DISAIN PENGUATAN PERAN DAN FUNGSI DPRD

Daftar Isi Bab I Pendahuluan Bab II Arah Demokrasi Baru, Reformasi Keterwakilan dan Pengaruhnya terhadap Kapasitas Keparlemenan Bab III Pemilihan Langsung dan Akuntabilitas Wakil Rakyat Bab IV Menjadi Wakil Rakyat dalam Konteks Otonomi Daerah Bab V Menjembatani dan Mengelola Berbagai Kepentingan Politik Publik Bab VI Memahami Fungsi dan Tugas Wakil Rakyat Bab VII Membangun Lembaga Perwakilan di Daerah yang Berwibawa Bab VIII Membangun Aliansi Strategis dan Memenangkan Kepentingan Rakyat Rasionalisasi thd Rancangan Sistematika Modul sebelumnya 1. Pengantar a. Substansi setiap bab b. Alur kerja yang menghubungkan semua komponen di tiap fungsi ( yg ada dalam setiap modul)- gambarkan dalam bagan utama 2. Pengertian dan Prinsip Dasar (Masing-masing fungsi): Rujukan regulasi muncul dalam sub bab ini. Sajikan juga alat peraga, misal, dalam bentuk formulir isian dari setiap tema penting beserta cara pengisiannya Bab ini cenderung normatif saja: legislasi, penganggaran, dan pengawasan yang baik sesuai peraturan perundangan a. Konsepsi dasar dari substansi b. Jenis dan ruang lingkup substansi c. Ukuran dari derajat substansi d. Mekanisme bekerjanya substansi e. Faktor-faktor yang mempengaruhi bekerjanya substansi 3. Problem dasar implementasi substansi a. Limitasi regulasi b. Limitasi teknokratis administratif c. Limitasi konteks lokal 4. Insentif dan Strategi a. Insentif implementasi substansi b. Strategi implementasi substansi 5. Lampiran2 a. Formulir-formulir isian yang muncul di bab II b. Direktori perundang-undangan pada masing-masing fungsi

Bab I PENGANTAR Problematika Struktural: Konstruksi dan Format DPRD 2009  Posisi DPRD dalam Pemilu Langsung dan Relasinya dengan Partai Politik  Kendala Struktural Optimalisasi Tugas dan Fungsi DPRD Problematika Kapasitas Kelembagaan: Organisasi dan Keanggotaan DPRD  Kapasitas Organisasi DPRD  Kapasitas Individual Anggota DPRD Mendesain Penguatan Kapasitas DPRD  Anggota DPRD: Kombinasi Politisi dan Teknokrat  Prinsip Dasar Penguatan Kapasitas Organisasi DPRD  Prinsip Dasar Penguatan Kapasitas Anggota DPRD Alur Penguatan Fungsi dan Peran DPRD  Berdasarkan Optimalisasi Fungsi DPRD (Bagan besar)  Berdasarkan Optimalisasi Alat Kelengkapan  Berdasarkan Optimalisasi Lembaga Pendukung (Setwan dan Tenaga Ahli)  Berdasarkan Optimalisasi Kekuatan Masyarakat dan Media Indikator DPRD yang Berkualitas Nominal dan substansial Hubungan Antara DPRD dan Pemerintah Daerah Bagan hubungan dalam struktur fungsi umum dan sisi teknokratisnya. Tantangan dan Hambatan dalam Implementasi Desain Penguatan Fungsi dan Peran DPRD (yang dianjurkan dalam modul ini)  Tantangan o Waktu: bekal awal tidak cukup tdk ada kaderisasi di parpol o Ruang: berhadapan dengan struktur sistemik dan pragmatisme individual  Hambatan o Waktu: o Ruang: Insentif dan Strategi Penguatan Fungsi dan Peran  Insentif agar ini DPRD Membangun Penguatan Fungsi dan Peran o Kepercayaan Masyarakat dan Pemenuhan Janji: Menyelamatkan masa depan politik elektoral o Mempersiapkan Pemilu selanjutnya dan Merintis Karir Politisi ke level Provinsi dan Pusat o Insentif ekonomi (reward DPRD ditentukan oleh besaran PAD) o  Strategi yang bisa dilakukan o o Lampiran

Pengantar Modul Program pelatihan DPRD sudah banyak dilakukan, baik yang difasilitasi oleh kalangan universitas, lembaga pelatihan profesional, lembaga donor, maupun oleh kalangan organisasi masyarakat sipil. Namun, banyak dari pelatihan tersebut seringkali tidak disiapkan dengan capaian strategis dan taktis yang terarah untuk menjawab tantangan kongkrit dari DPRD. Belum lagi, ada kecenderungan dari lembaga-lembaga penyelenggara pelatihan tersebut untuk melihat problema DPRD di semua daerah secara seragam sehingga materi pelatihannya cenderung terlalu umum, abstrak, teoritis, dan tidak menyentuh secara mendalam masalah-masalah riil yang dihadapi oleh DPRD. Akibatnya, hasil pelatihan seringkali tidak memiliki dampak perubahan yang jelas, kecuali sekedar tambahan pengetahuan atau menebalkan kesadaran terhadap peran DPRD sebagai wakil rakyat. Hasil pelatihan akhirnya akan sangat sulit diukur keberhasilannya. Hal tersebut bukan tidak penting, namun harus dipertajam lagi seiring dengan kebutuhan anggota DPRD yang dituntut bukan hanya memiliki keahlian sebagai politisi namun juga memiliki kapasitas teknokratis-administratif dalam urusan pemerintahan daerah. Kapasitas teknokratis-administratif menjadi vital karena, dalam semua urusannya, DPRD harus berinteraksi dengan pemerintah daerah (eksekutif) yang logika kerjanya selalu didasarkan pada pranata ini. Tanpa penguasaan terhadap wilayah ini, niscaya DPRD tidak akan mampu menjalankan peran dan fungsinya secara optimal. Ini terjadi bukan karena anggota DPRD tidak memiliki keinginan, namun seringkali karena tidak memiliki keahlian dan alat kerja yang mencukupi dalam pelaksanaan fungsinya baik sebagai pengarah, mitra, dan pengawas bagi pemerintah daerah. Modul pelatihan ini ingin mengubah kecenderungan di atas dan menawarkan Pelatihan DPRD berbasis Riset . Oleh sebab itu, nilai lebih yang dapat ditemukan dalam modul ini adalah sebagai berikut: 1. Modul ini tidak hanya memberi perspektif perubahan, namun juga menunjukkan pilihan-pilihan yang realistis dilakukan; 2. Modul ini tidak hanya menunjukkan berbagai peraturan perundangundangan terkait pelaksanaan fungsi dan peran DPRD, namun juga memberikan alat kerja agar DPRD dapat menjalankan fungsi dan perannya dengan jelas dan tepat; 3. Modul ini tidak hanya menunjukkan masalah, namun juga cara memecahkan masalah; dan 4. Modul ini tidak hanya memberi panduan agar pelaksanaan fungsi dan peran anggota DPRD sesuai aturan perundang-undangan, namun juga memberikan kerangka kerja kritis dan inovatif dalam merancang perubahan. Singkat kata, program penguatan dan pengembangan kapasitas DPRD hanya bisa berarti jika didasarkan pada kondisi umum DPRD di Indonesia dan kondisi khusus masing-masing daerah sekaligus yang dihadapi oleh masing-masing DPRD. Meski fungsi dan tugasnya sama, tantangan yang dihadapi oleh setiap DPRD sangat variatif. Konsekuensinya, hasil dari setiap pelatihan DPRD hanya akan optimal jika didasarkan pada kebutuhan dari masing-masing daerah.

pergantian periode). sebagai wakil rakyat. pelatihan-pelatihan berbasis keahlian-keahlian tertentu bisa dilakukan sebagai tambahan soft skill agar dinamika kerja DPRD dapat berkembang. format DPRD menyangkut kedudukan. 2/2008. yaitu kemampuannya menelurkan berbagai kebijakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat luas.Bab I Pendahuluan Formatted: Font: +Body. 27/2009.  . Terkait DPRD. Pertama. 23/2003. tugas. tanpa harus memperhatikan nomor urut pencalonan. Baru setelahnya. perbedaan hanya terjadi pada .. Perubahan ini dilakukan karena . serta kritis dan inovatif. dan DPRD tidak mengubah format dasar pengaturan DPRD yang sebelumnya diatur dalam UU No. yaitu kenyataan sebagian anggotanya belum memiliki pengalaman menjabat... 27/2009 tentang MPR.. Tantangan paling awal bagi kelembagaan DPRD hasil Pemilu 2009 adalah karena resikonya sebagai lembaga perwakilan yang dipilih secara berkala. Posisi DPRD dalam Pemilu Langsung dan Relasinya dengan Partai Politik Berbeda dengan DPRD 2004. tugas paling awal dari setiap pelatihan DPRD adalah memastikan bahwa setiap anggota DPRD menguasai dan memahami tugas dasarnya sebagai wakil rakyat. konstruksi DPRD sebagai lembaga perwakilan dalam desain sistem pemilu sebagaimana diatur dalam UU No. seperti PP tentang perumusan tata tertib DPRD.. terlebih bagi politisi yang sedari karirnya di partai politik tidak memiliki atau tidak diberi bekal pemahaman yang jelas tentang pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD dalam kerja sehari-hari.. Antisipasi perbedaan mungkin akan dapat dilihat nantinya dalam berbagai PP turunan UU ini.. anggaran.. tugas.. yaitu No. Konsekuensinya.. anggota DPRD 2009 dipilih melalui pemilihan langsung dengan mekanisme suara terbanyak. dan fungsi DPRD hasil pemilu legislatif 2009 dalam sistem pemerintahan daerah tidak berbeda jauh dengan periode sebelumnya.. Problematika Struktural: Konstruksi dan Format DPRD 2009 Ada dua hal penting untuk dicermati dalam melihat konstruksi dan format DPRD hasil pemilu 2009. Kualitas anggota DPRD selanjutnya akan dilihat sejauhmana kemampuannya mempresentasikan diri sebagai wakil rakyat. Kesemuanya ini pada gilirannya harus bisa ditransformasikan secara kelembagaan sehingga sustainabilitas kualitas DPRD terjaga meskipun terjadi pergantian anggota DPRD (pergantian antar waktu. 10/2008 dan sistem kepartaian sebagaimana diatur dalam UU No. anggota DPRD 2009 memiliki tingkat representasi politik yang lebih baik dari sebelumnya.. Mereka ini tentu membutuhkan adaptasi terlebih dahulu. dan fungsi DPRD sebagaimana diatur dalam UU No. PP . representasi politik saja tidaklah cukup. mampu merumuskan solusi permasalahan.. Not Italic Kedudukan. Ini bisa dicukupi melalui pelatihan terkait penguatan kapasitas dan peran anggota DPRD dalam menjalankan fungsinya di bidang legislasi. PP tentang protokoler dan keuangan. dan pengawasan.. Namun. Kedua. Merespon kendala ini. dst.. DPR. UU Susduk 2009. DPD.

anggota DPRD tidak perlu khawatir sepanjang tetap berpegang pada nilai-nilai kebajikan publik. Setelah terpilih. Kontrol partai politik terhadap anggotanya juga terbilang kuat melalui mekanisme PAW (UU No. . Jika diberhentikan. yang penting diingat adalah bahwa sistem pemilu yang dipakai untuk pemilu selanjutnya kiranya mau tidak mau akan tetap menggunakan pemilihan dengan mekanisme suara terbanyak. atau karena anggota DPRD sampai saat ini belum diterbitkan. berpindah sebagai anggota partai lain. ataupun dilakukan setelah adanya putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap. Dalam konteks DPRD pidana dan tata tertib DPRD. anggota DPRD juga semestinya mampu membangun perimbangan terhadap kebijakan fraksi jika dinilai memperjuangkan kepentingan yang tidak selaras dengan kepentingan publik. DPRD harus berhadapan dengan realitas dalam dirinya. Oleh karena itu. 27/1999. Usulan penggantian ini karena . pelanggaran tata tertib. melalui fraksi dan pemegang kewenangan untuk mengusulkan penggantian anggota melalui penggatian antarwaktu (PAW). anggota DPRD yang merisaukan kontrol dari partai politik bersangkutan dapat mengajukan keberatan sepanjang tidak melakukan tindak melalui pengadilan. kedekatan anggota DPRD terhadap aspirasi dan kepentingan masyarakat justru akan menjadi kunci apakah dirinya akan dipilih atau tidak pada pemilu selanjutnya.Dalam konteks ini. anggota DPRD tidak perlu diberhentikan dari keanggotaan partai politik. antara mendekat ke partai politik yang lebih besar (untuk mempertahankan peluangnya pada pemilu selanjutnya maupun untuk merlanjutkan karir politiknya ke tingkat provinsi atau pusat) ataukah tetap bertahan di partainya saat ini. Usulan PAW baru bisa pidana. Pasal 383 ayat 2 huruf e dan h). antara sebagai wakil rakyat dan wakil partai politik. Di sini rasionalitas anggota DPRD akan diuji. ketentuan terkait hal ini masih dapat diusulkan penggantiannya oleh partai menanti Peraturan Pemerintah yang politik (PAW). Namun demikian. yang tak jarang memiliki kepentingan yang berbeda. Namun. Konsekuensinya. Meski kontrol partai terhadap anggotanya yang ada di DPRD tetap kuat yakni . Anggota DPRD 2009. Ini adalah konsekuensi UU Pemilu 2008 yang mempersempit ruang gerak bagi partai-partai yang tidak mampu mendudukkan wakilnya di DPR Pusat. DPRD adalah wakil semua masyarakat.. anggota DPRD sudah semestinya menjadi agen perjuangan partai politik. faktor fundamental yang menentukan adalah kualitas personal dari anggota DPRD di hadapan masyarakat atau pemilih. Namun. Anggota DPRD justru memiliki kewajiban agar terus mengawal kepentingan publik melalui fraksinya. Anggota DPRD dihadapkan pada persoalan dilematis. anggota DPRD sebenarnya tidak lagi semata menjadi wakil dari partai politik tertentu atau terbatas pada konstituennya saja. Dalam konteks ini. Fraksi adalah alat perpanjangan tangan dari partai politik untuk menjalankan agenda politiknya melalui DPRD. Fraksi berwewenang . Problem hubungan antara partai politik dan anggotanya di DPRD kiranya justru muncul pada anggota DPRD dari partai politik yang tidak lolos parliamentary threshold pada pemilu 2009 lalu atau yang suaranya relatif kecil di daerah yang bersangkutan. seperti halnya pemilu 2009. Kewenangan ini patut dicermati mengingat selama ini sering menjadi pintu masuk dari partai politik untuk menertibkan wakilnya di DPRD yang dinilai melenceng dari garis Penggantian Antarwaktu (PAW) Selain karena melanggar aturan hukum kebijakan partai.

dalam banyak kasus. tugas. 23/2003 terkait pelaksanaan fungsi legislasi. dan fungsi DPRD sebagai landasan agar DPRD dapat bekerja secara optimal. dan fungsi DPRD sebagaimana diatur dalam UU No. Kendala-kendala tersebut tidak lantas membuat DPRD tidak bisa berfungsi optimal.Kendala Struktural Optimalisasi Tugas dan Fungsi DPRD Secara umum. Konsekuensinya. dana insidental lainnya seperti bantuan masyarakat saat terjadi bencana alam juga tidak diatur sebagai kewenangan DPRD kecuali sebatas menerima laporannya dari pemerintah daerah. banyak perda yang kemudian dibatalkan oleh pemerintah pusat. terkait pengawasan pelaksanaan APBD. Dalam konteks optimalisasi fungsi legislasi. namun dalam implementasinya program pembangunan yang didanai oleh DAK ini sebenarnya sangat berimpit dengan urusan daerah. Kendala struktural tersebut adalah: a. Hal lain. dan Catatan Atas Laporan Keuangan. kewenangan DPRD seringkali terhambat karena ada produk-produk kebijakan nasional yang tidak memberikan keleluasaan kepada daerah. 32/2004 huruf b). anggaran dan pengawasan. Meskipun secara prinsip DAK adalah menjadi kewenangan pemerintah pusat. 27/2009 tidak berbeda jauh dari pengaturan sebelumnya di UU No. c. DPRD butuh mencari terobosan untuk menutupi potensi lubang-lubang kendala struktural ini. Hanya saja. seperti Dana Alokasi Khusus dan Dana Darurat. DPRD dapat mengoptimalkan Badan Legislasi. berdasarkan pengalaman sebelumnya. sebagai alat kelengkapan DPRD 2009. Selain itu. terkait fungsi anggaran. terkait fungsi legislasi. persetujuan dan pengawasan DPRD terbatas pada wilayah APBD saja sehingga tidak memiliki ruang terhadap penggunaan anggaran non-APBD yang bersal dari pemerintah pusat. Bahkan. b. Keberimpitan urusan pusat dan daerah dalam DAK juga ditunjukkan oleh pengaturan dalam Pasal 41 UU No. evaluasi DPRD terhadap kinerja pemerintah daerah sulit menyentuh aspek-aspek pengelolan kebijakan dari pemda (di setiap SKPD) pada tahap implementasi APBD. agar dapat memastikan bahwa setiap produk perda nantinya dapat disetujui bersama pemerintah daerah dan tidak dibatalkan oleh pemerintah pusat (melalui Peraturan Presiden). kedudukan. secara struktural ada beberapa kendala dalam pengaturan kedudukan. wewenang DPRD dalam menerima laporan pertanggungjawaban dari pemerintah daerah juga lebih dibatasi pada pembacaan angka-angka saja seperti tertuang dalam Laporan Realisasi  Anggaran. DPRD tidak mampu mengawasi pelaksanaan perda secara maksimal karena wewenangnya tidak menjangkau sampai dengan pembatalan peraturan atau keputusan kepala daerah (hak legislasi di wilayah eksekutif) bilamana bertentangan dengan perda. Dalam konteks urusan yang menyangkut hubungan antara pemerintah pusat dan daerah. tugas. 33/2004 yang mensyaratkan adanya Dana Pendamping dari daerah terhadap DAK minimal sebesar 10 persen dari total proyek (kecuali untuk . terlebih untuk mendapatkan DAK juga bisa diusulkan oleh pemerintah daerah (Pasal 162 UU No. terkait fungsi pengawasan. Namun. Laporan Arus Kas. Demikian halnya dengan terobosan di wilayah fungsi anggaran. Neraca. DPRD dapat terus-menerus melakukan memelopori negosiasi kepada pemerintah pusat terkait pembagian urusan yang lebih memberikan manfaat kepada daerah.

produksi perda yang dihasilkan oleh DPRD relatif sangat sedikit. 27/2009 UU No. Pada kasus ini. pelaksanaan fungsi legislasi dan anggaran gagal dikonsolidasikan dalam satu agenda strategis jangka panjang dan berlangsung secara sporadis. sehingga tidak perlu berujung pada reaksi penggunaan hak interpelasi dan hak angket.daerah dengan kemampuan fiskal yang rendah). yaitu peraturan kepala daerah dan keputusan kepala daerah (Pasal 42 ayat 1. yaitu UU No. DPRD dapat memperkaya evaluasi pertanggungjawaban implementasi APBD yang disampaikan oleh pemerintah daerah bukan hanya berbasis pada laporan keuangan namun juga mendasarkan pada capaian keberhasilan yang dirunut dari kinerja masing-masing SKPD. alat kelengkapan yang tersedia hanya berbentuk kepanitiaan saja yang bekerja secara tentatif (ad hoc). 27/2009 Pasal 353. Problematika Kapasitas Kelembagaan: Organisasi dan Keanggotaan DPRD Selain persoalan kondisi struktural yang menjadi batas kerangka kerja DPRD di atas. UU No. 23/2003 (DPRD Kab/Kota) . pemantauan. 23/2003). Selain itu. Dalam bidang legislasi dan anggaran. dalam konteks pengawasan APBD. Konsekuensinya. persoalan lain yang tak kalah fundamental kapasitas kelembagaan dari DPRD 2009. Keduanya adalah Badan Legislasi Daerah dan Kelompok Pakar atau Tim Ahli. Keterlibatan DPRD sejak lebih awal tentu dapat mengurangi potensi sengketa materi hukum peraturan kepala daerah atau keputusan kepala daerah. dan pengawasan terhadap pemerintah daerah terkait pembuatan dan implementasi produk legislasi yang menjadi wilayah eksekutif. Tak heran. 27/2009 mengintrodusir dua komponen baru yang terdiri dari satu alat kelengkapan dan satu sistem pendukung bagi DPRD yang tidak ada dalam UU Susduk DPRD sebelumnya (UU No. 23/2003. 23/2003 dan UU No. Dalam UU Susduk yang lama. Perbandingan Alat Kelengkapan DPRD dan Unit kerja Lainnya antara UU No. alat kelengkapan maupun sistem pendukung yang tersedia pada DPRD sangat terbatas dan tidak terkonsolidir dalam satu kesatuan holistik pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD.  Kapasitas Organisasi DPRD Pengalaman sebelum ini menunjukkan bahwa kapasitas organisasi DPRD masih belum memadai. misalnya. Belum lagi berbagai perda yang sudah disahkan tiba-tiba dianulir atau dibatalkan oleh pemerintah pusat karena dinilau bertentangan atau menghambat implementasi berbagai produk pwerundang-undangan di tingkat nasional. huruf c). DPRD diharapkan bisa mengadvokasi kewenangannya bukan hanya terbatas pada alokasi dan pengawasan Dana Pendamping yang telah dimasukkan dalam komponen APBD. Sedangkan terkait fungsi pengawasan. UU No.mencakup alat kelengkapan DPRD dan sistem pendukung DPRDmaupun kapasitas individual dari anggota-anggota DPRD dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Kapasitas kelembagan yang dimaksud di sini adalah menyangkut kapasitas organisasi DPRD . DPRD dapat mencari terobosan dengan memperketat koordinasi.

anggota DPRD. keberadaan Kelompok Pakar atau Tim Ahli tak kalah strategis untuk memperkuat pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. adminsitratif. b. Dalam menjalankan tugasnya. Badan Legislasi Daerah bekerjasama dengan semua komponen lain karena wewenang untuk mengajukan perda masih tetap bisa datang dari pemerintah daerah. Melalui keberadaannya. jika mengikuti tugas alat kelengkapan Badan Legislasi yang ada di DPR. Komisi. Perda yang sudah disahkan juga bisa diminimalisir potensinya dari pembatalan oleh pemerintah pusat ( perda bermasalah ) karena materi perda dapat disusun secara lebih hati-hati agar tidak bertabrakan dengan berbagai regulasi yang ada di tingkat nasional. Masalah rancangan perda yang saling berhimpit antara yang diajukan oleh Pemda dan yang diajukan oleh inisiatif DPRD dengan demikian akan bisa teratasi sehingga proses pembuatan perda menjadi lebih terarah dan efektif. Kelompok Pakar atau Tim Ahli ini dimaksudkan untuk memberikan dukungan substantif yang membantu alat kelengkapan DPRD dalam melaksanakan fungsinya. atau alat kelengkapan DPRD lainnya. 27/2009. Berbeda dengan Sekretariat DPRD yang difokuskan pada dukungan teknis. dan menyusun legislasi daerah dalam kerangka yang programatik. Alat kelengkapan lain yang diperlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna. Namun. mengusulkan. Kelompok pakar atau Tim Ahli ini direkrut berdasarkan . Badan Musyawarah. Badan Legislasi Daerah. Badan Kehormatan. c. Keberadaan Badan Legislasi Daerah dengan demikian sangat strategis dalam konteks optimalisasi fungsi legislasi dari DPRD. legislasi daerah dapat disusun berdasarkan program legislasi daerah yang direncanakan dalam kurun waktu lima tahun (satu waktu masa keanggotaan) yang diterjemahkan ke dalam tahapan per tahun (setiap tahun anggaran) secara tepat. Di sektor Sistem Pendukung. d. Pimpinan. f. e. Membantu dan mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD dalam hal: Membantu alat kelengkapan DPRD dalam pelaksanaan fungsi.Alat Kelengkapan Sekretariat Dewan Kelompok Pakar atau Tim Ahli Tidak ada a. merancang. Badan Anggaran. tugas. dan pelaksanaan anggaran DPRD. dan wewenang DPRD melalui berbagai kajian dan analisis terhadap berbagai bidang urusan DPRD Tugas dari Badan Legislasi Daerah ini sebenarnya tidak disebutkan secara tegas dalam UU No. mengkonsolidasikan. g. maka Badan Legislasi Daerah dimaksudkan sebagai wadah khusus dalam kelembagaan DPRD yang berfungsi untuk mengkoordinir.

Penentuan tugas. 2. fungsi. Keterbatasan kemampuan daerah untuk membiayai Kelompok keuangan daerah yang Pakar/Tim Ahli. Ada beberapa keterbatasan yang sangat mungkin mengganggu upaya DPRD mengoptimalkan keberadaan mereka ini. 7. Kebutuhan adanya Kelompok pakar atau Tim Ahli sudah dirasakan selama ini untuk memperkuat kelembagan DPRD. Penentuan mekanisme rekrutmen 5. keberadaan Kelompok Pakar atau Tim Ahli ini bisa saja menjadi tidak efektif. ini memang konsekuensi logis dari masih lemahnya sistem rekrutmen politik anggota DPRD yang berpadu dengan belum matangnya rasionalitas publik pemilih untuk memilih calon anggota DPRD yang berkualitas. Pastikan pengaturan hal-hal di atas ada deskripsi tugas (job description) dalam Peraturan Tata tertib DPRD yang jelas dari Kelompok Pakar atau Tim Ahli. Tentukan tugas. Bahkan. Tim Ahli. Profil anggota DPRD periode 2004-2009 banyak diisi oleh mereka yang . kelengkapan. Penentuan prioritas kebutuhan terhadap pekerjaan-pekerjaan Pembentukan Kelompok Pakar/Tim Ahli 1.kompetensinya dalam disiplin ilmu tertentu yang dibutuhkan oleh alat kelengkapan DPRD yang bertugas melakukan berbagai kajian dan analisis pada bidang-bidang yang menjadi urusan DPRD. anggota DPRD Kabupaten/Kota yang terpilih. 6. 5. tak jarang ditemui anggota DPRD yang bahkan tidak memiliki sedikitpun pengalaman terkait bidang-bidang kerja yang harus ditangani oleh DPRD. Hanya saja. Kelompok Pakar/Tim Ahli. kebutuhan Kelompok Pakar atau 4. 3. fungsi. Tentukan standar pembiayaan Kelompok DPRD untuk membiayai Pakar/Tim Ahli. 1.  Kapasitas Individual Anggota DPRD Sama halnya. Ini mengingat keberadaan anggota DPRD yang berasal dari beragam latar belakang dengan kapasitas dan keahlian yang berbeda-beda. Tentukan mekanisme rekrutmen yang terbuka dan kriteria seleksi yang jelas dari Tim Ahli. Penentuan target hasil kerja dari Kelompok Pakar atau Tim Ahli Selanjutnya. pengaturan terhadap hal-hal di atas sangat penting untuk dilegalisasi secara formal yang bisa menjadi bagian dalam Peraturan DPRD tentang Tata Tertib DPRD. diantaranya . keberadaan Kelompok Pakar atau Tim Ahli diharapkan mampu menambal kebocoran sistemik ini. Tentukan prioritas kebutuhan pekerjaan DPRD yang membutuhkan yang memutuhkan dukungan Kelompok dukungan dari Kelompok Pakar Pakar/Tim Ahli untuk masing-masing alat atau Tim Ahli. dan deskripsi dan seleksi Kelompok Pakar atau tugas dari Kelompok Pakar/Tim Ahli. Jika dilihat berdasarkan ukuran tersebut. kapasitas individual dari anggota DPRD selama ini cukup banyak yang terbilang belum memenuhi standar keahlian ataupun pengalaman agar dapat mewakili rakyat sebagai legislator. Tak dapat dipungkiri. profik DPRD hasil Pemilu 2009 tampaknya belum berbeda jauh. hanya . diharapkan DPRD mampu lebih optimal menjalankan fungsinya. Dari total . Melalui keberadaan Kelompok pakar atau Tim Ahli. dialokasikan dalam anggaran 3. Tentukan ukuran kemampuan keuangan 2. Tentukan target hasil kerja dari Kelompok 4. dan Pakar/Tim Ahli.. Oleh sebab itu.

Aspek detail dari kesemua ini dapat didukung oleh masukan dari pemerintah daerah. Hak Anggota DPRD terkait fungsinya adalah hak interpelasi. Dalam organisasi DPRD sekarang. e. imunitas. keahlian dasar sebagai seorang anggota DPRD sudah dimiliki sebelum menjabat. kelompok-kelompok profesional. tantangan. c. akan ada keterbatasan dari anggota DPRD untuk mengetahui secara mendetail semua masalah. g. Tentu saja. membela diri. keuangan dan administratif. sehingga program-program peningkatan kapasitas anggota DPRD selanjutnya dapat lebih difokuskan pada pembelajaran dan penyelesaian berbagai masalah-masalah kongkrit yang dihadapi oleh DPRD di setiap daerah. 27/2009). dan masyarakat luas.Paling tidak. Hanya saja. menyampaikan usul dan pendapat.d a hak menyatakan pendapat (Pasal . f. mengajukan rancangan peraturan daerah kabupaten/kota. Ini juga bukan lantas menafikan kemampuan anggota DPRD untuk bisa beradaptasi. . dan memiliki perspektif strategis bagi pembangunan daerah. h. akademisi. d. Hak Anggota DPRD Kabupaten/Kota (Pasal 350 UU No. protokoler. mengajukan pertanyaan. Fakta ini memang tidak serta merta menjadi dasar untuk mengatakan bahwa kapasitas dari anggota DPRD tidak mumpuni. UU No. maka kompoasisinya lebih banyak didominasi oleh .yang memiliki basis pendidikan sarjana . 27/2009) . hak angket. dan i. mengingat keterbatasan waktu jabatan yang hanya lima tahun. anggota DPRD dapat memanfaatkan yang optimal dari Kelompok Pakar atau Tim Ahli dan Sekretariat DPRD yang menjadi bagian dari sistem pendukung organisasi DPRD. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas. Kendala ini sebenarnya sudah harus diantisipasi dengan mengaktifkan peran partai-partai politik untuk melakukan program-program kaderisasi yang jelas bagi anggotanya agar siap saji saat mejadi anggota DPRD. hambatan ini semestinya sudah harus diminimalisir. Efektifitas DPRD dalam melaksanakan peran dan fungsi utama mereka tergantung pada kapasitas para anggotanya dalam membuat kebijakan untuk menjawab kebutuhan. Jika dilihat dari komposisi antara incumbent (sudah/pernah menjabat sebagai anggota DPRD) dan anggota baru. Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a. memilih dan dipilih. namun yang tak mungkin ditawar lagi adalah bahwa anggota DPRD sudah semestinya memliki pemahaman dan kemampuan untuk meletakkan grand design dalam semua kebijakan daerah.. b.

program. dapat mengadakan: untuk penanganan suatu masalah atau a. rapat dengar pendapat umum. dan ayat (4). baik atas permintaan komisi maupun atas permintaan pihak lain.Pembicaraan pendahuluan mengenai penyusunan RAPBD bersama Pemerintah (KUA) (2) Dalam menjalankan tugasnya. ayat masing-masing. menyangkut pelaksanaan tugas dan e. serta tugas dan . dan ayat (3). Badan Anggaran. Alat kelengkapan lain yang diperlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna. raperda b. Pasal 97 Jumlah. Pasal 98 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. serta peraturan pelaksanaannya yang termasuk dalam ruang lingkup tugasnya. rapat menentukan garis kebijakan DPRD dalam dengar pendapat dengan pejabat Pemerintah yang mewakili instansinya. pemerintah daerah dan pelaksanaan APBD.memberikan pendapat kepada pimpinan c. Fungsi Pokok di bidang anggaran: g. b.Mewakili DPRD dalam berhubungan dengan lembaga Tugas luar. membahas. c. dan mitra kerja komisi belum terselesaikan untuk dapat digunakan sebagai bahan oleh komisi pada masa keanggotaan berikutnya. ayat (2). tugas. susunan. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang -undang. ruang lingkup tugas. termasuk APBN.meminta dan/atau memberikan kesempatan f. dan menyempurnakan raperda f.Gambarkan bagan yang menghubungkan antar alat kelengkapan DPRD Kabupaten/Kota (Pasal 353) ini!!! Komisi a. Badan Musyawarah. termasuk hasil audit keuangan oleh BPK Hasil pembicaraan dan pembahasan di atas disampaikan kepada Badan Anggaran untuk sinkronisasi. Fungsi Pokok Pokok di bidang pengawasan: Fungsi . 3 (tiga) untuk DPRD yang beranggotakan 20-35 orang dan 4 (empat) komisi untuk DPRD yang beranggotakan 36-50 orang. rapat kerja dengan Pemerintah yang diwakili oleh menteri/pimpinan lembaga. konsultasi dengan DPD. Fungsi Pokok e. . pelaksanaan tugas(3). Komisi DPRD berjumlah b.Membahas laporan keuangan kabupaten/kota tentang tata tertib. membahas Badan Musyawarah dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK yang berkaitan dengan ruang lingkup tugasnya. dan Fungsi Pokok d. dan kegiatan SKPD yang wewenangmenjadi mitra kerja komisi (PPAS) alat kelengkapan DPRD kabupaten/kota diatur dengan peraturan DPRD . baik yang sudah maupun yang komisi. ruang lingkup tugas (7) Komisi membuat laporan kinerja pada akhir masa keanggotaan DPR. kepada alat kelengkapan DPRD untuk (5) Komisi menentukan tindak memberikan penjelasan mengenai lanjut hasil pelaksanaan tugas komisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. Hasil sinkronisasi ini dapat disempurnakan kembali oleh komisi sebelum kemudian diserahkan Pimpinan kembali kepada Badan Anggaran sebagai bahan akhir penetapan APBD. . mengenai jumlah komisi.menetapkan agenda persidangan beserta (4) Komisi dalam melaksanakan tugas perkiraan waktu dan memberi masukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).mengusulkan kepada rapat paripurna hasil rapat kerja komisi atau rapat kerja gabungan komisi bersifat mengikat antara DPR dan Pemerintah. kunjungan kerja. . yangd. dan mitra kerja komisi ditetapkan dengan keputusan DPR. Badan Legislasi Daerah. wewenang dan mekanisme .Membahas dan tata cara alokasi anggaran untuk fungsi.bidang legislasi: Fungsi Pokok di . Badan Kehormatan. dan/atau . (6) Keputusan dan/atau kesimpulan .Menyiapkan.Koordinasi dan sinergi pelaksanaan agenda dan kegiatan dari alat kelengkapan DPR D .Membahas dan mengajukan usul penyempurnaan RAPBD (3) Ketentuan mengenaimenetapkanpembentukan. rapat kerja wewenang DPRD dengan menteri atau rapat dengar pendapat dengan pejabat Pemerintah yang mewakili instansinya yang tidak termasuk dalam ruang lingkup tugasnya apabila diperlukan. . Pimpinan. melakukan pengawasan terhadap kebijakan Pemerintah. c. susunan. (8) Komisi menyusun rancangan anggaran untuk pelaksanaan tugasnya sesuai dengan kebutuhan yang selanjutnya disampaikan kepada Badan Urusan Rumah Tangga. menyusun. baik sesama pengawasan adalah: (3) pihak komisi di bidang lembaga negara maupun lainnya a. Komisi. ayat (2). membahas dan menindaklanjuti usulan DPD. alat kelengkapan dibantubersama-sama dengan Pemerintah (KUA) oleh sekretariat.

urutan dan prioritas rancangan undang-undang besertatiaptiap perempuan 126 Pasal menurut perimbangan jumlah anggota alasannya untuk 1 (satu) masa keanggotaanlanjut mengenai tata cara pembentukan Badan fraksi. b. tidak dapat melaksanakan tugas secara b erkelanjutan atau gabungan berhalangan DPDPemerintah yang diwakili oleh 3 (tiga) bulan berturut komisi. DPD. kelengkapan DPR yang pemerataan jumlah anggota tiap-tiap fraksi Pasal 124 pada permulaan masa Pasal 105DPR menetapkan susunan dan keanggotaan Badan Kehormatan (1) keanggotaan DPR memperhatikandan keanggotaan Badan (1) DPR menetapkan susunan perimbangan dan pemerataan jumlah anggota dengan dan pada permulaan tahun sidang. Pasal 104 (2) JumlahBadan Kehormatan oleh ditetapkan dalam rapat paripurna anggota Badan Legislasi DPR dan merupakan alat Badan Anggaran dibentuk menurut perimbangan danbersifat tetap. dan DPRD. gabungan komisi. dan di pilih dari ayat(2) Pimpinan Badan Anggaran terdiri atas 1yang dipimpin oleh (2) dilakukan dalam rapat Badan Legislasi (satu) orang Kehormatan berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan pimpinan DPR paling banyak 3 (tiga) orang wakil keterwakilan perempuan menurut ketua proporsional dengan memperhatikan ketua yang dan setelah penetapandari dan oleh jumlah anggota Anggaranfraksi. menyusun usulan anggaran.Badan Legislasi Pasal 100 (1) DPR menetapkan susunan dan keanggotaan Badan Legislasi pada Badan Anggaran permulaan masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun sidang. dan pemantapan Pasal 107 79. tidak yang telah ditetapkan. (1) Badan Anggaran bertugas: b. e. pembulatan. membahas bersama sebelum rancangan undang-undang tersebut disampaikan keterangan apa pun. Anggaran menurut perimbangan dan pemerataan jumlahDPR dan permulaan tiap-tiap fraksi pada permulaan masa keanggotaan Pasal 101 tahun sidang. Kehormatan pimpinan DPR setelah (1) yang c. atau DPD di luar DPR yang bagi setiap kementerian/lembaga dalamberturut-turut tanpa alasan yang sah. menyusun rancangan program legislasi nasional yang memuat daftar proporsional dengan mempertimbangkan keterwakilan Kehormatan. mengoordinasi penyusunan program legislasi nasional antara DPR dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat Badan Pasal 127 dan AnggaranBadandipimpin oleh bertugas melakukan penyelidikan dan Pemerintah. komisi. anggota tiap-tiap fraksi pada permulaan masa (1) Pimpinan Anggota dan pada permulaan tahu n sidang. d. memberikan pertimbanganrapat paripurna dan/atau rapat alat kelengkapan fiskal secara umum dan prioritas anggaran untuk c. komisi. . (2) Susunan ditetapkankeanggotaan paripurna pada permulaan masa kean ggotan dalam rapat Badan Anggaran sebagaimana (2) Pimpinan Badanayat (1) terdiri atas anggota dari tiap -tiapdan paling dimaksud padapada permulaan atas 1 (satu) orang ketua DPR dan Legislasi terdiri tahun sidang. (1) Pimpinan Badan Kehormatan merupakan mufakat dan proporsional dengan memperhatikan keterwakilan perempuan Pasal 106 bersifat kolektif dan kolegial. tertib. susunan dan keanggotaan Badan Legislasi. keanggotaan DPR Badan merupakan satu kesatuan pimpinan orang dan (2) Badan Legislasi Kehormatan berjumlah 11 (sebelas) yang bersifat kolektif dan kolegial. tidak menghadiri terhadap rancangan undang-undang yang diajukan olehacuan menjadi tugas dan kewajibannya sebanyak 6 (enam) kali dijadikan anggota. kebijakan menteri untuk menentukan pokok-pokok turut tanpa kepada pimpinan DPR. penetapan susunan pengaduan terhadap anggota karena: verifikasi atas dan keanggotaan usul DPR berdasarkan program prioritas melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal a. menyiapkan rancangan undang-undangBadan Anggaran. yang menurut perimbangan jumlah Kehormatan terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan 2 (1) Pimpinan BadanBadan anggota tiap-tiap fraksi. dan/atau . melakukan pengharmonisasian. (3) Pemilihan pimpinan Badan Anggaran masukan dari tata Kehormatan diatur dalam peraturan DPR tentang b. Ketentuan lebih dan untuk setiap tahun anggaran di lingkungan DPR dengan mempertimbangkansebagaimana DPD. (2) Pimpinan Anggaran merupakan satu kesatuan (3) Pemilihan pimpinan Badan Legislasi sebagaimana dimaksud pada Badan pimpinan yang bersifat kolektifyang kolegial. atau tetap sebagai anggota DPR selama a.48 . dan oleh anggota (dua) orang wakil ketua.Legislasi bertugas: a. dipilihperimbangan anggota Badan tiap-tiap berdasarkan prinsip pimpinan Badan Kehormatandan (3) Pemilihan musyawarah untuk mufakat sebagaimana dimaksud pada Pasal 102 ayat (2). menetapkan pendapatan negara bersama calon anggota DPR sesuai dengan d. banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh anggota komisiPasal 125 oleh komisi dengan memperhatikan yang dipilih Badan Legislasi berdasarkan prinsip musyawarah untuk satu kesatuan pimpinan perimbangan jumlah anggota dan usulan fraksi. tidak lagi memenuhi syarat sebagai Pemerintah ketentuan peraturan perundangundangan mengenai pemilihan umum anggota DPR. dilakukan dalam rapat Badan Kehormatan yang dipimpin oleh proporsional . konsepsi rancangan undang-undang yang diajukan anggota. (1) Badan pimpinan DPR setelah penetapan susunan dan keanggotaan Badan .

Akuntabilitas Keuangan Negara Badan (1) Pasal 137 DPR menetapkan susunan dan keanggotaan BURT pada permulaan Pasal 110 masa keanggotaan DPR dan keanggotaan panitia khusus berdasarkan (1) DPR menetapkan susunan dan permulaan tahun sidang. mengoordinasikan kunjungan kerja alat kelengkapan DPR ke luar negeri. parlemen BAKN.diadakan untuk itu. DPD. tiap-tiap fraksi. banyak 30 (tiga puluh) orang. kolegial. tertentu menetapkandengan memperhatikan keterwakilan perempuan Pasal 120 mufakat b. baik secara c. Pasal masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun sidang. mengembangkan. anggaran DPR. dibentukjumlah anggota tiap -tiap fraksi pada perimbangan dan pemerataan (2) Jumlah anggota panitia khusus ditetapkan olehdan keanggotaanpaling pada permulaan (1) DPR menetapkan susunan rapat paripurna BKSAP kelengkapan DPR yang bersifat tetap. kerumahtanggaan DPR. Pasal Pasal 139 133 1 (satu)dilakukan dalam rapat BKSAP yang dipimpin oleh pimpinan DPR setelah orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh BURT bertugas: (1) Panitia khusus bertugasberdasarkan prinsip musyawarah untuk penetapan susunan dan keanggotaan BKSAP. termasuk organisasidan alat menetapkandan tindak lanjut hasil kerja panitia khusus. susunan. BPK yang dan a. (tiga) orang wakil ketua. menyampaikan laporan kinerja dalam rapat paripurna peraturan DPR wewenang dan mekanisme kerja panitia khusus diatur dengan DPR yang tentang masalah d. dalam (1) BKSAP bertugas: anggota menurut perimbangan jumlah pelaksanaan kebijakan oleh DPR setelah DPR sebagaimana dimaksud (3) Panitia khusus dibubarkankerumahtanggaan jangka waktu penugasannya (2) persahabatan a. yangfraksi. hambatan pemeriksaan. dan pemeriksaan BPK atas oleh BKSAP pada masa keanggotaan berikutnya. sidang. BURT dalam rapat perimbangan dananggota 118 jumlah oleh DPRtiap -tiap paripurna menurut anggota dan merupakan alat Pasal disingkat BAKN. anggota DPR. . kebijakan kerumahtanggaan DPR. memberikan masukan kepada BPK dalam hal rencana kerja Pasal 135 BKSAP menyusun rancangan anggaran untuk penyajian dan pemeriksaan tahunan. Pasal 122 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. tentang tatab. Pasal 121 d.Panitia Khusus Pasal 136 Badan Urusan Rumah DPR dan Panitia khusus dibentuk oleh Tangga merupakan alat kelengkapan DPR yang Pasal 131 bersifat sementara. wewenang dan mekanisme kerja BURT diatur dengan peraturan Rumah Tangga. kolektif dan sidang. menindaklanjuti hasil pembahasan komisi terhadap temuan hasil menyusun rancangan anggaran untuk pelaksanaan tugasnya sebagai bahan permintaan komisi. membina. yang selanjutnya disampaikan kepada Badan Urusan laporan. susunan. memberikan saran disampaikan kepada DPR. menyusun rancangan program legislasi nasional yang memuat daftar urutan dan prioritas rancangan undang-undang beserta alasannya untuk 1 (satu) masa keanggotaan dan untuk setiap tahun anggaran di lingkungan DPR dengan mempertimbangkan masukan dari DPD. menyampaikan hasil (2) BKSAP a kepada komisi. yang dipilih dari dan oleh anggota BKSAP (3) Pemilihan pimpinan BURT sebagaimana dimaksud pada ayat (2)(2) (3) Pemilihan pimpinan panitia khusus sebagaimana dimaksud pada ayat proporsional dengan berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan Pasal 112 dilakukan dalam panitia khusus yang dipimpin oleh pimpinan DPR dilakukan dalam rapat rapat BURT yang dipimpin oleh pimpinan DPR setelah memperhatikan keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah (1) Pimpinan BAKN merupakan satu kesatuan pimpinan penetapan susunan dan keanggotaan BURT. Pasal 102 tentang tata tertib.rapat paripurna pada musyawarah untuk dan proporsional dengankhusus yang ada serta keterwakilan memperhatikan keterwakilan perempuan memperhatikan jumlahPimpinan BKSAP terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan paling banyak 3 (2) panitia permulaan masa jumlah anggota tiap-tiap fraksi. susunan. dan Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. anggota BAKN melaksanakan tugas tertentu dalam jangka waktu a. Pasal 132 111 Pasal 138 (1) DPR (2) Jumlah anggota BKSAP ditetapkan dalam rapat paripurna menurut menetapkan susunan dan keanggotaan BAKN pada (1) Pimpinan BURT merupakan satu kesatuan pimpinan yang bersifat (1) Pimpinan panitia khusus merupakan satu kesatuan pimpinan yang bersifat perimbangan dan pemerataan jumlah anggota tiap permulaan masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun -tiap fraksi pada kolektif dan kolegial. tugas. menyampaikan hasil keputusan dan kebijakan BURT kepada setiap Pasal 141 (1) BAKN bertugas: c. tugas. permulaan masa keanggotaan DPR dan pada permulaan tahun sidang. tugas. kualitasdengan kebutuhan. melakukan penelaahan terhadap temuan hasil pemeriksaan e. internasional yang menghimpun penetapan susunan kelengkapan MPR berhubungan dengan masalah Pasal 140 keanggotaanyang dan/atau anggota parlemen negara lain. menerima kunjungan delegasi parlemen negara lain yang DPR berdasarkan diajukan kepada Musyawarah. dan dimaksud pada ayat (3) Pemilihan pimpinan BAKN sebagaimanameningkatkan hubungan dalam huruf a. setelah anggota tiap-tiap kolegial. yang bersifat kolektif danfraksi. penetapan susunan (3) Pemilihan pimpinan1 (satu)sebagaimanadan dan BAKN terdiri atas BKSAP orang ketua dimaksud pada ayat (2) (2) Pimpinankeanggotaan panitia khusus. penelaahan sebagaimana dimaksud dalam huruf kerja sama antarparlemen. dengan kebutuhan yanghasil rapat Badan pimpinan DPR. sesuai dengan kebutuhan. Badan Kerja Keuangan Badan Akuntabilitas Sama Antar-Parlemen selanjutnya (2) Jumlah pemerataan ditetapkan Negara. tahun menurut perimbangan keanggotaan DPR dan permulaan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi. DPR. (1) Badan Legislasi bertugas: a. dan MPR pelaksanaan tugasnya sesuai Panitia khusus menggunakan anggaran untuk yang ditugaskan oleh pimpinan menjadi tamu b. melakukan pengawasan terhadap Sekretariat Jenderal DPR (2) Panitia khusus bertanggung jawab kepada DPR. (2) Pimpinan BURT terdiri atas 1 1 (satu) orang ketua dan paling ban yang dijabat (2) Pimpinan panitia khusus terdiri atas(satu) orang ketua(tujuh) orang oleh yak Pasal 119 (2) Anggota BAKN berjumlah paling sedikit 7 Ketua DPR dan paling banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari dan olehatas usul fraksi pimpinan yang bersifat (1) banyak 9 BKSAP merupakan satu kesatuan dananggota BURT berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat paling Pimpinan (sembilan) orang anggota panitia khusus dan oleh berdasarkanDPR yang ditetapkan dalam mufakat dan proporsional dengan prinsipkolektif dan kolegial. Pasal 113 d. permulaan masa keanggotaan DPR dan pada permulaan tahun sidang. yang ditetapkan oleh rapat paripurna. wewenang dan mekanisme kerja BKSAP diatur dengan peraturan DPR UU No. (2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) DPR tentang tata tertib. membuat laporan kinerja pada akhir masa keanggotaan baik Pasal 134 yang sudah maupun yang belum terselesaikan untuk dapat digunakan BURT c. paripurna koordinasi dengan alat kelengkapan DPD (4) Rapatmelakukan maupun multilateral. 27/2009. berakhir atau karena termasuk pelaksanaan dan pengelolaanpimpinan DPR setelah bilateral dan kerja sama antara DPR dan parlemen dilakukan dalam rapat BAKN yang dipimpin oleh negara lain. serta pelaksanaan tugasnya sesuai Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. tugasnya dinyata kan selesai. atau usul kepada pimpinan DPR khusustertib.

komisi. dan i. c. dibentuk sekretariat DPRD kabupaten/kota yang susunan organisasi dan tata kerjanya ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. komisi. h. dibentuk kelompok pakar atau tim ahli.b. memberikan masukan kepada pimpinan DPR atas rancangan undang-undang usul DPD yang ditugaskan oleh Badan Musyawarah. Sistem Pendukung DPRD Kabupaten/Kota Sekretariat Pasal 398 (1) Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. membuat laporan kinerja dan inventarisasi masalah di bidang perundangundangan pada akhir masa keanggotaan DPR untuk dapat digunakan oleh Badan Legislasi pada masa keanggotaan berikutnya. g. (3) Sekretaris DPRD kabupaten/kota dan pegawai secretariat DPRD kabupaten/kota berasal dari pegawai negeri sipil. gabungan komisi. pembulatan. gabungan komisi. dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang diajukan anggota. dan/atau penyempurnaan rancangan undang-undang yang secara khusus ditugaskan oleh Badan Musyawarah. menyiapkan rancangan undang-undang usul DPR berdasarkan program prioritas yang telah ditetapkan. mengikuti perkembangan dan melakukan evaluasi terhadap pembahasan materi muatan rancangan undang-undang melalui koordinasi dengan komisi dan/atau panitia khusus. melakukan pengharmonisasian. mengoordinasi penyusunan program legislasi nasional antara DPR dan Pemerintah. atau DPD sebelum rancangan undang-undang tersebut disampaikan kepada pimpinan DPR. pengubahan. atau DPD di luar prioritas rancangan undang-undang tahun berjalan atau di luar rancangan undangundang yang terdaftar dalam program legislasi nasional. d. f. Yang dimaksud dengan kelompok pakar atau tim ahli adalah sekelompok orang yang mempunyai kemampuan dalam disiplin ilmu tertentu untuk . (2) Badan Legislasi menyusun rancangan anggaran untuk pelaksanaan tugasnya sesuai dengan kebutuhan yang selanjutnya disampaikan kepada Badan Urusan Rumah Tangga. melakukan pembahasan. Kelompok Pakar atau Tim Ahli Pasal 399 (1) Dalam rangka melaksanakan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. e. (2) Sekretariat DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh seorang sekretaris DPRD kabupaten/kota yang diangkat dan diberhentikan dengan keputusan bupati/walikota atas persetujuan pimpinan DPRD kabupaten/kota. memberikan pertimbangan terhadap rancangan undang-undang yang diajukan oleh anggota.

Ini kan sama memahami fisibiltas proseduralsaja bohong administratif yang ada. DPRD dapat melakukan pengecekan melalui Pedoman Penyusunan RKA-SKPD yang disusun Bupati/Walikota untuk mengetahui apakah RKA-SKPD yang disusun telah mengikuti ketentuan dalam KUA dan PPAS. DPRD praktis. Ini dibutuhkan karena. programatik. fungsi-fungsi DPRD hanya akan berjalan optimal jika anggotanya memiliki keahlian menerjemahkan Pembahasan RAPBD konsep-konsep strategis. jika tidak mengetahui cara-cara o Masak tiap tahun targetnya stagnan mencapainya secara teknokratis dan o Targetnya selalu lebih rendah daripada realisasi tahun sebelumnya. kemampuan ini dapat digunakan memadai. o DPRD tidak membuat kajian komprehensif terhadap potensi PAD Sebagai contoh. yang muncul Anggota DPRD menilai pemerintah terlalu sebagai kehendak politik DPRD. Mendesain Penguatan Kapasitas DPRD  Anggota DPRD: Kombinasi Politisi dan Teknokrat Selain memiliki keahlian sebagai politisi. . keberatan ini tidak disertai data yang memadai dan langkah solusinya. Sayangnya. dalam praktek pemerintahan. o Apa dasar DPRD menilai target mampu melakukan kontrol yang optimal pemerintah terlalu rendah? terhadap kinerja pemerintah. Namun. adalah penilaian o Pemerintah bersikap jujur dengan DPRD terhadap Rencana Kerja dan melaporkan semua laporan keuangan Anggaran SKPD (RKA-SKPD) yang kepada DPRD diajukan sebagai dasar perumusan RAPBD. Kelompok pakar atau tim ahli bertugas mengumpulkan data dan menganalisis berbagai masalah yang berkaitan dengan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. Secara teknokrat-administratif. dan terukur. Penugasan kelompok pakar atau tim ahli disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan daerah kabupaten/kota (2) Kelompok pakar atau tim ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat dan diberhentikan dengan keputusan sekretaris DPRD kabupaten/kota sesuai dengan kebutuhan atas usul anggota dan kemampuan daerah. ke dalam kecil merencanakan target pendapatan seperangkat aturan main yang lebih daerah dari sektor pajak.membantu alat kelengkapan dalam pelaksanaan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. mendesak pemerintah agar bekerja lebih Kehendak politik tidak mungkin tercapai keras. Secara politik. (3) Kelompok pakar atau tim ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bekerja sesuai dengan pengelompokan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota yang tercermin dalam alat kelengkapan DPRD kabupaten/kota. o Data yang disajikan dinas pajak kepada Keahlian teknokratis dan dewan bukanlah keberhasilan faktual administratif ini bukan dimaksudkan o Pemerintah menyembunyikan selisih agar DPRD mengambil wilayah yang penerimaan PAD Karena tidak disajikan dengan data telah menjadi wewenang pemerintah. setiap anggota DPRD dituntut memiliki kemampuan sebagai teknokrat. kritik ini dengan mudah ditanggapi dalam kerangka pengawasan agar DPRD oleh pemerintah.

dapat dilakukan dengan mengeceknya melalui: 1) hasil evaluasi setiap kepala SKPD terhadap hasil pelaksanaan program dan kegiatan 2 (dua) tahun anggaran sebelumnya sampai dengan semester pertama tahun anggaran berjalan. maka dapat digambarkan sebagai berikut: . Pemahaman terhadap hal di atas sangat diperlukan agar fungsi legislasi. anggaran. maka berbagai potensi Kendala yang dapat menimbulkan tidak optimalnya pelaksanaan fungsi DPRD secara umum dapat diidentifikasi. dan pengawasan dari DPRD dalam konteks RAPBD dapat berjalan terarah dan menyentuh permasalahan. sebagaimana diatur dalam PP No. maka penilaian DPRD. dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja dalam penyusunan RKA-SKPD. PPKD. 58/2005 ayat (35) s/d (40). penilaian DPRD pada akhirnya diharapkan mampu mendesak dan memberikan solusi agar pemerintah daerah mampu bekerja lebih optimal.Dalam hal ini. dan Kepala SKPD. DPRD dapat mengeceknya melalui Kepala Daerah. penganggaran. dan pengawasan. kewajiban Paham teknokrasi kebijakan Sensitif terhadap adminsitasi pemerintahan Punya perspektif kuat: advokasi kepentingan masyarakat dan daerah Memperkuat jaringan aspirasi dan representasi publik -  Alur Penguatan Fungsi dan Peran DPRD Setelah menyimak format dan konstruksi DPRD 2009 di atas. Dengan mengikuti prinsip anggaran berbasis kinerja. tugas. penganggaran terpadu.  Prinsip Dasar Penguatan Kapasitas Paham fungsi. 2) penggunaan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah. Lebih dari statemen politis. Jika ketiga fungsi tersebut dikorelasikan dengan tugas dan wewenang DPRD serta hak DPRD. yaitu menyangkut pelaksanaan fungsi legislasi. wewenang.

Kesesuaian RAPBD dengan KUA dan PPAS .Laporan pelaksanaan APBD: Laporan Keuangan Pemerintah Daerah o Pengawasan pelaksanaan Perda Advokasi Kewenangan o Koordinasi dan persetujuan legislasi eksekutif (Peraturan dan Keputusan Kepala Daerah) o Evaluasi pelaksanaan program kerja pemerintah dengan melihat pencapaian substanstif kinerja SKPD (tidak terbatas menerima laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah) Representasi Tugas.Laporan pelaksanaan APBD Semester I . dan Kewajiban o Mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian kepala daerah o Memilih wakil kepala daerah jika terjadi kekosongan jabatan o Menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen o menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat o mempertanggungjawabkan secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya Advokasi Kewenangan o Membangun beragam media komunikasi dan penjaringan aspirasi o Memaksimalkan rapat-rapat DPRD berlaku terbuka o Menyusun indikator keberhasilan tugas DPRD Tugas dan Wewenang o Penyusunan dan Pembahasan Perda o Pembahasan dan persetujuan RAPBD: KUA dan PPAS o Pembahasan dan persetujuan APBD Perubahan (Semester I) o Memberi pendapat. Wewenang.Legislasi Tugas dan Wewenang o Pengawasan Pelaksanaan APBD .Laporan pelaksanaan APBD Semester I .Kesesuaian RAPBD dengan KUA dan PPAS . pertimbangan dan persetujuan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional o Memberi persetujuan terhadap rencana kerja sama dengan daerah lain atau pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah o mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai ketentuan peraturan perundangundangan Advokasi Kewenangan o Evaluasi substantif RKA-SKPD o Advokasi dalam pembagian urusan pemerintah pusat dan pemerintah daerah Pengawasan Tugas dan Wewenang o Pengawasan Pelaksanaan APBD .Laporan pelaksanaan APBD: Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Advokasi Kewenangan o Pengawasan Pelaksanaan dana yang dikelola pemerintah non -APBD Anggaran .

memilih wakil bupati/wakil walikota dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil bupati/wakil walikota. c. g. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama. f. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. c. Kedua. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah dan anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota. 32 /2004 Paragraf Ketiga Tugas dan Wewenang Pasal 42 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang: a. d. KPB: 2006). mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian bupati/walikota dan/atau wakil bupati/wakil walikota kepada Menteri Dalam Negeri melalui gubernur untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan dan/atau pemberhentian. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. b. 27/2009 Tugas dan Wewenang DPRD Kabupaten/Kota: Pasal 344 Tugas dan wewenang DPRD Provinsi Pasal 293 Pasal 344 (1) DPRD kabupaten/kota mempunyai tugas dan wewenang: a. dan kerja sama internasional di daerah. d. e. UU No. g. h.AAGN LGSP ARAH DAN AGENDA REFORMASI DPRD: Memperkuat Kedudukan dan Kewenangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dalam dua forum tersebut. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. ada beberapa isu-isu kritis yang perlu dicermati: pertama. isu kedudukan DPRD dalam sistem desentralisasi dan demokrasi. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah. isu kapasitas dan performance DPRD dalam menjalankan kewenangan dan fungsinya itu. membentuk peraturan daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota. meminta laporan keterangan UU No. tugas pokok dan fungsi serta hak-hak DPRD. . e. peraturan kepala daerah. b. isu ruang lingkup kewenangan. membahas dan memberikan persetujuan rancangan peraturan daerah mengenai anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota yang diajukan oleh bupati/walikota. f. Ketiga. Ketiga isu di atas sangat berkaitan dan disebutkan sebagai sumber dari problematika yang dihadapi DPRD saat ini (PLOD: 2006. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. APBD. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah.

i. h. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. k. Hak dan Kewajiban Anggota Paragraf 1 Hak Anggota Pasal 350 Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a. 27/2009 Hak DPRD Kabupaten/Kota Pasal 349 (1) DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a. . memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama dengan daerah lain atau dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. interpelasi. j. dan k. daerah. (4) Hak menyatakan pendapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan bupati/walikota atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di daerah disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket. dan c.pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. (3) Hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah kabupaten/kota yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban bupati/walikota dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. UU No. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. (2) Selain tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengajukan rancangan peraturan daerah kabupaten/kota. menyatakan pendapat. dan negara yang diduga bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. j. i. membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. b. angket. (2) Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata tertib. DPRD melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. (2) Hak interpelasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk meminta keterangan kepada bupati/walikota mengenai kebijakan pemerintah kabupaten/kota yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menaati peraturan perundangundangan. dan golongan. d.b. menaati prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. h. mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. menyampaikan usul dan pendapat. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas. e. interpelasi. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila. c. b.Jumlah perda yang dihasilkan (komposisi inisiatif dan yang diajukan eksekutif) . mengajukan pertanyaan. j.Peningkatan PAD. menjaga etika dan norma dalam hubungan kerja dengan lembaga lain dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala. c. protokoler. e. membela diri. f. dan keuangan dan administratif.Jumlah anggota DPRD yang tidak terjerat korupsi. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat. dan k. Indikator DPRD yang Berkualitas Nominal: Legislasi: . 27/2009 Kewajiban Anggota Pasal 351 Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai kewajiban: a. sumber PAD baru .Efisiensi APBD .Penggunaan hak angket. tindak pidana. kelompok. memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat. f. Terkait Fungsi Perwakilan UU No.Jumlah sanksi yang dikeluarkan Badan kehormatan . menyatakan pendapat Anggaran Pengawasan . dll .Jumlah perda yang tidak dianulir oleh pemerintah pusat . g. menaati tata tertib dan kode etik. memilih dan dipilih. g. d. memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya. h. imunitas. i. i.

dan lainlain Menjalankan/melaksanakan keputusan dan memberikan pelayanan publik Administratif-BirokratikTeknokratik Diseleksi/diangkat lewat sistem karir Pendekatan Pola Dipilih melalui Pemilu Rekrutmen Sumber: Diadaptasi dari Etzioni-Halevy (1983) ________________________________________ Apa yang perlu diperhatikan dalam penyusunan program peningkatan kapasitas DPRD? Pada umumnya lembaga-lembaga pengembang program tidak lebih dulu melakukan assessment yang memadai terhadap kapasitas DPRD untuk mengetahui status awal. informasi. Basis Perbedaan Sumberdaya antara DPRD dan Pemda Basis Kekuasaan Tugas/fungsi DPRD DPRD adalah representasi dan wadah aspirasi rakyat Membawa aspirasi publik dan membuat keputusan politik Politik dan Populis Birokrasi/Pemda Memiliki keahlian. Dalam berbagai program dan proyek yang dikembangkan. gambaran. .Jumlah RDP Representasi Substansial Legislasi: Anggaran Pengawasan Representasi - Hubungan Antara DPRD dan Pemerintah Daerah Ada tiga cara pandang yang umum berkembang saat ini untuk melihat hubungan antara DPRD dan pemerintah daerah. profesional. DPRD hampir selalu dijadikan obyek atau bahkan dapat dikatakan diproyekkan . pengalaman.. dan dasar bagi penyusunan program pemberdayaan DPRD secara mapan. Cara padang yang bisa dikembangkan dan disarankan oleh modul ini adalah .

Misalnya. Font color: Auto Formatted: Font: +Body.Kapasitas dan kapabilitas anggota-anggota DPRD untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya belum menjadi dasar dalam evaluasi kelembagaan dan pengembangan program. Studi tertentu lain. Kemampuan DPRD dalam melakukan check and balance terhadap pemda. Berbagai kegiatan evaluasi atau assessment keparlemenan telah dilakukan dalam rangka pelaksanaan suatu program khusus pemberdayaan keparlemenan di daerah. Pertama. organisasi massa (ormas) dan keagamaan (ormas). beberapa studi telah memberikan penekanan kepada aspek kelembagaan. Berbagai program peningkatan kapasitas. bahwa kegiatan-kegiatan pemberdayaan DPRD dirumuskan sendiri oleh para pelaksana proyek dan tidak mendasarkan pada kebutuhan riil DPRD. kaji tindak dan studi khusus yang berkaitan dengan pembangunan kapasitas DPRD hanya Formatted: Font: +Body. Aspek yang belum diperhatikan adalah aspek-aspek struktural-fungsional dalam pengembangan kapasitas DPRD. banyak studi dan kajian memberikan penekanan berlebihan pada aspek politis dari lembaga perwakilan ini. ketika lembaga tertentu akan membuat proyek pelatihan legislative drafting. Hal ini terjadi karena beberapa alasan. fungsi dan tugas pokok DPRD tidak belum dijadikan dasar dalam penentuan variabel dan indikator studi. sangat dipentingkan. Pola yang keempat adalah pendekatan programatis. maka studi terbatas dilaksanakan dalam hal legislative capacity building. 22/1999 tentang Otonomi Daerah dikeluarkan maupun setelah direvisi menjadi UU No. berbagai assessment terhadap DPRD dilakukan berdasarkan percieved needs dan bukan real needs dari lembaga-lembaga pelaksana program. berbagai studi kemudian dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas lembaga-lembaga pemerintahan di daerah dalam rangka desentralisasi dengan mengutamakan aspek teknis yang terdiri dari mkemampuan organisasional dan manajerial. dan sebagainya. partai politik pada tingkat lokal. yang menyoroti sejauh mana kemampuan kelembagaan dari DPRD memberikan daya dukung dalam melakukan check and balance. maka pada alasan yang kedua. Font color: Auto Formatted: Font: +Body. Font color: Auto . Kkarena melihat DPRD mempunyai posisi politik lebih kuat dibandingkan dengan pemerintah. Studi semacam ini dilaksanakan semata-mata untuk memberikan justifikasi terhadap program. misalnya. Kedua. Pendekatan politis memberikan penekanan pada interaksi kekuasaan antara DPRD dengan dan pelaku politik lain seperti misalnya pemda. Lembaga-lembaga pemberdaya DPRD merasa mempunyai kemampuan dan kompetensi yang lebih tinggi untuk memberdayakan DPRD. dalam banyak aspek memberikan penekanan penting pada kemampuan organisasional dan manajerial DPRD dan sekretariatnya. yang banyak dilakukan oleh berbagai lembaga internasional yang bergerak dalam bidang politik pemerintahan. Font color: Auto Formatted: Font: +Body. Dengan kata lain. karena DPRD lebih banyak dipandang sebagai pelaku politik dan merupakan wadah dimana para wakil partai politik bertemu untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan masing-masing. Walaupun banyak studi terhadap DPRD dilaksanakan sejak setelah UU No. Walaupun di negara asalnya lembaga-lembaga tersebut banyak melakukan kajian yang mendalam dan menyeluruh namun lembaga-lembaga itu tidak melakukan kegiatan studi dengan pendekatan yang sama di Indonesia. Ketiga. Akibatnya. Seringkali didapatkan. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. misalnya.

sedikit memberi perhatian terhadap kompleksitas struktural dan fungsional dari lembaga ini. Secara struktural, pemahaman terhadap kapasitas DPRD dapat dilihat dalam konteks struktur internal, yaitu yang berkenaan dengan keseluruhan bagianbagian dalam dewan yang saling berhubungan dan konteks struktur yang lebih luas yang menempatkan DPRD sebagai bagian dari struktur politik lokal. Struktur internal dapat dikategorikan dalam dua bagian, yaitu struktur yang diatur dalam peraturan perundang-undangan sebagai alat kelengkapan dewan dan struktur internal yang ada tetapi tidak ditentukan sebagai alat kelengkapan dewan. Struktur yang lebih umum menempatkan DPRD dalam hubungannya dengan pemda serta berbagai kekuatan politik lain yang secara langsung berpengaruh terhadap proses politik yang terjadi dalam DPRD dan implementasi berbagai kebijakan publik yang dibuat oleh DPRD. Analisis struktural terhadap DPRD meliputi analisis hubungan antara alat-alat kelengkapan dewan yang terdiri dari pimpinan, komisi-komisi, dan panitiapanitiabadan-badan. Berbagai studi yang telah dilakukan hampir tidak ada yang secara komprehensif mengevaluasi kapasitas dari alat kelengkapan dewan itu. Hala yang lebih jarang dilakukan adalah analisis terhadap struktur internal yang ada pada fraksi-fraksi dan sekretariat dewan (setwan) yang bukan merupakan alat kelengkapan dewan, tetapi keberadaan dan kapasitas mereka sangat berpengaruh terhadap kinerja dewan secara keseluruhannya. Faktor luar yang paling diperhatikan oleh dewan adalah pemda. Negosiasi dengan pemda sangat vital dipentingkan oleh bagi DPRD karena ia memberikan sumber daya yang diperlukan DPRD dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya. Selain itu, dan bahwa pemda harus diperhitungkan oleh DPRD karena ia akan menjadi pelaksana dari berbagai kebijakan yang dirumuskan. Kenyataan selanjutnya adalah fraksi-fraksi merupakan wakil dari partai-partai politik yang di dalamnya juga tergabung dan organisasi-organisasi massa yang berafiliasi dengannya. Kondisi ini mengharuskan adanya pemahaman yang lebih mendalam dari organisasi massa tersebut untuk mengetahui jalur-jalur negosiasi dan lobby, sehingga berbagai kepentingan mereka menjadi bagian dari preferensi kebijakan publik yang dihasilkan dewan. Pola yang sama perlu pula dilakukan untuk mengkaji hubungan antara DPRD dengan dan berbagai asosiasi sosial dan profesional, organisasi-organisasi masyarakat sipil serta media lokal yang dengan berbagai tindakannya mereka mampu mempengaruhi proses politik yang berlangsung dalam dewan. Dalam konteks perwakilan yang lebih luas, DPRD pun seringkali mementingkan pendapat dan pilihan masyarakat karena mereka bermaksud memenuhi berbagai preferensi publik, terutama dalam perumusan kebijakan publik yang menyangkut masyarakat luas. Hubungan ini signifikan bagi dewan dalam upaya memenangkan dukungan dan kepercayaan publik. Analisis fungsional yang mengkaji tentang kapasitas DPRD dalam melakukan fungsi-fungsi pembuatan peraturan perundang-undangan daerah, penyusunan dan penentuan APBD, pengawasan pelaksanaan berbagai kebijakan publik yang dirumuskan DPRD serta perwakilan berbagai kepentingan sosial dan politik pun hampir tidak dilakukan dalam banyak penelitian atau kaji publik. Terlebih jarang adalah assessment terhadap kapasitas setwan dalam memberikan berbagai pelayanan kedewanan agar DPRD mampu melaksanakan

berbagai fungsinya secara efektif. Berkaitan dengan hal ini, fungsi pemberdayaan DPRD terhadap setwan pun kiranya layak untuk dikaji lebih lanjut, sebab DPRD seringkali menuntut berbagai pelayanan sr dari setwan tetapi enggan untuk memperjuangkan sumber daya yang memadai agar sekretariat mampu melaksanakan berbagai fungsi dan tugasnya secara profesional. Lebih lanjut, dalam konteks hubungan DPRD dengan pelaku-pelaku tata pemerintahan dari luar, kiranya juga perlu untuk menelusuri kapasitas DPRD dalam memfasilitasi pelaksanaan berbagai kebijakan publik yang ada, memberikan contoh yang baik bagi praktek-praktek pemerintahan demokratis serta menjadi pelaku dalam pewujudan tata pemerintahan daerah yang demokratis. Seluruh kerangka pemikiran dasar tersebut di atas adalah bingkai dari rangkaian studi dan penulisan dari buku ini serta ketiga buku lain yang bersifat lebih khusus. Buku yang pertama ini mendudukkan keberadaan dan kompleksitas struktural dan fungsional dari DPRD. sSementara itu, ketiga buku yang berikutnya menjabarkan sistem, prosedur, fungsi dan tugas DPRD dalam pembuatan peraturan perundang-undangan, penentuan anggaran daerah dan pengawasan politik. Dengan demikian, diharapkan bahwa keempat buku serial ini dapat memberikan dasar yang memadai untuk berbagai program dan proyek dalam bidang peningkatan kapasitas keparlemenan di daerah. Apa dampak yang perlu menjadi orientasi program? Walaupun berbagai program dan proyek dilaksanakan pada tingkat daerah dan itu pun dengan sasaran utama DPRD, namun dampak yang segera dapat dilihat mempunyai cakupan yang relatif luas. Selain hasil-hasil dan dampak langsung yang akan dapat dirasakan oleh DPRD dan berbagai asosiasinya, berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam proyek ini, terutama yang berkenaan dengan pembuatan peraturan perundang-undangan dan pengawasan, juga akan mempunyai dampak langsung pada perbaikan tata pemerintahan di daerah. Namun demikian, karena DPRD bertekad untuk selalu terlibat aktif dalam berbagai dialog kebijakan dengan lembaga-lembaga tata pemerintahan tingkat nasional maka berbagai kegiatan proyek di daerah pun diharapkan mempunyai dampak langsung terhadap perumusan berbagai kebijakan publik tingkat nasional yang yang akomodatif terhadap kompleksitas realitas daerah. Dampak langsung terhadap DPRD dan asosiasinya Dengan kemampuan perumusan peraturan perundang-undangan yang lebih baik, maka berbagai perda dan kebijakan publik daerah dapat dirumuskan dan disinkronkan satu terhadap yang lain serta memenuhi kepentingan-kepentingan masyarakat luas. Berbagai peraturan perundang-undangan nasional yang terkait dengan desentralisasi dan otonomi daerah pun dapat dijabarkan dalam berbagai perda yang relevan dengan waktu yang lebih singkat, sesuai dengan tata urutan peraturan perundang-undangan. Konflik kebijakan antar daerah, yang biasanya terjadi antara kota dengan kabupaten yang berdekatan, pun diharapkan dapat diselesaikan dengan proses yang demokratis dan sesuai dengan prosedur.

Pemahaman dan penguasaan yang lebih baik terhadap program-program pembangunan dan pemerintahan memungkinkan DPRD melaksanakan fungsi penganggaran yang benar dan memenuhi harapan masyarakat. Ditambah dengan berbagai peningkatan kemampuan analisis terhadap mekanisme penganggaran yang biasanya dilaksanakan oleh pihak pemerintah sendiri, DPRD akan berada dalam posisi yang lebih konstruktif dalam merumuskan kebijakan-kebijakan penganggaran. Berbagai simulasi penganggaran yang dilaksanakan terkemudian akan memungkinkan DPRD menyampaikan alternatif pembanding terhadap kebijakan dan usulan APBD yang diusulkan oleh pemerintah. Pelaksanaan fungsi pembuatan peraturan perundang-undangan (legislasi) dan fungsiu penganggaran memungkinkan DPRD memiliki dasar yang kuat untuk melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan. Ukuran-ukuran dan mekanisme-mekanisme pengawasan pun menjadi lebih mapan karena mendasarkan pada kriteria yang jelas dan tidak mendasarkan pada kepentingan-kepentingan politik semata. DPRD pun akan mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk berinteraksi dengan masyarakat melalui dengar pendapat yang dilaksanakan di dewan maupun melalui berbagai media lain yang diciptakan. Para anggota DPRD mempunyai kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka bukan hanya wakil partai politik tetapi juga benar-benar merupakan wakil rakyat. Kemampuan memfasilitasi dialog antara masyarakat dengan dan pemerintah yang dilaksanakan oleh DPRD akan memperkuat posisinya menjadikannya lebih dipercaya sebagai kunci dari lembaga perwakilan. Setwan pun akan mendapatkan manfaat yang sangat besar dalam program ini, yaitu dengan berbagai pelatihan yang dilakukan untuk para stafnya maupun program-program lain yang dapat meningkatkan peran strategis dari setwan. Upayaupaya pengembangan setwan akan memungkinkannya melaksanakan fungsi-fungsi pelayanan kedewanan secara profesional. Asosiasi DPRD akan mendapatkan manfaat utama meliputi aspek administrasi kesekretariatan dan aspek fasilitator dialog kebijakan regional, nasional dan internasional. Program peningkatan kapasitas DPRD diharapkan menghasilkan dampak untuk asosiasi sebagai berikut: Sekretariat Aasosiasi DPRD yang kuat dan mampu memberikan pelayanan-pelayanan strategis bagi para anggotanya merupakan dampak langsung yang sangat diharapkan. Pelayanan yang paling utama adalah mobilisasi sumber daya yang dibutuhkan untuk pengembangan kapasitas DPRD dan memfasilitasi dialog kebijakan antar anggota dengan lembaga-lembaga tata pemerintahan terkait di tingkat pusat dan daerah. Selain itu, dalam beberapa tahun mendatang diharapkan Aasosiasi DPRD mampu untuk mendirikan sekretariat yang efektif dan efisien dengan dukungan pendanaan yang memadai dari para anggotanya. Dampak terhadap perbaikan tata pemerintahan di daerah Pada tingkat tata pemerintahan di daerah, Aasosiasi DPRD dapat mendesakkan perwujudan mengharapkan bahwa prinsip-prinsip tata pemerintahan daerah yang baik dapat segera diwujudkan melalui berbagai sosialisasi dan pelembagaan di semua lembaga tata pemerintahan. Dengan pelaksanaan seluruh

melalui mengharapkan bahwa dengan partisipasinya dalam berbagai dialog politik dan kebijakan nasional. Aasosiasi DPRD juga dapat mendesakkan. agar maka tata pemerintahan nasional akan mampu untuk dikondisikan agar secara terus-menerus melibatkan aktor-aktor pemerintahan di daerah dalam merumuskan berbagai bentuk kebijakan publik.fungsi dan tugas kedewanan sebagaimana mestinya. maka DPRD akan menciptakan perangkat dasar dari pemerintahan kota yang mementingkan warga. . Pada skala nasional. DPRD pada gilirannya akan harus mampu menjadi simpul dari berbagai dialog publik yang melibatkan berbagai aktor yang berkompeten. Asosiasi DPRD dapat hendak memberikan berbagai masukan penting bagi revisi puluhan berbagai peraturan perundang-undangan yang berkenaan dengan pemerintahan di daerah.

dan bebas. paling tidak untuk membangun Dengan antusiasme pemilih dalam pemilu yang yang sedemikian besar. yaitu dengan untuk melakukan pembaharuan lembaga-lembaga perwakilan rakyat agar yang lebih demokratis dan dipercaya oleh rakyat dibandingkan dengan periode Orde Baru.. partai politik dan susunan dan kedudukan MPR. Pembaruan dengan cara semacam ini dilakukan secara terus-menerus. 2. dan nepotisme yang mewarnai hampir seluruh proses politik sempat menjebak sistem politik nasional yang tersusun selama dalam suatu format birokrasi otoriter. reformasi menyeluruh menuju tata pemerintahan yang lebih baik dan demokratis telah diangkat menjadi agenda dan tekad nasional. DPRD perlu mengembangkan diri menjadi model lembaga demokrasi dan sekaligus pengarusutamaan nilai-nilai demokrasi terhadap berbagai lembaga tata pemerintahan lain yang ada di daerah. kolusi. DPRD pun diharuskan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai prasyarat baru dalam tata demokrasi. Bersamaan dengan perkembangan politik ini. seluruh lembaga dalam tata pemerintahan berada di bawah kendali pemerintah yang didukung oleh ABRI dan Golkar serta partai partai politik hasil fusi. Reformasi Keterwakilan dan Pengaruhnya terhadap Kapasitas Keparlemenan Agung Djojosoekarto Kerangka politik demokrasi di Indonesia telah berubah dan upaya pembaharuan sistem keterwakilan tengah berlangsung. Gerakan-gerakan politik yang dimotori oleh berbagai organisasi masyarakat sipil telah berhasil dalam menanamkan wacana demokratisasi dan partisipasi politik masyarakat yang nyata dan luas. DPR. Dinamika demokrasi Indonesia beberapa tahun terakhir Awal era reformasi politik di Indonesia ditandai oleh revisi terhadap Dengan direvisinya tiga UU politik yang mengatur tentang pemilu. sehingga kepemimpinan nasional di bawah Orde Baru gagal untuk melakukan pembaharuan dan konsolidasi tata pemerintahan. Jumlah partai politik yang sebelumnya dibatasi. saat ini tiga UU Politik tersebut telah diperbaharui sebanyak tiga kali (1999. 2003. dan DPRD. Sedemikan kuatnya budaya politik birokrasi otoriter dan keinginan pemerintah untuk mengendalikan seluruh tata pemerintahan.1. DPD. Sebagai lembaga perwakilan rakyat.Bab II Arah Demokrasi Baru. Cara ini dipilih sebagai Indonesia telah memulai langkah dasar yang paling awal dari reformasi. Langkah ini terbukti efektif. demokratis. Sejak reformasi 1998. Upaya-upaya nasional untuk melakukan perubahan mendasar dalam pemerintahan telah memuncak dengan dilengserkannya kepemimpinan politik Orde Baru yang telah berkuasa selama lebih dari tiga dasawarsa. Praktek-praktek korupsi. Dengan adanya wWakil-wakil partai politik di parlemen pemenang pemilu kini juga yang lebih majemuk dan . lebih dari 140 juta pemilih telah memberikan suara mereka dalam Pemilu 1999 yang langsung. Sebagai pusat pilar demokrasi di daerah. Selama rezim Orde Baru. lembaga-lembaga perwakilan rakyat tersebut . kini tumbuh semarak. dan 2008-2009) untuk menyesuaikan dengan dinamika politik yang ada.

Pengenalan terhadap ketokohan saja dinilai tidak cukup. rakyat mendapatkan kesempatan untuk melakukan pemilihan langsung terhadap wakil-wakil mereka di DPRD. . /1999 ini pada dasarnya memberikan kesempatan bagi rakyat untuk memilih langsung orang-orang yang mereka percaya sebagai wakil rakyat yang handal. Jumlah partai peserta pemilu juga berkembang dan beragamPemilu tersebut diikuti oleh 48 partai politik. mutu keterwakilan tergantung pada beberapa faktor penentu. Partai politik menentukan wakil-wakil yang akan didudukkan dalam lembaga pemerintahan dan perwakilan. Anggota DPRD dewan di masa yang akan datang diharuskan untuk menjadi wakil rakyat dan wakil partai politik secara lebih berimbang. UU Pemilu 2008 UU No. seperti lewat sistem pemilihan dengan suara terbanyak. tetapi jika mereka tidak mendapatkan fasilitas yang memadai untuk menjalankan fungsi dan tugasnya maka DPR/DPRD dengan seluruh alat kelengkapan dan struktur pendukungnya tidak akan mempunyai kapasitas dan kinerja yang optimum. kesiapan para aktor tata pemerintahan lainnya dalam proses politik lokal. Sistem perwakilan saat ini yang akan datang memang memberikan tekanan bahwa anggota dewanDPRD adalah wakil rakyat. dan 2009 sebagai bagian dari pemenuhan tuntutan pembaharuan tata pemerintahan di Indonesia. karena tokoh yang terkenal seringkali tidak mempunyai kapasitas kerja sebagai anggota dewan sesuai dengan yang diharapkan oleh pemilih dan pemda sebagai mitra kerjanya. terlebih setelah keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengakibatkan penentuan calon terpilih melalui suara terbanyak. Namun demikian. Selain memilih wakil rakyat dalam DPR dan DPRD. Apa konsekuensi pemilu langsung? Pemilu demokratis sejak pertama dalam era reformasi telah berlangsung tiga kali. yaitu dengan diterbitkannya UU No. tetapi tetapi tidak sepenuhnya. Terpenting untuk dihindarkan adalah sisi negatif kedekatan emosional yang terlembaga antara anggota DPRD dewan dengan . Sistem pemilihan yang digunakan Pemilu ini masih dilakukan dengan sistem proporsional dengan daftar terbuka yang dikombinasikan dengan pembagian daerah pemilihan (dapil). 2004. Pertama. Ketiga. pemenuhan berbagai daya dukung bagi DPR/DPRD yang baru.diharapkan tetap dapat efektif mewakili kepentingan-kepentingan rakyat dan partai politik secara luas. 10/2008 yang digunakan pada pemilu 2009.mana dan fotonya tercantum dalam kertas suara. pada pemilu 2004 dan 2009 juga dikenalkan pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai representasi masyarakat dari setiap daerah di tingkat pusat. Walaupun seringkali dikritik karena tidak menerapkan sistem distrik murni dan masih tingginya pengaruh partai politik. tetapi jika masyarakat sipil dan publik tidak mendesakkan agendaagenda daerah secara terstruktur dan sistematis maka DPR/DPRD akan tidak mempunyai tantangan dan tanggungjawab yang berarti. 12/2003UU No. pengenalan pemilih terhadap kapasitas keparlemenan dari para calon wakil yang mencalonkan diri. yaitu pada dilaksanakan pada bulan Juni 1999. Kedua. Dengan adanya revisi terhadap UU tentang pemilu. Sekalipun DPR/DPRD dipilih secara langsung dan menghasilkan anggota yang lebih bermutu. Bagaimanapun baiknya mutu perseorangan dari anggota DPRD yang dipilih.

Berbagai partai politik di daerah terlihat telah mendapatkan delegasi kewenangan yang begitu besar dari dewan pimpinan pusat (DPP) mereka masing-masing. Beberapa partai politik juga menyatakan bahwa mereka sedang mempersiapkan program kepartaian yang lebih substantif sebagai landasan kampanye dan rekrutmen politik. 2. DPRD harus bekerja bersama-sama dengan partai politik di daerah. Oleh karena itu. DPRD harus mengembangkan program peningkatan kapasitas dengan struktur dan sistematika baru. maka partai tidak akan mendapatkan dukungan riil dalam proses politik dan dengan sendirinya akan terpinggirkan dalam pemilu yang berikutnya. korupsi. Mereka tidak siap untuk menata kembali perimbangan dan pembagian kekuasaan dengan eksekutif. 2. DPRD tampaknya tidak lagi mungkin untuk menjatuhkan kepala daerah terpilih melalui mekanisme pertanggungjawaban tahunan. karena ia hanya akan memberikan dasar-dasarnya saja.3.pemilihnya yang memungkinkan bersemainya praktek politik diskriminasi. kecuali jika terjadi pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip konstitusional. upaya untuk mendudukkan bahwa anggota DPRD dewan adalah wakil seluruh rakyat seperti yang telah dilakukan oleh beberapa DPRD di daerah layak untuk dilanjutkan dan dilembagakan. kepala daerah/pemerintahan daerah yang dipilih langsung oleh rakyat juga akan mempunyai legitimasi politik yang sangat kuat. Ini memungkinkan Ppartai politik di daerah mulai melakukan fungsi rekrutmen secara profesional dan. DPRD tentu dikehendaki untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan pendekatan yang berbeda. terlebih jika partai tersebut dominan di parlemen dan menjadi pendukung dari pemerintahpemenang pemilu. Dalam menghadapi realitas politik yang baru seperti ini. Seringkali anggota DPRD dewan mengatakan bahwa mereka wajib memperjuangkan kepentingan konstituen dan pemilihnya. yang sesuai dengan realitas tersebut. lembaga legislatif tidak dalam posisi untuk menjatuhkan pemerintah eksekutif. Jika partai politik hanya berfungsi sebagai pengelola politik perwakilan. Mungkin yang lebih sulit adalah ketika ada menata hubungan organisasi kemasyarakatan tertentu yang merupakan afiliasi dari partai politik .1. Perubahan sistem keterwakilan Dalam sistem pemerintahan presidensial. Dalam penerapannya di tingkat daerah. Prioritasisasi di DPRD harus dilakukan dengan pendekatan yang memungkinkan DPRD menghasilkan produkproduk dewan yang mewujudkan check and balance lebih bermutu. Beberapa DPRD terlihat gamang menghadapi perkembangan politik yang baru ini. DPRD dalam tata keterwakilan baru . Pendekatan yang mendasarkan pada proyek pelatihan tidak akan cukupsesuai. Tetapi pada kenyataannya tidak pernah ada yang tahu. dan nepotisme. termasuk dalam pemilihan calon legislator. Dalam konteks baru seperti ini. Perubahan sistem dan politik perwakilan seperti tersebut di atas akan menghendaki strategi peningkatan kapasitas dan kinerja DPRD yang berbeda. kolusi. Partai politik harus ditransformasikan sebagai lembaga agregasi kepentingan publik yang mendukung DPRD. warga mana memilih anggota DPRD dewan yang mana.

Dalam struktur politik baru ini. Maka. Sejalan dengan perkembangan politik dewasa ini. Keinginan pemerintah untuk melakukan berbagai perbaikan dalam birokrasi tidak lepas dari berbagai rekomendasi kelompok developmentalist yang memandang bahwa birokrasi dapat memperbaiki diri dengan memperkenalkan metode perencanaan pembangunan yang baru yang mampu merespon dan melembagakan dinamika masyarakat. seperti ditunjukkan oleh pemilu langsung dan pembentukan pemerintahan yang lebih memenuhi prinsip keterwakilan. perhatian politik kritis adalah pada interaksi kepemimpinan politik dan pelayanan umum. tapi proses dari pembaharuan birokrasi membutuhkan waktu yang lebih lama. Ini tentu saja bukan upaya yang mudah dan bahkan dapat dikatakan sangat sulit. birokrasi telah mengalami perubahan paradigma yang cukup mendasar. sejauh kekuatan politik riil dari pelaku tata pemerintahan ini masih dominan maka pengembangan DPRD harus menghadapi proses yang lebih berat. para pemikir kritis lokal yang relatif radikal menyatakan bahwa dominasi birokrasi yang telah gagal dalam melaksanakan pembangunan ini harus dilawan. Maka. keberadaan birokrasi tetap kuat dan tidak sepenuhnya ditentukan oleh perubahan konstruksi politik yang ada. Perlawanan harus pula dilakukan terhadap struktur domestik dan asing yang membantunya. Apapun metode yang dipilih untuk memperbaharui birokrasi. Ada upaya-upaya yang sangat jelas dari rezim yang lebih demokratis sekarang ini untuk mengendalikan birokrasi. Pandangan ini tentu berbeda dengan pandangan para politisi di .. penting kiranya membangun realisme bahwa mungkin mudah untuk menggantikan sistem politik. atau hampir tanpa batas dan kendali. Bagaimana menyikapi kekuatan politik riil dari birokrasi? DPRD di berbagai daerah ternyata menunjukkan tingkat ketergantungan yang relatif tinggi terhadap birokrasi. Perlu diperhatikan adalah bahwa pada kenyataannya birokrasi di daerah yang sekarang adalah kelanjutan dari rezim bureaucratic authoritarian dari masa Orde Baru. Menanggapi kegagalan birokrasi lokal dalam melaksanakan berbagai program pembangunan. pPendekatan restrukturisasi terhadap masing-masing lembaga pemerintah diyakini dapat mendukung proses pembangunan demi pengentasan kemiskinan.Bagaimana konstelasi dan hubungan politik antara DPRD dan pemda? Indonesia telah memasuki tahap lanjutan dalam proses demokratisasi. yaitu dan jika lembaga-lembaga pemerintah dapat bekerja lintas sektoral dan terpadu sehingga maka masalah-masalah penting dan kompleks akan dapat diatasi bersama. karena birokrasi sebelumnyalama ini identik dengan kekuasaan partai politik tunggal yang mempunyai diskresi kekuasaan yang sangat besar. melainkan juga sebagai sub sistem politik di mana koalisi mewujud untuk mencapai pilihan-pilihan kebijakan tertentu yang terikat dan dimana ada hubunganhubungan pada struktur-struktur politik yang lebih luas dalam masyarakat. Birokrasi adalah sistem kekaryaan manajerial yang ditata secara hirarkis dimana orang dipekerjakan untuk mendapatkan upah atau gaji dari pemda. Dengan memandang birokrasi sebagai bagian dari sistem politik. struktur birokrasi haruslah tidak dipandang sebagai instrumen administrasi teknis saja. Walaupun pejabat-pejabat politik baru telah dan akan dipilih.

Dalam kaitannya dengan peningkatan kapasitas DPRD. yaitu dengan memberikan kesempatan pada pemerintah untuk memainkan peranan ekonomis yang lebih luas seraya mempromosikan berbagai kerjasama dengan pihak swasta yang antara lain dapat mengambil bentuk contracting-out untuk berbagai jasa pelayanan publik. penundaan operasi dan jarak antara pelayan publik dan klien mereka. Walaupun secara teoritis tuntutan ini tidak dapat ditawar dan harus segera diupayakan namun pelembagaannya membutuhkan kehati-hatian tersendiri. Dalam paradigma manajerialisme. Proses pengambilan keputusan menjadi sentralistik dan paternalistik. Kesenjangan antara birokrasi tingkat atas dan tingkat bawah sangat jauh.DPRD yang menginginkan perubahan yang lebih luwes atau soft namun mendasar. pembaharuan birokrasi tetap harus mengacu pada tujuan pokoknya. birokrasi diarahkan untuk memasukkan teknik teknik manajemen sektor swasta. yang dimaksud seringkali adalah sektor publik. buruk dalam komunikasi. . yaitu rasionalisasi dari efisiensi kolektif yang memungkinkan birokrasi mampu mencapai efisiensi paling tinggi . Pertama adalah kesiapan birokrasi untuk dikembangkan menjadi birokrasi profesional. birokrasi dengan jumlah besar telah memberikan dukungan kepada partai yang berkuasa (Golkar). Hal ini mungkin disebabkan karena keinginan birokrasi untuk tetap mengendalikan semua proses tata pemerintahan di daerah. Ketiga. berbagai inisiatif internasional yang mencoba untuk mendukung upaya pembaharuan birokrasi ada pula yang bersifat lebih khusus. DPRD pun ikut mendukung kritik terhadap birokrasi yang menyatakan lembaga ini penuh kerahasiaan. Struktur birokrasi menengah di daerah pada umumnya relatif lemah dan ukurannya pun kecil. Desentralisasi ternyata tidak disertai dengan pengalihan fungsi dari sektor pemerintah ke sektor LSM atau swasta. telah mempengaruhi instrumentalitas rasional untuk menciptakan pola-pola birokrasi yang menyimpang. karena mereka sangat tergantung pada birokrasi di daerah. Sifat-sifatnya adalah: wajib. dalam hal profil sumber daya manusia. DPRD sendiri seringkali harus terjebak pada arah politik yang berbeda dari ketiga pilihan politis tersebut. Birokrasi juga merupakan cara untuk mengatakan menempatkan administrasi publik sesuai dengan tempatnya dalam negara. Isu-isu yang berkenaan dengan budaya paternalistik yang berorientasi pada budaya kerjaan (terutama Jawa) yang sebenarnya merupakan elemen-elemen non birokratis lingkungan politik. sifat dari struktur dan prosedur administratif adalah fokus lain yang dapat menunjukkan tidak berfungsinya birokrasi pembangunan. Birokrasi menengah yang jumlahnya kecil menjadi bumper terhadap kebijakankebijakan tingkat atas dan menjadi pelaksana kegiatan-kegiatan yang bersifat khusus. bagaimana sebenarnya pergeseran politik birokrasi? Ketika Orde Baru berkuasa. terdapat beberapa permasalahan yang penting untuk dibahas berkaitan dengan kekuatan politik riil dari birokrasi. Di satu sisi. misalnya dalam hal pembelanjaan oleh pemerintah. Dalam berbagai pola hubungan kerja dan kerjasama antara DPRD dan birokrasi muncul gejala the economy of affection yang berakar dari kekerabatan. Kedua. terkait dengan hukum. Ketika orang mengatakan birokrasi. DPRD sering dipaksa untuk masuk dalam kerangka kerja seperti ini. Pada perkembangan selanjutnya. dan akuntabilitas publik. Ketiga opsi politis tersebut mempunyai dampak yang berbeda-beda antar daerah dalam kerangka pemberdayaan DPRD.

Dampak dan jebakan pembodohan (massification) tampaknya sangat dalam dan kuat. Tata pemerintahan demokratis dipahami pada kerangka politik atau pemenuhan hak-hak ekonomis dasar warga. apakah birokrasi mendasarkan pada budaya religius institutional atau mendasarkan pada budaya sekuler instrumental atau (lebih kurang menguntungkan) pada budaya religius instrumental. dan sosial dapat dipenuhi. di Indonesia kini tengah terjadi transisi yang membingungkan dan sering kehilangan orientasi. Kondisi ini pada dasarnya terwujud ketika lembagalembaga tata pemerintahan tanggap terhadap aspirasi dan kepentingan seluruh warga dan desentralisasi diwujudkan secara konsisten berdasarkan konstitusi demi partisipasi warga yang lebih besar. penghapusan diskriminasi dan minoritas. pembahasan dan pengkajian langsung perlu diarahkan DPRD pada tema-tema yang relevan dan mudah untuk diikuti.4. serta pengembangan perdamaian dan harmoni sosial pun harus tidak luput dari perhatian DPRD.kesukuan. ekonomi. Tata pemerintahan yang demokratis bukanlah semata-mata urusan politis melainkan juga urusan ekonomis dan sosial. baik di lembaga legislatif maupun eksekutif. disebabkan antara lain oleh pendidikan politik yang kurang mencukupi. Agar DPRD mampu mengembangkan kapasitasnya. Kesulitan ini. Tata pemerintahan demokratis akan terwujud jika pra kondisi politik. media massa. diakui. baik pada jalur pendidikan formal maupun pembelajaran publik secara informal. dan masyarakat sipil pada umumnya sulit diajak untuk mengembangkan konteks tata pemerintahan demokratis dengan kerangka tersebut. Bagaimana DPRD mengelola pola-pola distribusi ulang sumber daya dan keadilan sosial? Permasalahan tentang prasyarat ekonomis tata pemerintahan demokratis adalah pada tingkat kebijakan ekonomi. sehingga para pelaku tata pemerintahan membutuhkan fasilitasi lebih banyak lagi untuk membangun wacana baru. Melalui mekanisme dan prosedur pengawasannya. Oleh karenanya. 2. Para politisi. Berkaitan dengan pengaruh budaya terhadap birokrasi. DPRD juga harus mampu menjaga akuntabilitas dan transparansi dari para pembuat dan pelaksana keputusan tersebut. DPRD perlu dibekali dengan pemahaman . Keterjangkauan dan kesetaraan hukum. Gejala ini tampaknya masih terus berlangsung dalam konteks hubungan antara DPRD dan birokrasi di daerah. yang dalam jangka panjang dapat menimbulkan salah orientasi atau bahkan gejala hipokrit. Pra kondisi politik yang perlu diperhitungkan oleh DPRD Bagaimana DPRD menyikapi tata pemerintahan yang demokratis? Tata pemerintahan yang demokratis adalah salah satu bingkai penting untuk peningkatan kapasitas DPRD. etnisitas dan agama yang mempengaruhi organisasi. DPRD harus mampu melembagakan desentralisasi kekuasaan untuk menjamin partisipasi rakyat dalam pembuatan keputusan. maka DPRD harus mampu menarik resultante antara kondisi politik dan sosial.

Masyarakat selama ini dinilai tidak mampu berpartisipasi dalam politik karena: (i) Lebih berkonsentrasi pada pekerjaan sebagai buruh (seperti masyarakat buruh di Kalimantan Timur). Kondisi seperti ini diperburuk dengan penguasaan atas tanah oleh pelaku-pelaku atau pemilik-pemilik modal nasional atau yang berlokasi di Jakarta. (ii) Baru mulai mengenal kehidupan dan proses politik riil (seperti terjadi di Sulawesi Selatan). Prasyarat ekonomis bagi tata pemerintahan demokratis yang pertama adalah pemberian dan ketercukupan sumber daya atau anggaran untuk bidang-bidang prioritas sosial. Dengan kondisi sosio ekonomi yang berbeda. Para politisi di DPRD pada umumnya menyambut gembira desentralisasi karena daerah diberikan kewenangan lebih besar untuk mengelola aset daerah. Dalam kondisi seperti ini DPRD tidak mampu berkembang secara optimal. Bahkan. 38/2007 sebagai turunan dari UU No. Pra kondisi ekonomis yang kedua adalah perpajakan progresif dan adil serta subsidi yang terjamin bagi daerah. Memang ada kecenderungan di mana daerah mengutamakan pemenuhan PAD dengan pengelolaan sumber daya alam yang kurang hati-hati tetapi ini dilakukan karena pemerintahan di daerah tidak melihat kemungkinan lain. Sentralisasi juga terjadi pada sektor keuangan yang menguasai permodalan di daerah. Aset-aset ekonomi besar masih dikuasai pengelolaannya oleh pemerintah nasional. Berbagai peraturan yang diterapkan pada sektor-sektor tertentu cenderung mendua. dalam konteks regulasi. Kondisi seperti ini menjadikan DPRD tidak mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat yang beraneka ragam sekalipun mereka memahaminya. Warga di daerah pada umumnya hanya menguasai dan mengelola sumber daya tanah dalam luasan yang relatif terbatas. Dalam PP ini. Tanpa kekuatan atau daya ekonomis dasar. Mekanisme melalui DAU pun dipandang masih kurang menjamin pemenuhan kebutuhan anggaran. serta formula dalam pembagian urusan antara pemerintah pusat. dapat dilihat melalui formula yang diatur dalam UU 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. dan kabupaten/kota yang diatur dalam PP No. Aspek ini dikatakan penting untuk memberdayakan warga secara ekonomis. Tetapi mereka pun menyampaikan bahwa kondisi keuangan di daerah masih jauh dari mencukupi untuk memenuhi pembiayaan daerah.menyeluruh baik pada kebijakan ekonomi makro maupun pemenuhan aspek-aspek ekonomi mikro yang mendasar. sehingga pemerintahan di daerah tidak mampu untuk mengelola. termasuk di DPRD. atau (iii) Telah mempunyai kesadaran politik yang lebih tinggi tetapi tetap apatis terhadap sistem yang ada atau memilih jalur politik alternatif (seperti terjadi di kota pelajar Yogyakarta). 32/2004. provinsi. Para anggotaDPRD yang terlibat dalam diskusi pada umumnya menyatakan bahwa desentralisasi belum mencakup aspek perekonomian. DPRD di berbagai daerah telah mencoba untuk mengembangkan kapasitas dan cara kerja yang mereka anggap sesuai dengan realitas masing-masing. Keterbatasan bagi daerah ini. modal dan tanah bagi para pelaku ekonomi di daerah. Pra kondisi ketiga adalah keadilan jangkauan terhadap sumber daya keuangan. sehingga ketergantungan terhadap pemda tidak dapat dihindari. telah diatur urusan wajib dan urusan pilihan Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . berbagai lembaga keuangan cenderung mengalirkan dana kembali ke pusat sehingga para pelaku perekonomian di daerah tidak mempunyai akses memadai terhadap modal. warga dinilai tidak akan mampu berpartisipasi secara riil dalam berbagai proses politik.

Sebagai contoh. Anggota DPRD atau alat kelengkapan DPRD cenderung bertindak sebagai fasilitator antara pemda dan masyarakat. DPRD tidak dituntut untuk melakukan tindak lanjut sistematis antara lain disebabkan karakteristik tuntutan masyarakat yang bersifat teknis.dalam penyelenggaraan pemerintahan beserta norma. dengan menanggapi berbagai kegiatan demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Bagaimana DPRD sebaiknya mengelola keterkaitan kepentingan antara pelaku ekonomi dan politik? Permasalahan yang selama ini banyak dibahas adalah bagaimana jika yang menjadi anggota DPRD pada kenyataannya adalah para pelaku ekonomi kelas atas atau menengah di daerah? Seringkali dikemukakan bahwa DPRD telah menjadi tempat untuk membagi akses dan kendali ekonomi sehingga yang diutamakan adalah kepentingan bisnis dari para anggota DPRD atau kelompok pendukungnya. Praktis. prosedur. Para anggota dewan pun kemudian sibuk. Singkatnya. DPRD dan tata pemerintahan demokratis di daerah Beberapa pengamat politik di daerah menyatakan bahwa kapasitas DPRD sekarang ini merupakan cerminan dari kapasitas masyarakat sipil.5. Peninjauan terhadap kebijakan publik (misalnya perda atau kebijakan pemda) hampir tidak pernah dilakukan secara menyeluruh sebagai akibat dari keluhan masyarakat. tidaklah mungkin para pelaku ekonomi menjadi anggota DPRD sekaligus. Penyelesaian masalah yang didesakkan oleh kelompok masyarakat tertentu pun cenderung bersifat instan dan pragmatis. Kondisi perselingkuhan antara politik dan ekonomi ini dapat menjadi awal munculnya rantai korupsi yang panjang. yang diberikan oleh satu kelompok harus mendapatkan imbangan toleransi terhadap kelompok yang lain. perangkapan profesi sebagai pengusaha dan anggota DPRD cenderung berdampak negatif karena. 2. Hal ini seringkali telah Ini sesuai dengan permasalahan yang terjadi sejak pada proses perumusan dan persetujuan DPRD terhadap tentang APBD yang diajukan pemda. Dengan Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. Ketika terjadi pelanggaran-pelanggaran kebijakan atau program-program pembangunan. layaknya pemadam kebakaran. Not Bold . dimana pPemda seringkali berupaya untuk mengendalikan para anggota DPRD dengan memberikan proyek-proyek tertentu kepada anggota DPRD atau kelompok bisnisnya. Lebih jelas tentang pembagian urusan ini dapat dilihat dalam bagian lampiran PP ini yang mencakup pembagian urusan di semua bidang pemerintahan yang menghubungkan antar tingkatan pemerintahan. dan kriteria yang wewenang penyusunannya diberikan kepada pemerintah pusat. sejak awal memang sudah terdapat keterbatasan dalam rangka menjamin kepentingan nasional dalam proses pembangunan di semua daerah. konstelasi keanggotaan DPRD seperti ini menjadikan alat kelengkapan dan anggota dewan menjadi tidak berdaya karena harus mengembangkan toleransi antar kelompok di dalam DPRD sendiri. standar. DPRD tidak dapat merumuskan perda inisiatif karena masyarakat sipil berpartisipasi baru sebatas demonstrasi dan memprotes pelaksanaan kebijakan tertentu. idealnya.

Baik DPRD maupun media massa berpendapat bahwa ormas kini masih belum aktif dalam berbagai kegiatan politik di daerah. media massa pun melihat bahwa partisipasi politik riil dari masyarakat seperti sekarang ini masih akan berlanjut untuk jangka menengah. jika warga masyarakat tidak siap dengan memilih wakil yang relatif lebih bermutu (karena mereka cenderung hanya memilih partai politik atau karena money politics) maka mereka tidak dijamin akan mendapatkan mutu wakil rakyat yang lebih baik. Italic . Beberapa LSM dan kelompok intelektual yang mulai aktif dalam sektor politik dinilai masih belum siap untuk melakukan transformasi. DPRD belum mendapatkan tantangan peningkatan kapasitas dan kinerja sebagaimana seharusnya. Sikap seperti itu sebenarnya juga bertentangan dengan tata pemerintahan yang baik karena dengan tidak memberikan suara berarti warga memberikan dukungan politik pada calon yang mungkin kurang bermutu. Formatted: Font: +Body. Bagaimana DPRD memfasilitasi dinamika politik dari berbagai organisasi kemasyarakatan? Permasalahan lain yang perlu dikaji bersama oleh DPRD adalah dinamika politik dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) yang ada di daerah. Pendidikan politik yang dilakukan oleh partai politik dinilai belum mencukupi dan masih pada tahap sangat awal. sebab mereka masih cenderung mengambil jalan alternatif dan sering menyarankan sikap golput . Jika observasi yang dilakukan bersama dengan masyarakat media benar.kondisi masyarakat sipil seperti ini. Mungkin hal ini nya berbeda dengan pemilihan kepala daerah karena calon yang ada lebih terbatas dan mendapatkan sorotan tajam dari masyarakat. Demokrasi yang kini tengah berkembang kiranya tidak sesuai dengan sikap politik seperti ini sebab setiap warga negara dituntut untuk bertanggung jawab secara lebih nyata dalam politik. Jika sikap politik seperti ini ternyata berkembang. para anggota DPRD menilai bahwa partisipasi ormas dinilai masih sangat minimal dan oleh karena itu kontribusi politik mereka pun relatif terbatas. Kondisi seperti ini jelas tidak kondusif untuk upaya peningkatan kapasitas dan kinerja DPRD. Indikasi lain menunjukkan bahwa mutu anggota DPRD di masa yang akan datang mungkin sangat dipengaruhi oleh kesiapan politik warga pemilih. Ormas ini menilai bahwa kontribusi mereka dengan memberikan calon-calon legislator yang dapat dihandalkan sudah mencukupi. Sebagai tambahan. Dalam berbagai kegiatan keparlemenan. Bagaimana mendayagunakan kapasitas politik masyarakat sipil? Kapasitas politik praktis masyarakat yang terlembaga mungkin tidak dapat berubah dengan cepat karena masyarakat pemilih di Indonesia belum mempunyai kapasitas politik riil yang memadai. maka secara umum dapat diduga bahwa masyarakat belum benar-benar siap untuk melakukan pemilihan langsung terhadap wakil-wakil mereka di DPRD. Dalam pemilu langsung. maka dapat dikatakan bahwa masyarakat sipil dengan lembaga-lembaganya belum siap untuk masuk pada era demokrasi baru.

Dalam diskusi-diskusi dengan media massa seperti ini. Bahkan di beberapa DPRD. media massa mendapatkan ruang khusus. DPRD menilai bahwa kekuatan intelektual dan politik dari berbagai kelompok masyarakat yang berbasis politik atau asosiasi perlu terus dikembangkan dalam rangka peningkatan kapasitas dan kinerja DPRD. Ini memang seringkali dilakukan tetapi dinilai belum terencana oleh para awak media massa. praktek seperti ini seringkali dikatakan kurang ideal karena terdapat kesan wartawan dibiayai untuk memuat berita. Permasalahan menjadi lebih rumit ketika ormas yang berkembang di beberapa daerah justru berbasis kesukuan. Artinya. media massa juga dapat secara terencana dan konsisten memuat berita dan opini tentang demokratisasi baik yang bersifat umum maupun kedaerahan. seperti misalnya di Kota Samarinda dan Propinsi Yogyakarta. penyelenggaraan rubrik keparlemenan daerah perlu dan dapat dilakukan oleh masing-masing media. Pertama. Di beberapa daerah di Kalimantan Timur. Kedua. Ini tidak berarti bahwa mereka tidak mendukung proses tersebut. walaupun . Media massa pada umumnya mendapatkan kebebasan penuh untuk memuat berita dan opini keparlemenan yang mereka anggap penting. Ini merupakan fungsi pendidikan politik oleh media massa. DPRD juga diharapkan untuk secara terjadwal mengadakan diskusi-diskusi publik yang melibatkan atau yang dikhususkan untuk media massa. Bagaimana DPRD dapat mengoptimalkan strategi media? Observasi yang dilaksanakan bersama dengan berbagai media lokal atau perwakilan media nasional serta para wartawan keparlemenan menunjukkan bahwa media massa tidak mempunyai strategi khusus untuk memfasilitasi demokratisasi dan reformasi tata pemerintahan. Namun demikian. mereka memandang beberapa strategi berikut layak untuk dikembangkan. karena ikatan kesukuan justru dapat berakibat kurang menguntungkan untuk demokratisasi. Pada dasarnya para wartawan mendapatkan akses yang sangat terbuka terhadap seluruh kegiatan DPRD dan informasi-informasi dasar lainya.Ormas yang ada di daerah juga dinilai belum mampu berfungsi sebagai kelompok penekan (pressure group) atau kelompok kepentingan (interest group). Apakah berbagai berita dan opini yang disampaikan oleh media massa berdampak nyata terhadap opini politik publik? Para wartawan keparlemenan cenderung berpendapat negatif. Sementara gejala ini dinilai dapat dimanfaatkan untuk sosialisasi politik di Kalimantan Timur. Di DPRD propinsi dan kota. Walaupun belum mempunyai strategi khusus untuk mendukung demokratisasi di daerah (yang dikatakan merupakan wewenang redaktur). media massa menempatkan wartawan khusus untuk meliput berbagai kegiatan dewan yang diagendakan dan kegiatankegiatan lain yang terkait dengan dinamika dewan. Setiap media massa harus mengembangkan information intelligence masingmasing. Kelompok yang dinilai mempunyai kekuatan politik signifikan ini pun dinilai masih membutuhkan upaya pemberdayaan tersendiri. Ketiga. DPRD diharapkan memberikan informasi secara jujur dan terbuka sehingga kesulitan memperoleh informasi yang selama ini dialami dapat diatasi. beberapa DPRD dikatakan mengalokasikan sejumlah anggaran untuk pemberitaan kegiatan DPRD. daerah-daerah lain cenderung menilainya secara berhati-hati.

mereka menilai masyarakat mempunyai perhatian. tetapi berita yang menyangkut kepentingan publik pun seringkali tidak mendapatkan tindak lanjut. .

pemilihan langsung memberikan akses politik kepada rakyat dalam upaya mendapatkan berbagai pelayanan publik (public service) yang menjadi haknya. dan legitimasi politik terhadap rakyat. Hal ini sangat perlu dalam upaya memberikan pemenuhan dan pel ayanan kepada kepentingan rakyat. harus ditinjau kembali dan didefinisikan ulang. Oleh karena itu. Kedua. Dalam konteks baru ini. ekonomi. rakyat dapat menuntut berbagai kebijakan dasar yang lebih kondusif bagi terwujudnya pelayanan publik yang lebih baik. akuntabilitas. budaya. anggota DPRD terpilih sekarang dikehendaki untuk selalu peka dan tanggap terhadap berbagai aspek sosial. politik. Dengan demikian. Bagi DPRD. yaitu dengan dibentuknya Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Ddasar pemikiran dan dasar kerja dari para anggota DPRD penting untuk ditata ulang sehingga mereka dapat sepenuhnya menempatkan diri sebagai wakil yang langsung dipilih oleh rakyat. dengan dilakukannya pemilihan langsung atas kepala daerah. akuntabilitas para anggota dewan terhadap rakyat. Dengan pemilihan anggota DPRD secara langsung. Lebih dari sekedar penggembira dalam pesta demokrasi. pemilihan langsung juga memberikan jalur kendali yang lebih luas bagi rakyat dalam memastikan terakomodasikannya kepentingan mereka- Formatted: Font: +Body . Sementara itu. pemilihan langsung memberikan berbagai peran pada rakyat untuk memberikan suara pada wakil mereka dan mengendalikan proses politik yang terjadi dalam berbagai lembaga perwakilan. sejak 2004 sudah dibentuk perubahan akan segera terjadi. pemilihan langsung diharapkan dapat lebih menjamin terlaksananya prinsip-prinsip keterwakilan. Dengan kata lain. Dalam tata pemerintahan demokratis di Indonesia sekarang. misalnya.BAB III Pemilihan Langsung dan Akuntabilitas Wakil Rakyat Diana fawzia Agung Djojosoekarto Kerangka hukum dan perundang-undangan politik di Indonesia telah mengalami perubahan sistemik yang mendasar. Ketiga. pemilihan langsung untuk memilih wakil rakyat dan wakil daerah serta untuk membentuk pemerintahan yang demokratis dan kuat kini harus memperoleh dukungan rakyat secara penuh. Dalam Sebagai pengembangan cabang kekuasaan pemerintahan legislatif. Rakyat kini tidak lagi berposisi sebagai peserta dalam pemilihan umum yang dilaksanakan lima tahun sekali. Perubahan ini ditandai dengan pemilihan langsung terhadap berbagai pejabat politik di pusat dan daerah. pemilihan langsung mambuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas politik di daerah secara setara (political equality). agama serta potensi sumber daya. Terdapat tiga alasan pokok mengapa pemilihan langsung selaras dengan konteks desentralisasi dan otonomi daerah. Pertama. adalah penting bagi anggota DPRD untuk menempatkan diri sebagai wakil yang langsung dipilih oleh rakyat dalam konteks jaringan kerja yang lebih luas. rakyat pun dapat menuntut pemda dalam pemberian pelayanan publik yang lebih terjangkau dan bermutu. termasuk DPRD.

para pejabat politik tersebut dipilih melalui rakyat melalui partai berdasarkan sistem proporsional tertutup di parlemen. Bagaimana mengefektifkan hubungan antara anggota DPRD dengan pemilihnya? Rakyat kini telah memilih wakil-wakilnya secara langsung dan tidak dipilihkan oleh partai politik seperti pada pemilu-pemilu sebelumnya. 3. Dengan keikutsertaannya dalam pemilihan langsung. dan DPRD. Dalam pemilu sekarang pada dasarnya rakyat dapat secara langsung memilih wakil-wakilnya di DPR. jika kepentingan tertentu tidak dapat terpenuhi melalui kebijakan dasar yang dihasilkan DPRD dalam bentuk perda. kepentingan rakyat daerah tersebut dimungkinkan untuk didesakkan dari tingkat pusat sepanjang berhubungan dengan otonomi daerah. Hal ini diharapkan akan membawa konsekuensi logis bagi . dan sekaligus pelayanan masyarakat. Kontrak politik tersebut menghendaki para anggota dewan dan pejabat politik lainnya mengoptimalkan pelaksanaan proses politik demi tata pemerintahan yang lebih demokratis dan pembangunan di daerah yang menyejahterakan rakyat. Sebagai contoh. yaitu presiden dan wakil presiden serta kepala daerah. 27/2009. pelayanan pemerintahan. Hal ini dapat berlangsung karena adanya sistem check and balance yang lebih baik. Pemilihan terhadap para wakil tentu dilakukan berdasarkan kepercayaan dan keyakinan. Dalam konteks ini anggota DPRD akan selalu menghadapi banyak hal yang berkenaan dengan kebutuhan program pembangunan.kepentingan dalam kebijakan-kebijakan publik yang lebih tanggap (responsive and accomodative policy). Rakyat juga secara langsung memilih para pejabat politik eksekutif. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . rakyat memilih dan menempatkan para wakil mereka untuk duduk di lembaga-lembaga perwakilan rakyat. dimana rakyat. untuk akan mempunyai pengaruh sangat yang besar dalam proses politik di Indonesia. sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Pengaruh pilihan langsung oleh rakyat akan mendorong anggota DPRD dalam meningkatkan kinerjanya. Terkait DPD. sekarang ada kesadaran baru bahwa rakyat memberikan kepercayaan pada anggota DPRD untuk memperjuangkan kepentingan dan aspirasi politiknya. Oleh karena itu. Di masa lalu. rakyat dapat pergi ke pemda atau ke DPD agar kepentingan mereka itu dapat diperhatikan. serta pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya yang ada di daerah. DPD. Konsekuensi dari pemilihan langsung Apa konsekuensi dari pemilihan langsung? Pemilu 2004 dan 2009 berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Perubahan peraturan perundang-undangan di bidang politik telah mulai mendorong dilaksanakannya perubahan paradigma tata pemerintahan yang lebih demokratis. dapatlah dikatakan bahwa pemilihan langsung dapat membangun hubungan kontraktual politik yang lebih baik antara anggota dewan dan konstituennya. sebagaimana diatur dalam UU Susduk No. perimbangan keuangan pusat dan daerah. hubungan pusat dan daerah.1. Sebab.

tetapi selama situasi tertentu ia harus bertindak sebagai utusan dan berkonsultasi dengan yang diwakilinya. penentuan calon terpilih didasarkan suara terbayak (bukan nomor urut seperti pada pemilu 2004). Di masa lalu. Tipe yang pertama adalah tipe wali (trustee). Agar hubungan dengan rakyat lebih efektif. Selanjutnya hubungan yang ada dalam menjalankan tugasnya hanya dijalin dengan partainya. kecenderungan anggota DPRD untuk tetap partisan sangat terbuka. Setelah anggota DPRD terpilih dalam pemilu. Anggota DPRD dinilai sudah betul-betul memperoleh kepercayaan dari rakyat melalui pemilu. maka yang paling penting adalah dilakukannya pengrubahan pola pikir (mind set) dalam tata hubungan itu. yang merupakan paduan antara tipe wali dan tipe utusan. tipe ini sangat menonjol. Jika hal ini tidak diantisipasi dengan baik. Dalam tipe ini anggota DPRD dapat bertindak bebas karena legitimasinya. baik konstituen ataupun partainya. Salah satu atau kombinasi di antaranya dapat dijadikan acuan anggota DPRD dalam membangun hubungan dengan rakyat pemilihnya. anggota DPRD juga sebaiknya membuat pemetaan masalah-masalah kemasyarakatan yang terjadi di daerahnya. Karena perubahan tipe hubungan yang berubah secara radikal. lepaslah hubungan dengan pemilihnya. memahami potensi daerah serta harus mampu melakukan seleksi prioritas atas berbagai permasalahan yang ada. Tipe yang terakhir adalah tipe partisan. tipe politico tampaknya yang paling ideal sesuai dengan Pemilu 2004 dan 2009 yang bersifat proporsional terbuka. Terlebih pada pemilu 2009. Oleh karena itu. Dalam tipe ini anggota DPRD bebas bertindak atau mengambil keputusan menurut pertimbangannya sendiri. Agar pemenuhan kepentingan rakyat dapat lebih terjamin. Untuk mengoptimalkan hubungan antara anggota DPRD dan rakyat. para anggota DPRD yang telah dipilih secara langsung dapat melakukan berbagai langkah sebagai berikut: . Ia tidak diharuskan untuk berkonsultasi dengan partainya. Dalam tipe yang kedua. sehingga posisinya sangat independent. Tipe yang ketiga adalah tipe politico. yaitu tipe utusan (delegate).Bagaimana hubungan yang ideal antara anggota dewan dengan dan pemilih? Secara umum terdapat empat tipe hubungan antara wakil (anggota DPRD) dan terwakil (rakyat). Ia tidak diharuskan berkonsultasi dengan yang diwakilinya. Anggota DPRD lebih mewakili partainya daripada mewakili rakyat. Prinsip yang paling penting adalah akuntabilitas anggota DPRD terhadap rakyat. Perlu diantisipasi adalah hubungan antara anggota DPRD dengan dan partainya yang masih kuat. seperti karena peran partai sangat besar dalam penyusunan daftar calon legislatif dan penentuan daerah pemilihan. dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya. Anggota DPRD bertindak sebagai utusan dari yang diwakilinya. Tindakan anggota DPRD ditentukan oleh isu atau materi yang dibahasnya. Pemilihan langsung dan kebijakan partisipatif Keeratan hubungan antara DPRD dengan pemilihnya paling mudah dilihat dari mekanisme pembuatan kebijakan yang dilaksanakan secara partisipatif. Dalam tipe ini anggota DPRD dapat bertindak sesuai dengan keinginan atau program dari partainya. anggota DPRD harus selalu mengikuti keinginan dan petunjuk dari yang diwakilinya.

Apakah DPRD telah akomodatif terhadap stakeholders dalam merumuskan berbagai arah kebijakan? 4. tatanan demokrasi menghendaki adanya suatu pemerintahan dari. kelompok-kelompok dalam Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. Oleh karena itu. Melakukan kajian berdasarkan kepentingan dan kebutuhan rakyat terhadap rencana anggaran sebelum diputuskan menjadi APBD. DPRD harus mampu berfungsi sebagai penyeimbang dan penyelaras dari berbagai kepentingan (political prerequisite).2. Dengan demikian. yaitu pembuatan peraturan perundangundangan. Apakah anggota DPRD dapat mempertanggunggugatkan semua produk kedewanan yang dihasilkannya sebagai bukti akuntabilitas publik? 3. ada beberapa pra kondisi penting yang perlu dipenuhi oleh DPRD. Kontrak sosial anggota DPRD dalam tata demokrasi baru Apa tuntutan suatu tatanan demokrasi terhadap DPRD? Secara ideal. Apakah DPRD telah menciptakan produk kebijakan yang mampu mendukung meningkatnya kualitas pelaksanaan pemilihan langsung di daerah dan menerapkannya secara konsisten? Dalam tata demokrasi yang mulai berkembang di tingkat nasional dan daerah. Memutuskan dan mendorong insiatif suatu perda yang mengakomodasi sebesarbesarnya kepentingan dan harapan rakyat. dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang didalamnya termasuk Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Pemerintah Daerah (RKA-SKPD). penetapan anggaran daerah. baik secara internal maupun eksternal? 5. 2. Oleh karenanya. Dalam prakteknya. 3. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). oleh. dan 5. Apakah pelaksanaan fungsi dan tugas telah menempatkan kepentingan rakyat yang merupakan pemegang kedaulatan yang paling tinggi? 2. sebagai bagian pelibatan masyarakat (stakeholder) dalam proses pemerintahan dan pembangunan. rencana anggaran satuan kerja (RASK). pengawasan dan persetujuan DPRD terhadap APBD yang diajukan oleh eksekutif pada gilirannya diharapkan tidak hanya terbatas didasarkan pada pembahasan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). dan pengawasan. prinsip ini acapkali dilupakan. 3. Menginformasikan kepada masyarakat tentang kebijakan yang diputuskan dan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh DPRD disertai dengan alasan-alasan yang rasional. prinsip ini harus tercermin dalam pelaksanaan fungsi-fungsi utama DPRD. pertanyaan-pertanyaan dasar berikut ini perlu selalu dipertimbangkan setiap kali anggota DPRD melakukan fungsi dan tugasnya: 1. 12 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . Melakukan need assessment tentang kebutuhan masyarakat untuk dijadikan database. Melakukan perbandingan antara hasil need assessment yang didapat dengan dan rencana pembangunan yang disusun oleh eksekutif atau yang termuat dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP).1. Dewasa ini. dan untuk rakyat. 4. Apakah DPRD telah memperhitungkan seluruh unsur penentu yang penting bagi penegakan supremasi hukum. Pertama.

Dalam sistem pemerintahan dewasa ini. Betapapun demikian.masyarakat sipil mulai mampu membentuk kekuatan-kekuatan politik. Oleh karena itu. sebab proses pengenalan berlangsung singkat. DPRD selayaknya menjadi penjaga integritas norma hukum dan perundang-undangan di lingkup daerahnya (legal prerequisite). meski terbatas. rentang kelembagaan yang perlu diperhitungkan DPRD sangat luas. Hal ini khususnya relevan untuk pemenuhan kesejahteraan dari warga yang rentan terhadap kemiskinan dan keterbelakangan. DPRD adalah pembuat perda yang merupakan kebijakan dasar di tingkat daerah. dalam tatanan demokrasi. hal ini tidak menghilangkan prinsip konstitusional bahwa pemilihan umum dilaksanakan secara langsung oleh rakyat. dari tingkat nasional sampai tingkat daerah. dalam tata demokrasi. Setidaknya. Pemilu seperti itu menghasilkan hubungan kontrak sosial yang berbeda dibandingkan dengan pemilu yang sebelumnya. Bagaimana menyikapi hubungan kontrak sosial yang baru? Dalam Pemilu 2004 maupun 2009. DPRD pun dikehendaki untuk melakukan berbagai program pematangan demokrasi pada tingkat lokal. DPRD akan mendapatkan dukungan yang mempermudah pelaksanaan fungsi dan tugasnya. Pengembangan kelembagaan ini harus memperhatikan spektrum pemerintahan yang luas. Not Italic Formatted Table . DPRD harus mampu memfasilitasi redistribusi berbagai aset dan akses atas sumber daya dan hasil pembangunan (economic prerequisite). rakyat juga dapat menilai kesesuaian program dari partai politik yang akan dipilihnya. DPRD pun diharuskan mampu membentuk kerangka peraturan yang diperlukan untuk membangun lembaga dan struktur pemerintahan di daerah yang efektif (institutional prerequisite). dalam kerangka transformasi sosial yang lebih luas. Harmonisasi kepentingan merupakan tugas penting yang perlu dipertimbangkan dalam setiap perumusan kebijakan oleh DPRD. Oleh karena itu. sebagian besar rakyat mungkin belum dapat mengetahui dengan persis tingkat kualitas memilih nama calon yang dipilihnya secara langsung. Keempat. AkhirnyaKelima. Dengan berbagai kampanye melalui media massa. Kemampuan DPRD dalam mengembangkan budaya politik lokal yang kondusif untuk demokrasi akan memberikan dampak yang positif untuk peningkatan kinerjanya sendiri. Ketiga. Anggota DPRD harus menjadi penjaga dan contoh dalam hal ketaatan hukum. Jika rakyat lebih mampu melakukan partisipasi politik secara terlembaga. Perbedaan itu dapat dipaparkan secara singkat sebagai berikut: Indikator Pemilu lama (Pra 2004) Pemilu baru (2004 dan 2009) Formatted: Font: +Body. mulai dari peraturan perundang-undangan tingkat nasional sampai peraturan adat yang berlaku lokal. Kedua. Dengan perda yang dihasilkannya DPRD dapat meminimalkan disparitas antar warga masyarakat dan mewujudkan pemerataan yang lebih baik. ia harus terlibat aktif dalam memfasilitasi perubahan sosial di lingkungannya (social prerequisite). nama-nama calon telah disampaikan melalui berbagai media dan rakyat dapat secara langsung menentukan pilihannya. dengan berbagai produk dan keputusannya.

. hubungan kontrak sosial antara rakyat dan anggota DPRD dapat dikatakan bersifat dinamis.Siapa yang berkontrak sosial? Apa posisi rakyat/pemilih? Bagaimana realismenya? Bagaimana konsekuensinya?  Anggota DPRD  Partai politik Rakyat sebagai peserta/penggembira pesta demokrasi Rakyat cenderung emosional karena partai pilihannya Rakyat lemah dalam mengontrol para wakil  Rakyat/pemilih  Anggota DPRD  Partai politik Rakyat sebagai Pemilih wakil rakyat yang ditawarkan partai politik Rakyat bersikap lebih rasional dalam memilih Rakyat dapat secara penuh mengontrol para wakil Dalam kampanye yang lalu. konteks demokrasi baru memberikan peluang kepada rakyat untuk ikut serta dalam meningkatkan kinerja dari DPRD dengan berbagai cara.Akuntabilitas dan integritas DPRD akan dipertanyakan oleh rakyat dan publik secara luas.Calon aAnggota yang telah terpilih tidak akan mendapatkan suara dalam pemilihan langsung periode berikutnya. Upaya ini dapat dilaksanakan dengan partai politiknya. Para anggota DPRD secara terus-menerus perlu melakukan penilaian dan penjajakan dinamika kepentingan dan orientasi politik rakyat.DPRD akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya secara demokratis. Bagaimana rakyat diharapkan mendukung kinerja DPRD? Setelah memberikan kepercayaan politik pada para wakilnya. sementara anggota DPRD melaksanakan fungsi dan tugas konstitusionalnya. . ia juga harus menciptakan gagasan terbaik untuk memaksimalkan pemerintahan dan pembangunan di daerah. berbagai partai politik menebar berbagai janji melalui program-program yang ditawarkan pada rakyat. serta . melainkan juga menjadi dasar rasional untuk mengoptimalkan perolehan dukungan politik. .Banyak protes akan ditujukan kepada fraksi tertentu di DPRD. Kegagalan dalam memenuhi janji politik akan berdampak disinsentive terhadap partai politik.Partai politik akan kehilangan kepercayaan dari rakyat. Oleh karena itu. Berbagai hasil yang didapatkan dapat diolah lebih lanjut dan digunakan untuk mendukung keberhasilan pemilihan umum yang berikutnya. Dalam konteks ini. upaya ini penting bukan saja untuk memenuhi janji politik. Upaya ini dapat dilaksanakan dengan cara memfasilitasi rakyat dalam memberikan kritik dan masukan bagi DPRD melalui berbagai media. Beberapa kerugian yang dapat ditimbulkan antara lain: . Tapi agar kontrak politik menjadi lebih efektif dan mendukung DPRD. Upaya-upaya yang terkait dengan perbaikan proses pemerintahan dalam cabang . Anggota DPRD yang telah terpilih mempunyai kewajiban untuk memenuhi berbagai janji politik itu. Apakah memenuhi janji politik selama kampanye saja sudah cukup? Tentu saja tidak. rakyat dapat memberikan kebebasan pada mereka. Dengan cara ini. anggota DPRD dapat menjaga apakah berbagai kepentingan yang menjadi dasar kontrak sosialnya dapat dipenuhi dengan baik.

Hubungan kontrak politik yang diarahkan untuk mendukung peningkatan kinerja DPRD juga menghendaki adanya arus informasi yang lancar antara DPRD dan rakyat. DPRD akan mempunyai prospek untuk menciptakan sistem insentif yang lebih baik secara kelembagaan maupun karir politik perorangan. Maka. Walaupun dalam jangka pendek terkesan berlebihan. sesuai dengan ciri hubungan kontrak sosial dari para wakil rakyat. Dalam hal ini. . Akuntabilitas atau tingkat pertanggunggugatan tidak sama dengan responsibilitas atau tingkat pertanggungjawaban. Dengan demikian. DPRD juga harus lebih membuka diri agar forum-forum persidangan di DPRD dapat diakses oleh publik luas. rakyat tidak cukup dengan menunggu tawaran dari DPRD untuk ikut serta dalam berbagai proses pembahasan tapi rakyat secara aktif dapat pula mengikuti berbagai sidang terbuka. maka partisipasi dalam perumusan dan penentuan kebijakan dasar pemerintahan dan pembangunan daerah pun dapat dilakukan. maka para wakil rakyat dapat dikatakan akuntabel jika mereka siap untuk digugat oleh rakyat atas apa yang dilaksanakan dan dihasilkannya sebagai anggota DPRD. dalam rangka menegakkan pelaksanaan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik. dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ataupun institusi pengawasan negara yang bersifat independen seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 3. atau RAPBD. rakyat dapat melibatkan diri secara aktif dalam pembahasan perda. Inspektorat. rapat dengar pendapat (RDP) dengan pemerintah. Dalam akuntabilitas. termasuk dengan memanfaatkan keberadaan institusi pengawasan internal seperti. upaya kritis oleh rakyat ini dalam jangka panjang justru akan menguntungkan DPRD dalam upaya membangun lembaga perwakilan rakyat yang bersih dan berwibawa. atau sidang-sidang komisi lainnya. nuansa konstraktual dan hukum lebih kental dan berdimensi eksternal dibandingkan responsibilitas yang cenderung internal. secara perorangan dan kelembagaan. Sebaliknya. Karena pemilihan umum hanyalah awal dari kontrak politik antara rakyat dengan dan DPRD.3. Badan Kehormatan DPRD. rakyat di berbagai daerah telah menunjukkan bahwa mereka dapat pula menuntut pelaksanaan law enforcement yang lebih tegas terhadap anggota DPRD yang melakukan penyimpangan. mampu mempertanggunggugatkan segala yang dilaksanakan dan dihasilkannya. Menjaga akuntabilitas wakil rakyat Apa ciri-ciri wakil rakyat yang akuntabel? Para wakil rakyat dapat dikatakan akuntabel jika ia. Badan Pengawas Keuangan Pemerintah (BPKP). Proses pengendalian politik yang dapat dilaksanakan oleh rakyat seperti dipaparkan di depan perlu disikapi secara positif dan arif oleh DPRD baru. Sebagai tambahan. Transparansi diperlukan bukan hanya untuk kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh DPRD. Sebagai contoh. tetapi juga seberapa besar sumber daya yang disediakan untuk DPRD dan seberapa efektif DPRD mendayagunakan untuk sebesar-besarnya manfaat rakyat.legislatif seperti yang telah dikemukakan terdahulu menunjukkan bahwa rakyat dapat mendukung peningkatan kinerja dengan selalu mengontrol akuntabilitas dari DPRD dan seluruh anggotanya.

Pun dalam menentukan uang tunjangan. tata tertib dan kode etik DPRD. peraturan dari partai politik serta berbagai aturan main lain yang telah ditentukan untuk keberadaannya. maka ia harus menyampaikan kepada publik dengan jelas dan tegas. Setiap anggota DPRD wajib secara aktif memastikan semua informasi yang berkenaan dengan kerangka aturan tersebut tersedia untuknya. baik dalam komisi atau panitia kerja tertentu. tunjangan beras. pengaturannya harus disesuaikan dengan kemampuan daerah. anggota DPRD harus secara terbuka dan jelas menyatakan sikap. Jika ia tidak setuju dengan kebijakan atau langkah tertentu. dan alat kelengkapan lainnya). 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Partai politik akan menghendaki utusan-utusannya memperjuangkan kepentingan-kepentingan politik yang telah digariskan dalam program partai. Secara perorangan. Badan Kehormatan. seperti uang representasi. serta tunjangan pemeliharaan kesehatan. fungsi. posisi. Ini berarti bahwa anggota DPRD harus memahami UUDkonstitusi. DPRD juga dapat mulai merumuskan profil politik secara perorangan. hak keuangan dan administratif dari DPRD telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP). Apa yang perlu diperhatikan agar dapat bertanggung gugat? Hal penting pertama yang perlu diperhatikan oleh anggota DPRD adalah penguasaan yang solid atas seluruh kerangka peraturan yang membingkai mandat. Agar kesalahan yang tidak perlu dapat dihindarkan. Ketika anggota DPRD tertentu dipilih atau ditunjuk menjadi anggota dari alat kelengkapan dewan. Sebagaimana diatur dalam UU No. Ketiga hal tersebut akan menjadi dasar utama untuk menilai kinerja perorangan dan pedoman dalam menyampaikan semua pertanggunggugatan politiknya di hadapan rakyat. dan kelembagaan secara keseluruhan. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt . peraturan perundang-undangan dengan jenis dan tingkatan sebagaimana yang dimaksud dalam UU No. maka ia harus secara aktif memastikan bahwa kebijakan dan langkah yang diambil oleh alat kelengkapan dewan itu selaras dengan nilai-nilai politiknya. masing-masing anggota dapat mempunyai profil politik yang unik. sebagai anggota fraksi yang merupakan bentuk kesatuan politik berdasarkan partai. alat kelengkapan dewan (Komisi. dan target politiknya terhadap berbagai urusan politik yang dilaksanakan dalam berbagai forum internal dan eksternal DPRD. anggota DPRD harus pula mampu mempertanggunggugatkan kinerjanya terhadap partai politik dan konstituen tertentu yang mendukung partai politik itu. anggota DPRD dapat melakukan pengecekan atau meminta penjelasan dari setwan sebagai pengelolaan keuangan dan tunjangan DPRD. Bersikap diam akan berarti ia ikut bertanggung gugat terhadap kebijakan dan tindakan alat kelengkapan dewan itu. Sebab. uang paket. Selanjutnya. Badan Musyawarah. fraksi. Para anggota DPRD tidak dapat secara semena-mena menggunakan berbagai sumber daya yang disediakan oleh negara karena. dan tugasnya. Dalam posisinya sebagai aparatur negara. sekalipun berasal dari partai politik yang sama.akuntabilitas perlu dan bahkan harus dipenuhi dalam beberapa tingkat: perorangan. anggota DPRD juga harus dapat memenuhi berbagai prosedur teknis yang berkenaan dengan penggunaan berbagai sarana dan prasarana pendukung kerja. tunjangan keluarga. Badan Legislasi Daerah. 27/2009. Badan Anggaran. Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Level 1.

sasaran perda juga butuh dicantolkan pada upaya pencapaian target-target Milennium Development Goals (MDG s) setidaknya bagi jenis layanan-layanan publik dasar. Hal ini sangat penting karena dokumen ini merupakan dasar dalam pelaksanaan fungsi dan tugas pokok DPRD. Space Before: 0 pt. Legislasi. masalah ini mencuat karena banyaknya perda-perda yang bertentangan dengan peraturan di atasnya sehingga kemudian dibatalkan pemberlakuannya (perda bermasalah). posisi dan target politiknya selaras dengan kebijakan dan sasaran program-program pemerintahan dan pembangunan daerah. tugas. fungsi dan tugas pokok DPRD mencakup: 1. 3. 2. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Level 1.25" + 0. Sebagai anggota lembaga yang mensahkan renstrada RPJMD. baik dalam hal legislasi penganggaran maupun pengawasan. 38/2007. Tata urutan peraturan perundang-undangan. Pengawasan.25" + 0. yaitu fungsi dan tugas DPRD untuk membentuk perda baik dengan inisiatif mandiri ataupun bersama-sama pemda yang dipimpin kepala daerah. anggota DPRD perlu secara terus-menerus mengecek. dan 3. Space Before: 0 pt. Ini menyangkut kesesuaian antara peraturan daerah di tingkat lokal dengan peraturan perundangundangan di atasnya.Sebagai tambahan. Karakteristik lokal perlu sebagai bahan pertimbangan agar tercapai kesesuaian arah pembangunan dengan kebutuhan masyarakat daerah. Anggaran adalah fungsi dan tugas DPRD bersama-sama pemda untuk membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadapmenyusun dan menetapkan RAPBD. serta PP No. Dalam kasus beberapa tahun terakhir. Tab stops: Not at 0. adalah fungsi dan tugas DPRD untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UU. 58/2005. Selain itu.19". 3. 22/200327/2009 tentang.75" . dan wewenang DPRD. Tab stops: Not at 0.88" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0.13". Dasar pemikiran dalam melaksanakan fungsi anggaran dari anggota dewan perlu disesuaikan dengan sistem anggaran kinerja yang berlaku sesuai perundangundangan. rujukan sebagai dasar pertimbangan antara lain adalah: 1. Dalam mengoptimalkan kinerja fungsional tersebut. perda dan keputusan kepala daerah serta kebijakan nasional lainnya. Materi perda ke arah penyelenggaraan otonomi daerah. Don't adjust space between Latin and Asian text. Tab stops: Not at 0. PP No. yang di dalamnya termasuk anggaran untuk pelaksanaan fungsi. Prinsip otonomi daerah misalnya bisa digali dengan menelisik ruang fisibilitas regulasi yang dimungkinkan sebagaimana diatur dalam UU No.13". Menjaga kinerja DPRD Pertimbangan fungsional Pada dasarnya. Space Before: 0 pt. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Left.4. apakah seluruh sikap. 33/2004. agar pertanggunggugatan kinerja dapat dilaksanakan dengan lebih mudah. 32/2004. Space Before: 0 pt. Formatted: Level 1. Don't adjust space between Asian text and numbers Formatted: Indent: Left: 0.18" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0.25" + 1. Secara tepat menentukan tahapan penyusunan anggaran.25". Pedoman anggaran kinerja secara umum bertujuan untuk: 1. UU No. Hanging: 0. kinerja pokok DPRD disusun dan dinilai berdasarkan pada fungsi dan tugas konstitusionalnya. Sebagaimana diatur dalam UU No. 2. maka anggota DPRD wajib untuk menjadikan dokumen ini sebagai acuan pokok.

e anja.5". 3. Memberikan pedoman umum mengenai pendekatan anggaran yang digunakan. Tab stops: 4. Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Perencanaan PJM Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Pelaksanaan ancangan KP Ver PP S K Nota Kesepakatan (Pemda.P ) a ar e a anaan nggaran Pedoman Penyusunan K -SKP e a anaan en apatan. Space Before: 0 pt . dan 4.2. Memberikan gambaran mengenai proses penyusunan anggaran secara keseluruhan disertai dengan jadwalnya. e a aan K -SKP P Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Penatasusahaan Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Pertanggungjawaban Akuntansi Keuangan Daerah Akuntansi Keuangan Daerah Penatausahaan Pendapatan Laporan keuangan Pemerintah Daerah  Laporan realisasi anggaran  Neraca  Laporan Arus Kas  Catatan atas Laporan Keuangan Penatausahaan Belanja Kekayaan dan Kewajiban daerah       Kas Umum Piutang Investasi Barang Dana Cadangan Utang Pemeriksaan laporan keuangan (BPK) Raperda Pertanggungjawaban APBD ¦§ & § P %   ©   ¥ $ # ap ran ea a e e ter er ahan ¦§© §¦ ¨ a " !  §    §   § ¦§ ¨ ¨ ¦§© §¦ ¨     Formatted: Left. Indent: First line: 0". Left ¨   § ¥  ¦ ¢ ¢£ ¢   £   ¢ ¢¡  £ ¢¡     £ ¢ ¢ £  ¤ £ Formatted: Centered. Mengidentifikasi masalah-masalah utama dan perubahan yang berdampak pada proses anggaran tahun yang akan datang.

Formatted: Space Before: 0 pt Dalam melakukan fungsi pengawasan. DPRD harus menyesuaikan diri dengan berbagai lembaga pemerintahan lain di daerah (termasuk instansi pusat yang ada di daerah) yang mempunyai kewenangan dalam bidang pengawasan seperti Inspektorat. Formatted: Level 1 . DPRD perlu duduk bersama dengan berbagai lembaga tersebut untuk menyepakati bidang. BPKP. jangkauan dan mekanisme kerja yang berkaitan dengan pengawasan. ataupun KPK. BPK.

Karena itu. Di lain pihak. DPRD tidak hanya berfungsi sebagai perumus yang menetapkan peraturan-peraturan saja. tugas dan otoritasnya. Berangkat dari paradigma tersebut. DPRD dapat memproduksi peraturan daerah yang dapat memberikan jaminan pelayanan pemerintah dan pembangunan yang bermutu pada rakyat. Pendekatanpendekatan dan mekanisme-mekanisme konsensus perlu dipersiapkan secara cermat dan efektif. melaksanakan pembangunan. Artinya. Kesepakatan-kesepakatan baru diperlukan agar masing-masing lembaga mengetahui batas-batas fungsi. Kesepakatan seperti ini dapat dibangun melalui konsensus di antara lembaga-lembaga tata pemerintahan yang ada.1. Pendekatan-pendekatan dan mekanisme-mekanisme konsensus perlu dipersiapkan. ada kemampuan untuk membuat dan melaksanakan kebijakan yakni: merencanakan pembangunan. Otonomi daerah membutuhkan kemandirian. agar penafsiran terhadap UU No.BAB IV Menjadi Wakil Rakyat dalam Konteks Otonomi Daerah Diana fawzia Otonomi daerah memberikan kedekatan antara rakyat dan wakilnya di lembaga-lembaga legislatif. Kesepakatankesepakatan baru diperlukan agar masing-masing lembaga mengetahui batas-batas fungsi. Kesepakatan seperti ini dapat dibangun melalui konsensus di antara lembaga-lembaga tata pemerintahan yang ada. DPRD harus mampu memandirikan daerah dalam beragam pembangunan. sebab peraturan pemerintah (PP) yang ada belum secara jelas mengatur mekanisme politik seperti ini. Karena itu langkah proaktif perlu dilakukan DPRD untuk merumuskan kembali posisinya dengan baik dan seimbang dalam hubungannya dengan lembaga-lembaga eksekutif dan yudikatif di daerah. Otonomi daerah memberikan kedekatan antara rakyat dan wakilnya di lembaga-lembaga legislatif. Keserasian hubungan antara DPRD dengan jajaran Formatted: Space Before: 0 pt . sebab peraturan perundangundangan yang ada belum secara jelas mengatur mekanisme politik seperti ini. DPRD sebagai wakil rakyat menjadi pusat perubahan ke arah tersebut. 2232/1999 2004 tidak berlebih. maka hakekat dari otonomi daerah adalah semakin mendekatkan pemerintah ke rakyat. 4. dan membiayai sendiri pelaksanaan pembangunan. Otonomi daerah dan konsekuensinya bagi DPRD Sebagai konsekuensi otonomi. sehingga antara wakil rakyat dengan masyarakat tercipta hubungan harmonis dalam memanfaatkan potensi yang ada untuk membangun daerah. DPRD perlu merumuskan kembali posisinya terhadap lembaga-lembaga eksekutif dan yudikatif di daerah. mengatur pegawai. namun lebih jauh lagi dapat mewakili dan memperjuangkan segala kepentingan rakyat meliputi berbagai aspek kebutuhan masyarakat di daerahnya. dan otoritasnya. Dalam arti yang sesungguhnya. tugas. rakyat didorong untuk mengembangkan prakarsa mandiri. karena tanpa kemandirian sulit diwujudkan otonomi yang sesungguhnya.

Hanya dengan ini masyarakat akan mampu didorong sebagai bagian penting dari otonomi. keduanya dihubungkan baik sebagai mitra yang berkedudukan setara dan sejajar (tidak saling membawahi) maupun penyeimbang jalannya pemerintahan daerah. hubungan kedua lembaga itu bersifat sejajar. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . melakukan kolusi. Kesejajaran dan kemitraan ini akan menjadi sebuah sinergi bila kedua lembaga ini menempatkan kewenangan yang dimiliki pada proporsi yang tepat. 22/1999 tentang pemda dengan jelas mengatur peran masing-masing pihak serta hubungan antara keduanya. ini diharapkan tidak mengurangi sikap kritis DPRD terhadap pemerintah daerah dalam proses penyelenggaraan pemerintahan daerah. ketentutan terkait hal ini diubah menjadi bahwa wewenang DPRD lebih dibatasi untuk sebatas meminta keterangan laporan pertanggungjawaban dari kepala daerah. hendaknya tidak digunakan dengan tujuan semata-mata untuk menjatuhkan kepala daerah. Dalam perspektif pemerintahan daerah. Pemahaman dan kepatuhan terhadap tugas-tugas yang dibebankan. Dalam UU No. bersama-sama memanipulasi aspirasi rakyat untuk mengumpulkan kekayaan pribadi atau kelompok. Kewenangan yang amat besar yang dimiliki oleh DPRD saat ini seyogyanya tidak dijadikan sebagai sarana atau kesempatan untuk menjatuhkan eksekutif atau mengusulkan pemberhentian kepala daerah sebagaimana disebut dalam UU No. bupati. Salah satu implikasi dari UU No. walikota beserta wakilwakilnya) serta menolak laporan pertanggungjawaban (LPJ) kepala daerah. Kewenangan DPRD dalam UU No. Namun demikian. Selanjutnya. adalah menyangkut hubungan antara lembaga legislatif dan lembaga eksekutif di daerah. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Dalam perspektif Pemerintah Pusat. Posisi tawar yang demikian strategis hendaknya tidak dimanfaatkan untuk memberi tekanan (memeras) KDH demi keuntungan pribadi atau kelompok. Ketentuan ini diharapkan akan menciptakan kestabilan pemerintahan daerah sehingga tidak mengulang preseden UU No. korupsi. Pasal 16 ayat 2 menyatakan bahwa DPRD sebagai badan legislatif daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari pemda . keberadaan DPRD dan Pemerintah Daerah adalah tak terpisahkan sebagai kesatuan dalam pemerintahan daerah. tetapi untuk lebih kritis lagi menilai kinerja kepala daerah. 2232/1999 2004 tentang Otonomi Pemerintahan Daerah dan UU No. 32/2004. 22/1999 dalam hal kewenangan DPRD untuk dapat menolak laporan pertanggungjawaban dari kepala daerah yang seringkali berimplikasi secara politis untuk menjatuhkan kepala daerah. dan nepotisme dengan pihak KDH. UU No. Jadi. Fungsi pengawasan hendaknya dilakukan dalam sebuah proses yang demokratis sehingga dapat meminimalisasi perbedaan kepentingan politik yang seringkali mewarnai hubungan antara DPRD dan pemerintah daerahkedua lembaga ini. Atau lebih jauh lagi. 32/2004 Pasal 42 ayat (1) huruf d yang mekanismenya diatur dalam pasal 29. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian KDH (gubernur. sesuai atau tidak dengan tugas dan tanggung jawab yang sudah diputuskan. 22/1999 dalam memilih.pemda menjadi mutlak untuk membangun kesamaan pandang dalam memanfaatkan potensi daerah serta dalam hal penggunaan anggaran pembangunan sesuai urgensi dan kebutuhan masyarakat. dapat menghindarkan terjadinya intervensi dan overlapping antar wilayah kerja kedua institusi ini. pasal 42 ayat (1) huruf h.

Untuk itu. Kemajemukan harus menjadi aset daerah yang perlu dikelola dengan baik dalam tatanan politik. Kesemuanya itu dituangkan dan dirumuskan dalam perda. lapangan pekerjaan bagi warga masyarakat tercipta. Keserasian hubungan antara DPRD dengan jajaran pemda menjadi mutlak ketika berbicara mengenai pemanfaatan potensi daerah dan berapa besar anggaran pembangunan yang diperlukan untuk itu.5". 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku saat ini memberikan penekanan pada pola hubungan keseimbangan dan keserasian yang sinergis. Berdasarkan penelitian terhadap peran dan fungsi DPRD selama ini. menjadikan semua kebijakan publik pada tingkat lokal harus melibatkan kedua belah pihak. Indent: Left: 0". Kedudukan DPRD tidak lagi menjadi bagian dari pemda tetapi sebagai badan yang memiliki wewenang strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Kepentingan masyarakat dapat lebih diwadahi dan potensi daerah dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. ke depan DPRD perlu memberikan makna otonomi dalam konteks sebagai berikut. Terlebih lagi. Adjust space between Asian text and numbers . Untuk itu. mengawasi. kondisi daerah secara menyeluruh hendaknya menjadi dasar pertimbangan utama. Peluang DPRD untuk menciptakan dan mendorong pembangunan demokrasi di daerah semakin terbuka. dan aset mana yang harus dilindungi. pemerintahan. Mekanisme check and balance yang memberi peluang kepada DPRD dan pemerintah daerah untuk saling mengontrol. dan pembangunan tersendat justru karena peran DPRD yang kurang sesuai dengan kepentingan daerah. hendaknya diikuti dengan dibuatnya peraturan daerah yang membatasi masuknya tenaga kerja asing serta mengharuskan perusahaan memberikan pelatihan peningkatan ketrampilan pada pekerja-pekerja lokal. sesuai dengan urgensi kebutuhan masyarakat. Oleh karenanya. selanjutnya sehingga daerah diharapkan dapat lebih berperan dalam menentukan prioritas pembangunan. perda yang memberi kemudahan bagi kalangan pengusaha dan investor untuk menanamkan modalnya di daerah. Misalnya. dan mengimbangi. Dalam merumuskan dan menetapkan peraturan daerah (policy making power). Adjust space between Latin and Asian text. semangat UU No. karena keberagaman masyarakat menjadi realitas sosial yang alamiah. komunikasi yang efektif dengan eksekutif harus dibangun sejak awal agar terjalin sebuah hubungan yang saling mendukung dan bukan saling menjatuhkan. menunjukkan bahwa proses demokrasi. Secara umum demokrasi mengakui adanya kehidupan yang serba majemuk. First line: 0. dan pembangunan yang kondusif. Komunikasi yang tidak dibangun dengan baik akan mengakibatkan pola hubungan di antara kedua institusi ini menjadi tidak sehat dan pada akhirnya menghasilkan sebuah pemerintahan yang tidak stabil.Di sini dibutuhkan kearifan untuk melakukan kompromi di antara kedua kepentingan tersebut agar tidak menjadi konflik. Intervensi pemerintah pusat terbatas pada hal-hal tertentu. Apa yang dibutuhkan daerah. Kemampuan meletakkan posisi secara proporsional oleh DPRD dan pemerintah daerah terhadap pemerintahan pusat akan menciptakan sinergi yang lebih optimal. pelaksanaan pemerintahan. potensi apa yang dimiliki daerah. Dengan demikian. Formatted: Justified. tanpa harus ada kekhawatiran akan tersingkirnya tenaga kerja lokal. lahan usaha bertambah. diperlukan kepekaan yang kuat dalam menentukan prioritas pembangunan daerah.

3. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan yang ditentukan dan ditetapkan oleh pemerintahan daerah.13. kepegawaian. mineral. koperasi dan usaha kecil 22. 7. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri. 5. daerah. statistik. Dengan otonomi. sebagaimana diatur dalam PP No. pertanian. 20. 11. otonomi daerah. industri. 25. 6. ketenagakerjaan. komunikasi dan informatika. juga telah diatur dalam lampiran PP No. pemberdayaan perempuan dan perlindungan kesehatan. 10. 1. 2. Urusan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota berkaitan dengan pelayanan dasar. 15. dan 4. 23. moneter dan fiskal nasional. anak. Terkait batasan kewenangan masing-masing tingkatan pemerintahan dalam setiap urusan tersebut. pertanahan. lingkungan hidup. kebudayaan. 1. kearsipan. dan pemerintah kabupaten/kota. 38/2007 pendidikan. urusan murni pemerintah pusat. 4. 5. perdagangan. perangkat olahraga. perhubungan. kependudukan dan 24. mendahulukan diri dan kelompok melalui peluang dan kewenangan yang dimilikinya merupakan hal yang tidak boleh terjadi.] 26. pemberdayaan masyarakat dan desa. daerah diharapkan mampu dan mandiri dalam membiayai dirinya karena dana yang diperoleh dari pusat sangat terbatas. ketransmigrasian. penanaman modal. menjadi urusan yang dibagi bersama antara pemerintah pusat. ketahanan pangan. 8. 38/2007 tersebut. 38/2007 terdiri dari 31 bidang urusan pemerintahan yang setelah diklasifikasikan diturunkan menjadi 26 urusan wajib dan 8 (delapan) urusan pilihan. sosial. Urusan di bidang lainnya. catatan sipil. dan menengah. penataan ruang. 2. kelautan dan perikanan. perencanaan 18. pemerintahan umum. perpustakaan. serta kualitas anggota DPRD yang mampu proaktif merancang kebutuhan masyarakatnya. 6.Dalam hal ini. yustisi. 19. perumahan. 9. sebagaimana diatur dalam UU No. 21. yaitu perda. 14. kekhasan. yaitu politik luar negeri. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Urusan Wajib Urusan Pilihan Formatted: Space Before: 0 pt Untuk mewujudkan terciptanya penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance) di daerah diperlukan berbagai instrumen. Sedangkan urusan pilihan adalah urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. pekerjaan umum. keamanan. kepemudaan dan administrasi keuangan daerah. pertahanan. pembangunan. 3. kebijakan dan program berbasis kerakyatan. 1. kehutanan. Oleh karenanya. keluarga berencana dan keluarga sejahtera. dan 12. 32/2004 terbatas menyangkut enam bidang. dan persandian. pariwisata. Urusan Pemerintahan Daerah dalam PP No. 17. 7. 16. Urusan bersama ini. serta agama. pemerintah propinsi. Pemda dituntut untuk Formatted: Font: +Body . energi dan sumber daya 8.

sosial. dan bukan dilihat sebagai kesempatan untuk melakukan intervensi terhadap lembaga-lembaga pemerintahan lainnya. DPRD dituntut dapat Mmenciptakan iklim politik yang sehat dan untuk memberikan pemahaman bermakna pada masyarakat akan pentingnya kesadaran politik rakyat dalam mendukung dan mengoreksi kebijakan pemerintahan. Dalam menjalankan fungsi legislasi misalnya. Artinya. DPRD dapat harus membuat perda-perda inisiatif dan sekaligus mendorong pemerintah untuk membuatmengajukan perda-perda yang berpihak kepada rakyat. ataupun momen politis dalam pertanggungjawaban tahunan dari Kepala Daerah (KDH). fungsi pengawasan dari DPRD masih banyak yang belumtidak berlangsung sesuai dengan UU dan peraturan yang ada. Ini sebagai akibat dari lemahnya komitmen DPRD dalam menggunakan kewenangannya. DPRD sebagai pembentuk karakter politik pemerintahan dan pembangunan Selain sSebagai wakil rakyat. DPRD menghadapi tantangan baru untuk menjadikan institusi ini sebagai agen perubahan. selain mendengar usulan fraksi-fraksi DPRD juga dapat mengadakan forum pertemuan dengan unsur-unsur masyarakat guna mendengarkan dan . tugas dan wewenangnya. tetapi ini harus dalam konteks tidak menjadi beban aktivitas ekonomi. dan nepotisme. sehingga dapat menjadikan DPRD sebagai agen perubahan. terutama dalam kerangka persetujuan RAPBD. Demikian pula praktik politik uang bukan lagi rahasia. diganti dengan peraturan yang dapat mendorong prakarsa masyarakat agar lebih produktif. DPRD memiliki nilai strategis yang sangat penting dalam mendorong demokratisasi di semua sektor kehidupan. tidak dilanjutkan lagi. dan budaya masyarakat. 4.selalu meningkatkan PAD. 32/2004 ini memberikan kekuasaan yang sangat besar pada DPRD dalam hak. dimana banyak kalangan anggota DPRD terlibat di dalamnya. kolusi. tapi mengalami distorsi sedemikian rupa sehingga pemerintahan yang bersih sangat masih sulit diwujudkan. Peraturan daerah semacam pajak dan retribusi yang kurang produktif. Raperda yang diajukan pemerintah. UU No. Demikian pula dalam mendorong pemahaman bermutu pada rakyat terhadap pentingnya pembangunan daerah berdasarkan potensi yang dimiliki untuk. Peran partisipasi aktif masyarakat diharapkan dapat tumbuh dan berkembang sejalan dengan kewenangan yang dimiliki DPRD serta upayanya untuk dapat mengelola beragam kepentingan politik. digali dan dimanfatkan secara bersama-sama. Dalam kaitannya dengan tugas dan wewenangnya mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah. 22/1999 menyatakan bahwa DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di daerah merupakan wahana untuk melaksanakan berdemokrasi berdasarkan Pancasila dan pelibatan rakyat dalam pembangunan daerah. Ini hendaknya dimaknai sebagai peluang dan tantangan untuk melakukan perubahan-perubahan ke arah demokratisasi di daerahnya. Pasal 16 ayat 1 UU No. Di pPosisi tawar-menawar kuat yang dimiliki DPRD dalam kerangka akomodasi kepentingan rakyat masih banyak tidak dijalankan dengan baik tapi justru dimanfaatkan secara tidak bertanggung jawab tanpa menghiraukan kepentingan rakyat daerah.2. Terdapat kecenderungan bahwa pelaksanaan otonomi daerah relatif oleh banyak pihak justru memperluas praktek korupsi.

2. Hal ini dimaksudkan untuk lebih memudahkan semua pihak dalam mendukung setiap proses pemerintahan dan pembangunan. efektivitas. memahami dan mampu melaksanakan tugas. akuntabilitas. efisiensi. merupakan sebagian cara untuk mewujudkan itu. pembagian pendapatan dari kekayaan alam. hutan. pengaturan sumber-sumber pendapatan negara dan daerah. tuntutan. dan kemudahan untuk menggunakan sarana dan prasarana serta sumber daya daerah (tanah. DPRD bersama pemda (eksekutif) hendaknya memfasilitasi segala bentuk kegiatan di daerah.5" . 3. Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah: 1. Melalui cara ini. terutama oleh para penyelenggara pemerintahan di daerah yaitu pihak legislatif dan eksekutif di daerah. kesetaraan. pajak dan retribusi. terutama di bidang perekonomian. agar seluruh pola pikir dan tindak yang dilakukan dalam mendukung pembangunan daerah dapat lebih optimal dan sesuai dengan koridor hukum. Pembangunan daerah tidak akan berjalan bila sejumlah prasyarat tidak dipenuhi. selain mendorong kegiatan investasi. aspirasi. 22/1999 tentang Pemda. Sehingga diharapkan tidak terjadi lagi adanya kepala-kepala daerah yang didukung DPRD tetapi tidak dikehendaki rakyat. 4. Beberapa fasilitas kemudahan hendaknya diadakan. memahami masalah daerah dan memuat peta pembangunan yang berbasis kerakyatan berdasarkan kondisi.. yaitu: adanya partisipasi masyarakat. dan kebutuhan prioritas masyarakat. baik yang terkait dengan potensi yang dimiliki daerah maupun posisi daerah dalam lintas pembangunan regional dan nasional. transparansi. serta menggerakkan kegiatan ekonomi lintas daerah dan lintas nasional. fasilitas perijinan usaha. misalnya. Formatted: Indent: First line: 0. penegakan hukum. Dalam. dan tanggung jawabnya sesuai yang digariskan dalam peraturan perundang-undanganUU No.mempertimbangkan aspirasi sekaligus penilaian mereka terhadap calon-calon kepala daerah yang akan dipilih nantinya. dan kemampuan pengawasan yang baik.5". beberapa pemahaman dan tindakan yang perlu ditampilkan DPRD dalam mendukung pembangunan daerah yang lebih bertanggung jawab. fungsi. Semua pemanfaatan potensi daerah harus diatur dalam perda sebagai jaminan adanya perlindungan terhadap kegiatan usaha dan pengembangannya. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. dan lain-lain) dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan. profesionalitas. peningkatan daya tanggap. kewajiban. memahami secara benar filosofi dan prinsip pembangunan di era otonomi daerah. memahami secara baik dan benar tentang penerapan secara menyeluruh mengenai pemerintahan yang baik.. Selanjutnya. memiliki visi yang jauh kemasa depan. Kkegiatan ekonomi jangan diartikan semata-mata sebagai sumber PAD tetapi sebaiknya diterjemahkan sebagai upaya untuk mengajak masyarakat daerah maupun luar daerah untuk memanfaatkan dan mengembangkan potensi daerah. tambang. DPRD dapat menghidupkan hak penyelidikan sehingga pengawasan politik terhadap jalannya pemerintahan dapat diwujudkan. tidak upaya pemanfaatan dapat berubah menjadi penyalahgunaan. Untuk lebih mengefektifkan fungsi pengawasan. perpajakan. Tab stops: Not at 0. jika Tanpa payung regulasi yang jelas dan tegas. Tugas DPRD selanjutnya adalah mengawasi jalannya perda-perda di bidang perekonomian tersebut.

Ini bisa dilakukan. maupun budaya. Terkait dengan ini. Jika komunikasi seperti ini dilakukan terusmenerus secara berkesinambungan. Peningkatan kemampuan kelembagaan atau organisasi pembangunan sektoral perlu dioptimalkan. ekonomi. dalam berbagai aspek. masyarakat adalah mitra pemerintah dan DPRD dalam membangun daerahnya. dangkan LSM. maka proses pembangunan demokrasi di daerah dapat segera terwujud sebagaimana yang dicita-citakan. sosial. Adanya iklim politik yang sehat akan mendukung peran DPRD sebagai pembentuk karakter politik di daerahnya. DPRD hendaknya melibatkan individu maupun lembaga yang memiliki pengaruh besar di masyarakat dalam merumuskan kebijakan-kebijakan. Dalam prinsip ketatapemerintahan yang baik. Komunikasi yang intensif dan terarah akan melahirkan kesadaran politik masyarakat. dengan cara mengajak serta elemen-elemen masyarakat berpartisipasi aktif melalui fungsi dan peran yang dimiliki masing-masing. ormas. serta menumbuhkan peranan sektor swasta dan lembaga swadaya masyarakat. Selain itu. Sebagai bagian dari pelaku-pelaku politik di daerah. khususnya kemampuan untuk memberikan pelayanan secara tepat dan tepat. Untuk mendukung aspek-aspek pembangunan yang telah diuraikan di atas. Aantara lain. sehingga aAspirasi masyarakat bawah harus dapat terserap dan diangkat menjadi permasalahan utama dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan pembangunan untuk berbagai dimensi. baik itu politik. dan agama adalah sebagian dari individu-individu yang dapat memberi kontribusi melalui masukan dan kritik terhadap pemda dan DPRD. agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat memang diyakini berlangsung efektif dan efisien. Penguatan pelaksanaan desentralisasi pemerintahan dan pembangunan yang dapat menjamin hak-hak dasar masyarakat daerah harus dilakukan. Tokoh-tokoh masyarakat. transfer teknologi dan pengembangan kemampuan. maka masyarakat akan tahu kebijakan-kebijakan mana yang harus didukung dan mana pula yang perlu dikoreksi. Hal ini mencakup peningkatan kemampuan dalam formulasi kebijakan dan perencanaan. juga upaya debirokratisasi dan deregulasi di tingkat pemerintahan lokal butuh dilakukanterus dikaji dan diperbaiki untuk mengurangi hambatan-hambatan dalam mencapai keberhasilan sebuah kebijakan. dan bukan semata-mata obyek pembangunan.Sebagai institusi yang mewakili beragam aspirasi masyarakat. terdapat beberapa alternatif pendekatan pembangunan yang dapat didorong oleh DPRD ke arah yang lebih baik untuk dilakukan oleh pemerintah daerah dalam merespon kondisi faktual yang berkembang. Serta mMemberikan pemahaman akan pentingnya kesadaran politik sama artinya dengan menempatkan masyarakat dalam posisi sebagai mitra. adat. dan partai politik akan selalu mencermati dan kritis terhadap pelaksanaan peran dan fungsi serta kinerja DPRD dalam membangun kebijakan dan pelayanan pemdapublik. Mencermati berbagai hal yang terjadi di daerah. Sebagai mitra yang dengan kesadaran politik yang baik. memang banyak hal yang menjadi kecenderungan dan permasalahan umum pembangunan di daerah. terutama yang terkait dengan kondisi sosial yang perlu ditanggapi melalui pendekatan pembangunan. DPRD hendaknya membuka ruang komunikasi politik secara luas dengan seluruh unsur masyarakat di daerahnya. Formatted: Space Before: 0 pt .

Upaya ini bisa dilakukan dengan Konsep ini harus mampu menjamin ketersediaan lahan dan sumber daya alam lainnya guna menampung tenaga kerja yang telah disiapkan. Kebijakan dasar program-program pembangunan (dalam arti luas) yang dirumuskan DPRD perlu diorientasikan kepada mata pencaharian utama yang digeluti masyarakat di suatu daerah. Batas-batas fungsional antara DPRD dan lembaga pemerintahan lainnya Sebagai lembaga politik. Prakondisi lainnya yang juga butuh disiapkan adalah upaya Demikian pula. konsep ini perlu menjamin kesinambungan suplai komoditi yang dibutuhkan dalam pengembangan kreatifitas masyarakat. dan bimbingan keterampilan. guna menjaga hubungan yang harmonis antara semua pelaku ekonomi daerah. keuangan. Selanjutnya pelatihanpelatihan di bidang perdagangan barang. Tugas yang dimaksud adalah legislasi. juga perlu penekanan pada pemahaman konsep dalam kerangkalahirnya bisnis kemitraan antar semua elemen dan lapisan sosial masyarakat. Italic Formatted: Font: +Body. yang pada gilirannyaini diharapkan akan menciptakan situasi saling ketergantungan (interdependen) dan keseimbangan ekonomi antar daerah. Pada gilirannya. upaya ini harus menghindari adanya. secara strategis membutuhkan peran DPRD sebagai pembentuk karakter politik pemerintahan dan pembangunan. DPRD perlu memperkuat dan meningkatkan prakarsa di tingkat lokal sehingga dapat mendorong dan meningkatkan kemampuan berusaha yang berbasis kerakyatan bagi tumbuh dan berkembangnya local enterpreneurship atau pengusaha lokal yang kuat. Upaya meraih kesemua hal tersebut. . Namun demikian. penyuluhan. dan ekonomi masyarakat untuk memperoleh kesempatan yang sama dan peningkatan kesejahteraan yang lebih adil dan lebih maju. Guna menjamin SDM yang berkualitas tersebut dapat bermanfaat. tetapi dengan catatan tidak memberikan beban baru bagi masyarakat miskin yang masih banyak tersebar di berbagai daerah. setiap metode penentuan proyek pembangunan harus sesuai dengan keunggulan wilayah dan kapasitas masyarakat setempat agar potensi yang terdapat di setiap daerah dapat dieksploitasi dimanfaatkan secara proporsional. DPRD memiliki tugas-tugas yang hanya terbatas pada dimensi-dimensi tertentu.3. Demikian pula dengan hubungan kerja dan koordinasinya DPRD Formatted: Font: +Body. baik yang bersifat formal maupun yang bersifat informal. koordinasi dan tanggung jawab yang ada pada DPRD. pengawasan pemerintahan dan pembangunan serta perannya sebagai wakil rakyat yang menampung aspirasi dan menindaklanjutinya. Intinya.Upaya peningkatan kualitas SDM hendaknya harus dilakukan pada semua lini aktivitas masyarakat. dan pengetahuan tentang pembentukan jaringan bisnis yang bersifat kemitraan sangat penting perlu pula dikembangkan. maka harus diciptakan prakondisi yang memungkinkan Di samping itu. Untuk Dalam kerangka perencanaan pembangunan. sehingga ke depan dapat menjadi basis keunggulan daerah. sosial. Hal inilah yang penting dikomunikasikan secara terus-menerus pada masyarakat agar mereka memahami tugas-tugas utama DPRD. serta hubungan kerja. Upaya membangkitkan kembali koperasi dan permodalan dapat dilakukan untuk menumbuhkan usaha swadaya masyarakat. Ini dapat dan dilaksanakan dalam melalui berbagai paket-paket pelatihan. semua kondisi yang dijelaskan di atas diharapkan mampu menemukan kesetaraan politik. jasa. Not Bold Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt . 4. Oleh karena itu.

Tugas dan Wewenang DPRD (UU No. interpelasi. memahami serta melaksanakan kewajiban sebagai tugas yang diamanatkan padanya dan. 22/1999 akan disepakati pilihan langsung (gubernur. Demikian pula berhak memperoleh hak sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah (gubernur. memberikan persetujuan rencana kerja sama dengan daerah lain atau dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. Wewenang b. 32/2004 dan UU N0. memilih dan dipilih. DPRD b. Tab stops: Not at 0. Bersama kepala daerah menetapkan APBD. membela diri. j. sehingga ke depan tugas ini tidak akan ada lagi dalam DPRD. anggaran. 2232/19992004 dan UU No. maka setiap anggota DPRD wajib mengetahui. e. i. Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. 22/1999 disetujui oleh DPR-RI. mengajukan pertanyaan. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan perda dan APBD. menyampaikan usul dan pendapat. 3. f. 2. bupati/walikota dan wakil-wakilnya) sebelum revisi UU No. Adapun tugas dan wewenang yang dimaksud adalah: 1. d. menyatakan pendapat. b. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. Sumber referensi dari kewajiban dan hak anggota DPRD telah diatur dengan baik di dalam UU No. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemda. h. Hak DPRD a. mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Mendagri. dan lain-lain secara luas. angket. mengajukan rancangan peraturan daerah provinsi.53" . Selanjutnya dalam revisi UU No. c. d. c. ormas. 27/2009. 27/2009) Fungsi legislasi. h. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas. protokoler. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Berdasarkan kondisi tersebut. dan k. g. membahas dan memberikan persetujuan raperda mengenai APBD yang diajukan oleh pemda. c. Memilih kepala daerah (gubernur. keuangan dan administratif. Hak. bupati/walikota dan wakil-wakilnya). imunitas. dan pengawasan Tugas dan a.dengan lembaga-lembaga pemerintahan daerah maupun dalam kerangka hubungan dengan lembaga-lembaga lain seperti LSM. dan i. bupati/walikota dan wakil-wakilnya) oleh rakyat. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemda terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. Hak Anggota a. Fungsi. g. membentuk perda. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. f. e.

KPK. seringkali pelaksanaan pengawasan oleh DPRD menjadi titik konflik karena DPRD masuk kepada hal-hal yang bersifat teknis-adminsitratif yang sebenarnya bukan merupakan tugas dari DPRD. Tab stops: Not at 0. Hanging: 0.19". gagasan. BPKP. Melaksanakan pengawasan terhadap hal-hal sebagai berikut: a. dapat dibuat keputusan peraturan kepala daerah yang merupakan kewenangan penuh dari kepala daerah. Ssebab konsekuensi dari peraturankeputusan kepala daerahtersebut akan menjadi bahan dipertanggungjawabkan kepala daerah di hadapan DPRD. padahal anggaran yang dikelola oleh pemda harus mencakup untuk semua kegiatan pembangunan daerah. 22/1999 yaitu mengajukan pertanyaan. d. bukan pengawasan teknis dan administratif.53" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. terutama dalam konteks perannya sebagai wakil rakyat. b. terdapat institusi/lembaga lainnya yang bertugas mengawasi persoalan teknis dan administratif. Selanjutnya hak DPRD diatur dalam Pasal 19 UU No. . DPRD sebagai lembaga eksekutif daerah hendaknya menjadi sumber inisiatif. 22/1999. bila dipandang perlu. protokoler dan keuangan/administrasi. DPRD perlu melakukan dengan kontrol politik yang bersifat strategis (oversight). Perda dan peraturan lainnya. Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah terhadap rencana perjanjian kerjasama. Sementara itu jJika dikaji lebih jauh. inspektorat provinsi dan inspektorat kabupaten/kota. Selanjutnya untukPada konteks pengawasan. Pelaksanaan kebijakan dan program penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. sebab DPRD adalah lembaga politik sehingga arah pengawasan dapat diarahkan pada sejauhmana pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan daerah mencapai hasil yang diharapkan dalam RPJP. Pelaksanaan kerjasama. misalnya. Dalam praktiknya. Pelaksanaan keputusan kepala daerah. Seperti aAlokasi untuk anggaran DPRD. 5.5". dan konsep pembangunan daerah yang secara optimal dapat dituangkan dalam peraturan daerah sebagai acuan dasar dalam memajukan pemerintahan dan pembangunan ke arah yang lebih baik. Formatted: Indent: Left: 0. Italic . seringkali menjadi titik konflik kepentingan antara DPRD dengan Pemda. Selain itu. yaitu: (1) Satuan pengawas internal seperti. ide.4. Ini tentunya tidak proporsional karena . Menampung aspirasi masyarakat daerah. Tab stops: Not at 0. Bahkan. di banyak tempat. (2) Satuan pengawas eksternal seperti BPK. dan RKPD. pihak DPRD menghendaki anggaran seimbang antara DPRD dan pemda.5" Formatted: Space Before: 0 pt. kepala daerah dapat berkonsultasi dengan DPRD. peran DPRD sebagaimana yang diatur dalam UU peraturan perundang-undangan cukup luas. Wilayah pengawasan ini. Pembuatan keputusan peraturan kepala daerah tidak memerlukan persetujuan DPRD. 6. Untuk itu. Dalam hal penyusunan anggaran keuangan daerah. Meskipun demikian. e. dalam struktur tata pemerintahan daerah sudah menjadi tugas dan wewenang dariKarena selain lembaga DPRD. banyak dialami hambatan dan tantangan sehingga perlu dikelola dengan baik. dan lain-lain. c. akuntan publik. anggota DPRD juga memiliki hak khusus sebagaimana yang diatur dalam Pasal 21 UU No. RPJMD. Untuk menjalankan (implementasi) perda. Pelaksanaan APBD. Inilah yang perlu dicermati oleh pihak DPRD agar gagasan-gagasan yang diusulkan tidak kemudian menghambat gerak laju penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.

Jika dominasi ini terus berlangsung. Potensi negatifnya adalah bahwa Sehingga keputusan penyelenggara pemerintahan dan pembangunan daerah yang ada bisa kurang memperhatikan aspek profesional. . dan sebagainya). peran serta masyarakat untuk mendorong terciptanya penyelenggaraan pemerintahan dan. Untuk itu. terarah. Sesuai dengan mekanisme yang berlaku. kunjungan kerja lapangan. dan hukum-administratif. DPRD berkewajiban memfasilitasi dan menindaklanjuti aspirasi dari masyarakat. blog. rekomendasi. organisasi maupun dari berbagai kelompok lainnya.Bertolak dari kenyataan UU yang relatif menempatkan kKedudukan DPRD yang cukup kuat sebagaimana yang telah diuraikan luas dimuka. saluran-saluran alternatif untuk menyerap aduan dan pendapat publik (saluran telpon. Demikian pula. Satu hal yang sangat perlu dipahami oleh semua pihak adalah bahwa. Oleh sebab itu. DPRD dalam hal ini dapat melakukannya dengan berbagai mekanisme. persetujuan. teknis. Sebagai lembaga perwakilan rakyat. pihak DPRD akan sangat efektif melaksanakan tugas-tugasnya jika peka dan aktif merespon setiap dinamika kehidupan masyarakat. maka keputusan-keputusan pemerintah daerah akan selalu sarat dengan nuansa politik yang tidak sehat. efektivitas dan efisiensi. ada juga membuka kecenderungan telah dan akan terjadi dominasi bahan legislatif daerah terhadap pemda. tugas dan hak DPRD itu sendiri. sms. Namun. penyampaian aspirasi masyarakat ke DPRD akan berjalan sangat efektif apabila masyarakat mengerti dan memahami kedudukan. antara lain:seperti Mmelalui rapat dengar pendapat. DPRD merupakan salah satu wahana untuk pmenyerap dan menyampaikan aspirasi masyarakat untuk ditindaklanjuti. pembangunan. dan kemasyarakatan sangat penting sebagai konsekuensi dari upaya menempatkan masyarakat sebagai subyek dan obyek pembangunan itu sendiri. Dengan demikian kesalahpahaman akan senantiasa dapat dihindari dan obyektivitas tuntutan masyarakat dapat dipertanggungjawabkan secara logis. dan lain-lain untuk diakomodasi dalam peraturan daerah atau ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan dan program pembangunan. DPRD perlu aktif menyosialisasikan tugas-tugas dan hak politiknya kepada masyarakat luas. surat atau hasil kajian. dialog. wewenang. kontrol dari masyarakat dalam kerangka pengawasan pembangunan senantiasa perlu dilaksanakan dan disalurkan secara proporsional. website. dan bertanggung jawab. e-mail.

karena Oleh karena itu. Sedangkan model demokrasi presidensial mengandalkan sistemnya pada adanya dua lembaga pemerintahan yaitu Formatted: Space Before: 0 pt . Di negara demokrasi muda seperti Indonesia. yaitu perda. Perda adalah salah satu produk hukum pemerintahan daerah. dalam struktur peraturan perundang-undangan Indonesia dan mengikat seluruh pihak di daerah. serta akuntabilitas pertanggungjawaban publik dalam bidang hukum dan etika. mereka berakar dari dua model ekstrem di bawah ini: Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt 1 2 Demokrasi parlementer Model westminster Diawali oleh Inggris Demokrasi presidensial Model pemisahan kekuasaan Diawali Presidensialisme AS Bila pPada model parlementer.BAB V Menjembatani dan Mengelola Berbagai Kepentingan Politik Publik Rahmi Yunita Tugas Para wakil rakyat adalah pada intinya memang harus memperjuangkan kepentingan rakyat.. lembaga pemilu berkala yang jujur dan adil dipercaya sebagai instrumen untuk menentukan siapa sebagian kecil orang yang diminta mengelola kepentingan publik ini. persaingan yang terbuka dari berbagai kepentingan. 5. kemampuan DPRD adalah jembatan bagi berbagai kepentingan politik dalam menentukan kebijakan di daerah ini.1. Dalam perkembangannya. kendati berbagai bentuk demokrasi pun lahir. Dalam tradisi demokrasi yang telah mapan. Ketika demokrasi lahir. bermuara berbagai kepentingan politik untuk yang harus diakomodasikan sebaik mungkin dalam bentuk kebijakan publik yang paling elementer di daerah. pemerintahan perwakilan lahir ketika masyarakat memutuskan untuk menyerahkan sebagian urusannya kepada sebagian kecil orang. dan kKondisiteks ini melipatgandakan tantangan bagi para anggota DPRD terpilih. hal ini masih harus dibangun. perdana menteri adalah pemimpin pemerintahan sekaligus anggota parlemen. DPRD sebagai wakil semua Dalam sejarahnya. sudah terdapat pranata yang berkembang dalam kehidupan berpolitik masyarakat yang dapat membantu wakilwakil rakyat melakukan tugasnya. Di dalam DPRD dituntut mampu mengelola dan menjembatani.. kemampuan untuk mengelola kepentingan-kepentingan yang berkembang di daerah menjadi sangat penting. misalnya tuntutan yang efektif akan keterbukaan informasi.

Font color: Blue Formatted: Font: +Body. mengantarkan Indonesia pada pemurnian model pemisahan kekuasaan ini. 22/1999 menggariskan bahwa salah satu tugas dan wewenang DPRD adalah memilih gubernur/wakil gubernur. DPRD adalah arena yang mencerminkan berbagai preferensi politik yang beragam. bupati/walikota menjadi lembaga untuk memastikan check and balance. Dinamika dalam DPRD sendiri akanadalah mencerminkan berbagai aspirasi masyarakat yang menuntut diakomodasisuarakan dalam pengambilan kebijakan daerah. Dalam konteks baru ini. maka peran lembaga legislatif di daerah pun bergeser. UU No. Bold . DPRD bertugas hadir sebagai wakil rakyat untuk menyusun legislasi daerah (perda) serta mengawasi pelaksanaannya oleh eksekutif. 2232/20034 juncto UU No. usai pengukuhan anggota DPRD. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Mengikuti mekanisme rekruitmen kepala eksekutif tingkat nasional ini. Artinya. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Font color: Blue Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. yaitu pemilihan langsung. dari berhak untuk meminta pertanggungjawaban gubernur. Font color: Blue Formatted: Font: +Body.eksekutif yang menjalankan pemerintahan dan lembaga perwakilan yang menetapkan kebijakan dan mengawasi pelaksanaannya. Di sisi lain. Hubungan saling membutuhkan sekaligus dapat saling menyandera inilah semangat dari prinsip pemisahan kekuasaan dalam demokrasi presidensial. maka wewenang DPRD kini terbatas pada permintaan keterangan laporan pertanggungjawaban dari kepala daerah. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. beranggotakan banyak orang. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Selain memiliki perimbangan mengimbangi kewenangan anggaran dari cabang terhadap eksekutif.biasanya memiliki kekuatan veto yang mengimbangi lembaga legislatif. Kepala daerah tidak lagi dipilih oleh DPRD. Salah satunya adalah dengan menggariskan bahwa Presiden Republik Indonesia dipilih secara langsung dalam pemilu. Dengan demikian. bupati /wakil bupati dan walikota/wakil walikota . 12/2008 mengisyaratkan mempertegas bahwa pilihan kepala daerah pun akan dilakukan dengan mekanisme yang sama. bagaimana seharusnya peran DPRD? Dengan menguatnya lembaga eksekutif di daerah ini. 22/2003 disahkan. sebagaimana akan dituangkan dalam RPJMD yang akan berlaku selama lima tahun (satu periode kepemimpinan daerah). lembaga eksekutif memiliki kewenangan menerjemahkan kehendak legislatif sebagaimana tertuang dalam perda melalui berbagai produk kebijakan eksekutif seperti peraturan kepala daerah yang nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada DPRD. lembaga ini hakekatnya telah menjelma menjadi lembaga perwakilan rakyat. seperti pengalaman kejatuhan Presiden Abdurrahman Wahid. Dalam konteks pertanggungjawaban kepala daerah. dapat dipahami bahwa DPRD tidak monolitik (tunggal/seragam).. Formatted: Font: +Body. Amandemen UUD 1945. Fungsi ini sudah terhapus ketika UU No. Meski Juga ketika kita menyadari bahwa tidak semua komponen masyarakat terwakili dalam DPRD (karena tidak semua suara dalam pemilu teralokasikan menjadi kursi). Kepala eksekutif telah mendapatkan mandatnya sendiri secara terpisah untuk memerintah. yang telah dilakukan empat tahap. presiden mendapatkan legitimasi demokratis langsung dari rakyat dan tidak dapat dijatuhkan dengan alasan politis oleh lembaga perwakilan. Sebagai lembaga politik yang bersifat kolegial. dan memajukan sebuah agenda kebijakan seperti yang dikampanyekan dalam platform-nya. Pasal 18 ayat 1 UU No.

Berikut ini digambarkan pembagian pelaku-pelaku politik yang ada dalam sistem demokrasi pembagian kekuasaan (presidensial) dan kontekstualisasinya di Indonesia. termasuk di daerah menjadi rumit. First line: 0.25". Dalam konteks itulah. hubungan perwakilan ini justru baru dimulai tepat ketika anggota DPRD terpilih. namun lebih dari itu merupakan terjemahan ideologis dari para aktivis partainya. secara rasional . bab ini berusaha tidak mengabaikan keduanya.2. merupakan masalah besar dari yang pada dasarnya menentukan perilaku politik pejabat daerah. ada juga Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. Kepala eksekutif/kepala daerah (walikota/bupati) y Kepala daerah. wakil rakyat harus berhadapan dengan publik daerah secara keseluruhan yang sedapat mungkin suaranya harus dikelola dapat terwakili demi legitimasi produk-produk politik kebijakan di daerah. Space Before: 0 pt. Kita juga tidak lagi dapat menyoal bahwa sebagian dari masyarakat di daerah pemilihan kita tertentu bukanlah konstituen kita. Situasi transisional. baik kontek demokrasi yang dewasa dan ideal harus terus disandingkan dengan tantangan faktual maupun konteks Indonesia yang sedang menata demokrasinya. Karena itu. maka terjadilah pertarungan antara berbagai aktor politik di daerah. Selalu ada pihak-pihak yang lebih diuntungkan dan kurang diuntungkan. Indonesia memiliki konteks yang sedikit berbeda. misalnya apakah itu cenderung pro pasar atau cenderung mengutamakan agenda-agenda kesejahteraan sosial. termasuk pada masa lima tahun pertama reformasi. 5. DPRD berubah dari wakil pemilih menjadi wakil semua. Perebutan alokasi sumber daya masih jarang mempersoalkan strategi kebijakan namun lebih dimaksudkanterjebak sekedar untuk bagi-bagi rejeki di antara pejabat publik. ini membuat situasi pembangunan politik di Indonesia. dalam pilihan kebijakan yang ditempuh pemerintah daerah dan DPRD.5". Maka iIni mengarahkan kita pada hal penting yaitu bahwa yang harus digarisbawahi adalah hubungan antara anggota DPRD dengan dan masyarakat tidak berhenti ketika yang bersangkutan terpilih. memiliki kepentingan untuk terpilih kembali dalam pemilu berikutnya sehingga cenderung untuk berusaha untuk memberikan kesan yang terbaik di mata masyarakat pemilih. partaipartai politik secara umum mengidentifikasi dirinya dengan kecenderungan kebijakan tertentu. Tidak ada yang memungkiri bahwa praktek korupsi. yang sering dimana mengakibatkan penegakan hukum belum sepenuhnya terjadi. Ini tidak saja merupakan respons terhadap pasar politik (kecenderungan) pemilih. No bullets or numbering. bahkan dirugikan. 1. Setelah pemilu usai. Selain itu. termasuk di dalamnya adalah korupsi politik korupsi dengan pemanfaatan jabatan-. Kendati rumitdemikian. dalam demokrasi mapan. Tab stops: Not at 1" . bersikap mawas terhadap berbagai pelaku-pelaku politik ini akan membantu DPRD mengantisipasi pelanggaran-pelanggaran hukum dan etika yang dapat terjadi. Mengidentifikasi pelaku-pelaku politik utama Politik menjadi arena dimana tempat sumber daya yang terbatas yang dikelola pemerintah harus dialokasikan. Justru sebaliknya. Kkita tidak lagi dapat mempersoalkan apakah masyarakat yang mengadu di gedung DPRD adalah bukan bagian dari golput alias dengan satu atau lain alasan (tidak memberikan suaranya pada pemilu) lalu.Konsekuensinya. Usai pemilu.

Formatted: Space Before: 0 pt . baik untuk kepentingan pribadi maupun terutama karena tuntutan dari partai politik masing-masing yang harus mengumpulkan dana kampanye. lebih baik daripada yang lain. untuk mengambil posisi populer di antara anggota yang lain. 2.kecenderungan kepala daerah untuk menorehkan sejarah sebelum meletakkan jabatan (vouloir conclure). Dinamika politik ini dapat menjadi ruang adu populer bagi DPRD di depan masyarakat dan menyediakan insentif bagi anggota DPRD dan partai politik untuk mencoba berlomba mewakili kepentingan masyarakat dengan. terbatasnya keterbukaan informasi dan. lemahnya media massa di daerah membuat kepentingan DPRD untuk bertarung dan berlomba berebut popularitas pemilih dengan cara memperdebatkan kebijakan publik ini menjadi tidak signifikan. baik dalam kepentingan keuangan langsung maupun dalam pembuatan kebijakan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya. Ini bisa berwujud pembangunan sebuah proyek raksasa dan prestisius yang lebih sering bersifat fisik daripada mental agar karena yang terakhir ini tidak mudah dilihat hasilnya dalam waktu singkat. Namun. maka trend yang lahir justru adalah korupsi berjamaah . Ironisnya. Ddalam situasi dimana penegakan hukum yang lemah. hingga kini terus mendorong praktek ini sementara penegakan hukum dan akuntabilitas partai politik belum bisa didorongmasih lemah. posisi kepala eksekutif sering dijadikan kendaraan untuk melakukan akumulasi kapital modal sebanyak-banyaknya yang pada gilirannya digunakan untuk mendapatkan kekuasannya yang lebih besar lagi. misalnya berkampanye pada pemilu jabatan publik yang lebih tinggi atau mempersiapkan lahan ekonomi selepas menjabat. Fenomena lainnya. Namun kepentingan yang rasional di atas memang sering tidak permanenmengemuka. sSebagai lembaga yang kolegial dan . Kepentingan ini akan berkelanjutan bila UU Pemilu dan UU Parpol di Indonesiayang ada tidak tegas mengatur pendanaan partai. anggota DPRD sering tergoda menggunakan kedudukannya untuk menggalang dana. kKadang-kadang pada masa jabatan terakhir. dengan kewenangan yang dimilikinya. Kkarena kepala eksekutif daerah merupakan posisi yang lazimnya dibatasi kesempatannya untuk dapat terpilih kembali. Sehingga pPada fenomena ini. Karena ada sedikit saja iInsentif untuk populer dan dekat di hati rakyat sering dinilai tidak cukup sehingga bahkan menimbulkan masih ada keengganan. Padahal. kepala eksekutif daerah kehilangan minat lagi untuk menunjukkan kinerja dan terperangkap dalam fenomena lame duck (bebek lumpuh) karena tidak ada insentif lagi untuk tampil prima. DPRD dan justru bersandar pada keberagaman perbedaan pendapatlah yang didorong sehingga terdapat lebih dari satu usulan solusi untuk permasalahan daerah tertentu. DPRD tidaklah monolitik. Pada fenomena ini ada resiko sumber daya masyarakat dihamburkan untuk proyekproyek mercusuar yang mahal tapi tidak banyak berguna.. Lembaga perwakilan (DPRD) Sekali lagi. Dalam konteks daerah. masyarakat akan memiliki pemimpin yang tidak efektif namun tidak dapat dijatuhkan.

ataupun asosiasi profesi. yang diharapkan dapat perlahan-lahan menggeser trend ini. serta pendidikan politik. menyampaikannya dalam kampanye secara relatif kontras dengan partai lain (perbedaan program dan strategi). Partai politik (parpol) Parpol lahir untuk memperjuangkan agenda politik tertentu. Dalam jangka lebih panjang. menguatkan kapasitas partisipasi mereka dalam pembangunan. seperti yang telah diberlakukan di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam dalam rangka otonomi khusus. Salah satu orientasi parpol adalah menggapai kekuasaan agar dapat menjalankan agenda-agenda politiknya sesuai dengan preferensi pemilihnya. kepala eksekutif. maka agak sulit memastikan masa depan politik yang akan membawa kebijakan yang lebih baik bagi daerah. agergasi kepentinga. Jalan radikal yang dapat ditempuh adalah mereformasi UU Parpol dan UU Pemilu secara terus menerus agar lebih kian dekat dengan kepentingan masyarakat di daerah. Parpol juga memiliki tanggungjawab dalam melakukan fungsi-fungsi sosialiasi politik. Selama orientasi parpol bukan melulu masih dianggap sebagai kendaraan menggapai kekuasaan untuk mengartikulasikan kepentingan pemilihnya. Masyarakat sipil Masyarakat sipil dapat diwakili dengan oleh pelbagai asosiasi (perkumpulan) yang ada di dalamnya. boleh jadi adalah dengan membolehkan hadirnya partai-partai lokal untuk terjun dalam pemilu di daerah. Dalam hal ini. Namun. Karena itu. sebagian besar parpol yang ada bahkan dapat dikatakan tertatih-tatih menjalankan fungsi pendidikan politiknya. Apapun pilihannya. Berbagai ormas kelompok ini memiliki misi untuk memberdayakan masyarakat. baik legislatif maupun. parpol berkepentingan untuk duduk dalam lembaga politik di daerah. Jika berkuasanya sebuah partai menandai corak kebijakan tertentu di demokrasi mapan. Lagi-lagi. di Indonesia masih perlu waktu lagi sampai partai politik dapat merumuskan agenda politiknya dengan tajam dan jelas. organisasi berbasis masyarakat. meski akan sangat sulit jika bukan malah mustahil. dengan kekuasaan berarti akses pada sumber daya keuangan baik secara etis maupun tidak etis. paling tidak melalui penegakan hukum dan kedewasaan politik dari pemilih. Opsi lain yang bisa dipilih adalah merevitalisasi struktur parpol-parpol nasional yang ada di tingkat lokal (setara dengan propinsi atau kabupaten/kota) agar lebih sensitif terhadap kepentingan daerah. budaya politik dari partai politik mungkin akan bergeser menjadi lebih akuntabel. . maka ormas pun rata-rata gagap berinteraksi dengan pemda yang masih meraba- . karena desentralisasi dalam tata pemerintahan tidak dapat sesegera mungkin diikuti dengan desentralisasi ormas (yang berskala nasional). targetnya adalah membangun iklim Dengan kompetitifsi yang lebih keras dalam memikat hati pemilih sehingga diharapkan. termasuk secara spesifik mengkader calon-calon pemimpin daerah yang bertanggung jawab dan memiliki jiwa kepemimpinan yang dapat membawa daerah ke masa depan yang lebih baik di tengah kompetisi global. dan membawakannya menjalankannya dalam pemerintahan. Pilihan radikalnya.3. ataupun menggalang kekuatan untuk melakukan advokasi kebijakan. 4. baik itu LSM. bila memungkinkan.

raba. Di sisi lain. maupun agama yang berbasis profesi sekalipun. bahwa pemain bisnis tidak segan-segan menempuh berbagai cara untuk mencapai tujuannya. yang sudah mulai dirintis daerah tertentu. Prosedur ini seharusnya ditegakkan untuk memastikan proses kompetisi yang sehat dan tercapai efektivitas dan efisiensi dalam mengelola sumber daya bagi kemanfaatan masyarakat. Tanpa diseminasi dan replikasi praktek penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Kembali ke konteks Indonesia. rendahnya kepemilikan masyarakat pada hasil-hasil pembangunan. BIROKRASI. organisasi massa yang berbasis warga. biasanya korupsi politik marak dalam hal favoritisme kontrak proyek pemerintah karena absennya lemahnya prosedur standar lelang beserta pengawasannya. adat. dengan demikian. yang sebagaian adalah imbas dari struktur politik masa Orde Baru yang sangat berkepentingan melakukan pengendalian aktivitas ormas. 5. dalam konteks pertarungan kepentingan daerah. Resikonya adalah turunnya kepercayaan yang menerus dari masyarakat. Di Indonesia. kepentingan-kepentingan penguasaan sumber daya merupakan isu hidup-mati bagi jajaran birokrasi karena ia merupakan semacam katup pelepasan dari . seluruh bagian dunia memiliki pengalaman mirip. Sektor swasta Sektor swasta adalah pihak-pihak yang berkepentingan untuk kebijakan ekonomi yang kondusif bagi perkngembangan bisnisnya. dan legitimasi yang rendah terhadap keberadaan pemerintahan demokratis itu sendiri. fenomena yang gampang dilihat di daerah adalah ormas memburu proyek-proyek pemerintah daerah. Karena itu. Tak jarang yang terjadi adalah praktek kolusi antara pemerintah dan pengusaha yang berakibat pada ekonomi biaya tinggi dan kompetisi bisnis yang tidak sehat. baik kepada pemerintah (LSM Plat Merah ) ataupun kepada lembaga donor asing. agama. yang sering terjadi justru kolusi dan situasi saling melindungi karena masing-masing memegang kartu as dari yang lainnya. Walhasil. lebih banyak yang merupakan warisan dari masa pra reformasi dan tidak memiliki sumber daya untuk berlanjut secara mandiri. Hanya dengan ikhtiar keras ormasormas yang lebih bertanggung gugat maka citra ormas ini bisa digeser dan diperbaiki. demokrasi di daerah tidak akan terwujud. Pengaturan dan pengawasan. Bila di banyak demokrasi maju birokrasi adalah mesin netral yang mengabdi pada pilihan kebijakan yang diambil politisi. Banyak di antara organisasi kemasyarakatan ini justru tergantung dari negara. Kepentingan seperti ini tentu saja harus dipahami namun harus dikelola kemanfaatan bisnisnya bagi kemaslahatan masyarakat luas. Dalam konteks negara-negara demokrasi baru. tidak demikian halnya tradisi pada demokrasi muda yang mewarisi budaya KKN. utamanya di mata pejabat publik di daerah yang kepalang skeptis dengan keberadaan ormas ini. lagi-lagi kepentingan politik para aktor yang terlibat lebih banyak berurusan dengan korupsi. Dalam hal ini. LSM yang diharapkan dapat menjadi pendobrak kebuntuan ini juga banyak yang terjebak pada skema ketergantungan.

Italic Formatted: Font: +Body. yaitu: i. yang merupakan lembaga perwakilan dalam sistem parlementer. c. Namun. terlebih dalam carut-marut peta kepentingan di bagian berikutnya? Terdapat dua teori besar mengenai peran anggota legislatif ini. j. f. merumuskan strategi reformasi sektor publik yang menantang di depan mata. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. menghimpun. Politisi di daerah.3. Numbered + Level: 2 + Numbering Style: a. DPRD adalah cerminan dimana kepentingankepentingan masyarakat dibawa dalam sebuah arena pengambilan keputusan politik. menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat. wakil rakyat dalam sistem demokrasi dengan pemisahan kekuasaan atau sistem presidensialisme ini. Pada akhir masa bakti. dan Memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada pemilih dan daerah pemilihannya. b. menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala. j. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. teori kebebasan (independensi/trustee) menyatakan anggota legislatif bebas mengambil keputusan berdasarkan pendiriannya. Bagaimana anggota DPRD dapat menentukan seperti apa kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat banyak sebagai fokus utama Dalam konteks sistem pemisahan kekuasaan yang dianut Indonesia. di satu sisi lain. c. Teori pertama. 22/2003 maupun setelah direvisi menjadi UU No. Menyerap. yang kedua. sehingga kuantitas pProyekproyek pemerintah pada gilirannya merupakan dijadikan peluang sarana untuk bertahan mencari tambahan sumber pemasukan ekonomi. Bold. Beberapa indikasinya misalnya dapat dilihat dalam menggariskan sepuluh rumusan kewajiban anggota DPRD kabupaten/kota pada pasal 351 UU No. Formatted: Space Before: 0 pt 5. Font color: Blue Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0.25" Formatted: Indent: Left: 0. Space Before: 0 pt. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. + Start at: 8 + Alignment: Left + Aligned at: 1" + Indent at: 1. dan k. Formatted: Font: +Body. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat. Numbered + Level: 1 + Numbering Style: a. Teori mandat dianggap tidak realistis namun kita dapat melihat semangatnya masih kuat mewarnai baik pada UU No. memang aAnggota DPRD seperti berada dalam bandul pendulum yang mengayun di antara dua kutub itu. Dibandingkan dengan wakil rakyat yang duduk di parlemen. Sementara. + Start at: 5 + Alignment: Left + Aligned at: 1" + Indent at: 1. Space Before: 0 pt. memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya.5". Font color: Blue Formatted: Font: +Body. hi. dalam jangka panjang. Memperhatikan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah. 27/2009. meski terikat dengan agenda parpol namun relatif cenderung lebih independen dari partainya. selalu terdapat perdebatan bagaimana DPRD perlu memaknai posisinya sebagai wakil rakyat atau wakil partai. Bila ia dianggap melakukan pekerjaannya dengan baik maka dia dapat terpilih. perlu menyadari lingkungan pengambilan kebijakan seperti ini sembari. 27/2009 seperti misalnya dalam Pasal 81 butir e. Italic Formatted: Font: +Body. sebagai lembaga perwakilan (legislature).5". jika tidak ia akan kehilangan kursinya. dia dapat bertanya kembali kepada konstituennya.rendahnya imbalan nominal yang diterima PNS.25" . teori mandat (delegate) meyakini bahwa anggota legislatif tidak boleh mengambil keputusan apapun yang bertentangan dengan keinginan konstituennya. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. b. dan k. Artinya.

maka anggota pun memiliki visibility yang tinggi.. Kecilnya ukuran distrik menunjukkan hasil pemilu tersebar ke banyak partai. sehingga akan terdorong untuk menyuarakan kepentingan daerah pemilihnya. huruf e dan hdan 3). mari kita cermati beberapa temuan dari pemilihan umum DPRD di 2004 dan 2009 yang kurang lebih serupa dalam konteks masalah ini.. Permasalahannya. Tab stops: Not at 1. hanya mendudukan satu orang wakilnya dari sebuah daerah pemilihan. Partai A.Dari sini tampak bahwa UU berusaha memberikan acuan bagi penyusunan tata tertib DPRD yang akan mengatur operasionalnya kewajiban anggota DPRD itu. Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. Daerah pemilihan menjadi lebih kecil. Font color: Auto Formatted: Space Before: 0 pt. dalam ketentuan mengenai pergantian antar waktu. tingginya perolehan suara beberapa calon perorangan menunjukkan bahwa memberi insentif bagi masyarakat mulai terlatih danuntuk selektif dalam menentukan siapa wakilnya. Penggunaan suara terbanyak dalam pemilu 2009 Presiden pilih langsung . kedewasaan pemilih dalam menggunakan hak pilihnya juga merupakan instrumen kontrol yang efektif bagi partai. Dalam kondisi semacam ini. Di sisi lain. Maka selain anggota. Namun demikian. UU No. namun dikhawatirkan kewenangan ini bisa digunakan oleh partai politik maupun kelompok-kelompok yang kuat pengaruhnya di dalam partai politik tertentu untuk memberlakukan politik sentimen dan favoritisme. Sementara. 1. Font color: Auto Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. Pada momen karena hanya pada saat pemilu itulah (sebenarnya) rakyat dapat menghukum atau menyambut hangat kehadiran sebuah partai politik beserta calon-calonnya. Formatted: Indent: First line: 0". dan iIni akan makin berkembang seiring dengan bertambahnya jumlah pemilu demokratis yang kita adakan.17" Formatted: Space Before: 0 pt . Kendati partai politik memang berkepentingan dengan garis kebijakan dan standar perilaku tertentu dari wakil-wakilnya di DPRD. masyarakat pemilih dari daerah pemilihan yang relevan karena telah memilih wakil rakyat tersebut. misalnya. 22/2003 ternyata memberikan kewenangan kepada partai politik untuk merecall anggotanya (Pasal 94 383 ayat 1 2. Tingginya visibility dan makin terdidiknya pemilih ini akan menyediakan insentif bagi politisi untuk memposisikan diri sebagai wakil rakyat. Partai politik di negara demokrasi mapan memiliki tradisi yang sangat menghargai kepercayaan pemilih. 2. hanya dapat memberikan pengaduan untuk kemudian diproses dalam Badan Kehormatan DPRD. Resiko hukuman atau dan ganjaran dari publik sangat mungkin diberikan akan berlaku kemudian pada waktu pemilu tiba yaitu dengan memilih kembali anggota DPRD yang dinilainya aspiratif dan sebaliknya bagi yang tidak. apa yang dapat menjadi insentif bagi para politisi untuk lebih mendengar suara rakyat daripada suara partainya? Untuk itu. Dalam konteks seperti ini. Desakan dan insentif Ia lebih merupakan isu bagi masyarakat untuk mendesak DPRD bahwa ada insentif politik yang besar bagi para politisi untuk jika menjadikan kepentingan rakyat banyak sebagai fokus utama masih belum berarti. partai pun memiliki visibility yang tinggi. anggota DPRD memang akan cenderung lebih mendengarkan partai politiknya. 3. Dikotomi wakil partai dan wakil rakyat ini diharapkan juga kian menipis karena partai pun berkepentingan mempertahankan keterwakilannya di DPRD.

5. anggota DPRD dapat berupaya melakukan pendekatan kepada rakyat sehingga posisi tawar dan akuntabilitas seorang politisi menjadi benar-benar berada di tangan pemilih. Namun. Berikut ini adalah bagan sederhana di halaman berikut untuk menggambarkan proses penyusunan kebijakan publik. sehingga partai Anda kehabisan alasan untuk mengusulkan penggantian pada pemilu depan. maka pekerjaan pun bisa segera dimulai. Sebab. Dalam konteks ini. apalagi penyusunan Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. apapun lembaga recall yang ada.: Menumpuk kekayaan. maka kemampuan yang paling penting untuk dikuasainya bukanlah teknik penulisan perundang-undangan (legal drafting). lebih baik Anda melakukannya dengan sangat baik. Mengelola kepentingan menjadi agenda politik publik Apa kepentingan utama anggota DPRD? Beberapa orang pada periode awal reformasi mungkin akan menjawab setengah bercanda. makin lama ia akan lebih mendengar pendapat umum. Italic . kalau Anda menyukai pekerjaan ini.Dalam jangka lebih panjang. bukannya sebagai alat kontrol parpol terhadap kadernya seperti di masa lalu. sekali Anda menjadi politisi.4. sSebagaimana pemilu jurdil secara berkala dianggap sebagai lembaga demokrasi paling penting. maka kepentingan tertinggi seorang politisi memang diandaikan sebagai terpilihnya kembali dirinya di jabatan publik pada pemilu berikutnya. Karena itu. Bagan Penyusunan Kebijakan Publik Formatted: Space Before: 0 pt KONSULTASI INFORMASI RISET DAN VERIFIKASI PERUMUSAN KEBIJAKAN PARTISIPASI PENGARUH LINGKUNGAN Kebijakan Publik PENGARUH LINGKUNGAN Sebagai wakil rakyat. preseden diseretnya banyak anggota DPRD ke pengadilan dengan dakwaan korupsi serta merosotnya kepercayaan partai pada anggota DPRD yang tidak bertanggung jawab pada gilirannya juga menggerogoti kepercayaan pemilih. DPRD harus selalu menggunakan proses konsultasi dan informasi untuk mendasarkan kebijakan yang diusulkannya. Bila kepentingan seorang anggota DPRD bisa didefinisikan sejelas itu.membuat anggota DPRD lebih hati-hati merumuskan kepentingannya. Jika kapasitas anggota DPRD harus ditingkatkan. kita berharap.

pemilu hanya berlangsung secara berkala. sebenarnya masalah serupa dihadapi pemegang kebijakan di semua negara demokratis. riset bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang mendukung bagi dirumuskannya tawaran-tawaran pemecahan. bisa juga masyarakat yang merasa dirugikan. Karena itu. Bisa jadi berbagai partai berbeda pendapat mengenai sebuah solusi. Seorang anggota DPRD dapat saja mengunjungi sebuah sekolah dasar dan mendapati bahwa proses belajar mengajar berlangsung namun abai bahwa yang harus dinilai adalah hasil dari proses itu. Apakah ada jaminan bahwa mereka akan dapat mengakses pendidikan yang lebih tinggi? Apakah ada pungutan-pungutan sekolah yang memberatkan orang tua siswa? Apakah ketersediaan dan mutu guru mencukupi? Apakah kesejahteraan guru sudah memadai? Apakah fasilitas sekolah penunjang pendidikan tersedia dengan baik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah contoh menunjukkan bahwa DPRD harus memiliki tanggungjawab dan perspektif masa depan dari proses pendidikan di daerahnya yang diterjemahkannya melalui pelbagai perda. Bisa jadi juga lembaga eksekutif tidak termotivasi untuk melakukannya dan mengerem usulan yang dilontarkan. Dalam proses politik ini berbagai aktor lain yang berkepentingan pun akan ikut bermain untuk mencoba berpengaruhmempengaruhi. Sementara. Riset dan verifikasi dilakukan untuk mendapatkan temuan mengenai permasalahan yang terungkap di masyarakat. Bila verifikasi meliputi pengecekan obyektif mengenai permasalahan yang dirasakan masyarakat. 5. Di sisi lain. demokrasi adalah proses terus-menerus yang ujungnya adalah lahirnya keterwakilan rakyat secara optimal dalam pengambilan keputusan publik. bisa pengusaha yang berpeluang kecipratan/mendapat bagian rejeki bila perda digulirkan. berupa lembaga perwakilan yang dipilih lewat pemilu jurdil.anggaran.5. Lebih dari itu. Ini bisa berupa LSM yang memperjuangkan proses yang lebih terbuka. pemilu tidak hanya dimenangkan terbatas hanya pada hari-hari kampanye. Keputusan publik menjadi tantangan sehari-hari para pejabat dan wakil rakyat. namun bagaimana menggali pelbagai kebutuhan yang seharusnya terungkap dalam proses ini. Lebih Formatted: Space Before: 0 pt . Kadang-kadang proses konsultasi publik pun perlu diulang untuk memastikan bahwa semua pihak sudah dicoba untuk ditampung pendapatnya dalam pembuatan kebijakan ini. Meskipun rata-rata anggota DPRD di Indonesia mengeluhkan alotnya pembicaraan dalam konsultasi publik. Dengan kepentingan yang terlalu beragam dan sumber daya terbatas. Proses politik kemudian akan menjadi arena bagi berbagai alternatif solusi yang diajukan bagi masalah tersebut. Keputusan publik diambil tidak hanya sekali dalam lima tahun. Membangun dan memelihara hubungan dengan konstituen Demokrasi tidak dibangun hanya dengan mewujudkan lembaga-lembaga demokrasi secara fisik. apalagi yang dilakukan di lokasi yang terkena dampak kebijakan. berdiskusi adalah cara tepat untuk mencari titik temunya. seperti apakah anak-anak SD itu menerima berhasil belajar sesuatu? Apakah mereka dapat menangani permasalahan matematika untuk bahan ajar yang tepatsetingkat mereka?.

yakni dengan menilai akan mulaidan mempertimbangkan apa yang dilakukan para kandidat dan partai politiknya. Namun. Menjelang pemilu. dan Mataram) memperlihatkan bahwa ternyata perilaku pemilih di perkotaan mulai bergeser. seringkali diragukan orang sebelumnya masih ragu apakah jika menjalin hubungan baik dengan konstituen maka akan terbayarkan dalam pemilu. Surabaya. Anda bBisa bayangkan. Jika pada tengah masa di antara pemilu ini terjadi skandal apapun juga yang melibatkan anggota dewan yang bersangkutan. Bandar Lampung. Bagaimana membaca kurva kepercayaan? Untuk lebih jelasnya. ketika periode kampanye berikutnya datang. Kemudian. Makassar. mulai dakwaan korupsi. Di kota-kota tersebut. Bandung. mulai muncul kekecewaan-kekecewaan. kita bisa membayangkan hubungan antara rakyat dan wakilnya dalam sebuah kurva. Walhasil. Walhasil. pekerjaan memenangkan pemilu tidak perlu sekeras gambaran sebelumnya. Dalam jangka panjang. bila tingkat kepercayaan ini terpelihara sepanjang periode di antara dua pemilu. Ya. beberapa saat setelah terpilih dan bertugas. mMerupakan fenomena global bahwa pemilih jamaknya merasa kecewa melihat kinerja wakilnya setelah duduk di parlemen. Iini berarti bahwa pemilu harus dimenangkan tidak hanya dalam masa kampanye melainkan sepanjang periode di antara dua pemilu melalui performa wakil-wakil dari partai politik yang duduk di pemerintahan. bisa-bisa kurva kepercayaan ini turun tajam menjadi semakin rendah lagi. Para calon anggota DPRD atau mereka yang ingin mencalonkan diri kembali tergoda untuk menggunakan cara-cara instan seperti Apakah masyarakat tidak cukup dismenyerbu saja dengan serbuan janji dan imingiming materi (money politic) agar pemilih memberikan suaranya. Sepanjang lima tahun terakhir kita mungkin akrab dengan banyak berita.penting lagi. Jika tercapai.untuk dimintai dukungannya? Hasil survei Indonesia Corruption Watch mengenai korelasi korupsi dan pilihan dalam Pemilu 1999 di sembilan kota di Indonesia (Jakarta. karena tentu saja sulit memenuhi janji seratus persen. kerja pada hari demi hari dalam periode panjang di antara dua pemilu. Bagaimana hubungan dengan konstituen dilakukan? Formatted: Font: +Body. masyarakat diharapbayangkan menjadi pemilih yang retrospektif. partai-partai yang dianggap relatif bersih mendapat suara lebih banyak daripada partai-partai yang dianggap tidak bisa mengusung agenda pemberantasan korupsi. Padang. tertangkap sedang mengkonsumsi narkoba sampai dengan kasus-kasus perdata. tingkat kepercayaan ini akan menurun. bila politisi di DPRD anda sudah memiliki tabungan hubungan dengan konstituen. Dalam demokrasi yang muda seperti di Indonesia. Mereka mulai mempertimbangkan kepercayaan terhadap partai politik dalam menentukan pilihannya. biasanya masyarakat akan menaruhik kepercayaan yang tinggi pada politisi. Samarinda. pemilu dimenangkan dengan kerja yang panjang. partai politik dan para caleg kelabakan memompa tingkat kepercayaan ini. dan tabungan kepercayaan dari mereka. sepanjang periode di antara dua pemilu. dengan teknik-teknik kampanye yang kian canggih. anda niscaya akan jauh lebih siap menghadapi pemilu berikutnya. Pontianak. Italic .

sarasehan. Perlu diingat bahwa kata konsultasi ini tidak akan membuat posisi anda anggota DPRD menjadi lebih rendah dalam relasi ini. Kegiatan-kegiatan seperti ini juga akan merangsang partai untuk lebih eksis pada periode di antara dua pemilu. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Anda Anggota DPRD perlu menggunakan kesempatan ini untuk memberdayakan partainya. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Kesempatan berinteraksi dengan konstituen juga merupakan ruang bagi fungsi penyediaan informasi kepada publik.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. Kepengurusan partai dihadapkan pada tantangan untuk mendukung program konstituensi yang sukses. sehingga dengan sendirinya mereka lebih suka mengambil jarak. Tab stops: Not at 0. kaderisasi internal partai akan bergulir. Di luar masyarakat secara umum yang harus anda diwakili oleh DPRD sebagai wakil rakyat yang terpilih dari daerah pemilihan tersebut. Bagi Ppartai politik. atau diskusi interaktif di radio. Dalam konteks Indonesia dan budaya lokal yang sangat kaya bahkan terdapat berbagai kesempatan potensi sosial budaya yang bisa digunakan untuk mencapai maksud ini. Mengaktifkan dan menguji struktur partai. Tab stops: Not at 0. andaanggota DPRD perlu harus berkonsultasi dengan masyarakat mengenai masalah yang mereka hadapi. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: First line: 0.  Menguatkan struktur partai. Apapun aktivitas atau kemasan yang anda diambil.. Kegiatan-kegiatan ini merupakan latihan dan pemanasan yang berguna sebelum pemilu tiba. Menaikan profil partai di depan masyarakat dan media setempat. berikut adalah substansi dari kegiatan anda di daerah konstituen andatersebut:  Melakukan konsultasi publik. anda anggota DPRD secara khusus juga perlu menemui pemilih anda. Konsultasi yang dimaksud adalah proses untuk mendapatkan informasi. sering masyarakat tidak memiliki cukup informasi untuk menilai apa yang direncanakan dan sedang dilakukan pemerintah. nNamun. baik berupa rapat umum. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. 2. Formatted: Space Before: 0 pt. Karena itu. Memang masih terdapat keluhan pada Pemilu 2004 lalu bahwa beras atau uang (money politic) yang dibagikan pada pagi hari menjelang pencoblosan suara masih lebih efektif daripada kerja-kerja jangka panjang seperti ini. anda sendiri. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. lambat laun. Dari kegiatan seperti ini juga. Sesuai dengan amanat UU.  Bertemu dengan masyarakat pemilih. Not Bold .  Mengarahkan perhatian publik pada isu dan kebijakan yang tengah dibahas di DPRD. Faktanya.. sejarah akan menilai bagaimana masyarakat pemilih pasti akan bertransformasi menjadi lebih rasional. kegiatan-kegiatan interaksi yang dilakukan anggota DPRD ini anda dapat menggunakan digunakan sebagai kesempatan seperti ini untuk: 1. peran Anda adalah menjadi Sebagai wakil rakyat.Anda DPRD bisa melakukan banyak aktivitas untuk berinteraksi dengan konstituen. misalnya dengan pelibatan kader-kader partai dalam pelbagai kegiatan andainteraktif dengan masyarakat. dan mMasyarakat yang anda temui adalah narasumber terbaik untuk mendapatkan masukan mengenai kebijakan yang perlu diambil oleh daerah.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Banyak kalangan di pemerintahan menyayangkan bahwa masyarakat kurang mampu dan atau tidak berminat untuk berpartisipasi dalam program pemerintah.5".

memverifikasi masalah yang diadukan.Pentingnya kantor konstituensi Salah satu cara untuk mengembangkan hubungan dengan konstituen sekaligus menaikkan profil diri dan. Kantor ini bersifat sebagai sekretariat yang menghubungkan antara anggota DPRD anda dan konstituen. juga profil partai politik adalah membangun kantor kontituensi (constituency office) di daerah pemilihan andasetiap anggota DPRD. Jerih payah anda anggota DPRD dapat menjadi sia-sia kalau tidak terdapat berdampak pada kenaikanya profilnya anda di hadapan masyarakat dan konstituendalam politik daerah. Kantor ini bisa lebih dari satu. Naiknya profil anda seorang anggota DPRD mencerminkan dukungan bagi kebijakan yang anda telah atau tengah diperjuangkan. Jangan pernah lupa untuk melibatkan media massa dan menggunakannya untuk kepentingan anda. jangan lupa bahwa anda setiap anggota DPRD juga harus meningkatkan profilnya anda sendiri kepada masyarakat. . dan menyebarkan informasi mengenai kegiatan-kegiatan-kegiatan anda sebagai anggota dewan. dan dukungan bagi anda akan membawa gGelombang dukungan ini akan yang lebih besar dengan melibatkan peran media massa. Jangan melupakan peran media massa Ketika anda anggota DPRD melakukan aktivitas ini dan merasakan asyiknya berinteraksi dengan masyarakat. Staf dan aktivis di kantor konstituensi dapat melakukan sejumlah kegiatan komunikasi dan interaksi publik. seperti menampung keluhan masyarakat. bila dianggap strategis.

lembaga-lembaga politik dalam demokrasi Indonesia memang harus mengembangkan dirinya untuk dapat memenuhi tuntutan jzaman. 2722/20093 mengenai Susunan dan Kedudukan MPR. anggota DPRD baru pun tak jarang menjadi kekurangan acuan dalam menemukan peran yang pas. DPRD tidak diberikan memiliki panduan dan acuan yang mencukupi untuk mengatasi berbagai kendala kebijakan dan operasional. Pasal 77 343 UU No. Apa pra kondisi yang perlu diperhatikan? Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. yakni membahas dan menyetujui anggaran daerah. dalam hal ini berbentuk perda. Tab stops: Not at 1. 3. Legislasi.1. peraturan-peraturan tersebut masih bersifat umum dan tidak secara lengkap menjabarkan bagaimana mekanisme pelaksanaan masing-masing fungsi untuk mencapai kinerja yang ideal. dimanadan praktek-praktek demokrasi belum berurat-berakar. Salah satu akibatnya. anggota DPRD sering dihujani kritik lima tahun belakangan ini bahwa mereka tidak menunjukkan peran yang disuratkan dan efektivitas yang disiratkan dalam perundang-undangan tersebut. Dasar-dasar penting Fungsi dan tugas DPRD sebagai wakil rakyat sebenarnya telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. DPD dan DPRD mengatur bahwa DPRD kabupaten/kota memiliki fungsi: 1. tetapi bagi mereka Akibatnya. yakni membentuk perundang-undangan yang mengatur kabupaten/kota. Dalam jangka pendek tuntutan yang demikian besar dari masyarakat ini kadang-kadang justru memancing sikap defensif dari kalangan DPRD sendiri dan resistensi terhadap pembaruan.BAB VI Memahami Fungsi dan Tugas Wakil Rakyat Rahmi Yunita Anggota DPRD pada umumnya dikritik karena tidak mampu melaksanakan tugas secara optimal. 6.3" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. Dalam demokrasi Indonesia yang masih muda ini. DPR. Anggaran. Ttetapi. yang merupakan refleksi rencana program pemerintahan daerah dalam bentuk angka. dan tidak menjabarkan mekanisme pelaksanaan masing-masing fungsi untuk mencapai kinerja yang mendekati ideal. mau tidak mau. kerangka hukum itu hanya meletakkan dasar-dasar acuan secara umum. 2. untuk memastikan berjalannya perundangan yang ada dan optimalnya kinerja eksekutif. Namun dalam jangka panjang. Anggota DPRD pada umumnya telah dikritik dengan mengatakan mereka tidak mampu melaksanakan tugas secara optimal. Bold . Meskipun Ffungsi dan tugas wakil rakyat telah diatur dalam peraturan-peraturan perundang-undangan. dan peraturan-peraturan pemerintah. Pengawasan. Namun.

serta yang paling buruk.5" Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt. tekanan yang besar dari pihak eksekutif. baru dapat menjalankan fungsinya dengan baik.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. 27/2009 memungkinkan adanya sistem pendukung bagi pelaksanaan tugas DPRD yang tidak hanya berupa sekretariat DPRD. namun bagi keseluruhan masyarakat di daerah. Bila pada prinsipnya. kita dapat mengatakan bahwa kita di Indonesia masih dalam proses mencari format.DPRD. untuk menjalankan tugasnya dengan baik dan bukannya bertindak berdasarkan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Tab stops: Not at 0. Motif Motif anggota DPRD untuk unjuk kinerja di hadapan masyarakat perlu didorong agar mereka dapat bekerja optimal. kelompok. Bab ini sejenak akan mengabaikan agenda-agenda yang menantang di atas yang sebenarnya menjadi konteks yang melingkupi DPRD dalam menjalankan Formatted: Space Before: 0 pt. keinginan untuk terpilih kembali dalam pemilu secara berkala dianggap sebagai motif yang cukup kuat untuk unjuk kinerja. UU Sistem pemilu dan kepartaian Politik yang masih bisa didiskusikan dan terus-menerus diperbaharuiberubah. Sarana Sarana yang dimaksud dapat berupa fasilitas yang wajar untuk melakukan tugasnya berupa. dan ini tidak sepenuhnya terjadi dalam kenyataan. Keinginan anggota DPRD untuk terpilih kembali dalam pemilu secara berkala dapat dijadikan sebagai pintu masuk agar mereka mengoptimalkan kinerjanya. kapasitas sekretariat yang jauh dari memadai. Dalam ketiga hal di atas. penegakan hukum yang jauh dari harapan. semua orang anggota DPRD memiliki kesempatan untuk diwakili dan menggunakan haknya dalam pengambilan keputusan. dukungan keahlian dan staf kesekretariatan untuk mengerjakan hal-hal teknis adminsitrasi dan anggaran. budaya politik masyarakat pemilih yang belum terlampau kejam (retrospektif) menghukum partai-partai politik yang ingkar janji. serta anggaran yang cukup baik untuk kegiatan DPRD maupun untuk sekretariat agar dapat beroperasi. Tata tertib adalah piranti untuk menuangkan prinsip-prinsip demokrasi menjadi aturan main yang memastikan bahwa. termasuk anggota DPRD di Indonesia. sebagaimana lembaga-lembaga politik lainnya. Kesempatan Kesempatan yang dimaksud adalah ketersediaan ruang dalam aturan main internal DPRD agar dapat mengoptimalkan kinerjanya. 3. UU No. bukan hanya terbatas di kalangan pemilihnya. namun juga kelompok pakar atau tim ahli yang kebutuhannya disesuaikan dengan alat kelengkapan DPRD dan kemampuan keuangan daerah. Tab stops: Not at 0. bila memenuhi setidaknya tiga hal: 1. Ini diperlukan karena banyaknya jenis dan lingkup pekerjaan yang jumlahnya tidak dapat dilakukan anggota sendirian. Peraturan tata tertib yang disusun harus memungkinkan anggota dewan dapat melakukan tugasnya dan menunjukkan kinerja yang baik. atau partainya saja. tata tertib yang belum melembaga sebagai aturan main. Dalam keadaan yang ideal. 2. lembaga politik dalam demokrasi seharusnya bertindak berdasarkan mereka yang diwakilinya maka banyak kajian dalam lapangan ilmu politik masih terus-menerus mencari cara bagaimana supaya sistem politik dapat menyediakan motif bagi para politisi. antara lain.5" Formatted: Space Before: 0 pt . DPRD di Indonesia bekerja dalam pemda yang sebagian besar bekerja dengan anggaran yang relatif sangat terbatas. Tab stops: Not at 0.

2.tugasnya. Di satu sisi. Mewakili kepentingan rakyat 6. Dengan adanya pendalaman desentralisasi ini. 27/2009 di atas. Sehubungan dengan fungsi-fungsi digariskan dalam UU N0. Kendati terdapat banyak keluhan di kalangan DPRD dan pimpinan eksekutif bahwa sebagian besar daerah diberi kewenangan besar tanpa sumber daya yang memadai. Mewakili kepentingan daerah 7. Tab stops: Not at 0. namun dalam jangka panjang desentralisasi . termasuk di tangan anda. dan 18B. 22/1999 dan UU No.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. Babak baru dalam pembangunan masyarakat Indonesia telah tiba. ketentuan ini pun mendapatkan kedudukan hukum lebih tinggi dengan penjabarandalam ketentuan mengenai pemerintahan daerah di Pasal 18.5" Formatted: Space Before: 0 pt. Bold . No bullets or numbering. Dalam konteks harapan yang besar itulah. Pembangunan masyarakat tidak lagi diatur dari Jakarta namun kini berada di tangan pemimpin di daerah-daerah sendiri. Menetapkan APBD 4. Membentuk perda 3. Lebih khusus lagi. Membuat peraturan hukum dan kebijakan dasar 2. (Pasal 1 angka 5 dan 6butir i). Membuat peraturan hukum dan kebijakan dasar Terhitung sejak 1999. Dalam tugas inilah lembaga DPRD menjadi arena dimana berbagai pandangan politik maupun pilihan pendekatan dinegosiasikan untuk kemudian dirumuskan Formatted: Space Before: 0 pt. Daerah diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (UU No. Namun kerumitan ini juga bisa dilihat sebagai tantangan yang sangat menggairahkan. Melaksanakan pengawasan berbagai kebijakan publik 5. 25/1999 maka Indonesia mengalami sebuah terobosan desentralisasi yang bisa dikatakan terbesar di seluruh dunia. 25/1999 adalah kewenangan membuat kebijakan dan perda. maka DPRD dan kepala daerah pun kini lebih bertanggung jawab atas kepemimpinan dan masa depan daerah. Membekali diri 10. DPRD sebagai pendidik politik dan demokrasi 9. tanggung jawab ini mungkin bisa dipandang sebagai tugas yang rumit. 6. 22/1999 dan UU No. Membangun sekwan yang andal 8. maka bab ini akan membahas fungsi-fungsi di atastersebut sekaligus memetakan peran-peran lain strategis yang menunggu butuh dimainkan oleh DPRD. Komitmen besar ini bahkan telah diawali melalui Ketika Perubahan Kedua UUD 1945 berlangsung pada (tahun 2000). Topik-topik yang akan diangkat adalah sebagai berikut: 1. secara umum desentralisasi dianggap membawa banyak peluang. Dengan adanya UU No. 2232/1999 2004. mungkin pemerintah daerah akan mencari-cari format untuk menjalankan pemerintahan di daerah dengan efisien. salah satu peran strategis yang dimainkan oleh pemerintahan daerah pasca reformasi dan ditetapkannya UU No. Tab stops: Not at 0. mengingat kecilnya peran daerah dalam pengambilan kebijakan sebelum reformasi bergulir. kini tanggung jawab untuk menentukan arah pembangunan daerah pun diletakkan di tangan pemda. dianggap akan membuat pemerintahan lebih akuntabel dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di daerah. Dalam jangka pendek. 18A.

2. Selain kerangka kebijakan dasar regulasi daerah yang diatur dalam Prolegda. Bentuk regulasi daerah ini adalah kerangka peraturan hukum dan kebijakan dasar dituangkan melalui perda. dokumen perencanaan pembangunan daerah berwujud tiga jenis dokumen dasar yaitu Rencana pembangunan jangka panjang daerah (RPJP). 16/2006. yang meletakkan kerangka hukum dan acuan bagi pembangunan daerah jangka waktu lima tahun. Perda selanjutnya akan menjadi alat kontrol dari DPRD untuk melihat sejauh mana kinerja eksekutif dalam mengimplementasikan perda tersebut. Pola dasar pembangunan daerah (poldas). dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP daerah dengan memperhatikan RPJM nasional. repetada dan renstra. Melalui Prolegda. Program pembangunan daerah lima tahun (propeda). yang lazimnya pada periode hasil pemilu 1999 sesuai dengan masa bakti DPRD. Tab stops: Not at 0. 32/2004. meski prosesnya dapat diajukan melalui insiatif DPRD ataupun oleh Pemda. baik yang Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. misi. kebijakan dasar lain yang perlu dikawal serius adalah terkait perencanaan pembangunan daerah. produk hukum yang bersifat pengaturan. termasuk sejauhmana peraturan-peraturan turunannya yang dibuat oleh ekesekutif (pemda) sesuai dengan ketentuanketentuan di dalam perda. Rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). Tugas ini tentu saja sangat menantang karena tanggungjawab yang harus diemban sangat luas mulai merancang anda bisa bayangkan bagaimana arah pembangunan daerah dalam jangka pendek.bersama kepala daerah menjadi dokumen daerah. Dalam Pasal 3 Permendagri No. prioritas pembangunan daerah. rencana kerja dan pendanaannya. Di sini. yakni: AKU. RPJMD disusun untuk jangka waktu lima tahun sebagai penjabaran visi. Pembentukan Perda adalah otoritas DPRD.5" Formatted: Font: +Body . Di sini. pemda memiliki otoritas untuk membuat peraturan turunan dari perda yang produk hukumnya bisa berupa pengaturan ataupun penetapan. jangka menengah. Sedangkan RKPD adalah terjemahan RPJMD untuk jangka waktu satu tahun. dan arah pembangunan daerah dengan mengacu kepada RPJP nasional. kerangka peraturan hukum dan kebijakan dasar yang dibutuhkan oleh daerah untuk waktu ke depan sudah dapat dirancang. kini merupakan tanggung jawab anda yang kemudian dikerangkai dalam regulasi-regulasi daerah. DPRD dan pemda dapat menuangkannya dalam program legislasi daerah (Prolegda) untuk kurun waktu lima tahun dan menentukan target per-tahunnya. dan Rencana kerja pembangunan daerah (RKPD). Salah satu agenda riil yang menyambut DPRD dalam hal penyusunan kebijakan daerah adalah penyusunan dokumen-dokumen perencanaan daerah jangka menengah. Dalam Pasal 150 UU No. misi. dan mungkin jangka panjang. Kedua dokumen ini harus ditetapkan bersama-sama dengan kepala daerah dan kemudian akan dijadikan acuan bagi dokumen perencanaan pembangunan tahunan. Sedangkan yang bersifat penetapan. bisa berupa keputusan kepala daerah dan instruksi kepala daerah. bisa berupa peraturan kepala daerah ataupun peraturan bersama kepala daerah yang semuanya harus didasarkan pada Prolegda. selain berupa perda. Dokumen-dokumen yang dimaksud adalah: 1. yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. RPJP daerah disusun untuk jangka waktu 20 tahun yang memuat visi. yang merupakan implementasi pada tataran konsep operasional dari poldas.

dan laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan daerah (BUMD). Hanya setelah mendapat persetujuan DPRD. Hasil dari pembahasan ini (berwujud Nota Kesepahaman) adalah dasar dari DPRD untuk mengawal proses penyusunan Raperda APBD yang akan diajukan oleh pemda dengan cara menilai sejauhmana program dan kegiatan yang direncanakan sudah sesuai dengan nota kesepahaman dalam pembahasan KUA dan PPAS. DPRD dapat melakukannya dalam rapat pembahasan laporan realisasi pelaksanaan APBD dalam semester pertama untuk melihat apakah dibutuhkan perubahan APBD. misalnya. strategi pembangunan daerah. Fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan APBD juga masih akan muncul lagi sebagai bentuk pertanggungjawaban pemda. dan program satuan kerja perangkat daerah. sebagaimana diatur dalam PP No. DPRD akan memahami dan mempertajam arah yang dikehendaki pemerintah daerah sebab dalam RPJMD telah termuat kebijakan keuangan daerah. keterlibatan DPRD akan sangat vital pada tahapan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). Sedangkan pada tahap pengawasan terhadap implementasi Perda APBD tersebut. Pemda baru kemudian dapat menyusun Raperda tentang penjabaran APBD. dengan mengacu kepada rencana kerja Pemerintah. laporan arus kas. lintas satuan kerja perangkat daerah. Pada tahap perencanaan APBD. DPRD sangat vital untuk mencermati RPJMD dari pemerintah daerah. catatan atas laporan keuangan. dan program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Ini penting karena melalui RPJMD. kebijakan umum. neraca. 58/2005. baik kesesuaiannya dengan RKPD atau dengan tantangan yang dibutuhkan daerah dalam perspektif dan temuan-temuan DPRD. Di sini DPRD dapat mengeceknya melalui pemeriksaan semua laporan realisasi APBD.dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt .

Peran DPRD dalam Penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA)
Ditetapkan per tahun

Mendagri

Pedoman Penyusunan APBD

Kepala Daerah

Menyusun berdasarkan RKPD

Rancangan KUA

DPRD

Pembahasan Rancangan KUA

KUA
Formatted: Indent: First line: 0", Space Before: 0 pt

Peran DPRD dalam Penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara KUA Pemda
1. Menentukan skala prioritas dalam urusan wajib dan pilihan 2. Menentukan urutan program dalam masingmasing urusan 3. Menyusun plafon anggaran sementara untuk setiap program

DPRD Rancangan PPAS
Program prioritas dan patokan batas maksimum anggaran SKPD untuk setiap program. Ini selanjutnya menjadi acuan penyusunan RKA-SKPD

PPAS

Formatted: Space Before: 0 pt

Kerangka dasar yang perlu menjadi orientasi Dalam menyusun dokumen-dokumen di atas, ini ada beberapa prinsip yang dapat dijadikan acuan: 1. Kerangka visioner.

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5"

DPRD perlu berpikir jauh ke depan dalam menyusun kebijakan daerah. Apa yang akan diletakkan selama lima tahun ke depan harus dapat menjadi landasan yang kokoh dan dapat diterjemahkan secara bertahap dalam rencana tahunan. bagi kehidupan anak cucu kita kelak. 2. Kerangka global. Dalam menyusun apa yang akan dibangun di daerah kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa abad 21 telah ditandai dengan globalisasi dalam skala yang tak terbayangkan sebelumnya. Terobosan pembangunan yang akan dilakukan harus peka terhadap tata persaingan dunia baru ini. 3. Kerangka proses. Untuk dapat menemukan apa yang dicita-citakan orang banyak, memenuhi rasa keadilan masyarakat luas, dan pada gilirannya membangkitkan rasa kepemilikan masyarakat di daerah, proses yang ditempuh harus melibatkan banyak orang. DPRD dapat memprakarsai pelbagai bentuk konsultasi publik, baik berupa rapatrapat umum, kuesioner maupun penelitian potensi daerah sebagai penunjang. Harus disediakan cukup waktu untuk membahas kebijakan dasar yang akan ditempuh sehingga dokumen yang dihasilkan bukan dokumen yang asal jadi dan tidak akan dapat dijadikan acuan yang inspiratif di kemudian hari. Bagaimana memahami anggaran yang sensitif gender? Hal ini yang berada di dalam wilayah kebijakan dan dapat diprakarsai oleh DPRD adalah dorongan bagi diadopsinya anggaran yang sensitif gender (gender sensitive budget). Hal yang patut diperhatikan bahwa anggaran sensitif gender bukanlah penyediaan anggaran khusus bagi perempuan. Anggaran sensitif gender adalah analisis untuk melihat dampak dari program pembangunan dan penganggaran bagi laki-laki dan perempuan serta bagi berbagai segmen laki-laki dan perempuan. Kesadaran untuk menerapkannya memang mempersyaratkan pula komitmen untuk membangun basis data yang memiliki segregasi berdasarkan aspek gender, kelompok umur, dan kelompok sosial ekonomi. Bila kebijakan ini tidak ditempuh, maka daerah beresiko terjebak pada kebijakan-kebijakan yang mungkin dianggap netral gender, padahal ia sebenarnya buta gender. Pada gilirannya pembangunan bisa berlangsung secara zalim gender (gender tidak adil) karena dampak pembangunan hanya dirasakan oleh sekelompok (kecil) masyarakat yang bisa jadi sudah lebih beruntung daripada yang lainnya . 6.3. Membentuk peraturan daerah

Formatted: Space Before: 0 pt

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5" Formatted: Space Before: 0 pt

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5" Formatted: Space Before: 0 pt

Sebagai lembaga legislasi, fungsi DPRD adalah membuat perda. Dalam konteks sistem politik Indonesiadesentralisasi, fungsi ini dijalankan bersama dengan kepala daerah. Perda harus mendapatkan persetujuan dari kedua cabang pemerintahan ini sebelum dapat ditetapkan sebagai mengikat bagi masyarakat di daerah. Dalam menyusun landasan dan arah kebijakan suatu perda, perlu dipertimbangkan beberapa hal:

1. Koridor konstitusional atau lingkungan legal tempat perundangan dibuat, termasuk tidak boleh dilanggarnya peraturan perundangan yang lebih tinggi dalam hirarki perundang-undangan di Indonesia. 2. Prioritas kebijakan daerah yang bersangkutan, seperti dokumen-dokumen perencanaan daerah yang meletakkan arah yang ingin dicapai daerah dalam jangka waktu tertentu. 3. Aspirasi masyarakat yang berkembang sehingga perda tersebut mampu mencerminkan kebutuhan dan keinginan masyarakat luas serta mendapatkan legitimasi etis, nilai, sosial dan politik dari masyarakat. Mengapa perda dibuat? Pada dasarnya, perundang-undangan dibuat untuk menyelesaikan sebuah masalah. Karena penyelesaian masalah memerlukan kerangka hukum yang ditangani bersama, maka perda adalah instrumen di daerah yang harus dipatuhi oleh semua orang yang ada di daerah, sehingga tatanan yang diinginkan di daerah dapat tercapai. Secara umum, perda dibuat untuk mengatasi permasalahan yang ada di daerah. Namun di Indonesia sudah jamak adanya pendapat bahwa sudah ada banyak aturan yang bagus namun penegakannya saja yang tidak konsisten . Demikian pula di daerah, kita sering mendengar keluhan betapa sebuah perda bak hidup enggan mati tak mau . Entah karena tidak efektif ditegakkan atau karena setelah ditetapkan dapat memancing kontroversi, tidak menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan masalah baru. Sejumlah daerah juga mulai banyak mengagendakan evaluasi peraturan daerah untuk menyortir hukum daerah ini menjadi lebih ramping dan efektif. Karena pengalaman-pengalaman di atas, maka untuk dapat menghasilkan dan menetapkan sebuah perda, utamanya yang menyangkut masyarakat luas, DPRD perlu lihai menerapkan checklist yang setidaknya mengandung pertanyaanpertanyaan di bawah ini: 1. Apa masalah yang hendak diselesaikan? Apakah merupakan masalah yang sebenarnya atau hanyalah akibat dari masalah lain yang lebih mendalam, lebih rumit dan menyangkut kepentingan lebih banyak orang? 2. Apa kemungkinan-kemungkinan solusinya? Apakah permasalahan ini bisa dipecahkan dengan menghentikan perilaku lama yang buruk atau hanya bisa dilakukan dengan mendorong perilaku baru? Apakah anda setiap orang akan serta-merta mematuhi perda hanya karena ia telah ditetapkan dan diundangkan? Bagaimana menciptakan insentif bagi orang-orang untuk mengadopsi perilaku baru? 3. Apa hasil yang bisa diharapkan dalam jangka lebih panjang? Apakah perda ini akan menyumbangkan kehidupan di daerah yang lebih baik, atau hanya penghilang gejala masalah saja? Adakah hasil sampingan (eksternalitas) yang diperoleh secara tidak langsung dari diterapkannya perda ini? Positif atau negatif? Dengan kerangka pertanyaan di atas, sebagai contoh, maka dalam penerapan retribusi, misalnya, DPRD dapat mensimulasikan berbagai aspek yang akan timbul dari diterapkannya sebuah perda. Bila sebuah retribusi adalah pendapatan bagi

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5"

Formatted: Font: +Body, Not Bold Formatted: Space Before: 0 pt

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 1.43"

Formatted: Space Before: 0 pt

perda pun harus peduli dengan pentingnya perumusan isi sehingga tafsir perda di lapangan sesuai dengan kehendak pembuat peraturan daerah.pemda. Melibatkan masyarakat secara luas berarti menabung legitimasi politik dari sebuah peraturan daerah jauh sebelum ia ditetapkan. Dengan demikian masukan-masukan yang diperoleh dari proses konsultasi ini dapat membantu memperkuat muatan perda yang disusun. apakah besarnya masih cukup kondusif bagi pertumbuhan ekonomi atau justru mematikan keinginan-keinginan investasi? Proses dasar penyusunan perda Untuk bisa melahirkan perda yang komprehensif dan lolos dari saringan pertanyaan di atas. serta pemuka masyarakat. Perda serupa dapat dibuat dalam kondisi-kondisi: 1. Italic Formatted: Space Before: 0 pt. makan waktu. dihadiri massa yang tidak jelas identitasnya . Sebagai perundang-undangan daerah. Formatted: Font: +Body. baik perorangan maupun kelembagaan untuk menganalisis raperda yang datang dari eksekutif maupun untuk membantu DPRD menyusun raperda inisiatif. Karena anggota DPRD tidak serta-merta merupakan pakar di bidang hukum. dan menguras kesabaran. Apa yang perlu diperhatikan dalam legislative drafting? Banyak perda juga mengalami kegagalan dalam pelaksanaannya karena perumusannya yang lemah. baik legislatif maupun eksekutif. yang cukup dibuat trauma dengan suasana rapat umum yang hiruk-pikuk. dalam hal ini pemda dan DPRD. Dalam bagian akhir bab ini juga diangkat kemungkinan bagi DPRD untuk memiliki staf yang menguasai bidang penulisan UU di sekretariat sebagai salah satu pilihan bagi DPRD untuk memperkuat kapasitasnya di bidang legislasi. Proses-proses serupa adalah langkah kecil dari proses panjang belajar berdemokrasi bagi pembuat kebijakan dan bagi masyarakat sendiri. DPRD tidak perlu merasa terbebani dengan keharusan menguasai teknik penulisan UU (legal drafting). Banyak pembuat kebijakan. masyarakat merupakan sumber dari gagasan dan dukungan yang luar biasa. Kadang-kadang cukup dibuat sebuah perda yang tidak terperinci untuk kemudian ditindaklanjuti dengan keputusan kepala daerah untuk menjabarkannya. DPRD selalu dapat meminta bantuan ahli. Tidak ada informasi yang cukup untuk menetapkan pengaturan yang mendetail. Namun di sisi lain. perguruan tinggi. Di masa lalu. Tab stops: Not at 0. Mengapa harus ada perda? DPRD perlu pula menimbang apakah semua permasalahan yang dihadapi daerah memerlukan perda sebagai solusinya. maka DPRD dapat memanfaatkan proses penyusunan sebuah perda secara partisipatoris. Namun demikian. pembuat kebijakan sering berusaha menghindar dari penyusunan kebijakan publik secara partisipatoris karena dipandang berbelit-belit.5" . serta diskusi yang tidak terarah. Masyarakat juga tidak hanya bisa dimaknai secara sempit dengan masyarakat luas yang cair dan tidak terorganisasi. masyarakat yang dimintai konsultasi juga dapat berupa organisasi yang relevan dengan permasalahan yang dibahas.

anggaran dijadikan acuan untuk menghindari adanya pemborosan (overspending). Sebagai anggaran sektor publik. berapa biaya atas rencana-rencana yang dibuat (belanja). Keadaan yang berubah dengan cepat sehingga perlu antisipasi perundangan yang lebih fleksibel. Sebagai instrumen pengendalian.2. 32/2004. yakni: 1. ditetapkan dengan sejumlah fungsi utama yang harus dipenuhi. Alat perencanaan. Karena itu. 3. pertama. Dengan demikian. anggaran merupakan estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran-ukuran keuangan berdasarkan capaian yang diinginkan. Dalam konteks desentralisasi.4. dan kedua. 6. Di dalam kesemua angka ini sesungguhnya menggambarkan arah dan perencanaan pembangunan yang hendak dicapai oleh suatu daerah dalam setahun yang diterjemahkan ke dalam program-program prioritas. Rencana terperinci yang terdapat pada anggaran membuat pembelanjaan yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. sebagaimana amanat UU No. 2. Perbedaan-perbedaan dalam satu daerah yang perlu penyesuaian dalam penerapannya.38" Formatted Table Mengidentifikasi selisih . berapa biaya yang dibutuhkan dan berapa atau bagaimana hasil yang diperoleh dari belanja pemerintah tersebut. dan 4. berapa banyak dan bagaimana cara memperoleh uang untuk mendanai rencana tersebut (pendapatan). karena lewat anggaran pula kinerja DPRD akan dinilai oleh masyarakat pemilih. Menetapkan APBD Secara umum. Proses pengendalian anggaran ini dilakukan dengan tahapan-tahapan: Membandingkan kinerja aktual dengan kinerja yang dianggarkan Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: First line: 0. termasuk APBD. Anggaran sektor publik. Ini penting bagi DPRD karena dari sini juga . APBD memandu rencana tindakan yang akan dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai sasaran-sasaran pemerintahan. DPRD tentu sangat sadar bahwa anggaran tetap merupakan dokumen politik karena merupakan bentuk komitmen eksekutif dan kesepakatan legislatif atas penggunaan dana publik. anggaran harus mencerminkan alokasi pendanaan. belanja yang terlalu irit (underspending) dan belanja yang salah sasaran (misapropriation). Perlunya banyak penjelasan karena sifat teknisnya atau alasan lain. korelasi dengan visi dan misi serta kemungkinan sumber pendapatan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat yang diwakili oleh anggota DPRD. APBD merupakan suatu rencana keuangan yang menyatakan. Alat pengendalian. indikator pencapaian. maka perda yang ditetapkan akan dapat menjadi landasan hukum yang kokoh bagi kehidupan kemasyarakatan di daerah. maka program-program tersebut harus mencakup urusan wajib dan urusan pilihan dari daerah bersangkutan.

10558/20050 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Anggaran dapat digunakan untuk menilai kinerja setiap unit kerja. standar satuan harga. Alat penilaian kerja. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt.38". 6. First line: 0". baik dalam pencapaian sasaran maupun dalam efisiensi anggaran. Tab stops: Not at 0. 7. Tab stops: Not at 0. No bullets or numbering. APBD disusun dengan pendekatan kinerja (prestasi kerja) yang dimulai sejak penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD). termasuk di dalamnya adalah tingkat efisiensi yang bisa dilakukan. Space Before: 0 pt.Menemukan penyebab selisih. indikator kinerja. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. 12 pt Formatted: Font: +Body. Karena itu. Kebijakan fiskal adalah usaha yang dilakukan pemerintah untuk mempengaruhi keadaan ekonomi melalui sistem pengeluaran atau sistem perpajakan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Alat koordinasi dan komunikasi. baik yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan Merevisi standar biaya atau target anggaran tahun berikutnya Dengan adanya tahapan di atas. Anggaran dapat digunakan sebagai alat untuk memotivasi manajger dan staf agar bekerja secara ekonomis. namun jangan pula terlalu rendah sehingga terlalu mudah untuk dicapai. Target anggaran hendaknya jangan terlalu tinggi sehingga tidak dapat dipenuhi. 5. 7. 4. Sebagai alat kebijakan fiskal. Bold Formatted: Indent: Left: 0. Dengan pendekatan ini. Alat menciptakan ruang publik. Berbagai kelompok masyarakat dapat menggunakan momentum penyusunan anggaran ini untuk berpartisipasi secara politik dalam kebijakan daerah. (Pasal 39 ayat (1) dan (2) dalam PP ini mengatur bahwa Penyusunan RKA-SKPD dengan pendekatan prestasi kerja dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dan keluaran serta hasil yang diharapkan dari setiap kegiatan dan program. Alat motivasi. Alat kebijakan fiskal. dan standar pelayanan minimal. proses pengendalian anggaran akan dapat menyumbang bagi perbaikan penganggaran tahun berikutnya dan berarti memperbaiki alokasi dana publik. berarti APBD harus Formatted: Indent: Left: 0. 3. Anggaran dapat disusun untuk mendeteksi kekerasan antar unit kerja dalam mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan pemda karena setiap unit kerja pemerintahan terlibat dalam proses penyusunan anggaran. analisis standar belanja.5" Formatted: Font: +Body. Pelibatanrlu bahkan mutlaknya masyarakat terlibat dalam proses penganggaran publik membuat proses penyusunan anggaran membuka ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan dan menyalurkan aspirasinya. anggaran perlu dipikirkan perannya dalam menstabilkan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. Dalam konteks desentralisasi maka daerah dapat saling belajar satu sama lain. efektif dan efisien dalam mencapai target dan tujuan organisasi yang telah ditetapkan. demikian pula masyarakat di daerah dapat membandingkan daerahnya dengan daerah lainnya sehingga tercipta kompetisi yang sehat. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. 12 pt . rencana anggaran harus menyertakan capaian kinerja. Apakah anggaran kinerja itu? Sesuai dengan PP No. Font color: Auto Formatted: Font: +Body.38".5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. 12 pt Formatted: Font: +Body. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body.

Di satu sisi penerapan anggaran kinerja ini akan memudahkan DPRD dalam meminta akuntabilitas lembaga eksekutif dalam menjalankan tugasnya serta memudahkan masyarakat melihat hasil kerja pemerintahan. fase ini berada dalam pembahasan PPAS yang rencananya diajukan oleh Pemda dengan berpedoman pada KUA yang sebelumnya sudah disepakati antara DPRD dan Pemda. karena pendekatan baru ini. kecuali di sejumlah kecil daerah yang sangat kaya. maka sekarang ini kegiatan yang akan dibiayai merupakan produk dari analisis perencanaan yang lebih panjang. 3. Karena DPRD adalah wakil masyarakat. Melaksanakan pengawasan berbagai kebijakan publik Formatted: Space Before: 0 pt. Di sisi lain. selalu berkutat dengan masalah banyaknya kegiatan pelayanan publik yang perlu dibiayai sementara volume anggaran yang tersedia sangat terbatas. Karena itu. Pertanyaanpertanyaan yang diajukan dalam tahap ini untuk membantu memprioritaskan alokasi anggaran antara lain: 1. Bila sebelumnya anggaran disusun berdasarkan kegiatan yang akan dibiayai. Apa kegiatan yang mendesak dilakukan karena menyangkut penanganan keadaan darurat dan menyangkut kebutuhan masyarakat paling mendasar? Apakah. Pelaksanaan APBD. . misalnya. Sebuah kegiatan hanya bisa dibiayai bila ia menyumbang bagi pencapaian sasaran tertentu yang sudah ada dalam dokumen-dokumen perencanaan daerah. DPRD perlu memberdayakan masyarakat dalam prosesnya. Apa kegiatan yang bisa mengundang pertisipasi sukarela masyarakat maupun partisipasi pihak swasta sehingga tidak terlalu membebani APBD? Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat terus dikembangkan lagi untuk membantu menyaring kegiatan-kegiatan yang perlu dibiayai APBD. 6. pembuat kebijakan publik termasuk DPRD selalu dihadapkan pada masalah prioritasisasi. manfaat. Pelaksanaan keputusan gubernur dan bupati/walikota. 2. Apa kegiatan yang memiliki efek pengganda (multiplier effect) lebih besar? 4. Tab stops: Not at 0. Lagi-lagi. DPRD pun dituntut untuk menyesuaikan diri. Dalam tahapan penyusunan APBD. Semua belanja yang dikeluarkan senantiasa berhubungan dengan sebuah kinerja yang akan dapat dievaluasi.mencerminkan bagaimana sebuah keluaran (output). dan dampak tertentu dapat dicapai dengan sebuah masukan (input). hasil.5" Formatted: Space Before: 0 pt Pasal 18 42 ayat 1 butir f UU No. 2232/1999 2004 mengamanatkan pada DPRD untuk melakukan fungsi pengawasan terhadap lima hal: 1. ada masalah keamanan di daerah yang harus diatasi? 3. Apa kegiatan yang lebih sesuai dengan dokumen perencanaan daerah? apa kegiatan yang menyumbang tercapainya sasaran tertentu yang sudah disepakati dan menjadi komitmen bersama? 2. Pelaksanaan perda dan perundang-undangan lainnya.5. Bagaimana melakukan prioritasisasi? Pemda dimanapun di penjuru dunia. DPRD hanya akan mengetahui apa yang terbaik bagi masyarakat di daerah dengan cara bertanya pada mereka. sebagaimana dalam penyusunan kebijakan publik.

fungsi pengawasan dapat menyumbangkan hasilnya bagi fungsi legislasi. KPK. Pelaksanaan kebijakan daerah. 22/1999. apalagi dalam konteks penerapan anggaran kinerja. serta sementara Formatted: Space Before: 0 pt . proses pengawasan dan diskusi di antara para anggota akan berjalan cukup mendalam. pemda sendiri secara internal melalui Bawasda dan Inspektorat. maka DPRD dengan sendirinya akan sangat terbantu dalam melakukan dua aspek pengawasan pelaksanaan APBD ini. Pelaksanaan Kerjasama internasional di daerah.4. Melalui komisi. semangat pengawasan oleh DPRD meliputi dua hal: Pertama. pengawasan atas pelaksanaan pembangunan. terutama pelaksanaan APBD. Di satu sisi ia harus membidik isu korupsi oleh eksekutif dan penyalahgunaan kewenangan atau dana pemerintah. DPRD hasil Pemilu 1999 merupakan DPRD pertama yang menjalankan kewenangannya menurut UU No. tampak di sini bahwa fungsi pengawasan akan menjadi berhubungan erat dengan fungsi penganggaran dan fungsi pembentukan kebijakan daerah berikutnya. Bagaimana fungsi pengawasan ini dilakukan? Secara terus-menerus DPRD dapat melakukannya melalui komisi-komisinya yang membidangi hal-hal yang cukup spesifik. adalah kewenangan pengawasan berjalannya kebijakan dan peraturan daerah oleh eksekutif. demikian keluh pejabat eksekutif di banyak daerah. Pemda mengeluhkan agresivitas DPRD dalam menjalankan fungsinya ini. Dengan demikian. Apakah alokasi anggaran telah membawa hasil sesuai yang diharapkan dalam perencanaan? Apakah prioritas-prioritas pembangunan terlaksana? Bagaimana efisiensi dan efektivitas bisa ditingkatkan? Sekali lagi. Apakah peraturan yang lama telah berjalan dengan baik? Apakah ada celah di lapangan yang membutuhkan pengaturan tertentu dalam bentuk peraturan baru? Kedua. Sebagaimana disuratkan dalam UU. dapat tercapai keseimbangan fungsi pengawasan penyelenggaraan pemerintahan antara yang dilakukan oleh BPK dan jajarannya. 5. dapat diterapkan dengan baik di lapangan atau tidak. keluhan ini juga menunjukkan bahwa peran pengawasan DPRD telah mulai berjalan. Sisi yang lain. DPRD sudah bukan mengawasi lagi. bahkan penyelidikan. Meskipun keluhan ini dapat menyiratkan kesan bahwa DPRD memang telah bertindak overacting dalam melakukan fungsinya. Salah satu kewenangan DPRD yang berubah drastis sejak 1999 sampai kini. tapi sudah masuk ke wilayah pemeriksaan. Dengan demikian. berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas bekerjanya pemerintahan. baik itu berupa peraturan daerah maupun keputusan kepala daerah. Wilayah pengawasan DPRD dapat mencakup beberapa hal. sebagaimana lazimnya diharapkan dari demokratisasi. ke depan. DPRD dapat menilai apakah sebuah perundangan. Dengan adanya komisi maka DPRD dapat mengerjakan banyak agenda sekaligus. pelaksanaan fungsi pengawasan ini dipandang kontroversial. pengawasan atas dilaksanakannya perundang-undangan dan kebijakan daerah. dan secara politik oleh DPRD. sehingga anggota DPRD dapat melakukan pembidangan kerja dan memfokuskan perhatiannya dalam bidang yang spesifik. Dengan diterapkannya anggaran kinerja. Pada lima tahun pertama transisi demokrasi tersebut. sehingga pemerintah bertanggung gugat (akuntabel) terhadap masyarakat atas apa yang dilakukannya.

Sebagai wakil rakyat. Karena itu. termasuk melakukan pengawasan. sehingga keputusan-keputusan yang lahir dari DPRD adalah yang paling representatif. Nnamun bila fungsi ini dilakukan tanpa mekanisme representasi yang efektif. teknik-teknik konsultasi dengan masyarakat dan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan memang menjadi salah satu langkah utama dalam upaya menegakkan demokrasi di seluruh dunia. Mewakili kepentingan rakyat Kita masuk pada fFungsi berikutnya yang sebenarnya sangat mendasar dalam demokrasi perwakilan yakni adalah fungsi representasi. Karena itulah. tidak jarang dan sangat bisa jadi kepentingan tersebut bertentangan satu sama lain. maupun aspek pemerintahan lainnya. Hasil pengawasan ini harusnya bermuara pada penyusunan kebijakan/peraturan daerah untuk menangani kelemahan yang masih ditemui baik mengenai sebuah program pembangunan. kesamaan partai/afiliasi politik antara kepala daerah dengan dan mayoritas anggota DPRD tak terhindarkan lagi akan mempengaruhi corak pengawasan yang akan dilakukan. anggota DPRD bukannya diharapkan dapat menjadi manusia serba bisa untuk dapat memenuhi harapan masyarakat di daerah. proses pemerintahan daerah akan menjadi siklus belajar kolektif yang terus-menerus dan terus meningkat. . maka keterampilan yang harus dikuasai tersebut adalah bagaimana berkonsultasi dengan masyarakat yang diwakilinya.6. kendati skenario yang pertama memungkinkan ketegangan antara lembaga legislatif dan eksekutif yang nantinya(namun tidak akan bisa saling menjatuhkan). membuat kebijakan. utamanya karena layak diragukan bahwa DPRD bertindak mewakili masyarakat secara keseluruhan. Masyarakat memiliki banyak kepentingan yang .anggota DPRD juga cepat atau lambat akan menguasai permasalahan yang secara khusus ditanganinya. Masalahnya. perda. bila kepala daerah dan mayoritas anggota DPRD memiliki afiliasi politik yang sama. DPRD akan memiliki insentif untuk melakukan pengawasan dengan yang ketat dengan harapan akan menguak kelemahan yang dimiliki kepala daerah. DPRD dapat saja melakukan fungsi-fungsi sebelumnyalainnya seperti. bisa jadi kedua cabang pemerintahan akan berkonspirasi untuk tampil cantik di depan publik. Dalam konteks Ketika kepala daerah sudah akan yang dipilih secara langsung nantisaat ini. Di sisi lain. 6. Karena itu. Namun demikian. Ujung-ujungnya. lembaga dan proses politik di DPRD diharapkan mampu menyelesaikan semua masalah yang muncul di daerah. Bila DPRD bisa melakukan fungsinya ini dengan baik. . masyarakat bukanlah kelompok yang homogen. pengaturan. Bila aAnggota DPRD harus menguasai sesuatu keterampilan. maka yang dituju sebenarnya adalah pemerintahan daerah yang lebih akuntabel dan efektif. namun ini ia cenderung dikehendaki dalam sistem presidensial karena lebih memastikan berjalannya fungsi pengawasan oleh masyarakat melalui DPRD. maka sistem ini akan kehilangan nilai demokratisnya. semangat yang ada dan prosedur yang disusun dalam DPRD harus dapat memfasilitasi peran ini. Bila kepala daerah berasal dari partai/afiliasi yang berbeda.

Dalam tabel di bawah. Mewakili kepentingan daerah Dalam sistem negara yang terdesentralisasi Indonesia mutakhir. pemda propinsi dan pemerintah pusat. DPRD akan kesulitan mengatasi berbagai keluhan masyarakat. 5/1974. fiskal serta politik. dalam struktur pemerintahan daerah saat ini. diskusi.5" Isu Umum 2. yaitu. maka hubungan antara daerah dengan pusat telah memasuki babak baru. Sering masyarakat frustasi karena aduannya ditanggapi komisi yang tidak relevan. pasca lahirnya UU No. 32/2004.7. Dengan kewenangan untuk memberikan sebagai besar pelayanan publik. Terkadang. DPRD dapat mencari terobosan-terobosan baru dalam memastikan bahwa keputusan-keputusan yang diambilnya selalu berusaha memenuhi substansi prinsip keterwakilan ini. Formatted: Space Before: 0 pt . tidak mengenal hierarki seperti UU No. 1. dengan keluhannya apalagi sedangkan pihak yang relevan sedang tidak berada di tempat.5" DPRD perlu bekerja dengan sekretariat dewan untuk memastikan bahwa terdapat mekanisme untuk bersikap peka terhadap permasalahan masyarakat sekaligus responsif terhadap tuntutan-tuntutan mereka. 2232/1999 2004 dan UU No. Oleh sebab itu. DPRD juga tidak memiliki antisipasi mekanisme verifikasi berbagai keluhan masyarakat yang bertentangan satu sama lain. 1. Tanpa mekanisme yang disusun untuk mengantisipasi hal-hal yang harus direspon dengan cepat.di Jakarta. Penerimaan aduan melalui kantor konstituensi Kotak pos pengaduan Formatted Table Isu Khusus 1.halaman berikut ada beberapa contoh kegiatan yang bisa dilembagakan untuk memastikan bahwa DPRD memiliki berbagai jalan untuk mencari dan menerima masukan dari masyarakat. dll. 5. 2. 3. 4. Pasca 1999. Formatted: Tab stops: Not at 0.Secara umum. 2. konsepsi hirarkhi pemerintahan mulai diubah dengan memberikan lebih banyak tekanan pada munculnya kemandirian daerah (otonomi daerah). format kekuasaan di bagi secara bertingkat salah satu hubungan politik yang lain adalah antar jenjang pemerintahan yang dijalankan dengan prinsip prinsip otonomi. yang saat ini dikerangkai dua undang-undang utama. Dengan format baru adanya desentralisasi dan otonomi daerah. dalam konteks ini. 2533/1999 2004 yang membawa desentralisasi administrasi. 22/1999 yang kemudian diganti dengan UU No. Formatted: Tab stops: Not at 0. Proaktif: Jemput Bola Undangan rapat dengar pendapat (RDP) ke kelompok-kelompok kepentingan RDP umum (public hearing) Kunjungan ke lapangan Pengadaan jajak pendapat kepuasan pelayanan publik Reaktif: Tunggu Bola Mekanisme penanganan unjuk rasa Mekanisme penanganan permohonan pertemuan mekanisme penanganan undangan seminar. DPRD bersama pemda praktis menjadi pun menjadi ujung tombak perjuangan kepentingan daerah di depan dua jenjang pemerintah lainnya. 6. dimulai Kata jenjang di sini mungkin tepat karena UU No.

Atas nama jaminan untuk menyediakan pelayanan publik yang setara di seluruh tanah air. Asosiasi Pemerintahan Kota seluruh Indonesia. perluasan jaringan dan penyebaran informasi. Demikian pula pemda. Karena itu ADEKSI dan ADKASI selalu aktif dalam diskusi kebijakan tingkat nasional. perhatian pada pentingnya peningkatan kapasitas staf teknis sangat besar. namun tak pelak lagi advokasi kebijakan merupakan fungsi yang kunci bagi asosiasi. perhatian .daerah kini menyandang tanggung jawab baru yang praktis juga membawa permasalahan tersendiri dalam bidang anggaran. Dengan adanya ADEKSI dan ADKASI. khususnya yang berimplikasi pada di antaranya adalah mengenai revisi UU tentang pemerintahan daerah dan aspek-aspek yang relevan dalam paket UU Politik. Anehnya. daerah dapat berbagi informasi dan prespektif mengenai perbedaan kepentingannya dan . APKASI.di Jakarta. ADEKSI dan ADKASI Pada Juli 2001. Lazimnya di seluruh dunia. Karena perbedaan kepentingan antar daerah inilah. Dengan adanya asosiasi pemerintahan daerah. Asosiasi ini menjadi wadah bagi DPRD Kabupaten dan Kota seluruh Indonesia dan anggotanya. APEKSI.8. kemudian merumuskan strategi advokasinya bagi kompromi kepentingan terbaik bagi daerah. walikota dan gubernur. maka peran yang disandang daerah adalah advokasi untuk mendapatkan pembagian yang lebih adil. dan APPSI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten seluruh Indonesia. Membangun sekwan yang andal Semua orang dengan mudah sepakat bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan. baik dalam besaranya dana alokasi dari pemerintah dalam formula bagi hasil pendapatan yang diperoleh di daerah. Asosiasi DPRD Kota seluruh Indonesia (ADEKSI) resmi berdiri dan bulan berikutnya Asosiasi DPRD Kabupaten seluruh Indonesia (ADKASI). Dalam konteks inilah maka asosiasi pemerintah daerah menjadi relevan. hal ini merupakan langkah penting maju dalam hubungan antar pemerintahan di Indonesia. DPRD perlu memperdulikan setting politik bahwa pemerintah pusat pun memiliki kepentingannya sendiri. maka sering pemerintah nasional (pusat) di negaranegara desentralis untuk mengadu domba pemdanya. Formatted: Space Before: 0 pt 6. dibutuhkan organisasi yang kuat. dan Asosiasi Pemerintah Propinsi seluruh Indonesia) adalah asosiasi serupa yang menjadi wadah bagi pemda untuk memperjuangkan kepentingannya yang dipimpin bupati. maka kepentingan daerah dapat didiskusikan dan dikerucutkan sebelum diperjuangkan. maupun dalam keleluasaan mengeluarkan kebijakan fiskal. Meskipun asosiasi dapat menjadi wadah yang efektif untuk penguatan kapasitas anggota. pemerintah pusat dapat mengeluarkan berbagai argumen untuk menangkal kepentingan-kepentingan daerah yang berbeda-beda. Dalam memperjuangkan kepentingan daerah. Kecuali daerah dapat bersatu mengagregasikan kepentingannya untuk mendapatkan kompromi terbaik dalam melakukan tawar-menawar dengan pemerintah pusat. Kendati di Indonesia asosiasi pemerintahan daerah masih terbagi-bagi dalam berbagai organisasi.

sekretariat hanyalah merupakan sarana agar DPRD dapat menunjukkan kinerja yang baik.sebesar ini seringkali luput diberikan bila kita membicarakan lembaga sekretariat DPRD. DPRD harus memiliki kendali penuh atas dukungan administratif yang disediakan untuknya. Karena itu. Dengan demikian. Untuk itu. DPRD dapat memperoleh dukungan sesuai dengan yang diperlukannya dari Sekretariat. Namun. 2. sering membuat DPRD sering tidak memiliki waktu mencari informasi di perpustakaan dan mempelajarinya sebagai bahan untuk pengembilan keputusan. DPRD dapat memiliki staf khusus yang melakukan riset dan menyediakan informasi yang diperlukan oleh anggota dalam format yang mudah dipahami. Tugas anggota DPRD adalah membuat keputusan-keputusan. Sekretariat DPRD harus memiliki staf yang andal. yang dipahami sebagai organisasi pendukung kinerja DPRD dan anggotanya. dan yang terpentingjuga keterwakilan. Anggota DPRD yang dipilih karena popularitas dan kepercayaan pemilih kepada yang bersangkutan untuk memikirkan dan mengambil keputusan mengenai masalah-masalah publik sangat bisa jadi tidak memiliki kemampuan dalam hal teknis legal drafting. Italic . Banyaknya urusan. Dukungan harus tersedia untuk menjamin fungsi-fungsi legislasi. Tab stops: Not at 1" Formatted: Font: +Body.  Staf legal drafting. kebijakan yang memprioritaskan sumber daya yang ada merupakan kewenangan dari DPRD sendiri untuk memenuhi tuntutan akan kinerjanya. pengawasan. yakni staf yang menyediakan dukungan koordinatif dan administratif bagi kerja DPRD. -bahkan kadangkadang memang sengaja diperumit untuk menggolkan tujuan politik tertentu. Keputusan yang baik hanya bisa dilakukan jika dan untuknya diperlukan didasarkan informasi yang memadai. DPRD harus memiliki kekuasaan penganggaran bagi kegiatan maupun fasilitas yang disediakan oleh sekretariat. Seperti yang sudah disinggung di awal bab ini. Namun sSkala dukungan yang disediakan oleh dan melalui sekretariat ini sangatlah besar dan karenanya memainkan peran yang kunci. Sekali lagi. Adanya staf khusus yang dapat membantu anggota menyediakan analisis anggaran akan mengefektifkan fungsi penganggaran dan pengawasan anggota.  Staf riset. mencakup:  Staf manajerial dan administrasi. DPRD sering tidak memiliki cukup banyak waktu untuk memahami hal-hal mendetail yang kadang-kadang diajukan pihak eksekutif. Jalur ini juga harus menjadi jalur satu-satunya. DPRD harus memiliki jalur pendelegasian dan pertanggungjawaban dengan sekretariatnya. Sebagai daerah yang sedang membangun dan baru meletakkan dasar-dasar pembangunan daerah pasca UU No. sebagai pembuat keputusan. baik dari segi pendelegasian.  Staf analisis anggaran. akuntabilitas. maupun penganggaran. Formatted: Space Before: 0 pt. 22/1999. Bbukan pula tugas anggota DPRD untuk mempelajari detil teknis bagaimana menulis perundang-undangan. sekretariat yang andal harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. budgetinganggaran. Sekretariat DPRD dapat memiliki staf khusus yang dapat menerjemahkan kebijakan menjadi dokumen perundang-undangan yang baik. Dengan demikian.

Dalam keadaan seperti ini. UU No. Setelah penetapan target tahunan. dan kemerdekaan berorganisasi. Perlu diingat bahwa program penguatan sekretariat ini harus terkendali. 6. Not Italic Formatted: Space Before: 0 pt Pengembangan sekretariat DPRD. fraksi merupakan agregasi kepentingan politik yang harus diakomodasi dalam demokrasi. Diperlukan tidaknya staf fraksi sebenarnya dapat diserahkan pilihan dan pendanaannya pada fraksi sendiri karena tidak etis bila penyediaannya diambil staf fraksi dengandari APBD. Kebanyakan sekretariat DPRD di Indonesia saat ini tentu masih bekerja dengan sarana dan sumber daya manusia yang masih terbatas. Di sisi lain. kemerdekaan pers. maka ia benar-benar disediakan fasilitas untuk menjalankan fungsinya dengan baik. DPRD dan sekwan dapat menyusun sebuah rencana pengembangan SDM untuk mendekati kondisi yang diinginkan dalam satu masa bakti. bahkan bilameskipun anggaran yang tersedia memadai. komisi perlu dilengkapi dengan staf yang dapat membantu anggota komisi melakukan tugas sesuai lingkup komisinya. Sebelum praktek staf ahli komisi ini diperkenalkan. bila anggaran memungkinkan. yaitu terukur dampak dan kemanfaatannya. DPRD perlu memikirkan kelebihan dan kekurangan dari penyediaan fasilitas ini. Karena itu. posisi ini sayangnya belum diakomodasi bagi anggota DPRD. Formatted: Font: +Body.9. akan merangsang lahirnya fraksi-fraksi berukuran kecil yang tidak membebani anggaran sekretariat. mungkin perlu dibuat analisis apakah staf yang akan direkrut bersifat permanen atau yang menerus lebih baik dan efisien secara anggaran atau staf yang bekerja secara adhoc saja saat dibutuhkanketika agenda kerja DPRD membutuhkannya.  Staf pribadi anggota legislatif. komisi memerlukan dukungan staf ahli untuk dapat menjalankan tugasnya. bertambahnya fasilitas maupun staf khusus di DPRD seyogyanya tidak menjadi tujuan dalam dirinya namun menjadi sarana bagi kinerja DPRD yang lebih baik di mata masyarakat. Karena anggota legislatif tertentu merupakan wakil satu-satunya dari daerah pemilihannya. yaitu. pengembangan kapasitas SDM sekretariat mungkin akan terasa mahal bila dilakukan sekaligus dalam satu tahun anggaran. Karena itu. Staf ini lazim dikenal di demokrasi mapan utamanya yang menganut sistem pemilu distrik wakil tunggal. misalnya. Sebagai badan alat kelengkapan yang memegang peran penting dalam pelaksanaan tugas-tugas DPRD. DPRD sebagai pendidik politik dan demokrasi Indonesia telah mengalami masa dimana tidak ada pemilu jurdil.  Staf fraksi. Dampak dari setiap investasi yang ditanam harus dapat dilihat pada setiap tahunnya. maka anggaran dapat dialokasikan untuk mencapai target penyediaan sarana atau keahlian tertentu. Untuk meningkatkan legitimasi politik DPRD. Dalam konteks regulasi saat ini. Karena itu. Reformasi 1998 telah membawa perubahan dengan mendorong demokratisasi: Perubahan paket UU . Staf komisi. 27/2009.

Bila dalam keadaan pertama masyarakat sudah frustasi dan enggan beranjak ke keadaan kedua. Sebagai pemimpin masyarakat pada masa-masa transisi yang sulit ini. Sebagian besar kegagapan dan kegalauan ini lahir karena demokrasi perlu waktu sebelum bisa mendatangkan hasil yang memuaskan. maka proses belajar ini akan terputus dan demokrasi tidak akan membawa perubahan ke keadaan yang lebih baik. Ada banyak hal yang bisa dilakukan DPRD. ataukah desentralisasi sebagai penyebab naiknya berbagai retribusi dan menurunnya kualitas puskesmas di dekat rumah? Masyarakat juga perlu belajar bahwa demokrasi mengandaikan bekerjanya fungsi kontrol dari pemilih untuk memastikan bahwa pejabat publik akan bertanggung gugat (akuntabel) terhadap masyarakat. 32/2004 dan UU No. Masyarakat dapat memilih sendiri pemimpin-pemimpinnyakepala daerah dan merekalah yang kemudian bertanggung jawab terhadap nasib masyarakat di daerah. terjadi pula desentralisasi politik kepemimpinan daerah. serta rangkaian perubahan UUD 1945 yang diharapkan meletakkan dasar bagi Indonesia yang lebih demokratis. Mengubah praktekpraktek buruk di masa lalu dan membangun pranata baru bukan proses yang secepat kejatuhan penguasa lama dan usai hanya dengan sekali dua atau tiga kali pemilu demokratis. Namun. Karena itu. Agen sosialisasi politik yang dialami seorang warga masyarakat adalah keluarga. praktek politik di daerah dengan sendirinya sebenarnya merupakan pendidikan politik dan demokrasi pada masyarakat. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk . DPRD harus memastikan bahwa masyarakat pun belajar melakukan fungsi kontrolnya. teman sebaya. Desentralisasi dan demokratisasi di daerah kewenangan yang membesar dan berimbangnya kewenangan eksekutif dan legislatif. Demikian pula potret di daerah. secara tidak langsung.adalah memastikan bahwa masyarakat tidak frustasi dengan keadaan sekitarnya. tak urung ada banyak keluhan yang mengemuka. lepas dari rasa syukur akan capaian-capaian yang sudah diraih pada enam tahun pertama reformasi. Bersamaan dengan demokratisasi Indonesia juga lahir devolusi kewenangan dari pusat ke daerah melalui UU No. pemilu yang relatif demokratis (setelah absen 35 tahun).justru dikecam telah sukses mendesentralisasikan korupsi. Yang menjadi krusial pada masa-masa transisi seperti sekarang dimana negara tidak lagi dapat memaksakan kehendak seperti dulu namun masyarakat juga tidak dapat mengharapkan subsidi dari negara. Dengan diterapkannya UU barupembaruan dalam pengaturan pemerintahan daerah ini.Politik. 25/1999 yang kemudian disempurnakan menjadi UU No. mana yang akan lebih banyak dipelajari oleh masyarakat: Demokrasi di daerah sebagai sarana mendekatkan masyarakat pada pengambilan kebijakan yang berpengaruh pada dirinya. Dalam situasi politik seperti ini. ada juga yang sudah enggan kembali ke masa lalu namun belum menemukan pegangan tentang apa yang harus dibangun dibagi masa depan. sekolah dan media massa. Praktek-praktek buruk yang dulu kita kecam kini justru merebak dan hadir di depan mata. 33/2004. Karena dua proses ini berlangsung bersamaan. 22/1999 dan UU No. Ada beberapa resistensi atau keengganan untuk menerima nilai-nilai baru yang dianggap semua semau sendiri sehingga penuh ketidakpastian.

memastikan bahwa lingkaran belajar masyarakat di daerah ini tidak terputus. seperti dalam mengikuti siklus sebagai berikut: .

5. Mendorong keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan. antara lain dapat dilakukan dengan: 1. ia akan merasa bangga bahwa ia telah mengambil keputusan yang terbaik. Ini tentu harus disikapi sebagai sebuah tantangan. Pada dasarnya persidangan ini sifatnya terbuka (kecuali dinayatkan tertutup oleh DPRD). Memastikan terbukanya sebanyak mungkin persidangan DPRD kepada masyarakat.5" Formatted: Space Before: 0 pt . termasuk dalam pencegahan korupsi dan pengadaan barang-barang publik skala besar. Kepemimpinan kolegial dianggap merupakan sarana dalam demokrasi yang memungkinkan keputusan yang diambil setelah melalui proses pembahasan dan penggodokan yang serius dan matang. APBD. Mendorong berkembangnya media massa yang bebas. Ia akan merasa bangga bahwa ia tidak tergoda untuk mengorbankan cita-cita orang banyak bagi kebaikan daerah hanya karena demi kepentingan pribadi dan kelompoknya semata.(I) Persepsi masyarakat akan Keadaan sekitarnya (I ) Praktek pemerintahan yang lebih baik Karena itu. 6. Memastikan adanya mekanisme transparansi bagi publik. dan dokumen perencanaan daerah.10. Memastikan adanya akses bagi masyarakat untuk mendapatkan dokumendokumen publik seperti perda. Membekali diri ' (II) Dorongan bagi partisipasi masyarakat dalam pemerintahan (governance) (III) Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam aspek-aspek pemerintahan Formatted: Tab stops: Not at 0. Kota-kota besar dengan jaringan internet luas dapat menggunakan website untuk menjalankan fungsi ini. Ia akan merasa bangga. 3. bertahun-tahun dari sekarang. Menyelenggarakan RDP dan jajak pendapat mengenai rancangan kebijakan dan perda. karena ia telah meletakkan suri tauladan sebagaimana yang diharapkan datang dari masyarakat yang beradab dari para pemimpinnya. ketika ia melihat buah dari landasan yang diletakkannya hari ini. 2. sehingga DPRD dapat lebih mengoptimalkan ruang ini. DPRD perlu mendorong praktek-praktek yang memastikan tata pemerintahan yang baik dalam arti luas. 4. 6. DPRD perlu menyadari bahwa keberadaannya sebagai kepemimpinan kolegial (kolektif) bagi daerah menjadikannya lembaga yang sangat penting bagi pengambilan keputusan di daerah. Setiap anggota DPRD harus mencamkan dalam dirinya.

bahkan seringkali dikehendaki. kepemimpinan politik belum memiliki ladang penyemaian yang subur dan membuahkan kader-kader yang dapat membawa daerah danerah masyarakatnya ke masa depan yang lebih baik. Kondisi ini mengakibatkan akumulasi pengetahuan dari politisi-politisi yang telah berpengalaman praktis tidak terwariskan dengan masif pada periode berikutnya. di dalam budaya politik Indonesia. Pergantian anggota DPRD adalah sesuatu yang niscaya. maka ruang-ruang sidang DPRD hanya akan menjadi tempat belajar dan anggaran DPRD hanya akan dihabiskan untuk pembekalan anggotanya. Bahkan untuk para anggota DPRD yang sudah menjabat selama beberapa periode. Formatted: Space Before: 0 pt . dalam sistem demokrasi yang menggunakan pemilu sebagai mekanisme rekrutmen politik. apalagi dengan tanggung jawab yang luas datang dari UU pemda serta tantangan konteks globalisasi dewasa ini. Sementara itu. Dan kKetika proses belajar usai. praktis hanya periode 1999-2004 yang mencerminkan tantangan yang akan terus dihadapi ke depan ini. Namun iIni justruga berarti. Jika para anggota DPRD tidak mengerjakan pekerjaan rumah nya untuk membekali diri.Daftar panjang fungsi di atas dan penjabarannya rasanya merupakan tantangan yang sangat menggairahkan namun sekaligus berat untuk dihadapi. Sementara. Partai politik juga perlu memikirkan perannya sebagai persemaian pemimpin-pemimpin daerah yang akan menyandang peran penting dalam penguatan desentralisasi di Indonesia ini. Parpol perlu merumuskan strategi yang lebih menyeluruh tentang bagaimana dapat disediakan dukungan terus-menerus bagi wakil-wakilnya di DPRD. anggota DPRD harus membekali dirinya sehingga ia cepat mengadaptasikan diri dengan tuntutan-tuntutan tugasnya yang penting dan strategis ini. Keadaan ini tentu tidak perlu disesali. hasil pemilu 2004 pun sering ditandai dengan pergantian banyak anggota DPRD termasuk dan sama banyaknya partai politik yang berhasil duduk di DPRD. tidak hanya pembekalan intensif pada awal periode saja. waktu menjabat sudah terlanjur akan habis dan masyarakat mungkin sudah kehilangan selera untuk kembali memberikan suaranya.

dan ini dapat dimulai dengan penerapan prinsipprinsipnya. Karena itu. komitmen penerapan tata pemerintahan yang baik perlu ditanamkan dalam DPRD. Penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik Kendati dengan banyak tarik-menarik di daerah. mungkin yang terjadi adalah kekurangsiapan untuk menempatkan sistem check and balance pada proporsi yang sesuai. Dalam menjalankan tugasnya. Formatted: No bullets or numbering. DPRD tentu perlu tak hanya menyuarakan tuntutan akan meningkatnya kinerja pemerintaah namun juga wajib menerapkan tata pemerintahan yang baik dalam dirinya. Bagaimana menerapkan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik? Tentu saja sSebuah kegiatan dapat mengandung sejumlah penerapan prinsip tata pemerintahan yang baik jika memenuhi prinsip-prinsip berikut: Berikut contohcontohnya: 1. Saking besarnya. Italic Formatted: Font: +Body. Partisipasi masyarakat dalam penyusunan kebijakan maupun pengalokasian anggaran akan menyumbang bagi legitimasi produk DPRD dan keberadaan DPRD sendiri sebagai lembaga politik. Padahal. Penegakan hukum. Pada kondisi era reformasi ini. sehingga dapat menjadi panutan bagi semua lembaga tata pemerintahan di daerah. Italic Formatted: Font: +Body. Tab stops: Not at 0. Tab stops: Not at 0. Italic Formatted: Font: +Body. baik untukbagi dirinya sendirinya maupun dalam upaya memfasilitasi para pelaku tata pemerintahan lainnya di daerah. Italic Formatted: Font: +Body. Partisipasi. DPRD perlu menjunjung tinggi peraturan tata tertib dalam menjalankan tugasnya serta patuh pada hierarki perundang-undangan dalam menyusun pelbagai kebijakan daerah. Banyak pihak bahkan mengatakan bahwa kekuasaan DPRD terlalu besar sehingga lembaga eksekutif pun beranggapan bahwa adalah sulit untuk bekerjasama dengan DPRD yang dinilai kadang kebablasanmempunyai kekuasaan sebesar itu. DPRD perlu dibangun menjadi lembaga yang bersih dan berwibawa. Untuk dapat meraih wibawa di mata publik. DPRD memiliki dan menerapkan mekanisme untuk mendapatkan masukan dari masyarakat.BAB VII Membangun Lembaga Perwakilan di Daerah Yang Berwibawa Rahmi Yunita DPRD sekarang memang mempunyai kekuasaan politik yang besar dan jauh lebih berperan dalam pemerintahan daerah. tata pemerintahan yang baik dalam pemerintahan di daerah lazimnya sudah menjadi hal yang menyemangati visi yang harus dikejar daerah-daerah di Indonesia. Italic Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Italic Formatted: Font: +Body.5" . 2.38" Formatted: Font: +Body. Salah satu agenda yang paling mendesak adalah kapasitas DPRD dalam melembagakan prinsip tata pemerintahan yang baik. baik secara reaktif maupun lebih penting lagi secara proaktif. Italic Formatted: Font: +Body.

misalnya untuk studi banding. Rapat-rapat DPRD yang dinyatakan terbuka untuk umum dan dapat diaksesnya dokumen-dokumen daerah merupakan penegakan prinsip ini. 9. misalnya: Ddaerah urban dan rural untuk pelayanan pendidikan. DPRD dapat membuat laporan tahunan di depan masyarakat tentang kinerja dan anggarannya untuk meminta umpan balik. Profesionalisme. harus merupakan sesuatu yang dipercaya akan dapat dipertanggungjawabkan kepada generasi masa depan daerah sendiri. bukannya melemparkan tanggung jawab. DPRD tidak dapat menggunakan banyak anggaran peningkatan kapasitas. Pada akhirnya. DPRD harus memastikan adanya kesetaraan pelayanan publik dalam pelbagai aspek. Transparansi. misalnya dapat dijalankan dan berkelanjutan. Anggota DPRD harus menjalin komunikasi dengan konstituen di daerah pemilihannya sebagai salah satu cara menjalankan prinsip ini. DPRD harus menunjukkan profesionalismenya dengan terus meningkatkan kemampuannya dalam menjalankan tugas. DPRD akan dinilai juga dari kinerjanya. Dalam penyusunan program. risalah persidangan. termasuk terus mengembangkan diri ketika tantangan baru lahir. atau dengan tanpa sengaja meminggirkan kelompok lainnya. Kesetaraan (ekuitas). 5. DPRD harus mawas dengan tegaknya prinsip ini. Daya tanggap (responsivitas). Tata tertib DPRD sebagai alat kendali politik internal ( Formatted: Indent: First line: 0. 6. 2232/20034 dan UU No. bahkan sampai pada tingkat lebih tinggi nanti.5". 8. 10. DPRD perlu melakukan kepemimpinan dalam menyusun arah pembangunan daerah.38" . Dengan memastikan prinsip-prinsip ini mengejawantah dalam aturan main DPRD. Space Before: 0 pt. DPRD harus siap mempertanggungjawabkan kebijakan yang ditempuhnya. Tanggung gugat (akuntabilitas). DPRD harus mampu menegakkan kode etik bagi para anggotanya. Sering sekali penyusunan program pembangunan hanya membidik kelompok sasaran tertentu. Hasil guna dan daya guna (efektivitas dan efisiensi). Bagaimana menanggapi aspirasi yang diteriakkan demonstran? Bagaimana merespon pengaduan tertulis? Bagaimana menanggapi keluhan masyarakat dalam sebuah kunjungan lapangan? DPRD bersama sekwan perlu menyusun mekanisme untuk memastikan bahwa semua aspirasi dapat ditindaklanjuti secara kelembagaan. isi dan misi daerah yang disusun. inilah maka internalisasi nilai-nilai tata pemerintahan yang baik akan siap dimulai. No bullets or numbering. misalnya. Pengawasan. atau perempuan dan laki-laki untuk akses terhadap ekonomi produktif. membuka informasi mengenai sikap politik setiap anggota dalam pengambilan kebijakan tertentu. Bagaimana prinsip-prinsip itu dapat dilembagakan? Tata tertib adalah instrumennya. Tab stops: Not at 0.3. langkah lebih jauh dapat dilakukan dengan membuka daftar hadir DPRD pada umum. Wawasan ke depan. terutama ketika kesulitan menghadang pimpinan daerah. sesuai kewajiban yang diamanatkan oleh UU No. 27/2009. 4. 7. DPRD perlu membuktikan bahwa perda yang dihasilkannya. tanpa menunjukkan dampak yang berarti. DPRD juga harus melakukan pengawasan kepada pelaksanaan kebijakan dan peraturan daerah tanpa maksud memperoleh keuntungan pribadi dari kegiatan ini. Mengiringi tertib administrasi di DPRD.

yang akan dibahas lebih jauh di Buku 2 dari seri buku panduan ini. Beberapa pembicaraan yang sulit dilakukan secara pleno karena relatif besarnya ukuran forum dapat dilakukan lebih efektif dalam komisi. menjadi terbagi dan dapat dikerjakan lebih efisien. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana memastikan bahwa komisi dapat mewakili berbagai pendapat dalam DPRD. pada intinya. yaitu Badan Legislasi. yakni tiga komisi (bagi yang beranggotakan 20 sampai dengan 35 orang) dan empat komisi (bagi yang beranggotakan lebih dari 35 orang). komisi harus merefleksikan pembagian peran untuk menampung semua bidang mandat dalam cabang eksekutif dari pemerintahan juga. yang dalam hal ini diwakili oleh banyak partai politik? Banyak lembaga perwakilan di dunia yang mengizinkan seorang anggota DPRD parlemen untuk duduk lebih dari satu komisi. Namun. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . Ini dimaksudkan agar setiap fraksi memiliki wakil di setiap komisi. Penyusunan tata tertib DPRD sendiripun harus mempedomani PP. Detail pembahasan hal ini akan dibahas Kendati tidak dibatasi. komisi perlu mempertimbangkan jumlah total anggota dan saling mengimbangi dengan pengaturan ukuran fraksi. Selain itu.Formatted: Space Before: 0 pt Tata Tertib adalah seperangkat aturan yang mengatur bagaimana DPRD dan anggotanya menjalankan fungsi dan tugasnya. Terlebih. memang terdapat penjadwalan waktu sidang. tidak sedikit pula yang membatasi hal ini. dalam format kelembagaan DPRD sekarang ini. 27/2009 ada dua macam. UU No. untuk memungkinkan semua anggota dapat menyuarakan aspirasinya dan memudahkan pengambilan keputusan. maka farkasi yang ada dalam DPRD harus beranggiotakan minimal sejumlah komisi yang ada. Selain itu. format komisi membuat pekerjaan di DPRD. Pengaturan untuk mencapai kinerja optimal dapat dipaparkan sebagai berikut. tata tertib yang mendetil tersebut memuat beberapa hal sehingga ia dapat dioptimalkan untuk mengatur dinamika politik DPRD. dengan ketentuan bahwa seorang politisi hanya bisa menjadi anggota komisi yang waktu sidangnya tidak bersamaan. Jumlah komisi DPRD Kabupaten/Kota. sementara sisanya Selasa dan Kamis. Dalam hal ini. Yang jelas. komisi akan lebih fokus lagi karena adanya alat kelengkapan baru yang khusus menangani legislasi. Bagaimana pengaturan proses dan waktu penyusunan peraturan perundangundangan? Formatted: Indent: First line: 0. sebagaimana diatur dalam UU No.5". 2227/20039 telah mengatur hal-hal yang harus tercantum dalam tata tertib. misalnya setengah jumlah komisi bisa bersidang pada hari Senin dan rabu. terutama dalam penyusunan legislasi dan pengawasan. Namun. untuk menciptakan representasi komisi terhadap fraksi. sebagaimana diatur dalam Pasal 356 UU No. 27/2009. Indonesia membagi habis anggotanya sebanyak komisi dan karenanya hanya perlu mengatur bahwa waktu persidangan komisi tidak boleh berbenturan dengan sidang pleno. sendiri tidak memiliki panduan pengaturan yang kaku. Bagaimana pengaturan komisi? Komisi adalah alat kelengkapan DPRD yang dibentuk untuk menyederhanakan dan membagi pekerjaan di dalam dewan.

tata tertib juga perlu mengatur lamanya seorang anggota DPRD berbicara. dan l) pelaksanaan tugas kelompok pakar/ahli. Beberapa hal usulan penajaman meteri tata tertib DPRD dapat dilihat di sub bab selanjutnya. intinya adalah tersedianya cukup waktu agar sebuah usulan bisa diperdebatkan dengan menyeluruh sehingga tidak terjadi penyusunan serangkaian perda secara ngebut dan kejar setoran . di tradisi demokrasi mapan yang sudah mulai diadopsi beberapa daerah di Indonesia. d) jenis dan penyelenggaraan rapat.5". serta tugas dan wewenang alat kelengkapan. Formatted: Indent: First line: 0. Karena itu. Di banyak tempat. serta hak dan kewajiban anggota. nNamun. Nnamun. Iini pun sudah lazim dikenal sebagai dilema di semua rezim demokratis. Di satu sisiMeski sudah terdapat imbauan agar DPRD mau melakukan terobosan dalam menyusun tata tertibnya. harus partisipatif. i) pelaksanaan konsultasi antara DPRD kabupaten/kota dan pemerintah daerah kabupaten/kota. tugas dan wewenang lembaga. mengharuskan keharusan bagi anggota DPRD untuk kembali ke daerah pemilihannya secara berkala dan menyerap aspirasi dari konstituen dan masyarakat luas. Pasal 376 ayat (3) UU No. Di sisi lain.. bahkan memperdebatkan usulan kebijakan. h) pembuatan pengambilan keputusan. f) pembentukan. tugas anggota DPRD adalah menyuarakan. untuk menghindari dominasi dan meningkatkan efisiensi forum. g) penggantian antarwaktu anggota.5". pengaturan kesempatan dan waktu bicara dalam persidangan juga merupakan isu yang penting dalam sebuah lembaga politik. DPRD sebenarnya dimungkinkan untuk mengembangkan materi pengaturan internal kelembagaannya untuk memastikan kinerjanya berlajalan optimal. Ini bisa dilembagakan dengan adanya masa reses untuk. c) pemberhentian dan penggantian pimpinan. Keduabelas hal tersebut ialah: a) pengucapan sumpah/janji. Selain kedua belas poin tersebut. apalagi aturan yang harus dibuat justru malah akan terdapat sedikit insentif bagi anggota dewan sendiri untuk membuat aturan yang dapat digunakan untuk mengekang dirinya sendiri. sehingga DPRDmasyarakat selalu punya kesempatan untuk membuka diri terhadap usulan kebijakan alternatif. susunan. j) penerimaan pengaduan dan penyaluran aspirasi masyarakat. aturan tata tertib juga harus memastikan bahwa media massa ataupun masyarakat luas memiliki akses pada proses ini. ini kadang kurang direspon dengan baik oleh DPRD karena dinilai tentu sajatidak cukup memberikan insentif.5" Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Indent: First line: 0. 27/2009 menyatakan bahwa paling minimal peraturan tata tertib DPRD Kab/Kota harus memuat 12 hal. Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt . Aturan tata tertib DPRD karenanya perlu memastikan bahwa bahkan fraksi kecil atau wakil tunggal dari sebuah partai politik pun dapat menyuarakan pandangan dan sikapnya terhadap usulan kebijakan. b) penetapan pimpinan. . Di samping itu. termasuk hubungannya dengan publik. Bagaimana mengelola hubungan dengan konstituen? Tata tertib DPRD juga perlu memastikan adanya keleluasaan dan dujunganatau sebenarnya membantu kepada anggotanya untuk menjalin hubungan dengan konstituennya. sehingga konstituen dapat memperoleh informasi mengenai sikap politik wakil-wakilnya. k) pengaturan protokoler. e) pelaksanaan fungsi. misalnya. antara lain. Yang terakhir.Yang ingin dipastikan di sini bukan hanya proses penyusunan kebijakan saja yang. Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Indent: First line: 0.

Tidak juga jelas apakah kode etik ini terkait dengan pengaturan larangan (pasal 378) Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. yang seharusnya dialokasikan secara bijak menjadi terbuang. Misalnya. DPD. dan DPRD menyebutkan dalam Pasal 81 butir (i) bahwa salah satu kewajiban DPRD adalah menaati tata tertib dan kode etik dan Peraturan Tata Tertib DPRD kabupaten/kota . Standar etis yang tinggi sangatlah penting bagi kredibilitas suatu pemda di mata publik dan organisasi swasta yang berhubungan dengannya.Dalam UU No. meskipun sebenarnya DPRD bisa menggunakan PP No. untuk mengganti PP No. Indent: First line: 0. banyak yang menganggap bahwa sudah seharusnya pemerintah mengeluarkan PP tentang Pedoman mengenai hal-hal yang setidaknya dimuat dalam Tata Tertib DPRD. Tanpa PP Pedoman ini. 12 pt Formatted: Justified. Ini menjadi nyaris mustahil ketika korupsi adalah hal yang dipandang masyarakat sudah berurat berakar dalam pemerintahan. namun juga ada sederet dampak negatif lainnya. kehormatan. 25 tahun 2004 tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Tata Tertib DPRD. menggunakan kedudukan seseorang untuk kepentingan pribadi. UU No. baik propinsi maupun kabupaten/kota. citra. sikap khusus dalam pembuatan keputusan untuk mengalokasikan sumber daya atau mempekerjakan seseorang.5". pengaturan tentang kode etik ini dalam UU tersebut terbilang tidak jelas dan hanya menyebutkan bahwa DPRD menyusun kode etik yang berisi norma yang wajib dipatuhi oleh setiap anggota selama menjalankan tugasnya untuk menjaga martabat. Adjust space between Asian text and numbers Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . anggota DPRD secara perseorangan atau kelompok wajib membuat laporan tertulis atas pelaksanaan tugasnya yang disampaikan kepada Pimpinan DPRD dalam Rapat Paripurna. Jika tidak. dan peraturan yang ada secara pilih kasih untuk mengistimewakan teman atau menghukum lawan. 22/2003 yang baru. 2227/20039 mengenai Susunan dan Kedudukan MPR. ditetapkan oleh DPRD sendiri dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Karena itu. serta menciptakan suasana saling tuduh. intimidasi atau ancaman untuk mempengaruhi tindakan orang lain. meruntuhkan kepercayaan publik. sependapatkah Anda? Kode etik yang bersanksi dan Dewan Kehormatan Isu etika dalam jabatan publik mencuat karena adanya banyak cara yang digunakan oleh pegawai pemerintah untuk menyalahgunakan kekuasaan mereka. Tidak cukup jelas disebut apakah ini akan diatur secara khusus dalam peraturan pemerintah. Nah. Tata tertib DPRD. dan kredibilitas DPRD kabupaten/kota. Penajaman materi tata tertib yang akan dibuat dan disahkan oleh DPRD bisa dengan memperkuat materi pengaturan dalam PP tersebut. tidak hanya sumber daya.. DPRD akan cenderung membuat tata tertib yang minimalis. Dalam PP tersebut. DPR. 23/2003. Perilaku tidak etis memancing kecurigaan. yang menjadi hak rakyat. diatur bahwa masa reses akan dipergunakan oleh DPRD untuk mengunjungi daerah pemilihannya dan menyerap aspirasi masyarakat. Pasal 55 ayat (4) dan (5). Ketika penyalahgunaan ini terjadi. Dalam lembaga perwakilan yang menganut prinsip pemisahan kekuasaan -di mana lembaga perwakilan tidak memiliki kekuasaan eksekutif. Secara politis sudah akan sangat sulit untuk menegakkan sebuah peraturan dan memungut pajak atau retribusi apalagi jika. 1/2000 yang harus diganti menyusul UU No. Sayangnya. di Indonesia. menggunakan milik publik untuk penggunaan pribadi.ini dapat mencakup beberapa hal. Dalam kegiatan tersebut. 27/2009 yang menggantikan UU No. Adjust space between Latin and Asian text.

25/2004 Pasal 104 nomor tujuh (turunan UU Susduk sebelum UU No. dilarang. Namun. Alasan teknis. bukannya peraturan yang disalin dari pihak lain tanpa dihayati. perilaku.ataukah terkait dengan kewajiban anggota DPRD (pasal 351). Namun. Kode etik yang efektif sebaiknya memenuhi beberapa hal berikut:  Aturan seharusnya muncul dari kelompok yang akan diatur. aturan ini harus bersifat realistis.  Aturan harus sesuai dengan peraturan perundangan -peraturan atau UU yang ada. pengadopsian kode etik oleh DPRD akan membangun kesan bahwa DPRD berkomitmen terhadap agenda ini dan mengundang dukungan masyarakat untuk menegakkannya. tatakerja. Dalam konteks Indonesia yang tengah memerangi KKN ini. 12 pt . ucapan. pihak yang menganggap perlunya kode etik dapat mengajukan tiga argumen: 1. Hal Pengaturan ini terkesan mengecilkan peran kode etik dalam kehidupan kelembagaan dewan. 27/2009) yang menyebut bahwa Kode Etik meliputi norma-norma atau aturan-aturan yang merupakan kesatuan landasan etik atau filosofis dengan peraturan sikap.  Kode etik jangan memberikan kesan terlalu kaku dan birokratis.  Aturan ini perlu ditulis dalam bahasa yang sederhana dan tidak sarat dengan istilah hukum. Ketidakjelasan ini pada akhirnya membuat peran kode etik tidak terlalu vital dan hanya menjadi penunjang atau pelengkap dari tata tertib saja. Dalam bagian ketiga UU ini mengenai Peraturan Tata Tertib Pasal 102 ayat (4) butir 1 menyebut bahwa salah satu yang setidaknya diatur dalam tata tertib adalah pengaturan protokoler dan kode etik serta alat kelengkapan lembaga . 2. Pihak ini mungkin akan cenderung merujuk pada pedoman yang disediakan oleh pemerintah. misalnya semacam sebuah dokumen singkat yang memuat saripati peraturan mengenai etika dalam tata tertib? Lazimnya terdapat pro dan kontra dalam hal ini. Kejelasan yang ada hanyalah pada keberadaan Badan Kehormatan yang kemudian diberikan tanggungjawab sebagai pengawas kode etik DPRD. Pihak yang tidak sependapat umumnya berkaca dari ketidaksuksesan penerapan kode etik dalam lapangan profesi lainnya. tata hubungan antar lembaga pemerintahan daerah dan antar anggota serta antara anggota DPRD dengan pihak lain mengenai hal-hal yang diwajibkan. UU memang tidak mengamanatkan adopsi sebuah kode etik yang terpisah. 3. tidak berakibat serius bagi pelanggarnya. Argumen substansial.  Agar tetap dijunjung tinggi. Kode etik perlu untuk menyediakan acuan yang mudah dipahami bagi standar moral yang diharapkan lahir dari para anggota dewan dan memiliki kode etik secara spesifik akan membuatnya lebih diperhatikan. Pun jika dilanggar. Alasan persepsi. Kode etik yang terpisah dari tata tertib? Apakah daerah perlu mengadopsi sebuah kode etik yang terpisah. Ketidakjelasan juga muncul dalam PP No. karena frasa kode etik ini tidak diawali dengan huruf kapital. atau tidak patut dilakukan oleh anggota DPRD. Formatted: Font: +Body. dan menganggap bahwa perilaku yang baik harus datang dari diri sendiri dan dikontrol oleh penegakan hukum pidana.

dan akibatnya agak sulit mendapatkan anggota dewan yang bersedia duduk di BadanDewan Kehormatan ini. BadanDewan ini akan menangani pengaduan. selama ini menunjukkan bahwa anggota legislatif cenderung tidak akan menjelek-jelekkan rekannya. dan untuk kemudian melaporkannya dilaporkan kepada BadanDewan Kehormatan. bukan karena paksaan dari luar. baik kepada anggota sendiri maupun kepada masyarakat luas untuk membantu mendapatkan dukungan bagi penerapannya. dan bila terbukti akan menyusun rekomendasi mengenai putusan yang sebaiknya diambil oleh sidang pleno. termasuk DPRD. secara prinsip hal yang ingin ditekankan melalui kode etik adalah:  Pejabat publik. dalam model ini. Model terakhir adalah yang ditempuh Amerika. yang kemudiansecara mandiri sendiri atau bersama dalam pleno akan menjatuhkan sanksi.Kode etik yang sedemikian akan membuat lebih mudah disosialisasikan. dimana Badan Kehormatansetelah melakukan investigasi dan Dewan Kehormatan akan menyusun laporan tertulis. aAda pelbagai model pendekatan untuk menyusun bagaimana komposisi BadanDewan Kehormatan ini. termasuk godaan imbalan materi. keanggotaan BadanDewan Kehormatan ini tidak ex-officio diambil oleh pimpinan sehingga. yang detailnya bisa dilihat pada Buku 2 dari seri buku panduan ini. Komisi Investigasi terdiri atas orang-orang luar . harus membuat keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dalam kebijakan dan dampaknya sendiri. Model pertama membedakan antara Komisi Investigasi Pelanggaran Etika dengan dan BadanDewan Kehormatan yang terdiri dari pimpinan dewan. Dewan Kehormatan. BadanDewan Kehormatan tidak memiliki kewenangan investigasi. dan akan bertanggungjawab menindaklanjuti laporan mengenai dakwaan pelanggaran etika. Ada sejumlah hal yang lazim diatur dalam kode etik. melalui tata tertib. dan bersifat independen. Berdasarkan laporan ini tersebut akan diputuskan apakah kasus perlu dibawa atau tidak ke depan sidang pleno. Di Amerika. Model kedua. Model ini ditempuh di Inggris. lepas dari pilihan yang diambil di Indonesia. melakukan investigasi. perlu ditegakkan aturan yang menjamin bahwa kepercayaan masyarakat ini sejauh mungkin tidak terciderai. Bagaimana membentuk Dewan Badan Kehormatan yang efektif? Dewan Badan Kehormatan yang merupakan salah satu alat kelengkapan yang diamanatkan oleh UU No. wakil-wakil dari pimpinan dewan duduk dalam BadanDewan Kehormatan dengan seorang anggota yang independen. adalah Badan Kehormatan yang terdiri dari anggota legislatif sendiri. serta mengatur penegakannya lewat Badan Kehormatan.  Kata kunci bagi efektifnya pemerintahan demokratis adalah kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Selanjutnya. Jadi. 2227/20039 merupakan instrumen untuk menegakkan kode etika ini. dapat menjabarkannya dijabarkan lebih mendetail dan teknis.. karena. Karenanya. berdasarkan pengalaman. Penyelidikan dan sanksi . Sementara itu. Namun. anggota legislatif lazimnya enggan melakukan peran aktif dalam model BadanDewan Kehormatan seperti ini. Masalahnya tentu saja .

Dewan Kehormatan ataukah harus sidang pleno?  Apa Bagaimana prosedur pemberian dan penentuan sanksinya? Apakah anggota dikenakan skorsing. maka sanksi yang dapat diberikan oleh Badan Kehormatan adalah berupa teguran lisan. Karena itu. dan/atau diberhentikan dari pimpinan pada alat kelengkapan. selalu bersikap netral secara politik ketika menjalankan tugas administratif. sangat penting dibuat bahkan diperlukan sebuah buku panduan kode etik untuk membantu anggota DPRD mematuhi standar etika mereka. penegakan kode etik juga harus diawali. suatu saat kita harus percaya bahwa kondisi ideal ini pasti bisa dicapai. Ini mencakup juga selalu bertindak dalam kerangka kepentingan publik. Jadi. Tab stops: Not at 1" Formatted: Indent: Left: 0. Bagaimana Memulainya? Yang patut diingat. Anggota dewan dan para pejabat perlu mengembangkan serangkaian prinsip untuk memandu perilaku mereka sehari-hari. bahkan lebih jauh lagi memberikan tauladan perilaku yang baik sebagai pemimpin masyarakat. bahwa mManajemen etika memang bukan sekedar kegiatan tunggal yang sekali jadi. bahkan dibarengi secara berkala. Membangun transparansi yang sesuai dengan kebutuhan publik Bagaimana mendefinisikan transparansi? Ketika reformasi terjadi dan tuntutan akan transparansi menguat di daerah. Don't adjust space between Latin and Asian text. dengan sosialisasi mendalam kepada anggota DPRD dan staf sekretariat mengenai bagaimana kode etik ini dipatuhi. teguran tertulis. lazimnya diatur hal-hal sebagai berikut:  Laporan siapa yang dapat ditindaklanjuti? Apakah laporan masyarakat dengan sejumlah tertentu? Apakah hanya laporan dari sejumlah tertentu anggota legislatif sendiri yang boleh diproses lebih lanjut?  Bagaimana prosedur Badan Kehormatan untuk menindaklajuti laporan? Siapa yang menindaklanjuti? Apakah pimpinan dewan. 27/2009. Swedish (Sweden) Formatted: Font: +Body. ikhtiar ini memang tidak mudah. Swedish (Sweden) Formatted: Font: +Body. berperilaku etis lebih dari sekedar menghindari perilaku korupsi. Swedish (Sweden) Formatted: Space Before: 0 pt . namun merupakan sebuah proses yang terus-menerus. anggota pun perlu dilindungi dari bahaya fitnah. sejumlah pejabat mulai mengeluh bahwa tuntutan ini menjadi berlebihan. Space Before: 0 pt. apapun hasil proses ini tentu saja perlu dibuka kepada masyarakat sebagai salah satu langkah akuntabilitas publik. Meski bisa saja Ketika mungkin saat ini kita agak pesimis dengan hasil penegakan kode etik ininya. Jika perlu. Karena korupsi politik sudah mengakar di Indonesai. bahkan bila itikad sudah lahir. Supaya kepercayaan publik dapat diraih.Formatted: Space Before: 0 pt Kendati masyarakat harus memastikan bahwa wakil-wakil mereka senantiasa menerapkan standar etika yang tinggi.13". Bulleted + Level: 2 + Aligned at: 0. List tab + Not at 1" Formatted: Font: +Body. denda.4.75" + Tab after: 1" + Indent at: 1". Don't adjust space between Asian text and numbers. Karena itu. Swedish (Sweden) Formatted: Font: +Body. tidak membocorkan informasi rahasia. Nnamun demikian.38". kendati penyelidikan dilakukan secara tertutup. tidakkah sekarang waktu terbaik untuk memulai? 7. Tab stops: 0. Bahkan keluar istilah-istilah: Boleh minta Formatted: Space Before: 0 pt. ataukah pengumuman di depan publik secara terang-terangan? Dalam Pasal 380 UU No. selain pasal-pasal pidana.

absennya tiadanya transparansi akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara negara. dan bila tidak tertangani pada gilirannya terhadap demokrasi secara keseluruhan. DPRD justru dapat memulai kegiatan-kegiatan seperti. juga penerbitan situs web yang memuat berbagai informasi kebijakan. Kadang transparansi gagal.  Penyelenggaraan kegiatan-kegiatan informasi Seringkali kesan tidak transparan lahir karena warga masyarakat tidak memiliki pengalaman interaksi dengan para wakilnya. Untuk kasus yang pertama. pendekatan hukum seperti dijaminnya hak-hak masyarakat dalam UU Kebebasan Informasi dan peraturan daerah serupa di tingkat daerah dapat membidik membantu mengatasi permasalahan ini. tapi jangan minta kami menelanjangi diri . dan b) lemahnya sistem yang mendukung penyediaan informasi yang dibutuhkan oleh warga negara. kita sendiri dapat merasakan betapa seringkali terjadi. transparansi pun mungkin tidak serta merta mudah diwujudkan. entah dengan membungkam rekan kerja mereka atau dengan mencoba mencari dalih yang sah untuk menutupi tindakan mereka. Karena pemerintah demokratis bertanggung jawab kepada rakyat. transparansi merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk menyediakan informasi yang memadai.. pejabat dan pegawai yang terlibat dalam perilaku tak etis menutupi jejak mereka dengan pelbagai cara. penerbitan kalawarta (newsletter) yang bisa ditempel di koran dinding desa. melulu karena manajemen informasi yang kurang baik. Bagaimana memastikan bahwa masyarakat dapat mengetahui agenda persidangan dewan dan raperda yang sedang dibahas? Apakah pers dapat memperoleh informasi mengenai tingkat kehadiran anggota DPRD dalam persidangan dewan untuk melihat kinerjanya? Apakah masyarakat bisa memperoleh risalah persidangan dan mengetahui bagaimana sikap dan pilihanpilihan politik wakil-wakilnya? Dalam keadaan seperti itulah. Penguatan ini dapat sesederhana dilakukan dengan mengadakan pelatihan bagi staf untuk pencatatan risalah sidang sampai penyediaan mesin fotokopi untuk memastikan bahwa masyarakat dapat memfotokopi menggandakan dokumen yang mereka butuhkan dari sekwan. Transparansi jelas bukan merupakan kepentingan dari pelaku tindakan seperti ini.38". Space Before: 0 pt . Karena itu. Karena masyarakat di daerah belum selalu berpengalaman untuk terlibat memberikan masukan bagi kebijakan publik. Di bawah rezim etika yang sudah ditegakkan.transparansi. maka diperlukan penguatan kelembagaan dan sistem. Pada hakikatnya transparansi merupakan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang menyangkut kepentingan mereka. termasuk dengan mudah dan akurat. absen tiada atau kurangnya transparansi dalam pemerintahan lazim terjadi karena dua alasan: a) penggelapan sebuah informasi yang terkait dengan tindak korupsi. Biasanya lalu dimulai debat kusir mengenai mana yang transparan dan mana yang telanjang . acara bincang-bincang kebijakan di radio lokal yang secara interaktif. Kalau kita cermati. Formatted: Space Before: 0 pt. Logikanya. Langkah yang dapat ditempuh antara lain:  Penguatan sekwan Sekwan perlu diberi anggaran yang memadai dan staf yang memiliki kualifikasi tertentu untuk menyediakan dukungan sistemik yang diperlukan di atas. Tab stops: Not at 1" Formatted: Indent: Left: 0.

meskipun harus diakui praktek-praktek korupsi masih banyak menimba anggota-anggotanya. Wacana ini tentu Anggota DPRD masa itu yang membacanya pada umumnya merasa tersudutkanmenyudutkan kelembagaan DPRD. akibat pengaturan di dalamnya yang dianggap menciderai rasa keadilan. Don't keep with next Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Cara anggota dewan pamer kebusukan . Kota Metro membuka warung informasi dan komunikasi sebagai wahana membincangkan pengaduan masyarakat kepada eksekutif dan legislatif mengenai masalah ekonomi dan pertanian. dapat pula diciptakan situasi kondusif untuk lahirnya media dari masyarakat community newspaper yang dengan leluasa melakukan pemberitaan mengenai isu-isu kepemerintahan. penyiasatan terhadap PP ini berlaku dalamterkait penyusunan paket renumerasi bagi pimpinan dan anggota DPRD. Kota Sawahlunto mendorong pos komunikasi desa untuk menjembatani pemerintah dan masyarakat. Kota Kendari. After: 0 pt. Praktek buruk yang sering dilayangkan juga berupa komodifikasi perda. Bila di Sawahlunto pemda berinisiatif membiayai kolom di harian regional agar memberitakan kota Sawahlunto. beberapa pemerintah kota telah melakukan praktek yang terpuji. Menyadari strategisnya posisi kelurahan. sebagai contoh. seperti yang dilakukan sejumlah aktivis muda di Mataram dengan Jurnal Kota Wargatama dan buletin Potret . Formatted: Space Before: 0 pt Pengalaman Penerapan Transparasi Dengan bantuan program BUILD dari UNDP. kendati tidak bisa menyangkal banyaknya kasus-kasus mengenai praktek buruk DPRD. pengawasan yang kebablasan serta Formatted: Space Before: 0 pt . PP ini menyulut kontroversi luas sebelum kemudian akhirnya direvisi. Menuju zero tolerance untuk praktek buruk DPRD Salah satu isu kontroversial dalam lima tahun pertama reformasi dalam penataan kelembagaan DPRD adalah PP No. Isu semacam ini sangat sensitif di hati masyarakat dan menimbulkan banyak kecaman terhadap DPRD yang dituduh ladang korupsi dan Media Indonesia tanggal 7 September 2003 pernah menulis serangkaian artikel seputar isyu yang secara sederhana disebut Korupsi DPRD . Formatted: Space Before: 0 pt. dengan judul-judul keras seperti Wakil rakyat mpencuri uang rakyat . 110/2000 mengenai Kedudukan Keuangan DPRD karena. Mendorong liputan media juga dapat ditempuh. ada beberapa inisiatif yang sudah diambil beberapa kota dalam menegakkan transparansi.5. menggunakan siaran talkshow radio mingguan untuk mendiskusikan anggaran pembangunan. bahkan Legislatif di titik nol . Don't keep with next Kasus korupsi DPRD ini dapat dikatakan hanya salah satu potret dalam lima tahun pertamaperjalanan reformasi. yang mungkin dapat didorong oleh DPRD di daerah-daerah lainnya. di samping masih banyaknya kekurangan di sana-sini di tubuh lembaga perwakilan daerah. After: 0 pt. yang menyorot isu-isu perempuan.7. dan bahkan permasalahan hukum merebak menyusul hal ini. Kecaman-kecaman masyarakat itu Sejumlah artikel ini sebenarnya mencerminkan betapa toleransi masyarakat sudah tergerus terhadap praktek-praktek buruk yang dilakukan oleh oknum DPRD. dan kuatnya peran radio serta media cetak.

atau menunggu gelombang desakan masyarakat yang kian canggih dalam menyuarakan tuntutan-tuntutannya? Di tangan para anggota DPRD sendirilah pilihannya berada. Informasi kian terbuka. kita menyaksikan bahwa DPRD dibiarkan sendirian dalam mencoba menjawab permasalahan. apakah perbaikan perilaku ini akan dimulai dengan prakarsa para anggota sendiri. secara internal. Jadi. DPRD perlu segera merespon dengan juga mengembangkan zero tolerance kepada peluang praktek buruk dalam dirinya. namun tidak jarang yang terperangkap dalam budaya-budaya warisan lama tanpa tahu bagaimana membebaskan diri. Salah satu caranya adalah menyusun semacam perencanaan reformasi kelembagaan tiga sampai tahun ini dapat dilakukan dengan bantuan staf ahli sebagai fasilitatorsehingga pada akhirnya nanti DPRD telah akan memiliki pranata yang tangguh untuk menangkal praktek buruk dalam dirinya maupun di antara anggota-anggotanya. Karena tingginya tuntutan dan terbatasnya dukungan ini. Dalam hujan kritikan tersebut. Bagaimana caranya? DPRD perlu menyusun agenda bagaimana mengembangkan diri anggotanya dan kelembagaannya. bahkan dari belahan dunia yang berbeda. dari daerah satu dan lainnya. beberapa DPRD sanggup menerima tantangan dan lahir sebagai dewan yang dihormati dan terpercaya. masyarakat dapat belajar satu sama lain. Akibatnya. . Tuntutan jzaman dan perubahan sendiri agaknya tak terelakan.pemerasan dalam proses pilkada.

Dari contoh ini. Untuk mewujudkan kepentingan umum diperlukan keberadaan organisasi atau kelompok pendukung. bukan kepentingan individu. dunia usaha dan masyarakat sipil. dimana pengaruh itu dapat dipaksakan baik secara persuasif maupun dengan paksaan. Elemen masyarakat bisa disederhanakan melalui. Tetapi dilihat dari ciri-ciri sebagai kepentingan publik jelas bagian dari kehidupan politik.BAB VIII Membangun Aliansi Strategis dan Memenangkan Kepentingan Rakyat Diana Fawzia Dalam tata demokrasi baru sekarang yang ditandai dengan informasi keterwakilan. Kepentingan umum adalah. dalam memperjuangkan tujuan kolektif diperlukan kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat. dan membentuk organisasi. kerja sama. Mengapa perlu membangun aliansi strategis? Perjuangan politik DPRD adalah Mmemperjuangkan kepentingan rakyat atau kepentingan umum. meskipun terbuka kemungkinan masuknya kepentingan pribadi dalam wilayah kepentingan. Upaya mempengaruhi pihak lain untuk tujuan tertentu dapat didesakkan dengan Mmembangun aliansi adalah sebagai usaha membangun pengaruh dan kekuatan untuk mempengaruhi pihak lain untuk tujuan tertentu. adalah termasuk wilayah politik. Untuk memelihara kepentingan umum diperlukan sebuah aturan main agar tujuan kolektif dapat dicapai bersama. Secara umum. sebab menentukan. Tujuan yang Formatted: Space Before: 0 pt . beragam kepentingan manusia tidak bisa digerakkan kepada suatu tujuan bersama. Tanpa proses pengaruh dan mempengaruhi. Kemampuan DPRD untuk membangun jaringan dan aliansi strategis dapat meningkatkan kinerja internal maupun representatif terhadap akomodasi berbagai kepentingan. membina kerja sama. Kekuasaan diartikan sebagai proses tingkat pengaruh yang ditransformasikan oleh satu pihak seorang atau kelompok kepada seorang atau kelompok untuk mempengaruhi perilaku orangpihak lain sehingga orang lain bersedia mengikuti apa dikehendaki oleh pihak yang mempengaruhi. organisasi dan aturan main merupakan elemen yang akan berhubungan dengan faktor kekuasaan sangat penting. lembaga perwakilan dan konstitusi. ada tiga cluster aktor yang perlu diperhitungkan dalam pengembangan jaringan strategis. Dalam artian perjuangan kepentingan publik atau umum adalah perjuangan politik. DPRD perludengan membangun aliansi strategis dengan para pelaku tata pemerintahan di tingkat daerah maupun nasional. Bentuk pPengaruh dalam bentuk konkrit sering dikatakan sebagai hakikat kekuasaan yang penggunaannya. tujuan kolektif.DPRD perlu mengembangkan pendekatan kerja baru secara eksternal. tentu memuat tujuan yang hendak dicapai secara kolektif sehingga untuk memperjuangkannya. Guna mencapainya. yaitu pemerintah.

ilmu dan teknologi. yaitu perlu diteliti apa. Ini berarti. DPRD dapat menyiapkan Di samping agenda politik dan kebijakannya. dan kepentingan yang dinilai strategis untuk mencapai tujuan.dan di mana letaknya suatu permasalahan itu muncul. bisa juga untuk memperkuat kerjasama membentuk suatu kekuatan untuk keperluan atau tujuan yang hendak dicapai. sumberdaya ekonomi. Misalnya apabila mayoritas pekerjaan penduduk adalah petani. TingkatNilai pengaruh ini bisa karena penguasaan terhadap sumberdaya tertentu. maka untuk mperumuskan agenda kerjasama regional maupun nasional akan lebih mudah. aktor-aktor utama yang terlibat masalah.: Pertama. seorang anggota dewan mengetahui persis bahwa masalah yang diperjuangkannya adalah (jantung) kehidupan rakyat. seperti sebab munculnya masalah. Memenangkan kepentingan rakyat berarti bahwa apapun yang dilakukan oleh anggota dewan harus diarahkan tetap yang menjadi pemenang utama adalah pada kepentingan rakyat. memahami permasalahan. tidak menutup kemungkinan bahwa ada agenda publik yang tidak mampu menyerap masalah yang berkembang ditengah publik. Kedua. Agenda kerjasama regional dan nasional Sebelum merumuskan agenda regional dan nasional. mengapa muncul. Aliansi dapat dilakukan antara terhadap kelompok atau elit politik yang memiliki kesamaan tujuan. Setelah dua langkah tersebut dilakukan. Dengan langkah tersebut. seperti sumber kelangkaan termasuk kekuasaan. Penambahan agenda ini menyangkut kerjasama regional dan nasional. Hal ini berkaitan dengan penguasaan anggota dewan terhadap substansi permasalahan.sama. Aliansi strategis berarti membangun kerja sama untuk meningkatkan pengaruh dan kekuatan dengan kelompok atau elit tertentu. Pelbagai usaha dapat dilakukan oleh seorang anggota dewan untuk membangun aliansi strategis guna memenangkan kepentingan rakyat. baik pada tingkat regional maupun nasional. Mengapa? Mengidentifikasi potensi dan masalah yang ada dalam masyarakat adalah langkah yang sangat penting untuk dilakukan.dimaksud bisa diartikan sebagai upaya membangun dukungan ataupun. bagaimana jejaring masalahnya. Dan iIni adalah tolak ukur keberhasilan perjuangan seorang anggota dewan dalam membina karier politiknya. Sebagai contoh. 8. Pemahaman terhadap suatu masalah sangat diperlukan agar anggota dewan mudah mengambil solusi atau langkah-langkah penyelesaian serta pendekatan apa yang sebaiknya dilakukan. mengidentifikasi potensi dan masalah yang berkembang dalam masyarakat. akan ada perubahan agenda atau agenda tambahan. bukannya membela para kepentingan pemilik industri yang jenis bisnisnya terkait dengan melakukan pencemaran dan merusak perusakan lahan pertanian. Pengertian strategis memiliki pengertianmenunjuk kepada tingkatnilai pengaruh yang dimiliki oleh suatu kelompok yang diajak beraliansi. yang sudah dipersiapkan oleh DPRD. kekuatan posisi. . maupun dan status sosial dalam struktur masyarakat. dan seterusnmya. Dengan pemahaman yang benar dan tepat. anggota DPRD perlu menempuh langkah-langkah sebagai berikut.1. maka menjadi jelas bahwa seorang akan membela sekuat tenaga bahwa nasib petani adalah membela merupakan nasib rakyat pada umumnya.

Timbul pelbagai masalah. dan keamanan. Not Highlight Formatted: Indent: Left: 0. ekonomi.46" + Indent at: 1.: pPertama. komunikasi dan informasi sehingga memungkinkan daerah kawasan tersebut mengalami percepatan dalam pembangunan. List tab + Not at 1. nilai urgensi. Italic Formatted: Space Before: 0 pt. Not Bold. Space Before: 0 pt. agenda publik yang dibangun harus memperkuat landasan sosial. Space Before: 0 pt. dan kenyamanan. pemilihan agenda yang disusun DPRD akan memiliki tingkat akurasi dan memiliki nilai representasi yang kuat.75" + Tab after: 1. Not Bold. 2. lingkup masalah.13". Tab stops: 0.42" . + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0. baik sosial. 2. Italic Formatted: Font: +Body. Italic Formatted: Space Before: 0 pt. misal antara lain adanya kemungkinan: 1. Setelah memilah-milah isu atau masalah. untuk menghindari overlapping dan ruang lingkup masalah. Tab stops: Not at 1. Not Bold. menumbuhkan persamaan dan hak asasi manusia.46" Formatted: Font: +Body.25". politik. Hanging: 0. Dengan memperhatikan beberapa hal tersebut.75" + Tab after: 1. sumber daya alam. agenda publik tersebut harus memiliki kejelasan bobot representasi. agenda publik harus diarahkan untuk dapat meningkatkan nilai kompetitif daerah sesuai dengan potensi yang dimiliki.38". Not Bold. Peluang akses transportasi. isu yang didapat perlu diMempilah-pmilah lagi isu atau masalah yang berkembang pun perlu dilakukan untuk mengetahui apakah isu atau masalah tersebut bersifat riil atau hanya sekedar tindakan manipulasitidak. baru maju tahap berikutnya adalah merumuskan isu publik tersebut menjadi agenda publik. Terdapat ketimpangan potensi sosial. ekonomi. Numbered + Level: 2 + Numbering Style: 1. Tab stops: 0. Agenda publik untuk membangun kerjasama regional dan nasiona yang disusun DPRD tersebut harus mencerminkan beberapa hal berikut. Formatted: Font: +Body. sebagai solusi. Dalam Mmerumuskan agenda kerjasama regional dan nasional.Mengidentifikasi Identifikasi isu yang berkembang dalam masyarakat dapat dilakukan dengan memperhatikan tingkat urgensi. Ketiga. Tidak sebaliknya. perlu ada kriteria yang jelas agar kerja sama dapat saling menguntungkan ataupun membantu daerah yang sebelumnya tertinggal. dan manusia antar daerah sehingga memungkinkan dibangun kerjasama. bobot masalah.46" Formatted: Font: +Body. Italic Formatted: Font: +Body. politik dan keamanan. Tab stops: Not at 1. 2. 1. lingkungan. agenda publik tersebut diorientasikan dapat untuk meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara. List tab + Not at 1" + 1. serta menjunjung martabat manusia.25". Hanging: 0. Not Bold. 3. 3. nilai kerugian. Italic Formatted: Font: +Body. Agenda kerjasama tersebut juga harus rasional untuk diimplementasikan. ekonomi.46" Formatted: Space Before: 0 pt. agenda publik harus membangun rasa keadilan masyarakat.38". Agenda kerjasama regional paling tidak mengandung bBeberapa kriteria yang bisa digunakan adalah: 1. Kelima. Setelah teridentifikasi.46" Formatted: Indent: Left: 0.46" + Indent at: 1. agenda publik yang dirumuskan lebih mencerminkan logika dan kepentingan kelompok atau elit politik tertentu saja daripada kepentingan publik.46". Keempat. Not Bold. + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0. Tab stops: Not at 1.46". 3. nilai strategis. Terdapat perbedaan keunggulan masing-masing daerah dalam pelbagai bidang sehingga memungkinkan untuk saling mentukar nilai keunggulan komparatif tersebut. No bullets or numbering. Ssehingga apa yang menjadi agenda publik yang dicanangkan DPRD nantinya memang benar-benar adalah gambaran riil dari masyarakat. Numbered + Level: 2 + Numbering Style: 1. Italic Formatted: Font: +Body.13". Sehubungan hal tersebut mungkin ada beberapa aspek kehidupan masyarakat yang dapat digali untuk dikembangkan dalam agenda kerjasama regional. serta dapat memberikan harapan dan optimisme perbaikan. hukum. Kedua. Italic Formatted: Font: +Body. Logika yang berkembang dalam dewan hendaknya mencerminkan logika dan kepentingan publik yang berada di luar parlemen.

kecuali kepada kelompok masyarakat banyak yang dirugikan dalam interaksi. ESama juga dengan esensi pemerintahan demokratis menimpakan pentingnyabahwa lembaga pemerintah eksekutif dan legislatif untuk lebih banyak bertindak sebagai wasit. Setelah memahami potensi dan permasalahan yang dirumuskan ke dalam agenda publik maka perlu diambil langkah teknis. 3. Menciptakan pAdanya peluang investasi sehingga memungkinkan masuknya investasi baik dari pusat maupun dari luar negeri. Hal ini dilakukan untuk mendorong dan memfasilitasi terbentuknya kelompok kerja yang mewakili kelompok kepentingan dalam masyarakat. 2. dan fasilitator. dan keamanan.2. serta pelindung bagi kepentingan umum. terutama membangun lembaga pendidikan alternatif yang bermutu dan bermanfaat langsung bagi pengembangan potensi SDM tingkat regional. 3. Atau dDengan kata lain.38". List tab + Not at 1" + 1. Pperanan yang dominan tidak lagi hanya dimainkan oleh pemerintah atau dewan perwakilan. Posisi kedua lembaga tersebut adalah posisiharus netral tidak memihak. Merumuskan agenda kerjasama nasional juga memiliki beberapa kriteria antara lain: 2.46". bahwa kapasitas dan kemampuan anggota dewan sangat terbatas sehingga tidak mungkin mereka mampu menyelesaikan banyaknya masalah yang mendesak untuk diselesaikan. 3. Tab stops: 0. namun juga masyarakat. pariwisata. transportasi. + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0. politik. bahkan bertambah dari waktu ke waktu. Terdapat ketidaksinkronan kebijakan pemerintah pusat dan regulasi di bidang investasi dan perdagangan.13". Mereka ini akan berfungsi mewakili kelompok kepentingan dalam masyarakat. maka perlu diambil langkah teknis yaitu membentuk kelompok kerja atau forum. Bahkan kualitas masalahpun bisa bertambah. pemanfaatan potensi laut. Keterbatasan daerah dalam bidang investasi. ini bukan berarti tidak bisa dilakukan. Mengapa? Karena esensi tata pemerintahan yang baik adalah adanya pembagian peran dan fungsi antar berbagai komponen pembangunan. Apabila DPRD membuat daftar masalah maka DPRD akan mendapatkan suatu daftar masalah yang sangat panjang. Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. Hanging: 0. Pengembangan potensi antara daerah dalam satu kawasan terutama di bidang ekonomi dan perdagangan. hukum. Mengapa perlu membentuk kelompok kerja atau forum? Setelah memahami potensi dan permasalahan kerjasama regional dan nasional yang dirumuskan ke dalam agenda publik.46" + Indent at: 1. dan sebagainya. Pengembangan bidang pendidikan. Space Before: 0 pt. Kedua lembaga tersebut kini dituntut aktif memfasilitasi kekuatan-kekuatan sosial lainnya untuk merumuskan agenda politiknya dan memproses keputusan politik.25". Formatted: Indent: First line: 0". Pelbagai masalah akan kita temui baik dalam bidang ekonomi. Namun.75" + Tab after: 1. Numbered + Level: 2 + Numbering Style: 1. Permasalahan yang muncul jelas tidak pernah berkurang. sosial. makna kepentingan rakyat disini adalah kepentingan umum atau dan kepentingan bersama. penjamin kepastian hukum. Lebih dari itu. Fungsi utama eksekutif dan legislatif adalah menjaga dan menegakkan aturan main. budaya. perjuangan anggota dewan adalah untuk memenangkan kepentingan rakyat. pelestarian lingkungan. Harus disadari. yang sangat penting adalah membangun atau mengembangkan potensi ekonomi daerah. 4.46" Formatted: Space Before: 0 pt . yaitu membentuk kelompok kerja atau forum.

Dalam kaitan tersebut. yaitu mendorong terbentuknya kelompok kerja yang mewakili kepentingan masyarakat dengan kelompok kepentingan atau lembaga-lembaga publik. Pertama.. karena berbagai kendala. tujuan ideal tersebut tidak mudah diwujudkan. antara lain: 1. Kekuatan dominan bisa berada di dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan. baik secara politik maupun ekonomi. Aliansi ini . membuat tabel masalah dan potensi yang bisa menghambat maupun yang mendukung kinerja dewan. Adanya tujuan yang sama. Maksud pembentukan kelompok kerja adalah untuk mengorganisir aliansi strategis dengan berbagai komponen lain. Ini kemudian digunakan sebagai bahan membentuk kelompok kerja (forum) sektor publikdari DPRD yang difungsikan. administratif dan hukumkebijakan tertentu. Langkah apa yang dapat dilakukan untuk membangun aliansi strategis guna memenangkan kepentingan rakyat? Formatted: Font: +Body. atau sebagai kunci permasalahan. Kekuatan dominan selalu ingin menguasai. Mengidentifikasi kelompok strategis sangat penting untuk melihat seberapa besar dukungan maupun hambatan yang akan muncul apabila DPRD mengambildiambil langkah-langkah politis.. pengambil keputusan tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. bahkan menindas kepentingan umum untuk kepentingannya sendiri. Ketiga. Not Highlight Formatted: Font: +Body. Jawabannya. Formatted: Space Before: 0 pt. 2. mengidentifikasi kelompok strategis (stakeholder) mana yang memiliki perhatian. Terdapat persamaan visi dan misi. bahkan. Kkerap kali keberadaan para politisi justru terkooptasi atau menjadi alat kepentingan kekuatan yang lebih besardominan ini. Hasil ini kemudian menjadi sebuah pemetaan masalah dan potensi daerah.Namun dalam dataran empirik. Dalam membangun aliansi terdapat beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan. Kedua. apalagi memenangkannya. Ketimpangan struktural ini membawa implikasi kepada mekanisme kerja lembaga pemerintahan maupun lembaga dewan. misalnya wajar jika kemudian muncul kita dapat mengetengahkan beberapa pertanyaan mengapa korupsi tidak pernah bisa diberantas? Mengapa kebijakan pertanahan kerap sekali merugikan rakyat kecil sebagai pemilik? Mengapa harga gabah petani tidak kunjung membaik? Mengapa pedagang kecil dan menengah dan kecil tidak memperoleh dukungan dalam pembuatan kebijakan? Mengapa tata kota menyimpang dari setplan perencanaan? dan banyak pertanyaan lain yang bisa diteruskan. Tab stops: Not at 1" . mendikte. dan seberapa pengaruhnya. kepentingan. sehingga aliansi yang diharapkan dapat bertahan terbentuk relatif lama dan efektif dalam memperjuangkan suatu agenda atau kepentingan bersama. Dalam realitas politik selalu ada kekuatan dominan. Mengidentifikasi Identifikasi terhadap kelompok yang terlibat pentingini dilakukan guna untuk melihat seberapa besar peranan yang bisa dimainkan kelompok tersebut. serta apa dampak yang akan ditimbulkan oleh mereka baik yang bersifat konstruktif maupun yang destruktifkonstruktif. mengidentifikasi kelompok masyarakat (stakeholders) mana yang merupakan sebagai sumber daya pembangunan daerah atau sebagai sumber masalah. Not Italic Formatted: Font: +Body. Not Italic Ada beberapa langkah awal yang bisa disiapkan.

meskipun tidak bersifat formal.. membuat mekanisme kerja aliansi. Pertama. Aliansi yang sudah terbentuk harus dijaga keberlanjutannya. model hubungan secara vertikal. Upaya ini dapat dilakukan dengan:  Mendorong partisipasi kelompok masyarakat (stakeholders) untuk ikut mengambil bagian dalam merumuskan agenda publik. Langkah-langkah yang perlu untuk mempertahankan aliansi. dan pengaruh untukkemampuan memberi tekanan pada instansi terkait pembuat keputusan. Kedua. dan memobilisasi kekuatan. Level kelompok aliansi tersebut dapat juga dilihat dari kemampuan membuka akses. Semakin tinggi gradasi yang dapat dipenuhi. Langkah selanjutnya adalah membentuk kelompok aliansi pada setiap wilayah kerja DPRD. dan dan mencari solusi bersama. jaringan atau aliansi dapat berupa hubungan secara horisontal. menengah. Pembentukan kelompok aliansi ini didasarkan pada kebutuhan dan dukungan yang diperlukan untuk memperjuangkan suatu tujuan atau kepentingan. 4. Pembentukan level-level kelompok aliansi ini memiliki tugas. esensi membangun aliansi adalah membangun jaringan kerja kelompok. kriteria tersebut juga dapat dipandang sebagai gradasi sehingga memungkinkan untuk terus-menerus menemukan. antara lain: merumuskan program kerja yang jelas dan agenda perjuangan kelompok aliansi oleh anggota kelompok aliansi.  Aktif membentuk opini publik dan meyakinkan kepada publik bahwa agenda yang diperjuangkan adalah kepentingan publik. sebagai peluang kedekatan untuk terjadi aliansi antar kelompok masyarakat dalam aliasi.3. semakin tinggi pula tingkat kohesivitas sebuah aliansi. Model jaringan kerja dapat dibagi ke dalam tiga bentuk. Aliansi yang terbangun tidak selalu dapat memenuhi semua kriteria tersebut. Karena itu. Alinsi strategis ini juga dapat menfasilitasi berbagai kelompok kepentingan maupun lembaga pemerintah untuk ikut merumuskan agenda publik. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Kinerja sebuah aliansi lebih bersifat jaringan kerja daripada hubungan dalam suatu struktur yang kaku. yaitu hubungan berjenjang misalnya pada level daerah dan pusat. Ini merupakan upaya untuk mengakomodasi beragamnya kepentingan kelompok masyarakat. yaitu aliansi yang dibangun dalam wilayah yang sama dan kelompok yang setara. Aliansi model ini sangat ditentukan oleh adanya hirarkhi . serta peranan yang harus dimainkan dimana masing-masing level tersebut untuk dapat menjadi kunci atau penentu dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. serta membangun dukungan yang luas dari kelompok masyarakat lainnya. Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: First line: 0. Ketiga. Pembentukan kelompok aliansi dapat dikembangkan tidak hanya pada level internal daerah tetapi juga regional dan nasional. dan atas. dan fungsi.5". lebih bersifat kombinasi tergantung kepada kebutuhan dan tantangan yang dihadapi. Adanya kepentingan yang sama. membangun komunikasi yang intensif antara satu kelompok dengan kelompok aliansi lainnya baik secara horisontal maupun vertikal. Cara pencapaian tujuan yang sama. Oleh karena itu. level atas. Tab stops: Not at 1" . model hubungan kombinasi horisontal dan vertikal dimana hubungan ini tidak dibatasi oleh arah horizontal maupun vertikal. menyusun taktik strategi dan taktik yang jelas. dan.  Ikut bersama-sama memperjuangkan kepentingan yang telah diruimuskan bersama menjadi agenda publik.

baik untuk meningkatkan kinerja internal dewan maupun fungsi yang harus didorong Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. diperkirakan sudah matang.  Fungsi koordinasi tidak semata-mata menjadi bagian dari mekanisme birokrasi pemerintahan tetapi juga harus dijalankan oleh DPRD. pelaksanaan. nNamun.  Untuk mencapai tTujuan bersama hanya bisa dicapai jika lakukan dengan terdapat kerjasama yang kuat dari para stakeholders.  Membangun dan memelihara komunikasi secara intensif dengan kelompok kerja. Koordinasi antar elemen tersebut sangat vital harus mencakup perencanaan maupun dalam upaya mencari solusi setiap masalah publik. Terkadang masalah yang muncul sebanarnya tampak sangat sederhana dan bukan lagi persoalan. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. pada tingkat implementasi. Menyepakati mekanisme kerja kelompok kerja agar peranan mereka tetap berkelanjutan.  Kerjasama dan dukungan publik sangat diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan pembangunan daerah serta kompetisi antar daerah. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt.  Mengkomunikasikan berbagai kepentingan kelompok strategis dalam merumuskan kepentingan bersama. Aliansi strategis juga dapat difungsikan untuk Mmendorong efektivitas fungsi koordinasi antar instansi pemerintah. maupun pengawasan kepentingan publik yang dengan cara lebih maju berkaitan erat dengan upaya membangun dukungan terhadap keberadaan mereka dari kelompokkelompok masyarakat terhadap kinerja aparatur tersebut. masalah yang sangat krusial seringkali adalah lemahnya koordinasi. Tab stops: Not at 1" Formatted: Font: +Body.  Mendorong koordinasi dalam merencanakan dan memecahkan pelbagai isu publik. atau pada tingkat konseptual. Aliansi ini juga dapat berperan penting dalam Mmendorong kinerja aparatur atau lembaga pemerintahan yang terlibat dalam perencanaan. Ia dapat merupakan kompleksitas masalah berbagai sektor yang saling terkait satu sama lainnya.  Menunjuk penanggung jawab kelompok kerja dan membuat pembagian tugas anggota. Hal dapat dilakukan dengan:  Meyakinkan stakeholders bahwa partisipasi dan obligasi moril sangat dibutuhkan dalam mendorong kinerja bekerjanya suatu pemerintah yang baik adalah sebagai suatu kebutuhan bersama/publik. Hal ini dapat dilakukan dengan:  Menciptakan sistem komunikasi yang integral yang dan dapat melibatkan dengan pelbagai kelompok strategis. Not Highlight . Upaya aliansi untuk Membangun kapasitas dalam mendorong koordinasi antar elemen pembangunan di atas menjalankan fungsi koordinasi adalah upaya anggota DPRD untuk menekan menjalankan fungsi dan peranannya di dalam mendorong berjalannya fungsi munculnya koordinasi yang lebih baik antar sektor atau lembaga yang terkait dengan kepentingan dan pelayanan publik. maupun instansi pemerintah dengan instansi atau lembaga swasta dan LSM sebagai pelaku-pelaku pembangunan daerah. Dalam mengupayakan hal ini. DPRD perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:  Problematika publik yang muncul ke permukaan kerap sekali tidak berdiri sendiri dan.

atau tetap memegang etika kedewanan berpihak kepada kelompok masyarakat yang dirugikan? Semua ini berpulang kepada Anda. Kesalahan ini tidak semata-mata ditimpakan kepada PKL karena tetapi akar masalah sebenarnya adalah karena tidak ada perencanaan tata ruang kota baik fisik maupun non fisik secara yang matang atau karena melemahnya penegakan aturan. pelaksanaan. kasus munculnya pedagang kaki lima (PKL) bak jamur di musim hujan. cara pandang anggota dewan dalam melihat masalah tidak sepotong-sepotong atau hanya melihat per sektor. ataupun menimbulkan timbunan sampah.sehingga Akibatnya mengganggu ruas jalan. yang terus meningkat dan sangat liar. masalah publik yang ditimbulkan semakin kompleks. dan menimbulkan kemacetan. Dalam konteks perspektif koordinasi. Langkah-langkah antisipatif adalah mengidentifikasi sejumlah masalah yang memiliki keterkaitan antar sektor. Hal ini misalnya munculnya sejumlah persoalan publik sebagai akibat pencemaran lingkunganudara. pengguna dan pengawasan. Misalnya. Tumpang tindih masalah satu sektor dengan sektor lainnya tidak bisa dihindari. Mengapa? Karena bobot suatu masalah tidak muncul dari sektor itu sendiri tetapi dapat juga sebagai akibat dari ketimpangan dari sektor lain. . berpihak kepada kelompok yang kuat. pelaksana. Fungsi koordinasi tidak hanya dipahami sebagai sebuah konsep atau sebagai bentuk mekanisme kerja lembaga tetapi sebagai suatu kebutuhan yang harus dilaksanakan. Koordinasi terkadang mudah untuk diucapkan akan tetapi sulit untuk diwujudkan. Dari sini kemudian menimbulkan akumulasi masalah. Mengidentifikasikan stakeholders yang terlibat baik dalam perencanaan. Ini misalnya terkait kasus persoalan lingkungan seperti geografis dalam satu kawasan tertentu. masalah timbunan sampah. Mendorong stakeholders untuk melakukan koordinasi dalam proses mperencanakan. Pemecahan masalah ini tentu tidak bisa dilakukan oleh satu sektor saja yang terbatas dalam satu atau hanya pemda tertimpa musibah tersebut tetapi harus melibatkan pemda lainnya yang juga menjadi mata rantai masalah tersebut. pengawasan maupun pengambilan keputusan. Persoalan yang kerap muncul di sini adalah apabila stakeholders yang terlibat ada mempunyai kekuasaan dan atau pengaruhnya yang besar atau dapat juga suatu kelompok yang memiliki kekuatan ekonomi. apalagi tidak pernah terjamah oleh kelompok atau pihak yang berkepentingan. Semakin tinggi tingkat perkembangan masyarakat. Misalnya siapa yang terlibat langsung dalam pengambilan keputusan? Siapa kelompok yang sangat dirugikan? Siapa kelompok yang diuntungkan oleh suatu keputusan? Dari proses identifikasi ini selanjutnya dapat dimerumuskan pendekatan dan langkah apa yang sebaiknya dilakukan. sikap apa yang sebaiknya anda lakukan sebagai anggota dewan yang bertanggung jawab dan moral.      untuk meningkatkan kinerja lembaga eksekutif sebagai lembaga yang melaksanakan agenda publik. tanah longsor dan lain sebagainya. pembabatan hutan. bencana alam seperti banjir. Keterkaitan atau kompleksitas masalah publik juga dapat terjadi karena aebagai letak dampak dari lingkungan atau daerah sekitar. Apabila kenyataan tersebut diharapkan kepada Anda apa yang dapat anda lakukan? Menghindar.

proses pengambilan keputusan maupun dalam pengawasan dan evaluasi. Akhirnya. upaya membangun fungsi koordinasi dan pengawasan terlaksananya agenda kerja sama dapat diwujudkan dengan mendorong serta melibatkan partisipasi aktif pelbagai kelompok masyarakat seluas-luasnya. Formatted: Space Before: 0 pt . Untuk meningkatkan kinerja lembaga dewan maupun fungsi tata pemerintahan yang baik hendaknya menempatkan masalah koordinasi sebagai bagian penting dalam proses perencanaan. legal. dan terlembaga. Dengan demikian proses politik yang berjalan baik pada level pemerintahan maupun pada level DPRD dapat memenangkan kepentingan rakyat secara konstitusional.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful