P. 1
Konsep+Dasar+Keperawatan+Gerontik

Konsep+Dasar+Keperawatan+Gerontik

|Views: 975|Likes:
Published by Aliff Nur Gazali

More info:

Published by: Aliff Nur Gazali on Sep 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2012

pdf

text

original

KONSEP DASAR KEPERAWATAN GERONTIK PENGERTIAN Ilmu + Keperawatan + Gerontik •Ilmu : pengetahuan dan sesuatu yang dapat dipelajari

•Keperawatan : konsisten terhadap hasil lokakarya nasional keperawatan 1983 •Gerontik : gerontologi + geriatrik •Gerontologi adalah cabang ilmu yang membahas/menangani tentang proses penuaan/masalah yang timbul pada orang yang berusia lanjut. •Geriatrik berkaitan dengan penyakit atau kecacatan yang terjadi pada orang yang berusia lanjut. •Keperawatan Gerontik : suatu bentuk pelayanan profesional yang didasarkan pada ilmu dan kiat/teknik keperawatan yang berbentuk bio-psiko-sosio-spritual dan kultural yang holistik, ditujukan pada klien lanjut usia, baik sehat maupun sakit pada tingkat individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. LINGKUP PERAN DAN TANGGUNGJAWAB Fenomena yang menjadi bdang garap keperawatan gerontik adalah tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia (KDM) lanjut usia sebagai akibat proses penuaan. Lingkup askep gerontik meliputi: 1. Pencegahan terhadap ketidakmampuan akibat proses penuaan 2. Perawatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akibat proses penuaan 3. Pemulihan ditujukan untuk upaya mengatasi kebutuhan akibat proses penuaan Dalam prakteknya keperawatan gerontik meliputi peran dan fungsinya sebagai berikut: 1. Sebagai Care Giver /pemberi asuhan langsung 2. Sebagai Pendidik klien lansia 3. Sebagai Motivator 4. Sebagai Advokasi 5. Sebagai Konselor Tanggung jawab Perawat Gerontik 1. Membantu klien lansia memperoleh kesehatan secara optimal 2. Membantu klien lansia untuk memelihara kesehatannya 3. Membantu klien lansia menerima kondisinya 4. Membantu klien lansia menghadapi ajal dengan diperlakukan secara manusiawi sampai dengan meninggal. Sifat Pelayanan Gerontik 1. Independent (layanan tidak tergantung pada profesi lain/mandiri) 2. Interdependent 3. Humanistik (secara manusiawi) 4. Holistik (secara keseluruhan) Model Pemberian Keperawatan Profesional 1. Model Asuhan 2. Model Manajerial◊berkaitan pada pengaturan/manajemen Model asuhan yang sesuai masih dalam penelitian………………………………… Diterima sementara ini “Ad an Adaptation Model of Nursing” (Sister Calista Roy) PENDAHULUAN UMUM

Gerontologi adalah bidang studi yang mempelajari aspek sosial, psikologi dan biologi dari proses penuaan. Hal ini berbeda dengan geriatri, yang merupakan cabang dari ilmu kedokteran yang mempelajari penyakit pada lanjut usia (lansia). Istilah geriatri ini berasal dari bahasa Yunani geron yang berarti “orang tua” dan iatros yang berarti “penyembuh” alias dokter atau dukun Meski ilmu ini sudah diperkenalkan sejak 1909, namun perkembangannya tidak sepesat ilmu kedokeran yang lain. Katakanlah ilmu biologi molekuler, saat ini sebagian universitas terkenal di negeri ini “demam” dengan ilmu tersebut. Bisa jadi, penghargaan kita terhadap generasi pendahulu kita perlu diperbaharui. Konotasi “jompo” atau orang yang tidak berdaya, amat lekat pada lansia. Barangkali, bila semakin banyak kelompok lansia yang cukup kaya untuk membiayai kesehatannya, ilmu geriatri ini akan lebih berkembang Di Amerika, ahli geriatri adalah dokter keluarga atau dokter penyakit dalam yang memperoleh pelatihan sesuai kualifikasi ilmu geriatri. Pada pokoknya, dokter untuk lansia ini bekerja di level komunitas. Sedangkan di Inggris, sebagian besar ahli geriatri adalah ahli geriatri yang bekerja di rumah sakit, meskipun memiliki perhatian pula terhadap geriatri komunitas. Pelayanannya meliputi pelayanan orthogeriatrics (fokus pada osteoporosis dan penanganan komplikasinya), psychogeriatrics (fokus pada demensia dan depresi pada geriatri) dan rehabilitasi. Di Indonesia memiliki sejarah yang kurang lebih sama. Adalah Prof Supartondo, ahli penyakit dalam yang merintis bidang ini. Guru besar FKUI ini, merekrut ahli penyakit dalam dari berbagai divisi seperti reumatologi (Prof Harry Isbagio), pulmonologi (dr Asril Bahar), kardiologi (Prof) dan ginjal hipertensi (Dr Suhardjono) untuk membangun divisi Geriatri. Saat ini sudah ada 2 orang ahli geriatri di FKUI yang secara khusus mendalami bidang ini, Dr. Czeresna Heriawan dan Dr. Siti Setiati Perkembangan IPTEK memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan yang terlihat dari angka harapan hidup (AHH) yaitu: AHH di Indonesia tahun 1971 : 46,6 tahun tahun 1999 : 67,5 tahun Populasi lansia akan meningkat juga yaitu: •Pada tahun 1990 jumlah penduduk 60 tahun ± 10 juta jiwa/5,5 % dari total populasi penduduk. •Pada tahun 2020 diperkirakan meningka 3X menjadi ± 29 juta jiwa/11,4 % dari total populasi penduduk (Lembaga Demografi FE-UI-1993). Selanjutnya : Terdapat hasil yang mengejutkan, yaitu: •62,3% lansia di Indonesia masih berpenghasilan dai pekerjaannya sendiri •59,4% dari lansia masih berperan sebagai kepala keluarga •53 % lansia masih menanggung beban kehidupan keluarga •hanya 27,5 % lansia mendapat penghasilan dari anak/menantu DEPKES RI membagi Lansia sebagai berikut: 1. kelompok menjelang usia lanjut (45 - 54 th) sebagai masa VIRILITAS 2. kelompok usia lanjut (55 - 64 th) sebagai masa PRESENIUM 3. kelompok usia lanjut (65 th > ) sebagai masa SENIUM

Sedangkan WHO membagi lansia menjadi 3 kategori, yaitu: 1. Usia lanjut : 60 - 74 tahun 2. Usia Tua : 75 - 89 tahun 3. Usia sangat lanjut : > 90 tahun PROSES PENUAAN Proses Terjadinya Penuaan 1. Biologi a. Teori “Genetic Clock”; Teori ini menyatakan bahwa proses menua terjadi akibat adanya program jam genetik didalam nuklei. Jam ini akan berputar dalam jangka waktu tertentu dan jika jam ini sudah habis putarannya maka, akan menyebabkan berhentinya proses mitosis. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian Haiflick, (1980) dikutif Darmojo dan Martono (1999) dari teori itu dinyatakan adanya hubungan antara kemampuan membelah sel dalam kultur dengan umur spesies Mutasisomatik (teori error catastrophe) hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam menganalisis faktor-aktor penyebab terjadinya proses menua adalah faktor lingkungan yang menyebabkan terjadinya mutasi somatik. Sekarang sudah umum diketahui bahwa radiasi dan zat kimia dapat memperpendek umur. Menurut teori ini terjadinya mutasi yang progresif pada DNA sel somatik, akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan fungsional sel tersebut. b. Teori “Error” Salah satu hipotesis yang yang berhubungan dengan mutasi sel somatik adalah hipotesis “Error Castastrophe” (Darmojo dan Martono, 1999). Menurut teori tersebut menua diakibatkan oleh menumpuknya berbagai macam kesalahan sepanjang kehidupan manusia. Akibat kesalahan tersebut akan berakibat kesalahan metabolisme yang dapat mengakibatkan kerusakan sel dan fungsi sel secara perlahan. c. Teori “Autoimun” Proses menua dapat terjadi akibat perubahan protein pasca tranlasi yang dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri (Self recognition). Jika mutasi somatik menyebabkan terjadinya kelainan pada permukaan sel, maka hal ini akan mengakibatkan sistem imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai sel asing dan menghancurkannya Goldstein(1989) dikutip dari Azis (1994). Hal ini dibuktikan dengan makin bertambahnya prevalensi auto antibodi pada lansia (Brocklehurst,1987 dikutif dari Darmojo dan Martono, 1999). Dipihak lain sistem imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada proses menua, daya serangnya terhadap antigen menjadi menurun, sehingga sel-sel patologis meningkat sesuai dengan menigkatnya umur (Suhana,1994 dikutif dari Nuryati, 1994) d. Teori “Free Radical”

Penuaan dapat terjadi akibat interaksi dari komponen radikal bebas dalam tubuh manusia. Radikal bebas dapat berupa : superoksida (O2), Radikal Hidroksil (OH) dan Peroksida Hidrogen (H2O2). Radikal bebas sangat merusak karena sangat reaktif , sehingga dapat bereaksi dengan DNA, protein, dan asam lemak tak jenuh. Menurut Oen (1993) yang dikutif dari Darmojo dan Martono (1999) menyatakan bahwa makin tua umur makin banyak terbentuk radikal bebas, sehingga poses pengrusakan terus terjadi , kerusakan organel sel makin banyak akhirnya sel mati. e. Wear &Tear Teori Kelebihan usaha dan stress menyebaban sel tubuh rusak. f. Teori kolagen Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan menyebabkan kecepatan kerusakan jaringan dan melambatnya perbaikan sel jaringan. 2. Teori Sosiologi a. Activity theory, ketuaan akan menyebabkan penurunan jumlah kegiatan secara langsung. b. Teori kontinuitas, adanya suatu kepribadian berlanjut yang menyebabkan adanya suatu pola prilaku yang meningkatkan stress. c. Disengagement Theory, putusnya hubungan dengan dunia luar seperti hubungan dengan masyarakat, hubungan dengan individu lain. d. Teori Stratifikasi usia, karena orang yang digolongkan dalam usia tua akan mempercepat proses penuaan. 3. Teori Psikologis a. Teori kebutuhan manusia dari Maslow, orang yang bisa mencapai aktualisasi menurut penelitian 5% dan tidak semua orang bisa mencapai kebutuhan yang sempurna. b. Teori Jung, terdapat tingkatan-tingkatan hidup yang mempunyai tugas dalam perkembangan kehidupan. c. Course of Human Life Theory, Seseorang dalam hubungan dengan lingkungan ada tingkat maksimumnya. d. Development Task Theory, Tiap tingkat kehidupan mempunyai tugas perkembangan sesuai dengan usianya. •Penuaan Primer : perubahan pada tingkat sel (dimana sel yang mempunyai inti DNA/RNA pada proses penuaan DNA tidak mampu membuat protein dan RNA tidak lagi mampu mengambil oksigen, sehingga membran sel menjadi kisut dan akibat kurang mampunya membuat protein maka akan terjadi penurunan imunologi dan mudah terjadi infeksi. •Penuaan Skunder : proses penuaan akibat dari faktor lingkungan, fisik, psikis dan sosial . Stress fisik, psikis, gaya hidup dan diit dapat mempercepat

proses menjadi tua. Contoh diet ; suka memakan oksidator, yaitu makanan yang hampir expired. Gairah hidup yang dapat mempercepat proses menjadi tua dikaitkan dengan kepribadian seseorang, misal: pada kepribadian tipe A yang tidak pernah puas dengan apa yang diperolehnya. Secara umum perubahan proses fisiologis proses menua adalah: 1. Perubahan Mikro •Berkurangnya cairan dalam sel •Berkurangnya besarnya sel •Berkurangnya jumlah sel 2. Perubahan Makro •Mengecilnya mandibula •Menipisnya discus intervertebralis •Erosi permukaan sendi-sendi •Osteoporosis •Atropi otot (otot semakin mengecil, bila besar berarti ditutupi oleh lemak tetapi kemampuannya menurun) •Emphysema Pulmonum •Presbyopi •Arterosklerosis •Manopause pada wanita •Demintia senilis •Kulit tidak elastis •Rambut memutih Proses menua Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua ( Nugroho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran secara fisik maupun psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitifitas emosional meningkat dan kurang gairah. Meskipun harus menimbulkan penyakit oleh karenanya lanjut usia harus sehat. Sehat dalam hal ini diartikan : 1) Bebas dari penyakit fisik, mental dan social 2) Mampu melakukan aktifitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari 3) Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat (Rahardjo, 1996) Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan-perubahan yang menuntut dirinya untuk menyesuaikan diri secara terus menerus. Apabila proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbullah berbagai masalah. Hurlock (1979) seperti dikutip oleh Munandar Ashar Sunyoto ( 1994) menyebutkan masalah-masalah yang menyertai lansia yaitu :

kontak sosial luas. Ketiga minat terhadap uang semakin meningkat. 1979) di kutip oleh Munandar (1994) adalah : 1) Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya 2) penarikan diri ke dalam dunia fantasi 3) Selalu mengingat kembali masa lalu 4) Selalu kwuatir karena pengangguran 5) Kurang ada motivasi 6) Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik 7) Tempat tinggal yang tidak diinginkan Dilain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah : Minat yang kuat. Ciri-ciri penyesuaian yang tidak baik dari lansia ( Hurlock. Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik yang mendasar adalhan perubahan gerak. Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. 1992). kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya.1) Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain 2) Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola Hidupnya 3) Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah meninggal atau pindah 4) Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah banyak 5) Belajar memperlakukan anak-anak yang telah tumbuh dewasa. Berkaitan dengan perubahan fisik. menikmati kerja dan hasil kerja. Perubahan yang diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan. Pertama minat terhadap diri makin bertambah. Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minat. Kedua minat terhadap penampilan semakin berkurang. terkhir minta terhadap kegiatan rekreasi tak berubah hanya cenderung menyempit. Motivasi tersebut diperlikan untuk melakukan latihan fisik secara benar dan teratur untuk meningkatkan kebugaran fisiknya. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi pada diri lansia untuk selalu menjaga kebugaran fisiknya agar tetap sehat secara fisik. Bagaimana sikap yang ditunjukan apakah memuaskan atau tidak memuaskan. Berkaitan dengan perubahan. Faktor faktor yang mempengaruhi penuaan 1)Hereditas atau ketuaan genetic 2)Nutrisi atau makanan 3)Status kesehatan 4)Pengalaman hidup 5)Lingkungan 6)Stres . ketidaktergantungan secara ekonomi. menikmati kegiatan yang dilakukan saat ini dan memiliki kekuatiran minimal terhadap diri dan orang lain. hal ini tergantung dari pengaruh perubahan terhadap peran dan pengalaman pribadinya. ekonmi atau pendapatan dan peran sosial (Goldstein.

muskuloskeletal. Perubahan Fisik Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh. diantaranya sistem pernafasan. Selera makan menurun (30. •Masalah kesehatan yang sering muncul Sakit tulang (69. . penglihatan. Bandung.88 %) dan sesak nafas (21. Gilut (51. endokrin dan integumen. kardiovaskuler. genito urinaria. a. Makasar).39 %). 1) Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan. Sexual (58.66 %). sebagai berikut: •Fungsi tubuh dirasakan menurun: Penglihatan (76. Mual/perut perih (26. Sistem pernafasan pada lansia. Denpasar. Sulit tidur (24. sehingga volume udara inspirasi berkurang. sistem pengaturan tubuh. Daya ingat menurun (38. Daya ingat (69.KARAKTERISTIK PENYAKIT PADA LANSIA •Saling berhubungan satu sama lain •Penyakit sering multiple •Penyakit bersifat degeneratif •Berkembang secara perlahan •Gejala sering tidak jelas •Sering bersama-sama problem psikologis dan sosial •Lansia sangat peka terhadap penyakit infeksi akut •Sering terjadi penyakit iatrogenik (penyakit yang disebabkan oleh konsumsi obat yang tidak sesuai dengan dosis) Hasil penelitian Profil Penyakit Lansia di 4 kota (Padang.08 %). Permasalahan umum a) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan b) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehinggan anggota keluaraga yang lanjut usia kurang diperhatikan. gastrointestinal. sehingga pernafasan cepat dan dangkal.51 %). Sakit kepala (51.23 %).15 %). Kelenturan (53. c) Lahirnya kelompok masyarakat industry d) Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia e) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia Perubahan-Perubahan yang Terjadi pada Lansia 1. pendengaran. dihargai dan dihormati.39 %).28 %).04 %).24 %).12 %).

4) Peraba. Sistem persyarafan. sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi. hilangnya pendengaran. b. terutama terhadap bunyi suara. b) Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis. 1) Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan. a) Menurunnya kemampuan pengecap.2) Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret. 6) CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri. 1) Katub jantung menebal dan menjadi kaku. c. 2) Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir. panas dan dingin. 1) Penglihatan a) Kornea lebih berbentuk skeris. 3) Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan. d)Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat. c) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa). sulit mengerti kata kata. susah melihat dalam cahaya gelap. b) Kemunduran dalam merasakan tekanan. b) Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar. mengecilnya syaraf pencium & perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin. . e) Hilangnya daya akomodasi. kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml. suara yang tidak jelas. b) Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan selera makan berkurang. sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan. g) Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala. antara lain nada nada yang tinggi. Perubahan panca indera yang terjadi pada lansia. F Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang. 4) Berkurangnya penglihatan. b. 4) Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m²). 2) Pendengaran a) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) : Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam. 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun. c) Terjadinya pengumpulan serumen. a) Kemunduran dalam merasakan sakit. Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut. dapat mengeras karena meningkatnya kreatin. 3) Mengecilnya syaraf panca indera. Ù menyebabkan terganggunya prose difusi. 7) kemampuan batuk berkurang. 5) Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari hemoglobin. 3) Pengecap dan penghidu.

Sistem genito urinaria. 4) Atropi vulva. 5) Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi. estrogen. Otot otot menjadi lemah. TSH. Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di pembuluh darah dan berkurangnya produksi dari ACTH. vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin. 2) Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah. 5) Menurunnya produksi aldosteron. waktu mengosongkan menurun. 1) Produksi hampir semua hormon menurun. Mengecil dan nephron menjadi atropi. 1) Kehilangan gigi. 3) Pembesaran prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun. 1) Ginjal. FSH dan LH. 2) Indera pengecap menurun. 4) Menurunnya aktivitas tiriod Ù BMR turun dan menurunnya daya pertukaran zat. 3) Esofagus melebar. asin. 4) Lambung. nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat. asam & pahit. 7) Defisiensi hormonall dapat menyebabkan hipotirodism. sekresi menjadi berkurang.2) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20 tahun. 6) Menurunnya sekresi hormon bonads : progesteron. Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun. 3) Pituitary. kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat. Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi. berat jenis urin menurun proteinuria ( biasanya + 1 ) . Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut. hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama rasa manis. 3) Kehilangan elastisitas pembuluh darah. reaksi sifatnya lebih alkali terhadap perubahan warna. 6Daya sexual. Sistem endokrin / metabolik pada lansia. aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %. BUN meningkat sampai 21 mg % . fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin. e. . Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir. atropi indera pengecap (± 80 %). Selaput menjadi kering. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. asam lambung menurun. testosteron. Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus. 4) Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer (normal ± 170/95 mmHg ). penyaringan diglomerulo menurun sampai 50 %. 2) Vesika urinaria / kandung kemih. elastisotas jaringan menurun juga permukaan menjadi halus. penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk. d. rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ). 5) Vagina. c. perubahan posisi dari tidur keduduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ). depresi dari sumsum tulang serta kurang mampu dalam mengatasi tekanan jiwa (stess).

5) pada wanita lansia > resiko fraktur.6) Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ). berkurangnya aliran darah. 11). g. sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi. tidak sebagai reaksi terhadap suatu perangsangan terhadap lobus d. 1) Tulang kehilangan densikusnya Ù rapuh. asal kondisi kesehatan baik. Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen. b) menciutnya ovarium dan uterus. 2) Kegiatan sexual. Gerakan sekutu / Gerakan otot lurik yang ikut bangkit untuk menjamin efektifitas dan ketangkasan otot volunter. 4) persendian besar & menjadi kaku. Gerakan reflektonik / Gerakan diluar kemauan sebagai reaksi terhadap rangsangan pada lobus. Setiap orang mempunyai kebutuhan sexual. 7).Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak rendahnya akitfitas otot. Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adiposa 3). disini . 4). Gerakan volunter / gerakan berlawanan. 2). Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka kurang baik. Pertumbuhan rambut berhenti. Sistem muskuloskeletal. 7) Liver ( hati ).Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun. e) dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun. b. Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan sexual. 6) Pinggang. a. 5). lutut & jari pergelangan tangan terbatas. Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak. Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh. Perubahan sistem kulit & karingan ikat. 1). d) testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur berangsur. 1) Perubahan sistem reprduksi. Sexualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan yang berhubungan dengan alat reproduksi. Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik. rambut menipis dan botak serta warna rambut kelabu. 9). 6). 2) resiko terjadi fraktur. 7) Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek ( tinggi badan berkurang ). Gerakan involunter / Gerakan diluar kemauan. 10). 3) kyphosis. 8). Makin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan. Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun. f. c. c) atropi payudara. a) selaput lendir vagina menurun/kering.

5.kita bisa membedakan dalam tiga sisi : 1) fisik. membuat pihak lain mengetahui bahwa ia sangat berarti untuk anda. Kenangan (memory) ada dua. Gangguan saraf panca indra. Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan h. kemunduran orientasi. timbul kebutaan dan ketulian g. kesehatan umum c. sosial mengakibatkan timbulnya penurunan fungsi. Fungsi psikososial. b. hal ini terlihat dalam berpikir dan . 1) tidakberubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal. penurunan degenerasi sel sel otak. pendengaran mengakibatkan kurangnya percaya diri pada fungsi mereka. 2) berkurangnya penampilan. yaitu dengan cara yang lain dari sebelumnya. 3. 1) kenangan jangka panjang. Ttingkat pendidikan d. 2) Kenangan jangka pendek atau seketika (0-10 menit).1970). Secara rohani Ù tertuju pada orang lain sebagai manusia. kenangan buruk. Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan famili i. Lebih mengambil jarak dalam berinteraksi. msih banyak cara lain unutk dapat bermesraan dengan pasangan anda. Secara sosial Ù kedekatan dengan suatu keadaan intim dengan orang lain yang merupakan suatu alat yang apling diharapkan dalammenjalani sexualitas. Intelegentia Quation. 3. Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya. 2) rohani. karena tekanan-tekanan dari faktro waktu.persepsi dan keterampilan psikomotorterjadi perubahan pada daya membayangkan. Keturunan (herediter) e. Lingkungan f. Sexualitas pada lansia sebenarnya tergantung dari caranya. perubahan fisik. Pernyataan pernyataan lain yang menyatakan rasa tertarik dan cinta lebih banyak mengambil alih fungsi hubungan sexualitas dalam pengalaman sex. 2. Perubahan-perubahan mental/ psikologis Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah : a. Juga sebagai pihak yang lebih tua tampa harus berhubungan badan. 2. kekakuan mungkin oleh karena faktor lain seperti penyakit-penyakit. 4. Pertama-tama perubahan fisik. Secara jasmani sikap sexual akan berfungsi secara biologis melalui organ kelamin yang berhubungan dengan proses reproduksi. Mundurnya daya ingat. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik. seperti kemampuan berfikir dan gambaran diri. penglihatan. Pengaruh proses penuaan pada fungsi psikososial. Gangguan halusinasi. khususnya organ perasa. mencakup beberapa perubahan. Perubahan Spiritual Agama atau kepercayaan makin terintegarsi dalam kehidupannya (Maslow. berjam-jam sampai berharihari yang lalu. dengan tujuan utama bukan untuk kebutuhan kepuasan sexualitas melalui pola pola yang baku seperti binatang dan 3) sosial. perubahan terhadap gambaran diri dan perubahan konsep diri Perubahan kepribadian yang drastis keadaan ini jarang terjadi lebih sering berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang. 1.

c. pasien dipandang dalam kontek lingkungan secara keseluruhan. Lingkungan fisik (physical enviroment) Merupakan lingkungan dasar/alami yan berhubungan dengan ventilasi dan udara. bebas dari bau-bauan. Posisi pasien ditempat tidur harus diatur sedemikian rupa supaya mendapat ventilasi.Tempat tidur pasien harus bersih. Lingkungan sosial (social environment) Observasi dari lingkungan sosial terutama huhbungan yang spesifik. Tempat tidur harus mendapatkan penerangan yang cukup. Dengan demikian setiap perawat harus menggunakan kemampuan observasi dalam hubungan dengan kasus-kasus secara spesifik lebih dari sekedar data-data yang ditunjukkan pasien pada umumnya. lingkungan psikologis dan lingkungan sosial. sangat penting untuk pencegahan penyakit. menasehati yang berlebihan tentang kondisi penyakitnya. Seperti juga hubungan komuniti dengan lingkungan sosial dugaannya selalu dibicarakan dalam hubungnya individu pasien yaitu lingkungan pasien secara menyeluruh tidak hanya meliputi lingkungan rumah atau lingkungan rumah sakit tetapi juga keseluruhan komunitas yang berpengaruh terhadap lingkungan secara khusus. jauh dari kebisingan dan bau limbah. bau-bauan. Hubungan teori Florence Nightingale dengan beberapa konsep Hubungan teori Florence Nightingale dengan konsep keperawatan : 1) Individu / manusia Memiliki kemampuan besar untuk perbaikan kondisinya dalam menghadapi penyakit. Komunikasi tentang pasien yang dilakukan dokter dan keluarganya sebaiknya dilakukan dilingkungan pasien dan kurang baik bila dilakukan diluar lingkungan pasien atau jauh dari pendengaran pasien. a. kumpulan datadata yang spesifik dihubungkan dengan keadaan penyakit. tinggi penempatan tempat tidur harus memberikan memberikan keleluasaan pasien untuk beraktifitas. komunikasi jangan dilakukan secara terburu-buru atau terputus-putus. b. ruangan hangat.bertindak dalam sehari-hari. Luas. Lingkungan psikologi (psychologi enviroment) F. makanan yang menarik dan aktivitas manual dapat merangsang semua faktor untuk membantu pasien dalam mempertahankan emosinya. . Komunikasi dengan pasien dipandang dalam suatu konteks lingkungan secara menyeluruh. Mendapatkan sinar matahari. Oleh karena itu ditekankan kepada pasien menjaga rangsangan fisiknya. tidak lembab. d. udara bersih. Faktor tersebut mempunyai efek terhadap lingkungan fisik yang bersih yang selalu akan mempengaruhi pasien dimanapun dia berada didalam ruangan harus bebas dari debu. Nightingale melihat bahwa kondisi lingkungan yang negatif dapat menyebabkan stress fsiik dan berpengaruh buruk terhadap emosi pasien. asap. Selain itu membicarkan kondisi-kondisi lingkungan dimana dia berada atau cerita hal-hal yang menyenangkan dan para pengunjung yang baik dapat memberikan rasa nyaman. (Murray dan Zentner. Tidak boleh memberikan harapan yang terlalu muluk. Lingkungan dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan perawatan baik bagi orang lain maupun dirinya sendiri. terdiri dari lingkungan fisik.1970) Konsep Model Florence Nightingle Inti konsep Florence Nightingale.

3) Sehat / sakit Fokus pada perbaikan untuk sehat. suhu. Hubungan teori Florence Nightingale dengan teori-teori lain : . perrtumbuhan dan perkembangan individu. 2 Analisa data Data dikelompokkan berdasarkan lingkungan fisik. f. ♣ Penyesuaian terhadap lingkungan. ♣ Pengaruh stressor lingkungan terhadap efektivitas asuhan. 4) Masyarakaat / lingkungan Melibatkan kondisi eksternal yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan individu. fokus pada ventilasi. psikis dan sosial).2) Keperawatan Bertujuan membawa / mengantar individu pada kondisi terbaik untuk dapat melakukan kegiatan melalui upaya dasar untuk mempengaruhi lingkungan. 3) Masalah Difokuskan pada hubungan individu dengan lingkungan misalnya : Kurangnya informasi tentang kebersihan lingkungan ♣ Ventilasi ♣ Pembuangan sampah ♣ Pencemaran lingkungan ♣ Komunikasi sosial. 6) Evaluasi Mengobservasi dampak perubahan lingkungan terhadap kesehatan individu. bau. Hubungan teori Florence Nightingale dengan proses keperawatan 1) Pengkajian / pengumpulan data Data pengkajian Florence N lebih menitik beratkan pada kondisi lingkungan (lingkungan fisik. e. ♣ 5) Implementasi Upaya dasar merubah / mempengaruhi lingkungan yang memungkinkan terciptanya kondisi lingkungan yang baik yang mempengaruhi kehidupan. suara dan cahaya. sosial dan mental yang berkaitan dengan kondisi klien yang berhubungan dengan lingkungan keseluruhan. dll ♣ 4) Diagnosa keperawatan Berrbagai masalah klien yang berhubungan dengan lingkungan antara lain : Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap efektivitas asuhan.

5. misalnya tempat yang gaduh.1) Teori adaptasi Adaptasi menunjukkan penyesuaian diri terhadap kekuatan yang melawannya.semuanya itu dipandang sebagai suatu stressor yang negatif. Kemampuan diri sendiri yang alami dapat bertindak sebagai pengaruh dari lingkungannya berperanpenting pada setiap individu dalam berespon adaptif atau mal adaptif. 3) Teori stress Stress meliputi suatu ancaman atau suatu perubahan dalam lingkungan. menekankan penempatan pasien dalam lingkungan yang optimum sehingga akan menimumkan efek stressor. Kekuatan dipandang dalam konteks lingkungan menyeluruh yang ada pada dirinya sendiri. ventilasi dan kebutuhan lingkungan yang aman berhubungan dengan saluran yang baik dan air yang bersih. Stress dapat mendorong individu untuk mengambil tindakan positip dalam mencapai keinginan atau kebutuhan. yang harus ditangani. Berrhasil tidaknya respon adapatsi seseorang dapat dilihat dengan tinjauan lingkungan yang dijelaskan Florence N. Teori kebutuhan menekankan bagaimana hubungan kebutuhan yang berhubungan dengan kemampuan manusia dalam mempertahankan hidupnya. Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas. Stress juga dapat menyebabkan kelelahan jika stress begitu kuat sehingga individu tidak dapat mengatasi. Stress dapat positip atau negatip tergantung pada hasil akhir. . Jumlah dan lamanya stressor juga mempunyai pengaruh kuat pada kemampuan koping individu. 2) Teori kebutuhan Menurut Maslow pada dasarnya mengakui pada penekanan teori Florence N. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki. membangunkan pasien dengan tiba-tiba. . Florence N. Teori Kejiwaan sosial a) Aktifitas atau kegiatan ( activity theory ) Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah secara langsung. Teri ini menyatakan bahwa lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut dalam banyak kegiatan sosial Ukuran optimum ( pola hidup ) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia b) Kepribadian berlanjut ( continuity theory ) Dasar kepribadian aatau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. sebagai contoh kebutuhan oksigen dapat dipandang sebagai udara segar.

sehingga menimbulkan infeksi pada kala nifas. Tampak sakit dan lemah.Tertinggalnya plasenta selaput ketuban dan bekuan darah.Ketuban pecah dini atau pada pembukaan masih kecil melebihi enam jam. 5. 6. Terjadi penanahan. yakni 1) kehilangan peran 2) hambatan kontak sosial 3) berkurangnya kontak komitmen Tanda-Tanda Bahaya Kala Nifas Infeksi Masa Nifas Setelah persalinan terjadi beberapa perubahan penting diantaranya makin meningkatnya pembentukkan urin untuk mengurangi hemodilusi darah. 2. 4. Pembengkakan luka episiotomi. anemia pada saat kehamilan. 2. Keadaan ini mengakibatkan interksi sosial lanjut usia menurun. Faktor Predisposisi Infeksi Masa Nifas Faktor predisposisi infeksi masa nifas diantaranya adalah : 1. 2. 7. 3. baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjadi kehilangan ganda ( tripel loss ). 6. seseorang secara bengangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. yaitu perdarahan antepartum dan post partum. kelelahan dan ibu hamil dengan penyakit infeksi. Perlukaan karena persalinan merupakan tempat masuknya kuman kedalam tubuh.5 oC yang bukan merupakan keadaan patologis atau menyimpang pada hari pertama. Temperatur meningkat diatas 39 oC. Pernapasan dapat meningkat dan napas terasa sesak. Terjadi gangguan involusi uterus. Temperatur badan dapat meningkat. Infeksi kala nifas adalah infeksi peradangan pada semua alat genitalia pada masa nifas oleh sebab apapun dengan ketentuan meningkatnya suhu badan melebihi 38 oC tanpa menghitung hari pertama dan berturut-turut selama dua hari. Tekanan darah dapat menurun dan nadi meningkat. Gambaran klinis infeksi umum dapat dalam bentuk : 1. Mobilisasi terbatas karena rasa nyeri. 4. Kesadaran gelisah sampai menurun dan koma. 5. 3.Keadaan yang dapat menurunkan keadaan umum. 2. terjadi penyerapan beberapa bahan tertentu melalui pembuluh darah vena sehingga terjadi peningkatan suhu badan sekitar 0. 5.Persalinan berlangsung lama sampai terjadi persalinan terlantar. 3. Terjadinya Infeksi Masa Nifas . Infeksi Lokal 1. malnutrisi.Tindakan operasi persalinan.c) Teori Pembebasan ( Disengagement theory ) Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia. Infeksi General 1. Pengeluaran lochia bercampur nanah. Perubahan warna lokal. bernanah serta kotor. Lochia : berbau. 4.

ibu nifas berada pada puncak kegelisahan setelah melahirkan karena rasa sakit pada saat melahirkan sangat terasa yang berakibat ibu sulit beristirahat. pemadatan mamae dan terjadi perubahan warna kulit mamae. Gejala kliniknya adalah : 1. Postnatal blues biasanya muncul. 3. alat yang dipakai kurang suci hama. sehingga proses pengecilan rahim terhambat. terdapat sisa plasenta dan selaputnya. dan terasa panas sampai suhu badan meningkat. nyeri lokal pada mamae.Infeksi yang didapat di rumah sakit (nosokomial). Sub involusi uteri. Bendungan ASI Disebabkan oleh penyumbatan pada saluran ASI. 3. Keadaan abnormal pada payudara Beberapa keadaan abnormal yang mungkin terjadi adalah : 1. biasanya disebut dengan 3th day blues. Pada 3 -10 hari setelah melahirkan.Manipulasi penolong: terlalu sering melakukan pemeriksaan dalam. 2. Keluhan mamae bengkak. terdapat pusat infeksi dalam tubuh (lokal infeki). 3. 2.Sudah terdapat infeksi intrapartum: persalinan lama terlantar. Pendarahan masa nifas sekunder. Terasa sangat nyeri. keras. Penyebab terjadinya sub involusi uteri adalah terjadinya infeksi pada endometrium. Keadaan abnormal pada rahim Beberapa keadaan abnormal pada rahim adalah : 1. Pada 0 – 3 hari setelah melahirkan. 5Temperatur badan dapat meningkat. Proses involusi rahim tidak berjalan sebagaimana mestinya. 4. Postnatal blues adalah suatu kondisi dimana ibu memiliki perasaan khawatir yang berlebihan terhadap . 2. Adalah pendarahan yang terjadi pada 24 jam pertama.Terjadinya infeksi masa nifas adalah sebagai berikut: 1. Flegmansia alba dolens. 4. atau mioma uteri. Merupakan salah satu bentuk infeksi puerpuralis yang mengenai pembuluh darah vena femoralis. Terjadi pembengkakan pada tungkai. Tampak bendungan pembuluh darah. Tapi pada kenyataanya berdasarkan riset yang dilakukan paling banyak muncul pada hari ke lima. Penyebabnya adalah terjadinya infeksi pada endometrium dan terdapat sisa plasenta dan selaputnya. Mastitis dan Abses Mamae Infeksi ini menimbulkan demam.Hubungan seks menjelang persalinan. terdapat bekuan darah. sehingga ibu mengalami kekurangan istirahat pada siang hari dan sulit tidur dimalam hari. ketuban pecah lebih dari enam jam. Keadaan abnormal pada psikologis 1Psikologi Pada Masa Nifas Perubahan emosi selama masa nifas memiliki berbagai bentuk dan variasi. 2. Kondisi ini akan berangsur-angsur normal sampai pada minggu ke 12 setelah melahirkan. Berwarna putih.

Keadaan ini berlangsung antara 3-6 bulan bahkan pada beberapa kasus terjadi selama 1 tahun pertama kehidupan bayi. Jumlah lansia di Jatim tahun 2006. Petunjuk teknis dari perda tersebut. Selama ini.94 juta orang dan dari jumlah itu sekitar 20 persen diantaranya belum mendapatkan perhatian baik dari peroarangan. itu akan disebutkan pada pergub.” paparnya. kelompok.Yayasan Gerontologi Abiyoso (YGA) Propinsi Jatim siap memantau penerapan peraturan daerah (Perda) Lanjut Usia (Lansia) Propinsi Jatim.” kata Ketua Yayasan Gerontologi Abiyoso (YGA) Propinsi Jatim Trimarjono.kondisinya dan kondisi bayinya sehingga ibu mudah panik dengan sedikit saja perubahan pada kondisi dirinya atau bayinya. Depresi Pada Masa Nifas Riset menunjukan 10% ibu mengalami depresi setelah melahirkan dan 10%nya saja yang tidak mengalami perubahan emosi. mulai dari mengatur tentang pelanggaran hingga ke penindakan. Penyebab depresi terjadi karena reaksi terhadap rasa sakit yang muncul saat melahirkan dan karena sebab-sebab yang kompleks lainnya. “Perda tersebut merupakan payung hukum bagi lansia di Jatim dalam memperoleh kesejahteraan hidupnya. ditemui di kantornya Surabaya. Semakin baik perhatian yang diberikan maka semakin cepat emosi ibu kembali pada keadaan normal. ”Tentang siapa yang berhak menindak apabila ditemukan ada yang melanggar perda lansia. untuk memastikan kesejahateraan kehidupan para lansia di Jatim dapat terjamin dan terpenuhi. Soerjadi Tjokrosoewito. tercatat sebanyak 3. terutama pada ibu primipara. Surabaya. sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim. 2. Dengan adanya Perda. 2/8/2007 (Kominfo-Newsroom) . kesejahteraan para lansia di Jatim dinilai masih kurang. Sementara Wakil Ketua IV YGA Prop Jatim. para lansia yang tidak mendapatkan perhatian dapat . mengatur mekanisme dan sistem pelaksanaannya. kondisi ibu mulai membaik dan menuju pada tahap normal. kurangnya perhatian orangorang terdekat terutama suami dan perubahan struktur keluarga karena hadirnya bayi. Pengembalian kondisi ibu ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya. sehingga dengan adanya perda lansia ini diharapkan mereka mendapatkan payung hukum dalam memperoleh kesejahteraan. Karenanya. akibat kurangnya perhatian dari semua pihak yang terkait. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan menunjukan faktor-faktor penyebab depresi adalah terhambatnya karir ibu karena harus melahirkan. misalnya perhatian dari anggota keluarga terdekat. Selasa (31/7). Perda tersebut sudah disahkan dan kini tinggal menunggu teknis pelaksanaan di lapangan. mengemukakn petunjuk teknis pelaksanaan dari perda itu akan diatur dalam Peraturan Gubernur (Pergub). Pada 1 – 12 minggu setelah melahirkan. ia sangat mengharapkan pemerintah Kabupaten/Kota segera mengadopsi perda lansia ini yang sudah disahkan DPRD Jatim. Rabu (1/8). LSM ataupun pemerintah.

Kota Kediri. Kota Madiun. yaitu peningkatan mutu kesehatan (promotion).d-infokom-jatim. Sementara berdasar data YGA. Demikian juga Indonesia sebagai suatu negara berkembang. dengan perkembangannya yang cukup baik. pencegahan penyakit (preventive). January 22. perilaku. jelaslah peranan dan sasaran kerja promosi dan prevensi di bidang geriatri. Ilmu pengetahuan dan teknologi masih ditantang untuk menerangkan penyebab orang menjadi tua.94 juta orang terdiri dari laki-laki 1. PENDAHULUAN Salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa seringkali dilihat dari umur harapan hidup penduduknya. lingkungan dan lain-lain. Sedangkan rata-rata lansia di tiap Kecamatan terbanyak terdapat di Kota Malang. Kab Malang. Masalah lanjut usia akan dihadapi oleh setiap insan dan akan berkembang menjadi masalah yang lebih kompleks karena : 1. Yang jelas ialah bahwa proses menua merupakan kombinasi berbagai faktor yang saling berkaitan. Banyak teori yang diajukan dan belum dapat memuaskan semua pihak. 1994).Umur harapan hidup (life expectancy) pada saat itu akan berada di atas usia . dan Kab Madiun. karena sampai setengah abad yang lalu ilmu ini memang belum dikenal. Hal ini semua merupakan gambaran yang terjadi pada seluruh negara di dunia berkat adanya kemajuan teknologi dan kondisi sosio-ekonomi yang dialaminya. keberadaannya tinggal di perkotaan. sosial. ( www. Perkembangan ilmu ini tidak dapat dipisahkan dari kemajuan ilmu dan teknologi. Dengan mengembangkan kerangka model seperti di atas. jumlah lansia di Jatim sebanyak 3. Kota Malang. Tujuan geriatri / gerontologi adalah mewujudkan healthy aging tersebut dengan jalan melaksanakan P4 di bidang kesehatan. diproyeksikan angka harapan hidupnya dapat mencapai lebih dari 70 tahun pada tahun 2020 yang akan datang.18 juta orang.id/hsn/toeb) Thursday. Tujuan hidup manusia adalah menjadi tua tapi tetap sehat (healthy aging). 2009 SEJARAH DAN PERKEMBANGAN GERONTOLOGI I. pengobatan penyakit (curative). ekonomi.go. Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari segala aspek yang berhubungan dengan masalah lanjut usia atau dapat pula diartikan sebagai suatu pendekatan ilmiah dari berbagai aspek proses penuaan ditinjau dari segi kesehatan. dan Kab Jember. Sedangkan terbayak jumlah lansia di desa-desa atau kelurahan berada di Kota Surabaya.mengadukan kepada pihak terkait agar dapat segera ditindak tegas sesuai kebijakan perda lansia yang sudah terbentuk ini. Menua merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki / mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides. Kebanyakan dari mereka yang tidak mendapatkan perhatian itu berdomisili di pedesaan yaitu sekitar 76% dan sisanya. Kota Batu. dan pemulihan kesehatan (rehabilitation). hukum.75 juta orang dan perempuan 2.

Sistem pensiun atau tunjangan kesehatan yang memadai sampai saat ini masih belum dipikirkan secara mendasar.70 tahun. Masalah lainnya pun berkembang cepat sehingga sampai saat ini dikenal berbagai cabang ilmu seperti : Proses biologik pada usia lanjut Socio-gerontology Psycho-gerontology Medical-gerontology yang mencakup aspek preventif. padahal angka kesakitan dan kemiskinan pada lanjut usia tentunya akan meningkat. perawatan.Setiap keluarga pada saat itu rata-rata akan mempunyai 2 orang anak. kuratif dan rehabilitatif. ilmu geriatri praktis mempelajari aspek kedokteran klinis dan tidak terlampau banyak membicarakan aspek preventif Anthropo-gerontology. Di lain pihak. karena penyakit lanjut usia memiliki karakteristik tertentu yang jarang didapatkan pada masa anak dan dewasa muda. akan tetapi juga disebabkan oleh faktor biologis. Permasalahan potensial yang akan terjadi tidak hanya ditimbulkan oleh faktor kependudukan. India dan Amerika Serikat. . Para lansia akan menghadapi kedaan dimana semua anak mereka harus bekerja dan berkarier. Norma masyarakat juga akan bergeser dan mengarah pada kehidupan yang egosentris. Sehingga muncul pertanyaan : siapakah yang dapat diharapkan dan mau menjadi care provider bagi mereka? Masalah globalisasi akan menuntut perkembangan keluarga yang tadinya berintikan nilai tradisional / keluarga guyub beralih dan cenderung berkembang menjadi keluarga individual / patembayan. sosial budaya. sedangkan kelompok wanita tua lebih bercirikan kekurangmampuan/ kemiskinan. kurangnya ketrampilan yang dimiliki dibandingkan dengan kelompok pria dan ketidakberdayaan. berkembangnya ilmu kesehatan lingkungan serta keberhasilan program keluarga berencana menyebabkan meningkatnya angka harapan hidup dan tentunya dibarengi konsekuensi lainnya yang lebih kompleks. 2. ekonomi. Perkembangan ilmu kesehatan yang berkaitan dengan lansia juga tumbuh lebih cepat. Terbatasnya kemampuan dalam memanfaatkan dan mendayagunakan sumbersumber yang ada. kelompok yang melayani lansia umumnya terdiri dari para wanita. pelayanan serta jaringan kerjasama tingkat lokal. Masalah gender akan berkembang menjadi topik besar. hukum dan etika. Semua pihak hendaknya mengantisipasi hal ini dan mempersiapkan diri menghadapi permasalahan yang sangat kompleks yang akan timbul. sehingga populasi lanjut usia di Indonesia tidak saja akan melebihi jumlah balita tetapi dapat menduduki peringkat ke-empat di dunia setelah RRC. pembinaan. karena jumlah lansia wanita akan melebihi jumlah prianya (karena umur harapan hidup wanita memang lebih tinggi). Sementara itu. Terberantasnya penyakit infeksi yang disebabkan kuman dan parasit. dan lain sebagainya. kesehatan. Terbatasnya aksebilitas lansia sehingga mobilitas menjadi sangat terbatas. psikologis dan perilaku. Terbatasnya hubungan dan komunikasi lanjut usia dan lingkungannya dan penurunan kesempatan dan produktivitas kerja. 3. nasional. regional.

Lalu berkembang suatu masa dimana sejak perang dunia kedua. kekurangan gizi dan menurunnya status kesehatan lingkungan sehingga umur harapan hidup sangat rendah. Belum lagi sering terjadi saling mempengaruhi antar berbagai faktor yang disebutkan tadi. Demografi Lanjut Usia Transisi Demografi Pada pertemuan di Madrid. dimana jumlah lansia dengan permasalahannya akan jauh lebih besar.34% pada tahun 2020. ii. WHO mengungkapkan bahwa semasa abad yang lalu telah terjadi perubahan-perubahan besar sebelum perang dunia pertama. jadi dalam keluarga tersebut bisa memiliki 10 orang anak bahkan lebih sehingga jumlah penduduk menjadi tidak terkontrol. terpadu. kini populasi lansia rata-rata 7. Seperti diketahui bahwa Indonesia saat ini sedang berada dalam transisi demografi dengan persentasi lansia diproyeksikan menjadi 11.bahkan global. maka penyakit-penyakit tadi dapat ditekan. Di Indonesia. lebih serius dan lebih kompleks. Ada negaranegara yang mempunyai jumlah lansia diatas 10% dan disebut dengan Aging Populated Countries. Karena itu diperlukan suatu program-program yang lebih terarah dan hanya bisa dimulai bila institusi-institusi mulai memberikan perhatian. Maka kira-kira 30 tahun lalu terjadi suatu pergeseran baru dalam kesehatan yang disebut dengan demographical shift. dimana hampir semua Negara-negara di seluruh dunia tercekam oleh penyakitpenyakit menular. efektif dan efisien dengan tujuan akhirnya. Di Indonesia gerakan family planning program ternyata cukup berhasil. Saat itulah terjadi suatu gerakan dunia untuk mengingatkan agar jangan sampai dunia mengalami kekurangan pangan bagi penduduk-penduduk baru dan diproklamirkan suatu gerakan berencana internasional yang disebut family planning program.5% dari jumlah total penduduk dan dalam waktu 20 tahun lagi jumlah lansia Indonesia akan melebihi balita. Pada akhir abad yang lalu disinyalir umur lansia semakin banyak. Setelah Ilmu Kesehatan Masyarakat dikembangkan. Dan diharapkan lembaga-lembaga lainnya akan turut berperan serta dalam usaha ini. yaitu membuat lansia dan keluarganya sejahtera. Pada saat itulah WHO mengatakan bahwa milenium ini ditandai dengan apa yang disebut dengan gerontological shift. hampir semua penduduk dunia berkembang biak dengan jumlah anak-anak kecil yang dilahirkan tanpa suatu program khusus. Produk hukum tersebut dapat dijadikan pedoman guna memperbaiki kinerja para pelaksana sehingga diperoleh kegiatan yang lebih terarah. Keberhasilan pembangunan akan meningkatkan derajat kesehatan . Beberapa produk hukum telah dikembangkan dan yang terbaru adalah UndangUndang Republik Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia. Dengan demikian iklim yang tercipta perlu dimanfaatkan dengan sebaikbaiknya oleh seluruh pihak yang berkiprah dalam pembangunan lanjut usia. oleh sebab itu sejak 60 tahun yang lalu ada paradigma kesehatan baru yang disebut dengan epidemiological shift.

Salah satu konsekuensinya yang perlu diantisipasi sejak dini adalah meningkatnya baik jumlah maupun persentasi penduduk lansia. Pada saat inilah timbul tekanan pada generasi muda (generation pressure) yang lebih berbahaya dari keadaan tahap I. Pada tahun 1990 penduduk berusia 60 tahun ke atas sudah mencapai 11.3 juta atau 6. dengan kata lain perhatian dan prioritas untuk penyakit-penyakit dewasa dan lanjut usia akan lebih dibutuhkan. Makin lanjut usia seseorang. Tahapan Indonesia saat ini adalah tahap I dan mulai memasuki tahap II dengan timbulnya isu peningkatan usia pensiun. Perubahan struktur ini juga akan mempengaruhi rasio ketergantungan (Dependency Ratio). Struktur masyarakat Indonesia berubah dari masyarakat / populasi “muda” (1971) enjadi populasi yang lebih “tua” pada tahun 2020.mereka pun masih mampu mengimbangi kaum muda dan menghendaki tetap pada jabatannya. preventif. spiritual.7 tahun pada tahun 1968 menjadi 61. Pergeseran ini menuntut perubahan dalam strategi pelayanan kesehatan. Secara alami proses manjadi tua menyebabkan para lansia mengalami kemunduran fisik dan mental. kuratif dan rehabilitatif agar para lanjut usia tetap dapat mandiri dan tidak menjadi beban bagi dirinya maupun keluarga dan masyarakat. sehingga tidak mau digeser. Tahap II Karena makin tebalnya lapisan lansia dan makin meningkatnya tingkat kesehatan. mental. Kebijakan makro pun akan banyak mengalami pergeseran.5%) dan pada tahun 2010 akan melebihi jumlah balita. Piramida penduduk Indonesia berubah bentuk dengan basis lebar (fertilitas tinggi) menjadi piramida berbentuk bawang yang menunjukan rendahnya fertilitas dan mortalitas.penduduk yang ditandai dengan menurunnya tingkat kelahiran dan kematian serta diikuti oleh semakin luasnya cakupan dan meningkatnya mutu pelayanan kesehatan dan gizi rakyat telah mendorong terjadinya pergeseran berbagai paramater demografi ke arah yang lebih baik. Dengan demikian lapisan kaum lansia dalam struktur demografi Indonesia menjadi makin tebal. Keadaan ini belum berbahaya. . ekonomi dan sosial sehingga diperlukan upaya khusus yang bersifat promotif. sedangkan kaum lansia acuh.4 % dari jumlah penduduk dan akan terus meningkat. tetap tertinggal dan membiarkan kaum muda berjalan terus. namun penyakit-penyakit anak dan balita masih juga belum diselesaikan (beban ganda).3 tahun pada tahun 1992. antara lain : Tahap I Timbul kesenjangan antar generasi (generation gap). dan sebaliknya kaum muda menjadi relatif lebih sedikit. Pada tahun 2005 jumlah lanjut usia diramalkan akan menjadi 19 juta (8. Dengan kata lain. Salah satu diantaranya adalah meningkatnya usia harapan hidup dari 45. makin banyak ia mengalami permasalahan terutama fisik. Diproyeksikan usia harapan hidup penduduk Indonesia akan semakin meningkat. Proses ini berlangsung beberapa tahap. Keadaan ini mempunyai implikasi yang besar pada kebijakan makro di berbagai sektor pembangunan. karena kaum muda secara lebih dinamis mengikuti kemajuan teknologi canggih. timbul regenerasi yang bisa membawa akibat negatif.

3%. urbanisasi juga terjadi. Masalah akan timbul bila mereka sudah lemah dan sakit-sakitan. menyelenggarakan program pensiun secara terpadu dan merata 2.Tahap III Adalah yang paling berbahaya. maka polusi ini akan berpengaruh buruk pada lingkungannya dan terutama yang akan terkena lebih dahulu dampaknya ialah anak-anak dan orang lanjut usia (WHO. rehabilitasi dan lain sebagainya. Ini merupakan keadaan yang berbahaya. Di Indonesia hal ini praktis belum dikembangkan. ditandai dengan timbulnya konflik anyar generasi (generation conflict). 1974). Dengan adanya industrialisasi. maka antara lain harus dilaksanakan hal-hal sebagai berikut : 1. yang secara langsung atau tak langsung akan mempengaruhi perkembangan geriatri (gerontologi) pada umumnya. Indikator Demografi Berbagai indikator demografi yang lazim dipakai adalah sebagai berikut : 1.baik suami maupun istri harus bekerja. Pada era industrialisasi. Dengan kata lain. Seorang nenek atau kakek haruslah sendirian di rumah.6% dan menjadi 14. menciptakan lapangan kerja/kegiatan bagi lanjut usia yang tidak bertentangan dengan kebutuhan kaum muda. Jadi perkembangan industri disini bisa berpengaruh positif. pada tahun 1975 telah meningkat menjadi 8. sehingga menambah kepadatan penduduk kota dan segala macam problemanya. Tetapi perkembangan industri membawa serta pula kontaminasi lingkungan dan gangguan kelestarian lingkungan hidup. Pengaruh Proses Industrialisasi Di negara-negara maju ternyata kualitas hidup dapat ditingkatkan dengan cepat berkat industrialisasi. Para lansia tersebut pada sore / malam hari dapat dijemput pulang ke rumah kembali. Indeks Penuaan (The Ageing Index) . maka justru disini perlu adanya apa yang disebut “day care center” atau “day hospital” untuk pengawasan. sedangkan anak-anak harus bersekolah. Hal ini umpamanya terjadi di Jepang yang pada tahun 1955 masih mempunyai persentase orang-orang usia lanjut sebesar 5. sehingga memerlukan pengaturan dan pengawasan yang baik. bahwa dengan adanya industrialisasi maka penggunaan teknologi modern dapat lebih dimanfaatkan demi peningkatan derajat hidup. tetapi bila tidak diawasi dengan baik juga dapat memberi dampak negatif terhadap golongan penduduk berusia lanjut.3% pada tahun 2000. Selain itu industrialisasi juga membawa pikiran-pikiran yang lebih materialistik dan dapat mendesak budaya tradisional yang baik. Untuk mencegah proses regenerasi menuju keadaan yang berbahaya. Dalam keadaan ini para lansia yang jumlahnya makin banyak merasa makin kuat dan terus-menerus menekan generasi di bawahnya. sedangkan generasi muda bereaksi dan melawan tekanan-tekanan tersebut sehingga timbul konflik yang berkepanjangan dan sulit diatasi dengan segera. Bila tidak.

Francis Bacon menulis sebuah tulisan berjudul “History of Life and Death”. Periode Gerontologi modern dimulai sekitar tahun 1950. Sejarah Gerontologi Studi mengenai proses penuaan telah dikenal jauh dalam sejarah. 5. teori penuaan. biokimia dan morfologi seluler yang terjadi. Dalam sebuah literatur kuno. Dia berdiskusi mengenai umur harapan hidup. 4. Besar dan Proporsi Penduduk Lanjut Usia ( The Relative Weight of Elderly) Angka 10% merupakan tanda transisi struktur penduduk muda ke arah tua.Rasio penduduk lanjut usia terhadap penduduk usia kurang dari 15 tahun. Pada tahun 1939 edisi pertama dari “Problems of Aging” yang ditulis oleh Cowdry menandai awal era modern dalam penelitian seputar masalah penuaan. Tujuannya adalah untuk memperpanjang umur harapan hidup manusia. dibawah ini akan dijabarkan perkembangan gerontologi . Angka Ketergantungan Penduduk Lanjut Usia ( The Aged Dependency Ratio) Jumlah penduduk lanjut usia terhadap 100 penduduk usia kerja yang berusia 15-59 tahun. Beberapa penelitian pada zaman itu telah memperkenalkan kita pada teori-teori penuaan. ditinjau secara fisiologi. Kemudian Galen dan Roger Bacon turut memberikan kontribusi berupa literatur-literatur yang topiknya seputar masalah penuaan. Komposisi Penduduk Lanjut Usia Pria . Sebagai contoh. Secara garis besar. sebagai contoh misalnya toksin. Ketika itu studi yang telah bersifat sistematik menjelaskan perubahan yang terjadi pada proses menua. gravitasi dan lain-lain. Di USA terutama pada tahun 1940. Usia Median (Median Age) Membagi sama penduduk usia muda dan tua. Secara kronologis. Era modern dalam riset mengenai masalah penuaan terjadi pada abad ke-20. iii.Wanita (The Sex Composition of the Elderly Population) 6. tercantum bahwa Aristoteles mengajukan pertanyaanpertanyaan seputar proses menua. Kelompok lainnya berpendapat bahwa penuaan dipengaruhi oleh lingkungan. Sebuah monograf yang ditulis oleh Joseph Freeman menampilkan sebuah kilas balik yang menakjubkan yang beisi catatan sejarah mengenai riset seputar masalah penuaan yang dilakukan lebih dari 2500 tahun yang lalu. Elie Metchnikoff menerima penghargaan nobel atas kontribusinya yang sangat besar dalam bidang biologi dan penelitian tentang penuaan. Grup pertama menjelaskan bahwa proses menua terjadi karena adanya fenomena “wear and tear”. dan umur maksimal dari berbagai spesies. Ia memperkenalkan konsep bahwa proses penuaan disebabkan absorpsi toksin yang berasal dari bakteri usus. 3. sinar kosmis. pada tahun 1908. teori penuaan dapat dibagi menjadi 2 grup utama. Penuaan Penduduk Tua ( The Ageing of the Elderly Population) Proporsi penduduk lansia diatas 75 tahun dibanding lanjut usia diatas. Pada zaman Renaissance. banyak studi yang difokuskan seputar masalah panjang umur. 2.

para pakar dapat menemukan wadah dalam menyalurkan pendapat dan aspirasinya. sehingga saat ini nama PERGERI mulai dikenal baik di lingkungan pemerintahan maupun dalam kalangan ilmu pengetahuan. dan suuatu saat PERGERI juga diakui sebagai anggota Forum Organisasi Profersi di Indonesia / FOPI. 4 tahun 1965 tentang Pemberian Bantuan Bagi Orang Jompo. Pra WAA II World Assembly on Ageing (1982) Sejak PBB menggelar World Assembly on Ageing pada tahun 1982 di Wina dan mengingatkan semua negara bahwa masalah lanjut usia akan menjadi masalah besar. Dengan adanya aktivitas PERGERI saat itu. juga menampung beberapa anggota masyarakat baik dari PERGERI. PWRI maupun . Setelah tahun 1974 telah dikeluarkan perundang-undangan lannya yang materinya terkait dengan kesejahteraan sosial lanjut usia baik secara langsung maupun tak langsung. Dengan didirikannya PERGERI yang diakui sebagai satu-satunya organisasi yang mewakili Indonesia dalam International Association of Gerontology / IAG. beberapa peserta yang berasal dari Indonesia telah mengambil prakarsa di bidang ini dan sesampainya di Indonesia mulai menyebarkan informasi seluas mungkin seputar permasalahan lanjut usia. Terbentuknya PERGERI (1984) Beberapa tokoh masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Kurun Waktu 1965-1974 Kesejahteraan sosial lanjut usia selama kurun waktu 1965-1974 dilaksanakan berdasarkan berdasarkan ketentuan Undang-undang No. 4 tahun 1965 tetapi juga pelayanan kesejahteraan lanjut usia dalam arti luas. diantaranya Undang-undang No. Pencanangan Hari Lanjut Usia Nasional (1996) Melalui melalui berbagai pendekatan terbentuklah suatu Kelompok Kerja Tetap di lingkup Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat yang selain mengkoordinasikan beberapa kementrerian / departemen yang terkait.Dengan meningkatnya lanjut usia dituntut adanya upaya yang lebih proporsional dalam meningkatkan kesejahteraan lanjut usia yang tidak saja kesejahteraan sosial sebagaimana diamanatkan dalam UU No.khususnya di Indonesia dan kongres atau pertemuan internasional yang memberi pengaruh pada perkembangan gerontologi di Indonesia. UN-ESCAP (united Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific) perwakilan PBB untuk regio Asia Pasifik. 6 tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial dan Undang-undang No. Kemudian didirikannya Perhimpunan Gerontologi Indonesia (PERGERI) pada tahun 1984 yang merupakan salah satu organisasi tertua di Indonesia yang mulai merintis dan melangkah di bidang ini. Universitas Indonesia dan Universitas Trisakti menggelar simposium yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan masalah tersebut dan berupaya memecahkan problema yang kompleks tersebut. Demikian pula di tingkat regional. hubungan dengan instansi pemerintah maupun LSM lain mulai digarap.10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sejahtera.

Inten Suweno masih sempat mengukuhkan didirikannya Lembaga Kesejahteraan Lanjut Usia / LKLU (dikukuhkan pada tanggal 24 Februari 1998). dimana menteri sosial saat itu mengisyaratkan agar PERGERI mengambil prakarsa untuk membentuk Badan Nasional untuk dijadikan counter part pemerintah yang nantinya menjadi cikal bakal National Council on Ageing. Suatu saat diputuskan bahwa Indonesia memang layak mempunyai Hari Lanjut Usia Nasional yang dicanangkan oleh presiden pada tanggal 29 Mei 1996 di Semarang.wakil cerdik pandai dari kalangan universitas dan di dalam kerjasamanya mereka menghasilkan beberapa butir kesepakatan. bukan dikasihani.Agar Indonesia memiliki kelompok kerja / team-work yang secara konsisten memikirkan masalah kesejahteraan lansia di Indonesia. 15/KEP/MENKO/KESRA/IX/1994. antara lain : 1. Tugas LKLU : memberikan sumbangan. Fungsi LKLU : 1. telah dibentuk Panitia Nasional Pelembagaan Lanjut Usia dalam Kehidupan Bangsa. 3. dan mempunyai tema khusus bagi lanjut usia di Indonesia. agar nyata bahwa mereka dihargai dan dihormati. Melalui Surat Keputusan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat No. Diperingatinya Hari Lanjut Usia secara rutin diharapkan akan membantu meresapkan ke dalam budaya kita bahwa masalah lanjut usia adalah masalah nasional yang tidak bisa dihindarkan oleh siapa pun dan menyangkut semua pihak.Agar Indonesia juga memutuskan ditentukannya Hari Lanjut Usia Nasional. Untuk itu dipergunakan adanya pola umum agar upaya pelembagaan lanjut usia dalam kehidupan bangsa yang menyangkut berbagai sektor mengacu pada pedoman yang sama. 2. pemikiran dan masukan kepada pemerintah untuk perumusan dan penetapan kebijaksanaan upaya pelembagaan lanjut usia dalam kehidupan bangsa. Merumuskan kebijaksanaan dan menetapkan pedoman umum baik yang . Menteri Sosial Dra.Agar Indonesia juga setiap tahun dapat menyelenggarakan kegiatan yang dapat dikordinasikan dengan departemen terkait secara bergilir. Musyawarah Nasional II PERGERI dan cikal bakal berdirinya LKLU (1997) Selanjutnya kegiatan terus bergulir sampai PERGERI menyelenggarakan musyawarah nasionalnya yang kedua pada bulan Desember tahun 1997. Peraturan perundang-undangan diperlukan untuk memberi hak fundamental kepada Lanjut Usia sebagai imbalan dari perjuangan mereka setelah bertahun-tahun mengabdi masyarakat. Panitia Nasional tersebut antara lain bertugas mempersiapkan bahan untuk mendukung terlaksananya pencanangan Hari Lanjut Usia Nasional oleh presiden. menyiapkan konsepkonsep dasar untuk bahan penyusunan rancangan peraturan perundangundangan yang mendukung kehidupan bagi lanjut usia dalam tatanan pembangunan nasional dan menyiapkan pola umum dan standar-standar yang berkaitan dengan pelembagaan lansia dalam kehidupan bangsa. Ternyata perkembangan menjadi lebih cepat sehingga pada tahun 1998 itu pun telah dicantumkan dalam “GBHN” baru yang disahkan pada bulan Maret 1998 dan sebelum demisioner. yang tanggal-tanggalnya sudah disesuaikan pada pemerintah sebagai alternatif.

plan of action yang dilahirkan pada regional meeting tersebut diarahkan pada tujuh masalah besar yang dihadapi pada lanjut usia. LSM. UN-ESCAP berhasil meyakinkan pemerintah di daerah Asia Pasifik bahwa masalah lanjut usia merupakan masalah aktual yang harus diselesaikan secara bersamaan. dalam rangka keterpaduan perumusan dan penetapan kebijaksanaan. organisasi sosial. Penetapan Hari Kebangkitan Lansia RI (2000) Di Indonesia telah ditetapkan hari Kebangkitan Lansia RI yaitu pada 20 Mei . selain tema yang dikumandangkan berjudul “Towards A Society Of All Ages” di markas PBB di New York. 2. Menyelenggarakan koordinasi dengan berbagai instansi terkait. Dalam kesempatan itu.Social Service and the Community (pelayanan sosial dan masyarakat) Dalam memperingati Hari Lanjut Usia Internasional pada tanggal 1 Oktober 1998. juga diselenggarakan pertemuan satu hari penuh yang diprakarsai oleh NGO Comittee on Ageing dan bekerjasama dengan UN programme on Ageing serta UN Departement of Public Information. medik. pemeliharaan serta penyaluran kegiatannya) 5. Peringatan dan Acara Tahun Lanjut Usia Internasional ini akan berlangsung sampai akhir Desember 1999. UN-ESCAP (United Nations Economic and Social Commission For Asia and the Pacific) berhasil mencetuskan deklarasi Macao tentang lanjut usia di Asia dan Pasifik. yakni: Social Position of Older Persons (kedudukan lanjut usia dalam masyarakat) : 1. sehingga mereka dapat menyumbangkan pengetahuan.Older Persons and the Family (kedudukan lanjut usia dalam keluarga) 2.berkenaan dengan perencanaan program/kegiatan maupun pelaksanaan secara terpadu dan terkordinasi. Deklarasi dicetuskan pada akhir Regional Meeting On A Plan Of Action On Ageing For Asia And The Pacific yang diselanggarakan di Macao .Older Person and the Market (lanjut usia sebagai konsumen) 4.1 Oktober 1998. Pencetusan Deklarasi Macao oleh UN-ESCAP (1998) Di kawasan Asia Pasifik. 3. 28 September .Health and Nutrition (masalah kesehatan dan gizi) Housing and Transportation (masalah perumahan dan transportasi) 3. finansial serta emosional bagi penduduk yang sedang mengalami pergeseran demografik tersebut. pemantauan dan pengendalian sesuai ketentuan yang berlaku. Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan telah mencanangkan International Year of Older Persons (IYOP). maintenance an Employment (jaminan hari tua / jaminan sosial. Melakukan pemasyarakatan. Upaya yang telah dirintis selama ini akan bermuara pada satu tujuan utama yaitu tindakan preventif maupun promotif agar lanjut usia masih dapat tetap produktif.Income Security. Untuk itu dibutuhkan sarana infrastruktur yang baru dalam menghadapi kebutuhan sosial. Untuk itu. tenaga dan aspirasinya secara tepat demi kemajuan/perkembangan sosioekonomi negara masing-masing.

Lalu berkembang suatu masa dimana setelah perang dunia II hampir semua penduduk dunia berkembang biak dengan jumlah anak-anak kecil yang dilahirkan tanpa suatu program khusus. kesehatan lingkungan turun dan penyakit-penyakit parasiter. Sumber daya manusia 5. Hal-hal yang perlu diantisipasi 4.2000. umur harapan hidup. Pada pertemuan di Madrid. Saat itulah terjadi suatu gerakan dunia untuk mengingatkan agar jangan sampai . Sp.Aspek demografi Aspek demografi adalah hal-hal yang menyangkut masalah kependudukan. Spanyol (2002) Setelah pertemuan IAG diadakan kongres WAA II di Madrid. Pertemuan Gerontologi di Valencia (2002) Pertemuan gerontologi di Valencia tahun 2002 yang diprakarsai oleh IAG (International Association of Gerontology). oleh sebab itu sejak 60 tahun lalu ada paradigma kesehatan baru yang disebut dengan epidemiological shift. WHO mengungkapkan bahwa semasa abad yang lalu telah terjadi perubahan-perubahan besar pertama sebelum perang dunia. Masalah dalam negeri Indonesia Kongres WAA II di Madrid. Hal ini disebabkan oleh keberhasilan program KB. Spanyol pada tanggal 8-12 April 2002 yang membahas masalah lansia dengan lebih serius kemudian menghasilkan Deklarasi Madrid. Di sisi lain jumlah penduduk lanjut usia semakin bertambah. Jadi dalam keluarga itu bisa memiliki 5 orang anak. Ph. 10 orang anak dan bahkan lebih sehingga jumlah penduduk ini tidak terkontrol. masalah gender (perbedaan jenis kelamin) dan distribusi lansia regional. Spanyol. Proyeksi populasi Indonesia telah dibuat oleh pemerintah Indonesia dari tahun 1971-2020. Aspek nasional-regional-global 3. 2.KJ. Program Healthy Ageing dikemukakan dalam forum gerontologi di Valencia. Setelah IKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat) dikembangkan maka penyakitpenyakit tadi itu bisa ditekan.D. Dalam proyeksi tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk balita akan semakin berkurang. Program bagi lanjut usia ini berisi hal-hal sebagai berikut : 1. dimana hampir semua negara-negara di dunia tercekam oleh penyakit-penyakit menular sehingga umur harapan hidup sangat rendah misalnya karena infeksi. Hal ini setidaknya merupakan hasil positif karena peningkatan pelayanan kesehatan dari pemerintah yang diperlihatkan dari meningkatnya usia harapan hidup. Kemudian adanya usaha dari UN-ESCAP yaitu pengajuan proposal kepada PBB agar memiliki organisasi di bawah sekjen untuk Lansia dan tiap negara diharapkan mengembangkan pengamanan sosial bagi lansia. antara lain: proyeksi populasi penduduk. Dan diharapkan adanya lembaga untuk Lansia yang diresmikan oleh Presiden. Indonesia diwakili oleh Dr. Tony Setiabudi. kekurangan gizi.

mereka masih diperlukan dalam perkembangan masyarakat secara menyeluruh Hal penting lainnya general issues sangat luar biasa karena pertama-tama dinilai bahwa lansia khususnya di negara miskin harapan hidup perempuannya lebih banyak dari laki-laki. lebih serius dan lebih kompleks. sehingga hampir semua panti werdha wanita lebih banyak tetapi di negara miskin karena wanita praktis tidak mendapat pendidikan yang tinggi maka kehidupannya terpuruk karena kemiskinan dan kurangnya pendidikan.5% dari jumlah total penduduk dan dalam waktu 20 tahun lagi jumlah lansia Indonesia akan melebihi balita. Maka kira-kira 30 tahun lalu terjadi suatu pergeseran baru dalam kesehatan yang disebut dengan Demographical Shift. Di Indonesia gerakan family planning program ternyata cukup berhasil. tentunya juga para lansia boleh tetap berperan serta dalam pembangunan dan mempunyai hak sebagai warga negara yang penuh. Perlu diketahui juga bahwa lansia itu berhak untuk hidup lebih lama dengan rasa aman dan bermartabat. Di Indonesia. Dan diharapkan lembaga-lembaga lainnya akan turut berperan serta dalam usaha ini. Ternyata general issues tidak berhenti sampai disitu. kini populasi lansia rata-rata 7. maka wanita yang berusia 40 tahun keatas harus disiapkan untuk melayani orang tuanya. kebijakan pemerintah. Pada akhir abad yang lalu disinyalir umur lansia semakin banyak. maupun perilaku masyarakat harus diubah sehingga bisa muncul persepsi bahwa orang tua bukannya harus disingkirkan tapi harus diupayakan. Caregivers adalah yang mereka yang berusia 40 tahun keatas dan kebanyakan wanita. Pada saat itulah WHO mengatakan bahwa millenium ini ditandai dengan apa yang disebut dengan Gerontological Shift. dimana jumlah lansia dengan permasalahannya akan jauh lebih besar. para tenaga yang melayani lansia dengan caregivers dimanapun di dunia dilakukan oleh kelompok-¬kelompok wanita. oleh karena itu diharapkan supaya sikap masyarakat. Isi deklarasi Madrid yang utama yaitu peran lanjut usia dalam pembangunan harus dimaksimalkan dan tentunya peran tersebut hanya mungkin dimaksimalkan kalau derajat kesehatan dan kesejahteraannya juga ditingkatkan. Kedua hal tersebut hanya mungkin dilaksanakan apabila disertai partisipasi dari masyarakat itu sendiri. Karena itu diperlukan suatu program-program yang lebih terarah dan hanya bisa dimulai bila institusi-institusi mulai memberikan perhatian. digandeng bersama-sama untuk ikut serta dalam pembangunan. Di dalam Mukadimah deklarasi Madrid diungkapkan bahwa potensi para lansia harus dapat dimaksimalkan agar bisa disumbangkan kepada masyarakat dan negaranya. Akan tetapi di Singapore terjadi suatu proses perubahan yang besar seperti halnya di Jepang dimana para wanita mulai masuk ke karir sehingga merasa lebih mandiri dan tidak butuh dukungan siapa-siapa lagi. Ada negaranegara yang mempunyai jumlah lansia diatas 10% dan disebut dengan Aging Populated Countries. Kondisi lansia perlu dimaksimalkan karena lansia merasa masih menjadi “orang” jika mereka merasa ikut berpartisipasi aktif.dunia mengalami kekurangan pangan bagi penduduk baru dan diproklamirkan suatu gerakan berencana internasional yang disebut family planning program. .

kelompok lanjut usia atau kelompok masyarakat seperti : Karang Werdha Adalah suatu perkumpulan/paguyuban dari para lansia yang biasanya berasal dari satu lingkungan hunian. Pelayanan Tingkat Dasar . Rencana Pertemuan Internasional yang Berkaitan dengan Perkembangan Gerontologi di Indonesia World Congress Rio de Janeiro 2005 dan Paris 2009 (Korea mencalonkan diri sebagai tempat pertemuan selanjutnya untuk tahun 2013) CIGP 2006 akan diadakan di Indonesia.22 tahun 2000 tentang Pemerintahan Daerah. para lansia yang sehat mandiri dapat mengadakan berbagai kegiatan fisik. mengamanaykan bahwa pemerintah dan masyarakat berkewajiban memberikan pelayanan sosial kepada lanjut usia. Keputusan Menteri Sosial No.6 Tahun 1974 tentang Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial. Pelayanan Tingkat Masyarakat Pelayanan yang ditujukan kepada Lanjut Usia.Secara singkat.15/KEP/IX/1994 tentang Panitia Nasional Pelembagaan Lanjut Usia dalam Kehidupan Bangsa. yaitu: anak. tema yang ingin dibahas dan disampaikan pada WAA II adalah: Peningkatan partisipasi lanjut usia dalam pembangunan.social-ekonomi secara bersama-sama Posyandu Lansia Day Care Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa PUSAKA Dana Sehat Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) b. bidang Pembangunan Sosial Budaya.13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia. perlindungan dan jaminan sosial bagi lanjut usia. orang tua dan kakek / nenek. perluasan akses dan kemudahan layanan kesehatan bagi lanjut usia serta mempertimbangkan pembentukan komisi nasional lanjut usia. Undang-undang No. Keputusan Menkokesra No. Pemberikan pelayanan berlandaskan pada filosofi dan nilai budaya masyarakat Indonesia yang berasas Three Generation in One Roof yang mengandung arti yaitu adanya pertautan yang bernuansa antar 3 generasi. Di dalam klub ini.10/HUK/1998 tentang Lembaga Kesejahteraan Lanjut Usia Sesuai Undang-undang No. rohani. keluarga yang mempunyai lanjut usia.25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional Tahun 2000-2004. Sarana pelayanan kesehatan yang dipergunakan untuk melayani Lanjut Usia digolongkan dalam berbagai tingkatan. Undang-undang No. yaitu : a. peningkatan dukungan masyarakat bagi kesejahteraan lanjut usia.13 tahun 1998. Kegiatan Pelayanan Lanjut Usia di Indonesia Landasan hukum : Undang-undang No. Undang-undang No.

ketenagakerjaan. Unit Gawat Darurat. dan kedirgantaraan. pelayanan sosial. dan lain-lain tentang penduduk. akan tetapi (terutama) memiliki keterbatasan di bidang sosial / ekonomi. okupasi. umur harapan hidup. Puskesmas. Diselenggarakan oleh pemerintah atau swasta. Instalasi Gawat Darurat. mencakup jumlah. mengingat jumlahnya yang meningkat cepat dan berpotensi menimbulkan permasalahan yang akan mempengaruhi kelompok penduduk lain. diharapkan angka kesakitan (morbiditas). c. Demografi adalah ilmu yang mempelajari kependudukan. PENDAHULUAN Ilmu Kedokteran Komunitas (Community Medicine) adalah cabang ilmu kedokteran yang berurusan dengan kesehatan warga-warga suatu komunitas atau suatu wilayah. Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara berbagai faktor yang menentukan frekuensi dan distribusi penyakit pada komunitas manusia. lansia. laboratorium. Rumah Sakit Jiwa Rumah Sakit Khusus (lainnya) Sasana Tresna Werdha Sasana Tresna Werdha adalah suatu institusi hunian bersama dari para lansia yang secara fisik/kesehatan masih mandiri.Pelayanan diselenggarakan oleh berbagai instansi dan swasta serta organisasi masyarakat. seperti kedokteran keluarga. Day Hospital. presentase kenaikan. distribusi. pekerjaan dan penghasilan. status perkawinan. Balai Kesehatan Masyarakat. Bangsal Akut. unit rehabilitasi. Didalamnya dibagi lagi menjadi beberapa bidang. Pusat Pelayanan dan Perawatan Lanjut Usia. olahraga. serta sosial. ruang rawat. praktek dokter gigi. ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS DALAM GERONTOLOGI I. dan perpindahan. Panti Tresna Werdha. hukum dan bidang-bidang lainnya. lingkungan. Kebutuhan harian dari para penghuni biasanya disediakan pengurus panti. Hospitium Melalui pelayanan kesehatan yang dikerjakan terpadu dengan pelayanan keperawatan. pendidikan. psikis. Hal ini akan menunjang tercapainya mutu kehidupan lanjut usia yang sehat secara fisik. sehingga aspek demografi dari kelompok lanjut usia perlu diketahui dan dipahami untuk mengambil . industri. Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari masalah Lanjut Usia. lengkap. sedang. lokasi. angka kematian (mortalitas) serta permasalahan lanjut usia semakin menurun. Pelayanan Rujukan Tingkat I dan Tingkat II Pelayanan yang diberikan dapat bersifat sederhana. dan paripurna : Rumah sakit yang memiliki : Poliklinik Geriatri / Gerontologi. balai pengobatan dan klinik. mental spiritual. kelautan. angka kematian. gaya hidup. organisasi profesi dan yayasan seperti: praktek dokter. Yang disebut Lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. jenis kelamin. Kelompok ini memerlukan perhatian khusus di abad 21 ini.

ASPEK DEMOGRAFI Transisi Demografi Saat ini Indonesia ada dalam transisi demografi. dan Pakistan. Di Cina dan India.langkah antisipasi dalam mengatasi permasalahan lanjut usia. Struktur masyarakat Indonesia berubah dari masyarakat atau populasi muda menjadi populasi tua pada tahun 2020.72%). IV. Yogyakarta memiliki jumlah Lansia terbanyak (13. yang berarti golongan produktif sudah sangat tinggi persentasenya. sedang kenaikan kira-kira setengah jumlah tersebut adalah di Meksiko. Di Eropa pada tahun 2000 diproyeksikan jumlah populasi lansia 60+ akan berjumlah 20%. Pertambahan penduduk Lansia di Indonesia dan Brazil diproyeksikan naik masing-masing melebihi 20 juta orang. Tahun 1980. menjadi piramida berbentuk kubah mesjid atau bawang (fertilitas dan mortalitas rendah) pada tahun 2020. Tahun 1971. dan golongan Lansia (>60 tahun). Piramida penduduk Indonesia berubah dari bentuk dengan basis lebar (fertilitas tinggi). terhadap golongan usia 15-60 tahun yang produktif. Dimana dari 33 propinsi di Indonesia saat ini. Sebelumnya angka ini adalah 50% di tahun 1960. seterusnya akan menurun sampai 41. Di Negara industri maju. sebagai Negara yang banyak jumlah populasi Lansianya. Pada tahun 2000. suatu angka paling tinggi di dunia.negara sedang berkembang. Tapi dalam hal ini penyakit-penyakit pada balita dan anak-anak masih menjadi masalah yang belum diselesaikan. pertambahan mencapai 270 juta Lansia.17%. Nigeria. Indonesia adalah urutan ke-10. akan hidup dan bertempat tinggal di negara. Pergeseran ini menuntut perubahan dalam strategi pelayanan kesehatan. (WHO. sehingga tahun 2000. bahkan akan terjadi kenaikan yang cepat pada populasi 80+. Ini menjadi beban ganda.38 pada tahun 2020. pada tahun 2020 akan menjadi urutan ke-5 atau 6. UPAYA PELAYANAN KESEHATAN Upaya Mengatasi Permasalahan Kesehatan pada Lansia Upaya pembinaan kesehatan Upaya pelayanan kesehatan : . II. Angka ini makin menurun.34% pada tahun 2020 yang akan datang. Dependency Ratio total 86. Menurut laporan data demografi penduduk Internasional yang dikeluarkan oleh Bureau of the Census USA (1993). Kenaikan jumlah ini terutama di Asia. dua diantara tiga Lansia di seluruh dunia yang berjumlah 600 juta. dilaporkan bahwa Indonesia pada tahun 1990-2025 akan mempunyai kenaikan jumlah Lansia sebesar 414%. Perubahan struktur penduduk ini juga akan mempengaruhi ratio ketergantungan (Dependency Ratio).1989). Dependency Ratio total 53. Dependency Ratio ini sudah sangat rendah. persentase Lansia diproyeksikan menjadi 11. dengan kata lain lebih minta perhatian dan prioritas untuk penyakit-penyakit pada usia dewasa dan Lansia.84%. baik pada golongan anak yang tidak produktif (<15 tahun). Dengan catatan Dependency Ratio Lansia akan makin naik dan Dependency Ratio anak muda makin menurun.

misalnya agama. ▪ Disability (ketidakmampuan). psikolog.). ▪ Handicap (hambatan). pelayanan kesehatan harus bekerja secara lintas sektoral dengan dinas/ lembaga terkait di bidang kesejahteraan. b. Holistik secara horizontal berarti bahwa pelayanan kesehatan harus merupakan bagian dari pelayanan kesejahteraan lansia secara menyeluruh. pekerja sosio medik. Prinsip tatakerja dan tatalaksana secara TIM Tim geriatrik merupakan bentuk kerjasama multidisipliner yang bekerja secara inter-disipliner dalam mencapai tujuan pelayanan geriatrik yang dilaksanakan. Begitu pentingnya aspek pemulihan. baik di rumah maupun di lingkungan sosialnya. dll. ♥ Sifat holistik mengandung artian baik secara vertikal ataupun horizontal. ▪ Impairment (kerusakan/ gangguan). dan perawat. promotif. juga aspek kejiwaan dan lingkungan sosial ekonomi. fisioterapist. pendidikan. Komponen utama tim geriatrik terdiri dari dokter.# Upaya promotif # Upaya preventif # Diagnosa dini dan pengobatan # Pencegahan kecacatan # Upaya rehabilitatif Upaya perawatan Upaya pelembagaan Lansia Prinsip pelayanan kesehatan pada Lansia a. Tergantung dari kompleksitas dan jenis layanan yang diberikan. serta dinas sosial. yaitu rumah sakit yang mempunyai pelayanan subspesialis geriatri. Secara vertikal dalam arti pemberian pelayanan di masyarakat sampai ke pelayanan rujukan tertinggi. dan pemulihan (rehabilitatif). Prinsip holistik ♥ Seorang penderita lanjut usia harus dipandang sebagai manusia seutuhnya (lingkungan psikologik dan sosial ekonomi). terapi okupasi. Hal ini ditunjukkan dengan asesmen geriatri sebagai aspek diagnostik. dan kebudayaan. misalnya penyakit jantung iskemik. dan atau . Pada kasus tersebut di atas adalah ketidakmampuan penderita untuk melakukan aktivitas sosial. Pada kasus di atas misalnya terjadi decompensasi jantung. sehingga WHO menganjurkan agar diagnosis penyakit pada Lansia harus meliputi 4 tingkatan penyakit : ▪ Disease (penyakit). yaitu diagnosis penyakit pada penderita. Yang dimaksud dengan multidisiplin si sini adalah berbagai disiplin ilmu kesehatan yang secara bersama-sama melakukan penanganan pada penderita lanjut usia. terapi bicara. yaitu akibat obyektif pada kemampuan fungsional dari organ atau dari individu tersebut. penyembuhan (kuratif). yaitu akibat sosial dari penyakit. missal pada MCI akut ataupun kronis. yang meliputi seluruh organ dan sistem. Anggota tim dapat ditambah dengan tenaga rehabilitasi medik (dokter. Oleh karena itu. ♥ Pelayanan holistik juga berarti bahwa pelayanan harus mencakup aspek pencegahan (preventif). yaitu adanya gangguan atau kerusakan dari organ akibat penyakit.

kerjasama meliputi pembuatan dan penyerasian konsep serta penyerasian tindakan. Pengembangan dan peningkatan hubungan sosial di masyarakat. 6. PELAKSANAAN PELAYANAN KESEHATAN USIA LANJUT Pembinaan Kesehatan Tujuannya adalah meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yagn bahagia dan berguna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya dalam masyarakat. berdebar-debar. Tim geriatri disamping mengadakan asesmen atas masalah yang ada. Disiplin lain dapat memberi saran demi tercapainya tujuan bersama. tujuan merupakan tujuan bersama. Kegiatan olahraga/ kesegaran jasmani. 4. dimana tujuan seolah-olah dibagi secara kaku berdasarkan disiplin masing-masing anggota. tetapi tidak secara kaku. Meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat. Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. kerjasama terutama bersifat pada pembuatan dan penyerasian konsep. 3. ahli gizi. 5. Informasi yang diperlukan > 65 tahun dan kelompok resiko tinggi 1. 4. juga mengadakan asesmen atas sumber daya manusia dan sosial ekonomi yang bisa digunakan untuk membantu pelaksanaan masalah penderita tersebut. 2. Pembinaan diri sendiri dalam hal pemenuhan kebutuhan pribadi. 6. Peningkatan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pemeriksaan kesehatan secara berkala. pemakaian alat bantu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang ada pada mereka. dan kalau perlu mengadakan perubahan demi tujuan bersama yang hendak dicapai. nyeri dada. sesak nafas waktu beraktivitas. mudah lelah. 4. Jika tim multidisiplin yang bekerja secara multidisiplin. Melakukan diet dengan menu seimbang. Pemeriksaan kesehatan secara berkala. . Mengetahui pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.dan tenaga lain yang bekerja dalam layanan tersebut. Informasi yang diperlukan usia 40-45 tahun (masa virilitas) 1. Perawatan gizi/ diet seimbang 3. Pada tim interdisiplin. 2. Perlunya berbagai alat bantu untuki tetap berdaya guna. Masing-masing anggota mengerjakan tugas sesuai disiplinnya sendiri-sendiri. Melakukan latihan kesegaran jasmani. Secara periodik dilakukan pertemuan anggota tim untuk mengadakan evaluasi kerja yang telah dicapai. Informasi yang diperlukan usia 55-64 tahun (masa presenium) 1. Perawatan fisioterapi di RS terdekat. 2. farmasis. V. Pada tim multidisiplin.psikiater. Istilah interdisiplin diartikan sebagai suatu tatakerja dimana masing-masing anggotanya saling tergantung (interdependent) satu sama lain. Sedangkan pada tim interdisiplin. 5. 3. aktivitas di dalam rumah maupun di luar rumah. Mengetahui sedini mungkin adanya akibat proses penuaan (keluhan mudah jatuh.

susu tanpa lemak dan ikan hindari alkohol berhenti merokok perbanyak minum air putih 6-8 gelas per hari atau sesuai anjuran petugas kesehatan • Kegiatan fisik dan psikososial pertahankan berat badan normal lakukan kegiatan fisik sesuai kemampuan lakukan latihan kesegaran jasmani sesuai kemampuan seperti jalan kaki. dan garam perbanyak buah. memuat anjuran untuk hidup sehat : • Perkuat ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa untuk mengendalikan stress • Periksakan kesehatan secara berkala • Makan dan minum kurangi gula. Pelayanan kesehatan a.5. dan bersepeda tingkatkan silaturahmi sempatkan rekreasi dan salurkan hobi secara teratur dan bergairah gunakan obat-obatan atas saran petugas kesehatan pertahankan hubungan harmonis dalam keluarga tetap melakukan kegiatan seksual dengan pasangan hidup b. Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. senam. karena bila dilaksanakan secara cermat dan terus menerus akan memberikan hasil yang lebih baik dengan biaya yang lebih murah. tetapi peranan prevensi (pencegahan) semakin besar. Upaya pencegahan / Prevention ♣ Bagaimanapun hebatnya penemuan dalam bidang teknologi dan obat-obatan untuk merawat dan menyembuhkan Lansia yang sakit. hindari dan tangkal situasi yang menegangkan Awasi kesehatan dengan memeriksakan badan secara periodik DepKes RI 1998. 1. Upaya pencegahan primer (Primary prevention) Ditujukan kepada Lansia yang sehat. Upaya peningkatan / Promosi Kesehatan Pada dasarnya merupakan upaya pencegahan primer ( primary prevention). Slamet Suyono (RSCM. mempunyai risiko akan tetapi belum . lemak. Dr. 1997) adalah : BAHAGIA Berat badan berlebihan agar dihindari dan dikurangi Aturlah makanan hingga seimbang Hindari faktor risiko penyakit degeneratif Agar terus berguna dengan mempunyai hobi yang bermanfaat Gerak badan teratur agar terus dilakukan Iman dan takwa tingkatkan. sayur. melainkan menghindarkan sejauh mungkin penyakitpenyakit yang dapat timbul dan mengusahakan agar fungsi tubuh selama mungkin dapat dipertahankan. Buku Pedoman pemeliharaan Kesehatan Usia Lanjut. berenang. Anjuran dari Prof. Latihan kesegaran jasmani. ♣ Yang dimaksudkan dengan prevensi bukanlah menghindarkan ketuaan atau proses menjadi tua. 6.

faktor resiko yang tidak dapat dihindari : umur. Diagnosa dini oleh Lansia dan keluarga Di Amerika Serikat. Pengobatan dijalankan terhadap gangguan sistem. bimbingan diberikan oleh National Health Information Clearinghouse (1994).cepat lelah . Diagnosa dini dan pengobatan / Early diagnosis and prompt treatment Dilaksanakan oleh Lansia.gangguan pendengaran .gangguan mulut tumbuh . Olahraga yang ringan dan teratur harus dilakukan d.sulit tidur . kelebihan BB.gangguan penglihatan .nafsu makan meningkat atau menurun .benjolan tidak normal / daging .kaki bengkak .gangguan BAB/ BAK .keluarnya darah atau cairan melalui vagina secara terus-menerus 3.sering haus . yang telah memperlihatkan gejala penyakit. * Tahap I : Ketika Lansia dirawat di RS * Tahap II : Ketika Lansia pada masa rehabilitasi atau rawat jalan * Tahap III : Ketika Lansia pada saat pemeliharaan jangka panjang ♣ Tindakan pencegahan praktis yang dapat dilaksanakan : a.faktor resiko yang dapat dihindari/ dibatasi : merokok. Pemeriksaan kesehatan secara periodik b. Kurangi makan dan pilihlah makanan yang sesuai c. Menghindari faktor resiko PJK . fasilitas pelayanan tingkat dasar. petugas professional.menderita penyakit.berdebar-debar .kesemutan . 1. Upaya pencegahan sekunder (Secondary prevention) Ditujukan kepada penderita tnpa gejala. Menurut DepKes RI 1998.nyeri dada . keturunan . keluarga. dan petugas panti. Tindakan yang mengisi kehidupan Lansia g. keluhan yang perlu diwaspadai : .nyeri sendi .batuk . Upaya ini dilakukan sejak awal penyakit hingga awal timbulnya gejala atau keluhan. hiperkolesterolemia. mengurangi gejala yang terjadi dan mengatasi manifestasi klinik. DM e. Persiapan menghadapi pensiun h.faktor resiko yang sukar dihindari : kepribadian . Hindari berat badan berlebihan (obesitas ataupun overweight) b. yang mengidap faktor risiko. Menghindari timbulnya kecelakaan pada Lansia f. Kegiatan dilaksanakan di tingkat keluarga. dan fasilitas pelayanan rujukan tingkat I dan tingkat II.nyeri pinggang .gangguan gerak . untuk memungkinkan para Lansia memberi skor . Upaya pencegahan tersier (Tertiary prevention) Ditujukan kepada penderita penyakit dan penderita cacat. jenis kelamin.sesak napas . Dapat digolongkan pada upaya peningkatan 2. hipertensi.

1997). meliputi: a. diet. Pemeriksaan status sosial ekonomi Kontak sosial♣ . Pemeriksaan status fisik : Pemeriksaan fisik diagnostik lengkap♣ b. pencegahan kecelakaan. mood/ afek. yang disimpan oleh Lansia sendiri¬ 2. kalori. dan perilaku)♣ e. Preventive Services Task Force (1994). komunikasi. kebiasaan olahraga. pengendalian stres. alcohol. kolesterol. Vaksin influenza Di Indonesia Buku Kesehatan Pribadi dianjurkan untuk dimiliki oleh masyarakat.S. pemeriksaan payudara. dan obat. dan kebugaran. fungsi kelenjar tiroid. lemak. verbalisasi)♣ Status psikologis (kesan umum. serta ada atau tidaknya gangguan fungsi di rumah Pemeriksaan fisik : berat dan tinggi badan. kebiasaan makan. termasuk Lansia¬ ¬ Buku Pedoman Pemeliharaan Kesehatan Usia Lanjut (1998). Medical screening schedule (prosedur penapisan) dianjurkan U. keluarga. konsentrasi. Trigliserid♣ Kadar hormon♣ Kanker prostat. c. pap smear. karbohidrat. Diagnosa dini oleh petugas profesional atau tim a. tekanan darah. sehingga dapat terjalin komunikasi dan tukar menukar informasi penting diantara Lansia dengan petugas pelayanan kesehatan setiap saat. olahraga. agar diisi oleh para Lansia. kesehatan gigi. Konseling : Olahraga dan latihan tertentu. visus. Pemeriksaan status kejiwaan Status mental (memori. Kartu Menuju Sehat Usia Lanjut (1993. Imunisasi : Hepatitis B. glaucoma.terhadap gaya hidup sehat (healthstyle self-test) dengan menghitung skor merokok. pari♣ Tumor marker (jika perlu)♣ c. pemakaian alkohol. penyalahgunaan narkotika. kolonoskopi b. kebiasaan diet. Pemeriksaan laboratorium lengkap Gula darah dan puasa 2 jam setelah makan♣ HDL dan LDL kolesterol. atau pemberi pelayanan kesehatan setiap diberikan pelayanan kesehatan. glukosa dan kolesterol. zat adiktif. Penapisan :  Anamnesa diarahkan terhadap tanda gejala nyeri dada. Skrining kesehatan d. alat Bantu dengar. juga pengamanan diri terhadap kecelakaan dan cedera. fungsi pendengaran. EKG. pengobatan estrogen. pemakaian alcohol dan kebiasaan merokok. sigmoidoskopi. pemeriksaan laboratorium. orientasi.

osteoarthrosis. tanggung jawab sebagai keluarga) f. Pemeriksaan status fungsi tubuh Mandiri (independent)♣ Kurang mandiri (partially independent)♣ Tidak mandiri/ tergantung (dependent)♣ 3. pencernaan. status kesehatan. derajat stress. Pengobatan terhadap gangguan sistem dan gejala yang timbul (sistem muskuloskeletal. gangguan neuropsikiatri. demam. tidak ada nafsu makan. mulut. (pikiran kacau. saraf. gangguan mata. kulit. kuku. hipertensi. payudara. imobilisasi. Pengobatan a. Dasar Klinis Preventive Health Care Untuk Lansia. hormonal. Pengobatan terhadap Geriatric Giant (RSCM. nyeri kaki. testis Melaporkan perdarahan postmenopause Promosi Kebiasaan Sehat Olah raga Gizi Obesitas Tiap 4 tahun atau kalaudiperlukan Kebersihan mulut Tidur Penggunaan obat Prevensi terhadap Penyakit Skrining kolesterol Tiap 4 tahun Imunisasi Influenza Tiap tahun Pneumococcus Sekali Tetanus Booster Tiap 10 tahun Pemeriksaan gigi Penyakit periodontal Caries gigi Tiap tahun Skrining untuk Penyakit dini Penurunan pendengaran Deteksi pada kelompok resiko tinggi Hipertensi Pengukuran tekanan darah tiap 1/ 2 tahun Hipothyroid Pemeriksaan klinis tiap 2 tahun . sesak napas. obstipasi. kepandaian. Pengobatan terhadap manifestasi klinik (nyeri kepala. edema. dan rambut) b. jatuh.Penyesuaian diri (terhadap keadaan saat ini. 1997). kardiovaskular. hipotermi. gangguan telinga. ketrampilan. pernapasan. dekubitus. kelemahan umum. Rekomendasi Pemeriksaan Kesehatan Berkala Prevensi Primer dan Sekunder Frekuensi Edukasi Tiap 4 tahun Prevensi terhadap kecelakaan Penggunaan seat belts Pengecekan sendiri : kulit. prostat) c. nyeri dada. klimakterium. incontinentia urinae. gangguan kemih. nyeri pinggang. incontinentia alvi. urogenital. nyeri tungkai. terhadap masa depan)♣ ♣ Evaluasi orang yang merawat Lansia (usia.

Pemeriksaan (Assessment) b. Penilaian (Evaluation) d. Pelaksanaan ( Implementation) e. 1993. Perencanaan ( Planning) d. Upaya pemulihan / Rehabilitasi Rehabilitasi dilaksanakan oleh tim rehabilitasi (petugas medik.Ca mamae Pemeriksaan payudara tiap thn Mammogram tiap thn sampai usia 80 thn Ca serviks Pap smear tiap 5 thn. Pertahankan kenyamanan (istirahat. Pertahankan fungsi aliran kemih g. mobilitas) c. Identifikasi masalah ( Problem identification) c. aktivitas. secara garis besar pelayanan kesehatan pada Lansia dapat dibagi sebagai berikut (HadiMartono. Pertahankan fungsi pernapasan e. Mendorong pelaksanaan tugas VI. tiap tahun (75+) c. Pertahankan fungsi aliran darah f. tiap 3 tahun Ca colorectal Pemeriksaan rectal tiap tahun atau setahun 2 kali Sigmoidoscopy tiap 4 tahun Ca mulut Pemeriksaan mulut tiap tahun setelah usia 75 tahun Ca kulit Inspeksi dan konseling. tiap tahun untuk usia 75+ Kelompok resiko tinggi Seperti indikasi diagnosa klinisTBC Ketidakmampuan progresif sesuai usia Penilaian fungsi fisik. 65-74 thn. 1996) 1. TINGKAT PELAYANAN KESEHATAN Untuk mengupayakan prinsip holistik yang berkesinambungan. Pelayanan Kesehatan Lansia di Masyarakat (Community Based Geriatric Service) Semua upaya kesehatan yang berhubungan dan dilaksanakan oleh masyarakat . dan mental Dengan kunjungan rumah tiap 2 thn (65-74 thn). sosial. non medik) Prinsip : a. tiap 2 thn sp usia 70. Pembatasan kecacatan / Disability limitation Kecacatan : kesukaran dalam memfungsikan otot dan alat gerak atau sistem saraf Kecacatan : bersifat sementara dan dapat diperbaikiϖ menetap yang tidak dapat dipulihkan tapi masih mungkin dapat diganti dengan alat bantuϖ progresif yang tidak dapat pulih dan tidak dapat diganti dengan alat bantuϖ Kegiatan yang dilakukan dalam pembatasan kecacatan : a. frekuensi tergantung diagnosa klinis Malnutrisi 2 kali setahun. paramedik. Meningkatkan fungsi psikososial h. Pertahankan komunikasi i. Pertahankan lingkungan yang aman b. Pertahankan kecukupan gizi d.

rumah sakit harus selalu bersedia bertindak sebagai rujukan dari layanan kesehatan yang ada di masyarakat. symposium. simposium. rumah sakit setempat yang telah melakukan layanan geriatri bertugas membina Lansia yang berada di wilayahnya. atau pemberian makanan bagi para lansia (meals on wheels) juga perlu didorong. Peran serta LSM untuk membentuk layanan sukarela misalnya dalam pendirian badan yang memberikan layanan bantu perawatan (home nursing). Pada tingkat ini. preventif. agama. Pada dasarnya. sebaiknya dilaksanakan suatu layanan terkait (con-joint care) antara unit geriatri rumah sakit umum dengan unit psikogeriatri suatu rumah sakit jiwa. tergantung dari jenis layanan yang ada. dll. keluarga yang mempunyai Lansia. kuratif. Puskesmas berperan dalam membentuk kelompok/ klub Lansia.harus diupayakan berperan serta dalam menangani kesehatan para Lansia. pelayanan kesehatan dapat lebih mudah dilaksanakan. Pelayanan tingkat masyarakat Pelayanan yang ditujukan kepada Lansia. Dokter praktek swasta terutama menangani para Lansia yang memerlukan tindakan kuratif insidental. Layanan Kesehatan Lansia Berbasis Rumah Sakit (Hospital Based Geriatric Service) Pada layanan ini rumah sakit. Di samping itu. kelompok Lansia atau kelompok masyarakat seperti : 1. Karang Wredha . dan penyuluhan-penyuluhan. Pelayanan Kesehatan Lansia di Masyarakat Berbasis Rumah Sakit (Hospital Based Community Geriatric Service) Pada layanan tingkat ini. kebersihan rumah. Di dalam dan melalui klub Lansia ini. klinik siang terpadu (day hospital). bangsal kronis. pendidikan. misalnya bangsal akut. Tingkatan sarana pelayanan kesehatan: a. terutama untuk menangani penderita penyakit fisik dengan komponen gangguan psikis berat dan sebaliknya. kebudayaan. atau rehabilitatif. 2. baik kepada tenaga kesehatan ataupun kepada awam perlu dilaksanakan. 3. antara lain ceramah. Di lain pihak. “Transfer of Knowledge” berupa lokakarya. menyediakan berbagai layanan bagi para Lansia. Yang perlu dikerjakan adalah meningkatkan kepedulian dan pengetahuan masyarakat. sampai pada layanan yang lebih maju. lokakarya. baik usaha promotif. dengan berbagai cara. layanan kesehatan Lansia di tingkat masyarakat seharusnya mendayagunakan dan mengikutsertakan masyarakat (termasuk para Lansianya) semaksimal mungkin. baik secara langsung atau tidak langsung melalui pembinaan pada Puskesmas yang berada di wilayah kerjanya. dan atau panti rawat wredha (nursing homes). Puskesmas dan dokter praktek swasta merupakan tulang punggung layanan di tingkat ini. rumah sakit jiwa juga menyediakan layanan kesehatan jiwa bagi Lansia sengan pola yang sama. Semua pelayanan kesehatan harus diintegrasikan dengan layanan kesejahteraan yang lain dari dinas sosial. ceramah-ceramah.

Laboratorium. dll. Oleh karenanya tenaga yang diperlukan selain geriatris/ internis. Dana Sehat atau Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) b. perawat dan sosiomedik. Day Hospital. Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa 5. Praktek Dokter 2. dll. sedang. dan rehabilitasi jalur cepat oleh tim geriatri. Unit Gawat Darurat. 4. ambulatoir. psikolog. “Turn over rate”-nya rendah. Rumah sakit yang memiliki Poliklinik Geriatri/ Gerontologi. Poliklinik geriatri : layanan geriatri di mana diberikan jasa asesmen. dan konsultasi. organisasi profesi dan yayasan seperti : 1. pneumonia. 2. sehingga pembiayaannya menjadi . Bangsal geriatri kronis : bangsal ini diperlukan untuk merawat penderita dengan penyakit kronis yang memerlukan tindakan kuratif inap dalam jangka waktu lama.2. Pelayanan tingkat dasar Pelayanan diselenggarakan oleh berbagai instansi dan swasta serta organisasi masyarakat. 3. Rumah Sakit Khusus lainnya 4. Balai Pengobatan dan Klinik 4. Pelayanan rujukan tingkat I dan tingkat II Pelayanan yang diberikan dapat bersifat sederhana. tetapi tanpa penderita harus rawat inap. Pos Yandu Lansia 3. lengkap. kuratif. rekreasionis. penyakit jantung kongestif akut.). 2. bagi penderita rawat jalan. Pada penderita tersebut dilakukan tindakan asesmen. juga tenaga rehabilitasi. Bangsal geriatri akut : bangsal di mana penderita geriatri dengan penyakit akut atau subakut (stroke. Jasa yang diberikan antara lain : asesmen. kuratif. Bangsal Akut. Balai Kesehatan Masyarakat 6. Pusat Pelayanan dan Perawatan Lanjut Usia c. Praktek Dokter Gigi 3. Instalasi Gawat Darurat. Day Care 4. Hospitium 1. Unit Rehabilitasi. keto-asidosis diabetika. tindakan kuratif sederhana. Panti Tresna Wredha 7. Sifatnya adalah subspesialistik. Sasana Tresna Wredha 5. rehabilitasi. Puskesmas 5. Rumah Sakit Jiwa 3. PUSAKA 6. Day-hospital : layanan geriatri yang dapat melaksanakan semua tindakan yang dilakukan oleh bangsalakut atau kronis. sehingga hanya penderita yang telah melewati poliklinik spesialis lain dan memenuhi syarat sebagai penderita geriatri bisa dikonsulkan ke poliklinik ini. Ruang Rawat. dan paripurna : 1. dan rekreasi. dan layanan hanya dilakukan pada jam kerja.

Panti rawat wredha : Di negara maju. Pendidikan dan riset : merupakan bagian implisit dari pelayanan geriatri. akan tetapi masih terlalu berat untuk bisa dirawat di rumah sendiri. Rehabilitasi jalur lambat (slow stream rehabilitation) dilaksanankan secara kronis. akomodasi terlindung (sheltered accomodation) bagi mereka dengan ketergantungan fisik sebagian (semi/ partial dependency) Bantuan pengerjaan aspek domestik (home help services). cuci-setrika.sangat mahal. 7. Rehabilitasi jalur cepat (fast stream rehabilitation) dikerjakan selama penderita masih dirawat di bangsal geriatri. Kaum Lansia Perlu Mendapat Konsep Penanganan Terpadu JAKARTA (Media): Kaum lanjut usia (lansia) harus mendapatkan perhatian lebih. misalnya membersihkan rumah. Karena itu. yaitu suatu institusi yang memberikan layanan bagi penderita Lansia dengan masalah medis kronis yang sudah tidak memerlukan tindakan perawatan di RS. 8. perlu konsep terpadu agar penanganan kaum lansia semakin baik. oleh karena itu pelaksanaannya sebaiknya diintegrasikan dengan pelayanan geriatri. tetapi untuk kepentingan pendidikan. Oleh karena tidak memerlukan tindakan spesialistik oleh dokter. Rehabilitasi geriatri : merupakan suatu keharusan untuk dikerjakan pada semua penderita geriatrik. antara lain panti wredha (terutama bagi para Lansia dengan keterbatasan sosial-ekonomi). Bantuan penyediaan makan sehari-hari (meals on wheels) Penjagaan penderita di malam hari (night attendants) Penyediaan pramu wredha Dll. yang bisa dilaksanakan oleh unit rehabilitasi medik atau bisa juga diintegrasikan ke dalam pelayanan geriatri. pada penderita yang bersangkutan dapat diberikan pengobatan bahkan pindah perawatan ke bagian geriatri. Konsultasi geriatri : yaitu surat layanan konsultatif dari bagian lain terhadap seorang penderita Lansia. Keberadaan para lansia tersebut diharapkan tidak membebani semua . Pelayanan sosial ini sebaiknya merupakan kegiatan dari badan-badan sukarela/ partisipasi masyarakat. dll. Berbagai layanan yang bisa diberikan kepada : Institusi yang memberikan akomodasi. 6. 5. layanan ini disebut “nursing home”. VII. maka biayanya bisa ditekan. adanya bangsal ini di suatu RS pemerintah dapat menggantikan keberadaan suatu bangsal kronis. Dari tindakan konsultatif ini. yang dikoordinasikan oleh dinas sosial dan atau dinas kesehatan setempat. Turn over rate juga rendah. PELAYANAN SOSIAL BAGI USIA LANJUT Pelayanan sosial pada Lansia merupakan bagian dari layanan holistik horizontal pada populasi Lansia. Riset dilaksanakan baik untuk publikasi atau yang lebih penting adalah untuk memperbaiki pelayanan itu sendiri.

yang dilaksanakan oleh Pusat Kajian Masalah Lansia bersama Majelis Fakultas Kedokteran Swasta Indonesia. pemerintah juga diminta untuk memberikan perhatian lebih kepada lansia walaupun beberapa instansi pemerintah telah menciptakan program-program yang menyejahterakan mereka. Berdasarkan proyeksi yang dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2002.'' Tetapi pada satu saat. di sela-sela acara simposium Healthy and Active Ageing bertema Successfull ageing an emerging paradigm of gerontology illness. Dalam pertemuan ini pula. Pakar gerontologi dr Tony Setiabudhi menegaskan hal itu di Jakarta. Untungnya. masyarakat. dan negara. ucapnya selaku ketua umum simposium tersebut. program-program itu belum dirasakan maksimal oleh lansia sehingga diperlukan konsep terpadu supaya penanganan bagi mereka bisa menjadi lebih baik. ia khawatir. Universitas Trisakti. jumlah penduduk Indonesia pada 2050 mencapai 293 juta jiwa. Jumlah populasi lansia di Indonesia pada tahun-tahun mendatang akan melonjak sangat pesat. dan Universitas Krida Wacana.'' ulas Tony. ''Kenyataan itu mesti diantisipasi sebelumnya karena proses tersebut akan membawa konsekuensi yang kompleks. Tony yang merupakan spesialis kesehatan jiwa meyakini. Sabtu (11/12). Selain masalah jumlah penduduk. sebagian besar lansia di Indonesia masih dalam perawatan anak maupun cucunya di rumah yang dihuni bersama. dia mengingatkan agar lembaga swadaya masyarakat (LSM) bersama kalangan profesional menyadari bahwa lansia harus memperoleh perhatian lebih. pada 2050 akan terjadi perubahan struktur umur yang akan didominasi oleh mereka yang berusia 60 tahun ke atas. akan timbul masalah. Namun. meskipun pertumbuhannya masih berkisar 7% sampai 8%. Maka kita wajib memikirkan dan menyiapkan solusinya dari sekarang. apabila anak dan cucu mereka terpaksa bekerja di luar rumah sehingga orang tua atau kakek/nenek ditinggal sendiri. didampingi pakar gerontologi lainnya. ia mengungkapkan. ia memperkirakan.orang. crisis. Bahkan. Dalam simposium awam. Menurut dia. Dr dr Frits August Kakiailatu. bagaimana agar para orang tua tersebut kelak tidak menjadi beban bagi keluarga. seluruh organisasi penanganan lansia memikirkan. kenyataan tersebut kemungkinan terjadi 10 tahun mendatang. ''Hal ini suatu yang baik di negara kita. Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). pihaknya memandang pentingnya menomorsatukan program kesehatan untuk kelompok lansia karena mereka yang miskin cukup banyak. Maka. maka masalah struktur penduduk juga harus diperhatikan. Dengan jumlah lansia sekarang telah mencapai 15 juta lebih penduduk. Prof R Boedho Darmojo mengutip data demografi . and loss. persentase kenaikannya pada 20 tahun lagi menjadi makin besar dibanding negara lain. jelas Tony. Tony mengharapkan.

Hal ini tentu memerlukan pendekatan yang berbeda di bidang kesehatan. India 242%. Jepang 129%. Pakar gerontologi tersebut mengingatkan. memperkecil angka kematian terutama ibu dan anak serta meningkatkan kualitas program KB.'' ujarnya. Sedangkan pelaksanaannya sendiri melibatkan masyarakat juga Rumah Sakit dan berada dalam tingkatantingkatan. dan hal ini dapat menimbulkan permasalahan yang akan mempengaruhi kelompok penduduk lain. prinsip pelayanan kesehatan pada Lansia adalah holistik dan bekerja di dalam tim. Peranan prevensi/ pencegahan semakin besar. promosi. pembatasan kecacatan. karena jika dilakukan secara cermat dan terus menerus akan memberikan hasil yang lebih baik dengan biaya yang lebih murah. diagnosis dini dan pengobatan. DPR meminta BKKBN secara sungguh-sungguh untuk mengimplementasikan program kerja 10 tahun ke depan yang meliputi pengendalian kelahiran. bahwa Indonesia pada 1990-2025 mengalami peningkatan jumlah lansia sebesar 414%. Brasil 255%. China 220%. Dengan kemajuan teknologi dan umur manusia yang makin panjang. 1993. Pelayanannya sendiri dikelompokkan menjadi 5. dan rehabilitasi. dalam rapat dengar pendapat antara Kepala BKKBN Sumarjati Arjoso dan jajarannya dengan Komisi IX DPR pada Selasa (7/12) lalu. seraya membandingkannya dengan yang terjadi di negara Kenya sebanyak 347%. Sebagai . sehingga dapat diambil langkah antisipasi untuk mengatasi permasalahan yang dapat timbul tadi. prevensi. Indonesia saat ini berada dalam transisi demografi dengan persentase kaum lansia diproyeksikan menjadi 11. (Rse/V-2) VIII. DPR mendukung Sementara itu. Dalam rapat yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi IX Muhyidin Arubusman. ''Suatu angka yang paling tinggi di seluruh dunia. Komisi IX mendukung BKKBN untuk mempertahankan posisi Indonesia sebagai salah satu Center of Excellence di bidang kependudukan dan keluarga berencana yang telah banyak ditiru oleh negara-negara berkembang di dunia. dari penyakit infeksi kearah penyakit degeneratif. Komisi XI dapat memahami misi dan visi program Keluarga Berencana (KB) Nasional. ''Karena itu.'' kata dia. dan Swedia 33%. menurut Sumarjati. Maksud dari prevensi sendiri adalah menghindarkan sejauh mungkin penyakit-penyakit yang dapat timbul dan mengusahakan agar fungsi tubuh selama mungkin dapat dipertahankan Karena alasan-alasan di atas. maka aspek demografi dari kelompok Lansia ini penting diketahui dan dipahami. KESIMPULAN Karena jumlah Lansia dari hari ke hari makin meningkat dengan cepat.penduduk internasional yang dikeluarkan Bureau of the Cencus. maka terjadi pergeseran sebab-sebab kematian. Sumarjati menegaskan. Jerman 66%.34% pada 2020 mendatang.

menurunnya penghasilan akibat pensiun. posting. Darmojo. kesepian akibat ditinggal oleh pasangan atau teman seusia dan lain-lain. Jumlah penduduk orang lanjut usia di Indonesia tahun 2000 adalah 17. Setiabudhi. Kariadi Semarang. 1996.blogspot. Hadi : Buku Ajar Geriatri : Balai Penerbit FKUI Jakarta.com PANTI WERDHA SEBUAH PILIHAN Keberhasilan pembangunan terutama dalam bidang kesejahteraan dan kesehatan berdampak terhadap meningkatnya usia harapan hidup. Pada tahun 2010 Diprediksikan jumlah orang lanjut usia meningkat menjadi 9. Boedhi: Bunga Rampai Karangan Ilmiah : UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro / RS Dr.709 orang atau 7.97 % dari jumlah penduduk Indonesia. Untuk mengatasi salah satu dari berbagai persoalan orang lanjut usia. pemerintah dalam hal ini Departemen Sosial mengupayakan suatu wadah atau sarana untuk menampung orang lanjut usia dalam satu institusi yang disebut Panti Werdha. Peningkatan populsi orang lanjut usia diikuti pula berbagai persoalan-persoalan bagi orang lanjut usia itu sendiri.20 %. dimana jumlah orang lanjut usia lebih banyak dibandingkan anak berusia 14 tahun kebawah. DAFTAR PUSTAKA Darmojo. 1999. Hardywinoto. 2005 Hazzard. SKp ishadi. Pada awalnya intitusi ini dimaksudkan untuk menampung orang lanjut usia yang miskin dan terlantar untuk diberikan fasilatas yang layak mulai dari kebutuhan makan minum sampai kebutuhan aktualisasi. dan Amerika Serikat. Penurunan kondisi fisik dan psikis. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu perhatian besar dan penanganan khusus bagi orang lanjut usia tersebut.767. Boedhi. Namun lambat laun dirasakan bahwa yang membutuhkan pelayanan kesejahteraan lanjut usia yang . Berdasarkan data dari BPS penduduk orang lanjut usia (60 tahun keatas) cenderung meningkat.58 % dan pada tahun 2020 sebesar 11. Akibatnya terjadi perubahan struktur penduduk menjadi berbentuk piramid terbalik. Sekarang ini indonesia menempati peringkat keempat dunia dengan penduduk orang berusia lanjut terbanyak di Dunia dibawah Cina.skp@gmail.com / IVAN ISHADI SOFYAN. Jakarta. India. realse. Martono.transfer by : ivanishadisofyan.pelengkap adalah pelayanan sosial. William R : Principle of Geriatric Medicine and Gerontology. Tony : Panduan Gerontologi Tinjauan dari Berbagai Aspek : Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Peningkatan usia harapan hidup ini berbading terbalik dengan angka kelahiran yang disebabkan oleh keberhasilan program Keluarga Berencana dan keengganan ibu-ibu untuk melahirkan anak lebih dari dua orang. 1990. 2nd edition : Mc Graw Hill Inc.com / aamvan@yahoo. USA.

anak-anak. Sebaliknya karena lebih seringnya ditinggal seorang diri di Rumah membuat orang tua merasa kesepian dan membutuhakan suatu lingkungan dengan komunitas yang sama. Panti Werdha bisa menjadi pilihan yang baik untuk menikmati hari tua. anaknya mungkin berangkat bekerja dan cucunya kesekolah. Akan tetapi sebagian masyarakat Indonesia memandangnya sebagai suatu yang negative. dimana keluarga mengalami situasi yang tidak memungkinkan untuk merawat sendiri ayah dan ibu yang telah senja karena alasan pekerjaan dan kesibukan lainnya. Pandangan masyarakat tentang Panti Jompo dan orang tua yang . Mengapa demikian? Ada beberapa alasan yang yang menyebabkannya. Dimana pada awalnya dalam keluarga terdiri dari ayah. sehingga yang terjadi adalah orang tua akan tinggal berdua saja. Asalkan pengambilan keputusan/kesepakatan untuk tinggal di Panti Werdha melibatkan seluruh anggota keluarga serta persetujuan orang tua kita yang sudah lansia. Apabila ia tinggal dalam keluarga mungkin ia akan mengalami perasaan yang bosan ditinggal sendiri. Inilah dilema yang terjadi. tetapi orang yang berkecukupan dan mapan pun membutuhkannya. Tapi sesuai dengan perkembangan keluarga ada tahap dimana keluarga menghadapi anak yang menikah atau membentuk keluarga sendiri. perubahan tipe keluarga dari keluarga besar (extended family) menjadi keluarga kecil (nuclear family). membuat keluarga tidak memiliki waktu untuk lebih banyak bersama kedua orang tua. ibu dan anak-anak. tentu saja kondisi ini membutuhkan peran pengganti keluarga Kedua adalah perubah peran ibu. Tetapi jika menghadapi kondisi yang disebutkan diatas maka inilah yang dapat dikatakan sebagai jawaban atas permasalahan yang dihadapi oleh keluarga yang memiliki orang tua lanjut usia. diperhadapkannya seseorang pada suatu pilihan yang sulit. Menjadi tua bukanlah pilihan tetapi hidup di panti werdha adalah sebuah pilihan Tidak dipungkiri bahwa keluargalah yang merupakan unit yang paling tepat untuk memberikan pelayananan terhadap orang tuanya yang lanjut usia. Dengan menggunakan jasa panti werdha sebagai suatu solusi adalah tepat. Sekarang telah mengalami perubahan dimana ibu juga bertindak sebagai pencari nafkah bekerja di Kantoran dan sebagainya. Ketiga kebutuhan sosialisasi orang lanjut usia itu sendiri. dan peran-peran keluarga ini perlu diamaksimalkan.berbasis panti tidak hanya bagi mereka yang miskin dan terlantar saja. Pada awalnya peran ibu adalah mengurus rumah tangga. Sehingga ia membutuhkan suatu lingkungan sosial diamana didalam komunitas tersebut terdapat beberapa kesamaan sehingga ia merasa betah dan kembali bersemangat. Keluarga yang memasukkan orang tuanya ke panti werdha harus tetap menunjukkan kasih sayangnya meski mereka berada di Panti Werdha. Sehingga anggota keluarga seperti anak-anak dan kakek serta nenek dititipkan pada institusi tertentu. dan lain-lain. Pertama.

selain bersama teman seusianya. Sementara sebagai profesi. Pada masa lalu [dan bahkan sebagian besar sampai sekarang keperawatan dilakukan berdasarkan intuisi dan tradisi sehingga keperawatan dianggap sebagai kiat tanpa komponen ilmiah. terapi kelompok. mereka juga mendapatkan pelayanan maksimal dari para Pekerja Sosial dimana mereka menemukan hari-harinya dengan ceria ISSUE DAN KECENDRUNGAN KEPERAWATAN GERONTIK Perubahan. Pandangan ini telah menempatkan keperawatan hanya sebagai `pelengkap' atau bagian dari disiplin kesehatan lain dengan ketidakpastian tentang keperawatan sebagai disiplin ilmu vang unik. 1999). Di Panti Werdha selain mendapatkan pelayanan berupa pemenuhan kebutuhan dasar juga diberikan fungsi positif lainnya yaitu program-program pelayanan sosial yang bisa memberikan kesibukan buat mereka sebagai pengisian waktu luang diantaranya pemberian Bimbingan Sosial.dititipkan di sana agaknya perlu diluruskan. ketrampilan memimpin dan kompetensi (Nurachmah. penyaluran bakat dan hoby. Orang tua yang dititipkan di Panti Werdha tidak berarti mereka terbuang. Fokus dan orientasi system pelayanan kesehatan dan suatu penyakit dan pelayanan kesehatan akut telah berubah menjadi focus kepada kesahatan/kesejahteraan dan berorientasi pada masyarakat. Sejalan dengan situasi-tersebut. keperawatan harus memiliki ilmu dan kiat vang diprasyaratkan untuk dapat secara otonom mengendalikan mutu pendidikan . Di Panti mereka mendapatkan fasilitas serta kemudahan– kemudahan/aksesibilitas lainnya. tantangan dan peluang merupakan tiga aspek inti yang sedang terjadi dalam pelayanan keperawatan di Indonesia saat ini. Karena kebereadaan lansia di Panti dengan berbagai karakter serta memiliki berbagai ragam problematika maka dipandang perlu untuk memberikan suatu penanganan khusus sesuai kelebihan serta kekurangan yang mereka miliki. suatu proses yang mendasar untuk merestrukturisasi pelayanan kesehatan telah mempengaruhi proses perubahan dalam pelayanan keperawatan. Salah satu cara adalah untuk meningkatkan sumber daya tenaga keperawatan adalah dengan meningkatkan pengetahuan. Fokus dan orientasi system pelayanan kesehatan telah mempengaruhi proses perubahan dalam pelayanan keperawatan. mereka tetap memiliki keluarga yang merupakan bagian penting dari keberadaannya. senam dan banyak kegiatan lainnya. maka profesi keperawatan seyogyanya harus mampu berespon darn meningkatkan diri agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Di Panti Werdha mereka menemukan teman yang relative seusia dengannya dimana mereka dapat berbagi cerita. Disamping itu. Bimbingan Mental Spiritual serta Rekreasi.

Model praktek keperawafan yang belum baku Setelah peraturan menteri kesehatan nomer 647 diterbitkan. yang secara skematis ditunjukan dalam diagram berikut: Sumber Hamid. prakti keperawatan gerontik yang terstandarisasi dan penelitian yang berkelanjutan untuk mengembangkan kedua komponen tersebut. Jumlah perawat dengan kwalifikasi sarjana keperawatan (SI keperawatan). Kelompok pendidikan keperawatan menegah diperkirakan menguasai 80 % dari seluruh jumlah tenaga keperawatan yang ada di Indonesia saat ini. Sementara itu. Jawabnya untuk saat sekarang ini adalah bisa tapi sangat sulit karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Kita sepakat bahwa penelitian ceperawatan diperlukan dan harus dikembangkan namun pada waktu yang akan datang. fenomena penelitian dan banyak area penelitian gerontik yang belum tersentuh. Pertanyaannya yang muncul adalah: bagaimana pengembangan penelitian gerotik di Indonesia sekarang ?. Padahal dalam Musyawarah nasional ke VI di bandung telah menyepakati . menghadapi tantangan dan mengacnbil peluang serta merubai persepsi tentang profesi keperawatan yang tidak benar memerlukan kesiapan sernua komponen keperawatan yang secara factual masih acak¬acakan dan penuh ketidakpastian. sampai sekarang belum ada bentuk konkrit praktek keperawatan yang akan dikembangkan.magisler keperawatan dan Dok-tor 2. . untuk dapat melakukan perubahan. Untuk dapat mengembangkan pelayanan keperawatan dibidang gerontik perlu adanya pengembangan yang serasi tiga komponen cikal bakal pengembangan disiplin keperawatan. Dikatakan bisa karena terbuka lebar tempat penelilian. 1999).dan praktik keperawatan (Hamid. Dalain melakukan penelitian keperawatan di pelayanan gerontik kita harus melakukan analisa SWOT sehingga kita sadar dan memandang persoalan secara jernih. Bentuk praktek keperawatan yang jelas sangat penting termasuk praktek keperavatan gerontik karena penelitian keperawatan yang akan dilakukan akan berhubungan erat dengan system atau bentuk praktek yang dikembangkan. 1999 Dengan demikian perawatan system pelayanan keperawatan gerontik akan kuat karena didukung oleh teori yang kokoh. Sumber daya manusia keperawatan Tingkat pendidikan keperawatan di Indonesia sekarang ini masih sangat bervariasi dari jenjang pendidikan menengah sampai jeniang pendidikan tinggi. Faktor-faktor yang mempersulit penelitian keperawatan gerontik adalah: I. Keheterogenitasan inilah yang akan mempersulit pengembangan penelitian tersebut karena jenjang pendidikan keperawatan didoininasi oleh pendidikan keperawatan tingkat menengah yang secara konseptual dan kemampuan sangat terbatas.

perawat masih lemah dari segala segi termasuk dalam pendanaan. Selama ini kebijakan yang dilahirkan oleh depatemen kesehatan se!alu berorientasi medis dan menempatkan dokter sebagai 'penguasa tunggal' dalam pelayanan kesehatan. disini seorang tenaga medis/dokter yang bertindak sebagai nahkoda (Yusa. 1996) sehingga mengangap profesi-profesi kesehatan diluar kedokteran sebagai pelengkap atau sebagal subsistem pelayanan kedokteran. 2000). 4. Sehingga apapun kebijakan yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan selalu berorientasi medis.beberapa butir untuk menindaklanjuti peraturan menteri kesehatan no 647 yang salah satunya memberikan amanat agar Pengurus Pusat PPNI untuk membuat petujuk tekhnis operasional (Bina sehat 2000). Sistem pelayanan kesehatan yang masih buruk.masing profesi yang telah diakui oleh Peraturan Pemerintah No 32 tentang tenaga kesehatan (Hanafiah dan Amir.akan berbentura. Selama restrukturisasi ini belum dilakukan maka selama ilu juga terjadi kesulitan pengembangan profesi keperawatan termasuk dalam hal penelitian karena. 3. saat li masih dalam fase pengembangan sehingga dibutuhkan kerja keras serta infrastruktur yang menunjang perubahan tersebut. Semestinya perlu dikembangkan secara professional sehingga masing . Jangan semua keputusan pengembangan system pelayana kesehatan di tentukan oleh Departemen Kesehatan tapi organisasi profesi tak gterlibat. Berdasarkan masalah-masalah yang ada diatas sudah saatnya dilakukan restrukturisasi pelayanan kesehatan secara bertahap dan berkelanjutan sehingga semua profesi di area kesehatan mempunyai kesempatan mengembangkan diri. Sebagai organisasi profesi yang datam tahap pengembangan. mengembangkan praktek yang pada akhirnya mengembangakan pelayanan kesehatannya kepada masyarakat. 1999) diberi kebebasan mengembangkan diri sesual dengan sudut padang dan otonomi profesi tersebut yang salah satunya dikembangkan melalui penelitian. Para dokter selalu berangapan bahwa pendekatan tim terhadap upaya penyembuhan dan pemulihan memerlukan adanya seorang kordinator. Penelitian untuk mengembangkan pelayanan keperawatan termasuk pelayanan . Selama ini bentuk pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di Indonesia masih beorientasi pada pelayanan medis (medical oriented). 2000). Sebagai contoh konkrit baliwa pelayanan kesehatan hanya dibagi menjadi pelayanan kedokteran (medical services) dan pelayanan keseliatan masyarakat (public health services) (Az_war.n dengan system yang masih buruk. bargaining power dan penentuan kebijakan (regulasi). Sumber pembiayaan penelitian yang ada belum terkoordinir Keperawatan sebagai profesi. Restrukturisasi pelayana kesehatan merupakan suatu upaya mencapai suatu perubahan yang diharapkan melalui perancangan kembali aspek-aspek yang dianggap menjadi penghambat terjadinya perubahan (Nurachmah.

Mengembangkan metodologi yang integrative untuk mengkaji manusia . 2. 5. lansia pada masyarakat miskin dengan cara yang dapat diterima dan efektif. Untuk mengatasi kesulitan tersebut. kesejahteraan dan kemampuan merawat diri sendiri sehingga tiap lansia baik di rumah sakit. Menurut Diers (dikutip Cracen dan Hirnle. Prioritas penelitian atau risetnva adalah sebagai berikut(Hamid. Perawat yang tertarik terhadap penelitian harus mempunyai keingintahuan dan pertanyaan yang perlu dijawab secara ilmiah. 8. Meminimalkan atau mencegah perilaku atau lingkungan yang menimbulkan masalah kesehatan dan berdampak pada menurunnya kualitas hidup dan produktifitas. oerlu dilakukan klasifikasi karakteristik dan prioritas penelitian keperawatan. Memastikan prinsip etik sebagai pegangan dalam melakukan riset keperawatan 7. 1996) secara umum karakteristik penelitian keperawatan yang diperlukan adalah: 1. 1999 dengan modifikasi): 1. 3. 4. Meningkatkan kesehatan. dan masyarakat. keluarga. 6. 4. kelompok. Perlu satu badan yang mengurusi tentang pendanaan penelitian keperawatan. Mengklasifikasi fenomena praktek keperawatan gerontik. Riset keperawatan mempunvai potensi untuk berkontribusi pada pengembangan teori dan pengembangan tubuh ilmu pengetahuan keperarwatan. Mengembangkan instrumen untuk mengukur hasil intervensi keperawatan. Meminimalkan dampak negatif dari teknologi kcsehatan baru terhadap kemampuan adaptif individu lansia dan keluarga yang sedang mengalami masalah kesehatan akut dan kronik.keperawatan gerontik akan sangat memerlukan dana yang sangat besar untuk ini perlu dikembangkan usaha untuk menghimpun dana dari berbagai pihak sehingga semua penelitian keperawatan dapat di danai dari dana yang terkumpul tersebut. Riset keperatvatan harus berfokus pada variabel yang meningkatkan asuhan keperawatan. Masalah riset merupakan masalah riset keperawatan apabila perawat mempunyai akses dan kendali terhadap fenomena yang diteliti. Jika perawat hanya mengandalkan dana penelitian yang disedikan oleh departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial akan selalu menemui hambatan/kesulitan karena akan berbenturan dengan system yang berlaku sekarang ini dan proporsi pendanaan yang disedikan juga tidak seimbang untuk masing-tnasing profesi. lansia dengan gangguan jiwa. 2. Badan tersebut berfungsi mencari donatur insidentil dan donatur tetap serta melakukan mobilisasi terhadap dana yang terkumpul demi kepentingan penelitian keperatvatan. 3. Memastikan bahwa asuhan keperawatan yang diperlukan bagi kelompok yang beresiko: seperti lansia dengan penyakit kronik.

Etiologi . c. ginjal (pielonefritis) Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut.secara holistic dan kontek keluarga dan gaya hidup. 10. 11. (Enggram. Kandung kemih (sistitis) 2. prostat (prostatitis) 4. sepsis dan shock. 2001) Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih. Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen sperti prosteus spp yang memproduksi urease. antara lain: 1. atoni kandung kemih. kateter kandung kencing menetap dan prostatitis. reflex vesiko uretral obstruksi. ASKEP ISK GERONTIK Realese by Ivan LAPORAN PENDAHULUAN INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) A. 2. ISK ini terjadi bila terdapat keadaan-keadaan sebagi berikut: a. ISK uncomplicated (simple) ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik. b. C. (Agus Tessy. Klasifikasi Jenis Infeksi Saluran Kemih. Mengidentifikasi dan menganalisa faktor-faktor histories dan kontenporer yang mempengaruhi bentuk keterlibatan keperawatan porofesional dalam pengembangan kebijakan kesehatan nasional. 9. ISK complicated Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas. 1998) B. sering terjadi bakterimia. Merancang dan mengevaluasi model alternatif teori keperawatan dan pelayanan keperawatan dan system pelayanan kesehatan sehingga perawat mampu meningkatkan mutu dan menghemat biaya yang dikeluarkan dalam mernenuhi kebutuhan 'tansia khususnya dan masyarakat pada umumnya. paraplegia. anatomic maupun fungsional normal. dibedakan menjadi: 1. Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK. misalnya batu. uretra (uretritis) 3. Pengertian KeInfeksi Saluran mih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. ISK ini pada usi lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih. Barbara. Kelainan abnormal saluran kencing. Mengevaluasi keberhasilan pendekatan altematif yang memerlukan pengetahuan yang luas dan ketrampilan yang tinggi dalam praktek pelayanan keperawatan geonlik. Gangguan daya tahan tubuh d. kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika.

Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple) b. asending dan hematogen. factor tekanan urine saat miksi. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut. kontaminasi fekal. dan-lain-lain. limfogen. baik seluler maupun humoral e. 2. Enterobacter. Patofisiologi Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK. hematogen. ? Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal Secara hematogen yaitu: sering terjadi pada pasien yang system imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen. kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar ke suluruh traktus urinarius. ? Mobilitas menurun ? Nutrisi yang sering kurang baik ? System imunnitas yng menurun ? Adanya hambatan pada saluran urin ? Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat. Secara asending yaitu: ? masuknya mikroorganisme dalm kandung kemih.1. Selain itu. keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri. Penyebab umum obstruksi adalah: jaringan . bendungan intrarenal akibat jaringan parut. adanya dekubitus yang terinfeksi. Adanya hambatan pada aliran urin f. Klebsiella : penyebab ISK complicated c. antara lain: a. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK. antara lain: a. yaitu: adanya bendungan total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih. Sistem imunitas menurun. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensii yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri. antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang menakibtakan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefroses. Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat D. Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya: ? Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap atau kurang efektif. staphylococcus epidemidis. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak langsung dari tempat infeksi terdekat. Nutrisi yang sering kurang baik d. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang kurang efektif b. pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik. Pseudomonas. pemakaian kateter). enterococci. antara lain: factor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi. dan lain-lain. Mobilitas menurun c. Ada dua jalur utama terjadinya ISK. Proteus.

sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi . batu. hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urinalisis ? Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah (sistitis): ? Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih ? Spasame pada area kandung kemih dan suprapubis ? Hematuria ? Nyeri punggung dapat terjadi Tanda dan gejala ISK bagian atas (pielonefritis) ? Demam ? Menggigil ? Nyeri panggul dan pinggang ? Nyeri ketika berkemih ? Malaise ? Pusing ? Mual dan muntah F. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih ? Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. 2. ? Tes Penyakit Menular Seksual (PMS): Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal. Tes pengurangan nitrat. klamidia trakomatis.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi. dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius. Bakteriologis ? Mikroskopis ? Biakan bakteri 3. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis. massa renal atau abses. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.tes tambahan: Urogram intravena (IVU). adanya batu. herpes simplek). msistografi. ? Tes. Pemeriksaan Penunjang 1. Metode tes ? Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Pathway : terlampir E. Tes esterase lekosit positif: maka psien mengalami piuria. 5. Pielografi (IVP).parut ginjal. Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit. neoplasma dan hipertrofi prostate yang sering ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic. neisseria gonorrhoeae. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik 4.

Adanya factor yang menjadi predisposisi pasien terhadap infeksi nosokomial. Pyridium. kadang ampicillin atau amoksisilin digunakan. Pemerikasaan fisik: dilakukan secara head to toe dan system tubuh 2.penyebab kambuhnya infeksi yang resisten. septra). Pemakaian obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkina adanya: ? Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan ? Interansi obat ? Efek samping obat ? Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal Resiko pemberian obat pada usia lanjut dalam kaitannya dengan faal ginjal: 1. Coli telah resisten terhadap bakteri ini. Efek nefrotosik obat 2. trimethoprim/sulfamethoxazole (TMP/SMZ. Penggunaan medikasi yang umum mencakup: sulfisoxazole (gastrisin). terapi preventif dosis rendah. bactrim. Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko: ? Adakah riwayat infeksi sebelumnya? ? Adakah obstruksi pada saluran kemih? 3. G. ? Apakah terjadi inkontinensia urine? 4. Jika kekambuhan disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi. jika muncul salah satu. Pengkajian dari manifestasi klinik infeksi saluran kemih . abses). harus segera ditangani. Setelah penanganan dan sterilisasi urin. suatu analgesic urinarius jug adapt digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat infeksi. Penatalaksanaan Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhaap flora fekal dan vagina. Efek toksisitas obat Pemakaian obat pada usia lanjut hendaknya setiasp saat dievalusi keefektifannya dan hendaknya selalu menjawab pertanyaan sebagai berikut: ? Apakah obat-obat yang diberikan benar-benar berguna/diperlukan/ ? Apakah obat yang diberikan menyebabkan keadaan lebih baik atau malh membahnayakan/ ? Apakah obat yang diberikan masih tetap diberikan? ? Dapatkah sebagian obat dikuranngi dosisnya atau dihentikan? H. tetapi E. Pengkajian 1. Terapi Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut dapat dibedakan atas: ? Terapi antibiotika dosis tunggal ? Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari ? Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu ? Terapi dosis rendah untuk supresi Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi. factor kausatif (mis: batu. ? Bagaimana dengan pemasangan kateter foley? ? Imobilisasi dalam waktu yang lama.

Rasional: membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan penyebab nyeri c. 5. Dx 1 : Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi. Diagnosa Keperawatan Yang Timbul 1. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra. e. d. Kriteria evaluasi: Tidak nyeri waktu berkemih. Intervensi Keperawatan 1. Rasional: Kateter memberikan jalan bakteri untuk memasuki kandung kemih dan naik ke saluran perkemihan. menurunkan tegangan otot. Catat lokasi. Berikan tindakan nyaman. lingkungan istirahat. J. Bantu atau dorong penggunaan nafas berfokus Relaksasi: membantu mengarahkan kembali perhatian dan untuk relaksasi otot. seprti pijatan punggung. 3. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain. dan jumlah) ? Adakah disuria? ? Adakah urgensi? ? Adakah hesitancy? ? Adakah bau urine yang menyengat? ? Bagaimana haluaran volume orine. prognosis. Berikan perawatan perineal Rasional: untuk mencegah kontaminasi uretra f. Rasional: meningkatkan relaksasi. tidak nyeri pada perkusi panggul Intervensi: a. Jika dipaang kateter indwelling.? Bagaimana pola berkemih pasien? untuk mendeteksi factor predisposisi terjadinya ISK pasien (dorongan. kandung kemih dan struktur traktus urinarius lain. masukan dan haluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang Rasional: untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan b. warna (keabu-abuan) dan konsentrasi urine? ? Adakah nyeri-biasanya suprapubik pada infeksi saluran kemih bagian bawah ? Adakah nyesi pangggul atau pinggang-biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas ? Peningkatan suhu tubuh biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas. Pengkajian psikologi pasien: ? Bagaimana perasaan pasien terhadap hasil tindakan dan pengobatan yang telah dilakukan? Adakakan perasaan malu atau takut kekambuhan terhadap penyakitnya. kandung kemih dan sruktur traktus urinarius lain. Kolaborasi: . lamanya intensitas skala (1-10) penyebaran nyeri. frekuensi. I. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi. 2. berikan perawatan kateter 2 nkali per hari. Pantau haluaran urine terhadap perubahan warna. baud an pola berkemih. g.

temuan ini dapat memeberi tanda kerusakan jaringan lanjut dan perlu pemeriksaan luas ? Berikan analgesic sesuia kebutuhan dan evaluasi keberhasilannya Rasional: analgesic memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri h. menetes setelah berkemih. perasaan ingin kencing. Kriteria Evaluasi: Pola eliminasi membaik. Buat berbagai variasi sediaan minum. Kecuali dikontraindikasikan: ubah posisi pasien setiap dua jam Rasional: untuk mencegah statis urin g. dan tindakan perawatan diri preventif. berkabut atau keruh. BUN. Kaji ulang prose pemyakit dan harapan yang akan datanng . kreatinin Rasional: pengawasan terhadap disfungsi ginjal ? Lakukan tindakan untuk memelihara asam urin: tingkatkan masukan sari buah berri dan berikan obat-obat untuk meningkatkan aam urin. disuria) Intervensi: a. Tentukan pola berkemih pasien c. Dx 2: Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain. oliguri. termasuk air segar . Intervensi: a. perilaku atau tingkat kesadaran Rasional: akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolit dapat menjadi toksik pada susunan saraf pusat f. rencana pengobatan. Peningkatan masukan sari buah dapt berpengaruh dalm pengobatan infeksi saluran kemih. Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristi urin Rasional: memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi b. prognosis. jingga gelap. tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi. Rasional: aam urin menghalangi tumbuhnya kuman. Berikan antibiotic. Pemberian air sampai 2400 ml/hari Rasional: akibta dari haluaran urin memudahkan berkemih sering dan membentu membilas saluran berkemih 2. Kaji keluhan kandung kemih penuh Rasional: retensi urin dapat terjadi menyebabkan distensi jaringan(kandung kemih/ginjal) e. 3. d. elektrolit. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi. Observasi perubahan status mental:.? Konsul dokter bila: sebelumnya kuning gading-urine kuning. sring berkemih dengan jumlah sedikit. Dx 3: Kurangnya pengetahuan tentang kondisi. pemeriksaan diagnostic. Pla berkemih berubah. Kriteria Evaluasi: menyatakna mengerti tentang kondisi. Kolaborasi: ? Awasi pemeriksaan laboratorium. Nyeri menetap atau bertambah sakit Rasional: Temuan. Dorong meningkatkan pemasukan cairan Rasional: peningkatan hidrasi membilas bakteri.

(1999). Rasional: pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan m. (2001). pemeriksaan diagnostic: tujuan. Parsudi.Rasional: memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan beradasarkan informasi. Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). jika tanda-tanda penyakit mereda. Berikan informasi tentang: sumber infeksi. Suzanne C. Edisi: 8. Jakarta: EGC Smeltzer. Cairan menolong membilas ginjal. Asam piruvat dari sari buah berri membantu mempertahankan keadaan asam urin dan mencegah pertumbuhan bakteri e. Instruksikan pasien untuk menggunakan obat yang diberikan. Enggram. c. b. Rasional: Pasien sering menghentikan obat mereka. Jakarta: FKUI. Ni made Sumarwati. Suwanto. Edisi: 3. . Imam A. jelaskna pemberian antibiotic. Alih Bhasa: Agung Waluyo. Alih Bahasa: I Made Kariasa. persiapan ynag dibutuhkan sebelum pemeriksaan. Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. (2000). tindakan untuk mencegah penyebaran. Rencana Asuhan Keperawatan Nugroho. Barbara. gambaran singkat. Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan dan masalah tentang rencana pengobatan. Alih Bahasa: Peter Anugrah. Marilyn E. Edisi: 2. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit: pathophysiologi clinical concept of disease processes. Edisi: 3. inum sebanyak kurang lebih delapan gelas per hari khususnya sari buah berri. Keperawatan Gerontik. (1999). (2001). Jakrta: EGC. Jakarta: FKUI Price. Rasional: Untuk mendeteksi isyarat indikatif kemungkinan ketidakpatuhan dan membantu mengembangkan penerimaan rencana terapeutik. Jakarta: EGC. Pastikan pasien atau orang terdekat telah menulis perjanjian untuk perawatan lanjut dan instruksi tertulis untuk perawatn sesudah pemeriksaan Rasional: instruksi verbal dapat dengan mudah dilupakan d.embantu mengembankan kepatuhan klien terhadap rencan terapetik. Edisi: 4. Jakarta: EGC. perawatan sesudah pemeriksaan. Ardaya. DAFTAR PUSTAKA Doenges. Tessy Agus. (1995). Sylvia Andrson. (1998). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi Saluran Kemih. Wahyudi. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddart.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->