Vol_10_No_4_Des_2007

jurnal

ISSN 1410-6515

Manajemen
Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management
Volume 10/Nomor 04/Desember/2007
EDITORIAL
Kebijakan Contracting-Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah

Vol 10. No. 04 h.157-214 10 4 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 2007

MAKALAH KEBIJAKAN
Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik)

ARTIKEL PENELITIAN
Dampak Kemitraan Praktisi Swasta terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar, Bali Opsi-opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan; Pembelajaran dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006

RESENSI
Health Systems Assessment Approach : A How to Manual

KORESPONDENSI
Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment Among Medical Doctor in West Java

JMPK

Tahun 10

Nomor 04

Hlm. Yogyakarta 157-214 Desember 2007

ISSN 1410-6515

Terakreditasi Ditjen Dikti No.: 45/DIKTI/Kep./2006

Diterbitkan oleh/Published by: Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Center for Health Services Management Faculty of Medicine Gadjah Mada University

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 10/Nomor 04/Desember/2007

Daftar Isi
Editorial
Kebijakan Contracting-Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah 157

Makalah Kebijakan
Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik) Siswanto 159

Artikel Penelitian
Dampak Kemitraan Praktisi Swasta terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar, Bali Luh Putu Sri Armini, Yodi Mahendradhata, Adi Utarini Opsi-opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan; Pembelajaran dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Evi Sopacua, Didik Budijanto Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Misnaniarti Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Raditya Asri Wisuda , Dumilah Ayuningtyas Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006 Sukri Palutturi, Nurhayani, Nurhamsa Mandak 166

173

181

189

195

Resensi Buku
Health Systems Assessment Approach : A How to Manual 201

Korespondensi
Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment Among Medical Doctor in West Java 203 205

Indeks

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 10 No. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 157 - 158 Editorial

KEBIJAKAN CONTRACTING-OUT UNTUK PENYEDIAAN TENAGA KESEHATAN DI DAERAH TERPENCIL DAN SULIT: DARI PENGALAMAN MENUJU BUKTI ILMIAH1

Masalah ketersediaan sumber daya manusia di daerah yang sulit, terpencil, ataupun berbahaya merupakan masalah besar yang klasik terdapat di Indonesia. Daerah terpencil kekurangan tenaga kesehatan yang penting seperti dokter, dokter gigi, perawat, bidan, epidemiolog, ahli gizi. Tantangan ke depan adalah: (1) bagaimanakah kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam penempatan tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil dan sulit? (2) apakah kebijakan sekarang ini dapat diteruskan walaupun sudah terbukti tidak bisa memenuhi harapan seperti data yang diperoleh Pusrengun Departemen Kesehatan. Di samping itu, ada pertanyaan apakah kebijakan yang diambil dapat menggunakan prinsip-prinsip Evidence Based Policy Making ? Apa persamaan dan perbedaan antara Evidence Based Medicine (EBM) dan Evidence Based PolicyMaking (EBP). Sackett dkk mendefinisikan EBM sebagai: “the conscientious, explicit, and judicious use of current best evidence in making decisions about the case of individual patient’. Untuk EBP, Cookson memberikan definisi yang serupa, namun berfokus pada keputusan public tentang kelompok atau masyarakat, bukan sebuah keputusan tentang individu pasien. Lebih lanjut Cookson menggambarkan hubungan antara bukti ilmiah dengan keputusan. Keputusan berupa kebijakan publiK dapat dipengaruhi oleh berbagai hal yaitu (1) kepercayaan; (2) nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat; dan (3) berbagai hal lain seperti aspek politik, ekonomi, hukum, dan etik. Peran bukti ilmiah adalah mempengaruhi kepercayaan pengambil keputusan tentang hal yang harus ditetapkan. Akan tetapi kepercayaan ini dipengaruhi pula oleh pengalaman, bukti anekdot, ataupun opini yang didengar dan dibaca oleh pengambil kebijakan. Apabila tidak ada bukti ilmiah, dapat dipahami bahwa pengambilan keputusan dipengaruhi oleh kepercayaan yang berasal dari opini misalnya. Sebagai salah satu kasus menarik tentang penggunaan Evidence Based Policy adalah pengiriman tenaga ke RSD Tjut Nya’Dien di

Kabupaten Aceh Barat oleh FK UGM dan RSUP Dr. Sardjito. Pengiriman tenaga ini dapat disebut sebagai bukti anekdot untuk kebijakan distribusi tenaga medik dan kesehatan di daerah sulit. Dalam konteks penyebaran tenaga kerja di daerah sulit, pada tahun 2005, dipicu oleh musibah Tsunami di Aceh dilakukan pengiriman tenaga kerja melalui pendekatan kontrak tim (bukan kontrak perorangan) untuk menggantikan tenaga kesehatan. Dengan dukungan dana dari World Vision Australia, Fakultas Kedokteran UGM bersama University of Melbourne dikontrak untuk menyediakan bantuan tenaga dokter, dokter spesialis, perawat, dan tenaga-tenaga manajemen di RS Tjut Nya’ Dien. RS ini berada di pesisir barat Propinsi NAD, di kota Melaboh. Kota ini merupakan salahsatu daerah yang mendapat dampak paling dahysat Tsunami. Selama 3 tahun telah dikirim sekitar 500 tenaga dengan sekitar 50 gelombang pemberangkatan. Tujuan pengiriman tenaga medik ke RSD Tjut Nya Dien untuk: (1) Memperkuat dan mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga medis / nonmedis RS Tjut Nya’ Dien melalui pengiriman tim medis secara rotasi dan menyiapkan staf local permanent; (2) Revitalisasi penuh RS Tjut Nya’ Dien melalui pemenuhan kebutuhan tenaga medis / non medis berdasarkan penilaian kebutuhan. Di pandang dari hubungan antarberbagai pihak yang terlibat, pengiriman tenaga medik dan kesehatan RSUP Dr. Sardjito dan FK UGM ke Aceh Barat merupakan kegiatan contracting-out. Apakah kegiatan pengiriman tenaga ke Aceh Barat ini dapat dikembangkan sebagai dasar pengambilan kebijakan nasional dan daerah dalam penyebaran tenaga medik dan kesehatan? Pertanyaan lebih lanjut: apakah model contractingout ini dapat dipergunakan untuk menyediakan tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil dan sulit oleh pemerintah daerah dan pusat? Beberapa pemerintah daerah tertarik untuk membuat keputusan berdasarkan pengalaman yang ada di Aceh Barat. Kasus ini terjadi di Kabupaten Berau (yang masih belum berjalan) dan Kabupaten

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

157

Laksono Trisnantoro: Kebijakan Contracting-out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan Nias dan Kabupaten Nias Selatan (sudah berjalan. 10. 158 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.com) KEPUSTAKAAN 1. kebijakan untuk distribusi tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil perlu terus dicari dan dikembangkan. Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Berau (kalau jadi) dapat diperkuat menjadi bukti. Dalam hal ini pemerintah pusat sebenarnya dapat melakukan pilot untuk penelitian kebijakan agar pengalaman mengenai model contracting-out dalam distribusi tenaga medik di Kabupaten Aceh Barat. Merupakan Background Paper untuk Sarasehan Alumni FK UGM. 4 Desember 2007 . Vol. Namun disadari bahwa bukti pengalaman ini perlu dikembangkan untuk menjadi bukti ilmiah sehingga mempengaruhi kepercayaan dalam menetapkan keputusan. saat ini sudah ada bukti anekdot atau pengalaman berupa kebijakan contracting-out yang telah dipergunakan oleh beberapa pemerintah daerah untuk mencari solusi. Dari perspektif Evidence Based Policy Making. Yogyakarta. Sebagai ringkasan. Ruang Rapat Senat FK UGM. No. sama dengan Aceh Barat). Laksono Trisnantoro (trisnantoro@yahoo. Bagaimana dengan pemerintah pusat? Sampai sekarang ini Departemen Kesehatan belum mempunyai agenda untuk contracting-out. Tanggal 5 Maret 2000. Untuk ini diharapkan Departemen Kesehatan berani melakukan penelitian pilot untuk kebijakan contracting-out dalam distribusi tenaga medik dan tenaga kesehatan di daerah yang terpencil dan sulit. Kabupaten Nias.

Akhirnya. Consequently. influence and interests. etika PENGANTAR Alkisah. dapat diinterpretasikan sebagai wahana politik tempat para aktor berebut kepentingan. dan kepentingan. Aktivitas politik merupakan sesuatu yang natural dan tidak dapat dicegah dalam interaksi antaraktor dalam kehidupan organisasi. Kisah ini adalah kisah nyata. salah satu pemerintah kota di Provinsi Jawa Timur ingin membenahi manajemen perusahaan Badan Usaha Milik Daerah yang dipunyainya karena ditengarahi banyak terjadi KKN sehingga perusahaan tidak efisien. Selama beberapa bulan. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 159 . Every actor within organizations including managers try to improve his/her power. Dengan kata lain. boleh dikatakan tiada hari tanpa demo. Pada kisah di atas. diputuskan bahwa untuk merekrut direktur utama dilakukan secara transparan melalui pengumuman di media massa dan kemudian dilakukan fit and proper test di hadapan stakeholder kunci. menuju kinerja perusahaan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. interaksi antaraktor dalam kehidupan organisasi akan selalu terkait dengan kekuasaan pengaruh. politics. either position power or personal power. frightened and painful manner. sang direktur melakukan pembersihan besar-besaran terhadap berbagai praktik KKN karena pendekatannya yang terkesan radikal. Untuk menyehatkan perusahaan. Keywords: organization. Rather. Terpilihlah seorang ‘direktur profesional’ untuk membenahi manajemen perusahaan. tetapi merupakan pola perilaku karena berpegang pada prinsip atau setidaknya karena asas pertukaran manfaat. ethics ABSTRAK Sebagai sebuah entitas sosial. Kata Kunci: organisasi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. setiap aktor harus memperhatikan etika berpolitik yang elegan agar pengaruh seseorang pada perilaku orang lain tidak bersifat memaksa. namun penulis sengaja membuatnya ‘anomim’ untuk menjaga etika penulisan. the interaction of actors in organizational life would involve power.165 Makalah Kebijakan POLITIK DALAM ORGANISASI (SUATU TINJAUAN MENUJU ETIKA BERPOLITIK) POLITICS IN ORGANIZATION (A REVIEW LEADING TO ETHICS OF POLITICS) Siswanto Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan. Bahkan. Aktivitas politik melibatkan kemampuan memainkan sumber kekuasaan dengan taktik politik tertentu untuk memenangkan kepentingan. sang direktur diminta untuk mundur dari jabatan direktur utama perusahaan tersebut karena ia dianggap tidak demokratis dalam gaya kepemimpinannya. menakut-nakuti. politik. Depkes RI. Surabaya ABSTRACT Being a social entity. 10. Political activities would entail the ability to exercise power sources with certain political tactics to win interests. No.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. in order that some one’s influence unto others not due to a coercive. sang manajer terjebak pada praktik manajemen paradigma rasional tanpa memperhitungkan kekuatan politik di dalam organisasi. every actor should take into consideration ethics for performing more elegant politics. Namun demikian. the influence on others’ behavior is due to principles or at least due to benefit exchange. Setiap aktor dalam organisasi termasuk manajer akan berusaha meningkatkan kekuasaannya. Oleh karena itu. However. organizations including health organizations can be interpreted as a political arena where actors are contesting their interests. 4 Desember 2007 159 . in order to achieve his/her own goals and interests. maka terjadilah demo besar-besaran oleh karyawan perusahaan dan pendemo menuntut sang direktur untuk mundur dari jabatan sebagai direktur utama. kemelut perusahaan milik daerah tersebut sampai ke meja anggota DPRD karena para pendemo (karyawan) menyampaikan kemelut manajemen perusahaan kepada wakil rakyat (anggota DPRD). setelah melalui proses tarik ulur di antara para politisi. dan menyakitkan. dalam rangka memburu kepentingan dan tujuannya. Political activities are natural and unpreventable for the interaction of actors in organizational life. baik kekuasaan berdasar kedudukan maupun kekuasaan pribadi. Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas adalah bahwa seorang manajer akan mengalami kegagalan apabila cara memimpinnnya hanya mengedepankan satu paradigma manajemen saja. keberadaan organisasi termasuk organisasi kesehatan. sang manajer telah gagal memimpin perusahaan karena tidak memiliki keterampilan politis yang adekuat untuk melakukan perubahan organisasi. Akhir cerita. Vol.

termasuk organisasi. termasuk manajer. organisasi keagamaan. Semestinya. Pemahaman bahwa organisasi adalah sebuah entitas politik akan mampu menyadarkan manajer melihat organisasi secara ‘utuh’ dan tidak hanya mengandalkan pada cara-cara instrumental saja. Dalam kelompok sosial. dan akhirnya didiskusikan etika berpolitik dalam organisasi. politik adalah suatu kenyataan sosial yang harus dihadapi oleh anggota organisasi. 10. Permainan politik yang tidak etis dalam jangka panjang akan berakibat buruk terhadap kredibilitas pelakunya. Organisasi Sebagai Wahana Politik Organisasi sebagai salah satu entitas sosial juga tidak terlepas dari politik. Morgan3 dan Bolman & Deal4 misalnya. Proses interaksi memenuhi kebutuhannya tersebut manusia membentuk kelompok-kelompok komunitas serta manusia akan selalu dihadapkan pada unsur kekuasaan dan pengaruh. kekuasaan dan kewenangan”. ditransfer. persepsi. dan bahkan pada unit keluarga. klub-klub pribadi. Dengan kata lain. maka seorang manajer (termasuk pemain lainnya) harus paham bagaimana bermain politik yang etis dan elegant. Kekuasaan dan pengaruh merupakan unsur utama dalam politik. namun politik juga terjadi pada organisasi formal. yang analisisnya mengabaikan motif dan kepentingan aktor yang terlibat dalam organisasi. Setiap orang dalam organisasi akan menggunakan taktik dan strateginya masing-masing untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas. Untuk menjadi manajer yang efektif. Pada prinsipnya politik adalah suatu jaringan interaksi antarmanusia dengan kekuasaan diperoleh. Setiap anggota akan membawa minat. baik itu menyangkut distribusi informasi. setiap manusia mau tidak mau harus menggunakan politik (kekuasaan dan pengaruh) sebagai alat berinteraksi antara manusia satu dengan manusia lainnya. dan digunakan. Pusat analisis politik adalah kekuasaan dan pengaruh. 4 Desember 2007 . praktik politik dalam organisasi. kekuasaan. Tak dapat disangkal bahwa ‘negosiasi’ merupakan salah satu bentuk aktivitas politik untuk mendapatkan komitmen bersama. Salah satu paradigma manajemen yang harus dipertimbangkan oleh praktisi manajemen adalah politik organisasi (organizational politics). maka tiap-tiap aktor akan saling beradu kekuasaan untuk memenangkan ‘kepentingan’. Dengan demikian. Vol. Organisasi kesehatan. maka dapat dikatakan bahwa politik tidak hanya terjadi pada sistem pemerintahan. perawat dan staf administrasi) sebagai ‘keteraturan hasil negosiasi’ (negotiated order). kita tidak bisa menghindar dari politik”. kemudian mampu menggunakannya secara tepat orang dan tepat waktu (contingency of people and of timeliness). proses pengaruh-mempengaruhi merupakan hal yang wajar dalam kehidupan organisasi. Untuk memenuhi kepentingannya (meraih cita-cita dan tujuannya). kelompok suku primitif. Berkenaan dengan praktik manajemen melalui pendekatan politik. Masyarakat kebanyakan sering memaknai politik dengan konotasi negatif dan kotor. seorang manajer harus sadar bahwa ‘politik’ selalu ada dalam setiap kehidupan organisasi. badan usaha. Ada ungkapan yang menarik “meskipun kita tidak suka politik. Umat manusia adalah makhluk sosial dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan saling berinteraksi satu dengan lainnya. marga. Dengan memahami politik organisasi. Tulisan ini akan mendiskusikan beberapa isu penting tentang paradigma politik organisasi. Kekuasaan didefinisikan sebagai potensi seorang aktor dapat mempengaruhi aktor lain. kepentingan. Strauss1 dalam penelitiannya di institusi rumah sakit mengidentifikasi pola interaksi antar aktor di rumah sakit (dokter. Politik didefinisikan oleh Dahl2 sebagai “setiap pola hubungan yang kokoh antarmanusia dan melibatkan secara cukup mencolok kendali. seperti rumah sakit juga tidak terlepas dari kegiatan politik. pengaruh. Oleh karena itu. di antaranya organisasi sebagai wahana politik. Melihat aktivitas organisasi sebagai aktivitas politik merupakan penyegaran terhadap pemahaman kehidupan ‘organisasi’ yang selama ini selalu didominasi oleh cara pandang instrumental. dan tujuan yang berbeda-beda. sehingga secara etis dapat diterima oleh anggota lainnya. diharapkan para praktisi manajemen dapat memperluas cakrawala pandangnya tentang politik organisasi sebagai paradigma alternatif dalam mengelola organisasi. Drory5 mendefinisikan politik organisasi 160 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. sehingga aktor lain tersebut menuruti kemauan aktor pertama. Dalam kontes saling pengaruh-mempengaruhi ini. melihat organisasi sebagai wahana atau gelanggang politik tempat bernegosiasi kepentingan oleh para anggotanya. politik adalah kenyataan hidup yang harus dihadapi dan dijalankan oleh setiap orang selama ia berinteraksi secara sosial. dengan taktik memainkan kekusaannya masing-masing. Dengan menggunakan definisi ini. manusia selalu terlibat interaksi antar satu dengan lainnya. profesionalitas sebagai manajer haruslah diinterpretasikan sebagai penguasaan ’semua paradigma manajemen’. karir maupun penghargaan lainnya. kekuasaan dan sumber-sumbernya. No.Siswanto: Politik dalam Organisasi yang lebih baik.

4. kepentingan karir terkait dengan masa depan seseorang dalam organisasi (posisi dan jabatan yang lebih baik). Ada baiknya kita renungkan ungkapan Baltasar Gracian berikut: “Satu-satunya keuntungan memiliki kekuasaan adalah bahwa Anda dapat melakukan lebih banyak kebaikan”. keyakinan. Sementara. Vol. maka konflik adalah wajar (natural) dalam kehidupan organisasi. keinginan. (2) dalam organisasi selalu ada potensi perbedaan menyangkut kepribadian. ‘A’ mempunyai kekuasaan terhadap ‘B’. nilai. sikap. sikap.9 Berbeda dengan kekuasaan yang merujuk kepada ketersediaan sumber daya. dan minat dari para anggotanya. harapan.2 Asumsi dasar organisasi sebagai entitas politik3. tapi merefleksikan sumber kekuatan untuk mempengaruhi tindakan orang lain. 4 Desember 2007 161 . kita harus mengenal sumber-sumber kekuasaan dalam organisasi.10 Lebih jauh. Dalam komponen kepentingan juga termasuk kepentingan ekstramural yang terdiri dari kepribadian. Namun demikian. Selanjutnya. Kekuasaan bersifat netral. dan orientasi seseorang”. yang bisa saja tidak berhubungan dengan kepentingan pekerjaan. (3) kekuasaan memainkan peranan penting dalam memperebutkan sumber daya. dan brokering dari berbagai faksi peserta. kriteria atau proses pengambilan keputusan organisasional dalam rangka memenuhi kepentingannya. Morgan3 mendefinisikan kepentingan sebagai “predisposisi yang mempengaruhi tindakan seseorang dalam berinteraksi secara sosial. No. keyakinan dan komitmen di luar pekerjaan yang semuanya akan membingkai pola perilaku seseorang baik menyangkut pekerjaan maupun karir. kekuasaan adalah suatu sumber daya yang merefleksikan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan keinginan orang pertama. Secara sekuensial dapat dikatakan bahwa kekuasaan menimbulkan pengaruh dan akhirnya pengaruh mempengaruhi tindakan orang lain (kekuasaan à pengaruh à tindakan orang lain). nilai. persepsi. setiap aktor menggunakan kekuasaan dan pengaruh untuk dapat memenuhi tujuannya. kepentingan karir dan kepentingan ekstramural. (4) tujuan organisasi. Pengaruh dapat didefinisikan sebagai penggunaan kekuasaan atau otoritas untuk mempersuasi orang lain agar mereka mengikuti kehendak si pengguna kekuasaan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sebagai perilaku informal di dalam organisasi dengan menggunakan kekuasaan dan pengaruh melalui tindakan terencana yang diarahkan untuk peningkatan karir individu pada situasi untuk memperoleh banyak pilihan keputusan. Dalam interaksi antaraktor dalam organisasi. pengambilan keputusan dan proses manajemen lainnya adalah hasil dari bargaining. 10. Kepentingan pekerjaan adalah kepentingan yang terkait dengan tugas seseorang sesuai kedudukan dan jabatan yang diembannya. Sumber-sumber kekuasaan yang dipakai para aktor untuk saling mempengaruhi adalah sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1. meliputi tujuan. Miles6 mendefinisikan politik organisasi sebagai proses yaitu setiap aktor atau kelompok dalam organisasi membangun kekuasaan untuk mempengaruhi penetapan tujuan. negosiasi.8 Dengan kata lain. kalau ‘A’ dapat mempengaruhi atau memaksa ‘B’ untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh ‘A’. apakah akan bersifat baik atau buruk tergantung dari motif yang menggunakannya. Kekuasaan didefinisikan sebagai “peluang seorang aktor dalam interaksi sosialnya berada di posisi memenangkan keinginannya meski ada hambatan dari pihak lain”.7 Sebagai ilustrasi. kepentingan. beberapa rujukan tentang perilaku politik sering mempertukarkan istilah kekuasaan dan pengaruh.12 yaitu: (1) organisasi adalah koalisi yang terdiri dari berbagai individu dan kelompok dengan berbagai kepentingan. (5) karena keterbatasan sumber daya dan setiap aktor berebut kepentingan. Kekuasaan dan Sumber-Sumbernya Untuk memahami lebih jauh tentang bagaimana para aktor dalam organisasi saling mempengaruhi dan mengapa aktor tertentu dapat mengendalikan aktor lainnya. Morgan 3 membagi kepentingan ke dalam tiga kategori yaitu kepentingan pekerjaan. pengaruh merujuk kepada tindakan atau praktik. kekuasaan dan pengaruh. Yukl11 menyebutkan bahwa pengaruh adalah efek dari tindakan agen tehadap pihak lain (target). Analisis organisasi dari perspektif politik melibatkan tiga diskursus yaitu kepentingan. Lebih jauh. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kekuasaan bukan merefleksikan tindakan.

Melaksanakan negosiasi dan tawar-menawar dengan pihak lain yang bersinggungan dengan kepentingan kita untuk mendapatkan kompromi 162 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. sementara kepala bagian tata usaha akan mempunyai kontrol lebih besar terhadap ekologi pekerjaan seseorang. c. Memang. Praktik Politik dalam Organisasi Setiap aktor termasuk manajer menggunakan taktik dan strategi untuk mempengaruhi aktor lain dengan menggunakan sumber kekuasaan yang dimiliki. Membentuk koalisi dengan pihak lain untuk meningkatkan dukungan dan sumber daya 2). No. e. posisi manajer sudah mendapatkan tiga sumber kekuasaan yaitu otoritas formal. 10. dan hal ini tidak selalu merujuk kepada manajer. Menyangkut kontrol terhadap akses terhadap informasi penting maupun kontrol terhadap distribusinya kepada orang lain. ia akan kehilangan legitimasinya sebagai ‘leader’. 2. Sifat bawaan dari seseorang yang mencakup penampilan. manajer mempunyai kesempatan lebih besar untuk mengumpulkan sumber-sumber kekuasaan. Semakin tergantung pihak lain terhadap keahlian seseorang. Sumber-Sumber Kekuasaan dalam Organisasi11 Sumber kekuasaan 1. Kontrol terhadap sumber daya dan imbalan c. karakter dan kepribadian yang mampu mempengaruhi orang lain untuk suatu tujuan tertentu. Posisi di bawah manajer. Memperluas jumlah pemain yang terlibat dalam suatu isu yang menjadi kepentingan kita untuk mendapatkan perhatian yang lebih luas 5). Kontrol terhadap hukuman (coercive power) Kontrol terhadap informasi Kontrol ekologis Kekuasaan pribadi a. teknologi dan metode pengorganisasian pekerjaan. seperti kepala bidang atau kepala bagian akan menguasai sumber kekuasaan tertentu lebih banyak daripada sumber kekuasaan lainnya sesuai tugas dan fungsinya. Vol. yang berakibat pada munculnya ‘leader-leader’ bayangan dalam organisasi. Kontrol terhadap hukuman dan kapasitas untuk mencegah seseorang memperoleh imbalan. semakin bertambah kekuasaan keahlian (expert power) orang tersebut. Pada Tabel 1 terlihat bahwa kelompok sumber kekuasaan berdasarkan kedudukan akan berlimpah pada orang-orang yang secara hirarkis mempunyai kedudukan dalam organisasi. Kekuasaan berdasarkan kedudukan a. Seorang manajer akan mempunyai kekuasaan kedudukan paling besar karena ia mampu memainkan keseluruhan sumbersumber kekuasaan berdasarkan kedudukan. Pengaruh potensial yang melekat pada keunggulan individu Kekuasaan yang bersumber dari keahlian dalam memecahkan masalah tugastugas penting. kepala bidang perencanaan akan mempunyai kontrol lebih besar terhadap distribusi sumber daya. Kekuasaan keahlian (expert power) Kekuasaan kesetiaan (referent power) Kekuasaan karisma b. Kontrol dan penguasaan terhadap sumber daya dan imbalan terkait dengan kedudukan formal. Manajer yang tidak mampu mengelaborasi atau mengumpulkan sumber-sumber kekuasaan lainnya dengan baik. d. Secara deskriptif. penggunaan struktur dan aturan. kewajiban dan tanggung jawab seseorang berkaitan dengan kedudukannya dalam organisasi atau sistem sosial. Potensi seseorang yang menyebabkan orang lain mengagumi dan memenuhi permintaan orang tersebut. seperti pesona. serta kendali pengambilan keputusan.Siswanto: Politik dalam Organisasi Tabel 1. b. Mentransformasikan kepentingan kita menjadi kepentingan pihak lain dengan mengubah persepsi dan tindakan pihak lain 4). makin banyak kontrol yang dipunyai orang tersebut terhadap sumber daya yang terbatas. Setidaknya. Sebagai contoh. Menciptakan suasana (seremoni dan simbol) untuk membentuk persepsi dan perilaku orangorang sesuai dengan peran dan fungsinya 3). Kewenangan formal Penjelasan Pengaruh potensial yang berasal dari kewenangan yang sah karena kedudukannya dalam organisasi Kewenangan yang mengacu pada hak prerogatif. Agen mempunyai hak untuk membuat permintaan tertentu dan orang yang ditargetkan mempunyai kewajiban untuk mematuhinya. 4 Desember 2007 . beberapa taktik yang dipakai oleh para aktor adalah sebagai berikut:12 1). dapat dimengerti bahwa aktor paling berkuasa adalah aktor yang mampu mengumpulkan banyak sumber-sumber kekuasaan. Makin tinggi posisi seseorang dalam hirarki organisasi. Menyangkut kontrol terhadap lingkungan fisik. Dengan memahami sumber-sumber kekuasaan dalam organisasi. diplomasi dan empati. Referent power terkait dengan keterampilan interaksi antar pribadi. kebijaksanaan.

oposisi.13 Sementara itu. mengkambinghitamkan. kekuasaan terhadap informasi. selanjutnya mempengaruhi berdasarkan prinsip akan menghasilkan efek rasa hormat. Dengan demikian. Vol. balas dendam. pengendalian sementara. menghambat. Gambar 1. mengganggu. banyak dari kita mempengaruhi orang lain dengan cara memberi dan menerima. kepatuhan terpaksa.9 Apa yang kita lakukan dalam mempengaruhi orang lain berdasarkan azas pertukaran manfaat yaitu: (i) membuat kesepakatan. 4 Desember 2007 163 . menusuk dari belakang. merayu. bertukar. No. Konsesi yang dipertukarkan dapat berupa uang. dan pemenangan kepentingan dapat diabstraksikan sebagaimana skema pada Gambar 1. mengalihkan. mempengaruhi berdasarkan manfaat menghasilkan efek kewajaran. (iii) berdebat. Lee9 dalam bukunya The Power Principle. kekuasaan berdasarkan posisi. misalnya: menindas. sabotase. kekuasaan berdasarkan peluang. 9. kekuasaan berdasarkan keahlian. 10. mengendalikan. Mempengaruhi dengan paksaan menghasilkan efek rasa takut. menghalangi. keahlian tertentu atau akses terhadap sumber daya. berdagang. mengintimidasi. bahkan pemberontakan. memperdayai. kekuasaan terhadap sumber daya.9. hubungan menang-kalah. (ii) mempengaruhi berdasarkan manfaat (tukar-menukar). pertengkaran. dan (iii) mempengaruhi berdasarkan prinsip. Hubungan antara Komunikasi. menyalahkan dan melemahkan. Mempengaruhi orang dengan rasa takut meliputi pendekatan keras dan pendekatan lunak. baik pendekatan lunak maupun pendekatan keras akan menghasilkan kendali yang bersifat sementara dan reaktif. memaksa. dan kekuasaan berdasarkan koneksi. dan berusaha melakukan tukarmenukar yang adil (asas pertukaran manfaat). (ii) tawar-menawar.13 Cara-cara mempengaruhi orang dengan pendekatan rasa takut (paksaan). Cara-cara dengan pendekatan keras.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 6). Taktik Mempengaruhi dan Pemenangan Kepentingan (Diadaptasi dari Degeling12) Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. membuat kecil hati. informasi.9 Sumber-sumber kekuasaan berdasarkan azas pertukaran manfaat adalah kekuasaan memberi imbalan. Memilih waktu yang tepat untuk setiap tindakan agar situasi menguntungkan kita (manajer). membagi proses mempengaruhi (proses berkuasa) menjadi tiga macam yaitu: (i) mempengaruhi dengan paksaan (rasa takut). Efek yang muncul akibat mempengaruhi dengan paksaan adalah permusuhan. penggunaan sumber kekuasaan. mempengaruhi berdasarkan azas manfaat pada dasarnya adalah “menemukan kesepakatan antar kedua belah pihak yang saling menguntungkan”. mengancam. menanamkan pengaruh. menakut-nakuti.9 Di samping cara mempengaruhi dengan menebar rasa takut. hasilhasil sementara. misalnya: mengaburkan. menyepelekan. ketergantungan. membuat sedih. Hubungan antara komunikasi. menyiasati dan merampas hak. (iv) mengadakan pertukaran. menipu. meremehkan. cara-cara pendekatan lunak. Sarana aktivitas politik untuk saling mempengaruhi antar aktor dalam organisasi adalah melalui komunikasi.

menghalangi. pengambilan keputusan adalah dalam rangka efisiensi dan produktivitas organisasi. menghambat. mengalihkan. bermurah hati. solusi menang-menang. membuat sedih. dan kekuasaan dapat digunakan untuk membangkitkan kompetensi dan kooperasi. menyepelekan. maka dapat dikatakan perilaku tersebut adalah etis. pengendalian internal yang positif. Prinsip utilitarianisme mengajarkan bahwa keputusan yang kita ambil haruslah ’memberikan manfaat terbesar untuk jumlah orang terbesar’. membuat kecil hati. mengganggu.15 Tampak bahwa ketiga kriteria penilaian etis dan tidak etis tersebut bersifat bersaing (trade-off). mengintimidasi. siapapun aktornya (bisa manajer atau staf) haruslah berpedoman pada tiga kriteria etis tadi. perusahaan memecat 10% karyawan yang kurang produktif. penguasaan diri. Prinsip ’keadilan’ mengisyaratkan individu untuk memberlakukan dan menegakkan aturanaturan secara adil dan tidak berat sebelah sehingga terdapat distribusi manfaat dan biaya yang pantas. melemahkan. (iii) apakah perilaku itu akan membangun komitmen dan pertemanan yang lebih baik?. hak dan keadilan. (ii) apakah perilaku itu adil untuk semua pihak terkait?.Siswanto: Politik dalam Organisasi (v) konsensus. 4 Desember 2007 . kepercayaan.14 Setidaknya terdapat tiga kriteria untuk menilai apakah cara kita bertindak etis atau tidak etis yaitu prinsip utilitarianisme. merayu. Etika Berpolitik dalam Organisasi Pembahasan politik organisasi tidaklah lengkap tanpa berbicara tentang etika berpolitik dalam organisasi. mendisiplinkan. Etik adalah standar moral apakah suatu perilaku baik atau buruk menurut norma masyarakat. artinya bila situasi berubah dan manfaat tidak didapatkan lagi maka kekuasaan akan menghilang (menguap). dan pola hubungan jangka panjang yang memuaskan. perilaku etis. Pertimbangan etis haruslah merupakan suatu kriteria pengontrol dalam perilaku politik untuk mempengaruhi pihak lain. diremehkan. menakut-nakuti. menipu. dikambinghitamkan. bukan untuk mengambil keuntungan sepihak. dan (iv) apakah perilaku itu bermanfaat untuk semua pihak terkait? Apabila jawaban dari keempat pertanyaan saringan tersebut. Hasil-hasil yang diperoleh dari kekuasaan berdasarkan prinsip kehormatan adalah kemitraan. sabar. lembut.9 Perhatikan ungkapan mutiara berikut: ”Kekuasaan bisa dipandang sebagai ’kekuasaan dengan’ ketimbang ’kekuasaan atas’. menyalahkan. mengajari. Dalam melakukan tindakan politik. sinergi. Di samping ketiga kriteria tersebut. bukannya dominansi serta pengendalian” Anne L Barstow (Dikutip dari Lee9). disepelekan.14 Perilaku politik yang etis adalah perilaku yang bermanfaat untuk individu dan organisasi. Dengan kata lain. diperdayai dan tindakan sejenisnya. namun boleh jadi mengabaikan hak-hak individu (hak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan) dan rasa keadilan (adanya perlakukan diskriminatif yaitu adanya pemecatan sebagian kecil karyawan). pola hubungan berdasarkan manfaat bersifat sementara dan bersyarat. proaktivitas.9 Cara ketiga untuk mempegaruhi orang lain adalah berdasarkan prinsip kehormatan. dalam batasbatas tertentu memenuhi syarat. kesepakatan kemitraan. sedangkan perilaku politik yang tidak etis adalah perilaku yang bermanfaat untuk individu tetapi melukai organisasi. menerima. kesalingtergantungan. mengancam. Namun demikian. Dalam pandangan utilitarianisme. bersikap konsisten dan hidup berintegritas. 164 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. peningkatan kapasitas. Misalnya. mengaburkan.14 Perilaku politik dalam ”kelompok cara mempengaruhi dengan menebar rasa takut”. 10. sebagaimana diatur dalam Piagam Hak Asasi Manusia. Prinsip ’hak’ menekankan bahwa setiap individu mempunyai kebebasan untuk mengemukakan pendapat dan berbicara. dalam rangka peningkatan efisiensi dan produktivitas organisasi. Pandangan demikian menekankan pada kinerja kelompok (kinerja organisasi). memperdayai. misalnya menusuk dari belakang. yaitu ”Perlakukan orang lain sebagaimana kamu menginginkan orang lain memperlakukanmu” (Do unto others as you want them to do unto you) atau ”Jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan orang lain melakukan hal itu kepadamu” (Don’t do anything to anyone that you wouldn’t want them to do to you). No. (vi) saling mengalah. ada the golden rule dari perilaku politik. menyiasati dan merampas hak adalah perilaku politik yang kurang atau tidak etis. dan (ix) berkompromi. Sebagai saringan dapat juga dipakai empat langkah pertanyaan berikut: (i) apakah perilaku itu merupakan kebenaran?. Siapapun orangnya akan ”sakit hati” bila ditusuk dari belakang. (vii) memperebutkan. meremehkan. (viii) bertengkar. satu kriteria dapat saling melemahkan atau meniadakan kriteria lainnya. Apa yang kita peroleh dari cara mempengaruhi berdasarkan azas manfaat adalah pola interaksi yang bersifat fungsional dan wajar (tanpa rasa takut). Prinsipprinsip kekuasaan berdasarkan kehormatan diantaranya adalah persuasif. mengkambinghitamkan. mengasihi. keputusan ini bermanfaat untuk jumlah terbanyak. Vol.

Dahl. sehingga perilaku politik demikian (meski bersifat situasional) adalah etis dan dapat diterima semua pihak. University of New South Wales. in Friedson. Drory. et al . Blau.1980:151-85. Macro Organizational Behavior. Di dalam setiap kehidupan organisasi baik organisasi formal maupun informal selalu terdapat fenomena politik yang melibatkan kepentingan. Strauss. Politics.M. Binarupa Aksara. Free Press J/Glencoe. Mc Bride. Dalam proses mempengaruhi guna mengejar kepentingannya.nicholsonmcbride.14(1):59-71.M. G. Politics and Ethics. 1965. 7. P. P. mampu mempengaruhi lawan dan kawan karena prinsip hidup yang dipegangnya yaitu kesederhanaan dan kejujuran.com/news/index. 13. New York. L. Eliot. S. Morgan. 8. Robbins. New York.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Perilaku politik dalam ”kelompok cara mempengaruhi dengan azas manfaat” dan ”kelompok cara mempengaruhi dengan kehormatan” merupakan perilaku politik yang etis dan dapat diterima semua pihak. 2006. 3. Power and Influence. Lee. B. Reframing Organizations: Artistry. 11. Management of Organization.H. A. Miles.The Hospital and Its Negotiated Order. sehingga apa yang terjadi tak ubahnya seperti permainan. 10. Glencoe Press. R. 2004. Sydney. Hasil perilaku politik berdasarkan azas manfaat adalah komitmen dan konsensus. Hawkin. A. 10. New Jersey. Perceived Political Climate and Job Attitudes. Apapun taktik yang dipakai oleh aktor dalam rangka mempengaruhi aktor lain untuk mengejar kepentingannya selayaknya harus tetap dalam kerangka etika berorganisasi dengan tetap memegang the golden rule yaitu ”perlakukan orang lain sebagaimana kamu menginginkan orang lain memperlakukanmu” atau ”jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan orang lain melakukan hal itu kepadamu”. M. Analisis Politik Modern (Terjemahan). from Henderson. Organizational Politics. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Bumi Aksara. 1994. The McGraw Hill Companies. R. 6. Jakarta. 2002. The Hospital in Modern Society. Organizatinal Behavior (Terjemahan). No. 12. 2002. T. 1994. KESIMPULAN DAN SARAN Untuk menjadi manajer yang efektif. K & Miller. Choice. Leadership in Organizations. The Essentials of Power.. perilaku politik berdasarkan asas kehormatan menduduki tataran tertinggi bila dilihat dari tingkat ’keetisan’-nya. Weber. San Francisco. Images of Organization. Perilaku politik berdasarkan azas kehormatan mampu menanamkan ideologi dan cara hidup kepada pihak lain. Vol. The Power Principle (Terjemahan). 1963:147-69. N. 15. 1991. 9. kekuasaan dan pengaruh. keterampilan manajemen instrumental saja tidaklah cukup. Yukl. Selanjutnya. 4 Desember 2007 165 . T. Organizational Studies. PT Indeks.E. Jakarta. and Leadership. and Persuasion. setiap aktor akan saling memainkan sumber kekuasaannya untuk mempengaruhi aktor lainnya. Wiley. New York. Power. Sage Publications. 2. Exchange and Power in Social Life. 1996. namun harus dibarengi dengan kemampuan politik yang adekuat. A. The Theory of Social and Economic Organization. G. Boston.G & Deal. 2006. Prentice Hall Inc. Degeling. Harvard Business School Press. 1997. 1947. KEPUSTAKAAN 1. Jakarta. and Parsons. Perilaku politik berdasarkan azas kehormatan banyak ditunjukkan oleh para pemimpin besar dunia.php. New York.. 1993. 4. 5. London. Goodyear Publishing Co. Irwin. 14. misalnya. Santa Monica. Tokoh Mahatma Gandhi. Bolman. diakses dari http:// www. Jossey-Bash Publishers. Influence.

e. program kemitraan tersebut belum dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan oleh pasien. the program was not able to decrease the cost spent by the patient before and after receiving DOTS treatment. i. Pengukuran menggunakan dua instrumen yaitu kuesioner penilaian pasien dengan akses terbatas yang disusun oleh Fidelis. IUATLD dan kuesioner evaluasi Public-Private Mix dalam strategi DOTS yang dikembangkan di Hiderabad. Tujuan: Mengevaluasi dampak kemitraan dengan praktisi swasta terhadap keterlambatan diagnosis dan pengobatan serta biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk penanganan TB.05). be evaluated. Vol. Kesimpulan: Program kemitraan yang dilaksanakan di Denpasar meningkatkan penemuan kasus TB BTA(+) dan pengobatan pasien TB dengan DOTS di tempat praktik swasta. keterlambatan diagnosis. The analysis applied Chi-square and Mann Whitney-U statistical tests.000 terinfeksi virus HIV. 10. Biaya tidak langsung tidak berbeda secara bermakna antara sebelum dan setelah kemitraan berjalan (p>0. This initiative was then expanded to a district level through a collaboration with Gadjah Mada University Faculty of Medicine and Fidelis. delay. total sejumlah 100 pasien. FK UGM. 3 days.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta . patients did not pay the direct cost. Pada tahun 2004 diperkirakan ada 8. Provinsi Bali 2 Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan dan Bagian IKM. Inisiatif ini kemudian diperluas melalui kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan Fidelis. Yodi Mahendradhata2. Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: Private practitioners (PPs) engagement in Tuberculosis (TB) control was initiated in 2002. biaya ABSTRAK Latar Belakang: Praktisi swasta (PSw) telah dilibatkan dalam program Tuberculosis (TB) sejak tahun 2002. Overall. Secara global. Biaya langsung untuk pengobatan TB tidak ada oleh karena obat TB diberikan gratis. therefore. it did not affect the duration between diagnosis and treatment initiation. The subjects were new smear positive patients before and after PPs involvement with a total sample of 100 patients. Dampak intervensi ini perlu dievaluasi dari perspektif pasien. Method: A quasi-experimental study using pre and post-test design with different subjects was applied. IUATLD. Pada tahun 2003 directly observed treatment shortcourse (DOTS) diimplementasikan di 183 negara dengan menyasar 83% dari penderita TB. Keywords: private practitioner involvement.e. However. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan kuasieksperimental pre dan post-tes dengan subyek yang berbeda. 04 Desember 2007 Luh Putu Sri Armini. Two instruments were used. PPs involvement accelerated case finding and treatment of TB cases in Denpasar municipality.. However. Hasil: Kemitraan PSw dapat memperpendek jarak antara munculnya gejala dengan diagnosis.9 juta BTA (+). Conclusion: The partnership program has accelerated the case finding of new smear positive TB as well as access of TB patients diagnosed at private practices to receive DOTS treatment. namun tidak berpengaruh terhadap jarak antara diagnosis dan pengobatan (yaitu 3 hari). BALI THE IMPACT OF PRIVATE PRACTITIONER ENGAGEMENT TOWARD DELAY AND COST OF TUBERCULOSIS CASE MANAGEMENT IN DENPASAR MUNICIPALITY.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. Halaman 166 . cost program kemitraan dengan PSw. Kata Kunci: kemitraan dengan praktisi swasta. TB drugs are free of charge. Meskipun demikian. IUATLD and PPM-DOTS evaluation questionnaire developed in Hyderabad.1 Program pengendalian TB di Indonesia merumuskan tujuh strategi dalam kerangka kerja tahun 2006-2010. Salah satu strategi tersebut adalah melibatkan seluruh penyedia pelayanan. BALI Luh Putu Sri Armini1.172 Artikel Penelitian DAMPAK KEMITRAAN PRAKTISI SWASTA TERHADAP KETERLAMBATAN DAN BIAYA PENANGANAN TUBERKULOSIS DI KOTA DENPASAR. dengan angka penemuan 51%. i. 4 Desember 2007 . inisiatif ini dikenal dengan Public-Private Mix. public-private mix. No. Result: PPs involvement has shortened the duration between start of symptoms and diagnosis. therefore.05). dkk. Analisis data menggunakan uji Chi-square and Mann Whitney-U. Adi Utarini2 Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Denpasar.9 juta kasus TB baru yang terdiri dari 3.2 Inisiatif ini juga telah diterapkan di Provinsi Bali dalam bentuk kerja sama dengan rumah sakit dan praktisi swasta.. The impact on this intervention from patient’s perspective should. the limited access questionnaire from Fidelis. kemitraan PPs meningkatkan penemuan kasus dan pengobatan TB di kotamadia Denpasar. IUATLD. Objective: This study aimed to evaluate the impact of private practitioner involvement on delay and cost of TB case management. 741. Pada tahun 2004 penemuan dan pengobatan penderita TB di Bali telah dilakukan di seluruh 107 166 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. The indirect cost did not differ significantly before and after the partnership (p>0. Subyeknya adalah pasien TB BTA(+) sebelum dan setelah PENGANTAR Tuberkulosis (TB) Paru masih merupakan penyakit menular yang menjadi prioritas di Indonesia. public-private mix. Secara umum.

akses pelayanan kesehatan dan perilaku mencari pengobatan. namun pelatihan ini belum diikuti dengan tindak lanjut monitoring dan evaluasi penerapan strategi DOTS di DPS.000 0. biaya langsung dan tidak langsung.3 19. dan pertemuan monitoring triwulanan dengan petugas TB/wasor. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perbedaan karakteristik responden yang bermakna sebelum dan sesudah kemitraan adalah dalam hal pekerjaan.6 22.1 49.6 19. Data pasien BTA (+) diperoleh dari register TB kabupaten.2 7. Kontribusi PSw dalam menemukan BTA(+) mencapai 20% dari total BTA(+) di 3 kabupaten yang diintervensi (Denpasar.0 49. keterlambatan pengobatan. Tabel 1. meskipun sejak tahun 2000 semua puskesmas telah melaksanakan program TB. Intervensi terdiri dari advokasi ke PSw tentang DOTS dan pilihan peran PSw melalui lunch seminar.4 42.000 0.8 21.0 51.9 6.0 28. Variabel utama yang diteliti adalah keterlambatan diagnosis. Analisis data menggunakan uji Chi Square dan Mann Whitney-U.6 19. khususnya yang bekerja sebagai buruh (6. No.0 29.000 0. Sejak September 2004.389 0.5 39.5 X2 p 0. pelatihan detailing bagi petugas TB puskesmas untuk melakukan surveilans ke PSw melalui kunjungan ke tempat praktik.6 80.977 14.999 0.6%) dan yang tidak bekerja (49.999 0.6%). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak kemitraan dengan praktisi swasta terhadap keterlambatan diagnosis dan pengobatan dan untuk mendeskripsikan biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk penanggulangan TB.4 23. dilakukan kegiatan kerja sama dengan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan.6 3.0% versus 19.6 67. Fakultas Kedokteran UGM dan Fidelis IUATLD untuk memperkuat kemitraan Puskesmas dan PSw dokter. 4 Desember 2007 167 . dampak intervensi tersebut bagi pasien belum dievaluasi.1 32. Sejumlah lima surveyor dilatih untuk menggunakan instrumen dengan cara wawancara pasien.3 32.205 0. Vol.006 0.5 23.1 6. telah dilakukan sosialisasi mengenai strategi DOTS kepada dokter praktik swasta (DPS).1 6. Pada tahun 20022004. dibawa pasien dan diambil petugas TB ketika berkunjung). Sejak tahun 2002.4 76. kemitraan dengan praktisi swasta (PSw) mulai dikembangkan secara bertahap.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan puskesmas.0 20.9 35. Sampel penelitian ini adalah 49 pasien TB BTA (+) triwulan III (bulan Juli-September 2004) sebagai kelompok pembanding dan 51 pasien pada triwulan IV (Oktober-Desember) sebagai kelompok intervensi setelah kemitraan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang dimodifikasi dari kuesioner limited access (LA) Fidelis-IUATLD dan kuesioner evaluasi PPM DOTS yang dilaksanakan di Hyderabad India6. Penelitian dilaksanakan di kota Denpasar. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuasieksperimental dengan rancangan pre-post test menggunakan subyek yang berbeda.999 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.3 Situasi yang sama terjadi di kota Denpasar. 10. akan tetapi angka penemuan kasus tetap belum dapat mencapai target program 70%.7 Setelah Kemitraan (n 51) n % 25 26 15 12 20 4 11 2 18 10 10 10 41 39 12 49. form pengiriman pasien untuk diagnosis/pengobatan rangkap tiga (untuk disimpan dokter. bidan dan perawat.1% versus 21.7 6.4 79.5 Namun demikian. pertemuan monitoring bulanan dengan petugas TB yang diselenggarakan di tingkat Puskesmas Rujukan Mikroskopis. Badung dan Buleleng). Karakteristik Responden Penelitian (n=100) Karakteristik Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tamat SD SMP SLTA PT Pekerjaan Buruh PNS Karyawan Swasta Wiraswasta Tidak bekerja Memiliki Kartu Sehat Ya Tidak Status Perkawinan Kawin Tidak Kawin Sebelum Kemitraan (n 49) n % 25 24 14 11 21 3 3 3 16 3 24 10 39 33 16 51.

001* 0.702 0.5 10.0 22.Luh Putu Sri Armini.7 42.75 6.00 9.3 21.763 0. Hanya sekitar 20% responden baik sebelum maupun setelah kemitraan yang langsung mendapatkan pengobatan DOTS.528 0.9 37. 4 Desember 2007 .05).017 0.0 26.694 0.00 3.00 11. Vol. UPK tempat pengobatan DOTS terbanyak adalah di Puskesmas.4 57.00 4.00 11. Upaya Mencari Pengobatan Sebelum dan Sesudah mendapatkan Pengobatan DOTS Uraian UPK yang pertama kali dikunjungi sebelum pengobatan DOTS Tradisional Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK yang pernah dikunjungi sebelum pengobatan DOTS Tradisional Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK yang menganjurkan pemeriksaan Dahak Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK tempat pengobatan DOTS Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit Sebelumnya mencari pengobatan lain Ya Tidak Sebelum Kemitraan (n 49) n % Setelah Kemitraan ( n 51) n % X2 p 7 27 4 2 9 32 18 11 10 28 11 3 31 15 40 9 17. Kunjungan Pertama ke Pelayanan Kesehatan.00 21.00 12.895 0.6 2.05).029* 168 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pada kelompok setelah kemitraan justru PSw yang pertama kali menganjurkan pemeriksaan dahak.0 5.50 10.4 43. UPK yang pertama kali menganjurkan responden memeriksa dahak pada kelompok sebelum kemitraan masih didominasi Puskesmas. No.00 1.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta .016* 0.1 63. 999 Tabel 3.50 5.00 1.00 7. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) yang relatif sama karena tidak signifikan secara statistik (p>0.00 2.00 6.00 5.4 11.5 80..00 1. Perbedaan median tersebut tidak signifikan secara statistik (p>0. Program kemitraan belum mampu menurunkan lama muncul gejala hingga pasien berkunjungan pertama kali pada suatu UPK. Lama sejak mulai muncul gejala hingga diagnosis menunjukkan bahwa program kemitraan mempercepat penemuan kasus TB.75 4.001 0. Pada Tabel 2 dapat dilihat UPK yang pertama kali dikunjungi responden untuk mengobati penyakitnya adalah praktik swasta diikuti oleh pengobat tradisional puskesmas dan rumah sakit.3 30.00 21. Diagnosis hingga Pengobatan Lama waktu antara: Gejala–diagnosis (minggu) Diagnosis–pengobatan (hari) Gejala-kunjungan pertama ke UPK (minggu) Kunjungan pertama–pengobatan (minggu) Gejala–pengobatan (minggu) Sebelum Kemitraan Q1 Q2 Q3 7. Perbedaan median tersebut signifikan secara statistik (p<0. dkk.264 0.1 35.6 81.00 p 0.155 0.05). Lama Waktu Sejak Muncul Gejala.146 6. 034 1.6 5.7 71.699 0. 10.3 82. Program kemitraan belum mempercepat waktu dari mulai terdiagnosa hingga diobati karena nilai median (Q2) lama waktu mulai terdiagnosis hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan sama dengan kelompok responden sebelum kemitraan. diikuti dengan rumah sakit dan praktik swasta.0 27.00 8.00 Setelah Kemitraan Q1 Q2 Q3 6.00 1.1 22.4 7 30 5 0 11 36 18 9 22 18 11 3 29 19 42 9 16.75 6. Tabel 2.305 0.4 6.2 85.50 13.222 0.9 .6 18.5 67..9 56.001 0.5 20.00 6.999 0. Lama waktu dari mulai muncul gejala hingga pasien melakukan kunjungan pertama kali pada suatu UPK pada kelompok sebelum kemitraan dan sesudah kemitraan relatif sama. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) lama waktu mulai muncul gejala hingga terdiagnosis pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan.00 3.501 0.9 21.00 13.4 21.00 10.00 0.0 45.

600 2.909 0.00 pada responden setelah kemitraan dan secara statistik juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.000 4.600 30.000 9. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) lama waktu mulai kunjungan pertama kali ke suatu pelayanan kesehatan hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan.200 34.200.424 0.038* 0.000 1.200 0 47.000 460.200 458. Total biaya keseluruhan yang dikeluarkan sebelum mendapatkan pengobatan DOTS.750 1.000 4.729.785 0.800 15.000 536.500 12. 4 Desember 2007 169 .950 710.000 168. Hal tersebut berarti selama menjalani pengobatan TB kebanyakan responden tidak mengeluarkan biaya atau gratis.000 5.600.629 0.430. Biaya pengobatan sebelum dan selama pengobatan DOTS Biaya ke UPK Selama Pengobatan DOTS Langsung Tidak langsung Total Sebelum Pengobatan DOTS Langsung Tidak langsung Total Q1 Sebelum Kemitraan Q2 Q3 Q1 Setelah Kermitraan Q2 p Q3 0 10.200 60. baik biaya langsung maupun tak langsung dan total biaya yang dikeluarkan.660.400 302.800 6. Tabel 4.000 6.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Lama waktu dari mulai kunjungan pertama kali ke suatu pelayanan kesehatan hingga diobati menunjukkan bahwa program kemitraan mempercepat pengobatan kasus TB.304 Tabel 5.250 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.416 0.250 8.000 14.750 316.000 5.05).000 19.000 3.800 10.000 4.000 61. Perbandingan Biaya Pengobatan sebelum Mendapatkan Pengobatan DOTS Biaya UPK sebelum Pengobatan DOTS Pengobatan Tradisional Langsung Tidak langsung Total Praktik Swasta Langsung Tidak langsung Total Puskesmas Langsung Tidak langsung Total Rumah Sakit Langsung Tidak langsung Total Q1 Sebelum Kemitraan Q2 Q3 Q1 Setelah Kermitraan Q2 p Q3 0. karena terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok tersebut.400 90.370 0.350 0 43.500 192.000 5.046* 0. Nilai median (Q2) lama waktu mulai muncul gejala hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan.000 4.000 15.00 pada kelompok sebelum kemitraan dan Rp68.000 150.000 5.600 304. Secara statistik perbedaan tersebut signifikan.500 52.400.649 35. Dari Tabel 3 dapat disimpulkan bahwa program kemitraan mempercepat penemuan dan pengobatan kasus TB di Kota Denpasar.525 763. Vol.000 23.000 0.250 5.000 60.000 90. di setiap UPK sebelum mendapatkan pengobatan DOTS terpapar dalam Tabel 5.000 470.500 6.850 312.750 292.400 20.600 36.000 353.000 7.000 284. responden sebelum kemitraan dan setelah kemitraan juga relatif sama karena hasil Mann Withney tidak signifikan (p>0.500 76.05).000 63.375 6.500 116. No.400 8. Median total biaya yang dikeluarkan selama pengobatan sebesar Rp69.701 0.000 591.625 49.200 69.000 12.900 586.000 0 9.459 1.850 10.200 120.971 0.000 60.000 116.500 12.000 320.850 6.000 87.05).800 370.500 300. Secara statistik perbedaan tersebut signifikan.223.000 160.800 94.800 352.000 197. biaya tak langsung maupun total biaya.750 152.400 147.900 2.700 9.05).600 184.750 0.000 107.000 183.000.800 109.065 0.500 113. Biaya yang telah dikeluarkan untuk mencari pengobatan penyakitnya. baik biaya langsung.500 2.00 pada kelompok responden kelompok sebelum kemitraan dan Rp47.486 0.00 pada kelompok setelah kemitraan namun tidak berbedaan secara signifikan (p>0.800 95.000 300.050 659.717 0. Median biaya tak langsung sebesar Rp43.500 27.200 187.000 65.120 0. 10.000 3.500 10.000 15. Median biaya langsung yang dikeluarkan selama pengobatan DOTS sebesar 0 dan secara statistik juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.250 9.400 68.000 7.000 18. Lama waktu dari mulai muncul gejala hingga diobati menunjukkan bahwa program kemitraan juga mempercepat pengobatan kasus TB.

Semakin banyak UPK praktisi swasta yang terlibat dengan dalam penemuan kasus TB menunjukkan program kemitraan di Denpasar semakin berhasil. Akan tetapi tidak semua praktik swasta dipilih menjadi tempat pengobatan DOTS secara rutin bagi penderita TB. Median biaya langsung untuk mencari pengobatan tradisional yang dikeluarkan responden kelompok sebelum kemitraan lebih besar dibandingkan kelompok setelah kemitraan. 10. Penelitian ini tidak dapat membandingkan daerah yang melaksanakan program kemitraan dengan daerah lain yang belum melaksanakan program tersebut. Biaya yang dianalisis dalam penelitian ini adalah biaya tunai yang dikeluarkan oleh penderita selama mencari pengobatan dan menjalani pengobatan DOTS. Keterlambatan tersebut kemungkinan karena pasien disebut ”patient delay” yaitu rentang waktu antara gejala dimulai sampai pasien mengunjungi fasilitas kesehatan. jaringan TB DOTS ke seluruh petugas puskesmas pembantu di Bali termasuk Denpasar. Responden yang ditemukan oleh UPK praktik swasta kemungkinan melanjutkan pengobatan DOTS di Puskesmas atau Rumah Sakit.. Di Provinsi Bali khususnya di Kota Denpasar masih banyak potensi pelayanan praktisi swasta yang memungkinkan untuk dilibatkan dalam penemuan kasus TB. tempat tinggal pasien yang jauh dari fasilitas kesehatan dan bila pasien itu seorang pecandu alkohol. Penderita yang lebih dini ditemukan akan mempengaruhi kecepatan pengobatannya. sebaliknya biaya tak langsung sebelum kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok setelah kemitraan. PPM DOTS yang dilaksanakan di Hyderrabad dan New Delhi India mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh pasien. Sesuai kebijakan Dinas Kesehatan Provinsi Bali dan kota Denpasar perluasan TB DOTS dilaksanakan pada lebih banyak rumah sakit swasta dan praktisi swasta termasuk bidan dan perawat. Bagi penelitian lain disarankan untuk melakukan penelitian tentang biaya yang harus ditanggung akibat dari pencarian pengobatan penyakitnya dan menjalani pengobatan DOTS. PEMBAHASAN 1. 4 Desember 2007 .8 Beberapa hal yang mempengaruhi keterlambatan dari pasien antara lain : pengetahuan pasien tentang TB. Median biaya langsung. 9 Biaya yang dikeluarkan oleh penderita TB untuk mencari pengobatan sebelum menjalani pengobatan DOTS baik responden sebelum kemitraan maupun setelah kemitraan tidak berbeda bermakna. Biaya akibat kehilangan waktu kerja selama mencari pengobatan penyakitnya dan menjalani pengobatan DOTS tidak dihitung. sehingga banyak fasilitas pelayanan kesehatan selain puskesmas yang harus dilibatkan. Program kemitraan telah berhasil mempengaruhi perilaku UPK untuk mencurigai pasien yang batuk dan keluhan dada lain untuk diperiksa lebih lanjut terutama pada praktik swasta dan rumah sakit. Hal tersebut menunjukkan bahwa perilaku masyarakat dalam pencarian untuk penyakit yang dideritanya baik pada kelompok responden sebelum kemitraan maupun setelah kemitraan masih relatif sama.05).: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta . di ikuti dengan rumah sakit umum. rumah sakit swasta dan klinik swasta. Penggunaan kontrol pelaksanaan program kemitraan dengan daerah lain tidak dilakukan karena pelaksanaan program kemitraan telah dilaksanakan di seluruh Provinsi Bali. Pembahasan Isi dan Konteks Program TB di Denpasar Bali Program kemitraan mempercepat penemuan kasus TB BTA (+) di UPK praktik swasta dan pasien segera mendapatkan pengobatan DOTS. sedangkan pada responden kelompok setelah kemitraan justru lebih banyak yang telah dianjurkan untuk memeriksakan dahak. Keterlibatan UPK praktik swasta yang semakin besar mempercepat waktu dari muncul nya gejala hingga terdiagnosis maupun pengobatan DOTS. No. perbedaan tersebut karena di Hyderrabad dan New 170 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Luh Putu Sri Armini. Pembanding diambil dari pasien TB BTA(+) triwulan III sebelum kemitraan dilaksanakan. Pembahasan Metodologis Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan program kemitraan di Kota Denpasar seharusnya dilakukan penelitian komparatif. Hasil Survei prevalensi TB tahun 2004 menemukan bahwa proporsi pasien yang mendapat pengobatan awal di puskesmas hampir sama dengan praktik swasta yaitu sekitar 40-60%. puskemas dan rumah sakit (p>0. Vol.05). Berbeda dengan hasil evaluasi ekonomi yang dilaksanakan pada pelaksanaan PPM DOTS di Hyderrabad dan New Delhi India. dkk. 7 Responden kelompok sebelum kemitraan yang berkunjung ke UPK praktik swasta lebih banyak tidak menganjurkan pemeriksaan dahak. disamping juga akan memperluas 2. Perubahan tersebut karena program kemitraan yang dilakukan dengan melatih UPK praktik swasta untuk menemukan TB. Total biaya di UPK pengobatan tradisional tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0.. biaya tak langsung dan total biaya yang dikeluarkan responden kelompok sebelum kemitraan dan setelah kemitraan tidak terdapat perbedaan baik pada UPK praktik swasta. sehingga program kemitraan juga telah dilaksanakan di semua kabupaten lain.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Delhi India pelaksanaan PPM DOTS dilaksanakan oleh lebih banyak sektor praktisi swasta, rumah sakit swasta, perawat swasta, dan laboratorium swasta yang tidak memungut bayaran pada pasien TB yang berobat, sedangkan di Denpasar yang tidak dibayar oleh pasien hanya alat TB (di semua UPK dan praktisi) dan laboratorium (di Puskesmas). Implikasi Hasil Penelitian terhadap Kebijakan dan Program TB di Denpasar Program kemitraan yang dilakukan di Kota Denpasar telah meningkatkan penemuan kasus TB BTA (+) dan memperpendek waktu dari munculnya gejala hingga diagnosis dan pengobatan. Hal tersebut berarti keterlibatan praktik swasta di Kota Denpasar terhadap pemberantasan TB semakin besar, walaupun belum optimal. Hasil penelitian menemukan masih terdapat UPK praktik swasta yang tidak menganjurkan pemeriksaan dahak kepada pasien dengan gejala TB. Pemeriksaan dahak merupakan salah satu upaya untuk menegakkan diagnosis TB pada pasien yang diduga terjangkit TB. Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis dilakukan terhadap dahak sewaktu pagi sewaktu (SPS) secara mikroskopis identik dengan pemeriksaan secara kultur atau biakan.10 Undang-Undang Praktik Kedokteran No. 29/ 2004 secara spesifik menyebutkan adanya kewajiban dari semua praktisi dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar yang artinya praktisi swasta seharusnya mengetahui dan menerapkan International Standar TB Care (ISTC) yaitu manajemen DOTS. Secara kualitas maupun kuantitas, keterlibatan praktik swasta harus ditingkatkan dengan melibatkan UPK yang lebih banyak karena pada tahap awal UPK praktik swasta yang dilibatkan, termasuk UPK praktik swasta paramedis dan bidan. Advokasi DOTS dan promosi standar pelayanan TB dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar diperlukan memperkuat jejaring antara klinik praktik swasta, rumah sakit dan pelayanan kesehatan yang lain yang belum menerapkan DOTS. Hal tersebut dikarenakan kebijakan kesehatan merupakan kewenangan daerah akibat dari desentralisasi masalah kesehatan. Peran Dinas Kesehatan yang lebih besar dibutuhkan untuk melibatkan lebih banyak praktisi swasta yang ada di Denpasar. Hal tersebut tidaklah mudah karena banyaknya praktisi swasata yang ada di Denpasar dan memerlukan pembiayaan untuk melaksanakan ekspansi tersebut. Saat ini ekspansi 3.

DOTS di Denpasar didanai dari Global Fund (GF), diperlukan juga suatu komitmen dari pemerintah kota untuk pembiayaan DOTS ini kalau GF sudah tidak mensubsidi dana lagi. Perluasan manajemen DOTS di Denpasar dikaitkan juga dengan regulasi perijinan dokter praktik swasta yang mencari izin praktik. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kesimpulan studi ini adalah bahwa program kemitraan Puskesmas-praktisi swasta di Denpasar dapat mempercepat penemuan kasus TB BTA (+) dan mempersingkat jarak antara diagnosis dan pengobatan dengan DOTS. Akan tetapi program kemitraan ini belum dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan oleh pasien, baik sebelum maupun sesudah memperoleh pengobatan DOTS. Saran Disarankan agar Dinas Kesehatan membuat kebijakan untuk melanjutkan model kemitraan Puskesmas-PSw ini. Selain itu, petugas TB Puskesmas menyarankan PSw untuk melakukan promosi kesehatan terhadap pasien dan memberikan penjelasan mengenai kemungkinan kunjungan oleh Puskesmas apabila terjadi mangkir pengobatan. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk menghitung total biaya pasien, termasuk opportunity cost. Kelompok pembanding (yaitu kabupaten yang belum melaksanakan kemitraan Puskesmas-PSw) dapat memperkuat rancangan penelitiannya. KEPUSTAKAAN 1. WHO. WHO Report 2006: Global Tuberculosis Control.2006. 2. Arora, V.K., Lonnroth, K. & Sarin, R. Improved Case Detection of Tuberculosis through a PublicPrivate Partnership Indian Journal of Chest Disease & Allied sciences. 2004;46:133-6. 3. Sub Dinas PPM & PLP Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Laporan Hasil P2 Tuberkulosis di Bali. 2004. 4. Sub Dinas P2P Dinas Kesehatan Denpasar Bali. Laporan Hasil P2 Tuberkulosis di Denpasar. 2004. 5. Utarini, A., Mahendradhata, Y., Syahrizal, B.M. Project Report Program Akselerasi Kemitraan Pemerintah – Praktisi Swasta Dalam Pengendalian Tuberkulosis di Provinsi DIY dan Bali. PMPK FK UGM, Fidelis & IUATLD. 2005. 6. Murthy, K.J.R., Frieden, T.R., Yazdani, A., Hreshikesh, P., (2001). Public-Private Partnership in Tuberculosis Control: Experience in Hyderabad, India. The International Journal

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

171

Luh Putu Sri Armini, dkk.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta ...

7.

8.

of Tuberculosis and Lung Disease. 2001;5 (4): 354-9. Soemantri, S. Senewe, F.P. eds. Tuberculosis Prevalence Survey in Indonesia 2004; Project DOTS Expansions GF ATM. 2005. Demissie, M, Lindtjorn, B, & Berhane, Y. Patient and Health Service Delay in the Diagnosis of Pulmonary Tuberculosis in Ethiopia. Biomedcentral Public Health. 2002; 2(23):1-7.

Rajeswari, R., Chandrasekaran V., Suhader, M., Siva Subramaniam,.S., Sudha, G., Renu, G. Factors Associated with Patient and Health System Delays in The Diagnosis of Tuberculosis in South India. The International Journal of Tuberculosis and Lung Disease. 2002;6 (9): 789-95. 10. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Jakarta. 2002.

9.

172

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 10 No. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 173 - 180 Artikel Penelitian

OPSI-OPSI KEBIJAKAN UNTUK PELATIHAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN: PEMBELAJARAN DARI PENELITIAN POLA PENINGKATAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA DALAM OTONOMI DAERAH BIDANG KESEHATAN
POLICY OPTIONS FOR HEALTH PERSONNEL’S TRAINING; LESSON LEARNED FROM THE RESEARCH ON THE PATTERN OF IMPROVING HUMAN RESOURCES COMPETENCY IN HEALTH SECTOR AUTONOMY Evie Sopacua, Didik Budijanto Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan

ABSTRACT
Background: A tendency according to the implementation of health decentralization is that health centre and hospital will change into an entrepreneurship organization while health offices will be a birocracy organization with good governance practicisme. In connection with that, various new skills for health personnel’s is needed which is managerial, leadership and entrepreneurship. Method: In the year 2002–2004, Health Services and Technology Research and Development Centre have done a study about the pattern of improving human resources competency in health sector autonomy. The study was done through several phases and in 2002 an assessment was done about health personnel’s managerial, leadership and entrepreneurship skills. In 2003 the assessment’s result was implemented, followed by an evaluation of the implementation in 2004. This study located in the province of East Java, West Nusa Tenggara and East Kalimantan. Two districts was selected purposively in each province and the research targets were the head and staff of district health office, hospital and two health centers in the selected district Result: Lesson learned from this study was some policy options. First, structuring the pattern of health personnel’s improvement in a system. Second, integrating the four level evaluation of Kirkpatrick in the training evaluation. Third, planning and implementing an effective training program using Kirkpatrik’s steps while the budget was counted with paying attention of the activity and phases according to the plan. Fourth, a management of a training program to escalate health personnel’s competencies will involved stake holders. Fifth, that health personnel’s in district health office needs to have the competency to organize and manage training programs. Conclusion: The policy option that was proposed to improve health personnel’s skill through training should be considered in the restructuretation of district health office specially in anticipating the implementation of government regulation No. 38/2007 and 4/2007. Keywords: policy options, lesson learned, health personnel’s training program

harus memahami good governance. Untuk itu, diperlukan berbagai keterampilan baru bagi sumber daya manusia kesehatan yaitu keterampilan manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan. Metode: Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan pada tahun 2002–2004 melaksanakan penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan. Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa tahapan yaitu pengkajian keterampilan SDM kesehatan tentang manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan (2002), implementasi hasil kajian melalui pelatihan (2003) dan evaluasi implementasi pelatihan (2004). Lokasi penelitian di Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Timur. Secara purposif dipilih dua kabupaten/kota di tiap provinsi penelitian dan sasaran penelitian adalah kepala dan staf dinas kesehatan kabupaten/ kota, direktur dan staf rumah sakit umum kabupaten/kota serta kepala dan staf di dua puskesmas di kabupaten/kota penelitian. Hasil: Pembelajaran dari penelitian ini adalah beberapa opsi kebijakan. Pertama yaitu penataan pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam suatu sistem. Opsi kedua adalah memasukan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dalam evaluasi pelatihan. Opsi ketiga adalah perencanaan dan implementasi program pelatihan yang efektif menurut Kirkpatrick dengan anggaran yang dihitung berdasarkan langkah kegiatan dan tahapan sesuai perencanaan. Keempat, bahwa penataan pelaksanaan suatu pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Opsi kelima, bahwa SDM di dinas kesehatan kabupaten/kota perlu memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan pelatihan. Kesimpulan: Opsi-opsi kebijakan yang diusulkan untuk peningkatan keterampilan SDM kesehatan melalui pelatihan, perlu mendapatkan pertimbangan dalam restrukturisasi dinas kesehatan kabupaten/kota khususnya mengantisipasi pelaksanaan PP No. 38/2007 dan No. 41/2007. Kata Kunci : opsi kebijakan, pembelajaran, pelatihan SDM kesehatan

ABSTRAK
Latar belakang: Sehubungan dengan pelaksanaan desentralisasi kesehatan maka terdapat kecenderungan perubahan rumah sakit dan puskesmas ke arah lembaga usaha, sedangkan dinas kesehatan menjadi lembaga birokrat yang

PENGANTAR Penerapan desentralisasi di bidang kesehatan pada tahun 1999 menyebabkan dinas kesehatan termasuk puskesmas, rumah sakit mendapat tugas dan wewenang yang sangat besar dalam era otonomi

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

173

Observasi dan penelusuran dokumen rencana strategik dinas kesehatan. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). hasil penelitian Gilsons menurut Trisnantoro1 menunjukkan bahwa secara praktis perlu perubahan yang incremental. politik. Pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara dan observasi. Berdasarkan hasil pengkajian dibuat draf modul untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan.. bisnis dan fungsional. Manajemen strategik diukur melalui perumusan visi.Evie Sopacua. kepemimpinan dan kewirausahaan SDM kesehatan seperti yang ditunjukkan Tabel 1. dan mengelola aspek sosial. kepemimpinan dan kewirausahaan perlu dilakukan. dan ekonomi yang kesemuanya akan berdampak pada kinerja organisasi. kajian faktor eksternal dan internal lembaga. 174 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang terlibat didalamnya. daerah (otoda). partisipatif dan orientasi prestatif dan keterampilan kewirausahaan pada variabel keterampilan keberanian mengambil risiko. Sehubungan dengan itu. penerapan strategi dan rencana pelaksanaan dalam rencana strategik institusi. menciptakan usaha. kepemimpinan dan kewirausahaan. 4 Lokasi penelitian di Provinsi Jawa Timur (Jatim). serta keterampilan kewirausahaan. Hasil kajian merupakan kebutuhan SDM kesehatan untuk peningkatan keterampilan. Untuk itu. negosiasi lobi. Variabel yang dikaji pada keterampilan manajerial meliputi manajemen perubahan yang diukur dari penanganan perubahan reaktif dan proaktif. orientasi pada tugas–hasil dan optimisme/ percaya diri. Vol. strategi umum. direktur dan staf rumah sakit umum kabupaten/ kota. misi.1 Fenomena perubahan institusi pelayanan kesehatan kearah dua kutub yang berbeda yaitu kutub birokrasi dan kutub lembaga usaha perlu dipahami oleh para pimpinan lembaga kesehatan khususnya di daerah karena masing-masing kutub mempunyai kultur yang berbeda. keterampilan kepemimpinan. Kemudian manajemen konflik yang diukur dari bentuk manajemen konflik (stimulasi/ penekanan/penyelesaian) dan metode yang digunakan. Kebutuhan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi SDM kesehatan tentang keterampilan manajerial. Secara purposif dipilih dua kabupaten/ kota di tiap provinsi penelitian dan sasaran penelitian adalah kepala dan staf dinas kesehatan kabupaten/ kota. 10. 4 Desember 2007 . implementasi hasil kajian melalui pelatihan tahun 2003 3 dan evaluasi implementasi pelatihan tahun 2004.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . supportif.. Trisnantoro1 menjelaskan bahwa keterampilan yang diperlukan SDM kesehatan adalah mengelola perubahan. serta kepala dan staf di dua puskesmas di kabupaten/kota penelitian. Hasil penelitian menunjukkan gambaran keterampilan manajerial. pemasaran. No. Keterampilan kepemimpinan dikaji pada variabel keterampilan direktif. Wawancara menggunakan kuesioner dengan skala peringkat dan sistem skoring untuk mengukur aspek konatif SDM kesehatan tentang keterampilan manajemen perubahan dan manajemen konflik. Maka Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan melaksanakan penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan pada tahun 2002 – 2004. Terkait dengan pelaksanaan desentralisasi kesehatan maka kecenderungan perubahan rumah sakit dan puskesmas ke arah lembaga usaha atau enterpreneurship. dalam keadaan otonomi daerah diperlukan berbagai keterampilan baru dalam aplikasi otonomi daerah. dkk. kemampuan manajerial SDM kesehatan yang perlu dimiliki adalah keterampilan manajerial. sedangkan dinas kesehatan cenderung menjadi lembaga birokrat yang harus memahami good governance atau menjadi holding company dari puskesmas dan berbagai lembaga pelayanan kesehatan lainnya. isu strategik/pengembangan. tujuan. rumah sakit umum daerah dan rencana tahunan puskesmas dilakukan untuk mengkaji pemahaman konsep manajemen strategik. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan keterampilan dari SDM kesehatan. sedangkan menurut Prud’Homme & Mc Lure seperti yang dicatat Trisnantoro 1. Pada penelitian tahap pertama tahun 20022 dilakukan pengkajian untuk menemukan gap antara keterampilan manajerial SDM kesehatan yang diharapkan dan kenyataannya. Pelaksanaan Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi SDM Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Penelitian pengembangan ini dilaksanakan dalam suatu pola dengan beberapa tahapan pelaksanaan yaitu pengkajian keterampilan manajerial SDM kesehatan yang diharapkan dan kenyataannya tahun 20022. budaya.

3% Keterampilan kewirausahaan 54. terbanyak responden masih kurang.0) - - - Keterangan : Skor : 1. responden masih kurang.0) 20 (80. Vol.1% 56. Pembelajaran materi modul relevan dengan tupoksi sehari-hari 2. Sangat tidak sesuai. masing-masing di satu kabupaten pada ketiga provinsi penelitian. Keterampilan Kewirausahaan Keterampilan kewirausahaan dari Keterampilan kewirausahaan 54. Sesuai. Cara penyampaian materi modul dalam pembelajaran Kabupaten A Provinsi Jatim n=22 (100%) 1 2 3 4 17 (77. No. perlu meningkatkan kompetensi SDM kesehatan sesuai dengan perkembangan pelayanan rumah sakit dan puskesmas di masa mendatang. 3.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 1. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit di Kabupaten pada Tiga Provinsi Penelitian Variabel Yang Dinilai 1.1% responden masih kurang.7) 5 (22.5 % responden masih kurang.2) 3 (13.2) Kabupaten B Provinsi Kaltim n=22 (100%) 1 2 3 4 1 (4.2% Keterampilan kepemimpinan 62. maka draft modul yang dibuat tentang keterampilan kewirausahaan dalam aspek pemasaran.1) - - 5 (20. responden masih perlu peningkatan pemahaman. kurang. Cara pertama adalah proses pembelajaran dengan penjelasan materi modul. Modul dikembangkan menggunakan hubungan pelanggan atau Customer Relationship Marketing (CRM) sebagai strategi pemasaran.7) 4 (18. baik di dinas kesehatan.2) Kabupaten C Provinsi NTB n=25 (100%) 1 2 3 4 23 (92. rumah sakit umum daerah dan puskesmas di Provinsi Kalimantan Timur. 4 Desember 2007 175 .0) 5 (20. Keterampilan Manajerial Ada 74.2) 5 (22.0) 2 (8.2) 4 (18.7) 14 (63. Kepemimpinan dan Kewirausahaan SDM Kesehatan di Tiga Provinsi Penelitian Provinsi Jawa Timur Provinsi Kalimantan Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (n=82) (n=61) (n=35) 1. Tidak sesuai. Surabaya sebagai konsultan karena keterbatasan waktu dan anggaran.90% responden masih kurang terbanyak responden masih kurang. dalam aspek pemasaran.5) 2 (9.3) 16 (72. 3. Gambaran Keterampilan Manajerial. 10. 4.0) 3 (12. Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur. Tabel 2.2) 4 (18.1% responden masih kurang. prestatif. Hasil evaluasi pelaksanaan pembelajaran modul terlihat pada Tabel 2. terbanyak pada aspek suportif dan orientasi untuk aspek suportif dan orientasi untuk aspek suportif dan orientasi prestatif prestatif. terbanyak terbanyak dalam aspek pemasaran. Evaluasi proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan format evaluasi tahap satu dari Kirkpatrick6 dan observasi peneliti (menggunakan format). Untuk itu. implementasi modul dalam tahap kedua penelitian dilaksanakan dengan dua cara. Penilaian pemahaman konsep sedangkan untuk komponen aplikasi sedangkan untuk aplikasi dari manajemen strategik dalam aplikasi dari manajemen strategik melalui manajemen strategik melalui rencana strategik (renstra) belum normatif penyusunan rencana strategik rencana strategik (renstra) belum normatif sebagaimana yang sebagaimana yang diharapkan. dalam aspek pemasaran. Sumber : Budijanto dan Sopacua2 Kesimpulan pada tahap pengkajian ini adalah bahwa keterampilan kepemimpinan dan kewirausahaan SDM kesehatan masih kurang.0) - - 1 (4.0) 17 (68.6) 15 (68. Proses pembelajaran ini dilaksanakan selama tiga hari.7) 4 (18. Pada tahap kedua penelitian tahun 20033. 2. mengisi kertas kerja berupa refleksi pemahaman terhadap materi modul dan diskusi.5) 4 (18. Pengembangan modul didampingi expert dari Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.6) 16 (72. terbanyak responden masih kurang. Disarankan untuk melaksanakan capacity building melalui pelatihan untuk implementasi modul.3% responden mempunyai Keterampilan untuk mengelola konflik Keterampilan untuk mengelola konflik keterampilan mengelola konflik masih 90. diharapkan. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit. Hasil Evaluasi Proses Pembelajaran Modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan. Keterampilan Kepemimpinan Keterampilan kepemimpinan dari 50% Keterampilan kepemimpinan 52.3) 17 (77. 2. Sangat sesuai Sumber : Budijanto dan Sopacua3 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 91. draf modul disempurnakan menjadi modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan. Pembelajaran materi modul relevan dengan program institusi 3.

7) 2.6) 5 (41. Vol. Proses pembelajaran dan sosialisasi ini diikuti oleh responden yang sama pada penelitian tahun 2002. Cara kedua adalah sosialisasi yaitu penjelasan materi dengan diskusi tanpa pengisian kertas kerja.. Tidak ada kesempatan dan dukungan fasilitas 1 (7. Perlu dilakukan evaluasi implementasi (evaluasi pascapelatihan) untuk menilai apakah materi modul benar-benar dimanfaatkan dalam pekerjaan sehari-hari dan berdampak bagi puskesmas dan rumah sakit. Hasilnya tidak jauh berbeda karena kesesuaian materi modul pada Tabel 2. tetapi yang menerapkan materi modul dalam pekerjaannya sehari-hari. dkk.7) 7 (50. Prajoga4 Evaluasi Implementasi Modul Tahap 1 – 4 dari Kirkpatrick 176 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.0) 2. Bermanfaat 5 (29. Proses pembelajaran dan sosialisasi bukan metode yang tepat untuk pengalihan pengetahuan materi modul.7) 10 (71.3) 7 (50.0) 2 (14.9) 3 (25. Tabel 3. Belum ada rencana penerapan 1 (5.6) 8 (66. Pada tahap ketiga penelitian tahun 20044. tetapi pengulangan penilaian dilakukan untuk mendapatkan kesinambungan penilaian dari tahap 1 sampai 4 pada responden yang sama. Dilakukan.3) 5 (35. dilakukan evaluasi implementasi modul menggunakan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick.1) Tahap 3 : Behaviour Level : pelaksanaan diseminasi materi modul 1. tetapi hanya yang berasal dari rumah sakit umum daerah dan dari dua puskesmas terpilih di tiga provinsi penelitian serta kepala dinas dan kepala subdin bina pelayanan dinas kesehatan kabupaten/kota. No.4) Tahap 2 : Learning level : kesempatan menerapkan materi modul dan dukungan fasilitas untuk itu 1. baik yang mengikuti pembelajaran dan sosialisasi pada penelitian tahun 2003.4) 4 (33.3) 2 (14. Kesimpulan pada penelitian tahap kedua ini bahwa proses pembelajaran dan sosialisasi materi modul sebagai cara pelatihan untuk meningkatkan keterampilan SDM kesehatan dapat dilakukan. d.9) 3. Tidak berpendapat 1 (8. Evaluasi Implementasi Modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan. a.0) 3 (21. hanya sebagian materi 12 (70. Tidak berpendapat 5 (29.1) 8 (66.4) 2.3) 3. lebih dari 60% di ketiga provinsi penelitian sama dengan evaluasi tahap 1 (reaction level) dalam Tabel 3. Evaluasi tahap 2 atau Learning Level: 60% responden menyatakan dapat menerapkan sebagian dari materi pelatihan ke dalam integritas pekerjaan mereka sehari-hari. Penilaian pada setiap tahap evaluasi adalah sebagai berikut. b. 4 Desember 2007 . 10.9) 2.0) Tahap 4: Result level: rencana penerapan materi modul di institusi (puskesmas & rumah sakit umum daerah) 1..7) 6 (42. Evaluasi proses sosialisasi hanya dengan observasi peneliti menggunakan format evaluasi. Evaluasi tahap 4 atau Result Level: 60% peserta pelatihan dapat membuat rencana penerapan materi pelatihan untuk dilaksanakan dalam kegiatan sehari-hari.Evie Sopacua. Tetapi disarankan agar implementasi modul dilanjutkan dengan pendampingan sehingga diperoleh pengalihan pengetahuan sebagai hasil dari implementasi modul. Pelatihan merupakan komponen penting dari pembelajaran atau learning5 tetapi diharapkan proses ini dapat menghasilkan perubahan yaitu didapatnya kemampuan baru yang berlaku untuk waktu yang relatif lama. Sudah ada rencana penerapan 16 (94. Evaluasi tahap 1 atau Reaction Level: 60% responden menyatakan materi pelatihan bermanfaat karena relevan dengan pekerjaan sehari-hari (tupoksi). c. Evaluasi tahap 3 atau Behaviour Level: 60% responden menyatakan telah mendiseminasikan sebagian materi pelatihan kepada teman sekerja dalam unit/bidang yang sama dalam integritas pekerjaan mereka sehari-hari (perubahan keahlian). Ada kesempatan menerapkan sebagian materi dan cukup dukungan fasilitas 17 (100) 12 (100) 13 (92. Budijanto. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit Menggunakan Evaluasi 4 Tahap dari Kirkpatrick di Tiga Provinsi Penelitian Provinsi Jatim Provinsi Kaltim Provinsi NTB n=17 (%) n=17 (%) n=14 (%) Tahap 1 : Reaction level : materi pelatihan bermanfaat karena relevan dengan pekerjaan sehari-hari (tupoksi) 1. dilakukan dalam satu hari. tetapi keterbatasan anggaran dan waktu menyebabkan pilihan ini. Cukup Bermanfaat 12 (70.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia .6 Evaluasi dilaksanakan pada responden dari puskesmas dan rumah sakit.3) Sumber : Sopacua. Tidak berpendapat 3 (25. masing-masing di satu kabupaten pada ke tiga provinsi penelitian. Walau sebenarnya evaluasi tahap 1 dari Kirkpatrick6 sudah dilakukan pada penelitian tahun 2003 (Tabel 2).4) 4 (33. khususnya dalam menciptakan program-program CRM sebagai suatu strategi pemasaran.

Hasil kajian digunakan sebagai dasar perencanaan pelatihan bagi SDM kesehatan yang diharapkan berdampak pada kinerja organisasi baik dinas kesehatan. Dukungan diperlukan agar materi modul diterapkan secara terintegrasi dengan kegiatan lain yang diselenggarakan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat dianggarkan. Kegiatan juga termasuk pengkajian ulang pada evaluasi tahap 4 dengan materi yang juga digunakan pada pengkajian kebutuhan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. tetapi memerlukan perencanaan yang matang dan komprehensif dengan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan . Walau di Provinsi NTB. tetapi untuk itu diperlukan dukungan dari dinas kesehatan dan juga pemerintah daerah. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 ini kemudian dibandingkan dengan hasil pengkajian kebutuhan pelatihan pada penelitian tahap satu. ke-4 tahap evaluasi ini berkaitan sehingga pencapaian tahap berikut tergantung tahap sebelumnya. Lesson learned yang diperoleh adalah bahwa: 1. Pendampingan pada aplikasi materi pelatihan dalam pekerjaan sehari-hari diperlukan sehingga pengalihan pengetahuan dapat terlaksana. Kirkpatrick6 menganjurkan agar pada evaluasi tahap 3 dan 4 dilakukan penilaian ulang dengan tenggang waktu yang ditentukan. Pelatihan sebaiknya direncanakan berdasarkan suatu analisis kebutuhan pelatihan. Vol. 10. Ada dua hal yang ditengarai sebagai penyebab yaitu materi modul belum merupakan prioritas dan ketidakpahaman dinas kesehatan tentang materi modul walau saat pembelajaran dan sosialisasi dinas kesehatan terlibat dan hadir. Disarankan agar evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dilakukan pada pelatihan jangka panjang yang terencana dengan baik di puskesmas dan rumah sakit. pada evaluasi tahap 4 seharusnya dilakukan pengkajian ulang tentang keterampilan kewirausahaan dengan materi yang sama yang digunakan pada tahap satu penelitian. Pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan diawali dengan suatu pengkajian kebutuhan pelatihan (training need assessment = TNA) yang menjelaskan gap antara harapan dan kenyataan yang ada.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 3 menunjukkan bahwa target yang ditentukan pada evaluasi setiap tahap yaitu 60%. Pelatihan pada SDM kesehatan untuk peningkatan kompetensi sebaiknya direncanakan berdasarkan kebutuhan pelatihan yang normatif sehingga ada dukungan pascapelatihan dari institusi ketika materi pelatihan diimplementasikan. tetapi pada penelitian ini tidak dapat dilakukan karena keterbatasan waktu dan anggaran. tetapi pada evaluasi tahap 4 target evaluasi tercapai karena sebenarnya terjadi perubahan keahlian. sehingga dapat diketahui apakah ada peningkatan keterampilan setelah pelatihan. Kesimpulan evaluasi implementasi modul menunjukkan bahwa materi modul dapat diterapkan di puskesmas dan rumah sakit. Keterbatasan ini juga menyebabkan pada evaluasi tahap 4 tidak dilakukan pengkajian ulang tentang keterampilan kewirausahaan dengan materi yang sama yang digunakan pada penelitian tahap satu sehingga peningkatan keterampilan SDM kesehatan dampak pelatihan dapat diukur. Modul materi pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan sesuai hasil kajian apabila belum ada. 3. Evaluasi tahap 3 dan 4 sebaiknya dilakukan dua kali dengan tenggang waktu yang sudah ditentukan dalam perencanaan pelatihan. untuk evaluasi tahap 1. perlu dikembangkan dan pengembangan modul membutuhkan waktu. Pada evaluasi tahap 3 target tersebut dicapai Provinsi Jatim dan Kaltim. hasil kajian merupakan data awal atau data dasar yang pada evaluasi pascapelatihan dapat dibandingkan untuk menilai keberhasilan pelatihan. Keterbatasan waktu dan anggaran menyebabkan pola peningkatan kemampuan SDM kesehatan melalui penelitian ini tidak dapat dilaksanakan sebagaimana yang seharusnya. Di samping itu. Selain itu. Lesson Learned Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi SDM Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Penelitian pada tahun 2002-2004 seperti yang diuraikan di atas menggambarkan suatu pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam otonomi daerah bidang kesehatan. Perencanaan pelatihan sebaiknya sudah mengandung pelaksanaan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dengan waktu penjadwalan yang sudah diagendakan dan anggaran yang sudah diperhitungkan berdasarkan kegiatan yang akan dilakukan. Pelatihan bukan sesuatu yang dapat dilaksanakan secara instan. dana dan experts. 4 Desember 2007 177 . Menurut Kirkpatrick6. 4. 2 dan 4 di ketiga provinsi penelitian tercapai. No. pencapaian evaluasi tahap 3 hanya 50%. Kegiatan yang dihitung sudah termasuk pengkajian kebutuhan pelatihan dan pelaksanaan evaluasi tahap 3 dan 4 dengan pengulangan pada tenggang waktu yang sudah ditentukan dalam perencanaan pelatihan. Kendala yang dihadapi dalam implementasi modul di puskesmas khususnya adalah belum ada dukungan dinas kesehatan. rumah sakit dan puskesmas. 2.

masukan atau input adalah pengkajian kebutuhan pelatihan yang merupakan data dasar untuk perencanaan pelatihan dan pengembangan modul pelatihan. Gambar 1. titik beratnya adalah pada pelaksanaan atau penyampaian bahan belajar. Sebagian sudah melakukan evaluasi pembelajaran atau evaluasi hasil belajar.6 Dampak atau outcome pelatihan yang diharapkan adalah peningkatan kinerja individu dan organisasi serta return of investmen (ROI) yang dinilai melalui evaluasi tahap 4 dari Kirkpatrick. Evaluasi pelatihan menurut Assessors and Workplace Trainers (dikutip Sofo7) merujuk pada proses pengkonfirmasian bahwa seseorang telah mencapai kompetensi. bukan hanya melakukan perbandingan kemampuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan (pre dan postes). Kompetensi menurut Sofo7 dapat didefinisikan sebagai apa yang diharapkan di tempat kerja dan merujuk pada pengetahuan. tidak melalui suatu rancangan pelatihan yang seharusnya. Oleh sebab itu. dkk. 4 Desember 2007 . sehingga diperoleh dua kali pengukuran sebagai kondisi pre dan postes output atau luaran adalah peningkatan keterampilan dan pengetahuan serta perubahan keahlian dan perilaku peserta pelatihan yang diukur melalui evaluasi tahap 3 dari Kirkpatrick. Sebagai sistem.Evie Sopacua. sedangkan evaluasi tahap 3 dan 4 merupakan evaluasi summative karena menghasilkan informasi yang berfokus pada dampak pelatihan bagi organisasi atau pascapelatihan. Proses dalam sistem adalah pelaksanaan pelatihan diikuti evaluasi tahap 1 dari Kirkpatrick6 selain pre dan postes. walaupun masih terbatas pada pre dan postes. Efektivitas pelatihan menurut Newby yang dikutip Irianto8 berkaitan dengan sejauh mana program pelatihan yang diselenggarakan mampu mencapai apa yang memang telah diputuskan sebagai tujuan yang harus dicapai. 10. Evaluasi tahap 2 dapat ditanyakan bersamaan dengan evaluasi tahap 1 dan diulangi ketika peserta pelatihan sudah kembali bekerja. Opsi pertama adalah penataan pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam suatu sistem (Gambar 1). seperti penyiapan kurikulum dan materi pembelajaran. Dalam makalah pengembangan model unit diklat kesehatan 5 dikatakan bahwa pada umumnya perencanaan dan penyelenggaraan pelatihan di dinkes kabupaten/kota diserahkan kepada masing-masing subdinas/bidang. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 dibandingkan dengan hasil pengkajian kebutuhan pelatihan sehingga dapat diketahui apakah ada peningkatan keterampilan setelah pelatihan. pelatihan.. Evaluasi pascapelatihan hampir belum dilakukan. sehingga pelatihan-pelatihan lebih cenderung kepada pelatihan yang mendukung pelaksanaan program. evaluasi pelatihan menurut Kirkpatrick6 adalah untuk menentukan efektivitas dari suatu program pelatihan. Sebagian besar pelatihan. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 dibandingkan dengan data dasar untuk menilai peningkatan kinerja SDM kesehatan sebagai akibat pelatihan.. keahlian dan sikap yang dipersyaratkan bagi pekerja untuk mengerjakan pekerjaannya. Pola Peningkatan Kompetensi SDM Kesehatan Dalam Suatu Sistem 178 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Opsi kedua adalah memasukan pola evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick6 dalam evaluasi pelatihan karena evaluasi pada tahap 1 dan 2 dari Kirkpatrick merupakan evaluasi formative sebab menghasilkan informasi untuk organisasi tentang penyelenggaraan pelatihan.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . Opsi-Opsi Kebijakan Ada beberapa pelajaran yang diperoleh dari penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan yang dapat menjadi beberapa opsi kebijakan. serta berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing pemegang program. No. Vol.6 Pada evaluasi tahap 4 ini juga dilakukan pengkajian ulang dengan materi yang juga digunakan pada pengkajian kebutuhan pelatihan yang hasilnya merupakan data dasar kompetensi yang dimiliki SDM kesehatan. sebagian lainnya belum melakukan.

D. dinas kesehatan.725/Menkes/SK/V/2003 yang dirancang secara efektif dan komprehensif dengan memperhatikan berbagai pemangku kepentingan serta peraturan perundangan yang berlaku. Opsi kelima. siapkan audio visual aids. Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan (Tahap I: Assesment Keterampilan Manajerial Sumber Daya Manusia Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan). tetapkan fasilitas dan sarana yang akan digunakan. perencanaan dan pelaksanaan pelatihan dengan peraturan dan perundangan sebagai payung yang dirujuk oleh Balitbangkes. rumah sakit dan Bapelkes. perencanaan dan pelaksanaan pelatihan yang komprehensip. profesionalisme dan atau menunjang pengembangan karier tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.. Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes). Maka anggaran untuk pelatihan dihitung dengan memperhatikan setiap langkah kegiatan dan tahapan sesuai perencanaan. Sopacua. D. Yogyakarta. tetapkan narasumber. Budijanto. tetapkan penjadwalan. KEPUSTAKAAN 1. dinas kesehatan. Trisnantoro. perencanaan dan implementasi program pelatihan yang efektif sebaiknya mengandung 10 langkah kegiatan menurut Kirkpatrick6 yaitu: tentukan kebutuhan pelatihan. Pelatihan SDM kesehatan tidak hanya untuk mendukung pelaksanaan program tetapi dirancang berdasarkan pengkajian kebutuhan pelatihan. tentukan materi. KESIMPULAN Opsi-opsi kebijakan yang diusulkan berdasarkan lesson learned dari pelaksanaan penelitian di Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan tahun 2002 – 2004. 10. Sopacua. 2002. tetapkan tujuan akhir yang akan dicapai. E. 38/2007 pengganti PP No.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Untuk itu. L. Pelaksanaan pelatihan dengan penyiapan kurikulum dan materi pembelajaran sesuai dengan hasil kajian. 2. 3. 25/2000 bahwa dinas kesehatan kabupaten/kota menjalankan fungsi regulator. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik (Ditjen Yanmedik) dan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat (Ditjen Binkesmas) Departemen Kesehatan RI. rumah sakit. 2000. Budijanto. 4 Desember 2007 179 . opsi ketiga adalah memperhatikan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Para pemangku kepentingan di antaranya adalah pemerintah daerah. Upaya peningkatan dilaksanakan melalui pelatihan sesuai keputusan Menkes RI No. Dampak pelatihan diharapkan menyebabkan peningkatan kinerja SDM kesehatan dan institusi.725/Menkes/ SK/V/2003 bahwa pelatihan adalah proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan kinerja. koordinasikan program ini dengan bagian lain atau sektor lain terkait dan evaluasi program pelatihan. Ditjen Yanmedik. Binkesmas dan BPPSDM mendukung anggaran dan pelaksanaan analisis kebutuhan pelatihan.9 Kepada mereka yang ditempatkan di seksi atau bidang SDM ini terlebih dulu diberikan pemahaman tentang tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan sehingga dapat merancang pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan berjangka panjang dan komprehensif. Berkenaan dengan pelatihan. yang untuk tahap 3 dan 4 mungkin dilaksanakan setelah 1 tahun pascapelatihan. Pengembangan Kapasitas Keterampilan Manajerial Dalam Berwirausaha Bagi Tenaga Kesehatan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 41/2007 dengan memasukkan pendidikan dan pelatihan sebagai seksi pada kelompok fungsional atau pada bidang SDM. perlu mendapatkan pertimbangan dalam restrukturisasi dinas kesehatan kabupaten kota khususnya. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. UGM. tentukan kriteria peserta. Hal ini dapat diatur dengan mensinergikan berbagai kepentingan dalam tata kerja sama yang disepakati. Opsi keempat. Pertimbangan utama bahwa dengan berbagai perubahan yang terjadi termasuk perubahan organisasi kesehatan maka kompetensi SDM kesehatan dalam keterampilan manajerial perlu ditingkatkan. Vol. Keterampilan Manajerial Desentralisasi. No. Surabaya. bahwa penataan pelaksanaan suatu pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.5 Sesuai dengan PP No.5 Maka dalam peningkatan kompetensi SDM kesehatan. maka hal ini dapat diantisipasi dinas kesehatan kabupaten/kota ketika merestrukturisasi struktur organisasi sesuai PP No. Kerja sama para pemangku kepentingan diperlukan dalam melakukan analisis kebutuhan pelatihan. SDM di dinas kesehatan kabupaten/kota perlu memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan pelatihan karena pada kenyataannya selama ini sudah melakukan penyelenggaraan pelatihan dengan kapasitas yang sangat terbatas. E. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan (BPPSDM). Fakultas Kedokteran. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). Penghitungan anggaran termasuk waktu pelaksanaan evaluasi pascapelatihan tahap 1 – 4 dari Kirkpatrick. perguruan tinggi..

Meliala A. Budijanto. Jusuf Irianto. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. D. Prajoga. Kirkpatrick.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia .2004.desentralisasikesehatan. PP No. Y.2003. 9. 41/2002. Sofo.. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. D. Irianto.Com. Vol..Evie Sopacua. 2007. Prinsip-Prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. 7. Surabaya. 4 Desember 2007 . M. PPT dalam Kursus Desentralisasi. No. Evaluasi Kemampuan Manajerial SDM Kesehatan di Kabupaten/Kota dalam Era Desentralisasi Evaluasi Implementasi-. 1994. www. Surabaya.net . Pengembangan Sumber Daya Manusia. Kabupaten/Kota di Propinsi Kalimantan Timur.Inc. Berrett . (Diakses 18 Desember 2007) 6. Diterjemahkan oleh drs. 2003. www. Airlangga University Press.Koehler Publishers.38 dan No. Insan Cendekia. 4.2001. Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur.net (Diakses 10 November 2007) 180 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 8. Evaluating Training Programs – The Four Levels-. Pengembangan Model Unit Diklat Kesehatan.lrckesehatan. F. Surabaya. Sopacua. Surabaya. E.. 5. 10. dkk..

but it is important that acces for private health service unit (hospital/ clinic) to obtain this medicine. Hal ini karena pertimbangan kasus yang dihadapi merupakan kasus baru yang terus menunjukkan progresivitas angka kematian pada manusia. This studi purpose is for analyzing management policy of Oseltamivir in controlling Avian Influenza case and its implementation at reference hospital in Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta 2005 – 2007. so that it must be managed well and basic policy must pursuant to the right formulation. sehingga harus dikelola secara baik dan kebijakan yang melandasinya harus berdasarkan formulasi yang tepat mulai dari tahap perencanaan hingga pengendalian. so it has dones stockpilling strategy which calculated stock number based on percentage prediction of Indonesian population number which will happen because of pandemic. require to be analyzed comprehensively based on policy system aspect such as: public policies. Kesimpulan: Kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanganan kasus flu burung di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta dibuat secara terbatas dan pada pelaksanaannya tidak mencakup pada keseluruhan lini yang memerlukan. Sumatera Selatan ABSTRACT Background: Avian Influenza pandemic which is caused of H5N1 virus pushed various goverment effort to look for prevention way. Pendistribusiannya secara terbatas pada instansi pemerintah dan tidak dijual bebas dilakukan mengingat pentingnya obat tersebut bagi keselamatan manusia. considering of presence case is a new case which indicated human mortality level progressively. policy stakeholders. kebijakan pengelolaan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Besaran anggaran yang disediakan mengalami peningkatan dibandingkan dengan anggaran yang dialokasikan sebelumnya. overcoming and curing it. and policy environment. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 181 . menanggulangi dan mengobatinya. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan perencanaan penyediaan Oseltamivir belum bisa berdasarkan data evidences jumlah kasus riil yang terjadi pada instansi rumah sakit (RS) rujukan ataupun kebutuhan RS akan obat tersebut. No. akan tetapi perlu dipikirkan juga akses unit pelayanan kesehatan swasta (RS/klinik) untuk memperoleh obat tersebut. Therefore. Pengadaan dengan teknik dropping dapat mengakibatkan terjadinya penumpukkan obat di RS rujukan. Method: This study used a qualitative method which has done retrospectively by analyzing policy system with 10 informants. Metode: Jenis penelitian adalah kualitatif yang dilakukan secara retrospektif dengan menganalisis sistem kebijakan. A limited distribution for goverment instance and it is not for sale freely has done considering how important that medicine for human safety. This preparation of antiviral drugs played the most important role. Penyediaan obat antiviral ini memegang peranan yang sangat penting. so that medicine must be distributed to health service unit to use it considering its expire so close relatively. 10. Diharapkan pihak Depkes dalam pengelolaan Oseltamivir ini juga memberdayakan apotek yang ditunjuk untuk menyediakan-nya sehingga selain mempermudah akses unit pelayanan kesehatan swasta lainnya dalam memperoleh obat tersebut dan bisa dijadikan stockpile. tetapi hal tersebut dilakukan karena adanya hibah obat dari negara lain sehingga obat harus segera didistribusikan ke unit pelayanan kesehatan agar bisa terpakai mengingat masa kadaluarsanya yang relatif dekat. Oleh karena itu perlu dianalisis secara komprehensif dengan melihat aspek-aspek pada sistem kebijakan meliputi public policies. Bagi RS diharapkan memberikan rekomendasi desain kebijakan pengelolaan Oseltamivir yang sesuai dengan kondisi di RS kepada Depkes. dan policy environment. 4 Desember 2007 181 . melibatkan 10 informan.188 Artikel Penelitian ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN OSELTAMIVIR DAN IMPLEMENTASINYA DI RUMAH SAKIT RUJUKAN KASUS FLU BURUNG MANAGEMENT POLICY OF OSELTAMIVIR ANALYSIS AND ITS IMPLEMENTATION AT THE REFERENCE HOSPITAL OF AVIAN INFLUENZA CASE Misnaniarti Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. mendorong berbagai upaya pemerintah untuk mencari cara mencegah. It was also suggested for hospital to perform a research to proving the this effectiveness Oseltamivir on human avian influenza. policy stakeholders. di antaranya dengan kebijakan penyediaan obat antiviral. sehingga dilakukan strategi stockpilling yang memperhitungkan jumlah kebutuhan berdasarkan pada prediksi persentase jumlah penduduk Indonesia yang akan terkena jika terjadi pandemi. It was suggested for health service department to involve reference apotek for providing antiviral drugs so it is easy on access for health service unit in stockpile. Results: Study result indicated that planning policy of oseltamivir can not base on evidences data of reality case number that happen on reference hospital instance or the need of medicine for hospital. management policy ABSTRAK Latar Belakang: Ancaman pandemi flu burung yang disebabkan oleh virus H5N1. Vol. The data were collected by in-depth interview and study document. Conclusion: Management policy of antiviral drugs in overcoming Avian Influenza case at reference hospital in DKI Jakarta is made limited and its implementation dose not involve for all sides.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. starting from planning until control phase. but this done because of medicine donation from another country. If allocation is done by dropping technique so it makes heaping medicine at reference hospital. kemudian dilakukan analisis isi. Kata Kunci : Oseltamivir. Keywords : Oseltamivir. The data were a content analyzed. one of them is preparation policy of antiviral drugs.

dan pelatihan petugas kesehatan. menganjurkan pemberian vaksinasi influenza pada orang yang berisiko. RSPI Prof. proses (process) dan aktor (actors) pembuatan kebijakan sebagai unsurunsur yang penting di dalam analisis kebijakan. 1371/Menkes/SK/IX/2005 tentang Pedoman Penanggulangan Penyakit Flu Burung pada Manusia. serta mudah resisten terhadap obat antiviral. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanggulangan kasus flu burung dan implementasinya di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta sejak tahun 2005 sampai tahun 2007.Dr. sehingga dapat dipergunakan secara tepat guna dalam menangani bahaya wabah flu burung khususnya di wilayah Indonesia. Data WHO 1 menunjukkan terjadi kecenderungan peningkatan kasus AI. Penyakit ini merupakan penyakit menular pada unggas yang disebabkan oleh virus influenza A H5N1 yang kemudian berkembang dan dapat menular ke manusia. perlu dilakukan eksplorasi untuk mendapatkan informasi secara mendalam terhadap sistem kebijakan (policy system) mengenai pengelolaan obat ini.2 Diskusi tentang pandemi influenza bukan lagi dalam konteks apakah akan terjadi atau tidak. tetapi kapan akan terjadi artinya WHO menyatakan bahwa pandemi memang akan kita hadapi. Pengelolaan Oseltamivir memegang peranan penting untuk pemenuhannya sehingga tersedia secara tepat waktu dan tepat guna. Salah satu strateginya adalah strategi pencegahan terdiri dari tindakan bio security. Penggunaan obat antiviral dimaksudkan untuk mencegah penularan lebih lanjut. Meningkatnya kasus infeksi yang menyebabkan kematian pada manusia ini dikhawatirkan dapat berkembang menjadi pandemi.5 Setiap komponen dari sistem kebijakan tersebut merupakan suatu kesatuan dan saling berhubungan. Dengan memberikan hasil analisis kebijakan dalam pengelolaan Oseltamivir ini diharapkan adanya perencanaan yang sistematis di masa mendatang yang dapat diterapkan dalam pencegahan dan kewaspadaan flu burung. PENGANTAR Dalam beberapa tahun terakhir ini perhatian dunia kesehatan terpusat kepada semakin merebaknya penularan penyakit Avian Influenza (AI) atau flu burung. yang mencakup hubungan timbal balik di antara tiga aspek yaitu: kebijakan publik (public policies). dan lingkungan kebijakan (policy environment). WHO Perwakilan Indonesia. penyediaan obat antiviral. Sistem kebijakan merupakan seluruh pola institusional di mana di dalamnya kebijakan dibuat. No. baik angka kesakitan maupun angka kematian manusia yang terinfeksi virus H5N1.7%. 10. cepat berkembang dan menular pada unggas. Harapan lebih lanjut agar hal ini mendapat perhatian dari semua pihak mulai dari tahap perencanaan sampai pengendalian. penyuluhan. Padahal selama dekade terakhir ada beberapa obat antiviral yang telah ditemukan dan direkomendasikan oleh FDA Amerika (Food and Drug Administration) yaitu golongan M2 inhibitor (Amantadine dan Rimantadin hidroklorida) dan Neuraminidase inhibitors (Oseltamivir dan Zanamivir). isi (content).Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir .. sehingga penyediaannya secara tepat waktu dan tepat guna diharapkan dapat mengurangi dampak kasus flu burung. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan kantor Departemen Kesehatan RI. 4 Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menanggulanginya kasus ini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan kerangka pikir dikembangkan berdasarkan rangkuman banyak sumber teori tentang 182 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Oleh karena itu. et al6 sebagai konteks (context). di antaranya ada kebijakan Depkes berupa SK Menkes No. tercatat paling kurang terjadi 79 kematian dari 99 kasus yang ada. 4 Desember 2007 . pelaku kebijakan (policy stakeholders).Suliati Saroso (RSPI SS) dan RSUP Persahabatan mulai Maret sampai dengan Juni 2007. dapat terjadi mutasi adaptif dan reasortment. Vol.. Istilah lain dari komponen ini disebut oleh Buse. jumlah kasus kematian akibat flu burung merupakan yang tertinggi di dunia dengan CFR 79. Selain itu juga terjadi penyebaran yang semakin meluas ke beberapa negara lain. Saat ini obat antiviral kasus flu burung pada manusia yang digunakan di Indonesia hanya Oseltamivir.3 Virus H5N1 lebih patogen daripada subtipe lainnya karena sangat mematikan bagi manusia sehingga disebut dengan highly pathogenic avian influenza (HPAI) disebabkan karakteristik virus yang sangat ganas. Analisis komprehensif dengan melihat aspek-aspek di atas dilakukan dengan harapan secara tidak langsung dapat mencegah dampak yang lebih besar lagi dari kasus flu burung yang tidak hanya kesehatan hewan dan manusia yang dirugikan akan tetapi hampir berpengaruh pada semua sektor kehidupan. Di Indonesia. Informasiinformasi yang terkait dengan dasar kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanganan kasus flu burung ini masih terbatas. Selain itu juga merupakan tindakan pengobatan yang bisa dilakukan dalam penatalaksanaan kasus (case management) flu burung secara medis di rumah sakit (RS). cepat merusak organ dalam (terutama paru-paru).

dan dianalisis dengan cara content analysis. Tabel 1. dan di-cross check dengan laporan penerimaan Oseltamivir. Mekanisme pengadaan ke RS adalah Oseltamivir akan dikirim ke rumah sakit kalau ada permintaan Penelitian dokumen: Oseltamivir diperoleh dengan cara menerima bantuan (hibah). dan Walt G 7 untuk menggali dan mensinkronisasikan pendekatan policy system dengan kebijakan yang terkait dengan manajemen pengelolaan Oseltamivir.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sistem kebijakan mulai dari Dunn WN5. Selanjutnya meneliti rekam medis pasien. Buse K et al 6 . 4 Desember 2007 183 . Mulai tahun 2006 dibuat perencanaan stockpiling 12 juta antiviral berdasarkan prediksi jumlah penduduk RI yang terkena pandemi. kartu stok obat di instansi RS yang diteliti. membeli secara import. Vol. Penelitian dokumen: kebutuhan penyediaan Oseltamivir dihitung berdasarkan perkiraan sekitar 0. ada laporan pendistribusiannya Wawancara mendalam: bufferstock di BTKL dan di Dinas Kesehatan Penelitian dokumen: Dinkes Provinsi/Kabupaten/Kota/. profil kesehatan dan Prosedur Tetap (Protap) di RS. hanya instansi pemerintah yang menerima Oseltamivir. BTKL dan KKP di setiap provinsi menerima Oseltamivir dalam jumlah cukup banyak sekitar 1000–9000 kapsul Pengamatan: Stok Oseltamivir cukup banyak di BTKL dan Dinkes Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat Oseltamivir diberikan kepada pasien flu burung serta petugas kesehatan yang merawat pasien tersebut Penelitian dokumen: Oseltamivir untuk pengobatan diberikan dengan dosis 2 x 75 mg selama 5 hari untuk dewasa. 10. penelitian dokumen dan pengamatan mengenai kebijakan pengelolaan Oseltamivir di tataran Depkes dan di tingkat RS dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2. dengan proporsi 100 kapsul untuk puskesmas. Hasil Penelitian Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir di Tingkat Depkes Variabel Perencanaan Penganggaran Pengadaan Pendistribusian Penyimpanan Penggunaan Penghapusan Pengendalian Hasil Penelitian Wawancara mendalam: tahun 2005 belum dibuat perencanaan.5%-1% dari total penduduk Indonesia akan terkena pandemi influenza Pengamatan : perencanaan pengadaan berdasarkan jumlah instansi kesehatan Wawancara mendalam: mulai tahun 2006 memasukan penganggaran untuk penyediaan Oseltamivir dengan memakai dana buffer obat. mulai tahun 2006 diproduksi BUMN Indonesia secara bertahap. serta peraturan dan dokumen-dokumen yang terkait dengan kebijakan pengolaan antiviral dalam pengendalian dan penanganan kasus flu burung. 500 kapsul untuk RS rujukan (Kecuali RSPI 5000 kapsul).749. Pengamatan : ada dokumen penganggaran Oseltamivir Wawancara mendalam: Oseltamivir diperoleh dari bantuan luar negeri. Pengamatan: tidak dijual bebas di apotek. Setelah seluruh data telah terkumpul kemudian diverifikasi menggunakan metode triangulasi. dinkes) boleh mengembalikan dan kemudian akan diganti dengan obat baru Penelitian dokumen: masih ada obat yang mendekati masa kadaluarsa Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat pengendalian dilakukan dengan menerapkan registrasi obat Penelitian dokumen: registrasi obat di BPOM Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. anggaran penyediaan obat antiviral direncanakan 112 milyar. Data sekunder diperoleh dengan cara telaah dokumen berupa data laporan pendistribusian Oseltamivir. Realisasi anggaran untuk pengadaan Oseltamivir tahun 2006 adalah sebesar Rp225. Puskesmas. Pemilihan informan dilakukan secara purposive dengan mengacu pada prinsip kesesuaian (appropriateness) dan kecukupan (adequacy) karena terkait dengan substansi dan sesuai kebutuhan penelitian. karena stok masih banyak Penelitian dokumen: di Renstra nasional FBPI.920. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian melalui wawancara mendalam. obat didapat dari bantuan luar negeri. No. Untuk tahun 2007 ada anggaran Oseltamivir tapi belum dilakukan pengadaan. maka instansi yang menerima (RS. dosis 1 x 75mg untuk profilaksis selama 7 hari Pengamatan : 6 dari 17 pasien diberi pengobatan Oseltamivir dengan dosis 2 x 150 mg Wawancara mendalam: jika Oseltamivir mendekati masa kadaluarsa. Pengumpulan data primer diperoleh dengan cara wawancara mendalam pada 10 orang informan kunci yang diambil dari berbagai level tingkatan administrasi sesuai dengan topik yang akan digali. membeli dari BUMN Indonesia Pengamatan : ada laporan pengadaan Oseltamivir Wawancara mendalam: pada tahun 2005 distribusi hanya ke 8 provinsi.000 berasal dari APBN. Distribusi hanya ke instansi pemerintah dengan proporsi sama Penelitian dokumen: dilakukan secara top down dari Depkes. import. baru pada tahun 2006 didistribusikan seluruh provinsi.

Oleh karena itu strategi stockpilling dipilih sebagai salah satu langkah antisipasi pemerintah menghadapi kondisi darurat (upaya kesiapsiagaan menghadapi pandemi flu burung) dengan memperhitungkan jumlah kebutuhan berdasarkan pada prediksi persentase jumlah penduduk Indonesia yang akan terkena jika terjadi pandemi. Hal ini berbeda dengan obat lainnya yang dibuat perencanaan dan pengadaan secara triwulan berdasarkan pemakaian dan kebutuhan RS (evidences based). Tabel 2. strategi ini dipilih karena pertimbangan kasus flu burung yang dihadapi merupakan kasus baru yang terus menunjukkan progresivitas angka kematian cukup tinggi dibuktikan dengan adanya peningkatan CFR. Metode spekulasi di salah satu sisi bisa menguntungkan karena obat selalu tersedia di unit pelayanan kesehatan. No.. berbeda dengan di Puskesmas yang harus berdasarkan sistem skoring Pengamatan: pasien suspek flu burung hari pertama masuk langsung diberi Oseltamivir Wawancara mendalam: terlebih dulu melaporkan apabila obat mendekati masa kadaluarsa kemudian akan mengembalikan ke Depkes Penelitian dokumen: sistem penghapusan obat bisa dilakukan dengan ensinerator Pengamatan: masih ada Oseltamivir yang mendekati masa kadaluarsa Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat bahwa Penilaian mutu obat dengan melihat fisik (morfologi) obat Penelitian dokumen: registrasi Oseltamivir diberikan melalui proses fast track Mulai tahun 2006 Depkes baru membuat perencanaan untuk penyediaan Oseltamivir melalui strategi stockpilling yaitu penyediaan obat dalam jumlah besar untuk menghadapi suatu keadaan kemungkinan terjadinya pandemi. serta mengadopsi kebijakan dari beberapa negara lain yang disesuaikan dengan kemampuan finansial Indonesia. sehingga faktor yang berpengaruh dalam membuat perencanaan untuk penyediaan Oseltamivir ini adalah jumlah seluruh penduduk Indonesia. diperkirakan Depkes harus menyiapkan sebanyak 11 juta – 12 juta obat antiviral sebagai stockpile. Kebutuhan penyediaan Oseltamivir dihitung berdasarkan perkiraan sekitar 0. 10. Penyediaan Oseltamivir yang dihitung berdasarkan perkiraan banyaknya penduduk yang akan terkena pandemi. Untuk di RS mekanisme pangadaannya melalui teknik dropping langsung dari Depkes. Hasil Penelitian Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir di Tingkat RS Variabel Perencanaan Penganggaran Pengadaan Pendistribusian Penyimpanan Penggunaan Penghapusan Pengendalian Hasil Penelitian Wawancara mendalam: tidak membuat perencanaan permintaan Oseltamivir.5%-1% dari total penduduk Indonesia akan terkena pandemi influenza. Jadi.. hal ini relevan dengan dokumen Renstra Nasional FBPI. Bisa dikatakan bahwa kebijakan perencanaan Oseltamivir di RS yang diteliti belum dibuat berdasarkan data evidences jumlah kasus yang riil terjadi atau sesuai kebutuhan. Keuntungannya adalah bisa mendapatkan potongan harga yang lebih banyak. sehingga penyediaan Oseltamivir ini tidak berdasarkan kebutuhan pemakaian obat. yang mengakibatkan terjadinya penumpukan obat karena kebutuhan obat RS tidaklah sebanyak yang di-dropping oleh Depkes. penyediaannya tidak berdasarkan kebutuhan pemakaian obat Pengamatan: tidak ada dokumen perencanaan permintaan Oseltamivir Wawancara mendalam: tidak membuat menganggaran untuk Oseltamivir Pengamatan: tidak ada dokumen penganggaran Oseltamivir Wawancara mendalam: dengan cara dikirim langsung (dropping) dari Depkes Penelitian dokumen: menerima dropping Oseltamivir secara bertahap dari Depkes Pengamatan: Stok Oseltamivir dalam jumlah yang cukup banyak Wawancara mendalam: obat dikeluarkan dengan memakai metode FEFO Penelitian dokumen: Oseltamivir diterima secara bertahap Pengamatan: ada alur distribusi Oseltamivir hingga ke pasien Wawancara mendalam: sebagian besar Oseltamivir disimpan di bagian logistik (gudang) sebagai bufferstock kemudian didistribusikan ke pasien melalui apotek. 4 Desember 2007 . Vol. perlakuan penyimpanan disamakan dengan obat yang lain Penelitian dokumen: stok obat di gudang lebih banyak daripada di apotek Pengamatan : tata cara penyimpanan dengan sistem FIFO Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat bahwa pemberian Oseltamivir ke pasien tidak berdasarkan skoring tetapi dengan melihat kondisi klinis pasien suspek AI Penelitian dokumen: pasien harus diberikan terapi Antiviral sesegera mungkin.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . biaya pemesanan dan pengangkutan menjadi lebih murah. di sisi lain potensial akan terjadi pemborosan karena wilayah tanpa adanya indikasi 184 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Menurut Bowersox9 metode ini termasuk kategori fluctuation stock yaitu persediaan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat diramalkan (metode spekulasi).8 Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 220 juta jiwa. sebab tingkat konsumsinya memang rendah.

Komitmen pemerintah menerima bantuan ini dilakukan karena memang membutuhkan obat tersebut. 12 Selain itu Indonesia juga masih menerima bantuan obat tersebut dari WHO dan negara lain.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan penyakit juga menerima stok yang pada akhirnya menyebabkan pembengkakan anggaran dan tentu saja menjadi tidak cost effective. misalnya melalui sarana apotek. Perlu pemikiran dan penelitian lebih lanjut tentang cost effektiveness dari program kuratif penyediaan obat antiviral ini. juga karena dampak yang akan didapatkan dari tindakan promotif-preventif tersebut akan dirasakan manfaatnya dalam jangka waktu yang lama. dengan alasan untuk efisiensi biaya dan tenaga. RS. pemerintah tidak bisa sepenuhnya mengandalkan pada obat-obatan karena bagian yang terpenting dari hal ini adalah aspek pencegahan yaitu upaya penghentian penularan dari unggas ke manusia. juga harus memperhatikan metode pengepakan yang baik agar obat tidak rusak di jalan. Rasionalisasi antara pola produksi obat dan kebutuhan nyata harus ditingkatkan terutama agar dana untuk obat dapat digunakan secara lebih efisien. Perencanaan kebutuhan obat merupakan salah satu fungsi yang menentukan dalam proses penyediaan obat. 10. Walaupun tak dapat dipungkiri bahwa belanja obat memang merupakan bagian terbesar dari belanja kesehatan di seluruh negara di dunia13.7 Dalam hal penganggaran. yang bertujuan untuk menentukan jenis dan jumlah obat sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan. Dalam hal ini. Merupakan angka yang cukup besar dalam hal pengadaan barang. selain juga untuk menjaga hubungan baik dengan negara pendonor. Dalam hal ini Depkes tidak melakukannya karena perhitungan volume pembelian hanya berdasarkan prediksi saja. Jadi jangan sampai pemerintah membuat program yang sia-sia dengan menyediakan obat antiviral karena obat tersebut hanya efektif apabila pasien dapat terapi 2 x 24 jam dari adanya gejala flu burung. sistem pendistribusian Oseltamivir yang diatur pemerintah belum merata sebab RS/poliklinik swasta. Depkes tahun 2006 harus menyediakan dana Rp200 milyar untuk membeli 16 jutaan kapsul Oseltamivir. jika titik awal ini sudah tidak tepat maka pengendalian akan sulit dikontrol. Dalam kasus penyakit yang sudah jelas trendnya seperti demam berdarah. 4 Desember 2007 185 . Otomatis apabila ada pasien yang suspeck flu burung maka pihak RS tidak bisa memberikan terapi obat antiviral Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. No. Namun seharusnya pemerintah lebih selektif lagi jangan sampai obat yang diterima sudah mendekati masa kadaluarsa. diharapkan kebijakan pemerintah tentang perencanaan dan pengadaan obat antiviral harus memperhatikan faktor pola penyakit yang dominan.15 Keadaan geografis dan demografis daerah di Indonesia yang khas akan membutuhkan sistem pendistribusian yang tepat agar merata. jumlah kebutuhan riil masyarakat. yaitu Depkes melihat dari RS mengajukan permohonan permintaan obat (pertanda stock mulai menipis). belum bisa mengakses obat ini secara lancar. karena berdasarkan data dari Aditama TY14 dilaporkan bahwa rata-rata pasien flu burung yang datang ke rumah sakit setelah lebih dari 2 hari merasakan gejala flu burung. poliklinik. Biaya yang sangat besar ini tentunya akan menjadi beban yang sangat berat bagi pemerintah pusat. metode pengadaan dengan cara membeli biasanya didahului dengan perhitungan besarnya volume pembelian yang ditetapkan berdasarkan kebutuhan dalam satuan waktu dan kuantum unit masing-masing produk misalnya kebutuhan untuk mingguan atau 1 bulanan atau setahun. jumlah biaya yang tersedia. khususnya bagi RS swasta di daerah yang kurang informasi tentang cara mendapat obat tersebut. sehingga lebih memprioritaskan pada upaya preventif sebagai salah satu upaya manajemen kasus berbasis wilayah yang salah satunya dengan melakukan manajemen faktor risiko dari penyakit.11 perlu ruang penyimpanan yang besar serta mengandung risiko kadaluarsa obat yang lebih tinggi. Dengan cara seperti ini perlu dipilih teknik yang tepat mulai dari kualitas transportasi seperti jalan dan alat angkut.10 sehingga selain faktor jumlah penduduk. Program yang cenderung ke arah kuratif dan memakan banyak biaya ini perlu ditinjau ulang. puskesmas. sehingga sebaiknya pemerintah juga memprioritaskan pada upaya promotif dan preventif dalam penanganan kasus flu burung ini selain biaya yang diperlukan jauh lebih sedikit daripada upaya kuratif. Vol. Adanya penyediaan stok yang berlebih cenderung menyebabkan pemborosan dalam pemakaian. ataupun berupaya menghindari power negara pendonor jangan sampai menjadi unsur interest politik luar negeri yang sangat dominan. Sistem pendistribusian Oseltamivir yang bersifat top down sentral dari Depkes bahwa untuk pendistribusiannya sampai ke tingkat Puskesmas dilakukan dengan bantuan pos. Padahal pengadaan merupakan titik awal dari pengendalian persediaan.11 Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka dapat dirumuskan kebijakan pengadaan obat yang rasional.12 Langkah antisipasi yang dapat dilakukan agar tidak terjadi penumpukan obat ini salah satunya dengan memperbaiki mekanisme penyediaannya.

sehingga hanya obat yang terbukti memberikan manfaat klinik yang paling besar. Adanya peningkatan dosis Oseltamivir pada pengobatan beberapa pasien flu burung. penanganan dan pencegahan penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat. Oleh karena itu. Hal ini juga diberlakukan pada obat kadaluarsa.16 Dikaitkan dengan kasus flu burung pada saat ini data penelitian tentang kemanfaatan dan keamanan penggunaan Oseltamivir baru efektif sebatas pada influenza biasa. Selain itu. Bila dikaitkan penggunaan obat yang rasional dengan acuan biomedicus context penggunaan obat yang rasional adalah kebutuhan obat sesuai dengan kepentingan kedokteran dan klinik. yang akan membahayakan pasien jika tetap dipakai. sehingga semua permintaan konsumen dapat dipenuhi. misalnya promosi obat yang berlebihan atau kelemahan sistem regulasi yang ada. meningkatnya kegagalan pengobatan. sehingga memudahkan masyarakat mengakses obat ini tapi tetap dengan resep dokter. obat yang sudah rusak. No. Akan tetapi.16 Informasi tentang obat sebaiknya adalah yang didukung oleh buktibukti ilmiah yang berkaitan dengan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat. maka tetap harus didaftarkan melalui proses uji klinik di BPOM. menurut prinsip kedokteran disebutkan bahwa tujuan pedoman pengobatan adalah meningkatkan mutu pelayanan melalui penggunaan obat yang aman. rasional dan juga dalam rangka efisiensi biaya pengobatan.. Pembuatan kebijakan pengelolaan obat antiviral dalam penanggulangan kasus flu burung di Indonesia 186 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. harus berdasarkan indikasi yang jelas. penggunaan dan cara penggunaan. agar tidak ada kejadian keterlambatan menangani pasien AI. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) merupakan badan yang bertugas membuat informasi tentang obat yang mencakup indikasi. Hal ini tentu akan memperparah kondisi pasien karena tidak cepat ditanggulangi. salah satunya adalah dengan mengatur keseimbangan antara jumlah persediaan dengan jumlah pemakaian.11 Sasaran utama pendaftaran obat adalah agar obat yang beredar hanya yang khasiatnya nyata. sehingga informasi yang ada merupakan informasi yang telah ditelaah secara cermat berdasarkan data penelitian. tidak terjadi kekurangan maupun kelebihan stok. efektif. Para pemberi pelayanan (provider) khususnya para dokter (prescriber) harus mengetahui secara rinci obat yang akan dipakai melalui informasi yang benar. hal ini dilakukan oleh prescriber dalam rangka meningkatkan manfaat ke pasien karena dosis yang selama ini dipakai pada umumnya belum menunjukkan perbaikan kondisi pasien. dan merupakan teknologi medis yang dibutuhkan. keamanan yang resmi. Hal yang harus dipahami agar tercapainya pengendalian persediaan11 adalah dengan menjaga keseimbangan pengendalian dan pembelian. meningkatnya resistensi obat.16 Maka penggunaan Oseltamivir di tempat penelitian ini belum termasuk kategori penggunaan obat yang rasional. Adanya obat yang kadaluarsa dan rusak akan merugikan instansi pemilik karena upaya penghapusan barang/obat akan memerlukan biaya yang cukup besar. Apotek harus dijadikan ujung tombak pelayanan obat yang harus ikut mengamankan kebijakan penyediaan (penyimpanan) Oseltamivir secara merata. tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan yang sudah mendalam dan perilaku pihak-pihak yang terlibat didalamnya. yang disetujui (approved) pada saat obat diizinkan untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan untuk menghindari salah informasi tentang obat. perlu dicari jalan keluar untuk menghindari tingginya tingkat kadaluarsa obat ini. bukan H5N1. 10. 16 Masalah-masalah yang timbul dalam penggunaan obat tidak semata-mata berkaitan dengan kurangnya informasi dan pengetahuan dokter. harga yang murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat luas. jangka waktu pemberian yang cukup. keamanannya memadai.. Tingkat keamanan obat juga bisa dilakukan dengan memantau masa kadaluarsa.sehingga dapat memberikan manfaat klinik yang berguna bagi keperluan ilmu pengetahuan dan teknologi. kemudian registrasi obat sebelum beredar di masyarakat sehingga mutu obat terjamin.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . Vol. sesuai dengan sasaran kebijakan umum di bidang obat. Agar memberikan manfaat klinik yang optimal. Langkah pemecahan masalah ini salah satunya dengan memberdayakan apotek yang ditunjuk pemerintah untuk menyediakan Oseltamivir. sesuai kebutuhan dosis individu. maka perlu upaya pendaftaran obat. Obat mempunyai peran yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan. sehingga perlu penelitian lebih lanjut. paling aman. Obat yang mendekati masa kadaluarsa tidak layak lagi dipakai sehingga perlu upaya penghapusan obat.17 Hubungannya dengan Tamiflu yang merupakan obat jadi import yang telah disetujui beredar di negara lain. pasien dan masyarakat. kualitasnya baik. 4 Desember 2007 . Selanjutnya terkait dengan khasiat nyata dari obat. Pola penggunaan obat yang tidak rasional dapat berakibat menurunnya mutu pelayanan pengobatan misalnya meningkatnya efek samping obat. maka obat harus digunakan secara benar. sesegera mungkin karena obat tersebut tidak tersedia. paling ekonomis dan paling sesuai dengan sistem pelayanan kesehatan yang ada yang dianjurkan untuk digunakan.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kebijakan internasional dalam hal ini WHO 18 memegang peranan yang dominan yang menentukan arah kebijakan yang dibuat oleh Depkes RI. Cumulative Number of Confirmed Human Cases of Avian Influenza A/ (H5N1) Reported to WHO. Flu Burung. Anief. Institut Darma Mahardika. Pusat Komunikasi Publik Depkes RI. Tjandra Yoga. Aditama. 10. Hal ini dikarenakan obat hibah dari negara lain yang harus segera didistribusikan agar bisa terpakai mengingat masa kadaluarsanya yang relatif dekat. diharapkan agar Depkes dalam pengelolaan Oselatamivir ini juga memberdayakan apotek yang ditunjuk untuk menyediakan obat tersebut sehingga selain mempermudah akses unit pelayanan kesehatan swasta lainnya dalam memperoleh obat tersebut dan bisa dijadikan stockpile. 1994. Midian. Majalah Ilmu Kefarmasian. Titiek E. Witwatersrand University Press. Bowersox.int/entity/scr/disease/ avian_influenza/country/en. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. jumlah penduduk. Johannesburg. 6. Avian Influenza. 1998. 2005.who. Making Health Policy. III (2). Avian Influenza A (H5N1) : Patogenesis. 11. KEPUSTAKAAN 1. Diakses pada 6 Juni 2007. Nicolas. Rencana Strategis Nasional Pengendalian Flu Burung (Avian Influenza) dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza 2006-2008. 2002. 13. 2000. Avian Influenza/Flu Burung di Indonesia.MA. M. 2003. 8. UCAPAN TERIMA KASIH Saya ucapkan terima kasih kepada dr. Tiga Dimensi Farmasi : Ilmu Teknologi. Modul Pendidikan : Manajemen Logistik dan Obat Rumah Sakit. serta kondisi pertahanan dan keamanan yang ingin diciptakan dalam kesiapsiagaan menghadapi pandemi flu burung.D selaku Dosen Pembimbing di Departemen AKK FKM UI Depok yang banyak memberikan pencerahan dalam penulisan karya ini. MSc. Ini ditunjukkan dengan perencanaannya belum berdasarkan data evidences jumlah kasus riil yang terjadi pada RS karena pertimbangan kasus AI yang menunjukkan progresivitas angka kematian dan cenderung menimbulkan kepanikan masyarakat sehingga dipilih strategi stockpilling. 2005. Diakses pada 1 Februari 2007. Sirait. William N.go. 2005.id/. H. 4 Desember 2007 187 . London School of Hygiene and Tropical Medicine. 2001. 4. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Walt. serta perlu mengadakan suatu penelitian untuk membuktikan efektivitas penggunaan Oseltamivir terhadap H5N1 manusia. Program Studi KARS Universitas Indonesia. MPH selaku Ketua PSKM FK Unsri dan kepada drh. Republik Indonesia. Agar pihak RS memberikan rekomendasi kepada Depkes mengenai desain kebijakan pengelolaan obat antiviral yang sesuai dengan kondisi di RS. Ph. Manajemen Farmasi. Yenis S. 2. WHO. Buse. Pelayanana Kesehatan. dan Potensi Ekonomi. Kusumanto H. Yogyakarta. 12. Mays. Donald J. Kebijakan pendistribusian Oseltamivir secara terbatas pada instansi pemerintah dapat menghambat akses unit pelayanan kesehatan swasta untuk memperoleh obat tersebut. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 15. Vol. pengaruh penanganan kasus flu burung di negara lain (sosial budaya). The World Health Report 2000–Health Systems : Improving Performance. Husnil Farouk. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Manajemen Logistik 1 : Integrasi Sistem-Sistem Manajemen Distribusi Fisik dan Manajemen Material. Radji. 9. WHO. 3. Pengantar Analisis Kebijakan Publik edisi kedua. WHO.B.depkes. Health Policy : an Introduction to Process and Power. Jakarta. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. jumlah institusi kesehatan pemerintah. Depok. Walt. Sudah 79 Orang Meninggal Dunia Akibat Flu Burung. Departemen Kesehatan RI. 7. http:// www. Dunn. 10. Bandung. Gill. Adisasmito. Moh. Kent. Selanjutnya.11 April 2007. Jakarta. No. Bahan Seminar Pertemuan Nasional Penanggulangan Klinis Penanganan Flu Burung di Rumah Sakit. selain itu faktor lingkungan yang menjadi pertimbangan adalah faktor politik. 2006. 14. Jakarta. KESIMPULAN DAN SARAN Kebijakan pengelolaan obat antiviral dalam penanganan kasus flu burung di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta dibuat secara terbatas serta pada pelaksanaannya tidak mencakup pada keseluruhan lini yang memerlukan. Pencegahan dan Penyebaran Pada Manusia. Kebijakan pengadaannya dengan teknik dropping dapat mengakibatkan terjadinya penumpukkan obat di RS yang diteliti. http://www. Bumi Aksara. G. 2006. 5. 1995. Jakarta. 2007. Wiku B. Open University Press. Gadjah Mada University Press.

IONI : Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000. 2006. No. 188 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 18. WHO. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Depkes RI.influenzaReport.. Hoffmann C. 2000. Vol. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. http://www. 10.com. Influenza Report 2006. Preiser W. 17 Maret 2006. WHO – Advice On Use Of Oseltamivir. 17. Jakarta.. Kamps BS.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . 4 Desember 2007 . 16.

information system training. Keywords: business intelligence. perubahan perilaku pelanggan. visualisasi laporan. The main informant in this research is Director. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Spesifisitas business intelligence dibanding tingkatan sistem informasi lainnya adalah kemampuannya untuk melakukan analisis multidimensional. profil kompetitor serta kemampuan unggul lainnya. pelatihan sistem informasi. Informan kunci pada penelitian ini adalah Direktur. No. Dari keseluruhan proses. 10. now a day. menyimpan. kapabilitas perusahaan serta kondisi pasar. Metode: Peneliti melakukan investigasi sistem dilanjutkan dengan analisis sistem untuk mengetahui kebutuhan informasi yang diperlukan. and competitor profile. Hasil: Implementasi business intelligence telah layak untuk dilakukan. Rancangan penelitian yang dipakai adalah PENGANTAR Informasi memainkan peranan penting dalam pengambilan keputusan dan sebagai sarana strategik untuk memberikan pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. Head of Administration and also EDP coordinator. Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini disarankan kepada pihak manajemen untuk melanjutkan sosialisasi. Aplikasi business intelligence memungkinkan perusahaan untuk menganalisa perubahan tren pasar. implementation preparation penelitian kualitatif. sedangkan data dalam bentuk file non database diperlukan penyepakatan konsistensi data untuk percepatan implementasi business intelligence. Saat ini penyajian datanya masih tersebar dari berbagai pintu dan sumber sesuai penanggungjawabnya sehingga pengambilan informasi memakan waktu yang lebih lama serta pemantauannya belum dapat menggambarkan tren. analisis multidimensi serta profil kompetitor. Currently.. Didapatkan sebanyak 147 variabel level informasi. Objective: To get information about implementation preparation of Business Intelligence. 4 Desember 2007 177 . Conclusion: This research wants to give suggestions to management side to keep continue for socialization. upaya implementasi business intelligencesaat ini berkisar antara 15-35%. Method: The researcher investigates system followed with system analysis to know about information which is needed. multidimensional analysis. meanwhile data in form of non database file needed to get some constituency agreement to make the business intelligence implementation faster. the data still disperse and managed by each person who has responsible for it so the process of collecting information takes longer time and because of that. the effort of business intelligence implementation is about 15-35%. Data dalam bentuk laporan manual perlu dilakukan standarisasi informasi sehingga bisa dikonversi menjadi bentuk database. so the monitoring has not known the trend. preferensi pelanggan. based on Malcolm Baldrige in D S Hospital in 2007. Vol. forecasting. penyiapan implementasi ABSTRAK Latar Belakang: Rumah Sakit Duren Sawit (RSDS) telah mengimplementasikan berbagai sistem manajemen mutu serta sistem lainnya. Results: The implementation of Business Preparation is deserved to do. The data in manual report form has to be standardized so can be converted into database form.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. pola pembelanjaan. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 177 . Dumilah Ayuningtyas Program Studi Kajian Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ABSTRACT Background: D S Hospital (RSSDS) has implemented many of quality management system and also another system. From all the process. Representative Manager. Tujuan: Diperolehnya informasi mengenai penyiapan implementasi business intelligence dengan basis Malcolm Baldrige di RS DS tahun 2007. emphasize the policy of available information management system. Most of the data has already in the form of non manual report (81%). Kepala Bagian Tata Usaha serta Koordinator EDP. menegaskan kebijakan sistem informasi yang berlaku. Kata Kunci: business intelligence. menganalisis dan menyuguhkan akses data untuk membantu petinggi perusahaan dalam mengambil keputusan. dengan dominasi banyaknya informasi pada kategori Proces Managemen pada Proses Kunci Layanan RSDS. Mayoritas ketersediaan data sudah dalam bentuk nonlaporan manual (81%). There are 147 variable of information level with most of information is in Processes management category in the key process of DS Hospital services.1 Howard Dresdner pada tahun 19892 pertama kali mendefinisikan business intelligence sebagai rangkaian aplikasi dan teknologi untuk mengumpulkan.182 Artikel Penelitian PENYIAPAN IMPLEMENTASI BUSINESS INTELLIGENCE BERBASIS MALCOLM BALDRIGE IMPLEMENTATION BUSINESS INTELLIGENCEBASED ON MALCOLM BALDRIGE Raditya Asri Wisuda . Manager Representatif. The research sample which is used is qualitative research.

Investigasi sistem dilakukan dengan indepth interview. Siklus ini dipandang sebagai proses multilangkah yang disebut sebagai siklus pengembangan sistem informasi (information system development cycle) yang juga dikenal sebagai siklus hidup pengembangan sistem (system development life cycle). Kelayakan ekonomi Dalam kelayakan ekonomi. human resources focus. kemampuan dan kehandalan jaringan serta software di RS DS dalam implementasi business intelligence. Saat ini RS DS telah memiliki 4 buah server (web. other customer and market. Banyak perusahaan menetapkan kriteria bukan untuk MBNQA semata. focus on patients. Vol. 2) Penerimaan karyawan: manajemen puncak berpendapat bahwa penerimaan karyawan sudah bagus. Namun peneliti membatasi penelitian pada investigasi sistem dan analisis sistem. domain dan proxy).6 Model business intelligence RS DS dibuat dengan dasar Malcolm Baldrige. bersaing. Kelayakan teknis Kelayakan teknis menilai ketersediaan. Kelayakan organisasi Kelayakan organisasional berfokus pada sebaik apakah dukungan sistem yang diusullkan terhadap prioritas bisnis strategis organisasi. implementasi sistem serta pemeliharaan sistem). No. modul remunerasi. (3) desain. Tahap investigasi sistem a. menggunakan dan mendukung sistem yang diusulkan. tetapi untuk self assessment sebagai alat untuk membenahi sistem manajemen kinerja sehingga dapat survive. 10.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . Kelayakan operasional Merupakan kemauan. namun akan kemudian naik lagi secara perlahan. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif. dicari informasi tentang kemungkinan business intelligence dalam penghematan biaya. (2) analisis. 4 Desember 2007 . kemampuan manajemen. Pendekatan sistem digunakan untuk mengembangkan solusi sistem informasi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penyiapan implementasi business intelligence RS Duren Sawit 1. ±110 client serta Local Area Network yang mencakup seluruh rumah sakit.5. terlihat bahwa manajemen memberi dukungan yang positif karena kehadiran business intelligence yang sudah dirasakan sudah menjadi kebutuhan manajemen. peningkatan pendapatan dan keuntungan. measurement analysis and knowledge management. karena salah satu modul yang ada. 1) Dukungan manajemen: pada penyiapan implementasi business intelligence RS DS. kemudahan pencarian dokumen. e.3 Kriteria Layanan Kesehatan malcolm baldrige terdiri dari leadership. Penyiapan implementasi business intelligence dilakukan dengan pola System Development Life Cycle (SDLC) yang terdiri dari 5 tahap (investigasi sistem. namun tetap dapat melalui verifikasi lintas unit. analisis sistem. 178 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. desain sistem. process management serta business result. data. karyawan serta pihak lain yang mengoperasikan. unggul dan berkelanjutan. hemat waktu dan tenaga. Dalam hal ini manfaat business intelligence lebih pada kepentingan internal RS DS. strategic planning. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa penyajian data yang cepat bermanfaat terhadap berkurangnya beban kerja karena informasi cukup diinput satu kali. Langkah ini mencakup: (1) investigasi. pengurangan biaya alat tulis. (4) implementasi dan (5) pemeliharaan. mengharuskan seluruh karyawan untuk melakukan input data ke komputer. 3) Persyaratan pemerintah : persyaratan dan peraturan pemerintah bisa menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan sistem informasi. Analisis dilakukan pada penyiapan implementasi business intelligence berbasis malcolm baldrige.. Sejak awal rumah sakit telah berhemat dengan menghindari posisi-posisi yang tidak efektif. Peningkatan biaya implementasi terjadi pada fase awal ketika investasi sistem informasi dilakukan dan akan menurun seiring berjalannya waktu. d. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa business intelligence dapat mendukung proses bisnis RS DS dengan sajian informasi yang terintegrasi sehingga analisa bisa dilakukan dengan cepat. Manfaat berwujud 1) Pengaruh terhadap peningkatan penjualan Business intelligencememungkinkan perusahaan untuk menganalisa perubahan trend c.4. b. The malcolm baldrige criteria for performance excellence adalah sistem manajemen mutu yang berlaku di Amerika Serikat.

Belum ada nilai standar untuk keseluruhan informasi. serta kebanggaan bekerja di RS DS. Pengaruh terhadap ketersediaan informasi. other customer and market malcolm baldrige. jumlah pasien lama.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan dalam pasar. 2). No. mayoritas tahunan sebanyak 48. kemudian 40. Ketersediaan data saat ini seluruhnya masih dalam bentuk laporan manual dengan time interval update data setiap bulan.7% realtime dan sisanya bulanan. kemampuan analisis serta pengambilan keputusan Rumah Sakit Duren Sawit (RS DS) telah menerapkan beberapa tools manajemen mutu yang memerlukan pemantauan yang akurat sehingga strategi yang dihasilkan selalu up to date dengan permasalahan yang ada. 3). Pengaruh terhadap posisi kompetitif dan citra bisnis Rumah Sakit Duren Sawit (RS DS) merupakan rumah sakit daerah yang merintis implementasi business intelligence. pertumbuhan hari perawatan.2%. Vol. jumlah pasien rawat jalan baru. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. TOI serta AvLOS. jumlah pasien rawat jalan baru.5%. indikator-indikator mutu di input langsung ke komputer. customer satisfaction. kedisiplinan. redundansi data yang sebetulnya sudah terdapat dalam sistem. jumlah pasien lama. sedangkan 37% lagi dalam bentuk file non database dan sisanya dalam bentuk laporan manual. Tahap Analisis Sistem a. kapabilitas perusahaan serta kondisi pasar. sehingga siapapun yang berkepentingan terhadap informasi itu bisa langsung melihat sesuai dengan kewenanangannya. 2) Pengaruh terhadap biaya pemrosesan informasi dan efisiensi operasional Berkurangnya biaya pemrosesan informasi didapat dari berkurangnya beban kerja pengiriman dokumen lintas unit. preferensi pelanggan.4% selanjutnya Keuangan dan SDM. jumlah pasien rawat jalan baru. BOR. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan dan pasien gawat darurat. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan dan gawat darurat serta avarage length of stay. produk) diperlukan pada 29. waktu tunggu verifikasi dokumen. yaitu pada jenis revenue growth. Sebanyak 37% informasi memerlukan profil kompetitor. Manfaat tak berwujud 1). Kesemuanya tidak memerlukan kebutuhan forecast. Analisis kebutuhan informasi 1. profil pelanggan maupun tabulasi silang (pelanggan. Hal-hal tersebut bisa diminimalisir dengan business intelligence. Keseluruhan 3. sehingga lebih memimpin dalam sistem informasi yang keseluruhan outputnya dimanfaatkan untuk membuat keputusan yang akurat baik untuk bahan informasi maupun marketing untuk meningkatkan penjualan. perubahan dalam perilaku pelanggan. f. handling complaints dan customer loyalty. pola pembelanjaan. Tabulasi silang (pelanggan. Mayoritas wilayah data di bawah unit Electronic Data Processing (EDP) yaitu sebanyak 44.2% informasi saja yang perlu dilakukan forecast yaitu revenue growth. didapat 8 variabel informasi yaitu built customer relationship management. 4). 2. Kriteria strategic planning Didapat 27 variabel informasi yang keseluruhannya berasal dari balanced scorecard.6% informasi yaitu pada jenis hasil survei kepuasan pelanggan. Dengan business intelligence. Saat ini sebanyak 22. 10. jumlah pasien lama. mayoritas sudah dalam bentuk database yaitu sebanyak 40. geografi maupun produk). pertumbuhan hari perawatan. Kriteria focus on patients. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan serta pasien gawat darurat. masing-masing 18. BTO. Efek lain adalah dari sudut pandang balanced scorecard yang salah satunya memantau indikator kepuasan pelanggan dan jenis ini menjadi salah satu jenis informasi business intelligence RS DS. komplain pelanggan. 4 Desember 2007 179 . Keseluruhan wilayah datanya adalah unit SDM. Pengaruh terhadap perbaikan moral karyawan Moral karyawan dalam hal ini diwujudkan dalam bentuk etos kerja. Untuk time interval update data. other customer and market Dalam kriteria focus on patients. Dalam hal ketersediaan data. pertumbuhan hari perawatan. serta belum terdapat nilai standar untuk variabel ini. Kriteria leadership Didapat 8 variabel informasi yang semuanya berasal dari perilaku utama staf RS DS. Pengaruh terhadap perbaikan layanan pelanggan Secara langsung business intelligence bisa memberi gambaran yang cepat mengenai titik-titik rawan dalam pelayanan untuk kemudian mengambil langkah dengan cepat terhadap masalah tersebut. Business intelligence akan mewajibkan karyawan untuk melakukan input data yang menjadi tanggung jawabnya sehingga kedisiplinan akan meningkat. geografi.7%.

Jumlah variabel informasi terbanyak ada pada kriteria malcolm baldrige process management.8% kemudian rawat inap sebanyak 11. 6. didapat lima variabel informasi yaitu services modules. 4 Desember 2007 . 10. Jumlah variabel informasi yang diperoleh peneliti pada penelitian ini mencapai 147 variabel. OHSAS 18001 (patient safety. Nilai standar belum terdapat pada keseluruhan jenis. Vol. Nilai standar ada pada jenis product information dan handling complaints. sehingga akan dapat memudahkan pengguna business intelligence untuk mendapatkan informasi yang luas pada kategori ini sehingga akan memberikan lebih banyak alternatif pertimbangan pada pengambilan keputusan. K3). QMS ISO 9001:2000. Untuk time interval update data. Dalam hal ketersediaan data. profil kompetitor maupun 4. dimana 65 variabel diantaranya berasal dari proses kunci layanan RS DS. GKM dan 5R. sedangkan jenis seleksi yang merupakan bagian dari CBHRM data sudah tersedia dalam bentuk database. geografi. seluruhnya tiga bulanan kecuali sentralisir dan digitalisasi dokumen di MR yang time intervalnya realtime. angka kejadian malpraktik 0%. Kriteria measurement. PSC modules. Kriteria business result Kriteria business result malcolm baldrige terdiri dari dua jenis yaitu performance management dan human resources competencies. Ini menunjukkan standarisasi informasi yang telah berjalan dengan baik. Informasi sebanyak ini dengan berbagai atributnya merupakan hal yang cukup kompleks. Sebanyak 92. waktu layanan RJ umum 10 menit. response time layanan IGD <2 menit 95%. keseluruhannya dalam bentuk file non database. Untuk time interval update data. Profil kompetitor diperlukan pada jenis waktu layanan registrasi 5 menit. Untuk time interval update data.1%. Kapitalisasi Pengembangan Ide serta communication and skill sharing. attending system modules. psychiatry departement report serta sentralisir dan digitalisasi dokumen di Manager Representative (MR). sebanyak 84 variabel informasi.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . geografi. Keseluruhan data sudah memiliki nilai standar. kebutuhan jam training per orang per tahun serta pay for performance) dalam bentuk file non database.. angka kejadian medical error 0%. Kriteria process management Dari keseluruhan kriteria process management malcolm baldrige terdapat 84 jenis informasi yang keseluruhannya terdiri dari 6 kelompok yaitu proses kunci layanan kesehatan RSDS. tabulasi silang (pelanggan. 5. No.9% dan IPSRS sebanyak 9. Keseluruhan jenis tidak memerlukan forecast kecuali pada satu jenis yaitu peningkatan pertumbuhan 30% per tahun dalam 5 tahun. keseluruhan wilayah data ada di bawah unit SDM. didapat 13 variabel informasi yang terdiri dari 3 kelompok besar yaitu Competency Based Human Resources Management (CBHRM). pelayanan pasien narkoba dan pelayanan pasien nonjiwa.5%. 180 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. wilayah data ada di bawah unit Public Service Center (PSC) Dalam hal ketersediaan data. keseluruhan jenis kapitalisasi pengembangan ide serta communication and skill sharing intervalnya bulanan. kecuali sentralisir dan digitalisasi dokumen MR berada di bawah MR. Tabulasi silang (pelanggan. keberadaan business intelligence akan sangat membantu untuk mengambil keputusan yang tepat dari keseluruhan informasi tadi. profil kompetitor maupun tabulasi silang (pelanggan. analysis and knowledge management malcolm baldrige.9% data time interval update-nya adalah tiga bulanan. six sigma. keseluruhannya dalam bentuk file non database kecuali psychiatry departement report yang belum tersedia. Nilai standar belum terdapat pada keseluruhan jenis. Tidak ada informasi yang memerlukan forecast. 7. Untuk CBHRM. Tidak ada informasi yang memerlukan forecast. 3 jenis sisanya (training gap. produk). Kriteria human resources focus Dalam kriteria human resources focus malcolm baldrige. geografi dan produk) diperlukan pada jenis kepuasan pelanggan 80% pada pelayanan pasien jiwa. Dalam hal ketersediaan data. Terdapat 19 wilayah data dan yang terbanyak adalah di bawah unit MR sebanyak 23. serta peningkatan pertumbuhan 30% per tahun dalam 5 tahun. keseluruhan jenis kapitalisasi pengembangan ide serta communication and skill sharing masih dalam bentuk laporan manual. kapitalisasi pengembangan ide di bawah unit MR serta communication and skill sharing sifat wilayah datanya spesifik unit pelayanan. analysis and knowledge management Dalam kriteria measurement. Keseluruhan wilayah data ada di bawah unit EDP. dan keduanya digabung ke poin 5.1 karena kesamaan informasinya. seluruhnya bulanan. sedangkan jenis seleksi yang merupakan bagian dari CBHRM seluruhnya realtime dan sisanya interval tiga bulanan. produk). Mayoritas ketersediaan data sudah dalam bentuk file non database yaitu sebanyak 82. infeksi nosokomial <5%.. waktu layanan rawat jalan 40 menit.

Data mining Dengan banyaknya variabel data yang tersedia (147 variabel data). kesiapan untuk data integration menjadi suatu tantangan besar. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Secara keseluruhan. laporan manual 19%. Analysing Dengan kelengkapan variabel data yang dimiliki RS DS. 3. lalu file non database dan laporan manual. Namun ketersediaan data dalam bentuk file non database tetap lebih baik dibandingkan bentuk manual. ketersediaan data dalam bentuk non laporan manual yang cukup besar (81%) akan sangat membantu percepatan business intelligence. membedakan business intelligence dengan sistem informasi manajemen lainnya. keberadaan business intelligenceakan sangat membantu peroses pengambilan keputusan. Variabel informasi yang didapat termasuk kompleks. SDM dan electronic data processing. kemudian selanjutnya file database dan laporan manual. Vol. ketidakkonsistenan nilai data. implementasi business intelligece RS DS sudah cukup layak untuk dikembangkan. seperti juga halnya data integration di perusahaan lain. No. Fitur business intelligence Tipe-tipe analisa informasi berikut merupakan fitur yang disajikan oleh business intelligence yang sifatnya unik. Namun. Dashboard Kesiapannya sama dengan kesiapan fitur reporting yaitu cukup tinggi. 5. belum tersedia <1%). Transform. wilayah data manager representative dan public service center perlu diintervensi lebih lanjut untuk menyediakan data dalam format database. format data yang berbeda-beda. penelitian penyiapan implementasi business intelligence di RS DS sudah mencakup sekitar 15%-35% dari keseluruhan upaya pembuatannya. jika memperhatikan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pengolahan data. Lebih dari separuh ketersediaan data adalah dalam bentuk file non database. 2. Jika dilihat secara keseluruhan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Dari segi ketersediaan data. Dari ketersediaan data tersebut. tingkat kesiapan analisis cukup tinggi. karena akan melewati beberapa masalah seperti ketidakkonsistenan primary key. upaya penyiapan implementasi business intelligence RS DS telah mencakup 15% . Penyiapan Implementasi Ditinjau Dari Development Life Cycle System Upaya untuk melakukan tahap investigasi sistem yang menentukan tingkat kelayakan implementasi sistem informasi mencakup sekitar 5%-15% dari keseluruhan tahap. 1. Tiga wilayah data terbanyak adalah manager representative. nilai data yang tidak akurat. file non database 65%. Kriteria yang mendominasi adalah process management pada variabel Proses kunci layanan RSDS. sinonim dan homonim serta logika proses. sehingga lebih menunjang kesiapan implementasi business intelligence. 4 Desember 2007 181 . sudah 81% data tersedia dalam bentuk laporan non manual. Load (ETL) yang lebih lama dibanding data bentuk database. Secara keseluruhan. masih diperlukan sekitar 65%-85% lagi untuk mencapai implementasi business intelligence secara keseluruhan dan proses ini melibatkan lebih banyak pihak lagi dalam penyusunannya agar menghasilkan suatu informasi yang bernilai tinggi bagi RS DS. Data integration Dalam konteks business intelligence RS DS. sehingga kesiapannya cukup tinggi untuk dikonversikan ke dalam business intelligence. Ditinjau dari segi kelayakan. 10. 4. Jika dilihat dari upayanya. ketersediaan data dalam bentuk selain database membutuhkan lagi langkah yang lebih panjang yaitu melalui proses Extract. Reporting Dengan telah diidentifikasikannya kebutuhan data dalam bentuk matriks hasil penelitian. Tahapan analisis sistem yang menghasilkan analisis kebutuhan informasi mencakup 10%-20% dari total upaya untuk mengembangkan sebuah sistem informasi.35% dari keseluruhan tahapan system development life cycle. Kriteria business result sudah tercakup dalam kriteria-kriteria lain. Bentuk file non database tetap dimungkinkan untuk diintegrasikan ke dalam business intelligence. mengingat variabilitas format informasi yang tersedia (database 16%. kesiapan untuk dilakukan data mining menjadi cukup tinggi. Manajemen dapat mengungkap korelasi bermakna antar data yang tersembunyi sebelumnya. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. maka tingkat kesiapan paling tinggi adalah ketersediaan data dalam bentuk database. sedangkan kriteria lainnya selain business result masih perlu lebih dirinci lagi. kesiapan untuk fitur reporting menjadi cukup tinggi. Ketersediaan data dalam bentuk database baru mencakup 16% dari keseluruhan data dengan kontributor terbesarnya adalah balanced scorecard dalam kriteria strategic planning.

1998. 2003. Peningkatan motivasi internal para karyawan tentang pentingnya implementasi sistem informasi di lingkungan rumah sakit serta keuntungan positif apa saja yang akan diperoleh karyawan dengan sistem informasi tersebut akan membawa dampak positif bagi kemajuan implementasi di luar pelatihan-pelatihan yang sudah rutin dilakukan saat ini. 2005. Management Information System. Ketaatan input data karyawan disertakan dalam sistem remunerasi yang saat ini sudah berjalan. Iskandar.. 2006. Prentice Hall. Boston. Atre. Shaku. New Jersey. Larissa T.. Mc Leod. Leman. dan gagasamanajemen terhadap sistem yang digunakan juga sangat diperlukan. Gambar 1 . Business Intelligence Roadmap. Melibatkan pemakai akhir dari mulai untuk menentukan persyaratan fungsional untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam implementasi sistem. Bagi informasi yang ketersediaan datanya masih dalam bentuk file non database. Telkom Training Center dan Wahana Kendali Mutu. Catur. 6. Hal ini dilakukan untuk mempercepat implementasi dan mendapat manfaat optimal dari business intelligence. Masing-masing penanggung jawab wilayah data menuangkan variabel informasinya dalam bentuk informasi yang terstandar menjadi bentuk database..Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . 2007. Knowledge management yang sudah ada terus dikembangkan dan disentralisir dalam wadah aplikasi business intelligence untuk memudahkan evaluasi serta update informasi-informasi terbaru yang terus berkembang. CHIP Magazine. O Brien. Penyiapan Implementasi Business Intelligence 182 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. diperlukan kesepakatan mengenai konsistensi data untuk mempercepat implementasi business intelligence. McGraw-Hill. Introduction to Information Systems. Metodologi Pengembangan Sistem Informasi. New York. Business Intelligence. dan implementasi sistem lalu selanjutnya pemeliharaan sistem untuk percepatan implementasi business intelligence RS DS. No. 4 Desember 2007 . Perlu dilakukan percepatan implementasi business intelligence untuk mendapatkan manfaat optimalnya. 5. 4. KEPUSTAKAAN 1. Saran Sosialisasi penggunaan sistem informasi serta pelatihannya perlu dilakukan terus. Sadikin. 1998. Elex Media Komputindo.6(1) Juni :140-144. Edisi II. 3. 10. 2. Vol. utamanya bagi wilayah data yang mayoritas informasinya masih dalam bentuk laporan manual. 12th ed. Meneruskan tahapan system development life cycle pada tahap desain sistem. Bunga Rampai Kriteria Bisnis Malcolm Baldrige National Quality Award (MBNQA). Jakarta. Pearson Education. Moss.

Sample adalah keseluruhan dari jumlah populasi sebanyak 32 orang. giving training continuously to all midwives.4%) dan motivasi cukup (91. giving incentive/rewards to them by the head of Puskesmas to improve their performance. a midwife must have the high motivation which drives them to give the better service to patients. Metode: Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bidan yang bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan.3%). Nurhamsa Mandak2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan.1 Negara kita AKI masih menduduki urutan tertinggi di negara ASEAN.200 Artikel Penelitian DETERMINAN KINERJA BIDAN DI PUSKESMAS TAHUN 2006 DETERMINANT OF MIDWIVES PERFORMANCE AT PUBLIC HEALTH CENTRE AT 2006 Sukri Palutturi1. keterampilan cukup (83. Methods: Population of this research were all the midwives staff working at Puskesmas Tual and Un at the Sub District of South Dullah Island. serta lambatnya penurunan kedua angka tersebut. South East Maluku Regency for year 2006. waktu kerja sekitar lima tahun (71. 4 Desember 2007 195 . seorang bidan harus mempunyai motivasi yang tinggi yang mendorong mereka dapat memberikan PENGANTAR Masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan masalah nasional yang perlu mendapat prioritas utama karena sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pada generasi mendatang. menunjukkan bahwa pelayanan KIA sangat mendesak untuk ditingkatkan baik dari segi jangkauan maupun kualitas pelayanannya. Kata Kunci: pengetahuan. Vol. Maluku Tenggara 1 ABSTRACT Background: The placement program of village midwives is mostly influenced by the capability and skill of village midwives.0%). memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengikuti pelatihan secara terus menerus serta memberikan insentif untuk meningkatkan kinerja bidan. The type of this research is observational research by using the cross sectional study approach. The objective of this research is to determine factors correlating with the midwives performance at Puskesmas of South Dullah Island Sub District. keterampilan dan motivasi mempunyai hubungan dengan kinerja bidan.3%). keterampilan. The good performance of midwives were caused by the sufficient knowledge (84. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 195 . Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006. 10. the work time didn’t have correlation with the midwives performance. kinerja ABSTRAK Latar belakang: Program penempatan bidan desa pada umumnya dipengaruhi oleh kemampuan dan keterampilan bidan desa itu sendiri.2 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. skills and motivations correlate with the performance of midwives. adequate skill (83. Namun demikian. kepala Puskesmas sebaiknya melakukan observasi secara regular. jam kerja. South East Maluku regency for year 2006. Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006. Kepada Kepala Dinas kesehatan diminta untuk menyediakan kit bidan agar dapat menjalankan tugas mereka lebih baik. 307/100. South East Maluku Regency for year 2006. Hasil dan Kesimpulan: Pengetahuan. work time. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. motivation. Meanwhile. Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Jenis penelitian ini adalah obeservasi dengan pendekatan cross sectional study. Recommendation: The research suggests that to improve the knowledge of midwives about the equipment use and reporting their task. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja bidan di Puskesmas Kecamatan Pulau Dullah Selatan. Sample were all the midwives staff giving the midwifery service and working at Puskesmas Tual and Un at the Sub District of South Dullah Island. and the health office at district must provide the minimal kit midwives. Therefore a midwife has to have adequate knowledge about the midwifery particularly obtained from the formal and non formal education. Makassar 2 Puskesmas Tual. skill. Seorang bidan harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kebidanan khususnya yang diperoleh dari pendidikan baik formal maupun non formal seperti pelatihan. Kinerja bidan yang baik dipengaruhi oleh pengetahuan yang cukup (84.0%).JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. Nevertheless. No. sedangkan AKB di Indonesia sebesar 35/1000 kelahiran hidup dan yang terendah adalah Singapura yaitu 3/l00 kelahiran hidup. work time about five years (71.3%). Results and Conclusion: Knowledge. Rekomendasi: Penelitian ini menyarankan bahwa untuk meningkatkan pengetahuan bidan tentang penggunaan alat dan sistem pelaporan. Sementara jam kerja tidak berhubungan dengan kinerja bidan.4%) and adequate motivation (91. performance pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada pasien. Keywords: knowledge. Nurhayani1. the head of Puskesmas is better to do the continuously observation about the filing of report format and the using of equipment.000 kelahiran hidup pada tahun 2002. motivasi.3%). Participants obtained were 32 respondents. such as training.

Sukri Palutturi.. dan AKI terbanyak di Kabupaten Maluku Tenggara sebanyak 10/kelahiran hidup.2 Salah satu upaya yang dilakukan Departemen Kesehatan dalam mempercepat penurunan AKI adalah mendekatkan pelayanan kebidanan kepada setiap ibu yang membutuhkannya.829 atau 62%. dan cakupan TT 1 (85. pendengaran. Masih tingginya AKB dan AKI menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan masih belum memadai dan belum menjangkau masyarakat banyak.000 kelahiran hidup tahun 2015.719 atau 80% dan K4 22. Oleh karena itu.829 atau 62% cakupan TT1 27. No.408 atau 62% dan K4 2871 atau 52% cakupan Fel 3. khususnya dipedesaan. Di 196 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.829 atau 62% cakupan Fe1 27. 4 Desember 2007 .72%) dan K4 (75. bayi dan anak balita.719 atau 80% dan Fe3 22.408 atau 62% dan cakupan TT2 2871 atau 52%. AKB pada tahun 2005 sebanyak 82/100. Untuk itu diperlukan suatu instrumen untuk memantau kinerja bidan di desa.000 kelahiran hidup. seorang bidan harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai keperawatan khususnya kebidanan baik yang diperoleh melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Seseorang bidan dituntut untuk menggunakan kemampuan dalam berbagai aspek kehidupan khususnya dalam memberikan pelayanan pada pasien. standar untuk cakupan Kl yaitu minimal 90% dan K4 minimal 80%.000 kelahiran hidup menjadi 225/100. Selain itu.5 Berdasarkan laporan yang ada pada Dinas Kesehatan di Provinsi Maluku dari 5 Kabupaten Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2005 sebanyak 36/100. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga baik melalui pendidikan formal maupun non formal.10%). 10. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan merupakan sekumpulan bahan yang luas dengan hal-hal yang terperinci yang tetap dipelajari sebelumnya serta mengingatkan hal tersebut sebagai bahan yang sudah diketahui.000 kelahiran hidup dan AKB dari 35/100.408 atau 62% dan Fe3 2871 atau 52% cakupan TT1 3.719 atau 80% dan TT2 22.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas .45%). dkk.120 bidan di desa.5 Di Kabupaten Maluku Tenggara yang terdiri dari 17 puskesmas dengan cakupan K1 3.1 Keberhasilan seseorang dalam mewujudkan tujuan dan harapannya sangat ditentukan oleh masa kerja yang dimiliki. Vol.000 kelahiran hidup menjadi 20/1000 kelahiran hidup.47%)dan Fe3 (63. seperti pelatihan.3 Penempatan bidan di desa adalah upaya untuk menurunkan AKI. penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia yaitu indera penglihatan. penciuman rasa dan raba. disiplin dan motivasi tenaga bidan yang tinggi dalam pelayanan kebidanan bagi masyarakat merupakan harapan bagi semua pengguna pelayanan kebidanan. Tindakan (KI-K4) yang diberikan oleh petugas kesehatan (bidan) pada saat pemeriksaan kehamilan seorang ibu di pusat pelayanan kesehatan (puskesmas) akan banyak berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya karena dengan pemeriksaan yang lengkap akan mudah mendeteksi kelainan . sehingga dengan demikian dapat memberikan dampak yang positif sesuai dengan bidang ilmu yang dimilikinya. sedangkan target Internasional AKI di bawah 125/100. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa hampir semua desa di wilayah Indonesia mempunyai akses untuk pelayanan kebidanan.6 (Profil Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara).sekunder dan tertier.000 kelahiran hidup..4 Jadi pengetahuan dapat diartikan sebagai hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan pada objek tertentu. Selain itu seorang bidan juga harus memiliki motivasi yang tinggi sehingga timbul dorongan dalam dirinya untuk memberikan pelayanan kebidanan yang baik kepada pasien.kelainan yang mungkin terjadi pada saat kehamilan atau menjelang kelahiran.000 kelahiran hidup tahun 2005 dan 75/100. Kesehatan ibu hamil dapat dicapai bila kehamilan diperiksa secara teratur dan risiko yang ditemukan ditangani secara memadai. Namun bidan di desa yang sudah ditempatkan belum didayagunakan secara optimal dalam upaya menurunkan AKI dan AKB. dan AKB terbanyak di Kabupaten Maluku Tenggara sebanyak 45/kelahiran hidup dengan cakupan KI 27. Secara nasional tahun 1999 K1 (92. Peningkatan kesehatan ibu dan bayi di Indonesia adalah salah satu komitmen Departemen Kesehatan melalui penerapan rencana pengurangan angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi dan target untuk menurunkan AKI dari 307/100. dan AKB menjadi 15/1000 kelahiran hidup. Untuk itu sejak tahun 1990 telah ditempatkan bidan di desa yang pada tahun 1996 telah mencapai target 54.10%) dan TT2 (78.Untuk itu diperlukan tenaga bidan yang memiliki kualitas profesional yang dapat memberikan pelayanan kebidanan yang efektif dan efisien serta berkualitas yang akhirnya dapat membantu memperbaiki dan meningkatkan kesehatan masyarakat dengan berorientasi pada upaya-upaya pencegahan baik pencegahan primer. Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek. Keberhasilan program penempatan bidan di desa sangat dipengaruhi kemampuan dan keterampilan bidan di desa di samping faktor lingkungan dan faktor kebutuhan masyarakat itu sendiri. cakupan tablet Fel (77.66%).

4 Desember 2007 197 .0 1 14. untuk cakupan pemeriksaan ibu hamil atau KI sebesar 70. Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 Pengetahuan Cukup Kurang Total Kinerja Baik Kurang n % n % 21 84.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kecamatan Pulau Dullah Selatan (Puskesmas Tual dan Un). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kinerja tenaga bidan dalam pelaksanaan standar pelayanan kebidanan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan tahun 2006. Hubungan pengetahuan dengan kinerja bidan Tabel 1 menunjukkan dari 25 responden (78. No.14% dan cakupan TT2 65%.8 10 31.7 Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan pendekatan Cross Sectional Study7 untuk mengetahui hubungan pengetahuan. Data sekunder diperoleh dari laporan cakupan program KIA (PWS KIA) Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. cakupan Fe l 60. motivasi dan kinerja bidan di Puskesmas Tual dan Un Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.000 ( p< 0. sedangkan dari 7 responden dengan pengetahuan yang kurang terdapat 1 responden (14. masa kerja.0 4 16. keterampilan. A. Kedua: deskriptif variabel penelitian yaitu variabel independen mengenai pengetahuan.7%) memiliki kinerja kurang. sedang dari 8 responden dengan keterampilan kurang Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10.10% dan cakupan Fe 3 65% sedangkan cakupan TT 1 70. tabulasi silang antara variabel independen dengan variabel dependen. Tabel 1.05 ) maka Ho ditolak.0%) memiliki kinerja kurang. Untuk lebih memperjelas hasil pemaparan penelitian maka dibagi dalam tiga bagian yaitu pertama: karakteristik responden untuk mendeskripsikan karakteristik responden yaitu tingkat pendidikan dan umur. Populasi dan sampel Populasi adalah semua tenaga bidan yang bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006 dengan total sampel sebanyak 32 bidan.3%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (85.7%) memiliki kinerja kurang. masa kerja dan motivasi dan variabel dependen yaitu kinerja. Ketiga. Penyajian data yang telah diolah. Pengolahan dan penyajian data Pengolahan data dilakukan dengan cara elektronik.3 Total n 25 7 32 % 78. keterampilan. Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan pada Puskesmas Tual dan Un Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara dengan pertimbangan belum pernah dilakukan penelitian tentang kinerja tenaga bidan di lokasi tersebut. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.14% dan cakupan K4 65%. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan antenatal belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Hubungan keterampilan dengan kinerja bidan Tabel 2 menunjukkan dari 24 responden (75. Cakupan K1 ini dapat menggambarkan tingkat upaya kesehatan ibu dan anak dan perilaku kesehatan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya. dilakukan dalam bentuk cross tabel dan narasi.1%) dengan pengetahuan yang cukup terdapat 21 responden (84. Besar sampel sebanyak 32 responden bidan dengan menjawab pertanyaan yang diberikan pada kuesioner. yaitu dengan menggunakan komputer (program SPSS versi 11.0%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (16.0%) dengan keterampilan yang cukup terdapat 20 responden (83.3 6 85.9 100 Sumber : Data Primer B. Metode pengumpulan data Data ini diperoleh dengan cara observasi atau pengamatan terhadap kegiatan pemeriksaan ibu hamil yang dilakukan oleh tenaga bidan.3%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (16. Hal ini berarti ada hubungan antara pegetahuan dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.7 22 68. di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.5). Vol. Penelitian dilaksanakan mulai bulan April 2006 sampai dengan bulan Mei 2006. Total sampel yang diperoleh sebanyak 32 bidan.1 21. Hasil dari penelitian diuraikan pada tabel dan penjelasan berikut. Sampel adalah semua tenaga bidan yang melakukan pelayanan kebidanan dan bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006.

Hasil uji statistik menunjukan bahwa ada hubungan antara Sumber : Data Primer d. khususnya setelah diberikan pendidikan formal maupun non formal.3%) memiliki kinerja baik dan 2 responden (8.3 2 8. Hal ini berarti ada hubungan antara keterampilan dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Vol.3 n 21 11 32 Total % 65. Dalam penelitian ini. Tabel 2. 1. Hasil penelitian terhadap kinerja bidan pada bagian sebelumnya memberikan acuan untuk membahas keempat faktor tersebut terhadap kinerja.05) maka Ho diterima.0%) yang mempunyai kinerja kurang. No.6%) memiliki kinerja kurang.1 8 88. Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi. Hasil penelitian menunjukkan dengan pengetahuan yang baik sebanyak 21 bidan (84.9%) memiliki kinerja kurang. Hubungan masa kerja dengan kinerja bidan Tabel 3 menunjukkan dari 21 responden (65.9 9 28.8 10 31..1%) memiliki kinerja baik dan 8 responden (88.. sedang dari 11 responden dengan masa kerja yang tidak lama terdapat 7 responden (63.3 Total n 24 8 32 % 75. adanya motivasi yang kuat merupakan pendorong yang memadai serta adanya kepemimpinan dan bidan itu sendiri.05) maka Ho ditolak.05 ) maka Ho ditolak. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.4 63.6 34. sedang dari 9 responden dengan motivasi yang kurang terdapat 1 responden (11.7 23 71.4%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (28.002 ( p< 0. terdapat 2 responden (25.6%) dengan masa kerja yang lama terdapat 15 responden (71. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.7 2 25.1 Total 22 68.6 68.0 25. menyaksikan.9 Kurang 1 11.0%) memiliki kinerja kurang.0 22 68. Tabel 3.4 100 PEMBAHASAN Kinerja adalah penampilan hasil kerja personal baik kualitas maupun kuantitas dalam suatu organisasi. Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006 Masa Kerja (Tahun) Lama (> 5 tahun) Tidak Lama (< 5 tahun) Total Kinerja Baik n 15 7 22 % 71. faktor organisasi yang terdiri dari: kepemimpinan dan struktur imbalan/kompensasi serta faktor-faktor psikologis yang meliputi: motivasi dan kepuasan kerja.6 36.4%) memiliki kinerja kurang. Hubungan Keterampilan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 hubungan antara Motivasi dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.Sukri Palutturi.9 Kinerja seseorang terkait erat dengan proses kerja dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.9%) dengan motivasi yang cukup terdapat 21 responden (91.8 10 31.000 (p< 0.4 31. Hal ini berarti tidak ada hubungan masa kerja dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.652 (p> 0. Hal ini berarti ada 198 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.0%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (75. dkk. dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal. sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing. Pengetahuan dengan kinerja bidan Pengetahuan adalah apa yang diketahui dan mampu diingat oleh setiap orang setelah mengalami. Hubungan motivasi dengan kinerja bidan Tabel 4 menunjukkan dari 23 responden (71. Untuk kinerja bidan maka faktor yang paling berpengaruh dan merupakan faktor kunci untuk mencapai hasil kerja yang baik harus memiliki kemampuan dan keterampilan yang baik.3 32 100 Sumber : Data Primer Keterampilan Cukup Kurang Total Kinerja Baik Kurang n % N % 20 83. mengamati atau diajar sejak lahir sampai dewasa. 4 Desember 2007 .0 100 Sumber : Data Primer C. Pembahasan lebih lanjut sebagai berikut.7%) memiliki kinerja kurang. faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja meliputi faktor individu keterampilan. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.6%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (36.3 4 16. 10.8 Kurang n % 6 4 10 28.0%) yang memiliki kinerja yang baik sedangkan dengan pengetahuan yang kurang menyebabkan 4 bidan (16.0 6 75. Hubungan Motivasi dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 Kinerja Total Motivasi Baik Kurang n % n % n % Cukup 21 91.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas . tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral atau pun etika. Tabel 4.

7%) memiliki kinerja kurang. 4.3%).7%) memiliki kinerja kurang.6%). 3.3%) yang memiliki kinerja baik dan dengan motivasi yang kurang terdapat 2 bidan (8. akan bekerja lebih terarah. Akan halnya motivasi kerja adalah sesuatu hal yang berasal dari internal individu (keinginan.11. Motivasi berhubungan dengan kinerja bidan. 10. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki keterampilan cukup (83.4%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara keterampilan dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Hasil penelitian menunjukkan dari 21 bidan yang masa kerja lama sebanyak 15 bidan (71. Dari hasil penelitian menunjukkan bidan yang telah mengikuti pelatihan yang sesuai dengan tugasnya sehari-hari.0%). dan kesukaan) yang menimbulkan dorongan atau semangat untuk bekerja keras. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara massa kerja dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. No. kemudian selama <5 tahun sebanyak 11 responden (34. kemampuan dan keterampilan.13. Masa kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah khusus pelatihan tentang standar pelayanan kebidanan. Motivasi dengan kinerja bidan Motivasi adalah kesiapan khusus seseorang untuk melakukan atau melanjutkan serangkaian aktivitas yang ditujukan untuk mencapai beberapa sasaran yang telah ditetapkan.12 Hasil penelitian menunjukkan dengan keterampilan bidan yang baik sebanyak 20 bidan (83.4%) dengan kinerja baik dan sebanyak 6 responden (28.1%). Keterampilan bidan berhubungan dengan kinerja bidan. Diharapkan Kepala Puskemas untuk melakukan pemantauan secara berkala terhadap bidan tentang pengisian format laporan dan penggunaan peralatan serta cara pelayanan dalam menggunakan standar pelayanan kebidanan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pengetahuan dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara 2.3%) dibanding keterampilan kurang (25. 4 Desember 2007 199 . Pengadaan minimal bidan kit kepada semua bidan yang bertugas oleh Dinas Kesehatan sehingga bidan dapat melaksanakan standar pelayanan kebidanan dengan baik. Keterampilan dengan kinerja bidan Menjalankan tugas dan tanggung jawab secara profesional dengan melaksanakan fungsi sebagai bidan menuntut suatu keterampilan sebagai bidan yaitu merencanakan asuhan keperawatan sesuai dengan hasil pengkajian kebutuhan dan masalah keperawatan kebidanan. Masa kerja bidan tidak berhubungan dengan kinerja bidan. Saran Diharapkan kepala Dinas Kesehatan Kabupaten untuk memberikan pelatihan secara kontinyu kepada semua bidan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pulau Dullah Selatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan bidan dalam menerapkan standar pelayanan kebidanan yang baik. Masa kerja dengan kinerja bidan Masa kerja merupakan suatu proses pendidikan formal untuk mengubah.3%) dibanding pengetahuan kurang (14. Agar Kepala Puskesmas memperhatikan pemberian insentif kepada semua bidan dan penghargaan kepada bidan yang mempunyai prestasi sehingga dapat menjadi salah satu pemicu peningkatan kinerja mereka. Vol.3%) dibanding yang memiliki motivasi kurang (11. Dari hasil penelitian diperoleh distribusi terbesar sebagian besar responden telah bekerja =5 tahun sebanyak 21 responden (65. Hal ini disebabkan pelatihan memiliki arti yang luas bahwa sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan SDM terutama di dalam hal pengetahuan. Bidan yang mempunyai kinerja baik lebih banyak memiliki motivasi cukup (91. kebutuhan. dan mereka dapat menampilkan kinerja yang baik pula. 10. lebih lancar dalam melaksanakan pekerjaan yang dibebankan kepadanya. harapan.3%) memiliki kinerja yang baik sedangkan dengan keterampilan yang Baik sebanyak 4 bidan (16.4%). Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki pengetahuan cukup (84.6%). memperbaiki. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara motivasi dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki Masa kerja hampir sama antara yang telah bekerja selama 5 tahun atau lebih (71. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pengetahuan bidan berhubungan dengan kinerja bidan. dibanding dengan bidan yang telah bekerja kurang dari 5 tahun (63. meningkatkan dan mengembangkan kemampuan personil dalam jangka waktu relatif singkat yang mengutamakan pengetahuan praktis sehingga personil dapat melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.14 Hasil penelitian menunjukkan dengan motivasi yang baik sebanyak 21 bidan (91.6%) dengan kinerja yang kurang.

10. 1999.gizi. Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara. KEPUSTAKAAN 1. S. Metodologi penelitian kesehatan. Thabrany H. Prawirosentono. Jakarta. 4 Desember 2007 . Notoadmojo..cgi?newsid 1087441546. 6. No. 1999. Cetakan I.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas . Panduan Kesehatan dan Alternatif Mobilisasi Dana Kesehatan di Indonesia. Bandung. S.net/cgi-bin/berita/fullnews. Cetakan II. Y. Maluku Tenggara. cetakan kedua. Vol. Jakarta. RI. 2005. IBI. Penilaian. Ilyas. Maluku Tenggara. dkk. 1994. Jakarta. 7. Panduan Bidan di Desa Bagian I & II. Kinerja (Teori. Depkes. Profil Kesehatan Indonesia.. Puskesmas Tual dan Un. 1999. 13. Menekan angka kematian ibu dan anak. P. Gizi Net. diakses pada 3 Maret 2006 di http:// www. 12. Penelitian). 4. Mei 1999. Profil Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara. 200 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Jakarta. 2005. 11. 8. 2001. Jakarta: 1999. 5. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan Depok. Sugiono. Bali. 9. 14. Metode Penelitian Administrasi. 10. FKMUI. Panduan Bidan Tingkat Desa.T. Kode etika kebidanan.Sukri Palutturi. Y. 2000.40265. 2003. Rineka Cipta. Profil Puskesmas Tual dan Un. Yogyakarta. Ikatan Bidan Indonesia. 1999. Kebijakan Kinerja Karyawan. Penelitian). Depok. Jakarta. Ilyas. Jakarta. Penilaian. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan. FKMUI. Depkes RI. Alfabeta. 2. Profesi Kebidanan. 3. Depkes RI. Kinerja (Teori. 2005.

Dalam bab ini dibahas tujuh sub pokok bahasan. 4 Desember 2007 201 . Bab 2. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan rekomendasi melalui penilaian modul. Aktivitas kelima adalah menyiapkan ceklis logistik. Aktivitas ketujuh adalah mengumpulkan dan mereview materi latar belakang. Aktivitas terakhir adalah menyiapkan laporan penilaian. kerangka waktu. No. pembiayaan kesehatan. Phase 2. menguraikan mengenai tinjauan pendekatan yang digunakan. Aktivitas kesembilan adalah mengatur menyiapkan workshop dengan stakeholder terkait. Kegiatan selanjutnya adalah mempersiapkan penaksiran anggaran. Secara umum buku ini memaparkan mengenai alat (tools) dalam penilaian cepat terhadap fungsifungsi kunci sistem kesehatan mencakup: pemerintahan. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Phase 4. Penggunaan bahasa yang mudah dimengerti. Bab ini terdiri dari lima sub bahasan. Bab 4. kesepakatan terhadap ruang lingkup. Bahasan kedua sampai kedua belas merupakan latihan atau kegiatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 10 No. Bab ini terdiri dari dua belas sub bahasan. Bahasan kelima menjelaskan mengenai manajemen dan organisasi untuk pelayanan kesehatan. Bahasan pertama merupakan pengantar. Aktivitas keenam adalah membuat jadual dan menyusun rencana pertemuan dengan tim. kebijakan dan advokasi. 04 Desember 2007 Halaman 201 . Bab 1. Bahasan kedua dan ketiga merupakan komponen dari modul utama. membahas mengenai penemuanpenemuan final dan rekomendasi dari beberapa penilaian laporan. Masing-masing fungsi sistem kesehatan ini diuraikan di masing-masing bab secara lebih detil. SDM kesehatan. Bahasan ketiga menguraikan mengenai pembiayaan kesehatan. Bahasan terakhir menjelaskan mengenai strategi dalam penguatan sistem kesehatan beserta implikasinya. yaitu bahasan pertama merupakan pengantar mencakup definisi sistem Kesehatan dan penguatan sistem kesehatan. Vol. Bab 3. Bahasan ketiga menguraikan mengenai tinjauan terhadap modul teknis dan bahasan terakhir menguraikan mengenai hasil yang diharapkan dari penilaian. merupakan pengantar yang mengulas mengenai pengenalan terhadap kekuatan sistem kesehatan. Aktivitas keempat adalah memasang penaksiran tim beserta tanggung jawab dari masing-masing personil dari tim. Phase 1. manajemen farmasi dan perbekalan kesehatan serta sistem informasi kesehatan. membahas mengenai perencanaan dan penyusunan penilaian. Bab ini terdiri dari empat pokok bahasan. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bab ini terdiri dari tiga sub bahasan. Komponen Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10. Kegiatan yang dimaksud mencakup 11 kegiatan yaitu : mengidentifikasikan kebutuhan dan prioritas dari misi USAID. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan kesimpulan awal untuk masing-masing modul. Bahasan keenam memaparkan mengenai sistem informasi kesehatan. Bahasan pertama merupakan pengantar. konsep yang sejalan dengan WHO dan disertai contoh-contoh aplikasi sistem kesehatan di beberapa negara menjadikan buku ini sangat mudah dipahami dan aplikatif. Bab 5.202 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Buku Pengarang Penerbit Tahun Tebal : : : : : Health Systems Assessment Approach : A How to Manual USAID Mursaleena Islam 2007 374 halaman B uku ini terdiri dari 11 bab. Bahasan keempat menjelaskan mengenai sumber daya manusia dan sumberdaya fisik lainnya. pelayanan kesehatan. dan penilaian terhadap penentuan waktu. Aktivitas kesepuluh adalah melakukan wawancara akhir sesuai kebutuhan. Bahasan kedua menguraikan mengenai stewardship (dalam hubungannya dengan pemerintahan). Konsep yang digunakan dalam buku ini juga sejalan dengan apa yang digunakan oleh WHO terhadap konsep sistem kesehatan. Bahasan kedua memaparkan mengenai kerangka kerja konseptual dalam pendekatan penilaian sistem kesehatan. membahas mengenai persiapan dan implementasi bagian pengesahan. Bahasan pertama merupakan pengantar. membahas mengenai modul utama. Phase 3. Bahasan kedua dan keempat merupakan tahapan dalam pengembangan rekomendasi. Aktivitas kedelapan adalah menyiapkan daftar contact person dan daftar narasumber untuk melakukan wawancara.

Bahasan ketiga menguraikan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan bahasan terakhir merupakan kesimpulan dan beberapa penyusunan rekomendasi. Bahasan pertama merupakan pengantar. penyebab utama mortalitas dan morbiditas. konsultan. Bahasan ketiga membahas mengenai penilaian berdasarkan indicator. Bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil pembiayaan kesehatan. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bab 10. 4 Desember 2007 . menguraikan mengenai modul sistem informasi kesehatan. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. 10. Bab 9. Secara keseluruhan buku ini sangat bagus sekali sebagai tambahan bahan referensi bagi pakar. Bahasan ketiga menguraikan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan bahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Pembahasan pertama merupakan pengantar. yaitu Bab 11. pembahasan kedua penyusunan profil mengenai manajemen farmasi. Bab ini terdiri dari 4 sub pembahasan. Bahasan ketiga mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir mengenai kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Bab 7. bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil sumberdaya manusia. Bab 6. Bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil pelayanan kesehatan. Sementara komponen kedua memuat mengenai: politik dan lingkungan makroekonomi. Bahasan ketiga menjelaskan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Bahasan ketiga menjelaskan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. membahas mengenai modul sumber daya manusia kesehatan. akademisi dan pengajar terkait dengan seluk-beluk mengenai sistem kesehatan dan komponen pembentuk sistem. Pembahasan pertama mengenai pengantar. Bahasan pertama merupakan pengantar. Vol. Bahasan kedua menjelaskan mengenai penyusunan profil pemerintahan. kesehatan reproduktif. angka kematian.Resensi pertama memuat mengenai : pertambahan penduduk. membahas mengenai modul pembiayaan kesehatan. peneliti. Rimawati (Divisi Public Health Policy) rima_mhugm@yahoo. Bab ini terdiri dari empat sub pokok bahasan. Selanjutnya yang termasuk dalam komponen kedua ini adalah desentraliasi. pendapatan dan ketidak adilan. Karena di dalam buku ini dikupas secara detil dan jelas komponen demi komponen pembentuknya. bahasan kedua menjelaskan mengenai penyusunan profil sistem informasi kesehatan. Sub bahasan pertama merupakan pengantar. memaparkan mengenai modul manajemen yang berkaitan dengan farmasi.com 202 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. Bab 8. kelembagaan lembaga pemerintah dan kelembagaan swasta yang terkait dengan sistem pelayanan kesehatan. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. Pada bagian akhir. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. lingkungan bisnis dan suasana investasi. membahas mengenai modul pemerintahan. No. pemetaan donor/pemberi dana serta keterkaitan dari masing-masing donor atau pemberi dana. membahas mengenai modul pelayanan kesehatan. kelembagaan pelayanan kesehatan. Sub bahasan terkhir menjelaskan mengenai kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi terkait mengenai sistem informasi kesehatan.

'placement' means the act of placing or putting in place. medical record within 12 hours.com English Dictionary. Vol.bnet. and attendance at monthly meeting has greater coverage than non-contracted group. 2008 from http://dictionary.html 3. 10. the state of being placed. Elsa Pudji Setiawati. proposed the local government and states that they are not able to nominate non-permanent personnel. Moreover on districts/cities having income is low.com PREDICTING WILLINGNESS TO EXTEND CONTRACTUAL ASSIGNMENT AMONG MEDICAL DOCTOR IN WEST JAVA Written by Irvan Arfandi. retrieved April 13. whether 64.com/definition/ placement. Incentive has a significant role to raise their performance. some doctors prefer for doing private doctor or other businesses. 10/No. stated that the income covers main salary.wordreference.4 This study will be better if the individual background of non-permanent doctors is retested to determine.217 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo. hospital for disaster aid (article 12). BNET Business Dictionary. This study mentions that is only one third of all nonpermanent personnel among medical doctor want to extend their contractual period. Probably. 04 Desember Korespondensi 2007 Halaman 216 . References: 1. provincial/ district/city region with high potencies to get conflict. 4 Desember 2007 . or whether 64. Their willingness will differ from living in outside of West Java or within West Java. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1540/Menkes/SK/XII/2002 tentang Penempatan Tenaga Medis melalui 216 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. incentive or salary is also one reason why among non-permanent doctors are unwilling to extend their contractual period. A research conducted shows that hospitalists Appling incentive system such as incentive for meeting standard. Vol.2% of females who is unwilling to extend their contract are people getting married or still single. the local government has an important role in medical doctor placement including non-permanent personnel. Medical doctors nominated by central government are only undertaken in particular rural and remote area.3 Although in the article 7 stated that income or salary for non-permanent personnel is allocated by the central government. These will affect the willingness to extend their contract. 1540/Menkes/SK/XII/2002 regarding the placement of medical workforce through service period and other schemes there are two types of non.permanent personnel: selected by the central government and the local government in district/city/provincial government (article 8). Others become the local government's responsibility. the act of locating or positioning. retrieved April 13.com/definition/assignment 2. but its problem is that the local governments have different ability to finance their region including salary staff.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 10 No. WordReference. 2/Juni/2007 I prefer to use "placement" or "deployment" in non-permanent contractual placement than non-permanent contractual assignment. That is normal because they do not have any guaranty to get well income.2% of females who is unwilling to extend their contract are people living in outside of West Java or within West Java. Therefore. & Deni Kurniadi Sunjaya in the Journal of Health Service Management. allowance as non-permanent personnel. 'Assignment' means "an undertaking you have been assigned to do (as by an instructor). As cited for instance in Health Minister Decree of Republic of Indonesia No. for instance. incentive and other allowances. Nita Arsanti. In addition. Issue relating to non-permanent contractual placement among medical doctor does not become current issue anymore although nowadays this problem still happens. allowance for doctors placed in remote and very remote area. I agree with writers that in decentralization era. allowance for tax income. Placement and assignment are 2 words having different meaning. No. 2008 from http:// www.2 Therefore 'placement' is related to place or location (such as urban and rural). The other definition 'assignment' means the instrument by which a claim or right or interest or property is transferred from one person to another. That means this problem still need better attention either the central government or the local government. Meanwhile.1 Therefore 'assignment' is related to task.

U. V. Philadelphia: The American Clinical and Climatological Association. 1540/ Menkes/SK/XII/2002 regarding the placement of medical workforce through service period and other schemes). Sukri Palutturi Health Policy and Administration Department Faculty of Public Health Hasanuddin University Email: sukri_tanatoa@yahoo. No. (2007). Vol. Use of Pay for Performance in a Community Hospital Private Hospitalize Group: A Preliminary Report. Collier. 10. 4 Desember 2007 217 .com Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 4.. masa Bakti dan Cara Lain (Health Minister Decree of Republic of Indonesia No.

Sri Suryawati Survei Pasar Jaminan Kesehatan Sosial Bali A.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. Persepsi. A. 10. Sukri. 4 Desember 2007 205 . Hanevi Djasri Artikel Penelitian Pengetahuan. Nirmala Trisna. No. Dumilah Ayuningtyas.214 Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. Laode Bariun Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survai Sosial Ekonomi Nasional 2001 Jati Untari. Vol. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 205 . A. 10/NO 01/MARET/ 2007 Editorial Memperbesar Peran Ahli Kebijakan dan Ahli Manajemen Pelayanan Kesehatan di Indonesia Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit sebagai Persyaratan Badan Layanan Umum dan Sarana Peningkatan Kinerja Tjahyono Kuntjoro. dan Pelaksanaan Manajemen Risiko Klinis di Lima Rumah Sakit di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Banten Tahun 2005 Arjaty Daud. I. A. Purnawan Junadi Pengaruh Penyerahan Dana dan Pengelolaan Asuransi Kesehatan Sepenuhnya Kepada Puskesmas Terhadap Efisiensi Pengadaan dan Mutu Penggunaan Obat Neti Viperiati. Gde Muninjaya Budaya Organisasi dan Mindset Petugas Penanggulangan Tb Paru Melalui Strategi Dots di Puskesmas Labibia Kota Kendari Asiah Hamzah. Mubasysyir Hasanbasri Resensi Buku Redefining Health Care: Creating Value-Based Competition on Results Trisasi Korespondensi Koordinasi Lintas Sektoral pada Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi di Kabupaten Sleman Chriswardhani Suryawati 01 03 11 20 29 40 46 52 53 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.

Sri Suryawati Analisis Besaran Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali I Gede Santabudi Samba. Ali Gufron Mukti. 10. Vol. Mubasysyir Hasanbasri Resensi Buku Know How: The 8 Skills That Separate People Who Perform From Those Who Don’t Putu Eka Andayani Korespondensi Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah Rimawati 55 56 64 72 79 85 90 98 101 206 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10/NO 02/JUNI/ 2007 Editorial Kebijakan Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin: Saatnya untuk Melakukan Evaluasi Menyeluruh Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Pendekatan Sistem dalam Perencanaan Program Daerah Mubasysyir Hasanbasri Artikel Penelitian Evaluasi Praktik Donasi Obat Pascatragedi Bom Bali Ida Prista Maryetty.Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. Adi Utarini Implementasi Posyandu dan Supervisi oleh Puskesmas di Pontianak Yuliastuti Saripawan. Julita Hendrartini Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah Shinta Wardhani Suryanegara. Anis Fuad. 4 Desember 2007 . No. Wiku Adisasmito Efisiensi Pemanfaatan Rumah Sakit Umum Daerah di Provinsi Sumatera Barat dengan Data Envelopment Analysis Asmaliza.

10. Julita Hendrartini Predicting Willingness to Extend Contractual Assignent among Medical Doctors in West Java Irvan Afriandi. Hanevi Djasri Proses Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja di Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2006 Durachman. 4 Desember 2007 207 . Deni Kurniadi Sunjaya Perbandingan Efisiensi dan Efektivitas Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan dengan Lelang.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS DAFTAR ISI VOL. Tjahjono Kuntjoro. Penunjukan Langsung. Nita Arisanti. Sunartono. Vol. 10/NO 03/SEPTEMBER/ 2007 Editorial Situasi Survailans yang Belum Menggembirakan Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Cost Effectiveness Analysis dalam Penentuan Kebijakan Kesehatan: Sekedar Konsep atau Aplikatif? Ari Probandari Artikel Penelitian Evaluasi Continuous Quality Improvement (Cqi) di Rumah Sakit yang Mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu Iso 9000 di Indonesia Chatila Maharani. No. Sri Suryawati Pengembangan Proses Verifikasi Pra-Operasi untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Rizaldy Pinzon Kajian Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Making Pregnancy Safer di Daerah Miskin Pedesaan Oktarina. dan Kemitraan Sri Winarni. Elsa Pudji Setiawati. Ristrini Resensi Buku Getting to Yes: Teknik Berunding Menuju Kesepakatan Tanpa Memaksakan Widya Febryanti Korespondensi Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survei Sosial Ekonomi Nasional 2001 Deni Harbiyanto 103 104 108 117 124 132 143 148 154 156 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.

Pembelajaran Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Evie Sopacua. 4 Desember 2007 . dumilah ayuningtyas Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006 Sukri Palutturi. Didik Budijanto Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Misnaniarti Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Raditya asri wisuda. Nurhamsa Mandak Resensi Buku Health Systems Assessment Approach: A How to Manual Korespondensi Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctor in West Java Sukri Palutturi 157 159 166 173 181 189 195 201 203 208 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Adi Utarini Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan.Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. No. 10 /NO 04/DESEMBER/ 2007 Editorial Kebijakan Contracting Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: Dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik) Siswanto Artikel Penelitian Dampak Kemitraan Praktisi Swasta Terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar. Yodi Mahendradhata. Nurhayani. 10. Bali Luh Putu Sri Armini. Vol.

Lihat. Vol. Armini. Febryanti. Asmaliza Efisiensi Pemanfaatan Rumah Sakit Umum Daerah di Provinsi Sumatera Barat dengan Data Envelopment Analysis. Andayani. 10. A. dan Pelaksanaan Manajemen Risiko Klinis di Lima Rumah Sakit di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Banten Tahun 2005. W. Lihat. R. Know How: The 8 Skills That Separate People Who Perform From Those Who Don’t. A. Sopacua. Fuad. 4 Desember 2007 209 . Lihat. E. I. No. Arisanti.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS PENULIS Adisasmito. Lihat. Afriandi. Asmaliza Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. S. C. Wisuda. A. 10(04): 166-Ap. A. D. Lihat. L. 10(03): 154-Rb. Afriandi. Bali. Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctors in West Java. A. Persepsi. L. 10(03): 124-Ap. T. S. Lihat. Getting to Yes: Teknik Berunding Menuju Kesepakatan Tanpa Memaksakan. Ayuningtyas. Bariun. Pengetahuan. W. H. Maharani. Suryanegara. Hamzah. Durachman Proses Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja di Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2006. Lihat. 10(01): 11-Ap. W. Daud. 10(02): 85-Ap. Dampak Kemitraan Praktisi Swasta Terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar. Kuntjoro. Lihat. Budijanto. D. P. 10(02): 98-Rb. Lihat. Daud. N. 10(03): 117-Ap. P. Djasri. E. I.

Lihat. Lihat. A. I. Lihat. 10(01): 03-Mk Lihat. A. No. J. Hasanbasri. Lihat. Samba. Mahendradhata. N. A. G. Harbiyanto. Y. S. A. 10(02): 56-Mk. Armini. Untari. S. I. Lihat. 210 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. S. A. G. Maharani. 10(02): 64-Ap. Samba. Trisna. Maryetty. Kuntjoro. A. S. P. M. Lihat. Evaluasi Praktik Donasi Obat Pascatragedi Bom Bali. Lihat. S. Budaya Organisasi dan Mindset Petugas Penanggulangan Tb Paru Melalui Strategi Dots di Puskesmas Labibia Kota Kendari. C. Maharani. 10(04): 181-Ap. Daud. Muninjaya.Indeks Hamzah. Lihat. Misnaniarti Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung. Mukti. G. 10(03): 156-Koresp. Nurhayani Lihat. 4 Desember 2007 . 10(01): 40-Ap. L. Lihat. 10(03): 148-Ap. P. 10(03): 108-Ap. Oktarina Kajian Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Making Pregnancy Safer di Daerah Miskin Pedesaan. Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survei Sosial Ekonomi Nasional 2001. Palutturi. P. Pendekatan Sistem dalam Perencanaan Program Daerah. Y. Durachman Junadi. T. I. J. Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit sebagai Persyaratan Badan Layanan Umum dan Sarana Peningkatan Kinerja. G. Palutturi. Vol. 10. Saripawan. Mandak. C. Hendrartini. I. A. D. Evaluasi Continuous Quality Improvement (CQI) di Rumah Sakit yang Mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu ISO 9000 di Indonesia. N.

I. 10(02): 79-Ap. Lihat. Suryanegara. Durachman Sunjaya. 10(04): 159-Mk. 10(04): 173Ap. I. Vol. 10(02): 90-Ap. Sopacua. Probandari. Oktarina Samba. Analisis Besaran Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. 4 Desember 2007 211 . R. Setiawati. D. 10(04): 195-Ap. Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan. A.Pembelajaran Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan. 10(02): 101-Koresp. 10(04):201-Rb Ristrini Lihat. Health Systems Assessment Approach : A How to Manual. Siswanto Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik). A. Cost Effectiveness Analysis dalam Penentuan Kebijakan Kesehatan: Sekedar Konsep atau Aplikatif?. S. Y. Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah. E. Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006. P. Rimawati Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah. Implementasi Posyandu dan Supervisi oleh Puskesmas di Pontianak. Saripawan. Sunartono Lihat. Pinzon. 10. 10(03): 104-Mk. Afriandi. Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctor in West Java. W. 10(03): 143-Ap. Hamzah. Sukri Lihat. Lihat. E. S. G.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Palutturi. S. Pengembangan Proses Verifikasi Pra-Operasi untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit. I. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10(02): 72-Ap. No. K. Afriandi. 10(04): 203-koresp.

Indeks Suryawati. J. Survei Pasar Jaminan Kesehatan Sosial Bali. Lihat. Lihat. Armini. 4 Desember 2007 . Untari. L. Viperiati. Maryetty. I. 10(01): 29-Ap. dan Kemitraan. S. R. 10(04): 157-Ed. Trisasi Redefining Health Care: Creating Value-Based Competition On Results. Pengaruh Penyerahan Dana dan Pengelolaan Asuransi Kesehatan Sepenuhnya kepada Puskesmas Terhadap Efisiensi Pengadaan dan Mutu Penggunaan Obat. A. Trisnantoro. 10(04):189-Ap. Winarni. 212 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Utarini. Winarni. P. P. N. S. 10(01): 20-Ap. Viperiati. Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survai Sosial Ekonomi Nasional 2001. 10(01): 01Ed. A. Trisna. No. Wisuda. Memperbesar Peran Ahli Kebijakan dan Ahli Manajemen Pelayanan Kesehatan di Indonesia. 10(01): 53-Koresp. 10(01): 52-Rb. 10. Kebijakan Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin: Saatnya untuk Melakukan Evaluasi Menyeluruh. Perbandingan Efisiensi dan Efektivitas Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan dengan Lelang. Lihat. Kebijakan Contracting Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: Dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah. C. N. N. Vol. 10(03): 103-Ed. S. Situasi Survailans yang Belum Menggembirakan. L. Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige. Asmaliza Lihat. Penunjukan Langsung. A. A Lihat. I. 10(01): 46-Ap. 10(03): 132-Ap. 10(02): 55-Ed. Koordinasi Lintas Sektoral pada Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi di Kabupaten Sleman. S. Suryawati.

Management Policy. Contract. 2007. 2007. 2007. 10 (01): 11 . 2007. 10 (02): 79. Making Pregnancy Safer. 2007. 2007. 10 (03): 148. 10 (04): 159 Financial System Of Public Service Body. 2007. Delay. 10 (02): 64. 4 Desember 2007 213 . 10. 10 (03): 132. Drug Procurement. 10 (01): 20. 10 (02): 72. 10 (04): 166 CQI. Cost Effectiveness Analysis. Effectiveness. 10 (01): 20. Implementation preparation. 2007. 2007. Lesson Learned. 2007. 2007. 10 (03): 104. 2007. Health Personnel’s Training Program. 10 (01): 29. Implementation. 2007. 2007. 10 (04): 173 Locally Available Resources. 10 (03): 124. 10(04): 189. 2007. 2007. Vol. 10 (03): 108. Drug Donations Impacts. 10 (03): 132. Hospital Performance. 2007. Knowledge. Direct Appointment. Data Envelopment Analysis. 10 (01): 40. Economic Evaluation. Bali Social Health Insurance. 10 (01): 46. 10 (01): 40. Behavior. Empowering. Auction. Cash Funds. 10 (03): 117. Cost. 10 (01): 11. Business intelligence. 2007. Hospital Performance Indicators. 10 (03): 148. 2007. 2007. 10 (02): 85. 10 (03): 104. 10 (02): 79. 2007. Drug Use. 10 (03): 124. 2007. 2007. 10 (02): 90. 10 (03): 108. 10 (01): 20 . 2007. 2007. 10 (03): 108. 10 (04): 173 Hospital Efficiency. 10 (04): 166 Deployment. Dots. Health Card. No. 10 (03): 124. 10 (02): 90. Ethics. Knowledge. 10 (01): 20 . 2007. Medical Doctor. 10 (03): 132. 2007. 10 (01): 29. 10 (02): 64. 2007. Bali Bomb Tragedy. 2007. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10 (04): 195 Leadership. Community Health Center. Community Partnership. 10(04): 189. 2007. 10 (02): 85. 10 (02): 90. 10 (01): 03. 2007. 2007. 2007. 2007. Mindset. 10 (03): 132. Fund. 2007. 2007. 10 (01): 20. 2007. 10 (01): 11. 2007. 2007. Efficiency. Clinical Risk Management. 2007. 2007.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS SUBJEK Ability to Pay. 10 (02): 56. 10 (01): 03. ISO 9000. Health Insurance. 2007. 2007. 10 (04): 181 Maternal and Child Health. 10 (03): 148. 2007. 2007. 2007.

10 (04): 181 Partnership. 2007. Public Service Entity. 2007. System Analysis Approach Health Planning. Perception. 10 (02): 72. 10 (04): 195 Organization. Vol. Organizational Culture. Pegawai Tidak Tetap. 10 (03): 143. Posyandu. 10 (02): 85. 2007. Public Health Center. 10 (03): 117. 10 (04): 195 Policy Options. Willingness to Pay. 2007. 10 (02): 64. 2007. 10 (03): 104. 10 (01): 29. 10 (04): 166 Private Provider. 10 (04): 195 Stakeholders’ Perception. 2007.Indeks Minimal Hospital Services Standards. 10 (04): 166 Resource Allocation. 2007. 2007. 10 (02): 79. 10 (01): 46. Motivation. Trax-Free Policy. 2007. 10 (04): 159 Poor Families. 2007. 2007. Public Hospitals. 2007. 2007. Unused Medicines. No. 2007. 10 (01): 40 . 10 (03): 117. Supervision. 10 (01): 29. 10 (02): 64. Oseltamivir. 2007. 2007. 2007. 10 (01): 46. 2007. Public-Private Mix. Prevention. 2007. Premium. 2007. 10 (03): 132. 10 (03): 143. 10 (02): 56. Private Practitioner Involvement. 10 (02): 64. 2007. 2007. 10 (02): 90. 2007. Performance. 10 (02): 79. 10 (04): 173 Politics. Service Unit Fund Document. 2007. Survey. 2007. 4 Desember 2007 . 10 (03): 124. 2007. 2007. 10 (02): 72. 10 (01): 40. 2007. 2007. 10 (03): 143. 10 (01): 20. Patient Safety. 2007. Skill. 10 (04): 195 Wrong Surgery. 10. 2007. 2007. 2007. 10 (04): 159 Organization Culture. Sanglah Hospital Denpasar. Work Time. 2007. 10 (01): 11. 2007. 214 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10 (01): 03. 2007. 2007. Service Unit Fund Plan. 10 (02): 90.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful