STRUKTUR ILMU DALAM FILSAFAT ILMU

Nov 11, '08 4:13 AM for everyone

BAB II PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN STRUKTUR ILMU. ³Ilmu´ berasal dari bahasa µArab ³alima´ sama dengan kata dalam bahasa Inggris ³Science´ yang berasal dari bahasa Latin ³Scio´ atau ³Scire´ yang kemudian di Indonesiakan menjadi Sains (Sidi Gazalba, Jakarta 1973. h. 54). A. Thomson dalam Sidi Gazalba menggambarkan ³Ilmu adalah pelukisan fakta-fakta pengalaman secara lengkap dan konsisten dalam istilah-istilah yang sesederhana mungkin, . pelukisan secara lengkap dan konsisten itu melalui tahap pembentukan definisi, melakukan analisa, melakukan pengklassifikasian dan melakukan pengujian´(Sidi Gazalba, Jakarta 1973. h. 54-55). Jujun S. Suriasumantri menggambarkannya dengan sangat sederhana namun penuh makna ³Ilmu adalah seluruh pengetahuan yang kita miliki dari sejak bangku SD hingga Perguruan Tinggi´(Jujun S Suriasumantri,1990, h. 19). Beerling, Kwee, Mooij dan Van Peursen menggambarkannya lebih luas ³Ilmu timbul berdasarkan atas hasil penyaringan, pengaturan, kuantifikasi, obyektivasi, singkatnya, berdasarkan atas hasil pengolahan secara metodologi terhadap arus bahan-bahan pengalaman yang dapat dikumpulkan.´(Beerling, Kwee, Mooij, Van Peursen, Yogyakarta, 1990, h. 14-15). Sehingga dengan demikian, ilmu adalah kumpulan pengetahuan secara holistik yang tersusun secara sistematis yang teruji secara rasional dan terbukti empiris. Ukuran kebenaran Ilmu adalah rasionalisme dan empirisme sehingga kebenaran ilmu bersifat Rasional dan Empiris. Fungsi ilmu/pengetahuan ilmiah:

1. Menjelaskan 2. Meramal 3. Mengontrol Sebagai contoh: Pengetahuan tentang kaitan antara hutan gundul dengan banjir memungkinkan kita untuk bisa meramalkan apa yang akan terjadi sekiranya hutan-hutan terus ditebang sampai tidak tumbuh lagi. sekiranya kita tidak menginginkan timbulnya banjir sebagaimana diramalkan oleh penjelasan tadi maka kita harus melakukan kontrol agar hutan tidak dibiarkan menjadi gundul. Demikian juga, jka kita mengetahui bahwa hutan-hutan tidak ditebang sekiranya ada pengawasan, maka untuk mecegah banjir kita harus melakukan kontrol agar kegiatan pengawasan dilakukan, agar dengan demikian hutan dibiarkan tumbuh subur dan tidak mengakibatkan banjir. Pengetahuan tentang kaitan antara hutan gundul dengan banjir memungkinkan kita untuk bisa meramalkan apa yang akan terjadi dan berdasarkan ramalan tersebut kita bisa melakukan upaya untuk mengontrol agar ramalan itu menjadi kenyataan atau tidak. Empat jenis pola penjelasan:
y

deduktif : mempergunakan cara berpikir deduktif dalam menjelaskan suatu gejala dengan menarik kesimpulan secara logis dari premis-premis yang telah ditetapkan sebelumnya.

y

probabilitas : merupakan penjelasan yang ditarik secara induktif dari sejumlah kasus yang dengan demikian tidak memberi kepastian dimana penjelasan bersifat peluang seperti ³kemungkinan´, ³kemungkinan besar´, atau ³hampir dapat dipastikan´.

y

fungsional/teleologis : merupakan penjelasan yang meletakkan sebuah unsur dalam kaitannya dengan sistem secara keseluruhan yang mempunyai karakteristik atau arah pekembangan tertentu.

y

genetik : mempergunakan faktor-faktor yang timbul sebelumnya dengan menjelaskan gejala yang muncul kemudian.

³Struktur´ adalah cara bagaimana sesuatu disusun atau dibangun; susunan; bangunan

. h. 1989. Istilah yang pada ilmu pasti lama masih merujuk pada sesuatu seperti ³ruang´ (ruang fisis). h. 110-128) Van Peursen menggambarkan lebih tegas bahwa ³Ilmu itu bagaikan bangunan yang tersusun dari batu bata. Pakatan tertentu (disebut aksioma) yang sebetulnya merupakan semacam definisi mengenai istilah-istilah itu. Batu atau unsur dasar tersebut tidak pernah langsung di dapat di alam sekitar. sekarang lebih baik diganti dengan lambang tanpa arti seperti X. Jakarta. 28). ³garis lurus (garis lurus lintasan sinar cahaya dalam hampa udara). Y.(Van Peursen. memberikan petunjuk bagaimana ³pengertian dasar´ ini dapat dipergunakan´.Peter R Senn dalam Ilmu Dalam Persektif (Jujun Suriasumantri) meskipun tidak secara gamblang ia menyampaikan bahwa ilmu memiliki bangun struktur (Jujun S Suriasumantri. Lewat observasi ilmiah batu-batu sudah dikerjakan sehingga dapat dipakai kemudian digolongkan menurut kelompok tertentu sehingga dapat dipergunakan. melainkan merupakan hasil petunjuk yang menyertai susunan limas ilmu yang menyeluruh akan makin jelas bahwa teori secara berbeda-beda meresap sampai dasar ilmu. 1981. Jakarta. Upaya ini tidak dilakukan dengan sewenang-wenang.

Misalnya : Teori ekonomi makro Teori ekonomi mikro Teori mekanika Newton Teori relativitas Einstein Tujuan akhir disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. Misalnya : teori ekonomi mikro terdiri dari hukum penawaran dan permintaan. Maka dapat disimpulkan bahwa : Teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang ³mengapa´ suatu gejalagejala terjadi sedangkan hukum adalah memberikan kemampuan kepada kita untuk meramalkan tentang ³apa´ yang mungkin terjadi. Hukum Hukum pada hakekatnya merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variable atau lebih dalam suatu kaitan sebab akibat.Skema struktur dan proses pengetahuan ilmiah Teori Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan menjadi suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. .

kecenderungan. Makin teoritis suatu konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala-gejala fisik yang tampak nyata. dan teori. Ragam Proposisi Bebagai keterangan mengenai obyek sebenarnya itu dituangkan dalam pernyataan-pernyataan. Kegunaan praktis dari sebuah konsep yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah-masalah yang bersifat praktis. Dapat dibedakan menjadi tiga ragam proposisi yaitu sebagai asas. Dimana beberapa ilmu teoritis ini disatukan dalam sebuah konsep dan dinyatakan dalam sebuah teori. Makin tinggi tingkat keumuman suatu konsep maka makin ³teoritis´ konsep tersebut. 1. Ilmu teoritis terdiri dari sebuah sistem pernyataan. Teori-teori yang tingkat keumumannya rendah disatukan menjadi satu teori yang mampu mengikat keseluruhan teori-teori tersebut.Dimana Teori dan Hukum merupakan ³alat´ kontrol gejala alam yang bersifat universal. . atau proses lainnya dari fenomenon yang ditelaah. Memaparkan pola-pola dalam sekumpulan sifat. Sehingga kita sering mendengar konsep dasar dan konsep terapan yang diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar/murni dan ilmu terapan serta penelitian dasar dan penelitian terapan. ciri. Kaidah ilmiah: suatu kaidah atau hukum dalam pengetahuan ilmiah adalah sebuah proposisi yang mengungkapkan keajegan atau hubungan tertib yang dapat diperiksa kebenarannya diantara fenomena. Misalnya Teori yang dikemukakan oleh Ptolomeus. Asas ilmiah: suatu asas atau prinsip adalah sebuah proposisi yang mengandung kebenaran umum berdasarkan fakta-fakta yang telah diamati. Copernicus. 2. petunjuk-petunjuk atau ketentuan-ketentuan mengenai apa yang perlu berlangsung atau sebaiknya dilakukan dalam hubungannya dengan obyek sederhana itu.kaidah. Johannes Keppler kemudian disatukan kedalam sebuah teori yang dikemukakan oleh Newton.

maka kemungkinan besar orang itu akan mengendarai mobilnya secara kurang hati-hati. Bila postulat dalam pengajuannya tidak memerlukan bukti tentang kebenarannya maka hal ini berlainan dengan asumsi yang harus ditetapkan dalam sebuah argumentasi ilmiah. misalnya saja hukum sebab akibat sebuah gejala. Menurut penilainnya justru pada pagi butalah keadaan jalanan adalah sangat tidak aman disebabkan banyak orang mengendarai mobil secara sembrono. Misalnya : Prinsip Ekonomi Prinsip Kekekalan Energy Postulat merupakan asumsi dasar yang kebenarannya kita terima tanpa dituntut pembuktian. Kebenaran ilmiah pada hakikatnya harus disatukan lewat sebuah proses yang disebut metode ilmiah. Oleh sebab itu maka dia memilih asumsinya bahwa keadaan jalan raya adalah tidak aman. Asumsi merupakan pernyataan yang kebenarannya secara empiris dapat diuji. PENGERTIAN ILMU TEORITIS DAN ILMU PRAKTIS . yang mampu menjelaskan kejadian yang terjadi. Sebagai contoh umpamanya kita dapat mengambil cara orang mengemudikan mobil dijalan raya.Itulah sebabnya maka asumsi ini harus dibuktikan kebenarannya sebab dengan asumsi yang tidak benar kita akan memilih cara yang tidak benar pula. toh asumsinya bahawa jalanan adalah aman bukan? Sebaliknya mungkin juga terdapat orang lain yang mempunyai pendapat yang berbeda. Teori ilmiah: suatu teori dalam scientific knowledge adalah sekumpulan proposisi yang saling berkaitan secara logis untuk memberi penjelasan mengenai sejumlah fenomena. tapi postulat ilmiah yang ditetapkan tanpa melalui prosedur ini melainkan ditetapkan secara begitu saja.3. Sekiranya orang itu beranggapan bahwa keadaan jalan raya pada waktu pagi buta adalah aman disebabkan karena jarangnya kenderaan yang lalu lalang. B. Prinsip merupakan pernyatan yang berlaku secara umum bagi sekelompok gejala-gejala tertentu.

Oleh karena ditunjukan dan diketahui obyek material yang ditelaah menjadi pengetahuan itu. walaupun mungkin hanya dalam garis besarnya saja. Ilmu-ilmu murni kemudian berkembang menjadi ilmu-ilmu terapan. sedang pengetahuan praktis dapat memenuhi keinginan berbuat. maka dalam pembagian jenis ilmu biasanya orang dapat serta merta mengetahui hal apa saja yang menjadi sasaran jenis-jenis ilmu yang dikemukakan. seperti contoh dibawah ini : ILMU MURNI ILMU TERAPAN Mekanika Mekanika Teknik Hidrodinamika Teknik Aeronautikal /Teknik & Desain Kapal . Dengan demikian. Ini merupakan suatu pembagian ilmu yang memakai isi substansif itu dicerminkan oleh pokok soal atau objek material dari pengetahuan yang bersangkutan. dan pengetahuan produktif (misalnya retorika).Kehidupan manusia pada dasarnya berpangkal pada sifat dasar yang berhasrat dan ingin berbuat (to know and to do) dan pengetahuan teoretis akan memuaskan hasrat mengetahui. Pembagian selanjutnya sebagai pelengkap pembagian menurut ragam ialah pembagian ilmu menurut jenisnya. Penelitian murni atau penelitian dasar adalah penelitian yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui. dalam konsepsi kami ilmu akan dibedakan pertama-tama dalam dua ragam: 1. pengetahuan praktis (misalnya etika). Ilmu praktis (practical science) Pembedaan antara pengetahuan teoretis dan pengetahuan praktis sudah dikenal sejak zaman Yunani Kuno. Ilmu teoritis (theoretical science) 2. Misalnya filsuf Aristoteles membagi kumpulan pengetahuan rasional menjadi tiga kelompok: pengetahuan teoretis (misalnya fisika).

merupakan ilmu yang beruntung (Fortunate) karena dapat diterapkan langsung kepada kebijaksanaan umum (public policy). psikologi (mempelajari proses mental dan kelakuan manusia). ekonomi umpamanya. Ilmu murni merupakan kumpulan teori-teori ilmiah yang bersifat dasar dan teoritis yang belum dikaitkan dengan masalah kehidupan yang bersifat praktis. etnologi dan antropologi sosial/kultural. sosiologi (mempelajari struktur organisasi sosial manusia) dan ilmu politik (mempelajari sistem dan proses dalam kehidupan manusia berpemerintahan dan bernegara). semua itu kita golongkan ke dalam ilmu murni. . Banyak sekali konsep ilmu-ilmu sosil ³murni´ dapat diterapkan langsung kepada kehidupan praktis. Cabang utama ilmu-ilniu sosial yang lainnya mempunyai cabang-cabang lagi seperti antropologi terpecah menjadi lima yakni. antropologi fisik. arkeologi. Penelitian murni atau penelitian dasar adalah penelitian yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui. linguistik.Bunyi Teknik Akustik Cahaya & Optik Teknik Iluminasi Kelistrikan / Teknik Elektronik / Magnestisme Teknik Kelistrikan Fisika Nuklir Teknik Nuklir Cabang utama ilmu-ilmu sosial yakni antropologi (mempelajari manusia dalam perspektif waktu dan tempat). meminjam perkataan Paul Samuelson. Ilmu terapan merupakan aplikasi ilmu murni kepada masalah-masalah kehidupan yang mempunyai manfaat praktis. ekonomi (mempelajari manusia dalam memenuhi kebutuhannya lewat proses pertukaran).

Penelitian terapan inilah yang nantinya menghasikan teknologi-teknologi. Manusia disebut juga Homo Faber (makhluk yang membuat peralatan) disamping Homo Sapiens (makhluk yang berpikir) yang mencerminkan kaitan antara pengetahuan yang bersifat teoritis dengan teknologi yang bersifat praktis.Penelitian terapan adalah penelitian yang bertujuan untuk mempergunakan pengetahuan ilmiah yang telah diketahui untuk memecahkan masalah kehidupan yang bersifat praktis. BAB III .

dan keinginan berbuat seseorang tidak bisa dihapuskan. KESIMPULAN y Struktur ilmu dalam filsafat ilmu merupakan bagian yang penting dipelajari mengingat ilmu merupakan suatu bangunan yang tersusun bersistem dan kompleks. y Tujuan akhir dari disiplin keilmuan yaitu mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. y Melalui ilmu kita dapat menjelaskan. DAFTAR PUSTAKA . B. meramal dan mengontrol setiap gejala-gejala alam yang terjadi. Tampaknya akal budi manusia tidak mungkin berhenti berpikir. Bekal ini pula yang nantinya kita pergunakan dalam penelitian-penelitian yang akan kita lakukan. SARAN Dengan mengetahui struktur dari ilmu ini maka dapat kita bedakan nantinya pemahaman dari sejauh mana kajian mengenai gejala-gejala alam. hasrat mengetahui ilmuan tidak dapat padam.PENUTUP A. Ilmu-ilmu terapan ini akan melahirkan teknologi atau peralatan-peralatan yang berfungsi sebagai sarana yang memberi kemudahan dalam kehidupan. Makin teoritis suatu konsep maka makin jauh penyataan yang dikandungnya. Ini berarti perkembangbiakan pengetahuan ilmiah akan berjalan terus dan pembagian ilmu yang sistematis perlu dari waktu ke waktu diperbaharui. y Makin tinggi tingkat keumuman suatu konsep maka makin teoritis konsep tersebut. y Ilmu-ilmu murni berkembang menjadi ilmu-ilmu terapan.

. Sistematika Filsafat.com/modul%20filsafat%20ilmu. F. Medan..1973.multiply.. Pustaka Sinar Harapan y Beerling.. Buku 1. 2008. Bulan Bintang Jujun S Suriasumantri.sttip.com/journal/item/1/STRUKTUR_ILMU_DALAM_FILSAFAT_ILMU .. Mooij. Jakarta. Filsafat ilmu diambil dari: www. Van Peursen. Yogyakarta. Tiara Wacana y Al Rasyidin.1990.y y Sidi Gazalba Drs.. 1990. Sebuah Pengantar Populer. Filsafat Ilmu. Jakarta. Kwee. Mardiyanto. Panduan Kuliah ³Filsafat Ilmu´.pdf http://alfaned.T. IAIN Sumatera Utara y Wisma pandia. Pengantar Filsafat Ilmu.

Pengetahuan mengenai model praktek ilmiah yang diturunkan dari pola pikir. c. seperti dalam kelompok ilmu alam. membahas sifat pengetahuan ilmiah. yaitu: 1. filsafat ilmu erat hubungannya dengan logika dan metodologi. Dengan filsafat ilmu terapan maka menjadi jelaslah saling hubungan antara objek-objek dengan . perjenjangan. yaitu kajian filsafat ilmu yang membicarakan kategori-kategori serta metode-metode yang digunakan dalam ilmu-ilmu tertentu atau dalam kelompok-kelompok ilmu tertentu. Jadi filsafat ilmu terapan tidak bertitik tolak dari dunia filsafat melainkan dari dunia ilmu. 2. susunan kenyataan. yang merupakan bidang kajian filsafat yang secara umum menyelidiki syarat-syarat serta bentuk pengetahuan manusia. 1986: 40) dalam (filsafat ilmu sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan. dan sebagainya. Pendahuluan Ruang lingkup filsafat ilmu dan bidang filsafat sebagai keseluruhan pada dasarnya men -cakup dua pokok bahasan. Pengetahuan yang berupa pola pikir hakekat keilmuan. kelompok ilmu masyarakat. 05 Mei 2010 RUANG LINGKUP DAN KEDUDUKAN FILSAFAT ILMU RUANG LINGKUP DAN KEDUDUKAN FILSAFAT ILMU Oleh: UDIN WAHYUDIN MAHASISWA PROGRAM PASCA SARJANA (PPS) PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MANADO A. kesatuan. yaitu filsafat ilmu yang mengkaji pokok pikiran kefilsafatan yang melatarbelakangi pengetahuan normatif dunia ilmu. Filsafat ilmu dikelompokkan menjadi dua yaitu : 1. Filsafat ilmu dapat pula dikelompokan berdasarkan model pendekatan. yaitu pertama. Dengan kata lain filsafat ilmu terapan merupakan deskripsi pengetahuan normatif. Filsafat ilmu umum. Dengan kata lain filsafat ilmu sesungguhnya merupakan penyelididkan lanjutan. Serangkaian nilai yang bersifat etisyang terkait dengan pola pikir dengan model praktek yang khusus.Rabu. Pada kajian ini dunia ilmu bertemu dengan dunia filsafat. 2007: 44). keseragaman. Pada pokok bahasan kedua yakni terkait dengan pokok soal cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah. yang mencakup kajian tentang persoalan kesatuan. Filsafat ilmu khusus. Filsafat ilmu terapan. Kajian ini terkait dengan masalah hubungan antara ilmu dengan kenyataan. Filsafat ilmu terapan sebagai pengetahuan normatif mencakup: a. d. dan dalam hal ini kadangkadang filsafat ilmu dijumbuhkan pengertiannya dengan metodologi. dan kedua menelaah cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah pada pokok bahasan pertama filsafat ilmu berhubungan erat dengan filsafat pengetahuan atau epistemologi. kelompok ilmu tehnik dan sebagainya (beerling dkk. b. Misal etika profesi. Pengetahuan mengenai berbagai sarana ilmiah. Jadi filsafat ilmu ialah penyelidikan filosofis tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. serta hubungan diantara segenap ilmu.

Yang membedakan ilmu dari pengetahuan adalah metode ilmiah. Epistemologi akan menunjukkan asumsi dasar ilmu. Bila filsafat ilmu terapan berangkat dari ilmu khusus menuju kajian filosofis. Pertanyaan filsafat dipecahkan bukan dengan penyelidikan empiris. asal pengetahuan dan arah pengetahuan. yaitu bentuk kajian filsafat ilmu yang dilakukan dengan menelaah secara kritis dan eksploratif terhadap materi kefilsafatan. mereka bekerja hanya bersama-sama dengan asumsi-asumsi tentang hakekat dunia fisik. Pertanyaan dari ontologi ³apakah karakter pengetahuan kita tentang dunia?´ Pertanyaan ontologi dan epistemologi tidak dijawab dengan penyelidikan empiris yang terkait dengannya. yaitu berangkat dari kajian filosifis terhadap asumsi-asumsi dasar yang ada dalam ilmu. sebagai peralatan riset. validitas pengetahuan. Filsafat pengetahuan memeriksa sebab-musabab pengetahuan dengan bertitik tolak pada gejala pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. kapasitas dan tahap-tahapnya. (Verhak dan Haryono. 2007: 46). 2. Filsafat pengetahuan menggali kebenaran.metode-metode. 2007: 46) (Verhak dan Haryono. antara masalah-masalah yang hendak dipecahkan dengan tujuan penyelidikan ilmiah. kesadaran dan metode. Tidak ada tehnik atau metode penyelidikan ilmiah yang memperkokoh dirinya sendiri. Filsafat ilmu murni. 1989: 3). Dalam (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. intuisi. objektivitasnya. Dalam (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. filsafat mempertanyakan metode dan prosedur yang dipergunakan peneliti sosial dari disiplin sosial apapun yang membuat mereka superior (dan memberi mereka otoritas intelektual terbesar). 1989: 12). Ilmu merupakan pengetahuan yang diatur secara sistematis dan langkah-langkah pencapaiannya dipertanggungjawabkan secara teoritis. masyarakat. Instrumen riset tidak dapat dipisahkan dari teori. Berbagai status instrumen riset pada dasarnya tergantung pada jastifikasi epistemologis. antara pendekatan secara ilmiah dengan pengolahan bahan-bahan secara ilmiah. sedangkan ilmu sosial-humaniora memiliki karakter objek yang indeterministik dan penuh motivasi. tetapi dengan mempertanyakan: ³mengapa prosedur ini dan bukan yang lain?´. Objek material filsafat pengetahuan yaitu gejala pengetahuan. Apa dasar klaim otoritas intelektualnya?. Dalam konteks ilmu sosial. Misal: terdapat karakter yang berbeda antara ilmu-ilmu alam dan ilmu sosial humaniora dalam hal objek material. ³apa jaminannya. agar penelaahan filsafat ilmu tidak terpaku pada ragam objek material ilmu. membuka cakrawala terhadap kemungkinan berkembangnya pengetahuan normatif yang baru. dan kebenaran pengetahuan (Verhak dan Haryono. Hubungan filsafat ilmu dengan epistemologi Filsafat ilmu secara sistematis merupakan cabang dari rumpun kajian epistemologi. keberadaan manusia. Munculnya persoalan epistemologi bukan mengenai suatu prosedur penyelidikan ilmiah. Epistemologi sendiri mempunyai dua cabang yaitu filsafat pengetahuan (theories of knowledge) dan filsafat ilmu (theory of science). 2007: 46). filsafat ilmu murni mengambil arah sebaliknya. metode itu membuktikan yang lainnyakah?´. bila ada. 1989: 3). Relevansi problem filsafat muncul dari fakta bahwa setiap perangkat riset atau prosedur tidak dapat diterangkan dengan memisahkan pandangan khusus tentang dunia. abstraksi. dan bagaimana mereka . yakni bahwa ilmu alam memiliki karakter objek yang deterministik. Dalam epistemologi yang dibahas adalah objek pengetahuan. misalnya terkait dengan anggapan dasar tentang ³realitas´ dalam ilmu-ilmu khusus dan konsekuensinya pada pemahaman terhadap ³realitas´ secara keseluruhan. Dalam (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. sumber dan alat untuk memperoleh alat pengetahuan. tetapi dipecahkan dengan penalaran. B. Dengan bantuan telaah epistemologi maka akan didapat pemahaman hakiki tentang karakter dari objek ilmu. sedang objek material filsafat ilmu yaitu mempelajari gejala-gejala ilmu menurut sebab terpokok.

Dengan kata lain kita tidak bisa menguji metode dan hasil ilmu yang satu dari teropong ilmu lainnya. tidak terkait pada prosedur praktis dan problem-problem yang secara historis berkaitan dengan disiplin. karena kesadaran manusia tidak ditentukan oleh kekuatan alam. opini. sarana dan alat untuk memproses ilmu harus selaras atau konsisten dengan karakter objek material ilmu. Misal antara ilmu alam dan ilmu sosial-humaniora terdapat perbedaan metode dan sarana yang dipakai. dimana objek-objek yang berada di luar jangkauan pengalaman manusia tidak termasuk bidang penelaahan ilmu (Yuyun. Masyarakat. yaitu dalam hal: bentuk. Ilmu membatasi diri hanya pada kejadian yang bersifat empiris. atau tujuan khusus sejarah masyarakat. Misal: ilmu-ilmu empiris validitas untuk produk ilmunya harus-lah empiristis (Hindes Barry. Disini timbul perbedaan paradigma yang disebabkan oleh karakter objek yang berbeda. 1981: 6) dalam (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. Ilmu mempelajari berbagai gejala dan peristiwa yang menurut anggapannya mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia. dan paradigma ilmu. Sehingga jenis ilmu yang satu dan lainnya tidak sama. mekanistik dan pengukuran berorientasikan model eksplanasi adalah tidak memadai. jenis ilmu. sehingga ilmu tidak bicara mengenai kasus individual. Namun kita juga harus mempunyai wawasan yang luas tentang metodologi ilmu-ilmu pada umumnya. 1977: 5-6) dalam (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. struktur. yaitu seperti pada ilmu alam Alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan sangat tergantung dari asumsi terhadap objek. Jadi berdasarkan objek telaahnya maka ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris. yang didalamnya dijabarkan perbedaan-perbedaan yang terdapat diantara masing-masing ilmu. Dalam khasanah filsafat ilmu. Tingkah laku masyarakat manusia adalah selalu mengandung nilai. hasil akal manusia. Misal: debat metodologis ilmu sosial tidak dapat dipahami secara bebas dari tempat budaya yang lebih luas dari penemuanpenemuan yang dihasilkan oleh riset awal yang didasarkan pada asumsi epistemologis yang berbeda. Ilmu alam. terkait secara pokok dalam term-term positivistik. kita hanya tahu masing-masing metodologi ilmu kejuruan. 2007: 48). tidak hidup. Apa yang kita tunjuk sebagai causal. 1. kita banyak mengenal bentuk ilmu. Dari berbagai bentuk. Ilmu empiris mempunyai beberapa asumsi mengenai objek (empiris). Ilmu alam dan empiris Ilmu empiris berpandangan sebagai berikut: ilmu mempelajari objek-objek empiris di alam semesta ini. Asumsi beberapa jenis objek ilmu Dewasa ini kita sudah memasuki masa spesialisasi ilmu. dan sifat. dan pengetahuan reliabel tentang kebudayaan hanya dapat digapai dengan cara mengisolasi ide-ide umum. jenis dan paradigma ilmu tersebut maka kita dapat memperoleh gambaran adanya ragam. melainkan . adalah subyektif.mengetahuinya. 2007: 48). Oleh karena itu masalah validitas apakah ukurannya cocok (realiable) atau tidak itu tergantung pada metode dan karakter objek. Demikian juga telaah dalam filsafat ilmu. a. melainkan ia adalah hasil atau konsekuensi dari metode penyelidikan dan hasil penyelidikan. Adapun validitas/keabsahan yang merupakan bukti bahwa suatu ilmu adalah benar secara epistemologis bukanlah sesuatu yang didatangkan dari luar. Toulmin dalam (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. tingkat dan aliran ilmu. Itu membuat tindakan sosial adalah penuh makna subyektif. mempelajari sesuatu yang objektif. dunia fisik. antara lain: (1) Menganggap objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain. emotif sebaik intelektual. Mengatakan bahwa epistemologi tidak berakar pada periode pemikiran. 2007: 47).

kepercayaan. Kerja dari penelitian empiris adalah untuk menemukan secara persis pola yang menghubungkan antara aturan-aturan. dan statistika adalah jenis ilmu yang berfungsi sebagai penopang tegaknya ilmu-ilmu lainnya. situasi. ciri khasnya. Kegiatan yang dilakukan dalam ilmu alam tidak merupakan objek penelitian ilmu alam. Ilmu berbeda-beda terutama tidak karena objek material berbeda. hubungan sosial dan tingkah laku.suatu kelas tertentu. melainkan bahwa suatu kejadian mempunyai kemungkinan atau (peluang) besar untuk mengakibatkan terjadinyakejadian lain. Objek dapat berupa konsep dan bilangan. sehingga kejadian tertentu harus diikuti oleh kejadian yang lain. dengan kata lain manusia adalah yang mempraktekkan dan diprakteki. Ilmu tentang objek empiris pada dasarnya merupakan abstraksi yang disederhanakan. Objek ilmu kemanusiaan yaitu manusia sebagai keseluruhan. Konsekuensi epistemologis dari perdebatan tersebut diawali dengan tidak memadainya metodologi ilmu alam untuk memahami fenomena manusia kecuali sebagai objek alamiah. tanggung jawab. Manusia memang dapat terlibat sebagai subjek dan sebagai objek. ideologi. sebab kejadian alam sangat komplek. Ia melampaui status objek benda-benda disekitarnya. tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan urutan-urutan kejadian yang sama (Paul Niddich dalam Yuyun S. pernyataan privat dan internal. karena terkait dengan nilai-nilai. Perbedaan tersebut juga menimbulkan perbedaan pendekatan. Ilmu abstrak Ilmu formal seperti halnya matematika. dan memformulasikannya sebagai pembawa keteraturan. c. ia mengandung: pilihan. dimana dalam rangka cara berpikir ilmu-ilmu alam adalah univok. 2007: 48). makna. (3) Menganggap tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. sebab praktek ilmu alam merupakan suatu aktifitas manusiawi yang khas. dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Ilmu yang tergolong formal pada umumnya berasumsi bahwa objek ilmu adalah bersifat abstrak. oleh karena itu tidak cocok apabila diterapi dengan predikat ³sebabakibat´. motif. tetapi khususnya karena mereka berbeda menurut objek formal. ia berada dalam pemikiran manusia. b. ia merupakan ilmu empiris yang yang mempelajari manusia dalam segala aspek hidupnya. pengertian. Namun ilmu tidak menuntut adanya hubungan kausalitas yang mutlak. padahal semua ilmu mengklaim dirinya menafsirkan data secara objektif. filsafat. logika. . Objek material ilmu sosial adalah lain sama sekali dengan objek material dalam ilmu alam yang bersifat deterministik. Kelestarian relatif dalam jangka waktu tertentu ini memungkinkan kita untuk melakukan pendekatan keilmuan terhadap objek yang sedang diselidiki. motif dan sebagainya. Ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan Ilmu kemanusiaan mencakup juga ilmu-ilmu sosial. 1981: 7-9) yang dikutif dari (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. aturan. (2) Menganggap bahwa suatu benda tidak mungkin mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. tidak kasat mata. Objek material dalam ilmu sosial adalah berupa suatu tingkah laku dalam tindakan yang khas manusia. ia bersifat bebas dan tidak bersifat deterministik. Tentu saja data mentah sebagai realitas sosial objektif mempunyai status subjektif. Peneliti dalam penelitian ilmu sosial juga berada pada taraf yang sama sebagai objek. konvensi. hal itu perlu. tingkah lakunya baik perseorangan maupun bersama. Lantas apakah ilmu sosial dapat digolongkan sebagai ilmu yang subjektif?. dalam lingkup kecil maupun besar.

Dalam ilmu-ilmu pasti . Taraf-taraf kepastian subjektivitas dan objektivitas ilmu a. sehingga perlu disetujui berdasarkan pilihan bebas tanpa paksaan. tulisan. Sering peninggalan sejarah tertelan oleh masa. maka ilmu-ilmu kemanusiaan harus menggunakan titik pangkal dan kriterium kebenaran yang berbeda dari ilmu-ilmu lainnya. a. Makin jauh bidang ilmu tertentu dari pengalaman manusia seutuhnya. Evidensi Evidensi objek pengetahuan berkenaan dengan taraf kepastian kepastian pengetahuan yang dapat dicapai subjek dalam ilmu-ilmu terjadi berdasarkan evidensi objek yang dikenal. Misal: dalam filsafat. yaitu data-data peninggalan masa lampau baik berupa kesaksian. merupakan aspek sosiologi. a. objek ilmu sejarah. termasuk ilmu-ilmu kemanusiaan mengejar kepastian. Karena sering banyak hal yang mempengaruhi kemurnian objek manusiawi berkaitan dengan sikap menilai dari subjek penelitian. 1989: 70) dalam (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. karena praktek ilmiah merupakan kegiatan sosial. Semuanya itu mirip dengan objek material ilmu kealaman. karena praktek ilmiah merupakan kegiatan historis. Evidensi dan kepastian itu perlu dilihat dari sudut kesatuan asli subjek dan objek dalam gejala pengetahuan manusia pada umumnya. Misal: merupakan objek psikologi. Namun objek ilmu sejarah tidak dapat dikenai eksperimen karena menyangkut masa lampau dan tidak dapat dibalikkan lagi. Makin dekat bidang ilmu tertentu pada pengalaman manusia seutuhnya. Dalam ilmu manusia kita menghadapi keadaan bahwa praktek ilmiah sebagai aktivitas manusiawi merupakan juga objek penelitian ilmu manusia. makam. Jadi evidensi dan kepastian lebih diwarnai oleh objektivitas (di luar pengalaman subjektif). dengan kata lain subjek terlibat dalam penelitian tentang sesamanya (Veuger dan Haryono. maka makin kurang kesatuan subjek objek. maka objektivitas ilmu sejarah sebagai ilmu kemanusiaan menjadi problem dalam menentukan patokan objektivitas. manusia dari dalam terlibat dalam aktivitas-aktivitasnya sendiri.1. 2. karena sama-sama sebagai benda mati. karena praktek ilmiah merupakan kegiatan psikis. Misal: dalam filsafat dan humaniora. maka makin besar kesatuan subjek-objek. evidensi objek bersangkutan dialami subjek dengan cara mendalam. paling bebas. sekaligus paling pribadi. terlindung dan merupakan saksi bisu. Jadi evidensi dan kepastian diwarnai subjektivitas yang membangun. Misal: dalam ilmu alam. Titik pangkal berbeda karena peneliti tidak lagi berada di luar objek penelitian. Dengan kata lain evidensi dalam ilmu-ilmu empiris selalu bersifat nisbi. Artinya tidak pernah ada paksaan pada akal agar sesuatu disetujui. Namun taraf kepastian konkret dalam ilmu-ilmu empiris bersifat bebas. sehinga makin kurang pula peran subjek dalam kesatuan itu. sehingga makin kurang pula peran subjek dalam kesatuan itu. Dalam ilmu kemanusiaan. karya seni. alat-alat. Ilmu sejarah Ciri ilmu sejarah dibandingkan dengan ilmu empiris lainnya yaitu sifat objek materialnya. kecuali kalau ia kritis. Hal itu merupakan sumber informasi tentang motivasi intern manusia.2. Dalam ilmu-ilmu empiris Semua ilmu empiris. Dengan demikian mutu kepastian adalah meyakinkan dan paling tinggi.sedangkan dalam rangka ilmu-ilmu sosial maka cara berpikirnya analog: setiap lingkungan masyarakat ³sama´ namun dalam ³kesamaannya´ itu juga berbeda. d. 2007: 50). rumah. Namun hal itu sekaligus membuat menipu kita. bahkan sering hilang. Karena ciri khas di atas.

tetapi objek itu merupakan sesuatu yang tampak bagi indera manusia (panca indera). artinya menurut cara penelitian yang dikembangkan oleh subjek yang mengenal. abstraksi dalam bilangan) dapat dikatakan ada? Filsafat ilmu berkaitan dengan ontologi karena filsafat ilmu dalam telaahnya terhadap ilmu akan menyelidiki landasan ontologis dari suatu ilmu. Memang ilmu-ilmu pasti tidak bersifat empiris. Lagi pula ilmu alam dalam dalam menyelididki realitas jasmani terus-menerus memperluas sarana observasinya. sehingga terbentuk ilmu yang benar-benar intersubjektif. logika (penyimpulan yang benar). Ia berlaku tanpa terikat ruang dan waktu. Sedangkan dalam context of justification. Sekali seorang ilmuwan memilih sistem tertentu maka ia sudah tidak bebas lagi untuk meragukan atau menolak hasil sistem ilmu yang bersangkutan (Verhak. melainkan ungkapan-ungkapan yang bersifat aksiomatis dan dalil-dalil. apakah objek bersifat phisik ataukah bersifat kejiwaan? Kedua. sebab sifatnya eksak. Walaupun pengalaman eksperimental dalam ilmu-ilmu manusia diperlukan. Kesulitan khusus bagi ilmu-ilmu manusia yaitu bahwa ilmu-ilmu itu dalam praktek tidak dapat melakukan eksperimen secara netral. sehingga peran indera berkurang. B. Contoh: melihat data cukup dengan membaca petunjuk grafik. apakah golongan-golongan dari hal yang ada?. Objektivitas ilmu alam adalah objektivitas yang menyangkut apa yang diberikan sebagai objek. apa cara-cara yang berbeda dalam mana entitas dari kategori logis yang berlainan (objek fisik. maka tidak ada hipotesa lagi. filsafat pengetahuan (hakekat serta otensitas pengetahuan). apakah sifat dasar kenyataan dan ada yang terakhir?. Isi konsep dan isi observasi berkaitan secara univok. metodologi (konsep metode). jarum. 1989: 116) dalam (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. sehingga sifat evidensinya bersifat mutlak. maka hal yang memungkinkan yaitu arah menuju kemanusiaan yang lebih baik serta utuh (Van Peursen. Pertama. b. 2007: 52). 1986: 64) dalam (Tim dosen filsafat ilmu Fakultas Filsafat UGM. Tidak saja keeksakan dalam konsep-konsepnya. seperti ontologi (ciri-ciri susunan kenyataan). pengertian universal. dan filsafat kesusilaan (nilai-nilai serta tanggungjawab). Dalam epistemologi yang dibahas adalah . sehingga ilmu alam sukar untuk dimengerti bagi orang yang bukan ahli. Misal: tidak bisa menguji coba terlebih dahulu pelbagai bentuk sosial. Landasan ontologis ilmu dapat dicari dengan menanyakan apa asumsi ilmu terhadap objek materi maupun objek formal?. 2007: 52). Misal: ilmu alam berhasil menyalurkan pengaruh subjektif. Konsep dalam ilmu alam jauh dari pengalaman yang terbuka (bersifat eksklusif). Ojek tidak mesti berupa suatu benda. Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan. Konsep-konsep yang dipakai dalam ilmu alam agak jauh dari data-data dri pengalaman yangterbuka bagi setiap orang. Ilmu alam agak jauh dari pengalaman konkrit. Ontologi adalah cabang filsafat yang mempersoalkan masalah ³ada´ dan meliputi persoalan sebagai berikut: apakah artinya ³ada´. Objektivitas Ilmu dikatakan objektif karena ilmu mendekati fakta-faktanya secara metodis. Ilmu alam maupun ilmu sosial adalah non-refleksif sejauh tidak mampu menjawab pertanyaanpertanyaan mengenai kodratnya sendiri sebagai ilmu dengan mempergunakan sarana-sarana teoritis dan eksperimentalnya.Dalam context of discovery sebagaimana ilmu yang lain memang ilmu pastipun masih dalam taraf coba-coba. Hubungan Filsafat Ilmu dengan Cabang Filsafat Lain Filsafat ilmu bersinggungan dengan bagian-bagian filsafat sistematik lainnya.

manusia-dunia. dan kebenaran dari kesimpulan itu diyakini terkandung dalam kebenaran proposisi yang belakangan. Spesifikasi epistemologis tentang kriteria validitas semua pengetahuan harus memperkirakan validitas pengetahuan yang mendahuluinya. apakah sekumpulan aksioma tertentu akan menghasilkan semua yang dapat dikatakan dalam bidangnya?. Disinyalir dalam ilmu-ilmu terdapat derajat kebebasan yang tinggi antara tujuan dan metode. Epistemologi meliputi konsepsi yang spesifik tentang ³subjek´. fenomena. Filsafat akan mencari prinsip metodis suatu ilmu. Logika adalah cabang filsafat yang persoalannya begitu luas dan rumit. yaitu mengenai azas-azas serta alasan apakah yang menyebabkan ilmu dapat memperoleh predikat ³pengetahuan ilmiah´.objek pengetahuan. dan lainnya. apakah ada metode yang khas bagi ilmu?. Filsafat ilmu mempersoalkan masalah metodologik. transendental subjektif-transendental objektif. Epistemologi berusaha untuk memaparkan dan menjawab problem-problem yang muncul dalam area tertentu. Metodologi meletakan prosedur yang dipergunakan untuk menguji proposisi.dan bersangkutan pula dengan. Fungsi metodologi yaitu menguji metode yang dipergunakan untuk menghasilkan pengetahuan yang valid. sumber dan alat untuk memperoleh pengetahuan. Keempat. Pernyataan-pernyataan dan kesimpulan-kesimpulan mengenai esensiesensi dan sebab-sebab dari objek dalam bidang pengetahuan tertentu tidak bisa dihitung secara sewenang-wenang. urutan serta hubungan antara pelbagai langkah dalam penyelidikan ilmiah. tetapi harus ditata dan diklasifikasi sesuai dengan prinsip tertentu dan mengikuti metode tertentu. Bagaimanakah kita dapat mengetahui bahwa kesimpulan aksioma tersebut tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang salah? (The Liang Gie: 1977: 186) dalam (Filsafat Ilmu. dan itu dievaluasi dan menderivasikan keterangan untuk mengevaluasi pengetahuan dari ³pengetahuan´ tentang hubungan. urutan serta hubungan antara unsur-unsur serta struktur-struktur yang berlaku dalam pemikiran ilmiah. harus memperkirakan bentuk pengetahuan yang didalamnya beberapa pengertian superior dihasilkan . secara terpilih disusun dalam term ³objek real´. Misal: teori-fakta. sebab prinsip metodis merupakan titik tolak penyelidikan suatu ilmu. Tatanan logis adalah merupakan syarat mutlak bagi suatu ilmu. susunan logik serta metodologik. data indera. kepercayaan. Ketiga. Prosudur ini dijastifikasi maknanya dengan argumen filosofis. Penyelidikan mengenai ³cara-cara memperoleh pengetahuan ilmiah´ bersangkutan dengan susunan logik dan metode logik. Adalah jelas metodologi-metodologi mengklaim untuk menentukan prosudur yang benar bagi ilmu. dan realisme tentang objek. Namun persoalan-persoalan logika yang penting dalam kaitannya dengan ilmu yaitu: apakah ciriciri suatu sistem aksiomatik. ia mempersoalkan: apakah arti suatu metode. namun ia berkisar pada persoalan penyimpulan. apakah ada kaitan antara tujuan suatu penyelidikan dengan metode yang hrus dipakai?. dan sebagainya. Semua epistemologi meletakkan beberapa oposisi sebagai penyusun teori pengetahuan. khususnya berkenaan dengan prinsip-prinsip dan aturanaturan yang absah. 2007: 54). bagaimana kita dapat memastikan bahwa suatu aksioma sesungguhnya bukan suatu dalil yang dapat diturunkan dari aksioma yang lain?. validitas pengetahuan.. ³objek´ dan hubungan keduanya. Penyimpulan yaitu proses penalaran guna mendapat pengertian baru dari satu atau lebih proposisi yang diterima sebagai benar. dan kebenaran pengetahuan. kesadaran dan metode. Epistemologi berkaitan dengan pemilahan dan kesesuaian antara realisme atas pengetahuan: tentang proposisi. yang darinya spesifikasinya diderivasi. apakah sifat dasar metode. pengalaman. tujuannya yaitu meletakkan yang memungkinkan bagi suatu pengetahuan. konsep-konsep. Metodologi yaitu berkaitan dengan suatu konsep metode. misal: positivisme logis.

sedang ilmu dengan metodenya tidak mampu mempertanyakan asumsi limu. ia berusaha untuk memasukkan dalam pengetahuannya apa yang bersifat umum untuk segala bidang dan untuk pengalaman manusia pada umumnya. dan kemajuan diberbagai bidang pengetahuan menyebabkan jurang pemisahsemakin lebar. Tujuan ilmu yang memperoleh pengertian lebih mendalam tentang motif-motif tingkah laku manusia yang diliputi kegelapan supaya manusia menjadi lebih utuh. melainkan terpotong-potong. yaitu cabang filsafat yang mempersoalkan baik dan buruk. 2007: 56). 2007: 55). moral terpisah dari seni. Kelima. Ilmu dalam pendekatannya lebih analitik dan diskriptif: ia berusaha untuk menganalisa scara keseluruhan pada unsur-unsur yang menjadi bagian-bagiannya. Hubungan filsafat ilmu dengan etika dapat mengarahkan ilmu agar tidak mencelakakan manusia. tanggungjawab ilmu terhadap masyarakat. Dalam kaitannya dengan ilmu yaitu berkaitan dengan tujuan ilmu. Jika ilmu condong untuk menghilangkan faktor-faktor pribadi dan menganggap sepi nilai-nilai demi menghasilkan objektivitas. Perbedaan Filsafat dan Ilmu Filsafat dan ilmu mempunyai banyak persamaan. dewasa. dan bebas (Van Melsen. Karakter pengetahuan sangat berhubungan dengan apa yang menjadi sifat esensial dari objek penyelidikan.dalam ilmu. Ilmu bertendensi untuk membuka tabir/kedok dari kemutlakan-kemutlakan alam yang oleh sejarah diangkat menjadi kemutlakan budaya. Spesialisasi pendidikan. Hanya saja kalau filsafat dengan metodenya mampu mempertanyakan keabsahan dan kebenaran ilmu. serta menganalisa organisme kepada anggota-anggotanya. Etika. dan keabsahan ilmu. Ilmu terpisah dari moral. nilai-nilai dan bidang pengalaman (Titus dkk. Ilmu diperkirakan valid hanya bila hasilnya sesuai dengan prosedur: yang diperkirakan tidak dapat disahkan oleh ilmu. dan seni terpisah dari ilmu. C. Dengan begitu filsafat berusaha mendapatkan pandangan yang lebih komperhensif tentang benda-benda (Titus dkk. Filsafat lebih sintetik atau sinoptik: menghadapi sifat dan kualitas alam dan kehidupan sebagai keseluruhan. Hubungan Filsafat Ilmu dengan Ilmu-Ilmu. Perkiraan metodologis mungkin diderivasi dari epistemologi. pekerjaan. melainkan membimbing ilmu agar dapat menjadi sarana mensejahterakan manusia. Kita tidak lagi memiliki pengetahuan yang utuh. 1977: 5) dalam (Filsafat Ilmu. Filsafat berusaha menggabungkan benda-benda dalam sintesa yang interpretatif dan menemukan arti benda-benda. Ilmu tertentu menyelidiki bidang-bidang yang terbatas. Metodologi meletakkan aturan bagi prosedur praktek ilmu. Kedua bidang tersebut tumbuh dari sikap refleksif. 1984: 283) dalam (Filsafat Ilmu. metode ilmu. sikap bertanya. 1984: 283) dalam (Filsafat Ilmu. Metodologi adalah produk filsafat dan ilmu-ilmu adalah realisasi dari metodologi (Barry Hindes. 2. kebenaran ilmu. Ilmu semakin diperluas juga diperdalam oleh para ilmuannya. maka filsafat mementingkan personalitas. dengan demikian timbul suatu subdisiplin yang akhirnya dapat . 1. sehingga kita dapat mengatasai keterkungkungan spesialisasi ilmu. yakni suatu konsepsi bentuk pengetahuan yang memungkinkan dicapainya pengetahuan yang valid (dari ontologi tentang apa yang eksis). dan dilandasi oleh kecintaan yang tidak memihak terhadap kebenaran. penderivasian makna pengetahuan dibuktikan oleh filsafat. sedang filsafat lebih bersifat inklusif dan bukan eksklusif. Perkembangan ilmu yang makin cepat ini juga dialami oleh banyak ilmu serta pengaruhnya yang semakin besar terhadap kehidupan masyarakat. Untuk itu sudah saatnya kita memberi perhatian yang besar terhadap filsafat ilmu. Spesialisasi Ilmu Dewasa ini setiap pengetahuan terpisah satu dari yang lainnya. 1985: 123-4) dalam (Filsafat Ilmu. 2007: 56). 2007: 55).

Salam. kebudayaan. Kerja Sama Filsafat dengan Ilmu Dalam beberapa abad terakhir filsafat telah mengembangkan kerjasama yang erat dengan ilmu. Sejarah Filsafat Ilmu dan Teknologi.html . 1981: 39) dalam (Filsafat Ilmu. seperti kejujuran. http://taliabupomai. DAFTAR PUSTAKA Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat Universitas Gaja Mada (UGM). intelektual. Burhanuddin. 2000. seperti pendidikan. Liberty. 2007: 61).com/2010/05/ruang-lingkup-dan-kedudukan-filsafat. yang selanjutnya terkait secara erat dengan aspek-aspek moral. Yogyakarta. 1989: 108) dalam (Filsafat Ilmu. 3. Soetrisno dan Hanafi. 2007. Diantaranya paham tentang kepastian. 2007: 61). Filsafat ilmu harus merupakan pengetahuan tentang ilmu yang didekati secara filsafat dengan tujuan untuk lebih memfungsionalkan wujud keilmuan baik secara moral. moral.menjadi disiplin yang berdiri sendiri. Kesimpulan Berpikir filsafat berarti berpikir untuk menemukan kebenaran secara tuntas. Penerbit Andi. Filsafat ilmu harus mencakup bukan saja pembahasan mengenai ilmu itu sendiri beserta segenap perangkatnya melainkan sekaligus kaitan ilmu dengan berbagai aspek kehidupan. 2007. 1981: 43) dalam (Filsafat Ilmu. Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. 2007: 61). sosial dan politik. Yogyakarta. Jakarta. Analisis filsafat tentang hakekat ilmu harus ditekankan kepada upaya keilmuan dalam mencari kebenaran. maupun sosial. Maka dari itu filsafat pun mempunyai wilayah lebih luas daripada penyelidikan tentang cara kerja ilmu-ilmu. Filsafat ilmu bertugas meneliti hakekat ilmu. kebenaran. Rita. D. Demikian juga pembahasan yang bersifat analitis dari tiap-tiap unsur bahasan harus diletakkan dalam kerangka berpikir secara keseluruhan (Yuyun. Analisis filsafat ilmu tidak boleh berhenti pada upaya untuk meningkatkan penalaran keilmuan melainkan sekaligus harus mencakup pendewasaan moral keilmuan (Yuyun. dan objektivitas (Verhak.blogspot. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Rineka Cipta. Filsafat ilmu mempunyai wilayah lebih luas dan perhatian lebih transendent daripada ilmu-ilmu.

berteori tentang ³bumi berputar mengelilingi matahari´.Tugas Mata Kuliah : Filsafat Ilmu Dosen : Prof. bukan sebaliknya seperti yang diyakini dalam ajaran gereja. Galileolah yang kemudian menjadi tumbal pada puncak pertentangan ini ketika menghadapi pengadilan agama agar ia mencabut pernyataannya bahwa bumi mengelilingi matahari. Dr. Fatima Djajasudarma. . Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Maqbul Halim L2G04026 PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2004 Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Oleh : Maqbul Halim (L2G04026) Pertentangan Ontologis: Ilmuan dan Gereja Copernicus (1473-1543) dan kemudian diteruskan oleh Galileo (1564-1642). T. Agama (gereja) adalah mata air sebagian besar tatanan moral dalam pengertian metafisik menentang pernyataan Copernicus itu. Perbedaan pendapat antara ilmuan dan kalangan gereja ini menandai babak dimulainya pertentangan antara ilmu pengetahuan dan agama. Drs.

Begitu pula. Demikian untuk hal ini. Otonomi dalam artian bahwa kegiatan kontemplasi ³ontologis´ ilmu untuk menyibak hakikat realitas terbebas dari pengaruh nilai-nilai dari luar wilayah ontologis itu seperti agama. Otonomi Pengembangan Ilmu Berkat otonomi ini pula. kedokteran. fisika. pertanian. peternakan. dan sebagainya. Socrates. Di sinilah ilmu pengetahuan mendapatkan otonomi untuk mengembangkan kajian dan penelitiannya. Seperti disebutkan tadi. fisika. Petualangan untuk mengungkap kebenaran dalam gejala alam semesta mestilah bebas dari nilai. seperti ilmu ekonomi.Pertentangan ini sesungguhnya terjadi pada wilayah medan ontologis (metafisika). geologi. akhirnya ilmuan memperoleh otonominya secara utuh. Suriasumantri 1994). ilmuan dapat berekspansi melalui proses-proses ontologis sehingga melahirkan berbagai ilmu pengetahuan. Galileo. Sementara pada tahap ini. dan sebagainya. Dapat dikatakan bahwa pertarungan sesungguhnya yang terjadi antara ilmuan dan agamawan ketika itu adalah upaya otoritas agama untuk mempertahankan maknanya tentang realitas. Kegigihan ilmuan tersebut di atas sebenarnya merupakan sebuah tekad untuk menemukan kebenaran. dikembangkan dikembangkan terus oleh para ilmuan. peternakan. Pihak gereja mendasarkan legitimasinya tentang kebenaran alam semesta menurut panduan al-Kitab sementara kalangan ilmuan mendasarkannya pada prinsip-prinsip kontemplasi yang positivistik. Pada tahun 1800-an. Ilmu alam melahirkan sejumlah obyek formal yang dikaji oleh dan menurut disiplinnya sendiri seperti biologi. hukum. perlawanan yang dilakukan ilmuan ini adalah sebuah perlawan ontologis: kebenaran asali tentang alam semesta. antropologi. fisika. pertanian. fisika. diperlukan keberanian moral. kimia terapan. Ilmu-ilmu yang tergolong ke dalam ilmu alam ini dibagi menjadi dua. Mempelajari gejala alam menurut hukum-hukum yang bekerja dan mengatur kejadian-kejadian alam. pertanian. biologi. kimia. matematika. kedokteran. . politik. Ilmu pengetahuan berkembang pesat pada tahap ini. sosiologi. ideologi atau pertimbangan etis. Sejarah kemanusiaan dihiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawahnya dalam mepertahankan kebenaran apa yang mereka anggap benar (Jujun S. Ilmu pengetahuan ini dibangun atas dasar kajian-kajian epistemologis terhadap obyek-obyek pengetahuan yang dilahirkan oleh proses ontologis sebelumnya. peternakan. satu-satu persatu ditemukan dan terus menambah perbendaharaan pengetahuan manusia. biologi terapan. matematika. bahwa obyek-obyek material ilmu dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok²dasarnya dalam filsafat ilmu: yakni ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. bukan menurut ketentuan-ketentuan yang diidealkan oleh ajaran agama dari al-kitab atau ideologi tertentu. membatasi kontemplasi ontologis kalangan ilmuan untuk mengungkap hakikat dari realitas alam. petunjuk-petunjuk agama sebagai suatu nilai kebenaran tentang alam semesta. yaitu: ilmu murni yang mencakup biologi. dan sebagainya. obyek material melahirkan juga ilmu-ilmu murni maupun terapan (sesuai dengan obyek formalnya). dan ilmu terapan yang mencakup fisika terapan. karena berbagai macam metode ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan. teknologi dan sejenisnya. farmasi. sebab menemukan kebenaran²apalagi mempertahankannya. sementara kalangan ilmuan lebih pada perjuangan untuk membebaskan diri dari nilainilai untuk mengungkap hakikat realitas. dan kimia. geologi. Gejala alam dan gejala kehidupan manusia (sosial-humaniora). Pertentangan dalam ruang ontologis inilah yang sesungguhnya dialami antara otoritas gereja dengan Copernicus.

Sedangkan yang tercakup ke dalam ilmu-ilmu sosial adalah sosiologi. psikologi. Tingkatan ini akan berbicara mengenai manfaat dan kegunaan hasil ilmu pengetahuan ini untuk meningkatkan mutu kehidupan manusia. kepunahan spesies tumbuhan dan hewan. Suriasumantri 1994). Suriasumantri 1984). degradasi eksistensi kemanusiaan. Akhirnya. sementara pada sisi lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak dimanfaatkan dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian dari rangkain perjalan ilmu untuk mengunkap hakikat gejala alam dan manusia. ekonomi. maka ilmu-ilmu murni yang telah dikemukakan sebelumnya mengembangkan dirinya dalam wilayah dasar ontologis dan epistemologis. administrasi. Lebih-lebih lagi. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan kontroversi. yakni ilmu murni dan ilmu terapan. eksistensi manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Jujun S. Sementara untuk ilmu-ilmu terapan berkembang dalam wilayah dasar aksiologis. . budaya. epistemologis. dan aksiologis. yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia). Kembali kepada tiga dasar terbentuknya ilmu penetahuan dalam filsafat ilmu: ontologis. Konsep ilmiah tentang gejala alam sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa teknologi. pengrusakan hutan. Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis. Seperti ilmu-ilmu alam. dan sejenisnya. manusia mesti menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi baru (Jaques Ellul 1964). ekonomi. dalam perjalan dan pencapaian-pencapaiannya. Berapa korban manusia berguguran akibat bom atom yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. kerusakan ekosistem lingkungan hidup. musuh kemanusiaan. hukum. dan lain-lain. dampak rumah kaca. menurut Bertrand Russel. ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman (ontologi dan epistemologi). administrasi. penipisan laporan ozon (CO1) pada atmosfir bumi. psikologi. melainkan juga untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dengan alam untuk mengontrol dan mengarahkan proses-proses alam yang terjadi. kependudukan (sosiologi terapan). Ilmu murni mencakup antropologi. dan sebagainya. Tulisan ini akan berlanjut pada kemajuan yang dicapai ilmu pengetahuan pada tingkatan aksiologis. Atau kawasan Asia Tengah. Jepang. Banyak yang dapat disebutkan tentang kehancura ekologi: kontaminasi air. dan sebagainya. tahap ini disebut juga tahap manipulasi. Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah kawasan di Asia dan Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan. hukum. dan pengrusakan lingkungan hidup. udara. politik. manajemen atau akuntansi (ekonomi terapan). yaitu perang. tanah. Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan alam. misalnya (Jujun S. sosiologi. Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pamanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology) antara kerusakan ekologi. Misalnya. hukum tata negara (hukum terapan). Dalam tahap ini. komunikasi. justru menimbulkan masalah lain. Tingkatan Aksiologi Pengetahuan Dalam filsafat ilmu. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering melupakan faktor-faktor manusia. politik. pemerintahan (politik terapan). akumulasi limba-limba toksik. ilmu-ilmu sosial juga dibagi ke dalam dua kelompok. budaya. Eksesnya yang dapat disebutkan misalnya dehumanisasi. Sejarah kehidupan manusia memang telah mencatatkan bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. antropologi. Sementara yang tergolong ke dalam ilmu terapan antara lain komunikasi.

Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada ³bayi tabung´ itu. suatu pengetahuan merupakan hasil kontemplasi yang menguak hakikat realitas alam dan manusia sebagai suatu obyek empiris (tahap ontologis). seperti nilai moral. Karena ide dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan manusia. Adakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya cukup sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari otoritasotoritas tertentu (bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau ideologi)? Akan tetapi. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai etika. Namun yang terjadi kemudian adalah absuditas (paradoks): bahwa ilmu pengetahuan justru membiaskan kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia (kehancuran itu telah disebutkan pada pragraf sebelumnya). Ketika realitas yang berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti (diketahui). dan agama tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan dalam proses itu. cukup penting. Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis. Pertentangan Aksiologis: Ilmuan dan Humanis Kalangan humanis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan etis yang penting. moral. ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut ³bayi tabung´. religius. Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan manusia. Bahkan. tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan manipulatif.Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan dan teknologi netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh mengingkari suatu nilai. justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri. dan ideologi. untuk tulisan ini. Untuk sementara. maka itulah tahap epistemologis. Menurut dasar-dasar ini. ekspektasi besar manusia pada ilmu pengetahuan bahwa itu dapat membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga. Dalam tahap ini. Penelaahan tujuan ilmu pengetahuan itu dikembangkan dan diterapkan. berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut kecenderungan alamiahnya. yakni suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya. . Antara lain pertanyaan itu adalah: untuk apa sebenarnya ilmu harus dipergunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Namun pertanyaan ini tidak urgen bagi ilmuan dan tidak merupakan tanggung jawab bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. dasar ontologis. Seperti disebutkan sebelumnya. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri. Konsekuensinya. kemandirian ilmu pengetahuan untuk berkembang terkebiri. sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu. bila ruang gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini dipagari. berarti kita telah melangkah mundur hingga pada jamannya Galileo atau Socrates. epistemologis dan aksiologis terbentuknya pengetahuan perlu diungkit kembali untuk mempetakan persoalan yang ditimbulkan oleh pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri²dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi.

³Super-ego´ adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal. Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keilmuan suatu pengetahuan yang kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. Dalam psikologi. Nilai ini menyangkut etika. Karena dalam penerapannya. fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada manusia. penipisan lapisan ozon. dan tanggungjawab manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. Milsanya dalam pertarungan antara id dan ego. moral. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak. benar (right). Sekaligus pula diperperterang kembali bahwa pertentangan antara kalangan humanis dan ilmuan pada abad ini adalah berkisar pada tingkatan aksiologis itu. maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi ³id´ (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu. ada sisi destruktif manusia. pada tingkat aksiologis. adalah pilihan ³id´ dari kepribadian manusia yang mengalahkan ³ego´ maupun ³super-ego´-nya. dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal. Oleh karena itu. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk kepentingannya. maka tentu²atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan²amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia. ³Id´ adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). mereka dapat saja hanya memfungsikan ³id´-nya. Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. semestinya (ought to). kerusakan lingkungan. Jadi. yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. di mana ilmuan bertentangan dan saling mempertahankan keyakinan dengan kalangan gerja pada tataran ontologis. Aspek Etika (Moral) Ilmu Pengetahuan Kembali.Dalam artian bahwa. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke dalam penerapan pengetahuan itu. KEPENTINGAN manusia sangat ditentukan oleh motif dan kesadaran yang pada manusia itu sendiri. buruk (bad). Dalam agama. atau malah mungkin kehancuran. ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif. Berbeda pada zamam Copernicus atau Galileo. ³Ego´ adalah penyelaras antara ³id´ dan realitas dunia luar. dan salah (wrong). tuntutan kemanusiaan pada wilayah aksiologi ilmu pengetahuan dan teknologi ini mendapat permakluman secara luas. Bernaung di bawah filsafat moral (Herman Soewardi 1999). hati nurani (Jalaluddin Rakhmat. 1985). Hakikat moral. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan . Oleh karena itu. yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). Kisah dua kali perang dunia. Keduanya bertalian dengan hati nurani. kita akan fokus pada manusia sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan. ³ego´ dan ³super-ego´. maka tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologi. tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya. dikenal konsep diri daru Freud yang dikenal dengan nama ³id´.

New York. ³Filsasfat Ilmu´. 1984. Oleh karena itu. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk.html?201023#ixzz10N0gBr Xa . Bandung. Alfred Knopf. sebuah pengantar populer. ³Psikologi Komunikasi´. 1964. ³Roda Berputar Dunia Bergulir´ Kognisi Baru Tentang TimbulTenggelamnya Sivilisasi. 1985. Bandung. Bakti Mandiri. Read more: http://www. Herman. Remaja Rosdakarya.oocities. dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Jalaluddin.com/maqbulhalim/Course/FilsafatIlmu1. Rujukan: Jaques Ellul. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta Soewardi. ³The Tecnological Society´.. Suriasumantri Jujun S. 1999. Rakhmat. Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk²yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini.kewajiban itu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful