P. 1
Islam Progresif

Islam Progresif

|Views: 270|Likes:
Published by shecutesib9835

More info:

Published by: shecutesib9835 on Sep 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2014

pdf

text

original

“Islam Progresif” dan Seks Bebas Posted on 19/01/2010 by elhakimi Oleh: Dr.

Adian Husaini* Di antara pegiat “Islam Progresif”, atau “Islam Liberal”, nama Sumanto Al Qurtuby memang sudah bukan asing lagi. Alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang ini terkenal dengan ide-ide liberalnya yang sangat berani. Di sebuah Jurnal yang terbit di Fakultas Syariah IAIN Semarang, Justisia, ia pernah mengusulkan agar sejumlah ayat Al-Quran diamandemen. Belakangan, kaum liberal di Indonesia, semakin terbuka melontarkan wacana perlunya proses ”Desakralisasi Al-Quran”. Meskipun sudah terbiasa membaca berbagai pendapat liberal dan progresif yang anehaneh, tetapi saya tetap terbelalak dan nyaris tak percaya, ada sebuah tulisan yang secara terbuka mendukung praktik seks bebas, asal dilakukan suka sama suka, tanpa paksaan. Tulisan Sumanto itu berjudul ”Agama, Seks, dan Moral”, yang dimuat dalam sebuah buku berjudul Jihad Melawan Ekstrimis Agama, Membangkitkan Islam Progresif (terbit pertama Oktober 2009). Kita perlu ”berterimakasih” kepada Sumanto yang secara jujur dan terbuka melontarkan ide liberal dan progresif, sehingga lebih mudah dipahami. Sebab, selama ini banyak yang mengemas ide ”Islam progresif” dan ”Islam liberal” dengan berbagai kemasan indah dan menawan, sehingga berhasil menyesatkan banyak orang. Untuk lebih jelas menyimak persepsi ”Islam Progresif” tentang seks bebas ini, ada baiknya kita kutip agak panjang artikel dari penulis yang dalam buku ini memperkenalkan dirinya sebagai kandidat doktor bidang antropologi politik dan agama di Boston University. Kutipan ini ada di halaman 182-184: ”Apa yang diwartakan oleh agama (Islam, Kristen dan lainnya) hanyalah satu sisi saja dari sekian banyak persepsi tentang seks itu atau katakanlah sex among others. Bahkan jika kita kaji lebih jauh, ajaran Kristen atau Islam yang begitu ”konservatif” terhadap tafsir teks sebetulnya hanyalah reaksi saja atas peradaban Yunani (Hellenisme) yang memandang seks secara wajar dan natural. Kita tahu peradaban Yunani telah merasuk ke wilayah Eropa (lewat Romawi) dan juga Timur Tengah di Abad Pertengahan yang kemudian menimbulkan sejumlah ketegangan kebudayaan. Oleh karena itu tidak selayaknya jika persepsi agama ini kemudian dijadikan sebagai parameter untuk menilai, mengevaluasi dan bahkan menghakimi pandangan di luar agama tentang seks. Apa yang kita saksikan dewasa ini adalah sebuah pemandangan keangkuhan oleh kaum beragama (dan lembaga agama) terhadap fenomena seksualitas yang vulgar sebagai haram, maksiat, tidak bermoral, dan seterusnya. Padahal moralitas atau halal-haram bukanlah sesuatu yang given dari Tuhan, melainkan hasil kesepakatan atau konsensus dari ”tangan-tangan gaib” (invisible hand, istilah Adam Smith) kekuasaan, baik kekuasaan politik maupun otoritas agama. Teks-teks keagamaan dalam banyak hal juga

merupakan hasil ”perselingkuhan” antara ulama/pendeta dengan pemimpin politik dalam rangka menciptakan stabilitas. Saya rasa Tuhan tidak mempunyai urusan dengan seksualitas. Jangankan masalah seksual, persoalan agama atau keyakinan saja yang sangat fundamental, Tuhan – seperti secara eksplisit tertuang dalam Alqur’an – telah membebaskan manusia untuk memilih: menjadi mukmin atau kafir. Maka, jika masalah keyakinan saja Tuhan tidak perduli, apalagi masalah seks? Jika kita mengandaikan Tuhan akan mengutuk sebuah praktik ”seks bebas” atau praktik seks yang tidak mengikuti aturan resmi seperti tercantum dalam diktum keagamaan, maka sesungguhnya kita tanpa sadar telah merendahkan martabat Tuhan itu sendiri. Jika agama masih mengurusi seksualitas dan alat kelamin, itu menunjukkan rendahnya kualitas agama itu. Demikian juga jika kita masih meributkan soal kelamin – seperti yang dilakukan MUI yang ngotot memperjuangkan UU Pornografi dan Pornoaksi – itu juga sebagai pertanda rendahnya kualitas keimanan kita, sekaligus rapuhnya fondasi spiritual kita. Sebaliknya, jika roh dan spiritualitas kita tangguh, maka apalah artinya segumpal daging bernama vagina dan penis itu. Apalah bedanya vagina dan penis itu dengan kuping, ketiak, hidung, tangan, dan organ tubuh yang lain. Agama semestinya ”mengakomodasi” bukan ”mengeksekusi” fakta keberagaman ekspresi seksualitas masyarakat. Ingatlah bahwa dosa bukan karena ”daging yang kotor”, tetapi lantaran otak dan ruh kita yang penuh noda. Paul Evdokimov dalam The Struggle with God telah menuturkan kata-kata yang indah dan menarik: ”Sin never comes from below; from the flesh, but from above, from the spirit. The first fall occurred in the world of angels pure spirit…” Bahkan lebih jauh, ide tentang dosa sebetulnya adalah hal-hal yang terkait dengan sosialkemanusiaan, bukan ritual-ketuhanan. Dalam konteks ini maka hubungan seks baru dikatakan “berdosa” jika dilakukan dengan pemaksaan dan menyakiti (baik fisik atau non-fisik) atas pasangan kita. Seks jenis inilah yang kemudian disebut “pemerkosaan”. Kata ini tidak hanya mengacu pada hubungan seks di luar rumah tangga, tetapi juga di dalam rumah tangga itu sendiri. Seseorang (baik laki-laki maupun perempuan) dikatakan “memperkosa” (baik dalam rumah tangga yang sudah diikat oleh akad-nikah maupun bukan) jika ia ketika melakukan perbuatan seks ada pihak yang tertekan, tertindas (karena mungkin diintimidasi) sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman. Inilah tafsir pemerkosaan. Dalam konteks ini pula saya menolak sejumlah teks keislaman (apapun bentuknya) yang berisi kutukan dan laknat Tuhan kepada perempuan/istri jika tidak mau melayani birahi seks suami. Sungguh teks demikian bukan hanya bias gender tetapi sangat tidak demokratis, dan karena itu berlawanan dengan spirit keislaman dan nilainilai universal Islam. Lalu bagaimana hukum hubungan seks yang dilakukan atas dasar suka sama suka, “demokratis”, tidak ada pihak yang “disubordinasi” dan “diintimidasi”? Atau bagaimana

hukum orang yang melakukan hubungan seks dengan pelacur (maaf kalau kata ini kurang sopan), dengan escort lady, call girl, dan sejenisnya? Atau hukum seorang perempuan, tante-tante, janda-janda, atau wanita kesepian yang menyewa seorang gigolo untuk melampiaskan nafsu seks? Jika seorang dosen atau penulis boleh “menjual” otaknya untuk mendapatkan honor, atau seorang dai atau pengkhotbah yang “menjual” mulut untuk mencari nafkah, atau penyanyi dangdut yang “menjual” pantat dan pinggul untuk mendapatkan uang, atau seorang penjahit atau pengrajin yang “menjual” tangan untuk menghidupi keluarga, apakah tidak boleh seorang laki-laki atau perempuan yang “menjual” alat kelaminnya untuk menghidupi anak-istri/suami mereka?

Ada sebuah kisah dalam sejarah keislaman yang layak kita jadikan bahan renungan: ada seorang pelacur kawakan yang sudah letih mencari pengampunan, kemudian menyusuri padang pasir yang tandus. Ia hanya berbekal sebotol air dan sepotong roti. Tapi di tengah perjalanan ia melihat seekor anjing yang sedang kelaparan dan kehausan. Karena perasaan iba pada anjing tadi, si pelacur kemudian memberikan air dan roti itu padanya. Berita ini sampai kepada Nabi Muhammad yang mulia. Dengan bijak beliau mengatakan bahwa si pelacur tadi kelak akan masuk surga! Kisah ini menunjukkan bahwa Islam lebih mementingkan rasa sosial-kemanusiaan ketimbang urusan perkelaminan…” (***) Demikianlah gagasan “Islam-progresif” dalam soal kebebasan seksual yang diungkapkan Sumanto. Memang, sekarang, istilah “Islam progresif” sedang digandrungi kalangan perguruan tinggi Islam. Pada Juli 2009, di UIN Jakarta diadakan Konferensi ‘Debating Progressive Islam: A Global Perspective’. Tentu banyak tafsir dan penjelasan tentang makna “Islam Progresif”. Salah satunya adalah versi Sumanto. Islam progresif biasanya dimaksudkan sebagai “Islam yang maju”, sesuai dengan asal kata dalam bahasa Latin “progredior”. Sebagaimana banyak pemikir yang mengaku progresif, mereka menempatkan Islam sebagai “evolving religion”, yakni agama yang selalu berkembang mengikuti zaman. Dalam perspektif ini, Islam juga dipandang sebagai agama budaya. Karena itulah, tidak mengherankan, jika mereka memandang tidak ada satu ajaran Islam yang bersifat tetap. Semua harus tunduk dengan realitas zaman. Agama ditundukkan oleh akal. Salah satu yang banyak dijadikan dasar pijakan adalah aspek “kemaslahatan” dan sifat Islam sebagai “rahmatan lil-alamin”. Dengan alasan inilah, berbagai kemunkaran dan kejahatan bisa disahkan. Tentang keabsahan praktik homoseksual, misalnya, ditulis dalam buku ini: “Agama, apalagi Islam, yang mengusung jargon “rahmatan lil alamin” — rahmat bagi sekalian alam ini– harus memberi ruang kepada umat gay, lesbi, atau waria untuk diposisikan secara equal dengan lainnya. Tuhan, saya yakin tidak hanya milik laki-laki

dan perempuan saja, tetapi juga “mereka” yang terpinggirkan di lorong-lorong sepi kebudayaan.” (hal. 176). Karena berpijak pada realitas dan sejarah sebagai penentu kebenaran — juga syahwat atau hawa nafsu – maka teks-teks wahyu, sunnah Rasulullah saw, dan tafsir wahyu yang otoritatif dikesampingkan. Cara berpikir seperti ini juga sangat paradoks. Dengan berdalih sikap kritis kepada tafsir Al-Quran dari para ulama yang otoritatif, banyak kaum yang mengaku liberal dan progresif pada akhirnya tidak mampu bersikap kritis sama sekali pada sejumlah ilmuwan Barat. Mereka sangat ta’dzim dalam mengutip pendapatpendapat ilmuwan non-Muslim. Ketika menyimpulkan bahwa dosa bukan karena ”daging yang kotor” tetapi lantaran otak dan ruh yang penuh noda, dikutiplah pendapat Paul Evdokimov dengan penuh hormat dan takjub, bahwa si Evdokimov “telah menuturkan kata-kata yang indah dan menarik.” Kita sudah sering membuktikan, sikap sok kritis yang diusung oleh kaum yang menamakan diri liberal dan progresif ini biasanya hanya kritis terdapat pendapat para ulama yang dianggapnya tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Dan Allah sudah mengingatkan dalam Al-Quran bahwa, jika seorang manusia sudah menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, maka akan tertutuplah hati, telinga dan matanya untuk menerima kebenaran. (QS 45:23). Orang bisa memiliki kepandaian yang tinggi, tetapi ilmunya tidak bermanfaat, bahkan bisa merusak. Karena itulah, untuk menjaga agar ilmu tidak merusak, para ulama selalu menekankan pentingnya masalah adab dalam urusan keilmuan. Dalam kitabnya yang berjudul Adabul ‘Alim wal-Muta’allim, pendiri NU, Kyai Haji Hasyim Asy’ari mengutip pendapat Ibn alMubarak yang menyatakan: “Nahnu iaa qalilin minal adabi ahwaja minnaa ilaa katsirin mina ’ilmi.” (Kami lebih membutuhkan adab, meskipun sedikit, daripada banyaknya ilmu pengetahuan). Demikian pendapat KH Hasyim Asy’ari. Orang yang beradab tahu meletakkan dirinya sendiri di hadapan Allah, Rasulullah saw, para ulama pewaris Nabi, dan juga tahu bagaimana menempatkan ilmu. Karena itulah, Al-Quran menekankan pentingnya ada klasifikasi sumber informasi di antara manusia. Jika sumber informasi berasal dari orang fasiq (orang jahat, seperti pelaku dosa besar), maka jangan dipercaya begitu saja ucapannya. Ada unsur akhlak yang harus dimasukkan dalam menilai kriteria sumber informasi yang patut dipercaya. (QS 49:6). Seorang yang tidak beradab (biadab) dalam keilmuan sudah tidak dapat lagi membedakan mana sumber ilmu yang shahih dan mana yang bathil. Soal zina, misalnya. Sebagai Muslim, tentu kita yakin benar bahwa zina itu tindakan haram dan biadab. Keyakinan itu berdasarkan kepada penjelasan yang sangat tegas dalam ayat-ayat Al-Quran, banyak hadits Rasulullah saw, pendapat para sahabat Nabi, dan para ulama Islam terkemuka. Dalam soal zina ini, kita lebih percaya kepada pendapat para ulama ketimbang pendapat Karl Marx, Paul Evdokimov, Bill Clinton, atau Ernest Hemingway. Sebagai manusia beradab kita bisa membedakan, mana sumber informasi yang layak dipakai dan mana yang tidak. Sebab, Allah sendiri membedakan jenis-jenis

manusia. Orang mukmin disebut “khairul barriyyah” (sebaik-baik makhluk) dan orang kafir disebut “syarrul barriyyah” (sejelek-jeleknya makhluk) (QS 98). Meskipun sering mengkampanyekan “kesetaraan semua pemeluk agama”, tetapi faktanya, kaum yang menamakan diri mereka sebagai pengikut “Islam liberal”, “Islam pluralis” atau “Islam progresif” juga tetap menggunakan identitas Islam. Tidak ada yang mau menyebut dirinya “kafir-liberal” atau “kafir-progresif”. Sebenarnya, jika kita menelaah pemikiran liberal, dukungan terhadap praktik seks bebas bukanlah hal yang aneh. Ini adalah akibat logis dari sebuah konsep dekonstruksi aqidah dan dekonstruksi kitab suci. Jika seorang sudah tidak percaya bahwa Allah adalah satusatunya Tuhan dan Nabi Muhammad saw adalah utusannya, kemudian dia pun tidak percaya kepada otoritas ulama-ulama Islam yang mu’tabarah – seperti Imam al-Syafii – maka yang dia jadikan sebagai standar pengukur kebenaran adalah akalnya sendiri atau hawa nafsunya sendiri. Kita paham, masyarakat Barat saat ini tidak memandang praktik seks bebas sebagai suatu kejahatan. Homoseksual juga dipandang sebagai hal yang normal. Sebaliknya, bagi mereka, praktik poligami dikutuk. Nilai-nilai masyarakat Barat yang sekular – tidak berpijak pada ajaran agama – inilah yang sejatinya dianut juga oleh kaum yang mengaku liberal atau progresif ini. Bagi mereka, seperti tergambar dalam pendapat Sumanto ini, urusan seks dipandang sekedar urusan syahwat biologis semata, sebagaimana layaknya praktik seksual para babi, kambing, monyet, ayam, dan sebagaimana. Seks dianggap seperti soal buang hajat besar atau kecil, kapan mereka mau, maka mereka akan salurkan begitu saja. Yang penting ada kerelaan; suka sama suka. Tapi, bagi kita yang Muslim, dan juga pemeluk agama lain, jelas soal seksual dipandang sebagai hal yang sakral. Karena itulah, agama-agama yang hidup di Indonesia, sangat menghormati lembaga perkawinan. Dalam pandangan Islam, jelas ada perbedaan nilai dan posisi antara penis dengan pipi, meskipun keduanya sama-sama daging. Bagi seorang Muslim, yang menjadikan “penis” dan “pipi” berbeda adalah nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam. Sebelum zaman Islam, banyak suku bangsa yang masih memandang sama kedudukan daging wanita dengan daging kambing, sehingga mereka menjadikan ritual korban dengan menyembelih wanita dan kemudian meminum darahnya. Seorang Muslim memandang penting perbedaan antara “daging manusia” dengan “daging ayam”. Daging ayam halal hukumnya untuk dimakan. Jenazah manusia harus dihormati. Jangankan dimakan dagingnya, jenazah manusia harus dihormati dan diperlakukan dengan baik. Jika kaum liberal melakukan dekonstruksi dalam aqidah dan nilai-nilai moral, maka akibatnya, pornografi atau seks bebas pun kemudian didukung. Sebab, dalam pikiran liberal, tidak ada aturan yang pasti, mana bagian tubuh yang boleh dibuka dan mana yang harus ditutup. Yang menjadi standar baik buruk adalah ”kepantasan umum”. Kalau memang bertelanjang atau beradegan porno sesuai dengan tuntutan skenario dan dilakukan ”pada tempatnya”, maka itu dianggap sebagai hal yang baik. Kepastian akan kebenaran dan nilai itulah yang membedakan antara Muslim dengan kaum liberal. Orang Muslim yakin dengan kebenaran imannya, dan yakin ada kepastian

dalam soal halal dan haram. Hukum tentang haramnya babi sudah jelas dan tetap haram sampai kiamat. Begitu juga dengan haramnya zina, dan haramnya perkawinan sesama jenis (homo dan lesbi). Tapi, dalam perspektif liberal dan progresif, seperti dipaparkan oleh buku ini, larangan agama terhadap perkawinan sesama jenis ini pun dianggapnya sudah tidak berlaku. Tentang perlunya legalisasi perkawinan sesama jenis, ditulis dalam buku ini: ”Dan harap diingat, konsep perkawinan dalam suatu ikatan ”sakral” bukan melulu untuk mereproduksi keturunan melainkan juga untuk mewujudkan keluarga sakinah (ketenteraman/kebahagiaan). Maka, dalam bingkai untuk mewujudkan keluarga sakinah ini seorang gay atau lesbian harus menikahi sesama jenis. Justru melapetaka yang terjadi jika kaum gay-lesbian dipaksa kawin dengan lain jenis. Untuk mewujudkan gagasan perkawinan sejenis ini, maka paling tidak ada dua hal yang harus ditempuh: pembongkaran di tingkat wacana keagamaan, yakni teks-teks skriptural (dalam konteks Islam: teks tafsir dan fiqih khususnya) yang masih terkesan diskriminatif dan kemudian pembongkaran di tingkat struktur normatif masyarakat yang masih bias dalam memandang pola relasi antar-manusia.” (halaman 175). Berulangkali kita menyerukan kepada kaum yang mengaku liberal, progresif dan sejenisnya, agar mengimbangi sikap kritis dengan adab. Ada adab kepada Al-Quran, adab kepada para Nabi, adab kepada ulama pewaris Nabi. Sayangnya, buku yang memuat pendapat yang merusak – seperti dukungan terhadap praktik seks bebas ini — justru dipuji-puji dan didukung oleh orang yang seharusnya justru bersikap kritis dan mendidik masyarakat dengan akhlak yang mulia. Di sampul buku bagian belakang, dicantumkan sejumlah pujian. Djohan Effendi, pendiri Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), menyebut buku ini: “sangat inspiratif untuk melakukan refleksi atas perjalanan umat Islam selama ini. Pendapatan dan sikap kritis yang ia lakukan merupakan sumbangan yang sangat berarti untuk mendorong pemikiran progresif di kalangan generasi baru umat Islam yang menginginkan kemajuan bersama dengan orang dan umat lain.” Di tengah upaya kita mendidik anak-anak kita dengan akhlak mulia dan menjauhkan mereka dari praktik pergaulan bebas, kita tentu patut berduka dengan sikap sebagian kalangan yang mengusung jargon “Islam progresif” tetapi justru memberikan dukungan terhadap praktik seks bebas semacam ini. Bagi kita, ini suatu ujian iman. Kita tidak bertanggung jawab atas amal mereka. Mudah-mudahan, dengan bimbingan dan lindungan Allah SWT, kita selamat dalam meniti kehidupan dan mengakhiri hidup kita dengan husnul khatimah. Amin. [Solo, 22 Muharram 1431 H/8 Januari 2010/www.hidayatullah.com] Share this: StumbleUpon Digg Reddit DIarsipkan di bawah: Syubuhat wa Rudud

« Intelijen Al-Qaeda Lebih Hebat dari CIA Ceramah di Tengah Hutan » 2 Tanggapan - tanggapan mas azam, di/pada 20/01/2010 pada 08:14 Dikatakan: r wah….Sumanto yg satu ini lebih berbahaya dan lebih sesat dari Sumanto sang Kanibal…. Orang seperti dia ini kalo ada dlm daulah Islam pasti sdh digantung,jd tdk bisa menyebar kemana2 kesesatannya. Inilah akibat tiadanya daulah Islam. Kalo ada daulah Islam, tentu pekerjaan pak Adian dkk akan lebih enteng, tinggal kasih penjelasan sekali ke ummat sdh beres, krn orang-nya sdh digantung. Kalo sprt skrg ini, hbs di-counter besok manuver lagi. Selamat berjuang pak Adian, saya selalu mendukung Anda dlm “berperang” melawan para liberalis la’natulloh. Balas Djoko Widodo, di/pada 30/05/2010 pada 08:43 Dikatakan: r Hadis tentang laknat Allah terhadap istri yang enggan melayani suami ditolak, dikatakan bias gender, tidak sesuai dengan nilai Islam. Namun di lain kesempatan hadis mengenai pelacur naik surga diterima tanpa kritis. Sungguh perilaku pelacuran akademik yang dilakukan Sumanto Kanibal ini. Menolak sebuah hadis karena tidak sesuai dengan nafsu, sementara menerima hadis lain karena sesuai dengan nafsu. Mas, ini sih bukan buku….apa yang ditulis si Sumanto tak lebih caci maki / pisuhan berbingkai kata manis nan akademis. Buat Dr.Adian, mudah2an Allah semakin memudahkan anda dalam beribadah dan membantu sesama muslim. Musuh, dan skala prioritasnya Posted on 25/11/2009 by elhakimi Bagian pertama Refleksi sejarah Bagian dari keanehan, gerakan-gerakan jihad sepakat soal daftar musuh, tapi beda pendapat tentang nomor urutnya. Siapa yang dibidik duluan, dan siapa yang ditunda kemudian. Kecuali belakangan ini, saat semua daftar musuh merapatkan barisan sehingga terkuak wajah aslinya yang semula kurang tampak nyata. Agar tak berpanjang kata, segera akan saya jelaskan dahulu siapa musuh-musuh kita melalui makar yang mereka laksanakan pada abad lalu. Setelah itu, kita menyusunnya dalam nomor urut untuk diketahui siapa yang akan kita garap duluan dan siapa yang kita tunda untuk beberapa waktu kemudian sesuai fase-fase yang kita rumuskan.

Sebelum saya masuk ke isi, saya merasa perlu untuk mengingatkan satu hal terlebih dahulu. Membaca sejarah. Ya, sekali lagi, membaca sejarah. Lebih khusus sejarah dinamika amal islami, khususnya pada abad lalu. Kilasan Sejarah Musuh Agar lebih singkat, saya membagi program musuh dalam dua fase besar. Demikian pula dalam menjelaskan karakteristik tiap fase, saya hanya akan menyebutkan poin-poin pentingnya meski tema ini menarik. Kita – orang Arab – suka kalimat singkat. Fase-fase tersebut adalah: Fase Pertama: Pasca runtuhnya Khilafah Turki Usmani dan era penjajahan yang berakhir dengan munculnya rejim boneka. Fase ini, sebagaimana pada rentang waktu lebih ke belakang, musuh menyiapkan berbagai krisis baik pemberontakan lokal, krisis ekonomi, maupun strategi pengucilan khilafah secara global. Musuh melakukan ini sebagai muqoddimah untuk runtuhnya khilafah Turki Usmani. 1- Eropa menyerang Turki dan meluaskan penjajahan sehingga tanah dunia Islam baik barat maupun timur dicaplok para penjajah Eropa tanpa ada hambatan yang berarti. Mereka mendapat harta karun tak ternilai harganya. Semantara para pemiliknya – umat Islam – tersesat sehingga tak menemukan arah perjalanan, Eropa membimbing tangan mereka, tapi justru makin terjerumus dalam kebingungan dan fatamorgana. 2- Perang dunia. Perang dunia terjadi karena Barat mengusai senjata, sehingga mereka leluasa menggunakannya untuk menjarah kekayaan dunia. Pertempuran terjadi antar sesama mereka, memperebutkan kekayaan umat Islam. Pemenang persaingan yang kemudian memegang kendali. Oleh karenanya, kendali dunia dipegang bergantian. Kadang oleh Inggris, kadang Perancis, Jerman, Italia, Rusia lalu Amerika. Terakhir akan kembali ke tangan umat Islam, bi-idznillah. 3- Pemecahan teritorial umat Islam dan ‘penanaman’ bangsa Israil. Realita yang disepakati, bahwa kekuatan dan kemerdekaan umat Islam dipengaruhi banyak unsur; modernitas yang dicapai, jumlah penduduk, luas teritorial, kekayaan sumber daya alam dan kekuatan militernya. Agenda utama musuh, melumpuhkan kekuatan ini. Mereka memecah umat dalam siklus berikut; mengerat dunia Islam menjadi negara-negara kecil, dengan penguasanya yang tak didukung rakyatnya sendiri, rakyat yang lemah ekonomi, potensi ekonomi ada tapi tak punya kekuatan melindunginya, kekuatan ada tapi tak punya sentimen agama, punya agama tapi tak ada pengikutnya, punya pengikut tapi tak punya tanah, punya tanah tapi tak ada rakyatnya, dan begitu seterusnya. Mereka mengerat umat Islam yang utuh menjadi kekuasaan-kekuasaan kecil yang dipegang para ‘budak’. Mereka memunculkan sentimen kesukuan dan kebangsaan. Mereka memunculkan sentimen Arab dengan meninggalkan sentimen keumatan. Lalu muncul sentimen Teluk meninggalkan sentimen Arab. Misalnya, mereka mendirikan Komite Kerjasama Negaranegara Teluk, dengan meninggalkan masyarakat Yaman yang jumlahnya tidak sedikit.

Sampai akhirnya mucul sekedar sentimen suku. Umat Islam bagai tersesat di lembah tanpa ujung. Gelap tanpa secercah cahaya. La haula wa la quwwata illa billah. Inilah atmosfer yang mendukung hadirnya Israel, bahkan mereka tumbuh dan makin kuat karenanya. Menarik, apa yang diungkapkan oleh semantara pengamat soal sebab ‘penanaman’ Israel di bumi Palestina. Israel ditanam di tengah komunitas Arab yang muslim. Kata mereka, dalam rangka memecah belah umat Islam, atau sebagai representasi Barat di kawasan Arab, atau analisa lain yang semuanya keluar dari akar persoalan yang sebenarnya. Hasil analisa semacam ini hanya akan melahirkan kesimpulan; dimungkinkan untuk hidup berdampingan dengan Israel. Tapi bagi yang memahami akar permasalahannya dengan benar, sejatinya permusuhan dengan Israel bersifat ideologis sehingga tak mungkin didamaikan. Mereka datang menginjakkan kaki di Palestina karena motif ideologis, bahwa tanah Palestina dijanjikan buat kaum Yahudi dan para pengikut Perjanjian Baru (Kristen). Tanah yang dijanjikan itu, menurut mereka, kini sedang dikangkangi oleh pihak yang tidak berhak; umat Islam. Maka tak ada kata damai dalam keyakinan mereka. Permusuhan ini ideologis, tak mungkin ada damai dan hidup berdampingan. Dengan memahami akar masalah ini, kita memiliki titik tolak perjalanan yang benar. Kita yakin, pertarungan ini tak akan keluar dari apa yang di-nubuwat-kan oleh Rasulullah saw bahwa kemenangan pada akhirnya akan berpihak kepada umat Islam. Persoalannya, apakah kita cukup memenuhi kualifikasi sebagai tentara Imam Mahdi atau sebagai prajurit dalam malhamah kubra (Amagedon)? 4- Penguasa Boneka. Para penjajah Barat sadar, mereka tak akan selamanya bisa bertahan di negeri jajahan. Oleh karenanya, mereka menyiapkan penguasa boneka yang akan menjamin kepentingan jangka panjang mereka sebagai penjajah. Dengan strategi ini, mereka ibarat membidik dua burung dengan sebutir batu. Potensi perlawanan rakyat terhadap penjajah akan padam karena secara lahir telah hengkang, tapi gantinya akan tersulut perlawanan terhadap penguasa boneka tersebut. Hasilnya, negara terbelah dalam dua kubu; pihak boneka melawan pihak rakyat yang memberontak. Perpecahan internal terpelihara, kelemahan tetap langgeng, dan penjajah menonton adegan ini dengan senyum puas. Kepentingan mereka tak terganggu, darah mereka aman, bahkan mereka bisa masuk seolah sebagai penengah yang netral. Ada dua pendekatan dalam memelihara penguasa boneka; Perancis dan Inggris. Pendekatan Perancis, mereka menyiapkan penguasa boneka dan menanam orang di belakang layar yang akan mengendalikannya. Penguasa boneka hanya sebagai pajangan. Perhatikan pendekatan ini di Maroko. Sementara pendekatan Inggris, mereka mengendalikan boneka melalui pendekatan hukum dan konstitusi yang sudah disiapkan sebelumnya sehingga sesuai dengan visi penjajah. Mereka tampak mengakomodasi hukum adat sepanjang tidak menginspirasi

permusuhan terhadap penjajah. Jika penguasa mencoba melawan penjajah, ia akan membentur tembok konstitusi sehingga ia justru akan tumbang sendiri. Selain dua model ini, ada lagi model Inggris dan Amerika. Pendekatan Inggris, kendali dilakukan dari dalam istana dan konstitusional. Sedangkan pendekatan Amerika, jika ada penguasa yang tidak loyal kepadanya, dikirim pasukan yang akan mengkudetanya dengan kasar sesuai dengan arogansinya sebagai penguasa tunggal dunia. Saksikan pendekatan ini di Amerika Selatan (Latin) dan berbagai wilayah lain. Menyadari fakta ini, Yahudi belakangan lebih suka membonceng Amerika disebabkan nafsu mereka lebih cepat tersalurkan dengan gaya cowboy Amerika. 5- Perang Dingin dan Jihad Afghan. Setelah tercapai keseimbangan kekuatan antara AS dengan US dengan masing-masing memiliki senjata nuklir, pertempuran bergeser menjadi perang ideologi antara keduanya. Pertempuran bersenjata hanya terjadi antara sekutu kedua belah pihak, bukan antara AS dan US secara langsung. Mereka masingmasing sibuk mengekspor ideologi kepada negara-negara tetangga. Afghanistan kemudian menjadi medan pertempuran dan rebutan pengaruh antara keduanya setelah US menggelar pasukan di sana. Tantangan ini dijawab oleh dua kubu sekaligus: Kubu pertama, hamba-hamba Allah yang dada mereka membuncah dengan iman kepada Allah dan pembelaan terhadap tanah milik umat Islam. Mereka mengukur harga diri hanya dengan keberhasilan menegakkan hukum Islam. Mereka berbondong-bondong turun gunung dalam rangka menghadang invasi US yang kala itu dikenal memiliki kekuatan darat terhebat di dunia. Mujahidin pelan-pelan mampu memberikan perlawanan dengan ijin Allah. AS cerdik melihat perkembangan situasi, dan memanfaatkannya sebagai momentum membalas kekalahan memalukan di Vietnam melawan blok Komunis yang jelas di belakangnya ada US. Di samping itu tentu saja dalam kalkulasi mereka, jika US dapat dihadang pergerakannya, setidaknya kepentingan mereka di Teluk bakal aman. Posisi strategis kubu pertama ini memicu lahirnya kubu kedua. Kubu kedua, koalisi Yahudi dan Kristen (Barat) yang dipimpin Ronald Reagan, presiden Amerika saat itu. Mereka mengeluarkan kebijakan agar semua sekutu muslimnya mengobarkan sentimen agama (Islam) di tengah rakyatnya dalam rangka menghadang pergerakan agresif US. Kebangkitan Islam mendapat momentum untuk tumbuh dipicu pembelaan terhadap Afghan dan tidak adanya gangguan dari koalisi Yahudi-Kristen. Mereka membiarkannya, bahkan dalam beberapa kasus mendukungnya, setidaknya dengan himbauan yang mereka keluarkan kepada para sekutu agar mengulurkan bantuan materi untuk ‘jihad Afghan’ (istilah yang sengaja mereka gunakan agar jihad tetap bercitra lokal Afghan, tidak menjadi tren global). Misi lain yang ingin dicapai koalisi adalah kalahnya Uni Sovyet oleh umat Islam, atau sebaliknya. Kalaupun tidak kalah salah satu, pasti keduanya mengalami kerugian yang

tak sedikit baik secara personal maupun materi. Setelah keduanya kelelahan dan lemah, Amerika mengeruk ghanimahnya. Tapi ternyata skenario tidak sepenuhnya sesuai harapan koalisi. Rupanya majahidin dari seluruh penjuru dunia Islam hadir membantu. US akhirnya tumbang. Mujahidin kemudian pulang ke daerah asalnya masing-masing dengan membawa oleh-oleh ideologi jihad. Tak bisa dibendung, tren jihad menjadi selera global di seluruh pelosok dunia. Mujahidin bukan pegawai negeri yang ditugaskan untuk jihad, tapi orang-orang swasta yang merdeka. Tak ada konstitusi yang mampu menghadang penyebaran gagasan jihad, karena memang mujahidin dikenal tak mau tunduk pada konstitusi pemerintah yang ada. Mereka bahkan tak terbatasi oleh garis teritorial negara, karena bagi mereka umat Islam tak memiliki batas wilayah yang pasti. Al-Qaeda kemudian muncul sebagai icon jihad global, juga Taliban. Jihad menjadi ruh perlawanan di Somalia, Bosnia, Cechnya dan belahan bumi lain. Bahkan gagasan jihad sudah pernah diterjemahkan secara nyata di tanah Amerika – New York dan Washington – yang bermakna tamparan keras di wajah koalisi Yahudi dan Kristen Barat dengan serangan Black September yang fenomenal. Tujuan Negara Islam (1) Posted on 22/12/2009 by elhakimi Diskursus negara Islam tak boleh dijadikan barang tabu bagi seorang muslim. Adalah aneh jika ia dengan bangga menjual istilah ekonomi Islam, hukum Islam, pendidikan Islam, sekolah Islam, rumah sakit Islam, masyarakat Islam, tapi saat sampai pada istilah negara, ia malu – atau lebih tepat takut dan minder – untuk menyematkan label Islam. Ia lalu gagap untuk menyebut negara Islam. Padahal sirah nabawiyah memberi bukti tak terbantahkan, bahwa Nabi saw mendirikan negara Islam. Saat itu Demokrasi belum lahir, komunis belum muncul, jahiliyah telah mati. Tak ada pilihan istilah lain untuk menyebut negara yang dibangun Nabi kecuali negara Islam. Hal ini untuk membantah pandangan mayoritas umat Islam yang tak berani menerjemahkan istilah darul Islam dengan negara Islam. Biasanya diperhalus dengan ungkapan: negeri yang tegak nilai-nilai Islam di dalamnya. Jika keengganan menyebut istilah negara Islam karena tak tahu, tugas kita memberi tahu melalui dakwah. Jika karena malu, harus dibimbing untuk bangga dengan Islam. Jika karena takut, harus dimotivasi bahwa setiap muslim pasti menghadapi ketakutanketakutan, tapi ketakutan itu tak boleh membuat kita mati kutu. Harus selalu bergerak untuk menghilangkan rasa takut ini. Negara Islam bukan tujuan, tapi sarana.

Negara Islam dipandang sebagai sarana bukan tujuan. Sarana untuk mencapai maslahatmaslahat yang tidak mungkin diraih seorang muslim secara individu. Hal ini disebabkan pengabdian kepada Allah ada yang bisa terlaksana secara individu, ada yang harus dilaksanakan bersama bahkan harus dalam sistem berupa negara. Tujuan itu bisa dirangkum dengan ungkapan: Tegaknya perintah Allah di muka bumi sesuai dengan standar yang ditetapkan Allah melalui syariat-Nya. Tujuan ini disimpulkan dari firman Allah berikut: ‫الذين إن مكناهم فى الرض أقاموا الصلة وأتوا الزكاة وأمروا بالمعروف ونهوا عن المنكر ول عاقبة المور‬ Artinya: Yaitu orang-orang yang jika Kami kuasakan mereka di muka bumi mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan yang makruf dan melarang dari yang munkar. Dan milik Allah kesudahan semua perkara. (QS Al-Hajj: 41) Ibnu Taimiyah berkata: Semua kepemimpinan dalam Islam tujuannya adalah menegakkan yang makruf dan melarang yang munkar[1]. Secara lengkap, tujuan negara Islam adalah: Pertama: Menegakkan Syari’at ( ‫) إقامة الدين‬ Maksudnya, menegakkan agama yang benar yaitu Islam. Tercapainya tujuan ini merupakan target paling utama negara Islam. Indikatornya, Islam tegak dan terlaksana sesuai dengan standar pelaksanaan yang dikehendaki Allah dengan ciri adanya kemurnian ketaatan, berseminya sunnah dan punahnya bid’ah. Semua misi kenabian mengusung beban tugas ini, terutama nabi-nabi yang mendapat gelar ulul azmi. Al-Qur’an memberi gambaran tugas ini dengan sebutan iqomatuddin. ‫شرع لكم من الدين ما وصي به نوحا والذى أوحينا إليك وما وصينا به إبراهيم وموسى وعيسى أن أقيمو الدين ول‬ ‫… تتفرقو فيه‬ Artinya: Allah menetapkan suatu syariat bagi kamu dari agama ini sebagaimana Allah mewasiatkannya kepada Nuh dan Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan sebagaimana Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu (sebuah perintah) tegakkanlah agama dan janganlah kamu semua berselisih di dalamnya… QS. 42/AsSyura: 13 Ada dua pekerjaan dalam iqomatuddin, yaitu: Menjaga dan memelihara agama Allah SWT telah berkenan menjaga syariat Islam dari perusakan oleh tangan-tangan kotor manusia, sebab syariat ini ditetapkan sebagai syariat yang berlaku sampai akhir zaman. Kita meyakini jaminan penjagaan ini meski ungkapan verbalnya hanya menjaga Al-Qur’an seperti yang Dia firmankan:

‫إن نحن نزلناالذكر وإنا له لحافظون‬ Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkan peringatan (Al-Qur’an) dan Kami benarbenar akan menjaganya… QS Al-Hijr: 9 Sebab dengan jaminan penjagaan terhadap Al-Qur’an, berarti akan selalu ada standar nilai bagi manusia yang kokoh. Secara tidak langsung, jaminan terhadap semua pernik syariat yang mengacu kepada Al-Qur’an. Sebagai wahyu terakhir dengan tanpa “tanggal kedaluarsa” mengharuskan Islam memiliki kitab pedoman yang orisinalitasnya terjaga, dan faktanya Allah telah melakukannya baik kaitannya dengan wahyu Al-Qur’an maupun wahyu As-Sunnah. Bukti dari jaminan Allah terhadap Sunnah dapat kita temukan dalam rangkaian sejarah umat Islam yang panjang. Allah mentaqdirkan lahirnya para ulama hadits yang bekerja keras meneliti keabsahan suatu periwayatan tatkala muncul upaya pemalsuan hadits. Hasilnya, kita bisa nyaman mendapatkan kepastian sahihnya suatu hadits hanya dengan membuka kitab Shohih Bukhori, Shohih Muslim dan kitab-kitab hadits lain. Bahkan cara memahami keduanya juga tak luput dari penjagaan Allah. Ketika muncul serangan persepsi dan pemikiran yang menyimpang terhadap syariat, Allah mentaqdirkan lahirnya ulama-ulama yang menjelaskan bagaimana konsep yang lurus dalam memahami Islam. Maka kita mengenal Imam Syafi’i yang merumuskan ilmu ushul fiqh, sebuah teori tentang bagaimana memahami suatu dalil dan mengaplikasikannya dalam kasus-kasus yang berkembang. Kita juga mengenal Imam Ahmad bin Hanbal, yang dengan gigih mempertahankan ungkapan Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluq-Nya. Ada ulama yang membongkar kedok filsafat. Ada yang mengkritisi tasauf. Ada yang membantah jalan pikiran Murji’ah. Dan sebagainya. Artinya, alat untuk memelihara agama ini telah tersedia. Hanya masalahnya, alat-alat itu teronggok sebagai warisan ilmiah dan dokumen sejarah di perpustakaan. Kita akan gagap memelihara agama ini jika tak membongkar warisan para pendahulu kita. Sebab pada dasarnya perkembangan zaman hanya melahirkan kemasan baru bagi suatu masalah di masa lalu dengan isi yang sama. Yang berbeda hanya tampilan luarnya, atau istilah yang disematkan kepadanya. Seperti kasus Islam Liberal sejatinya adalah paham Mu’tazilah yang diberi merek dengan cita rasa Inggris, sebab istilah Inggris bisa “menyihir” dan punya daya jual yang baik. Dengan demikian, makna memelihara agama dalam konteks kekinian kita lebih kepada pemeliharaan aqidah dan pemahaman umat agar tetap lurus seperti para Sahabat dahulu memahami Islam. Hal ini disebabkan tidak semua orang punya kesempatan membaca apalagi memahami – misalnya – konsep Imam Syafi’i tentang ushul fiqh. Berarti, peluang umat untuk memahami Islam dengan cara yang menyimpang sangat terbuka lebar. Ini berbeda dengan kemungkinan adanya pemalsuan tulisan Al-Qur’an. Kemungkinan itu tetap masih ada, namun kadar keberhasilannya relatif kecil insya’allah.

Pekerjaan yang lain adalah upaya mewujudkan konsep Islam yang sempurna ini dalam realitas yang juga sempurna. Islam bukan agama teori dan wacana tanpa akar realitas yang menghunjam bumi, tapi agama teori sekaligus realitas. Padahal Rasulullah saw mewariskan Islam kepada kita dalam keadaan sempurna secara konsep dan sempurna secara realitas. Tujuan Negara Islam: Hifdhu d-din (2) Posted on 23/12/2009 by elhakimi Untuk memberi gambaran lebih rinci, aktifitas memelihara agama (hifdhu d-din) yang menjadi tugas negara Islam meliputi pekerjaan-pekerjaan berikut: Menyebarkan dan mendakwahkan Islam dengan pena, lidah dan pedang. Dakwah merupakan pekerjaan pertama yang dilakukan para nabi sebelum pekerjaan yang lain. Hal ini disebabkan dakwah mengambil sasaran perbaikan tashawwur (pemahaman) terhadap syariat Allah dari berbagai noda jahiliyah. Utamanya pemurnian tauhid dari buih syirik. Lalu memberi bimbingan bagi masyarakat dalam melaksanakan agamanya secara praktek (amal). Dengan demikian, dakwah mencakup perbaikan ilmu dan amal. Dakwah merupakan sarana, bukan tujuan. Sarana untuk menyiarkan dan menyebarkan Islam ke seluruh muka bumi. Dahulu dakwah lebih banyak dilakukan dengan lisan. Tapi kini dakwah berkembang dengan menggunakan berbagai media. Ada yang menggunakan lisan, pena, media elektronik dan lain-lain. Hukum melakukan dakwah adalah fardhu kifayah. Yaitu suatu kewajiban yang menjadi beban semua umat Islam yang tergolong mukallaf (terkena beban hukum), tapi jika sudah ada salah satu pihak yang melaksanakannya sesuai tuntunan syari’at dan tuntutan realitas, maka kewajiban itu gugur bagi yang lain. Kepentingan dari suatu perintah yang disebut fardhu kifayah adalah wujud pelaksanaannya, bukan siapa yang melaksanakan. Siapanya tidak penting, yang penting terlaksana dengan standar syariat dan tuntutan realitas. Allah berfirman: ‫ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون‬ Artinya: Dan hendaklah ada satu golongan dari kamu yang melakukan dakwah kepada kebaikan (kebenaran), memerintahkan kepada yang makruf dan melarang dari yang munkar. Dan mereka itulah orang yang beruntung. (QS. 3/Ali Imran: 104) Selain dakwah dengan lisan dan pena, ada aktifitas lain yang bertujuan menyebarkan Islam yaitu dakwah dengan pedang. Kata pedang biasa digunakan untuk kiasan makna kekuatan fisik dan senjata. Kedengarannya aneh, tapi Islam tidak tabu disebarkan dengan pedang, hanya ungkapan kalimatnya yang harus akurat yaitu Islam disebarkan dengan pedang setelah diawali dengan pendekatan lisan atau pena.

Ketika penjelasan secara lisan tentang Islam tidak membuahkan hasil, maka seorang muslim tidak menjadi bebas dari tugas menyebarkan Islam, apalagi ia seorang amirul mukminin. Tapi ia harus beralih menggunakan alat dakwah lain yaitu pedang. Gambarannya sama dengan seorang montir. Jika ia tidak berhasil melepas baut dengan hentakan tangan, ia menggunakan palu untuk memaksanya berputar. Jika tak mempan juga, maka digunakan gergaji atau las untuk mencopotnya secara paksa. Adalah naif jika Islam disebut sebagai agama sempurna tapi tak punya cara untuk menyelesaikan masalah orang yang menolak dakwah secara lisan. Oleh sebab itu, ketika mengepung dan mengancam musuh, Rasulullah saw memberi tiga pilihan; masuk Islam, membayar jizyah (pajak) ketundukan, atau diperangi. Jika musuh memilih masuk Islam, maka urusan langsung selesai dan mereka menjadi satu umat yang sama. Jika memilih pajak ketundukan, maka Islam memberi jaminan keamanan sebagai imbalan pajak yang mereka bayarkan, disamping ijin untuk tetap melaksanakan agamanya. Jika menolak dua pilihan tersebut, Rasulullah saw memerangi mereka dengan pedang sampai bertekuk-lutut dan putus asa. Tiga pilihan yang diajukan Rasulullah saw tersebut dapat kita simpulkan bahwa ancaman peperangan menjadi salah satu rangkaian diplomasi dakwah. Atau dengan ungkapan lain, ancaman perang yang diletakkan pada pilihan ketiga itu memaksa musuh untuk mengambil pilihan pertama atau pilihan kedua. Pedang digunakan untuk “menodong” orang agar mau memeluk Islam atau membayar pajak ketundukan tapi tetap boleh melaksanakan agamanya. Ungkapan bahwa Islam memaksa orang untuk memeluk Islam, tidak betul. Sebab masih ada pilihan lain, membayar pajak ketundukan dengan tetap menggunakan identitas agamanya. Dakwah bukan hanya mengajarkan dan memahamkan suatu materi keislaman dengan senyum yang terus mengembang. Tapi juga mengancam dengan kekerasan jika tawaran masuk Islam (dakwah baik-baik) menemui jalan buntu. Ini bukan ajaran yang aneh. Sesuatu yang wajar, selaras dengan sunnatullah atau hukum alam Allah. As-Subki berkata: Diantara tugas sulthon (imam/penguasa/negara Islam) membentuk pasukan bersenjata dan menegakkan kewajiban jihad untuk mengangkat panji Allah. Sebab Allah tidak memberinya kekuasaan atas umat Islam untuk menjadi bos yang hanya makan, minum dan istirihat, tapi untuk membela agama ini dan meninggikannya. Diantara tanggung-jawabnya, tidak boleh membiarkan orang-orang kafir dengan leluasa mengumbar kekafirannya dan tidak mau beriman kepada Allah dan rasul-Nya[1]. Daulah Islamiyah dengan dipimpin seorang imam berkewajiban menyiapkan berbagai cara dalam ragka menyebarkan agama Allah. Bagi yang belum tahu, diberitahu. Bagi yang masih keliru memahami Islam, diluruskan. Bagi yang menentang dakwah, diberi ancaman perang atau dipaksa tunduk kepada kekuasaan Islam agar tangannya tidak usil mengganggu.

Dengan tersedianya berbagai alat dan cara untuk menyebarkan agama ini, setiap orang punya kesempatan melihat dan mempertimbangkan Islam dengan jernih, lalu memilihnya dengan sepenuh kesadaran. Sebab jika niatnya masuk Islam hanya untuk mencari keselamatan, itu bukan pilihan tunggal. Ia masih bisa mendapatkan keselematan dan keamanan asal mau membayar pajak ketundukan. Dengan demikian Islam tetap memiliki harga diri di hadapan para penentangnya, dengan adanya kemampuan mengancam untuk memerangi. Tapi ketegasan ini tidak sampai jatuh pada pemaksaan untuk masuk Islam, karena masih memberi toleransi bagi yang masih tetap ingin mempertahankan keyakinannya, dengan memberinya jaminan keamanan asalkan bersedia membayar bukti ketundukan. Dalam bingkai seperti ini ayat la ikroha fiddin… (QS. 2/Al-Baqarah: 256) dan wa qotiluhum hatta la takuna fitnah… (QS. 2/AlBaqarah:193 & 8/Al-anfal:39) serta hadits umirtu an uqotilannasa hatta yashadu an la ilaha illallah…. dapat kita pahami. Membasmi syubhat (pemikiran rusak), bid’ah dan segala bentuk kebatilan Negara Islam harus mengambil fungsi membasmi syubuhat pemikiran, bid’ah dan segala wacana dan praktek kebatilan lain. Sebab seorang amirul mukminin memiliki kewenangan luas untuk melakukan nahi munkar di tengah masyarakat. Amirul mukminin paling bertanggung-jawab terhadap masalah ini karena ia didukung setidaknya oleh dua barisan; ulama dan prajurit. Tidak ada orang lain yang memiliki kekuatan sebesar itu. Syubuhat pemikiran menjadi tugas ulama untuk mengoreksinya hingga tuntas agar masyarakat tidak terkotori pikirannya dengan paham-paham sesat. Hal ini disebabkan kemunkaran yang bersumber dari akal pikiran hanya bisa dibongkar oleh ulama. Demikian juga dengan bid’ah dan takhayul. Yang dibutuhkan dari penguasa (negara Islam) adalah dukungan kekuaatannya, agar ulama bisa melaksanakan perannya tersebut dengan maksimal. Adapun kebatilan dan kemunkaran yang nyata dan dikenali oleh masyarakat awam, negara Islam bertugas mengarahkan dan mendorong mereka untuk membasminya, dengan cara menegakkan supremasi hukum. Jika penyakit masyarakat tidak bisa tuntas oleh keberadaan amirul mukminin, negara Islam dipandang gagal menjalankan fungsinya. Lalu bagaimana dengan kekuatan yang tidak terstruktur dalam lembaga negara, tentu lebih tidak mungkin menuntaskan masalah. Abu Ya’la berkata: Amirul mukminin bertanggung-jawab memelihara Islam agar tetap dalam landasan yang disepakati para pendahulu (salaf sholih). Jika ada pemikiran rusak mencoba membelokkan, ia membantahnya dengan argumen yang kokoh dan menjelaskan dengan versi yang benar. Dilanjutkan dengan memberi sanksi sesuai aturan yang berlaku, agar Islam terpelihara dari rongrongan pemikiran menyimpang dan umat Islam tejaga dari kesesatan[2].

Cara yang bisa ditempuh amirul mukminin dalam melaksanakan misi ini, diantaranya dengan pengajaran melalui lembaga pendidikan, mengadakan perdebatan terbuka agar kebenaran menjadi nyata, memberi sanksi berupa pengusiran atau pemboikotan, dan – bahkan – menggunakan pilihan pembunuhan atau peperangan sebagaimana Ali bin Abi Thalib ra memerangi kaum Khawarij. Tentu seorang amirul mukminin lebih mengerti aturan main penggunaan cara-cara ini, sesuai dengan kasus dan kebutuhan lapangan. Menjaga keutuhan umat dan mengawal perbatasan dari serangan musuh. Kepala negara (Islam) bertanggung jawab mewujudkan rasa aman bagi masyarakat agar bisa bebas melaksanakan semua aktifitas ibadah dan memakmurkan dunia. Rasa aman bisa diraih jika gangguan internal dan eksternal negara bisa diatasi. Oleh sebab itu, negara harus memiliki kekuatan yang tangguh. Dan merupakan pengaturan Ilahi yang Maha Sempurna, Islam memberi solusi terhadap kebutuhan ini dengan syari’at yang bernama ribath dan jihad fi sabilillah. Suatu kombinasi sempurna; mendapatkan imbalan secara akhirat berupa syurga, sekaligus menjadi alat yang logis untuk menjaga negara Islam dari rongrongan musuh. Ribath artinya menjaga perbatasan secara geografis agar bisa menghalau musuh dan mencium gelagat gangguan eksternal lebih dini. Ribath bersifat pasif, seperti pekerjaan satpam yang hanya menjaga. Meski demikian, Rasulullah saw memberi motivasi dan penghargaan yang tinggi terhadap aktifitas ini, dalam sabdanya: ‫رباط يوم فى سبيل ال خير من الدنيا وما عليها‬ Artinya: Ribath fi sabilillah satu hari adalah lebih baik dari dunia seisinya[3]. Jihad fi sabilillah artinya berperang melawan musuh Allah dan musuh umat Islam. Jihad bisa bermakna ofensif bisa pula defensif, tergantung kebutuhan. Rasulullah saw pernah melakukannya, baik bermakna defensif maupun ofensif. Jika kepala negara (Islam) dengan kekuasaan di tangannya tidak melaksanakan ribath dan jihad, ia gagal menjalankan fungsinya. Dalam waktu yang tidak lama musuh-musuh Islam akan berebut “menyantap hidangan” umat Islam karena tidak ada penjaganya, seperti yang kita alami saat ini. Tapi karena kita tidak memiliki kepala negara (Islam) yang syar’i yang berfungsi melaksanakan peran ini, maka beban kesalahan ditanggung oleh semua umat Islam. [1] As-Subki, mu’idun ni’am wa mubidu niqom hal. 16 [2] Abu Ya’la, al-ahkam as-sulthaniyah, hal. 27 [3] HR Bukhori (fathul bari 6/85), Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad. Tujuan Negara Islam: Hifdhu d-din (2) Posted on 23/12/2009 by elhakimi

Untuk memberi gambaran lebih rinci, aktifitas memelihara agama (hifdhu d-din) yang menjadi tugas negara Islam meliputi pekerjaan-pekerjaan berikut: Menyebarkan dan mendakwahkan Islam dengan pena, lidah dan pedang. Dakwah merupakan pekerjaan pertama yang dilakukan para nabi sebelum pekerjaan yang lain. Hal ini disebabkan dakwah mengambil sasaran perbaikan tashawwur (pemahaman) terhadap syariat Allah dari berbagai noda jahiliyah. Utamanya pemurnian tauhid dari buih syirik. Lalu memberi bimbingan bagi masyarakat dalam melaksanakan agamanya secara praktek (amal). Dengan demikian, dakwah mencakup perbaikan ilmu dan amal. Dakwah merupakan sarana, bukan tujuan. Sarana untuk menyiarkan dan menyebarkan Islam ke seluruh muka bumi. Dahulu dakwah lebih banyak dilakukan dengan lisan. Tapi kini dakwah berkembang dengan menggunakan berbagai media. Ada yang menggunakan lisan, pena, media elektronik dan lain-lain. Hukum melakukan dakwah adalah fardhu kifayah. Yaitu suatu kewajiban yang menjadi beban semua umat Islam yang tergolong mukallaf (terkena beban hukum), tapi jika sudah ada salah satu pihak yang melaksanakannya sesuai tuntunan syari’at dan tuntutan realitas, maka kewajiban itu gugur bagi yang lain. Kepentingan dari suatu perintah yang disebut fardhu kifayah adalah wujud pelaksanaannya, bukan siapa yang melaksanakan. Siapanya tidak penting, yang penting terlaksana dengan standar syariat dan tuntutan realitas. Allah berfirman: ‫ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون‬ Artinya: Dan hendaklah ada satu golongan dari kamu yang melakukan dakwah kepada kebaikan (kebenaran), memerintahkan kepada yang makruf dan melarang dari yang munkar. Dan mereka itulah orang yang beruntung. (QS. 3/Ali Imran: 104) Selain dakwah dengan lisan dan pena, ada aktifitas lain yang bertujuan menyebarkan Islam yaitu dakwah dengan pedang. Kata pedang biasa digunakan untuk kiasan makna kekuatan fisik dan senjata. Kedengarannya aneh, tapi Islam tidak tabu disebarkan dengan pedang, hanya ungkapan kalimatnya yang harus akurat yaitu Islam disebarkan dengan pedang setelah diawali dengan pendekatan lisan atau pena. Ketika penjelasan secara lisan tentang Islam tidak membuahkan hasil, maka seorang muslim tidak menjadi bebas dari tugas menyebarkan Islam, apalagi ia seorang amirul mukminin. Tapi ia harus beralih menggunakan alat dakwah lain yaitu pedang. Gambarannya sama dengan seorang montir. Jika ia tidak berhasil melepas baut dengan hentakan tangan, ia menggunakan palu untuk memaksanya berputar. Jika tak mempan juga, maka digunakan gergaji atau las untuk mencopotnya secara paksa. Adalah naif jika Islam disebut sebagai agama sempurna tapi tak punya cara untuk menyelesaikan masalah orang yang menolak dakwah secara lisan. Oleh sebab itu, ketika

mengepung dan mengancam musuh, Rasulullah saw memberi tiga pilihan; masuk Islam, membayar jizyah (pajak) ketundukan, atau diperangi. Jika musuh memilih masuk Islam, maka urusan langsung selesai dan mereka menjadi satu umat yang sama. Jika memilih pajak ketundukan, maka Islam memberi jaminan keamanan sebagai imbalan pajak yang mereka bayarkan, disamping ijin untuk tetap melaksanakan agamanya. Jika menolak dua pilihan tersebut, Rasulullah saw memerangi mereka dengan pedang sampai bertekuk-lutut dan putus asa. Tiga pilihan yang diajukan Rasulullah saw tersebut dapat kita simpulkan bahwa ancaman peperangan menjadi salah satu rangkaian diplomasi dakwah. Atau dengan ungkapan lain, ancaman perang yang diletakkan pada pilihan ketiga itu memaksa musuh untuk mengambil pilihan pertama atau pilihan kedua. Pedang digunakan untuk “menodong” orang agar mau memeluk Islam atau membayar pajak ketundukan tapi tetap boleh melaksanakan agamanya. Ungkapan bahwa Islam memaksa orang untuk memeluk Islam, tidak betul. Sebab masih ada pilihan lain, membayar pajak ketundukan dengan tetap menggunakan identitas agamanya. Dakwah bukan hanya mengajarkan dan memahamkan suatu materi keislaman dengan senyum yang terus mengembang. Tapi juga mengancam dengan kekerasan jika tawaran masuk Islam (dakwah baik-baik) menemui jalan buntu. Ini bukan ajaran yang aneh. Sesuatu yang wajar, selaras dengan sunnatullah atau hukum alam Allah. As-Subki berkata: Diantara tugas sulthon (imam/penguasa/negara Islam) membentuk pasukan bersenjata dan menegakkan kewajiban jihad untuk mengangkat panji Allah. Sebab Allah tidak memberinya kekuasaan atas umat Islam untuk menjadi bos yang hanya makan, minum dan istirihat, tapi untuk membela agama ini dan meninggikannya. Diantara tanggung-jawabnya, tidak boleh membiarkan orang-orang kafir dengan leluasa mengumbar kekafirannya dan tidak mau beriman kepada Allah dan rasul-Nya[1]. Daulah Islamiyah dengan dipimpin seorang imam berkewajiban menyiapkan berbagai cara dalam ragka menyebarkan agama Allah. Bagi yang belum tahu, diberitahu. Bagi yang masih keliru memahami Islam, diluruskan. Bagi yang menentang dakwah, diberi ancaman perang atau dipaksa tunduk kepada kekuasaan Islam agar tangannya tidak usil mengganggu. Dengan tersedianya berbagai alat dan cara untuk menyebarkan agama ini, setiap orang punya kesempatan melihat dan mempertimbangkan Islam dengan jernih, lalu memilihnya dengan sepenuh kesadaran. Sebab jika niatnya masuk Islam hanya untuk mencari keselamatan, itu bukan pilihan tunggal. Ia masih bisa mendapatkan keselematan dan keamanan asal mau membayar pajak ketundukan. Dengan demikian Islam tetap memiliki harga diri di hadapan para penentangnya, dengan adanya kemampuan mengancam untuk memerangi. Tapi ketegasan ini tidak sampai jatuh pada pemaksaan untuk masuk Islam, karena masih memberi toleransi bagi yang masih

tetap ingin mempertahankan keyakinannya, dengan memberinya jaminan keamanan asalkan bersedia membayar bukti ketundukan. Dalam bingkai seperti ini ayat la ikroha fiddin… (QS. 2/Al-Baqarah: 256) dan wa qotiluhum hatta la takuna fitnah… (QS. 2/AlBaqarah:193 & 8/Al-anfal:39) serta hadits umirtu an uqotilannasa hatta yashadu an la ilaha illallah…. dapat kita pahami. Membasmi syubhat (pemikiran rusak), bid’ah dan segala bentuk kebatilan Negara Islam harus mengambil fungsi membasmi syubuhat pemikiran, bid’ah dan segala wacana dan praktek kebatilan lain. Sebab seorang amirul mukminin memiliki kewenangan luas untuk melakukan nahi munkar di tengah masyarakat. Amirul mukminin paling bertanggung-jawab terhadap masalah ini karena ia didukung setidaknya oleh dua barisan; ulama dan prajurit. Tidak ada orang lain yang memiliki kekuatan sebesar itu. Syubuhat pemikiran menjadi tugas ulama untuk mengoreksinya hingga tuntas agar masyarakat tidak terkotori pikirannya dengan paham-paham sesat. Hal ini disebabkan kemunkaran yang bersumber dari akal pikiran hanya bisa dibongkar oleh ulama. Demikian juga dengan bid’ah dan takhayul. Yang dibutuhkan dari penguasa (negara Islam) adalah dukungan kekuaatannya, agar ulama bisa melaksanakan perannya tersebut dengan maksimal. Adapun kebatilan dan kemunkaran yang nyata dan dikenali oleh masyarakat awam, negara Islam bertugas mengarahkan dan mendorong mereka untuk membasminya, dengan cara menegakkan supremasi hukum. Jika penyakit masyarakat tidak bisa tuntas oleh keberadaan amirul mukminin, negara Islam dipandang gagal menjalankan fungsinya. Lalu bagaimana dengan kekuatan yang tidak terstruktur dalam lembaga negara, tentu lebih tidak mungkin menuntaskan masalah. Abu Ya’la berkata: Amirul mukminin bertanggung-jawab memelihara Islam agar tetap dalam landasan yang disepakati para pendahulu (salaf sholih). Jika ada pemikiran rusak mencoba membelokkan, ia membantahnya dengan argumen yang kokoh dan menjelaskan dengan versi yang benar. Dilanjutkan dengan memberi sanksi sesuai aturan yang berlaku, agar Islam terpelihara dari rongrongan pemikiran menyimpang dan umat Islam tejaga dari kesesatan[2]. Cara yang bisa ditempuh amirul mukminin dalam melaksanakan misi ini, diantaranya dengan pengajaran melalui lembaga pendidikan, mengadakan perdebatan terbuka agar kebenaran menjadi nyata, memberi sanksi berupa pengusiran atau pemboikotan, dan – bahkan – menggunakan pilihan pembunuhan atau peperangan sebagaimana Ali bin Abi Thalib ra memerangi kaum Khawarij. Tentu seorang amirul mukminin lebih mengerti aturan main penggunaan cara-cara ini, sesuai dengan kasus dan kebutuhan lapangan. Menjaga keutuhan umat dan mengawal perbatasan dari serangan musuh. Kepala negara (Islam) bertanggung jawab mewujudkan rasa aman bagi masyarakat agar bisa bebas melaksanakan semua aktifitas ibadah dan memakmurkan dunia. Rasa aman bisa diraih jika gangguan internal dan eksternal negara bisa diatasi. Oleh sebab itu,

negara harus memiliki kekuatan yang tangguh. Dan merupakan pengaturan Ilahi yang Maha Sempurna, Islam memberi solusi terhadap kebutuhan ini dengan syari’at yang bernama ribath dan jihad fi sabilillah. Suatu kombinasi sempurna; mendapatkan imbalan secara akhirat berupa syurga, sekaligus menjadi alat yang logis untuk menjaga negara Islam dari rongrongan musuh. Ribath artinya menjaga perbatasan secara geografis agar bisa menghalau musuh dan mencium gelagat gangguan eksternal lebih dini. Ribath bersifat pasif, seperti pekerjaan satpam yang hanya menjaga. Meski demikian, Rasulullah saw memberi motivasi dan penghargaan yang tinggi terhadap aktifitas ini, dalam sabdanya: ‫رباط يوم فى سبيل ال خير من الدنيا وما عليها‬ Artinya: Ribath fi sabilillah satu hari adalah lebih baik dari dunia seisinya[3]. Jihad fi sabilillah artinya berperang melawan musuh Allah dan musuh umat Islam. Jihad bisa bermakna ofensif bisa pula defensif, tergantung kebutuhan. Rasulullah saw pernah melakukannya, baik bermakna defensif maupun ofensif. Jika kepala negara (Islam) dengan kekuasaan di tangannya tidak melaksanakan ribath dan jihad, ia gagal menjalankan fungsinya. Dalam waktu yang tidak lama musuh-musuh Islam akan berebut “menyantap hidangan” umat Islam karena tidak ada penjaganya, seperti yang kita alami saat ini. Tapi karena kita tidak memiliki kepala negara (Islam) yang syar’i yang berfungsi melaksanakan peran ini, maka beban kesalahan ditanggung oleh semua umat Islam. [1] As-Subki, mu’idun ni’am wa mubidu niqom hal. 16 [2] Abu Ya’la, al-ahkam as-sulthaniyah, hal. 27 [3] HR Bukhori (fathul bari 6/85), Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad. Refleksi Jihad Aceh 2010 Posted on 22/03/2010 by elhakimi Jihad Aceh yang terjadi pada awal Maret 2010 begitu mengagetkan. Ketika sebelumnya masyarakat disibukkan dengan gonjang-ganjing Century, begitu muncul berita jihad Aceh, langsung Century dilupakan. Mengagetkan karena sebelumnya Aceh dikenal sebagai basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sangat bercitra lokal, berubah menjadi basis Al-Qaeda yang bercitra global. Lebih mengagetkan lagi, mereka – yang selalu mendapat sebutan teroris itu – melakukan perlawanan dalam bentuk adu senjata secara terbuka di alam bebas. Hasilnya sungguh mengegetkan, beberapa anggota densus 88 yang dicitrakan sebagai pasukan preman seperti Blackwater – lengan bajunya dilinting untuk menonjolkan kesan macho – bisa dibunuh oleh mereka.

Sontak, berita Al-Qaeda Aceh menjadi boming. Belum reda panasnya kontak senjata di Aceh, segera disusul dengan tertembaknya (Ab)Dulmatin alias Amar Usman yang kepalanya dihargai 10 juta dolar oleh Amerika. Media masa hingar bingar memblow-up peristiwa ini. SBY yang dirundung duka dengan tekanan bertubi-tubi terkait kasus Century, sontak wajahnya sumringah dan berseri-seri. Ia mendapat amunisi bagus untuk menutupi kasus Century. Di sisi lain, ia yang tengah berkunjung ke Australia dan mendapat “kehormatan” untuk menjadi pembicara di parlemen Australia – konon baru 5 kepala negara yang diberi kesempatan untuk itu – memiliki kesempatan istimewa untuk menjilat Australia. Ia dengan mengucap “alhamdulillah” melaporkan kepada tuannya keberhasilan menangkap gembong teroris (baca: tokoh mujahid) yang selama ini diincar seluruh dunia kafir. Banyak analisa yang beredar di tengah masyarakat. Tapi sayang, umumnya terbelah dalam dua kubu yang sama-sama tidak benar dalam menyikapi masalah ini. Memandang masalah dengan kacamata yang salah. Kubu Pertama: Penganut Teori Konspirasi Penganut mazhab ini melihat jihad Aceh sebagai konspirasi SBY dan kepolisian RI untuk mengalihkan perhatian semata dari kasus Century yang puncaknya pada awal Maret 2010 lalu. Atau, konspirasi pematangan situasi untuk memberangus kaum radikal agar tercipta keamanan maksimal saat kunjungan Obama ke Indonesia yang dijadwalkan akhir Maret. (Alhamdulillah, tertunda hingga Juni, katanya). Teori konspirasi esensinya adalah mekanisme “menyalahkan” musuh dengan menutup mata bahwa gerakan perlawanan di tengah umat Islam sejatinya realitas yang tak bisa ditolak. Teori konspirasi selalu berkonotasi bahwa musuh Islam amat hebat, bisa merancang apa saja dan merealisasikannya laksana alur cerita film, sementara umat Islam hanya sekawanan “kambing congek” yang bodoh dan tertindas. Teori konspirasi dilandasi pandangan bahwa sutradara segala kejadian di alam semesta adalah Yahudi, Israel, AS, Eropa, CIA, BIN, Kepolisian, dan seterusnya. Teori ini menihilkan taqdir Allah, kemampuan mujahidin dan umat Islam. Apapun kejadian yang merugikan umat Islam, selalu jawabannya sama: ada konspirasi Yahudi di baliknya. Seolah Yahudi “Penguasa Alam Semesta” yang seluruh rencananya dapat terjadi laksana skenario film di tangan sutradara. Misalnya, ketika membedah serangan WTC yang meruntuhkan simbol ekonomi AS, para penganut teori konspirasi terbelenggu keyakinan bahwa itu semua bikinan AS. Usamah bin Ladin hanya pion yang dimanfaatkan oleh AS untuk mengacak-acak umat Islam. Buktinya? Dahulu saat Afghanistan melawan Uni Sovyet, mujahidin mendapat sokongan dari AS. Di dalamnya termasuk Usamah bin Ladin. Mata rantai logika yang disusun, lalu kesimpulan yang dihasilkan sangat menggelikan. Mereka tidak sadar, teori ini bisa menyeret kesimpulan lain; bahwa nabi Musa as sebenarnya antek Fir’aun. Dalilnya? Karena pernah diasuh Fir’aun di istananya. Para penganut mazhab konspirasi tidak percaya bahwa mujahidin bisa melakukan serangan spektakuler 11 September itu. Mereka terpenjara oleh pengalaman umat Islam yang terjajah sekian lama, tak mungkin ada di tengah umat Islam yang mampu melakukan perlawanan kepada kaum kafir. Para penganut mazhab konspirasi berdalih, teknologi AS demikian canggih sehingga mustahil ada pesawat sipil yang lolos dari intaian radar AS, di negerinya sendiri. Mereka melupakan Ke-Maha Kuasa-an Allah, yang bisa menjadikan api yang pasti membakar,

tidak memberi efek membakar bagi Ibrahim as. Mereka lupa, bahwa taqdir hancurnya WTC justru dengan membuat kaum Yahudi mengendus rencana penyerangan, dan mereka sengaja membiarkannya demi mengobarkan perang melawan umat Islam yang memang mereka inginkan. Inilah jalan taqdir yang Allah kehendaki untuk hancurnya WTC. Para penganut mazhab konspirasi salah menyimpulkan. Mereka menyangka, sikap Yahudi yang membiarkan penyerangan berjalan mulus merupakan bukti konspirasi antara AS dengan Usamah bin Ladin. Subhanallah… Gara-gara teori menyesatkan ini, mereka menuduh mujahid yang prestasi jihadnya diakui dunia sebagai antek AS. Menuduh tokoh jihad sebagai pengkhianat hanya disebabkan teori konspirasi. Penganut mazhab ini sangat banyak jumlahnya. PKS, HTI dan hampir seluruh elemen umat Islam yang beraliran perlawanan tapi modernis menggunakan mazhab ini. Lihat misalnya situs Eramuslim dan Hizabuttahrir. Analisanya selalu dilandasi teori konspirasi. Menyedihkan ! Kedua: Penganut Neo-Murji’ah Penganut mazhab ini yakin seratus persen terhadap informasi yang datang dari pihak pemerintah, dalam hal ini kepolisian. Bahwa pelaku adalah kalangan umat Islam yang dengan sengaja melawan pemerintah yang “sah”. Penganut Neo-Murji’ah mengambil sikap memusuhi para pelaku, dan percaya bahwa kejadiannya memang benar, bukan rekayasa atau hasil konspirasi tertentu, misalnya dari pihak pemerintah. Penganut mazhab ini umumnya dari kalangan Salafi Murji’ah. Mereka menolak teori konspirasi, tapi di sisi lain, menghujat mujahidin dengan kalimat yang tajam. Biasanya menyebutnya sebagai Khawarij. Silakan lihat fenomena ini misalnya si situs-situs SM (Salafi Murji’ah) dan Radio Rodja Cileungsi. Salah satu tokoh penting mazhab ini Zainal Abidin (pendiri radio Rodja). Kesalahan mazhab ini terletak pada kebenciannya yang membabi buta terhadap mujahidin. Mereka sama sekali tak mau mengakui status para “teroris” sebagai mujahidin. Bagi mereka para mujahidin lebih dibenci dibanding kebencian mereka terhadap George Bush, Ariel Sharon, Geert Wilders, dan tokoh-tokoh perusak Islam lain. Penulis heran, jangan-jangan mereka belum pernah mempelajari konsep Wala’ wal Bara’ dengan benar. Atau kalaupun mempelajarinya, pasti dengan persepsi yang salah. Mereka sangat mencintai Sunnah, tapi sayang tidak mampu memilah mana musuh dan mana kawan. Mereka mengidentikkan istilah Teroris dengan Khawarij. Hasilnya, menurut mereka, Teroris akan menjadi anjing-anjing neraka Jahannam! Mazhab Wasath (Aliran Pertengahan) Bertolak belakang dengan hujatan kaum SM, penganut mazhab wasath dengan penuh rasa cinta menyebut mereka yang diberi gelar Teroris sebagai Mujahidin. Tentu saja Teroris yang muslim, dan ada kaitannya dengan membela Islam dan umat Islam. Bukan Teroris seperti Tentara Basque di Spanyol yang beragama Kristen. Demikian pula, tak mau memandang jihad Aceh dengan teori konspirasi. Semuanya benar adanya, dilakukan oleh kalangan umat Islam yang sangat merindukan jihad dan mati syahid. Mereka termotivasi pahala yang demikian menggiurkan untuk aktifitas jihad dan karunia mati syahid. Adapun kejadiannya yang menyusul ramainya skandal Century, sama sekali tak bisa dipahami bahwa jihad Aceh hasil rekayasa kepolisian. Ini semata taqdir Allah, yang boleh jadi sebagai bentuk istidraj untuk SBY agar ia merasa disayangi Allah karena menyelamatkannya dari skandal Century. Padahal gaya menjilatnya kepada

Australia dengan memberi laporan kepada “tuannya” tersebut, menunjukkan bahwa SBY bukan sosok yang pantas mendapat pertolongan dari Allah dalam konteks kasih sayang. Tetapi “pertolongan” dalam konteks istidraj. Pada sisi lain, mazhab wasath juga tidak membela jihad Aceh dengan membabi-buta sebagai kebenaran mutlak tanpa cela. Mazhab ini tetap memberikan analisa kritis atas amaliah jihad Aceh dengan catatan-catatan evaluasi, agar menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Sama sekali bukan karena faktor benci atau dengki. Tapi semangat saling menasehati dengan cinta. Rabbana la taj’al fi qulubina ghillan lilladzina amanu ! Refleksi ini ditulis dengan paradigma mazhab wasath. Maka, akan terasa menyakitkan bagi yang mendukung jihad Aceh dengan membabi-buta seolah tanpa cacat. Mohon maaf. Menghidupkan Jihad Aceh Jihad Aceh mencoba memelihara bumi Aceh yang penuh berkah agar tetap beraroma jihad, melanjutkan apa yang dilakukan sekian lama oleh Allah Yarham Daud Beureuh (Baca: Ber’eh) dengan gerakan DI/TII-nya. Pada zaman yang lebih tua, perang Sabil yang dilakukan rakyat Aceh melawan kafir Belanda. Bumi jihad Aceh sempat dikangkangi oleh perlawanan dengan aroma kesukuan; sentimen Aceh melawan Jawa dengan nama Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dengan matinya ruh perlawanan GAM – karena memang ruh kesukuan sejatinya lemah – maka terbuka peluang untuk membersihkan aqidah rakyat Aceh dari sentimen kesukuan tersebut. Dikembalikan kepada aqidah Islamiyah, yang karenanya jihadnya harus dengan paradigma fi sabilillah, bukan fi sabili GAM. Namun sayang, tampaknya misi ini belum berhasil direalisasikan oleh pelaku, karena rakyat sudah sangat pro pemerintah setelah trauma dengan dampak sepak terjang GAM pada masa lalu. Mereka sudah terlanjur trauma terhadap apapun yang berbau senjata. Mereka sudah lelah dengan kekerasan. Trauma ini hanya bisa diobati dengan dakwah, yang meluruskan rakyat Aceh dari aqidah Nasionalisme atau Kesukuan dan kembali kepada aqidah Islamiyah. Didakwahi untuk cinta jihad, mati syahid dan benci kepada sistem non Islam. Pilihan Aceh untuk dijadikan front jihad, dan wilayah manapun di Indonesia, sesungguhnya perlu dikaji lebih dalam. Jihad membutuhkan “pemicu” sehingga bisa menarik umat Islam dalam jumlah masal untuk bergabung. Jika pemantiknya tidak cukup kuat, masyarakat tak tergerak untuk mendukung jihad. Faktanya, pelaku sama sekali tak memikirkan faktor pemantik ini. Mereka hanya menjadikan fardhu-nya jihad dan kemuliaan mati syahid sebagai pemantik. Padahal umat Islam sudah demikian terbelenggu oleh materialisme dan kenikmatan hidup (yang damai). Pertanyaan masyarakat belum akan terjawab, jika sekiranya mereka sudah terpanggil mendukung jihad Aceh: memangnya jihad melawan siapa jika lokasinya di Aceh? Pertanyaan ini ternyata lebih fasih dijawab oleh polisi; tuh kan mereka ini orang-orang jahat, tidak ada musuh yang jelas kok ngajak perang. Mereka hanya mau membuat onar. Jika masyarakat Aceh ikut, hanya akan menambah kesengsaraan saja. DAKWAH POLISI ini terbukti lebih manjur dan lebih simpel, sehingga mudah dipahami masyarakat. Keberhasilan Abu Mus’ab Az-Zarqawi menghidupkan jihad di Iraq karena ada pemicu yang sangat kuat, yakni hadirnya penjajah asing yang kafir dan sangat kejam. Tiga kata

(yang dibold) tersebut menjadi pemicu yang sangat kuat, sehingga berhasil menarik pasukan Saddam dalam barisan jihad. Pemantik yang digunakan oleh pelaku hanya kosa kata jihad, fardhu ‘ain, Al-Qaeda dan mati syahid. Padahal kata ini masih sangat absurd di kalangan masyarakat yang mendiami sekitar lokasi “proklamasi jihad” Aceh tersebut. Bagaimana mungkin jihad di gunung bisa eksis, jika masyarakat di kaki gunung tidak mendukung, memberi bantuan logistik dan lain-lain. Dalam hitungan hari pasti akan digulung dengan mudah. Para mujahid Aceh tampaknya bermazhab bahwa jihad adalah tujuan, bukan cara. Bahkan lebih ekstrim lagi, menjadikan mati syahid sebagai tujuan. Akibatnya, tak perlu mempertimbangkan analisa menang atau kalah, mampu atau tidak mampu. Pokoknya jihad. Sama dengan shalat, pokoknya harus dikerjakan di manapun dan dalam kondisi apapun, meski dalam keadaan sakit sekalipun. Padahal jika mujahid hanya merencanakan mati (syahid), ia sedang merancang kekalahan. Bersambung ….. Share this: StumbleUpon Digg Reddit DIarsipkan di bawah: Wacana Jihad | Ditandai: Al-Qaeda Aceh, Al-Qaeda Serambi Mekah, Jihad Aceh, Salafi Murji'ah « Kekalahan Amerika Di Afghanistan, Pasti ! Refleksi Jihad Aceh 2010 (bag. 2) » 2 Tanggapan - tanggapan ahmad rijal, di/pada 06/04/2010 pada 22:18 Dikatakan: r Sebenarnya kalo wacana jihadnya adalah jihad pembelaan ( difa’i ),maka target (musuh) nya sudah jelas kan? yaitu koalisi salibis dan zionis internasional yg diketuai oleh USA ( United Satan of America) dan didukung oleh pemerintah2 budak mereka. Ini sebenarnya sudah bisa menjadi pemicu, hanya saja ummat memang masih perlu difahamkan akan musuh2 nya dan harus segera mulai melangkah utk membuat sebuah perlawanan. Ana berpendapat, sektor dakwah harus berjalan beriringan dengan sektor jihadi, jangan dakwah dulu tanpa dibarengi akivitas jihadi. Di masa penindasan kaum kuffar sperti saat ini dakwah harus bersamaan dgn jihad. Karena penindasan dan arogansi musuh hanya bisa diredam dgn amaliyah jihad, semntara ummat tdk akan paham tentang hakikat pertempuaran jika tidak ada dakwah. Balas abdulkareem23, di/pada 18/04/2010 pada 14:53 Dikatakan: r artikel yg menarik. afwan boz, ane izin share artikelnya ke tmn2 fb yaa?? jazakumulloh khoiron.. Refleksi Jihad Aceh 2010 (bag. 2) Posted on 27/03/2010 by elhakimi

Sibuk Menyalahkan Musuh Ketika umat Islam mendapat serangan dari musuh, masih banyak yang sibuk menyalahkan musuh. Amerika dijadikan sasaran caci maki. Amerika negara jahat, pemerintah SBY arogan dan sebagainya. Ini semua benar, tak ada yang salah dengan ungkapan ini. Permasalahannya adalah, sikap ini membiasakan kita menutupi kelemahan dan kegagalan kita dengan mengkambing-hitamkan pihak lain. Menyalahkan musuh yang lebih pintar. Padahal kesalahan sejatinya terpulang pada kelemahan umat Islam sendiri. Sebagai ilustrasi, kesebelasan Indonesia bertanding melawan kesebelasan Brazil. Jika kalah dalam pertandingan, Indonesia tak bisa menyalahkan Brazil. Karena memang satusatunya tugas pemain Brazil saat bertanding adalah mengalahkan Indonesia, sebagaimana Indonesia obsesi tertingginya juga mengalahkan Brazil. Ketika kalah, setiap kesebelasan pasti sibuk membenahi skuadnya, bukan sibuk menyalahkan kecerdikan musuh atau menyalahkan wasit. Tindakan selalu menyalahkan musuh adalah kebodohan yang akan ditertawakan dunia. Sebuah kecengengan yang kanak-kanak. Tapi sayang, banyak umat Islam yang selalu sibuk menyalahkan Densus 88, kepolisian dan pemerintah – siapapun presidennya. Para aparat itu digaji untuk membela ideologi Nasionalisme, Demokrasi dan hukum non syariat. Bagaimana mungkin kita berimajinasi bahwa mereka akan memberikan kasih sayang kepada para mujahidin yang ‘digaji’ oleh Allah untuk membela Tauhid, umat Islam dan hukum syariat. Kedua belah pihak memiliki ideologi yang bertolak belakang. Menang atau kalah terpulang sepenuhnya kepada mekanisme pertarungan, tanpa perlu merengek agar musuh melunakkan perlawanan. Kita hanya boleh menyibukkan diri meratapi kelemahan internal, mengevaluasi kesalahan, dan mengoreksi apapun yang keliru. Mengapa umat Islam dengan mudah dijajah AS? Mengapa mujahidin yang semestinya kuat, bisa digulung dengan gampang oleh densus 88? Paradigmanya harus dibalik. Bukan menyalahkan Densus 88, pemerintah SBY, Israel atau AS. Tapi menyalahkan diri sendiri; ada kesalahan apa sehingga mujahidin begitu mudah dihabisi? Ada kekeliruan strategi apa sehingga kalah? Ada kemunkaran apa? dan seterusnya. Adapun menyalahkan Densus 88 sebagai sebuah strategi melemahkan Densus 88 di hadapan umat, ini bisa dibenarkan. Karena dengan melemahkan citra Densus 88 di mata umat Islam, dukungan terhadap Densus akan berkurang. Dengan begitu umat bisa diajak mendukung mujahidin, bukan mendukung densus 88. Maka, dari sini mestinya umat Islam sibuk mengevaluasi apa yang dilakukan mujahidin Aceh. Disisir satu persatu. Sehingga kelak menjadi sekumpulan pelajaran yang berguna untuk bercermin. Jika ingin melakukan hal yang serupa, apa yang perlu diperbaiki.

Maka berhentilah menyalahkan musuh, tapi salahkan diri sendiri (diri umat Islam yang kita menjadi salah satunya). Tolok Ukur Muhasabah: Keberlangsungan Jihad dan Kemenangan Islam Kita sebelum melakukan muhasabah, mesti menyepakati tolok ukur yang akan digunakan. Sebab, kekeliruan memilih tolok ukur, menjadikan kekalahan dipandang sebagai kemenangan. Misalnya, jika kita menggunakan mati syahid sebagai tolok ukur, maka jihad Aceh 2010 sudah cukup berhasil. Berhasil apa? Mempersembahkan syuhada! Karena faktanya, lumayan banyak yang gugur sebagai syuhada (kama nahsabuhu wala nuzakki ‘alallah ahadan). Jika tolok ukurnya adalah kemampuan membunuh musuh, jihad Aceh juga bisa dianggap cukup berhasil karena untuk pertama kali bisa membalik fakta: biasanya Densus 88 dan anteknya selalu dalam posisi membunuh, tapi bisa dibuat dalam posisi terbunuh. Dan jumlahnya juga fantastis ! Kompas menyebutnya 5 orang. Jika tolok ukurnya penangkapan oleh Densus 88, jihad Aceh juga relatif “berhasil”. Karena mempersembahkan kader-kader jihad dalam jumlah yang cukup banyak sebagai penghuni hotel Prodeo. Dan kisah penangkapannya juga relatif mudah. Jika kemampuan meniru Al-Qaeda dalam style propagandanya, jihad Aceh juga cukup berhasil. Mereka bisa merekam propagandanya dengan latar yang indah; hutan rimba dan bukit-bukit yang lebat. Seruannya juga jelas; mengajak umat Islam untuk bergabung dengan mereka di hutan. Hanya sedikit ada perbedaan dengan Al-Qaeda, mereka melakukannya dengan cara melecehkan kegiatan dakwah dan sosial keumatan yang dilakukan anasir umat sendiri. Mereka menihilkan apapun kecuali jihad. POKOKNYA JIHAD ! Tampaknya Al-Qaeda menjadi inspirasi terpenting. Hal ini tak bisa dihindarkan, karena siapapun bicara jihad, tidak akan bisa mengabaikan fenomena Al-Qaeda yang kian mengglobal dengan makin meluasnya internet. Al-Qaeda menjadi model impian bagi semua aktifis yang terobsesi jihad. Mudah didapatkan di internet, pesan-pesannya sangat kuat dengan gaya “hitam-putih” dan membakar adrenalin kaum muda. Mereka tak perlu panjat tebing, cukup dengan duduk di depan internet, mereka sudah terbakar adrenalinnya. Ini semua menurut penulis, bukanlah tolok ukur keberhasilan jihad Aceh. Meski secara umum kita harus mengapresiasi jihad yang mereka proklamasikan. Tak ada do’a kita untuk mereka kecuali semoga amal ibadah mereka diterima oleh Allah. Dan tak ada pilihan sikap bagi kita kecuali menjadi kader yang suatu saat nanti akan melanjutkan jihad mereka, tentu saja dengan tidak mengulangi “kesalahan” mereka setelah kita evaluasi. Tapi melanjutkan bukan bermakna harus di Aceh atau di wilayah Indonesia yang lain. Melanjutkan yang kami maksud adalah melanjutkan jihadnya, bukan

melanjutkan keharusan Acehnya apalagi “kesalahan”nya. Artinya, kita harus menjadi mata rantai dan jejaring jihad umat Islam global, setelah mereka terlebih dahulu memastikan diri sebagai salah satu cincin dari rantai jihad global. Maka tolok ukur keberhasilan harus kita sepakati sisi keberlangsungan jihadnya, dukungan umat Islam atasnya dan kemampuan melemahkan musuh hingga mengalahkannya. Jika jihad Aceh 2010 hanya dalam hitungan pekan berhasil digulung musuh, maknanya kita harus melakukan evaluasi, ada kesalahan apa. Jika umat Islam tidak mendukung dan terpanggil bergabung dalam kafilah jihad, berarti ada yang perlu kita perbaiki (next time better). Bila jihad Aceh 2010 tidak mampu melemahkan musuh apalagi mengalahkannya, maknanya ada yang perlu disiapkan lebih serius untuk mengalahkannya. Memang benar, bahwa kita tidak dibebani oleh Allah dengan keharusan mengalahkan musuh, tapi tak bisa dipungkiri bahwa syariat jihad merupakan alat terbaik yang Allah sediakan bagi kita untuk mengalahkan musuh. Bila senjata terbaiknya saja tak mampu kita gunakan, lalu dengan cara apa lagi kita akan bisa mengalahkan musuh? Teori dasarnya; JIHAD PASTI MENGHASILKAN KEMENANGAN jika DILAKUKAN DENGAN BENAR. Bila hasilnya kekalahan, maknanya kita harus dengan dada lapang berani mengevaluasinya. Bisa jadi eksperimen ini akan terjadi berulang, dan terus dilakukan evaluasi, untuk mencapai tujuan terbesar: menghasilkan kemenangan. Abu Mus’ab As-Sury mencontohkan, dengan menulis refleksi jihad Syria, lalu refleksi yang lebih luas dalam bukunya dakwah muqawamah. (Diterbitkan sebagian serinya oleh penerbit Jazera Solo dengan judul: Perjalanan Gerakan Jihad). Buku ini berisi refleksi jihad global, evaluasi kekurangan-kekurangannya dan bagaimana strategi ke depannya demi memastikan jihad menghasilkan kemenangan. Jihad; tujuan atau sarana Salah satu perdebatan sengit yang berkembang di tengah aktifis jihad, apakah jihad dipandang sebagai sarana untuk mencapai kemenangan ataukah tujuan dan terminal akhir dari serangkaian penghambaan kepada Allah? Meski perdebatan ini tak mencuat ke permukaan dalam bentuk silat lidah, tapi terrefleksikan dalam pilihan tindakan. Mazhab sarana akan meletakkan jihad sejajar dengan semua ibadah yang lain. Setiap ibadah dibingkai oleh maqashid syariah yang sesuai dengan karakternya. Shalat dibingkai maksud hubungan kepatuhan vertikan secara ritual. Shaum dibingkai tujuan pengendalian hawa nafsu dan kejujuran pribadi kepada Allah. Zakat dibingkai tujuan kesetiakawanan sosial dalam hal harta, dan menghilangkan mental kikir. Nahi munkar dibingkai tujuan menghilangkan kemungkaran di tengah umat Islam. Sementara jihad dibingkai tujuan pengorbanan pribadi dalam membela Allah dan mengalahkan musuh Allah. Jihad itu ibadah. Tapi dalam pelaksanaannya, tak semata dilandasi tujuan melaksanakan ibadah. Terdapat sejumlah syarat untuk melaksanakannya, ada aturan yang menyertainya. Tidak asal melaksanakan perintah Allah bernama jihad.

Hal ini serupa dengan ibadah nahi munkar. Tak asal nahi munkar. Jika nahi munkar diprediksi justru melahirkan kemunkaran lebih besar, nahi munkar tak boleh dilakukan. Bukan semata nahi munkar. Para penganut mazhab sarana akan cenderung mempersiapkan jihad dengan melakukan dakwah, pembinaan keumatan, layanan sosial, pendidikan dan sebagainya. Mereka tak menihilkan peran dakwah sebagai alat lain dalam menegakkan Islam. Posisinya sejajar, karena hajat umat kepada dakwah tidak kalah besar dibanding hajat umat terhadap jihad. Keduanya dilakukan secara simultan, tidak ada yang dianak-tirikan. Paradigma ini yang semestinya digunakan dalam melihat ibadah bernama jihad. Sementara penganut mazhab tujuan, tindakannya hanya terfokus pada pelaksanaan jihadnya sebagai sebuah fardhu ‘ain. Mereka mengabaikan pernik persoalan yang bersifat menunjang keberlangsungan jihad. Mereka ingin semua orang Islam datang berduyunduyun menyambut seruannya, pergi ke hutan dan gunung-gunung di Aceh dan bergabung dengan mereka. Mereka meninggalkan dakwahnya, pesantrennya, lembaga sosialnya, dan segala hal yang tidak ada potret “memegang senjata”nya. Padahal jihad membutuhkan dukungan dakwah, dana, jurnalistik, pakar komunikasi, pakar teknologi, dan kepakaran lain. Memerlukan kesinambungan SDM yang akan memikul beban jihad ini. Bagaimana mungkin jihad akan berlanjut, jika mesin penyuplai mujahid harus ditinggalkan, seperti pesantren, madrasah, majlis taklim dan sejenisnya? Kesan kuat yang muncul dari jihad Aceh adalah menjadikan jihad sebagai tujuan, bukan sarana untuk memperoleh kemenangan Islam. Ketika jihad menjadi tujuan, maka seorang mujahid akan mengabaikan pernik pendukung yang akan mempengaruhi kesuksesan jihad. Misalnya dakwah, dukungan masyarakat sekitar, dukungan media massa dan sebagainya. Titik perhatiannya hanya bagaimana berjihad dan mengajak umat Islam untuk berjihad, meski ajakan itu menjadi sangat absurd (kabur) di mata umat Islam yang tidak mengerti apa-apa tentang wacana jihad. Mereka mendengar ajakan itu seperti angin lalu, karena tidak mengerti maksud ajakan itu. Misalnya, jika ada yang menyambut seruan ini, mereka masih akan kesulitan menemui panitianya. Mereka bingung alamat sekretariatnya. Mereka belum tahu, apakah untuk gabung masih diperkukan adanya ujian masuk atau tidak? Mereka tidak tahu lokasi bukitnya. Mereka juga tak tahu, musuhnya siapa. Ini yang kami maksud absurd. Jihad melawan Densus 88 di mata umat Islam merupakan sesuatu yang sulit dipahami. Mereka akan bilang, Islam lawan Islam. Wajar, karena mayoritas anggota Densus 88 pastilah beragama Islam, mengikut jumlah umat Islam yang mayoritas di negeri ini. Problem ini membutuhkan dakwah. Lalu bagaimana jihad akan mendapat dukungan luas, jika dakwah dinihilkan? Dakwah dilecehkan sedemikian rupa dalam rilis mujahidin

Aceh. Seolah mereka hidup di planet lain, dan hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Dalam kedokteran, ini disebut penyakit autisme. Bersambung… Share this: StumbleUpon Digg Reddit DIarsipkan di bawah: Wacana Jihad | Ditandai: Al-Qaeda Aceh, Jihad Aceh, Jihad Indonesia, Refleksi Jihad « Refleksi Jihad Aceh 2010 Jihad Aceh 2010 di Mata Musuh Islam » 3 Tanggapan - tanggapan abdillah al faqir, di/pada 06/04/2010 pada 09:35 Dikatakan: r afwan sebelumnya, ana mau komen sedikit nih. Begini akhi, bukankah kita telah sepakat bahwa jihad hari adalah fardhu’ain dan i’dad adalah sebuah kewajiban ? Jika kemudian kita dapati tempat dan perlatan utk melakukan i’dad, bukankah merupakan sebuah dosa jika menunda2 pelaksanaannya? Melihat dari apa yg telah mereka lakukan di Aceh, menurut ana mereka baru melakukan i’dad. namun karena kurang rapinya perekrutan dan kondisi sosial yg kurang mendukung keberadaan latihan mrk diketahui aparat dan kemudian digerebek. Krn digerebek, mau tdk mau yg mampu melawan pasti akan melawan, tapi bagi yg baru pertama kali ikut latihan lebih memilih menyerah. Style Al Qaeda juga baru diadopsi di bagian propaganda,bukan di bagian perekrutan dan intelejennya. Tapi ana sepakat dgn tahap penyadaran ummat tentang hakikat musuh, agar mrk tak lagi ikut latah menyalahkan mujahidin dan berbalik mendukungnya. Jadi, bagi antum2 yg di dunia dakwah…mulai sekarang harus mulai menjelaskan siapa musuh siapa kawan, dan bagi teman2 di sektor jihadi….buatlah amaliy h kalian lebih rapi dan termanajemen dgn baik. Krn jika kejadiannya hanya berakhir sprt kasus aceh,penyergapan2 yg menewaskan tokoh2 mujahidin, maka yg memanen hasilnya adalah THOGHUT bukan antum..!!! Mrk akan naik pamornya di hadapan tuannya,setan Amerika. Balas gonnashoh, di/pada 27/04/2010 pada 11:14 Dikatakan: r yang jelas…. dalam ritsa’nya, wizaroh hai’ah syariyyah Negara Islam Irak mengikutsertakan Indonesia dalam qoimah qurrata a’tun mereka… ‫ول ننسى قرة العين في أرض القوقاز العزيزة البية، وكذا في الفليبين وإندونيسيا ونيجيريا‬ ّ ّ pendek kata, darah ikhwah takkan tumpah sia-sia…mereka sudah berusaha… sila tengok http://almtaab3060al3am.blogspot.com/2010/04/blog-post_5533.html

Balas Muallim01, di/pada 04/07/2010 pada 16:02 Dikatakan: r http://sjihad.wordpress.com/category/catatan/ REFLEKSI JIHAD ACEH 2010 (bag 3) Posted on 20/04/2010 by elhakimi Merumuskan Peta Kontribusi Umat Islam Mujahidin perlu merumuskan peta kontribusi umat yang dibutuhkan untuk menegakkan Islam, dalam rangka memastikan semua unsur umat bisa mengambil peran sesuai minat dan kemampuan. Karena dalam realita seperti Indonesia saat ini (2010), rasanya tak mungkin berimajinasi bahwa seluruh umat Islam mendukung jihad, apalagi ikut hadir di medan jihad. Kecuali jika realitanya seperti Iraq atau Afghan, ketika musuh yang kafir dengan beringas menyerang umat Islam, maka diperlukan sebanyak mungkin kader umat yang harus datang ke medan jihad. Dalam situasi semacam ini, kontribusi yang paling dibutuhkan dan efektif bagi umat adalah memanggul senjata untuk mengusir penjajah yang kafir sesegera mungkin. Peta kontribusi yang dimaksud, misalnya untuk menjawab pertanyaan seorang wartawan muslim, apa kontribusi yang bisa ia berikan untuk jihad dan menegakkan Islam jika tak terjun langsung ke medan laga? Juga pertanyaan serupa dari kalangan pedagang, guru, dokter, petani, sopir, pelaut, ahli IT, insinyur, dan segala macam pernik profesi dan keahlian manusia. Apakah mengobarkan jihad di Indonesia bermakna menyeru mereka semua untuk meninggalkan profesi masing-masing, dan berbondong-bondong menuju medan jihad? Sekali lagi, untuk kasus negara sebesar Indonesia, dengan jumlah penduduk muslimnya saja lebih dari 200 juta, dan tak ada “pemantik” untuk menyalakan pertempuran, apakah itu pilihan yang bijak untuk tegaknya Islam di sini? Ataukah ada toleransi dengan membiarkan mereka menekuni profesinya, tapi bisa berkontribusi untuk tegaknya Islam? Jika jawabannya ya, maka yang mereka butuhkan adalah sebuah peta kontribusi. Mereka masih bisa bekerja di bidangnya masing-masing, sambil “menabung” kontribusi dalam sebuah mata rantai yang berujung pada jihad fi sabilillah. Setahu saya, belum pernah dibuat blueprint (cetak biru) peta kontribusi yang mencakup seluruh aliran dan keahlian umat Islam, minimal di Indonesia. Umat Islam Indonesia memiliki beberapa situs yang gencar menyuarakan tema dan berita jihad, semisal Arrahmah.com, Muslimdaily.net, Eramuslim.com dan lain-lain. Mujahidin tak perlu memprofokasi para admin situs-situs tersebut untuk meninggalkan posnya demi pergi ke bukit-bukit pertempuran. Sebab keberadaan pos-pos tersebut amat vital dalam

mengedukasi umat tentang jihad dan mengadvokasi para mujahidin dari kasus-kasus yang menjerat mereka. Demikian pula jika ada dokter, baik yang umum maupun spesialis. Keahlian mereka perlu dipelihara di tempat kerja mereka masing-masing, untuk suatu saat digunakan. Kader-kader umat yang menggeluti dunia teknik dan rekayasa, biarkan mereka berkembang di tempat kerja mereka masing-masing, karena jihad amat membutuhkan keahlian mereka pada saatnya nanti. Bahkan lembaga-lembaga dakwah yang hidup di tengah umat dengan segenap ragam dan fokus perhatiannya juga perlu dipelihara. Misalnya ada lembaga yang fokus memberantas kemunkaran (FPI), menekuni pendidikan untuk anak-anak muslim (pesantren dan sekolahan), spesialis menghantam aliran sesat (LPPI), spesialis melawan Liberalisme dan Pluralisme (INSIST: Adian Husaini dkk), spesialis melawan Syiah, spesialis melawan Kristenisasi (FAKTA dll) dan semua elemen umat yang berperan menjaga rumah besar umat dari rongrongan tikus-tikus kemunkaran dan kesesatan. Paradigma ini dilandasi pandangan bahwa jihad bukan obat segala penyakit. Jihad bukan seperti iklan sebuah produk minuman: apapun makanannya, minumannya teh botol sosro. Untuk melawan Syiah di Indonesia, tak bisa dengan mengancam mereka dengan senjata dari bukit-bukit jihad. Karena mereka menyusup dengan cerdik seperti bunglon di semua lini kehidupan di kota-kota dan desa-desa. Mereka punya aqidah bernama Taqiyah, yaitu keharusan berpenampilan layaknya musuh untuk mengalahkan musuh. Paling baik dan efektif membongkar kedok mereka adalah dengan al-kitab, bukan dengan as-saif. Membongkar kebusukan mereka adalah melalui ilmu dan dakwah, bukan menantang mereka adu senjata karena wujud mereka pun sulit dikenali. Bukankah Islam ditegakkan dengan dua sarana; al-kitab al-hadiy dan as-saif an-nashir (Kitab yang berfungsi memberi petunjuk, dan pedang yang berfungsi menolong). Kitab melambangkan ilmu dan dakwah, sementara saif melambangkan jihad fi sabilillah. Tanpa perpaduan keduanya, perjalanan Islam akan pincang. Jika hanya menonjolkan kitab, akan dilecehkan musuh. Jika hanya menonjolkan saif, Islam akan tampak garang laksana preman, sehingga orang takut mendekat. Wilayah Indonesia dengan jumlah muslimnya mayoritas ini yang terbaik adalah dijadikan obyek dakwah, belum lagi obyek jihad. Bukan sembarang dakwah, tapi dakwah yang mendukung perjalanan jihad. Umat dibimbing untuk bisa memahami, mengamalkan dan membela Islam dengan benar. Jika variasi keahlian dan profesi mereka dikelola dengan baik, kekuatan umat bisa digunakan untuk menagakkan Islam pada saatnya nanti bila momentumnya sudah tiba. Sayangnya, manusia kerap tak mampu menundukkan sifat aslinya; isti’jal (tergesa-gesa). Ingin menegakkan Islam laksana sulap. Atau minimal ingin mencapai hasil laksana preman; todongkan senjata, semua urusan akan selesai. Teliti dalam Merekrut Kader Jihad

Jihad yang bermakna pertempuran di medan perang, harus memilih kader-kader terbaik yang memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Sebab sudah berulang kali jihad bersenjata dikumandangkan di Indonesia, tapi selalu berujung pada penangkapan yang menyedihkan. Kita harus sangat teliti dan selektif dalam memilih kader yang siap berjihad dengan senjata, karena karakter jihad berbeda dengan karakter dakwah. Tidak semua orang yang lisannya dengan manis mendukung jihad merupakan orang yang tepat untuk diajak berjihad ke medan tempur. Intelijen berkeliaran, yang banyak di antaranya berpenampilan sangat “salafi” dan sangat “jihadi”. Amat sulit membedakan mana orang yang sungguh-sungguh lagi aman untuk diajak jihad dari kalangan yang justru akan merusak jihad. Intelijen bekerja dengan sangat serius untuk menjegal barisan mujahidin. Tak bisa kita hanya mengandalkan kader jihad dengan melihat pada penampilan lahirnya, tapi kita harus benar-benar merasa aman dan sangat kenal dengan orang yang menjadi partner jihad kita. Hati-hati dengan kader jihad “karbitan”, yaitu mereka yang hanya semangat jika berbincang soal jihad, tapi ogah-ogahan ketika diajak bicara soal bagaimana cara wudhu yang benar sesuai sunnah Nabi saw, soal kesucian (thaharah), dan soal najis. Mereka enggan dan tidak antusias bicara soal jilbab untuk istri dan anaknya, soal pilihan sekolah untuk anaknya, soal interior rumah yang islami, soal menangis karena takut kepada Allah, soal zuhud, soal wara’ , soal usaha yang halal, soal riba, soal ittiba’ kepada Rasulullah saw dan seterusnya. Indonesia bukan tempat yang sedang berkecamuk konflik seperti Afghan, Iraq, atau Somalia. Di wilayah konflik, tak diperlukan ketelitian yang terlalu ketat dalam merekrut kader jihad. Siapa pun yang punya cukup keberanian untuk datang ke medan tempur dan ingin berjihad bersama mujahidin, harus diterima dengan tangan terbuka. Tapi untuk kasus seperti Indonesia, yang bukan negara konflik, kita tak bisa serta merta merasa aman bekerja dengan kader jihad “karbitan”. Tidak semua yang menampakkan ketertarikan dengan tema jihad layak untuk diajak ke medan jihad. Inilah karakter jihad. Berbeda dengan karakter dakwah, yang sangat open. Siapa pun bisa diajak bergabung dalam barisan dakwah. Siapa pun yang bertanya tentang Islam, kita wajib menjelaskan, tanpa boleh menolak. Bahkan jika yang meminta itu dari kalangan intelijen yang ingin menjebak seorang da’i. Siapa pun yang tertarik dengan dakwah dan menyebarkan Islam asalkan terlihat itikad baiknya, kita mesti mengapresiasinya. Sementara dalam jihad, barisan mujahidin boleh (bahkan harus) menolak kaum munafiq untuk masuk dalam barisan jihad, jika ternyata ia akan justru merusak agenda jihad. Lihat Surat At-Taubah ayat 83. Tapi ketika Rasulullah saw berada di Madinah, beliau tetap tampak dekat dan akrab dengan kaum munafiq, karena kehidupan di Madinah bercorak dakwah. Alkisah menyebutkan, gembong munafiq zaman Nabi saw yang bernama Abdullah bin Ubay biasa shalat di belakang Nabi saw. War, Bukan Battle (Perang, Bukan Tempur)

Jihad mestinya dimaknai sebagai peperangan semesta, bukan bentrokan sesaat. Kesalahan dalam mempersepsikan jihad akan melahirkan kekeliruan dalam merealisasikan jihad. Dalam bahasa Inggris, ada istilah war dan ada istilah battle. War adalah peperangan panjang antara dua pihak. Sementara, battle adalah bentrokan sesaat antara dua kelompok yang bersenjata. Atau dengan kata lain, war (perang) merupakan serangkaian battle (tempur) yang dilakoni dua pihak yang saling berseteru. Pertarungan antara umat Islam melawan kaum kafir dengan segenap anteknya merupakan pertempuran dan pertarungan panjang yang bersifat lintas generasi. Oleh karenanya lebih tepat disebut perang (war). Permusuhan yang melibatkan seluruh sisi kehidupan, segala jenis keahlian, dan semua ragam kehidupan manusia. Bahkan tanpa ada batas waktu. Kedua belah pihak menggunakan segala daya kemampuan dan cara untuk mengalahkan lawannya. Ada adu kesabaran dalam mengintai. Ada adu cerdik dalam menjebak. Ada adu pintar dalam mengelabuhi. Ada adu kekuatan dalam benturan senjata. Ada adu kecanggihan teknologi. Ada adu kekuatan ekonomi. Ada adu ketangguhan mental. Ada adu soliditas barisan. Ada adu ketajaman membidik. Semua puncak ilmu dan kehebatan masing-masing diramu dan diracik sebaik mungkin untuk menghasilkan kemenangan. Jihad fi sabilillah—oleh karenanya—lebih tepat diletakkan dalam makna war atau perang, bukan tempur atau battle. Jihad bukan semata bagaimana dapat memukul dan mengalahkan musuh dalam waktu singkat tapi tak mampu memelihara kemenangan itu. Jika ukurannya bisa memukul musuh di salah satu sesi tempur, bukan merupakan kemenangan jihad. Kemenangan jihad adalah bila mampu memenangkan pertempuran dan dapat memelihara kemenangan itu dengan tegaknya sebuah kekuasaan, karena tujuan utama jihad adalah menghilangkan hambatan dalam melaksanakan Islam dalam tataran negara. Dengan demikian, jihad menghajatkan pula kemahiran berpolitik, selain membangun kekuatan ekonomi. Ada renungan menarik dari seorang tokoh jihad Afghan yang berasal dari Arab. Renungan ini ditampilkan oleh Hazim Al-Madani dalam bukunya Hakadza Nara al-Jihad. Berikut catatan Hazim Al-Madani: Hasil akhir semua rangkaian eksperimen jihad global umat Islam: kita cukup sukses dalam mencapai angka-angka keberhasilan secara militer (tempur), tapi pencapaian kita nol besar di bidang politik. Saya ingat (kata Hazim Al-Madani), suatu hari seorang tokoh jihad Arab di Afghanistan berkata: “Kita asyik dengan pertarungan militer, sukses menempa jiwa ikhlas, dan berhasil menghidupkan kecintaan mati syahid. Tapi kita lalai memikirkan kekuasaan (politik), sebab kita tak sepenuh hati menggelutinya. Kita masih memandang bahwa politik adalah barang najis. Hasilnya, kita sukses mengubah arah angin kemenangan dengan pengorbanan yang mahal, hingga menjelang babak akhir saat

kemenangan siap dipetik, musuh-musuh melepaskan tembakan “rahmat” kepada kita – demikian kosa kata yang biasa mereka gunakan – untuk menjinakkan kita.” Saat itu banyak yang tak sependapat dengan refleksi ini, meski banyak pula yang sepakat. Tapi realita yang kemudian terjadi membuktikan kebenaran sinyaleman ini. Seluruh dunia mengusir eksistensi mujahidin Arab pasca perang melawan Rusia (saat itu Uni Soviet). Mujahidin yang pulang kampung ‘diberi rahmat’ (baca; ditangkap) oleh negeri mereka masing-masing. Demikian catatan Hazim Al-Madani. Namun harus diingat, kalimat ini bukan dalam rangka menjustifikasi politik najis ala partai politik di Indonesia. Bukan politik kotor yang dipamerkan para penyembah dunia dengan cara mengaduk al-haqq dengan al-bathil, menyamarkan kebenaran atau mengurangi harga kebenaran. Tidak, sekali lagi tidak. Tapi yang dimaksud, politik yang kita baca dari cara Nabi saw mengelola urusan umat baik dalam masalah sosial, dakwah dan jihad di medan tempur. Politik yang bermakna mekanisme baku dalam menegakkan peradaban manusia. Jika kita melalaikan mekanisme baku yang berlaku secara global ini, kita hanya akan berputar tanpa ujung disebabkan kita tak mencontoh Nabi saw dan tidak menapaki sunnatullahnya: hukum alam sebab akibat. Jihad bisa memakan waktu yang sangat lama, seperti Perang Salib yang berlangsung sekitar 200 tahun. Jihad Afghan saat sukses menaklukkan Uni Sovyet pada tahun 90-an menjadi pelajaran berharga buat kita. Ternyata setelah mujahidin ditolong oleh Allah sehingga mampu mengusir Uni Sovyet, mereka bertengkar sendiri dan Afghan menjadi sangat lemah dan letih dengan perseteruan internal. Alhamdulillah Allah menyelamatkan hasil jihad panjang puluhan tahun itu dengan munculnya Taliban, yang berhasil menyatukan barisan umat Islam Afghan dalam satu shaf, sebelum akhirnya dirusak kembali oleh Amerika dengan jargon “War on Terror”-nya pada tahun 2001. Maka kita harus mengartikan jihad dengan makna perang (war) bukan pertempuran (battle). Dalam bahasa Arab juga dibedakan. Pertempuran atau battle disebut dengan qital, harb atau ma’rakah. Sedangkan perang digunakan istilah jihad. Itulah mengapa kita tak menemukan istilah dalam Al-Qur’an berupa rangkaian kata qital dengan amwal. Artinya tak ada pertempuran dengan harta. Rangkaian yang ada adalah kata jihad dengan amwal, yang artinya berjihad dengan harta. Terdapat 9 ayat yang berisi rangkaian kata jihad dengan amwal, sementara tak ada satupun ayat dengan rangkaian kata qital dengan amwal. Ini artinya, jihad bukan semata tempur adu senjata di medan laga, karena jihad bisa dilakukan dengan harta. Kalau sekiranya jihad hanya bermakna tempur, tak ada istilah jihad dengan harta. Jihad adalah perang atau war yang bersifat semesta, meliputi seluruh elemen kehidupan manusia. Meliputi militer, politik dan ekonomi. Maka, pastikan seluruh umat Islam tahu peta kontribusi untuk jihad dalam rangka menegakkan Islam. Jangan sampai ada potensi umat Islam yang tercecer tak terrangkai dalam untaian jejaring kekuatan jihad global dalam rangka memenangkan Islam dan mengubur kesombongan kaum kafir dengan segenap anteknya.

Mujahidin Harus Menyatu dengan Umat Mujahidin ibarat ikan, umat adalah airnya. Jika mujahidin meninggalkan umat, umatpun akan meninggalkan mujahidin. Keduanya saling membutuhkan secara berimbang. Oleh karenanya, hubungan mujahidin dengan umat mesti harmonis dan sinergis, bukan saling merendahkan bahkan saling melaknat. Umat Islam butuh bimbingan untuk memahami Islam. Mereka perlu diberi pencerahan tentang bagaimana cara membela dan menegakkan Islam. Kontribusi mereka harus dihargai, bukan diremehkan. Mujahidin perlu memberitahukan dengan jelas maksud perjuangannya, dengan memberi rasa aman terhadap umat Islam dari dampak yang mungkin timbul dari perjuangan tersebut. Memang dampak buruk duniawi tak bisa dipungkiri akan selalu menyertai dari setiap perjuangan. Hazim Al-Madani, dalam bukunya hakadza nara al-jihad mengingatkan kita akan pentingnya masalah ini. Untuk sekedar diketahui, Hazim Al-Madani adalah salah seorang tokoh jihad Afghan dan punya kedekatan dengan lingkar dalam Al-Qaeda. Berikut tulisannya: “Saat ini, dunia internasional berkoalisi memerangi kita. Jika ada yang tidak ikut dalam koalisi ini, sejatinya bukan karena simpati kepada kita. Tapi lebih disebabkan keinginan untuk memperoleh bagian lebih besar dari ghanimah ini (kita semua adalah ghanimah bagi mereka). Meski realitanya demikian, mereka yang tidak masuk dalam koalisi internasional ini berpotensi untuk dijalin kemitraannya dengan kita. Tapi masalahnya, kita wajib mengutamakan mitra setia yang bersedia berkorban untuk kita, bukan mitra yang suatu saat akan mengkhianati kita. Dan singkat kata, mitra setia itu adalah umat Islam sendiri. Aku tekankan poin ini dengan adanya bukti sejarah yang menguatkannya. Dengan buktibukti ini saya berharap putra-putra umat yang terlibat dalam kancah amal islami yakin bahwa umat mereka berdiri tegak di belakang mereka, membela mereka dan menebus pengorbanan mereka dengan apa saja yang mereka punya, tanpa pernah meninggalkan mereka berjibaku sendirian di medan pertarungan. Afghanistan pasca hengkangnya Uni Soviet, saat dukungan pemerintah Arab dan Islam berhenti disebabkan intervensi Amerika, tatkala pemerintah-pemerintah itu tak lagi tertarik mendukung mujahidin untuk memetik buah kemenangannya. Siapakah yang mengulurkan bantuan sehingga muncul gerakan Taliban? Apakah pemerintah dan bala tentaranya itu yang membantu ataukah putra-putra umat ini? Bukankah individu-individu umat Islam yang menyisihkan sebagian penghasilannya untuk disumbangkan kepada mujahidin dengan suka rela?

Somalia, saat terjadi atraksi jihad menawan melawan koalisi internasional, siapakah yang mengulurkan bantuan kepada mujahidin sehingga tentara Amerika lari tungganglanggang dari sana? Siapa yang melakukan atraksi jihad itu? Apakah pemerintah Somalia dengan bala tentaranya ataukah putra-putra umat Islam? Bukankah unsur umat Islam yang rela memangkas sebagian penghasilannya untuk disumbangkan kepada mujahidin dengan suka rela? Bosnia, saat berkecamuk perang sipil yang mengerikan, siapakah yang mengulurkan bantuan untuk membela umat Islam yang menjadi korban pembantaian? Apakah pemerintah dan pasukannya ataukah umat Islam melalui putra-putra terbaiknya? Siapa yang mengulurkan bantuan ekonomi? Bukankah umat Islam yang dengan suka rela menyisihkan sebagian nafkahnya untuk disumbangkan dengan suka rela? Cechnya, yang dua kali dihantam gelombang penyerbuan dari tentara Rusia, saat dunia sudah berada dalam genggaman hegemoni Amerika. Siapakah yang mendanai mujahidin dalam membela setiap jengkal tanah Cechnya? Apakah penguasa dan prajuritnya, ataukah umat Islam dengan segenap jiwa, raga dan hartanya? Palestina, sepanjang untaian nestapa mereka, dan kisah heroik perlawanan Intifadhah. Semua ini menjadi contoh betapa pengorbanan sedang ditunaikan umat dan akan selalu ditunaikan. Bahkan kita tidak tahu, apakah dukungan materi dari umat Islam itu sampai ke tangan mujahidin Palestina ataukah dirampok oleh para penguasa Arab. Di sini jelas, siapa yang berkorban dan siapa yang justru menghambat. Yaman, siapa yang meledakkan kapal induk Amerika USS Cole hingga terkoyak. Jelas, bukan tentara Yaman, tapi unsur umat Islam. Siapa yang menghantam New York dan Washington pada hari Selasa yang penuh berkah pada tahun 2001? Apakah para penguasa dan bala tentaranya, ataukah umat Islam? Mereka mempersembahkan putra-putra terbaiknya dan dengan sukarela membagi nafkahnya untuk jihad dan mujahidin. Peta pertarungan telah terkunci mapan. Tapi bukan antara Barat dengan Timur, atau antara Utara dengan Selatan. Tapi antara blok kufur dengan blok iman. Ibarat dua sisi timbangan, sebelah diisi kaum kafir dengan segenap antek-antek dan perlengkapannya, dan sisi yang lain diisi mujahidin dan umat Islam dengan segenap dukungan dan perlengkapannya pula. Jelaslah, umat Islam menempati satu papan pertarungan, sementara yang lain ditempati blok kafir dunia. Fakta ini dipahami dengan baik oleh Barat dan para penguasa dunia. Oleh karenanya, mereka selalu melakukan upaya sistematis untuk memisahkan kita (mujahidin) dengan umat Islam. Allah akan selalu menang, tapi banyak manusia yang tak meyakininya. Sesunggunya sandaran hakiki mujahidin setelah kepada Allah adalah kepada umat Islam yang selalu merindukan tegaknya undang-undang Al-Qur’an dalam

kehidupan mereka hingga mereka bertemu Allah. Bukan bersandar kepada para penguasa dan aparat di negeri mayoritas muslim, karena rongga otak dan perut mereka sudah tersumbat oleh obsesi dunia dan politik yang berselera rendah. Kewajiban mujahidin adalah menjadikan umat Islam dalam barisannya, tak boleh meninggalkan mereka sekejappun karena akan dimanfaatkan para penguasa dan hukum kufur. “ (selesai, kutipan dari Hakadza Nara Al-Jihad). Semoga kita bisa menghidupkan jihad di Indonesia dan memastikan Islam merdeka di sini. Amin. Nantikan serial berikutnya dalam Wacana Jihad Salam hangat untuk semua peminat jihad dan dakwah Share this: StumbleUpon Digg Reddit DIarsipkan di bawah: Siyasah Syar'iyyah, Wacana Jihad | Ditandai: Analisis Jihad, Jihad Aceh, Refleksi Jihad, Wacana Jihad « ARRAHMAH.COM vs ERAMUSLIM.COM Dialog antara Dakwah vs Jihad » 20 Tanggapan - tanggapan Al Fakir, di/pada 20/04/2010 pada 08:33 Dikatakan: r terima kasih.. semoga Alloh memberikan kebaikan yang banyak.. Balas madu, di/pada 21/04/2010 pada 11:09 Dikatakan: r mantabbbbbe Balas kmmstks, di/pada 21/04/2010 pada 19:00 Dikatakan: r Allahu Akbar Balas alamsyah, di/pada 22/04/2010 pada 10:50 Dikatakan: r menarik sekali…sebuah tulisan yg sangat bagus. Tapi bagaimana dgn pembelaan thdp mujahidin yg sdh tertangkap ato terbunuh oleh thoghut ? Ato upaya pembebasan para twanan mujahidin, apalgi ada muslimah yg juga tertawan ( sprt ukhti Putri Munawaroh)? Tidakkah ini menjadi dari bagian yg perlu disampekan oleh para da’i kpd ummat ?

Mereka butuh dukungan ummat, tapi sejauh ini kami melihat simpati ummat sdh jauh berkurang. Utk berinfaq kpd klrg mujahidin aja mrk takut, tak mau menolong. Jadi kpd para da’i tolong bersuaralah yg lantang membela mujahidin….dan lihatlah…sebentar lagi akan lahir sebuah kekuatan pemukul bagi para pedhalim durjana itu. Dakwah yg memberi petunjuk dan pedang yg menolong..!! Ana sangat Setuju ! Balas poniran, di/pada 26/04/2010 pada 11:53 Dikatakan: r allahu akbar… allahu akbar…allahu akbar…!!!! Balas robin, di/pada 30/04/2010 pada 20:16 Dikatakan: r Oh begitu yah maksudnya, kalo gitu sekarang saya dukung dah semua lapisan jihad yg ada. saya kira teroris tuh penjahat ternyata pejuang Islam. berarti kalo orang Islam ktp kaya saya gak bisa jihad senjata yah. harus solat 5 waktu dulu yah. tp saya bingung sering islam itu saling menghujat “lu bidah ahli neraka” sedangkan gw tau agama dari yg sering ngerayain maulidan… Balas robin, di/pada 30/04/2010 pada 20:17 Dikatakan: r Saya tuh gak paham Islam yg bener golongan yg mana??????? Balas Abu Asma, di/pada 08/05/2010 pada 09:50 Dikatakan: r mudah-mudahan masa depan jihad akan semakin cerah. Balas 7ihadmedia, di/pada 09/05/2010 pada 21:02 Dikatakan: r nasihat dari Abdullah Sunata : http://7ihadmedia.wordpress.com/2010/05/03/nasihatterbaru-dari-dpo-abdullah-sunata-kepada-ikhwan-mujahidin/ Risalah beliau yg sebentar lagi terbit akan menanggapi segala tulisan mengenai Refleksi Jihad Aceh ini …. insha Allah sebentar lagi Balas elhakimi, di/pada 10/05/2010 pada 21:41 Dikatakan: r Semoga tanggapan antum positif terhadap refleksi jihad aceh ini. Karena yang namanya tanggapan tak mesti negatif, kan? Jika kita jujur dengan diri sendiri dan bijak dalam menimbang, pasti antum juga akan dengan gentle memuat kritik antum untuk jihad Aceh. Bukan hanya pujian dan dukungan

hanya karena mereka adalah teman karib antum. Sebagaimana kami juga bukan hanya mengkritisi, tapi juga memberi pujian dan dukungan, juga do’a semoga ibadah jihad mereka diterima oleh Allah swt. Jihad Aceh 2010 mari kita pandang sebagai realitas sejarah. Sebagaimana perang Uhud pada zaman Rasulullah saw juga realitas sejarah. Kita boleh menulis refleksi tentang perang Uhud, yang didalamnya memuat pelajaran apa saja yang dapat dipetik dari kecerobohan sebagian mujahidin Uhud sehingga menyebabkan seluruh pasukan hampir saja kalah oleh musuh. Padahal di dalamnya terdapat Rasulullah saw dan para Sahabat mulia. Tidak ada orang yang waras akalnya menyikapi refleksi jihad Uhud sebagai pelecehan terhadap pribadi Sahabat ra, tapi sebagai pelajaran bagi generasi sesudahnya. Artinya, kesalahan itu jangan diulangi ! Refleksi kita terhadap perang Uhud bukan bermakna menghakimi semua mujahid yang terlibat di dalamnya sebagai orang-orang yang salah. Tujuan refleksi adalah mengambil butir-butir pelajaran dari kekeliruan pelaku sejarah agar tak diulangi oleh generasi sesudahnya. Ini sesuatu yang baik untuk kematangan umat Islam sendiri. Seorang ayah yang profesinya sopir truk antar kota, akan menasehati anaknya begini: nak, jangan engkau tiru profesi ayahmu. Ini profesi tidak bagus, karena banyak godaannya sepanjang perjalanan. Biar ayahmu saja yang mengalami “kekeliruan” seperti ini. (Lihatlah, seorang ayah merefleksi dirinya sendiri, agar menjadi pelajaran buat anaknya ! ) Maka, mestinya refleksi itu muncul dari para pelaku sendiri. Mereka membeberkannya kepada generasi sesudahnya, dengan mengatakan begini: wahai generasi penerus jihad, inilah “kekeliruan” kami dalam melakukan jihad Aceh (dengan merinci poin-poin “kesalahan” setelah dievaluasi secara internal). Jangan kalian ulangi kesalahan kami. Kami sayang kepada kalian ! Kesan saya, refleksi kami terhadap jihad Aceh 2010 antum pandang sebagai serangan dan penggembosan yang harus dilawan sedemikian rupa. Di mata antum, seluruh kalimat yang ada dalam artikel refleksi ini salah. Tidak ada benarnya sedikitpun. Hanya karena refleksi ini datang bukan dari seorang mujahid! (Sejak kapan jihad melahirkan arogansi seperti ini ?) Makanya saya berharap, tanggapan yang akan antum terbitkan itu juga disertai ulasan kalimat mana dalam refleksi kami yang menurut antum benar, agar kami tahu bahwa antum adalah orang yang bijak dan adil. Bukan orang yang antipati secara membabi-buta. Kami tidak berniat menggembosi, tapi mengajak berpikir dengan bijak dan hati-hati. Jihad bagi kami bukan semata soal semangat, tapi juga rumusan taktik dan strategi dengan dibarengi kesabaran dan ketekunan. Karena kami lebih mengutamakan pertimbangan menang daripada obsesi mati syahid. Bagi kami, nyawa mujahid itu mahal. Apalagi mujahid yang punya keahlian hebat. Harus dipelihara dengan serius karena mereka adalah aset umat. Karena kami tahu, mengkader mujahid yang hebat itu sangat sulit. Kita akan sangat sedih mendengar mujahid mati syahid atau tertangkap. Sedih karena kekuatan umat berkurang dengan syahidnya seorang mujahid atau tertangkapnya mereka. Saya melihat satu gejala yang kurang baik di tengah aktifis jihad yang semangatnya membara. Umumnya mereka “bersyukur” jika ada mujahid mati syahid. Merasa bangga. Terbersit rasa bahagia. Aduh, kekalahan kok disyukuri! Gimana sih mas… mas… !

Coba bandingkan dengan jujur. Kira-kira apa perasaan para Sahabat tatkala mengetahui Umar bin Khattab ra gugur syahid karena ditikam musuh? Pasti mereka sedih luar biasa. Karena sosok Umar bin Khattab ra adalah aset umat yang sangat mahal. Kepergiannya membuat kesatuan umat goyah. Kepemimpinan Umar tak mampu digantikan oleh sosok Usman, meski keduanya sama-sama dijamin masuk surga. Romantisme mati syahid memang indah. Tapi jangan sampai hal ini membuat kita ghuluw terhadap mati syahid, sehingga membuat kematian seorang mujahid “dirayakan” bukannya “diratapi”. Hadanallahu wa iyyakum ila al-haqq. Salam hangat dari elhakimi… Nahnu nuhibbukum fillah … Balas 7ihadmedia, di/pada 11/05/2010 pada 06:39 Dikatakan: r ana sama sekali tidak pernah membaca tulisan mengenai refleksi jihad aceh yang antum tulis, ana hanya mendengar terdapatnya tulisan itu dan hingar bingar komentarnya…… sampai sekarang ana juga tidak membaca… ana hanya menyampaikan saya risalah dari Abu Ikrimah tersebut… Ana teringat pesan Abu Ikrimah: “Yang memberikan kemenangan itu bukan kalian, tapi Allah, darimana kita tahu kemenangan itu datang kalau tidak kita coba berjuang?” Namun memang berbeda, pendapat mengenai jihad antara orang yang pernah melakukannya dan yang tidak pernah melakukannya… Balas elhakimi, di/pada 11/05/2010 pada 07:23 Dikatakan: r Kalimat antum: ana sama sekali tidak pernah membaca tulisan mengenai refleksi jihad aceh yang antum tulis, ana hanya mendengar terdapatnya tulisan itu dan hingar bingar komentarnya…… sampai sekarang ana juga tidak membaca… Kata saya: Orang seperti ini yang susah diajak berpikir. Baca saja belum sudah ikut komentar. Nyata sekali adanya antipati yang membabi buta. Udah gitu bangga lagi kalo belum baca ! Jangan-jangan, komentar saya di atas juga belum dibaca. Aduh, pening aku ! Persis seperti Salafi Murjiah yang mengharamkan sama sekali baca tulisan Sayyid Qutb. Gaya nihilis seperti ini yang akan merusak jihad. Susah dinasehati. Lha gimana tidak, dituliskan nasehat tapi mengharamkan diri untuk membacanya, hanya karena bukan dari mujahid (pernah jihad). Orang ini seperi wali. Bisa memberi tanggapan tapi tidak pernah membaca tulisan yang ditanggapi. Kok ada ya orang seperti ini. Di jaman semodern ini. Jaman canggih.

Jangan-jangan kalo dapat sms dari temannya gak pake dibaca langsung dibalas! Anda benar-benar wali ! Kalimat antum: Namun memang berbeda, pendapat mengenai jihad antara orang yang pernah melakukannya dan yang tidak pernah melakukannya… Kata saya: Emangnya komentar saya di atas antum sudah baca? Kok tahu berbeda dari mana? Kan gak mau baca tulisan saya ! Kalimat antum ini mengandung kibr (nada sombong). Rasulullah saw bersabda: al-kibr bathrul haqq wa ghamtun nas (Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain). Antum membanggakan diri dengan jihad. Jihad itu amal yang mestinya tak usah diumbar ke mana-mana: Hai semua orang, saksikan saya sudah berjihad ! Antum meremehkan orang hanya karena belum berjihad. Kelanjutannya, antum menolak duluan padahal mungkin ada kebenaran di situ. Kita ini manusia. Emangnya antum sudah demikian yakin bahwa jihad antum mendapat garansi diterima Allah? Mari tawadhu’ ya akhi. Sombong hanya akan bikin antum susah tidur dan tidak bahagia. Percayalah sama saya ! Balas 7ihadmedia, di/pada 11/05/2010 pada 11:25 Dikatakan: r Kenapa jawaban-jawaban dari antum sewot-sewot seperti itu? sepertinya ana tidak pernah mengkritisi blog atau tulisan-tulisan disini, ana malah dibilang sombong juga… bagaimana sih? Ana kan bilang… ana tidak baca tulisan refleksi jihad, jadi ana tidak sedang dalam posisi menanggapi.. yang menanggapi adalah yang membaca tulisan antum dalam hal ini insha Allah Abu Ikrimah, soal bagaimana tanggapannya nanti ana juga tidak tahu… ana cuman mempostingkan tulisan beliau… Balas elhakimi, di/pada 11/05/2010 pada 17:32 Dikatakan: r Afwan akhi, ana salah tangkap maksud antum. Kirain antum yang akan nanggapi. Bagi saya, kalimat antum di atas itu serius. Semacam gertakan bahwa seluruh isi artikel saya soal jihad aceh akan dikupas habis. Coba antum renungkan kalimat antum di atas: Risalah beliau yg sebentar lagi terbit akan menanggapi segala tulisan mengenai Refleksi Jihad Aceh ini …. insha Allah sebentar lagi Ya udah, ana minta maaf jika ada kalimat saya kepada antum yang kurang berkenan. Peace ! Balas faiz abdurrahman, di/pada 13/05/2010 pada 20:56 Dikatakan: r

ikhwan sekalian….tak usahlah kita memprpanjang perdebatan… Jihad tetap harus jalan dengan sistem yg lebih rapi,efektif,efisien,dan ber-efek melemahkan musuh,menakutkan musuh dst dst…Jihad bukan amal sehari dua hari,tapi berkesinambungan sampe agama hany bagi Alloh semata. Pembelaan thd kaum muslimin yg tertindas memang wajib, tapi harus dengan cara yg baik pula.Ingat ya ikhwan…nyawa seorang mujahid itu mahal, maka rapikanlah pola gerak antum wahai para mujahidin… do’a kami selalu menyertaimu. Ingatlah sejarah jihad Afghanistan, jihad hny dimulai oleh 11 org dgn modal 1 pucuk pistol tapi karena polanya rapi dan sinergi dgn dakwah, maka dlm bbrp tahun jihad sdh didukung oleh seluruh rakyat Afghan. Hari ini kita menghadapi musuh yg sama, tinggal memahamkan ummat hakikat pertempuran ini. Dan bagi para mujahidin, tetaplah di atas jalan jihad dan jaga diri antum agar tdk mudah ditangkap/dibunuh thoghut, karena ummat sangat membutuhkan antum….. Mari bersama kita berjalan beriringan saling menguatkan. Balas mantan brimob kelapa2 nih mau numpang nulis ah.., di/pada 23/05/2010 pada 20:26 Dikatakan: r halah gw cape2 keluar dari brimob biar bisa jihad, tapi klo ada masukan kritikan dan saran yang bagus kenapa nggak.. emang sih kadang merasa jadi rada2 susah nerimanya tapi jujur gw kaga nerima semua isi dari refleksi jihad di aceh ini.. tapi memang ada point penting nya yg kudu bisa gw pake buat gw terapin di suatu saat nanti.. buat ikhwan yang laen atau si pemilik blog pada baca buku mereka mujahid tapi salah langkah (syaikh abu muhammad al maqdisi penerjemah abu sulaiman) insyaalloh ada kemiripan dengan kejadian yang ada di negeri ini.. Balas Mubarok, di/pada 12/06/2010 pada 22:25 Dikatakan: r Bismillah.. Sekedar informasi aja.. Tulisan berseri ini sudah ada versi inggrisnya.. Lihat di sini: http://www.arrahmah.com/index.php/english/read/8096/a-reflection-on-aceh-jihad-2010 Balas Muhammad, di/pada 22/06/2010 pada 11:02 Dikatakan: r http://onwarandwords.wordpress.com/2010/04/21/lesson-learning-in-the-indonesia-jihad/

http://onwarandwords.wordpress.com/2010/06/14/jihad-is-not-the-medicine-for-everydisease/ Ada kutipan menarik dari tulisan terakhir di atas: The author of this series of essays (does anybody know who he is??) clearly has a good head on his shoulders. In my view, he’s precisely the sort of intellectual who is actually dangerous. Guys like him scare me. I hope that the Indonesian authorities find him soon and either kill him or re-educate him. Subhanallah.. dengan tulisan saja bikin mereka ketakutan.. Balas Princess Malika, di/pada 02/07/2010 pada 12:08 Dikatakan: r Subhanallah, kafir ngeri juga baca refleksi ini.. Mujahidin Zindabad.. Pemilik blog onwarandword.wordpress.com seorang a veteran of a number of agencies and departments of the Federal Government and I also spent six years at a major non-profit defense think-tank. Balas Ikhwan Fillah, di/pada 21/07/2010 pada 17:06 Dikatakan: r Assalamu`alaikum…. rohimana wa rikhimakumulloh Menyiapkan Jihad Aceh Posted on 27/03/2010 by elhakimi Awal Januari 2009. Sebuah iklan di koran lokal berisi kisah penindasan di Palestina yang diikuti pendaftaran calon mujahidin membakar semangat Baili (24), santri dari Dayah, pesantren di Blang Pidie, Aceh Barat Daya, Nanggroe Aceh Darussalam. Anak keenam dari delapan bersaudara dari Desa Alue Bilie, Nagan Raya, ini segera menuju ke Banda Aceh untuk mendaftarkan diri. “Saya ingin membantu Palestina yang ditindas. Tetapi, saya miskin, hanya bisa berjihad dengan tenaga,” ujar Baili mengisahkan alasannya mendaftar sebagai relawan ke Palestina yang diprakarsai Front Pembela Islam (FPI) itu. “Dari 400-an pendaftar dari seluruh Aceh, dipilih 125 orang. Baili termasuk yang terpilih,” kata Yusuf Al Qardhawi, Ketua FPI wilayah NAD. Baili berkenalan dengan Munir alias Abu Rimba (25), anak desa dari Lamtamot, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar, yang juga lolos seleksi. Munir juga berasal dari keluarga miskin. Mereka sama-sama menjadi saksi perang Aceh. “Saya dulu simpatisan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Namun, karena masih terlalu kecil, akhirnya belajar di Dayah dulu,” kata Baili.

Kepada teman-temannya, Abu Rimba mengaku sebagai mantan anggota GAM Gajah Keng, GAM di wilayah Aceh Besar. Beberapa kali ia membanggakan bahwa dirinya mahir menggunakan senjata AK-47, senjata api yang biasa dipakai GAM kala itu. Namun, mantan Panglima GAM Gajah Keng Tajudin (35) menjelaskan, nama Munir alias Abu Rimba tak terdaftar. “Mungkin dia mengaku GAM biar dianggap hebat,” ujarnya. Untuk tahap awal, 15 dari 125 relawan yang terpilih dikirim ke Dayah Darul Mujahidin, Gampong Blang We Panjoe, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe. Dayah itu dipimpin Teungku Muslim Attahiri, ulama yang dikenal amat bersemangat menyerukan syariat Islam di Serambi Mekkah. Bersama santrinya, mereka gencar melakukan razia di jalanan untuk mencari pelanggar Qanun (Peraturan Daerah) Syariat Islam. Selama empat hari, 15 orang itu mendapat pelatihan paramiliter, termasuk pengenalan senjata api. Seorang pelatihnya adalah Sofyan Tsauri, mantan anggota kepolisian yang ditangkap pekan lalu karena diduga terlibat dalam terorisme. Dari Aceh Utara, 15 orang kemudian dikirim ke Markas Pusat FPI di Jakarta. Di sana mereka kembali dilatih paramiliter. “Saya disiapkan menjadi tenaga medik. Diajari obatobatan dan bela diri, tetapi tidak memakai senjata api,” ungkap Baili. Di sela-sela pelatihan itulah, Baili dan kawan-kawannya, termasuk Abu Rimba, beberapa kali diundang ke rumah Sofyan di Depok. Akhirnya, ujar Yusuf, FPI batal mengirimkan relawan yang dilatih, termasuk yang berasal dari Aceh, ke Palestina. Setelah masa pelatihannya dengan FPI berakhir, Baili dan beberapa kawannya didekati Sofyan kembali. ”Dia mengajak untuk berjihad di Indonesia,” kata Baili. Namun, ia mengaku tak setuju dengan doktrin jihad yang disampaikan Sofyan. “Tujuan saya awalnya betul-betul jihad ke Palestina, bukan di dalam negeri. Apalagi mereka menyebutkan boleh membunuh dan mengambil harta saudara yang dianggap sesat,” katanya. Baili lalu memutuskan bekerja sebagai penjaga keramba ikan di Waduk Saguling, Kabupaten Bandung, untuk mengumpulkan ongkos pulang kembali ke Aceh. Sejak itu, ia kehilangan kontak dengan Abu Rimba dan kawan-kawannya. Hampir sembilan bulan ia berada di sana untuk mengasingkan diri dan bekerja sebelum akhirnya kembali ke Aceh beberapa hari lalu. “Saya kaget ketika beberapa kawan menjadi buron polisi karena diduga ikut kelompok teroris,” kata Baili, ditemui di sebuah desa di Banda Aceh. Yusuf mengatakan, dari 15 orang yang dikirim mengikuti pelatihan di Jakarta, hanya tujuh yang kembali. “Saya tak tahu ke mana sisanya. Saya khawatir mereka ikut kelompok teroris itu. Tiga di antaranya ditetapkan sebagai DPO polisi,” katanya.

Pada April 2009, Mukhlis, seorang anak yang pernah dikirim FPI ke Jakarta, ditangkap Poltabes Banda Aceh karena kepemilikan senjata api. Sebulan kemudian, anak lainnya, Muhibuddin, juga tertangkap polisi dengan alasan yang sama. Sesudah itu, gerak-gerik “calon mujahidin” ini nyaris sunyi. Menyiapkan Aceh Namun, sebuah rencana besar disiapkan. Sebuah sel kelompok bersenjata yang ditanam pascatsunami Aceh tahun 2006 mulai dibangkitkan. Yudi Zulfahri (27), seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Banda Aceh, menjadi kunci untuk menyiapkan jejaring itu. Warga Keutapang, Aceh Besar, yang ditangkap dalam penyerbuan polisi di Krueng Linteng, Jalin, Aceh Besar, pada 22 Februari lalu, mengaku memiliki dorongan pribadi untuk mencari ilmu agama sejak duduk di tahun terakhir STPDN pada 2006. Ia mengaku hampir ikut kelompok Negara Islam Indonesia (NII) yang kerap merekrut mahasiswa di berbagai kampus. Namun, dia membatalkan niatnya setelah berkonsultasi dengan seorang ustaz di Jatinangor, Jawa Barat. Setelah itu, Yudi rajin membaca buku tentang agama dan menonton VCD tentang jihad. Dari satu VCD yang dimilikinya, ia mengenal sosok Halawi Makmun dan Fauzan AlAnshari. Karena terkesan, ia lalu mencari tahu nomor telepon Halawi dari seorang teman di Aceh. “Beliau pernah datang ke Aceh setelah dilanda tsunami. Sejak itu, saya sering konsultasi dengan beliau melalui telepon,” katanya. Awal 2007, Yudi mangkir dari pekerjaannya dan pergi ke Bandung untuk berbisnis pulsa dan baju. Di Jatinangor, ia mengikuti pengajian Halawi. Berdasarkan data Pemerintah Kota Banda Aceh, status Yudi masih tetap PNS. Akhir 2007, Yudi pindah mencari kerja di Jakarta. Ia lalu mengontrak di Jagakarsa di belakang Perumahan Tanjung Mas, Jakarta Selatan. Dia kerap mengikuti kelompok pengajian kecil yang dipimpin Aman Abdurrahman alias Oman Rahman, yang pernah ditangkap dalam kasus peledakan bom Cimanggis, Maret 2004. Salah satu dari murid Aman adalah Kamal, yang lalu menjalin hubungan akrab dengan Yudi. Secara hampir bersamaan, di Lenteng Agung, Jakarta, Yudi berkenalan dengan Sofyan Tsauri. Bersama Sofyan, ia juga ikut berbisnis soft gun, senjata mainan. Yudi segera dekat dengan Sofyan yang juga gemar mengoleksi buku-buku mengenai jihad. Apalagi istri kedua Sofyan juga berasal dari Aceh dan Sofyan juga pernah menjadi relawan Aceh lewat Bulan Sabit Merah. Akhir 2008, Yudi memutuskan kembali bekerja di Pemkot Banda Aceh. Tak berapa lama, Sofyan berkunjung bersama istrinya. Dari perbincangan dengan Sofyan, digagas perlunya membentuk basis pelatihan di Aceh untuk berjuang menegakkan syariat Islam sepenuhnya.

Saat itu, Yudi mengaku memiliki komunitas kecil yang sepaham soal jihad. Komunitas kecil warga lokal itu dikenalnya setelah mengikuti pengajian seorang ustaz. Namun, ustaz itu tidak memiliki paham yang sama dengan mereka soal jihad. Awal 2009, Sofyan kembali lagi ke Aceh dengan membawa seseorang bernama Mus’ab. Tiga hari kemudian, datang Hamzah (yang diketahuinya belakangan sebagai Dulmatin). Mereka membicarakan rencana pembukaan kamp pelatihan di Aceh. Namun, rencana itu tertunda ketika pada 17 Juli 2009 terjadi peledakan bom di Hotel JW Marriott dan RitzCarlton di Kuningan, Jakarta. Yudi dan beberapa rekannya mulai mencari lokasi dan mengumpulkan perlengkapan, mulai dari senjata sampai logistik. Senjata diperoleh Yudi melalui Sofyan, yang mendapatkannya dari Trisno (masih buron). Dari jaringan Sofyan, Yudi mendapatkan lima pucuk senjata (M-16 dan AK-47). Ia mengaku memperoleh uang dari Hamzah alias Dulmatin. Yudi juga kerap datang ke kontrakan Hamzah di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Sumber : Kompas Share this: StumbleUpon Digg Reddit DIarsipkan di bawah: Wacana Jihad | Ditandai: FPI Aceh, GAM, Jihad Aceh, Mujahidin Aceh « Jihad Aceh 2010 di Mata Musuh Islam Kisah Wartawati Finlandia Menyamar Pakai Cadar » Satu Tanggapan aziz, di/pada 18/09/2010 pada 10:07 Dikatakan: r jagan menganggap mujaidin itu sebagai terror Jihad Aceh 2010 di Mata Musuh Islam Posted on 27/03/2010 by elhakimi Saya menemukan tulisan Sidney Jones berisi refleksi jihad Aceh 2010 di matanya. Menarik, untuk membandingkan refleksi jihad Aceh dari kacamata musuh dengan refleksi dari kalangan pendukung jihad. Berikut tulisannya: Terorisme: Pelajaran dari Aceh

DITEMUKANNYA kamp pelatihan teroris di Aceh dan munculnya Dulmatin di Pamulang, sangat mengejutkan saya dan banyak orang lain. Banyak pula pelajaran yang bisa kita petik. 1. Pemunculan Jaringan “Super-ekstrim”. Kelompok di sekitar Dulmatin dan “Tanzim al-Qaeda untuk Serambi Mekkah” bukanlah Jemaah Islamiyah, meskipun Dulmatin, seperti Noordin Top, sudah dibai’at menjadi anggota JI. Ini tampak dalam rekaman video yang dibuat kelompok tersebut –yang muncul di YouTube, 8 Maret– yang mengajak umat di Indonesia bergabung melakukan jihad namun dengan keras mengkritik JI sebagai organisasi yang mandul dan tidak melakukan apa pun. Orang-orang yang bergabung dalam kelompok Aceh adalah orang-orang yang sebagian besar kelihatannya lebih berafiliasi dengan DI daripada JI, walaupun termasuk juga orang JI yg dulu dekat Noordin. Kelompok ini tampaknya meliputi semacam “barisan sakit hati” dari unsur sejumlah organisasi yang berbeda-beda, termasuk Ring Banten, Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Mujahidin KOMPAK, Wahdah Islamiyah, dan segelintir orang dari JI. Mereka sudah resah dengan kepemimpinan yang dianggap hanya duduk-duduk saja tanpa berjihad, dan lebih memihak pada ideologi al-Qaeda yang menghimbau semua orang Islam untuk melawan Amerika dan sekutunya kapan pun, dimanapun dan bagaimanapun bisa. Dengan kata lain, mereka ingin melanjutkan perjuanganNoordin Top. 2. Pertalian internasional yang lebih kuat. Sebelum kembali ke Indonesia, Dulmatin dan Umar Patek tinggal di Mindanao selama tujuh tahun, awalnya bersama MILF, kemudian dengan Kelompok Abu Sayyaf. Kalau benar bahwa mereka sudah lama bolak balik antara Filipina dan RI menggambarkan bahwa komunikasi dan koordinasi antara kelompok ektremis di dua negara tersebut lebih luas daripada perkiraan kita selama ini. Sangat mungkin bahwa Dulmatin dan rekanrekannya menganggap diri sebagai komponen Mindanao dari “Tandzim al-Qaeda untuk Gugusan Melayu” –nama yang diberikan Noordin bagi jaringannya saat pengeboman Bali II. Namun, mata rantai ini jauh melampaui Filipina. Moh. Jibriel, sekarang ditahan di Jakarta, menyampaikan kepada rekannya bahwa pada akhir 2007 ia mengunjungi Waziristan, basis Taliban Pakistan. Jibriel, yang dulu menjadi anggota “kelompok alGhuraba”, bagian dari JI yang pada 1999-2003 membantu calon mujahidin dari Asia Tenggara, khususnya dari Indonesia dan Malaysia, mendapat pelatihan di Afghanistan dan Kashmir. Hubungan antara Indonesia dan Pakistan mestinya masih ada, dan ada berita yang masih belum dikonfirmasi, bahwa ada beberapa ektremis asal Indonesia yg pulang dari Afghanistan awal tahun ini. Besar kemungkinan jaringan teroris Indonesia mempunyai komunikasi langsung dengan pemimpin senior kelompok teroris di Pakistan, dan mungkin juga di Timur Tengah dan Afrika Utara.

3. Mencari “qoidah aminah”. Para pemimpin kelompok gabungan ini dilaporkan memilih Aceh karena mereka mencari “qoidah aminah”, atau basis yang aman. Selama konflik Poso, dan khususnya sesudah 2001, JI memandang Poso sebagai qoidah aminah, tempat yang memungkinkan untuk melakukan jihad, mengembangkan komunitas Muslim yang ingin menerapkan hukum Islam secara penuh, dan bekerja untuk daulah islamiyah, atau negara Islam. Tapi, setelah operasi Densus 88 di Poso padaJanuari 2007, banyak anggota kelompok radikal ini ditahan, tertembak mati, atau terpaksa lari, dan tempat ini tidak lagi menjadi basis yang ideal. Kemungkinan Aceh menjadi menarik karena inilah satu-satuya wilayah di Indonesia dimana hukum Islam bisa diterapkan secara penuh. Banyak pula kelompok radikal muncul di Aceh sesudah tsunami, dan membuka cabang disana. DI/NII dan JI sudah lama punya jaringan di Sumatra – apalagi di Medan, Riau, dan Lampung – dan kemungkinan turut membantu. 4. Para pemimpin dan rekrutan masih banyak. Setelah tewasnya Noordin, banyak orang berpikir bahwa masalah terorisme sudah selesai. Ternyata tidak. Tidak sedikit orang-orang lain yang memiliki kharisma dan pengalaman tempur di Poso, Ambon, Mindanao dan lebih jauh lagi, yang bisa mengambil alih pimpinan. Ada juga generasi baru yang mungkin sedang diindoktrinasi di sekolahsekolah JI – suatu jaringan yang terdiri dari sekitar 50 pesantren, sebagian besar di Jawa tapi juga di Sumatra dan NTB. Bukan hanya kebetulan kalau anak-anak Dulmatin terdaftar di salah satu sekolah ini di Sukoharjo, atau bahwa teroris dan ahli pelarian asal Singapura, Mas Selamat Kastari, mengirim putranya ke salah satu lainnya. Sebuah pesantren di Aceh, yang tidak terhubung ke JI, rupannya berperan merekrut anak lokal untuk kelompok ini. Masalahnya bukan hanya di sekolah-sekolah ini; seorang Aceh pengedar narkoba direkrut di penjara Medan, dan Syafiudin Zuhri merekrut pelaku bom bunuh diri di suatu masjid kecil di Bogor. Namun, jaringan sekolah radikal ini merupakan masalah serius, dan kita perlu menemukan cara kreatif untuk mencegah radikalisasi para santri mereka, tanpa menstigmatisasi sistem pendidikan Islam pada umumnya. 5. Memahami dinamika lintas-batas. Ketika Dulmatin dan Umar Patek beroperasi di Jolo, Mindanao, Pasukan Khusus Amerika Serikat, yang diperlengkapi alat-alat canggih, sedang membantu Angkatan Bersenjata Filipina melawan Abu Sayyaf. Namun, tidak ada yang tahu bahwa dua orang yang paling dicari di wilayah itu sudah meninggalkan Mindanao, tiba di Indonesia dan pergi ke Aceh. Amerika toh juga tidak menemukan Osama bin Laden, jadi negara-negara di Asia Tenggara mempunyai teman senasib. Lagi pula, kemampuan mengelak dari pasukan keamanan menjadi ciri khas pemimpin teroris yang baik. Tugas lintas-batas menjadi sangat penting. Dalam dekade terakhir, sudah ada kemajuan pesat dalam berbagi informasi secara regional, tapi masih ada kekurangan: Kepolisian Indonesia tidak memiliki keahlian nyata dalam hal jaringan teror di Filipina, Kepolisian Filipina di kelompok Malaysia, atau siapa pun di Asia Tenggara di kelompok Asia

Selatan dan sebaliknya. Dengan demikian, sangat penting bagi semua yang terlibat dalam kegiatan kontraterorisme untuk memahami dinamika yang melampaui batas mereka sendiri agar bisa memahami bagaimana berbagai kelompok ini terhubung sekarang –atau mungkin di masa depan. 6. Pergeseran sasaran. Kita melihat para ekstremis mengubah dan memperluas definisi mereka mengenai siapa musuhnya. Pada puncak konflik Ambon dan Poso, musuh yang dimaksud adalah penduduk Kristen setempat. Di Poso, ditambah dengan yang dicap pengkhianat dan informan polisi, dan pejabat pemerintah yg dianggap “menzholimi” mereka. Seperti, misalnya, kasus seorang jaksa di Palu yang dibunuh karena menghukumi mujahidin Poso. Bom Bali 2002 merupakan indikasi pertama bahwa definisi dari al-Qaeda mengenai musuh — negara-negara Barat dan warganya yang membayar pajak untuk mendukung “mesin perang” terhadap orang Islam — sudah diadopsi. Fokusnya bisa saja ditujukan ke pejabat pemerintah Indonesia yang dianggap ”thoghut” atau serupa dengan kafir karena aliansinya dengan Barat atau menentang syariah. Di bulan Juli, jaringan Noordin merencanakan menyerang Presiden Yudhoyono; bisa saja pejabat terkemuka sekarang menempati urutan atas daftar sasaran, setara dengan gedung-gedung bermerk internasional. Ini semua memperjelas fakta bahwa tidak benar berpuas diri setelah kematian Noordin, dan tidak benar berpikir bahwa ancaman terorisme sudah berkurang dengan tewasnya Dulmatin. Ekstremis di Indonesia sudah menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi, membentuk kelompok baru, beregenerasi, dan terus melawan. Indonesia perlu meningkatkan upaya kontraterorisme, dan Polri –yang mengetahui lebih banyak tentang jaringan ini dibanding lainnya– harus memegang peran utama. Harus ada brainstorming dan sharing dengan orang-orang dari negara lain untuk memahami program apa yang sudah berhasil, apa yang tidak berhasil dan apa sebabnya, serta apa yang bisa disesuaikan dengan kondisi dan lingkungan di Indonesia. Mencari upaya untuk mencegah rekrutmen lebih baik tapi juga jauh lebih sulit daripada menerbitkan buku-buku yang mengandung interpretasi lebih moderat tentang jihad, dan lebih efektif pada jangka panjang daripada dialog antaragama. Upaya pencegahan ini termasuk meningkatkan kemampuan pemuda dan orangtuanya memahami “warning signs” (tanda peringatan) radikalisasi, dan mempunyai program yang dapat membantu membendung proses tersebut. Ini termasuk menawarkan pilihan hidup yang berbeda dan opsi karir bagi siswa sekolah-sekolah radikal. Terorisme tidak bisa diberantas dengan segera, tapi banyak upaya yang bisa dikerjakan bersama oleh pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta. Sidney Jones in Tempo 11 Maret 2010

Sidney Jones, Penasihat Senior untuk Program Asia, International Crisis Group. http://www.crisisgroup.org/home/index.cfm?id=6596 Share this: StumbleUpon Digg Reddit DIarsipkan di bawah: Wacana Jihad | Ditandai: Al-Qaeda Aceh, Jihad Aceh, Jihad di Mata Musuh, Sydney Jones dan Jihad « Refleksi Jihad Aceh 2010 (bag. 2) Menyiapkan Jihad Aceh » 4 Tanggapan - tanggapan unavailable, di/pada 15/04/2010 pada 02:49 Dikatakan: r Aceh adalah serambi mekkah, memang seharusnya jihad dimulai dari Aceh Balas tegoeh, di/pada 19/04/2010 pada 07:20 Dikatakan: r lanjutan refleksi jihad aceh mana nih tadz,, Balas Rahmat, di/pada 28/04/2010 pada 22:06 Dikatakan: r unavailable, di/pada 15/04/2010 pada 02:49 Dikatakan: r Aceh adalah serambi mekkah, memang seharusnya jihad dimulai dari Aceh Tolong dong ngomongnya jangan asal aja. Apakah Anda tahu Aceh itu bukan negara orang bodoh yang dapat dipaksakan paham keras seperti itu? Anda patut belajar lebih banyak tentang Aceh daripada hanya membaca eramuslim, arrahman, sabili, dan lainnya. Aceh itu daerah dengan basis muslim yang menjanjikan. Keislaman Aceh tertuang dalam bahasa resmi yang disebut Kawasan Syariat Islam (walau belum sempurna karena baru diberlakukan). Meski begitu bukan berarti Aceh menerima mentah-mentah paham jihad seperti yang dikumandangkan oleh mereka yang mengaku ‘paling benar’ dalam urusan bom ngebom di Indonesia. Masyarakat Aceh terbuka untuk isu perjuangan Palestina tapi sangat tertutup untuk kamp tentara seperti yg terjadi beberapa waktu silam. Aceh berpandangan sangat lunak terhadap jihad di dalam negeri karena menganggap orang-orang Indonesia bukanlah musuh, tapi sahabat. Walau ada yg tidak seiman, tapi mereka tidak merusak Islam secara terang-terangan. Aceh baru saja melewati masa kelam konflik berkepanjangan dan tsunami. Kejadian konyol ‘kemunculan orang2 bersenjata’ di Aceh justru membuat marah orang Aceh.

Tanya kenapa? Aceh daerah aman dan tidak berperang tapi ada orang2 bersenjata yg main di wilayahnya. Dengan logika sederhana, orang Aceh dapat mengambil kesimpulan bahwa mereka yang main2 ke Aceh itu hanya orang2 yg tidak paham situasi. Jihad mah ke daerah hijau jihad, bukan di negeri yang aman. Bila setuju & ingin berjihad ke negeri hijau, kenapa Anda masih di sini membaca komentar saya & bahkan mungkin akan membalasnya sesaat lagi? Tanggapan atas “Salah Kaprah Refleksi Jihad Aceh 2010” Posted on 09/08/2010 by elhakimi Saya menemukan tulisan di blog www.sjihad.wordpress.com yang memuat koreksian atas apa yang saya tulis dalam Refleksi Jihad Aceh 2010. Menariknya, artikel tersebut merupakan halaman tunggal di blog itu. Saya merasa perlu untuk menanggapi balik karena ada beberapa hal yang perlu diluruskan. Sebagian lain benar. Tanggapan ini saya maksudkan agar kita selalu mengembangkan diskusi sehat dalam rangka memastikan jihad yang kita rencanakan lebih sesuai sunnah, lebih ikhlas, lebih sesuai waqi’ dan lebih merugikan musuh. Untuk memudahkan, akan saya co-paste tulisan yang ada di sjihad apa adanya, dan saya memberikat tanggapan seperlunya di sela-sela tulisan tersebut. Tanggapan dari saya ditandai kurung dobel seperti ini [[ ……]] Berikut tulisan sjihad: Refleksi Jihad Aceh 2010, tulisan berasal dari sebuah blog entah milik siapa (tidak ada identitas jelas dari pemilik yang dicantumkan dalam blog tersebut) yang beralamat di http://elhakimi.wordpress.com itu, kemudian dalam waktu singkat disadur (baca: di copy paste) oleh banyak website dan blogger lain, diposting ke forum-forum Islam sampai facebook hingga kemudian menjadi polemik dan bahan perdebatan, dan terakhir dimuat dalam majalah Ansharut Tauhid di edisi ke-11 sebagai suplemen. Penulis Refleksi Jihad Aceh, sebagaimana diurai dalam tulisannya, hendak memberikan analisa kritis atas amaliah jihad Aceh dengan catatan-catatan evaluasi, agar menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Sama sekali bukan karena faktor benci atau dengki tuturnya. Tapi semangat saling menasehati dengan cinta. Sebuah tujuan yang sangat mulia menurut kami. Tapi bukankah suatu nasihat tidak cukup hanya dilandasi maksud baik atau niat yang tulus, namun akan lebih sempurna jika disajikan dengan bahasa yang bijak, uraian yang benar dan pemahaman yang baik terhadap permasalahan atau terhadap obyek yang akan di evaluasi dan dinasehati. Ada beberapa catatan penting dari kami, berkaitan dengan beberapa poin dalam tulisan Refleksi Jihad Aceh, kami tidak mengatakan semua tulisan tersebut salah, namun beberapa hal yang menjadi catatan kami sangat penting untuk disampaikan, beberapa

diantaranya sangat fatal kesalahannya menurut kami, beberapa hal yang lain berpotensi membangun persepsi yang keliru bagi yang membaca jika tidak didudukkan secara proporsional dalam timbangan syariat. Pilihan Bahasa Tak bisa dipungkiri, pemilihan bahasa adalah hal terpenting dalam komunikasi apalagi dalam urusan saling menasehati, pilihan bahasa yang kurang bijak justru kerap menimbulkan rasa skeptis bahkan sakit hati pada obyek yang mungkin dalam hal ini adalah para mujahidin yang terlibat langsung dengan Jihad Aceh, para keluarganya dan kaum muslimin yang pro terhadap mereka. Kami tidak tahu, apakah penulis Refleksi Jihad Aceh khilaf dan tidak hati-hati, atau karena adanya unsur emosional [[ Elhakimi: betul, saat saya menulis artikel pertama, ada sedikit nada emosi, karena saya marah mendengar mujahid Aceh melecehkan kegiatan dakwah sedemikian rupa. Dalam video yang mereka rilis, menyebut aktifitas dakwah sebagai aktifitas menipu. Dan jujur saya akui, dorongan terbesar munculnya Refleksi yang saya tulis karena marah ustadz-ustadz di pesantren dilecehkan di video mereka]] hingga kemudian tidak berlaku adil dalam memilih bahasa yang baik pada tulisannya, hingga keluar istilah dan sebutan yang menyakitkan bagi para mujahid, seperti tuduhan bahwa para mujahidin Aceh ini isti’jal, ingin menegakkan Islam laksana sulap. Atau minimal ingin mencapai hasil laksana preman; todongkan senjata, semua urusan akan selesai. Menyebut para mujahidin Aceh itu sibuk dengan dunianya sendiri seperti hidup di planet lain, bahkan menyamakan mereka dengan pengidap autisme. [[ Elhakimi: saya mohon maaf atas pilihan bahasa yang kurang bijak. Tapi saya berharap mereka yang tersinggung dengan pilihan kata ini tidak menolak esensinya. ]] Ketidak adilan lainnya ketika penulis mengungkapkan polisi mengatakan para mujahidin aceh adalah orang-orang yang jahat, tidak ada musuh yang jelas kok ngajak perang, mereka hanya mau membuat onar, jika masyarakat aceh ikut hanya akan membawa kesengsaraan saja. Penulis mengatakan bahwa provokasi semacam ini disebut sebagai keberhasilan dakwah polisi terhadap masyarakat aceh. Semestinya itu bukan merupakan dakwah, lebih tepat jika menggunakan istilah provokasi jahat terhadap mujahidin. [[Elhakimi: saya kelupaan memberi tanda kutip pada kata dakwah tersebut. Saya berhusnu-dhan bahwa pembaca sudah memahami itu sebagai tanda kutip, bukan dakwah dalam makna syar’i. ]] Sebagaimana sindiran Allah swt, Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapanucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS 9:32)

Apa yang diseru polisi merupakan upaya untuk memadamkan agama Allah, sebagaimana mereka menyebut mujahidin sebagai teroris, seperti halnya sebutan fundamentalis, wahabiyyin (contoh lain istilah-istilah yang disematkan untuk mematikan dan mendiskreditkan upaya kembali kepada dien). Penyebutan teroris bagi mujahidin yang diprakarsai dan diseru oleh George Bush. Apakah penulis juga akan menyebutnya sebagai dakwah? Tuduhan keji tanpa dasar Penulis Refleksi Jihad Aceh, disadari atau tidak telah melemparkan tuduhan yang tidak didasari pengujian terhadap realita, paling tidak dengan melakukan tabayyun terhadap para pelaku yang saat ini sebagian berada dalam tahanan thoghut dan sebagian lagi menyandang status sebagai DPO. Penulis Refleksi Jihad Aceh menuduh bahwa para mujahidin Aceh menihilkan peran dakwah, mereka (mujahidin) menihilkan apa pun kecuali Jihad. Pokoknya jihad. Sebuah tuduhan yang sangat jauh dari realita, [[Elhakimi: Bukti otentik yang tidak bisa dipungkiri adalah rilis video yang mereka keluarkan. Kritik mereka terhadap kegiatan dakwah sangat keterlaluan, bahkan dengan menyebut nama seseorang – Abu Rusydan. Bukannya meminta dukungan dari kegiatan dakwah untuk kesuksesan jihad mereka, tapi malah menghujat dengan sangat pedas. Jangan-jangan penulis artikel di blog sjihad belum nonton video. Atau barangkali sekedar berlagak pilon padahal sudah nonton. ]] sepengetahuan kami justru sebaliknya, tak sedikit diantara mereka yang terlibat dengan Jihad Aceh (terlepas dari sejauh mana kebenaran tuduhan thoghut atas mereka) merupakan para da’i yang getol menyerukan dakwah tauhid di tengah-tengah masyarakat, sebut saja ustadz Ubaid (ditahan) yang aktif dalam dakwah dan menerjemahkan bukubuku Islam, kemudian ustadz Aman Abdurrahman (ditahan) dan beberapa muridnya yang giat melakukan dakwah untuk memahamkan ummat terhadap tauhid, baik melalui penerjemahan serta penyebaran buku dan artikel, berdakwah melalui media website (millahibrahim.wordpress.com), hingga melakukan safari dakwah secara rutin setiap bulannya ke seluruh Indonesia, beberapa orang lain yang terlibat hingga ditahan maupun masih menjadi DPO dalam kasus Aceh juga dikenal sebagai da’i di lingkungannya. [[Elhakimi: Saya juga heran, kenapa mereka sebelum jadi mujahid di Aceh juga sibuk dengan dakwah, tapi setelah jadi mujahid kemudian menghujat kegiatan dakwah sedemikian rupa. Pesantren, lembaga social untuk layanan umat dan majlis taklim dinihilkan dan dilecehkan. Saya tidak mengada-ada, hanya menyimpulkan dari apa yang dirilis dalam video yang mereka keluarkan.Berarti secara tidak langsung mereka juga menghujat ust Aman dkk karena tidak pergi ke hutan bersama mereka. Saya heran, padahal penulis artikel di sjihad juga aktivis dakwah, kok tidak tersinggung ya. Ada apa ini?]] Beberapa Catatan Penting

Berikutnya kami mencoba menguraikan beberapa catatan terhadap tulisan Refleksi Jihad Aceh dengan menanggapi beberapa poin dalam tulisan tersebut. Versi tulisan yang kami gunakan dalam catatan ini adalah yang dimuat di Majalah Media Islam Ansharut Tauhid edisi ke-11 terdiri atas 15 halaman. Kalimat penulis, Jihad membutuhkan “pemicu” sehingga bisa menarik umat Islam dalam jumlah masal untuk bergabung. Jika pemantiknya tidak cukup kuat, masyarakat tak tergerak untuk mendukung jihad. Faktanya, pelaku sama sekali tak memikirkan faktor pemantik ini. Mereka hanya menjadikan fardhu-nya jihad dan kemuliaan mati syahid sebagai pemantik. (Hal. 4) Sampai pada kalimat … … yakni hadirnya penjajah asing yang kafir dan sangat kejam. Tiga kata (yang dibold) tersebut menjadi pemicu yang sangat kuat … (Hal. 5) Pemantik yang digunakan oleh pelaku hanya kosa kata jihad, fardhu ‘ain, Al-Qaeda dan mati syahid. (Hal. 5) Para mujahid Aceh tampaknya bermazhab bahwa jihad adalah tujuan, bukan cara. Bahkan lebih ekstrim lagi, menjadikan mati syahid sebagai tujuan. (Hal. 5) Kami menilai tuduhan tersebut tidak sesuai dengan waqi’ hari ini dan tidak sesuai dengan syar’i Kalau penulis mengatakan dinegri ini tidak ada penjajah asing, kafir dan kejam jelas ini tidak sesuai realita diantara faktanya adalah pembentukan detasemen 88 yang dibentuk oleh pemerintah dengan bantuan dana dari Amerika dan Australia sekaligus dilatih khusus oleh pasukan khusus amerika yaitu FBI dan SWAT yang bertujuan untuk memerangi teroris (mujahidin). Itu hanya salah satu contoh dari berbagai cengkeraman penjajah kafir di negeri yang para pemimpinnya menolak menerapkan syariat Islam ini. [[ Elhakimi: Persoalannya, meski asing menjajah Indonesia, tapi dilakukan dengan halus; menggunakan komprador lokal yang berbaju Islam. Antum mungkin punya argument untuk menyebut mereka kafir dan musuh Islam, tapi bagaimana dengan umat Islam lebih luas? Berbeda sekali dengan kehadiran AS di Iraq, mereka membawa baju Kristen, berstatus penjajah dan tindakannya zalim lagi brutal. ]] Kemudian dari tinjauan syar’i kalau orang-orang yang berjihad hari ini yang menjadi pemantik adalah kata-kata jihad fardhu ‘ain dan mati syahid ansich, maka menurut kami itu sudah cukup dan dibenarkan secara syara’ berdasarkan nash-nash syar’i berikut, [[Elhakimi : Ya, bisa jadi sudah cukup bagi antum, tapi belum cukup untuk menghasilkan dukungan umat Islam. Saya tidak berbicara dalam konteks sah tidaknya amal jihad antum secara syariat, tapi menimbang jihad antum dari segi taktik dan strategi: kemampuan menggerakkan partisipasi umat dan pada gilirannya menghasilkan pukulan yang lebih

mematikan buat musuh Allah. Jika asal jihad, cukup dengan baca ayat perintah jihad, asah pedang, cari musuh Allah, dan selesai. Jihad kan bukan sekedar mata rantai sesederhana itu. Allah memberi keringanan dengan perimbangan jumlah 1:2 melawan musuh – misalnya - merupakan isyarat dan bagian dari strategi mencari kemenangan. Sekiranya jihad ansich, tak perlu ada keringanan seperti itu. Sebab mati atau hidup, kalah atau menang, bukan termasuk yang menentukan perintah jihad. Jika tak ada konsep perimbangan komposisi jumlah seperti itu dapat diartikan bahwa semakin banyak kader mujahid yang mati di tangan musuh Allah, semakin baik menurut Allah. Dengan perimbangan itu, ada pesan langit bahwa kemenangan lebih disukai Allah dibanding kematian mujahid di tangan musuh. Sekiranya kematian dan kekalahan mujahid yang lebih disukai Allah, tentu tak perlu ada keringanan komposisi jumlah itu. Satu mujahid berbanding dua musuh itu kan perimbangan ideal. Di satu sisi, mujahid diperintahkan oleh Allah untuk punya kualitas dua kali lipat kualitas musuh, yang dengannya masih mungkin untuk mengalahkannya. Di sisi lain, jika lebih dari dua, peluang menang lebih kecil dan dikhawatirkan kehancuran barisan mujahidin. Perimbangan jumlah yang ditetapkan Allah ini juga senafas dengan ayat “Allah tidak membebani manusia kecuali dalam batas kemampuannya”. Renungkanlah, hal ini penting sekali. ]] Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah 111) Firman yang lainya adalah, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS Ash Shaff 10-11) Kemudian dalam hadist Rasulullah belaiu banyak mengobarkan semangat jihad para sahabat dengan motivasi surga diantaranya ketika perang badar rosulullah mengatakan kepada para sahabat, “Berdirillah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, kemudian salah seorang sahabat yang bernama Umair bin Hammam berdiri dan berkata, ”Wahai Rasulullah, surga yang seluas langit dan bumi?” Benar!” jawab beliau SAW. ”Ck..ck..”, komentar Umair. Rasulullah bertanya, “Apa yang mendorongmu untuk mengucapkan kalimat Ck..ck ?“ Ia menjawab, ”Tidak wahai Rasulullah, rasanya aku tidak punya harapan untuk menjadi penghuninya.” Tetapi kamu termasuk penghuninya!”, jelas beliau, maka Umair mengeluarkan korma dari kantongnya, ia makan beberapa biji, lalu berkata, ”Jika aku masih hidup untuk menikmati korma-korma ini, sungguh itu adalah kehidupan yang panjang.” Kemudian ia membuang korma yang ada ditanganya, lalu ia maju bertempur sampai terbunuh .(HR Muslim)

Dalam hadist tersebut sahabat Umair langsung menerjang musuh begitu Rasulullah menjajikan surga kepada Umair bin Hammam, apakah kita akan mengatakan sahabat Umair adalah orang yang isti’jal yang hanya berfikir mati syahid sebagaimana dituduhkan penulis kepada orang –orang yang berjihad dengan kata-kata isti’jal (tergesatergesa), Rasulullah tidak mengatakan kepada para sahabat pokoknya kalian perang saja, didepan sudah ada orang kafir yang kejam, tapi rasulullah tetap memberikan motivasi syahid dan surga kepada para sahabat, dan masih banyak hadits lain yang serupa yang tidak mungkin kami uraikan di sini. Intinya bahwa motivasi mati syahid, dan jihad sudah menjadi fardhu ‘ain sudah lebih dari cukup untuk mengamalkan Jihad fi Sabilillah. Kalimat penulis, Padahal jika mujahid hanya merencanakan mati (syahid), ia sedang merancang kekalahan. (Hal. 5) Bagaimana penulis bisa mengklaim bahwa jika merencanakan mati syahid ia sedang merancang kekalahan , telah kami kemukakan sebelumnya perihal sahabat Umair ra. [[ Elhakimi: inilah problem antum, tidak mau mengakui kematian mujahidin sebagai kekalahan. Padahal musuh menilai sebagai kekalahan. Sebetulnya kritik antum tidak relevan. Saya berbicara kekalahan menurut kaca mata politik militer yang dipahami dan disepakati manusia sejagat, sementara antum menggunakan istilah kekalahan menurut kaca mata syariat. Memang benar menurut syariat kematian dan penangkapan mujahid bukan kekalahan, karena akan mendapat imbalan surga dan ridha Allah. Tapi secara politik militer, itu adalah kekalahan. Kenapa kalah? Karena perlawanan bisa dipadamkan, pelakunya ditawan, dan umat tetap dalam kehinaannya. Saya berbicara dari sudut pandang taktik strategi sedangkan antum membela diri dengan paradigm akhirat. Kagak nyambung ! ]] Kesyahidan merupakan pilihan yang Allah tentukan bagi hamba-Nya. Bermakna, siapa yang Allah pilih untuk bisa mencapai derajat ini berarti telah meraih kesuksesan dan kemenangan. Kesyahidan adalah puncak daripada cita-cita karena kesyahidan merupakan pilihan dari Allah, sampai-sampai Rasulullahpun mengangankan kesyahidan hingga tiga kali di dalam sabdanya: (‫)ولوددت أن أقت َ في سبيل ال ثم أحيا ثم أقتل ثم أحيا ثم أقتل‬ ُ َ ْ ُ ّ ُ َ ْ ُ ّ ُ ُ َ ْ ُ ّ ُ َ ْ ُ ّ ُ ِ ِ ْ ِ َ ْ ِ ‫ََ َ ِ ْ ُ َ ْ ُ ْ َل‬ Sungguh, aku benar-benar berandai-andai jika untuk terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, ke-mudian terbunuh lagi, kemudian dihidupkan lagi, kemudian terbunuh lagi.” Allah Ta‘ala berfirman untuk menegaskan makna kemenangan ini: {‫}ول تحسبن الذين قتلوا في سبيل ال أمواتا بل أحياء عند ربهم يرزقون‬ َ ْ ُ َ ْ ُ ْ ِ ّ َ َ ْ ِ ٌ َ ْ َ ْ َ ً َ ْ َ ِ ِ ْ ِ َ ْ ِ ْ ُِ ُ َ ْ ِ ّ ّ َ َ ْ َ َ َ

Dan janganlah kalian sangka bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi rabbnya mendapatkan rezeki.” Dan berfirman: {‫}ول تقولوا لمن يقتل في سبيل ال أموات بل أحياء ولكن ل تشعرون‬ َ ْ ُ ُ ْ َ َ ْ ِ ََ ٌ َ ْ َ ْ َ ٌ َ ْ َ ِ ِ ْ ِ َ ْ ِ ُ َ ْ ُ ْ َ ِ ْ ُْ ُ َ َ َ “Dan janganlah kalian katakan bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup tetapi kalian tidak menyadari.” Dalil yang menunjukkan bahwa kesyahidan adalah kemenangan adalah hadis yang terdapat dalam Shohih Bukhori Muslim dari Anas bin Malik ra ia berkata: Ketika Harom bin Milhan ditikam pada peristiwa Bi’ru Ma‘unah –Harom adalah paman daripada Anas —, ia melumurkan darahnya di wajah dan kepalanya sembari mengucapkan: “Fuztu wa robbil Ka‘bah…!” (Demi robb pemilik Ka‘bah, aku telah menang). Coba, bagaimana mungkin orang yang melihat kematian berada di depan matanya bersumpah bahwa ia telah menang kalau bukan karena ia telah mencium bau surga? [[ Elhakimi: Lihatlah pembaca, bukti terpampang melalui tulisannya. Selalu ditekankan, mati syahid sama dengan menang. Saya sepakat bahwa mati syahid merupakan kemenangan – bagi pelakunya – tapi bisa bermakna kekalahan bagi umat yang ditinggalkannya. Agar mudah dipahami, saya ilustrasikan begini: sekiranya seluruh mujahidin Badar pada zaman Nabi saw mati syahid tak tersisa satupun termasuk Nabi saw. Mereka semua menang di sisi Allah karena bergelar mati syahid. Tapi bagaimana dengan umat Islam Madinah yang tidak ikut perang Badar, yang menunggu berita dari Badar? Akan dengan mudah diterkam musuh. Bukankah ini bermakna kekalahan? Oleh karenanya Rasulullah saw berdoa dengan sangat mengiba sebelum pecah perang Badar untuk meminta kemenangan, sebab jika saja kalah, resikonya Allah tak lagi disembah. Artinya, dalam persepsi Rasulullah saw, terbunuh dan tertawannya mujahidin sehingga tak mampu melanjutkan peperangan bermakna kekalahan, dan Allah tidak disembah lagi juga sebuah kekalahan]] Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa seorang mujahid sudah cukup disebut menang manakala ia mati sya-hid sangatlah banyak, sudah dije-laskan secara terperinci oleh para ulama dalam bab khusus tentang keutamaan mati syahid di jalan Allah. Silahkan baca juga kitab “masyariqul asywaq ‘’ karya besar syekh Ibnu al Nahhas, di sana akan kita temukan sebuah bab tentang keutamaan seorang yang memilih terbunuh di jalan Allah. Bahkan lebih dari itu ada judul tentang “fii fadhl inghimaasy al rojul alsyujaa’ aw al jamaah alqoliilah fi l ‘aduw al kathiir rogh bata al syahaadah” yakni Keutamaan Seseorang Atau Kelompok Kecil Yang Berani Menceburkan Diri Pada Musuh Yang Kuat dan Banyak Semata-mata Untuk Meraih Syahadah, pada halaman 522 yang sudah di tahqiiq oleh Idris Muhammad Ali dan Muhammad Kholid Islambuly dengan percetakan “daaru l basyiir alislamiah”. Selanjutnya penulis menjelaskan,

Maka tolok ukur keberhasilan harus kita sepakati sisi keberlangsungan jihadnya, dukungan umat Islam atasnya dan kemampuan melemahkan musuh hingga mengalahkannya.(Hal. 7) Apa yang dimaksud penulis dengan keberlangsungan jihad ? Para mujahidin Aceh adalah bagian dari jihad “global”artinya apa yang mereka lakukan justru nampak sebagai upaya untuk menjaga keberlangsungan jihad yang digagas para pendahulunya dan diamalkan mujahidin lain di seluruh dunia, jika penulis bermaksud mengatakan dengan tolak ukur ini kemudian para pelaku Aceh telah ditangkap dan sebagiannya dikejar-kejar sebagai DPO maka keberlangsungan jihad ini terhenti? Maka ini sungguh kesimpulan yang terlalu dini dan sangat sembrono. [[ Elhakimi: Kalimat keberlangsungan jihad adalah keberlanjutan perlawanan. Seperti petinju, dia bukan hanya mampu memukul sekali lalu sisa waktunya istirahat dan membiarkan dirinya sebagai sansak yang dipukul dengan puas oleh musuh. Tapi, petinju harus mampu melepaskan ribuan pukulan dan tangkisan beruntun untuk membuat musuhnya KO. Kalau kita baru mampu mempersiapkan satu pukulan saja sudah merasa menang, dibunuh masih merasa menang, ditawan juga masih merasa menang, lalu dengan cara apa lagi saya bisa mengajak antum untuk memahami kemenangan umat Islam? Cape deh !]] Apa yang dimaksud penulis dengan dukungan umat Islam? Apa yang dimaksud dengan “Umat Islam”? Mari kita sepakati definisi Umat Islam. Jangan-jangan paradigma penulis menganggap semua orang yang ada di jalan-jalan, di pasar-pasar, di mall-mall, adalah umat yang semuanya harus mendukung terhadap jihad fi sabilillah? Sesungguhnya yang disebut sebagai umat Islam tidaklah diukur dengan bilangan jasad manusia. Sedang Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah umat ..” (QS 16:120). [[ Elhakimi: Antum arogan sekali. Bapak, ibu, adik dan kakak antum bukankah termasuk mereka yang ada di jalan-jalan, di pasar-pasar, di mall-mall. Apakah antum menyebut mereka bukan umat Islam? Ya akhi, jihad di Poso dulu salah satu dukungan pertama datang dari preman-preman muslim yang tidak tahu apa-apa tentang Islam. Sedangkan banyak yang lebih paham agama justru lari. Kenapa antum meremehkan dukungan dan kontribusi mereka? Jihad Iraq juga menghasilkan dukungan dari mantan pasukan Saddam yang berbau komunis itu. Bagi saya, semua mereka harus diupayakan berada di barisan mujahidin. Sebab jika tidak, mereka akan dirangkul musuh Islam. Madharatnya akan lebih besar. Maka jangan sok dan sembrono dalam memilah manusia sebagai umat Islam atau bukan. ]] Sedangkan kalimat penulis, Kemampuan melemahkan musuh hingga mengalahkannya.

Maka kami katakan kalimat ini pun tidak tepat untuk menjadi tolak ukur kegagalan Jihad Aceh, sedikit atau banyak jihad Aceh telah memberikan pukulan kepada musuh, uraian tentang hal ini tidak mungkin kami sampaikan satu per satu di sini, di samping masih memerlukan penelitian dan pengujian yang lebih mendalam. [[ Elhakimi: ya semoga saja benar musuh merasa terpukul. Antum sudah merasa memukulnya, belum tentu musuh merasa terpukul.]]. Adapun mengenai kekalahan musuh, jika kita berfikir jihad secara “global”, maka jihad Aceh merupakan satu bagian dari jihad yang lebih besar, yang pada hari ini telah menampakkan kemenangan, sebagaimana pengakuan banyak pakar intelejen kuffar yang menyatakan bahwa sejak di canangkan “perang terror global” yang dimulai 2001 setelah peristiwa wtc (mubarokah), pemenangnya (menurut bahasa mereka) adalah teroris’. Fakta yang paling jelas Amerika di ambang kehancuran dan kebangkrutan yang tidak di alami sejak beratus-ratus tahun. Kemudian masalah selanjutnya adalah penulis mengatakan dalam halaman 7 Jihad:tujuan atau sarana Disini kami kembali mempertanyakan kepada penulis dari mana dasarnya pembagian ini. Menurut kami hari ini jihad adalah sebuah faridoh yang difardhukan kadpada kita dengan tujuan untuk meniggikan kaliamat Allah dimuka bumi dengan sarana yang bisa kita gunakan seperti dalam firman Allah, Yang artinya “dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu milki dan pasukan berkuda yang dapat menggetarkan musuh Allah…(Qs Al anfal 60)disini kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan iman dan kekuatan fisik.ini berdasar kepada tahapan disyariatkan jihad yang tahapanya sudah sempurna yaitu kita diwajibkan memerangi seluruh orang musyrik meskipun mereka tidak memerangi kaum muslimin,sampai mereka masuk islam atau membayar jizyah bagi beberapa golongan yang diperselisihkan para ulama.dalilnya adalah dalam surat at taubah yang artinya”apabila sudah habis bulan –bulan harom itu,maka bunuhlah orang-orang musyrikin dimana saja kamu jumpai mereka,dan tangkaplah mereka,kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian. At taubah 5.dan masih banyak nash yang lain karena keterbatasan tempat tidak bisa kami sebutkan semuanya.adapun pembagian jihad menurut kami hari ini adalah jihad tholab( ofensif )danjihad difa’i( defensif),dan kami menyakini hari ini yang ada adalah jihad difa’i( defensif).bukan membagi jihad saran dan tujuan.maka apapun kondisi kita sekarang kita harus berjihad melawan mereka sebagai bentuk mempertahankan diri tentu dengan taktik dan strategi yang jitu untuk melawan mereka,tidak seperti yang dituduhka penulis bahwa orang-orang yang berjihad hari ini prinsipnya POKOKNYA JIHAD,ini tuduhan yang tidak benar. [[ Elhakimi: Bagaimana tidak, baru tahap awal jihad saja sudah menghujat kalangan umat Islam sana sini. Jelas ini strategi keliru dan menjadi bukti kalimat saya: POKOKNYA JIHAD]] Kemudian dalam halaman 13 penulis menyebutkan Maka kita harus mengartikan jihad dengan makna perang (war) bukan pertempuran (battle). Dalam bahasa Arab juga dibedakan. Pertempuran atau battle disebut dengan qital, harb atau ma’rakah. Sedangkan perang digunakan istilah jihad.

Kami mempertanyakan dari mana penulis Refleksi Jihad Aceh bisa membedakan antara kata-kata jihad dengan qital? Penulis mengatakan bahwa kata jihad adalah perang yang bersifat lama sedang qital pertempuran sesaat, sedang yang kami fahami makna jihad adalah qital sebagaimana yang ada dalam al qur’an, dalam alqur’an banyak disebut kata-kata jihad dan qital, dan yang dimaksud jihad disitu adalah qital, seperti firman ALLAH: Dalam surat at Taubah dalam ayat 41, yang artinya: Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat,dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan ALLAH.yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Juga dalam at taubah ayat 86-88, yang artinya: Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang-orang munafik itu) berimanlah kamu kepada ALLAH dan berjiahadlah beserta rosulnya, niscaya orangorang yang sanggup diantara mereka meminta ijin kepadamu(untuk tidak berjihad) DAN MEREKA berkata biarkanlah kami bersama orang-orang yang duduk. (87)mereka rela berada bersama orang orang yang tidak pergi berperang.dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui, tetapi rosul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dua ayat diatas ditafsirkan bahwa makna jihad dalam ayat tersebut adalah qital dalam firman ALLAH yang lain yaitu pada surat ash shoff 4, yang artinya: Sesungguhnya ALLAH menyukai orang –orang yang berperang dijalanNya dalam barisan yang teratur seaka akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh disini ALLAH menghasung kata qital untuk menafsirkan 2 ayat sebelumnya yang menggunakan kata jihad. Kemudian dalam hadits rosululloh juga menafsirkan makna jihad dengan qital yang artinya; “dari amru bin ‘abasa ra.beliau berkata”.ada orang bertanya kepada rosulullah “wahai rosululloh apakah islam itu ?beliau menjawab”hatimu merasa aman,dan juga orang-orang muslim merasa aman dari gangguan lidah dan tanganmu.orang tersebut bertanya lalu islam bagaimanakah yang paling utama ?beliau menjawab iman “orang tersebut bertanya lagi”apakah iman itu ?beliau menjawab”kamu beriman kepada ALLAH,malaikatmalaikatNya,kitab-kitabNya,rosul-rosulNya dan kebangkitan setelah mati.”orang tersebut bertanya lagi”lalu iman bagaimanakah yang paling utama ?beliau menjawab.”hijroh.”orang tersebut bertanya lagi”apakah hijroh itu ?beliau menjawab

“engkau meninggalkan amalan jelek.”orang tersebut bertanya lagi”lalu hijroh bagaimanaka yang paling utama itu ?”beliau menjawab jihad.orang tersebut bertanya lagi apakah jihad itu ?”beliau menjawab “engkau memerangi orang-orang kafir jika kamu bertemu mereka…. (HR Ahmad dengan sanad shohih) Dalam hadist diatas rosululloh menjawab orang yang bertanya tentang jihad dijawab dengan kata qital. Kemudian jika penulis mengatakan bahwa jihad itu berlangsung lama dan qital hanya sementara inipun bertentangan dengan dalil syar’I diantaranya: firman ALLAH yang artinya: dan perangilah mereka itu sampai tidak ada fitnah,dan agama hanya bagi ALLAH semata.jika mereka berhenti,maka tidak ada lagi permusuhan,kecuali terhadap orangorang yang zalim.(al-baqoroh 193) Dalam ayat diatas ALLAH meyebut dengan kata-kata qital untuk memerangi orang-orang kafir sampai tidak ada lagi fitnah.dan dalam tafsir ibnu katsir disebutkan makna fitnah adalah kekafiran dan kesyirikan.sedang kekafiran dan kesyirikan akan senantiasa ada sampai hari kiamat.itu maknanya qital akan senantiasa ada sampai hari qiyamat. Kemudian dalam hadits tentang thoifah manshuroh hampir semuanya menggunakan katakata qital diantaranya : hadist jabir bin abdullah yang artinya : “akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berperang diatas kebenaran sampai hari kiamat.maka pada saat nabi Isa bin maryam turun ke (tengah mereka).pemimpin kelompok tersebut berkata kepada Isa’kemarilah,anadalah yang berhak mengimami kami sholat’.namun nabi isa menjawab, “tidak.sebagian kalian adalah pemimpin sebagian yang lain,sebagai bentuk pemuliaan ALLAH atas umat ini. “ (HR.Muslim) Kemudian dalam hadist salamah bin nufail al kindiy: yang artinya: Dari salamh bin nufail al kindi berkata :saya tengah duduk disisi rosululloh,tiba-tiba seorang sahabat berkata, “ wahai nrosululloh, masyarakat telah meninggalkan kuda perang dan meletakkan senjata. Mereka mengatakan ‘tidak ada jihad lagi,perang telah usai”.mendengar pengaduan tersebut,rosululloh menghadapkan wajahnya dan bersabda,”mereka telah berkata dusta!!!sekarang ini, sekarang ini, justru saat berperang telah tiba, akan senantiasa ada dari umatku ini, satu umat (kelompok) yang berperang diatas kebenaran ALLAH menyesatkan hati-hati sebagian manusia (orang-orang kafir)dan memberi rizki satu umat (kaum muslimin yang berjihad)dari mereka yang tersesat tersebut (yaitu harta ghonimah), demikianlah yang akan terus terjadi sampai tegaknya kiamat, dan sampai datangnya urusan (ketetapan)ALLAH.dan kebaikan akan

senantiasa tertambat pada ubun-ubun kuda perang sampai hari kiamat… (HR.An nasai dan thobroni Dinyatakan shohih oleh Al bani) Dalam Hadis ini secara tegas rosululloh menggunakan istilah qital untuk peperangan yang senantiasa ada sampai hari qiyamat, ini sebagian kecil nash yang membantah definisi penulis. [[ Elhakimi: Pembedaan antara makna jihad dengan qital ada di Al-Qur’an dan Sunnah. Kalau di Al-Qur’an, seperti yang saya tulis di Refleksi, bahwa tak ada rangkaian kata qital bil amwal. Sedangkan dalam Sunnah, ada hadits : , ‫روت عائشة رضي ال عنها , قالت } : يا رسول ال , هل على النساء جهاد ؟ فقال : جهاد ل قتال فيه ; الحج‬ ‫والعمرة { .رواه أحمد )16352( وابن ماجه ) 1092( وصححه اللباني في صحيح سنن ابن ماجه‬ Aisyah ra bertanya kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah, apakah ada kewajiban jihad atas wanita? Rasulullah saw menjawab: Ya, jihad tapi tidak ada tempurnya; yaitu haji dan umrah. (HR. Ahmad no. 25361 dan Ibnu Majah no. 2901, dishahihkan Al-Albani dalam Sunan Ibnu Majah) Hadits tersebut menjadi bukti, bahwa jihad tidak sama dengan qital. Ada jihad yang tak perlu qital. ]] Dan terakhir yang menjadi fokus catatan kami adalah kalimat penulis masih dalam halaman 7: Teori dasarnya; JIHAD PASTI MENGHASILKAN KEMENANGAN jika DILAKUKAN DENGAN BENAR Maka kami katakana, keberhasilan atau kemenangan sungguh sangat naif manakala itu di ukur dengan materi, maka mari kita sama-sama renungkan apa yang menjadi parameter dan tolak ukur kemenangan? [[ Elhakimi: Sekali lagi, kemenangan yang saya maksud adalah kemenangan politik militer. Badar menghasilkan kemenangan kemenangan karena dilakukan dengan benar. Sedangkan Uhud antara kalah dengan menang karena ada sttandar yang diabaikan. Taliban menang karena melakukannya dengan benar. Demikian juga Al-Qoidah. Demikian juga perang Salib yang dipimpin Solahuddin Al-Ayyubi. Artinya, jika terjadi kekalahan, kita mesti mengoreksi diri dulu. Kritik saya dalam Refleksi untuk tujuan itu, bukan untuk memperdebatkan kemenangan akhirat]] Syekh rohimahulloh Yusuf Al Uyairi dalam kitabnya “Tsawabit ‘alaa darbil jihad” menjelaskan dengan gamblang mengenai makna kemenangan, diantaranya: 1. Makna terbesar dari sebuah kemenangan –yang pasti telah dicapai oleh siapa saja yang mau berjihad, baik sendirian atau bersama sama umat— adalah ketika seorang mujahid berhasil mengalahkan nafsunya, mengalahkan syetan yang menggodanya serta

mengalahkan ‘delapan perkara yang disukai semua manusia’ dan kesukaan-kesukaan yang menjadi cabangnya, menga-lahkan urusan-urusan duniawi yang menarik dirinya, di mana dalam hal ini banyak sekali kaum muslimin yang gagal, bahkan bisa dibilang hampir seluruh umat gagal untuk mengalahkan perkara-perkara ini. Alloh menyebutkan kedelapan perkara ini dalam firman-Nya: Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Alloh dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS 9:24) 2. Jika seorang hamba keluar untuk berjihad, ia telah mencapai kemena-ngan dan termasuk orang-orang yang disebut Alloh dalam firman-Nya: “Dan orang-orang yang berjihad di (jalan) Kami, pasti akan Kami tun-jukan kepadanya jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh bersama or-ang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS 29:69) 3. Ketika seorang mujahid teguh di atas jalan dan prinsip jihad, apapun yang menimpa dirinya, baik kepaya-han dan kegoncangan dan komentar-komentar yang melemahkannya, pada dasarnya ini sudah merupakan satu kemenangan. Alloh Ta‘ala berfirman: “Alloh meneguhkan orang-orang beri-man dengan perkataan yang kokoh ketika di dunia maupun di akhirat. Dan Alloh menyesatkan orang-orang dza-lim dan Alloh mengerjakan apa yang Dia kehendaki.” (QS 14:27) Bukankah orang yang tetap teguh di atas jalan jihad dan terus melak-sanakannya serta menjadi orang-orang yang diteguhkan seperti dalam ayat ini sudah cukup untuk disebut sebagai orang yang mendapatkan ke-menangan? 4. Bentuk kemenangan lain, jihad menjadi penyebab fakirnya orang kafir dan sebab matinya mereka di atas kekufurannya serta terhalanginya me-reka dari memperoleh hidayah. Ini termasuk kemenangan terbesar. Peperangan dan permusuhan me-reka terhadap agama Islam dan muja-hidin menjadi sebab kesesatan dan terjerumusnya mereka dalam kekafi-ran sampai mati. Inilah permintaan Nabi Musa dan Harun ‘Alaihimas Salam kepada Alloh untuk Firaun dan kaumnya, Alloh berfirman tentang Nabi Musa: “Dan Musa berkata: Duhai robb kami, sesungguhnya Engkau telah membe-rikan kepada Firaun dan pengikutnya perhiasan dan harta benda di dunia, ya robb kami mereka mengguna-kannya untuk menyesatkan manusia dari jalan-Mu, ya robb kami hancur-

kanlah harta mereka dan keraskanlah hati mereka sehingga mereka tidak akan beriman sampai melihat adzab yang pedih.” (QS 10:88) Permintaan Nabi Musa ‘Alaihis Salam terhadap perkara-perkara ini menunjukkan jika perkara-perkara yang beliau minta tersebut terwujud berarti kemenangan hakiki berada di tangan. Kekalahan apakah yang lebih besar daripada ketika Alloh keraskan hati orang kafir sampai mereka jumpai adzab yang pedih? Ketika kaum mukminin nanti berbahagia dengan posisi yang diceritakan Alloh dalam Al-Quran ketika mereka mengatakan kepada para pemimpin orang-orang kafir: “Rasakanlah (siksa neraka) sesungguhnya kamu itu maha perkasa lagi maha mulia.” (QS 44:49) 5. Di antara bentuk kemenangan adalah ketika Alloh mengambil seba-gian hamba-Nya sebagai syuhada. Maka setiap hamba yang berjuang dan terluka karena Alloh Ta‘ala semua itu sebenarnya agar ia bisa memperoleh tiket masuk surga. Oleh karena itu, Alloh Ta‘ala berfirman: “Dan hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia dan agar Alloh mengetahui orangorang yang benar-benar beriman serta mengambil seba-gian dari kalian sebagai syuhada. Dan Alloh tidak menyukai orang-orang yang dzalim.” (QS 3:140) Kesyahidan merupakan pilihan yang Alloh tentukan bagi hamba-Nya. Bermakna, siapa yang Alloh pilih untuk bisa mencapai derajat ini berarti telah meraih kesuksesan dan kemenangan. Kesyahidan adalah puncak daripada cita-cita karena kesyahidan merupakan pilihan dari Alloh, sampai-sampai Rosulullohpun mengangankan kesyahidan hingga tiga kali di dalam sabdanya: (‫)ولوددت أن أقت َ في سبيل ال ثم أحيا ثم أقتل ثم أحيا ثم أقتل‬ ُ َ ْ ُ ّ ُ َ ْ ُ ّ ُ ُ َ ْ ُ ّ ُ َ ْ ُ ّ ُ ِ ِ ْ ِ َ ْ ِ ‫ََ َ ِ ْ ُ َ ْ ُ ْ َل‬ “Sungguh, aku benar-benar berandai-andai jika untuk terbunuh di jalan Alloh, kemudian dihidupkan lagi, ke-mudian terbunuh lagi, kemudian dihidupkan lagi, kemudian terbunuh lagi.” Alloh Ta‘ala berfirman untuk menegaskan makna kemenangan ini: “Dan janganlah kalian sangka bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka hidup di sisi robbnya mendapatkan rezeki.” (QS 3:169) Dan berfirman: “Dan janganlah kalian katakan bahwa orang yang terbunuh di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka hidup tetapi kalian tidak menyadari.” (QS 2:154) 6. Bentuk kemenangan lain adalah kemenangan di medan tempur. Inilah makna kemenangan yang difahami oleh hampir seluruh umat manusia. Kebanyakan orang hanya

membatasi kemenangan pada makna ini saja. Ini tentu pemahaman yang timpang. Kemenangan di medan tempur tak lain hanya salah satu dari sekian bentuk kemenangan. Rosululloh SAW sempat bergem-bira dengan kemenangan medan ini dan Alloh tunjukkan kemenangan ini sebelum beliau wafat, kemudian berfirman kepada beliau untuk mengingatkan nikmat tersebut: “Apabila datang pertolongan dan ke-menangan dari Alloh, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Alloh dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji robbmu dan meminta ampun-lah kepada-Nya, sesungguhnya Alloh Maha menerima taubat.” (QS 110:1-3) Demikianlah beberapa bentuk kemenangan. Sebenarnya masih banyak bentuk kemenangan lain dan tidak cukup untuk dibahas seluruhnya di sini. Kami cukupkan dengan menyebutkan beberapa contoh di atas yang kesemuanya masuk dalam lingkup janji Alloh SWT yang berfirman: “Sungguh, Kami pasti menolong (me-menangkan) rosul-rosul Kami dan orang-orang beriman ketika di dunia dan ketika saksi-saksi ditegakkan.” (QS 40:51) Serta firman Alloh: “Dan menjadi kewajiban Kami meme-nangkan orang-orang beriman.” (QS 30:47) Bagi orang yang sempit pemaha-mannya tentang kemenangan, ia akan mengatakan: Bagaimana Alloh menya-takan wajib (pasti) memenangkan para rosul dan orang-orang beriman sementara di antara para rosul itu ada yang terbunuh, ada yang tidak mendapatkan kekuasaan, bahkan ada yang tidak mendapat seorang pengi-kutpun yang masuk Islam bersama-nya? [[ Elhakimi: Kemenangan terbaik adalah kemenangan individu dan kemenangan umat. Ada sebagian individu yang mendapatkan syahid, tapi mayoritas yang lain tetap hidup untuk melanjutkan peradaban Islam dan menegakkan syariat. Jangan menganggap hampir seluruh mujahidin Aceh habis diterkam musuh, baik karena terbunuh atau tertawan, masih pula berkoar-koar meraih kemenangan. Ya, kemenangan akhirat, tapi bukan kemenangan politik militer, dan taktik strategi. Antum berbicara di satu lembah, sedang saya berada di lembah lain. Kagak nyambung.]] Semoga catatan ini bermanfaat dan menambah wacana kita, khususnya dalam dakwah dan jihad. [[ Elhakimi: Demikian tanggapan saya, semoga bermanfaat. ]] Share this: StumbleUpon Digg

Reddit DIarsipkan di bawah: Siyasah Syar'iyyah, Syubuhat wa Rudud, Wacana Jihad | Ditandai: jihad, Jihad Aceh, Jihad Global, Wacana Jihad « PKS Ditinggalkan Sang Penasehat Ternyata Musuh Amerika (Hanya) Sebuah Jamaah » One blogger likes this post 5 Tanggapan - tanggapan Makanan Organik, di/pada 10/08/2010 pada 16:05 Dikatakan: r syukron kasiron artikelnya Balas roney doank, di/pada 11/08/2010 pada 00:34 Dikatakan: r trims ats pengatahuan yang antum berikan smga para singa_singa allah (mujahid) mengerti dan sllu bersemangat ………… Balas Malika, di/pada 31/08/2010 pada 11:53 Dikatakan: r Hmm, kali ini sepertinya tanggapan dari elhakimi bahasanya khas dan terlihat agak emosi nih malah.. Sangat bermanfaat sekali, dalam rangka sama-sama meluruskan pandangan masingmasing. Semoga akan segera clear dan akan bermanfaat ke depannya. Insya Allah akan kami posting di forum n situs islam yg ada. Balas saif al battar, di/pada 31/08/2010 pada 13:37 Dikatakan: r Subhanallah, nice…ntar lg muncu di International Jihad Analisi Arrahmah.com, biar manfaat buat Ummat..:) Balas Abu Afifah, di/pada 22/09/2010 pada 21:51 Dikatakan: r Barakallah fiik semoga ikhwan-ikhwan bisa mengambil ibroh dari diskusi diatas. Terus maju El-Hakimi semoga Allah memberikan keberkahan melalui coretan penamu. PERPECAHAN KELOMPOK SALAFI MAZ’UM Mukaddimah

Dari Abu Najih Irbad bin Sariyah, Rasulullah saw bersabda: “Dan siapa diantara kalian yang (kelak) masih hidup, maka ia akan banyak menyaksikan banyak perselisihan. Maka berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Serta jauhilah oleh kalian perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bida’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Tema tentang salaf dan salafi barangkali sudah terlalu sering dibahas. Secara ringkas, Salaf adalah manhaj yang telah ditempuh oleh generasi terbaik umat ini; sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Adapun salafi adalah sosok yang senantiasa berusaha untuk meniti jejak langkah mereka baik dalam masalah akidah, ibadah maupun mu’amalah. Imam Auza’i menyebutkan lima hal yang senantiasa melekat pada diri sahabat Nabi saw dan kalangan tab’in; senantiasa bersama dengan al jama’ah (Ahli Sunnah Wal Jama’ah), mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca Al Qur’an dan berjihad di jalan Allah” . [ 1 ] Apa yang disebutkan Imam Auzai’ merupakan sebagian contoh yang dilakukan kalangan salaf. Maka salafi adalah sosok yang berusaha meniti jejak langkah mereka siapa saja orangnya. Dan jika ada yang mengklaim dirinya salafi tapi jauh dari kelima hal tersebut maka label salafi tidak ada artinya sama sekali. Salafi bukanlah sosok yang hanya mendengar perkataan dari ustadz atau kelompoknya saja dengan meremehkan kalangan yang lain. Salafi bukanlah sosok yang mengatakan Lebih baik mati dalam keadaan bodoh dari pada ngaji dengan ust. Fulan. Mereka berdalih, dalam rangka merealisaiskan pernyataan para ulama hadits terdahulu dalam memberlakukan kaidah jarh dan ta’dil. Syaikh Bakr Abu Zaid [2] –rahimahullah- dalam bukunya Tashnif An Naas Baina ad Dzan Wal Yaqin telah mencium gelagat tersebut. Beliau menyatakan: “Terkadang dia menempuh cara yang dilakukan oleh sebagian ahli hadits terhadap para perawi yang lemah, – dan alangkah berbeda kedua jalan itu…semua itu adalah perbuatan syetan. Dan dari sinilah jiwanya merasa senang dengan pandangan para pengkritik itu. Yaitu ketika mereka berhasil memalingkan perhatian dari apa-apa yang seharusnya diperhatikan, lalu orang-orang sibuk saling mencela antar sesamanya”. Tiga Sifat Salafi Ekstrim Dalam diri kelompok salafi –meski tidak semuanya- terdapat tiga sifat ekstrim; sifat Khawarij, Murjiah dan Rafidhah. Khawarij dalam arti bersikap arogan, kasar, memusuhi, memblacklist, membid’ahkan setiap da’i, aktifis atau ustadz yang bukan dari kalangannya atau yang berbeda dengannya meski mengklaim sesama salafi. Mereka Murjiah dalam arti lembut, lunak, menolong, membantu, mencintai, siap menjadi garda terdepan dan memberikan loyalitas kepada orang-orang yang anti dengan syariat Islam. Padahal Syaikh Bakr Abu Zaid dengan mengutip perkataan Ibn Al Qayyim

berkata: “Bid’ah yang paling besar adalah menanggalkan Al Kitab dan Sunnah RasulNya dan membuat hukum baru yang menyelisihi keduanya”. Mereka juga bersikap Rafidhah dalam arti menolak semua kelompok dan mengklaim hanya kelompoknya yang benar dan selamat adapaun yang lainnya adalah kelompok yang akan binasa dan neraka tempatnya. Hal ini seperti yang terjadi di Mu’tamar Ahli Sunnah di Teksas Amerika; Salim Hilali, Ali Hasan Al Halabi dan Usamah Al Qushi dalam obrolannya menyatakan Jama’ah Tabligh dan Jam’iyyah Syar’iyyah merupakan kelompok yang akan masuk neraka. Yang kemudian mereka ditegur oleh Syaikh Muhammad Hassan dan Syaikh Shafwat Nuruddin rahimahullah. Mereka menyatakan kelompok-kelompok yang ada adalah hizbiyah dan yang tidak hizbiyah hanyalah kelompoknya. Namun ternyata kalangan seperti ini jauh lebih berhizbiyah dari pada kalangan lainnya. Ini namanya ‘Maling Teriak Maling’. Perpecahan Salafi Seorang ustadz senior salafi ketika ditanya dalam salah satu siaran radio islami, kenapa kalangan salafi berbeda-beda? Ustadz tersebut hanya menjawab perbedaan yang terjadi hanyalah perbedaan dalam masalah furu’ bukan masalah prinsifil. Benarkah apa yang dikatakan sang ustadz? Atau hanya sekedar menutupi agar para muridnya tidak tahu hakikat yang sebenarnya, bahwa memang telah terjadi perpecahan yang cukup dahsyat sehingga antara yang satu dengan yang lain saling membid’ahkan? Kalau memang perbedaan itu bukan dalam masalah prinsif kenapa tabdi’, tajrih dan tahdzir harus terjadi? Bukankah dalam masalah ijtihadi tidak boleh saling menghujat dan tidak boleh menancapkan bendera al Wala dan al Baro di atasnya. Dalam hadits tersebut –hadits Irbad bin Sariyah- Rasulullah saw telah mengabarkan kepada kita, bahwa umat ini akan mengalami perselisihan dan perpecahan. Tidak luput dari hadits tersebut adalah kelompok yang menamakan dirinya salafi yang kini sudah berkeping-keping menjadi beberapa kelompok. Bagi penulis sulit rasanya untuk memastikan kapan awal perpecahan itu terjadi. Hanya saja Syaikh Bakr Abu Zaid paling tidak delapan belas tahun yang lalu beliau telah merasakan adanya perpecahan dalam tubuh salafi. Beliau menyatakan: “Sepanjang yang saya ketahui, perpecahan yang terjadi dalam barisan Ahli Sunnah ini merupakan musibah yang pertama kali terjadi, dimana orang menisbatkan dirinya kepada mereka (Ahli Sunnah) justru mencela Ahli Sunnah. Dan memposisikan dirinya sebagi tentara untuk menyerang dan menebar kekacauan dan memadamkan semangat mereka, menghadang di jalan dakwah mereka dan melepaskan tali kendali lisan untuk mencela kehormatan para da’i dan membuat rintangan di jalan dakwah mereka dengan fanatisme buta”. Pernyataan Syaikh Bakr dalam bukunya tersebut sebenarnya ditujukan kepada siapa saja yang hobinya menggolong-golongkan manusia, tanpa menunjuk hidung seseorang. Sehingga dalam hal ini Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali merasa tersinggung dan membantah buku tersebut dengan judul Al Hadd Al Fashil Bainal Haqq Wal Bathil yang

kemudian bukunya (Syaikh Rabi’) dibantah lagi oleh Syaikh Abu Abdillah An Najdi dengan judul ‘Nadzarat Salafiyyah Fii Aaraa As Syaikh Rabi’ Al Madkhali. Belum lagi perseteruan antara Syaikh Rabi’ dan Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq. Sehingga pada tahun 1997 kalangan salafiyah Kuwait meminta pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Baz tentang sikap Syaikh rabi yang kasar dan arogan. Maka Syaikh menyatakan dalam fatwanya: “Adapun Syaikh Rabi’ aku akan menulis surat untuknya dan akan aku nasehati”. Dan akhir-akhir ini perseteruan antar tokoh salafi seperti Syaikh Rabi’ dengan Syaikh Ali Hasan Al Halabi, Syaikh Abul Hasan Al Ma’ribi, Syaikh Usamah Al Qushi, Syaikh Falih Al Harbi [ 3 ] dan lain-lain semakin membara bagaikan api yang sulit dipadamkan. Padahal sebelumnya mereka sangat memuliakan Syaikh Rabi’ dan menganggapnya sebagai imam Ahli Sunnah dan imam Jarh Wa Ta’dil pada masa ini. Tidak bisa dipungkiri imbasnya adalah apa yang terjadi di sana terjadi juga di Indonesia. Salafiyah Murjiah Kalangan salafi jelas tidak menerima istilah ini dan menuduh kalangan yang melabelnya dengan sebutan khawarij, ikhwani, quthbi, sururi dan lain-lain. Di sini perlu dicatat bahwa justru yang menyebut salafi dengan label tersebut datang dari sosok yang telah lama berinteraksi dengan Syaikh Albani dan pernah terjerumus kedalam faham Murjiah, yaitu Syaikh Abu Malik Muhammad Ibrahim Syaqrah dalam bukunya Aina Taqa’ Laa Ilaaha Illallah Fii Diin Al Murjiah Al Judud. Beliau menyebutnya dengan As Salafiyyah Al Murji’ah, Firqah As Salafiyah Al Murjiah, As Salafiyah Al Murji’ah Al Jadidah dan ungkapan-ungkapan lainnya. Setelah mengakui kekeliruannya dalam masalah iman yang terjerumus kepada faham Murji’ah maka beliau bertaubat dan sebagai bentuk keseriusan taubatnya beliau menulis dua buku Aina Taqa’ Laa Ilaaha Illallah Fii Diin Al Murjiah Al Judud (Dimana Letak (kalimat) Laa Ilaaha Illallah Dalam Agama Murjiah Kontemporer), A Akhta’a An Nabiyyun Wa Ashaba Al Atsariyyun (Apakah Para Nabi Yang Salah dan Kalangan Atsariyun (Salafiyun) Yang Benar?), dan beliau memberi pengantar kitab Haqiqah Al Iman ‘Inda As Syaikh Al Albani (Hakikat Iman Menurut Syaikh Albani). Syaikh Ali Hasan Al Halabi Di Indonesia Syaikh Ali Hasan Al Halabi bagaikan qadhi, yang memegang keputusan dan kendali. Bahkan dianggap sebagai imam jarh dan ta’dil. Jika ada seorang syaikh yang datang ke Indonesia maka ia akan dimintai fatwa dan pendapatnya tentang sosok syaikh tersebut. Jika Ali Hasan mengatakan bahwa syaikh tersebut sururi atau label lainnya maka pengikutnya yang ada di Indonesia akan manut dan langsung mempending seluruh jadwal syaikh tersebut. Ali Hasan di kalangan mayoritas salafi Indonesia mempunyai kedudukan yang tinggi. Jika ada yang mengkritik atau mencelanya maka sama artinya dengan mencela Syaikh Albani. Kenapa kalangan salafi Indonesia lebih mengidolakan Ali Hasan yang tidak sedikit para ulama menyatakan dia adalah orang yang sesat dan menyesatkan?

Di sini penulis perlu menjelaskan secara ringkas siapa Syaikh Ali Hasan dan tentunya hal ini pun berdasarkan fakta dan data yang dikemukakan oleh kalangan yang tahu perisis tentang Syaikh Ali Hasan sehingga kita tidak terjebak dalam dunia kultus individu dan kelompok. 1. Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi dalam fatwa pengharaman dua kitab Ali Hasan Fitnah At Takfir dan Shaihah Nadzir menggambarkan sosok Ali Hasan dengan: madzhabnya dalam masalah iman adalah madzhab Murji’ah yang bid’ah dan bathil, menyeleweng dalam menukil perkataan Ibn Katsir dan Syaikh Muhammad Ibrahim, dusta atas nama Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, menafsirkan pendapat ulama tidak sebagaimana yang mereka maksudkan, meremehkan masalah tidak berhukum dengan hukum Allah, hendaknya ia mencabut pendapat-pendapat ini, hendaknya ia bertaqwa kepada Allah pada dirinya yaitu dengan kembali kepada kebenaran, hendaknya bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu syar’i kepada ulama yang keilmuannya terpercaya dan akidahnya benar. Ali Hasan adalah sosok yang ngeyel sehingga ia pun membantah fatwa Komisi Fatwa dengan Al Ajwibah Al Mutalaimah ‘An Fatwa Lajnah Daimah. Dan bantahannya tersebut dibantah lagi oleh Syaikh Muhammad Ad Dausari yang diberi pengantar oleh beberapa ulama senior namun Ali Hasan tetap ngeyel dan membantah buku tersebut. 2. Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah. Beliau pernah menjadi penengah dalam debat Ali Hasan dan DR. Abu Ruhayyim [4] yang kemudian beliau membenarkan dan memuji apa yang disampaikan DR. Abu Ruhayyim. Yang mana dalam hal ini Ali Hasan tidak amanah dalam menukil pendapat ulama. Sampai-sampai Syaikh Syaqrah marah dan mengatakan; kalau bukan kamu maka akan saya potong tangannya. Dalam bukunya ‘Aina Taqa’ Laa Ilaaha Illallah Fi Dien Al Murjiah Al Judud, Syaikh merujuk dan memuji buku yang ditulis Syaikh Muhammad Ad Dausari hal ini sangat berbeda dengan Ali Hasan yang justru mencela dan membantahnya. Bahkan dalam bukunya, Syaikh Syaqrah menyebut Ali Hasan sebagai ‘Embrio Salafiyah Murji’ah’. Kalangan salafi banyak yang merujuk kepada pembelaan Syaikh Husain Alu Syaikh salah seorang ulama Madinah yang menyebut Ali Hasan dengan saudara senior. Harusnya merekapun membaca apa yang ditulis putra Syaikh Muhammad Syaqrah yaitu Ashim bin Muhammad Syaqrah yang menulis bantahan ‘Ar Rudud Al Ilmiyah As Saniyyah yang ditujukan kepada Ali Hasan dan pendukungnya, termasuk Syaikh Husain. Diantara salah satu pernyataannya; Bagiamana bisa dikatakan saudara senior? Dari sisi usia jelas Ali Hasan lebih muda dari Syaikh Husain. Dan jika dilihat dari sisi keilmuan jelas orang-orang yang duduk dikomisi Fatwa jauh lebih senior dari pada Ali Hasan. Kembalinya Syaikh Muhammad Syaqrah kepada faham Ahli Sunnah dalam masalah iman diakui juga oleh Abu Muhammad Al Maqdisi dalam Tabshir Al Uqala Bi Talbisat At Tajahhum Wal Irja dan Syaikh Abu Bashir. Bahkan Abu Bahsir menulis artikel dengan judul Li As Syaikh Muhammad Syaqrah ‘Alayya Dain (Aku Mempunyai Utang Kepada Syaikh Muhammad Syaqrah). Ketika Abu Bashir meminta maaf atas kata-

katanya yang kasar –dalam buku-bukunya terdahulu- maka Syaikh Syaqrah mengatakan: “Ya Abu Bashir, anda tidak perlu meminta maaf. Kalian berada dalam jalan yang haq dan benar. Apa yang telah anda tulis, (dan yang ditulis oleh) Abu Muhammad Al Maqdisi dan Abu Qatadah adalah benar dan haq. Maka aku katakan kepada manusia: sesungguhnya anda, Abu Muhammad Al Maqdisi dan Abu Qatadah adalah haq dan benar maka tidak perlu meminta maaf. Orang yang benar tidak layak meminta maaf atas perkara yang ia berada di atasnya”. 3. Dalam buku saku Ma’a Syaikhina Nashir As Sunnah Wa Ad Dien Fi Syuhur Hayatihi Al Akhirah, Ali Hasan menyebutkan; Ketika Syaikh dikubur aku memang jauh darinya, namun aku adalah sosok yang paling akhir berbicara dengan Syaikh. Abdullatif, salah seorang putra Syaikh Albani menyatakan bahwa yang paling terakhir berbicara dengannya selain keluarga dan kerabatnya adalah salah seorang ikhwah dari Bahrain. Ini menunjukan kebohongan Ali Hasan sang qadhi dan Ahli Jarh dan Ta’dil salafi Indonesia. 4. Ali Hasan adalah sosok yang suka melakukan plagiat dan mencuri karya orang lain yang kemudian dinisbatkan kepada dirinya. Syaikh ‘Awadhallah pernah mengeluhkan permasalahan ini kepada Syaikh Bakr Abu Zaid. Bahkan Abdul Aziz bin Faishal membuat artikel dengan judul Al Farq Baina Al Muhaqqiq Wa As Sariq (Perbedaan Antara Muhaqqiq Dan Pencuri) kemudian menyebutkan beberapa bukti di antaranya Ali Hasan mencuri hasil tahqiq Al Thanahi dan Az Zawi dalam kitab An Nihayah karya Ibn Atsir dan mayoritas dari karya-karyanya banyak membela dirinya dengan berlindung dibalik nama besar Syaikh Albani. Pada hal Ali Hasan tidak pernah duduk lama-lama belajar dengan Syaikh Albani hal ini dikarenakan Syaikh juga sibuk dengan tahqiq, takhrij dan ta’liq. Dengan Syaikh Albani, Ali Hasan hanya tuntas membaca kitab kecil Nukhbah Al Fikr. 5. Syaikh Bakr Abu Zaid dalam bukunya Dar’ul Fitnah ‘an Ahli Sunnah (Menepis Fitnah Yang menimpa Ahli Sunnah) secara tidak langsung menyindir Ali Hasan. Beliau menyebutkan diantara dampak negatif faham murjiah adalah meremehkan urusan shalat dan pemberlakuan syari’at Allah untuk mengadili manusia. Bahkan mereka membantu orang yang berhukum kepada thaghut padahal Allah telah memerintahkan untuk mengkufurinya. Jelas dalam dua buku Ali Hasan Fitnah At Takfir dan Shaihah Nadzir dia meremeh kedua masalah tersebut dan menyatakan bahwa orang yang sibuk dengan masalah penegakan hukum Allah adalah mirip dengan Rafidhah. Jelas ini sebuah kekeliruan dan keseatan. 6. Asy-Syaikh Rabi’ al Madkhali ditanya tentang ‘Ali Al-Halaby, maka Asy-Syaikh menjawab: “Saya akan jelaskan kepada kalian keadaan ‘Ali Al-Halaby. Selama sepuluh tahun kami bersabar atas dia dan apa yang dimunculkan dari fitnahnya, sedang dia memperkuat fitnah tersebut dan berusaha untuk memecah belah dan membuat musykilah, diantaranya: Dia memberi kata pengantar pada kitabnya Murad Syukri yang mana padanya ada aqidah murji’ah dan pendalilan dengan ucapan ahlu bid’ah. Penutup

Syaikh Albani termasuk yang menyatakan bahwa kata As Salafi yang kemudian diikuti dengan Al Atsari adalah kalimat yang berat. Jika orang yang melabel dirinya dengan kata-kata itu mengetahui maknanya maka ia akan berlepas diri dengan menanggalkannya. Hal ini diamini oleh murid seniornya Syaikh Muhammad Syaqrah. Bahwa kata As Salafi jauh lebih berat dan fitnahnya jauh lebih dahsyat dari pada kata Al Atsari maka sebaiknya tidak menggunakan label tersebut karena akan melahirkan fanatisme, kesombongan dan meremehkan yang lainnya. Perpecahan dalam tubuh salafi, saling membid’ahkan dan adanya klaim kebenaran rupanya telah disinggung oleh Syaikh Al Utsaimin rahimahullah. Hal ini penulis tuturkan agar kalangan salafi introspeksi dan melakukan evaluasi diri serta menyadari bahwa telah ada kekeliruan juga dalam diri mereka. Dalam mengomentari hadits di atas yaitu hadits ke 28 dalam Syarh Al Arbain An Nawawiyah yang bersumber dari Irbad bin Sariyah beliau (Syaikh Al Utsaimin) berkata: “Dan tidak diragukan lagi bahwa madzhab Umat Islam harus bermadzhab salaf bukan beravilial kepada hizb (kelompok) tertentu yang menamakan dirinya dengan ‘SALAFIYYUN’. Yang menjadi keharusan bagi Umat Islam adalah bermadzhab dengan madzhab As Salaf As Shalih bukan berhizbiyah dengan nama ‘SALAFIYUN’. Di sana ada yang namanya Thariqah As Salaf (cara/metode salaf) dan ada juga yang namanya kelompok ‘SALAFIYUN’. Dan yang dituntut adalah mengikuti salaf (bukan beravilial kepada kelompok salafi). Meski demikian, ikhwah Salafiyun merupakan kelompok yang paling dekat dengan kebenaran. Hanya saja permasalahan mereka adalah sama dengan kelompok-kelompok yang lainya; saling menyesatkan satu sama lain, saling membid’ahkan dan saling memfasikkan”. Wallahu A’lam bis shawab Abu Hatim, Lc Catatan kaki 1. Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah Wal Jama’ah karya Al Lalikai. Bahkan dalam masalah jihad Rasulullah saw telah menjadikan sebagai bentuk tamasya umatnya. Seorang lelaki meminta izin kepada Rasulullah saw untuk bertamasya. Maka beliau bersabda: “Tamasya umatku adalah jihad di jalan Allah”. (HR. Abu Daud) 2. Anggota Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi dan kitabnya ditulis sejak delapan belas tahun yang lalu, yaitu pada tahun 1413H 3. Dosen Universitas Islam Madinah dan Direktur Ma’had Ilmi. Dulunya merupakan teman dekat Syaikh Rabi’ namun akhir-akhir ini beliau kembali kapada jalan yang benar dalam memahami masalah iman dan mengkritik tajam apa yang ditulis Ali Hasan Al Halabi dan Syaikh Rabi yang keduanya terjerumus kepada paham murji’ah. Dalam masalah ini Syaikh Falih mendapat pujian dari Prof. DR. Abdullah bin Abdurrahman Al Jarbu’ ketua Jurusan Akidah Universitas Islam Madinah

4. Isteri Syaikh Albani memilihkan calon Isteri untuknya dan Syaikh Albani yang menyampaikan nasehat dalam pernikahannya Filed under: Aqidah, syubhat 5 Responses abu dzaki mengatakan: Juni 29, 2010 pukul 10:39 am syukron atas tulisan yang baik ini. semoga Allah menjadikan setiap pembacanya mampu mengambil pelajaran. Balas deana mengatakan: Juli 3, 2010 pukul 5:58 am nyatanya mereka hizb kalo ndak mengapa berpecah belah Balas Abu Rafsya mengatakan: Juli 5, 2010 pukul 5:25 am Kalau kita memang benar2 berpegang teguh dg quran dan sunah dg pemahaman salaf dalam artian yang sebenarnya, maka insya Alloh kita akan tahu siapa sebenarnya the real salafy…wallohu’alam Balas amar azizi mengatakan: Juli 21, 2010 pukul 1:33 am semoga Allah menyadarkan mereka, sehingga tidak larut dan bangga dengan salafi-lih nya, Balas :D mengatakan: September 4, 2010 pukul 6:33 am hehe… ada hikmah bagus, “Berhati-hatilah terhadap teman yang sering menghujat, karena tidak ada jaminan engkau tidak dihujat di majelisnya yang lain.” Wajar jika berpecah….

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->