ANALISIS PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN, UKURAN PERUSAHAAN DAN RASIO PERPUTARAN PERSEDIAAN TERHADAP PEMILIHAN METODE PERSEDIAAN PADA

PERUSAHAAN MANUFAKTUR GO PUBLIC DI BURSA EFEK JAKARTA

SKRIPSI Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi pada Universitas Negeri Semarang

OLEH : SRI REJEKI METALLIA 3351402548

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007
1

2

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Skripsi pada : Hari : Kamis

Tanggal : 26 Juli 2007

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Kusmuriyanto, M.si NIP.131404309

Drs. Subkhan NIP.131686738

Mengetahui, Ketua Jurusan Akuntansi

Drs. Sukirman, M.si NIP.131967646

ii

3

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang pada : Hari : Kamis

Tanggal : 26 Juli 2007

Penguji Skripsi

Drs. Asrori, Ms NIP.131570078 Anggota I Anggota II

Drs. Kusmuriyanto, M.si NIP.131404309

Drs. Subkhan NIP.131686738

Mengetahui, Dekan Fakultas Ekonomi

Drs. Agus Wahyudin, M.si NIP.131658236

iii

4

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam Skripsi ini benar-benar karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian maupun seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam Skripsi ini dikutip berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Maret 2007

Sri Rejeki Metallia NIM. 3351402548

iv

Al-Israa’ : 79). PERSEMBAHAN : Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. sebagai shalat sunah untuk dirimu. v . Ema atas jasa-jasanya yang begitu besar. kupersembahkan karyaku ini teruntuk : Ayah dan Ibuku atas doa. semangat dan motivasinya. Adik-adikku.5 MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO: “Hendaklah engkau gunakan sebagian waktu malam itu untuk shalat tahajjud. cinta kasih sayang dan jasa-jasanya yang teramat besar. M’ Mila dan M’ Rani yang setia menemani aku. Keluarga Slamet Prayogo atas jasa-jasanya yang begitu besar. Wahyu dan Indah atas doa. (S. mudah-mudahan Tuhan akan membangkitkan engkau dengan kedudukan yang baik”.

selaku Penguji Utama 5. Universitas Negeri Semarang. selaku Dekan Fakultas Ekonomi. 7. selaku Pembimbing I. Drs. Agus Wahyudin. M. selaku Pembimbing II. M. Drs.. 6.Si. yang tidak dapat penulis sebut satu persatu. Drs. Skripsi ini disusun dalam rangka menyelesaikan studi Strata Satu untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi. MS. Fakultas Ekonomi. M. Rektor Universitas Negeri Semarang.. Dr. karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan Skripsi ini. Penyelesaian penulisan Skripsi ini tidak lepas dari berbagai pihak. Asrori. Sukirman. Drs.Si. selaku Ketua Jurusan Akuntansi. Semarang. 2. Kusmuriyanto. Subkhan. Drs. 4. Para pihak yang telah membantu penulis. 3.6 PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT.Si. M. Prof..Si. untuk itu ucapan terima kasih secara tulus penulis sampaikan kepada : 1. Maret 2007 Penyusun vi . Sudijono Sastroadmodjo.

Hal ini berarti ukuran perusahaan berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pemilihan metode persediaan. Hal ini timbul karena adanya perbedaan hasil ekonomi dari masingmasing metode persediaan. vii . karena setiap keputusan yang diambil memiliki konsekuensi ekonomik. Rasio Perputaran Persediaan.011 ini lebih kecil dari tingkat signifikansi 0. Nilai signifikansi 0.05. Persediaan (inventory) adalah aktiva yang dimiliki perusahaan untuk dijual dalam operasi bisnis normal atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam memproduksi barang yang akan dijual. ukuran perusahaan dan rasio perputaran persediaan mempengaruhi pemilihan metode persediaan..05.011. Alat analisis statistik yang digunakan adalah regresi logistik dengan tingkat signifikansi 5%. Dalam hal pemilihan metode persediaan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode persediaan sebagai pertimbangan merupakan hal yang penting. Ukuran Perusahaan dan Rasio Perputaran Persediaan terhadap Pemilihan Metode Persediaan pada Perusahaan Manufaktur Go Public di Bursa Efek Jakarta. Analisis Pengaruh Struktur Kepemilikan.7 SARI Sri Rejeki Metallia. Universitas Negeri Semarang. Pemilihan metode persediaan merupakan hal yang penting. Pemilihan metode persediaan di Indonesia mengacu pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. Sampel 93 dalam penelitian ini sebanyak yang terdiri dari 17 perusahaan menggunakan metode FIFO dan 76 perusahaan menggunakan metode rata-rata. Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last In First Out) dan Rata-rata (Average). Ukuran Perusahaan.5. penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris apakah struktur kepemilikan. ukuran perusahaan dan rasio perputaran persediaan. Kata Kunci : Metode Persediaan. Hal ini berarti rasio perputaran persediaan berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pemilihan metode persediaan. Hal ini berarti struktur kepemilikan tidak berpengaruh terhadap pemilihan metode persediaan. Berdasarkan hal tersebut.05.048 ini lebih kecil dari tingkat signifikansi 0. Nilai signifikansi 0. Hasil pengujian untuk variabel struktur kepemilikan diperoleh nilai signifikansi sebesar 0. Ukuran Perusahaan diperoleh nilai signifikansi sebesar 0. Pengujian menggunakan bantuan program SPSS for Windows versi 11.960 ini lebih besar dari tingkat signifikansi 0. Struktur Kepemilikan. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan metode persediaan di antaranya struktur kepemilikan. 14 yang memberikan kebebasan bagi perusahaan untuk menggunakan salah satu alternatif metode persediaan yaitu Masuk Pertama Keluar Pertama (First In First Out).960. Rasio perputaran persediaan diperoleh nilai signifikansi sebesar 0. Sarjana Ekonomi.048. Konflik kepentingan antar agen ekonomi dapat timbul ketika sebuah perusahaan harus memilih metode persediaan mana yang diterapkan. Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta selama tahun 2000 sampai dengan tahun 2004. Nilai signifikansi 0.

Namun sebagian perusahaan yang menggunakan metode rata-rata pada penilitian ini ada yang memiliki indikasi inventory turnover yang rendah. Dimana perusahaaan besar cenderung memilih menggunakan metode persediaan rata-rata yang dapat memperoleh penghematan pajak. sebaliknya perusahaan yang menggunakan metode FIFO mempunyai indikasi inventory turnover yang rendah. (2) Ukuran perusahaan berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pemilihan metode persediaan. Hal ini dikarenakan hanya sedikit manajer yang memiliki saham pada perusahaan. Sehingga dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan dan meningkatkan nilai perusahaan. sehingga memiliki inventory turnover yang rendah. Perusahaan besar untuk dapat melakukan penghematan pajak dapat menggunakan metode rata-rata yang dapat menurunkan laba. Hal ini dikarenakan perusahaan yang menggunakan metode rata-rata pada penelitian ini ada yang memiliki persediaan akhir yang tinggi. (3) Rasio perputaran persediaan berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pemilhan metode persediaan. Perusahaan yang menggunakan metode rata-rata memiliki indikasi inventory turnover yang tinggi.8 Simpulan yang dapat ditarik dalam penelitian ini adalah (1) Struktur kepemilikan tidak berpengaruh terhadap pemilihan metode persediaan. viii . Sedangkan pada perusahaan kecil. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah : Dalam hal pemilihan metode persediaan. Perusahaan yang menggunakan metode rata-rata cenderung memiliki inventory turnover yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang menggunakan metode FIFO. hendaknya manajer memilih metode yang tepat bagi kondisi perusahaan dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode persediaan. sedangkan perusahaan kecil cenderung memilih menggunakan metode persediaan FIFO sehingga akan memperoleh laba yang besar yang akan dapat memperoleh pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya. untuk dapat memperoleh dana dari bank atau lembaga keuangan lainnya dapat memilih menggunakan metode FIFO yang dapat meningkatkan laba yang akan dapat memberikan gambaran kinerja yang bagus bagi perusahaan.

2 Kegunaan Praktis ………………………………..……………… 9 Metode Persediaan……………….9 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………. 1 Perumusan Masalah ……………………………………… 8 Penegasan Istilah…………………………………………. iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN……………………………………………….…………. vi SARI ………. 10 Kegunaan Teoritis ……………………………… 11 ix . 10 Manfaat Penelitian……………………………………… 10 1... xiii DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………… xiv BAB I : PENDAHULUAN 1.1 1.i HALAMAN PERSETUJUAN ………………………………………………… HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………………..3.3 Latar Belakang Masalah…….…………….1 1. v PRAKATA ……………………………………………………………………….5.…..5.4 1. 9 1. ii iii PERNYATAAN………………………………………………………………….…………………………………………………………………… vii DAFTAR ISI …………………………………………………………………… viii DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………… xii DAFTAR TABEL……………………………………………………………….5 Persediaan………………………….………………………….2 1..3. 9 Tujuan Penelitian………………………….2 1.1 1..

1.31 2.1 2. 14 Metode Persediaan……………………………… 15 Pemilihan Metode Persediaan…………………….1 2.1..1.3 2.4.2 Struktur Kepemilikan………………………………….1 Persediaan………………………………………………… 12 2.4.5 Penelitian Terdahulu……………………………………….2 Pengertian Struktur Kepemilikan………………… 24 Hubungan Struktur Kepemilikan dengan Pemilihan Metode Persediaan…………………….7 Hipotesis…………………………………………………….1 2.3.4 Rasio Perputara Persediaan……………………………… 29 2.2 Pengertian Rasio Perputaran Persediaan………….2 Pengertian Ukuran Perusahaan…………………….3 Ukuran Perusahaan……………………………………… 27 2. 32 2.1 2.… 24 2. 25 2.4 Pengertian Persediaan…………………………… 12 Metode Pencatatan Persediaan…………………..10 BAB II : LANDASAN TEORI 2.2...3. 39 x .2..1.2 2. 29 Hubungan antara Rasio Perputaran Persediaan dengan Pemilihan Metode Persediaan…………….27 Hubungan antara Ukuran Perusahaan dengan Pemilihan Metode Persediaan…………………… 28 2.6 Kerangka Pemikiran……………………………………… 33 2. 20 2.

3.4.2 Ukuran Perusahaan………………………………….51 4.4. 57 4.3 Rasio Perputaran Persediaan……………………….2 Pengujian Regresi Logistik………………………….2 Analisis Kuantitatif…………………………………. 48 4.1 Populasi dan Sampel……………………………………….4.4.3.3. 41 3.1 Struktur Kepemilikan……………………………….1 Gambaran Singkat Perusahaan Sampel………………….2 Deskripsi Variabel Penelitian…………………………… 48 4.2 Variabel Peneitian………………………………………. 57 4.2.1 Struktur Kepemilikan……………………………….2. 43 3. 44 3.2 Ukuran Perusahaan………………………………… 57 xi . 52 4. 41 3.5 BAB IV : Pengujian Hipotesis………………………………………. 40 3.3 Hasil Penelitian …………………………………………… 51 4.11 BAB III : METODOLOGI PENELITIAN 3.44 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.2 Variabel terikat/Dependen (y)………………………. 41 3.1 Analisis Kualitatif………………………………….3 Hasil Hipotesis…………………………………… 56 4.3 Metode Pengumpulan Data……………………………… 42 3.4 Pembahasan……………………………………………….4 Metode Analisis Data……………………………………. 43 3.2.2... 46 4.1 Variabel bebas/Independen (x)……………………..1 Analisis Statistik Deskriptif…………………………..2. 49 4. 48 4.

3 Rasio Perputaran Persediaan……………………. 61 xii .12 4. 60 5.1 Kesimpulan…………………………………………….4. 58 BAB V : PENUTUP 5.2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Saran-saran……………………………………………..

..........................1 : Kerangka Pemikiran............. 38 xiii ..........................13 DAFTAR GAMBAR Gambar 2............

...................... 46 Tabel 4.. 47 Tabel 4............................ 55 xiv ....... Maksimal dan Standar Deviasi dari Ukuran Perusahaan dan Rasio Perputaran Persediaan.6 : Hasil Perhitungan Mean..7 : Nilai -2 Log L untuk Model yang Hanya Memasukkan Konstanta…………………………………………………….. Minimal. 51 Tabel 4..... 49 Tabel 4................................5 : Pengelompokkan Rasio Perputaran Persediaan Tahun 2000-2004………………………………………….....14 DAFTAR TABEL Tabel 4........... 50 Tabel 4................. 54 Tabel 4..........2 : Klasifikasi Industri.....8 : Nilai -2 Log L untuk Model dengan Konstanta dan Variabel………………………………………………………… 54 Tabel 4.4 : Pengelompokkan Ukuran Perusahaan Tahun 2000-2004.3 : Pengelompokkan Struktur Kepemilikan Tahun 2000-2004... 55 Tabel 4...............9 : Nilai Statistics Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test…………………………………………………………...............1 : Kelompok Sampel Perusahaan Berdasarkan Metode Persediaan……………………………………………………….....................10 : Hasil Pengujian Regresi Logistik……………........................ 48 Tabel 4.........

Lampiran 4 : Output SPSS Regresi Logistik. Lampiran 5 : Surat Keterangan Penelitian. xv . Lampiran 2 : Data Perusahaan Sampel.15 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Daftar Perusahaan Sampel. Lampiran 3 : Output SPSS Statistik Deskriptif.

Latar Belakang Masalah Persediaan (inventory) adalah aktiva yang dimiliki perusahaan untuk dijual dalam operasi bisnis normal atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam memproduksi barang yang akan dijual. Rata-rata. 2003). Tujuan utama dari metode persediaan adalah untuk memilih asumsi arus biaya yang paling mencerminkan laba periodik. Metode persediaan dapat dilakukan dengan 4 cara yaitu metode Identifikasi Khusus. Pada perusahaan manufaktur setidaknya terdapat tiga jenis persediaan yaitu persediaan bahan baku. penyajian arus kas serta pajak yang harus dibayar oleh perusahaan. Persediaan merupakan asset yang sangat penting baik dalam jumlah maupun perannya dalam kegiatan operasional perusahaan. persediaan barang dalam proses dan barang jadi. Masing-masing metode tersebut memiliki karakteristik 1 . Oleh karena itu persediaan yang dimiliki selama satu periode harus dipisahkan mana yang yang sudah dapat dibebankan sebagai biaya (harga pokok penjualan) yang akan dilaporkan dalam laporan laba rugi dan mana yang masih belum terjual yang akan menjadi persediaan dalam neraca. khususnya perusahaan manufaktur.1. laba rugi.BAB I PENDAHULUAN 1. sesuai kondisi yang berlaku. FIFO dan LIFO (Taqwa. Persediaan dalam perusahaan mempunyai kedudukan ganda yaitu sebagai unsur harga pokok penjualan di dalam laporan laba rugi dan sebagai unsur aktiva lancar di dalam neraca. Asumsi arus biaya memberikan dampak langsung terhadap neraca.

Kinerja perusahaan manufaktur pada tahun 1995 sampai dengan 1996 pun menunjukkan kinerja yang cukup baik. Persediaan dapat memprediksi baik arus kas masuk dari penjualan maupun arus kas keluar yang diperlukan karena pembelian barang. Dalam kegiatan perusahaan sehari-hari. Penyajian informasi mengenai persediaan akan membantu para investor serta pemakai lainnya untuk memprediksi arus kas dimasa yang akan datang. banyak perusahaan yang menggunakan metode FIFO beralih menggunakan metode rata-rata.2 tertentu yang membuat yang satu lebih disukai dalam kondisi-kondisi tertentu. Dalam kegiatan normal. Pada kondisi inflasi. Tahun penelitian Taqwa. dalam keadaan ekonomi seperti ini metode FIFO lebih disukai oleh perusahaan. Kinerja perusahaan manufaktur pada masa inflasi semakin memburuk dari tahun ke tahun. keadaan ekonomi pada tahun penelitian ini tidak jauh berbeda . Pada tahun 1997 sampai dengan 1999 Indonesia mengalami masa Inflasi. dkk (2003) dan penelitian Mukhlasin (2002). Penelitian ini merujuk pada penelitian Taqwa. Tahun penelitian Mukhlasin (2002) yaitu tahun 1995 sampai dengan tahun 1999. jumlah persediaan yang ada akan mempengaruhi jumlah kas yang diperlukan selama periode berikutnya untuk mendapatkan barang yang akan dijual selama periode tersebut. dkk (2003) yaitu tahun 1997 sampai dengan tahun 2000. Pada tahun 1995 dan tahun 1996 keadaan ekonomi Indonesia dalam keadaan cukup baik. jumlah sumber daya persediaan yang tersedia akan mendukung arus kas masuk melalui penjualan.

Sedangkan manajer akan memilih menggunakan metode FIFO agar memperoleh laba yang besar sehingga kompensasi yang akan . tetapi sering ada konflik antara manajer dan pemegang saham. maka manajer yang diangkat oleh pemegang saham harus bertindak untuk kepentingan pemegang saham. Pada tahun 2000 Indonesia juga masih mengalami inflasi. Tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan kemakmuran pemegang saham. pada keadaan ekonomi seperti ini perusahaan lebih memilih menggunakan metode FIFO. Masingmasing pihak. Pemilik (share holder) akan memilih metode Rata-rata. Sehubungan dengan pemilihan metode persediaan maka antara manajer dengan pemilik akan timbul konflik kepentingan (agency theory). Konflik ini disebabkan karena adanya perbedaan kepentingan antara manajer dan pemegang saham. yaitu pemilik dan manajer akan berusaha memaksimalkan kesejahteraannya masing-masing. Selama tahun 2000 sampai dengan tahun 2004 kinerja perusahaan manufaktur mulai membaik dari tahun ke tahun. Pada tahun 2001 perekonomian Indonesia belum sepenuhnya memuaskan dan masih memerlukan perbaikan. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2000 sampai dengan tahun 2004. Pada tahun 2002 pertumbuhan kinerja ekonomi meningkat sehingga memberikan harapan bagi bangsa Indonesia untuk mempercepat pemulihan ekonomi diikuti dengan menurunnya tingkat inflasi. Keadaan ekonomi Indonesia jauh lebih baik lagi di tahun 2003. Pada tahun 2004 kondisi ekonomi semakin mantap.3 dengan keadaan ekonomi tahun penelitian Mukhlasin dilakukan. Untuk itu.

Pemilihan metode persediaan perusahaan dianggap melekat dalam keseluruhan masalah untuk memaksimalkan harga saham yang tergantung pada adanya peluang investasi dan pembiayaan (Daljono dan Puspitaningtyas. pemilik dan pemerintah (Daljono dan Puspitaningtyas. Apabila memiliki saham dengan persentase yang besar maka manajer akan cenderung memilih metode ratarata yang dapat memperoleh penghematan pajak. 2005). Hal ini disebabkan adanya perbedaan hasil ekonomi yang diharapkan oleh manajer. Rasio perputaran persediaan yang tinggi menunjukkan jumlah penjualan pada perusahaan tersebut tinggi. maka semakin besar kecenderungan manajer untuk memilih metode akuntansi yang menghasilkan laba rendah. pertimbangan rasional yang diambil manajemen untuk memilih metode persediaan adalah maksimalisasi nilai perusahaan atau meminimalkan pajak untuk memperoleh tax saving (penghematan pajak) yang besar tetap berpegang pada kendala-kendala yang .4 diterima juga akan menjadi besar. maka semakin besar kecenderungan manajer untuk memilih metode akuntansi yang menghasilkan laba tinggi. Namun demikian. rasio perputaran persediaan yang rendah menunjukkan jumlah penjualan pada perusahaan tersebut rendah. Sebaliknya. Semakin kecil ukuran perusahaan. Sementara itu semakin besar ukuran perusahaan. 2005). Konflik kepentingan antara manajer dan pemilik perusahaan dapat timbul ketika perusahaan harus memilih metode persediaan mana yang harus ditetapkan.

2004). Hal ini menyebabkan perusahaan-perusahaan di Indonesia menggunakan metode rata-rata atau FIFO untuk laporan keuangannya karena tidak perlu lagi membuat untuk tujuan pajak (Taqwa. yaitu hukum pajak dan kesempatan produksi-investasi (Mukhlasin. dkk. Pemilihan metode persediaan di Indonesia mengacu pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. Namun Undang–Undang No. Metode FIFO menggambarkan increasing income sedangkan metode Ratarata menggambarkan decreasing income (Rustardy. 2005). nilai persediaan akhir lebih mendekati current cost. paragraf 20 : 14.5) yang memberikan kebebasan untuk menggunakan salah satu alternatif metode persediaan yaitu First In First Out (FIFO). 2002. Metode persediaan FIFO dan rata-rata (Weighted Average) menggambarkan karakteristik increasing income dan decreasing income. dan memberikan suatu nilai aproksiomasi yang lebih tepat atas biaya pokok pengganti pada neraca bila . Apabila suatu perusahaan dalam laporan keuangan menggunakan Identifikasi Khusus atau LIFO maka untuk tujuan pajak harus membuat lagi dengan metode yang diperbolehkan yaitu metode Rata-rata atau FIFO. 2003). 7 tahun 1983 jo Undang-Undang No.5 ada. Last In First Out (LIFO) dan Weight Average (rata-rata). Kelebihan metode FIFO adalah laba menggambarkan arus fisik persediaan. dkk. 10 tahun 1994 tentang Perpajakan hanya memperbolehkan penggunaan metode FIFO atau metode Rata-rata (Daljono d an Puspitaningtyas. 2002). 14 (IAI.

maka merata-ratakan harga pokoknya merupakan cara yang paling tepat. metode FIFO juga mempunyai kelemahan. 2004). Tidak seperti metode lainnya. 2004). Metode Rata-rata dipandang realistis dan searah dengan arus fisik persediaan. sehingga dianggap paling cocok diterapkan untuk persediaan yang relatif homogen. khususnya jika suatu pencampuradukan (intermingling) dari unit-unit persediaan yang identik. . Keterbatasannya adalah nilai persediaan secara terus-menerus mengandung pengaruh dari kos paling awal dan nilai-nilai tersebut bisa mempunyai lag yang signifikan di belakang current price dalam periode yang mengalami perubahan harga yang sangat cepat. 2004). yakni laba tidak mencerminkan keadaan sebenarnya karena current cost tidak dibandingkan dengan current revenue dalam perhitungan rugi laba. Dalam kondisi harga meningkat. Dengan metode ini tidak dapat dilakukan manipulasi laba melalui persediaan dan bersifat objektif (Abdullah dan Djalil. Ini berarti bahwa di saat sulit atau tidak mungkin mengidentifikasi arus fisik persediaan. Hal ini mengakibatkan terjadinya distorsi dalam laba kotor dan laba bersih sehingga timbul tambahan laba yang berasal dari perubahan harga yang disebut inflation profit (Abdullah dan Djalil. naik atau turun (Abdullah dan Djalil. metode FIFO akan menghasilkan nilai persediaan akhir yang tinggi dan harga pokok penjualan yang rendah. metode ini memberikan kos yang sama. Di sisi lain.6 tidak ada perubahan harga sejak pembelian terakhir. sehingga dianggap paling cocok diterapkan untuk persediaan yang fungsi atau kegunaannya mirip/ sama.

Telah banyak dilakukan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode persediaan. metode Last In First Out (LIFO) lebih disukai karena akan mengurangi cash outflow berupa bonus dan pajak. Penelitian Mukhlasin (2002) dilakukan selama periode 1995 sampai dengan 1999. financial leverage. 2002). dkk. 2004). dkk. Penelitian Taqwa. Penelitian ini menguji ulang penelitian Taqwa. Kondisi inflasi. (2003) dilakukan pada periode 1997 sampai dengan 2000. 2004). ukuran perusahaan. Penelitian ini menggunakan variabel independen variabilitas .7 sehingga laba bersih menjadi tinggi (Rustardy. variabilitas persediaan dan rasio lancar. Tetapi struktur kepemilikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dan variabilitas persediaan memberikan berpengaruh secara signifikan terhadap pemilihan metode akuntansi persediaan. dkk (2003) dan penelitian Mukhlasin (2002). variabilitas persediaan dan rasio lancar tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemilihan metode akuntansi persediaan. Penelitian ini menggunakan variabel independen yaitu struktur kepemilikan. Sementara itu metode Rata-rata akan menghasilkan laba akuntansi yang cenderung lebih stabil dan lebih kecil dibandingkan dengan metode FIFO karena menggabungkan seluruh price inflow (Mukhlasin. bagi pemilik. sedangkan metode First In First Out (FIFO) lebih diinginkan manajer karena metode ini akan meningkatkan laba perusahaan yang berarti kinerja (performance) yang baik bagi manajer dan bonus yang akan diterima (Widyastuti. financial leverage.

intensitas persediaan dan variabilitas harga pokok penjualan. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut. ukuran perusahaan dan rasio perputaran persediaan secara simultan dan parsial . variabilitas laba akuntansi dan intensitas modal tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pemilihan metode akuntansi persediaan Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan pengujian kembali faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode persediaan. ukuran perusahaan. Peneliti tertarik untuk mengambil judul : “ANALISIS PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN.8 persediaan. variabilitas laba akuntansi. 1. intensitas modal. intensitas persediaan dan variabilitas harga pokok penjualan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemilihan metode akuntansi persediaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan. maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah struktur kepemilikan. Sedangkan variabilitas persediaan.2. Perumusan Masalah Masalah merupakan suatu hal yang timbul karena adanya tantangan dan kesangsian terhadap suatu hal atau fenomena baik yang telah ada maupun yang akan ada. UKURAN PERUSAHAAN DAN RASIO PERPUTARAN PERSEDIAAN TERHADAP PEMILIHAN METODE PERSEDIAAN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR GO PUBLIC DI BEJ”.

PSAK No.1). atau dalam bentuk bahan baku atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa (PSAK 14.3. biaya konversi.2. bahan baku yang dipakai dalam proses produksi dan barang yang telah selesai diproduksi yang siap untuk dijual.3. dan biaya lain yang .3. Persediaan Persediaan adalah aktiva tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal. Penegasan Istilah Penegasan istilah dimaksudkan agar ada kesamaan pemahaman terhadap istilah-istilah yang terdapat dalam judul penelitian ini dan mempermudah peneliti mengkonsentrasikan permasalahan. 2002. paragraf 3 : 14. dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan.1. 1. 2005). IAI. Adapun istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Persediaan disini adalah aktiva dalam bentuk bahan baku. Metode Persediaan Metode persediaan merupakan kebijakan pengukuran yang digunakan sebagai media kontrak antar economic agent yang berkaitan dengan persediaan (Daljono dan Endah Puspitaningtyas. 2002. 14 (IAI.9 mempengaruhi pemilihan metode persediaan pada perusahaan manufaktur go public di Bursa Efek Jakarta? 1. paragraf 6 : 14.2) menyebutkan bahwa biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian.

10

timbul sampai persediaan berada dalam kondisi yang siap untuk dijual atau dipakai.

1.4. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan dapat disampaikan tujuan penelitian ini adalah : 1. Untuk memperoleh bukti empiris apakah struktur kepemilikan secara simultan dan parsial mempengaruhi pemilihan metode persediaan pada perusahaan manufaktur go public di Bursa Efek Jakarta. 2. Untuk memperoleh bukti empiris apakah ukuran perusahaan simultan dan parsial mempengaruhi pemilihan metode persediaan pada perusahaan manufaktur go public di Bursa Efek Jakarta. 3. Untuk memperoleh bukti empiris apakah rasio perputaran persediaan secara simultan dan parsial mempengaruhi pemilihan metode persediaan pada perusahaan manufaktur go public di Bursa Efek Jakarta. .

1.5. Manfaat Penelitian
1.5.1. Kegunaan Praktis a. Bagi Perusahaan Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan manajemen dalam memilih metode persediaanyang dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan.

11

b. Bagi Peneliti Melalui penelitian ini diharapkan dapat berguna dalam mengaplikasikan teori yang telah diperoleh di bangku kuliah dengan kondisi sebenarnya. c. Bagi Pembaca Penelitian ini diharapkan dapat menambah literatur dan informasi. d. Bagi Akademik Bagi pengembangan ilmu yang berkaitan dengan kajian akuntansi, khususnya tentang metode persediaan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai kontribusi dalam pengembangan teori dan sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya. 1.5.2. Kegunaan Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi

pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang ilmu akuntansi keuangan.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Persediaan 2.1.1. Pengertian Persediaan Menurut PSAK 14 (IAI, 2002, paragraf 3 : 14.1) persediaan adalah aktiva : a. tersedia untuk dijual dalam usaha kegiatan normal, b. dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan, atau c. dalam bentuk bahan/ perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pembelian jasa. Persediaan (inventory) adalah pos-pos aktiva yang dimiliki untuk dijual dalam operasi bisnis normal atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam memproduksi barang yang akan dijual (Keiso, dkk, 2002 : 444). Menurut Skousen, dkk (2001 : 514), persediaan secara umum diaplikasikan kepada barang-barang yang dimiliki oleh perusahaan dagang baik itu usaha grosir maupun retail ketika barang-barang tersebut berada dalam kondisi siap untuk dijual kembali. Kata bahan baku (raw materials), persediaan dalam proses (work in process) dan barang jadi (finished goods) untuk dijual adalah persediaan untuk perusahaan manufaktur. Perusahaan dagang (merchandising concern), biasanya membeli barang dalam bentuk siap untuk dijual. Perusahaan dagang melaporkan biaya yang terkait dengan unit-unit yang belum terjual dan masih ada di 12

13

tangan sebagai persediaan barang dagang (merchandising inventory). Hanya satu akun persediaan, persediaan barang dagang, yang muncul dalam laporan keuangan (Kieso, dkk, 2002 : 444). Barang yang diperoleh dijual kembali secara fisik tidak diubah oleh perusahaan pembeli, barangbarang tersebut tetap dalam bentuk yang telah jadi ketika meninggalkan pabrik pembuatnya. Pada perusahaan manufaktur (manufacturing concern) memproduksi barang yang akan dijual kepada perusahaan dagang. Perusahaan manufaktur memiliki 3 akun persediaan yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan barang jadi. Biaya yang dibebankan ke barang bahan baku yang ada ditangan tetapi belum dialihkan ke produksi dilaporkan sebagai persediaan bahan baku (raw materials inventory). Biaya bahan baku untuk produk yang telah dibuat tapi belum selesai, ditambah biaya tenaga kerja langsung yang diaplikasikan secara khusus ke bahan baku ini dan biaya overhead yang dialokasikan merupakan persediaan barang dalam proses (work in process inventory). Biaya yang berkaitan dengan produk yang telah selesai tetapi belum terjual pada akhir periode fiskal dilaporkan sebagai persediaan barang jadi (finished goods inventory) (Keiso, dkk, 2002 : 445). Yang dimaksudkan persediaan dalam penelitian ini adalah aktiva dalam bentuk bahan baku, bahan baku yang digunakan pada proses produksi dan barang yang sudah selesai diproduksi yang siap untuk dijual.

Terdapat dua metode yang dapat digunakan dalam hubungannya dengan pencatatan persediaan yaitu metode fisik dan metode buku (perpetual) (Baridwan.2. yaitu : metode Identifikasi khusus. FIFO dan LIFO. Sedangkan harga per unit dapat ditentukan berdasarkan asumsi arus biaya persediaan. Karena tidak ada catatan mutasi persediaan maka harga pokok penjualan juga tidak dapat diketahui sewaktuwaktu. 2000 : 151). setiap pembelian barang dicatat dalam rekening pembelian.14 2. Metode Pencatatan Persediaan Nilai persediaan berasal dari jumlah unit dikali harga per unit. Rata-rata. Untuk menentukan jumlah unit dapat menggunakan baik metode buku maupun metode fisik. Metode Fisik Penggunaan metode fisik mengharuskan adanya perhitungan barang yang masih ada pada tanggal penyusunan laporan keuangan. . Yang dapat dilakukan dengan empat cara. Harga pokok penjualan baru dapat dihitung apabila persediaan akhir sudah dihitung (Baridwan. a. Dalam metode ini mutasi persediaan barang tidak diikuti dalam buku-buku. 2000 : 151).1. Perhitungan persediaan (stock opname) ini diperlukan untuk mengetahui berapa jumlah barang yang masih ada dan kemudian diperhitungkan harga pokoknya.

karena tidak perlu lagi mengadakan perhitungan fisik untuk mengetahui jumlah persediaan akhir (Baridwan. FIFO dan LIFO (Taqwa. penjualan dan saldo persediaan. .3. 2003). Rata-rata. Rekening yang digunakan untuk mencatat persediaan ini terdiri dari beberapa kolom yang dipakai untuk mencatat pembelian. a. 2. Metode Persediaan Metode persediaan dapat dilakukan dengan empat cara yaitu Identifikasi khusus. Rincian dalam buku pembantu bias diawasi dari rekening kontrol persediaan barang dalam buku besar. 2000 : 152). Jika barang yang terlibat berjumlah besar atau mahal atau hanya dalam jumlah kecil yang ditangani. Metode Buku (perpetual) Dalam metode buku setiap jenis persediaan dibuatkan rekening sendiri-sendiri yang merupakan buku pembantu persediaan. Identifikasi Khusus Metode identifikasi khusus mensyaratkan bahwa setiap barang yang disimpan harus ditandai secara khusus sehingga biaya perunitnya dapat diidentifikasi setiap waktu.1. Setiap perubahan dalam persediaan diikuti dengan pencatatan dalam rekening persediaan sehingga jumlah persediaan sewaktu-waktu dapat diketahui dengan melihat kolom saldo dalam rekening persediaan. Penggunaan metode buku akan memudahkan penyusunan neraca dan laporan rugi laba jangka pendek.15 b. dkk. Masing-masing kolom dirinci lagi untuk kuantitas dan perolehannya.

Jika diselenggarakan secara perpetual. Rata-rata (Weighted Average) Dalam metode ini barang-barang yang dipakai atau dijual akan dibebani harga pokok rata-rata. Harga pokok penjualan dapat dialokasikan kepada barang-barang yang masih ada dalam perusahaan pada akhir periode sesuai dengan harga pokok sebenarnya dari unit-unit barang secara khusus. Dengan demikian. 2000 : 392). metode identifikasi khusus menghubungkan arus biaya secara langsung (Dyckmen. . 1992 : 295). alokasi harga pokok penjualan didasarkan pada harga pokok barang yang diidentifikasikan yang ada dalam perusahaan pada akhir periode tersebut. Apabila diselenggarakan pada persediaan periodik.16 mungkin bisa dilaksanakan penandaan atau penomoran setiap barang ketika dibeli atau diproses. Perhitungan harga pokok rata-rata dilakukan dengan cara membagi jumlah harga perolehan dengan kuantitasnya (Baridwan. Jadi dalam kedua sistem tersebut arus harga pokok penjualan tercatat ditandingkan dengan arus fisik barang (Smith & Skousen. dkk. 2000 : 162). Metode ini memungkinkan diperlakukannya identifikasi biaya perunit khusus untuk setiap barang yang terjual pada tanggal penjualan dan tiap barang yang tetap ada di persediaan. harga pokok penjualan didebit dan persediaan dikredit sebesar jumlah harga pokok penjualan akibat dari masing-masing unsur yang terjual. b.

Metode Rata-rata dipandang realistis dan searah dengan arus fisik persediaan. Pengunaan metode rata-rata biasanya didasarkan pada alasan kepraktisannya daripada alasan konseptual. metode ini disebut metode rata-rata tertimbang (weighted average method) dan pada sistem perpetual dikenal dengan nama metode rata-rata bergerak (moving average method) (Abdullah dan Djalil. khususnya jika suatu pencampuradukan (intermingling) dari unit-unit persediaan yang identik. Pada sistem periodik. maka merata-ratakan harga pokoknya merupakan cara yang paling tepat. Keterbatasannya adalah nilai persediaan secara terus-menerus mengandung pengaruh dari kos paling awal dan nilai-nilai tersebut bisa mempunyai lag yang . sehingga dianggap paling cocok diterapkan untuk persediaan yang fungsi atau kegunaannya mirip/ sama. 2004). seperti rata-rata yang dipengaruhi atau ditimbang oleh unit yang diperoleh pada tingkat harga tertentu. metode ini memberikan kos yang sama. 2004). Dengan metode ini tidak dapat dilakukan manipulasi laba melalui persediaan dan bersifat objektif (Abdullah dan Djalil. Cara ini mengurangi dampak dari fluktuasi harga.17 Metode rata-rata didasarkan pada asumsi bahwa barang terjual harus dibebankan pada suatu biaya rata-rata. sehingga dianggap paling cocok diterapkan untuk persediaan yang relatif homogen. Tidak seperti metode lainnya. Ini berarti bahwa di saat sulit atau tidak mungkin mengidentifikasi arus fisik persediaan.

. c.18 signifikan di belakang current price dalam periode yang mengalami perubahan harga yang sangat cepat. terlepas dari apakah harga pokok penjualan dihitung seiring barang dijual sepanjang periode akuntansi (sistem perpetual) atau sebagai residu pada akhir periode akuntansi (sistem periodik) (Keiso. metode ini mengasumsikan bahwa barang pertama dibeli adalah barang pertama digunakan (dalam perusahaan manufaktur) atau dijual (dalam perusahaan dagang). Dengan kata lain. 2002 : 260). Karena itu. persediaan dan harga pokok penjualan akan sama pada akhir bulan terlepas dari apakah yang dipakai adalah sistem persediaan perpetual ataupun periodik. dkk. maka nilai persediaaan akhir akan terdiri dari persediaan akhir. Keunggulan FIFO adalah mendekatkan persediaan akhir dengan biaya berjalan. Dalam kasus FIFO. Hal ini disebabkan karena yang akan menjadi bagian dari harga pokok penjualan adalah barang-barang yang dibeli terlebih dahulu. Karena barang pertama yang dibeli adalah barang yang akan pertama keluar. persediaan yang tersisa merupakan barang yang dibeli paling akhir (Keiso. dkk. naik atau turun (Abdullah dan Djalil. 2004). dan karenanya dikeluarkan lebih dulu. 2002 : 460). FIFO (First In First Out) Metode FIFO mengasumsikan bahwa barang-barang yang digunakan (dikeluarkan) sesuai dengan urutan pembeliannya. terutama jika laju perputaran persediaan cepat.

(3) . maka akan diasumsikan bahwa biaya dari total kuantitas yang terjual/ dikeluarkan selama satu bulan berasal dari pembelian akhir. 2002 : 461). dkk. Jika yang digunakan adalah sistem persediaan perpetual baik dalam kuantitas maupun nilai dollar. LIFO (Last In First Out) Metode LIFO menandingkan (matches) biaya dari barang-barang yang paling akhir dibeli terhadap pendapatan. aplikasi metode LIFO akan menghasilkan nilai persediaan akhir dan harga pokok penjualan yang berbeda (Keiso. dkk. Biaya pembelian awal dibebankan ke pendapatan paling akhir. Persediaan akhir akan ditentukan dengan menggunakan unit total sebagai dasar perhitungan dengan mengabaikan tanggal-tanggal pembelian yang terlibat (Keiso. Metode LIFO memiliki kelebihan sebagai berikut : (1) adanya keuntungan pajak. 2002 : 461). dkk. dkk. 2002 : 461). (2) pengukuran laba yang lebih baik. 2002 : 461).19 Pendekatan ini umumnya menghasilkan nilai persediaan akhir di nerca yang mendekati biaya pengganti (replacement cost) jika tidak terjadi perubahan harga sejak pembelian barang paling terakhir (Kieso. yang bisa mengarah pada distorsi laba kotor dan laba bersih (Kieso. Kelemahan dari FIFO adalah bahwa biaya berjalan tidak ditandingkan dengan pendapatan berjalan pada laporan laba rugi. Jika yang digunakan adalah persediaan periodik. d.

paragraf 6 :14. dan (4) adanya future earnings hedge. Pemilihan Metode Persediaan Metode persediaan adalah kebijakan pengukuran yang digunakan sebagai media kontrak antar economic agent yang berkaitan dengan persediaan. kecuali untuk yang disebutkan dalam paragraf 19 (PSAK No. dan (6) poor buting habits (Kieso. (2) penyajian persediaan di neraca terlalu rendah (underestimate). paragraf 20 : .1.4. rata-rata tertimbang (Weight average method). yaitu laba perusahaan pada masa yang akan datang tidak terpengaruh oleh penurunan harga. 2002. (3) tidak mencerminkan arus fisik persediaan.2) menyebutkan bahwa biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian. yaitu biaya yang berkaitan dengan identifikasi khusus yang merupakan atribusi biaya ke barang tertentu yang dapat diidentifikasi dalam persediaan (Daljono dan Puspitaningtyas. dkk. Pemilihan metode persediaan di Indonesia mengacu pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 2002 : 471). 14 (IAI. (4) tidak mengukur laba berdasarkan current cost. PSAK No. masuk terakhir keluar pertama (MTKP atau LIFO). 14 (IAI. Seluruh biaya yang terdefinisi dalam persediaan diatas harus diperhitungkan dengan rumus biaya masuk pertama keluar pertama (MPKP atau FIFO). Sedangkan kelemahannya adalah : (1) memperkecil laba. IAI.20 memperbaiki aliran kas. 2002. biaya konversi dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi yang siap untuk dijual atau dipakai. 2005). (5) adanya involuntary liqudation. 2. 14. paragraf 20 :14. 2002.5).

21 14. 2002). . Sementara itu. Tuanakotta (2000) menyatakan bahwa ada satu alasan yang membenarkan penggunaan metode penilaian yang berbeda untuk inventory. Namun Undang–Undang No. dasar pertimbangan manajemen dalam memilih arus biaya persediaan menurut Guenter dan Trombley (1994) adalah value perusahaan (Mukhlasin. 2003). 10 tahun 1994 tentang Perpajakan hanya memperbolehkan penggunaan metode FIFO atau metode Rata-rata (Daljono dan Puspitaningtyas. Pertimbangan ekonomi pertama dalam memilih adalah perpajakan.5) yang memberikan kebebasan untuk menggunakan salah satu alternatif metode persediaan yaitu First In First Out (FIFO). Pemilihan metode persediaan didasarkan pada alasan-alasan tertentu. Data mengenai metode persediaan yang diterapkan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta menunjukkan bahwa tidak ditemukannya perusahaan yang menggunakan metode persediaan LIFO. Last In First Out (LIFO) dan Weight Average (rata-rata). yakni setiap metode mencerminkan keadaan ekonomi yang berbeda-beda. sehingga memerlukan wawasan manajemen tentang faktor yang mempengaruhi penerapan prosedur-prosedur akuntansi (Annisa. 7 tahun 1983 jo Undang-Undang No. 2005). Pemilihan metode persediaan memerlukan pertimbangan yang bijak karena permasalan pokok dalam penerapan (teori positif) adalah penentuan bagaimana prosedur-prosedur akuntansi mempengaruhi arus kas.

maka untuk tujuan perpajakan perusahaan tersebut harus membuat laporan keuangan dimana persediaannya dinilai dengan metode FIFO atau rata-rata. b. Hipotesis Richardian (Hipotesis Pajak) . Hubungan yang dimaksud adalah hubungan sebagai kontrak yang satu atau lebih (prinsipal) meminta orang lain (agen) untuk melakukan beberapa kegiatan (service) atas kepentingn yang meliputi pendelegasian beberapa otoritas pengambilan keputusan pada agen (Belkuoi. Apabila perusahaan menggunakan LIFO untuk tujuan komersialnya. Teori Agensi Jensen dan Meckling menyatakan bahwa perusahaan adalah “fiksi legal yang bertindak sebagai suatu kelompok kontrak untuk seperangkat hubungan kontrak antar individu”. 2004). Kemungkinan besar hal ini menjadi penyebab mengapa perusahaan-perusahaan manufaktur yang listed di Bursa Efek Jakarta belum (tidak) ada yang menggunakan metode LIFO (Abdullah dan Djalil. 2004) sebagai berikut : a.22 Di Indonesia pengunaan metode LIFO untuk tujuan pajak tidak dibenarkan. Pemilihan metode persediaan didasari pada berbagai pendekatan dan teori (Daljono dan Puspitaningtyas. 1993). Alternatif metode persediaan memungkinkan manajemen memilih metode mana yang akan diterapkan dalam perusahaan dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

2002). 2002). Konflik kepentingan antara manajer dan pemilik perusahaan dapat timbul ketika pemilik perusahaan harus memilih metode arus biaya mana yang harus diterapkan. Namun demikian dalam periode terjadinya kenaikan atau penurunan harga yang terus menerus. 2003). metode-metode persediaan tersebut tidak akan menimbulkan banyak perbedaan dalam laporan keuangan. pemilik dan pemerintah. Menurut Morse dan Richardson berbagai alternatif metode persediaan memungkinkan manajemen memilih metode mana yang akan diterapkan dalam perusahaan sesuai dengan karakteristik perusahaan (Taqwa. dkk. metode persediaan akan mengakibatkan perbedaan yang material. manajemen dalam mengambil kebijakan pemilihan metode persediaan. Jika harga-harga yang dibayarkan atas barang tidak banyak berfluktuasi.23 Classical Richardian menyatakan bahwa manajer bertujuan tunggal untuk memaksimalkan nilai perusahaan dengan meminimalkan biaya pajak serta tetap respek pada kendala hukum pajak dan kesempatan produksi investasi (Mukhlasin. c. Oleh karena itu. biaya politik yang lebih besar dihadapi oleh manajer. Political Cost Scott menyatakan bahwa semua orang sama. pasti akan . manajer lebih menyukai memilih prosedur (metode) akuntansi yang melaporkan earning berbeda periode sekarang dengan periode yang akan datang (Mukhlasin. Hal ini disebabkan adanya perbedaan hasil ekonomi yang diharapkan antara manajer.

Hal ini disebut “masalah keagenan”. 2.2. 1999). Dengan demikian. 2004).1.24 mempertimbangkan hal-hal yang dapat mendukung nilai perusahaan (Dyckmen. yaitu devergensi kepentingan yang timbul antara pemilik dan agennya (Widyastuti. 2004). Struktur Kepemilikan 2. Secara teori. konflik kepentingan antar pemilik dapat terjadi. Struktur kepemilikan sangat penting dalam menentukan nilai perusahaan. Namun pada kenyataannnya mereka mengendalikan perusahaan. Pemilik perusahaan dari pihak luar berbeda dengan manajer karena kecil kemungkinannya pemilik dari pihak luar terlibat dalam urusan bisnis perusahaan sehari-hari (Widyastuti. kepemilikan perusahaan biasanya sangat menyebar.2. Dua aspek yang perlu dipertimbangkan ialah (1) konsentrasi kepemilikan perusahaan oleh pihak luar (outsider ownership concentration) dan (2) kepemilikan perusahaan oleh manajer (manager ownership). Pengertian Struktur Kepemilikan Pada perusahaan modern. . Kegiatan operasi perusahaan sehari-hari dijalankan oleh manajer yang biasanya tidak mempunyai saham kepemilikan yang besar. manajer merupakan agen atau wakil pemilik.

maka manajer yang diangkat oleh pemegang saham harus bertindak untuk kepentingan pemegang saham.2. 2003). tetapi sering ada konflik antara manajer dan pemegang saham. Hubungan antara Struktur Kepemilikan dengan Pemilihan Metode Persediaan Struktur kepemilikan ditunjukkan dari besarnya kepemimpinan (manajer) suatu perusahaan oleh pemilik perusahaan (share holder) tersebut (Taqwa. Untuk itu. 2004). Pihak luar yang menanamkan dananya pada perusahaan dianggap sebagai pemilik perusahaan yang mempunyai kewenangan tertentu dalam perusahaan. manajer juga mempunyai kepentingan untuk memperoleh imbalan yang sesuai dengan kemampuan yang sudah dikeluarkannya (Ismiyati dan Hanafi. Sementara itu. Konflik ini disebabkan karena adanya perbedaan kepentingan antara manajer dan pemegang saham (Listyani dan Tyas.2. 2003). tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan kemakmuran pemegang saham.25 2. Pemilik (share holder) inilah yang kemudian menunjuk seorang pengelola yang disebut sebagai manajer perusahaan yang tugasnya mengoperasikan kegiatan perusahaan seharihari. Taqwa dkk (2003) menyatakan bahwa sehubungan dengan pemilihan metode persediaan maka antara manajer dengan pemilik akan timbul konflik kepentingan (agency theory). Dalam manajemen keuangan. yaitu pemilik . Pemegang saham menginginkan imbal hasil yang sesuai dengan resiko yang ditanggungnya dan terkait juga dengan biaya yang dikeluarkannya. Masing-masing pihak.

Sedangkan manajer akan memilih menggunakan metode FIFO agar memperoleh laba yang besar sehingga kompensasi yang akan diterima juga akan menjadi besar. Sebaliknya.26 dan manajer akan berusaha memaksimalkan kesejahteraannya masingmasing. 2004). sedangkan kepemilikan manajerial tetap. yaitu untuk share holder dengan tuntutan kepemilikan yang kecil. hanya memiliki sedikit kepentingan untuk memantau manajemen perusahaan. Dengan demikian. Konflik yang terjadi antara manajer dan pemegang saham (share holder) sebagai akibat adanya perbedaan kepentingan dapat diselesaikan jika manajemen juga mempunyai kepemilikan di dalam perusahaan. . Pemikiran tentang pengaruh kepemilikan pihak luar yang terkonsentrasi. 2004). untuk share holder dengan kepentingan kepemilikan yang besar. manfaat pribadi yang diperoleh dari pemantauan kemungkinan besar melebihi biaya yang dikeluarkan. struktur kepemilikan membantu menyelesaikan konflik yang mungkin timbul antara manajer dan pemegang saham (share holder) (Widyastuti. Dengan demikian share holder yang memantau manajer kemungkinan berhubungan langsung dengan konsentrasi kepemilikan dari luar (Widyastuti. tetapi hanya menerima bagian yang kecil (sesuai dengan persentase kepemilikannya) dari total manfaat pemantauan. Pemilik (share holder) akan memilih metode rata-rata. Share holder ini akan menanggung semua biaya pemantauan.

Pengertian Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan merupakan proksi volatilitas operasional dan inventory cotrolability yang seharusnya dalam skala ekonomis besarnya perusahaan menunjukkan pencapaian operasi lancar dan pengendalian persediaan (Mukhlasin. 2003). Dengan demikian kesejahteraan manajer menjadi tujuan utama pemilihan metode persediaan. Penelitian mengenai struktur kepemilikan telah dilakukan oleh Taqwa (2003) penelitian. sehingga bonus yang akan diterima juga menjadi besar. Karena biaya politik cenderung lebih besar.3. maka perusahaan dengan tingkat penjualan yang . Taqwa (2003) memberikan hasil bahwa struktur kepemilikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pemilihan metode persediaan.3. yaitu metode Rata-rata (Taqwa. Total penjuala mengukur besarnya perusahaan. 2002). Sebaliknya apabila manajer memiliki saham dengan persentase yang relatif besar maka manajer akan memilih metode yang bisa memperoleh penghematan pajak (tax saving). Metode FIFO akan memberikan laba yang besar. 2.1.27 Apabila memiliki persentase kepemilikan saham yang kecil pada suatu perusahaan maka manajer mempunyai kecenderungan memilih metode FIFO. Ukuran Perusahaan 2. Ukuran perusahaan diproksikan dari penjualan bersih (net sales).

2. Perusahaan besar akan mempunyai kesempatan untuk meningkatkan atau menurunkan laba. agar laporan keuangan bisa rata (smooth). Pengawasan dari pemerintah terhadap kegiatan perusahaan akan membuat perusahaan besar hati-hati dalam bertindak.3. 2. 2002). 2003). Penggunaan . Jika perusahaan sensitif terhadap variasi ukuran perusahaan. perusahaan yang lebih besar akan lebih menyukai prosedur (metode) akuntansi yang dapat menunda pelaporan earning. Karena itu perusahan besar akan memilih metode yang bisa mengurangi laba dilaporkan (Taqwa.28 tinggi cenderung memilih kebijakan akuntansi yang mengurangi laba (Sidharta. maka dicurigai melakukan monopoli (Taqwa. Biaya politik (political cost) dari pemetintahan yang berupa ancaman regulasi dan nasionalisasi lebih besar dirasakan oleh perusahaan besar. 2000). Pemerinth lebih mudah mengawasi kegiatan perusahaan besar melalui laporan keuangan yang ada. dkk. Apabila perusahaan ini melaporkan laba yang besar. Hubungan antara Ukuran Perusahaan dengan Pemilihan Metode Persediaan Taqwa. dkk (2003) menyatakan bahwa ukuran perusahaan akan mempengaruhi pemilihan metode persediaan. Kecenderungan metode persediaan yang akan digunakan perusahaan besar adalah metode rata-rata yang bisa menurunkan laba. 2003). dkk. Perusahaan besar relatif lebih sensitif dibandingkan dengan perusahaan kecil (Mukhlasin.

Perusahaan akan lebih memilih metode rata-rata dibandingkan dengan metode FIFO karena pada metode rata-rata pajak yang harus dibayar relatif lebih kecil dibaningkan dengan metode FIFO. Perbedaan laba akan membedakan besarnya pajak yang harus dibayar perusahaan.dkk. dkk (2003). metode FIFO akan menghasilkan laba yang lebih besar jika dibandingkan dengan metode rata-rata. 2002). Penelitian mengenai pengaruh ukuran perusahaan telah dilakukan Abdullah dan Djalil (2004). dkk (2004) menunkukkan bahwa ukuran perusahaan secara signifikan mempengaruhi pemilihan metode persediaan. dan Rustardy. Mukhlasin (2002).29 metode rata-rata selain bisa menghindari biaya poitik (political cost) juga memperoleh penghematan pajak (tax saving). Taqwa. Salah satu cara menaikkan laba dengan kecenderungan menggunakan metode persediaanFIFO (Taqwa. untuk memdapatkan dana dari bank atau lembaga keuanga lainnya membutuhkan laba tyang tinggi agar dianggap mempunyai kinerja yang bagus. Laba yang lebih kecil (dengan menggunakan metode rata-rata) menandakan bahwa transfer kekayaan keluar perusahaan (biaya pajak) menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan laba yang besar (dengan menggunakan metode FIFO) inilah yang menyebabkan manajer memilih metode rata-rata (Mukhlasin. Mukhlasin (2002) dan Rustardy. Pada masa perubahan harga. dkk (2003). dkk (2004). 2003). Hasil yang diperoleh oleh Taqwa. Sedangkan perusahaan kecil. Sedangkan penelitian Abdullah dan Djalil (2004) tidak memberikan bukti .

Prastowo & Juliaty.1. 2. Jumlah hari penjualan persediaan adalah 365/ perputaran persediaan. Rasio ini jumlah hari di mana perusahaan dapat tetap beroperasi tanpa membeli persediaan tambahan (Skousen. yang mana persediaan rata-rata adalah rata-rata sederhana dari persediaan awal dan akhir.4. 2002 : 82 menyatakan bahwa apabila suatu perusahaan mempunyai rasio perputaran persediaan yang lebih rendah dibanding rasio rata-rata industrinya. . 2001 : 555). Rasio ini adalah jumlah waktu dari sebuah perusahaan menggunakan dan mengganti persediaannya selama tahun yang bersangkutan. Rasio Perputaran Persediaan 2. 2002 : 82). dkk. Pengertian Rasio Perputaran Persediaan Rasio perputaran persediaan mengukur berapa kali persediaan perusahaan telah dijual selama periode tertentu (Prastowo & Juliaty. Perputaran persedian dihitung dengan harga pokok barang yang dijual/ persediaan rata-rata. Rasio perputaran persediaan menyediakan informasi apakah tingkat persediaan cocok dengan volume penjualan.4.30 adanya pengaruh yang signifikan dari ukuran perusahaan terhadap pemilihan metode persediaan. Sebaliknya. maka hal ini menunjukkan adanya persediaan yang sudah usang atau persediaan yang terlalu tinggi. rasio perputaran persediaan yang lebih cepat dibanding ratarata memberi indikasi tingkat persediaan tidak cukup.

Karena metode Rata-rata menghasilkan nilai persediaan akhir pada neraca lebih rendah dan harga pokok penjualan yang lebih tinggi maka mengindikasikan adanya inventory turn over yang tinggi. Perusahaan yang menggunakan LIFO mempunyai indikasi inventory turn over yang tinggi dan hari perputaran yang lebih rendah dibandingkan jika perusahaan menggunakan metode FIFO. Hubungan antara Rasio Perputaran Persediaan dengan Pemilihan Metode Persediaan Perputaran dan hari perputaran persediaan dipengaruhi oleh metode persediaan. Sedangkan . dkk (2004). 2001 : 555). dkk. Sedangkan metode FIFO menghasilkan harga pokok penjualan yang rendah dan persediaan akhir yang tinggi sehingga menghasilkan inventory turn over yang rendah.31 2. 2002). Perputaran persediaan dan hari perputaran persediaan dipengaruhi oleh metode persediaan. FIFO atau Rata-rata (Skousen. Asumsi bahwa perputaran persediaan yang tinggi mengindikasikan efisiensi manajemen persediaan (Mukhlasin. tergantung apakah perusahaan menggunakan LIFO. Hasil penelitian Mukhlasin (2002) menunjukkan bahwa rasio perputaran persediaan secara signifikan mempengaruhi pemilihan metode persediaan.4. Rasio ini dapat berbeda secara signifikan.2. Penelitian mengenai rasio perputaran persediaan telah dilakukan oleh Mukhlasin (2002) dan Rustardy. Perputaran persediaan yang tinggi mengindikasikan efisiensi manajemen persediaan sehingga perusahaan lebih menyukai metode Rata-rata.

dkk (2004) menunjukkan bahwa rasio perputaran persediaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pemilihan metode persediaan. ukuran perusahaan. Penelitian ini menggunakan variabel independen yaitu struktur kepemilikan. Penelitian Terdahulu Penelitian yang pernah dilakukan mengenai pemilihan metode persediaan adalah sebagai berikut : 1. Penelitian Mukhlasin (2002) dengan judul “Analisis Pemilihan Metode Akuntansi Persediaan Berdasarkan Richardian Hipotesis” dilakukan selama periode 1995 sampai dengan 1999. Penelitian ini menggunakan variabel independen ukuran perusahaan. Tetapi struktur kepemilikan. financial leverage. ukuran perusahaan dan rasio lancar tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemilihan metode akuntansi persediaan. Hasil penelitian memberikan bukti bahwa ukuran perusahaan berpengaruh secara signifikan terhadap pemilihan metode akuntansi persediaan. (2003) dengan judul “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode Akuntansi Persediaan pada Perusahaan Manufaktur di BEJ” dilakukan pada periode 1997 sampai dengan 2000. intensitas persediaan dan . ukuran perusahaan. financial leverage. dkk. 2. 2.32 penelitian Rrustardy. variabilitas laba akuntansi. ukuran perusahaan dan rasio lancar.5. intensitas modal. Penelitian Taqwa.

Penelitian yang dilakukan oleh Taqwa (2003) menggunakan faktor struktur kepemilikan. Perbedaan laba yang dihasilkan metode rata-rata dan FIFO tidak seekstrim perbedaan metode LIFO dan metode FIFO (Taqwa dkk. variabilitas persediaan dan rasio lancar sebagai variabel penelitian. 2003). ukuran perusahaan.6. Kerangka Pemikiran Di Indonesia metode persediaan yang paling banyak digunakan adalah metode rata-rata dan metode FIFO (Data Metode persediaanPerusahaan Manufaktur dari Pojok BEJ UNDIP). Peneliti menambahkan satu variabel. financial leverage.33 variabilitas harga pokok penjualan.dimaksudkan agar pengaruh kepemilikan saham dalam perusahaan dan size perusahaan terhadap pemilihan metode perusahaan terlihat lebih jelas. 2. variabilitas laba akuntansi dan intensitas modal tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pemilihan metode akuntansi persediaan. yaitu . Sedangkan variabilitas persediaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan. Sedangkan penelitian ini menggunakan struktur kepemilikan dan ukuran perusahaan sebagai variabel penelitian. intensitas persediaan dan variabilitas harga pokok penjualan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemilihan metode akuntansi persediaan. Namun pada saat inflasi perbedaan ini cukup berarti pada laba yang dihasilkan nantinya sehingga manajer perlu mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan metode persediaan.

34 rasio perputaran persediaan sebagai variabel penelitian agar penelitian ini lebih lengkap. manajer juga mempunyai kepentingan untuk memperoleh imbalan yang sesuai dengan kemampuan yang sudah dikeluarkannya (Ismiyati dan Hanafi. Sedangkan manajer akan memilih menggunakan metode FIFO agar memperoleh laba yang besar sehingga kompensasi yang akan diterima juga akan menjadi besar. variabilitas laba akuntansi. Tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan kemakmuran pemegang saham. intensitas modal. Variabel rasio perputaran persediaan ini merujuk pada penelitian Mukhlasin (2002) yang menggunakan variabilitas persediaan. Sementara itu. Kepemilikan pada perusahaan modern perusahaan biasanya sangat menyebar. Untuk itu. 2004). Konflik ini disebabkan karena adanya perbedaan kepentingan antara manajer dan pemegang saham (Listyani dan Tyas. sebagai variabel . yaitu pemilik dan manajer akan berusaha memaksimalkan kesejahteraannya masing-masing. maka manajer yang diangkat oleh pemegang saham harus bertindak untuk kepentingan pemegang saham. Sehubungan dengan pemilihan metode persediaan maka antara manajer dengan pemilik akan timbul konflik kepentingan (agency theory). Pemegang saham menginginkan imbal hasil yang sesuai dengan resiko yang ditanggungnya dan terkait juga dengan biaya yang dikeluarkannya. tetapi sering ada konflik antara manajer dan pemegang saham. intensitas persediaan dan variabilitas harga pokok penjualan penelitian. ukuran perusahaan. Masing-masing pihak. Pemilik (share holder) akan memilih metode Rata-rata. 2003).

struktur kepemilikan membantu menyelesaikan konflik yang mungkin timbul antara manajer dan pemegang saham (share holder) (Widyastuti. sehingga bonus yang akan diterima juga menjadi besar. Dengan demikian kesejahteraan manajer menjadi tujuan utama pemilihan metode persediaan. Ukuran perusahaan menunjukkan besar kecilnya perusahaan dilihat dari total penjualan suatu perusahaan. Dengan demikian.35 Konflik yang terjadi antara manajer dan pemegang saham (share holder) sebagai akibat adanya perbedaan kepentingan dapat diselesaikan jika manajemen juga mempunyai kepemilikan di dalam perusahaan. perusahaan yang lebih besar akan lebih menyukai prosedur (metode) akuntansi yang dapat menunda pelaporan earning. Penggunaan metode rata-rata selain bisa menghindari biaya poitik (political cost) juga . Jika perusahaan sensitif terhadap variasi ukuran perusahaan. yaitu metode Rata-rata (Taqwa. Perusahaan besar relatif lebih sensitif dibandingkan dengan perusahaan kecil. Metode FIFO akan memberikan laba yang besar. Apabila memiliki persentase kepemilikan saham yang kecil pada suatu perusahaan maka manajer mempunyai kecenderungan memilih metode FIFO. Sebaliknya apabila manajer memiliki saham dengan persentase yang relatif besar maka manajer akan memilih metode yang bisa memperoleh penghematan pajak (tax saving). 2003). Kecenderungan metode persediaan yang akan digunakan perusahaan besar adalah metode rata-rata yang bisa menurunkan laba. 2004).

2002). FIFO atau Rata-rata (Skousen. Perusahaan yang menggunakan LIFO mempunyai indikasi inventory turn over yang tinggi dan hari perputaran yang lebih rendah dibandingkan jika perusahaan menggunakan metode FIFO.dkk.36 memperoleh penghematan pajak (tax saving). tergantung apakah perusahaan menggunakan LIFO. Perputaran dan hari perputaran persediaan dipengaruhi oleh metode persediaan. Salah satu cara menaikkan laba dengan kecenderungan menggunakan metode persediaan FIFO (Taqwa. Karena metode Rata-rata menghasilkan nilai persediaan akhir pada neraca lebih rendah dan harga pokok penjualan yang lebih tinggi maka mengindikasikan adanya inventory turn over yang tinggi. 2003). Rasio ini dapat berbeda secara signifikan. 2002 : 82). Perputaran persediaan dan hari perputaran persediaan dipengaruhi oleh metode persediaan. untuk memdapatkan dana dari bank atau lembaga keuanga lainnya membutuhkan laba yang tinggi agar dianggap mempunyai kinerja yang bagus. Sedangkan perusahaan kecil. Rasio perputaran persediaan menyediakan informasi apakah tingkat persediaan cocok dengan volume penjualan. Sedangkan metode FIFO menghasilkan harga pokok penjualan yang rendah dan persediaan akhir yang tinggi sehingga menghasilkan inventory turn over . Asumsi bahwa perputaran persediaan yang tinggi mengindikasikan efisiensi manajemen persediaan (Mukhlasin. Rasio perputaran persediaan mengukur berapa kali persediaan perusahaan telah dijual selama periode tertentu (Prastowo & Juliaty. 2001 : 555). dkk.

Perputaran persediaan yang tinggi mengindikasikan efisiensi manajemen persediaan sehingga perusahaan lebih menyukai metode ratarata. Gambar dari kerangka pemikiran mengenai pengaruh struktur kepemilikan.37 yang rendah. ukuran perusahaan dan rasio perputaran persediaan terhadap pemilihan metode persediaan yaitu dapat digambarkan sebagai berikut : .

38 Kerangka pemikiran ada di lembar tersendiri .

1999 ) menyatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati. H2 : Ukuran perusahaan berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pemilihan metode persediaan. dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah penelitian selanjutnya. Dengan mengacu pada rumusan masalah.39 2. . Hipotesis Good dan Scates (dalam Nasir. H3 : Rasio perputaran persediaan berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pemilihan metode persediaan.7. tinjauan teoritis dan beberapa penelitian terdahulu yang diuraikan maka hipotesis yang dikemukakan oleh peneliti adalah sebagai berikut : H1 : Struktur kepemilikan berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pemilihan metode persediaan.

Perusahaan tersebut tidak mengubah kebijakan perusahaan selama periode penelitian yaitu tahun 2000 sampai dengan tahun 2004. Populasi sasaran dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang dibatasi oleh kriteria sebagai berikut : 1. 3. Perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Jakarta dan mempublikasikan laporan keuangannya untuk tahun 2000-2004. Dari kriteria-kriteria tersebut menghasilkan sampel sebanyak 93 perusahaan yang terdiri dari 17 perusahaan yang menggunakan metode FIFO dan 76 perusahaan yang menggunakan metode Rata-rata. Populasi dan Sampel Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono. 2004 : 72).BAB III METODE PENELITIAN 3. 40 . 2. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 155 perusahaan.1. Perusahaan tersebut menerapkan satu metode persediaan secara konsisten yaitu metode FIFO atau rata-rata selama periode tahun 2000 sampai dengan tahun 2004. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta selama tahun 2000 sampai dengan tahun 2004.

Skala pengukuran yang digunakan adalah skala rasio. Variabel ini diukur dengan rata-rata total penjualan bersih selama tahun 2000 sampai dengan tahun 2004. Variabel ini menggunakan variabel dummy.1. Variabel Independen/ Bebas (x) a. Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan menunjukkan menunjukkan besar kecilnya perusahaan dilihat dari penjualan bersih suatu perusahaan. dengan pengukuran 1 (satu) jika manajer memiliki saham pada perusahaan sedangkan dan 0 (nol) jika manajer tidak memiliki saham pada perusahaan Pengukuran ini telah digunakan oleh Taqwa.41 3. tetapi juga oleh pihak manajer.2. Jadi tidak lagi hanya pihak luar (pemegang saham) yang mempunyai kepemilikan dalam perusahaan. Struktur Kepemilikan Struktur kepemilikam adalah kepemilikan saham oleh pihak manajer dalam jumlah besar pada suatu perusahaan untuk membantu menyelesaikan konflik yang mungkin timbul antara pemilik perusahaan dan manajer. b. . Variabel ini diproksikan dari kepemilikan saham oleh manajer suatu perusahaan. Variabel ini diproksikan dari total penjualan. dkk (2003). Variabel Penelitian Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : 3.2.

dengan pengukuran : 1 (satu) = Rata-rata.3. Pengukuran ini telah dipergunakan oleh Rustardy. dkk (2003). Pemilihan metode persediaan adalah pemilihan asumsi arus biaya yang sesuai dengan kondisi perusahaan dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. 3. c. Variabel Terikat/ Dependen (y) Variabel dependen dari penelitian ini adalah pemilihan metode persediaan. dkk (2003). dkk (2004).2. dkk (2004). Mukhlasin (2002) dan Rustardy.42 Pengukuran ini telah digunakan oleh Taqwa. dan Rustardy. Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Pengukuran Rasio perputaran persediaan adalah sebagai berikut : Rasio Perputaran Persediaan = Harga Pokok Penjualan Persediaan Skala pengukuran yang digunakan adalah skala rasio.2. 0 (nol) = FIFO Pengukuran ini telah digunakan oleh Abdullah dan Djalil (2004) Taqwa. dkk (2004). 3. data sekunder yaitu data yang diterbitkan atau digunakan oleh organisasi yang . Rasio Perputaran Persediaan Rasio perputaran persediaan adalah jumlah waktu dari sebuah perusahaan menggunakan dan mengganti persediaan suatu perusahaan. Abdullah dan Djalil (2004). Variabel ini menggunakan variabel dummy.

Data yang diterbitkan dalam penelitian ini adalah metode persediaan dan informasi lain seperti struktur kepemilikan. 3. 1995 : 76). Dalam penelitian ini. Teori-teori tersebut diperoleh dari literatur-literatur. Dokumentasi Metode dokumentasi digunakan untuk mencari data yang diungkapkan berdasarkan dokumen-dokumen dan catatan yang tersedia di prospectus perusahaan manufaktur. Data dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai sumber antara lain : 1.1. 2.4.4. ukuran perusahaan dan rasio perputaran persediaan. Analisis Kualitatif Metode analisis kualitatif dinyatakan dalam bentuk angka-angka. yang digunakan untuk menganalisis dengan menggunakan penjelasan yang melengkapi analisis.43 bukan pengelolanya (Lincoln dan Arsyad. Study Pustaka Study pustaka bertujuan untuk memperoleh landasan teori dan definisidefinisi yang digunakan dalam analisis kasus. Metode dokumentasi dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mencatat informasi yang terdapat dalam Indonesian Capital Market Directory yang diperoleh dari pojok BEJ Undip. majalah ilmiah maupun tulisan-tulisan lainnya yang banyak berhubungan dengan masalah yang akan diteliti. Metode Analisis Data 3. analisis kualitatif dilakukan .

44 dengan menerangkan hasil uraian penelitian secara sistematik sehingga akan diperoleh informasi yang jelas. Variabel dependen dalam penelitian ini berupa data nominal yaitu pemilihan metode persediaan. Sedangkan variabel independen berupa data nominal dan data rasio yaitu struktur kepemilikan. Regresi logistik dipilih karena data dalam penelitian ini berupa data nominal dan data rasio. Regresi logistik digunakan untuk menguji pengaruh struktur kepemilikan. 3.5.4. dapat dianalisis dengan logistic regression karena tidak perlu asumsi normalitas data pada variabel bebasnya.2. 3. Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dengan menggunakan regresi logistik (logistic regression). Asumsi multivariate normal distribution tidak dapat dipenuhi karena variabel bebas merupakan campuran antara variabel kontinyu (metrik) dan kategorikal (non metrik) (Ghozali. 2005 : 211). Analisis Kuantitatif Analisis kuantitatif dalam penelitian ini dilakukan dengan mengkuantifikasi data-data penelitian sehingga menghasilkan informasi yang dibutuhkan dalam analisis. Dalam hal ini. ukuran perusahaan dan rasio perputaran persediaan terhadap pemilihan metode persediaan. ukuran perusahaan dan rasio perputaran persediaan. .

2. Tingkat signifikansi (α) yang digunakan sebesar 5%. . dkk.45 Metode logit yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada jurnal Taqwa. Sedangkan. metode persediaan. Model regresi logistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Ln Metpersed = β+β1SP+β2UP+β3RPP +e 1 − Metpersed Dimana : Metpersed = Metode persediaan SP = Struktur Kepemilikan UP = Ukuran perusahaan RPP = Rasio Perputaran Persediaan e = Error Analisis pengujian hipotesis dengan regresi logistik memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Apabila p-value > α maka hipotesis ditolak yang berarti variabel tersebut tidak berpengaruh terhadap pemilihan metode persediaan. 2003. apabila p-value < α maka hipotesis diterima yang berarti variabel tersebut memang mempengaruhi pemilihan. Kriteria penerimaan atau penolakan hipotesis didasarkan pada nilai pvalue.

dalam menentukan arus biaya persediaan terbagi dalam dua kelompok yaitu perusahaan yang menggunakan metode FIFO dan perusahaan yang menggunakan metode rata-rata. Gambaran Singkat Perusahaan Sampel Populasi penelitian terdiri dari semua perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Jakarta selama tahun 2000 sampai dengan tahun 2004. Dari 93 perusahaan yang menjadi sampel terdapat 76 perusahaan memilih menggunakan metode rata-rata dan 17 perusahaan memilih 46 .BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak sebanyak 93 perusahaan dari populasi sebanyak 155 perusahaan. Dari 93 sampel perusahaan. seperti yang tersaji pada tabel 4.1. diolah 2006 Dari tabel 4.1 terlihat bahwa perusahaan yang menggunakan metode rata-rata lebih besar dibandingkan perusahaan yang menggunakan metode FIFO.1 Kelompok Sampel Perusahaan Berdasarkan Metode Persediaan No 1 Metode FIFO Jumlah 17 Prosentase (%) 18 % 2 Rata-rata Jumlah 76 93 82 % 100 % Sumber : Data sekunder.1 berikut ini : Tabel 4.

Berdasarkan sampel sebanyak 93 perusahaan akan diulas berdasarkan klasifikasi industri. dkk. 15.38 3.08 5. Clay.15 4.15 13. 19.2 Klasifikasi Industri No Klasifikasi Industri Jumlah Sampel Prosentase (%) 1.30 1. 14. 9.30 2. 18. Hal ini serupa dengan penelitian Taqwa.47 menggunakan metode FIFO. 12. Food and Beverages Tobacco Manufacturers Textile Mill Products Apparel and Other Textile Products Lumber and Wood Products Paper and Allied Products Chemical and Allied Products Adhesive Plastics and Glass Products Cement Metal and Allied Products Stone.53 4. 10. 6.98 2.38 8. Glass and Concrete Products Machinery Cable Electronic and Office Equipment Automotive and Allied Products Photographic Equipment Pharmaceuticals Consumer Goods 14 1 5 8 2 4 5 3 8 3 7 4 1 4 2 13 2 4 3 15.30 3. 17.23 . 11.2 sebagai berikut : Tabel 4. 3.6 2. 8. 5. 4.08 4. 2.15 4.05 1.30 5. 7.23 7. 13. Perusahaan yang memilih metode rata-rata sebanyak 58 perusahaan dan yang memilih menggunakan metode FIFO sebanyak 10 perusahaan.23 8. (2003) yang memperoleh sampel sebanyak 68 perusahaan.6 3. 16. Perusahaan dalam penelitian ini meliputi 19 klasifikasi industri yang tersaji dalam tabel 4.

2001. Total penjualan mencerminkan .3 Pengelompokkan Struktur Kepemilikan Tahun 2000-2004 Struktur Kepemilikan Kepemilikan saham oleh manajer Manajer tanpa kepemilikan saham Jumlah 2000 Jml % 26 28 67 93 72 100 2001 Jml % 26 28 67 93 72 100 2002 Jml % 26 28 67 93 72 100 2003 Jml % 26 28 67 93 72 100 2004 Jml % 26 28 67 93 72 100 Sumber : Data sekunder.48 4.2.2.2. karena hasil penjualan menunjukkan aktifitas yang dinamis dan fundamental bagi perusahaan. Struktur Kepemilikan Struktur kepemilikan yang dilihat dari kepemilikan saham oleh manajer pada suatu perusahaan tersaji dalam annual report khususnya dalam catatan sebagai keterangan yang menyertai laporan keuangan perusahaan. Sedangkan manajer tanpa kepemilikan saham untuk tahun 2000.1. 2002. Tabel 4.3 di atas diketahui kepemilikan saham oleh manajer untuk tahun 2000. 2003 dan 2004 memiliki jumlah yang sama yaitu 67 perusahaan (72%).3 tersaji data mengenai struktur kepemilikan selama tahun pengamatan. Deskripsi Variabel Penelitian 4. 2003 dan 2004 sama yaitu sebanyak 26 perusahaan (28%).2. 2002. diolah 2006 Tabel 4. Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan dalam penelitian ini ditunjukkan dengan total penjualan bersih. 4. 2001. Pada tabel 4.

500. kemudian meningkat pada tahun 2001 dan 2002 sebanyak 49 perusahaan (53%).000. Jumlah tersebut mengalami penurunan pada tahun 2001 dan 2002 yaitu menjadi 44 perusahaan (47%). untuk tahun 2000 sebanyak 41 perusahaan (44%).000.000.4 menunjukkan bahwa total penjualan bersih yang nilainya kurang dari Rp.000 Jumlah 41 93 44 100 2001 Jml % 44 49 93 47 53 100 2002 Jml % 44 49 93 47 53 100 2003 Jml % 47 46 93 51 49 100 2004 Jml % 36 57 93 39 61 100 Sumber : Data sekunder. Penjualan bersih perusahaan sampel mulai tahun 2000 .000.4 sebagai berikut : Tabel 4. .49 pula besarnya aktifivitas perusahaan.2004 tersaji pada tabel 4. 500. diolah 2006 Tabel 4.000 52 56 >500. Namun pada tahun 2004 mengalami penurunan yaitu menjadi 36 perusahaan (39%). Sedangkan total penjualan bersih yang nilainya lebih dari Rp.000.4 Pengelompokkan Ukuran Perusahaan Tahun 2000-2004 (dalam jutaan rupiah) 2000 Total Penjualan Jml % Bersih <500.. jumlah perusahaan terbesar terdapat pada tahun 2000 yaitu sebanyak 52 perusahaan (56%).000. Kemudian mengalami kenaikan pada tahun 2003 menjadi sebanyak 47 perusahaan (51%). Pada tahun 2003 mengalami penurunan menjadi 46 perusahaan (49%) dan pada tahun 2004 meningkat menjadi sebanyak 57 perusahaan (61%).

5 di atas menunjukkan bahwa rasio perputaran persediaan yang nilainya lebih kecil dari 3%. Kemudian pada tahun 2002 jumlah tersebut naik menjadi sebanyak 29 perusahaan (31%).50 4. Pada tahun 2003 dan 2004 jumlah tersebut menurun kembali menjadi 30 perusahaan (32%). Sedangkan rasio perputaran persediaan yang nilainya lebih besar . Rasio perputaran persediaan yang nilainya antara 3% sampai dengan 5%.2004 tersaji pada tabel 4. Kemudian pada tahun 2002 jumlah tersebut turun menjadi 31 perusahaan (33%). pada tahun 2000 sebanyak 41 perusahaan (44%).3. Pada tahun 2003 dan 2004 jumlah tersebut turun menjadi 26 perusahaan (28%).2. Rasio Perputaran Persediaan Rasio perputaran persediaan ditentukan dari harga pokok penjualan dibagi persediaan yang tersaji pada laporan keuangan.5 sebagai berikut Tabel 4. Pada tahun 2001 sebanyak 25 perusahaan (27%). diolah 2006 Tabel 4.5 Pengelompokkan Rasio Perputaran Persediaan Tahun 2000-2004 Rasio Perputaran Persediaan <3% 3%-5% >5% Jumlah 2000 Jml % 41 27 25 93 44 29 27 100 2001 Jml % 32 25 36 93 34 27 39 100 2002 Jml % 31 29 33 93 33 31 35 100 2003 Jml % 30 26 37 93 32 28 40 100 2004 Jml % 30 26 37 93 32 28 40 100 Sumber : Data sekunder. Rasio perputaran persediaan perusahaan sampel tahun 2000 . Pada tahun 2001 sebanyak 32 perusahaan (34%). pada tahun 2000 sebanyak 27 perusahaan (29%).

259.81 84.3158 0.52268 .929.082 41.701.457.3. minimal.484 7.3.8 298.174.6 Hasil Perhitungan Mean.438. 4. Analisis Statistik Deskriptif Analisis statistik deskriptif dari ukuran perusahaan dan rasio perputaran persediaan untuk melihat mean. maksimal dan standar deviasi disajikan dalam tabel 4.06 19. Minimal dan Maksimal dan Deviasi Standar dari Ukuran Perusahaan dan Rasio Perputaran Persediaan Ukuran Perusahaan Metode FIFO Mean Minimal Maksimal Standar Deviasi Metode rata-rata Mean Minimal Maksimal Standar Deviasi 1. Kemudian pada tahun 2002 jumlah tersebut turun menjadi sebanyak 33 perusahaan (35%).008.1.51 dari 5%. Pada tahun 2001 sebanyak 36 perusahaan (39%). pada tahun 2000 sebanyak 25 perusahaan (27%).15 44.4627 Rasio Perputaran Persediaan 9. Pada tahun 2003 dan 2004 jumlah tersebut meningkat menjadi 37 perusahaan (40%).8 10.682.Hasil Penelitian 4.28 5.0 1.459.0179 0.156.8 964.46546 5.5733 289.091.6 sebagai berikut: Tabel 4.

6 di atas diketahui bahwa nilai mean untuk ukuran perusahaan dan rasio perputaran persediaan antara perusahaan yang menggunakan metode persediaan FIFO berbeda dengan yang menggunakan metode ratarata.438. Hal ini menunjukkan bahwa nilai mean rasio perputaran persediaan yang menggunakan metode FIFO lebih besar menggunakan metode rata-rata.484. ukuran perusahaan dan rasio perputaran persediaan terhadap pemilihan metode persediaan.52 Sumber : data sekunder. .174. Sedangkan mean ukuran perusahaan untuk perusahaan yang menggunakan metode rata-rata adalah 1. Hal ini menunjukkan bahwa nilai mean ukuran perusahaan yang menggunakan metode FIFO lebih kecil dari perusahaan yang menggunakan metode ratarata. Mean rasio perputaran persediaan untuk perusahaan yang menggunakan metode FIFO adalah 9.0179. Mean ukuran perusahaan untuk perusahaan yang menggunakan metode FIFO adalah 289.3158 sedangkan mean rasio perputaran persediaan untuk perusahaan yang menggunakan metode rata-rata adalah 5. diolah 2006 Tabel 4.456. diperlukan pengujian secara statistik dengan dari perusahaan yang menggunakan regresi logistik. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh dari struktur kepemilikan.082.

ukuran perusahaan dan rasio perputaran persediaan yang digunakan dalam penelitian ini ditampilkan pada lampiran 2. Sebelum menganalisis hasil regresi logistik.2. Ghozali (2005 : 211) mengemukakan apabila variabel bebas merupakan campuran antara variabel metrik dan non metrik maka dapat dianalisis dengan regresi logistik. Pengujian Regresi Logistik Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan regresi logistik yang dilakukan secara bersama-sama bagi ketiga variabel yaitu struktur kepemilikan. ukuran perusahaan dan rasio perputaran persediaan terhadap pemilihan metode persediaan. ukuran perusahaan dan rasio perputaran persediaan dengan tingkat signifikansi 5%. akan diuji terlebih dahulu fit atau tidak model yang akan dianalisis. Nilai –2LogL yang hanya memasukkan konstanta adalah 88. Untuk menguji hipotesis nol dan alternatif .5.463 yang ditampilkan pada tabel 4. Data struktur kepemilikan.3. Statistik yang yang digunakan berdasarkan fungsi Likelihood. sedangkan nilai . Likelihood L dari model adalah probabilitas bahwa model dihipotesiskan menggambarkan data input. L ditransmormasikan menjadi -2LogL.53 4. peneliti menggunakan teknik analisis statistik dengan bantuan program SPSS for Windows versi 11.7. Dalam membahas pengaruh struktur kepemilikan. Tampilan output SPSS memberikan dua nilai –2LogL yaitu untuk model yang yang hanya memasukkan konstanta dan untuk model dengan konstanta dan variabel bebas.

b. Tabel 4.697 Cox & Snell R Square .498 a Constant is included in the model. Tabel 4.54 –2LogL untuk model dengan konstanta dan variabel bebas adalah 70.225 88.269 1.8 Penurunan nilai pada –2LogL dari 88.463 Constant 1. Jika nilai Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test Statistics sama dengan atau kurang dari 0.697 yang disajikan pada tabel 4. b Initial -2 Log Likelihood: 88.483 1.643 menjadi 70.497 1.8 Nilai –2LogL untuk Model dengan Konstanta danVariabel Bebas Model Summary -2 Log likelihood 70.c) Coefficients Iteration Step 0 1 2 3 4 -2 Log likelihood 89.697 mengindikasikan bahwa model fit dengan data.463 88. maka hipotesis nol ditolak berarti yang ada perbedaan signifikan antara model dengan nilai observasinya sehingga Goodnes fit model tidak baik karena tidak memprediksi nilai observainya.7 Nilai –2LogL untuk Model yang Hanya Memasukkan Konstanta Iteration History(a.001.466 88.05.463 c Estimation terminated at iteration number 4 because paramete estimates changed by less than .174 Nagelkerke R Square .283 Step 1 Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test menguji hipotesis nol bahwa data empiris cocok atau sesuai dengan model (tidak ada perbedaan model dengan data sehingga model dapat dikatakan fit). Jika nilai Statistics .

10.05 maka hipotesis nol tidak dapat ditolak dan berarti model mampu memprediksi nilai observasinya atau dapat dikatakan model dapat diterima karena cocok dengan data observasinya.9 Nilai Statistics Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test Hosmer and Lemeshow Test Step 1 Chi-square 8. .798 df 8 Sig. Pengujian bertujuan untuk melihat pengaruh struktur kepemilikan. ukuran perusahaan dan rasio perputaran persediaan pada pemilihan metode persediaan. ukuran perusahaan dan rasio perputaran persediaan terhadap pemilihan metode persediaan.9. Nilai Statistics Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test ditampilkan pada tabel 4.360 Pengujian hipotesis dengan menggunakan regresi logistik dilakukan dengan memasukkan seluruh variabel struktur kepemilikan. . Tampilan output SPSS menunjukkan bahwa besarnya nilai signifikansi Statistics Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test sebesar 0. Tabel 4.360 yang nilainya diatas 0.55 Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test lebih besar 0. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model dapat diterima. Hasil pengujian regresi logistik disajikan dalam tabel 4.05.

960. maka nilai signifikansi sebesar 0.549 a Variable(s) entered on step 1: SP. Apabila dibandingkan dengan tingkat signifikansi 0.05 (5%).3.05 (5%).003 6.000 . Hasil Hipotesis Dari hasil uji regresi logistik pada variabel struktur kepemilikan diperoleh signifikansi sebesar 0.56 Tabel 4.048. . Rasio Perputaran Persediaan pada hasil pengujian regresi logistik diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.632 .448 Exp(B) 1.051 S.10 Hasil Pengujian Regresi Logistik Variables in the Equation B Step 1(a) SP UP RPP Constant .011 .960 lebih besar dari tingkat signifikansi 0.960 . hal ini berarti ukuran perusahaan berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pemilihan metode persediaan.895 . maka nilai signifikansi sebesar 0.011.000 .048 . maka nilai signifikansi sebesar 0. Dengan demilikian hipotesis 3 .032 .390 3. UP.416 .576 df 1 1 1 1 Sig.032 1.05. Dengan demilikian hipotesis 1 ditolak. RPP. Pengujian variabel ukuran perusahaan dengan menggunakan regresi logistik diperoleh signifikansi sebesar 0. .951 1.05. 4.05.026 Wald .517 . hal ini berarti struktur kepemilikan tidak berpengaruh terhadap pemilihan metode persediaan.011 lebih kecil dari tingkat signifikansi 0. Sumber : data sekunder. diolah 2006. Apabila dibandingkan dengan tingkat signifikansi 0.000 -. Dengan demilikian hipotesis 2 diterima.05 (5%).048 lebih kecil dari tingkat signifikansi 0. Apabila dibandingkan dengan tingkat signifikansi 0.3.E.

4. 4. Hal ini disebabkan karena data yang diperoleh menunjukkan hanya 28 % manajer yang memiliki saham pada perusahaan. . Pembahasan Hasil temuan dalam penelitian. Struktur Kepemilikan Hasil pengujian regresi logistik menunjukkan bukti bahwa struktur kepemilikan tidak berpengaruh terhadap pemilihan metode persediaan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan besar cenderung memilih metode persediaan rata-rata dibandingkan metode persediaan FIFO.4. hal ini berarti rasio perputaran persediaan berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pemilihan metode persediaan. Hal ini merupakan bukti adanya upaya untuk memperoleh penghematan pajak bagi perusahaan besar dan upaya untuk memperoleh pinjaman yang besar dari bank maupun lembaga keuangan lainnya bagi perusahaan kecil.4. dkk. Penelitian ini juga menemukan bukti bahwa nilai mean rasio perputaran persediaan bagi perusahaan yang menggunakan metode FIFO lebih besar daripada perusahaan yang menggunakan metode rata-rata.1. (2003) yang memberikan hasil bahwa struktur kepemilikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pemilihan metode persediaan. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Taqwa. berdasarkan analisis statistik deskriptif menunujkkan bahwa nilai mean ukuran perusahaan yang menggunakan metode FIFO lebih kecil daripada dari perusahaan yang menggunakan metode rata-rata.57 diterima.

Hal ini sesuai dengan teori yang ada dimana perusahaan besar cenderung memilih metode rata-rata yang dapat menurunkan laba. perusahaan yang menggunakan metode rata-rata memiliki indikasi inventory turnover yang tinggi. Rasio Perputaran Persediaan Hasil pengujian regresi logistik menunjukkan bukti bahwa rasio perputaran persediaan berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pemilihan metode persediaan.4. dkk (2004) yang menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap pemilihan metode persediaan.4. Namun kenyataan pada penelitian ini. Rustardy. sebaliknya perusahaan yang menggunakan metode FIFO mempunyai indikasi inventory turnover yang rendah.58 4. diperoleh hasil bahwa perusahaan yang menggunakan metode FIFO . sedangkan pada perusahaan kecil cenderung memilih metode FIFO agar dapat meningkatkan laba. sehingga akan memberikan gambaran kinerja yang bagus.3. Tetapi sebaliknya. Dengan demikian kemungkinan mendapatkan dana dari bank atau lembaga keuangan lainnya semakin besar. Kenyataan yang dihasilkan pada penelitian ini adalah perusahaan besar cenderung memilih menggunakan metode persediaan rata-rata dibandingkan metode FIFO. Berdasarkan teori. Mukhlasin (2002). 4. Ukuran Perusahaan Hasil pengujian regresi logistik pada penelitian ini memberikan bukti bahwa ukuran perusahaan berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pemilihan metode persediaan. Penelitian ini mendukung penelitian Taqwa. hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian Abdullah dan Djalil (2004). dkk (2003).2.

59 memiliki indikasi inventory turnover yang rendah dan perusahaan yang menggunakan metode rata-rata sebagian perusahaan memiliki indikasi inventory turnover yang tinggi dan sebagian lagi memiliki inventory turnover yang rendah. Hal ini dikarenakan perusahaan yang menggunakan metode rata-rata pada penelitian ini ada yang memiliki persedian akhir yang tinggi. hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian yang dilakukan Rustardy. sehingga memiliki inventory turnover yang rendah. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Mukhlasin (2002) yang menyatakan bahwa rasio perputaran persediaan mempengaruhi pemilihan metode persediaan. Sebaliknya. dkk (2004). .

beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah : a. c.BAB V PENUTUP 5.1. sebaliknya perusahaan yang menggunakan metode FIFO mempunyai indikasi inventory turnover yang rendah. b. Hal ini disebabkan karena dari data yang diperoleh hanya 28 % manajer yang memiliki saham pada perusahaan. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan. Perusahaan yang menggunakan metode rata-rata memiliki indikasi inventory turnover yang tinggi. sedangkan perusahaan kecil cenderung menggunakan metode FIFO yang dapat menaikkan laba. Perusahaan besar cenderung menggunakan metode rata-rata yang dapat menurunkan laba. Hasil pengujian dengan regresi logistik menunjukkan bahwa struktur kepemilikan tidak berpengaruh terhadap pemilihan metode persediaan. Hasil pengujian dengan regresi logistik menunjukkan bahwa rasio perputaran persediaan berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pemilihan metode persediaan. Pengujian regresi logistik terhadap variabel ukuran perusahaan berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap pemilihan metode persediaan. Hal ini dikarenakan perusahaan yang menggunakan metode rata-rata pada penelitian ini ada yang memiliki 60 . Namun sebagian perusahaan yang menggunakan metode rata-rata pada penilitian ini ada yang memiliki indikasi inventory turnover yang rendah.

Saran-saran Beberapa saran yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Dalam hal pemilihan metode persediaan.2. Sedangkan pada perusahaan kecil. Sehingga dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan dan meningkatkan nilai perusahaan. Perusahaan yang menggunakan metode rata-rata memiliki indikasi inventory turnover yang tinggi. Perusahaan besar untuk dapat melakukan penghematan pajak dapat menggunakan metode rata-rata yang dapat menurunkan laba. sehingga memiliki inventory turnover yang rendah. Hal ini dikarenakan perusahaan yang menggunakan metode rata-rata pada penelitian ini ada yang memiliki persediaan akhir yang tinggi. sebaliknya perusahaan yang menggunakan metode FIFO mempunyai indikasi inventory turnover yang rendah.61 persediaan akhir yang tinggi. hendaknya manajer memilih metode yang tepat bagi kondisi perusahaan dengan memperhatikan faktorfaktor yang mempengaruhi pemilihan metode persediaan. untuk dapat memperoleh dana dari bank atau lembaga keuangan lainnya dapat memilih menggunakan metode FIFO yang dapat meningkatkan laba yang akan dapat memberikan gambaran kinerja yang bagus bagi perusahaan. 5. . Namun sebagian perusahaan yang menggunakan metode rata-rata pada penilitian ini ada yang memiliki indikasi inventory turnover yang rendah. sehingga memiliki inventory turnover yang rendah.

No. Djalili. 1999. Mohammad. 2. Mukhlasin. Ratnasari. Vol. Ikatan Akuntan Indonesia. . Agstus 2004. 2. Hal. Juranal Maksi. Metode Penelitian. Lincoln. ‘Analisis Pemilihan Metode Akuntansi Persediaan berdasarkan Richardian Hipotesis’. ‘Pengaruh Penerapan Metode Akuntansi Persediaan terhadap Market Value Perusahaan pada Emiten di . Ismiyanti. Dwi dan Rfka Jliaty. Vol. Soeratno dan Arsyad. Jakarta: Ghalia Indonesia. Maksi : Vol. Standar akuntan Indonesia. 8. Risiko dan Kebijakan Keuangan: Analisis Persamaan Simultan ‘. Metode Riset Akuntansi . 176-179. No. 2. Nazir.’Struktur Kepemilikan. 2. Yogyakarta: UUP AMP YKPN. 1. Hanafi. 1090-1101. 2002. Dan Kurnia. 1999. Jakrta: Salemba Empat. Metodologi Penelitian. hal. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. 3. 21-39. Vol. Baridwan. Jakarta : Erlangga. Hal. Zaki. hal. Prastowo. Vol. Simposium Akuntansi Nasional Akuntansi VII. ‘Apakah Metode FIFO dan Rata-rata memang Berbeda : Bukti Empiris dari Bursa Efek Jakarta . Ghozali. 2003. dan Pengarhnya terhadap Kepemilikan Sahan Institsional (studi pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta)’.62 DAFTAR PUSTAKA Abdullah.. Hal. 2002. 2000. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. 19. No. Abdul Rohman. Vol. Wiliyanto. Rustardy. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Imam. Anissa. No. ‘Kepemilikan Manajerial. Syukriy dan Muslim A. Intermediate Acconting. Analisis Laporan Keuangan (Konsep dan Aplikasi). 2004. hal. 2. hal 151172. Kebijakan Hutang.. Faisal. Bursa Efek Jakart’a’. Auditing dan Informasi’. 83-99. Tarmizi Achmad. 2004. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia’. 175-190. 2005. 2005. 98114. Nur. ‘Analisis Agency Cost. 2003. Yogyakarta: UUP AMP YKPN.’Pemilihan Metode Akuntansi Persediaan dan Pengaruhnya terhadap Earning Price Ratio’. Fitri dan Mamduh M. 4. 2002. Struktur Kepemilikan dan Mekenisme Corporate Governance’. Listyani dan Theresia Tyas.

Akuntansi Keuangan Menengah (volume Komprehensif).63 Skousen.. Widyastuti. Alfa Beta. 83-96. Sugiyanto. hal. hal. Akuntansi Intermediate Jakarta: Erlangga. Dan Daljono. Balance. 2004. Sidharta. Smith dan Skousen. James. (volume Komprehensif). Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. 2003. ‘Faktor-faktor yang mempengaruhi Pemilihan Metode Akuntansi Persediaan pada Perusahaan Manufaktur di BEJ’. Taqwa. hal. 1992.. D. Fred. 100118. K. 2000. 2001. Vol. Utama. Sugiyono. Salma.1-12. Jakarta: Salemba Empat. Metode Pnelitian Bisnis. FX. No. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. ‘Teori dan Riset Akuntansi Positif : Suatu Tinjauan Literatur’. 2004. Etty. ‘ Konflik Kepentingan Kepemilikan Manajer pada Pemilihan Metode Akuntansi Persediaan’. 2. 1. 1. Vol. . Stice.

64 .

65 .

66 .

8 .52268 .4627 19.8 84.46546 Metode Persediaan Rata-rata Descriptive Statistics N UP RPP Valid N (listwise) 76 76 76 Minimum 7008. Deviation 1682701.0 44.15 Maximum 10259156.5733 5.67 Lampiran 3 Output SPSS Statistik Deskriptif Descriptives Metode Persediaan FIFO Descriptive Statistics N UP RPP Valid N (listwise) 17 17 17 Minimum 41929.81 Maximum 964459.484 5. Deviation 298091.3158 Std.0179 Std.28 Mean 1174457.8 .06 Mean 289438.082 9.

463 c Estimation terminated at iteration number 4 because parameter estimates changed by less than .497 1.001.483 1.0 a If weight is in effect.0 .b) .0 100.b.225 88.68 Lampiran 4 Output SPSS Regresi Logistik Logistic Regression Case Processing Summary Unweighted Cases(a) Selected Cases Included in Analysis Missing Cases Total Unselected Cases Total N 93 0 93 0 93 Percent 100.0 100.466 88.269 1.c) Coefficients Iteration Step 0 -2 Log likelihood 1 2 3 4 89. b Initial -2 Log Likelihood: 88. see classification table for the total number of cases.463 Constant 1. Dependent Variable Encoding Original Value FIFO Rata-rata Internal Value 0 1 Block 0: Beginning Block Iteration History(a.463 88. Classification Table(a.498 a Constant is included in the model.0 .

.000 -.697 Constant 1.E.417 SP -.708 70. c Initial -2 Log Likelihood: 88.046 -.036 -.c.075 70.69 Observed Predicted Metpersed FIFO Percentage Correct .580 . . Block 1: Method = Enter Iteration History(a.023 .063 -.b.7 Step 1 MetArsByPsd FIFO Rata-rata 0 0 Rata-rata 17 76 Overall Percentage a Constant is included in the model.142 -.051 7 70.556 4.186 71.155 df 1 Sig.029 -.000 .882 .050 -.560 73. Omnibus Tests of Model Coefficients .504 2. b The cut value is .d) Coefficients Iteration Step 1 -2 Log likelihood 1 2 3 4 5 6 83.0 100.261 1.471 Step 0 Variables SP UP RPP Score .0 81.000 .000 .456 .032 UP .498 Variables not in the Equation(a) Step 0 Constant S.268 Wald 31.013 .000 . .773 df 1 1 1 Sig.144 -.001.697 .244 .034 .040 -.032 .463 d Estimation terminated at iteration number 7 because parameter estimates changed by less than .416 .051 a Method: Enter b Constant is included in the model.000 RPP -.173 77.000 Exp(B) 4.500 Variables in the Equation B 1.000 .442 .096 a Residual Chi-Squares are not computed because of redundancies.

607 1.000 Model Summary -2 Log likelihood 70.7 .834 .697 Cox & Snell R Square .630 7.907 11.801 8.766 17.798 df 8 Sig.7 81.408 . .166 8.093 .393 7.500 1 1 Rata-rata 16 75 Percentage Correct 5.394 3.270 6.005 MetArsByPsd = Rata-rata Observed 6 3 5 8 8 9 8 8 9 12 Expected 4.174 Nagelkerke R Square .9 98.995 Total 9 9 9 9 9 9 9 9 9 12 Classification Table(a) Observed Predicted MetArsByPsd FIFO Step 1 MetArsByPsd FIFO Rata-rata Overall Percentage a The cut value is . .592 8.000 .000 .641 6.766 17.283 Step 1 Hosmer and Lemeshow Test Step 1 Chi-square 8.606 5.730 2.766 df 3 3 3 Sig.360 Contingency Table for Hosmer and Lemeshow Test MetArsByPsd = FIFO Observed Step 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3 6 4 1 1 0 1 1 0 0 Expected 4.370 1.70 Step 1 Step Block Model Chi-square 17.199 .359 2.

297 1.000 -.175 .048 .895 .026 . UP.E.175 1.960 .000 . .416 S.448 Exp(B) 1.140 SP -.000 .085 -.390 3.555 -.000 -.549 Wald .555 1.011 . RPP.032 . Correlation Matrix Constant 1.654 -.032 1.000 .71 Variables in the Equation B Step 1(a) SP UP RPP Constant .085 UP -.517 a Variable(s) entered on step 1: SP.297 RPP -. .000 Step 1 Constant SP UP RPP .951 1.654 .051 .140 .000 -.632 .576 df 1 1 1 1 Sig.003 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful