P. 1
Budaya Politik Di Indonesia

Budaya Politik Di Indonesia

|Views: 1,389|Likes:
Published by Dytta Fitria

More info:

Published by: Dytta Fitria on Sep 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2013

pdf

text

original

Budaya Politik Di Indonesia

Budaya politik adalah kebiasaan berpolitik. Negara kita ini adalah negeri yang menganut paham Demokrasi. Yang dimana dalam prakteknya semua hal harus dibicarakan bersama dan mencapai kesepakatan yang mufakat, contohnya pemilu yang merupakan Budaya politik di Indonesia. Indonesia memiliki kepala negara yaitu presiden, tetapi kekuasaan tertinggi berada ditangan rakyat dan dikembalikan lagi untuk rakyat. Indonesia harus melewati 4 tahap dalam mencapai kemerdekaanya, tahapan-tahapan itu sebagai berikut :

Angkatan Perintis ( 1908 ) Dalam angkatan perintis ini, Indonesia masih bersifat kedaerahan. Angkatan ini dimulai dari berdirinya organisasi budi utomo yang diketahui oleh sutomo, yang merupakan pelopor dari berdirinya organisasiorganisasi daerah.

Angkatan Penegas (1928 ) Dalam angkatan penegas ini, Indonesia telah bersifat Nasional atau kebangsaan yang dipelopori oleh patih gajah mada. Yang teklah mempersatukan organisasi-organisasi di daerah-daerah untuk bersatu dan menjadi organisasi nasional dengan dipersatukan melalui semboyan Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetap satu jua.

Angkatan Pendobrak ( 1945 ) Pada angkatan pendobrak ini Indonesia Merdeka. Dan otomatis perubahan status indonesia yang awalnya berbentuk kebangsaan menjadi kenegaraan.

Menurut isi yang ada di UUD 1945 alenia 1 merupakan penjabaran Indonesia sebelummerdeka yang ditandai dengan kalimat “Penjajahan diatas dunia harus dihapuskan”, alenia 2 merupakan penjbaran Indonesia hampir merdeka yang ditandai dengan kalimat “Menuju pintu depan kemerdekaan”, alenia 3 merupakan penjabaran Indonesia merdeka yang ditandai dengan kalimat “Rakyat indonesia menyatakan dengan ini Kemerdekaannya”, alenia 4 merupakan penjabaran Indonesia setelah merdeka yang ditandai dengan 4M,yaitu : 1. 2. 3. 4. Melindungi segenap bangsa indonesia Memajukan kesejahteraan umum Mencerdaskan kehidupan bangsa Melaksanakan ketertiban dunia

Indonesia telah melaksanakan pemilu 10 kali,pemilu yang pertama pada tahun 1945 kepemimpinan diketuai oleh Ir.Soekarnon dengan wakilnya MOH. Hatta akan tetapi

2004 Gusdur yang lengser dan hanya sesaat dalam masa jabatannya kemudian digantikan oleh Megawati. . 1999 Habibi.kepemimpinan ini belum berbentuk kepresidenan dikarenakan tidak adanya pelantikan.1997 Indonesia dibawah pimpinan Soeharto.1977. yang cara pemilihannya dilakukan secara pemilu oleh semua rakyat indonesia.1987.1992.1982. Pada tahun 1955.yang pemilihannya dilakukan oleh MPR dan terakhir tahun 2009 SBY.1971.

Urutan Presiden Singapura adalah: Yusof bin Ishak. Konstitusi Singapura berdasarkan sistem Westminster karana Singapura merupakan bekas jajahan Inggris. 2009 Diarsipkan di bawah: 1 — mahierra @ 12:36 pm A. 2000). Fukuyama. Sebagai konsekuensinya. Posisi presiden adalah simbolis dan kekuasaan pemerintahan berada di tangan perdana menteri yang merupakan ketua partai politik yang memiliki kedudukan mayoritas di parlemen. bebas daripada korupsi dan memiliki pasar ekonomi yang terbuka. 1996. Hasil pemikiran para pakar umunya menyimpulkan bahwa budaya memberikan pengaruh tertentu bagaimana demokrasi diadopsi oleh berbagai negara (lihat Alagappa. Lipset. pendiri dan perancang sistem politik negara Singapura juga telahmengembangkan konsep yang menempatkan nilai budaya sebagai elemen penting dalam sebuah sistem politik. R. 1996. sehingga perkembangan sistem politik di Singapura lebih signifikan dan telah mengalami kemajuan daripada Negara lain. di Singapura ditetapkan sebuah sistem yang oleh dunia Barat dianggap tidak demokratis. C. Hal ini menunjukkan bahwa Singapura merupakan “anauthoritarian Confucian anomaly among the wealthy countries of the world” (Huntington. Menurutnya politik berbasis multibudaya tidak akan pas bagi negara dengan masyarakat yang multirasial seperti Singapura. 1991: 302). Para ahli politik menganggap Singapura sebuah negara yang berideologi ‘Demokrasi Sosialis‘. Amartya Sen (2001: 6) mengritik hipotesis Lee Kwan Yew bahwa negara yang didominasi oleh budaya Confucianism mempunyai peluang pertumbuhan ekonomi yang . Benjamin Henry Sheares. 1996. 1996: Inglehart. Wee Kim Wee. Cara pemerintahan PAP dikatakan lebih cenderung kepada otoriter daripada demokrasi yang sebenarnya. cara pemerintahan tersebut berhasil menjadikan Singapura sebuah negara yang maju. Huntington. argumentasi mengenai keunggulan nilai budaya Asia (Asian values) seakan menghilang. Berkembang pemikiran nilai budaya sebagai faktor determinan yang menentukan suksesnya ekonomi negara-negara Asia Timur. Ong Teng Cheong.V. Nathan. Devan Nair. dan yang sekarang menjabat adalah S. Meskipun begitu Lee Kwan Yew.Budaya Politik Negara Maju & Berkembang lawan Budaya politik Indonesia Oktober 18. Namun. Tetapi sejak terjadinya krisis ekonomi. Pemerintah PAP sering dikatakan memperkenalkan undang-undang yang tidak memberi kesempatan tumbuhnya penumbuhan partai-partai oposisi yang efektif. Arena politik dikuasai oleh Partai Aksi Rakyat (PAP) yang telah memerintah sejak Singapura merdeka. Budaya Politik Di Negara Maju (Singapura) Budaya politik di Singapura telah mengalami berbagai pengaruh dari luar terutama pengaruh ketika dijajah oleh colonial Inggris.

Kenyataan memang menunjukan negara-negara di Asia dalam membangun sistem demokrasinya lebih banyak mengedepankan gaya demokrasi ala barat seperti Filipina. sebagai bentuk kepercayaan publik dan elit politik terhadap sistem nilai demokrasi. konsolidasi demokrasi terjadi bila masyarakat menyadari bahwa demokrasi merupakan solusi dari masalah tirani tetapi belum tentu untuk masalah lain (ibid: 263). . melainkan keberlangsungannya akan tergantung pada nilai dan kepercayaan dari masyarakat awam di wilayahnya. Tantangan bagi konsolidasi demokrasi adalah bagaimana menyelesaikan masalah-masalah tersebut dan tidak justru hanyut oleh permasalahan-permasalahan itu.Thailand. Implikasinya proses demokratisasi tanpa budaya demokrasi yang mengakar menjadi rentan dan bahkan hancur ketika menghadapi krisis seperti kemerosotan ekonomi. Taiwan dan sekarang ini Indonesia. Walaupun demikian nilai budaya masih dianggap sebagai variabel penting dalam pelaksanaan demokrasi. penurunan efektifitas kepemimpinan dalam pemerintahan yang baru sedangkan dalam pelaksanaan demokrasi itu sendiri belum akan mampu menawarkan solusi mendasar terhadap berbagai permasalahan sosial dan ekonomi di negara yang bersangkutan. umumnya akan ditandai dengan bagi-bagi kekuasaan di antara koalisi yang menghasilkan transisi demokrasi tersebut. Korea. konflik regional atau konflik sosial. cepat atau lambat akan menghadapi krisis. Seperti dinyatakan oleh Inglehart (2000: 96) bahwa dalam jangka panjang. Ia melandaskan penekanannya pada pentingnya budaya demokrasi pada asumsi bahwa semua sistem politik termasuk sistem demokrasi. B. Sejalan dengan pemikiran Dahl. Huntington (ibid: 258) memfokuskan pada isu budaya demokrasi dalam hubungan antara kinerja dan efektifitas pemerintah demokratis baru dan legitimasinya. Tak heran jika proses demokratisasi disana mengalami hambatan dan tantangan menuju sistem demokrasi yang sesungguhnya. masalah kudeta militer dan rezim junta militer sangatlah kental dalam perpolitikan di Thailand. atau krisis politik yang disebabkan oleh korupsi atau kepemimpinan yang terpecah.lebih cepat. dan budaya demokrasi yang tertanam dengan kuatlah yang akan menolong negara-negara demokrasi melewati krisis tersebut. Karena itu. hanyalah berbasis pada perhitungan empiris yang sporadik dari informasi yang terbatas dan sangat selektif. Budaya Politik Di Negara Berkembang (Thailand) Berbicara mengenai Thailand. Huntington memperingatkan bahwa tahun-tahun pertama berjalannya masa kekuasaan pemerintahan demokratis yang baru. Budaya demokratis harus berarti adanya pemahaman bahwa demokrasi bukanlah panacea. demokrasi tidak hanya didasari pada perubahan institusi atau perilaku elit politik. Dahl (1997: 34) memperkuat gagasan bahwa konsolidasi demokrasi menuntut budaya demokrasi yang kuat yang memberikan kematangan emosional dan dukungan yang rasional untuk menerapkan prosedur-prosedur demokrasi.

Menurut Sundhaussen (1999) bahwa kebiasaan militer cenderung anti-demokrasi. sementara dalam demokrasi membutuhkan nilai-nilai kontemporer yang mengacu pada budaya Barat. secara historis mereka menganggap dirinya berjasa atas pertahanan dan keamanan Thailand dari kekuatan eksternal baik pada zaman monarki maupun saat revolusi. Hal inilah yang kemudian berimplikasi pada pembentukan state-building dan konstitusi yang mengatur distribusi kekuasaan politik Thailand dimana selalu diwarnai oleh perebutan dan persaingan antara elit militer. Karena peran Raja tetap eksis sebagai simbol zaman keemasan Thailand dan sebagai pengayom masyarakat Thai. Selain itu. . sipil. Anggapan mereka bahwa campur tangan militer dapat menghambat proses politik dan demokrasi. Selain itu. raja dianggap sebagai perwakilan Wisnu.Tentunya dinamika ini tak lepas juga dari budaya politik masyarakat Thai yang masih bersandar dan berpegang pada nilai-nilai tradisional. sipil. sipil menganggap bahwa masalah politik merupakan wilayah sipil yang harus lepas dari campur tangan militer. pihak cendekiawan menganggap bahwa dalam menjalankan pemerintahan dan negara diperlukan sebuah kerangka berpikir dan ilmu mengenai pemerintahan dan politik dimana hanya kaum cendekiawan itulah yang bisa melakukan. dan cendekiawan. dimana mereka menganggap raja sebagai “father” dalam mengarahkan masyarakat ke arah yang lebih baik. Implikasinya adalah. Lanjutnya bahwa persepsi tentang lawan dan bagaimana berurusan dengan mereka sering kali menggiring rezim militer memperlakukan lawan politik lebih keras dari sepatutnya sehingga merintangi penyelesaian politik. yaitu sebuah budaya politik partisipan dan subjek (Almond). Siwa. dengan kepasifan politik masyarakat Thailand. maka perebutan kekuasaan antara militer. Nilai paternalisme dan patriakal dalam budaya Thai masih melekat erat. Setidaknya pandangan tersebut menjadikan masyarakat Thai sebagai masyarakat yang “tentram” tanpa ada pertumpahan darah sebagai akibat persaingan kaum elit tersebut. Segala tindak raja merupakan pengejahwantahan dewa yang harus dipatuhi. Elit militer merasa dirinya memiliki kapabilitas dan kapasitas dalam menjalakan pemerintahan dan negara karena latarbelakang pendidikan akademi militer dapat membuat mereka berpikir strategis dan taktis yang memang diperlukan oleh pertahanan dan keamanan negara. Perselisihan dan persaingan politik tersebut pada hakikatnya tak membawa masyarakat Thailand pada kondisi riot seperti di Filipina ataupun Myanmar. Padahal untuk membangun sistem demokrasi diperlukan budaya dan derajat partisipasi politik yang signifikan. Hal ini kemudian bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi yang dilandaskan pada nilai-nilai liberal. Akibatnya. Dengan pondasi pengetahuan dan ilmu yang yang mereka miliki tersebut mereka menganggap bisa menjalankan dan selalu menemukan penyelesaian masalah dalam menghadapi krisis. Di pihak lain. Mereka cenderung mendukung profesionalisme militer daripada fungsi militer di ranah politik. Nilai-nilai tersebut tidak hanya bertentangan tapi nilai tradisional tersebut teatap dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Thai. dan Budhisattava yang merupakan titisan dewa. Sehingga tak heran bila masyarakat Thai lebih mencintai raja daripada politik. Sementara. dan cendekiawan selalu terjadi dan ini menjadi salah satu problem lain dalam demokrasi di Thailand. budaya politik dan derajat partisipasi masyarakat Thailand sangat pasif.

Sehingga karakter elit lebih pada “tuan yang diagungkan” dari pada “servant of people”. 7. yaitu di satu sisi nilai demokrasi berusaha diterapkan dan dijalankan dengan sepenuh hati namun disisi lain ada nilai-nilai tradisional yang berberturan dengan paham demokrasi. Hal ini berdampak pada hubungan antar elit atas kelompoknya lebih kuat daripada dengan rakyat. proses transisi menuju Demokrasi yang sesungguhnya sesuai dengan nilai-nilai liberalisme sangat panjang dan berliku yang musti dihadapi oleh Thailand. Jadi. Sehingga tak heran manakala terjadi kudeta militer tidak sampai terjadi peristiwa berdarah. Terlebih hal itu diperparah dengan persaingan politik antara kaum elit yang ada. 3. Begitu pula fungsi seorang tokoh akan sangat menentukan garis kebijakan politik karena orang Thailand yang pragmatis lebih melihat figur tokoh daripda ideologi ataupun latarbelakang partai. strata sosial. ada beberapa karakteristik budaya politik Thailand. Hal ini membuat irasionalitas menjadi hal yang umum terjadi dalam menghadapi kehidupan (sifat konservatif). Cinta Damai => hal ini tak lepas dari pengaruh agama Budha yang dianut orang Thailand yang mengajarkan ajara-ajaran cinta dan damai. 2. Pasivitas => sifat tradisional dan percaya pada adanya hirarki serta takdir membuat masyarakat Thailand menjadi pasif dan tidak memiliki interest terhadap proses dan partisipasi politik. Personalisme => hubungan personal lebih penting dalam politik Thailand. 5. yaitu: 1. Otoritarianisme => budaya politik yang ada di Thailand cenderung mengarah pada otoritarianisme dimana kepemimpinan dipandang sebagai representasi dari dewa sehingga pelaksanaan perintah nyaris tanpa celah untuk dikritisi. Patron Klien => kaum elit lebih mengedepankan kepentingan kelompoknya sendiri dari pada kepentingan untuk melayani rakyat.Secara garis besar. Sehingga mereka lebih memilih untuk mengalah dalam rangka mencapai kedamaian bersama aripada konfrontasi yang berdampak pada ketidakdamaian. Hirarkis => orang Thailand lebih mementingkan tingkatan status daripada pencapaian seseorang. Senioritas. Tentunya untuk menerapkan sebuah rezim demokrasi di Thailand butuh waktu yang panjang dan proses adaptasi yang memakan biaya-sosial yang tinggi manakala nilai-nilai . kekayaan. Terlebih ini didukung dengan budaya patriakal dan paternalistik yang cenderung mengagungkan pemimpin sebagai “father” dalam keluarga yang punya wewenang dan kekuasaan atas keluarganya. menjadi faktor utama daripada prestasi seseorang. Karena selain peran Raja yang berpengaruh terhadap legitimasi kudeta tersebut. Hal ini kemudian yang mengarahkan masyarakat Thailand pada masyarakat yang unequal. Tradisionalisme => masyarakat Thailand masih memegang kuat kepercayaan mistis dan tahayul serta kepercayaan pada nenek moyang. peran agama Budha yang cinta damai juga tak kalah pengaruhnya terhadap way of life masyarakat Thai. 6. Berdasarkan hal tersebut diatas maka dapat dilihat bahwa demokrasi yang ada di Thailand akan selalu mengalami dan menghadapi two face of dillema dan binarry opposition. 4.

nilai-nilai demokrasi pada hakikatnya bisa diterapkan sesuai dengan tata nilai dan budaya yang ada di Thailand sendiri. merujuk pada kaum postmodernis. Sikap & tingkah laku politik seseorang menjadi suatu obyek penanda gejala-gejala politik yang akan terjadi pada orang tersebut dan orang-orang yang berada di bawah politiknya. Tetapi. Oleh karena itu. Sekali lagi kapan? C. Tidak. Tak heran jika budaya politik mereka adalah Parokial. apakah itu mungkin? Kita lihat saja bagaimana tekanan dari negara tetangga terhadap Thailand akan merubah semua itu dan bagaimanan kaum elit tersebut sadar akan posisi nilai di masyarakat Thai. demokrasi tidak akan bisa diterapkan tanpa menerapkan nilai-nilai Barat yang memang merupakan pondasi utama bagi kemajuan demokrasi suatu negara. Karena. Bila itu tercapai maka tidaklah suatu hal yang mustahil jika kondisi politik akan stabil tanpa ada persaingan antar elit. dicirikan kepatuhan pada pejabat-pejabat pemerintahan dan hukum yang berlaku. Permasalahan yang muncul adalah apakah masyarakat bisa menerima dengan begitu saja sebuah nilai yang bukan merupakan nilai yang berasal dari budaya setempat? Tentunya antara ya dan tidak. Sehingga nilai terbaik bagi Thailand sebenarnya bukanlah nilai Demokrasi sesuai dengan standar Barat tetapi dapat diadaptasi dan dimodifikasi dengan nilai-nilai dan tradisi Thai yang pada akhirnya akan tercipta rezim demokrasi sesuai dengan social-character masyarakat Thai. akar budaya agama Budha sangatlah kental dalam membentuk karakter masyarakat Thai. Bila melihat budaya dalam konteks politik hal ini menyangkut dengan sistem politik yang dianut suatu negara beserta segala unsur (pola bersikap & pola bertingkah laku) yang terdapat didalamnya. dicirikan dengan rendahnya pengetahuan dan kesadaran politik. Ya. dan madani. Hal yang perlu dilihat lagi adalah untuk membangun rezim demokrasi ala Thailand seharusnya ketiga elit yang bertentangan tersebut harus menyadari akan nilai-nilai Thai sehingga mereka dapat berkumpul bersama dengan raja dan rakyatnya untuk membentuk semacam konsensus nasional bagi pembanguanan state building yang diinginkan. yaitu ingin mencapai masyarakat yang adil. karena nilai-nilai yang mereka miliki meruupakan nilai warisan nenek moyang dan merupakan hal yang sakral apabila ditinggalkan. jika mereka menganggap bahwa nilai tradisional mereka merupakan nilai yang tidak dapat dihilangkan dan ditinggalkan begitu saja karena telah mengakar kuat dalam akar budaya dan sistem kepercayaan mereka. menurut atau memberi perintah tanpa mempersoalkan atau . Contohnya ialah jikalau seseorang telah terbiasa dengan sikap dan tingkah laku politik yang hanya tahu menerima. jika mereka telah merubah tatanan nilai dan norma sesuai dengan nilai Barat. hal tersebut cenderung pada Tidak. namun wujud untuk mencapainya berbeda. Terlebih. Bagi masyarakat Thai. makmur.liberalisme Barat harus menjadi nilai utama dalam tranformasi sosial menuju demokrasi sesungguhnya. Perbandingan Dengan Budaya Politik Di Indonesia Budaya yang berasal dari kata ‘buddhayah’ yang berarti akal. pembangunan politik dan sosial suatu bangsa bisa jadi sama. atau dapat juga didefinisikan secara terpisah yaitu dengan dua buah kata ‘budi’ dan ‘daya’ yang apabila digabungkan menghasilkan sintesa arti mendayakan budi. dan Subjek. jadi Demokrasi ala Thailand. Hal ini diperlukan karena. atau menggunakan akal budi tersebut.

. Kebudayaan politik Indonesia pada dasarnya bersumber pada pola sikap dan tingkah laku politik yang majemuk. mempertanyakan sesuatu keputusan atau kebijaksanaan politik. Budaya politik yang diterapkan oleh Negara Indonesia pun tidak mengalami pengaruh dari intimidasi Negara lain. Kesimpulan Meskipun.memberi kesempatan buat mempertanyakan apa yang terkandung dalan perintah itu. Malah mereka memiliki budaya politik yang lebih maju. Idealisme diakui memanglah penting. ekonomi. Namun sepert itulah Indonesia. Namun. politik. Bhineka tunggal Ika itulah kita “berbeda-beda tetapi satu jua” Itulah juga yang menjadi inspirasi bagi budaya politik kita. dan tidak mengalami pengaruh dari luar. Demokrasi biasanya mampu menjadi jalan penengah bagi atas polemik ini. politik. baik dari per Individu maupun kolektif. Itulah dia budaya politik “Demokrasi” yang menjunjung sikap dan perilaku yang terpuji. D. namun Negara Indonesia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap perkembangan dunia Internasional saat itu. dan selalu berusaha serta tolong menolong. pengaruh dari luar memilki pengaruh yang sangat baik bagi perkembagan budaya politik kita. Tetapi bersikap berlebihan atas idealisme itu akan menciptakan suatu ideologi yang sempit yang biasanya akan menciptakan suatu sikap dan tingkahlaku politik yang egois dan mau menang sendiri. Negara Indonesia termasuk Negara baru merdeka atau baru berkembang dari Negara lainnya. Beberapa factor mempengaruhi kenapa pengaruh luar itu sangat tidak sesuai bagi perkembangan Negara kita baik di bidang budaya. dan tersusun rapi dalam pelaksanaan nya. Layaknya Negara Singapura yang dulunya juga merupakan wilayah jajahan Inggris sekarang telah menjadi atau termasuk salah satu Negara Maju itu karena mereka juga memilki kemampuan untuk menerima dan menyeleksi pengaruh dari luar agar dapat menjadi sebuah kemajuan bagi bangsanya sendiri terutama di bidang pembangunan. Saya mengatakan seperti itu. Meskipun. patriotisme. negara yang kuat. yang sering. canggung atau frustasi bilamana ia berada dalam lingkungan masyarakatnya yang kritis. negara yang mampu. Dapat diperkirakan orang itu akan merasa aneh. dan lainnya. kalaulah tidak selalu. bukan berarti Negara Indonesia juga tidak bisa melakukan seperti apa yang bisa mereka lakukan. itu akan memudarkan keaslian dari budaya politik Indonesia yang sesungguhnya. dan lain lain. Kita sebagai warga Negara Indonesia sebaiknya kita berbanga hati karena Negara kita memiliki budaya politik yang sangat sistematis.

yakni memindahkan pangkalan militer AS di kawasan penduduk padat di kepulauan bagian selatan. Adalah giliran Yukio Hatoyama yang memberi pelajaran itu. Bahkan yang dicari bukannya solusi. namun hingga kini upaya pengisian kemerdekaan itu melalui pencerminan sikap dan perilaku. Kendati bangsa ini sudah lama mendeklarasikan kemerdekaannya. Hatoyama memenangi Pemilu Agustus 2009 berkat janjinya memindahkan Pangkalan Futenma milik AS di Okinawa atas desakan warga setempat. menjadi alasan bagi Perdana Menteri (PM) Jepang itu mengundurkan diri. Namun. khususnya para pemimpin bangsa ini tetap saja belum mengalami perubahan. Okinawa.…………di Indonesia. Akhir-akhir ini PM Jepang itu memang terus mendapat tekanan. 61 persen dari responden menolak kabinet Hatoyama. ke kawasan pantai yang lebih sepi di pulau itu. Kegagalannya memenuhi janji kampanye. budaya kepemimpinan serta budaya politik masih saja menyisakan sejumlah masalah besar. tetapi alasan pembenaran agar mereka terhindar dari jerat hukum yang sedang melilitnya. . dia memutuskan mundur karena tak berhasil menepati janji. Penulis melihat perbandingan yang cukup kontras ini setelah baru-baru ini seorang pemimpin Jepang mengundurkan diri karena menganggap telah gagal dalam menjalankan amanah tugasnya. meski baru 8 bulan memimpin. Berbeda jauh misalnya kalau dibandingkan dengan Jepang. meski nyata-nyata gagal memenuhi janji dan tak habishabisnya mendapat penolakan dari masyarakat. serta didemo dan dihujat. Di Indonesia. Tradisi mempertahankan kekuasaan kendati sudah diambang kesalahan tetap saja dipertahankan. serta skandal pendanaan politik yang melibatkan dirinya bersama Sekjen Partai Demokratik Jepang Ichiro Ozawa. Hatoyama merupakan PM Jepang keempat yang mengundurkan diri dalam empat tahun terakhir. seorang pemimpin akan berjuang dengan berbagai cara mempertahankan kedudukannya. Bahkan berdasarkan jajak pendapat beberapa media setempat. Apa yang dilakukan Hatoyama dan beberapa perdana Menteri "Negeri Matahari Terbit" sebelumnya sangat bertolak belakang dengan yang diperlihatkan kebanyakan pemimpin di Nusantara.

berlanjut ke istri. Setelah Hatta resmi mundur. Soeharto mundur karena tekanan dan desakan. Hatta tidak ingin terhanyut dalam kekuasaan yang mulai tidak dikontrol lagi karena demokrasi mulai dibelokkan Soekarno menjadi demokrasi terpimpin. masa pemerintahan Soeharto yang dikenal sebagai era Orde Baru justru banyak mematikan budaya politik yang telah ditanam para pendiri bangsa. 21 Mei 1998. Pengunduran diri itu setahun sebelumnya sudah diajukan. yang telah menunjukkan jiwa dan semangat dari budaya politik itu.Hatta yang telah melekat di hati rakyat selama lebih satu dasawarsa sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 retak. setelah aksi mahasiswa besar-besaran dalam gelombang reformasi yang tidak bisa dihindari. Dalam banyak aspek. Dalam konteks berbeda. Praktis. Soeharto juga mengundurkan diri sebagai presiden kedua RI di masa jabatan keenam. Dia mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956. Meski nama mereka berulang kali disebut-sebut terkait penyelewengan uang negara. wakil presiden pertama RI. budaya semacam itu memang pernah ada. Soekarno melenggang sendiri sebagai presiden tanpa didampingi wakilnya hingga akhir kekuasaan dan akhir hidupnya. Adalah Bung Hatta. dwitunggal Soekarno. tak sedikit di antara pemimpin yang jelas-jelas bobrok tetap keukeuh menyatakan diri mereka tidak salah. Keputusan Soeharto sangat berbeda dengan apa yang diambil Hatta. Setelah itu. tak satupun di antaranya yang bersedia mundur atau hanya sekadar meletakkan jabatan untuk sementara hingga kasus mereka terang benderang. Tidak salah apabila ada pendapat bahwa urat malu para pemimpin di Indonesia sudah putus. anak. Bahkan ketika bukti sudah kuat dan vonis sudah jatuh. sedangkan Hatta karena inisiatif sendiri dan diajukan beberapa kali. dan saudara. Pernah Ada Di Indonesia.Bahkan pemimpin di negeri ini cenderung menjadikan kekuasaan turun-temurun. diduga melakukan hal-hal terkait korupsi. masa Orde Baru telah mengubah tradisi dan budaya politik Indonesia yang membekas hingga sekarang meskipun reformasi telah .

Pemimpin di negeri ini lebih banyak yang berani malu ketimbang yang amanah. dan mengutamakan jabatan dan kepentingan kelompok makin kentara. mereka terus berdalih dan mencari pengacara hebat untuk membela perbuatan dan mempertahankan kekuasaan. itu karena alasan lain. Mereka pun berdalih mundur bukan budaya Indonesia. Beberapa pemimpin negara Eropa saja-yang menurut anggapan bangsa Timur tak memiliki latar belakang budaya malu-ada yang berani mundur dari jabatan. Pemimpin bangsa ini seharusnya terketuk dan sadar bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijalankan. Jika pun ada yang "cabut". bukannya dijadikan untuk aji mumpung. Tidak heran apabila dampak dari budaya instan dan korup di kalangan pejabat dan penyelenggara negara membuat mereka mempertahankan jabatan mati-matian. Ironisnya. meski tak mampu berbuat apa-apa. maka budaya malu memang harus selalu dijaga. Bukti banyak pemimpin di Indonesia tak mampu memenuhi janji mereka sendiri sudah cukup banyak. Karena itu. pemimpin di Indonesia seharusnya malu atas apa yang dilakukan pemimpin dari Jepang yang dengan sportif dan dalam waktu singkat melepas jabatan karena tak berhasil memenuhi janji. kita belum pernah mendengar seorang pemimpin Indonesia mundur dengan alasan tak mampu menepati janji. Meskipun ada indikasi penyalahgunaan kewenangan. tentunya sudah sangat keterlaluan apabila pemimpin Indonesia tetap ngotot menguasai jabatan hanya karena alasan dipilih rakyat. Tapi nyatanya. apalagi untuk mengumpulkan kekayaan pribadi dengan berbagai cara guna dimanfaatkan sampai tujuh keturunan. berbuat sesuka hati. mereka tidak mau mundur. budaya instan. Pelajaran politik berharga dari Jepang perlu direnungkan para pejabat dan penyelenggara negara.menjungkirbalikkan sistem dan tatanan politik lama. termasuk karena dimundurkan atasannya. korup. Agar seorang pemimpin benar-benar amanah. Sebagai sesama bangsa Timur. atau bahkan indikasi melakukan korupsi. Tapi. seharusnya para pemimpin Indonesia belajar ke Jepang untuk membangkitkan kembali "urat malu". Buktinya kasus .

korupsi. dan nepotisme tetap marak.? Tentu jawabannya akan terlihat secara nyata bila negeri ini mampu menjadi pewaris tradisi politik Jepang. Sanggupkah bangsa ini keluar dari jerat korupsi dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya. tradisi mundur bila ternyata gagal mengemban amanah rakyat. kolusi. *** .

berlanjut ke istri. Hatoyama memenangi Pemilu Agustus 2009 berkat janjinya memindahkan Pangkalan Futenma milik AS di Okinawa atas desakan warga setempat. anak. tak sedikit di antara pemimpin yang jelas-jelas bobrok tetap keukeuh menyatakan diri mereka tidak salah. Bahkan ketika bukti sudah kuat dan vonis sudah jatuh. seorang pemimpin akan berjuang dengan berbagai cara mempertahankan kedudukannya. 61 persen dari responden menolak kabinet Hatoyama. budaya kepemimpinan serta budaya politik masih saja menyisakan sejumlah masalah besar. meski nyata-nyata gagal memenuhi janji dan tak habis-habisnya mendapat penolakan dari masyarakat. Bahkan yang dicari bukannya solusi. . Bahkan pemimpin di negeri ini cenderung menjadikan kekuasaan turun-temurun. Kegagalannya memenuhi janji kampanye.Mampukah Indonesia Mengikuti Tradisi Politik Jepang? Oleh : Harry Veryanto Sihite di Indonesia. meski baru 8 bulan memimpin. Kendati bangsa ini sudah lama mendeklarasikan kemerdekaannya. Akhir-akhir ini PM Jepang itu memang terus mendapat tekanan. Penulis melihat perbandingan yang cukup kontras ini setelah baru-baru ini seorang pemimpin Jepang mengundurkan diri karena menganggap telah gagal dalam menjalankan amanah tugasnya. Tradisi mempertahankan kekuasaan kendati sudah diambang kesalahan tetap saja dipertahankan. Bahkan berdasarkan jajak pendapat beberapa media setempat. Apa yang dilakukan Hatoyama dan beberapa perdana Menteri "Negeri Matahari Terbit" sebelumnya sangat bertolak belakang dengan yang diperlihatkan kebanyakan pemimpin di Nusantara. Berbeda jauh misalnya kalau dibandingkan dengan Jepang. Meski nama mereka berulang kali disebut-sebut terkait penyelewengan uang negara. dan saudara. Hatoyama merupakan PM Jepang keempat yang mengundurkan diri dalam empat tahun terakhir. Tidak salah apabila ada pendapat bahwa urat malu para pemimpin di Indonesia sudah putus. dia memutuskan mundur karena tak berhasil menepati janji. khususnya para pemimpin bangsa ini tetap saja belum mengalami perubahan. menjadi alasan bagi Perdana Menteri (PM) Jepang itu mengundurkan diri. Okinawa. Adalah giliran Yukio Hatoyama yang memberi pelajaran itu. tak satupun di antaranya yang bersedia mundur atau hanya sekadar meletakkan jabatan untuk sementara hingga kasus mereka terang benderang. diduga melakukan hal-hal terkait korupsi. yakni memindahkan pangkalan militer AS di kawasan penduduk padat di kepulauan bagian selatan. Namun. ke kawasan pantai yang lebih sepi di pulau itu. serta didemo dan dihujat. Di Indonesia. namun hingga kini upaya pengisian kemerdekaan itu melalui pencerminan sikap dan perilaku. tetapi alasan pembenaran agar mereka terhindar dari jerat hukum yang sedang melilitnya. serta skandal pendanaan politik yang melibatkan dirinya bersama Sekjen Partai Demokratik Jepang Ichiro Ozawa.

Sebagai sesama bangsa Timur. Soekarno melenggang sendiri sebagai presiden tanpa didampingi wakilnya hingga akhir kekuasaan dan akhir hidupnya. Praktis. pemimpin di Indonesia seharusnya malu atas apa yang dilakukan pemimpin dari Jepang yang dengan sportif dan dalam waktu singkat melepas jabatan karena tak berhasil memenuhi janji. apalagi untuk mengumpulkan kekayaan pribadi dengan berbagai cara guna dimanfaatkan sampai tujuh keturunan. Meskipun ada indikasi penyalahgunaan kewenangan. Tapi.Pernah Ada Di Indonesia. Hatta tidak ingin terhanyut dalam kekuasaan yang mulai tidak dikontrol lagi karena demokrasi mulai dibelokkan Soekarno menjadi demokrasi terpimpin. bukannya dijadikan untuk aji mumpung. Dalam konteks berbeda. masa pemerintahan Soeharto yang dikenal sebagai era Orde Baru justru banyak mematikan budaya politik yang telah ditanam para pendiri bangsa. Pelajaran politik berharga dari Jepang perlu direnungkan para pejabat dan penyelenggara negara. dan mengutamakan jabatan dan kepentingan kelompok makin kentara. yang telah menunjukkan jiwa dan semangat dari budaya politik itu. Dalam banyak aspek. budaya semacam itu memang pernah ada. mereka terus berdalih dan mencari pengacara hebat untuk membela perbuatan dan mempertahankan kekuasaan. maka budaya malu memang harus selalu dijaga. budaya instan.Hatta yang telah melekat di hati rakyat selama lebih satu dasawarsa sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 retak. atau bahkan indikasi melakukan korupsi. Mereka pun berdalih mundur bukan budaya Indonesia. sedangkan Hatta karena inisiatif sendiri dan diajukan beberapa kali. Beberapa pemimpin negara Eropa saja-yang . Pemimpin bangsa ini seharusnya terketuk dan sadar bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijalankan. Keputusan Soeharto sangat berbeda dengan apa yang diambil Hatta. Tidak heran apabila dampak dari budaya instan dan korup di kalangan pejabat dan penyelenggara negara membuat mereka mempertahankan jabatan mati-matian. Setelah itu. mereka tidak mau mundur. Setelah Hatta resmi mundur. 21 Mei 1998. Karena itu. Ironisnya. berbuat sesuka hati. masa Orde Baru telah mengubah tradisi dan budaya politik Indonesia yang membekas hingga sekarang meskipun reformasi telah menjungkirbalikkan sistem dan tatanan politik lama. Soeharto mundur karena tekanan dan desakan. Dia mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956. Adalah Bung Hatta. Agar seorang pemimpin benar-benar amanah. Pengunduran diri itu setahun sebelumnya sudah diajukan. wakil presiden pertama RI. Soeharto juga mengundurkan diri sebagai presiden kedua RI di masa jabatan keenam. korup. setelah aksi mahasiswa besar-besaran dalam gelombang reformasi yang tidak bisa dihindari. seharusnya para pemimpin Indonesia belajar ke Jepang untuk membangkitkan kembali "urat malu". dwitunggal Soekarno.

dan nepotisme tetap marak. meski tak mampu berbuat apa-apa. Tapi nyatanya. kolusi. tradisi mundur bila ternyata gagal mengemban amanah rakyat. Sanggupkah bangsa ini keluar dari jerat korupsi dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya. Bukti banyak pemimpin di Indonesia tak mampu memenuhi janji mereka sendiri sudah cukup banyak. Buktinya kasus korupsi.? Tentu jawabannya akan terlihat secara nyata bila negeri ini mampu menjadi pewaris tradisi politik Jepang.menurut anggapan bangsa Timur tak memiliki latar belakang budaya malu-ada yang berani mundur dari jabatan. . tentunya sudah sangat keterlaluan apabila pemimpin Indonesia tetap ngotot menguasai jabatan hanya karena alasan dipilih rakyat. itu karena alasan lain. kita belum pernah mendengar seorang pemimpin Indonesia mundur dengan alasan tak mampu menepati janji. Pemimpin di negeri ini lebih banyak yang berani malu ketimbang yang amanah. termasuk karena dimundurkan atasannya. Jika pun ada yang "cabut".

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->