jurnal

ISSN 1410-6515

Manajemen
Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management
Volume 10/Nomor 04/Desember/2007
EDITORIAL
Kebijakan Contracting-Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah

Vol 10. No. 04 h.157-214 10 4 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 2007

MAKALAH KEBIJAKAN
Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik)

ARTIKEL PENELITIAN
Dampak Kemitraan Praktisi Swasta terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar, Bali Opsi-opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan; Pembelajaran dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006

RESENSI
Health Systems Assessment Approach : A How to Manual

KORESPONDENSI
Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment Among Medical Doctor in West Java

JMPK

Tahun 10

Nomor 04

Hlm. Yogyakarta 157-214 Desember 2007

ISSN 1410-6515

Terakreditasi Ditjen Dikti No.: 45/DIKTI/Kep./2006

Diterbitkan oleh/Published by: Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Center for Health Services Management Faculty of Medicine Gadjah Mada University

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 10/Nomor 04/Desember/2007

Daftar Isi
Editorial
Kebijakan Contracting-Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah 157

Makalah Kebijakan
Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik) Siswanto 159

Artikel Penelitian
Dampak Kemitraan Praktisi Swasta terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar, Bali Luh Putu Sri Armini, Yodi Mahendradhata, Adi Utarini Opsi-opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan; Pembelajaran dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Evi Sopacua, Didik Budijanto Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Misnaniarti Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Raditya Asri Wisuda , Dumilah Ayuningtyas Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006 Sukri Palutturi, Nurhayani, Nurhamsa Mandak 166

173

181

189

195

Resensi Buku
Health Systems Assessment Approach : A How to Manual 201

Korespondensi
Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment Among Medical Doctor in West Java 203 205

Indeks

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 10 No. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 157 - 158 Editorial

KEBIJAKAN CONTRACTING-OUT UNTUK PENYEDIAAN TENAGA KESEHATAN DI DAERAH TERPENCIL DAN SULIT: DARI PENGALAMAN MENUJU BUKTI ILMIAH1

Masalah ketersediaan sumber daya manusia di daerah yang sulit, terpencil, ataupun berbahaya merupakan masalah besar yang klasik terdapat di Indonesia. Daerah terpencil kekurangan tenaga kesehatan yang penting seperti dokter, dokter gigi, perawat, bidan, epidemiolog, ahli gizi. Tantangan ke depan adalah: (1) bagaimanakah kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam penempatan tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil dan sulit? (2) apakah kebijakan sekarang ini dapat diteruskan walaupun sudah terbukti tidak bisa memenuhi harapan seperti data yang diperoleh Pusrengun Departemen Kesehatan. Di samping itu, ada pertanyaan apakah kebijakan yang diambil dapat menggunakan prinsip-prinsip Evidence Based Policy Making ? Apa persamaan dan perbedaan antara Evidence Based Medicine (EBM) dan Evidence Based PolicyMaking (EBP). Sackett dkk mendefinisikan EBM sebagai: “the conscientious, explicit, and judicious use of current best evidence in making decisions about the case of individual patient’. Untuk EBP, Cookson memberikan definisi yang serupa, namun berfokus pada keputusan public tentang kelompok atau masyarakat, bukan sebuah keputusan tentang individu pasien. Lebih lanjut Cookson menggambarkan hubungan antara bukti ilmiah dengan keputusan. Keputusan berupa kebijakan publiK dapat dipengaruhi oleh berbagai hal yaitu (1) kepercayaan; (2) nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat; dan (3) berbagai hal lain seperti aspek politik, ekonomi, hukum, dan etik. Peran bukti ilmiah adalah mempengaruhi kepercayaan pengambil keputusan tentang hal yang harus ditetapkan. Akan tetapi kepercayaan ini dipengaruhi pula oleh pengalaman, bukti anekdot, ataupun opini yang didengar dan dibaca oleh pengambil kebijakan. Apabila tidak ada bukti ilmiah, dapat dipahami bahwa pengambilan keputusan dipengaruhi oleh kepercayaan yang berasal dari opini misalnya. Sebagai salah satu kasus menarik tentang penggunaan Evidence Based Policy adalah pengiriman tenaga ke RSD Tjut Nya’Dien di

Kabupaten Aceh Barat oleh FK UGM dan RSUP Dr. Sardjito. Pengiriman tenaga ini dapat disebut sebagai bukti anekdot untuk kebijakan distribusi tenaga medik dan kesehatan di daerah sulit. Dalam konteks penyebaran tenaga kerja di daerah sulit, pada tahun 2005, dipicu oleh musibah Tsunami di Aceh dilakukan pengiriman tenaga kerja melalui pendekatan kontrak tim (bukan kontrak perorangan) untuk menggantikan tenaga kesehatan. Dengan dukungan dana dari World Vision Australia, Fakultas Kedokteran UGM bersama University of Melbourne dikontrak untuk menyediakan bantuan tenaga dokter, dokter spesialis, perawat, dan tenaga-tenaga manajemen di RS Tjut Nya’ Dien. RS ini berada di pesisir barat Propinsi NAD, di kota Melaboh. Kota ini merupakan salahsatu daerah yang mendapat dampak paling dahysat Tsunami. Selama 3 tahun telah dikirim sekitar 500 tenaga dengan sekitar 50 gelombang pemberangkatan. Tujuan pengiriman tenaga medik ke RSD Tjut Nya Dien untuk: (1) Memperkuat dan mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga medis / nonmedis RS Tjut Nya’ Dien melalui pengiriman tim medis secara rotasi dan menyiapkan staf local permanent; (2) Revitalisasi penuh RS Tjut Nya’ Dien melalui pemenuhan kebutuhan tenaga medis / non medis berdasarkan penilaian kebutuhan. Di pandang dari hubungan antarberbagai pihak yang terlibat, pengiriman tenaga medik dan kesehatan RSUP Dr. Sardjito dan FK UGM ke Aceh Barat merupakan kegiatan contracting-out. Apakah kegiatan pengiriman tenaga ke Aceh Barat ini dapat dikembangkan sebagai dasar pengambilan kebijakan nasional dan daerah dalam penyebaran tenaga medik dan kesehatan? Pertanyaan lebih lanjut: apakah model contractingout ini dapat dipergunakan untuk menyediakan tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil dan sulit oleh pemerintah daerah dan pusat? Beberapa pemerintah daerah tertarik untuk membuat keputusan berdasarkan pengalaman yang ada di Aceh Barat. Kasus ini terjadi di Kabupaten Berau (yang masih belum berjalan) dan Kabupaten

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

157

Yogyakarta. 10.com) KEPUSTAKAAN 1. sama dengan Aceh Barat). Untuk ini diharapkan Departemen Kesehatan berani melakukan penelitian pilot untuk kebijakan contracting-out dalam distribusi tenaga medik dan tenaga kesehatan di daerah yang terpencil dan sulit. Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Berau (kalau jadi) dapat diperkuat menjadi bukti. Kabupaten Nias. Sebagai ringkasan. Ruang Rapat Senat FK UGM.Laksono Trisnantoro: Kebijakan Contracting-out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan Nias dan Kabupaten Nias Selatan (sudah berjalan. Vol. saat ini sudah ada bukti anekdot atau pengalaman berupa kebijakan contracting-out yang telah dipergunakan oleh beberapa pemerintah daerah untuk mencari solusi. 158 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Dari perspektif Evidence Based Policy Making. Dalam hal ini pemerintah pusat sebenarnya dapat melakukan pilot untuk penelitian kebijakan agar pengalaman mengenai model contracting-out dalam distribusi tenaga medik di Kabupaten Aceh Barat. Tanggal 5 Maret 2000. kebijakan untuk distribusi tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil perlu terus dicari dan dikembangkan. No. Laksono Trisnantoro (trisnantoro@yahoo. Namun disadari bahwa bukti pengalaman ini perlu dikembangkan untuk menjadi bukti ilmiah sehingga mempengaruhi kepercayaan dalam menetapkan keputusan. Merupakan Background Paper untuk Sarasehan Alumni FK UGM. Bagaimana dengan pemerintah pusat? Sampai sekarang ini Departemen Kesehatan belum mempunyai agenda untuk contracting-out. 4 Desember 2007 .

etika PENGANTAR Alkisah. Surabaya ABSTRACT Being a social entity. interaksi antaraktor dalam kehidupan organisasi akan selalu terkait dengan kekuasaan pengaruh. the interaction of actors in organizational life would involve power. Political activities are natural and unpreventable for the interaction of actors in organizational life. Selama beberapa bulan. setiap aktor harus memperhatikan etika berpolitik yang elegan agar pengaruh seseorang pada perilaku orang lain tidak bersifat memaksa. Akhirnya. 10. diputuskan bahwa untuk merekrut direktur utama dilakukan secara transparan melalui pengumuman di media massa dan kemudian dilakukan fit and proper test di hadapan stakeholder kunci. Every actor within organizations including managers try to improve his/her power. Vol. influence and interests. the influence on others’ behavior is due to principles or at least due to benefit exchange. dan menyakitkan. Kata Kunci: organisasi. menuju kinerja perusahaan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. in order to achieve his/her own goals and interests. dapat diinterpretasikan sebagai wahana politik tempat para aktor berebut kepentingan. menakut-nakuti. Kisah ini adalah kisah nyata. in order that some one’s influence unto others not due to a coercive. maka terjadilah demo besar-besaran oleh karyawan perusahaan dan pendemo menuntut sang direktur untuk mundur dari jabatan sebagai direktur utama. frightened and painful manner. Consequently. tetapi merupakan pola perilaku karena berpegang pada prinsip atau setidaknya karena asas pertukaran manfaat. sang manajer telah gagal memimpin perusahaan karena tidak memiliki keterampilan politis yang adekuat untuk melakukan perubahan organisasi. politics. Terpilihlah seorang ‘direktur profesional’ untuk membenahi manajemen perusahaan. Depkes RI. No.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. politik. Pada kisah di atas. 4 Desember 2007 159 . Akhir cerita. Dengan kata lain. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. sang direktur melakukan pembersihan besar-besaran terhadap berbagai praktik KKN karena pendekatannya yang terkesan radikal.165 Makalah Kebijakan POLITIK DALAM ORGANISASI (SUATU TINJAUAN MENUJU ETIKA BERPOLITIK) POLITICS IN ORGANIZATION (A REVIEW LEADING TO ETHICS OF POLITICS) Siswanto Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan. Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas adalah bahwa seorang manajer akan mengalami kegagalan apabila cara memimpinnnya hanya mengedepankan satu paradigma manajemen saja. setelah melalui proses tarik ulur di antara para politisi. sang manajer terjebak pada praktik manajemen paradigma rasional tanpa memperhitungkan kekuatan politik di dalam organisasi. Untuk menyehatkan perusahaan. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 159 . Namun demikian. Aktivitas politik melibatkan kemampuan memainkan sumber kekuasaan dengan taktik politik tertentu untuk memenangkan kepentingan. baik kekuasaan berdasar kedudukan maupun kekuasaan pribadi. Setiap aktor dalam organisasi termasuk manajer akan berusaha meningkatkan kekuasaannya. salah satu pemerintah kota di Provinsi Jawa Timur ingin membenahi manajemen perusahaan Badan Usaha Milik Daerah yang dipunyainya karena ditengarahi banyak terjadi KKN sehingga perusahaan tidak efisien. namun penulis sengaja membuatnya ‘anomim’ untuk menjaga etika penulisan. ethics ABSTRAK Sebagai sebuah entitas sosial. Political activities would entail the ability to exercise power sources with certain political tactics to win interests. sang direktur diminta untuk mundur dari jabatan direktur utama perusahaan tersebut karena ia dianggap tidak demokratis dalam gaya kepemimpinannya. every actor should take into consideration ethics for performing more elegant politics. Aktivitas politik merupakan sesuatu yang natural dan tidak dapat dicegah dalam interaksi antaraktor dalam kehidupan organisasi. dan kepentingan. organizations including health organizations can be interpreted as a political arena where actors are contesting their interests. Bahkan. Rather. Oleh karena itu. either position power or personal power. kemelut perusahaan milik daerah tersebut sampai ke meja anggota DPRD karena para pendemo (karyawan) menyampaikan kemelut manajemen perusahaan kepada wakil rakyat (anggota DPRD). dalam rangka memburu kepentingan dan tujuannya. keberadaan organisasi termasuk organisasi kesehatan. Keywords: organization. However. boleh dikatakan tiada hari tanpa demo.

termasuk manajer. politik adalah kenyataan hidup yang harus dihadapi dan dijalankan oleh setiap orang selama ia berinteraksi secara sosial. Dengan menggunakan definisi ini. Dengan kata lain. No. Setiap orang dalam organisasi akan menggunakan taktik dan strateginya masing-masing untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas. Pusat analisis politik adalah kekuasaan dan pengaruh. seorang manajer harus sadar bahwa ‘politik’ selalu ada dalam setiap kehidupan organisasi. Untuk memenuhi kepentingannya (meraih cita-cita dan tujuannya). Politik didefinisikan oleh Dahl2 sebagai “setiap pola hubungan yang kokoh antarmanusia dan melibatkan secara cukup mencolok kendali. praktik politik dalam organisasi. Semestinya. politik adalah suatu kenyataan sosial yang harus dihadapi oleh anggota organisasi. kepentingan. diharapkan para praktisi manajemen dapat memperluas cakrawala pandangnya tentang politik organisasi sebagai paradigma alternatif dalam mengelola organisasi. seperti rumah sakit juga tidak terlepas dari kegiatan politik. Dalam kelompok sosial. Dengan memahami politik organisasi. Permainan politik yang tidak etis dalam jangka panjang akan berakibat buruk terhadap kredibilitas pelakunya. Organisasi kesehatan. dan tujuan yang berbeda-beda. maka seorang manajer (termasuk pemain lainnya) harus paham bagaimana bermain politik yang etis dan elegant. proses pengaruh-mempengaruhi merupakan hal yang wajar dalam kehidupan organisasi. Melihat aktivitas organisasi sebagai aktivitas politik merupakan penyegaran terhadap pemahaman kehidupan ‘organisasi’ yang selama ini selalu didominasi oleh cara pandang instrumental. sehingga aktor lain tersebut menuruti kemauan aktor pertama. Organisasi Sebagai Wahana Politik Organisasi sebagai salah satu entitas sosial juga tidak terlepas dari politik. kelompok suku primitif. dengan taktik memainkan kekusaannya masing-masing. melihat organisasi sebagai wahana atau gelanggang politik tempat bernegosiasi kepentingan oleh para anggotanya. Pada prinsipnya politik adalah suatu jaringan interaksi antarmanusia dengan kekuasaan diperoleh. Kekuasaan dan pengaruh merupakan unsur utama dalam politik. sehingga secara etis dapat diterima oleh anggota lainnya. Salah satu paradigma manajemen yang harus dipertimbangkan oleh praktisi manajemen adalah politik organisasi (organizational politics). Berkenaan dengan praktik manajemen melalui pendekatan politik. Dengan demikian. Oleh karena itu. Setiap anggota akan membawa minat. manusia selalu terlibat interaksi antar satu dengan lainnya. Vol. Ada ungkapan yang menarik “meskipun kita tidak suka politik. karir maupun penghargaan lainnya. klub-klub pribadi. perawat dan staf administrasi) sebagai ‘keteraturan hasil negosiasi’ (negotiated order). maka tiap-tiap aktor akan saling beradu kekuasaan untuk memenangkan ‘kepentingan’. persepsi. termasuk organisasi. pengaruh. Proses interaksi memenuhi kebutuhannya tersebut manusia membentuk kelompok-kelompok komunitas serta manusia akan selalu dihadapkan pada unsur kekuasaan dan pengaruh. dan akhirnya didiskusikan etika berpolitik dalam organisasi. Masyarakat kebanyakan sering memaknai politik dengan konotasi negatif dan kotor. ditransfer. Pemahaman bahwa organisasi adalah sebuah entitas politik akan mampu menyadarkan manajer melihat organisasi secara ‘utuh’ dan tidak hanya mengandalkan pada cara-cara instrumental saja. 4 Desember 2007 . setiap manusia mau tidak mau harus menggunakan politik (kekuasaan dan pengaruh) sebagai alat berinteraksi antara manusia satu dengan manusia lainnya. dan digunakan. namun politik juga terjadi pada organisasi formal. Kekuasaan didefinisikan sebagai potensi seorang aktor dapat mempengaruhi aktor lain. badan usaha. Morgan3 dan Bolman & Deal4 misalnya. kemudian mampu menggunakannya secara tepat orang dan tepat waktu (contingency of people and of timeliness). profesionalitas sebagai manajer haruslah diinterpretasikan sebagai penguasaan ’semua paradigma manajemen’. kita tidak bisa menghindar dari politik”. baik itu menyangkut distribusi informasi. organisasi keagamaan. maka dapat dikatakan bahwa politik tidak hanya terjadi pada sistem pemerintahan. 10. Drory5 mendefinisikan politik organisasi 160 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. di antaranya organisasi sebagai wahana politik. marga. kekuasaan dan sumber-sumbernya. kekuasaan. Untuk menjadi manajer yang efektif. kekuasaan dan kewenangan”. Tak dapat disangkal bahwa ‘negosiasi’ merupakan salah satu bentuk aktivitas politik untuk mendapatkan komitmen bersama. Dalam kontes saling pengaruh-mempengaruhi ini.Siswanto: Politik dalam Organisasi yang lebih baik. Umat manusia adalah makhluk sosial dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan saling berinteraksi satu dengan lainnya. Strauss1 dalam penelitiannya di institusi rumah sakit mengidentifikasi pola interaksi antar aktor di rumah sakit (dokter. dan bahkan pada unit keluarga. Tulisan ini akan mendiskusikan beberapa isu penting tentang paradigma politik organisasi. yang analisisnya mengabaikan motif dan kepentingan aktor yang terlibat dalam organisasi.

Vol. kita harus mengenal sumber-sumber kekuasaan dalam organisasi.7 Sebagai ilustrasi. nilai. Kekuasaan didefinisikan sebagai “peluang seorang aktor dalam interaksi sosialnya berada di posisi memenangkan keinginannya meski ada hambatan dari pihak lain”. persepsi. (4) tujuan organisasi. pengambilan keputusan dan proses manajemen lainnya adalah hasil dari bargaining. kepentingan karir terkait dengan masa depan seseorang dalam organisasi (posisi dan jabatan yang lebih baik). Dalam interaksi antaraktor dalam organisasi. (2) dalam organisasi selalu ada potensi perbedaan menyangkut kepribadian. No. Yukl11 menyebutkan bahwa pengaruh adalah efek dari tindakan agen tehadap pihak lain (target). Morgan3 mendefinisikan kepentingan sebagai “predisposisi yang mempengaruhi tindakan seseorang dalam berinteraksi secara sosial. sikap. negosiasi. Sementara. Dalam komponen kepentingan juga termasuk kepentingan ekstramural yang terdiri dari kepribadian. keinginan. Kepentingan pekerjaan adalah kepentingan yang terkait dengan tugas seseorang sesuai kedudukan dan jabatan yang diembannya. kepentingan karir dan kepentingan ekstramural. kekuasaan adalah suatu sumber daya yang merefleksikan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan keinginan orang pertama. 4 Desember 2007 161 . Lebih jauh. Pengaruh dapat didefinisikan sebagai penggunaan kekuasaan atau otoritas untuk mempersuasi orang lain agar mereka mengikuti kehendak si pengguna kekuasaan. Selanjutnya.2 Asumsi dasar organisasi sebagai entitas politik3.8 Dengan kata lain. Ada baiknya kita renungkan ungkapan Baltasar Gracian berikut: “Satu-satunya keuntungan memiliki kekuasaan adalah bahwa Anda dapat melakukan lebih banyak kebaikan”. kepentingan. Kekuasaan bukan merefleksikan tindakan. Sumber-sumber kekuasaan yang dipakai para aktor untuk saling mempengaruhi adalah sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1. dan orientasi seseorang”. tapi merefleksikan sumber kekuatan untuk mempengaruhi tindakan orang lain. keyakinan dan komitmen di luar pekerjaan yang semuanya akan membingkai pola perilaku seseorang baik menyangkut pekerjaan maupun karir. Analisis organisasi dari perspektif politik melibatkan tiga diskursus yaitu kepentingan. kalau ‘A’ dapat mempengaruhi atau memaksa ‘B’ untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh ‘A’. sikap. Namun demikian. Morgan 3 membagi kepentingan ke dalam tiga kategori yaitu kepentingan pekerjaan. (3) kekuasaan memainkan peranan penting dalam memperebutkan sumber daya. beberapa rujukan tentang perilaku politik sering mempertukarkan istilah kekuasaan dan pengaruh. ‘A’ mempunyai kekuasaan terhadap ‘B’. apakah akan bersifat baik atau buruk tergantung dari motif yang menggunakannya. Miles6 mendefinisikan politik organisasi sebagai proses yaitu setiap aktor atau kelompok dalam organisasi membangun kekuasaan untuk mempengaruhi penetapan tujuan.10 Lebih jauh. 10. maka konflik adalah wajar (natural) dalam kehidupan organisasi. kekuasaan dan pengaruh. Kekuasaan bersifat netral.9 Berbeda dengan kekuasaan yang merujuk kepada ketersediaan sumber daya.4. meliputi tujuan. nilai. harapan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan minat dari para anggotanya. dan brokering dari berbagai faksi peserta.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sebagai perilaku informal di dalam organisasi dengan menggunakan kekuasaan dan pengaruh melalui tindakan terencana yang diarahkan untuk peningkatan karir individu pada situasi untuk memperoleh banyak pilihan keputusan. pengaruh merujuk kepada tindakan atau praktik. Secara sekuensial dapat dikatakan bahwa kekuasaan menimbulkan pengaruh dan akhirnya pengaruh mempengaruhi tindakan orang lain (kekuasaan à pengaruh à tindakan orang lain).12 yaitu: (1) organisasi adalah koalisi yang terdiri dari berbagai individu dan kelompok dengan berbagai kepentingan. setiap aktor menggunakan kekuasaan dan pengaruh untuk dapat memenuhi tujuannya. keyakinan. kriteria atau proses pengambilan keputusan organisasional dalam rangka memenuhi kepentingannya. Kekuasaan dan Sumber-Sumbernya Untuk memahami lebih jauh tentang bagaimana para aktor dalam organisasi saling mempengaruhi dan mengapa aktor tertentu dapat mengendalikan aktor lainnya. (5) karena keterbatasan sumber daya dan setiap aktor berebut kepentingan. yang bisa saja tidak berhubungan dengan kepentingan pekerjaan.

posisi manajer sudah mendapatkan tiga sumber kekuasaan yaitu otoritas formal. 2. makin banyak kontrol yang dipunyai orang tersebut terhadap sumber daya yang terbatas. teknologi dan metode pengorganisasian pekerjaan. Kontrol terhadap sumber daya dan imbalan c. kepala bidang perencanaan akan mempunyai kontrol lebih besar terhadap distribusi sumber daya. kebijaksanaan. Memperluas jumlah pemain yang terlibat dalam suatu isu yang menjadi kepentingan kita untuk mendapatkan perhatian yang lebih luas 5). Manajer yang tidak mampu mengelaborasi atau mengumpulkan sumber-sumber kekuasaan lainnya dengan baik. yang berakibat pada munculnya ‘leader-leader’ bayangan dalam organisasi. Kewenangan formal Penjelasan Pengaruh potensial yang berasal dari kewenangan yang sah karena kedudukannya dalam organisasi Kewenangan yang mengacu pada hak prerogatif. karakter dan kepribadian yang mampu mempengaruhi orang lain untuk suatu tujuan tertentu. beberapa taktik yang dipakai oleh para aktor adalah sebagai berikut:12 1). Potensi seseorang yang menyebabkan orang lain mengagumi dan memenuhi permintaan orang tersebut. seperti kepala bidang atau kepala bagian akan menguasai sumber kekuasaan tertentu lebih banyak daripada sumber kekuasaan lainnya sesuai tugas dan fungsinya. diplomasi dan empati. semakin bertambah kekuasaan keahlian (expert power) orang tersebut. Dengan memahami sumber-sumber kekuasaan dalam organisasi. Melaksanakan negosiasi dan tawar-menawar dengan pihak lain yang bersinggungan dengan kepentingan kita untuk mendapatkan kompromi 162 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Mentransformasikan kepentingan kita menjadi kepentingan pihak lain dengan mengubah persepsi dan tindakan pihak lain 4). Praktik Politik dalam Organisasi Setiap aktor termasuk manajer menggunakan taktik dan strategi untuk mempengaruhi aktor lain dengan menggunakan sumber kekuasaan yang dimiliki. seperti pesona. e. Kontrol dan penguasaan terhadap sumber daya dan imbalan terkait dengan kedudukan formal. Menyangkut kontrol terhadap lingkungan fisik. Kekuasaan keahlian (expert power) Kekuasaan kesetiaan (referent power) Kekuasaan karisma b. dan hal ini tidak selalu merujuk kepada manajer. 10. Pada Tabel 1 terlihat bahwa kelompok sumber kekuasaan berdasarkan kedudukan akan berlimpah pada orang-orang yang secara hirarkis mempunyai kedudukan dalam organisasi. Menyangkut kontrol terhadap akses terhadap informasi penting maupun kontrol terhadap distribusinya kepada orang lain. dapat dimengerti bahwa aktor paling berkuasa adalah aktor yang mampu mengumpulkan banyak sumber-sumber kekuasaan. Sifat bawaan dari seseorang yang mencakup penampilan. penggunaan struktur dan aturan. Seorang manajer akan mempunyai kekuasaan kedudukan paling besar karena ia mampu memainkan keseluruhan sumbersumber kekuasaan berdasarkan kedudukan. b. Setidaknya. manajer mempunyai kesempatan lebih besar untuk mengumpulkan sumber-sumber kekuasaan. sementara kepala bagian tata usaha akan mempunyai kontrol lebih besar terhadap ekologi pekerjaan seseorang. Kekuasaan berdasarkan kedudukan a.Siswanto: Politik dalam Organisasi Tabel 1. No. Secara deskriptif. Semakin tergantung pihak lain terhadap keahlian seseorang. c. ia akan kehilangan legitimasinya sebagai ‘leader’. Kontrol terhadap hukuman (coercive power) Kontrol terhadap informasi Kontrol ekologis Kekuasaan pribadi a. Vol. Referent power terkait dengan keterampilan interaksi antar pribadi. Makin tinggi posisi seseorang dalam hirarki organisasi. Menciptakan suasana (seremoni dan simbol) untuk membentuk persepsi dan perilaku orangorang sesuai dengan peran dan fungsinya 3). Sumber-Sumber Kekuasaan dalam Organisasi11 Sumber kekuasaan 1. Pengaruh potensial yang melekat pada keunggulan individu Kekuasaan yang bersumber dari keahlian dalam memecahkan masalah tugastugas penting. Membentuk koalisi dengan pihak lain untuk meningkatkan dukungan dan sumber daya 2). kewajiban dan tanggung jawab seseorang berkaitan dengan kedudukannya dalam organisasi atau sistem sosial. d. Sebagai contoh. Memang. Agen mempunyai hak untuk membuat permintaan tertentu dan orang yang ditargetkan mempunyai kewajiban untuk mematuhinya. 4 Desember 2007 . serta kendali pengambilan keputusan. Kontrol terhadap hukuman dan kapasitas untuk mencegah seseorang memperoleh imbalan. Posisi di bawah manajer.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 6).9 Apa yang kita lakukan dalam mempengaruhi orang lain berdasarkan azas pertukaran manfaat yaitu: (i) membuat kesepakatan. (ii) tawar-menawar. mengalihkan. menyepelekan. (iii) berdebat. banyak dari kita mempengaruhi orang lain dengan cara memberi dan menerima. membuat sedih. Vol. kekuasaan terhadap sumber daya. meremehkan. menusuk dari belakang. pertengkaran. (iv) mengadakan pertukaran. menipu. menyiasati dan merampas hak.13 Cara-cara mempengaruhi orang dengan pendekatan rasa takut (paksaan). balas dendam. Cara-cara dengan pendekatan keras.9 Sumber-sumber kekuasaan berdasarkan azas pertukaran manfaat adalah kekuasaan memberi imbalan.13 Sementara itu. misalnya: menindas.9. menakut-nakuti. mengganggu. merayu. Lee9 dalam bukunya The Power Principle.9 Di samping cara mempengaruhi dengan menebar rasa takut. hubungan menang-kalah. baik pendekatan lunak maupun pendekatan keras akan menghasilkan kendali yang bersifat sementara dan reaktif. memaksa. No. Memilih waktu yang tepat untuk setiap tindakan agar situasi menguntungkan kita (manajer). penggunaan sumber kekuasaan. selanjutnya mempengaruhi berdasarkan prinsip akan menghasilkan efek rasa hormat. kekuasaan berdasarkan posisi. Konsesi yang dipertukarkan dapat berupa uang. menghalangi. sabotase. menanamkan pengaruh. hasilhasil sementara. Efek yang muncul akibat mempengaruhi dengan paksaan adalah permusuhan. (ii) mempengaruhi berdasarkan manfaat (tukar-menukar). pengendalian sementara. Mempengaruhi dengan paksaan menghasilkan efek rasa takut. kekuasaan terhadap informasi. dan pemenangan kepentingan dapat diabstraksikan sebagaimana skema pada Gambar 1. 10. Hubungan antara komunikasi. kepatuhan terpaksa. berdagang. memperdayai. keahlian tertentu atau akses terhadap sumber daya. ketergantungan. oposisi. mengendalikan. membuat kecil hati. informasi. kekuasaan berdasarkan peluang. mengancam. Taktik Mempengaruhi dan Pemenangan Kepentingan (Diadaptasi dari Degeling12) Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 9. menghambat. Hubungan antara Komunikasi. Dengan demikian. mengintimidasi. dan (iii) mempengaruhi berdasarkan prinsip. Gambar 1. mempengaruhi berdasarkan azas manfaat pada dasarnya adalah “menemukan kesepakatan antar kedua belah pihak yang saling menguntungkan”. mempengaruhi berdasarkan manfaat menghasilkan efek kewajaran. bahkan pemberontakan. Mempengaruhi orang dengan rasa takut meliputi pendekatan keras dan pendekatan lunak. cara-cara pendekatan lunak. menyalahkan dan melemahkan. mengkambinghitamkan. membagi proses mempengaruhi (proses berkuasa) menjadi tiga macam yaitu: (i) mempengaruhi dengan paksaan (rasa takut). kekuasaan berdasarkan keahlian. bertukar. dan kekuasaan berdasarkan koneksi. 4 Desember 2007 163 . Sarana aktivitas politik untuk saling mempengaruhi antar aktor dalam organisasi adalah melalui komunikasi. dan berusaha melakukan tukarmenukar yang adil (asas pertukaran manfaat). misalnya: mengaburkan.

ada the golden rule dari perilaku politik. bukan untuk mengambil keuntungan sepihak. yaitu ”Perlakukan orang lain sebagaimana kamu menginginkan orang lain memperlakukanmu” (Do unto others as you want them to do unto you) atau ”Jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan orang lain melakukan hal itu kepadamu” (Don’t do anything to anyone that you wouldn’t want them to do to you). Etika Berpolitik dalam Organisasi Pembahasan politik organisasi tidaklah lengkap tanpa berbicara tentang etika berpolitik dalam organisasi. Pandangan demikian menekankan pada kinerja kelompok (kinerja organisasi). perusahaan memecat 10% karyawan yang kurang produktif. keputusan ini bermanfaat untuk jumlah terbanyak. dalam rangka peningkatan efisiensi dan produktivitas organisasi.9 Perhatikan ungkapan mutiara berikut: ”Kekuasaan bisa dipandang sebagai ’kekuasaan dengan’ ketimbang ’kekuasaan atas’. bersikap konsisten dan hidup berintegritas. dalam batasbatas tertentu memenuhi syarat. Namun demikian. Hasil-hasil yang diperoleh dari kekuasaan berdasarkan prinsip kehormatan adalah kemitraan. bukannya dominansi serta pengendalian” Anne L Barstow (Dikutip dari Lee9). menerima. (vi) saling mengalah. menghambat.15 Tampak bahwa ketiga kriteria penilaian etis dan tidak etis tersebut bersifat bersaing (trade-off). Prinsip ’keadilan’ mengisyaratkan individu untuk memberlakukan dan menegakkan aturanaturan secara adil dan tidak berat sebelah sehingga terdapat distribusi manfaat dan biaya yang pantas.Siswanto: Politik dalam Organisasi (v) konsensus. Pertimbangan etis haruslah merupakan suatu kriteria pengontrol dalam perilaku politik untuk mempengaruhi pihak lain. mendisiplinkan. dan kekuasaan dapat digunakan untuk membangkitkan kompetensi dan kooperasi. menyiasati dan merampas hak adalah perilaku politik yang kurang atau tidak etis. misalnya menusuk dari belakang. dan (ix) berkompromi. mengganggu. mengasihi. Prinsip ’hak’ menekankan bahwa setiap individu mempunyai kebebasan untuk mengemukakan pendapat dan berbicara. dan (iv) apakah perilaku itu bermanfaat untuk semua pihak terkait? Apabila jawaban dari keempat pertanyaan saringan tersebut. mengaburkan. peningkatan kapasitas.14 Perilaku politik dalam ”kelompok cara mempengaruhi dengan menebar rasa takut”. proaktivitas. Dengan kata lain. No. Etik adalah standar moral apakah suatu perilaku baik atau buruk menurut norma masyarakat. mengintimidasi.14 Setidaknya terdapat tiga kriteria untuk menilai apakah cara kita bertindak etis atau tidak etis yaitu prinsip utilitarianisme. (iii) apakah perilaku itu akan membangun komitmen dan pertemanan yang lebih baik?.14 Perilaku politik yang etis adalah perilaku yang bermanfaat untuk individu dan organisasi. Vol. Apa yang kita peroleh dari cara mempengaruhi berdasarkan azas manfaat adalah pola interaksi yang bersifat fungsional dan wajar (tanpa rasa takut). solusi menang-menang. dan pola hubungan jangka panjang yang memuaskan. mengancam. sabar. menipu. diremehkan. kesalingtergantungan. Prinsipprinsip kekuasaan berdasarkan kehormatan diantaranya adalah persuasif. dikambinghitamkan. sebagaimana diatur dalam Piagam Hak Asasi Manusia. perilaku etis. sedangkan perilaku politik yang tidak etis adalah perilaku yang bermanfaat untuk individu tetapi melukai organisasi. kepercayaan. melemahkan. Misalnya. mengajari. 10. 4 Desember 2007 . disepelekan. (ii) apakah perilaku itu adil untuk semua pihak terkait?. meremehkan. hak dan keadilan. merayu. menyepelekan. mengkambinghitamkan. Dalam melakukan tindakan politik. (viii) bertengkar. 164 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. membuat sedih. Prinsip utilitarianisme mengajarkan bahwa keputusan yang kita ambil haruslah ’memberikan manfaat terbesar untuk jumlah orang terbesar’. pengambilan keputusan adalah dalam rangka efisiensi dan produktivitas organisasi. satu kriteria dapat saling melemahkan atau meniadakan kriteria lainnya. Dalam pandangan utilitarianisme. menghalangi. lembut. artinya bila situasi berubah dan manfaat tidak didapatkan lagi maka kekuasaan akan menghilang (menguap). diperdayai dan tindakan sejenisnya. Sebagai saringan dapat juga dipakai empat langkah pertanyaan berikut: (i) apakah perilaku itu merupakan kebenaran?. sinergi.9 Cara ketiga untuk mempegaruhi orang lain adalah berdasarkan prinsip kehormatan. maka dapat dikatakan perilaku tersebut adalah etis. pola hubungan berdasarkan manfaat bersifat sementara dan bersyarat. menyalahkan. pengendalian internal yang positif. Siapapun orangnya akan ”sakit hati” bila ditusuk dari belakang. Di samping ketiga kriteria tersebut. penguasaan diri. memperdayai. (vii) memperebutkan. mengalihkan. bermurah hati. namun boleh jadi mengabaikan hak-hak individu (hak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan) dan rasa keadilan (adanya perlakukan diskriminatif yaitu adanya pemecatan sebagian kecil karyawan). siapapun aktornya (bisa manajer atau staf) haruslah berpedoman pada tiga kriteria etis tadi. membuat kecil hati. menakut-nakuti. kesepakatan kemitraan.

Apapun taktik yang dipakai oleh aktor dalam rangka mempengaruhi aktor lain untuk mengejar kepentingannya selayaknya harus tetap dalam kerangka etika berorganisasi dengan tetap memegang the golden rule yaitu ”perlakukan orang lain sebagaimana kamu menginginkan orang lain memperlakukanmu” atau ”jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan orang lain melakukan hal itu kepadamu”. Free Press J/Glencoe. Dahl. 13. 8. and Leadership. Organizational Politics. R. Politics. 2004. New Jersey. Jakarta. Bumi Aksara. and Persuasion. Prentice Hall Inc.The Hospital and Its Negotiated Order. A. Exchange and Power in Social Life. New York. Mc Bride. 2002. Strauss. Reframing Organizations: Artistry. Miles. 10. 10. The Power Principle (Terjemahan). G. Hasil perilaku politik berdasarkan azas manfaat adalah komitmen dan konsensus.. 2002. 14. 1993. Analisis Politik Modern (Terjemahan). sehingga apa yang terjadi tak ubahnya seperti permainan.php. Goodyear Publishing Co. KESIMPULAN DAN SARAN Untuk menjadi manajer yang efektif. Organizatinal Behavior (Terjemahan). 11. A. P. Di dalam setiap kehidupan organisasi baik organisasi formal maupun informal selalu terdapat fenomena politik yang melibatkan kepentingan. The McGraw Hill Companies. Irwin. University of New South Wales. K & Miller. diakses dari http:// www. R. 1996. perilaku politik berdasarkan asas kehormatan menduduki tataran tertinggi bila dilihat dari tingkat ’keetisan’-nya. 4. sehingga perilaku politik demikian (meski bersifat situasional) adalah etis dan dapat diterima semua pihak. Robbins. Tokoh Mahatma Gandhi. New York. Jakarta. Choice. 1965.H. 2. Drory. 1994. Vol.nicholsonmcbride. Binarupa Aksara.com/news/index. San Francisco. Sydney.G & Deal. KEPUSTAKAAN 1. Organizational Studies. 12. et al . Wiley. Degeling. namun harus dibarengi dengan kemampuan politik yang adekuat. Lee.E.1980:151-85. Perceived Political Climate and Job Attitudes. Bolman. Boston. Eliot. 4 Desember 2007 165 . 1947. M. Perilaku politik berdasarkan azas kehormatan mampu menanamkan ideologi dan cara hidup kepada pihak lain. kekuasaan dan pengaruh. 1997. Glencoe Press. Sage Publications. Management of Organization. Macro Organizational Behavior. L. T. Harvard Business School Press. Jossey-Bash Publishers. keterampilan manajemen instrumental saja tidaklah cukup. Dalam proses mempengaruhi guna mengejar kepentingannya. Hawkin. 2006. Morgan. Leadership in Organizations. P. setiap aktor akan saling memainkan sumber kekuasaannya untuk mempengaruhi aktor lainnya. Images of Organization. Yukl. 2006. Selanjutnya. Politics and Ethics. in Friedson. T. 3. Power and Influence. Influence. No. Weber. 1994. Jakarta. New York.M.. from Henderson. Blau. mampu mempengaruhi lawan dan kawan karena prinsip hidup yang dipegangnya yaitu kesederhanaan dan kejujuran. Santa Monica. G. and Parsons. 15. PT Indeks.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Perilaku politik dalam ”kelompok cara mempengaruhi dengan azas manfaat” dan ”kelompok cara mempengaruhi dengan kehormatan” merupakan perilaku politik yang etis dan dapat diterima semua pihak.M. The Essentials of Power. 7. Perilaku politik berdasarkan azas kehormatan banyak ditunjukkan oleh para pemimpin besar dunia. 1991. London. The Hospital in Modern Society. S. 5. A. The Theory of Social and Economic Organization. New York. 1963:147-69.14(1):59-71. misalnya. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 6. B. Power. N. 9.

Keywords: private practitioner involvement.9 juta kasus TB baru yang terdiri dari 3. inisiatif ini dikenal dengan Public-Private Mix. This initiative was then expanded to a district level through a collaboration with Gadjah Mada University Faculty of Medicine and Fidelis.. 741. BALI Luh Putu Sri Armini1.05). Two instruments were used. patients did not pay the direct cost. Tujuan: Mengevaluasi dampak kemitraan dengan praktisi swasta terhadap keterlambatan diagnosis dan pengobatan serta biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk penanganan TB.e. public-private mix. Objective: This study aimed to evaluate the impact of private practitioner involvement on delay and cost of TB case management. Pada tahun 2003 directly observed treatment shortcourse (DOTS) diimplementasikan di 183 negara dengan menyasar 83% dari penderita TB. 10.. IUATLD. Salah satu strategi tersebut adalah melibatkan seluruh penyedia pelayanan. it did not affect the duration between diagnosis and treatment initiation.000 terinfeksi virus HIV. the program was not able to decrease the cost spent by the patient before and after receiving DOTS treatment. Pada tahun 2004 penemuan dan pengobatan penderita TB di Bali telah dilakukan di seluruh 107 166 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. program kemitraan tersebut belum dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan oleh pasien.172 Artikel Penelitian DAMPAK KEMITRAAN PRAKTISI SWASTA TERHADAP KETERLAMBATAN DAN BIAYA PENANGANAN TUBERKULOSIS DI KOTA DENPASAR. Vol. IUATLD and PPM-DOTS evaluation questionnaire developed in Hyderabad.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. total sejumlah 100 pasien. However. Subyeknya adalah pasien TB BTA(+) sebelum dan setelah PENGANTAR Tuberkulosis (TB) Paru masih merupakan penyakit menular yang menjadi prioritas di Indonesia. Method: A quasi-experimental study using pre and post-test design with different subjects was applied. Dampak intervensi ini perlu dievaluasi dari perspektif pasien. Pengukuran menggunakan dua instrumen yaitu kuesioner penilaian pasien dengan akses terbatas yang disusun oleh Fidelis. Inisiatif ini kemudian diperluas melalui kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan Fidelis. The indirect cost did not differ significantly before and after the partnership (p>0. Overall. Yodi Mahendradhata2. Biaya langsung untuk pengobatan TB tidak ada oleh karena obat TB diberikan gratis. Kesimpulan: Program kemitraan yang dilaksanakan di Denpasar meningkatkan penemuan kasus TB BTA(+) dan pengobatan pasien TB dengan DOTS di tempat praktik swasta. Secara umum. 4 Desember 2007 . IUATLD. IUATLD dan kuesioner evaluasi Public-Private Mix dalam strategi DOTS yang dikembangkan di Hiderabad.e. FK UGM. Biaya tidak langsung tidak berbeda secara bermakna antara sebelum dan setelah kemitraan berjalan (p>0. delay.05). dkk. the limited access questionnaire from Fidelis. therefore. The analysis applied Chi-square and Mann Whitney-U statistical tests. Pada tahun 2004 diperkirakan ada 8. 3 days. Provinsi Bali 2 Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan dan Bagian IKM.1 Program pengendalian TB di Indonesia merumuskan tujuh strategi dalam kerangka kerja tahun 2006-2010. No. Kata Kunci: kemitraan dengan praktisi swasta. Analisis data menggunakan uji Chi-square and Mann Whitney-U. therefore. Result: PPs involvement has shortened the duration between start of symptoms and diagnosis. The impact on this intervention from patient’s perspective should. public-private mix. Adi Utarini2 Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Denpasar. i. BALI THE IMPACT OF PRIVATE PRACTITIONER ENGAGEMENT TOWARD DELAY AND COST OF TUBERCULOSIS CASE MANAGEMENT IN DENPASAR MUNICIPALITY. Hasil: Kemitraan PSw dapat memperpendek jarak antara munculnya gejala dengan diagnosis. dengan angka penemuan 51%.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta . namun tidak berpengaruh terhadap jarak antara diagnosis dan pengobatan (yaitu 3 hari). 04 Desember 2007 Luh Putu Sri Armini. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan kuasieksperimental pre dan post-tes dengan subyek yang berbeda.2 Inisiatif ini juga telah diterapkan di Provinsi Bali dalam bentuk kerja sama dengan rumah sakit dan praktisi swasta. Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: Private practitioners (PPs) engagement in Tuberculosis (TB) control was initiated in 2002. i. Conclusion: The partnership program has accelerated the case finding of new smear positive TB as well as access of TB patients diagnosed at private practices to receive DOTS treatment. Halaman 166 . cost program kemitraan dengan PSw. Secara global. kemitraan PPs meningkatkan penemuan kasus dan pengobatan TB di kotamadia Denpasar. biaya ABSTRAK Latar Belakang: Praktisi swasta (PSw) telah dilibatkan dalam program Tuberculosis (TB) sejak tahun 2002.9 juta BTA (+). Meskipun demikian. PPs involvement accelerated case finding and treatment of TB cases in Denpasar municipality. The subjects were new smear positive patients before and after PPs involvement with a total sample of 100 patients. TB drugs are free of charge. keterlambatan diagnosis. be evaluated. However.

dan pertemuan monitoring triwulanan dengan petugas TB/wasor.0 51. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak kemitraan dengan praktisi swasta terhadap keterlambatan diagnosis dan pengobatan dan untuk mendeskripsikan biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk penanggulangan TB.5 Namun demikian.9 35.6%) dan yang tidak bekerja (49.6%).000 0.1 6.0 28.4 76. Pada tahun 20022004.5 23. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perbedaan karakteristik responden yang bermakna sebelum dan sesudah kemitraan adalah dalam hal pekerjaan. keterlambatan pengobatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan puskesmas. Analisis data menggunakan uji Chi Square dan Mann Whitney-U. akses pelayanan kesehatan dan perilaku mencari pengobatan. pertemuan monitoring bulanan dengan petugas TB yang diselenggarakan di tingkat Puskesmas Rujukan Mikroskopis. dibawa pasien dan diambil petugas TB ketika berkunjung). Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang dimodifikasi dari kuesioner limited access (LA) Fidelis-IUATLD dan kuesioner evaluasi PPM DOTS yang dilaksanakan di Hyderabad India6. khususnya yang bekerja sebagai buruh (6. Badung dan Buleleng).000 0.9 6.3 32.6 3.1 32.389 0.6 67. Sampel penelitian ini adalah 49 pasien TB BTA (+) triwulan III (bulan Juli-September 2004) sebagai kelompok pembanding dan 51 pasien pada triwulan IV (Oktober-Desember) sebagai kelompok intervensi setelah kemitraan. telah dilakukan sosialisasi mengenai strategi DOTS kepada dokter praktik swasta (DPS).5 X2 p 0. 4 Desember 2007 167 .205 0.0% versus 19.006 0.0 29. dampak intervensi tersebut bagi pasien belum dievaluasi.8 21.4 42. pelatihan detailing bagi petugas TB puskesmas untuk melakukan surveilans ke PSw melalui kunjungan ke tempat praktik. biaya langsung dan tidak langsung.977 14.999 0.7 6.6 19. Sejak September 2004. dilakukan kegiatan kerja sama dengan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan. kemitraan dengan praktisi swasta (PSw) mulai dikembangkan secara bertahap.1 49. meskipun sejak tahun 2000 semua puskesmas telah melaksanakan program TB. Penelitian dilaksanakan di kota Denpasar.1% versus 21. Fakultas Kedokteran UGM dan Fidelis IUATLD untuk memperkuat kemitraan Puskesmas dan PSw dokter.6 80.0 20. Vol.1 6.4 79.999 0.4 23. Tabel 1. Data pasien BTA (+) diperoleh dari register TB kabupaten. Sejumlah lima surveyor dilatih untuk menggunakan instrumen dengan cara wawancara pasien.3 Situasi yang sama terjadi di kota Denpasar. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuasieksperimental dengan rancangan pre-post test menggunakan subyek yang berbeda.000 0.7 Setelah Kemitraan (n 51) n % 25 26 15 12 20 4 11 2 18 10 10 10 41 39 12 49.999 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.3 19. Intervensi terdiri dari advokasi ke PSw tentang DOTS dan pilihan peran PSw melalui lunch seminar. Variabel utama yang diteliti adalah keterlambatan diagnosis. No.6 19. 10. Sejak tahun 2002. Karakteristik Responden Penelitian (n=100) Karakteristik Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tamat SD SMP SLTA PT Pekerjaan Buruh PNS Karyawan Swasta Wiraswasta Tidak bekerja Memiliki Kartu Sehat Ya Tidak Status Perkawinan Kawin Tidak Kawin Sebelum Kemitraan (n 49) n % 25 24 14 11 21 3 3 3 16 3 24 10 39 33 16 51. akan tetapi angka penemuan kasus tetap belum dapat mencapai target program 70%.5 39. namun pelatihan ini belum diikuti dengan tindak lanjut monitoring dan evaluasi penerapan strategi DOTS di DPS.6 22.2 7. bidan dan perawat. Kontribusi PSw dalam menemukan BTA(+) mencapai 20% dari total BTA(+) di 3 kabupaten yang diintervensi (Denpasar.0 49. form pengiriman pasien untuk diagnosis/pengobatan rangkap tiga (untuk disimpan dokter.

00 Setelah Kemitraan Q1 Q2 Q3 6.00 p 0.4 57..00 1. UPK yang pertama kali menganjurkan responden memeriksa dahak pada kelompok sebelum kemitraan masih didominasi Puskesmas.1 63. 10. Pada kelompok setelah kemitraan justru PSw yang pertama kali menganjurkan pemeriksaan dahak. Diagnosis hingga Pengobatan Lama waktu antara: Gejala–diagnosis (minggu) Diagnosis–pengobatan (hari) Gejala-kunjungan pertama ke UPK (minggu) Kunjungan pertama–pengobatan (minggu) Gejala–pengobatan (minggu) Sebelum Kemitraan Q1 Q2 Q3 7.9 .001 0.00 7.00 2.50 5.00 11.75 4.001* 0.7 71.9 37.00 13. 999 Tabel 3. Program kemitraan belum mempercepat waktu dari mulai terdiagnosa hingga diobati karena nilai median (Q2) lama waktu mulai terdiagnosis hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan sama dengan kelompok responden sebelum kemitraan.0 26.501 0. Lama sejak mulai muncul gejala hingga diagnosis menunjukkan bahwa program kemitraan mempercepat penemuan kasus TB.1 35.528 0.0 22.4 6. Vol. diikuti dengan rumah sakit dan praktik swasta.00 4.Luh Putu Sri Armini. Hanya sekitar 20% responden baik sebelum maupun setelah kemitraan yang langsung mendapatkan pengobatan DOTS.146 6.5 20. Perbedaan median tersebut tidak signifikan secara statistik (p>0.4 21.00 1..6 18. UPK tempat pengobatan DOTS terbanyak adalah di Puskesmas.895 0. Program kemitraan belum mampu menurunkan lama muncul gejala hingga pasien berkunjungan pertama kali pada suatu UPK. dkk. Pada Tabel 2 dapat dilihat UPK yang pertama kali dikunjungi responden untuk mengobati penyakitnya adalah praktik swasta diikuti oleh pengobat tradisional puskesmas dan rumah sakit.05).4 43.00 10.0 45.702 0.305 0.00 0. Upaya Mencari Pengobatan Sebelum dan Sesudah mendapatkan Pengobatan DOTS Uraian UPK yang pertama kali dikunjungi sebelum pengobatan DOTS Tradisional Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK yang pernah dikunjungi sebelum pengobatan DOTS Tradisional Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK yang menganjurkan pemeriksaan Dahak Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK tempat pengobatan DOTS Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit Sebelumnya mencari pengobatan lain Ya Tidak Sebelum Kemitraan (n 49) n % Setelah Kemitraan ( n 51) n % X2 p 7 27 4 2 9 32 18 11 10 28 11 3 31 15 40 9 17.00 1.222 0.2 85.7 42.5 67.3 82.75 6.999 0.9 56.3 30.1 22.6 5. 034 1.00 3.0 5. 4 Desember 2007 .00 21.05). Lama Waktu Sejak Muncul Gejala.001 0.50 10.9 21.50 13.00 1. No.3 21. Tabel 2.00 9. Perbedaan median tersebut signifikan secara statistik (p<0. Lama waktu dari mulai muncul gejala hingga pasien melakukan kunjungan pertama kali pada suatu UPK pada kelompok sebelum kemitraan dan sesudah kemitraan relatif sama.155 0.05).00 21.75 6.00 6. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) lama waktu mulai muncul gejala hingga terdiagnosis pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan.00 12.6 81.00 3.016* 0.4 11.6 2.264 0.699 0.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta .00 5.694 0. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) yang relatif sama karena tidak signifikan secara statistik (p>0.5 80.5 10.763 0.00 11.00 6.029* 168 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.017 0.00 8.0 27.4 7 30 5 0 11 36 18 9 22 18 11 3 29 19 42 9 16. Kunjungan Pertama ke Pelayanan Kesehatan.

Total biaya keseluruhan yang dikeluarkan sebelum mendapatkan pengobatan DOTS.629 0. responden sebelum kemitraan dan setelah kemitraan juga relatif sama karena hasil Mann Withney tidak signifikan (p>0.909 0.500 6.000 0 9.971 0. Hal tersebut berarti selama menjalani pengobatan TB kebanyakan responden tidak mengeluarkan biaya atau gratis. Median biaya tak langsung sebesar Rp43.000 5.785 0.05).400 147.000 23.900 2.701 0. di setiap UPK sebelum mendapatkan pengobatan DOTS terpapar dalam Tabel 5. baik biaya langsung maupun tak langsung dan total biaya yang dikeluarkan.500 12.000 4.000 168. Secara statistik perbedaan tersebut signifikan.250 5.000 5.750 316.00 pada kelompok sebelum kemitraan dan Rp68.717 0.600 304.00 pada responden setelah kemitraan dan secara statistik juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Lama waktu dari mulai kunjungan pertama kali ke suatu pelayanan kesehatan hingga diobati menunjukkan bahwa program kemitraan mempercepat pengobatan kasus TB. Nilai median (Q2) lama waktu mulai muncul gejala hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan. Vol.400 8.000 470.500 2.000 19.000 591.500 52.000 60.525 763.600.000.000 9.000 3.416 0.424 0.065 0.200 458. karena terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok tersebut. Perbandingan Biaya Pengobatan sebelum Mendapatkan Pengobatan DOTS Biaya UPK sebelum Pengobatan DOTS Pengobatan Tradisional Langsung Tidak langsung Total Praktik Swasta Langsung Tidak langsung Total Puskesmas Langsung Tidak langsung Total Rumah Sakit Langsung Tidak langsung Total Q1 Sebelum Kemitraan Q2 Q3 Q1 Setelah Kermitraan Q2 p Q3 0.05).500 76. Biaya yang telah dikeluarkan untuk mencari pengobatan penyakitnya.400 90.750 0.200 187.375 6.500 12.500 192.625 49.000 197.800 94.850 6.500 116. Secara statistik perbedaan tersebut signifikan.459 1.000 63.046* 0.000 353.050 659.800 352. No.000 0.600 184.370 0.05).304 Tabel 5.000 15.000 183.000 150.660.000 536.000 5. Dari Tabel 3 dapat disimpulkan bahwa program kemitraan mempercepat penemuan dan pengobatan kasus TB di Kota Denpasar. 4 Desember 2007 169 .00 pada kelompok setelah kemitraan namun tidak berbedaan secara signifikan (p>0.000 12.649 35.400 20.000 4.000 1.038* 0.000 7.000 7.486 0.000 284.000 460.200 120.850 10.750 152.000 4.120 0.800 95.350 0 43.000 5. biaya tak langsung maupun total biaya.000 18.430.000 320.500 300.000 160.250 9.400 302.500 113.200.000 90.800 6.729.223.000 14.200 69.800 15.00 pada kelompok responden kelompok sebelum kemitraan dan Rp47.950 710.200 0 47.700 9.850 312. Lama waktu dari mulai muncul gejala hingga diobati menunjukkan bahwa program kemitraan juga mempercepat pengobatan kasus TB.800 370.900 586.400 68.000 87.000 61.200 60.600 36. Median total biaya yang dikeluarkan selama pengobatan sebesar Rp69.250 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.800 109.000 65.000 15. Median biaya langsung yang dikeluarkan selama pengobatan DOTS sebesar 0 dan secara statistik juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.000 300.000 60. baik biaya langsung.800 10.250 8.750 1. Biaya pengobatan sebelum dan selama pengobatan DOTS Biaya ke UPK Selama Pengobatan DOTS Langsung Tidak langsung Total Sebelum Pengobatan DOTS Langsung Tidak langsung Total Q1 Sebelum Kemitraan Q2 Q3 Q1 Setelah Kermitraan Q2 p Q3 0 10.000 116. 10.000 6.600 30.05). Tabel 4.000 3.750 292. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) lama waktu mulai kunjungan pertama kali ke suatu pelayanan kesehatan hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan.500 10.600 2.500 27.400.000 107.000 4.200 34.

dkk. disamping juga akan memperluas 2. Pembanding diambil dari pasien TB BTA(+) triwulan III sebelum kemitraan dilaksanakan.. 4 Desember 2007 . Biaya yang dianalisis dalam penelitian ini adalah biaya tunai yang dikeluarkan oleh penderita selama mencari pengobatan dan menjalani pengobatan DOTS.8 Beberapa hal yang mempengaruhi keterlambatan dari pasien antara lain : pengetahuan pasien tentang TB. Keterlibatan UPK praktik swasta yang semakin besar mempercepat waktu dari muncul nya gejala hingga terdiagnosis maupun pengobatan DOTS. Sesuai kebijakan Dinas Kesehatan Provinsi Bali dan kota Denpasar perluasan TB DOTS dilaksanakan pada lebih banyak rumah sakit swasta dan praktisi swasta termasuk bidan dan perawat. No. Berbeda dengan hasil evaluasi ekonomi yang dilaksanakan pada pelaksanaan PPM DOTS di Hyderrabad dan New Delhi India. Responden yang ditemukan oleh UPK praktik swasta kemungkinan melanjutkan pengobatan DOTS di Puskesmas atau Rumah Sakit. 9 Biaya yang dikeluarkan oleh penderita TB untuk mencari pengobatan sebelum menjalani pengobatan DOTS baik responden sebelum kemitraan maupun setelah kemitraan tidak berbeda bermakna. Di Provinsi Bali khususnya di Kota Denpasar masih banyak potensi pelayanan praktisi swasta yang memungkinkan untuk dilibatkan dalam penemuan kasus TB. Bagi penelitian lain disarankan untuk melakukan penelitian tentang biaya yang harus ditanggung akibat dari pencarian pengobatan penyakitnya dan menjalani pengobatan DOTS. Akan tetapi tidak semua praktik swasta dipilih menjadi tempat pengobatan DOTS secara rutin bagi penderita TB.05). 7 Responden kelompok sebelum kemitraan yang berkunjung ke UPK praktik swasta lebih banyak tidak menganjurkan pemeriksaan dahak. puskemas dan rumah sakit (p>0. Program kemitraan telah berhasil mempengaruhi perilaku UPK untuk mencurigai pasien yang batuk dan keluhan dada lain untuk diperiksa lebih lanjut terutama pada praktik swasta dan rumah sakit.Luh Putu Sri Armini. Penggunaan kontrol pelaksanaan program kemitraan dengan daerah lain tidak dilakukan karena pelaksanaan program kemitraan telah dilaksanakan di seluruh Provinsi Bali. Median biaya langsung untuk mencari pengobatan tradisional yang dikeluarkan responden kelompok sebelum kemitraan lebih besar dibandingkan kelompok setelah kemitraan. Hal tersebut menunjukkan bahwa perilaku masyarakat dalam pencarian untuk penyakit yang dideritanya baik pada kelompok responden sebelum kemitraan maupun setelah kemitraan masih relatif sama. sedangkan pada responden kelompok setelah kemitraan justru lebih banyak yang telah dianjurkan untuk memeriksakan dahak.. PEMBAHASAN 1. Pembahasan Isi dan Konteks Program TB di Denpasar Bali Program kemitraan mempercepat penemuan kasus TB BTA (+) di UPK praktik swasta dan pasien segera mendapatkan pengobatan DOTS. Penderita yang lebih dini ditemukan akan mempengaruhi kecepatan pengobatannya.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta . sehingga banyak fasilitas pelayanan kesehatan selain puskesmas yang harus dilibatkan. biaya tak langsung dan total biaya yang dikeluarkan responden kelompok sebelum kemitraan dan setelah kemitraan tidak terdapat perbedaan baik pada UPK praktik swasta. sehingga program kemitraan juga telah dilaksanakan di semua kabupaten lain. Vol. di ikuti dengan rumah sakit umum. PPM DOTS yang dilaksanakan di Hyderrabad dan New Delhi India mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh pasien. Penelitian ini tidak dapat membandingkan daerah yang melaksanakan program kemitraan dengan daerah lain yang belum melaksanakan program tersebut. sebaliknya biaya tak langsung sebelum kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok setelah kemitraan. Median biaya langsung. jaringan TB DOTS ke seluruh petugas puskesmas pembantu di Bali termasuk Denpasar. tempat tinggal pasien yang jauh dari fasilitas kesehatan dan bila pasien itu seorang pecandu alkohol. Hasil Survei prevalensi TB tahun 2004 menemukan bahwa proporsi pasien yang mendapat pengobatan awal di puskesmas hampir sama dengan praktik swasta yaitu sekitar 40-60%. rumah sakit swasta dan klinik swasta. Keterlambatan tersebut kemungkinan karena pasien disebut ”patient delay” yaitu rentang waktu antara gejala dimulai sampai pasien mengunjungi fasilitas kesehatan. Biaya akibat kehilangan waktu kerja selama mencari pengobatan penyakitnya dan menjalani pengobatan DOTS tidak dihitung. Semakin banyak UPK praktisi swasta yang terlibat dengan dalam penemuan kasus TB menunjukkan program kemitraan di Denpasar semakin berhasil. Pembahasan Metodologis Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan program kemitraan di Kota Denpasar seharusnya dilakukan penelitian komparatif. perbedaan tersebut karena di Hyderrabad dan New 170 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.05). Perubahan tersebut karena program kemitraan yang dilakukan dengan melatih UPK praktik swasta untuk menemukan TB. Total biaya di UPK pengobatan tradisional tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0. 10.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Delhi India pelaksanaan PPM DOTS dilaksanakan oleh lebih banyak sektor praktisi swasta, rumah sakit swasta, perawat swasta, dan laboratorium swasta yang tidak memungut bayaran pada pasien TB yang berobat, sedangkan di Denpasar yang tidak dibayar oleh pasien hanya alat TB (di semua UPK dan praktisi) dan laboratorium (di Puskesmas). Implikasi Hasil Penelitian terhadap Kebijakan dan Program TB di Denpasar Program kemitraan yang dilakukan di Kota Denpasar telah meningkatkan penemuan kasus TB BTA (+) dan memperpendek waktu dari munculnya gejala hingga diagnosis dan pengobatan. Hal tersebut berarti keterlibatan praktik swasta di Kota Denpasar terhadap pemberantasan TB semakin besar, walaupun belum optimal. Hasil penelitian menemukan masih terdapat UPK praktik swasta yang tidak menganjurkan pemeriksaan dahak kepada pasien dengan gejala TB. Pemeriksaan dahak merupakan salah satu upaya untuk menegakkan diagnosis TB pada pasien yang diduga terjangkit TB. Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis dilakukan terhadap dahak sewaktu pagi sewaktu (SPS) secara mikroskopis identik dengan pemeriksaan secara kultur atau biakan.10 Undang-Undang Praktik Kedokteran No. 29/ 2004 secara spesifik menyebutkan adanya kewajiban dari semua praktisi dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar yang artinya praktisi swasta seharusnya mengetahui dan menerapkan International Standar TB Care (ISTC) yaitu manajemen DOTS. Secara kualitas maupun kuantitas, keterlibatan praktik swasta harus ditingkatkan dengan melibatkan UPK yang lebih banyak karena pada tahap awal UPK praktik swasta yang dilibatkan, termasuk UPK praktik swasta paramedis dan bidan. Advokasi DOTS dan promosi standar pelayanan TB dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar diperlukan memperkuat jejaring antara klinik praktik swasta, rumah sakit dan pelayanan kesehatan yang lain yang belum menerapkan DOTS. Hal tersebut dikarenakan kebijakan kesehatan merupakan kewenangan daerah akibat dari desentralisasi masalah kesehatan. Peran Dinas Kesehatan yang lebih besar dibutuhkan untuk melibatkan lebih banyak praktisi swasta yang ada di Denpasar. Hal tersebut tidaklah mudah karena banyaknya praktisi swasata yang ada di Denpasar dan memerlukan pembiayaan untuk melaksanakan ekspansi tersebut. Saat ini ekspansi 3.

DOTS di Denpasar didanai dari Global Fund (GF), diperlukan juga suatu komitmen dari pemerintah kota untuk pembiayaan DOTS ini kalau GF sudah tidak mensubsidi dana lagi. Perluasan manajemen DOTS di Denpasar dikaitkan juga dengan regulasi perijinan dokter praktik swasta yang mencari izin praktik. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kesimpulan studi ini adalah bahwa program kemitraan Puskesmas-praktisi swasta di Denpasar dapat mempercepat penemuan kasus TB BTA (+) dan mempersingkat jarak antara diagnosis dan pengobatan dengan DOTS. Akan tetapi program kemitraan ini belum dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan oleh pasien, baik sebelum maupun sesudah memperoleh pengobatan DOTS. Saran Disarankan agar Dinas Kesehatan membuat kebijakan untuk melanjutkan model kemitraan Puskesmas-PSw ini. Selain itu, petugas TB Puskesmas menyarankan PSw untuk melakukan promosi kesehatan terhadap pasien dan memberikan penjelasan mengenai kemungkinan kunjungan oleh Puskesmas apabila terjadi mangkir pengobatan. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk menghitung total biaya pasien, termasuk opportunity cost. Kelompok pembanding (yaitu kabupaten yang belum melaksanakan kemitraan Puskesmas-PSw) dapat memperkuat rancangan penelitiannya. KEPUSTAKAAN 1. WHO. WHO Report 2006: Global Tuberculosis Control.2006. 2. Arora, V.K., Lonnroth, K. & Sarin, R. Improved Case Detection of Tuberculosis through a PublicPrivate Partnership Indian Journal of Chest Disease & Allied sciences. 2004;46:133-6. 3. Sub Dinas PPM & PLP Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Laporan Hasil P2 Tuberkulosis di Bali. 2004. 4. Sub Dinas P2P Dinas Kesehatan Denpasar Bali. Laporan Hasil P2 Tuberkulosis di Denpasar. 2004. 5. Utarini, A., Mahendradhata, Y., Syahrizal, B.M. Project Report Program Akselerasi Kemitraan Pemerintah – Praktisi Swasta Dalam Pengendalian Tuberkulosis di Provinsi DIY dan Bali. PMPK FK UGM, Fidelis & IUATLD. 2005. 6. Murthy, K.J.R., Frieden, T.R., Yazdani, A., Hreshikesh, P., (2001). Public-Private Partnership in Tuberculosis Control: Experience in Hyderabad, India. The International Journal

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

171

Luh Putu Sri Armini, dkk.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta ...

7.

8.

of Tuberculosis and Lung Disease. 2001;5 (4): 354-9. Soemantri, S. Senewe, F.P. eds. Tuberculosis Prevalence Survey in Indonesia 2004; Project DOTS Expansions GF ATM. 2005. Demissie, M, Lindtjorn, B, & Berhane, Y. Patient and Health Service Delay in the Diagnosis of Pulmonary Tuberculosis in Ethiopia. Biomedcentral Public Health. 2002; 2(23):1-7.

Rajeswari, R., Chandrasekaran V., Suhader, M., Siva Subramaniam,.S., Sudha, G., Renu, G. Factors Associated with Patient and Health System Delays in The Diagnosis of Tuberculosis in South India. The International Journal of Tuberculosis and Lung Disease. 2002;6 (9): 789-95. 10. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Jakarta. 2002.

9.

172

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 10 No. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 173 - 180 Artikel Penelitian

OPSI-OPSI KEBIJAKAN UNTUK PELATIHAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN: PEMBELAJARAN DARI PENELITIAN POLA PENINGKATAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA DALAM OTONOMI DAERAH BIDANG KESEHATAN
POLICY OPTIONS FOR HEALTH PERSONNEL’S TRAINING; LESSON LEARNED FROM THE RESEARCH ON THE PATTERN OF IMPROVING HUMAN RESOURCES COMPETENCY IN HEALTH SECTOR AUTONOMY Evie Sopacua, Didik Budijanto Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan

ABSTRACT
Background: A tendency according to the implementation of health decentralization is that health centre and hospital will change into an entrepreneurship organization while health offices will be a birocracy organization with good governance practicisme. In connection with that, various new skills for health personnel’s is needed which is managerial, leadership and entrepreneurship. Method: In the year 2002–2004, Health Services and Technology Research and Development Centre have done a study about the pattern of improving human resources competency in health sector autonomy. The study was done through several phases and in 2002 an assessment was done about health personnel’s managerial, leadership and entrepreneurship skills. In 2003 the assessment’s result was implemented, followed by an evaluation of the implementation in 2004. This study located in the province of East Java, West Nusa Tenggara and East Kalimantan. Two districts was selected purposively in each province and the research targets were the head and staff of district health office, hospital and two health centers in the selected district Result: Lesson learned from this study was some policy options. First, structuring the pattern of health personnel’s improvement in a system. Second, integrating the four level evaluation of Kirkpatrick in the training evaluation. Third, planning and implementing an effective training program using Kirkpatrik’s steps while the budget was counted with paying attention of the activity and phases according to the plan. Fourth, a management of a training program to escalate health personnel’s competencies will involved stake holders. Fifth, that health personnel’s in district health office needs to have the competency to organize and manage training programs. Conclusion: The policy option that was proposed to improve health personnel’s skill through training should be considered in the restructuretation of district health office specially in anticipating the implementation of government regulation No. 38/2007 and 4/2007. Keywords: policy options, lesson learned, health personnel’s training program

harus memahami good governance. Untuk itu, diperlukan berbagai keterampilan baru bagi sumber daya manusia kesehatan yaitu keterampilan manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan. Metode: Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan pada tahun 2002–2004 melaksanakan penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan. Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa tahapan yaitu pengkajian keterampilan SDM kesehatan tentang manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan (2002), implementasi hasil kajian melalui pelatihan (2003) dan evaluasi implementasi pelatihan (2004). Lokasi penelitian di Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Timur. Secara purposif dipilih dua kabupaten/kota di tiap provinsi penelitian dan sasaran penelitian adalah kepala dan staf dinas kesehatan kabupaten/ kota, direktur dan staf rumah sakit umum kabupaten/kota serta kepala dan staf di dua puskesmas di kabupaten/kota penelitian. Hasil: Pembelajaran dari penelitian ini adalah beberapa opsi kebijakan. Pertama yaitu penataan pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam suatu sistem. Opsi kedua adalah memasukan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dalam evaluasi pelatihan. Opsi ketiga adalah perencanaan dan implementasi program pelatihan yang efektif menurut Kirkpatrick dengan anggaran yang dihitung berdasarkan langkah kegiatan dan tahapan sesuai perencanaan. Keempat, bahwa penataan pelaksanaan suatu pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Opsi kelima, bahwa SDM di dinas kesehatan kabupaten/kota perlu memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan pelatihan. Kesimpulan: Opsi-opsi kebijakan yang diusulkan untuk peningkatan keterampilan SDM kesehatan melalui pelatihan, perlu mendapatkan pertimbangan dalam restrukturisasi dinas kesehatan kabupaten/kota khususnya mengantisipasi pelaksanaan PP No. 38/2007 dan No. 41/2007. Kata Kunci : opsi kebijakan, pembelajaran, pelatihan SDM kesehatan

ABSTRAK
Latar belakang: Sehubungan dengan pelaksanaan desentralisasi kesehatan maka terdapat kecenderungan perubahan rumah sakit dan puskesmas ke arah lembaga usaha, sedangkan dinas kesehatan menjadi lembaga birokrat yang

PENGANTAR Penerapan desentralisasi di bidang kesehatan pada tahun 1999 menyebabkan dinas kesehatan termasuk puskesmas, rumah sakit mendapat tugas dan wewenang yang sangat besar dalam era otonomi

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

173

negosiasi lobi. Variabel yang dikaji pada keterampilan manajerial meliputi manajemen perubahan yang diukur dari penanganan perubahan reaktif dan proaktif. Wawancara menggunakan kuesioner dengan skala peringkat dan sistem skoring untuk mengukur aspek konatif SDM kesehatan tentang keterampilan manajemen perubahan dan manajemen konflik. orientasi pada tugas–hasil dan optimisme/ percaya diri. Keterampilan kepemimpinan dikaji pada variabel keterampilan direktif. Secara purposif dipilih dua kabupaten/ kota di tiap provinsi penelitian dan sasaran penelitian adalah kepala dan staf dinas kesehatan kabupaten/ kota. isu strategik/pengembangan. Terkait dengan pelaksanaan desentralisasi kesehatan maka kecenderungan perubahan rumah sakit dan puskesmas ke arah lembaga usaha atau enterpreneurship. rumah sakit umum daerah dan rencana tahunan puskesmas dilakukan untuk mengkaji pemahaman konsep manajemen strategik. serta keterampilan kewirausahaan. kajian faktor eksternal dan internal lembaga. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan keterampilan dari SDM kesehatan. budaya. sedangkan menurut Prud’Homme & Mc Lure seperti yang dicatat Trisnantoro 1. Maka Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan melaksanakan penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan pada tahun 2002 – 2004.. hasil penelitian Gilsons menurut Trisnantoro1 menunjukkan bahwa secara praktis perlu perubahan yang incremental. No. bisnis dan fungsional. serta kepala dan staf di dua puskesmas di kabupaten/kota penelitian. keterampilan kepemimpinan. Kemudian manajemen konflik yang diukur dari bentuk manajemen konflik (stimulasi/ penekanan/penyelesaian) dan metode yang digunakan.Evie Sopacua. Pelaksanaan Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi SDM Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Penelitian pengembangan ini dilaksanakan dalam suatu pola dengan beberapa tahapan pelaksanaan yaitu pengkajian keterampilan manajerial SDM kesehatan yang diharapkan dan kenyataannya tahun 20022. Vol. kepemimpinan dan kewirausahaan. Untuk itu.. Manajemen strategik diukur melalui perumusan visi. implementasi hasil kajian melalui pelatihan tahun 2003 3 dan evaluasi implementasi pelatihan tahun 2004. daerah (otoda). politik. misi. dalam keadaan otonomi daerah diperlukan berbagai keterampilan baru dalam aplikasi otonomi daerah. kepemimpinan dan kewirausahaan perlu dilakukan. dan mengelola aspek sosial. kepemimpinan dan kewirausahaan SDM kesehatan seperti yang ditunjukkan Tabel 1.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . dkk. Trisnantoro1 menjelaskan bahwa keterampilan yang diperlukan SDM kesehatan adalah mengelola perubahan. tujuan. pemasaran.1 Fenomena perubahan institusi pelayanan kesehatan kearah dua kutub yang berbeda yaitu kutub birokrasi dan kutub lembaga usaha perlu dipahami oleh para pimpinan lembaga kesehatan khususnya di daerah karena masing-masing kutub mempunyai kultur yang berbeda. partisipatif dan orientasi prestatif dan keterampilan kewirausahaan pada variabel keterampilan keberanian mengambil risiko. 10. Pada penelitian tahap pertama tahun 20022 dilakukan pengkajian untuk menemukan gap antara keterampilan manajerial SDM kesehatan yang diharapkan dan kenyataannya. dan ekonomi yang kesemuanya akan berdampak pada kinerja organisasi. Observasi dan penelusuran dokumen rencana strategik dinas kesehatan. supportif. khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang terlibat didalamnya. Berdasarkan hasil pengkajian dibuat draf modul untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan. Pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara dan observasi. penerapan strategi dan rencana pelaksanaan dalam rencana strategik institusi. 4 Desember 2007 . Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Hasil penelitian menunjukkan gambaran keterampilan manajerial. sedangkan dinas kesehatan cenderung menjadi lembaga birokrat yang harus memahami good governance atau menjadi holding company dari puskesmas dan berbagai lembaga pelayanan kesehatan lainnya. direktur dan staf rumah sakit umum kabupaten/ kota. Sehubungan dengan itu. strategi umum. 174 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. kemampuan manajerial SDM kesehatan yang perlu dimiliki adalah keterampilan manajerial. 4 Lokasi penelitian di Provinsi Jawa Timur (Jatim). menciptakan usaha. Kebutuhan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi SDM kesehatan tentang keterampilan manajerial. Hasil kajian merupakan kebutuhan SDM kesehatan untuk peningkatan keterampilan.

terbanyak responden masih kurang. No.7) 14 (63. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit di Kabupaten pada Tiga Provinsi Penelitian Variabel Yang Dinilai 1. masing-masing di satu kabupaten pada ketiga provinsi penelitian. Vol. 91. prestatif. terbanyak terbanyak dalam aspek pemasaran. kurang. dalam aspek pemasaran.1% responden masih kurang.7) 5 (22.5) 4 (18. diharapkan. responden masih perlu peningkatan pemahaman. draf modul disempurnakan menjadi modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan.6) 15 (68. maka draft modul yang dibuat tentang keterampilan kewirausahaan dalam aspek pemasaran. rumah sakit umum daerah dan puskesmas di Provinsi Kalimantan Timur. Disarankan untuk melaksanakan capacity building melalui pelatihan untuk implementasi modul. responden masih kurang.3% Keterampilan kewirausahaan 54.1) - - 5 (20. Sangat sesuai Sumber : Budijanto dan Sopacua3 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kepemimpinan dan Kewirausahaan SDM Kesehatan di Tiga Provinsi Penelitian Provinsi Jawa Timur Provinsi Kalimantan Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (n=82) (n=61) (n=35) 1.2% Keterampilan kepemimpinan 62.90% responden masih kurang terbanyak responden masih kurang. 2. Pengembangan modul didampingi expert dari Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.1% 56. implementasi modul dalam tahap kedua penelitian dilaksanakan dengan dua cara. Surabaya sebagai konsultan karena keterbatasan waktu dan anggaran.0) 2 (8. Tidak sesuai. Hasil Evaluasi Proses Pembelajaran Modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan.1% responden masih kurang.2) 3 (13.3) 17 (77. Evaluasi proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan format evaluasi tahap satu dari Kirkpatrick6 dan observasi peneliti (menggunakan format).2) Kabupaten C Provinsi NTB n=25 (100%) 1 2 3 4 23 (92. 2.3% responden mempunyai Keterampilan untuk mengelola konflik Keterampilan untuk mengelola konflik keterampilan mengelola konflik masih 90.2) 4 (18. Tabel 2. Sesuai.0) 3 (12.2) 5 (22. Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur. Pembelajaran materi modul relevan dengan tupoksi sehari-hari 2.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 1. Keterampilan Kewirausahaan Keterampilan kewirausahaan dari Keterampilan kewirausahaan 54. Proses pembelajaran ini dilaksanakan selama tiga hari. Pembelajaran materi modul relevan dengan program institusi 3.0) 17 (68.5 % responden masih kurang.0) - - 1 (4. 3. mengisi kertas kerja berupa refleksi pemahaman terhadap materi modul dan diskusi. 10.2) 4 (18. Sangat tidak sesuai. Cara penyampaian materi modul dalam pembelajaran Kabupaten A Provinsi Jatim n=22 (100%) 1 2 3 4 17 (77. Modul dikembangkan menggunakan hubungan pelanggan atau Customer Relationship Marketing (CRM) sebagai strategi pemasaran. Hasil evaluasi pelaksanaan pembelajaran modul terlihat pada Tabel 2. terbanyak pada aspek suportif dan orientasi untuk aspek suportif dan orientasi untuk aspek suportif dan orientasi prestatif prestatif. Keterampilan Kepemimpinan Keterampilan kepemimpinan dari 50% Keterampilan kepemimpinan 52. Gambaran Keterampilan Manajerial.0) - - - Keterangan : Skor : 1. Penilaian pemahaman konsep sedangkan untuk komponen aplikasi sedangkan untuk aplikasi dari manajemen strategik dalam aplikasi dari manajemen strategik melalui manajemen strategik melalui rencana strategik (renstra) belum normatif penyusunan rencana strategik rencana strategik (renstra) belum normatif sebagaimana yang sebagaimana yang diharapkan.3) 16 (72.6) 16 (72.7) 4 (18.5) 2 (9.0) 20 (80. Sumber : Budijanto dan Sopacua2 Kesimpulan pada tahap pengkajian ini adalah bahwa keterampilan kepemimpinan dan kewirausahaan SDM kesehatan masih kurang. 4. dalam aspek pemasaran. 4 Desember 2007 175 . terbanyak responden masih kurang.0) 5 (20. 3.7) 4 (18. Cara pertama adalah proses pembelajaran dengan penjelasan materi modul. Keterampilan Manajerial Ada 74. Untuk itu.2) Kabupaten B Provinsi Kaltim n=22 (100%) 1 2 3 4 1 (4. baik di dinas kesehatan. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit. perlu meningkatkan kompetensi SDM kesehatan sesuai dengan perkembangan pelayanan rumah sakit dan puskesmas di masa mendatang. Pada tahap kedua penelitian tahun 20033.

7) 10 (71. hanya sebagian materi 12 (70. Pada tahap ketiga penelitian tahun 20044.7) 2. Cara kedua adalah sosialisasi yaitu penjelasan materi dengan diskusi tanpa pengisian kertas kerja.0) 3 (21.3) 2 (14. tetapi hanya yang berasal dari rumah sakit umum daerah dan dari dua puskesmas terpilih di tiga provinsi penelitian serta kepala dinas dan kepala subdin bina pelayanan dinas kesehatan kabupaten/kota. Ada kesempatan menerapkan sebagian materi dan cukup dukungan fasilitas 17 (100) 12 (100) 13 (92.1) Tahap 3 : Behaviour Level : pelaksanaan diseminasi materi modul 1.0) Tahap 4: Result level: rencana penerapan materi modul di institusi (puskesmas & rumah sakit umum daerah) 1. dilakukan dalam satu hari. masing-masing di satu kabupaten pada ke tiga provinsi penelitian.3) 7 (50. b. Tidak berpendapat 1 (8.4) 2. Tidak ada kesempatan dan dukungan fasilitas 1 (7.7) 7 (50. Vol. Evaluasi tahap 2 atau Learning Level: 60% responden menyatakan dapat menerapkan sebagian dari materi pelatihan ke dalam integritas pekerjaan mereka sehari-hari. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit Menggunakan Evaluasi 4 Tahap dari Kirkpatrick di Tiga Provinsi Penelitian Provinsi Jatim Provinsi Kaltim Provinsi NTB n=17 (%) n=17 (%) n=14 (%) Tahap 1 : Reaction level : materi pelatihan bermanfaat karena relevan dengan pekerjaan sehari-hari (tupoksi) 1. tetapi keterbatasan anggaran dan waktu menyebabkan pilihan ini. Tidak berpendapat 5 (29. dilakukan evaluasi implementasi modul menggunakan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick. Pelatihan merupakan komponen penting dari pembelajaran atau learning5 tetapi diharapkan proses ini dapat menghasilkan perubahan yaitu didapatnya kemampuan baru yang berlaku untuk waktu yang relatif lama. a.7) 6 (42.3) 3.0) 2. Dilakukan. Penilaian pada setiap tahap evaluasi adalah sebagai berikut.6 Evaluasi dilaksanakan pada responden dari puskesmas dan rumah sakit.6) 5 (41. dkk..9) 3 (25. Kesimpulan pada penelitian tahap kedua ini bahwa proses pembelajaran dan sosialisasi materi modul sebagai cara pelatihan untuk meningkatkan keterampilan SDM kesehatan dapat dilakukan.4) 4 (33. Hasilnya tidak jauh berbeda karena kesesuaian materi modul pada Tabel 2.9) 3. Proses pembelajaran dan sosialisasi ini diikuti oleh responden yang sama pada penelitian tahun 2002. lebih dari 60% di ketiga provinsi penelitian sama dengan evaluasi tahap 1 (reaction level) dalam Tabel 3. Proses pembelajaran dan sosialisasi bukan metode yang tepat untuk pengalihan pengetahuan materi modul.1) 8 (66. tetapi yang menerapkan materi modul dalam pekerjaannya sehari-hari. Budijanto.Evie Sopacua. Evaluasi Implementasi Modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan. No. Evaluasi tahap 4 atau Result Level: 60% peserta pelatihan dapat membuat rencana penerapan materi pelatihan untuk dilaksanakan dalam kegiatan sehari-hari.0) 2 (14. khususnya dalam menciptakan program-program CRM sebagai suatu strategi pemasaran. c. baik yang mengikuti pembelajaran dan sosialisasi pada penelitian tahun 2003. 4 Desember 2007 .: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . Evaluasi proses sosialisasi hanya dengan observasi peneliti menggunakan format evaluasi.3) 5 (35. 10.3) Sumber : Sopacua.9) 2. Tabel 3. Cukup Bermanfaat 12 (70. Sudah ada rencana penerapan 16 (94.4) Tahap 2 : Learning level : kesempatan menerapkan materi modul dan dukungan fasilitas untuk itu 1. Evaluasi tahap 1 atau Reaction Level: 60% responden menyatakan materi pelatihan bermanfaat karena relevan dengan pekerjaan sehari-hari (tupoksi). tetapi pengulangan penilaian dilakukan untuk mendapatkan kesinambungan penilaian dari tahap 1 sampai 4 pada responden yang sama. Perlu dilakukan evaluasi implementasi (evaluasi pascapelatihan) untuk menilai apakah materi modul benar-benar dimanfaatkan dalam pekerjaan sehari-hari dan berdampak bagi puskesmas dan rumah sakit.4) 4 (33. Evaluasi tahap 3 atau Behaviour Level: 60% responden menyatakan telah mendiseminasikan sebagian materi pelatihan kepada teman sekerja dalam unit/bidang yang sama dalam integritas pekerjaan mereka sehari-hari (perubahan keahlian).. d. Prajoga4 Evaluasi Implementasi Modul Tahap 1 – 4 dari Kirkpatrick 176 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Tetapi disarankan agar implementasi modul dilanjutkan dengan pendampingan sehingga diperoleh pengalihan pengetahuan sebagai hasil dari implementasi modul. Bermanfaat 5 (29. Belum ada rencana penerapan 1 (5.6) 8 (66. Tidak berpendapat 3 (25. Walau sebenarnya evaluasi tahap 1 dari Kirkpatrick6 sudah dilakukan pada penelitian tahun 2003 (Tabel 2).

pada evaluasi tahap 4 seharusnya dilakukan pengkajian ulang tentang keterampilan kewirausahaan dengan materi yang sama yang digunakan pada tahap satu penelitian. Menurut Kirkpatrick6. Selain itu. Pelatihan pada SDM kesehatan untuk peningkatan kompetensi sebaiknya direncanakan berdasarkan kebutuhan pelatihan yang normatif sehingga ada dukungan pascapelatihan dari institusi ketika materi pelatihan diimplementasikan. Walau di Provinsi NTB. perlu dikembangkan dan pengembangan modul membutuhkan waktu. tetapi memerlukan perencanaan yang matang dan komprehensif dengan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan .Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 3 menunjukkan bahwa target yang ditentukan pada evaluasi setiap tahap yaitu 60%. Modul materi pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan sesuai hasil kajian apabila belum ada. 2. Kendala yang dihadapi dalam implementasi modul di puskesmas khususnya adalah belum ada dukungan dinas kesehatan. Dukungan diperlukan agar materi modul diterapkan secara terintegrasi dengan kegiatan lain yang diselenggarakan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat dianggarkan. sehingga dapat diketahui apakah ada peningkatan keterampilan setelah pelatihan. 10. Di samping itu. Pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan diawali dengan suatu pengkajian kebutuhan pelatihan (training need assessment = TNA) yang menjelaskan gap antara harapan dan kenyataan yang ada. Ada dua hal yang ditengarai sebagai penyebab yaitu materi modul belum merupakan prioritas dan ketidakpahaman dinas kesehatan tentang materi modul walau saat pembelajaran dan sosialisasi dinas kesehatan terlibat dan hadir. tetapi pada evaluasi tahap 4 target evaluasi tercapai karena sebenarnya terjadi perubahan keahlian. Lesson Learned Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi SDM Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Penelitian pada tahun 2002-2004 seperti yang diuraikan di atas menggambarkan suatu pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam otonomi daerah bidang kesehatan. Pendampingan pada aplikasi materi pelatihan dalam pekerjaan sehari-hari diperlukan sehingga pengalihan pengetahuan dapat terlaksana. Hasil kajian digunakan sebagai dasar perencanaan pelatihan bagi SDM kesehatan yang diharapkan berdampak pada kinerja organisasi baik dinas kesehatan. Pada evaluasi tahap 3 target tersebut dicapai Provinsi Jatim dan Kaltim. ke-4 tahap evaluasi ini berkaitan sehingga pencapaian tahap berikut tergantung tahap sebelumnya. 4. 4 Desember 2007 177 . Pelatihan sebaiknya direncanakan berdasarkan suatu analisis kebutuhan pelatihan. dana dan experts. Keterbatasan waktu dan anggaran menyebabkan pola peningkatan kemampuan SDM kesehatan melalui penelitian ini tidak dapat dilaksanakan sebagaimana yang seharusnya. Keterbatasan ini juga menyebabkan pada evaluasi tahap 4 tidak dilakukan pengkajian ulang tentang keterampilan kewirausahaan dengan materi yang sama yang digunakan pada penelitian tahap satu sehingga peningkatan keterampilan SDM kesehatan dampak pelatihan dapat diukur. Kegiatan juga termasuk pengkajian ulang pada evaluasi tahap 4 dengan materi yang juga digunakan pada pengkajian kebutuhan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kirkpatrick6 menganjurkan agar pada evaluasi tahap 3 dan 4 dilakukan penilaian ulang dengan tenggang waktu yang ditentukan. No. tetapi pada penelitian ini tidak dapat dilakukan karena keterbatasan waktu dan anggaran. Lesson learned yang diperoleh adalah bahwa: 1. Evaluasi tahap 3 dan 4 sebaiknya dilakukan dua kali dengan tenggang waktu yang sudah ditentukan dalam perencanaan pelatihan. Kegiatan yang dihitung sudah termasuk pengkajian kebutuhan pelatihan dan pelaksanaan evaluasi tahap 3 dan 4 dengan pengulangan pada tenggang waktu yang sudah ditentukan dalam perencanaan pelatihan. Kesimpulan evaluasi implementasi modul menunjukkan bahwa materi modul dapat diterapkan di puskesmas dan rumah sakit. rumah sakit dan puskesmas. Disarankan agar evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dilakukan pada pelatihan jangka panjang yang terencana dengan baik di puskesmas dan rumah sakit. 3. hasil kajian merupakan data awal atau data dasar yang pada evaluasi pascapelatihan dapat dibandingkan untuk menilai keberhasilan pelatihan. Perencanaan pelatihan sebaiknya sudah mengandung pelaksanaan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dengan waktu penjadwalan yang sudah diagendakan dan anggaran yang sudah diperhitungkan berdasarkan kegiatan yang akan dilakukan. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 ini kemudian dibandingkan dengan hasil pengkajian kebutuhan pelatihan pada penelitian tahap satu. 2 dan 4 di ketiga provinsi penelitian tercapai. Vol. pencapaian evaluasi tahap 3 hanya 50%. tetapi untuk itu diperlukan dukungan dari dinas kesehatan dan juga pemerintah daerah. untuk evaluasi tahap 1. Pelatihan bukan sesuatu yang dapat dilaksanakan secara instan.

sehingga pelatihan-pelatihan lebih cenderung kepada pelatihan yang mendukung pelaksanaan program. titik beratnya adalah pada pelaksanaan atau penyampaian bahan belajar. walaupun masih terbatas pada pre dan postes.. Opsi kedua adalah memasukan pola evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick6 dalam evaluasi pelatihan karena evaluasi pada tahap 1 dan 2 dari Kirkpatrick merupakan evaluasi formative sebab menghasilkan informasi untuk organisasi tentang penyelenggaraan pelatihan. Vol. Sebagian besar pelatihan. Dalam makalah pengembangan model unit diklat kesehatan 5 dikatakan bahwa pada umumnya perencanaan dan penyelenggaraan pelatihan di dinkes kabupaten/kota diserahkan kepada masing-masing subdinas/bidang. keahlian dan sikap yang dipersyaratkan bagi pekerja untuk mengerjakan pekerjaannya.Evie Sopacua. sehingga diperoleh dua kali pengukuran sebagai kondisi pre dan postes output atau luaran adalah peningkatan keterampilan dan pengetahuan serta perubahan keahlian dan perilaku peserta pelatihan yang diukur melalui evaluasi tahap 3 dari Kirkpatrick. Kompetensi menurut Sofo7 dapat didefinisikan sebagai apa yang diharapkan di tempat kerja dan merujuk pada pengetahuan. Oleh sebab itu.. Sebagai sistem. No. sedangkan evaluasi tahap 3 dan 4 merupakan evaluasi summative karena menghasilkan informasi yang berfokus pada dampak pelatihan bagi organisasi atau pascapelatihan. evaluasi pelatihan menurut Kirkpatrick6 adalah untuk menentukan efektivitas dari suatu program pelatihan. Evaluasi pascapelatihan hampir belum dilakukan.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . Gambar 1. tidak melalui suatu rancangan pelatihan yang seharusnya. seperti penyiapan kurikulum dan materi pembelajaran. Evaluasi tahap 2 dapat ditanyakan bersamaan dengan evaluasi tahap 1 dan diulangi ketika peserta pelatihan sudah kembali bekerja. serta berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing pemegang program. Evaluasi pelatihan menurut Assessors and Workplace Trainers (dikutip Sofo7) merujuk pada proses pengkonfirmasian bahwa seseorang telah mencapai kompetensi. masukan atau input adalah pengkajian kebutuhan pelatihan yang merupakan data dasar untuk perencanaan pelatihan dan pengembangan modul pelatihan. bukan hanya melakukan perbandingan kemampuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan (pre dan postes). Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 dibandingkan dengan hasil pengkajian kebutuhan pelatihan sehingga dapat diketahui apakah ada peningkatan keterampilan setelah pelatihan. 4 Desember 2007 . Proses dalam sistem adalah pelaksanaan pelatihan diikuti evaluasi tahap 1 dari Kirkpatrick6 selain pre dan postes. Opsi pertama adalah penataan pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam suatu sistem (Gambar 1). Sebagian sudah melakukan evaluasi pembelajaran atau evaluasi hasil belajar. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 dibandingkan dengan data dasar untuk menilai peningkatan kinerja SDM kesehatan sebagai akibat pelatihan. Efektivitas pelatihan menurut Newby yang dikutip Irianto8 berkaitan dengan sejauh mana program pelatihan yang diselenggarakan mampu mencapai apa yang memang telah diputuskan sebagai tujuan yang harus dicapai.6 Pada evaluasi tahap 4 ini juga dilakukan pengkajian ulang dengan materi yang juga digunakan pada pengkajian kebutuhan pelatihan yang hasilnya merupakan data dasar kompetensi yang dimiliki SDM kesehatan. dkk. 10. sebagian lainnya belum melakukan. pelatihan. Opsi-Opsi Kebijakan Ada beberapa pelajaran yang diperoleh dari penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan yang dapat menjadi beberapa opsi kebijakan. Pola Peningkatan Kompetensi SDM Kesehatan Dalam Suatu Sistem 178 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.6 Dampak atau outcome pelatihan yang diharapkan adalah peningkatan kinerja individu dan organisasi serta return of investmen (ROI) yang dinilai melalui evaluasi tahap 4 dari Kirkpatrick.

41/2007 dengan memasukkan pendidikan dan pelatihan sebagai seksi pada kelompok fungsional atau pada bidang SDM. Trisnantoro. Opsi keempat. Sopacua. dinas kesehatan. 25/2000 bahwa dinas kesehatan kabupaten/kota menjalankan fungsi regulator. Budijanto. 2. Hal ini dapat diatur dengan mensinergikan berbagai kepentingan dalam tata kerja sama yang disepakati.5 Maka dalam peningkatan kompetensi SDM kesehatan. Binkesmas dan BPPSDM mendukung anggaran dan pelaksanaan analisis kebutuhan pelatihan. Pertimbangan utama bahwa dengan berbagai perubahan yang terjadi termasuk perubahan organisasi kesehatan maka kompetensi SDM kesehatan dalam keterampilan manajerial perlu ditingkatkan.9 Kepada mereka yang ditempatkan di seksi atau bidang SDM ini terlebih dulu diberikan pemahaman tentang tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan sehingga dapat merancang pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan berjangka panjang dan komprehensif. KESIMPULAN Opsi-opsi kebijakan yang diusulkan berdasarkan lesson learned dari pelaksanaan penelitian di Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan tahun 2002 – 2004. 4 Desember 2007 179 . tetapkan narasumber. E. rumah sakit dan Bapelkes. yang untuk tahap 3 dan 4 mungkin dilaksanakan setelah 1 tahun pascapelatihan. Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes). Sopacua. 2000. E. profesionalisme dan atau menunjang pengembangan karier tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. 10. Yogyakarta. 2002. Keterampilan Manajerial Desentralisasi. Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan (Tahap I: Assesment Keterampilan Manajerial Sumber Daya Manusia Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan). tentukan kriteria peserta. perencanaan dan pelaksanaan pelatihan dengan peraturan dan perundangan sebagai payung yang dirujuk oleh Balitbangkes. Kerja sama para pemangku kepentingan diperlukan dalam melakukan analisis kebutuhan pelatihan. 3. perlu mendapatkan pertimbangan dalam restrukturisasi dinas kesehatan kabupaten kota khususnya. Para pemangku kepentingan di antaranya adalah pemerintah daerah. Surabaya. koordinasikan program ini dengan bagian lain atau sektor lain terkait dan evaluasi program pelatihan. siapkan audio visual aids. KEPUSTAKAAN 1. tetapkan fasilitas dan sarana yang akan digunakan. Pelatihan SDM kesehatan tidak hanya untuk mendukung pelaksanaan program tetapi dirancang berdasarkan pengkajian kebutuhan pelatihan. tetapkan tujuan akhir yang akan dicapai. L. Opsi kelima.725/Menkes/SK/V/2003 yang dirancang secara efektif dan komprehensif dengan memperhatikan berbagai pemangku kepentingan serta peraturan perundangan yang berlaku. Pengembangan Kapasitas Keterampilan Manajerial Dalam Berwirausaha Bagi Tenaga Kesehatan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. perguruan tinggi. dinas kesehatan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). SDM di dinas kesehatan kabupaten/kota perlu memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan pelatihan karena pada kenyataannya selama ini sudah melakukan penyelenggaraan pelatihan dengan kapasitas yang sangat terbatas. D. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. Upaya peningkatan dilaksanakan melalui pelatihan sesuai keputusan Menkes RI No. Penghitungan anggaran termasuk waktu pelaksanaan evaluasi pascapelatihan tahap 1 – 4 dari Kirkpatrick. 38/2007 pengganti PP No. Fakultas Kedokteran. UGM. perencanaan dan implementasi program pelatihan yang efektif sebaiknya mengandung 10 langkah kegiatan menurut Kirkpatrick6 yaitu: tentukan kebutuhan pelatihan. Pelaksanaan pelatihan dengan penyiapan kurikulum dan materi pembelajaran sesuai dengan hasil kajian. perencanaan dan pelaksanaan pelatihan yang komprehensip. Ditjen Yanmedik. opsi ketiga adalah memperhatikan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.. rumah sakit. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan (BPPSDM).5 Sesuai dengan PP No. Berkenaan dengan pelatihan.725/Menkes/ SK/V/2003 bahwa pelatihan adalah proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan kinerja. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik (Ditjen Yanmedik) dan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat (Ditjen Binkesmas) Departemen Kesehatan RI. tentukan materi. tetapkan penjadwalan. Vol. Budijanto.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Untuk itu. Dampak pelatihan diharapkan menyebabkan peningkatan kinerja SDM kesehatan dan institusi. D. No. Maka anggaran untuk pelatihan dihitung dengan memperhatikan setiap langkah kegiatan dan tahapan sesuai perencanaan. maka hal ini dapat diantisipasi dinas kesehatan kabupaten/kota ketika merestrukturisasi struktur organisasi sesuai PP No.. bahwa penataan pelaksanaan suatu pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Insan Cendekia.2004. 5. (Diakses 18 Desember 2007) 6. Jusuf Irianto.net (Diakses 10 November 2007) 180 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 8.. 4 Desember 2007 . Kirkpatrick. Kabupaten/Kota di Propinsi Kalimantan Timur. Surabaya.Com. Sofo.2003. PPT dalam Kursus Desentralisasi. Y. Pengembangan Sumber Daya Manusia. 41/2002. E. 2003. Vol. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. www. Surabaya. www. Sopacua.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . 1994. Airlangga University Press.net . Surabaya.2001. Diterjemahkan oleh drs. M. No. Prajoga.Inc. 7. 4.. Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur.desentralisasikesehatan. Irianto.Koehler Publishers. F. Evaluating Training Programs – The Four Levels-. 2007. D.. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. dkk. Meliala A. D.38 dan No. 10.. Berrett . Surabaya. 9.Evie Sopacua. Budijanto. Evaluasi Kemampuan Manajerial SDM Kesehatan di Kabupaten/Kota dalam Era Desentralisasi Evaluasi Implementasi-. Pengembangan Model Unit Diklat Kesehatan.lrckesehatan. PP No. Prinsip-Prinsip Dasar Manajemen Pelatihan.

Therefore. Bagi RS diharapkan memberikan rekomendasi desain kebijakan pengelolaan Oseltamivir yang sesuai dengan kondisi di RS kepada Depkes. starting from planning until control phase. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 181 . Oleh karena itu perlu dianalisis secara komprehensif dengan melihat aspek-aspek pada sistem kebijakan meliputi public policies. A limited distribution for goverment instance and it is not for sale freely has done considering how important that medicine for human safety. and policy environment. akan tetapi perlu dipikirkan juga akses unit pelayanan kesehatan swasta (RS/klinik) untuk memperoleh obat tersebut. 4 Desember 2007 181 . 10. Pengadaan dengan teknik dropping dapat mengakibatkan terjadinya penumpukkan obat di RS rujukan. The data were collected by in-depth interview and study document. but it is important that acces for private health service unit (hospital/ clinic) to obtain this medicine. This studi purpose is for analyzing management policy of Oseltamivir in controlling Avian Influenza case and its implementation at reference hospital in Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta 2005 – 2007. policy stakeholders. mendorong berbagai upaya pemerintah untuk mencari cara mencegah. menanggulangi dan mengobatinya. It was also suggested for hospital to perform a research to proving the this effectiveness Oseltamivir on human avian influenza. tetapi hal tersebut dilakukan karena adanya hibah obat dari negara lain sehingga obat harus segera didistribusikan ke unit pelayanan kesehatan agar bisa terpakai mengingat masa kadaluarsanya yang relatif dekat. Besaran anggaran yang disediakan mengalami peningkatan dibandingkan dengan anggaran yang dialokasikan sebelumnya. so it has dones stockpilling strategy which calculated stock number based on percentage prediction of Indonesian population number which will happen because of pandemic. Kata Kunci : Oseltamivir. require to be analyzed comprehensively based on policy system aspect such as: public policies. This preparation of antiviral drugs played the most important role. If allocation is done by dropping technique so it makes heaping medicine at reference hospital. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan perencanaan penyediaan Oseltamivir belum bisa berdasarkan data evidences jumlah kasus riil yang terjadi pada instansi rumah sakit (RS) rujukan ataupun kebutuhan RS akan obat tersebut. dan policy environment. Pendistribusiannya secara terbatas pada instansi pemerintah dan tidak dijual bebas dilakukan mengingat pentingnya obat tersebut bagi keselamatan manusia. overcoming and curing it. kebijakan pengelolaan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Method: This study used a qualitative method which has done retrospectively by analyzing policy system with 10 informants. sehingga dilakukan strategi stockpilling yang memperhitungkan jumlah kebutuhan berdasarkan pada prediksi persentase jumlah penduduk Indonesia yang akan terkena jika terjadi pandemi. Penyediaan obat antiviral ini memegang peranan yang sangat penting. Keywords : Oseltamivir. Conclusion: Management policy of antiviral drugs in overcoming Avian Influenza case at reference hospital in DKI Jakarta is made limited and its implementation dose not involve for all sides. policy stakeholders. Sumatera Selatan ABSTRACT Background: Avian Influenza pandemic which is caused of H5N1 virus pushed various goverment effort to look for prevention way. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. Kesimpulan: Kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanganan kasus flu burung di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta dibuat secara terbatas dan pada pelaksanaannya tidak mencakup pada keseluruhan lini yang memerlukan. so that medicine must be distributed to health service unit to use it considering its expire so close relatively. one of them is preparation policy of antiviral drugs. di antaranya dengan kebijakan penyediaan obat antiviral. The data were a content analyzed. Diharapkan pihak Depkes dalam pengelolaan Oseltamivir ini juga memberdayakan apotek yang ditunjuk untuk menyediakan-nya sehingga selain mempermudah akses unit pelayanan kesehatan swasta lainnya dalam memperoleh obat tersebut dan bisa dijadikan stockpile. Hal ini karena pertimbangan kasus yang dihadapi merupakan kasus baru yang terus menunjukkan progresivitas angka kematian pada manusia. so that it must be managed well and basic policy must pursuant to the right formulation. Metode: Jenis penelitian adalah kualitatif yang dilakukan secara retrospektif dengan menganalisis sistem kebijakan. Vol.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. It was suggested for health service department to involve reference apotek for providing antiviral drugs so it is easy on access for health service unit in stockpile. considering of presence case is a new case which indicated human mortality level progressively. management policy ABSTRAK Latar Belakang: Ancaman pandemi flu burung yang disebabkan oleh virus H5N1. melibatkan 10 informan.188 Artikel Penelitian ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN OSELTAMIVIR DAN IMPLEMENTASINYA DI RUMAH SAKIT RUJUKAN KASUS FLU BURUNG MANAGEMENT POLICY OF OSELTAMIVIR ANALYSIS AND ITS IMPLEMENTATION AT THE REFERENCE HOSPITAL OF AVIAN INFLUENZA CASE Misnaniarti Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. No. but this done because of medicine donation from another country. kemudian dilakukan analisis isi. sehingga harus dikelola secara baik dan kebijakan yang melandasinya harus berdasarkan formulasi yang tepat mulai dari tahap perencanaan hingga pengendalian. Results: Study result indicated that planning policy of oseltamivir can not base on evidences data of reality case number that happen on reference hospital instance or the need of medicine for hospital.

menganjurkan pemberian vaksinasi influenza pada orang yang berisiko.5 Setiap komponen dari sistem kebijakan tersebut merupakan suatu kesatuan dan saling berhubungan. Saat ini obat antiviral kasus flu burung pada manusia yang digunakan di Indonesia hanya Oseltamivir. Di Indonesia. dan pelatihan petugas kesehatan. penyediaan obat antiviral. Vol.2 Diskusi tentang pandemi influenza bukan lagi dalam konteks apakah akan terjadi atau tidak. Penggunaan obat antiviral dimaksudkan untuk mencegah penularan lebih lanjut. sehingga penyediaannya secara tepat waktu dan tepat guna diharapkan dapat mengurangi dampak kasus flu burung. et al6 sebagai konteks (context). isi (content).3 Virus H5N1 lebih patogen daripada subtipe lainnya karena sangat mematikan bagi manusia sehingga disebut dengan highly pathogenic avian influenza (HPAI) disebabkan karakteristik virus yang sangat ganas. cepat berkembang dan menular pada unggas. 10.Dr. pelaku kebijakan (policy stakeholders). dapat terjadi mutasi adaptif dan reasortment. Dengan memberikan hasil analisis kebijakan dalam pengelolaan Oseltamivir ini diharapkan adanya perencanaan yang sistematis di masa mendatang yang dapat diterapkan dalam pencegahan dan kewaspadaan flu burung. WHO Perwakilan Indonesia. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanggulangan kasus flu burung dan implementasinya di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta sejak tahun 2005 sampai tahun 2007. perlu dilakukan eksplorasi untuk mendapatkan informasi secara mendalam terhadap sistem kebijakan (policy system) mengenai pengelolaan obat ini. cepat merusak organ dalam (terutama paru-paru). serta mudah resisten terhadap obat antiviral.Suliati Saroso (RSPI SS) dan RSUP Persahabatan mulai Maret sampai dengan Juni 2007. Padahal selama dekade terakhir ada beberapa obat antiviral yang telah ditemukan dan direkomendasikan oleh FDA Amerika (Food and Drug Administration) yaitu golongan M2 inhibitor (Amantadine dan Rimantadin hidroklorida) dan Neuraminidase inhibitors (Oseltamivir dan Zanamivir).Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . Selain itu juga terjadi penyebaran yang semakin meluas ke beberapa negara lain. 4 Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menanggulanginya kasus ini. proses (process) dan aktor (actors) pembuatan kebijakan sebagai unsurunsur yang penting di dalam analisis kebijakan. Sistem kebijakan merupakan seluruh pola institusional di mana di dalamnya kebijakan dibuat.. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan kantor Departemen Kesehatan RI. baik angka kesakitan maupun angka kematian manusia yang terinfeksi virus H5N1. RSPI Prof.. Pengelolaan Oseltamivir memegang peranan penting untuk pemenuhannya sehingga tersedia secara tepat waktu dan tepat guna. Meningkatnya kasus infeksi yang menyebabkan kematian pada manusia ini dikhawatirkan dapat berkembang menjadi pandemi. tetapi kapan akan terjadi artinya WHO menyatakan bahwa pandemi memang akan kita hadapi. sehingga dapat dipergunakan secara tepat guna dalam menangani bahaya wabah flu burung khususnya di wilayah Indonesia. 4 Desember 2007 . Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan kerangka pikir dikembangkan berdasarkan rangkuman banyak sumber teori tentang 182 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan lingkungan kebijakan (policy environment). jumlah kasus kematian akibat flu burung merupakan yang tertinggi di dunia dengan CFR 79. di antaranya ada kebijakan Depkes berupa SK Menkes No. tercatat paling kurang terjadi 79 kematian dari 99 kasus yang ada. 1371/Menkes/SK/IX/2005 tentang Pedoman Penanggulangan Penyakit Flu Burung pada Manusia. Data WHO 1 menunjukkan terjadi kecenderungan peningkatan kasus AI. yang mencakup hubungan timbal balik di antara tiga aspek yaitu: kebijakan publik (public policies). Harapan lebih lanjut agar hal ini mendapat perhatian dari semua pihak mulai dari tahap perencanaan sampai pengendalian. penyuluhan. Salah satu strateginya adalah strategi pencegahan terdiri dari tindakan bio security. PENGANTAR Dalam beberapa tahun terakhir ini perhatian dunia kesehatan terpusat kepada semakin merebaknya penularan penyakit Avian Influenza (AI) atau flu burung. Penyakit ini merupakan penyakit menular pada unggas yang disebabkan oleh virus influenza A H5N1 yang kemudian berkembang dan dapat menular ke manusia. Analisis komprehensif dengan melihat aspek-aspek di atas dilakukan dengan harapan secara tidak langsung dapat mencegah dampak yang lebih besar lagi dari kasus flu burung yang tidak hanya kesehatan hewan dan manusia yang dirugikan akan tetapi hampir berpengaruh pada semua sektor kehidupan. Informasiinformasi yang terkait dengan dasar kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanganan kasus flu burung ini masih terbatas. Istilah lain dari komponen ini disebut oleh Buse. Selain itu juga merupakan tindakan pengobatan yang bisa dilakukan dalam penatalaksanaan kasus (case management) flu burung secara medis di rumah sakit (RS).7%. Oleh karena itu. No.

5%-1% dari total penduduk Indonesia akan terkena pandemi influenza Pengamatan : perencanaan pengadaan berdasarkan jumlah instansi kesehatan Wawancara mendalam: mulai tahun 2006 memasukan penganggaran untuk penyediaan Oseltamivir dengan memakai dana buffer obat. import. Tabel 1. dengan proporsi 100 kapsul untuk puskesmas. 4 Desember 2007 183 . profil kesehatan dan Prosedur Tetap (Protap) di RS. Penelitian dokumen: kebutuhan penyediaan Oseltamivir dihitung berdasarkan perkiraan sekitar 0. hanya instansi pemerintah yang menerima Oseltamivir. obat didapat dari bantuan luar negeri. dan Walt G 7 untuk menggali dan mensinkronisasikan pendekatan policy system dengan kebijakan yang terkait dengan manajemen pengelolaan Oseltamivir. membeli secara import. BTKL dan KKP di setiap provinsi menerima Oseltamivir dalam jumlah cukup banyak sekitar 1000–9000 kapsul Pengamatan: Stok Oseltamivir cukup banyak di BTKL dan Dinkes Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat Oseltamivir diberikan kepada pasien flu burung serta petugas kesehatan yang merawat pasien tersebut Penelitian dokumen: Oseltamivir untuk pengobatan diberikan dengan dosis 2 x 75 mg selama 5 hari untuk dewasa. baru pada tahun 2006 didistribusikan seluruh provinsi. Vol. Mulai tahun 2006 dibuat perencanaan stockpiling 12 juta antiviral berdasarkan prediksi jumlah penduduk RI yang terkena pandemi. Realisasi anggaran untuk pengadaan Oseltamivir tahun 2006 adalah sebesar Rp225. anggaran penyediaan obat antiviral direncanakan 112 milyar. 10. Mekanisme pengadaan ke RS adalah Oseltamivir akan dikirim ke rumah sakit kalau ada permintaan Penelitian dokumen: Oseltamivir diperoleh dengan cara menerima bantuan (hibah). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian melalui wawancara mendalam. serta peraturan dan dokumen-dokumen yang terkait dengan kebijakan pengolaan antiviral dalam pengendalian dan penanganan kasus flu burung. karena stok masih banyak Penelitian dokumen: di Renstra nasional FBPI. mulai tahun 2006 diproduksi BUMN Indonesia secara bertahap. ada laporan pendistribusiannya Wawancara mendalam: bufferstock di BTKL dan di Dinas Kesehatan Penelitian dokumen: Dinkes Provinsi/Kabupaten/Kota/. Data sekunder diperoleh dengan cara telaah dokumen berupa data laporan pendistribusian Oseltamivir. maka instansi yang menerima (RS. dosis 1 x 75mg untuk profilaksis selama 7 hari Pengamatan : 6 dari 17 pasien diberi pengobatan Oseltamivir dengan dosis 2 x 150 mg Wawancara mendalam: jika Oseltamivir mendekati masa kadaluarsa. dinkes) boleh mengembalikan dan kemudian akan diganti dengan obat baru Penelitian dokumen: masih ada obat yang mendekati masa kadaluarsa Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat pengendalian dilakukan dengan menerapkan registrasi obat Penelitian dokumen: registrasi obat di BPOM Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Selanjutnya meneliti rekam medis pasien. Hasil Penelitian Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir di Tingkat Depkes Variabel Perencanaan Penganggaran Pengadaan Pendistribusian Penyimpanan Penggunaan Penghapusan Pengendalian Hasil Penelitian Wawancara mendalam: tahun 2005 belum dibuat perencanaan.749.920. dan di-cross check dengan laporan penerimaan Oseltamivir.000 berasal dari APBN. Buse K et al 6 . Pengamatan: tidak dijual bebas di apotek.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sistem kebijakan mulai dari Dunn WN5. dan dianalisis dengan cara content analysis. Distribusi hanya ke instansi pemerintah dengan proporsi sama Penelitian dokumen: dilakukan secara top down dari Depkes. 500 kapsul untuk RS rujukan (Kecuali RSPI 5000 kapsul). Pengamatan : ada dokumen penganggaran Oseltamivir Wawancara mendalam: Oseltamivir diperoleh dari bantuan luar negeri. Puskesmas. Setelah seluruh data telah terkumpul kemudian diverifikasi menggunakan metode triangulasi. penelitian dokumen dan pengamatan mengenai kebijakan pengelolaan Oseltamivir di tataran Depkes dan di tingkat RS dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2. Untuk tahun 2007 ada anggaran Oseltamivir tapi belum dilakukan pengadaan. membeli dari BUMN Indonesia Pengamatan : ada laporan pengadaan Oseltamivir Wawancara mendalam: pada tahun 2005 distribusi hanya ke 8 provinsi. Pengumpulan data primer diperoleh dengan cara wawancara mendalam pada 10 orang informan kunci yang diambil dari berbagai level tingkatan administrasi sesuai dengan topik yang akan digali. kartu stok obat di instansi RS yang diteliti. No. Pemilihan informan dilakukan secara purposive dengan mengacu pada prinsip kesesuaian (appropriateness) dan kecukupan (adequacy) karena terkait dengan substansi dan sesuai kebutuhan penelitian.

diperkirakan Depkes harus menyiapkan sebanyak 11 juta – 12 juta obat antiviral sebagai stockpile. 10. Keuntungannya adalah bisa mendapatkan potongan harga yang lebih banyak. Oleh karena itu strategi stockpilling dipilih sebagai salah satu langkah antisipasi pemerintah menghadapi kondisi darurat (upaya kesiapsiagaan menghadapi pandemi flu burung) dengan memperhitungkan jumlah kebutuhan berdasarkan pada prediksi persentase jumlah penduduk Indonesia yang akan terkena jika terjadi pandemi. perlakuan penyimpanan disamakan dengan obat yang lain Penelitian dokumen: stok obat di gudang lebih banyak daripada di apotek Pengamatan : tata cara penyimpanan dengan sistem FIFO Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat bahwa pemberian Oseltamivir ke pasien tidak berdasarkan skoring tetapi dengan melihat kondisi klinis pasien suspek AI Penelitian dokumen: pasien harus diberikan terapi Antiviral sesegera mungkin. sebab tingkat konsumsinya memang rendah. Menurut Bowersox9 metode ini termasuk kategori fluctuation stock yaitu persediaan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat diramalkan (metode spekulasi). serta mengadopsi kebijakan dari beberapa negara lain yang disesuaikan dengan kemampuan finansial Indonesia. Metode spekulasi di salah satu sisi bisa menguntungkan karena obat selalu tersedia di unit pelayanan kesehatan. Vol.8 Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 220 juta jiwa. Hasil Penelitian Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir di Tingkat RS Variabel Perencanaan Penganggaran Pengadaan Pendistribusian Penyimpanan Penggunaan Penghapusan Pengendalian Hasil Penelitian Wawancara mendalam: tidak membuat perencanaan permintaan Oseltamivir. Hal ini berbeda dengan obat lainnya yang dibuat perencanaan dan pengadaan secara triwulan berdasarkan pemakaian dan kebutuhan RS (evidences based). penyediaannya tidak berdasarkan kebutuhan pemakaian obat Pengamatan: tidak ada dokumen perencanaan permintaan Oseltamivir Wawancara mendalam: tidak membuat menganggaran untuk Oseltamivir Pengamatan: tidak ada dokumen penganggaran Oseltamivir Wawancara mendalam: dengan cara dikirim langsung (dropping) dari Depkes Penelitian dokumen: menerima dropping Oseltamivir secara bertahap dari Depkes Pengamatan: Stok Oseltamivir dalam jumlah yang cukup banyak Wawancara mendalam: obat dikeluarkan dengan memakai metode FEFO Penelitian dokumen: Oseltamivir diterima secara bertahap Pengamatan: ada alur distribusi Oseltamivir hingga ke pasien Wawancara mendalam: sebagian besar Oseltamivir disimpan di bagian logistik (gudang) sebagai bufferstock kemudian didistribusikan ke pasien melalui apotek.. berbeda dengan di Puskesmas yang harus berdasarkan sistem skoring Pengamatan: pasien suspek flu burung hari pertama masuk langsung diberi Oseltamivir Wawancara mendalam: terlebih dulu melaporkan apabila obat mendekati masa kadaluarsa kemudian akan mengembalikan ke Depkes Penelitian dokumen: sistem penghapusan obat bisa dilakukan dengan ensinerator Pengamatan: masih ada Oseltamivir yang mendekati masa kadaluarsa Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat bahwa Penilaian mutu obat dengan melihat fisik (morfologi) obat Penelitian dokumen: registrasi Oseltamivir diberikan melalui proses fast track Mulai tahun 2006 Depkes baru membuat perencanaan untuk penyediaan Oseltamivir melalui strategi stockpilling yaitu penyediaan obat dalam jumlah besar untuk menghadapi suatu keadaan kemungkinan terjadinya pandemi. Jadi. yang mengakibatkan terjadinya penumpukan obat karena kebutuhan obat RS tidaklah sebanyak yang di-dropping oleh Depkes. 4 Desember 2007 . Tabel 2.. Untuk di RS mekanisme pangadaannya melalui teknik dropping langsung dari Depkes. sehingga faktor yang berpengaruh dalam membuat perencanaan untuk penyediaan Oseltamivir ini adalah jumlah seluruh penduduk Indonesia. strategi ini dipilih karena pertimbangan kasus flu burung yang dihadapi merupakan kasus baru yang terus menunjukkan progresivitas angka kematian cukup tinggi dibuktikan dengan adanya peningkatan CFR. biaya pemesanan dan pengangkutan menjadi lebih murah. di sisi lain potensial akan terjadi pemborosan karena wilayah tanpa adanya indikasi 184 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.5%-1% dari total penduduk Indonesia akan terkena pandemi influenza. Bisa dikatakan bahwa kebijakan perencanaan Oseltamivir di RS yang diteliti belum dibuat berdasarkan data evidences jumlah kasus yang riil terjadi atau sesuai kebutuhan. hal ini relevan dengan dokumen Renstra Nasional FBPI. sehingga penyediaan Oseltamivir ini tidak berdasarkan kebutuhan pemakaian obat.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . Penyediaan Oseltamivir yang dihitung berdasarkan perkiraan banyaknya penduduk yang akan terkena pandemi. Kebutuhan penyediaan Oseltamivir dihitung berdasarkan perkiraan sekitar 0. No.

Sistem pendistribusian Oseltamivir yang bersifat top down sentral dari Depkes bahwa untuk pendistribusiannya sampai ke tingkat Puskesmas dilakukan dengan bantuan pos.10 sehingga selain faktor jumlah penduduk. Komitmen pemerintah menerima bantuan ini dilakukan karena memang membutuhkan obat tersebut. Dengan cara seperti ini perlu dipilih teknik yang tepat mulai dari kualitas transportasi seperti jalan dan alat angkut. Otomatis apabila ada pasien yang suspeck flu burung maka pihak RS tidak bisa memberikan terapi obat antiviral Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. sehingga lebih memprioritaskan pada upaya preventif sebagai salah satu upaya manajemen kasus berbasis wilayah yang salah satunya dengan melakukan manajemen faktor risiko dari penyakit. sistem pendistribusian Oseltamivir yang diatur pemerintah belum merata sebab RS/poliklinik swasta. Jadi jangan sampai pemerintah membuat program yang sia-sia dengan menyediakan obat antiviral karena obat tersebut hanya efektif apabila pasien dapat terapi 2 x 24 jam dari adanya gejala flu burung. yang bertujuan untuk menentukan jenis dan jumlah obat sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan. Depkes tahun 2006 harus menyediakan dana Rp200 milyar untuk membeli 16 jutaan kapsul Oseltamivir.11 Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka dapat dirumuskan kebijakan pengadaan obat yang rasional. poliklinik. juga harus memperhatikan metode pengepakan yang baik agar obat tidak rusak di jalan. Merupakan angka yang cukup besar dalam hal pengadaan barang. 10. Adanya penyediaan stok yang berlebih cenderung menyebabkan pemborosan dalam pemakaian. Namun seharusnya pemerintah lebih selektif lagi jangan sampai obat yang diterima sudah mendekati masa kadaluarsa. Biaya yang sangat besar ini tentunya akan menjadi beban yang sangat berat bagi pemerintah pusat.11 perlu ruang penyimpanan yang besar serta mengandung risiko kadaluarsa obat yang lebih tinggi. Padahal pengadaan merupakan titik awal dari pengendalian persediaan. Perencanaan kebutuhan obat merupakan salah satu fungsi yang menentukan dalam proses penyediaan obat. Program yang cenderung ke arah kuratif dan memakan banyak biaya ini perlu ditinjau ulang.15 Keadaan geografis dan demografis daerah di Indonesia yang khas akan membutuhkan sistem pendistribusian yang tepat agar merata. belum bisa mengakses obat ini secara lancar. yaitu Depkes melihat dari RS mengajukan permohonan permintaan obat (pertanda stock mulai menipis). ataupun berupaya menghindari power negara pendonor jangan sampai menjadi unsur interest politik luar negeri yang sangat dominan. RS. Dalam kasus penyakit yang sudah jelas trendnya seperti demam berdarah. Perlu pemikiran dan penelitian lebih lanjut tentang cost effektiveness dari program kuratif penyediaan obat antiviral ini. jumlah biaya yang tersedia. karena berdasarkan data dari Aditama TY14 dilaporkan bahwa rata-rata pasien flu burung yang datang ke rumah sakit setelah lebih dari 2 hari merasakan gejala flu burung. khususnya bagi RS swasta di daerah yang kurang informasi tentang cara mendapat obat tersebut. jumlah kebutuhan riil masyarakat.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan penyakit juga menerima stok yang pada akhirnya menyebabkan pembengkakan anggaran dan tentu saja menjadi tidak cost effective. Dalam hal ini. 4 Desember 2007 185 . dengan alasan untuk efisiensi biaya dan tenaga. misalnya melalui sarana apotek. diharapkan kebijakan pemerintah tentang perencanaan dan pengadaan obat antiviral harus memperhatikan faktor pola penyakit yang dominan. 12 Selain itu Indonesia juga masih menerima bantuan obat tersebut dari WHO dan negara lain. juga karena dampak yang akan didapatkan dari tindakan promotif-preventif tersebut akan dirasakan manfaatnya dalam jangka waktu yang lama. Dalam hal ini Depkes tidak melakukannya karena perhitungan volume pembelian hanya berdasarkan prediksi saja. pemerintah tidak bisa sepenuhnya mengandalkan pada obat-obatan karena bagian yang terpenting dari hal ini adalah aspek pencegahan yaitu upaya penghentian penularan dari unggas ke manusia. Vol.12 Langkah antisipasi yang dapat dilakukan agar tidak terjadi penumpukan obat ini salah satunya dengan memperbaiki mekanisme penyediaannya. metode pengadaan dengan cara membeli biasanya didahului dengan perhitungan besarnya volume pembelian yang ditetapkan berdasarkan kebutuhan dalam satuan waktu dan kuantum unit masing-masing produk misalnya kebutuhan untuk mingguan atau 1 bulanan atau setahun. puskesmas. selain juga untuk menjaga hubungan baik dengan negara pendonor. Rasionalisasi antara pola produksi obat dan kebutuhan nyata harus ditingkatkan terutama agar dana untuk obat dapat digunakan secara lebih efisien. No. sehingga sebaiknya pemerintah juga memprioritaskan pada upaya promotif dan preventif dalam penanganan kasus flu burung ini selain biaya yang diperlukan jauh lebih sedikit daripada upaya kuratif. Walaupun tak dapat dipungkiri bahwa belanja obat memang merupakan bagian terbesar dari belanja kesehatan di seluruh negara di dunia13. jika titik awal ini sudah tidak tepat maka pengendalian akan sulit dikontrol.7 Dalam hal penganggaran.

Vol. agar tidak ada kejadian keterlambatan menangani pasien AI. paling aman. hal ini dilakukan oleh prescriber dalam rangka meningkatkan manfaat ke pasien karena dosis yang selama ini dipakai pada umumnya belum menunjukkan perbaikan kondisi pasien. penanganan dan pencegahan penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat. obat yang sudah rusak. Para pemberi pelayanan (provider) khususnya para dokter (prescriber) harus mengetahui secara rinci obat yang akan dipakai melalui informasi yang benar. Hal yang harus dipahami agar tercapainya pengendalian persediaan11 adalah dengan menjaga keseimbangan pengendalian dan pembelian. sehingga informasi yang ada merupakan informasi yang telah ditelaah secara cermat berdasarkan data penelitian. sesuai kebutuhan dosis individu. sesegera mungkin karena obat tersebut tidak tersedia. tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan yang sudah mendalam dan perilaku pihak-pihak yang terlibat didalamnya. sehingga semua permintaan konsumen dapat dipenuhi. sehingga memudahkan masyarakat mengakses obat ini tapi tetap dengan resep dokter. menurut prinsip kedokteran disebutkan bahwa tujuan pedoman pengobatan adalah meningkatkan mutu pelayanan melalui penggunaan obat yang aman.11 Sasaran utama pendaftaran obat adalah agar obat yang beredar hanya yang khasiatnya nyata. dan merupakan teknologi medis yang dibutuhkan. sehingga perlu penelitian lebih lanjut.sehingga dapat memberikan manfaat klinik yang berguna bagi keperluan ilmu pengetahuan dan teknologi. Agar memberikan manfaat klinik yang optimal. Hal ini juga diberlakukan pada obat kadaluarsa. No. 4 Desember 2007 . Adanya peningkatan dosis Oseltamivir pada pengobatan beberapa pasien flu burung. tidak terjadi kekurangan maupun kelebihan stok. meningkatnya kegagalan pengobatan. maka obat harus digunakan secara benar. Selain itu. Obat yang mendekati masa kadaluarsa tidak layak lagi dipakai sehingga perlu upaya penghapusan obat. maka tetap harus didaftarkan melalui proses uji klinik di BPOM. Pembuatan kebijakan pengelolaan obat antiviral dalam penanggulangan kasus flu burung di Indonesia 186 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.16 Informasi tentang obat sebaiknya adalah yang didukung oleh buktibukti ilmiah yang berkaitan dengan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat. paling ekonomis dan paling sesuai dengan sistem pelayanan kesehatan yang ada yang dianjurkan untuk digunakan. kemudian registrasi obat sebelum beredar di masyarakat sehingga mutu obat terjamin. keamanan yang resmi.17 Hubungannya dengan Tamiflu yang merupakan obat jadi import yang telah disetujui beredar di negara lain. Apotek harus dijadikan ujung tombak pelayanan obat yang harus ikut mengamankan kebijakan penyediaan (penyimpanan) Oseltamivir secara merata. harus berdasarkan indikasi yang jelas.16 Dikaitkan dengan kasus flu burung pada saat ini data penelitian tentang kemanfaatan dan keamanan penggunaan Oseltamivir baru efektif sebatas pada influenza biasa.. Pola penggunaan obat yang tidak rasional dapat berakibat menurunnya mutu pelayanan pengobatan misalnya meningkatnya efek samping obat. jangka waktu pemberian yang cukup. 10.. 16 Masalah-masalah yang timbul dalam penggunaan obat tidak semata-mata berkaitan dengan kurangnya informasi dan pengetahuan dokter. salah satunya adalah dengan mengatur keseimbangan antara jumlah persediaan dengan jumlah pemakaian. kualitasnya baik. Bila dikaitkan penggunaan obat yang rasional dengan acuan biomedicus context penggunaan obat yang rasional adalah kebutuhan obat sesuai dengan kepentingan kedokteran dan klinik. Oleh karena itu. keamanannya memadai. misalnya promosi obat yang berlebihan atau kelemahan sistem regulasi yang ada.16 Maka penggunaan Oseltamivir di tempat penelitian ini belum termasuk kategori penggunaan obat yang rasional. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) merupakan badan yang bertugas membuat informasi tentang obat yang mencakup indikasi. harga yang murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat luas. Tingkat keamanan obat juga bisa dilakukan dengan memantau masa kadaluarsa. perlu dicari jalan keluar untuk menghindari tingginya tingkat kadaluarsa obat ini. sesuai dengan sasaran kebijakan umum di bidang obat. penggunaan dan cara penggunaan.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . yang disetujui (approved) pada saat obat diizinkan untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan untuk menghindari salah informasi tentang obat. Adanya obat yang kadaluarsa dan rusak akan merugikan instansi pemilik karena upaya penghapusan barang/obat akan memerlukan biaya yang cukup besar. yang akan membahayakan pasien jika tetap dipakai. Hal ini tentu akan memperparah kondisi pasien karena tidak cepat ditanggulangi. Langkah pemecahan masalah ini salah satunya dengan memberdayakan apotek yang ditunjuk pemerintah untuk menyediakan Oseltamivir. Obat mempunyai peran yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan. maka perlu upaya pendaftaran obat. Selanjutnya terkait dengan khasiat nyata dari obat. rasional dan juga dalam rangka efisiensi biaya pengobatan. efektif. pasien dan masyarakat. bukan H5N1. sehingga hanya obat yang terbukti memberikan manfaat klinik yang paling besar. meningkatnya resistensi obat. Akan tetapi.

7. Titiek E. Adisasmito. MPH selaku Ketua PSKM FK Unsri dan kepada drh.D selaku Dosen Pembimbing di Departemen AKK FKM UI Depok yang banyak memberikan pencerahan dalam penulisan karya ini. Hal ini dikarenakan obat hibah dari negara lain yang harus segera didistribusikan agar bisa terpakai mengingat masa kadaluarsanya yang relatif dekat. Avian Influenza. G. Yogyakarta. 12. Republik Indonesia. 2000. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Tiga Dimensi Farmasi : Ilmu Teknologi. 2. Nicolas. Bowersox. Moh. Bandung. Johannesburg. Pengantar Analisis Kebijakan Publik edisi kedua.go. 9. 8. Tjandra Yoga. Depok. Avian Influenza/Flu Burung di Indonesia. Kebijakan pengadaannya dengan teknik dropping dapat mengakibatkan terjadinya penumpukkan obat di RS yang diteliti. dan Potensi Ekonomi. 1994. Cumulative Number of Confirmed Human Cases of Avian Influenza A/ (H5N1) Reported to WHO.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kebijakan internasional dalam hal ini WHO 18 memegang peranan yang dominan yang menentukan arah kebijakan yang dibuat oleh Depkes RI. 1998. H.id/. WHO. Kent. pengaruh penanganan kasus flu burung di negara lain (sosial budaya). Health Policy : an Introduction to Process and Power. Manajemen Farmasi. Jakarta. Jakarta. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. KEPUSTAKAAN 1. 2005. Diakses pada 6 Juni 2007. Diakses pada 1 Februari 2007. 2001. 2005. 2007. Gajah Mada University Press. Making Health Policy. serta kondisi pertahanan dan keamanan yang ingin diciptakan dalam kesiapsiagaan menghadapi pandemi flu burung. 14. London School of Hygiene and Tropical Medicine.11 April 2007. Gadjah Mada University Press. No. Modul Pendidikan : Manajemen Logistik dan Obat Rumah Sakit. WHO. Rencana Strategis Nasional Pengendalian Flu Burung (Avian Influenza) dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza 2006-2008. Donald J. 2006. The World Health Report 2000–Health Systems : Improving Performance. selain itu faktor lingkungan yang menjadi pertimbangan adalah faktor politik. 5.MA. Pusat Komunikasi Publik Depkes RI. 2003. Selanjutnya.int/entity/scr/disease/ avian_influenza/country/en. Pelayanana Kesehatan. 3. 1995.B. Dunn. Walt. Sirait. KESIMPULAN DAN SARAN Kebijakan pengelolaan obat antiviral dalam penanganan kasus flu burung di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta dibuat secara terbatas serta pada pelaksanaannya tidak mencakup pada keseluruhan lini yang memerlukan. Vol. Open University Press. Manajemen Logistik 1 : Integrasi Sistem-Sistem Manajemen Distribusi Fisik dan Manajemen Material. Bahan Seminar Pertemuan Nasional Penanggulangan Klinis Penanganan Flu Burung di Rumah Sakit. Aditama. Departemen Kesehatan RI. Avian Influenza A (H5N1) : Patogenesis. Kebijakan pendistribusian Oseltamivir secara terbatas pada instansi pemerintah dapat menghambat akses unit pelayanan kesehatan swasta untuk memperoleh obat tersebut.depkes. Program Studi KARS Universitas Indonesia. Husnil Farouk. Witwatersrand University Press.who. Kusumanto H. Buse. jumlah penduduk. Radji. WHO. http://www. Gill. jumlah institusi kesehatan pemerintah. Flu Burung. http:// www. Institut Darma Mahardika. Bumi Aksara. UCAPAN TERIMA KASIH Saya ucapkan terima kasih kepada dr. diharapkan agar Depkes dalam pengelolaan Oselatamivir ini juga memberdayakan apotek yang ditunjuk untuk menyediakan obat tersebut sehingga selain mempermudah akses unit pelayanan kesehatan swasta lainnya dalam memperoleh obat tersebut dan bisa dijadikan stockpile. Anief. 10. 6. Agar pihak RS memberikan rekomendasi kepada Depkes mengenai desain kebijakan pengelolaan obat antiviral yang sesuai dengan kondisi di RS. Jakarta. Ph. Walt. MSc. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Mays. Sudah 79 Orang Meninggal Dunia Akibat Flu Burung. 11. Majalah Ilmu Kefarmasian. M. Jakarta. 2002. William N. 10. 4 Desember 2007 187 . Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. serta perlu mengadakan suatu penelitian untuk membuktikan efektivitas penggunaan Oseltamivir terhadap H5N1 manusia. 2005. Midian. Yenis S. III (2). 15. Yogyakarta. Wiku B. 13. 4. Ini ditunjukkan dengan perencanaannya belum berdasarkan data evidences jumlah kasus riil yang terjadi pada RS karena pertimbangan kasus AI yang menunjukkan progresivitas angka kematian dan cenderung menimbulkan kepanikan masyarakat sehingga dipilih strategi stockpilling. 2006. Pencegahan dan Penyebaran Pada Manusia.

4 Desember 2007 . Hoffmann C. Influenza Report 2006. Jakarta. 188 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Depkes RI. 16. 17 Maret 2006. WHO – Advice On Use Of Oseltamivir. Kamps BS. 10..com.. No. http://www. 2000. 17. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 18. WHO. IONI : Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000. Vol. Preiser W.influenzaReport. 2006.

Conclusion: This research wants to give suggestions to management side to keep continue for socialization.1 Howard Dresdner pada tahun 19892 pertama kali mendefinisikan business intelligence sebagai rangkaian aplikasi dan teknologi untuk mengumpulkan. Method: The researcher investigates system followed with system analysis to know about information which is needed. menegaskan kebijakan sistem informasi yang berlaku. Results: The implementation of Business Preparation is deserved to do.182 Artikel Penelitian PENYIAPAN IMPLEMENTASI BUSINESS INTELLIGENCE BERBASIS MALCOLM BALDRIGE IMPLEMENTATION BUSINESS INTELLIGENCEBASED ON MALCOLM BALDRIGE Raditya Asri Wisuda . Data dalam bentuk laporan manual perlu dilakukan standarisasi informasi sehingga bisa dikonversi menjadi bentuk database. meanwhile data in form of non database file needed to get some constituency agreement to make the business intelligence implementation faster. 10. information system training. penyiapan implementasi ABSTRAK Latar Belakang: Rumah Sakit Duren Sawit (RSDS) telah mengimplementasikan berbagai sistem manajemen mutu serta sistem lainnya. Vol. and competitor profile. There are 147 variable of information level with most of information is in Processes management category in the key process of DS Hospital services. the data still disperse and managed by each person who has responsible for it so the process of collecting information takes longer time and because of that. Dari keseluruhan proses. The research sample which is used is qualitative research. Aplikasi business intelligence memungkinkan perusahaan untuk menganalisa perubahan tren pasar. pola pembelanjaan. implementation preparation penelitian kualitatif. 4 Desember 2007 177 . Didapatkan sebanyak 147 variabel level informasi. Spesifisitas business intelligence dibanding tingkatan sistem informasi lainnya adalah kemampuannya untuk melakukan analisis multidimensional. Rancangan penelitian yang dipakai adalah PENGANTAR Informasi memainkan peranan penting dalam pengambilan keputusan dan sebagai sarana strategik untuk memberikan pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. visualisasi laporan. Objective: To get information about implementation preparation of Business Intelligence.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. the effort of business intelligence implementation is about 15-35%. based on Malcolm Baldrige in D S Hospital in 2007. Mayoritas ketersediaan data sudah dalam bentuk nonlaporan manual (81%). menyimpan. Head of Administration and also EDP coordinator. dengan dominasi banyaknya informasi pada kategori Proces Managemen pada Proses Kunci Layanan RSDS. The main informant in this research is Director. Saat ini penyajian datanya masih tersebar dari berbagai pintu dan sumber sesuai penanggungjawabnya sehingga pengambilan informasi memakan waktu yang lebih lama serta pemantauannya belum dapat menggambarkan tren. Tujuan: Diperolehnya informasi mengenai penyiapan implementasi business intelligence dengan basis Malcolm Baldrige di RS DS tahun 2007. multidimensional analysis. The data in manual report form has to be standardized so can be converted into database form. Manager Representatif. analisis multidimensi serta profil kompetitor. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 177 . preferensi pelanggan. Representative Manager. Dumilah Ayuningtyas Program Studi Kajian Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ABSTRACT Background: D S Hospital (RSSDS) has implemented many of quality management system and also another system. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pelatihan sistem informasi. Kata Kunci: business intelligence. emphasize the policy of available information management system. upaya implementasi business intelligencesaat ini berkisar antara 15-35%. sedangkan data dalam bentuk file non database diperlukan penyepakatan konsistensi data untuk percepatan implementasi business intelligence. perubahan perilaku pelanggan. Metode: Peneliti melakukan investigasi sistem dilanjutkan dengan analisis sistem untuk mengetahui kebutuhan informasi yang diperlukan. profil kompetitor serta kemampuan unggul lainnya. Most of the data has already in the form of non manual report (81%). forecasting. now a day. Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini disarankan kepada pihak manajemen untuk melanjutkan sosialisasi. kapabilitas perusahaan serta kondisi pasar. Hasil: Implementasi business intelligence telah layak untuk dilakukan. Currently. menganalisis dan menyuguhkan akses data untuk membantu petinggi perusahaan dalam mengambil keputusan. No. Keywords: business intelligence. Kepala Bagian Tata Usaha serta Koordinator EDP. Informan kunci pada penelitian ini adalah Direktur.. From all the process. so the monitoring has not known the trend.

b.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence .5. karyawan serta pihak lain yang mengoperasikan. Kelayakan ekonomi Dalam kelayakan ekonomi. Sejak awal rumah sakit telah berhemat dengan menghindari posisi-posisi yang tidak efektif. Namun peneliti membatasi penelitian pada investigasi sistem dan analisis sistem. tetapi untuk self assessment sebagai alat untuk membenahi sistem manajemen kinerja sehingga dapat survive. Kelayakan operasional Merupakan kemauan. dicari informasi tentang kemungkinan business intelligence dalam penghematan biaya. Vol. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penyiapan implementasi business intelligence RS Duren Sawit 1. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa penyajian data yang cepat bermanfaat terhadap berkurangnya beban kerja karena informasi cukup diinput satu kali. Penyiapan implementasi business intelligence dilakukan dengan pola System Development Life Cycle (SDLC) yang terdiri dari 5 tahap (investigasi sistem. 1) Dukungan manajemen: pada penyiapan implementasi business intelligence RS DS. (4) implementasi dan (5) pemeliharaan. desain sistem. Tahap investigasi sistem a. e. Dalam hal ini manfaat business intelligence lebih pada kepentingan internal RS DS. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa business intelligence dapat mendukung proses bisnis RS DS dengan sajian informasi yang terintegrasi sehingga analisa bisa dilakukan dengan cepat. (3) desain. Manfaat berwujud 1) Pengaruh terhadap peningkatan penjualan Business intelligencememungkinkan perusahaan untuk menganalisa perubahan trend c. unggul dan berkelanjutan. peningkatan pendapatan dan keuntungan. analisis sistem. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif. bersaing. kemudahan pencarian dokumen. Investigasi sistem dilakukan dengan indepth interview. 4 Desember 2007 . ±110 client serta Local Area Network yang mencakup seluruh rumah sakit. kemampuan dan kehandalan jaringan serta software di RS DS dalam implementasi business intelligence. 178 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. menggunakan dan mendukung sistem yang diusulkan. pengurangan biaya alat tulis. focus on patients. modul remunerasi. namun akan kemudian naik lagi secara perlahan.6 Model business intelligence RS DS dibuat dengan dasar Malcolm Baldrige.4. (2) analisis. Kelayakan organisasi Kelayakan organisasional berfokus pada sebaik apakah dukungan sistem yang diusullkan terhadap prioritas bisnis strategis organisasi. process management serta business result.3 Kriteria Layanan Kesehatan malcolm baldrige terdiri dari leadership. d. Saat ini RS DS telah memiliki 4 buah server (web. measurement analysis and knowledge management. other customer and market. hemat waktu dan tenaga. kemampuan manajemen. Siklus ini dipandang sebagai proses multilangkah yang disebut sebagai siklus pengembangan sistem informasi (information system development cycle) yang juga dikenal sebagai siklus hidup pengembangan sistem (system development life cycle). implementasi sistem serta pemeliharaan sistem). strategic planning. data. The malcolm baldrige criteria for performance excellence adalah sistem manajemen mutu yang berlaku di Amerika Serikat. namun tetap dapat melalui verifikasi lintas unit. 10. human resources focus. domain dan proxy). Peningkatan biaya implementasi terjadi pada fase awal ketika investasi sistem informasi dilakukan dan akan menurun seiring berjalannya waktu. mengharuskan seluruh karyawan untuk melakukan input data ke komputer. terlihat bahwa manajemen memberi dukungan yang positif karena kehadiran business intelligence yang sudah dirasakan sudah menjadi kebutuhan manajemen. karena salah satu modul yang ada.. No. 2) Penerimaan karyawan: manajemen puncak berpendapat bahwa penerimaan karyawan sudah bagus. 3) Persyaratan pemerintah : persyaratan dan peraturan pemerintah bisa menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan sistem informasi. Langkah ini mencakup: (1) investigasi. Analisis dilakukan pada penyiapan implementasi business intelligence berbasis malcolm baldrige. Kelayakan teknis Kelayakan teknis menilai ketersediaan. Banyak perusahaan menetapkan kriteria bukan untuk MBNQA semata.. Pendekatan sistem digunakan untuk mengembangkan solusi sistem informasi.

profil pelanggan maupun tabulasi silang (pelanggan. kemampuan analisis serta pengambilan keputusan Rumah Sakit Duren Sawit (RS DS) telah menerapkan beberapa tools manajemen mutu yang memerlukan pemantauan yang akurat sehingga strategi yang dihasilkan selalu up to date dengan permasalahan yang ada. produk) diperlukan pada 29. pertumbuhan hari perawatan. jumlah pasien lama. 4 Desember 2007 179 . Kesemuanya tidak memerlukan kebutuhan forecast.7%. Pengaruh terhadap perbaikan moral karyawan Moral karyawan dalam hal ini diwujudkan dalam bentuk etos kerja. Manfaat tak berwujud 1).4% selanjutnya Keuangan dan SDM.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan dalam pasar. Efek lain adalah dari sudut pandang balanced scorecard yang salah satunya memantau indikator kepuasan pelanggan dan jenis ini menjadi salah satu jenis informasi business intelligence RS DS. preferensi pelanggan. Business intelligence akan mewajibkan karyawan untuk melakukan input data yang menjadi tanggung jawabnya sehingga kedisiplinan akan meningkat. perubahan dalam perilaku pelanggan.5%.2% informasi saja yang perlu dilakukan forecast yaitu revenue growth. f. BTO. waktu tunggu verifikasi dokumen.6% informasi yaitu pada jenis hasil survei kepuasan pelanggan. Analisis kebutuhan informasi 1. pola pembelanjaan. BOR. Pengaruh terhadap posisi kompetitif dan citra bisnis Rumah Sakit Duren Sawit (RS DS) merupakan rumah sakit daerah yang merintis implementasi business intelligence. masing-masing 18. No. Keseluruhan wilayah datanya adalah unit SDM. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan dan pasien gawat darurat. TOI serta AvLOS. jumlah pasien lama. Dalam hal ketersediaan data. Ketersediaan data saat ini seluruhnya masih dalam bentuk laporan manual dengan time interval update data setiap bulan.2%. yaitu pada jenis revenue growth. kedisiplinan. Kriteria strategic planning Didapat 27 variabel informasi yang keseluruhannya berasal dari balanced scorecard. Mayoritas wilayah data di bawah unit Electronic Data Processing (EDP) yaitu sebanyak 44. 2). jumlah pasien rawat jalan baru. Vol. 3). pertumbuhan hari perawatan. other customer and market Dalam kriteria focus on patients. 10. sehingga lebih memimpin dalam sistem informasi yang keseluruhan outputnya dimanfaatkan untuk membuat keputusan yang akurat baik untuk bahan informasi maupun marketing untuk meningkatkan penjualan. kapabilitas perusahaan serta kondisi pasar. Pengaruh terhadap perbaikan layanan pelanggan Secara langsung business intelligence bisa memberi gambaran yang cepat mengenai titik-titik rawan dalam pelayanan untuk kemudian mengambil langkah dengan cepat terhadap masalah tersebut.7% realtime dan sisanya bulanan. serta kebanggaan bekerja di RS DS. Sebanyak 37% informasi memerlukan profil kompetitor. geografi maupun produk). sedangkan 37% lagi dalam bentuk file non database dan sisanya dalam bentuk laporan manual. 4). customer satisfaction. 2. kemudian 40. jumlah pasien rawat jalan baru. sehingga siapapun yang berkepentingan terhadap informasi itu bisa langsung melihat sesuai dengan kewenanangannya. didapat 8 variabel informasi yaitu built customer relationship management. 2) Pengaruh terhadap biaya pemrosesan informasi dan efisiensi operasional Berkurangnya biaya pemrosesan informasi didapat dari berkurangnya beban kerja pengiriman dokumen lintas unit. Kriteria leadership Didapat 8 variabel informasi yang semuanya berasal dari perilaku utama staf RS DS. Tabulasi silang (pelanggan. geografi. jumlah pasien lama. other customer and market malcolm baldrige. mayoritas tahunan sebanyak 48. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Untuk time interval update data. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan dan gawat darurat serta avarage length of stay. Hal-hal tersebut bisa diminimalisir dengan business intelligence. Keseluruhan 3. komplain pelanggan. Tahap Analisis Sistem a. Saat ini sebanyak 22. pertumbuhan hari perawatan. handling complaints dan customer loyalty. serta belum terdapat nilai standar untuk variabel ini. mayoritas sudah dalam bentuk database yaitu sebanyak 40. indikator-indikator mutu di input langsung ke komputer. Dengan business intelligence. Belum ada nilai standar untuk keseluruhan informasi. Pengaruh terhadap ketersediaan informasi. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan serta pasien gawat darurat. redundansi data yang sebetulnya sudah terdapat dalam sistem. Kriteria focus on patients. jumlah pasien rawat jalan baru.

seluruhnya bulanan. keberadaan business intelligence akan sangat membantu untuk mengambil keputusan yang tepat dari keseluruhan informasi tadi. tabulasi silang (pelanggan.5%. analysis and knowledge management malcolm baldrige. wilayah data ada di bawah unit Public Service Center (PSC) Dalam hal ketersediaan data. angka kejadian malpraktik 0%. Profil kompetitor diperlukan pada jenis waktu layanan registrasi 5 menit. geografi. pelayanan pasien narkoba dan pelayanan pasien nonjiwa. dimana 65 variabel diantaranya berasal dari proses kunci layanan RS DS. Dalam hal ketersediaan data. waktu layanan RJ umum 10 menit. 7.9% dan IPSRS sebanyak 9. Terdapat 19 wilayah data dan yang terbanyak adalah di bawah unit MR sebanyak 23.8% kemudian rawat inap sebanyak 11. Jumlah variabel informasi yang diperoleh peneliti pada penelitian ini mencapai 147 variabel. profil kompetitor maupun tabulasi silang (pelanggan. Tidak ada informasi yang memerlukan forecast. Keseluruhan wilayah data ada di bawah unit EDP. Untuk time interval update data. 10. sebanyak 84 variabel informasi. angka kejadian medical error 0%. analysis and knowledge management Dalam kriteria measurement. sedangkan jenis seleksi yang merupakan bagian dari CBHRM data sudah tersedia dalam bentuk database. six sigma. seluruhnya tiga bulanan kecuali sentralisir dan digitalisasi dokumen di MR yang time intervalnya realtime. kapitalisasi pengembangan ide di bawah unit MR serta communication and skill sharing sifat wilayah datanya spesifik unit pelayanan. 6.. Nilai standar ada pada jenis product information dan handling complaints. Kriteria measurement. PSC modules. Kriteria process management Dari keseluruhan kriteria process management malcolm baldrige terdapat 84 jenis informasi yang keseluruhannya terdiri dari 6 kelompok yaitu proses kunci layanan kesehatan RSDS. Jumlah variabel informasi terbanyak ada pada kriteria malcolm baldrige process management. geografi. Tidak ada informasi yang memerlukan forecast. Informasi sebanyak ini dengan berbagai atributnya merupakan hal yang cukup kompleks. Kriteria human resources focus Dalam kriteria human resources focus malcolm baldrige. 4 Desember 2007 . produk). Sebanyak 92. Dalam hal ketersediaan data. GKM dan 5R. Untuk time interval update data. infeksi nosokomial <5%. Vol. Keseluruhan jenis tidak memerlukan forecast kecuali pada satu jenis yaitu peningkatan pertumbuhan 30% per tahun dalam 5 tahun. psychiatry departement report serta sentralisir dan digitalisasi dokumen di Manager Representative (MR). Nilai standar belum terdapat pada keseluruhan jenis. keseluruhannya dalam bentuk file non database.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . Ini menunjukkan standarisasi informasi yang telah berjalan dengan baik. serta peningkatan pertumbuhan 30% per tahun dalam 5 tahun. Untuk time interval update data.9% data time interval update-nya adalah tiga bulanan. sehingga akan dapat memudahkan pengguna business intelligence untuk mendapatkan informasi yang luas pada kategori ini sehingga akan memberikan lebih banyak alternatif pertimbangan pada pengambilan keputusan. keseluruhan jenis kapitalisasi pengembangan ide serta communication and skill sharing intervalnya bulanan. 3 jenis sisanya (training gap. keseluruhannya dalam bentuk file non database kecuali psychiatry departement report yang belum tersedia. response time layanan IGD <2 menit 95%. sedangkan jenis seleksi yang merupakan bagian dari CBHRM seluruhnya realtime dan sisanya interval tiga bulanan. attending system modules. profil kompetitor maupun 4. kebutuhan jam training per orang per tahun serta pay for performance) dalam bentuk file non database. dan keduanya digabung ke poin 5. didapat 13 variabel informasi yang terdiri dari 3 kelompok besar yaitu Competency Based Human Resources Management (CBHRM). geografi dan produk) diperlukan pada jenis kepuasan pelanggan 80% pada pelayanan pasien jiwa.. No. Nilai standar belum terdapat pada keseluruhan jenis. Kriteria business result Kriteria business result malcolm baldrige terdiri dari dua jenis yaitu performance management dan human resources competencies. kecuali sentralisir dan digitalisasi dokumen MR berada di bawah MR. Tabulasi silang (pelanggan. QMS ISO 9001:2000. Untuk CBHRM. 180 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kapitalisasi Pengembangan Ide serta communication and skill sharing. waktu layanan rawat jalan 40 menit. keseluruhan wilayah data ada di bawah unit SDM. keseluruhan jenis kapitalisasi pengembangan ide serta communication and skill sharing masih dalam bentuk laporan manual. Mayoritas ketersediaan data sudah dalam bentuk file non database yaitu sebanyak 82. produk). OHSAS 18001 (patient safety.1%. 5. didapat lima variabel informasi yaitu services modules. Keseluruhan data sudah memiliki nilai standar. K3).1 karena kesamaan informasinya.

nilai data yang tidak akurat. keberadaan business intelligenceakan sangat membantu peroses pengambilan keputusan. implementasi business intelligece RS DS sudah cukup layak untuk dikembangkan. 1. Jika dilihat secara keseluruhan. sedangkan kriteria lainnya selain business result masih perlu lebih dirinci lagi. Analysing Dengan kelengkapan variabel data yang dimiliki RS DS. Manajemen dapat mengungkap korelasi bermakna antar data yang tersembunyi sebelumnya. karena akan melewati beberapa masalah seperti ketidakkonsistenan primary key. Tahapan analisis sistem yang menghasilkan analisis kebutuhan informasi mencakup 10%-20% dari total upaya untuk mengembangkan sebuah sistem informasi. sehingga lebih menunjang kesiapan implementasi business intelligence. 2. Load (ETL) yang lebih lama dibanding data bentuk database. seperti juga halnya data integration di perusahaan lain. SDM dan electronic data processing. Dari ketersediaan data tersebut. masih diperlukan sekitar 65%-85% lagi untuk mencapai implementasi business intelligence secara keseluruhan dan proses ini melibatkan lebih banyak pihak lagi dalam penyusunannya agar menghasilkan suatu informasi yang bernilai tinggi bagi RS DS. Transform. kemudian selanjutnya file database dan laporan manual. Bentuk file non database tetap dimungkinkan untuk diintegrasikan ke dalam business intelligence. 4. Reporting Dengan telah diidentifikasikannya kebutuhan data dalam bentuk matriks hasil penelitian. Namun. Tiga wilayah data terbanyak adalah manager representative. Lebih dari separuh ketersediaan data adalah dalam bentuk file non database. lalu file non database dan laporan manual. kesiapan untuk data integration menjadi suatu tantangan besar. 3. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. format data yang berbeda-beda. wilayah data manager representative dan public service center perlu diintervensi lebih lanjut untuk menyediakan data dalam format database. Kriteria business result sudah tercakup dalam kriteria-kriteria lain. 5. maka tingkat kesiapan paling tinggi adalah ketersediaan data dalam bentuk database. Jika dilihat dari upayanya. Variabel informasi yang didapat termasuk kompleks. Penyiapan Implementasi Ditinjau Dari Development Life Cycle System Upaya untuk melakukan tahap investigasi sistem yang menentukan tingkat kelayakan implementasi sistem informasi mencakup sekitar 5%-15% dari keseluruhan tahap. Data integration Dalam konteks business intelligence RS DS. Vol. Ditinjau dari segi kelayakan. kesiapan untuk fitur reporting menjadi cukup tinggi. laporan manual 19%.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Dari segi ketersediaan data. 4 Desember 2007 181 . upaya penyiapan implementasi business intelligence RS DS telah mencakup 15% . ketersediaan data dalam bentuk selain database membutuhkan lagi langkah yang lebih panjang yaitu melalui proses Extract. ketidakkonsistenan nilai data. Secara keseluruhan. belum tersedia <1%). sehingga kesiapannya cukup tinggi untuk dikonversikan ke dalam business intelligence. Dashboard Kesiapannya sama dengan kesiapan fitur reporting yaitu cukup tinggi. Ketersediaan data dalam bentuk database baru mencakup 16% dari keseluruhan data dengan kontributor terbesarnya adalah balanced scorecard dalam kriteria strategic planning. Kriteria yang mendominasi adalah process management pada variabel Proses kunci layanan RSDS. penelitian penyiapan implementasi business intelligence di RS DS sudah mencakup sekitar 15%-35% dari keseluruhan upaya pembuatannya. mengingat variabilitas format informasi yang tersedia (database 16%. Namun ketersediaan data dalam bentuk file non database tetap lebih baik dibandingkan bentuk manual.35% dari keseluruhan tahapan system development life cycle. jika memperhatikan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pengolahan data. file non database 65%. 10. No. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Secara keseluruhan. sinonim dan homonim serta logika proses. sudah 81% data tersedia dalam bentuk laporan non manual. Data mining Dengan banyaknya variabel data yang tersedia (147 variabel data). membedakan business intelligence dengan sistem informasi manajemen lainnya. Fitur business intelligence Tipe-tipe analisa informasi berikut merupakan fitur yang disajikan oleh business intelligence yang sifatnya unik. ketersediaan data dalam bentuk non laporan manual yang cukup besar (81%) akan sangat membantu percepatan business intelligence. tingkat kesiapan analisis cukup tinggi. kesiapan untuk dilakukan data mining menjadi cukup tinggi.

Prentice Hall. 2003. dan implementasi sistem lalu selanjutnya pemeliharaan sistem untuk percepatan implementasi business intelligence RS DS. Penyiapan Implementasi Business Intelligence 182 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Elex Media Komputindo. Meneruskan tahapan system development life cycle pada tahap desain sistem. Hal ini dilakukan untuk mempercepat implementasi dan mendapat manfaat optimal dari business intelligence. Shaku. 2006. dan gagasamanajemen terhadap sistem yang digunakan juga sangat diperlukan. Perlu dilakukan percepatan implementasi business intelligence untuk mendapatkan manfaat optimalnya. Iskandar. 5.. Metodologi Pengembangan Sistem Informasi. Leman. No. Catur. utamanya bagi wilayah data yang mayoritas informasinya masih dalam bentuk laporan manual. 10. Larissa T. Bagi informasi yang ketersediaan datanya masih dalam bentuk file non database. 1998. Gambar 1 . Telkom Training Center dan Wahana Kendali Mutu. Ketaatan input data karyawan disertakan dalam sistem remunerasi yang saat ini sudah berjalan. 4 Desember 2007 . O Brien. Saran Sosialisasi penggunaan sistem informasi serta pelatihannya perlu dilakukan terus. Melibatkan pemakai akhir dari mulai untuk menentukan persyaratan fungsional untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam implementasi sistem. McGraw-Hill. 4.. Moss. Business Intelligence Roadmap. Peningkatan motivasi internal para karyawan tentang pentingnya implementasi sistem informasi di lingkungan rumah sakit serta keuntungan positif apa saja yang akan diperoleh karyawan dengan sistem informasi tersebut akan membawa dampak positif bagi kemajuan implementasi di luar pelatihan-pelatihan yang sudah rutin dilakukan saat ini. Introduction to Information Systems. Mc Leod. 2. Sadikin.. New Jersey. CHIP Magazine. 2005. Atre. Management Information System. 12th ed. Knowledge management yang sudah ada terus dikembangkan dan disentralisir dalam wadah aplikasi business intelligence untuk memudahkan evaluasi serta update informasi-informasi terbaru yang terus berkembang. Business Intelligence. KEPUSTAKAAN 1. Boston. Bunga Rampai Kriteria Bisnis Malcolm Baldrige National Quality Award (MBNQA). 2007. Vol. diperlukan kesepakatan mengenai konsistensi data untuk mempercepat implementasi business intelligence. Jakarta. Pearson Education. New York. Masing-masing penanggung jawab wilayah data menuangkan variabel informasinya dalam bentuk informasi yang terstandar menjadi bentuk database. 6.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . Edisi II. 3. 1998.6(1) Juni :140-144.

Metode: Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bidan yang bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan. Results and Conclusion: Knowledge. adequate skill (83. 4 Desember 2007 195 . Methods: Population of this research were all the midwives staff working at Puskesmas Tual and Un at the Sub District of South Dullah Island. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja bidan di Puskesmas Kecamatan Pulau Dullah Selatan. the work time didn’t have correlation with the midwives performance. 307/100. South East Maluku regency for year 2006. Nurhayani1. kepala Puskesmas sebaiknya melakukan observasi secara regular. Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).4%) dan motivasi cukup (91.3%). the head of Puskesmas is better to do the continuously observation about the filing of report format and the using of equipment. South East Maluku Regency for year 2006.3%). Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. kinerja ABSTRAK Latar belakang: Program penempatan bidan desa pada umumnya dipengaruhi oleh kemampuan dan keterampilan bidan desa itu sendiri. Participants obtained were 32 respondents. The objective of this research is to determine factors correlating with the midwives performance at Puskesmas of South Dullah Island Sub District. Maluku Tenggara 1 ABSTRACT Background: The placement program of village midwives is mostly influenced by the capability and skill of village midwives. Vol. No. Sample adalah keseluruhan dari jumlah populasi sebanyak 32 orang. Rekomendasi: Penelitian ini menyarankan bahwa untuk meningkatkan pengetahuan bidan tentang penggunaan alat dan sistem pelaporan. Nurhamsa Mandak2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. performance pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada pasien.000 kelahiran hidup pada tahun 2002. Meanwhile. Kata Kunci: pengetahuan. memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengikuti pelatihan secara terus menerus serta memberikan insentif untuk meningkatkan kinerja bidan. Sementara jam kerja tidak berhubungan dengan kinerja bidan. Hasil dan Kesimpulan: Pengetahuan.4%) and adequate motivation (91. work time. Kepada Kepala Dinas kesehatan diminta untuk menyediakan kit bidan agar dapat menjalankan tugas mereka lebih baik.200 Artikel Penelitian DETERMINAN KINERJA BIDAN DI PUSKESMAS TAHUN 2006 DETERMINANT OF MIDWIVES PERFORMANCE AT PUBLIC HEALTH CENTRE AT 2006 Sukri Palutturi1. keterampilan dan motivasi mempunyai hubungan dengan kinerja bidan. giving training continuously to all midwives. giving incentive/rewards to them by the head of Puskesmas to improve their performance. motivasi. Seorang bidan harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kebidanan khususnya yang diperoleh dari pendidikan baik formal maupun non formal seperti pelatihan. a midwife must have the high motivation which drives them to give the better service to patients.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. skill. 10. sedangkan AKB di Indonesia sebesar 35/1000 kelahiran hidup dan yang terendah adalah Singapura yaitu 3/l00 kelahiran hidup. The good performance of midwives were caused by the sufficient knowledge (84. Jenis penelitian ini adalah obeservasi dengan pendekatan cross sectional study. serta lambatnya penurunan kedua angka tersebut. Sample were all the midwives staff giving the midwifery service and working at Puskesmas Tual and Un at the Sub District of South Dullah Island. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 195 . keterampilan. waktu kerja sekitar lima tahun (71.1 Negara kita AKI masih menduduki urutan tertinggi di negara ASEAN. Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006.3%). seorang bidan harus mempunyai motivasi yang tinggi yang mendorong mereka dapat memberikan PENGANTAR Masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan masalah nasional yang perlu mendapat prioritas utama karena sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pada generasi mendatang.2 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. work time about five years (71. skills and motivations correlate with the performance of midwives. menunjukkan bahwa pelayanan KIA sangat mendesak untuk ditingkatkan baik dari segi jangkauan maupun kualitas pelayanannya. Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006. keterampilan cukup (83. jam kerja.3%). South East Maluku Regency for year 2006. Therefore a midwife has to have adequate knowledge about the midwifery particularly obtained from the formal and non formal education. and the health office at district must provide the minimal kit midwives. such as training. motivation.0%). Makassar 2 Puskesmas Tual. Namun demikian.0%). Kinerja bidan yang baik dipengaruhi oleh pengetahuan yang cukup (84. The type of this research is observational research by using the cross sectional study approach. Keywords: knowledge. Nevertheless. Recommendation: The research suggests that to improve the knowledge of midwives about the equipment use and reporting their task.

5 Di Kabupaten Maluku Tenggara yang terdiri dari 17 puskesmas dengan cakupan K1 3.2 Salah satu upaya yang dilakukan Departemen Kesehatan dalam mempercepat penurunan AKI adalah mendekatkan pelayanan kebidanan kepada setiap ibu yang membutuhkannya. Masih tingginya AKB dan AKI menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan masih belum memadai dan belum menjangkau masyarakat banyak.kelainan yang mungkin terjadi pada saat kehamilan atau menjelang kelahiran.000 kelahiran hidup. 4 Desember 2007 .829 atau 62% cakupan TT1 27.000 kelahiran hidup dan AKB dari 35/100.10%) dan TT2 (78. sedangkan target Internasional AKI di bawah 125/100.120 bidan di desa. AKB pada tahun 2005 sebanyak 82/100. Seseorang bidan dituntut untuk menggunakan kemampuan dalam berbagai aspek kehidupan khususnya dalam memberikan pelayanan pada pasien. Tindakan (KI-K4) yang diberikan oleh petugas kesehatan (bidan) pada saat pemeriksaan kehamilan seorang ibu di pusat pelayanan kesehatan (puskesmas) akan banyak berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya karena dengan pemeriksaan yang lengkap akan mudah mendeteksi kelainan . dan AKI terbanyak di Kabupaten Maluku Tenggara sebanyak 10/kelahiran hidup. penciuman rasa dan raba. Secara nasional tahun 1999 K1 (92. Namun bidan di desa yang sudah ditempatkan belum didayagunakan secara optimal dalam upaya menurunkan AKI dan AKB.10%).: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas . Selain itu.000 kelahiran hidup tahun 2005 dan 75/100.719 atau 80% dan K4 22.1 Keberhasilan seseorang dalam mewujudkan tujuan dan harapannya sangat ditentukan oleh masa kerja yang dimiliki. pendengaran...000 kelahiran hidup menjadi 20/1000 kelahiran hidup.719 atau 80% dan TT2 22. dkk.Sukri Palutturi. seorang bidan harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai keperawatan khususnya kebidanan baik yang diperoleh melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa hampir semua desa di wilayah Indonesia mempunyai akses untuk pelayanan kebidanan.45%).3 Penempatan bidan di desa adalah upaya untuk menurunkan AKI. Kesehatan ibu hamil dapat dicapai bila kehamilan diperiksa secara teratur dan risiko yang ditemukan ditangani secara memadai. Peningkatan kesehatan ibu dan bayi di Indonesia adalah salah satu komitmen Departemen Kesehatan melalui penerapan rencana pengurangan angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi dan target untuk menurunkan AKI dari 307/100. seperti pelatihan. dan AKB menjadi 15/1000 kelahiran hidup. standar untuk cakupan Kl yaitu minimal 90% dan K4 minimal 80%. khususnya dipedesaan.6 (Profil Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara). 10. No. dan AKB terbanyak di Kabupaten Maluku Tenggara sebanyak 45/kelahiran hidup dengan cakupan KI 27.47%)dan Fe3 (63. Untuk itu sejak tahun 1990 telah ditempatkan bidan di desa yang pada tahun 1996 telah mencapai target 54.000 kelahiran hidup menjadi 225/100. Oleh karena itu.72%) dan K4 (75. dan cakupan TT 1 (85.66%). Selain itu seorang bidan juga harus memiliki motivasi yang tinggi sehingga timbul dorongan dalam dirinya untuk memberikan pelayanan kebidanan yang baik kepada pasien. sehingga dengan demikian dapat memberikan dampak yang positif sesuai dengan bidang ilmu yang dimilikinya.000 kelahiran hidup tahun 2015. Keberhasilan program penempatan bidan di desa sangat dipengaruhi kemampuan dan keterampilan bidan di desa di samping faktor lingkungan dan faktor kebutuhan masyarakat itu sendiri.Untuk itu diperlukan tenaga bidan yang memiliki kualitas profesional yang dapat memberikan pelayanan kebidanan yang efektif dan efisien serta berkualitas yang akhirnya dapat membantu memperbaiki dan meningkatkan kesehatan masyarakat dengan berorientasi pada upaya-upaya pencegahan baik pencegahan primer.4 Jadi pengetahuan dapat diartikan sebagai hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan pada objek tertentu.719 atau 80% dan Fe3 22.408 atau 62% dan cakupan TT2 2871 atau 52%. cakupan tablet Fel (77. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga baik melalui pendidikan formal maupun non formal.sekunder dan tertier.000 kelahiran hidup. Di 196 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan merupakan sekumpulan bahan yang luas dengan hal-hal yang terperinci yang tetap dipelajari sebelumnya serta mengingatkan hal tersebut sebagai bahan yang sudah diketahui. Vol.829 atau 62%.5 Berdasarkan laporan yang ada pada Dinas Kesehatan di Provinsi Maluku dari 5 Kabupaten Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2005 sebanyak 36/100. disiplin dan motivasi tenaga bidan yang tinggi dalam pelayanan kebidanan bagi masyarakat merupakan harapan bagi semua pengguna pelayanan kebidanan. bayi dan anak balita.829 atau 62% cakupan Fe1 27. Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek. penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia yaitu indera penglihatan. Untuk itu diperlukan suatu instrumen untuk memantau kinerja bidan di desa.408 atau 62% dan K4 2871 atau 52% cakupan Fel 3.408 atau 62% dan Fe3 2871 atau 52% cakupan TT1 3.

7%) memiliki kinerja kurang. Besar sampel sebanyak 32 responden bidan dengan menjawab pertanyaan yang diberikan pada kuesioner.0 1 14. Penyajian data yang telah diolah.000 ( p< 0. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kinerja tenaga bidan dalam pelaksanaan standar pelayanan kebidanan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan tahun 2006. sedang dari 8 responden dengan keterampilan kurang Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.3 Total n 25 7 32 % 78. sedangkan dari 7 responden dengan pengetahuan yang kurang terdapat 1 responden (14. Untuk lebih memperjelas hasil pemaparan penelitian maka dibagi dalam tiga bagian yaitu pertama: karakteristik responden untuk mendeskripsikan karakteristik responden yaitu tingkat pendidikan dan umur. Vol. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.1 21.5). Sampel adalah semua tenaga bidan yang melakukan pelayanan kebidanan dan bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006.0%) memiliki kinerja kurang.14% dan cakupan TT2 65%.3%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (85.05 ) maka Ho ditolak. Data sekunder diperoleh dari laporan cakupan program KIA (PWS KIA) Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. tabulasi silang antara variabel independen dengan variabel dependen.1%) dengan pengetahuan yang cukup terdapat 21 responden (84. masa kerja dan motivasi dan variabel dependen yaitu kinerja.0 4 16.3%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (16. Cakupan K1 ini dapat menggambarkan tingkat upaya kesehatan ibu dan anak dan perilaku kesehatan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya.0%) dengan keterampilan yang cukup terdapat 20 responden (83. Hasil dari penelitian diuraikan pada tabel dan penjelasan berikut.0%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (16. motivasi dan kinerja bidan di Puskesmas Tual dan Un Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. 4 Desember 2007 197 . Hal ini berarti ada hubungan antara pegetahuan dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. dilakukan dalam bentuk cross tabel dan narasi. Metode pengumpulan data Data ini diperoleh dengan cara observasi atau pengamatan terhadap kegiatan pemeriksaan ibu hamil yang dilakukan oleh tenaga bidan. di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. No. Penelitian dilaksanakan mulai bulan April 2006 sampai dengan bulan Mei 2006. 10.3 6 85. A. keterampilan. Tabel 1. Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 Pengetahuan Cukup Kurang Total Kinerja Baik Kurang n % n % 21 84.8 10 31. untuk cakupan pemeriksaan ibu hamil atau KI sebesar 70.7%) memiliki kinerja kurang. Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan pada Puskesmas Tual dan Un Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara dengan pertimbangan belum pernah dilakukan penelitian tentang kinerja tenaga bidan di lokasi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan antenatal belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Hubungan keterampilan dengan kinerja bidan Tabel 2 menunjukkan dari 24 responden (75.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kecamatan Pulau Dullah Selatan (Puskesmas Tual dan Un).10% dan cakupan Fe 3 65% sedangkan cakupan TT 1 70. keterampilan. Pengolahan dan penyajian data Pengolahan data dilakukan dengan cara elektronik. cakupan Fe l 60. Ketiga. Kedua: deskriptif variabel penelitian yaitu variabel independen mengenai pengetahuan. masa kerja. yaitu dengan menggunakan komputer (program SPSS versi 11. Hubungan pengetahuan dengan kinerja bidan Tabel 1 menunjukkan dari 25 responden (78. Total sampel yang diperoleh sebanyak 32 bidan. Populasi dan sampel Populasi adalah semua tenaga bidan yang bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006 dengan total sampel sebanyak 32 bidan.7 Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan pendekatan Cross Sectional Study7 untuk mengetahui hubungan pengetahuan.7 22 68.14% dan cakupan K4 65%.9 100 Sumber : Data Primer B.

sedang dari 11 responden dengan masa kerja yang tidak lama terdapat 7 responden (63.7%) memiliki kinerja kurang.000 (p< 0. Tabel 2. Hal ini berarti ada 198 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.05) maka Ho ditolak. Hasil penelitian terhadap kinerja bidan pada bagian sebelumnya memberikan acuan untuk membahas keempat faktor tersebut terhadap kinerja.002 ( p< 0.8 10 31.7 2 25.0%) yang memiliki kinerja yang baik sedangkan dengan pengetahuan yang kurang menyebabkan 4 bidan (16. Hubungan Keterampilan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 hubungan antara Motivasi dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja meliputi faktor individu keterampilan.9%) memiliki kinerja kurang.4 100 PEMBAHASAN Kinerja adalah penampilan hasil kerja personal baik kualitas maupun kuantitas dalam suatu organisasi.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas . Hubungan Motivasi dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 Kinerja Total Motivasi Baik Kurang n % n % n % Cukup 21 91.4%) memiliki kinerja kurang.0 100 Sumber : Data Primer C. faktor organisasi yang terdiri dari: kepemimpinan dan struktur imbalan/kompensasi serta faktor-faktor psikologis yang meliputi: motivasi dan kepuasan kerja. terdapat 2 responden (25. sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing.4 63.05) maka Ho diterima. tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral atau pun etika.. sedang dari 9 responden dengan motivasi yang kurang terdapat 1 responden (11.6 68.0%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (75. Hal ini berarti tidak ada hubungan masa kerja dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Hasil uji statistik menunjukan bahwa ada hubungan antara Sumber : Data Primer d. dkk.0 6 75. menyaksikan.3 2 8.9%) dengan motivasi yang cukup terdapat 21 responden (91. Untuk kinerja bidan maka faktor yang paling berpengaruh dan merupakan faktor kunci untuk mencapai hasil kerja yang baik harus memiliki kemampuan dan keterampilan yang baik.3%) memiliki kinerja baik dan 2 responden (8.1%) memiliki kinerja baik dan 8 responden (88.4%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (28. dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal. adanya motivasi yang kuat merupakan pendorong yang memadai serta adanya kepemimpinan dan bidan itu sendiri. Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006 Masa Kerja (Tahun) Lama (> 5 tahun) Tidak Lama (< 5 tahun) Total Kinerja Baik n 15 7 22 % 71.7 23 71. Hubungan masa kerja dengan kinerja bidan Tabel 3 menunjukkan dari 21 responden (65. Hubungan motivasi dengan kinerja bidan Tabel 4 menunjukkan dari 23 responden (71.3 4 16. khususnya setelah diberikan pendidikan formal maupun non formal. No.9 9 28. Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi.6%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (36. 1.9 Kurang 1 11.8 Kurang n % 6 4 10 28.3 32 100 Sumber : Data Primer Keterampilan Cukup Kurang Total Kinerja Baik Kurang n % N % 20 83.05 ) maka Ho ditolak. 4 Desember 2007 .652 (p> 0.0%) memiliki kinerja kurang.0%) yang mempunyai kinerja kurang. 10.Sukri Palutturi. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0. Vol.6%) memiliki kinerja kurang.6 36.4 31. Tabel 4.1 Total 22 68.0 22 68. Dalam penelitian ini. Tabel 3. Pengetahuan dengan kinerja bidan Pengetahuan adalah apa yang diketahui dan mampu diingat oleh setiap orang setelah mengalami.8 10 31.0 25..1 8 88. Hal ini berarti ada hubungan antara keterampilan dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.6 34.3 n 21 11 32 Total % 65. Pembahasan lebih lanjut sebagai berikut. mengamati atau diajar sejak lahir sampai dewasa. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.9 Kinerja seseorang terkait erat dengan proses kerja dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.6%) dengan masa kerja yang lama terdapat 15 responden (71.3 Total n 24 8 32 % 75. Hasil penelitian menunjukkan dengan pengetahuan yang baik sebanyak 21 bidan (84.

12 Hasil penelitian menunjukkan dengan keterampilan bidan yang baik sebanyak 20 bidan (83.3%) dibanding pengetahuan kurang (14.11. No. Hal ini disebabkan pelatihan memiliki arti yang luas bahwa sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan SDM terutama di dalam hal pengetahuan.3%) dibanding yang memiliki motivasi kurang (11. meningkatkan dan mengembangkan kemampuan personil dalam jangka waktu relatif singkat yang mengutamakan pengetahuan praktis sehingga personil dapat melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.0%).14 Hasil penelitian menunjukkan dengan motivasi yang baik sebanyak 21 bidan (91. 10. Keterampilan dengan kinerja bidan Menjalankan tugas dan tanggung jawab secara profesional dengan melaksanakan fungsi sebagai bidan menuntut suatu keterampilan sebagai bidan yaitu merencanakan asuhan keperawatan sesuai dengan hasil pengkajian kebutuhan dan masalah keperawatan kebidanan. memperbaiki. dibanding dengan bidan yang telah bekerja kurang dari 5 tahun (63. harapan.3%) dibanding keterampilan kurang (25. Masa kerja bidan tidak berhubungan dengan kinerja bidan. kebutuhan. Hasil penelitian menunjukkan dari 21 bidan yang masa kerja lama sebanyak 15 bidan (71.1%). Masa kerja dengan kinerja bidan Masa kerja merupakan suatu proses pendidikan formal untuk mengubah. akan bekerja lebih terarah. Agar Kepala Puskesmas memperhatikan pemberian insentif kepada semua bidan dan penghargaan kepada bidan yang mempunyai prestasi sehingga dapat menjadi salah satu pemicu peningkatan kinerja mereka. kemudian selama <5 tahun sebanyak 11 responden (34. Saran Diharapkan kepala Dinas Kesehatan Kabupaten untuk memberikan pelatihan secara kontinyu kepada semua bidan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pulau Dullah Selatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan bidan dalam menerapkan standar pelayanan kebidanan yang baik. dan kesukaan) yang menimbulkan dorongan atau semangat untuk bekerja keras.4%). Diharapkan Kepala Puskemas untuk melakukan pemantauan secara berkala terhadap bidan tentang pengisian format laporan dan penggunaan peralatan serta cara pelayanan dalam menggunakan standar pelayanan kebidanan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.3%) yang memiliki kinerja baik dan dengan motivasi yang kurang terdapat 2 bidan (8. 4 Desember 2007 199 . Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara massa kerja dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. 4.6%). Vol. Dari hasil penelitian menunjukkan bidan yang telah mengikuti pelatihan yang sesuai dengan tugasnya sehari-hari. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki Masa kerja hampir sama antara yang telah bekerja selama 5 tahun atau lebih (71. 10. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara motivasi dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.4%) dengan kinerja baik dan sebanyak 6 responden (28. Keterampilan bidan berhubungan dengan kinerja bidan. lebih lancar dalam melaksanakan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.6%). Motivasi dengan kinerja bidan Motivasi adalah kesiapan khusus seseorang untuk melakukan atau melanjutkan serangkaian aktivitas yang ditujukan untuk mencapai beberapa sasaran yang telah ditetapkan. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki pengetahuan cukup (84. Pengadaan minimal bidan kit kepada semua bidan yang bertugas oleh Dinas Kesehatan sehingga bidan dapat melaksanakan standar pelayanan kebidanan dengan baik.4%).6%) dengan kinerja yang kurang.7%) memiliki kinerja kurang. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara keterampilan dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Masa kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah khusus pelatihan tentang standar pelayanan kebidanan. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki keterampilan cukup (83. Akan halnya motivasi kerja adalah sesuatu hal yang berasal dari internal individu (keinginan.3%). Bidan yang mempunyai kinerja baik lebih banyak memiliki motivasi cukup (91.13. 3. kemampuan dan keterampilan. Motivasi berhubungan dengan kinerja bidan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pengetahuan bidan berhubungan dengan kinerja bidan. dan mereka dapat menampilkan kinerja yang baik pula.3%) memiliki kinerja yang baik sedangkan dengan keterampilan yang Baik sebanyak 4 bidan (16.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pengetahuan dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara 2.7%) memiliki kinerja kurang. Dari hasil penelitian diperoleh distribusi terbesar sebagian besar responden telah bekerja =5 tahun sebanyak 21 responden (65.

. 2005. Kinerja (Teori. Panduan Bidan Tingkat Desa. FKMUI. Ilyas. Panduan Kesehatan dan Alternatif Mobilisasi Dana Kesehatan di Indonesia. Yogyakarta. 4 Desember 2007 . Metode Penelitian Administrasi. Jakarta. 11. 10. Penilaian. S. 1999. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan Depok. 9. Prawirosentono. KEPUSTAKAAN 1. 10. Y. 2001. Jakarta. Y. Depkes RI. 1999. Rineka Cipta. Alfabeta. 2000. Puskesmas Tual dan Un.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas . Jakarta. Cetakan I. Panduan Bidan di Desa Bagian I & II. 1994.net/cgi-bin/berita/fullnews. Penilaian. Profil Kesehatan Indonesia. cetakan kedua. 2003. IBI. Thabrany H. Profil Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara. dkk. 200 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 14. Mei 1999. 2005. Jakarta.Sukri Palutturi. Depok. Profil Puskesmas Tual dan Un. 5. 3. 2. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan. 1999. 7.gizi. 2005. 13. No. S. Menekan angka kematian ibu dan anak. Vol. Maluku Tenggara. Cetakan II. Ilyas.. Notoadmojo. diakses pada 3 Maret 2006 di http:// www. Jakarta. Depkes RI. Depkes. 12. Kebijakan Kinerja Karyawan.cgi?newsid 1087441546. P. Kinerja (Teori. Kode etika kebidanan. 4. Gizi Net. Penelitian). Bali. Jakarta. 1999. 8. Penelitian). Profesi Kebidanan. Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara. Maluku Tenggara. Sugiono.40265. FKMUI. 6. Metodologi penelitian kesehatan. RI. Bandung.T. Ikatan Bidan Indonesia. Jakarta: 1999.

Bahasan keempat menjelaskan mengenai sumber daya manusia dan sumberdaya fisik lainnya. Kegiatan yang dimaksud mencakup 11 kegiatan yaitu : mengidentifikasikan kebutuhan dan prioritas dari misi USAID. Penggunaan bahasa yang mudah dimengerti. Secara umum buku ini memaparkan mengenai alat (tools) dalam penilaian cepat terhadap fungsifungsi kunci sistem kesehatan mencakup: pemerintahan. Bahasan terakhir menjelaskan mengenai strategi dalam penguatan sistem kesehatan beserta implikasinya. Bab 5. Aktivitas kelima adalah menyiapkan ceklis logistik. Bahasan pertama merupakan pengantar. kebijakan dan advokasi. Komponen Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Bab 4. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan kedua memaparkan mengenai kerangka kerja konseptual dalam pendekatan penilaian sistem kesehatan. Bahasan kedua sampai kedua belas merupakan latihan atau kegiatan. Aktivitas keenam adalah membuat jadual dan menyusun rencana pertemuan dengan tim. 04 Desember 2007 Halaman 201 . Aktivitas kesepuluh adalah melakukan wawancara akhir sesuai kebutuhan. Konsep yang digunakan dalam buku ini juga sejalan dengan apa yang digunakan oleh WHO terhadap konsep sistem kesehatan. SDM kesehatan. menguraikan mengenai tinjauan pendekatan yang digunakan. Bahasan kedua menguraikan mengenai stewardship (dalam hubungannya dengan pemerintahan). Kegiatan selanjutnya adalah mempersiapkan penaksiran anggaran. Bahasan kedua dan keempat merupakan tahapan dalam pengembangan rekomendasi. manajemen farmasi dan perbekalan kesehatan serta sistem informasi kesehatan. yaitu bahasan pertama merupakan pengantar mencakup definisi sistem Kesehatan dan penguatan sistem kesehatan. Bab 3.202 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Buku Pengarang Penerbit Tahun Tebal : : : : : Health Systems Assessment Approach : A How to Manual USAID Mursaleena Islam 2007 374 halaman B uku ini terdiri dari 11 bab. Aktivitas terakhir adalah menyiapkan laporan penilaian. pelayanan kesehatan. Bab ini terdiri dari dua belas sub bahasan. Phase 1. Aktivitas ketujuh adalah mengumpulkan dan mereview materi latar belakang. 4 Desember 2007 201 . Bahasan ketiga menguraikan mengenai pembiayaan kesehatan. membahas mengenai modul utama. Phase 4. membahas mengenai penemuanpenemuan final dan rekomendasi dari beberapa penilaian laporan. Bahasan keenam memaparkan mengenai sistem informasi kesehatan. Aktivitas kesembilan adalah mengatur menyiapkan workshop dengan stakeholder terkait. Aktivitas kedelapan adalah menyiapkan daftar contact person dan daftar narasumber untuk melakukan wawancara. Bab 2. membahas mengenai perencanaan dan penyusunan penilaian. Bab ini terdiri dari lima sub bahasan. kerangka waktu. Bahasan pertama merupakan pengantar. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan rekomendasi melalui penilaian modul. kesepakatan terhadap ruang lingkup.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 10 No. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Dalam bab ini dibahas tujuh sub pokok bahasan. membahas mengenai persiapan dan implementasi bagian pengesahan. Masing-masing fungsi sistem kesehatan ini diuraikan di masing-masing bab secara lebih detil. Bahasan ketiga menguraikan mengenai tinjauan terhadap modul teknis dan bahasan terakhir menguraikan mengenai hasil yang diharapkan dari penilaian. merupakan pengantar yang mengulas mengenai pengenalan terhadap kekuatan sistem kesehatan. Aktivitas keempat adalah memasang penaksiran tim beserta tanggung jawab dari masing-masing personil dari tim. Bab 1. Vol. No. Phase 2. Phase 3. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan kesimpulan awal untuk masing-masing modul. konsep yang sejalan dengan WHO dan disertai contoh-contoh aplikasi sistem kesehatan di beberapa negara menjadikan buku ini sangat mudah dipahami dan aplikatif. dan penilaian terhadap penentuan waktu. 10. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan kedua dan ketiga merupakan komponen dari modul utama. pembiayaan kesehatan. Bahasan kelima menjelaskan mengenai manajemen dan organisasi untuk pelayanan kesehatan. Bab ini terdiri dari tiga sub bahasan. Bab ini terdiri dari empat pokok bahasan.

Bab 7. Sementara komponen kedua memuat mengenai: politik dan lingkungan makroekonomi. 4 Desember 2007 . Bahasan ketiga menguraikan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan bahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. Pembahasan pertama mengenai pengantar. memaparkan mengenai modul manajemen yang berkaitan dengan farmasi. Karena di dalam buku ini dikupas secara detil dan jelas komponen demi komponen pembentuknya. kelembagaan lembaga pemerintah dan kelembagaan swasta yang terkait dengan sistem pelayanan kesehatan. akademisi dan pengajar terkait dengan seluk-beluk mengenai sistem kesehatan dan komponen pembentuk sistem. Bab 9. peneliti. membahas mengenai modul sumber daya manusia kesehatan. Bahasan pertama merupakan pengantar. Sub bahasan terkhir menjelaskan mengenai kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi terkait mengenai sistem informasi kesehatan.Resensi pertama memuat mengenai : pertambahan penduduk.com 202 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pendapatan dan ketidak adilan. Bahasan pertama merupakan pengantar. menguraikan mengenai modul sistem informasi kesehatan. yaitu Bab 11. bahasan kedua menjelaskan mengenai penyusunan profil sistem informasi kesehatan. Bab 6. kelembagaan pelayanan kesehatan. Bahasan ketiga menguraikan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan bahasan terakhir merupakan kesimpulan dan beberapa penyusunan rekomendasi. pembahasan kedua penyusunan profil mengenai manajemen farmasi. Bab ini terdiri dari empat sub pokok bahasan. Bahasan ketiga membahas mengenai penilaian berdasarkan indicator. Bab 8. Vol. Bab ini terdiri dari 4 sub pembahasan. Secara keseluruhan buku ini sangat bagus sekali sebagai tambahan bahan referensi bagi pakar. Rimawati (Divisi Public Health Policy) rima_mhugm@yahoo. Pembahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil pelayanan kesehatan. Selanjutnya yang termasuk dalam komponen kedua ini adalah desentraliasi. kesehatan reproduktif. pemetaan donor/pemberi dana serta keterkaitan dari masing-masing donor atau pemberi dana. membahas mengenai modul pembiayaan kesehatan. Bahasan kedua menjelaskan mengenai penyusunan profil pemerintahan. Bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil pembiayaan kesehatan. Bahasan ketiga mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir mengenai kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. konsultan. Bahasan ketiga menjelaskan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. Bahasan pertama merupakan pengantar. lingkungan bisnis dan suasana investasi. Bahasan ketiga menjelaskan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. penyebab utama mortalitas dan morbiditas. Bab 10. membahas mengenai modul pemerintahan. membahas mengenai modul pelayanan kesehatan. 10. Sub bahasan pertama merupakan pengantar. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. No. angka kematian. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. Pada bagian akhir. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil sumberdaya manusia.

That means this problem still need better attention either the central government or the local government. provincial/ district/city region with high potencies to get conflict. but its problem is that the local governments have different ability to finance their region including salary staff. BNET Business Dictionary. the state of being placed. Therefore. These will affect the willingness to extend their contract. 'Assignment' means "an undertaking you have been assigned to do (as by an instructor). 2008 from http:// www. proposed the local government and states that they are not able to nominate non-permanent personnel. the act of locating or positioning. 04 Desember Korespondensi 2007 Halaman 216 .bnet. In addition. and attendance at monthly meeting has greater coverage than non-contracted group. Vol. incentive and other allowances. retrieved April 13. No. That is normal because they do not have any guaranty to get well income. Issue relating to non-permanent contractual placement among medical doctor does not become current issue anymore although nowadays this problem still happens. & Deni Kurniadi Sunjaya in the Journal of Health Service Management. 1540/Menkes/SK/XII/2002 regarding the placement of medical workforce through service period and other schemes there are two types of non. Incentive has a significant role to raise their performance.3 Although in the article 7 stated that income or salary for non-permanent personnel is allocated by the central government. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1540/Menkes/SK/XII/2002 tentang Penempatan Tenaga Medis melalui 216 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. stated that the income covers main salary. allowance as non-permanent personnel. Medical doctors nominated by central government are only undertaken in particular rural and remote area. medical record within 12 hours.com/definition/assignment 2. WordReference. 2/Juni/2007 I prefer to use "placement" or "deployment" in non-permanent contractual placement than non-permanent contractual assignment.2% of females who is unwilling to extend their contract are people getting married or still single.html 3.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 10 No. 4 Desember 2007 . This study mentions that is only one third of all nonpermanent personnel among medical doctor want to extend their contractual period. Vol. 2008 from http://dictionary. Nita Arsanti. hospital for disaster aid (article 12).com English Dictionary. Elsa Pudji Setiawati. retrieved April 13. incentive or salary is also one reason why among non-permanent doctors are unwilling to extend their contractual period.2 Therefore 'placement' is related to place or location (such as urban and rural). Meanwhile. As cited for instance in Health Minister Decree of Republic of Indonesia No. the local government has an important role in medical doctor placement including non-permanent personnel. Others become the local government's responsibility.2% of females who is unwilling to extend their contract are people living in outside of West Java or within West Java. allowance for tax income. 'placement' means the act of placing or putting in place.4 This study will be better if the individual background of non-permanent doctors is retested to determine. 10.1 Therefore 'assignment' is related to task.wordreference. whether 64.permanent personnel: selected by the central government and the local government in district/city/provincial government (article 8). I agree with writers that in decentralization era. Probably. some doctors prefer for doing private doctor or other businesses. Their willingness will differ from living in outside of West Java or within West Java. A research conducted shows that hospitalists Appling incentive system such as incentive for meeting standard. The other definition 'assignment' means the instrument by which a claim or right or interest or property is transferred from one person to another.217 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo. or whether 64. 10/No. Moreover on districts/cities having income is low. Placement and assignment are 2 words having different meaning. allowance for doctors placed in remote and very remote area.com PREDICTING WILLINGNESS TO EXTEND CONTRACTUAL ASSIGNMENT AMONG MEDICAL DOCTOR IN WEST JAVA Written by Irvan Arfandi. References: 1. for instance.com/definition/ placement.

Collier. 1540/ Menkes/SK/XII/2002 regarding the placement of medical workforce through service period and other schemes). 4 Desember 2007 217 . (2007). 10. Use of Pay for Performance in a Community Hospital Private Hospitalize Group: A Preliminary Report. V. Philadelphia: The American Clinical and Climatological Association. Sukri Palutturi Health Policy and Administration Department Faculty of Public Health Hasanuddin University Email: sukri_tanatoa@yahoo.U..com Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. No.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 4. Vol. masa Bakti dan Cara Lain (Health Minister Decree of Republic of Indonesia No.

A.214 Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. 10. Nirmala Trisna. Persepsi. Mubasysyir Hasanbasri Resensi Buku Redefining Health Care: Creating Value-Based Competition on Results Trisasi Korespondensi Koordinasi Lintas Sektoral pada Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi di Kabupaten Sleman Chriswardhani Suryawati 01 03 11 20 29 40 46 52 53 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Gde Muninjaya Budaya Organisasi dan Mindset Petugas Penanggulangan Tb Paru Melalui Strategi Dots di Puskesmas Labibia Kota Kendari Asiah Hamzah. I. dan Pelaksanaan Manajemen Risiko Klinis di Lima Rumah Sakit di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Banten Tahun 2005 Arjaty Daud. Vol. Sukri. Purnawan Junadi Pengaruh Penyerahan Dana dan Pengelolaan Asuransi Kesehatan Sepenuhnya Kepada Puskesmas Terhadap Efisiensi Pengadaan dan Mutu Penggunaan Obat Neti Viperiati. 4 Desember 2007 205 . 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 205 . No. Dumilah Ayuningtyas. A. Laode Bariun Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survai Sosial Ekonomi Nasional 2001 Jati Untari. 10/NO 01/MARET/ 2007 Editorial Memperbesar Peran Ahli Kebijakan dan Ahli Manajemen Pelayanan Kesehatan di Indonesia Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit sebagai Persyaratan Badan Layanan Umum dan Sarana Peningkatan Kinerja Tjahyono Kuntjoro.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. Hanevi Djasri Artikel Penelitian Pengetahuan. A. Sri Suryawati Survei Pasar Jaminan Kesehatan Sosial Bali A.

Ali Gufron Mukti. Vol. Mubasysyir Hasanbasri Resensi Buku Know How: The 8 Skills That Separate People Who Perform From Those Who Don’t Putu Eka Andayani Korespondensi Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah Rimawati 55 56 64 72 79 85 90 98 101 206 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10. 10/NO 02/JUNI/ 2007 Editorial Kebijakan Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin: Saatnya untuk Melakukan Evaluasi Menyeluruh Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Pendekatan Sistem dalam Perencanaan Program Daerah Mubasysyir Hasanbasri Artikel Penelitian Evaluasi Praktik Donasi Obat Pascatragedi Bom Bali Ida Prista Maryetty. Julita Hendrartini Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah Shinta Wardhani Suryanegara. No. Anis Fuad. Sri Suryawati Analisis Besaran Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali I Gede Santabudi Samba. Wiku Adisasmito Efisiensi Pemanfaatan Rumah Sakit Umum Daerah di Provinsi Sumatera Barat dengan Data Envelopment Analysis Asmaliza. 4 Desember 2007 .Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. Adi Utarini Implementasi Posyandu dan Supervisi oleh Puskesmas di Pontianak Yuliastuti Saripawan.

10. Ristrini Resensi Buku Getting to Yes: Teknik Berunding Menuju Kesepakatan Tanpa Memaksakan Widya Febryanti Korespondensi Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survei Sosial Ekonomi Nasional 2001 Deni Harbiyanto 103 104 108 117 124 132 143 148 154 156 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Sri Suryawati Pengembangan Proses Verifikasi Pra-Operasi untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Rizaldy Pinzon Kajian Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Making Pregnancy Safer di Daerah Miskin Pedesaan Oktarina. Elsa Pudji Setiawati. Penunjukan Langsung. Tjahjono Kuntjoro. dan Kemitraan Sri Winarni. Sunartono. Julita Hendrartini Predicting Willingness to Extend Contractual Assignent among Medical Doctors in West Java Irvan Afriandi. Deni Kurniadi Sunjaya Perbandingan Efisiensi dan Efektivitas Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan dengan Lelang. Vol. 4 Desember 2007 207 . Hanevi Djasri Proses Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja di Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2006 Durachman. No.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS DAFTAR ISI VOL. 10/NO 03/SEPTEMBER/ 2007 Editorial Situasi Survailans yang Belum Menggembirakan Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Cost Effectiveness Analysis dalam Penentuan Kebijakan Kesehatan: Sekedar Konsep atau Aplikatif? Ari Probandari Artikel Penelitian Evaluasi Continuous Quality Improvement (Cqi) di Rumah Sakit yang Mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu Iso 9000 di Indonesia Chatila Maharani. Nita Arisanti.

Adi Utarini Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan. 4 Desember 2007 . Didik Budijanto Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Misnaniarti Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Raditya asri wisuda. Nurhamsa Mandak Resensi Buku Health Systems Assessment Approach: A How to Manual Korespondensi Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctor in West Java Sukri Palutturi 157 159 166 173 181 189 195 201 203 208 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. Vol. Nurhayani. Pembelajaran Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Evie Sopacua. Yodi Mahendradhata. 10 /NO 04/DESEMBER/ 2007 Editorial Kebijakan Contracting Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: Dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik) Siswanto Artikel Penelitian Dampak Kemitraan Praktisi Swasta Terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar. Bali Luh Putu Sri Armini. No. 10. dumilah ayuningtyas Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006 Sukri Palutturi.

W. E. Lihat. E. S. Hamzah. P. 10(03): 117-Ap. Wisuda. Kuntjoro. Pengetahuan. 10(02): 85-Ap. A. Arisanti. Asmaliza Efisiensi Pemanfaatan Rumah Sakit Umum Daerah di Provinsi Sumatera Barat dengan Data Envelopment Analysis. Andayani. 4 Desember 2007 209 . R. W. Djasri. No. Ayuningtyas. Lihat. Lihat. Lihat. P. Lihat. Sopacua. N. Febryanti. W. D. T. Bariun. Fuad. Know How: The 8 Skills That Separate People Who Perform From Those Who Don’t.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS PENULIS Adisasmito. A. 10(03): 124-Ap. Persepsi. Afriandi. A. Lihat. S. D. dan Pelaksanaan Manajemen Risiko Klinis di Lima Rumah Sakit di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Banten Tahun 2005. L. Bali. Daud. Budijanto. 10(03): 154-Rb. Daud. I. 10(01): 11-Ap. Asmaliza Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Armini. H. A. Lihat. Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctors in West Java. 10(04): 166-Ap. A. Afriandi. Getting to Yes: Teknik Berunding Menuju Kesepakatan Tanpa Memaksakan. Suryanegara. 10(02): 98-Rb. Durachman Proses Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja di Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2006. Vol. Lihat. Lihat. Dampak Kemitraan Praktisi Swasta Terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar. Maharani. L. C. I. 10.

G. Hasanbasri. Lihat. 10(01): 03-Mk Lihat. Trisna. Daud. I. 10(03): 156-Koresp. Palutturi. P.Indeks Hamzah. Maharani. A. J. C. Untari. Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit sebagai Persyaratan Badan Layanan Umum dan Sarana Peningkatan Kinerja. Evaluasi Continuous Quality Improvement (CQI) di Rumah Sakit yang Mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu ISO 9000 di Indonesia. Evaluasi Praktik Donasi Obat Pascatragedi Bom Bali. 10. Samba. Mukti. Nurhayani Lihat. Durachman Junadi. L. Budaya Organisasi dan Mindset Petugas Penanggulangan Tb Paru Melalui Strategi Dots di Puskesmas Labibia Kota Kendari. Lihat. N. A. M. Lihat. A. J. C. Vol. Lihat. 10(03): 108-Ap. A. I. Pendekatan Sistem dalam Perencanaan Program Daerah. Y. Y. 210 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Armini. Lihat. Muninjaya. No. Samba. A. N. Lihat. S. T. Palutturi. Maharani. Maryetty. 10(03): 148-Ap. I. Lihat. 4 Desember 2007 . 10(02): 56-Mk. Oktarina Kajian Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Making Pregnancy Safer di Daerah Miskin Pedesaan. Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survei Sosial Ekonomi Nasional 2001. Lihat. D. P. Kuntjoro. 10(01): 40-Ap. S. G. Harbiyanto. 10(04): 181-Ap. S. Saripawan. I. A. G. Mahendradhata. 10(02): 64-Ap. S. Misnaniarti Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung. Lihat. A. Mandak. S. P. Hendrartini. G.

S. E. Oktarina Samba. Afriandi. 10(02): 90-Ap. R. 10. A. No. Y. Rimawati Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah. S. A.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Palutturi. Analisis Besaran Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Cost Effectiveness Analysis dalam Penentuan Kebijakan Kesehatan: Sekedar Konsep atau Aplikatif?. Sunartono Lihat. Health Systems Assessment Approach : A How to Manual. P. D. 10(03): 104-Mk. Probandari. Setiawati. I. 10(04): 159-Mk. Suryanegara. 10(02): 101-Koresp. Sopacua. Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah. G. Hamzah. I. I. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. W. Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006.Pembelajaran Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan. 4 Desember 2007 211 . Saripawan. K. 10(04):201-Rb Ristrini Lihat. S. 10(04): 195-Ap. 10(02): 79-Ap. Pengembangan Proses Verifikasi Pra-Operasi untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit. Afriandi. Siswanto Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik). Lihat. E. 10(04): 173Ap. 10(03): 143-Ap. Pinzon. 10(02): 72-Ap. Vol. 10(04): 203-koresp. Implementasi Posyandu dan Supervisi oleh Puskesmas di Pontianak. Durachman Sunjaya. Sukri Lihat. Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan. Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctor in West Java. Lihat.

10(01): 46-Ap. C. Lihat. Armini. Wisuda. Viperiati. J. Kebijakan Contracting Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: Dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah. Survei Pasar Jaminan Kesehatan Sosial Bali. Trisna. N. R. 10(01): 53-Koresp. S. Vol. Situasi Survailans yang Belum Menggembirakan. Lihat. L. Koordinasi Lintas Sektoral pada Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi di Kabupaten Sleman. Pengaruh Penyerahan Dana dan Pengelolaan Asuransi Kesehatan Sepenuhnya kepada Puskesmas Terhadap Efisiensi Pengadaan dan Mutu Penggunaan Obat. A. Winarni. I. Perbandingan Efisiensi dan Efektivitas Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan dengan Lelang. 10(01): 52-Rb. 212 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. S. 10. No. A. P. Trisasi Redefining Health Care: Creating Value-Based Competition On Results. 10(04):189-Ap. 10(01): 29-Ap. N.Indeks Suryawati. Maryetty. A. I. Utarini. Winarni. S. A Lihat. P. 10(01): 01Ed. Viperiati. Trisnantoro. Memperbesar Peran Ahli Kebijakan dan Ahli Manajemen Pelayanan Kesehatan di Indonesia. Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survai Sosial Ekonomi Nasional 2001. Suryawati. dan Kemitraan. 10(03): 132-Ap. Lihat. Kebijakan Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin: Saatnya untuk Melakukan Evaluasi Menyeluruh. 10(03): 103-Ed. N. L. 4 Desember 2007 . 10(02): 55-Ed. 10(04): 157-Ed. 10(01): 20-Ap. Untari. Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige. Penunjukan Langsung. S. Asmaliza Lihat.

10 (01): 20. Drug Donations Impacts. 2007. 10 (04): 173 Locally Available Resources. 10 (02): 64. 10 (01): 29. 2007. 10 (01): 20 . Vol. Making Pregnancy Safer. 2007. 10(04): 189. Lesson Learned. 10 (04): 181 Maternal and Child Health. Community Partnership.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS SUBJEK Ability to Pay. 2007. Implementation. Mindset. Knowledge. 2007. 10 (02): 85. 10 (01): 29. 10 (01): 11 . 2007. 10 (03): 132. 10 (01): 11. 10 (01): 03. 2007. Bali Social Health Insurance. 10(04): 189. 2007. ISO 9000. 10 (02): 56. 2007. 10 (03): 124. 10 (04): 195 Leadership. 2007. Drug Use. 2007. 2007. 2007. 10 (01): 46. 10 (02): 72. 10 (02): 90. 2007. Behavior. 2007. Community Health Center. 2007. Hospital Performance. 10 (03): 148. 10 (03): 108. 10 (03): 108. 2007. 10 (01): 20 . Health Personnel’s Training Program. 2007. 2007. 10 (02): 79. 2007. 10 (01): 20. 2007. 2007. 10 (03): 104. 2007. 10 (03): 104. 2007. Delay. Empowering. 10 (03): 148. 2007. 10 (03): 124. 2007. 10 (02): 90. 2007. Effectiveness. Medical Doctor. 4 Desember 2007 213 . 2007. 2007. 10 (03): 124. 10 (01): 03. Cash Funds. Bali Bomb Tragedy. Direct Appointment. Hospital Performance Indicators. Efficiency. 10 (02): 64. 10 (01): 11. 2007. 10 (02): 79. 2007. Fund. 2007. Management Policy. Economic Evaluation. Knowledge. Auction. Implementation preparation. Cost Effectiveness Analysis. 2007. 10 (02): 90. 10 (04): 159 Financial System Of Public Service Body. 2007. 2007. 10 (04): 166 CQI. 2007. 2007. Health Card. Cost. 10 (03): 132. Contract. 2007. 10 (03): 108. 10 (03): 117. Drug Procurement. Dots. 2007. Clinical Risk Management. 10. 10 (04): 166 Deployment. No. 10 (03): 148. 2007. 10 (01): 40. Health Insurance. 2007. 2007. 10 (03): 132. 10 (04): 173 Hospital Efficiency. 10 (01): 20. 2007. Business intelligence. 2007. 2007. Data Envelopment Analysis. Ethics. 2007. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10 (01): 40. 10 (02): 85. 10 (03): 132.

Unused Medicines. Organizational Culture. 10 (02): 90. Public Health Center. 2007. 10 (03): 143. 10 (02): 72. 2007. 2007. Prevention. 2007. 10 (03): 104. 10 (03): 117. 2007. Oseltamivir. 10 (04): 173 Politics. 10 (04): 195 Policy Options. Skill. 2007. 10 (02): 72. 2007. 10 (02): 79. 10 (03): 143. 2007. 2007. 10 (04): 166 Resource Allocation. 2007. 10 (04): 195 Wrong Surgery. 2007. 10 (03): 132. Service Unit Fund Plan. 10 (03): 124. 10 (04): 195 Organization. 2007. Willingness to Pay. Service Unit Fund Document. 2007. Work Time. 2007. No. Public Service Entity. Public Hospitals. 10 (04): 166 Private Provider. 2007. Patient Safety. 10. Perception. Premium. 2007. 10 (02): 90. 2007. 2007. 2007. Vol. 10 (03): 117. 10 (01): 29. Performance. 10 (03): 143. Trax-Free Policy. 10 (01): 46. 10 (04): 159 Organization Culture. 2007. 10 (01): 40 . Survey. 10 (04): 181 Partnership. 2007. 2007. 2007. 2007. 2007. 10 (01): 03. 2007. 2007. 10 (01): 20. 2007. 2007. Motivation. 10 (02): 85. Supervision. 2007. 4 Desember 2007 . Pegawai Tidak Tetap. 10 (01): 46. 10 (01): 29. 10 (01): 40.Indeks Minimal Hospital Services Standards. 10 (01): 11. 2007. 10 (04): 195 Stakeholders’ Perception. 2007. 2007. System Analysis Approach Health Planning. 10 (02): 64. 10 (02): 79. 2007. 214 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Public-Private Mix. Private Practitioner Involvement. 2007. 10 (04): 159 Poor Families. 2007. 10 (02): 56. 10 (02): 64. Posyandu. Sanglah Hospital Denpasar. 10 (02): 64. 2007.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful