Hadits Ahad a. Pengertian b. Macam-macamnya berdasarkan jalan periwayatan beserta contoh-contohnya. c.

Macam-macamnya berdasarkan derajatnya beserta contoh-contohnya. d. Faedah-faedahnya. a. Ahad ( ).

Ahad adalah hadits selain yang muttawattir. b. Macam-macam hadits ahad berdasarkan jalan periwayatan itu ada 3 macam, yaitu masyhur, µaziz, dan ghorib. 1. Masyhur ( ) adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga rowi disetiap tingkatan, tapi belum sampai pada derajat muttawattir.Contohnya perkataan Nabi shollallahu µalaihi wa sallam, ³ Muslim sejati adalah muslim yang saudaranya terbebas dari gangguan lisan dan tangannya.´ 2. µAziz ( ) adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua rowi saja dimasing-masing tingkatan. Contohnya perkataaan Nabi shollallahu µalaihi wa sallam,

³Tidak sempurna iman kalian hingga Aku lebih dia cintai dari orang tua, anaknya bahkan manusia seluruhnya.´ 3. Ghorib ( ) adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang saja. Contohnya perkataan Nabi shollallahu µalaihi wa sallam, «³Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu hanyalah dinilai bila disertai dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh sesuai apa yang diniatkannya«(hingga akhir hadits)´ (HR. Bukhori dan Muslim) Hadits ini dari Nabi shollallahu µalaihi wa sallam hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khotob rodhiallahu µanhu dan yang meriwayatkan dari Umar hanya µAlqomah ibn Abi Waqosh dan yang meriwayatkan dari µAlqomah hanya Muhammad ibn ibrohim Attaimi, dan yang meriwayatkan dari Muhammad hanya Yahya ibn Sa¶id al Anshori. Kesemuanya adalah tabi¶in, kemudian diriwayatkan dari Yahya oleh banyak orang. c. Macam-macam hadits ahad berdasar derajatnya, yaitu shohih lidzatihi, shohih lighoirihi, hasan lidzatihi, hasan lighoirihi dan dho¶if. 1. Shohih lidzatihi (shohih dengan sendirinya) ( hadits yang rowinya: o Adil ( ), o Hafalannya kuat ( ), o Sanadnya bersambung ( ), o Terbebas dari kejanggalan dan kecacatan ( Contohnya sabda Nabi shollallahu µalaihi wa sallam, ). Shohih lidzatihi adalah

).

walaupun nilai masing-masing jalan secara bersendirian tidak sampai derajat shohih. yaitu hadits hasan lidzatihi itu kalah dalam sisi hafalan. maka hadits tersebut dinilai sebagai hadits yang shohih. Tapi jika dilihat secara total. Setiap jalan ini jika dilihat secara bersendirian tidak bisa sampai derajat shohih. Nabi shollallahu µalaihi wa sallam memerintahkannya untuk menyiapkan pasukan dan ternyata kekurangan unta.³Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan maka akan difahamkan ilmu agama. Dari µAbdillah Ibn µAmr bin µAsh rodhiallahu µanhu. Misalnya perkataan Nabi shollallahu µalaihi wa sallam. o Hadits tersebut dinilai shohih oleh imam yang penilaiannya dalam penshohihan itu bisa dipercaya. namun karena bila dinilai secara total bisa saling menguatkan hingga mencapai derajat shohih.´ Maka ia mengambil 2-3 unta muda dan mendapat 1 unta perang. ³Belikan untuk kita unta perang dengan unta-unta yang masih muda. Maka Nabi shollallahu µalaihi wa sallam bersabda. Jika semua kriteria shohih lengkap. o Meneliti sendiri rowinya dan bagaimana cara periwayatan rowi tersebut terhadap hadits. dan dia bukan termasuk orang yang terkenal mudah dalam memberikan nilai shohih. tidak ada perbedaan antara hadits ini dengan hadits shohih lidzatihi kecuali dalam satu persyaratan. 3. Jadi. Shohih lighoirihi adalah hadits hasan dengan sendirinya (hasan lidzatihi) apabila memiliki beberapa jalur periwayatan yang berbeda-beda. maka jadilah hadits shohih lighoiri. Hasan lidzatihi adalah hadits yang diriwayatkan oleh rowi yang adil tapi hafalannya kurang sempurna dengan sanad bersambung dan selamat dari keganjilan dan kecacatan. Hadits Ini diriwayatkan Ahmad dari jalan Muhammad bin Ishaq dan diriwayatkan Baihaqi dari jalan µAmr bin Syu¶aib. Bukhori dan Muslim) Cara mengetahui keshohihan suatu hadits itu dengan 3 perkara: o Jika diketahui penulis buku hadits tersebut hanya mencantumkan hadits-hadits yang shohih saja dengan syarat penulis tersebut bisa dipercaya dalam melakukan penshohihan seperti Shohih Bukhori dan Muslim. Hasan lidzatihi ( hasan dengan sendirinya) ( ).´ (HR. hanya sampai hasan. Misalnya. Shohih lighoirihi (shohih dengan bantuan) ( ). Hadits ini dinamakan shohih lighoiri. 2. .

diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Ini pendapat yang . ³Hadits ini memiliki banyak hadits penguat dari riwayat Abu Daud dan yang selainnya. Ada banyak ayat yang menunjukkan. Gabungan hadits-hadits tersebut menuntut agar hadits tersebut dinilai sebagai hadits hasan.³Sholat itu dibuka dengan bersuci. d. demikian keterangan dari Ibnu Sholah.´< Hadits-hadits yang dimungkinkan hadits hasan adalah hadits yang diriwayatkan Abu Daud secara sendirian. Hadits dho¶if ( ) Hadits dho¶if adalah hadits yang tidak memenuhi persyaratan shohih dan hasan. Namun. Ibnu µAsakir dalam Tarikh-nya. atau Tirmidzi Al Hakim dalam Nawadirul Ushul dan beliau bukanlah Tirmidzi penulis kitab Sunan atau Hakim dan Ibnu Jarud dalam Tarikh keduanya. hadits tersebut diterima oleh seluruh umat. akan tetapi karena seluruh ulama menerimanya. Hasan lighoirihi (hasan dengan bantuan) ( ). Hasan lighoirihi adalah hadits yang dho¶ifnya ringan dan memiliki beberapa jalan yang bisa saling menguatkan satu dengan yang lainnya karena menimbang didalamnya tidak ada pendusta atau rowi yang pernah tertuduh membuat hadits palsu. Terkadang hadits ahad memberi faedah ilmu jika ditemukan banyak indikator dan dikuatkan oleh ushul (kaedah pokok dalam syari¶at)*. Atau itu adalah hadits yang muttafaqun µalaih. Namun itu menjadi qorinah yang kuat. yaitu didukung oleh kaedah pokok dalam syari¶at.Hadits dari Umar ibn Khatthab rodhiallahu¶anhu berkata bahwasannya Nabi shollallahu µalaihi wa sallam jika mengangkat kedua tangannya dalam do¶a maka beliau tidak menurunkannya hingga mengusapkan kedua tangan ke wajahnya. Misalnya. Ini termasuk hadits ghorib. Tidak ada yang menolaknya misal hadits innamal µamalu biniyat. Atau hadits tersebut didukung oleh ushul. (HR. 5. Misalnya. bila dilihat keseluruhan jalur periwayatan maka hadits tersebut menjadi kuat hingga mencapai derajat hasan. ² * Misalnya dengan indikator (qorinah). kebenaran maksud dari hadits tersebut. Meskipun itu adalah hadits ahad atau ghorib. Dan dinamakan hasan lighoirihi karena jika hanya melihat masing-masing sanadnya secara bersendirian maka hadits tersebut tidak mencapai derajat hasan. maka ini adalah qorinah yang menunjukkan bahwa hadits ini adalah benar-benar dari Nabi shollallahu µalaihi wa sallam. Ibn µAdi. Dzon. yaitu sangkaan kuat tentang sahnya penyandaran penukilan hadits dari seseorang. Tirmidzi) Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom berkata. Adailami dalam Musnad Firdaus. Maka ini merupakan indikasi kuat bahwa Nabi shollallahu µalaihi wa sallam mengucapkannya. Dan hal ini bertingkat-tingkat sesuai tingkatnya masing-masing yang telah disebutkan. Hadits-hadits ahad (selain hadits dho¶if) memberi dua faedah: 1.´Jagalah diri-diri kalian dari gangguan orang lain dengan buruk sangka.´ Dan yang kemungkinan besar merupakan hadits dho¶if adalah hadits yang diriwayatkan secara bersendirian oleh µUqaili. 4. Khatib Al Baghdadi.

Sebagaimana dinukil oleh banyak ulama. Dan sangkaan yang dimaksudkan adalah sangkaan yang kuat bukan sekedar sangkaan. Memberi makna yakin bahwa Nabi shollallahu µalaihi wa sallam mengucapkannya.Memberi faidah dzon. Padahal ulama tersebut membicarakan dari segi itu memberi makna dzon atau tidak dan beliau merojihkan memberi makna dzon. disebutkan satu dua tiga dst disebutkan. Padahal apa yang disebutkan oleh ulama tersebut bahwa hadits ahad memberi makna (dzon) sangkaan. * Baik tuntutan untuk mengerjakannya atau tuntutan untuk meninggalkannya. Sama sekali mereka tidak bermaksud dikarenakan itu memberi makna dzon kemudian tidak dipakai dalam masalah aqidah. Meskipun itu adalah hadits ahad. Jadi hadits ahad memberi faedah amal.dirojihkan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam masalah ini yaitu hadits ahad itu memberi faidah dzon kecuali ada qorinah. Kecuali untuk masalah motivasi dan menakuti-nakuti (targhib wa tarhib). Adapun hadits yang dho¶if. Dan tidak boleh menganggapnya sebagai dalil. Karena mengamalkan hadits ahad dalam masalah aqidah adalah ijma ulama salaf. Mereka katakan yang mendukung kami adalah ulama ini dan itu. itu sama sekali tidak ada hubungannya bahwa dalam masalah aqidah tidak diamalkan. Dengan mempercayainya jika berupa berita dan mempraktekkannya jika berupa tuntutan*. Sejumlah ulama memberi kemudahan untuk menyebutkan hadits dho¶if dengan tiga syarat* . Mengamalkan kandungannya. Ketika mereka mengatakannya bahwasannya mereka tidak mau menerima hadits ahad dalam masalah aqidah. Ini adalah madzhabnya Imam Ibn Hazm. Beliau tetap menerimanya sebagai dalil dalam masalah aqidah. Dalam masalah ini ada 3 pendapat ulama. Memberi makna keyakinan (¶ilmu) bahwa Nabi shollallahu µalaihi wa sallam mengucapkannya jika ada indikator penguat (maka jika tidak ada penguat maka memberi faedah dzon). yaitu :Jika itu adalah hadits yang shohih meskipun ahad maka memberi faidah ilmu. Lalu mereka mengatakan yang mendukung kami adalah ulama ini. Meskipun ada tiga pendapat untuk masalah ini. meskipun ulama yang memilih dzon secara mutlak sekalipun. tidak memberi faedah dzon dan amal. Jadi ucapan ulama bahwa hadits ahad yang shahih itu memberi makna sangkaan kuat. ² . Namun Hizbut Tahrir curang. Hanya saja ulama tersebut memilih memberi makna dzon. namun mereka tetap beramal dengan hadits ahad dalam masalah aqidah dalam masalah khobar dengan mempercayai dan mengimaninya sebagai bagian dari aqidah. Lalu apakah beliau mengatakan itu tidak diterima sebagai dalil dalam masalah aqidah? Tidak. Maka diperbolehkan menyebutkan hadits dho¶if dengan beberapa persyaratan menurut sebagian ulama. maka itu adalah memberi faidah amal dengan dijadikannya sebagai aqidah jika berisi masalah-masalah aqidah. hadits ahad itu memberi faidah ilmu (yakin) jika ada indikator-indikator pendukungnya. Tidak boleh pula menyebutkan hadits dho¶if tanpa diiringi dengan penjelasan tentang dho¶ifnya. Inilah curangnya Hizbut Tahrir. Jadi. Dan ini adalah pendapat yang dipilih Syaikh Islam Ibnu Taimiyah 2. Jika hadits itu berupa masalah aqidah berupa masalah khobar maka tetap wajib menjadikannya sebagai aqidah dan mempercayainya.

Kemudian ada hadits dho¶if yang dho¶ifnya ringan berkenaan keutamaan sholat dhuha. bagaimana dengan persyaratannyat. Inilah pendapat yang dirojihkan Syaikh Al Imam Al bani di Muqodimmah Shohih Jami Shogir. Pertama dho¶ifnya tidak sangat dan syarat ketiga tidak boleh yakin bahwa Nabi shollallahu µalaihi wa sallam mengucapkannya. Artinya sholat dhuhanya sudah masru¶ (disyari¶atkan) berdasar hadits yang shohih. misalnya ini adalah hadits mursal. Sehingga dia tidak meyakini bahwa itu adalah bukan hadits dari Nabi shollallahu µalaihi wa sallam. Karena asal muasal amal yaitu ibadah yang hendak dimotivasi itu tidak disyariatkan sebab dasarnya adalah hadits yang shohih. . Namun ketika ditanya. Hendaknya pokok amal yang disebutkan di dalamnya motivasi dan menakuti-nakuti ada berdasarkan hadits yang shohih*.*** Tiga syarat ini berasal dari Ibnu Hajar Al Asqolani. Kan boleh menurut sebagian ulama´. ³Jika tiga persyaratan ini diperhatikan oleh orang yang membolehkan hadits dho¶if dalam fadhoilul a¶mal maka selesai masalah´. ² * Misalnya. 3.Namun jika orangnya tidak mengetahui. Imam Nawawi mengatakan bahwa ulama ijma tidak boleh berdalil dengan hadits dho¶if dalam masalah hukum. Namun ada ulama yang membolehkan dengan persyaratan. maka selesai masalah. Namun tiga persyaratan tersebut tidak bisa dipenuhi kecuali oleh pakar hadits. membolehkan dengan tiga persyaratan ini. Misalnya ada satu hadis menyatakan keutamaan suatu amal dan tidak ada hadits shohih yang menyatakan disyariatkannya amalan ini maka tidak boleh menyebutkan hadits dho¶if ini. maka tidak boleh. Ada ulama yang menolak hadits yang dho¶if untuk targhib dan tarhib sebagai dalil secara mutlak. 2. Yang menjadi masalah ketika berdalil dengan hadits dho¶if tentang suatu amal kemudian diingatkan mereka menyatakan. 1. mereka bahkan tidak tahu Oleh karena itu jika tiga syarat ini diperhatikan. Tentang sholat malam haditsnya shohih kemudian ada hadits yang dho¶ifnya ringan menceritakan tentang keutamaan orang yang melaksanakan sholat malam. Kalau dalam masalah hukum. Namun amalnya sudah masru berdasar hadits yang shohih. Semacam Ibnu Hajar Al Asqolani. Jika amalnya belum jelas dalilnya. Karena syaratnya ashlul amal (landasan beramal) terdapat dalil yang shohih. Ini adalah pendapat Imam Ibnu Hazm dan Imam Muslim. ini lemahnya seberapa atau bahkan palsu bagaimana melakukan poin yang ketiga. Maka dia bisa memenuhi persyaratan ketiga karena tahu. Misalnya juga tentang sholat malam. ³Ini kan fadhoil amal/targhib dan tarhib. Tidak diyakini bahwa Nabi shollallahu µalaihi wa sallam mengucapkannya*. ² * Imam Albani rohimahullah mengatakan. sholat dhuha adalah sholat yang disyariatkan berdasar hadits yang shohih. mungkin karena mursal atau ada rowi yang majhul. Dho¶ifnya bukan dho¶if yang sangat*. ² * Dho¶ifnya tidak sangat. Dan ada perselisihan dalam masalah fadhoil amal/masalah targhib dan tarhib. Tsabit berdasar hadits yang shohih. Karena ketika menyampaikan dia tahu.

. Dan tidak masalah baginya jika dia menjauhinya dan tidak terjadi hukuman yang disebutkan. Dan faidah menyebut hadits dho¶if dalam tarhib adalah menakuti-nakuti jiwa untuk melakukan perkara yang ditakut-takutkan. Sedangkan suatu perkara yang diperintahkan pasti ada pahalanya. Misalnya Imam Malik. sanadnya bersambung dan terbebas dari syadz dan terbebas daru µillat (penyakit yang membuat cacat). Maka muru-ah ini berbeda-beda dan berubah sesuai zaman dan tempat. Maka dia tidak kehilangan pahala yang asli. Keadilan rowi diketahui dengan dua cara. jika seorang ulama makan di warung maka ini menurunkan muru-ah. Misalnya. yaitu dengan kemasyhuran yaitu sudah terkenal sebagai seorang rowi yang adil. maka faedah menyebutkan hadits dho¶if ketika memotivasi suatu amal (targhib) adalah mendorong jiwa untuk melakukan amal yang dimotivasi untuk mengharapkan pahala itu.Berdasarkan keterangan di atas. ini berarti seorang muslim memperhatikan adat masyarakat. µAdalah ( ) adalah istiqomah pada din dan istiqomah pada muru-ah. tapi tidak di masa sekarang. ² * Yang dimaksud dengan adil yaitu memiliki µadalah. Istiqomah din adalah melaksanakan kewajiban dan menjauhi segala yang haram yang menyebabkan kefasikan. dahulu. Karena khawatir terjerumus dalam hukuman tersebut. *** Jjjj Taisir Musthalah Hadits (4): Penjelasan Untuk Shohih Lidzatihi 8Share Telah lewat (pada penjelasan yang lalu) bahwasannya definisi hadits shohih lidzatihi adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang rowi yang adil*. Kemudian jika mendapatkan pahala maka alhamdulillah dan jika tidak maka tidak menjadi masalah baginya kesungguhannya dalam beribadah. Istiqomah muru-ah adalah melakukan segala sesuatu yang dipuji masyarakat berupa etika dan akhlak dan meninggalkan segala adab dan akhlak yang dicela masyarakat*. Karena ibadahnya disyari¶atkan dan ada pahala di dalamnya. Maka. Boleh jadi itu merusak muru-ah di masa silam. yaitu pahala asal amal yang berdasar hadits yang shohih yang merupakan konsekuensi melakukan suatu perkara yang diperintahkan. Kalau sekarang mungkin jika makan di restoran besar malah naik muru-ahnya. hafalannya sempurna. semacam para imam yang terkenal. Karena orang tersebut masih mendapatkan pahala yang pokok. ² * Pandangan masyarakat adalah yang tidak bertentangan dengan aturan syari¶at.

Harus ada bukti. yaitu dengan penegasan dari orang yang teranggap ucapannya dalam masalah ini. Cukup dengan mungkin dia bertemu. Akan tetapi kesalahan yang sedikit dinilai tidak mengapa. Adapun berjumpa secara langsung maksudnya adalah berjumpa dengan gurunya dan mendengar dari gurunya atau melihat gurunya dan dia mengatakan. Imam Nawawi <em>rohimahullah </em>berkata tentang pendapat Imam Muslim di Syaroh Shohih Muslim. Sedangkan statusnya berjumpa maksudnya adalah seorang rowi meriwayatkan dari orang yang sezaman dengannya dengan menggunakan kata-kata yang mengandung kemungkinan dia melihat atau mendengar gurunya. ³Aku mendengar´ ( ). ini adalah pendapat Imam Muslim*. ³Telah menceritakan padaku. ² * Dia bisa menceritakan apa yang ada dalam dirinya baik dia dapatkan dari pendengaran atau penglihatan dan dia menceritakan kepada orang lain tanpa kesalahan atau dengan sedikit kesalahan. karena manusia tidak dapat terbebas dari kesalahan menambah atau mengurangi*. yaitu dengan penegasan dari orang yang teranggap ucapannya dalam masalah ini*. Misalnya dengan kata-kata. dan kalimat semacamnya. ³Pendapat Imam Muslim diingkari banyak pakar. Wallahu a¶lam. ³Fulan melakukan´ ( ) dan yang semacam itu. ³Aku melihat fulan´ ( ). Diketahui dobt (kesempurnaan hafalan) seorang rowi dengan dua hal. Terdapat dua pendapat: 1. ³Fulan berkata´ ( ). Kemudian dengan tazkiyah. keselarasannya.´ ( ).Imam Ahmad dan Bukhori dan yang selain mereka. ³Dari fulan´ ( ). meskipun kami tidak menilai Imam Muslim melakukan perbuatan tersebut dalam Shohih-nya sejalan dengan pendapat beliau ini. Kemudian mendapat tazkiyah/penegasan. Bersambung sanadnya ( ) yaitu setiap rowi berjumpa dengan gurunya atau dari orang yang dia mengambil riwayat darinya baik secara langsung atau statusnya berjumpa. baik didapatkan melalui mendengar atau melihat dalam bentuk sebagaimana dia dapatkan tanpa ditambah atau dikurangi. karena Imam Muslim mengumpulkan banyak jalur yang tidak mungkin terwujud hukum yang dia bolehkan. ² * Yaitu ulama jarh dan ta¶dil Sempurna hafalannya ( ) adalah ia bisa menyampaikan riwayat yang dia miliki.´ . ² * Oleh karena itulah kualitas Shohih Bukhori dinilai lebih tinggi dari Shohih Muslim. 2. yaitu selaras dengan rowi-rowi yang terkenal tsiqoh dan orang yang kuat hafalannya meskipun hanya sesuai dengan mereka secara umum. ini adalah pendapat Imam Bukhori.

yaitu karena tidak terbebas dari syadz. Kemudian murid yang kedua memberikan khobar dari gurunya yang menyelisihi murid yang pertama. Keganjilan ( ) yaitu seorang rowi yang tsiqoh menyelisihi rowi yang lebih kuat darinya. Maka hadits Baihaqi adalah riwayat yang ganjil (syadz) karena rowi dari Ibn Wahab memang tsiqoh*. . tapi rowi ini menyelisihi para rowi yang lebih banyak jumlahnya dari dia. Maka yang lebih tahu maksud gurunya adalah murid yang pertama. Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dengan lafadz ini dari jalur Ibn Wahab. Maka yang lebih tsiqoh adalah murid yang pertama. ² * Artinya mengambil air baru untuk mengusap kepala.Perbedaaan ini berlaku untuk rowi yang bukan mudallis (akan datang penjelasannya. Misalnya. 2. Dan Imam Baihaqi meriwayatkan dari jalan Ibn Wahab juga dengan lafadz yang berbeda. bisa dengan lebih sempurna keadilannya atau hafalannya. ² * Rowi yang dipakai oleh Baihaqi yang merupakan muridnya Ibnu Wahab memang tsiqoh. insya Allah-ed). ² * Misalnya gurunya sudah meninggal ketika ia masih berumur 3 tahun. Dengan penegasan seorang rowi atau salah satu dari ulama pakar hadits menegaskan bahwasannya rowinya tidak bersambung atau fulan ini tidak mendengar ataumelihat dari gurunya apa yang dia ceritakan. Adapun mudallis tidaklah divonis haditsnya bersambung kecuali jika dia menegaskan bahwa dia mendengar atau melihat secara langsung. ² * Misalnya seorang guru memiliki dua murid. riwayat Baihaqi tidak shohih meskipun perowinya tsiqoh. yaitu bahwasannya Nabi shollallahu µalaihi wa sallam mengambil untuk kedua telinganya air yang bukan air yang beliau ambil untuk kepalanya*. bukan air yang sebelumnya digunakani untuk membasuh tangan. yaitu mengetahui bahwasannya guru atau orang yang diambil riwayat darinya sudah meninggal ketika dia belum mencapai usia tamyiz yaitu usia 7 tahun*. Murid yang pertama sudah mulazamah dalam waktu berpuluh-puluh tahun. Akan tetapi rowi ini menyelisihi para rowi yang lebih banyak jumlahnya daripada dia. ² * Artinya mengambil air baru untuk mengusap telinga. hadits µAbdullah ibn Zaid tentang tata cara wudhu Nabi shollallahu µalaihi wa sallam bahwasannnya Nabi mengusap kepalanya dengan air yang bukan sisa dari tangannya*. Tidak bersambungnya suatu sanad diketahui dengan dua cara: 1. Maka berdasar hal tersebut. maka ini jelas tidak bersambung. Maka boleh jadi murid yang kedua mendengar dari gurunya akan tetapi ia tidak paham. Karena hadits ini diriwayatkan sejumlah orang dari Ibnu Wahab namun dengan menggunakan lafadz Muslim. atau lebih jumlahnya atau lebih bermulazamah dengan gurunya atau yang semacam itu*. Murid yang kedua hanya lima tahun. Tarikh (sejarah).

yaitu tentang masalah ilmu al illal. Ringkasnya penjelasan di Taisir Mustholah Mahmud Thohan. ³Perempuan yang haidh dan orang yang junub tidak boleh membaca sedikitpun ayat Al Qur¶an. . baik dia da¶i atau bukan. Hadits ini diriwayatkan Tirmidzi. Terutama jika illalnya adalah masalah yang samar. ² ** Artinya Musa ibn µUqbah adalah dari Hijaz. maka tidak menghalangi hadits tersebut untuk dinilai shohih atau hasan. Maka hadits ini tidak shohih karena tidak terbebas dari penyakit yang membuat cacat. Ditolak secara mutlak 2. Diterima secara mutlak. 4. atau rowinya adalah orang fasiq.µIllat (penyakit yang membuat cacat) ( ). atau ahli bid¶ah* dan haditsnya mendukung kebid¶ahannya dan semacam itu. ² * Ada beberapa pendapat berkaitan dengan riwayat dari ahlu bid¶ah: 1. persyaratan riwayat dari ahlu bid¶ah adalah : 1. Diperinci (tafshil). mauquf (perkataan sahabat). Bukan hadits yang mendukung bid¶ah yang dia miliki. jelek hafalannya. Maka dari sanad yang tampak adalah shohih. ² * Artinya hadits ini termasuk hadits ghorib (yaitu punya satu jalur saja). Contohnya hadits dari sahabat Abu Ayyub Al Anshori rodhiallahu¶anhu dari Nabi shollallahu µalaihi wa sallam bersabda. Melihat hadits yang diriwayatkanya. Jika gurunya adalah orang Hijaz maka haditsnya adalah dho¶if dan hadits ini adalah yang termasuk dia dapatkan dari Hijaz**. Diperinci. Merinci dengan melihat dia mendakwahkan bid¶ahnya atau tidak. Jika penyakitnya tidak membuat cacat. hadits tersebut tidak dihukumi sebagai shohih karena tidak selamat dari penyakit yang membuat cacat1*. yaitu setelah diteliti ternyata jelas diketahui ada sebab yang membuat cacat untuk diterima suatu hadits karena diketahui ternyata hadits tersebut munqothi¶ (terputus). akan tetapi hadits ini memiliki cacat. Menguatkan kebid¶ahannya atau tidak. maka riwayatnya tidak bisa diterima. Bukan da¶i 2.´ ² * Ini adalah termasuk ilmu hadits yang berat. 3. riwayat Isma¶il ibn µIyas dari orang-orang Hijaz adalah dho¶if. Jika jawabannya ya. dan Imam Tirmidizi mengatakan kami tidak mengenal hadits ini kecuali dari hadits Isma¶il ibn µIyas dari Musa ibn µUqbah*. Maka. Contohnya hadits Ibnu µUmar rodhiallahu¶anhu dari Nabi shollallahu µalaihi wa sallam bersabda.

apakah sudah mencapai derajat shohih atau derajat hasan**. Maka keduanya adalah dua hal yang berbeda. Sedangkan hadits syawahid.³Barangsiapa berpuasa Romadhon. terkadang suatu hadits diberi nilai hadits hasan shohih. . jika sumbernya beda. maka maksud hadits tersebut bahwa salah satu jalannya shohih dan jalur yang kedua adalah hasan. namun hanya sebagai pengandaian. yaitu Sa¶ad ibn Sa¶id karena Imam Ahmad mendho¶ifkannya. Jadi. Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dari jalan Sa¶ad ibn Sa¶id. Sebagian ulama melarangnya. Bisa jadi haditsnya dho¶if. seandainya puasa dahr itu dibolehkan). Imam Muslim menyampaikan hadits ini dalam Shohih-nya menunjukkan keshohihan menurut Muslim. karena sebagian ulama menshohihkannya. Maka dikumpulkan antara dua sifat ini dengan melihat jalurnya*.´ ² * Dimaknai hadits shohih wa hasan (shohih dan hasan). maka ia seakan-akan puasa dahr (puasa setiap hari. µIllat ini tidak membuat cacat. Artinya. Dan itulah pendapat yang lebih rojih karena ada hadits tentang hal ini. dari hadits tersebut tidak menunjukkan bolehnya puasa dahr. dan µillatnya tidak membuat cacat.*´ ² * Ini adalah termasuk pengandaian.³Siapa yang puasa setiap hari tidak akan dinilai orang yang berpuasa dan juga tidak dinilai sebagai orang yang tidak puasa´. Maka bagaimana menyesuaikan dua penilaian ini padahal ada perbedaan di antara keduanya? Kami katakan (penulis kitab ed). maka ini bukanlah menilai bahwa hadits tersebut shohih tapi maksudnya hadits tersebut yang paling sedikit cacatnya. Dikumpulkannya Dua Hukum. hasan untuk jalur ini dan shohih untuk hadits yang satunya lagi. Karena ulama berselisih pendapat tentang puasa dahr. dan pada hadits ini terdapat µillat dengan sebab rowi ini. kemudian diikuti dengan 6 hari di bulan Syawal. Jadi ragu-ragu antara hadits ini hasan atau shohih. ³Jika hadits tersebut memiliki dua jalur. dan dia memiliki hadits penguat (muttabiµ)*. maka maknanya adalah ulama tersebut ragu-ragu. Adapun jika hadits tersebut hanya memiliki satu jalan. ² * Hadits muttabi¶ (penguat) adalah jika rowi hadits tersebut dari sahabat yang sama. Adapun kalimat ( ) ³Hadits ini adalah hadits yang paling shohih dalam bab ini´. Akan tetapi sering kita dapatkan. Namun hadits dho¶if lainnya banyak dan yang paling ringan cacatnya adalah hadits tersebut. ** Dimaknai hadits shohih aw hasan (shohih atau hasan). yaitu Penilaian Shohih dan Hasan dalam Satu Hadits Di depan telah kita bahas bahwa hadits shohih adalah satu bagian dari hadits yang berbeda dengan hadits hasan. Misalnya dalam hadits ghorib.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful