Karya Tulis Ilmiah dan Penelitian Tindakan Kelas

Bahan Ajar pada Diklat PLPG Program Sertifikasi Guru Penjas Rayon X – Prov. Jawa Barat

Oleh: Drs. Bambang Abduljabar, M.Pd Yusup Hidayat, M.Si

2

PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH
Oleh: B. Abduljabar

Pokok kajian: o Karya tulis ilmiah o Karya tulis non-ilmiah o Karya tulis tidak tidak ilmiah o Karakteristik karya tulis ilmiah o Penulisan karya tulis ilmiah o Sistematika penulisan karya tulis ilmiah o Isu-isu dalam Penjas untuk penulisan karya tulis ilmiah TUJUAN DAN KOMPETENSI PELATIHAN YANG INGIN DICAPAI Setelah peserta DIKLAT selesai membaca tulisan ini diharapkan mampu: 1. Membedakan karya tulis ilmiah; karya tulis non-ilmiah; dan karya tulis tidak ilmiah. 2. Mengidentifikasi karakteristik karya tulis ilmiah, karya tulis non-ilmiah, dan karya tulis tidak ilmiah.. 3. Mengenal teknik penulisan karya tulis ilmiah. 4. Mendiskusikan isu-isu dalam pendidikan jasmani untuk pembuatan karya tulis ilmiah. Pendahuluan Membuat karya tulis ilmiah adalah menulis usulan-usulan yang benar dan berupa pernyataan-pernyataan tentang fakta, atau kesimpulan-kesimpulan yang ditarik dari fakta (biasanya: hasil observasi, hasil penelitian, atau hasil telaahan seksama) dan merupakan pengetahuan. Karya tulis ilmiah yang dimaksud adalah permakluman sesuatu hal yang disertai keterangan dan penjelasan secukupnya, sehingga memperlihatkan kebenaran fakta yang mendasari pernyataan tersebut. Tentu, suatu karya tulis ilmiah berupa ilmu pengetahuan yang bisa bersifat ilmiah atau non-ilmiah, dan bahkan bisa bersifat tidak ilmiah. Pada tulisan ini dikemukakan alasan-alasan pengertian dasar penggolongan karya tulis ilmu pengetahuan ke dalam karya tulis ilmu pengetahuan yang ilmiah dan karya tulis ilmu pengetahuan yang nonilmiah. Menurut Jones (1960; dalam Mukayat 1993) karya tulis ilmu pengetahuan dapat digolongkan menjadi uda golongan: karya tulis ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah 1

3 (disebut: karya tulis ilmiah), dan karya tulis ilmu pengetahuan yang bersifat non-ilmiah (disebut: karya tulis non-ilmiah). Penggolongan ini berdasar atas fakta yang disajikan dalam karya tulis itu, yaitu: fakta umum ataukah fakta pribadi. Selain penggolongan berdasar fakta yang disajikan, karya tulis ilmu pengetahuan disebut ilmiah atau tidak ilmiah tergantung cara penulisannya. Apabila karya tulis ilmu pengetahuan, baik yang menyajikan fakta umum maupun fakta pribadi itu ditulis tidak berdasar metodologi penulisan yang baik dan benar, maka karya tulis ilmu pengetahuan itu disebut karya tulis ilmu pengetahuan yang tidak ilmiah (lihat gambar 1).

Karya tulis ilmiah (menyajikan fakta umum) Karya tulis

Ditulis secara ilmiah

Karya tulis ilmiah yang ilmiah (disingkat : karya tulis ilmiah)

Ditulis tidak secara ilmiah Ditulis secara ilmiah Ditulis tidak secara ilmiah

Karya tulis ilmiah yang tidak ilmiah Karya tulis non ilmiah yang ilmiah (disingkat: karya tulis non-ilmiah) Karya tulis non-ilmiah yang tidak ilmiah

Karya tulis non-ilmiah (menyajikan fakta pribadi)

Gambar 1. Kategorisai Karangan untuk menunjukkan Karangan ilmiah. (Sumber: Mukayat, Penulisan Karangan Ilmiah: 1993)

Karya tulis ilmiah Karya tulis ilmiah adalah karya tulis ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Karya tulis ilmiah ditulis berdasarkan fakta umum dan dapat dibuktikan benar tidaknya.

4 Karya tulis ilmiah itu selalu ditulis dengan bahasa kongkret, gaya bahasanya formal, kata-katanya teknis dan didukung oleh fakta umum yang dapat dibuktikan kebenarannya. Sedangkan istilah kata ”populer” dalam karya tulis ilmiah populer adalah karya tulis yang ditujukan untuk masyarakat umum. Bahan pembicaraan dalam karangan pengetahuan populer itu biasanya berupa hal hal tentang kehidupan sehari-hari dan bukan hal-hal yang bersifat ilmiah tinggi.

Karya tulis non-ilmiah Karya tulis non-ilmiah adalah karya tulis ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta pribadi dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Karya tulis non-ilmiah itu pun bervariasi bahan topiknya dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung oleh fakta umum. Bahasanya mungkin kongkret atau abstrak, gaya bahasanya mungkin formal dan teknis, atau formal dan populer. Karya tulis non ilmiah ditulis berdasar fakta pribadi yaitu fakta yang ada pada seseorang, misalnya fakta yang disimpulkan dari data hasil kuesioner atau data hasil wawancara, dan sebagainya. Fakta fakta itu sifatnya subyektif, berupa sesuatu yang dipikirkan responden atau penyimpul data. Oleh karena itu karya tulis pengetahuan yang ditulis berdasar kuesioner atau hasil tes-tes lainnya (dalam pendidikan) adalah karya tulis yang bersifat non-ilmiah, meskipun subyeknya ilmu pengetahuan dan metode pengumpulan data direncanakan secara ilmiah, serta diproses menurut statistika.

Karangan Tidak Ilmiah Karya tulis tidak ilmiah adalah karya tulis yang menyajikan fakta umum tetapi datanya diperoleh tidak melalui prosedur yang ilmiah, dan apalagi penulisannya tidak memenuhi ciri-ciri karya tulis ilmiah disebut karya tulis yang tidak ilmiah. Fakta yang disajikan berdasar data yang diperoleh tidak melalui prosedur ilmiah, sehingga validitasnya diragukan. Karya tulis tidak ilmiah itu mungkin juga menyajikan fakta pribadi baik tentang pengetahuan populer mengenai kehidupan sehari-hari maupun tentang pengetahuan tingkat tinggi.

tiap langkah direncanakan secara sistematis terkendali. yaitu tidak berambisi agar pembaca berpihak kepadanya. mendorong untuk menarik kesimpulan tidak terlalu tinggi dan bukan ajakan. Kata-katanya mudah dikenali. dan benar serta tulus. sanggahan dan protes. 3. memutar balikan fakta . Karya tulis ilmiah menyajikan sebab-akibat dan pengertian/pemahaman. 4.5 Ciri Ciri Karya Tulis Ilmiah Perbedaan antara karya tulis ilmu pengetahuan yang ilmiah dan yang non-ilmiah dapat dibedakan berdasarkan ciri-cirinya. Penulisannya cermat. 9. Secara ringkas ciri ciri karya tulis ilmu pengetahuan yang ilmiah adalah: 1. 2. Tidak mengejar keuntungan pribadi. Karya tulis yang ilmiah itu mungkin mencapai kesimpulan. Karya tulis ilmiah itu tidak emotif. Karya tulis yang ilmiah itu tidak melebih-lebihkan sesuatu. 5. Karya tulis yang ilmiah itu tidak persuasif yang dikemukakan fakta dan aplikasi hukum alam kepada problem-problem spesifik. tetapi penulisnya membiarkan fakta berbicara sendiri. Penulis yang ilmiah tidak ambisius dan tidak berprasangka. Menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik. tepat. tidak menonjolkan perasaan. 6. Tidak memuat pandangan-pandangan tanpa pendukung kecuali dalam hipotesis kerja. Motivasi penulis hanya untuk memberitahukan tentang sesuatu. Ditulis secara tulus. 7. Karya tulis yang ilmiah itu sistematis. Alasan-alasan yang dikemukakan indusif. 8. Tujuan karangan yang ilmiah itu untuk mendorong pembaca merubah pendapat tetapi tidak melalui ajakan. Karena itu. Tidak memuat terkaan. Dalam karya tulis yang ilmiah hanya disajikan kebenaran fakta. Karya tulis ilmiah tidak argumentatif. dan memuat hanya kebenaran. 10. argumentasi. tetapi membiarkan fakta-fakta berbicara sendiri. secara konseptual dan prosedural. Tidak memancing pertanyaanpertanyaan yang bernada keraguan. Pernyataan-pernyataan tulus tanpa mengingat efeknya.

4. 5. berisi kayakinan-keyakinan penulis yang mendorong pembaca untuk mengubah pendapatnya melalui ajakan. . 8. 2. 3. Semua karya tulis ilmu pengetahuan itu ditulis berdasar fakta. Karya tulis ilmu pengetahuan yang non-ilmiah itu umumnya berisi usulan usulan yang argumentatif. Karya tulis ilmu pengetahuan yang non-ilmiah itu memuat praduga. prasangka. maka fakta itu tidak mungkin berbicara sendiri. Kadang-kadang kata-kata yang dimuat sukar dikenali. Pandangan pandangan penulis tidak didukung oleh fakta umum. perasaan. Karya tulis yang ditulis berdasar fakta umum adalah karya tulis ilmu pengetahuan yang ilmiah. 6. Topiknya dapat bervariasi tetapi semua informasi diperoleh dari apa yang dipikirkan seseorang. dan seterusnya. emosi. Karya tulis yang non-ilmiah itu bersifat persuasif. Kesemuanya adalah fakta pribadi. 7. dan memancing pertanyaan-pertanyaan yang bernada keraguan. maka penulis sering melebih-lebihkan sesuatu.6 akan menghancurkan tujuan penulisan karangan ilmiah. sedangkan yang ditulis berdasar fakta pribadi disebut karya tulis ilmu pengetahuan yang non-ilmiah. Karya tulis ilmu pengetahuan yang non-ilmiah tidak mengemukakan aplikasi hukum alam yang berlaku pada situasi yang spesifik. dan alasan-alasan yang dikemukakan mendorong atau mengajak pembaca untuk menarik kesimpulan seperti yang dikehendaki penulis. Usulan-usulan berupa terkaan-terkaan dan mengharapkan efek seperti yang dikehendaki penulis. yang tidak dapat diperiksan kebenarannya. Karena penulis karya tulis non-ilmiah itu bermotif mementingkan diri sendiri. Ciri Ciri Karya Tulis Non-Ilmiah Secara ringkas ciri-ciri karya tulis ilmu pengetahuan yang non-ilmiah adalah: 1. Melebih-lebihkan sesuatu itu umumnya disebabkan oleh motif mementingkan diri sendiri. padahal keyakinan itu sendiri tidak ilmiah. Oleh karena karangan-karangan itu ditulis berdasar fakta pribadi. Menyajikan fakta pribadi yang sifatnya subjektif.

yang ditunjukkan oleh adanya kalimat yang saling berhubungan jelas dan teratur. Tetapi. tulus. Di samping itu bahasa yang dipakai dalam karya tulis ilmiah itu tidak boleh mengemukakan gejolak perasaan. bermodus indikatif. artikel. Idea/gagasan atau pemikiran itu tersusun . kata-katanya muda dikenali. Kesinambungan pemikiran mengalir bagaikan aliran air sungai. dan sejenisnya. Pengetahuan yang diajukan itu adalah benar. dan apalagi penulisannya tidak memenuhi ciri-ciri karya tulis ilmiah disebut karya tulis yang tidak ilmiah. skripsi. tidak mengejar kepentingan pribadi. ilusi. desertasi. jelas. Penuturan dalam karya tulis ilmiah harus konsisten. atau laporan ilmiah. maka ilmu itu tidak bernilai. tidak persuasif. tidak emotif. menunjukkan garis-garis pemikiran yang konseptual dan prosedural. yaitu bahasa yang mengikuti kaidah bahasa baku secara ketat. Menulis karya ilmiah itu bermaksud untuk berkomunikasi dengan orang lain (pembaca) tentang ilmu. Tetapi. dan semata-mata memberi informasi. tidak argumentatif. cermat. harus menggunakan bahasa yang sederhana dan lugas.7 Bahasa dalam karya tulis yang ilmiah menggunakan bahasa ragam resmi. ironi. Penulisan Karya Ilmiah Karya tulis ilmiah adalah semua bentuk karya tulis berupa buku. tidak mondar-mandir dari satu pemikiran ke pemikiran lainnya. Kebesaran nilai ilmu bergantung pada kemampuan ilmuwan berkomunikasi dengan orang lain. dan terang. jika kekuatan itu tidak diubah menjadi perbuatan dalam bentuk karya ilmiah. Sebuah karya tulis yang menyajikan fakta yang datanya diperoleh secara acakacakan yaitu tidak melalui prosedur ilmiah. serta kuat efeknya kepada pembaca. yang disajikan secara sistematis. tesis. sederhana dan ringkas. karena merupakan janji yang dapat dipenuhi dalam hubungannya dengan fakta yang dikatakan. Bahasa karya tulis ilmiah itu harus meyakinkan. Oleh karena itu tidak dianjurkan menggunakan gaya bahasa metafora. supaya tidak menggambarkan pemikiran yang berbelit-belit. hiperbol. tidak mengacu pada perasaan penulis (subjektif). Bahasa yang digunakan karya tulis ilmiah itu terus-menerus mengacu kepada hal-hal yang bersifat objekti. Kalimat-kalimat dalam karya tulis ilmiah harus disusun tidak berbelit-belit. memiliki kekuatan.

mungkin berhubungan makna. Gunakan kata yang tidak mencerminkan ’pemborosan’ dan tidak bertentangan dengan prinsip ’padat dan ringkas’ (bernas).8 dengan baik dan kesinambungan terpelihara dengan cermat maka alinea-alinea yang tersusun akan baik pula. Paragraf yang satu harus berhubungan dengan paragraf sebelumnya. dan paragraf terakhir memuat tujuan pembicaraan atau kesimpulan daris diskusi permasalahannya. bekerja sama menerangkan. maka kalimat awal biasanya digunakan untuk menyatakan tema pembicaraan. Jika suatu paragraf terdiri dari beberapa kalimat. jelas dan gamblang. Oleh karena itu. Penuturan itu disebut berharkat jika membangkitkan perhatian pembaca. Kalimat-kalimat dalam penuturan yang berharkat itu berkesan dalam angan-angan pembacanya. menguraikan. hindari paragraf yang ’berdiri sendiri’. mungkin berhubungan dengan kata atau ungkapan. atau mengulas suatu gagasan yang menjadi subjek paragraf itu atau menjadi tema jiwa pembicaraan yang ’mundel’. Dalam suatu sub-bab. pembaca mau memperhatikan penuturan itu. Kesatuan terkecil dari beberapa kalimat itu akan membentuk paragraf. Kalimat terakhir dari suatu paragraf mengantarkan pembaca kepada paragraf selanjutnya. seakanakan dengan sendirinya. dan kalimat-kalimat yang seperti itu disebut kalimat-kalimat efektif. Kalimat-kalimat dalam paragraf itu bahu-membahu. ’tidak kurang dan juga tidak lebih’. melukiskan. tanpa ajakan langsung. Paragraf seperti ini bagaikan ’karangan kecil’ yang terselip dalam ’karangan besar’. Kalimat yang jelas dan gamblang adalah kalimat yang kata-katanya disusun menurut kaidah-kaidah tata bahasa Indonesia yang baku. paragraf (paragraf) tengah berperan sebagai penyaji permasalahannya. panjang dalam penuturannya mudah menyebabkan kesamaran dan gelap makna. Susunannya patuh pada kaidah kaidah yang dimaksud maka akan sangat mudah untuk ditangkap maknanya. yang lepas ’makna’ dengan paragraf sebelumnya. Paragraf adalah kesatuan utuh dari beberapa kalimat untuk menyampaikan gagasan atau pemikiran. Sebaliknya kalimat-kalimat yang tidak patuh pada tata tertib bahasa. Gunakanlah kata sebanyak yang diperlukan. paragraf-paragraf pertama berperan sebagai pengantara materi pembicaraan. . Kalimat seperti itu disebut kalimat pembuka.

tetapi belum diberitahu tentang topik yang sedang dipaparkan. sub-sub bagian perlu mencerminkan koherensi. Sewaktu menulis karya tulis ilmiah seyogyanya berpegang pada prinsip: 1. adalah para pembaca yang memiliki inteligensi. deskripsi. 2. Kongkrit diartikan sebagai pelaku-pelakunya tidak abstrak. Bahasa sederhana diartikan sebagai bahasa yang dibangun menurut kaidah-kaidah tata bahasa dan tertib dalam penulisannya. usahakan agar karya ilmiah yang ditulis nampak menarik. sederhana dan lugas. Jadi berbeda dengan fungsi bahasa sastra. Pemikiran objektif dalam sebuah karya ilmiah diperlukan untuk mempertahankan satu titik pandangan yang didukung fakta umum. dan ragam bahasa yang digunakan dalam tulisan karya ilmiah mencerminkan bahasa ragam resmi. tulisan sebuah karya ilmiah perlu ditunjang sikap kejujuran. Jika menggunakan pendapat orang lain. pada setiap permulaan dan akhir suatu bagian. bayangkan pembaca yang diajak berdialog itu. mudah dikenal dan umum dipakai oleh khalayak umum. terutama dalam hal mengutip pendapat orang lain. Yang bisa dilakukan memberi komentar terhadap pernyataan yang dikutip itu. bahkan kadang-kadang untuk menimbulkan sikap mengkritik tetapi tanpa dukungan bukti (subjektif). Berhati-hati dalam menulis kutipan langsung dan tidak langsung. dalam suatu cakrawala pemahaman atau pembenaran. enak untuk dibaca. persuasi. 3. sub-bagian. seperti: pertama kali. akhiri dengan perkataan kata-kata apa yang telah dikatakan” 5. Koherens. istilah. 6. Pandangan objektif ini terkandung dalam setiap judul atau sub-judul atau topik yang sedang dibicarakan (konsisten). Kesinambungan. Prinsip Menulis Karya Tulis Ilmiah Tujuan menulis karya tulis ilmiah adalah memberkan informasi kepada pembaca tentang ilmu pengetahuan. 4. Hindari . Dalam sastra bahasa.9 Kata-kata. Spesifik. impresionistis. Penjelasan diberikan pada suatu tempat yang tepat tidak ditunda pada bagian yang salah tempat. kemudian katakan kepada pembaca. kongkrit. bahasa yang digunakan sederhana. Kata-kata yang tidak lazim dipakai hendaknya dihindari. Jujur. tetapi tidak perlu ”sedap” untuk dibaca. baik secara real maupun maya. tujuan yang telah ditetapkan tertuang dalam setiap paragraf. Sebaiknya memperhatikan kaidah-kaidah penuturan bahasa Indonesia yang baku. Memiliki daya tarik. katakan kepada pembaca apa yang akan anda katakan. dan selalu merujuk pada hal-hal yang dibicarakan (objektif). Bernas. katakan bahwa itu pendapat seseorang. kata dan ragam bahasa bersifat menimbulkan sikap emosi. bahkan kata-kata secara bahu-membahu berada dalam satu kontinuitas yang runtun. setiap kalimat.

Sistematika Penulisan Karya Tulis Ilmiah Karya tulis ilmiah bermacam ragam sifat dan bentuknya. Selain kejelasan. Ide atau gagasan orang lain itu seperti barang tak bergerak milik perorangan. 2) penyajiannya tepat dan akurat. tesis. dan kalimat itu adalah suatu pelanggaran atau suatu tindak pidana. dan 4) bernas (singkat dan padat) menghindari materi- . atau jurnal ilmiah. karakteristik penting lain dalam suatu karya tulis ilmiah adalah: 1) pengorganisasian idea atau gagasan dari setiap bagian atau sub-bagian dan tingkat koherensi serta kesinambungan logika. desertasi. maka ide atau fakta baru yang ditemukan atau dikumpulkan itu adalah milik perorangan yang diakui dan dilindungi oleh undang-undang. akan dikemukakan suatu bentuk sistematika yang menyerupai laporan suatu hasil penelitian. terutama dalam bentuk skripsi. adalah memberikan idea atau fakta umum yang dihasilkan dari sebuah penelitian atau penelusuran pembenaran kepada para pembaca. namun perlu diakui bahwa penulis meminjam dan mengucapkan terimakasihnya. ungkapan. Tetapi. idea. yang hanya ”copy” dan ”paste” pernyataan-pernyataan orang lain. Agar efektif informasi perlu dikomunikasikan dalam satu cara yang jelas dan mudah dimengerti. termasuk dalam tata bahasa dan tanda-tanda baca yang digunakan. yang dapat digolongkan kepada pencurian dan penipuan. Namun demikian. Para pembaca tidak menjadi harus bertanya-tanya bagaimana penelusuran dilakukan dan asumsi-asumsi yang mendasari hasil yang ditemukan. Karena itu sangatlah sukar untuk menyamaratakan sistematika penulisan karya tulis ilmiah. Kejelasan adalah faktor utama. 3) utuh dalam menyuguhkan faktafakta untuk mendukung kejelasan. Tujuan penulisan karya tulis ilmiah.10 perbuatan ”plagiat”. Tidak mengakui dan tidak mengucapkan terimakasih atas peminjaman milik orang lain yang berupa penjelasan. untuk kepentingan penulisan karya tulis ilmiah dalam konteks pendidikan dan latihan ini. meringkaskan idea-idea dan penjelasan-penjelasan orang lain dalam kata-kata sendiri tidak digolongkan sebagai perbuatan pencurian.

daftar isi. dan instansi tempat bekerja peneliti. Bagian isi mencakup: Bab I pendahuluan (termasuk: latarbelakang masalah. Ucapan terimakasih sebaiknya disampaikan secara singkat dan tidak merupakan bagian terpisah. dan bagian pelengkap karya tulis ilmiah. Bab IV pembahasan dan hasil penelitian/penelusuran. implementasi. atau instrumen penelitian lainnya). abstrak. subjek. daftar lampiran.11 materi yang tidak diperlukan tetapi tambahkan materi materi yang akan memberikan kejelasan dan keutuhan. Bab III prosedur penelitian/penelusuran. Bagian Pengantar. Bab II kajian pustaka/kerangka teoritis. lembar pengesahan. Kata pengantar. pertanyaan penelitian/penelusuran. Bagian pengantar termasuk: halaman judul. Judul perlu mencerminkan konsistensi dan ruang lingkup. Pengantar perlu juga diikuti ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan karya ilmiahnya. yaitu: bagian pengantar. dan afirmatif. pengantar. daftar tabel (kalau ada). komunikatif. metode penelitian/penelusuran. nama peneliti. dan riwayat hidup peneliti. asumsi dan hipotesis. tujuan. tujuan. isi karya tulis ilmiah. Format Karya Tulis Ilmiah Pada umumnya format sebuah karya tulis ilmiah terdiri dari tiga bagian utama. logo (Depdiknas). rumusan masalah. pentingnya penelitian/penelusuran. dan Bab V kesimpulan. dan rekomendasi. daftar gambar (kalau ada). . Judul karya tulis ilmiah dirumuskan dalam satu kalimat yang ringkas. Lembar pengesahan. Bagian pelengkap terdiri dari: daftar pustaka. dan lokasi dan sampel penelitian/penelusuran). dan metode penelitian/penelusuran. Judul karya tulis ilmiah. lampiran-lampiran (termasuk: angket atau panduan wawancara. Pada halaman judul juga perlu disebutkan tujuan penulisan karya tulis ilmiah. Biasanya berisikan rangkuman dan tata letak isi karya tulis ilmiah. Berisikan uraian yang mengantar para pembaca terhadap karya tulis ilmiah yang diajukan. Lembar pengesahan adalah pernyataan atasan (bisa juga pembimbing) terhadap karya tulis ilmiah yang diajukan.

yang masing-masing menyatakan nomor bab dan nomor urut tabel. Daftar isi merupakan penyajian secara sistematika isi secara rinci dari karya tulis ilmiah yang diajukan.3. Nomor urut lampiran dinyatakan dengan dua angka dengan tanda penghubung di antaranya.ii. Daftar isi berfungsi untuk mempermudah para pembaca mencari judul atau sub-judul yang ingin dibacanya. tujuan penelitian. Bab I. mulai dari gambar pertama sampai gambar terakhir yang ada dalam karya tulis ilmiah. Bagian Isi. Akidah penulisan sama dengan kaidah penulisan untuk daftar tabel. artinya tabel nomor 3 pada Bab 1. pertanyaan penelitian. judul dan sub-judul yang ditulis dalam daftar isi harus langsung ditunjukkan nomor halamannya. rumusan masalah. masalah.3. Daftar tabel. Pada umumnya mencakup pernyataan: tujuan penelitian. Karena ringkasnya. Berfungsi menyajikan tabel secara berurutan mulai dari tabel pertama sampai dengan tabel terakhir yang ada dalam karya tulis ilmiah. Karena itu. metode. Contoh: Tabel 1. Daftar gambar. Contoh: Lampiran 1.2. Pada bagian ini juga sebaiknya ditunjukkan nomor halamannya. dan kesimpulan yang didapat. Daftar lampiran disusun seperti halnya daftar tabel dan daftar gambar.dan seterusnya). dan dari halaman pertama Bab 1 sampai halaman terakhir karya tulis ilmiah menggunakan angka Arab (1.12 Daftar isi. Abstrak adalah ringkasan isi karya tulis ilmiah mulai dari Bab I sampai Bab V dalam uraian sangat singkat. dicantumkan secara berurutan. Nomor tabel ditulis dengan menggunakan dua angka huruf Arab.iv.2 artinya lampiran 2 dari Bab 1.iii. Berfungsi menyajikan gambar secara berurutan. Nomor-nomor halaman awal sebelum Bab 1 menggunakan angka Romawi kecil (i. . temuan penting. dan seterusnya). sebuah abstrak biasanya terdiri dari tidak lebih dari empat paragraf. Daftar lampiran. Angka pertama menyatakan nomor Bab dan angka kedua menyatakan nomor urut lampiran.Abstrak. Pendahuluan Bab I karya tulis ilmiah berisi uraian tentang pendahuluan dan berisikan tentang: latarbelakang masalah. .

Rumusan pertanyaan ini akan memandu keseluruhan proses penelitian. Rumusan masalah dapat dinyatakan dalam bentuk pernyataan terbuka. Susun latarleakang seperti disebutkan di atas secara runtun. Tuntutan kemampuan tersebut merupakan alasan rasional mengapa penelaahan terhadap jurnal-jurnal hasil penelitian terdahulu yang terkait perlu dilakukan sejak awal. serta miliki pengetahuan yang luas dan terpadu mengenai teori-teori dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang terkait. metode penelitian secara garis besar beserta teknik pengumpulan data dan pendekatannya. dan kaitan diantara variabel itu sendiri. dan tajam. jelas. 5) penjelasan singkat tentang kedudukan atau posisi masalah yang akan diteliti dalam ruang lingkup bidang studi yang ditekuni oleh peneliti. yang mengarahkan peneliti pada kajian-kajian yang akan diteliti. sekiranya masalah tersebut tidak diteliti. variabel yang diteliti. dan mengapa merupakan hal penting untuk diteliti ditinjau dari segi profesi peneliti. Beberapa butir penting seperti: 1) alasan rasional dan esensial yang membuat peneliti merasa resah. hipotesis. c. Pertanyaan penelitian Pertanyaan penelitian adalah penyimpitan fokus telaahan dari rumusan masalah. Rumusan masalah Rumusan masalah adalah fokus dari penajaman latarbelakang. yang sering diungkapkan dalam bentuk kalimat bertanya. Pahami gejala-gejala yang muncul dalam dunia pendidikan. asumsi. 3) kerugian-kerugian yang mungkin timbul seandainya masalah tersebut tidak diteliti. yang terambil karena kejelasan latarbelakang masalah. a. Latarbelakang masalah Penulisan latar belakang masalah dimaksudkan untuk menjelaskan alasan mengapa masalah yang diteliti itu timbul.13 keguanaan penelitian. dan kepentingan pembangunan di bidang pendidikan. Definisi operasional yang dirumuskan untuk setiap variabel yang diteliti perlu melahirkan indikator-indikator dari setiap variabel yang diteliti yang kemudian akan dijabarkan kedalam instrumen penelitian. 2) gejala-gejala kesenjangan yang terdapat di lapangan sebagai dasar pemikiran untuk memunculkan permasalahan. b. terutama untuk perkiraan dan langkah-langkah . 4) keuntungan-keuntuangan yang mungkin timbul senadainya masalah tersebut diteliti. lokasi dan sampel penelitian. pengembangan ilmu.

Tujuan penelitian bisa terdiri dari atas tujuan umum dan tujuan khusus. hipotesis perlu dirumuskan. deskriptif. atau kalimat harapan. Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah atau submasalah yang diajukan oleh peneliti. Tujuan umum menggambarkan rumusan yang ingin dicapai secara umum. g. kalimat suruhan. e. Asumsi dapat berupa teori. eksperimental. dan pembahasan yang lebih rinci dan lengkap disajikan pada Bab III. kalimat saran. Dalam pelitian yang bersifat analistis. Sedangkan tujuan khusus menggambarkan rumusan tujuan spesifik yang ingin dicapai. Rumusan tujuan penelitian bukan merupakan rumusan maksud penulisan karya tulis ilmiah. Karena itu. dan bukan dirumuskan dalam kalimat tanya. dan diperoleh hasil apakah hipotesis ditolak atau diterima. Asumsi dirumuskan dalam bentuk kalimat deklaratif dan bukan kalimat tanya. atau . bukti-bukti kuat yang oleh peneliti sendiri merupakan sesuatu yang dianggap benar dan tidaknya perlu dipersoalkan atau dibuktikan lagi kebenarannya. Asumsi Suatu penelitian mungkin mempunyai asumsi atau mungkin juga tanpa asumsi. hipotesis tidak diperlukan. d. Metode Penelitian Metode penelitian yang disajikan dalam Bab Pendahuluan bersifat garis besar.14 selanjutnya yang perlu dilakukan dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. kalimat suruhan. Hipotesis dijabarkan dari landasan teori atau tinjauan pustaka. Hipotesis penelitian dirumuskan dalam kalimat afirmatif. Tujuan penelitian Rumusan tujuan penelitian menyajikan hasil yang ingin dicapai setelah penelitian selesai dilakukan. Melalui penelitian ilmiah hipotesis diuji kebenarnya. atau kalimat harapan. f. rumusan tujuan harus konsisten dengan rumusan masalah dan harus mencerminkan proses penelitiannya. Bagian ini menjelaskan secara singkat jenis-jenis penelitian: historis. kalimat saran. sedangkan dalam penelitian yang bersifat deskriptif yang bermaksud mendeskriptifkan masalah yang diteliti.

Penjelasan mengenai alasan di atas menjadi kuat apabila dikaitkan dengan rumusan dan latar belakang masalah. kajian pustaka mempunyai peran sangat penting. atau studi dokumenteri). Bahasan mengenai metode penelitian memuat beberapa komponen yaitu: o Desain lokasi dan subyek populasi/sampel penelitian. Dalam laporan kajian pustaka. o Instrumen penelitian misalnya tes. Metode Penelitian Uraian dalam Bab III merupakan penjabaran lebih rinci tentang metode penelitian yang secara garis besar telah disajikan pada Bab I. observasi. peneliti membandingkan mengkontraskan. dan memposisikan kedudukan masing-masing penelitian yang dikaji dikaitkan dengan masalah yang sedang diteliti. peneliti menjelaskan posisi/pendirian peneliti disertai alasan-alasannya. Bab II. instrumen dan teknik pengumpulan datanya (misal: penyebaran angket. daya beda. . dan karakteristik lainnya. h. Kajian Pustaka/ Kerangka Teoritis Dalam suatu karya tulis ilmiah. Telaahan teoritis dimaksudkan untuk menampilkan ”mengapa dan bagaimana” teori dan hasil penelitian para pakar terdahulu diterapkan oleh peneliti dalam penelitiannya. reliabilitas. lembar observasi. tujuan penelitian. o Definisi opersional dari variabel yang terlibat dalam penelitian. angket. dalam suatu penelitian harus dicantumkan lokasi dan subyek populasi/sampel penelitian. Melalui kajian pustaka ditunjukkan sebuah ”karya seni ilmiah” dari teori yang sedang dikaji dan kedudukan masalah penelitian dalam bidang ilmu yang diteliti. Bab III. Berdasarkan kajian tersebut. dan teknik analisis data. o Proses pengembangan instrumen antara lain: pengujian validitas. wawancara. dilengkapi dengan alasan rasionalnya. Fungsi lain dari kajian pustaka adalah sebagai landasan teoritik dalam analisis temuan. dan atau skala sikap/pendapat/pandangan. Lokasi dan Sampel Penelitian Untuk memperoleh informasi sejauh mana generalisasi keberlakuan kesimpulan sebuah penelitian. serta cara pemilihan sampelnya.15 inferensial.

Bagian pembahasan atau analisis temuan mendiskusikan temuan tersebut dikaitkan dengan dasar teoritik yang telah disampaikan pada Bab II. atau kaset) yang pernah dikutip dan digunakan dalam penulisan karya ilmiah . Ada dua alternatif cara penulisan kesimpulan. artikel. observasi partisipatif. jurnal. Dengan cara butir demi butir. dan observasi non-partisipatif. Daftar pustaka memuat sumber tertulis (buku. film. atau 2) dengan cara uraian padat. Uji hipotesis dilakukan sebagai bagian dari analisis data. Pengolahan data dapat dilakukan berdasarkan prosedur penelitian kuantitatif atau penelitian kualitatif sesuai dengan desain penelitian yang diuraikan pada Bab III. Bab V. Teknik yang dipilih misalnya melalui tes tulis/lisan atau tes tindakan. angket. kepada para pengguna hasil penelitian yang bersangkutan dan kepada peneliti berikutnya yang berminat untuk melakukan penelitian selanjutnya. Implikasi dan Rekomendasi Pada Bab V disajikan penafsiran dan pemaknaan peneliti terhadap hasil analisis temuan penelitian. Untuk karya tulis ilmiah seperti skripsi makna penulisan kesimpulan dengan cara uraian pada lebih baik daripada dengan cara butir demi butir. dokumen resmi. yang disajikan dalam bentuk kesimpulan penelitian. yaitu: pengolahan dn analisis data untuk menghasilkan temuan dan pembahasan atau analisis temuan. Demikian pula dalam penelitian kualitatif hasil pembahasan temuan merupakan bahasan yang terkait dengan teori yang digunakan pada Bab II. Kesimpulan. atau sumber-sumber lain dari internet) atau tercetak (misalnya CD. Bagian Pelengkap Daftar pustaka. Implikasi atau rekomendasi yang ditulis setelah kesimpulan dapat ditunjukkan kepada para pembuat kebijakan. video. yaitu: 1). wawancara. Bab IV.16 o Teknik pengumpulan data dan alasan rasionalnya. o Prosedur dan tahap-tahap penelitian mulai dari persiapan sampai dengan penyusunan laporan akhir. Hasil Penelitian dan Pembahasan Pada bagian ini memuat dua hal utama. Dalam penelitian kualitatif hasil pengujian hipotesis akan memperlihatkan konsekuensi temuan terhadap landasan teori yang dirujuk.

Riwayat hidup memuat informasi: nama lengkap. yaitu suatu konsep yang menjembatani antara pengetahuan teoritikal guru dengan praktis pembelajaran. Pembahasan tentang hal ini penting bagi para guru Penjas sebagai upaya membuka cakrawala dan muatan pendidikan jasmani bagi kesejahteraan umat manusia. dan kedudukan pendidikan jasmani baik bagi dunia pendidikan pada khususnya maupun bagi perkembangan masyarakat pada umumnya. Lampiran berisi semua dokumen yang digunakan dalam penelitian dan penulisan hasil-hasilnya menjadi satu karya tulis ilmiah. setiap lampiran diberi nomor urut sesuai dengan urutan penggunaannya. Contoh: Lampiran 1. Semua sumber tertulis dan tercetak yang tercantum dalam uraian harus dicantumkan dalam daftar pustaka. Isu-Isu dalam Penjas untuk Penulisan Karya Ilmiah Mengakhiri tulisan materi diklat bagi para Guru Pendidikan Jasmani dalam rangka program Sertifikasi guru ini.17 itu. riwayat pendidikan. Untuk memudahkan pembaca. dan diberi judul.2 artinya lampiran 2 dari Bab 1. Cara menulis daftar pustaka berurutan secara alfabetis tanpa nomor urut. dan karya ilmiah yang pernah dipublikasikan. dan tidak semua informasi tentang yang bersangkutan. tempat dan tanggal lahir. Sebaliknya. riwayat pekerjaan dan jabatan (untuk yang memiliki jabatan) prestasi-prestasi yang pernah dicapai. peran. Lampiran-lampiran. Riwayat Hidup. Riwayat hidup disusun dalam bentuk uraian padat. Riwayat hidup dapat disusun secara butir perbutir atau dalam bentuk uraian padat. perlu disampaikan beberapa isu penting sekitar kontribusi. Nomor urut lampiran dinyatakan dengan dua angka dengan tanda penghubung di antaranya. dan hanya menyampaikan hal-hal yang relevan dengan kegiatan ilmiah. tidak perlu dicantumkan dalam daftar pustaka. sumber-sumber yang pernah dibaca oleh peneliti tetapi tidak pernah digunakan dalam penulisan karya ilmiah tersebut atau tidak dikutip. Pengajaran reflektif mengacu pada evaluasi-diri bahwa guru yang baik . Angka pertama menyatakan nomor Bab dan angka kedua menyatakan nomor urut lampiran. Satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk membuka cakrawala dan muatan pendidikan jasmani ini adalah melalui pendekatan ”pengajaran reflektif”.

Cara lain dapat dilakukan dengan mengajukan satu pertanyaan dari beberapa pertanyaan berikut di bawah ini dan kemudian mengembangkannya: . Kemudian. baca apa yang telah ditulis. Masih lemahnya sistem pendidikan jasmani di sekolah akan berdampak pada sistem olahraga secara keseluruhan. Satu cara yang mudah dan populer dilakukan adalah dengan mencatat semua permasalahan yang terjadi. Jika merasa kebingungan dalam membuat jurnal sendiri. Gunakan sebuah jurnal dimana guru dapat mencatat semua masalah di atas lembaran kertas. Membuat daftar kegiatan harian atau jurnal di sepanjang kegiatan mengajar dengan cara tulisan-bebas berupa saran dan kritik dari pengawas/penilik. dan observasi dari guru lain dalam bidang yang sama tentang bagaimana dapat menjadikan pembelajaran yang lebih reflektif. umpan balik dari siswa. Pendekatan ini juga diprediksi dapat menelaah sejauh mana ketercapaian pendidikan jasmani terhadap tuntutan kebutuhan siswa. dan cari cara penanganannya di atas lembar kertas seperti ketika melakukan evaluasi-diri yaitu: mencatat semua masalah yang muncul. pada kenyataan sistem kehidupan masyarakat ”budaya gerak” itu tidak seperti menjamurnya ”budaya membatik” di setiap daerah di tanah air.18 senantiasa merespon perubahan-perubahan yang terjadi di dalam kelas. Melalui pendekatan reflektif diharapkan guru dapat mengenali pengajaran mana yang telah berhasil mencapai tujuannya dan pengajaran mana yang belum mencapai tujuannya. Namun demikian. evaluasi-diri. menggunakan pengetahuan dan pengalamannya sendiri untuk mendapatkan cara meningkatkan situasi pengajaran pada kesempatan berikutnya. Pada masa perkembangannya juga dapat dilihat kontribusi penting dari pendidikan jasmani terhadap kegiatan olahraga di masyarakat. Kenyataan ini. Kemudian berhenti sejenak. Beberapa cara dapat dilakukan untuk merefleksikan pengajaran yang dilakukan. baik pada saat belajar di sekolah maupun ketika selesai menuntaskan jenjang pendidikannya hingga tumbuh dan berkembang sampai akhir hayatnya (long life fitness education). analisis video aktivitas belajar-mengajar. Penanaman gerak melalui media pendidikan jasmani di sekolah diharapkan dapat memunculkan ”budaya gerak” yang tumbuh mekar di masyarakat. tentu akan berdampak pada perkembangan olahraga di tanah air.

Konsep KBRPJ bermakna evaluasi untuk melihat kesenjangan antara teori dan praktik dalam upaya membantu guru mengajar lebih efektif. termasuk rancangan kurikulum dan rancangan pembelajaran harian. Setelah ditulis.19 o o o o o o Perangkat apa yang telah disiapkan untuk mengajar? Mampukah untuk bisa mencapai tujuan yang telah digariskan? Apakah pembelajaran didominasi guru? Jenis interaksi apa yang terjadi antara guru dan siswa? Apakah semuanya menjadi serba mudah atau malah menyulitkan? Bagaimana tingkat ketercapaian tujuan dari rencana yang telah digariskan? Apakah perubahan-perubahan yang terjadi menyebabkan pembelajaran semakin baik ataukah semakin buruk? o Apakah senantiasa mengajar dengan cara yang berbeda? o Apa yang dipelajari siswa sebenarnya? o Apakah siswa merespon dengan cara-cara terbaik mereka? Temukan satu cara yang sesuai dengan kebutuhan. Sebagai contoh: ketika para siswa belajar tentang gerak berlari dalam olahraga atletik. yaitu: teknikal. Kategori ketiga adalah sensitivitas. Hal terpenting adalah guru membuat catatan masalah –masalah pengajaran yang muncul. . Baca dan refleksikan ketika guru memiliki banyak waktu. jika tidak memungkinkan guru dapat melakukan selang tiga hari atau satu minggu. dan sensitivitas (lihat Gambar 2. Namun. situasional. bagaimana kontekstualnya dengan keadaan gerak berlari itu ketika siswa berada di luar lingkungan sekolah. yakinkan jangan meninggalkannya tergeletak di dalam lemari. Konsep seperti ini telah banyak dikembangkan di berbagai negara untuk mengangkat kedudukan pendidikan jasmani. Kategori teknikal mengacu pada belajar keterampilan dan metode mengajar. Refleksi membutuhkan analisis. Penulisan jurnal permasalahan mengajar dapat dikembangkan dalam satu konsep “kerangka berpikir reflektif dalam pendidikan jasmani” (KBRPJ). Penyeleksian materi-materi mana yang sesuai dan tidak sesuai dengan kenyataan hidup para siswa (life skill system). jadi berikan suatu kritikan yang cukup tajam. Kategori situasional mengacu pada tingkatan kontekstual dari materi-materi yang dipelajari dengan kenyataan hidup para siswa. Merefleksikan pengalaman-pengalaman mengajar masa lalu dengan teori-teori yang ada adalah bentuk refleksi secara teknikal. dan pertimbangkan situasisituasi bagaimana yang dapat meningkatkan kemampuan sebagai guru. Beberapa ahli menyarankan membuat catatan atas pertanyaan itu setiap hari.). Konsep ini terbagi atas tiga kategori. Kontekstual seperti inilah yang masih tidak relevans.

20 maksudnya tingkat kepakaan hubungan pendidikan jasmani dengan infrastruktur lingkungan masyarakat. Teknikal Situasional Sensitivitas Gambar 2. Model Fokus Kategori Kerangka Berpikir Reflektif dalam Pendidikan Jasman (Sumber: Susan K Lyn dkk. dan kedudukan pendidikan jasmani baik bagi pencapaian tujuan pendidikan • • • • • • • • • • • • • maupun bagi perkembangan sosial kemasyarakatan. peran. Selain itu kategori ini berkaitan dengan lingkungan kultural dan politikal kegiatan belajar-mengajar pendidikan jasmani. Beberapa isu yang dapat diajukan adalah: Pendidikan jasmani sebagai cara mencapai kebugaran jasmani Pendidikan jasmani sebagai cara mencapai hidup aktif Pendidikan jasmani sebagai cara mencapai kesejahteraan paripurna Pendidikan jasmani sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup manusia Pendidikan jasmani sebagai wahana pengembangan kemampuan kognitif Pendidikan jasmani sebagai wahana pengembangan kemampuan psikomotor Pendidikan jasmani sebagai wahana pengembangan kemampuan sosial Pendidikan jasmani sebagai wahana pengembangan neuromuskular Pendidikan jasmani sebagai pemicu roda ekonomi masyarakat Pendidikan jasmani sebagai sarana perwujudan nilai-nilai agama Pendidikan jasmani sebagai pemersatu bangsa Pendidikan jasmani sebagai upaya menumbuhkan perdamaian Pendidikan jasmani sebagai suatu pokok-kebutuhan manusia. Seminar in Physical Education) Refleksi Isu Permasalahan Penjas Atas dasar pendekatan pembelajar reflektif itu. . barangkali dapat diajukan beberapa isu sekitar keterkaitan kontribusi.

Jawabannya terletak pada pundak setiap penyandang profesi pendidikan jasmani. terutama di sekolah. dan kedudukan pendidikan jasmani baik bagi pendidikan maupun bagi perkembangan masyarakat. Bahkan dari ketersediaan sarana dan fasilitas belajar (termasuk peralatan pembelajaran penjas). Pendidikan jasmani seabgai model pendidikan emosi. upaya mendapatkan kebugaran. dan sensitivitas. Pendidikan jasmani sebagai model total pendidikan. Melalui pendekatan reflektif ini juga dapat dikembangkan isu-isu terkait pendidikan jasmani untuk penulisan sebuah karya ilmiah. Pendidikan jasmani seabgai model pendidikan kognitif. peran. gedung olahraga kalah pentingnya dari pembangunan ruangan kelas atau ruang laboratorium. Pendidikan jasmani dan pendidikan lingkungan Pendidikan jasmani dan pendidikan matematika Pendidikan jasmani dan pendidikan kesehatan Pendidikan jasmani dan pendidikan moral Pendidikan jasmani dan pertumbuhan/perkembangan gerak siswa. Pendidikan jasmani. semakin berkurang.21 • • • • • • • • • • • • • • • • Pendidikan jasmani sebagai model pendidikan karakter. Satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah melalui pendekatan pengajaran reflektif. situasional. mencakup: kategori teknikal. ----Bravo Pendidikan Jasmani--- . lapangan olahraga semakin menyempit. kegiatan olahraga. Pendidikan jasmani sebagai model pendidikan disiplin. mengisi waktu luang. Pendidikan jasmani sebagai model pendidikan sosial. Akankah situasi dan kondisi seperti di atas terus berlanjut. perkembangannya tidak bergerak pada tataran pengetahuan pendidikan jasmani secara lebih meluas. Pendidikan jasmani dan olahraga prestasi Pendidikan jasmani dan olahraga rekreasi Pendidikan jasmani dan olahraga rehabilitasi Pendidikan jasmani dan olahraga tradisional Jika ditinjau dari pelaksanaan pendidikan jasmani. Di dalam penulisanya perlu memperhatikan kaidah-kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang baku dan benar. Kesimpulan Penulisan Karya Tulis Ilmiah di lingkungan pendidikan jasmani sangat diperlukan untuk mengangkat kontribusi. berkisar pada tataran kegiatan menghilangkan kejenuhan belajar. Pendidikan jasmani sebagai model pendidikan nilai.

Universitas Pendidikan Indonesia. Wm.. S. Mukayat.(1999). dan Strong. Baumgartner. Nasuiton. D. Penulisan Karangan Ilmiah. Bandung. (2007). Susan K Lynn. Conducting and Reading Research in Health and Human Performance. Champaign. (1994). Akademika Pressindo. Jakarta. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. (2002). Boulevard Dubuque. Human Kinetics.B.Inc. Bandung. Illinois.H. dkk. Dan Thomas. Kiat Menjadi Penulis Sukses (Panduan Untuk Generasi Muda Islam). Ted A. Brown Communication. Jakarta. _______________. . (2007). Buku Penuntun Membuat Tesis Skripsi Desertasi Makalah.22 KEPUSTAKAAN Abu Al-Ghifari.C. Mujahid Press. Seminar in Physical Education (From Student Taching to Teaching Student). (1993). Bumi Aksara. C.M.

Sejalan dengan kelima pokok bahasan di atas. Untuk dapat menjalankan peranannya dengan baik. M. Memahami hakekat penelitian tindakan kelas. Memahami prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas. setiap guru dituntut memiliki kemampuan sebagai seorang profesional dibidangnya. Memahami tentang pengembangan profesi guru. Pengantar Para pembaca yang budiman. (4) prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas. bahan ajar ini secara ringkas akan menguraikan 5 hal pokok terkait dengan penelitian tindakan kelas. dan (5) penyusunan proposal dan laporan penelitian tindakan kelas. Guruguru yang profesional adalah guru-guru yang mampu mengantarkan peserta didik untuk akses ke zona keberhasilan dalam belajar. (3) Konsep dasar penelitian tindakan kelas.23 PENELITIAN TINDAKAN KELAS Yusup Hidayat. .Si. (2) pengembangan profesi guru. maka secara umum pembelajaran akan didasarkan pada 5 tujuan pembelajaran umum. Berkenaan dengan hal tersebut. Dalam kaitannya dengan peranan guru sebagai profil sentral dalam proses pembelajaran. Peserta didik hanya bisa belajar jika tersedia lingkungan belajar yang kondusif dan gurulah yang mempersiapkan semuanya. Banyak cara atau strategi yang bisa digunakan untuk meningkatkan profesionalisme guru. 4. 2. Memahami cara penyusunan proposal dan laporan penelitan tindakan kelas. seperti kita ketahui bersama guru memainkan peranan menentukan dalam pencapaian keberhasilan proses pembelajaran dan pendidikan di sekolah. Salah satu diantaranya yang akhir-akhir ini berkembang pesat adalah melalui penelitian tindakan kelas (PTK) atau classroom action research. yaitu uraian tentang: (1) Kompetensi guru. termasuk guru pendidikan jasmani. Guru menduduki posisi sentral dalam menyukseskan keberhasilan proses pembelajaran di sekolah. Memahami kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru. yaitu: 1. Berkenaan dengan peran guru Brown (2000) menyatakan bahwa guru bertugas membimbing dan memfasilitasi peserta didik dalam belajar. upaya peningkatan profesionalisme guru merupakan hal penting yang tidak bisa di tawar-tawar lagi. 5. 3.

atau ability (Inggris). 1. salah satu diantaranya adalah faktor guru.24 A. Guru merupakan pribadi kunci (key person) yang memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Kompetensi Profesional Kompetensi profesional bersangkut paut dengan potret seorang guru yang memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang mata pelajaran yang diajarkannya. Kompetensi keluwesan kognitif. Kompetensi Guru Banyak faktor yang menentukan keberhasilan proses pembelajaran Penjaskes. Kompetensi berarti kemampuan. Melaksanakan dan memimpin kegiatan belajar mengajar c. dan anutan bagi semua peserta didik. Kompetensi keterbukaan psikologis. . Merencanakan program belajar mengajar b. Kompetensi guru adalah kemampuan guru dalam menjalankan profesi keguruannya. termasuk memilih dan menggunakan strategi atau metode mengajar yang tepat. pribadi. Kompetensi ini terdiri dari atas: a. Menafsirkan dan memanfaatkan hasil penelitian kemajuan belajar mengajar dan informasi lainnya bagi penyempurnaan perencanaan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar 2. yaitu kompetensi profesional. Ada tiga kompetensi utama yang harus dikuasai oleh guru. Kompetensi Pribadi Kompetensi pribadi berkenaan dengan kualitas pribadi yang harus dimiliki seorang guru. yaitu kompetensi kemampuan berpikir sekaligus bertindak secara bersamaan dan tepat sesuai dengan tuntutan situasi. Menilai kemajuan belajar mengajar d. yaitu kompetensi yang terkait dengan semua aspek psiko-sosio-emosional. Karena itu guru harus memiliki sejumlah kompetensi yang diperlukan untuk menjalankan fungsinya. terdiri atas: a. dan sosial. b. pengajar. kecakapan. Hal ini terutama karena peran guru sebagai seorang pembimbing.

Kompetensi Sosial Kompetensi sosial berkenaan dengan kemampuan untuk membangun dan mengembangkan hubungan sosial yang serasi dan saling menguntungkan dengan siswa. lingkungan sekolah. pemaaf. yaitu: (1) Menghasilkan karya tullis ilmiah di bidang pendidikan jasmaniikuti kegiatan pengembangan. Pengembangan Profesi Guru Pekerjaan guru adalah sebuah profesi yang harus terus dibina dan dikembangkan. dan tingkah laku berada pada satu garis sinergis dan inilah sebenarnya “ruh” proses pembelajaran. ucapan. Seorang guru dapat berkarir sampai Guru Utama (IV/e). dirasakan. Ada lima jenis kegiatan dalam unsur pengembangan profesi. dengan terpenuhi kriteria unsur-unsur: (1) pendidikan. guru PNS dapat berkarir mulai Guru Pratama (II/a) sampai Guru Utama (IV/e). Sesuai dengan Keputusan MENPAN No. kooperatif. Kompetensi keajegan spiritual. Guru dapat sampai pada gologan IV/e . B. murah hati. pikiran. Diantara tugas pokok guru profesional yang langsung terkait dengan penelitian tindakan kelas adalah melaksanakan pengembangan profesi.25 c. khususnya kualitas pembelajaran. dan masyarakat luas. yaitu kompetensi yang terkait dengan kesamaan antara apa yang dipikirkan. guru-guru yang lain. . Kompetensi ini mengantarkan guru pada profil anutan atau tauladan bagi siswa. (2) Menemukan teknologi tepat guna bidang pendidikan jasmani. 3. yaitu kemampuan untuk melakukan penelitian sederhana dalam rangka meningkatkan kualitas profesional guru. dan dilakukan. jika memenuhi jumlah angka kredit kumulatif yang dipersyaratkan dan memenuhi 12 angka kredit dari unsur pengembangan profesi. masyarakat akademik. Hati. (3) pengembangan profesi. (2) proses belajar mengajar. toleran. dan masyarakat umum. 84 tahun 1993. dan lain-lain. dan (4) penunjang dan pengabdian masyarakat. Beberapa sikap yang harus dimiliki antara lain empati. tenggang rasa.

Pengertian PTK Penelitian merupakan salah satu sarana dari ilmu pengetahuan yang dilakukan untuk memahami gejala alam. mencari dan menganalisis fakta-fakta mengenai suatu masalah. guru dapat memilih salah satu jenis kegiatan penelitian yang diminati atau dirasa memiliki cukup kemapuan untuk mengerjakannya. setiap penelitian memiliki hubungan erat dengan masalah-masalah dalam kehidupan seharihari. Untuk memenuhi jumlah angka kredit yang dipersyaratkan guru dapat memilih salah satu atau beberapa kegiatan diantara kegitan-kegiatan di atas. Jadi. Hakikat Penelitian Tindakan Kelas 1. Salah satu jenis penelitian yang dalam beberapa tahun terakhir ini banyak diminati dan dilakukan oleh para ahli dan praktisi adalah penelitian tindakan. (5) Mengikuti kegiatan pengembangan penyempurnaan kurikulum. (4) Menghasilkan karya seni. Dalam kaitannya dengan karya tulis ilmiah. dkk. 1990). dan penilaian. Jawaban yang diperoleh adalah kebenaran obyektif tentang fakta-fakta atau prinsip-prinsip mengenai suatu masalah. terdapat 7 jenis kegiatan karya ilmiah yang dapat dipilih oleh guru. (6) Menghasilkan diktat. dan pendidikan. yaitu: (1) Karya tulis ilmiah hasil penelitian. pengembangan. (2) Karya tulis tinjauan ilmiah gagasan sendiri. Karena itu. Usaha dilakukan dengan menerapkan pendekatan atau metode ilmiah (Ary. (7) Karya tulis terjemahan. (3) Karya ilmiah populer. Penelitian diartikan pula sebagai usaha untuk mengumpulkan. (5) Menghasilkan buku pelajaran atau modul. Secara umum penelitian adalah serangkaian usaha sistematis dalam rangka menjawab suatu permasalahan (Tuckman. C. Dalam hal menulis karya ilmiah misalnya. penelitian pada dasarnya adalah serangkaian kegiatan ilmiah. sosial-psikologis. (4) Karya ilmiah sebagai pemasaran dalam seminar. 1978).26 (3) Menciptakan alat peraga. Penelitian .

Penelitian tindakan adalah sebuah pendekatan sistematis yang memungkinkan seseorang menemukan secara efektif pemecahan masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari (Stringer. Sesuai dengan namaya. praktis. yang dalam penelitian ini berbentuk rangkaian siklus kegiatan. serta dilanjutkan dengan penyelenggaraan projek PGSM tahun 1996. Sedangkan kelas adalah sekelompok peserta didik yang sedang belajar di kelas.27 tindakan merupakan bagian dari penelitian partisipatoris. di lab. tindakan. penerapan penelitian tindakan mulai dilakukan di Indonesia menjelang pertengahan tahun 1990-an berkenaan dengan proyek peningkatan mutu pendidikan dan pengajaran di sekolah dasar dan projek PGSD. workshop. Penelitian tindakan memfokuskan kajiannya pada masalahmasalah khusus dalam lingkungan tertentu. Tindakan dilakukan oleh guru sendiri. lapangan olahraga. lembaga kesehatan masyarakat. Penelitian tindakan adalah suatu kajian tentang situasi sosial dengan tujuan untuk memperbaiki mutu tindakan dalam situasi sosial tertentu (john Elliot dalam Hopkins. 1993). ada tiga istilah yang perlu dipahami yaitu penelitian. dan lain-lain. dan lain-lain. lembaga-lembaga swasta dan pemerintah. 2007). Penelitian adalah kegiatan ilmiah untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu dari suatu hal yang menarik minat dan penting untuk peneliti. dan kelas. Tindakan berarti suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Penelitian tindakan dapat dilakukan di organisasi masyarakat. dan emansipatoris (Zuber-Skerritt. dibedakan menjadi penelitian tindakan yang bersifat khusus. Jadi penelitian tindakan kelas adalah sebuah kajian sistematik tentang upaya meningkatkan mutu praktik pendidikan oleh sekelompok masyarakat melalui tindakan praktis yang mereka lakukan dan melalui refleksi atas hasil tindakan tersebut (Ebbutt dalam Hopkins. sekolahsekolah. Penelian tindakan yang dilakukan di sekolah biasanya disebut penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas yang dalam bahasa inggris disebut classroom action research (CAR) pertama kali dikembangkan oleh Kurt Lewin seorang ahli psikologi sosial Amerika pada tahun 1946. Pada skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya . sebab guru adalah sosok yang lebih mengetahui situasi dan karakteristik kelas dibandingkan pihak lain. 1996). Di bidang pendidikan. Penelitian tindakan dibidang pendidikan dapat dilakukan pada skala makro dan mikro. 1993).

sedangkan efisiensi pendidikan akan terjadi jika ada usaha terintegrasi antarpelaku pendidikan. artinya dapat dilakukan antar guru sejawat atau antara guru dan dosen Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). antar lembga yang bertanggung jawab. 2. Tujuan dan Manfaat PTK Sepeti telah dijelaskan tujuan pokok PTK diarahkan terhadap upaya perbaikan atau peningkatan mutu praktik pembelajaran di kelas. PTK bertujuan pula untuk meningkatkan relevansi dan efisiensi pendidikan (Suwandi. 2004). Melalui pencapaian tujuan ini diharapkan guru dapat memperbaiki layanan kependidikan yang harus dilakukan dalam konteks pembelajaran di kelas dan peningkatan kualitas program sekolah secara keseluruhan. Peningkatan relevansi pendidikan diwujudkan melalui peningkatan mutu proses pembelajaran. antara lain: a. mutu hasil. meneliti bersama. dan memperbaiki sistem yang ada. . atau bahkan antara pelaku pendidikan dan lembaga pendidikan dengan lembaga atau pihak lain. seperti dijelaskan oleh Aqib (2007) bahwa tujuan PTK adalah memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara berkesinambungan. dan belajar bersama dari apa yang dikerjakan. Guru dapat melakukan inovasi pembelajaran. Selain itu. mutu kinerja. Pelaksanaan PTK bersifat kolaboratif. Tujuan ini melekat pada diri guru dalam penunaian misi profesional kependidikannya. Manfaat yang bisa diperoleh jika guru dapat melaksanakan PTK dan berhasil mencapai tujuan-tujuan di atas. b. antarpelaku pendidikan dengan ahli atau pakar. membuat rencana bersama. Semua pihak bekerja bersama baik sebagai peneliti maupun praktisi yang berusaha bersama untuk meningkatkan mutu proses. Secara umum PTK ditujukan untuk melakukan perbaikan atau meningkatkan mutu praktek pembelajaran di kelas. Selama proses berlangsung semuanya bersatu dalam satu tim.28 suatu kegiatan belajar mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata pelajaran. Meningkatkan kemampuan reflektif guru untuk mampu memecahkan maslahmasalah pembelajaran yang muncul.

3. Melatih guru untuk lebih kreatif didalam mengembangkan kuruikulum ditingkat sekolah dan kelas. 3. PTK dalam beberapa hal tertentu berbeda dengan penelitian formal akademik lainnya. Namun begitu. 6. 5. Partisipasi guru secara aktif ditambah dengan kemampuan reflektifnya dalam upaya inovasi dan pengembangan kurikulum pada gilirannya akan bermuara pada tercapainya peningkatan kemampuan profesionalisme guru. yakni sebagai berikut: . Sekurang-kurangnya ada enam perbedaan yang bisa ditemukan antara PTK dengan penelitian formal akademik lainnya. Aspek Perbedaan Masalah Penelitian Peneliti utama Desain penelitian Analisis data Format laporan Manfaat penelitian PTK Dari guru (aktual) Guru Lentur atau felksibel Segera atau seketika Sesuai kebutuhan Jelas dan langsung Penelitian Lain Bukan dari guru Guru hanya sebagai pendamping / pembantu Formal dan kaku (Mungkin) ditunda Formal dan kaku Tidak jelas atau kurang jelas Sumber: Aqib. sementara secara teoritis dapat diungkapkan bahwa manfaat secara akademik dari PTK adalah membantu guru menghasilkan pengetahuan yang sahih dan relevan bagi kelasnya untuk memperbaiki pembelajaran dalam jangka pendek.29 c. Perbedaan PTK dengan Penelitian Formal Akademik Pada Umumnya Seperti halnya penelitian-penelitian yang lainnya. seperti disajikan pada tabel 1 di bawah ini: Tabel 1 Perbedaan antara Penelitian Tindakan Kelas dengan penelitian lain No 1. 2007 Sesuai dengan ke-enam aspek perbedaan di atas. d. Penelitian Tindakan Kelas. maka dapat disebutkan beberapa sifat dan karakteristik PTK. PTK dilakukan dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah. 4. 2. Keempat tujuan tersebut di atas bersifat praktis.

Jenis-Jenis PTK Pada umumnya ada empat jenis PTK. Ke-empatnya akan dijelaskan secara singkat sebagai berikut: a. dan mengumpulkan data. Sesuai dengan tujuannya. tawuran. selanjutnya memantau. tidak bisa ditunda seperti penelitian-penelitian lainnya. d. peneliti terlibat dalam proses perencanaan. atau perkelahian antar pelajar di suatu sekolah atau antar sekolah. Dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus. menganalisis data. Didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam pembelajaran. empiris. Karena menuntut pemecahan masalah dengan segera maka analisis data harus dilakukan sesegera mungkin. membuat kesimpulan dan interpretasi. c. konflik. partisipasi. b. d. dan eksperimental (Aqib. PTK Empiris Dikatakan PTK empiris jika peneliti berupaya untuk melaksanakan suatu tindakan dan mendokumentasikan semua yang dilakukan dan semua yang terjadi selama aksi berlangsung. 2007). 4. PTK Eksperimental . serta membuat laporan penelitian. karenanya desain penelitian dan format lapaoran lebih lentur atau fleksibel. maka jika tujuan ini berhasil dicapai. b. PTK Diagnostik Suatu penelitian dikatakan sebagai PTK diagnostik jika peneliti berupaya untuk mendiagnostik dan memasuki situasi yang terdapat di dalam latar penelitian. e. Pelaksanaannya bersifat kolaboratif dan guru menjadi peneliti utama. PTK Partisipasi PTK partisipasi adalah Penelitian yang ditandai keterlibatan langsung peneliti di dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian dalam bentuk laporan tertulis. Misalnya mendiagnostik situasi yang melatarbelakangi terjadinya perselisihan. yaitu memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktik pembelajaran. Jadi dalam PTK partisipasi. c. yaitu PTK diagnostik.30 a. mencatat. Proses penelitian empiris berkenaan dengan penyimpanan catatan dan pengumpulan pengalaman peneliti dalam pekerjaan sehari-hari. manfaatnya akan diperoleh langsung dan lebih jelas.

5. (3) observasi (observing).Melalui PTK jenis eksperimen diharapkan peneliti dapat menemukan cara yang paling efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. tiga diantaranya yang paling sering digunakan antara Model Kurt Lewin. Model John elliott. Menurutnya. yakni: (1) perencanaan (planning). 1992) menggambarkan penelitian tindakan sebagai serangkaian langkah yang membentuk spiral. Model-Model PTK Para ahli penelitian di bidang pendidikan telah mengembangkan berbagai model PTK. Ke-empat langkah tadi disajikan dalam gambar sebagai berikut: Perencanaan Observasi Tindakan Refleksi Gambar 1: Model Dasar PTK Kurt Lewin Perencanaan Perencanaan . Model Kurt Lewin dianggap sebagai model yang paling tua dan mendasari munculnya model-model yang lain.31 Disebut PTK eksperiimental jika PTK dilakukan dengan maksud untuk menerapkan berbagai teknik atau strategi di dalam suatu kegiatan belajar mengajar secara efektif dan efisien. dan Model Dave Ebbutt. dan (4) refleksi (refleclting). Model Kurt Lewin Sebagai penggagas atau orang pertama yang mengembangkan penelitian tindakan. Kurt Lewin (McNiff. (2) aksi atau tindakan (acting). Ketiga model ini akan diuraikan secara singkat sebagai berikut: a. satiap siklus dalam penelitian tindakan memiliki empat langkah.

yaitu (1) Identifikasi permasalahan awal yang mendorong dilaksanakannya penelitian tindakan. Model ini terdiri atas tiga siklus. pelalajarilah dengan seksama gambar 3 di bawah ini: . Demikian juga berikutnya. Berdasarkan hasil evaluasi pada siklus pertama tersebut. b. (6) Melakukan evaluasi akhir untuk mengetahui dan menjelaskan kesulitan atau kekurangan yang dihadapi dan melihat hasil akhir keseluruhan proses. setiap siklus bisa memiliki tiga sampai 5 tindakan. dan setiap tindakan mungkin bisa memiliki beberapa langkah yang terealisasi dalam bentuk kegiatan belajar mengajar. Langkah-langkah PTK Model John Elliott lebih detil daripada Model Kurt Lewin. jika siklus kedua selesai. (5) Melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan tindakan yang dilakukan dan dampak yang dihasilkannya. (3) Menyusun rencana umum pemecahan masalah yang meliputi langkah-langkah tertentu. dan jika setelah satu siklus masalah belum terselesaikan maka dilanjutkan ke siklus kedua dan seterusnya. rangkaian langkah membentuk satu siklus. Untuk memperjelas bagaimana langkah-langkah tindakan yang dilakukan pada setiap siklus. Biasanya dilakukan melalui langkah survei. (2) Memperdalam masalah tersebut dengan mempertajan dan mencari penyebab masalah itu.32 Observasi Tindakan Observasi Tindakan Refleksi Refleksi Gambar 2: Model Dasar PTK Kurt Lewin yang Dikembangka Sesuai dengan gambar 1 dan 2 di atas. maka bisa dilanjutkan kesiklus ketiga sampai dianggap bahwa masalah telah terselesaikan. Model John Elliott Pengembangan Model John Elliott (McNiff. Berapa banyak siklus yang dibutuhkan tergantung kepada apakah masalah penelitian yang dihadapi sudah dapat dipecahkan atau sebaliknya. peneliti melanjutkan ke siklus kedua dengan langkah-langkah yang relatif sama sebagaimana diuraikan di atas. Siklus pertama terdiri atas enam kegiatan. 1992) didasarkan pada pemikiran Model Kurt Lewin. (4) Melaksanakan langkah-langkah tindakan yang telah direncanakan.

33 SIKULUS 1 Identifikasi permasalahan awal Servey (Penemuan fakta dan analisis SIKLUS 2 SIKLUS 3 Rencana Umum Tindakan 1 Tindakan 2 Tindakan 3 Pengaruh dan implementasi monitor Survei (Menjelaskan kegagalan terhadap implementasi dan efek) Revisi ide umum Implementasi tindakan Rencana yang diubah Tindakan 1 Tindakan 2 Tindakan 3 Pengaruh dan implementasi monitor Implementasi langkah selanjutnya Survei (Menjelaskan kegagalan terhadap implementasi dan efek) Revisi ide umum Rencana yang diubah Tindakan 1 Tindakan 2 Tindakan 3 Pengaruh dan implementasi monitor Implemenetasi langkah selanjutnya .

PTK Model Dave Ebbutt ini digambarkan secara skematis sebagai berikut: Ide Umum Ide umum yang diubah Mengubah ide umum Survei Survei Keseluruhan yang sudah direvisi Rencana Keseluruhan Keseluruhan baru Keseluruhan yang sudah direvisi Tindakan 2. Dengan begitu Ebbutt merasa kurang puas dengan model yang ada dan mengembangkan model PTK yang disusunnya sendiri.34 Gambar 3: Penelitian Tindakan Model John Elliott c. dsb . model-model yang ada bukan merupakan cara yang terbaik untuk menggambarkan proses aksi refleksi. dsb Monitoring dan survei atau Pilihan Tindakan 2. Menurutnya. dsb atau Tindakan 1 Tindakan 2. tetapi setelah dikaji lebih lanjut Ebbutt menemukan bahwa ada beberapa hal atau bagian yang belum sesuai. Model Dave Ebbutt Pada dasarnya Ebbutt sepakat dengan model-model PTK yang telah dikembangkan sebelumnya.

seorang peneiti terlebih dahulu harus menemukan dan menetapkan fokus masalah yang akan diteliti. Peneliti merasakan adanya masalah yang menuntut pemecahan segera yang berkenaan dengan proses pendidikan di sekolah atau pembelajaran di kelas. Merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan penelitian dengan kalimat yang sederhana dan jelas. dan melakukan refleksi. Hal ini penting sebab merupakan starting point untuk melakukan langkah berikutnya. sarana dan prasarana pendidikan. Sasaran PTK Sesuai dengan namanya. hasil pembelajaran. Ada tiga langkah penting dalam penetapan fokus masalah.35 Gambar 4: Penelitian Tindakan Model Ebbutt 6. Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas Penelitian tindakan kelas adalah sebuah pendekatan sistematis untuk melakukan penelitian yang memungkinkan peneliti melakukan tindakan atau langkah sistematis untuk memecahkan masalah-masalah khusus. Tujuh komponen pokok yang bisa dijadikan sebagai sasaran penelitian tindakan kelas adalah siswa. b. yaitu menetapkan fokus masalah penelitian. meteri pelajaran. c. Tahap Menetapkan Fokus Masalah Sebelum membuat rencana tindakan. melaksanakan tindakan dan observasi interpretasi. Oleh karena itu. merencanakan tindakan. sasaran penelitian tindakan kelas dapat ditujukan pada komponen-komponen tersebut. dan pengelolaan D. 1. yaitu: a. sasaran PTK secara umum terkait dengan pembelajaran dan pendidikan disekolah. Para ahli telah berusaha mengembangkan sejumlah prosedur atau langkah-langkah untuk melaksanakan PTK. lingkungan. Sekolah memiliki sejumlah komponen pendukung baik piranti lunak maupun keras. guru. Melakukan analisis masalah sampai ditemukan secara rinci sub-sub masaslah yang perlu dipecahkan. . salah satunya antara lain Kemmis dan Taggart (1999) yang telah mengembangkan 4 tahap dalam pelaksanaan PTK.

Menyusun dan mengembangkan instrumen untuk merekam dan menganalisa data mengenai proses dan hsil tindakan. Semua rencana tindakan yang telah ditetapkan dilaksanakan dalam situasi yang sebenarnya. interpretasi. Identifikasi Masalah Perencanaan Refleksi Aksi Observasi Perencanaan Ulang Refleksi Observasi Aksi . d. siapa yang akan menggunakan dan kapan akan digunakan c. yaitu: a. dan refleksi. dan bagaimana melaksanakannya. jadi pada saat yang bersamaan dilakukan pula tahap observasi. Melaksanakan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanaan rancangan 3. Sebenaranya tahpa pelaksanaan mencakup pula tahap-tahap yang lain. Jika dipergunakan instrumen pengamatan tertentu. b. Menyusun skenario pembelajaran.36 2. perlu dikemukakan bagaimana pembuatannya. Tahap Merencanakan Tindakan Ada empat langkah penting yang harus dilaksanakan dalam tahap perencanaan tindakan. Gambar 5 di bawah ini menyajikan proses pelaksanaan PTK. kapan. Tahap Melaksanakan Tindakan Sebelum melaksanakan tindakan terlebih dahulu perlu ditentukan apa. dimana. Mempersiapkan saran dan prasarana pendukung yang diperlukan.

Penyusunan proposal PTK Proposal berarti kerangka acuan. Observasi Interpretasi Tahap observasi adalah tahap perekaman data yang meliputi proses dan hasil dari pelaksanaan kegiatan. rencana. yaitu . pada prinsipnya menggambarkan proses keseluruhan dari keempat tahapan tadi. demikian seterusnya sampai dianggap masalah selesai terpecahkan. atau usulan yang dibuat dalam bentuk rancangan kerja secara tertulis dan bersifat rinci. Proses analisis data dapat dilakukan dengan menggunakan teknik analisis kualitatif.37 Gambar 5: Proses Pelaksanaan PTK 4. mungkin diperlukan siklus berikutnya. Tahap ini ditujukan untuk mengumpulkan bukti hasil tindakan agar dapat dievaluasi dan dijadikan landasan dalam melakukan refleksi. 5. Tahap refleksi adalah tahap analisis data mengenai proses. Gambar 5 di atas. Jika siklus pertama selesai dan dianggap masih dianggap masalah belum selesai. E. Secara umum proprosal penelitian atau Term of Reference berisi uraian secara garis besar mengenai berbagai hal yang terkait dengan penelitian mulai dari tahap persiapan. Proposal penelitian berfungsi sebagai pedoman atau garis-garis besar rencana kerja yang akan dilaksanakan dalam suatu proyek penelitian. proposal penelitian harus memenuhi kriteria tertentu. Penyusunan Proposal dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas 1. Sebagai sebuah pedoman atau acuan. masalah. Ali (1990) mengungkapkan 4 kriteria proposal penelitian. Melakukan Refleksi. pelaksanaan. dan hambatan yang ditemukan dan dilanjutkan dengan refleksi terhadap dampak pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan. sampai pelaporan.

tahap penyusunan pendahluan meliputi langkahlangkah penyusunan latar belakang masalah. rancangan evaluasi atau refleksi. Keempat langkah tersebut diuraikan secara ringkas sebagai berikut: a. menentukan teknik observasi. penyusunan proposal PTK menempuh empat langkah-langkah sistemais. membuat jadwal pelaksanaan. serta usaha-usaha yang mungkin dilakukan untuk memperoleh hasil secara efektif dan efisien. singkat dan jelas maksudnya. tujuan penelitian. Judul Penelitian Judul penelitian harus dirumuskan dalam kalimat sederhana. menyusun kajian pustaka. dan menentukan meode penelitian. subjek penelitian. Pendahuluan Seperti halnya jenis penelitian yang lain. Kerangka rancangan yang biasanya digunakan meliputi langkah-langkah menentukan rancangan PTK. . sumber data. menentukan bentuk tindakan yang akan dilakukan. (2) Disusun secara logis dan sitematis sehingga memberi kemungkinan kemudahan bagi peneliti dalam pelaksanaan dan bagi pihak lain dalam menilai kelayakan penelitian. (3) Sedapat mungkin membatasi hal yang berhubungan dengan data. c. Kajian Pustaka Kajian pustaka dalam PTK berisi dua hal pokok. menyusun pendahuluan. yaitu merumuskan judul penelitian. rumusan masalah. memilih pokok bahasan acuan. Metode Penelitian Rencana metode penelitian yang akan digunakan harus menggambarkan tahapan-tahapan cara dalam melaksanakan penelitian. dan menentukan pembiayaan.38 (1) Bersikap komprehensif dengan deskripsi rinci tentang berbagai aspek yang terkait dengan pendirian tersebut. dan (2) uraian kontek PTK yang akan dilaksanakan d. sarana maupun prasarana. Dalam rumusan tersebut tergambarkan tindakan yang akan dilakukan dan dimana penelitian tersebut akan dilaksanakan. b. (4) Memperkirakan sejauh mana hasil yang akan diperoleh. hipotesis tindakan. dan manfaat penelitian. yaitu (1) ulasan-ulasan teoritis berkenaan dengan kajian keilmuan konsep pembelajaran. Pada umumnya.

. metode penelitian. bahasa digunakan harus jelas dan mengikuti aturan tata bahasa yang baik dan benar. dan bagian lampiran (appended parts). halaman pengesahan. dan Kesehatan (sesuai mata pelajaran) : METODE PENELITIAN A. Bagian isi terdiri dari atas bab pendahuluan. Olahraga. tetapi ada beberapa kesepakatan format laporan yang bersifat universal. Latar Belakang Masalah B. Berikut ini disajikan sistematika laporan PTK secara rinci. Sedangkan bagian lampiran antara lain terdiri atas: formulir pengumpulan data. Kalimat-kalimat yang sederhana tetapi jelas akan lebih berguna daripada kalimat yang kompleks dan panjang tetapi tidak jelas maksudnya. Setting Lokasi dan Subjek Penelitian C. Pendidikan jasmani. kesimpulan dan saran. Tujua Penelitian D. kajian pustaka. yaitu: (1) bagian pembukaan (prefatory parts). Setiap laporan penelitian. beberapa hal yang perlu dipertimbangkan antara lain siapa yang akan membacanya (audience).39 2. Penelitian Tindakan Kelas B. Teori-Teori tentang Pembelajaran C. Objek Penelitian B. kata pengantar. Penyusunan Laporan PTK Ketika akan menulis laporan penelitian. (3) bagian isi (main body). Rumusan Masalah C. Manfaat Penelitian : KAJIAN PUSTAKA A. proses analisis data. Hipotesis Tindakan E. hasil dan pembahasan penelitian. Metode Analisis Data BAB II BAB III . HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I : PENDAHULUAN A. meskipun disusun berdasarkan masing-masing tujuan penelitan. dan daftar isi. Metode Pengumpulan Data D. dan referensi. Paling tidak ada tiga bagian penting dalam menulis laporan. abstrak. Bagian pembukaan terdiri dari atas: halaman judul.

Principles of Language Learning and Teaching. M.T. S. Zuber-Skerritt. Englewood Cliffs.. Jacobs. : The Falmer Press. Australia: Sage Publications. London: Routledge. D. 2000. Inc. Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Strategi Peningkatan. D. Stringer.. S. Aqib. 2004. Saran-Saran BAB V DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR PUSTAKA Ali. Action Research: Principles and Practice. 1978. McNiff. dan Razavieh. Action Research. Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan : KESIMPULAN DAN SARAN A. E. 2007.W. (Third Edition). Brown. Proses Analisis Data D. 1993. Introduction: New Direction in Action Research. Z.40 BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN A. dan Mc Taggart. .. Gambaran Setting Penelitian B. B. 1990. Bandung: YRama Widya Ary. Kesimpulan B. NJ: Prentice Hall Regents. The action Research Planner (Third Edition). 1996. Hopkins. Bandung: Angkasa. L. Philadelphia: Harcourt Brace College Publishers. Kemmis. Suwandi. New York: Harcourt Brace Jovanovich. Philadelphia: Open University Press. Jurnal Pendidikan.C. Strategi Penelitian Pendidikan. H. 1 (2). Introduction to Research in Education.D. (Second Edition). Tuckman. A Teacher’s Guide to Classroom Research. Geelong Australia: Deakin University Press. Profesionalisme Guru.C. 115-131. 1992. J. (Fourt Edition). R. 2007. 1992. 1999. Penjelasan Per Siklus C. Penelitian Tindakan Kelas. A. Conducting Educational Research. Washington D.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful