat menyebabkan parlemen mengajukan mosi tidak percaya yang menggoyahkan kedudukan eksekutif. karena berkembang di negara-negara sosialis/ komunis di Timur. Belgia. maka kedudukan eksekutif akan stabil. yaitu pemimpin partai merangkap sebagai pemimpin negara/ pemerintahan. 3. Cekoslowakia. demi persamaan dalam bidang ekonomi. Demokrasi parlementer lebih cocok diterapkan di negara-negara yang menganut sistem dwipartai: partai mayoritas akan menjadi partai pendukung pemerintah dan partai minoritas menjadi oposisi. Ciri khas demokrasi ini adalah adanya hubungan yang erat antara badan eksekutif dengan badan perwakilan rakyat atau legislatif. . sistem perangkapan pimpinan. sesuai dengan konstitusi negara masing-masing. Hak milik pribadi tidak diakui. 4. Mereka wajib menjalankan tugas penyelenggaraan negara sesuai dengan pedoman atau program kerja yang telah disetujui oleh parlemen. dan Indonesia (pada masa UUDS 1950) dengan pelaksanaan yang bervariasi. Prancis. sistem pemusatan kekuasaan di tangan penguasa tertinggi dalam negara. seperti Rusia. Selama penyelenggaraan negara oleh eksekutif disetujui dan didukung oleh parlemen. Demokrasi material menimbulkan perkosaan rohani dan spiritual.

eksekutif (kekuasaan melaksanakan undang-undang) dan yudikatif (kekuasaan mengatasi pelanggaran dan menyelesaikan perselisihan antarlembaga yang berkaitan dengan pelaksanaan undangundang). 4. ketiga bidang itu harus dipisahkan. menteri-menteri yang diangkat merupakan kehendak dari suara terbanyak di parlemen sehingga secara tidak langsung merupakan kehendak rakyat pula. kebijakan politik pemerintah yang dianggap salah oleh rakyat dapat sekaligus dimintakan pertanggungjawabannya oleh parlemen kepada kabinet. terdapat pembagian kekuasaan (distribution of powers) antara badan eksekutif dengan badan legislatif dan kerja sama di antara keduanya. mudah mencapai kesesuaian pendapat antara badan eksekutif dan badan legislatif. Demokrasi perwakilan dengan sistem pemisahan kekuasaan Demokrasi ini berpangkal pada teori pemisahan kekuasaan yang dikemukakan oleh para filsuf bidang politik dan hukum. yaitu eksekutif. Ketiga cabang kekuasaan itu harus dipisahkan – baik organ/ lembaganya maupun fungsinya. Pelopornya adalah John Locke (1632-1704) dari Inggris. 5. 2. pemerintah yang dianggap tidak mampu mudah dijatuhkan dan diganti dengan pemerintah baru yang dianggap sanggup menjalankan pemerintahan yang sesuai dengan keinginan rakyat. 6. Sedangkan badan yudikatif menjalankan kekuasaan peradilan secara bebas.Dalam demokrasi parlementer. kekuasaan legislatif dipegang oleh Kongres. karena dapat diberhentikan setiap saat oleh parlemen melalui mosi tidak percaya. Di negara itu. legislatif dan federatif. Charles Secondat Baron de Labrede et de Montesquieu (16881755) asal Prancis. tanpa campur tangan dari badan eksekutif maupun legislatif. Kebaikan demokrasi perwakilan bersistem parlementer: 1. Teori Montesquieu disebut teori pemisahan kekuasaan (separation du puvoir) dan dijalankan hampir sepenuhnya di Amerika Serikat. pengawasan rakyat terhadap kebijakan pemerintah dapat berjalan dengan baik. Ketiga badan tersebut berdiri terpisah dari yang lainnya untuk . sering terjadi pergantian kabinet. Keburukan demokrasi perwakilan bersistem parlementer: 1. kekuasaan negara dibagi menjadi: legislatif (kekuasaan membuat undang-undang). eksekutif tidak dapat menyelesaikan program kerja yang telah disusunnya. memodifikasi teori Locke itu dalam teori yang disebut Trias Politica pada bukunya yang berjudul L’Esprit des Lois. 3. sehingga kebijakan politik negara pun labil. 2. yang membagi kekuasaan negara ke dalam tiga bidang. Menurut Montesquieu. Untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. menteri-menteri akan lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas karena setiap saat dapat dijatuhkan oleh parlemen. 4. pengaruh rakyat terhadap politik yang dijalankan pemerintah sangat besar. 3. kedudukan badan eksekutif tidak stabil. karena pergantian eksekutif yang mendadak. kekuasaan eksekutif oleh Presiden dan kekuasaan yudikatif oleh Mahkamah Agung. 7.

tetapi kinerjanya dikontrol secara langsung oleh rakyat melalui referendum. yaitu referendum obligator dan referendum fakultatif. Kebaikan demokrasi perwakilan dengan sistem referendum: . Dalam negara yang menganut demokrasi ini parlemen tetap ada. Kesederajatan itu menjadikan ketiganya dapat berperan saling mengawasi (check and balance). Perubahan konstitusi tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan rakyat. 4. Ada dua macam referendum.menjaga keseimbangan dan mencegah jangan sampai kekuasaan salah satu badan menjadi terlampau besar. 3. proses pengambilan keputusan memakan waktu yang lama. 2. pengawasan rakyat terhadap pemerintah kurang berpengaruh. Referendum obligator adalah pemungutan suara rakyat yang wajib dilaksanakan mengenai suatu rencana konstitusional. Jadi. 3. 3) Demokrasi perwakilan dengan sistem referendum Demokrasi ini merupakan gabungan antara demokrasi perwakilan dengan demokrasi langsung. 2. 4. mencegah terjadinya kekuasaan yang absolut (terpusat pada satu orang). Sedangkan mengenai hal lain. Sedangkan referendum fakultatif merupakan pemungutan suara rakyat yang tidak bersifat wajib dilakukan mengenai suatu rencana konstitusional. Referendum fakultatif baru perlu dilakukan apabila dalam waktu tertentu setelah undang-undang diumumkan pemberlakuannya. keputusan parlemen tidak dapat diberlakukan tanpa persetujuan rakyat. sistem check and balance dapat menghindari pertumbuhan kekuasaan yang terlampau besar pada setiap badan. pemerintah selama masa jabatannya tidak dapat dijatuhkan oleh parlemen. pemerintah memiliki waktu yang cukup untuk melaksanakan programnya tanpa terganggu oleh adanya krisis kabinet. keputusan parlemen dapat langsung diberlakukan sepanjang rakyat menerimanya. pada umumnya keputusan yang diambil merupakan hasil negosiasi antara badan legislatif dan eksekutif sehingga keputusan tidak tegas. pengaruh rakyat terhadap kebijakan politik negara kurang mendapat perhatian. sejumlah rakyat meminta diadakan referendum. misalnya tentang perubahan konstitusi. Kebaikan demokrasi perwakilan bersistem pemisahan kekuasaan: 1. Keburukan demokrasi perwakilan bersistem pemisahan kekuasaan: 1. sehingga pemerintahan dapat berlangsung relatif stabil. Referendum ini bersifat wajib karena menyangkut masalah penting. ciri khas demokrasi perwakilan dengan sistem referendum adalah bahwa tugas-tugas legislatif selalu berada di bawah pengawasan seluruh rakyat karena dalam hal-hal tertentu.

. maka persoalan itu dapat diserahkan keputusannya kepada rakyat tanpa melalui partai.1. Keburukan demokrasi perwakilan dengan sistem referendum: 1. 2. 2. sehingga pendapatnya tidak harus sama dengan pendapat partai/ golongannya. apabila terjadi pertentangan antara badan organisasi negara. pada umumnya rakyat kebanyakan tidak berpengetahuan cukup untuk menilai atau menguji kualitas produk undang-undang. pembuatan undang-undang/ peraturan relatif lebih lambat dan sulit. adanya kebebasan anggota parlemen dalam menentukan pilihannya.