P. 1
Vol_10_No_4_Des_2007

Vol_10_No_4_Des_2007

|Views: 342|Likes:
Published by Toni Mala

More info:

Published by: Toni Mala on Sep 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/13/2012

pdf

text

original

jurnal

ISSN 1410-6515

Manajemen
Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management
Volume 10/Nomor 04/Desember/2007
EDITORIAL
Kebijakan Contracting-Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah

Vol 10. No. 04 h.157-214 10 4 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 2007

MAKALAH KEBIJAKAN
Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik)

ARTIKEL PENELITIAN
Dampak Kemitraan Praktisi Swasta terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar, Bali Opsi-opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan; Pembelajaran dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006

RESENSI
Health Systems Assessment Approach : A How to Manual

KORESPONDENSI
Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment Among Medical Doctor in West Java

JMPK

Tahun 10

Nomor 04

Hlm. Yogyakarta 157-214 Desember 2007

ISSN 1410-6515

Terakreditasi Ditjen Dikti No.: 45/DIKTI/Kep./2006

Diterbitkan oleh/Published by: Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Center for Health Services Management Faculty of Medicine Gadjah Mada University

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 10/Nomor 04/Desember/2007

Daftar Isi
Editorial
Kebijakan Contracting-Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah 157

Makalah Kebijakan
Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik) Siswanto 159

Artikel Penelitian
Dampak Kemitraan Praktisi Swasta terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar, Bali Luh Putu Sri Armini, Yodi Mahendradhata, Adi Utarini Opsi-opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan; Pembelajaran dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Evi Sopacua, Didik Budijanto Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Misnaniarti Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Raditya Asri Wisuda , Dumilah Ayuningtyas Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006 Sukri Palutturi, Nurhayani, Nurhamsa Mandak 166

173

181

189

195

Resensi Buku
Health Systems Assessment Approach : A How to Manual 201

Korespondensi
Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment Among Medical Doctor in West Java 203 205

Indeks

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 10 No. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 157 - 158 Editorial

KEBIJAKAN CONTRACTING-OUT UNTUK PENYEDIAAN TENAGA KESEHATAN DI DAERAH TERPENCIL DAN SULIT: DARI PENGALAMAN MENUJU BUKTI ILMIAH1

Masalah ketersediaan sumber daya manusia di daerah yang sulit, terpencil, ataupun berbahaya merupakan masalah besar yang klasik terdapat di Indonesia. Daerah terpencil kekurangan tenaga kesehatan yang penting seperti dokter, dokter gigi, perawat, bidan, epidemiolog, ahli gizi. Tantangan ke depan adalah: (1) bagaimanakah kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam penempatan tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil dan sulit? (2) apakah kebijakan sekarang ini dapat diteruskan walaupun sudah terbukti tidak bisa memenuhi harapan seperti data yang diperoleh Pusrengun Departemen Kesehatan. Di samping itu, ada pertanyaan apakah kebijakan yang diambil dapat menggunakan prinsip-prinsip Evidence Based Policy Making ? Apa persamaan dan perbedaan antara Evidence Based Medicine (EBM) dan Evidence Based PolicyMaking (EBP). Sackett dkk mendefinisikan EBM sebagai: “the conscientious, explicit, and judicious use of current best evidence in making decisions about the case of individual patient’. Untuk EBP, Cookson memberikan definisi yang serupa, namun berfokus pada keputusan public tentang kelompok atau masyarakat, bukan sebuah keputusan tentang individu pasien. Lebih lanjut Cookson menggambarkan hubungan antara bukti ilmiah dengan keputusan. Keputusan berupa kebijakan publiK dapat dipengaruhi oleh berbagai hal yaitu (1) kepercayaan; (2) nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat; dan (3) berbagai hal lain seperti aspek politik, ekonomi, hukum, dan etik. Peran bukti ilmiah adalah mempengaruhi kepercayaan pengambil keputusan tentang hal yang harus ditetapkan. Akan tetapi kepercayaan ini dipengaruhi pula oleh pengalaman, bukti anekdot, ataupun opini yang didengar dan dibaca oleh pengambil kebijakan. Apabila tidak ada bukti ilmiah, dapat dipahami bahwa pengambilan keputusan dipengaruhi oleh kepercayaan yang berasal dari opini misalnya. Sebagai salah satu kasus menarik tentang penggunaan Evidence Based Policy adalah pengiriman tenaga ke RSD Tjut Nya’Dien di

Kabupaten Aceh Barat oleh FK UGM dan RSUP Dr. Sardjito. Pengiriman tenaga ini dapat disebut sebagai bukti anekdot untuk kebijakan distribusi tenaga medik dan kesehatan di daerah sulit. Dalam konteks penyebaran tenaga kerja di daerah sulit, pada tahun 2005, dipicu oleh musibah Tsunami di Aceh dilakukan pengiriman tenaga kerja melalui pendekatan kontrak tim (bukan kontrak perorangan) untuk menggantikan tenaga kesehatan. Dengan dukungan dana dari World Vision Australia, Fakultas Kedokteran UGM bersama University of Melbourne dikontrak untuk menyediakan bantuan tenaga dokter, dokter spesialis, perawat, dan tenaga-tenaga manajemen di RS Tjut Nya’ Dien. RS ini berada di pesisir barat Propinsi NAD, di kota Melaboh. Kota ini merupakan salahsatu daerah yang mendapat dampak paling dahysat Tsunami. Selama 3 tahun telah dikirim sekitar 500 tenaga dengan sekitar 50 gelombang pemberangkatan. Tujuan pengiriman tenaga medik ke RSD Tjut Nya Dien untuk: (1) Memperkuat dan mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga medis / nonmedis RS Tjut Nya’ Dien melalui pengiriman tim medis secara rotasi dan menyiapkan staf local permanent; (2) Revitalisasi penuh RS Tjut Nya’ Dien melalui pemenuhan kebutuhan tenaga medis / non medis berdasarkan penilaian kebutuhan. Di pandang dari hubungan antarberbagai pihak yang terlibat, pengiriman tenaga medik dan kesehatan RSUP Dr. Sardjito dan FK UGM ke Aceh Barat merupakan kegiatan contracting-out. Apakah kegiatan pengiriman tenaga ke Aceh Barat ini dapat dikembangkan sebagai dasar pengambilan kebijakan nasional dan daerah dalam penyebaran tenaga medik dan kesehatan? Pertanyaan lebih lanjut: apakah model contractingout ini dapat dipergunakan untuk menyediakan tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil dan sulit oleh pemerintah daerah dan pusat? Beberapa pemerintah daerah tertarik untuk membuat keputusan berdasarkan pengalaman yang ada di Aceh Barat. Kasus ini terjadi di Kabupaten Berau (yang masih belum berjalan) dan Kabupaten

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

157

Ruang Rapat Senat FK UGM. Untuk ini diharapkan Departemen Kesehatan berani melakukan penelitian pilot untuk kebijakan contracting-out dalam distribusi tenaga medik dan tenaga kesehatan di daerah yang terpencil dan sulit. 10. Yogyakarta. sama dengan Aceh Barat). saat ini sudah ada bukti anekdot atau pengalaman berupa kebijakan contracting-out yang telah dipergunakan oleh beberapa pemerintah daerah untuk mencari solusi. Vol. Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Berau (kalau jadi) dapat diperkuat menjadi bukti. Namun disadari bahwa bukti pengalaman ini perlu dikembangkan untuk menjadi bukti ilmiah sehingga mempengaruhi kepercayaan dalam menetapkan keputusan. Kabupaten Nias. Merupakan Background Paper untuk Sarasehan Alumni FK UGM.Laksono Trisnantoro: Kebijakan Contracting-out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan Nias dan Kabupaten Nias Selatan (sudah berjalan. Sebagai ringkasan.com) KEPUSTAKAAN 1. Laksono Trisnantoro (trisnantoro@yahoo. 158 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 4 Desember 2007 . kebijakan untuk distribusi tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil perlu terus dicari dan dikembangkan. Dalam hal ini pemerintah pusat sebenarnya dapat melakukan pilot untuk penelitian kebijakan agar pengalaman mengenai model contracting-out dalam distribusi tenaga medik di Kabupaten Aceh Barat. No. Bagaimana dengan pemerintah pusat? Sampai sekarang ini Departemen Kesehatan belum mempunyai agenda untuk contracting-out. Dari perspektif Evidence Based Policy Making. Tanggal 5 Maret 2000.

kemelut perusahaan milik daerah tersebut sampai ke meja anggota DPRD karena para pendemo (karyawan) menyampaikan kemelut manajemen perusahaan kepada wakil rakyat (anggota DPRD). Political activities would entail the ability to exercise power sources with certain political tactics to win interests. the interaction of actors in organizational life would involve power. the influence on others’ behavior is due to principles or at least due to benefit exchange. baik kekuasaan berdasar kedudukan maupun kekuasaan pribadi. dalam rangka memburu kepentingan dan tujuannya. No. maka terjadilah demo besar-besaran oleh karyawan perusahaan dan pendemo menuntut sang direktur untuk mundur dari jabatan sebagai direktur utama. Consequently. salah satu pemerintah kota di Provinsi Jawa Timur ingin membenahi manajemen perusahaan Badan Usaha Milik Daerah yang dipunyainya karena ditengarahi banyak terjadi KKN sehingga perusahaan tidak efisien.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. Keywords: organization. Akhir cerita. Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas adalah bahwa seorang manajer akan mengalami kegagalan apabila cara memimpinnnya hanya mengedepankan satu paradigma manajemen saja. namun penulis sengaja membuatnya ‘anomim’ untuk menjaga etika penulisan. setelah melalui proses tarik ulur di antara para politisi. Pada kisah di atas. organizations including health organizations can be interpreted as a political arena where actors are contesting their interests. 10. dan kepentingan. Political activities are natural and unpreventable for the interaction of actors in organizational life. influence and interests. sang direktur melakukan pembersihan besar-besaran terhadap berbagai praktik KKN karena pendekatannya yang terkesan radikal. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. tetapi merupakan pola perilaku karena berpegang pada prinsip atau setidaknya karena asas pertukaran manfaat.165 Makalah Kebijakan POLITIK DALAM ORGANISASI (SUATU TINJAUAN MENUJU ETIKA BERPOLITIK) POLITICS IN ORGANIZATION (A REVIEW LEADING TO ETHICS OF POLITICS) Siswanto Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 159 . menuju kinerja perusahaan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. menakut-nakuti. every actor should take into consideration ethics for performing more elegant politics. Vol. Rather. in order that some one’s influence unto others not due to a coercive. interaksi antaraktor dalam kehidupan organisasi akan selalu terkait dengan kekuasaan pengaruh. Untuk menyehatkan perusahaan. Every actor within organizations including managers try to improve his/her power. sang manajer terjebak pada praktik manajemen paradigma rasional tanpa memperhitungkan kekuatan politik di dalam organisasi. Kisah ini adalah kisah nyata. boleh dikatakan tiada hari tanpa demo. Akhirnya. politics. Aktivitas politik merupakan sesuatu yang natural dan tidak dapat dicegah dalam interaksi antaraktor dalam kehidupan organisasi. frightened and painful manner. Oleh karena itu. ethics ABSTRAK Sebagai sebuah entitas sosial. Aktivitas politik melibatkan kemampuan memainkan sumber kekuasaan dengan taktik politik tertentu untuk memenangkan kepentingan. Bahkan. keberadaan organisasi termasuk organisasi kesehatan. diputuskan bahwa untuk merekrut direktur utama dilakukan secara transparan melalui pengumuman di media massa dan kemudian dilakukan fit and proper test di hadapan stakeholder kunci. either position power or personal power. etika PENGANTAR Alkisah. 4 Desember 2007 159 . politik. Kata Kunci: organisasi. Setiap aktor dalam organisasi termasuk manajer akan berusaha meningkatkan kekuasaannya. setiap aktor harus memperhatikan etika berpolitik yang elegan agar pengaruh seseorang pada perilaku orang lain tidak bersifat memaksa. sang manajer telah gagal memimpin perusahaan karena tidak memiliki keterampilan politis yang adekuat untuk melakukan perubahan organisasi. Selama beberapa bulan. in order to achieve his/her own goals and interests. Namun demikian. Depkes RI. sang direktur diminta untuk mundur dari jabatan direktur utama perusahaan tersebut karena ia dianggap tidak demokratis dalam gaya kepemimpinannya. dapat diinterpretasikan sebagai wahana politik tempat para aktor berebut kepentingan. However. Dengan kata lain. dan menyakitkan. Terpilihlah seorang ‘direktur profesional’ untuk membenahi manajemen perusahaan. Surabaya ABSTRACT Being a social entity.

Kekuasaan dan pengaruh merupakan unsur utama dalam politik. Dengan memahami politik organisasi. dan tujuan yang berbeda-beda. kita tidak bisa menghindar dari politik”. maka dapat dikatakan bahwa politik tidak hanya terjadi pada sistem pemerintahan. profesionalitas sebagai manajer haruslah diinterpretasikan sebagai penguasaan ’semua paradigma manajemen’.Siswanto: Politik dalam Organisasi yang lebih baik. Salah satu paradigma manajemen yang harus dipertimbangkan oleh praktisi manajemen adalah politik organisasi (organizational politics). Kekuasaan didefinisikan sebagai potensi seorang aktor dapat mempengaruhi aktor lain. kemudian mampu menggunakannya secara tepat orang dan tepat waktu (contingency of people and of timeliness). termasuk manajer. Tak dapat disangkal bahwa ‘negosiasi’ merupakan salah satu bentuk aktivitas politik untuk mendapatkan komitmen bersama. baik itu menyangkut distribusi informasi. persepsi. Dengan kata lain. Morgan3 dan Bolman & Deal4 misalnya. marga. Organisasi kesehatan. Pada prinsipnya politik adalah suatu jaringan interaksi antarmanusia dengan kekuasaan diperoleh. Vol. Strauss1 dalam penelitiannya di institusi rumah sakit mengidentifikasi pola interaksi antar aktor di rumah sakit (dokter. No. dengan taktik memainkan kekusaannya masing-masing. ditransfer. Dalam kelompok sosial. karir maupun penghargaan lainnya. Politik didefinisikan oleh Dahl2 sebagai “setiap pola hubungan yang kokoh antarmanusia dan melibatkan secara cukup mencolok kendali. Semestinya. seperti rumah sakit juga tidak terlepas dari kegiatan politik. perawat dan staf administrasi) sebagai ‘keteraturan hasil negosiasi’ (negotiated order). Untuk menjadi manajer yang efektif. Umat manusia adalah makhluk sosial dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan saling berinteraksi satu dengan lainnya. sehingga secara etis dapat diterima oleh anggota lainnya. badan usaha. proses pengaruh-mempengaruhi merupakan hal yang wajar dalam kehidupan organisasi. yang analisisnya mengabaikan motif dan kepentingan aktor yang terlibat dalam organisasi. kelompok suku primitif. termasuk organisasi. dan bahkan pada unit keluarga. dan akhirnya didiskusikan etika berpolitik dalam organisasi. kekuasaan. Melihat aktivitas organisasi sebagai aktivitas politik merupakan penyegaran terhadap pemahaman kehidupan ‘organisasi’ yang selama ini selalu didominasi oleh cara pandang instrumental. Pusat analisis politik adalah kekuasaan dan pengaruh. Berkenaan dengan praktik manajemen melalui pendekatan politik. Dalam kontes saling pengaruh-mempengaruhi ini. Setiap anggota akan membawa minat. klub-klub pribadi. setiap manusia mau tidak mau harus menggunakan politik (kekuasaan dan pengaruh) sebagai alat berinteraksi antara manusia satu dengan manusia lainnya. organisasi keagamaan. politik adalah suatu kenyataan sosial yang harus dihadapi oleh anggota organisasi. Setiap orang dalam organisasi akan menggunakan taktik dan strateginya masing-masing untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas. Organisasi Sebagai Wahana Politik Organisasi sebagai salah satu entitas sosial juga tidak terlepas dari politik. Dengan demikian. maka tiap-tiap aktor akan saling beradu kekuasaan untuk memenangkan ‘kepentingan’. Permainan politik yang tidak etis dalam jangka panjang akan berakibat buruk terhadap kredibilitas pelakunya. kekuasaan dan kewenangan”. diharapkan para praktisi manajemen dapat memperluas cakrawala pandangnya tentang politik organisasi sebagai paradigma alternatif dalam mengelola organisasi. di antaranya organisasi sebagai wahana politik. 4 Desember 2007 . sehingga aktor lain tersebut menuruti kemauan aktor pertama. Dengan menggunakan definisi ini. pengaruh. Ada ungkapan yang menarik “meskipun kita tidak suka politik. politik adalah kenyataan hidup yang harus dihadapi dan dijalankan oleh setiap orang selama ia berinteraksi secara sosial. maka seorang manajer (termasuk pemain lainnya) harus paham bagaimana bermain politik yang etis dan elegant. Masyarakat kebanyakan sering memaknai politik dengan konotasi negatif dan kotor. namun politik juga terjadi pada organisasi formal. Drory5 mendefinisikan politik organisasi 160 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. seorang manajer harus sadar bahwa ‘politik’ selalu ada dalam setiap kehidupan organisasi. Oleh karena itu. Pemahaman bahwa organisasi adalah sebuah entitas politik akan mampu menyadarkan manajer melihat organisasi secara ‘utuh’ dan tidak hanya mengandalkan pada cara-cara instrumental saja. melihat organisasi sebagai wahana atau gelanggang politik tempat bernegosiasi kepentingan oleh para anggotanya. kepentingan. manusia selalu terlibat interaksi antar satu dengan lainnya. Tulisan ini akan mendiskusikan beberapa isu penting tentang paradigma politik organisasi. kekuasaan dan sumber-sumbernya. praktik politik dalam organisasi. Proses interaksi memenuhi kebutuhannya tersebut manusia membentuk kelompok-kelompok komunitas serta manusia akan selalu dihadapkan pada unsur kekuasaan dan pengaruh. dan digunakan. 10. Untuk memenuhi kepentingannya (meraih cita-cita dan tujuannya).

10.10 Lebih jauh. No. meliputi tujuan. Kekuasaan bukan merefleksikan tindakan. Kekuasaan bersifat netral. sikap. kepentingan. kepentingan karir terkait dengan masa depan seseorang dalam organisasi (posisi dan jabatan yang lebih baik). Sumber-sumber kekuasaan yang dipakai para aktor untuk saling mempengaruhi adalah sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1. harapan. setiap aktor menggunakan kekuasaan dan pengaruh untuk dapat memenuhi tujuannya. pengambilan keputusan dan proses manajemen lainnya adalah hasil dari bargaining. Ada baiknya kita renungkan ungkapan Baltasar Gracian berikut: “Satu-satunya keuntungan memiliki kekuasaan adalah bahwa Anda dapat melakukan lebih banyak kebaikan”. (2) dalam organisasi selalu ada potensi perbedaan menyangkut kepribadian. kita harus mengenal sumber-sumber kekuasaan dalam organisasi.4. dan orientasi seseorang”. kekuasaan dan pengaruh. Morgan 3 membagi kepentingan ke dalam tiga kategori yaitu kepentingan pekerjaan. kekuasaan adalah suatu sumber daya yang merefleksikan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan keinginan orang pertama.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sebagai perilaku informal di dalam organisasi dengan menggunakan kekuasaan dan pengaruh melalui tindakan terencana yang diarahkan untuk peningkatan karir individu pada situasi untuk memperoleh banyak pilihan keputusan. Secara sekuensial dapat dikatakan bahwa kekuasaan menimbulkan pengaruh dan akhirnya pengaruh mempengaruhi tindakan orang lain (kekuasaan à pengaruh à tindakan orang lain). ‘A’ mempunyai kekuasaan terhadap ‘B’. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. negosiasi. Kekuasaan didefinisikan sebagai “peluang seorang aktor dalam interaksi sosialnya berada di posisi memenangkan keinginannya meski ada hambatan dari pihak lain”. tapi merefleksikan sumber kekuatan untuk mempengaruhi tindakan orang lain. Pengaruh dapat didefinisikan sebagai penggunaan kekuasaan atau otoritas untuk mempersuasi orang lain agar mereka mengikuti kehendak si pengguna kekuasaan. Miles6 mendefinisikan politik organisasi sebagai proses yaitu setiap aktor atau kelompok dalam organisasi membangun kekuasaan untuk mempengaruhi penetapan tujuan. keyakinan. (4) tujuan organisasi.8 Dengan kata lain. kriteria atau proses pengambilan keputusan organisasional dalam rangka memenuhi kepentingannya. Analisis organisasi dari perspektif politik melibatkan tiga diskursus yaitu kepentingan. nilai. kepentingan karir dan kepentingan ekstramural. Namun demikian. Dalam interaksi antaraktor dalam organisasi. Sementara. keinginan. dan minat dari para anggotanya. Selanjutnya.2 Asumsi dasar organisasi sebagai entitas politik3. yang bisa saja tidak berhubungan dengan kepentingan pekerjaan. nilai. Morgan3 mendefinisikan kepentingan sebagai “predisposisi yang mempengaruhi tindakan seseorang dalam berinteraksi secara sosial. sikap. Yukl11 menyebutkan bahwa pengaruh adalah efek dari tindakan agen tehadap pihak lain (target). beberapa rujukan tentang perilaku politik sering mempertukarkan istilah kekuasaan dan pengaruh. Kekuasaan dan Sumber-Sumbernya Untuk memahami lebih jauh tentang bagaimana para aktor dalam organisasi saling mempengaruhi dan mengapa aktor tertentu dapat mengendalikan aktor lainnya.7 Sebagai ilustrasi. (5) karena keterbatasan sumber daya dan setiap aktor berebut kepentingan. Dalam komponen kepentingan juga termasuk kepentingan ekstramural yang terdiri dari kepribadian. apakah akan bersifat baik atau buruk tergantung dari motif yang menggunakannya. (3) kekuasaan memainkan peranan penting dalam memperebutkan sumber daya. persepsi. Kepentingan pekerjaan adalah kepentingan yang terkait dengan tugas seseorang sesuai kedudukan dan jabatan yang diembannya. maka konflik adalah wajar (natural) dalam kehidupan organisasi. pengaruh merujuk kepada tindakan atau praktik. dan brokering dari berbagai faksi peserta.9 Berbeda dengan kekuasaan yang merujuk kepada ketersediaan sumber daya. Vol. keyakinan dan komitmen di luar pekerjaan yang semuanya akan membingkai pola perilaku seseorang baik menyangkut pekerjaan maupun karir.12 yaitu: (1) organisasi adalah koalisi yang terdiri dari berbagai individu dan kelompok dengan berbagai kepentingan. kalau ‘A’ dapat mempengaruhi atau memaksa ‘B’ untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh ‘A’. Lebih jauh. 4 Desember 2007 161 .

Dengan memahami sumber-sumber kekuasaan dalam organisasi. beberapa taktik yang dipakai oleh para aktor adalah sebagai berikut:12 1). 10. Mentransformasikan kepentingan kita menjadi kepentingan pihak lain dengan mengubah persepsi dan tindakan pihak lain 4). kepala bidang perencanaan akan mempunyai kontrol lebih besar terhadap distribusi sumber daya. Kewenangan formal Penjelasan Pengaruh potensial yang berasal dari kewenangan yang sah karena kedudukannya dalam organisasi Kewenangan yang mengacu pada hak prerogatif. penggunaan struktur dan aturan. dapat dimengerti bahwa aktor paling berkuasa adalah aktor yang mampu mengumpulkan banyak sumber-sumber kekuasaan. Agen mempunyai hak untuk membuat permintaan tertentu dan orang yang ditargetkan mempunyai kewajiban untuk mematuhinya. serta kendali pengambilan keputusan. 4 Desember 2007 . Seorang manajer akan mempunyai kekuasaan kedudukan paling besar karena ia mampu memainkan keseluruhan sumbersumber kekuasaan berdasarkan kedudukan. seperti kepala bidang atau kepala bagian akan menguasai sumber kekuasaan tertentu lebih banyak daripada sumber kekuasaan lainnya sesuai tugas dan fungsinya. Menciptakan suasana (seremoni dan simbol) untuk membentuk persepsi dan perilaku orangorang sesuai dengan peran dan fungsinya 3). Pengaruh potensial yang melekat pada keunggulan individu Kekuasaan yang bersumber dari keahlian dalam memecahkan masalah tugastugas penting. Praktik Politik dalam Organisasi Setiap aktor termasuk manajer menggunakan taktik dan strategi untuk mempengaruhi aktor lain dengan menggunakan sumber kekuasaan yang dimiliki. Sumber-Sumber Kekuasaan dalam Organisasi11 Sumber kekuasaan 1. Manajer yang tidak mampu mengelaborasi atau mengumpulkan sumber-sumber kekuasaan lainnya dengan baik. makin banyak kontrol yang dipunyai orang tersebut terhadap sumber daya yang terbatas. Referent power terkait dengan keterampilan interaksi antar pribadi. karakter dan kepribadian yang mampu mempengaruhi orang lain untuk suatu tujuan tertentu. Sebagai contoh. Kontrol terhadap hukuman dan kapasitas untuk mencegah seseorang memperoleh imbalan. sementara kepala bagian tata usaha akan mempunyai kontrol lebih besar terhadap ekologi pekerjaan seseorang. teknologi dan metode pengorganisasian pekerjaan.Siswanto: Politik dalam Organisasi Tabel 1. No. Vol. Kontrol terhadap hukuman (coercive power) Kontrol terhadap informasi Kontrol ekologis Kekuasaan pribadi a. Memang. Membentuk koalisi dengan pihak lain untuk meningkatkan dukungan dan sumber daya 2). dan hal ini tidak selalu merujuk kepada manajer. Kekuasaan keahlian (expert power) Kekuasaan kesetiaan (referent power) Kekuasaan karisma b. Potensi seseorang yang menyebabkan orang lain mengagumi dan memenuhi permintaan orang tersebut. Kekuasaan berdasarkan kedudukan a. Makin tinggi posisi seseorang dalam hirarki organisasi. Menyangkut kontrol terhadap akses terhadap informasi penting maupun kontrol terhadap distribusinya kepada orang lain. d. kewajiban dan tanggung jawab seseorang berkaitan dengan kedudukannya dalam organisasi atau sistem sosial. Melaksanakan negosiasi dan tawar-menawar dengan pihak lain yang bersinggungan dengan kepentingan kita untuk mendapatkan kompromi 162 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kontrol terhadap sumber daya dan imbalan c. Kontrol dan penguasaan terhadap sumber daya dan imbalan terkait dengan kedudukan formal. manajer mempunyai kesempatan lebih besar untuk mengumpulkan sumber-sumber kekuasaan. diplomasi dan empati. Memperluas jumlah pemain yang terlibat dalam suatu isu yang menjadi kepentingan kita untuk mendapatkan perhatian yang lebih luas 5). e. kebijaksanaan. Setidaknya. yang berakibat pada munculnya ‘leader-leader’ bayangan dalam organisasi. Pada Tabel 1 terlihat bahwa kelompok sumber kekuasaan berdasarkan kedudukan akan berlimpah pada orang-orang yang secara hirarkis mempunyai kedudukan dalam organisasi. posisi manajer sudah mendapatkan tiga sumber kekuasaan yaitu otoritas formal. seperti pesona. c. Semakin tergantung pihak lain terhadap keahlian seseorang. 2. ia akan kehilangan legitimasinya sebagai ‘leader’. semakin bertambah kekuasaan keahlian (expert power) orang tersebut. Secara deskriptif. Posisi di bawah manajer. b. Menyangkut kontrol terhadap lingkungan fisik. Sifat bawaan dari seseorang yang mencakup penampilan.

mengintimidasi. pertengkaran. hubungan menang-kalah. menakut-nakuti. misalnya: mengaburkan. Hubungan antara Komunikasi. kepatuhan terpaksa. berdagang. mempengaruhi berdasarkan manfaat menghasilkan efek kewajaran. ketergantungan. memperdayai. menghalangi.9. mempengaruhi berdasarkan azas manfaat pada dasarnya adalah “menemukan kesepakatan antar kedua belah pihak yang saling menguntungkan”. membagi proses mempengaruhi (proses berkuasa) menjadi tiga macam yaitu: (i) mempengaruhi dengan paksaan (rasa takut). merayu.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 6). Hubungan antara komunikasi. No. kekuasaan terhadap sumber daya.9 Sumber-sumber kekuasaan berdasarkan azas pertukaran manfaat adalah kekuasaan memberi imbalan. meremehkan. (ii) tawar-menawar. baik pendekatan lunak maupun pendekatan keras akan menghasilkan kendali yang bersifat sementara dan reaktif. menghambat. menipu. Vol. mengganggu. (iv) mengadakan pertukaran. Sarana aktivitas politik untuk saling mempengaruhi antar aktor dalam organisasi adalah melalui komunikasi. mengendalikan. membuat sedih. menyepelekan. dan (iii) mempengaruhi berdasarkan prinsip. memaksa. bertukar. membuat kecil hati.13 Cara-cara mempengaruhi orang dengan pendekatan rasa takut (paksaan). menyiasati dan merampas hak. Efek yang muncul akibat mempengaruhi dengan paksaan adalah permusuhan. menanamkan pengaruh. dan berusaha melakukan tukarmenukar yang adil (asas pertukaran manfaat). mengancam. 4 Desember 2007 163 .13 Sementara itu. kekuasaan berdasarkan peluang. Gambar 1. kekuasaan berdasarkan keahlian. misalnya: menindas. (ii) mempengaruhi berdasarkan manfaat (tukar-menukar). keahlian tertentu atau akses terhadap sumber daya. informasi. kekuasaan berdasarkan posisi. sabotase. dan pemenangan kepentingan dapat diabstraksikan sebagaimana skema pada Gambar 1. cara-cara pendekatan lunak. penggunaan sumber kekuasaan. dan kekuasaan berdasarkan koneksi.9 Apa yang kita lakukan dalam mempengaruhi orang lain berdasarkan azas pertukaran manfaat yaitu: (i) membuat kesepakatan. Memilih waktu yang tepat untuk setiap tindakan agar situasi menguntungkan kita (manajer). Konsesi yang dipertukarkan dapat berupa uang. banyak dari kita mempengaruhi orang lain dengan cara memberi dan menerima. menusuk dari belakang. 9. balas dendam. Mempengaruhi dengan paksaan menghasilkan efek rasa takut. selanjutnya mempengaruhi berdasarkan prinsip akan menghasilkan efek rasa hormat. Dengan demikian. Mempengaruhi orang dengan rasa takut meliputi pendekatan keras dan pendekatan lunak. bahkan pemberontakan. mengalihkan. oposisi. pengendalian sementara. Taktik Mempengaruhi dan Pemenangan Kepentingan (Diadaptasi dari Degeling12) Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. mengkambinghitamkan. hasilhasil sementara. 10. kekuasaan terhadap informasi. (iii) berdebat. menyalahkan dan melemahkan.9 Di samping cara mempengaruhi dengan menebar rasa takut. Cara-cara dengan pendekatan keras. Lee9 dalam bukunya The Power Principle.

Prinsip ’keadilan’ mengisyaratkan individu untuk memberlakukan dan menegakkan aturanaturan secara adil dan tidak berat sebelah sehingga terdapat distribusi manfaat dan biaya yang pantas. Etik adalah standar moral apakah suatu perilaku baik atau buruk menurut norma masyarakat. Apa yang kita peroleh dari cara mempengaruhi berdasarkan azas manfaat adalah pola interaksi yang bersifat fungsional dan wajar (tanpa rasa takut). menyepelekan. mengkambinghitamkan.15 Tampak bahwa ketiga kriteria penilaian etis dan tidak etis tersebut bersifat bersaing (trade-off). perilaku etis. menghalangi. dalam batasbatas tertentu memenuhi syarat. perusahaan memecat 10% karyawan yang kurang produktif. (ii) apakah perilaku itu adil untuk semua pihak terkait?. yaitu ”Perlakukan orang lain sebagaimana kamu menginginkan orang lain memperlakukanmu” (Do unto others as you want them to do unto you) atau ”Jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan orang lain melakukan hal itu kepadamu” (Don’t do anything to anyone that you wouldn’t want them to do to you). Prinsip ’hak’ menekankan bahwa setiap individu mempunyai kebebasan untuk mengemukakan pendapat dan berbicara. dan (ix) berkompromi. proaktivitas. mengalihkan.9 Cara ketiga untuk mempegaruhi orang lain adalah berdasarkan prinsip kehormatan. bersikap konsisten dan hidup berintegritas. artinya bila situasi berubah dan manfaat tidak didapatkan lagi maka kekuasaan akan menghilang (menguap). satu kriteria dapat saling melemahkan atau meniadakan kriteria lainnya. ada the golden rule dari perilaku politik. mengaburkan. misalnya menusuk dari belakang. bukan untuk mengambil keuntungan sepihak.14 Perilaku politik dalam ”kelompok cara mempengaruhi dengan menebar rasa takut”. Namun demikian. mengganggu. dikambinghitamkan. bukannya dominansi serta pengendalian” Anne L Barstow (Dikutip dari Lee9). 10. dan (iv) apakah perilaku itu bermanfaat untuk semua pihak terkait? Apabila jawaban dari keempat pertanyaan saringan tersebut. menghambat. Di samping ketiga kriteria tersebut. merayu. solusi menang-menang. sedangkan perilaku politik yang tidak etis adalah perilaku yang bermanfaat untuk individu tetapi melukai organisasi. mengintimidasi. menakut-nakuti. memperdayai. membuat kecil hati. dalam rangka peningkatan efisiensi dan produktivitas organisasi. bermurah hati. 164 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Misalnya. mengancam. kesepakatan kemitraan. kesalingtergantungan. mengasihi. dan pola hubungan jangka panjang yang memuaskan. pola hubungan berdasarkan manfaat bersifat sementara dan bersyarat. menerima. Vol. menyalahkan. maka dapat dikatakan perilaku tersebut adalah etis. pengendalian internal yang positif. mengajari. Prinsipprinsip kekuasaan berdasarkan kehormatan diantaranya adalah persuasif. No. Pertimbangan etis haruslah merupakan suatu kriteria pengontrol dalam perilaku politik untuk mempengaruhi pihak lain. siapapun aktornya (bisa manajer atau staf) haruslah berpedoman pada tiga kriteria etis tadi. Etika Berpolitik dalam Organisasi Pembahasan politik organisasi tidaklah lengkap tanpa berbicara tentang etika berpolitik dalam organisasi. (vi) saling mengalah. Sebagai saringan dapat juga dipakai empat langkah pertanyaan berikut: (i) apakah perilaku itu merupakan kebenaran?. meremehkan.9 Perhatikan ungkapan mutiara berikut: ”Kekuasaan bisa dipandang sebagai ’kekuasaan dengan’ ketimbang ’kekuasaan atas’. Dalam pandangan utilitarianisme. kepercayaan. Dalam melakukan tindakan politik. keputusan ini bermanfaat untuk jumlah terbanyak. menipu. lembut. penguasaan diri.14 Setidaknya terdapat tiga kriteria untuk menilai apakah cara kita bertindak etis atau tidak etis yaitu prinsip utilitarianisme. Dengan kata lain. diremehkan. Pandangan demikian menekankan pada kinerja kelompok (kinerja organisasi). (iii) apakah perilaku itu akan membangun komitmen dan pertemanan yang lebih baik?. sinergi. mendisiplinkan.Siswanto: Politik dalam Organisasi (v) konsensus. hak dan keadilan. pengambilan keputusan adalah dalam rangka efisiensi dan produktivitas organisasi. namun boleh jadi mengabaikan hak-hak individu (hak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan) dan rasa keadilan (adanya perlakukan diskriminatif yaitu adanya pemecatan sebagian kecil karyawan).14 Perilaku politik yang etis adalah perilaku yang bermanfaat untuk individu dan organisasi. Hasil-hasil yang diperoleh dari kekuasaan berdasarkan prinsip kehormatan adalah kemitraan. (vii) memperebutkan. menyiasati dan merampas hak adalah perilaku politik yang kurang atau tidak etis. Siapapun orangnya akan ”sakit hati” bila ditusuk dari belakang. dan kekuasaan dapat digunakan untuk membangkitkan kompetensi dan kooperasi. diperdayai dan tindakan sejenisnya. sabar. disepelekan. melemahkan. membuat sedih. 4 Desember 2007 . (viii) bertengkar. sebagaimana diatur dalam Piagam Hak Asasi Manusia. peningkatan kapasitas. Prinsip utilitarianisme mengajarkan bahwa keputusan yang kita ambil haruslah ’memberikan manfaat terbesar untuk jumlah orang terbesar’.

1996. 4 Desember 2007 165 .. Jossey-Bash Publishers. 8. 2. Perceived Political Climate and Job Attitudes. 2004.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Perilaku politik dalam ”kelompok cara mempengaruhi dengan azas manfaat” dan ”kelompok cara mempengaruhi dengan kehormatan” merupakan perilaku politik yang etis dan dapat diterima semua pihak. London. 11. 2006. Organizational Studies. Binarupa Aksara. Prentice Hall Inc. The McGraw Hill Companies. from Henderson. G. Blau.nicholsonmcbride. T. A. 1994. University of New South Wales. 2002. 9. Glencoe Press. R. Eliot. 10. Robbins. 1997. setiap aktor akan saling memainkan sumber kekuasaannya untuk mempengaruhi aktor lainnya. The Theory of Social and Economic Organization. Boston. 7. L. mampu mempengaruhi lawan dan kawan karena prinsip hidup yang dipegangnya yaitu kesederhanaan dan kejujuran. 10. keterampilan manajemen instrumental saja tidaklah cukup. Selanjutnya. 3. Strauss. misalnya.. Hasil perilaku politik berdasarkan azas manfaat adalah komitmen dan konsensus. Apapun taktik yang dipakai oleh aktor dalam rangka mempengaruhi aktor lain untuk mengejar kepentingannya selayaknya harus tetap dalam kerangka etika berorganisasi dengan tetap memegang the golden rule yaitu ”perlakukan orang lain sebagaimana kamu menginginkan orang lain memperlakukanmu” atau ”jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan orang lain melakukan hal itu kepadamu”. 6. and Persuasion. Tokoh Mahatma Gandhi. S.E. A. Power. R.M. Vol. Dalam proses mempengaruhi guna mengejar kepentingannya. Harvard Business School Press. 1991. Organizational Politics. Free Press J/Glencoe. B. Drory. 5. 13. New York. Bumi Aksara. Jakarta. Perilaku politik berdasarkan azas kehormatan mampu menanamkan ideologi dan cara hidup kepada pihak lain. 1965. sehingga perilaku politik demikian (meski bersifat situasional) adalah etis dan dapat diterima semua pihak. sehingga apa yang terjadi tak ubahnya seperti permainan. 1993.The Hospital and Its Negotiated Order. Wiley. Organizatinal Behavior (Terjemahan). Mc Bride. Jakarta. Politics and Ethics. perilaku politik berdasarkan asas kehormatan menduduki tataran tertinggi bila dilihat dari tingkat ’keetisan’-nya. Yukl. 1947. Sage Publications.M. No. P. 12. Bolman. 4. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Degeling. 2006. namun harus dibarengi dengan kemampuan politik yang adekuat.php. KEPUSTAKAAN 1.com/news/index. Santa Monica. Irwin. Politics. PT Indeks. New York. The Power Principle (Terjemahan). Morgan. P. M. N. Analisis Politik Modern (Terjemahan).1980:151-85. 14. 1994. 1963:147-69. Choice.14(1):59-71. K & Miller. A.G & Deal. Jakarta. KESIMPULAN DAN SARAN Untuk menjadi manajer yang efektif. 15. The Hospital in Modern Society. et al . diakses dari http:// www. Lee. in Friedson. Exchange and Power in Social Life. 2002. Influence. New York. Weber. Di dalam setiap kehidupan organisasi baik organisasi formal maupun informal selalu terdapat fenomena politik yang melibatkan kepentingan.H. T. Dahl. Macro Organizational Behavior. Sydney. and Parsons. and Leadership. San Francisco. Reframing Organizations: Artistry. New Jersey. The Essentials of Power. kekuasaan dan pengaruh. Images of Organization. New York. G. Power and Influence. Miles. Perilaku politik berdasarkan azas kehormatan banyak ditunjukkan oleh para pemimpin besar dunia. Management of Organization. Leadership in Organizations. Hawkin. Goodyear Publishing Co.

Pada tahun 2004 diperkirakan ada 8. Kata Kunci: kemitraan dengan praktisi swasta. IUATLD. namun tidak berpengaruh terhadap jarak antara diagnosis dan pengobatan (yaitu 3 hari). dengan angka penemuan 51%.. 741. IUATLD and PPM-DOTS evaluation questionnaire developed in Hyderabad. The subjects were new smear positive patients before and after PPs involvement with a total sample of 100 patients.000 terinfeksi virus HIV. Pada tahun 2003 directly observed treatment shortcourse (DOTS) diimplementasikan di 183 negara dengan menyasar 83% dari penderita TB. Secara global. delay. Biaya tidak langsung tidak berbeda secara bermakna antara sebelum dan setelah kemitraan berjalan (p>0. kemitraan PPs meningkatkan penemuan kasus dan pengobatan TB di kotamadia Denpasar. cost program kemitraan dengan PSw. Salah satu strategi tersebut adalah melibatkan seluruh penyedia pelayanan. Pada tahun 2004 penemuan dan pengobatan penderita TB di Bali telah dilakukan di seluruh 107 166 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. inisiatif ini dikenal dengan Public-Private Mix. Conclusion: The partnership program has accelerated the case finding of new smear positive TB as well as access of TB patients diagnosed at private practices to receive DOTS treatment. BALI THE IMPACT OF PRIVATE PRACTITIONER ENGAGEMENT TOWARD DELAY AND COST OF TUBERCULOSIS CASE MANAGEMENT IN DENPASAR MUNICIPALITY. Kesimpulan: Program kemitraan yang dilaksanakan di Denpasar meningkatkan penemuan kasus TB BTA(+) dan pengobatan pasien TB dengan DOTS di tempat praktik swasta. IUATLD. Provinsi Bali 2 Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan dan Bagian IKM. keterlambatan diagnosis. Meskipun demikian. Keywords: private practitioner involvement. 04 Desember 2007 Luh Putu Sri Armini. The impact on this intervention from patient’s perspective should. FK UGM. be evaluated. 4 Desember 2007 . Biaya langsung untuk pengobatan TB tidak ada oleh karena obat TB diberikan gratis. Vol. Objective: This study aimed to evaluate the impact of private practitioner involvement on delay and cost of TB case management. Secara umum. Yodi Mahendradhata2. PPs involvement accelerated case finding and treatment of TB cases in Denpasar municipality. Halaman 166 .e. patients did not pay the direct cost. program kemitraan tersebut belum dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan oleh pasien. dkk. Hasil: Kemitraan PSw dapat memperpendek jarak antara munculnya gejala dengan diagnosis.9 juta kasus TB baru yang terdiri dari 3. BALI Luh Putu Sri Armini1. No.1 Program pengendalian TB di Indonesia merumuskan tujuh strategi dalam kerangka kerja tahun 2006-2010.172 Artikel Penelitian DAMPAK KEMITRAAN PRAKTISI SWASTA TERHADAP KETERLAMBATAN DAN BIAYA PENANGANAN TUBERKULOSIS DI KOTA DENPASAR. Adi Utarini2 Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Denpasar. i. total sejumlah 100 pasien. public-private mix. therefore. However. Result: PPs involvement has shortened the duration between start of symptoms and diagnosis. The analysis applied Chi-square and Mann Whitney-U statistical tests. Two instruments were used.2 Inisiatif ini juga telah diterapkan di Provinsi Bali dalam bentuk kerja sama dengan rumah sakit dan praktisi swasta. This initiative was then expanded to a district level through a collaboration with Gadjah Mada University Faculty of Medicine and Fidelis. the program was not able to decrease the cost spent by the patient before and after receiving DOTS treatment. TB drugs are free of charge. i. it did not affect the duration between diagnosis and treatment initiation.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta . therefore. public-private mix. Method: A quasi-experimental study using pre and post-test design with different subjects was applied. Tujuan: Mengevaluasi dampak kemitraan dengan praktisi swasta terhadap keterlambatan diagnosis dan pengobatan serta biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk penanganan TB. IUATLD dan kuesioner evaluasi Public-Private Mix dalam strategi DOTS yang dikembangkan di Hiderabad.. 3 days. Pengukuran menggunakan dua instrumen yaitu kuesioner penilaian pasien dengan akses terbatas yang disusun oleh Fidelis. biaya ABSTRAK Latar Belakang: Praktisi swasta (PSw) telah dilibatkan dalam program Tuberculosis (TB) sejak tahun 2002. Subyeknya adalah pasien TB BTA(+) sebelum dan setelah PENGANTAR Tuberkulosis (TB) Paru masih merupakan penyakit menular yang menjadi prioritas di Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan kuasieksperimental pre dan post-tes dengan subyek yang berbeda. Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: Private practitioners (PPs) engagement in Tuberculosis (TB) control was initiated in 2002. Overall.e. Dampak intervensi ini perlu dievaluasi dari perspektif pasien. The indirect cost did not differ significantly before and after the partnership (p>0.05).05). the limited access questionnaire from Fidelis.9 juta BTA (+). 10. Analisis data menggunakan uji Chi-square and Mann Whitney-U. Inisiatif ini kemudian diperluas melalui kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan Fidelis.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. However.

Sampel penelitian ini adalah 49 pasien TB BTA (+) triwulan III (bulan Juli-September 2004) sebagai kelompok pembanding dan 51 pasien pada triwulan IV (Oktober-Desember) sebagai kelompok intervensi setelah kemitraan. Data pasien BTA (+) diperoleh dari register TB kabupaten.7 Setelah Kemitraan (n 51) n % 25 26 15 12 20 4 11 2 18 10 10 10 41 39 12 49.6 67. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuasieksperimental dengan rancangan pre-post test menggunakan subyek yang berbeda. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perbedaan karakteristik responden yang bermakna sebelum dan sesudah kemitraan adalah dalam hal pekerjaan.2 7. namun pelatihan ini belum diikuti dengan tindak lanjut monitoring dan evaluasi penerapan strategi DOTS di DPS.0 51.8 21.4 23. keterlambatan pengobatan. Vol. pertemuan monitoring bulanan dengan petugas TB yang diselenggarakan di tingkat Puskesmas Rujukan Mikroskopis.205 0. Tabel 1. dan pertemuan monitoring triwulanan dengan petugas TB/wasor.0 20.6 19.389 0. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak kemitraan dengan praktisi swasta terhadap keterlambatan diagnosis dan pengobatan dan untuk mendeskripsikan biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk penanggulangan TB.9 35.6 22.5 39. Kontribusi PSw dalam menemukan BTA(+) mencapai 20% dari total BTA(+) di 3 kabupaten yang diintervensi (Denpasar.0% versus 19.3 Situasi yang sama terjadi di kota Denpasar. Sejak September 2004. kemitraan dengan praktisi swasta (PSw) mulai dikembangkan secara bertahap. 10.5 X2 p 0. Sejumlah lima surveyor dilatih untuk menggunakan instrumen dengan cara wawancara pasien.6 80. 4 Desember 2007 167 .6 3.000 0. pelatihan detailing bagi petugas TB puskesmas untuk melakukan surveilans ke PSw melalui kunjungan ke tempat praktik. Fakultas Kedokteran UGM dan Fidelis IUATLD untuk memperkuat kemitraan Puskesmas dan PSw dokter.1 49.1 6.5 23.9 6. Sejak tahun 2002. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang dimodifikasi dari kuesioner limited access (LA) Fidelis-IUATLD dan kuesioner evaluasi PPM DOTS yang dilaksanakan di Hyderabad India6. dampak intervensi tersebut bagi pasien belum dievaluasi. Analisis data menggunakan uji Chi Square dan Mann Whitney-U.0 29.006 0. No. akan tetapi angka penemuan kasus tetap belum dapat mencapai target program 70%.999 0.6 19.0 28.4 79. Karakteristik Responden Penelitian (n=100) Karakteristik Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tamat SD SMP SLTA PT Pekerjaan Buruh PNS Karyawan Swasta Wiraswasta Tidak bekerja Memiliki Kartu Sehat Ya Tidak Status Perkawinan Kawin Tidak Kawin Sebelum Kemitraan (n 49) n % 25 24 14 11 21 3 3 3 16 3 24 10 39 33 16 51. Pada tahun 20022004.4 76.1% versus 21. biaya langsung dan tidak langsung. Badung dan Buleleng). telah dilakukan sosialisasi mengenai strategi DOTS kepada dokter praktik swasta (DPS).1 32. dibawa pasien dan diambil petugas TB ketika berkunjung).999 0. form pengiriman pasien untuk diagnosis/pengobatan rangkap tiga (untuk disimpan dokter.4 42.0 49.6%) dan yang tidak bekerja (49.000 0. Penelitian dilaksanakan di kota Denpasar.6%). meskipun sejak tahun 2000 semua puskesmas telah melaksanakan program TB.7 6. akses pelayanan kesehatan dan perilaku mencari pengobatan.999 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.000 0. khususnya yang bekerja sebagai buruh (6. dilakukan kegiatan kerja sama dengan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan.3 32. Intervensi terdiri dari advokasi ke PSw tentang DOTS dan pilihan peran PSw melalui lunch seminar. Variabel utama yang diteliti adalah keterlambatan diagnosis.1 6.977 14.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan puskesmas.3 19.5 Namun demikian. bidan dan perawat.

6 2.999 0.00 6.001* 0.305 0.05). Hanya sekitar 20% responden baik sebelum maupun setelah kemitraan yang langsung mendapatkan pengobatan DOTS.05). Lama waktu dari mulai muncul gejala hingga pasien melakukan kunjungan pertama kali pada suatu UPK pada kelompok sebelum kemitraan dan sesudah kemitraan relatif sama.763 0.00 8.00 21. Perbedaan median tersebut tidak signifikan secara statistik (p>0.50 5.00 12.016* 0. Kunjungan Pertama ke Pelayanan Kesehatan. Vol. Lama sejak mulai muncul gejala hingga diagnosis menunjukkan bahwa program kemitraan mempercepat penemuan kasus TB.029* 168 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.75 4.0 26.7 42. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) yang relatif sama karena tidak signifikan secara statistik (p>0.264 0. Pada Tabel 2 dapat dilihat UPK yang pertama kali dikunjungi responden untuk mengobati penyakitnya adalah praktik swasta diikuti oleh pengobat tradisional puskesmas dan rumah sakit.702 0.0 45.00 5.9 .9 37.9 21. Lama Waktu Sejak Muncul Gejala.4 6. Program kemitraan belum mampu menurunkan lama muncul gejala hingga pasien berkunjungan pertama kali pada suatu UPK.001 0. Perbedaan median tersebut signifikan secara statistik (p<0.00 11. dkk. 4 Desember 2007 . 034 1.00 1.1 35.00 11.1 22.00 3.5 10.699 0.00 1. No.6 18.00 21.4 7 30 5 0 11 36 18 9 22 18 11 3 29 19 42 9 16. Pada kelompok setelah kemitraan justru PSw yang pertama kali menganjurkan pemeriksaan dahak.05).2 85.155 0.00 9.6 5. Upaya Mencari Pengobatan Sebelum dan Sesudah mendapatkan Pengobatan DOTS Uraian UPK yang pertama kali dikunjungi sebelum pengobatan DOTS Tradisional Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK yang pernah dikunjungi sebelum pengobatan DOTS Tradisional Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK yang menganjurkan pemeriksaan Dahak Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK tempat pengobatan DOTS Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit Sebelumnya mencari pengobatan lain Ya Tidak Sebelum Kemitraan (n 49) n % Setelah Kemitraan ( n 51) n % X2 p 7 27 4 2 9 32 18 11 10 28 11 3 31 15 40 9 17.6 81.3 21. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) lama waktu mulai muncul gejala hingga terdiagnosis pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan.0 27.3 82.Luh Putu Sri Armini.694 0. UPK yang pertama kali menganjurkan responden memeriksa dahak pada kelompok sebelum kemitraan masih didominasi Puskesmas.0 5.4 43. 999 Tabel 3. Tabel 2.4 11.222 0.00 4.5 20.528 0.00 6.1 63.00 Setelah Kemitraan Q1 Q2 Q3 6.75 6.017 0.00 13. UPK tempat pengobatan DOTS terbanyak adalah di Puskesmas.50 10..: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta .501 0.146 6. diikuti dengan rumah sakit dan praktik swasta.3 30. Program kemitraan belum mempercepat waktu dari mulai terdiagnosa hingga diobati karena nilai median (Q2) lama waktu mulai terdiagnosis hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan sama dengan kelompok responden sebelum kemitraan.9 56.00 p 0.00 1.4 21.00 0. 10.00 2..5 67.4 57.75 6.0 22. Diagnosis hingga Pengobatan Lama waktu antara: Gejala–diagnosis (minggu) Diagnosis–pengobatan (hari) Gejala-kunjungan pertama ke UPK (minggu) Kunjungan pertama–pengobatan (minggu) Gejala–pengobatan (minggu) Sebelum Kemitraan Q1 Q2 Q3 7.00 10.00 1.00 7.00 3.7 71.001 0.895 0.50 13.5 80.

000 536. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) lama waktu mulai kunjungan pertama kali ke suatu pelayanan kesehatan hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan.000 470.800 15.750 292.000 15. Secara statistik perbedaan tersebut signifikan. 10.038* 0.750 1.000 3.000 116.000 150.625 49.000 160.000 353.850 6. Lama waktu dari mulai muncul gejala hingga diobati menunjukkan bahwa program kemitraan juga mempercepat pengobatan kasus TB.000 18.200 458.200 69.000 4.000 107.000 300.000 61.00 pada kelompok setelah kemitraan namun tidak berbedaan secara signifikan (p>0.000 7.500 2.500 6.416 0.800 352.400 302.000 5.800 10.800 94.250 9.600 184.400.375 6.000 60.785 0.000 63.05).430.400 90.750 152.000 0. Perbandingan Biaya Pengobatan sebelum Mendapatkan Pengobatan DOTS Biaya UPK sebelum Pengobatan DOTS Pengobatan Tradisional Langsung Tidak langsung Total Praktik Swasta Langsung Tidak langsung Total Puskesmas Langsung Tidak langsung Total Rumah Sakit Langsung Tidak langsung Total Q1 Sebelum Kemitraan Q2 Q3 Q1 Setelah Kermitraan Q2 p Q3 0. 4 Desember 2007 169 . Median biaya tak langsung sebesar Rp43.000 87. Tabel 4. biaya tak langsung maupun total biaya.424 0.200 34.600 304.000 14.250 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.800 6.000 6.065 0.046* 0.250 8.850 312.000 23.000 4.800 109.05).000 284.000 60.370 0.629 0.750 316.00 pada kelompok sebelum kemitraan dan Rp68. Hal tersebut berarti selama menjalani pengobatan TB kebanyakan responden tidak mengeluarkan biaya atau gratis.223.000 65.250 5.000 90.000 591.400 147.971 0.701 0.000 9. di setiap UPK sebelum mendapatkan pengobatan DOTS terpapar dalam Tabel 5.950 710.000 5.500 116.000 320.000 5.500 192.500 10.000 3.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Lama waktu dari mulai kunjungan pertama kali ke suatu pelayanan kesehatan hingga diobati menunjukkan bahwa program kemitraan mempercepat pengobatan kasus TB.05). Secara statistik perbedaan tersebut signifikan.000 12.500 12.649 35.400 20.600 36. baik biaya langsung maupun tak langsung dan total biaya yang dikeluarkan.800 370.400 68.400 8.000 19.00 pada responden setelah kemitraan dan secara statistik juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.800 95.120 0.600 30.200 187.600.717 0.00 pada kelompok responden kelompok sebelum kemitraan dan Rp47.500 12. Median total biaya yang dikeluarkan selama pengobatan sebesar Rp69.000 5.486 0.350 0 43.500 27. responden sebelum kemitraan dan setelah kemitraan juga relatif sama karena hasil Mann Withney tidak signifikan (p>0.525 763.000 460.660.05). baik biaya langsung.050 659.000 1.000 197.000 168.909 0. Total biaya keseluruhan yang dikeluarkan sebelum mendapatkan pengobatan DOTS. No.729.850 10.500 76.500 300. Biaya pengobatan sebelum dan selama pengobatan DOTS Biaya ke UPK Selama Pengobatan DOTS Langsung Tidak langsung Total Sebelum Pengobatan DOTS Langsung Tidak langsung Total Q1 Sebelum Kemitraan Q2 Q3 Q1 Setelah Kermitraan Q2 p Q3 0 10. karena terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok tersebut.900 586.200 60.750 0.200 0 47.304 Tabel 5.000 7.500 113. Nilai median (Q2) lama waktu mulai muncul gejala hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan.200 120.200.000 183.500 52.000 4.000.900 2.000 15.459 1.600 2. Vol. Dari Tabel 3 dapat disimpulkan bahwa program kemitraan mempercepat penemuan dan pengobatan kasus TB di Kota Denpasar.700 9. Median biaya langsung yang dikeluarkan selama pengobatan DOTS sebesar 0 dan secara statistik juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.000 0 9. Biaya yang telah dikeluarkan untuk mencari pengobatan penyakitnya.000 4.

Luh Putu Sri Armini. 7 Responden kelompok sebelum kemitraan yang berkunjung ke UPK praktik swasta lebih banyak tidak menganjurkan pemeriksaan dahak. Berbeda dengan hasil evaluasi ekonomi yang dilaksanakan pada pelaksanaan PPM DOTS di Hyderrabad dan New Delhi India. 9 Biaya yang dikeluarkan oleh penderita TB untuk mencari pengobatan sebelum menjalani pengobatan DOTS baik responden sebelum kemitraan maupun setelah kemitraan tidak berbeda bermakna. Keterlibatan UPK praktik swasta yang semakin besar mempercepat waktu dari muncul nya gejala hingga terdiagnosis maupun pengobatan DOTS.. puskemas dan rumah sakit (p>0. Total biaya di UPK pengobatan tradisional tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0. disamping juga akan memperluas 2. Median biaya langsung untuk mencari pengobatan tradisional yang dikeluarkan responden kelompok sebelum kemitraan lebih besar dibandingkan kelompok setelah kemitraan. 4 Desember 2007 . jaringan TB DOTS ke seluruh petugas puskesmas pembantu di Bali termasuk Denpasar. Sesuai kebijakan Dinas Kesehatan Provinsi Bali dan kota Denpasar perluasan TB DOTS dilaksanakan pada lebih banyak rumah sakit swasta dan praktisi swasta termasuk bidan dan perawat. rumah sakit swasta dan klinik swasta. Median biaya langsung. Pembahasan Metodologis Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan program kemitraan di Kota Denpasar seharusnya dilakukan penelitian komparatif. tempat tinggal pasien yang jauh dari fasilitas kesehatan dan bila pasien itu seorang pecandu alkohol. Akan tetapi tidak semua praktik swasta dipilih menjadi tempat pengobatan DOTS secara rutin bagi penderita TB. No. di ikuti dengan rumah sakit umum. Hasil Survei prevalensi TB tahun 2004 menemukan bahwa proporsi pasien yang mendapat pengobatan awal di puskesmas hampir sama dengan praktik swasta yaitu sekitar 40-60%. sedangkan pada responden kelompok setelah kemitraan justru lebih banyak yang telah dianjurkan untuk memeriksakan dahak. perbedaan tersebut karena di Hyderrabad dan New 170 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Program kemitraan telah berhasil mempengaruhi perilaku UPK untuk mencurigai pasien yang batuk dan keluhan dada lain untuk diperiksa lebih lanjut terutama pada praktik swasta dan rumah sakit. Pembahasan Isi dan Konteks Program TB di Denpasar Bali Program kemitraan mempercepat penemuan kasus TB BTA (+) di UPK praktik swasta dan pasien segera mendapatkan pengobatan DOTS. Di Provinsi Bali khususnya di Kota Denpasar masih banyak potensi pelayanan praktisi swasta yang memungkinkan untuk dilibatkan dalam penemuan kasus TB. Pembanding diambil dari pasien TB BTA(+) triwulan III sebelum kemitraan dilaksanakan. Keterlambatan tersebut kemungkinan karena pasien disebut ”patient delay” yaitu rentang waktu antara gejala dimulai sampai pasien mengunjungi fasilitas kesehatan. Biaya akibat kehilangan waktu kerja selama mencari pengobatan penyakitnya dan menjalani pengobatan DOTS tidak dihitung. 10. sehingga program kemitraan juga telah dilaksanakan di semua kabupaten lain. Penggunaan kontrol pelaksanaan program kemitraan dengan daerah lain tidak dilakukan karena pelaksanaan program kemitraan telah dilaksanakan di seluruh Provinsi Bali. sebaliknya biaya tak langsung sebelum kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok setelah kemitraan. Penelitian ini tidak dapat membandingkan daerah yang melaksanakan program kemitraan dengan daerah lain yang belum melaksanakan program tersebut.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta . Hal tersebut menunjukkan bahwa perilaku masyarakat dalam pencarian untuk penyakit yang dideritanya baik pada kelompok responden sebelum kemitraan maupun setelah kemitraan masih relatif sama. Responden yang ditemukan oleh UPK praktik swasta kemungkinan melanjutkan pengobatan DOTS di Puskesmas atau Rumah Sakit. PPM DOTS yang dilaksanakan di Hyderrabad dan New Delhi India mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh pasien. dkk. Penderita yang lebih dini ditemukan akan mempengaruhi kecepatan pengobatannya. biaya tak langsung dan total biaya yang dikeluarkan responden kelompok sebelum kemitraan dan setelah kemitraan tidak terdapat perbedaan baik pada UPK praktik swasta. Biaya yang dianalisis dalam penelitian ini adalah biaya tunai yang dikeluarkan oleh penderita selama mencari pengobatan dan menjalani pengobatan DOTS. Semakin banyak UPK praktisi swasta yang terlibat dengan dalam penemuan kasus TB menunjukkan program kemitraan di Denpasar semakin berhasil.8 Beberapa hal yang mempengaruhi keterlambatan dari pasien antara lain : pengetahuan pasien tentang TB..05).05). Vol. PEMBAHASAN 1. sehingga banyak fasilitas pelayanan kesehatan selain puskesmas yang harus dilibatkan. Perubahan tersebut karena program kemitraan yang dilakukan dengan melatih UPK praktik swasta untuk menemukan TB. Bagi penelitian lain disarankan untuk melakukan penelitian tentang biaya yang harus ditanggung akibat dari pencarian pengobatan penyakitnya dan menjalani pengobatan DOTS.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Delhi India pelaksanaan PPM DOTS dilaksanakan oleh lebih banyak sektor praktisi swasta, rumah sakit swasta, perawat swasta, dan laboratorium swasta yang tidak memungut bayaran pada pasien TB yang berobat, sedangkan di Denpasar yang tidak dibayar oleh pasien hanya alat TB (di semua UPK dan praktisi) dan laboratorium (di Puskesmas). Implikasi Hasil Penelitian terhadap Kebijakan dan Program TB di Denpasar Program kemitraan yang dilakukan di Kota Denpasar telah meningkatkan penemuan kasus TB BTA (+) dan memperpendek waktu dari munculnya gejala hingga diagnosis dan pengobatan. Hal tersebut berarti keterlibatan praktik swasta di Kota Denpasar terhadap pemberantasan TB semakin besar, walaupun belum optimal. Hasil penelitian menemukan masih terdapat UPK praktik swasta yang tidak menganjurkan pemeriksaan dahak kepada pasien dengan gejala TB. Pemeriksaan dahak merupakan salah satu upaya untuk menegakkan diagnosis TB pada pasien yang diduga terjangkit TB. Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis dilakukan terhadap dahak sewaktu pagi sewaktu (SPS) secara mikroskopis identik dengan pemeriksaan secara kultur atau biakan.10 Undang-Undang Praktik Kedokteran No. 29/ 2004 secara spesifik menyebutkan adanya kewajiban dari semua praktisi dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar yang artinya praktisi swasta seharusnya mengetahui dan menerapkan International Standar TB Care (ISTC) yaitu manajemen DOTS. Secara kualitas maupun kuantitas, keterlibatan praktik swasta harus ditingkatkan dengan melibatkan UPK yang lebih banyak karena pada tahap awal UPK praktik swasta yang dilibatkan, termasuk UPK praktik swasta paramedis dan bidan. Advokasi DOTS dan promosi standar pelayanan TB dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar diperlukan memperkuat jejaring antara klinik praktik swasta, rumah sakit dan pelayanan kesehatan yang lain yang belum menerapkan DOTS. Hal tersebut dikarenakan kebijakan kesehatan merupakan kewenangan daerah akibat dari desentralisasi masalah kesehatan. Peran Dinas Kesehatan yang lebih besar dibutuhkan untuk melibatkan lebih banyak praktisi swasta yang ada di Denpasar. Hal tersebut tidaklah mudah karena banyaknya praktisi swasata yang ada di Denpasar dan memerlukan pembiayaan untuk melaksanakan ekspansi tersebut. Saat ini ekspansi 3.

DOTS di Denpasar didanai dari Global Fund (GF), diperlukan juga suatu komitmen dari pemerintah kota untuk pembiayaan DOTS ini kalau GF sudah tidak mensubsidi dana lagi. Perluasan manajemen DOTS di Denpasar dikaitkan juga dengan regulasi perijinan dokter praktik swasta yang mencari izin praktik. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kesimpulan studi ini adalah bahwa program kemitraan Puskesmas-praktisi swasta di Denpasar dapat mempercepat penemuan kasus TB BTA (+) dan mempersingkat jarak antara diagnosis dan pengobatan dengan DOTS. Akan tetapi program kemitraan ini belum dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan oleh pasien, baik sebelum maupun sesudah memperoleh pengobatan DOTS. Saran Disarankan agar Dinas Kesehatan membuat kebijakan untuk melanjutkan model kemitraan Puskesmas-PSw ini. Selain itu, petugas TB Puskesmas menyarankan PSw untuk melakukan promosi kesehatan terhadap pasien dan memberikan penjelasan mengenai kemungkinan kunjungan oleh Puskesmas apabila terjadi mangkir pengobatan. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk menghitung total biaya pasien, termasuk opportunity cost. Kelompok pembanding (yaitu kabupaten yang belum melaksanakan kemitraan Puskesmas-PSw) dapat memperkuat rancangan penelitiannya. KEPUSTAKAAN 1. WHO. WHO Report 2006: Global Tuberculosis Control.2006. 2. Arora, V.K., Lonnroth, K. & Sarin, R. Improved Case Detection of Tuberculosis through a PublicPrivate Partnership Indian Journal of Chest Disease & Allied sciences. 2004;46:133-6. 3. Sub Dinas PPM & PLP Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Laporan Hasil P2 Tuberkulosis di Bali. 2004. 4. Sub Dinas P2P Dinas Kesehatan Denpasar Bali. Laporan Hasil P2 Tuberkulosis di Denpasar. 2004. 5. Utarini, A., Mahendradhata, Y., Syahrizal, B.M. Project Report Program Akselerasi Kemitraan Pemerintah – Praktisi Swasta Dalam Pengendalian Tuberkulosis di Provinsi DIY dan Bali. PMPK FK UGM, Fidelis & IUATLD. 2005. 6. Murthy, K.J.R., Frieden, T.R., Yazdani, A., Hreshikesh, P., (2001). Public-Private Partnership in Tuberculosis Control: Experience in Hyderabad, India. The International Journal

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

171

Luh Putu Sri Armini, dkk.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta ...

7.

8.

of Tuberculosis and Lung Disease. 2001;5 (4): 354-9. Soemantri, S. Senewe, F.P. eds. Tuberculosis Prevalence Survey in Indonesia 2004; Project DOTS Expansions GF ATM. 2005. Demissie, M, Lindtjorn, B, & Berhane, Y. Patient and Health Service Delay in the Diagnosis of Pulmonary Tuberculosis in Ethiopia. Biomedcentral Public Health. 2002; 2(23):1-7.

Rajeswari, R., Chandrasekaran V., Suhader, M., Siva Subramaniam,.S., Sudha, G., Renu, G. Factors Associated with Patient and Health System Delays in The Diagnosis of Tuberculosis in South India. The International Journal of Tuberculosis and Lung Disease. 2002;6 (9): 789-95. 10. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Jakarta. 2002.

9.

172

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 10 No. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 173 - 180 Artikel Penelitian

OPSI-OPSI KEBIJAKAN UNTUK PELATIHAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN: PEMBELAJARAN DARI PENELITIAN POLA PENINGKATAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA DALAM OTONOMI DAERAH BIDANG KESEHATAN
POLICY OPTIONS FOR HEALTH PERSONNEL’S TRAINING; LESSON LEARNED FROM THE RESEARCH ON THE PATTERN OF IMPROVING HUMAN RESOURCES COMPETENCY IN HEALTH SECTOR AUTONOMY Evie Sopacua, Didik Budijanto Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan

ABSTRACT
Background: A tendency according to the implementation of health decentralization is that health centre and hospital will change into an entrepreneurship organization while health offices will be a birocracy organization with good governance practicisme. In connection with that, various new skills for health personnel’s is needed which is managerial, leadership and entrepreneurship. Method: In the year 2002–2004, Health Services and Technology Research and Development Centre have done a study about the pattern of improving human resources competency in health sector autonomy. The study was done through several phases and in 2002 an assessment was done about health personnel’s managerial, leadership and entrepreneurship skills. In 2003 the assessment’s result was implemented, followed by an evaluation of the implementation in 2004. This study located in the province of East Java, West Nusa Tenggara and East Kalimantan. Two districts was selected purposively in each province and the research targets were the head and staff of district health office, hospital and two health centers in the selected district Result: Lesson learned from this study was some policy options. First, structuring the pattern of health personnel’s improvement in a system. Second, integrating the four level evaluation of Kirkpatrick in the training evaluation. Third, planning and implementing an effective training program using Kirkpatrik’s steps while the budget was counted with paying attention of the activity and phases according to the plan. Fourth, a management of a training program to escalate health personnel’s competencies will involved stake holders. Fifth, that health personnel’s in district health office needs to have the competency to organize and manage training programs. Conclusion: The policy option that was proposed to improve health personnel’s skill through training should be considered in the restructuretation of district health office specially in anticipating the implementation of government regulation No. 38/2007 and 4/2007. Keywords: policy options, lesson learned, health personnel’s training program

harus memahami good governance. Untuk itu, diperlukan berbagai keterampilan baru bagi sumber daya manusia kesehatan yaitu keterampilan manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan. Metode: Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan pada tahun 2002–2004 melaksanakan penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan. Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa tahapan yaitu pengkajian keterampilan SDM kesehatan tentang manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan (2002), implementasi hasil kajian melalui pelatihan (2003) dan evaluasi implementasi pelatihan (2004). Lokasi penelitian di Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Timur. Secara purposif dipilih dua kabupaten/kota di tiap provinsi penelitian dan sasaran penelitian adalah kepala dan staf dinas kesehatan kabupaten/ kota, direktur dan staf rumah sakit umum kabupaten/kota serta kepala dan staf di dua puskesmas di kabupaten/kota penelitian. Hasil: Pembelajaran dari penelitian ini adalah beberapa opsi kebijakan. Pertama yaitu penataan pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam suatu sistem. Opsi kedua adalah memasukan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dalam evaluasi pelatihan. Opsi ketiga adalah perencanaan dan implementasi program pelatihan yang efektif menurut Kirkpatrick dengan anggaran yang dihitung berdasarkan langkah kegiatan dan tahapan sesuai perencanaan. Keempat, bahwa penataan pelaksanaan suatu pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Opsi kelima, bahwa SDM di dinas kesehatan kabupaten/kota perlu memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan pelatihan. Kesimpulan: Opsi-opsi kebijakan yang diusulkan untuk peningkatan keterampilan SDM kesehatan melalui pelatihan, perlu mendapatkan pertimbangan dalam restrukturisasi dinas kesehatan kabupaten/kota khususnya mengantisipasi pelaksanaan PP No. 38/2007 dan No. 41/2007. Kata Kunci : opsi kebijakan, pembelajaran, pelatihan SDM kesehatan

ABSTRAK
Latar belakang: Sehubungan dengan pelaksanaan desentralisasi kesehatan maka terdapat kecenderungan perubahan rumah sakit dan puskesmas ke arah lembaga usaha, sedangkan dinas kesehatan menjadi lembaga birokrat yang

PENGANTAR Penerapan desentralisasi di bidang kesehatan pada tahun 1999 menyebabkan dinas kesehatan termasuk puskesmas, rumah sakit mendapat tugas dan wewenang yang sangat besar dalam era otonomi

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

173

Evie Sopacua. Kebutuhan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi SDM kesehatan tentang keterampilan manajerial. negosiasi lobi. orientasi pada tugas–hasil dan optimisme/ percaya diri. politik. Variabel yang dikaji pada keterampilan manajerial meliputi manajemen perubahan yang diukur dari penanganan perubahan reaktif dan proaktif.1 Fenomena perubahan institusi pelayanan kesehatan kearah dua kutub yang berbeda yaitu kutub birokrasi dan kutub lembaga usaha perlu dipahami oleh para pimpinan lembaga kesehatan khususnya di daerah karena masing-masing kutub mempunyai kultur yang berbeda. No. Manajemen strategik diukur melalui perumusan visi. kepemimpinan dan kewirausahaan. sedangkan menurut Prud’Homme & Mc Lure seperti yang dicatat Trisnantoro 1. supportif. khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang terlibat didalamnya. Berdasarkan hasil pengkajian dibuat draf modul untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan. dan ekonomi yang kesemuanya akan berdampak pada kinerja organisasi. misi. implementasi hasil kajian melalui pelatihan tahun 2003 3 dan evaluasi implementasi pelatihan tahun 2004. tujuan. isu strategik/pengembangan. pemasaran.. Trisnantoro1 menjelaskan bahwa keterampilan yang diperlukan SDM kesehatan adalah mengelola perubahan. Vol. keterampilan kepemimpinan. dan mengelola aspek sosial. Maka Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan melaksanakan penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan pada tahun 2002 – 2004. direktur dan staf rumah sakit umum kabupaten/ kota. Observasi dan penelusuran dokumen rencana strategik dinas kesehatan. Keterampilan kepemimpinan dikaji pada variabel keterampilan direktif. strategi umum. serta kepala dan staf di dua puskesmas di kabupaten/kota penelitian. 10. kajian faktor eksternal dan internal lembaga.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). rumah sakit umum daerah dan rencana tahunan puskesmas dilakukan untuk mengkaji pemahaman konsep manajemen strategik. daerah (otoda). budaya. kemampuan manajerial SDM kesehatan yang perlu dimiliki adalah keterampilan manajerial. Kemudian manajemen konflik yang diukur dari bentuk manajemen konflik (stimulasi/ penekanan/penyelesaian) dan metode yang digunakan. 4 Desember 2007 . penerapan strategi dan rencana pelaksanaan dalam rencana strategik institusi. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan keterampilan dari SDM kesehatan. kepemimpinan dan kewirausahaan perlu dilakukan. 4 Lokasi penelitian di Provinsi Jawa Timur (Jatim). Pelaksanaan Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi SDM Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Penelitian pengembangan ini dilaksanakan dalam suatu pola dengan beberapa tahapan pelaksanaan yaitu pengkajian keterampilan manajerial SDM kesehatan yang diharapkan dan kenyataannya tahun 20022. dalam keadaan otonomi daerah diperlukan berbagai keterampilan baru dalam aplikasi otonomi daerah. hasil penelitian Gilsons menurut Trisnantoro1 menunjukkan bahwa secara praktis perlu perubahan yang incremental. Sehubungan dengan itu. kepemimpinan dan kewirausahaan SDM kesehatan seperti yang ditunjukkan Tabel 1. Pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara dan observasi.. Hasil penelitian menunjukkan gambaran keterampilan manajerial. Pada penelitian tahap pertama tahun 20022 dilakukan pengkajian untuk menemukan gap antara keterampilan manajerial SDM kesehatan yang diharapkan dan kenyataannya. menciptakan usaha. Untuk itu. 174 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. partisipatif dan orientasi prestatif dan keterampilan kewirausahaan pada variabel keterampilan keberanian mengambil risiko. Terkait dengan pelaksanaan desentralisasi kesehatan maka kecenderungan perubahan rumah sakit dan puskesmas ke arah lembaga usaha atau enterpreneurship. Secara purposif dipilih dua kabupaten/ kota di tiap provinsi penelitian dan sasaran penelitian adalah kepala dan staf dinas kesehatan kabupaten/ kota. dkk. serta keterampilan kewirausahaan. Wawancara menggunakan kuesioner dengan skala peringkat dan sistem skoring untuk mengukur aspek konatif SDM kesehatan tentang keterampilan manajemen perubahan dan manajemen konflik. Hasil kajian merupakan kebutuhan SDM kesehatan untuk peningkatan keterampilan. sedangkan dinas kesehatan cenderung menjadi lembaga birokrat yang harus memahami good governance atau menjadi holding company dari puskesmas dan berbagai lembaga pelayanan kesehatan lainnya. bisnis dan fungsional.

baik di dinas kesehatan. perlu meningkatkan kompetensi SDM kesehatan sesuai dengan perkembangan pelayanan rumah sakit dan puskesmas di masa mendatang.0) 20 (80. rumah sakit umum daerah dan puskesmas di Provinsi Kalimantan Timur.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 1. Keterampilan Manajerial Ada 74. Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur. Proses pembelajaran ini dilaksanakan selama tiga hari. responden masih kurang. Hasil evaluasi pelaksanaan pembelajaran modul terlihat pada Tabel 2.2) 3 (13.90% responden masih kurang terbanyak responden masih kurang. prestatif. mengisi kertas kerja berupa refleksi pemahaman terhadap materi modul dan diskusi.3) 16 (72. Keterampilan Kepemimpinan Keterampilan kepemimpinan dari 50% Keterampilan kepemimpinan 52. 2.6) 16 (72.2) 4 (18. 91.7) 4 (18. dalam aspek pemasaran.5 % responden masih kurang. Sangat sesuai Sumber : Budijanto dan Sopacua3 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Penilaian pemahaman konsep sedangkan untuk komponen aplikasi sedangkan untuk aplikasi dari manajemen strategik dalam aplikasi dari manajemen strategik melalui manajemen strategik melalui rencana strategik (renstra) belum normatif penyusunan rencana strategik rencana strategik (renstra) belum normatif sebagaimana yang sebagaimana yang diharapkan. Vol. 4. draf modul disempurnakan menjadi modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan.3% Keterampilan kewirausahaan 54.1% responden masih kurang. terbanyak terbanyak dalam aspek pemasaran. 10. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit di Kabupaten pada Tiga Provinsi Penelitian Variabel Yang Dinilai 1.5) 4 (18. Kepemimpinan dan Kewirausahaan SDM Kesehatan di Tiga Provinsi Penelitian Provinsi Jawa Timur Provinsi Kalimantan Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (n=82) (n=61) (n=35) 1. Sumber : Budijanto dan Sopacua2 Kesimpulan pada tahap pengkajian ini adalah bahwa keterampilan kepemimpinan dan kewirausahaan SDM kesehatan masih kurang. Surabaya sebagai konsultan karena keterbatasan waktu dan anggaran. Pengembangan modul didampingi expert dari Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. 3. terbanyak responden masih kurang. masing-masing di satu kabupaten pada ketiga provinsi penelitian. 2. 3. Disarankan untuk melaksanakan capacity building melalui pelatihan untuk implementasi modul. Evaluasi proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan format evaluasi tahap satu dari Kirkpatrick6 dan observasi peneliti (menggunakan format).3) 17 (77.1% 56.2) Kabupaten C Provinsi NTB n=25 (100%) 1 2 3 4 23 (92.6) 15 (68.2) Kabupaten B Provinsi Kaltim n=22 (100%) 1 2 3 4 1 (4.0) - - - Keterangan : Skor : 1. Sesuai. dalam aspek pemasaran.0) - - 1 (4.7) 5 (22. 4 Desember 2007 175 . Tidak sesuai.0) 5 (20.0) 17 (68. Tabel 2.1) - - 5 (20. terbanyak pada aspek suportif dan orientasi untuk aspek suportif dan orientasi untuk aspek suportif dan orientasi prestatif prestatif.2% Keterampilan kepemimpinan 62.2) 4 (18.7) 14 (63. No. implementasi modul dalam tahap kedua penelitian dilaksanakan dengan dua cara.5) 2 (9.3% responden mempunyai Keterampilan untuk mengelola konflik Keterampilan untuk mengelola konflik keterampilan mengelola konflik masih 90.2) 5 (22. Keterampilan Kewirausahaan Keterampilan kewirausahaan dari Keterampilan kewirausahaan 54. Sangat tidak sesuai. Cara penyampaian materi modul dalam pembelajaran Kabupaten A Provinsi Jatim n=22 (100%) 1 2 3 4 17 (77.0) 2 (8. Cara pertama adalah proses pembelajaran dengan penjelasan materi modul. Pada tahap kedua penelitian tahun 20033. Gambaran Keterampilan Manajerial.7) 4 (18.0) 3 (12.1% responden masih kurang. Untuk itu. Pembelajaran materi modul relevan dengan tupoksi sehari-hari 2. diharapkan. kurang. Modul dikembangkan menggunakan hubungan pelanggan atau Customer Relationship Marketing (CRM) sebagai strategi pemasaran. Pembelajaran materi modul relevan dengan program institusi 3. Hasil Evaluasi Proses Pembelajaran Modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan. maka draft modul yang dibuat tentang keterampilan kewirausahaan dalam aspek pemasaran. responden masih perlu peningkatan pemahaman. terbanyak responden masih kurang.

Hasilnya tidak jauh berbeda karena kesesuaian materi modul pada Tabel 2.0) 2. Cukup Bermanfaat 12 (70.1) 8 (66.7) 7 (50. Evaluasi tahap 2 atau Learning Level: 60% responden menyatakan dapat menerapkan sebagian dari materi pelatihan ke dalam integritas pekerjaan mereka sehari-hari. Evaluasi proses sosialisasi hanya dengan observasi peneliti menggunakan format evaluasi. tetapi yang menerapkan materi modul dalam pekerjaannya sehari-hari.3) 5 (35. Tidak berpendapat 1 (8. dilakukan dalam satu hari. masing-masing di satu kabupaten pada ke tiga provinsi penelitian. Sudah ada rencana penerapan 16 (94. d. lebih dari 60% di ketiga provinsi penelitian sama dengan evaluasi tahap 1 (reaction level) dalam Tabel 3. khususnya dalam menciptakan program-program CRM sebagai suatu strategi pemasaran.. Pelatihan merupakan komponen penting dari pembelajaran atau learning5 tetapi diharapkan proses ini dapat menghasilkan perubahan yaitu didapatnya kemampuan baru yang berlaku untuk waktu yang relatif lama.0) 3 (21.6) 5 (41.4) Tahap 2 : Learning level : kesempatan menerapkan materi modul dan dukungan fasilitas untuk itu 1.7) 10 (71. tetapi keterbatasan anggaran dan waktu menyebabkan pilihan ini.3) 2 (14. Evaluasi tahap 1 atau Reaction Level: 60% responden menyatakan materi pelatihan bermanfaat karena relevan dengan pekerjaan sehari-hari (tupoksi).3) 3. No. Evaluasi Implementasi Modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit Menggunakan Evaluasi 4 Tahap dari Kirkpatrick di Tiga Provinsi Penelitian Provinsi Jatim Provinsi Kaltim Provinsi NTB n=17 (%) n=17 (%) n=14 (%) Tahap 1 : Reaction level : materi pelatihan bermanfaat karena relevan dengan pekerjaan sehari-hari (tupoksi) 1.0) 2 (14. hanya sebagian materi 12 (70. Tidak ada kesempatan dan dukungan fasilitas 1 (7. Vol. Proses pembelajaran dan sosialisasi ini diikuti oleh responden yang sama pada penelitian tahun 2002.Evie Sopacua. Tabel 3. 10.9) 2.3) 7 (50. Pada tahap ketiga penelitian tahun 20044. 4 Desember 2007 . Tidak berpendapat 3 (25. Belum ada rencana penerapan 1 (5.4) 2.7) 6 (42. Ada kesempatan menerapkan sebagian materi dan cukup dukungan fasilitas 17 (100) 12 (100) 13 (92. Proses pembelajaran dan sosialisasi bukan metode yang tepat untuk pengalihan pengetahuan materi modul.7) 2.9) 3 (25.1) Tahap 3 : Behaviour Level : pelaksanaan diseminasi materi modul 1. Evaluasi tahap 3 atau Behaviour Level: 60% responden menyatakan telah mendiseminasikan sebagian materi pelatihan kepada teman sekerja dalam unit/bidang yang sama dalam integritas pekerjaan mereka sehari-hari (perubahan keahlian). dilakukan evaluasi implementasi modul menggunakan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick. Penilaian pada setiap tahap evaluasi adalah sebagai berikut. tetapi hanya yang berasal dari rumah sakit umum daerah dan dari dua puskesmas terpilih di tiga provinsi penelitian serta kepala dinas dan kepala subdin bina pelayanan dinas kesehatan kabupaten/kota. Dilakukan. Cara kedua adalah sosialisasi yaitu penjelasan materi dengan diskusi tanpa pengisian kertas kerja..6 Evaluasi dilaksanakan pada responden dari puskesmas dan rumah sakit. Kesimpulan pada penelitian tahap kedua ini bahwa proses pembelajaran dan sosialisasi materi modul sebagai cara pelatihan untuk meningkatkan keterampilan SDM kesehatan dapat dilakukan.4) 4 (33.4) 4 (33. Walau sebenarnya evaluasi tahap 1 dari Kirkpatrick6 sudah dilakukan pada penelitian tahun 2003 (Tabel 2). Tidak berpendapat 5 (29. a. tetapi pengulangan penilaian dilakukan untuk mendapatkan kesinambungan penilaian dari tahap 1 sampai 4 pada responden yang sama. Tetapi disarankan agar implementasi modul dilanjutkan dengan pendampingan sehingga diperoleh pengalihan pengetahuan sebagai hasil dari implementasi modul. b. Budijanto. Evaluasi tahap 4 atau Result Level: 60% peserta pelatihan dapat membuat rencana penerapan materi pelatihan untuk dilaksanakan dalam kegiatan sehari-hari.3) Sumber : Sopacua.9) 3. Prajoga4 Evaluasi Implementasi Modul Tahap 1 – 4 dari Kirkpatrick 176 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. baik yang mengikuti pembelajaran dan sosialisasi pada penelitian tahun 2003. dkk. c. Bermanfaat 5 (29. Perlu dilakukan evaluasi implementasi (evaluasi pascapelatihan) untuk menilai apakah materi modul benar-benar dimanfaatkan dalam pekerjaan sehari-hari dan berdampak bagi puskesmas dan rumah sakit.6) 8 (66.0) Tahap 4: Result level: rencana penerapan materi modul di institusi (puskesmas & rumah sakit umum daerah) 1.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia .

Pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan diawali dengan suatu pengkajian kebutuhan pelatihan (training need assessment = TNA) yang menjelaskan gap antara harapan dan kenyataan yang ada. ke-4 tahap evaluasi ini berkaitan sehingga pencapaian tahap berikut tergantung tahap sebelumnya. Kegiatan yang dihitung sudah termasuk pengkajian kebutuhan pelatihan dan pelaksanaan evaluasi tahap 3 dan 4 dengan pengulangan pada tenggang waktu yang sudah ditentukan dalam perencanaan pelatihan. 4 Desember 2007 177 . Kirkpatrick6 menganjurkan agar pada evaluasi tahap 3 dan 4 dilakukan penilaian ulang dengan tenggang waktu yang ditentukan. Keterbatasan waktu dan anggaran menyebabkan pola peningkatan kemampuan SDM kesehatan melalui penelitian ini tidak dapat dilaksanakan sebagaimana yang seharusnya. No. Vol. Di samping itu. tetapi pada evaluasi tahap 4 target evaluasi tercapai karena sebenarnya terjadi perubahan keahlian. Menurut Kirkpatrick6. Pelatihan sebaiknya direncanakan berdasarkan suatu analisis kebutuhan pelatihan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 3 menunjukkan bahwa target yang ditentukan pada evaluasi setiap tahap yaitu 60%. Perencanaan pelatihan sebaiknya sudah mengandung pelaksanaan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dengan waktu penjadwalan yang sudah diagendakan dan anggaran yang sudah diperhitungkan berdasarkan kegiatan yang akan dilakukan. dana dan experts. hasil kajian merupakan data awal atau data dasar yang pada evaluasi pascapelatihan dapat dibandingkan untuk menilai keberhasilan pelatihan. perlu dikembangkan dan pengembangan modul membutuhkan waktu. Modul materi pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan sesuai hasil kajian apabila belum ada. Pendampingan pada aplikasi materi pelatihan dalam pekerjaan sehari-hari diperlukan sehingga pengalihan pengetahuan dapat terlaksana. Hasil kajian digunakan sebagai dasar perencanaan pelatihan bagi SDM kesehatan yang diharapkan berdampak pada kinerja organisasi baik dinas kesehatan. 10. untuk evaluasi tahap 1. Ada dua hal yang ditengarai sebagai penyebab yaitu materi modul belum merupakan prioritas dan ketidakpahaman dinas kesehatan tentang materi modul walau saat pembelajaran dan sosialisasi dinas kesehatan terlibat dan hadir. pada evaluasi tahap 4 seharusnya dilakukan pengkajian ulang tentang keterampilan kewirausahaan dengan materi yang sama yang digunakan pada tahap satu penelitian. Kesimpulan evaluasi implementasi modul menunjukkan bahwa materi modul dapat diterapkan di puskesmas dan rumah sakit. Selain itu. Pelatihan bukan sesuatu yang dapat dilaksanakan secara instan. tetapi memerlukan perencanaan yang matang dan komprehensif dengan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan . 3. Kegiatan juga termasuk pengkajian ulang pada evaluasi tahap 4 dengan materi yang juga digunakan pada pengkajian kebutuhan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pencapaian evaluasi tahap 3 hanya 50%. Dukungan diperlukan agar materi modul diterapkan secara terintegrasi dengan kegiatan lain yang diselenggarakan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat dianggarkan. Lesson Learned Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi SDM Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Penelitian pada tahun 2002-2004 seperti yang diuraikan di atas menggambarkan suatu pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam otonomi daerah bidang kesehatan. Lesson learned yang diperoleh adalah bahwa: 1. 2. Walau di Provinsi NTB. 2 dan 4 di ketiga provinsi penelitian tercapai. Pada evaluasi tahap 3 target tersebut dicapai Provinsi Jatim dan Kaltim. Keterbatasan ini juga menyebabkan pada evaluasi tahap 4 tidak dilakukan pengkajian ulang tentang keterampilan kewirausahaan dengan materi yang sama yang digunakan pada penelitian tahap satu sehingga peningkatan keterampilan SDM kesehatan dampak pelatihan dapat diukur. Evaluasi tahap 3 dan 4 sebaiknya dilakukan dua kali dengan tenggang waktu yang sudah ditentukan dalam perencanaan pelatihan. rumah sakit dan puskesmas. Disarankan agar evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dilakukan pada pelatihan jangka panjang yang terencana dengan baik di puskesmas dan rumah sakit. 4. tetapi pada penelitian ini tidak dapat dilakukan karena keterbatasan waktu dan anggaran. sehingga dapat diketahui apakah ada peningkatan keterampilan setelah pelatihan. tetapi untuk itu diperlukan dukungan dari dinas kesehatan dan juga pemerintah daerah. Pelatihan pada SDM kesehatan untuk peningkatan kompetensi sebaiknya direncanakan berdasarkan kebutuhan pelatihan yang normatif sehingga ada dukungan pascapelatihan dari institusi ketika materi pelatihan diimplementasikan. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 ini kemudian dibandingkan dengan hasil pengkajian kebutuhan pelatihan pada penelitian tahap satu. Kendala yang dihadapi dalam implementasi modul di puskesmas khususnya adalah belum ada dukungan dinas kesehatan.

No.. Oleh sebab itu. Evaluasi pascapelatihan hampir belum dilakukan. titik beratnya adalah pada pelaksanaan atau penyampaian bahan belajar. 4 Desember 2007 . Kompetensi menurut Sofo7 dapat didefinisikan sebagai apa yang diharapkan di tempat kerja dan merujuk pada pengetahuan. Vol. bukan hanya melakukan perbandingan kemampuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan (pre dan postes).. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 dibandingkan dengan hasil pengkajian kebutuhan pelatihan sehingga dapat diketahui apakah ada peningkatan keterampilan setelah pelatihan. tidak melalui suatu rancangan pelatihan yang seharusnya. sehingga pelatihan-pelatihan lebih cenderung kepada pelatihan yang mendukung pelaksanaan program. 10.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . keahlian dan sikap yang dipersyaratkan bagi pekerja untuk mengerjakan pekerjaannya. Opsi pertama adalah penataan pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam suatu sistem (Gambar 1). Dalam makalah pengembangan model unit diklat kesehatan 5 dikatakan bahwa pada umumnya perencanaan dan penyelenggaraan pelatihan di dinkes kabupaten/kota diserahkan kepada masing-masing subdinas/bidang. dkk. Pola Peningkatan Kompetensi SDM Kesehatan Dalam Suatu Sistem 178 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pelatihan. sedangkan evaluasi tahap 3 dan 4 merupakan evaluasi summative karena menghasilkan informasi yang berfokus pada dampak pelatihan bagi organisasi atau pascapelatihan. Evaluasi pelatihan menurut Assessors and Workplace Trainers (dikutip Sofo7) merujuk pada proses pengkonfirmasian bahwa seseorang telah mencapai kompetensi.6 Dampak atau outcome pelatihan yang diharapkan adalah peningkatan kinerja individu dan organisasi serta return of investmen (ROI) yang dinilai melalui evaluasi tahap 4 dari Kirkpatrick. sehingga diperoleh dua kali pengukuran sebagai kondisi pre dan postes output atau luaran adalah peningkatan keterampilan dan pengetahuan serta perubahan keahlian dan perilaku peserta pelatihan yang diukur melalui evaluasi tahap 3 dari Kirkpatrick. sebagian lainnya belum melakukan. walaupun masih terbatas pada pre dan postes. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 dibandingkan dengan data dasar untuk menilai peningkatan kinerja SDM kesehatan sebagai akibat pelatihan. Evaluasi tahap 2 dapat ditanyakan bersamaan dengan evaluasi tahap 1 dan diulangi ketika peserta pelatihan sudah kembali bekerja. Opsi kedua adalah memasukan pola evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick6 dalam evaluasi pelatihan karena evaluasi pada tahap 1 dan 2 dari Kirkpatrick merupakan evaluasi formative sebab menghasilkan informasi untuk organisasi tentang penyelenggaraan pelatihan. Opsi-Opsi Kebijakan Ada beberapa pelajaran yang diperoleh dari penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan yang dapat menjadi beberapa opsi kebijakan. Gambar 1.6 Pada evaluasi tahap 4 ini juga dilakukan pengkajian ulang dengan materi yang juga digunakan pada pengkajian kebutuhan pelatihan yang hasilnya merupakan data dasar kompetensi yang dimiliki SDM kesehatan. Sebagian sudah melakukan evaluasi pembelajaran atau evaluasi hasil belajar. Proses dalam sistem adalah pelaksanaan pelatihan diikuti evaluasi tahap 1 dari Kirkpatrick6 selain pre dan postes. seperti penyiapan kurikulum dan materi pembelajaran. Sebagai sistem.Evie Sopacua. serta berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing pemegang program. Sebagian besar pelatihan. evaluasi pelatihan menurut Kirkpatrick6 adalah untuk menentukan efektivitas dari suatu program pelatihan. masukan atau input adalah pengkajian kebutuhan pelatihan yang merupakan data dasar untuk perencanaan pelatihan dan pengembangan modul pelatihan. Efektivitas pelatihan menurut Newby yang dikutip Irianto8 berkaitan dengan sejauh mana program pelatihan yang diselenggarakan mampu mencapai apa yang memang telah diputuskan sebagai tujuan yang harus dicapai.

perguruan tinggi. koordinasikan program ini dengan bagian lain atau sektor lain terkait dan evaluasi program pelatihan. D. Sopacua. rumah sakit dan Bapelkes. Budijanto. siapkan audio visual aids. 2000. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik (Ditjen Yanmedik) dan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat (Ditjen Binkesmas) Departemen Kesehatan RI.9 Kepada mereka yang ditempatkan di seksi atau bidang SDM ini terlebih dulu diberikan pemahaman tentang tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan sehingga dapat merancang pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan berjangka panjang dan komprehensif. opsi ketiga adalah memperhatikan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. tetapkan tujuan akhir yang akan dicapai. D. Pertimbangan utama bahwa dengan berbagai perubahan yang terjadi termasuk perubahan organisasi kesehatan maka kompetensi SDM kesehatan dalam keterampilan manajerial perlu ditingkatkan. 41/2007 dengan memasukkan pendidikan dan pelatihan sebagai seksi pada kelompok fungsional atau pada bidang SDM. SDM di dinas kesehatan kabupaten/kota perlu memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan pelatihan karena pada kenyataannya selama ini sudah melakukan penyelenggaraan pelatihan dengan kapasitas yang sangat terbatas. tetapkan narasumber. Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes). tentukan kriteria peserta. UGM. Hal ini dapat diatur dengan mensinergikan berbagai kepentingan dalam tata kerja sama yang disepakati. Opsi keempat. Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan (Tahap I: Assesment Keterampilan Manajerial Sumber Daya Manusia Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan). perencanaan dan pelaksanaan pelatihan dengan peraturan dan perundangan sebagai payung yang dirujuk oleh Balitbangkes. tentukan materi. Binkesmas dan BPPSDM mendukung anggaran dan pelaksanaan analisis kebutuhan pelatihan.725/Menkes/ SK/V/2003 bahwa pelatihan adalah proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan kinerja.. Sopacua. 10. yang untuk tahap 3 dan 4 mungkin dilaksanakan setelah 1 tahun pascapelatihan. Maka anggaran untuk pelatihan dihitung dengan memperhatikan setiap langkah kegiatan dan tahapan sesuai perencanaan. Dampak pelatihan diharapkan menyebabkan peningkatan kinerja SDM kesehatan dan institusi. 38/2007 pengganti PP No. L. perencanaan dan implementasi program pelatihan yang efektif sebaiknya mengandung 10 langkah kegiatan menurut Kirkpatrick6 yaitu: tentukan kebutuhan pelatihan. Para pemangku kepentingan di antaranya adalah pemerintah daerah. perencanaan dan pelaksanaan pelatihan yang komprehensip. Pelatihan SDM kesehatan tidak hanya untuk mendukung pelaksanaan program tetapi dirancang berdasarkan pengkajian kebutuhan pelatihan. 2002. Berkenaan dengan pelatihan. 2. Kerja sama para pemangku kepentingan diperlukan dalam melakukan analisis kebutuhan pelatihan. 3.5 Maka dalam peningkatan kompetensi SDM kesehatan. Yogyakarta. tetapkan penjadwalan. E. Budijanto. rumah sakit. bahwa penataan pelaksanaan suatu pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. Ditjen Yanmedik. No. 4 Desember 2007 179 . tetapkan fasilitas dan sarana yang akan digunakan. Opsi kelima. Fakultas Kedokteran. profesionalisme dan atau menunjang pengembangan karier tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. 25/2000 bahwa dinas kesehatan kabupaten/kota menjalankan fungsi regulator.. dinas kesehatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Untuk itu. maka hal ini dapat diantisipasi dinas kesehatan kabupaten/kota ketika merestrukturisasi struktur organisasi sesuai PP No. Vol. dinas kesehatan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes).725/Menkes/SK/V/2003 yang dirancang secara efektif dan komprehensif dengan memperhatikan berbagai pemangku kepentingan serta peraturan perundangan yang berlaku. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan (BPPSDM). Trisnantoro.5 Sesuai dengan PP No. KEPUSTAKAAN 1. Pelaksanaan pelatihan dengan penyiapan kurikulum dan materi pembelajaran sesuai dengan hasil kajian. Pengembangan Kapasitas Keterampilan Manajerial Dalam Berwirausaha Bagi Tenaga Kesehatan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Penghitungan anggaran termasuk waktu pelaksanaan evaluasi pascapelatihan tahap 1 – 4 dari Kirkpatrick. Keterampilan Manajerial Desentralisasi. E. perlu mendapatkan pertimbangan dalam restrukturisasi dinas kesehatan kabupaten kota khususnya. Upaya peningkatan dilaksanakan melalui pelatihan sesuai keputusan Menkes RI No. Surabaya. KESIMPULAN Opsi-opsi kebijakan yang diusulkan berdasarkan lesson learned dari pelaksanaan penelitian di Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan tahun 2002 – 2004.

Airlangga University Press.desentralisasikesehatan. Prinsip-Prinsip Dasar Manajemen Pelatihan..2003..: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . 10.lrckesehatan. Evaluating Training Programs – The Four Levels-. E. Pengembangan Model Unit Diklat Kesehatan. M. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. 41/2002. Sofo. (Diakses 18 Desember 2007) 6. Kirkpatrick.net (Diakses 10 November 2007) 180 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Diterjemahkan oleh drs. D. Budijanto. 1994. PPT dalam Kursus Desentralisasi. Kabupaten/Kota di Propinsi Kalimantan Timur. 7. www. 4.net . www.. dkk. Surabaya.Koehler Publishers. Surabaya.2004. 2003. Jusuf Irianto. Meliala A.Com. Irianto.. Sopacua. Surabaya. Berrett .38 dan No. D. Evaluasi Kemampuan Manajerial SDM Kesehatan di Kabupaten/Kota dalam Era Desentralisasi Evaluasi Implementasi-. 9. Y.2001. No. 4 Desember 2007 . Insan Cendekia. 2007. Surabaya.Evie Sopacua. Pengembangan Sumber Daya Manusia. PP No. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur. Vol. 5. F.Inc. Prajoga. 8.

A limited distribution for goverment instance and it is not for sale freely has done considering how important that medicine for human safety. Vol. Metode: Jenis penelitian adalah kualitatif yang dilakukan secara retrospektif dengan menganalisis sistem kebijakan. 4 Desember 2007 181 . considering of presence case is a new case which indicated human mortality level progressively. Kata Kunci : Oseltamivir. so that medicine must be distributed to health service unit to use it considering its expire so close relatively. Method: This study used a qualitative method which has done retrospectively by analyzing policy system with 10 informants. policy stakeholders. but this done because of medicine donation from another country. so it has dones stockpilling strategy which calculated stock number based on percentage prediction of Indonesian population number which will happen because of pandemic. sehingga harus dikelola secara baik dan kebijakan yang melandasinya harus berdasarkan formulasi yang tepat mulai dari tahap perencanaan hingga pengendalian. Therefore. policy stakeholders. menanggulangi dan mengobatinya. melibatkan 10 informan.188 Artikel Penelitian ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN OSELTAMIVIR DAN IMPLEMENTASINYA DI RUMAH SAKIT RUJUKAN KASUS FLU BURUNG MANAGEMENT POLICY OF OSELTAMIVIR ANALYSIS AND ITS IMPLEMENTATION AT THE REFERENCE HOSPITAL OF AVIAN INFLUENZA CASE Misnaniarti Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Hal ini karena pertimbangan kasus yang dihadapi merupakan kasus baru yang terus menunjukkan progresivitas angka kematian pada manusia. Diharapkan pihak Depkes dalam pengelolaan Oseltamivir ini juga memberdayakan apotek yang ditunjuk untuk menyediakan-nya sehingga selain mempermudah akses unit pelayanan kesehatan swasta lainnya dalam memperoleh obat tersebut dan bisa dijadikan stockpile. management policy ABSTRAK Latar Belakang: Ancaman pandemi flu burung yang disebabkan oleh virus H5N1. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 181 . di antaranya dengan kebijakan penyediaan obat antiviral. Penyediaan obat antiviral ini memegang peranan yang sangat penting. Keywords : Oseltamivir. If allocation is done by dropping technique so it makes heaping medicine at reference hospital. akan tetapi perlu dipikirkan juga akses unit pelayanan kesehatan swasta (RS/klinik) untuk memperoleh obat tersebut. It was also suggested for hospital to perform a research to proving the this effectiveness Oseltamivir on human avian influenza. require to be analyzed comprehensively based on policy system aspect such as: public policies. 10. tetapi hal tersebut dilakukan karena adanya hibah obat dari negara lain sehingga obat harus segera didistribusikan ke unit pelayanan kesehatan agar bisa terpakai mengingat masa kadaluarsanya yang relatif dekat. Conclusion: Management policy of antiviral drugs in overcoming Avian Influenza case at reference hospital in DKI Jakarta is made limited and its implementation dose not involve for all sides. The data were a content analyzed. Sumatera Selatan ABSTRACT Background: Avian Influenza pandemic which is caused of H5N1 virus pushed various goverment effort to look for prevention way. one of them is preparation policy of antiviral drugs. Oleh karena itu perlu dianalisis secara komprehensif dengan melihat aspek-aspek pada sistem kebijakan meliputi public policies. It was suggested for health service department to involve reference apotek for providing antiviral drugs so it is easy on access for health service unit in stockpile. overcoming and curing it. Bagi RS diharapkan memberikan rekomendasi desain kebijakan pengelolaan Oseltamivir yang sesuai dengan kondisi di RS kepada Depkes. Besaran anggaran yang disediakan mengalami peningkatan dibandingkan dengan anggaran yang dialokasikan sebelumnya. and policy environment. Kesimpulan: Kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanganan kasus flu burung di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta dibuat secara terbatas dan pada pelaksanaannya tidak mencakup pada keseluruhan lini yang memerlukan. Pengadaan dengan teknik dropping dapat mengakibatkan terjadinya penumpukkan obat di RS rujukan. so that it must be managed well and basic policy must pursuant to the right formulation. This studi purpose is for analyzing management policy of Oseltamivir in controlling Avian Influenza case and its implementation at reference hospital in Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta 2005 – 2007. kebijakan pengelolaan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. kemudian dilakukan analisis isi. This preparation of antiviral drugs played the most important role. but it is important that acces for private health service unit (hospital/ clinic) to obtain this medicine. No. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan perencanaan penyediaan Oseltamivir belum bisa berdasarkan data evidences jumlah kasus riil yang terjadi pada instansi rumah sakit (RS) rujukan ataupun kebutuhan RS akan obat tersebut. Results: Study result indicated that planning policy of oseltamivir can not base on evidences data of reality case number that happen on reference hospital instance or the need of medicine for hospital. Pendistribusiannya secara terbatas pada instansi pemerintah dan tidak dijual bebas dilakukan mengingat pentingnya obat tersebut bagi keselamatan manusia. sehingga dilakukan strategi stockpilling yang memperhitungkan jumlah kebutuhan berdasarkan pada prediksi persentase jumlah penduduk Indonesia yang akan terkena jika terjadi pandemi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. dan policy environment. starting from planning until control phase. mendorong berbagai upaya pemerintah untuk mencari cara mencegah. The data were collected by in-depth interview and study document.

penyediaan obat antiviral. sehingga dapat dipergunakan secara tepat guna dalam menangani bahaya wabah flu burung khususnya di wilayah Indonesia. Oleh karena itu. jumlah kasus kematian akibat flu burung merupakan yang tertinggi di dunia dengan CFR 79. yang mencakup hubungan timbal balik di antara tiga aspek yaitu: kebijakan publik (public policies). proses (process) dan aktor (actors) pembuatan kebijakan sebagai unsurunsur yang penting di dalam analisis kebijakan. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan kantor Departemen Kesehatan RI. Sistem kebijakan merupakan seluruh pola institusional di mana di dalamnya kebijakan dibuat. di antaranya ada kebijakan Depkes berupa SK Menkes No. Salah satu strateginya adalah strategi pencegahan terdiri dari tindakan bio security.3 Virus H5N1 lebih patogen daripada subtipe lainnya karena sangat mematikan bagi manusia sehingga disebut dengan highly pathogenic avian influenza (HPAI) disebabkan karakteristik virus yang sangat ganas. dan lingkungan kebijakan (policy environment). Pengelolaan Oseltamivir memegang peranan penting untuk pemenuhannya sehingga tersedia secara tepat waktu dan tepat guna. Meningkatnya kasus infeksi yang menyebabkan kematian pada manusia ini dikhawatirkan dapat berkembang menjadi pandemi. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanggulangan kasus flu burung dan implementasinya di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta sejak tahun 2005 sampai tahun 2007... Data WHO 1 menunjukkan terjadi kecenderungan peningkatan kasus AI. Informasiinformasi yang terkait dengan dasar kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanganan kasus flu burung ini masih terbatas. perlu dilakukan eksplorasi untuk mendapatkan informasi secara mendalam terhadap sistem kebijakan (policy system) mengenai pengelolaan obat ini.2 Diskusi tentang pandemi influenza bukan lagi dalam konteks apakah akan terjadi atau tidak. tercatat paling kurang terjadi 79 kematian dari 99 kasus yang ada. Istilah lain dari komponen ini disebut oleh Buse.7%. Penyakit ini merupakan penyakit menular pada unggas yang disebabkan oleh virus influenza A H5N1 yang kemudian berkembang dan dapat menular ke manusia. penyuluhan. Penggunaan obat antiviral dimaksudkan untuk mencegah penularan lebih lanjut.Suliati Saroso (RSPI SS) dan RSUP Persahabatan mulai Maret sampai dengan Juni 2007. cepat berkembang dan menular pada unggas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan kerangka pikir dikembangkan berdasarkan rangkuman banyak sumber teori tentang 182 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 4 Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menanggulanginya kasus ini. No. Saat ini obat antiviral kasus flu burung pada manusia yang digunakan di Indonesia hanya Oseltamivir. WHO Perwakilan Indonesia.5 Setiap komponen dari sistem kebijakan tersebut merupakan suatu kesatuan dan saling berhubungan. serta mudah resisten terhadap obat antiviral. menganjurkan pemberian vaksinasi influenza pada orang yang berisiko. pelaku kebijakan (policy stakeholders). Di Indonesia. Padahal selama dekade terakhir ada beberapa obat antiviral yang telah ditemukan dan direkomendasikan oleh FDA Amerika (Food and Drug Administration) yaitu golongan M2 inhibitor (Amantadine dan Rimantadin hidroklorida) dan Neuraminidase inhibitors (Oseltamivir dan Zanamivir).Dr. Selain itu juga merupakan tindakan pengobatan yang bisa dilakukan dalam penatalaksanaan kasus (case management) flu burung secara medis di rumah sakit (RS).Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . tetapi kapan akan terjadi artinya WHO menyatakan bahwa pandemi memang akan kita hadapi. 1371/Menkes/SK/IX/2005 tentang Pedoman Penanggulangan Penyakit Flu Burung pada Manusia. PENGANTAR Dalam beberapa tahun terakhir ini perhatian dunia kesehatan terpusat kepada semakin merebaknya penularan penyakit Avian Influenza (AI) atau flu burung. sehingga penyediaannya secara tepat waktu dan tepat guna diharapkan dapat mengurangi dampak kasus flu burung. 4 Desember 2007 . cepat merusak organ dalam (terutama paru-paru). Dengan memberikan hasil analisis kebijakan dalam pengelolaan Oseltamivir ini diharapkan adanya perencanaan yang sistematis di masa mendatang yang dapat diterapkan dalam pencegahan dan kewaspadaan flu burung. Vol. Harapan lebih lanjut agar hal ini mendapat perhatian dari semua pihak mulai dari tahap perencanaan sampai pengendalian. RSPI Prof. 10. dan pelatihan petugas kesehatan. Selain itu juga terjadi penyebaran yang semakin meluas ke beberapa negara lain. isi (content). baik angka kesakitan maupun angka kematian manusia yang terinfeksi virus H5N1. dapat terjadi mutasi adaptif dan reasortment. et al6 sebagai konteks (context). Analisis komprehensif dengan melihat aspek-aspek di atas dilakukan dengan harapan secara tidak langsung dapat mencegah dampak yang lebih besar lagi dari kasus flu burung yang tidak hanya kesehatan hewan dan manusia yang dirugikan akan tetapi hampir berpengaruh pada semua sektor kehidupan.

Mulai tahun 2006 dibuat perencanaan stockpiling 12 juta antiviral berdasarkan prediksi jumlah penduduk RI yang terkena pandemi. 500 kapsul untuk RS rujukan (Kecuali RSPI 5000 kapsul). BTKL dan KKP di setiap provinsi menerima Oseltamivir dalam jumlah cukup banyak sekitar 1000–9000 kapsul Pengamatan: Stok Oseltamivir cukup banyak di BTKL dan Dinkes Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat Oseltamivir diberikan kepada pasien flu burung serta petugas kesehatan yang merawat pasien tersebut Penelitian dokumen: Oseltamivir untuk pengobatan diberikan dengan dosis 2 x 75 mg selama 5 hari untuk dewasa. dan Walt G 7 untuk menggali dan mensinkronisasikan pendekatan policy system dengan kebijakan yang terkait dengan manajemen pengelolaan Oseltamivir. baru pada tahun 2006 didistribusikan seluruh provinsi. dan dianalisis dengan cara content analysis. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian melalui wawancara mendalam. obat didapat dari bantuan luar negeri. Puskesmas. membeli secara import.5%-1% dari total penduduk Indonesia akan terkena pandemi influenza Pengamatan : perencanaan pengadaan berdasarkan jumlah instansi kesehatan Wawancara mendalam: mulai tahun 2006 memasukan penganggaran untuk penyediaan Oseltamivir dengan memakai dana buffer obat. import. Setelah seluruh data telah terkumpul kemudian diverifikasi menggunakan metode triangulasi. serta peraturan dan dokumen-dokumen yang terkait dengan kebijakan pengolaan antiviral dalam pengendalian dan penanganan kasus flu burung. maka instansi yang menerima (RS. Mekanisme pengadaan ke RS adalah Oseltamivir akan dikirim ke rumah sakit kalau ada permintaan Penelitian dokumen: Oseltamivir diperoleh dengan cara menerima bantuan (hibah).920. Tabel 1. Pengamatan: tidak dijual bebas di apotek. Pengumpulan data primer diperoleh dengan cara wawancara mendalam pada 10 orang informan kunci yang diambil dari berbagai level tingkatan administrasi sesuai dengan topik yang akan digali. membeli dari BUMN Indonesia Pengamatan : ada laporan pengadaan Oseltamivir Wawancara mendalam: pada tahun 2005 distribusi hanya ke 8 provinsi. 10. hanya instansi pemerintah yang menerima Oseltamivir. Distribusi hanya ke instansi pemerintah dengan proporsi sama Penelitian dokumen: dilakukan secara top down dari Depkes. Penelitian dokumen: kebutuhan penyediaan Oseltamivir dihitung berdasarkan perkiraan sekitar 0. Data sekunder diperoleh dengan cara telaah dokumen berupa data laporan pendistribusian Oseltamivir. Buse K et al 6 . Pemilihan informan dilakukan secara purposive dengan mengacu pada prinsip kesesuaian (appropriateness) dan kecukupan (adequacy) karena terkait dengan substansi dan sesuai kebutuhan penelitian. No. dosis 1 x 75mg untuk profilaksis selama 7 hari Pengamatan : 6 dari 17 pasien diberi pengobatan Oseltamivir dengan dosis 2 x 150 mg Wawancara mendalam: jika Oseltamivir mendekati masa kadaluarsa. dengan proporsi 100 kapsul untuk puskesmas. profil kesehatan dan Prosedur Tetap (Protap) di RS. Vol. kartu stok obat di instansi RS yang diteliti. Hasil Penelitian Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir di Tingkat Depkes Variabel Perencanaan Penganggaran Pengadaan Pendistribusian Penyimpanan Penggunaan Penghapusan Pengendalian Hasil Penelitian Wawancara mendalam: tahun 2005 belum dibuat perencanaan. Untuk tahun 2007 ada anggaran Oseltamivir tapi belum dilakukan pengadaan. Realisasi anggaran untuk pengadaan Oseltamivir tahun 2006 adalah sebesar Rp225. Pengamatan : ada dokumen penganggaran Oseltamivir Wawancara mendalam: Oseltamivir diperoleh dari bantuan luar negeri.749. anggaran penyediaan obat antiviral direncanakan 112 milyar. dinkes) boleh mengembalikan dan kemudian akan diganti dengan obat baru Penelitian dokumen: masih ada obat yang mendekati masa kadaluarsa Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat pengendalian dilakukan dengan menerapkan registrasi obat Penelitian dokumen: registrasi obat di BPOM Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. ada laporan pendistribusiannya Wawancara mendalam: bufferstock di BTKL dan di Dinas Kesehatan Penelitian dokumen: Dinkes Provinsi/Kabupaten/Kota/. mulai tahun 2006 diproduksi BUMN Indonesia secara bertahap.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sistem kebijakan mulai dari Dunn WN5. karena stok masih banyak Penelitian dokumen: di Renstra nasional FBPI. Selanjutnya meneliti rekam medis pasien. penelitian dokumen dan pengamatan mengenai kebijakan pengelolaan Oseltamivir di tataran Depkes dan di tingkat RS dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2. 4 Desember 2007 183 .000 berasal dari APBN. dan di-cross check dengan laporan penerimaan Oseltamivir.

berbeda dengan di Puskesmas yang harus berdasarkan sistem skoring Pengamatan: pasien suspek flu burung hari pertama masuk langsung diberi Oseltamivir Wawancara mendalam: terlebih dulu melaporkan apabila obat mendekati masa kadaluarsa kemudian akan mengembalikan ke Depkes Penelitian dokumen: sistem penghapusan obat bisa dilakukan dengan ensinerator Pengamatan: masih ada Oseltamivir yang mendekati masa kadaluarsa Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat bahwa Penilaian mutu obat dengan melihat fisik (morfologi) obat Penelitian dokumen: registrasi Oseltamivir diberikan melalui proses fast track Mulai tahun 2006 Depkes baru membuat perencanaan untuk penyediaan Oseltamivir melalui strategi stockpilling yaitu penyediaan obat dalam jumlah besar untuk menghadapi suatu keadaan kemungkinan terjadinya pandemi. Untuk di RS mekanisme pangadaannya melalui teknik dropping langsung dari Depkes. serta mengadopsi kebijakan dari beberapa negara lain yang disesuaikan dengan kemampuan finansial Indonesia. perlakuan penyimpanan disamakan dengan obat yang lain Penelitian dokumen: stok obat di gudang lebih banyak daripada di apotek Pengamatan : tata cara penyimpanan dengan sistem FIFO Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat bahwa pemberian Oseltamivir ke pasien tidak berdasarkan skoring tetapi dengan melihat kondisi klinis pasien suspek AI Penelitian dokumen: pasien harus diberikan terapi Antiviral sesegera mungkin. sehingga penyediaan Oseltamivir ini tidak berdasarkan kebutuhan pemakaian obat. Vol. Metode spekulasi di salah satu sisi bisa menguntungkan karena obat selalu tersedia di unit pelayanan kesehatan. Oleh karena itu strategi stockpilling dipilih sebagai salah satu langkah antisipasi pemerintah menghadapi kondisi darurat (upaya kesiapsiagaan menghadapi pandemi flu burung) dengan memperhitungkan jumlah kebutuhan berdasarkan pada prediksi persentase jumlah penduduk Indonesia yang akan terkena jika terjadi pandemi. Jadi. Bisa dikatakan bahwa kebijakan perencanaan Oseltamivir di RS yang diteliti belum dibuat berdasarkan data evidences jumlah kasus yang riil terjadi atau sesuai kebutuhan. 4 Desember 2007 .. No. yang mengakibatkan terjadinya penumpukan obat karena kebutuhan obat RS tidaklah sebanyak yang di-dropping oleh Depkes.. penyediaannya tidak berdasarkan kebutuhan pemakaian obat Pengamatan: tidak ada dokumen perencanaan permintaan Oseltamivir Wawancara mendalam: tidak membuat menganggaran untuk Oseltamivir Pengamatan: tidak ada dokumen penganggaran Oseltamivir Wawancara mendalam: dengan cara dikirim langsung (dropping) dari Depkes Penelitian dokumen: menerima dropping Oseltamivir secara bertahap dari Depkes Pengamatan: Stok Oseltamivir dalam jumlah yang cukup banyak Wawancara mendalam: obat dikeluarkan dengan memakai metode FEFO Penelitian dokumen: Oseltamivir diterima secara bertahap Pengamatan: ada alur distribusi Oseltamivir hingga ke pasien Wawancara mendalam: sebagian besar Oseltamivir disimpan di bagian logistik (gudang) sebagai bufferstock kemudian didistribusikan ke pasien melalui apotek. biaya pemesanan dan pengangkutan menjadi lebih murah. sebab tingkat konsumsinya memang rendah.5%-1% dari total penduduk Indonesia akan terkena pandemi influenza. hal ini relevan dengan dokumen Renstra Nasional FBPI.8 Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 220 juta jiwa. sehingga faktor yang berpengaruh dalam membuat perencanaan untuk penyediaan Oseltamivir ini adalah jumlah seluruh penduduk Indonesia. Menurut Bowersox9 metode ini termasuk kategori fluctuation stock yaitu persediaan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat diramalkan (metode spekulasi). Kebutuhan penyediaan Oseltamivir dihitung berdasarkan perkiraan sekitar 0. Hasil Penelitian Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir di Tingkat RS Variabel Perencanaan Penganggaran Pengadaan Pendistribusian Penyimpanan Penggunaan Penghapusan Pengendalian Hasil Penelitian Wawancara mendalam: tidak membuat perencanaan permintaan Oseltamivir. Penyediaan Oseltamivir yang dihitung berdasarkan perkiraan banyaknya penduduk yang akan terkena pandemi. strategi ini dipilih karena pertimbangan kasus flu burung yang dihadapi merupakan kasus baru yang terus menunjukkan progresivitas angka kematian cukup tinggi dibuktikan dengan adanya peningkatan CFR. Keuntungannya adalah bisa mendapatkan potongan harga yang lebih banyak. Hal ini berbeda dengan obat lainnya yang dibuat perencanaan dan pengadaan secara triwulan berdasarkan pemakaian dan kebutuhan RS (evidences based). diperkirakan Depkes harus menyiapkan sebanyak 11 juta – 12 juta obat antiviral sebagai stockpile. 10. di sisi lain potensial akan terjadi pemborosan karena wilayah tanpa adanya indikasi 184 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . Tabel 2.

Program yang cenderung ke arah kuratif dan memakan banyak biaya ini perlu ditinjau ulang. 4 Desember 2007 185 . metode pengadaan dengan cara membeli biasanya didahului dengan perhitungan besarnya volume pembelian yang ditetapkan berdasarkan kebutuhan dalam satuan waktu dan kuantum unit masing-masing produk misalnya kebutuhan untuk mingguan atau 1 bulanan atau setahun. Otomatis apabila ada pasien yang suspeck flu burung maka pihak RS tidak bisa memberikan terapi obat antiviral Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.10 sehingga selain faktor jumlah penduduk. belum bisa mengakses obat ini secara lancar. puskesmas. Dengan cara seperti ini perlu dipilih teknik yang tepat mulai dari kualitas transportasi seperti jalan dan alat angkut. Dalam hal ini Depkes tidak melakukannya karena perhitungan volume pembelian hanya berdasarkan prediksi saja. diharapkan kebijakan pemerintah tentang perencanaan dan pengadaan obat antiviral harus memperhatikan faktor pola penyakit yang dominan. sehingga lebih memprioritaskan pada upaya preventif sebagai salah satu upaya manajemen kasus berbasis wilayah yang salah satunya dengan melakukan manajemen faktor risiko dari penyakit. dengan alasan untuk efisiensi biaya dan tenaga. Dalam kasus penyakit yang sudah jelas trendnya seperti demam berdarah. sehingga sebaiknya pemerintah juga memprioritaskan pada upaya promotif dan preventif dalam penanganan kasus flu burung ini selain biaya yang diperlukan jauh lebih sedikit daripada upaya kuratif.11 perlu ruang penyimpanan yang besar serta mengandung risiko kadaluarsa obat yang lebih tinggi. 10. sistem pendistribusian Oseltamivir yang diatur pemerintah belum merata sebab RS/poliklinik swasta. 12 Selain itu Indonesia juga masih menerima bantuan obat tersebut dari WHO dan negara lain.7 Dalam hal penganggaran. khususnya bagi RS swasta di daerah yang kurang informasi tentang cara mendapat obat tersebut. Namun seharusnya pemerintah lebih selektif lagi jangan sampai obat yang diterima sudah mendekati masa kadaluarsa. pemerintah tidak bisa sepenuhnya mengandalkan pada obat-obatan karena bagian yang terpenting dari hal ini adalah aspek pencegahan yaitu upaya penghentian penularan dari unggas ke manusia. Merupakan angka yang cukup besar dalam hal pengadaan barang. yaitu Depkes melihat dari RS mengajukan permohonan permintaan obat (pertanda stock mulai menipis). Perlu pemikiran dan penelitian lebih lanjut tentang cost effektiveness dari program kuratif penyediaan obat antiviral ini. jika titik awal ini sudah tidak tepat maka pengendalian akan sulit dikontrol.12 Langkah antisipasi yang dapat dilakukan agar tidak terjadi penumpukan obat ini salah satunya dengan memperbaiki mekanisme penyediaannya. juga karena dampak yang akan didapatkan dari tindakan promotif-preventif tersebut akan dirasakan manfaatnya dalam jangka waktu yang lama. No. Rasionalisasi antara pola produksi obat dan kebutuhan nyata harus ditingkatkan terutama agar dana untuk obat dapat digunakan secara lebih efisien. Perencanaan kebutuhan obat merupakan salah satu fungsi yang menentukan dalam proses penyediaan obat. jumlah biaya yang tersedia. ataupun berupaya menghindari power negara pendonor jangan sampai menjadi unsur interest politik luar negeri yang sangat dominan. misalnya melalui sarana apotek.15 Keadaan geografis dan demografis daerah di Indonesia yang khas akan membutuhkan sistem pendistribusian yang tepat agar merata. juga harus memperhatikan metode pengepakan yang baik agar obat tidak rusak di jalan. Komitmen pemerintah menerima bantuan ini dilakukan karena memang membutuhkan obat tersebut. Jadi jangan sampai pemerintah membuat program yang sia-sia dengan menyediakan obat antiviral karena obat tersebut hanya efektif apabila pasien dapat terapi 2 x 24 jam dari adanya gejala flu burung. Vol. RS. karena berdasarkan data dari Aditama TY14 dilaporkan bahwa rata-rata pasien flu burung yang datang ke rumah sakit setelah lebih dari 2 hari merasakan gejala flu burung. selain juga untuk menjaga hubungan baik dengan negara pendonor. Sistem pendistribusian Oseltamivir yang bersifat top down sentral dari Depkes bahwa untuk pendistribusiannya sampai ke tingkat Puskesmas dilakukan dengan bantuan pos. Depkes tahun 2006 harus menyediakan dana Rp200 milyar untuk membeli 16 jutaan kapsul Oseltamivir. poliklinik. Biaya yang sangat besar ini tentunya akan menjadi beban yang sangat berat bagi pemerintah pusat. Adanya penyediaan stok yang berlebih cenderung menyebabkan pemborosan dalam pemakaian.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan penyakit juga menerima stok yang pada akhirnya menyebabkan pembengkakan anggaran dan tentu saja menjadi tidak cost effective.11 Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka dapat dirumuskan kebijakan pengadaan obat yang rasional. Walaupun tak dapat dipungkiri bahwa belanja obat memang merupakan bagian terbesar dari belanja kesehatan di seluruh negara di dunia13. Dalam hal ini. yang bertujuan untuk menentukan jenis dan jumlah obat sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan. jumlah kebutuhan riil masyarakat. Padahal pengadaan merupakan titik awal dari pengendalian persediaan.

Vol. Selanjutnya terkait dengan khasiat nyata dari obat..11 Sasaran utama pendaftaran obat adalah agar obat yang beredar hanya yang khasiatnya nyata. Hal ini juga diberlakukan pada obat kadaluarsa. obat yang sudah rusak. Hal ini tentu akan memperparah kondisi pasien karena tidak cepat ditanggulangi. penanganan dan pencegahan penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat. keamanannya memadai. sehingga perlu penelitian lebih lanjut. 10. Pembuatan kebijakan pengelolaan obat antiviral dalam penanggulangan kasus flu burung di Indonesia 186 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.16 Dikaitkan dengan kasus flu burung pada saat ini data penelitian tentang kemanfaatan dan keamanan penggunaan Oseltamivir baru efektif sebatas pada influenza biasa. keamanan yang resmi. jangka waktu pemberian yang cukup. rasional dan juga dalam rangka efisiensi biaya pengobatan. maka perlu upaya pendaftaran obat. sehingga semua permintaan konsumen dapat dipenuhi.17 Hubungannya dengan Tamiflu yang merupakan obat jadi import yang telah disetujui beredar di negara lain. maka tetap harus didaftarkan melalui proses uji klinik di BPOM.16 Informasi tentang obat sebaiknya adalah yang didukung oleh buktibukti ilmiah yang berkaitan dengan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat. penggunaan dan cara penggunaan. paling aman. Selain itu. Para pemberi pelayanan (provider) khususnya para dokter (prescriber) harus mengetahui secara rinci obat yang akan dipakai melalui informasi yang benar. efektif. dan merupakan teknologi medis yang dibutuhkan. Obat yang mendekati masa kadaluarsa tidak layak lagi dipakai sehingga perlu upaya penghapusan obat.sehingga dapat memberikan manfaat klinik yang berguna bagi keperluan ilmu pengetahuan dan teknologi. sehingga informasi yang ada merupakan informasi yang telah ditelaah secara cermat berdasarkan data penelitian. Langkah pemecahan masalah ini salah satunya dengan memberdayakan apotek yang ditunjuk pemerintah untuk menyediakan Oseltamivir. Agar memberikan manfaat klinik yang optimal. menurut prinsip kedokteran disebutkan bahwa tujuan pedoman pengobatan adalah meningkatkan mutu pelayanan melalui penggunaan obat yang aman. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) merupakan badan yang bertugas membuat informasi tentang obat yang mencakup indikasi. 4 Desember 2007 . Adanya peningkatan dosis Oseltamivir pada pengobatan beberapa pasien flu burung. harga yang murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat luas. tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan yang sudah mendalam dan perilaku pihak-pihak yang terlibat didalamnya. sesuai kebutuhan dosis individu. paling ekonomis dan paling sesuai dengan sistem pelayanan kesehatan yang ada yang dianjurkan untuk digunakan. tidak terjadi kekurangan maupun kelebihan stok. No. Hal yang harus dipahami agar tercapainya pengendalian persediaan11 adalah dengan menjaga keseimbangan pengendalian dan pembelian. Akan tetapi. harus berdasarkan indikasi yang jelas. Bila dikaitkan penggunaan obat yang rasional dengan acuan biomedicus context penggunaan obat yang rasional adalah kebutuhan obat sesuai dengan kepentingan kedokteran dan klinik. sesegera mungkin karena obat tersebut tidak tersedia. sesuai dengan sasaran kebijakan umum di bidang obat. Adanya obat yang kadaluarsa dan rusak akan merugikan instansi pemilik karena upaya penghapusan barang/obat akan memerlukan biaya yang cukup besar. yang disetujui (approved) pada saat obat diizinkan untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan untuk menghindari salah informasi tentang obat. kualitasnya baik. bukan H5N1. maka obat harus digunakan secara benar. salah satunya adalah dengan mengatur keseimbangan antara jumlah persediaan dengan jumlah pemakaian. Tingkat keamanan obat juga bisa dilakukan dengan memantau masa kadaluarsa. yang akan membahayakan pasien jika tetap dipakai. meningkatnya kegagalan pengobatan. sehingga hanya obat yang terbukti memberikan manfaat klinik yang paling besar. perlu dicari jalan keluar untuk menghindari tingginya tingkat kadaluarsa obat ini.16 Maka penggunaan Oseltamivir di tempat penelitian ini belum termasuk kategori penggunaan obat yang rasional. Obat mempunyai peran yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan.. 16 Masalah-masalah yang timbul dalam penggunaan obat tidak semata-mata berkaitan dengan kurangnya informasi dan pengetahuan dokter. pasien dan masyarakat. meningkatnya resistensi obat. Oleh karena itu. misalnya promosi obat yang berlebihan atau kelemahan sistem regulasi yang ada. kemudian registrasi obat sebelum beredar di masyarakat sehingga mutu obat terjamin. agar tidak ada kejadian keterlambatan menangani pasien AI. hal ini dilakukan oleh prescriber dalam rangka meningkatkan manfaat ke pasien karena dosis yang selama ini dipakai pada umumnya belum menunjukkan perbaikan kondisi pasien. sehingga memudahkan masyarakat mengakses obat ini tapi tetap dengan resep dokter. Pola penggunaan obat yang tidak rasional dapat berakibat menurunnya mutu pelayanan pengobatan misalnya meningkatnya efek samping obat. Apotek harus dijadikan ujung tombak pelayanan obat yang harus ikut mengamankan kebijakan penyediaan (penyimpanan) Oseltamivir secara merata.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir .

Avian Influenza. Wiku B. Midian. Kent. 4. Anief. Avian Influenza/Flu Burung di Indonesia. MSc. KESIMPULAN DAN SARAN Kebijakan pengelolaan obat antiviral dalam penanganan kasus flu burung di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta dibuat secara terbatas serta pada pelaksanaannya tidak mencakup pada keseluruhan lini yang memerlukan.B. Ph. Walt. pengaruh penanganan kasus flu burung di negara lain (sosial budaya). 2001. 10.go. Agar pihak RS memberikan rekomendasi kepada Depkes mengenai desain kebijakan pengelolaan obat antiviral yang sesuai dengan kondisi di RS. 3. Diakses pada 1 Februari 2007. Dunn. Making Health Policy. Manajemen Farmasi. diharapkan agar Depkes dalam pengelolaan Oselatamivir ini juga memberdayakan apotek yang ditunjuk untuk menyediakan obat tersebut sehingga selain mempermudah akses unit pelayanan kesehatan swasta lainnya dalam memperoleh obat tersebut dan bisa dijadikan stockpile.11 April 2007. 2005. Rencana Strategis Nasional Pengendalian Flu Burung (Avian Influenza) dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza 2006-2008.id/.depkes. Witwatersrand University Press. UCAPAN TERIMA KASIH Saya ucapkan terima kasih kepada dr. Kebijakan pendistribusian Oseltamivir secara terbatas pada instansi pemerintah dapat menghambat akses unit pelayanan kesehatan swasta untuk memperoleh obat tersebut. III (2). Husnil Farouk. William N. Jakarta. Sudah 79 Orang Meninggal Dunia Akibat Flu Burung. 4 Desember 2007 187 . Kebijakan pengadaannya dengan teknik dropping dapat mengakibatkan terjadinya penumpukkan obat di RS yang diteliti. Hal ini dikarenakan obat hibah dari negara lain yang harus segera didistribusikan agar bisa terpakai mengingat masa kadaluarsanya yang relatif dekat. Republik Indonesia. Departemen Kesehatan RI. Open University Press. jumlah penduduk. Selanjutnya.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kebijakan internasional dalam hal ini WHO 18 memegang peranan yang dominan yang menentukan arah kebijakan yang dibuat oleh Depkes RI. 8. Mays. 2005. Institut Darma Mahardika. 2003. Majalah Ilmu Kefarmasian. H. M. 2000. WHO. Pengantar Analisis Kebijakan Publik edisi kedua. 10. selain itu faktor lingkungan yang menjadi pertimbangan adalah faktor politik. jumlah institusi kesehatan pemerintah. Buse. KEPUSTAKAAN 1. 5. 2006. G. Program Studi KARS Universitas Indonesia. dan Potensi Ekonomi. London School of Hygiene and Tropical Medicine. Bowersox. Jakarta. 1998.int/entity/scr/disease/ avian_influenza/country/en. 1994. Bumi Aksara. 9. Pencegahan dan Penyebaran Pada Manusia. Health Policy : an Introduction to Process and Power.MA. Sirait. Walt. Donald J. Cumulative Number of Confirmed Human Cases of Avian Influenza A/ (H5N1) Reported to WHO. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan.who. Bahan Seminar Pertemuan Nasional Penanggulangan Klinis Penanganan Flu Burung di Rumah Sakit. Ini ditunjukkan dengan perencanaannya belum berdasarkan data evidences jumlah kasus riil yang terjadi pada RS karena pertimbangan kasus AI yang menunjukkan progresivitas angka kematian dan cenderung menimbulkan kepanikan masyarakat sehingga dipilih strategi stockpilling. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Yenis S. Diakses pada 6 Juni 2007. WHO. Johannesburg. Jakarta. Nicolas. 14. Jakarta. 2. No. Gill. 6. Gadjah Mada University Press. Modul Pendidikan : Manajemen Logistik dan Obat Rumah Sakit. Vol. Aditama. Titiek E. serta perlu mengadakan suatu penelitian untuk membuktikan efektivitas penggunaan Oseltamivir terhadap H5N1 manusia. 11. 7. Pelayanana Kesehatan. Yogyakarta. serta kondisi pertahanan dan keamanan yang ingin diciptakan dalam kesiapsiagaan menghadapi pandemi flu burung. WHO. Tjandra Yoga. Kusumanto H. Gajah Mada University Press. 15. 2007. 2006. 12.D selaku Dosen Pembimbing di Departemen AKK FKM UI Depok yang banyak memberikan pencerahan dalam penulisan karya ini. http://www. MPH selaku Ketua PSKM FK Unsri dan kepada drh. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Yogyakarta. Moh. 1995. Manajemen Logistik 1 : Integrasi Sistem-Sistem Manajemen Distribusi Fisik dan Manajemen Material. Tiga Dimensi Farmasi : Ilmu Teknologi. Depok. http:// www. Bandung. 2002. Adisasmito. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Avian Influenza A (H5N1) : Patogenesis. The World Health Report 2000–Health Systems : Improving Performance. 2005. Flu Burung. 13. Radji. Pusat Komunikasi Publik Depkes RI.

Vol. WHO – Advice On Use Of Oseltamivir. 17 Maret 2006. Departemen Kesehatan Republik Indonesia... 4 Desember 2007 . No. 18.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . 16. http://www. Influenza Report 2006. 2000. 2006. 188 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Jakarta. WHO. 10. Hoffmann C. IONI : Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000. 17.influenzaReport. Preiser W.com. Kamps BS. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Depkes RI.

penyiapan implementasi ABSTRAK Latar Belakang: Rumah Sakit Duren Sawit (RSDS) telah mengimplementasikan berbagai sistem manajemen mutu serta sistem lainnya. Informan kunci pada penelitian ini adalah Direktur. Most of the data has already in the form of non manual report (81%). and competitor profile. 4 Desember 2007 177 . The research sample which is used is qualitative research.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. visualisasi laporan. information system training. There are 147 variable of information level with most of information is in Processes management category in the key process of DS Hospital services. Vol. Head of Administration and also EDP coordinator. From all the process. Dari keseluruhan proses. Representative Manager. meanwhile data in form of non database file needed to get some constituency agreement to make the business intelligence implementation faster. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 177 . emphasize the policy of available information management system. kapabilitas perusahaan serta kondisi pasar. Currently. Kepala Bagian Tata Usaha serta Koordinator EDP. menegaskan kebijakan sistem informasi yang berlaku. Data dalam bentuk laporan manual perlu dilakukan standarisasi informasi sehingga bisa dikonversi menjadi bentuk database. Dumilah Ayuningtyas Program Studi Kajian Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ABSTRACT Background: D S Hospital (RSSDS) has implemented many of quality management system and also another system. so the monitoring has not known the trend. Aplikasi business intelligence memungkinkan perusahaan untuk menganalisa perubahan tren pasar. Spesifisitas business intelligence dibanding tingkatan sistem informasi lainnya adalah kemampuannya untuk melakukan analisis multidimensional. The main informant in this research is Director. forecasting. Tujuan: Diperolehnya informasi mengenai penyiapan implementasi business intelligence dengan basis Malcolm Baldrige di RS DS tahun 2007. based on Malcolm Baldrige in D S Hospital in 2007. Manager Representatif. Results: The implementation of Business Preparation is deserved to do. Objective: To get information about implementation preparation of Business Intelligence. Rancangan penelitian yang dipakai adalah PENGANTAR Informasi memainkan peranan penting dalam pengambilan keputusan dan sebagai sarana strategik untuk memberikan pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. Kata Kunci: business intelligence. Metode: Peneliti melakukan investigasi sistem dilanjutkan dengan analisis sistem untuk mengetahui kebutuhan informasi yang diperlukan. Method: The researcher investigates system followed with system analysis to know about information which is needed. the effort of business intelligence implementation is about 15-35%. the data still disperse and managed by each person who has responsible for it so the process of collecting information takes longer time and because of that. now a day. menganalisis dan menyuguhkan akses data untuk membantu petinggi perusahaan dalam mengambil keputusan. Hasil: Implementasi business intelligence telah layak untuk dilakukan.182 Artikel Penelitian PENYIAPAN IMPLEMENTASI BUSINESS INTELLIGENCE BERBASIS MALCOLM BALDRIGE IMPLEMENTATION BUSINESS INTELLIGENCEBASED ON MALCOLM BALDRIGE Raditya Asri Wisuda . multidimensional analysis. implementation preparation penelitian kualitatif. The data in manual report form has to be standardized so can be converted into database form. Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini disarankan kepada pihak manajemen untuk melanjutkan sosialisasi. pola pembelanjaan. Keywords: business intelligence. preferensi pelanggan. Mayoritas ketersediaan data sudah dalam bentuk nonlaporan manual (81%). profil kompetitor serta kemampuan unggul lainnya. No. sedangkan data dalam bentuk file non database diperlukan penyepakatan konsistensi data untuk percepatan implementasi business intelligence.1 Howard Dresdner pada tahun 19892 pertama kali mendefinisikan business intelligence sebagai rangkaian aplikasi dan teknologi untuk mengumpulkan. Conclusion: This research wants to give suggestions to management side to keep continue for socialization. 10. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. analisis multidimensi serta profil kompetitor. pelatihan sistem informasi. upaya implementasi business intelligencesaat ini berkisar antara 15-35%. perubahan perilaku pelanggan. Didapatkan sebanyak 147 variabel level informasi. dengan dominasi banyaknya informasi pada kategori Proces Managemen pada Proses Kunci Layanan RSDS. menyimpan. Saat ini penyajian datanya masih tersebar dari berbagai pintu dan sumber sesuai penanggungjawabnya sehingga pengambilan informasi memakan waktu yang lebih lama serta pemantauannya belum dapat menggambarkan tren.

Peningkatan biaya implementasi terjadi pada fase awal ketika investasi sistem informasi dilakukan dan akan menurun seiring berjalannya waktu. desain sistem. 3) Persyaratan pemerintah : persyaratan dan peraturan pemerintah bisa menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan sistem informasi. Vol. b. other customer and market. implementasi sistem serta pemeliharaan sistem). namun tetap dapat melalui verifikasi lintas unit.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence .. modul remunerasi. 10. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penyiapan implementasi business intelligence RS Duren Sawit 1. focus on patients. Tahap investigasi sistem a. karyawan serta pihak lain yang mengoperasikan. analisis sistem. kemampuan manajemen. hemat waktu dan tenaga. dicari informasi tentang kemungkinan business intelligence dalam penghematan biaya. 4 Desember 2007 . unggul dan berkelanjutan. Banyak perusahaan menetapkan kriteria bukan untuk MBNQA semata. Dalam hal ini manfaat business intelligence lebih pada kepentingan internal RS DS. peningkatan pendapatan dan keuntungan. human resources focus. (4) implementasi dan (5) pemeliharaan. 2) Penerimaan karyawan: manajemen puncak berpendapat bahwa penerimaan karyawan sudah bagus. bersaing. Analisis dilakukan pada penyiapan implementasi business intelligence berbasis malcolm baldrige. Saat ini RS DS telah memiliki 4 buah server (web. 178 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. domain dan proxy). Namun peneliti membatasi penelitian pada investigasi sistem dan analisis sistem. ±110 client serta Local Area Network yang mencakup seluruh rumah sakit. namun akan kemudian naik lagi secara perlahan. Penyiapan implementasi business intelligence dilakukan dengan pola System Development Life Cycle (SDLC) yang terdiri dari 5 tahap (investigasi sistem. mengharuskan seluruh karyawan untuk melakukan input data ke komputer. Siklus ini dipandang sebagai proses multilangkah yang disebut sebagai siklus pengembangan sistem informasi (information system development cycle) yang juga dikenal sebagai siklus hidup pengembangan sistem (system development life cycle). Kelayakan ekonomi Dalam kelayakan ekonomi. (3) desain. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif. kemampuan dan kehandalan jaringan serta software di RS DS dalam implementasi business intelligence. Kelayakan teknis Kelayakan teknis menilai ketersediaan.6 Model business intelligence RS DS dibuat dengan dasar Malcolm Baldrige. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa penyajian data yang cepat bermanfaat terhadap berkurangnya beban kerja karena informasi cukup diinput satu kali. Sejak awal rumah sakit telah berhemat dengan menghindari posisi-posisi yang tidak efektif. Kelayakan organisasi Kelayakan organisasional berfokus pada sebaik apakah dukungan sistem yang diusullkan terhadap prioritas bisnis strategis organisasi. strategic planning. tetapi untuk self assessment sebagai alat untuk membenahi sistem manajemen kinerja sehingga dapat survive.. menggunakan dan mendukung sistem yang diusulkan. data. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa business intelligence dapat mendukung proses bisnis RS DS dengan sajian informasi yang terintegrasi sehingga analisa bisa dilakukan dengan cepat. Kelayakan operasional Merupakan kemauan. Pendekatan sistem digunakan untuk mengembangkan solusi sistem informasi.4. measurement analysis and knowledge management. Manfaat berwujud 1) Pengaruh terhadap peningkatan penjualan Business intelligencememungkinkan perusahaan untuk menganalisa perubahan trend c. (2) analisis. kemudahan pencarian dokumen. Investigasi sistem dilakukan dengan indepth interview.3 Kriteria Layanan Kesehatan malcolm baldrige terdiri dari leadership. Langkah ini mencakup: (1) investigasi. 1) Dukungan manajemen: pada penyiapan implementasi business intelligence RS DS. No.5. d. pengurangan biaya alat tulis. karena salah satu modul yang ada. terlihat bahwa manajemen memberi dukungan yang positif karena kehadiran business intelligence yang sudah dirasakan sudah menjadi kebutuhan manajemen. The malcolm baldrige criteria for performance excellence adalah sistem manajemen mutu yang berlaku di Amerika Serikat. e. process management serta business result.

10. Ketersediaan data saat ini seluruhnya masih dalam bentuk laporan manual dengan time interval update data setiap bulan. komplain pelanggan. handling complaints dan customer loyalty. 2). TOI serta AvLOS. sehingga lebih memimpin dalam sistem informasi yang keseluruhan outputnya dimanfaatkan untuk membuat keputusan yang akurat baik untuk bahan informasi maupun marketing untuk meningkatkan penjualan. Vol. Pengaruh terhadap posisi kompetitif dan citra bisnis Rumah Sakit Duren Sawit (RS DS) merupakan rumah sakit daerah yang merintis implementasi business intelligence. Manfaat tak berwujud 1). jumlah pasien lama. 3). BOR. Keseluruhan wilayah datanya adalah unit SDM. jumlah pasien rawat jalan baru. 2. other customer and market malcolm baldrige. customer satisfaction. jumlah pasien rawat jalan baru. Analisis kebutuhan informasi 1. Tabulasi silang (pelanggan. kemampuan analisis serta pengambilan keputusan Rumah Sakit Duren Sawit (RS DS) telah menerapkan beberapa tools manajemen mutu yang memerlukan pemantauan yang akurat sehingga strategi yang dihasilkan selalu up to date dengan permasalahan yang ada. Untuk time interval update data. Pengaruh terhadap ketersediaan informasi. sedangkan 37% lagi dalam bentuk file non database dan sisanya dalam bentuk laporan manual. Kriteria focus on patients. other customer and market Dalam kriteria focus on patients. Business intelligence akan mewajibkan karyawan untuk melakukan input data yang menjadi tanggung jawabnya sehingga kedisiplinan akan meningkat.2%. 4). produk) diperlukan pada 29. serta belum terdapat nilai standar untuk variabel ini.4% selanjutnya Keuangan dan SDM. Pengaruh terhadap perbaikan moral karyawan Moral karyawan dalam hal ini diwujudkan dalam bentuk etos kerja. mayoritas sudah dalam bentuk database yaitu sebanyak 40. 2) Pengaruh terhadap biaya pemrosesan informasi dan efisiensi operasional Berkurangnya biaya pemrosesan informasi didapat dari berkurangnya beban kerja pengiriman dokumen lintas unit.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan dalam pasar. Sebanyak 37% informasi memerlukan profil kompetitor. Kesemuanya tidak memerlukan kebutuhan forecast. kedisiplinan. kapabilitas perusahaan serta kondisi pasar. BTO. pola pembelanjaan. didapat 8 variabel informasi yaitu built customer relationship management.2% informasi saja yang perlu dilakukan forecast yaitu revenue growth.7% realtime dan sisanya bulanan. indikator-indikator mutu di input langsung ke komputer.7%. kemudian 40. Tahap Analisis Sistem a. pertumbuhan hari perawatan. sehingga siapapun yang berkepentingan terhadap informasi itu bisa langsung melihat sesuai dengan kewenanangannya. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan dan pasien gawat darurat. perubahan dalam perilaku pelanggan. Saat ini sebanyak 22. f. 4 Desember 2007 179 .6% informasi yaitu pada jenis hasil survei kepuasan pelanggan. Pengaruh terhadap perbaikan layanan pelanggan Secara langsung business intelligence bisa memberi gambaran yang cepat mengenai titik-titik rawan dalam pelayanan untuk kemudian mengambil langkah dengan cepat terhadap masalah tersebut. serta kebanggaan bekerja di RS DS. Efek lain adalah dari sudut pandang balanced scorecard yang salah satunya memantau indikator kepuasan pelanggan dan jenis ini menjadi salah satu jenis informasi business intelligence RS DS. masing-masing 18. preferensi pelanggan. jumlah pasien lama. Keseluruhan 3. Mayoritas wilayah data di bawah unit Electronic Data Processing (EDP) yaitu sebanyak 44. profil pelanggan maupun tabulasi silang (pelanggan. Belum ada nilai standar untuk keseluruhan informasi. geografi. Dalam hal ketersediaan data.5%. pertumbuhan hari perawatan. Kriteria strategic planning Didapat 27 variabel informasi yang keseluruhannya berasal dari balanced scorecard. yaitu pada jenis revenue growth. redundansi data yang sebetulnya sudah terdapat dalam sistem. Hal-hal tersebut bisa diminimalisir dengan business intelligence. jumlah pasien rawat jalan baru. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan serta pasien gawat darurat. mayoritas tahunan sebanyak 48. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. geografi maupun produk). waktu tunggu verifikasi dokumen. Kriteria leadership Didapat 8 variabel informasi yang semuanya berasal dari perilaku utama staf RS DS. No. Dengan business intelligence. jumlah pasien lama. pertumbuhan hari perawatan. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan dan gawat darurat serta avarage length of stay.

9% data time interval update-nya adalah tiga bulanan. analysis and knowledge management malcolm baldrige. geografi dan produk) diperlukan pada jenis kepuasan pelanggan 80% pada pelayanan pasien jiwa. kecuali sentralisir dan digitalisasi dokumen MR berada di bawah MR. Kriteria business result Kriteria business result malcolm baldrige terdiri dari dua jenis yaitu performance management dan human resources competencies. infeksi nosokomial <5%. 3 jenis sisanya (training gap. Mayoritas ketersediaan data sudah dalam bentuk file non database yaitu sebanyak 82. keseluruhan jenis kapitalisasi pengembangan ide serta communication and skill sharing intervalnya bulanan. serta peningkatan pertumbuhan 30% per tahun dalam 5 tahun. seluruhnya tiga bulanan kecuali sentralisir dan digitalisasi dokumen di MR yang time intervalnya realtime. seluruhnya bulanan. kapitalisasi pengembangan ide di bawah unit MR serta communication and skill sharing sifat wilayah datanya spesifik unit pelayanan. keseluruhan jenis kapitalisasi pengembangan ide serta communication and skill sharing masih dalam bentuk laporan manual. Tidak ada informasi yang memerlukan forecast. Informasi sebanyak ini dengan berbagai atributnya merupakan hal yang cukup kompleks. profil kompetitor maupun 4. didapat 13 variabel informasi yang terdiri dari 3 kelompok besar yaitu Competency Based Human Resources Management (CBHRM). sehingga akan dapat memudahkan pengguna business intelligence untuk mendapatkan informasi yang luas pada kategori ini sehingga akan memberikan lebih banyak alternatif pertimbangan pada pengambilan keputusan. Untuk time interval update data. GKM dan 5R. keseluruhannya dalam bentuk file non database. Terdapat 19 wilayah data dan yang terbanyak adalah di bawah unit MR sebanyak 23. waktu layanan RJ umum 10 menit. response time layanan IGD <2 menit 95%. Jumlah variabel informasi yang diperoleh peneliti pada penelitian ini mencapai 147 variabel. sedangkan jenis seleksi yang merupakan bagian dari CBHRM data sudah tersedia dalam bentuk database. Kriteria measurement. wilayah data ada di bawah unit Public Service Center (PSC) Dalam hal ketersediaan data. K3). Sebanyak 92. profil kompetitor maupun tabulasi silang (pelanggan. 10. keseluruhan wilayah data ada di bawah unit SDM. Keseluruhan wilayah data ada di bawah unit EDP. Dalam hal ketersediaan data. psychiatry departement report serta sentralisir dan digitalisasi dokumen di Manager Representative (MR). dan keduanya digabung ke poin 5. sebanyak 84 variabel informasi. QMS ISO 9001:2000. Nilai standar belum terdapat pada keseluruhan jenis.5%.9% dan IPSRS sebanyak 9. produk). 7. 5. Kriteria human resources focus Dalam kriteria human resources focus malcolm baldrige.8% kemudian rawat inap sebanyak 11. six sigma.1 karena kesamaan informasinya. Keseluruhan data sudah memiliki nilai standar. didapat lima variabel informasi yaitu services modules. 180 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Profil kompetitor diperlukan pada jenis waktu layanan registrasi 5 menit. Nilai standar ada pada jenis product information dan handling complaints. analysis and knowledge management Dalam kriteria measurement. produk). geografi. Jumlah variabel informasi terbanyak ada pada kriteria malcolm baldrige process management. waktu layanan rawat jalan 40 menit. Ini menunjukkan standarisasi informasi yang telah berjalan dengan baik. Keseluruhan jenis tidak memerlukan forecast kecuali pada satu jenis yaitu peningkatan pertumbuhan 30% per tahun dalam 5 tahun.. sedangkan jenis seleksi yang merupakan bagian dari CBHRM seluruhnya realtime dan sisanya interval tiga bulanan. 4 Desember 2007 . keberadaan business intelligence akan sangat membantu untuk mengambil keputusan yang tepat dari keseluruhan informasi tadi. Vol. geografi. dimana 65 variabel diantaranya berasal dari proses kunci layanan RS DS. Tabulasi silang (pelanggan. 6. pelayanan pasien narkoba dan pelayanan pasien nonjiwa. Kapitalisasi Pengembangan Ide serta communication and skill sharing.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . tabulasi silang (pelanggan. Dalam hal ketersediaan data.1%. Untuk CBHRM. PSC modules. Tidak ada informasi yang memerlukan forecast. OHSAS 18001 (patient safety. No. Nilai standar belum terdapat pada keseluruhan jenis. attending system modules. Kriteria process management Dari keseluruhan kriteria process management malcolm baldrige terdapat 84 jenis informasi yang keseluruhannya terdiri dari 6 kelompok yaitu proses kunci layanan kesehatan RSDS. angka kejadian medical error 0%. Untuk time interval update data.. Untuk time interval update data. kebutuhan jam training per orang per tahun serta pay for performance) dalam bentuk file non database. angka kejadian malpraktik 0%. keseluruhannya dalam bentuk file non database kecuali psychiatry departement report yang belum tersedia.

10. sehingga lebih menunjang kesiapan implementasi business intelligence. 4. masih diperlukan sekitar 65%-85% lagi untuk mencapai implementasi business intelligence secara keseluruhan dan proses ini melibatkan lebih banyak pihak lagi dalam penyusunannya agar menghasilkan suatu informasi yang bernilai tinggi bagi RS DS. kesiapan untuk dilakukan data mining menjadi cukup tinggi. wilayah data manager representative dan public service center perlu diintervensi lebih lanjut untuk menyediakan data dalam format database. format data yang berbeda-beda. Transform. Tahapan analisis sistem yang menghasilkan analisis kebutuhan informasi mencakup 10%-20% dari total upaya untuk mengembangkan sebuah sistem informasi. kesiapan untuk data integration menjadi suatu tantangan besar. Reporting Dengan telah diidentifikasikannya kebutuhan data dalam bentuk matriks hasil penelitian. penelitian penyiapan implementasi business intelligence di RS DS sudah mencakup sekitar 15%-35% dari keseluruhan upaya pembuatannya. Namun ketersediaan data dalam bentuk file non database tetap lebih baik dibandingkan bentuk manual. Secara keseluruhan. SDM dan electronic data processing. Variabel informasi yang didapat termasuk kompleks. Data integration Dalam konteks business intelligence RS DS. lalu file non database dan laporan manual. keberadaan business intelligenceakan sangat membantu peroses pengambilan keputusan. Analysing Dengan kelengkapan variabel data yang dimiliki RS DS. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. nilai data yang tidak akurat. kemudian selanjutnya file database dan laporan manual. Tiga wilayah data terbanyak adalah manager representative. Ditinjau dari segi kelayakan. Kriteria business result sudah tercakup dalam kriteria-kriteria lain.35% dari keseluruhan tahapan system development life cycle. ketersediaan data dalam bentuk selain database membutuhkan lagi langkah yang lebih panjang yaitu melalui proses Extract. Kriteria yang mendominasi adalah process management pada variabel Proses kunci layanan RSDS.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Dari segi ketersediaan data. Bentuk file non database tetap dimungkinkan untuk diintegrasikan ke dalam business intelligence. Manajemen dapat mengungkap korelasi bermakna antar data yang tersembunyi sebelumnya. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Secara keseluruhan. upaya penyiapan implementasi business intelligence RS DS telah mencakup 15% . Jika dilihat secara keseluruhan. tingkat kesiapan analisis cukup tinggi. 2. karena akan melewati beberapa masalah seperti ketidakkonsistenan primary key. membedakan business intelligence dengan sistem informasi manajemen lainnya. Fitur business intelligence Tipe-tipe analisa informasi berikut merupakan fitur yang disajikan oleh business intelligence yang sifatnya unik. Ketersediaan data dalam bentuk database baru mencakup 16% dari keseluruhan data dengan kontributor terbesarnya adalah balanced scorecard dalam kriteria strategic planning. No. ketidakkonsistenan nilai data. 1. mengingat variabilitas format informasi yang tersedia (database 16%. Jika dilihat dari upayanya. laporan manual 19%. 3. Namun. kesiapan untuk fitur reporting menjadi cukup tinggi. implementasi business intelligece RS DS sudah cukup layak untuk dikembangkan. belum tersedia <1%). Penyiapan Implementasi Ditinjau Dari Development Life Cycle System Upaya untuk melakukan tahap investigasi sistem yang menentukan tingkat kelayakan implementasi sistem informasi mencakup sekitar 5%-15% dari keseluruhan tahap. ketersediaan data dalam bentuk non laporan manual yang cukup besar (81%) akan sangat membantu percepatan business intelligence. Dashboard Kesiapannya sama dengan kesiapan fitur reporting yaitu cukup tinggi. jika memperhatikan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pengolahan data. 5. 4 Desember 2007 181 . Vol. sinonim dan homonim serta logika proses. sedangkan kriteria lainnya selain business result masih perlu lebih dirinci lagi. Load (ETL) yang lebih lama dibanding data bentuk database. sudah 81% data tersedia dalam bentuk laporan non manual. Lebih dari separuh ketersediaan data adalah dalam bentuk file non database. file non database 65%. seperti juga halnya data integration di perusahaan lain. Dari ketersediaan data tersebut. maka tingkat kesiapan paling tinggi adalah ketersediaan data dalam bentuk database. sehingga kesiapannya cukup tinggi untuk dikonversikan ke dalam business intelligence. Data mining Dengan banyaknya variabel data yang tersedia (147 variabel data).

Jakarta. KEPUSTAKAAN 1. Business Intelligence Roadmap. Pearson Education. diperlukan kesepakatan mengenai konsistensi data untuk mempercepat implementasi business intelligence.. Sadikin. 1998. Saran Sosialisasi penggunaan sistem informasi serta pelatihannya perlu dilakukan terus. Perlu dilakukan percepatan implementasi business intelligence untuk mendapatkan manfaat optimalnya. 4. Penyiapan Implementasi Business Intelligence 182 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 5.. 1998. 2003.6(1) Juni :140-144. Hal ini dilakukan untuk mempercepat implementasi dan mendapat manfaat optimal dari business intelligence. 2007. New York. Boston. Business Intelligence. Meneruskan tahapan system development life cycle pada tahap desain sistem.. Atre. Peningkatan motivasi internal para karyawan tentang pentingnya implementasi sistem informasi di lingkungan rumah sakit serta keuntungan positif apa saja yang akan diperoleh karyawan dengan sistem informasi tersebut akan membawa dampak positif bagi kemajuan implementasi di luar pelatihan-pelatihan yang sudah rutin dilakukan saat ini. Larissa T. 2006. utamanya bagi wilayah data yang mayoritas informasinya masih dalam bentuk laporan manual. dan gagasamanajemen terhadap sistem yang digunakan juga sangat diperlukan. Edisi II. Prentice Hall. Telkom Training Center dan Wahana Kendali Mutu. Masing-masing penanggung jawab wilayah data menuangkan variabel informasinya dalam bentuk informasi yang terstandar menjadi bentuk database. Moss. Knowledge management yang sudah ada terus dikembangkan dan disentralisir dalam wadah aplikasi business intelligence untuk memudahkan evaluasi serta update informasi-informasi terbaru yang terus berkembang. O Brien. 2. 12th ed. CHIP Magazine. 2005. Introduction to Information Systems. Catur. Bunga Rampai Kriteria Bisnis Malcolm Baldrige National Quality Award (MBNQA). 10. Iskandar.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . Leman. dan implementasi sistem lalu selanjutnya pemeliharaan sistem untuk percepatan implementasi business intelligence RS DS. Ketaatan input data karyawan disertakan dalam sistem remunerasi yang saat ini sudah berjalan. Mc Leod. 4 Desember 2007 . Melibatkan pemakai akhir dari mulai untuk menentukan persyaratan fungsional untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam implementasi sistem. McGraw-Hill. 3. Bagi informasi yang ketersediaan datanya masih dalam bentuk file non database. Shaku. Vol. No. Elex Media Komputindo. Management Information System. Gambar 1 . New Jersey. 6. Metodologi Pengembangan Sistem Informasi.

Meanwhile. Jenis penelitian ini adalah obeservasi dengan pendekatan cross sectional study. serta lambatnya penurunan kedua angka tersebut.0%). giving training continuously to all midwives. a midwife must have the high motivation which drives them to give the better service to patients.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No.3%). Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. adequate skill (83. Results and Conclusion: Knowledge. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 195 . 4 Desember 2007 195 . motivation. waktu kerja sekitar lima tahun (71. Participants obtained were 32 respondents. 307/100. the head of Puskesmas is better to do the continuously observation about the filing of report format and the using of equipment. keterampilan cukup (83. No. Kata Kunci: pengetahuan. Sementara jam kerja tidak berhubungan dengan kinerja bidan.1 Negara kita AKI masih menduduki urutan tertinggi di negara ASEAN.4%) dan motivasi cukup (91. Nurhamsa Mandak2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. The type of this research is observational research by using the cross sectional study approach. Sample were all the midwives staff giving the midwifery service and working at Puskesmas Tual and Un at the Sub District of South Dullah Island. Nevertheless. kinerja ABSTRAK Latar belakang: Program penempatan bidan desa pada umumnya dipengaruhi oleh kemampuan dan keterampilan bidan desa itu sendiri. Seorang bidan harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kebidanan khususnya yang diperoleh dari pendidikan baik formal maupun non formal seperti pelatihan. work time about five years (71.3%). Makassar 2 Puskesmas Tual.4%) and adequate motivation (91. Therefore a midwife has to have adequate knowledge about the midwifery particularly obtained from the formal and non formal education. performance pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada pasien. Maluku Tenggara 1 ABSTRACT Background: The placement program of village midwives is mostly influenced by the capability and skill of village midwives. South East Maluku regency for year 2006. and the health office at district must provide the minimal kit midwives. sedangkan AKB di Indonesia sebesar 35/1000 kelahiran hidup dan yang terendah adalah Singapura yaitu 3/l00 kelahiran hidup. the work time didn’t have correlation with the midwives performance. Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006. Namun demikian. seorang bidan harus mempunyai motivasi yang tinggi yang mendorong mereka dapat memberikan PENGANTAR Masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan masalah nasional yang perlu mendapat prioritas utama karena sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pada generasi mendatang. work time.000 kelahiran hidup pada tahun 2002. such as training. South East Maluku Regency for year 2006. kepala Puskesmas sebaiknya melakukan observasi secara regular. Kepada Kepala Dinas kesehatan diminta untuk menyediakan kit bidan agar dapat menjalankan tugas mereka lebih baik.200 Artikel Penelitian DETERMINAN KINERJA BIDAN DI PUSKESMAS TAHUN 2006 DETERMINANT OF MIDWIVES PERFORMANCE AT PUBLIC HEALTH CENTRE AT 2006 Sukri Palutturi1. keterampilan dan motivasi mempunyai hubungan dengan kinerja bidan. 10. Nurhayani1.3%).3%). menunjukkan bahwa pelayanan KIA sangat mendesak untuk ditingkatkan baik dari segi jangkauan maupun kualitas pelayanannya. Keywords: knowledge. keterampilan. giving incentive/rewards to them by the head of Puskesmas to improve their performance. skill. Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006. Rekomendasi: Penelitian ini menyarankan bahwa untuk meningkatkan pengetahuan bidan tentang penggunaan alat dan sistem pelaporan. jam kerja. Metode: Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bidan yang bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan. Sample adalah keseluruhan dari jumlah populasi sebanyak 32 orang. South East Maluku Regency for year 2006. Vol. Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).0%). Methods: Population of this research were all the midwives staff working at Puskesmas Tual and Un at the Sub District of South Dullah Island. memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengikuti pelatihan secara terus menerus serta memberikan insentif untuk meningkatkan kinerja bidan. motivasi. Hasil dan Kesimpulan: Pengetahuan. The good performance of midwives were caused by the sufficient knowledge (84. The objective of this research is to determine factors correlating with the midwives performance at Puskesmas of South Dullah Island Sub District.2 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kinerja bidan yang baik dipengaruhi oleh pengetahuan yang cukup (84. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja bidan di Puskesmas Kecamatan Pulau Dullah Selatan. Recommendation: The research suggests that to improve the knowledge of midwives about the equipment use and reporting their task. skills and motivations correlate with the performance of midwives.

Peningkatan kesehatan ibu dan bayi di Indonesia adalah salah satu komitmen Departemen Kesehatan melalui penerapan rencana pengurangan angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi dan target untuk menurunkan AKI dari 307/100.000 kelahiran hidup menjadi 225/100. dan AKB terbanyak di Kabupaten Maluku Tenggara sebanyak 45/kelahiran hidup dengan cakupan KI 27. penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia yaitu indera penglihatan. Oleh karena itu.408 atau 62% dan Fe3 2871 atau 52% cakupan TT1 3.719 atau 80% dan TT2 22. 4 Desember 2007 . Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga baik melalui pendidikan formal maupun non formal.000 kelahiran hidup. penciuman rasa dan raba. Vol.829 atau 62%.Untuk itu diperlukan tenaga bidan yang memiliki kualitas profesional yang dapat memberikan pelayanan kebidanan yang efektif dan efisien serta berkualitas yang akhirnya dapat membantu memperbaiki dan meningkatkan kesehatan masyarakat dengan berorientasi pada upaya-upaya pencegahan baik pencegahan primer. sehingga dengan demikian dapat memberikan dampak yang positif sesuai dengan bidang ilmu yang dimilikinya.5 Di Kabupaten Maluku Tenggara yang terdiri dari 17 puskesmas dengan cakupan K1 3.000 kelahiran hidup menjadi 20/1000 kelahiran hidup. pendengaran.72%) dan K4 (75. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan merupakan sekumpulan bahan yang luas dengan hal-hal yang terperinci yang tetap dipelajari sebelumnya serta mengingatkan hal tersebut sebagai bahan yang sudah diketahui. dan AKB menjadi 15/1000 kelahiran hidup. dkk. cakupan tablet Fel (77. Di 196 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek.719 atau 80% dan Fe3 22. AKB pada tahun 2005 sebanyak 82/100.3 Penempatan bidan di desa adalah upaya untuk menurunkan AKI. dan cakupan TT 1 (85.408 atau 62% dan cakupan TT2 2871 atau 52%. seorang bidan harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai keperawatan khususnya kebidanan baik yang diperoleh melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal. No.2 Salah satu upaya yang dilakukan Departemen Kesehatan dalam mempercepat penurunan AKI adalah mendekatkan pelayanan kebidanan kepada setiap ibu yang membutuhkannya.4 Jadi pengetahuan dapat diartikan sebagai hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan pada objek tertentu. 10.829 atau 62% cakupan TT1 27. Selain itu seorang bidan juga harus memiliki motivasi yang tinggi sehingga timbul dorongan dalam dirinya untuk memberikan pelayanan kebidanan yang baik kepada pasien.5 Berdasarkan laporan yang ada pada Dinas Kesehatan di Provinsi Maluku dari 5 Kabupaten Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2005 sebanyak 36/100. bayi dan anak balita. Seseorang bidan dituntut untuk menggunakan kemampuan dalam berbagai aspek kehidupan khususnya dalam memberikan pelayanan pada pasien.45%).000 kelahiran hidup dan AKB dari 35/100. Untuk itu diperlukan suatu instrumen untuk memantau kinerja bidan di desa. seperti pelatihan.6 (Profil Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara). Tindakan (KI-K4) yang diberikan oleh petugas kesehatan (bidan) pada saat pemeriksaan kehamilan seorang ibu di pusat pelayanan kesehatan (puskesmas) akan banyak berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya karena dengan pemeriksaan yang lengkap akan mudah mendeteksi kelainan . Secara nasional tahun 1999 K1 (92. Kesehatan ibu hamil dapat dicapai bila kehamilan diperiksa secara teratur dan risiko yang ditemukan ditangani secara memadai.000 kelahiran hidup tahun 2015..120 bidan di desa.10%). Masih tingginya AKB dan AKI menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan masih belum memadai dan belum menjangkau masyarakat banyak. Keberhasilan program penempatan bidan di desa sangat dipengaruhi kemampuan dan keterampilan bidan di desa di samping faktor lingkungan dan faktor kebutuhan masyarakat itu sendiri.829 atau 62% cakupan Fe1 27.000 kelahiran hidup.66%). sedangkan target Internasional AKI di bawah 125/100.kelainan yang mungkin terjadi pada saat kehamilan atau menjelang kelahiran.47%)dan Fe3 (63. Namun bidan di desa yang sudah ditempatkan belum didayagunakan secara optimal dalam upaya menurunkan AKI dan AKB.Sukri Palutturi. disiplin dan motivasi tenaga bidan yang tinggi dalam pelayanan kebidanan bagi masyarakat merupakan harapan bagi semua pengguna pelayanan kebidanan.sekunder dan tertier. Untuk itu sejak tahun 1990 telah ditempatkan bidan di desa yang pada tahun 1996 telah mencapai target 54.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas .10%) dan TT2 (78.1 Keberhasilan seseorang dalam mewujudkan tujuan dan harapannya sangat ditentukan oleh masa kerja yang dimiliki. khususnya dipedesaan..719 atau 80% dan K4 22. dan AKI terbanyak di Kabupaten Maluku Tenggara sebanyak 10/kelahiran hidup. standar untuk cakupan Kl yaitu minimal 90% dan K4 minimal 80%. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa hampir semua desa di wilayah Indonesia mempunyai akses untuk pelayanan kebidanan.000 kelahiran hidup tahun 2005 dan 75/100.408 atau 62% dan K4 2871 atau 52% cakupan Fel 3. Selain itu.

7%) memiliki kinerja kurang. masa kerja. Hal ini berarti ada hubungan antara pegetahuan dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. motivasi dan kinerja bidan di Puskesmas Tual dan Un Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.3%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (85. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan antenatal belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Data sekunder diperoleh dari laporan cakupan program KIA (PWS KIA) Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.05 ) maka Ho ditolak. Hubungan keterampilan dengan kinerja bidan Tabel 2 menunjukkan dari 24 responden (75. Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan pada Puskesmas Tual dan Un Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara dengan pertimbangan belum pernah dilakukan penelitian tentang kinerja tenaga bidan di lokasi tersebut. untuk cakupan pemeriksaan ibu hamil atau KI sebesar 70. Kedua: deskriptif variabel penelitian yaitu variabel independen mengenai pengetahuan. Sampel adalah semua tenaga bidan yang melakukan pelayanan kebidanan dan bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006. A.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kecamatan Pulau Dullah Selatan (Puskesmas Tual dan Un).8 10 31. Besar sampel sebanyak 32 responden bidan dengan menjawab pertanyaan yang diberikan pada kuesioner. sedangkan dari 7 responden dengan pengetahuan yang kurang terdapat 1 responden (14. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kinerja tenaga bidan dalam pelaksanaan standar pelayanan kebidanan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan tahun 2006. Vol.10% dan cakupan Fe 3 65% sedangkan cakupan TT 1 70.3 Total n 25 7 32 % 78.0%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (16. sedang dari 8 responden dengan keterampilan kurang Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.3 6 85.000 ( p< 0. Tabel 1. Ketiga. Pengolahan dan penyajian data Pengolahan data dilakukan dengan cara elektronik. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0. No.7%) memiliki kinerja kurang.7 22 68.1%) dengan pengetahuan yang cukup terdapat 21 responden (84. yaitu dengan menggunakan komputer (program SPSS versi 11.14% dan cakupan K4 65%.9 100 Sumber : Data Primer B. Cakupan K1 ini dapat menggambarkan tingkat upaya kesehatan ibu dan anak dan perilaku kesehatan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya. Penelitian dilaksanakan mulai bulan April 2006 sampai dengan bulan Mei 2006.0%) dengan keterampilan yang cukup terdapat 20 responden (83. Untuk lebih memperjelas hasil pemaparan penelitian maka dibagi dalam tiga bagian yaitu pertama: karakteristik responden untuk mendeskripsikan karakteristik responden yaitu tingkat pendidikan dan umur.0 1 14. Penyajian data yang telah diolah.0 4 16. cakupan Fe l 60.1 21.14% dan cakupan TT2 65%. keterampilan. Total sampel yang diperoleh sebanyak 32 bidan.5). masa kerja dan motivasi dan variabel dependen yaitu kinerja. Metode pengumpulan data Data ini diperoleh dengan cara observasi atau pengamatan terhadap kegiatan pemeriksaan ibu hamil yang dilakukan oleh tenaga bidan. Hubungan pengetahuan dengan kinerja bidan Tabel 1 menunjukkan dari 25 responden (78. 10. 4 Desember 2007 197 . Hasil dari penelitian diuraikan pada tabel dan penjelasan berikut.0%) memiliki kinerja kurang. Populasi dan sampel Populasi adalah semua tenaga bidan yang bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006 dengan total sampel sebanyak 32 bidan. keterampilan. tabulasi silang antara variabel independen dengan variabel dependen. dilakukan dalam bentuk cross tabel dan narasi.3%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (16.7 Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan pendekatan Cross Sectional Study7 untuk mengetahui hubungan pengetahuan. Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 Pengetahuan Cukup Kurang Total Kinerja Baik Kurang n % n % 21 84. di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.

0 6 75. Hasil penelitian menunjukkan dengan pengetahuan yang baik sebanyak 21 bidan (84.7 2 25.05) maka Ho ditolak. dkk.Sukri Palutturi. Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006 Masa Kerja (Tahun) Lama (> 5 tahun) Tidak Lama (< 5 tahun) Total Kinerja Baik n 15 7 22 % 71.0%) yang mempunyai kinerja kurang. khususnya setelah diberikan pendidikan formal maupun non formal. 1.652 (p> 0.4 63.0%) yang memiliki kinerja yang baik sedangkan dengan pengetahuan yang kurang menyebabkan 4 bidan (16.0 100 Sumber : Data Primer C. sedang dari 11 responden dengan masa kerja yang tidak lama terdapat 7 responden (63.3%) memiliki kinerja baik dan 2 responden (8. Hasil penelitian terhadap kinerja bidan pada bagian sebelumnya memberikan acuan untuk membahas keempat faktor tersebut terhadap kinerja.6 68. Hal ini berarti ada 198 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan..3 Total n 24 8 32 % 75.1 Total 22 68.6%) memiliki kinerja kurang.000 (p< 0.0 25. sedang dari 9 responden dengan motivasi yang kurang terdapat 1 responden (11.002 ( p< 0.3 4 16.9 9 28.6%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (36.1 8 88. Pengetahuan dengan kinerja bidan Pengetahuan adalah apa yang diketahui dan mampu diingat oleh setiap orang setelah mengalami. tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral atau pun etika.8 10 31. Dalam penelitian ini. Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas . Tabel 4.8 Kurang n % 6 4 10 28. No.4%) memiliki kinerja kurang.6 34. Hasil uji statistik menunjukan bahwa ada hubungan antara Sumber : Data Primer d.9%) dengan motivasi yang cukup terdapat 21 responden (91. terdapat 2 responden (25. Hubungan masa kerja dengan kinerja bidan Tabel 3 menunjukkan dari 21 responden (65. 4 Desember 2007 .4 100 PEMBAHASAN Kinerja adalah penampilan hasil kerja personal baik kualitas maupun kuantitas dalam suatu organisasi.8 10 31. Hal ini berarti ada hubungan antara keterampilan dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.0%) memiliki kinerja kurang.7%) memiliki kinerja kurang.6 36. faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja meliputi faktor individu keterampilan. sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing.9%) memiliki kinerja kurang. dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal.4 31.9 Kinerja seseorang terkait erat dengan proses kerja dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hubungan motivasi dengan kinerja bidan Tabel 4 menunjukkan dari 23 responden (71.0 22 68.1%) memiliki kinerja baik dan 8 responden (88. faktor organisasi yang terdiri dari: kepemimpinan dan struktur imbalan/kompensasi serta faktor-faktor psikologis yang meliputi: motivasi dan kepuasan kerja. Tabel 2. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.3 2 8.05 ) maka Ho ditolak. Hubungan Motivasi dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 Kinerja Total Motivasi Baik Kurang n % n % n % Cukup 21 91. adanya motivasi yang kuat merupakan pendorong yang memadai serta adanya kepemimpinan dan bidan itu sendiri.6%) dengan masa kerja yang lama terdapat 15 responden (71. Pembahasan lebih lanjut sebagai berikut. Vol. mengamati atau diajar sejak lahir sampai dewasa.3 n 21 11 32 Total % 65.9 Kurang 1 11.0%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (75.3 32 100 Sumber : Data Primer Keterampilan Cukup Kurang Total Kinerja Baik Kurang n % N % 20 83. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0. Untuk kinerja bidan maka faktor yang paling berpengaruh dan merupakan faktor kunci untuk mencapai hasil kerja yang baik harus memiliki kemampuan dan keterampilan yang baik. Hal ini berarti tidak ada hubungan masa kerja dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.05) maka Ho diterima. Hubungan Keterampilan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 hubungan antara Motivasi dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. 10. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.7 23 71.4%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (28. menyaksikan.. Tabel 3.

dibanding dengan bidan yang telah bekerja kurang dari 5 tahun (63. Saran Diharapkan kepala Dinas Kesehatan Kabupaten untuk memberikan pelatihan secara kontinyu kepada semua bidan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pulau Dullah Selatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan bidan dalam menerapkan standar pelayanan kebidanan yang baik. kemudian selama <5 tahun sebanyak 11 responden (34. 10. Hasil penelitian menunjukkan dari 21 bidan yang masa kerja lama sebanyak 15 bidan (71. Vol. Pengadaan minimal bidan kit kepada semua bidan yang bertugas oleh Dinas Kesehatan sehingga bidan dapat melaksanakan standar pelayanan kebidanan dengan baik. dan kesukaan) yang menimbulkan dorongan atau semangat untuk bekerja keras.3%) dibanding keterampilan kurang (25.4%) dengan kinerja baik dan sebanyak 6 responden (28.11.4%). Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki pengetahuan cukup (84. Diharapkan Kepala Puskemas untuk melakukan pemantauan secara berkala terhadap bidan tentang pengisian format laporan dan penggunaan peralatan serta cara pelayanan dalam menggunakan standar pelayanan kebidanan. 3. Bidan yang mempunyai kinerja baik lebih banyak memiliki motivasi cukup (91. Hal ini disebabkan pelatihan memiliki arti yang luas bahwa sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan SDM terutama di dalam hal pengetahuan.0%).14 Hasil penelitian menunjukkan dengan motivasi yang baik sebanyak 21 bidan (91. Motivasi dengan kinerja bidan Motivasi adalah kesiapan khusus seseorang untuk melakukan atau melanjutkan serangkaian aktivitas yang ditujukan untuk mencapai beberapa sasaran yang telah ditetapkan. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki keterampilan cukup (83.12 Hasil penelitian menunjukkan dengan keterampilan bidan yang baik sebanyak 20 bidan (83. Keterampilan dengan kinerja bidan Menjalankan tugas dan tanggung jawab secara profesional dengan melaksanakan fungsi sebagai bidan menuntut suatu keterampilan sebagai bidan yaitu merencanakan asuhan keperawatan sesuai dengan hasil pengkajian kebutuhan dan masalah keperawatan kebidanan. kebutuhan.3%) dibanding yang memiliki motivasi kurang (11. memperbaiki. dan mereka dapat menampilkan kinerja yang baik pula. akan bekerja lebih terarah. 4. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara motivasi dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. harapan. Dari hasil penelitian diperoleh distribusi terbesar sebagian besar responden telah bekerja =5 tahun sebanyak 21 responden (65.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pengetahuan dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara 2. lebih lancar dalam melaksanakan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.3%) yang memiliki kinerja baik dan dengan motivasi yang kurang terdapat 2 bidan (8. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara keterampilan dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.4%). Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara massa kerja dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.6%) dengan kinerja yang kurang.7%) memiliki kinerja kurang.6%).7%) memiliki kinerja kurang. Agar Kepala Puskesmas memperhatikan pemberian insentif kepada semua bidan dan penghargaan kepada bidan yang mempunyai prestasi sehingga dapat menjadi salah satu pemicu peningkatan kinerja mereka. Akan halnya motivasi kerja adalah sesuatu hal yang berasal dari internal individu (keinginan. Masa kerja bidan tidak berhubungan dengan kinerja bidan. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki Masa kerja hampir sama antara yang telah bekerja selama 5 tahun atau lebih (71. kemampuan dan keterampilan. Motivasi berhubungan dengan kinerja bidan.3%) memiliki kinerja yang baik sedangkan dengan keterampilan yang Baik sebanyak 4 bidan (16. 10.13.3%) dibanding pengetahuan kurang (14.1%). Masa kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah khusus pelatihan tentang standar pelayanan kebidanan. 4 Desember 2007 199 . meningkatkan dan mengembangkan kemampuan personil dalam jangka waktu relatif singkat yang mengutamakan pengetahuan praktis sehingga personil dapat melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.6%). KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pengetahuan bidan berhubungan dengan kinerja bidan.3%). Masa kerja dengan kinerja bidan Masa kerja merupakan suatu proses pendidikan formal untuk mengubah. No. Dari hasil penelitian menunjukkan bidan yang telah mengikuti pelatihan yang sesuai dengan tugasnya sehari-hari. Keterampilan bidan berhubungan dengan kinerja bidan.

Yogyakarta. Jakarta: 1999. 4 Desember 2007 . Maluku Tenggara. Metodologi penelitian kesehatan.. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan. Alfabeta.T. Ilyas. Kode etika kebidanan. 10. Metode Penelitian Administrasi. diakses pada 3 Maret 2006 di http:// www. Sugiono. Jakarta. Bali.Sukri Palutturi. Penelitian). 14. 2005. Kebijakan Kinerja Karyawan.gizi. 9. Jakarta. Cetakan II. 13. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan Depok. Bandung. 10. 1994.cgi?newsid 1087441546. Depkes RI. Gizi Net. RI. Depkes RI. Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara.net/cgi-bin/berita/fullnews. Rineka Cipta. Thabrany H. Menekan angka kematian ibu dan anak. Jakarta. 2001. 7. 2000. IBI. Panduan Bidan di Desa Bagian I & II. 6. Depkes.40265. No. Y. 1999. Cetakan I. S. Puskesmas Tual dan Un. FKMUI. 2005. cetakan kedua. Prawirosentono. 2003. Notoadmojo. Kinerja (Teori. Jakarta. 1999. 12. Profil Kesehatan Indonesia. Depok.. Panduan Kesehatan dan Alternatif Mobilisasi Dana Kesehatan di Indonesia. Ikatan Bidan Indonesia. Penelitian). 2005. 4. Y. 11. KEPUSTAKAAN 1. Profesi Kebidanan. Maluku Tenggara. 8. Panduan Bidan Tingkat Desa. Penilaian. S. P. 200 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. dkk. Kinerja (Teori. 2. Jakarta. 1999. 5. Jakarta. Mei 1999.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas . FKMUI. 3. 1999. Penilaian. Profil Puskesmas Tual dan Un. Profil Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara. Ilyas.

kebijakan dan advokasi. Aktivitas keempat adalah memasang penaksiran tim beserta tanggung jawab dari masing-masing personil dari tim. Kegiatan selanjutnya adalah mempersiapkan penaksiran anggaran. Bab 2. Bahasan kedua dan ketiga merupakan komponen dari modul utama.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 10 No. Aktivitas ketujuh adalah mengumpulkan dan mereview materi latar belakang. Aktivitas kelima adalah menyiapkan ceklis logistik. merupakan pengantar yang mengulas mengenai pengenalan terhadap kekuatan sistem kesehatan. SDM kesehatan. Bab ini terdiri dari empat pokok bahasan. Bahasan keempat menjelaskan mengenai sumber daya manusia dan sumberdaya fisik lainnya. Phase 2. Phase 1. Bab ini terdiri dari tiga sub bahasan. membahas mengenai persiapan dan implementasi bagian pengesahan. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan pertama merupakan pengantar.202 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Buku Pengarang Penerbit Tahun Tebal : : : : : Health Systems Assessment Approach : A How to Manual USAID Mursaleena Islam 2007 374 halaman B uku ini terdiri dari 11 bab. Bab ini terdiri dari dua belas sub bahasan. 10. kerangka waktu. yaitu bahasan pertama merupakan pengantar mencakup definisi sistem Kesehatan dan penguatan sistem kesehatan. menguraikan mengenai tinjauan pendekatan yang digunakan. Bahasan kelima menjelaskan mengenai manajemen dan organisasi untuk pelayanan kesehatan. Dalam bab ini dibahas tujuh sub pokok bahasan. Phase 4. membahas mengenai modul utama. Bab ini terdiri dari lima sub bahasan. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan kesimpulan awal untuk masing-masing modul. Penggunaan bahasa yang mudah dimengerti. dan penilaian terhadap penentuan waktu. konsep yang sejalan dengan WHO dan disertai contoh-contoh aplikasi sistem kesehatan di beberapa negara menjadikan buku ini sangat mudah dipahami dan aplikatif. Komponen Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Bahasan ketiga menguraikan mengenai tinjauan terhadap modul teknis dan bahasan terakhir menguraikan mengenai hasil yang diharapkan dari penilaian. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan penyusunan beberapa rekomendasi. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan rekomendasi melalui penilaian modul. No. Aktivitas kedelapan adalah menyiapkan daftar contact person dan daftar narasumber untuk melakukan wawancara. Vol. Bab 5. Aktivitas kesembilan adalah mengatur menyiapkan workshop dengan stakeholder terkait. Masing-masing fungsi sistem kesehatan ini diuraikan di masing-masing bab secara lebih detil. Konsep yang digunakan dalam buku ini juga sejalan dengan apa yang digunakan oleh WHO terhadap konsep sistem kesehatan. 04 Desember 2007 Halaman 201 . Aktivitas terakhir adalah menyiapkan laporan penilaian. Bahasan keenam memaparkan mengenai sistem informasi kesehatan. Bab 1. Aktivitas kesepuluh adalah melakukan wawancara akhir sesuai kebutuhan. 4 Desember 2007 201 . Bahasan kedua menguraikan mengenai stewardship (dalam hubungannya dengan pemerintahan). Aktivitas keenam adalah membuat jadual dan menyusun rencana pertemuan dengan tim. Secara umum buku ini memaparkan mengenai alat (tools) dalam penilaian cepat terhadap fungsifungsi kunci sistem kesehatan mencakup: pemerintahan. membahas mengenai perencanaan dan penyusunan penilaian. Bahasan kedua dan keempat merupakan tahapan dalam pengembangan rekomendasi. Bahasan kedua sampai kedua belas merupakan latihan atau kegiatan. Bahasan kedua memaparkan mengenai kerangka kerja konseptual dalam pendekatan penilaian sistem kesehatan. Bahasan pertama merupakan pengantar. Phase 3. Bab 3. Bahasan ketiga menguraikan mengenai pembiayaan kesehatan. membahas mengenai penemuanpenemuan final dan rekomendasi dari beberapa penilaian laporan. pelayanan kesehatan. manajemen farmasi dan perbekalan kesehatan serta sistem informasi kesehatan. Kegiatan yang dimaksud mencakup 11 kegiatan yaitu : mengidentifikasikan kebutuhan dan prioritas dari misi USAID. Bahasan terakhir menjelaskan mengenai strategi dalam penguatan sistem kesehatan beserta implikasinya. Bab 4. pembiayaan kesehatan. kesepakatan terhadap ruang lingkup.

kelembagaan lembaga pemerintah dan kelembagaan swasta yang terkait dengan sistem pelayanan kesehatan. Bab ini terdiri dari 4 sub pembahasan. Pada bagian akhir. 10. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. Bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil pembiayaan kesehatan. Bahasan pertama merupakan pengantar. memaparkan mengenai modul manajemen yang berkaitan dengan farmasi. Bab 7. Karena di dalam buku ini dikupas secara detil dan jelas komponen demi komponen pembentuknya. Bab 6. angka kematian. Pembahasan pertama mengenai pengantar. Bab 10. Bab 9. Selanjutnya yang termasuk dalam komponen kedua ini adalah desentraliasi. No. akademisi dan pengajar terkait dengan seluk-beluk mengenai sistem kesehatan dan komponen pembentuk sistem. Rimawati (Divisi Public Health Policy) rima_mhugm@yahoo. Bahasan ketiga membahas mengenai penilaian berdasarkan indicator.Resensi pertama memuat mengenai : pertambahan penduduk. membahas mengenai modul pemerintahan. bahasan kedua menjelaskan mengenai penyusunan profil sistem informasi kesehatan. Bahasan ketiga menjelaskan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. lingkungan bisnis dan suasana investasi. penyebab utama mortalitas dan morbiditas. bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil sumberdaya manusia. pemetaan donor/pemberi dana serta keterkaitan dari masing-masing donor atau pemberi dana. kelembagaan pelayanan kesehatan. Sub bahasan terkhir menjelaskan mengenai kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi terkait mengenai sistem informasi kesehatan. membahas mengenai modul sumber daya manusia kesehatan. Bab ini terdiri dari empat sub pokok bahasan. Bahasan ketiga menguraikan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan bahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Bahasan ketiga mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir mengenai kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. kesehatan reproduktif. Bab 8. konsultan. pendapatan dan ketidak adilan. Bahasan kedua menjelaskan mengenai penyusunan profil pemerintahan. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. peneliti. Sementara komponen kedua memuat mengenai: politik dan lingkungan makroekonomi. membahas mengenai modul pelayanan kesehatan. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. Vol. 4 Desember 2007 . Bahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan pertama merupakan pengantar. menguraikan mengenai modul sistem informasi kesehatan. Pembahasan pertama merupakan pengantar. Sub bahasan pertama merupakan pengantar.com 202 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pembahasan kedua penyusunan profil mengenai manajemen farmasi. Bahasan ketiga menjelaskan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Secara keseluruhan buku ini sangat bagus sekali sebagai tambahan bahan referensi bagi pakar. membahas mengenai modul pembiayaan kesehatan. Bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil pelayanan kesehatan. yaitu Bab 11. Bahasan ketiga menguraikan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan bahasan terakhir merupakan kesimpulan dan beberapa penyusunan rekomendasi.

10/No.2 Therefore 'placement' is related to place or location (such as urban and rural). Their willingness will differ from living in outside of West Java or within West Java. the state of being placed. but its problem is that the local governments have different ability to finance their region including salary staff. The other definition 'assignment' means the instrument by which a claim or right or interest or property is transferred from one person to another. the local government has an important role in medical doctor placement including non-permanent personnel. 2008 from http://dictionary. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1540/Menkes/SK/XII/2002 tentang Penempatan Tenaga Medis melalui 216 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. That is normal because they do not have any guaranty to get well income. Moreover on districts/cities having income is low. or whether 64. 1540/Menkes/SK/XII/2002 regarding the placement of medical workforce through service period and other schemes there are two types of non. That means this problem still need better attention either the central government or the local government.bnet. hospital for disaster aid (article 12). proposed the local government and states that they are not able to nominate non-permanent personnel. Others become the local government's responsibility. whether 64. stated that the income covers main salary.com/definition/assignment 2.2% of females who is unwilling to extend their contract are people living in outside of West Java or within West Java. and attendance at monthly meeting has greater coverage than non-contracted group. allowance for doctors placed in remote and very remote area. some doctors prefer for doing private doctor or other businesses. incentive or salary is also one reason why among non-permanent doctors are unwilling to extend their contractual period. Probably. the act of locating or positioning. & Deni Kurniadi Sunjaya in the Journal of Health Service Management. Medical doctors nominated by central government are only undertaken in particular rural and remote area. retrieved April 13. Vol.217 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo. 2/Juni/2007 I prefer to use "placement" or "deployment" in non-permanent contractual placement than non-permanent contractual assignment. Issue relating to non-permanent contractual placement among medical doctor does not become current issue anymore although nowadays this problem still happens. 'Assignment' means "an undertaking you have been assigned to do (as by an instructor).com/definition/ placement.3 Although in the article 7 stated that income or salary for non-permanent personnel is allocated by the central government. 10. Incentive has a significant role to raise their performance. 4 Desember 2007 .4 This study will be better if the individual background of non-permanent doctors is retested to determine. 2008 from http:// www.1 Therefore 'assignment' is related to task. 'placement' means the act of placing or putting in place. I agree with writers that in decentralization era.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 10 No. Vol. allowance for tax income. Meanwhile. 04 Desember Korespondensi 2007 Halaman 216 . Placement and assignment are 2 words having different meaning.com PREDICTING WILLINGNESS TO EXTEND CONTRACTUAL ASSIGNMENT AMONG MEDICAL DOCTOR IN WEST JAVA Written by Irvan Arfandi. A research conducted shows that hospitalists Appling incentive system such as incentive for meeting standard. for instance. incentive and other allowances.permanent personnel: selected by the central government and the local government in district/city/provincial government (article 8). This study mentions that is only one third of all nonpermanent personnel among medical doctor want to extend their contractual period. medical record within 12 hours. allowance as non-permanent personnel.2% of females who is unwilling to extend their contract are people getting married or still single. Elsa Pudji Setiawati. In addition.com English Dictionary. Therefore.wordreference. These will affect the willingness to extend their contract. WordReference.html 3. Nita Arsanti. BNET Business Dictionary. No. retrieved April 13. As cited for instance in Health Minister Decree of Republic of Indonesia No. References: 1. provincial/ district/city region with high potencies to get conflict.

com Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. Use of Pay for Performance in a Community Hospital Private Hospitalize Group: A Preliminary Report. 4 Desember 2007 217 .. Sukri Palutturi Health Policy and Administration Department Faculty of Public Health Hasanuddin University Email: sukri_tanatoa@yahoo. 1540/ Menkes/SK/XII/2002 regarding the placement of medical workforce through service period and other schemes). No. 10.U. (2007). masa Bakti dan Cara Lain (Health Minister Decree of Republic of Indonesia No. Collier. V.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 4. Philadelphia: The American Clinical and Climatological Association.

Hanevi Djasri Artikel Penelitian Pengetahuan. 4 Desember 2007 205 . Persepsi. A. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 205 .214 Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. dan Pelaksanaan Manajemen Risiko Klinis di Lima Rumah Sakit di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Banten Tahun 2005 Arjaty Daud. A. No. Sukri. Mubasysyir Hasanbasri Resensi Buku Redefining Health Care: Creating Value-Based Competition on Results Trisasi Korespondensi Koordinasi Lintas Sektoral pada Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi di Kabupaten Sleman Chriswardhani Suryawati 01 03 11 20 29 40 46 52 53 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. 10/NO 01/MARET/ 2007 Editorial Memperbesar Peran Ahli Kebijakan dan Ahli Manajemen Pelayanan Kesehatan di Indonesia Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit sebagai Persyaratan Badan Layanan Umum dan Sarana Peningkatan Kinerja Tjahyono Kuntjoro. Sri Suryawati Survei Pasar Jaminan Kesehatan Sosial Bali A. Purnawan Junadi Pengaruh Penyerahan Dana dan Pengelolaan Asuransi Kesehatan Sepenuhnya Kepada Puskesmas Terhadap Efisiensi Pengadaan dan Mutu Penggunaan Obat Neti Viperiati. 10. Dumilah Ayuningtyas. Vol. A. Nirmala Trisna. Gde Muninjaya Budaya Organisasi dan Mindset Petugas Penanggulangan Tb Paru Melalui Strategi Dots di Puskesmas Labibia Kota Kendari Asiah Hamzah. I. Laode Bariun Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survai Sosial Ekonomi Nasional 2001 Jati Untari.

Julita Hendrartini Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah Shinta Wardhani Suryanegara.Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. Wiku Adisasmito Efisiensi Pemanfaatan Rumah Sakit Umum Daerah di Provinsi Sumatera Barat dengan Data Envelopment Analysis Asmaliza. Vol. Adi Utarini Implementasi Posyandu dan Supervisi oleh Puskesmas di Pontianak Yuliastuti Saripawan. 10/NO 02/JUNI/ 2007 Editorial Kebijakan Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin: Saatnya untuk Melakukan Evaluasi Menyeluruh Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Pendekatan Sistem dalam Perencanaan Program Daerah Mubasysyir Hasanbasri Artikel Penelitian Evaluasi Praktik Donasi Obat Pascatragedi Bom Bali Ida Prista Maryetty. Ali Gufron Mukti. Sri Suryawati Analisis Besaran Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali I Gede Santabudi Samba. No. 10. Anis Fuad. Mubasysyir Hasanbasri Resensi Buku Know How: The 8 Skills That Separate People Who Perform From Those Who Don’t Putu Eka Andayani Korespondensi Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah Rimawati 55 56 64 72 79 85 90 98 101 206 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 4 Desember 2007 .

10/NO 03/SEPTEMBER/ 2007 Editorial Situasi Survailans yang Belum Menggembirakan Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Cost Effectiveness Analysis dalam Penentuan Kebijakan Kesehatan: Sekedar Konsep atau Aplikatif? Ari Probandari Artikel Penelitian Evaluasi Continuous Quality Improvement (Cqi) di Rumah Sakit yang Mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu Iso 9000 di Indonesia Chatila Maharani. Sri Suryawati Pengembangan Proses Verifikasi Pra-Operasi untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Rizaldy Pinzon Kajian Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Making Pregnancy Safer di Daerah Miskin Pedesaan Oktarina. Tjahjono Kuntjoro. Hanevi Djasri Proses Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja di Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2006 Durachman. Deni Kurniadi Sunjaya Perbandingan Efisiensi dan Efektivitas Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan dengan Lelang. 4 Desember 2007 207 .Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS DAFTAR ISI VOL. No. Elsa Pudji Setiawati. 10. Penunjukan Langsung. Vol. dan Kemitraan Sri Winarni. Ristrini Resensi Buku Getting to Yes: Teknik Berunding Menuju Kesepakatan Tanpa Memaksakan Widya Febryanti Korespondensi Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survei Sosial Ekonomi Nasional 2001 Deni Harbiyanto 103 104 108 117 124 132 143 148 154 156 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Nita Arisanti. Sunartono. Julita Hendrartini Predicting Willingness to Extend Contractual Assignent among Medical Doctors in West Java Irvan Afriandi.

Pembelajaran Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Evie Sopacua. Yodi Mahendradhata. No. Vol. Didik Budijanto Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Misnaniarti Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Raditya asri wisuda. 10 /NO 04/DESEMBER/ 2007 Editorial Kebijakan Contracting Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: Dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik) Siswanto Artikel Penelitian Dampak Kemitraan Praktisi Swasta Terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar. Nurhayani. Nurhamsa Mandak Resensi Buku Health Systems Assessment Approach: A How to Manual Korespondensi Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctor in West Java Sukri Palutturi 157 159 166 173 181 189 195 201 203 208 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Bali Luh Putu Sri Armini.Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. 4 Desember 2007 . dumilah ayuningtyas Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006 Sukri Palutturi. 10. Adi Utarini Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan.

W. Know How: The 8 Skills That Separate People Who Perform From Those Who Don’t. Lihat. Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctors in West Java. 10. A. Suryanegara. Armini. P. Durachman Proses Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja di Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2006. D. Sopacua. Ayuningtyas. A. E. I. S. L. 10(02): 85-Ap. Lihat. No. Persepsi. Djasri. T. Pengetahuan. 10(02): 98-Rb. N. A. A. Asmaliza Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10(01): 11-Ap. Lihat. Afriandi. I. P. Bariun. L. W. A. Afriandi. Lihat. Lihat. Daud. Maharani. dan Pelaksanaan Manajemen Risiko Klinis di Lima Rumah Sakit di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Banten Tahun 2005. Febryanti. Budijanto. 10(03): 154-Rb. Dampak Kemitraan Praktisi Swasta Terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar. Daud. C. D. Bali. Arisanti. 10(03): 117-Ap. S. Lihat. Lihat. Lihat. W. 10(03): 124-Ap. Getting to Yes: Teknik Berunding Menuju Kesepakatan Tanpa Memaksakan. Hamzah. Asmaliza Efisiensi Pemanfaatan Rumah Sakit Umum Daerah di Provinsi Sumatera Barat dengan Data Envelopment Analysis. 4 Desember 2007 209 . 10(04): 166-Ap.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS PENULIS Adisasmito. Kuntjoro. Vol. Andayani. H. Wisuda. E. Lihat. R. Fuad.

10(02): 56-Mk. Kuntjoro. I. G. 10(03): 108-Ap. Maharani. D. A. Lihat. Palutturi. Daud. P. 10. Samba. M. C. Evaluasi Praktik Donasi Obat Pascatragedi Bom Bali. N. A. 10(03): 148-Ap. Vol. I. Y. L. A. Harbiyanto. G. 10(01): 40-Ap. Durachman Junadi. P. I. S. Saripawan. Untari. No. Armini. Maharani. S. Lihat. G. 210 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Lihat. Palutturi. S. 4 Desember 2007 . P. Samba. A. C. Lihat. 10(03): 156-Koresp. Lihat. Mukti. Hasanbasri. Nurhayani Lihat. Maryetty. Lihat. I. A. Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survei Sosial Ekonomi Nasional 2001. 10(01): 03-Mk Lihat. Hendrartini. 10(02): 64-Ap. S. Pendekatan Sistem dalam Perencanaan Program Daerah. T.Indeks Hamzah. A. Mahendradhata. N. Y. Misnaniarti Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung. Budaya Organisasi dan Mindset Petugas Penanggulangan Tb Paru Melalui Strategi Dots di Puskesmas Labibia Kota Kendari. 10(04): 181-Ap. A. Lihat. Lihat. G. Mandak. Oktarina Kajian Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Making Pregnancy Safer di Daerah Miskin Pedesaan. Muninjaya. S. Lihat. J. J. Evaluasi Continuous Quality Improvement (CQI) di Rumah Sakit yang Mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu ISO 9000 di Indonesia. Trisna. Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit sebagai Persyaratan Badan Layanan Umum dan Sarana Peningkatan Kinerja.

Lihat. 10(02): 72-Ap. Y. Oktarina Samba. Hamzah. 10(02): 90-Ap. I. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Afriandi. Lihat. Saripawan. K. Implementasi Posyandu dan Supervisi oleh Puskesmas di Pontianak. 10(02): 101-Koresp. Afriandi.Pembelajaran Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan. P. Health Systems Assessment Approach : A How to Manual. Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006. I. W. S. S. Sukri Lihat. Pinzon. Cost Effectiveness Analysis dalam Penentuan Kebijakan Kesehatan: Sekedar Konsep atau Aplikatif?. 4 Desember 2007 211 . 10(04): 195-Ap. A. 10(04):201-Rb Ristrini Lihat. E.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Palutturi. No. Pengembangan Proses Verifikasi Pra-Operasi untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit. Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctor in West Java. 10(04): 173Ap. Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan. Vol. D. R. Analisis Besaran Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. 10(03): 143-Ap. G. Sopacua. I. Suryanegara. 10(04): 159-Mk. 10(02): 79-Ap. Sunartono Lihat. Setiawati. 10(03): 104-Mk. 10. E. Probandari. Durachman Sunjaya. S. Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah. Siswanto Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik). 10(04): 203-koresp. A. Rimawati Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah.

Kebijakan Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin: Saatnya untuk Melakukan Evaluasi Menyeluruh. Viperiati. 10. J. L. 10(02): 55-Ed. Trisnantoro. P. 10(04): 157-Ed. 10(01): 46-Ap. Winarni. Untari. Lihat. Memperbesar Peran Ahli Kebijakan dan Ahli Manajemen Pelayanan Kesehatan di Indonesia. 10(01): 20-Ap. 10(04):189-Ap. A. Lihat. 10(01): 52-Rb. I. C. 10(01): 29-Ap. Pengaruh Penyerahan Dana dan Pengelolaan Asuransi Kesehatan Sepenuhnya kepada Puskesmas Terhadap Efisiensi Pengadaan dan Mutu Penggunaan Obat. Maryetty. Trisna. Vol. Asmaliza Lihat. Situasi Survailans yang Belum Menggembirakan. 10(01): 53-Koresp. Penunjukan Langsung. Trisasi Redefining Health Care: Creating Value-Based Competition On Results. I. A Lihat. Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survai Sosial Ekonomi Nasional 2001. S. Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige. 4 Desember 2007 . 10(01): 01Ed. S. N. N. Koordinasi Lintas Sektoral pada Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi di Kabupaten Sleman. 212 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10(03): 132-Ap. P. S. 10(03): 103-Ed. Survei Pasar Jaminan Kesehatan Sosial Bali. S. Lihat. Armini. Perbandingan Efisiensi dan Efektivitas Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan dengan Lelang. dan Kemitraan. N. No. R. Winarni. Utarini.Indeks Suryawati. A. Kebijakan Contracting Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: Dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah. Wisuda. Suryawati. Viperiati. L. A.

Data Envelopment Analysis. Health Personnel’s Training Program. Cost Effectiveness Analysis. 2007. 2007. 10 (01): 20. Mindset. 2007. Implementation preparation. 10 (02): 56. 10 (03): 124. 10 (02): 72. 10 (03): 148. 2007. 10 (04): 173 Hospital Efficiency. 2007. 2007. 2007. 2007. 2007. 10 (01): 11. Bali Bomb Tragedy. 2007. Cash Funds. 10 (03): 148. 4 Desember 2007 213 . Fund. Economic Evaluation. 2007. 2007. 2007. 10 (01): 11. Management Policy. Delay. Business intelligence. 2007. 10(04): 189. 2007. 2007. 10 (04): 159 Financial System Of Public Service Body. 2007. Knowledge. Auction. 10 (03): 124. 2007. 10 (02): 64. 10 (02): 85. 10 (03): 132. 10 (03): 132. 10 (02): 79. Bali Social Health Insurance. 2007. 2007. 2007. 10 (01): 20. 10(04): 189. 2007. No. 10 (03): 108. Empowering. 2007.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS SUBJEK Ability to Pay. 10 (01): 20. 10 (03): 104. 10 (01): 29. Effectiveness. 10 (02): 90. Behavior. 10 (01): 11 . 2007. 2007. ISO 9000. 10 (01): 20 . 10 (02): 79. 10 (03): 148. Community Health Center. Drug Donations Impacts. Health Card. Vol. Clinical Risk Management. Ethics. 2007. 2007. 10 (04): 181 Maternal and Child Health. 2007. Medical Doctor. Hospital Performance. 2007. 10 (01): 40. Drug Procurement. 2007. 2007. 2007. 10 (03): 108. 10 (01): 46. 10 (04): 195 Leadership. 10 (04): 166 Deployment. 10 (02): 90. 10 (03): 117. 10 (03): 108. 10 (03): 132. 2007. 10 (01): 29. 2007. Dots. 10. 2007. 2007. 2007. 10 (01): 03. 10 (01): 20 . 10 (04): 166 CQI. 2007. 10 (01): 03. 2007. Lesson Learned. 2007. 2007. 2007. Contract. 10 (02): 85. 10 (03): 104. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2007. Hospital Performance Indicators. 2007. 10 (02): 90. 10 (04): 173 Locally Available Resources. Making Pregnancy Safer. Implementation. 10 (03): 124. Cost. 10 (02): 64. 10 (01): 40. Direct Appointment. 2007. Drug Use. Health Insurance. Knowledge. 10 (03): 132. Efficiency. Community Partnership. 2007.

2007. 2007. Pegawai Tidak Tetap. 2007. 10. 10 (04): 195 Policy Options. 10 (04): 195 Stakeholders’ Perception. 2007. 10 (03): 143. 2007. Posyandu. 2007. 2007. Performance. 2007. Motivation. 2007. 2007. Trax-Free Policy. 10 (04): 159 Organization Culture. 2007. 2007. 10 (04): 195 Wrong Surgery. No. 10 (04): 195 Organization. 2007. 10 (04): 159 Poor Families. Public Hospitals. 10 (02): 90. 2007. Public-Private Mix. 2007. 10 (03): 117. Premium. 2007. 2007. 2007. 10 (04): 166 Resource Allocation. 10 (01): 46.Indeks Minimal Hospital Services Standards. Perception. Patient Safety. Organizational Culture. 2007. 214 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2007. 10 (02): 64. Service Unit Fund Plan. Sanglah Hospital Denpasar. Supervision. 10 (01): 40. 10 (02): 64. 10 (03): 132. 2007. Oseltamivir. 4 Desember 2007 . 2007. 2007. 2007. Vol. 10 (02): 85. Work Time. 2007. 10 (03): 143. 10 (02): 56. 2007. Private Practitioner Involvement. 10 (01): 29. 2007. 10 (01): 20. Skill. 2007. 10 (01): 46. 2007. 10 (04): 173 Politics. 10 (01): 29. Service Unit Fund Document. 10 (03): 117. 10 (02): 72. 2007. 2007. Survey. 10 (02): 64. 10 (02): 90. System Analysis Approach Health Planning. 10 (03): 104. 10 (04): 181 Partnership. Prevention. 10 (02): 72. 10 (02): 79. Public Health Center. 10 (03): 124. 2007. 10 (01): 03. Unused Medicines. Willingness to Pay. 10 (04): 166 Private Provider. 10 (01): 40 . 10 (03): 143. 10 (02): 79. 2007. 2007. 2007. 2007. 10 (01): 11. 2007. Public Service Entity.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->