jurnal

ISSN 1410-6515

Manajemen
Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management
Volume 10/Nomor 04/Desember/2007
EDITORIAL
Kebijakan Contracting-Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah

Vol 10. No. 04 h.157-214 10 4 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 2007

MAKALAH KEBIJAKAN
Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik)

ARTIKEL PENELITIAN
Dampak Kemitraan Praktisi Swasta terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar, Bali Opsi-opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan; Pembelajaran dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006

RESENSI
Health Systems Assessment Approach : A How to Manual

KORESPONDENSI
Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment Among Medical Doctor in West Java

JMPK

Tahun 10

Nomor 04

Hlm. Yogyakarta 157-214 Desember 2007

ISSN 1410-6515

Terakreditasi Ditjen Dikti No.: 45/DIKTI/Kep./2006

Diterbitkan oleh/Published by: Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Center for Health Services Management Faculty of Medicine Gadjah Mada University

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 10/Nomor 04/Desember/2007

Daftar Isi
Editorial
Kebijakan Contracting-Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah 157

Makalah Kebijakan
Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik) Siswanto 159

Artikel Penelitian
Dampak Kemitraan Praktisi Swasta terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar, Bali Luh Putu Sri Armini, Yodi Mahendradhata, Adi Utarini Opsi-opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan; Pembelajaran dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Evi Sopacua, Didik Budijanto Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Misnaniarti Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Raditya Asri Wisuda , Dumilah Ayuningtyas Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006 Sukri Palutturi, Nurhayani, Nurhamsa Mandak 166

173

181

189

195

Resensi Buku
Health Systems Assessment Approach : A How to Manual 201

Korespondensi
Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment Among Medical Doctor in West Java 203 205

Indeks

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 10 No. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 157 - 158 Editorial

KEBIJAKAN CONTRACTING-OUT UNTUK PENYEDIAAN TENAGA KESEHATAN DI DAERAH TERPENCIL DAN SULIT: DARI PENGALAMAN MENUJU BUKTI ILMIAH1

Masalah ketersediaan sumber daya manusia di daerah yang sulit, terpencil, ataupun berbahaya merupakan masalah besar yang klasik terdapat di Indonesia. Daerah terpencil kekurangan tenaga kesehatan yang penting seperti dokter, dokter gigi, perawat, bidan, epidemiolog, ahli gizi. Tantangan ke depan adalah: (1) bagaimanakah kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam penempatan tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil dan sulit? (2) apakah kebijakan sekarang ini dapat diteruskan walaupun sudah terbukti tidak bisa memenuhi harapan seperti data yang diperoleh Pusrengun Departemen Kesehatan. Di samping itu, ada pertanyaan apakah kebijakan yang diambil dapat menggunakan prinsip-prinsip Evidence Based Policy Making ? Apa persamaan dan perbedaan antara Evidence Based Medicine (EBM) dan Evidence Based PolicyMaking (EBP). Sackett dkk mendefinisikan EBM sebagai: “the conscientious, explicit, and judicious use of current best evidence in making decisions about the case of individual patient’. Untuk EBP, Cookson memberikan definisi yang serupa, namun berfokus pada keputusan public tentang kelompok atau masyarakat, bukan sebuah keputusan tentang individu pasien. Lebih lanjut Cookson menggambarkan hubungan antara bukti ilmiah dengan keputusan. Keputusan berupa kebijakan publiK dapat dipengaruhi oleh berbagai hal yaitu (1) kepercayaan; (2) nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat; dan (3) berbagai hal lain seperti aspek politik, ekonomi, hukum, dan etik. Peran bukti ilmiah adalah mempengaruhi kepercayaan pengambil keputusan tentang hal yang harus ditetapkan. Akan tetapi kepercayaan ini dipengaruhi pula oleh pengalaman, bukti anekdot, ataupun opini yang didengar dan dibaca oleh pengambil kebijakan. Apabila tidak ada bukti ilmiah, dapat dipahami bahwa pengambilan keputusan dipengaruhi oleh kepercayaan yang berasal dari opini misalnya. Sebagai salah satu kasus menarik tentang penggunaan Evidence Based Policy adalah pengiriman tenaga ke RSD Tjut Nya’Dien di

Kabupaten Aceh Barat oleh FK UGM dan RSUP Dr. Sardjito. Pengiriman tenaga ini dapat disebut sebagai bukti anekdot untuk kebijakan distribusi tenaga medik dan kesehatan di daerah sulit. Dalam konteks penyebaran tenaga kerja di daerah sulit, pada tahun 2005, dipicu oleh musibah Tsunami di Aceh dilakukan pengiriman tenaga kerja melalui pendekatan kontrak tim (bukan kontrak perorangan) untuk menggantikan tenaga kesehatan. Dengan dukungan dana dari World Vision Australia, Fakultas Kedokteran UGM bersama University of Melbourne dikontrak untuk menyediakan bantuan tenaga dokter, dokter spesialis, perawat, dan tenaga-tenaga manajemen di RS Tjut Nya’ Dien. RS ini berada di pesisir barat Propinsi NAD, di kota Melaboh. Kota ini merupakan salahsatu daerah yang mendapat dampak paling dahysat Tsunami. Selama 3 tahun telah dikirim sekitar 500 tenaga dengan sekitar 50 gelombang pemberangkatan. Tujuan pengiriman tenaga medik ke RSD Tjut Nya Dien untuk: (1) Memperkuat dan mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga medis / nonmedis RS Tjut Nya’ Dien melalui pengiriman tim medis secara rotasi dan menyiapkan staf local permanent; (2) Revitalisasi penuh RS Tjut Nya’ Dien melalui pemenuhan kebutuhan tenaga medis / non medis berdasarkan penilaian kebutuhan. Di pandang dari hubungan antarberbagai pihak yang terlibat, pengiriman tenaga medik dan kesehatan RSUP Dr. Sardjito dan FK UGM ke Aceh Barat merupakan kegiatan contracting-out. Apakah kegiatan pengiriman tenaga ke Aceh Barat ini dapat dikembangkan sebagai dasar pengambilan kebijakan nasional dan daerah dalam penyebaran tenaga medik dan kesehatan? Pertanyaan lebih lanjut: apakah model contractingout ini dapat dipergunakan untuk menyediakan tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil dan sulit oleh pemerintah daerah dan pusat? Beberapa pemerintah daerah tertarik untuk membuat keputusan berdasarkan pengalaman yang ada di Aceh Barat. Kasus ini terjadi di Kabupaten Berau (yang masih belum berjalan) dan Kabupaten

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

157

Merupakan Background Paper untuk Sarasehan Alumni FK UGM. Untuk ini diharapkan Departemen Kesehatan berani melakukan penelitian pilot untuk kebijakan contracting-out dalam distribusi tenaga medik dan tenaga kesehatan di daerah yang terpencil dan sulit. Ruang Rapat Senat FK UGM. Vol. Dari perspektif Evidence Based Policy Making. kebijakan untuk distribusi tenaga medik dan kesehatan di daerah terpencil perlu terus dicari dan dikembangkan. Tanggal 5 Maret 2000. Namun disadari bahwa bukti pengalaman ini perlu dikembangkan untuk menjadi bukti ilmiah sehingga mempengaruhi kepercayaan dalam menetapkan keputusan. Bagaimana dengan pemerintah pusat? Sampai sekarang ini Departemen Kesehatan belum mempunyai agenda untuk contracting-out. 10. Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Berau (kalau jadi) dapat diperkuat menjadi bukti. No. Laksono Trisnantoro (trisnantoro@yahoo. 4 Desember 2007 . Yogyakarta. sama dengan Aceh Barat). Sebagai ringkasan.com) KEPUSTAKAAN 1. Dalam hal ini pemerintah pusat sebenarnya dapat melakukan pilot untuk penelitian kebijakan agar pengalaman mengenai model contracting-out dalam distribusi tenaga medik di Kabupaten Aceh Barat. 158 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Laksono Trisnantoro: Kebijakan Contracting-out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan Nias dan Kabupaten Nias Selatan (sudah berjalan. saat ini sudah ada bukti anekdot atau pengalaman berupa kebijakan contracting-out yang telah dipergunakan oleh beberapa pemerintah daerah untuk mencari solusi. Kabupaten Nias.

politik. Political activities would entail the ability to exercise power sources with certain political tactics to win interests. Aktivitas politik merupakan sesuatu yang natural dan tidak dapat dicegah dalam interaksi antaraktor dalam kehidupan organisasi. in order that some one’s influence unto others not due to a coercive. dapat diinterpretasikan sebagai wahana politik tempat para aktor berebut kepentingan. dan menyakitkan. the influence on others’ behavior is due to principles or at least due to benefit exchange. Aktivitas politik melibatkan kemampuan memainkan sumber kekuasaan dengan taktik politik tertentu untuk memenangkan kepentingan. sang direktur diminta untuk mundur dari jabatan direktur utama perusahaan tersebut karena ia dianggap tidak demokratis dalam gaya kepemimpinannya. in order to achieve his/her own goals and interests. Bahkan. Selama beberapa bulan.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. either position power or personal power. sang manajer terjebak pada praktik manajemen paradigma rasional tanpa memperhitungkan kekuatan politik di dalam organisasi. Surabaya ABSTRACT Being a social entity. tetapi merupakan pola perilaku karena berpegang pada prinsip atau setidaknya karena asas pertukaran manfaat. menakut-nakuti. frightened and painful manner. 4 Desember 2007 159 . dan kepentingan. interaksi antaraktor dalam kehidupan organisasi akan selalu terkait dengan kekuasaan pengaruh. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 159 . Namun demikian. menuju kinerja perusahaan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Every actor within organizations including managers try to improve his/her power. setelah melalui proses tarik ulur di antara para politisi. keberadaan organisasi termasuk organisasi kesehatan. Akhirnya. Rather. Keywords: organization. salah satu pemerintah kota di Provinsi Jawa Timur ingin membenahi manajemen perusahaan Badan Usaha Milik Daerah yang dipunyainya karena ditengarahi banyak terjadi KKN sehingga perusahaan tidak efisien. organizations including health organizations can be interpreted as a political arena where actors are contesting their interests. Setiap aktor dalam organisasi termasuk manajer akan berusaha meningkatkan kekuasaannya. 10. However. influence and interests. maka terjadilah demo besar-besaran oleh karyawan perusahaan dan pendemo menuntut sang direktur untuk mundur dari jabatan sebagai direktur utama. Vol.165 Makalah Kebijakan POLITIK DALAM ORGANISASI (SUATU TINJAUAN MENUJU ETIKA BERPOLITIK) POLITICS IN ORGANIZATION (A REVIEW LEADING TO ETHICS OF POLITICS) Siswanto Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan. Oleh karena itu. Kisah ini adalah kisah nyata. Akhir cerita. Kata Kunci: organisasi. Terpilihlah seorang ‘direktur profesional’ untuk membenahi manajemen perusahaan. politics. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Pada kisah di atas. diputuskan bahwa untuk merekrut direktur utama dilakukan secara transparan melalui pengumuman di media massa dan kemudian dilakukan fit and proper test di hadapan stakeholder kunci. sang direktur melakukan pembersihan besar-besaran terhadap berbagai praktik KKN karena pendekatannya yang terkesan radikal. the interaction of actors in organizational life would involve power. etika PENGANTAR Alkisah. Dengan kata lain. dalam rangka memburu kepentingan dan tujuannya. Untuk menyehatkan perusahaan. baik kekuasaan berdasar kedudukan maupun kekuasaan pribadi. setiap aktor harus memperhatikan etika berpolitik yang elegan agar pengaruh seseorang pada perilaku orang lain tidak bersifat memaksa. Depkes RI. kemelut perusahaan milik daerah tersebut sampai ke meja anggota DPRD karena para pendemo (karyawan) menyampaikan kemelut manajemen perusahaan kepada wakil rakyat (anggota DPRD). No. Consequently. namun penulis sengaja membuatnya ‘anomim’ untuk menjaga etika penulisan. every actor should take into consideration ethics for performing more elegant politics. sang manajer telah gagal memimpin perusahaan karena tidak memiliki keterampilan politis yang adekuat untuk melakukan perubahan organisasi. Political activities are natural and unpreventable for the interaction of actors in organizational life. boleh dikatakan tiada hari tanpa demo. ethics ABSTRAK Sebagai sebuah entitas sosial. Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas adalah bahwa seorang manajer akan mengalami kegagalan apabila cara memimpinnnya hanya mengedepankan satu paradigma manajemen saja.

persepsi. termasuk organisasi. Drory5 mendefinisikan politik organisasi 160 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Dalam kontes saling pengaruh-mempengaruhi ini. dan bahkan pada unit keluarga. marga. kemudian mampu menggunakannya secara tepat orang dan tepat waktu (contingency of people and of timeliness). politik adalah suatu kenyataan sosial yang harus dihadapi oleh anggota organisasi. di antaranya organisasi sebagai wahana politik. diharapkan para praktisi manajemen dapat memperluas cakrawala pandangnya tentang politik organisasi sebagai paradigma alternatif dalam mengelola organisasi. klub-klub pribadi. kelompok suku primitif. namun politik juga terjadi pada organisasi formal. Oleh karena itu. proses pengaruh-mempengaruhi merupakan hal yang wajar dalam kehidupan organisasi.Siswanto: Politik dalam Organisasi yang lebih baik. Umat manusia adalah makhluk sosial dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan saling berinteraksi satu dengan lainnya. Semestinya. praktik politik dalam organisasi. Dengan demikian. Dengan memahami politik organisasi. dan tujuan yang berbeda-beda. dengan taktik memainkan kekusaannya masing-masing. maka dapat dikatakan bahwa politik tidak hanya terjadi pada sistem pemerintahan. sehingga aktor lain tersebut menuruti kemauan aktor pertama. dan digunakan. karir maupun penghargaan lainnya. Kekuasaan didefinisikan sebagai potensi seorang aktor dapat mempengaruhi aktor lain. Permainan politik yang tidak etis dalam jangka panjang akan berakibat buruk terhadap kredibilitas pelakunya. Tak dapat disangkal bahwa ‘negosiasi’ merupakan salah satu bentuk aktivitas politik untuk mendapatkan komitmen bersama. baik itu menyangkut distribusi informasi. Salah satu paradigma manajemen yang harus dipertimbangkan oleh praktisi manajemen adalah politik organisasi (organizational politics). 10. Masyarakat kebanyakan sering memaknai politik dengan konotasi negatif dan kotor. Setiap anggota akan membawa minat. kekuasaan dan kewenangan”. Untuk memenuhi kepentingannya (meraih cita-cita dan tujuannya). organisasi keagamaan. Tulisan ini akan mendiskusikan beberapa isu penting tentang paradigma politik organisasi. Setiap orang dalam organisasi akan menggunakan taktik dan strateginya masing-masing untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas. Pusat analisis politik adalah kekuasaan dan pengaruh. maka seorang manajer (termasuk pemain lainnya) harus paham bagaimana bermain politik yang etis dan elegant. Pemahaman bahwa organisasi adalah sebuah entitas politik akan mampu menyadarkan manajer melihat organisasi secara ‘utuh’ dan tidak hanya mengandalkan pada cara-cara instrumental saja. profesionalitas sebagai manajer haruslah diinterpretasikan sebagai penguasaan ’semua paradigma manajemen’. Politik didefinisikan oleh Dahl2 sebagai “setiap pola hubungan yang kokoh antarmanusia dan melibatkan secara cukup mencolok kendali. Untuk menjadi manajer yang efektif. ditransfer. Dengan menggunakan definisi ini. setiap manusia mau tidak mau harus menggunakan politik (kekuasaan dan pengaruh) sebagai alat berinteraksi antara manusia satu dengan manusia lainnya. Berkenaan dengan praktik manajemen melalui pendekatan politik. politik adalah kenyataan hidup yang harus dihadapi dan dijalankan oleh setiap orang selama ia berinteraksi secara sosial. seorang manajer harus sadar bahwa ‘politik’ selalu ada dalam setiap kehidupan organisasi. 4 Desember 2007 . kekuasaan. kepentingan. Morgan3 dan Bolman & Deal4 misalnya. dan akhirnya didiskusikan etika berpolitik dalam organisasi. perawat dan staf administrasi) sebagai ‘keteraturan hasil negosiasi’ (negotiated order). Organisasi Sebagai Wahana Politik Organisasi sebagai salah satu entitas sosial juga tidak terlepas dari politik. Dalam kelompok sosial. melihat organisasi sebagai wahana atau gelanggang politik tempat bernegosiasi kepentingan oleh para anggotanya. pengaruh. Strauss1 dalam penelitiannya di institusi rumah sakit mengidentifikasi pola interaksi antar aktor di rumah sakit (dokter. No. manusia selalu terlibat interaksi antar satu dengan lainnya. Kekuasaan dan pengaruh merupakan unsur utama dalam politik. Organisasi kesehatan. maka tiap-tiap aktor akan saling beradu kekuasaan untuk memenangkan ‘kepentingan’. Pada prinsipnya politik adalah suatu jaringan interaksi antarmanusia dengan kekuasaan diperoleh. badan usaha. termasuk manajer. Vol. Proses interaksi memenuhi kebutuhannya tersebut manusia membentuk kelompok-kelompok komunitas serta manusia akan selalu dihadapkan pada unsur kekuasaan dan pengaruh. seperti rumah sakit juga tidak terlepas dari kegiatan politik. Ada ungkapan yang menarik “meskipun kita tidak suka politik. Melihat aktivitas organisasi sebagai aktivitas politik merupakan penyegaran terhadap pemahaman kehidupan ‘organisasi’ yang selama ini selalu didominasi oleh cara pandang instrumental. kita tidak bisa menghindar dari politik”. yang analisisnya mengabaikan motif dan kepentingan aktor yang terlibat dalam organisasi. sehingga secara etis dapat diterima oleh anggota lainnya. kekuasaan dan sumber-sumbernya. Dengan kata lain.

apakah akan bersifat baik atau buruk tergantung dari motif yang menggunakannya. pengaruh merujuk kepada tindakan atau praktik. dan minat dari para anggotanya. Kepentingan pekerjaan adalah kepentingan yang terkait dengan tugas seseorang sesuai kedudukan dan jabatan yang diembannya. Secara sekuensial dapat dikatakan bahwa kekuasaan menimbulkan pengaruh dan akhirnya pengaruh mempengaruhi tindakan orang lain (kekuasaan à pengaruh à tindakan orang lain). dan brokering dari berbagai faksi peserta. maka konflik adalah wajar (natural) dalam kehidupan organisasi. kepentingan karir terkait dengan masa depan seseorang dalam organisasi (posisi dan jabatan yang lebih baik).12 yaitu: (1) organisasi adalah koalisi yang terdiri dari berbagai individu dan kelompok dengan berbagai kepentingan. Analisis organisasi dari perspektif politik melibatkan tiga diskursus yaitu kepentingan. 10.4. Sumber-sumber kekuasaan yang dipakai para aktor untuk saling mempengaruhi adalah sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1. kekuasaan adalah suatu sumber daya yang merefleksikan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan keinginan orang pertama. No. beberapa rujukan tentang perilaku politik sering mempertukarkan istilah kekuasaan dan pengaruh. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. keinginan. kepentingan karir dan kepentingan ekstramural. Lebih jauh. Kekuasaan dan Sumber-Sumbernya Untuk memahami lebih jauh tentang bagaimana para aktor dalam organisasi saling mempengaruhi dan mengapa aktor tertentu dapat mengendalikan aktor lainnya. keyakinan. ‘A’ mempunyai kekuasaan terhadap ‘B’. tapi merefleksikan sumber kekuatan untuk mempengaruhi tindakan orang lain. Dalam interaksi antaraktor dalam organisasi. Ada baiknya kita renungkan ungkapan Baltasar Gracian berikut: “Satu-satunya keuntungan memiliki kekuasaan adalah bahwa Anda dapat melakukan lebih banyak kebaikan”. Kekuasaan didefinisikan sebagai “peluang seorang aktor dalam interaksi sosialnya berada di posisi memenangkan keinginannya meski ada hambatan dari pihak lain”. nilai. (2) dalam organisasi selalu ada potensi perbedaan menyangkut kepribadian. harapan. 4 Desember 2007 161 . dan orientasi seseorang”. Morgan3 mendefinisikan kepentingan sebagai “predisposisi yang mempengaruhi tindakan seseorang dalam berinteraksi secara sosial. Vol. kriteria atau proses pengambilan keputusan organisasional dalam rangka memenuhi kepentingannya. keyakinan dan komitmen di luar pekerjaan yang semuanya akan membingkai pola perilaku seseorang baik menyangkut pekerjaan maupun karir. Namun demikian. Morgan 3 membagi kepentingan ke dalam tiga kategori yaitu kepentingan pekerjaan. (5) karena keterbatasan sumber daya dan setiap aktor berebut kepentingan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sebagai perilaku informal di dalam organisasi dengan menggunakan kekuasaan dan pengaruh melalui tindakan terencana yang diarahkan untuk peningkatan karir individu pada situasi untuk memperoleh banyak pilihan keputusan. nilai.8 Dengan kata lain. pengambilan keputusan dan proses manajemen lainnya adalah hasil dari bargaining. kalau ‘A’ dapat mempengaruhi atau memaksa ‘B’ untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh ‘A’. (4) tujuan organisasi. Sementara. kekuasaan dan pengaruh.10 Lebih jauh. meliputi tujuan. kepentingan. Pengaruh dapat didefinisikan sebagai penggunaan kekuasaan atau otoritas untuk mempersuasi orang lain agar mereka mengikuti kehendak si pengguna kekuasaan.2 Asumsi dasar organisasi sebagai entitas politik3. Kekuasaan bukan merefleksikan tindakan. persepsi. Kekuasaan bersifat netral. Yukl11 menyebutkan bahwa pengaruh adalah efek dari tindakan agen tehadap pihak lain (target). Selanjutnya. sikap. negosiasi. setiap aktor menggunakan kekuasaan dan pengaruh untuk dapat memenuhi tujuannya. yang bisa saja tidak berhubungan dengan kepentingan pekerjaan.9 Berbeda dengan kekuasaan yang merujuk kepada ketersediaan sumber daya. sikap.7 Sebagai ilustrasi. Miles6 mendefinisikan politik organisasi sebagai proses yaitu setiap aktor atau kelompok dalam organisasi membangun kekuasaan untuk mempengaruhi penetapan tujuan. kita harus mengenal sumber-sumber kekuasaan dalam organisasi. Dalam komponen kepentingan juga termasuk kepentingan ekstramural yang terdiri dari kepribadian. (3) kekuasaan memainkan peranan penting dalam memperebutkan sumber daya.

Praktik Politik dalam Organisasi Setiap aktor termasuk manajer menggunakan taktik dan strategi untuk mempengaruhi aktor lain dengan menggunakan sumber kekuasaan yang dimiliki. Menciptakan suasana (seremoni dan simbol) untuk membentuk persepsi dan perilaku orangorang sesuai dengan peran dan fungsinya 3). ia akan kehilangan legitimasinya sebagai ‘leader’. Kekuasaan keahlian (expert power) Kekuasaan kesetiaan (referent power) Kekuasaan karisma b. makin banyak kontrol yang dipunyai orang tersebut terhadap sumber daya yang terbatas. manajer mempunyai kesempatan lebih besar untuk mengumpulkan sumber-sumber kekuasaan. Referent power terkait dengan keterampilan interaksi antar pribadi. d. posisi manajer sudah mendapatkan tiga sumber kekuasaan yaitu otoritas formal. Mentransformasikan kepentingan kita menjadi kepentingan pihak lain dengan mengubah persepsi dan tindakan pihak lain 4). Melaksanakan negosiasi dan tawar-menawar dengan pihak lain yang bersinggungan dengan kepentingan kita untuk mendapatkan kompromi 162 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Membentuk koalisi dengan pihak lain untuk meningkatkan dukungan dan sumber daya 2). 10. Kontrol terhadap sumber daya dan imbalan c.Siswanto: Politik dalam Organisasi Tabel 1. Agen mempunyai hak untuk membuat permintaan tertentu dan orang yang ditargetkan mempunyai kewajiban untuk mematuhinya. Sebagai contoh. Semakin tergantung pihak lain terhadap keahlian seseorang. Sumber-Sumber Kekuasaan dalam Organisasi11 Sumber kekuasaan 1. 2. Vol. semakin bertambah kekuasaan keahlian (expert power) orang tersebut. Potensi seseorang yang menyebabkan orang lain mengagumi dan memenuhi permintaan orang tersebut. diplomasi dan empati. seperti pesona. Kontrol terhadap hukuman (coercive power) Kontrol terhadap informasi Kontrol ekologis Kekuasaan pribadi a. 4 Desember 2007 . c. penggunaan struktur dan aturan. beberapa taktik yang dipakai oleh para aktor adalah sebagai berikut:12 1). Kontrol dan penguasaan terhadap sumber daya dan imbalan terkait dengan kedudukan formal. Memperluas jumlah pemain yang terlibat dalam suatu isu yang menjadi kepentingan kita untuk mendapatkan perhatian yang lebih luas 5). Menyangkut kontrol terhadap akses terhadap informasi penting maupun kontrol terhadap distribusinya kepada orang lain. seperti kepala bidang atau kepala bagian akan menguasai sumber kekuasaan tertentu lebih banyak daripada sumber kekuasaan lainnya sesuai tugas dan fungsinya. Seorang manajer akan mempunyai kekuasaan kedudukan paling besar karena ia mampu memainkan keseluruhan sumbersumber kekuasaan berdasarkan kedudukan. Memang. kewajiban dan tanggung jawab seseorang berkaitan dengan kedudukannya dalam organisasi atau sistem sosial. Sifat bawaan dari seseorang yang mencakup penampilan. b. dan hal ini tidak selalu merujuk kepada manajer. Secara deskriptif. Makin tinggi posisi seseorang dalam hirarki organisasi. Kewenangan formal Penjelasan Pengaruh potensial yang berasal dari kewenangan yang sah karena kedudukannya dalam organisasi Kewenangan yang mengacu pada hak prerogatif. Setidaknya. karakter dan kepribadian yang mampu mempengaruhi orang lain untuk suatu tujuan tertentu. dapat dimengerti bahwa aktor paling berkuasa adalah aktor yang mampu mengumpulkan banyak sumber-sumber kekuasaan. Pada Tabel 1 terlihat bahwa kelompok sumber kekuasaan berdasarkan kedudukan akan berlimpah pada orang-orang yang secara hirarkis mempunyai kedudukan dalam organisasi. serta kendali pengambilan keputusan. No. Menyangkut kontrol terhadap lingkungan fisik. e. Posisi di bawah manajer. Dengan memahami sumber-sumber kekuasaan dalam organisasi. Kontrol terhadap hukuman dan kapasitas untuk mencegah seseorang memperoleh imbalan. Pengaruh potensial yang melekat pada keunggulan individu Kekuasaan yang bersumber dari keahlian dalam memecahkan masalah tugastugas penting. sementara kepala bagian tata usaha akan mempunyai kontrol lebih besar terhadap ekologi pekerjaan seseorang. Kekuasaan berdasarkan kedudukan a. yang berakibat pada munculnya ‘leader-leader’ bayangan dalam organisasi. kebijaksanaan. Manajer yang tidak mampu mengelaborasi atau mengumpulkan sumber-sumber kekuasaan lainnya dengan baik. kepala bidang perencanaan akan mempunyai kontrol lebih besar terhadap distribusi sumber daya. teknologi dan metode pengorganisasian pekerjaan.

dan berusaha melakukan tukarmenukar yang adil (asas pertukaran manfaat).13 Cara-cara mempengaruhi orang dengan pendekatan rasa takut (paksaan).9 Sumber-sumber kekuasaan berdasarkan azas pertukaran manfaat adalah kekuasaan memberi imbalan. Taktik Mempengaruhi dan Pemenangan Kepentingan (Diadaptasi dari Degeling12) Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Sarana aktivitas politik untuk saling mempengaruhi antar aktor dalam organisasi adalah melalui komunikasi. membagi proses mempengaruhi (proses berkuasa) menjadi tiga macam yaitu: (i) mempengaruhi dengan paksaan (rasa takut). cara-cara pendekatan lunak. (ii) tawar-menawar. hasilhasil sementara.9 Di samping cara mempengaruhi dengan menebar rasa takut. bertukar. Konsesi yang dipertukarkan dapat berupa uang. menipu. membuat sedih. mempengaruhi berdasarkan azas manfaat pada dasarnya adalah “menemukan kesepakatan antar kedua belah pihak yang saling menguntungkan”. informasi. Hubungan antara komunikasi. merayu.9 Apa yang kita lakukan dalam mempengaruhi orang lain berdasarkan azas pertukaran manfaat yaitu: (i) membuat kesepakatan. 4 Desember 2007 163 . menyepelekan.9. menyiasati dan merampas hak. kekuasaan berdasarkan keahlian. menusuk dari belakang. kekuasaan terhadap sumber daya. bahkan pemberontakan. Memilih waktu yang tepat untuk setiap tindakan agar situasi menguntungkan kita (manajer). 10. pengendalian sementara. mengintimidasi. kepatuhan terpaksa. (iii) berdebat. menanamkan pengaruh. Dengan demikian. menghalangi. keahlian tertentu atau akses terhadap sumber daya. balas dendam. menghambat. dan kekuasaan berdasarkan koneksi.13 Sementara itu. mempengaruhi berdasarkan manfaat menghasilkan efek kewajaran. membuat kecil hati. kekuasaan terhadap informasi. misalnya: mengaburkan. ketergantungan. mengganggu.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 6). pertengkaran. sabotase. Lee9 dalam bukunya The Power Principle. Mempengaruhi orang dengan rasa takut meliputi pendekatan keras dan pendekatan lunak. misalnya: menindas. meremehkan. Vol. berdagang. mengalihkan. Gambar 1. hubungan menang-kalah. (iv) mengadakan pertukaran. memperdayai. (ii) mempengaruhi berdasarkan manfaat (tukar-menukar). memaksa. Mempengaruhi dengan paksaan menghasilkan efek rasa takut. menakut-nakuti. banyak dari kita mempengaruhi orang lain dengan cara memberi dan menerima. Hubungan antara Komunikasi. No. kekuasaan berdasarkan posisi. mengkambinghitamkan. menyalahkan dan melemahkan. kekuasaan berdasarkan peluang. mengancam. dan pemenangan kepentingan dapat diabstraksikan sebagaimana skema pada Gambar 1. baik pendekatan lunak maupun pendekatan keras akan menghasilkan kendali yang bersifat sementara dan reaktif. selanjutnya mempengaruhi berdasarkan prinsip akan menghasilkan efek rasa hormat. oposisi. Cara-cara dengan pendekatan keras. dan (iii) mempengaruhi berdasarkan prinsip. penggunaan sumber kekuasaan. Efek yang muncul akibat mempengaruhi dengan paksaan adalah permusuhan. mengendalikan. 9.

Apa yang kita peroleh dari cara mempengaruhi berdasarkan azas manfaat adalah pola interaksi yang bersifat fungsional dan wajar (tanpa rasa takut). disepelekan. artinya bila situasi berubah dan manfaat tidak didapatkan lagi maka kekuasaan akan menghilang (menguap).Siswanto: Politik dalam Organisasi (v) konsensus. menerima. memperdayai. sedangkan perilaku politik yang tidak etis adalah perilaku yang bermanfaat untuk individu tetapi melukai organisasi. mengkambinghitamkan. membuat kecil hati. lembut. Pandangan demikian menekankan pada kinerja kelompok (kinerja organisasi). satu kriteria dapat saling melemahkan atau meniadakan kriteria lainnya. dalam batasbatas tertentu memenuhi syarat. menakut-nakuti. pola hubungan berdasarkan manfaat bersifat sementara dan bersyarat.14 Perilaku politik dalam ”kelompok cara mempengaruhi dengan menebar rasa takut”. mengaburkan. Di samping ketiga kriteria tersebut. hak dan keadilan. menyalahkan. Dengan kata lain. Namun demikian. (iii) apakah perilaku itu akan membangun komitmen dan pertemanan yang lebih baik?. membuat sedih. Dalam melakukan tindakan politik. Vol. mendisiplinkan. dan (ix) berkompromi. Prinsip ’keadilan’ mengisyaratkan individu untuk memberlakukan dan menegakkan aturanaturan secara adil dan tidak berat sebelah sehingga terdapat distribusi manfaat dan biaya yang pantas. mengalihkan. Pertimbangan etis haruslah merupakan suatu kriteria pengontrol dalam perilaku politik untuk mempengaruhi pihak lain. (ii) apakah perilaku itu adil untuk semua pihak terkait?. Etika Berpolitik dalam Organisasi Pembahasan politik organisasi tidaklah lengkap tanpa berbicara tentang etika berpolitik dalam organisasi. mengintimidasi. bukannya dominansi serta pengendalian” Anne L Barstow (Dikutip dari Lee9). bermurah hati.9 Perhatikan ungkapan mutiara berikut: ”Kekuasaan bisa dipandang sebagai ’kekuasaan dengan’ ketimbang ’kekuasaan atas’. solusi menang-menang. meremehkan. misalnya menusuk dari belakang. mengganggu. yaitu ”Perlakukan orang lain sebagaimana kamu menginginkan orang lain memperlakukanmu” (Do unto others as you want them to do unto you) atau ”Jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan orang lain melakukan hal itu kepadamu” (Don’t do anything to anyone that you wouldn’t want them to do to you). penguasaan diri. namun boleh jadi mengabaikan hak-hak individu (hak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan) dan rasa keadilan (adanya perlakukan diskriminatif yaitu adanya pemecatan sebagian kecil karyawan). menghambat. ada the golden rule dari perilaku politik. perusahaan memecat 10% karyawan yang kurang produktif. perilaku etis.9 Cara ketiga untuk mempegaruhi orang lain adalah berdasarkan prinsip kehormatan. mengajari. menipu.15 Tampak bahwa ketiga kriteria penilaian etis dan tidak etis tersebut bersifat bersaing (trade-off). No. mengasihi. kepercayaan. diremehkan. Prinsip utilitarianisme mengajarkan bahwa keputusan yang kita ambil haruslah ’memberikan manfaat terbesar untuk jumlah orang terbesar’. diperdayai dan tindakan sejenisnya. (viii) bertengkar. proaktivitas. Misalnya. 10. bukan untuk mengambil keuntungan sepihak. Prinsip ’hak’ menekankan bahwa setiap individu mempunyai kebebasan untuk mengemukakan pendapat dan berbicara. sinergi. (vii) memperebutkan. menyepelekan. merayu. Siapapun orangnya akan ”sakit hati” bila ditusuk dari belakang. mengancam. menghalangi. Etik adalah standar moral apakah suatu perilaku baik atau buruk menurut norma masyarakat. menyiasati dan merampas hak adalah perilaku politik yang kurang atau tidak etis. kesepakatan kemitraan. sebagaimana diatur dalam Piagam Hak Asasi Manusia. 4 Desember 2007 . pengambilan keputusan adalah dalam rangka efisiensi dan produktivitas organisasi. dan (iv) apakah perilaku itu bermanfaat untuk semua pihak terkait? Apabila jawaban dari keempat pertanyaan saringan tersebut. dalam rangka peningkatan efisiensi dan produktivitas organisasi. 164 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Dalam pandangan utilitarianisme. melemahkan. (vi) saling mengalah. Hasil-hasil yang diperoleh dari kekuasaan berdasarkan prinsip kehormatan adalah kemitraan. siapapun aktornya (bisa manajer atau staf) haruslah berpedoman pada tiga kriteria etis tadi. dan kekuasaan dapat digunakan untuk membangkitkan kompetensi dan kooperasi. maka dapat dikatakan perilaku tersebut adalah etis. peningkatan kapasitas.14 Setidaknya terdapat tiga kriteria untuk menilai apakah cara kita bertindak etis atau tidak etis yaitu prinsip utilitarianisme. dikambinghitamkan. keputusan ini bermanfaat untuk jumlah terbanyak. kesalingtergantungan. Prinsipprinsip kekuasaan berdasarkan kehormatan diantaranya adalah persuasif.14 Perilaku politik yang etis adalah perilaku yang bermanfaat untuk individu dan organisasi. Sebagai saringan dapat juga dipakai empat langkah pertanyaan berikut: (i) apakah perilaku itu merupakan kebenaran?. pengendalian internal yang positif. sabar. dan pola hubungan jangka panjang yang memuaskan. bersikap konsisten dan hidup berintegritas.

Blau. Miles. sehingga apa yang terjadi tak ubahnya seperti permainan. Perilaku politik berdasarkan azas kehormatan mampu menanamkan ideologi dan cara hidup kepada pihak lain. Power and Influence. 3. The Essentials of Power. 1947. 1994. 15. Images of Organization. Analisis Politik Modern (Terjemahan). The Power Principle (Terjemahan). T. 4. kekuasaan dan pengaruh. P. and Parsons. Vol. 4 Desember 2007 165 . Influence. in Friedson. sehingga perilaku politik demikian (meski bersifat situasional) adalah etis dan dapat diterima semua pihak. 13. 1993. 2002. Reframing Organizations: Artistry. Organizatinal Behavior (Terjemahan). KESIMPULAN DAN SARAN Untuk menjadi manajer yang efektif. The Theory of Social and Economic Organization. New York. Eliot. Prentice Hall Inc. Organizational Politics. 10. KEPUSTAKAAN 1. 2004.G & Deal. misalnya. Lee. Leadership in Organizations. L.php. 8.14(1):59-71. Free Press J/Glencoe. 1997.nicholsonmcbride. 2. Dalam proses mempengaruhi guna mengejar kepentingannya. Morgan.M. Bolman. University of New South Wales. and Leadership. Jakarta. PT Indeks. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Jakarta. 2002. A. Robbins. Goodyear Publishing Co. Selanjutnya. namun harus dibarengi dengan kemampuan politik yang adekuat. Drory. Exchange and Power in Social Life. 2006. Power. Macro Organizational Behavior. Perceived Political Climate and Job Attitudes. Harvard Business School Press. Wiley. Glencoe Press. Perilaku politik berdasarkan azas kehormatan banyak ditunjukkan oleh para pemimpin besar dunia. Choice. diakses dari http:// www.com/news/index.1980:151-85. Jakarta. G. R. Weber. Sydney. Apapun taktik yang dipakai oleh aktor dalam rangka mempengaruhi aktor lain untuk mengejar kepentingannya selayaknya harus tetap dalam kerangka etika berorganisasi dengan tetap memegang the golden rule yaitu ”perlakukan orang lain sebagaimana kamu menginginkan orang lain memperlakukanmu” atau ”jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan orang lain melakukan hal itu kepadamu”. 10. Boston. New Jersey. A. 1996. New York. 5. from Henderson. G. Degeling. Hasil perilaku politik berdasarkan azas manfaat adalah komitmen dan konsensus. The Hospital in Modern Society. Yukl. Politics and Ethics. 2006. perilaku politik berdasarkan asas kehormatan menduduki tataran tertinggi bila dilihat dari tingkat ’keetisan’-nya. Hawkin. Politics. M. London. The McGraw Hill Companies. New York. Bumi Aksara.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Perilaku politik dalam ”kelompok cara mempengaruhi dengan azas manfaat” dan ”kelompok cara mempengaruhi dengan kehormatan” merupakan perilaku politik yang etis dan dapat diterima semua pihak. New York. S. Strauss. 7. Jossey-Bash Publishers..M. T.The Hospital and Its Negotiated Order. San Francisco. 11. Tokoh Mahatma Gandhi. 1965. Mc Bride. Dahl. et al . R. B. 1963:147-69. P. and Persuasion. A. 9. setiap aktor akan saling memainkan sumber kekuasaannya untuk mempengaruhi aktor lainnya.E. K & Miller. 1994. Santa Monica. Binarupa Aksara. N. 12. 14. Management of Organization. Irwin.H. 6. No. Sage Publications.. Di dalam setiap kehidupan organisasi baik organisasi formal maupun informal selalu terdapat fenomena politik yang melibatkan kepentingan. 1991. Organizational Studies. keterampilan manajemen instrumental saja tidaklah cukup. mampu mempengaruhi lawan dan kawan karena prinsip hidup yang dipegangnya yaitu kesederhanaan dan kejujuran.

Method: A quasi-experimental study using pre and post-test design with different subjects was applied. Secara umum. 10. Biaya langsung untuk pengobatan TB tidak ada oleh karena obat TB diberikan gratis. public-private mix. keterlambatan diagnosis.9 juta kasus TB baru yang terdiri dari 3. Result: PPs involvement has shortened the duration between start of symptoms and diagnosis. Tujuan: Mengevaluasi dampak kemitraan dengan praktisi swasta terhadap keterlambatan diagnosis dan pengobatan serta biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk penanganan TB. Adi Utarini2 Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Denpasar. Vol. be evaluated.172 Artikel Penelitian DAMPAK KEMITRAAN PRAKTISI SWASTA TERHADAP KETERLAMBATAN DAN BIAYA PENANGANAN TUBERKULOSIS DI KOTA DENPASAR. Hasil: Kemitraan PSw dapat memperpendek jarak antara munculnya gejala dengan diagnosis. IUATLD dan kuesioner evaluasi Public-Private Mix dalam strategi DOTS yang dikembangkan di Hiderabad.e. The indirect cost did not differ significantly before and after the partnership (p>0.. i.1 Program pengendalian TB di Indonesia merumuskan tujuh strategi dalam kerangka kerja tahun 2006-2010.2 Inisiatif ini juga telah diterapkan di Provinsi Bali dalam bentuk kerja sama dengan rumah sakit dan praktisi swasta. Analisis data menggunakan uji Chi-square and Mann Whitney-U. Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: Private practitioners (PPs) engagement in Tuberculosis (TB) control was initiated in 2002. Pada tahun 2004 penemuan dan pengobatan penderita TB di Bali telah dilakukan di seluruh 107 166 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. total sejumlah 100 pasien. TB drugs are free of charge. Keywords: private practitioner involvement. 741.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. Halaman 166 . 3 days. The analysis applied Chi-square and Mann Whitney-U statistical tests. dkk. No. IUATLD. kemitraan PPs meningkatkan penemuan kasus dan pengobatan TB di kotamadia Denpasar. PPs involvement accelerated case finding and treatment of TB cases in Denpasar municipality. Pengukuran menggunakan dua instrumen yaitu kuesioner penilaian pasien dengan akses terbatas yang disusun oleh Fidelis. Yodi Mahendradhata2. Dampak intervensi ini perlu dievaluasi dari perspektif pasien.05). Conclusion: The partnership program has accelerated the case finding of new smear positive TB as well as access of TB patients diagnosed at private practices to receive DOTS treatment. therefore. Inisiatif ini kemudian diperluas melalui kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan Fidelis. dengan angka penemuan 51%. delay. Kesimpulan: Program kemitraan yang dilaksanakan di Denpasar meningkatkan penemuan kasus TB BTA(+) dan pengobatan pasien TB dengan DOTS di tempat praktik swasta.9 juta BTA (+). Biaya tidak langsung tidak berbeda secara bermakna antara sebelum dan setelah kemitraan berjalan (p>0. it did not affect the duration between diagnosis and treatment initiation. cost program kemitraan dengan PSw.000 terinfeksi virus HIV.. Meskipun demikian. Pada tahun 2003 directly observed treatment shortcourse (DOTS) diimplementasikan di 183 negara dengan menyasar 83% dari penderita TB. Secara global. the program was not able to decrease the cost spent by the patient before and after receiving DOTS treatment. The impact on this intervention from patient’s perspective should. Salah satu strategi tersebut adalah melibatkan seluruh penyedia pelayanan. program kemitraan tersebut belum dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan oleh pasien. However. namun tidak berpengaruh terhadap jarak antara diagnosis dan pengobatan (yaitu 3 hari). Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan kuasieksperimental pre dan post-tes dengan subyek yang berbeda. Subyeknya adalah pasien TB BTA(+) sebelum dan setelah PENGANTAR Tuberkulosis (TB) Paru masih merupakan penyakit menular yang menjadi prioritas di Indonesia. BALI Luh Putu Sri Armini1. the limited access questionnaire from Fidelis. public-private mix. 04 Desember 2007 Luh Putu Sri Armini. BALI THE IMPACT OF PRIVATE PRACTITIONER ENGAGEMENT TOWARD DELAY AND COST OF TUBERCULOSIS CASE MANAGEMENT IN DENPASAR MUNICIPALITY. Provinsi Bali 2 Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan dan Bagian IKM. FK UGM.05). i. IUATLD. 4 Desember 2007 . inisiatif ini dikenal dengan Public-Private Mix. biaya ABSTRAK Latar Belakang: Praktisi swasta (PSw) telah dilibatkan dalam program Tuberculosis (TB) sejak tahun 2002. Objective: This study aimed to evaluate the impact of private practitioner involvement on delay and cost of TB case management. IUATLD and PPM-DOTS evaluation questionnaire developed in Hyderabad.e.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta . Kata Kunci: kemitraan dengan praktisi swasta. The subjects were new smear positive patients before and after PPs involvement with a total sample of 100 patients. However. Two instruments were used. patients did not pay the direct cost. This initiative was then expanded to a district level through a collaboration with Gadjah Mada University Faculty of Medicine and Fidelis. Pada tahun 2004 diperkirakan ada 8. therefore. Overall.

Sejak tahun 2002.6 19.6 3. telah dilakukan sosialisasi mengenai strategi DOTS kepada dokter praktik swasta (DPS).9 35. Pada tahun 20022004.999 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.999 0.389 0.9 6.4 42. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perbedaan karakteristik responden yang bermakna sebelum dan sesudah kemitraan adalah dalam hal pekerjaan. Analisis data menggunakan uji Chi Square dan Mann Whitney-U.1% versus 21.2 7. dibawa pasien dan diambil petugas TB ketika berkunjung). Fakultas Kedokteran UGM dan Fidelis IUATLD untuk memperkuat kemitraan Puskesmas dan PSw dokter.000 0. namun pelatihan ini belum diikuti dengan tindak lanjut monitoring dan evaluasi penerapan strategi DOTS di DPS. No.8 21.3 Situasi yang sama terjadi di kota Denpasar.1 6.4 23.0 20.6 80.1 6.6 67. dan pertemuan monitoring triwulanan dengan petugas TB/wasor. meskipun sejak tahun 2000 semua puskesmas telah melaksanakan program TB. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuasieksperimental dengan rancangan pre-post test menggunakan subyek yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di kota Denpasar. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang dimodifikasi dari kuesioner limited access (LA) Fidelis-IUATLD dan kuesioner evaluasi PPM DOTS yang dilaksanakan di Hyderabad India6.6%) dan yang tidak bekerja (49. Kontribusi PSw dalam menemukan BTA(+) mencapai 20% dari total BTA(+) di 3 kabupaten yang diintervensi (Denpasar.5 Namun demikian. akses pelayanan kesehatan dan perilaku mencari pengobatan.5 23. Vol.3 19. Variabel utama yang diteliti adalah keterlambatan diagnosis. form pengiriman pasien untuk diagnosis/pengobatan rangkap tiga (untuk disimpan dokter. dilakukan kegiatan kerja sama dengan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan. Karakteristik Responden Penelitian (n=100) Karakteristik Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tamat SD SMP SLTA PT Pekerjaan Buruh PNS Karyawan Swasta Wiraswasta Tidak bekerja Memiliki Kartu Sehat Ya Tidak Status Perkawinan Kawin Tidak Kawin Sebelum Kemitraan (n 49) n % 25 24 14 11 21 3 3 3 16 3 24 10 39 33 16 51. Intervensi terdiri dari advokasi ke PSw tentang DOTS dan pilihan peran PSw melalui lunch seminar.205 0.5 X2 p 0.977 14.0% versus 19. khususnya yang bekerja sebagai buruh (6.0 49. 4 Desember 2007 167 .006 0.7 Setelah Kemitraan (n 51) n % 25 26 15 12 20 4 11 2 18 10 10 10 41 39 12 49. pelatihan detailing bagi petugas TB puskesmas untuk melakukan surveilans ke PSw melalui kunjungan ke tempat praktik. kemitraan dengan praktisi swasta (PSw) mulai dikembangkan secara bertahap. akan tetapi angka penemuan kasus tetap belum dapat mencapai target program 70%. pertemuan monitoring bulanan dengan petugas TB yang diselenggarakan di tingkat Puskesmas Rujukan Mikroskopis.4 76.0 51.3 32.6%). bidan dan perawat.000 0.7 6. Sampel penelitian ini adalah 49 pasien TB BTA (+) triwulan III (bulan Juli-September 2004) sebagai kelompok pembanding dan 51 pasien pada triwulan IV (Oktober-Desember) sebagai kelompok intervensi setelah kemitraan. dampak intervensi tersebut bagi pasien belum dievaluasi.999 0.6 19.1 32.5 39. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak kemitraan dengan praktisi swasta terhadap keterlambatan diagnosis dan pengobatan dan untuk mendeskripsikan biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk penanggulangan TB. biaya langsung dan tidak langsung. Tabel 1.1 49.0 29.6 22.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan puskesmas.0 28. keterlambatan pengobatan.000 0. Data pasien BTA (+) diperoleh dari register TB kabupaten.4 79. Sejumlah lima surveyor dilatih untuk menggunakan instrumen dengan cara wawancara pasien. Sejak September 2004. Badung dan Buleleng). 10.

9 37.9 .50 13.75 6.3 82.00 1.00 11. No.00 6. Upaya Mencari Pengobatan Sebelum dan Sesudah mendapatkan Pengobatan DOTS Uraian UPK yang pertama kali dikunjungi sebelum pengobatan DOTS Tradisional Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK yang pernah dikunjungi sebelum pengobatan DOTS Tradisional Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK yang menganjurkan pemeriksaan Dahak Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit UPK tempat pengobatan DOTS Praktik Swasta Puskesmas Rumah sakit Sebelumnya mencari pengobatan lain Ya Tidak Sebelum Kemitraan (n 49) n % Setelah Kemitraan ( n 51) n % X2 p 7 27 4 2 9 32 18 11 10 28 11 3 31 15 40 9 17.4 43.5 20.3 21. Tabel 2.00 2.6 5. Program kemitraan belum mampu menurunkan lama muncul gejala hingga pasien berkunjungan pertama kali pada suatu UPK.0 27.305 0. 999 Tabel 3. UPK yang pertama kali menganjurkan responden memeriksa dahak pada kelompok sebelum kemitraan masih didominasi Puskesmas.00 13.00 1.501 0.00 12. 4 Desember 2007 .0 5. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) yang relatif sama karena tidak signifikan secara statistik (p>0.9 21. dkk.4 7 30 5 0 11 36 18 9 22 18 11 3 29 19 42 9 16.00 p 0.6 18.00 0. Hanya sekitar 20% responden baik sebelum maupun setelah kemitraan yang langsung mendapatkan pengobatan DOTS.00 8.4 11..1 22. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) lama waktu mulai muncul gejala hingga terdiagnosis pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan.4 21.00 21.222 0. Diagnosis hingga Pengobatan Lama waktu antara: Gejala–diagnosis (minggu) Diagnosis–pengobatan (hari) Gejala-kunjungan pertama ke UPK (minggu) Kunjungan pertama–pengobatan (minggu) Gejala–pengobatan (minggu) Sebelum Kemitraan Q1 Q2 Q3 7.528 0.001 0.00 3.00 1.1 63.00 21.00 10. Lama sejak mulai muncul gejala hingga diagnosis menunjukkan bahwa program kemitraan mempercepat penemuan kasus TB.264 0.3 30. 034 1.05)..00 7.6 2.4 6. diikuti dengan rumah sakit dan praktik swasta. Pada kelompok setelah kemitraan justru PSw yang pertama kali menganjurkan pemeriksaan dahak.00 Setelah Kemitraan Q1 Q2 Q3 6. Pada Tabel 2 dapat dilihat UPK yang pertama kali dikunjungi responden untuk mengobati penyakitnya adalah praktik swasta diikuti oleh pengobat tradisional puskesmas dan rumah sakit.155 0.001 0.75 6.016* 0.017 0.5 80.00 3. Perbedaan median tersebut tidak signifikan secara statistik (p>0.50 10.2 85. Vol.7 42.001* 0. 10.1 35.0 22.895 0.702 0.05). Perbedaan median tersebut signifikan secara statistik (p<0.5 10.00 6.9 56.999 0. Program kemitraan belum mempercepat waktu dari mulai terdiagnosa hingga diobati karena nilai median (Q2) lama waktu mulai terdiagnosis hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan sama dengan kelompok responden sebelum kemitraan.694 0.00 1.699 0.0 45.05). Lama Waktu Sejak Muncul Gejala.0 26.75 4.146 6. UPK tempat pengobatan DOTS terbanyak adalah di Puskesmas.5 67.7 71.029* 168 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.6 81.00 11.4 57.00 5.00 4.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta .763 0.Luh Putu Sri Armini. Kunjungan Pertama ke Pelayanan Kesehatan.50 5. Lama waktu dari mulai muncul gejala hingga pasien melakukan kunjungan pertama kali pada suatu UPK pada kelompok sebelum kemitraan dan sesudah kemitraan relatif sama.00 9.

05).800 370.000 1. karena terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok tersebut.600 36. No.200 60.750 292.400 8.800 15.800 10.486 0.000 61.000 5.065 0. Perbandingan Biaya Pengobatan sebelum Mendapatkan Pengobatan DOTS Biaya UPK sebelum Pengobatan DOTS Pengobatan Tradisional Langsung Tidak langsung Total Praktik Swasta Langsung Tidak langsung Total Puskesmas Langsung Tidak langsung Total Rumah Sakit Langsung Tidak langsung Total Q1 Sebelum Kemitraan Q2 Q3 Q1 Setelah Kermitraan Q2 p Q3 0.000 60.500 113.430.00 pada responden setelah kemitraan dan secara statistik juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.950 710.000 168.424 0.800 352.000 4.000 300.120 0.000 4.000 4.900 586.000 87.250 5.625 49.000 0.400 90.000 18.000 591.250 9.525 763. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai median (Q2) lama waktu mulai kunjungan pertama kali ke suatu pelayanan kesehatan hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan.400 20.500 12.500 76.000 65.000 63.500 6.850 10.000 90. Nilai median (Q2) lama waktu mulai muncul gejala hingga diobati pada kelompok responden setelah kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok responden sebelum kemitraan.785 0. Median biaya tak langsung sebesar Rp43. Median biaya langsung yang dikeluarkan selama pengobatan DOTS sebesar 0 dan secara statistik juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.850 312.038* 0.000 14.750 152.900 2.000. Secara statistik perbedaan tersebut signifikan.000 6.000 320.500 52.000 12.660.200 187.000 5.00 pada kelompok responden kelompok sebelum kemitraan dan Rp47.046* 0.000 183. Lama waktu dari mulai muncul gejala hingga diobati menunjukkan bahwa program kemitraan juga mempercepat pengobatan kasus TB.500 192.750 1.600 184.459 1.200 120.000 284.701 0.304 Tabel 5.00 pada kelompok setelah kemitraan namun tidak berbedaan secara signifikan (p>0.416 0.750 316.000 536.000 60. biaya tak langsung maupun total biaya.800 95.000 15.05).500 2. baik biaya langsung maupun tak langsung dan total biaya yang dikeluarkan.600 2.800 6.000 0 9.375 6. Tabel 4.000 116.050 659.700 9. Dari Tabel 3 dapat disimpulkan bahwa program kemitraan mempercepat penemuan dan pengobatan kasus TB di Kota Denpasar.400 147.000 353.000 7.400 302.000 3.000 5.200 69.500 116.350 0 43. Total biaya keseluruhan yang dikeluarkan sebelum mendapatkan pengobatan DOTS. Secara statistik perbedaan tersebut signifikan.250 8.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Lama waktu dari mulai kunjungan pertama kali ke suatu pelayanan kesehatan hingga diobati menunjukkan bahwa program kemitraan mempercepat pengobatan kasus TB.000 7.729.200.000 9.717 0. Vol. Hal tersebut berarti selama menjalani pengobatan TB kebanyakan responden tidak mengeluarkan biaya atau gratis.000 4. Median total biaya yang dikeluarkan selama pengobatan sebesar Rp69.200 0 47.800 109.600 30.909 0.750 0. di setiap UPK sebelum mendapatkan pengobatan DOTS terpapar dalam Tabel 5.400 68.370 0.000 460.629 0.400. 10.000 5. Biaya pengobatan sebelum dan selama pengobatan DOTS Biaya ke UPK Selama Pengobatan DOTS Langsung Tidak langsung Total Sebelum Pengobatan DOTS Langsung Tidak langsung Total Q1 Sebelum Kemitraan Q2 Q3 Q1 Setelah Kermitraan Q2 p Q3 0 10.00 pada kelompok sebelum kemitraan dan Rp68.800 94.000 23.600.05).05).223.000 470.971 0.000 107.850 6. baik biaya langsung.200 458.600 304.000 150.500 300.500 10. Biaya yang telah dikeluarkan untuk mencari pengobatan penyakitnya. 4 Desember 2007 169 .500 27.500 12.200 34.000 160.000 197.000 15.250 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. responden sebelum kemitraan dan setelah kemitraan juga relatif sama karena hasil Mann Withney tidak signifikan (p>0.000 3.649 35.000 19.

sebaliknya biaya tak langsung sebelum kemitraan lebih kecil dibandingkan kelompok setelah kemitraan. Sesuai kebijakan Dinas Kesehatan Provinsi Bali dan kota Denpasar perluasan TB DOTS dilaksanakan pada lebih banyak rumah sakit swasta dan praktisi swasta termasuk bidan dan perawat.05). Bagi penelitian lain disarankan untuk melakukan penelitian tentang biaya yang harus ditanggung akibat dari pencarian pengobatan penyakitnya dan menjalani pengobatan DOTS. Biaya yang dianalisis dalam penelitian ini adalah biaya tunai yang dikeluarkan oleh penderita selama mencari pengobatan dan menjalani pengobatan DOTS. Hal tersebut menunjukkan bahwa perilaku masyarakat dalam pencarian untuk penyakit yang dideritanya baik pada kelompok responden sebelum kemitraan maupun setelah kemitraan masih relatif sama. PPM DOTS yang dilaksanakan di Hyderrabad dan New Delhi India mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh pasien. sedangkan pada responden kelompok setelah kemitraan justru lebih banyak yang telah dianjurkan untuk memeriksakan dahak. tempat tinggal pasien yang jauh dari fasilitas kesehatan dan bila pasien itu seorang pecandu alkohol. sehingga banyak fasilitas pelayanan kesehatan selain puskesmas yang harus dilibatkan. No..Luh Putu Sri Armini. Perubahan tersebut karena program kemitraan yang dilakukan dengan melatih UPK praktik swasta untuk menemukan TB.8 Beberapa hal yang mempengaruhi keterlambatan dari pasien antara lain : pengetahuan pasien tentang TB. Pembanding diambil dari pasien TB BTA(+) triwulan III sebelum kemitraan dilaksanakan. sehingga program kemitraan juga telah dilaksanakan di semua kabupaten lain. Penggunaan kontrol pelaksanaan program kemitraan dengan daerah lain tidak dilakukan karena pelaksanaan program kemitraan telah dilaksanakan di seluruh Provinsi Bali. Median biaya langsung untuk mencari pengobatan tradisional yang dikeluarkan responden kelompok sebelum kemitraan lebih besar dibandingkan kelompok setelah kemitraan. Median biaya langsung. Vol.05). biaya tak langsung dan total biaya yang dikeluarkan responden kelompok sebelum kemitraan dan setelah kemitraan tidak terdapat perbedaan baik pada UPK praktik swasta. 9 Biaya yang dikeluarkan oleh penderita TB untuk mencari pengobatan sebelum menjalani pengobatan DOTS baik responden sebelum kemitraan maupun setelah kemitraan tidak berbeda bermakna. di ikuti dengan rumah sakit umum. Responden yang ditemukan oleh UPK praktik swasta kemungkinan melanjutkan pengobatan DOTS di Puskesmas atau Rumah Sakit. puskemas dan rumah sakit (p>0. 10. 7 Responden kelompok sebelum kemitraan yang berkunjung ke UPK praktik swasta lebih banyak tidak menganjurkan pemeriksaan dahak. Biaya akibat kehilangan waktu kerja selama mencari pengobatan penyakitnya dan menjalani pengobatan DOTS tidak dihitung. Total biaya di UPK pengobatan tradisional tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0. Berbeda dengan hasil evaluasi ekonomi yang dilaksanakan pada pelaksanaan PPM DOTS di Hyderrabad dan New Delhi India. rumah sakit swasta dan klinik swasta. PEMBAHASAN 1.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta . Penelitian ini tidak dapat membandingkan daerah yang melaksanakan program kemitraan dengan daerah lain yang belum melaksanakan program tersebut. Semakin banyak UPK praktisi swasta yang terlibat dengan dalam penemuan kasus TB menunjukkan program kemitraan di Denpasar semakin berhasil. Hasil Survei prevalensi TB tahun 2004 menemukan bahwa proporsi pasien yang mendapat pengobatan awal di puskesmas hampir sama dengan praktik swasta yaitu sekitar 40-60%. 4 Desember 2007 . Pembahasan Isi dan Konteks Program TB di Denpasar Bali Program kemitraan mempercepat penemuan kasus TB BTA (+) di UPK praktik swasta dan pasien segera mendapatkan pengobatan DOTS. disamping juga akan memperluas 2. dkk. Akan tetapi tidak semua praktik swasta dipilih menjadi tempat pengobatan DOTS secara rutin bagi penderita TB. perbedaan tersebut karena di Hyderrabad dan New 170 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pembahasan Metodologis Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan program kemitraan di Kota Denpasar seharusnya dilakukan penelitian komparatif. jaringan TB DOTS ke seluruh petugas puskesmas pembantu di Bali termasuk Denpasar. Program kemitraan telah berhasil mempengaruhi perilaku UPK untuk mencurigai pasien yang batuk dan keluhan dada lain untuk diperiksa lebih lanjut terutama pada praktik swasta dan rumah sakit. Keterlibatan UPK praktik swasta yang semakin besar mempercepat waktu dari muncul nya gejala hingga terdiagnosis maupun pengobatan DOTS. Penderita yang lebih dini ditemukan akan mempengaruhi kecepatan pengobatannya. Di Provinsi Bali khususnya di Kota Denpasar masih banyak potensi pelayanan praktisi swasta yang memungkinkan untuk dilibatkan dalam penemuan kasus TB. Keterlambatan tersebut kemungkinan karena pasien disebut ”patient delay” yaitu rentang waktu antara gejala dimulai sampai pasien mengunjungi fasilitas kesehatan..

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Delhi India pelaksanaan PPM DOTS dilaksanakan oleh lebih banyak sektor praktisi swasta, rumah sakit swasta, perawat swasta, dan laboratorium swasta yang tidak memungut bayaran pada pasien TB yang berobat, sedangkan di Denpasar yang tidak dibayar oleh pasien hanya alat TB (di semua UPK dan praktisi) dan laboratorium (di Puskesmas). Implikasi Hasil Penelitian terhadap Kebijakan dan Program TB di Denpasar Program kemitraan yang dilakukan di Kota Denpasar telah meningkatkan penemuan kasus TB BTA (+) dan memperpendek waktu dari munculnya gejala hingga diagnosis dan pengobatan. Hal tersebut berarti keterlibatan praktik swasta di Kota Denpasar terhadap pemberantasan TB semakin besar, walaupun belum optimal. Hasil penelitian menemukan masih terdapat UPK praktik swasta yang tidak menganjurkan pemeriksaan dahak kepada pasien dengan gejala TB. Pemeriksaan dahak merupakan salah satu upaya untuk menegakkan diagnosis TB pada pasien yang diduga terjangkit TB. Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis dilakukan terhadap dahak sewaktu pagi sewaktu (SPS) secara mikroskopis identik dengan pemeriksaan secara kultur atau biakan.10 Undang-Undang Praktik Kedokteran No. 29/ 2004 secara spesifik menyebutkan adanya kewajiban dari semua praktisi dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar yang artinya praktisi swasta seharusnya mengetahui dan menerapkan International Standar TB Care (ISTC) yaitu manajemen DOTS. Secara kualitas maupun kuantitas, keterlibatan praktik swasta harus ditingkatkan dengan melibatkan UPK yang lebih banyak karena pada tahap awal UPK praktik swasta yang dilibatkan, termasuk UPK praktik swasta paramedis dan bidan. Advokasi DOTS dan promosi standar pelayanan TB dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar diperlukan memperkuat jejaring antara klinik praktik swasta, rumah sakit dan pelayanan kesehatan yang lain yang belum menerapkan DOTS. Hal tersebut dikarenakan kebijakan kesehatan merupakan kewenangan daerah akibat dari desentralisasi masalah kesehatan. Peran Dinas Kesehatan yang lebih besar dibutuhkan untuk melibatkan lebih banyak praktisi swasta yang ada di Denpasar. Hal tersebut tidaklah mudah karena banyaknya praktisi swasata yang ada di Denpasar dan memerlukan pembiayaan untuk melaksanakan ekspansi tersebut. Saat ini ekspansi 3.

DOTS di Denpasar didanai dari Global Fund (GF), diperlukan juga suatu komitmen dari pemerintah kota untuk pembiayaan DOTS ini kalau GF sudah tidak mensubsidi dana lagi. Perluasan manajemen DOTS di Denpasar dikaitkan juga dengan regulasi perijinan dokter praktik swasta yang mencari izin praktik. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kesimpulan studi ini adalah bahwa program kemitraan Puskesmas-praktisi swasta di Denpasar dapat mempercepat penemuan kasus TB BTA (+) dan mempersingkat jarak antara diagnosis dan pengobatan dengan DOTS. Akan tetapi program kemitraan ini belum dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan oleh pasien, baik sebelum maupun sesudah memperoleh pengobatan DOTS. Saran Disarankan agar Dinas Kesehatan membuat kebijakan untuk melanjutkan model kemitraan Puskesmas-PSw ini. Selain itu, petugas TB Puskesmas menyarankan PSw untuk melakukan promosi kesehatan terhadap pasien dan memberikan penjelasan mengenai kemungkinan kunjungan oleh Puskesmas apabila terjadi mangkir pengobatan. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk menghitung total biaya pasien, termasuk opportunity cost. Kelompok pembanding (yaitu kabupaten yang belum melaksanakan kemitraan Puskesmas-PSw) dapat memperkuat rancangan penelitiannya. KEPUSTAKAAN 1. WHO. WHO Report 2006: Global Tuberculosis Control.2006. 2. Arora, V.K., Lonnroth, K. & Sarin, R. Improved Case Detection of Tuberculosis through a PublicPrivate Partnership Indian Journal of Chest Disease & Allied sciences. 2004;46:133-6. 3. Sub Dinas PPM & PLP Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Laporan Hasil P2 Tuberkulosis di Bali. 2004. 4. Sub Dinas P2P Dinas Kesehatan Denpasar Bali. Laporan Hasil P2 Tuberkulosis di Denpasar. 2004. 5. Utarini, A., Mahendradhata, Y., Syahrizal, B.M. Project Report Program Akselerasi Kemitraan Pemerintah – Praktisi Swasta Dalam Pengendalian Tuberkulosis di Provinsi DIY dan Bali. PMPK FK UGM, Fidelis & IUATLD. 2005. 6. Murthy, K.J.R., Frieden, T.R., Yazdani, A., Hreshikesh, P., (2001). Public-Private Partnership in Tuberculosis Control: Experience in Hyderabad, India. The International Journal

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

171

Luh Putu Sri Armini, dkk.: Dampak Kemitraan Praktisi Swasta ...

7.

8.

of Tuberculosis and Lung Disease. 2001;5 (4): 354-9. Soemantri, S. Senewe, F.P. eds. Tuberculosis Prevalence Survey in Indonesia 2004; Project DOTS Expansions GF ATM. 2005. Demissie, M, Lindtjorn, B, & Berhane, Y. Patient and Health Service Delay in the Diagnosis of Pulmonary Tuberculosis in Ethiopia. Biomedcentral Public Health. 2002; 2(23):1-7.

Rajeswari, R., Chandrasekaran V., Suhader, M., Siva Subramaniam,.S., Sudha, G., Renu, G. Factors Associated with Patient and Health System Delays in The Diagnosis of Tuberculosis in South India. The International Journal of Tuberculosis and Lung Disease. 2002;6 (9): 789-95. 10. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Jakarta. 2002.

9.

172

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 10 No. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 173 - 180 Artikel Penelitian

OPSI-OPSI KEBIJAKAN UNTUK PELATIHAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN: PEMBELAJARAN DARI PENELITIAN POLA PENINGKATAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA DALAM OTONOMI DAERAH BIDANG KESEHATAN
POLICY OPTIONS FOR HEALTH PERSONNEL’S TRAINING; LESSON LEARNED FROM THE RESEARCH ON THE PATTERN OF IMPROVING HUMAN RESOURCES COMPETENCY IN HEALTH SECTOR AUTONOMY Evie Sopacua, Didik Budijanto Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan

ABSTRACT
Background: A tendency according to the implementation of health decentralization is that health centre and hospital will change into an entrepreneurship organization while health offices will be a birocracy organization with good governance practicisme. In connection with that, various new skills for health personnel’s is needed which is managerial, leadership and entrepreneurship. Method: In the year 2002–2004, Health Services and Technology Research and Development Centre have done a study about the pattern of improving human resources competency in health sector autonomy. The study was done through several phases and in 2002 an assessment was done about health personnel’s managerial, leadership and entrepreneurship skills. In 2003 the assessment’s result was implemented, followed by an evaluation of the implementation in 2004. This study located in the province of East Java, West Nusa Tenggara and East Kalimantan. Two districts was selected purposively in each province and the research targets were the head and staff of district health office, hospital and two health centers in the selected district Result: Lesson learned from this study was some policy options. First, structuring the pattern of health personnel’s improvement in a system. Second, integrating the four level evaluation of Kirkpatrick in the training evaluation. Third, planning and implementing an effective training program using Kirkpatrik’s steps while the budget was counted with paying attention of the activity and phases according to the plan. Fourth, a management of a training program to escalate health personnel’s competencies will involved stake holders. Fifth, that health personnel’s in district health office needs to have the competency to organize and manage training programs. Conclusion: The policy option that was proposed to improve health personnel’s skill through training should be considered in the restructuretation of district health office specially in anticipating the implementation of government regulation No. 38/2007 and 4/2007. Keywords: policy options, lesson learned, health personnel’s training program

harus memahami good governance. Untuk itu, diperlukan berbagai keterampilan baru bagi sumber daya manusia kesehatan yaitu keterampilan manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan. Metode: Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan pada tahun 2002–2004 melaksanakan penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan. Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa tahapan yaitu pengkajian keterampilan SDM kesehatan tentang manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan (2002), implementasi hasil kajian melalui pelatihan (2003) dan evaluasi implementasi pelatihan (2004). Lokasi penelitian di Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Timur. Secara purposif dipilih dua kabupaten/kota di tiap provinsi penelitian dan sasaran penelitian adalah kepala dan staf dinas kesehatan kabupaten/ kota, direktur dan staf rumah sakit umum kabupaten/kota serta kepala dan staf di dua puskesmas di kabupaten/kota penelitian. Hasil: Pembelajaran dari penelitian ini adalah beberapa opsi kebijakan. Pertama yaitu penataan pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam suatu sistem. Opsi kedua adalah memasukan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dalam evaluasi pelatihan. Opsi ketiga adalah perencanaan dan implementasi program pelatihan yang efektif menurut Kirkpatrick dengan anggaran yang dihitung berdasarkan langkah kegiatan dan tahapan sesuai perencanaan. Keempat, bahwa penataan pelaksanaan suatu pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Opsi kelima, bahwa SDM di dinas kesehatan kabupaten/kota perlu memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan pelatihan. Kesimpulan: Opsi-opsi kebijakan yang diusulkan untuk peningkatan keterampilan SDM kesehatan melalui pelatihan, perlu mendapatkan pertimbangan dalam restrukturisasi dinas kesehatan kabupaten/kota khususnya mengantisipasi pelaksanaan PP No. 38/2007 dan No. 41/2007. Kata Kunci : opsi kebijakan, pembelajaran, pelatihan SDM kesehatan

ABSTRAK
Latar belakang: Sehubungan dengan pelaksanaan desentralisasi kesehatan maka terdapat kecenderungan perubahan rumah sakit dan puskesmas ke arah lembaga usaha, sedangkan dinas kesehatan menjadi lembaga birokrat yang

PENGANTAR Penerapan desentralisasi di bidang kesehatan pada tahun 1999 menyebabkan dinas kesehatan termasuk puskesmas, rumah sakit mendapat tugas dan wewenang yang sangat besar dalam era otonomi

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007

173

10. kemampuan manajerial SDM kesehatan yang perlu dimiliki adalah keterampilan manajerial. Hasil kajian merupakan kebutuhan SDM kesehatan untuk peningkatan keterampilan. 4 Desember 2007 .1 Fenomena perubahan institusi pelayanan kesehatan kearah dua kutub yang berbeda yaitu kutub birokrasi dan kutub lembaga usaha perlu dipahami oleh para pimpinan lembaga kesehatan khususnya di daerah karena masing-masing kutub mempunyai kultur yang berbeda.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . dan mengelola aspek sosial. daerah (otoda). Pelaksanaan Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi SDM Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Penelitian pengembangan ini dilaksanakan dalam suatu pola dengan beberapa tahapan pelaksanaan yaitu pengkajian keterampilan manajerial SDM kesehatan yang diharapkan dan kenyataannya tahun 20022. kajian faktor eksternal dan internal lembaga. Hasil penelitian menunjukkan gambaran keterampilan manajerial. Untuk itu. Kemudian manajemen konflik yang diukur dari bentuk manajemen konflik (stimulasi/ penekanan/penyelesaian) dan metode yang digunakan. Keterampilan kepemimpinan dikaji pada variabel keterampilan direktif. Trisnantoro1 menjelaskan bahwa keterampilan yang diperlukan SDM kesehatan adalah mengelola perubahan. Wawancara menggunakan kuesioner dengan skala peringkat dan sistem skoring untuk mengukur aspek konatif SDM kesehatan tentang keterampilan manajemen perubahan dan manajemen konflik.. keterampilan kepemimpinan. Pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara dan observasi. 4 Lokasi penelitian di Provinsi Jawa Timur (Jatim). kepemimpinan dan kewirausahaan perlu dilakukan. dkk. Variabel yang dikaji pada keterampilan manajerial meliputi manajemen perubahan yang diukur dari penanganan perubahan reaktif dan proaktif. penerapan strategi dan rencana pelaksanaan dalam rencana strategik institusi.. tujuan. serta keterampilan kewirausahaan. orientasi pada tugas–hasil dan optimisme/ percaya diri. Manajemen strategik diukur melalui perumusan visi. Vol. Sehubungan dengan itu. serta kepala dan staf di dua puskesmas di kabupaten/kota penelitian. Kebutuhan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi SDM kesehatan tentang keterampilan manajerial. budaya. rumah sakit umum daerah dan rencana tahunan puskesmas dilakukan untuk mengkaji pemahaman konsep manajemen strategik. dalam keadaan otonomi daerah diperlukan berbagai keterampilan baru dalam aplikasi otonomi daerah. politik. Berdasarkan hasil pengkajian dibuat draf modul untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan. 174 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. supportif. pemasaran. Maka Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan melaksanakan penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan pada tahun 2002 – 2004.Evie Sopacua. Observasi dan penelusuran dokumen rencana strategik dinas kesehatan. implementasi hasil kajian melalui pelatihan tahun 2003 3 dan evaluasi implementasi pelatihan tahun 2004. khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang terlibat didalamnya. kepemimpinan dan kewirausahaan SDM kesehatan seperti yang ditunjukkan Tabel 1. kepemimpinan dan kewirausahaan. bisnis dan fungsional. Secara purposif dipilih dua kabupaten/ kota di tiap provinsi penelitian dan sasaran penelitian adalah kepala dan staf dinas kesehatan kabupaten/ kota. misi. menciptakan usaha. dan ekonomi yang kesemuanya akan berdampak pada kinerja organisasi. sedangkan menurut Prud’Homme & Mc Lure seperti yang dicatat Trisnantoro 1. No. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan keterampilan dari SDM kesehatan. hasil penelitian Gilsons menurut Trisnantoro1 menunjukkan bahwa secara praktis perlu perubahan yang incremental. Terkait dengan pelaksanaan desentralisasi kesehatan maka kecenderungan perubahan rumah sakit dan puskesmas ke arah lembaga usaha atau enterpreneurship. sedangkan dinas kesehatan cenderung menjadi lembaga birokrat yang harus memahami good governance atau menjadi holding company dari puskesmas dan berbagai lembaga pelayanan kesehatan lainnya. isu strategik/pengembangan. direktur dan staf rumah sakit umum kabupaten/ kota. negosiasi lobi. partisipatif dan orientasi prestatif dan keterampilan kewirausahaan pada variabel keterampilan keberanian mengambil risiko. Pada penelitian tahap pertama tahun 20022 dilakukan pengkajian untuk menemukan gap antara keterampilan manajerial SDM kesehatan yang diharapkan dan kenyataannya. strategi umum. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur. draf modul disempurnakan menjadi modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan. maka draft modul yang dibuat tentang keterampilan kewirausahaan dalam aspek pemasaran. Disarankan untuk melaksanakan capacity building melalui pelatihan untuk implementasi modul.2) 4 (18.0) - - - Keterangan : Skor : 1. prestatif. rumah sakit umum daerah dan puskesmas di Provinsi Kalimantan Timur.2) Kabupaten C Provinsi NTB n=25 (100%) 1 2 3 4 23 (92.5) 2 (9. Surabaya sebagai konsultan karena keterbatasan waktu dan anggaran. Cara pertama adalah proses pembelajaran dengan penjelasan materi modul. Tabel 2. baik di dinas kesehatan. terbanyak terbanyak dalam aspek pemasaran. Modul dikembangkan menggunakan hubungan pelanggan atau Customer Relationship Marketing (CRM) sebagai strategi pemasaran.1% 56. Sesuai. perlu meningkatkan kompetensi SDM kesehatan sesuai dengan perkembangan pelayanan rumah sakit dan puskesmas di masa mendatang.2% Keterampilan kepemimpinan 62.3% Keterampilan kewirausahaan 54. Sangat sesuai Sumber : Budijanto dan Sopacua3 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 3. terbanyak pada aspek suportif dan orientasi untuk aspek suportif dan orientasi untuk aspek suportif dan orientasi prestatif prestatif. Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit.0) 5 (20. No. terbanyak responden masih kurang. mengisi kertas kerja berupa refleksi pemahaman terhadap materi modul dan diskusi. 91.0) 3 (12. kurang.7) 5 (22. Sumber : Budijanto dan Sopacua2 Kesimpulan pada tahap pengkajian ini adalah bahwa keterampilan kepemimpinan dan kewirausahaan SDM kesehatan masih kurang. Sangat tidak sesuai.6) 15 (68.3% responden mempunyai Keterampilan untuk mengelola konflik Keterampilan untuk mengelola konflik keterampilan mengelola konflik masih 90. 2.2) 5 (22. Keterampilan Kewirausahaan Keterampilan kewirausahaan dari Keterampilan kewirausahaan 54. 2.2) 3 (13.5) 4 (18. Pembelajaran materi modul relevan dengan tupoksi sehari-hari 2. Keterampilan Manajerial Ada 74. Kepemimpinan dan Kewirausahaan SDM Kesehatan di Tiga Provinsi Penelitian Provinsi Jawa Timur Provinsi Kalimantan Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (n=82) (n=61) (n=35) 1.3) 17 (77. Pengembangan modul didampingi expert dari Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. diharapkan. Tidak sesuai.6) 16 (72.0) - - 1 (4. dalam aspek pemasaran. Penilaian pemahaman konsep sedangkan untuk komponen aplikasi sedangkan untuk aplikasi dari manajemen strategik dalam aplikasi dari manajemen strategik melalui manajemen strategik melalui rencana strategik (renstra) belum normatif penyusunan rencana strategik rencana strategik (renstra) belum normatif sebagaimana yang sebagaimana yang diharapkan.0) 2 (8. masing-masing di satu kabupaten pada ketiga provinsi penelitian. 10.7) 14 (63.7) 4 (18. Cara penyampaian materi modul dalam pembelajaran Kabupaten A Provinsi Jatim n=22 (100%) 1 2 3 4 17 (77.5 % responden masih kurang. 4. Keterampilan Kepemimpinan Keterampilan kepemimpinan dari 50% Keterampilan kepemimpinan 52. terbanyak responden masih kurang.2) Kabupaten B Provinsi Kaltim n=22 (100%) 1 2 3 4 1 (4.7) 4 (18. Proses pembelajaran ini dilaksanakan selama tiga hari.2) 4 (18. responden masih kurang.1) - - 5 (20.1% responden masih kurang. 3. Hasil Evaluasi Proses Pembelajaran Modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan. Pada tahap kedua penelitian tahun 20033. Evaluasi proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan format evaluasi tahap satu dari Kirkpatrick6 dan observasi peneliti (menggunakan format). Vol. Hasil evaluasi pelaksanaan pembelajaran modul terlihat pada Tabel 2.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 1. 4 Desember 2007 175 . Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit di Kabupaten pada Tiga Provinsi Penelitian Variabel Yang Dinilai 1. Gambaran Keterampilan Manajerial. Pembelajaran materi modul relevan dengan program institusi 3.0) 17 (68.3) 16 (72. dalam aspek pemasaran. responden masih perlu peningkatan pemahaman. Untuk itu. implementasi modul dalam tahap kedua penelitian dilaksanakan dengan dua cara.90% responden masih kurang terbanyak responden masih kurang.1% responden masih kurang.0) 20 (80.

9) 3 (25. Tidak berpendapat 3 (25. d.9) 3.3) 7 (50.6) 5 (41.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia . Panduan Strategi Pemasaran Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit Menggunakan Evaluasi 4 Tahap dari Kirkpatrick di Tiga Provinsi Penelitian Provinsi Jatim Provinsi Kaltim Provinsi NTB n=17 (%) n=17 (%) n=14 (%) Tahap 1 : Reaction level : materi pelatihan bermanfaat karena relevan dengan pekerjaan sehari-hari (tupoksi) 1. Sudah ada rencana penerapan 16 (94. masing-masing di satu kabupaten pada ke tiga provinsi penelitian. 10. a. tetapi hanya yang berasal dari rumah sakit umum daerah dan dari dua puskesmas terpilih di tiga provinsi penelitian serta kepala dinas dan kepala subdin bina pelayanan dinas kesehatan kabupaten/kota.7) 2. Pelatihan merupakan komponen penting dari pembelajaran atau learning5 tetapi diharapkan proses ini dapat menghasilkan perubahan yaitu didapatnya kemampuan baru yang berlaku untuk waktu yang relatif lama. Hasilnya tidak jauh berbeda karena kesesuaian materi modul pada Tabel 2. Evaluasi tahap 4 atau Result Level: 60% peserta pelatihan dapat membuat rencana penerapan materi pelatihan untuk dilaksanakan dalam kegiatan sehari-hari.6 Evaluasi dilaksanakan pada responden dari puskesmas dan rumah sakit. Penilaian pada setiap tahap evaluasi adalah sebagai berikut. tetapi pengulangan penilaian dilakukan untuk mendapatkan kesinambungan penilaian dari tahap 1 sampai 4 pada responden yang sama.Evie Sopacua. lebih dari 60% di ketiga provinsi penelitian sama dengan evaluasi tahap 1 (reaction level) dalam Tabel 3. Proses pembelajaran dan sosialisasi ini diikuti oleh responden yang sama pada penelitian tahun 2002.3) Sumber : Sopacua. c.4) 4 (33. Evaluasi tahap 2 atau Learning Level: 60% responden menyatakan dapat menerapkan sebagian dari materi pelatihan ke dalam integritas pekerjaan mereka sehari-hari. Tidak berpendapat 1 (8.7) 6 (42.3) 3.7) 7 (50. Cukup Bermanfaat 12 (70. Kesimpulan pada penelitian tahap kedua ini bahwa proses pembelajaran dan sosialisasi materi modul sebagai cara pelatihan untuk meningkatkan keterampilan SDM kesehatan dapat dilakukan. 4 Desember 2007 . baik yang mengikuti pembelajaran dan sosialisasi pada penelitian tahun 2003.3) 2 (14. hanya sebagian materi 12 (70. No. Dilakukan.0) 2 (14. Tidak ada kesempatan dan dukungan fasilitas 1 (7. Cara kedua adalah sosialisasi yaitu penjelasan materi dengan diskusi tanpa pengisian kertas kerja. tetapi yang menerapkan materi modul dalam pekerjaannya sehari-hari. Bermanfaat 5 (29. Evaluasi Implementasi Modul Menuju Kewirausahaan dalam Pembangunan Kesehatan. Perlu dilakukan evaluasi implementasi (evaluasi pascapelatihan) untuk menilai apakah materi modul benar-benar dimanfaatkan dalam pekerjaan sehari-hari dan berdampak bagi puskesmas dan rumah sakit. tetapi keterbatasan anggaran dan waktu menyebabkan pilihan ini. b. Evaluasi tahap 3 atau Behaviour Level: 60% responden menyatakan telah mendiseminasikan sebagian materi pelatihan kepada teman sekerja dalam unit/bidang yang sama dalam integritas pekerjaan mereka sehari-hari (perubahan keahlian). Tetapi disarankan agar implementasi modul dilanjutkan dengan pendampingan sehingga diperoleh pengalihan pengetahuan sebagai hasil dari implementasi modul. Prajoga4 Evaluasi Implementasi Modul Tahap 1 – 4 dari Kirkpatrick 176 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Proses pembelajaran dan sosialisasi bukan metode yang tepat untuk pengalihan pengetahuan materi modul. Tabel 3.0) Tahap 4: Result level: rencana penerapan materi modul di institusi (puskesmas & rumah sakit umum daerah) 1.. Ada kesempatan menerapkan sebagian materi dan cukup dukungan fasilitas 17 (100) 12 (100) 13 (92. dkk. khususnya dalam menciptakan program-program CRM sebagai suatu strategi pemasaran. Evaluasi proses sosialisasi hanya dengan observasi peneliti menggunakan format evaluasi.1) 8 (66. Budijanto.0) 2.. dilakukan dalam satu hari. Vol. Evaluasi tahap 1 atau Reaction Level: 60% responden menyatakan materi pelatihan bermanfaat karena relevan dengan pekerjaan sehari-hari (tupoksi).4) 2.1) Tahap 3 : Behaviour Level : pelaksanaan diseminasi materi modul 1. dilakukan evaluasi implementasi modul menggunakan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick. Belum ada rencana penerapan 1 (5. Walau sebenarnya evaluasi tahap 1 dari Kirkpatrick6 sudah dilakukan pada penelitian tahun 2003 (Tabel 2).3) 5 (35.4) Tahap 2 : Learning level : kesempatan menerapkan materi modul dan dukungan fasilitas untuk itu 1.4) 4 (33.0) 3 (21.7) 10 (71.9) 2. Tidak berpendapat 5 (29. Pada tahap ketiga penelitian tahun 20044.6) 8 (66.

tetapi pada evaluasi tahap 4 target evaluasi tercapai karena sebenarnya terjadi perubahan keahlian. sehingga dapat diketahui apakah ada peningkatan keterampilan setelah pelatihan. perlu dikembangkan dan pengembangan modul membutuhkan waktu. ke-4 tahap evaluasi ini berkaitan sehingga pencapaian tahap berikut tergantung tahap sebelumnya. untuk evaluasi tahap 1. hasil kajian merupakan data awal atau data dasar yang pada evaluasi pascapelatihan dapat dibandingkan untuk menilai keberhasilan pelatihan. tetapi pada penelitian ini tidak dapat dilakukan karena keterbatasan waktu dan anggaran. pada evaluasi tahap 4 seharusnya dilakukan pengkajian ulang tentang keterampilan kewirausahaan dengan materi yang sama yang digunakan pada tahap satu penelitian. Kegiatan yang dihitung sudah termasuk pengkajian kebutuhan pelatihan dan pelaksanaan evaluasi tahap 3 dan 4 dengan pengulangan pada tenggang waktu yang sudah ditentukan dalam perencanaan pelatihan. Hasil kajian digunakan sebagai dasar perencanaan pelatihan bagi SDM kesehatan yang diharapkan berdampak pada kinerja organisasi baik dinas kesehatan. pencapaian evaluasi tahap 3 hanya 50%. Dukungan diperlukan agar materi modul diterapkan secara terintegrasi dengan kegiatan lain yang diselenggarakan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat dianggarkan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 3 menunjukkan bahwa target yang ditentukan pada evaluasi setiap tahap yaitu 60%. Perencanaan pelatihan sebaiknya sudah mengandung pelaksanaan evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dengan waktu penjadwalan yang sudah diagendakan dan anggaran yang sudah diperhitungkan berdasarkan kegiatan yang akan dilakukan. Modul materi pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan sesuai hasil kajian apabila belum ada. Pelatihan sebaiknya direncanakan berdasarkan suatu analisis kebutuhan pelatihan. 4 Desember 2007 177 . 4. Pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan diawali dengan suatu pengkajian kebutuhan pelatihan (training need assessment = TNA) yang menjelaskan gap antara harapan dan kenyataan yang ada. Lesson learned yang diperoleh adalah bahwa: 1. Ada dua hal yang ditengarai sebagai penyebab yaitu materi modul belum merupakan prioritas dan ketidakpahaman dinas kesehatan tentang materi modul walau saat pembelajaran dan sosialisasi dinas kesehatan terlibat dan hadir. Walau di Provinsi NTB. 2 dan 4 di ketiga provinsi penelitian tercapai. Disarankan agar evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick dilakukan pada pelatihan jangka panjang yang terencana dengan baik di puskesmas dan rumah sakit. Pada evaluasi tahap 3 target tersebut dicapai Provinsi Jatim dan Kaltim. tetapi memerlukan perencanaan yang matang dan komprehensif dengan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan . Di samping itu. Kegiatan juga termasuk pengkajian ulang pada evaluasi tahap 4 dengan materi yang juga digunakan pada pengkajian kebutuhan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Lesson Learned Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi SDM Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Penelitian pada tahun 2002-2004 seperti yang diuraikan di atas menggambarkan suatu pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam otonomi daerah bidang kesehatan. Kesimpulan evaluasi implementasi modul menunjukkan bahwa materi modul dapat diterapkan di puskesmas dan rumah sakit. No. Pendampingan pada aplikasi materi pelatihan dalam pekerjaan sehari-hari diperlukan sehingga pengalihan pengetahuan dapat terlaksana. Keterbatasan ini juga menyebabkan pada evaluasi tahap 4 tidak dilakukan pengkajian ulang tentang keterampilan kewirausahaan dengan materi yang sama yang digunakan pada penelitian tahap satu sehingga peningkatan keterampilan SDM kesehatan dampak pelatihan dapat diukur. Kirkpatrick6 menganjurkan agar pada evaluasi tahap 3 dan 4 dilakukan penilaian ulang dengan tenggang waktu yang ditentukan. Selain itu. Pelatihan bukan sesuatu yang dapat dilaksanakan secara instan. rumah sakit dan puskesmas. Pelatihan pada SDM kesehatan untuk peningkatan kompetensi sebaiknya direncanakan berdasarkan kebutuhan pelatihan yang normatif sehingga ada dukungan pascapelatihan dari institusi ketika materi pelatihan diimplementasikan. tetapi untuk itu diperlukan dukungan dari dinas kesehatan dan juga pemerintah daerah. Keterbatasan waktu dan anggaran menyebabkan pola peningkatan kemampuan SDM kesehatan melalui penelitian ini tidak dapat dilaksanakan sebagaimana yang seharusnya. Kendala yang dihadapi dalam implementasi modul di puskesmas khususnya adalah belum ada dukungan dinas kesehatan. 10. dana dan experts. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 ini kemudian dibandingkan dengan hasil pengkajian kebutuhan pelatihan pada penelitian tahap satu. Evaluasi tahap 3 dan 4 sebaiknya dilakukan dua kali dengan tenggang waktu yang sudah ditentukan dalam perencanaan pelatihan. Menurut Kirkpatrick6. 2. 3. Vol.

Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 dibandingkan dengan hasil pengkajian kebutuhan pelatihan sehingga dapat diketahui apakah ada peningkatan keterampilan setelah pelatihan. tidak melalui suatu rancangan pelatihan yang seharusnya. Vol. Pola Peningkatan Kompetensi SDM Kesehatan Dalam Suatu Sistem 178 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kompetensi menurut Sofo7 dapat didefinisikan sebagai apa yang diharapkan di tempat kerja dan merujuk pada pengetahuan. pelatihan. Opsi pertama adalah penataan pola peningkatan kompetensi SDM kesehatan dalam suatu sistem (Gambar 1). dkk. Efektivitas pelatihan menurut Newby yang dikutip Irianto8 berkaitan dengan sejauh mana program pelatihan yang diselenggarakan mampu mencapai apa yang memang telah diputuskan sebagai tujuan yang harus dicapai. Sebagai sistem.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia .6 Pada evaluasi tahap 4 ini juga dilakukan pengkajian ulang dengan materi yang juga digunakan pada pengkajian kebutuhan pelatihan yang hasilnya merupakan data dasar kompetensi yang dimiliki SDM kesehatan.. Sebagian besar pelatihan. 10. Opsi-Opsi Kebijakan Ada beberapa pelajaran yang diperoleh dari penelitian pola peningkatan kompetensi SDM dalam otonomi daerah bidang kesehatan yang dapat menjadi beberapa opsi kebijakan. 4 Desember 2007 . seperti penyiapan kurikulum dan materi pembelajaran. Evaluasi pelatihan menurut Assessors and Workplace Trainers (dikutip Sofo7) merujuk pada proses pengkonfirmasian bahwa seseorang telah mencapai kompetensi. sehingga pelatihan-pelatihan lebih cenderung kepada pelatihan yang mendukung pelaksanaan program. Dalam makalah pengembangan model unit diklat kesehatan 5 dikatakan bahwa pada umumnya perencanaan dan penyelenggaraan pelatihan di dinkes kabupaten/kota diserahkan kepada masing-masing subdinas/bidang. Gambar 1. masukan atau input adalah pengkajian kebutuhan pelatihan yang merupakan data dasar untuk perencanaan pelatihan dan pengembangan modul pelatihan. Opsi kedua adalah memasukan pola evaluasi 4 tahap dari Kirkpatrick6 dalam evaluasi pelatihan karena evaluasi pada tahap 1 dan 2 dari Kirkpatrick merupakan evaluasi formative sebab menghasilkan informasi untuk organisasi tentang penyelenggaraan pelatihan. keahlian dan sikap yang dipersyaratkan bagi pekerja untuk mengerjakan pekerjaannya.Evie Sopacua. evaluasi pelatihan menurut Kirkpatrick6 adalah untuk menentukan efektivitas dari suatu program pelatihan.6 Dampak atau outcome pelatihan yang diharapkan adalah peningkatan kinerja individu dan organisasi serta return of investmen (ROI) yang dinilai melalui evaluasi tahap 4 dari Kirkpatrick. Hasil pengkajian pada evaluasi tahap 4 dibandingkan dengan data dasar untuk menilai peningkatan kinerja SDM kesehatan sebagai akibat pelatihan. Evaluasi pascapelatihan hampir belum dilakukan. titik beratnya adalah pada pelaksanaan atau penyampaian bahan belajar. sebagian lainnya belum melakukan. Sebagian sudah melakukan evaluasi pembelajaran atau evaluasi hasil belajar. Evaluasi tahap 2 dapat ditanyakan bersamaan dengan evaluasi tahap 1 dan diulangi ketika peserta pelatihan sudah kembali bekerja. serta berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing pemegang program. sehingga diperoleh dua kali pengukuran sebagai kondisi pre dan postes output atau luaran adalah peningkatan keterampilan dan pengetahuan serta perubahan keahlian dan perilaku peserta pelatihan yang diukur melalui evaluasi tahap 3 dari Kirkpatrick. Proses dalam sistem adalah pelaksanaan pelatihan diikuti evaluasi tahap 1 dari Kirkpatrick6 selain pre dan postes. sedangkan evaluasi tahap 3 dan 4 merupakan evaluasi summative karena menghasilkan informasi yang berfokus pada dampak pelatihan bagi organisasi atau pascapelatihan. Oleh sebab itu. bukan hanya melakukan perbandingan kemampuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan (pre dan postes).. No. walaupun masih terbatas pada pre dan postes.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Untuk itu. 38/2007 pengganti PP No. 25/2000 bahwa dinas kesehatan kabupaten/kota menjalankan fungsi regulator. tetapkan penjadwalan. 41/2007 dengan memasukkan pendidikan dan pelatihan sebagai seksi pada kelompok fungsional atau pada bidang SDM. Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes). Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. rumah sakit. bahwa penataan pelaksanaan suatu pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.9 Kepada mereka yang ditempatkan di seksi atau bidang SDM ini terlebih dulu diberikan pemahaman tentang tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan sehingga dapat merancang pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM kesehatan berjangka panjang dan komprehensif. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). opsi ketiga adalah memperhatikan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Vol. koordinasikan program ini dengan bagian lain atau sektor lain terkait dan evaluasi program pelatihan. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan (BPPSDM). maka hal ini dapat diantisipasi dinas kesehatan kabupaten/kota ketika merestrukturisasi struktur organisasi sesuai PP No. Pertimbangan utama bahwa dengan berbagai perubahan yang terjadi termasuk perubahan organisasi kesehatan maka kompetensi SDM kesehatan dalam keterampilan manajerial perlu ditingkatkan. tetapkan fasilitas dan sarana yang akan digunakan. Upaya peningkatan dilaksanakan melalui pelatihan sesuai keputusan Menkes RI No. yang untuk tahap 3 dan 4 mungkin dilaksanakan setelah 1 tahun pascapelatihan. Opsi kelima. 3. perguruan tinggi. Berkenaan dengan pelatihan. E. dinas kesehatan. siapkan audio visual aids. Budijanto. Pengembangan Kapasitas Keterampilan Manajerial Dalam Berwirausaha Bagi Tenaga Kesehatan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. perencanaan dan pelaksanaan pelatihan yang komprehensip. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik (Ditjen Yanmedik) dan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat (Ditjen Binkesmas) Departemen Kesehatan RI. Yogyakarta. Sopacua. 2. E. perencanaan dan implementasi program pelatihan yang efektif sebaiknya mengandung 10 langkah kegiatan menurut Kirkpatrick6 yaitu: tentukan kebutuhan pelatihan.725/Menkes/ SK/V/2003 bahwa pelatihan adalah proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan kinerja. profesionalisme dan atau menunjang pengembangan karier tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. tentukan materi. L. UGM. Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan (Tahap I: Assesment Keterampilan Manajerial Sumber Daya Manusia Dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan). Pelaksanaan pelatihan dengan penyiapan kurikulum dan materi pembelajaran sesuai dengan hasil kajian. Ditjen Yanmedik. perencanaan dan pelaksanaan pelatihan dengan peraturan dan perundangan sebagai payung yang dirujuk oleh Balitbangkes. Keterampilan Manajerial Desentralisasi. rumah sakit dan Bapelkes. tetapkan narasumber. 2002.5 Sesuai dengan PP No. 2000. tentukan kriteria peserta. Dampak pelatihan diharapkan menyebabkan peningkatan kinerja SDM kesehatan dan institusi. Surabaya. Binkesmas dan BPPSDM mendukung anggaran dan pelaksanaan analisis kebutuhan pelatihan. Sopacua.. D. Maka anggaran untuk pelatihan dihitung dengan memperhatikan setiap langkah kegiatan dan tahapan sesuai perencanaan. KESIMPULAN Opsi-opsi kebijakan yang diusulkan berdasarkan lesson learned dari pelaksanaan penelitian di Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan tahun 2002 – 2004. Pelatihan SDM kesehatan tidak hanya untuk mendukung pelaksanaan program tetapi dirancang berdasarkan pengkajian kebutuhan pelatihan. D. Para pemangku kepentingan di antaranya adalah pemerintah daerah.5 Maka dalam peningkatan kompetensi SDM kesehatan.. 10. tetapkan tujuan akhir yang akan dicapai. Hal ini dapat diatur dengan mensinergikan berbagai kepentingan dalam tata kerja sama yang disepakati. No.725/Menkes/SK/V/2003 yang dirancang secara efektif dan komprehensif dengan memperhatikan berbagai pemangku kepentingan serta peraturan perundangan yang berlaku. 4 Desember 2007 179 . dinas kesehatan. Kerja sama para pemangku kepentingan diperlukan dalam melakukan analisis kebutuhan pelatihan. Budijanto. SDM di dinas kesehatan kabupaten/kota perlu memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan pelatihan karena pada kenyataannya selama ini sudah melakukan penyelenggaraan pelatihan dengan kapasitas yang sangat terbatas. Trisnantoro. Penghitungan anggaran termasuk waktu pelaksanaan evaluasi pascapelatihan tahap 1 – 4 dari Kirkpatrick. perlu mendapatkan pertimbangan dalam restrukturisasi dinas kesehatan kabupaten kota khususnya. Fakultas Kedokteran. Opsi keempat. KEPUSTAKAAN 1.

2003.desentralisasikesehatan. Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur. Meliala A.. Kabupaten/Kota di Propinsi Kalimantan Timur. No.2004. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Budijanto. E.net .Com. www. Insan Cendekia. 4 Desember 2007 . dkk. Vol. 2003. Kirkpatrick.Evie Sopacua. 9. Pengembangan Model Unit Diklat Kesehatan. Surabaya.. Airlangga University Press.lrckesehatan. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. (Diakses 18 Desember 2007) 6. Surabaya.Koehler Publishers. Jusuf Irianto. 7. Irianto. Prinsip-Prinsip Dasar Manajemen Pelatihan.Inc. Berrett . D. F. 1994. PP No. 5. www. D. Sopacua. Surabaya. 41/2002.38 dan No. 4. 8. Y.: Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia .. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan. PPT dalam Kursus Desentralisasi. Surabaya. Prajoga.. 10. M.2001. Diterjemahkan oleh drs. 2007. Sofo. Evaluasi Kemampuan Manajerial SDM Kesehatan di Kabupaten/Kota dalam Era Desentralisasi Evaluasi Implementasi-.net (Diakses 10 November 2007) 180 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Evaluating Training Programs – The Four Levels-.

Pengadaan dengan teknik dropping dapat mengakibatkan terjadinya penumpukkan obat di RS rujukan. Besaran anggaran yang disediakan mengalami peningkatan dibandingkan dengan anggaran yang dialokasikan sebelumnya. menanggulangi dan mengobatinya. If allocation is done by dropping technique so it makes heaping medicine at reference hospital. Oleh karena itu perlu dianalisis secara komprehensif dengan melihat aspek-aspek pada sistem kebijakan meliputi public policies. Vol.188 Artikel Penelitian ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN OSELTAMIVIR DAN IMPLEMENTASINYA DI RUMAH SAKIT RUJUKAN KASUS FLU BURUNG MANAGEMENT POLICY OF OSELTAMIVIR ANALYSIS AND ITS IMPLEMENTATION AT THE REFERENCE HOSPITAL OF AVIAN INFLUENZA CASE Misnaniarti Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Kesimpulan: Kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanganan kasus flu burung di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta dibuat secara terbatas dan pada pelaksanaannya tidak mencakup pada keseluruhan lini yang memerlukan. Bagi RS diharapkan memberikan rekomendasi desain kebijakan pengelolaan Oseltamivir yang sesuai dengan kondisi di RS kepada Depkes. Sumatera Selatan ABSTRACT Background: Avian Influenza pandemic which is caused of H5N1 virus pushed various goverment effort to look for prevention way. Kata Kunci : Oseltamivir. This studi purpose is for analyzing management policy of Oseltamivir in controlling Avian Influenza case and its implementation at reference hospital in Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta 2005 – 2007. overcoming and curing it. dan policy environment. Keywords : Oseltamivir. 10. akan tetapi perlu dipikirkan juga akses unit pelayanan kesehatan swasta (RS/klinik) untuk memperoleh obat tersebut. considering of presence case is a new case which indicated human mortality level progressively. melibatkan 10 informan. A limited distribution for goverment instance and it is not for sale freely has done considering how important that medicine for human safety. Hal ini karena pertimbangan kasus yang dihadapi merupakan kasus baru yang terus menunjukkan progresivitas angka kematian pada manusia. so that medicine must be distributed to health service unit to use it considering its expire so close relatively. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan perencanaan penyediaan Oseltamivir belum bisa berdasarkan data evidences jumlah kasus riil yang terjadi pada instansi rumah sakit (RS) rujukan ataupun kebutuhan RS akan obat tersebut. sehingga harus dikelola secara baik dan kebijakan yang melandasinya harus berdasarkan formulasi yang tepat mulai dari tahap perencanaan hingga pengendalian. Conclusion: Management policy of antiviral drugs in overcoming Avian Influenza case at reference hospital in DKI Jakarta is made limited and its implementation dose not involve for all sides. It was suggested for health service department to involve reference apotek for providing antiviral drugs so it is easy on access for health service unit in stockpile. Therefore. Method: This study used a qualitative method which has done retrospectively by analyzing policy system with 10 informants. policy stakeholders. require to be analyzed comprehensively based on policy system aspect such as: public policies. management policy ABSTRAK Latar Belakang: Ancaman pandemi flu burung yang disebabkan oleh virus H5N1. It was also suggested for hospital to perform a research to proving the this effectiveness Oseltamivir on human avian influenza. and policy environment. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. starting from planning until control phase. Results: Study result indicated that planning policy of oseltamivir can not base on evidences data of reality case number that happen on reference hospital instance or the need of medicine for hospital. policy stakeholders. The data were a content analyzed.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. sehingga dilakukan strategi stockpilling yang memperhitungkan jumlah kebutuhan berdasarkan pada prediksi persentase jumlah penduduk Indonesia yang akan terkena jika terjadi pandemi. This preparation of antiviral drugs played the most important role. Metode: Jenis penelitian adalah kualitatif yang dilakukan secara retrospektif dengan menganalisis sistem kebijakan. Diharapkan pihak Depkes dalam pengelolaan Oseltamivir ini juga memberdayakan apotek yang ditunjuk untuk menyediakan-nya sehingga selain mempermudah akses unit pelayanan kesehatan swasta lainnya dalam memperoleh obat tersebut dan bisa dijadikan stockpile. The data were collected by in-depth interview and study document. 4 Desember 2007 181 . mendorong berbagai upaya pemerintah untuk mencari cara mencegah. one of them is preparation policy of antiviral drugs. but this done because of medicine donation from another country. kemudian dilakukan analisis isi. kebijakan pengelolaan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. so that it must be managed well and basic policy must pursuant to the right formulation. No. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 181 . Penyediaan obat antiviral ini memegang peranan yang sangat penting. so it has dones stockpilling strategy which calculated stock number based on percentage prediction of Indonesian population number which will happen because of pandemic. but it is important that acces for private health service unit (hospital/ clinic) to obtain this medicine. tetapi hal tersebut dilakukan karena adanya hibah obat dari negara lain sehingga obat harus segera didistribusikan ke unit pelayanan kesehatan agar bisa terpakai mengingat masa kadaluarsanya yang relatif dekat. Pendistribusiannya secara terbatas pada instansi pemerintah dan tidak dijual bebas dilakukan mengingat pentingnya obat tersebut bagi keselamatan manusia. di antaranya dengan kebijakan penyediaan obat antiviral.

Suliati Saroso (RSPI SS) dan RSUP Persahabatan mulai Maret sampai dengan Juni 2007. Penyakit ini merupakan penyakit menular pada unggas yang disebabkan oleh virus influenza A H5N1 yang kemudian berkembang dan dapat menular ke manusia. cepat merusak organ dalam (terutama paru-paru). Data WHO 1 menunjukkan terjadi kecenderungan peningkatan kasus AI. penyediaan obat antiviral. dapat terjadi mutasi adaptif dan reasortment. Selain itu juga terjadi penyebaran yang semakin meluas ke beberapa negara lain. proses (process) dan aktor (actors) pembuatan kebijakan sebagai unsurunsur yang penting di dalam analisis kebijakan. Di Indonesia. WHO Perwakilan Indonesia. yang mencakup hubungan timbal balik di antara tiga aspek yaitu: kebijakan publik (public policies). Harapan lebih lanjut agar hal ini mendapat perhatian dari semua pihak mulai dari tahap perencanaan sampai pengendalian. sehingga dapat dipergunakan secara tepat guna dalam menangani bahaya wabah flu burung khususnya di wilayah Indonesia. 1371/Menkes/SK/IX/2005 tentang Pedoman Penanggulangan Penyakit Flu Burung pada Manusia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan kerangka pikir dikembangkan berdasarkan rangkuman banyak sumber teori tentang 182 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10. baik angka kesakitan maupun angka kematian manusia yang terinfeksi virus H5N1. di antaranya ada kebijakan Depkes berupa SK Menkes No. RSPI Prof. isi (content). serta mudah resisten terhadap obat antiviral. cepat berkembang dan menular pada unggas. Vol.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . menganjurkan pemberian vaksinasi influenza pada orang yang berisiko. Dengan memberikan hasil analisis kebijakan dalam pengelolaan Oseltamivir ini diharapkan adanya perencanaan yang sistematis di masa mendatang yang dapat diterapkan dalam pencegahan dan kewaspadaan flu burung. Informasiinformasi yang terkait dengan dasar kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanganan kasus flu burung ini masih terbatas. 4 Desember 2007 .5 Setiap komponen dari sistem kebijakan tersebut merupakan suatu kesatuan dan saling berhubungan. dan pelatihan petugas kesehatan. Sistem kebijakan merupakan seluruh pola institusional di mana di dalamnya kebijakan dibuat. PENGANTAR Dalam beberapa tahun terakhir ini perhatian dunia kesehatan terpusat kepada semakin merebaknya penularan penyakit Avian Influenza (AI) atau flu burung.. 4 Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menanggulanginya kasus ini. Oleh karena itu. sehingga penyediaannya secara tepat waktu dan tepat guna diharapkan dapat mengurangi dampak kasus flu burung. tercatat paling kurang terjadi 79 kematian dari 99 kasus yang ada. Pengelolaan Oseltamivir memegang peranan penting untuk pemenuhannya sehingga tersedia secara tepat waktu dan tepat guna. Selain itu juga merupakan tindakan pengobatan yang bisa dilakukan dalam penatalaksanaan kasus (case management) flu burung secara medis di rumah sakit (RS). Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kebijakan pengelolaan Oseltamivir dalam penanggulangan kasus flu burung dan implementasinya di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta sejak tahun 2005 sampai tahun 2007. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan kantor Departemen Kesehatan RI.. pelaku kebijakan (policy stakeholders). Salah satu strateginya adalah strategi pencegahan terdiri dari tindakan bio security. Saat ini obat antiviral kasus flu burung pada manusia yang digunakan di Indonesia hanya Oseltamivir.Dr. jumlah kasus kematian akibat flu burung merupakan yang tertinggi di dunia dengan CFR 79. dan lingkungan kebijakan (policy environment).2 Diskusi tentang pandemi influenza bukan lagi dalam konteks apakah akan terjadi atau tidak.3 Virus H5N1 lebih patogen daripada subtipe lainnya karena sangat mematikan bagi manusia sehingga disebut dengan highly pathogenic avian influenza (HPAI) disebabkan karakteristik virus yang sangat ganas. Meningkatnya kasus infeksi yang menyebabkan kematian pada manusia ini dikhawatirkan dapat berkembang menjadi pandemi. Penggunaan obat antiviral dimaksudkan untuk mencegah penularan lebih lanjut. Analisis komprehensif dengan melihat aspek-aspek di atas dilakukan dengan harapan secara tidak langsung dapat mencegah dampak yang lebih besar lagi dari kasus flu burung yang tidak hanya kesehatan hewan dan manusia yang dirugikan akan tetapi hampir berpengaruh pada semua sektor kehidupan. et al6 sebagai konteks (context). No.7%. perlu dilakukan eksplorasi untuk mendapatkan informasi secara mendalam terhadap sistem kebijakan (policy system) mengenai pengelolaan obat ini. tetapi kapan akan terjadi artinya WHO menyatakan bahwa pandemi memang akan kita hadapi. penyuluhan. Istilah lain dari komponen ini disebut oleh Buse. Padahal selama dekade terakhir ada beberapa obat antiviral yang telah ditemukan dan direkomendasikan oleh FDA Amerika (Food and Drug Administration) yaitu golongan M2 inhibitor (Amantadine dan Rimantadin hidroklorida) dan Neuraminidase inhibitors (Oseltamivir dan Zanamivir).

Pengamatan : ada dokumen penganggaran Oseltamivir Wawancara mendalam: Oseltamivir diperoleh dari bantuan luar negeri.000 berasal dari APBN. penelitian dokumen dan pengamatan mengenai kebijakan pengelolaan Oseltamivir di tataran Depkes dan di tingkat RS dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2. 500 kapsul untuk RS rujukan (Kecuali RSPI 5000 kapsul). serta peraturan dan dokumen-dokumen yang terkait dengan kebijakan pengolaan antiviral dalam pengendalian dan penanganan kasus flu burung. dinkes) boleh mengembalikan dan kemudian akan diganti dengan obat baru Penelitian dokumen: masih ada obat yang mendekati masa kadaluarsa Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat pengendalian dilakukan dengan menerapkan registrasi obat Penelitian dokumen: registrasi obat di BPOM Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. maka instansi yang menerima (RS. baru pada tahun 2006 didistribusikan seluruh provinsi. mulai tahun 2006 diproduksi BUMN Indonesia secara bertahap. Puskesmas. karena stok masih banyak Penelitian dokumen: di Renstra nasional FBPI.920. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian melalui wawancara mendalam. dan dianalisis dengan cara content analysis. anggaran penyediaan obat antiviral direncanakan 112 milyar. Penelitian dokumen: kebutuhan penyediaan Oseltamivir dihitung berdasarkan perkiraan sekitar 0. membeli dari BUMN Indonesia Pengamatan : ada laporan pengadaan Oseltamivir Wawancara mendalam: pada tahun 2005 distribusi hanya ke 8 provinsi. Untuk tahun 2007 ada anggaran Oseltamivir tapi belum dilakukan pengadaan. profil kesehatan dan Prosedur Tetap (Protap) di RS. Vol. No. dosis 1 x 75mg untuk profilaksis selama 7 hari Pengamatan : 6 dari 17 pasien diberi pengobatan Oseltamivir dengan dosis 2 x 150 mg Wawancara mendalam: jika Oseltamivir mendekati masa kadaluarsa. Realisasi anggaran untuk pengadaan Oseltamivir tahun 2006 adalah sebesar Rp225. Distribusi hanya ke instansi pemerintah dengan proporsi sama Penelitian dokumen: dilakukan secara top down dari Depkes. Hasil Penelitian Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir di Tingkat Depkes Variabel Perencanaan Penganggaran Pengadaan Pendistribusian Penyimpanan Penggunaan Penghapusan Pengendalian Hasil Penelitian Wawancara mendalam: tahun 2005 belum dibuat perencanaan. Pengamatan: tidak dijual bebas di apotek. 10. Pemilihan informan dilakukan secara purposive dengan mengacu pada prinsip kesesuaian (appropriateness) dan kecukupan (adequacy) karena terkait dengan substansi dan sesuai kebutuhan penelitian. dengan proporsi 100 kapsul untuk puskesmas.749. kartu stok obat di instansi RS yang diteliti. Buse K et al 6 . dan di-cross check dengan laporan penerimaan Oseltamivir.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan sistem kebijakan mulai dari Dunn WN5. Data sekunder diperoleh dengan cara telaah dokumen berupa data laporan pendistribusian Oseltamivir. 4 Desember 2007 183 . Pengumpulan data primer diperoleh dengan cara wawancara mendalam pada 10 orang informan kunci yang diambil dari berbagai level tingkatan administrasi sesuai dengan topik yang akan digali. membeli secara import.5%-1% dari total penduduk Indonesia akan terkena pandemi influenza Pengamatan : perencanaan pengadaan berdasarkan jumlah instansi kesehatan Wawancara mendalam: mulai tahun 2006 memasukan penganggaran untuk penyediaan Oseltamivir dengan memakai dana buffer obat. hanya instansi pemerintah yang menerima Oseltamivir. obat didapat dari bantuan luar negeri. dan Walt G 7 untuk menggali dan mensinkronisasikan pendekatan policy system dengan kebijakan yang terkait dengan manajemen pengelolaan Oseltamivir. Mekanisme pengadaan ke RS adalah Oseltamivir akan dikirim ke rumah sakit kalau ada permintaan Penelitian dokumen: Oseltamivir diperoleh dengan cara menerima bantuan (hibah). BTKL dan KKP di setiap provinsi menerima Oseltamivir dalam jumlah cukup banyak sekitar 1000–9000 kapsul Pengamatan: Stok Oseltamivir cukup banyak di BTKL dan Dinkes Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat Oseltamivir diberikan kepada pasien flu burung serta petugas kesehatan yang merawat pasien tersebut Penelitian dokumen: Oseltamivir untuk pengobatan diberikan dengan dosis 2 x 75 mg selama 5 hari untuk dewasa. import. Tabel 1. Setelah seluruh data telah terkumpul kemudian diverifikasi menggunakan metode triangulasi. Selanjutnya meneliti rekam medis pasien. ada laporan pendistribusiannya Wawancara mendalam: bufferstock di BTKL dan di Dinas Kesehatan Penelitian dokumen: Dinkes Provinsi/Kabupaten/Kota/. Mulai tahun 2006 dibuat perencanaan stockpiling 12 juta antiviral berdasarkan prediksi jumlah penduduk RI yang terkena pandemi.

sebab tingkat konsumsinya memang rendah. Kebutuhan penyediaan Oseltamivir dihitung berdasarkan perkiraan sekitar 0. Oleh karena itu strategi stockpilling dipilih sebagai salah satu langkah antisipasi pemerintah menghadapi kondisi darurat (upaya kesiapsiagaan menghadapi pandemi flu burung) dengan memperhitungkan jumlah kebutuhan berdasarkan pada prediksi persentase jumlah penduduk Indonesia yang akan terkena jika terjadi pandemi. Menurut Bowersox9 metode ini termasuk kategori fluctuation stock yaitu persediaan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat diramalkan (metode spekulasi). 4 Desember 2007 . No. yang mengakibatkan terjadinya penumpukan obat karena kebutuhan obat RS tidaklah sebanyak yang di-dropping oleh Depkes. 10. Jadi. Penyediaan Oseltamivir yang dihitung berdasarkan perkiraan banyaknya penduduk yang akan terkena pandemi. serta mengadopsi kebijakan dari beberapa negara lain yang disesuaikan dengan kemampuan finansial Indonesia. sehingga penyediaan Oseltamivir ini tidak berdasarkan kebutuhan pemakaian obat. Metode spekulasi di salah satu sisi bisa menguntungkan karena obat selalu tersedia di unit pelayanan kesehatan. biaya pemesanan dan pengangkutan menjadi lebih murah.. Untuk di RS mekanisme pangadaannya melalui teknik dropping langsung dari Depkes. diperkirakan Depkes harus menyiapkan sebanyak 11 juta – 12 juta obat antiviral sebagai stockpile.5%-1% dari total penduduk Indonesia akan terkena pandemi influenza.8 Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 220 juta jiwa. Keuntungannya adalah bisa mendapatkan potongan harga yang lebih banyak.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . Vol. Hal ini berbeda dengan obat lainnya yang dibuat perencanaan dan pengadaan secara triwulan berdasarkan pemakaian dan kebutuhan RS (evidences based). perlakuan penyimpanan disamakan dengan obat yang lain Penelitian dokumen: stok obat di gudang lebih banyak daripada di apotek Pengamatan : tata cara penyimpanan dengan sistem FIFO Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat bahwa pemberian Oseltamivir ke pasien tidak berdasarkan skoring tetapi dengan melihat kondisi klinis pasien suspek AI Penelitian dokumen: pasien harus diberikan terapi Antiviral sesegera mungkin.. berbeda dengan di Puskesmas yang harus berdasarkan sistem skoring Pengamatan: pasien suspek flu burung hari pertama masuk langsung diberi Oseltamivir Wawancara mendalam: terlebih dulu melaporkan apabila obat mendekati masa kadaluarsa kemudian akan mengembalikan ke Depkes Penelitian dokumen: sistem penghapusan obat bisa dilakukan dengan ensinerator Pengamatan: masih ada Oseltamivir yang mendekati masa kadaluarsa Wawancara mendalam: sebagian informan berpendapat bahwa Penilaian mutu obat dengan melihat fisik (morfologi) obat Penelitian dokumen: registrasi Oseltamivir diberikan melalui proses fast track Mulai tahun 2006 Depkes baru membuat perencanaan untuk penyediaan Oseltamivir melalui strategi stockpilling yaitu penyediaan obat dalam jumlah besar untuk menghadapi suatu keadaan kemungkinan terjadinya pandemi. hal ini relevan dengan dokumen Renstra Nasional FBPI. di sisi lain potensial akan terjadi pemborosan karena wilayah tanpa adanya indikasi 184 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Tabel 2. strategi ini dipilih karena pertimbangan kasus flu burung yang dihadapi merupakan kasus baru yang terus menunjukkan progresivitas angka kematian cukup tinggi dibuktikan dengan adanya peningkatan CFR. Bisa dikatakan bahwa kebijakan perencanaan Oseltamivir di RS yang diteliti belum dibuat berdasarkan data evidences jumlah kasus yang riil terjadi atau sesuai kebutuhan. sehingga faktor yang berpengaruh dalam membuat perencanaan untuk penyediaan Oseltamivir ini adalah jumlah seluruh penduduk Indonesia. Hasil Penelitian Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir di Tingkat RS Variabel Perencanaan Penganggaran Pengadaan Pendistribusian Penyimpanan Penggunaan Penghapusan Pengendalian Hasil Penelitian Wawancara mendalam: tidak membuat perencanaan permintaan Oseltamivir. penyediaannya tidak berdasarkan kebutuhan pemakaian obat Pengamatan: tidak ada dokumen perencanaan permintaan Oseltamivir Wawancara mendalam: tidak membuat menganggaran untuk Oseltamivir Pengamatan: tidak ada dokumen penganggaran Oseltamivir Wawancara mendalam: dengan cara dikirim langsung (dropping) dari Depkes Penelitian dokumen: menerima dropping Oseltamivir secara bertahap dari Depkes Pengamatan: Stok Oseltamivir dalam jumlah yang cukup banyak Wawancara mendalam: obat dikeluarkan dengan memakai metode FEFO Penelitian dokumen: Oseltamivir diterima secara bertahap Pengamatan: ada alur distribusi Oseltamivir hingga ke pasien Wawancara mendalam: sebagian besar Oseltamivir disimpan di bagian logistik (gudang) sebagai bufferstock kemudian didistribusikan ke pasien melalui apotek.

12 Selain itu Indonesia juga masih menerima bantuan obat tersebut dari WHO dan negara lain. juga karena dampak yang akan didapatkan dari tindakan promotif-preventif tersebut akan dirasakan manfaatnya dalam jangka waktu yang lama.15 Keadaan geografis dan demografis daerah di Indonesia yang khas akan membutuhkan sistem pendistribusian yang tepat agar merata. Perlu pemikiran dan penelitian lebih lanjut tentang cost effektiveness dari program kuratif penyediaan obat antiviral ini. juga harus memperhatikan metode pengepakan yang baik agar obat tidak rusak di jalan. diharapkan kebijakan pemerintah tentang perencanaan dan pengadaan obat antiviral harus memperhatikan faktor pola penyakit yang dominan.7 Dalam hal penganggaran. jumlah biaya yang tersedia.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan penyakit juga menerima stok yang pada akhirnya menyebabkan pembengkakan anggaran dan tentu saja menjadi tidak cost effective. Jadi jangan sampai pemerintah membuat program yang sia-sia dengan menyediakan obat antiviral karena obat tersebut hanya efektif apabila pasien dapat terapi 2 x 24 jam dari adanya gejala flu burung. Perencanaan kebutuhan obat merupakan salah satu fungsi yang menentukan dalam proses penyediaan obat. karena berdasarkan data dari Aditama TY14 dilaporkan bahwa rata-rata pasien flu burung yang datang ke rumah sakit setelah lebih dari 2 hari merasakan gejala flu burung. Padahal pengadaan merupakan titik awal dari pengendalian persediaan. Komitmen pemerintah menerima bantuan ini dilakukan karena memang membutuhkan obat tersebut. jika titik awal ini sudah tidak tepat maka pengendalian akan sulit dikontrol. No. 10. belum bisa mengakses obat ini secara lancar. yang bertujuan untuk menentukan jenis dan jumlah obat sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan. Dalam hal ini Depkes tidak melakukannya karena perhitungan volume pembelian hanya berdasarkan prediksi saja. Dalam kasus penyakit yang sudah jelas trendnya seperti demam berdarah. Walaupun tak dapat dipungkiri bahwa belanja obat memang merupakan bagian terbesar dari belanja kesehatan di seluruh negara di dunia13. sehingga lebih memprioritaskan pada upaya preventif sebagai salah satu upaya manajemen kasus berbasis wilayah yang salah satunya dengan melakukan manajemen faktor risiko dari penyakit. 4 Desember 2007 185 .12 Langkah antisipasi yang dapat dilakukan agar tidak terjadi penumpukan obat ini salah satunya dengan memperbaiki mekanisme penyediaannya. RS. Merupakan angka yang cukup besar dalam hal pengadaan barang. sehingga sebaiknya pemerintah juga memprioritaskan pada upaya promotif dan preventif dalam penanganan kasus flu burung ini selain biaya yang diperlukan jauh lebih sedikit daripada upaya kuratif.11 perlu ruang penyimpanan yang besar serta mengandung risiko kadaluarsa obat yang lebih tinggi. Dengan cara seperti ini perlu dipilih teknik yang tepat mulai dari kualitas transportasi seperti jalan dan alat angkut. Biaya yang sangat besar ini tentunya akan menjadi beban yang sangat berat bagi pemerintah pusat. puskesmas. poliklinik. Sistem pendistribusian Oseltamivir yang bersifat top down sentral dari Depkes bahwa untuk pendistribusiannya sampai ke tingkat Puskesmas dilakukan dengan bantuan pos. Otomatis apabila ada pasien yang suspeck flu burung maka pihak RS tidak bisa memberikan terapi obat antiviral Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. yaitu Depkes melihat dari RS mengajukan permohonan permintaan obat (pertanda stock mulai menipis). pemerintah tidak bisa sepenuhnya mengandalkan pada obat-obatan karena bagian yang terpenting dari hal ini adalah aspek pencegahan yaitu upaya penghentian penularan dari unggas ke manusia. Dalam hal ini. Program yang cenderung ke arah kuratif dan memakan banyak biaya ini perlu ditinjau ulang. sistem pendistribusian Oseltamivir yang diatur pemerintah belum merata sebab RS/poliklinik swasta. Adanya penyediaan stok yang berlebih cenderung menyebabkan pemborosan dalam pemakaian. Rasionalisasi antara pola produksi obat dan kebutuhan nyata harus ditingkatkan terutama agar dana untuk obat dapat digunakan secara lebih efisien. ataupun berupaya menghindari power negara pendonor jangan sampai menjadi unsur interest politik luar negeri yang sangat dominan.11 Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka dapat dirumuskan kebijakan pengadaan obat yang rasional. metode pengadaan dengan cara membeli biasanya didahului dengan perhitungan besarnya volume pembelian yang ditetapkan berdasarkan kebutuhan dalam satuan waktu dan kuantum unit masing-masing produk misalnya kebutuhan untuk mingguan atau 1 bulanan atau setahun. Vol. khususnya bagi RS swasta di daerah yang kurang informasi tentang cara mendapat obat tersebut. Namun seharusnya pemerintah lebih selektif lagi jangan sampai obat yang diterima sudah mendekati masa kadaluarsa.10 sehingga selain faktor jumlah penduduk. jumlah kebutuhan riil masyarakat. Depkes tahun 2006 harus menyediakan dana Rp200 milyar untuk membeli 16 jutaan kapsul Oseltamivir. selain juga untuk menjaga hubungan baik dengan negara pendonor. dengan alasan untuk efisiensi biaya dan tenaga. misalnya melalui sarana apotek.

perlu dicari jalan keluar untuk menghindari tingginya tingkat kadaluarsa obat ini. yang akan membahayakan pasien jika tetap dipakai. Hal yang harus dipahami agar tercapainya pengendalian persediaan11 adalah dengan menjaga keseimbangan pengendalian dan pembelian. sesuai kebutuhan dosis individu. tidak terjadi kekurangan maupun kelebihan stok. pasien dan masyarakat. harus berdasarkan indikasi yang jelas. sehingga semua permintaan konsumen dapat dipenuhi. Agar memberikan manfaat klinik yang optimal. Oleh karena itu. sehingga memudahkan masyarakat mengakses obat ini tapi tetap dengan resep dokter.16 Informasi tentang obat sebaiknya adalah yang didukung oleh buktibukti ilmiah yang berkaitan dengan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat. meningkatnya kegagalan pengobatan. Adanya obat yang kadaluarsa dan rusak akan merugikan instansi pemilik karena upaya penghapusan barang/obat akan memerlukan biaya yang cukup besar. Pola penggunaan obat yang tidak rasional dapat berakibat menurunnya mutu pelayanan pengobatan misalnya meningkatnya efek samping obat. Bila dikaitkan penggunaan obat yang rasional dengan acuan biomedicus context penggunaan obat yang rasional adalah kebutuhan obat sesuai dengan kepentingan kedokteran dan klinik. Pembuatan kebijakan pengelolaan obat antiviral dalam penanggulangan kasus flu burung di Indonesia 186 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Obat yang mendekati masa kadaluarsa tidak layak lagi dipakai sehingga perlu upaya penghapusan obat. efektif. Tingkat keamanan obat juga bisa dilakukan dengan memantau masa kadaluarsa. Adanya peningkatan dosis Oseltamivir pada pengobatan beberapa pasien flu burung. dan merupakan teknologi medis yang dibutuhkan. Obat mempunyai peran yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan. 16 Masalah-masalah yang timbul dalam penggunaan obat tidak semata-mata berkaitan dengan kurangnya informasi dan pengetahuan dokter.16 Maka penggunaan Oseltamivir di tempat penelitian ini belum termasuk kategori penggunaan obat yang rasional. Vol. Langkah pemecahan masalah ini salah satunya dengan memberdayakan apotek yang ditunjuk pemerintah untuk menyediakan Oseltamivir. kemudian registrasi obat sebelum beredar di masyarakat sehingga mutu obat terjamin. Hal ini juga diberlakukan pada obat kadaluarsa. No. keamanannya memadai.17 Hubungannya dengan Tamiflu yang merupakan obat jadi import yang telah disetujui beredar di negara lain. jangka waktu pemberian yang cukup.11 Sasaran utama pendaftaran obat adalah agar obat yang beredar hanya yang khasiatnya nyata. menurut prinsip kedokteran disebutkan bahwa tujuan pedoman pengobatan adalah meningkatkan mutu pelayanan melalui penggunaan obat yang aman. penanganan dan pencegahan penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat. misalnya promosi obat yang berlebihan atau kelemahan sistem regulasi yang ada. agar tidak ada kejadian keterlambatan menangani pasien AI. Selanjutnya terkait dengan khasiat nyata dari obat. paling aman. Akan tetapi. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) merupakan badan yang bertugas membuat informasi tentang obat yang mencakup indikasi.. meningkatnya resistensi obat. rasional dan juga dalam rangka efisiensi biaya pengobatan. bukan H5N1. paling ekonomis dan paling sesuai dengan sistem pelayanan kesehatan yang ada yang dianjurkan untuk digunakan. maka tetap harus didaftarkan melalui proses uji klinik di BPOM. sesuai dengan sasaran kebijakan umum di bidang obat.sehingga dapat memberikan manfaat klinik yang berguna bagi keperluan ilmu pengetahuan dan teknologi. yang disetujui (approved) pada saat obat diizinkan untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan untuk menghindari salah informasi tentang obat. 10. 4 Desember 2007 . salah satunya adalah dengan mengatur keseimbangan antara jumlah persediaan dengan jumlah pemakaian. keamanan yang resmi. sehingga informasi yang ada merupakan informasi yang telah ditelaah secara cermat berdasarkan data penelitian. tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan yang sudah mendalam dan perilaku pihak-pihak yang terlibat didalamnya. Hal ini tentu akan memperparah kondisi pasien karena tidak cepat ditanggulangi.. Selain itu. harga yang murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat luas. kualitasnya baik.16 Dikaitkan dengan kasus flu burung pada saat ini data penelitian tentang kemanfaatan dan keamanan penggunaan Oseltamivir baru efektif sebatas pada influenza biasa. sehingga hanya obat yang terbukti memberikan manfaat klinik yang paling besar.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . Apotek harus dijadikan ujung tombak pelayanan obat yang harus ikut mengamankan kebijakan penyediaan (penyimpanan) Oseltamivir secara merata. maka obat harus digunakan secara benar. sesegera mungkin karena obat tersebut tidak tersedia. Para pemberi pelayanan (provider) khususnya para dokter (prescriber) harus mengetahui secara rinci obat yang akan dipakai melalui informasi yang benar. hal ini dilakukan oleh prescriber dalam rangka meningkatkan manfaat ke pasien karena dosis yang selama ini dipakai pada umumnya belum menunjukkan perbaikan kondisi pasien. sehingga perlu penelitian lebih lanjut. obat yang sudah rusak. penggunaan dan cara penggunaan. maka perlu upaya pendaftaran obat.

2002. Yogyakarta.go. 15. Yenis S. 9. Republik Indonesia. 2000. No.D selaku Dosen Pembimbing di Departemen AKK FKM UI Depok yang banyak memberikan pencerahan dalam penulisan karya ini. 13. Walt. 2006. Open University Press. Depok. 7. William N. Donald J. WHO. H.MA. Vol. Cumulative Number of Confirmed Human Cases of Avian Influenza A/ (H5N1) Reported to WHO. 1998. Ini ditunjukkan dengan perencanaannya belum berdasarkan data evidences jumlah kasus riil yang terjadi pada RS karena pertimbangan kasus AI yang menunjukkan progresivitas angka kematian dan cenderung menimbulkan kepanikan masyarakat sehingga dipilih strategi stockpilling. Titiek E. KEPUSTAKAAN 1. Walt. Nicolas. Anief.who. Agar pihak RS memberikan rekomendasi kepada Depkes mengenai desain kebijakan pengelolaan obat antiviral yang sesuai dengan kondisi di RS. Avian Influenza. 2007. G.id/. 3. Rencana Strategis Nasional Pengendalian Flu Burung (Avian Influenza) dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza 2006-2008. Kebijakan pendistribusian Oseltamivir secara terbatas pada instansi pemerintah dapat menghambat akses unit pelayanan kesehatan swasta untuk memperoleh obat tersebut. Yogyakarta. Gajah Mada University Press. Pelayanana Kesehatan. 1995. Diakses pada 1 Februari 2007. Mays. diharapkan agar Depkes dalam pengelolaan Oselatamivir ini juga memberdayakan apotek yang ditunjuk untuk menyediakan obat tersebut sehingga selain mempermudah akses unit pelayanan kesehatan swasta lainnya dalam memperoleh obat tersebut dan bisa dijadikan stockpile. jumlah penduduk. Gill. 5. Aditama. Pusat Komunikasi Publik Depkes RI. Bandung. III (2). 12. Midian.int/entity/scr/disease/ avian_influenza/country/en. Manajemen Farmasi. 2005. 2005. Gadjah Mada University Press. 10. Bowersox. 2003.11 April 2007. Adisasmito. serta kondisi pertahanan dan keamanan yang ingin diciptakan dalam kesiapsiagaan menghadapi pandemi flu burung.depkes. Witwatersrand University Press. Modul Pendidikan : Manajemen Logistik dan Obat Rumah Sakit. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. Tjandra Yoga. Institut Darma Mahardika. M. 2. Dunn. 8. Kent. Johannesburg. Jakarta. 4. Sudah 79 Orang Meninggal Dunia Akibat Flu Burung. 2005. Health Policy : an Introduction to Process and Power. Avian Influenza A (H5N1) : Patogenesis. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 14. Jakarta. Kusumanto H. Tiga Dimensi Farmasi : Ilmu Teknologi. UCAPAN TERIMA KASIH Saya ucapkan terima kasih kepada dr. WHO. Wiku B. MSc.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kebijakan internasional dalam hal ini WHO 18 memegang peranan yang dominan yang menentukan arah kebijakan yang dibuat oleh Depkes RI. Bahan Seminar Pertemuan Nasional Penanggulangan Klinis Penanganan Flu Burung di Rumah Sakit. London School of Hygiene and Tropical Medicine. Manajemen Logistik 1 : Integrasi Sistem-Sistem Manajemen Distribusi Fisik dan Manajemen Material. WHO. MPH selaku Ketua PSKM FK Unsri dan kepada drh. http:// www. http://www. selain itu faktor lingkungan yang menjadi pertimbangan adalah faktor politik. Radji. Husnil Farouk. Selanjutnya. 1994. jumlah institusi kesehatan pemerintah. Pencegahan dan Penyebaran Pada Manusia. Kebijakan pengadaannya dengan teknik dropping dapat mengakibatkan terjadinya penumpukkan obat di RS yang diteliti.B. Hal ini dikarenakan obat hibah dari negara lain yang harus segera didistribusikan agar bisa terpakai mengingat masa kadaluarsanya yang relatif dekat. 6. Diakses pada 6 Juni 2007. Program Studi KARS Universitas Indonesia. Flu Burung. Majalah Ilmu Kefarmasian. Ph. KESIMPULAN DAN SARAN Kebijakan pengelolaan obat antiviral dalam penanganan kasus flu burung di RS rujukan di wilayah DKI Jakarta dibuat secara terbatas serta pada pelaksanaannya tidak mencakup pada keseluruhan lini yang memerlukan. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 10. dan Potensi Ekonomi. The World Health Report 2000–Health Systems : Improving Performance. Making Health Policy. Sirait. Buse. Moh. 11. Pengantar Analisis Kebijakan Publik edisi kedua. 2001. Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. serta perlu mengadakan suatu penelitian untuk membuktikan efektivitas penggunaan Oseltamivir terhadap H5N1 manusia. 4 Desember 2007 187 . 2006. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. pengaruh penanganan kasus flu burung di negara lain (sosial budaya). Bumi Aksara. Avian Influenza/Flu Burung di Indonesia.

2006.com. 10.. Hoffmann C.. WHO.Misnaniarti: Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir . Preiser W. WHO – Advice On Use Of Oseltamivir. 16. 17. 4 Desember 2007 . Jakarta. IONI : Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000. 17 Maret 2006. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 188 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. http://www. 2000. Vol. 18. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Depkes RI. Kamps BS. Influenza Report 2006.influenzaReport. No.

sedangkan data dalam bentuk file non database diperlukan penyepakatan konsistensi data untuk percepatan implementasi business intelligence. 4 Desember 2007 177 . the data still disperse and managed by each person who has responsible for it so the process of collecting information takes longer time and because of that. Kata Kunci: business intelligence. Conclusion: This research wants to give suggestions to management side to keep continue for socialization. menyimpan. The main informant in this research is Director. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 177 . Most of the data has already in the form of non manual report (81%). meanwhile data in form of non database file needed to get some constituency agreement to make the business intelligence implementation faster. 10. perubahan perilaku pelanggan. Currently. kapabilitas perusahaan serta kondisi pasar. multidimensional analysis. Results: The implementation of Business Preparation is deserved to do. menegaskan kebijakan sistem informasi yang berlaku. based on Malcolm Baldrige in D S Hospital in 2007. menganalisis dan menyuguhkan akses data untuk membantu petinggi perusahaan dalam mengambil keputusan. and competitor profile. now a day. Manager Representatif. penyiapan implementasi ABSTRAK Latar Belakang: Rumah Sakit Duren Sawit (RSDS) telah mengimplementasikan berbagai sistem manajemen mutu serta sistem lainnya. There are 147 variable of information level with most of information is in Processes management category in the key process of DS Hospital services. implementation preparation penelitian kualitatif. Kepala Bagian Tata Usaha serta Koordinator EDP. Mayoritas ketersediaan data sudah dalam bentuk nonlaporan manual (81%). The research sample which is used is qualitative research. Objective: To get information about implementation preparation of Business Intelligence. The data in manual report form has to be standardized so can be converted into database form. Head of Administration and also EDP coordinator. profil kompetitor serta kemampuan unggul lainnya. pola pembelanjaan. Hasil: Implementasi business intelligence telah layak untuk dilakukan.. Tujuan: Diperolehnya informasi mengenai penyiapan implementasi business intelligence dengan basis Malcolm Baldrige di RS DS tahun 2007. Spesifisitas business intelligence dibanding tingkatan sistem informasi lainnya adalah kemampuannya untuk melakukan analisis multidimensional. No. pelatihan sistem informasi. Keywords: business intelligence. so the monitoring has not known the trend. Representative Manager. Vol. Didapatkan sebanyak 147 variabel level informasi. Metode: Peneliti melakukan investigasi sistem dilanjutkan dengan analisis sistem untuk mengetahui kebutuhan informasi yang diperlukan. analisis multidimensi serta profil kompetitor. the effort of business intelligence implementation is about 15-35%. From all the process. Method: The researcher investigates system followed with system analysis to know about information which is needed. Saat ini penyajian datanya masih tersebar dari berbagai pintu dan sumber sesuai penanggungjawabnya sehingga pengambilan informasi memakan waktu yang lebih lama serta pemantauannya belum dapat menggambarkan tren. forecasting. Data dalam bentuk laporan manual perlu dilakukan standarisasi informasi sehingga bisa dikonversi menjadi bentuk database. dengan dominasi banyaknya informasi pada kategori Proces Managemen pada Proses Kunci Layanan RSDS. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.182 Artikel Penelitian PENYIAPAN IMPLEMENTASI BUSINESS INTELLIGENCE BERBASIS MALCOLM BALDRIGE IMPLEMENTATION BUSINESS INTELLIGENCEBASED ON MALCOLM BALDRIGE Raditya Asri Wisuda . emphasize the policy of available information management system. Informan kunci pada penelitian ini adalah Direktur. Dumilah Ayuningtyas Program Studi Kajian Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ABSTRACT Background: D S Hospital (RSSDS) has implemented many of quality management system and also another system.1 Howard Dresdner pada tahun 19892 pertama kali mendefinisikan business intelligence sebagai rangkaian aplikasi dan teknologi untuk mengumpulkan. visualisasi laporan. information system training. preferensi pelanggan. Dari keseluruhan proses. upaya implementasi business intelligencesaat ini berkisar antara 15-35%. Rancangan penelitian yang dipakai adalah PENGANTAR Informasi memainkan peranan penting dalam pengambilan keputusan dan sebagai sarana strategik untuk memberikan pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini disarankan kepada pihak manajemen untuk melanjutkan sosialisasi. Aplikasi business intelligence memungkinkan perusahaan untuk menganalisa perubahan tren pasar.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No.

namun akan kemudian naik lagi secara perlahan. b. mengharuskan seluruh karyawan untuk melakukan input data ke komputer. (3) desain. Siklus ini dipandang sebagai proses multilangkah yang disebut sebagai siklus pengembangan sistem informasi (information system development cycle) yang juga dikenal sebagai siklus hidup pengembangan sistem (system development life cycle). e. d. dicari informasi tentang kemungkinan business intelligence dalam penghematan biaya. (2) analisis. Manfaat berwujud 1) Pengaruh terhadap peningkatan penjualan Business intelligencememungkinkan perusahaan untuk menganalisa perubahan trend c. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa penyajian data yang cepat bermanfaat terhadap berkurangnya beban kerja karena informasi cukup diinput satu kali. pengurangan biaya alat tulis. kemampuan manajemen. Penyiapan implementasi business intelligence dilakukan dengan pola System Development Life Cycle (SDLC) yang terdiri dari 5 tahap (investigasi sistem. Investigasi sistem dilakukan dengan indepth interview. human resources focus. strategic planning. Sejak awal rumah sakit telah berhemat dengan menghindari posisi-posisi yang tidak efektif. No. modul remunerasi. 10. karyawan serta pihak lain yang mengoperasikan. ±110 client serta Local Area Network yang mencakup seluruh rumah sakit. implementasi sistem serta pemeliharaan sistem). peningkatan pendapatan dan keuntungan.. Langkah ini mencakup: (1) investigasi. Kelayakan operasional Merupakan kemauan. Namun peneliti membatasi penelitian pada investigasi sistem dan analisis sistem. Vol. process management serta business result. 4 Desember 2007 . tetapi untuk self assessment sebagai alat untuk membenahi sistem manajemen kinerja sehingga dapat survive.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . Dalam hal ini manfaat business intelligence lebih pada kepentingan internal RS DS. 3) Persyaratan pemerintah : persyaratan dan peraturan pemerintah bisa menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan sistem informasi. Kelayakan organisasi Kelayakan organisasional berfokus pada sebaik apakah dukungan sistem yang diusullkan terhadap prioritas bisnis strategis organisasi. 1) Dukungan manajemen: pada penyiapan implementasi business intelligence RS DS. karena salah satu modul yang ada. analisis sistem. Analisis dilakukan pada penyiapan implementasi business intelligence berbasis malcolm baldrige. terlihat bahwa manajemen memberi dukungan yang positif karena kehadiran business intelligence yang sudah dirasakan sudah menjadi kebutuhan manajemen. Banyak perusahaan menetapkan kriteria bukan untuk MBNQA semata. hemat waktu dan tenaga. data.5. Saat ini RS DS telah memiliki 4 buah server (web. bersaing. kemampuan dan kehandalan jaringan serta software di RS DS dalam implementasi business intelligence.3 Kriteria Layanan Kesehatan malcolm baldrige terdiri dari leadership. 2) Penerimaan karyawan: manajemen puncak berpendapat bahwa penerimaan karyawan sudah bagus.6 Model business intelligence RS DS dibuat dengan dasar Malcolm Baldrige. namun tetap dapat melalui verifikasi lintas unit. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa business intelligence dapat mendukung proses bisnis RS DS dengan sajian informasi yang terintegrasi sehingga analisa bisa dilakukan dengan cepat. Kelayakan teknis Kelayakan teknis menilai ketersediaan. unggul dan berkelanjutan. desain sistem. Kelayakan ekonomi Dalam kelayakan ekonomi. The malcolm baldrige criteria for performance excellence adalah sistem manajemen mutu yang berlaku di Amerika Serikat. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penyiapan implementasi business intelligence RS Duren Sawit 1. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif. domain dan proxy). 178 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. kemudahan pencarian dokumen. Pendekatan sistem digunakan untuk mengembangkan solusi sistem informasi. menggunakan dan mendukung sistem yang diusulkan.4. other customer and market. (4) implementasi dan (5) pemeliharaan. focus on patients. measurement analysis and knowledge management. Peningkatan biaya implementasi terjadi pada fase awal ketika investasi sistem informasi dilakukan dan akan menurun seiring berjalannya waktu. Tahap investigasi sistem a..

7% realtime dan sisanya bulanan. geografi. 10. sedangkan 37% lagi dalam bentuk file non database dan sisanya dalam bentuk laporan manual. kapabilitas perusahaan serta kondisi pasar. Business intelligence akan mewajibkan karyawan untuk melakukan input data yang menjadi tanggung jawabnya sehingga kedisiplinan akan meningkat. Vol. f. kemudian 40. jumlah pasien rawat jalan baru. BTO. 2.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan dalam pasar. Efek lain adalah dari sudut pandang balanced scorecard yang salah satunya memantau indikator kepuasan pelanggan dan jenis ini menjadi salah satu jenis informasi business intelligence RS DS. Keseluruhan 3. 2) Pengaruh terhadap biaya pemrosesan informasi dan efisiensi operasional Berkurangnya biaya pemrosesan informasi didapat dari berkurangnya beban kerja pengiriman dokumen lintas unit. Tabulasi silang (pelanggan. Kriteria strategic planning Didapat 27 variabel informasi yang keseluruhannya berasal dari balanced scorecard. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan serta pasien gawat darurat. Ketersediaan data saat ini seluruhnya masih dalam bentuk laporan manual dengan time interval update data setiap bulan. preferensi pelanggan. mayoritas sudah dalam bentuk database yaitu sebanyak 40. Pengaruh terhadap posisi kompetitif dan citra bisnis Rumah Sakit Duren Sawit (RS DS) merupakan rumah sakit daerah yang merintis implementasi business intelligence. 3). Sebanyak 37% informasi memerlukan profil kompetitor. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pertumbuhan hari perawatan.5%. other customer and market Dalam kriteria focus on patients.6% informasi yaitu pada jenis hasil survei kepuasan pelanggan. jumlah pasien lama. Manfaat tak berwujud 1). Untuk time interval update data. serta kebanggaan bekerja di RS DS. indikator-indikator mutu di input langsung ke komputer.2%. pola pembelanjaan. serta belum terdapat nilai standar untuk variabel ini. Pengaruh terhadap ketersediaan informasi. perubahan dalam perilaku pelanggan. kemampuan analisis serta pengambilan keputusan Rumah Sakit Duren Sawit (RS DS) telah menerapkan beberapa tools manajemen mutu yang memerlukan pemantauan yang akurat sehingga strategi yang dihasilkan selalu up to date dengan permasalahan yang ada. jumlah pasien rawat jalan baru. pertumbuhan hari perawatan. Pengaruh terhadap perbaikan layanan pelanggan Secara langsung business intelligence bisa memberi gambaran yang cepat mengenai titik-titik rawan dalam pelayanan untuk kemudian mengambil langkah dengan cepat terhadap masalah tersebut. masing-masing 18. 4). geografi maupun produk). komplain pelanggan. jumlah pasien lama. Keseluruhan wilayah datanya adalah unit SDM. customer satisfaction. kedisiplinan. yaitu pada jenis revenue growth. Pengaruh terhadap perbaikan moral karyawan Moral karyawan dalam hal ini diwujudkan dalam bentuk etos kerja.4% selanjutnya Keuangan dan SDM. 4 Desember 2007 179 . jumlah pasien lama. produk) diperlukan pada 29. waktu tunggu verifikasi dokumen. Mayoritas wilayah data di bawah unit Electronic Data Processing (EDP) yaitu sebanyak 44. Saat ini sebanyak 22. Kriteria focus on patients.2% informasi saja yang perlu dilakukan forecast yaitu revenue growth. Belum ada nilai standar untuk keseluruhan informasi. sehingga lebih memimpin dalam sistem informasi yang keseluruhan outputnya dimanfaatkan untuk membuat keputusan yang akurat baik untuk bahan informasi maupun marketing untuk meningkatkan penjualan. pertumbuhan hari perawatan. Dengan business intelligence. handling complaints dan customer loyalty. mayoritas tahunan sebanyak 48. 2). Dalam hal ketersediaan data. Tahap Analisis Sistem a. No.7%. jumlah pasien rawat jalan baru. Kriteria leadership Didapat 8 variabel informasi yang semuanya berasal dari perilaku utama staf RS DS. redundansi data yang sebetulnya sudah terdapat dalam sistem. profil pelanggan maupun tabulasi silang (pelanggan. Analisis kebutuhan informasi 1. other customer and market malcolm baldrige. didapat 8 variabel informasi yaitu built customer relationship management. sehingga siapapun yang berkepentingan terhadap informasi itu bisa langsung melihat sesuai dengan kewenanangannya. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan dan gawat darurat serta avarage length of stay. BOR. TOI serta AvLOS. Hal-hal tersebut bisa diminimalisir dengan business intelligence. Kesemuanya tidak memerlukan kebutuhan forecast. pertumbuhan rata-rata kunjungan pasien rawat jalan dan pasien gawat darurat.

PSC modules. profil kompetitor maupun tabulasi silang (pelanggan.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . Kapitalisasi Pengembangan Ide serta communication and skill sharing. Untuk time interval update data. 4 Desember 2007 . seluruhnya tiga bulanan kecuali sentralisir dan digitalisasi dokumen di MR yang time intervalnya realtime. wilayah data ada di bawah unit Public Service Center (PSC) Dalam hal ketersediaan data. sebanyak 84 variabel informasi. keberadaan business intelligence akan sangat membantu untuk mengambil keputusan yang tepat dari keseluruhan informasi tadi. K3). keseluruhan jenis kapitalisasi pengembangan ide serta communication and skill sharing intervalnya bulanan. keseluruhannya dalam bentuk file non database. analysis and knowledge management Dalam kriteria measurement. pelayanan pasien narkoba dan pelayanan pasien nonjiwa. Ini menunjukkan standarisasi informasi yang telah berjalan dengan baik. 5. waktu layanan rawat jalan 40 menit. geografi dan produk) diperlukan pada jenis kepuasan pelanggan 80% pada pelayanan pasien jiwa. Tabulasi silang (pelanggan.. Dalam hal ketersediaan data. Keseluruhan jenis tidak memerlukan forecast kecuali pada satu jenis yaitu peningkatan pertumbuhan 30% per tahun dalam 5 tahun. Nilai standar belum terdapat pada keseluruhan jenis. profil kompetitor maupun 4. Kriteria human resources focus Dalam kriteria human resources focus malcolm baldrige. angka kejadian malpraktik 0%. response time layanan IGD <2 menit 95%. six sigma. geografi. Sebanyak 92. Kriteria business result Kriteria business result malcolm baldrige terdiri dari dua jenis yaitu performance management dan human resources competencies. Informasi sebanyak ini dengan berbagai atributnya merupakan hal yang cukup kompleks. Untuk time interval update data. Kriteria process management Dari keseluruhan kriteria process management malcolm baldrige terdapat 84 jenis informasi yang keseluruhannya terdiri dari 6 kelompok yaitu proses kunci layanan kesehatan RSDS. sehingga akan dapat memudahkan pengguna business intelligence untuk mendapatkan informasi yang luas pada kategori ini sehingga akan memberikan lebih banyak alternatif pertimbangan pada pengambilan keputusan. 7. Untuk time interval update data. geografi.1 karena kesamaan informasinya. produk). 10.1%. Untuk CBHRM. serta peningkatan pertumbuhan 30% per tahun dalam 5 tahun. kapitalisasi pengembangan ide di bawah unit MR serta communication and skill sharing sifat wilayah datanya spesifik unit pelayanan.8% kemudian rawat inap sebanyak 11. No. didapat 13 variabel informasi yang terdiri dari 3 kelompok besar yaitu Competency Based Human Resources Management (CBHRM).. didapat lima variabel informasi yaitu services modules. tabulasi silang (pelanggan. produk). Jumlah variabel informasi yang diperoleh peneliti pada penelitian ini mencapai 147 variabel. infeksi nosokomial <5%. keseluruhannya dalam bentuk file non database kecuali psychiatry departement report yang belum tersedia. Tidak ada informasi yang memerlukan forecast. angka kejadian medical error 0%. Keseluruhan wilayah data ada di bawah unit EDP. dimana 65 variabel diantaranya berasal dari proses kunci layanan RS DS. OHSAS 18001 (patient safety. kebutuhan jam training per orang per tahun serta pay for performance) dalam bentuk file non database. GKM dan 5R. Vol. QMS ISO 9001:2000. seluruhnya bulanan. attending system modules. 3 jenis sisanya (training gap. Jumlah variabel informasi terbanyak ada pada kriteria malcolm baldrige process management. 6.9% data time interval update-nya adalah tiga bulanan. sedangkan jenis seleksi yang merupakan bagian dari CBHRM data sudah tersedia dalam bentuk database. kecuali sentralisir dan digitalisasi dokumen MR berada di bawah MR. Mayoritas ketersediaan data sudah dalam bentuk file non database yaitu sebanyak 82. Tidak ada informasi yang memerlukan forecast. Profil kompetitor diperlukan pada jenis waktu layanan registrasi 5 menit. keseluruhan wilayah data ada di bawah unit SDM. Keseluruhan data sudah memiliki nilai standar.5%. sedangkan jenis seleksi yang merupakan bagian dari CBHRM seluruhnya realtime dan sisanya interval tiga bulanan. Dalam hal ketersediaan data. analysis and knowledge management malcolm baldrige. dan keduanya digabung ke poin 5. waktu layanan RJ umum 10 menit. Nilai standar ada pada jenis product information dan handling complaints. psychiatry departement report serta sentralisir dan digitalisasi dokumen di Manager Representative (MR). keseluruhan jenis kapitalisasi pengembangan ide serta communication and skill sharing masih dalam bentuk laporan manual. Nilai standar belum terdapat pada keseluruhan jenis. 180 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Terdapat 19 wilayah data dan yang terbanyak adalah di bawah unit MR sebanyak 23.9% dan IPSRS sebanyak 9. Kriteria measurement.

2. maka tingkat kesiapan paling tinggi adalah ketersediaan data dalam bentuk database. sudah 81% data tersedia dalam bentuk laporan non manual. Vol. ketersediaan data dalam bentuk non laporan manual yang cukup besar (81%) akan sangat membantu percepatan business intelligence. sehingga kesiapannya cukup tinggi untuk dikonversikan ke dalam business intelligence. kesiapan untuk dilakukan data mining menjadi cukup tinggi. karena akan melewati beberapa masalah seperti ketidakkonsistenan primary key. Jika dilihat secara keseluruhan. Transform. Kriteria business result sudah tercakup dalam kriteria-kriteria lain. upaya penyiapan implementasi business intelligence RS DS telah mencakup 15% . Ditinjau dari segi kelayakan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. kesiapan untuk fitur reporting menjadi cukup tinggi. mengingat variabilitas format informasi yang tersedia (database 16%. ketersediaan data dalam bentuk selain database membutuhkan lagi langkah yang lebih panjang yaitu melalui proses Extract. Ketersediaan data dalam bentuk database baru mencakup 16% dari keseluruhan data dengan kontributor terbesarnya adalah balanced scorecard dalam kriteria strategic planning. Namun ketersediaan data dalam bentuk file non database tetap lebih baik dibandingkan bentuk manual. Bentuk file non database tetap dimungkinkan untuk diintegrasikan ke dalam business intelligence. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Secara keseluruhan. Secara keseluruhan. wilayah data manager representative dan public service center perlu diintervensi lebih lanjut untuk menyediakan data dalam format database. ketidakkonsistenan nilai data. Variabel informasi yang didapat termasuk kompleks. 5. kemudian selanjutnya file database dan laporan manual. Data integration Dalam konteks business intelligence RS DS.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Dari segi ketersediaan data. Tahapan analisis sistem yang menghasilkan analisis kebutuhan informasi mencakup 10%-20% dari total upaya untuk mengembangkan sebuah sistem informasi. sinonim dan homonim serta logika proses. sehingga lebih menunjang kesiapan implementasi business intelligence. nilai data yang tidak akurat. Manajemen dapat mengungkap korelasi bermakna antar data yang tersembunyi sebelumnya. 10. 4 Desember 2007 181 . Dari ketersediaan data tersebut. 3.35% dari keseluruhan tahapan system development life cycle. penelitian penyiapan implementasi business intelligence di RS DS sudah mencakup sekitar 15%-35% dari keseluruhan upaya pembuatannya. masih diperlukan sekitar 65%-85% lagi untuk mencapai implementasi business intelligence secara keseluruhan dan proses ini melibatkan lebih banyak pihak lagi dalam penyusunannya agar menghasilkan suatu informasi yang bernilai tinggi bagi RS DS. format data yang berbeda-beda. seperti juga halnya data integration di perusahaan lain. SDM dan electronic data processing. Namun. belum tersedia <1%). Data mining Dengan banyaknya variabel data yang tersedia (147 variabel data). Load (ETL) yang lebih lama dibanding data bentuk database. Penyiapan Implementasi Ditinjau Dari Development Life Cycle System Upaya untuk melakukan tahap investigasi sistem yang menentukan tingkat kelayakan implementasi sistem informasi mencakup sekitar 5%-15% dari keseluruhan tahap. Dashboard Kesiapannya sama dengan kesiapan fitur reporting yaitu cukup tinggi. sedangkan kriteria lainnya selain business result masih perlu lebih dirinci lagi. Analysing Dengan kelengkapan variabel data yang dimiliki RS DS. implementasi business intelligece RS DS sudah cukup layak untuk dikembangkan. keberadaan business intelligenceakan sangat membantu peroses pengambilan keputusan. Kriteria yang mendominasi adalah process management pada variabel Proses kunci layanan RSDS. lalu file non database dan laporan manual. kesiapan untuk data integration menjadi suatu tantangan besar. Lebih dari separuh ketersediaan data adalah dalam bentuk file non database. laporan manual 19%. membedakan business intelligence dengan sistem informasi manajemen lainnya. file non database 65%. Fitur business intelligence Tipe-tipe analisa informasi berikut merupakan fitur yang disajikan oleh business intelligence yang sifatnya unik. jika memperhatikan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pengolahan data. 4. Jika dilihat dari upayanya. Tiga wilayah data terbanyak adalah manager representative. 1. No. tingkat kesiapan analisis cukup tinggi. Reporting Dengan telah diidentifikasikannya kebutuhan data dalam bentuk matriks hasil penelitian.

Leman. Iskandar. Jakarta. 1998. 2. New Jersey. Boston. Telkom Training Center dan Wahana Kendali Mutu. McGraw-Hill. 2006. Atre. 2005. Bunga Rampai Kriteria Bisnis Malcolm Baldrige National Quality Award (MBNQA). 2003. Vol.6(1) Juni :140-144. Prentice Hall. Saran Sosialisasi penggunaan sistem informasi serta pelatihannya perlu dilakukan terus. Knowledge management yang sudah ada terus dikembangkan dan disentralisir dalam wadah aplikasi business intelligence untuk memudahkan evaluasi serta update informasi-informasi terbaru yang terus berkembang. Masing-masing penanggung jawab wilayah data menuangkan variabel informasinya dalam bentuk informasi yang terstandar menjadi bentuk database.. New York. Edisi II. Management Information System. Business Intelligence Roadmap.Raditya & Dumilah: Penyiapan Implementasi Business Intelligence . 3. Mc Leod. KEPUSTAKAAN 1. Introduction to Information Systems. Business Intelligence. Elex Media Komputindo. Bagi informasi yang ketersediaan datanya masih dalam bentuk file non database. Melibatkan pemakai akhir dari mulai untuk menentukan persyaratan fungsional untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam implementasi sistem. Meneruskan tahapan system development life cycle pada tahap desain sistem. 4. Hal ini dilakukan untuk mempercepat implementasi dan mendapat manfaat optimal dari business intelligence. 2007. 12th ed. utamanya bagi wilayah data yang mayoritas informasinya masih dalam bentuk laporan manual.. dan gagasamanajemen terhadap sistem yang digunakan juga sangat diperlukan. O Brien. diperlukan kesepakatan mengenai konsistensi data untuk mempercepat implementasi business intelligence. Moss. 1998. Larissa T. Metodologi Pengembangan Sistem Informasi. Catur. Shaku. 4 Desember 2007 . Pearson Education. 10. Gambar 1 . No. dan implementasi sistem lalu selanjutnya pemeliharaan sistem untuk percepatan implementasi business intelligence RS DS. 5. Sadikin. 6. Penyiapan Implementasi Business Intelligence 182 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. Ketaatan input data karyawan disertakan dalam sistem remunerasi yang saat ini sudah berjalan. CHIP Magazine. Perlu dilakukan percepatan implementasi business intelligence untuk mendapatkan manfaat optimalnya. Peningkatan motivasi internal para karyawan tentang pentingnya implementasi sistem informasi di lingkungan rumah sakit serta keuntungan positif apa saja yang akan diperoleh karyawan dengan sistem informasi tersebut akan membawa dampak positif bagi kemajuan implementasi di luar pelatihan-pelatihan yang sudah rutin dilakukan saat ini.

Participants obtained were 32 respondents. the work time didn’t have correlation with the midwives performance. The good performance of midwives were caused by the sufficient knowledge (84.3%). 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 195 . adequate skill (83. Nurhamsa Mandak2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Namun demikian. and the health office at district must provide the minimal kit midwives.3%). 10. a midwife must have the high motivation which drives them to give the better service to patients. giving incentive/rewards to them by the head of Puskesmas to improve their performance. Results and Conclusion: Knowledge. Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006. Metode: Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bidan yang bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan. Nurhayani1.4%) and adequate motivation (91. seorang bidan harus mempunyai motivasi yang tinggi yang mendorong mereka dapat memberikan PENGANTAR Masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan masalah nasional yang perlu mendapat prioritas utama karena sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pada generasi mendatang. jam kerja. menunjukkan bahwa pelayanan KIA sangat mendesak untuk ditingkatkan baik dari segi jangkauan maupun kualitas pelayanannya. Makassar 2 Puskesmas Tual.3%). kinerja ABSTRAK Latar belakang: Program penempatan bidan desa pada umumnya dipengaruhi oleh kemampuan dan keterampilan bidan desa itu sendiri. serta lambatnya penurunan kedua angka tersebut. Sementara jam kerja tidak berhubungan dengan kinerja bidan. Sample were all the midwives staff giving the midwifery service and working at Puskesmas Tual and Un at the Sub District of South Dullah Island. Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006. Maluku Tenggara 1 ABSTRACT Background: The placement program of village midwives is mostly influenced by the capability and skill of village midwives. Recommendation: The research suggests that to improve the knowledge of midwives about the equipment use and reporting their task. skill. Rekomendasi: Penelitian ini menyarankan bahwa untuk meningkatkan pengetahuan bidan tentang penggunaan alat dan sistem pelaporan. Jenis penelitian ini adalah obeservasi dengan pendekatan cross sectional study. No. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin.4%) dan motivasi cukup (91. motivasi. the head of Puskesmas is better to do the continuously observation about the filing of report format and the using of equipment. memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengikuti pelatihan secara terus menerus serta memberikan insentif untuk meningkatkan kinerja bidan. motivation. giving training continuously to all midwives. Sample adalah keseluruhan dari jumlah populasi sebanyak 32 orang. South East Maluku Regency for year 2006.2 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. keterampilan. 307/100. waktu kerja sekitar lima tahun (71. Vol. Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). sedangkan AKB di Indonesia sebesar 35/1000 kelahiran hidup dan yang terendah adalah Singapura yaitu 3/l00 kelahiran hidup. Therefore a midwife has to have adequate knowledge about the midwifery particularly obtained from the formal and non formal education.000 kelahiran hidup pada tahun 2002.0%). Nevertheless. Kepada Kepala Dinas kesehatan diminta untuk menyediakan kit bidan agar dapat menjalankan tugas mereka lebih baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja bidan di Puskesmas Kecamatan Pulau Dullah Selatan.200 Artikel Penelitian DETERMINAN KINERJA BIDAN DI PUSKESMAS TAHUN 2006 DETERMINANT OF MIDWIVES PERFORMANCE AT PUBLIC HEALTH CENTRE AT 2006 Sukri Palutturi1. Kinerja bidan yang baik dipengaruhi oleh pengetahuan yang cukup (84. Hasil dan Kesimpulan: Pengetahuan. keterampilan cukup (83.0%). 4 Desember 2007 195 . work time. Meanwhile. Kata Kunci: pengetahuan.3%). South East Maluku regency for year 2006. The objective of this research is to determine factors correlating with the midwives performance at Puskesmas of South Dullah Island Sub District.1 Negara kita AKI masih menduduki urutan tertinggi di negara ASEAN.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. kepala Puskesmas sebaiknya melakukan observasi secara regular. South East Maluku Regency for year 2006. Methods: Population of this research were all the midwives staff working at Puskesmas Tual and Un at the Sub District of South Dullah Island. work time about five years (71. The type of this research is observational research by using the cross sectional study approach. Seorang bidan harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kebidanan khususnya yang diperoleh dari pendidikan baik formal maupun non formal seperti pelatihan. such as training. keterampilan dan motivasi mempunyai hubungan dengan kinerja bidan. Keywords: knowledge. performance pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada pasien. skills and motivations correlate with the performance of midwives.

6 (Profil Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara).829 atau 62% cakupan TT1 27. 4 Desember 2007 . standar untuk cakupan Kl yaitu minimal 90% dan K4 minimal 80%. Untuk itu sejak tahun 1990 telah ditempatkan bidan di desa yang pada tahun 1996 telah mencapai target 54. Tindakan (KI-K4) yang diberikan oleh petugas kesehatan (bidan) pada saat pemeriksaan kehamilan seorang ibu di pusat pelayanan kesehatan (puskesmas) akan banyak berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya karena dengan pemeriksaan yang lengkap akan mudah mendeteksi kelainan .. Selain itu. No. seperti pelatihan. sehingga dengan demikian dapat memberikan dampak yang positif sesuai dengan bidang ilmu yang dimilikinya. Kesehatan ibu hamil dapat dicapai bila kehamilan diperiksa secara teratur dan risiko yang ditemukan ditangani secara memadai.829 atau 62% cakupan Fe1 27.47%)dan Fe3 (63.4 Jadi pengetahuan dapat diartikan sebagai hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan pada objek tertentu. sedangkan target Internasional AKI di bawah 125/100. dan AKB terbanyak di Kabupaten Maluku Tenggara sebanyak 45/kelahiran hidup dengan cakupan KI 27. Namun bidan di desa yang sudah ditempatkan belum didayagunakan secara optimal dalam upaya menurunkan AKI dan AKB.120 bidan di desa.sekunder dan tertier.2 Salah satu upaya yang dilakukan Departemen Kesehatan dalam mempercepat penurunan AKI adalah mendekatkan pelayanan kebidanan kepada setiap ibu yang membutuhkannya.45%). dkk. 10.408 atau 62% dan Fe3 2871 atau 52% cakupan TT1 3.5 Di Kabupaten Maluku Tenggara yang terdiri dari 17 puskesmas dengan cakupan K1 3. penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia yaitu indera penglihatan.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas .Sukri Palutturi.000 kelahiran hidup tahun 2005 dan 75/100.1 Keberhasilan seseorang dalam mewujudkan tujuan dan harapannya sangat ditentukan oleh masa kerja yang dimiliki.10%). Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek. penciuman rasa dan raba.000 kelahiran hidup menjadi 20/1000 kelahiran hidup. Masih tingginya AKB dan AKI menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan masih belum memadai dan belum menjangkau masyarakat banyak. Vol.000 kelahiran hidup tahun 2015.Untuk itu diperlukan tenaga bidan yang memiliki kualitas profesional yang dapat memberikan pelayanan kebidanan yang efektif dan efisien serta berkualitas yang akhirnya dapat membantu memperbaiki dan meningkatkan kesehatan masyarakat dengan berorientasi pada upaya-upaya pencegahan baik pencegahan primer.10%) dan TT2 (78. dan AKI terbanyak di Kabupaten Maluku Tenggara sebanyak 10/kelahiran hidup. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan merupakan sekumpulan bahan yang luas dengan hal-hal yang terperinci yang tetap dipelajari sebelumnya serta mengingatkan hal tersebut sebagai bahan yang sudah diketahui. Selain itu seorang bidan juga harus memiliki motivasi yang tinggi sehingga timbul dorongan dalam dirinya untuk memberikan pelayanan kebidanan yang baik kepada pasien. disiplin dan motivasi tenaga bidan yang tinggi dalam pelayanan kebidanan bagi masyarakat merupakan harapan bagi semua pengguna pelayanan kebidanan. pendengaran.719 atau 80% dan K4 22.72%) dan K4 (75.kelainan yang mungkin terjadi pada saat kehamilan atau menjelang kelahiran. AKB pada tahun 2005 sebanyak 82/100.829 atau 62%.66%).719 atau 80% dan Fe3 22. Seseorang bidan dituntut untuk menggunakan kemampuan dalam berbagai aspek kehidupan khususnya dalam memberikan pelayanan pada pasien. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa hampir semua desa di wilayah Indonesia mempunyai akses untuk pelayanan kebidanan. dan cakupan TT 1 (85. khususnya dipedesaan.408 atau 62% dan cakupan TT2 2871 atau 52%. dan AKB menjadi 15/1000 kelahiran hidup. bayi dan anak balita.000 kelahiran hidup menjadi 225/100.408 atau 62% dan K4 2871 atau 52% cakupan Fel 3. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga baik melalui pendidikan formal maupun non formal. Untuk itu diperlukan suatu instrumen untuk memantau kinerja bidan di desa.000 kelahiran hidup.3 Penempatan bidan di desa adalah upaya untuk menurunkan AKI. cakupan tablet Fel (77.5 Berdasarkan laporan yang ada pada Dinas Kesehatan di Provinsi Maluku dari 5 Kabupaten Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2005 sebanyak 36/100.719 atau 80% dan TT2 22.000 kelahiran hidup. Oleh karena itu. Peningkatan kesehatan ibu dan bayi di Indonesia adalah salah satu komitmen Departemen Kesehatan melalui penerapan rencana pengurangan angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi dan target untuk menurunkan AKI dari 307/100. Di 196 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan..000 kelahiran hidup dan AKB dari 35/100. Keberhasilan program penempatan bidan di desa sangat dipengaruhi kemampuan dan keterampilan bidan di desa di samping faktor lingkungan dan faktor kebutuhan masyarakat itu sendiri. seorang bidan harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai keperawatan khususnya kebidanan baik yang diperoleh melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Secara nasional tahun 1999 K1 (92.

untuk cakupan pemeriksaan ibu hamil atau KI sebesar 70. Vol. Kedua: deskriptif variabel penelitian yaitu variabel independen mengenai pengetahuan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kecamatan Pulau Dullah Selatan (Puskesmas Tual dan Un). tabulasi silang antara variabel independen dengan variabel dependen. Tabel 1. sedang dari 8 responden dengan keterampilan kurang Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Penelitian dilaksanakan mulai bulan April 2006 sampai dengan bulan Mei 2006. Untuk lebih memperjelas hasil pemaparan penelitian maka dibagi dalam tiga bagian yaitu pertama: karakteristik responden untuk mendeskripsikan karakteristik responden yaitu tingkat pendidikan dan umur. Hubungan keterampilan dengan kinerja bidan Tabel 2 menunjukkan dari 24 responden (75. keterampilan. Hal ini berarti ada hubungan antara pegetahuan dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. A. sedangkan dari 7 responden dengan pengetahuan yang kurang terdapat 1 responden (14.14% dan cakupan TT2 65%.10% dan cakupan Fe 3 65% sedangkan cakupan TT 1 70. cakupan Fe l 60.14% dan cakupan K4 65%. 4 Desember 2007 197 . keterampilan. Ketiga. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0. Data sekunder diperoleh dari laporan cakupan program KIA (PWS KIA) Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.8 10 31. masa kerja. Metode pengumpulan data Data ini diperoleh dengan cara observasi atau pengamatan terhadap kegiatan pemeriksaan ibu hamil yang dilakukan oleh tenaga bidan.1%) dengan pengetahuan yang cukup terdapat 21 responden (84.0%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (16.5). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kinerja tenaga bidan dalam pelaksanaan standar pelayanan kebidanan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan tahun 2006. Total sampel yang diperoleh sebanyak 32 bidan.0 4 16. dilakukan dalam bentuk cross tabel dan narasi. Sampel adalah semua tenaga bidan yang melakukan pelayanan kebidanan dan bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006.0 1 14.7%) memiliki kinerja kurang.0%) memiliki kinerja kurang.3 6 85.0%) dengan keterampilan yang cukup terdapat 20 responden (83. No. Hubungan pengetahuan dengan kinerja bidan Tabel 1 menunjukkan dari 25 responden (78.9 100 Sumber : Data Primer B. motivasi dan kinerja bidan di Puskesmas Tual dan Un Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 Pengetahuan Cukup Kurang Total Kinerja Baik Kurang n % n % 21 84. Hasil dari penelitian diuraikan pada tabel dan penjelasan berikut. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan antenatal belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Penyajian data yang telah diolah.7 22 68. Populasi dan sampel Populasi adalah semua tenaga bidan yang bekerja di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006 dengan total sampel sebanyak 32 bidan.000 ( p< 0. yaitu dengan menggunakan komputer (program SPSS versi 11. 10. Cakupan K1 ini dapat menggambarkan tingkat upaya kesehatan ibu dan anak dan perilaku kesehatan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya.7%) memiliki kinerja kurang. di Puskesmas Tual dan Un Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. masa kerja dan motivasi dan variabel dependen yaitu kinerja.05 ) maka Ho ditolak. Besar sampel sebanyak 32 responden bidan dengan menjawab pertanyaan yang diberikan pada kuesioner.3%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (16. Pengolahan dan penyajian data Pengolahan data dilakukan dengan cara elektronik.3 Total n 25 7 32 % 78.1 21. Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan pada Puskesmas Tual dan Un Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara dengan pertimbangan belum pernah dilakukan penelitian tentang kinerja tenaga bidan di lokasi tersebut.7 Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan pendekatan Cross Sectional Study7 untuk mengetahui hubungan pengetahuan.3%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (85.

000 (p< 0. Hubungan Keterampilan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 hubungan antara Motivasi dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.0%) memiliki kinerja kurang.8 Kurang n % 6 4 10 28.0 25.0%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (75.0 22 68. mengamati atau diajar sejak lahir sampai dewasa. Vol.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas .6%) memiliki kinerja kurang.05 ) maka Ho ditolak.4%) memiliki kinerja kurang.0%) yang mempunyai kinerja kurang. No.9%) memiliki kinerja kurang. faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja meliputi faktor individu keterampilan.3 n 21 11 32 Total % 65.4%) memiliki kinerja baik dan 6 responden (28.9 9 28.05) maka Ho diterima. Tabel 2.652 (p> 0.6 68.6 36. Tabel 4.4 63.7%) memiliki kinerja kurang. sedang dari 11 responden dengan masa kerja yang tidak lama terdapat 7 responden (63.9 Kurang 1 11. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.1 Total 22 68. terdapat 2 responden (25. adanya motivasi yang kuat merupakan pendorong yang memadai serta adanya kepemimpinan dan bidan itu sendiri.0%) yang memiliki kinerja yang baik sedangkan dengan pengetahuan yang kurang menyebabkan 4 bidan (16.8 10 31. Dalam penelitian ini. Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi. khususnya setelah diberikan pendidikan formal maupun non formal.7 23 71.3 2 8.3%) memiliki kinerja baik dan 2 responden (8. Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2006 Masa Kerja (Tahun) Lama (> 5 tahun) Tidak Lama (< 5 tahun) Total Kinerja Baik n 15 7 22 % 71. Hasil uji statistik menunjukan bahwa ada hubungan antara Sumber : Data Primer d. Hal ini berarti ada 198 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Sukri Palutturi.3 32 100 Sumber : Data Primer Keterampilan Cukup Kurang Total Kinerja Baik Kurang n % N % 20 83. menyaksikan.0 100 Sumber : Data Primer C. sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing. Hasil penelitian terhadap kinerja bidan pada bagian sebelumnya memberikan acuan untuk membahas keempat faktor tersebut terhadap kinerja. Hasil penelitian menunjukkan dengan pengetahuan yang baik sebanyak 21 bidan (84. Untuk kinerja bidan maka faktor yang paling berpengaruh dan merupakan faktor kunci untuk mencapai hasil kerja yang baik harus memiliki kemampuan dan keterampilan yang baik.6%) dengan masa kerja yang lama terdapat 15 responden (71.4 31. 4 Desember 2007 . Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.002 ( p< 0. Hasil uji statistik dengan Yate’s Corection diperoleh nilai p = 0.9%) dengan motivasi yang cukup terdapat 21 responden (91. Hubungan Motivasi dengan Kinerja Bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2006 Kinerja Total Motivasi Baik Kurang n % n % n % Cukup 21 91.1 8 88. Hubungan masa kerja dengan kinerja bidan Tabel 3 menunjukkan dari 21 responden (65.3 Total n 24 8 32 % 75. Tabel 3. Hal ini berarti ada hubungan antara keterampilan dengan kinerja bidan di puskesmas wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal.0 6 75.3 4 16.05) maka Ho ditolak. 10.. Hubungan motivasi dengan kinerja bidan Tabel 4 menunjukkan dari 23 responden (71. faktor organisasi yang terdiri dari: kepemimpinan dan struktur imbalan/kompensasi serta faktor-faktor psikologis yang meliputi: motivasi dan kepuasan kerja.9 Kinerja seseorang terkait erat dengan proses kerja dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.6%) memiliki kinerja baik dan 4 responden (36. 1. Pembahasan lebih lanjut sebagai berikut.8 10 31.7 2 25.6 34. tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral atau pun etika.. sedang dari 9 responden dengan motivasi yang kurang terdapat 1 responden (11. dkk.4 100 PEMBAHASAN Kinerja adalah penampilan hasil kerja personal baik kualitas maupun kuantitas dalam suatu organisasi.1%) memiliki kinerja baik dan 8 responden (88. Hal ini berarti tidak ada hubungan masa kerja dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. Pengetahuan dengan kinerja bidan Pengetahuan adalah apa yang diketahui dan mampu diingat oleh setiap orang setelah mengalami.

Motivasi dengan kinerja bidan Motivasi adalah kesiapan khusus seseorang untuk melakukan atau melanjutkan serangkaian aktivitas yang ditujukan untuk mencapai beberapa sasaran yang telah ditetapkan. Saran Diharapkan kepala Dinas Kesehatan Kabupaten untuk memberikan pelatihan secara kontinyu kepada semua bidan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pulau Dullah Selatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan bidan dalam menerapkan standar pelayanan kebidanan yang baik.1%). Hal ini disebabkan pelatihan memiliki arti yang luas bahwa sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan SDM terutama di dalam hal pengetahuan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.3%) dibanding keterampilan kurang (25.3%) dibanding yang memiliki motivasi kurang (11. Akan halnya motivasi kerja adalah sesuatu hal yang berasal dari internal individu (keinginan. 10. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara massa kerja dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. 4.3%) yang memiliki kinerja baik dan dengan motivasi yang kurang terdapat 2 bidan (8. Masa kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah khusus pelatihan tentang standar pelayanan kebidanan. lebih lancar dalam melaksanakan pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Motivasi berhubungan dengan kinerja bidan. dan kesukaan) yang menimbulkan dorongan atau semangat untuk bekerja keras. Keterampilan dengan kinerja bidan Menjalankan tugas dan tanggung jawab secara profesional dengan melaksanakan fungsi sebagai bidan menuntut suatu keterampilan sebagai bidan yaitu merencanakan asuhan keperawatan sesuai dengan hasil pengkajian kebutuhan dan masalah keperawatan kebidanan. meningkatkan dan mengembangkan kemampuan personil dalam jangka waktu relatif singkat yang mengutamakan pengetahuan praktis sehingga personil dapat melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.12 Hasil penelitian menunjukkan dengan keterampilan bidan yang baik sebanyak 20 bidan (83. Bidan yang mempunyai kinerja baik lebih banyak memiliki motivasi cukup (91. Diharapkan Kepala Puskemas untuk melakukan pemantauan secara berkala terhadap bidan tentang pengisian format laporan dan penggunaan peralatan serta cara pelayanan dalam menggunakan standar pelayanan kebidanan. dibanding dengan bidan yang telah bekerja kurang dari 5 tahun (63.3%) memiliki kinerja yang baik sedangkan dengan keterampilan yang Baik sebanyak 4 bidan (16.4%).13. Hasil penelitian menunjukkan dari 21 bidan yang masa kerja lama sebanyak 15 bidan (71. Masa kerja dengan kinerja bidan Masa kerja merupakan suatu proses pendidikan formal untuk mengubah. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki Masa kerja hampir sama antara yang telah bekerja selama 5 tahun atau lebih (71. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara motivasi dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara.6%). Pengadaan minimal bidan kit kepada semua bidan yang bertugas oleh Dinas Kesehatan sehingga bidan dapat melaksanakan standar pelayanan kebidanan dengan baik. Dari hasil penelitian menunjukkan bidan yang telah mengikuti pelatihan yang sesuai dengan tugasnya sehari-hari. Keterampilan bidan berhubungan dengan kinerja bidan. kebutuhan.6%) dengan kinerja yang kurang. 10. Vol. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara keterampilan dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara. No. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pengetahuan bidan berhubungan dengan kinerja bidan. Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki pengetahuan cukup (84.11. kemudian selama <5 tahun sebanyak 11 responden (34. 3. Masa kerja bidan tidak berhubungan dengan kinerja bidan.6%). 4 Desember 2007 199 .Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pengetahuan dengan kinerja bidan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan Kabupaten Maluku Tenggara 2.4%).3%).14 Hasil penelitian menunjukkan dengan motivasi yang baik sebanyak 21 bidan (91.7%) memiliki kinerja kurang. dan mereka dapat menampilkan kinerja yang baik pula. Agar Kepala Puskesmas memperhatikan pemberian insentif kepada semua bidan dan penghargaan kepada bidan yang mempunyai prestasi sehingga dapat menjadi salah satu pemicu peningkatan kinerja mereka.4%) dengan kinerja baik dan sebanyak 6 responden (28. akan bekerja lebih terarah. kemampuan dan keterampilan.3%) dibanding pengetahuan kurang (14.0%). Bidan yang mempunyai kerja baik lebih banyak memiliki keterampilan cukup (83. memperbaiki. Dari hasil penelitian diperoleh distribusi terbesar sebagian besar responden telah bekerja =5 tahun sebanyak 21 responden (65.7%) memiliki kinerja kurang. harapan.

diakses pada 3 Maret 2006 di http:// www. Bandung. Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara. Thabrany H. 2003. 200 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Sukri Palutturi. FKMUI. Ilyas. Ilyas. Y. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan. P. 2005. Cetakan II. Depok. 11.: Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas . KEPUSTAKAAN 1. 10.40265. Kode etika kebidanan. 1999.. 4. Metode Penelitian Administrasi. 2001. 10. Y. Puskesmas Tual dan Un. 1994. Rineka Cipta. Alfabeta. Jakarta. 14. Gizi Net. 4 Desember 2007 . Jakarta. Profil Puskesmas Tual dan Un. Prawirosentono. 2005. Jakarta.. 6. Panduan Kesehatan dan Alternatif Mobilisasi Dana Kesehatan di Indonesia. Sugiono. 2005. Penelitian). Metodologi penelitian kesehatan. 9. Jakarta. Depkes RI. Kinerja (Teori.cgi?newsid 1087441546. RI. Cetakan I. Panduan Bidan Tingkat Desa. 5.gizi. Penelitian). Jakarta. 2. Vol. S. Profil Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara. Menekan angka kematian ibu dan anak. Notoadmojo. dkk. 1999. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan Depok.net/cgi-bin/berita/fullnews. 13. No. Kebijakan Kinerja Karyawan. S. 2000. Penilaian. Mei 1999. Kinerja (Teori. Depkes RI. Maluku Tenggara. cetakan kedua. Depkes. Yogyakarta. 12. 8. Profesi Kebidanan. 7. 1999. Bali. Penilaian. Jakarta: 1999. IBI. Profil Kesehatan Indonesia. FKMUI. 3.T. Ikatan Bidan Indonesia. 1999. Panduan Bidan di Desa Bagian I & II. Maluku Tenggara. Jakarta.

04 Desember 2007 Halaman 201 . konsep yang sejalan dengan WHO dan disertai contoh-contoh aplikasi sistem kesehatan di beberapa negara menjadikan buku ini sangat mudah dipahami dan aplikatif. Phase 2. Bahasan kedua dan keempat merupakan tahapan dalam pengembangan rekomendasi. Bab 5. No. Phase 4. Bab 1. membahas mengenai penemuanpenemuan final dan rekomendasi dari beberapa penilaian laporan. Bahasan ketiga menguraikan mengenai pembiayaan kesehatan. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan ketiga menguraikan mengenai tinjauan terhadap modul teknis dan bahasan terakhir menguraikan mengenai hasil yang diharapkan dari penilaian. Aktivitas keenam adalah membuat jadual dan menyusun rencana pertemuan dengan tim. Bab ini terdiri dari dua belas sub bahasan. Aktivitas kedelapan adalah menyiapkan daftar contact person dan daftar narasumber untuk melakukan wawancara. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan kesimpulan awal untuk masing-masing modul. 4 Desember 2007 201 .Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 10 No. Penggunaan bahasa yang mudah dimengerti. Bahasan terakhir menjelaskan mengenai strategi dalam penguatan sistem kesehatan beserta implikasinya. merupakan pengantar yang mengulas mengenai pengenalan terhadap kekuatan sistem kesehatan. pembiayaan kesehatan. Bahasan kedua memaparkan mengenai kerangka kerja konseptual dalam pendekatan penilaian sistem kesehatan. pelayanan kesehatan. kerangka waktu. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan rekomendasi melalui penilaian modul. Bahasan kedua dan ketiga merupakan komponen dari modul utama. Bab ini terdiri dari tiga sub bahasan. Bab ini terdiri dari empat pokok bahasan. Vol. Bab ini terdiri dari lima sub bahasan. menguraikan mengenai tinjauan pendekatan yang digunakan. membahas mengenai persiapan dan implementasi bagian pengesahan. Aktivitas kesepuluh adalah melakukan wawancara akhir sesuai kebutuhan. membahas mengenai modul utama. Aktivitas ketujuh adalah mengumpulkan dan mereview materi latar belakang. yaitu bahasan pertama merupakan pengantar mencakup definisi sistem Kesehatan dan penguatan sistem kesehatan. dan penilaian terhadap penentuan waktu. Bahasan pertama merupakan pengantar. Dalam bab ini dibahas tujuh sub pokok bahasan. Phase 1. SDM kesehatan. membahas mengenai perencanaan dan penyusunan penilaian. kesepakatan terhadap ruang lingkup.202 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Buku Pengarang Penerbit Tahun Tebal : : : : : Health Systems Assessment Approach : A How to Manual USAID Mursaleena Islam 2007 374 halaman B uku ini terdiri dari 11 bab. Bab 4. Kegiatan yang dimaksud mencakup 11 kegiatan yaitu : mengidentifikasikan kebutuhan dan prioritas dari misi USAID. Phase 3. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan keempat menjelaskan mengenai sumber daya manusia dan sumberdaya fisik lainnya. membahas mengenai pengumpulan penemuan-penemuan dan penyusunan beberapa rekomendasi. 10. Aktivitas keempat adalah memasang penaksiran tim beserta tanggung jawab dari masing-masing personil dari tim. manajemen farmasi dan perbekalan kesehatan serta sistem informasi kesehatan. Masing-masing fungsi sistem kesehatan ini diuraikan di masing-masing bab secara lebih detil. Aktivitas kesembilan adalah mengatur menyiapkan workshop dengan stakeholder terkait. kebijakan dan advokasi. Aktivitas terakhir adalah menyiapkan laporan penilaian. Bahasan kedua sampai kedua belas merupakan latihan atau kegiatan. Bab 3. Bab 2. Secara umum buku ini memaparkan mengenai alat (tools) dalam penilaian cepat terhadap fungsifungsi kunci sistem kesehatan mencakup: pemerintahan. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bahasan kelima menjelaskan mengenai manajemen dan organisasi untuk pelayanan kesehatan. Konsep yang digunakan dalam buku ini juga sejalan dengan apa yang digunakan oleh WHO terhadap konsep sistem kesehatan. Bahasan keenam memaparkan mengenai sistem informasi kesehatan. Kegiatan selanjutnya adalah mempersiapkan penaksiran anggaran. Komponen Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Bahasan kedua menguraikan mengenai stewardship (dalam hubungannya dengan pemerintahan). Aktivitas kelima adalah menyiapkan ceklis logistik.

Sub bahasan terkhir menjelaskan mengenai kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi terkait mengenai sistem informasi kesehatan. Pembahasan pertama merupakan pengantar. Bab 6. Bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil pelayanan kesehatan. yaitu Bab 11. Bahasan ketiga menguraikan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan bahasan terakhir merupakan kesimpulan dan beberapa penyusunan rekomendasi. Rimawati (Divisi Public Health Policy) rima_mhugm@yahoo. Sub bahasan pertama merupakan pengantar. kelembagaan lembaga pemerintah dan kelembagaan swasta yang terkait dengan sistem pelayanan kesehatan. membahas mengenai modul pelayanan kesehatan. Bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil pembiayaan kesehatan. No. Secara keseluruhan buku ini sangat bagus sekali sebagai tambahan bahan referensi bagi pakar. memaparkan mengenai modul manajemen yang berkaitan dengan farmasi. Bahasan ketiga membahas mengenai penilaian berdasarkan indicator. Bahasan ketiga menjelaskan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi.com 202 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. konsultan. Bab 8. Pembahasan pertama mengenai pengantar. Pada bagian akhir. Sementara komponen kedua memuat mengenai: politik dan lingkungan makroekonomi. lingkungan bisnis dan suasana investasi. Bahasan pertama merupakan pengantar. menguraikan mengenai modul sistem informasi kesehatan. angka kematian. kelembagaan pelayanan kesehatan. Bab ini terdiri dari 4 sub pembahasan. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. 10. Bahasan pertama merupakan pengantar. Bab 10. membahas mengenai modul pemerintahan. Selanjutnya yang termasuk dalam komponen kedua ini adalah desentraliasi. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. membahas mengenai modul pembiayaan kesehatan. 4 Desember 2007 . Bab 7. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. bahasan kedua membahas mengenai penyusunan profil sumberdaya manusia. peneliti. Bahasan ketiga menjelaskan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi.Resensi pertama memuat mengenai : pertambahan penduduk. Bab 9. pendapatan dan ketidak adilan. Bahasan kedua menjelaskan mengenai penyusunan profil pemerintahan. membahas mengenai modul sumber daya manusia kesehatan. Bab ini terdiri dari empat sub pokok bahasan. kesehatan reproduktif. Bab ini terdiri dari empat sub bahasan. Vol. akademisi dan pengajar terkait dengan seluk-beluk mengenai sistem kesehatan dan komponen pembentuk sistem. Bahasan ketiga menguraikan mengenai penilaian berdasarkan indikator dan bahasan terakhir merupakan kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi. pemetaan donor/pemberi dana serta keterkaitan dari masing-masing donor atau pemberi dana. Bahasan pertama merupakan pengantar. Karena di dalam buku ini dikupas secara detil dan jelas komponen demi komponen pembentuknya. penyebab utama mortalitas dan morbiditas. bahasan kedua menjelaskan mengenai penyusunan profil sistem informasi kesehatan. pembahasan kedua penyusunan profil mengenai manajemen farmasi. Bahasan ketiga mengenai penilaian berdasarkan indikator dan pembahasan terakhir mengenai kesimpulan dan penyusunan beberapa rekomendasi.

or whether 64. Placement and assignment are 2 words having different meaning. 10/No. but its problem is that the local governments have different ability to finance their region including salary staff. This study mentions that is only one third of all nonpermanent personnel among medical doctor want to extend their contractual period. WordReference. That is normal because they do not have any guaranty to get well income. some doctors prefer for doing private doctor or other businesses. Moreover on districts/cities having income is low. allowance as non-permanent personnel. allowance for doctors placed in remote and very remote area. 4 Desember 2007 .com/definition/assignment 2.com English Dictionary. The other definition 'assignment' means the instrument by which a claim or right or interest or property is transferred from one person to another.com/definition/ placement. 1540/Menkes/SK/XII/2002 regarding the placement of medical workforce through service period and other schemes there are two types of non. Their willingness will differ from living in outside of West Java or within West Java.2% of females who is unwilling to extend their contract are people living in outside of West Java or within West Java. & Deni Kurniadi Sunjaya in the Journal of Health Service Management. In addition. 2/Juni/2007 I prefer to use "placement" or "deployment" in non-permanent contractual placement than non-permanent contractual assignment.2% of females who is unwilling to extend their contract are people getting married or still single.permanent personnel: selected by the central government and the local government in district/city/provincial government (article 8).4 This study will be better if the individual background of non-permanent doctors is retested to determine. Vol. I agree with writers that in decentralization era. medical record within 12 hours. Vol. hospital for disaster aid (article 12). 2008 from http://dictionary. provincial/ district/city region with high potencies to get conflict. Medical doctors nominated by central government are only undertaken in particular rural and remote area. Incentive has a significant role to raise their performance.com PREDICTING WILLINGNESS TO EXTEND CONTRACTUAL ASSIGNMENT AMONG MEDICAL DOCTOR IN WEST JAVA Written by Irvan Arfandi. incentive and other allowances. the act of locating or positioning. Probably. Meanwhile. Nita Arsanti. These will affect the willingness to extend their contract. 'Assignment' means "an undertaking you have been assigned to do (as by an instructor). stated that the income covers main salary. whether 64. retrieved April 13. proposed the local government and states that they are not able to nominate non-permanent personnel. incentive or salary is also one reason why among non-permanent doctors are unwilling to extend their contractual period. That means this problem still need better attention either the central government or the local government.html 3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1540/Menkes/SK/XII/2002 tentang Penempatan Tenaga Medis melalui 216 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.wordreference. for instance. 10.217 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan VOLUME 10 No. and attendance at monthly meeting has greater coverage than non-contracted group. allowance for tax income. the state of being placed. 2008 from http:// www. No. Others become the local government's responsibility. Elsa Pudji Setiawati. 04 Desember Korespondensi 2007 Halaman 216 . As cited for instance in Health Minister Decree of Republic of Indonesia No. the local government has an important role in medical doctor placement including non-permanent personnel.bnet. References: 1. Issue relating to non-permanent contractual placement among medical doctor does not become current issue anymore although nowadays this problem still happens. 'placement' means the act of placing or putting in place. retrieved April 13.2 Therefore 'placement' is related to place or location (such as urban and rural).3 Although in the article 7 stated that income or salary for non-permanent personnel is allocated by the central government.1 Therefore 'assignment' is related to task. A research conducted shows that hospitalists Appling incentive system such as incentive for meeting standard. Therefore. BNET Business Dictionary.

Use of Pay for Performance in a Community Hospital Private Hospitalize Group: A Preliminary Report. 4 Desember 2007 217 . (2007). 10.com Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan..Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 4. 1540/ Menkes/SK/XII/2002 regarding the placement of medical workforce through service period and other schemes). V.U. Collier. No. Vol. Philadelphia: The American Clinical and Climatological Association. masa Bakti dan Cara Lain (Health Minister Decree of Republic of Indonesia No. Sukri Palutturi Health Policy and Administration Department Faculty of Public Health Hasanuddin University Email: sukri_tanatoa@yahoo.

4 Desember 2007 205 . Hanevi Djasri Artikel Penelitian Pengetahuan. Laode Bariun Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survai Sosial Ekonomi Nasional 2001 Jati Untari. 04 Desember 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 205 . I. dan Pelaksanaan Manajemen Risiko Klinis di Lima Rumah Sakit di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Banten Tahun 2005 Arjaty Daud. Persepsi. Purnawan Junadi Pengaruh Penyerahan Dana dan Pengelolaan Asuransi Kesehatan Sepenuhnya Kepada Puskesmas Terhadap Efisiensi Pengadaan dan Mutu Penggunaan Obat Neti Viperiati. A. No. Sukri. A. Mubasysyir Hasanbasri Resensi Buku Redefining Health Care: Creating Value-Based Competition on Results Trisasi Korespondensi Koordinasi Lintas Sektoral pada Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi di Kabupaten Sleman Chriswardhani Suryawati 01 03 11 20 29 40 46 52 53 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. A. 10.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 10 No. Dumilah Ayuningtyas. 10/NO 01/MARET/ 2007 Editorial Memperbesar Peran Ahli Kebijakan dan Ahli Manajemen Pelayanan Kesehatan di Indonesia Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit sebagai Persyaratan Badan Layanan Umum dan Sarana Peningkatan Kinerja Tjahyono Kuntjoro. Sri Suryawati Survei Pasar Jaminan Kesehatan Sosial Bali A. Vol. Gde Muninjaya Budaya Organisasi dan Mindset Petugas Penanggulangan Tb Paru Melalui Strategi Dots di Puskesmas Labibia Kota Kendari Asiah Hamzah.214 Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. Nirmala Trisna.

Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. Adi Utarini Implementasi Posyandu dan Supervisi oleh Puskesmas di Pontianak Yuliastuti Saripawan. Ali Gufron Mukti. 10/NO 02/JUNI/ 2007 Editorial Kebijakan Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin: Saatnya untuk Melakukan Evaluasi Menyeluruh Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Pendekatan Sistem dalam Perencanaan Program Daerah Mubasysyir Hasanbasri Artikel Penelitian Evaluasi Praktik Donasi Obat Pascatragedi Bom Bali Ida Prista Maryetty. No. Mubasysyir Hasanbasri Resensi Buku Know How: The 8 Skills That Separate People Who Perform From Those Who Don’t Putu Eka Andayani Korespondensi Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah Rimawati 55 56 64 72 79 85 90 98 101 206 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Sri Suryawati Analisis Besaran Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali I Gede Santabudi Samba. Anis Fuad. 10. Julita Hendrartini Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah Shinta Wardhani Suryanegara. Vol. Wiku Adisasmito Efisiensi Pemanfaatan Rumah Sakit Umum Daerah di Provinsi Sumatera Barat dengan Data Envelopment Analysis Asmaliza. 4 Desember 2007 .

No. dan Kemitraan Sri Winarni. Sunartono. Hanevi Djasri Proses Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja di Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2006 Durachman. Vol. Elsa Pudji Setiawati. Ristrini Resensi Buku Getting to Yes: Teknik Berunding Menuju Kesepakatan Tanpa Memaksakan Widya Febryanti Korespondensi Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survei Sosial Ekonomi Nasional 2001 Deni Harbiyanto 103 104 108 117 124 132 143 148 154 156 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Nita Arisanti. 10.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS DAFTAR ISI VOL. Julita Hendrartini Predicting Willingness to Extend Contractual Assignent among Medical Doctors in West Java Irvan Afriandi. Sri Suryawati Pengembangan Proses Verifikasi Pra-Operasi untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Rizaldy Pinzon Kajian Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Making Pregnancy Safer di Daerah Miskin Pedesaan Oktarina. 4 Desember 2007 207 . Tjahjono Kuntjoro. Penunjukan Langsung. 10/NO 03/SEPTEMBER/ 2007 Editorial Situasi Survailans yang Belum Menggembirakan Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Cost Effectiveness Analysis dalam Penentuan Kebijakan Kesehatan: Sekedar Konsep atau Aplikatif? Ari Probandari Artikel Penelitian Evaluasi Continuous Quality Improvement (Cqi) di Rumah Sakit yang Mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu Iso 9000 di Indonesia Chatila Maharani. Deni Kurniadi Sunjaya Perbandingan Efisiensi dan Efektivitas Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan dengan Lelang.

dumilah ayuningtyas Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006 Sukri Palutturi. 10 /NO 04/DESEMBER/ 2007 Editorial Kebijakan Contracting Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: Dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah Laksono Trisnantoro Makalah Kebijakan Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik) Siswanto Artikel Penelitian Dampak Kemitraan Praktisi Swasta Terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar. Adi Utarini Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan. 10. Nurhamsa Mandak Resensi Buku Health Systems Assessment Approach: A How to Manual Korespondensi Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctor in West Java Sukri Palutturi 157 159 166 173 181 189 195 201 203 208 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Bali Luh Putu Sri Armini. Nurhayani. Yodi Mahendradhata.Indeks INDEKS DAFTAR ISI VOL. Pembelajaran Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan Evie Sopacua. No. 4 Desember 2007 . Didik Budijanto Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung Misnaniarti Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige Raditya asri wisuda. Vol.

T. 10(04): 166-Ap. Djasri. Lihat. Durachman Proses Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja di Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2006. Sopacua. Bali. Lihat. Ayuningtyas. W. 10. Febryanti. Know How: The 8 Skills That Separate People Who Perform From Those Who Don’t. 10(03): 117-Ap. Afriandi. R. Armini. Suryanegara. Asmaliza Efisiensi Pemanfaatan Rumah Sakit Umum Daerah di Provinsi Sumatera Barat dengan Data Envelopment Analysis. Arisanti. Lihat.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS PENULIS Adisasmito. H. dan Pelaksanaan Manajemen Risiko Klinis di Lima Rumah Sakit di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Banten Tahun 2005. 10(03): 124-Ap. S. Afriandi. E. D. Fuad. Lihat. Lihat. W. Maharani. Vol. A. Lihat. A. Pengetahuan. 10(02): 85-Ap. Daud. No. P. Wisuda. E. Budijanto. 10(03): 154-Rb. Daud. Kuntjoro. A. I. Bariun. P. Lihat. Lihat. Andayani. Lihat. 10(02): 98-Rb. D. S. L. Dampak Kemitraan Praktisi Swasta Terhadap Keterlambatan dan Biaya Penanganan Tuberkulosis di Kota Denpasar. A. N. Persepsi. I. A. L. Asmaliza Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Hamzah. 4 Desember 2007 209 . 10(01): 11-Ap. Getting to Yes: Teknik Berunding Menuju Kesepakatan Tanpa Memaksakan. Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctors in West Java. C. W.

Samba. Nurhayani Lihat. Harbiyanto. Y. Oktarina Kajian Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Making Pregnancy Safer di Daerah Miskin Pedesaan. S. 10(03): 108-Ap. Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survei Sosial Ekonomi Nasional 2001. Trisna. A. P. Saripawan. Vol. Pendekatan Sistem dalam Perencanaan Program Daerah. S. 10(02): 56-Mk. C. Maryetty. C. P. I. D. 4 Desember 2007 . 210 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. A. 10. G. S. 10(02): 64-Ap. G. 10(01): 03-Mk Lihat. A. Mahendradhata. G. Muninjaya. 10(04): 181-Ap. No. J. Misnaniarti Analisis Kebijakan Pengelolaan Oseltamivir dan Implementasinya di Rumah Sakit Rujukan Kasus Flu Burung. J. A. Mandak. I. G. 10(01): 40-Ap. S. M.Indeks Hamzah. 10(03): 148-Ap. A. Lihat. Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit sebagai Persyaratan Badan Layanan Umum dan Sarana Peningkatan Kinerja. Maharani. Untari. Lihat. Lihat. S. 10(03): 156-Koresp. Evaluasi Praktik Donasi Obat Pascatragedi Bom Bali. Durachman Junadi. A. Y. Maharani. Palutturi. Hasanbasri. Armini. L. Lihat. Mukti. Lihat. Evaluasi Continuous Quality Improvement (CQI) di Rumah Sakit yang Mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu ISO 9000 di Indonesia. T. Kuntjoro. Lihat. Hendrartini. N. Daud. Lihat. Samba. Lihat. A. Lihat. I. Palutturi. P. Budaya Organisasi dan Mindset Petugas Penanggulangan Tb Paru Melalui Strategi Dots di Puskesmas Labibia Kota Kendari. I. N.

10(04):201-Rb Ristrini Lihat. Durachman Sunjaya. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. S. 4 Desember 2007 211 . R. 10(02): 72-Ap. Y. A. Oktarina Samba. 10(02): 101-Koresp. Health Systems Assessment Approach : A How to Manual. Opsi-Opsi Kebijakan untuk Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesehatan. Saripawan. 10. Suryanegara. I. Siswanto Politik dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik). Implementasi Posyandu dan Supervisi oleh Puskesmas di Pontianak. E. K. S. 10(04): 159-Mk. Afriandi. Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah. 10(03): 143-Ap.Pembelajaran Dari Penelitian Pola Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia dalam Otonomi Daerah Bidang Kesehatan. Probandari. D. W. Predicting Willingness to Extend Contractual Assignment among Medical Doctor in West Java. 10(04): 195-Ap. Setiawati. 10(04): 203-koresp. No. Rimawati Analisis Hubungan Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Perilaku Karyawan dalam Rangka Menjadi Rumah Sakit Badan Layanan Umum Daerah. Lihat. I.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Palutturi. G. P. Pengembangan Proses Verifikasi Pra-Operasi untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit. A. Vol. Lihat. Sukri Lihat. 10(03): 104-Mk. Sunartono Lihat. Pinzon. Afriandi. I. S. Determinan Kinerja Bidan di Puskesmas Tahun 2006. Analisis Besaran Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Sopacua. E. Cost Effectiveness Analysis dalam Penentuan Kebijakan Kesehatan: Sekedar Konsep atau Aplikatif?. 10(04): 173Ap. Hamzah. 10(02): 90-Ap. 10(02): 79-Ap.

N. 10(03): 132-Ap. Kebijakan Contracting Out untuk Penyediaan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil dan Sulit: Dari Pengalaman Menuju Bukti Ilmiah. 10(02): 55-Ed. Pengaruh Penyerahan Dana dan Pengelolaan Asuransi Kesehatan Sepenuhnya kepada Puskesmas Terhadap Efisiensi Pengadaan dan Mutu Penggunaan Obat. L. Perbandingan Efisiensi dan Efektivitas Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan dengan Lelang. Armini. 10(01): 53-Koresp.Indeks Suryawati. Untari. Koordinasi Lintas Sektoral pada Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi di Kabupaten Sleman. No. Lihat. I. Lihat. P. I. N. 10(03): 103-Ed. 10(01): 52-Rb. J. 4 Desember 2007 . Ke Mana Pemilik Kartu Sehat Mencari Pertolongan? Analisis Survai Sosial Ekonomi Nasional 2001. dan Kemitraan. Asmaliza Lihat. 10(04): 157-Ed. Viperiati. Situasi Survailans yang Belum Menggembirakan. Viperiati. L. A Lihat. A. C. 10(01): 20-Ap. Winarni. 10. 10(01): 29-Ap. A. P. R. 10(04):189-Ap. N. Suryawati. Kebijakan Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin: Saatnya untuk Melakukan Evaluasi Menyeluruh. Winarni. Trisnantoro. Utarini. Trisna. Trisasi Redefining Health Care: Creating Value-Based Competition On Results. S. S. Penyiapan Implementasi Business Intelligence Berbasis Malcolm Baldrige. Memperbesar Peran Ahli Kebijakan dan Ahli Manajemen Pelayanan Kesehatan di Indonesia. 10(01): 46-Ap. A. Maryetty. Penunjukan Langsung. Vol. 212 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Survei Pasar Jaminan Kesehatan Sosial Bali. S. S. Lihat. Wisuda. 10(01): 01Ed.

10 (03): 132. 10 (03): 124. Knowledge. 2007. 10 (02): 85. 2007. 2007. Drug Donations Impacts. 2007. 2007. Fund. Dots. 2007. Community Health Center. 10 (03): 108. Implementation. 10 (01): 46. 10 (02): 79. Cash Funds. 10 (01): 29. 10 (04): 173 Hospital Efficiency. Auction. 10 (03): 104. 2007. 2007. 2007. 10 (04): 181 Maternal and Child Health. Behavior. 2007. 10 (01): 03. 10 (02): 64. 10(04): 189. 10 (04): 166 Deployment. 10 (02): 56. 10 (01): 40. 10 (04): 195 Leadership. 10. 10 (02): 85. 10 (03): 148. 2007. 2007. 10 (03): 132. Drug Use. Bali Bomb Tragedy. 10 (04): 159 Financial System Of Public Service Body. 10 (03): 124. 10 (01): 20. 10 (02): 79. Mindset. 2007. 2007. 2007. 10 (01): 29. Community Partnership. Hospital Performance. 2007. 2007. Hospital Performance Indicators. 10 (01): 11. Economic Evaluation. 2007. Effectiveness. Delay. 10 (02): 90. Cost. Clinical Risk Management. 2007. Drug Procurement. 2007. 2007. Ethics. ISO 9000. 2007. 10 (01): 20. Management Policy. 10 (03): 148. 2007. Bali Social Health Insurance. 10 (01): 11. 10 (03): 124. 10 (01): 20. 2007. Empowering. 10 (02): 64. Lesson Learned. 2007. 10(04): 189. Contract. 2007. Data Envelopment Analysis. 2007. 10 (02): 90. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2007. 10 (03): 132. 10 (03): 117. Knowledge. 2007. 2007. 2007. 2007. 2007. 2007. Cost Effectiveness Analysis. Health Personnel’s Training Program. 10 (01): 11 . Implementation preparation. 10 (01): 03. 10 (03): 108. Making Pregnancy Safer. 2007. 10 (03): 148. 2007. 2007. 10 (01): 20 . 10 (03): 108. Health Card. 10 (04): 166 CQI. 2007. 2007. 2007. 2007. 10 (03): 104. 10 (02): 90. 4 Desember 2007 213 . Direct Appointment. 2007. 10 (01): 20 . 10 (03): 132. 10 (02): 72. Medical Doctor. 10 (01): 40. 2007. 2007. Health Insurance. No. Efficiency.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan INDEKS SUBJEK Ability to Pay. 2007. 2007. Business intelligence. Vol. 10 (04): 173 Locally Available Resources.

10 (02): 90. 2007. 4 Desember 2007 . 2007. 2007. 2007. 10 (01): 11. 214 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2007. 10 (03): 124. Willingness to Pay. 10 (01): 40. 10 (02): 90. Public Health Center. 10 (03): 117. 2007. 10 (01): 46. 10 (04): 166 Resource Allocation. 10 (04): 159 Poor Families. 10 (02): 72. 2007. 2007. 2007. 10 (02): 64. 2007. 2007. 10 (04): 195 Organization. 2007. Public-Private Mix. 2007. System Analysis Approach Health Planning. 2007. 10 (02): 56. Oseltamivir. 2007. 2007. 2007. Work Time. 10 (02): 79. 10 (04): 195 Stakeholders’ Perception. Perception. 2007. 10 (02): 64. Unused Medicines. 10 (01): 20. Organizational Culture. 10 (02): 79. 2007. 10 (01): 03. Performance. Public Service Entity. Skill. 2007. 10 (03): 143. 10 (04): 195 Policy Options. 10 (01): 46. Survey. 10 (04): 166 Private Provider. 10 (01): 29. Service Unit Fund Document. 10 (03): 104. 2007. 10. 2007. 2007. 2007. 10 (03): 143. 2007. 2007. 10 (02): 72. 10 (02): 64. Public Hospitals. 2007. 10 (04): 181 Partnership. 10 (01): 40 . 10 (03): 132. Private Practitioner Involvement. 2007. 10 (02): 85. 10 (04): 195 Wrong Surgery. 2007. Motivation. 10 (01): 29. 2007. 10 (03): 143. 2007. 2007. 10 (04): 159 Organization Culture. 2007. Pegawai Tidak Tetap. Sanglah Hospital Denpasar. 10 (04): 173 Politics. Trax-Free Policy. No. Vol. 2007. 2007. 2007.Indeks Minimal Hospital Services Standards. Service Unit Fund Plan. Premium. Posyandu. 10 (03): 117. 2007. Prevention. Supervision. Patient Safety.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful