STRUKTUR ILMU DALAM FILSAFAT ILMU

Nov 11, '08 4:13 AM for everyone

BAB II PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN STRUKTUR ILMU. ³Ilmu´ berasal dari bahasa µArab ³alima´ sama dengan kata dalam bahasa Inggris ³Science´ yang berasal dari bahasa Latin ³Scio´ atau ³Scire´ yang kemudian di Indonesiakan menjadi Sains (Sidi Gazalba, Jakarta 1973. h. 54). A. Thomson dalam Sidi Gazalba menggambarkan ³Ilmu adalah pelukisan fakta-fakta pengalaman secara lengkap dan konsisten dalam istilah-istilah yang sesederhana mungkin, . pelukisan secara lengkap dan konsisten itu melalui tahap pembentukan definisi, melakukan analisa, melakukan pengklassifikasian dan melakukan pengujian´(Sidi Gazalba, Jakarta 1973. h. 54-55). Jujun S. Suriasumantri menggambarkannya dengan sangat sederhana namun penuh makna ³Ilmu adalah seluruh pengetahuan yang kita miliki dari sejak bangku SD hingga Perguruan Tinggi´(Jujun S Suriasumantri,1990, h. 19). Beerling, Kwee, Mooij dan Van Peursen menggambarkannya lebih luas ³Ilmu timbul berdasarkan atas hasil penyaringan, pengaturan, kuantifikasi, obyektivasi, singkatnya, berdasarkan atas hasil pengolahan secara metodologi terhadap arus bahan-bahan pengalaman yang dapat dikumpulkan.´(Beerling, Kwee, Mooij, Van Peursen, Yogyakarta, 1990, h. 14-15). Sehingga dengan demikian, ilmu adalah kumpulan pengetahuan secara holistik yang tersusun secara sistematis yang teruji secara rasional dan terbukti empiris. Ukuran kebenaran Ilmu adalah rasionalisme dan empirisme sehingga kebenaran ilmu bersifat Rasional dan Empiris. Fungsi ilmu/pengetahuan ilmiah:

1. Menjelaskan 2. Meramal 3. Mengontrol Sebagai contoh: Pengetahuan tentang kaitan antara hutan gundul dengan banjir memungkinkan kita untuk bisa meramalkan apa yang akan terjadi sekiranya hutan-hutan terus ditebang sampai tidak tumbuh lagi. sekiranya kita tidak menginginkan timbulnya banjir sebagaimana diramalkan oleh penjelasan tadi maka kita harus melakukan kontrol agar hutan tidak dibiarkan menjadi gundul. Demikian juga, jka kita mengetahui bahwa hutan-hutan tidak ditebang sekiranya ada pengawasan, maka untuk mecegah banjir kita harus melakukan kontrol agar kegiatan pengawasan dilakukan, agar dengan demikian hutan dibiarkan tumbuh subur dan tidak mengakibatkan banjir. Pengetahuan tentang kaitan antara hutan gundul dengan banjir memungkinkan kita untuk bisa meramalkan apa yang akan terjadi dan berdasarkan ramalan tersebut kita bisa melakukan upaya untuk mengontrol agar ramalan itu menjadi kenyataan atau tidak. Empat jenis pola penjelasan:
y

deduktif : mempergunakan cara berpikir deduktif dalam menjelaskan suatu gejala dengan menarik kesimpulan secara logis dari premis-premis yang telah ditetapkan sebelumnya.

y

probabilitas : merupakan penjelasan yang ditarik secara induktif dari sejumlah kasus yang dengan demikian tidak memberi kepastian dimana penjelasan bersifat peluang seperti ³kemungkinan´, ³kemungkinan besar´, atau ³hampir dapat dipastikan´.

y

fungsional/teleologis : merupakan penjelasan yang meletakkan sebuah unsur dalam kaitannya dengan sistem secara keseluruhan yang mempunyai karakteristik atau arah pekembangan tertentu.

y

genetik : mempergunakan faktor-faktor yang timbul sebelumnya dengan menjelaskan gejala yang muncul kemudian.

³Struktur´ adalah cara bagaimana sesuatu disusun atau dibangun; susunan; bangunan

memberikan petunjuk bagaimana ³pengertian dasar´ ini dapat dipergunakan´. Upaya ini tidak dilakukan dengan sewenang-wenang. 110-128) Van Peursen menggambarkan lebih tegas bahwa ³Ilmu itu bagaikan bangunan yang tersusun dari batu bata. ³garis lurus (garis lurus lintasan sinar cahaya dalam hampa udara). Jakarta. .Peter R Senn dalam Ilmu Dalam Persektif (Jujun Suriasumantri) meskipun tidak secara gamblang ia menyampaikan bahwa ilmu memiliki bangun struktur (Jujun S Suriasumantri. Pakatan tertentu (disebut aksioma) yang sebetulnya merupakan semacam definisi mengenai istilah-istilah itu. h. melainkan merupakan hasil petunjuk yang menyertai susunan limas ilmu yang menyeluruh akan makin jelas bahwa teori secara berbeda-beda meresap sampai dasar ilmu. Y. 28). 1981. sekarang lebih baik diganti dengan lambang tanpa arti seperti X. Jakarta. Lewat observasi ilmiah batu-batu sudah dikerjakan sehingga dapat dipakai kemudian digolongkan menurut kelompok tertentu sehingga dapat dipergunakan.(Van Peursen. 1989. h. Istilah yang pada ilmu pasti lama masih merujuk pada sesuatu seperti ³ruang´ (ruang fisis). Batu atau unsur dasar tersebut tidak pernah langsung di dapat di alam sekitar.

Maka dapat disimpulkan bahwa : Teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang ³mengapa´ suatu gejalagejala terjadi sedangkan hukum adalah memberikan kemampuan kepada kita untuk meramalkan tentang ³apa´ yang mungkin terjadi. Misalnya : teori ekonomi mikro terdiri dari hukum penawaran dan permintaan. Hukum Hukum pada hakekatnya merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variable atau lebih dalam suatu kaitan sebab akibat. . Misalnya : Teori ekonomi makro Teori ekonomi mikro Teori mekanika Newton Teori relativitas Einstein Tujuan akhir disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten.Skema struktur dan proses pengetahuan ilmiah Teori Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan menjadi suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan.

Dapat dibedakan menjadi tiga ragam proposisi yaitu sebagai asas. dan teori. Memaparkan pola-pola dalam sekumpulan sifat. Dimana beberapa ilmu teoritis ini disatukan dalam sebuah konsep dan dinyatakan dalam sebuah teori. Asas ilmiah: suatu asas atau prinsip adalah sebuah proposisi yang mengandung kebenaran umum berdasarkan fakta-fakta yang telah diamati. 2. petunjuk-petunjuk atau ketentuan-ketentuan mengenai apa yang perlu berlangsung atau sebaiknya dilakukan dalam hubungannya dengan obyek sederhana itu. atau proses lainnya dari fenomenon yang ditelaah. . Kaidah ilmiah: suatu kaidah atau hukum dalam pengetahuan ilmiah adalah sebuah proposisi yang mengungkapkan keajegan atau hubungan tertib yang dapat diperiksa kebenarannya diantara fenomena.Dimana Teori dan Hukum merupakan ³alat´ kontrol gejala alam yang bersifat universal. Copernicus. Johannes Keppler kemudian disatukan kedalam sebuah teori yang dikemukakan oleh Newton.kaidah. Ragam Proposisi Bebagai keterangan mengenai obyek sebenarnya itu dituangkan dalam pernyataan-pernyataan. Misalnya Teori yang dikemukakan oleh Ptolomeus. Makin teoritis suatu konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala-gejala fisik yang tampak nyata. Ilmu teoritis terdiri dari sebuah sistem pernyataan. Sehingga kita sering mendengar konsep dasar dan konsep terapan yang diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar/murni dan ilmu terapan serta penelitian dasar dan penelitian terapan. kecenderungan. Makin tinggi tingkat keumuman suatu konsep maka makin ³teoritis´ konsep tersebut. ciri. 1. Kegunaan praktis dari sebuah konsep yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah-masalah yang bersifat praktis. Teori-teori yang tingkat keumumannya rendah disatukan menjadi satu teori yang mampu mengikat keseluruhan teori-teori tersebut.

3. Kebenaran ilmiah pada hakikatnya harus disatukan lewat sebuah proses yang disebut metode ilmiah. Sekiranya orang itu beranggapan bahwa keadaan jalan raya pada waktu pagi buta adalah aman disebabkan karena jarangnya kenderaan yang lalu lalang. Teori ilmiah: suatu teori dalam scientific knowledge adalah sekumpulan proposisi yang saling berkaitan secara logis untuk memberi penjelasan mengenai sejumlah fenomena. Sebagai contoh umpamanya kita dapat mengambil cara orang mengemudikan mobil dijalan raya. Menurut penilainnya justru pada pagi butalah keadaan jalanan adalah sangat tidak aman disebabkan banyak orang mengendarai mobil secara sembrono. Bila postulat dalam pengajuannya tidak memerlukan bukti tentang kebenarannya maka hal ini berlainan dengan asumsi yang harus ditetapkan dalam sebuah argumentasi ilmiah. PENGERTIAN ILMU TEORITIS DAN ILMU PRAKTIS .Itulah sebabnya maka asumsi ini harus dibuktikan kebenarannya sebab dengan asumsi yang tidak benar kita akan memilih cara yang tidak benar pula. B. maka kemungkinan besar orang itu akan mengendarai mobilnya secara kurang hati-hati. toh asumsinya bahawa jalanan adalah aman bukan? Sebaliknya mungkin juga terdapat orang lain yang mempunyai pendapat yang berbeda. misalnya saja hukum sebab akibat sebuah gejala. Asumsi merupakan pernyataan yang kebenarannya secara empiris dapat diuji. Oleh sebab itu maka dia memilih asumsinya bahwa keadaan jalan raya adalah tidak aman. Prinsip merupakan pernyatan yang berlaku secara umum bagi sekelompok gejala-gejala tertentu. yang mampu menjelaskan kejadian yang terjadi. tapi postulat ilmiah yang ditetapkan tanpa melalui prosedur ini melainkan ditetapkan secara begitu saja. Misalnya : Prinsip Ekonomi Prinsip Kekekalan Energy Postulat merupakan asumsi dasar yang kebenarannya kita terima tanpa dituntut pembuktian.

seperti contoh dibawah ini : ILMU MURNI ILMU TERAPAN Mekanika Mekanika Teknik Hidrodinamika Teknik Aeronautikal /Teknik & Desain Kapal . Pembagian selanjutnya sebagai pelengkap pembagian menurut ragam ialah pembagian ilmu menurut jenisnya. Ini merupakan suatu pembagian ilmu yang memakai isi substansif itu dicerminkan oleh pokok soal atau objek material dari pengetahuan yang bersangkutan. Dengan demikian. Ilmu praktis (practical science) Pembedaan antara pengetahuan teoretis dan pengetahuan praktis sudah dikenal sejak zaman Yunani Kuno. sedang pengetahuan praktis dapat memenuhi keinginan berbuat. Oleh karena ditunjukan dan diketahui obyek material yang ditelaah menjadi pengetahuan itu. Misalnya filsuf Aristoteles membagi kumpulan pengetahuan rasional menjadi tiga kelompok: pengetahuan teoretis (misalnya fisika). maka dalam pembagian jenis ilmu biasanya orang dapat serta merta mengetahui hal apa saja yang menjadi sasaran jenis-jenis ilmu yang dikemukakan. dalam konsepsi kami ilmu akan dibedakan pertama-tama dalam dua ragam: 1. pengetahuan praktis (misalnya etika). Penelitian murni atau penelitian dasar adalah penelitian yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui. walaupun mungkin hanya dalam garis besarnya saja. Ilmu teoritis (theoretical science) 2. Ilmu-ilmu murni kemudian berkembang menjadi ilmu-ilmu terapan. dan pengetahuan produktif (misalnya retorika).Kehidupan manusia pada dasarnya berpangkal pada sifat dasar yang berhasrat dan ingin berbuat (to know and to do) dan pengetahuan teoretis akan memuaskan hasrat mengetahui.

Bunyi Teknik Akustik Cahaya & Optik Teknik Iluminasi Kelistrikan / Teknik Elektronik / Magnestisme Teknik Kelistrikan Fisika Nuklir Teknik Nuklir Cabang utama ilmu-ilmu sosial yakni antropologi (mempelajari manusia dalam perspektif waktu dan tempat). Penelitian murni atau penelitian dasar adalah penelitian yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui. semua itu kita golongkan ke dalam ilmu murni. Ilmu murni merupakan kumpulan teori-teori ilmiah yang bersifat dasar dan teoritis yang belum dikaitkan dengan masalah kehidupan yang bersifat praktis. ekonomi umpamanya. meminjam perkataan Paul Samuelson. Banyak sekali konsep ilmu-ilmu sosil ³murni´ dapat diterapkan langsung kepada kehidupan praktis. Cabang utama ilmu-ilniu sosial yang lainnya mempunyai cabang-cabang lagi seperti antropologi terpecah menjadi lima yakni. linguistik. etnologi dan antropologi sosial/kultural. merupakan ilmu yang beruntung (Fortunate) karena dapat diterapkan langsung kepada kebijaksanaan umum (public policy). antropologi fisik. sosiologi (mempelajari struktur organisasi sosial manusia) dan ilmu politik (mempelajari sistem dan proses dalam kehidupan manusia berpemerintahan dan bernegara). psikologi (mempelajari proses mental dan kelakuan manusia). ekonomi (mempelajari manusia dalam memenuhi kebutuhannya lewat proses pertukaran). . Ilmu terapan merupakan aplikasi ilmu murni kepada masalah-masalah kehidupan yang mempunyai manfaat praktis. arkeologi.

Penelitian terapan adalah penelitian yang bertujuan untuk mempergunakan pengetahuan ilmiah yang telah diketahui untuk memecahkan masalah kehidupan yang bersifat praktis. Manusia disebut juga Homo Faber (makhluk yang membuat peralatan) disamping Homo Sapiens (makhluk yang berpikir) yang mencerminkan kaitan antara pengetahuan yang bersifat teoritis dengan teknologi yang bersifat praktis. Penelitian terapan inilah yang nantinya menghasikan teknologi-teknologi. BAB III .

dan keinginan berbuat seseorang tidak bisa dihapuskan. Bekal ini pula yang nantinya kita pergunakan dalam penelitian-penelitian yang akan kita lakukan. SARAN Dengan mengetahui struktur dari ilmu ini maka dapat kita bedakan nantinya pemahaman dari sejauh mana kajian mengenai gejala-gejala alam. Tampaknya akal budi manusia tidak mungkin berhenti berpikir. B. hasrat mengetahui ilmuan tidak dapat padam. DAFTAR PUSTAKA . y Melalui ilmu kita dapat menjelaskan. y Ilmu-ilmu murni berkembang menjadi ilmu-ilmu terapan.PENUTUP A. y Makin tinggi tingkat keumuman suatu konsep maka makin teoritis konsep tersebut. KESIMPULAN y Struktur ilmu dalam filsafat ilmu merupakan bagian yang penting dipelajari mengingat ilmu merupakan suatu bangunan yang tersusun bersistem dan kompleks. Ini berarti perkembangbiakan pengetahuan ilmiah akan berjalan terus dan pembagian ilmu yang sistematis perlu dari waktu ke waktu diperbaharui. Makin teoritis suatu konsep maka makin jauh penyataan yang dikandungnya. y Tujuan akhir dari disiplin keilmuan yaitu mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. meramal dan mengontrol setiap gejala-gejala alam yang terjadi. Ilmu-ilmu terapan ini akan melahirkan teknologi atau peralatan-peralatan yang berfungsi sebagai sarana yang memberi kemudahan dalam kehidupan.

1973. Bulan Bintang Jujun S Suriasumantri.. IAIN Sumatera Utara y Wisma pandia.T... Medan. Yogyakarta.pdf http://alfaned. Mardiyanto. Filsafat ilmu diambil dari: www. Pengantar Filsafat Ilmu. Pustaka Sinar Harapan y Beerling. Jakarta.. 2008. Filsafat Ilmu. Panduan Kuliah ³Filsafat Ilmu´.y y Sidi Gazalba Drs.com/journal/item/1/STRUKTUR_ILMU_DALAM_FILSAFAT_ILMU .1990. Sistematika Filsafat. Mooij. Van Peursen. F.sttip. Kwee. 1990. Sebuah Pengantar Populer.multiply. Jakarta..com/modul%20filsafat%20ilmu. Tiara Wacana y Al Rasyidin.. Buku 1.

Serangkaian nilai yang bersifat etisyang terkait dengan pola pikir dengan model praktek yang khusus. dan kedua menelaah cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah pada pokok bahasan pertama filsafat ilmu berhubungan erat dengan filsafat pengetahuan atau epistemologi. kelompok ilmu masyarakat. Pada pokok bahasan kedua yakni terkait dengan pokok soal cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah. 2. kesatuan. Pengetahuan mengenai berbagai sarana ilmiah. 2007: 44). c. yaitu: 1. dan dalam hal ini kadangkadang filsafat ilmu dijumbuhkan pengertiannya dengan metodologi. Jadi filsafat ilmu terapan tidak bertitik tolak dari dunia filsafat melainkan dari dunia ilmu. Filsafat ilmu terapan sebagai pengetahuan normatif mencakup: a. Kajian ini terkait dengan masalah hubungan antara ilmu dengan kenyataan. yaitu kajian filsafat ilmu yang membicarakan kategori-kategori serta metode-metode yang digunakan dalam ilmu-ilmu tertentu atau dalam kelompok-kelompok ilmu tertentu. Filsafat ilmu terapan. yaitu filsafat ilmu yang mengkaji pokok pikiran kefilsafatan yang melatarbelakangi pengetahuan normatif dunia ilmu. kelompok ilmu tehnik dan sebagainya (beerling dkk. perjenjangan. Dengan kata lain filsafat ilmu sesungguhnya merupakan penyelididkan lanjutan. yaitu pertama. d. filsafat ilmu erat hubungannya dengan logika dan metodologi. yang merupakan bidang kajian filsafat yang secara umum menyelidiki syarat-syarat serta bentuk pengetahuan manusia. 1986: 40) dalam (filsafat ilmu sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan. keseragaman. yang mencakup kajian tentang persoalan kesatuan. Misal etika profesi. Jadi filsafat ilmu ialah penyelidikan filosofis tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Filsafat ilmu umum. susunan kenyataan. serta hubungan diantara segenap ilmu. membahas sifat pengetahuan ilmiah. Dengan filsafat ilmu terapan maka menjadi jelaslah saling hubungan antara objek-objek dengan . b. 05 Mei 2010 RUANG LINGKUP DAN KEDUDUKAN FILSAFAT ILMU RUANG LINGKUP DAN KEDUDUKAN FILSAFAT ILMU Oleh: UDIN WAHYUDIN MAHASISWA PROGRAM PASCA SARJANA (PPS) PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MANADO A. Pengetahuan mengenai model praktek ilmiah yang diturunkan dari pola pikir. seperti dalam kelompok ilmu alam. Dengan kata lain filsafat ilmu terapan merupakan deskripsi pengetahuan normatif. Filsafat ilmu dikelompokkan menjadi dua yaitu : 1. Pada kajian ini dunia ilmu bertemu dengan dunia filsafat.Rabu. dan sebagainya. Filsafat ilmu khusus. Filsafat ilmu dapat pula dikelompokan berdasarkan model pendekatan. Pengetahuan yang berupa pola pikir hakekat keilmuan. Pendahuluan Ruang lingkup filsafat ilmu dan bidang filsafat sebagai keseluruhan pada dasarnya men -cakup dua pokok bahasan.

Filsafat ilmu murni. bila ada. Munculnya persoalan epistemologi bukan mengenai suatu prosedur penyelidikan ilmiah. antara pendekatan secara ilmiah dengan pengolahan bahan-bahan secara ilmiah. membuka cakrawala terhadap kemungkinan berkembangnya pengetahuan normatif yang baru. tetapi dipecahkan dengan penalaran. validitas pengetahuan. Epistemologi sendiri mempunyai dua cabang yaitu filsafat pengetahuan (theories of knowledge) dan filsafat ilmu (theory of science). Pertanyaan dari ontologi ³apakah karakter pengetahuan kita tentang dunia?´ Pertanyaan ontologi dan epistemologi tidak dijawab dengan penyelidikan empiris yang terkait dengannya. Berbagai status instrumen riset pada dasarnya tergantung pada jastifikasi epistemologis. Dalam (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. 2007: 46) (Verhak dan Haryono. 2007: 46).metode-metode. objektivitasnya. Tidak ada tehnik atau metode penyelidikan ilmiah yang memperkokoh dirinya sendiri. Bila filsafat ilmu terapan berangkat dari ilmu khusus menuju kajian filosofis. B. Dalam epistemologi yang dibahas adalah objek pengetahuan. Relevansi problem filsafat muncul dari fakta bahwa setiap perangkat riset atau prosedur tidak dapat diterangkan dengan memisahkan pandangan khusus tentang dunia. tetapi dengan mempertanyakan: ³mengapa prosedur ini dan bukan yang lain?´. yakni bahwa ilmu alam memiliki karakter objek yang deterministik. misalnya terkait dengan anggapan dasar tentang ³realitas´ dalam ilmu-ilmu khusus dan konsekuensinya pada pemahaman terhadap ³realitas´ secara keseluruhan. ³apa jaminannya. kesadaran dan metode. (Verhak dan Haryono. 1989: 12). dan kebenaran pengetahuan (Verhak dan Haryono. kapasitas dan tahap-tahapnya. dan bagaimana mereka . filsafat ilmu murni mengambil arah sebaliknya. Instrumen riset tidak dapat dipisahkan dari teori. Filsafat pengetahuan memeriksa sebab-musabab pengetahuan dengan bertitik tolak pada gejala pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Objek material filsafat pengetahuan yaitu gejala pengetahuan. Misal: terdapat karakter yang berbeda antara ilmu-ilmu alam dan ilmu sosial humaniora dalam hal objek material. mereka bekerja hanya bersama-sama dengan asumsi-asumsi tentang hakekat dunia fisik. 1989: 3). sedangkan ilmu sosial-humaniora memiliki karakter objek yang indeterministik dan penuh motivasi. Dalam (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. filsafat mempertanyakan metode dan prosedur yang dipergunakan peneliti sosial dari disiplin sosial apapun yang membuat mereka superior (dan memberi mereka otoritas intelektual terbesar). yaitu bentuk kajian filsafat ilmu yang dilakukan dengan menelaah secara kritis dan eksploratif terhadap materi kefilsafatan. 2. metode itu membuktikan yang lainnyakah?´. Apa dasar klaim otoritas intelektualnya?. yaitu berangkat dari kajian filosifis terhadap asumsi-asumsi dasar yang ada dalam ilmu. sumber dan alat untuk memperoleh alat pengetahuan. sebagai peralatan riset. asal pengetahuan dan arah pengetahuan. 1989: 3). Pertanyaan filsafat dipecahkan bukan dengan penyelidikan empiris. masyarakat. Hubungan filsafat ilmu dengan epistemologi Filsafat ilmu secara sistematis merupakan cabang dari rumpun kajian epistemologi. Epistemologi akan menunjukkan asumsi dasar ilmu. sedang objek material filsafat ilmu yaitu mempelajari gejala-gejala ilmu menurut sebab terpokok. Ilmu merupakan pengetahuan yang diatur secara sistematis dan langkah-langkah pencapaiannya dipertanggungjawabkan secara teoritis. antara masalah-masalah yang hendak dipecahkan dengan tujuan penyelidikan ilmiah. Dalam (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. Dalam konteks ilmu sosial. intuisi. 2007: 46). keberadaan manusia. agar penelaahan filsafat ilmu tidak terpaku pada ragam objek material ilmu. Dengan bantuan telaah epistemologi maka akan didapat pemahaman hakiki tentang karakter dari objek ilmu. Filsafat pengetahuan menggali kebenaran. Yang membedakan ilmu dari pengetahuan adalah metode ilmiah. abstraksi.

Masyarakat. tidak hidup. a. yaitu dalam hal: bentuk. jenis ilmu. Ilmu membatasi diri hanya pada kejadian yang bersifat empiris. hasil akal manusia. yaitu seperti pada ilmu alam Alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan sangat tergantung dari asumsi terhadap objek. tingkat dan aliran ilmu. Dari berbagai bentuk. 1981: 6) dalam (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. dan paradigma ilmu. adalah subyektif. tidak terkait pada prosedur praktis dan problem-problem yang secara historis berkaitan dengan disiplin. antara lain: (1) Menganggap objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain. jenis dan paradigma ilmu tersebut maka kita dapat memperoleh gambaran adanya ragam. dan sifat. sarana dan alat untuk memproses ilmu harus selaras atau konsisten dengan karakter objek material ilmu. atau tujuan khusus sejarah masyarakat.mengetahuinya. Misal: ilmu-ilmu empiris validitas untuk produk ilmunya harus-lah empiristis (Hindes Barry. kita hanya tahu masing-masing metodologi ilmu kejuruan. Oleh karena itu masalah validitas apakah ukurannya cocok (realiable) atau tidak itu tergantung pada metode dan karakter objek. melainkan . Namun kita juga harus mempunyai wawasan yang luas tentang metodologi ilmu-ilmu pada umumnya. Jadi berdasarkan objek telaahnya maka ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris. Ilmu empiris mempunyai beberapa asumsi mengenai objek (empiris). Misal: debat metodologis ilmu sosial tidak dapat dipahami secara bebas dari tempat budaya yang lebih luas dari penemuanpenemuan yang dihasilkan oleh riset awal yang didasarkan pada asumsi epistemologis yang berbeda. Demikian juga telaah dalam filsafat ilmu. opini. 2007: 47). struktur. karena kesadaran manusia tidak ditentukan oleh kekuatan alam. Misal antara ilmu alam dan ilmu sosial-humaniora terdapat perbedaan metode dan sarana yang dipakai. yang didalamnya dijabarkan perbedaan-perbedaan yang terdapat diantara masing-masing ilmu. dimana objek-objek yang berada di luar jangkauan pengalaman manusia tidak termasuk bidang penelaahan ilmu (Yuyun. Itu membuat tindakan sosial adalah penuh makna subyektif. kita banyak mengenal bentuk ilmu. Mengatakan bahwa epistemologi tidak berakar pada periode pemikiran. Toulmin dalam (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. emotif sebaik intelektual. Apa yang kita tunjuk sebagai causal. Adapun validitas/keabsahan yang merupakan bukti bahwa suatu ilmu adalah benar secara epistemologis bukanlah sesuatu yang didatangkan dari luar. Asumsi beberapa jenis objek ilmu Dewasa ini kita sudah memasuki masa spesialisasi ilmu. sehingga ilmu tidak bicara mengenai kasus individual. 1977: 5-6) dalam (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. Ilmu alam dan empiris Ilmu empiris berpandangan sebagai berikut: ilmu mempelajari objek-objek empiris di alam semesta ini. mempelajari sesuatu yang objektif. Disini timbul perbedaan paradigma yang disebabkan oleh karakter objek yang berbeda. 2007: 48). Dalam khasanah filsafat ilmu. Ilmu mempelajari berbagai gejala dan peristiwa yang menurut anggapannya mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia. dan pengetahuan reliabel tentang kebudayaan hanya dapat digapai dengan cara mengisolasi ide-ide umum. mekanistik dan pengukuran berorientasikan model eksplanasi adalah tidak memadai. Dengan kata lain kita tidak bisa menguji metode dan hasil ilmu yang satu dari teropong ilmu lainnya. Sehingga jenis ilmu yang satu dan lainnya tidak sama. 1. Ilmu alam. 2007: 48). Tingkah laku masyarakat manusia adalah selalu mengandung nilai. melainkan ia adalah hasil atau konsekuensi dari metode penyelidikan dan hasil penyelidikan. terkait secara pokok dalam term-term positivistik. dunia fisik.

Kegiatan yang dilakukan dalam ilmu alam tidak merupakan objek penelitian ilmu alam. ideologi. 1981: 7-9) yang dikutif dari (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. (3) Menganggap tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. c. konvensi. tingkah lakunya baik perseorangan maupun bersama. Objek dapat berupa konsep dan bilangan. aturan. motif dan sebagainya. logika. tetapi khususnya karena mereka berbeda menurut objek formal. ia merupakan ilmu empiris yang yang mempelajari manusia dalam segala aspek hidupnya. pengertian. dimana dalam rangka cara berpikir ilmu-ilmu alam adalah univok. pernyataan privat dan internal. Kerja dari penelitian empiris adalah untuk menemukan secara persis pola yang menghubungkan antara aturan-aturan. dan memformulasikannya sebagai pembawa keteraturan. sebab praktek ilmu alam merupakan suatu aktifitas manusiawi yang khas. Peneliti dalam penelitian ilmu sosial juga berada pada taraf yang sama sebagai objek. karena terkait dengan nilai-nilai. dalam lingkup kecil maupun besar. filsafat. Konsekuensi epistemologis dari perdebatan tersebut diawali dengan tidak memadainya metodologi ilmu alam untuk memahami fenomena manusia kecuali sebagai objek alamiah. Ia melampaui status objek benda-benda disekitarnya. hal itu perlu. Lantas apakah ilmu sosial dapat digolongkan sebagai ilmu yang subjektif?. Kelestarian relatif dalam jangka waktu tertentu ini memungkinkan kita untuk melakukan pendekatan keilmuan terhadap objek yang sedang diselidiki. b. dan statistika adalah jenis ilmu yang berfungsi sebagai penopang tegaknya ilmu-ilmu lainnya.suatu kelas tertentu. tidak kasat mata. ciri khasnya. Objek material ilmu sosial adalah lain sama sekali dengan objek material dalam ilmu alam yang bersifat deterministik. Ilmu tentang objek empiris pada dasarnya merupakan abstraksi yang disederhanakan. 2007: 48). dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. . ia berada dalam pemikiran manusia. sebab kejadian alam sangat komplek. ia bersifat bebas dan tidak bersifat deterministik. sehingga kejadian tertentu harus diikuti oleh kejadian yang lain. ia mengandung: pilihan. Objek ilmu kemanusiaan yaitu manusia sebagai keseluruhan. Objek material dalam ilmu sosial adalah berupa suatu tingkah laku dalam tindakan yang khas manusia. Perbedaan tersebut juga menimbulkan perbedaan pendekatan. melainkan bahwa suatu kejadian mempunyai kemungkinan atau (peluang) besar untuk mengakibatkan terjadinyakejadian lain. Ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan Ilmu kemanusiaan mencakup juga ilmu-ilmu sosial. Ilmu berbeda-beda terutama tidak karena objek material berbeda. oleh karena itu tidak cocok apabila diterapi dengan predikat ³sebabakibat´. kepercayaan. situasi. Ilmu abstrak Ilmu formal seperti halnya matematika. dengan kata lain manusia adalah yang mempraktekkan dan diprakteki. tanggung jawab. Manusia memang dapat terlibat sebagai subjek dan sebagai objek. (2) Menganggap bahwa suatu benda tidak mungkin mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. motif. tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan urutan-urutan kejadian yang sama (Paul Niddich dalam Yuyun S. Namun ilmu tidak menuntut adanya hubungan kausalitas yang mutlak. hubungan sosial dan tingkah laku. Ilmu yang tergolong formal pada umumnya berasumsi bahwa objek ilmu adalah bersifat abstrak. padahal semua ilmu mengklaim dirinya menafsirkan data secara objektif. makna. Tentu saja data mentah sebagai realitas sosial objektif mempunyai status subjektif.

Misal: dalam ilmu alam. objek ilmu sejarah. Namun taraf kepastian konkret dalam ilmu-ilmu empiris bersifat bebas. Semuanya itu mirip dengan objek material ilmu kealaman. Ilmu sejarah Ciri ilmu sejarah dibandingkan dengan ilmu empiris lainnya yaitu sifat objek materialnya. rumah. 2. sehingga perlu disetujui berdasarkan pilihan bebas tanpa paksaan. Dengan demikian mutu kepastian adalah meyakinkan dan paling tinggi. maka makin besar kesatuan subjek-objek.2. dengan kata lain subjek terlibat dalam penelitian tentang sesamanya (Veuger dan Haryono. alat-alat. yaitu data-data peninggalan masa lampau baik berupa kesaksian. kecuali kalau ia kritis. Makin jauh bidang ilmu tertentu dari pengalaman manusia seutuhnya. 1989: 70) dalam (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. Dalam ilmu kemanusiaan. Titik pangkal berbeda karena peneliti tidak lagi berada di luar objek penelitian. Misal: dalam filsafat dan humaniora. merupakan aspek sosiologi. termasuk ilmu-ilmu kemanusiaan mengejar kepastian. Misal: merupakan objek psikologi. sehingga makin kurang pula peran subjek dalam kesatuan itu. Evidensi dan kepastian itu perlu dilihat dari sudut kesatuan asli subjek dan objek dalam gejala pengetahuan manusia pada umumnya. d. sekaligus paling pribadi. manusia dari dalam terlibat dalam aktivitas-aktivitasnya sendiri. a. Taraf-taraf kepastian subjektivitas dan objektivitas ilmu a. terlindung dan merupakan saksi bisu. Namun objek ilmu sejarah tidak dapat dikenai eksperimen karena menyangkut masa lampau dan tidak dapat dibalikkan lagi. maka makin kurang kesatuan subjek objek. maka ilmu-ilmu kemanusiaan harus menggunakan titik pangkal dan kriterium kebenaran yang berbeda dari ilmu-ilmu lainnya. Karena sering banyak hal yang mempengaruhi kemurnian objek manusiawi berkaitan dengan sikap menilai dari subjek penelitian. Jadi evidensi dan kepastian diwarnai subjektivitas yang membangun. Hal itu merupakan sumber informasi tentang motivasi intern manusia. Dalam ilmu manusia kita menghadapi keadaan bahwa praktek ilmiah sebagai aktivitas manusiawi merupakan juga objek penelitian ilmu manusia. makam. Sering peninggalan sejarah tertelan oleh masa. sehinga makin kurang pula peran subjek dalam kesatuan itu. bahkan sering hilang. Dalam ilmu-ilmu empiris Semua ilmu empiris. Evidensi Evidensi objek pengetahuan berkenaan dengan taraf kepastian kepastian pengetahuan yang dapat dicapai subjek dalam ilmu-ilmu terjadi berdasarkan evidensi objek yang dikenal. maka objektivitas ilmu sejarah sebagai ilmu kemanusiaan menjadi problem dalam menentukan patokan objektivitas. karena praktek ilmiah merupakan kegiatan historis. Namun hal itu sekaligus membuat menipu kita. karena sama-sama sebagai benda mati. Artinya tidak pernah ada paksaan pada akal agar sesuatu disetujui.1. Dengan kata lain evidensi dalam ilmu-ilmu empiris selalu bersifat nisbi. Karena ciri khas di atas. Misal: dalam filsafat. Jadi evidensi dan kepastian lebih diwarnai oleh objektivitas (di luar pengalaman subjektif). karena praktek ilmiah merupakan kegiatan psikis. tulisan. 2007: 50). a. karena praktek ilmiah merupakan kegiatan sosial. karya seni. paling bebas. evidensi objek bersangkutan dialami subjek dengan cara mendalam. Makin dekat bidang ilmu tertentu pada pengalaman manusia seutuhnya.sedangkan dalam rangka ilmu-ilmu sosial maka cara berpikirnya analog: setiap lingkungan masyarakat ³sama´ namun dalam ³kesamaannya´ itu juga berbeda. Dalam ilmu-ilmu pasti .

sehingga peran indera berkurang. melainkan ungkapan-ungkapan yang bersifat aksiomatis dan dalil-dalil. abstraksi dalam bilangan) dapat dikatakan ada? Filsafat ilmu berkaitan dengan ontologi karena filsafat ilmu dalam telaahnya terhadap ilmu akan menyelidiki landasan ontologis dari suatu ilmu. apakah sifat dasar kenyataan dan ada yang terakhir?. Misal: tidak bisa menguji coba terlebih dahulu pelbagai bentuk sosial. 2007: 52). Walaupun pengalaman eksperimental dalam ilmu-ilmu manusia diperlukan. Memang ilmu-ilmu pasti tidak bersifat empiris. Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan. Contoh: melihat data cukup dengan membaca petunjuk grafik. Sedangkan dalam context of justification. Landasan ontologis ilmu dapat dicari dengan menanyakan apa asumsi ilmu terhadap objek materi maupun objek formal?. sebab sifatnya eksak. seperti ontologi (ciri-ciri susunan kenyataan). Ilmu alam maupun ilmu sosial adalah non-refleksif sejauh tidak mampu menjawab pertanyaanpertanyaan mengenai kodratnya sendiri sebagai ilmu dengan mempergunakan sarana-sarana teoritis dan eksperimentalnya. tetapi objek itu merupakan sesuatu yang tampak bagi indera manusia (panca indera). Konsep dalam ilmu alam jauh dari pengalaman yang terbuka (bersifat eksklusif). Hubungan Filsafat Ilmu dengan Cabang Filsafat Lain Filsafat ilmu bersinggungan dengan bagian-bagian filsafat sistematik lainnya. artinya menurut cara penelitian yang dikembangkan oleh subjek yang mengenal. B. Lagi pula ilmu alam dalam dalam menyelididki realitas jasmani terus-menerus memperluas sarana observasinya. Isi konsep dan isi observasi berkaitan secara univok. maka hal yang memungkinkan yaitu arah menuju kemanusiaan yang lebih baik serta utuh (Van Peursen.Dalam context of discovery sebagaimana ilmu yang lain memang ilmu pastipun masih dalam taraf coba-coba. logika (penyimpulan yang benar). Ojek tidak mesti berupa suatu benda. apa cara-cara yang berbeda dalam mana entitas dari kategori logis yang berlainan (objek fisik. Konsep-konsep yang dipakai dalam ilmu alam agak jauh dari data-data dri pengalaman yangterbuka bagi setiap orang. apakah golongan-golongan dari hal yang ada?. 1989: 116) dalam (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. metodologi (konsep metode). dan filsafat kesusilaan (nilai-nilai serta tanggungjawab). Ia berlaku tanpa terikat ruang dan waktu. Sekali seorang ilmuwan memilih sistem tertentu maka ia sudah tidak bebas lagi untuk meragukan atau menolak hasil sistem ilmu yang bersangkutan (Verhak. sehingga sifat evidensinya bersifat mutlak. 2007: 52). Objektivitas Ilmu dikatakan objektif karena ilmu mendekati fakta-faktanya secara metodis. Objektivitas ilmu alam adalah objektivitas yang menyangkut apa yang diberikan sebagai objek. sehingga ilmu alam sukar untuk dimengerti bagi orang yang bukan ahli. Pertama. Misal: ilmu alam berhasil menyalurkan pengaruh subjektif. apakah objek bersifat phisik ataukah bersifat kejiwaan? Kedua. 1986: 64) dalam (Tim dosen filsafat ilmu Fakultas Filsafat UGM. filsafat pengetahuan (hakekat serta otensitas pengetahuan). Ontologi adalah cabang filsafat yang mempersoalkan masalah ³ada´ dan meliputi persoalan sebagai berikut: apakah artinya ³ada´. Dalam epistemologi yang dibahas adalah . Kesulitan khusus bagi ilmu-ilmu manusia yaitu bahwa ilmu-ilmu itu dalam praktek tidak dapat melakukan eksperimen secara netral. pengertian universal. Ilmu alam agak jauh dari pengalaman konkrit. Tidak saja keeksakan dalam konsep-konsepnya. jarum. maka tidak ada hipotesa lagi. b. sehingga terbentuk ilmu yang benar-benar intersubjektif.

Metodologi yaitu berkaitan dengan suatu konsep metode. khususnya berkenaan dengan prinsip-prinsip dan aturanaturan yang absah. Adalah jelas metodologi-metodologi mengklaim untuk menentukan prosudur yang benar bagi ilmu. Ketiga. manusia-dunia. tetapi harus ditata dan diklasifikasi sesuai dengan prinsip tertentu dan mengikuti metode tertentu. apakah ada kaitan antara tujuan suatu penyelidikan dengan metode yang hrus dipakai?. Penyelidikan mengenai ³cara-cara memperoleh pengetahuan ilmiah´ bersangkutan dengan susunan logik dan metode logik. fenomena. Tatanan logis adalah merupakan syarat mutlak bagi suatu ilmu. Logika adalah cabang filsafat yang persoalannya begitu luas dan rumit. kesadaran dan metode. Misal: teori-fakta. 2007: 54). misal: positivisme logis. Filsafat akan mencari prinsip metodis suatu ilmu. dan realisme tentang objek. pengalaman. Bagaimanakah kita dapat mengetahui bahwa kesimpulan aksioma tersebut tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang salah? (The Liang Gie: 1977: 186) dalam (Filsafat Ilmu. Pernyataan-pernyataan dan kesimpulan-kesimpulan mengenai esensiesensi dan sebab-sebab dari objek dalam bidang pengetahuan tertentu tidak bisa dihitung secara sewenang-wenang. Epistemologi berusaha untuk memaparkan dan menjawab problem-problem yang muncul dalam area tertentu. transendental subjektif-transendental objektif. dan kebenaran dari kesimpulan itu diyakini terkandung dalam kebenaran proposisi yang belakangan. apakah sifat dasar metode. Penyimpulan yaitu proses penalaran guna mendapat pengertian baru dari satu atau lebih proposisi yang diterima sebagai benar. yang darinya spesifikasinya diderivasi. data indera. konsep-konsep. susunan logik serta metodologik. secara terpilih disusun dalam term ³objek real´. Prosudur ini dijastifikasi maknanya dengan argumen filosofis. Metodologi meletakan prosedur yang dipergunakan untuk menguji proposisi. urutan serta hubungan antara pelbagai langkah dalam penyelidikan ilmiah. Fungsi metodologi yaitu menguji metode yang dipergunakan untuk menghasilkan pengetahuan yang valid. Semua epistemologi meletakkan beberapa oposisi sebagai penyusun teori pengetahuan. yaitu mengenai azas-azas serta alasan apakah yang menyebabkan ilmu dapat memperoleh predikat ³pengetahuan ilmiah´.objek pengetahuan. sumber dan alat untuk memperoleh pengetahuan. dan sebagainya. harus memperkirakan bentuk pengetahuan yang didalamnya beberapa pengertian superior dihasilkan . dan itu dievaluasi dan menderivasikan keterangan untuk mengevaluasi pengetahuan dari ³pengetahuan´ tentang hubungan. dan lainnya. bagaimana kita dapat memastikan bahwa suatu aksioma sesungguhnya bukan suatu dalil yang dapat diturunkan dari aksioma yang lain?. Epistemologi berkaitan dengan pemilahan dan kesesuaian antara realisme atas pengetahuan: tentang proposisi. apakah sekumpulan aksioma tertentu akan menghasilkan semua yang dapat dikatakan dalam bidangnya?. sebab prinsip metodis merupakan titik tolak penyelidikan suatu ilmu. ia mempersoalkan: apakah arti suatu metode.. tujuannya yaitu meletakkan yang memungkinkan bagi suatu pengetahuan. ³objek´ dan hubungan keduanya. namun ia berkisar pada persoalan penyimpulan. Epistemologi meliputi konsepsi yang spesifik tentang ³subjek´. dan kebenaran pengetahuan. urutan serta hubungan antara unsur-unsur serta struktur-struktur yang berlaku dalam pemikiran ilmiah. Keempat. kepercayaan. Disinyalir dalam ilmu-ilmu terdapat derajat kebebasan yang tinggi antara tujuan dan metode.dan bersangkutan pula dengan. Spesifikasi epistemologis tentang kriteria validitas semua pengetahuan harus memperkirakan validitas pengetahuan yang mendahuluinya. apakah ada metode yang khas bagi ilmu?. Filsafat ilmu mempersoalkan masalah metodologik. validitas pengetahuan. Namun persoalan-persoalan logika yang penting dalam kaitannya dengan ilmu yaitu: apakah ciriciri suatu sistem aksiomatik.

2. yaitu cabang filsafat yang mempersoalkan baik dan buruk. dan kemajuan diberbagai bidang pengetahuan menyebabkan jurang pemisahsemakin lebar. Metodologi meletakkan aturan bagi prosedur praktek ilmu. Karakter pengetahuan sangat berhubungan dengan apa yang menjadi sifat esensial dari objek penyelidikan. 2007: 55). melainkan terpotong-potong. dan bebas (Van Melsen. Dalam kaitannya dengan ilmu yaitu berkaitan dengan tujuan ilmu. Etika. melainkan membimbing ilmu agar dapat menjadi sarana mensejahterakan manusia. maka filsafat mementingkan personalitas. 1977: 5) dalam (Filsafat Ilmu. pekerjaan. penderivasian makna pengetahuan dibuktikan oleh filsafat. sikap bertanya. kebenaran ilmu. 1985: 123-4) dalam (Filsafat Ilmu. Spesialisasi Ilmu Dewasa ini setiap pengetahuan terpisah satu dari yang lainnya.dalam ilmu. yakni suatu konsepsi bentuk pengetahuan yang memungkinkan dicapainya pengetahuan yang valid (dari ontologi tentang apa yang eksis). Jika ilmu condong untuk menghilangkan faktor-faktor pribadi dan menganggap sepi nilai-nilai demi menghasilkan objektivitas. sehingga kita dapat mengatasai keterkungkungan spesialisasi ilmu. sedang filsafat lebih bersifat inklusif dan bukan eksklusif. Ilmu dalam pendekatannya lebih analitik dan diskriptif: ia berusaha untuk menganalisa scara keseluruhan pada unsur-unsur yang menjadi bagian-bagiannya. nilai-nilai dan bidang pengalaman (Titus dkk. Ilmu bertendensi untuk membuka tabir/kedok dari kemutlakan-kemutlakan alam yang oleh sejarah diangkat menjadi kemutlakan budaya. moral terpisah dari seni. 2007: 56). 2007: 55). Perkiraan metodologis mungkin diderivasi dari epistemologi. 1984: 283) dalam (Filsafat Ilmu. tanggungjawab ilmu terhadap masyarakat. Metodologi adalah produk filsafat dan ilmu-ilmu adalah realisasi dari metodologi (Barry Hindes. Untuk itu sudah saatnya kita memberi perhatian yang besar terhadap filsafat ilmu. 1984: 283) dalam (Filsafat Ilmu. Hubungan Filsafat Ilmu dengan Ilmu-Ilmu. Ilmu diperkirakan valid hanya bila hasilnya sesuai dengan prosedur: yang diperkirakan tidak dapat disahkan oleh ilmu. dengan demikian timbul suatu subdisiplin yang akhirnya dapat . Hanya saja kalau filsafat dengan metodenya mampu mempertanyakan keabsahan dan kebenaran ilmu. serta menganalisa organisme kepada anggota-anggotanya. dewasa. 1. metode ilmu. Ilmu tertentu menyelidiki bidang-bidang yang terbatas. dan dilandasi oleh kecintaan yang tidak memihak terhadap kebenaran. Kedua bidang tersebut tumbuh dari sikap refleksif. Filsafat berusaha menggabungkan benda-benda dalam sintesa yang interpretatif dan menemukan arti benda-benda. Hubungan filsafat ilmu dengan etika dapat mengarahkan ilmu agar tidak mencelakakan manusia. ia berusaha untuk memasukkan dalam pengetahuannya apa yang bersifat umum untuk segala bidang dan untuk pengalaman manusia pada umumnya. 2007: 56). sedang ilmu dengan metodenya tidak mampu mempertanyakan asumsi limu. Spesialisasi pendidikan. C. Perkembangan ilmu yang makin cepat ini juga dialami oleh banyak ilmu serta pengaruhnya yang semakin besar terhadap kehidupan masyarakat. dan seni terpisah dari ilmu. Ilmu terpisah dari moral. dan keabsahan ilmu. Filsafat lebih sintetik atau sinoptik: menghadapi sifat dan kualitas alam dan kehidupan sebagai keseluruhan. Tujuan ilmu yang memperoleh pengertian lebih mendalam tentang motif-motif tingkah laku manusia yang diliputi kegelapan supaya manusia menjadi lebih utuh. Kelima. Ilmu semakin diperluas juga diperdalam oleh para ilmuannya. Dengan begitu filsafat berusaha mendapatkan pandangan yang lebih komperhensif tentang benda-benda (Titus dkk. Perbedaan Filsafat dan Ilmu Filsafat dan ilmu mempunyai banyak persamaan. Kita tidak lagi memiliki pengetahuan yang utuh.

seperti kejujuran. Filsafat ilmu harus merupakan pengetahuan tentang ilmu yang didekati secara filsafat dengan tujuan untuk lebih memfungsionalkan wujud keilmuan baik secara moral. Liberty. kebenaran. Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Analisis filsafat tentang hakekat ilmu harus ditekankan kepada upaya keilmuan dalam mencari kebenaran. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Penerbit Andi. 2007: 61). Demikian juga pembahasan yang bersifat analitis dari tiap-tiap unsur bahasan harus diletakkan dalam kerangka berpikir secara keseluruhan (Yuyun. seperti pendidikan. Filsafat ilmu harus mencakup bukan saja pembahasan mengenai ilmu itu sendiri beserta segenap perangkatnya melainkan sekaligus kaitan ilmu dengan berbagai aspek kehidupan. maupun sosial. DAFTAR PUSTAKA Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat Universitas Gaja Mada (UGM). http://taliabupomai. Soetrisno dan Hanafi.blogspot. 2000. Diantaranya paham tentang kepastian. Kerja Sama Filsafat dengan Ilmu Dalam beberapa abad terakhir filsafat telah mengembangkan kerjasama yang erat dengan ilmu. D. Jakarta. Salam. dan objektivitas (Verhak. yang selanjutnya terkait secara erat dengan aspek-aspek moral. 2007: 61). intelektual. 1989: 108) dalam (Filsafat Ilmu. Rineka Cipta.menjadi disiplin yang berdiri sendiri. 2007. Sejarah Filsafat Ilmu dan Teknologi. 2007: 61). kebudayaan. moral.html . Filsafat ilmu mempunyai wilayah lebih luas dan perhatian lebih transendent daripada ilmu-ilmu. Yogyakarta. 1981: 43) dalam (Filsafat Ilmu. sosial dan politik. 2007. Burhanuddin. Filsafat ilmu bertugas meneliti hakekat ilmu. 1981: 39) dalam (Filsafat Ilmu. Analisis filsafat ilmu tidak boleh berhenti pada upaya untuk meningkatkan penalaran keilmuan melainkan sekaligus harus mencakup pendewasaan moral keilmuan (Yuyun.com/2010/05/ruang-lingkup-dan-kedudukan-filsafat. Maka dari itu filsafat pun mempunyai wilayah lebih luas daripada penyelidikan tentang cara kerja ilmu-ilmu. Yogyakarta. 3. Kesimpulan Berpikir filsafat berarti berpikir untuk menemukan kebenaran secara tuntas. Rita.

Dr. Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Maqbul Halim L2G04026 PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2004 Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Oleh : Maqbul Halim (L2G04026) Pertentangan Ontologis: Ilmuan dan Gereja Copernicus (1473-1543) dan kemudian diteruskan oleh Galileo (1564-1642).Tugas Mata Kuliah : Filsafat Ilmu Dosen : Prof. bukan sebaliknya seperti yang diyakini dalam ajaran gereja. . T. Galileolah yang kemudian menjadi tumbal pada puncak pertentangan ini ketika menghadapi pengadilan agama agar ia mencabut pernyataannya bahwa bumi mengelilingi matahari. berteori tentang ³bumi berputar mengelilingi matahari´. Agama (gereja) adalah mata air sebagian besar tatanan moral dalam pengertian metafisik menentang pernyataan Copernicus itu. Fatima Djajasudarma. Perbedaan pendapat antara ilmuan dan kalangan gereja ini menandai babak dimulainya pertentangan antara ilmu pengetahuan dan agama. Drs.

ilmuan dapat berekspansi melalui proses-proses ontologis sehingga melahirkan berbagai ilmu pengetahuan. Demikian untuk hal ini. peternakan. Ilmu pengetahuan berkembang pesat pada tahap ini. bahwa obyek-obyek material ilmu dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok²dasarnya dalam filsafat ilmu: yakni ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. pertanian. Petualangan untuk mengungkap kebenaran dalam gejala alam semesta mestilah bebas dari nilai. sebab menemukan kebenaran²apalagi mempertahankannya. Gejala alam dan gejala kehidupan manusia (sosial-humaniora). ideologi atau pertimbangan etis. matematika. sosiologi. Otonomi dalam artian bahwa kegiatan kontemplasi ³ontologis´ ilmu untuk menyibak hakikat realitas terbebas dari pengaruh nilai-nilai dari luar wilayah ontologis itu seperti agama. peternakan.Pertentangan ini sesungguhnya terjadi pada wilayah medan ontologis (metafisika). farmasi. Socrates. Ilmu pengetahuan ini dibangun atas dasar kajian-kajian epistemologis terhadap obyek-obyek pengetahuan yang dilahirkan oleh proses ontologis sebelumnya. kimia terapan. antropologi. seperti ilmu ekonomi. dan sebagainya. geologi. pertanian. dan sebagainya. bukan menurut ketentuan-ketentuan yang diidealkan oleh ajaran agama dari al-kitab atau ideologi tertentu. kimia. Otonomi Pengembangan Ilmu Berkat otonomi ini pula. diperlukan keberanian moral. perlawanan yang dilakukan ilmuan ini adalah sebuah perlawan ontologis: kebenaran asali tentang alam semesta. teknologi dan sejenisnya. fisika. pertanian. kedokteran. biologi terapan. Suriasumantri 1994). dikembangkan dikembangkan terus oleh para ilmuan. hukum. peternakan. Seperti disebutkan tadi. obyek material melahirkan juga ilmu-ilmu murni maupun terapan (sesuai dengan obyek formalnya). akhirnya ilmuan memperoleh otonominya secara utuh. matematika. biologi. geologi. fisika. sementara kalangan ilmuan lebih pada perjuangan untuk membebaskan diri dari nilainilai untuk mengungkap hakikat realitas. Sejarah kemanusiaan dihiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawahnya dalam mepertahankan kebenaran apa yang mereka anggap benar (Jujun S. Dapat dikatakan bahwa pertarungan sesungguhnya yang terjadi antara ilmuan dan agamawan ketika itu adalah upaya otoritas agama untuk mempertahankan maknanya tentang realitas. Di sinilah ilmu pengetahuan mendapatkan otonomi untuk mengembangkan kajian dan penelitiannya. Begitu pula. Ilmu-ilmu yang tergolong ke dalam ilmu alam ini dibagi menjadi dua. Pada tahun 1800-an. Kegigihan ilmuan tersebut di atas sebenarnya merupakan sebuah tekad untuk menemukan kebenaran. politik. Pertentangan dalam ruang ontologis inilah yang sesungguhnya dialami antara otoritas gereja dengan Copernicus. satu-satu persatu ditemukan dan terus menambah perbendaharaan pengetahuan manusia. dan ilmu terapan yang mencakup fisika terapan. Pihak gereja mendasarkan legitimasinya tentang kebenaran alam semesta menurut panduan al-Kitab sementara kalangan ilmuan mendasarkannya pada prinsip-prinsip kontemplasi yang positivistik. . dan kimia. fisika. petunjuk-petunjuk agama sebagai suatu nilai kebenaran tentang alam semesta. fisika. Galileo. Mempelajari gejala alam menurut hukum-hukum yang bekerja dan mengatur kejadian-kejadian alam. karena berbagai macam metode ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan. yaitu: ilmu murni yang mencakup biologi. Ilmu alam melahirkan sejumlah obyek formal yang dikaji oleh dan menurut disiplinnya sendiri seperti biologi. kedokteran. membatasi kontemplasi ontologis kalangan ilmuan untuk mengungkap hakikat dari realitas alam. Sementara pada tahap ini. dan sebagainya.

justru menimbulkan masalah lain. dalam perjalan dan pencapaian-pencapaiannya. psikologi. Jepang. Sejarah kehidupan manusia memang telah mencatatkan bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. tanah. Tingkatan Aksiologi Pengetahuan Dalam filsafat ilmu. yakni ilmu murni dan ilmu terapan. musuh kemanusiaan. budaya. Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pamanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology) antara kerusakan ekologi. yaitu perang. Suriasumantri 1984). Eksesnya yang dapat disebutkan misalnya dehumanisasi. yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia). melainkan juga untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dengan alam untuk mengontrol dan mengarahkan proses-proses alam yang terjadi. Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis.Sedangkan yang tercakup ke dalam ilmu-ilmu sosial adalah sosiologi. komunikasi. Konsep ilmiah tentang gejala alam sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa teknologi. Berapa korban manusia berguguran akibat bom atom yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. Seperti ilmu-ilmu alam. hukum. dampak rumah kaca. penipisan laporan ozon (CO1) pada atmosfir bumi. ekonomi. manajemen atau akuntansi (ekonomi terapan). misalnya (Jujun S. kepunahan spesies tumbuhan dan hewan. Sementara untuk ilmu-ilmu terapan berkembang dalam wilayah dasar aksiologis. kerusakan ekosistem lingkungan hidup. psikologi. dan aksiologis. dan lain-lain. Lebih-lebih lagi. eksistensi manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Jujun S. udara. menurut Bertrand Russel. maka ilmu-ilmu murni yang telah dikemukakan sebelumnya mengembangkan dirinya dalam wilayah dasar ontologis dan epistemologis. manusia mesti menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi baru (Jaques Ellul 1964). politik. administrasi. . Sementara yang tergolong ke dalam ilmu terapan antara lain komunikasi. sementara pada sisi lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak dimanfaatkan dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian dari rangkain perjalan ilmu untuk mengunkap hakikat gejala alam dan manusia. Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah kawasan di Asia dan Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan. pemerintahan (politik terapan). ekonomi. tahap ini disebut juga tahap manipulasi. Kembali kepada tiga dasar terbentuknya ilmu penetahuan dalam filsafat ilmu: ontologis. ilmu-ilmu sosial juga dibagi ke dalam dua kelompok. Atau kawasan Asia Tengah. ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman (ontologi dan epistemologi). degradasi eksistensi kemanusiaan. budaya. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan kontroversi. Banyak yang dapat disebutkan tentang kehancura ekologi: kontaminasi air. dan sejenisnya. dan sebagainya. kependudukan (sosiologi terapan). hukum tata negara (hukum terapan). Tingkatan ini akan berbicara mengenai manfaat dan kegunaan hasil ilmu pengetahuan ini untuk meningkatkan mutu kehidupan manusia. Suriasumantri 1994). dan pengrusakan lingkungan hidup. Dalam tahap ini. Ilmu murni mencakup antropologi. hukum. Tulisan ini akan berlanjut pada kemajuan yang dicapai ilmu pengetahuan pada tingkatan aksiologis. Akhirnya. dan sebagainya. epistemologis. antropologi. Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan alam. akumulasi limba-limba toksik. Misalnya. pengrusakan hutan. politik. administrasi. sosiologi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering melupakan faktor-faktor manusia.

Untuk sementara. dan ideologi. . moral. berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada ³bayi tabung´ itu. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai etika.Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan dan teknologi netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh mengingkari suatu nilai. ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Seperti disebutkan sebelumnya. Ketika realitas yang berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti (diketahui). Adakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya cukup sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari otoritasotoritas tertentu (bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau ideologi)? Akan tetapi. Dalam tahap ini. Pertentangan Aksiologis: Ilmuan dan Humanis Kalangan humanis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan etis yang penting. maka itulah tahap epistemologis. Bahkan. dasar ontologis. seperti nilai moral. Penelaahan tujuan ilmu pengetahuan itu dikembangkan dan diterapkan. Antara lain pertanyaan itu adalah: untuk apa sebenarnya ilmu harus dipergunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Namun pertanyaan ini tidak urgen bagi ilmuan dan tidak merupakan tanggung jawab bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri. tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan manipulatif. Menurut dasar-dasar ini. Karena ide dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan manusia. Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut ³bayi tabung´. Konsekuensinya. epistemologis dan aksiologis terbentuknya pengetahuan perlu diungkit kembali untuk mempetakan persoalan yang ditimbulkan oleh pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu. bila ruang gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini dipagari. persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut kecenderungan alamiahnya. Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan manusia. sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri²dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi. ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga. Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis. berarti kita telah melangkah mundur hingga pada jamannya Galileo atau Socrates. Namun yang terjadi kemudian adalah absuditas (paradoks): bahwa ilmu pengetahuan justru membiaskan kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia (kehancuran itu telah disebutkan pada pragraf sebelumnya). justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri. untuk tulisan ini. dan agama tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan dalam proses itu. religius. cukup penting. suatu pengetahuan merupakan hasil kontemplasi yang menguak hakikat realitas alam dan manusia sebagai suatu obyek empiris (tahap ontologis). yakni suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya. ekspektasi besar manusia pada ilmu pengetahuan bahwa itu dapat membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. kemandirian ilmu pengetahuan untuk berkembang terkebiri.

Keduanya bertalian dengan hati nurani. Berbeda pada zamam Copernicus atau Galileo. tuntutan kemanusiaan pada wilayah aksiologi ilmu pengetahuan dan teknologi ini mendapat permakluman secara luas. Sekaligus pula diperperterang kembali bahwa pertentangan antara kalangan humanis dan ilmuan pada abad ini adalah berkisar pada tingkatan aksiologis itu. Milsanya dalam pertarungan antara id dan ego. ³Id´ adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). ³ego´ dan ³super-ego´. ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif. yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Oleh karena itu. pada tingkat aksiologis. kerusakan lingkungan. dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal. fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada manusia. dan salah (wrong). Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keilmuan suatu pengetahuan yang kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. Bernaung di bawah filsafat moral (Herman Soewardi 1999). Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). maka tentu²atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan²amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia. 1985). Kisah dua kali perang dunia. moral. Oleh karena itu. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk kepentingannya. Nilai ini menyangkut etika. Jadi. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak. Hakikat moral. sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Dalam agama. maka tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologi. di mana ilmuan bertentangan dan saling mempertahankan keyakinan dengan kalangan gerja pada tataran ontologis. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). KEPENTINGAN manusia sangat ditentukan oleh motif dan kesadaran yang pada manusia itu sendiri. Karena dalam penerapannya. tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya. maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi ³id´ (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. benar (right). semestinya (ought to). Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan . yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). dan tanggungjawab manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. hati nurani (Jalaluddin Rakhmat. adalah pilihan ³id´ dari kepribadian manusia yang mengalahkan ³ego´ maupun ³super-ego´-nya. penipisan lapisan ozon. ³Ego´ adalah penyelaras antara ³id´ dan realitas dunia luar. ada sisi destruktif manusia. kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke dalam penerapan pengetahuan itu. kita akan fokus pada manusia sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan. Oleh karena itu. atau malah mungkin kehancuran. Aspek Etika (Moral) Ilmu Pengetahuan Kembali. pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak.Dalam artian bahwa. dikenal konsep diri daru Freud yang dikenal dengan nama ³id´. mereka dapat saja hanya memfungsikan ³id´-nya. Dalam psikologi. Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. buruk (bad). ³Super-ego´ adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal.

Rakhmat. Read more: http://www. ³The Tecnological Society´. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta Soewardi.com/maqbulhalim/Course/FilsafatIlmu1.kewajiban itu. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. Herman. Jalaluddin. Bakti Mandiri. Oleh karena itu. ³Roda Berputar Dunia Bergulir´ Kognisi Baru Tentang TimbulTenggelamnya Sivilisasi. Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk²yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini. Suriasumantri Jujun S. New York. Alfred Knopf. 1985. Bandung.. Remaja Rosdakarya. Bandung. 1999.html?201023#ixzz10N0gBr Xa . 1984. ³Filsasfat Ilmu´. ³Psikologi Komunikasi´.oocities. dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. 1964. Rujukan: Jaques Ellul. sebuah pengantar populer.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful