P. 1
Efektifitas Larangan Pernikahan Di Bawah Umur

Efektifitas Larangan Pernikahan Di Bawah Umur

|Views: 1,052|Likes:
Published by ade_pramudia

More info:

Published by: ade_pramudia on Sep 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/24/2012

pdf

text

original

A.

Efektifitas Larangan Pernikahan Di Bawah Umur Menurut UndangUndang No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinaan (studi di Kota Praya Lombok Tengah) B. Latar Belakang Manusia dalam proses perkembangannya membutuhkan pasangan hidup yang dapat memberikan keturunan sesuai dengan apa yang diinginkannya. Perkawinan sebagai jalan untuk bisa mewujudkan suatu keluarga/rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini dimaksudkan, bahwa perkawinan itu hendaknya berlangsung seumur hidup dan tidak boleh berakhir begitu saja. Pembentukan keluarga yang bahagia dan kekal itu, haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Bahwa Perkawinan bagi manusia merupakan hal yang penting, karena dengan sebuah perkawinan seseorang akan memperoleh keseimbangan hidup baik secara sosial biologis, psikologis maupun secara sosial. Kematangan emosi merupakan aspek yang sangat penting untuk menjaga kelangsungan perkawinan. Keberhasilan rumah tangga sangat banyak di tentukan oleh kematangan emosi, baik suami maupun istri. Dengan dilangsungkannya perkawinan maka status sosialnya dalam kehidupan bermasyarakat diakui sebagai pasangan suami-istri, dan sah menurut hukum. Perkawinan pada umumnya dilakukan oleh orang dewasa dengan tidak memandang pada profesi, agama, suku bangsa, miskin atau kaya, tinggal di desa atau di kota. Namun tidak sedikit manusia yang sudah mempunyai kemampuan baik fisik maupun mental akan mencari pasangannya sesuai dengan apa yang diinginkannya. Dalam kehidupan manusia perkawinan bukanlah bersifat sementara tetapi untuk seumur hidup. Namun tidak semua orang tidak bisa memahami hakekat dan tujuan dari perkawinan yang seutuhnya yaitu mendapatkan kebahagiaan yang sejati dalam berumah-tangga.

Meskipun batas umur perkawinan telah ditetapkan dalam pasal 7 ayat (1) UU No. 1 Tahun 74, yaitu perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Namun dalam prakteknya masih banyak kita jumpai perkawinan pada usia muda atau di bawah umur. Padahal perkawinan yang sukses pasti membutuhkan kedewasaan tanggung jawab secara fisik maupun mental, untuk bisa mewujudkan harapan yang ideal dalam kehidupan berumah tangga. Bahwa untuk dapat menunjang hakekat dan tujuan perkawinan itu sendiri, batas usia untuk melangsungkan perkawinan adalah sangat penting. Hal ini disebabkan karena didalam perkawinan menghendaki kematangan psikologis. Usia perkawinan yang terlalu muda dapat memicu meningkatnya kasus perceraian karena kurangnya kematangan emosi/ kesadaran untuk bertanggung jawab dalam kehidupan berumah tangga bagi suami istri. Pernikahan yang sukses ditandai dengan kesiapan memikul tanggungjawab. Begitu memutuskan untuk menikah, mereka siap menanggung segala beban yang timbul akibat adanya pernikahan, baik yang menyangkut pemberian nafkah, pendidikan anak, maupun yang berkait dengan perlindungan, pendidikan, serta pergaulan yang baik. Dengan perkawinan pada usia yang terlalu muda mustahil akan memperoleh keturunan yang berkualitas. Karena faktor kedewasaan kedua orang tuanya sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak, karena baik ibu maupun bapaknya yang telah dewasa secara psikologis akan lebih terkendali emosi maupun tindakannya, bila dibandingkan dengan orang tua yang relatif usianya lebih muda. Selain mempengaruhi aspek fisik, umur ibu juga mempengaruhi aspek psikologi anak, ibu usia remaja sebenarnya belum siap untuk menjadi ibu dalam arti keterampilan mengasuh anaknya. karena Ibu muda ini lebih menonjolkan sifat keremajaannya daripada sifat keibuannya. Zakiyah Daradjat (1975) mendefinisikan remaja sebagai anak yang ada pada masa peralihan dari masa anak-anak menuju usia dewasa pada masa peralihan ini biasanya terjadi percepatan pertumbuhan dalam segi fisik maupun psikis. Baik ditinjau dari bentuk badan, sikap, cara berpikir dan

2

serta belum memiliki tentang masa depan yang baik. Sifat keremajaan ini seperti : emosi belum stabil. Rendahnya angka kecerdasan anak-anak tersebut karena si ibu belum memberi stimulasi mental pada anak-anak mereka. Aspek kecerdasan non bahasa berkembang bila si ibu dapat memberikan permainan atau stimulan mental yang baik. Sebagaimana dikemukakan oleh Azis Muslim Ms yaitu: Anak-anak yang dilahirkan oleh ibu-ibu remaja mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan anak yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang lebih dewasa. belum memiliki kemampuan yang matang untuk menyelesaikan konflik-konflik yang dihadapi. karena hal itu akan berpengaruh terhadap pertumbuhan anak kelak dikemudian hari. Berdasarkan uraian tersebut diatas maka penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan tentang Praya Lombok Tengah)” “ Efektifitas Larangan Pernikahan Dibawah Umur Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 (Studi Di Kota 3 . Biasanya anak-anak kurang kecerdasannya. Ibu remaja biasanya kurang mampu memberikan stimulan mental itu. Hal ini disebabkan karena ibu-ibu yang masih remaja belum mempunyai kesiapan untuk menjadi ibu.bertindak mereka bukan lagi anak-anak. Perkembangan bahasa si anak sangat tergantung pada cara si ibu berbicara pada anaknya. Mereka juga belum dikatakan manusia dewasa yang yang memiliki kematangan pikiran. Oleh sebab itulah maka sangat penting untuk memperhatikan umur pada anak yang akan menikah. Berdasarkan uraian di atas dapat diperoleh gambaran bahwa kedewasaan seorang ibu baik secara fisik maupun mental mempuyai peranan sangat penting. Perkawinan usia muda juga membawa pengaruh yang tidak baik bagi anak-anak mereka.

Secara Teoritis Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka mengembangkan ilmu hukum. khususnya dalam bidang perkawinan . Apakah Larangan pernikahan di bawah umur menurut Undang-undang No. maka penulis makalah ini merumuskan merumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. telah memberikan gambaran pemikiran yang masih bias. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis ataupun secara praktis sebagai berikut: 1. Faktor-faktor apa yang mendorong terjadinya perkawinan di bawah umur di kota Praya Lombok Tengah? D. 2. Adapun tujuan penelitian ini adalah : 1. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dapat berlaku efektif pada masyarakat Praya Lombok Tengah . 4 .Secara Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat umum. 2. Pokok Permasalahan Dari ulasan latar belakang diatas. Untuk mengetahui apakah larangan pernikahan di bawah umur menurut Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dapat berlaku efektif pada masyarakat Praya Lombok Tengah ? 2. khususnya para masyarakat luas.C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Setelah merumuskan rumusan masalah dan mengetahui ruang lingkup pembahasan maka selanjutnya adalah merumuskan tujuan dan kegunaan penulisan yang di rumuskan secara deskriptif dan merupakan pernyataanpernyataan apa yang hendak dicapai dengan penelitian yang akan di lakukan. Untuk mengetahui Faktor-faktor apa yang mendorong terjadinya perkawinan di bawah umur di kota Praya Lombok Tengah. Agar permasalahan ini lebih terarah.

Hukum agama adalah suatu perbuatan yang suci (sakramen. 1 Tahun 1974 pasal 1. Adapun ruang lingkup penelitian ini adalah tentang efektifitas larangan pernikahan dibawah umur menurut undang-undang nomor 1 tahun 1974 di kota Praya Lombok Tengah. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata perkawinan adalah pertalian yang sah antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk waktu yang lama. F. samskara) yaitu perkawinan adalah suatu perikatan antara dua belah pihak yaitu pihak pria dan pihak wanita dalam memenuhi perintah dan anjuran Yang Maha Esa.E. Sesuai dengan latar belakang permasalahan dan perumusannya dan untuk menjaga agar tidak menimbulkan penafsiran yang terlalu luas mengenai masalah yang dibahas. urusan pribadi satu sama lain dalam hubungan yang berbeda-beda. Perkawinan menurut hukum adat suatu perkawinan merupakan urusan kerabat/urusan masyarakat. Ruang Lingkup Penelitian. Pengertian Perkawinan Perkawinan menurut Undang-undang No. 5 . Landasan Teoritik 1. atau merupakan salah satu cara untuk menjalankan upacara-upacara yang banyak corak ragamnya menurut tradisi masing-masing tradisi. agar kehidupan keluarga dan berumah-tangga serta berkerabat bisa berjalan dengan baik sesuai dengan anjuran agamanya. maka dalam penelitian ini perlu diberikan suatu pembatasan-pembatasan yang membatasi ruang lingkup kajiannya. perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai seorang suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah-tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

ini berarti bahwa meraka memisahkan yang lebih jauh ialah kalau dikemudian tersendiri.. Perkawinan Menurut Perundang-Undangan Hidup bersama dalam suatu perkawinan mempunyai akibat yang sangat penting di dalam maysarakat. 1976:10).Hukum Islam perkawinan adalah akad atau persetujuan antara calon suami dan calon istri karenanya berlangsung melalui ijab dan qobul atau serah terima. Berhubung dengan akibat yang sangat penting dari hidup bersama ini maka masyarakat membutuhkan suatu peraturan dari hidup bersama tersebut. Menurut wiryono. Apabila akad nikah tersebut telah dilangsungkan. akan hidup semati dalam menjalani rumah-tangga bersama-sama (Thoha Nasruddin. Sebagi suatu keadaan hukum yaitu keadaan bahwa seorang pria dan wanita terikat oleh suatu hubungan perkawinan. Di dalam KUH Perdata (BW) tidak memberikan definisi tentang perkawinan. Akibat paling dekatnya adalah bahwa dalam hidup bersama antara dua orang manusia. 2. Sebagai suatu perbuatan yaitu perbuatan melangsungkan perkawinan. Istilah perkawinan digunakan digunankan dalam dua arti yaitu : 1. 2. perkawinan adalah hidup bersama dari seorang lakilaki dan seorang perempuan yang memenuhi syarat-syarat tertentu (wiryono. maka mereka telah berjanji dan bersedia menciptakan rumah-tangga yang harmonis. 1978:15). Hal ini berarti hari mereka itu mempunyai anak-anak keturunan maka dengan anak keturunannya itu mereka merupakan suatu keluarga 6 . Menurut pasal 26 KUH Perdata dikatakan bahwa “Undang-undang memandang soal perkawinan hanya dalam hubungan perdata”. Subekti mengartiakan bahwa perkawinan adalah pertalian yang syah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk waktu yang lama. Jadi keadaan hukum ini adalah sebagai suatu akibat dari perbuatan melangsungkan perkawinan. Dari peraturan inilah pada akhirnya menimbulkan pengertian perkawinan dan pengertaian perkawinan ini ditentukan oleh hukum yang berlaku di tiap-tiap negara.

sehingga perkawianan bukan saja mempunyai unsure lahiriah/ jasmani tetapi juga unsurr batin/ rohani mempunyai peranan sangat penting. sebelum kedua belah pihak kepada pejabat agama mereka membuktikan bahwa perkawinan dihadapan Pegawai Catatan Sipil telah berlangsung”. Dan kalimat seperti ini tidak akan dijumpai dalam KUH Perdata (BW).terlepas dari peraturan-peraturan tentang perkawinan yang mungkin diadakan oleh suatu agama tertentu dan di dalam pasal 81 KUH Perdata disebutkan bahwa “ Tiada suatu upacara keagamaan boleh dilakukan. Hal ini dapat dilihat dalam tujuan pekawinan yang terdapat dalam pasal 1 Undangundang No. Hukum Agama Hindu Budha dan Hukum Adat” Jadi jelaslah bahwa di dalam KUH Perdata Perkawinan itu hanya dilihat dari segi keperdataan dan mengabaikan segi keagamaan.1 Tahun 1974 perlu dipahami bener-benar oleh masyarakat Indonesia karena hal ini merupakan landasan pokok dari aturan hukum perkawinan lebih 7 . Sehingga hal ini bertentangan dengan falsafah negara Pancasila yang menempatkan ajaran Ketuhanan Yang Maha di atas segala-galanya. yang hanya dapat dilangsungkan dihadapan Pejabat Catatan Sipil. diancam dengan pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.1 Tahun 1974 bahwa “ Perkawinan bertujuan membentuk keluarga (rumah tangga ) yang kekal dan bahagia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa “. Apalagi menyangkut masalah yang merupakan perbuatan suci yang mempunyai hubungan erat sekali dengan agama. Menurut Hilman Hadikusuma dalam kalimat yang menyatakan bahwa “ang” hanya dapat dilangsungan dihadapan pejabat catatan sipil tersebut menunjukan bahwa peraturan itu tidak berlaku bagi mereka yang mengunakan Hukum Islam. sebelum dinyatakan kepadanya bahwa pelangsungan dihadapan pejabat itu sudah dilakukan. Sedangkan perkawinaan menurut Undang-undang No. Pasal 81 KUH Perdata ini diperkuat oleh pasal 530 ayat 1 KUH Pidana yang menyatakan bahwa : Seorang petugas agama yang melakukan upacara perkawinan. 1 Tahun 1974 tidak hanya sebagai ikatan perdata tatapi juga merupakan ikatan perkawinan. Pengertian perkawinan sebagaimana dinyatakan dalam pasal 1 Undangundang No.

lanjut yang terdapat dalam Undang-undang No. Disamping itu pengertian perkawianan bukan berati bahwa perkawinan sebagai suatu perjanjian dengan alasan karena persamaan antara kedua hal tersebut yaitu sama-sama dibutuhkannya suatu persetujuan dari kedua belah pihak. seperti misalnya persetujuan jual beli. Dari definisi perkawinan yang telah disebutkan di atas berarti bahwa dengan melakukan perkawinan maka pada masing-masing pihak telah terkandung maksud untuk hidup bersama secara abadi dengan memenuhi hak-hak dan kewajiban yang telah ditetapkan oleh Undang-undang maupun hukum agama atau kepercayaan masing-masing untuk mencapai keluarga yang bahagia. Di dalam pasal 1 Undang-undang No. kesusilaan dan ketertiban umum.1 Tahun 1974 disebutkan bahwa “ Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri yang bertujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Kalau seorang prempuan dan seorang laki-laki bersepakat untuk melakukan perkawinan suatu sama lain. Dalam persetujuan biasa para pihak adalah para pokoknya penuh merdeka untuk menentukan isi janji-janji sesuka hatinya. Sebaliknya dalam suatu perkawinan sejak semula ditentukan oleh hukum.1 Tahun 1974 maupun dalam peraturan lain yang mengatur tentang perkawinan. ini berarti mereka saling berjanji akan taat kepada peraturan-peraturan hukum yang berlaku mengenai hak-hak dan kewajiban-kewajiban masing-masing pihak selama dan sesudah hidup itu berlangsung. sedangkan dalam perkawinan para pihak yang bersangkutan harus tunduk pada ketentuan yang telah ditetapkan dalam hokum positif. maka suatu perkawinan agak merupakan suatu persetujuan belaka dalam masyarakat antara seorang laki-laki dan seorang prempuan. sewa menyewa dan lain-lain sebagainya. isi persetujuan antara suami istri itu. tukar menukar. Mengenai hal tersebut Wirjono Prodjodikiro menyatakan : Kalau dipandang sepintas lalu saja. dan mengenai kedudukan dalam 8 . asal saja janji-janji itu tidak bertentangan dengan dengan undang-undang. Namun seperti kita ketahui bahwa unsur pokok dari suatu perjanjian adalah adanya kehendak bebas dari masing-masing pihak untk menetapkan isi perjanjian.

Sedangkan ikatan batin merupakan hubungan yang tidak formal. Apabila di atas dinyatakan bahwa pengertian perkawinan tidak dapat dipandang lepas dari hukum perkawinan yang berlaku di dalam suatu negara. Sedangkan yang dimaksud dengan keluarga 9 . Suatu perkawinan adalah sah apabila memenuhi syarat-syarat yang ditenentukan oleh undang-undang. Suatu ikatan yang dapat dilihat dan mengungkapkan adanya hubungan hukum antara seorang pria dan seorang wanita untuk hidup bersama sebagai suami istri. yaitu suatu ikatan yang tidak nampak. maksudnya ialah ikatan antara seorang pria dengan seorang wanita dapat dipandang sebagai suami istri. Juga dalam hal menghentikan perkawinan suami dan istri tidak leluasa penuh untuk menentukan sendiri syaratsyarat untuk menghentikan perkawinan itu melainkan terikat juga pada peraturan hukum prihal itu. Sebagai suami istri. maka hal ini tidak berati bahwa seluruh sifat dari suatu perkawinan dapat terlihat semua dalam peraturan hukum perkawinan hanya meliputi pokok-pokok saja dari persoalan-persoalan yang timbul dalam perkawinan. yang hanya dapat dirsakan oleh pihakpihak yang bersangkutan. 2. tidak nyata.masyarakat dari anak-anak keturunannya. apabila ikatan mereka didasarkan pada suatu perkawinan yang sah. Ikatan lahir batin. 4. 3. Antara seorang pria dan seorang wanita. maksudnya adalah bahwa membentuk keluarga yang bahagia dan kekal merupakan tujuan dari perkawinan. Dari rumusan pasal 1 Undang-undang No. maksudnya ialah bahwa ikatan itu tidak hanya cukup dengan ikatan itu cukup dengan ikatan lahir saja atau ikatan batin saja akan tetapi kedua-keduanya harus terpadu erat. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa di dalam unsur kedua ini terkandung azas monogamy.1 Tahun 1974 dapat disimpulkan bahwa suatu perkawinan harus mengandung unsur-unsur : 1. Membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal. maksudnya adalah bahwa ikatan perkawinan perkawinan hanya boleh terjadi antara seorang pria dan wanita.

. 6. Kesejahteraan dan kebahgiaan keluarga sanggat penting artinya dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Undang-undang ini menganut prinsip bahwa calon suami istri itu harus telah masak jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan. Undang-undang ini menganut prinsip untuk mempersukar terjadinya percereaian. Di samping itu dalam penjelasan umum Undang-undang No. Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. seorang suami dapat beristri lebih dari seorang.adalah suatu kesatuan yang terdiri atas ayah. yang sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa maka perkawinan mempunyai hubungan yang erat dengan agama/kerohanian sehingga perkawinan bukan saja mempunyai unsur lahir/ jasmani tetapi unsur batin/ rohani mempunyai peranan yang sangat penting. Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan dan kedudukan suami baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam pergaulan masyarakat. maksudnya sebagai negara yang berdasarkan Pancasila. 2. 5. 3.1 Tahun 1974 point ke empat ditentukan prinsip-prinsip atau asas-asas mengenai perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan yang telah disesuikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman. 4. 3. 5. ibu dan anak. Undang-undang ini menganut azas monogami. Hanya apabila dikehendaki oleh yang bersangkutan karena hukum dan agama yang bersangkutan mengizinkannya. Pada umumnya menurut hukum agama perkawinan adalah perbuatan yang suci yaitu suatu perikatan antara dua pihak dalam memenuhi perintah dan anjuran 10 . Adapun prinsip-prinsip atau asas-asas tersebut pada intinya adalah sebagai berikut : 1. Perkawinan Menurut Hukum Agama. Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam undang-undang ini dinyatakan bahwa suatu perkawinan adalah suatu perkawinan yang sah bilamana dilakukan menurut hukum agamanya dan kepercayaannya.

bukan saja gerak langkah yang sama dalam karya tetapi juga gerak langkah yang sama dalam do’a. anak pria dari saudara pria. Menurut Warden Amir bahwa” perkawinan menurut hokum Islam adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga sejahtera lahir batin yang kekal sesuai dengan tuntutan zaman. Selain itu Soetojo Prawirohamidjojo mengatakan bahwa” Nikah adalah suatu perjanjian untuk mensahkan hubungan kelamin antara seorang pria dengan seorang wanita untuk melanjutkan keturunan”. Jika perkawinan dilihat dari segi keaagamaan adalah suatu perikatan jasmani dan rohani yang membawa akibat hukum terhadap agama yang dianut kedua calon mempelai beserta keluarga kerabatnya. anak laki-laki paman dan semua menurut garis keturunan pria yang beragama Islam.Tuhan Yang Maha Esa. agar kehidupan berkeluarga dan berumah tangga berkerabat tetangga berjalan dengan baik sesuai dengan anjuran agama masingmasing. Menurut Hilman Hadikusuma bahwa” perkawinan menurut hukum Islam adalah akad atau suatu perikatan antara wali calon istri dengan pria calon suaminya”. Kata “wali” berati bukan saja bapak termasuk juga kakek. saudara-saudara pria. Sedangkan akad nikah harus diucapkan oleh wali si wanita dengan jelas yang berupa ijab (serah) dan diterima (Kabul) oleh calon suami dilaksanakan dihadapan dua orang saksi yang memenuhi syarat. bukan saja lahiriah tetapi juga batiniah. Jadi perkawinan menurut hokum Islam adalah perikatan antara wali prempuan (calon istri) dengan calon suami prempuan itu. Perkawinan dalam arti ikatan jasmani dan rohani berarti suatu ikatan untuk mewujudkan kehidupan yang selamat bukan saja di dunia tetapi juga di akhirat. 11 . Sehingga kehidupan dalam rumah tangga itu rukun dan damai karena suami dan istri serta anggota keluarga berjalan seiring bersama pada arah dan tujuan yang sama. paman dari bapak.

Nikah adalah persetujuan atau suatu perjanjian ataupun suatu akad antara seorang pria dengan seorang wali pihak wanita. 2. Sehingga nikah secara hukum Islam hukum dilaksanakan menurut ketentuan-ketentuan yaitu dilaksanakan ketentuanketentuan yaitu melasanakan ikatan persetujuan (akad) antara seorang pria dan seorang wanita atas dasar kerelaan dan kesukaan kedua belah pihak. Nikah dilaksanakan menurut ketentuan-ketentuan yang sudah diatur oleh agama. Hal ini disebabkan karena pengaruh keputusan-keputusan yang bersifat kekitap sucian. yang diarahkan kepembiakan sebagai tata cara Tuhan memperoleh arti khusus. 12 . Sedangkan pengertian perkawinan yang diberikan oleh hukum Kristen Katolik yaitu bahwa perkawinan adalah persekutuan hidup antara pria dan wanita atas dasar ikatan cinta kasih yang total dengan persetujuan bebas dari keduanya yang tidak dapat ditarik kembali. juga tidak ada pejabat yang ditentukan untuk itu serta tidak ada formalitas yang menyulitkan.Di dalam hukum Islam tidak menetapkan dengan tegas suatu upacara agama yang khusus untuk perkawinan. juga dipengaruhi oleh pandangan-pandangan yang bersifat filosofis dan biologis. Di dalam agama Kristen terdapat pengertian yang berbeda-beda mengenai perkawinan. 3. tetapi juga harus juga mencerminkan sifat Allah yang penuh kasih dan kesetian yang tidak dapat diceraikan. Menurut orang-orang Kristen bahwa “ perkawinan adalah persekutuan hidup pria dan wanita yang monogami. Dari pengertian nikah menurut hukum agama Islam tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. Jadi perkawinan menurut agama Kristen Katolik adalah perbuatan yang bukan saja merupakan perikatan cinta antara kedua suami istri. Untuk terjadinya nikah harus ada kerelaan dan kesukaan dari kedua belah pihak yang akan melakukan nikah. yang dilakukan oleh wali pihak wanita menurut ketentuan-ketentuan yang sudah diatur oleh agama.

. rumah-tangga dan hubungan kerabat yang rukun. 3. 4. 2. damai. yang dilangsungkan dengan upacara spiritual menurut agama hindu. Perkawinan harus didasarkan pada persetujuan orang tua dan anggota kerabat. rasa sepenaggungan dengan tujuan membentuk sutu keluarga bahagia yang diberkahi oleh Syangyang Adi Budha atau Tuhan Yang Maha Esa.H. Perkawinan dapat dilakukan oleh seorang pria dengan beberapa wanita sebagai istri yang kedudukannya masing-masing ditentukan menurut hukum adat setempat. 4. Asas suka rela Menurut pasal 6 ayat 1 menentukan bahwa perkawinan harus didasari persetujuan kedua calon mempelai. 13 . S. bahagia dan kekal. kasih saying. Menurut Perkawinan Hukum Agama Budha (HPAB) perkawinan adalah suatu ikatan lahir batin antara seoarang pria sebagai suami dan seorang wanita sebagai istri yang berlandaskan cinta kasih. Asas-asas perkawinan menurut Undang-Undang No 1 Tahun 1974 adalah: 1. Perkawinan tidak saja harus syah dilaksanakan menurut agama atau kepercayaan. tetapi juga harus mendapat persetujuan dari para anggota kerabat. Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga. Perkawinan disini mempunyai maksud bahwa dalam suatu perkawinan harus mendapat persetujuan dari kedua calon suami-istri atau dengan kata lain tidak ada pihak yang memaksa dari manapun.Menurut hukum agama Hindu perkawinan adalah ikatan antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri untuk mengatur hubungan sex yang layak guna mendapatkan keturunan anak pria yang akan menyelamatkan arwah orang tuanya dari neraka. Asas-Asas Perkawinan Menurut Hilman Hadikusuma. asas-asas perkawinan menurut hukum adat adalah sebagai berikut: 1. masyarakat adat dapat menolak kedudukan istri atau suami yang tidak diakui oleh masyarakat adat setempat.

Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami. namun demikian tidak menutup tidak menutup kemungkinan bagi suami untuk mempunyai lebih dari satu istri. maka dari itu perkawinan yang masih di bawah umur tidak diperbolehkan. Undang-Undang No 1 tahun 1974 telah menetapkan batas umur suatu perkawinan yaitu 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk wanita. karena perkawinan memerlukan kematangan dari kedua calon mempelai tersebut baik jiwa dan raga agar tercipta suatu keluarga yang bahagia. 5. Kematangan calon suami. bagi yang sudah mempunyai anak. 6. dan seorang perempuan hanya seorang suami”. Perkawinan merupakan peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan seseorang untuk membentuk keluarga yang bahagia. Dengan demikian bahwa perkawinan menurut UU mempunyai asas monogami. disini dijelaskan bahwa pasangan suami-istri yang hendak bercerai tidak begitu saja dilakukan karena ada akibat-akibat yang harus dipertimbangkanh baik bagi diri masing-masing dan juga bagi anak-anaknya. Perceraian dipersulit Ketentuan Undang-Undang yang mengatur tentang perceraian terdapat dalam pasal 39 dan 41 UU No 1 tahun 1974. maka peran orang tua atau partisipasi keluarga sangat dibutuhkan terutama dalam hal pemberian ijin untuk melaksanakan perkawinan.2. Partisipan Keluarga. 4. Asas monogami Penegasan asas monogami ini terdapat pada pasal 27 yang berbunyi: “Dalam waktu yang sama seorang laki-laki hanya boleh mempunyai seorang istri. hal ini harus mendapat persetujuan dahulu dari pihak-pihak yang bersangkutan. 3. 14 .

4. 5. 3. Ketentuan tersebut ayat (1) sampai dengan ayat (5) pasal ini berlaku sepanjang hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain. 15 . 1 Tahun 1974 syarat-syarat perkawinan tercantum pada pasal 6 dan pasal 7 adalah sebagai berikut: 1. Dalam kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu untuk menyatakan kehendaknya. Tujuan Perkawinan Tujuan perkawinan menurut Undang-Undang No. 6. maka pengadilan dalam hukum tempat tinggal orang yang akan melangsungkan perkawinan atas permintaan orang tersebut dapat memberikan izin setelah lebih dahulu mendengar orang-orang tersebut dalam ayat (2).5. (3). maka izin dimaksud ayat (2) pasal ini cukup memperoleh dari orang tua yang masih hidup atau dari orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya. maka izin diperoleh dari wali orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah garis keturunan lurus keatas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan dapat menyatakan kehendaknya. Syarat-syarat Perkawinan Menurut UU No. atau salah satu orang atau lebih diantara mereka tidak menyatakan pendapatnya. (3) dan (4) pasal ini. Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai. Dalam hal ada perbedaan pendapat antara orang-orang yang disebut dalam ayat (2). Dalam hal salah seorang dari kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya. (4) pasal ini. 2. 6. 1 Tahun 1974 adalah membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk melangsungkan perkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin dari kedua orang tua.

Menurut Bambang Suwondo mengatakan bahwa tujuan perkawinan menurut Hukum Adat ialah secara 16 . 2. Perkawinan itu bertujuan untuk mencapai kebahagiaan. karenanya perkawinan yang diharapkan juga adalah perkawinan yang kekal. 3. hal ini dapat kita tarik dari kata “kekal”. Sedangkan tujuan perkawinan menurut Hukum Adat adalah untuk melahirkan generasi muda. Dalam hukum Islam perkawinan juga bertujuan menuruti perintah Allah untuk memperoleh keturunan yang sah dalam masyarakat yang mendirikan suatu rumah tangga yang damai dan teratur (Thoha Nashruddin. Tujuan perkawinan menurut Hukum Islam adalah untuk memenuhi hajat dan tabiat kemanusiaan berhubungan antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan suatu keluarga yang bahagia dengan dasar cinta kasih sayang untuk memperoleh keturunan yang sah dalam masyarakat dengan mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam syariat. 1 Tahun 1974 bila kita rasakan adalah sangat ideal karena tujuan perkawinan itu tidak hanya melihat dari segi lahiriah saja tetapi sekaligus terdapat adanya suatu pertautan batin antara suami dan istri yang ditujukan untuk membina suatu keluarga atau rumah tangga yang kekal dan bahagia bagi keduanya dan yang sesuai dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa. karena suatu keluarga tentunya terdiri dari suami istri dan anakanaknya. Perkawinan itu adalah untuk membentuk keluarga yaitu mendapatkan keturunan. yang dapat berakhir dengan kematian (Asmin. 1986: 20). mempertahankan derajat memasuki inti sosial dalam masyarakat dan untuk memenuhi kebutuhan hidup secara individu. baik materiil maupun spirituil. Tujuan perkawinan yang diinginkan dalam Undang-Undang No. Perkawinan itu untuk selama-lamanya. melanjutkan garis hidup orang tua.Dari kalimat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Bahwa dengan melangsungkan perkawinan akan diperoleh kebahagiaan. 1967: 16). Kebahagiaan yang ingin dicapai bukanlah kebahagiaan yang sifatnya sementara saja. tetapi kebahagiaan yang kekal.

Adapun data yang diperlukan dalam penyusunan proposal ini adalah sebagai berikut : a. Dalam data sekunder atau data kepustakaan mencakup tiga bahan hukum. Pendekatan yuridis normatif yaitu pendekatan yang berorientasi pada gejala-gejala hukum yang bersifat normatif melalui studi kepustakaan artinya dengan pendekatan ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan dan menganalisis hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Metode Pendekatan Sehubungan dengan upaya memperoleh data mengenai masalah yang diteliti maka dalam hal ini metode yang digunakan. peraturan dasar.sosiologi untuk memperoleh pengakuan dari masyarakat setempat (Bzn Haar Ter. pendekatan Sosiologis yaitu berusaha untuk mengetahui keberlakuan atau penerapan aturan-aturan hukum dengan kenyataan yang ada ditengah masyarakat. 2. G. 1960:158-159). yaitu : 1) Bahan hukum Primer yaitu bahan pustaka yang mencakup norma atau kaedah dasar. peraturan perundangan seperti Kitab 17 . b. Sumber dan Jenis Data. yaitu : a. Data Sekunder atau data yang diperoleh dari berbagai literatur. Metode Penelitian 1.

Undang-Undang Hukum Perdata. 3) Bahan hukum Tersier yaitu bahan-bahan yang memberikan petunjuk terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Pengantar Metode Penelitian Hukum. Raja Grafindo Persada. studi dokumen merupakan langkah awal dari setiap penelitian hukum (baik normatif maupun yang sosiologis) karena penelitian hukum selalu bertolak dari premis normatif. Jakarta. 2004. maka untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini. Data Primer yaitu data yang diperoleh dari studi lapangan melalui wawancara dengan melakukan Tanya jawab secara lisan dengan informan dan responden. b.1 1 Amiruddin dan Zainal Asikin. Data kepustakaan dikumpulkan dengan Studi dokumen. yaitu bahan yang memberikan penjelasan bahan hukum primer seperti : Hasil penelitian. digunakan teknik-teknik dan alat-alat pengumpulan data sebagai berikut : Teknik Pengumpulan data yang dipergunakan adalah : 1. buku-buku literatur dan pendapat para sarjana yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. hal 68 18 . 2) Bahan hukum Sekunder. Peraturan perundang-undangan yang lain. Teknik dan Alat Pengumpulan Data Sesuai dengan sumber dan jenis-jenis data seperti yang disebutkan diatas.Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan. seperti kamus dan ensiklopedia. 3.

Gajah Mada University Press. yaitu setiap saat selalu berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi dilapangan. 1996 dalam ibid hal 83 19 . Undang-Undang tentang 2 Freed N Kerlinger. alat pengumpulan data yang dipergunakan adalah Undang-Undang tentang ketenagakerjaan. 2. Asas-asas Penelitian Behavioral. Daftar pertanyaan dalam penelitian ini bersifat terbuka (tidak stuktur). Sedangkan alat Pengumpulan data yang digunakan yaitu : 1. Edisi Indonesia.Untuk itu dalam penelitian ini penulis mencari dan mengumpulkan bahan-bahan kepustakaan baik berupa peraturan perundang-undangan. serta bahan kepustakaan lainya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Data lapangan diperoleh dengan cara Wawancara (Interview) adalah situasi peran antar pribadi bertatap muka (face-to-face). hasil-hasil penelitian hukum. Yogyakarta. Responden adalah para pihak yang langsung terlibat terutama yang melakukan penikahan dini dan pihak-pihak yang dianggap membantu dalam penyusunan ini. ketika seseorang yakni pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk memperoleh jawaban-jawaban yang relevan dengan masalah penelitian kepada seseorang responden. 2 Wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada responden dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang terlebih dahulu telah disiapkan oleh peneliti. Terhadap data kepustakaan.

Kualitatif adalah suatu tata cara penelitian yang menghasilkan data diskriptif analitis. Akademi Pressindo. 4. alat pengumpulan data yang dipergunakan adalah daftar pertanyaan. Daftar Pustaka Abdurrahman KHI di Indonesia. Terhadap data lapangan. Analisis Data. buku-buku.Kepailitan. 1995 3 Soerjono Soekanto. Cetakan Ketiga. digunakan metode kajian Induktif. Setelah data yang diperoleh dari hasil studi dokumen dan wawancara. Data tersebut kemudian akan dipaparkan secara deskriptif (dengan kata-kata). dan tape recorder. maka selanjutnya data tersebut diolah dan dianalisa secara kualitatif. H. serta bahan kepustakaan lainya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Untuk memperoleh pemahaman atas masalah yang terjadi. yaitu apa yang dinyatakan responden secara tertulis atau lisan dan juga prilaku yang nyata diteliti dan dipelajari sebagai sesuatu yang utuh3. 250 20 . Jakarta. 1986) hal. (Jakarta: Universitas Indonesia (UI-PRESS). alat tulis. 2. Pengantar Penelitian Hukum.

Cetakan Ketiga. 2002. Metode Penelitian Hukum. Bandung: Ghalia Indonesia. Ronny Hanitijo. Soemitro. Kerlinger. Dlori. Soemiyati. 2005. 21 . Yogyakarta: Liberty. 1996. Soekanto. Jogjakarta : Media Abadi. jeratan nikah dini. Mohammad. M. Thoha. Jakarta: Gema Insani. Mohammad.Fauzil Adhim. Soerjono. Asas-asas Penelitian Behavioral. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-PRESS). Indahnya Perkawinan Dini. 1982. 1967. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. S. Edisi Indonesia. Pengantar Penelitian Hukum.H. Hukum Perkawinan Islam Dan Undnag-Undang Perkawinan. Freed N. wabah pergaulan. Pedoman Perkawinan Islam. Jakarta: Bulan Bintang. Nasruddin. 1986.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->