jurnal

ISSN 1410-6515

Manajemen
Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management
Volume 10/Nomor 04/Desember/2007
EDITORIAL
Kebijakan Contracting-Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah

Vol 10. No. 04 h.157-214 10 4 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 2007

MAKALAH KEBIJAKAN
Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik)

ARTIKEL PENELITIAN
Dampak Kemitraan Praktisi Swasta terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar, Bali Opsi-opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan; Pembelajaran dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006

RESENSI
Health Systems Assessment Approach : A How to Manual

KORESPONDENSI
Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment Among Medical Doctor in West Java

JMPK

Tahun 10

Nomor 04

Hlm. Yogyakarta 157-214 Desember 2007

ISSN 1410-6515

Terakreditasi Ditjen Dikti No.: 45/DIKTI/Kep./2006

Diterbitkan oleh/Published by: Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Center for Health Services Management Faculty of Medicine Gadjah Mada University

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 10/Nomor 04/Desember/2007

Daftar Isi
Editorial
Kebijakan Contracting-Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah 157

Makalah Kebijakan
Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik) Siswanto 159

Artikel Penelitian
Dampak Kemitraan Praktisi Swasta terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar, Bali Luh Putu Sri Armini, Yodi Mahendradhata, Adi Utarini Opsi-opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan; Pembelajaran dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Evi Sopacua, Didik Budijanto Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Misnaniarti Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Raditya Asri Wisuda , Dumilah Ayuningtyas Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006 Sukri Palutturi, Nurhayani, Nurhamsa Mandak 166

173

181

189

195

Resensi Buku
Health Systems Assessment Approach : A How to Manual 201

Korespondensi
Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment Among Medical Doctor in West Java 203 205

Indeks

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 10 No. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 157 - 158 Editorial

KEBIJAKAN CONTRACTING-OUT UNTUK PENYEDIAAN TENAGA KESEHATAN DI DAERAH TERPENCIL DAN SULIT: DARI PENGALAMAN MENUJU BUKTI ILMIAH1

Masalah ketersediaan sumber daya manusia di daerah yang sulit, terpencil, ataupun berbahaya merupakan masalah besar yang klasik terdapat di Indonesia. Daerah terpencil kekurangan tenaga kesehatan yang penting seperti dokter, dokter gigi, perawat, bidan, epidemiolog, ahli gizi. Tantangan ke depan adalah: (1) bagaimanakah kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam penempatan tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil dan sulit? (2) apakah kebijakan sekarang ini dapat diteruskan walaupun sudah terbukti tidak bisa memenuhi harapan seperti data yang diperoleh Pusrengun Departemen Kesehatan. Di samping itu, ada pertanyaan apakah kebijakan yang diambil dapat menggunakan prinsip-prinsip Evidence Based Policy Making ? Apa persamaan dan perbedaan antara Evidence Based Medicine (EBM) dan Evidence Based PolicyMaking (EBP). Sackett dkk mendefinisikan EBM sebagai: “the conscientious, explicit, and judicious use of current best evidence in making decisions about the case of individual patient’. Untuk EBP, Cookson memberikan definisi yang serupa, namun berfokus pada keputusan public tentang kelompok atau masyarakat, bukan sebuah keputusan tentang individu pasien. Lebih lanjut Cookson menggambarkan hubungan antara bukti ilmiah dengan keputusan. Keputusan berupa kebijakan publiK dapat dipengaruhi oleh berbagai hal yaitu (1) kepercayaan; (2) nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat; dan (3) berbagai hal lain seperti aspek politik, ekonomi, hukum, dan etik. Peran bukti ilmiah adalah mempengaruhi kepercayaan pengambil keputusan tentang hal yang harus ditetapkan. Akan tetapi kepercayaan ini dipengaruhi pula oleh pengalaman, bukti anekdot, ataupun opini yang didengar dan dibaca oleh pengambil kebijakan. Apabila tidak ada bukti ilmiah, dapat dipahami bahwa pengambilan keputusan dipengaruhi oleh kepercayaan yang berasal dari opini misalnya. Sebagai salah satu kasus menarik tentang penggunaan Evidence Based Policy adalah pengiriman tenaga ke RSD Tjut Nya’Dien di

Kabupaten Aceh Barat oleh FK UGM dan RSUP Dr. Sardjito. Pengiriman tenaga ini dapat disebut sebagai bukti anekdot untuk kebijakan distribusi tenaga medik dan kesehatan di daerah sulit. Dalam konteks penyebaran tenaga kerja di daerah sulit, pada tahun 2005, dipicu oleh musibah Tsunami di Aceh dilakukan pengiriman tenaga kerja melalui pendekatan kontrak tim (bukan kontrak perorangan) untuk menggantikan tenaga kesehatan. Dengan dukungan dana dari World Vision Australia, Fakultas Kedokteran UGM bersama University of Melbourne dikontrak untuk menyediakan bantuan tenaga dokter, dokter spesialis, perawat, dan tenaga-tenaga manajemen di RS Tjut Nya’ Dien. RS ini berada di pesisir barat Propinsi NAD, di kota Melaboh. Kota ini merupakan salahsatu daerah yang mendapat dampak paling dahysat Tsunami. Selama 3 tahun telah dikirim sekitar 500 tenaga dengan sekitar 50 gelombang pemberangkatan. Tujuan pengiriman tenaga medik ke RSD Tjut Nya Dien untuk: (1) Memperkuat dan mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga medis / nonmedis RS Tjut Nya’ Dien melalui pengiriman tim medis secara rotasi dan menyiapkan staf local permanent; (2) Revitalisasi penuh RS Tjut Nya’ Dien melalui pemenuhan kebutuhan tenaga medis / non medis berdasarkan penilaian kebutuhan. Di pandang dari hubungan antarberbagai pihak yang terlibat, pengiriman tenaga medik dan kesehatan RSUP Dr. Sardjito dan FK UGM ke Aceh Barat merupakan kegiatan contracting-out. Apakah kegiatan pengiriman tenaga ke Aceh Barat ini dapat dikembangkan sebagai dasar pengambilan kebijakan nasional dan daerah dalam penyebaran tenaga medik dan kesehatan? Pertanyaan lebih lanjut: apakah model contractingout ini dapat dipergunakan untuk menyediakan tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil dan sulit oleh pemerintah daerah dan pusat? Beberapa pemerintah daerah tertarik untuk membuat keputusan berdasarkan pengalaman yang ada di Aceh Barat. Kasus ini terjadi di Kabupaten Berau (yang masih belum berjalan) dan Kabupaten

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

157

com) KEPUSTAKAAN 1. Bagaimana dengan pemerintah pusat? Sampai sekarang ini Departemen Kesehatan belum mempunyai agenda untuk contracting-out. sama dengan Aceh Barat). Namun disadari bahwa bukti pengalaman ini perlu dikembangkan untuk menjadi bukti ilmiah sehingga mempengaruhi kepercayaan dalam menetapkan keputusan. saat ini sudah ada bukti anekdot atau pengalaman berupa kebijakan contracting-out yang telah dipergunakan oleh beberapa pemerintah daerah untuk mencari solusi. Ruang Rapat Senat FK UGM. Kabupaten Nias. Merupakan Background Paper untuk Sarasehan Alumni FK UGM. Tanggal 5 Maret 2000. Vol. Laksono Trisnantoro (trisnantoro@yahoo. Dalam hal ini pemerintah pusat sebenarnya dapat melakukan pilot untuk penelitian kebijakan agar pengalaman mengenai model contracting-out dalam distribusi tenaga medik di Kabupaten Aceh Barat. kebijakan untuk distribusi tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil perlu terus dicari dan dikembangkan. No. Untuk ini diharapkan Departemen Kesehatan berani melakukan penelitian pilot untuk kebijakan contracting-out dalam distribusi tenaga medik dan tenaga kesehatan di daerah yang terpencil dan sulit. Yogyakarta. Dari perspektif Evidence Based Policy Making. Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Berau (kalau jadi) dapat diperkuat menjadi bukti.Laksono Trisnantoro: Kebijakan Contracting-out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan Nias dan Kabupaten Nias Selatan (sudah berjalan. 4 Desember 2007 . 10. Sebagai ringkasan. 158 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.

dalam rangka memburu kepentingan dan tujuannya. kemelut perusahaan milik daerah tersebut sampai ke meja anggota DPRD karena para pendemo (karyawan) menyampaikan kemelut manajemen perusahaan kepada wakil rakyat (anggota DPRD).165 Makalah Kebijakan POLITIK DALAM ORGANISASI (SUATU TINJAUAN MENUJU ETIKA BERPOLITIK) POLITICS IN ORGANIZATION (A REVIEW LEADING TO ETHICS OF POLITICS) Siswanto Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan. Dengan kata lain. setiap aktor harus memperhatikan etika berpolitik yang elegan agar pengaruh seseorang pada perilaku orang lain tidak bersifat memaksa. Rather. baik kekuasaan berdasar kedudukan maupun kekuasaan pribadi. Political activities are natural and unpreventable for the interaction of actors in organizational life. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 159 . Aktivitas politik merupakan sesuatu yang natural dan tidak dapat dicegah dalam interaksi antaraktor dalam kehidupan organisasi. Consequently. menuju kinerja perusahaan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. organizations including health organizations can be interpreted as a political arena where actors are contesting their interests. frightened and painful manner. dan kepentingan. sang direktur melakukan pembersihan besar-besaran terhadap berbagai praktik KKN karena pendekatannya yang terkesan radikal. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Political activities would entail the ability to exercise power sources with certain political tactics to win interests. namun penulis sengaja membuatnya ‘anomim’ untuk menjaga etika penulisan. either position power or personal power. politik. influence and interests. ethics ABSTRAK Sebagai sebuah entitas sosial. Untuk menyehatkan perusahaan. However. in order to achieve his/her own goals and interests. Kata Kunci: organisasi. 4 Desember 2007 159 . in order that some one’s influence unto others not due to a coercive. Every actor within organizations including managers try to improve his/her power. tetapi merupakan pola perilaku karena berpegang pada prinsip atau setidaknya karena asas pertukaran manfaat. Akhir cerita. Keywords: organization. Oleh karena itu. boleh dikatakan tiada hari tanpa demo. maka terjadilah demo besar-besaran oleh karyawan perusahaan dan pendemo menuntut sang direktur untuk mundur dari jabatan sebagai direktur utama. salah satu pemerintah kota di Provinsi Jawa Timur ingin membenahi manajemen perusahaan Badan Usaha Milik Daerah yang dipunyainya karena ditengarahi banyak terjadi KKN sehingga perusahaan tidak efisien. Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas adalah bahwa seorang manajer akan mengalami kegagalan apabila cara memimpinnnya hanya mengedepankan satu paradigma manajemen saja. the interaction of actors in organizational life would involve power. Akhirnya.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. Vol. 10. dan menyakitkan. sang manajer terjebak pada praktik manajemen paradigma rasional tanpa memperhitungkan kekuatan politik di dalam organisasi. menakut-nakuti. Bahkan. No. Pada kisah di atas. sang direktur diminta untuk mundur dari jabatan direktur utama perusahaan tersebut karena ia dianggap tidak demokratis dalam gaya kepemimpinannya. etika PENGANTAR Alkisah. the influence on others’ behavior is due to principles or at least due to benefit exchange. Terpilihlah seorang ‘direktur profesional’ untuk membenahi manajemen perusahaan. dapat diinterpretasikan sebagai wahana politik tempat para aktor berebut kepentingan. sang manajer telah gagal memimpin perusahaan karena tidak memiliki keterampilan politis yang adekuat untuk melakukan perubahan organisasi. politics. Aktivitas politik melibatkan kemampuan memainkan sumber kekuasaan dengan taktik politik tertentu untuk memenangkan kepentingan. Selama beberapa bulan. keberadaan organisasi termasuk organisasi kesehatan. Depkes RI. diputuskan bahwa untuk merekrut direktur utama dilakukan secara transparan melalui pengumuman di media massa dan kemudian dilakukan fit and proper test di hadapan stakeholder kunci. setelah melalui proses tarik ulur di antara para politisi. Surabaya ABSTRACT Being a social entity. Setiap aktor dalam organisasi termasuk manajer akan berusaha meningkatkan kekuasaannya. interaksi antaraktor dalam kehidupan organisasi akan selalu terkait dengan kekuasaan pengaruh. every actor should take into consideration ethics for performing more elegant politics. Kisah ini adalah kisah nyata. Namun demikian.

Semestinya. Dalam kelompok sosial. kita tidak bisa menghindar dari politik”. sehingga aktor lain tersebut menuruti kemauan aktor pertama. No. kemudian mampu menggunakannya secara tepat orang dan tepat waktu (contingency of people and of timeliness). badan usaha. Vol. namun politik juga terjadi pada organisasi formal. Proses interaksi memenuhi kebutuhannya tersebut manusia membentuk kelompok-kelompok komunitas serta manusia akan selalu dihadapkan pada unsur kekuasaan dan pengaruh. di antaranya organisasi sebagai wahana politik. Dengan demikian. Tak dapat disangkal bahwa ‘negosiasi’ merupakan salah satu bentuk aktivitas politik untuk mendapatkan komitmen bersama. ditransfer. dan bahkan pada unit keluarga. Dalam kontes saling pengaruh-mempengaruhi ini. Strauss1 dalam penelitiannya di institusi rumah sakit mengidentifikasi pola interaksi antar aktor di rumah sakit (dokter. termasuk manajer. maka seorang manajer (termasuk pemain lainnya) harus paham bagaimana bermain politik yang etis dan elegant. persepsi. sehingga secara etis dapat diterima oleh anggota lainnya. Untuk menjadi manajer yang efektif. Berkenaan dengan praktik manajemen melalui pendekatan politik. Setiap anggota akan membawa minat. Melihat aktivitas organisasi sebagai aktivitas politik merupakan penyegaran terhadap pemahaman kehidupan ‘organisasi’ yang selama ini selalu didominasi oleh cara pandang instrumental. Morgan3 dan Bolman & Deal4 misalnya. Drory5 mendefinisikan politik organisasi 160 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. manusia selalu terlibat interaksi antar satu dengan lainnya. Dengan kata lain. dan digunakan. profesionalitas sebagai manajer haruslah diinterpretasikan sebagai penguasaan ’semua paradigma manajemen’. Pada prinsipnya politik adalah suatu jaringan interaksi antarmanusia dengan kekuasaan diperoleh. kepentingan. dan tujuan yang berbeda-beda. Dengan menggunakan definisi ini. dengan taktik memainkan kekusaannya masing-masing. organisasi keagamaan. perawat dan staf administrasi) sebagai ‘keteraturan hasil negosiasi’ (negotiated order). Permainan politik yang tidak etis dalam jangka panjang akan berakibat buruk terhadap kredibilitas pelakunya. pengaruh. klub-klub pribadi. dan akhirnya didiskusikan etika berpolitik dalam organisasi. 10. seperti rumah sakit juga tidak terlepas dari kegiatan politik.Siswanto: Politik dalam Organisasi yang lebih baik. politik adalah suatu kenyataan sosial yang harus dihadapi oleh anggota organisasi. termasuk organisasi. Organisasi kesehatan. kelompok suku primitif. 4 Desember 2007 . marga. Tulisan ini akan mendiskusikan beberapa isu penting tentang paradigma politik organisasi. maka dapat dikatakan bahwa politik tidak hanya terjadi pada sistem pemerintahan. Politik didefinisikan oleh Dahl2 sebagai “setiap pola hubungan yang kokoh antarmanusia dan melibatkan secara cukup mencolok kendali. Kekuasaan dan pengaruh merupakan unsur utama dalam politik. kekuasaan dan kewenangan”. Dengan memahami politik organisasi. Organisasi Sebagai Wahana Politik Organisasi sebagai salah satu entitas sosial juga tidak terlepas dari politik. proses pengaruh-mempengaruhi merupakan hal yang wajar dalam kehidupan organisasi. baik itu menyangkut distribusi informasi. Pemahaman bahwa organisasi adalah sebuah entitas politik akan mampu menyadarkan manajer melihat organisasi secara ‘utuh’ dan tidak hanya mengandalkan pada cara-cara instrumental saja. diharapkan para praktisi manajemen dapat memperluas cakrawala pandangnya tentang politik organisasi sebagai paradigma alternatif dalam mengelola organisasi. Masyarakat kebanyakan sering memaknai politik dengan konotasi negatif dan kotor. melihat organisasi sebagai wahana atau gelanggang politik tempat bernegosiasi kepentingan oleh para anggotanya. karir maupun penghargaan lainnya. Pusat analisis politik adalah kekuasaan dan pengaruh. kekuasaan dan sumber-sumbernya. Untuk memenuhi kepentingannya (meraih cita-cita dan tujuannya). Ada ungkapan yang menarik “meskipun kita tidak suka politik. Oleh karena itu. seorang manajer harus sadar bahwa ‘politik’ selalu ada dalam setiap kehidupan organisasi. yang analisisnya mengabaikan motif dan kepentingan aktor yang terlibat dalam organisasi. Umat manusia adalah makhluk sosial dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan saling berinteraksi satu dengan lainnya. setiap manusia mau tidak mau harus menggunakan politik (kekuasaan dan pengaruh) sebagai alat berinteraksi antara manusia satu dengan manusia lainnya. Setiap orang dalam organisasi akan menggunakan taktik dan strateginya masing-masing untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas. Kekuasaan didefinisikan sebagai potensi seorang aktor dapat mempengaruhi aktor lain. politik adalah kenyataan hidup yang harus dihadapi dan dijalankan oleh setiap orang selama ia berinteraksi secara sosial. maka tiap-tiap aktor akan saling beradu kekuasaan untuk memenangkan ‘kepentingan’. kekuasaan. Salah satu paradigma manajemen yang harus dipertimbangkan oleh praktisi manajemen adalah politik organisasi (organizational politics). praktik politik dalam organisasi.

4 Desember 2007 161 . setiap aktor menggunakan kekuasaan dan pengaruh untuk dapat memenuhi tujuannya.9 Berbeda dengan kekuasaan yang merujuk kepada ketersediaan sumber daya. kekuasaan adalah suatu sumber daya yang merefleksikan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan keinginan orang pertama. keinginan. Dalam interaksi antaraktor dalam organisasi. (2) dalam organisasi selalu ada potensi perbedaan menyangkut kepribadian.10 Lebih jauh.2 Asumsi dasar organisasi sebagai entitas politik3. kita harus mengenal sumber-sumber kekuasaan dalam organisasi.4. nilai. meliputi tujuan. Kekuasaan bukan merefleksikan tindakan. Yukl11 menyebutkan bahwa pengaruh adalah efek dari tindakan agen tehadap pihak lain (target). (5) karena keterbatasan sumber daya dan setiap aktor berebut kepentingan. dan brokering dari berbagai faksi peserta. Sumber-sumber kekuasaan yang dipakai para aktor untuk saling mempengaruhi adalah sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1.7 Sebagai ilustrasi. Morgan3 mendefinisikan kepentingan sebagai “predisposisi yang mempengaruhi tindakan seseorang dalam berinteraksi secara sosial. Kekuasaan didefinisikan sebagai “peluang seorang aktor dalam interaksi sosialnya berada di posisi memenangkan keinginannya meski ada hambatan dari pihak lain”. sikap. sikap. Pengaruh dapat didefinisikan sebagai penggunaan kekuasaan atau otoritas untuk mempersuasi orang lain agar mereka mengikuti kehendak si pengguna kekuasaan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10. Analisis organisasi dari perspektif politik melibatkan tiga diskursus yaitu kepentingan. keyakinan. kepentingan karir terkait dengan masa depan seseorang dalam organisasi (posisi dan jabatan yang lebih baik). kekuasaan dan pengaruh. harapan. Miles6 mendefinisikan politik organisasi sebagai proses yaitu setiap aktor atau kelompok dalam organisasi membangun kekuasaan untuk mempengaruhi penetapan tujuan. Sementara.12 yaitu: (1) organisasi adalah koalisi yang terdiri dari berbagai individu dan kelompok dengan berbagai kepentingan. Kepentingan pekerjaan adalah kepentingan yang terkait dengan tugas seseorang sesuai kedudukan dan jabatan yang diembannya.8 Dengan kata lain. Secara sekuensial dapat dikatakan bahwa kekuasaan menimbulkan pengaruh dan akhirnya pengaruh mempengaruhi tindakan orang lain (kekuasaan à pengaruh à tindakan orang lain). pengaruh merujuk kepada tindakan atau praktik.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sebagai perilaku informal di dalam organisasi dengan menggunakan kekuasaan dan pengaruh melalui tindakan terencana yang diarahkan untuk peningkatan karir individu pada situasi untuk memperoleh banyak pilihan keputusan. apakah akan bersifat baik atau buruk tergantung dari motif yang menggunakannya. Ada baiknya kita renungkan ungkapan Baltasar Gracian berikut: “Satu-satunya keuntungan memiliki kekuasaan adalah bahwa Anda dapat melakukan lebih banyak kebaikan”. dan minat dari para anggotanya. yang bisa saja tidak berhubungan dengan kepentingan pekerjaan. negosiasi. persepsi. (4) tujuan organisasi. tapi merefleksikan sumber kekuatan untuk mempengaruhi tindakan orang lain. kalau ‘A’ dapat mempengaruhi atau memaksa ‘B’ untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh ‘A’. Morgan 3 membagi kepentingan ke dalam tiga kategori yaitu kepentingan pekerjaan. Dalam komponen kepentingan juga termasuk kepentingan ekstramural yang terdiri dari kepribadian. pengambilan keputusan dan proses manajemen lainnya adalah hasil dari bargaining. keyakinan dan komitmen di luar pekerjaan yang semuanya akan membingkai pola perilaku seseorang baik menyangkut pekerjaan maupun karir. maka konflik adalah wajar (natural) dalam kehidupan organisasi. kepentingan. Kekuasaan dan Sumber-Sumbernya Untuk memahami lebih jauh tentang bagaimana para aktor dalam organisasi saling mempengaruhi dan mengapa aktor tertentu dapat mengendalikan aktor lainnya. Kekuasaan bersifat netral. Namun demikian. ‘A’ mempunyai kekuasaan terhadap ‘B’. Vol. No. dan orientasi seseorang”. beberapa rujukan tentang perilaku politik sering mempertukarkan istilah kekuasaan dan pengaruh. (3) kekuasaan memainkan peranan penting dalam memperebutkan sumber daya. Lebih jauh. nilai. kepentingan karir dan kepentingan ekstramural. kriteria atau proses pengambilan keputusan organisasional dalam rangka memenuhi kepentingannya. Selanjutnya.

sementara kepala bagian tata usaha akan mempunyai kontrol lebih besar terhadap ekologi pekerjaan seseorang. posisi manajer sudah mendapatkan tiga sumber kekuasaan yaitu otoritas formal. e. c. Semakin tergantung pihak lain terhadap keahlian seseorang. No. serta kendali pengambilan keputusan. Vol. penggunaan struktur dan aturan.Siswanto: Politik dalam Organisasi Tabel 1. Melaksanakan negosiasi dan tawar-menawar dengan pihak lain yang bersinggungan dengan kepentingan kita untuk mendapatkan kompromi 162 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Referent power terkait dengan keterampilan interaksi antar pribadi. ia akan kehilangan legitimasinya sebagai ‘leader’. Kekuasaan berdasarkan kedudukan a. Posisi di bawah manajer. Makin tinggi posisi seseorang dalam hirarki organisasi. Seorang manajer akan mempunyai kekuasaan kedudukan paling besar karena ia mampu memainkan keseluruhan sumbersumber kekuasaan berdasarkan kedudukan. 2. d. Sifat bawaan dari seseorang yang mencakup penampilan. Membentuk koalisi dengan pihak lain untuk meningkatkan dukungan dan sumber daya 2). seperti kepala bidang atau kepala bagian akan menguasai sumber kekuasaan tertentu lebih banyak daripada sumber kekuasaan lainnya sesuai tugas dan fungsinya. Kontrol terhadap sumber daya dan imbalan c. dapat dimengerti bahwa aktor paling berkuasa adalah aktor yang mampu mengumpulkan banyak sumber-sumber kekuasaan. Menyangkut kontrol terhadap akses terhadap informasi penting maupun kontrol terhadap distribusinya kepada orang lain. Potensi seseorang yang menyebabkan orang lain mengagumi dan memenuhi permintaan orang tersebut. kewajiban dan tanggung jawab seseorang berkaitan dengan kedudukannya dalam organisasi atau sistem sosial. Memang. Kontrol terhadap hukuman dan kapasitas untuk mencegah seseorang memperoleh imbalan. Mentransformasikan kepentingan kita menjadi kepentingan pihak lain dengan mengubah persepsi dan tindakan pihak lain 4). dan hal ini tidak selalu merujuk kepada manajer. Agen mempunyai hak untuk membuat permintaan tertentu dan orang yang ditargetkan mempunyai kewajiban untuk mematuhinya. 10. beberapa taktik yang dipakai oleh para aktor adalah sebagai berikut:12 1). diplomasi dan empati. Pengaruh potensial yang melekat pada keunggulan individu Kekuasaan yang bersumber dari keahlian dalam memecahkan masalah tugastugas penting. Kontrol dan penguasaan terhadap sumber daya dan imbalan terkait dengan kedudukan formal. Menciptakan suasana (seremoni dan simbol) untuk membentuk persepsi dan perilaku orangorang sesuai dengan peran dan fungsinya 3). teknologi dan metode pengorganisasian pekerjaan. Pada Tabel 1 terlihat bahwa kelompok sumber kekuasaan berdasarkan kedudukan akan berlimpah pada orang-orang yang secara hirarkis mempunyai kedudukan dalam organisasi. Praktik Politik dalam Organisasi Setiap aktor termasuk manajer menggunakan taktik dan strategi untuk mempengaruhi aktor lain dengan menggunakan sumber kekuasaan yang dimiliki. Manajer yang tidak mampu mengelaborasi atau mengumpulkan sumber-sumber kekuasaan lainnya dengan baik. kebijaksanaan. b. yang berakibat pada munculnya ‘leader-leader’ bayangan dalam organisasi. Secara deskriptif. Menyangkut kontrol terhadap lingkungan fisik. Memperluas jumlah pemain yang terlibat dalam suatu isu yang menjadi kepentingan kita untuk mendapatkan perhatian yang lebih luas 5). Sumber-Sumber Kekuasaan dalam Organisasi11 Sumber kekuasaan 1. 4 Desember 2007 . Kontrol terhadap hukuman (coercive power) Kontrol terhadap informasi Kontrol ekologis Kekuasaan pribadi a. Sebagai contoh. seperti pesona. semakin bertambah kekuasaan keahlian (expert power) orang tersebut. manajer mempunyai kesempatan lebih besar untuk mengumpulkan sumber-sumber kekuasaan. Kewenangan formal Penjelasan Pengaruh potensial yang berasal dari kewenangan yang sah karena kedudukannya dalam organisasi Kewenangan yang mengacu pada hak prerogatif. makin banyak kontrol yang dipunyai orang tersebut terhadap sumber daya yang terbatas. Dengan memahami sumber-sumber kekuasaan dalam organisasi. karakter dan kepribadian yang mampu mempengaruhi orang lain untuk suatu tujuan tertentu. Setidaknya. Kekuasaan keahlian (expert power) Kekuasaan kesetiaan (referent power) Kekuasaan karisma b. kepala bidang perencanaan akan mempunyai kontrol lebih besar terhadap distribusi sumber daya.

menakut-nakuti. menanamkan pengaruh. merayu. mengganggu. pengendalian sementara. penggunaan sumber kekuasaan. membuat sedih. sabotase. mempengaruhi berdasarkan manfaat menghasilkan efek kewajaran. mengalihkan. mengancam. No. Vol. menghalangi. hasilhasil sementara.9 Di samping cara mempengaruhi dengan menebar rasa takut. Dengan demikian. oposisi. Konsesi yang dipertukarkan dapat berupa uang.9. (iii) berdebat. Hubungan antara Komunikasi. menyepelekan. membagi proses mempengaruhi (proses berkuasa) menjadi tiga macam yaitu: (i) mempengaruhi dengan paksaan (rasa takut). memaksa. Lee9 dalam bukunya The Power Principle. balas dendam. kekuasaan berdasarkan posisi. 9.9 Apa yang kita lakukan dalam mempengaruhi orang lain berdasarkan azas pertukaran manfaat yaitu: (i) membuat kesepakatan. Hubungan antara komunikasi. meremehkan. (iv) mengadakan pertukaran. misalnya: menindas. 4 Desember 2007 163 . bahkan pemberontakan. keahlian tertentu atau akses terhadap sumber daya. kepatuhan terpaksa. selanjutnya mempengaruhi berdasarkan prinsip akan menghasilkan efek rasa hormat. menipu. bertukar. Sarana aktivitas politik untuk saling mempengaruhi antar aktor dalam organisasi adalah melalui komunikasi. menusuk dari belakang. Efek yang muncul akibat mempengaruhi dengan paksaan adalah permusuhan. Cara-cara dengan pendekatan keras. kekuasaan berdasarkan keahlian. Mempengaruhi orang dengan rasa takut meliputi pendekatan keras dan pendekatan lunak. Taktik Mempengaruhi dan Pemenangan Kepentingan (Diadaptasi dari Degeling12) Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Mempengaruhi dengan paksaan menghasilkan efek rasa takut.9 Sumber-sumber kekuasaan berdasarkan azas pertukaran manfaat adalah kekuasaan memberi imbalan. cara-cara pendekatan lunak. dan berusaha melakukan tukarmenukar yang adil (asas pertukaran manfaat). pertengkaran.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 6). mengendalikan. kekuasaan terhadap sumber daya. kekuasaan berdasarkan peluang. ketergantungan. Gambar 1. menghambat. banyak dari kita mempengaruhi orang lain dengan cara memberi dan menerima. kekuasaan terhadap informasi. (ii) tawar-menawar. informasi. mempengaruhi berdasarkan azas manfaat pada dasarnya adalah “menemukan kesepakatan antar kedua belah pihak yang saling menguntungkan”. menyalahkan dan melemahkan. (ii) mempengaruhi berdasarkan manfaat (tukar-menukar). dan (iii) mempengaruhi berdasarkan prinsip. memperdayai. baik pendekatan lunak maupun pendekatan keras akan menghasilkan kendali yang bersifat sementara dan reaktif. 10.13 Sementara itu. mengkambinghitamkan. hubungan menang-kalah. dan kekuasaan berdasarkan koneksi. Memilih waktu yang tepat untuk setiap tindakan agar situasi menguntungkan kita (manajer). mengintimidasi. berdagang. dan pemenangan kepentingan dapat diabstraksikan sebagaimana skema pada Gambar 1. membuat kecil hati.13 Cara-cara mempengaruhi orang dengan pendekatan rasa takut (paksaan). menyiasati dan merampas hak. misalnya: mengaburkan.

dalam rangka peningkatan efisiensi dan produktivitas organisasi. meremehkan. bukannya dominansi serta pengendalian” Anne L Barstow (Dikutip dari Lee9). Misalnya. sabar. 164 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Prinsip ’hak’ menekankan bahwa setiap individu mempunyai kebebasan untuk mengemukakan pendapat dan berbicara. menghambat. melemahkan. Dalam melakukan tindakan politik. mengajari. dan (ix) berkompromi.14 Perilaku politik dalam ”kelompok cara mempengaruhi dengan menebar rasa takut”. Pertimbangan etis haruslah merupakan suatu kriteria pengontrol dalam perilaku politik untuk mempengaruhi pihak lain. Dengan kata lain. kesepakatan kemitraan. siapapun aktornya (bisa manajer atau staf) haruslah berpedoman pada tiga kriteria etis tadi. mengkambinghitamkan. membuat sedih. mengasihi. bersikap konsisten dan hidup berintegritas. Prinsipprinsip kekuasaan berdasarkan kehormatan diantaranya adalah persuasif. merayu. menakut-nakuti. menyiasati dan merampas hak adalah perilaku politik yang kurang atau tidak etis. (vi) saling mengalah. Etik adalah standar moral apakah suatu perilaku baik atau buruk menurut norma masyarakat. 4 Desember 2007 . lembut. menipu. kepercayaan.14 Perilaku politik yang etis adalah perilaku yang bermanfaat untuk individu dan organisasi. mengintimidasi. menerima. Vol. Pandangan demikian menekankan pada kinerja kelompok (kinerja organisasi). Prinsip utilitarianisme mengajarkan bahwa keputusan yang kita ambil haruslah ’memberikan manfaat terbesar untuk jumlah orang terbesar’. mendisiplinkan. ada the golden rule dari perilaku politik. hak dan keadilan. dan (iv) apakah perilaku itu bermanfaat untuk semua pihak terkait? Apabila jawaban dari keempat pertanyaan saringan tersebut. keputusan ini bermanfaat untuk jumlah terbanyak. kesalingtergantungan. satu kriteria dapat saling melemahkan atau meniadakan kriteria lainnya. Apa yang kita peroleh dari cara mempengaruhi berdasarkan azas manfaat adalah pola interaksi yang bersifat fungsional dan wajar (tanpa rasa takut). mengaburkan. Di samping ketiga kriteria tersebut. 10. pengendalian internal yang positif. yaitu ”Perlakukan orang lain sebagaimana kamu menginginkan orang lain memperlakukanmu” (Do unto others as you want them to do unto you) atau ”Jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan orang lain melakukan hal itu kepadamu” (Don’t do anything to anyone that you wouldn’t want them to do to you).Siswanto: Politik dalam Organisasi (v) konsensus. misalnya menusuk dari belakang. penguasaan diri. memperdayai. diremehkan. perusahaan memecat 10% karyawan yang kurang produktif. mengganggu. bermurah hati. Sebagai saringan dapat juga dipakai empat langkah pertanyaan berikut: (i) apakah perilaku itu merupakan kebenaran?. Hasil-hasil yang diperoleh dari kekuasaan berdasarkan prinsip kehormatan adalah kemitraan. (iii) apakah perilaku itu akan membangun komitmen dan pertemanan yang lebih baik?. Etika Berpolitik dalam Organisasi Pembahasan politik organisasi tidaklah lengkap tanpa berbicara tentang etika berpolitik dalam organisasi. mengalihkan. sebagaimana diatur dalam Piagam Hak Asasi Manusia. sedangkan perilaku politik yang tidak etis adalah perilaku yang bermanfaat untuk individu tetapi melukai organisasi.9 Perhatikan ungkapan mutiara berikut: ”Kekuasaan bisa dipandang sebagai ’kekuasaan dengan’ ketimbang ’kekuasaan atas’. Siapapun orangnya akan ”sakit hati” bila ditusuk dari belakang. membuat kecil hati. solusi menang-menang.14 Setidaknya terdapat tiga kriteria untuk menilai apakah cara kita bertindak etis atau tidak etis yaitu prinsip utilitarianisme. dan pola hubungan jangka panjang yang memuaskan. proaktivitas. perilaku etis. Namun demikian. (vii) memperebutkan. dalam batasbatas tertentu memenuhi syarat. sinergi. namun boleh jadi mengabaikan hak-hak individu (hak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan) dan rasa keadilan (adanya perlakukan diskriminatif yaitu adanya pemecatan sebagian kecil karyawan). artinya bila situasi berubah dan manfaat tidak didapatkan lagi maka kekuasaan akan menghilang (menguap). disepelekan. (viii) bertengkar. dan kekuasaan dapat digunakan untuk membangkitkan kompetensi dan kooperasi. peningkatan kapasitas. Dalam pandangan utilitarianisme. Prinsip ’keadilan’ mengisyaratkan individu untuk memberlakukan dan menegakkan aturanaturan secara adil dan tidak berat sebelah sehingga terdapat distribusi manfaat dan biaya yang pantas. menghalangi. bukan untuk mengambil keuntungan sepihak. No. pola hubungan berdasarkan manfaat bersifat sementara dan bersyarat. maka dapat dikatakan perilaku tersebut adalah etis. (ii) apakah perilaku itu adil untuk semua pihak terkait?. diperdayai dan tindakan sejenisnya. dikambinghitamkan. menyalahkan.15 Tampak bahwa ketiga kriteria penilaian etis dan tidak etis tersebut bersifat bersaing (trade-off). menyepelekan.9 Cara ketiga untuk mempegaruhi orang lain adalah berdasarkan prinsip kehormatan. pengambilan keputusan adalah dalam rangka efisiensi dan produktivitas organisasi. mengancam.

Morgan. Organizational Studies. S. K & Miller. Boston. Jossey-Bash Publishers. B. A. 1965. Jakarta. Sydney. Goodyear Publishing Co. Di dalam setiap kehidupan organisasi baik organisasi formal maupun informal selalu terdapat fenomena politik yang melibatkan kepentingan.nicholsonmcbride. and Persuasion.M.The Hospital and Its Negotiated Order. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. New York. 3. namun harus dibarengi dengan kemampuan politik yang adekuat. kekuasaan dan pengaruh. Choice. Management of Organization.H. Harvard Business School Press.14(1):59-71. Bumi Aksara. Reframing Organizations: Artistry. diakses dari http:// www. Lee. Organizatinal Behavior (Terjemahan). Mc Bride. 1997. P. Santa Monica. Yukl. 8. Tokoh Mahatma Gandhi. 2. 2006. T. The Essentials of Power. G.E. R. L. 2002. Prentice Hall Inc.M. No. Perilaku politik berdasarkan azas kehormatan banyak ditunjukkan oleh para pemimpin besar dunia. Macro Organizational Behavior. Bolman. KEPUSTAKAAN 1. A. A. Politics.G & Deal. 5. The McGraw Hill Companies. The Power Principle (Terjemahan). New York. Blau. 7. London. KESIMPULAN DAN SARAN Untuk menjadi manajer yang efektif. The Hospital in Modern Society. Power and Influence.. 1993. M. 2006..com/news/index. 1963:147-69. G. Hawkin. from Henderson. 14. 6. San Francisco. Sage Publications. New York. 12. et al . Irwin. Apapun taktik yang dipakai oleh aktor dalam rangka mempengaruhi aktor lain untuk mengejar kepentingannya selayaknya harus tetap dalam kerangka etika berorganisasi dengan tetap memegang the golden rule yaitu ”perlakukan orang lain sebagaimana kamu menginginkan orang lain memperlakukanmu” atau ”jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan orang lain melakukan hal itu kepadamu”. The Theory of Social and Economic Organization. Power. Robbins. PT Indeks. New York. T. 10. 10. and Parsons. Exchange and Power in Social Life. Vol. perilaku politik berdasarkan asas kehormatan menduduki tataran tertinggi bila dilihat dari tingkat ’keetisan’-nya. Organizational Politics. in Friedson. Jakarta. misalnya. Strauss. 15. sehingga perilaku politik demikian (meski bersifat situasional) adalah etis dan dapat diterima semua pihak. Degeling. keterampilan manajemen instrumental saja tidaklah cukup. Wiley. Dalam proses mempengaruhi guna mengejar kepentingannya. sehingga apa yang terjadi tak ubahnya seperti permainan. Influence. 1994.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Perilaku politik dalam ”kelompok cara mempengaruhi dengan azas manfaat” dan ”kelompok cara mempengaruhi dengan kehormatan” merupakan perilaku politik yang etis dan dapat diterima semua pihak. 2002. 9. 1991.1980:151-85. Perilaku politik berdasarkan azas kehormatan mampu menanamkan ideologi dan cara hidup kepada pihak lain. 4 Desember 2007 165 . Binarupa Aksara. R. Perceived Political Climate and Job Attitudes. Free Press J/Glencoe. N.php. Weber. Miles. Glencoe Press. 2004. P. Analisis Politik Modern (Terjemahan). Selanjutnya. Eliot. Drory. Hasil perilaku politik berdasarkan azas manfaat adalah komitmen dan konsensus. University of New South Wales. setiap aktor akan saling memainkan sumber kekuasaannya untuk mempengaruhi aktor lainnya. 4. and Leadership. Politics and Ethics. 13. Jakarta. New Jersey. 11. 1947. 1994. mampu mempengaruhi lawan dan kawan karena prinsip hidup yang dipegangnya yaitu kesederhanaan dan kejujuran. Dahl. Images of Organization. Leadership in Organizations. 1996.

10. IUATLD. dkk. namun tidak berpengaruh terhadap jarak antara diagnosis dan pengobatan (yaitu 3 hari). Dampak intervensi ini perlu dievaluasi dari perspektif pasien. Halaman 166 . therefore. Secara global. biaya ABSTRAK Latar Belakang: Praktisi swasta (PSw) telah dilibatkan dalam program Tuberculosis (TB) sejak tahun 2002.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. The indirect cost did not differ significantly before and after the partnership (p>0.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta . This initiative was then expanded to a district level through a collaboration with Gadjah Mada University Faculty of Medicine and Fidelis. Result: PPs involvement has shortened the duration between start of symptoms and diagnosis. Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: Private practitioners (PPs) engagement in Tuberculosis (TB) control was initiated in 2002. it did not affect the duration between diagnosis and treatment initiation. dengan angka penemuan 51%. The subjects were new smear positive patients before and after PPs involvement with a total sample of 100 patients. Keywords: private practitioner involvement.1 Program pengendalian TB di Indonesia merumuskan tujuh strategi dalam kerangka kerja tahun 2006-2010. Pada tahun 2003 directly observed treatment shortcourse (DOTS) diimplementasikan di 183 negara dengan menyasar 83% dari penderita TB. program kemitraan tersebut belum dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan oleh pasien. therefore. 4 Desember 2007 .05). Kesimpulan: Program kemitraan yang dilaksanakan di Denpasar meningkatkan penemuan kasus TB BTA(+) dan pengobatan pasien TB dengan DOTS di tempat praktik swasta. No.2 Inisiatif ini juga telah diterapkan di Provinsi Bali dalam bentuk kerja sama dengan rumah sakit dan praktisi swasta. Inisiatif ini kemudian diperluas melalui kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan Fidelis.172 Artikel Penelitian DAMPAK KEMITRAAN PRAKTISI SWASTA TERHADAP KETERLAMBATAN DAN BIAYA PENANGANAN TUBERKULOSIS DI KOTA DENPASAR. delay. Meskipun demikian. However. i. The impact on this intervention from patient’s perspective should. 04 Desember 2007 Luh Putu Sri Armini.e. Overall. Objective: This study aimed to evaluate the impact of private practitioner involvement on delay and cost of TB case management. i. Method: A quasi-experimental study using pre and post-test design with different subjects was applied. Pada tahun 2004 diperkirakan ada 8. be evaluated. Pengukuran menggunakan dua instrumen yaitu kuesioner penilaian pasien dengan akses terbatas yang disusun oleh Fidelis.e. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan kuasieksperimental pre dan post-tes dengan subyek yang berbeda. Adi Utarini2 Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Denpasar. The analysis applied Chi-square and Mann Whitney-U statistical tests.05). IUATLD. FK UGM. Yodi Mahendradhata2. inisiatif ini dikenal dengan Public-Private Mix. cost program kemitraan dengan PSw. keterlambatan diagnosis. IUATLD dan kuesioner evaluasi Public-Private Mix dalam strategi DOTS yang dikembangkan di Hiderabad. However. Subyeknya adalah pasien TB BTA(+) sebelum dan setelah PENGANTAR Tuberkulosis (TB) Paru masih merupakan penyakit menular yang menjadi prioritas di Indonesia. kemitraan PPs meningkatkan penemuan kasus dan pengobatan TB di kotamadia Denpasar. public-private mix. Biaya langsung untuk pengobatan TB tidak ada oleh karena obat TB diberikan gratis.9 juta BTA (+). Conclusion: The partnership program has accelerated the case finding of new smear positive TB as well as access of TB patients diagnosed at private practices to receive DOTS treatment. total sejumlah 100 pasien. Two instruments were used. 3 days. BALI THE IMPACT OF PRIVATE PRACTITIONER ENGAGEMENT TOWARD DELAY AND COST OF TUBERCULOSIS CASE MANAGEMENT IN DENPASAR MUNICIPALITY. Hasil: Kemitraan PSw dapat memperpendek jarak antara munculnya gejala dengan diagnosis. the limited access questionnaire from Fidelis. Salah satu strategi tersebut adalah melibatkan seluruh penyedia pelayanan. TB drugs are free of charge. the program was not able to decrease the cost spent by the patient before and after receiving DOTS treatment.. patients did not pay the direct cost. Biaya tidak langsung tidak berbeda secara bermakna antara sebelum dan setelah kemitraan berjalan (p>0. Secara umum.000 terinfeksi virus HIV. public-private mix. Vol. Tujuan: Mengevaluasi dampak kemitraan dengan praktisi swasta terhadap keterlambatan diagnosis dan pengobatan serta biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk penanganan TB. Pada tahun 2004 penemuan dan pengobatan penderita TB di Bali telah dilakukan di seluruh 107 166 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kata Kunci: kemitraan dengan praktisi swasta.. Analisis data menggunakan uji Chi-square and Mann Whitney-U. Provinsi Bali 2 Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan dan Bagian IKM. PPs involvement accelerated case finding and treatment of TB cases in Denpasar municipality. IUATLD and PPM-DOTS evaluation questionnaire developed in Hyderabad.9 juta kasus TB baru yang terdiri dari 3. BALI Luh Putu Sri Armini1. 741.

dilakukan kegiatan kerja sama dengan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan.9 35.6 3. Tabel 1. Sejak September 2004. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang dimodifikasi dari kuesioner limited access (LA) Fidelis-IUATLD dan kuesioner evaluasi PPM DOTS yang dilaksanakan di Hyderabad India6. bidan dan perawat.999 0.5 39.5 Namun demikian.7 Setelah Kemitraan (n 51) n % 25 26 15 12 20 4 11 2 18 10 10 10 41 39 12 49. Variabel utama yang diteliti adalah keterlambatan diagnosis.4 23.1% versus 21. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuasieksperimental dengan rancangan pre-post test menggunakan subyek yang berbeda. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perbedaan karakteristik responden yang bermakna sebelum dan sesudah kemitraan adalah dalam hal pekerjaan. Data pasien BTA (+) diperoleh dari register TB kabupaten. Intervensi terdiri dari advokasi ke PSw tentang DOTS dan pilihan peran PSw melalui lunch seminar.4 76.1 6. Sejak tahun 2002. 4 Desember 2007 167 .4 42.6%).9 6. Karakteristik Responden Penelitian (n=100) Karakteristik Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tamat SD SMP SLTA PT Pekerjaan Buruh PNS Karyawan Swasta Wiraswasta Tidak bekerja Memiliki Kartu Sehat Ya Tidak Status Perkawinan Kawin Tidak Kawin Sebelum Kemitraan (n 49) n % 25 24 14 11 21 3 3 3 16 3 24 10 39 33 16 51.205 0.999 0. dampak intervensi tersebut bagi pasien belum dievaluasi.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan puskesmas.2 7.0 28. dan pertemuan monitoring triwulanan dengan petugas TB/wasor. No.8 21. pelatihan detailing bagi petugas TB puskesmas untuk melakukan surveilans ke PSw melalui kunjungan ke tempat praktik. keterlambatan pengobatan. Penelitian dilaksanakan di kota Denpasar.6 19. meskipun sejak tahun 2000 semua puskesmas telah melaksanakan program TB.5 X2 p 0. Sejumlah lima surveyor dilatih untuk menggunakan instrumen dengan cara wawancara pasien. biaya langsung dan tidak langsung.1 6.000 0. dibawa pasien dan diambil petugas TB ketika berkunjung). pertemuan monitoring bulanan dengan petugas TB yang diselenggarakan di tingkat Puskesmas Rujukan Mikroskopis.3 32. Pada tahun 20022004. Sampel penelitian ini adalah 49 pasien TB BTA (+) triwulan III (bulan Juli-September 2004) sebagai kelompok pembanding dan 51 pasien pada triwulan IV (Oktober-Desember) sebagai kelompok intervensi setelah kemitraan.0% versus 19.3 19. namun pelatihan ini belum diikuti dengan tindak lanjut monitoring dan evaluasi penerapan strategi DOTS di DPS. form pengiriman pasien untuk diagnosis/pengobatan rangkap tiga (untuk disimpan dokter.6 22.3 Situasi yang sama terjadi di kota Denpasar.0 49. kemitraan dengan praktisi swasta (PSw) mulai dikembangkan secara bertahap. akses pelayanan kesehatan dan perilaku mencari pengobatan.999 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.6 80. Fakultas Kedokteran UGM dan Fidelis IUATLD untuk memperkuat kemitraan Puskesmas dan PSw dokter.0 51.977 14.1 32.4 79.000 0.7 6.0 29. telah dilakukan sosialisasi mengenai strategi DOTS kepada dokter praktik swasta (DPS). akan tetapi angka penemuan kasus tetap belum dapat mencapai target program 70%.5 23.6 67. 10. khususnya yang bekerja sebagai buruh (6. Badung dan Buleleng).6 19. Analisis data menggunakan uji Chi Square dan Mann Whitney-U.389 0.000 0.006 0. Vol. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak kemitraan dengan praktisi swasta terhadap keterlambatan diagnosis dan pengobatan dan untuk mendeskripsikan biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk penanggulangan TB.1 49.0 20. Kontribusi PSw dalam menemukan BTA(+) mencapai 20% dari total BTA(+) di 3 kabupaten yang diintervensi (Denpasar.6%) dan yang tidak bekerja (49.

50 13.00 10.4 43.264 0.7 42.00 1.00 12. Lama Waktu Sejak Muncul Gejala.3 21.4 57.00 3.0 26.699 0.001 0.00 6.00 5. diikuti dengan rumah sakit dan praktik swasta. Lama sejak mulai muncul gejala hingga diagnosis menunjukkan bahwa program kemitraan mempercepat penemuan kasus TB. 10.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta . 034 1.00 8. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) yang relatif sama karena tidak signifikan secara statistik (p>0.694 0.305 0.6 5.05).5 10.702 0.146 6.528 0.0 22. dkk.4 7 30 5 0 11 36 18 9 22 18 11 3 29 19 42 9 16.00 11.75 6.. Upaya Mencari Pengobatan Sebelum dan Sesudah mendapatkan Pengobatan DOTS Uraian UPK yang pertama kali dikunjungi sebelum pengobatan DOTS Tradisional Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK yang pernah dikunjungi sebelum pengobatan DOTS Tradisional Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK yang menganjurkan pemeriksaan Dahak Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK tempat pengobatan DOTS Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit Sebelumnya mencari pengobatan lain Ya Tidak Sebelum Kemitraan (n 49) n % Setelah Kemitraan ( n 51) n % X2 p 7 27 4 2 9 32 18 11 10 28 11 3 31 15 40 9 17.Luh Putu Sri Armini. Lama waktu dari mulai muncul gejala hingga pasien melakukan kunjungan pertama kali pada suatu UPK pada kelompok sebelum kemitraan dan sesudah kemitraan relatif sama.016* 0.895 0.00 21.4 21.0 45.00 7.001* 0.6 18.1 63..50 5.50 10.00 1.00 11.1 35. Pada Tabel 2 dapat dilihat UPK yang pertama kali dikunjungi responden untuk mengobati penyakitnya adalah praktik swasta diikuti oleh pengobat tradisional puskesmas dan rumah sakit.222 0. Diagnosis hingga Pengobatan Lama waktu antara: Gejala–diagnosis (minggu) Diagnosis–pengobatan (hari) Gejala-kunjungan pertama ke UPK (minggu) Kunjungan pertama–pengobatan (minggu) Gejala–pengobatan (minggu) Sebelum Kemitraan Q1 Q2 Q3 7. Program kemitraan belum mempercepat waktu dari mulai terdiagnosa hingga diobati karena nilai median (Q2) lama waktu mulai terdiagnosis hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan sama dengan kelompok responden sebelum kemitraan.05). Vol.501 0.00 Setelah Kemitraan Q1 Q2 Q3 6.5 20.029* 168 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.5 67.3 82.3 30.9 . Program kemitraan belum mampu menurunkan lama muncul gejala hingga pasien berkunjungan pertama kali pada suatu UPK.00 p 0.00 13.999 0. Tabel 2.2 85.001 0. Pada kelompok setelah kemitraan justru PSw yang pertama kali menganjurkan pemeriksaan dahak.155 0.75 6.4 6.00 21.75 4. 999 Tabel 3. No.9 56.00 3.00 2. Hanya sekitar 20% responden baik sebelum maupun setelah kemitraan yang langsung mendapatkan pengobatan DOTS.00 4.00 9.9 21.6 81.00 0. Perbedaan median tersebut signifikan secara statistik (p<0.4 11. 4 Desember 2007 .763 0.7 71.00 1.0 5.05). UPK yang pertama kali menganjurkan responden memeriksa dahak pada kelompok sebelum kemitraan masih didominasi Puskesmas.00 6.6 2.9 37. Perbedaan median tersebut tidak signifikan secara statistik (p>0.1 22.5 80. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) lama waktu mulai muncul gejala hingga terdiagnosis pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan. Kunjungan Pertama ke Pelayanan Kesehatan. UPK tempat pengobatan DOTS terbanyak adalah di Puskesmas.017 0.0 27.00 1.

200 69.000 168. 10.525 763.000 5.000 3.950 710. Vol.000 5. baik biaya langsung maupun tak langsung dan total biaya yang dikeluarkan.785 0.000.000 0 9.223. Secara statistik perbedaan tersebut signifikan.800 370.065 0.649 35.800 95.000 107.800 6. di setiap UPK sebelum mendapatkan pengobatan DOTS terpapar dalam Tabel 5. Nilai median (Q2) lama waktu mulai muncul gejala hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan.500 12.750 152.000 7. Median total biaya yang dikeluarkan selama pengobatan sebesar Rp69.250 9.600 184.750 316.600 2.000 197.500 192. Biaya yang telah dikeluarkan untuk mencari pengobatan penyakitnya.500 2.000 60.000 353. karena terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok tersebut.750 292.909 0.424 0. Secara statistik perbedaan tersebut signifikan.416 0.200.600 30.000 15.600 36.000 150.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Lama waktu dari mulai kunjungan pertama kali ke suatu pelayanan kesehatan hingga diobati menunjukkan bahwa program kemitraan mempercepat pengobatan kasus TB.375 6.000 90.500 76.000 470.717 0.000 591.850 6.000 23.400.000 14.00 pada responden setelah kemitraan dan secara statistik juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.000 15.400 90.000 0.500 113.000 7.000 60.00 pada kelompok setelah kemitraan namun tidak berbedaan secara signifikan (p>0.05).000 4.000 87.629 0. Median biaya tak langsung sebesar Rp43.350 0 43.459 1. Perbandingan Biaya Pengobatan sebelum Mendapatkan Pengobatan DOTS Biaya UPK sebelum Pengobatan DOTS Pengobatan Tradisional Langsung Tidak langsung Total Praktik Swasta Langsung Tidak langsung Total Puskesmas Langsung Tidak langsung Total Rumah Sakit Langsung Tidak langsung Total Q1 Sebelum Kemitraan Q2 Q3 Q1 Setelah Kermitraan Q2 p Q3 0.000 5.05).000 4.000 65.900 2.971 0.000 160.800 109. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) lama waktu mulai kunjungan pertama kali ke suatu pelayanan kesehatan hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan. responden sebelum kemitraan dan setelah kemitraan juga relatif sama karena hasil Mann Withney tidak signifikan (p>0. No.200 34.400 302.400 20.800 94.250 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.500 27.370 0.500 116.660.000 19.000 116.000 5.701 0.800 10.000 4.200 458.729.800 15.200 60.120 0.750 0.850 312.700 9.000 9.000 18.304 Tabel 5.500 12. Biaya pengobatan sebelum dan selama pengobatan DOTS Biaya ke UPK Selama Pengobatan DOTS Langsung Tidak langsung Total Sebelum Pengobatan DOTS Langsung Tidak langsung Total Q1 Sebelum Kemitraan Q2 Q3 Q1 Setelah Kermitraan Q2 p Q3 0 10.500 52.500 6. baik biaya langsung.000 63.200 187.00 pada kelompok responden kelompok sebelum kemitraan dan Rp47.200 0 47.400 8.430.400 147.000 61. Hal tersebut berarti selama menjalani pengobatan TB kebanyakan responden tidak mengeluarkan biaya atau gratis.000 4.05).850 10.200 120.000 3. Total biaya keseluruhan yang dikeluarkan sebelum mendapatkan pengobatan DOTS.000 1.500 10.000 300.000 460.800 352. 4 Desember 2007 169 .000 12.046* 0.486 0.000 320.000 6.750 1.625 49.500 300.250 8.000 183.600 304. Lama waktu dari mulai muncul gejala hingga diobati menunjukkan bahwa program kemitraan juga mempercepat pengobatan kasus TB. Median biaya langsung yang dikeluarkan selama pengobatan DOTS sebesar 0 dan secara statistik juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.000 284.250 5.00 pada kelompok sebelum kemitraan dan Rp68. biaya tak langsung maupun total biaya.000 536. Dari Tabel 3 dapat disimpulkan bahwa program kemitraan mempercepat penemuan dan pengobatan kasus TB di Kota Denpasar.900 586.050 659.600.038* 0.05).400 68. Tabel 4.

Luh Putu Sri Armini. sehingga program kemitraan juga telah dilaksanakan di semua kabupaten lain. biaya tak langsung dan total biaya yang dikeluarkan responden kelompok sebelum kemitraan dan setelah kemitraan tidak terdapat perbedaan baik pada UPK praktik swasta. Biaya yang dianalisis dalam penelitian ini adalah biaya tunai yang dikeluarkan oleh penderita selama mencari pengobatan dan menjalani pengobatan DOTS. Penelitian ini tidak dapat membandingkan daerah yang melaksanakan program kemitraan dengan daerah lain yang belum melaksanakan program tersebut. Hasil Survei prevalensi TB tahun 2004 menemukan bahwa proporsi pasien yang mendapat pengobatan awal di puskesmas hampir sama dengan praktik swasta yaitu sekitar 40-60%. Median biaya langsung. rumah sakit swasta dan klinik swasta. Di Provinsi Bali khususnya di Kota Denpasar masih banyak potensi pelayanan praktisi swasta yang memungkinkan untuk dilibatkan dalam penemuan kasus TB. Vol. Keterlambatan tersebut kemungkinan karena pasien disebut ”patient delay” yaitu rentang waktu antara gejala dimulai sampai pasien mengunjungi fasilitas kesehatan. di ikuti dengan rumah sakit umum. Keterlibatan UPK praktik swasta yang semakin besar mempercepat waktu dari muncul nya gejala hingga terdiagnosis maupun pengobatan DOTS.05).8 Beberapa hal yang mempengaruhi keterlambatan dari pasien antara lain : pengetahuan pasien tentang TB.. sedangkan pada responden kelompok setelah kemitraan justru lebih banyak yang telah dianjurkan untuk memeriksakan dahak. Penderita yang lebih dini ditemukan akan mempengaruhi kecepatan pengobatannya. sebaliknya biaya tak langsung sebelum kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok setelah kemitraan. Total biaya di UPK pengobatan tradisional tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0. tempat tinggal pasien yang jauh dari fasilitas kesehatan dan bila pasien itu seorang pecandu alkohol. PPM DOTS yang dilaksanakan di Hyderrabad dan New Delhi India mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh pasien. PEMBAHASAN 1. dkk. Berbeda dengan hasil evaluasi ekonomi yang dilaksanakan pada pelaksanaan PPM DOTS di Hyderrabad dan New Delhi India. Median biaya langsung untuk mencari pengobatan tradisional yang dikeluarkan responden kelompok sebelum kemitraan lebih besar dibandingkan kelompok setelah kemitraan.05). Pembanding diambil dari pasien TB BTA(+) triwulan III sebelum kemitraan dilaksanakan.. Perubahan tersebut karena program kemitraan yang dilakukan dengan melatih UPK praktik swasta untuk menemukan TB. Hal tersebut menunjukkan bahwa perilaku masyarakat dalam pencarian untuk penyakit yang dideritanya baik pada kelompok responden sebelum kemitraan maupun setelah kemitraan masih relatif sama. sehingga banyak fasilitas pelayanan kesehatan selain puskesmas yang harus dilibatkan. Akan tetapi tidak semua praktik swasta dipilih menjadi tempat pengobatan DOTS secara rutin bagi penderita TB. 4 Desember 2007 . disamping juga akan memperluas 2. Penggunaan kontrol pelaksanaan program kemitraan dengan daerah lain tidak dilakukan karena pelaksanaan program kemitraan telah dilaksanakan di seluruh Provinsi Bali. jaringan TB DOTS ke seluruh petugas puskesmas pembantu di Bali termasuk Denpasar. Pembahasan Metodologis Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan program kemitraan di Kota Denpasar seharusnya dilakukan penelitian komparatif. Sesuai kebijakan Dinas Kesehatan Provinsi Bali dan kota Denpasar perluasan TB DOTS dilaksanakan pada lebih banyak rumah sakit swasta dan praktisi swasta termasuk bidan dan perawat. 7 Responden kelompok sebelum kemitraan yang berkunjung ke UPK praktik swasta lebih banyak tidak menganjurkan pemeriksaan dahak. Semakin banyak UPK praktisi swasta yang terlibat dengan dalam penemuan kasus TB menunjukkan program kemitraan di Denpasar semakin berhasil. 10. Bagi penelitian lain disarankan untuk melakukan penelitian tentang biaya yang harus ditanggung akibat dari pencarian pengobatan penyakitnya dan menjalani pengobatan DOTS. Responden yang ditemukan oleh UPK praktik swasta kemungkinan melanjutkan pengobatan DOTS di Puskesmas atau Rumah Sakit. 9 Biaya yang dikeluarkan oleh penderita TB untuk mencari pengobatan sebelum menjalani pengobatan DOTS baik responden sebelum kemitraan maupun setelah kemitraan tidak berbeda bermakna.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta . perbedaan tersebut karena di Hyderrabad dan New 170 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. puskemas dan rumah sakit (p>0. No. Pembahasan Isi dan Konteks Program TB di Denpasar Bali Program kemitraan mempercepat penemuan kasus TB BTA (+) di UPK praktik swasta dan pasien segera mendapatkan pengobatan DOTS. Biaya akibat kehilangan waktu kerja selama mencari pengobatan penyakitnya dan menjalani pengobatan DOTS tidak dihitung. Program kemitraan telah berhasil mempengaruhi perilaku UPK untuk mencurigai pasien yang batuk dan keluhan dada lain untuk diperiksa lebih lanjut terutama pada praktik swasta dan rumah sakit.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Delhi India pelaksanaan PPM DOTS dilaksanakan oleh lebih banyak sektor praktisi swasta, rumah sakit swasta, perawat swasta, dan laboratorium swasta yang tidak memungut bayaran pada pasien TB yang berobat, sedangkan di Denpasar yang tidak dibayar oleh pasien hanya alat TB (di semua UPK dan praktisi) dan laboratorium (di Puskesmas). Implikasi Hasil Penelitian terhadap Kebijakan dan Program TB di Denpasar Program kemitraan yang dilakukan di Kota Denpasar telah meningkatkan penemuan kasus TB BTA (+) dan memperpendek waktu dari munculnya gejala hingga diagnosis dan pengobatan. Hal tersebut berarti keterlibatan praktik swasta di Kota Denpasar terhadap pemberantasan TB semakin besar, walaupun belum optimal. Hasil penelitian menemukan masih terdapat UPK praktik swasta yang tidak menganjurkan pemeriksaan dahak kepada pasien dengan gejala TB. Pemeriksaan dahak merupakan salah satu upaya untuk menegakkan diagnosis TB pada pasien yang diduga terjangkit TB. Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis dilakukan terhadap dahak sewaktu pagi sewaktu (SPS) secara mikroskopis identik dengan pemeriksaan secara kultur atau biakan.10 Undang-Undang Praktik Kedokteran No. 29/ 2004 secara spesifik menyebutkan adanya kewajiban dari semua praktisi dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar yang artinya praktisi swasta seharusnya mengetahui dan menerapkan International Standar TB Care (ISTC) yaitu manajemen DOTS. Secara kualitas maupun kuantitas, keterlibatan praktik swasta harus ditingkatkan dengan melibatkan UPK yang lebih banyak karena pada tahap awal UPK praktik swasta yang dilibatkan, termasuk UPK praktik swasta paramedis dan bidan. Advokasi DOTS dan promosi standar pelayanan TB dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar diperlukan memperkuat jejaring antara klinik praktik swasta, rumah sakit dan pelayanan kesehatan yang lain yang belum menerapkan DOTS. Hal tersebut dikarenakan kebijakan kesehatan merupakan kewenangan daerah akibat dari desentralisasi masalah kesehatan. Peran Dinas Kesehatan yang lebih besar dibutuhkan untuk melibatkan lebih banyak praktisi swasta yang ada di Denpasar. Hal tersebut tidaklah mudah karena banyaknya praktisi swasata yang ada di Denpasar dan memerlukan pembiayaan untuk melaksanakan ekspansi tersebut. Saat ini ekspansi 3.

DOTS di Denpasar didanai dari Global Fund (GF), diperlukan juga suatu komitmen dari pemerintah kota untuk pembiayaan DOTS ini kalau GF sudah tidak mensubsidi dana lagi. Perluasan manajemen DOTS di Denpasar dikaitkan juga dengan regulasi perijinan dokter praktik swasta yang mencari izin praktik. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kesimpulan studi ini adalah bahwa program kemitraan Puskesmas-praktisi swasta di Denpasar dapat mempercepat penemuan kasus TB BTA (+) dan mempersingkat jarak antara diagnosis dan pengobatan dengan DOTS. Akan tetapi program kemitraan ini belum dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan oleh pasien, baik sebelum maupun sesudah memperoleh pengobatan DOTS. Saran Disarankan agar Dinas Kesehatan membuat kebijakan untuk melanjutkan model kemitraan Puskesmas-PSw ini. Selain itu, petugas TB Puskesmas menyarankan PSw untuk melakukan promosi kesehatan terhadap pasien dan memberikan penjelasan mengenai kemungkinan kunjungan oleh Puskesmas apabila terjadi mangkir pengobatan. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk menghitung total biaya pasien, termasuk opportunity cost. Kelompok pembanding (yaitu kabupaten yang belum melaksanakan kemitraan Puskesmas-PSw) dapat memperkuat rancangan penelitiannya. KEPUSTAKAAN 1. WHO. WHO Report 2006: Global Tuberculosis Control.2006. 2. Arora, V.K., Lonnroth, K. & Sarin, R. Improved Case Detection of Tuberculosis through a PublicPrivate Partnership Indian Journal of Chest Disease & Allied sciences. 2004;46:133-6. 3. Sub Dinas PPM & PLP Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Laporan Hasil P2 Tuberkulosis di Bali. 2004. 4. Sub Dinas P2P Dinas Kesehatan Denpasar Bali. Laporan Hasil P2 Tuberkulosis di Denpasar. 2004. 5. Utarini, A., Mahendradhata, Y., Syahrizal, B.M. Project Report Program Akselerasi Kemitraan Pemerintah – Praktisi Swasta Dalam Pengendalian Tuberkulosis di Provinsi DIY dan Bali. PMPK FK UGM, Fidelis & IUATLD. 2005. 6. Murthy, K.J.R., Frieden, T.R., Yazdani, A., Hreshikesh, P., (2001). Public-Private Partnership in Tuberculosis Control: Experience in Hyderabad, India. The International Journal

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

171

Luh Putu Sri Armini, dkk.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta ...

7.

8.

of Tuberculosis and Lung Disease. 2001;5 (4): 354-9. Soemantri, S. Senewe, F.P. eds. Tuberculosis Prevalence Survey in Indonesia 2004; Project DOTS Expansions GF ATM. 2005. Demissie, M, Lindtjorn, B, & Berhane, Y. Patient and Health Service Delay in the Diagnosis of Pulmonary Tuberculosis in Ethiopia. Biomedcentral Public Health. 2002; 2(23):1-7.

Rajeswari, R., Chandrasekaran V., Suhader, M., Siva Subramaniam,.S., Sudha, G., Renu, G. Factors Associated with Patient and Health System Delays in The Diagnosis of Tuberculosis in South India. The International Journal of Tuberculosis and Lung Disease. 2002;6 (9): 789-95. 10. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Jakarta. 2002.

9.

172

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 10 No. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 173 - 180 Artikel Penelitian

OPSI-OPSI KEBIJAKAN UNTUK PELATIHAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN: PEMBELAJARAN DARI PENELITIAN POLA PENINGKATAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA DALAM OTONOMI DAERAH BIDANG KESEHATAN
POLICY OPTIONS FOR HEALTH PERSONNEL’S TRAINING; LESSON LEARNED FROM THE RESEARCH ON THE PATTERN OF IMPROVING HUMAN RESOURCES COMPETENCY IN HEALTH SECTOR AUTONOMY Evie Sopacua, Didik Budijanto Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan

ABSTRACT
Background: A tendency according to the implementation of health decentralization is that health centre and hospital will change into an entrepreneurship organization while health offices will be a birocracy organization with good governance practicisme. In connection with that, various new skills for health personnel’s is needed which is managerial, leadership and entrepreneurship. Method: In the year 2002–2004, Health Services and Technology Research and Development Centre have done a study about the pattern of improving human resources competency in health sector autonomy. The study was done through several phases and in 2002 an assessment was done about health personnel’s managerial, leadership and entrepreneurship skills. In 2003 the assessment’s result was implemented, followed by an evaluation of the implementation in 2004. This study located in the province of East Java, West Nusa Tenggara and East Kalimantan. Two districts was selected purposively in each province and the research targets were the head and staff of district health office, hospital and two health centers in the selected district Result: Lesson learned from this study was some policy options. First, structuring the pattern of health personnel’s improvement in a system. Second, integrating the four level evaluation of Kirkpatrick in the training evaluation. Third, planning and implementing an effective training program using Kirkpatrik’s steps while the budget was counted with paying attention of the activity and phases according to the plan. Fourth, a management of a training program to escalate health personnel’s competencies will involved stake holders. Fifth, that health personnel’s in district health office needs to have the competency to organize and manage training programs. Conclusion: The policy option that was proposed to improve health personnel’s skill through training should be considered in the restructuretation of district health office specially in anticipating the implementation of government regulation No. 38/2007 and 4/2007. Keywords: policy options, lesson learned, health personnel’s training program

harus memahami good governance. Untuk itu, diperlukan berbagai keterampilan baru bagi sumber daya manusia kesehatan yaitu keterampilan manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan. Metode: Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan pada tahun 2002–2004 melaksanakan penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan. Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa tahapan yaitu pengkajian keterampilan SDM kesehatan tentang manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan (2002), implementasi hasil kajian melalui pelatihan (2003) dan evaluasi implementasi pelatihan (2004). Lokasi penelitian di Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Timur. Secara purposif dipilih dua kabupaten/kota di tiap provinsi penelitian dan sasaran penelitian adalah kepala dan staf dinas kesehatan kabupaten/ kota, direktur dan staf rumah sakit umum kabupaten/kota serta kepala dan staf di dua puskesmas di kabupaten/kota penelitian. Hasil: Pembelajaran dari penelitian ini adalah beberapa opsi kebijakan. Pertama yaitu penataan pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam suatu sistem. Opsi kedua adalah memasukan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dalam evaluasi pelatihan. Opsi ketiga adalah perencanaan dan implementasi program pelatihan yang efektif menurut Kirkpatrick dengan anggaran yang dihitung berdasarkan langkah kegiatan dan tahapan sesuai perencanaan. Keempat, bahwa penataan pelaksanaan suatu pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Opsi kelima, bahwa SDM di dinas kesehatan kabupaten/kota perlu memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan pelatihan. Kesimpulan: Opsi-opsi kebijakan yang diusulkan untuk peningkatan keterampilan SDM kesehatan melalui pelatihan, perlu mendapatkan pertimbangan dalam restrukturisasi dinas kesehatan kabupaten/kota khususnya mengantisipasi pelaksanaan PP No. 38/2007 dan No. 41/2007. Kata Kunci : opsi kebijakan, pembelajaran, pelatihan SDM kesehatan

ABSTRAK
Latar belakang: Sehubungan dengan pelaksanaan desentralisasi kesehatan maka terdapat kecenderungan perubahan rumah sakit dan puskesmas ke arah lembaga usaha, sedangkan dinas kesehatan menjadi lembaga birokrat yang

PENGANTAR Penerapan desentralisasi di bidang kesehatan pada tahun 1999 menyebabkan dinas kesehatan termasuk puskesmas, rumah sakit mendapat tugas dan wewenang yang sangat besar dalam era otonomi

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

173

Manajemen strategik diukur melalui perumusan visi. Kebutuhan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi SDM kesehatan tentang keterampilan manajerial. Kemudian manajemen konflik yang diukur dari bentuk manajemen konflik (stimulasi/ penekanan/penyelesaian) dan metode yang digunakan. serta kepala dan staf di dua puskesmas di kabupaten/kota penelitian. Trisnantoro1 menjelaskan bahwa keterampilan yang diperlukan SDM kesehatan adalah mengelola perubahan. budaya. Pelaksanaan Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi SDM Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Penelitian pengembangan ini dilaksanakan dalam suatu pola dengan beberapa tahapan pelaksanaan yaitu pengkajian keterampilan manajerial SDM kesehatan yang diharapkan dan kenyataannya tahun 20022. No. misi. hasil penelitian Gilsons menurut Trisnantoro1 menunjukkan bahwa secara praktis perlu perubahan yang incremental. orientasi pada tugas–hasil dan optimisme/ percaya diri. politik.. sedangkan dinas kesehatan cenderung menjadi lembaga birokrat yang harus memahami good governance atau menjadi holding company dari puskesmas dan berbagai lembaga pelayanan kesehatan lainnya. 4 Lokasi penelitian di Provinsi Jawa Timur (Jatim). Secara purposif dipilih dua kabupaten/ kota di tiap provinsi penelitian dan sasaran penelitian adalah kepala dan staf dinas kesehatan kabupaten/ kota. 4 Desember 2007 .Evie Sopacua.1 Fenomena perubahan institusi pelayanan kesehatan kearah dua kutub yang berbeda yaitu kutub birokrasi dan kutub lembaga usaha perlu dipahami oleh para pimpinan lembaga kesehatan khususnya di daerah karena masing-masing kutub mempunyai kultur yang berbeda. Observasi dan penelusuran dokumen rencana strategik dinas kesehatan. kepemimpinan dan kewirausahaan SDM kesehatan seperti yang ditunjukkan Tabel 1. isu strategik/pengembangan. dan ekonomi yang kesemuanya akan berdampak pada kinerja organisasi. dalam keadaan otonomi daerah diperlukan berbagai keterampilan baru dalam aplikasi otonomi daerah. implementasi hasil kajian melalui pelatihan tahun 2003 3 dan evaluasi implementasi pelatihan tahun 2004.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . 10. Maka Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan melaksanakan penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan pada tahun 2002 – 2004. Variabel yang dikaji pada keterampilan manajerial meliputi manajemen perubahan yang diukur dari penanganan perubahan reaktif dan proaktif. direktur dan staf rumah sakit umum kabupaten/ kota. Keterampilan kepemimpinan dikaji pada variabel keterampilan direktif. 174 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. supportif. kemampuan manajerial SDM kesehatan yang perlu dimiliki adalah keterampilan manajerial. keterampilan kepemimpinan. Untuk itu. Hasil penelitian menunjukkan gambaran keterampilan manajerial. penerapan strategi dan rencana pelaksanaan dalam rencana strategik institusi. negosiasi lobi. khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang terlibat didalamnya. Vol. kepemimpinan dan kewirausahaan perlu dilakukan. menciptakan usaha. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). partisipatif dan orientasi prestatif dan keterampilan kewirausahaan pada variabel keterampilan keberanian mengambil risiko. serta keterampilan kewirausahaan. bisnis dan fungsional. Berdasarkan hasil pengkajian dibuat draf modul untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan. Sehubungan dengan itu. kepemimpinan dan kewirausahaan. tujuan. Pada penelitian tahap pertama tahun 20022 dilakukan pengkajian untuk menemukan gap antara keterampilan manajerial SDM kesehatan yang diharapkan dan kenyataannya. strategi umum.. dkk. rumah sakit umum daerah dan rencana tahunan puskesmas dilakukan untuk mengkaji pemahaman konsep manajemen strategik. pemasaran. sedangkan menurut Prud’Homme & Mc Lure seperti yang dicatat Trisnantoro 1. Pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara dan observasi. dan mengelola aspek sosial. Terkait dengan pelaksanaan desentralisasi kesehatan maka kecenderungan perubahan rumah sakit dan puskesmas ke arah lembaga usaha atau enterpreneurship. Wawancara menggunakan kuesioner dengan skala peringkat dan sistem skoring untuk mengukur aspek konatif SDM kesehatan tentang keterampilan manajemen perubahan dan manajemen konflik. daerah (otoda). Hasil kajian merupakan kebutuhan SDM kesehatan untuk peningkatan keterampilan. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan keterampilan dari SDM kesehatan. kajian faktor eksternal dan internal lembaga.

dalam aspek pemasaran.90% responden masih kurang terbanyak responden masih kurang. Penilaian pemahaman konsep sedangkan untuk komponen aplikasi sedangkan untuk aplikasi dari manajemen strategik dalam aplikasi dari manajemen strategik melalui manajemen strategik melalui rencana strategik (renstra) belum normatif penyusunan rencana strategik rencana strategik (renstra) belum normatif sebagaimana yang sebagaimana yang diharapkan. Keterampilan Kepemimpinan Keterampilan kepemimpinan dari 50% Keterampilan kepemimpinan 52. terbanyak pada aspek suportif dan orientasi untuk aspek suportif dan orientasi untuk aspek suportif dan orientasi prestatif prestatif. Cara penyampaian materi modul dalam pembelajaran Kabupaten A Provinsi Jatim n=22 (100%) 1 2 3 4 17 (77. No. rumah sakit umum daerah dan puskesmas di Provinsi Kalimantan Timur. Pembelajaran materi modul relevan dengan tupoksi sehari-hari 2. baik di dinas kesehatan. 4 Desember 2007 175 . kurang. responden masih perlu peningkatan pemahaman. Pengembangan modul didampingi expert dari Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Pembelajaran materi modul relevan dengan program institusi 3.1) - - 5 (20.0) 17 (68. prestatif. Gambaran Keterampilan Manajerial. terbanyak responden masih kurang. Sangat sesuai Sumber : Budijanto dan Sopacua3 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.3) 17 (77.2% Keterampilan kepemimpinan 62.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 1. Tidak sesuai. Vol.7) 4 (18. 91. 3. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit di Kabupaten pada Tiga Provinsi Penelitian Variabel Yang Dinilai 1. Cara pertama adalah proses pembelajaran dengan penjelasan materi modul. Sumber : Budijanto dan Sopacua2 Kesimpulan pada tahap pengkajian ini adalah bahwa keterampilan kepemimpinan dan kewirausahaan SDM kesehatan masih kurang. 3. diharapkan. Modul dikembangkan menggunakan hubungan pelanggan atau Customer Relationship Marketing (CRM) sebagai strategi pemasaran. Kepemimpinan dan Kewirausahaan SDM Kesehatan di Tiga Provinsi Penelitian Provinsi Jawa Timur Provinsi Kalimantan Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (n=82) (n=61) (n=35) 1. implementasi modul dalam tahap kedua penelitian dilaksanakan dengan dua cara.5) 2 (9.3) 16 (72. Keterampilan Kewirausahaan Keterampilan kewirausahaan dari Keterampilan kewirausahaan 54.5 % responden masih kurang. Sangat tidak sesuai. masing-masing di satu kabupaten pada ketiga provinsi penelitian.1% responden masih kurang. 2.0) 3 (12.6) 16 (72. 4. 10. Hasil evaluasi pelaksanaan pembelajaran modul terlihat pada Tabel 2. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit.1% 56. responden masih kurang.0) 5 (20. dalam aspek pemasaran. Pada tahap kedua penelitian tahun 20033. Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur.0) - - - Keterangan : Skor : 1.0) 20 (80.3% responden mempunyai Keterampilan untuk mengelola konflik Keterampilan untuk mengelola konflik keterampilan mengelola konflik masih 90.3% Keterampilan kewirausahaan 54.2) Kabupaten C Provinsi NTB n=25 (100%) 1 2 3 4 23 (92.2) 3 (13.2) Kabupaten B Provinsi Kaltim n=22 (100%) 1 2 3 4 1 (4.0) - - 1 (4.7) 5 (22. 2.1% responden masih kurang. Keterampilan Manajerial Ada 74.6) 15 (68. perlu meningkatkan kompetensi SDM kesehatan sesuai dengan perkembangan pelayanan rumah sakit dan puskesmas di masa mendatang. Proses pembelajaran ini dilaksanakan selama tiga hari.2) 5 (22.5) 4 (18. Hasil Evaluasi Proses Pembelajaran Modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan. Tabel 2. terbanyak responden masih kurang. Evaluasi proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan format evaluasi tahap satu dari Kirkpatrick6 dan observasi peneliti (menggunakan format).7) 14 (63. maka draft modul yang dibuat tentang keterampilan kewirausahaan dalam aspek pemasaran.0) 2 (8. Untuk itu. draf modul disempurnakan menjadi modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan. Sesuai. terbanyak terbanyak dalam aspek pemasaran.2) 4 (18.7) 4 (18. mengisi kertas kerja berupa refleksi pemahaman terhadap materi modul dan diskusi. Surabaya sebagai konsultan karena keterbatasan waktu dan anggaran. Disarankan untuk melaksanakan capacity building melalui pelatihan untuk implementasi modul.2) 4 (18.

Evaluasi tahap 1 atau Reaction Level: 60% responden menyatakan materi pelatihan bermanfaat karena relevan dengan pekerjaan sehari-hari (tupoksi). Evaluasi tahap 3 atau Behaviour Level: 60% responden menyatakan telah mendiseminasikan sebagian materi pelatihan kepada teman sekerja dalam unit/bidang yang sama dalam integritas pekerjaan mereka sehari-hari (perubahan keahlian).3) 3.1) Tahap 3 : Behaviour Level : pelaksanaan diseminasi materi modul 1.0) 3 (21.0) Tahap 4: Result level: rencana penerapan materi modul di institusi (puskesmas & rumah sakit umum daerah) 1. lebih dari 60% di ketiga provinsi penelitian sama dengan evaluasi tahap 1 (reaction level) dalam Tabel 3. Vol.6) 5 (41. Bermanfaat 5 (29. Budijanto. Kesimpulan pada penelitian tahap kedua ini bahwa proses pembelajaran dan sosialisasi materi modul sebagai cara pelatihan untuk meningkatkan keterampilan SDM kesehatan dapat dilakukan.3) Sumber : Sopacua. Evaluasi Implementasi Modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan. hanya sebagian materi 12 (70. Tabel 3. a.7) 2. Penilaian pada setiap tahap evaluasi adalah sebagai berikut. Proses pembelajaran dan sosialisasi ini diikuti oleh responden yang sama pada penelitian tahun 2002. Evaluasi tahap 2 atau Learning Level: 60% responden menyatakan dapat menerapkan sebagian dari materi pelatihan ke dalam integritas pekerjaan mereka sehari-hari. tetapi hanya yang berasal dari rumah sakit umum daerah dan dari dua puskesmas terpilih di tiga provinsi penelitian serta kepala dinas dan kepala subdin bina pelayanan dinas kesehatan kabupaten/kota. Dilakukan. dkk. dilakukan dalam satu hari. b. Pada tahap ketiga penelitian tahun 20044.6) 8 (66.4) Tahap 2 : Learning level : kesempatan menerapkan materi modul dan dukungan fasilitas untuk itu 1. Proses pembelajaran dan sosialisasi bukan metode yang tepat untuk pengalihan pengetahuan materi modul. Evaluasi tahap 4 atau Result Level: 60% peserta pelatihan dapat membuat rencana penerapan materi pelatihan untuk dilaksanakan dalam kegiatan sehari-hari. Ada kesempatan menerapkan sebagian materi dan cukup dukungan fasilitas 17 (100) 12 (100) 13 (92..3) 2 (14. Tidak berpendapat 5 (29. Sudah ada rencana penerapan 16 (94. tetapi pengulangan penilaian dilakukan untuk mendapatkan kesinambungan penilaian dari tahap 1 sampai 4 pada responden yang sama. tetapi keterbatasan anggaran dan waktu menyebabkan pilihan ini. Prajoga4 Evaluasi Implementasi Modul Tahap 1 – 4 dari Kirkpatrick 176 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10.4) 4 (33.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia .7) 10 (71. Tetapi disarankan agar implementasi modul dilanjutkan dengan pendampingan sehingga diperoleh pengalihan pengetahuan sebagai hasil dari implementasi modul.3) 5 (35. Walau sebenarnya evaluasi tahap 1 dari Kirkpatrick6 sudah dilakukan pada penelitian tahun 2003 (Tabel 2).7) 7 (50.9) 2.6 Evaluasi dilaksanakan pada responden dari puskesmas dan rumah sakit.3) 7 (50. Pelatihan merupakan komponen penting dari pembelajaran atau learning5 tetapi diharapkan proses ini dapat menghasilkan perubahan yaitu didapatnya kemampuan baru yang berlaku untuk waktu yang relatif lama. baik yang mengikuti pembelajaran dan sosialisasi pada penelitian tahun 2003. d.. khususnya dalam menciptakan program-program CRM sebagai suatu strategi pemasaran. Hasilnya tidak jauh berbeda karena kesesuaian materi modul pada Tabel 2. Evaluasi proses sosialisasi hanya dengan observasi peneliti menggunakan format evaluasi.9) 3 (25. Perlu dilakukan evaluasi implementasi (evaluasi pascapelatihan) untuk menilai apakah materi modul benar-benar dimanfaatkan dalam pekerjaan sehari-hari dan berdampak bagi puskesmas dan rumah sakit. No. dilakukan evaluasi implementasi modul menggunakan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick. Belum ada rencana penerapan 1 (5.0) 2 (14.9) 3.0) 2.1) 8 (66.Evie Sopacua.7) 6 (42. tetapi yang menerapkan materi modul dalam pekerjaannya sehari-hari.4) 2. Tidak berpendapat 3 (25. Cara kedua adalah sosialisasi yaitu penjelasan materi dengan diskusi tanpa pengisian kertas kerja. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit Menggunakan Evaluasi 4 Tahap dari Kirkpatrick di Tiga Provinsi Penelitian Provinsi Jatim Provinsi Kaltim Provinsi NTB n=17 (%) n=17 (%) n=14 (%) Tahap 1 : Reaction level : materi pelatihan bermanfaat karena relevan dengan pekerjaan sehari-hari (tupoksi) 1. Tidak ada kesempatan dan dukungan fasilitas 1 (7. masing-masing di satu kabupaten pada ke tiga provinsi penelitian. c.4) 4 (33. Cukup Bermanfaat 12 (70. 4 Desember 2007 . Tidak berpendapat 1 (8.

Dukungan diperlukan agar materi modul diterapkan secara terintegrasi dengan kegiatan lain yang diselenggarakan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat dianggarkan. Selain itu. Menurut Kirkpatrick6. Hasil kajian digunakan sebagai dasar perencanaan pelatihan bagi SDM kesehatan yang diharapkan berdampak pada kinerja organisasi baik dinas kesehatan. Disarankan agar evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dilakukan pada pelatihan jangka panjang yang terencana dengan baik di puskesmas dan rumah sakit. Pada evaluasi tahap 3 target tersebut dicapai Provinsi Jatim dan Kaltim. Pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan diawali dengan suatu pengkajian kebutuhan pelatihan (training need assessment = TNA) yang menjelaskan gap antara harapan dan kenyataan yang ada. Walau di Provinsi NTB. Vol. Lesson Learned Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi SDM Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Penelitian pada tahun 2002-2004 seperti yang diuraikan di atas menggambarkan suatu pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam otonomi daerah bidang kesehatan. Pelatihan pada SDM kesehatan untuk peningkatan kompetensi sebaiknya direncanakan berdasarkan kebutuhan pelatihan yang normatif sehingga ada dukungan pascapelatihan dari institusi ketika materi pelatihan diimplementasikan. Keterbatasan ini juga menyebabkan pada evaluasi tahap 4 tidak dilakukan pengkajian ulang tentang keterampilan kewirausahaan dengan materi yang sama yang digunakan pada penelitian tahap satu sehingga peningkatan keterampilan SDM kesehatan dampak pelatihan dapat diukur. 4. Modul materi pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan sesuai hasil kajian apabila belum ada. sehingga dapat diketahui apakah ada peningkatan keterampilan setelah pelatihan. 2. pada evaluasi tahap 4 seharusnya dilakukan pengkajian ulang tentang keterampilan kewirausahaan dengan materi yang sama yang digunakan pada tahap satu penelitian. 3. Keterbatasan waktu dan anggaran menyebabkan pola peningkatan kemampuan SDM kesehatan melalui penelitian ini tidak dapat dilaksanakan sebagaimana yang seharusnya. Pelatihan sebaiknya direncanakan berdasarkan suatu analisis kebutuhan pelatihan. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 ini kemudian dibandingkan dengan hasil pengkajian kebutuhan pelatihan pada penelitian tahap satu. Lesson learned yang diperoleh adalah bahwa: 1. No. ke-4 tahap evaluasi ini berkaitan sehingga pencapaian tahap berikut tergantung tahap sebelumnya. Kesimpulan evaluasi implementasi modul menunjukkan bahwa materi modul dapat diterapkan di puskesmas dan rumah sakit. Pendampingan pada aplikasi materi pelatihan dalam pekerjaan sehari-hari diperlukan sehingga pengalihan pengetahuan dapat terlaksana. rumah sakit dan puskesmas. Kirkpatrick6 menganjurkan agar pada evaluasi tahap 3 dan 4 dilakukan penilaian ulang dengan tenggang waktu yang ditentukan. tetapi memerlukan perencanaan yang matang dan komprehensif dengan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan . Kegiatan yang dihitung sudah termasuk pengkajian kebutuhan pelatihan dan pelaksanaan evaluasi tahap 3 dan 4 dengan pengulangan pada tenggang waktu yang sudah ditentukan dalam perencanaan pelatihan. Kegiatan juga termasuk pengkajian ulang pada evaluasi tahap 4 dengan materi yang juga digunakan pada pengkajian kebutuhan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pencapaian evaluasi tahap 3 hanya 50%. perlu dikembangkan dan pengembangan modul membutuhkan waktu. Kendala yang dihadapi dalam implementasi modul di puskesmas khususnya adalah belum ada dukungan dinas kesehatan. Pelatihan bukan sesuatu yang dapat dilaksanakan secara instan. 2 dan 4 di ketiga provinsi penelitian tercapai. Perencanaan pelatihan sebaiknya sudah mengandung pelaksanaan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dengan waktu penjadwalan yang sudah diagendakan dan anggaran yang sudah diperhitungkan berdasarkan kegiatan yang akan dilakukan. tetapi pada penelitian ini tidak dapat dilakukan karena keterbatasan waktu dan anggaran.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 3 menunjukkan bahwa target yang ditentukan pada evaluasi setiap tahap yaitu 60%. 4 Desember 2007 177 . untuk evaluasi tahap 1. dana dan experts. Ada dua hal yang ditengarai sebagai penyebab yaitu materi modul belum merupakan prioritas dan ketidakpahaman dinas kesehatan tentang materi modul walau saat pembelajaran dan sosialisasi dinas kesehatan terlibat dan hadir. 10. Di samping itu. Evaluasi tahap 3 dan 4 sebaiknya dilakukan dua kali dengan tenggang waktu yang sudah ditentukan dalam perencanaan pelatihan. tetapi pada evaluasi tahap 4 target evaluasi tercapai karena sebenarnya terjadi perubahan keahlian. hasil kajian merupakan data awal atau data dasar yang pada evaluasi pascapelatihan dapat dibandingkan untuk menilai keberhasilan pelatihan. tetapi untuk itu diperlukan dukungan dari dinas kesehatan dan juga pemerintah daerah.

Opsi pertama adalah penataan pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam suatu sistem (Gambar 1). Sebagian sudah melakukan evaluasi pembelajaran atau evaluasi hasil belajar.6 Dampak atau outcome pelatihan yang diharapkan adalah peningkatan kinerja individu dan organisasi serta return of investmen (ROI) yang dinilai melalui evaluasi tahap 4 dari Kirkpatrick. Efektivitas pelatihan menurut Newby yang dikutip Irianto8 berkaitan dengan sejauh mana program pelatihan yang diselenggarakan mampu mencapai apa yang memang telah diputuskan sebagai tujuan yang harus dicapai. walaupun masih terbatas pada pre dan postes.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . sedangkan evaluasi tahap 3 dan 4 merupakan evaluasi summative karena menghasilkan informasi yang berfokus pada dampak pelatihan bagi organisasi atau pascapelatihan. Opsi kedua adalah memasukan pola evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick6 dalam evaluasi pelatihan karena evaluasi pada tahap 1 dan 2 dari Kirkpatrick merupakan evaluasi formative sebab menghasilkan informasi untuk organisasi tentang penyelenggaraan pelatihan. Sebagian besar pelatihan. Vol.. sehingga pelatihan-pelatihan lebih cenderung kepada pelatihan yang mendukung pelaksanaan program. seperti penyiapan kurikulum dan materi pembelajaran. Opsi-Opsi Kebijakan Ada beberapa pelajaran yang diperoleh dari penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan yang dapat menjadi beberapa opsi kebijakan. pelatihan. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 dibandingkan dengan data dasar untuk menilai peningkatan kinerja SDM kesehatan sebagai akibat pelatihan. dkk. Sebagai sistem.6 Pada evaluasi tahap 4 ini juga dilakukan pengkajian ulang dengan materi yang juga digunakan pada pengkajian kebutuhan pelatihan yang hasilnya merupakan data dasar kompetensi yang dimiliki SDM kesehatan.Evie Sopacua. Pola Peningkatan Kompetensi SDM Kesehatan Dalam Suatu Sistem 178 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kompetensi menurut Sofo7 dapat didefinisikan sebagai apa yang diharapkan di tempat kerja dan merujuk pada pengetahuan. masukan atau input adalah pengkajian kebutuhan pelatihan yang merupakan data dasar untuk perencanaan pelatihan dan pengembangan modul pelatihan. Dalam makalah pengembangan model unit diklat kesehatan 5 dikatakan bahwa pada umumnya perencanaan dan penyelenggaraan pelatihan di dinkes kabupaten/kota diserahkan kepada masing-masing subdinas/bidang. sehingga diperoleh dua kali pengukuran sebagai kondisi pre dan postes output atau luaran adalah peningkatan keterampilan dan pengetahuan serta perubahan keahlian dan perilaku peserta pelatihan yang diukur melalui evaluasi tahap 3 dari Kirkpatrick. tidak melalui suatu rancangan pelatihan yang seharusnya. Proses dalam sistem adalah pelaksanaan pelatihan diikuti evaluasi tahap 1 dari Kirkpatrick6 selain pre dan postes.. titik beratnya adalah pada pelaksanaan atau penyampaian bahan belajar. bukan hanya melakukan perbandingan kemampuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan (pre dan postes). keahlian dan sikap yang dipersyaratkan bagi pekerja untuk mengerjakan pekerjaannya. serta berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing pemegang program. evaluasi pelatihan menurut Kirkpatrick6 adalah untuk menentukan efektivitas dari suatu program pelatihan. sebagian lainnya belum melakukan. 4 Desember 2007 . Oleh sebab itu. Evaluasi tahap 2 dapat ditanyakan bersamaan dengan evaluasi tahap 1 dan diulangi ketika peserta pelatihan sudah kembali bekerja. Evaluasi pelatihan menurut Assessors and Workplace Trainers (dikutip Sofo7) merujuk pada proses pengkonfirmasian bahwa seseorang telah mencapai kompetensi. No. 10. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 dibandingkan dengan hasil pengkajian kebutuhan pelatihan sehingga dapat diketahui apakah ada peningkatan keterampilan setelah pelatihan. Gambar 1. Evaluasi pascapelatihan hampir belum dilakukan.

rumah sakit dan Bapelkes. profesionalisme dan atau menunjang pengembangan karier tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Trisnantoro. E. Upaya peningkatan dilaksanakan melalui pelatihan sesuai keputusan Menkes RI No. L. bahwa penataan pelaksanaan suatu pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. 38/2007 pengganti PP No. Dampak pelatihan diharapkan menyebabkan peningkatan kinerja SDM kesehatan dan institusi. tetapkan fasilitas dan sarana yang akan digunakan. perencanaan dan pelaksanaan pelatihan yang komprehensip. 10. Budijanto. Fakultas Kedokteran.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Untuk itu. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik (Ditjen Yanmedik) dan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat (Ditjen Binkesmas) Departemen Kesehatan RI.5 Sesuai dengan PP No. Ditjen Yanmedik. E. rumah sakit. Hal ini dapat diatur dengan mensinergikan berbagai kepentingan dalam tata kerja sama yang disepakati. Keterampilan Manajerial Desentralisasi. Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes).725/Menkes/ SK/V/2003 bahwa pelatihan adalah proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan kinerja. KESIMPULAN Opsi-opsi kebijakan yang diusulkan berdasarkan lesson learned dari pelaksanaan penelitian di Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan tahun 2002 – 2004. Binkesmas dan BPPSDM mendukung anggaran dan pelaksanaan analisis kebutuhan pelatihan. perencanaan dan pelaksanaan pelatihan dengan peraturan dan perundangan sebagai payung yang dirujuk oleh Balitbangkes. Pengembangan Kapasitas Keterampilan Manajerial Dalam Berwirausaha Bagi Tenaga Kesehatan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.5 Maka dalam peningkatan kompetensi SDM kesehatan. siapkan audio visual aids. Budijanto. tetapkan penjadwalan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). perlu mendapatkan pertimbangan dalam restrukturisasi dinas kesehatan kabupaten kota khususnya. 2000. tentukan kriteria peserta. 2.. tetapkan narasumber. KEPUSTAKAAN 1. Para pemangku kepentingan di antaranya adalah pemerintah daerah. Opsi kelima. Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan (Tahap I: Assesment Keterampilan Manajerial Sumber Daya Manusia Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan).. perguruan tinggi. Penghitungan anggaran termasuk waktu pelaksanaan evaluasi pascapelatihan tahap 1 – 4 dari Kirkpatrick. Surabaya.725/Menkes/SK/V/2003 yang dirancang secara efektif dan komprehensif dengan memperhatikan berbagai pemangku kepentingan serta peraturan perundangan yang berlaku. Vol. 2002. Opsi keempat. Yogyakarta. Pertimbangan utama bahwa dengan berbagai perubahan yang terjadi termasuk perubahan organisasi kesehatan maka kompetensi SDM kesehatan dalam keterampilan manajerial perlu ditingkatkan. opsi ketiga adalah memperhatikan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Berkenaan dengan pelatihan. 3. Pelaksanaan pelatihan dengan penyiapan kurikulum dan materi pembelajaran sesuai dengan hasil kajian. Pelatihan SDM kesehatan tidak hanya untuk mendukung pelaksanaan program tetapi dirancang berdasarkan pengkajian kebutuhan pelatihan. D. No. koordinasikan program ini dengan bagian lain atau sektor lain terkait dan evaluasi program pelatihan. Sopacua. UGM. yang untuk tahap 3 dan 4 mungkin dilaksanakan setelah 1 tahun pascapelatihan. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. dinas kesehatan. Maka anggaran untuk pelatihan dihitung dengan memperhatikan setiap langkah kegiatan dan tahapan sesuai perencanaan. Kerja sama para pemangku kepentingan diperlukan dalam melakukan analisis kebutuhan pelatihan. tentukan materi. Sopacua. 4 Desember 2007 179 .9 Kepada mereka yang ditempatkan di seksi atau bidang SDM ini terlebih dulu diberikan pemahaman tentang tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan sehingga dapat merancang pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan berjangka panjang dan komprehensif. perencanaan dan implementasi program pelatihan yang efektif sebaiknya mengandung 10 langkah kegiatan menurut Kirkpatrick6 yaitu: tentukan kebutuhan pelatihan. SDM di dinas kesehatan kabupaten/kota perlu memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan pelatihan karena pada kenyataannya selama ini sudah melakukan penyelenggaraan pelatihan dengan kapasitas yang sangat terbatas. D. dinas kesehatan. maka hal ini dapat diantisipasi dinas kesehatan kabupaten/kota ketika merestrukturisasi struktur organisasi sesuai PP No. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan (BPPSDM). 25/2000 bahwa dinas kesehatan kabupaten/kota menjalankan fungsi regulator. 41/2007 dengan memasukkan pendidikan dan pelatihan sebagai seksi pada kelompok fungsional atau pada bidang SDM. tetapkan tujuan akhir yang akan dicapai.

D. 9. 5. 4. Prinsip-Prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. Meliala A. www. F. Evaluating Training Programs – The Four Levels-. 41/2002. Surabaya. Kirkpatrick.. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur. 2007. Sopacua. 7.2003. D.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . 4 Desember 2007 . Berrett ..net . Budijanto.Com. 10. Surabaya. (Diakses 18 Desember 2007) 6.desentralisasikesehatan.Koehler Publishers. Evaluasi Kemampuan Manajerial SDM Kesehatan di Kabupaten/Kota dalam Era Desentralisasi Evaluasi Implementasi-. Y. Sofo.. M. Insan Cendekia. E. Jusuf Irianto. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan.. 2003.2001. Kabupaten/Kota di Propinsi Kalimantan Timur.lrckesehatan.Inc. No. Airlangga University Press. Vol. PPT dalam Kursus Desentralisasi. Irianto.Evie Sopacua. 8.38 dan No. Surabaya.2004. Pengembangan Model Unit Diklat Kesehatan. 1994. Pengembangan Sumber Daya Manusia. www. Diterjemahkan oleh drs. Surabaya. Prajoga. PP No. dkk.net (Diakses 10 November 2007) 180 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.

but this done because of medicine donation from another country. The data were a content analyzed.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. Results: Study result indicated that planning policy of oseltamivir can not base on evidences data of reality case number that happen on reference hospital instance or the need of medicine for hospital. kebijakan pengelolaan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. This preparation of antiviral drugs played the most important role. tetapi hal tersebut dilakukan karena adanya hibah obat dari negara lain sehingga obat harus segera didistribusikan ke unit pelayanan kesehatan agar bisa terpakai mengingat masa kadaluarsanya yang relatif dekat. management policy ABSTRAK Latar Belakang: Ancaman pandemi flu burung yang disebabkan oleh virus H5N1. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 181 . kemudian dilakukan analisis isi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan perencanaan penyediaan Oseltamivir belum bisa berdasarkan data evidences jumlah kasus riil yang terjadi pada instansi rumah sakit (RS) rujukan ataupun kebutuhan RS akan obat tersebut. Kata Kunci : Oseltamivir. sehingga dilakukan strategi stockpilling yang memperhitungkan jumlah kebutuhan berdasarkan pada prediksi persentase jumlah penduduk Indonesia yang akan terkena jika terjadi pandemi. 4 Desember 2007 181 . Sumatera Selatan ABSTRACT Background: Avian Influenza pandemic which is caused of H5N1 virus pushed various goverment effort to look for prevention way. di antaranya dengan kebijakan penyediaan obat antiviral. A limited distribution for goverment instance and it is not for sale freely has done considering how important that medicine for human safety. menanggulangi dan mengobatinya. Bagi RS diharapkan memberikan rekomendasi desain kebijakan pengelolaan Oseltamivir yang sesuai dengan kondisi di RS kepada Depkes. dan policy environment. starting from planning until control phase. Therefore. 10. Metode: Jenis penelitian adalah kualitatif yang dilakukan secara retrospektif dengan menganalisis sistem kebijakan. akan tetapi perlu dipikirkan juga akses unit pelayanan kesehatan swasta (RS/klinik) untuk memperoleh obat tersebut. mendorong berbagai upaya pemerintah untuk mencari cara mencegah. sehingga harus dikelola secara baik dan kebijakan yang melandasinya harus berdasarkan formulasi yang tepat mulai dari tahap perencanaan hingga pengendalian. Hal ini karena pertimbangan kasus yang dihadapi merupakan kasus baru yang terus menunjukkan progresivitas angka kematian pada manusia. Pengadaan dengan teknik dropping dapat mengakibatkan terjadinya penumpukkan obat di RS rujukan. Kesimpulan: Kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanganan kasus flu burung di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta dibuat secara terbatas dan pada pelaksanaannya tidak mencakup pada keseluruhan lini yang memerlukan. Keywords : Oseltamivir. This studi purpose is for analyzing management policy of Oseltamivir in controlling Avian Influenza case and its implementation at reference hospital in Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta 2005 – 2007. Penyediaan obat antiviral ini memegang peranan yang sangat penting. If allocation is done by dropping technique so it makes heaping medicine at reference hospital. Pendistribusiannya secara terbatas pada instansi pemerintah dan tidak dijual bebas dilakukan mengingat pentingnya obat tersebut bagi keselamatan manusia. Conclusion: Management policy of antiviral drugs in overcoming Avian Influenza case at reference hospital in DKI Jakarta is made limited and its implementation dose not involve for all sides. melibatkan 10 informan. Besaran anggaran yang disediakan mengalami peningkatan dibandingkan dengan anggaran yang dialokasikan sebelumnya. policy stakeholders. policy stakeholders. overcoming and curing it. so it has dones stockpilling strategy which calculated stock number based on percentage prediction of Indonesian population number which will happen because of pandemic. No. one of them is preparation policy of antiviral drugs. Vol. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. but it is important that acces for private health service unit (hospital/ clinic) to obtain this medicine. and policy environment. require to be analyzed comprehensively based on policy system aspect such as: public policies. It was suggested for health service department to involve reference apotek for providing antiviral drugs so it is easy on access for health service unit in stockpile. It was also suggested for hospital to perform a research to proving the this effectiveness Oseltamivir on human avian influenza.188 Artikel Penelitian ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN OSELTAMIVIR DAN IMPLEMENTASINYA DI RUMAH SAKIT RUJUKAN KASUS FLU BURUNG MANAGEMENT POLICY OF OSELTAMIVIR ANALYSIS AND ITS IMPLEMENTATION AT THE REFERENCE HOSPITAL OF AVIAN INFLUENZA CASE Misnaniarti Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Diharapkan pihak Depkes dalam pengelolaan Oseltamivir ini juga memberdayakan apotek yang ditunjuk untuk menyediakan-nya sehingga selain mempermudah akses unit pelayanan kesehatan swasta lainnya dalam memperoleh obat tersebut dan bisa dijadikan stockpile. so that it must be managed well and basic policy must pursuant to the right formulation. Method: This study used a qualitative method which has done retrospectively by analyzing policy system with 10 informants. considering of presence case is a new case which indicated human mortality level progressively. The data were collected by in-depth interview and study document. so that medicine must be distributed to health service unit to use it considering its expire so close relatively. Oleh karena itu perlu dianalisis secara komprehensif dengan melihat aspek-aspek pada sistem kebijakan meliputi public policies.

cepat merusak organ dalam (terutama paru-paru). perlu dilakukan eksplorasi untuk mendapatkan informasi secara mendalam terhadap sistem kebijakan (policy system) mengenai pengelolaan obat ini. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan kantor Departemen Kesehatan RI. cepat berkembang dan menular pada unggas.7%. Saat ini obat antiviral kasus flu burung pada manusia yang digunakan di Indonesia hanya Oseltamivir. tetapi kapan akan terjadi artinya WHO menyatakan bahwa pandemi memang akan kita hadapi. dan lingkungan kebijakan (policy environment). RSPI Prof. 4 Desember 2007 . Sistem kebijakan merupakan seluruh pola institusional di mana di dalamnya kebijakan dibuat. 10. penyediaan obat antiviral. Analisis komprehensif dengan melihat aspek-aspek di atas dilakukan dengan harapan secara tidak langsung dapat mencegah dampak yang lebih besar lagi dari kasus flu burung yang tidak hanya kesehatan hewan dan manusia yang dirugikan akan tetapi hampir berpengaruh pada semua sektor kehidupan. Meningkatnya kasus infeksi yang menyebabkan kematian pada manusia ini dikhawatirkan dapat berkembang menjadi pandemi. serta mudah resisten terhadap obat antiviral. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan kerangka pikir dikembangkan berdasarkan rangkuman banyak sumber teori tentang 182 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. baik angka kesakitan maupun angka kematian manusia yang terinfeksi virus H5N1.Suliati Saroso (RSPI SS) dan RSUP Persahabatan mulai Maret sampai dengan Juni 2007. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanggulangan kasus flu burung dan implementasinya di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta sejak tahun 2005 sampai tahun 2007. penyuluhan. dapat terjadi mutasi adaptif dan reasortment. Harapan lebih lanjut agar hal ini mendapat perhatian dari semua pihak mulai dari tahap perencanaan sampai pengendalian.Dr. Data WHO 1 menunjukkan terjadi kecenderungan peningkatan kasus AI. yang mencakup hubungan timbal balik di antara tiga aspek yaitu: kebijakan publik (public policies). di antaranya ada kebijakan Depkes berupa SK Menkes No. Padahal selama dekade terakhir ada beberapa obat antiviral yang telah ditemukan dan direkomendasikan oleh FDA Amerika (Food and Drug Administration) yaitu golongan M2 inhibitor (Amantadine dan Rimantadin hidroklorida) dan Neuraminidase inhibitors (Oseltamivir dan Zanamivir). tercatat paling kurang terjadi 79 kematian dari 99 kasus yang ada. proses (process) dan aktor (actors) pembuatan kebijakan sebagai unsurunsur yang penting di dalam analisis kebijakan. sehingga penyediaannya secara tepat waktu dan tepat guna diharapkan dapat mengurangi dampak kasus flu burung. pelaku kebijakan (policy stakeholders). Penggunaan obat antiviral dimaksudkan untuk mencegah penularan lebih lanjut. Pengelolaan Oseltamivir memegang peranan penting untuk pemenuhannya sehingga tersedia secara tepat waktu dan tepat guna. Di Indonesia. Dengan memberikan hasil analisis kebijakan dalam pengelolaan Oseltamivir ini diharapkan adanya perencanaan yang sistematis di masa mendatang yang dapat diterapkan dalam pencegahan dan kewaspadaan flu burung.5 Setiap komponen dari sistem kebijakan tersebut merupakan suatu kesatuan dan saling berhubungan. et al6 sebagai konteks (context). 1371/Menkes/SK/IX/2005 tentang Pedoman Penanggulangan Penyakit Flu Burung pada Manusia.2 Diskusi tentang pandemi influenza bukan lagi dalam konteks apakah akan terjadi atau tidak.. Oleh karena itu. jumlah kasus kematian akibat flu burung merupakan yang tertinggi di dunia dengan CFR 79. Salah satu strateginya adalah strategi pencegahan terdiri dari tindakan bio security. Istilah lain dari komponen ini disebut oleh Buse. menganjurkan pemberian vaksinasi influenza pada orang yang berisiko. 4 Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menanggulanginya kasus ini. dan pelatihan petugas kesehatan.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . Vol. Selain itu juga merupakan tindakan pengobatan yang bisa dilakukan dalam penatalaksanaan kasus (case management) flu burung secara medis di rumah sakit (RS). No. Selain itu juga terjadi penyebaran yang semakin meluas ke beberapa negara lain.3 Virus H5N1 lebih patogen daripada subtipe lainnya karena sangat mematikan bagi manusia sehingga disebut dengan highly pathogenic avian influenza (HPAI) disebabkan karakteristik virus yang sangat ganas. sehingga dapat dipergunakan secara tepat guna dalam menangani bahaya wabah flu burung khususnya di wilayah Indonesia. isi (content). WHO Perwakilan Indonesia. Penyakit ini merupakan penyakit menular pada unggas yang disebabkan oleh virus influenza A H5N1 yang kemudian berkembang dan dapat menular ke manusia.. PENGANTAR Dalam beberapa tahun terakhir ini perhatian dunia kesehatan terpusat kepada semakin merebaknya penularan penyakit Avian Influenza (AI) atau flu burung. Informasiinformasi yang terkait dengan dasar kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanganan kasus flu burung ini masih terbatas.

profil kesehatan dan Prosedur Tetap (Protap) di RS. Tabel 1. dengan proporsi 100 kapsul untuk puskesmas. baru pada tahun 2006 didistribusikan seluruh provinsi. Untuk tahun 2007 ada anggaran Oseltamivir tapi belum dilakukan pengadaan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sistem kebijakan mulai dari Dunn WN5. Puskesmas. 4 Desember 2007 183 . Mekanisme pengadaan ke RS adalah Oseltamivir akan dikirim ke rumah sakit kalau ada permintaan Penelitian dokumen: Oseltamivir diperoleh dengan cara menerima bantuan (hibah). ada laporan pendistribusiannya Wawancara mendalam: bufferstock di BTKL dan di Dinas Kesehatan Penelitian dokumen: Dinkes Provinsi/Kabupaten/Kota/. No. membeli dari BUMN Indonesia Pengamatan : ada laporan pengadaan Oseltamivir Wawancara mendalam: pada tahun 2005 distribusi hanya ke 8 provinsi. dan Walt G 7 untuk menggali dan mensinkronisasikan pendekatan policy system dengan kebijakan yang terkait dengan manajemen pengelolaan Oseltamivir. Buse K et al 6 .5%-1% dari total penduduk Indonesia akan terkena pandemi influenza Pengamatan : perencanaan pengadaan berdasarkan jumlah instansi kesehatan Wawancara mendalam: mulai tahun 2006 memasukan penganggaran untuk penyediaan Oseltamivir dengan memakai dana buffer obat. Mulai tahun 2006 dibuat perencanaan stockpiling 12 juta antiviral berdasarkan prediksi jumlah penduduk RI yang terkena pandemi. anggaran penyediaan obat antiviral direncanakan 112 milyar. 10.000 berasal dari APBN. dinkes) boleh mengembalikan dan kemudian akan diganti dengan obat baru Penelitian dokumen: masih ada obat yang mendekati masa kadaluarsa Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat pengendalian dilakukan dengan menerapkan registrasi obat Penelitian dokumen: registrasi obat di BPOM Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. penelitian dokumen dan pengamatan mengenai kebijakan pengelolaan Oseltamivir di tataran Depkes dan di tingkat RS dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2. Realisasi anggaran untuk pengadaan Oseltamivir tahun 2006 adalah sebesar Rp225. Pengamatan : ada dokumen penganggaran Oseltamivir Wawancara mendalam: Oseltamivir diperoleh dari bantuan luar negeri. import. Setelah seluruh data telah terkumpul kemudian diverifikasi menggunakan metode triangulasi. Pengamatan: tidak dijual bebas di apotek. hanya instansi pemerintah yang menerima Oseltamivir. Data sekunder diperoleh dengan cara telaah dokumen berupa data laporan pendistribusian Oseltamivir. maka instansi yang menerima (RS. obat didapat dari bantuan luar negeri. Hasil Penelitian Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir di Tingkat Depkes Variabel Perencanaan Penganggaran Pengadaan Pendistribusian Penyimpanan Penggunaan Penghapusan Pengendalian Hasil Penelitian Wawancara mendalam: tahun 2005 belum dibuat perencanaan. Pemilihan informan dilakukan secara purposive dengan mengacu pada prinsip kesesuaian (appropriateness) dan kecukupan (adequacy) karena terkait dengan substansi dan sesuai kebutuhan penelitian. serta peraturan dan dokumen-dokumen yang terkait dengan kebijakan pengolaan antiviral dalam pengendalian dan penanganan kasus flu burung.920. dan dianalisis dengan cara content analysis. dosis 1 x 75mg untuk profilaksis selama 7 hari Pengamatan : 6 dari 17 pasien diberi pengobatan Oseltamivir dengan dosis 2 x 150 mg Wawancara mendalam: jika Oseltamivir mendekati masa kadaluarsa. 500 kapsul untuk RS rujukan (Kecuali RSPI 5000 kapsul). kartu stok obat di instansi RS yang diteliti. Vol. mulai tahun 2006 diproduksi BUMN Indonesia secara bertahap. Penelitian dokumen: kebutuhan penyediaan Oseltamivir dihitung berdasarkan perkiraan sekitar 0. Selanjutnya meneliti rekam medis pasien. Pengumpulan data primer diperoleh dengan cara wawancara mendalam pada 10 orang informan kunci yang diambil dari berbagai level tingkatan administrasi sesuai dengan topik yang akan digali. karena stok masih banyak Penelitian dokumen: di Renstra nasional FBPI. Distribusi hanya ke instansi pemerintah dengan proporsi sama Penelitian dokumen: dilakukan secara top down dari Depkes. dan di-cross check dengan laporan penerimaan Oseltamivir.749. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian melalui wawancara mendalam. BTKL dan KKP di setiap provinsi menerima Oseltamivir dalam jumlah cukup banyak sekitar 1000–9000 kapsul Pengamatan: Stok Oseltamivir cukup banyak di BTKL dan Dinkes Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat Oseltamivir diberikan kepada pasien flu burung serta petugas kesehatan yang merawat pasien tersebut Penelitian dokumen: Oseltamivir untuk pengobatan diberikan dengan dosis 2 x 75 mg selama 5 hari untuk dewasa. membeli secara import.

strategi ini dipilih karena pertimbangan kasus flu burung yang dihadapi merupakan kasus baru yang terus menunjukkan progresivitas angka kematian cukup tinggi dibuktikan dengan adanya peningkatan CFR. Hal ini berbeda dengan obat lainnya yang dibuat perencanaan dan pengadaan secara triwulan berdasarkan pemakaian dan kebutuhan RS (evidences based). Jadi. sebab tingkat konsumsinya memang rendah. Tabel 2. serta mengadopsi kebijakan dari beberapa negara lain yang disesuaikan dengan kemampuan finansial Indonesia. Oleh karena itu strategi stockpilling dipilih sebagai salah satu langkah antisipasi pemerintah menghadapi kondisi darurat (upaya kesiapsiagaan menghadapi pandemi flu burung) dengan memperhitungkan jumlah kebutuhan berdasarkan pada prediksi persentase jumlah penduduk Indonesia yang akan terkena jika terjadi pandemi. sehingga faktor yang berpengaruh dalam membuat perencanaan untuk penyediaan Oseltamivir ini adalah jumlah seluruh penduduk Indonesia. perlakuan penyimpanan disamakan dengan obat yang lain Penelitian dokumen: stok obat di gudang lebih banyak daripada di apotek Pengamatan : tata cara penyimpanan dengan sistem FIFO Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat bahwa pemberian Oseltamivir ke pasien tidak berdasarkan skoring tetapi dengan melihat kondisi klinis pasien suspek AI Penelitian dokumen: pasien harus diberikan terapi Antiviral sesegera mungkin.8 Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 220 juta jiwa. diperkirakan Depkes harus menyiapkan sebanyak 11 juta – 12 juta obat antiviral sebagai stockpile. penyediaannya tidak berdasarkan kebutuhan pemakaian obat Pengamatan: tidak ada dokumen perencanaan permintaan Oseltamivir Wawancara mendalam: tidak membuat menganggaran untuk Oseltamivir Pengamatan: tidak ada dokumen penganggaran Oseltamivir Wawancara mendalam: dengan cara dikirim langsung (dropping) dari Depkes Penelitian dokumen: menerima dropping Oseltamivir secara bertahap dari Depkes Pengamatan: Stok Oseltamivir dalam jumlah yang cukup banyak Wawancara mendalam: obat dikeluarkan dengan memakai metode FEFO Penelitian dokumen: Oseltamivir diterima secara bertahap Pengamatan: ada alur distribusi Oseltamivir hingga ke pasien Wawancara mendalam: sebagian besar Oseltamivir disimpan di bagian logistik (gudang) sebagai bufferstock kemudian didistribusikan ke pasien melalui apotek. 4 Desember 2007 . 10. Bisa dikatakan bahwa kebijakan perencanaan Oseltamivir di RS yang diteliti belum dibuat berdasarkan data evidences jumlah kasus yang riil terjadi atau sesuai kebutuhan. biaya pemesanan dan pengangkutan menjadi lebih murah. sehingga penyediaan Oseltamivir ini tidak berdasarkan kebutuhan pemakaian obat.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir .5%-1% dari total penduduk Indonesia akan terkena pandemi influenza. Menurut Bowersox9 metode ini termasuk kategori fluctuation stock yaitu persediaan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat diramalkan (metode spekulasi).. hal ini relevan dengan dokumen Renstra Nasional FBPI. No. Untuk di RS mekanisme pangadaannya melalui teknik dropping langsung dari Depkes. di sisi lain potensial akan terjadi pemborosan karena wilayah tanpa adanya indikasi 184 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. Kebutuhan penyediaan Oseltamivir dihitung berdasarkan perkiraan sekitar 0. Hasil Penelitian Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir di Tingkat RS Variabel Perencanaan Penganggaran Pengadaan Pendistribusian Penyimpanan Penggunaan Penghapusan Pengendalian Hasil Penelitian Wawancara mendalam: tidak membuat perencanaan permintaan Oseltamivir. berbeda dengan di Puskesmas yang harus berdasarkan sistem skoring Pengamatan: pasien suspek flu burung hari pertama masuk langsung diberi Oseltamivir Wawancara mendalam: terlebih dulu melaporkan apabila obat mendekati masa kadaluarsa kemudian akan mengembalikan ke Depkes Penelitian dokumen: sistem penghapusan obat bisa dilakukan dengan ensinerator Pengamatan: masih ada Oseltamivir yang mendekati masa kadaluarsa Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat bahwa Penilaian mutu obat dengan melihat fisik (morfologi) obat Penelitian dokumen: registrasi Oseltamivir diberikan melalui proses fast track Mulai tahun 2006 Depkes baru membuat perencanaan untuk penyediaan Oseltamivir melalui strategi stockpilling yaitu penyediaan obat dalam jumlah besar untuk menghadapi suatu keadaan kemungkinan terjadinya pandemi. Penyediaan Oseltamivir yang dihitung berdasarkan perkiraan banyaknya penduduk yang akan terkena pandemi. Metode spekulasi di salah satu sisi bisa menguntungkan karena obat selalu tersedia di unit pelayanan kesehatan. Vol. Keuntungannya adalah bisa mendapatkan potongan harga yang lebih banyak. yang mengakibatkan terjadinya penumpukan obat karena kebutuhan obat RS tidaklah sebanyak yang di-dropping oleh Depkes.

selain juga untuk menjaga hubungan baik dengan negara pendonor. Walaupun tak dapat dipungkiri bahwa belanja obat memang merupakan bagian terbesar dari belanja kesehatan di seluruh negara di dunia13. Biaya yang sangat besar ini tentunya akan menjadi beban yang sangat berat bagi pemerintah pusat. Perlu pemikiran dan penelitian lebih lanjut tentang cost effektiveness dari program kuratif penyediaan obat antiviral ini. 12 Selain itu Indonesia juga masih menerima bantuan obat tersebut dari WHO dan negara lain. ataupun berupaya menghindari power negara pendonor jangan sampai menjadi unsur interest politik luar negeri yang sangat dominan. sistem pendistribusian Oseltamivir yang diatur pemerintah belum merata sebab RS/poliklinik swasta. poliklinik. jika titik awal ini sudah tidak tepat maka pengendalian akan sulit dikontrol. juga karena dampak yang akan didapatkan dari tindakan promotif-preventif tersebut akan dirasakan manfaatnya dalam jangka waktu yang lama.7 Dalam hal penganggaran. yaitu Depkes melihat dari RS mengajukan permohonan permintaan obat (pertanda stock mulai menipis). karena berdasarkan data dari Aditama TY14 dilaporkan bahwa rata-rata pasien flu burung yang datang ke rumah sakit setelah lebih dari 2 hari merasakan gejala flu burung. sehingga lebih memprioritaskan pada upaya preventif sebagai salah satu upaya manajemen kasus berbasis wilayah yang salah satunya dengan melakukan manajemen faktor risiko dari penyakit. Perencanaan kebutuhan obat merupakan salah satu fungsi yang menentukan dalam proses penyediaan obat. Namun seharusnya pemerintah lebih selektif lagi jangan sampai obat yang diterima sudah mendekati masa kadaluarsa. puskesmas. jumlah kebutuhan riil masyarakat. Padahal pengadaan merupakan titik awal dari pengendalian persediaan.10 sehingga selain faktor jumlah penduduk. Dalam kasus penyakit yang sudah jelas trendnya seperti demam berdarah. Otomatis apabila ada pasien yang suspeck flu burung maka pihak RS tidak bisa memberikan terapi obat antiviral Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. diharapkan kebijakan pemerintah tentang perencanaan dan pengadaan obat antiviral harus memperhatikan faktor pola penyakit yang dominan. Adanya penyediaan stok yang berlebih cenderung menyebabkan pemborosan dalam pemakaian. belum bisa mengakses obat ini secara lancar. Program yang cenderung ke arah kuratif dan memakan banyak biaya ini perlu ditinjau ulang. 10. Jadi jangan sampai pemerintah membuat program yang sia-sia dengan menyediakan obat antiviral karena obat tersebut hanya efektif apabila pasien dapat terapi 2 x 24 jam dari adanya gejala flu burung. Dalam hal ini. Merupakan angka yang cukup besar dalam hal pengadaan barang. misalnya melalui sarana apotek. Dengan cara seperti ini perlu dipilih teknik yang tepat mulai dari kualitas transportasi seperti jalan dan alat angkut.11 Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka dapat dirumuskan kebijakan pengadaan obat yang rasional. 4 Desember 2007 185 . yang bertujuan untuk menentukan jenis dan jumlah obat sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan.15 Keadaan geografis dan demografis daerah di Indonesia yang khas akan membutuhkan sistem pendistribusian yang tepat agar merata. Komitmen pemerintah menerima bantuan ini dilakukan karena memang membutuhkan obat tersebut. juga harus memperhatikan metode pengepakan yang baik agar obat tidak rusak di jalan. dengan alasan untuk efisiensi biaya dan tenaga. jumlah biaya yang tersedia. Sistem pendistribusian Oseltamivir yang bersifat top down sentral dari Depkes bahwa untuk pendistribusiannya sampai ke tingkat Puskesmas dilakukan dengan bantuan pos. Vol. sehingga sebaiknya pemerintah juga memprioritaskan pada upaya promotif dan preventif dalam penanganan kasus flu burung ini selain biaya yang diperlukan jauh lebih sedikit daripada upaya kuratif.12 Langkah antisipasi yang dapat dilakukan agar tidak terjadi penumpukan obat ini salah satunya dengan memperbaiki mekanisme penyediaannya. No. Dalam hal ini Depkes tidak melakukannya karena perhitungan volume pembelian hanya berdasarkan prediksi saja. pemerintah tidak bisa sepenuhnya mengandalkan pada obat-obatan karena bagian yang terpenting dari hal ini adalah aspek pencegahan yaitu upaya penghentian penularan dari unggas ke manusia.11 perlu ruang penyimpanan yang besar serta mengandung risiko kadaluarsa obat yang lebih tinggi. Depkes tahun 2006 harus menyediakan dana Rp200 milyar untuk membeli 16 jutaan kapsul Oseltamivir.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan penyakit juga menerima stok yang pada akhirnya menyebabkan pembengkakan anggaran dan tentu saja menjadi tidak cost effective. khususnya bagi RS swasta di daerah yang kurang informasi tentang cara mendapat obat tersebut. Rasionalisasi antara pola produksi obat dan kebutuhan nyata harus ditingkatkan terutama agar dana untuk obat dapat digunakan secara lebih efisien. RS. metode pengadaan dengan cara membeli biasanya didahului dengan perhitungan besarnya volume pembelian yang ditetapkan berdasarkan kebutuhan dalam satuan waktu dan kuantum unit masing-masing produk misalnya kebutuhan untuk mingguan atau 1 bulanan atau setahun.

No. hal ini dilakukan oleh prescriber dalam rangka meningkatkan manfaat ke pasien karena dosis yang selama ini dipakai pada umumnya belum menunjukkan perbaikan kondisi pasien. obat yang sudah rusak. sesuai kebutuhan dosis individu. kemudian registrasi obat sebelum beredar di masyarakat sehingga mutu obat terjamin. tidak terjadi kekurangan maupun kelebihan stok. Tingkat keamanan obat juga bisa dilakukan dengan memantau masa kadaluarsa. maka obat harus digunakan secara benar. Selain itu. bukan H5N1. paling aman. maka perlu upaya pendaftaran obat. Hal ini tentu akan memperparah kondisi pasien karena tidak cepat ditanggulangi. Obat yang mendekati masa kadaluarsa tidak layak lagi dipakai sehingga perlu upaya penghapusan obat. efektif. Adanya peningkatan dosis Oseltamivir pada pengobatan beberapa pasien flu burung.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . Pembuatan kebijakan pengelolaan obat antiviral dalam penanggulangan kasus flu burung di Indonesia 186 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pasien dan masyarakat. 16 Masalah-masalah yang timbul dalam penggunaan obat tidak semata-mata berkaitan dengan kurangnya informasi dan pengetahuan dokter. yang akan membahayakan pasien jika tetap dipakai. Adanya obat yang kadaluarsa dan rusak akan merugikan instansi pemilik karena upaya penghapusan barang/obat akan memerlukan biaya yang cukup besar. meningkatnya kegagalan pengobatan.sehingga dapat memberikan manfaat klinik yang berguna bagi keperluan ilmu pengetahuan dan teknologi. agar tidak ada kejadian keterlambatan menangani pasien AI. paling ekonomis dan paling sesuai dengan sistem pelayanan kesehatan yang ada yang dianjurkan untuk digunakan. penggunaan dan cara penggunaan. Pola penggunaan obat yang tidak rasional dapat berakibat menurunnya mutu pelayanan pengobatan misalnya meningkatnya efek samping obat. sehingga perlu penelitian lebih lanjut. tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan yang sudah mendalam dan perilaku pihak-pihak yang terlibat didalamnya.16 Maka penggunaan Oseltamivir di tempat penelitian ini belum termasuk kategori penggunaan obat yang rasional. Akan tetapi. rasional dan juga dalam rangka efisiensi biaya pengobatan. meningkatnya resistensi obat. misalnya promosi obat yang berlebihan atau kelemahan sistem regulasi yang ada. Bila dikaitkan penggunaan obat yang rasional dengan acuan biomedicus context penggunaan obat yang rasional adalah kebutuhan obat sesuai dengan kepentingan kedokteran dan klinik. Hal ini juga diberlakukan pada obat kadaluarsa.11 Sasaran utama pendaftaran obat adalah agar obat yang beredar hanya yang khasiatnya nyata. salah satunya adalah dengan mengatur keseimbangan antara jumlah persediaan dengan jumlah pemakaian. Apotek harus dijadikan ujung tombak pelayanan obat yang harus ikut mengamankan kebijakan penyediaan (penyimpanan) Oseltamivir secara merata. penanganan dan pencegahan penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat. sehingga memudahkan masyarakat mengakses obat ini tapi tetap dengan resep dokter.. yang disetujui (approved) pada saat obat diizinkan untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan untuk menghindari salah informasi tentang obat. 4 Desember 2007 .16 Dikaitkan dengan kasus flu burung pada saat ini data penelitian tentang kemanfaatan dan keamanan penggunaan Oseltamivir baru efektif sebatas pada influenza biasa.. sehingga informasi yang ada merupakan informasi yang telah ditelaah secara cermat berdasarkan data penelitian. sehingga hanya obat yang terbukti memberikan manfaat klinik yang paling besar. harga yang murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat luas. perlu dicari jalan keluar untuk menghindari tingginya tingkat kadaluarsa obat ini. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) merupakan badan yang bertugas membuat informasi tentang obat yang mencakup indikasi. sesegera mungkin karena obat tersebut tidak tersedia. keamanan yang resmi. Hal yang harus dipahami agar tercapainya pengendalian persediaan11 adalah dengan menjaga keseimbangan pengendalian dan pembelian. sehingga semua permintaan konsumen dapat dipenuhi. Langkah pemecahan masalah ini salah satunya dengan memberdayakan apotek yang ditunjuk pemerintah untuk menyediakan Oseltamivir. sesuai dengan sasaran kebijakan umum di bidang obat. Para pemberi pelayanan (provider) khususnya para dokter (prescriber) harus mengetahui secara rinci obat yang akan dipakai melalui informasi yang benar.17 Hubungannya dengan Tamiflu yang merupakan obat jadi import yang telah disetujui beredar di negara lain. harus berdasarkan indikasi yang jelas. keamanannya memadai. Obat mempunyai peran yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan. menurut prinsip kedokteran disebutkan bahwa tujuan pedoman pengobatan adalah meningkatkan mutu pelayanan melalui penggunaan obat yang aman. Oleh karena itu. Selanjutnya terkait dengan khasiat nyata dari obat. kualitasnya baik. maka tetap harus didaftarkan melalui proses uji klinik di BPOM. Vol. dan merupakan teknologi medis yang dibutuhkan.16 Informasi tentang obat sebaiknya adalah yang didukung oleh buktibukti ilmiah yang berkaitan dengan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat. 10. Agar memberikan manfaat klinik yang optimal. jangka waktu pemberian yang cukup.

William N. Yenis S. Walt. 4. G. Agar pihak RS memberikan rekomendasi kepada Depkes mengenai desain kebijakan pengelolaan obat antiviral yang sesuai dengan kondisi di RS. 5. Pencegahan dan Penyebaran Pada Manusia. WHO. Kebijakan pengadaannya dengan teknik dropping dapat mengakibatkan terjadinya penumpukkan obat di RS yang diteliti. 2006. Husnil Farouk. http:// www. Avian Influenza A (H5N1) : Patogenesis. Donald J. Nicolas. Anief. jumlah penduduk. Radji. Bahan Seminar Pertemuan Nasional Penanggulangan Klinis Penanganan Flu Burung di Rumah Sakit. Republik Indonesia. Manajemen Farmasi. Avian Influenza/Flu Burung di Indonesia. Buse. Moh.D selaku Dosen Pembimbing di Departemen AKK FKM UI Depok yang banyak memberikan pencerahan dalam penulisan karya ini. Departemen Kesehatan RI. Johannesburg.B. 7. Manajemen Logistik 1 : Integrasi Sistem-Sistem Manajemen Distribusi Fisik dan Manajemen Material. Yogyakarta. 11. Gadjah Mada University Press. Flu Burung. 9. selain itu faktor lingkungan yang menjadi pertimbangan adalah faktor politik. Pusat Komunikasi Publik Depkes RI. Aditama. Cumulative Number of Confirmed Human Cases of Avian Influenza A/ (H5N1) Reported to WHO. serta kondisi pertahanan dan keamanan yang ingin diciptakan dalam kesiapsiagaan menghadapi pandemi flu burung. KEPUSTAKAAN 1. Depok. Rencana Strategis Nasional Pengendalian Flu Burung (Avian Influenza) dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza 2006-2008. Jakarta. Health Policy : an Introduction to Process and Power. Jakarta. 2001. 1994. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. London School of Hygiene and Tropical Medicine. Pelayanana Kesehatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kebijakan internasional dalam hal ini WHO 18 memegang peranan yang dominan yang menentukan arah kebijakan yang dibuat oleh Depkes RI. Selanjutnya.MA. Majalah Ilmu Kefarmasian. Tiga Dimensi Farmasi : Ilmu Teknologi. MSc.id/. 13. 14. Program Studi KARS Universitas Indonesia.go. http://www. Diakses pada 1 Februari 2007. Titiek E. Bowersox. Witwatersrand University Press. Ph. Jakarta. diharapkan agar Depkes dalam pengelolaan Oselatamivir ini juga memberdayakan apotek yang ditunjuk untuk menyediakan obat tersebut sehingga selain mempermudah akses unit pelayanan kesehatan swasta lainnya dalam memperoleh obat tersebut dan bisa dijadikan stockpile. H. Yogyakarta. serta perlu mengadakan suatu penelitian untuk membuktikan efektivitas penggunaan Oseltamivir terhadap H5N1 manusia. Ini ditunjukkan dengan perencanaannya belum berdasarkan data evidences jumlah kasus riil yang terjadi pada RS karena pertimbangan kasus AI yang menunjukkan progresivitas angka kematian dan cenderung menimbulkan kepanikan masyarakat sehingga dipilih strategi stockpilling. 15. pengaruh penanganan kasus flu burung di negara lain (sosial budaya). UCAPAN TERIMA KASIH Saya ucapkan terima kasih kepada dr. 4 Desember 2007 187 . 2005. 3. No. 10. Jakarta. 2005.int/entity/scr/disease/ avian_influenza/country/en. WHO. Kent. MPH selaku Ketua PSKM FK Unsri dan kepada drh. 2007.11 April 2007. Dunn. 8. Open University Press. Modul Pendidikan : Manajemen Logistik dan Obat Rumah Sakit. Hal ini dikarenakan obat hibah dari negara lain yang harus segera didistribusikan agar bisa terpakai mengingat masa kadaluarsanya yang relatif dekat.depkes. 6. M. 10. Avian Influenza. 1995. Midian. Diakses pada 6 Juni 2007. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 2006. 1998. 2002. Adisasmito. Tjandra Yoga. Mays. Making Health Policy. Pengantar Analisis Kebijakan Publik edisi kedua. 12. Kebijakan pendistribusian Oseltamivir secara terbatas pada instansi pemerintah dapat menghambat akses unit pelayanan kesehatan swasta untuk memperoleh obat tersebut. jumlah institusi kesehatan pemerintah. 2005. Walt. The World Health Report 2000–Health Systems : Improving Performance.who. 2003. Vol. III (2). Wiku B. Gill. 2000. KESIMPULAN DAN SARAN Kebijakan pengelolaan obat antiviral dalam penanganan kasus flu burung di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta dibuat secara terbatas serta pada pelaksanaannya tidak mencakup pada keseluruhan lini yang memerlukan. WHO. Institut Darma Mahardika. Sirait. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2. Gajah Mada University Press. Bandung. Kusumanto H. Bumi Aksara. dan Potensi Ekonomi. Sudah 79 Orang Meninggal Dunia Akibat Flu Burung.

Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . 17.. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Vol.. http://www. 2000. Influenza Report 2006. No. WHO – Advice On Use Of Oseltamivir. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Depkes RI. Jakarta. 188 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2006. Kamps BS. 4 Desember 2007 .influenzaReport. Preiser W. 16.com. 17 Maret 2006. WHO. IONI : Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000. Hoffmann C. 18. 10.

Results: The implementation of Business Preparation is deserved to do. Aplikasi business intelligence memungkinkan perusahaan untuk menganalisa perubahan tren pasar. menegaskan kebijakan sistem informasi yang berlaku. Kata Kunci: business intelligence. Currently. Dari keseluruhan proses.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. Representative Manager. Conclusion: This research wants to give suggestions to management side to keep continue for socialization. Vol. Spesifisitas business intelligence dibanding tingkatan sistem informasi lainnya adalah kemampuannya untuk melakukan analisis multidimensional. Mayoritas ketersediaan data sudah dalam bentuk nonlaporan manual (81%). Hasil: Implementasi business intelligence telah layak untuk dilakukan. the data still disperse and managed by each person who has responsible for it so the process of collecting information takes longer time and because of that. kapabilitas perusahaan serta kondisi pasar. pelatihan sistem informasi. information system training. There are 147 variable of information level with most of information is in Processes management category in the key process of DS Hospital services.182 Artikel Penelitian PENYIAPAN IMPLEMENTASI BUSINESS INTELLIGENCE BERBASIS MALCOLM BALDRIGE IMPLEMENTATION BUSINESS INTELLIGENCEBASED ON MALCOLM BALDRIGE Raditya Asri Wisuda . Manager Representatif. implementation preparation penelitian kualitatif. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dengan dominasi banyaknya informasi pada kategori Proces Managemen pada Proses Kunci Layanan RSDS. Method: The researcher investigates system followed with system analysis to know about information which is needed. the effort of business intelligence implementation is about 15-35%. Dumilah Ayuningtyas Program Studi Kajian Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ABSTRACT Background: D S Hospital (RSSDS) has implemented many of quality management system and also another system. Most of the data has already in the form of non manual report (81%). Tujuan: Diperolehnya informasi mengenai penyiapan implementasi business intelligence dengan basis Malcolm Baldrige di RS DS tahun 2007. Informan kunci pada penelitian ini adalah Direktur. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 177 . now a day. Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini disarankan kepada pihak manajemen untuk melanjutkan sosialisasi. sedangkan data dalam bentuk file non database diperlukan penyepakatan konsistensi data untuk percepatan implementasi business intelligence. Head of Administration and also EDP coordinator. No. Didapatkan sebanyak 147 variabel level informasi. and competitor profile. perubahan perilaku pelanggan. pola pembelanjaan. From all the process. menyimpan. Data dalam bentuk laporan manual perlu dilakukan standarisasi informasi sehingga bisa dikonversi menjadi bentuk database. 4 Desember 2007 177 .. The main informant in this research is Director. preferensi pelanggan. The research sample which is used is qualitative research. visualisasi laporan. menganalisis dan menyuguhkan akses data untuk membantu petinggi perusahaan dalam mengambil keputusan. 10. penyiapan implementasi ABSTRAK Latar Belakang: Rumah Sakit Duren Sawit (RSDS) telah mengimplementasikan berbagai sistem manajemen mutu serta sistem lainnya. multidimensional analysis. The data in manual report form has to be standardized so can be converted into database form. upaya implementasi business intelligencesaat ini berkisar antara 15-35%. Saat ini penyajian datanya masih tersebar dari berbagai pintu dan sumber sesuai penanggungjawabnya sehingga pengambilan informasi memakan waktu yang lebih lama serta pemantauannya belum dapat menggambarkan tren. forecasting. profil kompetitor serta kemampuan unggul lainnya. based on Malcolm Baldrige in D S Hospital in 2007. Keywords: business intelligence. emphasize the policy of available information management system. Metode: Peneliti melakukan investigasi sistem dilanjutkan dengan analisis sistem untuk mengetahui kebutuhan informasi yang diperlukan. meanwhile data in form of non database file needed to get some constituency agreement to make the business intelligence implementation faster. so the monitoring has not known the trend. Objective: To get information about implementation preparation of Business Intelligence.1 Howard Dresdner pada tahun 19892 pertama kali mendefinisikan business intelligence sebagai rangkaian aplikasi dan teknologi untuk mengumpulkan. Kepala Bagian Tata Usaha serta Koordinator EDP. analisis multidimensi serta profil kompetitor. Rancangan penelitian yang dipakai adalah PENGANTAR Informasi memainkan peranan penting dalam pengambilan keputusan dan sebagai sarana strategik untuk memberikan pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan.

(3) desain. karyawan serta pihak lain yang mengoperasikan. Peningkatan biaya implementasi terjadi pada fase awal ketika investasi sistem informasi dilakukan dan akan menurun seiring berjalannya waktu. Pendekatan sistem digunakan untuk mengembangkan solusi sistem informasi. Investigasi sistem dilakukan dengan indepth interview. menggunakan dan mendukung sistem yang diusulkan. human resources focus. namun akan kemudian naik lagi secara perlahan.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . focus on patients. Saat ini RS DS telah memiliki 4 buah server (web. terlihat bahwa manajemen memberi dukungan yang positif karena kehadiran business intelligence yang sudah dirasakan sudah menjadi kebutuhan manajemen. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa penyajian data yang cepat bermanfaat terhadap berkurangnya beban kerja karena informasi cukup diinput satu kali. Sejak awal rumah sakit telah berhemat dengan menghindari posisi-posisi yang tidak efektif. hemat waktu dan tenaga. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa business intelligence dapat mendukung proses bisnis RS DS dengan sajian informasi yang terintegrasi sehingga analisa bisa dilakukan dengan cepat. Dalam hal ini manfaat business intelligence lebih pada kepentingan internal RS DS. ±110 client serta Local Area Network yang mencakup seluruh rumah sakit. measurement analysis and knowledge management. 2) Penerimaan karyawan: manajemen puncak berpendapat bahwa penerimaan karyawan sudah bagus. Vol. modul remunerasi. kemampuan dan kehandalan jaringan serta software di RS DS dalam implementasi business intelligence. Kelayakan operasional Merupakan kemauan. analisis sistem. 1) Dukungan manajemen: pada penyiapan implementasi business intelligence RS DS. other customer and market. process management serta business result. 178 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.5. No.3 Kriteria Layanan Kesehatan malcolm baldrige terdiri dari leadership. bersaing. domain dan proxy). d. b. Manfaat berwujud 1) Pengaruh terhadap peningkatan penjualan Business intelligencememungkinkan perusahaan untuk menganalisa perubahan trend c. peningkatan pendapatan dan keuntungan. data. Analisis dilakukan pada penyiapan implementasi business intelligence berbasis malcolm baldrige. mengharuskan seluruh karyawan untuk melakukan input data ke komputer. pengurangan biaya alat tulis. kemudahan pencarian dokumen. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penyiapan implementasi business intelligence RS Duren Sawit 1. Banyak perusahaan menetapkan kriteria bukan untuk MBNQA semata. Kelayakan ekonomi Dalam kelayakan ekonomi. 3) Persyaratan pemerintah : persyaratan dan peraturan pemerintah bisa menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan sistem informasi. dicari informasi tentang kemungkinan business intelligence dalam penghematan biaya. (4) implementasi dan (5) pemeliharaan.. 4 Desember 2007 . Langkah ini mencakup: (1) investigasi. e. implementasi sistem serta pemeliharaan sistem). unggul dan berkelanjutan.4. karena salah satu modul yang ada. 10. The malcolm baldrige criteria for performance excellence adalah sistem manajemen mutu yang berlaku di Amerika Serikat. (2) analisis. desain sistem. strategic planning. namun tetap dapat melalui verifikasi lintas unit.. Siklus ini dipandang sebagai proses multilangkah yang disebut sebagai siklus pengembangan sistem informasi (information system development cycle) yang juga dikenal sebagai siklus hidup pengembangan sistem (system development life cycle).6 Model business intelligence RS DS dibuat dengan dasar Malcolm Baldrige. tetapi untuk self assessment sebagai alat untuk membenahi sistem manajemen kinerja sehingga dapat survive. kemampuan manajemen. Penyiapan implementasi business intelligence dilakukan dengan pola System Development Life Cycle (SDLC) yang terdiri dari 5 tahap (investigasi sistem. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Namun peneliti membatasi penelitian pada investigasi sistem dan analisis sistem. Tahap investigasi sistem a. Kelayakan teknis Kelayakan teknis menilai ketersediaan. Kelayakan organisasi Kelayakan organisasional berfokus pada sebaik apakah dukungan sistem yang diusullkan terhadap prioritas bisnis strategis organisasi.

2% informasi saja yang perlu dilakukan forecast yaitu revenue growth.5%. Belum ada nilai standar untuk keseluruhan informasi. serta belum terdapat nilai standar untuk variabel ini. sehingga siapapun yang berkepentingan terhadap informasi itu bisa langsung melihat sesuai dengan kewenanangannya. waktu tunggu verifikasi dokumen. kedisiplinan. mayoritas tahunan sebanyak 48. preferensi pelanggan. indikator-indikator mutu di input langsung ke komputer.4% selanjutnya Keuangan dan SDM. profil pelanggan maupun tabulasi silang (pelanggan. kemampuan analisis serta pengambilan keputusan Rumah Sakit Duren Sawit (RS DS) telah menerapkan beberapa tools manajemen mutu yang memerlukan pemantauan yang akurat sehingga strategi yang dihasilkan selalu up to date dengan permasalahan yang ada. Tahap Analisis Sistem a. BTO. 2. jumlah pasien lama. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan dan gawat darurat serta avarage length of stay. Efek lain adalah dari sudut pandang balanced scorecard yang salah satunya memantau indikator kepuasan pelanggan dan jenis ini menjadi salah satu jenis informasi business intelligence RS DS. Tabulasi silang (pelanggan. kemudian 40. jumlah pasien rawat jalan baru. sehingga lebih memimpin dalam sistem informasi yang keseluruhan outputnya dimanfaatkan untuk membuat keputusan yang akurat baik untuk bahan informasi maupun marketing untuk meningkatkan penjualan. pola pembelanjaan. produk) diperlukan pada 29. Pengaruh terhadap ketersediaan informasi. other customer and market Dalam kriteria focus on patients. geografi maupun produk). Untuk time interval update data. redundansi data yang sebetulnya sudah terdapat dalam sistem. 2) Pengaruh terhadap biaya pemrosesan informasi dan efisiensi operasional Berkurangnya biaya pemrosesan informasi didapat dari berkurangnya beban kerja pengiriman dokumen lintas unit. No. Kriteria focus on patients. Kriteria leadership Didapat 8 variabel informasi yang semuanya berasal dari perilaku utama staf RS DS. Ketersediaan data saat ini seluruhnya masih dalam bentuk laporan manual dengan time interval update data setiap bulan. Saat ini sebanyak 22. jumlah pasien lama. Manfaat tak berwujud 1). sedangkan 37% lagi dalam bentuk file non database dan sisanya dalam bentuk laporan manual. Kesemuanya tidak memerlukan kebutuhan forecast. pertumbuhan hari perawatan. masing-masing 18. 4). didapat 8 variabel informasi yaitu built customer relationship management. other customer and market malcolm baldrige. Business intelligence akan mewajibkan karyawan untuk melakukan input data yang menjadi tanggung jawabnya sehingga kedisiplinan akan meningkat. jumlah pasien rawat jalan baru. TOI serta AvLOS. mayoritas sudah dalam bentuk database yaitu sebanyak 40. BOR. komplain pelanggan. geografi. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan serta pasien gawat darurat. Vol. Pengaruh terhadap posisi kompetitif dan citra bisnis Rumah Sakit Duren Sawit (RS DS) merupakan rumah sakit daerah yang merintis implementasi business intelligence. Analisis kebutuhan informasi 1.2%. serta kebanggaan bekerja di RS DS. Mayoritas wilayah data di bawah unit Electronic Data Processing (EDP) yaitu sebanyak 44. pertumbuhan hari perawatan.7% realtime dan sisanya bulanan. 10. Dengan business intelligence.7%. Pengaruh terhadap perbaikan layanan pelanggan Secara langsung business intelligence bisa memberi gambaran yang cepat mengenai titik-titik rawan dalam pelayanan untuk kemudian mengambil langkah dengan cepat terhadap masalah tersebut. Keseluruhan 3. Keseluruhan wilayah datanya adalah unit SDM. Kriteria strategic planning Didapat 27 variabel informasi yang keseluruhannya berasal dari balanced scorecard. pertumbuhan hari perawatan. Dalam hal ketersediaan data.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan dalam pasar. Sebanyak 37% informasi memerlukan profil kompetitor. yaitu pada jenis revenue growth. Pengaruh terhadap perbaikan moral karyawan Moral karyawan dalam hal ini diwujudkan dalam bentuk etos kerja. perubahan dalam perilaku pelanggan. jumlah pasien rawat jalan baru. 3). pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan dan pasien gawat darurat. 4 Desember 2007 179 . f. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Hal-hal tersebut bisa diminimalisir dengan business intelligence. handling complaints dan customer loyalty. customer satisfaction. 2). jumlah pasien lama.6% informasi yaitu pada jenis hasil survei kepuasan pelanggan. kapabilitas perusahaan serta kondisi pasar.

1 karena kesamaan informasinya. tabulasi silang (pelanggan.9% data time interval update-nya adalah tiga bulanan. kebutuhan jam training per orang per tahun serta pay for performance) dalam bentuk file non database. analysis and knowledge management Dalam kriteria measurement. Mayoritas ketersediaan data sudah dalam bentuk file non database yaitu sebanyak 82. Kriteria measurement. infeksi nosokomial <5%. dimana 65 variabel diantaranya berasal dari proses kunci layanan RS DS. Nilai standar belum terdapat pada keseluruhan jenis. serta peningkatan pertumbuhan 30% per tahun dalam 5 tahun. Untuk CBHRM. sehingga akan dapat memudahkan pengguna business intelligence untuk mendapatkan informasi yang luas pada kategori ini sehingga akan memberikan lebih banyak alternatif pertimbangan pada pengambilan keputusan.5%. didapat 13 variabel informasi yang terdiri dari 3 kelompok besar yaitu Competency Based Human Resources Management (CBHRM). response time layanan IGD <2 menit 95%. No. 3 jenis sisanya (training gap. profil kompetitor maupun tabulasi silang (pelanggan. produk). keseluruhan jenis kapitalisasi pengembangan ide serta communication and skill sharing masih dalam bentuk laporan manual. Kapitalisasi Pengembangan Ide serta communication and skill sharing. Keseluruhan wilayah data ada di bawah unit EDP. Keseluruhan jenis tidak memerlukan forecast kecuali pada satu jenis yaitu peningkatan pertumbuhan 30% per tahun dalam 5 tahun. sedangkan jenis seleksi yang merupakan bagian dari CBHRM seluruhnya realtime dan sisanya interval tiga bulanan. Keseluruhan data sudah memiliki nilai standar. Jumlah variabel informasi terbanyak ada pada kriteria malcolm baldrige process management. kapitalisasi pengembangan ide di bawah unit MR serta communication and skill sharing sifat wilayah datanya spesifik unit pelayanan.1%. Untuk time interval update data. Dalam hal ketersediaan data. Profil kompetitor diperlukan pada jenis waktu layanan registrasi 5 menit. wilayah data ada di bawah unit Public Service Center (PSC) Dalam hal ketersediaan data. QMS ISO 9001:2000. Kriteria process management Dari keseluruhan kriteria process management malcolm baldrige terdapat 84 jenis informasi yang keseluruhannya terdiri dari 6 kelompok yaitu proses kunci layanan kesehatan RSDS. 10. produk). Jumlah variabel informasi yang diperoleh peneliti pada penelitian ini mencapai 147 variabel. 4 Desember 2007 . geografi. psychiatry departement report serta sentralisir dan digitalisasi dokumen di Manager Representative (MR). geografi. K3).8% kemudian rawat inap sebanyak 11. Nilai standar ada pada jenis product information dan handling complaints. 6. Informasi sebanyak ini dengan berbagai atributnya merupakan hal yang cukup kompleks. PSC modules. waktu layanan RJ umum 10 menit. Terdapat 19 wilayah data dan yang terbanyak adalah di bawah unit MR sebanyak 23. Tidak ada informasi yang memerlukan forecast. OHSAS 18001 (patient safety.9% dan IPSRS sebanyak 9. keseluruhannya dalam bentuk file non database. dan keduanya digabung ke poin 5. Tabulasi silang (pelanggan. keseluruhan wilayah data ada di bawah unit SDM. keseluruhannya dalam bentuk file non database kecuali psychiatry departement report yang belum tersedia. angka kejadian malpraktik 0%.. kecuali sentralisir dan digitalisasi dokumen MR berada di bawah MR. 5. geografi dan produk) diperlukan pada jenis kepuasan pelanggan 80% pada pelayanan pasien jiwa. sedangkan jenis seleksi yang merupakan bagian dari CBHRM data sudah tersedia dalam bentuk database. seluruhnya bulanan. angka kejadian medical error 0%. Sebanyak 92. seluruhnya tiga bulanan kecuali sentralisir dan digitalisasi dokumen di MR yang time intervalnya realtime. Untuk time interval update data. Nilai standar belum terdapat pada keseluruhan jenis. Kriteria business result Kriteria business result malcolm baldrige terdiri dari dua jenis yaitu performance management dan human resources competencies. pelayanan pasien narkoba dan pelayanan pasien nonjiwa. analysis and knowledge management malcolm baldrige. Untuk time interval update data. profil kompetitor maupun 4.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . Dalam hal ketersediaan data. Tidak ada informasi yang memerlukan forecast. Kriteria human resources focus Dalam kriteria human resources focus malcolm baldrige. didapat lima variabel informasi yaitu services modules. Ini menunjukkan standarisasi informasi yang telah berjalan dengan baik. attending system modules. six sigma. Vol. keseluruhan jenis kapitalisasi pengembangan ide serta communication and skill sharing intervalnya bulanan.. 180 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. sebanyak 84 variabel informasi. 7. keberadaan business intelligence akan sangat membantu untuk mengambil keputusan yang tepat dari keseluruhan informasi tadi. GKM dan 5R. waktu layanan rawat jalan 40 menit.

sehingga lebih menunjang kesiapan implementasi business intelligence. 4. belum tersedia <1%). ketersediaan data dalam bentuk selain database membutuhkan lagi langkah yang lebih panjang yaitu melalui proses Extract. kemudian selanjutnya file database dan laporan manual. 1. maka tingkat kesiapan paling tinggi adalah ketersediaan data dalam bentuk database. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Reporting Dengan telah diidentifikasikannya kebutuhan data dalam bentuk matriks hasil penelitian. Tiga wilayah data terbanyak adalah manager representative. Transform. Vol. Data integration Dalam konteks business intelligence RS DS. sehingga kesiapannya cukup tinggi untuk dikonversikan ke dalam business intelligence. SDM dan electronic data processing. sedangkan kriteria lainnya selain business result masih perlu lebih dirinci lagi. Penyiapan Implementasi Ditinjau Dari Development Life Cycle System Upaya untuk melakukan tahap investigasi sistem yang menentukan tingkat kelayakan implementasi sistem informasi mencakup sekitar 5%-15% dari keseluruhan tahap. wilayah data manager representative dan public service center perlu diintervensi lebih lanjut untuk menyediakan data dalam format database. Jika dilihat dari upayanya. Lebih dari separuh ketersediaan data adalah dalam bentuk file non database. Variabel informasi yang didapat termasuk kompleks. Jika dilihat secara keseluruhan. jika memperhatikan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pengolahan data. sudah 81% data tersedia dalam bentuk laporan non manual. Namun ketersediaan data dalam bentuk file non database tetap lebih baik dibandingkan bentuk manual. keberadaan business intelligenceakan sangat membantu peroses pengambilan keputusan. Analysing Dengan kelengkapan variabel data yang dimiliki RS DS. Dashboard Kesiapannya sama dengan kesiapan fitur reporting yaitu cukup tinggi. laporan manual 19%. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Secara keseluruhan. Bentuk file non database tetap dimungkinkan untuk diintegrasikan ke dalam business intelligence. No. mengingat variabilitas format informasi yang tersedia (database 16%. kesiapan untuk data integration menjadi suatu tantangan besar. 5. ketersediaan data dalam bentuk non laporan manual yang cukup besar (81%) akan sangat membantu percepatan business intelligence. 2. Secara keseluruhan. Dari ketersediaan data tersebut. upaya penyiapan implementasi business intelligence RS DS telah mencakup 15% . masih diperlukan sekitar 65%-85% lagi untuk mencapai implementasi business intelligence secara keseluruhan dan proses ini melibatkan lebih banyak pihak lagi dalam penyusunannya agar menghasilkan suatu informasi yang bernilai tinggi bagi RS DS. karena akan melewati beberapa masalah seperti ketidakkonsistenan primary key. ketidakkonsistenan nilai data. Kriteria business result sudah tercakup dalam kriteria-kriteria lain. Kriteria yang mendominasi adalah process management pada variabel Proses kunci layanan RSDS.35% dari keseluruhan tahapan system development life cycle. kesiapan untuk fitur reporting menjadi cukup tinggi. Ditinjau dari segi kelayakan. membedakan business intelligence dengan sistem informasi manajemen lainnya. Data mining Dengan banyaknya variabel data yang tersedia (147 variabel data). Manajemen dapat mengungkap korelasi bermakna antar data yang tersembunyi sebelumnya. 3. 4 Desember 2007 181 . 10. Load (ETL) yang lebih lama dibanding data bentuk database. implementasi business intelligece RS DS sudah cukup layak untuk dikembangkan. Ketersediaan data dalam bentuk database baru mencakup 16% dari keseluruhan data dengan kontributor terbesarnya adalah balanced scorecard dalam kriteria strategic planning. Namun. kesiapan untuk dilakukan data mining menjadi cukup tinggi. lalu file non database dan laporan manual. seperti juga halnya data integration di perusahaan lain. nilai data yang tidak akurat. format data yang berbeda-beda. Tahapan analisis sistem yang menghasilkan analisis kebutuhan informasi mencakup 10%-20% dari total upaya untuk mengembangkan sebuah sistem informasi. penelitian penyiapan implementasi business intelligence di RS DS sudah mencakup sekitar 15%-35% dari keseluruhan upaya pembuatannya. Fitur business intelligence Tipe-tipe analisa informasi berikut merupakan fitur yang disajikan oleh business intelligence yang sifatnya unik. tingkat kesiapan analisis cukup tinggi.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Dari segi ketersediaan data. file non database 65%. sinonim dan homonim serta logika proses.

Melibatkan pemakai akhir dari mulai untuk menentukan persyaratan fungsional untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam implementasi sistem. Edisi II. Pearson Education.. utamanya bagi wilayah data yang mayoritas informasinya masih dalam bentuk laporan manual.. Penyiapan Implementasi Business Intelligence 182 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. New Jersey. 6. 1998. Boston. 4 Desember 2007 . Bunga Rampai Kriteria Bisnis Malcolm Baldrige National Quality Award (MBNQA). Catur. Shaku. Introduction to Information Systems. 4. Masing-masing penanggung jawab wilayah data menuangkan variabel informasinya dalam bentuk informasi yang terstandar menjadi bentuk database. Vol. Sadikin. KEPUSTAKAAN 1.. 2006. Knowledge management yang sudah ada terus dikembangkan dan disentralisir dalam wadah aplikasi business intelligence untuk memudahkan evaluasi serta update informasi-informasi terbaru yang terus berkembang. New York. Bagi informasi yang ketersediaan datanya masih dalam bentuk file non database. Iskandar. 2003. CHIP Magazine. dan implementasi sistem lalu selanjutnya pemeliharaan sistem untuk percepatan implementasi business intelligence RS DS. Telkom Training Center dan Wahana Kendali Mutu. Peningkatan motivasi internal para karyawan tentang pentingnya implementasi sistem informasi di lingkungan rumah sakit serta keuntungan positif apa saja yang akan diperoleh karyawan dengan sistem informasi tersebut akan membawa dampak positif bagi kemajuan implementasi di luar pelatihan-pelatihan yang sudah rutin dilakukan saat ini. O Brien.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . Business Intelligence Roadmap. dan gagasamanajemen terhadap sistem yang digunakan juga sangat diperlukan. Ketaatan input data karyawan disertakan dalam sistem remunerasi yang saat ini sudah berjalan. Meneruskan tahapan system development life cycle pada tahap desain sistem. Leman. 2007. Hal ini dilakukan untuk mempercepat implementasi dan mendapat manfaat optimal dari business intelligence. Business Intelligence. diperlukan kesepakatan mengenai konsistensi data untuk mempercepat implementasi business intelligence. Elex Media Komputindo. Metodologi Pengembangan Sistem Informasi. 2. 10. Management Information System. 5. Larissa T. Moss. Perlu dilakukan percepatan implementasi business intelligence untuk mendapatkan manfaat optimalnya. Prentice Hall. Saran Sosialisasi penggunaan sistem informasi serta pelatihannya perlu dilakukan terus. Atre. McGraw-Hill. Gambar 1 . 1998. Jakarta. 12th ed. 2005.6(1) Juni :140-144. 3. Mc Leod. No.

kinerja ABSTRAK Latar belakang: Program penempatan bidan desa pada umumnya dipengaruhi oleh kemampuan dan keterampilan bidan desa itu sendiri. The objective of this research is to determine factors correlating with the midwives performance at Puskesmas of South Dullah Island Sub District.1 Negara kita AKI masih menduduki urutan tertinggi di negara ASEAN. Participants obtained were 32 respondents.0%). No. memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengikuti pelatihan secara terus menerus serta memberikan insentif untuk meningkatkan kinerja bidan. Namun demikian. Hasil dan Kesimpulan: Pengetahuan. waktu kerja sekitar lima tahun (71. and the health office at district must provide the minimal kit midwives. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. 10. Results and Conclusion: Knowledge. The type of this research is observational research by using the cross sectional study approach. Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006. Nurhamsa Mandak2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. Sample were all the midwives staff giving the midwifery service and working at Puskesmas Tual and Un at the Sub District of South Dullah Island. Jenis penelitian ini adalah obeservasi dengan pendekatan cross sectional study.3%).0%). performance pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada pasien. Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006. keterampilan dan motivasi mempunyai hubungan dengan kinerja bidan. Metode: Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bidan yang bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan. work time about five years (71. Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). motivation. Vol. Maluku Tenggara 1 ABSTRACT Background: The placement program of village midwives is mostly influenced by the capability and skill of village midwives. Keywords: knowledge. Nurhayani1. South East Maluku Regency for year 2006. serta lambatnya penurunan kedua angka tersebut. sedangkan AKB di Indonesia sebesar 35/1000 kelahiran hidup dan yang terendah adalah Singapura yaitu 3/l00 kelahiran hidup. work time. keterampilan cukup (83. Rekomendasi: Penelitian ini menyarankan bahwa untuk meningkatkan pengetahuan bidan tentang penggunaan alat dan sistem pelaporan. Sementara jam kerja tidak berhubungan dengan kinerja bidan. giving training continuously to all midwives. Nevertheless. Sample adalah keseluruhan dari jumlah populasi sebanyak 32 orang. a midwife must have the high motivation which drives them to give the better service to patients. Methods: Population of this research were all the midwives staff working at Puskesmas Tual and Un at the Sub District of South Dullah Island.2 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Makassar 2 Puskesmas Tual. the work time didn’t have correlation with the midwives performance.4%) and adequate motivation (91. skill. The good performance of midwives were caused by the sufficient knowledge (84.3%).4%) dan motivasi cukup (91. Therefore a midwife has to have adequate knowledge about the midwifery particularly obtained from the formal and non formal education. seorang bidan harus mempunyai motivasi yang tinggi yang mendorong mereka dapat memberikan PENGANTAR Masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan masalah nasional yang perlu mendapat prioritas utama karena sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pada generasi mendatang. Kepada Kepala Dinas kesehatan diminta untuk menyediakan kit bidan agar dapat menjalankan tugas mereka lebih baik.000 kelahiran hidup pada tahun 2002. Kinerja bidan yang baik dipengaruhi oleh pengetahuan yang cukup (84. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 195 . adequate skill (83. South East Maluku Regency for year 2006. keterampilan. Meanwhile. 4 Desember 2007 195 . skills and motivations correlate with the performance of midwives. giving incentive/rewards to them by the head of Puskesmas to improve their performance. motivasi. kepala Puskesmas sebaiknya melakukan observasi secara regular. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja bidan di Puskesmas Kecamatan Pulau Dullah Selatan. South East Maluku regency for year 2006. Seorang bidan harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kebidanan khususnya yang diperoleh dari pendidikan baik formal maupun non formal seperti pelatihan. the head of Puskesmas is better to do the continuously observation about the filing of report format and the using of equipment.3%). Recommendation: The research suggests that to improve the knowledge of midwives about the equipment use and reporting their task. menunjukkan bahwa pelayanan KIA sangat mendesak untuk ditingkatkan baik dari segi jangkauan maupun kualitas pelayanannya. Kata Kunci: pengetahuan.3%). 307/100. such as training.200 Artikel Penelitian DETERMINAN KINERJA BIDAN DI PUSKESMAS TAHUN 2006 DETERMINANT OF MIDWIVES PERFORMANCE AT PUBLIC HEALTH CENTRE AT 2006 Sukri Palutturi1. jam kerja.

4 Jadi pengetahuan dapat diartikan sebagai hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan pada objek tertentu. AKB pada tahun 2005 sebanyak 82/100. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa hampir semua desa di wilayah Indonesia mempunyai akses untuk pelayanan kebidanan.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup tahun 2015. penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia yaitu indera penglihatan. Seseorang bidan dituntut untuk menggunakan kemampuan dalam berbagai aspek kehidupan khususnya dalam memberikan pelayanan pada pasien. Peningkatan kesehatan ibu dan bayi di Indonesia adalah salah satu komitmen Departemen Kesehatan melalui penerapan rencana pengurangan angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi dan target untuk menurunkan AKI dari 307/100.72%) dan K4 (75. No. standar untuk cakupan Kl yaitu minimal 90% dan K4 minimal 80%. Untuk itu sejak tahun 1990 telah ditempatkan bidan di desa yang pada tahun 1996 telah mencapai target 54. dan AKI terbanyak di Kabupaten Maluku Tenggara sebanyak 10/kelahiran hidup.829 atau 62% cakupan TT1 27. pendengaran.000 kelahiran hidup tahun 2005 dan 75/100. dkk. cakupan tablet Fel (77.10%) dan TT2 (78. seperti pelatihan.5 Berdasarkan laporan yang ada pada Dinas Kesehatan di Provinsi Maluku dari 5 Kabupaten Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2005 sebanyak 36/100.000 kelahiran hidup dan AKB dari 35/100. dan AKB menjadi 15/1000 kelahiran hidup.45%).kelainan yang mungkin terjadi pada saat kehamilan atau menjelang kelahiran. disiplin dan motivasi tenaga bidan yang tinggi dalam pelayanan kebidanan bagi masyarakat merupakan harapan bagi semua pengguna pelayanan kebidanan..2 Salah satu upaya yang dilakukan Departemen Kesehatan dalam mempercepat penurunan AKI adalah mendekatkan pelayanan kebidanan kepada setiap ibu yang membutuhkannya. Masih tingginya AKB dan AKI menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan masih belum memadai dan belum menjangkau masyarakat banyak. dan cakupan TT 1 (85. Di 196 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.829 atau 62%.66%). Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga baik melalui pendidikan formal maupun non formal.5 Di Kabupaten Maluku Tenggara yang terdiri dari 17 puskesmas dengan cakupan K1 3. Selain itu seorang bidan juga harus memiliki motivasi yang tinggi sehingga timbul dorongan dalam dirinya untuk memberikan pelayanan kebidanan yang baik kepada pasien. Tindakan (KI-K4) yang diberikan oleh petugas kesehatan (bidan) pada saat pemeriksaan kehamilan seorang ibu di pusat pelayanan kesehatan (puskesmas) akan banyak berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya karena dengan pemeriksaan yang lengkap akan mudah mendeteksi kelainan .408 atau 62% dan cakupan TT2 2871 atau 52%. 4 Desember 2007 . Vol.6 (Profil Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara).. bayi dan anak balita.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas .1 Keberhasilan seseorang dalam mewujudkan tujuan dan harapannya sangat ditentukan oleh masa kerja yang dimiliki.408 atau 62% dan K4 2871 atau 52% cakupan Fel 3. Keberhasilan program penempatan bidan di desa sangat dipengaruhi kemampuan dan keterampilan bidan di desa di samping faktor lingkungan dan faktor kebutuhan masyarakat itu sendiri.Untuk itu diperlukan tenaga bidan yang memiliki kualitas profesional yang dapat memberikan pelayanan kebidanan yang efektif dan efisien serta berkualitas yang akhirnya dapat membantu memperbaiki dan meningkatkan kesehatan masyarakat dengan berorientasi pada upaya-upaya pencegahan baik pencegahan primer.3 Penempatan bidan di desa adalah upaya untuk menurunkan AKI. Secara nasional tahun 1999 K1 (92.47%)dan Fe3 (63.000 kelahiran hidup. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan merupakan sekumpulan bahan yang luas dengan hal-hal yang terperinci yang tetap dipelajari sebelumnya serta mengingatkan hal tersebut sebagai bahan yang sudah diketahui.719 atau 80% dan K4 22. Namun bidan di desa yang sudah ditempatkan belum didayagunakan secara optimal dalam upaya menurunkan AKI dan AKB.829 atau 62% cakupan Fe1 27. khususnya dipedesaan. Kesehatan ibu hamil dapat dicapai bila kehamilan diperiksa secara teratur dan risiko yang ditemukan ditangani secara memadai. sehingga dengan demikian dapat memberikan dampak yang positif sesuai dengan bidang ilmu yang dimilikinya. seorang bidan harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai keperawatan khususnya kebidanan baik yang diperoleh melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek.408 atau 62% dan Fe3 2871 atau 52% cakupan TT1 3. Selain itu.120 bidan di desa. Untuk itu diperlukan suatu instrumen untuk memantau kinerja bidan di desa.719 atau 80% dan Fe3 22. dan AKB terbanyak di Kabupaten Maluku Tenggara sebanyak 45/kelahiran hidup dengan cakupan KI 27.719 atau 80% dan TT2 22.sekunder dan tertier.Sukri Palutturi.000 kelahiran hidup menjadi 225/100. 10. Oleh karena itu.000 kelahiran hidup menjadi 20/1000 kelahiran hidup. sedangkan target Internasional AKI di bawah 125/100.10%). penciuman rasa dan raba.

000 ( p< 0.5).3 6 85.3%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (16. Besar sampel sebanyak 32 responden bidan dengan menjawab pertanyaan yang diberikan pada kuesioner. Untuk lebih memperjelas hasil pemaparan penelitian maka dibagi dalam tiga bagian yaitu pertama: karakteristik responden untuk mendeskripsikan karakteristik responden yaitu tingkat pendidikan dan umur.7%) memiliki kinerja kurang.7 22 68.3 Total n 25 7 32 % 78. Data sekunder diperoleh dari laporan cakupan program KIA (PWS KIA) Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Sampel adalah semua tenaga bidan yang melakukan pelayanan kebidanan dan bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006. cakupan Fe l 60. Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 Pengetahuan Cukup Kurang Total Kinerja Baik Kurang n % n % 21 84. sedangkan dari 7 responden dengan pengetahuan yang kurang terdapat 1 responden (14. Hubungan keterampilan dengan kinerja bidan Tabel 2 menunjukkan dari 24 responden (75. Hasil dari penelitian diuraikan pada tabel dan penjelasan berikut. keterampilan.14% dan cakupan K4 65%.10% dan cakupan Fe 3 65% sedangkan cakupan TT 1 70. Total sampel yang diperoleh sebanyak 32 bidan. tabulasi silang antara variabel independen dengan variabel dependen. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan antenatal belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. masa kerja.3%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (85. untuk cakupan pemeriksaan ibu hamil atau KI sebesar 70.1 21.8 10 31. motivasi dan kinerja bidan di Puskesmas Tual dan Un Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Penyajian data yang telah diolah. Tabel 1. A. di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. masa kerja dan motivasi dan variabel dependen yaitu kinerja.05 ) maka Ho ditolak. Ketiga.0%) dengan keterampilan yang cukup terdapat 20 responden (83.0%) memiliki kinerja kurang. No. Vol.0 4 16. Hal ini berarti ada hubungan antara pegetahuan dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Kedua: deskriptif variabel penelitian yaitu variabel independen mengenai pengetahuan. Populasi dan sampel Populasi adalah semua tenaga bidan yang bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006 dengan total sampel sebanyak 32 bidan.0 1 14.9 100 Sumber : Data Primer B. Pengolahan dan penyajian data Pengolahan data dilakukan dengan cara elektronik.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kecamatan Pulau Dullah Selatan (Puskesmas Tual dan Un). 4 Desember 2007 197 . Metode pengumpulan data Data ini diperoleh dengan cara observasi atau pengamatan terhadap kegiatan pemeriksaan ibu hamil yang dilakukan oleh tenaga bidan. keterampilan.7%) memiliki kinerja kurang. Hubungan pengetahuan dengan kinerja bidan Tabel 1 menunjukkan dari 25 responden (78. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kinerja tenaga bidan dalam pelaksanaan standar pelayanan kebidanan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan tahun 2006.7 Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan pendekatan Cross Sectional Study7 untuk mengetahui hubungan pengetahuan. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0. Penelitian dilaksanakan mulai bulan April 2006 sampai dengan bulan Mei 2006. Cakupan K1 ini dapat menggambarkan tingkat upaya kesehatan ibu dan anak dan perilaku kesehatan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya.0%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (16.1%) dengan pengetahuan yang cukup terdapat 21 responden (84. dilakukan dalam bentuk cross tabel dan narasi. sedang dari 8 responden dengan keterampilan kurang Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. yaitu dengan menggunakan komputer (program SPSS versi 11.14% dan cakupan TT2 65%. Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan pada Puskesmas Tual dan Un Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara dengan pertimbangan belum pernah dilakukan penelitian tentang kinerja tenaga bidan di lokasi tersebut. 10.

3 2 8.7 23 71.002 ( p< 0. Tabel 2.7 2 25.6%) dengan masa kerja yang lama terdapat 15 responden (71.6%) memiliki kinerja kurang. adanya motivasi yang kuat merupakan pendorong yang memadai serta adanya kepemimpinan dan bidan itu sendiri.6 68. sedang dari 9 responden dengan motivasi yang kurang terdapat 1 responden (11.000 (p< 0. Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006 Masa Kerja (Tahun) Lama (> 5 tahun) Tidak Lama (< 5 tahun) Total Kinerja Baik n 15 7 22 % 71.4%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (28.05) maka Ho ditolak.8 Kurang n % 6 4 10 28.4 100 PEMBAHASAN Kinerja adalah penampilan hasil kerja personal baik kualitas maupun kuantitas dalam suatu organisasi..0%) yang mempunyai kinerja kurang.6 36. Hasil penelitian menunjukkan dengan pengetahuan yang baik sebanyak 21 bidan (84. Hubungan Motivasi dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 Kinerja Total Motivasi Baik Kurang n % n % n % Cukup 21 91. menyaksikan. Hubungan Keterampilan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 hubungan antara Motivasi dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.0 100 Sumber : Data Primer C.6 34.1 8 88. 4 Desember 2007 .0 6 75.3 Total n 24 8 32 % 75. mengamati atau diajar sejak lahir sampai dewasa. sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing. Hubungan masa kerja dengan kinerja bidan Tabel 3 menunjukkan dari 21 responden (65.3 32 100 Sumber : Data Primer Keterampilan Cukup Kurang Total Kinerja Baik Kurang n % N % 20 83. Hubungan motivasi dengan kinerja bidan Tabel 4 menunjukkan dari 23 responden (71.8 10 31. Hal ini berarti tidak ada hubungan masa kerja dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja meliputi faktor individu keterampilan.0%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (75.7%) memiliki kinerja kurang.3 n 21 11 32 Total % 65. Untuk kinerja bidan maka faktor yang paling berpengaruh dan merupakan faktor kunci untuk mencapai hasil kerja yang baik harus memiliki kemampuan dan keterampilan yang baik.3%) memiliki kinerja baik dan 2 responden (8.1 Total 22 68.9 Kinerja seseorang terkait erat dengan proses kerja dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Tabel 3. Hal ini berarti ada hubungan antara keterampilan dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.0%) yang memiliki kinerja yang baik sedangkan dengan pengetahuan yang kurang menyebabkan 4 bidan (16.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas . Hasil uji statistik menunjukan bahwa ada hubungan antara Sumber : Data Primer d.0%) memiliki kinerja kurang.0 25.05) maka Ho diterima. Pengetahuan dengan kinerja bidan Pengetahuan adalah apa yang diketahui dan mampu diingat oleh setiap orang setelah mengalami. Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi.1%) memiliki kinerja baik dan 8 responden (88.9 Kurang 1 11.3 4 16. 10.9%) dengan motivasi yang cukup terdapat 21 responden (91. dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal. Hasil penelitian terhadap kinerja bidan pada bagian sebelumnya memberikan acuan untuk membahas keempat faktor tersebut terhadap kinerja.4%) memiliki kinerja kurang. No.Sukri Palutturi.6%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (36.05 ) maka Ho ditolak.0 22 68. Hal ini berarti ada 198 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dkk.652 (p> 0.9 9 28. Vol. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0. sedang dari 11 responden dengan masa kerja yang tidak lama terdapat 7 responden (63.4 63. terdapat 2 responden (25..8 10 31.9%) memiliki kinerja kurang. Dalam penelitian ini. faktor organisasi yang terdiri dari: kepemimpinan dan struktur imbalan/kompensasi serta faktor-faktor psikologis yang meliputi: motivasi dan kepuasan kerja. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0. Pembahasan lebih lanjut sebagai berikut. khususnya setelah diberikan pendidikan formal maupun non formal. 1.4 31. tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral atau pun etika. Tabel 4.

3%) dibanding keterampilan kurang (25.4%).11. Hal ini disebabkan pelatihan memiliki arti yang luas bahwa sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan SDM terutama di dalam hal pengetahuan. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki keterampilan cukup (83. 10.7%) memiliki kinerja kurang. kebutuhan. dibanding dengan bidan yang telah bekerja kurang dari 5 tahun (63.1%).0%). Hasil penelitian menunjukkan dari 21 bidan yang masa kerja lama sebanyak 15 bidan (71. harapan. dan kesukaan) yang menimbulkan dorongan atau semangat untuk bekerja keras.3%) dibanding yang memiliki motivasi kurang (11. 4. lebih lancar dalam melaksanakan pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Dari hasil penelitian diperoleh distribusi terbesar sebagian besar responden telah bekerja =5 tahun sebanyak 21 responden (65. 10. kemudian selama <5 tahun sebanyak 11 responden (34. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pengetahuan bidan berhubungan dengan kinerja bidan. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki pengetahuan cukup (84. akan bekerja lebih terarah.4%) dengan kinerja baik dan sebanyak 6 responden (28. Pengadaan minimal bidan kit kepada semua bidan yang bertugas oleh Dinas Kesehatan sehingga bidan dapat melaksanakan standar pelayanan kebidanan dengan baik.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pengetahuan dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara 2.6%). memperbaiki. kemampuan dan keterampilan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Saran Diharapkan kepala Dinas Kesehatan Kabupaten untuk memberikan pelatihan secara kontinyu kepada semua bidan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pulau Dullah Selatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan bidan dalam menerapkan standar pelayanan kebidanan yang baik. Keterampilan bidan berhubungan dengan kinerja bidan.13. dan mereka dapat menampilkan kinerja yang baik pula. Motivasi dengan kinerja bidan Motivasi adalah kesiapan khusus seseorang untuk melakukan atau melanjutkan serangkaian aktivitas yang ditujukan untuk mencapai beberapa sasaran yang telah ditetapkan.3%) memiliki kinerja yang baik sedangkan dengan keterampilan yang Baik sebanyak 4 bidan (16. Vol. Diharapkan Kepala Puskemas untuk melakukan pemantauan secara berkala terhadap bidan tentang pengisian format laporan dan penggunaan peralatan serta cara pelayanan dalam menggunakan standar pelayanan kebidanan. Akan halnya motivasi kerja adalah sesuatu hal yang berasal dari internal individu (keinginan. Masa kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah khusus pelatihan tentang standar pelayanan kebidanan. Bidan yang mempunyai kinerja baik lebih banyak memiliki motivasi cukup (91. Masa kerja bidan tidak berhubungan dengan kinerja bidan. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara massa kerja dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki Masa kerja hampir sama antara yang telah bekerja selama 5 tahun atau lebih (71.7%) memiliki kinerja kurang.3%) yang memiliki kinerja baik dan dengan motivasi yang kurang terdapat 2 bidan (8. Agar Kepala Puskesmas memperhatikan pemberian insentif kepada semua bidan dan penghargaan kepada bidan yang mempunyai prestasi sehingga dapat menjadi salah satu pemicu peningkatan kinerja mereka. Motivasi berhubungan dengan kinerja bidan.14 Hasil penelitian menunjukkan dengan motivasi yang baik sebanyak 21 bidan (91.3%). meningkatkan dan mengembangkan kemampuan personil dalam jangka waktu relatif singkat yang mengutamakan pengetahuan praktis sehingga personil dapat melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara keterampilan dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.6%) dengan kinerja yang kurang.12 Hasil penelitian menunjukkan dengan keterampilan bidan yang baik sebanyak 20 bidan (83.4%).3%) dibanding pengetahuan kurang (14. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara motivasi dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. 3. 4 Desember 2007 199 . No. Dari hasil penelitian menunjukkan bidan yang telah mengikuti pelatihan yang sesuai dengan tugasnya sehari-hari. Keterampilan dengan kinerja bidan Menjalankan tugas dan tanggung jawab secara profesional dengan melaksanakan fungsi sebagai bidan menuntut suatu keterampilan sebagai bidan yaitu merencanakan asuhan keperawatan sesuai dengan hasil pengkajian kebutuhan dan masalah keperawatan kebidanan. Masa kerja dengan kinerja bidan Masa kerja merupakan suatu proses pendidikan formal untuk mengubah.6%).

13. Penilaian. 4 Desember 2007 . 200 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 5. KEPUSTAKAAN 1. 1999. cetakan kedua. Y. Depkes. 2001. Profil Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas . Maluku Tenggara. Panduan Bidan Tingkat Desa. 11. Cetakan II. 14. 2005. 8. Ilyas. Vol. 1994. Ilyas. RI. Jakarta: 1999. Jakarta. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan Depok. Profil Kesehatan Indonesia. 1999.cgi?newsid 1087441546.. Yogyakarta. Gizi Net. dkk. 10. Puskesmas Tual dan Un. 4. Alfabeta. diakses pada 3 Maret 2006 di http:// www. Profesi Kebidanan. 10. Ikatan Bidan Indonesia. 3. Jakarta. Panduan Bidan di Desa Bagian I & II. IBI. Bandung.net/cgi-bin/berita/fullnews. Prawirosentono. Kode etika kebidanan. Panduan Kesehatan dan Alternatif Mobilisasi Dana Kesehatan di Indonesia. 7. 2005. Sugiono. 1999. 2000. Profil Puskesmas Tual dan Un. Jakarta. Penelitian). 2005. Penelitian).40265. Metode Penelitian Administrasi. 9.Sukri Palutturi. Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara. S. Metodologi penelitian kesehatan. 2003. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan. Cetakan I. FKMUI. FKMUI.T. Kinerja (Teori. Menekan angka kematian ibu dan anak. S. 2. 1999. No. 12. Thabrany H. Notoadmojo. Rineka Cipta. Mei 1999.. Depkes RI. Jakarta. 6. P. Maluku Tenggara. Kebijakan Kinerja Karyawan. Depkes RI. Jakarta. Depok. Kinerja (Teori. Penilaian. Bali. Y.gizi. Jakarta.

Aktivitas terakhir adalah menyiapkan laporan penilaian. Vol. konsep yang sejalan dengan WHO dan disertai contoh-contoh aplikasi sistem kesehatan di beberapa negara menjadikan buku ini sangat mudah dipahami dan aplikatif. Bahasan ketiga menguraikan mengenai tinjauan terhadap modul teknis dan bahasan terakhir menguraikan mengenai hasil yang diharapkan dari penilaian. Penggunaan bahasa yang mudah dimengerti. Bab ini terdiri dari tiga sub bahasan. Phase 2. membahas mengenai modul utama. Bab ini terdiri dari dua belas sub bahasan. Dalam bab ini dibahas tujuh sub pokok bahasan.202 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Buku Pengarang Penerbit Tahun Tebal : : : : : Health Systems Assessment Approach : A How to Manual USAID Mursaleena Islam 2007 374 halaman B uku ini terdiri dari 11 bab. Phase 4. Bab ini terdiri dari empat pokok bahasan. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Konsep yang digunakan dalam buku ini juga sejalan dengan apa yang digunakan oleh WHO terhadap konsep sistem kesehatan. membahas mengenai persiapan dan implementasi bagian pengesahan. Bahasan kedua memaparkan mengenai kerangka kerja konseptual dalam pendekatan penilaian sistem kesehatan. kebijakan dan advokasi. Aktivitas kesepuluh adalah melakukan wawancara akhir sesuai kebutuhan. pembiayaan kesehatan. Kegiatan selanjutnya adalah mempersiapkan penaksiran anggaran. kesepakatan terhadap ruang lingkup. SDM kesehatan. kerangka waktu. membahas mengenai perencanaan dan penyusunan penilaian. Bab 1. merupakan pengantar yang mengulas mengenai pengenalan terhadap kekuatan sistem kesehatan. Aktivitas keempat adalah memasang penaksiran tim beserta tanggung jawab dari masing-masing personil dari tim. Bahasan kedua dan keempat merupakan tahapan dalam pengembangan rekomendasi. Phase 1. 4 Desember 2007 201 . Bahasan pertama merupakan pengantar. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan kesimpulan awal untuk masing-masing modul. No. Bahasan terakhir menjelaskan mengenai strategi dalam penguatan sistem kesehatan beserta implikasinya. Phase 3. Bahasan keempat menjelaskan mengenai sumber daya manusia dan sumberdaya fisik lainnya. Aktivitas kelima adalah menyiapkan ceklis logistik. Aktivitas ketujuh adalah mengumpulkan dan mereview materi latar belakang. Bab 4. Bahasan pertama merupakan pengantar. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan rekomendasi melalui penilaian modul. Bahasan kelima menjelaskan mengenai manajemen dan organisasi untuk pelayanan kesehatan. Kegiatan yang dimaksud mencakup 11 kegiatan yaitu : mengidentifikasikan kebutuhan dan prioritas dari misi USAID. Bahasan keenam memaparkan mengenai sistem informasi kesehatan. Bab 5. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bab 3. Bahasan kedua sampai kedua belas merupakan latihan atau kegiatan. manajemen farmasi dan perbekalan kesehatan serta sistem informasi kesehatan. Aktivitas kedelapan adalah menyiapkan daftar contact person dan daftar narasumber untuk melakukan wawancara. pelayanan kesehatan. Masing-masing fungsi sistem kesehatan ini diuraikan di masing-masing bab secara lebih detil. Bahasan pertama merupakan pengantar. membahas mengenai penemuanpenemuan final dan rekomendasi dari beberapa penilaian laporan. 04 Desember 2007 Halaman 201 . yaitu bahasan pertama merupakan pengantar mencakup definisi sistem Kesehatan dan penguatan sistem kesehatan. Bab ini terdiri dari lima sub bahasan. Bahasan kedua menguraikan mengenai stewardship (dalam hubungannya dengan pemerintahan). 10. Secara umum buku ini memaparkan mengenai alat (tools) dalam penilaian cepat terhadap fungsifungsi kunci sistem kesehatan mencakup: pemerintahan. Bab 2. Aktivitas keenam adalah membuat jadual dan menyusun rencana pertemuan dengan tim. Bahasan ketiga menguraikan mengenai pembiayaan kesehatan. dan penilaian terhadap penentuan waktu.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 10 No. menguraikan mengenai tinjauan pendekatan yang digunakan. Bahasan kedua dan ketiga merupakan komponen dari modul utama. Aktivitas kesembilan adalah mengatur menyiapkan workshop dengan stakeholder terkait. Komponen Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.

10. memaparkan mengenai modul manajemen yang berkaitan dengan farmasi. Bab ini terdiri dari 4 sub pembahasan. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. 4 Desember 2007 . kesehatan reproduktif. Secara keseluruhan buku ini sangat bagus sekali sebagai tambahan bahan referensi bagi pakar. bahasan kedua menjelaskan mengenai penyusunan profil sistem informasi kesehatan. lingkungan bisnis dan suasana investasi. Bab 10. menguraikan mengenai modul sistem informasi kesehatan. Bahasan ketiga menguraikan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan bahasan terakhir merupakan kesimpulan dan beberapa penyusunan rekomendasi. angka kematian. Rimawati (Divisi Public Health Policy) rima_mhugm@yahoo. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. pembahasan kedua penyusunan profil mengenai manajemen farmasi. Sementara komponen kedua memuat mengenai: politik dan lingkungan makroekonomi. yaitu Bab 11. pendapatan dan ketidak adilan. Vol. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. Bahasan kedua menjelaskan mengenai penyusunan profil pemerintahan. Bab ini terdiri dari empat sub pokok bahasan. konsultan. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bab 9.com 202 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Bahasan ketiga membahas mengenai penilaian berdasarkan indicator. akademisi dan pengajar terkait dengan seluk-beluk mengenai sistem kesehatan dan komponen pembentuk sistem. Bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil pelayanan kesehatan. Bahasan ketiga menguraikan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan bahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. membahas mengenai modul sumber daya manusia kesehatan. Karena di dalam buku ini dikupas secara detil dan jelas komponen demi komponen pembentuknya. kelembagaan pelayanan kesehatan. kelembagaan lembaga pemerintah dan kelembagaan swasta yang terkait dengan sistem pelayanan kesehatan. Bahasan ketiga menjelaskan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Bab 7. Pembahasan pertama merupakan pengantar. Bab 6. peneliti. Selanjutnya yang termasuk dalam komponen kedua ini adalah desentraliasi. Bahasan pertama merupakan pengantar. membahas mengenai modul pembiayaan kesehatan. Sub bahasan pertama merupakan pengantar. pemetaan donor/pemberi dana serta keterkaitan dari masing-masing donor atau pemberi dana. Pada bagian akhir. Bahasan ketiga menjelaskan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. No. Pembahasan pertama mengenai pengantar. Bahasan ketiga mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir mengenai kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. membahas mengenai modul pelayanan kesehatan. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil pembiayaan kesehatan. Bab 8. penyebab utama mortalitas dan morbiditas. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil sumberdaya manusia.Resensi pertama memuat mengenai : pertambahan penduduk. Sub bahasan terkhir menjelaskan mengenai kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi terkait mengenai sistem informasi kesehatan. membahas mengenai modul pemerintahan.

Vol. medical record within 12 hours. 2008 from http://dictionary.2% of females who is unwilling to extend their contract are people getting married or still single. 4 Desember 2007 .wordreference.permanent personnel: selected by the central government and the local government in district/city/provincial government (article 8). 10.2% of females who is unwilling to extend their contract are people living in outside of West Java or within West Java. The other definition 'assignment' means the instrument by which a claim or right or interest or property is transferred from one person to another.217 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo. allowance as non-permanent personnel. Others become the local government's responsibility. allowance for doctors placed in remote and very remote area. & Deni Kurniadi Sunjaya in the Journal of Health Service Management. incentive or salary is also one reason why among non-permanent doctors are unwilling to extend their contractual period. proposed the local government and states that they are not able to nominate non-permanent personnel. BNET Business Dictionary. stated that the income covers main salary.com/definition/assignment 2. allowance for tax income. That means this problem still need better attention either the central government or the local government. Placement and assignment are 2 words having different meaning. 2008 from http:// www.2 Therefore 'placement' is related to place or location (such as urban and rural). In addition. some doctors prefer for doing private doctor or other businesses. Incentive has a significant role to raise their performance. hospital for disaster aid (article 12). retrieved April 13. 04 Desember Korespondensi 2007 Halaman 216 . the act of locating or positioning. 1540/Menkes/SK/XII/2002 regarding the placement of medical workforce through service period and other schemes there are two types of non. WordReference. Nita Arsanti. 'Assignment' means "an undertaking you have been assigned to do (as by an instructor). These will affect the willingness to extend their contract. Moreover on districts/cities having income is low. whether 64. Therefore. but its problem is that the local governments have different ability to finance their region including salary staff. 2/Juni/2007 I prefer to use "placement" or "deployment" in non-permanent contractual placement than non-permanent contractual assignment. the state of being placed. This study mentions that is only one third of all nonpermanent personnel among medical doctor want to extend their contractual period. That is normal because they do not have any guaranty to get well income. incentive and other allowances. or whether 64.1 Therefore 'assignment' is related to task. References: 1. Medical doctors nominated by central government are only undertaken in particular rural and remote area. and attendance at monthly meeting has greater coverage than non-contracted group.com/definition/ placement. Vol. Issue relating to non-permanent contractual placement among medical doctor does not become current issue anymore although nowadays this problem still happens. provincial/ district/city region with high potencies to get conflict. No. As cited for instance in Health Minister Decree of Republic of Indonesia No. Probably. A research conducted shows that hospitalists Appling incentive system such as incentive for meeting standard.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 10 No.html 3.com PREDICTING WILLINGNESS TO EXTEND CONTRACTUAL ASSIGNMENT AMONG MEDICAL DOCTOR IN WEST JAVA Written by Irvan Arfandi.4 This study will be better if the individual background of non-permanent doctors is retested to determine.3 Although in the article 7 stated that income or salary for non-permanent personnel is allocated by the central government. Elsa Pudji Setiawati. I agree with writers that in decentralization era.bnet. retrieved April 13. 'placement' means the act of placing or putting in place. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1540/Menkes/SK/XII/2002 tentang Penempatan Tenaga Medis melalui 216 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Meanwhile.com English Dictionary. the local government has an important role in medical doctor placement including non-permanent personnel. Their willingness will differ from living in outside of West Java or within West Java. 10/No. for instance.

U.com Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. masa Bakti dan Cara Lain (Health Minister Decree of Republic of Indonesia No. Collier. 10.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 4. (2007). Sukri Palutturi Health Policy and Administration Department Faculty of Public Health Hasanuddin University Email: sukri_tanatoa@yahoo. No.. Philadelphia: The American Clinical and Climatological Association. V. 1540/ Menkes/SK/XII/2002 regarding the placement of medical workforce through service period and other schemes). Use of Pay for Performance in a Community Hospital Private Hospitalize Group: A Preliminary Report. 4 Desember 2007 217 . Vol.

4 Desember 2007 205 . 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 205 . Laode Bariun Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survai Sosial Ekonomi Nasional 2001 Jati Untari. dan Pelaksanaan Manajemen Risiko Klinis di Lima Rumah Sakit di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Banten Tahun 2005 Arjaty Daud.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. A. A. 10/NO 01/MARET/ 2007 Editorial Memperbesar Peran Ahli Kebijakan dan Ahli Manajemen Pelayanan Kesehatan di Indonesia Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit sebagai Persyaratan Badan Layanan Umum dan Sarana Peningkatan Kinerja Tjahyono Kuntjoro. Persepsi. Purnawan Junadi Pengaruh Penyerahan Dana dan Pengelolaan Asuransi Kesehatan Sepenuhnya Kepada Puskesmas Terhadap Efisiensi Pengadaan dan Mutu Penggunaan Obat Neti Viperiati. 10.214 Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. I. Vol. Dumilah Ayuningtyas. Hanevi Djasri Artikel Penelitian Pengetahuan. Sukri. Sri Suryawati Survei Pasar Jaminan Kesehatan Sosial Bali A. Mubasysyir Hasanbasri Resensi Buku Redefining Health Care: Creating Value-Based Competition on Results Trisasi Korespondensi Koordinasi Lintas Sektoral pada Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi di Kabupaten Sleman Chriswardhani Suryawati 01 03 11 20 29 40 46 52 53 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Nirmala Trisna. Gde Muninjaya Budaya Organisasi dan Mindset Petugas Penanggulangan Tb Paru Melalui Strategi Dots di Puskesmas Labibia Kota Kendari Asiah Hamzah. No. A.

No. Julita Hendrartini Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah Shinta Wardhani Suryanegara. Wiku Adisasmito Efisiensi Pemanfaatan Rumah Sakit Umum Daerah di Provinsi Sumatera Barat dengan Data Envelopment Analysis Asmaliza. 4 Desember 2007 . Ali Gufron Mukti. Sri Suryawati Analisis Besaran Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali I Gede Santabudi Samba.Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. 10. Mubasysyir Hasanbasri Resensi Buku Know How: The 8 Skills That Separate People Who Perform From Those Who Don’t Putu Eka Andayani Korespondensi Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah Rimawati 55 56 64 72 79 85 90 98 101 206 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10/NO 02/JUNI/ 2007 Editorial Kebijakan Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin: Saatnya untuk Melakukan Evaluasi Menyeluruh Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Pendekatan Sistem dalam Perencanaan Program Daerah Mubasysyir Hasanbasri Artikel Penelitian Evaluasi Praktik Donasi Obat Pascatragedi Bom Bali Ida Prista Maryetty. Anis Fuad. Vol. Adi Utarini Implementasi Posyandu dan Supervisi oleh Puskesmas di Pontianak Yuliastuti Saripawan.

Elsa Pudji Setiawati. Nita Arisanti. Ristrini Resensi Buku Getting to Yes: Teknik Berunding Menuju Kesepakatan Tanpa Memaksakan Widya Febryanti Korespondensi Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survei Sosial Ekonomi Nasional 2001 Deni Harbiyanto 103 104 108 117 124 132 143 148 154 156 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Hanevi Djasri Proses Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja di Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2006 Durachman. 10. Penunjukan Langsung. Julita Hendrartini Predicting Willingness to Extend Contractual Assignent among Medical Doctors in West Java Irvan Afriandi. Sri Suryawati Pengembangan Proses Verifikasi Pra-Operasi untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Rizaldy Pinzon Kajian Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Making Pregnancy Safer di Daerah Miskin Pedesaan Oktarina. Sunartono. dan Kemitraan Sri Winarni. 4 Desember 2007 207 .Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS DAFTAR ISI VOL. Tjahjono Kuntjoro. 10/NO 03/SEPTEMBER/ 2007 Editorial Situasi Survailans yang Belum Menggembirakan Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Cost Effectiveness Analysis dalam Penentuan Kebijakan Kesehatan: Sekedar Konsep atau Aplikatif? Ari Probandari Artikel Penelitian Evaluasi Continuous Quality Improvement (Cqi) di Rumah Sakit yang Mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu Iso 9000 di Indonesia Chatila Maharani. Deni Kurniadi Sunjaya Perbandingan Efisiensi dan Efektivitas Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan dengan Lelang. No. Vol.

Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. Bali Luh Putu Sri Armini. Yodi Mahendradhata. No. Nurhayani. 4 Desember 2007 . 10. Nurhamsa Mandak Resensi Buku Health Systems Assessment Approach: A How to Manual Korespondensi Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctor in West Java Sukri Palutturi 157 159 166 173 181 189 195 201 203 208 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Didik Budijanto Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Misnaniarti Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Raditya asri wisuda. dumilah ayuningtyas Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006 Sukri Palutturi. 10 /NO 04/DESEMBER/ 2007 Editorial Kebijakan Contracting Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: Dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik) Siswanto Artikel Penelitian Dampak Kemitraan Praktisi Swasta Terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar. Adi Utarini Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan. Pembelajaran Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Evie Sopacua. Vol.

Lihat. 4 Desember 2007 209 . E. A. Afriandi. Febryanti. Know How: The 8 Skills That Separate People Who Perform From Those Who Don’t. W. Hamzah. A. W. Afriandi. Arisanti. dan Pelaksanaan Manajemen Risiko Klinis di Lima Rumah Sakit di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Banten Tahun 2005. Lihat. Armini. S. A. D. Lihat. 10(02): 98-Rb. W. No. N. Wisuda. 10(03): 124-Ap. P. Dampak Kemitraan Praktisi Swasta Terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar. Budijanto. Maharani. Andayani. I. Pengetahuan. Vol. H. Asmaliza Efisiensi Pemanfaatan Rumah Sakit Umum Daerah di Provinsi Sumatera Barat dengan Data Envelopment Analysis. Ayuningtyas. 10(01): 11-Ap. T. Asmaliza Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. R. Djasri. Lihat. E. S. Persepsi. 10(02): 85-Ap. A. Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctors in West Java. Lihat.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS PENULIS Adisasmito. C. 10(04): 166-Ap. A. Sopacua. P. Suryanegara. L. Durachman Proses Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja di Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2006. Getting to Yes: Teknik Berunding Menuju Kesepakatan Tanpa Memaksakan. Bariun. Kuntjoro. 10. Lihat. I. Daud. 10(03): 117-Ap. Bali. Fuad. 10(03): 154-Rb. L. Daud. Lihat. Lihat. Lihat. D.

Kuntjoro. G. A. Daud. Mahendradhata. Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survei Sosial Ekonomi Nasional 2001. Pendekatan Sistem dalam Perencanaan Program Daerah. J. 4 Desember 2007 . Oktarina Kajian Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Making Pregnancy Safer di Daerah Miskin Pedesaan. 10(03): 148-Ap. Budaya Organisasi dan Mindset Petugas Penanggulangan Tb Paru Melalui Strategi Dots di Puskesmas Labibia Kota Kendari. S. 10(02): 56-Mk. P. A. G. Misnaniarti Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung. S. S. I. Durachman Junadi. J. Evaluasi Continuous Quality Improvement (CQI) di Rumah Sakit yang Mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu ISO 9000 di Indonesia. Lihat. Untari. P. L. S. Maharani. Lihat. Vol. Hasanbasri. Lihat. Lihat. Lihat. Samba. No.Indeks Hamzah. Y. G. 10(01): 03-Mk Lihat. Lihat. Palutturi. Mukti. 10(01): 40-Ap. Hendrartini. P. N. Harbiyanto. Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit sebagai Persyaratan Badan Layanan Umum dan Sarana Peningkatan Kinerja. I. Lihat. Maryetty. C. Y. Mandak. 210 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. T. 10(02): 64-Ap. 10(03): 108-Ap. Maharani. Muninjaya. Saripawan. A. G. Palutturi. Samba. A. C. A. Evaluasi Praktik Donasi Obat Pascatragedi Bom Bali. A. Trisna. S. Lihat. Lihat. 10(04): 181-Ap. A. Nurhayani Lihat. Armini. D. I. 10(03): 156-Koresp. 10. M. I. N.

E. A. Setiawati. Health Systems Assessment Approach : A How to Manual. Suryanegara. Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006. I. E. 10(02): 79-Ap. 10(02): 101-Koresp. S. Analisis Besaran Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Hamzah. 10(02): 90-Ap. Sukri Lihat. 10. Durachman Sunjaya. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. A. W. K. Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctor in West Java.Pembelajaran Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan. I. Afriandi. 4 Desember 2007 211 . Siswanto Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik). 10(04): 195-Ap. 10(03): 143-Ap. Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan. P. 10(02): 72-Ap. Oktarina Samba. 10(04): 159-Mk. Pengembangan Proses Verifikasi Pra-Operasi untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit. 10(04): 173Ap. Cost Effectiveness Analysis dalam Penentuan Kebijakan Kesehatan: Sekedar Konsep atau Aplikatif?. Lihat. Rimawati Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah. Probandari. Afriandi. 10(04): 203-koresp. S. S. 10(03): 104-Mk. Pinzon. Y.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Palutturi. D. 10(04):201-Rb Ristrini Lihat. R. Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah. G. I. Sunartono Lihat. No. Lihat. Implementasi Posyandu dan Supervisi oleh Puskesmas di Pontianak. Vol. Saripawan. Sopacua.

N. Utarini. 10(01): 53-Koresp. 10. C. Lihat. N. Lihat. A. 10(02): 55-Ed. L. Asmaliza Lihat. Kebijakan Contracting Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: Dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah. Kebijakan Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin: Saatnya untuk Melakukan Evaluasi Menyeluruh. L. Penunjukan Langsung. 10(01): 20-Ap. 4 Desember 2007 . Trisasi Redefining Health Care: Creating Value-Based Competition On Results. 212 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. S. Survei Pasar Jaminan Kesehatan Sosial Bali. Lihat. P. R. 10(01): 46-Ap. S. A. 10(04):189-Ap. 10(03): 132-Ap. Pengaruh Penyerahan Dana dan Pengelolaan Asuransi Kesehatan Sepenuhnya kepada Puskesmas Terhadap Efisiensi Pengadaan dan Mutu Penggunaan Obat. Wisuda. No. Maryetty. I. S. N. S. 10(04): 157-Ed. 10(01): 01Ed. Koordinasi Lintas Sektoral pada Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi di Kabupaten Sleman. Vol. 10(01): 29-Ap. 10(01): 52-Rb. Untari. Viperiati. 10(03): 103-Ed.Indeks Suryawati. A. Winarni. Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige. Perbandingan Efisiensi dan Efektivitas Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan dengan Lelang. Armini. Suryawati. dan Kemitraan. Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survai Sosial Ekonomi Nasional 2001. P. Winarni. Trisna. Memperbesar Peran Ahli Kebijakan dan Ahli Manajemen Pelayanan Kesehatan di Indonesia. A Lihat. Situasi Survailans yang Belum Menggembirakan. Trisnantoro. J. I. Viperiati.

Knowledge. 10 (03): 108. 10 (01): 29. 2007. 10 (03): 148. 10 (01): 20. 10 (01): 29. 10 (02): 79. Direct Appointment. 2007. 10 (03): 132. 2007. Knowledge. 2007. Contract. 10 (01): 40. 2007. Making Pregnancy Safer. 2007. 2007. 2007. 10 (02): 72. Bali Social Health Insurance. 2007. 10 (03): 124. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10 (03): 104. Data Envelopment Analysis. 2007. 2007. ISO 9000. 2007. 10 (03): 117. Management Policy. Behavior. 2007. 2007. Delay. 2007. 2007. 10 (01): 20 . 10 (01): 20. Cost. Health Insurance. Fund. 10 (02): 64. 2007. Economic Evaluation. Community Partnership. 10 (04): 195 Leadership. 10 (02): 56. 2007. Community Health Center. 2007. Drug Procurement. 2007. 2007. 2007. Implementation preparation. 2007.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS SUBJEK Ability to Pay. 10 (03): 108. Hospital Performance Indicators. 10 (03): 124. 10 (03): 132. Effectiveness. Efficiency. 10 (02): 85. 2007. Auction. 2007. 10 (03): 104. 10 (04): 181 Maternal and Child Health. 2007. 10 (04): 166 CQI. 2007. No. 10 (02): 79. Mindset. Implementation. 10 (01): 20 . 2007. Empowering. 10 (01): 11 . Cash Funds. 2007. 10(04): 189. 10 (01): 46. 10 (02): 64. 10 (04): 173 Locally Available Resources. 2007. 10 (03): 108. Drug Donations Impacts. Health Card. 2007. 2007. Health Personnel’s Training Program. 10 (01): 03. Clinical Risk Management. 4 Desember 2007 213 . 2007. 10 (03): 148. 10 (01): 40. Ethics. Drug Use. 10 (02): 90. 2007. 10 (02): 85. 10(04): 189. 10 (01): 11. 2007. 2007. 10 (02): 90. Dots. 2007. 2007. 10 (03): 148. 10 (01): 20. Bali Bomb Tragedy. 2007. Medical Doctor. 10 (04): 166 Deployment. Hospital Performance. 2007. 10 (03): 132. 10 (03): 124. 2007. 2007. Lesson Learned. 10 (02): 90. 10 (01): 11. 2007. 10 (04): 173 Hospital Efficiency. 2007. 10 (04): 159 Financial System Of Public Service Body. 10 (01): 03. Cost Effectiveness Analysis. Vol. 2007. Business intelligence. 10 (03): 132. 10. 2007.

Oseltamivir. 10 (01): 03. 10 (02): 64. 10 (01): 11. 2007. No. 10 (01): 46. 10 (02): 85. 2007. 10 (03): 143. 4 Desember 2007 . 2007. 10 (03): 117. 10 (02): 72. 10 (04): 173 Politics. 10 (04): 159 Organization Culture. 2007. 2007. 2007. Public Hospitals. Performance. 10 (03): 117. 10 (03): 143. Skill. Public Service Entity. 10 (03): 124. 10. 2007. 10 (01): 29. 10 (04): 195 Policy Options. Posyandu. 2007. 10 (04): 166 Private Provider. 10 (01): 29. 10 (04): 159 Poor Families. 10 (04): 195 Organization. 10 (01): 40. 10 (04): 181 Partnership. 2007. 10 (02): 64. 2007. 2007. Willingness to Pay. 214 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2007. Prevention. 10 (01): 46. 2007. Work Time. Trax-Free Policy. Service Unit Fund Plan. 2007. 2007. Supervision. Pegawai Tidak Tetap. 10 (01): 20.Indeks Minimal Hospital Services Standards. 2007. 2007. 2007. 2007. 2007. 2007. Public-Private Mix. 2007. 2007. 10 (04): 166 Resource Allocation. 2007. Survey. 2007. 10 (03): 132. 2007. Patient Safety. 2007. Public Health Center. 10 (02): 64. Vol. Premium. 10 (04): 195 Wrong Surgery. 2007. Private Practitioner Involvement. Motivation. 10 (02): 79. 10 (02): 90. 2007. 2007. 10 (02): 90. 2007. 10 (02): 56. 2007. Unused Medicines. 10 (02): 72. 2007. 2007. 2007. Service Unit Fund Document. 10 (02): 79. Sanglah Hospital Denpasar. 10 (01): 40 . Organizational Culture. 2007. 10 (04): 195 Stakeholders’ Perception. 2007. 10 (03): 143. System Analysis Approach Health Planning. Perception. 10 (03): 104.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful