jurnal

ISSN 1410-6515

Manajemen
Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management
Volume 10/Nomor 04/Desember/2007
EDITORIAL
Kebijakan Contracting-Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah

Vol 10. No. 04 h.157-214 10 4 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 2007

MAKALAH KEBIJAKAN
Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik)

ARTIKEL PENELITIAN
Dampak Kemitraan Praktisi Swasta terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar, Bali Opsi-opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan; Pembelajaran dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006

RESENSI
Health Systems Assessment Approach : A How to Manual

KORESPONDENSI
Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment Among Medical Doctor in West Java

JMPK

Tahun 10

Nomor 04

Hlm. Yogyakarta 157-214 Desember 2007

ISSN 1410-6515

Terakreditasi Ditjen Dikti No.: 45/DIKTI/Kep./2006

Diterbitkan oleh/Published by: Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Center for Health Services Management Faculty of Medicine Gadjah Mada University

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 10/Nomor 04/Desember/2007

Daftar Isi
Editorial
Kebijakan Contracting-Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah 157

Makalah Kebijakan
Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik) Siswanto 159

Artikel Penelitian
Dampak Kemitraan Praktisi Swasta terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar, Bali Luh Putu Sri Armini, Yodi Mahendradhata, Adi Utarini Opsi-opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan; Pembelajaran dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Evi Sopacua, Didik Budijanto Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Misnaniarti Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Raditya Asri Wisuda , Dumilah Ayuningtyas Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006 Sukri Palutturi, Nurhayani, Nurhamsa Mandak 166

173

181

189

195

Resensi Buku
Health Systems Assessment Approach : A How to Manual 201

Korespondensi
Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment Among Medical Doctor in West Java 203 205

Indeks

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 10 No. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 157 - 158 Editorial

KEBIJAKAN CONTRACTING-OUT UNTUK PENYEDIAAN TENAGA KESEHATAN DI DAERAH TERPENCIL DAN SULIT: DARI PENGALAMAN MENUJU BUKTI ILMIAH1

Masalah ketersediaan sumber daya manusia di daerah yang sulit, terpencil, ataupun berbahaya merupakan masalah besar yang klasik terdapat di Indonesia. Daerah terpencil kekurangan tenaga kesehatan yang penting seperti dokter, dokter gigi, perawat, bidan, epidemiolog, ahli gizi. Tantangan ke depan adalah: (1) bagaimanakah kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam penempatan tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil dan sulit? (2) apakah kebijakan sekarang ini dapat diteruskan walaupun sudah terbukti tidak bisa memenuhi harapan seperti data yang diperoleh Pusrengun Departemen Kesehatan. Di samping itu, ada pertanyaan apakah kebijakan yang diambil dapat menggunakan prinsip-prinsip Evidence Based Policy Making ? Apa persamaan dan perbedaan antara Evidence Based Medicine (EBM) dan Evidence Based PolicyMaking (EBP). Sackett dkk mendefinisikan EBM sebagai: “the conscientious, explicit, and judicious use of current best evidence in making decisions about the case of individual patient’. Untuk EBP, Cookson memberikan definisi yang serupa, namun berfokus pada keputusan public tentang kelompok atau masyarakat, bukan sebuah keputusan tentang individu pasien. Lebih lanjut Cookson menggambarkan hubungan antara bukti ilmiah dengan keputusan. Keputusan berupa kebijakan publiK dapat dipengaruhi oleh berbagai hal yaitu (1) kepercayaan; (2) nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat; dan (3) berbagai hal lain seperti aspek politik, ekonomi, hukum, dan etik. Peran bukti ilmiah adalah mempengaruhi kepercayaan pengambil keputusan tentang hal yang harus ditetapkan. Akan tetapi kepercayaan ini dipengaruhi pula oleh pengalaman, bukti anekdot, ataupun opini yang didengar dan dibaca oleh pengambil kebijakan. Apabila tidak ada bukti ilmiah, dapat dipahami bahwa pengambilan keputusan dipengaruhi oleh kepercayaan yang berasal dari opini misalnya. Sebagai salah satu kasus menarik tentang penggunaan Evidence Based Policy adalah pengiriman tenaga ke RSD Tjut Nya’Dien di

Kabupaten Aceh Barat oleh FK UGM dan RSUP Dr. Sardjito. Pengiriman tenaga ini dapat disebut sebagai bukti anekdot untuk kebijakan distribusi tenaga medik dan kesehatan di daerah sulit. Dalam konteks penyebaran tenaga kerja di daerah sulit, pada tahun 2005, dipicu oleh musibah Tsunami di Aceh dilakukan pengiriman tenaga kerja melalui pendekatan kontrak tim (bukan kontrak perorangan) untuk menggantikan tenaga kesehatan. Dengan dukungan dana dari World Vision Australia, Fakultas Kedokteran UGM bersama University of Melbourne dikontrak untuk menyediakan bantuan tenaga dokter, dokter spesialis, perawat, dan tenaga-tenaga manajemen di RS Tjut Nya’ Dien. RS ini berada di pesisir barat Propinsi NAD, di kota Melaboh. Kota ini merupakan salahsatu daerah yang mendapat dampak paling dahysat Tsunami. Selama 3 tahun telah dikirim sekitar 500 tenaga dengan sekitar 50 gelombang pemberangkatan. Tujuan pengiriman tenaga medik ke RSD Tjut Nya Dien untuk: (1) Memperkuat dan mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga medis / nonmedis RS Tjut Nya’ Dien melalui pengiriman tim medis secara rotasi dan menyiapkan staf local permanent; (2) Revitalisasi penuh RS Tjut Nya’ Dien melalui pemenuhan kebutuhan tenaga medis / non medis berdasarkan penilaian kebutuhan. Di pandang dari hubungan antarberbagai pihak yang terlibat, pengiriman tenaga medik dan kesehatan RSUP Dr. Sardjito dan FK UGM ke Aceh Barat merupakan kegiatan contracting-out. Apakah kegiatan pengiriman tenaga ke Aceh Barat ini dapat dikembangkan sebagai dasar pengambilan kebijakan nasional dan daerah dalam penyebaran tenaga medik dan kesehatan? Pertanyaan lebih lanjut: apakah model contractingout ini dapat dipergunakan untuk menyediakan tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil dan sulit oleh pemerintah daerah dan pusat? Beberapa pemerintah daerah tertarik untuk membuat keputusan berdasarkan pengalaman yang ada di Aceh Barat. Kasus ini terjadi di Kabupaten Berau (yang masih belum berjalan) dan Kabupaten

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

157

Sebagai ringkasan. 4 Desember 2007 . 10. Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Berau (kalau jadi) dapat diperkuat menjadi bukti. Dalam hal ini pemerintah pusat sebenarnya dapat melakukan pilot untuk penelitian kebijakan agar pengalaman mengenai model contracting-out dalam distribusi tenaga medik di Kabupaten Aceh Barat. Merupakan Background Paper untuk Sarasehan Alumni FK UGM. saat ini sudah ada bukti anekdot atau pengalaman berupa kebijakan contracting-out yang telah dipergunakan oleh beberapa pemerintah daerah untuk mencari solusi.Laksono Trisnantoro: Kebijakan Contracting-out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan Nias dan Kabupaten Nias Selatan (sudah berjalan. kebijakan untuk distribusi tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil perlu terus dicari dan dikembangkan. Tanggal 5 Maret 2000. Dari perspektif Evidence Based Policy Making. Untuk ini diharapkan Departemen Kesehatan berani melakukan penelitian pilot untuk kebijakan contracting-out dalam distribusi tenaga medik dan tenaga kesehatan di daerah yang terpencil dan sulit. 158 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. No. Ruang Rapat Senat FK UGM. Laksono Trisnantoro (trisnantoro@yahoo. Bagaimana dengan pemerintah pusat? Sampai sekarang ini Departemen Kesehatan belum mempunyai agenda untuk contracting-out. Namun disadari bahwa bukti pengalaman ini perlu dikembangkan untuk menjadi bukti ilmiah sehingga mempengaruhi kepercayaan dalam menetapkan keputusan. Vol. sama dengan Aceh Barat). Kabupaten Nias. Yogyakarta.com) KEPUSTAKAAN 1.

salah satu pemerintah kota di Provinsi Jawa Timur ingin membenahi manajemen perusahaan Badan Usaha Milik Daerah yang dipunyainya karena ditengarahi banyak terjadi KKN sehingga perusahaan tidak efisien. the influence on others’ behavior is due to principles or at least due to benefit exchange. Selama beberapa bulan. baik kekuasaan berdasar kedudukan maupun kekuasaan pribadi. 10. sang direktur melakukan pembersihan besar-besaran terhadap berbagai praktik KKN karena pendekatannya yang terkesan radikal. sang manajer terjebak pada praktik manajemen paradigma rasional tanpa memperhitungkan kekuatan politik di dalam organisasi. Vol. either position power or personal power. dan menyakitkan. Political activities are natural and unpreventable for the interaction of actors in organizational life. Untuk menyehatkan perusahaan. 4 Desember 2007 159 . interaksi antaraktor dalam kehidupan organisasi akan selalu terkait dengan kekuasaan pengaruh. Terpilihlah seorang ‘direktur profesional’ untuk membenahi manajemen perusahaan. Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas adalah bahwa seorang manajer akan mengalami kegagalan apabila cara memimpinnnya hanya mengedepankan satu paradigma manajemen saja. Keywords: organization.165 Makalah Kebijakan POLITIK DALAM ORGANISASI (SUATU TINJAUAN MENUJU ETIKA BERPOLITIK) POLITICS IN ORGANIZATION (A REVIEW LEADING TO ETHICS OF POLITICS) Siswanto Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan. Rather. politics. boleh dikatakan tiada hari tanpa demo. setiap aktor harus memperhatikan etika berpolitik yang elegan agar pengaruh seseorang pada perilaku orang lain tidak bersifat memaksa. menakut-nakuti. kemelut perusahaan milik daerah tersebut sampai ke meja anggota DPRD karena para pendemo (karyawan) menyampaikan kemelut manajemen perusahaan kepada wakil rakyat (anggota DPRD).JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. in order to achieve his/her own goals and interests. etika PENGANTAR Alkisah. Aktivitas politik merupakan sesuatu yang natural dan tidak dapat dicegah dalam interaksi antaraktor dalam kehidupan organisasi. the interaction of actors in organizational life would involve power. frightened and painful manner. in order that some one’s influence unto others not due to a coercive. organizations including health organizations can be interpreted as a political arena where actors are contesting their interests. Setiap aktor dalam organisasi termasuk manajer akan berusaha meningkatkan kekuasaannya. dapat diinterpretasikan sebagai wahana politik tempat para aktor berebut kepentingan. sang direktur diminta untuk mundur dari jabatan direktur utama perusahaan tersebut karena ia dianggap tidak demokratis dalam gaya kepemimpinannya. Oleh karena itu. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 159 . Every actor within organizations including managers try to improve his/her power. influence and interests. namun penulis sengaja membuatnya ‘anomim’ untuk menjaga etika penulisan. diputuskan bahwa untuk merekrut direktur utama dilakukan secara transparan melalui pengumuman di media massa dan kemudian dilakukan fit and proper test di hadapan stakeholder kunci. sang manajer telah gagal memimpin perusahaan karena tidak memiliki keterampilan politis yang adekuat untuk melakukan perubahan organisasi. Akhir cerita. Political activities would entail the ability to exercise power sources with certain political tactics to win interests. dan kepentingan. dalam rangka memburu kepentingan dan tujuannya. maka terjadilah demo besar-besaran oleh karyawan perusahaan dan pendemo menuntut sang direktur untuk mundur dari jabatan sebagai direktur utama. Pada kisah di atas. ethics ABSTRAK Sebagai sebuah entitas sosial. Namun demikian. However. Depkes RI. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Dengan kata lain. every actor should take into consideration ethics for performing more elegant politics. tetapi merupakan pola perilaku karena berpegang pada prinsip atau setidaknya karena asas pertukaran manfaat. Bahkan. Akhirnya. Aktivitas politik melibatkan kemampuan memainkan sumber kekuasaan dengan taktik politik tertentu untuk memenangkan kepentingan. menuju kinerja perusahaan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Consequently. politik. keberadaan organisasi termasuk organisasi kesehatan. Kisah ini adalah kisah nyata. setelah melalui proses tarik ulur di antara para politisi. Kata Kunci: organisasi. No. Surabaya ABSTRACT Being a social entity.

Dengan demikian. maka tiap-tiap aktor akan saling beradu kekuasaan untuk memenangkan ‘kepentingan’. Vol. Dengan kata lain. politik adalah kenyataan hidup yang harus dihadapi dan dijalankan oleh setiap orang selama ia berinteraksi secara sosial. Dalam kontes saling pengaruh-mempengaruhi ini. proses pengaruh-mempengaruhi merupakan hal yang wajar dalam kehidupan organisasi. Organisasi kesehatan. 4 Desember 2007 . No. setiap manusia mau tidak mau harus menggunakan politik (kekuasaan dan pengaruh) sebagai alat berinteraksi antara manusia satu dengan manusia lainnya. Masyarakat kebanyakan sering memaknai politik dengan konotasi negatif dan kotor. Ada ungkapan yang menarik “meskipun kita tidak suka politik. ditransfer. Politik didefinisikan oleh Dahl2 sebagai “setiap pola hubungan yang kokoh antarmanusia dan melibatkan secara cukup mencolok kendali. Semestinya. kita tidak bisa menghindar dari politik”. termasuk organisasi. profesionalitas sebagai manajer haruslah diinterpretasikan sebagai penguasaan ’semua paradigma manajemen’. organisasi keagamaan. yang analisisnya mengabaikan motif dan kepentingan aktor yang terlibat dalam organisasi. Permainan politik yang tidak etis dalam jangka panjang akan berakibat buruk terhadap kredibilitas pelakunya. maka seorang manajer (termasuk pemain lainnya) harus paham bagaimana bermain politik yang etis dan elegant. sehingga secara etis dapat diterima oleh anggota lainnya. kemudian mampu menggunakannya secara tepat orang dan tepat waktu (contingency of people and of timeliness). dan digunakan. politik adalah suatu kenyataan sosial yang harus dihadapi oleh anggota organisasi. kekuasaan dan kewenangan”. Proses interaksi memenuhi kebutuhannya tersebut manusia membentuk kelompok-kelompok komunitas serta manusia akan selalu dihadapkan pada unsur kekuasaan dan pengaruh. Salah satu paradigma manajemen yang harus dipertimbangkan oleh praktisi manajemen adalah politik organisasi (organizational politics). klub-klub pribadi. praktik politik dalam organisasi. dengan taktik memainkan kekusaannya masing-masing. Oleh karena itu. namun politik juga terjadi pada organisasi formal. Dalam kelompok sosial. marga. Setiap anggota akan membawa minat. di antaranya organisasi sebagai wahana politik. dan bahkan pada unit keluarga. baik itu menyangkut distribusi informasi. sehingga aktor lain tersebut menuruti kemauan aktor pertama. Tak dapat disangkal bahwa ‘negosiasi’ merupakan salah satu bentuk aktivitas politik untuk mendapatkan komitmen bersama. 10. Pusat analisis politik adalah kekuasaan dan pengaruh. Untuk menjadi manajer yang efektif. Kekuasaan didefinisikan sebagai potensi seorang aktor dapat mempengaruhi aktor lain. kepentingan. Dengan menggunakan definisi ini. Berkenaan dengan praktik manajemen melalui pendekatan politik. Morgan3 dan Bolman & Deal4 misalnya. kekuasaan. Kekuasaan dan pengaruh merupakan unsur utama dalam politik. Organisasi Sebagai Wahana Politik Organisasi sebagai salah satu entitas sosial juga tidak terlepas dari politik. Tulisan ini akan mendiskusikan beberapa isu penting tentang paradigma politik organisasi. Setiap orang dalam organisasi akan menggunakan taktik dan strateginya masing-masing untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas. dan tujuan yang berbeda-beda. Strauss1 dalam penelitiannya di institusi rumah sakit mengidentifikasi pola interaksi antar aktor di rumah sakit (dokter. kelompok suku primitif. Untuk memenuhi kepentingannya (meraih cita-cita dan tujuannya). manusia selalu terlibat interaksi antar satu dengan lainnya. Pemahaman bahwa organisasi adalah sebuah entitas politik akan mampu menyadarkan manajer melihat organisasi secara ‘utuh’ dan tidak hanya mengandalkan pada cara-cara instrumental saja. Melihat aktivitas organisasi sebagai aktivitas politik merupakan penyegaran terhadap pemahaman kehidupan ‘organisasi’ yang selama ini selalu didominasi oleh cara pandang instrumental. karir maupun penghargaan lainnya. Umat manusia adalah makhluk sosial dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan saling berinteraksi satu dengan lainnya. dan akhirnya didiskusikan etika berpolitik dalam organisasi.Siswanto: Politik dalam Organisasi yang lebih baik. seorang manajer harus sadar bahwa ‘politik’ selalu ada dalam setiap kehidupan organisasi. maka dapat dikatakan bahwa politik tidak hanya terjadi pada sistem pemerintahan. diharapkan para praktisi manajemen dapat memperluas cakrawala pandangnya tentang politik organisasi sebagai paradigma alternatif dalam mengelola organisasi. Pada prinsipnya politik adalah suatu jaringan interaksi antarmanusia dengan kekuasaan diperoleh. kekuasaan dan sumber-sumbernya. perawat dan staf administrasi) sebagai ‘keteraturan hasil negosiasi’ (negotiated order). Drory5 mendefinisikan politik organisasi 160 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. seperti rumah sakit juga tidak terlepas dari kegiatan politik. Dengan memahami politik organisasi. melihat organisasi sebagai wahana atau gelanggang politik tempat bernegosiasi kepentingan oleh para anggotanya. persepsi. termasuk manajer. pengaruh. badan usaha.

Yukl11 menyebutkan bahwa pengaruh adalah efek dari tindakan agen tehadap pihak lain (target). sikap. Selanjutnya. setiap aktor menggunakan kekuasaan dan pengaruh untuk dapat memenuhi tujuannya. Kekuasaan dan Sumber-Sumbernya Untuk memahami lebih jauh tentang bagaimana para aktor dalam organisasi saling mempengaruhi dan mengapa aktor tertentu dapat mengendalikan aktor lainnya. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. harapan. maka konflik adalah wajar (natural) dalam kehidupan organisasi. Dalam interaksi antaraktor dalam organisasi. kepentingan karir terkait dengan masa depan seseorang dalam organisasi (posisi dan jabatan yang lebih baik). Morgan3 mendefinisikan kepentingan sebagai “predisposisi yang mempengaruhi tindakan seseorang dalam berinteraksi secara sosial.2 Asumsi dasar organisasi sebagai entitas politik3. (5) karena keterbatasan sumber daya dan setiap aktor berebut kepentingan. kepentingan. Miles6 mendefinisikan politik organisasi sebagai proses yaitu setiap aktor atau kelompok dalam organisasi membangun kekuasaan untuk mempengaruhi penetapan tujuan. negosiasi. meliputi tujuan. kekuasaan dan pengaruh. Ada baiknya kita renungkan ungkapan Baltasar Gracian berikut: “Satu-satunya keuntungan memiliki kekuasaan adalah bahwa Anda dapat melakukan lebih banyak kebaikan”. keyakinan dan komitmen di luar pekerjaan yang semuanya akan membingkai pola perilaku seseorang baik menyangkut pekerjaan maupun karir. sikap. dan minat dari para anggotanya. Vol.4. kepentingan karir dan kepentingan ekstramural. yang bisa saja tidak berhubungan dengan kepentingan pekerjaan. Dalam komponen kepentingan juga termasuk kepentingan ekstramural yang terdiri dari kepribadian. Kekuasaan didefinisikan sebagai “peluang seorang aktor dalam interaksi sosialnya berada di posisi memenangkan keinginannya meski ada hambatan dari pihak lain”. kita harus mengenal sumber-sumber kekuasaan dalam organisasi. (2) dalam organisasi selalu ada potensi perbedaan menyangkut kepribadian.7 Sebagai ilustrasi. Sementara. pengambilan keputusan dan proses manajemen lainnya adalah hasil dari bargaining. Sumber-sumber kekuasaan yang dipakai para aktor untuk saling mempengaruhi adalah sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1. Kekuasaan bukan merefleksikan tindakan. keyakinan.10 Lebih jauh.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sebagai perilaku informal di dalam organisasi dengan menggunakan kekuasaan dan pengaruh melalui tindakan terencana yang diarahkan untuk peningkatan karir individu pada situasi untuk memperoleh banyak pilihan keputusan. nilai. kekuasaan adalah suatu sumber daya yang merefleksikan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan keinginan orang pertama. Secara sekuensial dapat dikatakan bahwa kekuasaan menimbulkan pengaruh dan akhirnya pengaruh mempengaruhi tindakan orang lain (kekuasaan à pengaruh à tindakan orang lain). beberapa rujukan tentang perilaku politik sering mempertukarkan istilah kekuasaan dan pengaruh. 10. nilai. ‘A’ mempunyai kekuasaan terhadap ‘B’. Analisis organisasi dari perspektif politik melibatkan tiga diskursus yaitu kepentingan. Kepentingan pekerjaan adalah kepentingan yang terkait dengan tugas seseorang sesuai kedudukan dan jabatan yang diembannya.9 Berbeda dengan kekuasaan yang merujuk kepada ketersediaan sumber daya. Kekuasaan bersifat netral.12 yaitu: (1) organisasi adalah koalisi yang terdiri dari berbagai individu dan kelompok dengan berbagai kepentingan. 4 Desember 2007 161 . (3) kekuasaan memainkan peranan penting dalam memperebutkan sumber daya. kriteria atau proses pengambilan keputusan organisasional dalam rangka memenuhi kepentingannya. Pengaruh dapat didefinisikan sebagai penggunaan kekuasaan atau otoritas untuk mempersuasi orang lain agar mereka mengikuti kehendak si pengguna kekuasaan. dan orientasi seseorang”. Morgan 3 membagi kepentingan ke dalam tiga kategori yaitu kepentingan pekerjaan. keinginan. tapi merefleksikan sumber kekuatan untuk mempengaruhi tindakan orang lain. Namun demikian. Lebih jauh. dan brokering dari berbagai faksi peserta.8 Dengan kata lain. pengaruh merujuk kepada tindakan atau praktik. kalau ‘A’ dapat mempengaruhi atau memaksa ‘B’ untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh ‘A’. apakah akan bersifat baik atau buruk tergantung dari motif yang menggunakannya. No. persepsi. (4) tujuan organisasi.

kepala bidang perencanaan akan mempunyai kontrol lebih besar terhadap distribusi sumber daya. c. Mentransformasikan kepentingan kita menjadi kepentingan pihak lain dengan mengubah persepsi dan tindakan pihak lain 4). dan hal ini tidak selalu merujuk kepada manajer. Vol. penggunaan struktur dan aturan. Memperluas jumlah pemain yang terlibat dalam suatu isu yang menjadi kepentingan kita untuk mendapatkan perhatian yang lebih luas 5). makin banyak kontrol yang dipunyai orang tersebut terhadap sumber daya yang terbatas. Sebagai contoh. manajer mempunyai kesempatan lebih besar untuk mengumpulkan sumber-sumber kekuasaan. kebijaksanaan. Seorang manajer akan mempunyai kekuasaan kedudukan paling besar karena ia mampu memainkan keseluruhan sumbersumber kekuasaan berdasarkan kedudukan. Praktik Politik dalam Organisasi Setiap aktor termasuk manajer menggunakan taktik dan strategi untuk mempengaruhi aktor lain dengan menggunakan sumber kekuasaan yang dimiliki. 10. Semakin tergantung pihak lain terhadap keahlian seseorang. beberapa taktik yang dipakai oleh para aktor adalah sebagai berikut:12 1). e. Manajer yang tidak mampu mengelaborasi atau mengumpulkan sumber-sumber kekuasaan lainnya dengan baik. Melaksanakan negosiasi dan tawar-menawar dengan pihak lain yang bersinggungan dengan kepentingan kita untuk mendapatkan kompromi 162 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kontrol terhadap hukuman dan kapasitas untuk mencegah seseorang memperoleh imbalan. posisi manajer sudah mendapatkan tiga sumber kekuasaan yaitu otoritas formal. Kewenangan formal Penjelasan Pengaruh potensial yang berasal dari kewenangan yang sah karena kedudukannya dalam organisasi Kewenangan yang mengacu pada hak prerogatif. Menyangkut kontrol terhadap lingkungan fisik. semakin bertambah kekuasaan keahlian (expert power) orang tersebut. b. Kekuasaan keahlian (expert power) Kekuasaan kesetiaan (referent power) Kekuasaan karisma b. Dengan memahami sumber-sumber kekuasaan dalam organisasi. seperti pesona. diplomasi dan empati. Potensi seseorang yang menyebabkan orang lain mengagumi dan memenuhi permintaan orang tersebut. Membentuk koalisi dengan pihak lain untuk meningkatkan dukungan dan sumber daya 2). sementara kepala bagian tata usaha akan mempunyai kontrol lebih besar terhadap ekologi pekerjaan seseorang. 4 Desember 2007 . Menciptakan suasana (seremoni dan simbol) untuk membentuk persepsi dan perilaku orangorang sesuai dengan peran dan fungsinya 3). 2.Siswanto: Politik dalam Organisasi Tabel 1. Agen mempunyai hak untuk membuat permintaan tertentu dan orang yang ditargetkan mempunyai kewajiban untuk mematuhinya. ia akan kehilangan legitimasinya sebagai ‘leader’. Referent power terkait dengan keterampilan interaksi antar pribadi. dapat dimengerti bahwa aktor paling berkuasa adalah aktor yang mampu mengumpulkan banyak sumber-sumber kekuasaan. kewajiban dan tanggung jawab seseorang berkaitan dengan kedudukannya dalam organisasi atau sistem sosial. Setidaknya. karakter dan kepribadian yang mampu mempengaruhi orang lain untuk suatu tujuan tertentu. Kontrol terhadap sumber daya dan imbalan c. No. Menyangkut kontrol terhadap akses terhadap informasi penting maupun kontrol terhadap distribusinya kepada orang lain. teknologi dan metode pengorganisasian pekerjaan. Pengaruh potensial yang melekat pada keunggulan individu Kekuasaan yang bersumber dari keahlian dalam memecahkan masalah tugastugas penting. Memang. Sumber-Sumber Kekuasaan dalam Organisasi11 Sumber kekuasaan 1. Kontrol terhadap hukuman (coercive power) Kontrol terhadap informasi Kontrol ekologis Kekuasaan pribadi a. Kontrol dan penguasaan terhadap sumber daya dan imbalan terkait dengan kedudukan formal. Secara deskriptif. Posisi di bawah manajer. d. Sifat bawaan dari seseorang yang mencakup penampilan. yang berakibat pada munculnya ‘leader-leader’ bayangan dalam organisasi. Pada Tabel 1 terlihat bahwa kelompok sumber kekuasaan berdasarkan kedudukan akan berlimpah pada orang-orang yang secara hirarkis mempunyai kedudukan dalam organisasi. seperti kepala bidang atau kepala bagian akan menguasai sumber kekuasaan tertentu lebih banyak daripada sumber kekuasaan lainnya sesuai tugas dan fungsinya. Kekuasaan berdasarkan kedudukan a. Makin tinggi posisi seseorang dalam hirarki organisasi. serta kendali pengambilan keputusan.

13 Sementara itu. kekuasaan terhadap informasi. Memilih waktu yang tepat untuk setiap tindakan agar situasi menguntungkan kita (manajer). pengendalian sementara.9 Sumber-sumber kekuasaan berdasarkan azas pertukaran manfaat adalah kekuasaan memberi imbalan. Hubungan antara komunikasi. bertukar. (ii) tawar-menawar. misalnya: mengaburkan. meremehkan. memperdayai. (ii) mempengaruhi berdasarkan manfaat (tukar-menukar). No. merayu. mengalihkan. Sarana aktivitas politik untuk saling mempengaruhi antar aktor dalam organisasi adalah melalui komunikasi. pertengkaran. selanjutnya mempengaruhi berdasarkan prinsip akan menghasilkan efek rasa hormat. 10. Mempengaruhi orang dengan rasa takut meliputi pendekatan keras dan pendekatan lunak. mengancam.13 Cara-cara mempengaruhi orang dengan pendekatan rasa takut (paksaan). oposisi. mempengaruhi berdasarkan azas manfaat pada dasarnya adalah “menemukan kesepakatan antar kedua belah pihak yang saling menguntungkan”. membuat sedih. banyak dari kita mempengaruhi orang lain dengan cara memberi dan menerima. (iv) mengadakan pertukaran. informasi. Gambar 1. kekuasaan terhadap sumber daya. menyepelekan. Vol.9 Apa yang kita lakukan dalam mempengaruhi orang lain berdasarkan azas pertukaran manfaat yaitu: (i) membuat kesepakatan. Konsesi yang dipertukarkan dapat berupa uang. berdagang. penggunaan sumber kekuasaan. dan kekuasaan berdasarkan koneksi.9 Di samping cara mempengaruhi dengan menebar rasa takut. mengintimidasi. Cara-cara dengan pendekatan keras. dan pemenangan kepentingan dapat diabstraksikan sebagaimana skema pada Gambar 1. (iii) berdebat. dan berusaha melakukan tukarmenukar yang adil (asas pertukaran manfaat). menyalahkan dan melemahkan. Mempengaruhi dengan paksaan menghasilkan efek rasa takut. Efek yang muncul akibat mempengaruhi dengan paksaan adalah permusuhan. hubungan menang-kalah. sabotase. Hubungan antara Komunikasi. menghalangi. cara-cara pendekatan lunak. kekuasaan berdasarkan keahlian. mempengaruhi berdasarkan manfaat menghasilkan efek kewajaran. balas dendam. keahlian tertentu atau akses terhadap sumber daya. bahkan pemberontakan. menanamkan pengaruh. ketergantungan. membuat kecil hati. kekuasaan berdasarkan posisi. mengganggu. kekuasaan berdasarkan peluang. 9. kepatuhan terpaksa. membagi proses mempengaruhi (proses berkuasa) menjadi tiga macam yaitu: (i) mempengaruhi dengan paksaan (rasa takut). menusuk dari belakang. Dengan demikian. hasilhasil sementara. Taktik Mempengaruhi dan Pemenangan Kepentingan (Diadaptasi dari Degeling12) Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. menyiasati dan merampas hak. Lee9 dalam bukunya The Power Principle. memaksa. mengkambinghitamkan. baik pendekatan lunak maupun pendekatan keras akan menghasilkan kendali yang bersifat sementara dan reaktif. menghambat.9. menipu. misalnya: menindas. mengendalikan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 6). dan (iii) mempengaruhi berdasarkan prinsip. 4 Desember 2007 163 . menakut-nakuti.

mengalihkan. Vol. mengajari. Etik adalah standar moral apakah suatu perilaku baik atau buruk menurut norma masyarakat. sabar. pola hubungan berdasarkan manfaat bersifat sementara dan bersyarat. Siapapun orangnya akan ”sakit hati” bila ditusuk dari belakang. mengintimidasi. bukannya dominansi serta pengendalian” Anne L Barstow (Dikutip dari Lee9). pengambilan keputusan adalah dalam rangka efisiensi dan produktivitas organisasi. mendisiplinkan. yaitu ”Perlakukan orang lain sebagaimana kamu menginginkan orang lain memperlakukanmu” (Do unto others as you want them to do unto you) atau ”Jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan orang lain melakukan hal itu kepadamu” (Don’t do anything to anyone that you wouldn’t want them to do to you). namun boleh jadi mengabaikan hak-hak individu (hak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan) dan rasa keadilan (adanya perlakukan diskriminatif yaitu adanya pemecatan sebagian kecil karyawan). (ii) apakah perilaku itu adil untuk semua pihak terkait?. ada the golden rule dari perilaku politik. menghambat. diperdayai dan tindakan sejenisnya. memperdayai. mengancam.9 Perhatikan ungkapan mutiara berikut: ”Kekuasaan bisa dipandang sebagai ’kekuasaan dengan’ ketimbang ’kekuasaan atas’.14 Setidaknya terdapat tiga kriteria untuk menilai apakah cara kita bertindak etis atau tidak etis yaitu prinsip utilitarianisme. maka dapat dikatakan perilaku tersebut adalah etis. bermurah hati. satu kriteria dapat saling melemahkan atau meniadakan kriteria lainnya.14 Perilaku politik yang etis adalah perilaku yang bermanfaat untuk individu dan organisasi. kesepakatan kemitraan. proaktivitas. melemahkan. (vi) saling mengalah.14 Perilaku politik dalam ”kelompok cara mempengaruhi dengan menebar rasa takut”. penguasaan diri. menyepelekan. menipu. Prinsip ’hak’ menekankan bahwa setiap individu mempunyai kebebasan untuk mengemukakan pendapat dan berbicara. menerima. kesalingtergantungan. dan (ix) berkompromi.9 Cara ketiga untuk mempegaruhi orang lain adalah berdasarkan prinsip kehormatan. peningkatan kapasitas. Pertimbangan etis haruslah merupakan suatu kriteria pengontrol dalam perilaku politik untuk mempengaruhi pihak lain. menyalahkan. meremehkan. kepercayaan. Etika Berpolitik dalam Organisasi Pembahasan politik organisasi tidaklah lengkap tanpa berbicara tentang etika berpolitik dalam organisasi. sedangkan perilaku politik yang tidak etis adalah perilaku yang bermanfaat untuk individu tetapi melukai organisasi. diremehkan. Misalnya. Dalam pandangan utilitarianisme. sebagaimana diatur dalam Piagam Hak Asasi Manusia. mengasihi. Prinsip ’keadilan’ mengisyaratkan individu untuk memberlakukan dan menegakkan aturanaturan secara adil dan tidak berat sebelah sehingga terdapat distribusi manfaat dan biaya yang pantas. membuat kecil hati. siapapun aktornya (bisa manajer atau staf) haruslah berpedoman pada tiga kriteria etis tadi. lembut. misalnya menusuk dari belakang. Sebagai saringan dapat juga dipakai empat langkah pertanyaan berikut: (i) apakah perilaku itu merupakan kebenaran?. (viii) bertengkar. bersikap konsisten dan hidup berintegritas. perusahaan memecat 10% karyawan yang kurang produktif. mengaburkan. Namun demikian. dikambinghitamkan. menyiasati dan merampas hak adalah perilaku politik yang kurang atau tidak etis. Pandangan demikian menekankan pada kinerja kelompok (kinerja organisasi). (iii) apakah perilaku itu akan membangun komitmen dan pertemanan yang lebih baik?. perilaku etis.Siswanto: Politik dalam Organisasi (v) konsensus. mengganggu.15 Tampak bahwa ketiga kriteria penilaian etis dan tidak etis tersebut bersifat bersaing (trade-off). menghalangi. keputusan ini bermanfaat untuk jumlah terbanyak. hak dan keadilan. No. Di samping ketiga kriteria tersebut. Prinsipprinsip kekuasaan berdasarkan kehormatan diantaranya adalah persuasif. 164 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Dengan kata lain. dan kekuasaan dapat digunakan untuk membangkitkan kompetensi dan kooperasi. artinya bila situasi berubah dan manfaat tidak didapatkan lagi maka kekuasaan akan menghilang (menguap). disepelekan. dan (iv) apakah perilaku itu bermanfaat untuk semua pihak terkait? Apabila jawaban dari keempat pertanyaan saringan tersebut. pengendalian internal yang positif. Apa yang kita peroleh dari cara mempengaruhi berdasarkan azas manfaat adalah pola interaksi yang bersifat fungsional dan wajar (tanpa rasa takut). menakut-nakuti. 4 Desember 2007 . dalam batasbatas tertentu memenuhi syarat. membuat sedih. dan pola hubungan jangka panjang yang memuaskan. merayu. sinergi. Hasil-hasil yang diperoleh dari kekuasaan berdasarkan prinsip kehormatan adalah kemitraan. dalam rangka peningkatan efisiensi dan produktivitas organisasi. Prinsip utilitarianisme mengajarkan bahwa keputusan yang kita ambil haruslah ’memberikan manfaat terbesar untuk jumlah orang terbesar’. mengkambinghitamkan. 10. bukan untuk mengambil keuntungan sepihak. (vii) memperebutkan. solusi menang-menang. Dalam melakukan tindakan politik.

2004. 4. No. 1947. Perilaku politik berdasarkan azas kehormatan mampu menanamkan ideologi dan cara hidup kepada pihak lain. Organizatinal Behavior (Terjemahan). Harvard Business School Press. The Theory of Social and Economic Organization. New York. 2. Choice. Vol. Organizational Politics. Images of Organization. misalnya. Selanjutnya. 2006. University of New South Wales. G. Blau. and Leadership. Jakarta.H. KEPUSTAKAAN 1. keterampilan manajemen instrumental saja tidaklah cukup. San Francisco. 15.nicholsonmcbride. Yukl. Sage Publications. Influence. 5. 3. Glencoe Press. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Bolman.php.com/news/index. L. 1963:147-69. P. mampu mempengaruhi lawan dan kawan karena prinsip hidup yang dipegangnya yaitu kesederhanaan dan kejujuran. The Hospital in Modern Society. Goodyear Publishing Co. 4 Desember 2007 165 . 2002. A. New Jersey. 10. New York. Di dalam setiap kehidupan organisasi baik organisasi formal maupun informal selalu terdapat fenomena politik yang melibatkan kepentingan.1980:151-85. 1994. Mc Bride. Hasil perilaku politik berdasarkan azas manfaat adalah komitmen dan konsensus. R. Eliot.. Exchange and Power in Social Life. KESIMPULAN DAN SARAN Untuk menjadi manajer yang efektif. Politics and Ethics.14(1):59-71. 1991. 1996. 9. New York. perilaku politik berdasarkan asas kehormatan menduduki tataran tertinggi bila dilihat dari tingkat ’keetisan’-nya.G & Deal. 8. Irwin. 10. 13. 2006. Tokoh Mahatma Gandhi. 2002. 1997. Free Press J/Glencoe. A. Jossey-Bash Publishers. Binarupa Aksara. Bumi Aksara. S. Power. setiap aktor akan saling memainkan sumber kekuasaannya untuk mempengaruhi aktor lainnya. Leadership in Organizations. R. The Power Principle (Terjemahan). The McGraw Hill Companies. sehingga apa yang terjadi tak ubahnya seperti permainan. A. 6. Perceived Political Climate and Job Attitudes. Robbins. Morgan. B. 1993. namun harus dibarengi dengan kemampuan politik yang adekuat. T. Wiley.The Hospital and Its Negotiated Order. Strauss. Dahl. kekuasaan dan pengaruh. Politics.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Perilaku politik dalam ”kelompok cara mempengaruhi dengan azas manfaat” dan ”kelompok cara mempengaruhi dengan kehormatan” merupakan perilaku politik yang etis dan dapat diterima semua pihak. New York. from Henderson. Drory. 7. T. and Persuasion. Dalam proses mempengaruhi guna mengejar kepentingannya. et al .M. G. Prentice Hall Inc. M. Perilaku politik berdasarkan azas kehormatan banyak ditunjukkan oleh para pemimpin besar dunia. The Essentials of Power.E. 1965. Management of Organization. in Friedson. Reframing Organizations: Artistry. Santa Monica.. K & Miller. sehingga perilaku politik demikian (meski bersifat situasional) adalah etis dan dapat diterima semua pihak. Jakarta. diakses dari http:// www. Weber. Organizational Studies. Power and Influence. Sydney. Analisis Politik Modern (Terjemahan). Miles. Lee. 1994. P. Boston. 12. 14.M. PT Indeks. Hawkin. N. Macro Organizational Behavior. Apapun taktik yang dipakai oleh aktor dalam rangka mempengaruhi aktor lain untuk mengejar kepentingannya selayaknya harus tetap dalam kerangka etika berorganisasi dengan tetap memegang the golden rule yaitu ”perlakukan orang lain sebagaimana kamu menginginkan orang lain memperlakukanmu” atau ”jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan orang lain melakukan hal itu kepadamu”. 11. Degeling. Jakarta. London. and Parsons.

Method: A quasi-experimental study using pre and post-test design with different subjects was applied. Meskipun demikian. Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: Private practitioners (PPs) engagement in Tuberculosis (TB) control was initiated in 2002.e. IUATLD dan kuesioner evaluasi Public-Private Mix dalam strategi DOTS yang dikembangkan di Hiderabad. i.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta . 10. inisiatif ini dikenal dengan Public-Private Mix. This initiative was then expanded to a district level through a collaboration with Gadjah Mada University Faculty of Medicine and Fidelis. dengan angka penemuan 51%. Yodi Mahendradhata2.9 juta kasus TB baru yang terdiri dari 3. Adi Utarini2 Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Denpasar. therefore. cost program kemitraan dengan PSw. IUATLD. No. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan kuasieksperimental pre dan post-tes dengan subyek yang berbeda. Keywords: private practitioner involvement. 4 Desember 2007 . total sejumlah 100 pasien.9 juta BTA (+). TB drugs are free of charge. The subjects were new smear positive patients before and after PPs involvement with a total sample of 100 patients. Provinsi Bali 2 Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan dan Bagian IKM.1 Program pengendalian TB di Indonesia merumuskan tujuh strategi dalam kerangka kerja tahun 2006-2010. The analysis applied Chi-square and Mann Whitney-U statistical tests. BALI Luh Putu Sri Armini1.e. delay. Pada tahun 2004 diperkirakan ada 8. the limited access questionnaire from Fidelis. The indirect cost did not differ significantly before and after the partnership (p>0. IUATLD and PPM-DOTS evaluation questionnaire developed in Hyderabad. public-private mix.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. the program was not able to decrease the cost spent by the patient before and after receiving DOTS treatment. Pada tahun 2003 directly observed treatment shortcourse (DOTS) diimplementasikan di 183 negara dengan menyasar 83% dari penderita TB.000 terinfeksi virus HIV. Hasil: Kemitraan PSw dapat memperpendek jarak antara munculnya gejala dengan diagnosis. Two instruments were used. namun tidak berpengaruh terhadap jarak antara diagnosis dan pengobatan (yaitu 3 hari).05). 04 Desember 2007 Luh Putu Sri Armini. therefore. 741. kemitraan PPs meningkatkan penemuan kasus dan pengobatan TB di kotamadia Denpasar. dkk. Salah satu strategi tersebut adalah melibatkan seluruh penyedia pelayanan. 3 days. However. public-private mix. Kata Kunci: kemitraan dengan praktisi swasta. Biaya tidak langsung tidak berbeda secara bermakna antara sebelum dan setelah kemitraan berjalan (p>0. FK UGM. Analisis data menggunakan uji Chi-square and Mann Whitney-U.. Secara global. Dampak intervensi ini perlu dievaluasi dari perspektif pasien. Pada tahun 2004 penemuan dan pengobatan penderita TB di Bali telah dilakukan di seluruh 107 166 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Halaman 166 . Biaya langsung untuk pengobatan TB tidak ada oleh karena obat TB diberikan gratis. Pengukuran menggunakan dua instrumen yaitu kuesioner penilaian pasien dengan akses terbatas yang disusun oleh Fidelis. Overall. Objective: This study aimed to evaluate the impact of private practitioner involvement on delay and cost of TB case management. Inisiatif ini kemudian diperluas melalui kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan Fidelis.172 Artikel Penelitian DAMPAK KEMITRAAN PRAKTISI SWASTA TERHADAP KETERLAMBATAN DAN BIAYA PENANGANAN TUBERKULOSIS DI KOTA DENPASAR.05). Result: PPs involvement has shortened the duration between start of symptoms and diagnosis.. Conclusion: The partnership program has accelerated the case finding of new smear positive TB as well as access of TB patients diagnosed at private practices to receive DOTS treatment. Vol. BALI THE IMPACT OF PRIVATE PRACTITIONER ENGAGEMENT TOWARD DELAY AND COST OF TUBERCULOSIS CASE MANAGEMENT IN DENPASAR MUNICIPALITY. patients did not pay the direct cost.2 Inisiatif ini juga telah diterapkan di Provinsi Bali dalam bentuk kerja sama dengan rumah sakit dan praktisi swasta. However. program kemitraan tersebut belum dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan oleh pasien. i. Tujuan: Mengevaluasi dampak kemitraan dengan praktisi swasta terhadap keterlambatan diagnosis dan pengobatan serta biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk penanganan TB. PPs involvement accelerated case finding and treatment of TB cases in Denpasar municipality. The impact on this intervention from patient’s perspective should. be evaluated. biaya ABSTRAK Latar Belakang: Praktisi swasta (PSw) telah dilibatkan dalam program Tuberculosis (TB) sejak tahun 2002. Kesimpulan: Program kemitraan yang dilaksanakan di Denpasar meningkatkan penemuan kasus TB BTA(+) dan pengobatan pasien TB dengan DOTS di tempat praktik swasta. Secara umum. it did not affect the duration between diagnosis and treatment initiation. IUATLD. Subyeknya adalah pasien TB BTA(+) sebelum dan setelah PENGANTAR Tuberkulosis (TB) Paru masih merupakan penyakit menular yang menjadi prioritas di Indonesia. keterlambatan diagnosis.

6 3.000 0. 4 Desember 2007 167 .6%) dan yang tidak bekerja (49.977 14. Vol.0 20. form pengiriman pasien untuk diagnosis/pengobatan rangkap tiga (untuk disimpan dokter.4 42. akses pelayanan kesehatan dan perilaku mencari pengobatan. Sejak tahun 2002. akan tetapi angka penemuan kasus tetap belum dapat mencapai target program 70%. meskipun sejak tahun 2000 semua puskesmas telah melaksanakan program TB. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuasieksperimental dengan rancangan pre-post test menggunakan subyek yang berbeda.4 76. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang dimodifikasi dari kuesioner limited access (LA) Fidelis-IUATLD dan kuesioner evaluasi PPM DOTS yang dilaksanakan di Hyderabad India6.205 0. Analisis data menggunakan uji Chi Square dan Mann Whitney-U. dampak intervensi tersebut bagi pasien belum dievaluasi.4 23.0 29.6 22. Sejumlah lima surveyor dilatih untuk menggunakan instrumen dengan cara wawancara pasien.999 0. Pada tahun 20022004. Variabel utama yang diteliti adalah keterlambatan diagnosis.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan puskesmas.3 19.000 0.1 6. biaya langsung dan tidak langsung.0 51. Intervensi terdiri dari advokasi ke PSw tentang DOTS dan pilihan peran PSw melalui lunch seminar.1% versus 21.0 28.1 6.9 6. keterlambatan pengobatan. pelatihan detailing bagi petugas TB puskesmas untuk melakukan surveilans ke PSw melalui kunjungan ke tempat praktik.2 7.389 0.8 21. pertemuan monitoring bulanan dengan petugas TB yang diselenggarakan di tingkat Puskesmas Rujukan Mikroskopis. dibawa pasien dan diambil petugas TB ketika berkunjung). kemitraan dengan praktisi swasta (PSw) mulai dikembangkan secara bertahap. Tabel 1.006 0.1 32. No. Karakteristik Responden Penelitian (n=100) Karakteristik Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tamat SD SMP SLTA PT Pekerjaan Buruh PNS Karyawan Swasta Wiraswasta Tidak bekerja Memiliki Kartu Sehat Ya Tidak Status Perkawinan Kawin Tidak Kawin Sebelum Kemitraan (n 49) n % 25 24 14 11 21 3 3 3 16 3 24 10 39 33 16 51. khususnya yang bekerja sebagai buruh (6. Badung dan Buleleng). bidan dan perawat.4 79.6 19.7 Setelah Kemitraan (n 51) n % 25 26 15 12 20 4 11 2 18 10 10 10 41 39 12 49. Sejak September 2004.5 X2 p 0. Fakultas Kedokteran UGM dan Fidelis IUATLD untuk memperkuat kemitraan Puskesmas dan PSw dokter.3 32.3 Situasi yang sama terjadi di kota Denpasar. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perbedaan karakteristik responden yang bermakna sebelum dan sesudah kemitraan adalah dalam hal pekerjaan.5 39. namun pelatihan ini belum diikuti dengan tindak lanjut monitoring dan evaluasi penerapan strategi DOTS di DPS.0% versus 19. telah dilakukan sosialisasi mengenai strategi DOTS kepada dokter praktik swasta (DPS).7 6. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak kemitraan dengan praktisi swasta terhadap keterlambatan diagnosis dan pengobatan dan untuk mendeskripsikan biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk penanggulangan TB.6 80. Data pasien BTA (+) diperoleh dari register TB kabupaten. Sampel penelitian ini adalah 49 pasien TB BTA (+) triwulan III (bulan Juli-September 2004) sebagai kelompok pembanding dan 51 pasien pada triwulan IV (Oktober-Desember) sebagai kelompok intervensi setelah kemitraan.9 35.5 23.6 19.999 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10. Penelitian dilaksanakan di kota Denpasar.1 49.5 Namun demikian. dilakukan kegiatan kerja sama dengan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan.999 0.6%).6 67. Kontribusi PSw dalam menemukan BTA(+) mencapai 20% dari total BTA(+) di 3 kabupaten yang diintervensi (Denpasar. dan pertemuan monitoring triwulanan dengan petugas TB/wasor.0 49.000 0.

Luh Putu Sri Armini.05).00 11.00 6.00 3.9 37.4 43. Kunjungan Pertama ke Pelayanan Kesehatan. UPK tempat pengobatan DOTS terbanyak adalah di Puskesmas. Perbedaan median tersebut tidak signifikan secara statistik (p>0.00 Setelah Kemitraan Q1 Q2 Q3 6.00 p 0..9 21.5 67.264 0.6 5.7 42.05).1 22. Pada Tabel 2 dapat dilihat UPK yang pertama kali dikunjungi responden untuk mengobati penyakitnya adalah praktik swasta diikuti oleh pengobat tradisional puskesmas dan rumah sakit. dkk.763 0.00 1.4 21.7 71.00 0. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) lama waktu mulai muncul gejala hingga terdiagnosis pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan. Diagnosis hingga Pengobatan Lama waktu antara: Gejala–diagnosis (minggu) Diagnosis–pengobatan (hari) Gejala-kunjungan pertama ke UPK (minggu) Kunjungan pertama–pengobatan (minggu) Gejala–pengobatan (minggu) Sebelum Kemitraan Q1 Q2 Q3 7.1 35.528 0.9 .5 80.05).699 0. Lama waktu dari mulai muncul gejala hingga pasien melakukan kunjungan pertama kali pada suatu UPK pada kelompok sebelum kemitraan dan sesudah kemitraan relatif sama.00 6.50 13.001 0.016* 0.00 1.00 11.00 21.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta .75 6. 4 Desember 2007 .75 6.001 0.501 0.4 6.029* 168 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Program kemitraan belum mampu menurunkan lama muncul gejala hingga pasien berkunjungan pertama kali pada suatu UPK.4 11. Hanya sekitar 20% responden baik sebelum maupun setelah kemitraan yang langsung mendapatkan pengobatan DOTS. Tabel 2.6 81. Pada kelompok setelah kemitraan justru PSw yang pertama kali menganjurkan pemeriksaan dahak.0 45.5 10..2 85. 999 Tabel 3.0 5.9 56.75 4.00 1.00 9.1 63.3 82.00 8.00 4.702 0.00 3. Vol.6 2.694 0. Lama Waktu Sejak Muncul Gejala.6 18.305 0.4 7 30 5 0 11 36 18 9 22 18 11 3 29 19 42 9 16.00 1.001* 0.3 30.999 0. Lama sejak mulai muncul gejala hingga diagnosis menunjukkan bahwa program kemitraan mempercepat penemuan kasus TB.895 0.00 13.00 12. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) yang relatif sama karena tidak signifikan secara statistik (p>0.017 0.00 21.3 21. Perbedaan median tersebut signifikan secara statistik (p<0. Program kemitraan belum mempercepat waktu dari mulai terdiagnosa hingga diobati karena nilai median (Q2) lama waktu mulai terdiagnosis hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan sama dengan kelompok responden sebelum kemitraan. UPK yang pertama kali menganjurkan responden memeriksa dahak pada kelompok sebelum kemitraan masih didominasi Puskesmas.5 20.0 27. No.0 22.222 0.155 0.00 7.146 6.50 10.00 2. 10.00 10.50 5.0 26. 034 1.4 57. diikuti dengan rumah sakit dan praktik swasta. Upaya Mencari Pengobatan Sebelum dan Sesudah mendapatkan Pengobatan DOTS Uraian UPK yang pertama kali dikunjungi sebelum pengobatan DOTS Tradisional Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK yang pernah dikunjungi sebelum pengobatan DOTS Tradisional Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK yang menganjurkan pemeriksaan Dahak Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK tempat pengobatan DOTS Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit Sebelumnya mencari pengobatan lain Ya Tidak Sebelum Kemitraan (n 49) n % Setelah Kemitraan ( n 51) n % X2 p 7 27 4 2 9 32 18 11 10 28 11 3 31 15 40 9 17.00 5.

Vol.05).750 316.000 0.000 60.800 95.800 109.00 pada kelompok responden kelompok sebelum kemitraan dan Rp47.629 0.400 90.800 15.050 659.000 353.000 470.729.000 87.000 7.000 5.000 18.400.200 34.375 6.000 19.850 312.000 23.750 292.00 pada kelompok setelah kemitraan namun tidak berbedaan secara signifikan (p>0.500 27.600 30.430. Dari Tabel 3 dapat disimpulkan bahwa program kemitraan mempercepat penemuan dan pengobatan kasus TB di Kota Denpasar.250 8.000 168.500 113.250 5.800 10. Secara statistik perbedaan tersebut signifikan.971 0.000 536.000 3.223.046* 0. Secara statistik perbedaan tersebut signifikan.000 15.120 0.400 20. biaya tak langsung maupun total biaya.850 6.000 116.750 152.304 Tabel 5.05).500 10.500 6.909 0.000 63.000 3.000 284.701 0.00 pada kelompok sebelum kemitraan dan Rp68. Total biaya keseluruhan yang dikeluarkan sebelum mendapatkan pengobatan DOTS.200.000 65.370 0.500 192.038* 0. Tabel 4.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Lama waktu dari mulai kunjungan pertama kali ke suatu pelayanan kesehatan hingga diobati menunjukkan bahwa program kemitraan mempercepat pengobatan kasus TB.600 184.500 300.649 35.000 4.750 1.250 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.000 6.000 4. Nilai median (Q2) lama waktu mulai muncul gejala hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan. No.200 69.000 60.625 49.459 1.400 8.05).900 586.000 61.05).000 5.500 12.400 68.000 9.500 76. responden sebelum kemitraan dan setelah kemitraan juga relatif sama karena hasil Mann Withney tidak signifikan (p>0.000 0 9. Biaya pengobatan sebelum dan selama pengobatan DOTS Biaya ke UPK Selama Pengobatan DOTS Langsung Tidak langsung Total Sebelum Pengobatan DOTS Langsung Tidak langsung Total Q1 Sebelum Kemitraan Q2 Q3 Q1 Setelah Kermitraan Q2 p Q3 0 10.400 302.000 160. Median biaya langsung yang dikeluarkan selama pengobatan DOTS sebesar 0 dan secara statistik juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.700 9. Biaya yang telah dikeluarkan untuk mencari pengobatan penyakitnya.000 5.250 9.350 0 43.750 0. baik biaya langsung maupun tak langsung dan total biaya yang dikeluarkan.000 90.800 370.600 304.800 6.717 0.000 320.000 591.500 52.800 94.660.000 183.200 458.486 0.200 60.600.065 0. 4 Desember 2007 169 .000 7.800 352.000 150.200 0 47.900 2. Hal tersebut berarti selama menjalani pengobatan TB kebanyakan responden tidak mengeluarkan biaya atau gratis.850 10.000 300.400 147. di setiap UPK sebelum mendapatkan pengobatan DOTS terpapar dalam Tabel 5.416 0.500 12.500 2.000 12. Median biaya tak langsung sebesar Rp43. 10.000.600 36.200 187.785 0.000 1.600 2.000 4.424 0.000 197.525 763.000 4.000 14.000 15.00 pada responden setelah kemitraan dan secara statistik juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.200 120. Lama waktu dari mulai muncul gejala hingga diobati menunjukkan bahwa program kemitraan juga mempercepat pengobatan kasus TB. baik biaya langsung.000 460.950 710. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) lama waktu mulai kunjungan pertama kali ke suatu pelayanan kesehatan hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan.000 5. karena terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok tersebut.500 116.000 107. Median total biaya yang dikeluarkan selama pengobatan sebesar Rp69. Perbandingan Biaya Pengobatan sebelum Mendapatkan Pengobatan DOTS Biaya UPK sebelum Pengobatan DOTS Pengobatan Tradisional Langsung Tidak langsung Total Praktik Swasta Langsung Tidak langsung Total Puskesmas Langsung Tidak langsung Total Rumah Sakit Langsung Tidak langsung Total Q1 Sebelum Kemitraan Q2 Q3 Q1 Setelah Kermitraan Q2 p Q3 0.

Keterlambatan tersebut kemungkinan karena pasien disebut ”patient delay” yaitu rentang waktu antara gejala dimulai sampai pasien mengunjungi fasilitas kesehatan. Vol. Akan tetapi tidak semua praktik swasta dipilih menjadi tempat pengobatan DOTS secara rutin bagi penderita TB. Bagi penelitian lain disarankan untuk melakukan penelitian tentang biaya yang harus ditanggung akibat dari pencarian pengobatan penyakitnya dan menjalani pengobatan DOTS. 10. PEMBAHASAN 1. Pembahasan Isi dan Konteks Program TB di Denpasar Bali Program kemitraan mempercepat penemuan kasus TB BTA (+) di UPK praktik swasta dan pasien segera mendapatkan pengobatan DOTS. Sesuai kebijakan Dinas Kesehatan Provinsi Bali dan kota Denpasar perluasan TB DOTS dilaksanakan pada lebih banyak rumah sakit swasta dan praktisi swasta termasuk bidan dan perawat. Penderita yang lebih dini ditemukan akan mempengaruhi kecepatan pengobatannya. jaringan TB DOTS ke seluruh petugas puskesmas pembantu di Bali termasuk Denpasar. sehingga banyak fasilitas pelayanan kesehatan selain puskesmas yang harus dilibatkan. Berbeda dengan hasil evaluasi ekonomi yang dilaksanakan pada pelaksanaan PPM DOTS di Hyderrabad dan New Delhi India. 9 Biaya yang dikeluarkan oleh penderita TB untuk mencari pengobatan sebelum menjalani pengobatan DOTS baik responden sebelum kemitraan maupun setelah kemitraan tidak berbeda bermakna. 4 Desember 2007 . sehingga program kemitraan juga telah dilaksanakan di semua kabupaten lain. tempat tinggal pasien yang jauh dari fasilitas kesehatan dan bila pasien itu seorang pecandu alkohol. 7 Responden kelompok sebelum kemitraan yang berkunjung ke UPK praktik swasta lebih banyak tidak menganjurkan pemeriksaan dahak. PPM DOTS yang dilaksanakan di Hyderrabad dan New Delhi India mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh pasien. sebaliknya biaya tak langsung sebelum kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok setelah kemitraan.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta . Pembanding diambil dari pasien TB BTA(+) triwulan III sebelum kemitraan dilaksanakan.05).. perbedaan tersebut karena di Hyderrabad dan New 170 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. No. puskemas dan rumah sakit (p>0. Total biaya di UPK pengobatan tradisional tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0. Pembahasan Metodologis Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan program kemitraan di Kota Denpasar seharusnya dilakukan penelitian komparatif. Penggunaan kontrol pelaksanaan program kemitraan dengan daerah lain tidak dilakukan karena pelaksanaan program kemitraan telah dilaksanakan di seluruh Provinsi Bali. disamping juga akan memperluas 2. Biaya yang dianalisis dalam penelitian ini adalah biaya tunai yang dikeluarkan oleh penderita selama mencari pengobatan dan menjalani pengobatan DOTS. Median biaya langsung. Biaya akibat kehilangan waktu kerja selama mencari pengobatan penyakitnya dan menjalani pengobatan DOTS tidak dihitung. Semakin banyak UPK praktisi swasta yang terlibat dengan dalam penemuan kasus TB menunjukkan program kemitraan di Denpasar semakin berhasil. rumah sakit swasta dan klinik swasta. dkk. Hal tersebut menunjukkan bahwa perilaku masyarakat dalam pencarian untuk penyakit yang dideritanya baik pada kelompok responden sebelum kemitraan maupun setelah kemitraan masih relatif sama. sedangkan pada responden kelompok setelah kemitraan justru lebih banyak yang telah dianjurkan untuk memeriksakan dahak. Keterlibatan UPK praktik swasta yang semakin besar mempercepat waktu dari muncul nya gejala hingga terdiagnosis maupun pengobatan DOTS. Penelitian ini tidak dapat membandingkan daerah yang melaksanakan program kemitraan dengan daerah lain yang belum melaksanakan program tersebut. Di Provinsi Bali khususnya di Kota Denpasar masih banyak potensi pelayanan praktisi swasta yang memungkinkan untuk dilibatkan dalam penemuan kasus TB. Hasil Survei prevalensi TB tahun 2004 menemukan bahwa proporsi pasien yang mendapat pengobatan awal di puskesmas hampir sama dengan praktik swasta yaitu sekitar 40-60%..Luh Putu Sri Armini.05). biaya tak langsung dan total biaya yang dikeluarkan responden kelompok sebelum kemitraan dan setelah kemitraan tidak terdapat perbedaan baik pada UPK praktik swasta. Program kemitraan telah berhasil mempengaruhi perilaku UPK untuk mencurigai pasien yang batuk dan keluhan dada lain untuk diperiksa lebih lanjut terutama pada praktik swasta dan rumah sakit. Median biaya langsung untuk mencari pengobatan tradisional yang dikeluarkan responden kelompok sebelum kemitraan lebih besar dibandingkan kelompok setelah kemitraan. di ikuti dengan rumah sakit umum. Responden yang ditemukan oleh UPK praktik swasta kemungkinan melanjutkan pengobatan DOTS di Puskesmas atau Rumah Sakit.8 Beberapa hal yang mempengaruhi keterlambatan dari pasien antara lain : pengetahuan pasien tentang TB. Perubahan tersebut karena program kemitraan yang dilakukan dengan melatih UPK praktik swasta untuk menemukan TB.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Delhi India pelaksanaan PPM DOTS dilaksanakan oleh lebih banyak sektor praktisi swasta, rumah sakit swasta, perawat swasta, dan laboratorium swasta yang tidak memungut bayaran pada pasien TB yang berobat, sedangkan di Denpasar yang tidak dibayar oleh pasien hanya alat TB (di semua UPK dan praktisi) dan laboratorium (di Puskesmas). Implikasi Hasil Penelitian terhadap Kebijakan dan Program TB di Denpasar Program kemitraan yang dilakukan di Kota Denpasar telah meningkatkan penemuan kasus TB BTA (+) dan memperpendek waktu dari munculnya gejala hingga diagnosis dan pengobatan. Hal tersebut berarti keterlibatan praktik swasta di Kota Denpasar terhadap pemberantasan TB semakin besar, walaupun belum optimal. Hasil penelitian menemukan masih terdapat UPK praktik swasta yang tidak menganjurkan pemeriksaan dahak kepada pasien dengan gejala TB. Pemeriksaan dahak merupakan salah satu upaya untuk menegakkan diagnosis TB pada pasien yang diduga terjangkit TB. Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis dilakukan terhadap dahak sewaktu pagi sewaktu (SPS) secara mikroskopis identik dengan pemeriksaan secara kultur atau biakan.10 Undang-Undang Praktik Kedokteran No. 29/ 2004 secara spesifik menyebutkan adanya kewajiban dari semua praktisi dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar yang artinya praktisi swasta seharusnya mengetahui dan menerapkan International Standar TB Care (ISTC) yaitu manajemen DOTS. Secara kualitas maupun kuantitas, keterlibatan praktik swasta harus ditingkatkan dengan melibatkan UPK yang lebih banyak karena pada tahap awal UPK praktik swasta yang dilibatkan, termasuk UPK praktik swasta paramedis dan bidan. Advokasi DOTS dan promosi standar pelayanan TB dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar diperlukan memperkuat jejaring antara klinik praktik swasta, rumah sakit dan pelayanan kesehatan yang lain yang belum menerapkan DOTS. Hal tersebut dikarenakan kebijakan kesehatan merupakan kewenangan daerah akibat dari desentralisasi masalah kesehatan. Peran Dinas Kesehatan yang lebih besar dibutuhkan untuk melibatkan lebih banyak praktisi swasta yang ada di Denpasar. Hal tersebut tidaklah mudah karena banyaknya praktisi swasata yang ada di Denpasar dan memerlukan pembiayaan untuk melaksanakan ekspansi tersebut. Saat ini ekspansi 3.

DOTS di Denpasar didanai dari Global Fund (GF), diperlukan juga suatu komitmen dari pemerintah kota untuk pembiayaan DOTS ini kalau GF sudah tidak mensubsidi dana lagi. Perluasan manajemen DOTS di Denpasar dikaitkan juga dengan regulasi perijinan dokter praktik swasta yang mencari izin praktik. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kesimpulan studi ini adalah bahwa program kemitraan Puskesmas-praktisi swasta di Denpasar dapat mempercepat penemuan kasus TB BTA (+) dan mempersingkat jarak antara diagnosis dan pengobatan dengan DOTS. Akan tetapi program kemitraan ini belum dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan oleh pasien, baik sebelum maupun sesudah memperoleh pengobatan DOTS. Saran Disarankan agar Dinas Kesehatan membuat kebijakan untuk melanjutkan model kemitraan Puskesmas-PSw ini. Selain itu, petugas TB Puskesmas menyarankan PSw untuk melakukan promosi kesehatan terhadap pasien dan memberikan penjelasan mengenai kemungkinan kunjungan oleh Puskesmas apabila terjadi mangkir pengobatan. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk menghitung total biaya pasien, termasuk opportunity cost. Kelompok pembanding (yaitu kabupaten yang belum melaksanakan kemitraan Puskesmas-PSw) dapat memperkuat rancangan penelitiannya. KEPUSTAKAAN 1. WHO. WHO Report 2006: Global Tuberculosis Control.2006. 2. Arora, V.K., Lonnroth, K. & Sarin, R. Improved Case Detection of Tuberculosis through a PublicPrivate Partnership Indian Journal of Chest Disease & Allied sciences. 2004;46:133-6. 3. Sub Dinas PPM & PLP Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Laporan Hasil P2 Tuberkulosis di Bali. 2004. 4. Sub Dinas P2P Dinas Kesehatan Denpasar Bali. Laporan Hasil P2 Tuberkulosis di Denpasar. 2004. 5. Utarini, A., Mahendradhata, Y., Syahrizal, B.M. Project Report Program Akselerasi Kemitraan Pemerintah – Praktisi Swasta Dalam Pengendalian Tuberkulosis di Provinsi DIY dan Bali. PMPK FK UGM, Fidelis & IUATLD. 2005. 6. Murthy, K.J.R., Frieden, T.R., Yazdani, A., Hreshikesh, P., (2001). Public-Private Partnership in Tuberculosis Control: Experience in Hyderabad, India. The International Journal

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

171

Luh Putu Sri Armini, dkk.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta ...

7.

8.

of Tuberculosis and Lung Disease. 2001;5 (4): 354-9. Soemantri, S. Senewe, F.P. eds. Tuberculosis Prevalence Survey in Indonesia 2004; Project DOTS Expansions GF ATM. 2005. Demissie, M, Lindtjorn, B, & Berhane, Y. Patient and Health Service Delay in the Diagnosis of Pulmonary Tuberculosis in Ethiopia. Biomedcentral Public Health. 2002; 2(23):1-7.

Rajeswari, R., Chandrasekaran V., Suhader, M., Siva Subramaniam,.S., Sudha, G., Renu, G. Factors Associated with Patient and Health System Delays in The Diagnosis of Tuberculosis in South India. The International Journal of Tuberculosis and Lung Disease. 2002;6 (9): 789-95. 10. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Jakarta. 2002.

9.

172

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 10 No. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 173 - 180 Artikel Penelitian

OPSI-OPSI KEBIJAKAN UNTUK PELATIHAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN: PEMBELAJARAN DARI PENELITIAN POLA PENINGKATAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA DALAM OTONOMI DAERAH BIDANG KESEHATAN
POLICY OPTIONS FOR HEALTH PERSONNEL’S TRAINING; LESSON LEARNED FROM THE RESEARCH ON THE PATTERN OF IMPROVING HUMAN RESOURCES COMPETENCY IN HEALTH SECTOR AUTONOMY Evie Sopacua, Didik Budijanto Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan

ABSTRACT
Background: A tendency according to the implementation of health decentralization is that health centre and hospital will change into an entrepreneurship organization while health offices will be a birocracy organization with good governance practicisme. In connection with that, various new skills for health personnel’s is needed which is managerial, leadership and entrepreneurship. Method: In the year 2002–2004, Health Services and Technology Research and Development Centre have done a study about the pattern of improving human resources competency in health sector autonomy. The study was done through several phases and in 2002 an assessment was done about health personnel’s managerial, leadership and entrepreneurship skills. In 2003 the assessment’s result was implemented, followed by an evaluation of the implementation in 2004. This study located in the province of East Java, West Nusa Tenggara and East Kalimantan. Two districts was selected purposively in each province and the research targets were the head and staff of district health office, hospital and two health centers in the selected district Result: Lesson learned from this study was some policy options. First, structuring the pattern of health personnel’s improvement in a system. Second, integrating the four level evaluation of Kirkpatrick in the training evaluation. Third, planning and implementing an effective training program using Kirkpatrik’s steps while the budget was counted with paying attention of the activity and phases according to the plan. Fourth, a management of a training program to escalate health personnel’s competencies will involved stake holders. Fifth, that health personnel’s in district health office needs to have the competency to organize and manage training programs. Conclusion: The policy option that was proposed to improve health personnel’s skill through training should be considered in the restructuretation of district health office specially in anticipating the implementation of government regulation No. 38/2007 and 4/2007. Keywords: policy options, lesson learned, health personnel’s training program

harus memahami good governance. Untuk itu, diperlukan berbagai keterampilan baru bagi sumber daya manusia kesehatan yaitu keterampilan manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan. Metode: Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan pada tahun 2002–2004 melaksanakan penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan. Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa tahapan yaitu pengkajian keterampilan SDM kesehatan tentang manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan (2002), implementasi hasil kajian melalui pelatihan (2003) dan evaluasi implementasi pelatihan (2004). Lokasi penelitian di Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Timur. Secara purposif dipilih dua kabupaten/kota di tiap provinsi penelitian dan sasaran penelitian adalah kepala dan staf dinas kesehatan kabupaten/ kota, direktur dan staf rumah sakit umum kabupaten/kota serta kepala dan staf di dua puskesmas di kabupaten/kota penelitian. Hasil: Pembelajaran dari penelitian ini adalah beberapa opsi kebijakan. Pertama yaitu penataan pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam suatu sistem. Opsi kedua adalah memasukan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dalam evaluasi pelatihan. Opsi ketiga adalah perencanaan dan implementasi program pelatihan yang efektif menurut Kirkpatrick dengan anggaran yang dihitung berdasarkan langkah kegiatan dan tahapan sesuai perencanaan. Keempat, bahwa penataan pelaksanaan suatu pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Opsi kelima, bahwa SDM di dinas kesehatan kabupaten/kota perlu memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan pelatihan. Kesimpulan: Opsi-opsi kebijakan yang diusulkan untuk peningkatan keterampilan SDM kesehatan melalui pelatihan, perlu mendapatkan pertimbangan dalam restrukturisasi dinas kesehatan kabupaten/kota khususnya mengantisipasi pelaksanaan PP No. 38/2007 dan No. 41/2007. Kata Kunci : opsi kebijakan, pembelajaran, pelatihan SDM kesehatan

ABSTRAK
Latar belakang: Sehubungan dengan pelaksanaan desentralisasi kesehatan maka terdapat kecenderungan perubahan rumah sakit dan puskesmas ke arah lembaga usaha, sedangkan dinas kesehatan menjadi lembaga birokrat yang

PENGANTAR Penerapan desentralisasi di bidang kesehatan pada tahun 1999 menyebabkan dinas kesehatan termasuk puskesmas, rumah sakit mendapat tugas dan wewenang yang sangat besar dalam era otonomi

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

173

Hasil kajian merupakan kebutuhan SDM kesehatan untuk peningkatan keterampilan. khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang terlibat didalamnya. kepemimpinan dan kewirausahaan perlu dilakukan. serta kepala dan staf di dua puskesmas di kabupaten/kota penelitian. Wawancara menggunakan kuesioner dengan skala peringkat dan sistem skoring untuk mengukur aspek konatif SDM kesehatan tentang keterampilan manajemen perubahan dan manajemen konflik. Pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara dan observasi. partisipatif dan orientasi prestatif dan keterampilan kewirausahaan pada variabel keterampilan keberanian mengambil risiko. Trisnantoro1 menjelaskan bahwa keterampilan yang diperlukan SDM kesehatan adalah mengelola perubahan.. isu strategik/pengembangan. direktur dan staf rumah sakit umum kabupaten/ kota. kemampuan manajerial SDM kesehatan yang perlu dimiliki adalah keterampilan manajerial. rumah sakit umum daerah dan rencana tahunan puskesmas dilakukan untuk mengkaji pemahaman konsep manajemen strategik. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan keterampilan dari SDM kesehatan.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . Pelaksanaan Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi SDM Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Penelitian pengembangan ini dilaksanakan dalam suatu pola dengan beberapa tahapan pelaksanaan yaitu pengkajian keterampilan manajerial SDM kesehatan yang diharapkan dan kenyataannya tahun 20022. menciptakan usaha. supportif. keterampilan kepemimpinan. dan ekonomi yang kesemuanya akan berdampak pada kinerja organisasi. negosiasi lobi. 4 Desember 2007 . dkk. No. sedangkan dinas kesehatan cenderung menjadi lembaga birokrat yang harus memahami good governance atau menjadi holding company dari puskesmas dan berbagai lembaga pelayanan kesehatan lainnya. penerapan strategi dan rencana pelaksanaan dalam rencana strategik institusi. bisnis dan fungsional. pemasaran. serta keterampilan kewirausahaan. 10.1 Fenomena perubahan institusi pelayanan kesehatan kearah dua kutub yang berbeda yaitu kutub birokrasi dan kutub lembaga usaha perlu dipahami oleh para pimpinan lembaga kesehatan khususnya di daerah karena masing-masing kutub mempunyai kultur yang berbeda.Evie Sopacua. Hasil penelitian menunjukkan gambaran keterampilan manajerial. kepemimpinan dan kewirausahaan SDM kesehatan seperti yang ditunjukkan Tabel 1. Variabel yang dikaji pada keterampilan manajerial meliputi manajemen perubahan yang diukur dari penanganan perubahan reaktif dan proaktif. politik. tujuan.. Observasi dan penelusuran dokumen rencana strategik dinas kesehatan. Keterampilan kepemimpinan dikaji pada variabel keterampilan direktif. Kemudian manajemen konflik yang diukur dari bentuk manajemen konflik (stimulasi/ penekanan/penyelesaian) dan metode yang digunakan. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Secara purposif dipilih dua kabupaten/ kota di tiap provinsi penelitian dan sasaran penelitian adalah kepala dan staf dinas kesehatan kabupaten/ kota. Vol. kepemimpinan dan kewirausahaan. kajian faktor eksternal dan internal lembaga. 4 Lokasi penelitian di Provinsi Jawa Timur (Jatim). dalam keadaan otonomi daerah diperlukan berbagai keterampilan baru dalam aplikasi otonomi daerah. Terkait dengan pelaksanaan desentralisasi kesehatan maka kecenderungan perubahan rumah sakit dan puskesmas ke arah lembaga usaha atau enterpreneurship. 174 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Manajemen strategik diukur melalui perumusan visi. implementasi hasil kajian melalui pelatihan tahun 2003 3 dan evaluasi implementasi pelatihan tahun 2004. Untuk itu. orientasi pada tugas–hasil dan optimisme/ percaya diri. budaya. Pada penelitian tahap pertama tahun 20022 dilakukan pengkajian untuk menemukan gap antara keterampilan manajerial SDM kesehatan yang diharapkan dan kenyataannya. dan mengelola aspek sosial. Maka Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan melaksanakan penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan pada tahun 2002 – 2004. sedangkan menurut Prud’Homme & Mc Lure seperti yang dicatat Trisnantoro 1. daerah (otoda). strategi umum. Kebutuhan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi SDM kesehatan tentang keterampilan manajerial. misi. hasil penelitian Gilsons menurut Trisnantoro1 menunjukkan bahwa secara praktis perlu perubahan yang incremental. Sehubungan dengan itu. Berdasarkan hasil pengkajian dibuat draf modul untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan.

Tidak sesuai. implementasi modul dalam tahap kedua penelitian dilaksanakan dengan dua cara.0) 5 (20. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit di Kabupaten pada Tiga Provinsi Penelitian Variabel Yang Dinilai 1.2% Keterampilan kepemimpinan 62. perlu meningkatkan kompetensi SDM kesehatan sesuai dengan perkembangan pelayanan rumah sakit dan puskesmas di masa mendatang.6) 15 (68.2) 4 (18.2) 5 (22.2) 4 (18. terbanyak responden masih kurang. draf modul disempurnakan menjadi modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan. prestatif. Pembelajaran materi modul relevan dengan tupoksi sehari-hari 2.6) 16 (72. Cara penyampaian materi modul dalam pembelajaran Kabupaten A Provinsi Jatim n=22 (100%) 1 2 3 4 17 (77. Proses pembelajaran ini dilaksanakan selama tiga hari. Keterampilan Kewirausahaan Keterampilan kewirausahaan dari Keterampilan kewirausahaan 54. Hasil evaluasi pelaksanaan pembelajaran modul terlihat pada Tabel 2.0) - - - Keterangan : Skor : 1.0) 20 (80.5 % responden masih kurang. Cara pertama adalah proses pembelajaran dengan penjelasan materi modul. terbanyak responden masih kurang. masing-masing di satu kabupaten pada ketiga provinsi penelitian. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit.3% responden mempunyai Keterampilan untuk mengelola konflik Keterampilan untuk mengelola konflik keterampilan mengelola konflik masih 90. 4 Desember 2007 175 . 2. 2. 3. Keterampilan Manajerial Ada 74.3% Keterampilan kewirausahaan 54.2) 3 (13. Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur.3) 17 (77. mengisi kertas kerja berupa refleksi pemahaman terhadap materi modul dan diskusi. Tabel 2. terbanyak pada aspek suportif dan orientasi untuk aspek suportif dan orientasi untuk aspek suportif dan orientasi prestatif prestatif. Keterampilan Kepemimpinan Keterampilan kepemimpinan dari 50% Keterampilan kepemimpinan 52. kurang. Pengembangan modul didampingi expert dari Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Untuk itu.0) 2 (8. 10. Sesuai.2) Kabupaten B Provinsi Kaltim n=22 (100%) 1 2 3 4 1 (4. Sumber : Budijanto dan Sopacua2 Kesimpulan pada tahap pengkajian ini adalah bahwa keterampilan kepemimpinan dan kewirausahaan SDM kesehatan masih kurang. 3. 91.3) 16 (72. No.90% responden masih kurang terbanyak responden masih kurang. rumah sakit umum daerah dan puskesmas di Provinsi Kalimantan Timur. diharapkan. Gambaran Keterampilan Manajerial.1) - - 5 (20. baik di dinas kesehatan. Modul dikembangkan menggunakan hubungan pelanggan atau Customer Relationship Marketing (CRM) sebagai strategi pemasaran. terbanyak terbanyak dalam aspek pemasaran.0) - - 1 (4. dalam aspek pemasaran.5) 2 (9.0) 3 (12.7) 14 (63.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 1. dalam aspek pemasaran.1% 56.0) 17 (68.1% responden masih kurang.1% responden masih kurang.5) 4 (18. Kepemimpinan dan Kewirausahaan SDM Kesehatan di Tiga Provinsi Penelitian Provinsi Jawa Timur Provinsi Kalimantan Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (n=82) (n=61) (n=35) 1.7) 5 (22. Disarankan untuk melaksanakan capacity building melalui pelatihan untuk implementasi modul.2) Kabupaten C Provinsi NTB n=25 (100%) 1 2 3 4 23 (92. 4. Sangat tidak sesuai. maka draft modul yang dibuat tentang keterampilan kewirausahaan dalam aspek pemasaran. Vol. Evaluasi proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan format evaluasi tahap satu dari Kirkpatrick6 dan observasi peneliti (menggunakan format). Pembelajaran materi modul relevan dengan program institusi 3. responden masih perlu peningkatan pemahaman.7) 4 (18. Penilaian pemahaman konsep sedangkan untuk komponen aplikasi sedangkan untuk aplikasi dari manajemen strategik dalam aplikasi dari manajemen strategik melalui manajemen strategik melalui rencana strategik (renstra) belum normatif penyusunan rencana strategik rencana strategik (renstra) belum normatif sebagaimana yang sebagaimana yang diharapkan. Surabaya sebagai konsultan karena keterbatasan waktu dan anggaran. Pada tahap kedua penelitian tahun 20033. Hasil Evaluasi Proses Pembelajaran Modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan.7) 4 (18. responden masih kurang. Sangat sesuai Sumber : Budijanto dan Sopacua3 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.

6) 5 (41. Kesimpulan pada penelitian tahap kedua ini bahwa proses pembelajaran dan sosialisasi materi modul sebagai cara pelatihan untuk meningkatkan keterampilan SDM kesehatan dapat dilakukan. tetapi pengulangan penilaian dilakukan untuk mendapatkan kesinambungan penilaian dari tahap 1 sampai 4 pada responden yang sama. Tidak berpendapat 5 (29. Tabel 3. Evaluasi Implementasi Modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan.7) 2. Evaluasi tahap 3 atau Behaviour Level: 60% responden menyatakan telah mendiseminasikan sebagian materi pelatihan kepada teman sekerja dalam unit/bidang yang sama dalam integritas pekerjaan mereka sehari-hari (perubahan keahlian). Dilakukan. Cara kedua adalah sosialisasi yaitu penjelasan materi dengan diskusi tanpa pengisian kertas kerja.3) 3. Tetapi disarankan agar implementasi modul dilanjutkan dengan pendampingan sehingga diperoleh pengalihan pengetahuan sebagai hasil dari implementasi modul. Belum ada rencana penerapan 1 (5.Evie Sopacua. Ada kesempatan menerapkan sebagian materi dan cukup dukungan fasilitas 17 (100) 12 (100) 13 (92. baik yang mengikuti pembelajaran dan sosialisasi pada penelitian tahun 2003.4) 4 (33. 4 Desember 2007 . Evaluasi tahap 2 atau Learning Level: 60% responden menyatakan dapat menerapkan sebagian dari materi pelatihan ke dalam integritas pekerjaan mereka sehari-hari.9) 2.1) 8 (66. Perlu dilakukan evaluasi implementasi (evaluasi pascapelatihan) untuk menilai apakah materi modul benar-benar dimanfaatkan dalam pekerjaan sehari-hari dan berdampak bagi puskesmas dan rumah sakit. Sudah ada rencana penerapan 16 (94. masing-masing di satu kabupaten pada ke tiga provinsi penelitian. Evaluasi tahap 4 atau Result Level: 60% peserta pelatihan dapat membuat rencana penerapan materi pelatihan untuk dilaksanakan dalam kegiatan sehari-hari.4) 4 (33.0) Tahap 4: Result level: rencana penerapan materi modul di institusi (puskesmas & rumah sakit umum daerah) 1. Bermanfaat 5 (29. Cukup Bermanfaat 12 (70. Pada tahap ketiga penelitian tahun 20044. Tidak ada kesempatan dan dukungan fasilitas 1 (7. b. lebih dari 60% di ketiga provinsi penelitian sama dengan evaluasi tahap 1 (reaction level) dalam Tabel 3. dilakukan evaluasi implementasi modul menggunakan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick.1) Tahap 3 : Behaviour Level : pelaksanaan diseminasi materi modul 1. c. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit Menggunakan Evaluasi 4 Tahap dari Kirkpatrick di Tiga Provinsi Penelitian Provinsi Jatim Provinsi Kaltim Provinsi NTB n=17 (%) n=17 (%) n=14 (%) Tahap 1 : Reaction level : materi pelatihan bermanfaat karena relevan dengan pekerjaan sehari-hari (tupoksi) 1. Vol.9) 3 (25.7) 6 (42. khususnya dalam menciptakan program-program CRM sebagai suatu strategi pemasaran.. Penilaian pada setiap tahap evaluasi adalah sebagai berikut. Tidak berpendapat 1 (8.3) 7 (50. Evaluasi proses sosialisasi hanya dengan observasi peneliti menggunakan format evaluasi.0) 2 (14. a. d. Walau sebenarnya evaluasi tahap 1 dari Kirkpatrick6 sudah dilakukan pada penelitian tahun 2003 (Tabel 2).: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia .3) Sumber : Sopacua. No.6 Evaluasi dilaksanakan pada responden dari puskesmas dan rumah sakit. Proses pembelajaran dan sosialisasi ini diikuti oleh responden yang sama pada penelitian tahun 2002.3) 5 (35.7) 10 (71. 10. tetapi yang menerapkan materi modul dalam pekerjaannya sehari-hari.6) 8 (66.3) 2 (14.. dilakukan dalam satu hari. Tidak berpendapat 3 (25.9) 3. tetapi keterbatasan anggaran dan waktu menyebabkan pilihan ini. Pelatihan merupakan komponen penting dari pembelajaran atau learning5 tetapi diharapkan proses ini dapat menghasilkan perubahan yaitu didapatnya kemampuan baru yang berlaku untuk waktu yang relatif lama.4) Tahap 2 : Learning level : kesempatan menerapkan materi modul dan dukungan fasilitas untuk itu 1. Proses pembelajaran dan sosialisasi bukan metode yang tepat untuk pengalihan pengetahuan materi modul.4) 2. Hasilnya tidak jauh berbeda karena kesesuaian materi modul pada Tabel 2. Budijanto. Evaluasi tahap 1 atau Reaction Level: 60% responden menyatakan materi pelatihan bermanfaat karena relevan dengan pekerjaan sehari-hari (tupoksi). hanya sebagian materi 12 (70. tetapi hanya yang berasal dari rumah sakit umum daerah dan dari dua puskesmas terpilih di tiga provinsi penelitian serta kepala dinas dan kepala subdin bina pelayanan dinas kesehatan kabupaten/kota.0) 3 (21.0) 2.7) 7 (50. dkk. Prajoga4 Evaluasi Implementasi Modul Tahap 1 – 4 dari Kirkpatrick 176 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.

Ada dua hal yang ditengarai sebagai penyebab yaitu materi modul belum merupakan prioritas dan ketidakpahaman dinas kesehatan tentang materi modul walau saat pembelajaran dan sosialisasi dinas kesehatan terlibat dan hadir. Pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan diawali dengan suatu pengkajian kebutuhan pelatihan (training need assessment = TNA) yang menjelaskan gap antara harapan dan kenyataan yang ada. Pelatihan sebaiknya direncanakan berdasarkan suatu analisis kebutuhan pelatihan. Modul materi pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan sesuai hasil kajian apabila belum ada. No. sehingga dapat diketahui apakah ada peningkatan keterampilan setelah pelatihan. tetapi memerlukan perencanaan yang matang dan komprehensif dengan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan . Dukungan diperlukan agar materi modul diterapkan secara terintegrasi dengan kegiatan lain yang diselenggarakan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat dianggarkan. Kesimpulan evaluasi implementasi modul menunjukkan bahwa materi modul dapat diterapkan di puskesmas dan rumah sakit. 4. Selain itu. 2. Pendampingan pada aplikasi materi pelatihan dalam pekerjaan sehari-hari diperlukan sehingga pengalihan pengetahuan dapat terlaksana. ke-4 tahap evaluasi ini berkaitan sehingga pencapaian tahap berikut tergantung tahap sebelumnya. 10. pencapaian evaluasi tahap 3 hanya 50%. Keterbatasan ini juga menyebabkan pada evaluasi tahap 4 tidak dilakukan pengkajian ulang tentang keterampilan kewirausahaan dengan materi yang sama yang digunakan pada penelitian tahap satu sehingga peningkatan keterampilan SDM kesehatan dampak pelatihan dapat diukur. perlu dikembangkan dan pengembangan modul membutuhkan waktu. tetapi pada penelitian ini tidak dapat dilakukan karena keterbatasan waktu dan anggaran. Disarankan agar evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dilakukan pada pelatihan jangka panjang yang terencana dengan baik di puskesmas dan rumah sakit. Kegiatan juga termasuk pengkajian ulang pada evaluasi tahap 4 dengan materi yang juga digunakan pada pengkajian kebutuhan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dana dan experts. Lesson Learned Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi SDM Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Penelitian pada tahun 2002-2004 seperti yang diuraikan di atas menggambarkan suatu pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam otonomi daerah bidang kesehatan. Evaluasi tahap 3 dan 4 sebaiknya dilakukan dua kali dengan tenggang waktu yang sudah ditentukan dalam perencanaan pelatihan. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 ini kemudian dibandingkan dengan hasil pengkajian kebutuhan pelatihan pada penelitian tahap satu. Hasil kajian digunakan sebagai dasar perencanaan pelatihan bagi SDM kesehatan yang diharapkan berdampak pada kinerja organisasi baik dinas kesehatan. Perencanaan pelatihan sebaiknya sudah mengandung pelaksanaan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dengan waktu penjadwalan yang sudah diagendakan dan anggaran yang sudah diperhitungkan berdasarkan kegiatan yang akan dilakukan. 3. Walau di Provinsi NTB. rumah sakit dan puskesmas. Vol. pada evaluasi tahap 4 seharusnya dilakukan pengkajian ulang tentang keterampilan kewirausahaan dengan materi yang sama yang digunakan pada tahap satu penelitian. Pada evaluasi tahap 3 target tersebut dicapai Provinsi Jatim dan Kaltim. Kirkpatrick6 menganjurkan agar pada evaluasi tahap 3 dan 4 dilakukan penilaian ulang dengan tenggang waktu yang ditentukan. Pelatihan pada SDM kesehatan untuk peningkatan kompetensi sebaiknya direncanakan berdasarkan kebutuhan pelatihan yang normatif sehingga ada dukungan pascapelatihan dari institusi ketika materi pelatihan diimplementasikan. hasil kajian merupakan data awal atau data dasar yang pada evaluasi pascapelatihan dapat dibandingkan untuk menilai keberhasilan pelatihan. 4 Desember 2007 177 . 2 dan 4 di ketiga provinsi penelitian tercapai. tetapi pada evaluasi tahap 4 target evaluasi tercapai karena sebenarnya terjadi perubahan keahlian. Pelatihan bukan sesuatu yang dapat dilaksanakan secara instan. Lesson learned yang diperoleh adalah bahwa: 1. Kegiatan yang dihitung sudah termasuk pengkajian kebutuhan pelatihan dan pelaksanaan evaluasi tahap 3 dan 4 dengan pengulangan pada tenggang waktu yang sudah ditentukan dalam perencanaan pelatihan. tetapi untuk itu diperlukan dukungan dari dinas kesehatan dan juga pemerintah daerah. untuk evaluasi tahap 1. Di samping itu. Kendala yang dihadapi dalam implementasi modul di puskesmas khususnya adalah belum ada dukungan dinas kesehatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 3 menunjukkan bahwa target yang ditentukan pada evaluasi setiap tahap yaitu 60%. Menurut Kirkpatrick6. Keterbatasan waktu dan anggaran menyebabkan pola peningkatan kemampuan SDM kesehatan melalui penelitian ini tidak dapat dilaksanakan sebagaimana yang seharusnya.

Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 dibandingkan dengan hasil pengkajian kebutuhan pelatihan sehingga dapat diketahui apakah ada peningkatan keterampilan setelah pelatihan. pelatihan. Dalam makalah pengembangan model unit diklat kesehatan 5 dikatakan bahwa pada umumnya perencanaan dan penyelenggaraan pelatihan di dinkes kabupaten/kota diserahkan kepada masing-masing subdinas/bidang. sehingga pelatihan-pelatihan lebih cenderung kepada pelatihan yang mendukung pelaksanaan program. evaluasi pelatihan menurut Kirkpatrick6 adalah untuk menentukan efektivitas dari suatu program pelatihan. dkk. Evaluasi tahap 2 dapat ditanyakan bersamaan dengan evaluasi tahap 1 dan diulangi ketika peserta pelatihan sudah kembali bekerja.6 Pada evaluasi tahap 4 ini juga dilakukan pengkajian ulang dengan materi yang juga digunakan pada pengkajian kebutuhan pelatihan yang hasilnya merupakan data dasar kompetensi yang dimiliki SDM kesehatan. masukan atau input adalah pengkajian kebutuhan pelatihan yang merupakan data dasar untuk perencanaan pelatihan dan pengembangan modul pelatihan. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 dibandingkan dengan data dasar untuk menilai peningkatan kinerja SDM kesehatan sebagai akibat pelatihan. walaupun masih terbatas pada pre dan postes. No. 4 Desember 2007 . tidak melalui suatu rancangan pelatihan yang seharusnya. Opsi pertama adalah penataan pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam suatu sistem (Gambar 1). Sebagai sistem. Vol. Pola Peningkatan Kompetensi SDM Kesehatan Dalam Suatu Sistem 178 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Evaluasi pascapelatihan hampir belum dilakukan. Sebagian sudah melakukan evaluasi pembelajaran atau evaluasi hasil belajar.6 Dampak atau outcome pelatihan yang diharapkan adalah peningkatan kinerja individu dan organisasi serta return of investmen (ROI) yang dinilai melalui evaluasi tahap 4 dari Kirkpatrick. 10.Evie Sopacua. sehingga diperoleh dua kali pengukuran sebagai kondisi pre dan postes output atau luaran adalah peningkatan keterampilan dan pengetahuan serta perubahan keahlian dan perilaku peserta pelatihan yang diukur melalui evaluasi tahap 3 dari Kirkpatrick. keahlian dan sikap yang dipersyaratkan bagi pekerja untuk mengerjakan pekerjaannya. Opsi kedua adalah memasukan pola evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick6 dalam evaluasi pelatihan karena evaluasi pada tahap 1 dan 2 dari Kirkpatrick merupakan evaluasi formative sebab menghasilkan informasi untuk organisasi tentang penyelenggaraan pelatihan. Opsi-Opsi Kebijakan Ada beberapa pelajaran yang diperoleh dari penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan yang dapat menjadi beberapa opsi kebijakan. Oleh sebab itu. Efektivitas pelatihan menurut Newby yang dikutip Irianto8 berkaitan dengan sejauh mana program pelatihan yang diselenggarakan mampu mencapai apa yang memang telah diputuskan sebagai tujuan yang harus dicapai. seperti penyiapan kurikulum dan materi pembelajaran. Sebagian besar pelatihan. sebagian lainnya belum melakukan. titik beratnya adalah pada pelaksanaan atau penyampaian bahan belajar. Kompetensi menurut Sofo7 dapat didefinisikan sebagai apa yang diharapkan di tempat kerja dan merujuk pada pengetahuan. serta berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing pemegang program. bukan hanya melakukan perbandingan kemampuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan (pre dan postes).: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia .. Evaluasi pelatihan menurut Assessors and Workplace Trainers (dikutip Sofo7) merujuk pada proses pengkonfirmasian bahwa seseorang telah mencapai kompetensi. Proses dalam sistem adalah pelaksanaan pelatihan diikuti evaluasi tahap 1 dari Kirkpatrick6 selain pre dan postes.. Gambar 1. sedangkan evaluasi tahap 3 dan 4 merupakan evaluasi summative karena menghasilkan informasi yang berfokus pada dampak pelatihan bagi organisasi atau pascapelatihan.

profesionalisme dan atau menunjang pengembangan karier tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. dinas kesehatan. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. yang untuk tahap 3 dan 4 mungkin dilaksanakan setelah 1 tahun pascapelatihan. Opsi kelima. 41/2007 dengan memasukkan pendidikan dan pelatihan sebagai seksi pada kelompok fungsional atau pada bidang SDM. Surabaya. dinas kesehatan. Binkesmas dan BPPSDM mendukung anggaran dan pelaksanaan analisis kebutuhan pelatihan. Trisnantoro. Pengembangan Kapasitas Keterampilan Manajerial Dalam Berwirausaha Bagi Tenaga Kesehatan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. perlu mendapatkan pertimbangan dalam restrukturisasi dinas kesehatan kabupaten kota khususnya. Opsi keempat. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan (BPPSDM). 38/2007 pengganti PP No.. 2000. Para pemangku kepentingan di antaranya adalah pemerintah daerah. rumah sakit. perencanaan dan implementasi program pelatihan yang efektif sebaiknya mengandung 10 langkah kegiatan menurut Kirkpatrick6 yaitu: tentukan kebutuhan pelatihan. Penghitungan anggaran termasuk waktu pelaksanaan evaluasi pascapelatihan tahap 1 – 4 dari Kirkpatrick. Vol. Berkenaan dengan pelatihan. tentukan materi.9 Kepada mereka yang ditempatkan di seksi atau bidang SDM ini terlebih dulu diberikan pemahaman tentang tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan sehingga dapat merancang pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan berjangka panjang dan komprehensif. Pertimbangan utama bahwa dengan berbagai perubahan yang terjadi termasuk perubahan organisasi kesehatan maka kompetensi SDM kesehatan dalam keterampilan manajerial perlu ditingkatkan. tetapkan fasilitas dan sarana yang akan digunakan. SDM di dinas kesehatan kabupaten/kota perlu memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan pelatihan karena pada kenyataannya selama ini sudah melakukan penyelenggaraan pelatihan dengan kapasitas yang sangat terbatas.5 Maka dalam peningkatan kompetensi SDM kesehatan. siapkan audio visual aids. Yogyakarta. opsi ketiga adalah memperhatikan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. D. perencanaan dan pelaksanaan pelatihan dengan peraturan dan perundangan sebagai payung yang dirujuk oleh Balitbangkes. KESIMPULAN Opsi-opsi kebijakan yang diusulkan berdasarkan lesson learned dari pelaksanaan penelitian di Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan tahun 2002 – 2004.. Sopacua. bahwa penataan pelaksanaan suatu pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. E. UGM. 25/2000 bahwa dinas kesehatan kabupaten/kota menjalankan fungsi regulator. tetapkan penjadwalan. 2002. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik (Ditjen Yanmedik) dan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat (Ditjen Binkesmas) Departemen Kesehatan RI. Fakultas Kedokteran. tetapkan tujuan akhir yang akan dicapai. 2. Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes). KEPUSTAKAAN 1. L.725/Menkes/SK/V/2003 yang dirancang secara efektif dan komprehensif dengan memperhatikan berbagai pemangku kepentingan serta peraturan perundangan yang berlaku. Hal ini dapat diatur dengan mensinergikan berbagai kepentingan dalam tata kerja sama yang disepakati. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). tentukan kriteria peserta. Pelatihan SDM kesehatan tidak hanya untuk mendukung pelaksanaan program tetapi dirancang berdasarkan pengkajian kebutuhan pelatihan. Keterampilan Manajerial Desentralisasi.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Untuk itu. No. Budijanto. D. Maka anggaran untuk pelatihan dihitung dengan memperhatikan setiap langkah kegiatan dan tahapan sesuai perencanaan.725/Menkes/ SK/V/2003 bahwa pelatihan adalah proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan kinerja. Pelaksanaan pelatihan dengan penyiapan kurikulum dan materi pembelajaran sesuai dengan hasil kajian. Sopacua. Ditjen Yanmedik. Budijanto. perencanaan dan pelaksanaan pelatihan yang komprehensip. Dampak pelatihan diharapkan menyebabkan peningkatan kinerja SDM kesehatan dan institusi. 3. Kerja sama para pemangku kepentingan diperlukan dalam melakukan analisis kebutuhan pelatihan. Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan (Tahap I: Assesment Keterampilan Manajerial Sumber Daya Manusia Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan). tetapkan narasumber. rumah sakit dan Bapelkes. 4 Desember 2007 179 . maka hal ini dapat diantisipasi dinas kesehatan kabupaten/kota ketika merestrukturisasi struktur organisasi sesuai PP No. E. perguruan tinggi. Upaya peningkatan dilaksanakan melalui pelatihan sesuai keputusan Menkes RI No.5 Sesuai dengan PP No. 10. koordinasikan program ini dengan bagian lain atau sektor lain terkait dan evaluasi program pelatihan.

Diterjemahkan oleh drs. Pengembangan Model Unit Diklat Kesehatan. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan.. M. 7. 8.Evie Sopacua. Evaluasi Kemampuan Manajerial SDM Kesehatan di Kabupaten/Kota dalam Era Desentralisasi Evaluasi Implementasi-. 2007. Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur. 10. PP No. Jusuf Irianto. Sofo.lrckesehatan. No.net ..Koehler Publishers.38 dan No. Irianto.desentralisasikesehatan.Com. Vol.2004. Surabaya. 4. Kirkpatrick.2001. Pengembangan Sumber Daya Manusia. 2003. Insan Cendekia. Budijanto. 41/2002. 1994. E.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . Surabaya. www. 9.2003. Surabaya..net (Diakses 10 November 2007) 180 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. PPT dalam Kursus Desentralisasi. Y. Evaluating Training Programs – The Four Levels-. Berrett . Sopacua. dkk. Prinsip-Prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. Kabupaten/Kota di Propinsi Kalimantan Timur. F. (Diakses 18 Desember 2007) 6. D. Surabaya. 4 Desember 2007 . 5. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. Meliala A.Inc. www. D.. Airlangga University Press. Prajoga.

menanggulangi dan mengobatinya. Diharapkan pihak Depkes dalam pengelolaan Oseltamivir ini juga memberdayakan apotek yang ditunjuk untuk menyediakan-nya sehingga selain mempermudah akses unit pelayanan kesehatan swasta lainnya dalam memperoleh obat tersebut dan bisa dijadikan stockpile. di antaranya dengan kebijakan penyediaan obat antiviral. No. mendorong berbagai upaya pemerintah untuk mencari cara mencegah. Therefore. one of them is preparation policy of antiviral drugs. Bagi RS diharapkan memberikan rekomendasi desain kebijakan pengelolaan Oseltamivir yang sesuai dengan kondisi di RS kepada Depkes.188 Artikel Penelitian ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN OSELTAMIVIR DAN IMPLEMENTASINYA DI RUMAH SAKIT RUJUKAN KASUS FLU BURUNG MANAGEMENT POLICY OF OSELTAMIVIR ANALYSIS AND ITS IMPLEMENTATION AT THE REFERENCE HOSPITAL OF AVIAN INFLUENZA CASE Misnaniarti Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Method: This study used a qualitative method which has done retrospectively by analyzing policy system with 10 informants. Besaran anggaran yang disediakan mengalami peningkatan dibandingkan dengan anggaran yang dialokasikan sebelumnya. and policy environment. Kesimpulan: Kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanganan kasus flu burung di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta dibuat secara terbatas dan pada pelaksanaannya tidak mencakup pada keseluruhan lini yang memerlukan. policy stakeholders. considering of presence case is a new case which indicated human mortality level progressively. dan policy environment. so it has dones stockpilling strategy which calculated stock number based on percentage prediction of Indonesian population number which will happen because of pandemic. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. kebijakan pengelolaan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10. This preparation of antiviral drugs played the most important role. The data were collected by in-depth interview and study document. starting from planning until control phase. A limited distribution for goverment instance and it is not for sale freely has done considering how important that medicine for human safety. Pengadaan dengan teknik dropping dapat mengakibatkan terjadinya penumpukkan obat di RS rujukan. but it is important that acces for private health service unit (hospital/ clinic) to obtain this medicine. Oleh karena itu perlu dianalisis secara komprehensif dengan melihat aspek-aspek pada sistem kebijakan meliputi public policies. Keywords : Oseltamivir. akan tetapi perlu dipikirkan juga akses unit pelayanan kesehatan swasta (RS/klinik) untuk memperoleh obat tersebut. require to be analyzed comprehensively based on policy system aspect such as: public policies. sehingga harus dikelola secara baik dan kebijakan yang melandasinya harus berdasarkan formulasi yang tepat mulai dari tahap perencanaan hingga pengendalian. This studi purpose is for analyzing management policy of Oseltamivir in controlling Avian Influenza case and its implementation at reference hospital in Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta 2005 – 2007. policy stakeholders. so that medicine must be distributed to health service unit to use it considering its expire so close relatively. so that it must be managed well and basic policy must pursuant to the right formulation. management policy ABSTRAK Latar Belakang: Ancaman pandemi flu burung yang disebabkan oleh virus H5N1. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan perencanaan penyediaan Oseltamivir belum bisa berdasarkan data evidences jumlah kasus riil yang terjadi pada instansi rumah sakit (RS) rujukan ataupun kebutuhan RS akan obat tersebut. Vol. Conclusion: Management policy of antiviral drugs in overcoming Avian Influenza case at reference hospital in DKI Jakarta is made limited and its implementation dose not involve for all sides. Kata Kunci : Oseltamivir. Pendistribusiannya secara terbatas pada instansi pemerintah dan tidak dijual bebas dilakukan mengingat pentingnya obat tersebut bagi keselamatan manusia.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. Sumatera Selatan ABSTRACT Background: Avian Influenza pandemic which is caused of H5N1 virus pushed various goverment effort to look for prevention way. It was suggested for health service department to involve reference apotek for providing antiviral drugs so it is easy on access for health service unit in stockpile. It was also suggested for hospital to perform a research to proving the this effectiveness Oseltamivir on human avian influenza. tetapi hal tersebut dilakukan karena adanya hibah obat dari negara lain sehingga obat harus segera didistribusikan ke unit pelayanan kesehatan agar bisa terpakai mengingat masa kadaluarsanya yang relatif dekat. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 181 . but this done because of medicine donation from another country. overcoming and curing it. Hal ini karena pertimbangan kasus yang dihadapi merupakan kasus baru yang terus menunjukkan progresivitas angka kematian pada manusia. kemudian dilakukan analisis isi. Penyediaan obat antiviral ini memegang peranan yang sangat penting. The data were a content analyzed. sehingga dilakukan strategi stockpilling yang memperhitungkan jumlah kebutuhan berdasarkan pada prediksi persentase jumlah penduduk Indonesia yang akan terkena jika terjadi pandemi. melibatkan 10 informan. Metode: Jenis penelitian adalah kualitatif yang dilakukan secara retrospektif dengan menganalisis sistem kebijakan. Results: Study result indicated that planning policy of oseltamivir can not base on evidences data of reality case number that happen on reference hospital instance or the need of medicine for hospital. 4 Desember 2007 181 . If allocation is done by dropping technique so it makes heaping medicine at reference hospital.

cepat merusak organ dalam (terutama paru-paru). WHO Perwakilan Indonesia. Oleh karena itu. Salah satu strateginya adalah strategi pencegahan terdiri dari tindakan bio security. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan kantor Departemen Kesehatan RI. cepat berkembang dan menular pada unggas. Penggunaan obat antiviral dimaksudkan untuk mencegah penularan lebih lanjut. Harapan lebih lanjut agar hal ini mendapat perhatian dari semua pihak mulai dari tahap perencanaan sampai pengendalian. No. Istilah lain dari komponen ini disebut oleh Buse. menganjurkan pemberian vaksinasi influenza pada orang yang berisiko. Penyakit ini merupakan penyakit menular pada unggas yang disebabkan oleh virus influenza A H5N1 yang kemudian berkembang dan dapat menular ke manusia. serta mudah resisten terhadap obat antiviral.. 1371/Menkes/SK/IX/2005 tentang Pedoman Penanggulangan Penyakit Flu Burung pada Manusia.Dr. Di Indonesia. tetapi kapan akan terjadi artinya WHO menyatakan bahwa pandemi memang akan kita hadapi. sehingga penyediaannya secara tepat waktu dan tepat guna diharapkan dapat mengurangi dampak kasus flu burung. sehingga dapat dipergunakan secara tepat guna dalam menangani bahaya wabah flu burung khususnya di wilayah Indonesia. Padahal selama dekade terakhir ada beberapa obat antiviral yang telah ditemukan dan direkomendasikan oleh FDA Amerika (Food and Drug Administration) yaitu golongan M2 inhibitor (Amantadine dan Rimantadin hidroklorida) dan Neuraminidase inhibitors (Oseltamivir dan Zanamivir). PENGANTAR Dalam beberapa tahun terakhir ini perhatian dunia kesehatan terpusat kepada semakin merebaknya penularan penyakit Avian Influenza (AI) atau flu burung. 4 Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menanggulanginya kasus ini. tercatat paling kurang terjadi 79 kematian dari 99 kasus yang ada. Pengelolaan Oseltamivir memegang peranan penting untuk pemenuhannya sehingga tersedia secara tepat waktu dan tepat guna. Dengan memberikan hasil analisis kebijakan dalam pengelolaan Oseltamivir ini diharapkan adanya perencanaan yang sistematis di masa mendatang yang dapat diterapkan dalam pencegahan dan kewaspadaan flu burung. penyediaan obat antiviral. 4 Desember 2007 .Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir .2 Diskusi tentang pandemi influenza bukan lagi dalam konteks apakah akan terjadi atau tidak. et al6 sebagai konteks (context). proses (process) dan aktor (actors) pembuatan kebijakan sebagai unsurunsur yang penting di dalam analisis kebijakan. jumlah kasus kematian akibat flu burung merupakan yang tertinggi di dunia dengan CFR 79. dan lingkungan kebijakan (policy environment).. di antaranya ada kebijakan Depkes berupa SK Menkes No. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanggulangan kasus flu burung dan implementasinya di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta sejak tahun 2005 sampai tahun 2007.Suliati Saroso (RSPI SS) dan RSUP Persahabatan mulai Maret sampai dengan Juni 2007. Analisis komprehensif dengan melihat aspek-aspek di atas dilakukan dengan harapan secara tidak langsung dapat mencegah dampak yang lebih besar lagi dari kasus flu burung yang tidak hanya kesehatan hewan dan manusia yang dirugikan akan tetapi hampir berpengaruh pada semua sektor kehidupan. Informasiinformasi yang terkait dengan dasar kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanganan kasus flu burung ini masih terbatas.3 Virus H5N1 lebih patogen daripada subtipe lainnya karena sangat mematikan bagi manusia sehingga disebut dengan highly pathogenic avian influenza (HPAI) disebabkan karakteristik virus yang sangat ganas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan kerangka pikir dikembangkan berdasarkan rangkuman banyak sumber teori tentang 182 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan pelatihan petugas kesehatan. yang mencakup hubungan timbal balik di antara tiga aspek yaitu: kebijakan publik (public policies). RSPI Prof. Vol. perlu dilakukan eksplorasi untuk mendapatkan informasi secara mendalam terhadap sistem kebijakan (policy system) mengenai pengelolaan obat ini. Saat ini obat antiviral kasus flu burung pada manusia yang digunakan di Indonesia hanya Oseltamivir.5 Setiap komponen dari sistem kebijakan tersebut merupakan suatu kesatuan dan saling berhubungan. Selain itu juga merupakan tindakan pengobatan yang bisa dilakukan dalam penatalaksanaan kasus (case management) flu burung secara medis di rumah sakit (RS). penyuluhan. 10. dapat terjadi mutasi adaptif dan reasortment. Selain itu juga terjadi penyebaran yang semakin meluas ke beberapa negara lain. Data WHO 1 menunjukkan terjadi kecenderungan peningkatan kasus AI. Sistem kebijakan merupakan seluruh pola institusional di mana di dalamnya kebijakan dibuat.7%. isi (content). pelaku kebijakan (policy stakeholders). Meningkatnya kasus infeksi yang menyebabkan kematian pada manusia ini dikhawatirkan dapat berkembang menjadi pandemi. baik angka kesakitan maupun angka kematian manusia yang terinfeksi virus H5N1.

Untuk tahun 2007 ada anggaran Oseltamivir tapi belum dilakukan pengadaan. kartu stok obat di instansi RS yang diteliti. 500 kapsul untuk RS rujukan (Kecuali RSPI 5000 kapsul). Puskesmas. dosis 1 x 75mg untuk profilaksis selama 7 hari Pengamatan : 6 dari 17 pasien diberi pengobatan Oseltamivir dengan dosis 2 x 150 mg Wawancara mendalam: jika Oseltamivir mendekati masa kadaluarsa. mulai tahun 2006 diproduksi BUMN Indonesia secara bertahap. ada laporan pendistribusiannya Wawancara mendalam: bufferstock di BTKL dan di Dinas Kesehatan Penelitian dokumen: Dinkes Provinsi/Kabupaten/Kota/. karena stok masih banyak Penelitian dokumen: di Renstra nasional FBPI. maka instansi yang menerima (RS. penelitian dokumen dan pengamatan mengenai kebijakan pengelolaan Oseltamivir di tataran Depkes dan di tingkat RS dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2. BTKL dan KKP di setiap provinsi menerima Oseltamivir dalam jumlah cukup banyak sekitar 1000–9000 kapsul Pengamatan: Stok Oseltamivir cukup banyak di BTKL dan Dinkes Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat Oseltamivir diberikan kepada pasien flu burung serta petugas kesehatan yang merawat pasien tersebut Penelitian dokumen: Oseltamivir untuk pengobatan diberikan dengan dosis 2 x 75 mg selama 5 hari untuk dewasa. baru pada tahun 2006 didistribusikan seluruh provinsi.920.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sistem kebijakan mulai dari Dunn WN5.5%-1% dari total penduduk Indonesia akan terkena pandemi influenza Pengamatan : perencanaan pengadaan berdasarkan jumlah instansi kesehatan Wawancara mendalam: mulai tahun 2006 memasukan penganggaran untuk penyediaan Oseltamivir dengan memakai dana buffer obat. membeli dari BUMN Indonesia Pengamatan : ada laporan pengadaan Oseltamivir Wawancara mendalam: pada tahun 2005 distribusi hanya ke 8 provinsi. Realisasi anggaran untuk pengadaan Oseltamivir tahun 2006 adalah sebesar Rp225. Mekanisme pengadaan ke RS adalah Oseltamivir akan dikirim ke rumah sakit kalau ada permintaan Penelitian dokumen: Oseltamivir diperoleh dengan cara menerima bantuan (hibah). Pemilihan informan dilakukan secara purposive dengan mengacu pada prinsip kesesuaian (appropriateness) dan kecukupan (adequacy) karena terkait dengan substansi dan sesuai kebutuhan penelitian. Mulai tahun 2006 dibuat perencanaan stockpiling 12 juta antiviral berdasarkan prediksi jumlah penduduk RI yang terkena pandemi. Vol. profil kesehatan dan Prosedur Tetap (Protap) di RS. hanya instansi pemerintah yang menerima Oseltamivir. Distribusi hanya ke instansi pemerintah dengan proporsi sama Penelitian dokumen: dilakukan secara top down dari Depkes. serta peraturan dan dokumen-dokumen yang terkait dengan kebijakan pengolaan antiviral dalam pengendalian dan penanganan kasus flu burung. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian melalui wawancara mendalam. 4 Desember 2007 183 . Pengamatan : ada dokumen penganggaran Oseltamivir Wawancara mendalam: Oseltamivir diperoleh dari bantuan luar negeri. import. 10. Pengamatan: tidak dijual bebas di apotek. obat didapat dari bantuan luar negeri. No. Setelah seluruh data telah terkumpul kemudian diverifikasi menggunakan metode triangulasi. membeli secara import. Penelitian dokumen: kebutuhan penyediaan Oseltamivir dihitung berdasarkan perkiraan sekitar 0.000 berasal dari APBN. dengan proporsi 100 kapsul untuk puskesmas. dinkes) boleh mengembalikan dan kemudian akan diganti dengan obat baru Penelitian dokumen: masih ada obat yang mendekati masa kadaluarsa Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat pengendalian dilakukan dengan menerapkan registrasi obat Penelitian dokumen: registrasi obat di BPOM Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Hasil Penelitian Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir di Tingkat Depkes Variabel Perencanaan Penganggaran Pengadaan Pendistribusian Penyimpanan Penggunaan Penghapusan Pengendalian Hasil Penelitian Wawancara mendalam: tahun 2005 belum dibuat perencanaan. dan di-cross check dengan laporan penerimaan Oseltamivir. dan dianalisis dengan cara content analysis. Pengumpulan data primer diperoleh dengan cara wawancara mendalam pada 10 orang informan kunci yang diambil dari berbagai level tingkatan administrasi sesuai dengan topik yang akan digali. Buse K et al 6 . Data sekunder diperoleh dengan cara telaah dokumen berupa data laporan pendistribusian Oseltamivir. Tabel 1. dan Walt G 7 untuk menggali dan mensinkronisasikan pendekatan policy system dengan kebijakan yang terkait dengan manajemen pengelolaan Oseltamivir. Selanjutnya meneliti rekam medis pasien. anggaran penyediaan obat antiviral direncanakan 112 milyar.749.

biaya pemesanan dan pengangkutan menjadi lebih murah. strategi ini dipilih karena pertimbangan kasus flu burung yang dihadapi merupakan kasus baru yang terus menunjukkan progresivitas angka kematian cukup tinggi dibuktikan dengan adanya peningkatan CFR. Jadi.. Hal ini berbeda dengan obat lainnya yang dibuat perencanaan dan pengadaan secara triwulan berdasarkan pemakaian dan kebutuhan RS (evidences based). di sisi lain potensial akan terjadi pemborosan karena wilayah tanpa adanya indikasi 184 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. Penyediaan Oseltamivir yang dihitung berdasarkan perkiraan banyaknya penduduk yang akan terkena pandemi. Oleh karena itu strategi stockpilling dipilih sebagai salah satu langkah antisipasi pemerintah menghadapi kondisi darurat (upaya kesiapsiagaan menghadapi pandemi flu burung) dengan memperhitungkan jumlah kebutuhan berdasarkan pada prediksi persentase jumlah penduduk Indonesia yang akan terkena jika terjadi pandemi. Bisa dikatakan bahwa kebijakan perencanaan Oseltamivir di RS yang diteliti belum dibuat berdasarkan data evidences jumlah kasus yang riil terjadi atau sesuai kebutuhan. Keuntungannya adalah bisa mendapatkan potongan harga yang lebih banyak. sehingga penyediaan Oseltamivir ini tidak berdasarkan kebutuhan pemakaian obat. Kebutuhan penyediaan Oseltamivir dihitung berdasarkan perkiraan sekitar 0.8 Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 220 juta jiwa. Tabel 2. penyediaannya tidak berdasarkan kebutuhan pemakaian obat Pengamatan: tidak ada dokumen perencanaan permintaan Oseltamivir Wawancara mendalam: tidak membuat menganggaran untuk Oseltamivir Pengamatan: tidak ada dokumen penganggaran Oseltamivir Wawancara mendalam: dengan cara dikirim langsung (dropping) dari Depkes Penelitian dokumen: menerima dropping Oseltamivir secara bertahap dari Depkes Pengamatan: Stok Oseltamivir dalam jumlah yang cukup banyak Wawancara mendalam: obat dikeluarkan dengan memakai metode FEFO Penelitian dokumen: Oseltamivir diterima secara bertahap Pengamatan: ada alur distribusi Oseltamivir hingga ke pasien Wawancara mendalam: sebagian besar Oseltamivir disimpan di bagian logistik (gudang) sebagai bufferstock kemudian didistribusikan ke pasien melalui apotek. 4 Desember 2007 . Untuk di RS mekanisme pangadaannya melalui teknik dropping langsung dari Depkes. yang mengakibatkan terjadinya penumpukan obat karena kebutuhan obat RS tidaklah sebanyak yang di-dropping oleh Depkes.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . berbeda dengan di Puskesmas yang harus berdasarkan sistem skoring Pengamatan: pasien suspek flu burung hari pertama masuk langsung diberi Oseltamivir Wawancara mendalam: terlebih dulu melaporkan apabila obat mendekati masa kadaluarsa kemudian akan mengembalikan ke Depkes Penelitian dokumen: sistem penghapusan obat bisa dilakukan dengan ensinerator Pengamatan: masih ada Oseltamivir yang mendekati masa kadaluarsa Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat bahwa Penilaian mutu obat dengan melihat fisik (morfologi) obat Penelitian dokumen: registrasi Oseltamivir diberikan melalui proses fast track Mulai tahun 2006 Depkes baru membuat perencanaan untuk penyediaan Oseltamivir melalui strategi stockpilling yaitu penyediaan obat dalam jumlah besar untuk menghadapi suatu keadaan kemungkinan terjadinya pandemi. Menurut Bowersox9 metode ini termasuk kategori fluctuation stock yaitu persediaan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat diramalkan (metode spekulasi). diperkirakan Depkes harus menyiapkan sebanyak 11 juta – 12 juta obat antiviral sebagai stockpile. No. perlakuan penyimpanan disamakan dengan obat yang lain Penelitian dokumen: stok obat di gudang lebih banyak daripada di apotek Pengamatan : tata cara penyimpanan dengan sistem FIFO Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat bahwa pemberian Oseltamivir ke pasien tidak berdasarkan skoring tetapi dengan melihat kondisi klinis pasien suspek AI Penelitian dokumen: pasien harus diberikan terapi Antiviral sesegera mungkin. 10. sebab tingkat konsumsinya memang rendah. Hasil Penelitian Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir di Tingkat RS Variabel Perencanaan Penganggaran Pengadaan Pendistribusian Penyimpanan Penggunaan Penghapusan Pengendalian Hasil Penelitian Wawancara mendalam: tidak membuat perencanaan permintaan Oseltamivir.5%-1% dari total penduduk Indonesia akan terkena pandemi influenza. hal ini relevan dengan dokumen Renstra Nasional FBPI. Vol. serta mengadopsi kebijakan dari beberapa negara lain yang disesuaikan dengan kemampuan finansial Indonesia. Metode spekulasi di salah satu sisi bisa menguntungkan karena obat selalu tersedia di unit pelayanan kesehatan. sehingga faktor yang berpengaruh dalam membuat perencanaan untuk penyediaan Oseltamivir ini adalah jumlah seluruh penduduk Indonesia.

Program yang cenderung ke arah kuratif dan memakan banyak biaya ini perlu ditinjau ulang. belum bisa mengakses obat ini secara lancar. Perencanaan kebutuhan obat merupakan salah satu fungsi yang menentukan dalam proses penyediaan obat. Merupakan angka yang cukup besar dalam hal pengadaan barang. RS. Padahal pengadaan merupakan titik awal dari pengendalian persediaan. Namun seharusnya pemerintah lebih selektif lagi jangan sampai obat yang diterima sudah mendekati masa kadaluarsa. juga harus memperhatikan metode pengepakan yang baik agar obat tidak rusak di jalan.11 perlu ruang penyimpanan yang besar serta mengandung risiko kadaluarsa obat yang lebih tinggi. diharapkan kebijakan pemerintah tentang perencanaan dan pengadaan obat antiviral harus memperhatikan faktor pola penyakit yang dominan. 10. Adanya penyediaan stok yang berlebih cenderung menyebabkan pemborosan dalam pemakaian. khususnya bagi RS swasta di daerah yang kurang informasi tentang cara mendapat obat tersebut.15 Keadaan geografis dan demografis daerah di Indonesia yang khas akan membutuhkan sistem pendistribusian yang tepat agar merata.10 sehingga selain faktor jumlah penduduk. 12 Selain itu Indonesia juga masih menerima bantuan obat tersebut dari WHO dan negara lain. Otomatis apabila ada pasien yang suspeck flu burung maka pihak RS tidak bisa memberikan terapi obat antiviral Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. poliklinik. misalnya melalui sarana apotek. selain juga untuk menjaga hubungan baik dengan negara pendonor. 4 Desember 2007 185 . sistem pendistribusian Oseltamivir yang diatur pemerintah belum merata sebab RS/poliklinik swasta. Walaupun tak dapat dipungkiri bahwa belanja obat memang merupakan bagian terbesar dari belanja kesehatan di seluruh negara di dunia13. Jadi jangan sampai pemerintah membuat program yang sia-sia dengan menyediakan obat antiviral karena obat tersebut hanya efektif apabila pasien dapat terapi 2 x 24 jam dari adanya gejala flu burung. Perlu pemikiran dan penelitian lebih lanjut tentang cost effektiveness dari program kuratif penyediaan obat antiviral ini. sehingga sebaiknya pemerintah juga memprioritaskan pada upaya promotif dan preventif dalam penanganan kasus flu burung ini selain biaya yang diperlukan jauh lebih sedikit daripada upaya kuratif. jika titik awal ini sudah tidak tepat maka pengendalian akan sulit dikontrol. sehingga lebih memprioritaskan pada upaya preventif sebagai salah satu upaya manajemen kasus berbasis wilayah yang salah satunya dengan melakukan manajemen faktor risiko dari penyakit.12 Langkah antisipasi yang dapat dilakukan agar tidak terjadi penumpukan obat ini salah satunya dengan memperbaiki mekanisme penyediaannya. Biaya yang sangat besar ini tentunya akan menjadi beban yang sangat berat bagi pemerintah pusat. ataupun berupaya menghindari power negara pendonor jangan sampai menjadi unsur interest politik luar negeri yang sangat dominan. jumlah kebutuhan riil masyarakat. Dalam hal ini Depkes tidak melakukannya karena perhitungan volume pembelian hanya berdasarkan prediksi saja. Depkes tahun 2006 harus menyediakan dana Rp200 milyar untuk membeli 16 jutaan kapsul Oseltamivir. Sistem pendistribusian Oseltamivir yang bersifat top down sentral dari Depkes bahwa untuk pendistribusiannya sampai ke tingkat Puskesmas dilakukan dengan bantuan pos. Dengan cara seperti ini perlu dipilih teknik yang tepat mulai dari kualitas transportasi seperti jalan dan alat angkut. karena berdasarkan data dari Aditama TY14 dilaporkan bahwa rata-rata pasien flu burung yang datang ke rumah sakit setelah lebih dari 2 hari merasakan gejala flu burung. puskesmas. yaitu Depkes melihat dari RS mengajukan permohonan permintaan obat (pertanda stock mulai menipis). Komitmen pemerintah menerima bantuan ini dilakukan karena memang membutuhkan obat tersebut. jumlah biaya yang tersedia. No. Rasionalisasi antara pola produksi obat dan kebutuhan nyata harus ditingkatkan terutama agar dana untuk obat dapat digunakan secara lebih efisien. pemerintah tidak bisa sepenuhnya mengandalkan pada obat-obatan karena bagian yang terpenting dari hal ini adalah aspek pencegahan yaitu upaya penghentian penularan dari unggas ke manusia. juga karena dampak yang akan didapatkan dari tindakan promotif-preventif tersebut akan dirasakan manfaatnya dalam jangka waktu yang lama.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan penyakit juga menerima stok yang pada akhirnya menyebabkan pembengkakan anggaran dan tentu saja menjadi tidak cost effective. metode pengadaan dengan cara membeli biasanya didahului dengan perhitungan besarnya volume pembelian yang ditetapkan berdasarkan kebutuhan dalam satuan waktu dan kuantum unit masing-masing produk misalnya kebutuhan untuk mingguan atau 1 bulanan atau setahun. Dalam hal ini.7 Dalam hal penganggaran.11 Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka dapat dirumuskan kebijakan pengadaan obat yang rasional. yang bertujuan untuk menentukan jenis dan jumlah obat sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan. Dalam kasus penyakit yang sudah jelas trendnya seperti demam berdarah. dengan alasan untuk efisiensi biaya dan tenaga. Vol.

Vol. obat yang sudah rusak. paling aman. 16 Masalah-masalah yang timbul dalam penggunaan obat tidak semata-mata berkaitan dengan kurangnya informasi dan pengetahuan dokter. perlu dicari jalan keluar untuk menghindari tingginya tingkat kadaluarsa obat ini. Selain itu.11 Sasaran utama pendaftaran obat adalah agar obat yang beredar hanya yang khasiatnya nyata. Bila dikaitkan penggunaan obat yang rasional dengan acuan biomedicus context penggunaan obat yang rasional adalah kebutuhan obat sesuai dengan kepentingan kedokteran dan klinik.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . sehingga informasi yang ada merupakan informasi yang telah ditelaah secara cermat berdasarkan data penelitian. No. sehingga hanya obat yang terbukti memberikan manfaat klinik yang paling besar. Langkah pemecahan masalah ini salah satunya dengan memberdayakan apotek yang ditunjuk pemerintah untuk menyediakan Oseltamivir. penanganan dan pencegahan penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat. Pola penggunaan obat yang tidak rasional dapat berakibat menurunnya mutu pelayanan pengobatan misalnya meningkatnya efek samping obat.17 Hubungannya dengan Tamiflu yang merupakan obat jadi import yang telah disetujui beredar di negara lain. Hal ini tentu akan memperparah kondisi pasien karena tidak cepat ditanggulangi. Adanya obat yang kadaluarsa dan rusak akan merugikan instansi pemilik karena upaya penghapusan barang/obat akan memerlukan biaya yang cukup besar. rasional dan juga dalam rangka efisiensi biaya pengobatan. kemudian registrasi obat sebelum beredar di masyarakat sehingga mutu obat terjamin. pasien dan masyarakat.. Obat mempunyai peran yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan. agar tidak ada kejadian keterlambatan menangani pasien AI. yang disetujui (approved) pada saat obat diizinkan untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan untuk menghindari salah informasi tentang obat. sesegera mungkin karena obat tersebut tidak tersedia. Akan tetapi. Oleh karena itu. Apotek harus dijadikan ujung tombak pelayanan obat yang harus ikut mengamankan kebijakan penyediaan (penyimpanan) Oseltamivir secara merata. hal ini dilakukan oleh prescriber dalam rangka meningkatkan manfaat ke pasien karena dosis yang selama ini dipakai pada umumnya belum menunjukkan perbaikan kondisi pasien. 10. misalnya promosi obat yang berlebihan atau kelemahan sistem regulasi yang ada. 4 Desember 2007 . keamanannya memadai. Para pemberi pelayanan (provider) khususnya para dokter (prescriber) harus mengetahui secara rinci obat yang akan dipakai melalui informasi yang benar. sesuai dengan sasaran kebijakan umum di bidang obat. Pembuatan kebijakan pengelolaan obat antiviral dalam penanggulangan kasus flu burung di Indonesia 186 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.16 Dikaitkan dengan kasus flu burung pada saat ini data penelitian tentang kemanfaatan dan keamanan penggunaan Oseltamivir baru efektif sebatas pada influenza biasa. Selanjutnya terkait dengan khasiat nyata dari obat. maka obat harus digunakan secara benar. meningkatnya kegagalan pengobatan. dan merupakan teknologi medis yang dibutuhkan. efektif. Agar memberikan manfaat klinik yang optimal. kualitasnya baik. maka perlu upaya pendaftaran obat. maka tetap harus didaftarkan melalui proses uji klinik di BPOM. meningkatnya resistensi obat. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) merupakan badan yang bertugas membuat informasi tentang obat yang mencakup indikasi.16 Maka penggunaan Oseltamivir di tempat penelitian ini belum termasuk kategori penggunaan obat yang rasional. harus berdasarkan indikasi yang jelas. sesuai kebutuhan dosis individu. harga yang murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat luas. Tingkat keamanan obat juga bisa dilakukan dengan memantau masa kadaluarsa. menurut prinsip kedokteran disebutkan bahwa tujuan pedoman pengobatan adalah meningkatkan mutu pelayanan melalui penggunaan obat yang aman. sehingga memudahkan masyarakat mengakses obat ini tapi tetap dengan resep dokter. salah satunya adalah dengan mengatur keseimbangan antara jumlah persediaan dengan jumlah pemakaian. Hal ini juga diberlakukan pada obat kadaluarsa. sehingga semua permintaan konsumen dapat dipenuhi. jangka waktu pemberian yang cukup.16 Informasi tentang obat sebaiknya adalah yang didukung oleh buktibukti ilmiah yang berkaitan dengan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat. tidak terjadi kekurangan maupun kelebihan stok.. sehingga perlu penelitian lebih lanjut. yang akan membahayakan pasien jika tetap dipakai. penggunaan dan cara penggunaan. bukan H5N1.sehingga dapat memberikan manfaat klinik yang berguna bagi keperluan ilmu pengetahuan dan teknologi. paling ekonomis dan paling sesuai dengan sistem pelayanan kesehatan yang ada yang dianjurkan untuk digunakan. Hal yang harus dipahami agar tercapainya pengendalian persediaan11 adalah dengan menjaga keseimbangan pengendalian dan pembelian. Adanya peningkatan dosis Oseltamivir pada pengobatan beberapa pasien flu burung. Obat yang mendekati masa kadaluarsa tidak layak lagi dipakai sehingga perlu upaya penghapusan obat. keamanan yang resmi. tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan yang sudah mendalam dan perilaku pihak-pihak yang terlibat didalamnya.

3. 1995.go. Wiku B. William N. Diakses pada 1 Februari 2007. Open University Press. pengaruh penanganan kasus flu burung di negara lain (sosial budaya).11 April 2007. Flu Burung. 5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. dan Potensi Ekonomi. Vol. 2006. 13. 10. Avian Influenza/Flu Burung di Indonesia. Yogyakarta. Anief. Diakses pada 6 Juni 2007. Aditama. 2005. 2005.B. Gill. 2006. 6. Sudah 79 Orang Meninggal Dunia Akibat Flu Burung. WHO.MA. Avian Influenza. Manajemen Logistik 1 : Integrasi Sistem-Sistem Manajemen Distribusi Fisik dan Manajemen Material. Cumulative Number of Confirmed Human Cases of Avian Influenza A/ (H5N1) Reported to WHO. Sirait. 8. KESIMPULAN DAN SARAN Kebijakan pengelolaan obat antiviral dalam penanganan kasus flu burung di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta dibuat secara terbatas serta pada pelaksanaannya tidak mencakup pada keseluruhan lini yang memerlukan. Adisasmito. Selanjutnya. III (2). Pengantar Analisis Kebijakan Publik edisi kedua. Nicolas. Tiga Dimensi Farmasi : Ilmu Teknologi. Buse. Pusat Komunikasi Publik Depkes RI. KEPUSTAKAAN 1. 7. jumlah penduduk. 12. 2005. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. jumlah institusi kesehatan pemerintah. Yogyakarta. No. Midian. 2002. MPH selaku Ketua PSKM FK Unsri dan kepada drh. Hal ini dikarenakan obat hibah dari negara lain yang harus segera didistribusikan agar bisa terpakai mengingat masa kadaluarsanya yang relatif dekat. selain itu faktor lingkungan yang menjadi pertimbangan adalah faktor politik. 1994. Rencana Strategis Nasional Pengendalian Flu Burung (Avian Influenza) dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza 2006-2008. 4 Desember 2007 187 . serta perlu mengadakan suatu penelitian untuk membuktikan efektivitas penggunaan Oseltamivir terhadap H5N1 manusia. 1998. 15. Gajah Mada University Press. Titiek E. UCAPAN TERIMA KASIH Saya ucapkan terima kasih kepada dr. Gadjah Mada University Press. 2. Program Studi KARS Universitas Indonesia. Jakarta. Tjandra Yoga.int/entity/scr/disease/ avian_influenza/country/en. Mays. Yenis S. Pencegahan dan Penyebaran Pada Manusia. Majalah Ilmu Kefarmasian. Johannesburg. Bahan Seminar Pertemuan Nasional Penanggulangan Klinis Penanganan Flu Burung di Rumah Sakit. Bandung.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kebijakan internasional dalam hal ini WHO 18 memegang peranan yang dominan yang menentukan arah kebijakan yang dibuat oleh Depkes RI. Donald J. Moh. Institut Darma Mahardika. London School of Hygiene and Tropical Medicine. Bumi Aksara. Republik Indonesia.id/. Modul Pendidikan : Manajemen Logistik dan Obat Rumah Sakit. http://www. Kent. Kebijakan pengadaannya dengan teknik dropping dapat mengakibatkan terjadinya penumpukkan obat di RS yang diteliti. diharapkan agar Depkes dalam pengelolaan Oselatamivir ini juga memberdayakan apotek yang ditunjuk untuk menyediakan obat tersebut sehingga selain mempermudah akses unit pelayanan kesehatan swasta lainnya dalam memperoleh obat tersebut dan bisa dijadikan stockpile. Bowersox. 4. 2001. G. 10. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI. http:// www. Walt. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. MSc. serta kondisi pertahanan dan keamanan yang ingin diciptakan dalam kesiapsiagaan menghadapi pandemi flu burung. 2003. WHO. Health Policy : an Introduction to Process and Power.D selaku Dosen Pembimbing di Departemen AKK FKM UI Depok yang banyak memberikan pencerahan dalam penulisan karya ini. Jakarta. WHO. Radji. 11. 9. Ph. Walt. 2007. Dunn. The World Health Report 2000–Health Systems : Improving Performance. Depok. 2000. Agar pihak RS memberikan rekomendasi kepada Depkes mengenai desain kebijakan pengelolaan obat antiviral yang sesuai dengan kondisi di RS. 14. Avian Influenza A (H5N1) : Patogenesis. Husnil Farouk. Manajemen Farmasi. Witwatersrand University Press. Kebijakan pendistribusian Oseltamivir secara terbatas pada instansi pemerintah dapat menghambat akses unit pelayanan kesehatan swasta untuk memperoleh obat tersebut. Ini ditunjukkan dengan perencanaannya belum berdasarkan data evidences jumlah kasus riil yang terjadi pada RS karena pertimbangan kasus AI yang menunjukkan progresivitas angka kematian dan cenderung menimbulkan kepanikan masyarakat sehingga dipilih strategi stockpilling. Departemen Kesehatan RI. Making Health Policy. Pelayanana Kesehatan. Jakarta.depkes. Jakarta.who. H. M. Kusumanto H.

WHO.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 18.com.. 2006. 17 Maret 2006.influenzaReport. 10. http://www. 188 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Depkes RI. WHO – Advice On Use Of Oseltamivir. No. Influenza Report 2006. 17. Kamps BS. Jakarta. 16.. 4 Desember 2007 . Vol. 2000. Hoffmann C. IONI : Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000. Preiser W.

visualisasi laporan. Results: The implementation of Business Preparation is deserved to do. upaya implementasi business intelligencesaat ini berkisar antara 15-35%. Spesifisitas business intelligence dibanding tingkatan sistem informasi lainnya adalah kemampuannya untuk melakukan analisis multidimensional. Kepala Bagian Tata Usaha serta Koordinator EDP. There are 147 variable of information level with most of information is in Processes management category in the key process of DS Hospital services. Vol. information system training. Kata Kunci: business intelligence. based on Malcolm Baldrige in D S Hospital in 2007. dengan dominasi banyaknya informasi pada kategori Proces Managemen pada Proses Kunci Layanan RSDS. Objective: To get information about implementation preparation of Business Intelligence. sedangkan data dalam bentuk file non database diperlukan penyepakatan konsistensi data untuk percepatan implementasi business intelligence. Metode: Peneliti melakukan investigasi sistem dilanjutkan dengan analisis sistem untuk mengetahui kebutuhan informasi yang diperlukan. menganalisis dan menyuguhkan akses data untuk membantu petinggi perusahaan dalam mengambil keputusan. the data still disperse and managed by each person who has responsible for it so the process of collecting information takes longer time and because of that. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini disarankan kepada pihak manajemen untuk melanjutkan sosialisasi. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 177 . perubahan perilaku pelanggan. Keywords: business intelligence. pola pembelanjaan. kapabilitas perusahaan serta kondisi pasar.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. Data dalam bentuk laporan manual perlu dilakukan standarisasi informasi sehingga bisa dikonversi menjadi bentuk database. 4 Desember 2007 177 . Tujuan: Diperolehnya informasi mengenai penyiapan implementasi business intelligence dengan basis Malcolm Baldrige di RS DS tahun 2007. profil kompetitor serta kemampuan unggul lainnya. and competitor profile. Currently. Hasil: Implementasi business intelligence telah layak untuk dilakukan. analisis multidimensi serta profil kompetitor. Dari keseluruhan proses. Method: The researcher investigates system followed with system analysis to know about information which is needed. menyimpan. now a day. Mayoritas ketersediaan data sudah dalam bentuk nonlaporan manual (81%). Manager Representatif.. The main informant in this research is Director. Conclusion: This research wants to give suggestions to management side to keep continue for socialization. pelatihan sistem informasi.182 Artikel Penelitian PENYIAPAN IMPLEMENTASI BUSINESS INTELLIGENCE BERBASIS MALCOLM BALDRIGE IMPLEMENTATION BUSINESS INTELLIGENCEBASED ON MALCOLM BALDRIGE Raditya Asri Wisuda . 10. Representative Manager. emphasize the policy of available information management system. The research sample which is used is qualitative research.1 Howard Dresdner pada tahun 19892 pertama kali mendefinisikan business intelligence sebagai rangkaian aplikasi dan teknologi untuk mengumpulkan. Most of the data has already in the form of non manual report (81%). implementation preparation penelitian kualitatif. the effort of business intelligence implementation is about 15-35%. The data in manual report form has to be standardized so can be converted into database form. Rancangan penelitian yang dipakai adalah PENGANTAR Informasi memainkan peranan penting dalam pengambilan keputusan dan sebagai sarana strategik untuk memberikan pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. No. menegaskan kebijakan sistem informasi yang berlaku. multidimensional analysis. Saat ini penyajian datanya masih tersebar dari berbagai pintu dan sumber sesuai penanggungjawabnya sehingga pengambilan informasi memakan waktu yang lebih lama serta pemantauannya belum dapat menggambarkan tren. forecasting. so the monitoring has not known the trend. meanwhile data in form of non database file needed to get some constituency agreement to make the business intelligence implementation faster. From all the process. Head of Administration and also EDP coordinator. penyiapan implementasi ABSTRAK Latar Belakang: Rumah Sakit Duren Sawit (RSDS) telah mengimplementasikan berbagai sistem manajemen mutu serta sistem lainnya. Didapatkan sebanyak 147 variabel level informasi. Dumilah Ayuningtyas Program Studi Kajian Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ABSTRACT Background: D S Hospital (RSSDS) has implemented many of quality management system and also another system. Informan kunci pada penelitian ini adalah Direktur. preferensi pelanggan. Aplikasi business intelligence memungkinkan perusahaan untuk menganalisa perubahan tren pasar.

Penyiapan implementasi business intelligence dilakukan dengan pola System Development Life Cycle (SDLC) yang terdiri dari 5 tahap (investigasi sistem.5. other customer and market. pengurangan biaya alat tulis. 178 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. kemampuan manajemen. e. ±110 client serta Local Area Network yang mencakup seluruh rumah sakit. hemat waktu dan tenaga. data. Peningkatan biaya implementasi terjadi pada fase awal ketika investasi sistem informasi dilakukan dan akan menurun seiring berjalannya waktu. mengharuskan seluruh karyawan untuk melakukan input data ke komputer.3 Kriteria Layanan Kesehatan malcolm baldrige terdiri dari leadership. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif. measurement analysis and knowledge management. analisis sistem. Sejak awal rumah sakit telah berhemat dengan menghindari posisi-posisi yang tidak efektif. peningkatan pendapatan dan keuntungan. Investigasi sistem dilakukan dengan indepth interview. desain sistem. focus on patients. b. Namun peneliti membatasi penelitian pada investigasi sistem dan analisis sistem. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa business intelligence dapat mendukung proses bisnis RS DS dengan sajian informasi yang terintegrasi sehingga analisa bisa dilakukan dengan cepat. Langkah ini mencakup: (1) investigasi. Kelayakan teknis Kelayakan teknis menilai ketersediaan. process management serta business result. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa penyajian data yang cepat bermanfaat terhadap berkurangnya beban kerja karena informasi cukup diinput satu kali. Banyak perusahaan menetapkan kriteria bukan untuk MBNQA semata. Dalam hal ini manfaat business intelligence lebih pada kepentingan internal RS DS. 10. karyawan serta pihak lain yang mengoperasikan. kemudahan pencarian dokumen. Kelayakan ekonomi Dalam kelayakan ekonomi. Analisis dilakukan pada penyiapan implementasi business intelligence berbasis malcolm baldrige. namun tetap dapat melalui verifikasi lintas unit.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . namun akan kemudian naik lagi secara perlahan.. Kelayakan operasional Merupakan kemauan. unggul dan berkelanjutan. 1) Dukungan manajemen: pada penyiapan implementasi business intelligence RS DS. terlihat bahwa manajemen memberi dukungan yang positif karena kehadiran business intelligence yang sudah dirasakan sudah menjadi kebutuhan manajemen. tetapi untuk self assessment sebagai alat untuk membenahi sistem manajemen kinerja sehingga dapat survive. menggunakan dan mendukung sistem yang diusulkan. Saat ini RS DS telah memiliki 4 buah server (web. dicari informasi tentang kemungkinan business intelligence dalam penghematan biaya. 2) Penerimaan karyawan: manajemen puncak berpendapat bahwa penerimaan karyawan sudah bagus. (4) implementasi dan (5) pemeliharaan. Vol. human resources focus. implementasi sistem serta pemeliharaan sistem). Kelayakan organisasi Kelayakan organisasional berfokus pada sebaik apakah dukungan sistem yang diusullkan terhadap prioritas bisnis strategis organisasi. No. strategic planning.4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penyiapan implementasi business intelligence RS Duren Sawit 1. Siklus ini dipandang sebagai proses multilangkah yang disebut sebagai siklus pengembangan sistem informasi (information system development cycle) yang juga dikenal sebagai siklus hidup pengembangan sistem (system development life cycle). 4 Desember 2007 . (2) analisis. d. Tahap investigasi sistem a. karena salah satu modul yang ada.6 Model business intelligence RS DS dibuat dengan dasar Malcolm Baldrige. bersaing. (3) desain. 3) Persyaratan pemerintah : persyaratan dan peraturan pemerintah bisa menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan sistem informasi. domain dan proxy). Manfaat berwujud 1) Pengaruh terhadap peningkatan penjualan Business intelligencememungkinkan perusahaan untuk menganalisa perubahan trend c. kemampuan dan kehandalan jaringan serta software di RS DS dalam implementasi business intelligence.. Pendekatan sistem digunakan untuk mengembangkan solusi sistem informasi. The malcolm baldrige criteria for performance excellence adalah sistem manajemen mutu yang berlaku di Amerika Serikat. modul remunerasi.

4 Desember 2007 179 . sehingga lebih memimpin dalam sistem informasi yang keseluruhan outputnya dimanfaatkan untuk membuat keputusan yang akurat baik untuk bahan informasi maupun marketing untuk meningkatkan penjualan. pertumbuhan hari perawatan. mayoritas sudah dalam bentuk database yaitu sebanyak 40. 2) Pengaruh terhadap biaya pemrosesan informasi dan efisiensi operasional Berkurangnya biaya pemrosesan informasi didapat dari berkurangnya beban kerja pengiriman dokumen lintas unit. produk) diperlukan pada 29. pertumbuhan hari perawatan. 2). Pengaruh terhadap posisi kompetitif dan citra bisnis Rumah Sakit Duren Sawit (RS DS) merupakan rumah sakit daerah yang merintis implementasi business intelligence. Pengaruh terhadap perbaikan moral karyawan Moral karyawan dalam hal ini diwujudkan dalam bentuk etos kerja. f.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan dalam pasar. 2. Kriteria leadership Didapat 8 variabel informasi yang semuanya berasal dari perilaku utama staf RS DS.4% selanjutnya Keuangan dan SDM. preferensi pelanggan. didapat 8 variabel informasi yaitu built customer relationship management. Manfaat tak berwujud 1). Keseluruhan 3.2%. pertumbuhan hari perawatan. jumlah pasien lama. other customer and market malcolm baldrige. No.2% informasi saja yang perlu dilakukan forecast yaitu revenue growth.7%. jumlah pasien lama. kemudian 40. Dalam hal ketersediaan data. 4). pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan dan gawat darurat serta avarage length of stay. Kriteria focus on patients.7% realtime dan sisanya bulanan. masing-masing 18. 10. Belum ada nilai standar untuk keseluruhan informasi. Tahap Analisis Sistem a. Dengan business intelligence. waktu tunggu verifikasi dokumen. Analisis kebutuhan informasi 1. Saat ini sebanyak 22. jumlah pasien rawat jalan baru. Hal-hal tersebut bisa diminimalisir dengan business intelligence. redundansi data yang sebetulnya sudah terdapat dalam sistem. Untuk time interval update data. Mayoritas wilayah data di bawah unit Electronic Data Processing (EDP) yaitu sebanyak 44. jumlah pasien lama. perubahan dalam perilaku pelanggan. geografi. serta belum terdapat nilai standar untuk variabel ini. sehingga siapapun yang berkepentingan terhadap informasi itu bisa langsung melihat sesuai dengan kewenanangannya. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan dan pasien gawat darurat. Ketersediaan data saat ini seluruhnya masih dalam bentuk laporan manual dengan time interval update data setiap bulan. BOR. Tabulasi silang (pelanggan. geografi maupun produk). indikator-indikator mutu di input langsung ke komputer. handling complaints dan customer loyalty. other customer and market Dalam kriteria focus on patients. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pengaruh terhadap ketersediaan informasi. Vol. serta kebanggaan bekerja di RS DS. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan serta pasien gawat darurat. Keseluruhan wilayah datanya adalah unit SDM. mayoritas tahunan sebanyak 48. jumlah pasien rawat jalan baru. pola pembelanjaan. profil pelanggan maupun tabulasi silang (pelanggan. Efek lain adalah dari sudut pandang balanced scorecard yang salah satunya memantau indikator kepuasan pelanggan dan jenis ini menjadi salah satu jenis informasi business intelligence RS DS. komplain pelanggan. kedisiplinan. yaitu pada jenis revenue growth. kapabilitas perusahaan serta kondisi pasar. Business intelligence akan mewajibkan karyawan untuk melakukan input data yang menjadi tanggung jawabnya sehingga kedisiplinan akan meningkat. Kriteria strategic planning Didapat 27 variabel informasi yang keseluruhannya berasal dari balanced scorecard.5%. Pengaruh terhadap perbaikan layanan pelanggan Secara langsung business intelligence bisa memberi gambaran yang cepat mengenai titik-titik rawan dalam pelayanan untuk kemudian mengambil langkah dengan cepat terhadap masalah tersebut. Sebanyak 37% informasi memerlukan profil kompetitor. Kesemuanya tidak memerlukan kebutuhan forecast. TOI serta AvLOS. customer satisfaction. kemampuan analisis serta pengambilan keputusan Rumah Sakit Duren Sawit (RS DS) telah menerapkan beberapa tools manajemen mutu yang memerlukan pemantauan yang akurat sehingga strategi yang dihasilkan selalu up to date dengan permasalahan yang ada. BTO.6% informasi yaitu pada jenis hasil survei kepuasan pelanggan. 3). sedangkan 37% lagi dalam bentuk file non database dan sisanya dalam bentuk laporan manual. jumlah pasien rawat jalan baru.

seluruhnya bulanan. wilayah data ada di bawah unit Public Service Center (PSC) Dalam hal ketersediaan data. Kriteria measurement. 5. infeksi nosokomial <5%. Nilai standar ada pada jenis product information dan handling complaints.8% kemudian rawat inap sebanyak 11. Kriteria process management Dari keseluruhan kriteria process management malcolm baldrige terdapat 84 jenis informasi yang keseluruhannya terdiri dari 6 kelompok yaitu proses kunci layanan kesehatan RSDS..9% dan IPSRS sebanyak 9. seluruhnya tiga bulanan kecuali sentralisir dan digitalisasi dokumen di MR yang time intervalnya realtime. geografi. Keseluruhan data sudah memiliki nilai standar. keseluruhan wilayah data ada di bawah unit SDM. Kriteria business result Kriteria business result malcolm baldrige terdiri dari dua jenis yaitu performance management dan human resources competencies. dan keduanya digabung ke poin 5. Tidak ada informasi yang memerlukan forecast. produk). No. analysis and knowledge management Dalam kriteria measurement. didapat 13 variabel informasi yang terdiri dari 3 kelompok besar yaitu Competency Based Human Resources Management (CBHRM). Untuk time interval update data. K3). Nilai standar belum terdapat pada keseluruhan jenis. Keseluruhan wilayah data ada di bawah unit EDP. 7. QMS ISO 9001:2000. Keseluruhan jenis tidak memerlukan forecast kecuali pada satu jenis yaitu peningkatan pertumbuhan 30% per tahun dalam 5 tahun. analysis and knowledge management malcolm baldrige. Jumlah variabel informasi terbanyak ada pada kriteria malcolm baldrige process management. keseluruhan jenis kapitalisasi pengembangan ide serta communication and skill sharing masih dalam bentuk laporan manual. OHSAS 18001 (patient safety. keberadaan business intelligence akan sangat membantu untuk mengambil keputusan yang tepat dari keseluruhan informasi tadi. produk).9% data time interval update-nya adalah tiga bulanan. Nilai standar belum terdapat pada keseluruhan jenis. Tabulasi silang (pelanggan. Vol. 6. Tidak ada informasi yang memerlukan forecast. Dalam hal ketersediaan data. Untuk time interval update data.5%. response time layanan IGD <2 menit 95%. GKM dan 5R.. waktu layanan RJ umum 10 menit. 10. Kriteria human resources focus Dalam kriteria human resources focus malcolm baldrige. 180 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Untuk CBHRM. Terdapat 19 wilayah data dan yang terbanyak adalah di bawah unit MR sebanyak 23. Kapitalisasi Pengembangan Ide serta communication and skill sharing. attending system modules. geografi. waktu layanan rawat jalan 40 menit. keseluruhan jenis kapitalisasi pengembangan ide serta communication and skill sharing intervalnya bulanan. Informasi sebanyak ini dengan berbagai atributnya merupakan hal yang cukup kompleks. pelayanan pasien narkoba dan pelayanan pasien nonjiwa. kapitalisasi pengembangan ide di bawah unit MR serta communication and skill sharing sifat wilayah datanya spesifik unit pelayanan. dimana 65 variabel diantaranya berasal dari proses kunci layanan RS DS. Jumlah variabel informasi yang diperoleh peneliti pada penelitian ini mencapai 147 variabel. Profil kompetitor diperlukan pada jenis waktu layanan registrasi 5 menit. angka kejadian malpraktik 0%. Ini menunjukkan standarisasi informasi yang telah berjalan dengan baik. Sebanyak 92. profil kompetitor maupun 4. profil kompetitor maupun tabulasi silang (pelanggan. tabulasi silang (pelanggan. Untuk time interval update data. sedangkan jenis seleksi yang merupakan bagian dari CBHRM seluruhnya realtime dan sisanya interval tiga bulanan. didapat lima variabel informasi yaitu services modules. serta peningkatan pertumbuhan 30% per tahun dalam 5 tahun. sehingga akan dapat memudahkan pengguna business intelligence untuk mendapatkan informasi yang luas pada kategori ini sehingga akan memberikan lebih banyak alternatif pertimbangan pada pengambilan keputusan.1%. 4 Desember 2007 . Mayoritas ketersediaan data sudah dalam bentuk file non database yaitu sebanyak 82. kecuali sentralisir dan digitalisasi dokumen MR berada di bawah MR. angka kejadian medical error 0%. 3 jenis sisanya (training gap. Dalam hal ketersediaan data. keseluruhannya dalam bentuk file non database kecuali psychiatry departement report yang belum tersedia. sedangkan jenis seleksi yang merupakan bagian dari CBHRM data sudah tersedia dalam bentuk database. psychiatry departement report serta sentralisir dan digitalisasi dokumen di Manager Representative (MR). PSC modules. kebutuhan jam training per orang per tahun serta pay for performance) dalam bentuk file non database.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence .1 karena kesamaan informasinya. geografi dan produk) diperlukan pada jenis kepuasan pelanggan 80% pada pelayanan pasien jiwa. six sigma. keseluruhannya dalam bentuk file non database. sebanyak 84 variabel informasi.

format data yang berbeda-beda. Tiga wilayah data terbanyak adalah manager representative. 2. 4 Desember 2007 181 . belum tersedia <1%). Lebih dari separuh ketersediaan data adalah dalam bentuk file non database. Ditinjau dari segi kelayakan. 10. Dari ketersediaan data tersebut. kesiapan untuk data integration menjadi suatu tantangan besar. Manajemen dapat mengungkap korelasi bermakna antar data yang tersembunyi sebelumnya. membedakan business intelligence dengan sistem informasi manajemen lainnya. Fitur business intelligence Tipe-tipe analisa informasi berikut merupakan fitur yang disajikan oleh business intelligence yang sifatnya unik. 3. sehingga kesiapannya cukup tinggi untuk dikonversikan ke dalam business intelligence. file non database 65%. Reporting Dengan telah diidentifikasikannya kebutuhan data dalam bentuk matriks hasil penelitian. Data mining Dengan banyaknya variabel data yang tersedia (147 variabel data). sehingga lebih menunjang kesiapan implementasi business intelligence. Jika dilihat dari upayanya. 5. ketersediaan data dalam bentuk selain database membutuhkan lagi langkah yang lebih panjang yaitu melalui proses Extract. Transform. seperti juga halnya data integration di perusahaan lain. penelitian penyiapan implementasi business intelligence di RS DS sudah mencakup sekitar 15%-35% dari keseluruhan upaya pembuatannya. masih diperlukan sekitar 65%-85% lagi untuk mencapai implementasi business intelligence secara keseluruhan dan proses ini melibatkan lebih banyak pihak lagi dalam penyusunannya agar menghasilkan suatu informasi yang bernilai tinggi bagi RS DS. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. ketidakkonsistenan nilai data. lalu file non database dan laporan manual. kesiapan untuk dilakukan data mining menjadi cukup tinggi. 4. sinonim dan homonim serta logika proses. upaya penyiapan implementasi business intelligence RS DS telah mencakup 15% . jika memperhatikan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pengolahan data. maka tingkat kesiapan paling tinggi adalah ketersediaan data dalam bentuk database. Variabel informasi yang didapat termasuk kompleks.35% dari keseluruhan tahapan system development life cycle. Tahapan analisis sistem yang menghasilkan analisis kebutuhan informasi mencakup 10%-20% dari total upaya untuk mengembangkan sebuah sistem informasi. Secara keseluruhan. Namun ketersediaan data dalam bentuk file non database tetap lebih baik dibandingkan bentuk manual. tingkat kesiapan analisis cukup tinggi. Namun. kesiapan untuk fitur reporting menjadi cukup tinggi. mengingat variabilitas format informasi yang tersedia (database 16%. Analysing Dengan kelengkapan variabel data yang dimiliki RS DS. Penyiapan Implementasi Ditinjau Dari Development Life Cycle System Upaya untuk melakukan tahap investigasi sistem yang menentukan tingkat kelayakan implementasi sistem informasi mencakup sekitar 5%-15% dari keseluruhan tahap. wilayah data manager representative dan public service center perlu diintervensi lebih lanjut untuk menyediakan data dalam format database. Ketersediaan data dalam bentuk database baru mencakup 16% dari keseluruhan data dengan kontributor terbesarnya adalah balanced scorecard dalam kriteria strategic planning. Dashboard Kesiapannya sama dengan kesiapan fitur reporting yaitu cukup tinggi. sedangkan kriteria lainnya selain business result masih perlu lebih dirinci lagi. SDM dan electronic data processing. sudah 81% data tersedia dalam bentuk laporan non manual. keberadaan business intelligenceakan sangat membantu peroses pengambilan keputusan. Bentuk file non database tetap dimungkinkan untuk diintegrasikan ke dalam business intelligence. No. Vol. Load (ETL) yang lebih lama dibanding data bentuk database. karena akan melewati beberapa masalah seperti ketidakkonsistenan primary key. Kriteria business result sudah tercakup dalam kriteria-kriteria lain. Kriteria yang mendominasi adalah process management pada variabel Proses kunci layanan RSDS.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Dari segi ketersediaan data. Data integration Dalam konteks business intelligence RS DS. ketersediaan data dalam bentuk non laporan manual yang cukup besar (81%) akan sangat membantu percepatan business intelligence. 1. laporan manual 19%. kemudian selanjutnya file database dan laporan manual. implementasi business intelligece RS DS sudah cukup layak untuk dikembangkan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Secara keseluruhan. nilai data yang tidak akurat. Jika dilihat secara keseluruhan.

Metodologi Pengembangan Sistem Informasi. Elex Media Komputindo. 5. Prentice Hall. KEPUSTAKAAN 1.. 10. 6. Melibatkan pemakai akhir dari mulai untuk menentukan persyaratan fungsional untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam implementasi sistem. Mc Leod. 4 Desember 2007 . Larissa T. Shaku. CHIP Magazine. 2007. Masing-masing penanggung jawab wilayah data menuangkan variabel informasinya dalam bentuk informasi yang terstandar menjadi bentuk database.6(1) Juni :140-144. Hal ini dilakukan untuk mempercepat implementasi dan mendapat manfaat optimal dari business intelligence. Catur. Sadikin. Edisi II. McGraw-Hill. Telkom Training Center dan Wahana Kendali Mutu. diperlukan kesepakatan mengenai konsistensi data untuk mempercepat implementasi business intelligence. New Jersey. Knowledge management yang sudah ada terus dikembangkan dan disentralisir dalam wadah aplikasi business intelligence untuk memudahkan evaluasi serta update informasi-informasi terbaru yang terus berkembang. 1998. Penyiapan Implementasi Business Intelligence 182 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. No. Leman. 3. Perlu dilakukan percepatan implementasi business intelligence untuk mendapatkan manfaat optimalnya. Ketaatan input data karyawan disertakan dalam sistem remunerasi yang saat ini sudah berjalan. dan gagasamanajemen terhadap sistem yang digunakan juga sangat diperlukan. 2. Pearson Education. 2003. utamanya bagi wilayah data yang mayoritas informasinya masih dalam bentuk laporan manual. Gambar 1 . New York. Peningkatan motivasi internal para karyawan tentang pentingnya implementasi sistem informasi di lingkungan rumah sakit serta keuntungan positif apa saja yang akan diperoleh karyawan dengan sistem informasi tersebut akan membawa dampak positif bagi kemajuan implementasi di luar pelatihan-pelatihan yang sudah rutin dilakukan saat ini. O Brien. 4. Boston. Saran Sosialisasi penggunaan sistem informasi serta pelatihannya perlu dilakukan terus. Meneruskan tahapan system development life cycle pada tahap desain sistem.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . Moss. 1998. Business Intelligence Roadmap. Business Intelligence. 2006. Bagi informasi yang ketersediaan datanya masih dalam bentuk file non database. Jakarta. Introduction to Information Systems. Management Information System.. Vol. Iskandar.. Atre. dan implementasi sistem lalu selanjutnya pemeliharaan sistem untuk percepatan implementasi business intelligence RS DS. 12th ed. 2005. Bunga Rampai Kriteria Bisnis Malcolm Baldrige National Quality Award (MBNQA).

adequate skill (83. The objective of this research is to determine factors correlating with the midwives performance at Puskesmas of South Dullah Island Sub District.4%) and adequate motivation (91. Meanwhile. Rekomendasi: Penelitian ini menyarankan bahwa untuk meningkatkan pengetahuan bidan tentang penggunaan alat dan sistem pelaporan. Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).3%). Nurhamsa Mandak2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Keywords: knowledge. 10. Nurhayani1. giving incentive/rewards to them by the head of Puskesmas to improve their performance.2 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. menunjukkan bahwa pelayanan KIA sangat mendesak untuk ditingkatkan baik dari segi jangkauan maupun kualitas pelayanannya. Maluku Tenggara 1 ABSTRACT Background: The placement program of village midwives is mostly influenced by the capability and skill of village midwives. seorang bidan harus mempunyai motivasi yang tinggi yang mendorong mereka dapat memberikan PENGANTAR Masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan masalah nasional yang perlu mendapat prioritas utama karena sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pada generasi mendatang. Hasil dan Kesimpulan: Pengetahuan. serta lambatnya penurunan kedua angka tersebut. and the health office at district must provide the minimal kit midwives. Methods: Population of this research were all the midwives staff working at Puskesmas Tual and Un at the Sub District of South Dullah Island. Kata Kunci: pengetahuan. kepala Puskesmas sebaiknya melakukan observasi secara regular. Sample adalah keseluruhan dari jumlah populasi sebanyak 32 orang. the head of Puskesmas is better to do the continuously observation about the filing of report format and the using of equipment. memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengikuti pelatihan secara terus menerus serta memberikan insentif untuk meningkatkan kinerja bidan. Metode: Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bidan yang bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan. South East Maluku Regency for year 2006.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No.3%). skill. kinerja ABSTRAK Latar belakang: Program penempatan bidan desa pada umumnya dipengaruhi oleh kemampuan dan keterampilan bidan desa itu sendiri. motivation. jam kerja. Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006. such as training. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja bidan di Puskesmas Kecamatan Pulau Dullah Selatan. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 195 . South East Maluku regency for year 2006. 4 Desember 2007 195 . skills and motivations correlate with the performance of midwives. performance pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada pasien. Seorang bidan harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kebidanan khususnya yang diperoleh dari pendidikan baik formal maupun non formal seperti pelatihan.4%) dan motivasi cukup (91. Jenis penelitian ini adalah obeservasi dengan pendekatan cross sectional study. keterampilan dan motivasi mempunyai hubungan dengan kinerja bidan. the work time didn’t have correlation with the midwives performance. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Kepada Kepala Dinas kesehatan diminta untuk menyediakan kit bidan agar dapat menjalankan tugas mereka lebih baik. sedangkan AKB di Indonesia sebesar 35/1000 kelahiran hidup dan yang terendah adalah Singapura yaitu 3/l00 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup pada tahun 2002. No. The type of this research is observational research by using the cross sectional study approach. work time. work time about five years (71. Sementara jam kerja tidak berhubungan dengan kinerja bidan. Vol.0%). The good performance of midwives were caused by the sufficient knowledge (84. Therefore a midwife has to have adequate knowledge about the midwifery particularly obtained from the formal and non formal education. keterampilan. Participants obtained were 32 respondents. Results and Conclusion: Knowledge. Makassar 2 Puskesmas Tual.3%).1 Negara kita AKI masih menduduki urutan tertinggi di negara ASEAN. South East Maluku Regency for year 2006. a midwife must have the high motivation which drives them to give the better service to patients. Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006. waktu kerja sekitar lima tahun (71.0%).3%). Namun demikian. Nevertheless. 307/100.200 Artikel Penelitian DETERMINAN KINERJA BIDAN DI PUSKESMAS TAHUN 2006 DETERMINANT OF MIDWIVES PERFORMANCE AT PUBLIC HEALTH CENTRE AT 2006 Sukri Palutturi1. giving training continuously to all midwives. motivasi. Sample were all the midwives staff giving the midwifery service and working at Puskesmas Tual and Un at the Sub District of South Dullah Island. keterampilan cukup (83. Recommendation: The research suggests that to improve the knowledge of midwives about the equipment use and reporting their task. Kinerja bidan yang baik dipengaruhi oleh pengetahuan yang cukup (84.

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan merupakan sekumpulan bahan yang luas dengan hal-hal yang terperinci yang tetap dipelajari sebelumnya serta mengingatkan hal tersebut sebagai bahan yang sudah diketahui. Keberhasilan program penempatan bidan di desa sangat dipengaruhi kemampuan dan keterampilan bidan di desa di samping faktor lingkungan dan faktor kebutuhan masyarakat itu sendiri..66%). Untuk itu sejak tahun 1990 telah ditempatkan bidan di desa yang pada tahun 1996 telah mencapai target 54.10%).719 atau 80% dan K4 22. penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia yaitu indera penglihatan.000 kelahiran hidup dan AKB dari 35/100. Kesehatan ibu hamil dapat dicapai bila kehamilan diperiksa secara teratur dan risiko yang ditemukan ditangani secara memadai.000 kelahiran hidup menjadi 20/1000 kelahiran hidup. Secara nasional tahun 1999 K1 (92. pendengaran. 4 Desember 2007 . Vol. dan AKI terbanyak di Kabupaten Maluku Tenggara sebanyak 10/kelahiran hidup. penciuman rasa dan raba. sehingga dengan demikian dapat memberikan dampak yang positif sesuai dengan bidang ilmu yang dimilikinya.000 kelahiran hidup tahun 2015.829 atau 62% cakupan TT1 27.2 Salah satu upaya yang dilakukan Departemen Kesehatan dalam mempercepat penurunan AKI adalah mendekatkan pelayanan kebidanan kepada setiap ibu yang membutuhkannya. cakupan tablet Fel (77. bayi dan anak balita. Masih tingginya AKB dan AKI menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan masih belum memadai dan belum menjangkau masyarakat banyak. Oleh karena itu.120 bidan di desa.000 kelahiran hidup. seperti pelatihan.Untuk itu diperlukan tenaga bidan yang memiliki kualitas profesional yang dapat memberikan pelayanan kebidanan yang efektif dan efisien serta berkualitas yang akhirnya dapat membantu memperbaiki dan meningkatkan kesehatan masyarakat dengan berorientasi pada upaya-upaya pencegahan baik pencegahan primer.5 Berdasarkan laporan yang ada pada Dinas Kesehatan di Provinsi Maluku dari 5 Kabupaten Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2005 sebanyak 36/100.sekunder dan tertier. Selain itu seorang bidan juga harus memiliki motivasi yang tinggi sehingga timbul dorongan dalam dirinya untuk memberikan pelayanan kebidanan yang baik kepada pasien.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas . dan AKB terbanyak di Kabupaten Maluku Tenggara sebanyak 45/kelahiran hidup dengan cakupan KI 27. standar untuk cakupan Kl yaitu minimal 90% dan K4 minimal 80%. Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek.47%)dan Fe3 (63. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga baik melalui pendidikan formal maupun non formal. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa hampir semua desa di wilayah Indonesia mempunyai akses untuk pelayanan kebidanan.kelainan yang mungkin terjadi pada saat kehamilan atau menjelang kelahiran. Peningkatan kesehatan ibu dan bayi di Indonesia adalah salah satu komitmen Departemen Kesehatan melalui penerapan rencana pengurangan angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi dan target untuk menurunkan AKI dari 307/100.408 atau 62% dan K4 2871 atau 52% cakupan Fel 3.719 atau 80% dan Fe3 22.000 kelahiran hidup tahun 2005 dan 75/100.829 atau 62% cakupan Fe1 27.10%) dan TT2 (78. Tindakan (KI-K4) yang diberikan oleh petugas kesehatan (bidan) pada saat pemeriksaan kehamilan seorang ibu di pusat pelayanan kesehatan (puskesmas) akan banyak berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya karena dengan pemeriksaan yang lengkap akan mudah mendeteksi kelainan .719 atau 80% dan TT2 22. dan cakupan TT 1 (85.4 Jadi pengetahuan dapat diartikan sebagai hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan pada objek tertentu. disiplin dan motivasi tenaga bidan yang tinggi dalam pelayanan kebidanan bagi masyarakat merupakan harapan bagi semua pengguna pelayanan kebidanan. sedangkan target Internasional AKI di bawah 125/100.000 kelahiran hidup menjadi 225/100. Seseorang bidan dituntut untuk menggunakan kemampuan dalam berbagai aspek kehidupan khususnya dalam memberikan pelayanan pada pasien.45%). 10.829 atau 62%. Selain itu.6 (Profil Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara). dkk. AKB pada tahun 2005 sebanyak 82/100.000 kelahiran hidup. Di 196 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. No.. Namun bidan di desa yang sudah ditempatkan belum didayagunakan secara optimal dalam upaya menurunkan AKI dan AKB.408 atau 62% dan Fe3 2871 atau 52% cakupan TT1 3. seorang bidan harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai keperawatan khususnya kebidanan baik yang diperoleh melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal.408 atau 62% dan cakupan TT2 2871 atau 52%. dan AKB menjadi 15/1000 kelahiran hidup. Untuk itu diperlukan suatu instrumen untuk memantau kinerja bidan di desa.1 Keberhasilan seseorang dalam mewujudkan tujuan dan harapannya sangat ditentukan oleh masa kerja yang dimiliki.72%) dan K4 (75.3 Penempatan bidan di desa adalah upaya untuk menurunkan AKI. khususnya dipedesaan.5 Di Kabupaten Maluku Tenggara yang terdiri dari 17 puskesmas dengan cakupan K1 3.Sukri Palutturi.

8 10 31.7 22 68. untuk cakupan pemeriksaan ibu hamil atau KI sebesar 70.7 Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan pendekatan Cross Sectional Study7 untuk mengetahui hubungan pengetahuan. keterampilan.7%) memiliki kinerja kurang. Ketiga.7%) memiliki kinerja kurang. Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan pada Puskesmas Tual dan Un Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara dengan pertimbangan belum pernah dilakukan penelitian tentang kinerja tenaga bidan di lokasi tersebut.0%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (16. Hasil dari penelitian diuraikan pada tabel dan penjelasan berikut. 10. Kedua: deskriptif variabel penelitian yaitu variabel independen mengenai pengetahuan. yaitu dengan menggunakan komputer (program SPSS versi 11. Sampel adalah semua tenaga bidan yang melakukan pelayanan kebidanan dan bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006.1 21. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan antenatal belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.1%) dengan pengetahuan yang cukup terdapat 21 responden (84. Penyajian data yang telah diolah. 4 Desember 2007 197 . A. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kinerja tenaga bidan dalam pelaksanaan standar pelayanan kebidanan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan tahun 2006. sedangkan dari 7 responden dengan pengetahuan yang kurang terdapat 1 responden (14.3 6 85. Untuk lebih memperjelas hasil pemaparan penelitian maka dibagi dalam tiga bagian yaitu pertama: karakteristik responden untuk mendeskripsikan karakteristik responden yaitu tingkat pendidikan dan umur.3%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (85. Populasi dan sampel Populasi adalah semua tenaga bidan yang bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006 dengan total sampel sebanyak 32 bidan.0 4 16.5). Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 Pengetahuan Cukup Kurang Total Kinerja Baik Kurang n % n % 21 84.0 1 14. keterampilan. sedang dari 8 responden dengan keterampilan kurang Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.0%) dengan keterampilan yang cukup terdapat 20 responden (83.14% dan cakupan TT2 65%. Cakupan K1 ini dapat menggambarkan tingkat upaya kesehatan ibu dan anak dan perilaku kesehatan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya. Vol. dilakukan dalam bentuk cross tabel dan narasi.10% dan cakupan Fe 3 65% sedangkan cakupan TT 1 70. masa kerja dan motivasi dan variabel dependen yaitu kinerja. Penelitian dilaksanakan mulai bulan April 2006 sampai dengan bulan Mei 2006. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kecamatan Pulau Dullah Selatan (Puskesmas Tual dan Un).05 ) maka Ho ditolak. Besar sampel sebanyak 32 responden bidan dengan menjawab pertanyaan yang diberikan pada kuesioner. Hubungan keterampilan dengan kinerja bidan Tabel 2 menunjukkan dari 24 responden (75.0%) memiliki kinerja kurang. Pengolahan dan penyajian data Pengolahan data dilakukan dengan cara elektronik. Total sampel yang diperoleh sebanyak 32 bidan. Hal ini berarti ada hubungan antara pegetahuan dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Metode pengumpulan data Data ini diperoleh dengan cara observasi atau pengamatan terhadap kegiatan pemeriksaan ibu hamil yang dilakukan oleh tenaga bidan. motivasi dan kinerja bidan di Puskesmas Tual dan Un Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. cakupan Fe l 60. Data sekunder diperoleh dari laporan cakupan program KIA (PWS KIA) Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.3%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (16. Tabel 1. Hubungan pengetahuan dengan kinerja bidan Tabel 1 menunjukkan dari 25 responden (78. tabulasi silang antara variabel independen dengan variabel dependen.14% dan cakupan K4 65%. masa kerja. No.3 Total n 25 7 32 % 78.9 100 Sumber : Data Primer B.000 ( p< 0. di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.

6 36.6 68.1 8 88. Pengetahuan dengan kinerja bidan Pengetahuan adalah apa yang diketahui dan mampu diingat oleh setiap orang setelah mengalami. sedang dari 11 responden dengan masa kerja yang tidak lama terdapat 7 responden (63.0 22 68. faktor organisasi yang terdiri dari: kepemimpinan dan struktur imbalan/kompensasi serta faktor-faktor psikologis yang meliputi: motivasi dan kepuasan kerja.4%) memiliki kinerja kurang.0%) yang mempunyai kinerja kurang. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.7 2 25.05) maka Ho diterima. sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing. Tabel 2. No. Tabel 3.000 (p< 0. Hal ini berarti tidak ada hubungan masa kerja dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.0%) yang memiliki kinerja yang baik sedangkan dengan pengetahuan yang kurang menyebabkan 4 bidan (16. terdapat 2 responden (25.0%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (75.7 23 71. dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal.0%) memiliki kinerja kurang.4 31. tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral atau pun etika.05 ) maka Ho ditolak.3 2 8. Hasil penelitian menunjukkan dengan pengetahuan yang baik sebanyak 21 bidan (84.6%) dengan masa kerja yang lama terdapat 15 responden (71.9%) dengan motivasi yang cukup terdapat 21 responden (91. Hubungan Motivasi dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 Kinerja Total Motivasi Baik Kurang n % n % n % Cukup 21 91. Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi. Hubungan masa kerja dengan kinerja bidan Tabel 3 menunjukkan dari 21 responden (65. Hasil penelitian terhadap kinerja bidan pada bagian sebelumnya memberikan acuan untuk membahas keempat faktor tersebut terhadap kinerja.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas . adanya motivasi yang kuat merupakan pendorong yang memadai serta adanya kepemimpinan dan bidan itu sendiri.3 4 16.9 9 28.7%) memiliki kinerja kurang.3%) memiliki kinerja baik dan 2 responden (8. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.Sukri Palutturi.9 Kinerja seseorang terkait erat dengan proses kerja dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Pembahasan lebih lanjut sebagai berikut.4 100 PEMBAHASAN Kinerja adalah penampilan hasil kerja personal baik kualitas maupun kuantitas dalam suatu organisasi.4%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (28. menyaksikan.652 (p> 0. Tabel 4. Hal ini berarti ada 198 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.8 10 31.9%) memiliki kinerja kurang. faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja meliputi faktor individu keterampilan.8 10 31.8 Kurang n % 6 4 10 28. 1. Hubungan motivasi dengan kinerja bidan Tabel 4 menunjukkan dari 23 responden (71. 10. Untuk kinerja bidan maka faktor yang paling berpengaruh dan merupakan faktor kunci untuk mencapai hasil kerja yang baik harus memiliki kemampuan dan keterampilan yang baik..0 6 75.9 Kurang 1 11. Vol.002 ( p< 0. mengamati atau diajar sejak lahir sampai dewasa. Dalam penelitian ini. Hasil uji statistik menunjukan bahwa ada hubungan antara Sumber : Data Primer d.0 25.05) maka Ho ditolak.0 100 Sumber : Data Primer C.4 63.6%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (36. Hal ini berarti ada hubungan antara keterampilan dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.6 34. dkk.1%) memiliki kinerja baik dan 8 responden (88.3 n 21 11 32 Total % 65. khususnya setelah diberikan pendidikan formal maupun non formal.1 Total 22 68. Hubungan Keterampilan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 hubungan antara Motivasi dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.6%) memiliki kinerja kurang. Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006 Masa Kerja (Tahun) Lama (> 5 tahun) Tidak Lama (< 5 tahun) Total Kinerja Baik n 15 7 22 % 71.3 Total n 24 8 32 % 75.3 32 100 Sumber : Data Primer Keterampilan Cukup Kurang Total Kinerja Baik Kurang n % N % 20 83. sedang dari 9 responden dengan motivasi yang kurang terdapat 1 responden (11. 4 Desember 2007 .

1%). 4. akan bekerja lebih terarah. Motivasi dengan kinerja bidan Motivasi adalah kesiapan khusus seseorang untuk melakukan atau melanjutkan serangkaian aktivitas yang ditujukan untuk mencapai beberapa sasaran yang telah ditetapkan. Bidan yang mempunyai kinerja baik lebih banyak memiliki motivasi cukup (91.6%) dengan kinerja yang kurang. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara keterampilan dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki Masa kerja hampir sama antara yang telah bekerja selama 5 tahun atau lebih (71. Dari hasil penelitian menunjukkan bidan yang telah mengikuti pelatihan yang sesuai dengan tugasnya sehari-hari.6%). kebutuhan. Hasil penelitian menunjukkan dari 21 bidan yang masa kerja lama sebanyak 15 bidan (71. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Saran Diharapkan kepala Dinas Kesehatan Kabupaten untuk memberikan pelatihan secara kontinyu kepada semua bidan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pulau Dullah Selatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan bidan dalam menerapkan standar pelayanan kebidanan yang baik. Diharapkan Kepala Puskemas untuk melakukan pemantauan secara berkala terhadap bidan tentang pengisian format laporan dan penggunaan peralatan serta cara pelayanan dalam menggunakan standar pelayanan kebidanan. Hal ini disebabkan pelatihan memiliki arti yang luas bahwa sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan SDM terutama di dalam hal pengetahuan.3%) yang memiliki kinerja baik dan dengan motivasi yang kurang terdapat 2 bidan (8.4%). Masa kerja dengan kinerja bidan Masa kerja merupakan suatu proses pendidikan formal untuk mengubah.4%). Vol. Pengadaan minimal bidan kit kepada semua bidan yang bertugas oleh Dinas Kesehatan sehingga bidan dapat melaksanakan standar pelayanan kebidanan dengan baik.4%) dengan kinerja baik dan sebanyak 6 responden (28.12 Hasil penelitian menunjukkan dengan keterampilan bidan yang baik sebanyak 20 bidan (83. memperbaiki.13. kemampuan dan keterampilan. dan kesukaan) yang menimbulkan dorongan atau semangat untuk bekerja keras. lebih lancar dalam melaksanakan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.7%) memiliki kinerja kurang. 4 Desember 2007 199 . Dari hasil penelitian diperoleh distribusi terbesar sebagian besar responden telah bekerja =5 tahun sebanyak 21 responden (65.3%) dibanding pengetahuan kurang (14. 10. meningkatkan dan mengembangkan kemampuan personil dalam jangka waktu relatif singkat yang mengutamakan pengetahuan praktis sehingga personil dapat melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.11. No. 3. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara massa kerja dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. dibanding dengan bidan yang telah bekerja kurang dari 5 tahun (63. Agar Kepala Puskesmas memperhatikan pemberian insentif kepada semua bidan dan penghargaan kepada bidan yang mempunyai prestasi sehingga dapat menjadi salah satu pemicu peningkatan kinerja mereka. kemudian selama <5 tahun sebanyak 11 responden (34. Masa kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah khusus pelatihan tentang standar pelayanan kebidanan. Keterampilan bidan berhubungan dengan kinerja bidan. Keterampilan dengan kinerja bidan Menjalankan tugas dan tanggung jawab secara profesional dengan melaksanakan fungsi sebagai bidan menuntut suatu keterampilan sebagai bidan yaitu merencanakan asuhan keperawatan sesuai dengan hasil pengkajian kebutuhan dan masalah keperawatan kebidanan.3%) memiliki kinerja yang baik sedangkan dengan keterampilan yang Baik sebanyak 4 bidan (16. dan mereka dapat menampilkan kinerja yang baik pula. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki pengetahuan cukup (84. 10. Masa kerja bidan tidak berhubungan dengan kinerja bidan. Motivasi berhubungan dengan kinerja bidan.3%) dibanding yang memiliki motivasi kurang (11. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pengetahuan bidan berhubungan dengan kinerja bidan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pengetahuan dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara 2.0%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara motivasi dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.14 Hasil penelitian menunjukkan dengan motivasi yang baik sebanyak 21 bidan (91.6%).3%). harapan. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki keterampilan cukup (83. Akan halnya motivasi kerja adalah sesuatu hal yang berasal dari internal individu (keinginan.7%) memiliki kinerja kurang.3%) dibanding keterampilan kurang (25.

Jakarta: 1999. Jakarta. 1994. Vol. Jakarta. 10. KEPUSTAKAAN 1. Jakarta. Notoadmojo. Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara. Depkes RI. Panduan Kesehatan dan Alternatif Mobilisasi Dana Kesehatan di Indonesia. Jakarta. Kebijakan Kinerja Karyawan. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan. Ilyas. Sugiono. Prawirosentono. 4. Mei 1999. 10. Profil Puskesmas Tual dan Un. Ilyas. Depkes. Penelitian). Yogyakarta. Penilaian. No. Rineka Cipta.. RI. S. Kinerja (Teori. 3. 2005. FKMUI. 1999. dkk. Kode etika kebidanan. Puskesmas Tual dan Un. Profil Kesehatan Indonesia. Penilaian. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan Depok. Jakarta. Penelitian). cetakan kedua. 11. Bandung. Depkes RI. Metode Penelitian Administrasi. 1999. 4 Desember 2007 . IBI. 1999. 12.cgi?newsid 1087441546.40265. Maluku Tenggara. 8. FKMUI. Menekan angka kematian ibu dan anak.net/cgi-bin/berita/fullnews. Cetakan I. 2005. 5. 14. Panduan Bidan di Desa Bagian I & II. Y. Bali. Y. Cetakan II.Sukri Palutturi. 200 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2. Alfabeta. 13. 2005. Ikatan Bidan Indonesia. 1999. 2000. Profil Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara. Metodologi penelitian kesehatan. Kinerja (Teori. Jakarta.T. 7. diakses pada 3 Maret 2006 di http:// www. P. Gizi Net. 6. Maluku Tenggara.. Thabrany H. Panduan Bidan Tingkat Desa. S. 9.gizi. Depok. 2003. Profesi Kebidanan.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas . 2001.

Bab 5. menguraikan mengenai tinjauan pendekatan yang digunakan. No. Kegiatan yang dimaksud mencakup 11 kegiatan yaitu : mengidentifikasikan kebutuhan dan prioritas dari misi USAID. Aktivitas keenam adalah membuat jadual dan menyusun rencana pertemuan dengan tim. Aktivitas kesembilan adalah mengatur menyiapkan workshop dengan stakeholder terkait. merupakan pengantar yang mengulas mengenai pengenalan terhadap kekuatan sistem kesehatan. Bahasan kedua menguraikan mengenai stewardship (dalam hubungannya dengan pemerintahan). Bahasan kedua dan keempat merupakan tahapan dalam pengembangan rekomendasi. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan pertama merupakan pengantar. membahas mengenai modul utama. Bab 3. kebijakan dan advokasi. Secara umum buku ini memaparkan mengenai alat (tools) dalam penilaian cepat terhadap fungsifungsi kunci sistem kesehatan mencakup: pemerintahan. manajemen farmasi dan perbekalan kesehatan serta sistem informasi kesehatan. Phase 4. pembiayaan kesehatan. Bab ini terdiri dari dua belas sub bahasan. Aktivitas terakhir adalah menyiapkan laporan penilaian. membahas mengenai persiapan dan implementasi bagian pengesahan. Bahasan keempat menjelaskan mengenai sumber daya manusia dan sumberdaya fisik lainnya.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 10 No. Kegiatan selanjutnya adalah mempersiapkan penaksiran anggaran. Aktivitas keempat adalah memasang penaksiran tim beserta tanggung jawab dari masing-masing personil dari tim. 10. Bahasan kedua sampai kedua belas merupakan latihan atau kegiatan. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan kedua memaparkan mengenai kerangka kerja konseptual dalam pendekatan penilaian sistem kesehatan. konsep yang sejalan dengan WHO dan disertai contoh-contoh aplikasi sistem kesehatan di beberapa negara menjadikan buku ini sangat mudah dipahami dan aplikatif. Aktivitas kedelapan adalah menyiapkan daftar contact person dan daftar narasumber untuk melakukan wawancara. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan rekomendasi melalui penilaian modul. pelayanan kesehatan. 4 Desember 2007 201 . Masing-masing fungsi sistem kesehatan ini diuraikan di masing-masing bab secara lebih detil. Dalam bab ini dibahas tujuh sub pokok bahasan. dan penilaian terhadap penentuan waktu. kerangka waktu. Aktivitas ketujuh adalah mengumpulkan dan mereview materi latar belakang. Phase 2. Konsep yang digunakan dalam buku ini juga sejalan dengan apa yang digunakan oleh WHO terhadap konsep sistem kesehatan. Vol. yaitu bahasan pertama merupakan pengantar mencakup definisi sistem Kesehatan dan penguatan sistem kesehatan. Phase 3. Penggunaan bahasa yang mudah dimengerti. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan kesimpulan awal untuk masing-masing modul. Bab 1. Phase 1. SDM kesehatan. Komponen Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.202 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Buku Pengarang Penerbit Tahun Tebal : : : : : Health Systems Assessment Approach : A How to Manual USAID Mursaleena Islam 2007 374 halaman B uku ini terdiri dari 11 bab. Bahasan terakhir menjelaskan mengenai strategi dalam penguatan sistem kesehatan beserta implikasinya. Bab 4. Bab ini terdiri dari lima sub bahasan. 04 Desember 2007 Halaman 201 . membahas mengenai perencanaan dan penyusunan penilaian. kesepakatan terhadap ruang lingkup. Bab ini terdiri dari tiga sub bahasan. Bahasan keenam memaparkan mengenai sistem informasi kesehatan. membahas mengenai penemuanpenemuan final dan rekomendasi dari beberapa penilaian laporan. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan kedua dan ketiga merupakan komponen dari modul utama. Bab ini terdiri dari empat pokok bahasan. Bahasan ketiga menguraikan mengenai tinjauan terhadap modul teknis dan bahasan terakhir menguraikan mengenai hasil yang diharapkan dari penilaian. Bahasan ketiga menguraikan mengenai pembiayaan kesehatan. Bahasan kelima menjelaskan mengenai manajemen dan organisasi untuk pelayanan kesehatan. Aktivitas kelima adalah menyiapkan ceklis logistik. Aktivitas kesepuluh adalah melakukan wawancara akhir sesuai kebutuhan. Bab 2.

pendapatan dan ketidak adilan.com 202 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Bab ini terdiri dari empat sub pokok bahasan. membahas mengenai modul pelayanan kesehatan. No. Rimawati (Divisi Public Health Policy) rima_mhugm@yahoo. yaitu Bab 11. pemetaan donor/pemberi dana serta keterkaitan dari masing-masing donor atau pemberi dana. lingkungan bisnis dan suasana investasi. Bahasan pertama merupakan pengantar. kelembagaan lembaga pemerintah dan kelembagaan swasta yang terkait dengan sistem pelayanan kesehatan. Bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil pembiayaan kesehatan. akademisi dan pengajar terkait dengan seluk-beluk mengenai sistem kesehatan dan komponen pembentuk sistem. bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil sumberdaya manusia. Bahasan ketiga membahas mengenai penilaian berdasarkan indicator. membahas mengenai modul pembiayaan kesehatan. Bab 10. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. Sub bahasan pertama merupakan pengantar. membahas mengenai modul pemerintahan. Secara keseluruhan buku ini sangat bagus sekali sebagai tambahan bahan referensi bagi pakar. Bab 7. Bahasan ketiga menguraikan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan bahasan terakhir merupakan kesimpulan dan beberapa penyusunan rekomendasi. Sub bahasan terkhir menjelaskan mengenai kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi terkait mengenai sistem informasi kesehatan. Bahasan ketiga menjelaskan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Pembahasan pertama mengenai pengantar. Vol. pembahasan kedua penyusunan profil mengenai manajemen farmasi. bahasan kedua menjelaskan mengenai penyusunan profil sistem informasi kesehatan. angka kematian. kelembagaan pelayanan kesehatan. Bab 8. menguraikan mengenai modul sistem informasi kesehatan. Bahasan ketiga mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir mengenai kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Bahasan ketiga menjelaskan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil pelayanan kesehatan. memaparkan mengenai modul manajemen yang berkaitan dengan farmasi. Pada bagian akhir. Bahasan ketiga menguraikan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan bahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Bab 6. kesehatan reproduktif. Sementara komponen kedua memuat mengenai: politik dan lingkungan makroekonomi.Resensi pertama memuat mengenai : pertambahan penduduk. 4 Desember 2007 . Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. Bab ini terdiri dari 4 sub pembahasan. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan kedua menjelaskan mengenai penyusunan profil pemerintahan. membahas mengenai modul sumber daya manusia kesehatan. Bab 9. Selanjutnya yang termasuk dalam komponen kedua ini adalah desentraliasi. 10. Karena di dalam buku ini dikupas secara detil dan jelas komponen demi komponen pembentuknya. Pembahasan pertama merupakan pengantar. penyebab utama mortalitas dan morbiditas. konsultan. peneliti. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan.

allowance as non-permanent personnel. stated that the income covers main salary. the state of being placed. Their willingness will differ from living in outside of West Java or within West Java. incentive or salary is also one reason why among non-permanent doctors are unwilling to extend their contractual period. Issue relating to non-permanent contractual placement among medical doctor does not become current issue anymore although nowadays this problem still happens.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 10 No. Incentive has a significant role to raise their performance. As cited for instance in Health Minister Decree of Republic of Indonesia No. but its problem is that the local governments have different ability to finance their region including salary staff.1 Therefore 'assignment' is related to task.2% of females who is unwilling to extend their contract are people living in outside of West Java or within West Java.2 Therefore 'placement' is related to place or location (such as urban and rural).217 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo. 'Assignment' means "an undertaking you have been assigned to do (as by an instructor). allowance for doctors placed in remote and very remote area. WordReference. hospital for disaster aid (article 12).bnet.2% of females who is unwilling to extend their contract are people getting married or still single. Probably. incentive and other allowances. Therefore. These will affect the willingness to extend their contract. Nita Arsanti. allowance for tax income.com/definition/ placement. Others become the local government's responsibility.com PREDICTING WILLINGNESS TO EXTEND CONTRACTUAL ASSIGNMENT AMONG MEDICAL DOCTOR IN WEST JAVA Written by Irvan Arfandi. 2008 from http:// www. Medical doctors nominated by central government are only undertaken in particular rural and remote area. 4 Desember 2007 . whether 64. & Deni Kurniadi Sunjaya in the Journal of Health Service Management.com/definition/assignment 2. 2008 from http://dictionary. Vol. for instance. Placement and assignment are 2 words having different meaning. In addition. 10/No. retrieved April 13. provincial/ district/city region with high potencies to get conflict. retrieved April 13. Moreover on districts/cities having income is low. some doctors prefer for doing private doctor or other businesses.4 This study will be better if the individual background of non-permanent doctors is retested to determine. and attendance at monthly meeting has greater coverage than non-contracted group. I agree with writers that in decentralization era. medical record within 12 hours. A research conducted shows that hospitalists Appling incentive system such as incentive for meeting standard. No. The other definition 'assignment' means the instrument by which a claim or right or interest or property is transferred from one person to another. 'placement' means the act of placing or putting in place. or whether 64. This study mentions that is only one third of all nonpermanent personnel among medical doctor want to extend their contractual period.wordreference. 1540/Menkes/SK/XII/2002 regarding the placement of medical workforce through service period and other schemes there are two types of non. the act of locating or positioning. 2/Juni/2007 I prefer to use "placement" or "deployment" in non-permanent contractual placement than non-permanent contractual assignment. Elsa Pudji Setiawati. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1540/Menkes/SK/XII/2002 tentang Penempatan Tenaga Medis melalui 216 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.com English Dictionary. 04 Desember Korespondensi 2007 Halaman 216 . Meanwhile. References: 1. proposed the local government and states that they are not able to nominate non-permanent personnel. That means this problem still need better attention either the central government or the local government.3 Although in the article 7 stated that income or salary for non-permanent personnel is allocated by the central government. BNET Business Dictionary.html 3. That is normal because they do not have any guaranty to get well income. the local government has an important role in medical doctor placement including non-permanent personnel. 10.permanent personnel: selected by the central government and the local government in district/city/provincial government (article 8). Vol.

(2007). 10..Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 4. Sukri Palutturi Health Policy and Administration Department Faculty of Public Health Hasanuddin University Email: sukri_tanatoa@yahoo.com Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 4 Desember 2007 217 . Vol. 1540/ Menkes/SK/XII/2002 regarding the placement of medical workforce through service period and other schemes). masa Bakti dan Cara Lain (Health Minister Decree of Republic of Indonesia No.U. Collier. Philadelphia: The American Clinical and Climatological Association. V. No. Use of Pay for Performance in a Community Hospital Private Hospitalize Group: A Preliminary Report.

Gde Muninjaya Budaya Organisasi dan Mindset Petugas Penanggulangan Tb Paru Melalui Strategi Dots di Puskesmas Labibia Kota Kendari Asiah Hamzah. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 205 . Sri Suryawati Survei Pasar Jaminan Kesehatan Sosial Bali A.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. Nirmala Trisna. 10. Mubasysyir Hasanbasri Resensi Buku Redefining Health Care: Creating Value-Based Competition on Results Trisasi Korespondensi Koordinasi Lintas Sektoral pada Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi di Kabupaten Sleman Chriswardhani Suryawati 01 03 11 20 29 40 46 52 53 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Purnawan Junadi Pengaruh Penyerahan Dana dan Pengelolaan Asuransi Kesehatan Sepenuhnya Kepada Puskesmas Terhadap Efisiensi Pengadaan dan Mutu Penggunaan Obat Neti Viperiati. A. 4 Desember 2007 205 . Laode Bariun Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survai Sosial Ekonomi Nasional 2001 Jati Untari. I. Dumilah Ayuningtyas. No. Sukri. Vol.214 Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. Persepsi. dan Pelaksanaan Manajemen Risiko Klinis di Lima Rumah Sakit di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Banten Tahun 2005 Arjaty Daud. A. 10/NO 01/MARET/ 2007 Editorial Memperbesar Peran Ahli Kebijakan dan Ahli Manajemen Pelayanan Kesehatan di Indonesia Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit sebagai Persyaratan Badan Layanan Umum dan Sarana Peningkatan Kinerja Tjahyono Kuntjoro. Hanevi Djasri Artikel Penelitian Pengetahuan. A.

Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. Ali Gufron Mukti. 10/NO 02/JUNI/ 2007 Editorial Kebijakan Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin: Saatnya untuk Melakukan Evaluasi Menyeluruh Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Pendekatan Sistem dalam Perencanaan Program Daerah Mubasysyir Hasanbasri Artikel Penelitian Evaluasi Praktik Donasi Obat Pascatragedi Bom Bali Ida Prista Maryetty. Vol. 10. Anis Fuad. Sri Suryawati Analisis Besaran Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali I Gede Santabudi Samba. No. Julita Hendrartini Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah Shinta Wardhani Suryanegara. 4 Desember 2007 . Adi Utarini Implementasi Posyandu dan Supervisi oleh Puskesmas di Pontianak Yuliastuti Saripawan. Mubasysyir Hasanbasri Resensi Buku Know How: The 8 Skills That Separate People Who Perform From Those Who Don’t Putu Eka Andayani Korespondensi Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah Rimawati 55 56 64 72 79 85 90 98 101 206 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Wiku Adisasmito Efisiensi Pemanfaatan Rumah Sakit Umum Daerah di Provinsi Sumatera Barat dengan Data Envelopment Analysis Asmaliza.

10. Deni Kurniadi Sunjaya Perbandingan Efisiensi dan Efektivitas Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan dengan Lelang. 10/NO 03/SEPTEMBER/ 2007 Editorial Situasi Survailans yang Belum Menggembirakan Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Cost Effectiveness Analysis dalam Penentuan Kebijakan Kesehatan: Sekedar Konsep atau Aplikatif? Ari Probandari Artikel Penelitian Evaluasi Continuous Quality Improvement (Cqi) di Rumah Sakit yang Mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu Iso 9000 di Indonesia Chatila Maharani. Sunartono. Julita Hendrartini Predicting Willingness to Extend Contractual Assignent among Medical Doctors in West Java Irvan Afriandi. Tjahjono Kuntjoro. Nita Arisanti. Vol. dan Kemitraan Sri Winarni.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS DAFTAR ISI VOL. Hanevi Djasri Proses Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja di Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2006 Durachman. Elsa Pudji Setiawati. 4 Desember 2007 207 . No. Sri Suryawati Pengembangan Proses Verifikasi Pra-Operasi untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Rizaldy Pinzon Kajian Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Making Pregnancy Safer di Daerah Miskin Pedesaan Oktarina. Ristrini Resensi Buku Getting to Yes: Teknik Berunding Menuju Kesepakatan Tanpa Memaksakan Widya Febryanti Korespondensi Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survei Sosial Ekonomi Nasional 2001 Deni Harbiyanto 103 104 108 117 124 132 143 148 154 156 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Penunjukan Langsung.

Didik Budijanto Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Misnaniarti Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Raditya asri wisuda. 10 /NO 04/DESEMBER/ 2007 Editorial Kebijakan Contracting Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: Dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik) Siswanto Artikel Penelitian Dampak Kemitraan Praktisi Swasta Terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar. Nurhayani. 10. Yodi Mahendradhata. Pembelajaran Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Evie Sopacua. dumilah ayuningtyas Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006 Sukri Palutturi. Adi Utarini Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan. Nurhamsa Mandak Resensi Buku Health Systems Assessment Approach: A How to Manual Korespondensi Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctor in West Java Sukri Palutturi 157 159 166 173 181 189 195 201 203 208 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 4 Desember 2007 . Vol. No.Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. Bali Luh Putu Sri Armini.

A. Kuntjoro. Getting to Yes: Teknik Berunding Menuju Kesepakatan Tanpa Memaksakan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS PENULIS Adisasmito. T. Maharani. Afriandi. 10. Hamzah. 4 Desember 2007 209 . Lihat. W. Know How: The 8 Skills That Separate People Who Perform From Those Who Don’t. Armini. Lihat. 10(03): 154-Rb. 10(01): 11-Ap. Djasri. Sopacua. Suryanegara. Daud. Bali. 10(02): 98-Rb. W. I. Lihat. Afriandi. Dampak Kemitraan Praktisi Swasta Terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar. S. 10(04): 166-Ap. N. W. Lihat. Lihat. Durachman Proses Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja di Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2006. Vol. 10(02): 85-Ap. Lihat. D. Budijanto. Asmaliza Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Daud. 10(03): 117-Ap. Asmaliza Efisiensi Pemanfaatan Rumah Sakit Umum Daerah di Provinsi Sumatera Barat dengan Data Envelopment Analysis. Fuad. D. dan Pelaksanaan Manajemen Risiko Klinis di Lima Rumah Sakit di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Banten Tahun 2005. Lihat. Lihat. A. Wisuda. Ayuningtyas. Pengetahuan. R. H. L. I. A. P. Bariun. E. Andayani. Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctors in West Java. Arisanti. C. Lihat. E. P. 10(03): 124-Ap. S. A. L. Febryanti. A. No. Persepsi.

Mahendradhata. N. Nurhayani Lihat. Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survei Sosial Ekonomi Nasional 2001. Maharani. J. Kuntjoro. Maharani. S. D. G. A. Lihat.Indeks Hamzah. 10(02): 56-Mk. Vol. A. Untari. 10(04): 181-Ap. G. A. A. Muninjaya. M. Budaya Organisasi dan Mindset Petugas Penanggulangan Tb Paru Melalui Strategi Dots di Puskesmas Labibia Kota Kendari. C. 4 Desember 2007 . 10(03): 148-Ap. Lihat. S. Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit sebagai Persyaratan Badan Layanan Umum dan Sarana Peningkatan Kinerja. Palutturi. Samba. 10(03): 108-Ap. 10(02): 64-Ap. Hasanbasri. Maryetty. Daud. N. S. A. Samba. Lihat. S. 10(01): 40-Ap. I. P. Mukti. L. I. Lihat. Palutturi. Mandak. A. Harbiyanto. Pendekatan Sistem dalam Perencanaan Program Daerah. Y. Evaluasi Praktik Donasi Obat Pascatragedi Bom Bali. A. Lihat. Oktarina Kajian Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Making Pregnancy Safer di Daerah Miskin Pedesaan. Armini. Lihat. Saripawan. G. 10(01): 03-Mk Lihat. No. 210 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. J. Lihat. G. Lihat. I. 10. T. P. Misnaniarti Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung. Trisna. Hendrartini. P. 10(03): 156-Koresp. Evaluasi Continuous Quality Improvement (CQI) di Rumah Sakit yang Mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu ISO 9000 di Indonesia. Y. C. I. S. Durachman Junadi. Lihat.

Lihat. K. Afriandi. 10(03): 104-Mk. 4 Desember 2007 211 . Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah. Afriandi. Sukri Lihat. Sunartono Lihat. A. I. E. 10(02): 72-Ap. Sopacua. Rimawati Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah. D. Oktarina Samba. 10(04):201-Rb Ristrini Lihat. I. Suryanegara. Implementasi Posyandu dan Supervisi oleh Puskesmas di Pontianak. Pinzon. 10(04): 159-Mk. S. Setiawati. I. Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctor in West Java. 10(04): 203-koresp. 10(02): 79-Ap. No. A. Health Systems Assessment Approach : A How to Manual. 10(03): 143-Ap. 10(04): 195-Ap. 10(02): 90-Ap. 10(04): 173Ap. 10. Probandari. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006. 10(02): 101-Koresp. Hamzah. Saripawan. R. S. Y. Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan. S. Pengembangan Proses Verifikasi Pra-Operasi untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit.Pembelajaran Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan. Vol. Durachman Sunjaya. Cost Effectiveness Analysis dalam Penentuan Kebijakan Kesehatan: Sekedar Konsep atau Aplikatif?. P. E. G.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Palutturi. W. Analisis Besaran Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Siswanto Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik). Lihat.

Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survai Sosial Ekonomi Nasional 2001. N. N. Pengaruh Penyerahan Dana dan Pengelolaan Asuransi Kesehatan Sepenuhnya kepada Puskesmas Terhadap Efisiensi Pengadaan dan Mutu Penggunaan Obat. 212 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Penunjukan Langsung. I. Lihat. I. S. Wisuda. A. A. Survei Pasar Jaminan Kesehatan Sosial Bali. C. 10(01): 46-Ap. Memperbesar Peran Ahli Kebijakan dan Ahli Manajemen Pelayanan Kesehatan di Indonesia. S. 10(01): 53-Koresp. 10(01): 01Ed. A. Viperiati. Suryawati. 10(01): 52-Rb. J. Koordinasi Lintas Sektoral pada Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi di Kabupaten Sleman. 10(04):189-Ap. Untari. Vol. A Lihat. dan Kemitraan. 10. Lihat. L. Perbandingan Efisiensi dan Efektivitas Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan dengan Lelang. 10(03): 132-Ap.Indeks Suryawati. Asmaliza Lihat. Kebijakan Contracting Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: Dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah. S. R. N. S. Situasi Survailans yang Belum Menggembirakan. 4 Desember 2007 . 10(02): 55-Ed. 10(04): 157-Ed. L. Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige. 10(01): 20-Ap. Lihat. Winarni. 10(03): 103-Ed. Viperiati. Maryetty. P. Trisnantoro. Utarini. Armini. P. Trisasi Redefining Health Care: Creating Value-Based Competition On Results. Trisna. Winarni. No. 10(01): 29-Ap. Kebijakan Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin: Saatnya untuk Melakukan Evaluasi Menyeluruh.

Bali Social Health Insurance. 10 (02): 79. 10 (03): 148. 10(04): 189. 10 (03): 124. 10 (02): 56. 2007. Knowledge. 2007. Hospital Performance. Knowledge. 2007. 2007. Cash Funds. 2007. 2007. 2007. 10 (03): 124. Clinical Risk Management. 2007. 10 (02): 79. 10 (01): 40. Cost. 10 (02): 90. 10 (01): 20. 10 (02): 85. 2007. 2007. 10 (01): 29. Vol. 10 (03): 132. 10 (02): 85. 2007. 10 (03): 117. 10 (01): 11. 10 (04): 195 Leadership. 2007. 10 (01): 20 . Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10 (04): 159 Financial System Of Public Service Body. Direct Appointment. Hospital Performance Indicators. 2007. 2007. 10 (04): 166 Deployment. No. 2007. 2007. Economic Evaluation. 2007. 10 (03): 108. 10 (01): 11 . 10 (04): 166 CQI. 2007. 2007. 10 (01): 11. 10 (03): 108. Empowering. 10 (03): 132. Data Envelopment Analysis. Health Card. 2007. 10 (04): 173 Locally Available Resources. 2007. 2007. 2007. 2007. Community Partnership. Efficiency. ISO 9000. 2007. 2007. 10 (01): 29. Cost Effectiveness Analysis.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS SUBJEK Ability to Pay. 2007. Auction. 2007. Health Insurance. 2007. 2007. 2007. Fund. 10 (03): 124. 10 (03): 108. 10 (03): 148. 10 (01): 20. 10 (01): 03. Medical Doctor. Implementation. 10 (04): 181 Maternal and Child Health. 2007. Ethics. Drug Donations Impacts. 2007. 2007. 10 (01): 03. 10 (01): 46. 10(04): 189. 10. Health Personnel’s Training Program. 2007. 2007. Making Pregnancy Safer. 2007. Effectiveness. 2007. 10 (04): 173 Hospital Efficiency. Drug Use. 2007. 2007. Contract. 10 (01): 20. 10 (02): 64. 2007. 2007. Implementation preparation. Mindset. Drug Procurement. 2007. 2007. 10 (03): 148. 10 (03): 132. 10 (02): 64. 10 (02): 90. 4 Desember 2007 213 . Dots. Lesson Learned. 10 (01): 20 . Delay. 2007. 10 (03): 104. 10 (02): 90. Community Health Center. Behavior. 10 (03): 104. Management Policy. 10 (02): 72. 2007. Bali Bomb Tragedy. Business intelligence. 10 (03): 132. 10 (01): 40.

10 (02): 64. 4 Desember 2007 . Pegawai Tidak Tetap. Supervision. Public Hospitals. 10 (03): 143. 2007. 2007. 2007. 10 (03): 104. 2007. Skill. 10 (01): 40. 10 (01): 29. 10 (04): 159 Poor Families. 10 (02): 79. 10 (02): 56. 10 (03): 143. 2007. 2007. 2007. Oseltamivir. Patient Safety. Public-Private Mix. 2007. 10 (02): 64. Service Unit Fund Plan. Organizational Culture. 2007. 2007. 10 (02): 72. 2007. Premium. 2007. 2007. 10 (02): 79. 10 (04): 166 Private Provider. Posyandu. Motivation. 2007. Public Health Center. Service Unit Fund Document. 214 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10 (02): 64. 2007. 2007. 10 (04): 195 Policy Options. 2007. Survey. 10 (01): 11. 10 (04): 195 Wrong Surgery. 2007. 2007. 10 (01): 29. 10 (04): 181 Partnership. 10 (01): 46. 10 (02): 90. No. 10 (03): 117. 10 (03): 124. 2007. 2007. 2007. System Analysis Approach Health Planning. 10 (03): 117. Work Time. 2007. Trax-Free Policy. 10 (03): 132. Unused Medicines. 2007. 10 (03): 143. Vol. 2007. 2007. 10 (04): 195 Organization. 10 (01): 46. 10 (02): 90. Willingness to Pay. 10 (01): 03. 2007. Private Practitioner Involvement. 2007. 2007. 10 (01): 40 . 2007. 2007.Indeks Minimal Hospital Services Standards. 2007. Perception. 10 (04): 159 Organization Culture. 10 (01): 20. Performance. 2007. 2007. 10 (04): 195 Stakeholders’ Perception. Prevention. 2007. 10 (02): 72. 10 (04): 173 Politics. Sanglah Hospital Denpasar. 2007. 10. Public Service Entity. 2007. 10 (02): 85. 10 (04): 166 Resource Allocation.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful