Budaya Politik Di Indonesia

Budaya politik adalah kebiasaan berpolitik. Negara kita ini adalah negeri yang menganut paham Demokrasi. Yang dimana dalam prakteknya semua hal harus dibicarakan bersama dan mencapai kesepakatan yang mufakat, contohnya pemilu yang merupakan Budaya politik di Indonesia. Indonesia memiliki kepala negara yaitu presiden, tetapi kekuasaan tertinggi berada ditangan rakyat dan dikembalikan lagi untuk rakyat. Indonesia harus melewati 4 tahap dalam mencapai kemerdekaanya, tahapan-tahapan itu sebagai berikut :

Angkatan Perintis ( 1908 ) Dalam angkatan perintis ini, Indonesia masih bersifat kedaerahan. Angkatan ini dimulai dari berdirinya organisasi budi utomo yang diketahui oleh sutomo, yang merupakan pelopor dari berdirinya organisasiorganisasi daerah.

Angkatan Penegas (1928 ) Dalam angkatan penegas ini, Indonesia telah bersifat Nasional atau kebangsaan yang dipelopori oleh patih gajah mada. Yang teklah mempersatukan organisasi-organisasi di daerah-daerah untuk bersatu dan menjadi organisasi nasional dengan dipersatukan melalui semboyan Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetap satu jua.

Angkatan Pendobrak ( 1945 ) Pada angkatan pendobrak ini Indonesia Merdeka. Dan otomatis perubahan status indonesia yang awalnya berbentuk kebangsaan menjadi kenegaraan.

Menurut isi yang ada di UUD 1945 alenia 1 merupakan penjabaran Indonesia sebelummerdeka yang ditandai dengan kalimat “Penjajahan diatas dunia harus dihapuskan”, alenia 2 merupakan penjbaran Indonesia hampir merdeka yang ditandai dengan kalimat “Menuju pintu depan kemerdekaan”, alenia 3 merupakan penjabaran Indonesia merdeka yang ditandai dengan kalimat “Rakyat indonesia menyatakan dengan ini Kemerdekaannya”, alenia 4 merupakan penjabaran Indonesia setelah merdeka yang ditandai dengan 4M,yaitu : 1. 2. 3. 4. Melindungi segenap bangsa indonesia Memajukan kesejahteraan umum Mencerdaskan kehidupan bangsa Melaksanakan ketertiban dunia

Indonesia telah melaksanakan pemilu 10 kali,pemilu yang pertama pada tahun 1945 kepemimpinan diketuai oleh Ir.Soekarnon dengan wakilnya MOH. Hatta akan tetapi

2004 Gusdur yang lengser dan hanya sesaat dalam masa jabatannya kemudian digantikan oleh Megawati. Pada tahun 1955.1982. yang cara pemilihannya dilakukan secara pemilu oleh semua rakyat indonesia.1992.1997 Indonesia dibawah pimpinan Soeharto.yang pemilihannya dilakukan oleh MPR dan terakhir tahun 2009 SBY.1971.1987. .kepemimpinan ini belum berbentuk kepresidenan dikarenakan tidak adanya pelantikan. 1999 Habibi.1977.

Pemerintah PAP sering dikatakan memperkenalkan undang-undang yang tidak memberi kesempatan tumbuhnya penumbuhan partai-partai oposisi yang efektif.V. Budaya Politik Di Negara Maju (Singapura) Budaya politik di Singapura telah mengalami berbagai pengaruh dari luar terutama pengaruh ketika dijajah oleh colonial Inggris. Urutan Presiden Singapura adalah: Yusof bin Ishak. Menurutnya politik berbasis multibudaya tidak akan pas bagi negara dengan masyarakat yang multirasial seperti Singapura. 1991: 302). dan yang sekarang menjabat adalah S. 2009 Diarsipkan di bawah: 1 — mahierra @ 12:36 pm A. Tetapi sejak terjadinya krisis ekonomi. Sebagai konsekuensinya. R. Wee Kim Wee. Namun. Cara pemerintahan PAP dikatakan lebih cenderung kepada otoriter daripada demokrasi yang sebenarnya. Benjamin Henry Sheares. 2000). Nathan. pendiri dan perancang sistem politik negara Singapura juga telahmengembangkan konsep yang menempatkan nilai budaya sebagai elemen penting dalam sebuah sistem politik. cara pemerintahan tersebut berhasil menjadikan Singapura sebuah negara yang maju. 1996. Amartya Sen (2001: 6) mengritik hipotesis Lee Kwan Yew bahwa negara yang didominasi oleh budaya Confucianism mempunyai peluang pertumbuhan ekonomi yang . Devan Nair. C.Budaya Politik Negara Maju & Berkembang lawan Budaya politik Indonesia Oktober 18. Fukuyama. sehingga perkembangan sistem politik di Singapura lebih signifikan dan telah mengalami kemajuan daripada Negara lain. Ong Teng Cheong. bebas daripada korupsi dan memiliki pasar ekonomi yang terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa Singapura merupakan “anauthoritarian Confucian anomaly among the wealthy countries of the world” (Huntington. Lipset. Meskipun begitu Lee Kwan Yew. Konstitusi Singapura berdasarkan sistem Westminster karana Singapura merupakan bekas jajahan Inggris. Huntington. 1996. di Singapura ditetapkan sebuah sistem yang oleh dunia Barat dianggap tidak demokratis. 1996: Inglehart. Arena politik dikuasai oleh Partai Aksi Rakyat (PAP) yang telah memerintah sejak Singapura merdeka. Para ahli politik menganggap Singapura sebuah negara yang berideologi ‘Demokrasi Sosialis‘. Hasil pemikiran para pakar umunya menyimpulkan bahwa budaya memberikan pengaruh tertentu bagaimana demokrasi diadopsi oleh berbagai negara (lihat Alagappa. argumentasi mengenai keunggulan nilai budaya Asia (Asian values) seakan menghilang. Berkembang pemikiran nilai budaya sebagai faktor determinan yang menentukan suksesnya ekonomi negara-negara Asia Timur. 1996. Posisi presiden adalah simbolis dan kekuasaan pemerintahan berada di tangan perdana menteri yang merupakan ketua partai politik yang memiliki kedudukan mayoritas di parlemen.

Sejalan dengan pemikiran Dahl. Budaya demokratis harus berarti adanya pemahaman bahwa demokrasi bukanlah panacea. Taiwan dan sekarang ini Indonesia. hanyalah berbasis pada perhitungan empiris yang sporadik dari informasi yang terbatas dan sangat selektif. Seperti dinyatakan oleh Inglehart (2000: 96) bahwa dalam jangka panjang. Ia melandaskan penekanannya pada pentingnya budaya demokrasi pada asumsi bahwa semua sistem politik termasuk sistem demokrasi. Tak heran jika proses demokratisasi disana mengalami hambatan dan tantangan menuju sistem demokrasi yang sesungguhnya. Kenyataan memang menunjukan negara-negara di Asia dalam membangun sistem demokrasinya lebih banyak mengedepankan gaya demokrasi ala barat seperti Filipina. konflik regional atau konflik sosial. umumnya akan ditandai dengan bagi-bagi kekuasaan di antara koalisi yang menghasilkan transisi demokrasi tersebut. Dahl (1997: 34) memperkuat gagasan bahwa konsolidasi demokrasi menuntut budaya demokrasi yang kuat yang memberikan kematangan emosional dan dukungan yang rasional untuk menerapkan prosedur-prosedur demokrasi. Budaya Politik Di Negara Berkembang (Thailand) Berbicara mengenai Thailand. konsolidasi demokrasi terjadi bila masyarakat menyadari bahwa demokrasi merupakan solusi dari masalah tirani tetapi belum tentu untuk masalah lain (ibid: 263).lebih cepat. Huntington memperingatkan bahwa tahun-tahun pertama berjalannya masa kekuasaan pemerintahan demokratis yang baru. sebagai bentuk kepercayaan publik dan elit politik terhadap sistem nilai demokrasi. Huntington (ibid: 258) memfokuskan pada isu budaya demokrasi dalam hubungan antara kinerja dan efektifitas pemerintah demokratis baru dan legitimasinya. Karena itu. Walaupun demikian nilai budaya masih dianggap sebagai variabel penting dalam pelaksanaan demokrasi. Korea. Tantangan bagi konsolidasi demokrasi adalah bagaimana menyelesaikan masalah-masalah tersebut dan tidak justru hanyut oleh permasalahan-permasalahan itu. . atau krisis politik yang disebabkan oleh korupsi atau kepemimpinan yang terpecah. dan budaya demokrasi yang tertanam dengan kuatlah yang akan menolong negara-negara demokrasi melewati krisis tersebut. B. Implikasinya proses demokratisasi tanpa budaya demokrasi yang mengakar menjadi rentan dan bahkan hancur ketika menghadapi krisis seperti kemerosotan ekonomi. demokrasi tidak hanya didasari pada perubahan institusi atau perilaku elit politik. penurunan efektifitas kepemimpinan dalam pemerintahan yang baru sedangkan dalam pelaksanaan demokrasi itu sendiri belum akan mampu menawarkan solusi mendasar terhadap berbagai permasalahan sosial dan ekonomi di negara yang bersangkutan.Thailand. cepat atau lambat akan menghadapi krisis. melainkan keberlangsungannya akan tergantung pada nilai dan kepercayaan dari masyarakat awam di wilayahnya. masalah kudeta militer dan rezim junta militer sangatlah kental dalam perpolitikan di Thailand.

Dengan pondasi pengetahuan dan ilmu yang yang mereka miliki tersebut mereka menganggap bisa menjalankan dan selalu menemukan penyelesaian masalah dalam menghadapi krisis. Di pihak lain. Segala tindak raja merupakan pengejahwantahan dewa yang harus dipatuhi. maka perebutan kekuasaan antara militer. . Lanjutnya bahwa persepsi tentang lawan dan bagaimana berurusan dengan mereka sering kali menggiring rezim militer memperlakukan lawan politik lebih keras dari sepatutnya sehingga merintangi penyelesaian politik. dan cendekiawan. Menurut Sundhaussen (1999) bahwa kebiasaan militer cenderung anti-demokrasi. Siwa. Selain itu. Sementara. yaitu sebuah budaya politik partisipan dan subjek (Almond). Mereka cenderung mendukung profesionalisme militer daripada fungsi militer di ranah politik. dan Budhisattava yang merupakan titisan dewa. raja dianggap sebagai perwakilan Wisnu. sipil. Anggapan mereka bahwa campur tangan militer dapat menghambat proses politik dan demokrasi. pihak cendekiawan menganggap bahwa dalam menjalankan pemerintahan dan negara diperlukan sebuah kerangka berpikir dan ilmu mengenai pemerintahan dan politik dimana hanya kaum cendekiawan itulah yang bisa melakukan. sipil menganggap bahwa masalah politik merupakan wilayah sipil yang harus lepas dari campur tangan militer. dimana mereka menganggap raja sebagai “father” dalam mengarahkan masyarakat ke arah yang lebih baik. Karena peran Raja tetap eksis sebagai simbol zaman keemasan Thailand dan sebagai pengayom masyarakat Thai. Selain itu.Tentunya dinamika ini tak lepas juga dari budaya politik masyarakat Thai yang masih bersandar dan berpegang pada nilai-nilai tradisional. Nilai paternalisme dan patriakal dalam budaya Thai masih melekat erat. sipil. Akibatnya. Hal ini kemudian bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi yang dilandaskan pada nilai-nilai liberal. budaya politik dan derajat partisipasi masyarakat Thailand sangat pasif. Perselisihan dan persaingan politik tersebut pada hakikatnya tak membawa masyarakat Thailand pada kondisi riot seperti di Filipina ataupun Myanmar. Sehingga tak heran bila masyarakat Thai lebih mencintai raja daripada politik. Hal inilah yang kemudian berimplikasi pada pembentukan state-building dan konstitusi yang mengatur distribusi kekuasaan politik Thailand dimana selalu diwarnai oleh perebutan dan persaingan antara elit militer. Nilai-nilai tersebut tidak hanya bertentangan tapi nilai tradisional tersebut teatap dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Thai. Elit militer merasa dirinya memiliki kapabilitas dan kapasitas dalam menjalakan pemerintahan dan negara karena latarbelakang pendidikan akademi militer dapat membuat mereka berpikir strategis dan taktis yang memang diperlukan oleh pertahanan dan keamanan negara. dan cendekiawan selalu terjadi dan ini menjadi salah satu problem lain dalam demokrasi di Thailand. Setidaknya pandangan tersebut menjadikan masyarakat Thai sebagai masyarakat yang “tentram” tanpa ada pertumpahan darah sebagai akibat persaingan kaum elit tersebut. dengan kepasifan politik masyarakat Thailand. Padahal untuk membangun sistem demokrasi diperlukan budaya dan derajat partisipasi politik yang signifikan. secara historis mereka menganggap dirinya berjasa atas pertahanan dan keamanan Thailand dari kekuatan eksternal baik pada zaman monarki maupun saat revolusi. Implikasinya adalah. sementara dalam demokrasi membutuhkan nilai-nilai kontemporer yang mengacu pada budaya Barat.

strata sosial. menjadi faktor utama daripada prestasi seseorang. kekayaan. proses transisi menuju Demokrasi yang sesungguhnya sesuai dengan nilai-nilai liberalisme sangat panjang dan berliku yang musti dihadapi oleh Thailand. Personalisme => hubungan personal lebih penting dalam politik Thailand. 6. Sehingga tak heran manakala terjadi kudeta militer tidak sampai terjadi peristiwa berdarah.Secara garis besar. Hal ini kemudian yang mengarahkan masyarakat Thailand pada masyarakat yang unequal. Cinta Damai => hal ini tak lepas dari pengaruh agama Budha yang dianut orang Thailand yang mengajarkan ajara-ajaran cinta dan damai. Tradisionalisme => masyarakat Thailand masih memegang kuat kepercayaan mistis dan tahayul serta kepercayaan pada nenek moyang. Senioritas. Otoritarianisme => budaya politik yang ada di Thailand cenderung mengarah pada otoritarianisme dimana kepemimpinan dipandang sebagai representasi dari dewa sehingga pelaksanaan perintah nyaris tanpa celah untuk dikritisi. peran agama Budha yang cinta damai juga tak kalah pengaruhnya terhadap way of life masyarakat Thai. Hal ini berdampak pada hubungan antar elit atas kelompoknya lebih kuat daripada dengan rakyat. 7. Begitu pula fungsi seorang tokoh akan sangat menentukan garis kebijakan politik karena orang Thailand yang pragmatis lebih melihat figur tokoh daripda ideologi ataupun latarbelakang partai. Hal ini membuat irasionalitas menjadi hal yang umum terjadi dalam menghadapi kehidupan (sifat konservatif). 4. 5. 3. Terlebih hal itu diperparah dengan persaingan politik antara kaum elit yang ada. Berdasarkan hal tersebut diatas maka dapat dilihat bahwa demokrasi yang ada di Thailand akan selalu mengalami dan menghadapi two face of dillema dan binarry opposition. ada beberapa karakteristik budaya politik Thailand. Sehingga karakter elit lebih pada “tuan yang diagungkan” dari pada “servant of people”. Terlebih ini didukung dengan budaya patriakal dan paternalistik yang cenderung mengagungkan pemimpin sebagai “father” dalam keluarga yang punya wewenang dan kekuasaan atas keluarganya. yaitu di satu sisi nilai demokrasi berusaha diterapkan dan dijalankan dengan sepenuh hati namun disisi lain ada nilai-nilai tradisional yang berberturan dengan paham demokrasi. yaitu: 1. Jadi. Pasivitas => sifat tradisional dan percaya pada adanya hirarki serta takdir membuat masyarakat Thailand menjadi pasif dan tidak memiliki interest terhadap proses dan partisipasi politik. Hirarkis => orang Thailand lebih mementingkan tingkatan status daripada pencapaian seseorang. Sehingga mereka lebih memilih untuk mengalah dalam rangka mencapai kedamaian bersama aripada konfrontasi yang berdampak pada ketidakdamaian. Tentunya untuk menerapkan sebuah rezim demokrasi di Thailand butuh waktu yang panjang dan proses adaptasi yang memakan biaya-sosial yang tinggi manakala nilai-nilai . 2. Patron Klien => kaum elit lebih mengedepankan kepentingan kelompoknya sendiri dari pada kepentingan untuk melayani rakyat. Karena selain peran Raja yang berpengaruh terhadap legitimasi kudeta tersebut.

jadi Demokrasi ala Thailand. Contohnya ialah jikalau seseorang telah terbiasa dengan sikap dan tingkah laku politik yang hanya tahu menerima. Tak heran jika budaya politik mereka adalah Parokial. atau dapat juga didefinisikan secara terpisah yaitu dengan dua buah kata ‘budi’ dan ‘daya’ yang apabila digabungkan menghasilkan sintesa arti mendayakan budi. dan Subjek. apakah itu mungkin? Kita lihat saja bagaimana tekanan dari negara tetangga terhadap Thailand akan merubah semua itu dan bagaimanan kaum elit tersebut sadar akan posisi nilai di masyarakat Thai. dicirikan dengan rendahnya pengetahuan dan kesadaran politik. makmur. Ya. hal tersebut cenderung pada Tidak. dicirikan kepatuhan pada pejabat-pejabat pemerintahan dan hukum yang berlaku. pembangunan politik dan sosial suatu bangsa bisa jadi sama. atau menggunakan akal budi tersebut. Karena.liberalisme Barat harus menjadi nilai utama dalam tranformasi sosial menuju demokrasi sesungguhnya. akar budaya agama Budha sangatlah kental dalam membentuk karakter masyarakat Thai. jika mereka menganggap bahwa nilai tradisional mereka merupakan nilai yang tidak dapat dihilangkan dan ditinggalkan begitu saja karena telah mengakar kuat dalam akar budaya dan sistem kepercayaan mereka. karena nilai-nilai yang mereka miliki meruupakan nilai warisan nenek moyang dan merupakan hal yang sakral apabila ditinggalkan. merujuk pada kaum postmodernis. namun wujud untuk mencapainya berbeda. Oleh karena itu. Bila melihat budaya dalam konteks politik hal ini menyangkut dengan sistem politik yang dianut suatu negara beserta segala unsur (pola bersikap & pola bertingkah laku) yang terdapat didalamnya. demokrasi tidak akan bisa diterapkan tanpa menerapkan nilai-nilai Barat yang memang merupakan pondasi utama bagi kemajuan demokrasi suatu negara. Tidak. Sehingga nilai terbaik bagi Thailand sebenarnya bukanlah nilai Demokrasi sesuai dengan standar Barat tetapi dapat diadaptasi dan dimodifikasi dengan nilai-nilai dan tradisi Thai yang pada akhirnya akan tercipta rezim demokrasi sesuai dengan social-character masyarakat Thai. Bagi masyarakat Thai. jika mereka telah merubah tatanan nilai dan norma sesuai dengan nilai Barat. Terlebih. Bila itu tercapai maka tidaklah suatu hal yang mustahil jika kondisi politik akan stabil tanpa ada persaingan antar elit. Sekali lagi kapan? C. Tetapi. Perbandingan Dengan Budaya Politik Di Indonesia Budaya yang berasal dari kata ‘buddhayah’ yang berarti akal. Hal ini diperlukan karena. yaitu ingin mencapai masyarakat yang adil. nilai-nilai demokrasi pada hakikatnya bisa diterapkan sesuai dengan tata nilai dan budaya yang ada di Thailand sendiri. Sikap & tingkah laku politik seseorang menjadi suatu obyek penanda gejala-gejala politik yang akan terjadi pada orang tersebut dan orang-orang yang berada di bawah politiknya. menurut atau memberi perintah tanpa mempersoalkan atau . dan madani. Hal yang perlu dilihat lagi adalah untuk membangun rezim demokrasi ala Thailand seharusnya ketiga elit yang bertentangan tersebut harus menyadari akan nilai-nilai Thai sehingga mereka dapat berkumpul bersama dengan raja dan rakyatnya untuk membentuk semacam konsensus nasional bagi pembanguanan state building yang diinginkan. Permasalahan yang muncul adalah apakah masyarakat bisa menerima dengan begitu saja sebuah nilai yang bukan merupakan nilai yang berasal dari budaya setempat? Tentunya antara ya dan tidak.

dan tidak mengalami pengaruh dari luar. politik. . Kesimpulan Meskipun. itu akan memudarkan keaslian dari budaya politik Indonesia yang sesungguhnya. dan lainnya. Namun. negara yang kuat. Demokrasi biasanya mampu menjadi jalan penengah bagi atas polemik ini. Kita sebagai warga Negara Indonesia sebaiknya kita berbanga hati karena Negara kita memiliki budaya politik yang sangat sistematis. dan selalu berusaha serta tolong menolong. Dapat diperkirakan orang itu akan merasa aneh. Kebudayaan politik Indonesia pada dasarnya bersumber pada pola sikap dan tingkah laku politik yang majemuk.memberi kesempatan buat mempertanyakan apa yang terkandung dalan perintah itu. mempertanyakan sesuatu keputusan atau kebijaksanaan politik. Beberapa factor mempengaruhi kenapa pengaruh luar itu sangat tidak sesuai bagi perkembangan Negara kita baik di bidang budaya. yang sering. bukan berarti Negara Indonesia juga tidak bisa melakukan seperti apa yang bisa mereka lakukan. Malah mereka memiliki budaya politik yang lebih maju. Itulah dia budaya politik “Demokrasi” yang menjunjung sikap dan perilaku yang terpuji. dan lain lain. Budaya politik yang diterapkan oleh Negara Indonesia pun tidak mengalami pengaruh dari intimidasi Negara lain. Namun sepert itulah Indonesia. namun Negara Indonesia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap perkembangan dunia Internasional saat itu. Negara Indonesia termasuk Negara baru merdeka atau baru berkembang dari Negara lainnya. dan tersusun rapi dalam pelaksanaan nya. Bhineka tunggal Ika itulah kita “berbeda-beda tetapi satu jua” Itulah juga yang menjadi inspirasi bagi budaya politik kita. politik. baik dari per Individu maupun kolektif. Saya mengatakan seperti itu. pengaruh dari luar memilki pengaruh yang sangat baik bagi perkembagan budaya politik kita. kalaulah tidak selalu. Meskipun. Idealisme diakui memanglah penting. D. patriotisme. Layaknya Negara Singapura yang dulunya juga merupakan wilayah jajahan Inggris sekarang telah menjadi atau termasuk salah satu Negara Maju itu karena mereka juga memilki kemampuan untuk menerima dan menyeleksi pengaruh dari luar agar dapat menjadi sebuah kemajuan bagi bangsanya sendiri terutama di bidang pembangunan. negara yang mampu. Tetapi bersikap berlebihan atas idealisme itu akan menciptakan suatu ideologi yang sempit yang biasanya akan menciptakan suatu sikap dan tingkahlaku politik yang egois dan mau menang sendiri. canggung atau frustasi bilamana ia berada dalam lingkungan masyarakatnya yang kritis. ekonomi.

Berbeda jauh misalnya kalau dibandingkan dengan Jepang. Tradisi mempertahankan kekuasaan kendati sudah diambang kesalahan tetap saja dipertahankan. Kendati bangsa ini sudah lama mendeklarasikan kemerdekaannya. yakni memindahkan pangkalan militer AS di kawasan penduduk padat di kepulauan bagian selatan. namun hingga kini upaya pengisian kemerdekaan itu melalui pencerminan sikap dan perilaku. seorang pemimpin akan berjuang dengan berbagai cara mempertahankan kedudukannya. serta didemo dan dihujat. khususnya para pemimpin bangsa ini tetap saja belum mengalami perubahan. ke kawasan pantai yang lebih sepi di pulau itu. Kegagalannya memenuhi janji kampanye. Apa yang dilakukan Hatoyama dan beberapa perdana Menteri "Negeri Matahari Terbit" sebelumnya sangat bertolak belakang dengan yang diperlihatkan kebanyakan pemimpin di Nusantara. serta skandal pendanaan politik yang melibatkan dirinya bersama Sekjen Partai Demokratik Jepang Ichiro Ozawa. Hatoyama merupakan PM Jepang keempat yang mengundurkan diri dalam empat tahun terakhir. menjadi alasan bagi Perdana Menteri (PM) Jepang itu mengundurkan diri. Namun. Bahkan berdasarkan jajak pendapat beberapa media setempat. budaya kepemimpinan serta budaya politik masih saja menyisakan sejumlah masalah besar. Akhir-akhir ini PM Jepang itu memang terus mendapat tekanan. 61 persen dari responden menolak kabinet Hatoyama. .…………di Indonesia. tetapi alasan pembenaran agar mereka terhindar dari jerat hukum yang sedang melilitnya. Penulis melihat perbandingan yang cukup kontras ini setelah baru-baru ini seorang pemimpin Jepang mengundurkan diri karena menganggap telah gagal dalam menjalankan amanah tugasnya. Bahkan yang dicari bukannya solusi. Hatoyama memenangi Pemilu Agustus 2009 berkat janjinya memindahkan Pangkalan Futenma milik AS di Okinawa atas desakan warga setempat. meski baru 8 bulan memimpin. Okinawa. dia memutuskan mundur karena tak berhasil menepati janji. Di Indonesia. Adalah giliran Yukio Hatoyama yang memberi pelajaran itu. meski nyata-nyata gagal memenuhi janji dan tak habishabisnya mendapat penolakan dari masyarakat.

budaya semacam itu memang pernah ada. anak. tak sedikit di antara pemimpin yang jelas-jelas bobrok tetap keukeuh menyatakan diri mereka tidak salah. berlanjut ke istri.Bahkan pemimpin di negeri ini cenderung menjadikan kekuasaan turun-temurun. Pengunduran diri itu setahun sebelumnya sudah diajukan. Setelah itu. Dalam banyak aspek. Soekarno melenggang sendiri sebagai presiden tanpa didampingi wakilnya hingga akhir kekuasaan dan akhir hidupnya. diduga melakukan hal-hal terkait korupsi. masa Orde Baru telah mengubah tradisi dan budaya politik Indonesia yang membekas hingga sekarang meskipun reformasi telah . Tidak salah apabila ada pendapat bahwa urat malu para pemimpin di Indonesia sudah putus. Praktis. Soeharto juga mengundurkan diri sebagai presiden kedua RI di masa jabatan keenam. Pernah Ada Di Indonesia. 21 Mei 1998. Setelah Hatta resmi mundur. tak satupun di antaranya yang bersedia mundur atau hanya sekadar meletakkan jabatan untuk sementara hingga kasus mereka terang benderang. sedangkan Hatta karena inisiatif sendiri dan diajukan beberapa kali. Dalam konteks berbeda. masa pemerintahan Soeharto yang dikenal sebagai era Orde Baru justru banyak mematikan budaya politik yang telah ditanam para pendiri bangsa. Keputusan Soeharto sangat berbeda dengan apa yang diambil Hatta.Hatta yang telah melekat di hati rakyat selama lebih satu dasawarsa sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 retak. Meski nama mereka berulang kali disebut-sebut terkait penyelewengan uang negara. setelah aksi mahasiswa besar-besaran dalam gelombang reformasi yang tidak bisa dihindari. dan saudara. wakil presiden pertama RI. Soeharto mundur karena tekanan dan desakan. Dia mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956. yang telah menunjukkan jiwa dan semangat dari budaya politik itu. Hatta tidak ingin terhanyut dalam kekuasaan yang mulai tidak dikontrol lagi karena demokrasi mulai dibelokkan Soekarno menjadi demokrasi terpimpin. dwitunggal Soekarno. Bahkan ketika bukti sudah kuat dan vonis sudah jatuh. Adalah Bung Hatta.

Ironisnya. dan mengutamakan jabatan dan kepentingan kelompok makin kentara. meski tak mampu berbuat apa-apa. pemimpin di Indonesia seharusnya malu atas apa yang dilakukan pemimpin dari Jepang yang dengan sportif dan dalam waktu singkat melepas jabatan karena tak berhasil memenuhi janji. kita belum pernah mendengar seorang pemimpin Indonesia mundur dengan alasan tak mampu menepati janji. atau bahkan indikasi melakukan korupsi. Pelajaran politik berharga dari Jepang perlu direnungkan para pejabat dan penyelenggara negara. Pemimpin di negeri ini lebih banyak yang berani malu ketimbang yang amanah.menjungkirbalikkan sistem dan tatanan politik lama. mereka terus berdalih dan mencari pengacara hebat untuk membela perbuatan dan mempertahankan kekuasaan. Jika pun ada yang "cabut". Sebagai sesama bangsa Timur. tentunya sudah sangat keterlaluan apabila pemimpin Indonesia tetap ngotot menguasai jabatan hanya karena alasan dipilih rakyat. maka budaya malu memang harus selalu dijaga. Tapi nyatanya. bukannya dijadikan untuk aji mumpung. Meskipun ada indikasi penyalahgunaan kewenangan. termasuk karena dimundurkan atasannya. Pemimpin bangsa ini seharusnya terketuk dan sadar bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijalankan. Buktinya kasus . seharusnya para pemimpin Indonesia belajar ke Jepang untuk membangkitkan kembali "urat malu". Tapi. mereka tidak mau mundur. budaya instan. korup. Tidak heran apabila dampak dari budaya instan dan korup di kalangan pejabat dan penyelenggara negara membuat mereka mempertahankan jabatan mati-matian. berbuat sesuka hati. Bukti banyak pemimpin di Indonesia tak mampu memenuhi janji mereka sendiri sudah cukup banyak. itu karena alasan lain. Karena itu. Mereka pun berdalih mundur bukan budaya Indonesia. Agar seorang pemimpin benar-benar amanah. apalagi untuk mengumpulkan kekayaan pribadi dengan berbagai cara guna dimanfaatkan sampai tujuh keturunan. Beberapa pemimpin negara Eropa saja-yang menurut anggapan bangsa Timur tak memiliki latar belakang budaya malu-ada yang berani mundur dari jabatan.

dan nepotisme tetap marak. *** . tradisi mundur bila ternyata gagal mengemban amanah rakyat. Sanggupkah bangsa ini keluar dari jerat korupsi dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya.korupsi.? Tentu jawabannya akan terlihat secara nyata bila negeri ini mampu menjadi pewaris tradisi politik Jepang. kolusi.

meski baru 8 bulan memimpin. Adalah giliran Yukio Hatoyama yang memberi pelajaran itu. tak satupun di antaranya yang bersedia mundur atau hanya sekadar meletakkan jabatan untuk sementara hingga kasus mereka terang benderang. dia memutuskan mundur karena tak berhasil menepati janji. Hatoyama merupakan PM Jepang keempat yang mengundurkan diri dalam empat tahun terakhir. Tradisi mempertahankan kekuasaan kendati sudah diambang kesalahan tetap saja dipertahankan. . Meski nama mereka berulang kali disebut-sebut terkait penyelewengan uang negara. Berbeda jauh misalnya kalau dibandingkan dengan Jepang. Akhir-akhir ini PM Jepang itu memang terus mendapat tekanan. tetapi alasan pembenaran agar mereka terhindar dari jerat hukum yang sedang melilitnya. Kendati bangsa ini sudah lama mendeklarasikan kemerdekaannya. anak. berlanjut ke istri. serta skandal pendanaan politik yang melibatkan dirinya bersama Sekjen Partai Demokratik Jepang Ichiro Ozawa. Okinawa. diduga melakukan hal-hal terkait korupsi. meski nyata-nyata gagal memenuhi janji dan tak habis-habisnya mendapat penolakan dari masyarakat. Bahkan yang dicari bukannya solusi. Hatoyama memenangi Pemilu Agustus 2009 berkat janjinya memindahkan Pangkalan Futenma milik AS di Okinawa atas desakan warga setempat. Penulis melihat perbandingan yang cukup kontras ini setelah baru-baru ini seorang pemimpin Jepang mengundurkan diri karena menganggap telah gagal dalam menjalankan amanah tugasnya. khususnya para pemimpin bangsa ini tetap saja belum mengalami perubahan. Kegagalannya memenuhi janji kampanye. menjadi alasan bagi Perdana Menteri (PM) Jepang itu mengundurkan diri. namun hingga kini upaya pengisian kemerdekaan itu melalui pencerminan sikap dan perilaku. Bahkan pemimpin di negeri ini cenderung menjadikan kekuasaan turun-temurun. Namun. Bahkan ketika bukti sudah kuat dan vonis sudah jatuh. seorang pemimpin akan berjuang dengan berbagai cara mempertahankan kedudukannya. Tidak salah apabila ada pendapat bahwa urat malu para pemimpin di Indonesia sudah putus. Bahkan berdasarkan jajak pendapat beberapa media setempat. tak sedikit di antara pemimpin yang jelas-jelas bobrok tetap keukeuh menyatakan diri mereka tidak salah. budaya kepemimpinan serta budaya politik masih saja menyisakan sejumlah masalah besar. serta didemo dan dihujat. dan saudara. 61 persen dari responden menolak kabinet Hatoyama. ke kawasan pantai yang lebih sepi di pulau itu. yakni memindahkan pangkalan militer AS di kawasan penduduk padat di kepulauan bagian selatan. Di Indonesia. Apa yang dilakukan Hatoyama dan beberapa perdana Menteri "Negeri Matahari Terbit" sebelumnya sangat bertolak belakang dengan yang diperlihatkan kebanyakan pemimpin di Nusantara.Mampukah Indonesia Mengikuti Tradisi Politik Jepang? Oleh : Harry Veryanto Sihite di Indonesia.

Hatta yang telah melekat di hati rakyat selama lebih satu dasawarsa sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 retak. Beberapa pemimpin negara Eropa saja-yang . mereka terus berdalih dan mencari pengacara hebat untuk membela perbuatan dan mempertahankan kekuasaan. Sebagai sesama bangsa Timur. Dalam konteks berbeda. Tidak heran apabila dampak dari budaya instan dan korup di kalangan pejabat dan penyelenggara negara membuat mereka mempertahankan jabatan mati-matian. sedangkan Hatta karena inisiatif sendiri dan diajukan beberapa kali. Soeharto juga mengundurkan diri sebagai presiden kedua RI di masa jabatan keenam. Setelah Hatta resmi mundur. Pemimpin bangsa ini seharusnya terketuk dan sadar bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijalankan. Setelah itu. Keputusan Soeharto sangat berbeda dengan apa yang diambil Hatta. masa pemerintahan Soeharto yang dikenal sebagai era Orde Baru justru banyak mematikan budaya politik yang telah ditanam para pendiri bangsa. wakil presiden pertama RI. berbuat sesuka hati. dwitunggal Soekarno. Hatta tidak ingin terhanyut dalam kekuasaan yang mulai tidak dikontrol lagi karena demokrasi mulai dibelokkan Soekarno menjadi demokrasi terpimpin. Praktis. Meskipun ada indikasi penyalahgunaan kewenangan. budaya instan. budaya semacam itu memang pernah ada. Ironisnya. Dalam banyak aspek. 21 Mei 1998. seharusnya para pemimpin Indonesia belajar ke Jepang untuk membangkitkan kembali "urat malu". Karena itu. mereka tidak mau mundur. Dia mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956.Pernah Ada Di Indonesia. Soeharto mundur karena tekanan dan desakan. yang telah menunjukkan jiwa dan semangat dari budaya politik itu. korup. atau bahkan indikasi melakukan korupsi. dan mengutamakan jabatan dan kepentingan kelompok makin kentara. Soekarno melenggang sendiri sebagai presiden tanpa didampingi wakilnya hingga akhir kekuasaan dan akhir hidupnya. maka budaya malu memang harus selalu dijaga. masa Orde Baru telah mengubah tradisi dan budaya politik Indonesia yang membekas hingga sekarang meskipun reformasi telah menjungkirbalikkan sistem dan tatanan politik lama. Tapi. pemimpin di Indonesia seharusnya malu atas apa yang dilakukan pemimpin dari Jepang yang dengan sportif dan dalam waktu singkat melepas jabatan karena tak berhasil memenuhi janji. apalagi untuk mengumpulkan kekayaan pribadi dengan berbagai cara guna dimanfaatkan sampai tujuh keturunan. setelah aksi mahasiswa besar-besaran dalam gelombang reformasi yang tidak bisa dihindari. Agar seorang pemimpin benar-benar amanah. bukannya dijadikan untuk aji mumpung. Pengunduran diri itu setahun sebelumnya sudah diajukan. Adalah Bung Hatta. Mereka pun berdalih mundur bukan budaya Indonesia. Pelajaran politik berharga dari Jepang perlu direnungkan para pejabat dan penyelenggara negara.

tentunya sudah sangat keterlaluan apabila pemimpin Indonesia tetap ngotot menguasai jabatan hanya karena alasan dipilih rakyat. Tapi nyatanya. termasuk karena dimundurkan atasannya. Jika pun ada yang "cabut". tradisi mundur bila ternyata gagal mengemban amanah rakyat. Buktinya kasus korupsi. itu karena alasan lain. Pemimpin di negeri ini lebih banyak yang berani malu ketimbang yang amanah. kita belum pernah mendengar seorang pemimpin Indonesia mundur dengan alasan tak mampu menepati janji. Sanggupkah bangsa ini keluar dari jerat korupsi dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya. Bukti banyak pemimpin di Indonesia tak mampu memenuhi janji mereka sendiri sudah cukup banyak.? Tentu jawabannya akan terlihat secara nyata bila negeri ini mampu menjadi pewaris tradisi politik Jepang. dan nepotisme tetap marak. meski tak mampu berbuat apa-apa. .menurut anggapan bangsa Timur tak memiliki latar belakang budaya malu-ada yang berani mundur dari jabatan. kolusi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful