Hadits Ahad a. Pengertian b. Macam-macamnya berdasarkan jalan periwayatan beserta contoh-contohnya. c.

Macam-macamnya berdasarkan derajatnya beserta contoh-contohnya. d. Faedah-faedahnya. a. Ahad ( ).

Ahad adalah hadits selain yang muttawattir. b. Macam-macam hadits ahad berdasarkan jalan periwayatan itu ada 3 macam, yaitu masyhur, µaziz, dan ghorib. 1. Masyhur ( ) adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga rowi disetiap tingkatan, tapi belum sampai pada derajat muttawattir.Contohnya perkataan Nabi shollallahu µalaihi wa sallam, ³ Muslim sejati adalah muslim yang saudaranya terbebas dari gangguan lisan dan tangannya.´ 2. µAziz ( ) adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua rowi saja dimasing-masing tingkatan. Contohnya perkataaan Nabi shollallahu µalaihi wa sallam,

³Tidak sempurna iman kalian hingga Aku lebih dia cintai dari orang tua, anaknya bahkan manusia seluruhnya.´ 3. Ghorib ( ) adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang saja. Contohnya perkataan Nabi shollallahu µalaihi wa sallam, «³Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu hanyalah dinilai bila disertai dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh sesuai apa yang diniatkannya«(hingga akhir hadits)´ (HR. Bukhori dan Muslim) Hadits ini dari Nabi shollallahu µalaihi wa sallam hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khotob rodhiallahu µanhu dan yang meriwayatkan dari Umar hanya µAlqomah ibn Abi Waqosh dan yang meriwayatkan dari µAlqomah hanya Muhammad ibn ibrohim Attaimi, dan yang meriwayatkan dari Muhammad hanya Yahya ibn Sa¶id al Anshori. Kesemuanya adalah tabi¶in, kemudian diriwayatkan dari Yahya oleh banyak orang. c. Macam-macam hadits ahad berdasar derajatnya, yaitu shohih lidzatihi, shohih lighoirihi, hasan lidzatihi, hasan lighoirihi dan dho¶if. 1. Shohih lidzatihi (shohih dengan sendirinya) ( hadits yang rowinya: o Adil ( ), o Hafalannya kuat ( ), o Sanadnya bersambung ( ), o Terbebas dari kejanggalan dan kecacatan ( Contohnya sabda Nabi shollallahu µalaihi wa sallam, ). Shohih lidzatihi adalah

).

o Meneliti sendiri rowinya dan bagaimana cara periwayatan rowi tersebut terhadap hadits. Nabi shollallahu µalaihi wa sallam memerintahkannya untuk menyiapkan pasukan dan ternyata kekurangan unta. dan dia bukan termasuk orang yang terkenal mudah dalam memberikan nilai shohih. Hadits Ini diriwayatkan Ahmad dari jalan Muhammad bin Ishaq dan diriwayatkan Baihaqi dari jalan µAmr bin Syu¶aib. Tapi jika dilihat secara total. maka jadilah hadits shohih lighoiri. . namun karena bila dinilai secara total bisa saling menguatkan hingga mencapai derajat shohih. Misalnya. Dari µAbdillah Ibn µAmr bin µAsh rodhiallahu µanhu. maka hadits tersebut dinilai sebagai hadits yang shohih. Jadi. Shohih lighoirihi adalah hadits hasan dengan sendirinya (hasan lidzatihi) apabila memiliki beberapa jalur periwayatan yang berbeda-beda. yaitu hadits hasan lidzatihi itu kalah dalam sisi hafalan. tidak ada perbedaan antara hadits ini dengan hadits shohih lidzatihi kecuali dalam satu persyaratan. ³Belikan untuk kita unta perang dengan unta-unta yang masih muda.´ (HR. Hadits ini dinamakan shohih lighoiri. 2. Hasan lidzatihi ( hasan dengan sendirinya) ( ). Maka Nabi shollallahu µalaihi wa sallam bersabda.´ Maka ia mengambil 2-3 unta muda dan mendapat 1 unta perang. Hasan lidzatihi adalah hadits yang diriwayatkan oleh rowi yang adil tapi hafalannya kurang sempurna dengan sanad bersambung dan selamat dari keganjilan dan kecacatan.³Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan maka akan difahamkan ilmu agama. o Hadits tersebut dinilai shohih oleh imam yang penilaiannya dalam penshohihan itu bisa dipercaya. walaupun nilai masing-masing jalan secara bersendirian tidak sampai derajat shohih. Bukhori dan Muslim) Cara mengetahui keshohihan suatu hadits itu dengan 3 perkara: o Jika diketahui penulis buku hadits tersebut hanya mencantumkan hadits-hadits yang shohih saja dengan syarat penulis tersebut bisa dipercaya dalam melakukan penshohihan seperti Shohih Bukhori dan Muslim. Jika semua kriteria shohih lengkap. Shohih lighoirihi (shohih dengan bantuan) ( ). hanya sampai hasan. 3. Setiap jalan ini jika dilihat secara bersendirian tidak bisa sampai derajat shohih. Misalnya perkataan Nabi shollallahu µalaihi wa sallam.

Ibn µAdi. Dan hal ini bertingkat-tingkat sesuai tingkatnya masing-masing yang telah disebutkan. Ibnu µAsakir dalam Tarikh-nya. bila dilihat keseluruhan jalur periwayatan maka hadits tersebut menjadi kuat hingga mencapai derajat hasan. Meskipun itu adalah hadits ahad atau ghorib. Ini pendapat yang . Hasan lighoirihi (hasan dengan bantuan) ( ). Namun itu menjadi qorinah yang kuat.´Jagalah diri-diri kalian dari gangguan orang lain dengan buruk sangka. Terkadang hadits ahad memberi faedah ilmu jika ditemukan banyak indikator dan dikuatkan oleh ushul (kaedah pokok dalam syari¶at)*. Hasan lighoirihi adalah hadits yang dho¶ifnya ringan dan memiliki beberapa jalan yang bisa saling menguatkan satu dengan yang lainnya karena menimbang didalamnya tidak ada pendusta atau rowi yang pernah tertuduh membuat hadits palsu. Maka ini merupakan indikasi kuat bahwa Nabi shollallahu µalaihi wa sallam mengucapkannya. Namun. Adailami dalam Musnad Firdaus.³Sholat itu dibuka dengan bersuci. Tidak ada yang menolaknya misal hadits innamal µamalu biniyat. akan tetapi karena seluruh ulama menerimanya. Atau itu adalah hadits yang muttafaqun µalaih. diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. atau Tirmidzi Al Hakim dalam Nawadirul Ushul dan beliau bukanlah Tirmidzi penulis kitab Sunan atau Hakim dan Ibnu Jarud dalam Tarikh keduanya. (HR. maka ini adalah qorinah yang menunjukkan bahwa hadits ini adalah benar-benar dari Nabi shollallahu µalaihi wa sallam. hadits tersebut diterima oleh seluruh umat. Ada banyak ayat yang menunjukkan. demikian keterangan dari Ibnu Sholah. Ini termasuk hadits ghorib.Hadits dari Umar ibn Khatthab rodhiallahu¶anhu berkata bahwasannya Nabi shollallahu µalaihi wa sallam jika mengangkat kedua tangannya dalam do¶a maka beliau tidak menurunkannya hingga mengusapkan kedua tangan ke wajahnya. ³Hadits ini memiliki banyak hadits penguat dari riwayat Abu Daud dan yang selainnya. Hadits-hadits ahad (selain hadits dho¶if) memberi dua faedah: 1. Misalnya. 5.´< Hadits-hadits yang dimungkinkan hadits hasan adalah hadits yang diriwayatkan Abu Daud secara sendirian. d. yaitu didukung oleh kaedah pokok dalam syari¶at. Khatib Al Baghdadi. kebenaran maksud dari hadits tersebut. yaitu sangkaan kuat tentang sahnya penyandaran penukilan hadits dari seseorang. Misalnya. Gabungan hadits-hadits tersebut menuntut agar hadits tersebut dinilai sebagai hadits hasan. Atau hadits tersebut didukung oleh ushul. Tirmidzi) Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom berkata. Dzon.´ Dan yang kemungkinan besar merupakan hadits dho¶if adalah hadits yang diriwayatkan secara bersendirian oleh µUqaili. Hadits dho¶if ( ) Hadits dho¶if adalah hadits yang tidak memenuhi persyaratan shohih dan hasan. 4. Dan dinamakan hasan lighoirihi karena jika hanya melihat masing-masing sanadnya secara bersendirian maka hadits tersebut tidak mencapai derajat hasan. ² * Misalnya dengan indikator (qorinah).

Beliau tetap menerimanya sebagai dalil dalam masalah aqidah. Dan tidak boleh menganggapnya sebagai dalil. Dan sangkaan yang dimaksudkan adalah sangkaan yang kuat bukan sekedar sangkaan. Kecuali untuk masalah motivasi dan menakuti-nakuti (targhib wa tarhib). Hanya saja ulama tersebut memilih memberi makna dzon. Memberi makna keyakinan (¶ilmu) bahwa Nabi shollallahu µalaihi wa sallam mengucapkannya jika ada indikator penguat (maka jika tidak ada penguat maka memberi faedah dzon). Lalu apakah beliau mengatakan itu tidak diterima sebagai dalil dalam masalah aqidah? Tidak. Namun Hizbut Tahrir curang. Sejumlah ulama memberi kemudahan untuk menyebutkan hadits dho¶if dengan tiga syarat* . meskipun ulama yang memilih dzon secara mutlak sekalipun. Dalam masalah ini ada 3 pendapat ulama. Jadi ucapan ulama bahwa hadits ahad yang shahih itu memberi makna sangkaan kuat. Dan ini adalah pendapat yang dipilih Syaikh Islam Ibnu Taimiyah 2. Ini adalah madzhabnya Imam Ibn Hazm. Meskipun itu adalah hadits ahad. Inilah curangnya Hizbut Tahrir. Maka diperbolehkan menyebutkan hadits dho¶if dengan beberapa persyaratan menurut sebagian ulama. Sama sekali mereka tidak bermaksud dikarenakan itu memberi makna dzon kemudian tidak dipakai dalam masalah aqidah. namun mereka tetap beramal dengan hadits ahad dalam masalah aqidah dalam masalah khobar dengan mempercayai dan mengimaninya sebagai bagian dari aqidah. Dengan mempercayainya jika berupa berita dan mempraktekkannya jika berupa tuntutan*. Sebagaimana dinukil oleh banyak ulama.Memberi faidah dzon. itu sama sekali tidak ada hubungannya bahwa dalam masalah aqidah tidak diamalkan. tidak memberi faedah dzon dan amal. Jadi hadits ahad memberi faedah amal. disebutkan satu dua tiga dst disebutkan. * Baik tuntutan untuk mengerjakannya atau tuntutan untuk meninggalkannya. Mengamalkan kandungannya. Padahal ulama tersebut membicarakan dari segi itu memberi makna dzon atau tidak dan beliau merojihkan memberi makna dzon. Ketika mereka mengatakannya bahwasannya mereka tidak mau menerima hadits ahad dalam masalah aqidah. Jadi. ² . Lalu mereka mengatakan yang mendukung kami adalah ulama ini. Meskipun ada tiga pendapat untuk masalah ini. hadits ahad itu memberi faidah ilmu (yakin) jika ada indikator-indikator pendukungnya. Karena mengamalkan hadits ahad dalam masalah aqidah adalah ijma ulama salaf. Tidak boleh pula menyebutkan hadits dho¶if tanpa diiringi dengan penjelasan tentang dho¶ifnya.dirojihkan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam masalah ini yaitu hadits ahad itu memberi faidah dzon kecuali ada qorinah. Adapun hadits yang dho¶if. Jika hadits itu berupa masalah aqidah berupa masalah khobar maka tetap wajib menjadikannya sebagai aqidah dan mempercayainya. maka itu adalah memberi faidah amal dengan dijadikannya sebagai aqidah jika berisi masalah-masalah aqidah. Memberi makna yakin bahwa Nabi shollallahu µalaihi wa sallam mengucapkannya. yaitu :Jika itu adalah hadits yang shohih meskipun ahad maka memberi faidah ilmu. Padahal apa yang disebutkan oleh ulama tersebut bahwa hadits ahad memberi makna (dzon) sangkaan. Mereka katakan yang mendukung kami adalah ulama ini dan itu.

Namun ada ulama yang membolehkan dengan persyaratan. Namun amalnya sudah masru berdasar hadits yang shohih. Semacam Ibnu Hajar Al Asqolani. Misalnya ada satu hadis menyatakan keutamaan suatu amal dan tidak ada hadits shohih yang menyatakan disyariatkannya amalan ini maka tidak boleh menyebutkan hadits dho¶if ini. mungkin karena mursal atau ada rowi yang majhul. Imam Nawawi mengatakan bahwa ulama ijma tidak boleh berdalil dengan hadits dho¶if dalam masalah hukum. ² * Misalnya. 3. misalnya ini adalah hadits mursal. Jika amalnya belum jelas dalilnya. ³Jika tiga persyaratan ini diperhatikan oleh orang yang membolehkan hadits dho¶if dalam fadhoilul a¶mal maka selesai masalah´. maka tidak boleh. Kemudian ada hadits dho¶if yang dho¶ifnya ringan berkenaan keutamaan sholat dhuha. ³Ini kan fadhoil amal/targhib dan tarhib.Namun jika orangnya tidak mengetahui. Kan boleh menurut sebagian ulama´. ² * Imam Albani rohimahullah mengatakan. Karena ketika menyampaikan dia tahu. bagaimana dengan persyaratannyat. Namun tiga persyaratan tersebut tidak bisa dipenuhi kecuali oleh pakar hadits. sholat dhuha adalah sholat yang disyariatkan berdasar hadits yang shohih. Artinya sholat dhuhanya sudah masru¶ (disyari¶atkan) berdasar hadits yang shohih. Tsabit berdasar hadits yang shohih. ini lemahnya seberapa atau bahkan palsu bagaimana melakukan poin yang ketiga. mereka bahkan tidak tahu Oleh karena itu jika tiga syarat ini diperhatikan. Tidak diyakini bahwa Nabi shollallahu µalaihi wa sallam mengucapkannya*. Kalau dalam masalah hukum. Dan ada perselisihan dalam masalah fadhoil amal/masalah targhib dan tarhib. Ini adalah pendapat Imam Ibnu Hazm dan Imam Muslim. Karena asal muasal amal yaitu ibadah yang hendak dimotivasi itu tidak disyariatkan sebab dasarnya adalah hadits yang shohih. Sehingga dia tidak meyakini bahwa itu adalah bukan hadits dari Nabi shollallahu µalaihi wa sallam.*** Tiga syarat ini berasal dari Ibnu Hajar Al Asqolani. Dho¶ifnya bukan dho¶if yang sangat*. Namun ketika ditanya. . Tentang sholat malam haditsnya shohih kemudian ada hadits yang dho¶ifnya ringan menceritakan tentang keutamaan orang yang melaksanakan sholat malam. Maka dia bisa memenuhi persyaratan ketiga karena tahu. maka selesai masalah. Karena syaratnya ashlul amal (landasan beramal) terdapat dalil yang shohih. ² * Dho¶ifnya tidak sangat. Misalnya juga tentang sholat malam. 2. Ada ulama yang menolak hadits yang dho¶if untuk targhib dan tarhib sebagai dalil secara mutlak. membolehkan dengan tiga persyaratan ini. Yang menjadi masalah ketika berdalil dengan hadits dho¶if tentang suatu amal kemudian diingatkan mereka menyatakan. Inilah pendapat yang dirojihkan Syaikh Al Imam Al bani di Muqodimmah Shohih Jami Shogir. Pertama dho¶ifnya tidak sangat dan syarat ketiga tidak boleh yakin bahwa Nabi shollallahu µalaihi wa sallam mengucapkannya. 1. Hendaknya pokok amal yang disebutkan di dalamnya motivasi dan menakuti-nakuti ada berdasarkan hadits yang shohih*.

*** Jjjj Taisir Musthalah Hadits (4): Penjelasan Untuk Shohih Lidzatihi 8Share Telah lewat (pada penjelasan yang lalu) bahwasannya definisi hadits shohih lidzatihi adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang rowi yang adil*. Kalau sekarang mungkin jika makan di restoran besar malah naik muru-ahnya. µAdalah ( ) adalah istiqomah pada din dan istiqomah pada muru-ah. semacam para imam yang terkenal. ini berarti seorang muslim memperhatikan adat masyarakat. ² * Pandangan masyarakat adalah yang tidak bertentangan dengan aturan syari¶at. Keadilan rowi diketahui dengan dua cara. Karena ibadahnya disyari¶atkan dan ada pahala di dalamnya. . ² * Yang dimaksud dengan adil yaitu memiliki µadalah. hafalannya sempurna. Sedangkan suatu perkara yang diperintahkan pasti ada pahalanya. yaitu dengan kemasyhuran yaitu sudah terkenal sebagai seorang rowi yang adil. Istiqomah din adalah melaksanakan kewajiban dan menjauhi segala yang haram yang menyebabkan kefasikan.Berdasarkan keterangan di atas. dahulu. Kemudian jika mendapatkan pahala maka alhamdulillah dan jika tidak maka tidak menjadi masalah baginya kesungguhannya dalam beribadah. jika seorang ulama makan di warung maka ini menurunkan muru-ah. tapi tidak di masa sekarang. maka faedah menyebutkan hadits dho¶if ketika memotivasi suatu amal (targhib) adalah mendorong jiwa untuk melakukan amal yang dimotivasi untuk mengharapkan pahala itu. Misalnya. Karena orang tersebut masih mendapatkan pahala yang pokok. Dan tidak masalah baginya jika dia menjauhinya dan tidak terjadi hukuman yang disebutkan. sanadnya bersambung dan terbebas dari syadz dan terbebas daru µillat (penyakit yang membuat cacat). Boleh jadi itu merusak muru-ah di masa silam. yaitu pahala asal amal yang berdasar hadits yang shohih yang merupakan konsekuensi melakukan suatu perkara yang diperintahkan. Maka. Misalnya Imam Malik. Maka muru-ah ini berbeda-beda dan berubah sesuai zaman dan tempat. Karena khawatir terjerumus dalam hukuman tersebut. Maka dia tidak kehilangan pahala yang asli. Istiqomah muru-ah adalah melakukan segala sesuatu yang dipuji masyarakat berupa etika dan akhlak dan meninggalkan segala adab dan akhlak yang dicela masyarakat*. Dan faidah menyebut hadits dho¶if dalam tarhib adalah menakuti-nakuti jiwa untuk melakukan perkara yang ditakut-takutkan.

Misalnya dengan kata-kata. karena manusia tidak dapat terbebas dari kesalahan menambah atau mengurangi*. Cukup dengan mungkin dia bertemu. ³Fulan berkata´ ( ). ³Fulan melakukan´ ( ) dan yang semacam itu. meskipun kami tidak menilai Imam Muslim melakukan perbuatan tersebut dalam Shohih-nya sejalan dengan pendapat beliau ini. keselarasannya. Imam Nawawi <em>rohimahullah </em>berkata tentang pendapat Imam Muslim di Syaroh Shohih Muslim. Wallahu a¶lam. ² * Oleh karena itulah kualitas Shohih Bukhori dinilai lebih tinggi dari Shohih Muslim. ² * Yaitu ulama jarh dan ta¶dil Sempurna hafalannya ( ) adalah ia bisa menyampaikan riwayat yang dia miliki. yaitu dengan penegasan dari orang yang teranggap ucapannya dalam masalah ini. Sedangkan statusnya berjumpa maksudnya adalah seorang rowi meriwayatkan dari orang yang sezaman dengannya dengan menggunakan kata-kata yang mengandung kemungkinan dia melihat atau mendengar gurunya. ³Telah menceritakan padaku.´ . ³Pendapat Imam Muslim diingkari banyak pakar.Imam Ahmad dan Bukhori dan yang selain mereka. yaitu dengan penegasan dari orang yang teranggap ucapannya dalam masalah ini*. Harus ada bukti. karena Imam Muslim mengumpulkan banyak jalur yang tidak mungkin terwujud hukum yang dia bolehkan. baik didapatkan melalui mendengar atau melihat dalam bentuk sebagaimana dia dapatkan tanpa ditambah atau dikurangi. ini adalah pendapat Imam Muslim*. Diketahui dobt (kesempurnaan hafalan) seorang rowi dengan dua hal. ³Aku melihat fulan´ ( ). ³Dari fulan´ ( ). Adapun berjumpa secara langsung maksudnya adalah berjumpa dengan gurunya dan mendengar dari gurunya atau melihat gurunya dan dia mengatakan. Terdapat dua pendapat: 1. ini adalah pendapat Imam Bukhori. ² * Dia bisa menceritakan apa yang ada dalam dirinya baik dia dapatkan dari pendengaran atau penglihatan dan dia menceritakan kepada orang lain tanpa kesalahan atau dengan sedikit kesalahan.´ ( ). Kemudian dengan tazkiyah. yaitu selaras dengan rowi-rowi yang terkenal tsiqoh dan orang yang kuat hafalannya meskipun hanya sesuai dengan mereka secara umum. dan kalimat semacamnya. ³Aku mendengar´ ( ). 2. Kemudian mendapat tazkiyah/penegasan. Akan tetapi kesalahan yang sedikit dinilai tidak mengapa. Bersambung sanadnya ( ) yaitu setiap rowi berjumpa dengan gurunya atau dari orang yang dia mengambil riwayat darinya baik secara langsung atau statusnya berjumpa.

atau lebih jumlahnya atau lebih bermulazamah dengan gurunya atau yang semacam itu*. ² * Artinya mengambil air baru untuk mengusap telinga. yaitu karena tidak terbebas dari syadz. Kemudian murid yang kedua memberikan khobar dari gurunya yang menyelisihi murid yang pertama. ² * Artinya mengambil air baru untuk mengusap kepala. Murid yang pertama sudah mulazamah dalam waktu berpuluh-puluh tahun. Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dengan lafadz ini dari jalur Ibn Wahab. Adapun mudallis tidaklah divonis haditsnya bersambung kecuali jika dia menegaskan bahwa dia mendengar atau melihat secara langsung. Murid yang kedua hanya lima tahun. tapi rowi ini menyelisihi para rowi yang lebih banyak jumlahnya dari dia. ² * Misalnya seorang guru memiliki dua murid.Perbedaaan ini berlaku untuk rowi yang bukan mudallis (akan datang penjelasannya. Maka boleh jadi murid yang kedua mendengar dari gurunya akan tetapi ia tidak paham. . Akan tetapi rowi ini menyelisihi para rowi yang lebih banyak jumlahnya daripada dia. bukan air yang sebelumnya digunakani untuk membasuh tangan. Tidak bersambungnya suatu sanad diketahui dengan dua cara: 1. 2. Dengan penegasan seorang rowi atau salah satu dari ulama pakar hadits menegaskan bahwasannya rowinya tidak bersambung atau fulan ini tidak mendengar ataumelihat dari gurunya apa yang dia ceritakan. yaitu bahwasannya Nabi shollallahu µalaihi wa sallam mengambil untuk kedua telinganya air yang bukan air yang beliau ambil untuk kepalanya*. Misalnya. hadits µAbdullah ibn Zaid tentang tata cara wudhu Nabi shollallahu µalaihi wa sallam bahwasannnya Nabi mengusap kepalanya dengan air yang bukan sisa dari tangannya*. Maka yang lebih tahu maksud gurunya adalah murid yang pertama. riwayat Baihaqi tidak shohih meskipun perowinya tsiqoh. Maka hadits Baihaqi adalah riwayat yang ganjil (syadz) karena rowi dari Ibn Wahab memang tsiqoh*. insya Allah-ed). Tarikh (sejarah). ² * Rowi yang dipakai oleh Baihaqi yang merupakan muridnya Ibnu Wahab memang tsiqoh. yaitu mengetahui bahwasannya guru atau orang yang diambil riwayat darinya sudah meninggal ketika dia belum mencapai usia tamyiz yaitu usia 7 tahun*. Maka yang lebih tsiqoh adalah murid yang pertama. Maka berdasar hal tersebut. ² * Misalnya gurunya sudah meninggal ketika ia masih berumur 3 tahun. maka ini jelas tidak bersambung. Karena hadits ini diriwayatkan sejumlah orang dari Ibnu Wahab namun dengan menggunakan lafadz Muslim. Keganjilan ( ) yaitu seorang rowi yang tsiqoh menyelisihi rowi yang lebih kuat darinya. Dan Imam Baihaqi meriwayatkan dari jalan Ibn Wahab juga dengan lafadz yang berbeda. bisa dengan lebih sempurna keadilannya atau hafalannya.

Hadits ini diriwayatkan Tirmidzi. atau rowinya adalah orang fasiq. baik dia da¶i atau bukan. Melihat hadits yang diriwayatkanya. Contohnya hadits dari sahabat Abu Ayyub Al Anshori rodhiallahu¶anhu dari Nabi shollallahu µalaihi wa sallam bersabda. 3. Diterima secara mutlak. maka tidak menghalangi hadits tersebut untuk dinilai shohih atau hasan. Maka dari sanad yang tampak adalah shohih. Maka hadits ini tidak shohih karena tidak terbebas dari penyakit yang membuat cacat. Contohnya hadits Ibnu µUmar rodhiallahu¶anhu dari Nabi shollallahu µalaihi wa sallam bersabda. 4. Jika jawabannya ya. Ditolak secara mutlak 2. ³Perempuan yang haidh dan orang yang junub tidak boleh membaca sedikitpun ayat Al Qur¶an. akan tetapi hadits ini memiliki cacat.´ ² * Ini adalah termasuk ilmu hadits yang berat. hadits tersebut tidak dihukumi sebagai shohih karena tidak selamat dari penyakit yang membuat cacat1*. dan Imam Tirmidizi mengatakan kami tidak mengenal hadits ini kecuali dari hadits Isma¶il ibn µIyas dari Musa ibn µUqbah*. ² * Ada beberapa pendapat berkaitan dengan riwayat dari ahlu bid¶ah: 1. jelek hafalannya. Diperinci (tafshil). ² * Artinya hadits ini termasuk hadits ghorib (yaitu punya satu jalur saja). maka riwayatnya tidak bisa diterima. persyaratan riwayat dari ahlu bid¶ah adalah : 1. Maka. Menguatkan kebid¶ahannya atau tidak.µIllat (penyakit yang membuat cacat) ( ). Ringkasnya penjelasan di Taisir Mustholah Mahmud Thohan. atau ahli bid¶ah* dan haditsnya mendukung kebid¶ahannya dan semacam itu. Merinci dengan melihat dia mendakwahkan bid¶ahnya atau tidak. Bukan da¶i 2. yaitu tentang masalah ilmu al illal. Jika penyakitnya tidak membuat cacat. Jika gurunya adalah orang Hijaz maka haditsnya adalah dho¶if dan hadits ini adalah yang termasuk dia dapatkan dari Hijaz**. . yaitu setelah diteliti ternyata jelas diketahui ada sebab yang membuat cacat untuk diterima suatu hadits karena diketahui ternyata hadits tersebut munqothi¶ (terputus). Bukan hadits yang mendukung bid¶ah yang dia miliki. riwayat Isma¶il ibn µIyas dari orang-orang Hijaz adalah dho¶if. ² ** Artinya Musa ibn µUqbah adalah dari Hijaz. Diperinci. mauquf (perkataan sahabat). Terutama jika illalnya adalah masalah yang samar.

Sebagian ulama melarangnya. Maka keduanya adalah dua hal yang berbeda. yaitu Sa¶ad ibn Sa¶id karena Imam Ahmad mendho¶ifkannya. karena sebagian ulama menshohihkannya. Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dari jalan Sa¶ad ibn Sa¶id.³Barangsiapa berpuasa Romadhon. ³Jika hadits tersebut memiliki dua jalur. Jadi. Namun hadits dho¶if lainnya banyak dan yang paling ringan cacatnya adalah hadits tersebut. apakah sudah mencapai derajat shohih atau derajat hasan**. ** Dimaknai hadits shohih aw hasan (shohih atau hasan). kemudian diikuti dengan 6 hari di bulan Syawal.´ ² * Dimaknai hadits shohih wa hasan (shohih dan hasan). dan µillatnya tidak membuat cacat. hasan untuk jalur ini dan shohih untuk hadits yang satunya lagi. Misalnya dalam hadits ghorib. Sedangkan hadits syawahid. Dan itulah pendapat yang lebih rojih karena ada hadits tentang hal ini. maka ini bukanlah menilai bahwa hadits tersebut shohih tapi maksudnya hadits tersebut yang paling sedikit cacatnya. namun hanya sebagai pengandaian. Imam Muslim menyampaikan hadits ini dalam Shohih-nya menunjukkan keshohihan menurut Muslim. Bisa jadi haditsnya dho¶if. Maka bagaimana menyesuaikan dua penilaian ini padahal ada perbedaan di antara keduanya? Kami katakan (penulis kitab ed). µIllat ini tidak membuat cacat. Maka dikumpulkan antara dua sifat ini dengan melihat jalurnya*. Artinya.*´ ² * Ini adalah termasuk pengandaian. . Adapun jika hadits tersebut hanya memiliki satu jalan. maka ia seakan-akan puasa dahr (puasa setiap hari. ² * Hadits muttabi¶ (penguat) adalah jika rowi hadits tersebut dari sahabat yang sama. dan pada hadits ini terdapat µillat dengan sebab rowi ini. maka maksud hadits tersebut bahwa salah satu jalannya shohih dan jalur yang kedua adalah hasan. Karena ulama berselisih pendapat tentang puasa dahr. jika sumbernya beda. seandainya puasa dahr itu dibolehkan). Jadi ragu-ragu antara hadits ini hasan atau shohih. yaitu Penilaian Shohih dan Hasan dalam Satu Hadits Di depan telah kita bahas bahwa hadits shohih adalah satu bagian dari hadits yang berbeda dengan hadits hasan. terkadang suatu hadits diberi nilai hadits hasan shohih. dari hadits tersebut tidak menunjukkan bolehnya puasa dahr.³Siapa yang puasa setiap hari tidak akan dinilai orang yang berpuasa dan juga tidak dinilai sebagai orang yang tidak puasa´. Adapun kalimat ( ) ³Hadits ini adalah hadits yang paling shohih dalam bab ini´. Akan tetapi sering kita dapatkan. maka maknanya adalah ulama tersebut ragu-ragu. Dikumpulkannya Dua Hukum. dan dia memiliki hadits penguat (muttabiµ)*.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful