Budaya Politik Di Indonesia

Budaya politik adalah kebiasaan berpolitik. Negara kita ini adalah negeri yang menganut paham Demokrasi. Yang dimana dalam prakteknya semua hal harus dibicarakan bersama dan mencapai kesepakatan yang mufakat, contohnya pemilu yang merupakan Budaya politik di Indonesia. Indonesia memiliki kepala negara yaitu presiden, tetapi kekuasaan tertinggi berada ditangan rakyat dan dikembalikan lagi untuk rakyat. Indonesia harus melewati 4 tahap dalam mencapai kemerdekaanya, tahapan-tahapan itu sebagai berikut :

Angkatan Perintis ( 1908 ) Dalam angkatan perintis ini, Indonesia masih bersifat kedaerahan. Angkatan ini dimulai dari berdirinya organisasi budi utomo yang diketahui oleh sutomo, yang merupakan pelopor dari berdirinya organisasiorganisasi daerah.

Angkatan Penegas (1928 ) Dalam angkatan penegas ini, Indonesia telah bersifat Nasional atau kebangsaan yang dipelopori oleh patih gajah mada. Yang teklah mempersatukan organisasi-organisasi di daerah-daerah untuk bersatu dan menjadi organisasi nasional dengan dipersatukan melalui semboyan Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetap satu jua.

Angkatan Pendobrak ( 1945 ) Pada angkatan pendobrak ini Indonesia Merdeka. Dan otomatis perubahan status indonesia yang awalnya berbentuk kebangsaan menjadi kenegaraan.

Menurut isi yang ada di UUD 1945 alenia 1 merupakan penjabaran Indonesia sebelummerdeka yang ditandai dengan kalimat “Penjajahan diatas dunia harus dihapuskan”, alenia 2 merupakan penjbaran Indonesia hampir merdeka yang ditandai dengan kalimat “Menuju pintu depan kemerdekaan”, alenia 3 merupakan penjabaran Indonesia merdeka yang ditandai dengan kalimat “Rakyat indonesia menyatakan dengan ini Kemerdekaannya”, alenia 4 merupakan penjabaran Indonesia setelah merdeka yang ditandai dengan 4M,yaitu : 1. 2. 3. 4. Melindungi segenap bangsa indonesia Memajukan kesejahteraan umum Mencerdaskan kehidupan bangsa Melaksanakan ketertiban dunia

Indonesia telah melaksanakan pemilu 10 kali,pemilu yang pertama pada tahun 1945 kepemimpinan diketuai oleh Ir.Soekarnon dengan wakilnya MOH. Hatta akan tetapi

Pada tahun 1955. 1999 Habibi.1982.2004 Gusdur yang lengser dan hanya sesaat dalam masa jabatannya kemudian digantikan oleh Megawati.1997 Indonesia dibawah pimpinan Soeharto.1992.1987.1971.yang pemilihannya dilakukan oleh MPR dan terakhir tahun 2009 SBY.1977.kepemimpinan ini belum berbentuk kepresidenan dikarenakan tidak adanya pelantikan. yang cara pemilihannya dilakukan secara pemilu oleh semua rakyat indonesia. .

Para ahli politik menganggap Singapura sebuah negara yang berideologi ‘Demokrasi Sosialis‘. 1996. cara pemerintahan tersebut berhasil menjadikan Singapura sebuah negara yang maju. Menurutnya politik berbasis multibudaya tidak akan pas bagi negara dengan masyarakat yang multirasial seperti Singapura. R. Urutan Presiden Singapura adalah: Yusof bin Ishak. Devan Nair. Konstitusi Singapura berdasarkan sistem Westminster karana Singapura merupakan bekas jajahan Inggris. pendiri dan perancang sistem politik negara Singapura juga telahmengembangkan konsep yang menempatkan nilai budaya sebagai elemen penting dalam sebuah sistem politik. argumentasi mengenai keunggulan nilai budaya Asia (Asian values) seakan menghilang. Nathan. Amartya Sen (2001: 6) mengritik hipotesis Lee Kwan Yew bahwa negara yang didominasi oleh budaya Confucianism mempunyai peluang pertumbuhan ekonomi yang . Arena politik dikuasai oleh Partai Aksi Rakyat (PAP) yang telah memerintah sejak Singapura merdeka. dan yang sekarang menjabat adalah S. 1996. sehingga perkembangan sistem politik di Singapura lebih signifikan dan telah mengalami kemajuan daripada Negara lain. Ong Teng Cheong. 1996. C. Meskipun begitu Lee Kwan Yew. Cara pemerintahan PAP dikatakan lebih cenderung kepada otoriter daripada demokrasi yang sebenarnya. 1991: 302). Namun. 2000). Hal ini menunjukkan bahwa Singapura merupakan “anauthoritarian Confucian anomaly among the wealthy countries of the world” (Huntington. Budaya Politik Di Negara Maju (Singapura) Budaya politik di Singapura telah mengalami berbagai pengaruh dari luar terutama pengaruh ketika dijajah oleh colonial Inggris. di Singapura ditetapkan sebuah sistem yang oleh dunia Barat dianggap tidak demokratis. bebas daripada korupsi dan memiliki pasar ekonomi yang terbuka. Posisi presiden adalah simbolis dan kekuasaan pemerintahan berada di tangan perdana menteri yang merupakan ketua partai politik yang memiliki kedudukan mayoritas di parlemen. Pemerintah PAP sering dikatakan memperkenalkan undang-undang yang tidak memberi kesempatan tumbuhnya penumbuhan partai-partai oposisi yang efektif. Huntington. Lipset.Budaya Politik Negara Maju & Berkembang lawan Budaya politik Indonesia Oktober 18. Benjamin Henry Sheares.V. Fukuyama. Tetapi sejak terjadinya krisis ekonomi. 1996: Inglehart. 2009 Diarsipkan di bawah: 1 — mahierra @ 12:36 pm A. Wee Kim Wee. Berkembang pemikiran nilai budaya sebagai faktor determinan yang menentukan suksesnya ekonomi negara-negara Asia Timur. Hasil pemikiran para pakar umunya menyimpulkan bahwa budaya memberikan pengaruh tertentu bagaimana demokrasi diadopsi oleh berbagai negara (lihat Alagappa. Sebagai konsekuensinya.

. Karena itu. umumnya akan ditandai dengan bagi-bagi kekuasaan di antara koalisi yang menghasilkan transisi demokrasi tersebut. Dahl (1997: 34) memperkuat gagasan bahwa konsolidasi demokrasi menuntut budaya demokrasi yang kuat yang memberikan kematangan emosional dan dukungan yang rasional untuk menerapkan prosedur-prosedur demokrasi. Seperti dinyatakan oleh Inglehart (2000: 96) bahwa dalam jangka panjang. Sejalan dengan pemikiran Dahl. Tak heran jika proses demokratisasi disana mengalami hambatan dan tantangan menuju sistem demokrasi yang sesungguhnya. Korea.lebih cepat. Taiwan dan sekarang ini Indonesia. sebagai bentuk kepercayaan publik dan elit politik terhadap sistem nilai demokrasi. dan budaya demokrasi yang tertanam dengan kuatlah yang akan menolong negara-negara demokrasi melewati krisis tersebut. cepat atau lambat akan menghadapi krisis. Kenyataan memang menunjukan negara-negara di Asia dalam membangun sistem demokrasinya lebih banyak mengedepankan gaya demokrasi ala barat seperti Filipina. Tantangan bagi konsolidasi demokrasi adalah bagaimana menyelesaikan masalah-masalah tersebut dan tidak justru hanyut oleh permasalahan-permasalahan itu. B. Implikasinya proses demokratisasi tanpa budaya demokrasi yang mengakar menjadi rentan dan bahkan hancur ketika menghadapi krisis seperti kemerosotan ekonomi. demokrasi tidak hanya didasari pada perubahan institusi atau perilaku elit politik. hanyalah berbasis pada perhitungan empiris yang sporadik dari informasi yang terbatas dan sangat selektif. konflik regional atau konflik sosial. konsolidasi demokrasi terjadi bila masyarakat menyadari bahwa demokrasi merupakan solusi dari masalah tirani tetapi belum tentu untuk masalah lain (ibid: 263). Budaya Politik Di Negara Berkembang (Thailand) Berbicara mengenai Thailand. penurunan efektifitas kepemimpinan dalam pemerintahan yang baru sedangkan dalam pelaksanaan demokrasi itu sendiri belum akan mampu menawarkan solusi mendasar terhadap berbagai permasalahan sosial dan ekonomi di negara yang bersangkutan. atau krisis politik yang disebabkan oleh korupsi atau kepemimpinan yang terpecah.Thailand. Budaya demokratis harus berarti adanya pemahaman bahwa demokrasi bukanlah panacea. melainkan keberlangsungannya akan tergantung pada nilai dan kepercayaan dari masyarakat awam di wilayahnya. Walaupun demikian nilai budaya masih dianggap sebagai variabel penting dalam pelaksanaan demokrasi. Huntington (ibid: 258) memfokuskan pada isu budaya demokrasi dalam hubungan antara kinerja dan efektifitas pemerintah demokratis baru dan legitimasinya. Huntington memperingatkan bahwa tahun-tahun pertama berjalannya masa kekuasaan pemerintahan demokratis yang baru. masalah kudeta militer dan rezim junta militer sangatlah kental dalam perpolitikan di Thailand. Ia melandaskan penekanannya pada pentingnya budaya demokrasi pada asumsi bahwa semua sistem politik termasuk sistem demokrasi.

Anggapan mereka bahwa campur tangan militer dapat menghambat proses politik dan demokrasi. Nilai paternalisme dan patriakal dalam budaya Thai masih melekat erat. Selain itu. Selain itu. dan Budhisattava yang merupakan titisan dewa. Padahal untuk membangun sistem demokrasi diperlukan budaya dan derajat partisipasi politik yang signifikan. Dengan pondasi pengetahuan dan ilmu yang yang mereka miliki tersebut mereka menganggap bisa menjalankan dan selalu menemukan penyelesaian masalah dalam menghadapi krisis. dengan kepasifan politik masyarakat Thailand. secara historis mereka menganggap dirinya berjasa atas pertahanan dan keamanan Thailand dari kekuatan eksternal baik pada zaman monarki maupun saat revolusi. sipil. raja dianggap sebagai perwakilan Wisnu. dan cendekiawan. . Nilai-nilai tersebut tidak hanya bertentangan tapi nilai tradisional tersebut teatap dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Thai. Mereka cenderung mendukung profesionalisme militer daripada fungsi militer di ranah politik. Akibatnya. Lanjutnya bahwa persepsi tentang lawan dan bagaimana berurusan dengan mereka sering kali menggiring rezim militer memperlakukan lawan politik lebih keras dari sepatutnya sehingga merintangi penyelesaian politik. sementara dalam demokrasi membutuhkan nilai-nilai kontemporer yang mengacu pada budaya Barat. Di pihak lain. Implikasinya adalah. sipil menganggap bahwa masalah politik merupakan wilayah sipil yang harus lepas dari campur tangan militer. maka perebutan kekuasaan antara militer. Menurut Sundhaussen (1999) bahwa kebiasaan militer cenderung anti-demokrasi. Karena peran Raja tetap eksis sebagai simbol zaman keemasan Thailand dan sebagai pengayom masyarakat Thai. dimana mereka menganggap raja sebagai “father” dalam mengarahkan masyarakat ke arah yang lebih baik. Hal inilah yang kemudian berimplikasi pada pembentukan state-building dan konstitusi yang mengatur distribusi kekuasaan politik Thailand dimana selalu diwarnai oleh perebutan dan persaingan antara elit militer. pihak cendekiawan menganggap bahwa dalam menjalankan pemerintahan dan negara diperlukan sebuah kerangka berpikir dan ilmu mengenai pemerintahan dan politik dimana hanya kaum cendekiawan itulah yang bisa melakukan.Tentunya dinamika ini tak lepas juga dari budaya politik masyarakat Thai yang masih bersandar dan berpegang pada nilai-nilai tradisional. Sementara. budaya politik dan derajat partisipasi masyarakat Thailand sangat pasif. sipil. Segala tindak raja merupakan pengejahwantahan dewa yang harus dipatuhi. dan cendekiawan selalu terjadi dan ini menjadi salah satu problem lain dalam demokrasi di Thailand. Siwa. Setidaknya pandangan tersebut menjadikan masyarakat Thai sebagai masyarakat yang “tentram” tanpa ada pertumpahan darah sebagai akibat persaingan kaum elit tersebut. Hal ini kemudian bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi yang dilandaskan pada nilai-nilai liberal. yaitu sebuah budaya politik partisipan dan subjek (Almond). Sehingga tak heran bila masyarakat Thai lebih mencintai raja daripada politik. Elit militer merasa dirinya memiliki kapabilitas dan kapasitas dalam menjalakan pemerintahan dan negara karena latarbelakang pendidikan akademi militer dapat membuat mereka berpikir strategis dan taktis yang memang diperlukan oleh pertahanan dan keamanan negara. Perselisihan dan persaingan politik tersebut pada hakikatnya tak membawa masyarakat Thailand pada kondisi riot seperti di Filipina ataupun Myanmar.

Hal ini berdampak pada hubungan antar elit atas kelompoknya lebih kuat daripada dengan rakyat. 7. Hirarkis => orang Thailand lebih mementingkan tingkatan status daripada pencapaian seseorang. Patron Klien => kaum elit lebih mengedepankan kepentingan kelompoknya sendiri dari pada kepentingan untuk melayani rakyat. Hal ini kemudian yang mengarahkan masyarakat Thailand pada masyarakat yang unequal. menjadi faktor utama daripada prestasi seseorang. Berdasarkan hal tersebut diatas maka dapat dilihat bahwa demokrasi yang ada di Thailand akan selalu mengalami dan menghadapi two face of dillema dan binarry opposition. Sehingga mereka lebih memilih untuk mengalah dalam rangka mencapai kedamaian bersama aripada konfrontasi yang berdampak pada ketidakdamaian. Terlebih ini didukung dengan budaya patriakal dan paternalistik yang cenderung mengagungkan pemimpin sebagai “father” dalam keluarga yang punya wewenang dan kekuasaan atas keluarganya. Tradisionalisme => masyarakat Thailand masih memegang kuat kepercayaan mistis dan tahayul serta kepercayaan pada nenek moyang. kekayaan. proses transisi menuju Demokrasi yang sesungguhnya sesuai dengan nilai-nilai liberalisme sangat panjang dan berliku yang musti dihadapi oleh Thailand. 2. Otoritarianisme => budaya politik yang ada di Thailand cenderung mengarah pada otoritarianisme dimana kepemimpinan dipandang sebagai representasi dari dewa sehingga pelaksanaan perintah nyaris tanpa celah untuk dikritisi. Jadi. 5. Personalisme => hubungan personal lebih penting dalam politik Thailand. Terlebih hal itu diperparah dengan persaingan politik antara kaum elit yang ada. Begitu pula fungsi seorang tokoh akan sangat menentukan garis kebijakan politik karena orang Thailand yang pragmatis lebih melihat figur tokoh daripda ideologi ataupun latarbelakang partai. Karena selain peran Raja yang berpengaruh terhadap legitimasi kudeta tersebut. peran agama Budha yang cinta damai juga tak kalah pengaruhnya terhadap way of life masyarakat Thai. Sehingga karakter elit lebih pada “tuan yang diagungkan” dari pada “servant of people”. Senioritas. yaitu: 1. 3. 6. Tentunya untuk menerapkan sebuah rezim demokrasi di Thailand butuh waktu yang panjang dan proses adaptasi yang memakan biaya-sosial yang tinggi manakala nilai-nilai .Secara garis besar. Hal ini membuat irasionalitas menjadi hal yang umum terjadi dalam menghadapi kehidupan (sifat konservatif). Cinta Damai => hal ini tak lepas dari pengaruh agama Budha yang dianut orang Thailand yang mengajarkan ajara-ajaran cinta dan damai. Sehingga tak heran manakala terjadi kudeta militer tidak sampai terjadi peristiwa berdarah. yaitu di satu sisi nilai demokrasi berusaha diterapkan dan dijalankan dengan sepenuh hati namun disisi lain ada nilai-nilai tradisional yang berberturan dengan paham demokrasi. strata sosial. ada beberapa karakteristik budaya politik Thailand. Pasivitas => sifat tradisional dan percaya pada adanya hirarki serta takdir membuat masyarakat Thailand menjadi pasif dan tidak memiliki interest terhadap proses dan partisipasi politik. 4.

namun wujud untuk mencapainya berbeda. atau menggunakan akal budi tersebut. jadi Demokrasi ala Thailand. pembangunan politik dan sosial suatu bangsa bisa jadi sama. Bila melihat budaya dalam konteks politik hal ini menyangkut dengan sistem politik yang dianut suatu negara beserta segala unsur (pola bersikap & pola bertingkah laku) yang terdapat didalamnya. Oleh karena itu. Terlebih. dan madani. Tidak. Tetapi. merujuk pada kaum postmodernis. akar budaya agama Budha sangatlah kental dalam membentuk karakter masyarakat Thai. menurut atau memberi perintah tanpa mempersoalkan atau . jika mereka telah merubah tatanan nilai dan norma sesuai dengan nilai Barat. Karena.liberalisme Barat harus menjadi nilai utama dalam tranformasi sosial menuju demokrasi sesungguhnya. jika mereka menganggap bahwa nilai tradisional mereka merupakan nilai yang tidak dapat dihilangkan dan ditinggalkan begitu saja karena telah mengakar kuat dalam akar budaya dan sistem kepercayaan mereka. dicirikan kepatuhan pada pejabat-pejabat pemerintahan dan hukum yang berlaku. Hal yang perlu dilihat lagi adalah untuk membangun rezim demokrasi ala Thailand seharusnya ketiga elit yang bertentangan tersebut harus menyadari akan nilai-nilai Thai sehingga mereka dapat berkumpul bersama dengan raja dan rakyatnya untuk membentuk semacam konsensus nasional bagi pembanguanan state building yang diinginkan. demokrasi tidak akan bisa diterapkan tanpa menerapkan nilai-nilai Barat yang memang merupakan pondasi utama bagi kemajuan demokrasi suatu negara. Permasalahan yang muncul adalah apakah masyarakat bisa menerima dengan begitu saja sebuah nilai yang bukan merupakan nilai yang berasal dari budaya setempat? Tentunya antara ya dan tidak. dicirikan dengan rendahnya pengetahuan dan kesadaran politik. apakah itu mungkin? Kita lihat saja bagaimana tekanan dari negara tetangga terhadap Thailand akan merubah semua itu dan bagaimanan kaum elit tersebut sadar akan posisi nilai di masyarakat Thai. Contohnya ialah jikalau seseorang telah terbiasa dengan sikap dan tingkah laku politik yang hanya tahu menerima. Tak heran jika budaya politik mereka adalah Parokial. karena nilai-nilai yang mereka miliki meruupakan nilai warisan nenek moyang dan merupakan hal yang sakral apabila ditinggalkan. Hal ini diperlukan karena. Bagi masyarakat Thai. Perbandingan Dengan Budaya Politik Di Indonesia Budaya yang berasal dari kata ‘buddhayah’ yang berarti akal. Sekali lagi kapan? C. hal tersebut cenderung pada Tidak. nilai-nilai demokrasi pada hakikatnya bisa diterapkan sesuai dengan tata nilai dan budaya yang ada di Thailand sendiri. makmur. Ya. Sikap & tingkah laku politik seseorang menjadi suatu obyek penanda gejala-gejala politik yang akan terjadi pada orang tersebut dan orang-orang yang berada di bawah politiknya. Bila itu tercapai maka tidaklah suatu hal yang mustahil jika kondisi politik akan stabil tanpa ada persaingan antar elit. atau dapat juga didefinisikan secara terpisah yaitu dengan dua buah kata ‘budi’ dan ‘daya’ yang apabila digabungkan menghasilkan sintesa arti mendayakan budi. Sehingga nilai terbaik bagi Thailand sebenarnya bukanlah nilai Demokrasi sesuai dengan standar Barat tetapi dapat diadaptasi dan dimodifikasi dengan nilai-nilai dan tradisi Thai yang pada akhirnya akan tercipta rezim demokrasi sesuai dengan social-character masyarakat Thai. dan Subjek. yaitu ingin mencapai masyarakat yang adil.

dan tidak mengalami pengaruh dari luar. pengaruh dari luar memilki pengaruh yang sangat baik bagi perkembagan budaya politik kita. politik. negara yang mampu. patriotisme. negara yang kuat. Negara Indonesia termasuk Negara baru merdeka atau baru berkembang dari Negara lainnya. Idealisme diakui memanglah penting. Kebudayaan politik Indonesia pada dasarnya bersumber pada pola sikap dan tingkah laku politik yang majemuk. dan lain lain. Beberapa factor mempengaruhi kenapa pengaruh luar itu sangat tidak sesuai bagi perkembangan Negara kita baik di bidang budaya. baik dari per Individu maupun kolektif. Budaya politik yang diterapkan oleh Negara Indonesia pun tidak mengalami pengaruh dari intimidasi Negara lain.memberi kesempatan buat mempertanyakan apa yang terkandung dalan perintah itu. Saya mengatakan seperti itu. Meskipun. Dapat diperkirakan orang itu akan merasa aneh. Itulah dia budaya politik “Demokrasi” yang menjunjung sikap dan perilaku yang terpuji. yang sering. D. ekonomi. namun Negara Indonesia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap perkembangan dunia Internasional saat itu. itu akan memudarkan keaslian dari budaya politik Indonesia yang sesungguhnya. canggung atau frustasi bilamana ia berada dalam lingkungan masyarakatnya yang kritis. Bhineka tunggal Ika itulah kita “berbeda-beda tetapi satu jua” Itulah juga yang menjadi inspirasi bagi budaya politik kita. dan lainnya. bukan berarti Negara Indonesia juga tidak bisa melakukan seperti apa yang bisa mereka lakukan. Demokrasi biasanya mampu menjadi jalan penengah bagi atas polemik ini. politik. mempertanyakan sesuatu keputusan atau kebijaksanaan politik. dan selalu berusaha serta tolong menolong. Kita sebagai warga Negara Indonesia sebaiknya kita berbanga hati karena Negara kita memiliki budaya politik yang sangat sistematis. Kesimpulan Meskipun. dan tersusun rapi dalam pelaksanaan nya. Namun sepert itulah Indonesia. Malah mereka memiliki budaya politik yang lebih maju. kalaulah tidak selalu. Layaknya Negara Singapura yang dulunya juga merupakan wilayah jajahan Inggris sekarang telah menjadi atau termasuk salah satu Negara Maju itu karena mereka juga memilki kemampuan untuk menerima dan menyeleksi pengaruh dari luar agar dapat menjadi sebuah kemajuan bagi bangsanya sendiri terutama di bidang pembangunan. . Namun. Tetapi bersikap berlebihan atas idealisme itu akan menciptakan suatu ideologi yang sempit yang biasanya akan menciptakan suatu sikap dan tingkahlaku politik yang egois dan mau menang sendiri.

61 persen dari responden menolak kabinet Hatoyama. budaya kepemimpinan serta budaya politik masih saja menyisakan sejumlah masalah besar. Hatoyama merupakan PM Jepang keempat yang mengundurkan diri dalam empat tahun terakhir. Hatoyama memenangi Pemilu Agustus 2009 berkat janjinya memindahkan Pangkalan Futenma milik AS di Okinawa atas desakan warga setempat.…………di Indonesia. serta didemo dan dihujat. Bahkan yang dicari bukannya solusi. menjadi alasan bagi Perdana Menteri (PM) Jepang itu mengundurkan diri. tetapi alasan pembenaran agar mereka terhindar dari jerat hukum yang sedang melilitnya. Tradisi mempertahankan kekuasaan kendati sudah diambang kesalahan tetap saja dipertahankan. Berbeda jauh misalnya kalau dibandingkan dengan Jepang. khususnya para pemimpin bangsa ini tetap saja belum mengalami perubahan. meski baru 8 bulan memimpin. Kegagalannya memenuhi janji kampanye. serta skandal pendanaan politik yang melibatkan dirinya bersama Sekjen Partai Demokratik Jepang Ichiro Ozawa. dia memutuskan mundur karena tak berhasil menepati janji. ke kawasan pantai yang lebih sepi di pulau itu. meski nyata-nyata gagal memenuhi janji dan tak habishabisnya mendapat penolakan dari masyarakat. Kendati bangsa ini sudah lama mendeklarasikan kemerdekaannya. Namun. . Akhir-akhir ini PM Jepang itu memang terus mendapat tekanan. namun hingga kini upaya pengisian kemerdekaan itu melalui pencerminan sikap dan perilaku. Adalah giliran Yukio Hatoyama yang memberi pelajaran itu. yakni memindahkan pangkalan militer AS di kawasan penduduk padat di kepulauan bagian selatan. Okinawa. Apa yang dilakukan Hatoyama dan beberapa perdana Menteri "Negeri Matahari Terbit" sebelumnya sangat bertolak belakang dengan yang diperlihatkan kebanyakan pemimpin di Nusantara. Penulis melihat perbandingan yang cukup kontras ini setelah baru-baru ini seorang pemimpin Jepang mengundurkan diri karena menganggap telah gagal dalam menjalankan amanah tugasnya. seorang pemimpin akan berjuang dengan berbagai cara mempertahankan kedudukannya. Di Indonesia. Bahkan berdasarkan jajak pendapat beberapa media setempat.

dan saudara. berlanjut ke istri. Setelah Hatta resmi mundur. Hatta tidak ingin terhanyut dalam kekuasaan yang mulai tidak dikontrol lagi karena demokrasi mulai dibelokkan Soekarno menjadi demokrasi terpimpin. Praktis. yang telah menunjukkan jiwa dan semangat dari budaya politik itu. Adalah Bung Hatta. Dalam konteks berbeda. tak sedikit di antara pemimpin yang jelas-jelas bobrok tetap keukeuh menyatakan diri mereka tidak salah. sedangkan Hatta karena inisiatif sendiri dan diajukan beberapa kali. setelah aksi mahasiswa besar-besaran dalam gelombang reformasi yang tidak bisa dihindari. Keputusan Soeharto sangat berbeda dengan apa yang diambil Hatta.Bahkan pemimpin di negeri ini cenderung menjadikan kekuasaan turun-temurun. Meski nama mereka berulang kali disebut-sebut terkait penyelewengan uang negara. diduga melakukan hal-hal terkait korupsi.Hatta yang telah melekat di hati rakyat selama lebih satu dasawarsa sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 retak. Dalam banyak aspek. masa Orde Baru telah mengubah tradisi dan budaya politik Indonesia yang membekas hingga sekarang meskipun reformasi telah . Bahkan ketika bukti sudah kuat dan vonis sudah jatuh. Setelah itu. Soekarno melenggang sendiri sebagai presiden tanpa didampingi wakilnya hingga akhir kekuasaan dan akhir hidupnya. Dia mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956. Soeharto mundur karena tekanan dan desakan. budaya semacam itu memang pernah ada. 21 Mei 1998. dwitunggal Soekarno. masa pemerintahan Soeharto yang dikenal sebagai era Orde Baru justru banyak mematikan budaya politik yang telah ditanam para pendiri bangsa. Pengunduran diri itu setahun sebelumnya sudah diajukan. wakil presiden pertama RI. anak. Pernah Ada Di Indonesia. Soeharto juga mengundurkan diri sebagai presiden kedua RI di masa jabatan keenam. tak satupun di antaranya yang bersedia mundur atau hanya sekadar meletakkan jabatan untuk sementara hingga kasus mereka terang benderang. Tidak salah apabila ada pendapat bahwa urat malu para pemimpin di Indonesia sudah putus.

maka budaya malu memang harus selalu dijaga. atau bahkan indikasi melakukan korupsi. budaya instan. Pemimpin di negeri ini lebih banyak yang berani malu ketimbang yang amanah. berbuat sesuka hati. kita belum pernah mendengar seorang pemimpin Indonesia mundur dengan alasan tak mampu menepati janji. mereka tidak mau mundur. Beberapa pemimpin negara Eropa saja-yang menurut anggapan bangsa Timur tak memiliki latar belakang budaya malu-ada yang berani mundur dari jabatan. Buktinya kasus . korup. Ironisnya. Tapi. dan mengutamakan jabatan dan kepentingan kelompok makin kentara. termasuk karena dimundurkan atasannya. Pelajaran politik berharga dari Jepang perlu direnungkan para pejabat dan penyelenggara negara. mereka terus berdalih dan mencari pengacara hebat untuk membela perbuatan dan mempertahankan kekuasaan.menjungkirbalikkan sistem dan tatanan politik lama. tentunya sudah sangat keterlaluan apabila pemimpin Indonesia tetap ngotot menguasai jabatan hanya karena alasan dipilih rakyat. Pemimpin bangsa ini seharusnya terketuk dan sadar bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijalankan. seharusnya para pemimpin Indonesia belajar ke Jepang untuk membangkitkan kembali "urat malu". apalagi untuk mengumpulkan kekayaan pribadi dengan berbagai cara guna dimanfaatkan sampai tujuh keturunan. Sebagai sesama bangsa Timur. Karena itu. Tapi nyatanya. Agar seorang pemimpin benar-benar amanah. bukannya dijadikan untuk aji mumpung. meski tak mampu berbuat apa-apa. Bukti banyak pemimpin di Indonesia tak mampu memenuhi janji mereka sendiri sudah cukup banyak. Mereka pun berdalih mundur bukan budaya Indonesia. Meskipun ada indikasi penyalahgunaan kewenangan. Jika pun ada yang "cabut". Tidak heran apabila dampak dari budaya instan dan korup di kalangan pejabat dan penyelenggara negara membuat mereka mempertahankan jabatan mati-matian. itu karena alasan lain. pemimpin di Indonesia seharusnya malu atas apa yang dilakukan pemimpin dari Jepang yang dengan sportif dan dalam waktu singkat melepas jabatan karena tak berhasil memenuhi janji.

tradisi mundur bila ternyata gagal mengemban amanah rakyat.korupsi. Sanggupkah bangsa ini keluar dari jerat korupsi dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya. kolusi.? Tentu jawabannya akan terlihat secara nyata bila negeri ini mampu menjadi pewaris tradisi politik Jepang. *** . dan nepotisme tetap marak.

dia memutuskan mundur karena tak berhasil menepati janji. Bahkan berdasarkan jajak pendapat beberapa media setempat. budaya kepemimpinan serta budaya politik masih saja menyisakan sejumlah masalah besar. tak sedikit di antara pemimpin yang jelas-jelas bobrok tetap keukeuh menyatakan diri mereka tidak salah. Tradisi mempertahankan kekuasaan kendati sudah diambang kesalahan tetap saja dipertahankan. namun hingga kini upaya pengisian kemerdekaan itu melalui pencerminan sikap dan perilaku.Mampukah Indonesia Mengikuti Tradisi Politik Jepang? Oleh : Harry Veryanto Sihite di Indonesia. tak satupun di antaranya yang bersedia mundur atau hanya sekadar meletakkan jabatan untuk sementara hingga kasus mereka terang benderang. Okinawa. ke kawasan pantai yang lebih sepi di pulau itu. Penulis melihat perbandingan yang cukup kontras ini setelah baru-baru ini seorang pemimpin Jepang mengundurkan diri karena menganggap telah gagal dalam menjalankan amanah tugasnya. Apa yang dilakukan Hatoyama dan beberapa perdana Menteri "Negeri Matahari Terbit" sebelumnya sangat bertolak belakang dengan yang diperlihatkan kebanyakan pemimpin di Nusantara. Akhir-akhir ini PM Jepang itu memang terus mendapat tekanan. Bahkan pemimpin di negeri ini cenderung menjadikan kekuasaan turun-temurun. 61 persen dari responden menolak kabinet Hatoyama. . tetapi alasan pembenaran agar mereka terhindar dari jerat hukum yang sedang melilitnya. Namun. meski nyata-nyata gagal memenuhi janji dan tak habis-habisnya mendapat penolakan dari masyarakat. Meski nama mereka berulang kali disebut-sebut terkait penyelewengan uang negara. dan saudara. Berbeda jauh misalnya kalau dibandingkan dengan Jepang. Kegagalannya memenuhi janji kampanye. Hatoyama memenangi Pemilu Agustus 2009 berkat janjinya memindahkan Pangkalan Futenma milik AS di Okinawa atas desakan warga setempat. serta didemo dan dihujat. khususnya para pemimpin bangsa ini tetap saja belum mengalami perubahan. Tidak salah apabila ada pendapat bahwa urat malu para pemimpin di Indonesia sudah putus. Di Indonesia. berlanjut ke istri. menjadi alasan bagi Perdana Menteri (PM) Jepang itu mengundurkan diri. serta skandal pendanaan politik yang melibatkan dirinya bersama Sekjen Partai Demokratik Jepang Ichiro Ozawa. Bahkan ketika bukti sudah kuat dan vonis sudah jatuh. seorang pemimpin akan berjuang dengan berbagai cara mempertahankan kedudukannya. Adalah giliran Yukio Hatoyama yang memberi pelajaran itu. Hatoyama merupakan PM Jepang keempat yang mengundurkan diri dalam empat tahun terakhir. anak. meski baru 8 bulan memimpin. diduga melakukan hal-hal terkait korupsi. Kendati bangsa ini sudah lama mendeklarasikan kemerdekaannya. Bahkan yang dicari bukannya solusi. yakni memindahkan pangkalan militer AS di kawasan penduduk padat di kepulauan bagian selatan.

dwitunggal Soekarno. Pelajaran politik berharga dari Jepang perlu direnungkan para pejabat dan penyelenggara negara.Pernah Ada Di Indonesia.Hatta yang telah melekat di hati rakyat selama lebih satu dasawarsa sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 retak. masa Orde Baru telah mengubah tradisi dan budaya politik Indonesia yang membekas hingga sekarang meskipun reformasi telah menjungkirbalikkan sistem dan tatanan politik lama. Pengunduran diri itu setahun sebelumnya sudah diajukan. Dalam konteks berbeda. Dalam banyak aspek. Meskipun ada indikasi penyalahgunaan kewenangan. Sebagai sesama bangsa Timur. Pemimpin bangsa ini seharusnya terketuk dan sadar bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijalankan. Soekarno melenggang sendiri sebagai presiden tanpa didampingi wakilnya hingga akhir kekuasaan dan akhir hidupnya. seharusnya para pemimpin Indonesia belajar ke Jepang untuk membangkitkan kembali "urat malu". apalagi untuk mengumpulkan kekayaan pribadi dengan berbagai cara guna dimanfaatkan sampai tujuh keturunan. Setelah Hatta resmi mundur. mereka tidak mau mundur. 21 Mei 1998. Ironisnya. Tidak heran apabila dampak dari budaya instan dan korup di kalangan pejabat dan penyelenggara negara membuat mereka mempertahankan jabatan mati-matian. Soeharto juga mengundurkan diri sebagai presiden kedua RI di masa jabatan keenam. masa pemerintahan Soeharto yang dikenal sebagai era Orde Baru justru banyak mematikan budaya politik yang telah ditanam para pendiri bangsa. Praktis. Adalah Bung Hatta. pemimpin di Indonesia seharusnya malu atas apa yang dilakukan pemimpin dari Jepang yang dengan sportif dan dalam waktu singkat melepas jabatan karena tak berhasil memenuhi janji. Karena itu. setelah aksi mahasiswa besar-besaran dalam gelombang reformasi yang tidak bisa dihindari. Beberapa pemimpin negara Eropa saja-yang . Setelah itu. Hatta tidak ingin terhanyut dalam kekuasaan yang mulai tidak dikontrol lagi karena demokrasi mulai dibelokkan Soekarno menjadi demokrasi terpimpin. Soeharto mundur karena tekanan dan desakan. Tapi. mereka terus berdalih dan mencari pengacara hebat untuk membela perbuatan dan mempertahankan kekuasaan. Keputusan Soeharto sangat berbeda dengan apa yang diambil Hatta. budaya semacam itu memang pernah ada. Dia mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956. sedangkan Hatta karena inisiatif sendiri dan diajukan beberapa kali. maka budaya malu memang harus selalu dijaga. bukannya dijadikan untuk aji mumpung. Mereka pun berdalih mundur bukan budaya Indonesia. dan mengutamakan jabatan dan kepentingan kelompok makin kentara. Agar seorang pemimpin benar-benar amanah. yang telah menunjukkan jiwa dan semangat dari budaya politik itu. wakil presiden pertama RI. budaya instan. korup. berbuat sesuka hati. atau bahkan indikasi melakukan korupsi.

Buktinya kasus korupsi. Pemimpin di negeri ini lebih banyak yang berani malu ketimbang yang amanah.menurut anggapan bangsa Timur tak memiliki latar belakang budaya malu-ada yang berani mundur dari jabatan. meski tak mampu berbuat apa-apa. termasuk karena dimundurkan atasannya. Jika pun ada yang "cabut". Tapi nyatanya. . tentunya sudah sangat keterlaluan apabila pemimpin Indonesia tetap ngotot menguasai jabatan hanya karena alasan dipilih rakyat.? Tentu jawabannya akan terlihat secara nyata bila negeri ini mampu menjadi pewaris tradisi politik Jepang. Sanggupkah bangsa ini keluar dari jerat korupsi dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya. itu karena alasan lain. kolusi. Bukti banyak pemimpin di Indonesia tak mampu memenuhi janji mereka sendiri sudah cukup banyak. dan nepotisme tetap marak. tradisi mundur bila ternyata gagal mengemban amanah rakyat. kita belum pernah mendengar seorang pemimpin Indonesia mundur dengan alasan tak mampu menepati janji.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful