DISAIN PENGUATAN PERAN DAN FUNGSI DPRD

Daftar Isi Bab I Pendahuluan Bab II Arah Demokrasi Baru, Reformasi Keterwakilan dan Pengaruhnya terhadap Kapasitas Keparlemenan Bab III Pemilihan Langsung dan Akuntabilitas Wakil Rakyat Bab IV Menjadi Wakil Rakyat dalam Konteks Otonomi Daerah Bab V Menjembatani dan Mengelola Berbagai Kepentingan Politik Publik Bab VI Memahami Fungsi dan Tugas Wakil Rakyat Bab VII Membangun Lembaga Perwakilan di Daerah yang Berwibawa Bab VIII Membangun Aliansi Strategis dan Memenangkan Kepentingan Rakyat Rasionalisasi thd Rancangan Sistematika Modul sebelumnya 1. Pengantar a. Substansi setiap bab b. Alur kerja yang menghubungkan semua komponen di tiap fungsi ( yg ada dalam setiap modul)- gambarkan dalam bagan utama 2. Pengertian dan Prinsip Dasar (Masing-masing fungsi): Rujukan regulasi muncul dalam sub bab ini. Sajikan juga alat peraga, misal, dalam bentuk formulir isian dari setiap tema penting beserta cara pengisiannya Bab ini cenderung normatif saja: legislasi, penganggaran, dan pengawasan yang baik sesuai peraturan perundangan a. Konsepsi dasar dari substansi b. Jenis dan ruang lingkup substansi c. Ukuran dari derajat substansi d. Mekanisme bekerjanya substansi e. Faktor-faktor yang mempengaruhi bekerjanya substansi 3. Problem dasar implementasi substansi a. Limitasi regulasi b. Limitasi teknokratis administratif c. Limitasi konteks lokal 4. Insentif dan Strategi a. Insentif implementasi substansi b. Strategi implementasi substansi 5. Lampiran2 a. Formulir-formulir isian yang muncul di bab II b. Direktori perundang-undangan pada masing-masing fungsi

Bab I PENGANTAR Problematika Struktural: Konstruksi dan Format DPRD 2009  Posisi DPRD dalam Pemilu Langsung dan Relasinya dengan Partai Politik  Kendala Struktural Optimalisasi Tugas dan Fungsi DPRD Problematika Kapasitas Kelembagaan: Organisasi dan Keanggotaan DPRD  Kapasitas Organisasi DPRD  Kapasitas Individual Anggota DPRD Mendesain Penguatan Kapasitas DPRD  Anggota DPRD: Kombinasi Politisi dan Teknokrat  Prinsip Dasar Penguatan Kapasitas Organisasi DPRD  Prinsip Dasar Penguatan Kapasitas Anggota DPRD Alur Penguatan Fungsi dan Peran DPRD  Berdasarkan Optimalisasi Fungsi DPRD (Bagan besar)  Berdasarkan Optimalisasi Alat Kelengkapan  Berdasarkan Optimalisasi Lembaga Pendukung (Setwan dan Tenaga Ahli)  Berdasarkan Optimalisasi Kekuatan Masyarakat dan Media Indikator DPRD yang Berkualitas Nominal dan substansial Hubungan Antara DPRD dan Pemerintah Daerah Bagan hubungan dalam struktur fungsi umum dan sisi teknokratisnya. Tantangan dan Hambatan dalam Implementasi Desain Penguatan Fungsi dan Peran DPRD (yang dianjurkan dalam modul ini)  Tantangan o Waktu: bekal awal tidak cukup tdk ada kaderisasi di parpol o Ruang: berhadapan dengan struktur sistemik dan pragmatisme individual  Hambatan o Waktu: o Ruang: Insentif dan Strategi Penguatan Fungsi dan Peran  Insentif agar ini DPRD Membangun Penguatan Fungsi dan Peran o Kepercayaan Masyarakat dan Pemenuhan Janji: Menyelamatkan masa depan politik elektoral o Mempersiapkan Pemilu selanjutnya dan Merintis Karir Politisi ke level Provinsi dan Pusat o Insentif ekonomi (reward DPRD ditentukan oleh besaran PAD) o  Strategi yang bisa dilakukan o o Lampiran

Pengantar Modul Program pelatihan DPRD sudah banyak dilakukan, baik yang difasilitasi oleh kalangan universitas, lembaga pelatihan profesional, lembaga donor, maupun oleh kalangan organisasi masyarakat sipil. Namun, banyak dari pelatihan tersebut seringkali tidak disiapkan dengan capaian strategis dan taktis yang terarah untuk menjawab tantangan kongkrit dari DPRD. Belum lagi, ada kecenderungan dari lembaga-lembaga penyelenggara pelatihan tersebut untuk melihat problema DPRD di semua daerah secara seragam sehingga materi pelatihannya cenderung terlalu umum, abstrak, teoritis, dan tidak menyentuh secara mendalam masalah-masalah riil yang dihadapi oleh DPRD. Akibatnya, hasil pelatihan seringkali tidak memiliki dampak perubahan yang jelas, kecuali sekedar tambahan pengetahuan atau menebalkan kesadaran terhadap peran DPRD sebagai wakil rakyat. Hasil pelatihan akhirnya akan sangat sulit diukur keberhasilannya. Hal tersebut bukan tidak penting, namun harus dipertajam lagi seiring dengan kebutuhan anggota DPRD yang dituntut bukan hanya memiliki keahlian sebagai politisi namun juga memiliki kapasitas teknokratis-administratif dalam urusan pemerintahan daerah. Kapasitas teknokratis-administratif menjadi vital karena, dalam semua urusannya, DPRD harus berinteraksi dengan pemerintah daerah (eksekutif) yang logika kerjanya selalu didasarkan pada pranata ini. Tanpa penguasaan terhadap wilayah ini, niscaya DPRD tidak akan mampu menjalankan peran dan fungsinya secara optimal. Ini terjadi bukan karena anggota DPRD tidak memiliki keinginan, namun seringkali karena tidak memiliki keahlian dan alat kerja yang mencukupi dalam pelaksanaan fungsinya baik sebagai pengarah, mitra, dan pengawas bagi pemerintah daerah. Modul pelatihan ini ingin mengubah kecenderungan di atas dan menawarkan Pelatihan DPRD berbasis Riset . Oleh sebab itu, nilai lebih yang dapat ditemukan dalam modul ini adalah sebagai berikut: 1. Modul ini tidak hanya memberi perspektif perubahan, namun juga menunjukkan pilihan-pilihan yang realistis dilakukan; 2. Modul ini tidak hanya menunjukkan berbagai peraturan perundangundangan terkait pelaksanaan fungsi dan peran DPRD, namun juga memberikan alat kerja agar DPRD dapat menjalankan fungsi dan perannya dengan jelas dan tepat; 3. Modul ini tidak hanya menunjukkan masalah, namun juga cara memecahkan masalah; dan 4. Modul ini tidak hanya memberi panduan agar pelaksanaan fungsi dan peran anggota DPRD sesuai aturan perundang-undangan, namun juga memberikan kerangka kerja kritis dan inovatif dalam merancang perubahan. Singkat kata, program penguatan dan pengembangan kapasitas DPRD hanya bisa berarti jika didasarkan pada kondisi umum DPRD di Indonesia dan kondisi khusus masing-masing daerah sekaligus yang dihadapi oleh masing-masing DPRD. Meski fungsi dan tugasnya sama, tantangan yang dihadapi oleh setiap DPRD sangat variatif. Konsekuensinya, hasil dari setiap pelatihan DPRD hanya akan optimal jika didasarkan pada kebutuhan dari masing-masing daerah.

dan DPRD tidak mengubah format dasar pengaturan DPRD yang sebelumnya diatur dalam UU No. Pertama. format DPRD menyangkut kedudukan. tugas paling awal dari setiap pelatihan DPRD adalah memastikan bahwa setiap anggota DPRD menguasai dan memahami tugas dasarnya sebagai wakil rakyat. dan pengawasan. Merespon kendala ini. yaitu kemampuannya menelurkan berbagai kebijakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat luas. dst. DPR. tugas. anggaran.. Kesemuanya ini pada gilirannya harus bisa ditransformasikan secara kelembagaan sehingga sustainabilitas kualitas DPRD terjaga meskipun terjadi pergantian anggota DPRD (pergantian antar waktu. anggota DPRD 2009 dipilih melalui pemilihan langsung dengan mekanisme suara terbanyak. Tantangan paling awal bagi kelembagaan DPRD hasil Pemilu 2009 adalah karena resikonya sebagai lembaga perwakilan yang dipilih secara berkala.. anggota DPRD 2009 memiliki tingkat representasi politik yang lebih baik dari sebelumnya.. 27/2009 tentang MPR.. tanpa harus memperhatikan nomor urut pencalonan. Mereka ini tentu membutuhkan adaptasi terlebih dahulu.. representasi politik saja tidaklah cukup. pelatihan-pelatihan berbasis keahlian-keahlian tertentu bisa dilakukan sebagai tambahan soft skill agar dinamika kerja DPRD dapat berkembang. Baru setelahnya. terlebih bagi politisi yang sedari karirnya di partai politik tidak memiliki atau tidak diberi bekal pemahaman yang jelas tentang pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD dalam kerja sehari-hari. 10/2008 dan sistem kepartaian sebagaimana diatur dalam UU No. Namun. pergantian periode). Ini bisa dicukupi melalui pelatihan terkait penguatan kapasitas dan peran anggota DPRD dalam menjalankan fungsinya di bidang legislasi. tugas. yaitu kenyataan sebagian anggotanya belum memiliki pengalaman menjabat. Terkait DPRD. serta kritis dan inovatif.. dan fungsi DPRD sebagaimana diatur dalam UU No. PP tentang protokoler dan keuangan. Perubahan ini dilakukan karena . Antisipasi perbedaan mungkin akan dapat dilihat nantinya dalam berbagai PP turunan UU ini. seperti PP tentang perumusan tata tertib DPRD.. Posisi DPRD dalam Pemilu Langsung dan Relasinya dengan Partai Politik Berbeda dengan DPRD 2004.  . yaitu No. DPD. dan fungsi DPRD hasil pemilu legislatif 2009 dalam sistem pemerintahan daerah tidak berbeda jauh dengan periode sebelumnya. UU Susduk 2009.. 23/2003.. 2/2008. sebagai wakil rakyat. Not Italic Kedudukan.. Problematika Struktural: Konstruksi dan Format DPRD 2009 Ada dua hal penting untuk dicermati dalam melihat konstruksi dan format DPRD hasil pemilu 2009. Kedua. Kualitas anggota DPRD selanjutnya akan dilihat sejauhmana kemampuannya mempresentasikan diri sebagai wakil rakyat. Konsekuensinya.Bab I Pendahuluan Formatted: Font: +Body. konstruksi DPRD sebagai lembaga perwakilan dalam desain sistem pemilu sebagaimana diatur dalam UU No.... 27/2009. mampu merumuskan solusi permasalahan. PP ... perbedaan hanya terjadi pada .

Oleh karena itu. yang penting diingat adalah bahwa sistem pemilu yang dipakai untuk pemilu selanjutnya kiranya mau tidak mau akan tetap menggunakan pemilihan dengan mekanisme suara terbanyak. antara sebagai wakil rakyat dan wakil partai politik. ataupun dilakukan setelah adanya putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap. Namun demikian. Setelah terpilih. ketentuan terkait hal ini masih dapat diusulkan penggantiannya oleh partai menanti Peraturan Pemerintah yang politik (PAW). melalui fraksi dan pemegang kewenangan untuk mengusulkan penggantian anggota melalui penggatian antarwaktu (PAW). Fraksi adalah alat perpanjangan tangan dari partai politik untuk menjalankan agenda politiknya melalui DPRD. pelanggaran tata tertib. kedekatan anggota DPRD terhadap aspirasi dan kepentingan masyarakat justru akan menjadi kunci apakah dirinya akan dipilih atau tidak pada pemilu selanjutnya. Konsekuensinya. anggota DPRD tidak perlu khawatir sepanjang tetap berpegang pada nilai-nilai kebajikan publik. Di sini rasionalitas anggota DPRD akan diuji. anggota DPRD juga semestinya mampu membangun perimbangan terhadap kebijakan fraksi jika dinilai memperjuangkan kepentingan yang tidak selaras dengan kepentingan publik. DPRD harus berhadapan dengan realitas dalam dirinya. berpindah sebagai anggota partai lain. Usulan penggantian ini karena .Dalam konteks ini. Kewenangan ini patut dicermati mengingat selama ini sering menjadi pintu masuk dari partai politik untuk menertibkan wakilnya di DPRD yang dinilai melenceng dari garis Penggantian Antarwaktu (PAW) Selain karena melanggar aturan hukum kebijakan partai. yang tak jarang memiliki kepentingan yang berbeda. Usulan PAW baru bisa pidana. Pasal 383 ayat 2 huruf e dan h). seperti halnya pemilu 2009. Kontrol partai politik terhadap anggotanya juga terbilang kuat melalui mekanisme PAW (UU No. . Namun. Anggota DPRD 2009. Ini adalah konsekuensi UU Pemilu 2008 yang mempersempit ruang gerak bagi partai-partai yang tidak mampu mendudukkan wakilnya di DPR Pusat. antara mendekat ke partai politik yang lebih besar (untuk mempertahankan peluangnya pada pemilu selanjutnya maupun untuk merlanjutkan karir politiknya ke tingkat provinsi atau pusat) ataukah tetap bertahan di partainya saat ini. DPRD adalah wakil semua masyarakat. Anggota DPRD dihadapkan pada persoalan dilematis. Dalam konteks DPRD pidana dan tata tertib DPRD. Dalam konteks ini. Namun. Jika diberhentikan. Fraksi berwewenang . anggota DPRD sebenarnya tidak lagi semata menjadi wakil dari partai politik tertentu atau terbatas pada konstituennya saja.. anggota DPRD yang merisaukan kontrol dari partai politik bersangkutan dapat mengajukan keberatan sepanjang tidak melakukan tindak melalui pengadilan. Problem hubungan antara partai politik dan anggotanya di DPRD kiranya justru muncul pada anggota DPRD dari partai politik yang tidak lolos parliamentary threshold pada pemilu 2009 lalu atau yang suaranya relatif kecil di daerah yang bersangkutan. Meski kontrol partai terhadap anggotanya yang ada di DPRD tetap kuat yakni . faktor fundamental yang menentukan adalah kualitas personal dari anggota DPRD di hadapan masyarakat atau pemilih. 27/1999. anggota DPRD sudah semestinya menjadi agen perjuangan partai politik. anggota DPRD tidak perlu diberhentikan dari keanggotaan partai politik. atau karena anggota DPRD sampai saat ini belum diterbitkan. Anggota DPRD justru memiliki kewajiban agar terus mengawal kepentingan publik melalui fraksinya.

dan Catatan Atas Laporan Keuangan. secara struktural ada beberapa kendala dalam pengaturan kedudukan. terkait fungsi legislasi. Keberimpitan urusan pusat dan daerah dalam DAK juga ditunjukkan oleh pengaturan dalam Pasal 41 UU No. Namun. banyak perda yang kemudian dibatalkan oleh pemerintah pusat.Kendala Struktural Optimalisasi Tugas dan Fungsi DPRD Secara umum. Konsekuensinya. 32/2004 huruf b). dan fungsi DPRD sebagaimana diatur dalam UU No. Dalam konteks urusan yang menyangkut hubungan antara pemerintah pusat dan daerah. kedudukan. 27/2009 tidak berbeda jauh dari pengaturan sebelumnya di UU No. Bahkan. sebagai alat kelengkapan DPRD 2009. Laporan Arus Kas. terkait fungsi anggaran. Hanya saja. seperti Dana Alokasi Khusus dan Dana Darurat. agar dapat memastikan bahwa setiap produk perda nantinya dapat disetujui bersama pemerintah daerah dan tidak dibatalkan oleh pemerintah pusat (melalui Peraturan Presiden). namun dalam implementasinya program pembangunan yang didanai oleh DAK ini sebenarnya sangat berimpit dengan urusan daerah. Hal lain. DPRD tidak mampu mengawasi pelaksanaan perda secara maksimal karena wewenangnya tidak menjangkau sampai dengan pembatalan peraturan atau keputusan kepala daerah (hak legislasi di wilayah eksekutif) bilamana bertentangan dengan perda. terkait fungsi pengawasan. DPRD dapat mengoptimalkan Badan Legislasi. terlebih untuk mendapatkan DAK juga bisa diusulkan oleh pemerintah daerah (Pasal 162 UU No. terkait pengawasan pelaksanaan APBD. Dalam konteks optimalisasi fungsi legislasi. Kendala-kendala tersebut tidak lantas membuat DPRD tidak bisa berfungsi optimal. Kendala struktural tersebut adalah: a. anggaran dan pengawasan. dalam banyak kasus. Neraca. DPRD butuh mencari terobosan untuk menutupi potensi lubang-lubang kendala struktural ini. berdasarkan pengalaman sebelumnya. DPRD dapat terus-menerus melakukan memelopori negosiasi kepada pemerintah pusat terkait pembagian urusan yang lebih memberikan manfaat kepada daerah. persetujuan dan pengawasan DPRD terbatas pada wilayah APBD saja sehingga tidak memiliki ruang terhadap penggunaan anggaran non-APBD yang bersal dari pemerintah pusat. 23/2003 terkait pelaksanaan fungsi legislasi. Meskipun secara prinsip DAK adalah menjadi kewenangan pemerintah pusat. dan fungsi DPRD sebagai landasan agar DPRD dapat bekerja secara optimal. tugas. evaluasi DPRD terhadap kinerja pemerintah daerah sulit menyentuh aspek-aspek pengelolan kebijakan dari pemda (di setiap SKPD) pada tahap implementasi APBD. 33/2004 yang mensyaratkan adanya Dana Pendamping dari daerah terhadap DAK minimal sebesar 10 persen dari total proyek (kecuali untuk . Demikian halnya dengan terobosan di wilayah fungsi anggaran. tugas. dana insidental lainnya seperti bantuan masyarakat saat terjadi bencana alam juga tidak diatur sebagai kewenangan DPRD kecuali sebatas menerima laporannya dari pemerintah daerah. b. kewenangan DPRD seringkali terhambat karena ada produk-produk kebijakan nasional yang tidak memberikan keleluasaan kepada daerah. Selain itu. wewenang DPRD dalam menerima laporan pertanggungjawaban dari pemerintah daerah juga lebih dibatasi pada pembacaan angka-angka saja seperti tertuang dalam Laporan Realisasi  Anggaran. c.

23/2003 dan UU No. DPRD diharapkan bisa mengadvokasi kewenangannya bukan hanya terbatas pada alokasi dan pengawasan Dana Pendamping yang telah dimasukkan dalam komponen APBD. huruf c). Keduanya adalah Badan Legislasi Daerah dan Kelompok Pakar atau Tim Ahli. Selain itu. 27/2009 mengintrodusir dua komponen baru yang terdiri dari satu alat kelengkapan dan satu sistem pendukung bagi DPRD yang tidak ada dalam UU Susduk DPRD sebelumnya (UU No. pelaksanaan fungsi legislasi dan anggaran gagal dikonsolidasikan dalam satu agenda strategis jangka panjang dan berlangsung secara sporadis. 23/2003 (DPRD Kab/Kota) . alat kelengkapan yang tersedia hanya berbentuk kepanitiaan saja yang bekerja secara tentatif (ad hoc). persoalan lain yang tak kalah fundamental kapasitas kelembagaan dari DPRD 2009. pemantauan. alat kelengkapan maupun sistem pendukung yang tersedia pada DPRD sangat terbatas dan tidak terkonsolidir dalam satu kesatuan holistik pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. misalnya. Sedangkan terkait fungsi pengawasan. yaitu peraturan kepala daerah dan keputusan kepala daerah (Pasal 42 ayat 1. Keterlibatan DPRD sejak lebih awal tentu dapat mengurangi potensi sengketa materi hukum peraturan kepala daerah atau keputusan kepala daerah. Belum lagi berbagai perda yang sudah disahkan tiba-tiba dianulir atau dibatalkan oleh pemerintah pusat karena dinilau bertentangan atau menghambat implementasi berbagai produk pwerundang-undangan di tingkat nasional. DPRD dapat memperkaya evaluasi pertanggungjawaban implementasi APBD yang disampaikan oleh pemerintah daerah bukan hanya berbasis pada laporan keuangan namun juga mendasarkan pada capaian keberhasilan yang dirunut dari kinerja masing-masing SKPD. 27/2009 Pasal 353. Pada kasus ini. UU No. Perbandingan Alat Kelengkapan DPRD dan Unit kerja Lainnya antara UU No. 27/2009 UU No. Konsekuensinya.daerah dengan kemampuan fiskal yang rendah). DPRD dapat mencari terobosan dengan memperketat koordinasi.  Kapasitas Organisasi DPRD Pengalaman sebelum ini menunjukkan bahwa kapasitas organisasi DPRD masih belum memadai. UU No. Kapasitas kelembagan yang dimaksud di sini adalah menyangkut kapasitas organisasi DPRD . yaitu UU No. Dalam bidang legislasi dan anggaran. sehingga tidak perlu berujung pada reaksi penggunaan hak interpelasi dan hak angket. Problematika Kapasitas Kelembagaan: Organisasi dan Keanggotaan DPRD Selain persoalan kondisi struktural yang menjadi batas kerangka kerja DPRD di atas. Dalam UU Susduk yang lama. dan pengawasan terhadap pemerintah daerah terkait pembuatan dan implementasi produk legislasi yang menjadi wilayah eksekutif. produksi perda yang dihasilkan oleh DPRD relatif sangat sedikit. 23/2003). Tak heran.mencakup alat kelengkapan DPRD dan sistem pendukung DPRDmaupun kapasitas individual dari anggota-anggota DPRD dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. dalam konteks pengawasan APBD. 23/2003.

Perda yang sudah disahkan juga bisa diminimalisir potensinya dari pembatalan oleh pemerintah pusat ( perda bermasalah ) karena materi perda dapat disusun secara lebih hati-hati agar tidak bertabrakan dengan berbagai regulasi yang ada di tingkat nasional. Berbeda dengan Sekretariat DPRD yang difokuskan pada dukungan teknis. Badan Legislasi Daerah bekerjasama dengan semua komponen lain karena wewenang untuk mengajukan perda masih tetap bisa datang dari pemerintah daerah. Badan Legislasi Daerah. 27/2009. anggota DPRD. dan wewenang DPRD melalui berbagai kajian dan analisis terhadap berbagai bidang urusan DPRD Tugas dari Badan Legislasi Daerah ini sebenarnya tidak disebutkan secara tegas dalam UU No. dan pelaksanaan anggaran DPRD. g. d. b. dan menyusun legislasi daerah dalam kerangka yang programatik. e. keberadaan Kelompok Pakar atau Tim Ahli tak kalah strategis untuk memperkuat pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. Dalam menjalankan tugasnya. tugas. Masalah rancangan perda yang saling berhimpit antara yang diajukan oleh Pemda dan yang diajukan oleh inisiatif DPRD dengan demikian akan bisa teratasi sehingga proses pembuatan perda menjadi lebih terarah dan efektif. Melalui keberadaannya. Di sektor Sistem Pendukung. jika mengikuti tugas alat kelengkapan Badan Legislasi yang ada di DPR. legislasi daerah dapat disusun berdasarkan program legislasi daerah yang direncanakan dalam kurun waktu lima tahun (satu waktu masa keanggotaan) yang diterjemahkan ke dalam tahapan per tahun (setiap tahun anggaran) secara tepat. Keberadaan Badan Legislasi Daerah dengan demikian sangat strategis dalam konteks optimalisasi fungsi legislasi dari DPRD. atau alat kelengkapan DPRD lainnya. Membantu dan mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD dalam hal: Membantu alat kelengkapan DPRD dalam pelaksanaan fungsi. adminsitratif. Pimpinan. Komisi. merancang. c. Badan Anggaran. Badan Kehormatan.Alat Kelengkapan Sekretariat Dewan Kelompok Pakar atau Tim Ahli Tidak ada a. Badan Musyawarah. Namun. Alat kelengkapan lain yang diperlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna. Kelompok pakar atau Tim Ahli ini direkrut berdasarkan . f. maka Badan Legislasi Daerah dimaksudkan sebagai wadah khusus dalam kelembagaan DPRD yang berfungsi untuk mengkoordinir. Kelompok Pakar atau Tim Ahli ini dimaksudkan untuk memberikan dukungan substantif yang membantu alat kelengkapan DPRD dalam melaksanakan fungsinya. mengusulkan. mengkonsolidasikan.

Bahkan. dan Pakar/Tim Ahli. Tentukan standar pembiayaan Kelompok DPRD untuk membiayai Pakar/Tim Ahli. keberadaan Kelompok Pakar atau Tim Ahli diharapkan mampu menambal kebocoran sistemik ini. Penentuan target hasil kerja dari Kelompok Pakar atau Tim Ahli Selanjutnya. hanya . Pastikan pengaturan hal-hal di atas ada deskripsi tugas (job description) dalam Peraturan Tata tertib DPRD yang jelas dari Kelompok Pakar atau Tim Ahli. dialokasikan dalam anggaran 3. Melalui keberadaan Kelompok pakar atau Tim Ahli. fungsi. Penentuan mekanisme rekrutmen 5. Kelompok Pakar/Tim Ahli. pengaturan terhadap hal-hal di atas sangat penting untuk dilegalisasi secara formal yang bisa menjadi bagian dalam Peraturan DPRD tentang Tata Tertib DPRD. Tentukan mekanisme rekrutmen yang terbuka dan kriteria seleksi yang jelas dari Tim Ahli. Keterbatasan kemampuan daerah untuk membiayai Kelompok keuangan daerah yang Pakar/Tim Ahli. Tentukan prioritas kebutuhan pekerjaan DPRD yang membutuhkan yang memutuhkan dukungan Kelompok dukungan dari Kelompok Pakar Pakar/Tim Ahli untuk masing-masing alat atau Tim Ahli.. Ada beberapa keterbatasan yang sangat mungkin mengganggu upaya DPRD mengoptimalkan keberadaan mereka ini. Oleh sebab itu. fungsi. kapasitas individual dari anggota DPRD selama ini cukup banyak yang terbilang belum memenuhi standar keahlian ataupun pengalaman agar dapat mewakili rakyat sebagai legislator. tak jarang ditemui anggota DPRD yang bahkan tidak memiliki sedikitpun pengalaman terkait bidang-bidang kerja yang harus ditangani oleh DPRD. Dari total . 6. Profil anggota DPRD periode 2004-2009 banyak diisi oleh mereka yang . diantaranya . 7. Tim Ahli. Jika dilihat berdasarkan ukuran tersebut. kebutuhan Kelompok Pakar atau 4. profik DPRD hasil Pemilu 2009 tampaknya belum berbeda jauh.kompetensinya dalam disiplin ilmu tertentu yang dibutuhkan oleh alat kelengkapan DPRD yang bertugas melakukan berbagai kajian dan analisis pada bidang-bidang yang menjadi urusan DPRD. 1. Tentukan target hasil kerja dari Kelompok 4. 3. Tentukan ukuran kemampuan keuangan 2. anggota DPRD Kabupaten/Kota yang terpilih. Penentuan prioritas kebutuhan terhadap pekerjaan-pekerjaan Pembentukan Kelompok Pakar/Tim Ahli 1. Kebutuhan adanya Kelompok pakar atau Tim Ahli sudah dirasakan selama ini untuk memperkuat kelembagan DPRD. 5. Ini mengingat keberadaan anggota DPRD yang berasal dari beragam latar belakang dengan kapasitas dan keahlian yang berbeda-beda. Tentukan tugas. Hanya saja. Tak dapat dipungkiri. dan deskripsi dan seleksi Kelompok Pakar atau tugas dari Kelompok Pakar/Tim Ahli. ini memang konsekuensi logis dari masih lemahnya sistem rekrutmen politik anggota DPRD yang berpadu dengan belum matangnya rasionalitas publik pemilih untuk memilih calon anggota DPRD yang berkualitas. keberadaan Kelompok Pakar atau Tim Ahli ini bisa saja menjadi tidak efektif. 2.  Kapasitas Individual Anggota DPRD Sama halnya. Penentuan tugas. diharapkan DPRD mampu lebih optimal menjalankan fungsinya. kelengkapan.

mengajukan pertanyaan.d a hak menyatakan pendapat (Pasal . dan masyarakat luas. akan ada keterbatasan dari anggota DPRD untuk mengetahui secara mendetail semua masalah. Aspek detail dari kesemua ini dapat didukung oleh masukan dari pemerintah daerah. imunitas. mengingat keterbatasan waktu jabatan yang hanya lima tahun. dan memiliki perspektif strategis bagi pembangunan daerah. mengajukan rancangan peraturan daerah kabupaten/kota. dan i. 27/2009) . g. . h. Ini juga bukan lantas menafikan kemampuan anggota DPRD untuk bisa beradaptasi. tantangan. hak angket. Kendala ini sebenarnya sudah harus diantisipasi dengan mengaktifkan peran partai-partai politik untuk melakukan program-program kaderisasi yang jelas bagi anggotanya agar siap saji saat mejadi anggota DPRD. maka kompoasisinya lebih banyak didominasi oleh . Hak Anggota DPRD terkait fungsinya adalah hak interpelasi.Paling tidak. namun yang tak mungkin ditawar lagi adalah bahwa anggota DPRD sudah semestinya memliki pemahaman dan kemampuan untuk meletakkan grand design dalam semua kebijakan daerah. akademisi.. c. b. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas. Dalam organisasi DPRD sekarang. menyampaikan usul dan pendapat. f. d. sehingga program-program peningkatan kapasitas anggota DPRD selanjutnya dapat lebih difokuskan pada pembelajaran dan penyelesaian berbagai masalah-masalah kongkrit yang dihadapi oleh DPRD di setiap daerah. Fakta ini memang tidak serta merta menjadi dasar untuk mengatakan bahwa kapasitas dari anggota DPRD tidak mumpuni. 27/2009). Hanya saja. hambatan ini semestinya sudah harus diminimalisir. Hak Anggota DPRD Kabupaten/Kota (Pasal 350 UU No. memilih dan dipilih. Efektifitas DPRD dalam melaksanakan peran dan fungsi utama mereka tergantung pada kapasitas para anggotanya dalam membuat kebijakan untuk menjawab kebutuhan. keahlian dasar sebagai seorang anggota DPRD sudah dimiliki sebelum menjabat. Tentu saja. membela diri. protokoler. kelompok-kelompok profesional. anggota DPRD dapat memanfaatkan yang optimal dari Kelompok Pakar atau Tim Ahli dan Sekretariat DPRD yang menjadi bagian dari sistem pendukung organisasi DPRD. keuangan dan administratif. Jika dilihat dari komposisi antara incumbent (sudah/pernah menjabat sebagai anggota DPRD) dan anggota baru.yang memiliki basis pendidikan sarjana . UU No. e. Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a.

ayat (2).Koordinasi dan sinergi pelaksanaan agenda dan kegiatan dari alat kelengkapan DPR D . membahas Badan Musyawarah dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK yang berkaitan dengan ruang lingkup tugasnya. dan mitra kerja komisi ditetapkan dengan keputusan DPR.memberikan pendapat kepada pimpinan c. tugas. Badan Musyawarah. (6) Keputusan dan/atau kesimpulan . dan/atau . alat kelengkapan dibantubersama-sama dengan Pemerintah (KUA) oleh sekretariat. Pimpinan. kepada alat kelengkapan DPRD untuk (5) Komisi menentukan tindak memberikan penjelasan mengenai lanjut hasil pelaksanaan tugas komisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). baik yang sudah maupun yang komisi. baik sesama pengawasan adalah: (3) pihak komisi di bidang lembaga negara maupun lainnya a. rapat kerja wewenang DPRD dengan menteri atau rapat dengar pendapat dengan pejabat Pemerintah yang mewakili instansinya yang tidak termasuk dalam ruang lingkup tugasnya apabila diperlukan.Membahas dan tata cara alokasi anggaran untuk fungsi. 3 (tiga) untuk DPRD yang beranggotakan 20-35 orang dan 4 (empat) komisi untuk DPRD yang beranggotakan 36-50 orang. Fungsi Pokok di bidang anggaran: g. Hasil sinkronisasi ini dapat disempurnakan kembali oleh komisi sebelum kemudian diserahkan Pimpinan kembali kepada Badan Anggaran sebagai bahan akhir penetapan APBD. . c. Fungsi Pokok e. raperda b.Mewakili DPRD dalam berhubungan dengan lembaga Tugas luar. Badan Anggaran. wewenang dan mekanisme . konsultasi dengan DPD. dan Fungsi Pokok d. Badan Kehormatan. Komisi. yangd. ayat masing-masing. pelaksanaan tugas(3). melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang -undang. susunan. kunjungan kerja. c. rapat dengar pendapat umum. serta peraturan pelaksanaannya yang termasuk dalam ruang lingkup tugasnya.Membahas laporan keuangan kabupaten/kota tentang tata tertib.bidang legislasi: Fungsi Pokok di . Badan Legislasi Daerah. mengenai jumlah komisi.menetapkan agenda persidangan beserta (4) Komisi dalam melaksanakan tugas perkiraan waktu dan memberi masukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b.Membahas dan mengajukan usul penyempurnaan RAPBD (3) Ketentuan mengenaimenetapkanpembentukan. termasuk APBN.Gambarkan bagan yang menghubungkan antar alat kelengkapan DPRD Kabupaten/Kota (Pasal 353) ini!!! Komisi a. melakukan pengawasan terhadap kebijakan Pemerintah. .Pembicaraan pendahuluan mengenai penyusunan RAPBD bersama Pemerintah (KUA) (2) Dalam menjalankan tugasnya. . serta tugas dan . Fungsi Pokok Pokok di bidang pengawasan: Fungsi . Komisi DPRD berjumlah b. Alat kelengkapan lain yang diperlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna. susunan. termasuk hasil audit keuangan oleh BPK Hasil pembicaraan dan pembahasan di atas disampaikan kepada Badan Anggaran untuk sinkronisasi. menyangkut pelaksanaan tugas dan e. baik atas permintaan komisi maupun atas permintaan pihak lain. (8) Komisi menyusun rancangan anggaran untuk pelaksanaan tugasnya sesuai dengan kebutuhan yang selanjutnya disampaikan kepada Badan Urusan Rumah Tangga. dan kegiatan SKPD yang wewenangmenjadi mitra kerja komisi (PPAS) alat kelengkapan DPRD kabupaten/kota diatur dengan peraturan DPRD . ruang lingkup tugas (7) Komisi membuat laporan kinerja pada akhir masa keanggotaan DPR. dan ayat (4). menyusun. Pasal 97 Jumlah. ayat (2). program. dan menyempurnakan raperda f. pemerintah daerah dan pelaksanaan APBD. ruang lingkup tugas. membahas dan menindaklanjuti usulan DPD.Menyiapkan. dan ayat (3).meminta dan/atau memberikan kesempatan f. .mengusulkan kepada rapat paripurna hasil rapat kerja komisi atau rapat kerja gabungan komisi bersifat mengikat antara DPR dan Pemerintah. dapat mengadakan: untuk penanganan suatu masalah atau a. d. rapat kerja dengan Pemerintah yang diwakili oleh menteri/pimpinan lembaga. Pasal 98 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. rapat menentukan garis kebijakan DPRD dalam dengar pendapat dengan pejabat Pemerintah yang mewakili instansinya. membahas. dan mitra kerja komisi belum terselesaikan untuk dapat digunakan sebagai bahan oleh komisi pada masa keanggotaan berikutnya.

Anggaran menurut perimbangan dan pemerataan jumlahDPR dan permulaan tiap-tiap fraksi pada permulaan masa keanggotaan Pasal 101 tahun sidang. banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh anggota komisiPasal 125 oleh komisi dengan memperhatikan yang dipilih Badan Legislasi berdasarkan prinsip musyawarah untuk satu kesatuan pimpinan perimbangan jumlah anggota dan usulan fraksi. DPD. (2) Susunan ditetapkankeanggotaan paripurna pada permulaan masa kean ggotan dalam rapat Badan Anggaran sebagaimana (2) Pimpinan Badanayat (1) terdiri atas anggota dari tiap -tiapdan paling dimaksud padapada permulaan atas 1 (satu) orang ketua DPR dan Legislasi terdiri tahun sidang. keanggotaan DPR Badan merupakan satu kesatuan pimpinan orang dan (2) Badan Legislasi Kehormatan berjumlah 11 (sebelas) yang bersifat kolektif dan kolegial. memberikan pertimbanganrapat paripurna dan/atau rapat alat kelengkapan fiskal secara umum dan prioritas anggaran untuk c.48 . tidak yang telah ditetapkan.Legislasi bertugas: a. dan di pilih dari ayat(2) Pimpinan Badan Anggaran terdiri atas 1yang dipimpin oleh (2) dilakukan dalam rapat Badan Legislasi (satu) orang Kehormatan berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan pimpinan DPR paling banyak 3 (tiga) orang wakil keterwakilan perempuan menurut ketua proporsional dengan memperhatikan ketua yang dan setelah penetapandari dan oleh jumlah anggota Anggaranfraksi. Ketentuan lebih dan untuk setiap tahun anggaran di lingkungan DPR dengan mempertimbangkansebagaimana DPD. mengoordinasi penyusunan program legislasi nasional antara DPR dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat Badan Pasal 127 dan AnggaranBadandipimpin oleh bertugas melakukan penyelidikan dan Pemerintah. urutan dan prioritas rancangan undang-undang besertatiaptiap perempuan 126 Pasal menurut perimbangan jumlah anggota alasannya untuk 1 (satu) masa keanggotaanlanjut mengenai tata cara pembentukan Badan fraksi. (1) Badan Anggaran bertugas: b. kebijakan menteri untuk menentukan pokok-pokok turut tanpa kepada pimpinan DPR. (1) Badan pimpinan DPR setelah penetapan susunan dan keanggotaan Badan . atau DPD di luar DPR yang bagi setiap kementerian/lembaga dalamberturut-turut tanpa alasan yang sah. Kehormatan pimpinan DPR setelah (1) yang c. e. pembulatan. . komisi.Badan Legislasi Pasal 100 (1) DPR menetapkan susunan dan keanggotaan Badan Legislasi pada Badan Anggaran permulaan masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun sidang. penetapan susunan pengaduan terhadap anggota karena: verifikasi atas dan keanggotaan usul DPR berdasarkan program prioritas melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal a. konsepsi rancangan undang-undang yang diajukan anggota. dan pemantapan Pasal 107 79. menyusun rancangan program legislasi nasional yang memuat daftar proporsional dengan mempertimbangkan keterwakilan Kehormatan. tidak dapat melaksanakan tugas secara b erkelanjutan atau gabungan berhalangan DPDPemerintah yang diwakili oleh 3 (tiga) bulan berturut komisi. (2) Pimpinan Anggaran merupakan satu kesatuan (3) Pemilihan pimpinan Badan Legislasi sebagaimana dimaksud pada Badan pimpinan yang bersifat kolektifyang kolegial. dan/atau . kelengkapan DPR yang pemerataan jumlah anggota tiap-tiap fraksi Pasal 124 pada permulaan masa Pasal 105DPR menetapkan susunan dan keanggotaan Badan Kehormatan (1) keanggotaan DPR memperhatikandan keanggotaan Badan (1) DPR menetapkan susunan perimbangan dan pemerataan jumlah anggota dengan dan pada permulaan tahun sidang. komisi. yang menurut perimbangan jumlah Kehormatan terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan 2 (1) Pimpinan BadanBadan anggota tiap-tiap fraksi. tidak lagi memenuhi syarat sebagai Pemerintah ketentuan peraturan perundangundangan mengenai pemilihan umum anggota DPR. (1) Pimpinan Badan Kehormatan merupakan mufakat dan proporsional dengan memperhatikan keterwakilan perempuan Pasal 106 bersifat kolektif dan kolegial. menyiapkan rancangan undang-undangBadan Anggaran. Pasal 104 (2) JumlahBadan Kehormatan oleh ditetapkan dalam rapat paripurna anggota Badan Legislasi DPR dan merupakan alat Badan Anggaran dibentuk menurut perimbangan danbersifat tetap. melakukan pengharmonisasian. dilakukan dalam rapat Badan Kehormatan yang dipimpin oleh proporsional . dipilihperimbangan anggota Badan tiap-tiap berdasarkan prinsip pimpinan Badan Kehormatandan (3) Pemilihan musyawarah untuk mufakat sebagaimana dimaksud pada Pasal 102 ayat (2). gabungan komisi. tertib. menyusun usulan anggaran. dan DPRD. b. dan oleh anggota (dua) orang wakil ketua. (3) Pemilihan pimpinan Badan Anggaran masukan dari tata Kehormatan diatur dalam peraturan DPR tentang b. membahas bersama sebelum rancangan undang-undang tersebut disampaikan keterangan apa pun. atau tetap sebagai anggota DPR selama a. susunan dan keanggotaan Badan Legislasi. d. anggota tiap-tiap fraksi pada permulaan masa (1) Pimpinan Anggota dan pada permulaan tahu n sidang. menetapkan pendapatan negara bersama calon anggota DPR sesuai dengan d. tidak menghadiri terhadap rancangan undang-undang yang diajukan olehacuan menjadi tugas dan kewajibannya sebanyak 6 (enam) kali dijadikan anggota.

anggota DPR. penetapan susunan (3) Pemilihan pimpinan1 (satu)sebagaimanadan dan BAKN terdiri atas BKSAP orang ketua dimaksud pada ayat (2) (2) Pimpinankeanggotaan panitia khusus. setelah anggota tiap-tiap kolegial. yang selanjutnya disampaikan kepada Badan Urusan laporan. parlemen BAKN. Pasal 102 tentang tata tertib. penelaahan sebagaimana dimaksud dalam huruf kerja sama antarparlemen. tentang tatab. memberikan saran disampaikan kepada DPR. Pasal 113 d. kolegial. tugas. termasuk organisasidan alat menetapkandan tindak lanjut hasil kerja panitia khusus. (1) Badan Legislasi bertugas: a. dan pemeriksaan BPK atas oleh BKSAP pada masa keanggotaan berikutnya. membuat laporan kinerja pada akhir masa keanggotaan baik Pasal 134 yang sudah maupun yang belum terselesaikan untuk dapat digunakan BURT c. menindaklanjuti hasil pembahasan komisi terhadap temuan hasil menyusun rancangan anggaran untuk pelaksanaan tugasnya sebagai bahan permintaan komisi. . permulaan masa keanggotaan DPR dan pada permulaan tahun sidang. susunan. anggota BAKN melaksanakan tugas tertentu dalam jangka waktu a. BPK yang dan a. mengoordinasikan kunjungan kerja alat kelengkapan DPR ke luar negeri. tugas. dan MPR pelaksanaan tugasnya sesuai Panitia khusus menggunakan anggaran untuk yang ditugaskan oleh pimpinan menjadi tamu b.rapat paripurna pada musyawarah untuk dan proporsional dengankhusus yang ada serta keterwakilan memperhatikan keterwakilan perempuan memperhatikan jumlahPimpinan BKSAP terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan paling banyak 3 (2) panitia permulaan masa jumlah anggota tiap-tiap fraksi. membina.Panitia Khusus Pasal 136 Badan Urusan Rumah DPR dan Panitia khusus dibentuk oleh Tangga merupakan alat kelengkapan DPR yang Pasal 131 bersifat sementara. 27/2009. mengembangkan. wewenang dan mekanisme kerja BKSAP diatur dengan peraturan DPR UU No. banyak 30 (tiga puluh) orang. kualitasdengan kebutuhan. menyampaikan laporan kinerja dalam rapat paripurna peraturan DPR wewenang dan mekanisme kerja panitia khusus diatur dengan DPR yang tentang masalah d. menerima kunjungan delegasi parlemen negara lain yang DPR berdasarkan diajukan kepada Musyawarah. menyampaikan hasil keputusan dan kebijakan BURT kepada setiap Pasal 141 (1) BAKN bertugas: c. BURT dalam rapat perimbangan dananggota 118 jumlah oleh DPRtiap -tiap paripurna menurut anggota dan merupakan alat Pasal disingkat BAKN. menyampaikan hasil (2) BKSAP a kepada komisi.diadakan untuk itu. Pasal Pasal 139 133 1 (satu)dilakukan dalam rapat BKSAP yang dipimpin oleh pimpinan DPR setelah orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh BURT bertugas: (1) Panitia khusus bertugasberdasarkan prinsip musyawarah untuk penetapan susunan dan keanggotaan BKSAP. Badan Kerja Keuangan Badan Akuntabilitas Sama Antar-Parlemen selanjutnya (2) Jumlah pemerataan ditetapkan Negara. melakukan penelaahan terhadap temuan hasil pemeriksaan e. (2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) DPR tentang tata tertib. internasional yang menghimpun penetapan susunan kelengkapan MPR berhubungan dengan masalah Pasal 140 keanggotaanyang dan/atau anggota parlemen negara lain. kebijakan kerumahtanggaan DPR. kolektif dan sidang. wewenang dan mekanisme kerja BURT diatur dengan peraturan Rumah Tangga. dengan kebutuhan yanghasil rapat Badan pimpinan DPR. hambatan pemeriksaan. berakhir atau karena termasuk pelaksanaan dan pengelolaanpimpinan DPR setelah bilateral dan kerja sama antara DPR dan parlemen dilakukan dalam rapat BAKN yang dipimpin oleh negara lain. yang ditetapkan oleh rapat paripurna. serta pelaksanaan tugasnya sesuai Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. (tiga) orang wakil ketua. Pasal masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun sidang. tugasnya dinyata kan selesai. atau usul kepada pimpinan DPR khusustertib. DPR. dan Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. susunan. yang bersifat kolektif danfraksi. permulaan masa keanggotaan DPR dan pada permulaan tahun sidang. Pasal 122 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. Pasal 121 d. (2) Pimpinan BURT terdiri atas 1 1 (satu) orang ketua dan paling ban yang dijabat (2) Pimpinan panitia khusus terdiri atas(satu) orang ketua(tujuh) orang oleh yak Pasal 119 (2) Anggota BAKN berjumlah paling sedikit 7 Ketua DPR dan paling banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari dan olehatas usul fraksi pimpinan yang bersifat (1) banyak 9 BKSAP merupakan satu kesatuan dananggota BURT berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat paling Pimpinan (sembilan) orang anggota panitia khusus dan oleh berdasarkanDPR yang ditetapkan dalam mufakat dan proporsional dengan prinsipkolektif dan kolegial. dan dimaksud pada ayat (3) Pemilihan pimpinan BAKN sebagaimanameningkatkan hubungan dalam huruf a. susunan. yang dipilih dari dan oleh anggota BKSAP (3) Pemilihan pimpinan BURT sebagaimana dimaksud pada ayat (2)(2) (3) Pemilihan pimpinan panitia khusus sebagaimana dimaksud pada ayat proporsional dengan berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan Pasal 112 dilakukan dalam panitia khusus yang dipimpin oleh pimpinan DPR dilakukan dalam rapat rapat BURT yang dipimpin oleh pimpinan DPR setelah memperhatikan keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah (1) Pimpinan BAKN merupakan satu kesatuan pimpinan penetapan susunan dan keanggotaan BURT. melakukan pengawasan terhadap Sekretariat Jenderal DPR (2) Panitia khusus bertanggung jawab kepada DPR. tiap-tiap fraksi. memberikan masukan kepada BPK dalam hal rencana kerja Pasal 135 BKSAP menyusun rancangan anggaran untuk penyajian dan pemeriksaan tahunan. tugas. DPD. sesuai dengan kebutuhan. anggaran DPR. dalam (1) BKSAP bertugas: anggota menurut perimbangan jumlah pelaksanaan kebijakan oleh DPR setelah DPR sebagaimana dimaksud (3) Panitia khusus dibubarkankerumahtanggaan jangka waktu penugasannya (2) persahabatan a. sidang. paripurna koordinasi dengan alat kelengkapan DPD (4) Rapatmelakukan maupun multilateral. Pasal 132 111 Pasal 138 (1) DPR (2) Jumlah anggota BKSAP ditetapkan dalam rapat paripurna menurut menetapkan susunan dan keanggotaan BAKN pada (1) Pimpinan BURT merupakan satu kesatuan pimpinan yang bersifat (1) Pimpinan panitia khusus merupakan satu kesatuan pimpinan yang bersifat perimbangan dan pemerataan jumlah anggota tiap permulaan masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun -tiap fraksi pada kolektif dan kolegial. tertentu menetapkandengan memperhatikan keterwakilan perempuan Pasal 120 mufakat b. dibentukjumlah anggota tiap -tiap fraksi pada perimbangan dan pemerataan (2) Jumlah anggota panitia khusus ditetapkan olehdan keanggotaanpaling pada permulaan (1) DPR menetapkan susunan rapat paripurna BKSAP kelengkapan DPR yang bersifat tetap.Akuntabilitas Keuangan Negara Badan (1) Pasal 137 DPR menetapkan susunan dan keanggotaan BURT pada permulaan Pasal 110 masa keanggotaan DPR dan keanggotaan panitia khusus berdasarkan (1) DPR menetapkan susunan dan permulaan tahun sidang. baik secara c. menyusun rancangan program legislasi nasional yang memuat daftar urutan dan prioritas rancangan undang-undang beserta alasannya untuk 1 (satu) masa keanggotaan dan untuk setiap tahun anggaran di lingkungan DPR dengan mempertimbangkan masukan dari DPD. yangfraksi. kerumahtanggaan DPR. tahun menurut perimbangan keanggotaan DPR dan permulaan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi.

b. melakukan pembahasan. Yang dimaksud dengan kelompok pakar atau tim ahli adalah sekelompok orang yang mempunyai kemampuan dalam disiplin ilmu tertentu untuk . dibentuk sekretariat DPRD kabupaten/kota yang susunan organisasi dan tata kerjanya ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. mengoordinasi penyusunan program legislasi nasional antara DPR dan Pemerintah. memberikan pertimbangan terhadap rancangan undang-undang yang diajukan oleh anggota. Kelompok Pakar atau Tim Ahli Pasal 399 (1) Dalam rangka melaksanakan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. memberikan masukan kepada pimpinan DPR atas rancangan undang-undang usul DPD yang ditugaskan oleh Badan Musyawarah. atau DPD sebelum rancangan undang-undang tersebut disampaikan kepada pimpinan DPR. mengikuti perkembangan dan melakukan evaluasi terhadap pembahasan materi muatan rancangan undang-undang melalui koordinasi dengan komisi dan/atau panitia khusus. h. (2) Sekretariat DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh seorang sekretaris DPRD kabupaten/kota yang diangkat dan diberhentikan dengan keputusan bupati/walikota atas persetujuan pimpinan DPRD kabupaten/kota. gabungan komisi. komisi. gabungan komisi. d. melakukan pengharmonisasian. pengubahan. dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang diajukan anggota. g. dibentuk kelompok pakar atau tim ahli. dan/atau penyempurnaan rancangan undang-undang yang secara khusus ditugaskan oleh Badan Musyawarah. f. membuat laporan kinerja dan inventarisasi masalah di bidang perundangundangan pada akhir masa keanggotaan DPR untuk dapat digunakan oleh Badan Legislasi pada masa keanggotaan berikutnya. dan i. e. atau DPD di luar prioritas rancangan undang-undang tahun berjalan atau di luar rancangan undangundang yang terdaftar dalam program legislasi nasional. c. (2) Badan Legislasi menyusun rancangan anggaran untuk pelaksanaan tugasnya sesuai dengan kebutuhan yang selanjutnya disampaikan kepada Badan Urusan Rumah Tangga. pembulatan. (3) Sekretaris DPRD kabupaten/kota dan pegawai secretariat DPRD kabupaten/kota berasal dari pegawai negeri sipil. Sistem Pendukung DPRD Kabupaten/Kota Sekretariat Pasal 398 (1) Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. komisi. menyiapkan rancangan undang-undang usul DPR berdasarkan program prioritas yang telah ditetapkan.

fungsi-fungsi DPRD hanya akan berjalan optimal jika anggotanya memiliki keahlian menerjemahkan Pembahasan RAPBD konsep-konsep strategis. Penugasan kelompok pakar atau tim ahli disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan daerah kabupaten/kota (2) Kelompok pakar atau tim ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat dan diberhentikan dengan keputusan sekretaris DPRD kabupaten/kota sesuai dengan kebutuhan atas usul anggota dan kemampuan daerah. Ini dibutuhkan karena. mendesak pemerintah agar bekerja lebih Kehendak politik tidak mungkin tercapai keras. o Apa dasar DPRD menilai target mampu melakukan kontrol yang optimal pemerintah terlalu rendah? terhadap kinerja pemerintah. adalah penilaian o Pemerintah bersikap jujur dengan DPRD terhadap Rencana Kerja dan melaporkan semua laporan keuangan Anggaran SKPD (RKA-SKPD) yang kepada DPRD diajukan sebagai dasar perumusan RAPBD. kemampuan ini dapat digunakan memadai. dalam praktek pemerintahan. Kelompok pakar atau tim ahli bertugas mengumpulkan data dan menganalisis berbagai masalah yang berkaitan dengan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. yang muncul Anggota DPRD menilai pemerintah terlalu sebagai kehendak politik DPRD. . DPRD dapat melakukan pengecekan melalui Pedoman Penyusunan RKA-SKPD yang disusun Bupati/Walikota untuk mengetahui apakah RKA-SKPD yang disusun telah mengikuti ketentuan dalam KUA dan PPAS. Namun. Secara politik.membantu alat kelengkapan dalam pelaksanaan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. o Data yang disajikan dinas pajak kepada Keahlian teknokratis dan dewan bukanlah keberhasilan faktual administratif ini bukan dimaksudkan o Pemerintah menyembunyikan selisih agar DPRD mengambil wilayah yang penerimaan PAD Karena tidak disajikan dengan data telah menjadi wewenang pemerintah. DPRD praktis. kritik ini dengan mudah ditanggapi dalam kerangka pengawasan agar DPRD oleh pemerintah. jika tidak mengetahui cara-cara o Masak tiap tahun targetnya stagnan mencapainya secara teknokratis dan o Targetnya selalu lebih rendah daripada realisasi tahun sebelumnya. keberatan ini tidak disertai data yang memadai dan langkah solusinya. programatik. (3) Kelompok pakar atau tim ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bekerja sesuai dengan pengelompokan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota yang tercermin dalam alat kelengkapan DPRD kabupaten/kota. ke dalam kecil merencanakan target pendapatan seperangkat aturan main yang lebih daerah dari sektor pajak. Sayangnya. Mendesain Penguatan Kapasitas DPRD  Anggota DPRD: Kombinasi Politisi dan Teknokrat Selain memiliki keahlian sebagai politisi. o DPRD tidak membuat kajian komprehensif terhadap potensi PAD Sebagai contoh. dan terukur. Ini kan sama memahami fisibiltas proseduralsaja bohong administratif yang ada. setiap anggota DPRD dituntut memiliki kemampuan sebagai teknokrat. Secara teknokrat-administratif.

dan pengawasan. Pemahaman terhadap hal di atas sangat diperlukan agar fungsi legislasi. sebagaimana diatur dalam PP No. maka penilaian DPRD. DPRD dapat mengeceknya melalui Kepala Daerah. 58/2005 ayat (35) s/d (40). wewenang. penganggaran terpadu. penilaian DPRD pada akhirnya diharapkan mampu mendesak dan memberikan solusi agar pemerintah daerah mampu bekerja lebih optimal. maka dapat digambarkan sebagai berikut: . maka berbagai potensi Kendala yang dapat menimbulkan tidak optimalnya pelaksanaan fungsi DPRD secara umum dapat diidentifikasi. 2) penggunaan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah.  Prinsip Dasar Penguatan Kapasitas Paham fungsi. yaitu menyangkut pelaksanaan fungsi legislasi. dapat dilakukan dengan mengeceknya melalui: 1) hasil evaluasi setiap kepala SKPD terhadap hasil pelaksanaan program dan kegiatan 2 (dua) tahun anggaran sebelumnya sampai dengan semester pertama tahun anggaran berjalan. kewajiban Paham teknokrasi kebijakan Sensitif terhadap adminsitasi pemerintahan Punya perspektif kuat: advokasi kepentingan masyarakat dan daerah Memperkuat jaringan aspirasi dan representasi publik -  Alur Penguatan Fungsi dan Peran DPRD Setelah menyimak format dan konstruksi DPRD 2009 di atas. Jika ketiga fungsi tersebut dikorelasikan dengan tugas dan wewenang DPRD serta hak DPRD. PPKD. penganggaran. tugas. dan Kepala SKPD. dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja dalam penyusunan RKA-SKPD.Dalam hal ini. dan pengawasan dari DPRD dalam konteks RAPBD dapat berjalan terarah dan menyentuh permasalahan. anggaran. Lebih dari statemen politis. Dengan mengikuti prinsip anggaran berbasis kinerja.

Kesesuaian RAPBD dengan KUA dan PPAS . pertimbangan dan persetujuan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional o Memberi persetujuan terhadap rencana kerja sama dengan daerah lain atau pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah o mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai ketentuan peraturan perundangundangan Advokasi Kewenangan o Evaluasi substantif RKA-SKPD o Advokasi dalam pembagian urusan pemerintah pusat dan pemerintah daerah Pengawasan Tugas dan Wewenang o Pengawasan Pelaksanaan APBD .Kesesuaian RAPBD dengan KUA dan PPAS .Legislasi Tugas dan Wewenang o Pengawasan Pelaksanaan APBD . dan Kewajiban o Mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian kepala daerah o Memilih wakil kepala daerah jika terjadi kekosongan jabatan o Menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen o menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat o mempertanggungjawabkan secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya Advokasi Kewenangan o Membangun beragam media komunikasi dan penjaringan aspirasi o Memaksimalkan rapat-rapat DPRD berlaku terbuka o Menyusun indikator keberhasilan tugas DPRD Tugas dan Wewenang o Penyusunan dan Pembahasan Perda o Pembahasan dan persetujuan RAPBD: KUA dan PPAS o Pembahasan dan persetujuan APBD Perubahan (Semester I) o Memberi pendapat.Laporan pelaksanaan APBD: Laporan Keuangan Pemerintah Daerah o Pengawasan pelaksanaan Perda Advokasi Kewenangan o Koordinasi dan persetujuan legislasi eksekutif (Peraturan dan Keputusan Kepala Daerah) o Evaluasi pelaksanaan program kerja pemerintah dengan melihat pencapaian substanstif kinerja SKPD (tidak terbatas menerima laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah) Representasi Tugas.Laporan pelaksanaan APBD Semester I .Laporan pelaksanaan APBD: Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Advokasi Kewenangan o Pengawasan Pelaksanaan dana yang dikelola pemerintah non -APBD Anggaran .Laporan pelaksanaan APBD Semester I . Wewenang.

c. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. Kedua. f. peraturan kepala daerah. . Ketiga. b. e. g. meminta laporan keterangan UU No. 27/2009 Tugas dan Wewenang DPRD Kabupaten/Kota: Pasal 344 Tugas dan wewenang DPRD Provinsi Pasal 293 Pasal 344 (1) DPRD kabupaten/kota mempunyai tugas dan wewenang: a. f. ada beberapa isu-isu kritis yang perlu dicermati: pertama. h. isu kedudukan DPRD dalam sistem desentralisasi dan demokrasi. Ketiga isu di atas sangat berkaitan dan disebutkan sebagai sumber dari problematika yang dihadapi DPRD saat ini (PLOD: 2006. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. c. mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian bupati/walikota dan/atau wakil bupati/wakil walikota kepada Menteri Dalam Negeri melalui gubernur untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan dan/atau pemberhentian. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. 32 /2004 Paragraf Ketiga Tugas dan Wewenang Pasal 42 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang: a. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota. g. memilih wakil bupati/wakil walikota dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil bupati/wakil walikota. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah. isu ruang lingkup kewenangan.AAGN LGSP ARAH DAN AGENDA REFORMASI DPRD: Memperkuat Kedudukan dan Kewenangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dalam dua forum tersebut. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah. isu kapasitas dan performance DPRD dalam menjalankan kewenangan dan fungsinya itu. KPB: 2006). e. tugas pokok dan fungsi serta hak-hak DPRD. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama. b. d. d. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. UU No. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah dan anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota. dan kerja sama internasional di daerah. membentuk peraturan daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota. membahas dan memberikan persetujuan rancangan peraturan daerah mengenai anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota yang diajukan oleh bupati/walikota. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. APBD.

menyatakan pendapat. . mengajukan rancangan peraturan daerah kabupaten/kota. k. j. membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. interpelasi. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama dengan daerah lain atau dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. dan c. (3) Hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah kabupaten/kota yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat. daerah.pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. b. (2) Hak interpelasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk meminta keterangan kepada bupati/walikota mengenai kebijakan pemerintah kabupaten/kota yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. (2) Selain tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. (4) Hak menyatakan pendapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan bupati/walikota atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di daerah disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket. j. dan negara yang diduga bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Hak dan Kewajiban Anggota Paragraf 1 Hak Anggota Pasal 350 Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a. 27/2009 Hak DPRD Kabupaten/Kota Pasal 349 (1) DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. i. DPRD melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. i. (2) Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata tertib. dan k. h. UU No. angket. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban bupati/walikota dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota.

kelompok. d. e. mengajukan pertanyaan. menjaga etika dan norma dalam hubungan kerja dengan lembaga lain dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. j. c. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat. b.Efisiensi APBD . 27/2009 Kewajiban Anggota Pasal 351 Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai kewajiban: a. d. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas. memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya. dll . tindak pidana.Penggunaan hak angket. e. Terkait Fungsi Perwakilan UU No. imunitas. f. dan keuangan dan administratif.Jumlah perda yang dihasilkan (komposisi inisiatif dan yang diajukan eksekutif) . h. i.b. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila. menyatakan pendapat Anggaran Pengawasan .Peningkatan PAD. melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menaati peraturan perundangundangan. g.Jumlah perda yang tidak dianulir oleh pemerintah pusat . h. protokoler. membela diri. menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala. c. memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat. menaati prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. dan k. interpelasi. menyampaikan usul dan pendapat. mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. dan golongan.Jumlah anggota DPRD yang tidak terjerat korupsi. i. f. memilih dan dipilih. sumber PAD baru .Jumlah sanksi yang dikeluarkan Badan kehormatan . g. mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Indikator DPRD yang Berkualitas Nominal: Legislasi: . menaati tata tertib dan kode etik.

dan dasar bagi penyusunan program pemberdayaan DPRD secara mapan. informasi. gambaran.Jumlah RDP Representasi Substansial Legislasi: Anggaran Pengawasan Representasi - Hubungan Antara DPRD dan Pemerintah Daerah Ada tiga cara pandang yang umum berkembang saat ini untuk melihat hubungan antara DPRD dan pemerintah daerah. dan lainlain Menjalankan/melaksanakan keputusan dan memberikan pelayanan publik Administratif-BirokratikTeknokratik Diseleksi/diangkat lewat sistem karir Pendekatan Pola Dipilih melalui Pemilu Rekrutmen Sumber: Diadaptasi dari Etzioni-Halevy (1983) ________________________________________ Apa yang perlu diperhatikan dalam penyusunan program peningkatan kapasitas DPRD? Pada umumnya lembaga-lembaga pengembang program tidak lebih dulu melakukan assessment yang memadai terhadap kapasitas DPRD untuk mengetahui status awal. Cara padang yang bisa dikembangkan dan disarankan oleh modul ini adalah . pengalaman. Basis Perbedaan Sumberdaya antara DPRD dan Pemda Basis Kekuasaan Tugas/fungsi DPRD DPRD adalah representasi dan wadah aspirasi rakyat Membawa aspirasi publik dan membuat keputusan politik Politik dan Populis Birokrasi/Pemda Memiliki keahlian. Dalam berbagai program dan proyek yang dikembangkan. profesional.. . DPRD hampir selalu dijadikan obyek atau bahkan dapat dikatakan diproyekkan .

Studi semacam ini dilaksanakan semata-mata untuk memberikan justifikasi terhadap program. Font color: Auto Formatted: Font: +Body. Font color: Auto Formatted: Font: +Body. maka pada alasan yang kedua. dan sebagainya. karena DPRD lebih banyak dipandang sebagai pelaku politik dan merupakan wadah dimana para wakil partai politik bertemu untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan masing-masing. Misalnya. misalnya. Walaupun di negara asalnya lembaga-lembaga tersebut banyak melakukan kajian yang mendalam dan menyeluruh namun lembaga-lembaga itu tidak melakukan kegiatan studi dengan pendekatan yang sama di Indonesia. Pola yang keempat adalah pendekatan programatis. Akibatnya. Kedua. Pertama. berbagai assessment terhadap DPRD dilakukan berdasarkan percieved needs dan bukan real needs dari lembaga-lembaga pelaksana program. yang banyak dilakukan oleh berbagai lembaga internasional yang bergerak dalam bidang politik pemerintahan. sangat dipentingkan. Ketiga. fungsi dan tugas pokok DPRD tidak belum dijadikan dasar dalam penentuan variabel dan indikator studi. Studi tertentu lain. Lembaga-lembaga pemberdaya DPRD merasa mempunyai kemampuan dan kompetensi yang lebih tinggi untuk memberdayakan DPRD. misalnya. partai politik pada tingkat lokal. beberapa studi telah memberikan penekanan kepada aspek kelembagaan. Walaupun banyak studi terhadap DPRD dilaksanakan sejak setelah UU No. Kkarena melihat DPRD mempunyai posisi politik lebih kuat dibandingkan dengan pemerintah. Font color: Auto Formatted: Font: +Body. Berbagai kegiatan evaluasi atau assessment keparlemenan telah dilakukan dalam rangka pelaksanaan suatu program khusus pemberdayaan keparlemenan di daerah.Kapasitas dan kapabilitas anggota-anggota DPRD untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya belum menjadi dasar dalam evaluasi kelembagaan dan pengembangan program. Kemampuan DPRD dalam melakukan check and balance terhadap pemda. Berbagai program peningkatan kapasitas. organisasi massa (ormas) dan keagamaan (ormas). kaji tindak dan studi khusus yang berkaitan dengan pembangunan kapasitas DPRD hanya Formatted: Font: +Body. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. yang menyoroti sejauh mana kemampuan kelembagaan dari DPRD memberikan daya dukung dalam melakukan check and balance. bahwa kegiatan-kegiatan pemberdayaan DPRD dirumuskan sendiri oleh para pelaksana proyek dan tidak mendasarkan pada kebutuhan riil DPRD. Dengan kata lain. banyak studi dan kajian memberikan penekanan berlebihan pada aspek politis dari lembaga perwakilan ini. Aspek yang belum diperhatikan adalah aspek-aspek struktural-fungsional dalam pengembangan kapasitas DPRD. Font color: Auto . Hal ini terjadi karena beberapa alasan. berbagai studi kemudian dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas lembaga-lembaga pemerintahan di daerah dalam rangka desentralisasi dengan mengutamakan aspek teknis yang terdiri dari mkemampuan organisasional dan manajerial. Pendekatan politis memberikan penekanan pada interaksi kekuasaan antara DPRD dengan dan pelaku politik lain seperti misalnya pemda. ketika lembaga tertentu akan membuat proyek pelatihan legislative drafting. maka studi terbatas dilaksanakan dalam hal legislative capacity building. dalam banyak aspek memberikan penekanan penting pada kemampuan organisasional dan manajerial DPRD dan sekretariatnya. Seringkali didapatkan. 22/1999 tentang Otonomi Daerah dikeluarkan maupun setelah direvisi menjadi UU No.

sedikit memberi perhatian terhadap kompleksitas struktural dan fungsional dari lembaga ini. Secara struktural, pemahaman terhadap kapasitas DPRD dapat dilihat dalam konteks struktur internal, yaitu yang berkenaan dengan keseluruhan bagianbagian dalam dewan yang saling berhubungan dan konteks struktur yang lebih luas yang menempatkan DPRD sebagai bagian dari struktur politik lokal. Struktur internal dapat dikategorikan dalam dua bagian, yaitu struktur yang diatur dalam peraturan perundang-undangan sebagai alat kelengkapan dewan dan struktur internal yang ada tetapi tidak ditentukan sebagai alat kelengkapan dewan. Struktur yang lebih umum menempatkan DPRD dalam hubungannya dengan pemda serta berbagai kekuatan politik lain yang secara langsung berpengaruh terhadap proses politik yang terjadi dalam DPRD dan implementasi berbagai kebijakan publik yang dibuat oleh DPRD. Analisis struktural terhadap DPRD meliputi analisis hubungan antara alat-alat kelengkapan dewan yang terdiri dari pimpinan, komisi-komisi, dan panitiapanitiabadan-badan. Berbagai studi yang telah dilakukan hampir tidak ada yang secara komprehensif mengevaluasi kapasitas dari alat kelengkapan dewan itu. Hala yang lebih jarang dilakukan adalah analisis terhadap struktur internal yang ada pada fraksi-fraksi dan sekretariat dewan (setwan) yang bukan merupakan alat kelengkapan dewan, tetapi keberadaan dan kapasitas mereka sangat berpengaruh terhadap kinerja dewan secara keseluruhannya. Faktor luar yang paling diperhatikan oleh dewan adalah pemda. Negosiasi dengan pemda sangat vital dipentingkan oleh bagi DPRD karena ia memberikan sumber daya yang diperlukan DPRD dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya. Selain itu, dan bahwa pemda harus diperhitungkan oleh DPRD karena ia akan menjadi pelaksana dari berbagai kebijakan yang dirumuskan. Kenyataan selanjutnya adalah fraksi-fraksi merupakan wakil dari partai-partai politik yang di dalamnya juga tergabung dan organisasi-organisasi massa yang berafiliasi dengannya. Kondisi ini mengharuskan adanya pemahaman yang lebih mendalam dari organisasi massa tersebut untuk mengetahui jalur-jalur negosiasi dan lobby, sehingga berbagai kepentingan mereka menjadi bagian dari preferensi kebijakan publik yang dihasilkan dewan. Pola yang sama perlu pula dilakukan untuk mengkaji hubungan antara DPRD dengan dan berbagai asosiasi sosial dan profesional, organisasi-organisasi masyarakat sipil serta media lokal yang dengan berbagai tindakannya mereka mampu mempengaruhi proses politik yang berlangsung dalam dewan. Dalam konteks perwakilan yang lebih luas, DPRD pun seringkali mementingkan pendapat dan pilihan masyarakat karena mereka bermaksud memenuhi berbagai preferensi publik, terutama dalam perumusan kebijakan publik yang menyangkut masyarakat luas. Hubungan ini signifikan bagi dewan dalam upaya memenangkan dukungan dan kepercayaan publik. Analisis fungsional yang mengkaji tentang kapasitas DPRD dalam melakukan fungsi-fungsi pembuatan peraturan perundang-undangan daerah, penyusunan dan penentuan APBD, pengawasan pelaksanaan berbagai kebijakan publik yang dirumuskan DPRD serta perwakilan berbagai kepentingan sosial dan politik pun hampir tidak dilakukan dalam banyak penelitian atau kaji publik. Terlebih jarang adalah assessment terhadap kapasitas setwan dalam memberikan berbagai pelayanan kedewanan agar DPRD mampu melaksanakan

berbagai fungsinya secara efektif. Berkaitan dengan hal ini, fungsi pemberdayaan DPRD terhadap setwan pun kiranya layak untuk dikaji lebih lanjut, sebab DPRD seringkali menuntut berbagai pelayanan sr dari setwan tetapi enggan untuk memperjuangkan sumber daya yang memadai agar sekretariat mampu melaksanakan berbagai fungsi dan tugasnya secara profesional. Lebih lanjut, dalam konteks hubungan DPRD dengan pelaku-pelaku tata pemerintahan dari luar, kiranya juga perlu untuk menelusuri kapasitas DPRD dalam memfasilitasi pelaksanaan berbagai kebijakan publik yang ada, memberikan contoh yang baik bagi praktek-praktek pemerintahan demokratis serta menjadi pelaku dalam pewujudan tata pemerintahan daerah yang demokratis. Seluruh kerangka pemikiran dasar tersebut di atas adalah bingkai dari rangkaian studi dan penulisan dari buku ini serta ketiga buku lain yang bersifat lebih khusus. Buku yang pertama ini mendudukkan keberadaan dan kompleksitas struktural dan fungsional dari DPRD. sSementara itu, ketiga buku yang berikutnya menjabarkan sistem, prosedur, fungsi dan tugas DPRD dalam pembuatan peraturan perundang-undangan, penentuan anggaran daerah dan pengawasan politik. Dengan demikian, diharapkan bahwa keempat buku serial ini dapat memberikan dasar yang memadai untuk berbagai program dan proyek dalam bidang peningkatan kapasitas keparlemenan di daerah. Apa dampak yang perlu menjadi orientasi program? Walaupun berbagai program dan proyek dilaksanakan pada tingkat daerah dan itu pun dengan sasaran utama DPRD, namun dampak yang segera dapat dilihat mempunyai cakupan yang relatif luas. Selain hasil-hasil dan dampak langsung yang akan dapat dirasakan oleh DPRD dan berbagai asosiasinya, berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam proyek ini, terutama yang berkenaan dengan pembuatan peraturan perundang-undangan dan pengawasan, juga akan mempunyai dampak langsung pada perbaikan tata pemerintahan di daerah. Namun demikian, karena DPRD bertekad untuk selalu terlibat aktif dalam berbagai dialog kebijakan dengan lembaga-lembaga tata pemerintahan tingkat nasional maka berbagai kegiatan proyek di daerah pun diharapkan mempunyai dampak langsung terhadap perumusan berbagai kebijakan publik tingkat nasional yang yang akomodatif terhadap kompleksitas realitas daerah. Dampak langsung terhadap DPRD dan asosiasinya Dengan kemampuan perumusan peraturan perundang-undangan yang lebih baik, maka berbagai perda dan kebijakan publik daerah dapat dirumuskan dan disinkronkan satu terhadap yang lain serta memenuhi kepentingan-kepentingan masyarakat luas. Berbagai peraturan perundang-undangan nasional yang terkait dengan desentralisasi dan otonomi daerah pun dapat dijabarkan dalam berbagai perda yang relevan dengan waktu yang lebih singkat, sesuai dengan tata urutan peraturan perundang-undangan. Konflik kebijakan antar daerah, yang biasanya terjadi antara kota dengan kabupaten yang berdekatan, pun diharapkan dapat diselesaikan dengan proses yang demokratis dan sesuai dengan prosedur.

Pemahaman dan penguasaan yang lebih baik terhadap program-program pembangunan dan pemerintahan memungkinkan DPRD melaksanakan fungsi penganggaran yang benar dan memenuhi harapan masyarakat. Ditambah dengan berbagai peningkatan kemampuan analisis terhadap mekanisme penganggaran yang biasanya dilaksanakan oleh pihak pemerintah sendiri, DPRD akan berada dalam posisi yang lebih konstruktif dalam merumuskan kebijakan-kebijakan penganggaran. Berbagai simulasi penganggaran yang dilaksanakan terkemudian akan memungkinkan DPRD menyampaikan alternatif pembanding terhadap kebijakan dan usulan APBD yang diusulkan oleh pemerintah. Pelaksanaan fungsi pembuatan peraturan perundang-undangan (legislasi) dan fungsiu penganggaran memungkinkan DPRD memiliki dasar yang kuat untuk melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan. Ukuran-ukuran dan mekanisme-mekanisme pengawasan pun menjadi lebih mapan karena mendasarkan pada kriteria yang jelas dan tidak mendasarkan pada kepentingan-kepentingan politik semata. DPRD pun akan mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk berinteraksi dengan masyarakat melalui dengar pendapat yang dilaksanakan di dewan maupun melalui berbagai media lain yang diciptakan. Para anggota DPRD mempunyai kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka bukan hanya wakil partai politik tetapi juga benar-benar merupakan wakil rakyat. Kemampuan memfasilitasi dialog antara masyarakat dengan dan pemerintah yang dilaksanakan oleh DPRD akan memperkuat posisinya menjadikannya lebih dipercaya sebagai kunci dari lembaga perwakilan. Setwan pun akan mendapatkan manfaat yang sangat besar dalam program ini, yaitu dengan berbagai pelatihan yang dilakukan untuk para stafnya maupun program-program lain yang dapat meningkatkan peran strategis dari setwan. Upayaupaya pengembangan setwan akan memungkinkannya melaksanakan fungsi-fungsi pelayanan kedewanan secara profesional. Asosiasi DPRD akan mendapatkan manfaat utama meliputi aspek administrasi kesekretariatan dan aspek fasilitator dialog kebijakan regional, nasional dan internasional. Program peningkatan kapasitas DPRD diharapkan menghasilkan dampak untuk asosiasi sebagai berikut: Sekretariat Aasosiasi DPRD yang kuat dan mampu memberikan pelayanan-pelayanan strategis bagi para anggotanya merupakan dampak langsung yang sangat diharapkan. Pelayanan yang paling utama adalah mobilisasi sumber daya yang dibutuhkan untuk pengembangan kapasitas DPRD dan memfasilitasi dialog kebijakan antar anggota dengan lembaga-lembaga tata pemerintahan terkait di tingkat pusat dan daerah. Selain itu, dalam beberapa tahun mendatang diharapkan Aasosiasi DPRD mampu untuk mendirikan sekretariat yang efektif dan efisien dengan dukungan pendanaan yang memadai dari para anggotanya. Dampak terhadap perbaikan tata pemerintahan di daerah Pada tingkat tata pemerintahan di daerah, Aasosiasi DPRD dapat mendesakkan perwujudan mengharapkan bahwa prinsip-prinsip tata pemerintahan daerah yang baik dapat segera diwujudkan melalui berbagai sosialisasi dan pelembagaan di semua lembaga tata pemerintahan. Dengan pelaksanaan seluruh

melalui mengharapkan bahwa dengan partisipasinya dalam berbagai dialog politik dan kebijakan nasional. . Pada skala nasional. DPRD pada gilirannya akan harus mampu menjadi simpul dari berbagai dialog publik yang melibatkan berbagai aktor yang berkompeten. maka DPRD akan menciptakan perangkat dasar dari pemerintahan kota yang mementingkan warga. Asosiasi DPRD dapat hendak memberikan berbagai masukan penting bagi revisi puluhan berbagai peraturan perundang-undangan yang berkenaan dengan pemerintahan di daerah. Aasosiasi DPRD juga dapat mendesakkan.fungsi dan tugas kedewanan sebagaimana mestinya. agar maka tata pemerintahan nasional akan mampu untuk dikondisikan agar secara terus-menerus melibatkan aktor-aktor pemerintahan di daerah dalam merumuskan berbagai bentuk kebijakan publik.

Selama rezim Orde Baru.Bab II Arah Demokrasi Baru. DPRD perlu mengembangkan diri menjadi model lembaga demokrasi dan sekaligus pengarusutamaan nilai-nilai demokrasi terhadap berbagai lembaga tata pemerintahan lain yang ada di daerah. DPRD pun diharuskan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai prasyarat baru dalam tata demokrasi. kini tumbuh semarak.. Reformasi Keterwakilan dan Pengaruhnya terhadap Kapasitas Keparlemenan Agung Djojosoekarto Kerangka politik demokrasi di Indonesia telah berubah dan upaya pembaharuan sistem keterwakilan tengah berlangsung. Dengan adanya wWakil-wakil partai politik di parlemen pemenang pemilu kini juga yang lebih majemuk dan . kolusi. Sedemikan kuatnya budaya politik birokrasi otoriter dan keinginan pemerintah untuk mengendalikan seluruh tata pemerintahan. Sebagai lembaga perwakilan rakyat.1. Sebagai pusat pilar demokrasi di daerah. DPD. 2003. lebih dari 140 juta pemilih telah memberikan suara mereka dalam Pemilu 1999 yang langsung. Praktek-praktek korupsi. seluruh lembaga dalam tata pemerintahan berada di bawah kendali pemerintah yang didukung oleh ABRI dan Golkar serta partai partai politik hasil fusi. lembaga-lembaga perwakilan rakyat tersebut . Gerakan-gerakan politik yang dimotori oleh berbagai organisasi masyarakat sipil telah berhasil dalam menanamkan wacana demokratisasi dan partisipasi politik masyarakat yang nyata dan luas. dan DPRD. partai politik dan susunan dan kedudukan MPR. Jumlah partai politik yang sebelumnya dibatasi. dan 2008-2009) untuk menyesuaikan dengan dinamika politik yang ada. Cara ini dipilih sebagai Indonesia telah memulai langkah dasar yang paling awal dari reformasi. Pembaruan dengan cara semacam ini dilakukan secara terus-menerus. reformasi menyeluruh menuju tata pemerintahan yang lebih baik dan demokratis telah diangkat menjadi agenda dan tekad nasional. paling tidak untuk membangun Dengan antusiasme pemilih dalam pemilu yang yang sedemikian besar. Sejak reformasi 1998. dan nepotisme yang mewarnai hampir seluruh proses politik sempat menjebak sistem politik nasional yang tersusun selama dalam suatu format birokrasi otoriter. dan bebas. Bersamaan dengan perkembangan politik ini. Upaya-upaya nasional untuk melakukan perubahan mendasar dalam pemerintahan telah memuncak dengan dilengserkannya kepemimpinan politik Orde Baru yang telah berkuasa selama lebih dari tiga dasawarsa. DPR. saat ini tiga UU Politik tersebut telah diperbaharui sebanyak tiga kali (1999. sehingga kepemimpinan nasional di bawah Orde Baru gagal untuk melakukan pembaharuan dan konsolidasi tata pemerintahan. demokratis. Dinamika demokrasi Indonesia beberapa tahun terakhir Awal era reformasi politik di Indonesia ditandai oleh revisi terhadap Dengan direvisinya tiga UU politik yang mengatur tentang pemilu. 2. Langkah ini terbukti efektif. yaitu dengan untuk melakukan pembaharuan lembaga-lembaga perwakilan rakyat agar yang lebih demokratis dan dipercaya oleh rakyat dibandingkan dengan periode Orde Baru.

kesiapan para aktor tata pemerintahan lainnya dalam proses politik lokal. UU Pemilu 2008 UU No. Pertama. 10/2008 yang digunakan pada pemilu 2009. Terpenting untuk dihindarkan adalah sisi negatif kedekatan emosional yang terlembaga antara anggota DPRD dewan dengan . Sekalipun DPR/DPRD dipilih secara langsung dan menghasilkan anggota yang lebih bermutu. tetapi tetapi tidak sepenuhnya. Dengan adanya revisi terhadap UU tentang pemilu. Apa konsekuensi pemilu langsung? Pemilu demokratis sejak pertama dalam era reformasi telah berlangsung tiga kali. Bagaimanapun baiknya mutu perseorangan dari anggota DPRD yang dipilih. Partai politik menentukan wakil-wakil yang akan didudukkan dalam lembaga pemerintahan dan perwakilan. karena tokoh yang terkenal seringkali tidak mempunyai kapasitas kerja sebagai anggota dewan sesuai dengan yang diharapkan oleh pemilih dan pemda sebagai mitra kerjanya. . tetapi jika masyarakat sipil dan publik tidak mendesakkan agendaagenda daerah secara terstruktur dan sistematis maka DPR/DPRD akan tidak mempunyai tantangan dan tanggungjawab yang berarti. 2004. mutu keterwakilan tergantung pada beberapa faktor penentu. Kedua. Sistem perwakilan saat ini yang akan datang memang memberikan tekanan bahwa anggota dewanDPRD adalah wakil rakyat.diharapkan tetap dapat efektif mewakili kepentingan-kepentingan rakyat dan partai politik secara luas. yaitu pada dilaksanakan pada bulan Juni 1999. Selain memilih wakil rakyat dalam DPR dan DPRD. terlebih setelah keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengakibatkan penentuan calon terpilih melalui suara terbanyak. rakyat mendapatkan kesempatan untuk melakukan pemilihan langsung terhadap wakil-wakil mereka di DPRD. dan 2009 sebagai bagian dari pemenuhan tuntutan pembaharuan tata pemerintahan di Indonesia. Namun demikian. Jumlah partai peserta pemilu juga berkembang dan beragamPemilu tersebut diikuti oleh 48 partai politik. Anggota DPRD dewan di masa yang akan datang diharuskan untuk menjadi wakil rakyat dan wakil partai politik secara lebih berimbang. Sistem pemilihan yang digunakan Pemilu ini masih dilakukan dengan sistem proporsional dengan daftar terbuka yang dikombinasikan dengan pembagian daerah pemilihan (dapil). seperti lewat sistem pemilihan dengan suara terbanyak. pemenuhan berbagai daya dukung bagi DPR/DPRD yang baru. /1999 ini pada dasarnya memberikan kesempatan bagi rakyat untuk memilih langsung orang-orang yang mereka percaya sebagai wakil rakyat yang handal. Ketiga.mana dan fotonya tercantum dalam kertas suara. pengenalan pemilih terhadap kapasitas keparlemenan dari para calon wakil yang mencalonkan diri. yaitu dengan diterbitkannya UU No. Pengenalan terhadap ketokohan saja dinilai tidak cukup. pada pemilu 2004 dan 2009 juga dikenalkan pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai representasi masyarakat dari setiap daerah di tingkat pusat. Walaupun seringkali dikritik karena tidak menerapkan sistem distrik murni dan masih tingginya pengaruh partai politik. 12/2003UU No. tetapi jika mereka tidak mendapatkan fasilitas yang memadai untuk menjalankan fungsi dan tugasnya maka DPR/DPRD dengan seluruh alat kelengkapan dan struktur pendukungnya tidak akan mempunyai kapasitas dan kinerja yang optimum.

kolusi. Jika partai politik hanya berfungsi sebagai pengelola politik perwakilan. Partai politik harus ditransformasikan sebagai lembaga agregasi kepentingan publik yang mendukung DPRD. Dalam konteks baru seperti ini. terlebih jika partai tersebut dominan di parlemen dan menjadi pendukung dari pemerintahpemenang pemilu. Seringkali anggota DPRD dewan mengatakan bahwa mereka wajib memperjuangkan kepentingan konstituen dan pemilihnya. Pendekatan yang mendasarkan pada proyek pelatihan tidak akan cukupsesuai. Ini memungkinkan Ppartai politik di daerah mulai melakukan fungsi rekrutmen secara profesional dan. DPRD dalam tata keterwakilan baru . Oleh karena itu. kepala daerah/pemerintahan daerah yang dipilih langsung oleh rakyat juga akan mempunyai legitimasi politik yang sangat kuat. yang sesuai dengan realitas tersebut.1. Prioritasisasi di DPRD harus dilakukan dengan pendekatan yang memungkinkan DPRD menghasilkan produkproduk dewan yang mewujudkan check and balance lebih bermutu. Berbagai partai politik di daerah terlihat telah mendapatkan delegasi kewenangan yang begitu besar dari dewan pimpinan pusat (DPP) mereka masing-masing. upaya untuk mendudukkan bahwa anggota DPRD dewan adalah wakil seluruh rakyat seperti yang telah dilakukan oleh beberapa DPRD di daerah layak untuk dilanjutkan dan dilembagakan. Perubahan sistem dan politik perwakilan seperti tersebut di atas akan menghendaki strategi peningkatan kapasitas dan kinerja DPRD yang berbeda. Tetapi pada kenyataannya tidak pernah ada yang tahu. Dalam menghadapi realitas politik yang baru seperti ini. DPRD harus bekerja bersama-sama dengan partai politik di daerah. 2.pemilihnya yang memungkinkan bersemainya praktek politik diskriminasi. maka partai tidak akan mendapatkan dukungan riil dalam proses politik dan dengan sendirinya akan terpinggirkan dalam pemilu yang berikutnya. DPRD tampaknya tidak lagi mungkin untuk menjatuhkan kepala daerah terpilih melalui mekanisme pertanggungjawaban tahunan. DPRD harus mengembangkan program peningkatan kapasitas dengan struktur dan sistematika baru. 2. termasuk dalam pemilihan calon legislator. lembaga legislatif tidak dalam posisi untuk menjatuhkan pemerintah eksekutif. Perubahan sistem keterwakilan Dalam sistem pemerintahan presidensial. dan nepotisme. karena ia hanya akan memberikan dasar-dasarnya saja. korupsi. kecuali jika terjadi pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip konstitusional. Beberapa partai politik juga menyatakan bahwa mereka sedang mempersiapkan program kepartaian yang lebih substantif sebagai landasan kampanye dan rekrutmen politik. DPRD tentu dikehendaki untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan pendekatan yang berbeda. warga mana memilih anggota DPRD dewan yang mana. Beberapa DPRD terlihat gamang menghadapi perkembangan politik yang baru ini. Mungkin yang lebih sulit adalah ketika ada menata hubungan organisasi kemasyarakatan tertentu yang merupakan afiliasi dari partai politik . Dalam penerapannya di tingkat daerah. Mereka tidak siap untuk menata kembali perimbangan dan pembagian kekuasaan dengan eksekutif.3.

struktur birokrasi haruslah tidak dipandang sebagai instrumen administrasi teknis saja. Maka. Ini tentu saja bukan upaya yang mudah dan bahkan dapat dikatakan sangat sulit. Perlawanan harus pula dilakukan terhadap struktur domestik dan asing yang membantunya. Walaupun pejabat-pejabat politik baru telah dan akan dipilih.Bagaimana konstelasi dan hubungan politik antara DPRD dan pemda? Indonesia telah memasuki tahap lanjutan dalam proses demokratisasi. keberadaan birokrasi tetap kuat dan tidak sepenuhnya ditentukan oleh perubahan konstruksi politik yang ada. Dalam struktur politik baru ini. Pandangan ini tentu berbeda dengan pandangan para politisi di . seperti ditunjukkan oleh pemilu langsung dan pembentukan pemerintahan yang lebih memenuhi prinsip keterwakilan. Keinginan pemerintah untuk melakukan berbagai perbaikan dalam birokrasi tidak lepas dari berbagai rekomendasi kelompok developmentalist yang memandang bahwa birokrasi dapat memperbaiki diri dengan memperkenalkan metode perencanaan pembangunan yang baru yang mampu merespon dan melembagakan dinamika masyarakat. Bagaimana menyikapi kekuatan politik riil dari birokrasi? DPRD di berbagai daerah ternyata menunjukkan tingkat ketergantungan yang relatif tinggi terhadap birokrasi. Maka. Ada upaya-upaya yang sangat jelas dari rezim yang lebih demokratis sekarang ini untuk mengendalikan birokrasi.. pPendekatan restrukturisasi terhadap masing-masing lembaga pemerintah diyakini dapat mendukung proses pembangunan demi pengentasan kemiskinan. Perlu diperhatikan adalah bahwa pada kenyataannya birokrasi di daerah yang sekarang adalah kelanjutan dari rezim bureaucratic authoritarian dari masa Orde Baru. melainkan juga sebagai sub sistem politik di mana koalisi mewujud untuk mencapai pilihan-pilihan kebijakan tertentu yang terikat dan dimana ada hubunganhubungan pada struktur-struktur politik yang lebih luas dalam masyarakat. Dengan memandang birokrasi sebagai bagian dari sistem politik. Menanggapi kegagalan birokrasi lokal dalam melaksanakan berbagai program pembangunan. birokrasi telah mengalami perubahan paradigma yang cukup mendasar. perhatian politik kritis adalah pada interaksi kepemimpinan politik dan pelayanan umum. yaitu dan jika lembaga-lembaga pemerintah dapat bekerja lintas sektoral dan terpadu sehingga maka masalah-masalah penting dan kompleks akan dapat diatasi bersama. para pemikir kritis lokal yang relatif radikal menyatakan bahwa dominasi birokrasi yang telah gagal dalam melaksanakan pembangunan ini harus dilawan. Birokrasi adalah sistem kekaryaan manajerial yang ditata secara hirarkis dimana orang dipekerjakan untuk mendapatkan upah atau gaji dari pemda. atau hampir tanpa batas dan kendali. tapi proses dari pembaharuan birokrasi membutuhkan waktu yang lebih lama. Apapun metode yang dipilih untuk memperbaharui birokrasi. Sejalan dengan perkembangan politik dewasa ini. penting kiranya membangun realisme bahwa mungkin mudah untuk menggantikan sistem politik. sejauh kekuatan politik riil dari pelaku tata pemerintahan ini masih dominan maka pengembangan DPRD harus menghadapi proses yang lebih berat. karena birokrasi sebelumnyalama ini identik dengan kekuasaan partai politik tunggal yang mempunyai diskresi kekuasaan yang sangat besar.

dalam hal profil sumber daya manusia. dan akuntabilitas publik. Ketiga. yang dimaksud seringkali adalah sektor publik. Desentralisasi ternyata tidak disertai dengan pengalihan fungsi dari sektor pemerintah ke sektor LSM atau swasta. DPRD pun ikut mendukung kritik terhadap birokrasi yang menyatakan lembaga ini penuh kerahasiaan. yaitu rasionalisasi dari efisiensi kolektif yang memungkinkan birokrasi mampu mencapai efisiensi paling tinggi . Kesenjangan antara birokrasi tingkat atas dan tingkat bawah sangat jauh. berbagai inisiatif internasional yang mencoba untuk mendukung upaya pembaharuan birokrasi ada pula yang bersifat lebih khusus. bagaimana sebenarnya pergeseran politik birokrasi? Ketika Orde Baru berkuasa. Struktur birokrasi menengah di daerah pada umumnya relatif lemah dan ukurannya pun kecil. Birokrasi menengah yang jumlahnya kecil menjadi bumper terhadap kebijakankebijakan tingkat atas dan menjadi pelaksana kegiatan-kegiatan yang bersifat khusus.DPRD yang menginginkan perubahan yang lebih luwes atau soft namun mendasar. misalnya dalam hal pembelanjaan oleh pemerintah. karena mereka sangat tergantung pada birokrasi di daerah. Hal ini mungkin disebabkan karena keinginan birokrasi untuk tetap mengendalikan semua proses tata pemerintahan di daerah. pembaharuan birokrasi tetap harus mengacu pada tujuan pokoknya. sifat dari struktur dan prosedur administratif adalah fokus lain yang dapat menunjukkan tidak berfungsinya birokrasi pembangunan. Isu-isu yang berkenaan dengan budaya paternalistik yang berorientasi pada budaya kerjaan (terutama Jawa) yang sebenarnya merupakan elemen-elemen non birokratis lingkungan politik. Dalam kaitannya dengan peningkatan kapasitas DPRD. Walaupun secara teoritis tuntutan ini tidak dapat ditawar dan harus segera diupayakan namun pelembagaannya membutuhkan kehati-hatian tersendiri. Kedua. DPRD sering dipaksa untuk masuk dalam kerangka kerja seperti ini. terdapat beberapa permasalahan yang penting untuk dibahas berkaitan dengan kekuatan politik riil dari birokrasi. terkait dengan hukum. Birokrasi juga merupakan cara untuk mengatakan menempatkan administrasi publik sesuai dengan tempatnya dalam negara. Sifat-sifatnya adalah: wajib. . Pertama adalah kesiapan birokrasi untuk dikembangkan menjadi birokrasi profesional. Ketiga opsi politis tersebut mempunyai dampak yang berbeda-beda antar daerah dalam kerangka pemberdayaan DPRD. Dalam paradigma manajerialisme. Proses pengambilan keputusan menjadi sentralistik dan paternalistik. telah mempengaruhi instrumentalitas rasional untuk menciptakan pola-pola birokrasi yang menyimpang. penundaan operasi dan jarak antara pelayan publik dan klien mereka. buruk dalam komunikasi. Pada perkembangan selanjutnya. Dalam berbagai pola hubungan kerja dan kerjasama antara DPRD dan birokrasi muncul gejala the economy of affection yang berakar dari kekerabatan. Di satu sisi. birokrasi diarahkan untuk memasukkan teknik teknik manajemen sektor swasta. DPRD sendiri seringkali harus terjebak pada arah politik yang berbeda dari ketiga pilihan politis tersebut. Ketika orang mengatakan birokrasi. yaitu dengan memberikan kesempatan pada pemerintah untuk memainkan peranan ekonomis yang lebih luas seraya mempromosikan berbagai kerjasama dengan pihak swasta yang antara lain dapat mengambil bentuk contracting-out untuk berbagai jasa pelayanan publik. birokrasi dengan jumlah besar telah memberikan dukungan kepada partai yang berkuasa (Golkar).

pembahasan dan pengkajian langsung perlu diarahkan DPRD pada tema-tema yang relevan dan mudah untuk diikuti. DPRD perlu dibekali dengan pemahaman . media massa. di Indonesia kini tengah terjadi transisi yang membingungkan dan sering kehilangan orientasi. dan masyarakat sipil pada umumnya sulit diajak untuk mengembangkan konteks tata pemerintahan demokratis dengan kerangka tersebut. Gejala ini tampaknya masih terus berlangsung dalam konteks hubungan antara DPRD dan birokrasi di daerah. etnisitas dan agama yang mempengaruhi organisasi. Tata pemerintahan demokratis akan terwujud jika pra kondisi politik. DPRD juga harus mampu menjaga akuntabilitas dan transparansi dari para pembuat dan pelaksana keputusan tersebut. baik di lembaga legislatif maupun eksekutif. Berkaitan dengan pengaruh budaya terhadap birokrasi. apakah birokrasi mendasarkan pada budaya religius institutional atau mendasarkan pada budaya sekuler instrumental atau (lebih kurang menguntungkan) pada budaya religius instrumental. Para politisi. Tata pemerintahan yang demokratis bukanlah semata-mata urusan politis melainkan juga urusan ekonomis dan sosial. Bagaimana DPRD mengelola pola-pola distribusi ulang sumber daya dan keadilan sosial? Permasalahan tentang prasyarat ekonomis tata pemerintahan demokratis adalah pada tingkat kebijakan ekonomi. Kesulitan ini. ekonomi. Agar DPRD mampu mengembangkan kapasitasnya. yang dalam jangka panjang dapat menimbulkan salah orientasi atau bahkan gejala hipokrit. sehingga para pelaku tata pemerintahan membutuhkan fasilitasi lebih banyak lagi untuk membangun wacana baru. DPRD harus mampu melembagakan desentralisasi kekuasaan untuk menjamin partisipasi rakyat dalam pembuatan keputusan. 2. dan sosial dapat dipenuhi. Melalui mekanisme dan prosedur pengawasannya. disebabkan antara lain oleh pendidikan politik yang kurang mencukupi. baik pada jalur pendidikan formal maupun pembelajaran publik secara informal.4. Kondisi ini pada dasarnya terwujud ketika lembagalembaga tata pemerintahan tanggap terhadap aspirasi dan kepentingan seluruh warga dan desentralisasi diwujudkan secara konsisten berdasarkan konstitusi demi partisipasi warga yang lebih besar. Oleh karenanya. serta pengembangan perdamaian dan harmoni sosial pun harus tidak luput dari perhatian DPRD. maka DPRD harus mampu menarik resultante antara kondisi politik dan sosial. Tata pemerintahan demokratis dipahami pada kerangka politik atau pemenuhan hak-hak ekonomis dasar warga. Pra kondisi politik yang perlu diperhitungkan oleh DPRD Bagaimana DPRD menyikapi tata pemerintahan yang demokratis? Tata pemerintahan yang demokratis adalah salah satu bingkai penting untuk peningkatan kapasitas DPRD. Keterjangkauan dan kesetaraan hukum. penghapusan diskriminasi dan minoritas. Dampak dan jebakan pembodohan (massification) tampaknya sangat dalam dan kuat.kesukuan. diakui.

Dengan kondisi sosio ekonomi yang berbeda. Para anggotaDPRD yang terlibat dalam diskusi pada umumnya menyatakan bahwa desentralisasi belum mencakup aspek perekonomian. sehingga ketergantungan terhadap pemda tidak dapat dihindari. Warga di daerah pada umumnya hanya menguasai dan mengelola sumber daya tanah dalam luasan yang relatif terbatas. Keterbatasan bagi daerah ini. Berbagai peraturan yang diterapkan pada sektor-sektor tertentu cenderung mendua. Pra kondisi ketiga adalah keadilan jangkauan terhadap sumber daya keuangan. Para politisi di DPRD pada umumnya menyambut gembira desentralisasi karena daerah diberikan kewenangan lebih besar untuk mengelola aset daerah. dalam konteks regulasi. sehingga pemerintahan di daerah tidak mampu untuk mengelola. termasuk di DPRD. Aset-aset ekonomi besar masih dikuasai pengelolaannya oleh pemerintah nasional. Masyarakat selama ini dinilai tidak mampu berpartisipasi dalam politik karena: (i) Lebih berkonsentrasi pada pekerjaan sebagai buruh (seperti masyarakat buruh di Kalimantan Timur). Aspek ini dikatakan penting untuk memberdayakan warga secara ekonomis.menyeluruh baik pada kebijakan ekonomi makro maupun pemenuhan aspek-aspek ekonomi mikro yang mendasar. 38/2007 sebagai turunan dari UU No. Pra kondisi ekonomis yang kedua adalah perpajakan progresif dan adil serta subsidi yang terjamin bagi daerah. Kondisi seperti ini diperburuk dengan penguasaan atas tanah oleh pelaku-pelaku atau pemilik-pemilik modal nasional atau yang berlokasi di Jakarta. telah diatur urusan wajib dan urusan pilihan Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . Tetapi mereka pun menyampaikan bahwa kondisi keuangan di daerah masih jauh dari mencukupi untuk memenuhi pembiayaan daerah. Dalam kondisi seperti ini DPRD tidak mampu berkembang secara optimal. Dalam PP ini. DPRD di berbagai daerah telah mencoba untuk mengembangkan kapasitas dan cara kerja yang mereka anggap sesuai dengan realitas masing-masing. Sentralisasi juga terjadi pada sektor keuangan yang menguasai permodalan di daerah. warga dinilai tidak akan mampu berpartisipasi secara riil dalam berbagai proses politik. Memang ada kecenderungan di mana daerah mengutamakan pemenuhan PAD dengan pengelolaan sumber daya alam yang kurang hati-hati tetapi ini dilakukan karena pemerintahan di daerah tidak melihat kemungkinan lain. berbagai lembaga keuangan cenderung mengalirkan dana kembali ke pusat sehingga para pelaku perekonomian di daerah tidak mempunyai akses memadai terhadap modal. provinsi. 32/2004. Tanpa kekuatan atau daya ekonomis dasar. Kondisi seperti ini menjadikan DPRD tidak mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat yang beraneka ragam sekalipun mereka memahaminya. atau (iii) Telah mempunyai kesadaran politik yang lebih tinggi tetapi tetap apatis terhadap sistem yang ada atau memilih jalur politik alternatif (seperti terjadi di kota pelajar Yogyakarta). modal dan tanah bagi para pelaku ekonomi di daerah. Prasyarat ekonomis bagi tata pemerintahan demokratis yang pertama adalah pemberian dan ketercukupan sumber daya atau anggaran untuk bidang-bidang prioritas sosial. (ii) Baru mulai mengenal kehidupan dan proses politik riil (seperti terjadi di Sulawesi Selatan). Bahkan. Mekanisme melalui DAU pun dipandang masih kurang menjamin pemenuhan kebutuhan anggaran. dapat dilihat melalui formula yang diatur dalam UU 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. dan kabupaten/kota yang diatur dalam PP No. serta formula dalam pembagian urusan antara pemerintah pusat.

sejak awal memang sudah terdapat keterbatasan dalam rangka menjamin kepentingan nasional dalam proses pembangunan di semua daerah. Bagaimana DPRD sebaiknya mengelola keterkaitan kepentingan antara pelaku ekonomi dan politik? Permasalahan yang selama ini banyak dibahas adalah bagaimana jika yang menjadi anggota DPRD pada kenyataannya adalah para pelaku ekonomi kelas atas atau menengah di daerah? Seringkali dikemukakan bahwa DPRD telah menjadi tempat untuk membagi akses dan kendali ekonomi sehingga yang diutamakan adalah kepentingan bisnis dari para anggota DPRD atau kelompok pendukungnya. Peninjauan terhadap kebijakan publik (misalnya perda atau kebijakan pemda) hampir tidak pernah dilakukan secara menyeluruh sebagai akibat dari keluhan masyarakat. Not Bold . Kondisi perselingkuhan antara politik dan ekonomi ini dapat menjadi awal munculnya rantai korupsi yang panjang. Praktis. konstelasi keanggotaan DPRD seperti ini menjadikan alat kelengkapan dan anggota dewan menjadi tidak berdaya karena harus mengembangkan toleransi antar kelompok di dalam DPRD sendiri. Anggota DPRD atau alat kelengkapan DPRD cenderung bertindak sebagai fasilitator antara pemda dan masyarakat.5. Hal ini seringkali telah Ini sesuai dengan permasalahan yang terjadi sejak pada proses perumusan dan persetujuan DPRD terhadap tentang APBD yang diajukan pemda.dalam penyelenggaraan pemerintahan beserta norma. standar. DPRD tidak dituntut untuk melakukan tindak lanjut sistematis antara lain disebabkan karakteristik tuntutan masyarakat yang bersifat teknis. Penyelesaian masalah yang didesakkan oleh kelompok masyarakat tertentu pun cenderung bersifat instan dan pragmatis. dan kriteria yang wewenang penyusunannya diberikan kepada pemerintah pusat. Singkatnya. prosedur. perangkapan profesi sebagai pengusaha dan anggota DPRD cenderung berdampak negatif karena. dengan menanggapi berbagai kegiatan demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu. tidaklah mungkin para pelaku ekonomi menjadi anggota DPRD sekaligus. dimana pPemda seringkali berupaya untuk mengendalikan para anggota DPRD dengan memberikan proyek-proyek tertentu kepada anggota DPRD atau kelompok bisnisnya. 2. yang diberikan oleh satu kelompok harus mendapatkan imbangan toleransi terhadap kelompok yang lain. DPRD dan tata pemerintahan demokratis di daerah Beberapa pengamat politik di daerah menyatakan bahwa kapasitas DPRD sekarang ini merupakan cerminan dari kapasitas masyarakat sipil. Para anggota dewan pun kemudian sibuk. layaknya pemadam kebakaran. Ketika terjadi pelanggaran-pelanggaran kebijakan atau program-program pembangunan. Lebih jelas tentang pembagian urusan ini dapat dilihat dalam bagian lampiran PP ini yang mencakup pembagian urusan di semua bidang pemerintahan yang menghubungkan antar tingkatan pemerintahan. idealnya. Dengan Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. Sebagai contoh. DPRD tidak dapat merumuskan perda inisiatif karena masyarakat sipil berpartisipasi baru sebatas demonstrasi dan memprotes pelaksanaan kebijakan tertentu.

Mungkin hal ini nya berbeda dengan pemilihan kepala daerah karena calon yang ada lebih terbatas dan mendapatkan sorotan tajam dari masyarakat. Sebagai tambahan. Baik DPRD maupun media massa berpendapat bahwa ormas kini masih belum aktif dalam berbagai kegiatan politik di daerah. media massa pun melihat bahwa partisipasi politik riil dari masyarakat seperti sekarang ini masih akan berlanjut untuk jangka menengah. Formatted: Font: +Body. Pendidikan politik yang dilakukan oleh partai politik dinilai belum mencukupi dan masih pada tahap sangat awal. jika warga masyarakat tidak siap dengan memilih wakil yang relatif lebih bermutu (karena mereka cenderung hanya memilih partai politik atau karena money politics) maka mereka tidak dijamin akan mendapatkan mutu wakil rakyat yang lebih baik. Italic . Indikasi lain menunjukkan bahwa mutu anggota DPRD di masa yang akan datang mungkin sangat dipengaruhi oleh kesiapan politik warga pemilih. Dalam berbagai kegiatan keparlemenan. Ormas ini menilai bahwa kontribusi mereka dengan memberikan calon-calon legislator yang dapat dihandalkan sudah mencukupi. Bagaimana mendayagunakan kapasitas politik masyarakat sipil? Kapasitas politik praktis masyarakat yang terlembaga mungkin tidak dapat berubah dengan cepat karena masyarakat pemilih di Indonesia belum mempunyai kapasitas politik riil yang memadai. Jika observasi yang dilakukan bersama dengan masyarakat media benar.kondisi masyarakat sipil seperti ini. DPRD belum mendapatkan tantangan peningkatan kapasitas dan kinerja sebagaimana seharusnya. Kondisi seperti ini jelas tidak kondusif untuk upaya peningkatan kapasitas dan kinerja DPRD. sebab mereka masih cenderung mengambil jalan alternatif dan sering menyarankan sikap golput . maka secara umum dapat diduga bahwa masyarakat belum benar-benar siap untuk melakukan pemilihan langsung terhadap wakil-wakil mereka di DPRD. Bagaimana DPRD memfasilitasi dinamika politik dari berbagai organisasi kemasyarakatan? Permasalahan lain yang perlu dikaji bersama oleh DPRD adalah dinamika politik dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) yang ada di daerah. para anggota DPRD menilai bahwa partisipasi ormas dinilai masih sangat minimal dan oleh karena itu kontribusi politik mereka pun relatif terbatas. Sikap seperti itu sebenarnya juga bertentangan dengan tata pemerintahan yang baik karena dengan tidak memberikan suara berarti warga memberikan dukungan politik pada calon yang mungkin kurang bermutu. Jika sikap politik seperti ini ternyata berkembang. Demokrasi yang kini tengah berkembang kiranya tidak sesuai dengan sikap politik seperti ini sebab setiap warga negara dituntut untuk bertanggung jawab secara lebih nyata dalam politik. Beberapa LSM dan kelompok intelektual yang mulai aktif dalam sektor politik dinilai masih belum siap untuk melakukan transformasi. Dalam pemilu langsung. maka dapat dikatakan bahwa masyarakat sipil dengan lembaga-lembaganya belum siap untuk masuk pada era demokrasi baru.

DPRD diharapkan memberikan informasi secara jujur dan terbuka sehingga kesulitan memperoleh informasi yang selama ini dialami dapat diatasi. media massa juga dapat secara terencana dan konsisten memuat berita dan opini tentang demokratisasi baik yang bersifat umum maupun kedaerahan. Bahkan di beberapa DPRD. beberapa DPRD dikatakan mengalokasikan sejumlah anggaran untuk pemberitaan kegiatan DPRD. mereka memandang beberapa strategi berikut layak untuk dikembangkan. DPRD juga diharapkan untuk secara terjadwal mengadakan diskusi-diskusi publik yang melibatkan atau yang dikhususkan untuk media massa. Dalam diskusi-diskusi dengan media massa seperti ini. media massa mendapatkan ruang khusus.Ormas yang ada di daerah juga dinilai belum mampu berfungsi sebagai kelompok penekan (pressure group) atau kelompok kepentingan (interest group). Pada dasarnya para wartawan mendapatkan akses yang sangat terbuka terhadap seluruh kegiatan DPRD dan informasi-informasi dasar lainya. Di beberapa daerah di Kalimantan Timur. walaupun . Ini tidak berarti bahwa mereka tidak mendukung proses tersebut. daerah-daerah lain cenderung menilainya secara berhati-hati. Ini merupakan fungsi pendidikan politik oleh media massa. Artinya. Apakah berbagai berita dan opini yang disampaikan oleh media massa berdampak nyata terhadap opini politik publik? Para wartawan keparlemenan cenderung berpendapat negatif. Walaupun belum mempunyai strategi khusus untuk mendukung demokratisasi di daerah (yang dikatakan merupakan wewenang redaktur). Namun demikian. Bagaimana DPRD dapat mengoptimalkan strategi media? Observasi yang dilaksanakan bersama dengan berbagai media lokal atau perwakilan media nasional serta para wartawan keparlemenan menunjukkan bahwa media massa tidak mempunyai strategi khusus untuk memfasilitasi demokratisasi dan reformasi tata pemerintahan. seperti misalnya di Kota Samarinda dan Propinsi Yogyakarta. Permasalahan menjadi lebih rumit ketika ormas yang berkembang di beberapa daerah justru berbasis kesukuan. media massa menempatkan wartawan khusus untuk meliput berbagai kegiatan dewan yang diagendakan dan kegiatankegiatan lain yang terkait dengan dinamika dewan. Setiap media massa harus mengembangkan information intelligence masingmasing. Ini memang seringkali dilakukan tetapi dinilai belum terencana oleh para awak media massa. praktek seperti ini seringkali dikatakan kurang ideal karena terdapat kesan wartawan dibiayai untuk memuat berita. Di DPRD propinsi dan kota. DPRD menilai bahwa kekuatan intelektual dan politik dari berbagai kelompok masyarakat yang berbasis politik atau asosiasi perlu terus dikembangkan dalam rangka peningkatan kapasitas dan kinerja DPRD. Media massa pada umumnya mendapatkan kebebasan penuh untuk memuat berita dan opini keparlemenan yang mereka anggap penting. Pertama. Kedua. karena ikatan kesukuan justru dapat berakibat kurang menguntungkan untuk demokratisasi. Sementara gejala ini dinilai dapat dimanfaatkan untuk sosialisasi politik di Kalimantan Timur. penyelenggaraan rubrik keparlemenan daerah perlu dan dapat dilakukan oleh masing-masing media. Ketiga. Kelompok yang dinilai mempunyai kekuatan politik signifikan ini pun dinilai masih membutuhkan upaya pemberdayaan tersendiri.

tetapi berita yang menyangkut kepentingan publik pun seringkali tidak mendapatkan tindak lanjut. .mereka menilai masyarakat mempunyai perhatian.

Sementara itu. politik. Rakyat kini tidak lagi berposisi sebagai peserta dalam pemilihan umum yang dilaksanakan lima tahun sekali. Perubahan ini ditandai dengan pemilihan langsung terhadap berbagai pejabat politik di pusat dan daerah.BAB III Pemilihan Langsung dan Akuntabilitas Wakil Rakyat Diana fawzia Agung Djojosoekarto Kerangka hukum dan perundang-undangan politik di Indonesia telah mengalami perubahan sistemik yang mendasar. Dalam konteks baru ini. pemilihan langsung mambuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas politik di daerah secara setara (political equality). dengan dilakukannya pemilihan langsung atas kepala daerah. anggota DPRD terpilih sekarang dikehendaki untuk selalu peka dan tanggap terhadap berbagai aspek sosial. rakyat pun dapat menuntut pemda dalam pemberian pelayanan publik yang lebih terjangkau dan bermutu. Dengan pemilihan anggota DPRD secara langsung. yaitu dengan dibentuknya Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Lebih dari sekedar penggembira dalam pesta demokrasi. pemilihan langsung memberikan akses politik kepada rakyat dalam upaya mendapatkan berbagai pelayanan publik (public service) yang menjadi haknya. pemilihan langsung memberikan berbagai peran pada rakyat untuk memberikan suara pada wakil mereka dan mengendalikan proses politik yang terjadi dalam berbagai lembaga perwakilan. termasuk DPRD. Oleh karena itu. akuntabilitas. Hal ini sangat perlu dalam upaya memberikan pemenuhan dan pel ayanan kepada kepentingan rakyat. agama serta potensi sumber daya. Dengan demikian. akuntabilitas para anggota dewan terhadap rakyat. sejak 2004 sudah dibentuk perubahan akan segera terjadi. adalah penting bagi anggota DPRD untuk menempatkan diri sebagai wakil yang langsung dipilih oleh rakyat dalam konteks jaringan kerja yang lebih luas. Ddasar pemikiran dan dasar kerja dari para anggota DPRD penting untuk ditata ulang sehingga mereka dapat sepenuhnya menempatkan diri sebagai wakil yang langsung dipilih oleh rakyat. pemilihan langsung diharapkan dapat lebih menjamin terlaksananya prinsip-prinsip keterwakilan. Kedua. harus ditinjau kembali dan didefinisikan ulang. Ketiga. misalnya. Bagi DPRD. Dalam Sebagai pengembangan cabang kekuasaan pemerintahan legislatif. rakyat dapat menuntut berbagai kebijakan dasar yang lebih kondusif bagi terwujudnya pelayanan publik yang lebih baik. pemilihan langsung untuk memilih wakil rakyat dan wakil daerah serta untuk membentuk pemerintahan yang demokratis dan kuat kini harus memperoleh dukungan rakyat secara penuh. Pertama. ekonomi. Terdapat tiga alasan pokok mengapa pemilihan langsung selaras dengan konteks desentralisasi dan otonomi daerah. pemilihan langsung juga memberikan jalur kendali yang lebih luas bagi rakyat dalam memastikan terakomodasikannya kepentingan mereka- Formatted: Font: +Body . Dalam tata pemerintahan demokratis di Indonesia sekarang. Dengan kata lain. budaya. dan legitimasi politik terhadap rakyat.

Sebagai contoh. Di masa lalu. Hal ini dapat berlangsung karena adanya sistem check and balance yang lebih baik. jika kepentingan tertentu tidak dapat terpenuhi melalui kebijakan dasar yang dihasilkan DPRD dalam bentuk perda. Oleh karena itu. dapatlah dikatakan bahwa pemilihan langsung dapat membangun hubungan kontraktual politik yang lebih baik antara anggota dewan dan konstituennya. pelayanan pemerintahan. DPD. Rakyat juga secara langsung memilih para pejabat politik eksekutif. Bagaimana mengefektifkan hubungan antara anggota DPRD dengan pemilihnya? Rakyat kini telah memilih wakil-wakilnya secara langsung dan tidak dipilihkan oleh partai politik seperti pada pemilu-pemilu sebelumnya. 27/2009. untuk akan mempunyai pengaruh sangat yang besar dalam proses politik di Indonesia. dan sekaligus pelayanan masyarakat. Perubahan peraturan perundang-undangan di bidang politik telah mulai mendorong dilaksanakannya perubahan paradigma tata pemerintahan yang lebih demokratis. Pemilihan terhadap para wakil tentu dilakukan berdasarkan kepercayaan dan keyakinan. Sebab. dimana rakyat. kepentingan rakyat daerah tersebut dimungkinkan untuk didesakkan dari tingkat pusat sepanjang berhubungan dengan otonomi daerah. Hal ini diharapkan akan membawa konsekuensi logis bagi . rakyat dapat pergi ke pemda atau ke DPD agar kepentingan mereka itu dapat diperhatikan. Kontrak politik tersebut menghendaki para anggota dewan dan pejabat politik lainnya mengoptimalkan pelaksanaan proses politik demi tata pemerintahan yang lebih demokratis dan pembangunan di daerah yang menyejahterakan rakyat. Terkait DPD.kepentingan dalam kebijakan-kebijakan publik yang lebih tanggap (responsive and accomodative policy). para pejabat politik tersebut dipilih melalui rakyat melalui partai berdasarkan sistem proporsional tertutup di parlemen. rakyat memilih dan menempatkan para wakil mereka untuk duduk di lembaga-lembaga perwakilan rakyat. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body .1. dan DPRD. sekarang ada kesadaran baru bahwa rakyat memberikan kepercayaan pada anggota DPRD untuk memperjuangkan kepentingan dan aspirasi politiknya. 3. hubungan pusat dan daerah. sebagaimana diatur dalam UU Susduk No. yaitu presiden dan wakil presiden serta kepala daerah. Dengan keikutsertaannya dalam pemilihan langsung. Konsekuensi dari pemilihan langsung Apa konsekuensi dari pemilihan langsung? Pemilu 2004 dan 2009 berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Pengaruh pilihan langsung oleh rakyat akan mendorong anggota DPRD dalam meningkatkan kinerjanya. perimbangan keuangan pusat dan daerah. serta pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya yang ada di daerah. sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Dalam konteks ini anggota DPRD akan selalu menghadapi banyak hal yang berkenaan dengan kebutuhan program pembangunan. Dalam pemilu sekarang pada dasarnya rakyat dapat secara langsung memilih wakil-wakilnya di DPR.

Dalam tipe yang kedua. Dalam tipe ini anggota DPRD bebas bertindak atau mengambil keputusan menurut pertimbangannya sendiri. Setelah anggota DPRD terpilih dalam pemilu. Dalam tipe ini anggota DPRD dapat bertindak sesuai dengan keinginan atau program dari partainya. Selanjutnya hubungan yang ada dalam menjalankan tugasnya hanya dijalin dengan partainya. sehingga posisinya sangat independent. Ia tidak diharuskan berkonsultasi dengan yang diwakilinya. anggota DPRD juga sebaiknya membuat pemetaan masalah-masalah kemasyarakatan yang terjadi di daerahnya. Oleh karena itu. Perlu diantisipasi adalah hubungan antara anggota DPRD dengan dan partainya yang masih kuat. Pemilihan langsung dan kebijakan partisipatif Keeratan hubungan antara DPRD dengan pemilihnya paling mudah dilihat dari mekanisme pembuatan kebijakan yang dilaksanakan secara partisipatif. Tipe yang ketiga adalah tipe politico. tipe ini sangat menonjol. memahami potensi daerah serta harus mampu melakukan seleksi prioritas atas berbagai permasalahan yang ada. Prinsip yang paling penting adalah akuntabilitas anggota DPRD terhadap rakyat. penentuan calon terpilih didasarkan suara terbayak (bukan nomor urut seperti pada pemilu 2004). Karena perubahan tipe hubungan yang berubah secara radikal. Anggota DPRD lebih mewakili partainya daripada mewakili rakyat. Agar pemenuhan kepentingan rakyat dapat lebih terjamin. baik konstituen ataupun partainya. Ia tidak diharuskan untuk berkonsultasi dengan partainya.Bagaimana hubungan yang ideal antara anggota dewan dengan dan pemilih? Secara umum terdapat empat tipe hubungan antara wakil (anggota DPRD) dan terwakil (rakyat). kecenderungan anggota DPRD untuk tetap partisan sangat terbuka. Di masa lalu. Tipe yang pertama adalah tipe wali (trustee). Untuk mengoptimalkan hubungan antara anggota DPRD dan rakyat. yaitu tipe utusan (delegate). yang merupakan paduan antara tipe wali dan tipe utusan. para anggota DPRD yang telah dipilih secara langsung dapat melakukan berbagai langkah sebagai berikut: . dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya. seperti karena peran partai sangat besar dalam penyusunan daftar calon legislatif dan penentuan daerah pemilihan. Salah satu atau kombinasi di antaranya dapat dijadikan acuan anggota DPRD dalam membangun hubungan dengan rakyat pemilihnya. maka yang paling penting adalah dilakukannya pengrubahan pola pikir (mind set) dalam tata hubungan itu. anggota DPRD harus selalu mengikuti keinginan dan petunjuk dari yang diwakilinya. Anggota DPRD dinilai sudah betul-betul memperoleh kepercayaan dari rakyat melalui pemilu. Agar hubungan dengan rakyat lebih efektif. tetapi selama situasi tertentu ia harus bertindak sebagai utusan dan berkonsultasi dengan yang diwakilinya. Anggota DPRD bertindak sebagai utusan dari yang diwakilinya. Jika hal ini tidak diantisipasi dengan baik. Dalam tipe ini anggota DPRD dapat bertindak bebas karena legitimasinya. lepaslah hubungan dengan pemilihnya. Tindakan anggota DPRD ditentukan oleh isu atau materi yang dibahasnya. Terlebih pada pemilu 2009. Tipe yang terakhir adalah tipe partisan. tipe politico tampaknya yang paling ideal sesuai dengan Pemilu 2004 dan 2009 yang bersifat proporsional terbuka.

pertanyaan-pertanyaan dasar berikut ini perlu selalu dipertimbangkan setiap kali anggota DPRD melakukan fungsi dan tugasnya: 1.1. Apakah DPRD telah menciptakan produk kebijakan yang mampu mendukung meningkatnya kualitas pelaksanaan pemilihan langsung di daerah dan menerapkannya secara konsisten? Dalam tata demokrasi yang mulai berkembang di tingkat nasional dan daerah. Oleh karena itu. dan pengawasan. penetapan anggaran daerah. tatanan demokrasi menghendaki adanya suatu pemerintahan dari. Pertama. prinsip ini acapkali dilupakan. 12 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . 3. Apakah pelaksanaan fungsi dan tugas telah menempatkan kepentingan rakyat yang merupakan pemegang kedaulatan yang paling tinggi? 2. Dewasa ini. baik secara internal maupun eksternal? 5. dan 5.2. DPRD harus mampu berfungsi sebagai penyeimbang dan penyelaras dari berbagai kepentingan (political prerequisite). kelompok-kelompok dalam Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. ada beberapa pra kondisi penting yang perlu dipenuhi oleh DPRD. yaitu pembuatan peraturan perundangundangan. Menginformasikan kepada masyarakat tentang kebijakan yang diputuskan dan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh DPRD disertai dengan alasan-alasan yang rasional. Melakukan need assessment tentang kebutuhan masyarakat untuk dijadikan database. Apakah anggota DPRD dapat mempertanggunggugatkan semua produk kedewanan yang dihasilkannya sebagai bukti akuntabilitas publik? 3. Memutuskan dan mendorong insiatif suatu perda yang mengakomodasi sebesarbesarnya kepentingan dan harapan rakyat. dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang didalamnya termasuk Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Pemerintah Daerah (RKA-SKPD). sebagai bagian pelibatan masyarakat (stakeholder) dalam proses pemerintahan dan pembangunan. Dalam prakteknya. 4. Kontrak sosial anggota DPRD dalam tata demokrasi baru Apa tuntutan suatu tatanan demokrasi terhadap DPRD? Secara ideal. 2. Melakukan kajian berdasarkan kepentingan dan kebutuhan rakyat terhadap rencana anggaran sebelum diputuskan menjadi APBD. Apakah DPRD telah memperhitungkan seluruh unsur penentu yang penting bagi penegakan supremasi hukum. Oleh karenanya. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). rencana anggaran satuan kerja (RASK). dan untuk rakyat. Apakah DPRD telah akomodatif terhadap stakeholders dalam merumuskan berbagai arah kebijakan? 4. oleh. pengawasan dan persetujuan DPRD terhadap APBD yang diajukan oleh eksekutif pada gilirannya diharapkan tidak hanya terbatas didasarkan pada pembahasan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). Dengan demikian. prinsip ini harus tercermin dalam pelaksanaan fungsi-fungsi utama DPRD. Melakukan perbandingan antara hasil need assessment yang didapat dengan dan rencana pembangunan yang disusun oleh eksekutif atau yang termuat dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). 3.

Betapapun demikian. dengan berbagai produk dan keputusannya.masyarakat sipil mulai mampu membentuk kekuatan-kekuatan politik. DPRD harus mampu memfasilitasi redistribusi berbagai aset dan akses atas sumber daya dan hasil pembangunan (economic prerequisite). AkhirnyaKelima. DPRD akan mendapatkan dukungan yang mempermudah pelaksanaan fungsi dan tugasnya. mulai dari peraturan perundang-undangan tingkat nasional sampai peraturan adat yang berlaku lokal. nama-nama calon telah disampaikan melalui berbagai media dan rakyat dapat secara langsung menentukan pilihannya. dari tingkat nasional sampai tingkat daerah. Bagaimana menyikapi hubungan kontrak sosial yang baru? Dalam Pemilu 2004 maupun 2009. Anggota DPRD harus menjadi penjaga dan contoh dalam hal ketaatan hukum. Not Italic Formatted Table . hal ini tidak menghilangkan prinsip konstitusional bahwa pemilihan umum dilaksanakan secara langsung oleh rakyat. Kemampuan DPRD dalam mengembangkan budaya politik lokal yang kondusif untuk demokrasi akan memberikan dampak yang positif untuk peningkatan kinerjanya sendiri. Dalam sistem pemerintahan dewasa ini. ia harus terlibat aktif dalam memfasilitasi perubahan sosial di lingkungannya (social prerequisite). Dengan perda yang dihasilkannya DPRD dapat meminimalkan disparitas antar warga masyarakat dan mewujudkan pemerataan yang lebih baik. DPRD selayaknya menjadi penjaga integritas norma hukum dan perundang-undangan di lingkup daerahnya (legal prerequisite). rakyat juga dapat menilai kesesuaian program dari partai politik yang akan dipilihnya. DPRD pun dikehendaki untuk melakukan berbagai program pematangan demokrasi pada tingkat lokal. Keempat. DPRD adalah pembuat perda yang merupakan kebijakan dasar di tingkat daerah. Oleh karena itu. sebab proses pengenalan berlangsung singkat. Ketiga. sebagian besar rakyat mungkin belum dapat mengetahui dengan persis tingkat kualitas memilih nama calon yang dipilihnya secara langsung. Dengan berbagai kampanye melalui media massa. meski terbatas. Perbedaan itu dapat dipaparkan secara singkat sebagai berikut: Indikator Pemilu lama (Pra 2004) Pemilu baru (2004 dan 2009) Formatted: Font: +Body. Oleh karena itu. Pemilu seperti itu menghasilkan hubungan kontrak sosial yang berbeda dibandingkan dengan pemilu yang sebelumnya. Setidaknya. Pengembangan kelembagaan ini harus memperhatikan spektrum pemerintahan yang luas. dalam tatanan demokrasi. Jika rakyat lebih mampu melakukan partisipasi politik secara terlembaga. Hal ini khususnya relevan untuk pemenuhan kesejahteraan dari warga yang rentan terhadap kemiskinan dan keterbelakangan. dalam tata demokrasi. Kedua. Harmonisasi kepentingan merupakan tugas penting yang perlu dipertimbangkan dalam setiap perumusan kebijakan oleh DPRD. dalam kerangka transformasi sosial yang lebih luas. DPRD pun diharuskan mampu membentuk kerangka peraturan yang diperlukan untuk membangun lembaga dan struktur pemerintahan di daerah yang efektif (institutional prerequisite). rentang kelembagaan yang perlu diperhitungkan DPRD sangat luas.

. Apakah memenuhi janji politik selama kampanye saja sudah cukup? Tentu saja tidak. Dengan cara ini. Bagaimana rakyat diharapkan mendukung kinerja DPRD? Setelah memberikan kepercayaan politik pada para wakilnya.Calon aAnggota yang telah terpilih tidak akan mendapatkan suara dalam pemilihan langsung periode berikutnya. upaya ini penting bukan saja untuk memenuhi janji politik. Tapi agar kontrak politik menjadi lebih efektif dan mendukung DPRD. ia juga harus menciptakan gagasan terbaik untuk memaksimalkan pemerintahan dan pembangunan di daerah.DPRD akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya secara demokratis. Beberapa kerugian yang dapat ditimbulkan antara lain: . Oleh karena itu. konteks demokrasi baru memberikan peluang kepada rakyat untuk ikut serta dalam meningkatkan kinerja dari DPRD dengan berbagai cara. Upaya-upaya yang terkait dengan perbaikan proses pemerintahan dalam cabang . Anggota DPRD yang telah terpilih mempunyai kewajiban untuk memenuhi berbagai janji politik itu. berbagai partai politik menebar berbagai janji melalui program-program yang ditawarkan pada rakyat. Para anggota DPRD secara terus-menerus perlu melakukan penilaian dan penjajakan dinamika kepentingan dan orientasi politik rakyat.Akuntabilitas dan integritas DPRD akan dipertanyakan oleh rakyat dan publik secara luas. sementara anggota DPRD melaksanakan fungsi dan tugas konstitusionalnya.Partai politik akan kehilangan kepercayaan dari rakyat. rakyat dapat memberikan kebebasan pada mereka. melainkan juga menjadi dasar rasional untuk mengoptimalkan perolehan dukungan politik. . Dalam konteks ini. anggota DPRD dapat menjaga apakah berbagai kepentingan yang menjadi dasar kontrak sosialnya dapat dipenuhi dengan baik. Berbagai hasil yang didapatkan dapat diolah lebih lanjut dan digunakan untuk mendukung keberhasilan pemilihan umum yang berikutnya.Siapa yang berkontrak sosial? Apa posisi rakyat/pemilih? Bagaimana realismenya? Bagaimana konsekuensinya?  Anggota DPRD  Partai politik Rakyat sebagai peserta/penggembira pesta demokrasi Rakyat cenderung emosional karena partai pilihannya Rakyat lemah dalam mengontrol para wakil  Rakyat/pemilih  Anggota DPRD  Partai politik Rakyat sebagai Pemilih wakil rakyat yang ditawarkan partai politik Rakyat bersikap lebih rasional dalam memilih Rakyat dapat secara penuh mengontrol para wakil Dalam kampanye yang lalu. Upaya ini dapat dilaksanakan dengan partai politiknya. . serta . Upaya ini dapat dilaksanakan dengan cara memfasilitasi rakyat dalam memberikan kritik dan masukan bagi DPRD melalui berbagai media.Banyak protes akan ditujukan kepada fraksi tertentu di DPRD. Kegagalan dalam memenuhi janji politik akan berdampak disinsentive terhadap partai politik. hubungan kontrak sosial antara rakyat dan anggota DPRD dapat dikatakan bersifat dinamis.

maka partisipasi dalam perumusan dan penentuan kebijakan dasar pemerintahan dan pembangunan daerah pun dapat dilakukan. 3. dalam rangka menegakkan pelaksanaan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik. Dalam hal ini. Hubungan kontrak politik yang diarahkan untuk mendukung peningkatan kinerja DPRD juga menghendaki adanya arus informasi yang lancar antara DPRD dan rakyat. Dengan demikian. . DPRD akan mempunyai prospek untuk menciptakan sistem insentif yang lebih baik secara kelembagaan maupun karir politik perorangan. Walaupun dalam jangka pendek terkesan berlebihan. atau sidang-sidang komisi lainnya. upaya kritis oleh rakyat ini dalam jangka panjang justru akan menguntungkan DPRD dalam upaya membangun lembaga perwakilan rakyat yang bersih dan berwibawa. Sebagai contoh. rakyat dapat melibatkan diri secara aktif dalam pembahasan perda. rakyat tidak cukup dengan menunggu tawaran dari DPRD untuk ikut serta dalam berbagai proses pembahasan tapi rakyat secara aktif dapat pula mengikuti berbagai sidang terbuka. rapat dengar pendapat (RDP) dengan pemerintah. DPRD juga harus lebih membuka diri agar forum-forum persidangan di DPRD dapat diakses oleh publik luas. Transparansi diperlukan bukan hanya untuk kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh DPRD. termasuk dengan memanfaatkan keberadaan institusi pengawasan internal seperti. atau RAPBD. Badan Kehormatan DPRD. rakyat di berbagai daerah telah menunjukkan bahwa mereka dapat pula menuntut pelaksanaan law enforcement yang lebih tegas terhadap anggota DPRD yang melakukan penyimpangan. Badan Pengawas Keuangan Pemerintah (BPKP). secara perorangan dan kelembagaan. maka para wakil rakyat dapat dikatakan akuntabel jika mereka siap untuk digugat oleh rakyat atas apa yang dilaksanakan dan dihasilkannya sebagai anggota DPRD.legislatif seperti yang telah dikemukakan terdahulu menunjukkan bahwa rakyat dapat mendukung peningkatan kinerja dengan selalu mengontrol akuntabilitas dari DPRD dan seluruh anggotanya. Sebaliknya. Inspektorat. Karena pemilihan umum hanyalah awal dari kontrak politik antara rakyat dengan dan DPRD. Sebagai tambahan. nuansa konstraktual dan hukum lebih kental dan berdimensi eksternal dibandingkan responsibilitas yang cenderung internal.3. Maka. Proses pengendalian politik yang dapat dilaksanakan oleh rakyat seperti dipaparkan di depan perlu disikapi secara positif dan arif oleh DPRD baru. tetapi juga seberapa besar sumber daya yang disediakan untuk DPRD dan seberapa efektif DPRD mendayagunakan untuk sebesar-besarnya manfaat rakyat. sesuai dengan ciri hubungan kontrak sosial dari para wakil rakyat. Akuntabilitas atau tingkat pertanggunggugatan tidak sama dengan responsibilitas atau tingkat pertanggungjawaban. Dalam akuntabilitas. dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ataupun institusi pengawasan negara yang bersifat independen seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). mampu mempertanggunggugatkan segala yang dilaksanakan dan dihasilkannya. Menjaga akuntabilitas wakil rakyat Apa ciri-ciri wakil rakyat yang akuntabel? Para wakil rakyat dapat dikatakan akuntabel jika ia.

anggota DPRD dapat melakukan pengecekan atau meminta penjelasan dari setwan sebagai pengelolaan keuangan dan tunjangan DPRD. Ini berarti bahwa anggota DPRD harus memahami UUDkonstitusi. Selanjutnya. Pun dalam menentukan uang tunjangan. Partai politik akan menghendaki utusan-utusannya memperjuangkan kepentingan-kepentingan politik yang telah digariskan dalam program partai. Badan Musyawarah. Jika ia tidak setuju dengan kebijakan atau langkah tertentu. Dalam posisinya sebagai aparatur negara. dan kelembagaan secara keseluruhan. Secara perorangan. Ketiga hal tersebut akan menjadi dasar utama untuk menilai kinerja perorangan dan pedoman dalam menyampaikan semua pertanggunggugatan politiknya di hadapan rakyat. Bersikap diam akan berarti ia ikut bertanggung gugat terhadap kebijakan dan tindakan alat kelengkapan dewan itu. peraturan dari partai politik serta berbagai aturan main lain yang telah ditentukan untuk keberadaannya. tata tertib dan kode etik DPRD. fungsi. maka ia harus secara aktif memastikan bahwa kebijakan dan langkah yang diambil oleh alat kelengkapan dewan itu selaras dengan nilai-nilai politiknya. anggota DPRD harus secara terbuka dan jelas menyatakan sikap. 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Agar kesalahan yang tidak perlu dapat dihindarkan. 27/2009. Badan Anggaran. baik dalam komisi atau panitia kerja tertentu. uang paket. Badan Kehormatan. posisi. maka ia harus menyampaikan kepada publik dengan jelas dan tegas. Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Level 1. anggota DPRD harus pula mampu mempertanggunggugatkan kinerjanya terhadap partai politik dan konstituen tertentu yang mendukung partai politik itu. Sebab. dan target politiknya terhadap berbagai urusan politik yang dilaksanakan dalam berbagai forum internal dan eksternal DPRD. dan tugasnya. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt . tunjangan beras. Badan Legislasi Daerah. Para anggota DPRD tidak dapat secara semena-mena menggunakan berbagai sumber daya yang disediakan oleh negara karena. sekalipun berasal dari partai politik yang sama. peraturan perundang-undangan dengan jenis dan tingkatan sebagaimana yang dimaksud dalam UU No. Sebagaimana diatur dalam UU No. pengaturannya harus disesuaikan dengan kemampuan daerah. fraksi. hak keuangan dan administratif dari DPRD telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP). DPRD juga dapat mulai merumuskan profil politik secara perorangan. seperti uang representasi. anggota DPRD juga harus dapat memenuhi berbagai prosedur teknis yang berkenaan dengan penggunaan berbagai sarana dan prasarana pendukung kerja. Setiap anggota DPRD wajib secara aktif memastikan semua informasi yang berkenaan dengan kerangka aturan tersebut tersedia untuknya. Ketika anggota DPRD tertentu dipilih atau ditunjuk menjadi anggota dari alat kelengkapan dewan. alat kelengkapan dewan (Komisi. dan alat kelengkapan lainnya). tunjangan keluarga.akuntabilitas perlu dan bahkan harus dipenuhi dalam beberapa tingkat: perorangan. masing-masing anggota dapat mempunyai profil politik yang unik. serta tunjangan pemeliharaan kesehatan. sebagai anggota fraksi yang merupakan bentuk kesatuan politik berdasarkan partai. Apa yang perlu diperhatikan agar dapat bertanggung gugat? Hal penting pertama yang perlu diperhatikan oleh anggota DPRD adalah penguasaan yang solid atas seluruh kerangka peraturan yang membingkai mandat.

Selain itu. Sebagaimana diatur dalam UU No. Space Before: 0 pt.4. yaitu fungsi dan tugas DPRD untuk membentuk perda baik dengan inisiatif mandiri ataupun bersama-sama pemda yang dipimpin kepala daerah. masalah ini mencuat karena banyaknya perda-perda yang bertentangan dengan peraturan di atasnya sehingga kemudian dibatalkan pemberlakuannya (perda bermasalah). Pedoman anggaran kinerja secara umum bertujuan untuk: 1. Ini menyangkut kesesuaian antara peraturan daerah di tingkat lokal dengan peraturan perundangundangan di atasnya.25". Tab stops: Not at 0. Tata urutan peraturan perundang-undangan.18" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0.19". apakah seluruh sikap.88" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. fungsi dan tugas pokok DPRD mencakup: 1. UU No. Karakteristik lokal perlu sebagai bahan pertimbangan agar tercapai kesesuaian arah pembangunan dengan kebutuhan masyarakat daerah.Sebagai tambahan. Tab stops: Not at 0. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Level 1. yang di dalamnya termasuk anggaran untuk pelaksanaan fungsi.25" + 1. Dasar pemikiran dalam melaksanakan fungsi anggaran dari anggota dewan perlu disesuaikan dengan sistem anggaran kinerja yang berlaku sesuai perundangundangan. Dalam mengoptimalkan kinerja fungsional tersebut. perda dan keputusan kepala daerah serta kebijakan nasional lainnya. 2. Secara tepat menentukan tahapan penyusunan anggaran. kinerja pokok DPRD disusun dan dinilai berdasarkan pada fungsi dan tugas konstitusionalnya. Sebagai anggota lembaga yang mensahkan renstrada RPJMD. Dalam kasus beberapa tahun terakhir. anggota DPRD perlu secara terus-menerus mengecek. 58/2005. 32/2004. dan 3.75" . Space Before: 0 pt. Pengawasan. Legislasi. Hanging: 0. Menjaga kinerja DPRD Pertimbangan fungsional Pada dasarnya. Materi perda ke arah penyelenggaraan otonomi daerah. agar pertanggunggugatan kinerja dapat dilaksanakan dengan lebih mudah. maka anggota DPRD wajib untuk menjadikan dokumen ini sebagai acuan pokok.13". baik dalam hal legislasi penganggaran maupun pengawasan. Don't adjust space between Latin and Asian text. Anggaran adalah fungsi dan tugas DPRD bersama-sama pemda untuk membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadapmenyusun dan menetapkan RAPBD. 33/2004. Space Before: 0 pt.25" + 0. 38/2007. 2. Space Before: 0 pt. 3. adalah fungsi dan tugas DPRD untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UU. Formatted: Level 1. 22/200327/2009 tentang. Tab stops: Not at 0. Hal ini sangat penting karena dokumen ini merupakan dasar dalam pelaksanaan fungsi dan tugas pokok DPRD. dan wewenang DPRD.13". posisi dan target politiknya selaras dengan kebijakan dan sasaran program-program pemerintahan dan pembangunan daerah. Don't adjust space between Asian text and numbers Formatted: Indent: Left: 0. tugas.25" + 0. rujukan sebagai dasar pertimbangan antara lain adalah: 1. PP No. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Left. 3. sasaran perda juga butuh dicantolkan pada upaya pencapaian target-target Milennium Development Goals (MDG s) setidaknya bagi jenis layanan-layanan publik dasar. Prinsip otonomi daerah misalnya bisa digali dengan menelisik ruang fisibilitas regulasi yang dimungkinkan sebagaimana diatur dalam UU No. serta PP No.

dan 4.2. Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Perencanaan PJM Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Pelaksanaan ancangan KP Ver PP S K Nota Kesepakatan (Pemda. e a aan K -SKP P Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Penatasusahaan Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Pertanggungjawaban Akuntansi Keuangan Daerah Akuntansi Keuangan Daerah Penatausahaan Pendapatan Laporan keuangan Pemerintah Daerah  Laporan realisasi anggaran  Neraca  Laporan Arus Kas  Catatan atas Laporan Keuangan Penatausahaan Belanja Kekayaan dan Kewajiban daerah       Kas Umum Piutang Investasi Barang Dana Cadangan Utang Pemeriksaan laporan keuangan (BPK) Raperda Pertanggungjawaban APBD ¦§ & § P %   ©   ¥ $ # ap ran ea a e e ter er ahan ¦§© §¦ ¨ a " !  §    §   § ¦§ ¨ ¨ ¦§© §¦ ¨     Formatted: Left. Space Before: 0 pt . Memberikan gambaran mengenai proses penyusunan anggaran secara keseluruhan disertai dengan jadwalnya. Mengidentifikasi masalah-masalah utama dan perubahan yang berdampak pada proses anggaran tahun yang akan datang. Left ¨   § ¥  ¦ ¢ ¢£ ¢   £   ¢ ¢¡  £ ¢¡     £ ¢ ¢ £  ¤ £ Formatted: Centered.5". Indent: First line: 0". 3. e anja.P ) a ar e a anaan nggaran Pedoman Penyusunan K -SKP e a anaan en apatan. Tab stops: 4. Memberikan pedoman umum mengenai pendekatan anggaran yang digunakan.

BPKP. DPRD harus menyesuaikan diri dengan berbagai lembaga pemerintahan lain di daerah (termasuk instansi pusat yang ada di daerah) yang mempunyai kewenangan dalam bidang pengawasan seperti Inspektorat. DPRD perlu duduk bersama dengan berbagai lembaga tersebut untuk menyepakati bidang. jangkauan dan mekanisme kerja yang berkaitan dengan pengawasan. Formatted: Level 1 .Formatted: Space Before: 0 pt Dalam melakukan fungsi pengawasan. ataupun KPK. BPK.

karena tanpa kemandirian sulit diwujudkan otonomi yang sesungguhnya. Otonomi daerah membutuhkan kemandirian. dan membiayai sendiri pelaksanaan pembangunan. agar penafsiran terhadap UU No. Artinya. Pendekatan-pendekatan dan mekanisme-mekanisme konsensus perlu dipersiapkan. ada kemampuan untuk membuat dan melaksanakan kebijakan yakni: merencanakan pembangunan. maka hakekat dari otonomi daerah adalah semakin mendekatkan pemerintah ke rakyat. Otonomi daerah memberikan kedekatan antara rakyat dan wakilnya di lembaga-lembaga legislatif. DPRD sebagai wakil rakyat menjadi pusat perubahan ke arah tersebut. Pendekatanpendekatan dan mekanisme-mekanisme konsensus perlu dipersiapkan secara cermat dan efektif.BAB IV Menjadi Wakil Rakyat dalam Konteks Otonomi Daerah Diana fawzia Otonomi daerah memberikan kedekatan antara rakyat dan wakilnya di lembaga-lembaga legislatif. sebab peraturan pemerintah (PP) yang ada belum secara jelas mengatur mekanisme politik seperti ini. DPRD dapat memproduksi peraturan daerah yang dapat memberikan jaminan pelayanan pemerintah dan pembangunan yang bermutu pada rakyat. sehingga antara wakil rakyat dengan masyarakat tercipta hubungan harmonis dalam memanfaatkan potensi yang ada untuk membangun daerah. Karena itu. namun lebih jauh lagi dapat mewakili dan memperjuangkan segala kepentingan rakyat meliputi berbagai aspek kebutuhan masyarakat di daerahnya. DPRD tidak hanya berfungsi sebagai perumus yang menetapkan peraturan-peraturan saja. 4. dan otoritasnya. tugas dan otoritasnya. Kesepakatan seperti ini dapat dibangun melalui konsensus di antara lembaga-lembaga tata pemerintahan yang ada. Keserasian hubungan antara DPRD dengan jajaran Formatted: Space Before: 0 pt . Kesepakatan seperti ini dapat dibangun melalui konsensus di antara lembaga-lembaga tata pemerintahan yang ada. DPRD perlu merumuskan kembali posisinya terhadap lembaga-lembaga eksekutif dan yudikatif di daerah. tugas. Berangkat dari paradigma tersebut. 2232/1999 2004 tidak berlebih. Di lain pihak.1. rakyat didorong untuk mengembangkan prakarsa mandiri. Karena itu langkah proaktif perlu dilakukan DPRD untuk merumuskan kembali posisinya dengan baik dan seimbang dalam hubungannya dengan lembaga-lembaga eksekutif dan yudikatif di daerah. sebab peraturan perundangundangan yang ada belum secara jelas mengatur mekanisme politik seperti ini. DPRD harus mampu memandirikan daerah dalam beragam pembangunan. melaksanakan pembangunan. mengatur pegawai. Dalam arti yang sesungguhnya. Kesepakatankesepakatan baru diperlukan agar masing-masing lembaga mengetahui batas-batas fungsi. Otonomi daerah dan konsekuensinya bagi DPRD Sebagai konsekuensi otonomi. Kesepakatan-kesepakatan baru diperlukan agar masing-masing lembaga mengetahui batas-batas fungsi.

Selanjutnya. 22/1999 tentang pemda dengan jelas mengatur peran masing-masing pihak serta hubungan antara keduanya. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian KDH (gubernur. keberadaan DPRD dan Pemerintah Daerah adalah tak terpisahkan sebagai kesatuan dalam pemerintahan daerah. Jadi. melakukan kolusi. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. bupati. 22/1999 dalam hal kewenangan DPRD untuk dapat menolak laporan pertanggungjawaban dari kepala daerah yang seringkali berimplikasi secara politis untuk menjatuhkan kepala daerah. Hanya dengan ini masyarakat akan mampu didorong sebagai bagian penting dari otonomi. Atau lebih jauh lagi. Kesejajaran dan kemitraan ini akan menjadi sebuah sinergi bila kedua lembaga ini menempatkan kewenangan yang dimiliki pada proporsi yang tepat. Ketentuan ini diharapkan akan menciptakan kestabilan pemerintahan daerah sehingga tidak mengulang preseden UU No. sesuai atau tidak dengan tugas dan tanggung jawab yang sudah diputuskan. keduanya dihubungkan baik sebagai mitra yang berkedudukan setara dan sejajar (tidak saling membawahi) maupun penyeimbang jalannya pemerintahan daerah. hendaknya tidak digunakan dengan tujuan semata-mata untuk menjatuhkan kepala daerah. adalah menyangkut hubungan antara lembaga legislatif dan lembaga eksekutif di daerah. 32/2004 Pasal 42 ayat (1) huruf d yang mekanismenya diatur dalam pasal 29. Kewenangan DPRD dalam UU No. Namun demikian. pasal 42 ayat (1) huruf h. walikota beserta wakilwakilnya) serta menolak laporan pertanggungjawaban (LPJ) kepala daerah. korupsi. Dalam perspektif Pemerintah Pusat. 22/1999 dalam memilih. ketentutan terkait hal ini diubah menjadi bahwa wewenang DPRD lebih dibatasi untuk sebatas meminta keterangan laporan pertanggungjawaban dari kepala daerah. ini diharapkan tidak mengurangi sikap kritis DPRD terhadap pemerintah daerah dalam proses penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pasal 16 ayat 2 menyatakan bahwa DPRD sebagai badan legislatif daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari pemda . Posisi tawar yang demikian strategis hendaknya tidak dimanfaatkan untuk memberi tekanan (memeras) KDH demi keuntungan pribadi atau kelompok. tetapi untuk lebih kritis lagi menilai kinerja kepala daerah. Pemahaman dan kepatuhan terhadap tugas-tugas yang dibebankan. dan nepotisme dengan pihak KDH. 32/2004. Salah satu implikasi dari UU No. Fungsi pengawasan hendaknya dilakukan dalam sebuah proses yang demokratis sehingga dapat meminimalisasi perbedaan kepentingan politik yang seringkali mewarnai hubungan antara DPRD dan pemerintah daerahkedua lembaga ini. 2232/1999 2004 tentang Otonomi Pemerintahan Daerah dan UU No. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . bersama-sama memanipulasi aspirasi rakyat untuk mengumpulkan kekayaan pribadi atau kelompok. dapat menghindarkan terjadinya intervensi dan overlapping antar wilayah kerja kedua institusi ini. UU No. Dalam perspektif pemerintahan daerah. Kewenangan yang amat besar yang dimiliki oleh DPRD saat ini seyogyanya tidak dijadikan sebagai sarana atau kesempatan untuk menjatuhkan eksekutif atau mengusulkan pemberhentian kepala daerah sebagaimana disebut dalam UU No.pemda menjadi mutlak untuk membangun kesamaan pandang dalam memanfaatkan potensi daerah serta dalam hal penggunaan anggaran pembangunan sesuai urgensi dan kebutuhan masyarakat. Dalam UU No. hubungan kedua lembaga itu bersifat sejajar.

ke depan DPRD perlu memberikan makna otonomi dalam konteks sebagai berikut. Misalnya. Oleh karenanya. Apa yang dibutuhkan daerah. Komunikasi yang tidak dibangun dengan baik akan mengakibatkan pola hubungan di antara kedua institusi ini menjadi tidak sehat dan pada akhirnya menghasilkan sebuah pemerintahan yang tidak stabil. menjadikan semua kebijakan publik pada tingkat lokal harus melibatkan kedua belah pihak. selanjutnya sehingga daerah diharapkan dapat lebih berperan dalam menentukan prioritas pembangunan. diperlukan kepekaan yang kuat dalam menentukan prioritas pembangunan daerah. sesuai dengan urgensi kebutuhan masyarakat. Peluang DPRD untuk menciptakan dan mendorong pembangunan demokrasi di daerah semakin terbuka.Di sini dibutuhkan kearifan untuk melakukan kompromi di antara kedua kepentingan tersebut agar tidak menjadi konflik. Keserasian hubungan antara DPRD dengan jajaran pemda menjadi mutlak ketika berbicara mengenai pemanfaatan potensi daerah dan berapa besar anggaran pembangunan yang diperlukan untuk itu. semangat UU No. dan pembangunan yang kondusif. dan aset mana yang harus dilindungi. Kesemuanya itu dituangkan dan dirumuskan dalam perda. Indent: Left: 0". Berdasarkan penelitian terhadap peran dan fungsi DPRD selama ini. perda yang memberi kemudahan bagi kalangan pengusaha dan investor untuk menanamkan modalnya di daerah. pelaksanaan pemerintahan. dan mengimbangi. kondisi daerah secara menyeluruh hendaknya menjadi dasar pertimbangan utama. Kemampuan meletakkan posisi secara proporsional oleh DPRD dan pemerintah daerah terhadap pemerintahan pusat akan menciptakan sinergi yang lebih optimal. menunjukkan bahwa proses demokrasi. Untuk itu. Dalam merumuskan dan menetapkan peraturan daerah (policy making power). 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku saat ini memberikan penekanan pada pola hubungan keseimbangan dan keserasian yang sinergis. komunikasi yang efektif dengan eksekutif harus dibangun sejak awal agar terjalin sebuah hubungan yang saling mendukung dan bukan saling menjatuhkan. Kepentingan masyarakat dapat lebih diwadahi dan potensi daerah dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. lahan usaha bertambah. tanpa harus ada kekhawatiran akan tersingkirnya tenaga kerja lokal. hendaknya diikuti dengan dibuatnya peraturan daerah yang membatasi masuknya tenaga kerja asing serta mengharuskan perusahaan memberikan pelatihan peningkatan ketrampilan pada pekerja-pekerja lokal. Dengan demikian. Formatted: Justified. Kemajemukan harus menjadi aset daerah yang perlu dikelola dengan baik dalam tatanan politik. Adjust space between Asian text and numbers .5". Untuk itu. Kedudukan DPRD tidak lagi menjadi bagian dari pemda tetapi sebagai badan yang memiliki wewenang strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. First line: 0. dan pembangunan tersendat justru karena peran DPRD yang kurang sesuai dengan kepentingan daerah. karena keberagaman masyarakat menjadi realitas sosial yang alamiah. mengawasi. Terlebih lagi. pemerintahan. Secara umum demokrasi mengakui adanya kehidupan yang serba majemuk. Intervensi pemerintah pusat terbatas pada hal-hal tertentu. Mekanisme check and balance yang memberi peluang kepada DPRD dan pemerintah daerah untuk saling mengontrol. potensi apa yang dimiliki daerah. Adjust space between Latin and Asian text. lapangan pekerjaan bagi warga masyarakat tercipta.

pertanahan. pekerjaan umum. Dengan otonomi. yaitu perda. 38/2007 tersebut. pertanian. 38/2007 terdiri dari 31 bidang urusan pemerintahan yang setelah diklasifikasikan diturunkan menjadi 26 urusan wajib dan 8 (delapan) urusan pilihan. juga telah diatur dalam lampiran PP No. komunikasi dan informatika. dan pemerintah kabupaten/kota.13. dan 4. pariwisata. 15. 2. catatan sipil. 9. Sedangkan urusan pilihan adalah urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. mendahulukan diri dan kelompok melalui peluang dan kewenangan yang dimilikinya merupakan hal yang tidak boleh terjadi. penanaman modal. pertahanan. dan 12. 23. kebijakan dan program berbasis kerakyatan. perangkat olahraga. kearsipan. perdagangan. 32/2004 terbatas menyangkut enam bidang. sebagaimana diatur dalam PP No. sebagaimana diatur dalam UU No. 1. otonomi daerah. 14.Dalam hal ini. dan menengah. urusan murni pemerintah pusat. keluarga berencana dan keluarga sejahtera. industri. 38/2007 pendidikan. 1. perpustakaan. anak. ketenagakerjaan. yustisi. daerah diharapkan mampu dan mandiri dalam membiayai dirinya karena dana yang diperoleh dari pusat sangat terbatas. pemerintahan umum. Terkait batasan kewenangan masing-masing tingkatan pemerintahan dalam setiap urusan tersebut. 17. kepemudaan dan administrasi keuangan daerah. kekhasan. kehutanan. perencanaan 18. 2. 21. Urusan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota berkaitan dengan pelayanan dasar. ketransmigrasian. sosial. moneter dan fiskal nasional. pemberdayaan masyarakat dan desa. 5. serta agama. Urusan bersama ini.] 26. 7. kependudukan dan 24. dan persandian. statistik. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Urusan Wajib Urusan Pilihan Formatted: Space Before: 0 pt Untuk mewujudkan terciptanya penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance) di daerah diperlukan berbagai instrumen. Urusan Pemerintahan Daerah dalam PP No. pembangunan. Oleh karenanya. 3. lingkungan hidup. 25. perhubungan. 20. pemberdayaan perempuan dan perlindungan kesehatan. kelautan dan perikanan. 8. 1. mineral. 19. 3. pemerintah propinsi. kepegawaian. 7. daerah. perumahan. Pemda dituntut untuk Formatted: Font: +Body . 10. koperasi dan usaha kecil 22. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan yang ditentukan dan ditetapkan oleh pemerintahan daerah. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri. kebudayaan. 6. 16. 6. penataan ruang. 5. ketahanan pangan. Urusan di bidang lainnya. 4. keamanan. serta kualitas anggota DPRD yang mampu proaktif merancang kebutuhan masyarakatnya. 11. energi dan sumber daya 8. yaitu politik luar negeri. menjadi urusan yang dibagi bersama antara pemerintah pusat.

22/1999 menyatakan bahwa DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di daerah merupakan wahana untuk melaksanakan berdemokrasi berdasarkan Pancasila dan pelibatan rakyat dalam pembangunan daerah. terutama dalam kerangka persetujuan RAPBD. dan nepotisme. tidak dilanjutkan lagi. digali dan dimanfatkan secara bersama-sama. Raperda yang diajukan pemerintah. DPRD dituntut dapat Mmenciptakan iklim politik yang sehat dan untuk memberikan pemahaman bermakna pada masyarakat akan pentingnya kesadaran politik rakyat dalam mendukung dan mengoreksi kebijakan pemerintahan. tugas dan wewenangnya. selain mendengar usulan fraksi-fraksi DPRD juga dapat mengadakan forum pertemuan dengan unsur-unsur masyarakat guna mendengarkan dan . tapi mengalami distorsi sedemikian rupa sehingga pemerintahan yang bersih sangat masih sulit diwujudkan. 32/2004 ini memberikan kekuasaan yang sangat besar pada DPRD dalam hak. dimana banyak kalangan anggota DPRD terlibat di dalamnya. diganti dengan peraturan yang dapat mendorong prakarsa masyarakat agar lebih produktif. kolusi. tetapi ini harus dalam konteks tidak menjadi beban aktivitas ekonomi. Ini sebagai akibat dari lemahnya komitmen DPRD dalam menggunakan kewenangannya. ataupun momen politis dalam pertanggungjawaban tahunan dari Kepala Daerah (KDH). UU No. DPRD menghadapi tantangan baru untuk menjadikan institusi ini sebagai agen perubahan. Demikian pula dalam mendorong pemahaman bermutu pada rakyat terhadap pentingnya pembangunan daerah berdasarkan potensi yang dimiliki untuk. DPRD dapat harus membuat perda-perda inisiatif dan sekaligus mendorong pemerintah untuk membuatmengajukan perda-perda yang berpihak kepada rakyat. DPRD memiliki nilai strategis yang sangat penting dalam mendorong demokratisasi di semua sektor kehidupan. DPRD sebagai pembentuk karakter politik pemerintahan dan pembangunan Selain sSebagai wakil rakyat. Terdapat kecenderungan bahwa pelaksanaan otonomi daerah relatif oleh banyak pihak justru memperluas praktek korupsi. sehingga dapat menjadikan DPRD sebagai agen perubahan. Ini hendaknya dimaknai sebagai peluang dan tantangan untuk melakukan perubahan-perubahan ke arah demokratisasi di daerahnya. Peraturan daerah semacam pajak dan retribusi yang kurang produktif. Dalam kaitannya dengan tugas dan wewenangnya mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah. fungsi pengawasan dari DPRD masih banyak yang belumtidak berlangsung sesuai dengan UU dan peraturan yang ada. Demikian pula praktik politik uang bukan lagi rahasia. sosial. dan budaya masyarakat.selalu meningkatkan PAD. Artinya. Peran partisipasi aktif masyarakat diharapkan dapat tumbuh dan berkembang sejalan dengan kewenangan yang dimiliki DPRD serta upayanya untuk dapat mengelola beragam kepentingan politik. 4. dan bukan dilihat sebagai kesempatan untuk melakukan intervensi terhadap lembaga-lembaga pemerintahan lainnya. Pasal 16 ayat 1 UU No. Di pPosisi tawar-menawar kuat yang dimiliki DPRD dalam kerangka akomodasi kepentingan rakyat masih banyak tidak dijalankan dengan baik tapi justru dimanfaatkan secara tidak bertanggung jawab tanpa menghiraukan kepentingan rakyat daerah.2. Dalam menjalankan fungsi legislasi misalnya.

yaitu: adanya partisipasi masyarakat. agar seluruh pola pikir dan tindak yang dilakukan dalam mendukung pembangunan daerah dapat lebih optimal dan sesuai dengan koridor hukum. kewajiban. Selanjutnya. memiliki visi yang jauh kemasa depan. hutan. selain mendorong kegiatan investasi. tidak upaya pemanfaatan dapat berubah menjadi penyalahgunaan. 22/1999 tentang Pemda. Hal ini dimaksudkan untuk lebih memudahkan semua pihak dalam mendukung setiap proses pemerintahan dan pembangunan. Tugas DPRD selanjutnya adalah mengawasi jalannya perda-perda di bidang perekonomian tersebut. fungsi. perpajakan. memahami dan mampu melaksanakan tugas. DPRD dapat menghidupkan hak penyelidikan sehingga pengawasan politik terhadap jalannya pemerintahan dapat diwujudkan. fasilitas perijinan usaha. serta menggerakkan kegiatan ekonomi lintas daerah dan lintas nasional.. memahami masalah daerah dan memuat peta pembangunan yang berbasis kerakyatan berdasarkan kondisi.. pajak dan retribusi. memahami secara benar filosofi dan prinsip pembangunan di era otonomi daerah. dan tanggung jawabnya sesuai yang digariskan dalam peraturan perundang-undanganUU No. akuntabilitas. dan kemudahan untuk menggunakan sarana dan prasarana serta sumber daya daerah (tanah. aspirasi. peningkatan daya tanggap. kesetaraan.mempertimbangkan aspirasi sekaligus penilaian mereka terhadap calon-calon kepala daerah yang akan dipilih nantinya. tambang. merupakan sebagian cara untuk mewujudkan itu. Semua pemanfaatan potensi daerah harus diatur dalam perda sebagai jaminan adanya perlindungan terhadap kegiatan usaha dan pengembangannya. dan kebutuhan prioritas masyarakat. profesionalitas. efisiensi. terutama di bidang perekonomian. Kkegiatan ekonomi jangan diartikan semata-mata sebagai sumber PAD tetapi sebaiknya diterjemahkan sebagai upaya untuk mengajak masyarakat daerah maupun luar daerah untuk memanfaatkan dan mengembangkan potensi daerah. penegakan hukum. pengaturan sumber-sumber pendapatan negara dan daerah.5" . Tab stops: Not at 0. baik yang terkait dengan potensi yang dimiliki daerah maupun posisi daerah dalam lintas pembangunan regional dan nasional. memahami secara baik dan benar tentang penerapan secara menyeluruh mengenai pemerintahan yang baik. transparansi. 2. tuntutan.5". jika Tanpa payung regulasi yang jelas dan tegas. dan kemampuan pengawasan yang baik. Sehingga diharapkan tidak terjadi lagi adanya kepala-kepala daerah yang didukung DPRD tetapi tidak dikehendaki rakyat. Untuk lebih mengefektifkan fungsi pengawasan. 3. DPRD bersama pemda (eksekutif) hendaknya memfasilitasi segala bentuk kegiatan di daerah. beberapa pemahaman dan tindakan yang perlu ditampilkan DPRD dalam mendukung pembangunan daerah yang lebih bertanggung jawab. Dalam. terutama oleh para penyelenggara pemerintahan di daerah yaitu pihak legislatif dan eksekutif di daerah. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. 4. Melalui cara ini. Pembangunan daerah tidak akan berjalan bila sejumlah prasyarat tidak dipenuhi. pembagian pendapatan dari kekayaan alam. Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah: 1. Beberapa fasilitas kemudahan hendaknya diadakan. efektivitas. misalnya. Formatted: Indent: First line: 0. dan lain-lain) dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan.

terutama yang terkait dengan kondisi sosial yang perlu ditanggapi melalui pendekatan pembangunan. DPRD hendaknya melibatkan individu maupun lembaga yang memiliki pengaruh besar di masyarakat dalam merumuskan kebijakan-kebijakan. dan agama adalah sebagian dari individu-individu yang dapat memberi kontribusi melalui masukan dan kritik terhadap pemda dan DPRD. Hal ini mencakup peningkatan kemampuan dalam formulasi kebijakan dan perencanaan. sosial. Adanya iklim politik yang sehat akan mendukung peran DPRD sebagai pembentuk karakter politik di daerahnya. transfer teknologi dan pengembangan kemampuan. Jika komunikasi seperti ini dilakukan terusmenerus secara berkesinambungan. ormas. terdapat beberapa alternatif pendekatan pembangunan yang dapat didorong oleh DPRD ke arah yang lebih baik untuk dilakukan oleh pemerintah daerah dalam merespon kondisi faktual yang berkembang. memang banyak hal yang menjadi kecenderungan dan permasalahan umum pembangunan di daerah.Sebagai institusi yang mewakili beragam aspirasi masyarakat. serta menumbuhkan peranan sektor swasta dan lembaga swadaya masyarakat. dan partai politik akan selalu mencermati dan kritis terhadap pelaksanaan peran dan fungsi serta kinerja DPRD dalam membangun kebijakan dan pelayanan pemdapublik. baik itu politik. maupun budaya. Tokoh-tokoh masyarakat. Selain itu. Serta mMemberikan pemahaman akan pentingnya kesadaran politik sama artinya dengan menempatkan masyarakat dalam posisi sebagai mitra. Aantara lain. Sebagai bagian dari pelaku-pelaku politik di daerah. Formatted: Space Before: 0 pt . sehingga aAspirasi masyarakat bawah harus dapat terserap dan diangkat menjadi permasalahan utama dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan pembangunan untuk berbagai dimensi. agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat memang diyakini berlangsung efektif dan efisien. dangkan LSM. dan bukan semata-mata obyek pembangunan. Ini bisa dilakukan. maka masyarakat akan tahu kebijakan-kebijakan mana yang harus didukung dan mana pula yang perlu dikoreksi. Mencermati berbagai hal yang terjadi di daerah. Komunikasi yang intensif dan terarah akan melahirkan kesadaran politik masyarakat. dalam berbagai aspek. adat. Terkait dengan ini. Sebagai mitra yang dengan kesadaran politik yang baik. khususnya kemampuan untuk memberikan pelayanan secara tepat dan tepat. Peningkatan kemampuan kelembagaan atau organisasi pembangunan sektoral perlu dioptimalkan. juga upaya debirokratisasi dan deregulasi di tingkat pemerintahan lokal butuh dilakukanterus dikaji dan diperbaiki untuk mengurangi hambatan-hambatan dalam mencapai keberhasilan sebuah kebijakan. masyarakat adalah mitra pemerintah dan DPRD dalam membangun daerahnya. Penguatan pelaksanaan desentralisasi pemerintahan dan pembangunan yang dapat menjamin hak-hak dasar masyarakat daerah harus dilakukan. maka proses pembangunan demokrasi di daerah dapat segera terwujud sebagaimana yang dicita-citakan. dengan cara mengajak serta elemen-elemen masyarakat berpartisipasi aktif melalui fungsi dan peran yang dimiliki masing-masing. ekonomi. DPRD hendaknya membuka ruang komunikasi politik secara luas dengan seluruh unsur masyarakat di daerahnya. Dalam prinsip ketatapemerintahan yang baik. Untuk mendukung aspek-aspek pembangunan yang telah diuraikan di atas.

guna menjaga hubungan yang harmonis antara semua pelaku ekonomi daerah. Prakondisi lainnya yang juga butuh disiapkan adalah upaya Demikian pula. Ini dapat dan dilaksanakan dalam melalui berbagai paket-paket pelatihan. 4. baik yang bersifat formal maupun yang bersifat informal. Guna menjamin SDM yang berkualitas tersebut dapat bermanfaat. dan ekonomi masyarakat untuk memperoleh kesempatan yang sama dan peningkatan kesejahteraan yang lebih adil dan lebih maju. Pada gilirannya. dan bimbingan keterampilan. penyuluhan. Upaya membangkitkan kembali koperasi dan permodalan dapat dilakukan untuk menumbuhkan usaha swadaya masyarakat. sehingga ke depan dapat menjadi basis keunggulan daerah. tetapi dengan catatan tidak memberikan beban baru bagi masyarakat miskin yang masih banyak tersebar di berbagai daerah. Tugas yang dimaksud adalah legislasi. upaya ini harus menghindari adanya. Upaya meraih kesemua hal tersebut. . setiap metode penentuan proyek pembangunan harus sesuai dengan keunggulan wilayah dan kapasitas masyarakat setempat agar potensi yang terdapat di setiap daerah dapat dieksploitasi dimanfaatkan secara proporsional.3. sosial. Hal inilah yang penting dikomunikasikan secara terus-menerus pada masyarakat agar mereka memahami tugas-tugas utama DPRD. koordinasi dan tanggung jawab yang ada pada DPRD.Upaya peningkatan kualitas SDM hendaknya harus dilakukan pada semua lini aktivitas masyarakat. yang pada gilirannyaini diharapkan akan menciptakan situasi saling ketergantungan (interdependen) dan keseimbangan ekonomi antar daerah. maka harus diciptakan prakondisi yang memungkinkan Di samping itu. Batas-batas fungsional antara DPRD dan lembaga pemerintahan lainnya Sebagai lembaga politik. Not Bold Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt . semua kondisi yang dijelaskan di atas diharapkan mampu menemukan kesetaraan politik. dan pengetahuan tentang pembentukan jaringan bisnis yang bersifat kemitraan sangat penting perlu pula dikembangkan. pengawasan pemerintahan dan pembangunan serta perannya sebagai wakil rakyat yang menampung aspirasi dan menindaklanjutinya. Italic Formatted: Font: +Body. Intinya. juga perlu penekanan pada pemahaman konsep dalam kerangkalahirnya bisnis kemitraan antar semua elemen dan lapisan sosial masyarakat. secara strategis membutuhkan peran DPRD sebagai pembentuk karakter politik pemerintahan dan pembangunan. konsep ini perlu menjamin kesinambungan suplai komoditi yang dibutuhkan dalam pengembangan kreatifitas masyarakat. Demikian pula dengan hubungan kerja dan koordinasinya DPRD Formatted: Font: +Body. jasa. Selanjutnya pelatihanpelatihan di bidang perdagangan barang. Untuk Dalam kerangka perencanaan pembangunan. DPRD memiliki tugas-tugas yang hanya terbatas pada dimensi-dimensi tertentu. Kebijakan dasar program-program pembangunan (dalam arti luas) yang dirumuskan DPRD perlu diorientasikan kepada mata pencaharian utama yang digeluti masyarakat di suatu daerah. DPRD perlu memperkuat dan meningkatkan prakarsa di tingkat lokal sehingga dapat mendorong dan meningkatkan kemampuan berusaha yang berbasis kerakyatan bagi tumbuh dan berkembangnya local enterpreneurship atau pengusaha lokal yang kuat. Namun demikian. Upaya ini bisa dilakukan dengan Konsep ini harus mampu menjamin ketersediaan lahan dan sumber daya alam lainnya guna menampung tenaga kerja yang telah disiapkan. serta hubungan kerja. keuangan. Oleh karena itu.

meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. membentuk perda. b. ormas. c. 3. protokoler. 2232/19992004 dan UU No. d. mengajukan rancangan peraturan daerah provinsi. keuangan dan administratif. g. Hak DPRD a.53" . Tugas dan Wewenang DPRD (UU No. 22/1999 akan disepakati pilihan langsung (gubernur. f. e. Berdasarkan kondisi tersebut. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan perda dan APBD. Tab stops: Not at 0. Wewenang b. i. 27/2009. memilih dan dipilih. mengajukan pertanyaan. Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. dan k. dan i. maka setiap anggota DPRD wajib mengetahui. Fungsi. Demikian pula berhak memperoleh hak sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku. Bersama kepala daerah menetapkan APBD. membela diri. interpelasi. 32/2004 dan UU N0. dan lain-lain secara luas. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah (gubernur. f. imunitas. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. memahami serta melaksanakan kewajiban sebagai tugas yang diamanatkan padanya dan. angket. dan pengawasan Tugas dan a. memberikan persetujuan rencana kerja sama dengan daerah lain atau dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. bupati/walikota dan wakil-wakilnya) sebelum revisi UU No. c. 2. Hak Anggota a. bupati/walikota dan wakil-wakilnya) oleh rakyat. menyatakan pendapat. Memilih kepala daerah (gubernur. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan. c. Selanjutnya dalam revisi UU No. anggaran. 27/2009) Fungsi legislasi. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemda terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. e. mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Mendagri.dengan lembaga-lembaga pemerintahan daerah maupun dalam kerangka hubungan dengan lembaga-lembaga lain seperti LSM. Adapun tugas dan wewenang yang dimaksud adalah: 1. menyampaikan usul dan pendapat. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas. d. h. j. h. membahas dan memberikan persetujuan raperda mengenai APBD yang diajukan oleh pemda. Hak. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemda. bupati/walikota dan wakil-wakilnya). DPRD b. Sumber referensi dari kewajiban dan hak anggota DPRD telah diatur dengan baik di dalam UU No. sehingga ke depan tugas ini tidak akan ada lagi dalam DPRD. g. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. 22/1999 disetujui oleh DPR-RI.

22/1999 yaitu mengajukan pertanyaan. Formatted: Indent: Left: 0. terdapat institusi/lembaga lainnya yang bertugas mengawasi persoalan teknis dan administratif. dapat dibuat keputusan peraturan kepala daerah yang merupakan kewenangan penuh dari kepala daerah. dan konsep pembangunan daerah yang secara optimal dapat dituangkan dalam peraturan daerah sebagai acuan dasar dalam memajukan pemerintahan dan pembangunan ke arah yang lebih baik. protokoler dan keuangan/administrasi. Selain itu.53" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. Pelaksanaan APBD. pihak DPRD menghendaki anggaran seimbang antara DPRD dan pemda. yaitu: (1) Satuan pengawas internal seperti. 22/1999. Sementara itu jJika dikaji lebih jauh. ide. Selanjutnya hak DPRD diatur dalam Pasal 19 UU No. Ssebab konsekuensi dari peraturankeputusan kepala daerahtersebut akan menjadi bahan dipertanggungjawabkan kepala daerah di hadapan DPRD. gagasan. Menampung aspirasi masyarakat daerah. kepala daerah dapat berkonsultasi dengan DPRD. . Meskipun demikian. Ini tentunya tidak proporsional karena .5" Formatted: Space Before: 0 pt. KPK. misalnya. Perda dan peraturan lainnya. Untuk menjalankan (implementasi) perda. 6. dan lain-lain. 5.5". d. dalam struktur tata pemerintahan daerah sudah menjadi tugas dan wewenang dariKarena selain lembaga DPRD. Pelaksanaan kerjasama. b. (2) Satuan pengawas eksternal seperti BPK. Pelaksanaan keputusan kepala daerah. c. Tab stops: Not at 0. inspektorat provinsi dan inspektorat kabupaten/kota. Pembuatan keputusan peraturan kepala daerah tidak memerlukan persetujuan DPRD.4. Hanging: 0. Dalam praktiknya. bila dipandang perlu. Bahkan. banyak dialami hambatan dan tantangan sehingga perlu dikelola dengan baik. RPJMD.19". Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah terhadap rencana perjanjian kerjasama. dan RKPD. sebab DPRD adalah lembaga politik sehingga arah pengawasan dapat diarahkan pada sejauhmana pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan daerah mencapai hasil yang diharapkan dalam RPJP. di banyak tempat. terutama dalam konteks perannya sebagai wakil rakyat. Wilayah pengawasan ini. Melaksanakan pengawasan terhadap hal-hal sebagai berikut: a. e. bukan pengawasan teknis dan administratif. DPRD sebagai lembaga eksekutif daerah hendaknya menjadi sumber inisiatif. Selanjutnya untukPada konteks pengawasan. Seperti aAlokasi untuk anggaran DPRD. peran DPRD sebagaimana yang diatur dalam UU peraturan perundang-undangan cukup luas. BPKP. padahal anggaran yang dikelola oleh pemda harus mencakup untuk semua kegiatan pembangunan daerah. Inilah yang perlu dicermati oleh pihak DPRD agar gagasan-gagasan yang diusulkan tidak kemudian menghambat gerak laju penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. seringkali pelaksanaan pengawasan oleh DPRD menjadi titik konflik karena DPRD masuk kepada hal-hal yang bersifat teknis-adminsitratif yang sebenarnya bukan merupakan tugas dari DPRD. Dalam hal penyusunan anggaran keuangan daerah. Pelaksanaan kebijakan dan program penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. akuntan publik. seringkali menjadi titik konflik kepentingan antara DPRD dengan Pemda. Italic . anggota DPRD juga memiliki hak khusus sebagaimana yang diatur dalam Pasal 21 UU No. DPRD perlu melakukan dengan kontrol politik yang bersifat strategis (oversight). Untuk itu. Tab stops: Not at 0.

surat atau hasil kajian. kunjungan kerja lapangan. teknis. efektivitas dan efisiensi. Namun. . rekomendasi. Satu hal yang sangat perlu dipahami oleh semua pihak adalah bahwa. e-mail. dan lain-lain untuk diakomodasi dalam peraturan daerah atau ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan dan program pembangunan. dialog.Bertolak dari kenyataan UU yang relatif menempatkan kKedudukan DPRD yang cukup kuat sebagaimana yang telah diuraikan luas dimuka. wewenang. Potensi negatifnya adalah bahwa Sehingga keputusan penyelenggara pemerintahan dan pembangunan daerah yang ada bisa kurang memperhatikan aspek profesional. dan sebagainya). sms. pihak DPRD akan sangat efektif melaksanakan tugas-tugasnya jika peka dan aktif merespon setiap dinamika kehidupan masyarakat. pembangunan. Dengan demikian kesalahpahaman akan senantiasa dapat dihindari dan obyektivitas tuntutan masyarakat dapat dipertanggungjawabkan secara logis. dan bertanggung jawab. DPRD perlu aktif menyosialisasikan tugas-tugas dan hak politiknya kepada masyarakat luas. DPRD dalam hal ini dapat melakukannya dengan berbagai mekanisme. Sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Demikian pula. dan kemasyarakatan sangat penting sebagai konsekuensi dari upaya menempatkan masyarakat sebagai subyek dan obyek pembangunan itu sendiri. blog. saluran-saluran alternatif untuk menyerap aduan dan pendapat publik (saluran telpon. maka keputusan-keputusan pemerintah daerah akan selalu sarat dengan nuansa politik yang tidak sehat. ada juga membuka kecenderungan telah dan akan terjadi dominasi bahan legislatif daerah terhadap pemda. DPRD merupakan salah satu wahana untuk pmenyerap dan menyampaikan aspirasi masyarakat untuk ditindaklanjuti. antara lain:seperti Mmelalui rapat dengar pendapat. persetujuan. Untuk itu. peran serta masyarakat untuk mendorong terciptanya penyelenggaraan pemerintahan dan. website. Jika dominasi ini terus berlangsung. kontrol dari masyarakat dalam kerangka pengawasan pembangunan senantiasa perlu dilaksanakan dan disalurkan secara proporsional. penyampaian aspirasi masyarakat ke DPRD akan berjalan sangat efektif apabila masyarakat mengerti dan memahami kedudukan. tugas dan hak DPRD itu sendiri. DPRD berkewajiban memfasilitasi dan menindaklanjuti aspirasi dari masyarakat. Oleh sebab itu. Sebagai lembaga perwakilan rakyat. dan hukum-administratif. organisasi maupun dari berbagai kelompok lainnya. terarah.

Ketika demokrasi lahir. serta akuntabilitas pertanggungjawaban publik dalam bidang hukum dan etika.1. karena Oleh karena itu. mereka berakar dari dua model ekstrem di bawah ini: Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt 1 2 Demokrasi parlementer Model westminster Diawali oleh Inggris Demokrasi presidensial Model pemisahan kekuasaan Diawali Presidensialisme AS Bila pPada model parlementer. kemampuan untuk mengelola kepentingan-kepentingan yang berkembang di daerah menjadi sangat penting. kendati berbagai bentuk demokrasi pun lahir. Sedangkan model demokrasi presidensial mengandalkan sistemnya pada adanya dua lembaga pemerintahan yaitu Formatted: Space Before: 0 pt . Dalam perkembangannya. dan kKondisiteks ini melipatgandakan tantangan bagi para anggota DPRD terpilih. sudah terdapat pranata yang berkembang dalam kehidupan berpolitik masyarakat yang dapat membantu wakilwakil rakyat melakukan tugasnya. kemampuan DPRD adalah jembatan bagi berbagai kepentingan politik dalam menentukan kebijakan di daerah ini. dalam struktur peraturan perundang-undangan Indonesia dan mengikat seluruh pihak di daerah. Di negara demokrasi muda seperti Indonesia. persaingan yang terbuka dari berbagai kepentingan. Dalam tradisi demokrasi yang telah mapan. hal ini masih harus dibangun. DPRD sebagai wakil semua Dalam sejarahnya. perdana menteri adalah pemimpin pemerintahan sekaligus anggota parlemen. pemerintahan perwakilan lahir ketika masyarakat memutuskan untuk menyerahkan sebagian urusannya kepada sebagian kecil orang. misalnya tuntutan yang efektif akan keterbukaan informasi.. bermuara berbagai kepentingan politik untuk yang harus diakomodasikan sebaik mungkin dalam bentuk kebijakan publik yang paling elementer di daerah. yaitu perda. Di dalam DPRD dituntut mampu mengelola dan menjembatani.. Perda adalah salah satu produk hukum pemerintahan daerah.BAB V Menjembatani dan Mengelola Berbagai Kepentingan Politik Publik Rahmi Yunita Tugas Para wakil rakyat adalah pada intinya memang harus memperjuangkan kepentingan rakyat. lembaga pemilu berkala yang jujur dan adil dipercaya sebagai instrumen untuk menentukan siapa sebagian kecil orang yang diminta mengelola kepentingan publik ini. 5.

. Amandemen UUD 1945. presiden mendapatkan legitimasi demokratis langsung dari rakyat dan tidak dapat dijatuhkan dengan alasan politis oleh lembaga perwakilan. Kepala daerah tidak lagi dipilih oleh DPRD. seperti pengalaman kejatuhan Presiden Abdurrahman Wahid. Mengikuti mekanisme rekruitmen kepala eksekutif tingkat nasional ini. DPRD adalah arena yang mencerminkan berbagai preferensi politik yang beragam. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. 22/1999 menggariskan bahwa salah satu tugas dan wewenang DPRD adalah memilih gubernur/wakil gubernur. Font color: Blue Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. Pasal 18 ayat 1 UU No. 22/2003 disahkan. Fungsi ini sudah terhapus ketika UU No.biasanya memiliki kekuatan veto yang mengimbangi lembaga legislatif. dan memajukan sebuah agenda kebijakan seperti yang dikampanyekan dalam platform-nya. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. maka peran lembaga legislatif di daerah pun bergeser. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. 12/2008 mengisyaratkan mempertegas bahwa pilihan kepala daerah pun akan dilakukan dengan mekanisme yang sama. Di sisi lain. Meski Juga ketika kita menyadari bahwa tidak semua komponen masyarakat terwakili dalam DPRD (karena tidak semua suara dalam pemilu teralokasikan menjadi kursi). yang telah dilakukan empat tahap. usai pengukuhan anggota DPRD. Hubungan saling membutuhkan sekaligus dapat saling menyandera inilah semangat dari prinsip pemisahan kekuasaan dalam demokrasi presidensial. UU No. Dalam konteks baru ini. 2232/20034 juncto UU No. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. beranggotakan banyak orang. bagaimana seharusnya peran DPRD? Dengan menguatnya lembaga eksekutif di daerah ini. dapat dipahami bahwa DPRD tidak monolitik (tunggal/seragam). Sebagai lembaga politik yang bersifat kolegial. sebagaimana akan dituangkan dalam RPJMD yang akan berlaku selama lima tahun (satu periode kepemimpinan daerah). bupati/walikota menjadi lembaga untuk memastikan check and balance. Dinamika dalam DPRD sendiri akanadalah mencerminkan berbagai aspirasi masyarakat yang menuntut diakomodasisuarakan dalam pengambilan kebijakan daerah. dari berhak untuk meminta pertanggungjawaban gubernur. yaitu pemilihan langsung. Dengan demikian. Artinya. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Salah satunya adalah dengan menggariskan bahwa Presiden Republik Indonesia dipilih secara langsung dalam pemilu. lembaga eksekutif memiliki kewenangan menerjemahkan kehendak legislatif sebagaimana tertuang dalam perda melalui berbagai produk kebijakan eksekutif seperti peraturan kepala daerah yang nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada DPRD. Dalam konteks pertanggungjawaban kepala daerah. Bold . Selain memiliki perimbangan mengimbangi kewenangan anggaran dari cabang terhadap eksekutif. mengantarkan Indonesia pada pemurnian model pemisahan kekuasaan ini. bupati /wakil bupati dan walikota/wakil walikota . maka wewenang DPRD kini terbatas pada permintaan keterangan laporan pertanggungjawaban dari kepala daerah. DPRD bertugas hadir sebagai wakil rakyat untuk menyusun legislasi daerah (perda) serta mengawasi pelaksanaannya oleh eksekutif.eksekutif yang menjalankan pemerintahan dan lembaga perwakilan yang menetapkan kebijakan dan mengawasi pelaksanaannya. Kepala eksekutif telah mendapatkan mandatnya sendiri secara terpisah untuk memerintah. Formatted: Font: +Body. lembaga ini hakekatnya telah menjelma menjadi lembaga perwakilan rakyat.

wakil rakyat harus berhadapan dengan publik daerah secara keseluruhan yang sedapat mungkin suaranya harus dikelola dapat terwakili demi legitimasi produk-produk politik kebijakan di daerah. dalam demokrasi mapan.Konsekuensinya. Tidak ada yang memungkiri bahwa praktek korupsi. hubungan perwakilan ini justru baru dimulai tepat ketika anggota DPRD terpilih. bab ini berusaha tidak mengabaikan keduanya. partaipartai politik secara umum mengidentifikasi dirinya dengan kecenderungan kebijakan tertentu. termasuk di dalamnya adalah korupsi politik korupsi dengan pemanfaatan jabatan-. bersikap mawas terhadap berbagai pelaku-pelaku politik ini akan membantu DPRD mengantisipasi pelanggaran-pelanggaran hukum dan etika yang dapat terjadi. Kepala eksekutif/kepala daerah (walikota/bupati) y Kepala daerah. DPRD berubah dari wakil pemilih menjadi wakil semua. Dalam konteks itulah. Space Before: 0 pt. yang sering dimana mengakibatkan penegakan hukum belum sepenuhnya terjadi. 1. No bullets or numbering. Setelah pemilu usai. Mengidentifikasi pelaku-pelaku politik utama Politik menjadi arena dimana tempat sumber daya yang terbatas yang dikelola pemerintah harus dialokasikan. misalnya apakah itu cenderung pro pasar atau cenderung mengutamakan agenda-agenda kesejahteraan sosial. dalam pilihan kebijakan yang ditempuh pemerintah daerah dan DPRD. Indonesia memiliki konteks yang sedikit berbeda. merupakan masalah besar dari yang pada dasarnya menentukan perilaku politik pejabat daerah. secara rasional . Berikut ini digambarkan pembagian pelaku-pelaku politik yang ada dalam sistem demokrasi pembagian kekuasaan (presidensial) dan kontekstualisasinya di Indonesia. namun lebih dari itu merupakan terjemahan ideologis dari para aktivis partainya. bahkan dirugikan. Maka iIni mengarahkan kita pada hal penting yaitu bahwa yang harus digarisbawahi adalah hubungan antara anggota DPRD dengan dan masyarakat tidak berhenti ketika yang bersangkutan terpilih.25". Karena itu. 5. ada juga Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0.5". Kendati rumitdemikian. Justru sebaliknya. baik kontek demokrasi yang dewasa dan ideal harus terus disandingkan dengan tantangan faktual maupun konteks Indonesia yang sedang menata demokrasinya. Tab stops: Not at 1" .2. Kita juga tidak lagi dapat menyoal bahwa sebagian dari masyarakat di daerah pemilihan kita tertentu bukanlah konstituen kita. Selain itu. Ini tidak saja merupakan respons terhadap pasar politik (kecenderungan) pemilih. Kkita tidak lagi dapat mempersoalkan apakah masyarakat yang mengadu di gedung DPRD adalah bukan bagian dari golput alias dengan satu atau lain alasan (tidak memberikan suaranya pada pemilu) lalu. termasuk pada masa lima tahun pertama reformasi. ini membuat situasi pembangunan politik di Indonesia. First line: 0. Situasi transisional. maka terjadilah pertarungan antara berbagai aktor politik di daerah. termasuk di daerah menjadi rumit. memiliki kepentingan untuk terpilih kembali dalam pemilu berikutnya sehingga cenderung untuk berusaha untuk memberikan kesan yang terbaik di mata masyarakat pemilih. Perebutan alokasi sumber daya masih jarang mempersoalkan strategi kebijakan namun lebih dimaksudkanterjebak sekedar untuk bagi-bagi rejeki di antara pejabat publik. Selalu ada pihak-pihak yang lebih diuntungkan dan kurang diuntungkan. Usai pemilu.

Namun kepentingan yang rasional di atas memang sering tidak permanenmengemuka. Kepentingan ini akan berkelanjutan bila UU Pemilu dan UU Parpol di Indonesiayang ada tidak tegas mengatur pendanaan partai. masyarakat akan memiliki pemimpin yang tidak efektif namun tidak dapat dijatuhkan. 2. Ironisnya. kepala eksekutif daerah kehilangan minat lagi untuk menunjukkan kinerja dan terperangkap dalam fenomena lame duck (bebek lumpuh) karena tidak ada insentif lagi untuk tampil prima. posisi kepala eksekutif sering dijadikan kendaraan untuk melakukan akumulasi kapital modal sebanyak-banyaknya yang pada gilirannya digunakan untuk mendapatkan kekuasannya yang lebih besar lagi.. Dalam konteks daerah. Lembaga perwakilan (DPRD) Sekali lagi. dengan kewenangan yang dimilikinya. Padahal. lebih baik daripada yang lain. hingga kini terus mendorong praktek ini sementara penegakan hukum dan akuntabilitas partai politik belum bisa didorongmasih lemah. Dinamika politik ini dapat menjadi ruang adu populer bagi DPRD di depan masyarakat dan menyediakan insentif bagi anggota DPRD dan partai politik untuk mencoba berlomba mewakili kepentingan masyarakat dengan. Formatted: Space Before: 0 pt . Fenomena lainnya. Pada fenomena ini ada resiko sumber daya masyarakat dihamburkan untuk proyekproyek mercusuar yang mahal tapi tidak banyak berguna. kKadang-kadang pada masa jabatan terakhir. Sehingga pPada fenomena ini. lemahnya media massa di daerah membuat kepentingan DPRD untuk bertarung dan berlomba berebut popularitas pemilih dengan cara memperdebatkan kebijakan publik ini menjadi tidak signifikan. DPRD dan justru bersandar pada keberagaman perbedaan pendapatlah yang didorong sehingga terdapat lebih dari satu usulan solusi untuk permasalahan daerah tertentu. Ddalam situasi dimana penegakan hukum yang lemah. anggota DPRD sering tergoda menggunakan kedudukannya untuk menggalang dana. untuk mengambil posisi populer di antara anggota yang lain. Karena ada sedikit saja iInsentif untuk populer dan dekat di hati rakyat sering dinilai tidak cukup sehingga bahkan menimbulkan masih ada keengganan. maka trend yang lahir justru adalah korupsi berjamaah . sSebagai lembaga yang kolegial dan .kecenderungan kepala daerah untuk menorehkan sejarah sebelum meletakkan jabatan (vouloir conclure). terbatasnya keterbukaan informasi dan. Namun. baik untuk kepentingan pribadi maupun terutama karena tuntutan dari partai politik masing-masing yang harus mengumpulkan dana kampanye. baik dalam kepentingan keuangan langsung maupun dalam pembuatan kebijakan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya. Ini bisa berwujud pembangunan sebuah proyek raksasa dan prestisius yang lebih sering bersifat fisik daripada mental agar karena yang terakhir ini tidak mudah dilihat hasilnya dalam waktu singkat. Kkarena kepala eksekutif daerah merupakan posisi yang lazimnya dibatasi kesempatannya untuk dapat terpilih kembali. DPRD tidaklah monolitik. misalnya berkampanye pada pemilu jabatan publik yang lebih tinggi atau mempersiapkan lahan ekonomi selepas menjabat.

. Partai politik (parpol) Parpol lahir untuk memperjuangkan agenda politik tertentu. dengan kekuasaan berarti akses pada sumber daya keuangan baik secara etis maupun tidak etis.3. seperti yang telah diberlakukan di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam dalam rangka otonomi khusus. baik itu LSM. Dalam hal ini. maka ormas pun rata-rata gagap berinteraksi dengan pemda yang masih meraba- . kepala eksekutif. baik legislatif maupun. menyampaikannya dalam kampanye secara relatif kontras dengan partai lain (perbedaan program dan strategi). Berbagai ormas kelompok ini memiliki misi untuk memberdayakan masyarakat. Lagi-lagi. Dalam jangka lebih panjang. Masyarakat sipil Masyarakat sipil dapat diwakili dengan oleh pelbagai asosiasi (perkumpulan) yang ada di dalamnya. Jalan radikal yang dapat ditempuh adalah mereformasi UU Parpol dan UU Pemilu secara terus menerus agar lebih kian dekat dengan kepentingan masyarakat di daerah. menguatkan kapasitas partisipasi mereka dalam pembangunan. Selama orientasi parpol bukan melulu masih dianggap sebagai kendaraan menggapai kekuasaan untuk mengartikulasikan kepentingan pemilihnya. ataupun asosiasi profesi. boleh jadi adalah dengan membolehkan hadirnya partai-partai lokal untuk terjun dalam pemilu di daerah. bila memungkinkan. Opsi lain yang bisa dipilih adalah merevitalisasi struktur parpol-parpol nasional yang ada di tingkat lokal (setara dengan propinsi atau kabupaten/kota) agar lebih sensitif terhadap kepentingan daerah. parpol berkepentingan untuk duduk dalam lembaga politik di daerah. meski akan sangat sulit jika bukan malah mustahil. yang diharapkan dapat perlahan-lahan menggeser trend ini. targetnya adalah membangun iklim Dengan kompetitifsi yang lebih keras dalam memikat hati pemilih sehingga diharapkan. sebagian besar parpol yang ada bahkan dapat dikatakan tertatih-tatih menjalankan fungsi pendidikan politiknya. agergasi kepentinga. Salah satu orientasi parpol adalah menggapai kekuasaan agar dapat menjalankan agenda-agenda politiknya sesuai dengan preferensi pemilihnya. maka agak sulit memastikan masa depan politik yang akan membawa kebijakan yang lebih baik bagi daerah. di Indonesia masih perlu waktu lagi sampai partai politik dapat merumuskan agenda politiknya dengan tajam dan jelas. Jika berkuasanya sebuah partai menandai corak kebijakan tertentu di demokrasi mapan. Karena itu. karena desentralisasi dalam tata pemerintahan tidak dapat sesegera mungkin diikuti dengan desentralisasi ormas (yang berskala nasional). Namun. Parpol juga memiliki tanggungjawab dalam melakukan fungsi-fungsi sosialiasi politik. dan membawakannya menjalankannya dalam pemerintahan. Apapun pilihannya. serta pendidikan politik. paling tidak melalui penegakan hukum dan kedewasaan politik dari pemilih. termasuk secara spesifik mengkader calon-calon pemimpin daerah yang bertanggung jawab dan memiliki jiwa kepemimpinan yang dapat membawa daerah ke masa depan yang lebih baik di tengah kompetisi global. 4. organisasi berbasis masyarakat. ataupun menggalang kekuatan untuk melakukan advokasi kebijakan. budaya politik dari partai politik mungkin akan bergeser menjadi lebih akuntabel. Pilihan radikalnya.

rendahnya kepemilikan masyarakat pada hasil-hasil pembangunan. Karena itu. kepentingan-kepentingan penguasaan sumber daya merupakan isu hidup-mati bagi jajaran birokrasi karena ia merupakan semacam katup pelepasan dari . Di Indonesia. yang sudah mulai dirintis daerah tertentu. Resikonya adalah turunnya kepercayaan yang menerus dari masyarakat. Walhasil. BIROKRASI. Prosedur ini seharusnya ditegakkan untuk memastikan proses kompetisi yang sehat dan tercapai efektivitas dan efisiensi dalam mengelola sumber daya bagi kemanfaatan masyarakat. dan legitimasi yang rendah terhadap keberadaan pemerintahan demokratis itu sendiri. Sektor swasta Sektor swasta adalah pihak-pihak yang berkepentingan untuk kebijakan ekonomi yang kondusif bagi perkngembangan bisnisnya. Pengaturan dan pengawasan. seluruh bagian dunia memiliki pengalaman mirip. yang sering terjadi justru kolusi dan situasi saling melindungi karena masing-masing memegang kartu as dari yang lainnya. Bila di banyak demokrasi maju birokrasi adalah mesin netral yang mengabdi pada pilihan kebijakan yang diambil politisi. agama. dengan demikian. demokrasi di daerah tidak akan terwujud. Di sisi lain. fenomena yang gampang dilihat di daerah adalah ormas memburu proyek-proyek pemerintah daerah. bahwa pemain bisnis tidak segan-segan menempuh berbagai cara untuk mencapai tujuannya. biasanya korupsi politik marak dalam hal favoritisme kontrak proyek pemerintah karena absennya lemahnya prosedur standar lelang beserta pengawasannya. organisasi massa yang berbasis warga. dalam konteks pertarungan kepentingan daerah. Tak jarang yang terjadi adalah praktek kolusi antara pemerintah dan pengusaha yang berakibat pada ekonomi biaya tinggi dan kompetisi bisnis yang tidak sehat. utamanya di mata pejabat publik di daerah yang kepalang skeptis dengan keberadaan ormas ini. lebih banyak yang merupakan warisan dari masa pra reformasi dan tidak memiliki sumber daya untuk berlanjut secara mandiri. 5.raba. tidak demikian halnya tradisi pada demokrasi muda yang mewarisi budaya KKN. lagi-lagi kepentingan politik para aktor yang terlibat lebih banyak berurusan dengan korupsi. Dalam hal ini. LSM yang diharapkan dapat menjadi pendobrak kebuntuan ini juga banyak yang terjebak pada skema ketergantungan. baik kepada pemerintah (LSM Plat Merah ) ataupun kepada lembaga donor asing. adat. yang sebagaian adalah imbas dari struktur politik masa Orde Baru yang sangat berkepentingan melakukan pengendalian aktivitas ormas. Kepentingan seperti ini tentu saja harus dipahami namun harus dikelola kemanfaatan bisnisnya bagi kemaslahatan masyarakat luas. maupun agama yang berbasis profesi sekalipun. Hanya dengan ikhtiar keras ormasormas yang lebih bertanggung gugat maka citra ormas ini bisa digeser dan diperbaiki. Kembali ke konteks Indonesia. Dalam konteks negara-negara demokrasi baru. Banyak di antara organisasi kemasyarakatan ini justru tergantung dari negara. Tanpa diseminasi dan replikasi praktek penyelenggaraan pemerintahan yang baik.

wakil rakyat dalam sistem demokrasi dengan pemisahan kekuasaan atau sistem presidensialisme ini. perlu menyadari lingkungan pengambilan kebijakan seperti ini sembari. Beberapa indikasinya misalnya dapat dilihat dalam menggariskan sepuluh rumusan kewajiban anggota DPRD kabupaten/kota pada pasal 351 UU No. Memperhatikan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah. teori kebebasan (independensi/trustee) menyatakan anggota legislatif bebas mengambil keputusan berdasarkan pendiriannya. Pada akhir masa bakti. yaitu: i. dan k. j. merumuskan strategi reformasi sektor publik yang menantang di depan mata. j. Numbered + Level: 1 + Numbering Style: a. Formatted: Font: +Body. jika tidak ia akan kehilangan kursinya.25" Formatted: Indent: Left: 0. meski terikat dengan agenda parpol namun relatif cenderung lebih independen dari partainya. terlebih dalam carut-marut peta kepentingan di bagian berikutnya? Terdapat dua teori besar mengenai peran anggota legislatif ini. Font color: Blue Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0.5". Numbered + Level: 2 + Numbering Style: a. Space Before: 0 pt.rendahnya imbalan nominal yang diterima PNS. Teori pertama. + Start at: 5 + Alignment: Left + Aligned at: 1" + Indent at: 1. dan Memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada pemilih dan daerah pemilihannya. Namun. dia dapat bertanya kembali kepada konstituennya. Dibandingkan dengan wakil rakyat yang duduk di parlemen. Italic Formatted: Font: +Body. b. Space Before: 0 pt. Italic Formatted: Font: +Body. dalam jangka panjang.3. dan k.25" . menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala. Politisi di daerah. menghimpun. + Start at: 8 + Alignment: Left + Aligned at: 1" + Indent at: 1. memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya. b. di satu sisi lain. yang kedua. sebagai lembaga perwakilan (legislature). Menyerap. sehingga kuantitas pProyekproyek pemerintah pada gilirannya merupakan dijadikan peluang sarana untuk bertahan mencari tambahan sumber pemasukan ekonomi. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Sementara. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. c. 27/2009 seperti misalnya dalam Pasal 81 butir e. Teori mandat dianggap tidak realistis namun kita dapat melihat semangatnya masih kuat mewarnai baik pada UU No. yang merupakan lembaga perwakilan dalam sistem parlementer. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Formatted: Space Before: 0 pt 5. menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat. 22/2003 maupun setelah direvisi menjadi UU No. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat. selalu terdapat perdebatan bagaimana DPRD perlu memaknai posisinya sebagai wakil rakyat atau wakil partai. Kepentingan rakyat banyak sebagai fokus utama Dalam konteks sistem pemisahan kekuasaan yang dianut Indonesia. Artinya. Bold. DPRD adalah cerminan dimana kepentingankepentingan masyarakat dibawa dalam sebuah arena pengambilan keputusan politik. memang aAnggota DPRD seperti berada dalam bandul pendulum yang mengayun di antara dua kutub itu. 27/2009. Font color: Blue Formatted: Font: +Body.5". f. c. Bagaimana anggota DPRD dapat menentukan seperti apa kepentingan rakyat. hi. Bila ia dianggap melakukan pekerjaannya dengan baik maka dia dapat terpilih. teori mandat (delegate) meyakini bahwa anggota legislatif tidak boleh mengambil keputusan apapun yang bertentangan dengan keinginan konstituennya.

Tingginya visibility dan makin terdidiknya pemilih ini akan menyediakan insentif bagi politisi untuk memposisikan diri sebagai wakil rakyat. Kendati partai politik memang berkepentingan dengan garis kebijakan dan standar perilaku tertentu dari wakil-wakilnya di DPRD. dan iIni akan makin berkembang seiring dengan bertambahnya jumlah pemilu demokratis yang kita adakan. huruf e dan hdan 3). kedewasaan pemilih dalam menggunakan hak pilihnya juga merupakan instrumen kontrol yang efektif bagi partai. Penggunaan suara terbanyak dalam pemilu 2009 Presiden pilih langsung . Namun demikian. Partai A. Formatted: Indent: First line: 0". UU No. Sementara. tingginya perolehan suara beberapa calon perorangan menunjukkan bahwa memberi insentif bagi masyarakat mulai terlatih danuntuk selektif dalam menentukan siapa wakilnya. 1. Tab stops: Not at 1. Dalam kondisi semacam ini. apa yang dapat menjadi insentif bagi para politisi untuk lebih mendengar suara rakyat daripada suara partainya? Untuk itu. anggota DPRD memang akan cenderung lebih mendengarkan partai politiknya. maka anggota pun memiliki visibility yang tinggi. Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. Partai politik di negara demokrasi mapan memiliki tradisi yang sangat menghargai kepercayaan pemilih.. Permasalahannya.. Resiko hukuman atau dan ganjaran dari publik sangat mungkin diberikan akan berlaku kemudian pada waktu pemilu tiba yaitu dengan memilih kembali anggota DPRD yang dinilainya aspiratif dan sebaliknya bagi yang tidak. Dalam konteks seperti ini. hanya mendudukan satu orang wakilnya dari sebuah daerah pemilihan. hanya dapat memberikan pengaduan untuk kemudian diproses dalam Badan Kehormatan DPRD. Desakan dan insentif Ia lebih merupakan isu bagi masyarakat untuk mendesak DPRD bahwa ada insentif politik yang besar bagi para politisi untuk jika menjadikan kepentingan rakyat banyak sebagai fokus utama masih belum berarti. Dikotomi wakil partai dan wakil rakyat ini diharapkan juga kian menipis karena partai pun berkepentingan mempertahankan keterwakilannya di DPRD. masyarakat pemilih dari daerah pemilihan yang relevan karena telah memilih wakil rakyat tersebut. misalnya. Di sisi lain. Font color: Auto Formatted: Space Before: 0 pt. 2. partai pun memiliki visibility yang tinggi. 3. 22/2003 ternyata memberikan kewenangan kepada partai politik untuk merecall anggotanya (Pasal 94 383 ayat 1 2. namun dikhawatirkan kewenangan ini bisa digunakan oleh partai politik maupun kelompok-kelompok yang kuat pengaruhnya di dalam partai politik tertentu untuk memberlakukan politik sentimen dan favoritisme.Dari sini tampak bahwa UU berusaha memberikan acuan bagi penyusunan tata tertib DPRD yang akan mengatur operasionalnya kewajiban anggota DPRD itu. sehingga akan terdorong untuk menyuarakan kepentingan daerah pemilihnya. Kecilnya ukuran distrik menunjukkan hasil pemilu tersebar ke banyak partai. Maka selain anggota.17" Formatted: Space Before: 0 pt . Pada momen karena hanya pada saat pemilu itulah (sebenarnya) rakyat dapat menghukum atau menyambut hangat kehadiran sebuah partai politik beserta calon-calonnya. Daerah pemilihan menjadi lebih kecil. mari kita cermati beberapa temuan dari pemilihan umum DPRD di 2004 dan 2009 yang kurang lebih serupa dalam konteks masalah ini. dalam ketentuan mengenai pergantian antar waktu. Font color: Auto Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body.

lebih baik Anda melakukannya dengan sangat baik. kalau Anda menyukai pekerjaan ini. Bila kepentingan seorang anggota DPRD bisa didefinisikan sejelas itu. Jika kapasitas anggota DPRD harus ditingkatkan. sSebagaimana pemilu jurdil secara berkala dianggap sebagai lembaga demokrasi paling penting.: Menumpuk kekayaan. kita berharap. preseden diseretnya banyak anggota DPRD ke pengadilan dengan dakwaan korupsi serta merosotnya kepercayaan partai pada anggota DPRD yang tidak bertanggung jawab pada gilirannya juga menggerogoti kepercayaan pemilih. sekali Anda menjadi politisi.4. Italic . bukannya sebagai alat kontrol parpol terhadap kadernya seperti di masa lalu. Bagan Penyusunan Kebijakan Publik Formatted: Space Before: 0 pt KONSULTASI INFORMASI RISET DAN VERIFIKASI PERUMUSAN KEBIJAKAN PARTISIPASI PENGARUH LINGKUNGAN Kebijakan Publik PENGARUH LINGKUNGAN Sebagai wakil rakyat. anggota DPRD dapat berupaya melakukan pendekatan kepada rakyat sehingga posisi tawar dan akuntabilitas seorang politisi menjadi benar-benar berada di tangan pemilih. 5. Dalam konteks ini. DPRD harus selalu menggunakan proses konsultasi dan informasi untuk mendasarkan kebijakan yang diusulkannya. Berikut ini adalah bagan sederhana di halaman berikut untuk menggambarkan proses penyusunan kebijakan publik. Mengelola kepentingan menjadi agenda politik publik Apa kepentingan utama anggota DPRD? Beberapa orang pada periode awal reformasi mungkin akan menjawab setengah bercanda. Namun. Sebab. maka kepentingan tertinggi seorang politisi memang diandaikan sebagai terpilihnya kembali dirinya di jabatan publik pada pemilu berikutnya. Karena itu.Dalam jangka lebih panjang. apapun lembaga recall yang ada.membuat anggota DPRD lebih hati-hati merumuskan kepentingannya. apalagi penyusunan Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. makin lama ia akan lebih mendengar pendapat umum. sehingga partai Anda kehabisan alasan untuk mengusulkan penggantian pada pemilu depan. maka pekerjaan pun bisa segera dimulai. maka kemampuan yang paling penting untuk dikuasainya bukanlah teknik penulisan perundang-undangan (legal drafting).

anggaran. Bisa jadi juga lembaga eksekutif tidak termotivasi untuk melakukannya dan mengerem usulan yang dilontarkan. demokrasi adalah proses terus-menerus yang ujungnya adalah lahirnya keterwakilan rakyat secara optimal dalam pengambilan keputusan publik. Ini bisa berupa LSM yang memperjuangkan proses yang lebih terbuka. Di sisi lain. berdiskusi adalah cara tepat untuk mencari titik temunya. Dalam proses politik ini berbagai aktor lain yang berkepentingan pun akan ikut bermain untuk mencoba berpengaruhmempengaruhi. Riset dan verifikasi dilakukan untuk mendapatkan temuan mengenai permasalahan yang terungkap di masyarakat. Keputusan publik menjadi tantangan sehari-hari para pejabat dan wakil rakyat. berupa lembaga perwakilan yang dipilih lewat pemilu jurdil. Karena itu. Membangun dan memelihara hubungan dengan konstituen Demokrasi tidak dibangun hanya dengan mewujudkan lembaga-lembaga demokrasi secara fisik. Kadang-kadang proses konsultasi publik pun perlu diulang untuk memastikan bahwa semua pihak sudah dicoba untuk ditampung pendapatnya dalam pembuatan kebijakan ini. Keputusan publik diambil tidak hanya sekali dalam lima tahun. apalagi yang dilakukan di lokasi yang terkena dampak kebijakan. bisa juga masyarakat yang merasa dirugikan. Proses politik kemudian akan menjadi arena bagi berbagai alternatif solusi yang diajukan bagi masalah tersebut. Sementara. Seorang anggota DPRD dapat saja mengunjungi sebuah sekolah dasar dan mendapati bahwa proses belajar mengajar berlangsung namun abai bahwa yang harus dinilai adalah hasil dari proses itu. Lebih dari itu. sebenarnya masalah serupa dihadapi pemegang kebijakan di semua negara demokratis. Apakah ada jaminan bahwa mereka akan dapat mengakses pendidikan yang lebih tinggi? Apakah ada pungutan-pungutan sekolah yang memberatkan orang tua siswa? Apakah ketersediaan dan mutu guru mencukupi? Apakah kesejahteraan guru sudah memadai? Apakah fasilitas sekolah penunjang pendidikan tersedia dengan baik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah contoh menunjukkan bahwa DPRD harus memiliki tanggungjawab dan perspektif masa depan dari proses pendidikan di daerahnya yang diterjemahkannya melalui pelbagai perda. namun bagaimana menggali pelbagai kebutuhan yang seharusnya terungkap dalam proses ini. Lebih Formatted: Space Before: 0 pt . pemilu tidak hanya dimenangkan terbatas hanya pada hari-hari kampanye. seperti apakah anak-anak SD itu menerima berhasil belajar sesuatu? Apakah mereka dapat menangani permasalahan matematika untuk bahan ajar yang tepatsetingkat mereka?. riset bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang mendukung bagi dirumuskannya tawaran-tawaran pemecahan. pemilu hanya berlangsung secara berkala. Dengan kepentingan yang terlalu beragam dan sumber daya terbatas.5. 5. Meskipun rata-rata anggota DPRD di Indonesia mengeluhkan alotnya pembicaraan dalam konsultasi publik. Bisa jadi berbagai partai berbeda pendapat mengenai sebuah solusi. bisa pengusaha yang berpeluang kecipratan/mendapat bagian rejeki bila perda digulirkan. Bila verifikasi meliputi pengecekan obyektif mengenai permasalahan yang dirasakan masyarakat.

bila tingkat kepercayaan ini terpelihara sepanjang periode di antara dua pemilu. dengan teknik-teknik kampanye yang kian canggih. dan tabungan kepercayaan dari mereka. ketika periode kampanye berikutnya datang. partai-partai yang dianggap relatif bersih mendapat suara lebih banyak daripada partai-partai yang dianggap tidak bisa mengusung agenda pemberantasan korupsi. beberapa saat setelah terpilih dan bertugas. Samarinda. Kemudian.untuk dimintai dukungannya? Hasil survei Indonesia Corruption Watch mengenai korelasi korupsi dan pilihan dalam Pemilu 1999 di sembilan kota di Indonesia (Jakarta. Pontianak. pekerjaan memenangkan pemilu tidak perlu sekeras gambaran sebelumnya. mMerupakan fenomena global bahwa pemilih jamaknya merasa kecewa melihat kinerja wakilnya setelah duduk di parlemen. Dalam jangka panjang. Sepanjang lima tahun terakhir kita mungkin akrab dengan banyak berita. bila politisi di DPRD anda sudah memiliki tabungan hubungan dengan konstituen. Jika tercapai. pemilu dimenangkan dengan kerja yang panjang. kita bisa membayangkan hubungan antara rakyat dan wakilnya dalam sebuah kurva. sepanjang periode di antara dua pemilu. Ya. Italic . Menjelang pemilu. seringkali diragukan orang sebelumnya masih ragu apakah jika menjalin hubungan baik dengan konstituen maka akan terbayarkan dalam pemilu. Namun. Makassar. bisa-bisa kurva kepercayaan ini turun tajam menjadi semakin rendah lagi. tertangkap sedang mengkonsumsi narkoba sampai dengan kasus-kasus perdata. kerja pada hari demi hari dalam periode panjang di antara dua pemilu. Bandar Lampung. Bagaimana hubungan dengan konstituen dilakukan? Formatted: Font: +Body. Walhasil. Dalam demokrasi yang muda seperti di Indonesia. Bandung. mulai muncul kekecewaan-kekecewaan. Bagaimana membaca kurva kepercayaan? Untuk lebih jelasnya. Mereka mulai mempertimbangkan kepercayaan terhadap partai politik dalam menentukan pilihannya. Jika pada tengah masa di antara pemilu ini terjadi skandal apapun juga yang melibatkan anggota dewan yang bersangkutan. Walhasil.penting lagi. Di kota-kota tersebut. Padang. masyarakat diharapbayangkan menjadi pemilih yang retrospektif. dan Mataram) memperlihatkan bahwa ternyata perilaku pemilih di perkotaan mulai bergeser. mulai dakwaan korupsi. Iini berarti bahwa pemilu harus dimenangkan tidak hanya dalam masa kampanye melainkan sepanjang periode di antara dua pemilu melalui performa wakil-wakil dari partai politik yang duduk di pemerintahan. tingkat kepercayaan ini akan menurun. karena tentu saja sulit memenuhi janji seratus persen. biasanya masyarakat akan menaruhik kepercayaan yang tinggi pada politisi. Surabaya. yakni dengan menilai akan mulaidan mempertimbangkan apa yang dilakukan para kandidat dan partai politiknya. Para calon anggota DPRD atau mereka yang ingin mencalonkan diri kembali tergoda untuk menggunakan cara-cara instan seperti Apakah masyarakat tidak cukup dismenyerbu saja dengan serbuan janji dan imingiming materi (money politic) agar pemilih memberikan suaranya. anda niscaya akan jauh lebih siap menghadapi pemilu berikutnya. partai politik dan para caleg kelabakan memompa tingkat kepercayaan ini. Anda bBisa bayangkan.

dan mMasyarakat yang anda temui adalah narasumber terbaik untuk mendapatkan masukan mengenai kebijakan yang perlu diambil oleh daerah. sehingga dengan sendirinya mereka lebih suka mengambil jarak.Anda DPRD bisa melakukan banyak aktivitas untuk berinteraksi dengan konstituen. Menaikan profil partai di depan masyarakat dan media setempat. Tab stops: Not at 0. kegiatan-kegiatan interaksi yang dilakukan anggota DPRD ini anda dapat menggunakan digunakan sebagai kesempatan seperti ini untuk: 1. lambat laun. misalnya dengan pelibatan kader-kader partai dalam pelbagai kegiatan andainteraktif dengan masyarakat. sarasehan.. Dalam konteks Indonesia dan budaya lokal yang sangat kaya bahkan terdapat berbagai kesempatan potensi sosial budaya yang bisa digunakan untuk mencapai maksud ini. nNamun. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: First line: 0. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Perlu diingat bahwa kata konsultasi ini tidak akan membuat posisi anda anggota DPRD menjadi lebih rendah dalam relasi ini. Kegiatan-kegiatan ini merupakan latihan dan pemanasan yang berguna sebelum pemilu tiba.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Kegiatan-kegiatan seperti ini juga akan merangsang partai untuk lebih eksis pada periode di antara dua pemilu. Memang masih terdapat keluhan pada Pemilu 2004 lalu bahwa beras atau uang (money politic) yang dibagikan pada pagi hari menjelang pencoblosan suara masih lebih efektif daripada kerja-kerja jangka panjang seperti ini. Kesempatan berinteraksi dengan konstituen juga merupakan ruang bagi fungsi penyediaan informasi kepada publik. Sesuai dengan amanat UU.  Bertemu dengan masyarakat pemilih.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. Not Bold . Tab stops: Not at 0. baik berupa rapat umum. sejarah akan menilai bagaimana masyarakat pemilih pasti akan bertransformasi menjadi lebih rasional.  Mengarahkan perhatian publik pada isu dan kebijakan yang tengah dibahas di DPRD. berikut adalah substansi dari kegiatan anda di daerah konstituen andatersebut:  Melakukan konsultasi publik. Banyak kalangan di pemerintahan menyayangkan bahwa masyarakat kurang mampu dan atau tidak berminat untuk berpartisipasi dalam program pemerintah. Formatted: Space Before: 0 pt. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Karena itu.5". andaanggota DPRD perlu harus berkonsultasi dengan masyarakat mengenai masalah yang mereka hadapi. anda anggota DPRD secara khusus juga perlu menemui pemilih anda.. kaderisasi internal partai akan bergulir. Faktanya. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Bagi Ppartai politik. peran Anda adalah menjadi Sebagai wakil rakyat. 2. Dari kegiatan seperti ini juga. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt.  Menguatkan struktur partai. sering masyarakat tidak memiliki cukup informasi untuk menilai apa yang direncanakan dan sedang dilakukan pemerintah. anda sendiri. Di luar masyarakat secara umum yang harus anda diwakili oleh DPRD sebagai wakil rakyat yang terpilih dari daerah pemilihan tersebut. atau diskusi interaktif di radio. Kepengurusan partai dihadapkan pada tantangan untuk mendukung program konstituensi yang sukses. Mengaktifkan dan menguji struktur partai. Apapun aktivitas atau kemasan yang anda diambil. Konsultasi yang dimaksud adalah proses untuk mendapatkan informasi. Anda Anggota DPRD perlu menggunakan kesempatan ini untuk memberdayakan partainya.

dan dukungan bagi anda akan membawa gGelombang dukungan ini akan yang lebih besar dengan melibatkan peran media massa. jangan lupa bahwa anda setiap anggota DPRD juga harus meningkatkan profilnya anda sendiri kepada masyarakat. juga profil partai politik adalah membangun kantor kontituensi (constituency office) di daerah pemilihan andasetiap anggota DPRD. seperti menampung keluhan masyarakat.Pentingnya kantor konstituensi Salah satu cara untuk mengembangkan hubungan dengan konstituen sekaligus menaikkan profil diri dan. Staf dan aktivis di kantor konstituensi dapat melakukan sejumlah kegiatan komunikasi dan interaksi publik. dan menyebarkan informasi mengenai kegiatan-kegiatan-kegiatan anda sebagai anggota dewan. Jangan melupakan peran media massa Ketika anda anggota DPRD melakukan aktivitas ini dan merasakan asyiknya berinteraksi dengan masyarakat. memverifikasi masalah yang diadukan. Naiknya profil anda seorang anggota DPRD mencerminkan dukungan bagi kebijakan yang anda telah atau tengah diperjuangkan. Kantor ini bersifat sebagai sekretariat yang menghubungkan antara anggota DPRD anda dan konstituen. Jangan pernah lupa untuk melibatkan media massa dan menggunakannya untuk kepentingan anda. Jerih payah anda anggota DPRD dapat menjadi sia-sia kalau tidak terdapat berdampak pada kenaikanya profilnya anda di hadapan masyarakat dan konstituendalam politik daerah. . Kantor ini bisa lebih dari satu. bila dianggap strategis.

Dasar-dasar penting Fungsi dan tugas DPRD sebagai wakil rakyat sebenarnya telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Namun dalam jangka panjang. DPD dan DPRD mengatur bahwa DPRD kabupaten/kota memiliki fungsi: 1. Namun. Dalam demokrasi Indonesia yang masih muda ini. kerangka hukum itu hanya meletakkan dasar-dasar acuan secara umum. untuk memastikan berjalannya perundangan yang ada dan optimalnya kinerja eksekutif. Anggaran.3" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. 2. yang merupakan refleksi rencana program pemerintahan daerah dalam bentuk angka. lembaga-lembaga politik dalam demokrasi Indonesia memang harus mengembangkan dirinya untuk dapat memenuhi tuntutan jzaman. yakni membahas dan menyetujui anggaran daerah. Pengawasan. Meskipun Ffungsi dan tugas wakil rakyat telah diatur dalam peraturan-peraturan perundang-undangan. Apa pra kondisi yang perlu diperhatikan? Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. anggota DPRD sering dihujani kritik lima tahun belakangan ini bahwa mereka tidak menunjukkan peran yang disuratkan dan efektivitas yang disiratkan dalam perundang-undangan tersebut. 6.1. dan peraturan-peraturan pemerintah. Bold . Ttetapi. dimanadan praktek-praktek demokrasi belum berurat-berakar. peraturan-peraturan tersebut masih bersifat umum dan tidak secara lengkap menjabarkan bagaimana mekanisme pelaksanaan masing-masing fungsi untuk mencapai kinerja yang ideal. Salah satu akibatnya. tetapi bagi mereka Akibatnya. 3. Dalam jangka pendek tuntutan yang demikian besar dari masyarakat ini kadang-kadang justru memancing sikap defensif dari kalangan DPRD sendiri dan resistensi terhadap pembaruan. yakni membentuk perundang-undangan yang mengatur kabupaten/kota. dalam hal ini berbentuk perda.BAB VI Memahami Fungsi dan Tugas Wakil Rakyat Rahmi Yunita Anggota DPRD pada umumnya dikritik karena tidak mampu melaksanakan tugas secara optimal. Legislasi. DPR. DPRD tidak diberikan memiliki panduan dan acuan yang mencukupi untuk mengatasi berbagai kendala kebijakan dan operasional. 2722/20093 mengenai Susunan dan Kedudukan MPR. Pasal 77 343 UU No. dan tidak menjabarkan mekanisme pelaksanaan masing-masing fungsi untuk mencapai kinerja yang mendekati ideal. Anggota DPRD pada umumnya telah dikritik dengan mengatakan mereka tidak mampu melaksanakan tugas secara optimal. mau tidak mau. Tab stops: Not at 1. anggota DPRD baru pun tak jarang menjadi kekurangan acuan dalam menemukan peran yang pas.

5" Formatted: Space Before: 0 pt . baru dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Bab ini sejenak akan mengabaikan agenda-agenda yang menantang di atas yang sebenarnya menjadi konteks yang melingkupi DPRD dalam menjalankan Formatted: Space Before: 0 pt. Tab stops: Not at 0. atau partainya saja. Tata tertib adalah piranti untuk menuangkan prinsip-prinsip demokrasi menjadi aturan main yang memastikan bahwa. Keinginan anggota DPRD untuk terpilih kembali dalam pemilu secara berkala dapat dijadikan sebagai pintu masuk agar mereka mengoptimalkan kinerjanya. tata tertib yang belum melembaga sebagai aturan main.DPRD. serta yang paling buruk. Ini diperlukan karena banyaknya jenis dan lingkup pekerjaan yang jumlahnya tidak dapat dilakukan anggota sendirian. antara lain. DPRD di Indonesia bekerja dalam pemda yang sebagian besar bekerja dengan anggaran yang relatif sangat terbatas. lembaga politik dalam demokrasi seharusnya bertindak berdasarkan mereka yang diwakilinya maka banyak kajian dalam lapangan ilmu politik masih terus-menerus mencari cara bagaimana supaya sistem politik dapat menyediakan motif bagi para politisi. namun bagi keseluruhan masyarakat di daerah. 2. keinginan untuk terpilih kembali dalam pemilu secara berkala dianggap sebagai motif yang cukup kuat untuk unjuk kinerja. Peraturan tata tertib yang disusun harus memungkinkan anggota dewan dapat melakukan tugasnya dan menunjukkan kinerja yang baik. Bila pada prinsipnya. untuk menjalankan tugasnya dengan baik dan bukannya bertindak berdasarkan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Dalam keadaan yang ideal. UU Sistem pemilu dan kepartaian Politik yang masih bisa didiskusikan dan terus-menerus diperbaharuiberubah. Tab stops: Not at 0. Sarana Sarana yang dimaksud dapat berupa fasilitas yang wajar untuk melakukan tugasnya berupa. tekanan yang besar dari pihak eksekutif.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Kesempatan Kesempatan yang dimaksud adalah ketersediaan ruang dalam aturan main internal DPRD agar dapat mengoptimalkan kinerjanya. termasuk anggota DPRD di Indonesia. kelompok. 27/2009 memungkinkan adanya sistem pendukung bagi pelaksanaan tugas DPRD yang tidak hanya berupa sekretariat DPRD. budaya politik masyarakat pemilih yang belum terlampau kejam (retrospektif) menghukum partai-partai politik yang ingkar janji. Tab stops: Not at 0. bila memenuhi setidaknya tiga hal: 1.5" Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt. dukungan keahlian dan staf kesekretariatan untuk mengerjakan hal-hal teknis adminsitrasi dan anggaran. sebagaimana lembaga-lembaga politik lainnya. kapasitas sekretariat yang jauh dari memadai. kita dapat mengatakan bahwa kita di Indonesia masih dalam proses mencari format. semua orang anggota DPRD memiliki kesempatan untuk diwakili dan menggunakan haknya dalam pengambilan keputusan. serta anggaran yang cukup baik untuk kegiatan DPRD maupun untuk sekretariat agar dapat beroperasi. 3. UU No. Dalam ketiga hal di atas. namun juga kelompok pakar atau tim ahli yang kebutuhannya disesuaikan dengan alat kelengkapan DPRD dan kemampuan keuangan daerah. dan ini tidak sepenuhnya terjadi dalam kenyataan. Motif Motif anggota DPRD untuk unjuk kinerja di hadapan masyarakat perlu didorong agar mereka dapat bekerja optimal. bukan hanya terbatas di kalangan pemilihnya. penegakan hukum yang jauh dari harapan.

Lebih khusus lagi. kini tanggung jawab untuk menentukan arah pembangunan daerah pun diletakkan di tangan pemda.tugasnya. dianggap akan membuat pemerintahan lebih akuntabel dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di daerah. Namun kerumitan ini juga bisa dilihat sebagai tantangan yang sangat menggairahkan. salah satu peran strategis yang dimainkan oleh pemerintahan daerah pasca reformasi dan ditetapkannya UU No.5" Formatted: Space Before: 0 pt. Dalam konteks harapan yang besar itulah. 6. Babak baru dalam pembangunan masyarakat Indonesia telah tiba. Mewakili kepentingan daerah 7. namun dalam jangka panjang desentralisasi . 22/1999 dan UU No. Kendati terdapat banyak keluhan di kalangan DPRD dan pimpinan eksekutif bahwa sebagian besar daerah diberi kewenangan besar tanpa sumber daya yang memadai. tanggung jawab ini mungkin bisa dipandang sebagai tugas yang rumit. 25/1999 adalah kewenangan membuat kebijakan dan perda.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. Bold . 25/1999 maka Indonesia mengalami sebuah terobosan desentralisasi yang bisa dikatakan terbesar di seluruh dunia. ketentuan ini pun mendapatkan kedudukan hukum lebih tinggi dengan penjabarandalam ketentuan mengenai pemerintahan daerah di Pasal 18. Di satu sisi. Membuat peraturan hukum dan kebijakan dasar 2. Membuat peraturan hukum dan kebijakan dasar Terhitung sejak 1999. 27/2009 di atas. Dengan adanya UU No. Sehubungan dengan fungsi-fungsi digariskan dalam UU N0. Membekali diri 10. mungkin pemerintah daerah akan mencari-cari format untuk menjalankan pemerintahan di daerah dengan efisien. Dengan adanya pendalaman desentralisasi ini. Tab stops: Not at 0. Komitmen besar ini bahkan telah diawali melalui Ketika Perubahan Kedua UUD 1945 berlangsung pada (tahun 2000). 18A. Menetapkan APBD 4. (Pasal 1 angka 5 dan 6butir i). Dalam tugas inilah lembaga DPRD menjadi arena dimana berbagai pandangan politik maupun pilihan pendekatan dinegosiasikan untuk kemudian dirumuskan Formatted: Space Before: 0 pt. Membentuk perda 3.2. No bullets or numbering. Melaksanakan pengawasan berbagai kebijakan publik 5. 2232/1999 2004. Topik-topik yang akan diangkat adalah sebagai berikut: 1. mengingat kecilnya peran daerah dalam pengambilan kebijakan sebelum reformasi bergulir. secara umum desentralisasi dianggap membawa banyak peluang. Daerah diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (UU No. Tab stops: Not at 0. Dalam jangka pendek. maka DPRD dan kepala daerah pun kini lebih bertanggung jawab atas kepemimpinan dan masa depan daerah. Mewakili kepentingan rakyat 6. dan 18B. maka bab ini akan membahas fungsi-fungsi di atastersebut sekaligus memetakan peran-peran lain strategis yang menunggu butuh dimainkan oleh DPRD. Membangun sekwan yang andal 8. Pembangunan masyarakat tidak lagi diatur dari Jakarta namun kini berada di tangan pemimpin di daerah-daerah sendiri. DPRD sebagai pendidik politik dan demokrasi 9. 22/1999 dan UU No. termasuk di tangan anda.

Pembentukan Perda adalah otoritas DPRD. Sedangkan yang bersifat penetapan. pemda memiliki otoritas untuk membuat peraturan turunan dari perda yang produk hukumnya bisa berupa pengaturan ataupun penetapan. misi. yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. produk hukum yang bersifat pengaturan. prioritas pembangunan daerah. Program pembangunan daerah lima tahun (propeda). dan mungkin jangka panjang. jangka menengah. 16/2006. misi. dan arah pembangunan daerah dengan mengacu kepada RPJP nasional. kini merupakan tanggung jawab anda yang kemudian dikerangkai dalam regulasi-regulasi daerah. Di sini. RPJMD disusun untuk jangka waktu lima tahun sebagai penjabaran visi. kerangka peraturan hukum dan kebijakan dasar yang dibutuhkan oleh daerah untuk waktu ke depan sudah dapat dirancang. yang merupakan implementasi pada tataran konsep operasional dari poldas.bersama kepala daerah menjadi dokumen daerah. yakni: AKU. Pola dasar pembangunan daerah (poldas). selain berupa perda. Perda selanjutnya akan menjadi alat kontrol dari DPRD untuk melihat sejauh mana kinerja eksekutif dalam mengimplementasikan perda tersebut. meski prosesnya dapat diajukan melalui insiatif DPRD ataupun oleh Pemda. dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP daerah dengan memperhatikan RPJM nasional. Tab stops: Not at 0. dan Rencana kerja pembangunan daerah (RKPD).5" Formatted: Font: +Body . Bentuk regulasi daerah ini adalah kerangka peraturan hukum dan kebijakan dasar dituangkan melalui perda. Selain kerangka kebijakan dasar regulasi daerah yang diatur dalam Prolegda. kebijakan dasar lain yang perlu dikawal serius adalah terkait perencanaan pembangunan daerah. yang meletakkan kerangka hukum dan acuan bagi pembangunan daerah jangka waktu lima tahun. Sedangkan RKPD adalah terjemahan RPJMD untuk jangka waktu satu tahun. termasuk sejauhmana peraturan-peraturan turunannya yang dibuat oleh ekesekutif (pemda) sesuai dengan ketentuanketentuan di dalam perda. rencana kerja dan pendanaannya. RPJP daerah disusun untuk jangka waktu 20 tahun yang memuat visi. 32/2004. Dalam Pasal 150 UU No. dokumen perencanaan pembangunan daerah berwujud tiga jenis dokumen dasar yaitu Rencana pembangunan jangka panjang daerah (RPJP). DPRD dan pemda dapat menuangkannya dalam program legislasi daerah (Prolegda) untuk kurun waktu lima tahun dan menentukan target per-tahunnya. Dalam Pasal 3 Permendagri No. bisa berupa peraturan kepala daerah ataupun peraturan bersama kepala daerah yang semuanya harus didasarkan pada Prolegda. baik yang Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Kedua dokumen ini harus ditetapkan bersama-sama dengan kepala daerah dan kemudian akan dijadikan acuan bagi dokumen perencanaan pembangunan tahunan. 2. Melalui Prolegda. repetada dan renstra. Di sini. yang lazimnya pada periode hasil pemilu 1999 sesuai dengan masa bakti DPRD. bisa berupa keputusan kepala daerah dan instruksi kepala daerah. Dokumen-dokumen yang dimaksud adalah: 1. Rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). Salah satu agenda riil yang menyambut DPRD dalam hal penyusunan kebijakan daerah adalah penyusunan dokumen-dokumen perencanaan daerah jangka menengah. Tugas ini tentu saja sangat menantang karena tanggungjawab yang harus diemban sangat luas mulai merancang anda bisa bayangkan bagaimana arah pembangunan daerah dalam jangka pendek.

58/2005. kebijakan umum. Sedangkan pada tahap pengawasan terhadap implementasi Perda APBD tersebut. Hasil dari pembahasan ini (berwujud Nota Kesepahaman) adalah dasar dari DPRD untuk mengawal proses penyusunan Raperda APBD yang akan diajukan oleh pemda dengan cara menilai sejauhmana program dan kegiatan yang direncanakan sudah sesuai dengan nota kesepahaman dalam pembahasan KUA dan PPAS. dan program satuan kerja perangkat daerah. Di sini DPRD dapat mengeceknya melalui pemeriksaan semua laporan realisasi APBD. sebagaimana diatur dalam PP No.dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. keterlibatan DPRD akan sangat vital pada tahapan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). DPRD sangat vital untuk mencermati RPJMD dari pemerintah daerah. DPRD dapat melakukannya dalam rapat pembahasan laporan realisasi pelaksanaan APBD dalam semester pertama untuk melihat apakah dibutuhkan perubahan APBD. dan program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. lintas satuan kerja perangkat daerah. catatan atas laporan keuangan. dengan mengacu kepada rencana kerja Pemerintah. Hanya setelah mendapat persetujuan DPRD. strategi pembangunan daerah. Pemda baru kemudian dapat menyusun Raperda tentang penjabaran APBD. misalnya. Fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan APBD juga masih akan muncul lagi sebagai bentuk pertanggungjawaban pemda. dan laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan daerah (BUMD). Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt . baik kesesuaiannya dengan RKPD atau dengan tantangan yang dibutuhkan daerah dalam perspektif dan temuan-temuan DPRD. DPRD akan memahami dan mempertajam arah yang dikehendaki pemerintah daerah sebab dalam RPJMD telah termuat kebijakan keuangan daerah. Ini penting karena melalui RPJMD. neraca. laporan arus kas. Pada tahap perencanaan APBD.

Peran DPRD dalam Penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA)
Ditetapkan per tahun

Mendagri

Pedoman Penyusunan APBD

Kepala Daerah

Menyusun berdasarkan RKPD

Rancangan KUA

DPRD

Pembahasan Rancangan KUA

KUA
Formatted: Indent: First line: 0", Space Before: 0 pt

Peran DPRD dalam Penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara KUA Pemda
1. Menentukan skala prioritas dalam urusan wajib dan pilihan 2. Menentukan urutan program dalam masingmasing urusan 3. Menyusun plafon anggaran sementara untuk setiap program

DPRD Rancangan PPAS
Program prioritas dan patokan batas maksimum anggaran SKPD untuk setiap program. Ini selanjutnya menjadi acuan penyusunan RKA-SKPD

PPAS

Formatted: Space Before: 0 pt

Kerangka dasar yang perlu menjadi orientasi Dalam menyusun dokumen-dokumen di atas, ini ada beberapa prinsip yang dapat dijadikan acuan: 1. Kerangka visioner.

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5"

DPRD perlu berpikir jauh ke depan dalam menyusun kebijakan daerah. Apa yang akan diletakkan selama lima tahun ke depan harus dapat menjadi landasan yang kokoh dan dapat diterjemahkan secara bertahap dalam rencana tahunan. bagi kehidupan anak cucu kita kelak. 2. Kerangka global. Dalam menyusun apa yang akan dibangun di daerah kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa abad 21 telah ditandai dengan globalisasi dalam skala yang tak terbayangkan sebelumnya. Terobosan pembangunan yang akan dilakukan harus peka terhadap tata persaingan dunia baru ini. 3. Kerangka proses. Untuk dapat menemukan apa yang dicita-citakan orang banyak, memenuhi rasa keadilan masyarakat luas, dan pada gilirannya membangkitkan rasa kepemilikan masyarakat di daerah, proses yang ditempuh harus melibatkan banyak orang. DPRD dapat memprakarsai pelbagai bentuk konsultasi publik, baik berupa rapatrapat umum, kuesioner maupun penelitian potensi daerah sebagai penunjang. Harus disediakan cukup waktu untuk membahas kebijakan dasar yang akan ditempuh sehingga dokumen yang dihasilkan bukan dokumen yang asal jadi dan tidak akan dapat dijadikan acuan yang inspiratif di kemudian hari. Bagaimana memahami anggaran yang sensitif gender? Hal ini yang berada di dalam wilayah kebijakan dan dapat diprakarsai oleh DPRD adalah dorongan bagi diadopsinya anggaran yang sensitif gender (gender sensitive budget). Hal yang patut diperhatikan bahwa anggaran sensitif gender bukanlah penyediaan anggaran khusus bagi perempuan. Anggaran sensitif gender adalah analisis untuk melihat dampak dari program pembangunan dan penganggaran bagi laki-laki dan perempuan serta bagi berbagai segmen laki-laki dan perempuan. Kesadaran untuk menerapkannya memang mempersyaratkan pula komitmen untuk membangun basis data yang memiliki segregasi berdasarkan aspek gender, kelompok umur, dan kelompok sosial ekonomi. Bila kebijakan ini tidak ditempuh, maka daerah beresiko terjebak pada kebijakan-kebijakan yang mungkin dianggap netral gender, padahal ia sebenarnya buta gender. Pada gilirannya pembangunan bisa berlangsung secara zalim gender (gender tidak adil) karena dampak pembangunan hanya dirasakan oleh sekelompok (kecil) masyarakat yang bisa jadi sudah lebih beruntung daripada yang lainnya . 6.3. Membentuk peraturan daerah

Formatted: Space Before: 0 pt

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5" Formatted: Space Before: 0 pt

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5" Formatted: Space Before: 0 pt

Sebagai lembaga legislasi, fungsi DPRD adalah membuat perda. Dalam konteks sistem politik Indonesiadesentralisasi, fungsi ini dijalankan bersama dengan kepala daerah. Perda harus mendapatkan persetujuan dari kedua cabang pemerintahan ini sebelum dapat ditetapkan sebagai mengikat bagi masyarakat di daerah. Dalam menyusun landasan dan arah kebijakan suatu perda, perlu dipertimbangkan beberapa hal:

1. Koridor konstitusional atau lingkungan legal tempat perundangan dibuat, termasuk tidak boleh dilanggarnya peraturan perundangan yang lebih tinggi dalam hirarki perundang-undangan di Indonesia. 2. Prioritas kebijakan daerah yang bersangkutan, seperti dokumen-dokumen perencanaan daerah yang meletakkan arah yang ingin dicapai daerah dalam jangka waktu tertentu. 3. Aspirasi masyarakat yang berkembang sehingga perda tersebut mampu mencerminkan kebutuhan dan keinginan masyarakat luas serta mendapatkan legitimasi etis, nilai, sosial dan politik dari masyarakat. Mengapa perda dibuat? Pada dasarnya, perundang-undangan dibuat untuk menyelesaikan sebuah masalah. Karena penyelesaian masalah memerlukan kerangka hukum yang ditangani bersama, maka perda adalah instrumen di daerah yang harus dipatuhi oleh semua orang yang ada di daerah, sehingga tatanan yang diinginkan di daerah dapat tercapai. Secara umum, perda dibuat untuk mengatasi permasalahan yang ada di daerah. Namun di Indonesia sudah jamak adanya pendapat bahwa sudah ada banyak aturan yang bagus namun penegakannya saja yang tidak konsisten . Demikian pula di daerah, kita sering mendengar keluhan betapa sebuah perda bak hidup enggan mati tak mau . Entah karena tidak efektif ditegakkan atau karena setelah ditetapkan dapat memancing kontroversi, tidak menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan masalah baru. Sejumlah daerah juga mulai banyak mengagendakan evaluasi peraturan daerah untuk menyortir hukum daerah ini menjadi lebih ramping dan efektif. Karena pengalaman-pengalaman di atas, maka untuk dapat menghasilkan dan menetapkan sebuah perda, utamanya yang menyangkut masyarakat luas, DPRD perlu lihai menerapkan checklist yang setidaknya mengandung pertanyaanpertanyaan di bawah ini: 1. Apa masalah yang hendak diselesaikan? Apakah merupakan masalah yang sebenarnya atau hanyalah akibat dari masalah lain yang lebih mendalam, lebih rumit dan menyangkut kepentingan lebih banyak orang? 2. Apa kemungkinan-kemungkinan solusinya? Apakah permasalahan ini bisa dipecahkan dengan menghentikan perilaku lama yang buruk atau hanya bisa dilakukan dengan mendorong perilaku baru? Apakah anda setiap orang akan serta-merta mematuhi perda hanya karena ia telah ditetapkan dan diundangkan? Bagaimana menciptakan insentif bagi orang-orang untuk mengadopsi perilaku baru? 3. Apa hasil yang bisa diharapkan dalam jangka lebih panjang? Apakah perda ini akan menyumbangkan kehidupan di daerah yang lebih baik, atau hanya penghilang gejala masalah saja? Adakah hasil sampingan (eksternalitas) yang diperoleh secara tidak langsung dari diterapkannya perda ini? Positif atau negatif? Dengan kerangka pertanyaan di atas, sebagai contoh, maka dalam penerapan retribusi, misalnya, DPRD dapat mensimulasikan berbagai aspek yang akan timbul dari diterapkannya sebuah perda. Bila sebuah retribusi adalah pendapatan bagi

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5"

Formatted: Font: +Body, Not Bold Formatted: Space Before: 0 pt

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 1.43"

Formatted: Space Before: 0 pt

serta pemuka masyarakat.5" . DPRD tidak perlu merasa terbebani dengan keharusan menguasai teknik penulisan UU (legal drafting). perguruan tinggi. baik perorangan maupun kelembagaan untuk menganalisis raperda yang datang dari eksekutif maupun untuk membantu DPRD menyusun raperda inisiatif. Masyarakat juga tidak hanya bisa dimaknai secara sempit dengan masyarakat luas yang cair dan tidak terorganisasi. yang cukup dibuat trauma dengan suasana rapat umum yang hiruk-pikuk. serta diskusi yang tidak terarah. baik legislatif maupun eksekutif. dihadiri massa yang tidak jelas identitasnya . Italic Formatted: Space Before: 0 pt. masyarakat merupakan sumber dari gagasan dan dukungan yang luar biasa. Di masa lalu. Dalam bagian akhir bab ini juga diangkat kemungkinan bagi DPRD untuk memiliki staf yang menguasai bidang penulisan UU di sekretariat sebagai salah satu pilihan bagi DPRD untuk memperkuat kapasitasnya di bidang legislasi. Tab stops: Not at 0.pemda. pembuat kebijakan sering berusaha menghindar dari penyusunan kebijakan publik secara partisipatoris karena dipandang berbelit-belit. masyarakat yang dimintai konsultasi juga dapat berupa organisasi yang relevan dengan permasalahan yang dibahas. Mengapa harus ada perda? DPRD perlu pula menimbang apakah semua permasalahan yang dihadapi daerah memerlukan perda sebagai solusinya. Formatted: Font: +Body. perda pun harus peduli dengan pentingnya perumusan isi sehingga tafsir perda di lapangan sesuai dengan kehendak pembuat peraturan daerah. Karena anggota DPRD tidak serta-merta merupakan pakar di bidang hukum. dalam hal ini pemda dan DPRD. Proses-proses serupa adalah langkah kecil dari proses panjang belajar berdemokrasi bagi pembuat kebijakan dan bagi masyarakat sendiri. makan waktu. Sebagai perundang-undangan daerah. Tidak ada informasi yang cukup untuk menetapkan pengaturan yang mendetail. dan menguras kesabaran. Namun di sisi lain. maka DPRD dapat memanfaatkan proses penyusunan sebuah perda secara partisipatoris. Namun demikian. Apa yang perlu diperhatikan dalam legislative drafting? Banyak perda juga mengalami kegagalan dalam pelaksanaannya karena perumusannya yang lemah. Perda serupa dapat dibuat dalam kondisi-kondisi: 1. Kadang-kadang cukup dibuat sebuah perda yang tidak terperinci untuk kemudian ditindaklanjuti dengan keputusan kepala daerah untuk menjabarkannya. apakah besarnya masih cukup kondusif bagi pertumbuhan ekonomi atau justru mematikan keinginan-keinginan investasi? Proses dasar penyusunan perda Untuk bisa melahirkan perda yang komprehensif dan lolos dari saringan pertanyaan di atas. Melibatkan masyarakat secara luas berarti menabung legitimasi politik dari sebuah peraturan daerah jauh sebelum ia ditetapkan. DPRD selalu dapat meminta bantuan ahli. Dengan demikian masukan-masukan yang diperoleh dari proses konsultasi ini dapat membantu memperkuat muatan perda yang disusun. Banyak pembuat kebijakan.

indikator pencapaian.38" Formatted Table Mengidentifikasi selisih . maka program-program tersebut harus mencakup urusan wajib dan urusan pilihan dari daerah bersangkutan. sebagaimana amanat UU No. pertama. belanja yang terlalu irit (underspending) dan belanja yang salah sasaran (misapropriation). Di dalam kesemua angka ini sesungguhnya menggambarkan arah dan perencanaan pembangunan yang hendak dicapai oleh suatu daerah dalam setahun yang diterjemahkan ke dalam program-program prioritas. Dalam konteks desentralisasi. 2. berapa banyak dan bagaimana cara memperoleh uang untuk mendanai rencana tersebut (pendapatan). Rencana terperinci yang terdapat pada anggaran membuat pembelanjaan yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. termasuk APBD. Perlunya banyak penjelasan karena sifat teknisnya atau alasan lain. Anggaran sektor publik. karena lewat anggaran pula kinerja DPRD akan dinilai oleh masyarakat pemilih. anggaran merupakan estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran-ukuran keuangan berdasarkan capaian yang diinginkan. yakni: 1. maka perda yang ditetapkan akan dapat menjadi landasan hukum yang kokoh bagi kehidupan kemasyarakatan di daerah. berapa biaya yang dibutuhkan dan berapa atau bagaimana hasil yang diperoleh dari belanja pemerintah tersebut. APBD memandu rencana tindakan yang akan dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai sasaran-sasaran pemerintahan. Alat perencanaan. Karena itu.2. Proses pengendalian anggaran ini dilakukan dengan tahapan-tahapan: Membandingkan kinerja aktual dengan kinerja yang dianggarkan Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: First line: 0. anggaran harus mencerminkan alokasi pendanaan. Sebagai instrumen pengendalian. anggaran dijadikan acuan untuk menghindari adanya pemborosan (overspending). dan kedua. Sebagai anggaran sektor publik. Alat pengendalian. Ini penting bagi DPRD karena dari sini juga .4. 32/2004. ditetapkan dengan sejumlah fungsi utama yang harus dipenuhi. Menetapkan APBD Secara umum. Dengan demikian. Perbedaan-perbedaan dalam satu daerah yang perlu penyesuaian dalam penerapannya. DPRD tentu sangat sadar bahwa anggaran tetap merupakan dokumen politik karena merupakan bentuk komitmen eksekutif dan kesepakatan legislatif atas penggunaan dana publik. APBD merupakan suatu rencana keuangan yang menyatakan. 6. korelasi dengan visi dan misi serta kemungkinan sumber pendapatan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat yang diwakili oleh anggota DPRD. berapa biaya atas rencana-rencana yang dibuat (belanja). 3. Keadaan yang berubah dengan cepat sehingga perlu antisipasi perundangan yang lebih fleksibel. dan 4.

analisis standar belanja. 10558/20050 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Bold Formatted: Indent: Left: 0. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. baik yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan Merevisi standar biaya atau target anggaran tahun berikutnya Dengan adanya tahapan di atas. No bullets or numbering.Menemukan penyebab selisih. baik dalam pencapaian sasaran maupun dalam efisiensi anggaran. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. 4. 7. Alat penilaian kerja. Tab stops: Not at 0. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. namun jangan pula terlalu rendah sehingga terlalu mudah untuk dicapai. termasuk di dalamnya adalah tingkat efisiensi yang bisa dilakukan. dan standar pelayanan minimal.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. (Pasal 39 ayat (1) dan (2) dalam PP ini mengatur bahwa Penyusunan RKA-SKPD dengan pendekatan prestasi kerja dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dan keluaran serta hasil yang diharapkan dari setiap kegiatan dan program. indikator kinerja. Berbagai kelompok masyarakat dapat menggunakan momentum penyusunan anggaran ini untuk berpartisipasi secara politik dalam kebijakan daerah.38". Apakah anggaran kinerja itu? Sesuai dengan PP No. Pelibatanrlu bahkan mutlaknya masyarakat terlibat dalam proses penganggaran publik membuat proses penyusunan anggaran membuka ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan dan menyalurkan aspirasinya. Sebagai alat kebijakan fiskal. Alat koordinasi dan komunikasi. Kebijakan fiskal adalah usaha yang dilakukan pemerintah untuk mempengaruhi keadaan ekonomi melalui sistem pengeluaran atau sistem perpajakan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. 6. 5. Anggaran dapat digunakan untuk menilai kinerja setiap unit kerja. efektif dan efisien dalam mencapai target dan tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Tab stops: Not at 0. Alat menciptakan ruang publik. 12 pt Formatted: Font: +Body. APBD disusun dengan pendekatan kinerja (prestasi kerja) yang dimulai sejak penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD).38". Karena itu. berarti APBD harus Formatted: Indent: Left: 0. 12 pt . standar satuan harga. Dengan pendekatan ini. 3. Space Before: 0 pt. rencana anggaran harus menyertakan capaian kinerja. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. First line: 0". Font color: Auto Formatted: Font: +Body. anggaran perlu dipikirkan perannya dalam menstabilkan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. demikian pula masyarakat di daerah dapat membandingkan daerahnya dengan daerah lainnya sehingga tercipta kompetisi yang sehat. Dalam konteks desentralisasi maka daerah dapat saling belajar satu sama lain.5" Formatted: Font: +Body. proses pengendalian anggaran akan dapat menyumbang bagi perbaikan penganggaran tahun berikutnya dan berarti memperbaiki alokasi dana publik. Anggaran dapat disusun untuk mendeteksi kekerasan antar unit kerja dalam mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan pemda karena setiap unit kerja pemerintahan terlibat dalam proses penyusunan anggaran. Target anggaran hendaknya jangan terlalu tinggi sehingga tidak dapat dipenuhi. Anggaran dapat digunakan sebagai alat untuk memotivasi manajger dan staf agar bekerja secara ekonomis. Alat motivasi. 12 pt Formatted: Font: +Body. Alat kebijakan fiskal. 7.

5" Formatted: Space Before: 0 pt Pasal 18 42 ayat 1 butir f UU No. DPRD hanya akan mengetahui apa yang terbaik bagi masyarakat di daerah dengan cara bertanya pada mereka. Apa kegiatan yang mendesak dilakukan karena menyangkut penanganan keadaan darurat dan menyangkut kebutuhan masyarakat paling mendasar? Apakah. sebagaimana dalam penyusunan kebijakan publik. Sebuah kegiatan hanya bisa dibiayai bila ia menyumbang bagi pencapaian sasaran tertentu yang sudah ada dalam dokumen-dokumen perencanaan daerah. 6. Pelaksanaan APBD. fase ini berada dalam pembahasan PPAS yang rencananya diajukan oleh Pemda dengan berpedoman pada KUA yang sebelumnya sudah disepakati antara DPRD dan Pemda. karena pendekatan baru ini. misalnya. ada masalah keamanan di daerah yang harus diatasi? 3. Tab stops: Not at 0. Karena DPRD adalah wakil masyarakat. 2232/1999 2004 mengamanatkan pada DPRD untuk melakukan fungsi pengawasan terhadap lima hal: 1. manfaat. Dalam tahapan penyusunan APBD. Karena itu.5. Semua belanja yang dikeluarkan senantiasa berhubungan dengan sebuah kinerja yang akan dapat dievaluasi. Bagaimana melakukan prioritasisasi? Pemda dimanapun di penjuru dunia. Melaksanakan pengawasan berbagai kebijakan publik Formatted: Space Before: 0 pt. 2. Apa kegiatan yang lebih sesuai dengan dokumen perencanaan daerah? apa kegiatan yang menyumbang tercapainya sasaran tertentu yang sudah disepakati dan menjadi komitmen bersama? 2. Pelaksanaan perda dan perundang-undangan lainnya. . Di satu sisi penerapan anggaran kinerja ini akan memudahkan DPRD dalam meminta akuntabilitas lembaga eksekutif dalam menjalankan tugasnya serta memudahkan masyarakat melihat hasil kerja pemerintahan. dan dampak tertentu dapat dicapai dengan sebuah masukan (input). DPRD perlu memberdayakan masyarakat dalam prosesnya. Di sisi lain. maka sekarang ini kegiatan yang akan dibiayai merupakan produk dari analisis perencanaan yang lebih panjang. 3. Pelaksanaan keputusan gubernur dan bupati/walikota. Lagi-lagi. kecuali di sejumlah kecil daerah yang sangat kaya. Bila sebelumnya anggaran disusun berdasarkan kegiatan yang akan dibiayai. DPRD pun dituntut untuk menyesuaikan diri. pembuat kebijakan publik termasuk DPRD selalu dihadapkan pada masalah prioritasisasi. Pertanyaanpertanyaan yang diajukan dalam tahap ini untuk membantu memprioritaskan alokasi anggaran antara lain: 1. Apa kegiatan yang bisa mengundang pertisipasi sukarela masyarakat maupun partisipasi pihak swasta sehingga tidak terlalu membebani APBD? Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat terus dikembangkan lagi untuk membantu menyaring kegiatan-kegiatan yang perlu dibiayai APBD.mencerminkan bagaimana sebuah keluaran (output). Apa kegiatan yang memiliki efek pengganda (multiplier effect) lebih besar? 4. hasil. selalu berkutat dengan masalah banyaknya kegiatan pelayanan publik yang perlu dibiayai sementara volume anggaran yang tersedia sangat terbatas.

Meskipun keluhan ini dapat menyiratkan kesan bahwa DPRD memang telah bertindak overacting dalam melakukan fungsinya. apalagi dalam konteks penerapan anggaran kinerja. Dengan demikian. dapat diterapkan dengan baik di lapangan atau tidak. sehingga anggota DPRD dapat melakukan pembidangan kerja dan memfokuskan perhatiannya dalam bidang yang spesifik. 5. bahkan penyelidikan. Pada lima tahun pertama transisi demokrasi tersebut. Melalui komisi. serta sementara Formatted: Space Before: 0 pt . dan secara politik oleh DPRD. demikian keluh pejabat eksekutif di banyak daerah. KPK. pengawasan atas pelaksanaan pembangunan. 22/1999.4. Sebagaimana disuratkan dalam UU. DPRD dapat menilai apakah sebuah perundangan. Sisi yang lain. ke depan. Di satu sisi ia harus membidik isu korupsi oleh eksekutif dan penyalahgunaan kewenangan atau dana pemerintah. tapi sudah masuk ke wilayah pemeriksaan. Dengan diterapkannya anggaran kinerja. Pemda mengeluhkan agresivitas DPRD dalam menjalankan fungsinya ini. Pelaksanaan Kerjasama internasional di daerah. sehingga pemerintah bertanggung gugat (akuntabel) terhadap masyarakat atas apa yang dilakukannya. Dengan adanya komisi maka DPRD dapat mengerjakan banyak agenda sekaligus. DPRD sudah bukan mengawasi lagi. Wilayah pengawasan DPRD dapat mencakup beberapa hal. fungsi pengawasan dapat menyumbangkan hasilnya bagi fungsi legislasi. proses pengawasan dan diskusi di antara para anggota akan berjalan cukup mendalam. terutama pelaksanaan APBD. Dengan demikian. keluhan ini juga menunjukkan bahwa peran pengawasan DPRD telah mulai berjalan. semangat pengawasan oleh DPRD meliputi dua hal: Pertama. Pelaksanaan kebijakan daerah. Apakah peraturan yang lama telah berjalan dengan baik? Apakah ada celah di lapangan yang membutuhkan pengaturan tertentu dalam bentuk peraturan baru? Kedua. Bagaimana fungsi pengawasan ini dilakukan? Secara terus-menerus DPRD dapat melakukannya melalui komisi-komisinya yang membidangi hal-hal yang cukup spesifik. adalah kewenangan pengawasan berjalannya kebijakan dan peraturan daerah oleh eksekutif. DPRD hasil Pemilu 1999 merupakan DPRD pertama yang menjalankan kewenangannya menurut UU No. pemda sendiri secara internal melalui Bawasda dan Inspektorat. berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas bekerjanya pemerintahan. maka DPRD dengan sendirinya akan sangat terbantu dalam melakukan dua aspek pengawasan pelaksanaan APBD ini. tampak di sini bahwa fungsi pengawasan akan menjadi berhubungan erat dengan fungsi penganggaran dan fungsi pembentukan kebijakan daerah berikutnya. sebagaimana lazimnya diharapkan dari demokratisasi. pengawasan atas dilaksanakannya perundang-undangan dan kebijakan daerah. pelaksanaan fungsi pengawasan ini dipandang kontroversial. Salah satu kewenangan DPRD yang berubah drastis sejak 1999 sampai kini. Apakah alokasi anggaran telah membawa hasil sesuai yang diharapkan dalam perencanaan? Apakah prioritas-prioritas pembangunan terlaksana? Bagaimana efisiensi dan efektivitas bisa ditingkatkan? Sekali lagi. dapat tercapai keseimbangan fungsi pengawasan penyelenggaraan pemerintahan antara yang dilakukan oleh BPK dan jajarannya. baik itu berupa peraturan daerah maupun keputusan kepala daerah.

anggota DPRD juga cepat atau lambat akan menguasai permasalahan yang secara khusus ditanganinya. maka yang dituju sebenarnya adalah pemerintahan daerah yang lebih akuntabel dan efektif. Mewakili kepentingan rakyat Kita masuk pada fFungsi berikutnya yang sebenarnya sangat mendasar dalam demokrasi perwakilan yakni adalah fungsi representasi. perda. sehingga keputusan-keputusan yang lahir dari DPRD adalah yang paling representatif. Masalahnya. Sebagai wakil rakyat. . anggota DPRD bukannya diharapkan dapat menjadi manusia serba bisa untuk dapat memenuhi harapan masyarakat di daerah. proses pemerintahan daerah akan menjadi siklus belajar kolektif yang terus-menerus dan terus meningkat. Di sisi lain. kesamaan partai/afiliasi politik antara kepala daerah dengan dan mayoritas anggota DPRD tak terhindarkan lagi akan mempengaruhi corak pengawasan yang akan dilakukan. tidak jarang dan sangat bisa jadi kepentingan tersebut bertentangan satu sama lain. DPRD akan memiliki insentif untuk melakukan pengawasan dengan yang ketat dengan harapan akan menguak kelemahan yang dimiliki kepala daerah. bila kepala daerah dan mayoritas anggota DPRD memiliki afiliasi politik yang sama. maka sistem ini akan kehilangan nilai demokratisnya. pengaturan. namun ini ia cenderung dikehendaki dalam sistem presidensial karena lebih memastikan berjalannya fungsi pengawasan oleh masyarakat melalui DPRD. Nnamun bila fungsi ini dilakukan tanpa mekanisme representasi yang efektif. masyarakat bukanlah kelompok yang homogen. 6. Namun demikian. bisa jadi kedua cabang pemerintahan akan berkonspirasi untuk tampil cantik di depan publik. lembaga dan proses politik di DPRD diharapkan mampu menyelesaikan semua masalah yang muncul di daerah. kendati skenario yang pertama memungkinkan ketegangan antara lembaga legislatif dan eksekutif yang nantinya(namun tidak akan bisa saling menjatuhkan). membuat kebijakan. Karena itulah. DPRD dapat saja melakukan fungsi-fungsi sebelumnyalainnya seperti. Masyarakat memiliki banyak kepentingan yang . maupun aspek pemerintahan lainnya. Bila aAnggota DPRD harus menguasai sesuatu keterampilan.6. utamanya karena layak diragukan bahwa DPRD bertindak mewakili masyarakat secara keseluruhan. Bila DPRD bisa melakukan fungsinya ini dengan baik. Hasil pengawasan ini harusnya bermuara pada penyusunan kebijakan/peraturan daerah untuk menangani kelemahan yang masih ditemui baik mengenai sebuah program pembangunan. Bila kepala daerah berasal dari partai/afiliasi yang berbeda. Karena itu. . semangat yang ada dan prosedur yang disusun dalam DPRD harus dapat memfasilitasi peran ini. Ujung-ujungnya. Karena itu. teknik-teknik konsultasi dengan masyarakat dan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan memang menjadi salah satu langkah utama dalam upaya menegakkan demokrasi di seluruh dunia. Dalam konteks Ketika kepala daerah sudah akan yang dipilih secara langsung nantisaat ini. maka keterampilan yang harus dikuasai tersebut adalah bagaimana berkonsultasi dengan masyarakat yang diwakilinya. termasuk melakukan pengawasan.

DPRD akan kesulitan mengatasi berbagai keluhan masyarakat. Penerimaan aduan melalui kantor konstituensi Kotak pos pengaduan Formatted Table Isu Khusus 1. yaitu. 5/1974.5" DPRD perlu bekerja dengan sekretariat dewan untuk memastikan bahwa terdapat mekanisme untuk bersikap peka terhadap permasalahan masyarakat sekaligus responsif terhadap tuntutan-tuntutan mereka. DPRD juga tidak memiliki antisipasi mekanisme verifikasi berbagai keluhan masyarakat yang bertentangan satu sama lain. 2. yang saat ini dikerangkai dua undang-undang utama. konsepsi hirarkhi pemerintahan mulai diubah dengan memberikan lebih banyak tekanan pada munculnya kemandirian daerah (otonomi daerah). Dalam tabel di bawah.5" Isu Umum 2. Pasca 1999. Proaktif: Jemput Bola Undangan rapat dengar pendapat (RDP) ke kelompok-kelompok kepentingan RDP umum (public hearing) Kunjungan ke lapangan Pengadaan jajak pendapat kepuasan pelayanan publik Reaktif: Tunggu Bola Mekanisme penanganan unjuk rasa Mekanisme penanganan permohonan pertemuan mekanisme penanganan undangan seminar. Sering masyarakat frustasi karena aduannya ditanggapi komisi yang tidak relevan. dimulai Kata jenjang di sini mungkin tepat karena UU No. DPRD dapat mencari terobosan-terobosan baru dalam memastikan bahwa keputusan-keputusan yang diambilnya selalu berusaha memenuhi substansi prinsip keterwakilan ini. 2. 1. 2232/1999 2004 dan UU No. fiskal serta politik.7. DPRD bersama pemda praktis menjadi pun menjadi ujung tombak perjuangan kepentingan daerah di depan dua jenjang pemerintah lainnya. Tanpa mekanisme yang disusun untuk mengantisipasi hal-hal yang harus direspon dengan cepat. 2533/1999 2004 yang membawa desentralisasi administrasi. Dengan format baru adanya desentralisasi dan otonomi daerah. 3. pasca lahirnya UU No. diskusi. 4.di Jakarta. dll. 5. Dengan kewenangan untuk memberikan sebagai besar pelayanan publik. format kekuasaan di bagi secara bertingkat salah satu hubungan politik yang lain adalah antar jenjang pemerintahan yang dijalankan dengan prinsip prinsip otonomi. dengan keluhannya apalagi sedangkan pihak yang relevan sedang tidak berada di tempat.halaman berikut ada beberapa contoh kegiatan yang bisa dilembagakan untuk memastikan bahwa DPRD memiliki berbagai jalan untuk mencari dan menerima masukan dari masyarakat. dalam struktur pemerintahan daerah saat ini. Terkadang. maka hubungan antara daerah dengan pusat telah memasuki babak baru. Formatted: Tab stops: Not at 0.Secara umum. Oleh sebab itu. 6. 1. 32/2004. dalam konteks ini. pemda propinsi dan pemerintah pusat. Formatted: Tab stops: Not at 0. Formatted: Space Before: 0 pt . 22/1999 yang kemudian diganti dengan UU No. tidak mengenal hierarki seperti UU No. Mewakili kepentingan daerah Dalam sistem negara yang terdesentralisasi Indonesia mutakhir.

Asosiasi ini menjadi wadah bagi DPRD Kabupaten dan Kota seluruh Indonesia dan anggotanya. Asosiasi DPRD Kota seluruh Indonesia (ADEKSI) resmi berdiri dan bulan berikutnya Asosiasi DPRD Kabupaten seluruh Indonesia (ADKASI). perluasan jaringan dan penyebaran informasi.daerah kini menyandang tanggung jawab baru yang praktis juga membawa permasalahan tersendiri dalam bidang anggaran. walikota dan gubernur. Membangun sekwan yang andal Semua orang dengan mudah sepakat bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan. daerah dapat berbagi informasi dan prespektif mengenai perbedaan kepentingannya dan . kemudian merumuskan strategi advokasinya bagi kompromi kepentingan terbaik bagi daerah. APEKSI. hal ini merupakan langkah penting maju dalam hubungan antar pemerintahan di Indonesia.di Jakarta. Dengan adanya ADEKSI dan ADKASI. perhatian . dibutuhkan organisasi yang kuat. APKASI. Kecuali daerah dapat bersatu mengagregasikan kepentingannya untuk mendapatkan kompromi terbaik dalam melakukan tawar-menawar dengan pemerintah pusat. Formatted: Space Before: 0 pt 6. Asosiasi Pemerintahan Kota seluruh Indonesia. Anehnya. baik dalam besaranya dana alokasi dari pemerintah dalam formula bagi hasil pendapatan yang diperoleh di daerah. Atas nama jaminan untuk menyediakan pelayanan publik yang setara di seluruh tanah air. maka kepentingan daerah dapat didiskusikan dan dikerucutkan sebelum diperjuangkan. Dalam memperjuangkan kepentingan daerah. dan APPSI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten seluruh Indonesia. Karena itu ADEKSI dan ADKASI selalu aktif dalam diskusi kebijakan tingkat nasional. dan Asosiasi Pemerintah Propinsi seluruh Indonesia) adalah asosiasi serupa yang menjadi wadah bagi pemda untuk memperjuangkan kepentingannya yang dipimpin bupati. khususnya yang berimplikasi pada di antaranya adalah mengenai revisi UU tentang pemerintahan daerah dan aspek-aspek yang relevan dalam paket UU Politik. Dengan adanya asosiasi pemerintahan daerah. maupun dalam keleluasaan mengeluarkan kebijakan fiskal. Meskipun asosiasi dapat menjadi wadah yang efektif untuk penguatan kapasitas anggota. DPRD perlu memperdulikan setting politik bahwa pemerintah pusat pun memiliki kepentingannya sendiri.8. maka sering pemerintah nasional (pusat) di negaranegara desentralis untuk mengadu domba pemdanya. Kendati di Indonesia asosiasi pemerintahan daerah masih terbagi-bagi dalam berbagai organisasi. namun tak pelak lagi advokasi kebijakan merupakan fungsi yang kunci bagi asosiasi. pemerintah pusat dapat mengeluarkan berbagai argumen untuk menangkal kepentingan-kepentingan daerah yang berbeda-beda. ADEKSI dan ADKASI Pada Juli 2001. perhatian pada pentingnya peningkatan kapasitas staf teknis sangat besar. Demikian pula pemda. Karena perbedaan kepentingan antar daerah inilah. Dalam konteks inilah maka asosiasi pemerintah daerah menjadi relevan. maka peran yang disandang daerah adalah advokasi untuk mendapatkan pembagian yang lebih adil. Lazimnya di seluruh dunia.

Tugas anggota DPRD adalah membuat keputusan-keputusan. baik dari segi pendelegasian. budgetinganggaran. DPRD harus memiliki jalur pendelegasian dan pertanggungjawaban dengan sekretariatnya. Seperti yang sudah disinggung di awal bab ini. DPRD dapat memperoleh dukungan sesuai dengan yang diperlukannya dari Sekretariat. Sekretariat DPRD dapat memiliki staf khusus yang dapat menerjemahkan kebijakan menjadi dokumen perundang-undangan yang baik. sebagai pembuat keputusan. Sekali lagi.  Staf legal drafting. Anggota DPRD yang dipilih karena popularitas dan kepercayaan pemilih kepada yang bersangkutan untuk memikirkan dan mengambil keputusan mengenai masalah-masalah publik sangat bisa jadi tidak memiliki kemampuan dalam hal teknis legal drafting. yakni staf yang menyediakan dukungan koordinatif dan administratif bagi kerja DPRD.  Staf riset. Namun sSkala dukungan yang disediakan oleh dan melalui sekretariat ini sangatlah besar dan karenanya memainkan peran yang kunci. mencakup:  Staf manajerial dan administrasi. DPRD sering tidak memiliki cukup banyak waktu untuk memahami hal-hal mendetail yang kadang-kadang diajukan pihak eksekutif. -bahkan kadangkadang memang sengaja diperumit untuk menggolkan tujuan politik tertentu. pengawasan. Namun. Dukungan harus tersedia untuk menjamin fungsi-fungsi legislasi. Bbukan pula tugas anggota DPRD untuk mempelajari detil teknis bagaimana menulis perundang-undangan. Dengan demikian. Banyaknya urusan. Jalur ini juga harus menjadi jalur satu-satunya. yang dipahami sebagai organisasi pendukung kinerja DPRD dan anggotanya. DPRD harus memiliki kekuasaan penganggaran bagi kegiatan maupun fasilitas yang disediakan oleh sekretariat. maupun penganggaran. Dengan demikian. DPRD harus memiliki kendali penuh atas dukungan administratif yang disediakan untuknya. kebijakan yang memprioritaskan sumber daya yang ada merupakan kewenangan dari DPRD sendiri untuk memenuhi tuntutan akan kinerjanya. Tab stops: Not at 1" Formatted: Font: +Body. 22/1999. Italic . 2. DPRD dapat memiliki staf khusus yang melakukan riset dan menyediakan informasi yang diperlukan oleh anggota dalam format yang mudah dipahami. Sekretariat DPRD harus memiliki staf yang andal. Keputusan yang baik hanya bisa dilakukan jika dan untuknya diperlukan didasarkan informasi yang memadai. sering membuat DPRD sering tidak memiliki waktu mencari informasi di perpustakaan dan mempelajarinya sebagai bahan untuk pengembilan keputusan. Untuk itu. sekretariat yang andal harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1.sebesar ini seringkali luput diberikan bila kita membicarakan lembaga sekretariat DPRD. Karena itu. Adanya staf khusus yang dapat membantu anggota menyediakan analisis anggaran akan mengefektifkan fungsi penganggaran dan pengawasan anggota. Sebagai daerah yang sedang membangun dan baru meletakkan dasar-dasar pembangunan daerah pasca UU No. sekretariat hanyalah merupakan sarana agar DPRD dapat menunjukkan kinerja yang baik. dan yang terpentingjuga keterwakilan.  Staf analisis anggaran. akuntabilitas. Formatted: Space Before: 0 pt.

 Staf pribadi anggota legislatif. misalnya. Kebanyakan sekretariat DPRD di Indonesia saat ini tentu masih bekerja dengan sarana dan sumber daya manusia yang masih terbatas. akan merangsang lahirnya fraksi-fraksi berukuran kecil yang tidak membebani anggaran sekretariat. Sebagai badan alat kelengkapan yang memegang peran penting dalam pelaksanaan tugas-tugas DPRD. Reformasi 1998 telah membawa perubahan dengan mendorong demokratisasi: Perubahan paket UU . Staf ini lazim dikenal di demokrasi mapan utamanya yang menganut sistem pemilu distrik wakil tunggal. fraksi merupakan agregasi kepentingan politik yang harus diakomodasi dalam demokrasi. Untuk meningkatkan legitimasi politik DPRD. Perlu diingat bahwa program penguatan sekretariat ini harus terkendali. maka ia benar-benar disediakan fasilitas untuk menjalankan fungsinya dengan baik. mungkin perlu dibuat analisis apakah staf yang akan direkrut bersifat permanen atau yang menerus lebih baik dan efisien secara anggaran atau staf yang bekerja secara adhoc saja saat dibutuhkanketika agenda kerja DPRD membutuhkannya. Karena itu. UU No. DPRD dan sekwan dapat menyusun sebuah rencana pengembangan SDM untuk mendekati kondisi yang diinginkan dalam satu masa bakti. kemerdekaan pers. dan kemerdekaan berorganisasi. bila anggaran memungkinkan. Dalam konteks regulasi saat ini. Diperlukan tidaknya staf fraksi sebenarnya dapat diserahkan pilihan dan pendanaannya pada fraksi sendiri karena tidak etis bila penyediaannya diambil staf fraksi dengandari APBD. maka anggaran dapat dialokasikan untuk mencapai target penyediaan sarana atau keahlian tertentu. Di sisi lain. 27/2009. yaitu terukur dampak dan kemanfaatannya. Karena anggota legislatif tertentu merupakan wakil satu-satunya dari daerah pemilihannya.  Staf fraksi. DPRD perlu memikirkan kelebihan dan kekurangan dari penyediaan fasilitas ini. Sebelum praktek staf ahli komisi ini diperkenalkan. komisi memerlukan dukungan staf ahli untuk dapat menjalankan tugasnya. Dalam keadaan seperti ini. DPRD sebagai pendidik politik dan demokrasi Indonesia telah mengalami masa dimana tidak ada pemilu jurdil. Karena itu. pengembangan kapasitas SDM sekretariat mungkin akan terasa mahal bila dilakukan sekaligus dalam satu tahun anggaran. komisi perlu dilengkapi dengan staf yang dapat membantu anggota komisi melakukan tugas sesuai lingkup komisinya. Setelah penetapan target tahunan. Formatted: Font: +Body. yaitu. 6. bertambahnya fasilitas maupun staf khusus di DPRD seyogyanya tidak menjadi tujuan dalam dirinya namun menjadi sarana bagi kinerja DPRD yang lebih baik di mata masyarakat. Not Italic Formatted: Space Before: 0 pt Pengembangan sekretariat DPRD.9. bahkan bilameskipun anggaran yang tersedia memadai. Staf komisi. Karena itu. Dampak dari setiap investasi yang ditanam harus dapat dilihat pada setiap tahunnya. posisi ini sayangnya belum diakomodasi bagi anggota DPRD.

adalah memastikan bahwa masyarakat tidak frustasi dengan keadaan sekitarnya. Sebagian besar kegagapan dan kegalauan ini lahir karena demokrasi perlu waktu sebelum bisa mendatangkan hasil yang memuaskan.Politik. Bersamaan dengan demokratisasi Indonesia juga lahir devolusi kewenangan dari pusat ke daerah melalui UU No. 25/1999 yang kemudian disempurnakan menjadi UU No. Ada banyak hal yang bisa dilakukan DPRD. Sebagai pemimpin masyarakat pada masa-masa transisi yang sulit ini. maka proses belajar ini akan terputus dan demokrasi tidak akan membawa perubahan ke keadaan yang lebih baik. Masyarakat dapat memilih sendiri pemimpin-pemimpinnyakepala daerah dan merekalah yang kemudian bertanggung jawab terhadap nasib masyarakat di daerah. Dalam situasi politik seperti ini. Desentralisasi dan demokratisasi di daerah kewenangan yang membesar dan berimbangnya kewenangan eksekutif dan legislatif. 32/2004 dan UU No. serta rangkaian perubahan UUD 1945 yang diharapkan meletakkan dasar bagi Indonesia yang lebih demokratis. ada juga yang sudah enggan kembali ke masa lalu namun belum menemukan pegangan tentang apa yang harus dibangun dibagi masa depan. praktek politik di daerah dengan sendirinya sebenarnya merupakan pendidikan politik dan demokrasi pada masyarakat. DPRD harus memastikan bahwa masyarakat pun belajar melakukan fungsi kontrolnya. teman sebaya. 33/2004. mana yang akan lebih banyak dipelajari oleh masyarakat: Demokrasi di daerah sebagai sarana mendekatkan masyarakat pada pengambilan kebijakan yang berpengaruh pada dirinya. Dengan diterapkannya UU barupembaruan dalam pengaturan pemerintahan daerah ini. Yang menjadi krusial pada masa-masa transisi seperti sekarang dimana negara tidak lagi dapat memaksakan kehendak seperti dulu namun masyarakat juga tidak dapat mengharapkan subsidi dari negara. Demikian pula potret di daerah. lepas dari rasa syukur akan capaian-capaian yang sudah diraih pada enam tahun pertama reformasi. terjadi pula desentralisasi politik kepemimpinan daerah.justru dikecam telah sukses mendesentralisasikan korupsi. 22/1999 dan UU No. Bila dalam keadaan pertama masyarakat sudah frustasi dan enggan beranjak ke keadaan kedua. Namun. Ada beberapa resistensi atau keengganan untuk menerima nilai-nilai baru yang dianggap semua semau sendiri sehingga penuh ketidakpastian. secara tidak langsung. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk . Karena dua proses ini berlangsung bersamaan. pemilu yang relatif demokratis (setelah absen 35 tahun). ataukah desentralisasi sebagai penyebab naiknya berbagai retribusi dan menurunnya kualitas puskesmas di dekat rumah? Masyarakat juga perlu belajar bahwa demokrasi mengandaikan bekerjanya fungsi kontrol dari pemilih untuk memastikan bahwa pejabat publik akan bertanggung gugat (akuntabel) terhadap masyarakat. Praktek-praktek buruk yang dulu kita kecam kini justru merebak dan hadir di depan mata. Karena itu. Mengubah praktekpraktek buruk di masa lalu dan membangun pranata baru bukan proses yang secepat kejatuhan penguasa lama dan usai hanya dengan sekali dua atau tiga kali pemilu demokratis. tak urung ada banyak keluhan yang mengemuka. Agen sosialisasi politik yang dialami seorang warga masyarakat adalah keluarga. sekolah dan media massa.

seperti dalam mengikuti siklus sebagai berikut: .memastikan bahwa lingkaran belajar masyarakat di daerah ini tidak terputus.

Membekali diri ' (II) Dorongan bagi partisipasi masyarakat dalam pemerintahan (governance) (III) Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam aspek-aspek pemerintahan Formatted: Tab stops: Not at 0. 6. Menyelenggarakan RDP dan jajak pendapat mengenai rancangan kebijakan dan perda. Kepemimpinan kolegial dianggap merupakan sarana dalam demokrasi yang memungkinkan keputusan yang diambil setelah melalui proses pembahasan dan penggodokan yang serius dan matang.10. Mendorong keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan. 5.5" Formatted: Space Before: 0 pt . Ini tentu harus disikapi sebagai sebuah tantangan. karena ia telah meletakkan suri tauladan sebagaimana yang diharapkan datang dari masyarakat yang beradab dari para pemimpinnya. APBD. ketika ia melihat buah dari landasan yang diletakkannya hari ini. 3. bertahun-tahun dari sekarang. 6. ia akan merasa bangga bahwa ia telah mengambil keputusan yang terbaik. 2. DPRD perlu mendorong praktek-praktek yang memastikan tata pemerintahan yang baik dalam arti luas. 4. Pada dasarnya persidangan ini sifatnya terbuka (kecuali dinayatkan tertutup oleh DPRD). Memastikan terbukanya sebanyak mungkin persidangan DPRD kepada masyarakat. sehingga DPRD dapat lebih mengoptimalkan ruang ini. Ia akan merasa bangga.(I) Persepsi masyarakat akan Keadaan sekitarnya (I ) Praktek pemerintahan yang lebih baik Karena itu. DPRD perlu menyadari bahwa keberadaannya sebagai kepemimpinan kolegial (kolektif) bagi daerah menjadikannya lembaga yang sangat penting bagi pengambilan keputusan di daerah. Memastikan adanya akses bagi masyarakat untuk mendapatkan dokumendokumen publik seperti perda. Memastikan adanya mekanisme transparansi bagi publik. termasuk dalam pencegahan korupsi dan pengadaan barang-barang publik skala besar. Setiap anggota DPRD harus mencamkan dalam dirinya. Kota-kota besar dengan jaringan internet luas dapat menggunakan website untuk menjalankan fungsi ini. antara lain dapat dilakukan dengan: 1. Mendorong berkembangnya media massa yang bebas. dan dokumen perencanaan daerah. Ia akan merasa bangga bahwa ia tidak tergoda untuk mengorbankan cita-cita orang banyak bagi kebaikan daerah hanya karena demi kepentingan pribadi dan kelompoknya semata.

Kondisi ini mengakibatkan akumulasi pengetahuan dari politisi-politisi yang telah berpengalaman praktis tidak terwariskan dengan masif pada periode berikutnya.Daftar panjang fungsi di atas dan penjabarannya rasanya merupakan tantangan yang sangat menggairahkan namun sekaligus berat untuk dihadapi. Bahkan untuk para anggota DPRD yang sudah menjabat selama beberapa periode. apalagi dengan tanggung jawab yang luas datang dari UU pemda serta tantangan konteks globalisasi dewasa ini. di dalam budaya politik Indonesia. kepemimpinan politik belum memiliki ladang penyemaian yang subur dan membuahkan kader-kader yang dapat membawa daerah danerah masyarakatnya ke masa depan yang lebih baik. Pergantian anggota DPRD adalah sesuatu yang niscaya. Parpol perlu merumuskan strategi yang lebih menyeluruh tentang bagaimana dapat disediakan dukungan terus-menerus bagi wakil-wakilnya di DPRD. waktu menjabat sudah terlanjur akan habis dan masyarakat mungkin sudah kehilangan selera untuk kembali memberikan suaranya. Sementara itu. anggota DPRD harus membekali dirinya sehingga ia cepat mengadaptasikan diri dengan tuntutan-tuntutan tugasnya yang penting dan strategis ini. dalam sistem demokrasi yang menggunakan pemilu sebagai mekanisme rekrutmen politik. Partai politik juga perlu memikirkan perannya sebagai persemaian pemimpin-pemimpin daerah yang akan menyandang peran penting dalam penguatan desentralisasi di Indonesia ini. Keadaan ini tentu tidak perlu disesali. Dan kKetika proses belajar usai. Sementara. praktis hanya periode 1999-2004 yang mencerminkan tantangan yang akan terus dihadapi ke depan ini. tidak hanya pembekalan intensif pada awal periode saja. Namun iIni justruga berarti. maka ruang-ruang sidang DPRD hanya akan menjadi tempat belajar dan anggaran DPRD hanya akan dihabiskan untuk pembekalan anggotanya. Formatted: Space Before: 0 pt . bahkan seringkali dikehendaki. Jika para anggota DPRD tidak mengerjakan pekerjaan rumah nya untuk membekali diri. hasil pemilu 2004 pun sering ditandai dengan pergantian banyak anggota DPRD termasuk dan sama banyaknya partai politik yang berhasil duduk di DPRD.

Banyak pihak bahkan mengatakan bahwa kekuasaan DPRD terlalu besar sehingga lembaga eksekutif pun beranggapan bahwa adalah sulit untuk bekerjasama dengan DPRD yang dinilai kadang kebablasanmempunyai kekuasaan sebesar itu. Italic Formatted: Font: +Body. Tab stops: Not at 0. Penegakan hukum. Formatted: No bullets or numbering. Dalam menjalankan tugasnya. baik secara reaktif maupun lebih penting lagi secara proaktif. komitmen penerapan tata pemerintahan yang baik perlu ditanamkan dalam DPRD. Bagaimana menerapkan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik? Tentu saja sSebuah kegiatan dapat mengandung sejumlah penerapan prinsip tata pemerintahan yang baik jika memenuhi prinsip-prinsip berikut: Berikut contohcontohnya: 1. Saking besarnya. Karena itu.BAB VII Membangun Lembaga Perwakilan di Daerah Yang Berwibawa Rahmi Yunita DPRD sekarang memang mempunyai kekuasaan politik yang besar dan jauh lebih berperan dalam pemerintahan daerah. Partisipasi masyarakat dalam penyusunan kebijakan maupun pengalokasian anggaran akan menyumbang bagi legitimasi produk DPRD dan keberadaan DPRD sendiri sebagai lembaga politik. DPRD memiliki dan menerapkan mekanisme untuk mendapatkan masukan dari masyarakat. Partisipasi. Italic Formatted: Font: +Body. tata pemerintahan yang baik dalam pemerintahan di daerah lazimnya sudah menjadi hal yang menyemangati visi yang harus dikejar daerah-daerah di Indonesia. Italic Formatted: Font: +Body.5" . Untuk dapat meraih wibawa di mata publik. Italic Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik Kendati dengan banyak tarik-menarik di daerah. dan ini dapat dimulai dengan penerapan prinsipprinsipnya. Italic Formatted: Font: +Body. DPRD perlu menjunjung tinggi peraturan tata tertib dalam menjalankan tugasnya serta patuh pada hierarki perundang-undangan dalam menyusun pelbagai kebijakan daerah. Salah satu agenda yang paling mendesak adalah kapasitas DPRD dalam melembagakan prinsip tata pemerintahan yang baik. DPRD perlu dibangun menjadi lembaga yang bersih dan berwibawa. DPRD tentu perlu tak hanya menyuarakan tuntutan akan meningkatnya kinerja pemerintaah namun juga wajib menerapkan tata pemerintahan yang baik dalam dirinya. baik untukbagi dirinya sendirinya maupun dalam upaya memfasilitasi para pelaku tata pemerintahan lainnya di daerah. Padahal. 2. sehingga dapat menjadi panutan bagi semua lembaga tata pemerintahan di daerah. mungkin yang terjadi adalah kekurangsiapan untuk menempatkan sistem check and balance pada proporsi yang sesuai. Italic Formatted: Font: +Body.38" Formatted: Font: +Body. Pada kondisi era reformasi ini. Italic Formatted: Font: +Body. Tab stops: Not at 0.

tanpa menunjukkan dampak yang berarti. 8. misalnya untuk studi banding. 9. membuka informasi mengenai sikap politik setiap anggota dalam pengambilan kebijakan tertentu. No bullets or numbering. 6. 27/2009. DPRD harus mawas dengan tegaknya prinsip ini. Hasil guna dan daya guna (efektivitas dan efisiensi). DPRD dapat membuat laporan tahunan di depan masyarakat tentang kinerja dan anggarannya untuk meminta umpan balik. isi dan misi daerah yang disusun. Tanggung gugat (akuntabilitas). Pengawasan. 5. Mengiringi tertib administrasi di DPRD. DPRD akan dinilai juga dari kinerjanya. harus merupakan sesuatu yang dipercaya akan dapat dipertanggungjawabkan kepada generasi masa depan daerah sendiri. 4. 10. DPRD tidak dapat menggunakan banyak anggaran peningkatan kapasitas. 2232/20034 dan UU No.3. DPRD perlu membuktikan bahwa perda yang dihasilkannya. termasuk terus mengembangkan diri ketika tantangan baru lahir. sesuai kewajiban yang diamanatkan oleh UU No. langkah lebih jauh dapat dilakukan dengan membuka daftar hadir DPRD pada umum. DPRD perlu melakukan kepemimpinan dalam menyusun arah pembangunan daerah. Tata tertib DPRD sebagai alat kendali politik internal ( Formatted: Indent: First line: 0. Daya tanggap (responsivitas). Anggota DPRD harus menjalin komunikasi dengan konstituen di daerah pemilihannya sebagai salah satu cara menjalankan prinsip ini. atau dengan tanpa sengaja meminggirkan kelompok lainnya. 7. misalnya: Ddaerah urban dan rural untuk pelayanan pendidikan. DPRD juga harus melakukan pengawasan kepada pelaksanaan kebijakan dan peraturan daerah tanpa maksud memperoleh keuntungan pribadi dari kegiatan ini.5". Wawasan ke depan. Profesionalisme. Space Before: 0 pt. Sering sekali penyusunan program pembangunan hanya membidik kelompok sasaran tertentu. Tab stops: Not at 0. DPRD harus menunjukkan profesionalismenya dengan terus meningkatkan kemampuannya dalam menjalankan tugas. Rapat-rapat DPRD yang dinyatakan terbuka untuk umum dan dapat diaksesnya dokumen-dokumen daerah merupakan penegakan prinsip ini. Kesetaraan (ekuitas). Bagaimana prinsip-prinsip itu dapat dilembagakan? Tata tertib adalah instrumennya. DPRD harus mampu menegakkan kode etik bagi para anggotanya. Pada akhirnya. DPRD harus siap mempertanggungjawabkan kebijakan yang ditempuhnya. misalnya.38" . misalnya dapat dijalankan dan berkelanjutan. Dengan memastikan prinsip-prinsip ini mengejawantah dalam aturan main DPRD. Transparansi. inilah maka internalisasi nilai-nilai tata pemerintahan yang baik akan siap dimulai. Bagaimana menanggapi aspirasi yang diteriakkan demonstran? Bagaimana merespon pengaduan tertulis? Bagaimana menanggapi keluhan masyarakat dalam sebuah kunjungan lapangan? DPRD bersama sekwan perlu menyusun mekanisme untuk memastikan bahwa semua aspirasi dapat ditindaklanjuti secara kelembagaan. bahkan sampai pada tingkat lebih tinggi nanti. DPRD harus memastikan adanya kesetaraan pelayanan publik dalam pelbagai aspek. risalah persidangan. Dalam penyusunan program. terutama ketika kesulitan menghadang pimpinan daerah. atau perempuan dan laki-laki untuk akses terhadap ekonomi produktif. bukannya melemparkan tanggung jawab.

Selain itu. Terlebih. komisi harus merefleksikan pembagian peran untuk menampung semua bidang mandat dalam cabang eksekutif dari pemerintahan juga. untuk menciptakan representasi komisi terhadap fraksi. Bagaimana pengaturan proses dan waktu penyusunan peraturan perundangundangan? Formatted: Indent: First line: 0. Detail pembahasan hal ini akan dibahas Kendati tidak dibatasi. maka farkasi yang ada dalam DPRD harus beranggiotakan minimal sejumlah komisi yang ada. Yang jelas. memang terdapat penjadwalan waktu sidang. sendiri tidak memiliki panduan pengaturan yang kaku. 27/2009 ada dua macam. tata tertib yang mendetil tersebut memuat beberapa hal sehingga ia dapat dioptimalkan untuk mengatur dinamika politik DPRD. 2227/20039 telah mengatur hal-hal yang harus tercantum dalam tata tertib. Selain itu. dalam format kelembagaan DPRD sekarang ini. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana memastikan bahwa komisi dapat mewakili berbagai pendapat dalam DPRD. misalnya setengah jumlah komisi bisa bersidang pada hari Senin dan rabu. sementara sisanya Selasa dan Kamis. Dalam hal ini. komisi perlu mempertimbangkan jumlah total anggota dan saling mengimbangi dengan pengaturan ukuran fraksi. yang akan dibahas lebih jauh di Buku 2 dari seri buku panduan ini. UU No. sebagaimana diatur dalam Pasal 356 UU No. untuk memungkinkan semua anggota dapat menyuarakan aspirasinya dan memudahkan pengambilan keputusan. yakni tiga komisi (bagi yang beranggotakan 20 sampai dengan 35 orang) dan empat komisi (bagi yang beranggotakan lebih dari 35 orang). Ini dimaksudkan agar setiap fraksi memiliki wakil di setiap komisi. Indonesia membagi habis anggotanya sebanyak komisi dan karenanya hanya perlu mengatur bahwa waktu persidangan komisi tidak boleh berbenturan dengan sidang pleno. tidak sedikit pula yang membatasi hal ini. pada intinya. dengan ketentuan bahwa seorang politisi hanya bisa menjadi anggota komisi yang waktu sidangnya tidak bersamaan. Pengaturan untuk mencapai kinerja optimal dapat dipaparkan sebagai berikut. Namun. terutama dalam penyusunan legislasi dan pengawasan. menjadi terbagi dan dapat dikerjakan lebih efisien. Beberapa pembicaraan yang sulit dilakukan secara pleno karena relatif besarnya ukuran forum dapat dilakukan lebih efektif dalam komisi. Namun. yaitu Badan Legislasi. komisi akan lebih fokus lagi karena adanya alat kelengkapan baru yang khusus menangani legislasi. format komisi membuat pekerjaan di DPRD. Bagaimana pengaturan komisi? Komisi adalah alat kelengkapan DPRD yang dibentuk untuk menyederhanakan dan membagi pekerjaan di dalam dewan. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . Jumlah komisi DPRD Kabupaten/Kota. 27/2009. Penyusunan tata tertib DPRD sendiripun harus mempedomani PP. sebagaimana diatur dalam UU No.5". yang dalam hal ini diwakili oleh banyak partai politik? Banyak lembaga perwakilan di dunia yang mengizinkan seorang anggota DPRD parlemen untuk duduk lebih dari satu komisi.Formatted: Space Before: 0 pt Tata Tertib adalah seperangkat aturan yang mengatur bagaimana DPRD dan anggotanya menjalankan fungsi dan tugasnya.

Yang terakhir. untuk menghindari dominasi dan meningkatkan efisiensi forum. misalnya. harus partisipatif. e) pelaksanaan fungsi. di tradisi demokrasi mapan yang sudah mulai diadopsi beberapa daerah di Indonesia. h) pembuatan pengambilan keputusan. nNamun. serta hak dan kewajiban anggota. pengaturan kesempatan dan waktu bicara dalam persidangan juga merupakan isu yang penting dalam sebuah lembaga politik. sehingga konstituen dapat memperoleh informasi mengenai sikap politik wakil-wakilnya. g) penggantian antarwaktu anggota. Bagaimana mengelola hubungan dengan konstituen? Tata tertib DPRD juga perlu memastikan adanya keleluasaan dan dujunganatau sebenarnya membantu kepada anggotanya untuk menjalin hubungan dengan konstituennya. aturan tata tertib juga harus memastikan bahwa media massa ataupun masyarakat luas memiliki akses pada proses ini. Di banyak tempat. Beberapa hal usulan penajaman meteri tata tertib DPRD dapat dilihat di sub bab selanjutnya. Di satu sisiMeski sudah terdapat imbauan agar DPRD mau melakukan terobosan dalam menyusun tata tertibnya. serta tugas dan wewenang alat kelengkapan.5". tugas dan wewenang lembaga. tugas anggota DPRD adalah menyuarakan. Di sisi lain. b) penetapan pimpinan. sehingga DPRDmasyarakat selalu punya kesempatan untuk membuka diri terhadap usulan kebijakan alternatif. Formatted: Indent: First line: 0. Di samping itu. .. mengharuskan keharusan bagi anggota DPRD untuk kembali ke daerah pemilihannya secara berkala dan menyerap aspirasi dari konstituen dan masyarakat luas. d) jenis dan penyelenggaraan rapat. k) pengaturan protokoler. dan l) pelaksanaan tugas kelompok pakar/ahli. Pasal 376 ayat (3) UU No. intinya adalah tersedianya cukup waktu agar sebuah usulan bisa diperdebatkan dengan menyeluruh sehingga tidak terjadi penyusunan serangkaian perda secara ngebut dan kejar setoran . apalagi aturan yang harus dibuat justru malah akan terdapat sedikit insentif bagi anggota dewan sendiri untuk membuat aturan yang dapat digunakan untuk mengekang dirinya sendiri. Keduabelas hal tersebut ialah: a) pengucapan sumpah/janji. Ini bisa dilembagakan dengan adanya masa reses untuk. antara lain. Aturan tata tertib DPRD karenanya perlu memastikan bahwa bahkan fraksi kecil atau wakil tunggal dari sebuah partai politik pun dapat menyuarakan pandangan dan sikapnya terhadap usulan kebijakan. Nnamun. Selain kedua belas poin tersebut. tata tertib juga perlu mengatur lamanya seorang anggota DPRD berbicara.5" Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Indent: First line: 0. c) pemberhentian dan penggantian pimpinan. susunan. 27/2009 menyatakan bahwa paling minimal peraturan tata tertib DPRD Kab/Kota harus memuat 12 hal.Yang ingin dipastikan di sini bukan hanya proses penyusunan kebijakan saja yang. Iini pun sudah lazim dikenal sebagai dilema di semua rezim demokratis. Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Indent: First line: 0.5". j) penerimaan pengaduan dan penyaluran aspirasi masyarakat. DPRD sebenarnya dimungkinkan untuk mengembangkan materi pengaturan internal kelembagaannya untuk memastikan kinerjanya berlajalan optimal. f) pembentukan. bahkan memperdebatkan usulan kebijakan. i) pelaksanaan konsultasi antara DPRD kabupaten/kota dan pemerintah daerah kabupaten/kota. Karena itu. Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt . termasuk hubungannya dengan publik. ini kadang kurang direspon dengan baik oleh DPRD karena dinilai tentu sajatidak cukup memberikan insentif.

DPR. 22/2003 yang baru. 2227/20039 mengenai Susunan dan Kedudukan MPR. Sayangnya.. Tidak juga jelas apakah kode etik ini terkait dengan pengaturan larangan (pasal 378) Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. DPD. Tanpa PP Pedoman ini. Nah. dan peraturan yang ada secara pilih kasih untuk mengistimewakan teman atau menghukum lawan. diatur bahwa masa reses akan dipergunakan oleh DPRD untuk mengunjungi daerah pemilihannya dan menyerap aspirasi masyarakat. 27/2009 yang menggantikan UU No. baik propinsi maupun kabupaten/kota. Adjust space between Asian text and numbers Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . tidak hanya sumber daya. intimidasi atau ancaman untuk mempengaruhi tindakan orang lain. meskipun sebenarnya DPRD bisa menggunakan PP No. Jika tidak.ini dapat mencakup beberapa hal. yang seharusnya dialokasikan secara bijak menjadi terbuang. anggota DPRD secara perseorangan atau kelompok wajib membuat laporan tertulis atas pelaksanaan tugasnya yang disampaikan kepada Pimpinan DPRD dalam Rapat Paripurna. Tidak cukup jelas disebut apakah ini akan diatur secara khusus dalam peraturan pemerintah. Penajaman materi tata tertib yang akan dibuat dan disahkan oleh DPRD bisa dengan memperkuat materi pengaturan dalam PP tersebut. Ini menjadi nyaris mustahil ketika korupsi adalah hal yang dipandang masyarakat sudah berurat berakar dalam pemerintahan. Adjust space between Latin and Asian text. Misalnya. namun juga ada sederet dampak negatif lainnya. Tata tertib DPRD. Ketika penyalahgunaan ini terjadi. Secara politis sudah akan sangat sulit untuk menegakkan sebuah peraturan dan memungut pajak atau retribusi apalagi jika. 25 tahun 2004 tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Tata Tertib DPRD. 23/2003. yang menjadi hak rakyat. Standar etis yang tinggi sangatlah penting bagi kredibilitas suatu pemda di mata publik dan organisasi swasta yang berhubungan dengannya. pengaturan tentang kode etik ini dalam UU tersebut terbilang tidak jelas dan hanya menyebutkan bahwa DPRD menyusun kode etik yang berisi norma yang wajib dipatuhi oleh setiap anggota selama menjalankan tugasnya untuk menjaga martabat. menggunakan milik publik untuk penggunaan pribadi. dan kredibilitas DPRD kabupaten/kota. Karena itu. meruntuhkan kepercayaan publik. sependapatkah Anda? Kode etik yang bersanksi dan Dewan Kehormatan Isu etika dalam jabatan publik mencuat karena adanya banyak cara yang digunakan oleh pegawai pemerintah untuk menyalahgunakan kekuasaan mereka. citra.Dalam UU No. Dalam kegiatan tersebut. 1/2000 yang harus diganti menyusul UU No. Dalam lembaga perwakilan yang menganut prinsip pemisahan kekuasaan -di mana lembaga perwakilan tidak memiliki kekuasaan eksekutif. Indent: First line: 0.5". ditetapkan oleh DPRD sendiri dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. banyak yang menganggap bahwa sudah seharusnya pemerintah mengeluarkan PP tentang Pedoman mengenai hal-hal yang setidaknya dimuat dalam Tata Tertib DPRD. Pasal 55 ayat (4) dan (5). Perilaku tidak etis memancing kecurigaan. serta menciptakan suasana saling tuduh. DPRD akan cenderung membuat tata tertib yang minimalis. Dalam PP tersebut. sikap khusus dalam pembuatan keputusan untuk mengalokasikan sumber daya atau mempekerjakan seseorang. di Indonesia. dan DPRD menyebutkan dalam Pasal 81 butir (i) bahwa salah satu kewajiban DPRD adalah menaati tata tertib dan kode etik dan Peraturan Tata Tertib DPRD kabupaten/kota . 12 pt Formatted: Justified. kehormatan. menggunakan kedudukan seseorang untuk kepentingan pribadi. untuk mengganti PP No. UU No.

pengadopsian kode etik oleh DPRD akan membangun kesan bahwa DPRD berkomitmen terhadap agenda ini dan mengundang dukungan masyarakat untuk menegakkannya. pihak yang menganggap perlunya kode etik dapat mengajukan tiga argumen: 1. Kode etik yang efektif sebaiknya memenuhi beberapa hal berikut:  Aturan seharusnya muncul dari kelompok yang akan diatur. Ketidakjelasan ini pada akhirnya membuat peran kode etik tidak terlalu vital dan hanya menjadi penunjang atau pelengkap dari tata tertib saja. 27/2009) yang menyebut bahwa Kode Etik meliputi norma-norma atau aturan-aturan yang merupakan kesatuan landasan etik atau filosofis dengan peraturan sikap. misalnya semacam sebuah dokumen singkat yang memuat saripati peraturan mengenai etika dalam tata tertib? Lazimnya terdapat pro dan kontra dalam hal ini. Dalam bagian ketiga UU ini mengenai Peraturan Tata Tertib Pasal 102 ayat (4) butir 1 menyebut bahwa salah satu yang setidaknya diatur dalam tata tertib adalah pengaturan protokoler dan kode etik serta alat kelengkapan lembaga . tata hubungan antar lembaga pemerintahan daerah dan antar anggota serta antara anggota DPRD dengan pihak lain mengenai hal-hal yang diwajibkan. Alasan teknis.  Agar tetap dijunjung tinggi. bukannya peraturan yang disalin dari pihak lain tanpa dihayati. 25/2004 Pasal 104 nomor tujuh (turunan UU Susduk sebelum UU No. atau tidak patut dilakukan oleh anggota DPRD. Pun jika dilanggar.ataukah terkait dengan kewajiban anggota DPRD (pasal 351). perilaku. Kode etik perlu untuk menyediakan acuan yang mudah dipahami bagi standar moral yang diharapkan lahir dari para anggota dewan dan memiliki kode etik secara spesifik akan membuatnya lebih diperhatikan.  Kode etik jangan memberikan kesan terlalu kaku dan birokratis. Kode etik yang terpisah dari tata tertib? Apakah daerah perlu mengadopsi sebuah kode etik yang terpisah. Kejelasan yang ada hanyalah pada keberadaan Badan Kehormatan yang kemudian diberikan tanggungjawab sebagai pengawas kode etik DPRD. dan menganggap bahwa perilaku yang baik harus datang dari diri sendiri dan dikontrol oleh penegakan hukum pidana. Pihak ini mungkin akan cenderung merujuk pada pedoman yang disediakan oleh pemerintah. Argumen substansial. aturan ini harus bersifat realistis. dilarang.  Aturan ini perlu ditulis dalam bahasa yang sederhana dan tidak sarat dengan istilah hukum. 3.  Aturan harus sesuai dengan peraturan perundangan -peraturan atau UU yang ada. 12 pt . Namun. Hal Pengaturan ini terkesan mengecilkan peran kode etik dalam kehidupan kelembagaan dewan. Namun. 2. tatakerja. karena frasa kode etik ini tidak diawali dengan huruf kapital. Formatted: Font: +Body. Pihak yang tidak sependapat umumnya berkaca dari ketidaksuksesan penerapan kode etik dalam lapangan profesi lainnya. tidak berakibat serius bagi pelanggarnya. UU memang tidak mengamanatkan adopsi sebuah kode etik yang terpisah. Dalam konteks Indonesia yang tengah memerangi KKN ini. Alasan persepsi. Ketidakjelasan juga muncul dalam PP No. ucapan.

selama ini menunjukkan bahwa anggota legislatif cenderung tidak akan menjelek-jelekkan rekannya. dan bila terbukti akan menyusun rekomendasi mengenai putusan yang sebaiknya diambil oleh sidang pleno. BadanDewan ini akan menangani pengaduan. dan akan bertanggungjawab menindaklanjuti laporan mengenai dakwaan pelanggaran etika. Sementara itu. adalah Badan Kehormatan yang terdiri dari anggota legislatif sendiri. Selanjutnya. berdasarkan pengalaman. harus membuat keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dalam kebijakan dan dampaknya sendiri. BadanDewan Kehormatan tidak memiliki kewenangan investigasi. dan bersifat independen.Kode etik yang sedemikian akan membuat lebih mudah disosialisasikan. Model kedua. wakil-wakil dari pimpinan dewan duduk dalam BadanDewan Kehormatan dengan seorang anggota yang independen. Model pertama membedakan antara Komisi Investigasi Pelanggaran Etika dengan dan BadanDewan Kehormatan yang terdiri dari pimpinan dewan. yang detailnya bisa dilihat pada Buku 2 dari seri buku panduan ini. Model ini ditempuh di Inggris. Jadi. karena. bukan karena paksaan dari luar. Ada sejumlah hal yang lazim diatur dalam kode etik. 2227/20039 merupakan instrumen untuk menegakkan kode etika ini. termasuk DPRD. Penyelidikan dan sanksi . melalui tata tertib. Komisi Investigasi terdiri atas orang-orang luar . anggota legislatif lazimnya enggan melakukan peran aktif dalam model BadanDewan Kehormatan seperti ini. dan untuk kemudian melaporkannya dilaporkan kepada BadanDewan Kehormatan. Di Amerika. perlu ditegakkan aturan yang menjamin bahwa kepercayaan masyarakat ini sejauh mungkin tidak terciderai. Model terakhir adalah yang ditempuh Amerika. dapat menjabarkannya dijabarkan lebih mendetail dan teknis. aAda pelbagai model pendekatan untuk menyusun bagaimana komposisi BadanDewan Kehormatan ini. termasuk godaan imbalan materi. keanggotaan BadanDewan Kehormatan ini tidak ex-officio diambil oleh pimpinan sehingga. melakukan investigasi. Dewan Kehormatan. secara prinsip hal yang ingin ditekankan melalui kode etik adalah:  Pejabat publik.  Kata kunci bagi efektifnya pemerintahan demokratis adalah kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. baik kepada anggota sendiri maupun kepada masyarakat luas untuk membantu mendapatkan dukungan bagi penerapannya. dalam model ini. lepas dari pilihan yang diambil di Indonesia. Masalahnya tentu saja . yang kemudiansecara mandiri sendiri atau bersama dalam pleno akan menjatuhkan sanksi. Bagaimana membentuk Dewan Badan Kehormatan yang efektif? Dewan Badan Kehormatan yang merupakan salah satu alat kelengkapan yang diamanatkan oleh UU No. Karenanya. Namun. dan akibatnya agak sulit mendapatkan anggota dewan yang bersedia duduk di BadanDewan Kehormatan ini. serta mengatur penegakannya lewat Badan Kehormatan. dimana Badan Kehormatansetelah melakukan investigasi dan Dewan Kehormatan akan menyusun laporan tertulis.. Berdasarkan laporan ini tersebut akan diputuskan apakah kasus perlu dibawa atau tidak ke depan sidang pleno.

berperilaku etis lebih dari sekedar menghindari perilaku korupsi. Swedish (Sweden) Formatted: Space Before: 0 pt . 27/2009. Jadi.13". bahwa mManajemen etika memang bukan sekedar kegiatan tunggal yang sekali jadi. teguran tertulis. Anggota dewan dan para pejabat perlu mengembangkan serangkaian prinsip untuk memandu perilaku mereka sehari-hari. Ini mencakup juga selalu bertindak dalam kerangka kepentingan publik. namun merupakan sebuah proses yang terus-menerus. Don't adjust space between Asian text and numbers. Karena korupsi politik sudah mengakar di Indonesai. dengan sosialisasi mendalam kepada anggota DPRD dan staf sekretariat mengenai bagaimana kode etik ini dipatuhi. anggota pun perlu dilindungi dari bahaya fitnah. Jika perlu. Nnamun demikian. Karena itu. Bahkan keluar istilah-istilah: Boleh minta Formatted: Space Before: 0 pt. sangat penting dibuat bahkan diperlukan sebuah buku panduan kode etik untuk membantu anggota DPRD mematuhi standar etika mereka.75" + Tab after: 1" + Indent at: 1". tidakkah sekarang waktu terbaik untuk memulai? 7. Swedish (Sweden) Formatted: Font: +Body. Bagaimana Memulainya? Yang patut diingat. lazimnya diatur hal-hal sebagai berikut:  Laporan siapa yang dapat ditindaklanjuti? Apakah laporan masyarakat dengan sejumlah tertentu? Apakah hanya laporan dari sejumlah tertentu anggota legislatif sendiri yang boleh diproses lebih lanjut?  Bagaimana prosedur Badan Kehormatan untuk menindaklajuti laporan? Siapa yang menindaklanjuti? Apakah pimpinan dewan. kendati penyelidikan dilakukan secara tertutup. Karena itu. Space Before: 0 pt. bahkan bila itikad sudah lahir. bahkan lebih jauh lagi memberikan tauladan perilaku yang baik sebagai pemimpin masyarakat. Bulleted + Level: 2 + Aligned at: 0. penegakan kode etik juga harus diawali. Dewan Kehormatan ataukah harus sidang pleno?  Apa Bagaimana prosedur pemberian dan penentuan sanksinya? Apakah anggota dikenakan skorsing. selalu bersikap netral secara politik ketika menjalankan tugas administratif. selain pasal-pasal pidana. apapun hasil proses ini tentu saja perlu dibuka kepada masyarakat sebagai salah satu langkah akuntabilitas publik. ikhtiar ini memang tidak mudah. tidak membocorkan informasi rahasia. bahkan dibarengi secara berkala. Membangun transparansi yang sesuai dengan kebutuhan publik Bagaimana mendefinisikan transparansi? Ketika reformasi terjadi dan tuntutan akan transparansi menguat di daerah.Formatted: Space Before: 0 pt Kendati masyarakat harus memastikan bahwa wakil-wakil mereka senantiasa menerapkan standar etika yang tinggi. Supaya kepercayaan publik dapat diraih. Swedish (Sweden) Formatted: Font: +Body. maka sanksi yang dapat diberikan oleh Badan Kehormatan adalah berupa teguran lisan.38". dan/atau diberhentikan dari pimpinan pada alat kelengkapan. suatu saat kita harus percaya bahwa kondisi ideal ini pasti bisa dicapai. Swedish (Sweden) Formatted: Font: +Body. denda. Tab stops: 0. Don't adjust space between Latin and Asian text. Tab stops: Not at 1" Formatted: Indent: Left: 0. ataukah pengumuman di depan publik secara terang-terangan? Dalam Pasal 380 UU No.4. List tab + Not at 1" Formatted: Font: +Body. Meski bisa saja Ketika mungkin saat ini kita agak pesimis dengan hasil penegakan kode etik ininya. sejumlah pejabat mulai mengeluh bahwa tuntutan ini menjadi berlebihan.

Penguatan ini dapat sesederhana dilakukan dengan mengadakan pelatihan bagi staf untuk pencatatan risalah sidang sampai penyediaan mesin fotokopi untuk memastikan bahwa masyarakat dapat memfotokopi menggandakan dokumen yang mereka butuhkan dari sekwan.transparansi. Kalau kita cermati. juga penerbitan situs web yang memuat berbagai informasi kebijakan.38". Untuk kasus yang pertama. DPRD justru dapat memulai kegiatan-kegiatan seperti. dan bila tidak tertangani pada gilirannya terhadap demokrasi secara keseluruhan. Di bawah rezim etika yang sudah ditegakkan. Formatted: Space Before: 0 pt. dan b) lemahnya sistem yang mendukung penyediaan informasi yang dibutuhkan oleh warga negara. pendekatan hukum seperti dijaminnya hak-hak masyarakat dalam UU Kebebasan Informasi dan peraturan daerah serupa di tingkat daerah dapat membidik membantu mengatasi permasalahan ini. transparansi pun mungkin tidak serta merta mudah diwujudkan. Langkah yang dapat ditempuh antara lain:  Penguatan sekwan Sekwan perlu diberi anggaran yang memadai dan staf yang memiliki kualifikasi tertentu untuk menyediakan dukungan sistemik yang diperlukan di atas. Pada hakikatnya transparansi merupakan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang menyangkut kepentingan mereka.  Penyelenggaraan kegiatan-kegiatan informasi Seringkali kesan tidak transparan lahir karena warga masyarakat tidak memiliki pengalaman interaksi dengan para wakilnya. absen tiada atau kurangnya transparansi dalam pemerintahan lazim terjadi karena dua alasan: a) penggelapan sebuah informasi yang terkait dengan tindak korupsi. kita sendiri dapat merasakan betapa seringkali terjadi. Biasanya lalu dimulai debat kusir mengenai mana yang transparan dan mana yang telanjang . absennya tiadanya transparansi akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara negara. Kadang transparansi gagal. Karena pemerintah demokratis bertanggung jawab kepada rakyat. transparansi merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk menyediakan informasi yang memadai. pejabat dan pegawai yang terlibat dalam perilaku tak etis menutupi jejak mereka dengan pelbagai cara. termasuk dengan mudah dan akurat. penerbitan kalawarta (newsletter) yang bisa ditempel di koran dinding desa. Bagaimana memastikan bahwa masyarakat dapat mengetahui agenda persidangan dewan dan raperda yang sedang dibahas? Apakah pers dapat memperoleh informasi mengenai tingkat kehadiran anggota DPRD dalam persidangan dewan untuk melihat kinerjanya? Apakah masyarakat bisa memperoleh risalah persidangan dan mengetahui bagaimana sikap dan pilihanpilihan politik wakil-wakilnya? Dalam keadaan seperti itulah. entah dengan membungkam rekan kerja mereka atau dengan mencoba mencari dalih yang sah untuk menutupi tindakan mereka. Logikanya. acara bincang-bincang kebijakan di radio lokal yang secara interaktif. Karena itu.. Tab stops: Not at 1" Formatted: Indent: Left: 0. Space Before: 0 pt . Transparansi jelas bukan merupakan kepentingan dari pelaku tindakan seperti ini. tapi jangan minta kami menelanjangi diri . Karena masyarakat di daerah belum selalu berpengalaman untuk terlibat memberikan masukan bagi kebijakan publik. melulu karena manajemen informasi yang kurang baik. maka diperlukan penguatan kelembagaan dan sistem.

Formatted: Space Before: 0 pt Pengalaman Penerapan Transparasi Dengan bantuan program BUILD dari UNDP. di samping masih banyaknya kekurangan di sana-sini di tubuh lembaga perwakilan daerah. bahkan Legislatif di titik nol . penyiasatan terhadap PP ini berlaku dalamterkait penyusunan paket renumerasi bagi pimpinan dan anggota DPRD. ada beberapa inisiatif yang sudah diambil beberapa kota dalam menegakkan transparansi. Mendorong liputan media juga dapat ditempuh. akibat pengaturan di dalamnya yang dianggap menciderai rasa keadilan. Isu semacam ini sangat sensitif di hati masyarakat dan menimbulkan banyak kecaman terhadap DPRD yang dituduh ladang korupsi dan Media Indonesia tanggal 7 September 2003 pernah menulis serangkaian artikel seputar isyu yang secara sederhana disebut Korupsi DPRD . pengawasan yang kebablasan serta Formatted: Space Before: 0 pt . meskipun harus diakui praktek-praktek korupsi masih banyak menimba anggota-anggotanya. Kota Kendari. dapat pula diciptakan situasi kondusif untuk lahirnya media dari masyarakat community newspaper yang dengan leluasa melakukan pemberitaan mengenai isu-isu kepemerintahan. Don't keep with next Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. sebagai contoh. 110/2000 mengenai Kedudukan Keuangan DPRD karena. beberapa pemerintah kota telah melakukan praktek yang terpuji. Bila di Sawahlunto pemda berinisiatif membiayai kolom di harian regional agar memberitakan kota Sawahlunto. Menyadari strategisnya posisi kelurahan. Don't keep with next Kasus korupsi DPRD ini dapat dikatakan hanya salah satu potret dalam lima tahun pertamaperjalanan reformasi. Cara anggota dewan pamer kebusukan . kendati tidak bisa menyangkal banyaknya kasus-kasus mengenai praktek buruk DPRD. Formatted: Space Before: 0 pt. Kecaman-kecaman masyarakat itu Sejumlah artikel ini sebenarnya mencerminkan betapa toleransi masyarakat sudah tergerus terhadap praktek-praktek buruk yang dilakukan oleh oknum DPRD. Kota Sawahlunto mendorong pos komunikasi desa untuk menjembatani pemerintah dan masyarakat. yang menyorot isu-isu perempuan. menggunakan siaran talkshow radio mingguan untuk mendiskusikan anggaran pembangunan. Kota Metro membuka warung informasi dan komunikasi sebagai wahana membincangkan pengaduan masyarakat kepada eksekutif dan legislatif mengenai masalah ekonomi dan pertanian. After: 0 pt. PP ini menyulut kontroversi luas sebelum kemudian akhirnya direvisi. yang mungkin dapat didorong oleh DPRD di daerah-daerah lainnya. Praktek buruk yang sering dilayangkan juga berupa komodifikasi perda. dan kuatnya peran radio serta media cetak. dengan judul-judul keras seperti Wakil rakyat mpencuri uang rakyat .7. Wacana ini tentu Anggota DPRD masa itu yang membacanya pada umumnya merasa tersudutkanmenyudutkan kelembagaan DPRD. Menuju zero tolerance untuk praktek buruk DPRD Salah satu isu kontroversial dalam lima tahun pertama reformasi dalam penataan kelembagaan DPRD adalah PP No. After: 0 pt. seperti yang dilakukan sejumlah aktivis muda di Mataram dengan Jurnal Kota Wargatama dan buletin Potret .5. dan bahkan permasalahan hukum merebak menyusul hal ini.

Tuntutan jzaman dan perubahan sendiri agaknya tak terelakan. . Salah satu caranya adalah menyusun semacam perencanaan reformasi kelembagaan tiga sampai tahun ini dapat dilakukan dengan bantuan staf ahli sebagai fasilitatorsehingga pada akhirnya nanti DPRD telah akan memiliki pranata yang tangguh untuk menangkal praktek buruk dalam dirinya maupun di antara anggota-anggotanya. Dalam hujan kritikan tersebut. Informasi kian terbuka. Jadi. Bagaimana caranya? DPRD perlu menyusun agenda bagaimana mengembangkan diri anggotanya dan kelembagaannya. Akibatnya. DPRD perlu segera merespon dengan juga mengembangkan zero tolerance kepada peluang praktek buruk dalam dirinya. beberapa DPRD sanggup menerima tantangan dan lahir sebagai dewan yang dihormati dan terpercaya. masyarakat dapat belajar satu sama lain. apakah perbaikan perilaku ini akan dimulai dengan prakarsa para anggota sendiri. secara internal. Karena tingginya tuntutan dan terbatasnya dukungan ini.pemerasan dalam proses pilkada. dari daerah satu dan lainnya. kita menyaksikan bahwa DPRD dibiarkan sendirian dalam mencoba menjawab permasalahan. namun tidak jarang yang terperangkap dalam budaya-budaya warisan lama tanpa tahu bagaimana membebaskan diri. bahkan dari belahan dunia yang berbeda. atau menunggu gelombang desakan masyarakat yang kian canggih dalam menyuarakan tuntutan-tuntutannya? Di tangan para anggota DPRD sendirilah pilihannya berada.

Tetapi dilihat dari ciri-ciri sebagai kepentingan publik jelas bagian dari kehidupan politik. sebab menentukan. tujuan kolektif. ada tiga cluster aktor yang perlu diperhitungkan dalam pengembangan jaringan strategis. organisasi dan aturan main merupakan elemen yang akan berhubungan dengan faktor kekuasaan sangat penting. Mengapa perlu membangun aliansi strategis? Perjuangan politik DPRD adalah Mmemperjuangkan kepentingan rakyat atau kepentingan umum. Tanpa proses pengaruh dan mempengaruhi. membina kerja sama.DPRD perlu mengembangkan pendekatan kerja baru secara eksternal. Dalam artian perjuangan kepentingan publik atau umum adalah perjuangan politik. adalah termasuk wilayah politik. dimana pengaruh itu dapat dipaksakan baik secara persuasif maupun dengan paksaan. Guna mencapainya. Elemen masyarakat bisa disederhanakan melalui. dalam memperjuangkan tujuan kolektif diperlukan kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat. bukan kepentingan individu. beragam kepentingan manusia tidak bisa digerakkan kepada suatu tujuan bersama. Untuk mewujudkan kepentingan umum diperlukan keberadaan organisasi atau kelompok pendukung. Upaya mempengaruhi pihak lain untuk tujuan tertentu dapat didesakkan dengan Mmembangun aliansi adalah sebagai usaha membangun pengaruh dan kekuatan untuk mempengaruhi pihak lain untuk tujuan tertentu. yaitu pemerintah. Untuk memelihara kepentingan umum diperlukan sebuah aturan main agar tujuan kolektif dapat dicapai bersama. DPRD perludengan membangun aliansi strategis dengan para pelaku tata pemerintahan di tingkat daerah maupun nasional. tentu memuat tujuan yang hendak dicapai secara kolektif sehingga untuk memperjuangkannya. Dari contoh ini.BAB VIII Membangun Aliansi Strategis dan Memenangkan Kepentingan Rakyat Diana Fawzia Dalam tata demokrasi baru sekarang yang ditandai dengan informasi keterwakilan. lembaga perwakilan dan konstitusi. Kemampuan DPRD untuk membangun jaringan dan aliansi strategis dapat meningkatkan kinerja internal maupun representatif terhadap akomodasi berbagai kepentingan. Tujuan yang Formatted: Space Before: 0 pt . dunia usaha dan masyarakat sipil. dan membentuk organisasi. meskipun terbuka kemungkinan masuknya kepentingan pribadi dalam wilayah kepentingan. Kepentingan umum adalah. Secara umum. Kekuasaan diartikan sebagai proses tingkat pengaruh yang ditransformasikan oleh satu pihak seorang atau kelompok kepada seorang atau kelompok untuk mempengaruhi perilaku orangpihak lain sehingga orang lain bersedia mengikuti apa dikehendaki oleh pihak yang mempengaruhi. Bentuk pPengaruh dalam bentuk konkrit sering dikatakan sebagai hakikat kekuasaan yang penggunaannya. kerja sama.

yaitu perlu diteliti apa. maka untuk mperumuskan agenda kerjasama regional maupun nasional akan lebih mudah. 8. Aliansi dapat dilakukan antara terhadap kelompok atau elit politik yang memiliki kesamaan tujuan. yang sudah dipersiapkan oleh DPRD. Misalnya apabila mayoritas pekerjaan penduduk adalah petani. maka menjadi jelas bahwa seorang akan membela sekuat tenaga bahwa nasib petani adalah membela merupakan nasib rakyat pada umumnya. Dengan pemahaman yang benar dan tepat. Memenangkan kepentingan rakyat berarti bahwa apapun yang dilakukan oleh anggota dewan harus diarahkan tetap yang menjadi pemenang utama adalah pada kepentingan rakyat. Aliansi strategis berarti membangun kerja sama untuk meningkatkan pengaruh dan kekuatan dengan kelompok atau elit tertentu. seperti sumber kelangkaan termasuk kekuasaan. Agenda kerjasama regional dan nasional Sebelum merumuskan agenda regional dan nasional. akan ada perubahan agenda atau agenda tambahan. Mengapa? Mengidentifikasi potensi dan masalah yang ada dalam masyarakat adalah langkah yang sangat penting untuk dilakukan. bukannya membela para kepentingan pemilik industri yang jenis bisnisnya terkait dengan melakukan pencemaran dan merusak perusakan lahan pertanian. dan seterusnmya. Pemahaman terhadap suatu masalah sangat diperlukan agar anggota dewan mudah mengambil solusi atau langkah-langkah penyelesaian serta pendekatan apa yang sebaiknya dilakukan. maupun dan status sosial dalam struktur masyarakat. bagaimana jejaring masalahnya. bisa juga untuk memperkuat kerjasama membentuk suatu kekuatan untuk keperluan atau tujuan yang hendak dicapai.dimaksud bisa diartikan sebagai upaya membangun dukungan ataupun. Hal ini berkaitan dengan penguasaan anggota dewan terhadap substansi permasalahan. anggota DPRD perlu menempuh langkah-langkah sebagai berikut. kekuatan posisi. memahami permasalahan. ilmu dan teknologi. mengapa muncul.dan di mana letaknya suatu permasalahan itu muncul. TingkatNilai pengaruh ini bisa karena penguasaan terhadap sumberdaya tertentu. Penambahan agenda ini menyangkut kerjasama regional dan nasional.: Pertama. Dengan langkah tersebut. seperti sebab munculnya masalah. tidak menutup kemungkinan bahwa ada agenda publik yang tidak mampu menyerap masalah yang berkembang ditengah publik. dan kepentingan yang dinilai strategis untuk mencapai tujuan. Sebagai contoh. Pelbagai usaha dapat dilakukan oleh seorang anggota dewan untuk membangun aliansi strategis guna memenangkan kepentingan rakyat. mengidentifikasi potensi dan masalah yang berkembang dalam masyarakat. aktor-aktor utama yang terlibat masalah. DPRD dapat menyiapkan Di samping agenda politik dan kebijakannya. seorang anggota dewan mengetahui persis bahwa masalah yang diperjuangkannya adalah (jantung) kehidupan rakyat. Dan iIni adalah tolak ukur keberhasilan perjuangan seorang anggota dewan dalam membina karier politiknya. Ini berarti. Setelah dua langkah tersebut dilakukan. Kedua. sumberdaya ekonomi. baik pada tingkat regional maupun nasional.1. Pengertian strategis memiliki pengertianmenunjuk kepada tingkatnilai pengaruh yang dimiliki oleh suatu kelompok yang diajak beraliansi. .sama.

politik dan keamanan. + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0. Tidak sebaliknya.25".42" . Not Bold. Ketiga. Peluang akses transportasi. komunikasi dan informasi sehingga memungkinkan daerah kawasan tersebut mengalami percepatan dalam pembangunan. nilai strategis. nilai kerugian. Agenda publik untuk membangun kerjasama regional dan nasiona yang disusun DPRD tersebut harus mencerminkan beberapa hal berikut.46" Formatted: Font: +Body. bobot masalah. Tab stops: Not at 1.13". List tab + Not at 1" + 1. Numbered + Level: 2 + Numbering Style: 1. Hanging: 0. baru maju tahap berikutnya adalah merumuskan isu publik tersebut menjadi agenda publik. serta menjunjung martabat manusia. Italic Formatted: Font: +Body.46" Formatted: Font: +Body. agenda publik yang dibangun harus memperkuat landasan sosial. agenda publik harus membangun rasa keadilan masyarakat. 2. Not Bold. Kedua.46" Formatted: Space Before: 0 pt. misal antara lain adanya kemungkinan: 1. Terdapat perbedaan keunggulan masing-masing daerah dalam pelbagai bidang sehingga memungkinkan untuk saling mentukar nilai keunggulan komparatif tersebut. Not Highlight Formatted: Indent: Left: 0. Terdapat ketimpangan potensi sosial. agenda publik tersebut diorientasikan dapat untuk meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara.46" + Indent at: 1.75" + Tab after: 1. 2. No bullets or numbering. dan manusia antar daerah sehingga memungkinkan dibangun kerjasama. Agenda kerjasama regional paling tidak mengandung bBeberapa kriteria yang bisa digunakan adalah: 1.46" + Indent at: 1. Tab stops: 0. baik sosial. agenda publik tersebut harus memiliki kejelasan bobot representasi. Tab stops: Not at 1.38". Agenda kerjasama tersebut juga harus rasional untuk diimplementasikan. Hanging: 0. Formatted: Font: +Body. Not Bold. isu yang didapat perlu diMempilah-pmilah lagi isu atau masalah yang berkembang pun perlu dilakukan untuk mengetahui apakah isu atau masalah tersebut bersifat riil atau hanya sekedar tindakan manipulasitidak. Italic Formatted: Font: +Body.13". Italic Formatted: Font: +Body.Mengidentifikasi Identifikasi isu yang berkembang dalam masyarakat dapat dilakukan dengan memperhatikan tingkat urgensi. Not Bold. Italic Formatted: Space Before: 0 pt.: pPertama. Kelima. Sehubungan hal tersebut mungkin ada beberapa aspek kehidupan masyarakat yang dapat digali untuk dikembangkan dalam agenda kerjasama regional. agenda publik yang dirumuskan lebih mencerminkan logika dan kepentingan kelompok atau elit politik tertentu saja daripada kepentingan publik. politik. serta dapat memberikan harapan dan optimisme perbaikan. Italic Formatted: Font: +Body. perlu ada kriteria yang jelas agar kerja sama dapat saling menguntungkan ataupun membantu daerah yang sebelumnya tertinggal. Tab stops: Not at 1. untuk menghindari overlapping dan ruang lingkup masalah. menumbuhkan persamaan dan hak asasi manusia. Setelah teridentifikasi. agenda publik harus diarahkan untuk dapat meningkatkan nilai kompetitif daerah sesuai dengan potensi yang dimiliki. Space Before: 0 pt.46". 2. 3. dan kenyamanan. nilai urgensi. ekonomi. Dalam Mmerumuskan agenda kerjasama regional dan nasional. Setelah memilah-milah isu atau masalah. List tab + Not at 1. pemilihan agenda yang disusun DPRD akan memiliki tingkat akurasi dan memiliki nilai representasi yang kuat. Not Bold. lingkup masalah. 3. Numbered + Level: 2 + Numbering Style: 1. sumber daya alam.75" + Tab after: 1.38". Tab stops: 0. + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0. Dengan memperhatikan beberapa hal tersebut. Keempat. Italic Formatted: Space Before: 0 pt. 1. hukum. Italic Formatted: Font: +Body.46" Formatted: Indent: Left: 0. ekonomi.25". Ssehingga apa yang menjadi agenda publik yang dicanangkan DPRD nantinya memang benar-benar adalah gambaran riil dari masyarakat. dan keamanan. lingkungan. Logika yang berkembang dalam dewan hendaknya mencerminkan logika dan kepentingan publik yang berada di luar parlemen.46". Not Bold. Space Before: 0 pt. ekonomi. sebagai solusi. Timbul pelbagai masalah. 3.

Lebih dari itu. politik. Space Before: 0 pt. bahwa kapasitas dan kemampuan anggota dewan sangat terbatas sehingga tidak mungkin mereka mampu menyelesaikan banyaknya masalah yang mendesak untuk diselesaikan. Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. pelestarian lingkungan. budaya. Fungsi utama eksekutif dan legislatif adalah menjaga dan menegakkan aturan main. Hal ini dilakukan untuk mendorong dan memfasilitasi terbentuknya kelompok kerja yang mewakili kelompok kepentingan dalam masyarakat. Mengapa? Karena esensi tata pemerintahan yang baik adalah adanya pembagian peran dan fungsi antar berbagai komponen pembangunan.13". dan sebagainya. Harus disadari. yang sangat penting adalah membangun atau mengembangkan potensi ekonomi daerah.2.38". + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0. makna kepentingan rakyat disini adalah kepentingan umum atau dan kepentingan bersama. terutama membangun lembaga pendidikan alternatif yang bermutu dan bermanfaat langsung bagi pengembangan potensi SDM tingkat regional. penjamin kepastian hukum. ESama juga dengan esensi pemerintahan demokratis menimpakan pentingnyabahwa lembaga pemerintah eksekutif dan legislatif untuk lebih banyak bertindak sebagai wasit. Merumuskan agenda kerjasama nasional juga memiliki beberapa kriteria antara lain: 2. Pengembangan potensi antara daerah dalam satu kawasan terutama di bidang ekonomi dan perdagangan. Keterbatasan daerah dalam bidang investasi. namun juga masyarakat. Tab stops: 0. Hanging: 0.46". Atau dDengan kata lain. Pperanan yang dominan tidak lagi hanya dimainkan oleh pemerintah atau dewan perwakilan.25". hukum. Terdapat ketidaksinkronan kebijakan pemerintah pusat dan regulasi di bidang investasi dan perdagangan. pemanfaatan potensi laut. dan keamanan. Mengapa perlu membentuk kelompok kerja atau forum? Setelah memahami potensi dan permasalahan kerjasama regional dan nasional yang dirumuskan ke dalam agenda publik. Pelbagai masalah akan kita temui baik dalam bidang ekonomi. Formatted: Indent: First line: 0". dan fasilitator.75" + Tab after: 1. 3. yaitu membentuk kelompok kerja atau forum. Apabila DPRD membuat daftar masalah maka DPRD akan mendapatkan suatu daftar masalah yang sangat panjang. transportasi. Menciptakan pAdanya peluang investasi sehingga memungkinkan masuknya investasi baik dari pusat maupun dari luar negeri. Numbered + Level: 2 + Numbering Style: 1.46" Formatted: Space Before: 0 pt . perjuangan anggota dewan adalah untuk memenangkan kepentingan rakyat. 3. pariwisata. Setelah memahami potensi dan permasalahan yang dirumuskan ke dalam agenda publik maka perlu diambil langkah teknis. Bahkan kualitas masalahpun bisa bertambah. Pengembangan bidang pendidikan. Permasalahan yang muncul jelas tidak pernah berkurang. kecuali kepada kelompok masyarakat banyak yang dirugikan dalam interaksi. sosial. ini bukan berarti tidak bisa dilakukan. bahkan bertambah dari waktu ke waktu. serta pelindung bagi kepentingan umum.46" + Indent at: 1. 2. Namun. 3. Kedua lembaga tersebut kini dituntut aktif memfasilitasi kekuatan-kekuatan sosial lainnya untuk merumuskan agenda politiknya dan memproses keputusan politik. Mereka ini akan berfungsi mewakili kelompok kepentingan dalam masyarakat. List tab + Not at 1" + 1. maka perlu diambil langkah teknis yaitu membentuk kelompok kerja atau forum. 4. Posisi kedua lembaga tersebut adalah posisiharus netral tidak memihak.

Mengidentifikasi kelompok strategis sangat penting untuk melihat seberapa besar dukungan maupun hambatan yang akan muncul apabila DPRD mengambildiambil langkah-langkah politis. Ketiga. apalagi memenangkannya. pengambil keputusan tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. yaitu mendorong terbentuknya kelompok kerja yang mewakili kepentingan masyarakat dengan kelompok kepentingan atau lembaga-lembaga publik. antara lain: 1. membuat tabel masalah dan potensi yang bisa menghambat maupun yang mendukung kinerja dewan. Adanya tujuan yang sama. Mengidentifikasi Identifikasi terhadap kelompok yang terlibat pentingini dilakukan guna untuk melihat seberapa besar peranan yang bisa dimainkan kelompok tersebut. Ini kemudian digunakan sebagai bahan membentuk kelompok kerja (forum) sektor publikdari DPRD yang difungsikan. tujuan ideal tersebut tidak mudah diwujudkan. Terdapat persamaan visi dan misi. Tab stops: Not at 1" . kepentingan. Not Highlight Formatted: Font: +Body. Kkerap kali keberadaan para politisi justru terkooptasi atau menjadi alat kepentingan kekuatan yang lebih besardominan ini.. baik secara politik maupun ekonomi. Ketimpangan struktural ini membawa implikasi kepada mekanisme kerja lembaga pemerintahan maupun lembaga dewan. bahkan. Not Italic Formatted: Font: +Body. Kedua. 2. Aliansi ini . mendikte. serta apa dampak yang akan ditimbulkan oleh mereka baik yang bersifat konstruktif maupun yang destruktifkonstruktif. Pertama. Dalam membangun aliansi terdapat beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan. Hasil ini kemudian menjadi sebuah pemetaan masalah dan potensi daerah. Maksud pembentukan kelompok kerja adalah untuk mengorganisir aliansi strategis dengan berbagai komponen lain. administratif dan hukumkebijakan tertentu. Langkah apa yang dapat dilakukan untuk membangun aliansi strategis guna memenangkan kepentingan rakyat? Formatted: Font: +Body. dan seberapa pengaruhnya. atau sebagai kunci permasalahan.. mengidentifikasi kelompok strategis (stakeholder) mana yang memiliki perhatian. Dalam kaitan tersebut. sehingga aliansi yang diharapkan dapat bertahan terbentuk relatif lama dan efektif dalam memperjuangkan suatu agenda atau kepentingan bersama. Kekuatan dominan selalu ingin menguasai. Dalam realitas politik selalu ada kekuatan dominan. misalnya wajar jika kemudian muncul kita dapat mengetengahkan beberapa pertanyaan mengapa korupsi tidak pernah bisa diberantas? Mengapa kebijakan pertanahan kerap sekali merugikan rakyat kecil sebagai pemilik? Mengapa harga gabah petani tidak kunjung membaik? Mengapa pedagang kecil dan menengah dan kecil tidak memperoleh dukungan dalam pembuatan kebijakan? Mengapa tata kota menyimpang dari setplan perencanaan? dan banyak pertanyaan lain yang bisa diteruskan. Formatted: Space Before: 0 pt. bahkan menindas kepentingan umum untuk kepentingannya sendiri. Jawabannya. Not Italic Ada beberapa langkah awal yang bisa disiapkan. karena berbagai kendala.Namun dalam dataran empirik. mengidentifikasi kelompok masyarakat (stakeholders) mana yang merupakan sebagai sumber daya pembangunan daerah atau sebagai sumber masalah. Kekuatan dominan bisa berada di dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan.

dan memobilisasi kekuatan. yaitu hubungan berjenjang misalnya pada level daerah dan pusat.. Alinsi strategis ini juga dapat menfasilitasi berbagai kelompok kepentingan maupun lembaga pemerintah untuk ikut merumuskan agenda publik. Pembentukan kelompok aliansi dapat dikembangkan tidak hanya pada level internal daerah tetapi juga regional dan nasional. Model jaringan kerja dapat dibagi ke dalam tiga bentuk. Oleh karena itu. Pembentukan level-level kelompok aliansi ini memiliki tugas. semakin tinggi pula tingkat kohesivitas sebuah aliansi.3. Kinerja sebuah aliansi lebih bersifat jaringan kerja daripada hubungan dalam suatu struktur yang kaku.  Aktif membentuk opini publik dan meyakinkan kepada publik bahwa agenda yang diperjuangkan adalah kepentingan publik. Pembentukan kelompok aliansi ini didasarkan pada kebutuhan dan dukungan yang diperlukan untuk memperjuangkan suatu tujuan atau kepentingan. Kedua. meskipun tidak bersifat formal. esensi membangun aliansi adalah membangun jaringan kerja kelompok. 4. dan fungsi. Level kelompok aliansi tersebut dapat juga dilihat dari kemampuan membuka akses. Cara pencapaian tujuan yang sama. dan atas. Langkah-langkah yang perlu untuk mempertahankan aliansi. dan. Adanya kepentingan yang sama. Upaya ini dapat dilakukan dengan:  Mendorong partisipasi kelompok masyarakat (stakeholders) untuk ikut mengambil bagian dalam merumuskan agenda publik. Semakin tinggi gradasi yang dapat dipenuhi. Ini merupakan upaya untuk mengakomodasi beragamnya kepentingan kelompok masyarakat. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. jaringan atau aliansi dapat berupa hubungan secara horisontal. sebagai peluang kedekatan untuk terjadi aliansi antar kelompok masyarakat dalam aliasi. menyusun taktik strategi dan taktik yang jelas. Tab stops: Not at 1" . dan dan mencari solusi bersama. Aliansi model ini sangat ditentukan oleh adanya hirarkhi . serta peranan yang harus dimainkan dimana masing-masing level tersebut untuk dapat menjadi kunci atau penentu dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. model hubungan secara vertikal.  Ikut bersama-sama memperjuangkan kepentingan yang telah diruimuskan bersama menjadi agenda publik. membangun komunikasi yang intensif antara satu kelompok dengan kelompok aliansi lainnya baik secara horisontal maupun vertikal. Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: First line: 0. menengah. serta membangun dukungan yang luas dari kelompok masyarakat lainnya. Pertama. antara lain: merumuskan program kerja yang jelas dan agenda perjuangan kelompok aliansi oleh anggota kelompok aliansi. Aliansi yang sudah terbentuk harus dijaga keberlanjutannya. Langkah selanjutnya adalah membentuk kelompok aliansi pada setiap wilayah kerja DPRD. lebih bersifat kombinasi tergantung kepada kebutuhan dan tantangan yang dihadapi. model hubungan kombinasi horisontal dan vertikal dimana hubungan ini tidak dibatasi oleh arah horizontal maupun vertikal. level atas. yaitu aliansi yang dibangun dalam wilayah yang sama dan kelompok yang setara. Karena itu. dan pengaruh untukkemampuan memberi tekanan pada instansi terkait pembuat keputusan. Aliansi yang terbangun tidak selalu dapat memenuhi semua kriteria tersebut. kriteria tersebut juga dapat dipandang sebagai gradasi sehingga memungkinkan untuk terus-menerus menemukan. membuat mekanisme kerja aliansi. Ketiga.5".

pelaksanaan.  Mendorong koordinasi dalam merencanakan dan memecahkan pelbagai isu publik.  Untuk mencapai tTujuan bersama hanya bisa dicapai jika lakukan dengan terdapat kerjasama yang kuat dari para stakeholders. Aliansi strategis juga dapat difungsikan untuk Mmendorong efektivitas fungsi koordinasi antar instansi pemerintah.  Fungsi koordinasi tidak semata-mata menjadi bagian dari mekanisme birokrasi pemerintahan tetapi juga harus dijalankan oleh DPRD. Terkadang masalah yang muncul sebanarnya tampak sangat sederhana dan bukan lagi persoalan.  Menunjuk penanggung jawab kelompok kerja dan membuat pembagian tugas anggota.  Kerjasama dan dukungan publik sangat diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan pembangunan daerah serta kompetisi antar daerah. diperkirakan sudah matang. baik untuk meningkatkan kinerja internal dewan maupun fungsi yang harus didorong Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt.  Mengkomunikasikan berbagai kepentingan kelompok strategis dalam merumuskan kepentingan bersama. pada tingkat implementasi. Hal dapat dilakukan dengan:  Meyakinkan stakeholders bahwa partisipasi dan obligasi moril sangat dibutuhkan dalam mendorong kinerja bekerjanya suatu pemerintah yang baik adalah sebagai suatu kebutuhan bersama/publik. masalah yang sangat krusial seringkali adalah lemahnya koordinasi. maupun instansi pemerintah dengan instansi atau lembaga swasta dan LSM sebagai pelaku-pelaku pembangunan daerah. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Upaya aliansi untuk Membangun kapasitas dalam mendorong koordinasi antar elemen pembangunan di atas menjalankan fungsi koordinasi adalah upaya anggota DPRD untuk menekan menjalankan fungsi dan peranannya di dalam mendorong berjalannya fungsi munculnya koordinasi yang lebih baik antar sektor atau lembaga yang terkait dengan kepentingan dan pelayanan publik.  Membangun dan memelihara komunikasi secara intensif dengan kelompok kerja. Aliansi ini juga dapat berperan penting dalam Mmendorong kinerja aparatur atau lembaga pemerintahan yang terlibat dalam perencanaan. Koordinasi antar elemen tersebut sangat vital harus mencakup perencanaan maupun dalam upaya mencari solusi setiap masalah publik. Tab stops: Not at 1" Formatted: Font: +Body. Not Highlight . DPRD perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:  Problematika publik yang muncul ke permukaan kerap sekali tidak berdiri sendiri dan. nNamun. maupun pengawasan kepentingan publik yang dengan cara lebih maju berkaitan erat dengan upaya membangun dukungan terhadap keberadaan mereka dari kelompokkelompok masyarakat terhadap kinerja aparatur tersebut. Menyepakati mekanisme kerja kelompok kerja agar peranan mereka tetap berkelanjutan. Ia dapat merupakan kompleksitas masalah berbagai sektor yang saling terkait satu sama lainnya. Dalam mengupayakan hal ini. atau pada tingkat konseptual. Hal ini dapat dilakukan dengan:  Menciptakan sistem komunikasi yang integral yang dan dapat melibatkan dengan pelbagai kelompok strategis.

Fungsi koordinasi tidak hanya dipahami sebagai sebuah konsep atau sebagai bentuk mekanisme kerja lembaga tetapi sebagai suatu kebutuhan yang harus dilaksanakan. ataupun menimbulkan timbunan sampah. kasus munculnya pedagang kaki lima (PKL) bak jamur di musim hujan. masalah timbunan sampah. Mengapa? Karena bobot suatu masalah tidak muncul dari sektor itu sendiri tetapi dapat juga sebagai akibat dari ketimpangan dari sektor lain. Ini misalnya terkait kasus persoalan lingkungan seperti geografis dalam satu kawasan tertentu. tanah longsor dan lain sebagainya. Keterkaitan atau kompleksitas masalah publik juga dapat terjadi karena aebagai letak dampak dari lingkungan atau daerah sekitar. pelaksanaan. Kesalahan ini tidak semata-mata ditimpakan kepada PKL karena tetapi akar masalah sebenarnya adalah karena tidak ada perencanaan tata ruang kota baik fisik maupun non fisik secara yang matang atau karena melemahnya penegakan aturan. pengguna dan pengawasan. atau tetap memegang etika kedewanan berpihak kepada kelompok masyarakat yang dirugikan? Semua ini berpulang kepada Anda. pembabatan hutan. Dari sini kemudian menimbulkan akumulasi masalah. Misalnya siapa yang terlibat langsung dalam pengambilan keputusan? Siapa kelompok yang sangat dirugikan? Siapa kelompok yang diuntungkan oleh suatu keputusan? Dari proses identifikasi ini selanjutnya dapat dimerumuskan pendekatan dan langkah apa yang sebaiknya dilakukan. Misalnya.      untuk meningkatkan kinerja lembaga eksekutif sebagai lembaga yang melaksanakan agenda publik. Hal ini misalnya munculnya sejumlah persoalan publik sebagai akibat pencemaran lingkunganudara. dan menimbulkan kemacetan. Apabila kenyataan tersebut diharapkan kepada Anda apa yang dapat anda lakukan? Menghindar. Koordinasi terkadang mudah untuk diucapkan akan tetapi sulit untuk diwujudkan. Mengidentifikasikan stakeholders yang terlibat baik dalam perencanaan. Pemecahan masalah ini tentu tidak bisa dilakukan oleh satu sektor saja yang terbatas dalam satu atau hanya pemda tertimpa musibah tersebut tetapi harus melibatkan pemda lainnya yang juga menjadi mata rantai masalah tersebut. sikap apa yang sebaiknya anda lakukan sebagai anggota dewan yang bertanggung jawab dan moral. Langkah-langkah antisipatif adalah mengidentifikasi sejumlah masalah yang memiliki keterkaitan antar sektor. yang terus meningkat dan sangat liar. pengawasan maupun pengambilan keputusan. berpihak kepada kelompok yang kuat. . pelaksana. Dalam konteks perspektif koordinasi. apalagi tidak pernah terjamah oleh kelompok atau pihak yang berkepentingan. Semakin tinggi tingkat perkembangan masyarakat. Persoalan yang kerap muncul di sini adalah apabila stakeholders yang terlibat ada mempunyai kekuasaan dan atau pengaruhnya yang besar atau dapat juga suatu kelompok yang memiliki kekuatan ekonomi. Tumpang tindih masalah satu sektor dengan sektor lainnya tidak bisa dihindari.sehingga Akibatnya mengganggu ruas jalan. masalah publik yang ditimbulkan semakin kompleks. cara pandang anggota dewan dalam melihat masalah tidak sepotong-sepotong atau hanya melihat per sektor. bencana alam seperti banjir. Mendorong stakeholders untuk melakukan koordinasi dalam proses mperencanakan.

Formatted: Space Before: 0 pt . upaya membangun fungsi koordinasi dan pengawasan terlaksananya agenda kerja sama dapat diwujudkan dengan mendorong serta melibatkan partisipasi aktif pelbagai kelompok masyarakat seluas-luasnya. Dengan demikian proses politik yang berjalan baik pada level pemerintahan maupun pada level DPRD dapat memenangkan kepentingan rakyat secara konstitusional. proses pengambilan keputusan maupun dalam pengawasan dan evaluasi. Untuk meningkatkan kinerja lembaga dewan maupun fungsi tata pemerintahan yang baik hendaknya menempatkan masalah koordinasi sebagai bagian penting dalam proses perencanaan. Akhirnya. legal. dan terlembaga.