BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Semakin besarnya permintaan pasar dunia akan coklat, menjadikan tanaman penghasil coklat atau kakao semakin banyak. Imbasnya bagi daerah penghasil coklat adalah meningkatnya permintaan buah coklat. Coklat banyak dihasilkan di daerah beriklim tropis, salah satunya adalah daerah Asia Tenggara. Bagi Indonesia yang merupakan bagian dari kawasan Asia Tenggara tentu hal ini menjadikan peluang yang sangat baik untuk menghasilkan banyak buah kakao. Kakao (Theobromacacao) dihasilkan produk olahan yang merupakan tumbuhan berwujud Namun, pohon yang berasal dari Amerika Selatan. Dari biji tumbuhan ini dikenal sebagai cokelat. keberadaan hama Penggerek buah pada tanaman kakao ternyata sangat merugikan petani. Di beberapa daerah sentra tanaman kakao, biji yang dihasilkan rusak karena serangan PBK dapat mencapai 80%. Artinya dari 1 kg hasil panen hanya 2 ons kakao yang bisa diambil hasilnya. Bisa kita bayangkan bila produksi kita sekitar 100 ton, tentu saja yang bisa kita dapatkan hanya 20 ton saja. Oleh karena itu, kami memilih jurnal tentang Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella Snellen) dan Penanggulangannya. Selain karena bahasa yang mudah dimengerti, pengajian jurnal tersebut juga dapat membantu mengatasi masalah hama penggerek buah kakao. Karena di kawasan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat juga ditemukan perkebunan kakao sehingga, sekurang-kurangnya dapat membantu pelaku pertanian kakao untuk mengatasi masalah hama tersebut.

1

Kapan teknik pengelolaan hama penggerek buah coklat tersebut dapat diterapkan? 3. 1. Bagaimana modifikasi dari teknik pengelolaan hama penggerek buah coklat tersebut dapat diterapkan di daerah Jawa Barat? 2 .3 Rumusan Masalah Masalah yang akan dibahas pada makalah ini. Tujuan umum penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tujgas mata kuliah Pengendalian Hama Terpadu. Dimana teknik pengelolaan hama penggerek buah coklat tersebut diterapkan? 2. tercakup dalam rumusan masalah sebagai berikut: 1.2 Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan dari makalah ini terbagi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. Sedangkan yang menjadi tujuan khususnya adalah untuk memberikan informasi sejelas-jelasnya tentang tanaman kakao dan hama penggerek buahnya.1. Sejak kapan teknik pengelolaan hama penggerek buah coklat tersebut diterapkan? 4. Berapa biaya teknik pengelolaan hama penggerek buah coklat tersebut diterapkan? 6. Berapa lama teknik pengelolaan hama penggerek buah coklat tersebut dapat diterapkan? 5.

Bunga kakao. Morfologi Kakao merupakan tumbuhan tahunan (perennial) berbentuk pohon. Bunga sempurna berukuran kecil 3 . Meskipun demikian. dalam pembudidayaan tingginya dibuat tidak lebih dari 5 meter tetapi dengan tajuk menyamping yang meluas. Klasifikasi ilmiah Kingdom Divisio Kelas Ordo Famili Genus Spesies Nama binomial : Plantae :Magnoliophyta : Magnoliopsida : Malvales : Malvaceae (Sterculiaceae) : Theobroma : Theobroma cacao : Theobroma cacao L. di alam dapat mencapai ketinggian 10 meter.BAB II LANDASAN TEORI 2. Hal ini dilakukan untuk memperbanyak cabang produktif. sebagaimana anggota Sterculiaceae lainnya.1 Kakao (Theobroma cacao) Kakao (Theobromacacao) pohon yang berasal dari merupakan tumbuhan berwujud Amerika Selatan Dari biji tumbuhan ini dihasilkan produk olahan yang dikenal sebagai cokelat. tumbuh langsung dari batang (cauliflorous).

25 – 0. dan berbentuk bulat hingga memanjang.45 – 0. Dalam pengolahan pascapanen. Dalam istilah pertanian disebut pulp. Biji terangkai pada plasenta yang tumbuh dari pangkal buah. pupa 6-8 hari dan ngengat 3-7 hari. Kakao secara umum adalah tumbuhan menyerbuk silang dan memiliki sistem inkompatibilitas-sendiri (lihat penyerbukan). Walaupun demikian. Penyerbukan bunga dilakukan oleh serangga (terutama lalat kecil (midge) Forcipomyia. Warna buah berubah-ubah. 2.50 mm dan lebar 0. semut bersayap. Sewaktu muda berwarna hijau hingga ungu. Apabila masak kulit luar buah biasanya berwarna kuning. Bunga siap diserbuki dalam jangka waktu beberapa hari. pulp difermentasi selama tiga hari lalu biji dikeringkan di bawah sinar matahari. Panjang telur 0.(diameter maksimum 3cm). Buah terdiri dari 5 daun buah dan memiliki ruang dan di dalamnya terdapat biji. beberapa varietas kakao mampu melakukan penyerbukan sendiri dan menghasilkan jenis komoditi dengan nilai jual yang lebih tinggi. namun nampak terangkai karena sering sejumlah bunga muncul dari satu titik tunas. Ukuran buah jauh lebih besar dari bunganya. afid. dan beberapa lebah Trigona) yang biasanya terjadi pada malam hari1. di bagian dalam. tunggal. Endospermia biji mengandung lemak dengan kadar yang cukup tinggi.2 PBK (Penggerek Buah Kakao) Aspek biologi PBK Siklus hidup PBK terdiri atas stadium telur 3-7 hari.30 mm. Biji dilindungi oleh salut biji (aril) lunak berwarna putih. Telur berbentuk oval dan berwarna kuning oranye pada saat baru diletakkan. larva 15-18 hari. Buah tumbuh dari bunga yang diserbuki. Larva yang baru keluar dari telur 4 .

Rentang sayap depan 12 mm Warna dasar ngengat adalah coklat dengan warna putih berpola zig zag sepanjang sayap depan dan spot oranye pada ujung sayap. Dalam kondisi pertumbuhan penuh. larva berhenti makan dan keluar dari buah melalui lubang-lubang gerekan pada kulit buah. Ngengat memiliki panjang 7 mm dan lebar 2 m. Ngengat PBK berukuran kurang lebih 7 mm. 5 . Larva juga dapat melekat dan berkepompong pada bahan apa saja yang ada di kebun. Ngengat dapat bertahan hidup 3-7 hari untuk berpindah tempat. Siklus Hidup Imago Conopomorpha Cramerella Snellen Setelah mengakhiri perkembangannya di dalam buah. Pupa berwarna kecoklatan. Telur diletakkan pada permukaan buah yang berlekuk.berwarna putih transparan dengan panjang 1 mm. Semakin besar ukuran buah makin besar juga peluang diteluri. Larva yang baru keluar dari telur langsung masuk ke dalam buah dan tinggal didalam buah selama 12-14 hari bahkan sampai 18 hari sebelum keluar untuk berkepompong. panjang larva mencapai 12 mm dan berwarna hijau. cabang. batang. lembut sehingga jarak terbangnya tidak jauh. Setelah 7 hari kepompong pecah dan ngengat keluar. panjang 7-8 mm dan lebar 1 mm. dan serasah di atas tanah. selanjutnya larva melekat pada buah yang sama atau menjatuhkan diri dan melekat pada buah lainnya atau pada daun. kecil. kawin dan bertelur.

6 . pengambilan sampel. Larva memakan jaringan yang lunak seperti pulp. Setelah kawin.3 PHT (Pengendalian Hama Terpadu) PHT adalah suatu cara pendekatan atau cara berfikir tentang pengendalian OPT yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan yang terlanjutkan. penghasilan dan kesejahteraan petani meningkat. PHT adalah sistem pengendalian OPT yang merupakan bagian dari sistem pertanian berkelanjutan. ekologi dan biologi. dan pengurangan risiko pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida. Sasaran PHT adalah produktivitas pertanian yang mantap dan tinggi. Kerusakan plasenta dapat menyebabkan semua biji rusak dan tidak berkembang.00 sampai 07. ngengat akan meletakkan telur pada buah kakao. Jaringan buah yang telah rusak menimbulkan perubahan fisiologis pada kulit buah sehingga buah tampak hijau berbelang merah atau jingga. PHT memiliki 4 unsur diantaranya adalah pengendalian musuh alami. pengendalian mekanik dan fisik. Strategi PHT adalah memadukan secara kompatibel semua teknik atau metoda pengendalian OPT didasarkan pada asas ekologi dan ekonomi. 2. pengendalian hayati.00 dengan puncaknya pada pukul 04.Aktifitas ngengat untuk bertelur terjadi pada pukul 18. plasenta dan saluran makanan yang menuju biji. Kerusakan pada pulp mengakibatkan biji saling melekat dan juga melekat pada dinding buah.00. Pada siang hari ngengat bersembunyi pada tempat yang terlindung dari sinar matahari yaitu pada bagian bawah cabang bawah horizontal. PHT juga memiliki 6 komponen dasar. Selain itu. yaitu pengendalian dengan kultur teknis.00-05. ambang ekonomi. Kondisi cuaca yang sesuai bagi ngengat untuk bertelur adalah pada curah hujan 100-200 mm/bulan. populasi OPT dan kerusakan tanaman karena serangannya tetap berada pada aras yang secara ekonomis tidak merugikan.

hanya kadang-kadang mengeluarkan asam semut yang terasa pedas apabila mengenai mata. 2. Pengembangan sistem pengamatan dan monitoring hama 5. 3. peraturan menurut UU no 12 tentang Sistem Budidaya Tanaman. dan sebagainya. memanfaatkan mendorong pengendalian alami. 2. Ciri khas spesies ini apabila istirahat seolah-olah seperti duduk dengan bagian perut berada menempel pada bagian batang. pengendalian kimiawi.4 Musuh Alami Salah satu musuh alami pada PBK adalah semut hitam (Dolichoderus bituberculatu ). kelapa. keadaan ekosistem yang dikelola oleh masyarakat setempat. Mudah dimengerti dan mampu dilaksanakan oleh petani yang Fleksibel dalam menentang inovasi dan variasi yang sesuai dengan memiliki teknologi terbatas. Semut ini tidak menggigit. Pengembangan model deskriptif dan peramalan hama. Penetapan dan pengembangan Ambang Ekonomi 4. Merupakan perpaduan optimal berbagai teknologi pengendalian. 3 tahun 1986 tentang Penarikan Insektisida Tertentu Pada Tanaman Padi. Pengembangan Teknologi PHT : • Teknik yang digunakan merupakan teknologi lunak yang sedikit dampak negatif dan terhadap lingkungan kesejahteraan berfungsinya proses mendatangkan • • • • Lebih masyarakat dan timbulnya reaksi seleksi dari hama. Mengidentifikasi dan menganalisis status hama yang akan kita kendalikan. dan INPRES No. Mempelajari faktor dan saling ketergantungan di ekosistem.pengendalian varietas tahan hama. sirsak. Semut hitam dewasa pekerja berukuran 4-5 mm dan biasanya berasosiasi dengan 7 . Langkah-langkah pengembangan PHT : 1. Semut hitam banyak dijumpai di pohon rambutan.

Biasanya bila ada kelompok serangga lain atau jenis semut lain yang mendiami tempat yang sama. Serangga ini termasuk serangga yang hidup berkelompok sehingga mendominasi lingkungan perkembangbiakannya. Untuk mempercepat pemapanan semut hitam dan menjaga populasinya tetap tinggi. Hal yang perlu dicermati adalah bagaimana cara pemapanan semut hitam di kebun kakao. buah kakao yang diselimuti oleh semut hitam ternyata tidak disukai oleh hama tikus dan tupai. Hal ini berdampak menaikkan nilai jual biji kakao karena pengendalian hama tidak menggunakan pestisida. menghilangkan koloni jenis semut lain selain semut hitam. Disamping itu juga perlu dibuatkan sarang dari daun kelapa kering yang telah diikat atau daun kakao kering yang ditempatkan di dalam kantong plastik. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa semut hitam disamping dapat mengendalikan hama PBK. 8 . aman bagi lingkungan dan berkesinambungan. pasti akan diusir atau akan saling menyerang sehingga yang bertahan hanya satu jenis semut saja.kutu putih (Cataenococcus hispidus). perlu dilakukan introduksi kutu putih pada pertanaman kakao tempat pengembangbiakan agar terjamin makanannya dari embun madu yang dikeluarkan kutu putih. pembaharuan sarang setidaknya 6 bulan sekali. Setelah pemapanan semut hitam perlu dilakukan pemeliharaannya dengan tidak menyemprotkan insektisida pada lokasi pengembangan semut hitam. Semut Hitam merupakan cara pengendalian biologi yang memiliki prospek untuk dikembangkan dengan biaya murah. Oleh karena itu jenis semut ini kurang berbahaya bagi pekerja kebun. inokulasi kutu putih secara terus menerus pada pohon kakao.

waktu penggunaan serta biaya yang digunakan dan contoh pengaplikasiannya di Indonesia. 3. 2. ranting kering. Menanam varietas yang resisten 9 . tanamn tidak sehat. kulit buah maupun gulma yang berada di sekitar tanaman. 3. Panen lebih awal dengan interval 5-7 hari Panen secara serentak Penanaman dilakukan secara serentak agar persediaan makanan PBK menjadi lebih sedikit. teknologi yang digunakan dalam membasmi hama beserta cara penggunaannya.BAB III PEMBAHASAN Pada makalah ini kami membahas jurnal mengenai penanggulangan hama pada tanaman kakao serta menganalisis mengenai teknik/metode yang dilakukan untuk membasmi hama.1 Metode/teknik yg digunakan Metode yang digunakan dalam mengendalikan hama penggerek buah kakao pada jurnal tersebut adalah : 1. Sanitasi Sanitasi berarti member-sihkan areal kebun dari daun-daun kering. Keadaan ini akan menciptakan suatu kondisi yang tidak sesuai dengan lingkungan untuk perkembangbiakan hama PBK 4.

Akhirnya PBK itu akan mati tanpa bisa meninggalkan keturunan. 6. Dengan penyelubungan buah tersebut. Penyarungan buah kakao (penyarungan) terhadap buah berarti kakao. Dengan cara demikian. Adapun saat yang tepat untuk melakukan perampasan adalah setelah panen.Untuk memperoleh hasil yang optimal dipilih varites tahan hama sebagai pilihan pertama bibit tanaman 5. 10 . Rampasan Sistem rampasan berarti buah yang menggantung di pohon semua dirampas. PBK itu hanya terbang di sekitar tanaman tanpa bisa menemukan tempat untuk meletakkan telur. Konservasi musuh alami Konservasi musuh alami ini dapat dilakukan dengan cara mempertahankan persediaan makanan sehingga kelangsungan hidup musuh alami tersebut berkelanjutan. sedangkan ujung buah tetap terbuka. hama tidak bisa meletakkan telurnya pada kulit buah sehingga buah akan terhindar dari geretan larva. Setiap tahun sekali dapat dilakukan rampasan terhadap semua buah. Mengisolasi kebun kakao Pengisolasian ini dilakukan untuk meminimalisir akan datangnya serangan PBK dari lahan pertanian yang berdekatan di sekitar lahan perkebunan tanaman kakao. 7. memberikan selubung dapat Kondomisasi perlindungan Selubungnya menggunakan kantong plastik yang ujung bagian atasnya diikatkan pada tangkai buah. hal ini dapat mengurangi penggunaan pestisida. 8.

hal ini dikarenakan jenis hama ini aktif pada malam hari (nokturrnal).06 % 0. 2.1% (Sulistyowati et al.5 EC). a. Pengendalian kultur teknis Pengendalian hayati 11 .3 Teknologi yg digunakan Teknologi yang digunakan dalam pengendalian hama penggerek buah kakao meliputi : 1. betasiflutrin (Buldok 25 EC).9. Aplikasi insektisida Aplikasi insektisida kimia hanya dilakukan jika persentase serangan PBK dengan kategori serangan berat sudah mencapai 40%. sihalotrin (Matador 25 EC). deltametrin (Decis 2. 3. alfa sipermetrin (Bestox 50 EC). Konsentrasi formulasi yang digunakan sesuai anjuran. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada saat buah kakao sebagian besar berukuran panjang antara 8-10 cm. 1995b) dengan menggunakan alat semprot knapsack sprayer. Jenis insektisida yang dianjurkan adalah dari golongan sintetik piretroid. volume semprot 250 ml/pohon atau 250 l per hektar.l. Penyemprotan insektisida ini dilakukan dengan cara sistemik lokal yang diarahkan hanya pada buah-buah kakao dan cabang-cabang horizontal. esfenfalerat (Sumialpha 25 EC). Dan jika menggunakan insektisida penyemprotan dilakukan pada malam hari secara sistemik lokal.2 Waktu penggunaan Musim sangat kering atau sangat basah (musim hujan) dapat mengurangi populasi PBK. Penyemprotan insektisida yang efektif dilakukan pada malam hari. yaitu antara 0. 3.

penyarungan buah dimulai dengan menggunakan kantung plastik berukur-an panjang 35 cm. biji yang dihasilkan rusak karena serangan PBK dapat mencapai 80%. Artinya dari 1 kg hasil panen hanya 2 ons kakao yang bisa diambil hasilnya. murah. maka buah-buah yang ukurannya lebih panjang dari 8 cm dan sulit dijangkau untuk disarungi. Keadaan demikian juga dialami di Sulawesi Tengah. Salah satu ujungnya diikat dengan tali atau kawat pada tangkai buah. dan lebar atau diameter 17 cm (tebal plastik 0. Penyelubungan dilakukan setiap kali terdapat buah buah-buah yang berukuran 8-10 cm.4 Biaya Pengendalian fisik dan mekanis Pengendalian varietas tahan hama Pengendalian kimiawi Di beberapa daerah sentra tanaman kakao. Hasil survei Pusat Pengembangan Bersama Kakao yang dilakukan di Sulsel menunjukkan bahwa sekitar 100. 5. Bisa kita bayangkan bila produksi kita sekitar 100 ton. Hal ini menunjukkan bahwa serangan hama PBK benar-benar sangat merugikan dan perlu segera diambil tindakan. sebaiknya segera dimusnahkan.3. Dengan penyarungan buah kakao muda dengan menggunakan plastik dan pengendalian musuh alami merupakan pengendalian hama PBK yang efektif. Sebuah kerugian yang sangat besar.03 mm) yang kedua ujungnya terbuka. Untuk pengendalian musuh alami 12 . Untuk mencegah terjadinya pembiakan hama PBK. mudah dan aman bagi lingkungan adalah Ketika buah-buah di pertanam-an mulai mencapai ukuran panjang 8-10 cm (telah melampau periode layu pentil atau cherelle wilt). 4.000 ha daerah sentra produksi kakao mengalami serangan PBK yang serius. 3. tentu saja yang bisa kita dapatkan hanya 20 ton saja.

5 Negara yg menggunakan 3. 13 . karena populasi akan berkurang pada musim yang sangat kering atau sangat basah.hanya cukup dengan menjaga sumber makanannya yaitu dengan mempertahankan bunga-bunga tumbuhan pengahasil nektar.6 Pengaplikasian di daerah lain : Indonesia : Cipatat-Bandung Di daerah Cipatat panen coklat atau kakao musim panen diadakan dari bulan Januari sampai bulan Juli. Sedangkan usaha penanggulangan hama dilakukan dengan pemerliharaan tanaman secara intensif dan perlakuan preventif juga pengawasan dini. Akan tetapi karena daerah Jawa Barat merupakan daerah yang bercurah hujan tinggi. Jadi diperlukan adanya modifikasi teknologi pengelolaan hama dari daerah yang memiliki curah hujan yang rendah ke daerah yang curah hujannya tinggi. Selain itu para petani kakao di Cipatat belum sepenuhnya memahami penerapan Pengelolaan Hama Terpadu. Para petani tersebut pernah menggunakan salah satu teknik pengendalian yang di lakukan di daerah Sulawesi Tengah yaitu dengan cara kondomisasi. dengan cara pengambilan dirotasi seminggu tiga kali. sekitar 1500-2000 sedangkan daerah Sulawesi tengah merupakan daerah yang bercurah hujan rendah sekitar 5001000. Hal ini kemungkinan terjadi karena curah hujan yang berbeda. Selain itu menurut kami metode yang digunakan oleh para petani kakao di Sulawesi Tengah dapat di lakukan di perkebunan kakao di cipatat. Akan tetapi teknik tersebut tidak memberikan hasil yang memuaskan. melainkan kualitas hasil panen buah kakao menurun. Dalam pengendalian hama kakao (PBK) para petani kakao di Cipatat masih menggunakan pestisida insektisida jenis pbk dan klenset. 3.

plasenta dan saluran makanan yang menuju biji. Timbulnya ras biologi yang hidup pada tanaman kakao ini di asumsikan hanya sekali dalam 3 abad yang terjadi di Philipina. Kerusakan yang ditimbulkan oleh larva PBK yang memakan jaringan lunak seperti pulp. Kerusakan pada pulp mengakibatkan biji saling melekat 14 . Kesimpulan Populasi PBK yang hidup pada buah kakao merupakan ras biologi setelah memisah dari populasi asalnya yang hidup pada buah rambutan.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A.

15 . Konservasi musuh alami 9. Cara lainnya adalah penanaman tanaman kakao dan inang lainnya tidak boleh berdekatan. Menanam tanaman kakao dan tanaman inang lainnya dengan perhitungan. karena ngengat PBK tidak dapat terbang jauh. Rampasan 7. Penyarungan buah kakao 8. Panen secara serentak 3. agar dapat diprediksi panen dapat dilakukan secara bersamaan dengan demikian. Menghindari pestisida 5. Panen lebih awal dengan interval 5-7 hari 2. PBK (penggerek buah kakao) dapat ditanggulangi dengan menggunakan metode sebagai berikut: 1. Tidak semua teknik Pengelolaan Hama Terpadu di Sulawesi Tengah dapat langsung diterapkan di daerah Cipatat. B. siklus hidup larva dapat terputus karena tidak ada buah yang dapat diteluri.dan juga melekat pada dinding buah. Kerusakan plasenta dapat menyebabkan semua biji rusak dan tidak berkembang. Sanitasi 4. Saran Modifikasi teknik pengelolaan hama penggerek buah coklat: 1. melainkan harus mengalami modifikasi teknik Pengelolaan Hama tersebut. Menanam varietas yang resisten 6. 2. Mengisolasi kebun kakao 10. Aplikasi insektisida Metode tersebut cukup baik dilakukan karena mudah dilakukan dan biaya yang digunakan terjangkau untuk kalangan petani.

Selain itu membakar serasah dapat memusnahkan pupa PBK. dengan mengatur cahaya pada puncak masa kawin ngengat. maka aktivitas kawin ngengat PBK dapat ditekan dan berimbas pada jumlah telur ngengat yang dihasilkan. Dengan bioteknologi. Karena pada siang hari. 9. yaitu dengan menyilangkan buah kecil sedikit dengan buah besar dan banyak. 4.00-05. 7. Sanitasi tanaman.3. Membakar serasah di sore hari. karena pada sore hari ngengat PBK melakukan kawin dan bertelur. 5. Buah yang berukuran kecil memiliki keunggulan tidak diserang hama sedangkan jumlahnya yang banyak tetap meningkatkan produksi tanamannya.00. 6. Dengan membakar serasah pada sore hari. ngengat sering bersembunyi di bawah cabang-cabang horizontal. Diharapkan yang diambil adalah tanaman dengan buah kecil namun banyak. dengan membersihkan cabang-cabang horizontal pohon di siang hari dari ngengat. ngengat yang merespon asap ini dapat dihalau dan periode atau waktu kawin dapat dipersingkat. agar siklus hidup PBK terhenti. 8. Pemberian insektisida sistemik lokal yaitu pada bagian buah. Pengaturan cahaya (karena ngengat tidak suka pada cahaya) pada puncak aktivitas kawin dan bertelur ngengat yaitu pukul 04. Pemberian insektisida non sistemik berupa racun kontak pada bagian bawah batang horizontal. Dengan cara 16 . Karena pada siang hari. karena bagian yang terserang adalah buah kakao. Buah kakao yang busuk dikumpulkan untuk kemudian dibenamkan di air atau bahkan dibakar. mengingat larva PBK dapat menjadi pupa pada media apa saja termasuk serasah. ngengat sering bersembunyi di bawah cabang-cabang horizontal sehingga kontak dengan cabang dapat meracuni hama.

go.pdf http://www.id/abstract/s3/2009_S3_Potensi%20Semut %20Dolichoderus%20bituberculatus%20%20Smith%20Sebagai %20Penyebar%20% http://erlanardianarismansyah.bmg.id/ikthprak0809.ac.sith.com/2010/02/23/cara-pembuatansarang-semut-untuk-pengendalian-hama-kakao-helopeltis/ 17 .itb.masuk yaitu racun lambung. Mengadakan penyuluhan mengenai Pengelolaan Hama Terpadu DAFTAR PUSTAKA http://iklim. Sehingga larva di dalam buah dapat mati. 10.wordpress.

http://www.misterialize.html 18 .cc/2010/05/jenis-jenis-semut.htm http://www.com/proteksi/semut-hitam-pengendalian-hayatihama-utama-tanaman-kakao-1271753864.sinartani.co.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful