P. 1
Pengertian Geopolitik

Pengertian Geopolitik

|Views: 9,253|Likes:
Published by setyawati_oktavia

More info:

Published by: setyawati_oktavia on Sep 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2013

pdf

text

original

Pengertian Geopolitik Geopolitik berasal dari dua kata, yaitu ³geo´ dan ³politik´.

Maka, Membicarakan pengertian geopolitik, tidak terlepas dari pembahasan mengenai masalah geografi dan politik. ³Geo´ artinya Bumi/Planet Bumi. Menurut Preston E. James, geografi mempersoalkan tata ruang, yaitu sistem dalam hal menempati suatu ruang di permukaan Bumi. Dengan demikian geografi bersangkutpaut dengan interrelasi antara manusia dengan lingkungan tempat hidupnya. Sedangkan politik, selalu berhubungan dengan kekuasaan atau pemerintahan. Dalam studi Hubungan Internasional, geopolitik merupakan suatu kajian yang melihat masalah / hubungan internasional dari sudut pandang ruang atau geosentrik. Konteks teritorial di mana hubungan itu terjadi bervariasi dalam fungsi wilayah dalam interaksi, lingkup wilayah, dan hirarki aktor: dari nasional, internasional, sampai benua-kawasan, juga provinsi atau lokal. Dari beberapa pengertian diatas, pengertian geopolitik dapat lebih disederhanakan lagi. Geopolitik adalah suatu studi yang mengkaji masalah-masalah geografi, sejarah dan ilmu sosial, dengan merujuk kepada politik internasional. Geopolitik mengkaji makna strategis dan politis suatu wilayah geografi, yang mencakup lokasi, luas serta sumber daya alam wilayah tersebut. Geopolitik mempunyai 4 unsur yang pembangun, yaitu keadaan geografis, politik dan strategi, hubungan timbal balik antara geografi dan politik, serta unsur kebijaksanaan. Negara tidak akan pernah mencapai persamaan yang sempurna dalam segala hal. Keadaan suatu negara akan selalu sejalan dengan kondisi dari kawasan geografis yang mereka tempati. Hal yang paling utama mempengaruhi keadaan suatu negara adalah kawasan yang berada di sekitar negara itu sendiri, atau dengan kata lain, negara-negara di sekitarnya / negara tetangga merupakan pengaruh yang paling besar. Dari uraian diatas, dapat disimpulkan, bahwa ada dua golongan negara. Yaitu golongan negara ³determinis´ dan golongan negara ³posibilitis´. Determinis berarti semua hal yang bersifat politis secara mutlak tergantung dari keadaan bumi geografi. Negara determinis adalah negara yang berada diantara dua negara raksasa / adikuasa, sehingga, secara langsung maupun tidak langsung, terpengaruh oleh kebijakan politik luar negeri dua negara raksasa itu. Sebenarnya, faktor keberadaan dua negara raksasa, bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi keadaan suatu negara yang berada diantaranya. Faktor lain seperti faktor ideologi, politik, sosial, budaya dan militer, juga merupakan faktor yang mempengaruhi. Hanya saja, karena besarnya kekuasaan dua negara besar tersebut, maka keberadaannya menjadi faktor yang begitu dominan dalam mempengaruhi keadaan negara yang bersangkutan. Golongan negara yang kedua adalah golongan negara posibilitis. Golongan ini merupakan kebalikan dari golongan determinis. Negara ini tidak mendapatkan dampak yang terlalu besar dari keberadaan negara raksasa, karena letak geografisnya tidak berdekatan dengan negara raksasa. Sehingga, faktor yang cukup dominan dalam mempengaruhi keadaan negara ini adalah faktor-faktor seperti ideologi, politik, sosial, budaya dan militer yang telah disebutkan sebelumnya. Tentunya, keberadaan negara-negara lain di sekitar kawasan tersebut juga turut menjadi faktor yang berpengaruh.

Geopolitik, dibutuhkan oleh setiap negara di dunia, untuk memperkuat posisinya terhadap negara lain, untuk memperoleh kedudukan yang penting di antara masyarakat bangsa-bangsa, atau secara lebih tegas lagi untuk menempatkan diri pada posisi yang sejajar di antara negara-negara raksasa. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa keadaan geografi suatu negara sangat mempengaruhi berbagai aspek dalam penyelenggaraan negara tersebut, seperti pengambilan keputusan, kebijakan politik luar negeri, hubungan perdagangan dll. Maka dari itu, muncullah organisasi-organisasi internasional yang berdasarkan pada keberadaannya dalam suatu kawasan, seperti ASEAN, Masyarakat Ekonomi Eropa, The Shanghai Six dll. Komunitas-komunitas internasional ini berperan dalam hal kerjasama kawasan, penyelesaian masalah bersama, usaha menciptakan kedamaian dunia, dll. Hal ini berkaitan langsung dengan peranan-peranan geopolitik. Adapun peranan-peranan tersebut adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Berusaha menghubungkan kekuasaan negara dengan potensi alam yang tersedia; Menghubungkan kebijaksanaan suatu pemerintahan dengan situasi dan kondisi alam; Menentukan bentuk dan corak politik luar dan dalam negeri; Menggariskan pokok-pokok haluan negara, misalnya pembangunan; Berusaha untuk meningkatkan posisi dan kedudukan suatu negara berdasarkan teori negara sebagai organisme, dan teori-teori geopolitik lainnya; 6. Membenarkan tindakan-tindakan ekspansi yang dijalankan oleh suatu negara. Teori Pan-Regionalisme Ada banyak teori dalam bidang geopolitik. Teori yang paling berpengaruh adalah teori Lebensraum, yang melahirkan teori Autarkis. Penggabungan dari kedua teori tersebut menghasilkan teori Pan Regionalisme. Teori ini berpandangan bahwa negara merupakan suatu organisme, yang memiliki kecerdasan intelektual serta memerlukan ruang hidup. Tak ada satupun negara yang dapat hidup mandiri secara mutlak. Karena keterbatasanketerbatasan dan tidak meratanya ketersediaan Sumber Daya Alam, setiap negara akan mengalami interdependensi, atau keadaan saling membutuhkan. Teori ini pun berpandangan bahwa satu bagian dunia yang relatif mempunyai persamaan dalam sifat-sifat geografis, ras, kebudayaan dsb, dapat disatukan dalam satu kesatuan wilayah. Teori inilah yang digunakan oleh Bangsa Jerman pada Perang Dunia ke-I. Dengan beranggapan bahwa bangsa Aria adalah bangsa yang paling unggul, mereka berekspansi ke negara lain, agar dapat menjadi pemimpin pan Euro-Afrika. Begitupun bangsa Amerika, yang berusaha menyatukan Pan-Amerika. Indonesia sebagai Negara Kepulauan Indonesia merupakan suatu negeri yang amat unik. Hanya sedikit negara di dunia, yang bila dilihat dari segi geografinya, memiliki kesamaan dengan Indonesia. Negara-negara kepulauan di dunia, seperti Jepang dan Filipina, masih kalah bila dibandingkan dengan negara kepulauan Indonesia.

Indonesia adalah suatu negara, yang terletak di sebelah tenggara benua Asia, membentang sepanjang 3,5 juta mil, atau sebanding dengan seperdelapan panjang keliling Bumi, serta memiliki tak kurang dari 13.662 pulau. Jika dilihat sekilas, hal ini adalah suatu kebanggaan dan kekayaan, yang tidak ada tandingannya lagi di dunia ini. Tapi bila dipikirkan lebih jauh, hal ini merupakan suatu kerugian tersendiri bagi bangsa dan negara Indonesia. Indonesia terlihat seperti pecahan-pecahan yang berserakan. Dan sebagai 13.000 pecahan yang tersebar sepanjang 3,5 juta mil, Indonesia dapat dikatakan sebagai sebuah negara yang amat sulit untuk dapat dipersatukan. Maka, untuk mempersatukan Bangsa Indonesia, diperlukan sebuah konsep Geopolitik yang benar-benar cocok digunakan oleh Bangsa Indonesia. Sebelum menuju pembahasan tentang konsep geopolitik Indonesia, terlebih dahulu kami akan membahas tentang kondisi serta keadaan Indonesia ditinjau dari segi geografisnya. Ada beberapa jenis kondisi geografis bangsa Indonesia. Yaitu kondisi fisis, serta kondisi Indonesia ditinjau dari lokasinya. 1. Kondisi fisis Indonesia, a. Letak geografis; b. Posisi Silang; c. Iklim; d. Sumber-Sumber Alam; e. Faktor-Faktor Sosial Politik. 2. Lokasi Fisikal Indonesia. Keberadaan pada lokasi ini adalah faktor utama yang mempengaruhi politik di Indonesia. Indonesia berada pada dua benua, yaitu Asia dan Australia. Indonesia pun berada diantara dua samudera, yaitu Samudera Pasifik dan Hindia. Posisi silang, seperti yang telah dijelaskan pada poin kondisi fisikal, menyebabkan Indonesia menjadi suatu daerah Bufferzone, atau daerah penyangga. Hal ini bisa dilihat pada aspek-aspek dibawah ini: 1. Politik Indonesia berada diantara dua sistem politik yang berbeda, yaitu demokrasi Australia dan demokrasi Asia Selatan; 2. Ekonomi Indonesia berada di antara sistem ekonomi liberal Australia dan sistem ekonomi sentral Asia; 3. Ideologis Indonesia berada diantara ideologi kapitalisme di Selatan dan komunis di sebelah utara; 4. Sistem Pertahanan Indonesia berada diantara sistem pertahanan maritim di selatan, dan sistem pertahanan kontinental di utara. Selain menjadi daerah Bufferzone, Indonesia pun memperoleh beberapa keuntungan disebabkan kondisinya yang silang tersebut. Antara lain: 1. Berpotensi menjadi jalur perdagangan Internasional; 2. Dapat lebih memainkan peranan politisnya dalam percaturan politik Internasional;

3. Lebih aman dan terlindung dari serangan-serangan negara kontinental. Masalah-Masalah Teritorial Indonesia, sebagai sebuah negara kepulauan yang amat luas, memiliki berbagai masalah berkaitan dngan kondisinya itu. Beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah teritorial ini antara lain, dasar geografi, demografi, serta kondisi sosial masyarakat. Masalah-masalah teritorial yang terjadi di Indonesia, pada umumnya menyangkut beberapa hal berikut: 1. Pembinaan wilayah untuk menciptakan ketahanan nasional yang maksimal dan efektif; 2. Faktor kesejahteraan dan keamanan; 3. Pembinaan teritorial yang dititikberatkan pada penyusunan potensi Hankam; Bila masalah-masalah yang timbul dari beberapa faktor di atas dapat diatasi dengan baik oleh Bangsa Indonesia, maka akan tercapailah suatu keadaan yang dinamakan ketahanan nasional. Untuk mencapai keadaan tersebut, terdapat suatu prosedur yang dinamakan ³geostrategi´. Secara umum, geostrategi merupakan upaya untuk memperkuat ketahanan di berbagi bidang, yaitu bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, kehidupan beragama, dan pembangunan. Wawasan Nusantara Seperti telah dikemukakan sebelumnya, diperlukan suatu konsep geopolitik khusus untuk menyiasati keadaan / kondisi Negara Indonesia, yang terdiri dari ribuan pulau dan sepanjang 3,5 Juta Mil. Konsep geopolitik itu adalah Wawasan Nusantara. Berbeda dengan pemahaman geopolitik negara lain yang cenderung mengarah kepada tujuan ekspansi wilayah, konsep geopolitik Indonesia, atau wawasan Nusantara justru bertujuan untuk mempertahankan wilayah. Sebagai negara kepulauan yang luas, Bangsa Indonesia beranggapan bahwa laut yang dimilikinya merupakan sarana ³penghubung´ pulau, bukan ³pemisah´. Sehingga, walaupun terpisah-pisah, bangsa Indonesia tetap menganggap negaranya sebagai satu kesatuan utuh yang terdiri dari ³tanah´ dan ³air´, sehingga lazim disebut sebagai ³tanah air´. Tujuan dari Wawasan Nusantara dibagi menjadi dua tujuan, yaitu tujuan nasional dan tujuan ke dalam. Tujuan nasional dapat dilihat dalam Pembukaan UUD ¶45. Pada UUD ¶45 dijelaskan bahwa tujuan kemerdekaan Indonesia adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sedangkan tujuan yang kedua, yaitu tujuan ke dalam, adalah mewujudkan kesatuan segenap aspek kehidupan baik alamiah maupun sosial. Maka dapat disimpulkan bahwa tujuan bangsa Indonesia adalah menjunjung tinggi kepentingan nasional, serta kepentingan kawasan untuk menyelenggarakan dan membina kesejahteraan, kedamaian dan budi luhur serta martabat manusia di seluruh dunia. Untuk mewujudkan integrasi tanah air serta mencapai tujuan Wawasan Nusantara diatas, maka dipakailah lima asas, yaitu:

1. Satu kesatuan wilayah; a. Satu wadah Bangsa Indonesia yang bersatu; b. Satu kesatuan tumpah darah dengan bersatunya dan dipersatukan segala anugerah dan hakekatnya. 2. Satu kesatuan negara; a. Satu UUD dan politik pelaksanaannya; b. Satu ideologi dan identitas nasional. 3. Satu kesatuan budaya; a. Satu perwujudan budaya nasional atas dasar Bhinneka Tunggal Ika; b. Satu tertib sosial dan tertib hukum. 4. Satu kesatuan ekonomi; a. Satu tertib ekonomi sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan; b. Seluruh potensi yang ada atau yang dapat diadakan, diselenggarakan secara total untuk mewujudkan suatu kesatuan sistem pertahanan keamanan. Yang meliputi subyek, obyek dan metode. Perwujudan tanah air sebagai satu kesatuan, sudah sesuai dengan aspirasi dari falsafah Pancasila. Pelaksanaan Wawasan Nusantara akan terlihat hasilnya dengan terwujudnya suatu ketahanan nasional Indonesia. Ketahanan nasional Indonesia bersifat defensif serta melihat dan mawas ke dalam disertai usaha untuk membina daya, kekuatan serta kemampuan sendiri, meliputi segenap aspek kehidupan alamiah dan sosial. Dengan wawasan Nusantara, suatu ketahanan nasional dapat tercapai sesuai dengan kepribadian serta bentuk kepulauan Indonesia yang satu kesatuan dalam persatuan ini. Jadi, Wawasan Nusantara bermaksud untuk mewujudkan kesejahteraan, ketenteraman dan keamanan bagi Bangsa Indonesia, dengan demikian ikut serta juga dalam membina kebahagiaan dan perdamaian bagi seluruh umat manusia di dunia. DAFTAR PUSTAKA Harsawaskita, A. 2007. ³Great Power Politics di Asia Tengah Suatu Pandangan Geopolitik´, dalam Transformasi dalam Studi Hubungan Internasional. Bandung: Graha Ilmu. Hidayat, I. Mardiyono. 1983. Geopolitik, Teori dan Strategi Politik dalam Hubungannya dengan Manusia, Ruang dan Sumber Daya Alam. Surabaya Usaha Nasional. Makarim, N.A. 2004. Geopolitik. [Online]. Tersedia:http://www.kompas.com/kompascetak/041228/utama [28 Maret 2007]. Poerwowidagdo, S.J. 1999. Geoekonomi, Abstraksi ekonominya di kepulauan RI. [Online]. Tersedia: ² [28 Maret 2007].

Sumarsono, S, et.al. 2001. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Wikipedia Internasional. 2007. Geopolitics. [Online]. Tersedia: http://en.wikipedia.org/wiki/Geopolitics [28 Maret 2007]. Ideologi dan Politik Pertahanan NKRI Tanggal: 03 Februari 2010 Categories: Politik & Hankam Jakarta, DMC - Kementerian Pertahanan antara lain bertugas merumuskan kebijakan (policy) penyelenggaraan pertahanan negara. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan pertahanan negara oleh Kementerian Pertahanan harus mengacu pada landasan falsafah yang sekaligus ideologi negara yaitu Pancasila, yang pemahaman dan implementasinya adalah untuk meningkatkan efektifitas Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 sebagai landasan konstitusionel, memupuk kesadaran akan pentingnya perwujudan semboyan Bhineka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa Indonesia, dan mempertahankan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tugas perumusan kebijakan (policy) penyelenggaraan pertahanan negara dilaksanakan dengan mengacu pada doktrin politik ´Wawasan Nusantara´, yaitu cara pandang bangsa Indonesia -berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, tentang diri dan lingkungannya dalam eksistensinya yang serba nusantara, dan penekanannya dalam mengekspresikan diri sebagai bangsa Indonesia di tengah-tengah lingkungannya yang serba nusantara itu. Unsur-unsur dasar Wawasan Nusantara adalah wadah (contour atau organisasi), isi, dan tata laku. Wadah dan isi Wawasan Nusantara tersebut ±yang perwujudannya penting untuk mencapai kesatuan dan keserasian di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia--, merupakan: Satu kesatuan wilayah, Satu kesatuan ideologi, Satu kesatuan politik, Satu kesatuan ekonomi, Satu kesatuan sosial budaya, Satu kesatuan pertahanan dan keamanan dan Satu kesatuan bangsa. Wawasan Nusantara adalah pengejawantahan falsafah Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah negara Republik Indonesia. Kelengkapan dan keutuhan tata laku Wawasan Nusantara akan terwujud dalam terselenggaranya ketahanan nasional Indonesia yang senantiasa harus ditingkatkan sesuai dengan tuntutan zaman. Geopolitik Indonesia dituangkan dalam doktrin nasional Wawasan Nusantara dan politik luar negeri bebas aktif. Sedangkan geostrategi Indonesia diwujudkan melalui konsep Ketahanan Nasional yang bertumbuh pada perwujudan kesatuan wilayah, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan bangsa. Dengan mengacu pada kondisi geografi kepulauan Indonesia yang bercirikan maritim --duapertiga wilayahnya adalah laut--, maka diperlukan strategi besar (grand strategy) maritim yang sejalan dengan doktrin pertahanan defensif aktif yang mengacu pada fakta bahwa bagian wilayah terbesar dan terluar yang harus dipertahankan adalah laut. Namun harus diingat bahwa laut (perairan) diantara kepulauan di wilayah Indonesia adalah penghubung ±bukan pemisah--, yang membentuk kesatuan wilayah NKRI. Implementasi dari strategi maritim adalah mewujudkan kekuatan maritim (maritime power) yang dapat menjamin kedaulatan dan integritas wilayah dari berbagai ancaman.

Masalah berikutnya yang perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan tugas Kementerian Pertahanan adalah mengenai perwujudan prinsip-prinsip Pertahanan Negara dalam rangka memperjuangkan kepentingan nasional NKRI. Pada hakikatnya kepentingan nasional Indonesia adalah tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta terjaminnya kelancaran dan keamanan pembangunan nasional yang berkelanjutan. Kepentingan Nasional tersebut diwujudkan dengan memperhatikan tiga kaidah pokok yakni kaidah tentang tata kehidupan, upaya pencapaian tujuan serta sarana yang digunakan. Tata Kehidupan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia mencerminkan kesatuan tata nilai yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang berketuhanan yang Maha Esa, yang menjunjung tinggi kebhinnekaan yang ditunjukkan dalam interaksi sosial yang harmonis. Inti dari prinsip-prinsip pertahanan Negara adalah ´SISHANKAMRATA (Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta) yang perwujudannya di bidang pertahanan tidak terlepas dari Profesionalisme TNI. Karena RI adalah Negara Hukum, maka perwujudan doktrin ´SISHANKAMRATA´ maupun profesionalisme TNI harus diberikan payung hukum. Beberapa diantara produk hukum yang diperlukan untuk tujuan-tujuan tersebut telah berhasil diundangkan, yaitu: Undang-Undang No. 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara dan Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 Tentang TNI. Namun untuk menyelesaikan agenda kedua Undang-Undang tersebut, masih diperlukan beberapa produk hukum lain sebagai pendukung, antara lain: UndangUndang Tentang Komponen Cadangan, Undang-Undang Tentang Komponen Pendukung, Undang-undang Tentang Bela Negara, Revisi Undang-Undang Tentang Mobilisasi dan Demobilisasi, Undang-undang untuk revisi Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer, Undang-undang Tentang Rahasia Negara, Undang-Undang Tentang Keamanan Nasional, dan Peraturan perundang-undangan lainnya sebagai peraturan-peraturan pelaksanaannya. Untuk menuntaskan agenda memperjuangkan kepentingan nasional tersebut, maka program legislasi Departemen Pertahanan harus mendapatkan perhatian yang memadai, sehingga produkproduknya dapat dijadikan sebagai dasar bagi pengembangan sumber daya manusia dan kemandirian alutsista dalam rangka pelaksanaan tugas pertahanan negara, yakni upaya untuk mempertahankan: kedaulatan Negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa Indonesia. Sumber: Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan Politik

Home

Mencermati Geostrategi Geopolitik Indonesia
22 Mar 2010
y y

Nasional Pikiran Rakyat

FAKTA geografis negeri ini yang berada di dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Samudera Pasifik dan Samudera Hindia) menempatkan peran strategis Indonesia di mata internasional. Belum lagi terkait aspek ekonomi, politik, dan lingkungan hidup. Negara adidaya Amerika Serikat (AS) pun melihat posisi negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini harus diperhitungkan dalam percaturan global. Setidaknya ada tiga selat di Indonesia yang menjadi jalur lalu lintas internasional yang menghubungkan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, yaitu Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok. Tidak heran apabila kapal asing memanfaatkan tiga altematif itu. Misal saja, kapal tanker dari Asia Timur yang hendak ke wilayah TimurTengah dan sekitarnya akan lebih cepat dan efisien jika lewat se-lat-selat itu. Bahkan, Armada Ketujuh AS pun yang berpangkalan di Jepang tentu lebih memilih lintasan ini dibandingkan dengan jalur lainnya. Konon, Armada Ketujuh ini menjaga kepentingan AS yang mencapai 52 juta mil persegi. Dilihat dari aspek ekonomi, Indonesia jelas berada pada titik strategis yang menguntungkan, apalagi dengan keberadaan Selat Malaka yang disebut-sebut sebagai jalur paling sibuk di dunia. Tidak terkecuali, di jalur perdagangan internasional melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) seperti SelatSunda dan Selat Lombok. Secara politik, posisi Indonesia bernilai strategis. Dengan kehadiran Cina sebagai superpower kedua setelah AS, menyusul pertumbuhan ekonominya yang pesat, membutuhkan pasokan energi yang besar dari kawasan lain, seperti TimurTengah. Hal ini pada akhirnya akan melalui wilayah laut Indonesia. Selain aspek penting geostrategis dan keberadaan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia juga menjadi negara berpenduduk terbesar keempat, penganut demokrasi terbesar ketiga, dan dinilai menjadi salah satu negara tersukses dalam memerangi terorisme. Posisi yang sedemikian strategis berimplikasi pada terjalinnya kepentingan negara-negara lain dengan kepentingan nasiona] Indonesia. Presiden AS Barack Hussein Obama, misalnya, berencana melakukan kunjungan ke Indonesia Juni mendatang. Seperti lima presiden AS sebelumnya yang tercatat pernah berkunjung ke Indonesia, Obama pun bakal hadir dengan sejumlah agenda pembicaraan. Duta Besar AS untuk Indonesia, Ca-meron R. Hume menuturkan, kunjungan itu menjadi simbol semakin pentingnya Indonesia bagi AS. Sejumlah pihak juga menilai, kunjungan ini akan memberi peluang kepada Obama untuk terus menyegarkan idenya membina hubungan baik dengan dunia Muslim seperti dijan-jikannya pada pidato di Kairo, Mesir, tahun lalu. Ini sekaligus dalam rangka mempresentasikan kepentingan nasional AS dalam memulihkan citra baiknya.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPR Tjahjo Kumolo yang juga anggota Komisi I (Bidang Pertahanan dan Politik Luar Negeri) menilai, wajar apabila AS amat berkepentingan dengan Indonesia, baik karena posisi strategis Nusantara, beragam potensi kekayaan alam, maupun faktor penduduknya sebagai pasar ekonomi raksasa. Tjahjo mengingatkan, Indonesia jangan lagi terkesan di bawah bayang-bayang AS dan hubungan kedua negara harus setara di berbagai bidang. "Indonesia dengan kebijakan politik luar negeri yang bebas aktif harus bisa memainkan posisi tawarnya lebih tinggi, baik secara ekonomi, politik, maupun budaya," katanya. Thahjo juga mengatakan, pemerintah harus menunjukkan bahwa Indonesia ini sebagai bangsa yang besar, negara yang secara geopolitik sangat strategis di wilayah Asia-Pasifik, dengan potensi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang potensial, serta merupakan pasar besar yang strategis. Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Theo L. Sambuaga juga mengatakan, hubungan konstruktif dan positif kedua negara harus didasarkan pada "comprehensive relationship"yang melibatkan banyak bidang, terutama ekonomi perdagangan dan sosial politik. Dijelaskan Theo, satu hal positif saat ini, AS tengah dipimpin Barack Obama yang memiliki histori istimewa dengan bangsa Indonesia. "Peran Barack Obama untuk memajukan hubungan kedua negara juga tentu amat diharapkan, apalagi beliau menjadikan Indonesia sebagai negara paling penting di kawasan Asia Tenggara," katanya. Theo menambahkan, bagaimana pun dua negara ini sangat berperan penting dalam konstelasi global. "Amerika punya peran sangat signifikan dalam ekonomi, politik, dan militer global. Sementara Indonesia dengan posisi strategisnya, merupakan negara dengan latar sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang layak diperhitungkan dalam percaturan internasional," ujarnya menjelaskan. Juru bicara kepresidenan bidang luar negeri Dino Patti Djalal mengatakan, prinsip kemitraan strategis merupakan kunci dari hubungan dan kerja sama pemerintah Indonesia dan AS pada masa kini dan mendatang. "Kita negara anggota G-20. Kita mau kemitraan komprehensif yang berdasarkan equal partnership, itu kuncinya," katanya. Menurut Dino, walaupun AS adalah negara besar, tetapi kedua negara sepakat mengembangkan kemitraan sejajar mengenai hal-hal yang dapat dilakukan di tingkat nasional, regional, ataupun global. Sebagaimana disadari, perubahan politik dunia yang terjadi pada era globalisasi telah menghadirkan kompetisi antarbangsa. Kondisi tersebut cenderung mengarah pada perebutan pengaruh yang cukup ketat, baik global, regional, maupun nasional. Perkembangan tersebut antara lain menyebabkan terjadinya perubahan pada situasi keamanan dunia dengan munculnya isu keamanan baru. Diperlukan upaya bersama menjawab tantangan global itu. Isu keamanan nontradisional itu seperti terorisme, pembajakan di laut atau di udara, penyelundupan, narkoba, imigran gelap, serta kriminal lintas negara lainnya. Sejak tragedi yang

mengguncang World Trade Center (WTC) 11 September 2001, terorisme internasional telah menjadi ancaman nyata bagi dunia. Kompleksitas permasalahan keamanan global semakin bertambah dengan adanya praktik hegemoni yang dikembangkan melalui penguatan aliansi, kemampuan militer, keunggulan teknologi, termasuk keunggulan di bidang ekonomi. Kerja sama internasional pada bidang pertahanan merupakan salah satu jembatan untuk membangun rasa saling percaya dengan bangsa-bangsa lain bagi terwujudnya stabilitas keamanan kawasan. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, hubungan militer antara Indonesia dan AS (AS) telah berjalan baik, terutama pascapencabutan embargo militer November 2005. "Kerja sama antara kedua negara memegang prinsip kerja sama bersifat persyaratan. Semua itu berlaku terhadap siapa pun atau negara mana pun. Kita negara berdaulat, punya wilayah, itu prinsip dasarnya," katanya. Purnomo menjelaskan, untuk mempererat hubungan militer, kedua negara telah memiliki berbagai forum Kperti dialog keamanan Indonesia-AS atau IndonesianUnited State Securitv Dialogue (IUSSD) dan dialog pertahanan Indonesia-AS atau USIndonesian Bilateral Defence Dialogue (USIBDD), sebagai salah satu bentuk implementasi dari IUSSD seperti latihan bersama, pendidikan, operasi, logistik. dan sebagainya. Tak hanya itu, menurut Purnomo, ada pula kerja sama militer antara TNI dan US Pacific Command (US PACOM) dalam payung USIBDD sejak 1997. Pada isu lingkungan hidup, peran Indonesia pun menjadi sorotan. Indonesia dan AS bisa mengadakan kerja sama tentang perubahan iklim dalam hal yang lebih teknis, seperti peningkatan kapasitas dan alih teknologi. (Agus Ibnu-din/"PR", daii berbagai sumber)"
Ringkasan Artikel Ini FAKTA geografis negeri ini yang berada di dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Samudera Pasifik dan Samudera Hindia) menempatkan peran strategis Indonesia di mata internasional. Setidaknya ada tiga selat di Indonesia yang menjadi jalur lalu lintas internasional yang menghubungkan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, yaitu Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok. Dilihat dari aspek ekonomi, Indonesia jelas berada pada titik strategis yang menguntungkan, apalagi dengan keberadaan Selat Malaka yang disebut-sebut sebagai jalur paling sibuk di dunia. Selain aspek penting geostrategis dan keberadaan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia juga menjadi negara berpenduduk terbesar keempat, penganut demokrasi terbesar ketiga, dan dinilai menjadi salah satu negara tersukses dalam memerangi terorisme. Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPR Tjahjo Kumolo yang juga anggota Komisi I (Bidang Pertahanan dan Politik Luar Negeri) menilai, wajar apabila AS amat berkepentingan dengan Indonesia, baik karena posisi strategis Nusantara, beragam potensi kekayaan alam, maupun faktor penduduknya sebagai pasar ekonomi raksasa. Thahjo juga mengatakan, pemerintah harus menunjukkan bahwa Indonesia ini sebagai bangsa yang besar, negara yang secara geopolitik sangat strategis di wilayah Asia-Pasifik, dengan potensi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang potensial, serta merupakan pasar besar yang strategis. Juru bicara kepresidenan bidang luar negeri Dino Patti Djalal mengatakan, prinsip kemitraan strategis merupakan kunci dari hubungan dan kerja sama pemerintah Indonesia dan AS pada masa kini dan mendatang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->