P. 1
BABI

BABI

|Views: 192|Likes:
Published by sheval07

More info:

Published by: sheval07 on Sep 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/13/2014

pdf

text

original

Peternakan Babi di Manokwari: Mempertahankan Tradisi & Meningkatkan Taraf Hidup

oleh: Freddy Pattiselanno dan Deny A. Iyai

Peternak yang sedang memberi makan ternak babinya. Foto: Freddy Pattiselanno.

M

elihat perkampungan nelayan di daerah pesisir adalah hal yang wajar, dan kesibukan nelayan sepanjang hari sebelum dan sesudah melaut benar-benar mencerminkan irama kehidupannya seharihari. Tapi perkampungan peternak di daerah pesisir mungkin bukan hal yang umum ditemukan. Memanfaatkan lingkungan sekitar tempat tinggal untuk usaha peternakan adalah hal yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat yang mendiami daerah pesisir sepanjang Teluk Doreri di Kota Manokwari, Papua. Kelompok masyarakat yang sudah menyatu dengan lingkungannya ini tetap memegang tradisi mengembangkan usaha peternakan babi secara tradisional sebagai penopang kehidupan sekaligus mewarisi budaya masyarakat Papua umumnya. Oleh karena hampir sebagian besar masyarakat yang mendiami daerah ini adalah masyarakat asli Papua yang berasal dari campuran berbagai suku, maka kebiasaan yang dipraktekkan secara turun temurun ini tetap berlangsung di manapun mereka tinggal menetap. Mengapa Ternak Babi? Di Papua, nilai sosial ternak babi sangat tinggi karena budaya masyarakat memelihara hewan ini erat kaitannya dengan praktek adat istiadat dan upacara ritual budaya setempat. Binatang yang dianggap sakral ini sering digunakan dalam berbagai kegiatan ritual budaya, termasuk untuk mas kawin dan alat tukar. Selain itu, jumlah babi yang dimiliki biasanya dijadikan sebagai ukuran kekayaan seseorang (status sosial). Semakin banyak babi yang dimiliki, berarti semakin tinggi pula status sosialnya.

Usaha peternakan babi ini diawali dengan memelihara satu atau dua ekor babi yang merupakan pemberian atau peninggalan orang tua. Terkadang ternak ini diperoleh dari pemberian sebagai “mas kawin” (pemberian pada saat pernikahan) yang kemudian berkembang biak. Usaha yang dimulai dari sepasang ternak kemudian berkembang dengan baik, apalagi nilai ekonomi ternak babi cukup tinggi. Karena itu, tidaklah heran sekalipun memiliki pekerjaan utama yang beragam (pegawai negeri, swasta, buruh dan tukang), mengusahakan ternak babi sebagai tambahan sumber pendapatan menjadi alternatif guna meningkatkan taraf hidup keluarga. Hal ini diakui pula oleh Melkisedek Ap, seorang pemuda peternak yang bermukim di sekitar pesisir pantai. Beternak babi dalam lingkungan keluarganya sudah dilakukannya sejak kecil. Pada tahun 1998, ia dibelikan sepasang babi oleh orangtuanya. Sejak saat itu ia aktif beternak babi secara mandiri. Menurut pengalamannya, secara ekonomis memelihara ternak babi menguntungkan karena kebutuhan akan ternak hidup maupun dalam bentuk daging babi di Papua relatif tinggi dan harganya pun relatif mahal. Dari usaha beternak babi pula Melkisedek bisa membiayai studinya di Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Negeri Papua. Sehingga tidak mengherankan jika kemudian ia bercita-cita untuk menjalankan usaha peternakan babi secara intensif setelah ia menuntaskan studinya kelak. Aplikasi Pola Peternakan Intensif dan Pemanfaatan Potensi Setempat Agak berbeda dengan masyarakat di dataran tinggi Manokwari yang masih menerapkan pola peternakan semiintensif bahkan cenderung ke ekstensif, kelompok peternak di pesisir pantai sudah mulai menerapkan pola peternakan intensif. Mereka memanfaatkan lahan yang ada dengan membangun kandang di atas laut-pinggir pantai (kandang berlabuh). Seumur hidupnya babi dipelihara di dalam kandang dan sebagai konsekuensinya kebutuhan pakan untuk hidup dan pemeliharaannya disiapkan peternak. Dengan kata lain, campur tangan peternak pemeliharanya sangat tinggi. Kondisi ini memang wajar, karena lokasi pemeliharaan ada di sekitar kota, sehingga kalau ternak dilepas bebas akan memicu lahirnya faktor sosial lain. Bahan kandang mudah diperoleh di sekitarnya, tidak dibeli dan relatif kuat untuk konstruksi kandang. Peternak umumnya memanfaatkan kayu buah (Macaranga sp) untuk membangun kandang semi permanen dengan sistem terbuka. Sistem kandang seperti ini penting sekali, karena pada siang hari

SALAM #13

Desember 2005

24

Kisaran tersebut merupakan jumlah limbah yang diambil oleh peternak sampel setiap kali pengambilan. Pada malam hari bagian atas kandang diberi atap. karena itu tidak heran jika peternak berupaya mencari bahan pakan yang dapat dijangkau harganya dan tersedia setiap saat. Limbah dapat diambil setiap saat dalam jumlah yang banyak tanpa mengeluarkan biaya yang tinggi. populasi ternak babi di Manokwari merupakan potensi yang dapat dikembangkan guna memenuhi permintaan kebutuhan daging di daerah sekitarnya. 4 P enjual ikan / n=1 0 20 . beternak babi sebagai tradisi masyarakat Papua tidak hanya memberikan manfaat sosial. Biaya pakan merupakan biaya produksi tertinggi dalam suatu usaha peternakan. Peternakan. Nabire.id. Pemanfaatan limbah pasar. limbah pasar ikan dan sisa dapur yang dimasak kemudian diberikan kepada ternak. J um la h lim ba h ya ng diha s ilk a n di M a no k wa ri ( n = jumla h s a mpe l) No. Hal ini juga memberikan kontribusi terhadap jangka waktu penggunaan bahan kandang yang bisa bertahan lama. ampas tahu. 1 2 3 R e s po nde n S umbe r Rumah makan / n=1 0 P enjual go rengan / n=1 0 P enjual sayuran / n=1 0 Kis a ra n P ro duk s i Lim ba h 1 .30 kg per hari 8 9 . Freddy Pattiselanno & Deny A. Fak. Manfaat Ekonomis Beternak Babi Sebagai kawasan sentra produksi ternak di daerah Kepala Burung Papua. Dengan demikian.penguapan air laut membuat temperatur lingkungan meningkat sehingga mempengaruhi kondisi ternak. Negeri P apua (2004) Sedangkan. Iyai PS Produksi Ternak. Selain itu. Pada tahun 2003. kulit pisang.257 ekor di tahun 2004. Tapi jika dilihat dari sumber mata pencaharian para peternak yang bervariasi serta kepemilikan ternak yang berkisar antara 1-10 ekor. SALAM #13 desember 2005 Kandang babi yang ditempatkan di sekitar pesisir pantai.2 juta per tahun (Warastuti. kemungkinan biaya produksi yang dikeluarkan oleh para peternak juga beragam. dari sisi efisiensi hal ini menguntungkan peternak karena kebutuhan akan pakan ternak dapat disuplai dari limbah ini dengan biaya yang sangat rendah.50 kg per hari Sumber: Kegiatan praktikum mata kuliah Ilmu Lingkungan Ternak. Ternyata perkembangan populasi ini tidak hanya mensuplai kebutuhan di Manokwari saja tapi juga melayani kebutuhan dari beberapa daerah lain di sekitar kawasan Teluk Cenderawasih seperti Kab. Air laut juga dimanfaatkan untuk membersihkan kandang sehingga lingkungan kandang selalu terjaga kebersihannya dan ikut menciptakan ternak yang sehat. Masyarakat setempat menyebutnya kandang berlabuh. Seperti yang terlihat pada tabel 1. namun juga manfaat ekonomis bagi peternak sekaligus terciptanya lingkungan yang bersih bagi kesehatan masyarakat. bahwa pada tahun 2002 pengiriman ternak babi ke luar Manokwari sebanyak 390 ekor dan jumlah ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun.com 25 . singkong. Secara tidak langsung pemanfaatan limbah ini ikut menjaga dan memelihara kebersihan lingkungan karena mengurangi volume limbah yang terus bertambah akibat pengembangan kota. Biak bahkan sampai ke Jayapura. 2001). Papua email: freddy_pattiselanno@unipa. untuk memberi kenyamanan bagi ternak. Sedangkan penghasilan rata-rata para peternak babi di daerah pesisir kota Manokwari adalah sebesar sekitar Rp 1. Univ. Jenis pakan bervariasi mulai dari limbah rumah makan.ac. pejantan atau induk betina) ternak babi yang dipelihara. dewasa. Pengamatan sementara menunjukkan bahwa konsumsi air laut akan secara langsung memenuhi kebutuhan akan mineral sehingga mengurangi agresifitas ternak untuk memakan bahan kandang (bambu atau kayu) akibat kekurangan mineral dalam pakannya. Berdasarkan pengamatan penulis terkait pengelolaan limbah ternak babi.20 kg per hari 2 . Tentunya variasi ini berdasarkan jumlah dan fase umur (anak. Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua (UNIPA). Foto: Freddy Pattiselanno. Lokasi kandang yang dekat dengan pantai juga memudahkan peternak untuk memanfaatkan air laut untuk konsumsi air minum ternak. Biasanya jumlah tersebut bisa dihabiskan oleh ternak peliharaan dalam waktu 2-3 hari. Hal ini dibuktikan dengan informasi dari Balai Karantina Hewan.1 kg per hari 1 penambahan air laut pada pakannya juga meningkatkatkan palatabilitas (tingkat kesukaan akan pakan) karena ternak babi cenderung mengkonsumsi pakan yang basah. denyunipa@yahoo. sisa sayur. P ro gram Studi P ro duksi Ternak. T a be l 1. tingkat pemanfaatan limbah oleh usaha peternakan babi yang dikelola secara tradisional khususnya oleh para peternak di kawasan pesisir pantai Manokwari berkisar antara 25–75 kg tergantung pada jumlah ternak yang dipelihara (berdasarkan hasil pengamatan langsung dan wawancara yang dilakukan terhadap 15 orang peternak sampel yang memanfaatkan limbah pangan sebagai bahan pakan untuk babi peliharaannya). P ertanian & Ilmu Kelutan. Fak. Serui. Sedangkan yang dibuang ke laut adalah sisa makanan yang sekaligus menjadi sumber pakan bagi biota laut yang ada. umumnya limbah padatnya ditampung dan ditanam di darat. limbah rumah tangga dan limbah rumah makan atau penjual gorengan di sekitar kota merupakan jalan yang ditempuh peternak setempat untuk menyediakan pakan bagi ternak babi peliharaannya. Manokwari. misalnya seng. populasi ternak babi di Manokwari adalah 19. Selain itu.381 ekor dan meningkat menjadi 20.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->