jurnal

ISSN 1410-6515

Manajemen
Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management
Volume 10/Nomor 04/Desember/2007
EDITORIAL
Kebijakan Contracting-Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah

Vol 10. No. 04 h.157-214 10 4 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 2007

MAKALAH KEBIJAKAN
Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik)

ARTIKEL PENELITIAN
Dampak Kemitraan Praktisi Swasta terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar, Bali Opsi-opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan; Pembelajaran dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006

RESENSI
Health Systems Assessment Approach : A How to Manual

KORESPONDENSI
Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment Among Medical Doctor in West Java

JMPK

Tahun 10

Nomor 04

Hlm. Yogyakarta 157-214 Desember 2007

ISSN 1410-6515

Terakreditasi Ditjen Dikti No.: 45/DIKTI/Kep./2006

Diterbitkan oleh/Published by: Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Center for Health Services Management Faculty of Medicine Gadjah Mada University

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 10/Nomor 04/Desember/2007

Daftar Isi
Editorial
Kebijakan Contracting-Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah 157

Makalah Kebijakan
Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik) Siswanto 159

Artikel Penelitian
Dampak Kemitraan Praktisi Swasta terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar, Bali Luh Putu Sri Armini, Yodi Mahendradhata, Adi Utarini Opsi-opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan; Pembelajaran dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Evi Sopacua, Didik Budijanto Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Misnaniarti Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Raditya Asri Wisuda , Dumilah Ayuningtyas Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006 Sukri Palutturi, Nurhayani, Nurhamsa Mandak 166

173

181

189

195

Resensi Buku
Health Systems Assessment Approach : A How to Manual 201

Korespondensi
Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment Among Medical Doctor in West Java 203 205

Indeks

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 10 No. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 157 - 158 Editorial

KEBIJAKAN CONTRACTING-OUT UNTUK PENYEDIAAN TENAGA KESEHATAN DI DAERAH TERPENCIL DAN SULIT: DARI PENGALAMAN MENUJU BUKTI ILMIAH1

Masalah ketersediaan sumber daya manusia di daerah yang sulit, terpencil, ataupun berbahaya merupakan masalah besar yang klasik terdapat di Indonesia. Daerah terpencil kekurangan tenaga kesehatan yang penting seperti dokter, dokter gigi, perawat, bidan, epidemiolog, ahli gizi. Tantangan ke depan adalah: (1) bagaimanakah kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam penempatan tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil dan sulit? (2) apakah kebijakan sekarang ini dapat diteruskan walaupun sudah terbukti tidak bisa memenuhi harapan seperti data yang diperoleh Pusrengun Departemen Kesehatan. Di samping itu, ada pertanyaan apakah kebijakan yang diambil dapat menggunakan prinsip-prinsip Evidence Based Policy Making ? Apa persamaan dan perbedaan antara Evidence Based Medicine (EBM) dan Evidence Based PolicyMaking (EBP). Sackett dkk mendefinisikan EBM sebagai: “the conscientious, explicit, and judicious use of current best evidence in making decisions about the case of individual patient’. Untuk EBP, Cookson memberikan definisi yang serupa, namun berfokus pada keputusan public tentang kelompok atau masyarakat, bukan sebuah keputusan tentang individu pasien. Lebih lanjut Cookson menggambarkan hubungan antara bukti ilmiah dengan keputusan. Keputusan berupa kebijakan publiK dapat dipengaruhi oleh berbagai hal yaitu (1) kepercayaan; (2) nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat; dan (3) berbagai hal lain seperti aspek politik, ekonomi, hukum, dan etik. Peran bukti ilmiah adalah mempengaruhi kepercayaan pengambil keputusan tentang hal yang harus ditetapkan. Akan tetapi kepercayaan ini dipengaruhi pula oleh pengalaman, bukti anekdot, ataupun opini yang didengar dan dibaca oleh pengambil kebijakan. Apabila tidak ada bukti ilmiah, dapat dipahami bahwa pengambilan keputusan dipengaruhi oleh kepercayaan yang berasal dari opini misalnya. Sebagai salah satu kasus menarik tentang penggunaan Evidence Based Policy adalah pengiriman tenaga ke RSD Tjut Nya’Dien di

Kabupaten Aceh Barat oleh FK UGM dan RSUP Dr. Sardjito. Pengiriman tenaga ini dapat disebut sebagai bukti anekdot untuk kebijakan distribusi tenaga medik dan kesehatan di daerah sulit. Dalam konteks penyebaran tenaga kerja di daerah sulit, pada tahun 2005, dipicu oleh musibah Tsunami di Aceh dilakukan pengiriman tenaga kerja melalui pendekatan kontrak tim (bukan kontrak perorangan) untuk menggantikan tenaga kesehatan. Dengan dukungan dana dari World Vision Australia, Fakultas Kedokteran UGM bersama University of Melbourne dikontrak untuk menyediakan bantuan tenaga dokter, dokter spesialis, perawat, dan tenaga-tenaga manajemen di RS Tjut Nya’ Dien. RS ini berada di pesisir barat Propinsi NAD, di kota Melaboh. Kota ini merupakan salahsatu daerah yang mendapat dampak paling dahysat Tsunami. Selama 3 tahun telah dikirim sekitar 500 tenaga dengan sekitar 50 gelombang pemberangkatan. Tujuan pengiriman tenaga medik ke RSD Tjut Nya Dien untuk: (1) Memperkuat dan mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga medis / nonmedis RS Tjut Nya’ Dien melalui pengiriman tim medis secara rotasi dan menyiapkan staf local permanent; (2) Revitalisasi penuh RS Tjut Nya’ Dien melalui pemenuhan kebutuhan tenaga medis / non medis berdasarkan penilaian kebutuhan. Di pandang dari hubungan antarberbagai pihak yang terlibat, pengiriman tenaga medik dan kesehatan RSUP Dr. Sardjito dan FK UGM ke Aceh Barat merupakan kegiatan contracting-out. Apakah kegiatan pengiriman tenaga ke Aceh Barat ini dapat dikembangkan sebagai dasar pengambilan kebijakan nasional dan daerah dalam penyebaran tenaga medik dan kesehatan? Pertanyaan lebih lanjut: apakah model contractingout ini dapat dipergunakan untuk menyediakan tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil dan sulit oleh pemerintah daerah dan pusat? Beberapa pemerintah daerah tertarik untuk membuat keputusan berdasarkan pengalaman yang ada di Aceh Barat. Kasus ini terjadi di Kabupaten Berau (yang masih belum berjalan) dan Kabupaten

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

157

Tanggal 5 Maret 2000. Laksono Trisnantoro (trisnantoro@yahoo. Dari perspektif Evidence Based Policy Making. Namun disadari bahwa bukti pengalaman ini perlu dikembangkan untuk menjadi bukti ilmiah sehingga mempengaruhi kepercayaan dalam menetapkan keputusan. saat ini sudah ada bukti anekdot atau pengalaman berupa kebijakan contracting-out yang telah dipergunakan oleh beberapa pemerintah daerah untuk mencari solusi. Dalam hal ini pemerintah pusat sebenarnya dapat melakukan pilot untuk penelitian kebijakan agar pengalaman mengenai model contracting-out dalam distribusi tenaga medik di Kabupaten Aceh Barat. 10. 4 Desember 2007 . Kabupaten Nias. No. Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Berau (kalau jadi) dapat diperkuat menjadi bukti. Ruang Rapat Senat FK UGM. 158 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Merupakan Background Paper untuk Sarasehan Alumni FK UGM. Vol. Sebagai ringkasan. Untuk ini diharapkan Departemen Kesehatan berani melakukan penelitian pilot untuk kebijakan contracting-out dalam distribusi tenaga medik dan tenaga kesehatan di daerah yang terpencil dan sulit. Yogyakarta. kebijakan untuk distribusi tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil perlu terus dicari dan dikembangkan. sama dengan Aceh Barat).com) KEPUSTAKAAN 1.Laksono Trisnantoro: Kebijakan Contracting-out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan Nias dan Kabupaten Nias Selatan (sudah berjalan. Bagaimana dengan pemerintah pusat? Sampai sekarang ini Departemen Kesehatan belum mempunyai agenda untuk contracting-out.

Dengan kata lain. Every actor within organizations including managers try to improve his/her power. Akhir cerita. organizations including health organizations can be interpreted as a political arena where actors are contesting their interests. Political activities would entail the ability to exercise power sources with certain political tactics to win interests. frightened and painful manner. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 159 . in order to achieve his/her own goals and interests. etika PENGANTAR Alkisah. baik kekuasaan berdasar kedudukan maupun kekuasaan pribadi. dalam rangka memburu kepentingan dan tujuannya. 4 Desember 2007 159 . Aktivitas politik merupakan sesuatu yang natural dan tidak dapat dicegah dalam interaksi antaraktor dalam kehidupan organisasi. setiap aktor harus memperhatikan etika berpolitik yang elegan agar pengaruh seseorang pada perilaku orang lain tidak bersifat memaksa. politics. Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas adalah bahwa seorang manajer akan mengalami kegagalan apabila cara memimpinnnya hanya mengedepankan satu paradigma manajemen saja. Keywords: organization. Untuk menyehatkan perusahaan. Akhirnya. Political activities are natural and unpreventable for the interaction of actors in organizational life. tetapi merupakan pola perilaku karena berpegang pada prinsip atau setidaknya karena asas pertukaran manfaat. every actor should take into consideration ethics for performing more elegant politics. influence and interests. Vol.165 Makalah Kebijakan POLITIK DALAM ORGANISASI (SUATU TINJAUAN MENUJU ETIKA BERPOLITIK) POLITICS IN ORGANIZATION (A REVIEW LEADING TO ETHICS OF POLITICS) Siswanto Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan. maka terjadilah demo besar-besaran oleh karyawan perusahaan dan pendemo menuntut sang direktur untuk mundur dari jabatan sebagai direktur utama. in order that some one’s influence unto others not due to a coercive. Aktivitas politik melibatkan kemampuan memainkan sumber kekuasaan dengan taktik politik tertentu untuk memenangkan kepentingan. menuju kinerja perusahaan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. the interaction of actors in organizational life would involve power. Namun demikian. namun penulis sengaja membuatnya ‘anomim’ untuk menjaga etika penulisan. salah satu pemerintah kota di Provinsi Jawa Timur ingin membenahi manajemen perusahaan Badan Usaha Milik Daerah yang dipunyainya karena ditengarahi banyak terjadi KKN sehingga perusahaan tidak efisien. dan menyakitkan. sang direktur melakukan pembersihan besar-besaran terhadap berbagai praktik KKN karena pendekatannya yang terkesan radikal. However. Setiap aktor dalam organisasi termasuk manajer akan berusaha meningkatkan kekuasaannya. Consequently. Oleh karena itu. dan kepentingan.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. sang manajer terjebak pada praktik manajemen paradigma rasional tanpa memperhitungkan kekuatan politik di dalam organisasi. Selama beberapa bulan. dapat diinterpretasikan sebagai wahana politik tempat para aktor berebut kepentingan. sang manajer telah gagal memimpin perusahaan karena tidak memiliki keterampilan politis yang adekuat untuk melakukan perubahan organisasi. keberadaan organisasi termasuk organisasi kesehatan. Rather. sang direktur diminta untuk mundur dari jabatan direktur utama perusahaan tersebut karena ia dianggap tidak demokratis dalam gaya kepemimpinannya. 10. either position power or personal power. Kata Kunci: organisasi. ethics ABSTRAK Sebagai sebuah entitas sosial. diputuskan bahwa untuk merekrut direktur utama dilakukan secara transparan melalui pengumuman di media massa dan kemudian dilakukan fit and proper test di hadapan stakeholder kunci. Depkes RI. the influence on others’ behavior is due to principles or at least due to benefit exchange. No. Surabaya ABSTRACT Being a social entity. Kisah ini adalah kisah nyata. interaksi antaraktor dalam kehidupan organisasi akan selalu terkait dengan kekuasaan pengaruh. menakut-nakuti. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Terpilihlah seorang ‘direktur profesional’ untuk membenahi manajemen perusahaan. kemelut perusahaan milik daerah tersebut sampai ke meja anggota DPRD karena para pendemo (karyawan) menyampaikan kemelut manajemen perusahaan kepada wakil rakyat (anggota DPRD). Bahkan. boleh dikatakan tiada hari tanpa demo. Pada kisah di atas. setelah melalui proses tarik ulur di antara para politisi. politik.

kekuasaan. marga. Dalam kontes saling pengaruh-mempengaruhi ini. Kekuasaan dan pengaruh merupakan unsur utama dalam politik. karir maupun penghargaan lainnya. perawat dan staf administrasi) sebagai ‘keteraturan hasil negosiasi’ (negotiated order). Semestinya. diharapkan para praktisi manajemen dapat memperluas cakrawala pandangnya tentang politik organisasi sebagai paradigma alternatif dalam mengelola organisasi. dan bahkan pada unit keluarga. manusia selalu terlibat interaksi antar satu dengan lainnya. Setiap anggota akan membawa minat. sehingga secara etis dapat diterima oleh anggota lainnya. Untuk memenuhi kepentingannya (meraih cita-cita dan tujuannya). Berkenaan dengan praktik manajemen melalui pendekatan politik. Dengan menggunakan definisi ini. melihat organisasi sebagai wahana atau gelanggang politik tempat bernegosiasi kepentingan oleh para anggotanya. seorang manajer harus sadar bahwa ‘politik’ selalu ada dalam setiap kehidupan organisasi. Tak dapat disangkal bahwa ‘negosiasi’ merupakan salah satu bentuk aktivitas politik untuk mendapatkan komitmen bersama. Dengan demikian. 4 Desember 2007 . Setiap orang dalam organisasi akan menggunakan taktik dan strateginya masing-masing untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas. Permainan politik yang tidak etis dalam jangka panjang akan berakibat buruk terhadap kredibilitas pelakunya. pengaruh.Siswanto: Politik dalam Organisasi yang lebih baik. kekuasaan dan sumber-sumbernya. yang analisisnya mengabaikan motif dan kepentingan aktor yang terlibat dalam organisasi. organisasi keagamaan. Morgan3 dan Bolman & Deal4 misalnya. Dengan memahami politik organisasi. Pada prinsipnya politik adalah suatu jaringan interaksi antarmanusia dengan kekuasaan diperoleh. Strauss1 dalam penelitiannya di institusi rumah sakit mengidentifikasi pola interaksi antar aktor di rumah sakit (dokter. 10. Masyarakat kebanyakan sering memaknai politik dengan konotasi negatif dan kotor. dengan taktik memainkan kekusaannya masing-masing. di antaranya organisasi sebagai wahana politik. Proses interaksi memenuhi kebutuhannya tersebut manusia membentuk kelompok-kelompok komunitas serta manusia akan selalu dihadapkan pada unsur kekuasaan dan pengaruh. Melihat aktivitas organisasi sebagai aktivitas politik merupakan penyegaran terhadap pemahaman kehidupan ‘organisasi’ yang selama ini selalu didominasi oleh cara pandang instrumental. maka seorang manajer (termasuk pemain lainnya) harus paham bagaimana bermain politik yang etis dan elegant. Dengan kata lain. Oleh karena itu. namun politik juga terjadi pada organisasi formal. maka dapat dikatakan bahwa politik tidak hanya terjadi pada sistem pemerintahan. setiap manusia mau tidak mau harus menggunakan politik (kekuasaan dan pengaruh) sebagai alat berinteraksi antara manusia satu dengan manusia lainnya. klub-klub pribadi. dan akhirnya didiskusikan etika berpolitik dalam organisasi. Drory5 mendefinisikan politik organisasi 160 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. kepentingan. dan digunakan. kita tidak bisa menghindar dari politik”. kelompok suku primitif. kekuasaan dan kewenangan”. politik adalah suatu kenyataan sosial yang harus dihadapi oleh anggota organisasi. maka tiap-tiap aktor akan saling beradu kekuasaan untuk memenangkan ‘kepentingan’. Organisasi kesehatan. profesionalitas sebagai manajer haruslah diinterpretasikan sebagai penguasaan ’semua paradigma manajemen’. Pemahaman bahwa organisasi adalah sebuah entitas politik akan mampu menyadarkan manajer melihat organisasi secara ‘utuh’ dan tidak hanya mengandalkan pada cara-cara instrumental saja. Ada ungkapan yang menarik “meskipun kita tidak suka politik. Tulisan ini akan mendiskusikan beberapa isu penting tentang paradigma politik organisasi. baik itu menyangkut distribusi informasi. politik adalah kenyataan hidup yang harus dihadapi dan dijalankan oleh setiap orang selama ia berinteraksi secara sosial. persepsi. Pusat analisis politik adalah kekuasaan dan pengaruh. Politik didefinisikan oleh Dahl2 sebagai “setiap pola hubungan yang kokoh antarmanusia dan melibatkan secara cukup mencolok kendali. Vol. termasuk manajer. seperti rumah sakit juga tidak terlepas dari kegiatan politik. Untuk menjadi manajer yang efektif. ditransfer. sehingga aktor lain tersebut menuruti kemauan aktor pertama. badan usaha. termasuk organisasi. dan tujuan yang berbeda-beda. Umat manusia adalah makhluk sosial dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan saling berinteraksi satu dengan lainnya. Organisasi Sebagai Wahana Politik Organisasi sebagai salah satu entitas sosial juga tidak terlepas dari politik. Kekuasaan didefinisikan sebagai potensi seorang aktor dapat mempengaruhi aktor lain. praktik politik dalam organisasi. No. Dalam kelompok sosial. proses pengaruh-mempengaruhi merupakan hal yang wajar dalam kehidupan organisasi. kemudian mampu menggunakannya secara tepat orang dan tepat waktu (contingency of people and of timeliness). Salah satu paradigma manajemen yang harus dipertimbangkan oleh praktisi manajemen adalah politik organisasi (organizational politics).

kepentingan. (4) tujuan organisasi. Miles6 mendefinisikan politik organisasi sebagai proses yaitu setiap aktor atau kelompok dalam organisasi membangun kekuasaan untuk mempengaruhi penetapan tujuan. setiap aktor menggunakan kekuasaan dan pengaruh untuk dapat memenuhi tujuannya.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sebagai perilaku informal di dalam organisasi dengan menggunakan kekuasaan dan pengaruh melalui tindakan terencana yang diarahkan untuk peningkatan karir individu pada situasi untuk memperoleh banyak pilihan keputusan. sikap. meliputi tujuan.9 Berbeda dengan kekuasaan yang merujuk kepada ketersediaan sumber daya. No.12 yaitu: (1) organisasi adalah koalisi yang terdiri dari berbagai individu dan kelompok dengan berbagai kepentingan. pengaruh merujuk kepada tindakan atau praktik. dan brokering dari berbagai faksi peserta. Kekuasaan dan Sumber-Sumbernya Untuk memahami lebih jauh tentang bagaimana para aktor dalam organisasi saling mempengaruhi dan mengapa aktor tertentu dapat mengendalikan aktor lainnya. Dalam komponen kepentingan juga termasuk kepentingan ekstramural yang terdiri dari kepribadian. Kepentingan pekerjaan adalah kepentingan yang terkait dengan tugas seseorang sesuai kedudukan dan jabatan yang diembannya. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan orientasi seseorang”. (5) karena keterbatasan sumber daya dan setiap aktor berebut kepentingan. Secara sekuensial dapat dikatakan bahwa kekuasaan menimbulkan pengaruh dan akhirnya pengaruh mempengaruhi tindakan orang lain (kekuasaan à pengaruh à tindakan orang lain).8 Dengan kata lain. keyakinan. kalau ‘A’ dapat mempengaruhi atau memaksa ‘B’ untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh ‘A’. kepentingan karir dan kepentingan ekstramural. maka konflik adalah wajar (natural) dalam kehidupan organisasi. Namun demikian. nilai.4. Sementara. harapan. dan minat dari para anggotanya. Lebih jauh. Kekuasaan bersifat netral. beberapa rujukan tentang perilaku politik sering mempertukarkan istilah kekuasaan dan pengaruh. pengambilan keputusan dan proses manajemen lainnya adalah hasil dari bargaining. Vol. Selanjutnya. kepentingan karir terkait dengan masa depan seseorang dalam organisasi (posisi dan jabatan yang lebih baik). 10. tapi merefleksikan sumber kekuatan untuk mempengaruhi tindakan orang lain. ‘A’ mempunyai kekuasaan terhadap ‘B’. kita harus mengenal sumber-sumber kekuasaan dalam organisasi.10 Lebih jauh. negosiasi.2 Asumsi dasar organisasi sebagai entitas politik3. apakah akan bersifat baik atau buruk tergantung dari motif yang menggunakannya. yang bisa saja tidak berhubungan dengan kepentingan pekerjaan. Morgan 3 membagi kepentingan ke dalam tiga kategori yaitu kepentingan pekerjaan. kekuasaan adalah suatu sumber daya yang merefleksikan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan keinginan orang pertama. 4 Desember 2007 161 . sikap. Morgan3 mendefinisikan kepentingan sebagai “predisposisi yang mempengaruhi tindakan seseorang dalam berinteraksi secara sosial. keyakinan dan komitmen di luar pekerjaan yang semuanya akan membingkai pola perilaku seseorang baik menyangkut pekerjaan maupun karir.7 Sebagai ilustrasi. Sumber-sumber kekuasaan yang dipakai para aktor untuk saling mempengaruhi adalah sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1. kekuasaan dan pengaruh. keinginan. (3) kekuasaan memainkan peranan penting dalam memperebutkan sumber daya. (2) dalam organisasi selalu ada potensi perbedaan menyangkut kepribadian. Pengaruh dapat didefinisikan sebagai penggunaan kekuasaan atau otoritas untuk mempersuasi orang lain agar mereka mengikuti kehendak si pengguna kekuasaan. Ada baiknya kita renungkan ungkapan Baltasar Gracian berikut: “Satu-satunya keuntungan memiliki kekuasaan adalah bahwa Anda dapat melakukan lebih banyak kebaikan”. Dalam interaksi antaraktor dalam organisasi. Analisis organisasi dari perspektif politik melibatkan tiga diskursus yaitu kepentingan. kriteria atau proses pengambilan keputusan organisasional dalam rangka memenuhi kepentingannya. nilai. Yukl11 menyebutkan bahwa pengaruh adalah efek dari tindakan agen tehadap pihak lain (target). Kekuasaan bukan merefleksikan tindakan. Kekuasaan didefinisikan sebagai “peluang seorang aktor dalam interaksi sosialnya berada di posisi memenangkan keinginannya meski ada hambatan dari pihak lain”. persepsi.

Potensi seseorang yang menyebabkan orang lain mengagumi dan memenuhi permintaan orang tersebut. Mentransformasikan kepentingan kita menjadi kepentingan pihak lain dengan mengubah persepsi dan tindakan pihak lain 4). yang berakibat pada munculnya ‘leader-leader’ bayangan dalam organisasi. Kekuasaan keahlian (expert power) Kekuasaan kesetiaan (referent power) Kekuasaan karisma b. Dengan memahami sumber-sumber kekuasaan dalam organisasi. Memperluas jumlah pemain yang terlibat dalam suatu isu yang menjadi kepentingan kita untuk mendapatkan perhatian yang lebih luas 5). Sifat bawaan dari seseorang yang mencakup penampilan. Posisi di bawah manajer. b.Siswanto: Politik dalam Organisasi Tabel 1. 2. Menciptakan suasana (seremoni dan simbol) untuk membentuk persepsi dan perilaku orangorang sesuai dengan peran dan fungsinya 3). Melaksanakan negosiasi dan tawar-menawar dengan pihak lain yang bersinggungan dengan kepentingan kita untuk mendapatkan kompromi 162 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. c. Kewenangan formal Penjelasan Pengaruh potensial yang berasal dari kewenangan yang sah karena kedudukannya dalam organisasi Kewenangan yang mengacu pada hak prerogatif. Kekuasaan berdasarkan kedudukan a. Pengaruh potensial yang melekat pada keunggulan individu Kekuasaan yang bersumber dari keahlian dalam memecahkan masalah tugastugas penting. ia akan kehilangan legitimasinya sebagai ‘leader’. Secara deskriptif. diplomasi dan empati. Semakin tergantung pihak lain terhadap keahlian seseorang. Membentuk koalisi dengan pihak lain untuk meningkatkan dukungan dan sumber daya 2). 4 Desember 2007 . No. Sebagai contoh. d. Pada Tabel 1 terlihat bahwa kelompok sumber kekuasaan berdasarkan kedudukan akan berlimpah pada orang-orang yang secara hirarkis mempunyai kedudukan dalam organisasi. posisi manajer sudah mendapatkan tiga sumber kekuasaan yaitu otoritas formal. Memang. teknologi dan metode pengorganisasian pekerjaan. makin banyak kontrol yang dipunyai orang tersebut terhadap sumber daya yang terbatas. dan hal ini tidak selalu merujuk kepada manajer. Menyangkut kontrol terhadap lingkungan fisik. Vol. Kontrol terhadap hukuman (coercive power) Kontrol terhadap informasi Kontrol ekologis Kekuasaan pribadi a. kebijaksanaan. Manajer yang tidak mampu mengelaborasi atau mengumpulkan sumber-sumber kekuasaan lainnya dengan baik. seperti pesona. sementara kepala bagian tata usaha akan mempunyai kontrol lebih besar terhadap ekologi pekerjaan seseorang. kepala bidang perencanaan akan mempunyai kontrol lebih besar terhadap distribusi sumber daya. 10. Seorang manajer akan mempunyai kekuasaan kedudukan paling besar karena ia mampu memainkan keseluruhan sumbersumber kekuasaan berdasarkan kedudukan. semakin bertambah kekuasaan keahlian (expert power) orang tersebut. Referent power terkait dengan keterampilan interaksi antar pribadi. Sumber-Sumber Kekuasaan dalam Organisasi11 Sumber kekuasaan 1. Menyangkut kontrol terhadap akses terhadap informasi penting maupun kontrol terhadap distribusinya kepada orang lain. serta kendali pengambilan keputusan. Kontrol terhadap sumber daya dan imbalan c. karakter dan kepribadian yang mampu mempengaruhi orang lain untuk suatu tujuan tertentu. Agen mempunyai hak untuk membuat permintaan tertentu dan orang yang ditargetkan mempunyai kewajiban untuk mematuhinya. seperti kepala bidang atau kepala bagian akan menguasai sumber kekuasaan tertentu lebih banyak daripada sumber kekuasaan lainnya sesuai tugas dan fungsinya. Makin tinggi posisi seseorang dalam hirarki organisasi. Praktik Politik dalam Organisasi Setiap aktor termasuk manajer menggunakan taktik dan strategi untuk mempengaruhi aktor lain dengan menggunakan sumber kekuasaan yang dimiliki. manajer mempunyai kesempatan lebih besar untuk mengumpulkan sumber-sumber kekuasaan. kewajiban dan tanggung jawab seseorang berkaitan dengan kedudukannya dalam organisasi atau sistem sosial. penggunaan struktur dan aturan. Kontrol dan penguasaan terhadap sumber daya dan imbalan terkait dengan kedudukan formal. dapat dimengerti bahwa aktor paling berkuasa adalah aktor yang mampu mengumpulkan banyak sumber-sumber kekuasaan. beberapa taktik yang dipakai oleh para aktor adalah sebagai berikut:12 1). Setidaknya. e. Kontrol terhadap hukuman dan kapasitas untuk mencegah seseorang memperoleh imbalan.

bahkan pemberontakan. membagi proses mempengaruhi (proses berkuasa) menjadi tiga macam yaitu: (i) mempengaruhi dengan paksaan (rasa takut). kekuasaan berdasarkan posisi. Sarana aktivitas politik untuk saling mempengaruhi antar aktor dalam organisasi adalah melalui komunikasi. Konsesi yang dipertukarkan dapat berupa uang. (iv) mengadakan pertukaran.9 Di samping cara mempengaruhi dengan menebar rasa takut. menanamkan pengaruh. Efek yang muncul akibat mempengaruhi dengan paksaan adalah permusuhan.9 Sumber-sumber kekuasaan berdasarkan azas pertukaran manfaat adalah kekuasaan memberi imbalan. 4 Desember 2007 163 . No. menyalahkan dan melemahkan. menyepelekan. dan kekuasaan berdasarkan koneksi. kekuasaan terhadap sumber daya. kekuasaan berdasarkan keahlian. mempengaruhi berdasarkan azas manfaat pada dasarnya adalah “menemukan kesepakatan antar kedua belah pihak yang saling menguntungkan”. keahlian tertentu atau akses terhadap sumber daya. bertukar. balas dendam. banyak dari kita mempengaruhi orang lain dengan cara memberi dan menerima. kekuasaan terhadap informasi. menyiasati dan merampas hak. ketergantungan. dan (iii) mempengaruhi berdasarkan prinsip. Lee9 dalam bukunya The Power Principle. pertengkaran.9 Apa yang kita lakukan dalam mempengaruhi orang lain berdasarkan azas pertukaran manfaat yaitu: (i) membuat kesepakatan. 9. mengganggu. menakut-nakuti. Hubungan antara komunikasi. membuat kecil hati. (iii) berdebat. misalnya: menindas.13 Sementara itu. menusuk dari belakang. menipu. menghalangi. hasilhasil sementara. Hubungan antara Komunikasi. Gambar 1. dan berusaha melakukan tukarmenukar yang adil (asas pertukaran manfaat). menghambat. Vol. selanjutnya mempengaruhi berdasarkan prinsip akan menghasilkan efek rasa hormat. 10.9. sabotase. dan pemenangan kepentingan dapat diabstraksikan sebagaimana skema pada Gambar 1. kepatuhan terpaksa. baik pendekatan lunak maupun pendekatan keras akan menghasilkan kendali yang bersifat sementara dan reaktif. pengendalian sementara. Memilih waktu yang tepat untuk setiap tindakan agar situasi menguntungkan kita (manajer). mengancam. penggunaan sumber kekuasaan. Taktik Mempengaruhi dan Pemenangan Kepentingan (Diadaptasi dari Degeling12) Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. kekuasaan berdasarkan peluang. mengkambinghitamkan. merayu. meremehkan. memperdayai. mengintimidasi. memaksa. Mempengaruhi dengan paksaan menghasilkan efek rasa takut. oposisi. membuat sedih. (ii) mempengaruhi berdasarkan manfaat (tukar-menukar). cara-cara pendekatan lunak. (ii) tawar-menawar. misalnya: mengaburkan. Cara-cara dengan pendekatan keras. mengalihkan. informasi. Dengan demikian. mempengaruhi berdasarkan manfaat menghasilkan efek kewajaran. Mempengaruhi orang dengan rasa takut meliputi pendekatan keras dan pendekatan lunak. berdagang. mengendalikan. hubungan menang-kalah.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 6).13 Cara-cara mempengaruhi orang dengan pendekatan rasa takut (paksaan).

sabar. dalam batasbatas tertentu memenuhi syarat.15 Tampak bahwa ketiga kriteria penilaian etis dan tidak etis tersebut bersifat bersaing (trade-off). mengancam. Dengan kata lain. Pertimbangan etis haruslah merupakan suatu kriteria pengontrol dalam perilaku politik untuk mempengaruhi pihak lain. perusahaan memecat 10% karyawan yang kurang produktif. merayu. kepercayaan. dalam rangka peningkatan efisiensi dan produktivitas organisasi. bukan untuk mengambil keuntungan sepihak. menyepelekan. 4 Desember 2007 . diperdayai dan tindakan sejenisnya. disepelekan. mendisiplinkan. 10.9 Perhatikan ungkapan mutiara berikut: ”Kekuasaan bisa dipandang sebagai ’kekuasaan dengan’ ketimbang ’kekuasaan atas’. peningkatan kapasitas. Prinsip ’hak’ menekankan bahwa setiap individu mempunyai kebebasan untuk mengemukakan pendapat dan berbicara. Hasil-hasil yang diperoleh dari kekuasaan berdasarkan prinsip kehormatan adalah kemitraan.14 Setidaknya terdapat tiga kriteria untuk menilai apakah cara kita bertindak etis atau tidak etis yaitu prinsip utilitarianisme. meremehkan. memperdayai.Siswanto: Politik dalam Organisasi (v) konsensus.14 Perilaku politik dalam ”kelompok cara mempengaruhi dengan menebar rasa takut”. mengintimidasi. solusi menang-menang. 164 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. menerima. Prinsip ’keadilan’ mengisyaratkan individu untuk memberlakukan dan menegakkan aturanaturan secara adil dan tidak berat sebelah sehingga terdapat distribusi manfaat dan biaya yang pantas. maka dapat dikatakan perilaku tersebut adalah etis. sinergi. Pandangan demikian menekankan pada kinerja kelompok (kinerja organisasi). Sebagai saringan dapat juga dipakai empat langkah pertanyaan berikut: (i) apakah perilaku itu merupakan kebenaran?. bukannya dominansi serta pengendalian” Anne L Barstow (Dikutip dari Lee9). satu kriteria dapat saling melemahkan atau meniadakan kriteria lainnya. menghalangi. dan (ix) berkompromi. Dalam melakukan tindakan politik. Siapapun orangnya akan ”sakit hati” bila ditusuk dari belakang. sebagaimana diatur dalam Piagam Hak Asasi Manusia. bersikap konsisten dan hidup berintegritas. ada the golden rule dari perilaku politik. Apa yang kita peroleh dari cara mempengaruhi berdasarkan azas manfaat adalah pola interaksi yang bersifat fungsional dan wajar (tanpa rasa takut). bermurah hati. proaktivitas. namun boleh jadi mengabaikan hak-hak individu (hak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan) dan rasa keadilan (adanya perlakukan diskriminatif yaitu adanya pemecatan sebagian kecil karyawan). mengasihi. dikambinghitamkan. Misalnya. kesepakatan kemitraan. Prinsip utilitarianisme mengajarkan bahwa keputusan yang kita ambil haruslah ’memberikan manfaat terbesar untuk jumlah orang terbesar’. mengaburkan. (vi) saling mengalah. mengkambinghitamkan. menyiasati dan merampas hak adalah perilaku politik yang kurang atau tidak etis. mengganggu. menakut-nakuti. (vii) memperebutkan. siapapun aktornya (bisa manajer atau staf) haruslah berpedoman pada tiga kriteria etis tadi. menipu.9 Cara ketiga untuk mempegaruhi orang lain adalah berdasarkan prinsip kehormatan. penguasaan diri. sedangkan perilaku politik yang tidak etis adalah perilaku yang bermanfaat untuk individu tetapi melukai organisasi. Dalam pandangan utilitarianisme. menghambat. pengambilan keputusan adalah dalam rangka efisiensi dan produktivitas organisasi. yaitu ”Perlakukan orang lain sebagaimana kamu menginginkan orang lain memperlakukanmu” (Do unto others as you want them to do unto you) atau ”Jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan orang lain melakukan hal itu kepadamu” (Don’t do anything to anyone that you wouldn’t want them to do to you). Di samping ketiga kriteria tersebut. mengalihkan. Vol. Namun demikian. No. Prinsipprinsip kekuasaan berdasarkan kehormatan diantaranya adalah persuasif. artinya bila situasi berubah dan manfaat tidak didapatkan lagi maka kekuasaan akan menghilang (menguap). dan (iv) apakah perilaku itu bermanfaat untuk semua pihak terkait? Apabila jawaban dari keempat pertanyaan saringan tersebut. membuat kecil hati. hak dan keadilan. mengajari. (ii) apakah perilaku itu adil untuk semua pihak terkait?. perilaku etis. Etika Berpolitik dalam Organisasi Pembahasan politik organisasi tidaklah lengkap tanpa berbicara tentang etika berpolitik dalam organisasi. (iii) apakah perilaku itu akan membangun komitmen dan pertemanan yang lebih baik?. pengendalian internal yang positif. melemahkan. lembut. dan pola hubungan jangka panjang yang memuaskan. Etik adalah standar moral apakah suatu perilaku baik atau buruk menurut norma masyarakat. keputusan ini bermanfaat untuk jumlah terbanyak. dan kekuasaan dapat digunakan untuk membangkitkan kompetensi dan kooperasi. membuat sedih. menyalahkan. diremehkan. pola hubungan berdasarkan manfaat bersifat sementara dan bersyarat. kesalingtergantungan. (viii) bertengkar. misalnya menusuk dari belakang.14 Perilaku politik yang etis adalah perilaku yang bermanfaat untuk individu dan organisasi.

Irwin. 2. Sage Publications. Politics and Ethics. 4. Hasil perilaku politik berdasarkan azas manfaat adalah komitmen dan konsensus. Di dalam setiap kehidupan organisasi baik organisasi formal maupun informal selalu terdapat fenomena politik yang melibatkan kepentingan. sehingga perilaku politik demikian (meski bersifat situasional) adalah etis dan dapat diterima semua pihak. Tokoh Mahatma Gandhi. N. Organizational Studies. perilaku politik berdasarkan asas kehormatan menduduki tataran tertinggi bila dilihat dari tingkat ’keetisan’-nya. 3. University of New South Wales.nicholsonmcbride. T. 2004. KESIMPULAN DAN SARAN Untuk menjadi manajer yang efektif. Analisis Politik Modern (Terjemahan). Influence. New York. 1994. The Power Principle (Terjemahan). Free Press J/Glencoe.G & Deal. 1991. kekuasaan dan pengaruh. setiap aktor akan saling memainkan sumber kekuasaannya untuk mempengaruhi aktor lainnya. Macro Organizational Behavior. Lee. Reframing Organizations: Artistry. Weber. Yukl. 2002. keterampilan manajemen instrumental saja tidaklah cukup. namun harus dibarengi dengan kemampuan politik yang adekuat.14(1):59-71. Hawkin. Power and Influence. Blau. and Parsons. Strauss. and Persuasion.. Perilaku politik berdasarkan azas kehormatan banyak ditunjukkan oleh para pemimpin besar dunia. Organizatinal Behavior (Terjemahan). 13. 10. 5. 1947. The Theory of Social and Economic Organization.M. Dahl. 1993. New York. mampu mempengaruhi lawan dan kawan karena prinsip hidup yang dipegangnya yaitu kesederhanaan dan kejujuran. The McGraw Hill Companies. R. G. 1965. Politics. 8. Bolman. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. and Leadership. 12. Eliot. L. New York. Leadership in Organizations. A. A. Miles. A. 1997. et al . S. 4 Desember 2007 165 . K & Miller. The Essentials of Power. Drory. London. Jossey-Bash Publishers. P. Choice. diakses dari http:// www. Goodyear Publishing Co. B. 1963:147-69. Management of Organization.com/news/index. 9. sehingga apa yang terjadi tak ubahnya seperti permainan. 10. Binarupa Aksara. No. 2006. Jakarta. Apapun taktik yang dipakai oleh aktor dalam rangka mempengaruhi aktor lain untuk mengejar kepentingannya selayaknya harus tetap dalam kerangka etika berorganisasi dengan tetap memegang the golden rule yaitu ”perlakukan orang lain sebagaimana kamu menginginkan orang lain memperlakukanmu” atau ”jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan orang lain melakukan hal itu kepadamu”. 14. Santa Monica. Boston. Glencoe Press. 1996. Jakarta. T.E.. Wiley. Morgan.M. Perceived Political Climate and Job Attitudes. KEPUSTAKAAN 1. Vol.php. G.H. R. Mc Bride. 2006. Bumi Aksara. Power. Sydney. 6. 7. misalnya. Robbins. Images of Organization. PT Indeks. 2002. 15. New Jersey. The Hospital in Modern Society. in Friedson. Organizational Politics. Exchange and Power in Social Life. Harvard Business School Press. New York. P. Prentice Hall Inc. Dalam proses mempengaruhi guna mengejar kepentingannya.1980:151-85. San Francisco. 11.The Hospital and Its Negotiated Order. M. Selanjutnya. 1994.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Perilaku politik dalam ”kelompok cara mempengaruhi dengan azas manfaat” dan ”kelompok cara mempengaruhi dengan kehormatan” merupakan perilaku politik yang etis dan dapat diterima semua pihak. Jakarta. Perilaku politik berdasarkan azas kehormatan mampu menanamkan ideologi dan cara hidup kepada pihak lain. from Henderson. Degeling.

dengan angka penemuan 51%. Subyeknya adalah pasien TB BTA(+) sebelum dan setelah PENGANTAR Tuberkulosis (TB) Paru masih merupakan penyakit menular yang menjadi prioritas di Indonesia. 4 Desember 2007 . be evaluated.9 juta kasus TB baru yang terdiri dari 3. public-private mix. Biaya tidak langsung tidak berbeda secara bermakna antara sebelum dan setelah kemitraan berjalan (p>0. program kemitraan tersebut belum dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan oleh pasien. total sejumlah 100 pasien.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta . Biaya langsung untuk pengobatan TB tidak ada oleh karena obat TB diberikan gratis. Adi Utarini2 Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Denpasar. Dampak intervensi ini perlu dievaluasi dari perspektif pasien. IUATLD.e. Halaman 166 . However. Tujuan: Mengevaluasi dampak kemitraan dengan praktisi swasta terhadap keterlambatan diagnosis dan pengobatan serta biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk penanganan TB. dkk. therefore. biaya ABSTRAK Latar Belakang: Praktisi swasta (PSw) telah dilibatkan dalam program Tuberculosis (TB) sejak tahun 2002. kemitraan PPs meningkatkan penemuan kasus dan pengobatan TB di kotamadia Denpasar. cost program kemitraan dengan PSw. 3 days.000 terinfeksi virus HIV.05). PPs involvement accelerated case finding and treatment of TB cases in Denpasar municipality. delay. public-private mix. 04 Desember 2007 Luh Putu Sri Armini.e. Pada tahun 2004 diperkirakan ada 8. Secara global. i. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan kuasieksperimental pre dan post-tes dengan subyek yang berbeda. Yodi Mahendradhata2. Kesimpulan: Program kemitraan yang dilaksanakan di Denpasar meningkatkan penemuan kasus TB BTA(+) dan pengobatan pasien TB dengan DOTS di tempat praktik swasta.172 Artikel Penelitian DAMPAK KEMITRAAN PRAKTISI SWASTA TERHADAP KETERLAMBATAN DAN BIAYA PENANGANAN TUBERKULOSIS DI KOTA DENPASAR. TB drugs are free of charge. therefore.. inisiatif ini dikenal dengan Public-Private Mix. Pada tahun 2004 penemuan dan pengobatan penderita TB di Bali telah dilakukan di seluruh 107 166 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. The subjects were new smear positive patients before and after PPs involvement with a total sample of 100 patients. the limited access questionnaire from Fidelis. No.. Secara umum. IUATLD and PPM-DOTS evaluation questionnaire developed in Hyderabad. Analisis data menggunakan uji Chi-square and Mann Whitney-U.05). However. keterlambatan diagnosis. Salah satu strategi tersebut adalah melibatkan seluruh penyedia pelayanan. This initiative was then expanded to a district level through a collaboration with Gadjah Mada University Faculty of Medicine and Fidelis. Keywords: private practitioner involvement. BALI THE IMPACT OF PRIVATE PRACTITIONER ENGAGEMENT TOWARD DELAY AND COST OF TUBERCULOSIS CASE MANAGEMENT IN DENPASAR MUNICIPALITY.1 Program pengendalian TB di Indonesia merumuskan tujuh strategi dalam kerangka kerja tahun 2006-2010. The indirect cost did not differ significantly before and after the partnership (p>0. 741. namun tidak berpengaruh terhadap jarak antara diagnosis dan pengobatan (yaitu 3 hari). Kata Kunci: kemitraan dengan praktisi swasta. i. Provinsi Bali 2 Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan dan Bagian IKM. IUATLD dan kuesioner evaluasi Public-Private Mix dalam strategi DOTS yang dikembangkan di Hiderabad. Two instruments were used. FK UGM. IUATLD. Inisiatif ini kemudian diperluas melalui kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan Fidelis. Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: Private practitioners (PPs) engagement in Tuberculosis (TB) control was initiated in 2002. Pada tahun 2003 directly observed treatment shortcourse (DOTS) diimplementasikan di 183 negara dengan menyasar 83% dari penderita TB. patients did not pay the direct cost. Conclusion: The partnership program has accelerated the case finding of new smear positive TB as well as access of TB patients diagnosed at private practices to receive DOTS treatment. Vol. 10.9 juta BTA (+). Method: A quasi-experimental study using pre and post-test design with different subjects was applied. the program was not able to decrease the cost spent by the patient before and after receiving DOTS treatment. Meskipun demikian. Objective: This study aimed to evaluate the impact of private practitioner involvement on delay and cost of TB case management. The impact on this intervention from patient’s perspective should.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. it did not affect the duration between diagnosis and treatment initiation. Overall. Hasil: Kemitraan PSw dapat memperpendek jarak antara munculnya gejala dengan diagnosis.2 Inisiatif ini juga telah diterapkan di Provinsi Bali dalam bentuk kerja sama dengan rumah sakit dan praktisi swasta. The analysis applied Chi-square and Mann Whitney-U statistical tests. Pengukuran menggunakan dua instrumen yaitu kuesioner penilaian pasien dengan akses terbatas yang disusun oleh Fidelis. Result: PPs involvement has shortened the duration between start of symptoms and diagnosis. BALI Luh Putu Sri Armini1.

dampak intervensi tersebut bagi pasien belum dievaluasi. Vol. bidan dan perawat.1 6. keterlambatan pengobatan.6 19.6 22. pertemuan monitoring bulanan dengan petugas TB yang diselenggarakan di tingkat Puskesmas Rujukan Mikroskopis. khususnya yang bekerja sebagai buruh (6. dan pertemuan monitoring triwulanan dengan petugas TB/wasor. dibawa pasien dan diambil petugas TB ketika berkunjung).4 79. Data pasien BTA (+) diperoleh dari register TB kabupaten. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang dimodifikasi dari kuesioner limited access (LA) Fidelis-IUATLD dan kuesioner evaluasi PPM DOTS yang dilaksanakan di Hyderabad India6.1% versus 21.6 67. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perbedaan karakteristik responden yang bermakna sebelum dan sesudah kemitraan adalah dalam hal pekerjaan. Sampel penelitian ini adalah 49 pasien TB BTA (+) triwulan III (bulan Juli-September 2004) sebagai kelompok pembanding dan 51 pasien pada triwulan IV (Oktober-Desember) sebagai kelompok intervensi setelah kemitraan.4 42.5 Namun demikian. Tabel 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak kemitraan dengan praktisi swasta terhadap keterlambatan diagnosis dan pengobatan dan untuk mendeskripsikan biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk penanggulangan TB. Pada tahun 20022004. meskipun sejak tahun 2000 semua puskesmas telah melaksanakan program TB. dilakukan kegiatan kerja sama dengan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan. Sejak September 2004.006 0.5 X2 p 0.7 Setelah Kemitraan (n 51) n % 25 26 15 12 20 4 11 2 18 10 10 10 41 39 12 49. No.000 0.7 6. Badung dan Buleleng). kemitraan dengan praktisi swasta (PSw) mulai dikembangkan secara bertahap.2 7.6 19.3 19.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan puskesmas.6%).5 39. Fakultas Kedokteran UGM dan Fidelis IUATLD untuk memperkuat kemitraan Puskesmas dan PSw dokter. akses pelayanan kesehatan dan perilaku mencari pengobatan.205 0. Analisis data menggunakan uji Chi Square dan Mann Whitney-U.3 Situasi yang sama terjadi di kota Denpasar.0% versus 19.9 35.0 29. Penelitian dilaksanakan di kota Denpasar.0 28. form pengiriman pasien untuk diagnosis/pengobatan rangkap tiga (untuk disimpan dokter.4 76. akan tetapi angka penemuan kasus tetap belum dapat mencapai target program 70%.000 0.9 6. Sejak tahun 2002. 4 Desember 2007 167 .977 14. Intervensi terdiri dari advokasi ke PSw tentang DOTS dan pilihan peran PSw melalui lunch seminar.0 20.6 80.999 0.0 51. telah dilakukan sosialisasi mengenai strategi DOTS kepada dokter praktik swasta (DPS).1 49.000 0.3 32.6%) dan yang tidak bekerja (49.4 23.999 0.389 0. 10.1 6. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuasieksperimental dengan rancangan pre-post test menggunakan subyek yang berbeda. Karakteristik Responden Penelitian (n=100) Karakteristik Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tamat SD SMP SLTA PT Pekerjaan Buruh PNS Karyawan Swasta Wiraswasta Tidak bekerja Memiliki Kartu Sehat Ya Tidak Status Perkawinan Kawin Tidak Kawin Sebelum Kemitraan (n 49) n % 25 24 14 11 21 3 3 3 16 3 24 10 39 33 16 51. namun pelatihan ini belum diikuti dengan tindak lanjut monitoring dan evaluasi penerapan strategi DOTS di DPS. pelatihan detailing bagi petugas TB puskesmas untuk melakukan surveilans ke PSw melalui kunjungan ke tempat praktik.5 23.999 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. biaya langsung dan tidak langsung. Kontribusi PSw dalam menemukan BTA(+) mencapai 20% dari total BTA(+) di 3 kabupaten yang diintervensi (Denpasar.1 32.0 49. Variabel utama yang diteliti adalah keterlambatan diagnosis.6 3. Sejumlah lima surveyor dilatih untuk menggunakan instrumen dengan cara wawancara pasien.8 21.

Kunjungan Pertama ke Pelayanan Kesehatan.00 7.05).50 5.694 0.9 56.00 21.00 13. 999 Tabel 3. 10. Pada Tabel 2 dapat dilihat UPK yang pertama kali dikunjungi responden untuk mengobati penyakitnya adalah praktik swasta diikuti oleh pengobat tradisional puskesmas dan rumah sakit.016* 0. Lama sejak mulai muncul gejala hingga diagnosis menunjukkan bahwa program kemitraan mempercepat penemuan kasus TB.501 0.702 0. Upaya Mencari Pengobatan Sebelum dan Sesudah mendapatkan Pengobatan DOTS Uraian UPK yang pertama kali dikunjungi sebelum pengobatan DOTS Tradisional Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK yang pernah dikunjungi sebelum pengobatan DOTS Tradisional Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK yang menganjurkan pemeriksaan Dahak Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK tempat pengobatan DOTS Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit Sebelumnya mencari pengobatan lain Ya Tidak Sebelum Kemitraan (n 49) n % Setelah Kemitraan ( n 51) n % X2 p 7 27 4 2 9 32 18 11 10 28 11 3 31 15 40 9 17.4 43.1 35.00 1.305 0. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) lama waktu mulai muncul gejala hingga terdiagnosis pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan.0 27.017 0. UPK yang pertama kali menganjurkan responden memeriksa dahak pada kelompok sebelum kemitraan masih didominasi Puskesmas.00 2.00 3.0 5. Vol. No.00 p 0.5 80. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) yang relatif sama karena tidak signifikan secara statistik (p>0.0 22.00 11.1 63.001* 0.7 71.763 0.Luh Putu Sri Armini.05).5 20.3 21.2 85.5 10.00 8.001 0.05).9 21.75 6.00 1.50 10.75 6.00 6.001 0.00 4.50 13. Perbedaan median tersebut tidak signifikan secara statistik (p>0.155 0. Tabel 2.00 3. Hanya sekitar 20% responden baik sebelum maupun setelah kemitraan yang langsung mendapatkan pengobatan DOTS.7 42.699 0.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta . diikuti dengan rumah sakit dan praktik swasta.1 22.00 12.528 0. 4 Desember 2007 . UPK tempat pengobatan DOTS terbanyak adalah di Puskesmas.00 21.75 4. Program kemitraan belum mempercepat waktu dari mulai terdiagnosa hingga diobati karena nilai median (Q2) lama waktu mulai terdiagnosis hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan sama dengan kelompok responden sebelum kemitraan.0 26.4 57.00 6.00 9.5 67.264 0.00 0.895 0.4 21.3 30.00 1.999 0.029* 168 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.00 1.00 11. dkk... Pada kelompok setelah kemitraan justru PSw yang pertama kali menganjurkan pemeriksaan dahak.9 .00 Setelah Kemitraan Q1 Q2 Q3 6.9 37. Diagnosis hingga Pengobatan Lama waktu antara: Gejala–diagnosis (minggu) Diagnosis–pengobatan (hari) Gejala-kunjungan pertama ke UPK (minggu) Kunjungan pertama–pengobatan (minggu) Gejala–pengobatan (minggu) Sebelum Kemitraan Q1 Q2 Q3 7.6 5. 034 1.0 45.6 2.4 6. Program kemitraan belum mampu menurunkan lama muncul gejala hingga pasien berkunjungan pertama kali pada suatu UPK.00 5.6 18.4 7 30 5 0 11 36 18 9 22 18 11 3 29 19 42 9 16.3 82. Lama Waktu Sejak Muncul Gejala.00 10.222 0.6 81.146 6. Perbedaan median tersebut signifikan secara statistik (p<0.4 11. Lama waktu dari mulai muncul gejala hingga pasien melakukan kunjungan pertama kali pada suatu UPK pada kelompok sebelum kemitraan dan sesudah kemitraan relatif sama.

000 3.500 12.200 0 47.600 30. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) lama waktu mulai kunjungan pertama kali ke suatu pelayanan kesehatan hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan.223.800 109. Dari Tabel 3 dapat disimpulkan bahwa program kemitraan mempercepat penemuan dan pengobatan kasus TB di Kota Denpasar.000 14.625 49.000.000 15.850 10. Nilai median (Q2) lama waktu mulai muncul gejala hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan.416 0.200.660.000 4.000 12.000 90.000 320.000 65.000 5. 10.850 312.000 0 9.120 0.000 19.400.701 0.370 0.000 284. Median total biaya yang dikeluarkan selama pengobatan sebesar Rp69.750 1.500 76.500 300. di setiap UPK sebelum mendapatkan pengobatan DOTS terpapar dalam Tabel 5.000 9.850 6. biaya tak langsung maupun total biaya.800 94.000 183.000 4.000 197. Hal tersebut berarti selama menjalani pengobatan TB kebanyakan responden tidak mengeluarkan biaya atau gratis. karena terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok tersebut.700 9.000 15.649 35.375 6.500 52.800 15.500 116.00 pada responden setelah kemitraan dan secara statistik juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.500 12.785 0.909 0.200 458.400 20.459 1.065 0.000 0. responden sebelum kemitraan dan setelah kemitraan juga relatif sama karena hasil Mann Withney tidak signifikan (p>0.800 95.600 2.000 300.046* 0.304 Tabel 5.000 60. baik biaya langsung maupun tak langsung dan total biaya yang dikeluarkan. Biaya yang telah dikeluarkan untuk mencari pengobatan penyakitnya.500 192. Total biaya keseluruhan yang dikeluarkan sebelum mendapatkan pengobatan DOTS.000 1.200 187.629 0.000 116.250 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.500 2.000 61.000 6.500 6.400 147.250 8.424 0.600 304.000 3.000 7.000 5.600.200 69.000 536.05). Tabel 4.729.000 460. Secara statistik perbedaan tersebut signifikan.971 0.430.900 586.000 5.525 763.000 4.350 0 43.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Lama waktu dari mulai kunjungan pertama kali ke suatu pelayanan kesehatan hingga diobati menunjukkan bahwa program kemitraan mempercepat pengobatan kasus TB.000 5.038* 0.250 5.750 316.050 659. Median biaya tak langsung sebesar Rp43.500 27.000 4.750 0.800 352.000 23.250 9.200 60.600 36.000 591.400 302.400 68.00 pada kelompok responden kelompok sebelum kemitraan dan Rp47.000 168.800 10.200 120.500 10. No.400 8. Secara statistik perbedaan tersebut signifikan.800 370.750 152.600 184.000 107.000 160.000 470.750 292. Perbandingan Biaya Pengobatan sebelum Mendapatkan Pengobatan DOTS Biaya UPK sebelum Pengobatan DOTS Pengobatan Tradisional Langsung Tidak langsung Total Praktik Swasta Langsung Tidak langsung Total Puskesmas Langsung Tidak langsung Total Rumah Sakit Langsung Tidak langsung Total Q1 Sebelum Kemitraan Q2 Q3 Q1 Setelah Kermitraan Q2 p Q3 0.00 pada kelompok sebelum kemitraan dan Rp68.000 18.200 34. 4 Desember 2007 169 . baik biaya langsung.000 353. Lama waktu dari mulai muncul gejala hingga diobati menunjukkan bahwa program kemitraan juga mempercepat pengobatan kasus TB.000 150.05). Biaya pengobatan sebelum dan selama pengobatan DOTS Biaya ke UPK Selama Pengobatan DOTS Langsung Tidak langsung Total Sebelum Pengobatan DOTS Langsung Tidak langsung Total Q1 Sebelum Kemitraan Q2 Q3 Q1 Setelah Kermitraan Q2 p Q3 0 10.000 87.486 0. Vol.800 6.00 pada kelompok setelah kemitraan namun tidak berbedaan secara signifikan (p>0.900 2.717 0. Median biaya langsung yang dikeluarkan selama pengobatan DOTS sebesar 0 dan secara statistik juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.400 90.000 63.000 7.000 60.950 710.05).500 113.05).

Penderita yang lebih dini ditemukan akan mempengaruhi kecepatan pengobatannya. Bagi penelitian lain disarankan untuk melakukan penelitian tentang biaya yang harus ditanggung akibat dari pencarian pengobatan penyakitnya dan menjalani pengobatan DOTS. jaringan TB DOTS ke seluruh petugas puskesmas pembantu di Bali termasuk Denpasar. Biaya yang dianalisis dalam penelitian ini adalah biaya tunai yang dikeluarkan oleh penderita selama mencari pengobatan dan menjalani pengobatan DOTS.. sedangkan pada responden kelompok setelah kemitraan justru lebih banyak yang telah dianjurkan untuk memeriksakan dahak. Pembahasan Metodologis Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan program kemitraan di Kota Denpasar seharusnya dilakukan penelitian komparatif. 4 Desember 2007 . Semakin banyak UPK praktisi swasta yang terlibat dengan dalam penemuan kasus TB menunjukkan program kemitraan di Denpasar semakin berhasil. 10. Median biaya langsung untuk mencari pengobatan tradisional yang dikeluarkan responden kelompok sebelum kemitraan lebih besar dibandingkan kelompok setelah kemitraan. Biaya akibat kehilangan waktu kerja selama mencari pengobatan penyakitnya dan menjalani pengobatan DOTS tidak dihitung. Keterlambatan tersebut kemungkinan karena pasien disebut ”patient delay” yaitu rentang waktu antara gejala dimulai sampai pasien mengunjungi fasilitas kesehatan. Penggunaan kontrol pelaksanaan program kemitraan dengan daerah lain tidak dilakukan karena pelaksanaan program kemitraan telah dilaksanakan di seluruh Provinsi Bali. tempat tinggal pasien yang jauh dari fasilitas kesehatan dan bila pasien itu seorang pecandu alkohol. perbedaan tersebut karena di Hyderrabad dan New 170 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.8 Beberapa hal yang mempengaruhi keterlambatan dari pasien antara lain : pengetahuan pasien tentang TB. Hasil Survei prevalensi TB tahun 2004 menemukan bahwa proporsi pasien yang mendapat pengobatan awal di puskesmas hampir sama dengan praktik swasta yaitu sekitar 40-60%. Keterlibatan UPK praktik swasta yang semakin besar mempercepat waktu dari muncul nya gejala hingga terdiagnosis maupun pengobatan DOTS. No. Vol. Responden yang ditemukan oleh UPK praktik swasta kemungkinan melanjutkan pengobatan DOTS di Puskesmas atau Rumah Sakit.Luh Putu Sri Armini.. 9 Biaya yang dikeluarkan oleh penderita TB untuk mencari pengobatan sebelum menjalani pengobatan DOTS baik responden sebelum kemitraan maupun setelah kemitraan tidak berbeda bermakna. Berbeda dengan hasil evaluasi ekonomi yang dilaksanakan pada pelaksanaan PPM DOTS di Hyderrabad dan New Delhi India. PPM DOTS yang dilaksanakan di Hyderrabad dan New Delhi India mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh pasien. Sesuai kebijakan Dinas Kesehatan Provinsi Bali dan kota Denpasar perluasan TB DOTS dilaksanakan pada lebih banyak rumah sakit swasta dan praktisi swasta termasuk bidan dan perawat. puskemas dan rumah sakit (p>0. Hal tersebut menunjukkan bahwa perilaku masyarakat dalam pencarian untuk penyakit yang dideritanya baik pada kelompok responden sebelum kemitraan maupun setelah kemitraan masih relatif sama.05). Pembahasan Isi dan Konteks Program TB di Denpasar Bali Program kemitraan mempercepat penemuan kasus TB BTA (+) di UPK praktik swasta dan pasien segera mendapatkan pengobatan DOTS. sebaliknya biaya tak langsung sebelum kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok setelah kemitraan. Perubahan tersebut karena program kemitraan yang dilakukan dengan melatih UPK praktik swasta untuk menemukan TB.05). Median biaya langsung. 7 Responden kelompok sebelum kemitraan yang berkunjung ke UPK praktik swasta lebih banyak tidak menganjurkan pemeriksaan dahak. biaya tak langsung dan total biaya yang dikeluarkan responden kelompok sebelum kemitraan dan setelah kemitraan tidak terdapat perbedaan baik pada UPK praktik swasta. dkk. Total biaya di UPK pengobatan tradisional tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0. sehingga program kemitraan juga telah dilaksanakan di semua kabupaten lain. Penelitian ini tidak dapat membandingkan daerah yang melaksanakan program kemitraan dengan daerah lain yang belum melaksanakan program tersebut. di ikuti dengan rumah sakit umum. sehingga banyak fasilitas pelayanan kesehatan selain puskesmas yang harus dilibatkan. PEMBAHASAN 1. Di Provinsi Bali khususnya di Kota Denpasar masih banyak potensi pelayanan praktisi swasta yang memungkinkan untuk dilibatkan dalam penemuan kasus TB. disamping juga akan memperluas 2.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta . Program kemitraan telah berhasil mempengaruhi perilaku UPK untuk mencurigai pasien yang batuk dan keluhan dada lain untuk diperiksa lebih lanjut terutama pada praktik swasta dan rumah sakit. Pembanding diambil dari pasien TB BTA(+) triwulan III sebelum kemitraan dilaksanakan. rumah sakit swasta dan klinik swasta. Akan tetapi tidak semua praktik swasta dipilih menjadi tempat pengobatan DOTS secara rutin bagi penderita TB.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Delhi India pelaksanaan PPM DOTS dilaksanakan oleh lebih banyak sektor praktisi swasta, rumah sakit swasta, perawat swasta, dan laboratorium swasta yang tidak memungut bayaran pada pasien TB yang berobat, sedangkan di Denpasar yang tidak dibayar oleh pasien hanya alat TB (di semua UPK dan praktisi) dan laboratorium (di Puskesmas). Implikasi Hasil Penelitian terhadap Kebijakan dan Program TB di Denpasar Program kemitraan yang dilakukan di Kota Denpasar telah meningkatkan penemuan kasus TB BTA (+) dan memperpendek waktu dari munculnya gejala hingga diagnosis dan pengobatan. Hal tersebut berarti keterlibatan praktik swasta di Kota Denpasar terhadap pemberantasan TB semakin besar, walaupun belum optimal. Hasil penelitian menemukan masih terdapat UPK praktik swasta yang tidak menganjurkan pemeriksaan dahak kepada pasien dengan gejala TB. Pemeriksaan dahak merupakan salah satu upaya untuk menegakkan diagnosis TB pada pasien yang diduga terjangkit TB. Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis dilakukan terhadap dahak sewaktu pagi sewaktu (SPS) secara mikroskopis identik dengan pemeriksaan secara kultur atau biakan.10 Undang-Undang Praktik Kedokteran No. 29/ 2004 secara spesifik menyebutkan adanya kewajiban dari semua praktisi dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar yang artinya praktisi swasta seharusnya mengetahui dan menerapkan International Standar TB Care (ISTC) yaitu manajemen DOTS. Secara kualitas maupun kuantitas, keterlibatan praktik swasta harus ditingkatkan dengan melibatkan UPK yang lebih banyak karena pada tahap awal UPK praktik swasta yang dilibatkan, termasuk UPK praktik swasta paramedis dan bidan. Advokasi DOTS dan promosi standar pelayanan TB dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar diperlukan memperkuat jejaring antara klinik praktik swasta, rumah sakit dan pelayanan kesehatan yang lain yang belum menerapkan DOTS. Hal tersebut dikarenakan kebijakan kesehatan merupakan kewenangan daerah akibat dari desentralisasi masalah kesehatan. Peran Dinas Kesehatan yang lebih besar dibutuhkan untuk melibatkan lebih banyak praktisi swasta yang ada di Denpasar. Hal tersebut tidaklah mudah karena banyaknya praktisi swasata yang ada di Denpasar dan memerlukan pembiayaan untuk melaksanakan ekspansi tersebut. Saat ini ekspansi 3.

DOTS di Denpasar didanai dari Global Fund (GF), diperlukan juga suatu komitmen dari pemerintah kota untuk pembiayaan DOTS ini kalau GF sudah tidak mensubsidi dana lagi. Perluasan manajemen DOTS di Denpasar dikaitkan juga dengan regulasi perijinan dokter praktik swasta yang mencari izin praktik. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kesimpulan studi ini adalah bahwa program kemitraan Puskesmas-praktisi swasta di Denpasar dapat mempercepat penemuan kasus TB BTA (+) dan mempersingkat jarak antara diagnosis dan pengobatan dengan DOTS. Akan tetapi program kemitraan ini belum dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan oleh pasien, baik sebelum maupun sesudah memperoleh pengobatan DOTS. Saran Disarankan agar Dinas Kesehatan membuat kebijakan untuk melanjutkan model kemitraan Puskesmas-PSw ini. Selain itu, petugas TB Puskesmas menyarankan PSw untuk melakukan promosi kesehatan terhadap pasien dan memberikan penjelasan mengenai kemungkinan kunjungan oleh Puskesmas apabila terjadi mangkir pengobatan. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk menghitung total biaya pasien, termasuk opportunity cost. Kelompok pembanding (yaitu kabupaten yang belum melaksanakan kemitraan Puskesmas-PSw) dapat memperkuat rancangan penelitiannya. KEPUSTAKAAN 1. WHO. WHO Report 2006: Global Tuberculosis Control.2006. 2. Arora, V.K., Lonnroth, K. & Sarin, R. Improved Case Detection of Tuberculosis through a PublicPrivate Partnership Indian Journal of Chest Disease & Allied sciences. 2004;46:133-6. 3. Sub Dinas PPM & PLP Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Laporan Hasil P2 Tuberkulosis di Bali. 2004. 4. Sub Dinas P2P Dinas Kesehatan Denpasar Bali. Laporan Hasil P2 Tuberkulosis di Denpasar. 2004. 5. Utarini, A., Mahendradhata, Y., Syahrizal, B.M. Project Report Program Akselerasi Kemitraan Pemerintah – Praktisi Swasta Dalam Pengendalian Tuberkulosis di Provinsi DIY dan Bali. PMPK FK UGM, Fidelis & IUATLD. 2005. 6. Murthy, K.J.R., Frieden, T.R., Yazdani, A., Hreshikesh, P., (2001). Public-Private Partnership in Tuberculosis Control: Experience in Hyderabad, India. The International Journal

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

171

Luh Putu Sri Armini, dkk.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta ...

7.

8.

of Tuberculosis and Lung Disease. 2001;5 (4): 354-9. Soemantri, S. Senewe, F.P. eds. Tuberculosis Prevalence Survey in Indonesia 2004; Project DOTS Expansions GF ATM. 2005. Demissie, M, Lindtjorn, B, & Berhane, Y. Patient and Health Service Delay in the Diagnosis of Pulmonary Tuberculosis in Ethiopia. Biomedcentral Public Health. 2002; 2(23):1-7.

Rajeswari, R., Chandrasekaran V., Suhader, M., Siva Subramaniam,.S., Sudha, G., Renu, G. Factors Associated with Patient and Health System Delays in The Diagnosis of Tuberculosis in South India. The International Journal of Tuberculosis and Lung Disease. 2002;6 (9): 789-95. 10. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Jakarta. 2002.

9.

172

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 10 No. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 173 - 180 Artikel Penelitian

OPSI-OPSI KEBIJAKAN UNTUK PELATIHAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN: PEMBELAJARAN DARI PENELITIAN POLA PENINGKATAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA DALAM OTONOMI DAERAH BIDANG KESEHATAN
POLICY OPTIONS FOR HEALTH PERSONNEL’S TRAINING; LESSON LEARNED FROM THE RESEARCH ON THE PATTERN OF IMPROVING HUMAN RESOURCES COMPETENCY IN HEALTH SECTOR AUTONOMY Evie Sopacua, Didik Budijanto Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan

ABSTRACT
Background: A tendency according to the implementation of health decentralization is that health centre and hospital will change into an entrepreneurship organization while health offices will be a birocracy organization with good governance practicisme. In connection with that, various new skills for health personnel’s is needed which is managerial, leadership and entrepreneurship. Method: In the year 2002–2004, Health Services and Technology Research and Development Centre have done a study about the pattern of improving human resources competency in health sector autonomy. The study was done through several phases and in 2002 an assessment was done about health personnel’s managerial, leadership and entrepreneurship skills. In 2003 the assessment’s result was implemented, followed by an evaluation of the implementation in 2004. This study located in the province of East Java, West Nusa Tenggara and East Kalimantan. Two districts was selected purposively in each province and the research targets were the head and staff of district health office, hospital and two health centers in the selected district Result: Lesson learned from this study was some policy options. First, structuring the pattern of health personnel’s improvement in a system. Second, integrating the four level evaluation of Kirkpatrick in the training evaluation. Third, planning and implementing an effective training program using Kirkpatrik’s steps while the budget was counted with paying attention of the activity and phases according to the plan. Fourth, a management of a training program to escalate health personnel’s competencies will involved stake holders. Fifth, that health personnel’s in district health office needs to have the competency to organize and manage training programs. Conclusion: The policy option that was proposed to improve health personnel’s skill through training should be considered in the restructuretation of district health office specially in anticipating the implementation of government regulation No. 38/2007 and 4/2007. Keywords: policy options, lesson learned, health personnel’s training program

harus memahami good governance. Untuk itu, diperlukan berbagai keterampilan baru bagi sumber daya manusia kesehatan yaitu keterampilan manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan. Metode: Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan pada tahun 2002–2004 melaksanakan penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan. Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa tahapan yaitu pengkajian keterampilan SDM kesehatan tentang manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan (2002), implementasi hasil kajian melalui pelatihan (2003) dan evaluasi implementasi pelatihan (2004). Lokasi penelitian di Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Timur. Secara purposif dipilih dua kabupaten/kota di tiap provinsi penelitian dan sasaran penelitian adalah kepala dan staf dinas kesehatan kabupaten/ kota, direktur dan staf rumah sakit umum kabupaten/kota serta kepala dan staf di dua puskesmas di kabupaten/kota penelitian. Hasil: Pembelajaran dari penelitian ini adalah beberapa opsi kebijakan. Pertama yaitu penataan pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam suatu sistem. Opsi kedua adalah memasukan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dalam evaluasi pelatihan. Opsi ketiga adalah perencanaan dan implementasi program pelatihan yang efektif menurut Kirkpatrick dengan anggaran yang dihitung berdasarkan langkah kegiatan dan tahapan sesuai perencanaan. Keempat, bahwa penataan pelaksanaan suatu pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Opsi kelima, bahwa SDM di dinas kesehatan kabupaten/kota perlu memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan pelatihan. Kesimpulan: Opsi-opsi kebijakan yang diusulkan untuk peningkatan keterampilan SDM kesehatan melalui pelatihan, perlu mendapatkan pertimbangan dalam restrukturisasi dinas kesehatan kabupaten/kota khususnya mengantisipasi pelaksanaan PP No. 38/2007 dan No. 41/2007. Kata Kunci : opsi kebijakan, pembelajaran, pelatihan SDM kesehatan

ABSTRAK
Latar belakang: Sehubungan dengan pelaksanaan desentralisasi kesehatan maka terdapat kecenderungan perubahan rumah sakit dan puskesmas ke arah lembaga usaha, sedangkan dinas kesehatan menjadi lembaga birokrat yang

PENGANTAR Penerapan desentralisasi di bidang kesehatan pada tahun 1999 menyebabkan dinas kesehatan termasuk puskesmas, rumah sakit mendapat tugas dan wewenang yang sangat besar dalam era otonomi

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

173

tujuan. Observasi dan penelusuran dokumen rencana strategik dinas kesehatan. Sehubungan dengan itu. dan mengelola aspek sosial. kajian faktor eksternal dan internal lembaga. dkk. Pelaksanaan Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi SDM Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Penelitian pengembangan ini dilaksanakan dalam suatu pola dengan beberapa tahapan pelaksanaan yaitu pengkajian keterampilan manajerial SDM kesehatan yang diharapkan dan kenyataannya tahun 20022. penerapan strategi dan rencana pelaksanaan dalam rencana strategik institusi. kemampuan manajerial SDM kesehatan yang perlu dimiliki adalah keterampilan manajerial. misi. supportif. khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang terlibat didalamnya. menciptakan usaha. Kebutuhan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi SDM kesehatan tentang keterampilan manajerial.. isu strategik/pengembangan. partisipatif dan orientasi prestatif dan keterampilan kewirausahaan pada variabel keterampilan keberanian mengambil risiko. 174 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Variabel yang dikaji pada keterampilan manajerial meliputi manajemen perubahan yang diukur dari penanganan perubahan reaktif dan proaktif. Trisnantoro1 menjelaskan bahwa keterampilan yang diperlukan SDM kesehatan adalah mengelola perubahan. Untuk itu. Kemudian manajemen konflik yang diukur dari bentuk manajemen konflik (stimulasi/ penekanan/penyelesaian) dan metode yang digunakan. keterampilan kepemimpinan. dan ekonomi yang kesemuanya akan berdampak pada kinerja organisasi. sedangkan menurut Prud’Homme & Mc Lure seperti yang dicatat Trisnantoro 1. budaya. rumah sakit umum daerah dan rencana tahunan puskesmas dilakukan untuk mengkaji pemahaman konsep manajemen strategik. Manajemen strategik diukur melalui perumusan visi. 4 Desember 2007 . serta kepala dan staf di dua puskesmas di kabupaten/kota penelitian. Terkait dengan pelaksanaan desentralisasi kesehatan maka kecenderungan perubahan rumah sakit dan puskesmas ke arah lembaga usaha atau enterpreneurship. Vol. Pada penelitian tahap pertama tahun 20022 dilakukan pengkajian untuk menemukan gap antara keterampilan manajerial SDM kesehatan yang diharapkan dan kenyataannya. dalam keadaan otonomi daerah diperlukan berbagai keterampilan baru dalam aplikasi otonomi daerah.Evie Sopacua. 10. kepemimpinan dan kewirausahaan. Wawancara menggunakan kuesioner dengan skala peringkat dan sistem skoring untuk mengukur aspek konatif SDM kesehatan tentang keterampilan manajemen perubahan dan manajemen konflik. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan keterampilan dari SDM kesehatan. direktur dan staf rumah sakit umum kabupaten/ kota. sedangkan dinas kesehatan cenderung menjadi lembaga birokrat yang harus memahami good governance atau menjadi holding company dari puskesmas dan berbagai lembaga pelayanan kesehatan lainnya.. Hasil kajian merupakan kebutuhan SDM kesehatan untuk peningkatan keterampilan. strategi umum. Hasil penelitian menunjukkan gambaran keterampilan manajerial. Maka Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan melaksanakan penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan pada tahun 2002 – 2004.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia .1 Fenomena perubahan institusi pelayanan kesehatan kearah dua kutub yang berbeda yaitu kutub birokrasi dan kutub lembaga usaha perlu dipahami oleh para pimpinan lembaga kesehatan khususnya di daerah karena masing-masing kutub mempunyai kultur yang berbeda. Berdasarkan hasil pengkajian dibuat draf modul untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan. 4 Lokasi penelitian di Provinsi Jawa Timur (Jatim). Pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara dan observasi. orientasi pada tugas–hasil dan optimisme/ percaya diri. Keterampilan kepemimpinan dikaji pada variabel keterampilan direktif. implementasi hasil kajian melalui pelatihan tahun 2003 3 dan evaluasi implementasi pelatihan tahun 2004. pemasaran. politik. serta keterampilan kewirausahaan. No. negosiasi lobi. bisnis dan fungsional. kepemimpinan dan kewirausahaan perlu dilakukan. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Secara purposif dipilih dua kabupaten/ kota di tiap provinsi penelitian dan sasaran penelitian adalah kepala dan staf dinas kesehatan kabupaten/ kota. daerah (otoda). hasil penelitian Gilsons menurut Trisnantoro1 menunjukkan bahwa secara praktis perlu perubahan yang incremental. kepemimpinan dan kewirausahaan SDM kesehatan seperti yang ditunjukkan Tabel 1.

masing-masing di satu kabupaten pada ketiga provinsi penelitian. No. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit di Kabupaten pada Tiga Provinsi Penelitian Variabel Yang Dinilai 1. 2.2) 4 (18. Penilaian pemahaman konsep sedangkan untuk komponen aplikasi sedangkan untuk aplikasi dari manajemen strategik dalam aplikasi dari manajemen strategik melalui manajemen strategik melalui rencana strategik (renstra) belum normatif penyusunan rencana strategik rencana strategik (renstra) belum normatif sebagaimana yang sebagaimana yang diharapkan.2% Keterampilan kepemimpinan 62. terbanyak responden masih kurang. Pengembangan modul didampingi expert dari Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Pada tahap kedua penelitian tahun 20033. Hasil Evaluasi Proses Pembelajaran Modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan. 2. prestatif. Cara pertama adalah proses pembelajaran dengan penjelasan materi modul.3) 17 (77. terbanyak responden masih kurang. dalam aspek pemasaran. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit. Hasil evaluasi pelaksanaan pembelajaran modul terlihat pada Tabel 2. baik di dinas kesehatan.0) 2 (8. Vol.1) - - 5 (20. Disarankan untuk melaksanakan capacity building melalui pelatihan untuk implementasi modul. diharapkan.5 % responden masih kurang.6) 15 (68. responden masih kurang.1% responden masih kurang. responden masih perlu peningkatan pemahaman. Sangat sesuai Sumber : Budijanto dan Sopacua3 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Surabaya sebagai konsultan karena keterbatasan waktu dan anggaran.0) 20 (80. Sumber : Budijanto dan Sopacua2 Kesimpulan pada tahap pengkajian ini adalah bahwa keterampilan kepemimpinan dan kewirausahaan SDM kesehatan masih kurang. Tabel 2. terbanyak pada aspek suportif dan orientasi untuk aspek suportif dan orientasi untuk aspek suportif dan orientasi prestatif prestatif. implementasi modul dalam tahap kedua penelitian dilaksanakan dengan dua cara. 4.3% responden mempunyai Keterampilan untuk mengelola konflik Keterampilan untuk mengelola konflik keterampilan mengelola konflik masih 90. Pembelajaran materi modul relevan dengan tupoksi sehari-hari 2.3) 16 (72. Untuk itu. Modul dikembangkan menggunakan hubungan pelanggan atau Customer Relationship Marketing (CRM) sebagai strategi pemasaran.2) 3 (13. Kepemimpinan dan Kewirausahaan SDM Kesehatan di Tiga Provinsi Penelitian Provinsi Jawa Timur Provinsi Kalimantan Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (n=82) (n=61) (n=35) 1. Sangat tidak sesuai. Keterampilan Manajerial Ada 74. Evaluasi proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan format evaluasi tahap satu dari Kirkpatrick6 dan observasi peneliti (menggunakan format). 4 Desember 2007 175 . perlu meningkatkan kompetensi SDM kesehatan sesuai dengan perkembangan pelayanan rumah sakit dan puskesmas di masa mendatang. Keterampilan Kepemimpinan Keterampilan kepemimpinan dari 50% Keterampilan kepemimpinan 52. rumah sakit umum daerah dan puskesmas di Provinsi Kalimantan Timur.7) 14 (63.0) 17 (68.0) - - - Keterangan : Skor : 1.1% 56.0) - - 1 (4. 3. 3.0) 5 (20. Proses pembelajaran ini dilaksanakan selama tiga hari.2) 4 (18. Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur.5) 2 (9.5) 4 (18. Pembelajaran materi modul relevan dengan program institusi 3. dalam aspek pemasaran. draf modul disempurnakan menjadi modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan. 10.7) 5 (22.6) 16 (72. mengisi kertas kerja berupa refleksi pemahaman terhadap materi modul dan diskusi.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 1. Gambaran Keterampilan Manajerial. kurang.7) 4 (18.1% responden masih kurang. Sesuai. Keterampilan Kewirausahaan Keterampilan kewirausahaan dari Keterampilan kewirausahaan 54.7) 4 (18.2) Kabupaten B Provinsi Kaltim n=22 (100%) 1 2 3 4 1 (4.90% responden masih kurang terbanyak responden masih kurang.2) 5 (22.2) Kabupaten C Provinsi NTB n=25 (100%) 1 2 3 4 23 (92. Tidak sesuai.3% Keterampilan kewirausahaan 54. 91. terbanyak terbanyak dalam aspek pemasaran. Cara penyampaian materi modul dalam pembelajaran Kabupaten A Provinsi Jatim n=22 (100%) 1 2 3 4 17 (77. maka draft modul yang dibuat tentang keterampilan kewirausahaan dalam aspek pemasaran.0) 3 (12.

3) 5 (35. baik yang mengikuti pembelajaran dan sosialisasi pada penelitian tahun 2003. Tidak berpendapat 5 (29. dilakukan evaluasi implementasi modul menggunakan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick. Bermanfaat 5 (29. Proses pembelajaran dan sosialisasi bukan metode yang tepat untuk pengalihan pengetahuan materi modul.1) Tahap 3 : Behaviour Level : pelaksanaan diseminasi materi modul 1..7) 6 (42.0) 3 (21. d.0) Tahap 4: Result level: rencana penerapan materi modul di institusi (puskesmas & rumah sakit umum daerah) 1. Evaluasi tahap 1 atau Reaction Level: 60% responden menyatakan materi pelatihan bermanfaat karena relevan dengan pekerjaan sehari-hari (tupoksi). Vol. Prajoga4 Evaluasi Implementasi Modul Tahap 1 – 4 dari Kirkpatrick 176 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Evaluasi tahap 2 atau Learning Level: 60% responden menyatakan dapat menerapkan sebagian dari materi pelatihan ke dalam integritas pekerjaan mereka sehari-hari.4) Tahap 2 : Learning level : kesempatan menerapkan materi modul dan dukungan fasilitas untuk itu 1. Budijanto. tetapi keterbatasan anggaran dan waktu menyebabkan pilihan ini. c. dilakukan dalam satu hari. Tidak ada kesempatan dan dukungan fasilitas 1 (7.6) 8 (66.0) 2 (14.7) 10 (71. Dilakukan.7) 2. Pada tahap ketiga penelitian tahun 20044.9) 2.4) 4 (33. Kesimpulan pada penelitian tahap kedua ini bahwa proses pembelajaran dan sosialisasi materi modul sebagai cara pelatihan untuk meningkatkan keterampilan SDM kesehatan dapat dilakukan. tetapi pengulangan penilaian dilakukan untuk mendapatkan kesinambungan penilaian dari tahap 1 sampai 4 pada responden yang sama.1) 8 (66.3) 7 (50. masing-masing di satu kabupaten pada ke tiga provinsi penelitian. Evaluasi Implementasi Modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan.4) 4 (33. b. Perlu dilakukan evaluasi implementasi (evaluasi pascapelatihan) untuk menilai apakah materi modul benar-benar dimanfaatkan dalam pekerjaan sehari-hari dan berdampak bagi puskesmas dan rumah sakit.9) 3. khususnya dalam menciptakan program-program CRM sebagai suatu strategi pemasaran.4) 2. Proses pembelajaran dan sosialisasi ini diikuti oleh responden yang sama pada penelitian tahun 2002. Penilaian pada setiap tahap evaluasi adalah sebagai berikut. lebih dari 60% di ketiga provinsi penelitian sama dengan evaluasi tahap 1 (reaction level) dalam Tabel 3. 10. Tidak berpendapat 1 (8. a. Tidak berpendapat 3 (25. Cara kedua adalah sosialisasi yaitu penjelasan materi dengan diskusi tanpa pengisian kertas kerja.. Tabel 3. tetapi hanya yang berasal dari rumah sakit umum daerah dan dari dua puskesmas terpilih di tiga provinsi penelitian serta kepala dinas dan kepala subdin bina pelayanan dinas kesehatan kabupaten/kota.6) 5 (41.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . hanya sebagian materi 12 (70. Evaluasi tahap 3 atau Behaviour Level: 60% responden menyatakan telah mendiseminasikan sebagian materi pelatihan kepada teman sekerja dalam unit/bidang yang sama dalam integritas pekerjaan mereka sehari-hari (perubahan keahlian).3) 2 (14. Cukup Bermanfaat 12 (70.9) 3 (25. Hasilnya tidak jauh berbeda karena kesesuaian materi modul pada Tabel 2.Evie Sopacua.6 Evaluasi dilaksanakan pada responden dari puskesmas dan rumah sakit. Tetapi disarankan agar implementasi modul dilanjutkan dengan pendampingan sehingga diperoleh pengalihan pengetahuan sebagai hasil dari implementasi modul. Ada kesempatan menerapkan sebagian materi dan cukup dukungan fasilitas 17 (100) 12 (100) 13 (92. 4 Desember 2007 . Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit Menggunakan Evaluasi 4 Tahap dari Kirkpatrick di Tiga Provinsi Penelitian Provinsi Jatim Provinsi Kaltim Provinsi NTB n=17 (%) n=17 (%) n=14 (%) Tahap 1 : Reaction level : materi pelatihan bermanfaat karena relevan dengan pekerjaan sehari-hari (tupoksi) 1.0) 2. Evaluasi proses sosialisasi hanya dengan observasi peneliti menggunakan format evaluasi.7) 7 (50. dkk. No. tetapi yang menerapkan materi modul dalam pekerjaannya sehari-hari.3) Sumber : Sopacua. Walau sebenarnya evaluasi tahap 1 dari Kirkpatrick6 sudah dilakukan pada penelitian tahun 2003 (Tabel 2).3) 3. Evaluasi tahap 4 atau Result Level: 60% peserta pelatihan dapat membuat rencana penerapan materi pelatihan untuk dilaksanakan dalam kegiatan sehari-hari. Belum ada rencana penerapan 1 (5. Sudah ada rencana penerapan 16 (94. Pelatihan merupakan komponen penting dari pembelajaran atau learning5 tetapi diharapkan proses ini dapat menghasilkan perubahan yaitu didapatnya kemampuan baru yang berlaku untuk waktu yang relatif lama.

3. Kegiatan yang dihitung sudah termasuk pengkajian kebutuhan pelatihan dan pelaksanaan evaluasi tahap 3 dan 4 dengan pengulangan pada tenggang waktu yang sudah ditentukan dalam perencanaan pelatihan. Kegiatan juga termasuk pengkajian ulang pada evaluasi tahap 4 dengan materi yang juga digunakan pada pengkajian kebutuhan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. rumah sakit dan puskesmas. 4. Pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan diawali dengan suatu pengkajian kebutuhan pelatihan (training need assessment = TNA) yang menjelaskan gap antara harapan dan kenyataan yang ada. Keterbatasan ini juga menyebabkan pada evaluasi tahap 4 tidak dilakukan pengkajian ulang tentang keterampilan kewirausahaan dengan materi yang sama yang digunakan pada penelitian tahap satu sehingga peningkatan keterampilan SDM kesehatan dampak pelatihan dapat diukur. Modul materi pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan sesuai hasil kajian apabila belum ada. tetapi pada penelitian ini tidak dapat dilakukan karena keterbatasan waktu dan anggaran. 2. Pendampingan pada aplikasi materi pelatihan dalam pekerjaan sehari-hari diperlukan sehingga pengalihan pengetahuan dapat terlaksana. Dukungan diperlukan agar materi modul diterapkan secara terintegrasi dengan kegiatan lain yang diselenggarakan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat dianggarkan. Keterbatasan waktu dan anggaran menyebabkan pola peningkatan kemampuan SDM kesehatan melalui penelitian ini tidak dapat dilaksanakan sebagaimana yang seharusnya. Kirkpatrick6 menganjurkan agar pada evaluasi tahap 3 dan 4 dilakukan penilaian ulang dengan tenggang waktu yang ditentukan. Lesson learned yang diperoleh adalah bahwa: 1. Menurut Kirkpatrick6. sehingga dapat diketahui apakah ada peningkatan keterampilan setelah pelatihan. Pelatihan sebaiknya direncanakan berdasarkan suatu analisis kebutuhan pelatihan. Pada evaluasi tahap 3 target tersebut dicapai Provinsi Jatim dan Kaltim. ke-4 tahap evaluasi ini berkaitan sehingga pencapaian tahap berikut tergantung tahap sebelumnya. Evaluasi tahap 3 dan 4 sebaiknya dilakukan dua kali dengan tenggang waktu yang sudah ditentukan dalam perencanaan pelatihan. hasil kajian merupakan data awal atau data dasar yang pada evaluasi pascapelatihan dapat dibandingkan untuk menilai keberhasilan pelatihan. Perencanaan pelatihan sebaiknya sudah mengandung pelaksanaan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dengan waktu penjadwalan yang sudah diagendakan dan anggaran yang sudah diperhitungkan berdasarkan kegiatan yang akan dilakukan. Lesson Learned Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi SDM Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Penelitian pada tahun 2002-2004 seperti yang diuraikan di atas menggambarkan suatu pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam otonomi daerah bidang kesehatan. No. Vol. Hasil kajian digunakan sebagai dasar perencanaan pelatihan bagi SDM kesehatan yang diharapkan berdampak pada kinerja organisasi baik dinas kesehatan. Walau di Provinsi NTB. tetapi pada evaluasi tahap 4 target evaluasi tercapai karena sebenarnya terjadi perubahan keahlian. Di samping itu. tetapi memerlukan perencanaan yang matang dan komprehensif dengan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan . dana dan experts. Selain itu. pencapaian evaluasi tahap 3 hanya 50%. 4 Desember 2007 177 . tetapi untuk itu diperlukan dukungan dari dinas kesehatan dan juga pemerintah daerah. 2 dan 4 di ketiga provinsi penelitian tercapai. perlu dikembangkan dan pengembangan modul membutuhkan waktu. Pelatihan bukan sesuatu yang dapat dilaksanakan secara instan. Ada dua hal yang ditengarai sebagai penyebab yaitu materi modul belum merupakan prioritas dan ketidakpahaman dinas kesehatan tentang materi modul walau saat pembelajaran dan sosialisasi dinas kesehatan terlibat dan hadir. untuk evaluasi tahap 1. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 ini kemudian dibandingkan dengan hasil pengkajian kebutuhan pelatihan pada penelitian tahap satu. 10. Kesimpulan evaluasi implementasi modul menunjukkan bahwa materi modul dapat diterapkan di puskesmas dan rumah sakit. Pelatihan pada SDM kesehatan untuk peningkatan kompetensi sebaiknya direncanakan berdasarkan kebutuhan pelatihan yang normatif sehingga ada dukungan pascapelatihan dari institusi ketika materi pelatihan diimplementasikan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 3 menunjukkan bahwa target yang ditentukan pada evaluasi setiap tahap yaitu 60%. pada evaluasi tahap 4 seharusnya dilakukan pengkajian ulang tentang keterampilan kewirausahaan dengan materi yang sama yang digunakan pada tahap satu penelitian. Kendala yang dihadapi dalam implementasi modul di puskesmas khususnya adalah belum ada dukungan dinas kesehatan. Disarankan agar evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dilakukan pada pelatihan jangka panjang yang terencana dengan baik di puskesmas dan rumah sakit.

Opsi-Opsi Kebijakan Ada beberapa pelajaran yang diperoleh dari penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan yang dapat menjadi beberapa opsi kebijakan. No. seperti penyiapan kurikulum dan materi pembelajaran. pelatihan. bukan hanya melakukan perbandingan kemampuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan (pre dan postes). Oleh sebab itu. Opsi pertama adalah penataan pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam suatu sistem (Gambar 1). titik beratnya adalah pada pelaksanaan atau penyampaian bahan belajar. 10.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . Kompetensi menurut Sofo7 dapat didefinisikan sebagai apa yang diharapkan di tempat kerja dan merujuk pada pengetahuan. Sebagian sudah melakukan evaluasi pembelajaran atau evaluasi hasil belajar. sebagian lainnya belum melakukan.6 Dampak atau outcome pelatihan yang diharapkan adalah peningkatan kinerja individu dan organisasi serta return of investmen (ROI) yang dinilai melalui evaluasi tahap 4 dari Kirkpatrick.Evie Sopacua. sehingga pelatihan-pelatihan lebih cenderung kepada pelatihan yang mendukung pelaksanaan program. Sebagian besar pelatihan. Vol. dkk. Proses dalam sistem adalah pelaksanaan pelatihan diikuti evaluasi tahap 1 dari Kirkpatrick6 selain pre dan postes. 4 Desember 2007 .. sehingga diperoleh dua kali pengukuran sebagai kondisi pre dan postes output atau luaran adalah peningkatan keterampilan dan pengetahuan serta perubahan keahlian dan perilaku peserta pelatihan yang diukur melalui evaluasi tahap 3 dari Kirkpatrick. Opsi kedua adalah memasukan pola evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick6 dalam evaluasi pelatihan karena evaluasi pada tahap 1 dan 2 dari Kirkpatrick merupakan evaluasi formative sebab menghasilkan informasi untuk organisasi tentang penyelenggaraan pelatihan. evaluasi pelatihan menurut Kirkpatrick6 adalah untuk menentukan efektivitas dari suatu program pelatihan. Dalam makalah pengembangan model unit diklat kesehatan 5 dikatakan bahwa pada umumnya perencanaan dan penyelenggaraan pelatihan di dinkes kabupaten/kota diserahkan kepada masing-masing subdinas/bidang. tidak melalui suatu rancangan pelatihan yang seharusnya. sedangkan evaluasi tahap 3 dan 4 merupakan evaluasi summative karena menghasilkan informasi yang berfokus pada dampak pelatihan bagi organisasi atau pascapelatihan. Sebagai sistem. Evaluasi pascapelatihan hampir belum dilakukan. Evaluasi pelatihan menurut Assessors and Workplace Trainers (dikutip Sofo7) merujuk pada proses pengkonfirmasian bahwa seseorang telah mencapai kompetensi.. Efektivitas pelatihan menurut Newby yang dikutip Irianto8 berkaitan dengan sejauh mana program pelatihan yang diselenggarakan mampu mencapai apa yang memang telah diputuskan sebagai tujuan yang harus dicapai. masukan atau input adalah pengkajian kebutuhan pelatihan yang merupakan data dasar untuk perencanaan pelatihan dan pengembangan modul pelatihan.6 Pada evaluasi tahap 4 ini juga dilakukan pengkajian ulang dengan materi yang juga digunakan pada pengkajian kebutuhan pelatihan yang hasilnya merupakan data dasar kompetensi yang dimiliki SDM kesehatan. Evaluasi tahap 2 dapat ditanyakan bersamaan dengan evaluasi tahap 1 dan diulangi ketika peserta pelatihan sudah kembali bekerja. keahlian dan sikap yang dipersyaratkan bagi pekerja untuk mengerjakan pekerjaannya. Pola Peningkatan Kompetensi SDM Kesehatan Dalam Suatu Sistem 178 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. walaupun masih terbatas pada pre dan postes. serta berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing pemegang program. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 dibandingkan dengan data dasar untuk menilai peningkatan kinerja SDM kesehatan sebagai akibat pelatihan. Gambar 1. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 dibandingkan dengan hasil pengkajian kebutuhan pelatihan sehingga dapat diketahui apakah ada peningkatan keterampilan setelah pelatihan.

SDM di dinas kesehatan kabupaten/kota perlu memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan pelatihan karena pada kenyataannya selama ini sudah melakukan penyelenggaraan pelatihan dengan kapasitas yang sangat terbatas. siapkan audio visual aids. tetapkan fasilitas dan sarana yang akan digunakan. 10. Binkesmas dan BPPSDM mendukung anggaran dan pelaksanaan analisis kebutuhan pelatihan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Untuk itu. perencanaan dan pelaksanaan pelatihan yang komprehensip. perguruan tinggi. Opsi kelima. Kerja sama para pemangku kepentingan diperlukan dalam melakukan analisis kebutuhan pelatihan. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik (Ditjen Yanmedik) dan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat (Ditjen Binkesmas) Departemen Kesehatan RI. Dampak pelatihan diharapkan menyebabkan peningkatan kinerja SDM kesehatan dan institusi.725/Menkes/ SK/V/2003 bahwa pelatihan adalah proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan kinerja. Sopacua. perencanaan dan implementasi program pelatihan yang efektif sebaiknya mengandung 10 langkah kegiatan menurut Kirkpatrick6 yaitu: tentukan kebutuhan pelatihan. Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan (Tahap I: Assesment Keterampilan Manajerial Sumber Daya Manusia Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan). opsi ketiga adalah memperhatikan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. dinas kesehatan. Maka anggaran untuk pelatihan dihitung dengan memperhatikan setiap langkah kegiatan dan tahapan sesuai perencanaan. tetapkan penjadwalan. 38/2007 pengganti PP No. rumah sakit. dinas kesehatan. tetapkan tujuan akhir yang akan dicapai.5 Maka dalam peningkatan kompetensi SDM kesehatan. Budijanto. Vol. Upaya peningkatan dilaksanakan melalui pelatihan sesuai keputusan Menkes RI No. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan (BPPSDM). Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes). Sopacua. Pengembangan Kapasitas Keterampilan Manajerial Dalam Berwirausaha Bagi Tenaga Kesehatan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2. bahwa penataan pelaksanaan suatu pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. KESIMPULAN Opsi-opsi kebijakan yang diusulkan berdasarkan lesson learned dari pelaksanaan penelitian di Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan tahun 2002 – 2004. Fakultas Kedokteran. Pertimbangan utama bahwa dengan berbagai perubahan yang terjadi termasuk perubahan organisasi kesehatan maka kompetensi SDM kesehatan dalam keterampilan manajerial perlu ditingkatkan. L.9 Kepada mereka yang ditempatkan di seksi atau bidang SDM ini terlebih dulu diberikan pemahaman tentang tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan sehingga dapat merancang pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan berjangka panjang dan komprehensif. Budijanto. D. 4 Desember 2007 179 . tentukan materi. 3. Pelaksanaan pelatihan dengan penyiapan kurikulum dan materi pembelajaran sesuai dengan hasil kajian. maka hal ini dapat diantisipasi dinas kesehatan kabupaten/kota ketika merestrukturisasi struktur organisasi sesuai PP No. D. Berkenaan dengan pelatihan. 2000. 25/2000 bahwa dinas kesehatan kabupaten/kota menjalankan fungsi regulator. Hal ini dapat diatur dengan mensinergikan berbagai kepentingan dalam tata kerja sama yang disepakati. Yogyakarta. perencanaan dan pelaksanaan pelatihan dengan peraturan dan perundangan sebagai payung yang dirujuk oleh Balitbangkes. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). Surabaya. profesionalisme dan atau menunjang pengembangan karier tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. 41/2007 dengan memasukkan pendidikan dan pelatihan sebagai seksi pada kelompok fungsional atau pada bidang SDM. Penghitungan anggaran termasuk waktu pelaksanaan evaluasi pascapelatihan tahap 1 – 4 dari Kirkpatrick. Para pemangku kepentingan di antaranya adalah pemerintah daerah. tentukan kriteria peserta. perlu mendapatkan pertimbangan dalam restrukturisasi dinas kesehatan kabupaten kota khususnya.. KEPUSTAKAAN 1. yang untuk tahap 3 dan 4 mungkin dilaksanakan setelah 1 tahun pascapelatihan.. No. E. rumah sakit dan Bapelkes. E. tetapkan narasumber. Pelatihan SDM kesehatan tidak hanya untuk mendukung pelaksanaan program tetapi dirancang berdasarkan pengkajian kebutuhan pelatihan. Opsi keempat. Trisnantoro. Keterampilan Manajerial Desentralisasi. UGM.5 Sesuai dengan PP No.725/Menkes/SK/V/2003 yang dirancang secara efektif dan komprehensif dengan memperhatikan berbagai pemangku kepentingan serta peraturan perundangan yang berlaku. Ditjen Yanmedik. koordinasikan program ini dengan bagian lain atau sektor lain terkait dan evaluasi program pelatihan. 2002.

Y. E. 2007.net (Diakses 10 November 2007) 180 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 4.2004. Irianto.lrckesehatan. 7. 41/2002. Insan Cendekia.net . Prajoga.. Prinsip-Prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. 2003. M. Airlangga University Press. Pengembangan Sumber Daya Manusia..38 dan No. 5. Jusuf Irianto.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . Sofo. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. Meliala A.desentralisasikesehatan. No. D. Surabaya. dkk. 9. Budijanto. F.. 4 Desember 2007 . 8. Surabaya.. Pengembangan Model Unit Diklat Kesehatan. www. Kirkpatrick. Evaluating Training Programs – The Four Levels-. Vol. 10. Kabupaten/Kota di Propinsi Kalimantan Timur.Inc.Com. Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur. PPT dalam Kursus Desentralisasi. Berrett . Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. Surabaya.2003. 1994.Koehler Publishers. Diterjemahkan oleh drs.Evie Sopacua. Sopacua.2001. www. (Diakses 18 Desember 2007) 6. PP No. Surabaya. D. Evaluasi Kemampuan Manajerial SDM Kesehatan di Kabupaten/Kota dalam Era Desentralisasi Evaluasi Implementasi-.

Besaran anggaran yang disediakan mengalami peningkatan dibandingkan dengan anggaran yang dialokasikan sebelumnya. sehingga harus dikelola secara baik dan kebijakan yang melandasinya harus berdasarkan formulasi yang tepat mulai dari tahap perencanaan hingga pengendalian. Hal ini karena pertimbangan kasus yang dihadapi merupakan kasus baru yang terus menunjukkan progresivitas angka kematian pada manusia. considering of presence case is a new case which indicated human mortality level progressively. Method: This study used a qualitative method which has done retrospectively by analyzing policy system with 10 informants. Pengadaan dengan teknik dropping dapat mengakibatkan terjadinya penumpukkan obat di RS rujukan. Kesimpulan: Kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanganan kasus flu burung di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta dibuat secara terbatas dan pada pelaksanaannya tidak mencakup pada keseluruhan lini yang memerlukan. but this done because of medicine donation from another country. This studi purpose is for analyzing management policy of Oseltamivir in controlling Avian Influenza case and its implementation at reference hospital in Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta 2005 – 2007. Diharapkan pihak Depkes dalam pengelolaan Oseltamivir ini juga memberdayakan apotek yang ditunjuk untuk menyediakan-nya sehingga selain mempermudah akses unit pelayanan kesehatan swasta lainnya dalam memperoleh obat tersebut dan bisa dijadikan stockpile. Oleh karena itu perlu dianalisis secara komprehensif dengan melihat aspek-aspek pada sistem kebijakan meliputi public policies. management policy ABSTRAK Latar Belakang: Ancaman pandemi flu burung yang disebabkan oleh virus H5N1. akan tetapi perlu dipikirkan juga akses unit pelayanan kesehatan swasta (RS/klinik) untuk memperoleh obat tersebut. It was suggested for health service department to involve reference apotek for providing antiviral drugs so it is easy on access for health service unit in stockpile. kemudian dilakukan analisis isi. overcoming and curing it. If allocation is done by dropping technique so it makes heaping medicine at reference hospital. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan perencanaan penyediaan Oseltamivir belum bisa berdasarkan data evidences jumlah kasus riil yang terjadi pada instansi rumah sakit (RS) rujukan ataupun kebutuhan RS akan obat tersebut. tetapi hal tersebut dilakukan karena adanya hibah obat dari negara lain sehingga obat harus segera didistribusikan ke unit pelayanan kesehatan agar bisa terpakai mengingat masa kadaluarsanya yang relatif dekat. A limited distribution for goverment instance and it is not for sale freely has done considering how important that medicine for human safety. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. kebijakan pengelolaan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. require to be analyzed comprehensively based on policy system aspect such as: public policies. Results: Study result indicated that planning policy of oseltamivir can not base on evidences data of reality case number that happen on reference hospital instance or the need of medicine for hospital. 10. 4 Desember 2007 181 . Bagi RS diharapkan memberikan rekomendasi desain kebijakan pengelolaan Oseltamivir yang sesuai dengan kondisi di RS kepada Depkes. so it has dones stockpilling strategy which calculated stock number based on percentage prediction of Indonesian population number which will happen because of pandemic. so that medicine must be distributed to health service unit to use it considering its expire so close relatively. di antaranya dengan kebijakan penyediaan obat antiviral. Metode: Jenis penelitian adalah kualitatif yang dilakukan secara retrospektif dengan menganalisis sistem kebijakan. Keywords : Oseltamivir. sehingga dilakukan strategi stockpilling yang memperhitungkan jumlah kebutuhan berdasarkan pada prediksi persentase jumlah penduduk Indonesia yang akan terkena jika terjadi pandemi. This preparation of antiviral drugs played the most important role. No. Sumatera Selatan ABSTRACT Background: Avian Influenza pandemic which is caused of H5N1 virus pushed various goverment effort to look for prevention way. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 181 . The data were a content analyzed. dan policy environment.188 Artikel Penelitian ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN OSELTAMIVIR DAN IMPLEMENTASINYA DI RUMAH SAKIT RUJUKAN KASUS FLU BURUNG MANAGEMENT POLICY OF OSELTAMIVIR ANALYSIS AND ITS IMPLEMENTATION AT THE REFERENCE HOSPITAL OF AVIAN INFLUENZA CASE Misnaniarti Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. so that it must be managed well and basic policy must pursuant to the right formulation. one of them is preparation policy of antiviral drugs. menanggulangi dan mengobatinya. Kata Kunci : Oseltamivir. starting from planning until control phase. Therefore. but it is important that acces for private health service unit (hospital/ clinic) to obtain this medicine. and policy environment.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. melibatkan 10 informan. Penyediaan obat antiviral ini memegang peranan yang sangat penting. policy stakeholders. mendorong berbagai upaya pemerintah untuk mencari cara mencegah. The data were collected by in-depth interview and study document. Pendistribusiannya secara terbatas pada instansi pemerintah dan tidak dijual bebas dilakukan mengingat pentingnya obat tersebut bagi keselamatan manusia. Conclusion: Management policy of antiviral drugs in overcoming Avian Influenza case at reference hospital in DKI Jakarta is made limited and its implementation dose not involve for all sides. Vol. It was also suggested for hospital to perform a research to proving the this effectiveness Oseltamivir on human avian influenza. policy stakeholders.

Vol. 10. pelaku kebijakan (policy stakeholders).. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanggulangan kasus flu burung dan implementasinya di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta sejak tahun 2005 sampai tahun 2007.2 Diskusi tentang pandemi influenza bukan lagi dalam konteks apakah akan terjadi atau tidak. dan lingkungan kebijakan (policy environment). RSPI Prof. Saat ini obat antiviral kasus flu burung pada manusia yang digunakan di Indonesia hanya Oseltamivir. Oleh karena itu. 4 Desember 2007 . Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan kerangka pikir dikembangkan berdasarkan rangkuman banyak sumber teori tentang 182 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. di antaranya ada kebijakan Depkes berupa SK Menkes No. 4 Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menanggulanginya kasus ini. penyediaan obat antiviral.5 Setiap komponen dari sistem kebijakan tersebut merupakan suatu kesatuan dan saling berhubungan. Analisis komprehensif dengan melihat aspek-aspek di atas dilakukan dengan harapan secara tidak langsung dapat mencegah dampak yang lebih besar lagi dari kasus flu burung yang tidak hanya kesehatan hewan dan manusia yang dirugikan akan tetapi hampir berpengaruh pada semua sektor kehidupan. Informasiinformasi yang terkait dengan dasar kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanganan kasus flu burung ini masih terbatas. Harapan lebih lanjut agar hal ini mendapat perhatian dari semua pihak mulai dari tahap perencanaan sampai pengendalian. Meningkatnya kasus infeksi yang menyebabkan kematian pada manusia ini dikhawatirkan dapat berkembang menjadi pandemi. penyuluhan. yang mencakup hubungan timbal balik di antara tiga aspek yaitu: kebijakan publik (public policies). dapat terjadi mutasi adaptif dan reasortment. WHO Perwakilan Indonesia. Istilah lain dari komponen ini disebut oleh Buse. serta mudah resisten terhadap obat antiviral. menganjurkan pemberian vaksinasi influenza pada orang yang berisiko.. tetapi kapan akan terjadi artinya WHO menyatakan bahwa pandemi memang akan kita hadapi. Penyakit ini merupakan penyakit menular pada unggas yang disebabkan oleh virus influenza A H5N1 yang kemudian berkembang dan dapat menular ke manusia. Di Indonesia. Sistem kebijakan merupakan seluruh pola institusional di mana di dalamnya kebijakan dibuat.7%. baik angka kesakitan maupun angka kematian manusia yang terinfeksi virus H5N1. Dengan memberikan hasil analisis kebijakan dalam pengelolaan Oseltamivir ini diharapkan adanya perencanaan yang sistematis di masa mendatang yang dapat diterapkan dalam pencegahan dan kewaspadaan flu burung. Data WHO 1 menunjukkan terjadi kecenderungan peningkatan kasus AI. Penggunaan obat antiviral dimaksudkan untuk mencegah penularan lebih lanjut. cepat merusak organ dalam (terutama paru-paru). 1371/Menkes/SK/IX/2005 tentang Pedoman Penanggulangan Penyakit Flu Burung pada Manusia. jumlah kasus kematian akibat flu burung merupakan yang tertinggi di dunia dengan CFR 79. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan kantor Departemen Kesehatan RI. et al6 sebagai konteks (context). perlu dilakukan eksplorasi untuk mendapatkan informasi secara mendalam terhadap sistem kebijakan (policy system) mengenai pengelolaan obat ini. proses (process) dan aktor (actors) pembuatan kebijakan sebagai unsurunsur yang penting di dalam analisis kebijakan.Suliati Saroso (RSPI SS) dan RSUP Persahabatan mulai Maret sampai dengan Juni 2007.3 Virus H5N1 lebih patogen daripada subtipe lainnya karena sangat mematikan bagi manusia sehingga disebut dengan highly pathogenic avian influenza (HPAI) disebabkan karakteristik virus yang sangat ganas.Dr. Pengelolaan Oseltamivir memegang peranan penting untuk pemenuhannya sehingga tersedia secara tepat waktu dan tepat guna. Padahal selama dekade terakhir ada beberapa obat antiviral yang telah ditemukan dan direkomendasikan oleh FDA Amerika (Food and Drug Administration) yaitu golongan M2 inhibitor (Amantadine dan Rimantadin hidroklorida) dan Neuraminidase inhibitors (Oseltamivir dan Zanamivir). sehingga dapat dipergunakan secara tepat guna dalam menangani bahaya wabah flu burung khususnya di wilayah Indonesia. dan pelatihan petugas kesehatan. Salah satu strateginya adalah strategi pencegahan terdiri dari tindakan bio security. No. isi (content). sehingga penyediaannya secara tepat waktu dan tepat guna diharapkan dapat mengurangi dampak kasus flu burung. Selain itu juga terjadi penyebaran yang semakin meluas ke beberapa negara lain.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . PENGANTAR Dalam beberapa tahun terakhir ini perhatian dunia kesehatan terpusat kepada semakin merebaknya penularan penyakit Avian Influenza (AI) atau flu burung. tercatat paling kurang terjadi 79 kematian dari 99 kasus yang ada. cepat berkembang dan menular pada unggas. Selain itu juga merupakan tindakan pengobatan yang bisa dilakukan dalam penatalaksanaan kasus (case management) flu burung secara medis di rumah sakit (RS).

Data sekunder diperoleh dengan cara telaah dokumen berupa data laporan pendistribusian Oseltamivir. membeli dari BUMN Indonesia Pengamatan : ada laporan pengadaan Oseltamivir Wawancara mendalam: pada tahun 2005 distribusi hanya ke 8 provinsi.920. Distribusi hanya ke instansi pemerintah dengan proporsi sama Penelitian dokumen: dilakukan secara top down dari Depkes.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sistem kebijakan mulai dari Dunn WN5. baru pada tahun 2006 didistribusikan seluruh provinsi.000 berasal dari APBN. Realisasi anggaran untuk pengadaan Oseltamivir tahun 2006 adalah sebesar Rp225. dosis 1 x 75mg untuk profilaksis selama 7 hari Pengamatan : 6 dari 17 pasien diberi pengobatan Oseltamivir dengan dosis 2 x 150 mg Wawancara mendalam: jika Oseltamivir mendekati masa kadaluarsa. BTKL dan KKP di setiap provinsi menerima Oseltamivir dalam jumlah cukup banyak sekitar 1000–9000 kapsul Pengamatan: Stok Oseltamivir cukup banyak di BTKL dan Dinkes Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat Oseltamivir diberikan kepada pasien flu burung serta petugas kesehatan yang merawat pasien tersebut Penelitian dokumen: Oseltamivir untuk pengobatan diberikan dengan dosis 2 x 75 mg selama 5 hari untuk dewasa. obat didapat dari bantuan luar negeri. dan dianalisis dengan cara content analysis. profil kesehatan dan Prosedur Tetap (Protap) di RS. Pengumpulan data primer diperoleh dengan cara wawancara mendalam pada 10 orang informan kunci yang diambil dari berbagai level tingkatan administrasi sesuai dengan topik yang akan digali. Mekanisme pengadaan ke RS adalah Oseltamivir akan dikirim ke rumah sakit kalau ada permintaan Penelitian dokumen: Oseltamivir diperoleh dengan cara menerima bantuan (hibah). hanya instansi pemerintah yang menerima Oseltamivir. Pemilihan informan dilakukan secara purposive dengan mengacu pada prinsip kesesuaian (appropriateness) dan kecukupan (adequacy) karena terkait dengan substansi dan sesuai kebutuhan penelitian.5%-1% dari total penduduk Indonesia akan terkena pandemi influenza Pengamatan : perencanaan pengadaan berdasarkan jumlah instansi kesehatan Wawancara mendalam: mulai tahun 2006 memasukan penganggaran untuk penyediaan Oseltamivir dengan memakai dana buffer obat. dengan proporsi 100 kapsul untuk puskesmas. mulai tahun 2006 diproduksi BUMN Indonesia secara bertahap. anggaran penyediaan obat antiviral direncanakan 112 milyar. dan di-cross check dengan laporan penerimaan Oseltamivir. Hasil Penelitian Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir di Tingkat Depkes Variabel Perencanaan Penganggaran Pengadaan Pendistribusian Penyimpanan Penggunaan Penghapusan Pengendalian Hasil Penelitian Wawancara mendalam: tahun 2005 belum dibuat perencanaan. membeli secara import. Tabel 1. Untuk tahun 2007 ada anggaran Oseltamivir tapi belum dilakukan pengadaan. Buse K et al 6 . Puskesmas. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian melalui wawancara mendalam. Mulai tahun 2006 dibuat perencanaan stockpiling 12 juta antiviral berdasarkan prediksi jumlah penduduk RI yang terkena pandemi. karena stok masih banyak Penelitian dokumen: di Renstra nasional FBPI. ada laporan pendistribusiannya Wawancara mendalam: bufferstock di BTKL dan di Dinas Kesehatan Penelitian dokumen: Dinkes Provinsi/Kabupaten/Kota/. 500 kapsul untuk RS rujukan (Kecuali RSPI 5000 kapsul). 10. kartu stok obat di instansi RS yang diteliti. Penelitian dokumen: kebutuhan penyediaan Oseltamivir dihitung berdasarkan perkiraan sekitar 0.749. maka instansi yang menerima (RS. Pengamatan: tidak dijual bebas di apotek. Vol. Pengamatan : ada dokumen penganggaran Oseltamivir Wawancara mendalam: Oseltamivir diperoleh dari bantuan luar negeri. No. serta peraturan dan dokumen-dokumen yang terkait dengan kebijakan pengolaan antiviral dalam pengendalian dan penanganan kasus flu burung. penelitian dokumen dan pengamatan mengenai kebijakan pengelolaan Oseltamivir di tataran Depkes dan di tingkat RS dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2. dan Walt G 7 untuk menggali dan mensinkronisasikan pendekatan policy system dengan kebijakan yang terkait dengan manajemen pengelolaan Oseltamivir. 4 Desember 2007 183 . Setelah seluruh data telah terkumpul kemudian diverifikasi menggunakan metode triangulasi. dinkes) boleh mengembalikan dan kemudian akan diganti dengan obat baru Penelitian dokumen: masih ada obat yang mendekati masa kadaluarsa Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat pengendalian dilakukan dengan menerapkan registrasi obat Penelitian dokumen: registrasi obat di BPOM Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. import. Selanjutnya meneliti rekam medis pasien.

Keuntungannya adalah bisa mendapatkan potongan harga yang lebih banyak. Vol. berbeda dengan di Puskesmas yang harus berdasarkan sistem skoring Pengamatan: pasien suspek flu burung hari pertama masuk langsung diberi Oseltamivir Wawancara mendalam: terlebih dulu melaporkan apabila obat mendekati masa kadaluarsa kemudian akan mengembalikan ke Depkes Penelitian dokumen: sistem penghapusan obat bisa dilakukan dengan ensinerator Pengamatan: masih ada Oseltamivir yang mendekati masa kadaluarsa Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat bahwa Penilaian mutu obat dengan melihat fisik (morfologi) obat Penelitian dokumen: registrasi Oseltamivir diberikan melalui proses fast track Mulai tahun 2006 Depkes baru membuat perencanaan untuk penyediaan Oseltamivir melalui strategi stockpilling yaitu penyediaan obat dalam jumlah besar untuk menghadapi suatu keadaan kemungkinan terjadinya pandemi.8 Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 220 juta jiwa. diperkirakan Depkes harus menyiapkan sebanyak 11 juta – 12 juta obat antiviral sebagai stockpile.. hal ini relevan dengan dokumen Renstra Nasional FBPI.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . serta mengadopsi kebijakan dari beberapa negara lain yang disesuaikan dengan kemampuan finansial Indonesia. Oleh karena itu strategi stockpilling dipilih sebagai salah satu langkah antisipasi pemerintah menghadapi kondisi darurat (upaya kesiapsiagaan menghadapi pandemi flu burung) dengan memperhitungkan jumlah kebutuhan berdasarkan pada prediksi persentase jumlah penduduk Indonesia yang akan terkena jika terjadi pandemi. 10. Kebutuhan penyediaan Oseltamivir dihitung berdasarkan perkiraan sekitar 0. No. Hasil Penelitian Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir di Tingkat RS Variabel Perencanaan Penganggaran Pengadaan Pendistribusian Penyimpanan Penggunaan Penghapusan Pengendalian Hasil Penelitian Wawancara mendalam: tidak membuat perencanaan permintaan Oseltamivir. strategi ini dipilih karena pertimbangan kasus flu burung yang dihadapi merupakan kasus baru yang terus menunjukkan progresivitas angka kematian cukup tinggi dibuktikan dengan adanya peningkatan CFR.5%-1% dari total penduduk Indonesia akan terkena pandemi influenza. perlakuan penyimpanan disamakan dengan obat yang lain Penelitian dokumen: stok obat di gudang lebih banyak daripada di apotek Pengamatan : tata cara penyimpanan dengan sistem FIFO Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat bahwa pemberian Oseltamivir ke pasien tidak berdasarkan skoring tetapi dengan melihat kondisi klinis pasien suspek AI Penelitian dokumen: pasien harus diberikan terapi Antiviral sesegera mungkin. di sisi lain potensial akan terjadi pemborosan karena wilayah tanpa adanya indikasi 184 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Jadi. Metode spekulasi di salah satu sisi bisa menguntungkan karena obat selalu tersedia di unit pelayanan kesehatan. Untuk di RS mekanisme pangadaannya melalui teknik dropping langsung dari Depkes. yang mengakibatkan terjadinya penumpukan obat karena kebutuhan obat RS tidaklah sebanyak yang di-dropping oleh Depkes. Hal ini berbeda dengan obat lainnya yang dibuat perencanaan dan pengadaan secara triwulan berdasarkan pemakaian dan kebutuhan RS (evidences based). Penyediaan Oseltamivir yang dihitung berdasarkan perkiraan banyaknya penduduk yang akan terkena pandemi. penyediaannya tidak berdasarkan kebutuhan pemakaian obat Pengamatan: tidak ada dokumen perencanaan permintaan Oseltamivir Wawancara mendalam: tidak membuat menganggaran untuk Oseltamivir Pengamatan: tidak ada dokumen penganggaran Oseltamivir Wawancara mendalam: dengan cara dikirim langsung (dropping) dari Depkes Penelitian dokumen: menerima dropping Oseltamivir secara bertahap dari Depkes Pengamatan: Stok Oseltamivir dalam jumlah yang cukup banyak Wawancara mendalam: obat dikeluarkan dengan memakai metode FEFO Penelitian dokumen: Oseltamivir diterima secara bertahap Pengamatan: ada alur distribusi Oseltamivir hingga ke pasien Wawancara mendalam: sebagian besar Oseltamivir disimpan di bagian logistik (gudang) sebagai bufferstock kemudian didistribusikan ke pasien melalui apotek. biaya pemesanan dan pengangkutan menjadi lebih murah.. sebab tingkat konsumsinya memang rendah. sehingga faktor yang berpengaruh dalam membuat perencanaan untuk penyediaan Oseltamivir ini adalah jumlah seluruh penduduk Indonesia. sehingga penyediaan Oseltamivir ini tidak berdasarkan kebutuhan pemakaian obat. Tabel 2. Menurut Bowersox9 metode ini termasuk kategori fluctuation stock yaitu persediaan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat diramalkan (metode spekulasi). 4 Desember 2007 . Bisa dikatakan bahwa kebijakan perencanaan Oseltamivir di RS yang diteliti belum dibuat berdasarkan data evidences jumlah kasus yang riil terjadi atau sesuai kebutuhan.

jika titik awal ini sudah tidak tepat maka pengendalian akan sulit dikontrol. misalnya melalui sarana apotek. RS. belum bisa mengakses obat ini secara lancar. Perlu pemikiran dan penelitian lebih lanjut tentang cost effektiveness dari program kuratif penyediaan obat antiviral ini. ataupun berupaya menghindari power negara pendonor jangan sampai menjadi unsur interest politik luar negeri yang sangat dominan. metode pengadaan dengan cara membeli biasanya didahului dengan perhitungan besarnya volume pembelian yang ditetapkan berdasarkan kebutuhan dalam satuan waktu dan kuantum unit masing-masing produk misalnya kebutuhan untuk mingguan atau 1 bulanan atau setahun.15 Keadaan geografis dan demografis daerah di Indonesia yang khas akan membutuhkan sistem pendistribusian yang tepat agar merata.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan penyakit juga menerima stok yang pada akhirnya menyebabkan pembengkakan anggaran dan tentu saja menjadi tidak cost effective. 12 Selain itu Indonesia juga masih menerima bantuan obat tersebut dari WHO dan negara lain. 4 Desember 2007 185 .12 Langkah antisipasi yang dapat dilakukan agar tidak terjadi penumpukan obat ini salah satunya dengan memperbaiki mekanisme penyediaannya. Komitmen pemerintah menerima bantuan ini dilakukan karena memang membutuhkan obat tersebut. juga karena dampak yang akan didapatkan dari tindakan promotif-preventif tersebut akan dirasakan manfaatnya dalam jangka waktu yang lama. Dalam hal ini. Rasionalisasi antara pola produksi obat dan kebutuhan nyata harus ditingkatkan terutama agar dana untuk obat dapat digunakan secara lebih efisien. Walaupun tak dapat dipungkiri bahwa belanja obat memang merupakan bagian terbesar dari belanja kesehatan di seluruh negara di dunia13. karena berdasarkan data dari Aditama TY14 dilaporkan bahwa rata-rata pasien flu burung yang datang ke rumah sakit setelah lebih dari 2 hari merasakan gejala flu burung. Merupakan angka yang cukup besar dalam hal pengadaan barang. sistem pendistribusian Oseltamivir yang diatur pemerintah belum merata sebab RS/poliklinik swasta. sehingga lebih memprioritaskan pada upaya preventif sebagai salah satu upaya manajemen kasus berbasis wilayah yang salah satunya dengan melakukan manajemen faktor risiko dari penyakit. Vol. Namun seharusnya pemerintah lebih selektif lagi jangan sampai obat yang diterima sudah mendekati masa kadaluarsa. Otomatis apabila ada pasien yang suspeck flu burung maka pihak RS tidak bisa memberikan terapi obat antiviral Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Adanya penyediaan stok yang berlebih cenderung menyebabkan pemborosan dalam pemakaian. puskesmas.11 perlu ruang penyimpanan yang besar serta mengandung risiko kadaluarsa obat yang lebih tinggi. Dalam hal ini Depkes tidak melakukannya karena perhitungan volume pembelian hanya berdasarkan prediksi saja. pemerintah tidak bisa sepenuhnya mengandalkan pada obat-obatan karena bagian yang terpenting dari hal ini adalah aspek pencegahan yaitu upaya penghentian penularan dari unggas ke manusia. Perencanaan kebutuhan obat merupakan salah satu fungsi yang menentukan dalam proses penyediaan obat. Dalam kasus penyakit yang sudah jelas trendnya seperti demam berdarah.7 Dalam hal penganggaran. diharapkan kebijakan pemerintah tentang perencanaan dan pengadaan obat antiviral harus memperhatikan faktor pola penyakit yang dominan. jumlah biaya yang tersedia. Biaya yang sangat besar ini tentunya akan menjadi beban yang sangat berat bagi pemerintah pusat.10 sehingga selain faktor jumlah penduduk. yang bertujuan untuk menentukan jenis dan jumlah obat sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan. Dengan cara seperti ini perlu dipilih teknik yang tepat mulai dari kualitas transportasi seperti jalan dan alat angkut. sehingga sebaiknya pemerintah juga memprioritaskan pada upaya promotif dan preventif dalam penanganan kasus flu burung ini selain biaya yang diperlukan jauh lebih sedikit daripada upaya kuratif. poliklinik. dengan alasan untuk efisiensi biaya dan tenaga. Jadi jangan sampai pemerintah membuat program yang sia-sia dengan menyediakan obat antiviral karena obat tersebut hanya efektif apabila pasien dapat terapi 2 x 24 jam dari adanya gejala flu burung. jumlah kebutuhan riil masyarakat. Depkes tahun 2006 harus menyediakan dana Rp200 milyar untuk membeli 16 jutaan kapsul Oseltamivir.11 Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka dapat dirumuskan kebijakan pengadaan obat yang rasional. Sistem pendistribusian Oseltamivir yang bersifat top down sentral dari Depkes bahwa untuk pendistribusiannya sampai ke tingkat Puskesmas dilakukan dengan bantuan pos. 10. Padahal pengadaan merupakan titik awal dari pengendalian persediaan. khususnya bagi RS swasta di daerah yang kurang informasi tentang cara mendapat obat tersebut. Program yang cenderung ke arah kuratif dan memakan banyak biaya ini perlu ditinjau ulang. No. yaitu Depkes melihat dari RS mengajukan permohonan permintaan obat (pertanda stock mulai menipis). juga harus memperhatikan metode pengepakan yang baik agar obat tidak rusak di jalan. selain juga untuk menjaga hubungan baik dengan negara pendonor.

4 Desember 2007 . sehingga semua permintaan konsumen dapat dipenuhi. Selain itu. menurut prinsip kedokteran disebutkan bahwa tujuan pedoman pengobatan adalah meningkatkan mutu pelayanan melalui penggunaan obat yang aman. sehingga informasi yang ada merupakan informasi yang telah ditelaah secara cermat berdasarkan data penelitian. Vol. sehingga perlu penelitian lebih lanjut. sesuai dengan sasaran kebijakan umum di bidang obat. rasional dan juga dalam rangka efisiensi biaya pengobatan. yang akan membahayakan pasien jika tetap dipakai. Pembuatan kebijakan pengelolaan obat antiviral dalam penanggulangan kasus flu burung di Indonesia 186 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Obat yang mendekati masa kadaluarsa tidak layak lagi dipakai sehingga perlu upaya penghapusan obat.sehingga dapat memberikan manfaat klinik yang berguna bagi keperluan ilmu pengetahuan dan teknologi. jangka waktu pemberian yang cukup. 16 Masalah-masalah yang timbul dalam penggunaan obat tidak semata-mata berkaitan dengan kurangnya informasi dan pengetahuan dokter. perlu dicari jalan keluar untuk menghindari tingginya tingkat kadaluarsa obat ini.. sehingga hanya obat yang terbukti memberikan manfaat klinik yang paling besar. Akan tetapi. misalnya promosi obat yang berlebihan atau kelemahan sistem regulasi yang ada.11 Sasaran utama pendaftaran obat adalah agar obat yang beredar hanya yang khasiatnya nyata. penanganan dan pencegahan penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat. harus berdasarkan indikasi yang jelas. kemudian registrasi obat sebelum beredar di masyarakat sehingga mutu obat terjamin. sesegera mungkin karena obat tersebut tidak tersedia. Tingkat keamanan obat juga bisa dilakukan dengan memantau masa kadaluarsa. Para pemberi pelayanan (provider) khususnya para dokter (prescriber) harus mengetahui secara rinci obat yang akan dipakai melalui informasi yang benar. 10. penggunaan dan cara penggunaan. dan merupakan teknologi medis yang dibutuhkan. paling aman. agar tidak ada kejadian keterlambatan menangani pasien AI. Langkah pemecahan masalah ini salah satunya dengan memberdayakan apotek yang ditunjuk pemerintah untuk menyediakan Oseltamivir. tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan yang sudah mendalam dan perilaku pihak-pihak yang terlibat didalamnya. harga yang murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat luas.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . efektif. Hal yang harus dipahami agar tercapainya pengendalian persediaan11 adalah dengan menjaga keseimbangan pengendalian dan pembelian. meningkatnya kegagalan pengobatan. yang disetujui (approved) pada saat obat diizinkan untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan untuk menghindari salah informasi tentang obat. Bila dikaitkan penggunaan obat yang rasional dengan acuan biomedicus context penggunaan obat yang rasional adalah kebutuhan obat sesuai dengan kepentingan kedokteran dan klinik. tidak terjadi kekurangan maupun kelebihan stok. kualitasnya baik. sehingga memudahkan masyarakat mengakses obat ini tapi tetap dengan resep dokter. paling ekonomis dan paling sesuai dengan sistem pelayanan kesehatan yang ada yang dianjurkan untuk digunakan. Obat mempunyai peran yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan. keamanannya memadai. Pola penggunaan obat yang tidak rasional dapat berakibat menurunnya mutu pelayanan pengobatan misalnya meningkatnya efek samping obat. Apotek harus dijadikan ujung tombak pelayanan obat yang harus ikut mengamankan kebijakan penyediaan (penyimpanan) Oseltamivir secara merata.17 Hubungannya dengan Tamiflu yang merupakan obat jadi import yang telah disetujui beredar di negara lain. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) merupakan badan yang bertugas membuat informasi tentang obat yang mencakup indikasi.16 Maka penggunaan Oseltamivir di tempat penelitian ini belum termasuk kategori penggunaan obat yang rasional.16 Informasi tentang obat sebaiknya adalah yang didukung oleh buktibukti ilmiah yang berkaitan dengan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat. Agar memberikan manfaat klinik yang optimal. meningkatnya resistensi obat. Selanjutnya terkait dengan khasiat nyata dari obat.. pasien dan masyarakat. Hal ini juga diberlakukan pada obat kadaluarsa. hal ini dilakukan oleh prescriber dalam rangka meningkatkan manfaat ke pasien karena dosis yang selama ini dipakai pada umumnya belum menunjukkan perbaikan kondisi pasien.16 Dikaitkan dengan kasus flu burung pada saat ini data penelitian tentang kemanfaatan dan keamanan penggunaan Oseltamivir baru efektif sebatas pada influenza biasa. keamanan yang resmi. bukan H5N1. maka obat harus digunakan secara benar. obat yang sudah rusak. Adanya peningkatan dosis Oseltamivir pada pengobatan beberapa pasien flu burung. maka tetap harus didaftarkan melalui proses uji klinik di BPOM. Oleh karena itu. maka perlu upaya pendaftaran obat. sesuai kebutuhan dosis individu. Adanya obat yang kadaluarsa dan rusak akan merugikan instansi pemilik karena upaya penghapusan barang/obat akan memerlukan biaya yang cukup besar. salah satunya adalah dengan mengatur keseimbangan antara jumlah persediaan dengan jumlah pemakaian. Hal ini tentu akan memperparah kondisi pasien karena tidak cepat ditanggulangi. No.

Manajemen Farmasi. Jakarta. 2005. WHO. Walt. Jakarta. selain itu faktor lingkungan yang menjadi pertimbangan adalah faktor politik. Kebijakan pendistribusian Oseltamivir secara terbatas pada instansi pemerintah dapat menghambat akses unit pelayanan kesehatan swasta untuk memperoleh obat tersebut. Donald J. Republik Indonesia. 4 Desember 2007 187 . 15. Aditama. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Midian. Gill. 14. Program Studi KARS Universitas Indonesia. 11. diharapkan agar Depkes dalam pengelolaan Oselatamivir ini juga memberdayakan apotek yang ditunjuk untuk menyediakan obat tersebut sehingga selain mempermudah akses unit pelayanan kesehatan swasta lainnya dalam memperoleh obat tersebut dan bisa dijadikan stockpile. Kusumanto H. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. dan Potensi Ekonomi. Making Health Policy. 1994. Diakses pada 6 Juni 2007. 6. Pusat Komunikasi Publik Depkes RI. Dunn. Gadjah Mada University Press. 7. 2001. 4. KESIMPULAN DAN SARAN Kebijakan pengelolaan obat antiviral dalam penanganan kasus flu burung di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta dibuat secara terbatas serta pada pelaksanaannya tidak mencakup pada keseluruhan lini yang memerlukan. III (2). Diakses pada 1 Februari 2007. 1998. Pencegahan dan Penyebaran Pada Manusia. Buse. 5. M. 9.MA. Gajah Mada University Press. William N. Tjandra Yoga. Jakarta. jumlah penduduk. G. Agar pihak RS memberikan rekomendasi kepada Depkes mengenai desain kebijakan pengelolaan obat antiviral yang sesuai dengan kondisi di RS. Rencana Strategis Nasional Pengendalian Flu Burung (Avian Influenza) dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza 2006-2008. 2007. http://www. Titiek E.int/entity/scr/disease/ avian_influenza/country/en. No. Adisasmito. 2005. 2002. Institut Darma Mahardika. Majalah Ilmu Kefarmasian. 2005. 13. 1995. Avian Influenza/Flu Burung di Indonesia.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kebijakan internasional dalam hal ini WHO 18 memegang peranan yang dominan yang menentukan arah kebijakan yang dibuat oleh Depkes RI. Manajemen Logistik 1 : Integrasi Sistem-Sistem Manajemen Distribusi Fisik dan Manajemen Material. Avian Influenza A (H5N1) : Patogenesis. Kent. Bahan Seminar Pertemuan Nasional Penanggulangan Klinis Penanganan Flu Burung di Rumah Sakit. Flu Burung. Anief. Kebijakan pengadaannya dengan teknik dropping dapat mengakibatkan terjadinya penumpukkan obat di RS yang diteliti. 2. 3. 10. Yogyakarta. WHO. Bandung. Radji. 8. Tiga Dimensi Farmasi : Ilmu Teknologi. 2006. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Selanjutnya. Wiku B. 2000. Husnil Farouk. 2006. The World Health Report 2000–Health Systems : Improving Performance. Avian Influenza. Jakarta. Modul Pendidikan : Manajemen Logistik dan Obat Rumah Sakit. Depok. Departemen Kesehatan RI. Pengantar Analisis Kebijakan Publik edisi kedua. Health Policy : an Introduction to Process and Power. Nicolas.depkes. Mays. WHO. Vol. Yogyakarta. pengaruh penanganan kasus flu burung di negara lain (sosial budaya). Sudah 79 Orang Meninggal Dunia Akibat Flu Burung. jumlah institusi kesehatan pemerintah. H. 2003. http:// www. KEPUSTAKAAN 1. Bowersox. Witwatersrand University Press.go.id/. Yenis S.who. serta perlu mengadakan suatu penelitian untuk membuktikan efektivitas penggunaan Oseltamivir terhadap H5N1 manusia. MPH selaku Ketua PSKM FK Unsri dan kepada drh. Sirait. Bumi Aksara. Johannesburg. Ph. UCAPAN TERIMA KASIH Saya ucapkan terima kasih kepada dr. Pelayanana Kesehatan. Walt. Hal ini dikarenakan obat hibah dari negara lain yang harus segera didistribusikan agar bisa terpakai mengingat masa kadaluarsanya yang relatif dekat.B. MSc. 12. London School of Hygiene and Tropical Medicine. 10.11 April 2007. Ini ditunjukkan dengan perencanaannya belum berdasarkan data evidences jumlah kasus riil yang terjadi pada RS karena pertimbangan kasus AI yang menunjukkan progresivitas angka kematian dan cenderung menimbulkan kepanikan masyarakat sehingga dipilih strategi stockpilling.D selaku Dosen Pembimbing di Departemen AKK FKM UI Depok yang banyak memberikan pencerahan dalam penulisan karya ini. Moh. Open University Press. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Cumulative Number of Confirmed Human Cases of Avian Influenza A/ (H5N1) Reported to WHO. serta kondisi pertahanan dan keamanan yang ingin diciptakan dalam kesiapsiagaan menghadapi pandemi flu burung.

4 Desember 2007 . Influenza Report 2006. WHO. Jakarta. 17 Maret 2006. http://www.com. 18. 2006.. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . 188 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. 16. Vol. 2000. Hoffmann C. Preiser W. 10.influenzaReport. IONI : Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000. WHO – Advice On Use Of Oseltamivir. 17. No. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Depkes RI. Kamps BS.

emphasize the policy of available information management system. so the monitoring has not known the trend. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 177 . Kata Kunci: business intelligence. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. forecasting.1 Howard Dresdner pada tahun 19892 pertama kali mendefinisikan business intelligence sebagai rangkaian aplikasi dan teknologi untuk mengumpulkan. Head of Administration and also EDP coordinator. the data still disperse and managed by each person who has responsible for it so the process of collecting information takes longer time and because of that. information system training.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. Conclusion: This research wants to give suggestions to management side to keep continue for socialization. Mayoritas ketersediaan data sudah dalam bentuk nonlaporan manual (81%). perubahan perilaku pelanggan. Representative Manager. Method: The researcher investigates system followed with system analysis to know about information which is needed. Didapatkan sebanyak 147 variabel level informasi. multidimensional analysis. Data dalam bentuk laporan manual perlu dilakukan standarisasi informasi sehingga bisa dikonversi menjadi bentuk database. Rancangan penelitian yang dipakai adalah PENGANTAR Informasi memainkan peranan penting dalam pengambilan keputusan dan sebagai sarana strategik untuk memberikan pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. pelatihan sistem informasi. implementation preparation penelitian kualitatif. menyimpan. kapabilitas perusahaan serta kondisi pasar. Dumilah Ayuningtyas Program Studi Kajian Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ABSTRACT Background: D S Hospital (RSSDS) has implemented many of quality management system and also another system. Manager Representatif. Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini disarankan kepada pihak manajemen untuk melanjutkan sosialisasi. Dari keseluruhan proses. Spesifisitas business intelligence dibanding tingkatan sistem informasi lainnya adalah kemampuannya untuk melakukan analisis multidimensional. dengan dominasi banyaknya informasi pada kategori Proces Managemen pada Proses Kunci Layanan RSDS. Results: The implementation of Business Preparation is deserved to do. The data in manual report form has to be standardized so can be converted into database form. Kepala Bagian Tata Usaha serta Koordinator EDP. From all the process. Keywords: business intelligence. preferensi pelanggan. menganalisis dan menyuguhkan akses data untuk membantu petinggi perusahaan dalam mengambil keputusan. Informan kunci pada penelitian ini adalah Direktur. analisis multidimensi serta profil kompetitor. penyiapan implementasi ABSTRAK Latar Belakang: Rumah Sakit Duren Sawit (RSDS) telah mengimplementasikan berbagai sistem manajemen mutu serta sistem lainnya. Aplikasi business intelligence memungkinkan perusahaan untuk menganalisa perubahan tren pasar. Currently. the effort of business intelligence implementation is about 15-35%. There are 147 variable of information level with most of information is in Processes management category in the key process of DS Hospital services. Most of the data has already in the form of non manual report (81%). menegaskan kebijakan sistem informasi yang berlaku. The research sample which is used is qualitative research. No. Vol. visualisasi laporan. 10. now a day. sedangkan data dalam bentuk file non database diperlukan penyepakatan konsistensi data untuk percepatan implementasi business intelligence. Tujuan: Diperolehnya informasi mengenai penyiapan implementasi business intelligence dengan basis Malcolm Baldrige di RS DS tahun 2007. and competitor profile. profil kompetitor serta kemampuan unggul lainnya. pola pembelanjaan. meanwhile data in form of non database file needed to get some constituency agreement to make the business intelligence implementation faster. 4 Desember 2007 177 . Hasil: Implementasi business intelligence telah layak untuk dilakukan. Saat ini penyajian datanya masih tersebar dari berbagai pintu dan sumber sesuai penanggungjawabnya sehingga pengambilan informasi memakan waktu yang lebih lama serta pemantauannya belum dapat menggambarkan tren. The main informant in this research is Director. based on Malcolm Baldrige in D S Hospital in 2007. upaya implementasi business intelligencesaat ini berkisar antara 15-35%.182 Artikel Penelitian PENYIAPAN IMPLEMENTASI BUSINESS INTELLIGENCE BERBASIS MALCOLM BALDRIGE IMPLEMENTATION BUSINESS INTELLIGENCEBASED ON MALCOLM BALDRIGE Raditya Asri Wisuda .. Objective: To get information about implementation preparation of Business Intelligence. Metode: Peneliti melakukan investigasi sistem dilanjutkan dengan analisis sistem untuk mengetahui kebutuhan informasi yang diperlukan.

Kelayakan ekonomi Dalam kelayakan ekonomi. measurement analysis and knowledge management. Manfaat berwujud 1) Pengaruh terhadap peningkatan penjualan Business intelligencememungkinkan perusahaan untuk menganalisa perubahan trend c. human resources focus. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa business intelligence dapat mendukung proses bisnis RS DS dengan sajian informasi yang terintegrasi sehingga analisa bisa dilakukan dengan cepat. pengurangan biaya alat tulis. 2) Penerimaan karyawan: manajemen puncak berpendapat bahwa penerimaan karyawan sudah bagus. terlihat bahwa manajemen memberi dukungan yang positif karena kehadiran business intelligence yang sudah dirasakan sudah menjadi kebutuhan manajemen. No. modul remunerasi. d. kemampuan dan kehandalan jaringan serta software di RS DS dalam implementasi business intelligence. (4) implementasi dan (5) pemeliharaan. Peningkatan biaya implementasi terjadi pada fase awal ketika investasi sistem informasi dilakukan dan akan menurun seiring berjalannya waktu. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa penyajian data yang cepat bermanfaat terhadap berkurangnya beban kerja karena informasi cukup diinput satu kali. Kelayakan operasional Merupakan kemauan. focus on patients. (2) analisis. karyawan serta pihak lain yang mengoperasikan. Pendekatan sistem digunakan untuk mengembangkan solusi sistem informasi. Siklus ini dipandang sebagai proses multilangkah yang disebut sebagai siklus pengembangan sistem informasi (information system development cycle) yang juga dikenal sebagai siklus hidup pengembangan sistem (system development life cycle). Saat ini RS DS telah memiliki 4 buah server (web. namun akan kemudian naik lagi secara perlahan. Penyiapan implementasi business intelligence dilakukan dengan pola System Development Life Cycle (SDLC) yang terdiri dari 5 tahap (investigasi sistem. mengharuskan seluruh karyawan untuk melakukan input data ke komputer. tetapi untuk self assessment sebagai alat untuk membenahi sistem manajemen kinerja sehingga dapat survive. Langkah ini mencakup: (1) investigasi.6 Model business intelligence RS DS dibuat dengan dasar Malcolm Baldrige. analisis sistem. process management serta business result. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif. unggul dan berkelanjutan. e. Kelayakan teknis Kelayakan teknis menilai ketersediaan... implementasi sistem serta pemeliharaan sistem). 178 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. 10. Banyak perusahaan menetapkan kriteria bukan untuk MBNQA semata. hemat waktu dan tenaga. domain dan proxy). menggunakan dan mendukung sistem yang diusulkan. (3) desain. strategic planning. b.5. data. Namun peneliti membatasi penelitian pada investigasi sistem dan analisis sistem. other customer and market. namun tetap dapat melalui verifikasi lintas unit. peningkatan pendapatan dan keuntungan. Investigasi sistem dilakukan dengan indepth interview. 1) Dukungan manajemen: pada penyiapan implementasi business intelligence RS DS.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . The malcolm baldrige criteria for performance excellence adalah sistem manajemen mutu yang berlaku di Amerika Serikat.3 Kriteria Layanan Kesehatan malcolm baldrige terdiri dari leadership. ±110 client serta Local Area Network yang mencakup seluruh rumah sakit. Dalam hal ini manfaat business intelligence lebih pada kepentingan internal RS DS. bersaing. Tahap investigasi sistem a. desain sistem. dicari informasi tentang kemungkinan business intelligence dalam penghematan biaya. kemampuan manajemen. 4 Desember 2007 . Analisis dilakukan pada penyiapan implementasi business intelligence berbasis malcolm baldrige. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penyiapan implementasi business intelligence RS Duren Sawit 1.4. kemudahan pencarian dokumen. karena salah satu modul yang ada. Sejak awal rumah sakit telah berhemat dengan menghindari posisi-posisi yang tidak efektif. 3) Persyaratan pemerintah : persyaratan dan peraturan pemerintah bisa menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan sistem informasi. Kelayakan organisasi Kelayakan organisasional berfokus pada sebaik apakah dukungan sistem yang diusullkan terhadap prioritas bisnis strategis organisasi.

customer satisfaction. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan serta pasien gawat darurat. sehingga siapapun yang berkepentingan terhadap informasi itu bisa langsung melihat sesuai dengan kewenanangannya. Saat ini sebanyak 22. Tahap Analisis Sistem a. 4 Desember 2007 179 . kemampuan analisis serta pengambilan keputusan Rumah Sakit Duren Sawit (RS DS) telah menerapkan beberapa tools manajemen mutu yang memerlukan pemantauan yang akurat sehingga strategi yang dihasilkan selalu up to date dengan permasalahan yang ada. mayoritas tahunan sebanyak 48. 10. 4). Untuk time interval update data. didapat 8 variabel informasi yaitu built customer relationship management. Vol. handling complaints dan customer loyalty. Belum ada nilai standar untuk keseluruhan informasi. masing-masing 18. jumlah pasien lama. serta kebanggaan bekerja di RS DS. Sebanyak 37% informasi memerlukan profil kompetitor.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan dalam pasar. Mayoritas wilayah data di bawah unit Electronic Data Processing (EDP) yaitu sebanyak 44. pertumbuhan hari perawatan. Pengaruh terhadap ketersediaan informasi. produk) diperlukan pada 29.2% informasi saja yang perlu dilakukan forecast yaitu revenue growth. Pengaruh terhadap posisi kompetitif dan citra bisnis Rumah Sakit Duren Sawit (RS DS) merupakan rumah sakit daerah yang merintis implementasi business intelligence. pertumbuhan hari perawatan. other customer and market malcolm baldrige. 3).7% realtime dan sisanya bulanan. serta belum terdapat nilai standar untuk variabel ini. jumlah pasien lama. 2. sedangkan 37% lagi dalam bentuk file non database dan sisanya dalam bentuk laporan manual. BOR. jumlah pasien rawat jalan baru. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan dan pasien gawat darurat. Analisis kebutuhan informasi 1. kemudian 40. Kriteria focus on patients. Dengan business intelligence. other customer and market Dalam kriteria focus on patients. f. Kesemuanya tidak memerlukan kebutuhan forecast. Tabulasi silang (pelanggan. preferensi pelanggan. Keseluruhan 3. Pengaruh terhadap perbaikan moral karyawan Moral karyawan dalam hal ini diwujudkan dalam bentuk etos kerja.2%. geografi maupun produk).6% informasi yaitu pada jenis hasil survei kepuasan pelanggan. komplain pelanggan. TOI serta AvLOS. sehingga lebih memimpin dalam sistem informasi yang keseluruhan outputnya dimanfaatkan untuk membuat keputusan yang akurat baik untuk bahan informasi maupun marketing untuk meningkatkan penjualan. Dalam hal ketersediaan data. Hal-hal tersebut bisa diminimalisir dengan business intelligence. mayoritas sudah dalam bentuk database yaitu sebanyak 40. Manfaat tak berwujud 1). jumlah pasien rawat jalan baru. yaitu pada jenis revenue growth. No. kapabilitas perusahaan serta kondisi pasar. kedisiplinan. perubahan dalam perilaku pelanggan. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan dan gawat darurat serta avarage length of stay. jumlah pasien rawat jalan baru. Kriteria strategic planning Didapat 27 variabel informasi yang keseluruhannya berasal dari balanced scorecard. geografi. redundansi data yang sebetulnya sudah terdapat dalam sistem.7%. Pengaruh terhadap perbaikan layanan pelanggan Secara langsung business intelligence bisa memberi gambaran yang cepat mengenai titik-titik rawan dalam pelayanan untuk kemudian mengambil langkah dengan cepat terhadap masalah tersebut.5%. Efek lain adalah dari sudut pandang balanced scorecard yang salah satunya memantau indikator kepuasan pelanggan dan jenis ini menjadi salah satu jenis informasi business intelligence RS DS. pola pembelanjaan. waktu tunggu verifikasi dokumen. BTO. 2). Keseluruhan wilayah datanya adalah unit SDM. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. jumlah pasien lama. Kriteria leadership Didapat 8 variabel informasi yang semuanya berasal dari perilaku utama staf RS DS. Ketersediaan data saat ini seluruhnya masih dalam bentuk laporan manual dengan time interval update data setiap bulan. indikator-indikator mutu di input langsung ke komputer. profil pelanggan maupun tabulasi silang (pelanggan. Business intelligence akan mewajibkan karyawan untuk melakukan input data yang menjadi tanggung jawabnya sehingga kedisiplinan akan meningkat. 2) Pengaruh terhadap biaya pemrosesan informasi dan efisiensi operasional Berkurangnya biaya pemrosesan informasi didapat dari berkurangnya beban kerja pengiriman dokumen lintas unit.4% selanjutnya Keuangan dan SDM. pertumbuhan hari perawatan.

9% dan IPSRS sebanyak 9. keseluruhan jenis kapitalisasi pengembangan ide serta communication and skill sharing masih dalam bentuk laporan manual. Nilai standar belum terdapat pada keseluruhan jenis. seluruhnya tiga bulanan kecuali sentralisir dan digitalisasi dokumen di MR yang time intervalnya realtime. Vol. pelayanan pasien narkoba dan pelayanan pasien nonjiwa. keseluruhan jenis kapitalisasi pengembangan ide serta communication and skill sharing intervalnya bulanan. Keseluruhan data sudah memiliki nilai standar. QMS ISO 9001:2000. geografi. attending system modules. GKM dan 5R. Kapitalisasi Pengembangan Ide serta communication and skill sharing. produk). keberadaan business intelligence akan sangat membantu untuk mengambil keputusan yang tepat dari keseluruhan informasi tadi. 6. kebutuhan jam training per orang per tahun serta pay for performance) dalam bentuk file non database. produk). Untuk time interval update data. Jumlah variabel informasi yang diperoleh peneliti pada penelitian ini mencapai 147 variabel. serta peningkatan pertumbuhan 30% per tahun dalam 5 tahun. keseluruhannya dalam bentuk file non database.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . Mayoritas ketersediaan data sudah dalam bentuk file non database yaitu sebanyak 82. Dalam hal ketersediaan data. OHSAS 18001 (patient safety. psychiatry departement report serta sentralisir dan digitalisasi dokumen di Manager Representative (MR). Sebanyak 92. Ini menunjukkan standarisasi informasi yang telah berjalan dengan baik. analysis and knowledge management malcolm baldrige. keseluruhan wilayah data ada di bawah unit SDM. response time layanan IGD <2 menit 95%. sedangkan jenis seleksi yang merupakan bagian dari CBHRM data sudah tersedia dalam bentuk database. K3). Keseluruhan jenis tidak memerlukan forecast kecuali pada satu jenis yaitu peningkatan pertumbuhan 30% per tahun dalam 5 tahun.. Kriteria process management Dari keseluruhan kriteria process management malcolm baldrige terdapat 84 jenis informasi yang keseluruhannya terdiri dari 6 kelompok yaitu proses kunci layanan kesehatan RSDS. Keseluruhan wilayah data ada di bawah unit EDP. Untuk time interval update data. Dalam hal ketersediaan data. didapat 13 variabel informasi yang terdiri dari 3 kelompok besar yaitu Competency Based Human Resources Management (CBHRM). Tidak ada informasi yang memerlukan forecast. No. infeksi nosokomial <5%. sebanyak 84 variabel informasi. profil kompetitor maupun 4. 3 jenis sisanya (training gap. analysis and knowledge management Dalam kriteria measurement.1%. dan keduanya digabung ke poin 5. Jumlah variabel informasi terbanyak ada pada kriteria malcolm baldrige process management. dimana 65 variabel diantaranya berasal dari proses kunci layanan RS DS.1 karena kesamaan informasinya. 5. wilayah data ada di bawah unit Public Service Center (PSC) Dalam hal ketersediaan data.9% data time interval update-nya adalah tiga bulanan. PSC modules. 4 Desember 2007 . six sigma.. Nilai standar ada pada jenis product information dan handling complaints. 7. seluruhnya bulanan. didapat lima variabel informasi yaitu services modules. Untuk CBHRM. Informasi sebanyak ini dengan berbagai atributnya merupakan hal yang cukup kompleks. Terdapat 19 wilayah data dan yang terbanyak adalah di bawah unit MR sebanyak 23. Untuk time interval update data. sedangkan jenis seleksi yang merupakan bagian dari CBHRM seluruhnya realtime dan sisanya interval tiga bulanan. Tabulasi silang (pelanggan. Kriteria business result Kriteria business result malcolm baldrige terdiri dari dua jenis yaitu performance management dan human resources competencies. angka kejadian medical error 0%. angka kejadian malpraktik 0%. Kriteria human resources focus Dalam kriteria human resources focus malcolm baldrige. Nilai standar belum terdapat pada keseluruhan jenis. Profil kompetitor diperlukan pada jenis waktu layanan registrasi 5 menit. 180 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.5%. profil kompetitor maupun tabulasi silang (pelanggan. Kriteria measurement. tabulasi silang (pelanggan. waktu layanan rawat jalan 40 menit. Tidak ada informasi yang memerlukan forecast. waktu layanan RJ umum 10 menit.8% kemudian rawat inap sebanyak 11. kapitalisasi pengembangan ide di bawah unit MR serta communication and skill sharing sifat wilayah datanya spesifik unit pelayanan. sehingga akan dapat memudahkan pengguna business intelligence untuk mendapatkan informasi yang luas pada kategori ini sehingga akan memberikan lebih banyak alternatif pertimbangan pada pengambilan keputusan. keseluruhannya dalam bentuk file non database kecuali psychiatry departement report yang belum tersedia. geografi. 10. kecuali sentralisir dan digitalisasi dokumen MR berada di bawah MR. geografi dan produk) diperlukan pada jenis kepuasan pelanggan 80% pada pelayanan pasien jiwa.

Manajemen dapat mengungkap korelasi bermakna antar data yang tersembunyi sebelumnya. Lebih dari separuh ketersediaan data adalah dalam bentuk file non database. format data yang berbeda-beda. Jika dilihat secara keseluruhan. Variabel informasi yang didapat termasuk kompleks. Fitur business intelligence Tipe-tipe analisa informasi berikut merupakan fitur yang disajikan oleh business intelligence yang sifatnya unik. Dari ketersediaan data tersebut.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Dari segi ketersediaan data. file non database 65%. nilai data yang tidak akurat. sehingga lebih menunjang kesiapan implementasi business intelligence. kesiapan untuk dilakukan data mining menjadi cukup tinggi. penelitian penyiapan implementasi business intelligence di RS DS sudah mencakup sekitar 15%-35% dari keseluruhan upaya pembuatannya. Kriteria yang mendominasi adalah process management pada variabel Proses kunci layanan RSDS. Analysing Dengan kelengkapan variabel data yang dimiliki RS DS. mengingat variabilitas format informasi yang tersedia (database 16%. 4. Load (ETL) yang lebih lama dibanding data bentuk database. membedakan business intelligence dengan sistem informasi manajemen lainnya. Transform. sinonim dan homonim serta logika proses. Bentuk file non database tetap dimungkinkan untuk diintegrasikan ke dalam business intelligence. maka tingkat kesiapan paling tinggi adalah ketersediaan data dalam bentuk database. Ketersediaan data dalam bentuk database baru mencakup 16% dari keseluruhan data dengan kontributor terbesarnya adalah balanced scorecard dalam kriteria strategic planning. sudah 81% data tersedia dalam bentuk laporan non manual. keberadaan business intelligenceakan sangat membantu peroses pengambilan keputusan. Namun ketersediaan data dalam bentuk file non database tetap lebih baik dibandingkan bentuk manual. Reporting Dengan telah diidentifikasikannya kebutuhan data dalam bentuk matriks hasil penelitian. 10. Data integration Dalam konteks business intelligence RS DS. Dashboard Kesiapannya sama dengan kesiapan fitur reporting yaitu cukup tinggi. Tahapan analisis sistem yang menghasilkan analisis kebutuhan informasi mencakup 10%-20% dari total upaya untuk mengembangkan sebuah sistem informasi. kemudian selanjutnya file database dan laporan manual. SDM dan electronic data processing. tingkat kesiapan analisis cukup tinggi. Penyiapan Implementasi Ditinjau Dari Development Life Cycle System Upaya untuk melakukan tahap investigasi sistem yang menentukan tingkat kelayakan implementasi sistem informasi mencakup sekitar 5%-15% dari keseluruhan tahap. Jika dilihat dari upayanya. lalu file non database dan laporan manual. ketidakkonsistenan nilai data. Ditinjau dari segi kelayakan. Kriteria business result sudah tercakup dalam kriteria-kriteria lain. kesiapan untuk data integration menjadi suatu tantangan besar. 1. sedangkan kriteria lainnya selain business result masih perlu lebih dirinci lagi. laporan manual 19%. ketersediaan data dalam bentuk non laporan manual yang cukup besar (81%) akan sangat membantu percepatan business intelligence. sehingga kesiapannya cukup tinggi untuk dikonversikan ke dalam business intelligence. ketersediaan data dalam bentuk selain database membutuhkan lagi langkah yang lebih panjang yaitu melalui proses Extract. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Secara keseluruhan. karena akan melewati beberapa masalah seperti ketidakkonsistenan primary key. masih diperlukan sekitar 65%-85% lagi untuk mencapai implementasi business intelligence secara keseluruhan dan proses ini melibatkan lebih banyak pihak lagi dalam penyusunannya agar menghasilkan suatu informasi yang bernilai tinggi bagi RS DS. Data mining Dengan banyaknya variabel data yang tersedia (147 variabel data). No. jika memperhatikan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pengolahan data. Namun. Vol. 4 Desember 2007 181 . 3. Secara keseluruhan. implementasi business intelligece RS DS sudah cukup layak untuk dikembangkan. kesiapan untuk fitur reporting menjadi cukup tinggi. 5. upaya penyiapan implementasi business intelligence RS DS telah mencakup 15% . wilayah data manager representative dan public service center perlu diintervensi lebih lanjut untuk menyediakan data dalam format database. belum tersedia <1%). seperti juga halnya data integration di perusahaan lain. 2. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Tiga wilayah data terbanyak adalah manager representative.35% dari keseluruhan tahapan system development life cycle.

Metodologi Pengembangan Sistem Informasi. 4. Ketaatan input data karyawan disertakan dalam sistem remunerasi yang saat ini sudah berjalan. Masing-masing penanggung jawab wilayah data menuangkan variabel informasinya dalam bentuk informasi yang terstandar menjadi bentuk database. dan gagasamanajemen terhadap sistem yang digunakan juga sangat diperlukan. Atre. 2005. Bagi informasi yang ketersediaan datanya masih dalam bentuk file non database. Iskandar. Business Intelligence Roadmap. Meneruskan tahapan system development life cycle pada tahap desain sistem. 6. Saran Sosialisasi penggunaan sistem informasi serta pelatihannya perlu dilakukan terus. Perlu dilakukan percepatan implementasi business intelligence untuk mendapatkan manfaat optimalnya. Knowledge management yang sudah ada terus dikembangkan dan disentralisir dalam wadah aplikasi business intelligence untuk memudahkan evaluasi serta update informasi-informasi terbaru yang terus berkembang. dan implementasi sistem lalu selanjutnya pemeliharaan sistem untuk percepatan implementasi business intelligence RS DS. Penyiapan Implementasi Business Intelligence 182 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Hal ini dilakukan untuk mempercepat implementasi dan mendapat manfaat optimal dari business intelligence. Pearson Education.. 2007. 4 Desember 2007 . 2006..6(1) Juni :140-144. Leman. Business Intelligence.. CHIP Magazine. KEPUSTAKAAN 1. diperlukan kesepakatan mengenai konsistensi data untuk mempercepat implementasi business intelligence.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . 3. Boston. 2003. 1998. Jakarta. utamanya bagi wilayah data yang mayoritas informasinya masih dalam bentuk laporan manual. No. 10. Peningkatan motivasi internal para karyawan tentang pentingnya implementasi sistem informasi di lingkungan rumah sakit serta keuntungan positif apa saja yang akan diperoleh karyawan dengan sistem informasi tersebut akan membawa dampak positif bagi kemajuan implementasi di luar pelatihan-pelatihan yang sudah rutin dilakukan saat ini. Mc Leod. Shaku. Elex Media Komputindo. 2. Introduction to Information Systems. Prentice Hall. Larissa T. Vol. Sadikin. Telkom Training Center dan Wahana Kendali Mutu. Gambar 1 . McGraw-Hill. Bunga Rampai Kriteria Bisnis Malcolm Baldrige National Quality Award (MBNQA). Edisi II. Moss. O Brien. 12th ed. Melibatkan pemakai akhir dari mulai untuk menentukan persyaratan fungsional untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam implementasi sistem. Management Information System. 5. 1998. Catur. New York. New Jersey.

Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).0%). skills and motivations correlate with the performance of midwives. giving incentive/rewards to them by the head of Puskesmas to improve their performance.3%).200 Artikel Penelitian DETERMINAN KINERJA BIDAN DI PUSKESMAS TAHUN 2006 DETERMINANT OF MIDWIVES PERFORMANCE AT PUBLIC HEALTH CENTRE AT 2006 Sukri Palutturi1. the head of Puskesmas is better to do the continuously observation about the filing of report format and the using of equipment. The good performance of midwives were caused by the sufficient knowledge (84. South East Maluku Regency for year 2006. 4 Desember 2007 195 . Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006. Hasil dan Kesimpulan: Pengetahuan. Kata Kunci: pengetahuan. 10. Meanwhile. Nurhayani1. motivation. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja bidan di Puskesmas Kecamatan Pulau Dullah Selatan. a midwife must have the high motivation which drives them to give the better service to patients.3%). The objective of this research is to determine factors correlating with the midwives performance at Puskesmas of South Dullah Island Sub District. seorang bidan harus mempunyai motivasi yang tinggi yang mendorong mereka dapat memberikan PENGANTAR Masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan masalah nasional yang perlu mendapat prioritas utama karena sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pada generasi mendatang. Namun demikian. waktu kerja sekitar lima tahun (71. 307/100. giving training continuously to all midwives. memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengikuti pelatihan secara terus menerus serta memberikan insentif untuk meningkatkan kinerja bidan.3%). Sample were all the midwives staff giving the midwifery service and working at Puskesmas Tual and Un at the Sub District of South Dullah Island.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. work time about five years (71. motivasi.000 kelahiran hidup pada tahun 2002.0%). keterampilan. keterampilan cukup (83. such as training. the work time didn’t have correlation with the midwives performance. Maluku Tenggara 1 ABSTRACT Background: The placement program of village midwives is mostly influenced by the capability and skill of village midwives. adequate skill (83. skill. jam kerja. No.4%) and adequate motivation (91. Makassar 2 Puskesmas Tual. Keywords: knowledge. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 195 . Recommendation: The research suggests that to improve the knowledge of midwives about the equipment use and reporting their task. keterampilan dan motivasi mempunyai hubungan dengan kinerja bidan.4%) dan motivasi cukup (91. Results and Conclusion: Knowledge. Sementara jam kerja tidak berhubungan dengan kinerja bidan. and the health office at district must provide the minimal kit midwives. South East Maluku regency for year 2006. work time. menunjukkan bahwa pelayanan KIA sangat mendesak untuk ditingkatkan baik dari segi jangkauan maupun kualitas pelayanannya.1 Negara kita AKI masih menduduki urutan tertinggi di negara ASEAN. Kinerja bidan yang baik dipengaruhi oleh pengetahuan yang cukup (84. Methods: Population of this research were all the midwives staff working at Puskesmas Tual and Un at the Sub District of South Dullah Island.2 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. performance pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada pasien. Rekomendasi: Penelitian ini menyarankan bahwa untuk meningkatkan pengetahuan bidan tentang penggunaan alat dan sistem pelaporan. kepala Puskesmas sebaiknya melakukan observasi secara regular. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. South East Maluku Regency for year 2006. Jenis penelitian ini adalah obeservasi dengan pendekatan cross sectional study. Seorang bidan harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kebidanan khususnya yang diperoleh dari pendidikan baik formal maupun non formal seperti pelatihan. serta lambatnya penurunan kedua angka tersebut. Metode: Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bidan yang bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan. Vol. Nurhamsa Mandak2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006. sedangkan AKB di Indonesia sebesar 35/1000 kelahiran hidup dan yang terendah adalah Singapura yaitu 3/l00 kelahiran hidup. Kepada Kepala Dinas kesehatan diminta untuk menyediakan kit bidan agar dapat menjalankan tugas mereka lebih baik. kinerja ABSTRAK Latar belakang: Program penempatan bidan desa pada umumnya dipengaruhi oleh kemampuan dan keterampilan bidan desa itu sendiri. Nevertheless. Therefore a midwife has to have adequate knowledge about the midwifery particularly obtained from the formal and non formal education. Participants obtained were 32 respondents. The type of this research is observational research by using the cross sectional study approach.3%). Sample adalah keseluruhan dari jumlah populasi sebanyak 32 orang.

Kesehatan ibu hamil dapat dicapai bila kehamilan diperiksa secara teratur dan risiko yang ditemukan ditangani secara memadai. Selain itu seorang bidan juga harus memiliki motivasi yang tinggi sehingga timbul dorongan dalam dirinya untuk memberikan pelayanan kebidanan yang baik kepada pasien.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup menjadi 20/1000 kelahiran hidup. cakupan tablet Fel (77.5 Berdasarkan laporan yang ada pada Dinas Kesehatan di Provinsi Maluku dari 5 Kabupaten Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2005 sebanyak 36/100.000 kelahiran hidup menjadi 225/100.2 Salah satu upaya yang dilakukan Departemen Kesehatan dalam mempercepat penurunan AKI adalah mendekatkan pelayanan kebidanan kepada setiap ibu yang membutuhkannya.719 atau 80% dan Fe3 22. dan AKB terbanyak di Kabupaten Maluku Tenggara sebanyak 45/kelahiran hidup dengan cakupan KI 27. Seseorang bidan dituntut untuk menggunakan kemampuan dalam berbagai aspek kehidupan khususnya dalam memberikan pelayanan pada pasien. 10.45%). Di 196 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. No. sehingga dengan demikian dapat memberikan dampak yang positif sesuai dengan bidang ilmu yang dimilikinya.000 kelahiran hidup.sekunder dan tertier. Vol. dan AKB menjadi 15/1000 kelahiran hidup. Tindakan (KI-K4) yang diberikan oleh petugas kesehatan (bidan) pada saat pemeriksaan kehamilan seorang ibu di pusat pelayanan kesehatan (puskesmas) akan banyak berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya karena dengan pemeriksaan yang lengkap akan mudah mendeteksi kelainan . Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan merupakan sekumpulan bahan yang luas dengan hal-hal yang terperinci yang tetap dipelajari sebelumnya serta mengingatkan hal tersebut sebagai bahan yang sudah diketahui.10%) dan TT2 (78. Secara nasional tahun 1999 K1 (92. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa hampir semua desa di wilayah Indonesia mempunyai akses untuk pelayanan kebidanan. penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia yaitu indera penglihatan. sedangkan target Internasional AKI di bawah 125/100.10%).kelainan yang mungkin terjadi pada saat kehamilan atau menjelang kelahiran. dkk.000 kelahiran hidup tahun 2005 dan 75/100. Oleh karena itu.Sukri Palutturi.829 atau 62%.6 (Profil Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara). dan cakupan TT 1 (85.408 atau 62% dan K4 2871 atau 52% cakupan Fel 3. seperti pelatihan. Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek.000 kelahiran hidup tahun 2015. Untuk itu diperlukan suatu instrumen untuk memantau kinerja bidan di desa. bayi dan anak balita.3 Penempatan bidan di desa adalah upaya untuk menurunkan AKI. Untuk itu sejak tahun 1990 telah ditempatkan bidan di desa yang pada tahun 1996 telah mencapai target 54.72%) dan K4 (75. Keberhasilan program penempatan bidan di desa sangat dipengaruhi kemampuan dan keterampilan bidan di desa di samping faktor lingkungan dan faktor kebutuhan masyarakat itu sendiri.47%)dan Fe3 (63.4 Jadi pengetahuan dapat diartikan sebagai hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan pada objek tertentu. AKB pada tahun 2005 sebanyak 82/100. disiplin dan motivasi tenaga bidan yang tinggi dalam pelayanan kebidanan bagi masyarakat merupakan harapan bagi semua pengguna pelayanan kebidanan. dan AKI terbanyak di Kabupaten Maluku Tenggara sebanyak 10/kelahiran hidup.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas .829 atau 62% cakupan TT1 27.408 atau 62% dan Fe3 2871 atau 52% cakupan TT1 3.120 bidan di desa. 4 Desember 2007 . Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga baik melalui pendidikan formal maupun non formal.829 atau 62% cakupan Fe1 27. seorang bidan harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai keperawatan khususnya kebidanan baik yang diperoleh melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal..719 atau 80% dan K4 22.000 kelahiran hidup dan AKB dari 35/100. Selain itu. penciuman rasa dan raba.408 atau 62% dan cakupan TT2 2871 atau 52%. standar untuk cakupan Kl yaitu minimal 90% dan K4 minimal 80%. Peningkatan kesehatan ibu dan bayi di Indonesia adalah salah satu komitmen Departemen Kesehatan melalui penerapan rencana pengurangan angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi dan target untuk menurunkan AKI dari 307/100. khususnya dipedesaan.Untuk itu diperlukan tenaga bidan yang memiliki kualitas profesional yang dapat memberikan pelayanan kebidanan yang efektif dan efisien serta berkualitas yang akhirnya dapat membantu memperbaiki dan meningkatkan kesehatan masyarakat dengan berorientasi pada upaya-upaya pencegahan baik pencegahan primer.719 atau 80% dan TT2 22. Masih tingginya AKB dan AKI menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan masih belum memadai dan belum menjangkau masyarakat banyak.5 Di Kabupaten Maluku Tenggara yang terdiri dari 17 puskesmas dengan cakupan K1 3.1 Keberhasilan seseorang dalam mewujudkan tujuan dan harapannya sangat ditentukan oleh masa kerja yang dimiliki.66%). pendengaran.. Namun bidan di desa yang sudah ditempatkan belum didayagunakan secara optimal dalam upaya menurunkan AKI dan AKB.

yaitu dengan menggunakan komputer (program SPSS versi 11.3 6 85. cakupan Fe l 60.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kecamatan Pulau Dullah Selatan (Puskesmas Tual dan Un).0%) memiliki kinerja kurang.1%) dengan pengetahuan yang cukup terdapat 21 responden (84. Penyajian data yang telah diolah.7%) memiliki kinerja kurang. Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan pada Puskesmas Tual dan Un Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara dengan pertimbangan belum pernah dilakukan penelitian tentang kinerja tenaga bidan di lokasi tersebut.0%) dengan keterampilan yang cukup terdapat 20 responden (83. Cakupan K1 ini dapat menggambarkan tingkat upaya kesehatan ibu dan anak dan perilaku kesehatan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya. sedangkan dari 7 responden dengan pengetahuan yang kurang terdapat 1 responden (14. masa kerja dan motivasi dan variabel dependen yaitu kinerja.0%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (16.5). Ketiga. Penelitian dilaksanakan mulai bulan April 2006 sampai dengan bulan Mei 2006.000 ( p< 0. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kinerja tenaga bidan dalam pelaksanaan standar pelayanan kebidanan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan tahun 2006. Total sampel yang diperoleh sebanyak 32 bidan. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan antenatal belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Tabel 1.3%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (16. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0. Hal ini berarti ada hubungan antara pegetahuan dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.05 ) maka Ho ditolak.0 1 14.7%) memiliki kinerja kurang. tabulasi silang antara variabel independen dengan variabel dependen.3 Total n 25 7 32 % 78. Sampel adalah semua tenaga bidan yang melakukan pelayanan kebidanan dan bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006.14% dan cakupan TT2 65%.3%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (85. dilakukan dalam bentuk cross tabel dan narasi. Untuk lebih memperjelas hasil pemaparan penelitian maka dibagi dalam tiga bagian yaitu pertama: karakteristik responden untuk mendeskripsikan karakteristik responden yaitu tingkat pendidikan dan umur.7 Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan pendekatan Cross Sectional Study7 untuk mengetahui hubungan pengetahuan.0 4 16. Hasil dari penelitian diuraikan pada tabel dan penjelasan berikut. Metode pengumpulan data Data ini diperoleh dengan cara observasi atau pengamatan terhadap kegiatan pemeriksaan ibu hamil yang dilakukan oleh tenaga bidan. Hubungan keterampilan dengan kinerja bidan Tabel 2 menunjukkan dari 24 responden (75.1 21. 10. masa kerja. keterampilan. untuk cakupan pemeriksaan ibu hamil atau KI sebesar 70. 4 Desember 2007 197 . keterampilan. Pengolahan dan penyajian data Pengolahan data dilakukan dengan cara elektronik.10% dan cakupan Fe 3 65% sedangkan cakupan TT 1 70. Hubungan pengetahuan dengan kinerja bidan Tabel 1 menunjukkan dari 25 responden (78. Besar sampel sebanyak 32 responden bidan dengan menjawab pertanyaan yang diberikan pada kuesioner. sedang dari 8 responden dengan keterampilan kurang Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Data sekunder diperoleh dari laporan cakupan program KIA (PWS KIA) Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.14% dan cakupan K4 65%.9 100 Sumber : Data Primer B. Vol. Populasi dan sampel Populasi adalah semua tenaga bidan yang bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006 dengan total sampel sebanyak 32 bidan.8 10 31. Kedua: deskriptif variabel penelitian yaitu variabel independen mengenai pengetahuan. Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 Pengetahuan Cukup Kurang Total Kinerja Baik Kurang n % n % 21 84.7 22 68. No. motivasi dan kinerja bidan di Puskesmas Tual dan Un Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. A.

Hasil uji statistik menunjukan bahwa ada hubungan antara Sumber : Data Primer d. Untuk kinerja bidan maka faktor yang paling berpengaruh dan merupakan faktor kunci untuk mencapai hasil kerja yang baik harus memiliki kemampuan dan keterampilan yang baik.0 25. No. Pembahasan lebih lanjut sebagai berikut.7 2 25.8 Kurang n % 6 4 10 28.6 36.05) maka Ho ditolak. dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal.4 100 PEMBAHASAN Kinerja adalah penampilan hasil kerja personal baik kualitas maupun kuantitas dalam suatu organisasi.6%) dengan masa kerja yang lama terdapat 15 responden (71. sedang dari 11 responden dengan masa kerja yang tidak lama terdapat 7 responden (63.3 4 16.9 9 28.0%) yang mempunyai kinerja kurang.9%) memiliki kinerja kurang.Sukri Palutturi.4 63. Hubungan Motivasi dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 Kinerja Total Motivasi Baik Kurang n % n % n % Cukup 21 91. khususnya setelah diberikan pendidikan formal maupun non formal.1 8 88.7 23 71.000 (p< 0.0%) yang memiliki kinerja yang baik sedangkan dengan pengetahuan yang kurang menyebabkan 4 bidan (16. Hal ini berarti ada hubungan antara keterampilan dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Pengetahuan dengan kinerja bidan Pengetahuan adalah apa yang diketahui dan mampu diingat oleh setiap orang setelah mengalami.4%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (28.6%) memiliki kinerja kurang.6%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (36. Tabel 2. faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja meliputi faktor individu keterampilan.002 ( p< 0. terdapat 2 responden (25. sedang dari 9 responden dengan motivasi yang kurang terdapat 1 responden (11. Hubungan masa kerja dengan kinerja bidan Tabel 3 menunjukkan dari 21 responden (65.0%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (75.6 34. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.0 22 68. Dalam penelitian ini.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas .0 6 75..652 (p> 0. Tabel 3.7%) memiliki kinerja kurang.4%) memiliki kinerja kurang.3 2 8. Hal ini berarti tidak ada hubungan masa kerja dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral atau pun etika.9 Kinerja seseorang terkait erat dengan proses kerja dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. adanya motivasi yang kuat merupakan pendorong yang memadai serta adanya kepemimpinan dan bidan itu sendiri. Hubungan motivasi dengan kinerja bidan Tabel 4 menunjukkan dari 23 responden (71.05 ) maka Ho ditolak. Hubungan Keterampilan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 hubungan antara Motivasi dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing. menyaksikan. dkk.3 32 100 Sumber : Data Primer Keterampilan Cukup Kurang Total Kinerja Baik Kurang n % N % 20 83.6 68.3 Total n 24 8 32 % 75.3%) memiliki kinerja baik dan 2 responden (8.1%) memiliki kinerja baik dan 8 responden (88.8 10 31. Hal ini berarti ada 198 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.3 n 21 11 32 Total % 65.0%) memiliki kinerja kurang. Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi. mengamati atau diajar sejak lahir sampai dewasa.. 10. Vol. Tabel 4.9%) dengan motivasi yang cukup terdapat 21 responden (91.9 Kurang 1 11. 1. Hasil penelitian menunjukkan dengan pengetahuan yang baik sebanyak 21 bidan (84.0 100 Sumber : Data Primer C.05) maka Ho diterima. Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006 Masa Kerja (Tahun) Lama (> 5 tahun) Tidak Lama (< 5 tahun) Total Kinerja Baik n 15 7 22 % 71. 4 Desember 2007 .8 10 31. faktor organisasi yang terdiri dari: kepemimpinan dan struktur imbalan/kompensasi serta faktor-faktor psikologis yang meliputi: motivasi dan kepuasan kerja. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.1 Total 22 68. Hasil penelitian terhadap kinerja bidan pada bagian sebelumnya memberikan acuan untuk membahas keempat faktor tersebut terhadap kinerja.4 31. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.

7%) memiliki kinerja kurang.6%). lebih lancar dalam melaksanakan pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Keterampilan dengan kinerja bidan Menjalankan tugas dan tanggung jawab secara profesional dengan melaksanakan fungsi sebagai bidan menuntut suatu keterampilan sebagai bidan yaitu merencanakan asuhan keperawatan sesuai dengan hasil pengkajian kebutuhan dan masalah keperawatan kebidanan.0%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara keterampilan dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. akan bekerja lebih terarah.12 Hasil penelitian menunjukkan dengan keterampilan bidan yang baik sebanyak 20 bidan (83. memperbaiki. kemampuan dan keterampilan.4%) dengan kinerja baik dan sebanyak 6 responden (28.14 Hasil penelitian menunjukkan dengan motivasi yang baik sebanyak 21 bidan (91. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pengetahuan bidan berhubungan dengan kinerja bidan. dan kesukaan) yang menimbulkan dorongan atau semangat untuk bekerja keras. kemudian selama <5 tahun sebanyak 11 responden (34. dan mereka dapat menampilkan kinerja yang baik pula. Agar Kepala Puskesmas memperhatikan pemberian insentif kepada semua bidan dan penghargaan kepada bidan yang mempunyai prestasi sehingga dapat menjadi salah satu pemicu peningkatan kinerja mereka.3%) dibanding keterampilan kurang (25. dibanding dengan bidan yang telah bekerja kurang dari 5 tahun (63.11.6%). Keterampilan bidan berhubungan dengan kinerja bidan. Saran Diharapkan kepala Dinas Kesehatan Kabupaten untuk memberikan pelatihan secara kontinyu kepada semua bidan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pulau Dullah Selatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan bidan dalam menerapkan standar pelayanan kebidanan yang baik.3%) yang memiliki kinerja baik dan dengan motivasi yang kurang terdapat 2 bidan (8. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. meningkatkan dan mengembangkan kemampuan personil dalam jangka waktu relatif singkat yang mengutamakan pengetahuan praktis sehingga personil dapat melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. No. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki Masa kerja hampir sama antara yang telah bekerja selama 5 tahun atau lebih (71.3%). harapan. Masa kerja bidan tidak berhubungan dengan kinerja bidan.4%).4%). Masa kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah khusus pelatihan tentang standar pelayanan kebidanan. Hasil penelitian menunjukkan dari 21 bidan yang masa kerja lama sebanyak 15 bidan (71. 3. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara motivasi dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Motivasi dengan kinerja bidan Motivasi adalah kesiapan khusus seseorang untuk melakukan atau melanjutkan serangkaian aktivitas yang ditujukan untuk mencapai beberapa sasaran yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan pelatihan memiliki arti yang luas bahwa sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan SDM terutama di dalam hal pengetahuan. Motivasi berhubungan dengan kinerja bidan. 4. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki keterampilan cukup (83.13. Akan halnya motivasi kerja adalah sesuatu hal yang berasal dari internal individu (keinginan. Dari hasil penelitian diperoleh distribusi terbesar sebagian besar responden telah bekerja =5 tahun sebanyak 21 responden (65. Vol. Masa kerja dengan kinerja bidan Masa kerja merupakan suatu proses pendidikan formal untuk mengubah. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara massa kerja dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Bidan yang mempunyai kinerja baik lebih banyak memiliki motivasi cukup (91. kebutuhan.1%). 10. Dari hasil penelitian menunjukkan bidan yang telah mengikuti pelatihan yang sesuai dengan tugasnya sehari-hari.3%) dibanding pengetahuan kurang (14. Diharapkan Kepala Puskemas untuk melakukan pemantauan secara berkala terhadap bidan tentang pengisian format laporan dan penggunaan peralatan serta cara pelayanan dalam menggunakan standar pelayanan kebidanan. Pengadaan minimal bidan kit kepada semua bidan yang bertugas oleh Dinas Kesehatan sehingga bidan dapat melaksanakan standar pelayanan kebidanan dengan baik.6%) dengan kinerja yang kurang. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki pengetahuan cukup (84.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pengetahuan dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara 2. 4 Desember 2007 199 .7%) memiliki kinerja kurang.3%) memiliki kinerja yang baik sedangkan dengan keterampilan yang Baik sebanyak 4 bidan (16.3%) dibanding yang memiliki motivasi kurang (11. 10.

Kinerja (Teori. 11. Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta. Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara. 2. 4. Jakarta. Prawirosentono. Y. 3.T. P. FKMUI.net/cgi-bin/berita/fullnews. Ilyas. Jakarta. 10. Depkes RI. 1999. diakses pada 3 Maret 2006 di http:// www. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan Depok. 10. Panduan Kesehatan dan Alternatif Mobilisasi Dana Kesehatan di Indonesia. Jakarta. Rineka Cipta. Notoadmojo.gizi. Yogyakarta. 1999. Ilyas. No. Panduan Bidan Tingkat Desa. Profil Puskesmas Tual dan Un. 4 Desember 2007 . S.. Kode etika kebidanan. Alfabeta.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas . Sugiono. 2005. 5. 13. 200 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Cetakan I. 2005. Bali. 2005. Penilaian.40265. Cetakan II. IBI. Jakarta. 9.cgi?newsid 1087441546. Metode Penelitian Administrasi. Penelitian). RI. 8. Profil Kesehatan Indonesia. 6. Kinerja (Teori. Vol. Kebijakan Kinerja Karyawan. Bandung. Panduan Bidan di Desa Bagian I & II. 1994. Depok. Jakarta: 1999. Maluku Tenggara. Gizi Net.Sukri Palutturi. Ikatan Bidan Indonesia. FKMUI. Menekan angka kematian ibu dan anak. Maluku Tenggara. 7. KEPUSTAKAAN 1. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan. Mei 1999. 2001. Depkes. 1999. Y. Profil Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara. 14. dkk. 2000. Penilaian. Jakarta. 12. 1999. Depkes RI.. Thabrany H. cetakan kedua. S. 2003. Penelitian). Profesi Kebidanan. Puskesmas Tual dan Un.

konsep yang sejalan dengan WHO dan disertai contoh-contoh aplikasi sistem kesehatan di beberapa negara menjadikan buku ini sangat mudah dipahami dan aplikatif. Aktivitas keenam adalah membuat jadual dan menyusun rencana pertemuan dengan tim. 10. Bab ini terdiri dari lima sub bahasan. Bahasan pertama merupakan pengantar. Aktivitas ketujuh adalah mengumpulkan dan mereview materi latar belakang. Bahasan kedua sampai kedua belas merupakan latihan atau kegiatan. 4 Desember 2007 201 . Bahasan kedua dan ketiga merupakan komponen dari modul utama. Kegiatan yang dimaksud mencakup 11 kegiatan yaitu : mengidentifikasikan kebutuhan dan prioritas dari misi USAID. Bab 5. Bab ini terdiri dari empat pokok bahasan. Bahasan kelima menjelaskan mengenai manajemen dan organisasi untuk pelayanan kesehatan. Phase 4. Bahasan keempat menjelaskan mengenai sumber daya manusia dan sumberdaya fisik lainnya. SDM kesehatan. Aktivitas kedelapan adalah menyiapkan daftar contact person dan daftar narasumber untuk melakukan wawancara. Bahasan terakhir menjelaskan mengenai strategi dalam penguatan sistem kesehatan beserta implikasinya. Aktivitas keempat adalah memasang penaksiran tim beserta tanggung jawab dari masing-masing personil dari tim.202 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Buku Pengarang Penerbit Tahun Tebal : : : : : Health Systems Assessment Approach : A How to Manual USAID Mursaleena Islam 2007 374 halaman B uku ini terdiri dari 11 bab. kerangka waktu. manajemen farmasi dan perbekalan kesehatan serta sistem informasi kesehatan. Bab ini terdiri dari dua belas sub bahasan. pelayanan kesehatan. Aktivitas kesembilan adalah mengatur menyiapkan workshop dengan stakeholder terkait. membahas mengenai persiapan dan implementasi bagian pengesahan. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan kesimpulan awal untuk masing-masing modul.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 10 No. yaitu bahasan pertama merupakan pengantar mencakup definisi sistem Kesehatan dan penguatan sistem kesehatan. Kegiatan selanjutnya adalah mempersiapkan penaksiran anggaran. Konsep yang digunakan dalam buku ini juga sejalan dengan apa yang digunakan oleh WHO terhadap konsep sistem kesehatan. Secara umum buku ini memaparkan mengenai alat (tools) dalam penilaian cepat terhadap fungsifungsi kunci sistem kesehatan mencakup: pemerintahan. Penggunaan bahasa yang mudah dimengerti. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bab 3. Phase 3. Aktivitas kelima adalah menyiapkan ceklis logistik. Aktivitas kesepuluh adalah melakukan wawancara akhir sesuai kebutuhan. kebijakan dan advokasi. menguraikan mengenai tinjauan pendekatan yang digunakan. 04 Desember 2007 Halaman 201 . membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Aktivitas terakhir adalah menyiapkan laporan penilaian. No. Bab 4. Komponen Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan penilaian terhadap penentuan waktu. Bahasan kedua memaparkan mengenai kerangka kerja konseptual dalam pendekatan penilaian sistem kesehatan. Bahasan pertama merupakan pengantar. Dalam bab ini dibahas tujuh sub pokok bahasan. kesepakatan terhadap ruang lingkup. Phase 1. merupakan pengantar yang mengulas mengenai pengenalan terhadap kekuatan sistem kesehatan. membahas mengenai modul utama. Bab 2. pembiayaan kesehatan. membahas mengenai perencanaan dan penyusunan penilaian. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan rekomendasi melalui penilaian modul. Bahasan kedua menguraikan mengenai stewardship (dalam hubungannya dengan pemerintahan). Phase 2. Bahasan keenam memaparkan mengenai sistem informasi kesehatan. membahas mengenai penemuanpenemuan final dan rekomendasi dari beberapa penilaian laporan. Bahasan kedua dan keempat merupakan tahapan dalam pengembangan rekomendasi. Vol. Masing-masing fungsi sistem kesehatan ini diuraikan di masing-masing bab secara lebih detil. Bahasan ketiga menguraikan mengenai tinjauan terhadap modul teknis dan bahasan terakhir menguraikan mengenai hasil yang diharapkan dari penilaian. Bab 1. Bab ini terdiri dari tiga sub bahasan. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan ketiga menguraikan mengenai pembiayaan kesehatan.

Pembahasan pertama merupakan pengantar. 4 Desember 2007 . yaitu Bab 11. kelembagaan pelayanan kesehatan. Bahasan pertama merupakan pengantar. membahas mengenai modul sumber daya manusia kesehatan. membahas mengenai modul pemerintahan. pembahasan kedua penyusunan profil mengenai manajemen farmasi. pendapatan dan ketidak adilan. bahasan kedua menjelaskan mengenai penyusunan profil sistem informasi kesehatan. Bab 6. Sub bahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan ketiga mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir mengenai kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. lingkungan bisnis dan suasana investasi.com 202 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan ketiga menjelaskan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Pada bagian akhir. Bab ini terdiri dari 4 sub pembahasan. Bab 10. Bahasan pertama merupakan pengantar. Sub bahasan terkhir menjelaskan mengenai kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi terkait mengenai sistem informasi kesehatan.Resensi pertama memuat mengenai : pertambahan penduduk. penyebab utama mortalitas dan morbiditas. menguraikan mengenai modul sistem informasi kesehatan. angka kematian. Secara keseluruhan buku ini sangat bagus sekali sebagai tambahan bahan referensi bagi pakar. bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil sumberdaya manusia. Bahasan ketiga menguraikan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan bahasan terakhir merupakan kesimpulan dan beberapa penyusunan rekomendasi. Pembahasan pertama mengenai pengantar. Bahasan kedua menjelaskan mengenai penyusunan profil pemerintahan. No. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. peneliti. Bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil pelayanan kesehatan. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. Bab 8. Bahasan ketiga menjelaskan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Sementara komponen kedua memuat mengenai: politik dan lingkungan makroekonomi. Bahasan ketiga menguraikan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan bahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Rimawati (Divisi Public Health Policy) rima_mhugm@yahoo. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. membahas mengenai modul pelayanan kesehatan. 10. Karena di dalam buku ini dikupas secara detil dan jelas komponen demi komponen pembentuknya. kelembagaan lembaga pemerintah dan kelembagaan swasta yang terkait dengan sistem pelayanan kesehatan. Bab ini terdiri dari empat sub pokok bahasan. akademisi dan pengajar terkait dengan seluk-beluk mengenai sistem kesehatan dan komponen pembentuk sistem. Bahasan ketiga membahas mengenai penilaian berdasarkan indicator. konsultan. Bab 9. memaparkan mengenai modul manajemen yang berkaitan dengan farmasi. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. kesehatan reproduktif. Bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil pembiayaan kesehatan. pemetaan donor/pemberi dana serta keterkaitan dari masing-masing donor atau pemberi dana. Selanjutnya yang termasuk dalam komponen kedua ini adalah desentraliasi. membahas mengenai modul pembiayaan kesehatan. Bab 7.

allowance as non-permanent personnel. Nita Arsanti. and attendance at monthly meeting has greater coverage than non-contracted group. the state of being placed. Incentive has a significant role to raise their performance. Therefore. BNET Business Dictionary. retrieved April 13. 1540/Menkes/SK/XII/2002 regarding the placement of medical workforce through service period and other schemes there are two types of non. This study mentions that is only one third of all nonpermanent personnel among medical doctor want to extend their contractual period.4 This study will be better if the individual background of non-permanent doctors is retested to determine. Probably. stated that the income covers main salary. 2/Juni/2007 I prefer to use "placement" or "deployment" in non-permanent contractual placement than non-permanent contractual assignment.2% of females who is unwilling to extend their contract are people getting married or still single. for instance. the act of locating or positioning.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 10 No. whether 64. That is normal because they do not have any guaranty to get well income.com/definition/ placement. In addition. Vol. allowance for tax income. but its problem is that the local governments have different ability to finance their region including salary staff. WordReference.com/definition/assignment 2. the local government has an important role in medical doctor placement including non-permanent personnel. Issue relating to non-permanent contractual placement among medical doctor does not become current issue anymore although nowadays this problem still happens. provincial/ district/city region with high potencies to get conflict. These will affect the willingness to extend their contract. 10. Elsa Pudji Setiawati. 'placement' means the act of placing or putting in place. No. 'Assignment' means "an undertaking you have been assigned to do (as by an instructor).217 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo. retrieved April 13.bnet. hospital for disaster aid (article 12). 04 Desember Korespondensi 2007 Halaman 216 . Vol. incentive and other allowances.2 Therefore 'placement' is related to place or location (such as urban and rural). Their willingness will differ from living in outside of West Java or within West Java.2% of females who is unwilling to extend their contract are people living in outside of West Java or within West Java. The other definition 'assignment' means the instrument by which a claim or right or interest or property is transferred from one person to another.1 Therefore 'assignment' is related to task. I agree with writers that in decentralization era. incentive or salary is also one reason why among non-permanent doctors are unwilling to extend their contractual period. 4 Desember 2007 . A research conducted shows that hospitalists Appling incentive system such as incentive for meeting standard. or whether 64. Moreover on districts/cities having income is low. allowance for doctors placed in remote and very remote area. References: 1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1540/Menkes/SK/XII/2002 tentang Penempatan Tenaga Medis melalui 216 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. As cited for instance in Health Minister Decree of Republic of Indonesia No.3 Although in the article 7 stated that income or salary for non-permanent personnel is allocated by the central government. Others become the local government's responsibility. Medical doctors nominated by central government are only undertaken in particular rural and remote area.permanent personnel: selected by the central government and the local government in district/city/provincial government (article 8). Placement and assignment are 2 words having different meaning. & Deni Kurniadi Sunjaya in the Journal of Health Service Management. medical record within 12 hours. 10/No. 2008 from http:// www. Meanwhile. 2008 from http://dictionary.wordreference. proposed the local government and states that they are not able to nominate non-permanent personnel.html 3. some doctors prefer for doing private doctor or other businesses.com English Dictionary.com PREDICTING WILLINGNESS TO EXTEND CONTRACTUAL ASSIGNMENT AMONG MEDICAL DOCTOR IN WEST JAVA Written by Irvan Arfandi. That means this problem still need better attention either the central government or the local government.

Collier..com Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 1540/ Menkes/SK/XII/2002 regarding the placement of medical workforce through service period and other schemes). masa Bakti dan Cara Lain (Health Minister Decree of Republic of Indonesia No.U.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 4. (2007). V. No. Sukri Palutturi Health Policy and Administration Department Faculty of Public Health Hasanuddin University Email: sukri_tanatoa@yahoo. Use of Pay for Performance in a Community Hospital Private Hospitalize Group: A Preliminary Report. Philadelphia: The American Clinical and Climatological Association. 4 Desember 2007 217 . 10. Vol.

dan Pelaksanaan Manajemen Risiko Klinis di Lima Rumah Sakit di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Banten Tahun 2005 Arjaty Daud. Gde Muninjaya Budaya Organisasi dan Mindset Petugas Penanggulangan Tb Paru Melalui Strategi Dots di Puskesmas Labibia Kota Kendari Asiah Hamzah. 4 Desember 2007 205 . No. A.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. Persepsi. Hanevi Djasri Artikel Penelitian Pengetahuan. 10. A. Mubasysyir Hasanbasri Resensi Buku Redefining Health Care: Creating Value-Based Competition on Results Trisasi Korespondensi Koordinasi Lintas Sektoral pada Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi di Kabupaten Sleman Chriswardhani Suryawati 01 03 11 20 29 40 46 52 53 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 205 . Vol. Sri Suryawati Survei Pasar Jaminan Kesehatan Sosial Bali A.214 Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. Sukri. I. Nirmala Trisna. 10/NO 01/MARET/ 2007 Editorial Memperbesar Peran Ahli Kebijakan dan Ahli Manajemen Pelayanan Kesehatan di Indonesia Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit sebagai Persyaratan Badan Layanan Umum dan Sarana Peningkatan Kinerja Tjahyono Kuntjoro. Laode Bariun Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survai Sosial Ekonomi Nasional 2001 Jati Untari. Purnawan Junadi Pengaruh Penyerahan Dana dan Pengelolaan Asuransi Kesehatan Sepenuhnya Kepada Puskesmas Terhadap Efisiensi Pengadaan dan Mutu Penggunaan Obat Neti Viperiati. Dumilah Ayuningtyas. A.

Sri Suryawati Analisis Besaran Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali I Gede Santabudi Samba. 10. Wiku Adisasmito Efisiensi Pemanfaatan Rumah Sakit Umum Daerah di Provinsi Sumatera Barat dengan Data Envelopment Analysis Asmaliza. 4 Desember 2007 . No. Mubasysyir Hasanbasri Resensi Buku Know How: The 8 Skills That Separate People Who Perform From Those Who Don’t Putu Eka Andayani Korespondensi Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah Rimawati 55 56 64 72 79 85 90 98 101 206 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. Julita Hendrartini Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah Shinta Wardhani Suryanegara. Adi Utarini Implementasi Posyandu dan Supervisi oleh Puskesmas di Pontianak Yuliastuti Saripawan. Vol. Anis Fuad. Ali Gufron Mukti. 10/NO 02/JUNI/ 2007 Editorial Kebijakan Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin: Saatnya untuk Melakukan Evaluasi Menyeluruh Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Pendekatan Sistem dalam Perencanaan Program Daerah Mubasysyir Hasanbasri Artikel Penelitian Evaluasi Praktik Donasi Obat Pascatragedi Bom Bali Ida Prista Maryetty.

Sunartono. Ristrini Resensi Buku Getting to Yes: Teknik Berunding Menuju Kesepakatan Tanpa Memaksakan Widya Febryanti Korespondensi Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survei Sosial Ekonomi Nasional 2001 Deni Harbiyanto 103 104 108 117 124 132 143 148 154 156 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 4 Desember 2007 207 . dan Kemitraan Sri Winarni. Vol. Elsa Pudji Setiawati. Nita Arisanti. No. Hanevi Djasri Proses Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja di Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2006 Durachman. 10/NO 03/SEPTEMBER/ 2007 Editorial Situasi Survailans yang Belum Menggembirakan Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Cost Effectiveness Analysis dalam Penentuan Kebijakan Kesehatan: Sekedar Konsep atau Aplikatif? Ari Probandari Artikel Penelitian Evaluasi Continuous Quality Improvement (Cqi) di Rumah Sakit yang Mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu Iso 9000 di Indonesia Chatila Maharani. Sri Suryawati Pengembangan Proses Verifikasi Pra-Operasi untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Rizaldy Pinzon Kajian Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Making Pregnancy Safer di Daerah Miskin Pedesaan Oktarina. Tjahjono Kuntjoro. Penunjukan Langsung. Deni Kurniadi Sunjaya Perbandingan Efisiensi dan Efektivitas Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan dengan Lelang. Julita Hendrartini Predicting Willingness to Extend Contractual Assignent among Medical Doctors in West Java Irvan Afriandi.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS DAFTAR ISI VOL. 10.

Yodi Mahendradhata. No. Nurhayani. 10 /NO 04/DESEMBER/ 2007 Editorial Kebijakan Contracting Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: Dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik) Siswanto Artikel Penelitian Dampak Kemitraan Praktisi Swasta Terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar. Vol. 4 Desember 2007 . Nurhamsa Mandak Resensi Buku Health Systems Assessment Approach: A How to Manual Korespondensi Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctor in West Java Sukri Palutturi 157 159 166 173 181 189 195 201 203 208 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Bali Luh Putu Sri Armini. Pembelajaran Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Evie Sopacua.Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. 10. Adi Utarini Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan. dumilah ayuningtyas Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006 Sukri Palutturi. Didik Budijanto Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Misnaniarti Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Raditya asri wisuda.

4 Desember 2007 209 . 10(03): 117-Ap. Afriandi. Djasri. A. 10(01): 11-Ap. Bariun. Maharani. R. L. Lihat. Afriandi. S. Wisuda. Ayuningtyas. W. Febryanti. D. P. A. Arisanti. I. 10(02): 85-Ap. E. I. Armini. N. Suryanegara. Pengetahuan. Bali. 10(03): 124-Ap. Vol. Dampak Kemitraan Praktisi Swasta Terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar. E. 10(04): 166-Ap. T. Lihat. H. Asmaliza Efisiensi Pemanfaatan Rumah Sakit Umum Daerah di Provinsi Sumatera Barat dengan Data Envelopment Analysis. Know How: The 8 Skills That Separate People Who Perform From Those Who Don’t. S. A. Kuntjoro. Persepsi. Lihat. A. Lihat. Budijanto. L. Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctors in West Java. C. Hamzah. W. Getting to Yes: Teknik Berunding Menuju Kesepakatan Tanpa Memaksakan. Lihat. Daud.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS PENULIS Adisasmito. dan Pelaksanaan Manajemen Risiko Klinis di Lima Rumah Sakit di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Banten Tahun 2005. 10(03): 154-Rb. 10. W. Sopacua. D. Durachman Proses Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja di Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2006. Andayani. Lihat. Asmaliza Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. A. Lihat. Lihat. Fuad. 10(02): 98-Rb. P. Daud. Lihat. No.

10(04): 181-Ap. Lihat. Nurhayani Lihat. L. S. Palutturi. 10(01): 40-Ap. G. Samba. T. Pendekatan Sistem dalam Perencanaan Program Daerah. 10(03): 108-Ap. Palutturi. Lihat. Maharani. Lihat. Misnaniarti Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung. Budaya Organisasi dan Mindset Petugas Penanggulangan Tb Paru Melalui Strategi Dots di Puskesmas Labibia Kota Kendari. G. S. I. A. A. Mahendradhata. Samba. S. Untari. Hendrartini. 10(03): 156-Koresp. G. Trisna. I. Hasanbasri. Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit sebagai Persyaratan Badan Layanan Umum dan Sarana Peningkatan Kinerja. Lihat. A. Evaluasi Praktik Donasi Obat Pascatragedi Bom Bali. A. Muninjaya. 10. Y. P. Y. 10(02): 64-Ap. S. S. 210 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Evaluasi Continuous Quality Improvement (CQI) di Rumah Sakit yang Mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu ISO 9000 di Indonesia. Saripawan. Maharani. 4 Desember 2007 . Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survei Sosial Ekonomi Nasional 2001. G. P. A. Oktarina Kajian Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Making Pregnancy Safer di Daerah Miskin Pedesaan. Durachman Junadi. N. Lihat. Daud. Lihat. Vol. 10(03): 148-Ap. No. Lihat. A. Lihat. Mandak. C. Kuntjoro. I. M. J. C. P. Harbiyanto.Indeks Hamzah. D. J. Maryetty. 10(01): 03-Mk Lihat. N. Armini. 10(02): 56-Mk. I. Lihat. A. Mukti.

No. 10(03): 143-Ap. D. A. 10(04): 173Ap. Setiawati.Pembelajaran Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan. Siswanto Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik). Pinzon. 10(04): 203-koresp. Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006. Pengembangan Proses Verifikasi Pra-Operasi untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit. 10(03): 104-Mk. Health Systems Assessment Approach : A How to Manual. Afriandi. 10(02): 72-Ap. Sunartono Lihat. Vol. Sukri Lihat. S. R. W. Lihat. Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan. Implementasi Posyandu dan Supervisi oleh Puskesmas di Pontianak. Afriandi. Lihat. 10(04): 159-Mk. Probandari. 10(02): 101-Koresp. 10(02): 79-Ap. S. Durachman Sunjaya. I. 10(02): 90-Ap. 10(04):201-Rb Ristrini Lihat. Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah. 10. Hamzah. E. Saripawan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Palutturi. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Cost Effectiveness Analysis dalam Penentuan Kebijakan Kesehatan: Sekedar Konsep atau Aplikatif?. Oktarina Samba. A. G. Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctor in West Java. Suryanegara. K. 4 Desember 2007 211 . P. 10(04): 195-Ap. Y. Rimawati Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah. I. S. Analisis Besaran Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Sopacua. E. I.

Utarini. Memperbesar Peran Ahli Kebijakan dan Ahli Manajemen Pelayanan Kesehatan di Indonesia. N. S. S. Maryetty. Trisna. 10(01): 52-Rb. Koordinasi Lintas Sektoral pada Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi di Kabupaten Sleman. No. N. Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survai Sosial Ekonomi Nasional 2001. P. P. Lihat. A. Situasi Survailans yang Belum Menggembirakan. Wisuda. 10(04):189-Ap. Lihat. L. dan Kemitraan. I. 10(01): 46-Ap. Perbandingan Efisiensi dan Efektivitas Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan dengan Lelang. Lihat. 212 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige. A. C. L. J. A Lihat.Indeks Suryawati. S. 10(01): 29-Ap. I. Untari. 10(04): 157-Ed. Penunjukan Langsung. 10(01): 01Ed. 10(03): 103-Ed. S. A. Kebijakan Contracting Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: Dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah. Suryawati. Viperiati. Trisnantoro. Trisasi Redefining Health Care: Creating Value-Based Competition On Results. 10(01): 20-Ap. Winarni. Asmaliza Lihat. Vol. Winarni. Kebijakan Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin: Saatnya untuk Melakukan Evaluasi Menyeluruh. Survei Pasar Jaminan Kesehatan Sosial Bali. R. 4 Desember 2007 . 10. N. 10(02): 55-Ed. Armini. 10(01): 53-Koresp. Pengaruh Penyerahan Dana dan Pengelolaan Asuransi Kesehatan Sepenuhnya kepada Puskesmas Terhadap Efisiensi Pengadaan dan Mutu Penggunaan Obat. Viperiati. 10(03): 132-Ap.

10 (01): 20. Mindset. 10 (03): 124. Data Envelopment Analysis. Economic Evaluation. Making Pregnancy Safer. 2007. 2007. Efficiency. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Business intelligence. 10 (01): 11 . 2007. 10 (01): 20 . 10 (04): 166 CQI. 2007. 10 (03): 148. 10 (03): 132. 10 (04): 195 Leadership. Lesson Learned. 10 (04): 159 Financial System Of Public Service Body. 2007. 2007. 10 (03): 104. Ethics. Drug Use. Health Personnel’s Training Program. Community Health Center. 10 (02): 85. 10 (02): 90.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS SUBJEK Ability to Pay. 10(04): 189. Drug Procurement. 10(04): 189. Cost. Effectiveness. 2007. Fund. No. 2007. 10 (03): 132. 10 (02): 72. 2007. Implementation. 2007. 2007. 2007. 10 (04): 173 Locally Available Resources. 4 Desember 2007 213 . 2007. 10 (02): 90. 10 (01): 20. 10 (03): 108. ISO 9000. Behavior. Medical Doctor. Contract. 10 (03): 124. 2007. 2007. 2007. 2007. 2007. 2007. 2007. Community Partnership. 10 (02): 85. 10 (04): 166 Deployment. Health Card. 2007. Knowledge. Bali Bomb Tragedy. 2007. 10 (02): 79. 10 (01): 40. 10 (01): 03. 10 (03): 148. 10 (01): 20 . Delay. 10 (01): 11. 2007. 2007. 2007. 2007. 10 (04): 173 Hospital Efficiency. 10 (03): 117. Management Policy. Implementation preparation. 10 (04): 181 Maternal and Child Health. 10 (03): 132. 2007. 10 (01): 20. 2007. 2007. 10 (03): 132. Bali Social Health Insurance. 10 (01): 46. 2007. 2007. Drug Donations Impacts. Empowering. 10 (02): 64. 2007. 2007. 2007. 10 (03): 108. 10 (03): 148. 2007. Direct Appointment. 10 (01): 03. 2007. Dots. 10 (01): 29. 10. 10 (01): 11. Knowledge. 2007. 10 (02): 64. 10 (03): 104. 2007. 2007. Hospital Performance Indicators. 10 (03): 124. 2007. 10 (02): 79. Health Insurance. 2007. 10 (01): 29. Hospital Performance. 10 (02): 90. 10 (03): 108. Cost Effectiveness Analysis. Auction. 10 (01): 40. 2007. 2007. Clinical Risk Management. 10 (02): 56. Vol. 2007. Cash Funds. 2007. 2007.

2007. 2007. No. 2007. 10 (01): 29. 2007. 2007. Public-Private Mix. 4 Desember 2007 . 10 (02): 64. Survey. 214 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2007. Motivation. 10 (02): 79. Patient Safety. 10 (04): 159 Poor Families. 2007. Posyandu. 2007. 2007. 2007. Public Hospitals. 2007. 2007. 10 (02): 79. Oseltamivir. 10 (02): 90. 10 (04): 181 Partnership. 10. 2007. 10 (01): 46. 10 (03): 117. 10 (03): 143. Service Unit Fund Plan. 2007. 2007. 2007. 10 (04): 195 Organization. 10 (03): 143. 10 (02): 64. 10 (01): 40 . 2007. 2007. 2007. 10 (04): 195 Policy Options. Vol. 10 (02): 64. 2007. 10 (01): 20. 2007. 10 (02): 72. Performance. Private Practitioner Involvement. 2007. 10 (03): 124. 10 (02): 56. Prevention. 2007. 10 (04): 195 Stakeholders’ Perception. Unused Medicines. 2007. 2007. 2007. 10 (04): 173 Politics. 10 (03): 132. 2007. 2007. 2007. 10 (03): 104. Premium. Supervision. 10 (01): 40. Pegawai Tidak Tetap. 10 (01): 03. Public Health Center. 10 (01): 29. 10 (02): 85. 10 (01): 46. 2007. 10 (04): 195 Wrong Surgery. 10 (03): 143. 2007. 10 (01): 11. 2007. 10 (04): 166 Private Provider. 10 (04): 166 Resource Allocation.Indeks Minimal Hospital Services Standards. 10 (02): 90. System Analysis Approach Health Planning. Trax-Free Policy. Work Time. 10 (02): 72. 2007. Public Service Entity. Service Unit Fund Document. Organizational Culture. 2007. 10 (03): 117. 2007. 2007. Sanglah Hospital Denpasar. Willingness to Pay. 2007. Perception. Skill. 10 (04): 159 Organization Culture.