GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN UMUM PENGGUNAAN DANA

BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU DI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, MENIMBANG : bahwa sebagai tindak lanjut ketentuan dalam Pasal 66A ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai, perlu menetapkan Pedoman Umum Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Jawa Timur dengan Peraturan Gubernur Jawa Timur. MENGINGAT : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3613) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4755). 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286). 3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844). 4. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4578). 5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4737). 6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007. 7. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.07/2009.

Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2009

8. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Provinsi Jawa Timur (Lembaran Daerah Tahun 2007 Nomor 1, Seri E). 9. Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/436/KPTS/013/2008 tentang Pedoman Kerja dan Pelaksanaan Tugas Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2009. MEMUTUSKAN MENETAPKAN : PERATURAN GUBERNUR TENTANG PEDOMAN UMUM PENGGUNAAN DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU DI JAWA TIMUR. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan : 1. Pemerintah Provinsi adalah Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 2. Gubernur adalah Gubernur Jawa Timur. 3. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat APBD adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Jawa Timur. 4. Kabupaten/Kota adalah Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Pasal 2 Dengan Peraturan ini, ditetapkan Pedoman Umum Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Jawa Timur sebagaimana tersebut dalam Lampiran. BAB II PENGGUNAAN DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU Pasal 3 (1) Dana bagi hasil cukai hasil tembakau dialokasikan dalam undangundang mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan perubahannya. (2) Alokasi dana bagi hasil cukai hasil tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada daerah Provinsi/ Kabupaten/ Kota ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan. Pasal 4 (1) Dana bagi hasil cukai hasil tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, digunakan untuk mendanai kegiatan : a. peningkatan kualitas bahan baku; b. pembinaan industri; c. pembinaan lingkungan sosial;

d. sosialisasi ketentuan di bidang cukai dan/ atau; e. pemberantasan barang kena cukai ilegal. (2) Gubernur/Bupati/Walikota bertanggungjawab untuk menggerakkan, mendorong dan melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan prioritas dan karakteristik daerah masing-masing. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2009

Pembinaan usaha tani tembakau. b. Perencanaan areal Pengembangan sarana dan prasarana usaha komoditi tembakau. Mendorong pembudidayaan bahan baku dengan kadar nikotin rendah. e. Bimbingan teknologi budi daya tembakau. Penguatan kelembagaan kelompok tani dan pedagang bahan baku untuk industri dan hasil tembakau. Pasal 6 Mendorong pembudidayaan bahan baku dengan kadar nikotin rendah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b. penyediaan dan pengawasan benih unggul bermutu. b. sekurang¬kurangnya mencakup kegiatan : a. sekurang-kurangnya meliputi: a. Pasal 7 Penanganan panen dan pasca panen bahan baku sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf d. . c. f. b. Standarisasi kualitas bahan baku. d. Pengembangan teknologi panen dan pasca panen. Penanganan panen dan pasca panen bahan baku. Pengembangan sarana dan prasarana usaha komoditi tembakau. b. Pembinaan. c. Percontohan Intensifikasi tembakau. Pengendalian hama dan penyakit tembakau secara terpadu dan ramah lingkungan. Pengembangan sarana laboratorium uji dan Pengembangan metode pengujian. e. Fasilitasi kemitraan usaha tani tembakau. d. c. Revitalisasi Tembakau ekspor. Pembinaan dan penguatan kelembagaan kelompok tani/ gabungan kelompok tani/ asosiasi petani tembakau. Pasal 8 Penguatan kelembagaan kelompok tani dan pedagang bahan baku untuk industri dan hasil tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf sekurang-kurangnya meliputi : a.Pasal 5 Peningkatan kualitas bahan baku sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a digunakan untuk peningkatan kualitas bahan baku industri hasil tembakau yang meliputi : a.

Dok. Penerapan Ketentuan terkait hak atas kekayaan intelektual (HAKI). b. c. Registrasi mesin pelinting sigaret (rokok) tembakau.Pasal 9 Pembinaan industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf b digunakan untuk pembinaan industri hasil tembakau yang meliputi : a. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2009 . Pembentukan Kawasan Industri Hasil Tembakau.

Penerapan Good Manufacture Practices (GMP) dalam rangka peningkatan kualitas produk hasil tembakau. j. e. Peningkatan pengawasan barang beredar dan perlindungan konsumen. Penerapan Social Responsibility Tobacco Programme (SRTP) dan Social Responsibility Programme (SRP). pelaku usaha dan masyarakat dilingkungan industri rokok. sekurang-kurangnya mencakup data: . Peningkatan sistem jaminan mutu tembakau dan rokok. peraturan dan perijinan yang berlaku bagi industri hasil tembakau/ rokok. h. Fasilitasi b. k. Kompetensi dan Manajerial SDM aparat. Peningkatan dan pengembangan desain kemasan produk industri hasil tembakau. Pasal 11 Penerapan Ketentuan terkait hak atas kekayaan intelektual (HAKI) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf b. m. kodifikasi dan sertifikasi mesin pelinting sigaret (rokok). Fasilitasi perlindungan indikasi geografis tembakau. g. l. n. Pembinaan dan fasilitasi dalam rangka penguatan pedagang dan industri hasil tembakau/ rokok. Pemetaan Industri hasil tembakau. Peningkatan dan Pengembangan pasar dalam negeri/ luar negeri Industri hasil tembakau. Pengembangan dan Penerapan standardisasi mutu tembakau. s. Pasal 10 Registrasi mesin pelinting sigaret (rokok) tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a. Fasilitasi c. Peningkatan dan Pengembangan proses industri hasil tembakau dengan kadar tar dan nikotin rendah. Peningkatan kompetensi laboratorium uji. perlindungan varietas tanaman tembakau. meliputi : a. perlindungan atas paten Tembakau Bawah Naungan perlindungan atas label dan merek dagang. i.Pendataan. Peningkatan Kualitas. d. o. Kemitraan antara Usaha Kecil Menengah (UKM) hasil tembakau dan koperasi dengan industri besar hasil tembakau. q. r. verifikasi. Fasilitasi konseling industri rokok dan dampaknya. f. Fasilitasi (TBN). Pembinaan legalitas industri hasil tembakau/ rokok sosialisasi ketentuan.d. . p. Penguatan kelembagaan asosiasi industri hasil tembakau/ rokok.

Pasal 12 Pemetaan Industri hasil tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf d. Pendataan industri hasil tembakau (rokok).e. Fasilitasi perlindungan HAKI terhadap merk rokok pada industri hasil tembakau. meliputi : a. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2009 . Dok.

Pasal 15 Pembinaan legalitas industri hasil tembakau/ rokok. meliputi kegiatan : a. e. Pasal 13 Penerapan Good Manufacture Practices (GMP) dalam rangka peningkatan kualitas produk hasil tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf h. d. meliputi : a. bimbingan dan penerapan sistem Social Responsibility Tobacco Programme (SRTP) dan Social Responsibility Programe (SRP). Penyusunan dokumen sistem mutu Good Manufacture Practices (GMP). sosialisasi ketentuan peraturan dan perijinan yang berlaku bagi industri hasil tembakau/ rokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf j. Sosialisasi dokumen sistem mutu Good Manufacture Practices (GMP). d. Bimbingan dan fasilitasi perolehan ijin industri hasil tembakau/ rokok. Pembuatan sistem dan database industri hasil tembakau.b. bimbingan dan penerapan dokumen sistem mutu Good Manufacture Practices (GMP). meliputi : a. Penyusunan dokumen sistem Social Responsibility Tobacco Programme (SRTP) dan Social Responsibility Programme (SRP). Fasilitasi. b. Pelatihan Blennding hasil tembakau/ rokok. Pelatihan pencegahan dan penanganan rokok ilegal. c. Bimbingan teknis manajemen industri hasil tembakau/ rokok . Sosialisasi dokumen sistem Social Responsibility Tobacco Programme (SRTP) dan Social Responsibility Programme (SRP). . Pelatihan sistem Social Responsibility Tobacco Programme (SRTP) dan Social Responsibility Programme (SRP). c. Bimbingan dan fasilitasi legalitas usaha industri hasil tembakau/ rokok. Pasal 14 Penerapan Social Responsibility Tobacco Programme (SRTP) dan Social Responsibility Programme (SRP) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf i. meliputi: a. c. b. Fasilitasi. Pasal 16 Pembinaan dan fasilitasi dalam rangka penguatan pedagang dan industri hasil tembakau/ rokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf k. Pelatihan Good Manufacture Practices (GMP). b.

Dok. Pembinaan dan fasilitasi pedagang hasil tembakau/ rokok dan industri hasil tembakau/ rokok melalui bantuan perkuatan permodalan dan sarana produksi. Pembinaan kemampuan keterampilan karyawan industri hasil tembakau/ rokok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2009 . c.b.

c. Pasal 17 Peningkatan sistem jaminan mutu tembakau dan rokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf I. Pengadaan sarana dan prasarana smoking machine. Membangun dan memperluas jejaring antar laboratorium. d. Pelatihan sistem manajemen mutu. b. c. d. Peningkatan kualitas SDM aparatlpembina. b. Pasal 19 Peningkatan Kualitas. d. meliputi : a. Audit internal sistem manajemen mutu. Fasilitasi.keterampilan masyarakat dibidang industri di Iingkungan industri hasil tembakau. Kompetensi dan Manajerial SDM aparat. c. Penumbuhan wirausaha baru di bidang industri dilingkungan industri rokok. Peningkatan dan pengembangan ekspor hasil produk tembakau. meliputi : a. c. Pasal 20 Peningkatan dan Pengembangan pasar dalam negeri/luar negeri Industri hasil tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf o.d. Peningkatan kualitas SDM di bidang fumigasi. Pembuatan dan penayangan materi promo pada media cetak/ elektronik. sekurang-kurangnya meliputi : a. bimbingan. b. pelaku usaha dan masyarakat dilingkungan industri rokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf n. Meningkatkan kompetensi SOM pengambil contoh dan penguji rokok. pelaku usaha tembakau dan industri hasil tembakau. Sosialisasi sistem manajemen mutu. Membangun dan memperluas jejaring antar laboratorium melalui Mutual Recognition Arrangement (MRA). Pasal 18 Peningkatan kompetensi laboratorium uji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf m. Partisipasi pameran tembakau di dalam negeri dan luar negeri. penerapan dan sertifikasi sistem manajemen mutu. Peningkatan . Peningkatan pelayanan Pusat Pelatihan dan Promosi Ekspor. b.baik nasional maupun internasional. sekurang-kurangnya meliputi : a. . pengujian dan inspeksi tembakau.

Peningkatan promosi penggunaan produksi dalam negeri dan pengembangan usaha bagi daerah penghasil bahan baku industri hasil tembakau.e. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2009 . Peningkatan pemasaran melalui pasar lelang. Peningkatan bina pasar dan distribusi di daerah penghasil bahan baku industri hasil tembakau. Dok. Pengembangan potensi produk ekspor. g. h. f.

Penetapan kawasan tanpa asap rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum . Pelatihan SNI tembakau. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan penyediaan fasilitas perawatan kesehatan bagi penderita akibat dampak asap rokok. sekurang-kurangnya meliputi: a. e. Penerapan manajemen Limbah Industri hasil tembakau yang mengacu pada Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) . f. c. c. pedagang tembakau dan industri hasil tembakau dalam rangka penyuluhan kemetrologian. sekurang-kurangnya meliputi : . b. d. b. Pasal 22 Peningkatan pengawasan barang beredar dan perlindungan konsumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf q. c. Pasal 24 Pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja masyarakat di Iingkungan industri hasil tembakau dan / atau daerah penghasil bahan baku industri hasil tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf a. Fasilitasi. Penyusunan rancangan Standar Nasional Indonesia (SNI) tembakau. d. Pelatihan penggunaan timbangan yang benar bagi petani tembakau. b. Pengawasan dan pengendalian produk hasil tembakau impor. Peningkatan pengawasan barang beredar dan perlindungan konsumen.Pasal 21 Pengembangan dan Penerapan standardisasi mutu tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf p. Pasal 23 Pembinaan Iingkungan sosial digunakan untuk meminimalkan dampak negatif kegiatan industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf c. Pertemuan teknis dan konvensi standardisasi contoh tembakau. penerapan dan sertifikasi SNI tembakau. Sosialisasi SNJ tembakau. bimbingan. meliputi : a. Pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau dan / atau daerah penghasil bahan baku industri hasil tembakau . Workshop tembakau. sekurangkurangnya meliputi : a.

Pembinaan kemampuan dan ketrampilan kerja bagi masyarakat untuk perluasan kesempatan kerja dan penempatan kerja di sektor formal. Dok. Pembinaan kemampuan dan ketrampilan kerja untuk peningkatan kualitas dan produktifitas sumber daya manusia bagi tenaga kerja/ masyarakat di sektor tembakau. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2009 .' b.a.

industri hasil tembakau dan industri pendukungnya. . Pembinaan Sistem Manajemen Lingkungan (SML) kegiatan perkebunan tembakau dan industri hasil tembakau dan pendukungnya. syarat kerja dan kesejahteraan pekerja/ buruh. g. Pemberdayaan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (eks klien panti) melalui peningkatan kemampuan dan keterampilan kerja di daerah industri hasil tembakau dan atau daerah penghasil bahan baku industri hasil tembakau. sekurang-kurangnya meliputi : a. adil dan bermartabat serta perbaikan upah. pemetaan profil dan inventarisasi serta identifikasi potensi pencemaran Iingkungan pada perkebunan tembakau. h. e. Program penciptaan perluasan kesempatan kerja dengan memberikan : -Bantuan modal kerja -Bantuan sarana prasarana g. pengembangan SOM aparatur dan pengadaan sarana prasarana lembaga latihan/unit. DPPL). industri hasil tembakau dan pendukungnya serta bagi pelayanan kesehatan rujukan. d. UKLI UPL. e. industri hasH tembakau dan pendukungnya. c. Pasal 25 Penerapan manajemen Limbah Industri hasil tembakau yang mengacu pada Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf b. d. industri hasil tembakau dan pendukungnya. Pengadaan prasarana pemantauan Iingkungan dalam rangka pengawasan kinerja pengelolaan lingkungan bagi kegiatan perkebunan tembakau. Pengawasan dan pemantauan kinerja pengelolaan Iingkungan pada kegiatan Perkebunan Tembakau dan industri hasil tembakau dan pendukungnya yang mengacu pada pelaksanaan dokumen Iingkungan (AMDAL. dialogis. Pengembangan hubungan Industrial yang harmonis. termasuk pengembangan kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Peningkatan pelayanan kepada masyarakat melalui kegiatan penelitian. b. Penyusunan data base. Peningkatan pengawasan ketenagakerjaan dan perlindungan tenaga kerja. Fasilitasi pengelolaan Iingkungan bagi perkebunan tembakau.c. f. masyarakat dan kegiatan perkebunan tembakau. Sosialisasi kebijakan pengelolaan Iingkungan hidup bagi kegiatan perkebunan tembakau. f. Peningkatan kualitas SDM pengelolaan Iingkungan bagi aparatur. industri hasil tembakau dan pendukungnya.

Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2009 .Pembangunan IPAL untuk mengolah air Iimbah yang dihasilkan pada rumah sakit. Dok.

d. Seminar. Penetapan kawasan tanpa rokok dengan menyediakan smooking area dan perlengkapannya. bilboard dan lain-lain. Pasal 28 Sosialisasi ketentuan di bidang cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf d meliputi : a. d. b. e. Pengadaan media penyuluhan deteksi dini dan dampak merokok. f. Penyebaran pamflet. b. brosur. Penyuluhan. e. sekurang-kurangnya meliputi : a. Penyuluhan tentang deteksi dini dampak merokok. spanduk. Iklan layanan masyarakat. Pengadaan peralatan penunjang untuk memantau kondisi penderita akibat rokok. Pasal 27 Peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan penyediaan fasilitas perawatan kesehatan bagi penderita akibat dampak asap rokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf d. Penyediaan sarana perawatan kesehatan bagi penderita akibat dampak asap rokok. Screening deteksi awal penyakit akibat rokok. c. Pengadaan peralatan kesehatan dan obat-obatan untuk perawatan penderita akibat dampak asap rokok baik dalam sarana pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan.Pasal 26 Penetapan kawasan tanpa asap rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf c. Pembinaan. b. sekurangkurangnya meliputi : a. Pendirian dan pengembangan poliklinik akibat rokok di puskesmas dan rumah sa kit. Pasal 29 Pemberantasan barang kena cukai ilegal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf e. c. stiker. Pelatihan peningkatan kemampuan petugas pada penanganan penderita akibat rokok. c. leaflet. Forum Diskusi atau Dialog Interaktif. meliputi : . g. pemantauan dan koordinasi petugas kesehatan.

c. b. yang tidak dilekati pita cukai/ polos. Peningkatan operasi pasar. Dok. Pengumpulan informasi peredaran hasil tembakau yang dilekati pita cukai palsu. Profiling pengusaha pabrik.a. Pemeriksaan lokasi pabrik. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2009 . yang tidak sesuai dengan peruntukkannya pada tempat penjual eceran. d.

(2) Gubernur membuat dan menyampaikan rancangan program kegiatan dan penganggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan konsolidasi rancangan program kegiatan dari Bupati/Walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Menteri Keuangan c.q Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dan Menteri Dalam Negeri c. (5) Laporan kegiatan disusun dengan menggunakan format sebagaimana tersebut dalam Lampiran. untuk semester pertama paling lambat tanggal 20 Juli dan b.q Direktur Jenderal Bina Administrasi Keuangan Daerah pada awal tahun. b. Mengetahui kemajuan dan perkembangan capaian program. (2) Gubernur menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (4) dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut: a. . untuk semester kedua paling lambat tanggal 20 Desember. (2) Monitoring dan Evaluasi (Monev) dilaksanakan untuk : a. (3) Bupati/Walikota membuat laporan alokasi penggunaan dana atas pelaksanaan kegiatan kepada Gubernur sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) setiap 6 (enam) bulan sekali. BAB IV MONITORING DAN EVALUASI Pasal 32 (1) Guna mengetahui perkembangan pelaksanaan penggunaan dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau perlu dilakukan monitoring dan evaluasi. batas akhir penyampaian laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) dilaksanakan pada hari kerja sebelumnya.BAB III RANCANGAN DAN PELAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN Pasal 30 (1) Bupati/walikota membuat dan menyampaikan rancangan program kegiatan dan penganggaran dana bagi hasil cukai hasil tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 kepada Gubernur sebelum tahun anggaran berjalan. untuk semester pertama paling lambat tanggal 10 Juli dan b. untuk semester kedua paling lambat tanggal 10 Desember. Pasal 31 (1) BupatilWalikota menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (3) dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut: a. (4) Gubernur membuat laporan alokasi penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau atas pelaksanaan kegiatan dan laporan konsolidasi dari Bupati/Walikota setiap 6 (enam) bulan sekali sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri. (3) Dalam hal tanggal 10 atau tanggal 20 jatuh pada hari libur.

c. Dok. Tujuan dan mekanisme yang telah ditetapkan dan. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2009 .Menilai kesesuaian pelaksanaan program dengan kebijakan.

d. Ditetapkan di : Surabaya Tanggal : 12 Agustus 2009 DIUMUMKAN DALAM BERITA DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR TGL 12-08-2009 No. (3) Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur selaku Sekretariat Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau melakukan monitoring dan evaluasi Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/ Kota. dikenakan sanksi berupa pengurangan sampai dengan pencabutan alokasi dana untuk tahun anggaran berikutnya. BAB V KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 34 BupatilWalikota dapat membuat Pedoman Teknis Pelaksanaan Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten/Kota dengan mengacu pada Peraturan ini. memerintahkan pengundangan Peraturan Gubernur ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Provinsi Jawa Timur. 51 Tahun 2009/E1 GUBERNUR JAWA TIMUR ttd Dr. akan diselesaikan sesuai prosedur dan ketentuan hukum yang berlaku. Mendokumentasi berbagai kegiatan sebagai bahan untuk menyusun tindakan perbaikan program. SOEKARWO Dok. (2) Apabila terjadi pelanggaran hukum oleh pengelola program atau pihak lainnya. Agar setiap orang mengetahuinya. H. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2009 . BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 35 Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Pasal 33 (1) Bagi Kabupaten/Kota yang terbukti tidak mentaati atau dinilai telah melanggar ketentuan atas penggunaan alokasi dana bagi hasil cukai hasil tembakau.

LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR : 51 TAHUN 2009 TANGGAL : 12 AGUSTUS 2009 PEDOMAN UMUM PENGGUNAAN DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU DI JAWA TIMUR BAB I PENDAHULUAN 1. hampir 96% berasal dari cukai hasil tembakau.1. a spek penerimaan dan kesehatan.Latar Belakang Dalam APBN 2009 pemerintah telah menetapkan target penerimaan cukai sebesar Rp. menuju administrasi yang sederhana dan mengurangi penyebab pe redaran cukai ilegal. ya itu periode 2007-2020 kebijakan cukai akan diprioritaskan pada aspek tenaga kerja.24 T riliun. Selain itu juga adanya sebagian pengusaha yang ingin mendapatkan keuntungan tinggi deng an cara menghindari pembayaran pajak dan cukai serta adanya perbedaan tarif cukai yang c ukup tinggi antara pabrik golongan I. serta lemahnya penegakan hukum dan terbatasnya lapangan kerja. Khusus dibidang cukai hasil tembakau. dan cukai minuman mengandung ethyl alcohol (MMEA) sebesar Rp. yang terdiri dari cukai hasil tembakau (rokok) sebesar Rp 48. 479 Miliar. cukai ethyl alcohol Rp. Seiring dengan diterapkannya berbagai keb ijakan dibidang cukai di tahun 2009 akan dapat menciptakan iklim industri yang sehat. II. Sebagai dampak dari beredarnya rokok ilegal di Indonesia. dan III. Beberapa hal yang mendorong semakin banyaknya peredaran ro kok ilegal antara lain adalah sebagai dampak kenaikan cukai melalui Undang-Undang No mor 39 Tahun 2007 dan krisis global yang tidak diimbangi oleh kenaikan daya beli konsum en. khususnya cukai . 2 Triliun per tahun. Selain itu. Dengan demikian jika dilihat dari komposisi penerimaan cukai i ni.49 Triliun. 775. peredaran rokok ilegal juga mengganggu kinerja serta pasar industri rokok legal. Potensi kerugian negara dengan beredarnya rokok ilegal ini secara rata-rata mencapai leb ih dari Rp. m emperkuat struktur industri. pemasukan negara dari cukai rokok tidak sesuai dengan jumlah rokok yang beredar. 49. Namun demikian. Untuk mengurangi kerugian pemerintah akibat adanya rokok ilegal.6 Miliar. Pemerintah akan tetap mengac u pada kebijakan yang telah ditetapkan dalam Road Map Industri Hasil Tembakau (IHT). target penerimaan tersebut bisa saja meleset dengan semakin maraknya peredaran rokok ilegal.

ilegal. maka hal mendasar yang harus ditempuh oleh pemerintah adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat luas terutama para produsen rokok ilegal dan pelaku cukai ilegal tentang berbagai alasan adanya kenaikan target penerimaan cukai. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2008 . Upaya-upaya untuk memberikan pemahaman tentang berbagai aspek cukai ini dapat ditempuh melalui lokakarya ketentuan umum di bidang cukai kepada masyarakat luas terutamanya bagi Produsen rokok. birokratbirokrat yang berkecimpung dengan cukai serta akademisi-akademisi yang berminat mendalami tentang cukai. Dok. baik perusahaan rokok berskala kecil atau besar . Serta be tapa cukai ilegal sang at merugikan negara. diharapkan akan mempermudah melakukan pembinaan perusahaan rokok i1egal dalam rangka pemberantasan cukai i1e gal. Dengan semakin meningkatnya pemahaman dari para pelaku produsen rokok ilegal tentang hal tersebut.

1.2 Maksud dan tujuan 1. 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana telah dirubah dengan . seca ra terintegrasi bersama-sama dengan Pemerintah Pusat dan Kabupatenl Kota serta meng ambil langkah-Iangkah strategis dalam upaya meningkatkan mutu. Dengan adanya Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai yang menetapkan sebagian hasil c ukai rokok dikembalikan kepada daerah penghasil serta Peraturan Menteri Keuangan RI N omor 60/PMK. 1. baik pada aspek penyedi aan bahan baku maupun hasil industrinya disamping memberikan penjelasan kepada masya rakat luas tentang pentingnya pengenaan dan penggunaan cukai hasil tembakau yang pada akhirnya manfaatnya diharapkan dapat memberikan kesejahteraan yang lebih besar b agi seluruh masyarakat di Jawa Timur. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian.Mempertimbangkan kondisi tersebut diatas.2. maka perlu ditindaklanjuti dengan diterbitkannya pe doman umum pelaksanaan. Sebagai acuan dalam pelaksanaan koordinasi lintas sektor. Menjamin tertibnya administrasi pelaksanaan program/kegiatan sesuai dengan peruntukkannya.3 Landasan Hukum 1. 2.07/2008 yang dirubah dengan Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 20/PMK.2. Sebagai kerangka acuan penyusunan dan pelaksanaan program/kegiatan di Provinsi d an Kabupaten/Kota. 2. Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan te rus berusaha mendorong daerah-daerah penghasil tembakau maupun daerah-daerah produse n industri hasil tembakau untuk terus mengembangkan potensi yang dimilikinya. 3.1 Maksud Disusunnya pedoman umum penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau adalah sebagai pedoman bagi pelaksana penerima dana agar dapat memenuhi prinsipp rinsip pelaksanaan dan pengelolaan keuangan yang baik.2 Tujuan Adapun tujuan pedoman umum ini adalah : 1.07/2008 tentang Dana Alokasi Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2008 dan Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cuka i Hasil Tembakau dan Sanksi atas penyalahgunaan alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasi l Tembakau untuk menggerakkan.

Dok. 4. 6. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten diundangkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 2001 LNRI Tahun 2001 nomor 109. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merk diundangkan di Jakarta pad a tanggal 1 Agustus 2001 LNRI Tahun 2001 nomor 110. 5. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri diundangkan di Jakarta pad a tanggal 20 Desember 2000 LNRI Tahun 2000 nomor 243. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2008 2 . Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 8. 3. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman diundangkan di Jakarta pada tanggal 20 Desember 2000 LNRI Tahun 2000 Nomor 241.Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007. 9. 7. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang diundangkan di Jakarta pada tanggal 20 Desember 2000 LNRI Tahun 2000 Nomor 242.

16. 17. 11.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. Pelaporan Pelaksanaan Program dan Kegiatan.1/KPTS/021/2009 tentang Sekretariat Kebijakan Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Jawa Timur. Perencanaan.Keputusan Ketua Tim Koordinasi Kebijakan Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Has il Tembakau di Jawa Timur Nomor 525/3545. 19.Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan . 15. Pelaksanaan Program dan Kegiatan. 4.07/2009. 3. 1.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 60/PMK.Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2007 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2008 telah dialokasikan Dana Alokasi Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2008 .Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/104/KPTS/013/2009 tentang Tim Koordin asi Kebijakan Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Jawa Timur. 13.4Ruang Lingkup pedoman pelaksanaan ini meliputi : 1. 14. BAB II PERENCANAAN Dalam rangka penggunaan dana alokasi bagi hasil cukai hasil tembakau diperlukan perencanaan persia pan pelaksanaan : .Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 1 Tahun 2009 tentang Pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau kepada Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten/Kota di Jawa Timur Tahun Anggaran 2009 .Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta diundangkan di Jakarta pa da tanggal 29 Juli 2002 LNRI Tahun 2002 nomor 85.10.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 85/PMK. 18. 12.07/2008 tentang penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan sanksi atas penyalahgunaan alokasi Dana Bagi Hasi l Cukai Hasil Tembakau sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK. Monitoring dan Evaluasi.07/2008 tentang Dana Alokasi Cukai Ha sil Tembakau Tahun 2008 .07/2009 tentang Alokasi Sementara Dan a Bagi Hasil Cukai Hasi! Tembakau Tahun Anggaran 2009. 2.Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan.

Sosialisasi alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau kepada Kabupaten/ Kota. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2008 . 4. Provinsi dan Kabupaten/Kota serta instansi vertikal. Melakukan pendataan potensi Kabupaten/ Kota dalam rangka Persiapan pembagian alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau. . 5. 2. Dok. Persiapan pelaksanaan Program Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau.1. Melakukan koordinasi dengan dinas/ badan terkait Pemerintah Pusat. Melakukan rapat sinkronisasi program Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dengan instansi terkait. 3.

kodefikasi dan sertifikasi mesin pelinting sigaret (roko k). Pengembangan sarana dan prasarana usaha komoditi tembakau. Penguatan kelembagaan kelompok tani dan pedagang bahan baku untuk industri dan hasil tembakau : a. 4.1 Peningkatan Kualitas Bahan Baku industri hasil tembakau yang meliputi : 1. 3. Mendorong pembudidayaan bahan baku dengan kadar nikotin rendah meliputi : a. Standarisasi kualitas bahan baku . Fasilitasi perlindungan atas paten Tembakau Bawah Naungan (TBN). b. 2. Bimbingan teknologi budi daya tembakau. Registrasi mesin pelinting sigaret (rokok) tembakau . Fasilitas kemitraan usaha yani tembakau . Pengendalian hama dan penyakit tembakau secara terpadu dan ramah lingkungan. b. b. e. 5. verifikasi. e. Pembinaan. Revitalisasi Tembakau ekspor. . Pembinaan Industri di gunakan untuk pembinaan industri hasil tembakau yang melip uti: 1. Fasilitasi perlindungan varietas tanaman tembakau c. c. Fasilitasi perlindungan indikasi geografis tembakau.an pengawasan benih unggul bermutu. 2. Pembinaan usaha tani tembakau. b. Penerapan Ketentuan terkait hak atas kekayaan intelektual (HAKI) : a. f. c. -Pendataan. Fasilitasi perlindungan atas label dan merek dagang. d. Pembinaan dan penguatan kelembagaan kelompok tani/ gabungan kelompok tani/ asosiasi petani tembakau. Penanganan panen dan pasca panen bahan baku : a. Percontohan Intensifikasi tembakau. d. Pengembanga sarana laboratorium uji dan Pengembangan metode pengujian .BAB III PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN Mekanisme Program Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dilaksanakan melalui : 3. Perencanaan areal tembakau dan usaha agribisnis berbasis tembakau. Pengembangan teknologi panen dan pasca panen . penyediaan d.

4. 5. 6. Penguatan kelembagaan asosiasi industri hasil tembakau/ rokok. Kemitraan antara Usaha Kecil Menengah (UKM) hasil tembakau dan koperasi dengan industri besar hasil tembakau. Dok. 3. b. Pembuatan sistem dan data base industri tembakau/rokok.Fasilitasi perlindungan HAKI terhadap merk rokok pada indusrti hasil tembakau. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2008 . Pembentukan Kawasan Industri Hasil Tembakau. Pendataan industri hasil tembakau (rokok). Pemetaan Industri hasil tembakau : a.

Pelatihan sistem Social Responsibility Tobacco Programme (SRTP) dan Social Responsibility Programme (SRP). . c. Bimbingan dan fasilitasi perolehan ijin industri hasil tembakaul rokok. c. Penerapan Good Manufacture Practices (GMP) dalam rangka peningkatan kualitas pro duk hasil tembakau : a. 9. d. d. Sosialisasi dokumen sistem mutu Good Manufacture Practices (GMP). Peningkatan dan Pengembangan proses industri hasil tembakau dengan kadar tar dan nikotin rendah. Pelatihan Good Manufacture Practices (GMP). Pembinaan kemampuan keterampilan karyawan industri hasil tembakaul rokok. Bimbingan dan fasilitasi legalitas usaha industri hasil tembakaul rokok. e. 11.7. Pelatihan pencegahan dan penanganan rokok ilegal. Pembinaan dan fasilitasi pedagang hasil tembakaul rokok dan industri hasil temba kaul rokok melalui bantuan perkuatan permodalan dan sarana produksi. b. bimbingan dan penerapan dokumen sistem mutu Good Manufacture Practic es (GMP).Pembinaan dan fasilitasi dalam rangka penguatan pedagang dan industri hasil t embakaul rokok : a. sosialisasi ketentuan. c. pe raturan dan perijinan yang berlaku bagi industri hasil tembakaul rokok : a. d. c. Penyusunan dokumen sistem mutu Good Manufacture Practices (GMP). Fasilitasi. b. Sosialisasi dokumen sistem Social Responsibility Tobacco Programme (SRTP) dan So cial Responsibility Programme (SRP). bimbingan dan penerapan sistem Social Responsibility Tobacco Program me (SRTP) dan Social Responsibility Programe (SRP). 8. b. Pelatihan Blennding hasil tembakau/ rokok. 10.Pembinaan legalitas industri hasil tembakaul rokok. Bimbingan teknis manajemen industri hasil tembakaul rokok. b. Penyusunan dokumen sistem Social Responsibility Tobacco Programme (SRTP) dan Social Responsibility Programme (SRP). Fasilitasi. Penerapan Social Responsibility Tobacco Programme (SRTP) dan Social Responsibility Programme (SRP) : a.

bimbingan. d. Pengadaan sarana dan prasarana smoking machine. Pelatihan sistem manajemen mutu. Membangun dan memperluas jejaring antar laboratorium melalui Mutual Recognition Arrangement (MRA).Penumbuhan wirausaha baru di bidang industri dilingkungan industri rokok. Dok. b. b. d.Peningkatan kompetensi laboratorium uji : a. 13. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2008 . penerapan dan sertifikasi sistem manajemen mutu. Membangun dan memperluas jejaring antar laboratorium.baik nasional maupun internasional.Peningkatan sistem jaminan mutu tembakau dan rokok : a. Meningkatkan kompetensi SDM pengambil contoh dan penguji rokok. c. Audit internal sistem manajemen mutu. Fasilitasi. c. Sosialisasi sistem manajemen mutu. 12.

b. penerapan dan sertifikasi SNI tembakau. Peningkatan pemasaran melalui pasar lelang. Pembuatan dan penayangan materi promo pad a media cetakl elektronik. Peningkatan kualitas SDM di bidang fumigasi. pengujian dan inspeksi tembakau. Penyusunan rancangan SNI tembakau. Peningkatan promosi penggunaan produksi dalam negeri dan pengembangan usaha bagi daerah penghasil bahan baku industri hasil tembakau. Peningkatan dan pengembangan ekspor hasil produk tembakau. Kompetensi dan Manajerial SDM aparat. 15.Peningkatan pengawasan barang beredar dan perlindungan konsumen : a. f. Pelatihan SNI tembakau. Fasilitasi. Partisipasi pameran tembakau di dalam negeri dan luar negeri. c.Fasilitasi konseling industri rokok dan dampaknya. Pengembangan potensi produk ekspor. bimbingan. e.14. d. b. e. c.Peningkatan dan Pengembangan pasar dalam negeril luar negeri Industri hasil t embakau: a. pelaku usaha dan masyarakat dilingkungan industri rokok : a. 17. Pelatihan penggunaan timbangan yang benar bagi petani tembakau. b. h. Peningkatan bina pasar dan distribusi di daerah penghasil bahan baku industri ha sil tembakau. f. pedagang tembakau dan industri hasil tembakau dalam rangka penyuluhan kemeteorologian. g. 16. Peningkatan pelayanan Pusat Pelatihan dan Promosi Ekspor.Pengembangan dan Penerapan standardisasi mutu tembakau : a. pelaku usaha tembakau dan industri hasi l tembakau. Peningkatan kualitas SDM aparat/pembina. Peningkatan keterampilan masyarakat dibidang industri di lingkungan industri has il tembakau.Peningkatan Kualitas. 18. d. . Pengawasan dan pengendalian produk hasil tembakau impor. c. Pertemuan teknis dan konvensi standardisasi contoh tembakau. b. Workshop tembakau. Sosialisasi SNI tembakau.

termasuk pengembangan kesehatan dan keselamatan kerja (K3). 19. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2008 6 .Peningkatan dan pengembangan desain kemasan produk industri hasil tembakau. 3) Peningkatan pengawasan ketenagakerjaan dan perlindungan tenaga kerja.c. 3. 2) Pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja untuk peningkatan kualitas dan produktifitas sumber daya manusia bagi tenaga kerja/ masyarakat di sektor tembak au. Peningkatan pengawasan barang beredar dan perlindungan konsumen.3 Pembinaan Lingkungan Sosial digunakan untuk meminimalkan dampak negatif kegiatan industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir yang meliputi : 1. Dok. Pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja masyarakat di Iingkungan industri has il tembakau dan / atau daerah penghasil bahan baku industri hasil tembakau : 1) Pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja bagi masyarakat untuk perluasan kesempatan kerja dan penempatan kerja di sektor formal.

8) Pembangunan IPAL untuk mengolah air limbah yang dihasilkan pad a rumah sakit. syarat kerja dan kesejahteraan pekerja/ buruh. industri hasil tembakau dan pendukungnya. 2) Pembinaan Sistem Manajemen Lingkungan (SML) kegiatan perkebunan tembakau dan industri hasil tembakau dan pendukungnya. . industri hasil tembakau dan industri pendukungnya. industri hasil te mbakau dan pendukungnya serta bagi pelayanan kesehatan rujukan. 6) Program penciptaan perluasan kesempatan kerja dengan memberikan : -Bantuan modal kerja -Bantuan sarana prasarana 7) Pemberdayaan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (eks klien panti) melalu i peningkatan kemampuan dan keterampilan kerja di daerah industri hasil tembakau d an atau daerah penghasil bahan baku industri hasil tembakau. 7) Penyusunan data base. UKLI UPL. dialogis. 2. 5) Fasilitasi pengelolaan lingkungan bagi perkebunan tembakau. masyarakat dan kegiatan perkebunari tembakau.4) Pengembangan hUbungan Industrial yang harmonis. Penetapan kawasan tanpa asap rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum : 1) Penetapan kawasan tanpa rokok dengan menyediakan smooking area dan perlengkapannya. 4) Pengadaan prasarana pemantauan Iingkungan dalam rangka pengawasan kinerja pengelolaan lingkungan bagi kegiatan perkebunan tembakau. industri hasil tembakau dan pendukungnya. 6) Peningkatan kualitas SDM pengelolaan Iingkungan bagi aparatur. industri hasil tembaka u dan pendukungnya. pengemba ngan SDM aparatur dan pengadaan sarana prasarana lembaga latihan/unit. 2) Penyuluhan tentang deteksi dini dampak merokok. 3. Penerapan manajemen Limbah Industri hasil tembakau yang mengacu pada Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) 1) Sosialisasi kebijakan pengelolaan Iingkungan hidup bagi kegiatan perkebunan t embakau. adil dan bermartaba t serta perbaikan upah. DPPL). 3) Pengawasan dan pemantauan kinerja pengelolaan Iingkungan pada kegiatan Perkeb unan Tembakau dan industri hasil tembakau dan pendukungnya yang mengacu pada pelaksanaan dokumen lingkungan (AMDAL. 5) Peningkatan pelayanan kepada masyarakat melalui kegiatan penelitian. pemetaan profil dan inventarisasi serta identifikasi po tensi pencemaran Iingkungan pada perkebunan tembakau.

5) Pelatihan peningkatan kemampuan petugas pada penanganan penderita akibat roko k. 3) Pengadaan peralatan penunjang untuk memantau kondisi penderita akibat rokok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2008 . Peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan penyediaan fasilitas perawatan kesehatan bagi penderita akibat dampak asap rokok : 1) Penyediaan sarana perawatan kesehatan bagi penderita akibat dampak asap rokok . 2) Pengadaan peralatan kesehatan dan obat-obatan untuk perawatan penderita akiba t dampak asap rokok baik dalam sarana pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan. 4) Pendirian dan pengembangan poliklinik akibat rokok di puskesmas dan rumah sak it.3) Pengadaan media penyuluhan deteksi dini dan dampak merokok. 4. Dok. 6) Screening deteksi awal penyakit akibat rokok.

3) Forum Diskusi atau dialog interaktif. yang tidak sesuai dengan peruntukkannya pada t empat penjual eceran. leaflet. 4. pemantauan dan koordinasi petugas kesehatan. untuk semester pertama paling lambat tanggal 20 Juli dan untuk semester kedua paling l ambat tanggal 20 Desember.4 Sosialisasi ketentuan dibidang Cukai 1) Penyuluhan. 2) Peningkatan operasi pasar.7) Pembinaan.2Gubernur Jawa Timur membuat laporan alokasi penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau atas pelaksanaan kegiatan dan laporan konsolidasi dari BupatilWalikota setiap 6 (enam) bulan sekali kepada Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri. Dalam hal tanggal 20 jatuh pada hari libur. 4) Profiling pengusaha pabrik. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2008 . 2) Seminar. 4) Penyebaran pamflet. batas akhir penyampaian laporan dilaksanakan pada hari kerja sebelumnya.1BupatilWalikota membuat laporan alokasi penggunaan dana atas pelaksanaan kegi atan kepada Gubernur setiap 6 (enam) bulan sekali. spanduk. stiker. batas akhir penyampaian laporan dilaksanakan p ada hari kerja sebelumnya. brosur. 3. 3) Pemeriksaan lokasi pabrik.5 Pemberantasan barang kene cukai illegal 1) Pengumpulan informasi peredaran hasil tembakau yang dilekati pita cukai palsu . yang tidak dilekati pita cukai/ polos. bilboard dan lain-lain. 3. 5) Iklan layanan masyarakat. Dala m hal tanggal 10 jatuh pada hari libur. untuk semester pertama paling lamb at tanggal 10 Juli dan untuk semester kedua paling lambat tanggal 10 Desember. Dok. BAB IV PELAPORAN PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN 4.

........................4.... Periode:........... NO PROGRAM / ANGGARAN REALISASI PENCAPAIAN KETERANGAN KEGIATAN KEUANGAN KINERJA (%) 1 2 3 4 5 6 ....... Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2008 ...................2 sebagai berikut : LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN ................... GUBERNUR / BUPATI / WALIKOTA **) .......................................3 Format Laporan sebagaimana dimaksud dalam angka 4........... ...... Keterangan : *) diisi dengan kegiatan yang dilaksanakan **) diisi dengan pelaksana kegiatan Dok....1 dan 4.............................................. *) PROVINSI / KABUPATEN / KOTA **) :.....................

5. Keswadayaan masyarakat dalam program. e. Penyiapan Kapasitas Masyarakat Untuk Pelestarian. 5.2 Tolok Ukur Kinerja Program. (iii) Tujuan dan mekanisme yang telah ditetapkan dan.2.1Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan Evaluasi (Monev) dilaksanakan untuk : (i) Mengetahui kemajuan dan perkembangan capaian program. (iv)Mendokumentasi berbagai kegiatan sebagai bahan untuk menyusun tindakan perba ikan program. Pelaksanaan Kegiatan Perencanaan. Verifikasi usulan kegiatan. Monitoring dan evaluasi. d. Pelaksanaan Penulisan Usulan kegiatan.1 Bagi Kabupaten/Kota yang terbukti tidak mentaati atau dinilai telah melang gar ketentuan Pedoman Umum dan Petunjuk Teknis Operasional Program. Laporan Berkala (progress report).3. Pelaksanaan Sosialisasi Provinsi. Dukungan kebijakan. b. Partisipasi masyarakat dalam Pengambilan Keputusan. akan diselesaikan sesuai prosedur dan ketentuan hukum yang berlaku.BAB V MONITORING DAN EVALUASI 5. h. b.2. Bantuan Teknis dari Dinas/ Instansi sektoral atau pelaku pembangunan lainnya. Pengawasan. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2008 . g. Kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan secara partisipatif oleh Pengelola di Kabupaten/Kota dan Provinsi.3. Peran masyarakat sebagai pengelola program. 5. Pendayagunaan sumberdaya lokal. e.2 Tolok Ukur Proses a. Pelaksanaan Pencairan Dana. h. 5. Dok. 5. Masyarakat penerima manfaat program. d. (ii) Menilai kesesuaian pelaksanaan program dengan kebijakan. g. f.3 Sanksi 5. c. c.2 Apabila terjadi pelanggaran hukum oleh pengelola program atau pihak lainny a. dikenakan sanksi berupa pengurangan sampai dengan pencabutan alokasi dana untuk tahun anggaran berikutny a. f. Dukungan administrasi dan pengelolaan program.1 Tolok Ukur Masukan a.

Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2008 . Pemerintah Provinsi. GUBERNUR JAWA TIMUR DIUMUMKAN DALAM BERITA DAERAH ttd PROPINSI JAWA TIMUR TGL 12-08-2009 No. jangka menengah dan jangka panjang. Program ini kegiatannya har us dirinci berdasarkan skala prioritas yang meliputi program jangka pendek. H. Pedoman umum Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau ini disusun sebagai landasan dan arah bagi implementasi pengelolaan program. Pemerintah Kabupaten/Kota dan seluruh instansi verti kal terkait di daerah serta seluruh pelaku usaha hasil tembakau. SOEKARWO Dok.BAB VI PENUTUP Dalam pelaksanaan program ini tentunya harus ada sinkronisasi antara Pemerintah Pusat.51 TAHUN 2009/E1 Dr.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful