DISAIN PENGUATAN PERAN DAN FUNGSI DPRD

Daftar Isi Bab I Pendahuluan Bab II Arah Demokrasi Baru, Reformasi Keterwakilan dan Pengaruhnya terhadap Kapasitas Keparlemenan Bab III Pemilihan Langsung dan Akuntabilitas Wakil Rakyat Bab IV Menjadi Wakil Rakyat dalam Konteks Otonomi Daerah Bab V Menjembatani dan Mengelola Berbagai Kepentingan Politik Publik Bab VI Memahami Fungsi dan Tugas Wakil Rakyat Bab VII Membangun Lembaga Perwakilan di Daerah yang Berwibawa Bab VIII Membangun Aliansi Strategis dan Memenangkan Kepentingan Rakyat Rasionalisasi thd Rancangan Sistematika Modul sebelumnya 1. Pengantar a. Substansi setiap bab b. Alur kerja yang menghubungkan semua komponen di tiap fungsi ( yg ada dalam setiap modul)- gambarkan dalam bagan utama 2. Pengertian dan Prinsip Dasar (Masing-masing fungsi): Rujukan regulasi muncul dalam sub bab ini. Sajikan juga alat peraga, misal, dalam bentuk formulir isian dari setiap tema penting beserta cara pengisiannya Bab ini cenderung normatif saja: legislasi, penganggaran, dan pengawasan yang baik sesuai peraturan perundangan a. Konsepsi dasar dari substansi b. Jenis dan ruang lingkup substansi c. Ukuran dari derajat substansi d. Mekanisme bekerjanya substansi e. Faktor-faktor yang mempengaruhi bekerjanya substansi 3. Problem dasar implementasi substansi a. Limitasi regulasi b. Limitasi teknokratis administratif c. Limitasi konteks lokal 4. Insentif dan Strategi a. Insentif implementasi substansi b. Strategi implementasi substansi 5. Lampiran2 a. Formulir-formulir isian yang muncul di bab II b. Direktori perundang-undangan pada masing-masing fungsi

Bab I PENGANTAR Problematika Struktural: Konstruksi dan Format DPRD 2009  Posisi DPRD dalam Pemilu Langsung dan Relasinya dengan Partai Politik  Kendala Struktural Optimalisasi Tugas dan Fungsi DPRD Problematika Kapasitas Kelembagaan: Organisasi dan Keanggotaan DPRD  Kapasitas Organisasi DPRD  Kapasitas Individual Anggota DPRD Mendesain Penguatan Kapasitas DPRD  Anggota DPRD: Kombinasi Politisi dan Teknokrat  Prinsip Dasar Penguatan Kapasitas Organisasi DPRD  Prinsip Dasar Penguatan Kapasitas Anggota DPRD Alur Penguatan Fungsi dan Peran DPRD  Berdasarkan Optimalisasi Fungsi DPRD (Bagan besar)  Berdasarkan Optimalisasi Alat Kelengkapan  Berdasarkan Optimalisasi Lembaga Pendukung (Setwan dan Tenaga Ahli)  Berdasarkan Optimalisasi Kekuatan Masyarakat dan Media Indikator DPRD yang Berkualitas Nominal dan substansial Hubungan Antara DPRD dan Pemerintah Daerah Bagan hubungan dalam struktur fungsi umum dan sisi teknokratisnya. Tantangan dan Hambatan dalam Implementasi Desain Penguatan Fungsi dan Peran DPRD (yang dianjurkan dalam modul ini)  Tantangan o Waktu: bekal awal tidak cukup tdk ada kaderisasi di parpol o Ruang: berhadapan dengan struktur sistemik dan pragmatisme individual  Hambatan o Waktu: o Ruang: Insentif dan Strategi Penguatan Fungsi dan Peran  Insentif agar ini DPRD Membangun Penguatan Fungsi dan Peran o Kepercayaan Masyarakat dan Pemenuhan Janji: Menyelamatkan masa depan politik elektoral o Mempersiapkan Pemilu selanjutnya dan Merintis Karir Politisi ke level Provinsi dan Pusat o Insentif ekonomi (reward DPRD ditentukan oleh besaran PAD) o  Strategi yang bisa dilakukan o o Lampiran

Pengantar Modul Program pelatihan DPRD sudah banyak dilakukan, baik yang difasilitasi oleh kalangan universitas, lembaga pelatihan profesional, lembaga donor, maupun oleh kalangan organisasi masyarakat sipil. Namun, banyak dari pelatihan tersebut seringkali tidak disiapkan dengan capaian strategis dan taktis yang terarah untuk menjawab tantangan kongkrit dari DPRD. Belum lagi, ada kecenderungan dari lembaga-lembaga penyelenggara pelatihan tersebut untuk melihat problema DPRD di semua daerah secara seragam sehingga materi pelatihannya cenderung terlalu umum, abstrak, teoritis, dan tidak menyentuh secara mendalam masalah-masalah riil yang dihadapi oleh DPRD. Akibatnya, hasil pelatihan seringkali tidak memiliki dampak perubahan yang jelas, kecuali sekedar tambahan pengetahuan atau menebalkan kesadaran terhadap peran DPRD sebagai wakil rakyat. Hasil pelatihan akhirnya akan sangat sulit diukur keberhasilannya. Hal tersebut bukan tidak penting, namun harus dipertajam lagi seiring dengan kebutuhan anggota DPRD yang dituntut bukan hanya memiliki keahlian sebagai politisi namun juga memiliki kapasitas teknokratis-administratif dalam urusan pemerintahan daerah. Kapasitas teknokratis-administratif menjadi vital karena, dalam semua urusannya, DPRD harus berinteraksi dengan pemerintah daerah (eksekutif) yang logika kerjanya selalu didasarkan pada pranata ini. Tanpa penguasaan terhadap wilayah ini, niscaya DPRD tidak akan mampu menjalankan peran dan fungsinya secara optimal. Ini terjadi bukan karena anggota DPRD tidak memiliki keinginan, namun seringkali karena tidak memiliki keahlian dan alat kerja yang mencukupi dalam pelaksanaan fungsinya baik sebagai pengarah, mitra, dan pengawas bagi pemerintah daerah. Modul pelatihan ini ingin mengubah kecenderungan di atas dan menawarkan Pelatihan DPRD berbasis Riset . Oleh sebab itu, nilai lebih yang dapat ditemukan dalam modul ini adalah sebagai berikut: 1. Modul ini tidak hanya memberi perspektif perubahan, namun juga menunjukkan pilihan-pilihan yang realistis dilakukan; 2. Modul ini tidak hanya menunjukkan berbagai peraturan perundangundangan terkait pelaksanaan fungsi dan peran DPRD, namun juga memberikan alat kerja agar DPRD dapat menjalankan fungsi dan perannya dengan jelas dan tepat; 3. Modul ini tidak hanya menunjukkan masalah, namun juga cara memecahkan masalah; dan 4. Modul ini tidak hanya memberi panduan agar pelaksanaan fungsi dan peran anggota DPRD sesuai aturan perundang-undangan, namun juga memberikan kerangka kerja kritis dan inovatif dalam merancang perubahan. Singkat kata, program penguatan dan pengembangan kapasitas DPRD hanya bisa berarti jika didasarkan pada kondisi umum DPRD di Indonesia dan kondisi khusus masing-masing daerah sekaligus yang dihadapi oleh masing-masing DPRD. Meski fungsi dan tugasnya sama, tantangan yang dihadapi oleh setiap DPRD sangat variatif. Konsekuensinya, hasil dari setiap pelatihan DPRD hanya akan optimal jika didasarkan pada kebutuhan dari masing-masing daerah.

Mereka ini tentu membutuhkan adaptasi terlebih dahulu. DPD. UU Susduk 2009. Merespon kendala ini.. yaitu kemampuannya menelurkan berbagai kebijakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat luas. 27/2009 tentang MPR.. Kesemuanya ini pada gilirannya harus bisa ditransformasikan secara kelembagaan sehingga sustainabilitas kualitas DPRD terjaga meskipun terjadi pergantian anggota DPRD (pergantian antar waktu.. dan pengawasan. Kualitas anggota DPRD selanjutnya akan dilihat sejauhmana kemampuannya mempresentasikan diri sebagai wakil rakyat.. anggota DPRD 2009 dipilih melalui pemilihan langsung dengan mekanisme suara terbanyak. 2/2008. dst. tugas.. DPR. PP tentang protokoler dan keuangan.. 27/2009. Problematika Struktural: Konstruksi dan Format DPRD 2009 Ada dua hal penting untuk dicermati dalam melihat konstruksi dan format DPRD hasil pemilu 2009. pelatihan-pelatihan berbasis keahlian-keahlian tertentu bisa dilakukan sebagai tambahan soft skill agar dinamika kerja DPRD dapat berkembang.. Ini bisa dicukupi melalui pelatihan terkait penguatan kapasitas dan peran anggota DPRD dalam menjalankan fungsinya di bidang legislasi. 23/2003. terlebih bagi politisi yang sedari karirnya di partai politik tidak memiliki atau tidak diberi bekal pemahaman yang jelas tentang pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD dalam kerja sehari-hari..  . dan fungsi DPRD hasil pemilu legislatif 2009 dalam sistem pemerintahan daerah tidak berbeda jauh dengan periode sebelumnya. Terkait DPRD. Posisi DPRD dalam Pemilu Langsung dan Relasinya dengan Partai Politik Berbeda dengan DPRD 2004. tanpa harus memperhatikan nomor urut pencalonan.. seperti PP tentang perumusan tata tertib DPRD. anggota DPRD 2009 memiliki tingkat representasi politik yang lebih baik dari sebelumnya. format DPRD menyangkut kedudukan. 10/2008 dan sistem kepartaian sebagaimana diatur dalam UU No.Bab I Pendahuluan Formatted: Font: +Body. serta kritis dan inovatif. Antisipasi perbedaan mungkin akan dapat dilihat nantinya dalam berbagai PP turunan UU ini.. Baru setelahnya. Namun. representasi politik saja tidaklah cukup. Pertama. Konsekuensinya. sebagai wakil rakyat. perbedaan hanya terjadi pada . Tantangan paling awal bagi kelembagaan DPRD hasil Pemilu 2009 adalah karena resikonya sebagai lembaga perwakilan yang dipilih secara berkala. tugas. Kedua. Not Italic Kedudukan.. tugas paling awal dari setiap pelatihan DPRD adalah memastikan bahwa setiap anggota DPRD menguasai dan memahami tugas dasarnya sebagai wakil rakyat. yaitu kenyataan sebagian anggotanya belum memiliki pengalaman menjabat.. PP . dan fungsi DPRD sebagaimana diatur dalam UU No. konstruksi DPRD sebagai lembaga perwakilan dalam desain sistem pemilu sebagaimana diatur dalam UU No. pergantian periode). Perubahan ini dilakukan karena . yaitu No.. mampu merumuskan solusi permasalahan... dan DPRD tidak mengubah format dasar pengaturan DPRD yang sebelumnya diatur dalam UU No. anggaran.

Anggota DPRD 2009. berpindah sebagai anggota partai lain. Kontrol partai politik terhadap anggotanya juga terbilang kuat melalui mekanisme PAW (UU No. anggota DPRD sebenarnya tidak lagi semata menjadi wakil dari partai politik tertentu atau terbatas pada konstituennya saja. Dalam konteks DPRD pidana dan tata tertib DPRD. Fraksi berwewenang . Namun demikian. Fraksi adalah alat perpanjangan tangan dari partai politik untuk menjalankan agenda politiknya melalui DPRD. Usulan penggantian ini karena . faktor fundamental yang menentukan adalah kualitas personal dari anggota DPRD di hadapan masyarakat atau pemilih. anggota DPRD juga semestinya mampu membangun perimbangan terhadap kebijakan fraksi jika dinilai memperjuangkan kepentingan yang tidak selaras dengan kepentingan publik. Namun. antara mendekat ke partai politik yang lebih besar (untuk mempertahankan peluangnya pada pemilu selanjutnya maupun untuk merlanjutkan karir politiknya ke tingkat provinsi atau pusat) ataukah tetap bertahan di partainya saat ini. Problem hubungan antara partai politik dan anggotanya di DPRD kiranya justru muncul pada anggota DPRD dari partai politik yang tidak lolos parliamentary threshold pada pemilu 2009 lalu atau yang suaranya relatif kecil di daerah yang bersangkutan. Pasal 383 ayat 2 huruf e dan h). Setelah terpilih. Anggota DPRD justru memiliki kewajiban agar terus mengawal kepentingan publik melalui fraksinya. Usulan PAW baru bisa pidana. DPRD harus berhadapan dengan realitas dalam dirinya. Oleh karena itu. anggota DPRD sudah semestinya menjadi agen perjuangan partai politik. Anggota DPRD dihadapkan pada persoalan dilematis. anggota DPRD tidak perlu diberhentikan dari keanggotaan partai politik. Meski kontrol partai terhadap anggotanya yang ada di DPRD tetap kuat yakni . melalui fraksi dan pemegang kewenangan untuk mengusulkan penggantian anggota melalui penggatian antarwaktu (PAW). yang tak jarang memiliki kepentingan yang berbeda. anggota DPRD yang merisaukan kontrol dari partai politik bersangkutan dapat mengajukan keberatan sepanjang tidak melakukan tindak melalui pengadilan. kedekatan anggota DPRD terhadap aspirasi dan kepentingan masyarakat justru akan menjadi kunci apakah dirinya akan dipilih atau tidak pada pemilu selanjutnya. ataupun dilakukan setelah adanya putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap.. pelanggaran tata tertib. Kewenangan ini patut dicermati mengingat selama ini sering menjadi pintu masuk dari partai politik untuk menertibkan wakilnya di DPRD yang dinilai melenceng dari garis Penggantian Antarwaktu (PAW) Selain karena melanggar aturan hukum kebijakan partai. 27/1999. ketentuan terkait hal ini masih dapat diusulkan penggantiannya oleh partai menanti Peraturan Pemerintah yang politik (PAW). Konsekuensinya. DPRD adalah wakil semua masyarakat. yang penting diingat adalah bahwa sistem pemilu yang dipakai untuk pemilu selanjutnya kiranya mau tidak mau akan tetap menggunakan pemilihan dengan mekanisme suara terbanyak. atau karena anggota DPRD sampai saat ini belum diterbitkan. anggota DPRD tidak perlu khawatir sepanjang tetap berpegang pada nilai-nilai kebajikan publik. . Dalam konteks ini. Namun. seperti halnya pemilu 2009. Ini adalah konsekuensi UU Pemilu 2008 yang mempersempit ruang gerak bagi partai-partai yang tidak mampu mendudukkan wakilnya di DPR Pusat. Jika diberhentikan. antara sebagai wakil rakyat dan wakil partai politik. Di sini rasionalitas anggota DPRD akan diuji.Dalam konteks ini.

dana insidental lainnya seperti bantuan masyarakat saat terjadi bencana alam juga tidak diatur sebagai kewenangan DPRD kecuali sebatas menerima laporannya dari pemerintah daerah. DPRD tidak mampu mengawasi pelaksanaan perda secara maksimal karena wewenangnya tidak menjangkau sampai dengan pembatalan peraturan atau keputusan kepala daerah (hak legislasi di wilayah eksekutif) bilamana bertentangan dengan perda. Meskipun secara prinsip DAK adalah menjadi kewenangan pemerintah pusat. 27/2009 tidak berbeda jauh dari pengaturan sebelumnya di UU No. Selain itu. c. Bahkan. evaluasi DPRD terhadap kinerja pemerintah daerah sulit menyentuh aspek-aspek pengelolan kebijakan dari pemda (di setiap SKPD) pada tahap implementasi APBD. seperti Dana Alokasi Khusus dan Dana Darurat. banyak perda yang kemudian dibatalkan oleh pemerintah pusat. Demikian halnya dengan terobosan di wilayah fungsi anggaran. dalam banyak kasus.Kendala Struktural Optimalisasi Tugas dan Fungsi DPRD Secara umum. sebagai alat kelengkapan DPRD 2009. b. Dalam konteks urusan yang menyangkut hubungan antara pemerintah pusat dan daerah. Keberimpitan urusan pusat dan daerah dalam DAK juga ditunjukkan oleh pengaturan dalam Pasal 41 UU No. dan fungsi DPRD sebagai landasan agar DPRD dapat bekerja secara optimal. Kendala-kendala tersebut tidak lantas membuat DPRD tidak bisa berfungsi optimal. terlebih untuk mendapatkan DAK juga bisa diusulkan oleh pemerintah daerah (Pasal 162 UU No. terkait fungsi legislasi. wewenang DPRD dalam menerima laporan pertanggungjawaban dari pemerintah daerah juga lebih dibatasi pada pembacaan angka-angka saja seperti tertuang dalam Laporan Realisasi  Anggaran. Neraca. terkait fungsi pengawasan. DPRD dapat terus-menerus melakukan memelopori negosiasi kepada pemerintah pusat terkait pembagian urusan yang lebih memberikan manfaat kepada daerah. persetujuan dan pengawasan DPRD terbatas pada wilayah APBD saja sehingga tidak memiliki ruang terhadap penggunaan anggaran non-APBD yang bersal dari pemerintah pusat. secara struktural ada beberapa kendala dalam pengaturan kedudukan. Hal lain. 32/2004 huruf b). Dalam konteks optimalisasi fungsi legislasi. dan Catatan Atas Laporan Keuangan. 33/2004 yang mensyaratkan adanya Dana Pendamping dari daerah terhadap DAK minimal sebesar 10 persen dari total proyek (kecuali untuk . Namun. agar dapat memastikan bahwa setiap produk perda nantinya dapat disetujui bersama pemerintah daerah dan tidak dibatalkan oleh pemerintah pusat (melalui Peraturan Presiden). terkait fungsi anggaran. namun dalam implementasinya program pembangunan yang didanai oleh DAK ini sebenarnya sangat berimpit dengan urusan daerah. terkait pengawasan pelaksanaan APBD. DPRD butuh mencari terobosan untuk menutupi potensi lubang-lubang kendala struktural ini. Kendala struktural tersebut adalah: a. 23/2003 terkait pelaksanaan fungsi legislasi. berdasarkan pengalaman sebelumnya. DPRD dapat mengoptimalkan Badan Legislasi. Laporan Arus Kas. kedudukan. dan fungsi DPRD sebagaimana diatur dalam UU No. tugas. Konsekuensinya. Hanya saja. kewenangan DPRD seringkali terhambat karena ada produk-produk kebijakan nasional yang tidak memberikan keleluasaan kepada daerah. anggaran dan pengawasan. tugas.

27/2009 mengintrodusir dua komponen baru yang terdiri dari satu alat kelengkapan dan satu sistem pendukung bagi DPRD yang tidak ada dalam UU Susduk DPRD sebelumnya (UU No. alat kelengkapan yang tersedia hanya berbentuk kepanitiaan saja yang bekerja secara tentatif (ad hoc). Sedangkan terkait fungsi pengawasan. pemantauan. persoalan lain yang tak kalah fundamental kapasitas kelembagaan dari DPRD 2009. Dalam bidang legislasi dan anggaran. misalnya. DPRD diharapkan bisa mengadvokasi kewenangannya bukan hanya terbatas pada alokasi dan pengawasan Dana Pendamping yang telah dimasukkan dalam komponen APBD. Konsekuensinya. Pada kasus ini. UU No. produksi perda yang dihasilkan oleh DPRD relatif sangat sedikit.  Kapasitas Organisasi DPRD Pengalaman sebelum ini menunjukkan bahwa kapasitas organisasi DPRD masih belum memadai. Belum lagi berbagai perda yang sudah disahkan tiba-tiba dianulir atau dibatalkan oleh pemerintah pusat karena dinilau bertentangan atau menghambat implementasi berbagai produk pwerundang-undangan di tingkat nasional. Tak heran. DPRD dapat memperkaya evaluasi pertanggungjawaban implementasi APBD yang disampaikan oleh pemerintah daerah bukan hanya berbasis pada laporan keuangan namun juga mendasarkan pada capaian keberhasilan yang dirunut dari kinerja masing-masing SKPD. 23/2003 dan UU No. yaitu peraturan kepala daerah dan keputusan kepala daerah (Pasal 42 ayat 1. Keterlibatan DPRD sejak lebih awal tentu dapat mengurangi potensi sengketa materi hukum peraturan kepala daerah atau keputusan kepala daerah. Perbandingan Alat Kelengkapan DPRD dan Unit kerja Lainnya antara UU No. dalam konteks pengawasan APBD. Kapasitas kelembagan yang dimaksud di sini adalah menyangkut kapasitas organisasi DPRD . alat kelengkapan maupun sistem pendukung yang tersedia pada DPRD sangat terbatas dan tidak terkonsolidir dalam satu kesatuan holistik pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. UU No. Keduanya adalah Badan Legislasi Daerah dan Kelompok Pakar atau Tim Ahli.mencakup alat kelengkapan DPRD dan sistem pendukung DPRDmaupun kapasitas individual dari anggota-anggota DPRD dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. dan pengawasan terhadap pemerintah daerah terkait pembuatan dan implementasi produk legislasi yang menjadi wilayah eksekutif. 23/2003 (DPRD Kab/Kota) . sehingga tidak perlu berujung pada reaksi penggunaan hak interpelasi dan hak angket. Dalam UU Susduk yang lama. pelaksanaan fungsi legislasi dan anggaran gagal dikonsolidasikan dalam satu agenda strategis jangka panjang dan berlangsung secara sporadis. DPRD dapat mencari terobosan dengan memperketat koordinasi. 27/2009 Pasal 353. 27/2009 UU No. yaitu UU No. 23/2003. Selain itu. 23/2003).daerah dengan kemampuan fiskal yang rendah). huruf c). Problematika Kapasitas Kelembagaan: Organisasi dan Keanggotaan DPRD Selain persoalan kondisi struktural yang menjadi batas kerangka kerja DPRD di atas.

Kelompok Pakar atau Tim Ahli ini dimaksudkan untuk memberikan dukungan substantif yang membantu alat kelengkapan DPRD dalam melaksanakan fungsinya. Badan Kehormatan. d. Badan Musyawarah. 27/2009. Perda yang sudah disahkan juga bisa diminimalisir potensinya dari pembatalan oleh pemerintah pusat ( perda bermasalah ) karena materi perda dapat disusun secara lebih hati-hati agar tidak bertabrakan dengan berbagai regulasi yang ada di tingkat nasional. mengusulkan. atau alat kelengkapan DPRD lainnya. Komisi. Berbeda dengan Sekretariat DPRD yang difokuskan pada dukungan teknis.Alat Kelengkapan Sekretariat Dewan Kelompok Pakar atau Tim Ahli Tidak ada a. c. keberadaan Kelompok Pakar atau Tim Ahli tak kalah strategis untuk memperkuat pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. mengkonsolidasikan. jika mengikuti tugas alat kelengkapan Badan Legislasi yang ada di DPR. Keberadaan Badan Legislasi Daerah dengan demikian sangat strategis dalam konteks optimalisasi fungsi legislasi dari DPRD. dan menyusun legislasi daerah dalam kerangka yang programatik. Membantu dan mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD dalam hal: Membantu alat kelengkapan DPRD dalam pelaksanaan fungsi. Namun. Melalui keberadaannya. tugas. Badan Legislasi Daerah. Dalam menjalankan tugasnya. Badan Anggaran. b. g. Masalah rancangan perda yang saling berhimpit antara yang diajukan oleh Pemda dan yang diajukan oleh inisiatif DPRD dengan demikian akan bisa teratasi sehingga proses pembuatan perda menjadi lebih terarah dan efektif. f. Pimpinan. maka Badan Legislasi Daerah dimaksudkan sebagai wadah khusus dalam kelembagaan DPRD yang berfungsi untuk mengkoordinir. adminsitratif. legislasi daerah dapat disusun berdasarkan program legislasi daerah yang direncanakan dalam kurun waktu lima tahun (satu waktu masa keanggotaan) yang diterjemahkan ke dalam tahapan per tahun (setiap tahun anggaran) secara tepat. Badan Legislasi Daerah bekerjasama dengan semua komponen lain karena wewenang untuk mengajukan perda masih tetap bisa datang dari pemerintah daerah. anggota DPRD. dan pelaksanaan anggaran DPRD. dan wewenang DPRD melalui berbagai kajian dan analisis terhadap berbagai bidang urusan DPRD Tugas dari Badan Legislasi Daerah ini sebenarnya tidak disebutkan secara tegas dalam UU No. Alat kelengkapan lain yang diperlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna. merancang. Di sektor Sistem Pendukung. e. Kelompok pakar atau Tim Ahli ini direkrut berdasarkan .

1. Ada beberapa keterbatasan yang sangat mungkin mengganggu upaya DPRD mengoptimalkan keberadaan mereka ini. Tentukan standar pembiayaan Kelompok DPRD untuk membiayai Pakar/Tim Ahli. Kelompok Pakar/Tim Ahli. anggota DPRD Kabupaten/Kota yang terpilih. Pastikan pengaturan hal-hal di atas ada deskripsi tugas (job description) dalam Peraturan Tata tertib DPRD yang jelas dari Kelompok Pakar atau Tim Ahli. keberadaan Kelompok Pakar atau Tim Ahli ini bisa saja menjadi tidak efektif. Ini mengingat keberadaan anggota DPRD yang berasal dari beragam latar belakang dengan kapasitas dan keahlian yang berbeda-beda. dialokasikan dalam anggaran 3. Tentukan ukuran kemampuan keuangan 2. ini memang konsekuensi logis dari masih lemahnya sistem rekrutmen politik anggota DPRD yang berpadu dengan belum matangnya rasionalitas publik pemilih untuk memilih calon anggota DPRD yang berkualitas. diantaranya . Jika dilihat berdasarkan ukuran tersebut. hanya . Penentuan tugas. Profil anggota DPRD periode 2004-2009 banyak diisi oleh mereka yang .  Kapasitas Individual Anggota DPRD Sama halnya. Tentukan target hasil kerja dari Kelompok 4. Bahkan. dan Pakar/Tim Ahli. pengaturan terhadap hal-hal di atas sangat penting untuk dilegalisasi secara formal yang bisa menjadi bagian dalam Peraturan DPRD tentang Tata Tertib DPRD. Dari total . Kebutuhan adanya Kelompok pakar atau Tim Ahli sudah dirasakan selama ini untuk memperkuat kelembagan DPRD. fungsi. Hanya saja. 6. Tentukan mekanisme rekrutmen yang terbuka dan kriteria seleksi yang jelas dari Tim Ahli. Oleh sebab itu. Penentuan prioritas kebutuhan terhadap pekerjaan-pekerjaan Pembentukan Kelompok Pakar/Tim Ahli 1. Keterbatasan kemampuan daerah untuk membiayai Kelompok keuangan daerah yang Pakar/Tim Ahli. Penentuan mekanisme rekrutmen 5. 7. 2. kelengkapan. Tim Ahli. kapasitas individual dari anggota DPRD selama ini cukup banyak yang terbilang belum memenuhi standar keahlian ataupun pengalaman agar dapat mewakili rakyat sebagai legislator. kebutuhan Kelompok Pakar atau 4. profik DPRD hasil Pemilu 2009 tampaknya belum berbeda jauh. 5. fungsi. Tentukan prioritas kebutuhan pekerjaan DPRD yang membutuhkan yang memutuhkan dukungan Kelompok dukungan dari Kelompok Pakar Pakar/Tim Ahli untuk masing-masing alat atau Tim Ahli. dan deskripsi dan seleksi Kelompok Pakar atau tugas dari Kelompok Pakar/Tim Ahli. Tentukan tugas. diharapkan DPRD mampu lebih optimal menjalankan fungsinya. Tak dapat dipungkiri. tak jarang ditemui anggota DPRD yang bahkan tidak memiliki sedikitpun pengalaman terkait bidang-bidang kerja yang harus ditangani oleh DPRD..kompetensinya dalam disiplin ilmu tertentu yang dibutuhkan oleh alat kelengkapan DPRD yang bertugas melakukan berbagai kajian dan analisis pada bidang-bidang yang menjadi urusan DPRD. 3. Penentuan target hasil kerja dari Kelompok Pakar atau Tim Ahli Selanjutnya. Melalui keberadaan Kelompok pakar atau Tim Ahli. keberadaan Kelompok Pakar atau Tim Ahli diharapkan mampu menambal kebocoran sistemik ini.

keahlian dasar sebagai seorang anggota DPRD sudah dimiliki sebelum menjabat. h. hambatan ini semestinya sudah harus diminimalisir. Hanya saja. mengajukan rancangan peraturan daerah kabupaten/kota. . protokoler. Jika dilihat dari komposisi antara incumbent (sudah/pernah menjabat sebagai anggota DPRD) dan anggota baru. memilih dan dipilih. e. hak angket. imunitas. Fakta ini memang tidak serta merta menjadi dasar untuk mengatakan bahwa kapasitas dari anggota DPRD tidak mumpuni. dan masyarakat luas. 27/2009). d. UU No. membela diri. tantangan. Tentu saja. namun yang tak mungkin ditawar lagi adalah bahwa anggota DPRD sudah semestinya memliki pemahaman dan kemampuan untuk meletakkan grand design dalam semua kebijakan daerah. f. Hak Anggota DPRD terkait fungsinya adalah hak interpelasi.d a hak menyatakan pendapat (Pasal . Hak Anggota DPRD Kabupaten/Kota (Pasal 350 UU No. mengingat keterbatasan waktu jabatan yang hanya lima tahun. kelompok-kelompok profesional. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas.. Kendala ini sebenarnya sudah harus diantisipasi dengan mengaktifkan peran partai-partai politik untuk melakukan program-program kaderisasi yang jelas bagi anggotanya agar siap saji saat mejadi anggota DPRD. akan ada keterbatasan dari anggota DPRD untuk mengetahui secara mendetail semua masalah. menyampaikan usul dan pendapat. anggota DPRD dapat memanfaatkan yang optimal dari Kelompok Pakar atau Tim Ahli dan Sekretariat DPRD yang menjadi bagian dari sistem pendukung organisasi DPRD.Paling tidak. Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a. b. Dalam organisasi DPRD sekarang. Efektifitas DPRD dalam melaksanakan peran dan fungsi utama mereka tergantung pada kapasitas para anggotanya dalam membuat kebijakan untuk menjawab kebutuhan. akademisi. keuangan dan administratif.yang memiliki basis pendidikan sarjana . Ini juga bukan lantas menafikan kemampuan anggota DPRD untuk bisa beradaptasi. Aspek detail dari kesemua ini dapat didukung oleh masukan dari pemerintah daerah. c. dan memiliki perspektif strategis bagi pembangunan daerah. 27/2009) . dan i. sehingga program-program peningkatan kapasitas anggota DPRD selanjutnya dapat lebih difokuskan pada pembelajaran dan penyelesaian berbagai masalah-masalah kongkrit yang dihadapi oleh DPRD di setiap daerah. maka kompoasisinya lebih banyak didominasi oleh . mengajukan pertanyaan. g.

membahas dan menindaklanjuti usulan DPD.Pembicaraan pendahuluan mengenai penyusunan RAPBD bersama Pemerintah (KUA) (2) Dalam menjalankan tugasnya. . dan ayat (3). rapat dengar pendapat umum. dapat mengadakan: untuk penanganan suatu masalah atau a. Pimpinan. pemerintah daerah dan pelaksanaan APBD. serta peraturan pelaksanaannya yang termasuk dalam ruang lingkup tugasnya.meminta dan/atau memberikan kesempatan f. Komisi. rapat kerja wewenang DPRD dengan menteri atau rapat dengar pendapat dengan pejabat Pemerintah yang mewakili instansinya yang tidak termasuk dalam ruang lingkup tugasnya apabila diperlukan. Pasal 97 Jumlah. wewenang dan mekanisme .Gambarkan bagan yang menghubungkan antar alat kelengkapan DPRD Kabupaten/Kota (Pasal 353) ini!!! Komisi a. dan mitra kerja komisi ditetapkan dengan keputusan DPR. baik atas permintaan komisi maupun atas permintaan pihak lain. 3 (tiga) untuk DPRD yang beranggotakan 20-35 orang dan 4 (empat) komisi untuk DPRD yang beranggotakan 36-50 orang. kepada alat kelengkapan DPRD untuk (5) Komisi menentukan tindak memberikan penjelasan mengenai lanjut hasil pelaksanaan tugas komisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).Membahas laporan keuangan kabupaten/kota tentang tata tertib. membahas Badan Musyawarah dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK yang berkaitan dengan ruang lingkup tugasnya. Fungsi Pokok di bidang anggaran: g. konsultasi dengan DPD. susunan. ruang lingkup tugas.Menyiapkan. dan Fungsi Pokok d. (6) Keputusan dan/atau kesimpulan . Badan Anggaran. membahas. pelaksanaan tugas(3). ayat (2). rapat kerja dengan Pemerintah yang diwakili oleh menteri/pimpinan lembaga. serta tugas dan . melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang -undang. alat kelengkapan dibantubersama-sama dengan Pemerintah (KUA) oleh sekretariat. . . c. ayat (2). mengenai jumlah komisi.Membahas dan mengajukan usul penyempurnaan RAPBD (3) Ketentuan mengenaimenetapkanpembentukan. menyangkut pelaksanaan tugas dan e. d. Fungsi Pokok e. dan menyempurnakan raperda f. Komisi DPRD berjumlah b. Badan Legislasi Daerah. melakukan pengawasan terhadap kebijakan Pemerintah. baik yang sudah maupun yang komisi. ayat masing-masing. dan mitra kerja komisi belum terselesaikan untuk dapat digunakan sebagai bahan oleh komisi pada masa keanggotaan berikutnya. termasuk APBN. raperda b. c. dan/atau . rapat menentukan garis kebijakan DPRD dalam dengar pendapat dengan pejabat Pemerintah yang mewakili instansinya.memberikan pendapat kepada pimpinan c. Badan Kehormatan. Pasal 98 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. Alat kelengkapan lain yang diperlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna.Mewakili DPRD dalam berhubungan dengan lembaga Tugas luar.menetapkan agenda persidangan beserta (4) Komisi dalam melaksanakan tugas perkiraan waktu dan memberi masukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ruang lingkup tugas (7) Komisi membuat laporan kinerja pada akhir masa keanggotaan DPR. termasuk hasil audit keuangan oleh BPK Hasil pembicaraan dan pembahasan di atas disampaikan kepada Badan Anggaran untuk sinkronisasi. (8) Komisi menyusun rancangan anggaran untuk pelaksanaan tugasnya sesuai dengan kebutuhan yang selanjutnya disampaikan kepada Badan Urusan Rumah Tangga.Koordinasi dan sinergi pelaksanaan agenda dan kegiatan dari alat kelengkapan DPR D . dan ayat (4). . program. b. Hasil sinkronisasi ini dapat disempurnakan kembali oleh komisi sebelum kemudian diserahkan Pimpinan kembali kepada Badan Anggaran sebagai bahan akhir penetapan APBD. yangd. kunjungan kerja. Fungsi Pokok Pokok di bidang pengawasan: Fungsi . dan kegiatan SKPD yang wewenangmenjadi mitra kerja komisi (PPAS) alat kelengkapan DPRD kabupaten/kota diatur dengan peraturan DPRD .Membahas dan tata cara alokasi anggaran untuk fungsi. menyusun. susunan.mengusulkan kepada rapat paripurna hasil rapat kerja komisi atau rapat kerja gabungan komisi bersifat mengikat antara DPR dan Pemerintah.bidang legislasi: Fungsi Pokok di . tugas. Badan Musyawarah. baik sesama pengawasan adalah: (3) pihak komisi di bidang lembaga negara maupun lainnya a.

Kehormatan pimpinan DPR setelah (1) yang c. susunan dan keanggotaan Badan Legislasi. DPD.Badan Legislasi Pasal 100 (1) DPR menetapkan susunan dan keanggotaan Badan Legislasi pada Badan Anggaran permulaan masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun sidang. (1) Badan Anggaran bertugas: b. Ketentuan lebih dan untuk setiap tahun anggaran di lingkungan DPR dengan mempertimbangkansebagaimana DPD. dan di pilih dari ayat(2) Pimpinan Badan Anggaran terdiri atas 1yang dipimpin oleh (2) dilakukan dalam rapat Badan Legislasi (satu) orang Kehormatan berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan pimpinan DPR paling banyak 3 (tiga) orang wakil keterwakilan perempuan menurut ketua proporsional dengan memperhatikan ketua yang dan setelah penetapandari dan oleh jumlah anggota Anggaranfraksi. dilakukan dalam rapat Badan Kehormatan yang dipimpin oleh proporsional . anggota tiap-tiap fraksi pada permulaan masa (1) Pimpinan Anggota dan pada permulaan tahu n sidang. dipilihperimbangan anggota Badan tiap-tiap berdasarkan prinsip pimpinan Badan Kehormatandan (3) Pemilihan musyawarah untuk mufakat sebagaimana dimaksud pada Pasal 102 ayat (2). e. menyiapkan rancangan undang-undangBadan Anggaran. atau tetap sebagai anggota DPR selama a. (3) Pemilihan pimpinan Badan Anggaran masukan dari tata Kehormatan diatur dalam peraturan DPR tentang b. Pasal 104 (2) JumlahBadan Kehormatan oleh ditetapkan dalam rapat paripurna anggota Badan Legislasi DPR dan merupakan alat Badan Anggaran dibentuk menurut perimbangan danbersifat tetap. (2) Pimpinan Anggaran merupakan satu kesatuan (3) Pemilihan pimpinan Badan Legislasi sebagaimana dimaksud pada Badan pimpinan yang bersifat kolektifyang kolegial. tidak lagi memenuhi syarat sebagai Pemerintah ketentuan peraturan perundangundangan mengenai pemilihan umum anggota DPR. (1) Pimpinan Badan Kehormatan merupakan mufakat dan proporsional dengan memperhatikan keterwakilan perempuan Pasal 106 bersifat kolektif dan kolegial. membahas bersama sebelum rancangan undang-undang tersebut disampaikan keterangan apa pun. kebijakan menteri untuk menentukan pokok-pokok turut tanpa kepada pimpinan DPR. pembulatan. melakukan pengharmonisasian. yang menurut perimbangan jumlah Kehormatan terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan 2 (1) Pimpinan BadanBadan anggota tiap-tiap fraksi. dan pemantapan Pasal 107 79. menetapkan pendapatan negara bersama calon anggota DPR sesuai dengan d. tidak menghadiri terhadap rancangan undang-undang yang diajukan olehacuan menjadi tugas dan kewajibannya sebanyak 6 (enam) kali dijadikan anggota. kelengkapan DPR yang pemerataan jumlah anggota tiap-tiap fraksi Pasal 124 pada permulaan masa Pasal 105DPR menetapkan susunan dan keanggotaan Badan Kehormatan (1) keanggotaan DPR memperhatikandan keanggotaan Badan (1) DPR menetapkan susunan perimbangan dan pemerataan jumlah anggota dengan dan pada permulaan tahun sidang. tertib. (2) Susunan ditetapkankeanggotaan paripurna pada permulaan masa kean ggotan dalam rapat Badan Anggaran sebagaimana (2) Pimpinan Badanayat (1) terdiri atas anggota dari tiap -tiapdan paling dimaksud padapada permulaan atas 1 (satu) orang ketua DPR dan Legislasi terdiri tahun sidang. konsepsi rancangan undang-undang yang diajukan anggota. komisi. dan oleh anggota (dua) orang wakil ketua. atau DPD di luar DPR yang bagi setiap kementerian/lembaga dalamberturut-turut tanpa alasan yang sah. Anggaran menurut perimbangan dan pemerataan jumlahDPR dan permulaan tiap-tiap fraksi pada permulaan masa keanggotaan Pasal 101 tahun sidang. (1) Badan pimpinan DPR setelah penetapan susunan dan keanggotaan Badan . b. penetapan susunan pengaduan terhadap anggota karena: verifikasi atas dan keanggotaan usul DPR berdasarkan program prioritas melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal a. gabungan komisi. keanggotaan DPR Badan merupakan satu kesatuan pimpinan orang dan (2) Badan Legislasi Kehormatan berjumlah 11 (sebelas) yang bersifat kolektif dan kolegial.48 . mengoordinasi penyusunan program legislasi nasional antara DPR dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat Badan Pasal 127 dan AnggaranBadandipimpin oleh bertugas melakukan penyelidikan dan Pemerintah. menyusun rancangan program legislasi nasional yang memuat daftar proporsional dengan mempertimbangkan keterwakilan Kehormatan. . memberikan pertimbanganrapat paripurna dan/atau rapat alat kelengkapan fiskal secara umum dan prioritas anggaran untuk c. dan/atau . menyusun usulan anggaran. komisi.Legislasi bertugas: a. tidak dapat melaksanakan tugas secara b erkelanjutan atau gabungan berhalangan DPDPemerintah yang diwakili oleh 3 (tiga) bulan berturut komisi. dan DPRD. d. banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh anggota komisiPasal 125 oleh komisi dengan memperhatikan yang dipilih Badan Legislasi berdasarkan prinsip musyawarah untuk satu kesatuan pimpinan perimbangan jumlah anggota dan usulan fraksi. tidak yang telah ditetapkan. urutan dan prioritas rancangan undang-undang besertatiaptiap perempuan 126 Pasal menurut perimbangan jumlah anggota alasannya untuk 1 (satu) masa keanggotaanlanjut mengenai tata cara pembentukan Badan fraksi.

Pasal 121 d.Akuntabilitas Keuangan Negara Badan (1) Pasal 137 DPR menetapkan susunan dan keanggotaan BURT pada permulaan Pasal 110 masa keanggotaan DPR dan keanggotaan panitia khusus berdasarkan (1) DPR menetapkan susunan dan permulaan tahun sidang. dengan kebutuhan yanghasil rapat Badan pimpinan DPR. permulaan masa keanggotaan DPR dan pada permulaan tahun sidang. sesuai dengan kebutuhan. (tiga) orang wakil ketua. susunan. mengoordinasikan kunjungan kerja alat kelengkapan DPR ke luar negeri. (1) Badan Legislasi bertugas: a. menyampaikan hasil keputusan dan kebijakan BURT kepada setiap Pasal 141 (1) BAKN bertugas: c. anggaran DPR. tertentu menetapkandengan memperhatikan keterwakilan perempuan Pasal 120 mufakat b. anggota BAKN melaksanakan tugas tertentu dalam jangka waktu a.diadakan untuk itu. menerima kunjungan delegasi parlemen negara lain yang DPR berdasarkan diajukan kepada Musyawarah. dan pemeriksaan BPK atas oleh BKSAP pada masa keanggotaan berikutnya. tugas. wewenang dan mekanisme kerja BURT diatur dengan peraturan Rumah Tangga. banyak 30 (tiga puluh) orang. permulaan masa keanggotaan DPR dan pada permulaan tahun sidang. memberikan saran disampaikan kepada DPR. parlemen BAKN. yang ditetapkan oleh rapat paripurna. BPK yang dan a. penetapan susunan (3) Pemilihan pimpinan1 (satu)sebagaimanadan dan BAKN terdiri atas BKSAP orang ketua dimaksud pada ayat (2) (2) Pimpinankeanggotaan panitia khusus. dibentukjumlah anggota tiap -tiap fraksi pada perimbangan dan pemerataan (2) Jumlah anggota panitia khusus ditetapkan olehdan keanggotaanpaling pada permulaan (1) DPR menetapkan susunan rapat paripurna BKSAP kelengkapan DPR yang bersifat tetap. Pasal 102 tentang tata tertib. membina. mengembangkan. paripurna koordinasi dengan alat kelengkapan DPD (4) Rapatmelakukan maupun multilateral. wewenang dan mekanisme kerja BKSAP diatur dengan peraturan DPR UU No. kolektif dan sidang. menyampaikan laporan kinerja dalam rapat paripurna peraturan DPR wewenang dan mekanisme kerja panitia khusus diatur dengan DPR yang tentang masalah d. dalam (1) BKSAP bertugas: anggota menurut perimbangan jumlah pelaksanaan kebijakan oleh DPR setelah DPR sebagaimana dimaksud (3) Panitia khusus dibubarkankerumahtanggaan jangka waktu penugasannya (2) persahabatan a. dan Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan.rapat paripurna pada musyawarah untuk dan proporsional dengankhusus yang ada serta keterwakilan memperhatikan keterwakilan perempuan memperhatikan jumlahPimpinan BKSAP terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan paling banyak 3 (2) panitia permulaan masa jumlah anggota tiap-tiap fraksi. Pasal 132 111 Pasal 138 (1) DPR (2) Jumlah anggota BKSAP ditetapkan dalam rapat paripurna menurut menetapkan susunan dan keanggotaan BAKN pada (1) Pimpinan BURT merupakan satu kesatuan pimpinan yang bersifat (1) Pimpinan panitia khusus merupakan satu kesatuan pimpinan yang bersifat perimbangan dan pemerataan jumlah anggota tiap permulaan masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun -tiap fraksi pada kolektif dan kolegial. menindaklanjuti hasil pembahasan komisi terhadap temuan hasil menyusun rancangan anggaran untuk pelaksanaan tugasnya sebagai bahan permintaan komisi. yang selanjutnya disampaikan kepada Badan Urusan laporan. sidang. berakhir atau karena termasuk pelaksanaan dan pengelolaanpimpinan DPR setelah bilateral dan kerja sama antara DPR dan parlemen dilakukan dalam rapat BAKN yang dipimpin oleh negara lain. menyusun rancangan program legislasi nasional yang memuat daftar urutan dan prioritas rancangan undang-undang beserta alasannya untuk 1 (satu) masa keanggotaan dan untuk setiap tahun anggaran di lingkungan DPR dengan mempertimbangkan masukan dari DPD. (2) Pimpinan BURT terdiri atas 1 1 (satu) orang ketua dan paling ban yang dijabat (2) Pimpinan panitia khusus terdiri atas(satu) orang ketua(tujuh) orang oleh yak Pasal 119 (2) Anggota BAKN berjumlah paling sedikit 7 Ketua DPR dan paling banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari dan olehatas usul fraksi pimpinan yang bersifat (1) banyak 9 BKSAP merupakan satu kesatuan dananggota BURT berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat paling Pimpinan (sembilan) orang anggota panitia khusus dan oleh berdasarkanDPR yang ditetapkan dalam mufakat dan proporsional dengan prinsipkolektif dan kolegial. tugas. kebijakan kerumahtanggaan DPR. yangfraksi. susunan. kolegial. hambatan pemeriksaan. internasional yang menghimpun penetapan susunan kelengkapan MPR berhubungan dengan masalah Pasal 140 keanggotaanyang dan/atau anggota parlemen negara lain. kerumahtanggaan DPR. setelah anggota tiap-tiap kolegial. melakukan pengawasan terhadap Sekretariat Jenderal DPR (2) Panitia khusus bertanggung jawab kepada DPR. . atau usul kepada pimpinan DPR khusustertib. penelaahan sebagaimana dimaksud dalam huruf kerja sama antarparlemen. Pasal Pasal 139 133 1 (satu)dilakukan dalam rapat BKSAP yang dipimpin oleh pimpinan DPR setelah orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh BURT bertugas: (1) Panitia khusus bertugasberdasarkan prinsip musyawarah untuk penetapan susunan dan keanggotaan BKSAP. susunan. DPD. 27/2009.Panitia Khusus Pasal 136 Badan Urusan Rumah DPR dan Panitia khusus dibentuk oleh Tangga merupakan alat kelengkapan DPR yang Pasal 131 bersifat sementara. BURT dalam rapat perimbangan dananggota 118 jumlah oleh DPRtiap -tiap paripurna menurut anggota dan merupakan alat Pasal disingkat BAKN. Pasal 122 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. Badan Kerja Keuangan Badan Akuntabilitas Sama Antar-Parlemen selanjutnya (2) Jumlah pemerataan ditetapkan Negara. baik secara c. melakukan penelaahan terhadap temuan hasil pemeriksaan e. tugasnya dinyata kan selesai. dan MPR pelaksanaan tugasnya sesuai Panitia khusus menggunakan anggaran untuk yang ditugaskan oleh pimpinan menjadi tamu b. tentang tatab. anggota DPR. membuat laporan kinerja pada akhir masa keanggotaan baik Pasal 134 yang sudah maupun yang belum terselesaikan untuk dapat digunakan BURT c. memberikan masukan kepada BPK dalam hal rencana kerja Pasal 135 BKSAP menyusun rancangan anggaran untuk penyajian dan pemeriksaan tahunan. kualitasdengan kebutuhan. dan dimaksud pada ayat (3) Pemilihan pimpinan BAKN sebagaimanameningkatkan hubungan dalam huruf a. tiap-tiap fraksi. DPR. tahun menurut perimbangan keanggotaan DPR dan permulaan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi. tugas. Pasal 113 d. termasuk organisasidan alat menetapkandan tindak lanjut hasil kerja panitia khusus. Pasal masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun sidang. yang dipilih dari dan oleh anggota BKSAP (3) Pemilihan pimpinan BURT sebagaimana dimaksud pada ayat (2)(2) (3) Pemilihan pimpinan panitia khusus sebagaimana dimaksud pada ayat proporsional dengan berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan Pasal 112 dilakukan dalam panitia khusus yang dipimpin oleh pimpinan DPR dilakukan dalam rapat rapat BURT yang dipimpin oleh pimpinan DPR setelah memperhatikan keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah (1) Pimpinan BAKN merupakan satu kesatuan pimpinan penetapan susunan dan keanggotaan BURT. yang bersifat kolektif danfraksi. menyampaikan hasil (2) BKSAP a kepada komisi. (2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) DPR tentang tata tertib. serta pelaksanaan tugasnya sesuai Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan.

atau DPD di luar prioritas rancangan undang-undang tahun berjalan atau di luar rancangan undangundang yang terdaftar dalam program legislasi nasional. gabungan komisi. Yang dimaksud dengan kelompok pakar atau tim ahli adalah sekelompok orang yang mempunyai kemampuan dalam disiplin ilmu tertentu untuk . gabungan komisi. e. Sistem Pendukung DPRD Kabupaten/Kota Sekretariat Pasal 398 (1) Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. (2) Sekretariat DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh seorang sekretaris DPRD kabupaten/kota yang diangkat dan diberhentikan dengan keputusan bupati/walikota atas persetujuan pimpinan DPRD kabupaten/kota. f. Kelompok Pakar atau Tim Ahli Pasal 399 (1) Dalam rangka melaksanakan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. dan i. memberikan masukan kepada pimpinan DPR atas rancangan undang-undang usul DPD yang ditugaskan oleh Badan Musyawarah. d. h. atau DPD sebelum rancangan undang-undang tersebut disampaikan kepada pimpinan DPR. membuat laporan kinerja dan inventarisasi masalah di bidang perundangundangan pada akhir masa keanggotaan DPR untuk dapat digunakan oleh Badan Legislasi pada masa keanggotaan berikutnya. memberikan pertimbangan terhadap rancangan undang-undang yang diajukan oleh anggota. menyiapkan rancangan undang-undang usul DPR berdasarkan program prioritas yang telah ditetapkan. (3) Sekretaris DPRD kabupaten/kota dan pegawai secretariat DPRD kabupaten/kota berasal dari pegawai negeri sipil. c. pembulatan. melakukan pembahasan. dibentuk kelompok pakar atau tim ahli. melakukan pengharmonisasian. (2) Badan Legislasi menyusun rancangan anggaran untuk pelaksanaan tugasnya sesuai dengan kebutuhan yang selanjutnya disampaikan kepada Badan Urusan Rumah Tangga.b. mengikuti perkembangan dan melakukan evaluasi terhadap pembahasan materi muatan rancangan undang-undang melalui koordinasi dengan komisi dan/atau panitia khusus. dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang diajukan anggota. dibentuk sekretariat DPRD kabupaten/kota yang susunan organisasi dan tata kerjanya ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan/atau penyempurnaan rancangan undang-undang yang secara khusus ditugaskan oleh Badan Musyawarah. mengoordinasi penyusunan program legislasi nasional antara DPR dan Pemerintah. g. pengubahan. komisi. komisi.

o DPRD tidak membuat kajian komprehensif terhadap potensi PAD Sebagai contoh. programatik. Secara politik. yang muncul Anggota DPRD menilai pemerintah terlalu sebagai kehendak politik DPRD. o Data yang disajikan dinas pajak kepada Keahlian teknokratis dan dewan bukanlah keberhasilan faktual administratif ini bukan dimaksudkan o Pemerintah menyembunyikan selisih agar DPRD mengambil wilayah yang penerimaan PAD Karena tidak disajikan dengan data telah menjadi wewenang pemerintah. jika tidak mengetahui cara-cara o Masak tiap tahun targetnya stagnan mencapainya secara teknokratis dan o Targetnya selalu lebih rendah daripada realisasi tahun sebelumnya. (3) Kelompok pakar atau tim ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bekerja sesuai dengan pengelompokan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota yang tercermin dalam alat kelengkapan DPRD kabupaten/kota. Ini kan sama memahami fisibiltas proseduralsaja bohong administratif yang ada. Mendesain Penguatan Kapasitas DPRD  Anggota DPRD: Kombinasi Politisi dan Teknokrat Selain memiliki keahlian sebagai politisi. Kelompok pakar atau tim ahli bertugas mengumpulkan data dan menganalisis berbagai masalah yang berkaitan dengan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. fungsi-fungsi DPRD hanya akan berjalan optimal jika anggotanya memiliki keahlian menerjemahkan Pembahasan RAPBD konsep-konsep strategis. Ini dibutuhkan karena. DPRD dapat melakukan pengecekan melalui Pedoman Penyusunan RKA-SKPD yang disusun Bupati/Walikota untuk mengetahui apakah RKA-SKPD yang disusun telah mengikuti ketentuan dalam KUA dan PPAS. dan terukur. . o Apa dasar DPRD menilai target mampu melakukan kontrol yang optimal pemerintah terlalu rendah? terhadap kinerja pemerintah. kemampuan ini dapat digunakan memadai. adalah penilaian o Pemerintah bersikap jujur dengan DPRD terhadap Rencana Kerja dan melaporkan semua laporan keuangan Anggaran SKPD (RKA-SKPD) yang kepada DPRD diajukan sebagai dasar perumusan RAPBD. ke dalam kecil merencanakan target pendapatan seperangkat aturan main yang lebih daerah dari sektor pajak. DPRD praktis. setiap anggota DPRD dituntut memiliki kemampuan sebagai teknokrat.membantu alat kelengkapan dalam pelaksanaan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. Namun. mendesak pemerintah agar bekerja lebih Kehendak politik tidak mungkin tercapai keras. Secara teknokrat-administratif. Sayangnya. keberatan ini tidak disertai data yang memadai dan langkah solusinya. dalam praktek pemerintahan. kritik ini dengan mudah ditanggapi dalam kerangka pengawasan agar DPRD oleh pemerintah. Penugasan kelompok pakar atau tim ahli disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan daerah kabupaten/kota (2) Kelompok pakar atau tim ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat dan diberhentikan dengan keputusan sekretaris DPRD kabupaten/kota sesuai dengan kebutuhan atas usul anggota dan kemampuan daerah.

tugas. sebagaimana diatur dalam PP No. 2) penggunaan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah.Dalam hal ini. Pemahaman terhadap hal di atas sangat diperlukan agar fungsi legislasi. penganggaran. maka dapat digambarkan sebagai berikut: . anggaran. maka berbagai potensi Kendala yang dapat menimbulkan tidak optimalnya pelaksanaan fungsi DPRD secara umum dapat diidentifikasi. dan pengawasan. kewajiban Paham teknokrasi kebijakan Sensitif terhadap adminsitasi pemerintahan Punya perspektif kuat: advokasi kepentingan masyarakat dan daerah Memperkuat jaringan aspirasi dan representasi publik -  Alur Penguatan Fungsi dan Peran DPRD Setelah menyimak format dan konstruksi DPRD 2009 di atas. PPKD. wewenang. dapat dilakukan dengan mengeceknya melalui: 1) hasil evaluasi setiap kepala SKPD terhadap hasil pelaksanaan program dan kegiatan 2 (dua) tahun anggaran sebelumnya sampai dengan semester pertama tahun anggaran berjalan. dan pengawasan dari DPRD dalam konteks RAPBD dapat berjalan terarah dan menyentuh permasalahan. Dengan mengikuti prinsip anggaran berbasis kinerja. maka penilaian DPRD. penganggaran terpadu.  Prinsip Dasar Penguatan Kapasitas Paham fungsi. penilaian DPRD pada akhirnya diharapkan mampu mendesak dan memberikan solusi agar pemerintah daerah mampu bekerja lebih optimal. 58/2005 ayat (35) s/d (40). DPRD dapat mengeceknya melalui Kepala Daerah. dan Kepala SKPD. Jika ketiga fungsi tersebut dikorelasikan dengan tugas dan wewenang DPRD serta hak DPRD. yaitu menyangkut pelaksanaan fungsi legislasi. Lebih dari statemen politis. dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja dalam penyusunan RKA-SKPD.

Laporan pelaksanaan APBD Semester I .Laporan pelaksanaan APBD Semester I .Kesesuaian RAPBD dengan KUA dan PPAS . pertimbangan dan persetujuan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional o Memberi persetujuan terhadap rencana kerja sama dengan daerah lain atau pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah o mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai ketentuan peraturan perundangundangan Advokasi Kewenangan o Evaluasi substantif RKA-SKPD o Advokasi dalam pembagian urusan pemerintah pusat dan pemerintah daerah Pengawasan Tugas dan Wewenang o Pengawasan Pelaksanaan APBD .Laporan pelaksanaan APBD: Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Advokasi Kewenangan o Pengawasan Pelaksanaan dana yang dikelola pemerintah non -APBD Anggaran . dan Kewajiban o Mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian kepala daerah o Memilih wakil kepala daerah jika terjadi kekosongan jabatan o Menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen o menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat o mempertanggungjawabkan secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya Advokasi Kewenangan o Membangun beragam media komunikasi dan penjaringan aspirasi o Memaksimalkan rapat-rapat DPRD berlaku terbuka o Menyusun indikator keberhasilan tugas DPRD Tugas dan Wewenang o Penyusunan dan Pembahasan Perda o Pembahasan dan persetujuan RAPBD: KUA dan PPAS o Pembahasan dan persetujuan APBD Perubahan (Semester I) o Memberi pendapat. Wewenang.Legislasi Tugas dan Wewenang o Pengawasan Pelaksanaan APBD .Laporan pelaksanaan APBD: Laporan Keuangan Pemerintah Daerah o Pengawasan pelaksanaan Perda Advokasi Kewenangan o Koordinasi dan persetujuan legislasi eksekutif (Peraturan dan Keputusan Kepala Daerah) o Evaluasi pelaksanaan program kerja pemerintah dengan melihat pencapaian substanstif kinerja SKPD (tidak terbatas menerima laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah) Representasi Tugas.Kesesuaian RAPBD dengan KUA dan PPAS .

membahas dan memberikan persetujuan rancangan peraturan daerah mengenai anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota yang diajukan oleh bupati/walikota. e.AAGN LGSP ARAH DAN AGENDA REFORMASI DPRD: Memperkuat Kedudukan dan Kewenangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dalam dua forum tersebut. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota. c. f. e. 32 /2004 Paragraf Ketiga Tugas dan Wewenang Pasal 42 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang: a. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. d. c. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah dan anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota. Kedua. f. isu kapasitas dan performance DPRD dalam menjalankan kewenangan dan fungsinya itu. isu kedudukan DPRD dalam sistem desentralisasi dan demokrasi. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. b. mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian bupati/walikota dan/atau wakil bupati/wakil walikota kepada Menteri Dalam Negeri melalui gubernur untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan dan/atau pemberhentian. APBD. Ketiga. UU No. d. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. peraturan kepala daerah. b. meminta laporan keterangan UU No. dan kerja sama internasional di daerah. KPB: 2006). mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. h. g. membentuk peraturan daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota. memilih wakil bupati/wakil walikota dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil bupati/wakil walikota. g. . membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. 27/2009 Tugas dan Wewenang DPRD Kabupaten/Kota: Pasal 344 Tugas dan wewenang DPRD Provinsi Pasal 293 Pasal 344 (1) DPRD kabupaten/kota mempunyai tugas dan wewenang: a. tugas pokok dan fungsi serta hak-hak DPRD. Ketiga isu di atas sangat berkaitan dan disebutkan sebagai sumber dari problematika yang dihadapi DPRD saat ini (PLOD: 2006. isu ruang lingkup kewenangan. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah. ada beberapa isu-isu kritis yang perlu dicermati: pertama.

(2) Hak interpelasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk meminta keterangan kepada bupati/walikota mengenai kebijakan pemerintah kabupaten/kota yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama dengan daerah lain atau dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. i. angket. . mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. mengajukan rancangan peraturan daerah kabupaten/kota. daerah. membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. dan negara yang diduga bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. k. 27/2009 Hak DPRD Kabupaten/Kota Pasal 349 (1) DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a. DPRD melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. interpelasi. Hak dan Kewajiban Anggota Paragraf 1 Hak Anggota Pasal 350 Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban bupati/walikota dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. menyatakan pendapat. dan c. h. UU No. (2) Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata tertib. j. dan k.pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. b. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. i. (3) Hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah kabupaten/kota yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) Hak menyatakan pendapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan bupati/walikota atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di daerah disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket. (2) Selain tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. j.

mengikuti orientasi dan pendalaman tugas. b. Terkait Fungsi Perwakilan UU No. i. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat. Indikator DPRD yang Berkualitas Nominal: Legislasi: . mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. dll . imunitas. e.Efisiensi APBD . menjaga etika dan norma dalam hubungan kerja dengan lembaga lain dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. memilih dan dipilih.Penggunaan hak angket. mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. tindak pidana. h. dan keuangan dan administratif.Jumlah sanksi yang dikeluarkan Badan kehormatan . h. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila. protokoler. e. f. 27/2009 Kewajiban Anggota Pasal 351 Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai kewajiban: a. menyampaikan usul dan pendapat. g.Jumlah anggota DPRD yang tidak terjerat korupsi. dan k.b.Jumlah perda yang dihasilkan (komposisi inisiatif dan yang diajukan eksekutif) . menaati prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. membela diri. d. dan golongan. menaati tata tertib dan kode etik. memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat.Jumlah perda yang tidak dianulir oleh pemerintah pusat . f. d. menyatakan pendapat Anggaran Pengawasan . c. interpelasi. g. c. sumber PAD baru . kelompok. i. menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala.Peningkatan PAD. melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menaati peraturan perundangundangan. mengajukan pertanyaan. memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya. j.

informasi. dan dasar bagi penyusunan program pemberdayaan DPRD secara mapan. . DPRD hampir selalu dijadikan obyek atau bahkan dapat dikatakan diproyekkan . Basis Perbedaan Sumberdaya antara DPRD dan Pemda Basis Kekuasaan Tugas/fungsi DPRD DPRD adalah representasi dan wadah aspirasi rakyat Membawa aspirasi publik dan membuat keputusan politik Politik dan Populis Birokrasi/Pemda Memiliki keahlian. Cara padang yang bisa dikembangkan dan disarankan oleh modul ini adalah . dan lainlain Menjalankan/melaksanakan keputusan dan memberikan pelayanan publik Administratif-BirokratikTeknokratik Diseleksi/diangkat lewat sistem karir Pendekatan Pola Dipilih melalui Pemilu Rekrutmen Sumber: Diadaptasi dari Etzioni-Halevy (1983) ________________________________________ Apa yang perlu diperhatikan dalam penyusunan program peningkatan kapasitas DPRD? Pada umumnya lembaga-lembaga pengembang program tidak lebih dulu melakukan assessment yang memadai terhadap kapasitas DPRD untuk mengetahui status awal. Dalam berbagai program dan proyek yang dikembangkan. pengalaman. profesional.Jumlah RDP Representasi Substansial Legislasi: Anggaran Pengawasan Representasi - Hubungan Antara DPRD dan Pemerintah Daerah Ada tiga cara pandang yang umum berkembang saat ini untuk melihat hubungan antara DPRD dan pemerintah daerah.. gambaran.

Studi tertentu lain. bahwa kegiatan-kegiatan pemberdayaan DPRD dirumuskan sendiri oleh para pelaksana proyek dan tidak mendasarkan pada kebutuhan riil DPRD. Kemampuan DPRD dalam melakukan check and balance terhadap pemda. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Studi semacam ini dilaksanakan semata-mata untuk memberikan justifikasi terhadap program. Pertama. Berbagai program peningkatan kapasitas. misalnya. yang menyoroti sejauh mana kemampuan kelembagaan dari DPRD memberikan daya dukung dalam melakukan check and balance. berbagai studi kemudian dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas lembaga-lembaga pemerintahan di daerah dalam rangka desentralisasi dengan mengutamakan aspek teknis yang terdiri dari mkemampuan organisasional dan manajerial. partai politik pada tingkat lokal. Walaupun banyak studi terhadap DPRD dilaksanakan sejak setelah UU No. Berbagai kegiatan evaluasi atau assessment keparlemenan telah dilakukan dalam rangka pelaksanaan suatu program khusus pemberdayaan keparlemenan di daerah. Seringkali didapatkan. Font color: Auto Formatted: Font: +Body. Dengan kata lain. Akibatnya. kaji tindak dan studi khusus yang berkaitan dengan pembangunan kapasitas DPRD hanya Formatted: Font: +Body. Font color: Auto Formatted: Font: +Body. berbagai assessment terhadap DPRD dilakukan berdasarkan percieved needs dan bukan real needs dari lembaga-lembaga pelaksana program. Kkarena melihat DPRD mempunyai posisi politik lebih kuat dibandingkan dengan pemerintah. Pendekatan politis memberikan penekanan pada interaksi kekuasaan antara DPRD dengan dan pelaku politik lain seperti misalnya pemda. karena DPRD lebih banyak dipandang sebagai pelaku politik dan merupakan wadah dimana para wakil partai politik bertemu untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan masing-masing. maka studi terbatas dilaksanakan dalam hal legislative capacity building. banyak studi dan kajian memberikan penekanan berlebihan pada aspek politis dari lembaga perwakilan ini. beberapa studi telah memberikan penekanan kepada aspek kelembagaan. maka pada alasan yang kedua. fungsi dan tugas pokok DPRD tidak belum dijadikan dasar dalam penentuan variabel dan indikator studi. Hal ini terjadi karena beberapa alasan. Font color: Auto Formatted: Font: +Body. Misalnya. misalnya. yang banyak dilakukan oleh berbagai lembaga internasional yang bergerak dalam bidang politik pemerintahan. Lembaga-lembaga pemberdaya DPRD merasa mempunyai kemampuan dan kompetensi yang lebih tinggi untuk memberdayakan DPRD. organisasi massa (ormas) dan keagamaan (ormas). Aspek yang belum diperhatikan adalah aspek-aspek struktural-fungsional dalam pengembangan kapasitas DPRD. 22/1999 tentang Otonomi Daerah dikeluarkan maupun setelah direvisi menjadi UU No. Ketiga.Kapasitas dan kapabilitas anggota-anggota DPRD untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya belum menjadi dasar dalam evaluasi kelembagaan dan pengembangan program. dan sebagainya. Font color: Auto . Kedua. Walaupun di negara asalnya lembaga-lembaga tersebut banyak melakukan kajian yang mendalam dan menyeluruh namun lembaga-lembaga itu tidak melakukan kegiatan studi dengan pendekatan yang sama di Indonesia. sangat dipentingkan. dalam banyak aspek memberikan penekanan penting pada kemampuan organisasional dan manajerial DPRD dan sekretariatnya. Pola yang keempat adalah pendekatan programatis. ketika lembaga tertentu akan membuat proyek pelatihan legislative drafting.

sedikit memberi perhatian terhadap kompleksitas struktural dan fungsional dari lembaga ini. Secara struktural, pemahaman terhadap kapasitas DPRD dapat dilihat dalam konteks struktur internal, yaitu yang berkenaan dengan keseluruhan bagianbagian dalam dewan yang saling berhubungan dan konteks struktur yang lebih luas yang menempatkan DPRD sebagai bagian dari struktur politik lokal. Struktur internal dapat dikategorikan dalam dua bagian, yaitu struktur yang diatur dalam peraturan perundang-undangan sebagai alat kelengkapan dewan dan struktur internal yang ada tetapi tidak ditentukan sebagai alat kelengkapan dewan. Struktur yang lebih umum menempatkan DPRD dalam hubungannya dengan pemda serta berbagai kekuatan politik lain yang secara langsung berpengaruh terhadap proses politik yang terjadi dalam DPRD dan implementasi berbagai kebijakan publik yang dibuat oleh DPRD. Analisis struktural terhadap DPRD meliputi analisis hubungan antara alat-alat kelengkapan dewan yang terdiri dari pimpinan, komisi-komisi, dan panitiapanitiabadan-badan. Berbagai studi yang telah dilakukan hampir tidak ada yang secara komprehensif mengevaluasi kapasitas dari alat kelengkapan dewan itu. Hala yang lebih jarang dilakukan adalah analisis terhadap struktur internal yang ada pada fraksi-fraksi dan sekretariat dewan (setwan) yang bukan merupakan alat kelengkapan dewan, tetapi keberadaan dan kapasitas mereka sangat berpengaruh terhadap kinerja dewan secara keseluruhannya. Faktor luar yang paling diperhatikan oleh dewan adalah pemda. Negosiasi dengan pemda sangat vital dipentingkan oleh bagi DPRD karena ia memberikan sumber daya yang diperlukan DPRD dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya. Selain itu, dan bahwa pemda harus diperhitungkan oleh DPRD karena ia akan menjadi pelaksana dari berbagai kebijakan yang dirumuskan. Kenyataan selanjutnya adalah fraksi-fraksi merupakan wakil dari partai-partai politik yang di dalamnya juga tergabung dan organisasi-organisasi massa yang berafiliasi dengannya. Kondisi ini mengharuskan adanya pemahaman yang lebih mendalam dari organisasi massa tersebut untuk mengetahui jalur-jalur negosiasi dan lobby, sehingga berbagai kepentingan mereka menjadi bagian dari preferensi kebijakan publik yang dihasilkan dewan. Pola yang sama perlu pula dilakukan untuk mengkaji hubungan antara DPRD dengan dan berbagai asosiasi sosial dan profesional, organisasi-organisasi masyarakat sipil serta media lokal yang dengan berbagai tindakannya mereka mampu mempengaruhi proses politik yang berlangsung dalam dewan. Dalam konteks perwakilan yang lebih luas, DPRD pun seringkali mementingkan pendapat dan pilihan masyarakat karena mereka bermaksud memenuhi berbagai preferensi publik, terutama dalam perumusan kebijakan publik yang menyangkut masyarakat luas. Hubungan ini signifikan bagi dewan dalam upaya memenangkan dukungan dan kepercayaan publik. Analisis fungsional yang mengkaji tentang kapasitas DPRD dalam melakukan fungsi-fungsi pembuatan peraturan perundang-undangan daerah, penyusunan dan penentuan APBD, pengawasan pelaksanaan berbagai kebijakan publik yang dirumuskan DPRD serta perwakilan berbagai kepentingan sosial dan politik pun hampir tidak dilakukan dalam banyak penelitian atau kaji publik. Terlebih jarang adalah assessment terhadap kapasitas setwan dalam memberikan berbagai pelayanan kedewanan agar DPRD mampu melaksanakan

berbagai fungsinya secara efektif. Berkaitan dengan hal ini, fungsi pemberdayaan DPRD terhadap setwan pun kiranya layak untuk dikaji lebih lanjut, sebab DPRD seringkali menuntut berbagai pelayanan sr dari setwan tetapi enggan untuk memperjuangkan sumber daya yang memadai agar sekretariat mampu melaksanakan berbagai fungsi dan tugasnya secara profesional. Lebih lanjut, dalam konteks hubungan DPRD dengan pelaku-pelaku tata pemerintahan dari luar, kiranya juga perlu untuk menelusuri kapasitas DPRD dalam memfasilitasi pelaksanaan berbagai kebijakan publik yang ada, memberikan contoh yang baik bagi praktek-praktek pemerintahan demokratis serta menjadi pelaku dalam pewujudan tata pemerintahan daerah yang demokratis. Seluruh kerangka pemikiran dasar tersebut di atas adalah bingkai dari rangkaian studi dan penulisan dari buku ini serta ketiga buku lain yang bersifat lebih khusus. Buku yang pertama ini mendudukkan keberadaan dan kompleksitas struktural dan fungsional dari DPRD. sSementara itu, ketiga buku yang berikutnya menjabarkan sistem, prosedur, fungsi dan tugas DPRD dalam pembuatan peraturan perundang-undangan, penentuan anggaran daerah dan pengawasan politik. Dengan demikian, diharapkan bahwa keempat buku serial ini dapat memberikan dasar yang memadai untuk berbagai program dan proyek dalam bidang peningkatan kapasitas keparlemenan di daerah. Apa dampak yang perlu menjadi orientasi program? Walaupun berbagai program dan proyek dilaksanakan pada tingkat daerah dan itu pun dengan sasaran utama DPRD, namun dampak yang segera dapat dilihat mempunyai cakupan yang relatif luas. Selain hasil-hasil dan dampak langsung yang akan dapat dirasakan oleh DPRD dan berbagai asosiasinya, berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam proyek ini, terutama yang berkenaan dengan pembuatan peraturan perundang-undangan dan pengawasan, juga akan mempunyai dampak langsung pada perbaikan tata pemerintahan di daerah. Namun demikian, karena DPRD bertekad untuk selalu terlibat aktif dalam berbagai dialog kebijakan dengan lembaga-lembaga tata pemerintahan tingkat nasional maka berbagai kegiatan proyek di daerah pun diharapkan mempunyai dampak langsung terhadap perumusan berbagai kebijakan publik tingkat nasional yang yang akomodatif terhadap kompleksitas realitas daerah. Dampak langsung terhadap DPRD dan asosiasinya Dengan kemampuan perumusan peraturan perundang-undangan yang lebih baik, maka berbagai perda dan kebijakan publik daerah dapat dirumuskan dan disinkronkan satu terhadap yang lain serta memenuhi kepentingan-kepentingan masyarakat luas. Berbagai peraturan perundang-undangan nasional yang terkait dengan desentralisasi dan otonomi daerah pun dapat dijabarkan dalam berbagai perda yang relevan dengan waktu yang lebih singkat, sesuai dengan tata urutan peraturan perundang-undangan. Konflik kebijakan antar daerah, yang biasanya terjadi antara kota dengan kabupaten yang berdekatan, pun diharapkan dapat diselesaikan dengan proses yang demokratis dan sesuai dengan prosedur.

Pemahaman dan penguasaan yang lebih baik terhadap program-program pembangunan dan pemerintahan memungkinkan DPRD melaksanakan fungsi penganggaran yang benar dan memenuhi harapan masyarakat. Ditambah dengan berbagai peningkatan kemampuan analisis terhadap mekanisme penganggaran yang biasanya dilaksanakan oleh pihak pemerintah sendiri, DPRD akan berada dalam posisi yang lebih konstruktif dalam merumuskan kebijakan-kebijakan penganggaran. Berbagai simulasi penganggaran yang dilaksanakan terkemudian akan memungkinkan DPRD menyampaikan alternatif pembanding terhadap kebijakan dan usulan APBD yang diusulkan oleh pemerintah. Pelaksanaan fungsi pembuatan peraturan perundang-undangan (legislasi) dan fungsiu penganggaran memungkinkan DPRD memiliki dasar yang kuat untuk melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan. Ukuran-ukuran dan mekanisme-mekanisme pengawasan pun menjadi lebih mapan karena mendasarkan pada kriteria yang jelas dan tidak mendasarkan pada kepentingan-kepentingan politik semata. DPRD pun akan mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk berinteraksi dengan masyarakat melalui dengar pendapat yang dilaksanakan di dewan maupun melalui berbagai media lain yang diciptakan. Para anggota DPRD mempunyai kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka bukan hanya wakil partai politik tetapi juga benar-benar merupakan wakil rakyat. Kemampuan memfasilitasi dialog antara masyarakat dengan dan pemerintah yang dilaksanakan oleh DPRD akan memperkuat posisinya menjadikannya lebih dipercaya sebagai kunci dari lembaga perwakilan. Setwan pun akan mendapatkan manfaat yang sangat besar dalam program ini, yaitu dengan berbagai pelatihan yang dilakukan untuk para stafnya maupun program-program lain yang dapat meningkatkan peran strategis dari setwan. Upayaupaya pengembangan setwan akan memungkinkannya melaksanakan fungsi-fungsi pelayanan kedewanan secara profesional. Asosiasi DPRD akan mendapatkan manfaat utama meliputi aspek administrasi kesekretariatan dan aspek fasilitator dialog kebijakan regional, nasional dan internasional. Program peningkatan kapasitas DPRD diharapkan menghasilkan dampak untuk asosiasi sebagai berikut: Sekretariat Aasosiasi DPRD yang kuat dan mampu memberikan pelayanan-pelayanan strategis bagi para anggotanya merupakan dampak langsung yang sangat diharapkan. Pelayanan yang paling utama adalah mobilisasi sumber daya yang dibutuhkan untuk pengembangan kapasitas DPRD dan memfasilitasi dialog kebijakan antar anggota dengan lembaga-lembaga tata pemerintahan terkait di tingkat pusat dan daerah. Selain itu, dalam beberapa tahun mendatang diharapkan Aasosiasi DPRD mampu untuk mendirikan sekretariat yang efektif dan efisien dengan dukungan pendanaan yang memadai dari para anggotanya. Dampak terhadap perbaikan tata pemerintahan di daerah Pada tingkat tata pemerintahan di daerah, Aasosiasi DPRD dapat mendesakkan perwujudan mengharapkan bahwa prinsip-prinsip tata pemerintahan daerah yang baik dapat segera diwujudkan melalui berbagai sosialisasi dan pelembagaan di semua lembaga tata pemerintahan. Dengan pelaksanaan seluruh

maka DPRD akan menciptakan perangkat dasar dari pemerintahan kota yang mementingkan warga. DPRD pada gilirannya akan harus mampu menjadi simpul dari berbagai dialog publik yang melibatkan berbagai aktor yang berkompeten. Aasosiasi DPRD juga dapat mendesakkan. agar maka tata pemerintahan nasional akan mampu untuk dikondisikan agar secara terus-menerus melibatkan aktor-aktor pemerintahan di daerah dalam merumuskan berbagai bentuk kebijakan publik. melalui mengharapkan bahwa dengan partisipasinya dalam berbagai dialog politik dan kebijakan nasional. Asosiasi DPRD dapat hendak memberikan berbagai masukan penting bagi revisi puluhan berbagai peraturan perundang-undangan yang berkenaan dengan pemerintahan di daerah. .fungsi dan tugas kedewanan sebagaimana mestinya. Pada skala nasional.

partai politik dan susunan dan kedudukan MPR. 2003. dan bebas. Upaya-upaya nasional untuk melakukan perubahan mendasar dalam pemerintahan telah memuncak dengan dilengserkannya kepemimpinan politik Orde Baru yang telah berkuasa selama lebih dari tiga dasawarsa. Sedemikan kuatnya budaya politik birokrasi otoriter dan keinginan pemerintah untuk mengendalikan seluruh tata pemerintahan. sehingga kepemimpinan nasional di bawah Orde Baru gagal untuk melakukan pembaharuan dan konsolidasi tata pemerintahan. kolusi. 2. Jumlah partai politik yang sebelumnya dibatasi. lebih dari 140 juta pemilih telah memberikan suara mereka dalam Pemilu 1999 yang langsung. Pembaruan dengan cara semacam ini dilakukan secara terus-menerus. Reformasi Keterwakilan dan Pengaruhnya terhadap Kapasitas Keparlemenan Agung Djojosoekarto Kerangka politik demokrasi di Indonesia telah berubah dan upaya pembaharuan sistem keterwakilan tengah berlangsung. Bersamaan dengan perkembangan politik ini. Sebagai lembaga perwakilan rakyat. Langkah ini terbukti efektif. DPR. saat ini tiga UU Politik tersebut telah diperbaharui sebanyak tiga kali (1999. Gerakan-gerakan politik yang dimotori oleh berbagai organisasi masyarakat sipil telah berhasil dalam menanamkan wacana demokratisasi dan partisipasi politik masyarakat yang nyata dan luas. Dinamika demokrasi Indonesia beberapa tahun terakhir Awal era reformasi politik di Indonesia ditandai oleh revisi terhadap Dengan direvisinya tiga UU politik yang mengatur tentang pemilu. paling tidak untuk membangun Dengan antusiasme pemilih dalam pemilu yang yang sedemikian besar. Cara ini dipilih sebagai Indonesia telah memulai langkah dasar yang paling awal dari reformasi. seluruh lembaga dalam tata pemerintahan berada di bawah kendali pemerintah yang didukung oleh ABRI dan Golkar serta partai partai politik hasil fusi.Bab II Arah Demokrasi Baru. Sebagai pusat pilar demokrasi di daerah. DPRD pun diharuskan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai prasyarat baru dalam tata demokrasi. lembaga-lembaga perwakilan rakyat tersebut . reformasi menyeluruh menuju tata pemerintahan yang lebih baik dan demokratis telah diangkat menjadi agenda dan tekad nasional.. dan DPRD. Praktek-praktek korupsi. DPRD perlu mengembangkan diri menjadi model lembaga demokrasi dan sekaligus pengarusutamaan nilai-nilai demokrasi terhadap berbagai lembaga tata pemerintahan lain yang ada di daerah. Sejak reformasi 1998. DPD. Selama rezim Orde Baru.1. kini tumbuh semarak. dan 2008-2009) untuk menyesuaikan dengan dinamika politik yang ada. yaitu dengan untuk melakukan pembaharuan lembaga-lembaga perwakilan rakyat agar yang lebih demokratis dan dipercaya oleh rakyat dibandingkan dengan periode Orde Baru. dan nepotisme yang mewarnai hampir seluruh proses politik sempat menjebak sistem politik nasional yang tersusun selama dalam suatu format birokrasi otoriter. demokratis. Dengan adanya wWakil-wakil partai politik di parlemen pemenang pemilu kini juga yang lebih majemuk dan .

Bagaimanapun baiknya mutu perseorangan dari anggota DPRD yang dipilih. Terpenting untuk dihindarkan adalah sisi negatif kedekatan emosional yang terlembaga antara anggota DPRD dewan dengan .diharapkan tetap dapat efektif mewakili kepentingan-kepentingan rakyat dan partai politik secara luas. mutu keterwakilan tergantung pada beberapa faktor penentu. Namun demikian. Jumlah partai peserta pemilu juga berkembang dan beragamPemilu tersebut diikuti oleh 48 partai politik. Partai politik menentukan wakil-wakil yang akan didudukkan dalam lembaga pemerintahan dan perwakilan. seperti lewat sistem pemilihan dengan suara terbanyak. 12/2003UU No. pemenuhan berbagai daya dukung bagi DPR/DPRD yang baru. Sekalipun DPR/DPRD dipilih secara langsung dan menghasilkan anggota yang lebih bermutu. pada pemilu 2004 dan 2009 juga dikenalkan pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai representasi masyarakat dari setiap daerah di tingkat pusat. Sistem perwakilan saat ini yang akan datang memang memberikan tekanan bahwa anggota dewanDPRD adalah wakil rakyat. yaitu dengan diterbitkannya UU No. yaitu pada dilaksanakan pada bulan Juni 1999. UU Pemilu 2008 UU No. Pengenalan terhadap ketokohan saja dinilai tidak cukup. tetapi jika mereka tidak mendapatkan fasilitas yang memadai untuk menjalankan fungsi dan tugasnya maka DPR/DPRD dengan seluruh alat kelengkapan dan struktur pendukungnya tidak akan mempunyai kapasitas dan kinerja yang optimum. Selain memilih wakil rakyat dalam DPR dan DPRD. Walaupun seringkali dikritik karena tidak menerapkan sistem distrik murni dan masih tingginya pengaruh partai politik. Sistem pemilihan yang digunakan Pemilu ini masih dilakukan dengan sistem proporsional dengan daftar terbuka yang dikombinasikan dengan pembagian daerah pemilihan (dapil).mana dan fotonya tercantum dalam kertas suara. tetapi jika masyarakat sipil dan publik tidak mendesakkan agendaagenda daerah secara terstruktur dan sistematis maka DPR/DPRD akan tidak mempunyai tantangan dan tanggungjawab yang berarti. Apa konsekuensi pemilu langsung? Pemilu demokratis sejak pertama dalam era reformasi telah berlangsung tiga kali. rakyat mendapatkan kesempatan untuk melakukan pemilihan langsung terhadap wakil-wakil mereka di DPRD. Dengan adanya revisi terhadap UU tentang pemilu. karena tokoh yang terkenal seringkali tidak mempunyai kapasitas kerja sebagai anggota dewan sesuai dengan yang diharapkan oleh pemilih dan pemda sebagai mitra kerjanya. Anggota DPRD dewan di masa yang akan datang diharuskan untuk menjadi wakil rakyat dan wakil partai politik secara lebih berimbang. dan 2009 sebagai bagian dari pemenuhan tuntutan pembaharuan tata pemerintahan di Indonesia. Pertama. kesiapan para aktor tata pemerintahan lainnya dalam proses politik lokal. terlebih setelah keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengakibatkan penentuan calon terpilih melalui suara terbanyak. pengenalan pemilih terhadap kapasitas keparlemenan dari para calon wakil yang mencalonkan diri. Ketiga. 2004. /1999 ini pada dasarnya memberikan kesempatan bagi rakyat untuk memilih langsung orang-orang yang mereka percaya sebagai wakil rakyat yang handal. tetapi tetapi tidak sepenuhnya. Kedua. 10/2008 yang digunakan pada pemilu 2009. .

1. Mungkin yang lebih sulit adalah ketika ada menata hubungan organisasi kemasyarakatan tertentu yang merupakan afiliasi dari partai politik . dan nepotisme. 2. DPRD dalam tata keterwakilan baru . karena ia hanya akan memberikan dasar-dasarnya saja. Berbagai partai politik di daerah terlihat telah mendapatkan delegasi kewenangan yang begitu besar dari dewan pimpinan pusat (DPP) mereka masing-masing. Pendekatan yang mendasarkan pada proyek pelatihan tidak akan cukupsesuai. Dalam menghadapi realitas politik yang baru seperti ini. termasuk dalam pemilihan calon legislator. terlebih jika partai tersebut dominan di parlemen dan menjadi pendukung dari pemerintahpemenang pemilu. kecuali jika terjadi pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip konstitusional. yang sesuai dengan realitas tersebut. DPRD tampaknya tidak lagi mungkin untuk menjatuhkan kepala daerah terpilih melalui mekanisme pertanggungjawaban tahunan. Perubahan sistem dan politik perwakilan seperti tersebut di atas akan menghendaki strategi peningkatan kapasitas dan kinerja DPRD yang berbeda. Prioritasisasi di DPRD harus dilakukan dengan pendekatan yang memungkinkan DPRD menghasilkan produkproduk dewan yang mewujudkan check and balance lebih bermutu. Jika partai politik hanya berfungsi sebagai pengelola politik perwakilan. Dalam penerapannya di tingkat daerah. Ini memungkinkan Ppartai politik di daerah mulai melakukan fungsi rekrutmen secara profesional dan.3. maka partai tidak akan mendapatkan dukungan riil dalam proses politik dan dengan sendirinya akan terpinggirkan dalam pemilu yang berikutnya. Mereka tidak siap untuk menata kembali perimbangan dan pembagian kekuasaan dengan eksekutif. kolusi. korupsi. DPRD harus bekerja bersama-sama dengan partai politik di daerah.pemilihnya yang memungkinkan bersemainya praktek politik diskriminasi. warga mana memilih anggota DPRD dewan yang mana. Seringkali anggota DPRD dewan mengatakan bahwa mereka wajib memperjuangkan kepentingan konstituen dan pemilihnya. Tetapi pada kenyataannya tidak pernah ada yang tahu. Partai politik harus ditransformasikan sebagai lembaga agregasi kepentingan publik yang mendukung DPRD. Beberapa DPRD terlihat gamang menghadapi perkembangan politik yang baru ini. DPRD harus mengembangkan program peningkatan kapasitas dengan struktur dan sistematika baru. Dalam konteks baru seperti ini. 2. DPRD tentu dikehendaki untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan pendekatan yang berbeda. kepala daerah/pemerintahan daerah yang dipilih langsung oleh rakyat juga akan mempunyai legitimasi politik yang sangat kuat. lembaga legislatif tidak dalam posisi untuk menjatuhkan pemerintah eksekutif. Beberapa partai politik juga menyatakan bahwa mereka sedang mempersiapkan program kepartaian yang lebih substantif sebagai landasan kampanye dan rekrutmen politik. upaya untuk mendudukkan bahwa anggota DPRD dewan adalah wakil seluruh rakyat seperti yang telah dilakukan oleh beberapa DPRD di daerah layak untuk dilanjutkan dan dilembagakan. Perubahan sistem keterwakilan Dalam sistem pemerintahan presidensial. Oleh karena itu.

Apapun metode yang dipilih untuk memperbaharui birokrasi. Dengan memandang birokrasi sebagai bagian dari sistem politik. Sejalan dengan perkembangan politik dewasa ini. keberadaan birokrasi tetap kuat dan tidak sepenuhnya ditentukan oleh perubahan konstruksi politik yang ada. birokrasi telah mengalami perubahan paradigma yang cukup mendasar. Menanggapi kegagalan birokrasi lokal dalam melaksanakan berbagai program pembangunan. Ini tentu saja bukan upaya yang mudah dan bahkan dapat dikatakan sangat sulit. Maka. Maka. tapi proses dari pembaharuan birokrasi membutuhkan waktu yang lebih lama. Dalam struktur politik baru ini. Perlawanan harus pula dilakukan terhadap struktur domestik dan asing yang membantunya. struktur birokrasi haruslah tidak dipandang sebagai instrumen administrasi teknis saja.Bagaimana konstelasi dan hubungan politik antara DPRD dan pemda? Indonesia telah memasuki tahap lanjutan dalam proses demokratisasi. Perlu diperhatikan adalah bahwa pada kenyataannya birokrasi di daerah yang sekarang adalah kelanjutan dari rezim bureaucratic authoritarian dari masa Orde Baru. Ada upaya-upaya yang sangat jelas dari rezim yang lebih demokratis sekarang ini untuk mengendalikan birokrasi. yaitu dan jika lembaga-lembaga pemerintah dapat bekerja lintas sektoral dan terpadu sehingga maka masalah-masalah penting dan kompleks akan dapat diatasi bersama. seperti ditunjukkan oleh pemilu langsung dan pembentukan pemerintahan yang lebih memenuhi prinsip keterwakilan. Birokrasi adalah sistem kekaryaan manajerial yang ditata secara hirarkis dimana orang dipekerjakan untuk mendapatkan upah atau gaji dari pemda. Bagaimana menyikapi kekuatan politik riil dari birokrasi? DPRD di berbagai daerah ternyata menunjukkan tingkat ketergantungan yang relatif tinggi terhadap birokrasi. Pandangan ini tentu berbeda dengan pandangan para politisi di . penting kiranya membangun realisme bahwa mungkin mudah untuk menggantikan sistem politik. perhatian politik kritis adalah pada interaksi kepemimpinan politik dan pelayanan umum. pPendekatan restrukturisasi terhadap masing-masing lembaga pemerintah diyakini dapat mendukung proses pembangunan demi pengentasan kemiskinan.. Keinginan pemerintah untuk melakukan berbagai perbaikan dalam birokrasi tidak lepas dari berbagai rekomendasi kelompok developmentalist yang memandang bahwa birokrasi dapat memperbaiki diri dengan memperkenalkan metode perencanaan pembangunan yang baru yang mampu merespon dan melembagakan dinamika masyarakat. Walaupun pejabat-pejabat politik baru telah dan akan dipilih. sejauh kekuatan politik riil dari pelaku tata pemerintahan ini masih dominan maka pengembangan DPRD harus menghadapi proses yang lebih berat. atau hampir tanpa batas dan kendali. karena birokrasi sebelumnyalama ini identik dengan kekuasaan partai politik tunggal yang mempunyai diskresi kekuasaan yang sangat besar. melainkan juga sebagai sub sistem politik di mana koalisi mewujud untuk mencapai pilihan-pilihan kebijakan tertentu yang terikat dan dimana ada hubunganhubungan pada struktur-struktur politik yang lebih luas dalam masyarakat. para pemikir kritis lokal yang relatif radikal menyatakan bahwa dominasi birokrasi yang telah gagal dalam melaksanakan pembangunan ini harus dilawan.

Walaupun secara teoritis tuntutan ini tidak dapat ditawar dan harus segera diupayakan namun pelembagaannya membutuhkan kehati-hatian tersendiri. Isu-isu yang berkenaan dengan budaya paternalistik yang berorientasi pada budaya kerjaan (terutama Jawa) yang sebenarnya merupakan elemen-elemen non birokratis lingkungan politik. Desentralisasi ternyata tidak disertai dengan pengalihan fungsi dari sektor pemerintah ke sektor LSM atau swasta. birokrasi diarahkan untuk memasukkan teknik teknik manajemen sektor swasta. DPRD sering dipaksa untuk masuk dalam kerangka kerja seperti ini. terkait dengan hukum. Proses pengambilan keputusan menjadi sentralistik dan paternalistik.DPRD yang menginginkan perubahan yang lebih luwes atau soft namun mendasar. . buruk dalam komunikasi. Pada perkembangan selanjutnya. Ketika orang mengatakan birokrasi. pembaharuan birokrasi tetap harus mengacu pada tujuan pokoknya. DPRD pun ikut mendukung kritik terhadap birokrasi yang menyatakan lembaga ini penuh kerahasiaan. terdapat beberapa permasalahan yang penting untuk dibahas berkaitan dengan kekuatan politik riil dari birokrasi. penundaan operasi dan jarak antara pelayan publik dan klien mereka. misalnya dalam hal pembelanjaan oleh pemerintah. yaitu dengan memberikan kesempatan pada pemerintah untuk memainkan peranan ekonomis yang lebih luas seraya mempromosikan berbagai kerjasama dengan pihak swasta yang antara lain dapat mengambil bentuk contracting-out untuk berbagai jasa pelayanan publik. bagaimana sebenarnya pergeseran politik birokrasi? Ketika Orde Baru berkuasa. Ketiga opsi politis tersebut mempunyai dampak yang berbeda-beda antar daerah dalam kerangka pemberdayaan DPRD. DPRD sendiri seringkali harus terjebak pada arah politik yang berbeda dari ketiga pilihan politis tersebut. Kesenjangan antara birokrasi tingkat atas dan tingkat bawah sangat jauh. dalam hal profil sumber daya manusia. telah mempengaruhi instrumentalitas rasional untuk menciptakan pola-pola birokrasi yang menyimpang. Hal ini mungkin disebabkan karena keinginan birokrasi untuk tetap mengendalikan semua proses tata pemerintahan di daerah. dan akuntabilitas publik. berbagai inisiatif internasional yang mencoba untuk mendukung upaya pembaharuan birokrasi ada pula yang bersifat lebih khusus. birokrasi dengan jumlah besar telah memberikan dukungan kepada partai yang berkuasa (Golkar). yang dimaksud seringkali adalah sektor publik. Kedua. Dalam berbagai pola hubungan kerja dan kerjasama antara DPRD dan birokrasi muncul gejala the economy of affection yang berakar dari kekerabatan. sifat dari struktur dan prosedur administratif adalah fokus lain yang dapat menunjukkan tidak berfungsinya birokrasi pembangunan. Dalam kaitannya dengan peningkatan kapasitas DPRD. Birokrasi juga merupakan cara untuk mengatakan menempatkan administrasi publik sesuai dengan tempatnya dalam negara. Di satu sisi. Pertama adalah kesiapan birokrasi untuk dikembangkan menjadi birokrasi profesional. Birokrasi menengah yang jumlahnya kecil menjadi bumper terhadap kebijakankebijakan tingkat atas dan menjadi pelaksana kegiatan-kegiatan yang bersifat khusus. Struktur birokrasi menengah di daerah pada umumnya relatif lemah dan ukurannya pun kecil. yaitu rasionalisasi dari efisiensi kolektif yang memungkinkan birokrasi mampu mencapai efisiensi paling tinggi . karena mereka sangat tergantung pada birokrasi di daerah. Dalam paradigma manajerialisme. Sifat-sifatnya adalah: wajib. Ketiga.

Para politisi. DPRD perlu dibekali dengan pemahaman . Bagaimana DPRD mengelola pola-pola distribusi ulang sumber daya dan keadilan sosial? Permasalahan tentang prasyarat ekonomis tata pemerintahan demokratis adalah pada tingkat kebijakan ekonomi. etnisitas dan agama yang mempengaruhi organisasi. di Indonesia kini tengah terjadi transisi yang membingungkan dan sering kehilangan orientasi. Melalui mekanisme dan prosedur pengawasannya. Agar DPRD mampu mengembangkan kapasitasnya. media massa. baik di lembaga legislatif maupun eksekutif. baik pada jalur pendidikan formal maupun pembelajaran publik secara informal. serta pengembangan perdamaian dan harmoni sosial pun harus tidak luput dari perhatian DPRD. apakah birokrasi mendasarkan pada budaya religius institutional atau mendasarkan pada budaya sekuler instrumental atau (lebih kurang menguntungkan) pada budaya religius instrumental. Gejala ini tampaknya masih terus berlangsung dalam konteks hubungan antara DPRD dan birokrasi di daerah. Tata pemerintahan demokratis akan terwujud jika pra kondisi politik. Dampak dan jebakan pembodohan (massification) tampaknya sangat dalam dan kuat. DPRD harus mampu melembagakan desentralisasi kekuasaan untuk menjamin partisipasi rakyat dalam pembuatan keputusan. Tata pemerintahan yang demokratis bukanlah semata-mata urusan politis melainkan juga urusan ekonomis dan sosial. Tata pemerintahan demokratis dipahami pada kerangka politik atau pemenuhan hak-hak ekonomis dasar warga. yang dalam jangka panjang dapat menimbulkan salah orientasi atau bahkan gejala hipokrit. penghapusan diskriminasi dan minoritas. disebabkan antara lain oleh pendidikan politik yang kurang mencukupi. 2. Kondisi ini pada dasarnya terwujud ketika lembagalembaga tata pemerintahan tanggap terhadap aspirasi dan kepentingan seluruh warga dan desentralisasi diwujudkan secara konsisten berdasarkan konstitusi demi partisipasi warga yang lebih besar. pembahasan dan pengkajian langsung perlu diarahkan DPRD pada tema-tema yang relevan dan mudah untuk diikuti. Kesulitan ini. dan masyarakat sipil pada umumnya sulit diajak untuk mengembangkan konteks tata pemerintahan demokratis dengan kerangka tersebut. ekonomi. Berkaitan dengan pengaruh budaya terhadap birokrasi. diakui. maka DPRD harus mampu menarik resultante antara kondisi politik dan sosial. DPRD juga harus mampu menjaga akuntabilitas dan transparansi dari para pembuat dan pelaksana keputusan tersebut. dan sosial dapat dipenuhi. Keterjangkauan dan kesetaraan hukum.kesukuan. Pra kondisi politik yang perlu diperhitungkan oleh DPRD Bagaimana DPRD menyikapi tata pemerintahan yang demokratis? Tata pemerintahan yang demokratis adalah salah satu bingkai penting untuk peningkatan kapasitas DPRD.4. sehingga para pelaku tata pemerintahan membutuhkan fasilitasi lebih banyak lagi untuk membangun wacana baru. Oleh karenanya.

Para politisi di DPRD pada umumnya menyambut gembira desentralisasi karena daerah diberikan kewenangan lebih besar untuk mengelola aset daerah. sehingga ketergantungan terhadap pemda tidak dapat dihindari. 38/2007 sebagai turunan dari UU No. Keterbatasan bagi daerah ini. berbagai lembaga keuangan cenderung mengalirkan dana kembali ke pusat sehingga para pelaku perekonomian di daerah tidak mempunyai akses memadai terhadap modal. Tetapi mereka pun menyampaikan bahwa kondisi keuangan di daerah masih jauh dari mencukupi untuk memenuhi pembiayaan daerah. DPRD di berbagai daerah telah mencoba untuk mengembangkan kapasitas dan cara kerja yang mereka anggap sesuai dengan realitas masing-masing. Para anggotaDPRD yang terlibat dalam diskusi pada umumnya menyatakan bahwa desentralisasi belum mencakup aspek perekonomian. termasuk di DPRD. Masyarakat selama ini dinilai tidak mampu berpartisipasi dalam politik karena: (i) Lebih berkonsentrasi pada pekerjaan sebagai buruh (seperti masyarakat buruh di Kalimantan Timur). dan kabupaten/kota yang diatur dalam PP No. telah diatur urusan wajib dan urusan pilihan Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . Memang ada kecenderungan di mana daerah mengutamakan pemenuhan PAD dengan pengelolaan sumber daya alam yang kurang hati-hati tetapi ini dilakukan karena pemerintahan di daerah tidak melihat kemungkinan lain. Kondisi seperti ini diperburuk dengan penguasaan atas tanah oleh pelaku-pelaku atau pemilik-pemilik modal nasional atau yang berlokasi di Jakarta. provinsi.menyeluruh baik pada kebijakan ekonomi makro maupun pemenuhan aspek-aspek ekonomi mikro yang mendasar. Dalam PP ini. Aspek ini dikatakan penting untuk memberdayakan warga secara ekonomis. Tanpa kekuatan atau daya ekonomis dasar. Dalam kondisi seperti ini DPRD tidak mampu berkembang secara optimal. Warga di daerah pada umumnya hanya menguasai dan mengelola sumber daya tanah dalam luasan yang relatif terbatas. Mekanisme melalui DAU pun dipandang masih kurang menjamin pemenuhan kebutuhan anggaran. Pra kondisi ekonomis yang kedua adalah perpajakan progresif dan adil serta subsidi yang terjamin bagi daerah. Kondisi seperti ini menjadikan DPRD tidak mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat yang beraneka ragam sekalipun mereka memahaminya. Pra kondisi ketiga adalah keadilan jangkauan terhadap sumber daya keuangan. dalam konteks regulasi. sehingga pemerintahan di daerah tidak mampu untuk mengelola. Dengan kondisi sosio ekonomi yang berbeda. (ii) Baru mulai mengenal kehidupan dan proses politik riil (seperti terjadi di Sulawesi Selatan). modal dan tanah bagi para pelaku ekonomi di daerah. Berbagai peraturan yang diterapkan pada sektor-sektor tertentu cenderung mendua. warga dinilai tidak akan mampu berpartisipasi secara riil dalam berbagai proses politik. 32/2004. atau (iii) Telah mempunyai kesadaran politik yang lebih tinggi tetapi tetap apatis terhadap sistem yang ada atau memilih jalur politik alternatif (seperti terjadi di kota pelajar Yogyakarta). serta formula dalam pembagian urusan antara pemerintah pusat. Aset-aset ekonomi besar masih dikuasai pengelolaannya oleh pemerintah nasional. Bahkan. Prasyarat ekonomis bagi tata pemerintahan demokratis yang pertama adalah pemberian dan ketercukupan sumber daya atau anggaran untuk bidang-bidang prioritas sosial. Sentralisasi juga terjadi pada sektor keuangan yang menguasai permodalan di daerah. dapat dilihat melalui formula yang diatur dalam UU 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah.

yang diberikan oleh satu kelompok harus mendapatkan imbangan toleransi terhadap kelompok yang lain. DPRD tidak dituntut untuk melakukan tindak lanjut sistematis antara lain disebabkan karakteristik tuntutan masyarakat yang bersifat teknis. Singkatnya. DPRD tidak dapat merumuskan perda inisiatif karena masyarakat sipil berpartisipasi baru sebatas demonstrasi dan memprotes pelaksanaan kebijakan tertentu. Bagaimana DPRD sebaiknya mengelola keterkaitan kepentingan antara pelaku ekonomi dan politik? Permasalahan yang selama ini banyak dibahas adalah bagaimana jika yang menjadi anggota DPRD pada kenyataannya adalah para pelaku ekonomi kelas atas atau menengah di daerah? Seringkali dikemukakan bahwa DPRD telah menjadi tempat untuk membagi akses dan kendali ekonomi sehingga yang diutamakan adalah kepentingan bisnis dari para anggota DPRD atau kelompok pendukungnya. dengan menanggapi berbagai kegiatan demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu. prosedur. Lebih jelas tentang pembagian urusan ini dapat dilihat dalam bagian lampiran PP ini yang mencakup pembagian urusan di semua bidang pemerintahan yang menghubungkan antar tingkatan pemerintahan. Praktis. Ketika terjadi pelanggaran-pelanggaran kebijakan atau program-program pembangunan. konstelasi keanggotaan DPRD seperti ini menjadikan alat kelengkapan dan anggota dewan menjadi tidak berdaya karena harus mengembangkan toleransi antar kelompok di dalam DPRD sendiri. Penyelesaian masalah yang didesakkan oleh kelompok masyarakat tertentu pun cenderung bersifat instan dan pragmatis. Sebagai contoh. Dengan Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. 2.5. dimana pPemda seringkali berupaya untuk mengendalikan para anggota DPRD dengan memberikan proyek-proyek tertentu kepada anggota DPRD atau kelompok bisnisnya. Kondisi perselingkuhan antara politik dan ekonomi ini dapat menjadi awal munculnya rantai korupsi yang panjang. tidaklah mungkin para pelaku ekonomi menjadi anggota DPRD sekaligus.dalam penyelenggaraan pemerintahan beserta norma. standar. perangkapan profesi sebagai pengusaha dan anggota DPRD cenderung berdampak negatif karena. sejak awal memang sudah terdapat keterbatasan dalam rangka menjamin kepentingan nasional dalam proses pembangunan di semua daerah. dan kriteria yang wewenang penyusunannya diberikan kepada pemerintah pusat. layaknya pemadam kebakaran. Hal ini seringkali telah Ini sesuai dengan permasalahan yang terjadi sejak pada proses perumusan dan persetujuan DPRD terhadap tentang APBD yang diajukan pemda. Anggota DPRD atau alat kelengkapan DPRD cenderung bertindak sebagai fasilitator antara pemda dan masyarakat. Not Bold . Para anggota dewan pun kemudian sibuk. idealnya. Peninjauan terhadap kebijakan publik (misalnya perda atau kebijakan pemda) hampir tidak pernah dilakukan secara menyeluruh sebagai akibat dari keluhan masyarakat. DPRD dan tata pemerintahan demokratis di daerah Beberapa pengamat politik di daerah menyatakan bahwa kapasitas DPRD sekarang ini merupakan cerminan dari kapasitas masyarakat sipil.

kondisi masyarakat sipil seperti ini. Formatted: Font: +Body. Dalam pemilu langsung. media massa pun melihat bahwa partisipasi politik riil dari masyarakat seperti sekarang ini masih akan berlanjut untuk jangka menengah. Bagaimana DPRD memfasilitasi dinamika politik dari berbagai organisasi kemasyarakatan? Permasalahan lain yang perlu dikaji bersama oleh DPRD adalah dinamika politik dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) yang ada di daerah. Indikasi lain menunjukkan bahwa mutu anggota DPRD di masa yang akan datang mungkin sangat dipengaruhi oleh kesiapan politik warga pemilih. DPRD belum mendapatkan tantangan peningkatan kapasitas dan kinerja sebagaimana seharusnya. para anggota DPRD menilai bahwa partisipasi ormas dinilai masih sangat minimal dan oleh karena itu kontribusi politik mereka pun relatif terbatas. Mungkin hal ini nya berbeda dengan pemilihan kepala daerah karena calon yang ada lebih terbatas dan mendapatkan sorotan tajam dari masyarakat. maka secara umum dapat diduga bahwa masyarakat belum benar-benar siap untuk melakukan pemilihan langsung terhadap wakil-wakil mereka di DPRD. Pendidikan politik yang dilakukan oleh partai politik dinilai belum mencukupi dan masih pada tahap sangat awal. Jika observasi yang dilakukan bersama dengan masyarakat media benar. Italic . Baik DPRD maupun media massa berpendapat bahwa ormas kini masih belum aktif dalam berbagai kegiatan politik di daerah. Demokrasi yang kini tengah berkembang kiranya tidak sesuai dengan sikap politik seperti ini sebab setiap warga negara dituntut untuk bertanggung jawab secara lebih nyata dalam politik. Beberapa LSM dan kelompok intelektual yang mulai aktif dalam sektor politik dinilai masih belum siap untuk melakukan transformasi. Jika sikap politik seperti ini ternyata berkembang. Dalam berbagai kegiatan keparlemenan. Ormas ini menilai bahwa kontribusi mereka dengan memberikan calon-calon legislator yang dapat dihandalkan sudah mencukupi. Bagaimana mendayagunakan kapasitas politik masyarakat sipil? Kapasitas politik praktis masyarakat yang terlembaga mungkin tidak dapat berubah dengan cepat karena masyarakat pemilih di Indonesia belum mempunyai kapasitas politik riil yang memadai. jika warga masyarakat tidak siap dengan memilih wakil yang relatif lebih bermutu (karena mereka cenderung hanya memilih partai politik atau karena money politics) maka mereka tidak dijamin akan mendapatkan mutu wakil rakyat yang lebih baik. sebab mereka masih cenderung mengambil jalan alternatif dan sering menyarankan sikap golput . Kondisi seperti ini jelas tidak kondusif untuk upaya peningkatan kapasitas dan kinerja DPRD. maka dapat dikatakan bahwa masyarakat sipil dengan lembaga-lembaganya belum siap untuk masuk pada era demokrasi baru. Sebagai tambahan. Sikap seperti itu sebenarnya juga bertentangan dengan tata pemerintahan yang baik karena dengan tidak memberikan suara berarti warga memberikan dukungan politik pada calon yang mungkin kurang bermutu.

penyelenggaraan rubrik keparlemenan daerah perlu dan dapat dilakukan oleh masing-masing media. Pada dasarnya para wartawan mendapatkan akses yang sangat terbuka terhadap seluruh kegiatan DPRD dan informasi-informasi dasar lainya.Ormas yang ada di daerah juga dinilai belum mampu berfungsi sebagai kelompok penekan (pressure group) atau kelompok kepentingan (interest group). Bahkan di beberapa DPRD. Ini tidak berarti bahwa mereka tidak mendukung proses tersebut. beberapa DPRD dikatakan mengalokasikan sejumlah anggaran untuk pemberitaan kegiatan DPRD. media massa juga dapat secara terencana dan konsisten memuat berita dan opini tentang demokratisasi baik yang bersifat umum maupun kedaerahan. Pertama. media massa menempatkan wartawan khusus untuk meliput berbagai kegiatan dewan yang diagendakan dan kegiatankegiatan lain yang terkait dengan dinamika dewan. DPRD juga diharapkan untuk secara terjadwal mengadakan diskusi-diskusi publik yang melibatkan atau yang dikhususkan untuk media massa. DPRD menilai bahwa kekuatan intelektual dan politik dari berbagai kelompok masyarakat yang berbasis politik atau asosiasi perlu terus dikembangkan dalam rangka peningkatan kapasitas dan kinerja DPRD. Media massa pada umumnya mendapatkan kebebasan penuh untuk memuat berita dan opini keparlemenan yang mereka anggap penting. Walaupun belum mempunyai strategi khusus untuk mendukung demokratisasi di daerah (yang dikatakan merupakan wewenang redaktur). Bagaimana DPRD dapat mengoptimalkan strategi media? Observasi yang dilaksanakan bersama dengan berbagai media lokal atau perwakilan media nasional serta para wartawan keparlemenan menunjukkan bahwa media massa tidak mempunyai strategi khusus untuk memfasilitasi demokratisasi dan reformasi tata pemerintahan. Permasalahan menjadi lebih rumit ketika ormas yang berkembang di beberapa daerah justru berbasis kesukuan. Namun demikian. Di DPRD propinsi dan kota. Di beberapa daerah di Kalimantan Timur. Apakah berbagai berita dan opini yang disampaikan oleh media massa berdampak nyata terhadap opini politik publik? Para wartawan keparlemenan cenderung berpendapat negatif. praktek seperti ini seringkali dikatakan kurang ideal karena terdapat kesan wartawan dibiayai untuk memuat berita. mereka memandang beberapa strategi berikut layak untuk dikembangkan. Artinya. Dalam diskusi-diskusi dengan media massa seperti ini. Ini memang seringkali dilakukan tetapi dinilai belum terencana oleh para awak media massa. Sementara gejala ini dinilai dapat dimanfaatkan untuk sosialisasi politik di Kalimantan Timur. DPRD diharapkan memberikan informasi secara jujur dan terbuka sehingga kesulitan memperoleh informasi yang selama ini dialami dapat diatasi. Setiap media massa harus mengembangkan information intelligence masingmasing. walaupun . Kelompok yang dinilai mempunyai kekuatan politik signifikan ini pun dinilai masih membutuhkan upaya pemberdayaan tersendiri. karena ikatan kesukuan justru dapat berakibat kurang menguntungkan untuk demokratisasi. media massa mendapatkan ruang khusus. Kedua. Ini merupakan fungsi pendidikan politik oleh media massa. seperti misalnya di Kota Samarinda dan Propinsi Yogyakarta. Ketiga. daerah-daerah lain cenderung menilainya secara berhati-hati.

tetapi berita yang menyangkut kepentingan publik pun seringkali tidak mendapatkan tindak lanjut.mereka menilai masyarakat mempunyai perhatian. .

pemilihan langsung memberikan akses politik kepada rakyat dalam upaya mendapatkan berbagai pelayanan publik (public service) yang menjadi haknya. adalah penting bagi anggota DPRD untuk menempatkan diri sebagai wakil yang langsung dipilih oleh rakyat dalam konteks jaringan kerja yang lebih luas. harus ditinjau kembali dan didefinisikan ulang. akuntabilitas. anggota DPRD terpilih sekarang dikehendaki untuk selalu peka dan tanggap terhadap berbagai aspek sosial. Pertama. termasuk DPRD. Bagi DPRD. Dalam konteks baru ini. dan legitimasi politik terhadap rakyat. Terdapat tiga alasan pokok mengapa pemilihan langsung selaras dengan konteks desentralisasi dan otonomi daerah. rakyat pun dapat menuntut pemda dalam pemberian pelayanan publik yang lebih terjangkau dan bermutu. agama serta potensi sumber daya. Ketiga. ekonomi. Lebih dari sekedar penggembira dalam pesta demokrasi. sejak 2004 sudah dibentuk perubahan akan segera terjadi. pemilihan langsung untuk memilih wakil rakyat dan wakil daerah serta untuk membentuk pemerintahan yang demokratis dan kuat kini harus memperoleh dukungan rakyat secara penuh. Perubahan ini ditandai dengan pemilihan langsung terhadap berbagai pejabat politik di pusat dan daerah. Dengan pemilihan anggota DPRD secara langsung.BAB III Pemilihan Langsung dan Akuntabilitas Wakil Rakyat Diana fawzia Agung Djojosoekarto Kerangka hukum dan perundang-undangan politik di Indonesia telah mengalami perubahan sistemik yang mendasar. Kedua. Dengan kata lain. pemilihan langsung mambuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas politik di daerah secara setara (political equality). Dengan demikian. pemilihan langsung juga memberikan jalur kendali yang lebih luas bagi rakyat dalam memastikan terakomodasikannya kepentingan mereka- Formatted: Font: +Body . budaya. Dalam tata pemerintahan demokratis di Indonesia sekarang. pemilihan langsung memberikan berbagai peran pada rakyat untuk memberikan suara pada wakil mereka dan mengendalikan proses politik yang terjadi dalam berbagai lembaga perwakilan. misalnya. rakyat dapat menuntut berbagai kebijakan dasar yang lebih kondusif bagi terwujudnya pelayanan publik yang lebih baik. politik. pemilihan langsung diharapkan dapat lebih menjamin terlaksananya prinsip-prinsip keterwakilan. Sementara itu. yaitu dengan dibentuknya Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Dalam Sebagai pengembangan cabang kekuasaan pemerintahan legislatif. Hal ini sangat perlu dalam upaya memberikan pemenuhan dan pel ayanan kepada kepentingan rakyat. Ddasar pemikiran dan dasar kerja dari para anggota DPRD penting untuk ditata ulang sehingga mereka dapat sepenuhnya menempatkan diri sebagai wakil yang langsung dipilih oleh rakyat. Rakyat kini tidak lagi berposisi sebagai peserta dalam pemilihan umum yang dilaksanakan lima tahun sekali. akuntabilitas para anggota dewan terhadap rakyat. dengan dilakukannya pemilihan langsung atas kepala daerah. Oleh karena itu.

dapatlah dikatakan bahwa pemilihan langsung dapat membangun hubungan kontraktual politik yang lebih baik antara anggota dewan dan konstituennya. jika kepentingan tertentu tidak dapat terpenuhi melalui kebijakan dasar yang dihasilkan DPRD dalam bentuk perda. yaitu presiden dan wakil presiden serta kepala daerah. sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Sebab. untuk akan mempunyai pengaruh sangat yang besar dalam proses politik di Indonesia. Di masa lalu. Bagaimana mengefektifkan hubungan antara anggota DPRD dengan pemilihnya? Rakyat kini telah memilih wakil-wakilnya secara langsung dan tidak dipilihkan oleh partai politik seperti pada pemilu-pemilu sebelumnya. Pengaruh pilihan langsung oleh rakyat akan mendorong anggota DPRD dalam meningkatkan kinerjanya. Hal ini diharapkan akan membawa konsekuensi logis bagi . dimana rakyat. Oleh karena itu.kepentingan dalam kebijakan-kebijakan publik yang lebih tanggap (responsive and accomodative policy). serta pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya yang ada di daerah. Perubahan peraturan perundang-undangan di bidang politik telah mulai mendorong dilaksanakannya perubahan paradigma tata pemerintahan yang lebih demokratis. kepentingan rakyat daerah tersebut dimungkinkan untuk didesakkan dari tingkat pusat sepanjang berhubungan dengan otonomi daerah. Terkait DPD. Dalam konteks ini anggota DPRD akan selalu menghadapi banyak hal yang berkenaan dengan kebutuhan program pembangunan. Sebagai contoh. Dengan keikutsertaannya dalam pemilihan langsung. 27/2009. Pemilihan terhadap para wakil tentu dilakukan berdasarkan kepercayaan dan keyakinan. perimbangan keuangan pusat dan daerah.1. Rakyat juga secara langsung memilih para pejabat politik eksekutif. pelayanan pemerintahan. hubungan pusat dan daerah. Hal ini dapat berlangsung karena adanya sistem check and balance yang lebih baik. Kontrak politik tersebut menghendaki para anggota dewan dan pejabat politik lainnya mengoptimalkan pelaksanaan proses politik demi tata pemerintahan yang lebih demokratis dan pembangunan di daerah yang menyejahterakan rakyat. Dalam pemilu sekarang pada dasarnya rakyat dapat secara langsung memilih wakil-wakilnya di DPR. rakyat dapat pergi ke pemda atau ke DPD agar kepentingan mereka itu dapat diperhatikan. rakyat memilih dan menempatkan para wakil mereka untuk duduk di lembaga-lembaga perwakilan rakyat. para pejabat politik tersebut dipilih melalui rakyat melalui partai berdasarkan sistem proporsional tertutup di parlemen. dan sekaligus pelayanan masyarakat. 3. DPD. Konsekuensi dari pemilihan langsung Apa konsekuensi dari pemilihan langsung? Pemilu 2004 dan 2009 berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. sebagaimana diatur dalam UU Susduk No. sekarang ada kesadaran baru bahwa rakyat memberikan kepercayaan pada anggota DPRD untuk memperjuangkan kepentingan dan aspirasi politiknya. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . dan DPRD.

kecenderungan anggota DPRD untuk tetap partisan sangat terbuka. Anggota DPRD dinilai sudah betul-betul memperoleh kepercayaan dari rakyat melalui pemilu. Tindakan anggota DPRD ditentukan oleh isu atau materi yang dibahasnya. seperti karena peran partai sangat besar dalam penyusunan daftar calon legislatif dan penentuan daerah pemilihan. Perlu diantisipasi adalah hubungan antara anggota DPRD dengan dan partainya yang masih kuat. Ia tidak diharuskan untuk berkonsultasi dengan partainya. anggota DPRD juga sebaiknya membuat pemetaan masalah-masalah kemasyarakatan yang terjadi di daerahnya. tetapi selama situasi tertentu ia harus bertindak sebagai utusan dan berkonsultasi dengan yang diwakilinya. Salah satu atau kombinasi di antaranya dapat dijadikan acuan anggota DPRD dalam membangun hubungan dengan rakyat pemilihnya. Anggota DPRD lebih mewakili partainya daripada mewakili rakyat. Dalam tipe ini anggota DPRD dapat bertindak sesuai dengan keinginan atau program dari partainya. maka yang paling penting adalah dilakukannya pengrubahan pola pikir (mind set) dalam tata hubungan itu. Agar hubungan dengan rakyat lebih efektif. Tipe yang pertama adalah tipe wali (trustee). Terlebih pada pemilu 2009.Bagaimana hubungan yang ideal antara anggota dewan dengan dan pemilih? Secara umum terdapat empat tipe hubungan antara wakil (anggota DPRD) dan terwakil (rakyat). memahami potensi daerah serta harus mampu melakukan seleksi prioritas atas berbagai permasalahan yang ada. Untuk mengoptimalkan hubungan antara anggota DPRD dan rakyat. Prinsip yang paling penting adalah akuntabilitas anggota DPRD terhadap rakyat. penentuan calon terpilih didasarkan suara terbayak (bukan nomor urut seperti pada pemilu 2004). Oleh karena itu. Karena perubahan tipe hubungan yang berubah secara radikal. Dalam tipe ini anggota DPRD dapat bertindak bebas karena legitimasinya. yang merupakan paduan antara tipe wali dan tipe utusan. Di masa lalu. Dalam tipe ini anggota DPRD bebas bertindak atau mengambil keputusan menurut pertimbangannya sendiri. Setelah anggota DPRD terpilih dalam pemilu. Tipe yang terakhir adalah tipe partisan. lepaslah hubungan dengan pemilihnya. Anggota DPRD bertindak sebagai utusan dari yang diwakilinya. dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya. Ia tidak diharuskan berkonsultasi dengan yang diwakilinya. Agar pemenuhan kepentingan rakyat dapat lebih terjamin. tipe politico tampaknya yang paling ideal sesuai dengan Pemilu 2004 dan 2009 yang bersifat proporsional terbuka. Tipe yang ketiga adalah tipe politico. yaitu tipe utusan (delegate). tipe ini sangat menonjol. Selanjutnya hubungan yang ada dalam menjalankan tugasnya hanya dijalin dengan partainya. Jika hal ini tidak diantisipasi dengan baik. baik konstituen ataupun partainya. sehingga posisinya sangat independent. Dalam tipe yang kedua. anggota DPRD harus selalu mengikuti keinginan dan petunjuk dari yang diwakilinya. Pemilihan langsung dan kebijakan partisipatif Keeratan hubungan antara DPRD dengan pemilihnya paling mudah dilihat dari mekanisme pembuatan kebijakan yang dilaksanakan secara partisipatif. para anggota DPRD yang telah dipilih secara langsung dapat melakukan berbagai langkah sebagai berikut: .

baik secara internal maupun eksternal? 5. 2. penetapan anggaran daerah. 12 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . Apakah DPRD telah akomodatif terhadap stakeholders dalam merumuskan berbagai arah kebijakan? 4. tatanan demokrasi menghendaki adanya suatu pemerintahan dari. Dewasa ini. kelompok-kelompok dalam Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. rencana anggaran satuan kerja (RASK). Dengan demikian. 3. prinsip ini harus tercermin dalam pelaksanaan fungsi-fungsi utama DPRD. pertanyaan-pertanyaan dasar berikut ini perlu selalu dipertimbangkan setiap kali anggota DPRD melakukan fungsi dan tugasnya: 1.2. Oleh karena itu. oleh. dan 5. Melakukan perbandingan antara hasil need assessment yang didapat dengan dan rencana pembangunan yang disusun oleh eksekutif atau yang termuat dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). ada beberapa pra kondisi penting yang perlu dipenuhi oleh DPRD. Melakukan need assessment tentang kebutuhan masyarakat untuk dijadikan database. Pertama. Apakah pelaksanaan fungsi dan tugas telah menempatkan kepentingan rakyat yang merupakan pemegang kedaulatan yang paling tinggi? 2. sebagai bagian pelibatan masyarakat (stakeholder) dalam proses pemerintahan dan pembangunan. dan untuk rakyat. Memutuskan dan mendorong insiatif suatu perda yang mengakomodasi sebesarbesarnya kepentingan dan harapan rakyat. Apakah anggota DPRD dapat mempertanggunggugatkan semua produk kedewanan yang dihasilkannya sebagai bukti akuntabilitas publik? 3. yaitu pembuatan peraturan perundangundangan. Apakah DPRD telah menciptakan produk kebijakan yang mampu mendukung meningkatnya kualitas pelaksanaan pemilihan langsung di daerah dan menerapkannya secara konsisten? Dalam tata demokrasi yang mulai berkembang di tingkat nasional dan daerah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang didalamnya termasuk Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Pemerintah Daerah (RKA-SKPD). Kontrak sosial anggota DPRD dalam tata demokrasi baru Apa tuntutan suatu tatanan demokrasi terhadap DPRD? Secara ideal. Dalam prakteknya. Apakah DPRD telah memperhitungkan seluruh unsur penentu yang penting bagi penegakan supremasi hukum. 4. Menginformasikan kepada masyarakat tentang kebijakan yang diputuskan dan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh DPRD disertai dengan alasan-alasan yang rasional. prinsip ini acapkali dilupakan. pengawasan dan persetujuan DPRD terhadap APBD yang diajukan oleh eksekutif pada gilirannya diharapkan tidak hanya terbatas didasarkan pada pembahasan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). DPRD harus mampu berfungsi sebagai penyeimbang dan penyelaras dari berbagai kepentingan (political prerequisite). Melakukan kajian berdasarkan kepentingan dan kebutuhan rakyat terhadap rencana anggaran sebelum diputuskan menjadi APBD. Oleh karenanya. dan pengawasan. 3.1.

dari tingkat nasional sampai tingkat daerah. dalam kerangka transformasi sosial yang lebih luas. DPRD harus mampu memfasilitasi redistribusi berbagai aset dan akses atas sumber daya dan hasil pembangunan (economic prerequisite). Dalam sistem pemerintahan dewasa ini. Betapapun demikian. Pemilu seperti itu menghasilkan hubungan kontrak sosial yang berbeda dibandingkan dengan pemilu yang sebelumnya. Dengan berbagai kampanye melalui media massa. ia harus terlibat aktif dalam memfasilitasi perubahan sosial di lingkungannya (social prerequisite). sebab proses pengenalan berlangsung singkat. Anggota DPRD harus menjadi penjaga dan contoh dalam hal ketaatan hukum. dalam tata demokrasi. Oleh karena itu. Kedua.masyarakat sipil mulai mampu membentuk kekuatan-kekuatan politik. Oleh karena itu. Dengan perda yang dihasilkannya DPRD dapat meminimalkan disparitas antar warga masyarakat dan mewujudkan pemerataan yang lebih baik. nama-nama calon telah disampaikan melalui berbagai media dan rakyat dapat secara langsung menentukan pilihannya. Ketiga. AkhirnyaKelima. Bagaimana menyikapi hubungan kontrak sosial yang baru? Dalam Pemilu 2004 maupun 2009. DPRD pun dikehendaki untuk melakukan berbagai program pematangan demokrasi pada tingkat lokal. rentang kelembagaan yang perlu diperhitungkan DPRD sangat luas. Perbedaan itu dapat dipaparkan secara singkat sebagai berikut: Indikator Pemilu lama (Pra 2004) Pemilu baru (2004 dan 2009) Formatted: Font: +Body. Pengembangan kelembagaan ini harus memperhatikan spektrum pemerintahan yang luas. Jika rakyat lebih mampu melakukan partisipasi politik secara terlembaga. mulai dari peraturan perundang-undangan tingkat nasional sampai peraturan adat yang berlaku lokal. DPRD selayaknya menjadi penjaga integritas norma hukum dan perundang-undangan di lingkup daerahnya (legal prerequisite). hal ini tidak menghilangkan prinsip konstitusional bahwa pemilihan umum dilaksanakan secara langsung oleh rakyat. Kemampuan DPRD dalam mengembangkan budaya politik lokal yang kondusif untuk demokrasi akan memberikan dampak yang positif untuk peningkatan kinerjanya sendiri. DPRD pun diharuskan mampu membentuk kerangka peraturan yang diperlukan untuk membangun lembaga dan struktur pemerintahan di daerah yang efektif (institutional prerequisite). Harmonisasi kepentingan merupakan tugas penting yang perlu dipertimbangkan dalam setiap perumusan kebijakan oleh DPRD. dengan berbagai produk dan keputusannya. Hal ini khususnya relevan untuk pemenuhan kesejahteraan dari warga yang rentan terhadap kemiskinan dan keterbelakangan. DPRD adalah pembuat perda yang merupakan kebijakan dasar di tingkat daerah. sebagian besar rakyat mungkin belum dapat mengetahui dengan persis tingkat kualitas memilih nama calon yang dipilihnya secara langsung. meski terbatas. DPRD akan mendapatkan dukungan yang mempermudah pelaksanaan fungsi dan tugasnya. Not Italic Formatted Table . rakyat juga dapat menilai kesesuaian program dari partai politik yang akan dipilihnya. Keempat. Setidaknya. dalam tatanan demokrasi.

Upaya-upaya yang terkait dengan perbaikan proses pemerintahan dalam cabang . Apakah memenuhi janji politik selama kampanye saja sudah cukup? Tentu saja tidak. ia juga harus menciptakan gagasan terbaik untuk memaksimalkan pemerintahan dan pembangunan di daerah. upaya ini penting bukan saja untuk memenuhi janji politik.Siapa yang berkontrak sosial? Apa posisi rakyat/pemilih? Bagaimana realismenya? Bagaimana konsekuensinya?  Anggota DPRD  Partai politik Rakyat sebagai peserta/penggembira pesta demokrasi Rakyat cenderung emosional karena partai pilihannya Rakyat lemah dalam mengontrol para wakil  Rakyat/pemilih  Anggota DPRD  Partai politik Rakyat sebagai Pemilih wakil rakyat yang ditawarkan partai politik Rakyat bersikap lebih rasional dalam memilih Rakyat dapat secara penuh mengontrol para wakil Dalam kampanye yang lalu. Beberapa kerugian yang dapat ditimbulkan antara lain: . Kegagalan dalam memenuhi janji politik akan berdampak disinsentive terhadap partai politik. . Dalam konteks ini. rakyat dapat memberikan kebebasan pada mereka.Partai politik akan kehilangan kepercayaan dari rakyat. berbagai partai politik menebar berbagai janji melalui program-program yang ditawarkan pada rakyat. Oleh karena itu. Para anggota DPRD secara terus-menerus perlu melakukan penilaian dan penjajakan dinamika kepentingan dan orientasi politik rakyat. sementara anggota DPRD melaksanakan fungsi dan tugas konstitusionalnya. Upaya ini dapat dilaksanakan dengan cara memfasilitasi rakyat dalam memberikan kritik dan masukan bagi DPRD melalui berbagai media. serta . . konteks demokrasi baru memberikan peluang kepada rakyat untuk ikut serta dalam meningkatkan kinerja dari DPRD dengan berbagai cara.Banyak protes akan ditujukan kepada fraksi tertentu di DPRD.Akuntabilitas dan integritas DPRD akan dipertanyakan oleh rakyat dan publik secara luas. Dengan cara ini. Anggota DPRD yang telah terpilih mempunyai kewajiban untuk memenuhi berbagai janji politik itu.DPRD akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya secara demokratis. Tapi agar kontrak politik menjadi lebih efektif dan mendukung DPRD. Upaya ini dapat dilaksanakan dengan partai politiknya. Bagaimana rakyat diharapkan mendukung kinerja DPRD? Setelah memberikan kepercayaan politik pada para wakilnya. anggota DPRD dapat menjaga apakah berbagai kepentingan yang menjadi dasar kontrak sosialnya dapat dipenuhi dengan baik. Berbagai hasil yang didapatkan dapat diolah lebih lanjut dan digunakan untuk mendukung keberhasilan pemilihan umum yang berikutnya. . melainkan juga menjadi dasar rasional untuk mengoptimalkan perolehan dukungan politik. hubungan kontrak sosial antara rakyat dan anggota DPRD dapat dikatakan bersifat dinamis.Calon aAnggota yang telah terpilih tidak akan mendapatkan suara dalam pemilihan langsung periode berikutnya.

maka para wakil rakyat dapat dikatakan akuntabel jika mereka siap untuk digugat oleh rakyat atas apa yang dilaksanakan dan dihasilkannya sebagai anggota DPRD. Akuntabilitas atau tingkat pertanggunggugatan tidak sama dengan responsibilitas atau tingkat pertanggungjawaban. dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ataupun institusi pengawasan negara yang bersifat independen seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). upaya kritis oleh rakyat ini dalam jangka panjang justru akan menguntungkan DPRD dalam upaya membangun lembaga perwakilan rakyat yang bersih dan berwibawa. Dengan demikian. rakyat dapat melibatkan diri secara aktif dalam pembahasan perda. Badan Kehormatan DPRD. atau sidang-sidang komisi lainnya. Hubungan kontrak politik yang diarahkan untuk mendukung peningkatan kinerja DPRD juga menghendaki adanya arus informasi yang lancar antara DPRD dan rakyat. Dalam hal ini. DPRD akan mempunyai prospek untuk menciptakan sistem insentif yang lebih baik secara kelembagaan maupun karir politik perorangan. Sebagai tambahan. Maka.3. rapat dengar pendapat (RDP) dengan pemerintah. Walaupun dalam jangka pendek terkesan berlebihan. . Transparansi diperlukan bukan hanya untuk kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh DPRD. nuansa konstraktual dan hukum lebih kental dan berdimensi eksternal dibandingkan responsibilitas yang cenderung internal. mampu mempertanggunggugatkan segala yang dilaksanakan dan dihasilkannya. 3. Karena pemilihan umum hanyalah awal dari kontrak politik antara rakyat dengan dan DPRD. Sebagai contoh. rakyat di berbagai daerah telah menunjukkan bahwa mereka dapat pula menuntut pelaksanaan law enforcement yang lebih tegas terhadap anggota DPRD yang melakukan penyimpangan. Badan Pengawas Keuangan Pemerintah (BPKP). maka partisipasi dalam perumusan dan penentuan kebijakan dasar pemerintahan dan pembangunan daerah pun dapat dilakukan.legislatif seperti yang telah dikemukakan terdahulu menunjukkan bahwa rakyat dapat mendukung peningkatan kinerja dengan selalu mengontrol akuntabilitas dari DPRD dan seluruh anggotanya. atau RAPBD. sesuai dengan ciri hubungan kontrak sosial dari para wakil rakyat. rakyat tidak cukup dengan menunggu tawaran dari DPRD untuk ikut serta dalam berbagai proses pembahasan tapi rakyat secara aktif dapat pula mengikuti berbagai sidang terbuka. termasuk dengan memanfaatkan keberadaan institusi pengawasan internal seperti. tetapi juga seberapa besar sumber daya yang disediakan untuk DPRD dan seberapa efektif DPRD mendayagunakan untuk sebesar-besarnya manfaat rakyat. Dalam akuntabilitas. DPRD juga harus lebih membuka diri agar forum-forum persidangan di DPRD dapat diakses oleh publik luas. Inspektorat. Proses pengendalian politik yang dapat dilaksanakan oleh rakyat seperti dipaparkan di depan perlu disikapi secara positif dan arif oleh DPRD baru. dalam rangka menegakkan pelaksanaan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik. secara perorangan dan kelembagaan. Menjaga akuntabilitas wakil rakyat Apa ciri-ciri wakil rakyat yang akuntabel? Para wakil rakyat dapat dikatakan akuntabel jika ia. Sebaliknya.

anggota DPRD harus secara terbuka dan jelas menyatakan sikap. Ketika anggota DPRD tertentu dipilih atau ditunjuk menjadi anggota dari alat kelengkapan dewan.akuntabilitas perlu dan bahkan harus dipenuhi dalam beberapa tingkat: perorangan. Badan Anggaran. Bersikap diam akan berarti ia ikut bertanggung gugat terhadap kebijakan dan tindakan alat kelengkapan dewan itu. fungsi. anggota DPRD harus pula mampu mempertanggunggugatkan kinerjanya terhadap partai politik dan konstituen tertentu yang mendukung partai politik itu. Ketiga hal tersebut akan menjadi dasar utama untuk menilai kinerja perorangan dan pedoman dalam menyampaikan semua pertanggunggugatan politiknya di hadapan rakyat. Badan Musyawarah. Apa yang perlu diperhatikan agar dapat bertanggung gugat? Hal penting pertama yang perlu diperhatikan oleh anggota DPRD adalah penguasaan yang solid atas seluruh kerangka peraturan yang membingkai mandat. dan tugasnya. 27/2009. fraksi. Jika ia tidak setuju dengan kebijakan atau langkah tertentu. masing-masing anggota dapat mempunyai profil politik yang unik. posisi. sekalipun berasal dari partai politik yang sama. seperti uang representasi. alat kelengkapan dewan (Komisi. tunjangan keluarga. anggota DPRD juga harus dapat memenuhi berbagai prosedur teknis yang berkenaan dengan penggunaan berbagai sarana dan prasarana pendukung kerja. Ini berarti bahwa anggota DPRD harus memahami UUDkonstitusi. Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Level 1. hak keuangan dan administratif dari DPRD telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP). 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. pengaturannya harus disesuaikan dengan kemampuan daerah. dan kelembagaan secara keseluruhan. Secara perorangan. dan alat kelengkapan lainnya). uang paket. tata tertib dan kode etik DPRD. DPRD juga dapat mulai merumuskan profil politik secara perorangan. peraturan dari partai politik serta berbagai aturan main lain yang telah ditentukan untuk keberadaannya. anggota DPRD dapat melakukan pengecekan atau meminta penjelasan dari setwan sebagai pengelolaan keuangan dan tunjangan DPRD. baik dalam komisi atau panitia kerja tertentu. tunjangan beras. Dalam posisinya sebagai aparatur negara. peraturan perundang-undangan dengan jenis dan tingkatan sebagaimana yang dimaksud dalam UU No. sebagai anggota fraksi yang merupakan bentuk kesatuan politik berdasarkan partai. Partai politik akan menghendaki utusan-utusannya memperjuangkan kepentingan-kepentingan politik yang telah digariskan dalam program partai. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt . Setiap anggota DPRD wajib secara aktif memastikan semua informasi yang berkenaan dengan kerangka aturan tersebut tersedia untuknya. maka ia harus menyampaikan kepada publik dengan jelas dan tegas. maka ia harus secara aktif memastikan bahwa kebijakan dan langkah yang diambil oleh alat kelengkapan dewan itu selaras dengan nilai-nilai politiknya. dan target politiknya terhadap berbagai urusan politik yang dilaksanakan dalam berbagai forum internal dan eksternal DPRD. Badan Kehormatan. Pun dalam menentukan uang tunjangan. Sebab. Selanjutnya. Para anggota DPRD tidak dapat secara semena-mena menggunakan berbagai sumber daya yang disediakan oleh negara karena. serta tunjangan pemeliharaan kesehatan. Agar kesalahan yang tidak perlu dapat dihindarkan. Badan Legislasi Daerah. Sebagaimana diatur dalam UU No.

Selain itu.25" + 0. serta PP No. adalah fungsi dan tugas DPRD untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UU.75" .Sebagai tambahan. Space Before: 0 pt. yang di dalamnya termasuk anggaran untuk pelaksanaan fungsi. fungsi dan tugas pokok DPRD mencakup: 1. Dasar pemikiran dalam melaksanakan fungsi anggaran dari anggota dewan perlu disesuaikan dengan sistem anggaran kinerja yang berlaku sesuai perundangundangan. 2. 3. perda dan keputusan kepala daerah serta kebijakan nasional lainnya. Sebagaimana diatur dalam UU No. 38/2007. Pengawasan.13". dan 3. 2. Don't adjust space between Asian text and numbers Formatted: Indent: Left: 0. apakah seluruh sikap.18" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. Legislasi. Materi perda ke arah penyelenggaraan otonomi daerah. dan wewenang DPRD.4. Karakteristik lokal perlu sebagai bahan pertimbangan agar tercapai kesesuaian arah pembangunan dengan kebutuhan masyarakat daerah. Prinsip otonomi daerah misalnya bisa digali dengan menelisik ruang fisibilitas regulasi yang dimungkinkan sebagaimana diatur dalam UU No. Hal ini sangat penting karena dokumen ini merupakan dasar dalam pelaksanaan fungsi dan tugas pokok DPRD. Tab stops: Not at 0. kinerja pokok DPRD disusun dan dinilai berdasarkan pada fungsi dan tugas konstitusionalnya. Anggaran adalah fungsi dan tugas DPRD bersama-sama pemda untuk membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadapmenyusun dan menetapkan RAPBD. Pedoman anggaran kinerja secara umum bertujuan untuk: 1. 22/200327/2009 tentang. Tab stops: Not at 0. 3. Secara tepat menentukan tahapan penyusunan anggaran. Space Before: 0 pt.25". Dalam mengoptimalkan kinerja fungsional tersebut. Formatted: Level 1. Hanging: 0. UU No. maka anggota DPRD wajib untuk menjadikan dokumen ini sebagai acuan pokok. agar pertanggunggugatan kinerja dapat dilaksanakan dengan lebih mudah.25" + 1. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Left. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Level 1.13". Menjaga kinerja DPRD Pertimbangan fungsional Pada dasarnya. Ini menyangkut kesesuaian antara peraturan daerah di tingkat lokal dengan peraturan perundangundangan di atasnya. anggota DPRD perlu secara terus-menerus mengecek. Sebagai anggota lembaga yang mensahkan renstrada RPJMD. Don't adjust space between Latin and Asian text.25" + 0. Dalam kasus beberapa tahun terakhir. tugas. yaitu fungsi dan tugas DPRD untuk membentuk perda baik dengan inisiatif mandiri ataupun bersama-sama pemda yang dipimpin kepala daerah. masalah ini mencuat karena banyaknya perda-perda yang bertentangan dengan peraturan di atasnya sehingga kemudian dibatalkan pemberlakuannya (perda bermasalah). Space Before: 0 pt. sasaran perda juga butuh dicantolkan pada upaya pencapaian target-target Milennium Development Goals (MDG s) setidaknya bagi jenis layanan-layanan publik dasar. Space Before: 0 pt. Tata urutan peraturan perundang-undangan.19". Tab stops: Not at 0. posisi dan target politiknya selaras dengan kebijakan dan sasaran program-program pemerintahan dan pembangunan daerah.88" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. 58/2005. baik dalam hal legislasi penganggaran maupun pengawasan. 32/2004. 33/2004. rujukan sebagai dasar pertimbangan antara lain adalah: 1. PP No.

Tab stops: 4. Left ¨   § ¥  ¦ ¢ ¢£ ¢   £   ¢ ¢¡  £ ¢¡     £ ¢ ¢ £  ¤ £ Formatted: Centered.5". e a aan K -SKP P Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Penatasusahaan Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Pertanggungjawaban Akuntansi Keuangan Daerah Akuntansi Keuangan Daerah Penatausahaan Pendapatan Laporan keuangan Pemerintah Daerah  Laporan realisasi anggaran  Neraca  Laporan Arus Kas  Catatan atas Laporan Keuangan Penatausahaan Belanja Kekayaan dan Kewajiban daerah       Kas Umum Piutang Investasi Barang Dana Cadangan Utang Pemeriksaan laporan keuangan (BPK) Raperda Pertanggungjawaban APBD ¦§ & § P %   ©   ¥ $ # ap ran ea a e e ter er ahan ¦§© §¦ ¨ a " !  §    §   § ¦§ ¨ ¨ ¦§© §¦ ¨     Formatted: Left. Memberikan gambaran mengenai proses penyusunan anggaran secara keseluruhan disertai dengan jadwalnya. Indent: First line: 0". Space Before: 0 pt . Mengidentifikasi masalah-masalah utama dan perubahan yang berdampak pada proses anggaran tahun yang akan datang. Memberikan pedoman umum mengenai pendekatan anggaran yang digunakan. 3.2. e anja. Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Perencanaan PJM Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Pelaksanaan ancangan KP Ver PP S K Nota Kesepakatan (Pemda.P ) a ar e a anaan nggaran Pedoman Penyusunan K -SKP e a anaan en apatan. dan 4.

jangkauan dan mekanisme kerja yang berkaitan dengan pengawasan. Formatted: Level 1 . DPRD perlu duduk bersama dengan berbagai lembaga tersebut untuk menyepakati bidang. ataupun KPK. BPK. BPKP. DPRD harus menyesuaikan diri dengan berbagai lembaga pemerintahan lain di daerah (termasuk instansi pusat yang ada di daerah) yang mempunyai kewenangan dalam bidang pengawasan seperti Inspektorat.Formatted: Space Before: 0 pt Dalam melakukan fungsi pengawasan.

melaksanakan pembangunan. Pendekatan-pendekatan dan mekanisme-mekanisme konsensus perlu dipersiapkan. Otonomi daerah memberikan kedekatan antara rakyat dan wakilnya di lembaga-lembaga legislatif. Kesepakatan seperti ini dapat dibangun melalui konsensus di antara lembaga-lembaga tata pemerintahan yang ada. DPRD perlu merumuskan kembali posisinya terhadap lembaga-lembaga eksekutif dan yudikatif di daerah. Keserasian hubungan antara DPRD dengan jajaran Formatted: Space Before: 0 pt . Kesepakatankesepakatan baru diperlukan agar masing-masing lembaga mengetahui batas-batas fungsi. Berangkat dari paradigma tersebut. Artinya. Otonomi daerah membutuhkan kemandirian. DPRD dapat memproduksi peraturan daerah yang dapat memberikan jaminan pelayanan pemerintah dan pembangunan yang bermutu pada rakyat. namun lebih jauh lagi dapat mewakili dan memperjuangkan segala kepentingan rakyat meliputi berbagai aspek kebutuhan masyarakat di daerahnya. 4. Kesepakatan-kesepakatan baru diperlukan agar masing-masing lembaga mengetahui batas-batas fungsi. Karena itu langkah proaktif perlu dilakukan DPRD untuk merumuskan kembali posisinya dengan baik dan seimbang dalam hubungannya dengan lembaga-lembaga eksekutif dan yudikatif di daerah. DPRD sebagai wakil rakyat menjadi pusat perubahan ke arah tersebut.1. maka hakekat dari otonomi daerah adalah semakin mendekatkan pemerintah ke rakyat. sebab peraturan perundangundangan yang ada belum secara jelas mengatur mekanisme politik seperti ini. ada kemampuan untuk membuat dan melaksanakan kebijakan yakni: merencanakan pembangunan. rakyat didorong untuk mengembangkan prakarsa mandiri. 2232/1999 2004 tidak berlebih. dan membiayai sendiri pelaksanaan pembangunan. dan otoritasnya. karena tanpa kemandirian sulit diwujudkan otonomi yang sesungguhnya.BAB IV Menjadi Wakil Rakyat dalam Konteks Otonomi Daerah Diana fawzia Otonomi daerah memberikan kedekatan antara rakyat dan wakilnya di lembaga-lembaga legislatif. Di lain pihak. Kesepakatan seperti ini dapat dibangun melalui konsensus di antara lembaga-lembaga tata pemerintahan yang ada. Dalam arti yang sesungguhnya. Pendekatanpendekatan dan mekanisme-mekanisme konsensus perlu dipersiapkan secara cermat dan efektif. sehingga antara wakil rakyat dengan masyarakat tercipta hubungan harmonis dalam memanfaatkan potensi yang ada untuk membangun daerah. DPRD harus mampu memandirikan daerah dalam beragam pembangunan. Otonomi daerah dan konsekuensinya bagi DPRD Sebagai konsekuensi otonomi. Karena itu. sebab peraturan pemerintah (PP) yang ada belum secara jelas mengatur mekanisme politik seperti ini. mengatur pegawai. tugas. tugas dan otoritasnya. agar penafsiran terhadap UU No. DPRD tidak hanya berfungsi sebagai perumus yang menetapkan peraturan-peraturan saja.

Jadi. hubungan kedua lembaga itu bersifat sejajar. 22/1999 dalam hal kewenangan DPRD untuk dapat menolak laporan pertanggungjawaban dari kepala daerah yang seringkali berimplikasi secara politis untuk menjatuhkan kepala daerah. 2232/1999 2004 tentang Otonomi Pemerintahan Daerah dan UU No. UU No. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . keduanya dihubungkan baik sebagai mitra yang berkedudukan setara dan sejajar (tidak saling membawahi) maupun penyeimbang jalannya pemerintahan daerah. Kesejajaran dan kemitraan ini akan menjadi sebuah sinergi bila kedua lembaga ini menempatkan kewenangan yang dimiliki pada proporsi yang tepat. 22/1999 dalam memilih. Dalam perspektif Pemerintah Pusat. 32/2004 Pasal 42 ayat (1) huruf d yang mekanismenya diatur dalam pasal 29. Dalam UU No. Dalam perspektif pemerintahan daerah. keberadaan DPRD dan Pemerintah Daerah adalah tak terpisahkan sebagai kesatuan dalam pemerintahan daerah. Ketentuan ini diharapkan akan menciptakan kestabilan pemerintahan daerah sehingga tidak mengulang preseden UU No. pasal 42 ayat (1) huruf h. Namun demikian. tetapi untuk lebih kritis lagi menilai kinerja kepala daerah. sesuai atau tidak dengan tugas dan tanggung jawab yang sudah diputuskan. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian KDH (gubernur. Pemahaman dan kepatuhan terhadap tugas-tugas yang dibebankan. hendaknya tidak digunakan dengan tujuan semata-mata untuk menjatuhkan kepala daerah. ketentutan terkait hal ini diubah menjadi bahwa wewenang DPRD lebih dibatasi untuk sebatas meminta keterangan laporan pertanggungjawaban dari kepala daerah. adalah menyangkut hubungan antara lembaga legislatif dan lembaga eksekutif di daerah. bupati. Kewenangan DPRD dalam UU No. Pasal 16 ayat 2 menyatakan bahwa DPRD sebagai badan legislatif daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari pemda . melakukan kolusi. 32/2004. dan nepotisme dengan pihak KDH. Hanya dengan ini masyarakat akan mampu didorong sebagai bagian penting dari otonomi.pemda menjadi mutlak untuk membangun kesamaan pandang dalam memanfaatkan potensi daerah serta dalam hal penggunaan anggaran pembangunan sesuai urgensi dan kebutuhan masyarakat. Atau lebih jauh lagi. korupsi. ini diharapkan tidak mengurangi sikap kritis DPRD terhadap pemerintah daerah dalam proses penyelenggaraan pemerintahan daerah. Salah satu implikasi dari UU No. Kewenangan yang amat besar yang dimiliki oleh DPRD saat ini seyogyanya tidak dijadikan sebagai sarana atau kesempatan untuk menjatuhkan eksekutif atau mengusulkan pemberhentian kepala daerah sebagaimana disebut dalam UU No. Selanjutnya. 22/1999 tentang pemda dengan jelas mengatur peran masing-masing pihak serta hubungan antara keduanya. dapat menghindarkan terjadinya intervensi dan overlapping antar wilayah kerja kedua institusi ini. Posisi tawar yang demikian strategis hendaknya tidak dimanfaatkan untuk memberi tekanan (memeras) KDH demi keuntungan pribadi atau kelompok. Fungsi pengawasan hendaknya dilakukan dalam sebuah proses yang demokratis sehingga dapat meminimalisasi perbedaan kepentingan politik yang seringkali mewarnai hubungan antara DPRD dan pemerintah daerahkedua lembaga ini. walikota beserta wakilwakilnya) serta menolak laporan pertanggungjawaban (LPJ) kepala daerah. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. bersama-sama memanipulasi aspirasi rakyat untuk mengumpulkan kekayaan pribadi atau kelompok.

kondisi daerah secara menyeluruh hendaknya menjadi dasar pertimbangan utama. lahan usaha bertambah. Oleh karenanya. dan pembangunan yang kondusif. Kedudukan DPRD tidak lagi menjadi bagian dari pemda tetapi sebagai badan yang memiliki wewenang strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. karena keberagaman masyarakat menjadi realitas sosial yang alamiah. Komunikasi yang tidak dibangun dengan baik akan mengakibatkan pola hubungan di antara kedua institusi ini menjadi tidak sehat dan pada akhirnya menghasilkan sebuah pemerintahan yang tidak stabil. potensi apa yang dimiliki daerah. ke depan DPRD perlu memberikan makna otonomi dalam konteks sebagai berikut. Formatted: Justified. pemerintahan. Kepentingan masyarakat dapat lebih diwadahi dan potensi daerah dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. Berdasarkan penelitian terhadap peran dan fungsi DPRD selama ini. Peluang DPRD untuk menciptakan dan mendorong pembangunan demokrasi di daerah semakin terbuka. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku saat ini memberikan penekanan pada pola hubungan keseimbangan dan keserasian yang sinergis. semangat UU No. selanjutnya sehingga daerah diharapkan dapat lebih berperan dalam menentukan prioritas pembangunan. mengawasi. dan pembangunan tersendat justru karena peran DPRD yang kurang sesuai dengan kepentingan daerah. Dengan demikian. Indent: Left: 0". menjadikan semua kebijakan publik pada tingkat lokal harus melibatkan kedua belah pihak. Misalnya. Kemajemukan harus menjadi aset daerah yang perlu dikelola dengan baik dalam tatanan politik. diperlukan kepekaan yang kuat dalam menentukan prioritas pembangunan daerah. Intervensi pemerintah pusat terbatas pada hal-hal tertentu. komunikasi yang efektif dengan eksekutif harus dibangun sejak awal agar terjalin sebuah hubungan yang saling mendukung dan bukan saling menjatuhkan. dan aset mana yang harus dilindungi. Untuk itu. perda yang memberi kemudahan bagi kalangan pengusaha dan investor untuk menanamkan modalnya di daerah. Kemampuan meletakkan posisi secara proporsional oleh DPRD dan pemerintah daerah terhadap pemerintahan pusat akan menciptakan sinergi yang lebih optimal. pelaksanaan pemerintahan. Kesemuanya itu dituangkan dan dirumuskan dalam perda. First line: 0. Secara umum demokrasi mengakui adanya kehidupan yang serba majemuk.Di sini dibutuhkan kearifan untuk melakukan kompromi di antara kedua kepentingan tersebut agar tidak menjadi konflik. Keserasian hubungan antara DPRD dengan jajaran pemda menjadi mutlak ketika berbicara mengenai pemanfaatan potensi daerah dan berapa besar anggaran pembangunan yang diperlukan untuk itu. sesuai dengan urgensi kebutuhan masyarakat. Dalam merumuskan dan menetapkan peraturan daerah (policy making power). dan mengimbangi.5". tanpa harus ada kekhawatiran akan tersingkirnya tenaga kerja lokal. hendaknya diikuti dengan dibuatnya peraturan daerah yang membatasi masuknya tenaga kerja asing serta mengharuskan perusahaan memberikan pelatihan peningkatan ketrampilan pada pekerja-pekerja lokal. menunjukkan bahwa proses demokrasi. Mekanisme check and balance yang memberi peluang kepada DPRD dan pemerintah daerah untuk saling mengontrol. Adjust space between Asian text and numbers . lapangan pekerjaan bagi warga masyarakat tercipta. Terlebih lagi. Apa yang dibutuhkan daerah. Untuk itu. Adjust space between Latin and Asian text.

32/2004 terbatas menyangkut enam bidang. sosial. 7. perumahan. sebagaimana diatur dalam PP No. 9. penataan ruang. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Urusan Wajib Urusan Pilihan Formatted: Space Before: 0 pt Untuk mewujudkan terciptanya penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance) di daerah diperlukan berbagai instrumen. 11. 5. anak. 4. Urusan bersama ini. 3. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri. penanaman modal. 8. Urusan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota berkaitan dengan pelayanan dasar. dan persandian. pemberdayaan perempuan dan perlindungan kesehatan. pekerjaan umum. ketenagakerjaan. mendahulukan diri dan kelompok melalui peluang dan kewenangan yang dimilikinya merupakan hal yang tidak boleh terjadi. mineral. kependudukan dan 24. 1. kebijakan dan program berbasis kerakyatan. juga telah diatur dalam lampiran PP No. kearsipan. pemberdayaan masyarakat dan desa.Dalam hal ini. 5. dan menengah. pertanian.] 26. Pemda dituntut untuk Formatted: Font: +Body . pariwisata. perpustakaan. Dengan otonomi. 6. urusan murni pemerintah pusat. 2. pertanahan. 3. 1. 38/2007 terdiri dari 31 bidang urusan pemerintahan yang setelah diklasifikasikan diturunkan menjadi 26 urusan wajib dan 8 (delapan) urusan pilihan. kepemudaan dan administrasi keuangan daerah. statistik. 16. komunikasi dan informatika. 17. keamanan. 7. perhubungan. 38/2007 tersebut.13. 21. industri. lingkungan hidup. dan 4. pembangunan. 10. 6. ketransmigrasian. serta agama. pertahanan. energi dan sumber daya 8. pemerintah propinsi. 15. 19. dan 12. 25. 38/2007 pendidikan. 1. sebagaimana diatur dalam UU No. keluarga berencana dan keluarga sejahtera. 2. Urusan di bidang lainnya. perdagangan. catatan sipil. Urusan Pemerintahan Daerah dalam PP No. serta kualitas anggota DPRD yang mampu proaktif merancang kebutuhan masyarakatnya. ketahanan pangan. otonomi daerah. Terkait batasan kewenangan masing-masing tingkatan pemerintahan dalam setiap urusan tersebut. 23. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan yang ditentukan dan ditetapkan oleh pemerintahan daerah. koperasi dan usaha kecil 22. daerah diharapkan mampu dan mandiri dalam membiayai dirinya karena dana yang diperoleh dari pusat sangat terbatas. pemerintahan umum. perangkat olahraga. yaitu perda. yustisi. kekhasan. 14. moneter dan fiskal nasional. Sedangkan urusan pilihan adalah urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. Oleh karenanya. kepegawaian. kehutanan. menjadi urusan yang dibagi bersama antara pemerintah pusat. kebudayaan. kelautan dan perikanan. dan pemerintah kabupaten/kota. 20. perencanaan 18. yaitu politik luar negeri. daerah.

tugas dan wewenangnya. Ini sebagai akibat dari lemahnya komitmen DPRD dalam menggunakan kewenangannya.2. Peran partisipasi aktif masyarakat diharapkan dapat tumbuh dan berkembang sejalan dengan kewenangan yang dimiliki DPRD serta upayanya untuk dapat mengelola beragam kepentingan politik. 22/1999 menyatakan bahwa DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di daerah merupakan wahana untuk melaksanakan berdemokrasi berdasarkan Pancasila dan pelibatan rakyat dalam pembangunan daerah. Dalam kaitannya dengan tugas dan wewenangnya mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah. Di pPosisi tawar-menawar kuat yang dimiliki DPRD dalam kerangka akomodasi kepentingan rakyat masih banyak tidak dijalankan dengan baik tapi justru dimanfaatkan secara tidak bertanggung jawab tanpa menghiraukan kepentingan rakyat daerah. ataupun momen politis dalam pertanggungjawaban tahunan dari Kepala Daerah (KDH). UU No. Artinya. DPRD dapat harus membuat perda-perda inisiatif dan sekaligus mendorong pemerintah untuk membuatmengajukan perda-perda yang berpihak kepada rakyat. tidak dilanjutkan lagi. 32/2004 ini memberikan kekuasaan yang sangat besar pada DPRD dalam hak. Raperda yang diajukan pemerintah. DPRD dituntut dapat Mmenciptakan iklim politik yang sehat dan untuk memberikan pemahaman bermakna pada masyarakat akan pentingnya kesadaran politik rakyat dalam mendukung dan mengoreksi kebijakan pemerintahan. DPRD menghadapi tantangan baru untuk menjadikan institusi ini sebagai agen perubahan. terutama dalam kerangka persetujuan RAPBD. Demikian pula praktik politik uang bukan lagi rahasia. Dalam menjalankan fungsi legislasi misalnya. sehingga dapat menjadikan DPRD sebagai agen perubahan. Demikian pula dalam mendorong pemahaman bermutu pada rakyat terhadap pentingnya pembangunan daerah berdasarkan potensi yang dimiliki untuk. dan budaya masyarakat. sosial. diganti dengan peraturan yang dapat mendorong prakarsa masyarakat agar lebih produktif. digali dan dimanfatkan secara bersama-sama. tapi mengalami distorsi sedemikian rupa sehingga pemerintahan yang bersih sangat masih sulit diwujudkan. dan nepotisme. selain mendengar usulan fraksi-fraksi DPRD juga dapat mengadakan forum pertemuan dengan unsur-unsur masyarakat guna mendengarkan dan . DPRD sebagai pembentuk karakter politik pemerintahan dan pembangunan Selain sSebagai wakil rakyat. dan bukan dilihat sebagai kesempatan untuk melakukan intervensi terhadap lembaga-lembaga pemerintahan lainnya.selalu meningkatkan PAD. 4. Ini hendaknya dimaknai sebagai peluang dan tantangan untuk melakukan perubahan-perubahan ke arah demokratisasi di daerahnya. DPRD memiliki nilai strategis yang sangat penting dalam mendorong demokratisasi di semua sektor kehidupan. Pasal 16 ayat 1 UU No. Peraturan daerah semacam pajak dan retribusi yang kurang produktif. Terdapat kecenderungan bahwa pelaksanaan otonomi daerah relatif oleh banyak pihak justru memperluas praktek korupsi. fungsi pengawasan dari DPRD masih banyak yang belumtidak berlangsung sesuai dengan UU dan peraturan yang ada. dimana banyak kalangan anggota DPRD terlibat di dalamnya. tetapi ini harus dalam konteks tidak menjadi beban aktivitas ekonomi. kolusi.

Melalui cara ini. Pembangunan daerah tidak akan berjalan bila sejumlah prasyarat tidak dipenuhi. hutan. tidak upaya pemanfaatan dapat berubah menjadi penyalahgunaan. Selanjutnya. misalnya. Kkegiatan ekonomi jangan diartikan semata-mata sebagai sumber PAD tetapi sebaiknya diterjemahkan sebagai upaya untuk mengajak masyarakat daerah maupun luar daerah untuk memanfaatkan dan mengembangkan potensi daerah.5" . memahami masalah daerah dan memuat peta pembangunan yang berbasis kerakyatan berdasarkan kondisi. tambang. kesetaraan. efektivitas. aspirasi. Tugas DPRD selanjutnya adalah mengawasi jalannya perda-perda di bidang perekonomian tersebut. peningkatan daya tanggap. Beberapa fasilitas kemudahan hendaknya diadakan. dan kemampuan pengawasan yang baik. dan kemudahan untuk menggunakan sarana dan prasarana serta sumber daya daerah (tanah. Hal ini dimaksudkan untuk lebih memudahkan semua pihak dalam mendukung setiap proses pemerintahan dan pembangunan. terutama di bidang perekonomian. DPRD dapat menghidupkan hak penyelidikan sehingga pengawasan politik terhadap jalannya pemerintahan dapat diwujudkan. merupakan sebagian cara untuk mewujudkan itu. 3. pengaturan sumber-sumber pendapatan negara dan daerah. tuntutan. Dalam. agar seluruh pola pikir dan tindak yang dilakukan dalam mendukung pembangunan daerah dapat lebih optimal dan sesuai dengan koridor hukum. fasilitas perijinan usaha. akuntabilitas. memahami secara benar filosofi dan prinsip pembangunan di era otonomi daerah.mempertimbangkan aspirasi sekaligus penilaian mereka terhadap calon-calon kepala daerah yang akan dipilih nantinya. pembagian pendapatan dari kekayaan alam. perpajakan. Sehingga diharapkan tidak terjadi lagi adanya kepala-kepala daerah yang didukung DPRD tetapi tidak dikehendaki rakyat. profesionalitas. efisiensi.5". 2. 4. jika Tanpa payung regulasi yang jelas dan tegas. Semua pemanfaatan potensi daerah harus diatur dalam perda sebagai jaminan adanya perlindungan terhadap kegiatan usaha dan pengembangannya. Untuk lebih mengefektifkan fungsi pengawasan. yaitu: adanya partisipasi masyarakat. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. selain mendorong kegiatan investasi. pajak dan retribusi.. fungsi. Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah: 1. beberapa pemahaman dan tindakan yang perlu ditampilkan DPRD dalam mendukung pembangunan daerah yang lebih bertanggung jawab. memahami dan mampu melaksanakan tugas. 22/1999 tentang Pemda. dan kebutuhan prioritas masyarakat. Formatted: Indent: First line: 0. dan tanggung jawabnya sesuai yang digariskan dalam peraturan perundang-undanganUU No. dan lain-lain) dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan. kewajiban. memahami secara baik dan benar tentang penerapan secara menyeluruh mengenai pemerintahan yang baik. serta menggerakkan kegiatan ekonomi lintas daerah dan lintas nasional. Tab stops: Not at 0. baik yang terkait dengan potensi yang dimiliki daerah maupun posisi daerah dalam lintas pembangunan regional dan nasional. DPRD bersama pemda (eksekutif) hendaknya memfasilitasi segala bentuk kegiatan di daerah. memiliki visi yang jauh kemasa depan. terutama oleh para penyelenggara pemerintahan di daerah yaitu pihak legislatif dan eksekutif di daerah. transparansi. penegakan hukum..

dan partai politik akan selalu mencermati dan kritis terhadap pelaksanaan peran dan fungsi serta kinerja DPRD dalam membangun kebijakan dan pelayanan pemdapublik. terdapat beberapa alternatif pendekatan pembangunan yang dapat didorong oleh DPRD ke arah yang lebih baik untuk dilakukan oleh pemerintah daerah dalam merespon kondisi faktual yang berkembang. Ini bisa dilakukan. Sebagai mitra yang dengan kesadaran politik yang baik. transfer teknologi dan pengembangan kemampuan. Penguatan pelaksanaan desentralisasi pemerintahan dan pembangunan yang dapat menjamin hak-hak dasar masyarakat daerah harus dilakukan. Komunikasi yang intensif dan terarah akan melahirkan kesadaran politik masyarakat. dangkan LSM. maka masyarakat akan tahu kebijakan-kebijakan mana yang harus didukung dan mana pula yang perlu dikoreksi. Hal ini mencakup peningkatan kemampuan dalam formulasi kebijakan dan perencanaan. DPRD hendaknya membuka ruang komunikasi politik secara luas dengan seluruh unsur masyarakat di daerahnya. juga upaya debirokratisasi dan deregulasi di tingkat pemerintahan lokal butuh dilakukanterus dikaji dan diperbaiki untuk mengurangi hambatan-hambatan dalam mencapai keberhasilan sebuah kebijakan. sehingga aAspirasi masyarakat bawah harus dapat terserap dan diangkat menjadi permasalahan utama dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan pembangunan untuk berbagai dimensi. Serta mMemberikan pemahaman akan pentingnya kesadaran politik sama artinya dengan menempatkan masyarakat dalam posisi sebagai mitra. serta menumbuhkan peranan sektor swasta dan lembaga swadaya masyarakat. dan bukan semata-mata obyek pembangunan. Peningkatan kemampuan kelembagaan atau organisasi pembangunan sektoral perlu dioptimalkan. Dalam prinsip ketatapemerintahan yang baik. agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat memang diyakini berlangsung efektif dan efisien. Untuk mendukung aspek-aspek pembangunan yang telah diuraikan di atas. Formatted: Space Before: 0 pt . ekonomi. ormas. Jika komunikasi seperti ini dilakukan terusmenerus secara berkesinambungan. DPRD hendaknya melibatkan individu maupun lembaga yang memiliki pengaruh besar di masyarakat dalam merumuskan kebijakan-kebijakan. baik itu politik. maka proses pembangunan demokrasi di daerah dapat segera terwujud sebagaimana yang dicita-citakan. khususnya kemampuan untuk memberikan pelayanan secara tepat dan tepat. memang banyak hal yang menjadi kecenderungan dan permasalahan umum pembangunan di daerah. dan agama adalah sebagian dari individu-individu yang dapat memberi kontribusi melalui masukan dan kritik terhadap pemda dan DPRD. sosial. Mencermati berbagai hal yang terjadi di daerah. Selain itu. masyarakat adalah mitra pemerintah dan DPRD dalam membangun daerahnya. Adanya iklim politik yang sehat akan mendukung peran DPRD sebagai pembentuk karakter politik di daerahnya. terutama yang terkait dengan kondisi sosial yang perlu ditanggapi melalui pendekatan pembangunan. Tokoh-tokoh masyarakat. Terkait dengan ini. maupun budaya. dalam berbagai aspek. adat. dengan cara mengajak serta elemen-elemen masyarakat berpartisipasi aktif melalui fungsi dan peran yang dimiliki masing-masing.Sebagai institusi yang mewakili beragam aspirasi masyarakat. Aantara lain. Sebagai bagian dari pelaku-pelaku politik di daerah.

Demikian pula dengan hubungan kerja dan koordinasinya DPRD Formatted: Font: +Body. Pada gilirannya. dan bimbingan keterampilan. Not Bold Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt . tetapi dengan catatan tidak memberikan beban baru bagi masyarakat miskin yang masih banyak tersebar di berbagai daerah.3. juga perlu penekanan pada pemahaman konsep dalam kerangkalahirnya bisnis kemitraan antar semua elemen dan lapisan sosial masyarakat. Hal inilah yang penting dikomunikasikan secara terus-menerus pada masyarakat agar mereka memahami tugas-tugas utama DPRD. setiap metode penentuan proyek pembangunan harus sesuai dengan keunggulan wilayah dan kapasitas masyarakat setempat agar potensi yang terdapat di setiap daerah dapat dieksploitasi dimanfaatkan secara proporsional. Kebijakan dasar program-program pembangunan (dalam arti luas) yang dirumuskan DPRD perlu diorientasikan kepada mata pencaharian utama yang digeluti masyarakat di suatu daerah. DPRD perlu memperkuat dan meningkatkan prakarsa di tingkat lokal sehingga dapat mendorong dan meningkatkan kemampuan berusaha yang berbasis kerakyatan bagi tumbuh dan berkembangnya local enterpreneurship atau pengusaha lokal yang kuat. . yang pada gilirannyaini diharapkan akan menciptakan situasi saling ketergantungan (interdependen) dan keseimbangan ekonomi antar daerah. jasa. maka harus diciptakan prakondisi yang memungkinkan Di samping itu. guna menjaga hubungan yang harmonis antara semua pelaku ekonomi daerah. secara strategis membutuhkan peran DPRD sebagai pembentuk karakter politik pemerintahan dan pembangunan. Selanjutnya pelatihanpelatihan di bidang perdagangan barang. Guna menjamin SDM yang berkualitas tersebut dapat bermanfaat. Namun demikian. Upaya meraih kesemua hal tersebut. Intinya. konsep ini perlu menjamin kesinambungan suplai komoditi yang dibutuhkan dalam pengembangan kreatifitas masyarakat. baik yang bersifat formal maupun yang bersifat informal. Upaya membangkitkan kembali koperasi dan permodalan dapat dilakukan untuk menumbuhkan usaha swadaya masyarakat. koordinasi dan tanggung jawab yang ada pada DPRD. pengawasan pemerintahan dan pembangunan serta perannya sebagai wakil rakyat yang menampung aspirasi dan menindaklanjutinya. Oleh karena itu. semua kondisi yang dijelaskan di atas diharapkan mampu menemukan kesetaraan politik. dan ekonomi masyarakat untuk memperoleh kesempatan yang sama dan peningkatan kesejahteraan yang lebih adil dan lebih maju. Tugas yang dimaksud adalah legislasi. Untuk Dalam kerangka perencanaan pembangunan. Italic Formatted: Font: +Body. Ini dapat dan dilaksanakan dalam melalui berbagai paket-paket pelatihan. penyuluhan. Upaya ini bisa dilakukan dengan Konsep ini harus mampu menjamin ketersediaan lahan dan sumber daya alam lainnya guna menampung tenaga kerja yang telah disiapkan. DPRD memiliki tugas-tugas yang hanya terbatas pada dimensi-dimensi tertentu.Upaya peningkatan kualitas SDM hendaknya harus dilakukan pada semua lini aktivitas masyarakat. sehingga ke depan dapat menjadi basis keunggulan daerah. Prakondisi lainnya yang juga butuh disiapkan adalah upaya Demikian pula. keuangan. upaya ini harus menghindari adanya. Batas-batas fungsional antara DPRD dan lembaga pemerintahan lainnya Sebagai lembaga politik. sosial. dan pengetahuan tentang pembentukan jaringan bisnis yang bersifat kemitraan sangat penting perlu pula dikembangkan. serta hubungan kerja. 4.

h. i. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. 2. membahas dan memberikan persetujuan raperda mengenai APBD yang diajukan oleh pemda. angket. 22/1999 disetujui oleh DPR-RI. DPRD b. interpelasi. bupati/walikota dan wakil-wakilnya). Hak. Fungsi. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemda. d. 2232/19992004 dan UU No. c.53" . Bersama kepala daerah menetapkan APBD. imunitas. g. dan i. sehingga ke depan tugas ini tidak akan ada lagi dalam DPRD. 27/2009) Fungsi legislasi. 27/2009. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan. 3. c. keuangan dan administratif. Tab stops: Not at 0. mengajukan pertanyaan. mengajukan rancangan peraturan daerah provinsi. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah (gubernur. Sumber referensi dari kewajiban dan hak anggota DPRD telah diatur dengan baik di dalam UU No. memilih dan dipilih. e. Demikian pula berhak memperoleh hak sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku. g. f. dan pengawasan Tugas dan a. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan perda dan APBD. f. bupati/walikota dan wakil-wakilnya) oleh rakyat. Selanjutnya dalam revisi UU No. Hak Anggota a. anggaran. memahami serta melaksanakan kewajiban sebagai tugas yang diamanatkan padanya dan. Berdasarkan kondisi tersebut. bupati/walikota dan wakil-wakilnya) sebelum revisi UU No. ormas. protokoler. menyampaikan usul dan pendapat.dengan lembaga-lembaga pemerintahan daerah maupun dalam kerangka hubungan dengan lembaga-lembaga lain seperti LSM. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. Hak DPRD a. Tugas dan Wewenang DPRD (UU No. d. maka setiap anggota DPRD wajib mengetahui. membentuk perda. j. dan lain-lain secara luas. menyatakan pendapat. membela diri. Memilih kepala daerah (gubernur. memberikan persetujuan rencana kerja sama dengan daerah lain atau dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. 22/1999 akan disepakati pilihan langsung (gubernur. Wewenang b. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemda terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. c. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. e. Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. h. b. Adapun tugas dan wewenang yang dimaksud adalah: 1. 32/2004 dan UU N0. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas. mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Mendagri. dan k.

Perda dan peraturan lainnya. DPRD perlu melakukan dengan kontrol politik yang bersifat strategis (oversight). Seperti aAlokasi untuk anggaran DPRD. dalam struktur tata pemerintahan daerah sudah menjadi tugas dan wewenang dariKarena selain lembaga DPRD. e. 22/1999 yaitu mengajukan pertanyaan. bukan pengawasan teknis dan administratif. d. Tab stops: Not at 0. 22/1999. sebab DPRD adalah lembaga politik sehingga arah pengawasan dapat diarahkan pada sejauhmana pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan daerah mencapai hasil yang diharapkan dalam RPJP. (2) Satuan pengawas eksternal seperti BPK.4. b. padahal anggaran yang dikelola oleh pemda harus mencakup untuk semua kegiatan pembangunan daerah. inspektorat provinsi dan inspektorat kabupaten/kota.53" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. pihak DPRD menghendaki anggaran seimbang antara DPRD dan pemda. gagasan. Untuk menjalankan (implementasi) perda. banyak dialami hambatan dan tantangan sehingga perlu dikelola dengan baik. Menampung aspirasi masyarakat daerah. DPRD sebagai lembaga eksekutif daerah hendaknya menjadi sumber inisiatif. ide. 5. Inilah yang perlu dicermati oleh pihak DPRD agar gagasan-gagasan yang diusulkan tidak kemudian menghambat gerak laju penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. di banyak tempat. misalnya. Pembuatan keputusan peraturan kepala daerah tidak memerlukan persetujuan DPRD. terdapat institusi/lembaga lainnya yang bertugas mengawasi persoalan teknis dan administratif. Bahkan. Ini tentunya tidak proporsional karena . Tab stops: Not at 0. Melaksanakan pengawasan terhadap hal-hal sebagai berikut: a. dapat dibuat keputusan peraturan kepala daerah yang merupakan kewenangan penuh dari kepala daerah. RPJMD. Selanjutnya untukPada konteks pengawasan. Ssebab konsekuensi dari peraturankeputusan kepala daerahtersebut akan menjadi bahan dipertanggungjawabkan kepala daerah di hadapan DPRD. BPKP. dan RKPD. terutama dalam konteks perannya sebagai wakil rakyat.5". Hanging: 0. Dalam praktiknya. Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah terhadap rencana perjanjian kerjasama. Dalam hal penyusunan anggaran keuangan daerah. Pelaksanaan kerjasama. Meskipun demikian. Selain itu. 6. c.19". Pelaksanaan keputusan kepala daerah. seringkali menjadi titik konflik kepentingan antara DPRD dengan Pemda. protokoler dan keuangan/administrasi. anggota DPRD juga memiliki hak khusus sebagaimana yang diatur dalam Pasal 21 UU No. Untuk itu. Wilayah pengawasan ini. KPK. bila dipandang perlu. dan lain-lain. seringkali pelaksanaan pengawasan oleh DPRD menjadi titik konflik karena DPRD masuk kepada hal-hal yang bersifat teknis-adminsitratif yang sebenarnya bukan merupakan tugas dari DPRD. Selanjutnya hak DPRD diatur dalam Pasal 19 UU No. dan konsep pembangunan daerah yang secara optimal dapat dituangkan dalam peraturan daerah sebagai acuan dasar dalam memajukan pemerintahan dan pembangunan ke arah yang lebih baik. Pelaksanaan APBD. . Pelaksanaan kebijakan dan program penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. akuntan publik. peran DPRD sebagaimana yang diatur dalam UU peraturan perundang-undangan cukup luas. yaitu: (1) Satuan pengawas internal seperti.5" Formatted: Space Before: 0 pt. Sementara itu jJika dikaji lebih jauh. kepala daerah dapat berkonsultasi dengan DPRD. Italic . Formatted: Indent: Left: 0.

terarah. Untuk itu. saluran-saluran alternatif untuk menyerap aduan dan pendapat publik (saluran telpon. teknis. Jika dominasi ini terus berlangsung. Namun. ada juga membuka kecenderungan telah dan akan terjadi dominasi bahan legislatif daerah terhadap pemda. penyampaian aspirasi masyarakat ke DPRD akan berjalan sangat efektif apabila masyarakat mengerti dan memahami kedudukan. pembangunan. Dengan demikian kesalahpahaman akan senantiasa dapat dihindari dan obyektivitas tuntutan masyarakat dapat dipertanggungjawabkan secara logis. . Satu hal yang sangat perlu dipahami oleh semua pihak adalah bahwa. Sebagai lembaga perwakilan rakyat. pihak DPRD akan sangat efektif melaksanakan tugas-tugasnya jika peka dan aktif merespon setiap dinamika kehidupan masyarakat. dialog. persetujuan. DPRD perlu aktif menyosialisasikan tugas-tugas dan hak politiknya kepada masyarakat luas. kunjungan kerja lapangan. Oleh sebab itu. rekomendasi. maka keputusan-keputusan pemerintah daerah akan selalu sarat dengan nuansa politik yang tidak sehat. wewenang. Sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Potensi negatifnya adalah bahwa Sehingga keputusan penyelenggara pemerintahan dan pembangunan daerah yang ada bisa kurang memperhatikan aspek profesional. tugas dan hak DPRD itu sendiri. dan sebagainya).Bertolak dari kenyataan UU yang relatif menempatkan kKedudukan DPRD yang cukup kuat sebagaimana yang telah diuraikan luas dimuka. dan bertanggung jawab. efektivitas dan efisiensi. DPRD merupakan salah satu wahana untuk pmenyerap dan menyampaikan aspirasi masyarakat untuk ditindaklanjuti. kontrol dari masyarakat dalam kerangka pengawasan pembangunan senantiasa perlu dilaksanakan dan disalurkan secara proporsional. surat atau hasil kajian. sms. organisasi maupun dari berbagai kelompok lainnya. e-mail. Demikian pula. DPRD dalam hal ini dapat melakukannya dengan berbagai mekanisme. dan lain-lain untuk diakomodasi dalam peraturan daerah atau ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan dan program pembangunan. blog. antara lain:seperti Mmelalui rapat dengar pendapat. peran serta masyarakat untuk mendorong terciptanya penyelenggaraan pemerintahan dan. website. dan kemasyarakatan sangat penting sebagai konsekuensi dari upaya menempatkan masyarakat sebagai subyek dan obyek pembangunan itu sendiri. DPRD berkewajiban memfasilitasi dan menindaklanjuti aspirasi dari masyarakat. dan hukum-administratif.

Dalam tradisi demokrasi yang telah mapan. mereka berakar dari dua model ekstrem di bawah ini: Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt 1 2 Demokrasi parlementer Model westminster Diawali oleh Inggris Demokrasi presidensial Model pemisahan kekuasaan Diawali Presidensialisme AS Bila pPada model parlementer. Perda adalah salah satu produk hukum pemerintahan daerah. dan kKondisiteks ini melipatgandakan tantangan bagi para anggota DPRD terpilih.. lembaga pemilu berkala yang jujur dan adil dipercaya sebagai instrumen untuk menentukan siapa sebagian kecil orang yang diminta mengelola kepentingan publik ini. misalnya tuntutan yang efektif akan keterbukaan informasi. kendati berbagai bentuk demokrasi pun lahir. pemerintahan perwakilan lahir ketika masyarakat memutuskan untuk menyerahkan sebagian urusannya kepada sebagian kecil orang. DPRD sebagai wakil semua Dalam sejarahnya. Di negara demokrasi muda seperti Indonesia. perdana menteri adalah pemimpin pemerintahan sekaligus anggota parlemen. serta akuntabilitas pertanggungjawaban publik dalam bidang hukum dan etika. Di dalam DPRD dituntut mampu mengelola dan menjembatani. kemampuan DPRD adalah jembatan bagi berbagai kepentingan politik dalam menentukan kebijakan di daerah ini.1. Sedangkan model demokrasi presidensial mengandalkan sistemnya pada adanya dua lembaga pemerintahan yaitu Formatted: Space Before: 0 pt . bermuara berbagai kepentingan politik untuk yang harus diakomodasikan sebaik mungkin dalam bentuk kebijakan publik yang paling elementer di daerah. yaitu perda. hal ini masih harus dibangun. dalam struktur peraturan perundang-undangan Indonesia dan mengikat seluruh pihak di daerah. Ketika demokrasi lahir. sudah terdapat pranata yang berkembang dalam kehidupan berpolitik masyarakat yang dapat membantu wakilwakil rakyat melakukan tugasnya..BAB V Menjembatani dan Mengelola Berbagai Kepentingan Politik Publik Rahmi Yunita Tugas Para wakil rakyat adalah pada intinya memang harus memperjuangkan kepentingan rakyat. karena Oleh karena itu. Dalam perkembangannya. 5. kemampuan untuk mengelola kepentingan-kepentingan yang berkembang di daerah menjadi sangat penting. persaingan yang terbuka dari berbagai kepentingan.

22/2003 disahkan. seperti pengalaman kejatuhan Presiden Abdurrahman Wahid. DPRD bertugas hadir sebagai wakil rakyat untuk menyusun legislasi daerah (perda) serta mengawasi pelaksanaannya oleh eksekutif. UU No. yang telah dilakukan empat tahap.. bagaimana seharusnya peran DPRD? Dengan menguatnya lembaga eksekutif di daerah ini. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Hubungan saling membutuhkan sekaligus dapat saling menyandera inilah semangat dari prinsip pemisahan kekuasaan dalam demokrasi presidensial. Bold . Meski Juga ketika kita menyadari bahwa tidak semua komponen masyarakat terwakili dalam DPRD (karena tidak semua suara dalam pemilu teralokasikan menjadi kursi). lembaga eksekutif memiliki kewenangan menerjemahkan kehendak legislatif sebagaimana tertuang dalam perda melalui berbagai produk kebijakan eksekutif seperti peraturan kepala daerah yang nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada DPRD. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Formatted: Font: +Body. Fungsi ini sudah terhapus ketika UU No. 22/1999 menggariskan bahwa salah satu tugas dan wewenang DPRD adalah memilih gubernur/wakil gubernur. maka wewenang DPRD kini terbatas pada permintaan keterangan laporan pertanggungjawaban dari kepala daerah. Dalam konteks pertanggungjawaban kepala daerah. yaitu pemilihan langsung. Kepala daerah tidak lagi dipilih oleh DPRD. Mengikuti mekanisme rekruitmen kepala eksekutif tingkat nasional ini. dan memajukan sebuah agenda kebijakan seperti yang dikampanyekan dalam platform-nya. DPRD adalah arena yang mencerminkan berbagai preferensi politik yang beragam. Salah satunya adalah dengan menggariskan bahwa Presiden Republik Indonesia dipilih secara langsung dalam pemilu. Selain memiliki perimbangan mengimbangi kewenangan anggaran dari cabang terhadap eksekutif. Artinya. presiden mendapatkan legitimasi demokratis langsung dari rakyat dan tidak dapat dijatuhkan dengan alasan politis oleh lembaga perwakilan. usai pengukuhan anggota DPRD. 2232/20034 juncto UU No. Di sisi lain. sebagaimana akan dituangkan dalam RPJMD yang akan berlaku selama lima tahun (satu periode kepemimpinan daerah). Kepala eksekutif telah mendapatkan mandatnya sendiri secara terpisah untuk memerintah. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Font color: Blue Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. lembaga ini hakekatnya telah menjelma menjadi lembaga perwakilan rakyat. bupati /wakil bupati dan walikota/wakil walikota . maka peran lembaga legislatif di daerah pun bergeser. bupati/walikota menjadi lembaga untuk memastikan check and balance.biasanya memiliki kekuatan veto yang mengimbangi lembaga legislatif. Dengan demikian. Dalam konteks baru ini.eksekutif yang menjalankan pemerintahan dan lembaga perwakilan yang menetapkan kebijakan dan mengawasi pelaksanaannya. dapat dipahami bahwa DPRD tidak monolitik (tunggal/seragam). dari berhak untuk meminta pertanggungjawaban gubernur. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Amandemen UUD 1945. Pasal 18 ayat 1 UU No. Dinamika dalam DPRD sendiri akanadalah mencerminkan berbagai aspirasi masyarakat yang menuntut diakomodasisuarakan dalam pengambilan kebijakan daerah. mengantarkan Indonesia pada pemurnian model pemisahan kekuasaan ini. beranggotakan banyak orang. 12/2008 mengisyaratkan mempertegas bahwa pilihan kepala daerah pun akan dilakukan dengan mekanisme yang sama. Sebagai lembaga politik yang bersifat kolegial.

Tidak ada yang memungkiri bahwa praktek korupsi. Ini tidak saja merupakan respons terhadap pasar politik (kecenderungan) pemilih. Indonesia memiliki konteks yang sedikit berbeda. memiliki kepentingan untuk terpilih kembali dalam pemilu berikutnya sehingga cenderung untuk berusaha untuk memberikan kesan yang terbaik di mata masyarakat pemilih. Karena itu. wakil rakyat harus berhadapan dengan publik daerah secara keseluruhan yang sedapat mungkin suaranya harus dikelola dapat terwakili demi legitimasi produk-produk politik kebijakan di daerah.2. Perebutan alokasi sumber daya masih jarang mempersoalkan strategi kebijakan namun lebih dimaksudkanterjebak sekedar untuk bagi-bagi rejeki di antara pejabat publik. hubungan perwakilan ini justru baru dimulai tepat ketika anggota DPRD terpilih. baik kontek demokrasi yang dewasa dan ideal harus terus disandingkan dengan tantangan faktual maupun konteks Indonesia yang sedang menata demokrasinya. misalnya apakah itu cenderung pro pasar atau cenderung mengutamakan agenda-agenda kesejahteraan sosial.5". bersikap mawas terhadap berbagai pelaku-pelaku politik ini akan membantu DPRD mengantisipasi pelanggaran-pelanggaran hukum dan etika yang dapat terjadi. 1. Maka iIni mengarahkan kita pada hal penting yaitu bahwa yang harus digarisbawahi adalah hubungan antara anggota DPRD dengan dan masyarakat tidak berhenti ketika yang bersangkutan terpilih. No bullets or numbering. termasuk di dalamnya adalah korupsi politik korupsi dengan pemanfaatan jabatan-. Selalu ada pihak-pihak yang lebih diuntungkan dan kurang diuntungkan. Setelah pemilu usai. yang sering dimana mengakibatkan penegakan hukum belum sepenuhnya terjadi. Kepala eksekutif/kepala daerah (walikota/bupati) y Kepala daerah. DPRD berubah dari wakil pemilih menjadi wakil semua. secara rasional . Berikut ini digambarkan pembagian pelaku-pelaku politik yang ada dalam sistem demokrasi pembagian kekuasaan (presidensial) dan kontekstualisasinya di Indonesia. bahkan dirugikan. Situasi transisional. dalam demokrasi mapan. Justru sebaliknya.Konsekuensinya. termasuk di daerah menjadi rumit. Dalam konteks itulah. Selain itu. ada juga Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. Kkita tidak lagi dapat mempersoalkan apakah masyarakat yang mengadu di gedung DPRD adalah bukan bagian dari golput alias dengan satu atau lain alasan (tidak memberikan suaranya pada pemilu) lalu. ini membuat situasi pembangunan politik di Indonesia. 5. First line: 0. partaipartai politik secara umum mengidentifikasi dirinya dengan kecenderungan kebijakan tertentu. Usai pemilu. Tab stops: Not at 1" .25". Kita juga tidak lagi dapat menyoal bahwa sebagian dari masyarakat di daerah pemilihan kita tertentu bukanlah konstituen kita. dalam pilihan kebijakan yang ditempuh pemerintah daerah dan DPRD. namun lebih dari itu merupakan terjemahan ideologis dari para aktivis partainya. maka terjadilah pertarungan antara berbagai aktor politik di daerah. Space Before: 0 pt. merupakan masalah besar dari yang pada dasarnya menentukan perilaku politik pejabat daerah. termasuk pada masa lima tahun pertama reformasi. Mengidentifikasi pelaku-pelaku politik utama Politik menjadi arena dimana tempat sumber daya yang terbatas yang dikelola pemerintah harus dialokasikan. bab ini berusaha tidak mengabaikan keduanya. Kendati rumitdemikian.

baik untuk kepentingan pribadi maupun terutama karena tuntutan dari partai politik masing-masing yang harus mengumpulkan dana kampanye. hingga kini terus mendorong praktek ini sementara penegakan hukum dan akuntabilitas partai politik belum bisa didorongmasih lemah. Sehingga pPada fenomena ini. Lembaga perwakilan (DPRD) Sekali lagi. kepala eksekutif daerah kehilangan minat lagi untuk menunjukkan kinerja dan terperangkap dalam fenomena lame duck (bebek lumpuh) karena tidak ada insentif lagi untuk tampil prima. 2. masyarakat akan memiliki pemimpin yang tidak efektif namun tidak dapat dijatuhkan. DPRD tidaklah monolitik. DPRD dan justru bersandar pada keberagaman perbedaan pendapatlah yang didorong sehingga terdapat lebih dari satu usulan solusi untuk permasalahan daerah tertentu. Ddalam situasi dimana penegakan hukum yang lemah.. Ini bisa berwujud pembangunan sebuah proyek raksasa dan prestisius yang lebih sering bersifat fisik daripada mental agar karena yang terakhir ini tidak mudah dilihat hasilnya dalam waktu singkat. baik dalam kepentingan keuangan langsung maupun dalam pembuatan kebijakan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya. posisi kepala eksekutif sering dijadikan kendaraan untuk melakukan akumulasi kapital modal sebanyak-banyaknya yang pada gilirannya digunakan untuk mendapatkan kekuasannya yang lebih besar lagi. Namun kepentingan yang rasional di atas memang sering tidak permanenmengemuka. terbatasnya keterbukaan informasi dan. Pada fenomena ini ada resiko sumber daya masyarakat dihamburkan untuk proyekproyek mercusuar yang mahal tapi tidak banyak berguna. sSebagai lembaga yang kolegial dan . Kepentingan ini akan berkelanjutan bila UU Pemilu dan UU Parpol di Indonesiayang ada tidak tegas mengatur pendanaan partai. Formatted: Space Before: 0 pt . Fenomena lainnya. kKadang-kadang pada masa jabatan terakhir. dengan kewenangan yang dimilikinya. maka trend yang lahir justru adalah korupsi berjamaah . Namun.kecenderungan kepala daerah untuk menorehkan sejarah sebelum meletakkan jabatan (vouloir conclure). Kkarena kepala eksekutif daerah merupakan posisi yang lazimnya dibatasi kesempatannya untuk dapat terpilih kembali. lemahnya media massa di daerah membuat kepentingan DPRD untuk bertarung dan berlomba berebut popularitas pemilih dengan cara memperdebatkan kebijakan publik ini menjadi tidak signifikan. Padahal. Dalam konteks daerah. Ironisnya. lebih baik daripada yang lain. Karena ada sedikit saja iInsentif untuk populer dan dekat di hati rakyat sering dinilai tidak cukup sehingga bahkan menimbulkan masih ada keengganan. Dinamika politik ini dapat menjadi ruang adu populer bagi DPRD di depan masyarakat dan menyediakan insentif bagi anggota DPRD dan partai politik untuk mencoba berlomba mewakili kepentingan masyarakat dengan. anggota DPRD sering tergoda menggunakan kedudukannya untuk menggalang dana. untuk mengambil posisi populer di antara anggota yang lain. misalnya berkampanye pada pemilu jabatan publik yang lebih tinggi atau mempersiapkan lahan ekonomi selepas menjabat.

kepala eksekutif. budaya politik dari partai politik mungkin akan bergeser menjadi lebih akuntabel. meski akan sangat sulit jika bukan malah mustahil. Karena itu. bila memungkinkan.3. menyampaikannya dalam kampanye secara relatif kontras dengan partai lain (perbedaan program dan strategi). 4. targetnya adalah membangun iklim Dengan kompetitifsi yang lebih keras dalam memikat hati pemilih sehingga diharapkan. Dalam jangka lebih panjang. dengan kekuasaan berarti akses pada sumber daya keuangan baik secara etis maupun tidak etis. organisasi berbasis masyarakat. dan membawakannya menjalankannya dalam pemerintahan. Dalam hal ini. baik legislatif maupun. parpol berkepentingan untuk duduk dalam lembaga politik di daerah. Jika berkuasanya sebuah partai menandai corak kebijakan tertentu di demokrasi mapan. Partai politik (parpol) Parpol lahir untuk memperjuangkan agenda politik tertentu. Namun. Berbagai ormas kelompok ini memiliki misi untuk memberdayakan masyarakat. Jalan radikal yang dapat ditempuh adalah mereformasi UU Parpol dan UU Pemilu secara terus menerus agar lebih kian dekat dengan kepentingan masyarakat di daerah. ataupun asosiasi profesi. yang diharapkan dapat perlahan-lahan menggeser trend ini. seperti yang telah diberlakukan di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam dalam rangka otonomi khusus. sebagian besar parpol yang ada bahkan dapat dikatakan tertatih-tatih menjalankan fungsi pendidikan politiknya. Lagi-lagi. Salah satu orientasi parpol adalah menggapai kekuasaan agar dapat menjalankan agenda-agenda politiknya sesuai dengan preferensi pemilihnya. Pilihan radikalnya. karena desentralisasi dalam tata pemerintahan tidak dapat sesegera mungkin diikuti dengan desentralisasi ormas (yang berskala nasional). Opsi lain yang bisa dipilih adalah merevitalisasi struktur parpol-parpol nasional yang ada di tingkat lokal (setara dengan propinsi atau kabupaten/kota) agar lebih sensitif terhadap kepentingan daerah. menguatkan kapasitas partisipasi mereka dalam pembangunan. paling tidak melalui penegakan hukum dan kedewasaan politik dari pemilih. maka ormas pun rata-rata gagap berinteraksi dengan pemda yang masih meraba- . Parpol juga memiliki tanggungjawab dalam melakukan fungsi-fungsi sosialiasi politik. termasuk secara spesifik mengkader calon-calon pemimpin daerah yang bertanggung jawab dan memiliki jiwa kepemimpinan yang dapat membawa daerah ke masa depan yang lebih baik di tengah kompetisi global. boleh jadi adalah dengan membolehkan hadirnya partai-partai lokal untuk terjun dalam pemilu di daerah. baik itu LSM. Masyarakat sipil Masyarakat sipil dapat diwakili dengan oleh pelbagai asosiasi (perkumpulan) yang ada di dalamnya. . di Indonesia masih perlu waktu lagi sampai partai politik dapat merumuskan agenda politiknya dengan tajam dan jelas. Selama orientasi parpol bukan melulu masih dianggap sebagai kendaraan menggapai kekuasaan untuk mengartikulasikan kepentingan pemilihnya. serta pendidikan politik. agergasi kepentinga. ataupun menggalang kekuatan untuk melakukan advokasi kebijakan. maka agak sulit memastikan masa depan politik yang akan membawa kebijakan yang lebih baik bagi daerah. Apapun pilihannya.

rendahnya kepemilikan masyarakat pada hasil-hasil pembangunan. Di Indonesia. adat. lebih banyak yang merupakan warisan dari masa pra reformasi dan tidak memiliki sumber daya untuk berlanjut secara mandiri. fenomena yang gampang dilihat di daerah adalah ormas memburu proyek-proyek pemerintah daerah. biasanya korupsi politik marak dalam hal favoritisme kontrak proyek pemerintah karena absennya lemahnya prosedur standar lelang beserta pengawasannya. tidak demikian halnya tradisi pada demokrasi muda yang mewarisi budaya KKN. bahwa pemain bisnis tidak segan-segan menempuh berbagai cara untuk mencapai tujuannya. Kembali ke konteks Indonesia. maupun agama yang berbasis profesi sekalipun. dengan demikian. yang sering terjadi justru kolusi dan situasi saling melindungi karena masing-masing memegang kartu as dari yang lainnya. Tanpa diseminasi dan replikasi praktek penyelenggaraan pemerintahan yang baik. agama. seluruh bagian dunia memiliki pengalaman mirip. Walhasil. 5. LSM yang diharapkan dapat menjadi pendobrak kebuntuan ini juga banyak yang terjebak pada skema ketergantungan.raba. lagi-lagi kepentingan politik para aktor yang terlibat lebih banyak berurusan dengan korupsi. yang sudah mulai dirintis daerah tertentu. Banyak di antara organisasi kemasyarakatan ini justru tergantung dari negara. Karena itu. Tak jarang yang terjadi adalah praktek kolusi antara pemerintah dan pengusaha yang berakibat pada ekonomi biaya tinggi dan kompetisi bisnis yang tidak sehat. Di sisi lain. utamanya di mata pejabat publik di daerah yang kepalang skeptis dengan keberadaan ormas ini. Dalam konteks negara-negara demokrasi baru. Sektor swasta Sektor swasta adalah pihak-pihak yang berkepentingan untuk kebijakan ekonomi yang kondusif bagi perkngembangan bisnisnya. Dalam hal ini. Prosedur ini seharusnya ditegakkan untuk memastikan proses kompetisi yang sehat dan tercapai efektivitas dan efisiensi dalam mengelola sumber daya bagi kemanfaatan masyarakat. yang sebagaian adalah imbas dari struktur politik masa Orde Baru yang sangat berkepentingan melakukan pengendalian aktivitas ormas. baik kepada pemerintah (LSM Plat Merah ) ataupun kepada lembaga donor asing. Kepentingan seperti ini tentu saja harus dipahami namun harus dikelola kemanfaatan bisnisnya bagi kemaslahatan masyarakat luas. demokrasi di daerah tidak akan terwujud. kepentingan-kepentingan penguasaan sumber daya merupakan isu hidup-mati bagi jajaran birokrasi karena ia merupakan semacam katup pelepasan dari . Hanya dengan ikhtiar keras ormasormas yang lebih bertanggung gugat maka citra ormas ini bisa digeser dan diperbaiki. dan legitimasi yang rendah terhadap keberadaan pemerintahan demokratis itu sendiri. BIROKRASI. dalam konteks pertarungan kepentingan daerah. Pengaturan dan pengawasan. organisasi massa yang berbasis warga. Bila di banyak demokrasi maju birokrasi adalah mesin netral yang mengabdi pada pilihan kebijakan yang diambil politisi. Resikonya adalah turunnya kepercayaan yang menerus dari masyarakat.

selalu terdapat perdebatan bagaimana DPRD perlu memaknai posisinya sebagai wakil rakyat atau wakil partai. Bagaimana anggota DPRD dapat menentukan seperti apa kepentingan rakyat. meski terikat dengan agenda parpol namun relatif cenderung lebih independen dari partainya. Formatted: Font: +Body. menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat. Teori pertama. perlu menyadari lingkungan pengambilan kebijakan seperti ini sembari. sehingga kuantitas pProyekproyek pemerintah pada gilirannya merupakan dijadikan peluang sarana untuk bertahan mencari tambahan sumber pemasukan ekonomi. c. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. + Start at: 5 + Alignment: Left + Aligned at: 1" + Indent at: 1. Beberapa indikasinya misalnya dapat dilihat dalam menggariskan sepuluh rumusan kewajiban anggota DPRD kabupaten/kota pada pasal 351 UU No. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Space Before: 0 pt. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. yang kedua. memang aAnggota DPRD seperti berada dalam bandul pendulum yang mengayun di antara dua kutub itu. yang merupakan lembaga perwakilan dalam sistem parlementer. b. Bold. dan Memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada pemilih dan daerah pemilihannya. jika tidak ia akan kehilangan kursinya. Sementara. menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala. dalam jangka panjang. Space Before: 0 pt. sebagai lembaga perwakilan (legislature). wakil rakyat dalam sistem demokrasi dengan pemisahan kekuasaan atau sistem presidensialisme ini.3.rendahnya imbalan nominal yang diterima PNS. 22/2003 maupun setelah direvisi menjadi UU No.25" Formatted: Indent: Left: 0. dan k. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Memperhatikan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah. Numbered + Level: 2 + Numbering Style: a. dia dapat bertanya kembali kepada konstituennya. Numbered + Level: 1 + Numbering Style: a. hi. c. Formatted: Space Before: 0 pt 5. menghimpun. Namun.25" . b. terlebih dalam carut-marut peta kepentingan di bagian berikutnya? Terdapat dua teori besar mengenai peran anggota legislatif ini. f. Menyerap. Font color: Blue Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. dan k. Dibandingkan dengan wakil rakyat yang duduk di parlemen. 27/2009 seperti misalnya dalam Pasal 81 butir e. Italic Formatted: Font: +Body. 27/2009. + Start at: 8 + Alignment: Left + Aligned at: 1" + Indent at: 1. teori mandat (delegate) meyakini bahwa anggota legislatif tidak boleh mengambil keputusan apapun yang bertentangan dengan keinginan konstituennya. Italic Formatted: Font: +Body. DPRD adalah cerminan dimana kepentingankepentingan masyarakat dibawa dalam sebuah arena pengambilan keputusan politik. Artinya. Politisi di daerah. merumuskan strategi reformasi sektor publik yang menantang di depan mata. teori kebebasan (independensi/trustee) menyatakan anggota legislatif bebas mengambil keputusan berdasarkan pendiriannya. j. Pada akhir masa bakti. di satu sisi lain.5". Bila ia dianggap melakukan pekerjaannya dengan baik maka dia dapat terpilih. Kepentingan rakyat banyak sebagai fokus utama Dalam konteks sistem pemisahan kekuasaan yang dianut Indonesia.5". Teori mandat dianggap tidak realistis namun kita dapat melihat semangatnya masih kuat mewarnai baik pada UU No. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. j. memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya. yaitu: i.

sehingga akan terdorong untuk menyuarakan kepentingan daerah pemilihnya...17" Formatted: Space Before: 0 pt . Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. 3. Dikotomi wakil partai dan wakil rakyat ini diharapkan juga kian menipis karena partai pun berkepentingan mempertahankan keterwakilannya di DPRD. Dalam kondisi semacam ini. 2. Permasalahannya. partai pun memiliki visibility yang tinggi. huruf e dan hdan 3).Dari sini tampak bahwa UU berusaha memberikan acuan bagi penyusunan tata tertib DPRD yang akan mengatur operasionalnya kewajiban anggota DPRD itu. Resiko hukuman atau dan ganjaran dari publik sangat mungkin diberikan akan berlaku kemudian pada waktu pemilu tiba yaitu dengan memilih kembali anggota DPRD yang dinilainya aspiratif dan sebaliknya bagi yang tidak. Font color: Auto Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. misalnya. Tingginya visibility dan makin terdidiknya pemilih ini akan menyediakan insentif bagi politisi untuk memposisikan diri sebagai wakil rakyat. Partai A. Formatted: Indent: First line: 0". Daerah pemilihan menjadi lebih kecil. Desakan dan insentif Ia lebih merupakan isu bagi masyarakat untuk mendesak DPRD bahwa ada insentif politik yang besar bagi para politisi untuk jika menjadikan kepentingan rakyat banyak sebagai fokus utama masih belum berarti. Kecilnya ukuran distrik menunjukkan hasil pemilu tersebar ke banyak partai. Tab stops: Not at 1. maka anggota pun memiliki visibility yang tinggi. 1. dalam ketentuan mengenai pergantian antar waktu. hanya dapat memberikan pengaduan untuk kemudian diproses dalam Badan Kehormatan DPRD. Namun demikian. namun dikhawatirkan kewenangan ini bisa digunakan oleh partai politik maupun kelompok-kelompok yang kuat pengaruhnya di dalam partai politik tertentu untuk memberlakukan politik sentimen dan favoritisme. Penggunaan suara terbanyak dalam pemilu 2009 Presiden pilih langsung . UU No. anggota DPRD memang akan cenderung lebih mendengarkan partai politiknya. apa yang dapat menjadi insentif bagi para politisi untuk lebih mendengar suara rakyat daripada suara partainya? Untuk itu. 22/2003 ternyata memberikan kewenangan kepada partai politik untuk merecall anggotanya (Pasal 94 383 ayat 1 2. Kendati partai politik memang berkepentingan dengan garis kebijakan dan standar perilaku tertentu dari wakil-wakilnya di DPRD. Dalam konteks seperti ini. hanya mendudukan satu orang wakilnya dari sebuah daerah pemilihan. Partai politik di negara demokrasi mapan memiliki tradisi yang sangat menghargai kepercayaan pemilih. mari kita cermati beberapa temuan dari pemilihan umum DPRD di 2004 dan 2009 yang kurang lebih serupa dalam konteks masalah ini. Di sisi lain. dan iIni akan makin berkembang seiring dengan bertambahnya jumlah pemilu demokratis yang kita adakan. Maka selain anggota. Font color: Auto Formatted: Space Before: 0 pt. kedewasaan pemilih dalam menggunakan hak pilihnya juga merupakan instrumen kontrol yang efektif bagi partai. Pada momen karena hanya pada saat pemilu itulah (sebenarnya) rakyat dapat menghukum atau menyambut hangat kehadiran sebuah partai politik beserta calon-calonnya. Sementara. tingginya perolehan suara beberapa calon perorangan menunjukkan bahwa memberi insentif bagi masyarakat mulai terlatih danuntuk selektif dalam menentukan siapa wakilnya. masyarakat pemilih dari daerah pemilihan yang relevan karena telah memilih wakil rakyat tersebut.

lebih baik Anda melakukannya dengan sangat baik. maka kemampuan yang paling penting untuk dikuasainya bukanlah teknik penulisan perundang-undangan (legal drafting). DPRD harus selalu menggunakan proses konsultasi dan informasi untuk mendasarkan kebijakan yang diusulkannya. Jika kapasitas anggota DPRD harus ditingkatkan. Sebab. kalau Anda menyukai pekerjaan ini. Karena itu. makin lama ia akan lebih mendengar pendapat umum. Mengelola kepentingan menjadi agenda politik publik Apa kepentingan utama anggota DPRD? Beberapa orang pada periode awal reformasi mungkin akan menjawab setengah bercanda. apalagi penyusunan Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. preseden diseretnya banyak anggota DPRD ke pengadilan dengan dakwaan korupsi serta merosotnya kepercayaan partai pada anggota DPRD yang tidak bertanggung jawab pada gilirannya juga menggerogoti kepercayaan pemilih. anggota DPRD dapat berupaya melakukan pendekatan kepada rakyat sehingga posisi tawar dan akuntabilitas seorang politisi menjadi benar-benar berada di tangan pemilih. Italic . maka pekerjaan pun bisa segera dimulai. Dalam konteks ini. Bagan Penyusunan Kebijakan Publik Formatted: Space Before: 0 pt KONSULTASI INFORMASI RISET DAN VERIFIKASI PERUMUSAN KEBIJAKAN PARTISIPASI PENGARUH LINGKUNGAN Kebijakan Publik PENGARUH LINGKUNGAN Sebagai wakil rakyat. sehingga partai Anda kehabisan alasan untuk mengusulkan penggantian pada pemilu depan. bukannya sebagai alat kontrol parpol terhadap kadernya seperti di masa lalu.4. Berikut ini adalah bagan sederhana di halaman berikut untuk menggambarkan proses penyusunan kebijakan publik. Bila kepentingan seorang anggota DPRD bisa didefinisikan sejelas itu. apapun lembaga recall yang ada. 5. sSebagaimana pemilu jurdil secara berkala dianggap sebagai lembaga demokrasi paling penting.membuat anggota DPRD lebih hati-hati merumuskan kepentingannya.Dalam jangka lebih panjang. kita berharap.: Menumpuk kekayaan. Namun. sekali Anda menjadi politisi. maka kepentingan tertinggi seorang politisi memang diandaikan sebagai terpilihnya kembali dirinya di jabatan publik pada pemilu berikutnya.

sebenarnya masalah serupa dihadapi pemegang kebijakan di semua negara demokratis. riset bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang mendukung bagi dirumuskannya tawaran-tawaran pemecahan. Ini bisa berupa LSM yang memperjuangkan proses yang lebih terbuka. Membangun dan memelihara hubungan dengan konstituen Demokrasi tidak dibangun hanya dengan mewujudkan lembaga-lembaga demokrasi secara fisik. Lebih dari itu. Apakah ada jaminan bahwa mereka akan dapat mengakses pendidikan yang lebih tinggi? Apakah ada pungutan-pungutan sekolah yang memberatkan orang tua siswa? Apakah ketersediaan dan mutu guru mencukupi? Apakah kesejahteraan guru sudah memadai? Apakah fasilitas sekolah penunjang pendidikan tersedia dengan baik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah contoh menunjukkan bahwa DPRD harus memiliki tanggungjawab dan perspektif masa depan dari proses pendidikan di daerahnya yang diterjemahkannya melalui pelbagai perda. Bila verifikasi meliputi pengecekan obyektif mengenai permasalahan yang dirasakan masyarakat. demokrasi adalah proses terus-menerus yang ujungnya adalah lahirnya keterwakilan rakyat secara optimal dalam pengambilan keputusan publik. Bisa jadi juga lembaga eksekutif tidak termotivasi untuk melakukannya dan mengerem usulan yang dilontarkan. Meskipun rata-rata anggota DPRD di Indonesia mengeluhkan alotnya pembicaraan dalam konsultasi publik. apalagi yang dilakukan di lokasi yang terkena dampak kebijakan. Di sisi lain. bisa juga masyarakat yang merasa dirugikan. 5. Dalam proses politik ini berbagai aktor lain yang berkepentingan pun akan ikut bermain untuk mencoba berpengaruhmempengaruhi. seperti apakah anak-anak SD itu menerima berhasil belajar sesuatu? Apakah mereka dapat menangani permasalahan matematika untuk bahan ajar yang tepatsetingkat mereka?. Kadang-kadang proses konsultasi publik pun perlu diulang untuk memastikan bahwa semua pihak sudah dicoba untuk ditampung pendapatnya dalam pembuatan kebijakan ini.anggaran.5. Keputusan publik menjadi tantangan sehari-hari para pejabat dan wakil rakyat. Karena itu. pemilu hanya berlangsung secara berkala. Bisa jadi berbagai partai berbeda pendapat mengenai sebuah solusi. pemilu tidak hanya dimenangkan terbatas hanya pada hari-hari kampanye. Lebih Formatted: Space Before: 0 pt . bisa pengusaha yang berpeluang kecipratan/mendapat bagian rejeki bila perda digulirkan. Riset dan verifikasi dilakukan untuk mendapatkan temuan mengenai permasalahan yang terungkap di masyarakat. Keputusan publik diambil tidak hanya sekali dalam lima tahun. berupa lembaga perwakilan yang dipilih lewat pemilu jurdil. Seorang anggota DPRD dapat saja mengunjungi sebuah sekolah dasar dan mendapati bahwa proses belajar mengajar berlangsung namun abai bahwa yang harus dinilai adalah hasil dari proses itu. Proses politik kemudian akan menjadi arena bagi berbagai alternatif solusi yang diajukan bagi masalah tersebut. Sementara. Dengan kepentingan yang terlalu beragam dan sumber daya terbatas. namun bagaimana menggali pelbagai kebutuhan yang seharusnya terungkap dalam proses ini. berdiskusi adalah cara tepat untuk mencari titik temunya.

Ya. masyarakat diharapbayangkan menjadi pemilih yang retrospektif. Namun. Pontianak. Walhasil. anda niscaya akan jauh lebih siap menghadapi pemilu berikutnya. ketika periode kampanye berikutnya datang. pekerjaan memenangkan pemilu tidak perlu sekeras gambaran sebelumnya. yakni dengan menilai akan mulaidan mempertimbangkan apa yang dilakukan para kandidat dan partai politiknya. Jika pada tengah masa di antara pemilu ini terjadi skandal apapun juga yang melibatkan anggota dewan yang bersangkutan. Padang. tertangkap sedang mengkonsumsi narkoba sampai dengan kasus-kasus perdata. partai-partai yang dianggap relatif bersih mendapat suara lebih banyak daripada partai-partai yang dianggap tidak bisa mengusung agenda pemberantasan korupsi. mulai muncul kekecewaan-kekecewaan. Dalam demokrasi yang muda seperti di Indonesia. Mereka mulai mempertimbangkan kepercayaan terhadap partai politik dalam menentukan pilihannya. Para calon anggota DPRD atau mereka yang ingin mencalonkan diri kembali tergoda untuk menggunakan cara-cara instan seperti Apakah masyarakat tidak cukup dismenyerbu saja dengan serbuan janji dan imingiming materi (money politic) agar pemilih memberikan suaranya. dan Mataram) memperlihatkan bahwa ternyata perilaku pemilih di perkotaan mulai bergeser. kita bisa membayangkan hubungan antara rakyat dan wakilnya dalam sebuah kurva. Iini berarti bahwa pemilu harus dimenangkan tidak hanya dalam masa kampanye melainkan sepanjang periode di antara dua pemilu melalui performa wakil-wakil dari partai politik yang duduk di pemerintahan. beberapa saat setelah terpilih dan bertugas. dengan teknik-teknik kampanye yang kian canggih. Surabaya. partai politik dan para caleg kelabakan memompa tingkat kepercayaan ini. mMerupakan fenomena global bahwa pemilih jamaknya merasa kecewa melihat kinerja wakilnya setelah duduk di parlemen. bisa-bisa kurva kepercayaan ini turun tajam menjadi semakin rendah lagi. Menjelang pemilu. mulai dakwaan korupsi. Anda bBisa bayangkan. sepanjang periode di antara dua pemilu. pemilu dimenangkan dengan kerja yang panjang. biasanya masyarakat akan menaruhik kepercayaan yang tinggi pada politisi. Walhasil. dan tabungan kepercayaan dari mereka. Bagaimana membaca kurva kepercayaan? Untuk lebih jelasnya. Sepanjang lima tahun terakhir kita mungkin akrab dengan banyak berita. tingkat kepercayaan ini akan menurun. seringkali diragukan orang sebelumnya masih ragu apakah jika menjalin hubungan baik dengan konstituen maka akan terbayarkan dalam pemilu. Bandung. Bandar Lampung. Dalam jangka panjang. Italic . bila politisi di DPRD anda sudah memiliki tabungan hubungan dengan konstituen. Jika tercapai. karena tentu saja sulit memenuhi janji seratus persen. bila tingkat kepercayaan ini terpelihara sepanjang periode di antara dua pemilu. Di kota-kota tersebut. Bagaimana hubungan dengan konstituen dilakukan? Formatted: Font: +Body.penting lagi.untuk dimintai dukungannya? Hasil survei Indonesia Corruption Watch mengenai korelasi korupsi dan pilihan dalam Pemilu 1999 di sembilan kota di Indonesia (Jakarta. Samarinda. Kemudian. Makassar. kerja pada hari demi hari dalam periode panjang di antara dua pemilu.

Bagi Ppartai politik. Menaikan profil partai di depan masyarakat dan media setempat. Kepengurusan partai dihadapkan pada tantangan untuk mendukung program konstituensi yang sukses. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt.5". berikut adalah substansi dari kegiatan anda di daerah konstituen andatersebut:  Melakukan konsultasi publik. Not Bold . Dalam konteks Indonesia dan budaya lokal yang sangat kaya bahkan terdapat berbagai kesempatan potensi sosial budaya yang bisa digunakan untuk mencapai maksud ini. Kegiatan-kegiatan ini merupakan latihan dan pemanasan yang berguna sebelum pemilu tiba. Konsultasi yang dimaksud adalah proses untuk mendapatkan informasi. baik berupa rapat umum. Dari kegiatan seperti ini juga. peran Anda adalah menjadi Sebagai wakil rakyat. andaanggota DPRD perlu harus berkonsultasi dengan masyarakat mengenai masalah yang mereka hadapi. sejarah akan menilai bagaimana masyarakat pemilih pasti akan bertransformasi menjadi lebih rasional. Kesempatan berinteraksi dengan konstituen juga merupakan ruang bagi fungsi penyediaan informasi kepada publik. dan mMasyarakat yang anda temui adalah narasumber terbaik untuk mendapatkan masukan mengenai kebijakan yang perlu diambil oleh daerah. Di luar masyarakat secara umum yang harus anda diwakili oleh DPRD sebagai wakil rakyat yang terpilih dari daerah pemilihan tersebut.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. anda sendiri. Anda Anggota DPRD perlu menggunakan kesempatan ini untuk memberdayakan partainya. Apapun aktivitas atau kemasan yang anda diambil. Karena itu. Tab stops: Not at 0. nNamun. kegiatan-kegiatan interaksi yang dilakukan anggota DPRD ini anda dapat menggunakan digunakan sebagai kesempatan seperti ini untuk: 1. Mengaktifkan dan menguji struktur partai. sehingga dengan sendirinya mereka lebih suka mengambil jarak.  Bertemu dengan masyarakat pemilih.Anda DPRD bisa melakukan banyak aktivitas untuk berinteraksi dengan konstituen.. 2. sarasehan. sering masyarakat tidak memiliki cukup informasi untuk menilai apa yang direncanakan dan sedang dilakukan pemerintah. misalnya dengan pelibatan kader-kader partai dalam pelbagai kegiatan andainteraktif dengan masyarakat. Banyak kalangan di pemerintahan menyayangkan bahwa masyarakat kurang mampu dan atau tidak berminat untuk berpartisipasi dalam program pemerintah. anda anggota DPRD secara khusus juga perlu menemui pemilih anda. Memang masih terdapat keluhan pada Pemilu 2004 lalu bahwa beras atau uang (money politic) yang dibagikan pada pagi hari menjelang pencoblosan suara masih lebih efektif daripada kerja-kerja jangka panjang seperti ini. kaderisasi internal partai akan bergulir. Formatted: Space Before: 0 pt. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: First line: 0.. lambat laun.  Mengarahkan perhatian publik pada isu dan kebijakan yang tengah dibahas di DPRD. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Tab stops: Not at 0.  Menguatkan struktur partai. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. atau diskusi interaktif di radio. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Perlu diingat bahwa kata konsultasi ini tidak akan membuat posisi anda anggota DPRD menjadi lebih rendah dalam relasi ini.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. Faktanya. Sesuai dengan amanat UU. Kegiatan-kegiatan seperti ini juga akan merangsang partai untuk lebih eksis pada periode di antara dua pemilu.

memverifikasi masalah yang diadukan. . juga profil partai politik adalah membangun kantor kontituensi (constituency office) di daerah pemilihan andasetiap anggota DPRD. jangan lupa bahwa anda setiap anggota DPRD juga harus meningkatkan profilnya anda sendiri kepada masyarakat. Jerih payah anda anggota DPRD dapat menjadi sia-sia kalau tidak terdapat berdampak pada kenaikanya profilnya anda di hadapan masyarakat dan konstituendalam politik daerah. Jangan melupakan peran media massa Ketika anda anggota DPRD melakukan aktivitas ini dan merasakan asyiknya berinteraksi dengan masyarakat. Staf dan aktivis di kantor konstituensi dapat melakukan sejumlah kegiatan komunikasi dan interaksi publik. dan dukungan bagi anda akan membawa gGelombang dukungan ini akan yang lebih besar dengan melibatkan peran media massa. Kantor ini bisa lebih dari satu. seperti menampung keluhan masyarakat. Jangan pernah lupa untuk melibatkan media massa dan menggunakannya untuk kepentingan anda. Kantor ini bersifat sebagai sekretariat yang menghubungkan antara anggota DPRD anda dan konstituen. dan menyebarkan informasi mengenai kegiatan-kegiatan-kegiatan anda sebagai anggota dewan. Naiknya profil anda seorang anggota DPRD mencerminkan dukungan bagi kebijakan yang anda telah atau tengah diperjuangkan.Pentingnya kantor konstituensi Salah satu cara untuk mengembangkan hubungan dengan konstituen sekaligus menaikkan profil diri dan. bila dianggap strategis.

Bold . Namun.3" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. Namun dalam jangka panjang. yakni membentuk perundang-undangan yang mengatur kabupaten/kota. Dasar-dasar penting Fungsi dan tugas DPRD sebagai wakil rakyat sebenarnya telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. DPD dan DPRD mengatur bahwa DPRD kabupaten/kota memiliki fungsi: 1. lembaga-lembaga politik dalam demokrasi Indonesia memang harus mengembangkan dirinya untuk dapat memenuhi tuntutan jzaman. DPRD tidak diberikan memiliki panduan dan acuan yang mencukupi untuk mengatasi berbagai kendala kebijakan dan operasional. Ttetapi.1. 2722/20093 mengenai Susunan dan Kedudukan MPR. yang merupakan refleksi rencana program pemerintahan daerah dalam bentuk angka. Legislasi. dan tidak menjabarkan mekanisme pelaksanaan masing-masing fungsi untuk mencapai kinerja yang mendekati ideal. Pengawasan. tetapi bagi mereka Akibatnya. 2. Apa pra kondisi yang perlu diperhatikan? Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. yakni membahas dan menyetujui anggaran daerah. Pasal 77 343 UU No. anggota DPRD sering dihujani kritik lima tahun belakangan ini bahwa mereka tidak menunjukkan peran yang disuratkan dan efektivitas yang disiratkan dalam perundang-undangan tersebut. kerangka hukum itu hanya meletakkan dasar-dasar acuan secara umum. 3.BAB VI Memahami Fungsi dan Tugas Wakil Rakyat Rahmi Yunita Anggota DPRD pada umumnya dikritik karena tidak mampu melaksanakan tugas secara optimal. dimanadan praktek-praktek demokrasi belum berurat-berakar. dan peraturan-peraturan pemerintah. Anggaran. anggota DPRD baru pun tak jarang menjadi kekurangan acuan dalam menemukan peran yang pas. Tab stops: Not at 1. Meskipun Ffungsi dan tugas wakil rakyat telah diatur dalam peraturan-peraturan perundang-undangan. Dalam demokrasi Indonesia yang masih muda ini. Dalam jangka pendek tuntutan yang demikian besar dari masyarakat ini kadang-kadang justru memancing sikap defensif dari kalangan DPRD sendiri dan resistensi terhadap pembaruan. untuk memastikan berjalannya perundangan yang ada dan optimalnya kinerja eksekutif. peraturan-peraturan tersebut masih bersifat umum dan tidak secara lengkap menjabarkan bagaimana mekanisme pelaksanaan masing-masing fungsi untuk mencapai kinerja yang ideal. mau tidak mau. DPR. 6. Salah satu akibatnya. dalam hal ini berbentuk perda. Anggota DPRD pada umumnya telah dikritik dengan mengatakan mereka tidak mampu melaksanakan tugas secara optimal.

kapasitas sekretariat yang jauh dari memadai. 3. Tab stops: Not at 0. Kesempatan Kesempatan yang dimaksud adalah ketersediaan ruang dalam aturan main internal DPRD agar dapat mengoptimalkan kinerjanya. kelompok. DPRD di Indonesia bekerja dalam pemda yang sebagian besar bekerja dengan anggaran yang relatif sangat terbatas. tata tertib yang belum melembaga sebagai aturan main. Motif Motif anggota DPRD untuk unjuk kinerja di hadapan masyarakat perlu didorong agar mereka dapat bekerja optimal. Ini diperlukan karena banyaknya jenis dan lingkup pekerjaan yang jumlahnya tidak dapat dilakukan anggota sendirian. Tab stops: Not at 0. Dalam keadaan yang ideal.DPRD. termasuk anggota DPRD di Indonesia. penegakan hukum yang jauh dari harapan. dan ini tidak sepenuhnya terjadi dalam kenyataan. namun bagi keseluruhan masyarakat di daerah. lembaga politik dalam demokrasi seharusnya bertindak berdasarkan mereka yang diwakilinya maka banyak kajian dalam lapangan ilmu politik masih terus-menerus mencari cara bagaimana supaya sistem politik dapat menyediakan motif bagi para politisi. namun juga kelompok pakar atau tim ahli yang kebutuhannya disesuaikan dengan alat kelengkapan DPRD dan kemampuan keuangan daerah. dukungan keahlian dan staf kesekretariatan untuk mengerjakan hal-hal teknis adminsitrasi dan anggaran. UU Sistem pemilu dan kepartaian Politik yang masih bisa didiskusikan dan terus-menerus diperbaharuiberubah.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Tab stops: Not at 0. Sarana Sarana yang dimaksud dapat berupa fasilitas yang wajar untuk melakukan tugasnya berupa. serta anggaran yang cukup baik untuk kegiatan DPRD maupun untuk sekretariat agar dapat beroperasi. untuk menjalankan tugasnya dengan baik dan bukannya bertindak berdasarkan kepentingan pribadi dan kelompoknya. semua orang anggota DPRD memiliki kesempatan untuk diwakili dan menggunakan haknya dalam pengambilan keputusan. UU No. atau partainya saja.5" Formatted: Space Before: 0 pt . Bila pada prinsipnya. Tata tertib adalah piranti untuk menuangkan prinsip-prinsip demokrasi menjadi aturan main yang memastikan bahwa. Bab ini sejenak akan mengabaikan agenda-agenda yang menantang di atas yang sebenarnya menjadi konteks yang melingkupi DPRD dalam menjalankan Formatted: Space Before: 0 pt. bukan hanya terbatas di kalangan pemilihnya. kita dapat mengatakan bahwa kita di Indonesia masih dalam proses mencari format. bila memenuhi setidaknya tiga hal: 1.5" Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt. Peraturan tata tertib yang disusun harus memungkinkan anggota dewan dapat melakukan tugasnya dan menunjukkan kinerja yang baik. keinginan untuk terpilih kembali dalam pemilu secara berkala dianggap sebagai motif yang cukup kuat untuk unjuk kinerja. Dalam ketiga hal di atas. budaya politik masyarakat pemilih yang belum terlampau kejam (retrospektif) menghukum partai-partai politik yang ingkar janji. baru dapat menjalankan fungsinya dengan baik. 2. Keinginan anggota DPRD untuk terpilih kembali dalam pemilu secara berkala dapat dijadikan sebagai pintu masuk agar mereka mengoptimalkan kinerjanya. serta yang paling buruk. antara lain. 27/2009 memungkinkan adanya sistem pendukung bagi pelaksanaan tugas DPRD yang tidak hanya berupa sekretariat DPRD. tekanan yang besar dari pihak eksekutif. sebagaimana lembaga-lembaga politik lainnya.

mengingat kecilnya peran daerah dalam pengambilan kebijakan sebelum reformasi bergulir. Pembangunan masyarakat tidak lagi diatur dari Jakarta namun kini berada di tangan pemimpin di daerah-daerah sendiri. Dalam jangka pendek. Mewakili kepentingan daerah 7.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body.2. 25/1999 adalah kewenangan membuat kebijakan dan perda. 18A. mungkin pemerintah daerah akan mencari-cari format untuk menjalankan pemerintahan di daerah dengan efisien. dianggap akan membuat pemerintahan lebih akuntabel dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di daerah. Babak baru dalam pembangunan masyarakat Indonesia telah tiba. Dalam konteks harapan yang besar itulah. Mewakili kepentingan rakyat 6. salah satu peran strategis yang dimainkan oleh pemerintahan daerah pasca reformasi dan ditetapkannya UU No. Membuat peraturan hukum dan kebijakan dasar 2. 25/1999 maka Indonesia mengalami sebuah terobosan desentralisasi yang bisa dikatakan terbesar di seluruh dunia. Tab stops: Not at 0. kini tanggung jawab untuk menentukan arah pembangunan daerah pun diletakkan di tangan pemda.5" Formatted: Space Before: 0 pt. 27/2009 di atas. Membangun sekwan yang andal 8. 2232/1999 2004. namun dalam jangka panjang desentralisasi . maka bab ini akan membahas fungsi-fungsi di atastersebut sekaligus memetakan peran-peran lain strategis yang menunggu butuh dimainkan oleh DPRD. Bold . Namun kerumitan ini juga bisa dilihat sebagai tantangan yang sangat menggairahkan. Melaksanakan pengawasan berbagai kebijakan publik 5. Membentuk perda 3.tugasnya. Daerah diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (UU No. tanggung jawab ini mungkin bisa dipandang sebagai tugas yang rumit. maka DPRD dan kepala daerah pun kini lebih bertanggung jawab atas kepemimpinan dan masa depan daerah. Kendati terdapat banyak keluhan di kalangan DPRD dan pimpinan eksekutif bahwa sebagian besar daerah diberi kewenangan besar tanpa sumber daya yang memadai. Dengan adanya pendalaman desentralisasi ini. Tab stops: Not at 0. Membekali diri 10. Di satu sisi. 6. Dalam tugas inilah lembaga DPRD menjadi arena dimana berbagai pandangan politik maupun pilihan pendekatan dinegosiasikan untuk kemudian dirumuskan Formatted: Space Before: 0 pt. Dengan adanya UU No. No bullets or numbering. Komitmen besar ini bahkan telah diawali melalui Ketika Perubahan Kedua UUD 1945 berlangsung pada (tahun 2000). Sehubungan dengan fungsi-fungsi digariskan dalam UU N0. Topik-topik yang akan diangkat adalah sebagai berikut: 1. DPRD sebagai pendidik politik dan demokrasi 9. 22/1999 dan UU No. termasuk di tangan anda. dan 18B. Menetapkan APBD 4. ketentuan ini pun mendapatkan kedudukan hukum lebih tinggi dengan penjabarandalam ketentuan mengenai pemerintahan daerah di Pasal 18. 22/1999 dan UU No. Lebih khusus lagi. Membuat peraturan hukum dan kebijakan dasar Terhitung sejak 1999. (Pasal 1 angka 5 dan 6butir i). secara umum desentralisasi dianggap membawa banyak peluang.

bersama kepala daerah menjadi dokumen daerah. yang meletakkan kerangka hukum dan acuan bagi pembangunan daerah jangka waktu lima tahun. Salah satu agenda riil yang menyambut DPRD dalam hal penyusunan kebijakan daerah adalah penyusunan dokumen-dokumen perencanaan daerah jangka menengah. Dalam Pasal 150 UU No. Sedangkan RKPD adalah terjemahan RPJMD untuk jangka waktu satu tahun. kebijakan dasar lain yang perlu dikawal serius adalah terkait perencanaan pembangunan daerah. misi. yang merupakan implementasi pada tataran konsep operasional dari poldas. dan mungkin jangka panjang. yang lazimnya pada periode hasil pemilu 1999 sesuai dengan masa bakti DPRD. Melalui Prolegda. yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. 32/2004. Pembentukan Perda adalah otoritas DPRD. kini merupakan tanggung jawab anda yang kemudian dikerangkai dalam regulasi-regulasi daerah. Tab stops: Not at 0. Selain kerangka kebijakan dasar regulasi daerah yang diatur dalam Prolegda. produk hukum yang bersifat pengaturan. bisa berupa peraturan kepala daerah ataupun peraturan bersama kepala daerah yang semuanya harus didasarkan pada Prolegda. Dalam Pasal 3 Permendagri No. baik yang Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. bisa berupa keputusan kepala daerah dan instruksi kepala daerah. jangka menengah. Program pembangunan daerah lima tahun (propeda). Di sini. RPJP daerah disusun untuk jangka waktu 20 tahun yang memuat visi. repetada dan renstra. Perda selanjutnya akan menjadi alat kontrol dari DPRD untuk melihat sejauh mana kinerja eksekutif dalam mengimplementasikan perda tersebut. Dokumen-dokumen yang dimaksud adalah: 1. yakni: AKU. dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP daerah dengan memperhatikan RPJM nasional. meski prosesnya dapat diajukan melalui insiatif DPRD ataupun oleh Pemda. Sedangkan yang bersifat penetapan. Kedua dokumen ini harus ditetapkan bersama-sama dengan kepala daerah dan kemudian akan dijadikan acuan bagi dokumen perencanaan pembangunan tahunan. Bentuk regulasi daerah ini adalah kerangka peraturan hukum dan kebijakan dasar dituangkan melalui perda. dokumen perencanaan pembangunan daerah berwujud tiga jenis dokumen dasar yaitu Rencana pembangunan jangka panjang daerah (RPJP). kerangka peraturan hukum dan kebijakan dasar yang dibutuhkan oleh daerah untuk waktu ke depan sudah dapat dirancang. Tugas ini tentu saja sangat menantang karena tanggungjawab yang harus diemban sangat luas mulai merancang anda bisa bayangkan bagaimana arah pembangunan daerah dalam jangka pendek. misi. dan arah pembangunan daerah dengan mengacu kepada RPJP nasional. Rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD).5" Formatted: Font: +Body . termasuk sejauhmana peraturan-peraturan turunannya yang dibuat oleh ekesekutif (pemda) sesuai dengan ketentuanketentuan di dalam perda. 16/2006. 2. Pola dasar pembangunan daerah (poldas). selain berupa perda. Di sini. rencana kerja dan pendanaannya. RPJMD disusun untuk jangka waktu lima tahun sebagai penjabaran visi. prioritas pembangunan daerah. DPRD dan pemda dapat menuangkannya dalam program legislasi daerah (Prolegda) untuk kurun waktu lima tahun dan menentukan target per-tahunnya. dan Rencana kerja pembangunan daerah (RKPD). pemda memiliki otoritas untuk membuat peraturan turunan dari perda yang produk hukumnya bisa berupa pengaturan ataupun penetapan.

kebijakan umum. dan laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan daerah (BUMD). DPRD sangat vital untuk mencermati RPJMD dari pemerintah daerah. catatan atas laporan keuangan. lintas satuan kerja perangkat daerah. DPRD akan memahami dan mempertajam arah yang dikehendaki pemerintah daerah sebab dalam RPJMD telah termuat kebijakan keuangan daerah. Hanya setelah mendapat persetujuan DPRD. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt . dan program satuan kerja perangkat daerah.dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Hasil dari pembahasan ini (berwujud Nota Kesepahaman) adalah dasar dari DPRD untuk mengawal proses penyusunan Raperda APBD yang akan diajukan oleh pemda dengan cara menilai sejauhmana program dan kegiatan yang direncanakan sudah sesuai dengan nota kesepahaman dalam pembahasan KUA dan PPAS. Pada tahap perencanaan APBD. misalnya. laporan arus kas. neraca. 58/2005. DPRD dapat melakukannya dalam rapat pembahasan laporan realisasi pelaksanaan APBD dalam semester pertama untuk melihat apakah dibutuhkan perubahan APBD. keterlibatan DPRD akan sangat vital pada tahapan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). Ini penting karena melalui RPJMD. strategi pembangunan daerah. Di sini DPRD dapat mengeceknya melalui pemeriksaan semua laporan realisasi APBD. sebagaimana diatur dalam PP No. dengan mengacu kepada rencana kerja Pemerintah. dan program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan APBD juga masih akan muncul lagi sebagai bentuk pertanggungjawaban pemda. baik kesesuaiannya dengan RKPD atau dengan tantangan yang dibutuhkan daerah dalam perspektif dan temuan-temuan DPRD. Pemda baru kemudian dapat menyusun Raperda tentang penjabaran APBD. Sedangkan pada tahap pengawasan terhadap implementasi Perda APBD tersebut.

Peran DPRD dalam Penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA)
Ditetapkan per tahun

Mendagri

Pedoman Penyusunan APBD

Kepala Daerah

Menyusun berdasarkan RKPD

Rancangan KUA

DPRD

Pembahasan Rancangan KUA

KUA
Formatted: Indent: First line: 0", Space Before: 0 pt

Peran DPRD dalam Penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara KUA Pemda
1. Menentukan skala prioritas dalam urusan wajib dan pilihan 2. Menentukan urutan program dalam masingmasing urusan 3. Menyusun plafon anggaran sementara untuk setiap program

DPRD Rancangan PPAS
Program prioritas dan patokan batas maksimum anggaran SKPD untuk setiap program. Ini selanjutnya menjadi acuan penyusunan RKA-SKPD

PPAS

Formatted: Space Before: 0 pt

Kerangka dasar yang perlu menjadi orientasi Dalam menyusun dokumen-dokumen di atas, ini ada beberapa prinsip yang dapat dijadikan acuan: 1. Kerangka visioner.

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5"

DPRD perlu berpikir jauh ke depan dalam menyusun kebijakan daerah. Apa yang akan diletakkan selama lima tahun ke depan harus dapat menjadi landasan yang kokoh dan dapat diterjemahkan secara bertahap dalam rencana tahunan. bagi kehidupan anak cucu kita kelak. 2. Kerangka global. Dalam menyusun apa yang akan dibangun di daerah kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa abad 21 telah ditandai dengan globalisasi dalam skala yang tak terbayangkan sebelumnya. Terobosan pembangunan yang akan dilakukan harus peka terhadap tata persaingan dunia baru ini. 3. Kerangka proses. Untuk dapat menemukan apa yang dicita-citakan orang banyak, memenuhi rasa keadilan masyarakat luas, dan pada gilirannya membangkitkan rasa kepemilikan masyarakat di daerah, proses yang ditempuh harus melibatkan banyak orang. DPRD dapat memprakarsai pelbagai bentuk konsultasi publik, baik berupa rapatrapat umum, kuesioner maupun penelitian potensi daerah sebagai penunjang. Harus disediakan cukup waktu untuk membahas kebijakan dasar yang akan ditempuh sehingga dokumen yang dihasilkan bukan dokumen yang asal jadi dan tidak akan dapat dijadikan acuan yang inspiratif di kemudian hari. Bagaimana memahami anggaran yang sensitif gender? Hal ini yang berada di dalam wilayah kebijakan dan dapat diprakarsai oleh DPRD adalah dorongan bagi diadopsinya anggaran yang sensitif gender (gender sensitive budget). Hal yang patut diperhatikan bahwa anggaran sensitif gender bukanlah penyediaan anggaran khusus bagi perempuan. Anggaran sensitif gender adalah analisis untuk melihat dampak dari program pembangunan dan penganggaran bagi laki-laki dan perempuan serta bagi berbagai segmen laki-laki dan perempuan. Kesadaran untuk menerapkannya memang mempersyaratkan pula komitmen untuk membangun basis data yang memiliki segregasi berdasarkan aspek gender, kelompok umur, dan kelompok sosial ekonomi. Bila kebijakan ini tidak ditempuh, maka daerah beresiko terjebak pada kebijakan-kebijakan yang mungkin dianggap netral gender, padahal ia sebenarnya buta gender. Pada gilirannya pembangunan bisa berlangsung secara zalim gender (gender tidak adil) karena dampak pembangunan hanya dirasakan oleh sekelompok (kecil) masyarakat yang bisa jadi sudah lebih beruntung daripada yang lainnya . 6.3. Membentuk peraturan daerah

Formatted: Space Before: 0 pt

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5" Formatted: Space Before: 0 pt

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5" Formatted: Space Before: 0 pt

Sebagai lembaga legislasi, fungsi DPRD adalah membuat perda. Dalam konteks sistem politik Indonesiadesentralisasi, fungsi ini dijalankan bersama dengan kepala daerah. Perda harus mendapatkan persetujuan dari kedua cabang pemerintahan ini sebelum dapat ditetapkan sebagai mengikat bagi masyarakat di daerah. Dalam menyusun landasan dan arah kebijakan suatu perda, perlu dipertimbangkan beberapa hal:

1. Koridor konstitusional atau lingkungan legal tempat perundangan dibuat, termasuk tidak boleh dilanggarnya peraturan perundangan yang lebih tinggi dalam hirarki perundang-undangan di Indonesia. 2. Prioritas kebijakan daerah yang bersangkutan, seperti dokumen-dokumen perencanaan daerah yang meletakkan arah yang ingin dicapai daerah dalam jangka waktu tertentu. 3. Aspirasi masyarakat yang berkembang sehingga perda tersebut mampu mencerminkan kebutuhan dan keinginan masyarakat luas serta mendapatkan legitimasi etis, nilai, sosial dan politik dari masyarakat. Mengapa perda dibuat? Pada dasarnya, perundang-undangan dibuat untuk menyelesaikan sebuah masalah. Karena penyelesaian masalah memerlukan kerangka hukum yang ditangani bersama, maka perda adalah instrumen di daerah yang harus dipatuhi oleh semua orang yang ada di daerah, sehingga tatanan yang diinginkan di daerah dapat tercapai. Secara umum, perda dibuat untuk mengatasi permasalahan yang ada di daerah. Namun di Indonesia sudah jamak adanya pendapat bahwa sudah ada banyak aturan yang bagus namun penegakannya saja yang tidak konsisten . Demikian pula di daerah, kita sering mendengar keluhan betapa sebuah perda bak hidup enggan mati tak mau . Entah karena tidak efektif ditegakkan atau karena setelah ditetapkan dapat memancing kontroversi, tidak menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan masalah baru. Sejumlah daerah juga mulai banyak mengagendakan evaluasi peraturan daerah untuk menyortir hukum daerah ini menjadi lebih ramping dan efektif. Karena pengalaman-pengalaman di atas, maka untuk dapat menghasilkan dan menetapkan sebuah perda, utamanya yang menyangkut masyarakat luas, DPRD perlu lihai menerapkan checklist yang setidaknya mengandung pertanyaanpertanyaan di bawah ini: 1. Apa masalah yang hendak diselesaikan? Apakah merupakan masalah yang sebenarnya atau hanyalah akibat dari masalah lain yang lebih mendalam, lebih rumit dan menyangkut kepentingan lebih banyak orang? 2. Apa kemungkinan-kemungkinan solusinya? Apakah permasalahan ini bisa dipecahkan dengan menghentikan perilaku lama yang buruk atau hanya bisa dilakukan dengan mendorong perilaku baru? Apakah anda setiap orang akan serta-merta mematuhi perda hanya karena ia telah ditetapkan dan diundangkan? Bagaimana menciptakan insentif bagi orang-orang untuk mengadopsi perilaku baru? 3. Apa hasil yang bisa diharapkan dalam jangka lebih panjang? Apakah perda ini akan menyumbangkan kehidupan di daerah yang lebih baik, atau hanya penghilang gejala masalah saja? Adakah hasil sampingan (eksternalitas) yang diperoleh secara tidak langsung dari diterapkannya perda ini? Positif atau negatif? Dengan kerangka pertanyaan di atas, sebagai contoh, maka dalam penerapan retribusi, misalnya, DPRD dapat mensimulasikan berbagai aspek yang akan timbul dari diterapkannya sebuah perda. Bila sebuah retribusi adalah pendapatan bagi

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5"

Formatted: Font: +Body, Not Bold Formatted: Space Before: 0 pt

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 1.43"

Formatted: Space Before: 0 pt

Perda serupa dapat dibuat dalam kondisi-kondisi: 1. Masyarakat juga tidak hanya bisa dimaknai secara sempit dengan masyarakat luas yang cair dan tidak terorganisasi. Proses-proses serupa adalah langkah kecil dari proses panjang belajar berdemokrasi bagi pembuat kebijakan dan bagi masyarakat sendiri. masyarakat merupakan sumber dari gagasan dan dukungan yang luar biasa. baik perorangan maupun kelembagaan untuk menganalisis raperda yang datang dari eksekutif maupun untuk membantu DPRD menyusun raperda inisiatif.5" . Apa yang perlu diperhatikan dalam legislative drafting? Banyak perda juga mengalami kegagalan dalam pelaksanaannya karena perumusannya yang lemah. Namun di sisi lain. yang cukup dibuat trauma dengan suasana rapat umum yang hiruk-pikuk. DPRD tidak perlu merasa terbebani dengan keharusan menguasai teknik penulisan UU (legal drafting). Di masa lalu. DPRD selalu dapat meminta bantuan ahli. dalam hal ini pemda dan DPRD. serta pemuka masyarakat. Sebagai perundang-undangan daerah. Banyak pembuat kebijakan. serta diskusi yang tidak terarah. Mengapa harus ada perda? DPRD perlu pula menimbang apakah semua permasalahan yang dihadapi daerah memerlukan perda sebagai solusinya. pembuat kebijakan sering berusaha menghindar dari penyusunan kebijakan publik secara partisipatoris karena dipandang berbelit-belit. masyarakat yang dimintai konsultasi juga dapat berupa organisasi yang relevan dengan permasalahan yang dibahas. Tab stops: Not at 0. Melibatkan masyarakat secara luas berarti menabung legitimasi politik dari sebuah peraturan daerah jauh sebelum ia ditetapkan. Namun demikian. perda pun harus peduli dengan pentingnya perumusan isi sehingga tafsir perda di lapangan sesuai dengan kehendak pembuat peraturan daerah. makan waktu. baik legislatif maupun eksekutif. Italic Formatted: Space Before: 0 pt. Tidak ada informasi yang cukup untuk menetapkan pengaturan yang mendetail. Karena anggota DPRD tidak serta-merta merupakan pakar di bidang hukum. Kadang-kadang cukup dibuat sebuah perda yang tidak terperinci untuk kemudian ditindaklanjuti dengan keputusan kepala daerah untuk menjabarkannya. maka DPRD dapat memanfaatkan proses penyusunan sebuah perda secara partisipatoris. dan menguras kesabaran. Dengan demikian masukan-masukan yang diperoleh dari proses konsultasi ini dapat membantu memperkuat muatan perda yang disusun. Formatted: Font: +Body.pemda. perguruan tinggi. apakah besarnya masih cukup kondusif bagi pertumbuhan ekonomi atau justru mematikan keinginan-keinginan investasi? Proses dasar penyusunan perda Untuk bisa melahirkan perda yang komprehensif dan lolos dari saringan pertanyaan di atas. Dalam bagian akhir bab ini juga diangkat kemungkinan bagi DPRD untuk memiliki staf yang menguasai bidang penulisan UU di sekretariat sebagai salah satu pilihan bagi DPRD untuk memperkuat kapasitasnya di bidang legislasi. dihadiri massa yang tidak jelas identitasnya .

Sebagai anggaran sektor publik. Sebagai instrumen pengendalian. 6. sebagaimana amanat UU No. Di dalam kesemua angka ini sesungguhnya menggambarkan arah dan perencanaan pembangunan yang hendak dicapai oleh suatu daerah dalam setahun yang diterjemahkan ke dalam program-program prioritas. Perbedaan-perbedaan dalam satu daerah yang perlu penyesuaian dalam penerapannya. APBD memandu rencana tindakan yang akan dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai sasaran-sasaran pemerintahan. berapa banyak dan bagaimana cara memperoleh uang untuk mendanai rencana tersebut (pendapatan). dan kedua. 3. Menetapkan APBD Secara umum. dan 4. Anggaran sektor publik.38" Formatted Table Mengidentifikasi selisih . belanja yang terlalu irit (underspending) dan belanja yang salah sasaran (misapropriation). termasuk APBD.4. DPRD tentu sangat sadar bahwa anggaran tetap merupakan dokumen politik karena merupakan bentuk komitmen eksekutif dan kesepakatan legislatif atas penggunaan dana publik. berapa biaya atas rencana-rencana yang dibuat (belanja). maka perda yang ditetapkan akan dapat menjadi landasan hukum yang kokoh bagi kehidupan kemasyarakatan di daerah. Rencana terperinci yang terdapat pada anggaran membuat pembelanjaan yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.2. Dalam konteks desentralisasi. indikator pencapaian. ditetapkan dengan sejumlah fungsi utama yang harus dipenuhi. yakni: 1. Perlunya banyak penjelasan karena sifat teknisnya atau alasan lain. Ini penting bagi DPRD karena dari sini juga . Alat perencanaan. Keadaan yang berubah dengan cepat sehingga perlu antisipasi perundangan yang lebih fleksibel. 32/2004. Alat pengendalian. karena lewat anggaran pula kinerja DPRD akan dinilai oleh masyarakat pemilih. Proses pengendalian anggaran ini dilakukan dengan tahapan-tahapan: Membandingkan kinerja aktual dengan kinerja yang dianggarkan Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: First line: 0. anggaran dijadikan acuan untuk menghindari adanya pemborosan (overspending). anggaran harus mencerminkan alokasi pendanaan. berapa biaya yang dibutuhkan dan berapa atau bagaimana hasil yang diperoleh dari belanja pemerintah tersebut. maka program-program tersebut harus mencakup urusan wajib dan urusan pilihan dari daerah bersangkutan. anggaran merupakan estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran-ukuran keuangan berdasarkan capaian yang diinginkan. pertama. Dengan demikian. korelasi dengan visi dan misi serta kemungkinan sumber pendapatan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat yang diwakili oleh anggota DPRD. APBD merupakan suatu rencana keuangan yang menyatakan. 2. Karena itu.

38".5" Formatted: Font: +Body. demikian pula masyarakat di daerah dapat membandingkan daerahnya dengan daerah lainnya sehingga tercipta kompetisi yang sehat. baik yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan Merevisi standar biaya atau target anggaran tahun berikutnya Dengan adanya tahapan di atas. 6. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. 12 pt Formatted: Font: +Body. Space Before: 0 pt. 12 pt . analisis standar belanja. berarti APBD harus Formatted: Indent: Left: 0. APBD disusun dengan pendekatan kinerja (prestasi kerja) yang dimulai sejak penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD). Karena itu. 4. Font color: Auto Formatted: Font: +Body. namun jangan pula terlalu rendah sehingga terlalu mudah untuk dicapai. Alat penilaian kerja. Kebijakan fiskal adalah usaha yang dilakukan pemerintah untuk mempengaruhi keadaan ekonomi melalui sistem pengeluaran atau sistem perpajakan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. efektif dan efisien dalam mencapai target dan tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Apakah anggaran kinerja itu? Sesuai dengan PP No. Dengan pendekatan ini. Dalam konteks desentralisasi maka daerah dapat saling belajar satu sama lain. Target anggaran hendaknya jangan terlalu tinggi sehingga tidak dapat dipenuhi. No bullets or numbering. 12 pt Formatted: Font: +Body. standar satuan harga. Bold Formatted: Indent: Left: 0. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body.Menemukan penyebab selisih. baik dalam pencapaian sasaran maupun dalam efisiensi anggaran. proses pengendalian anggaran akan dapat menyumbang bagi perbaikan penganggaran tahun berikutnya dan berarti memperbaiki alokasi dana publik. (Pasal 39 ayat (1) dan (2) dalam PP ini mengatur bahwa Penyusunan RKA-SKPD dengan pendekatan prestasi kerja dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dan keluaran serta hasil yang diharapkan dari setiap kegiatan dan program. Anggaran dapat digunakan sebagai alat untuk memotivasi manajger dan staf agar bekerja secara ekonomis. Berbagai kelompok masyarakat dapat menggunakan momentum penyusunan anggaran ini untuk berpartisipasi secara politik dalam kebijakan daerah. Alat kebijakan fiskal. rencana anggaran harus menyertakan capaian kinerja. Anggaran dapat disusun untuk mendeteksi kekerasan antar unit kerja dalam mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan pemda karena setiap unit kerja pemerintahan terlibat dalam proses penyusunan anggaran. termasuk di dalamnya adalah tingkat efisiensi yang bisa dilakukan. Alat motivasi. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Pelibatanrlu bahkan mutlaknya masyarakat terlibat dalam proses penganggaran publik membuat proses penyusunan anggaran membuka ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan dan menyalurkan aspirasinya. 7. First line: 0". indikator kinerja. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. Tab stops: Not at 0. 3.38". dan standar pelayanan minimal. Sebagai alat kebijakan fiskal. Alat koordinasi dan komunikasi. Tab stops: Not at 0. 10558/20050 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Alat menciptakan ruang publik. 5. Anggaran dapat digunakan untuk menilai kinerja setiap unit kerja. 7.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. anggaran perlu dipikirkan perannya dalam menstabilkan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.

. Apa kegiatan yang memiliki efek pengganda (multiplier effect) lebih besar? 4. Bagaimana melakukan prioritasisasi? Pemda dimanapun di penjuru dunia. Tab stops: Not at 0. Karena itu. ada masalah keamanan di daerah yang harus diatasi? 3. DPRD hanya akan mengetahui apa yang terbaik bagi masyarakat di daerah dengan cara bertanya pada mereka. Sebuah kegiatan hanya bisa dibiayai bila ia menyumbang bagi pencapaian sasaran tertentu yang sudah ada dalam dokumen-dokumen perencanaan daerah. Melaksanakan pengawasan berbagai kebijakan publik Formatted: Space Before: 0 pt. Pelaksanaan APBD. selalu berkutat dengan masalah banyaknya kegiatan pelayanan publik yang perlu dibiayai sementara volume anggaran yang tersedia sangat terbatas. Dalam tahapan penyusunan APBD. 6. Pelaksanaan keputusan gubernur dan bupati/walikota. 2.5" Formatted: Space Before: 0 pt Pasal 18 42 ayat 1 butir f UU No.5. 3. Lagi-lagi. maka sekarang ini kegiatan yang akan dibiayai merupakan produk dari analisis perencanaan yang lebih panjang. Bila sebelumnya anggaran disusun berdasarkan kegiatan yang akan dibiayai. Semua belanja yang dikeluarkan senantiasa berhubungan dengan sebuah kinerja yang akan dapat dievaluasi. Pertanyaanpertanyaan yang diajukan dalam tahap ini untuk membantu memprioritaskan alokasi anggaran antara lain: 1. Pelaksanaan perda dan perundang-undangan lainnya. Apa kegiatan yang bisa mengundang pertisipasi sukarela masyarakat maupun partisipasi pihak swasta sehingga tidak terlalu membebani APBD? Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat terus dikembangkan lagi untuk membantu menyaring kegiatan-kegiatan yang perlu dibiayai APBD. fase ini berada dalam pembahasan PPAS yang rencananya diajukan oleh Pemda dengan berpedoman pada KUA yang sebelumnya sudah disepakati antara DPRD dan Pemda.mencerminkan bagaimana sebuah keluaran (output). misalnya. Karena DPRD adalah wakil masyarakat. karena pendekatan baru ini. Apa kegiatan yang lebih sesuai dengan dokumen perencanaan daerah? apa kegiatan yang menyumbang tercapainya sasaran tertentu yang sudah disepakati dan menjadi komitmen bersama? 2. DPRD perlu memberdayakan masyarakat dalam prosesnya. manfaat. dan dampak tertentu dapat dicapai dengan sebuah masukan (input). 2232/1999 2004 mengamanatkan pada DPRD untuk melakukan fungsi pengawasan terhadap lima hal: 1. kecuali di sejumlah kecil daerah yang sangat kaya. pembuat kebijakan publik termasuk DPRD selalu dihadapkan pada masalah prioritasisasi. Apa kegiatan yang mendesak dilakukan karena menyangkut penanganan keadaan darurat dan menyangkut kebutuhan masyarakat paling mendasar? Apakah. DPRD pun dituntut untuk menyesuaikan diri. hasil. Di satu sisi penerapan anggaran kinerja ini akan memudahkan DPRD dalam meminta akuntabilitas lembaga eksekutif dalam menjalankan tugasnya serta memudahkan masyarakat melihat hasil kerja pemerintahan. Di sisi lain. sebagaimana dalam penyusunan kebijakan publik.

KPK. pemda sendiri secara internal melalui Bawasda dan Inspektorat. dan secara politik oleh DPRD. maka DPRD dengan sendirinya akan sangat terbantu dalam melakukan dua aspek pengawasan pelaksanaan APBD ini. Dengan adanya komisi maka DPRD dapat mengerjakan banyak agenda sekaligus. Meskipun keluhan ini dapat menyiratkan kesan bahwa DPRD memang telah bertindak overacting dalam melakukan fungsinya. Pemda mengeluhkan agresivitas DPRD dalam menjalankan fungsinya ini. tapi sudah masuk ke wilayah pemeriksaan. 22/1999. Di satu sisi ia harus membidik isu korupsi oleh eksekutif dan penyalahgunaan kewenangan atau dana pemerintah. sebagaimana lazimnya diharapkan dari demokratisasi. dapat tercapai keseimbangan fungsi pengawasan penyelenggaraan pemerintahan antara yang dilakukan oleh BPK dan jajarannya. Pelaksanaan Kerjasama internasional di daerah. Dengan demikian. Sisi yang lain. terutama pelaksanaan APBD. DPRD sudah bukan mengawasi lagi. sehingga anggota DPRD dapat melakukan pembidangan kerja dan memfokuskan perhatiannya dalam bidang yang spesifik. Dengan diterapkannya anggaran kinerja. Sebagaimana disuratkan dalam UU. DPRD hasil Pemilu 1999 merupakan DPRD pertama yang menjalankan kewenangannya menurut UU No. proses pengawasan dan diskusi di antara para anggota akan berjalan cukup mendalam. berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas bekerjanya pemerintahan. bahkan penyelidikan. Apakah alokasi anggaran telah membawa hasil sesuai yang diharapkan dalam perencanaan? Apakah prioritas-prioritas pembangunan terlaksana? Bagaimana efisiensi dan efektivitas bisa ditingkatkan? Sekali lagi. Pada lima tahun pertama transisi demokrasi tersebut. Salah satu kewenangan DPRD yang berubah drastis sejak 1999 sampai kini. baik itu berupa peraturan daerah maupun keputusan kepala daerah. pelaksanaan fungsi pengawasan ini dipandang kontroversial. Pelaksanaan kebijakan daerah. demikian keluh pejabat eksekutif di banyak daerah.4. DPRD dapat menilai apakah sebuah perundangan. ke depan. Melalui komisi. adalah kewenangan pengawasan berjalannya kebijakan dan peraturan daerah oleh eksekutif. Wilayah pengawasan DPRD dapat mencakup beberapa hal. semangat pengawasan oleh DPRD meliputi dua hal: Pertama. dapat diterapkan dengan baik di lapangan atau tidak. pengawasan atas dilaksanakannya perundang-undangan dan kebijakan daerah. apalagi dalam konteks penerapan anggaran kinerja. sehingga pemerintah bertanggung gugat (akuntabel) terhadap masyarakat atas apa yang dilakukannya. fungsi pengawasan dapat menyumbangkan hasilnya bagi fungsi legislasi. tampak di sini bahwa fungsi pengawasan akan menjadi berhubungan erat dengan fungsi penganggaran dan fungsi pembentukan kebijakan daerah berikutnya. Apakah peraturan yang lama telah berjalan dengan baik? Apakah ada celah di lapangan yang membutuhkan pengaturan tertentu dalam bentuk peraturan baru? Kedua. 5. Dengan demikian. keluhan ini juga menunjukkan bahwa peran pengawasan DPRD telah mulai berjalan. pengawasan atas pelaksanaan pembangunan. Bagaimana fungsi pengawasan ini dilakukan? Secara terus-menerus DPRD dapat melakukannya melalui komisi-komisinya yang membidangi hal-hal yang cukup spesifik. serta sementara Formatted: Space Before: 0 pt .

membuat kebijakan.anggota DPRD juga cepat atau lambat akan menguasai permasalahan yang secara khusus ditanganinya. Dalam konteks Ketika kepala daerah sudah akan yang dipilih secara langsung nantisaat ini. kendati skenario yang pertama memungkinkan ketegangan antara lembaga legislatif dan eksekutif yang nantinya(namun tidak akan bisa saling menjatuhkan). masyarakat bukanlah kelompok yang homogen. DPRD dapat saja melakukan fungsi-fungsi sebelumnyalainnya seperti. Karena itu. Karena itu.6. lembaga dan proses politik di DPRD diharapkan mampu menyelesaikan semua masalah yang muncul di daerah. maka keterampilan yang harus dikuasai tersebut adalah bagaimana berkonsultasi dengan masyarakat yang diwakilinya. Bila DPRD bisa melakukan fungsinya ini dengan baik. Bila aAnggota DPRD harus menguasai sesuatu keterampilan. pengaturan. bisa jadi kedua cabang pemerintahan akan berkonspirasi untuk tampil cantik di depan publik. maupun aspek pemerintahan lainnya. sehingga keputusan-keputusan yang lahir dari DPRD adalah yang paling representatif. tidak jarang dan sangat bisa jadi kepentingan tersebut bertentangan satu sama lain. kesamaan partai/afiliasi politik antara kepala daerah dengan dan mayoritas anggota DPRD tak terhindarkan lagi akan mempengaruhi corak pengawasan yang akan dilakukan. Di sisi lain. termasuk melakukan pengawasan. . Nnamun bila fungsi ini dilakukan tanpa mekanisme representasi yang efektif. maka yang dituju sebenarnya adalah pemerintahan daerah yang lebih akuntabel dan efektif. 6. Masyarakat memiliki banyak kepentingan yang . semangat yang ada dan prosedur yang disusun dalam DPRD harus dapat memfasilitasi peran ini. namun ini ia cenderung dikehendaki dalam sistem presidensial karena lebih memastikan berjalannya fungsi pengawasan oleh masyarakat melalui DPRD. DPRD akan memiliki insentif untuk melakukan pengawasan dengan yang ketat dengan harapan akan menguak kelemahan yang dimiliki kepala daerah. bila kepala daerah dan mayoritas anggota DPRD memiliki afiliasi politik yang sama. Ujung-ujungnya. . proses pemerintahan daerah akan menjadi siklus belajar kolektif yang terus-menerus dan terus meningkat. Mewakili kepentingan rakyat Kita masuk pada fFungsi berikutnya yang sebenarnya sangat mendasar dalam demokrasi perwakilan yakni adalah fungsi representasi. Namun demikian. Bila kepala daerah berasal dari partai/afiliasi yang berbeda. perda. Karena itulah. Sebagai wakil rakyat. Masalahnya. teknik-teknik konsultasi dengan masyarakat dan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan memang menjadi salah satu langkah utama dalam upaya menegakkan demokrasi di seluruh dunia. utamanya karena layak diragukan bahwa DPRD bertindak mewakili masyarakat secara keseluruhan. anggota DPRD bukannya diharapkan dapat menjadi manusia serba bisa untuk dapat memenuhi harapan masyarakat di daerah. maka sistem ini akan kehilangan nilai demokratisnya. Hasil pengawasan ini harusnya bermuara pada penyusunan kebijakan/peraturan daerah untuk menangani kelemahan yang masih ditemui baik mengenai sebuah program pembangunan.

32/2004. Formatted: Space Before: 0 pt . 1. fiskal serta politik.Secara umum. DPRD juga tidak memiliki antisipasi mekanisme verifikasi berbagai keluhan masyarakat yang bertentangan satu sama lain.halaman berikut ada beberapa contoh kegiatan yang bisa dilembagakan untuk memastikan bahwa DPRD memiliki berbagai jalan untuk mencari dan menerima masukan dari masyarakat. 2232/1999 2004 dan UU No. Oleh sebab itu. konsepsi hirarkhi pemerintahan mulai diubah dengan memberikan lebih banyak tekanan pada munculnya kemandirian daerah (otonomi daerah). 6. 4. dengan keluhannya apalagi sedangkan pihak yang relevan sedang tidak berada di tempat. yang saat ini dikerangkai dua undang-undang utama. Formatted: Tab stops: Not at 0. Penerimaan aduan melalui kantor konstituensi Kotak pos pengaduan Formatted Table Isu Khusus 1. DPRD bersama pemda praktis menjadi pun menjadi ujung tombak perjuangan kepentingan daerah di depan dua jenjang pemerintah lainnya.5" DPRD perlu bekerja dengan sekretariat dewan untuk memastikan bahwa terdapat mekanisme untuk bersikap peka terhadap permasalahan masyarakat sekaligus responsif terhadap tuntutan-tuntutan mereka. tidak mengenal hierarki seperti UU No. Terkadang. format kekuasaan di bagi secara bertingkat salah satu hubungan politik yang lain adalah antar jenjang pemerintahan yang dijalankan dengan prinsip prinsip otonomi. pemda propinsi dan pemerintah pusat. pasca lahirnya UU No. Tanpa mekanisme yang disusun untuk mengantisipasi hal-hal yang harus direspon dengan cepat. 1. Sering masyarakat frustasi karena aduannya ditanggapi komisi yang tidak relevan. Proaktif: Jemput Bola Undangan rapat dengar pendapat (RDP) ke kelompok-kelompok kepentingan RDP umum (public hearing) Kunjungan ke lapangan Pengadaan jajak pendapat kepuasan pelayanan publik Reaktif: Tunggu Bola Mekanisme penanganan unjuk rasa Mekanisme penanganan permohonan pertemuan mekanisme penanganan undangan seminar.5" Isu Umum 2. 5. 3. yaitu. DPRD akan kesulitan mengatasi berbagai keluhan masyarakat. Dengan format baru adanya desentralisasi dan otonomi daerah.7. 22/1999 yang kemudian diganti dengan UU No. 5/1974. 2. 2. diskusi. dll. Dengan kewenangan untuk memberikan sebagai besar pelayanan publik. Pasca 1999. dalam struktur pemerintahan daerah saat ini. dimulai Kata jenjang di sini mungkin tepat karena UU No. Mewakili kepentingan daerah Dalam sistem negara yang terdesentralisasi Indonesia mutakhir. DPRD dapat mencari terobosan-terobosan baru dalam memastikan bahwa keputusan-keputusan yang diambilnya selalu berusaha memenuhi substansi prinsip keterwakilan ini.di Jakarta. maka hubungan antara daerah dengan pusat telah memasuki babak baru. Formatted: Tab stops: Not at 0. dalam konteks ini. Dalam tabel di bawah. 2533/1999 2004 yang membawa desentralisasi administrasi.

walikota dan gubernur. baik dalam besaranya dana alokasi dari pemerintah dalam formula bagi hasil pendapatan yang diperoleh di daerah. Dengan adanya asosiasi pemerintahan daerah. pemerintah pusat dapat mengeluarkan berbagai argumen untuk menangkal kepentingan-kepentingan daerah yang berbeda-beda. maka sering pemerintah nasional (pusat) di negaranegara desentralis untuk mengadu domba pemdanya. Anehnya. maka peran yang disandang daerah adalah advokasi untuk mendapatkan pembagian yang lebih adil. Dengan adanya ADEKSI dan ADKASI. Lazimnya di seluruh dunia. Karena itu ADEKSI dan ADKASI selalu aktif dalam diskusi kebijakan tingkat nasional. Asosiasi Pemerintahan Kota seluruh Indonesia. dan Asosiasi Pemerintah Propinsi seluruh Indonesia) adalah asosiasi serupa yang menjadi wadah bagi pemda untuk memperjuangkan kepentingannya yang dipimpin bupati. namun tak pelak lagi advokasi kebijakan merupakan fungsi yang kunci bagi asosiasi. APEKSI. daerah dapat berbagi informasi dan prespektif mengenai perbedaan kepentingannya dan . Asosiasi ini menjadi wadah bagi DPRD Kabupaten dan Kota seluruh Indonesia dan anggotanya.daerah kini menyandang tanggung jawab baru yang praktis juga membawa permasalahan tersendiri dalam bidang anggaran. Demikian pula pemda. hal ini merupakan langkah penting maju dalam hubungan antar pemerintahan di Indonesia. Kecuali daerah dapat bersatu mengagregasikan kepentingannya untuk mendapatkan kompromi terbaik dalam melakukan tawar-menawar dengan pemerintah pusat. perhatian . Asosiasi DPRD Kota seluruh Indonesia (ADEKSI) resmi berdiri dan bulan berikutnya Asosiasi DPRD Kabupaten seluruh Indonesia (ADKASI). maupun dalam keleluasaan mengeluarkan kebijakan fiskal. maka kepentingan daerah dapat didiskusikan dan dikerucutkan sebelum diperjuangkan. perluasan jaringan dan penyebaran informasi. dibutuhkan organisasi yang kuat. khususnya yang berimplikasi pada di antaranya adalah mengenai revisi UU tentang pemerintahan daerah dan aspek-aspek yang relevan dalam paket UU Politik.di Jakarta. ADEKSI dan ADKASI Pada Juli 2001.8. kemudian merumuskan strategi advokasinya bagi kompromi kepentingan terbaik bagi daerah. APKASI. Dalam konteks inilah maka asosiasi pemerintah daerah menjadi relevan. dan APPSI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten seluruh Indonesia. perhatian pada pentingnya peningkatan kapasitas staf teknis sangat besar. Formatted: Space Before: 0 pt 6. Karena perbedaan kepentingan antar daerah inilah. Dalam memperjuangkan kepentingan daerah. Atas nama jaminan untuk menyediakan pelayanan publik yang setara di seluruh tanah air. DPRD perlu memperdulikan setting politik bahwa pemerintah pusat pun memiliki kepentingannya sendiri. Meskipun asosiasi dapat menjadi wadah yang efektif untuk penguatan kapasitas anggota. Kendati di Indonesia asosiasi pemerintahan daerah masih terbagi-bagi dalam berbagai organisasi. Membangun sekwan yang andal Semua orang dengan mudah sepakat bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan.

Namun. sekretariat yang andal harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Sekretariat DPRD harus memiliki staf yang andal. sekretariat hanyalah merupakan sarana agar DPRD dapat menunjukkan kinerja yang baik. sering membuat DPRD sering tidak memiliki waktu mencari informasi di perpustakaan dan mempelajarinya sebagai bahan untuk pengembilan keputusan. Dengan demikian.  Staf analisis anggaran. DPRD dapat memiliki staf khusus yang melakukan riset dan menyediakan informasi yang diperlukan oleh anggota dalam format yang mudah dipahami. maupun penganggaran. Seperti yang sudah disinggung di awal bab ini. akuntabilitas. dan yang terpentingjuga keterwakilan. Untuk itu. sebagai pembuat keputusan. Sekali lagi. Namun sSkala dukungan yang disediakan oleh dan melalui sekretariat ini sangatlah besar dan karenanya memainkan peran yang kunci.sebesar ini seringkali luput diberikan bila kita membicarakan lembaga sekretariat DPRD. DPRD harus memiliki jalur pendelegasian dan pertanggungjawaban dengan sekretariatnya. -bahkan kadangkadang memang sengaja diperumit untuk menggolkan tujuan politik tertentu. budgetinganggaran. Jalur ini juga harus menjadi jalur satu-satunya. Anggota DPRD yang dipilih karena popularitas dan kepercayaan pemilih kepada yang bersangkutan untuk memikirkan dan mengambil keputusan mengenai masalah-masalah publik sangat bisa jadi tidak memiliki kemampuan dalam hal teknis legal drafting. Sekretariat DPRD dapat memiliki staf khusus yang dapat menerjemahkan kebijakan menjadi dokumen perundang-undangan yang baik. Dukungan harus tersedia untuk menjamin fungsi-fungsi legislasi. Adanya staf khusus yang dapat membantu anggota menyediakan analisis anggaran akan mengefektifkan fungsi penganggaran dan pengawasan anggota. baik dari segi pendelegasian. 22/1999. DPRD dapat memperoleh dukungan sesuai dengan yang diperlukannya dari Sekretariat. 2. Tab stops: Not at 1" Formatted: Font: +Body. pengawasan. yakni staf yang menyediakan dukungan koordinatif dan administratif bagi kerja DPRD. DPRD harus memiliki kekuasaan penganggaran bagi kegiatan maupun fasilitas yang disediakan oleh sekretariat.  Staf riset. Dengan demikian. Sebagai daerah yang sedang membangun dan baru meletakkan dasar-dasar pembangunan daerah pasca UU No.  Staf legal drafting. Formatted: Space Before: 0 pt. DPRD harus memiliki kendali penuh atas dukungan administratif yang disediakan untuknya. Tugas anggota DPRD adalah membuat keputusan-keputusan. kebijakan yang memprioritaskan sumber daya yang ada merupakan kewenangan dari DPRD sendiri untuk memenuhi tuntutan akan kinerjanya. Banyaknya urusan. DPRD sering tidak memiliki cukup banyak waktu untuk memahami hal-hal mendetail yang kadang-kadang diajukan pihak eksekutif. Bbukan pula tugas anggota DPRD untuk mempelajari detil teknis bagaimana menulis perundang-undangan. yang dipahami sebagai organisasi pendukung kinerja DPRD dan anggotanya. Keputusan yang baik hanya bisa dilakukan jika dan untuknya diperlukan didasarkan informasi yang memadai. Italic . mencakup:  Staf manajerial dan administrasi. Karena itu.

Karena anggota legislatif tertentu merupakan wakil satu-satunya dari daerah pemilihannya. Formatted: Font: +Body. Kebanyakan sekretariat DPRD di Indonesia saat ini tentu masih bekerja dengan sarana dan sumber daya manusia yang masih terbatas. UU No. Diperlukan tidaknya staf fraksi sebenarnya dapat diserahkan pilihan dan pendanaannya pada fraksi sendiri karena tidak etis bila penyediaannya diambil staf fraksi dengandari APBD.  Staf fraksi. komisi perlu dilengkapi dengan staf yang dapat membantu anggota komisi melakukan tugas sesuai lingkup komisinya. Karena itu. DPRD dan sekwan dapat menyusun sebuah rencana pengembangan SDM untuk mendekati kondisi yang diinginkan dalam satu masa bakti. Perlu diingat bahwa program penguatan sekretariat ini harus terkendali. pengembangan kapasitas SDM sekretariat mungkin akan terasa mahal bila dilakukan sekaligus dalam satu tahun anggaran. yaitu. Staf ini lazim dikenal di demokrasi mapan utamanya yang menganut sistem pemilu distrik wakil tunggal. Untuk meningkatkan legitimasi politik DPRD. maka ia benar-benar disediakan fasilitas untuk menjalankan fungsinya dengan baik. yaitu terukur dampak dan kemanfaatannya. Dampak dari setiap investasi yang ditanam harus dapat dilihat pada setiap tahunnya. 6. DPRD sebagai pendidik politik dan demokrasi Indonesia telah mengalami masa dimana tidak ada pemilu jurdil. maka anggaran dapat dialokasikan untuk mencapai target penyediaan sarana atau keahlian tertentu. Not Italic Formatted: Space Before: 0 pt Pengembangan sekretariat DPRD. Karena itu. dan kemerdekaan berorganisasi. Staf komisi. bertambahnya fasilitas maupun staf khusus di DPRD seyogyanya tidak menjadi tujuan dalam dirinya namun menjadi sarana bagi kinerja DPRD yang lebih baik di mata masyarakat. mungkin perlu dibuat analisis apakah staf yang akan direkrut bersifat permanen atau yang menerus lebih baik dan efisien secara anggaran atau staf yang bekerja secara adhoc saja saat dibutuhkanketika agenda kerja DPRD membutuhkannya. 27/2009. Sebagai badan alat kelengkapan yang memegang peran penting dalam pelaksanaan tugas-tugas DPRD. Dalam konteks regulasi saat ini. misalnya. Dalam keadaan seperti ini. komisi memerlukan dukungan staf ahli untuk dapat menjalankan tugasnya. Karena itu. Reformasi 1998 telah membawa perubahan dengan mendorong demokratisasi: Perubahan paket UU . DPRD perlu memikirkan kelebihan dan kekurangan dari penyediaan fasilitas ini. kemerdekaan pers.9.  Staf pribadi anggota legislatif. Setelah penetapan target tahunan. posisi ini sayangnya belum diakomodasi bagi anggota DPRD. bila anggaran memungkinkan. Di sisi lain. Sebelum praktek staf ahli komisi ini diperkenalkan. bahkan bilameskipun anggaran yang tersedia memadai. fraksi merupakan agregasi kepentingan politik yang harus diakomodasi dalam demokrasi. akan merangsang lahirnya fraksi-fraksi berukuran kecil yang tidak membebani anggaran sekretariat.

pemilu yang relatif demokratis (setelah absen 35 tahun). mana yang akan lebih banyak dipelajari oleh masyarakat: Demokrasi di daerah sebagai sarana mendekatkan masyarakat pada pengambilan kebijakan yang berpengaruh pada dirinya. DPRD harus memastikan bahwa masyarakat pun belajar melakukan fungsi kontrolnya. Bersamaan dengan demokratisasi Indonesia juga lahir devolusi kewenangan dari pusat ke daerah melalui UU No. maka proses belajar ini akan terputus dan demokrasi tidak akan membawa perubahan ke keadaan yang lebih baik. Desentralisasi dan demokratisasi di daerah kewenangan yang membesar dan berimbangnya kewenangan eksekutif dan legislatif. Demikian pula potret di daerah. praktek politik di daerah dengan sendirinya sebenarnya merupakan pendidikan politik dan demokrasi pada masyarakat. teman sebaya. Mengubah praktekpraktek buruk di masa lalu dan membangun pranata baru bukan proses yang secepat kejatuhan penguasa lama dan usai hanya dengan sekali dua atau tiga kali pemilu demokratis. Karena dua proses ini berlangsung bersamaan. 33/2004. Masyarakat dapat memilih sendiri pemimpin-pemimpinnyakepala daerah dan merekalah yang kemudian bertanggung jawab terhadap nasib masyarakat di daerah. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk . Agen sosialisasi politik yang dialami seorang warga masyarakat adalah keluarga. terjadi pula desentralisasi politik kepemimpinan daerah. Praktek-praktek buruk yang dulu kita kecam kini justru merebak dan hadir di depan mata. Bila dalam keadaan pertama masyarakat sudah frustasi dan enggan beranjak ke keadaan kedua.justru dikecam telah sukses mendesentralisasikan korupsi. 32/2004 dan UU No. Namun. Ada banyak hal yang bisa dilakukan DPRD. 22/1999 dan UU No.Politik. serta rangkaian perubahan UUD 1945 yang diharapkan meletakkan dasar bagi Indonesia yang lebih demokratis. ada juga yang sudah enggan kembali ke masa lalu namun belum menemukan pegangan tentang apa yang harus dibangun dibagi masa depan. secara tidak langsung. Karena itu. Sebagian besar kegagapan dan kegalauan ini lahir karena demokrasi perlu waktu sebelum bisa mendatangkan hasil yang memuaskan. Yang menjadi krusial pada masa-masa transisi seperti sekarang dimana negara tidak lagi dapat memaksakan kehendak seperti dulu namun masyarakat juga tidak dapat mengharapkan subsidi dari negara. tak urung ada banyak keluhan yang mengemuka. sekolah dan media massa. Ada beberapa resistensi atau keengganan untuk menerima nilai-nilai baru yang dianggap semua semau sendiri sehingga penuh ketidakpastian. Dalam situasi politik seperti ini. ataukah desentralisasi sebagai penyebab naiknya berbagai retribusi dan menurunnya kualitas puskesmas di dekat rumah? Masyarakat juga perlu belajar bahwa demokrasi mengandaikan bekerjanya fungsi kontrol dari pemilih untuk memastikan bahwa pejabat publik akan bertanggung gugat (akuntabel) terhadap masyarakat. Sebagai pemimpin masyarakat pada masa-masa transisi yang sulit ini. 25/1999 yang kemudian disempurnakan menjadi UU No. lepas dari rasa syukur akan capaian-capaian yang sudah diraih pada enam tahun pertama reformasi.adalah memastikan bahwa masyarakat tidak frustasi dengan keadaan sekitarnya. Dengan diterapkannya UU barupembaruan dalam pengaturan pemerintahan daerah ini.

memastikan bahwa lingkaran belajar masyarakat di daerah ini tidak terputus. seperti dalam mengikuti siklus sebagai berikut: .

Kepemimpinan kolegial dianggap merupakan sarana dalam demokrasi yang memungkinkan keputusan yang diambil setelah melalui proses pembahasan dan penggodokan yang serius dan matang.10. Ia akan merasa bangga. ketika ia melihat buah dari landasan yang diletakkannya hari ini. Memastikan adanya akses bagi masyarakat untuk mendapatkan dokumendokumen publik seperti perda. Mendorong berkembangnya media massa yang bebas. Memastikan terbukanya sebanyak mungkin persidangan DPRD kepada masyarakat. Kota-kota besar dengan jaringan internet luas dapat menggunakan website untuk menjalankan fungsi ini. 4. Setiap anggota DPRD harus mencamkan dalam dirinya. 5. Menyelenggarakan RDP dan jajak pendapat mengenai rancangan kebijakan dan perda. 2.(I) Persepsi masyarakat akan Keadaan sekitarnya (I ) Praktek pemerintahan yang lebih baik Karena itu. antara lain dapat dilakukan dengan: 1. APBD.5" Formatted: Space Before: 0 pt . bertahun-tahun dari sekarang. Ini tentu harus disikapi sebagai sebuah tantangan. Membekali diri ' (II) Dorongan bagi partisipasi masyarakat dalam pemerintahan (governance) (III) Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam aspek-aspek pemerintahan Formatted: Tab stops: Not at 0. 3. karena ia telah meletakkan suri tauladan sebagaimana yang diharapkan datang dari masyarakat yang beradab dari para pemimpinnya. termasuk dalam pencegahan korupsi dan pengadaan barang-barang publik skala besar. Ia akan merasa bangga bahwa ia tidak tergoda untuk mengorbankan cita-cita orang banyak bagi kebaikan daerah hanya karena demi kepentingan pribadi dan kelompoknya semata. sehingga DPRD dapat lebih mengoptimalkan ruang ini. 6. Pada dasarnya persidangan ini sifatnya terbuka (kecuali dinayatkan tertutup oleh DPRD). ia akan merasa bangga bahwa ia telah mengambil keputusan yang terbaik. DPRD perlu mendorong praktek-praktek yang memastikan tata pemerintahan yang baik dalam arti luas. 6. DPRD perlu menyadari bahwa keberadaannya sebagai kepemimpinan kolegial (kolektif) bagi daerah menjadikannya lembaga yang sangat penting bagi pengambilan keputusan di daerah. Mendorong keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan. Memastikan adanya mekanisme transparansi bagi publik. dan dokumen perencanaan daerah.

Jika para anggota DPRD tidak mengerjakan pekerjaan rumah nya untuk membekali diri. Sementara itu. Keadaan ini tentu tidak perlu disesali. Namun iIni justruga berarti. Sementara. Pergantian anggota DPRD adalah sesuatu yang niscaya. tidak hanya pembekalan intensif pada awal periode saja. Formatted: Space Before: 0 pt . bahkan seringkali dikehendaki. Dan kKetika proses belajar usai. apalagi dengan tanggung jawab yang luas datang dari UU pemda serta tantangan konteks globalisasi dewasa ini. Partai politik juga perlu memikirkan perannya sebagai persemaian pemimpin-pemimpin daerah yang akan menyandang peran penting dalam penguatan desentralisasi di Indonesia ini. Bahkan untuk para anggota DPRD yang sudah menjabat selama beberapa periode. di dalam budaya politik Indonesia. kepemimpinan politik belum memiliki ladang penyemaian yang subur dan membuahkan kader-kader yang dapat membawa daerah danerah masyarakatnya ke masa depan yang lebih baik. Kondisi ini mengakibatkan akumulasi pengetahuan dari politisi-politisi yang telah berpengalaman praktis tidak terwariskan dengan masif pada periode berikutnya. hasil pemilu 2004 pun sering ditandai dengan pergantian banyak anggota DPRD termasuk dan sama banyaknya partai politik yang berhasil duduk di DPRD. dalam sistem demokrasi yang menggunakan pemilu sebagai mekanisme rekrutmen politik. waktu menjabat sudah terlanjur akan habis dan masyarakat mungkin sudah kehilangan selera untuk kembali memberikan suaranya.Daftar panjang fungsi di atas dan penjabarannya rasanya merupakan tantangan yang sangat menggairahkan namun sekaligus berat untuk dihadapi. maka ruang-ruang sidang DPRD hanya akan menjadi tempat belajar dan anggaran DPRD hanya akan dihabiskan untuk pembekalan anggotanya. Parpol perlu merumuskan strategi yang lebih menyeluruh tentang bagaimana dapat disediakan dukungan terus-menerus bagi wakil-wakilnya di DPRD. praktis hanya periode 1999-2004 yang mencerminkan tantangan yang akan terus dihadapi ke depan ini. anggota DPRD harus membekali dirinya sehingga ia cepat mengadaptasikan diri dengan tuntutan-tuntutan tugasnya yang penting dan strategis ini.

BAB VII Membangun Lembaga Perwakilan di Daerah Yang Berwibawa Rahmi Yunita DPRD sekarang memang mempunyai kekuasaan politik yang besar dan jauh lebih berperan dalam pemerintahan daerah. Italic Formatted: Font: +Body. DPRD perlu menjunjung tinggi peraturan tata tertib dalam menjalankan tugasnya serta patuh pada hierarki perundang-undangan dalam menyusun pelbagai kebijakan daerah. mungkin yang terjadi adalah kekurangsiapan untuk menempatkan sistem check and balance pada proporsi yang sesuai. Italic Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Padahal. Italic Formatted: Font: +Body. Partisipasi. Dalam menjalankan tugasnya. sehingga dapat menjadi panutan bagi semua lembaga tata pemerintahan di daerah. Formatted: No bullets or numbering. Italic Formatted: Font: +Body. baik secara reaktif maupun lebih penting lagi secara proaktif. DPRD memiliki dan menerapkan mekanisme untuk mendapatkan masukan dari masyarakat.5" . baik untukbagi dirinya sendirinya maupun dalam upaya memfasilitasi para pelaku tata pemerintahan lainnya di daerah. Pada kondisi era reformasi ini. Karena itu. DPRD perlu dibangun menjadi lembaga yang bersih dan berwibawa. Italic Formatted: Font: +Body. Untuk dapat meraih wibawa di mata publik. Salah satu agenda yang paling mendesak adalah kapasitas DPRD dalam melembagakan prinsip tata pemerintahan yang baik.38" Formatted: Font: +Body. Penegakan hukum. Banyak pihak bahkan mengatakan bahwa kekuasaan DPRD terlalu besar sehingga lembaga eksekutif pun beranggapan bahwa adalah sulit untuk bekerjasama dengan DPRD yang dinilai kadang kebablasanmempunyai kekuasaan sebesar itu. Partisipasi masyarakat dalam penyusunan kebijakan maupun pengalokasian anggaran akan menyumbang bagi legitimasi produk DPRD dan keberadaan DPRD sendiri sebagai lembaga politik. Penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik Kendati dengan banyak tarik-menarik di daerah. tata pemerintahan yang baik dalam pemerintahan di daerah lazimnya sudah menjadi hal yang menyemangati visi yang harus dikejar daerah-daerah di Indonesia. komitmen penerapan tata pemerintahan yang baik perlu ditanamkan dalam DPRD. Tab stops: Not at 0. 2. dan ini dapat dimulai dengan penerapan prinsipprinsipnya. Italic Formatted: Font: +Body. DPRD tentu perlu tak hanya menyuarakan tuntutan akan meningkatnya kinerja pemerintaah namun juga wajib menerapkan tata pemerintahan yang baik dalam dirinya. Tab stops: Not at 0. Bagaimana menerapkan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik? Tentu saja sSebuah kegiatan dapat mengandung sejumlah penerapan prinsip tata pemerintahan yang baik jika memenuhi prinsip-prinsip berikut: Berikut contohcontohnya: 1. Saking besarnya. Italic Formatted: Font: +Body.

misalnya. atau perempuan dan laki-laki untuk akses terhadap ekonomi produktif. terutama ketika kesulitan menghadang pimpinan daerah. risalah persidangan. Sering sekali penyusunan program pembangunan hanya membidik kelompok sasaran tertentu. 7. Anggota DPRD harus menjalin komunikasi dengan konstituen di daerah pemilihannya sebagai salah satu cara menjalankan prinsip ini. Wawasan ke depan. inilah maka internalisasi nilai-nilai tata pemerintahan yang baik akan siap dimulai. DPRD harus siap mempertanggungjawabkan kebijakan yang ditempuhnya. DPRD akan dinilai juga dari kinerjanya. isi dan misi daerah yang disusun. Tata tertib DPRD sebagai alat kendali politik internal ( Formatted: Indent: First line: 0. atau dengan tanpa sengaja meminggirkan kelompok lainnya. DPRD harus menunjukkan profesionalismenya dengan terus meningkatkan kemampuannya dalam menjalankan tugas. misalnya untuk studi banding. 4. 8. Transparansi. DPRD juga harus melakukan pengawasan kepada pelaksanaan kebijakan dan peraturan daerah tanpa maksud memperoleh keuntungan pribadi dari kegiatan ini. Pada akhirnya. 5. Rapat-rapat DPRD yang dinyatakan terbuka untuk umum dan dapat diaksesnya dokumen-dokumen daerah merupakan penegakan prinsip ini.5". No bullets or numbering. Bagaimana prinsip-prinsip itu dapat dilembagakan? Tata tertib adalah instrumennya. misalnya: Ddaerah urban dan rural untuk pelayanan pendidikan. misalnya dapat dijalankan dan berkelanjutan. Profesionalisme. DPRD perlu membuktikan bahwa perda yang dihasilkannya. Kesetaraan (ekuitas). Mengiringi tertib administrasi di DPRD. Dalam penyusunan program.38" . sesuai kewajiban yang diamanatkan oleh UU No.3. 27/2009. langkah lebih jauh dapat dilakukan dengan membuka daftar hadir DPRD pada umum. 10. Pengawasan. harus merupakan sesuatu yang dipercaya akan dapat dipertanggungjawabkan kepada generasi masa depan daerah sendiri. Dengan memastikan prinsip-prinsip ini mengejawantah dalam aturan main DPRD. DPRD dapat membuat laporan tahunan di depan masyarakat tentang kinerja dan anggarannya untuk meminta umpan balik. membuka informasi mengenai sikap politik setiap anggota dalam pengambilan kebijakan tertentu. Space Before: 0 pt. 6. DPRD perlu melakukan kepemimpinan dalam menyusun arah pembangunan daerah. tanpa menunjukkan dampak yang berarti. termasuk terus mengembangkan diri ketika tantangan baru lahir. 2232/20034 dan UU No. bukannya melemparkan tanggung jawab. 9. Tanggung gugat (akuntabilitas). Daya tanggap (responsivitas). Tab stops: Not at 0. DPRD harus mampu menegakkan kode etik bagi para anggotanya. DPRD tidak dapat menggunakan banyak anggaran peningkatan kapasitas. DPRD harus memastikan adanya kesetaraan pelayanan publik dalam pelbagai aspek. DPRD harus mawas dengan tegaknya prinsip ini. Hasil guna dan daya guna (efektivitas dan efisiensi). Bagaimana menanggapi aspirasi yang diteriakkan demonstran? Bagaimana merespon pengaduan tertulis? Bagaimana menanggapi keluhan masyarakat dalam sebuah kunjungan lapangan? DPRD bersama sekwan perlu menyusun mekanisme untuk memastikan bahwa semua aspirasi dapat ditindaklanjuti secara kelembagaan. bahkan sampai pada tingkat lebih tinggi nanti.

dengan ketentuan bahwa seorang politisi hanya bisa menjadi anggota komisi yang waktu sidangnya tidak bersamaan. sementara sisanya Selasa dan Kamis. misalnya setengah jumlah komisi bisa bersidang pada hari Senin dan rabu. yakni tiga komisi (bagi yang beranggotakan 20 sampai dengan 35 orang) dan empat komisi (bagi yang beranggotakan lebih dari 35 orang). Beberapa pembicaraan yang sulit dilakukan secara pleno karena relatif besarnya ukuran forum dapat dilakukan lebih efektif dalam komisi. pada intinya. UU No. Bagaimana pengaturan proses dan waktu penyusunan peraturan perundangundangan? Formatted: Indent: First line: 0. tata tertib yang mendetil tersebut memuat beberapa hal sehingga ia dapat dioptimalkan untuk mengatur dinamika politik DPRD. Detail pembahasan hal ini akan dibahas Kendati tidak dibatasi. Yang jelas. format komisi membuat pekerjaan di DPRD. Jumlah komisi DPRD Kabupaten/Kota. terutama dalam penyusunan legislasi dan pengawasan.5". Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana memastikan bahwa komisi dapat mewakili berbagai pendapat dalam DPRD. Terlebih. komisi harus merefleksikan pembagian peran untuk menampung semua bidang mandat dalam cabang eksekutif dari pemerintahan juga. tidak sedikit pula yang membatasi hal ini. Bagaimana pengaturan komisi? Komisi adalah alat kelengkapan DPRD yang dibentuk untuk menyederhanakan dan membagi pekerjaan di dalam dewan. yang dalam hal ini diwakili oleh banyak partai politik? Banyak lembaga perwakilan di dunia yang mengizinkan seorang anggota DPRD parlemen untuk duduk lebih dari satu komisi. untuk memungkinkan semua anggota dapat menyuarakan aspirasinya dan memudahkan pengambilan keputusan. Namun. Selain itu. yaitu Badan Legislasi.Formatted: Space Before: 0 pt Tata Tertib adalah seperangkat aturan yang mengatur bagaimana DPRD dan anggotanya menjalankan fungsi dan tugasnya. yang akan dibahas lebih jauh di Buku 2 dari seri buku panduan ini. Dalam hal ini. Indonesia membagi habis anggotanya sebanyak komisi dan karenanya hanya perlu mengatur bahwa waktu persidangan komisi tidak boleh berbenturan dengan sidang pleno. Pengaturan untuk mencapai kinerja optimal dapat dipaparkan sebagai berikut. Namun. menjadi terbagi dan dapat dikerjakan lebih efisien. untuk menciptakan representasi komisi terhadap fraksi. sebagaimana diatur dalam UU No. 27/2009 ada dua macam. komisi perlu mempertimbangkan jumlah total anggota dan saling mengimbangi dengan pengaturan ukuran fraksi. 2227/20039 telah mengatur hal-hal yang harus tercantum dalam tata tertib. sendiri tidak memiliki panduan pengaturan yang kaku. 27/2009. maka farkasi yang ada dalam DPRD harus beranggiotakan minimal sejumlah komisi yang ada. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . Penyusunan tata tertib DPRD sendiripun harus mempedomani PP. komisi akan lebih fokus lagi karena adanya alat kelengkapan baru yang khusus menangani legislasi. sebagaimana diatur dalam Pasal 356 UU No. Ini dimaksudkan agar setiap fraksi memiliki wakil di setiap komisi. Selain itu. memang terdapat penjadwalan waktu sidang. dalam format kelembagaan DPRD sekarang ini.

Keduabelas hal tersebut ialah: a) pengucapan sumpah/janji. serta hak dan kewajiban anggota. i) pelaksanaan konsultasi antara DPRD kabupaten/kota dan pemerintah daerah kabupaten/kota. termasuk hubungannya dengan publik. Di sisi lain. e) pelaksanaan fungsi. ini kadang kurang direspon dengan baik oleh DPRD karena dinilai tentu sajatidak cukup memberikan insentif.5". Formatted: Indent: First line: 0. dan l) pelaksanaan tugas kelompok pakar/ahli. 27/2009 menyatakan bahwa paling minimal peraturan tata tertib DPRD Kab/Kota harus memuat 12 hal. Selain kedua belas poin tersebut. j) penerimaan pengaduan dan penyaluran aspirasi masyarakat.5" Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Indent: First line: 0. bahkan memperdebatkan usulan kebijakan. DPRD sebenarnya dimungkinkan untuk mengembangkan materi pengaturan internal kelembagaannya untuk memastikan kinerjanya berlajalan optimal. Di banyak tempat. Di samping itu. Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Indent: First line: 0. Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt . untuk menghindari dominasi dan meningkatkan efisiensi forum. h) pembuatan pengambilan keputusan. Karena itu. Di satu sisiMeski sudah terdapat imbauan agar DPRD mau melakukan terobosan dalam menyusun tata tertibnya. di tradisi demokrasi mapan yang sudah mulai diadopsi beberapa daerah di Indonesia. misalnya. Nnamun. . Bagaimana mengelola hubungan dengan konstituen? Tata tertib DPRD juga perlu memastikan adanya keleluasaan dan dujunganatau sebenarnya membantu kepada anggotanya untuk menjalin hubungan dengan konstituennya. Aturan tata tertib DPRD karenanya perlu memastikan bahwa bahkan fraksi kecil atau wakil tunggal dari sebuah partai politik pun dapat menyuarakan pandangan dan sikapnya terhadap usulan kebijakan.. intinya adalah tersedianya cukup waktu agar sebuah usulan bisa diperdebatkan dengan menyeluruh sehingga tidak terjadi penyusunan serangkaian perda secara ngebut dan kejar setoran .Yang ingin dipastikan di sini bukan hanya proses penyusunan kebijakan saja yang. tugas anggota DPRD adalah menyuarakan.5". b) penetapan pimpinan. Pasal 376 ayat (3) UU No. c) pemberhentian dan penggantian pimpinan. Beberapa hal usulan penajaman meteri tata tertib DPRD dapat dilihat di sub bab selanjutnya. Yang terakhir. f) pembentukan. Iini pun sudah lazim dikenal sebagai dilema di semua rezim demokratis. g) penggantian antarwaktu anggota. k) pengaturan protokoler. aturan tata tertib juga harus memastikan bahwa media massa ataupun masyarakat luas memiliki akses pada proses ini. mengharuskan keharusan bagi anggota DPRD untuk kembali ke daerah pemilihannya secara berkala dan menyerap aspirasi dari konstituen dan masyarakat luas. sehingga konstituen dapat memperoleh informasi mengenai sikap politik wakil-wakilnya. serta tugas dan wewenang alat kelengkapan. susunan. nNamun. antara lain. Ini bisa dilembagakan dengan adanya masa reses untuk. pengaturan kesempatan dan waktu bicara dalam persidangan juga merupakan isu yang penting dalam sebuah lembaga politik. harus partisipatif. tata tertib juga perlu mengatur lamanya seorang anggota DPRD berbicara. apalagi aturan yang harus dibuat justru malah akan terdapat sedikit insentif bagi anggota dewan sendiri untuk membuat aturan yang dapat digunakan untuk mengekang dirinya sendiri. d) jenis dan penyelenggaraan rapat. sehingga DPRDmasyarakat selalu punya kesempatan untuk membuka diri terhadap usulan kebijakan alternatif. tugas dan wewenang lembaga.

diatur bahwa masa reses akan dipergunakan oleh DPRD untuk mengunjungi daerah pemilihannya dan menyerap aspirasi masyarakat. Penajaman materi tata tertib yang akan dibuat dan disahkan oleh DPRD bisa dengan memperkuat materi pengaturan dalam PP tersebut. baik propinsi maupun kabupaten/kota. Dalam PP tersebut. 1/2000 yang harus diganti menyusul UU No. untuk mengganti PP No.. DPD. Tidak cukup jelas disebut apakah ini akan diatur secara khusus dalam peraturan pemerintah. dan kredibilitas DPRD kabupaten/kota. namun juga ada sederet dampak negatif lainnya. Perilaku tidak etis memancing kecurigaan. UU No. Secara politis sudah akan sangat sulit untuk menegakkan sebuah peraturan dan memungut pajak atau retribusi apalagi jika. DPRD akan cenderung membuat tata tertib yang minimalis.Dalam UU No. serta menciptakan suasana saling tuduh.5". banyak yang menganggap bahwa sudah seharusnya pemerintah mengeluarkan PP tentang Pedoman mengenai hal-hal yang setidaknya dimuat dalam Tata Tertib DPRD. 2227/20039 mengenai Susunan dan Kedudukan MPR. Pasal 55 ayat (4) dan (5). Misalnya. Tata tertib DPRD. Standar etis yang tinggi sangatlah penting bagi kredibilitas suatu pemda di mata publik dan organisasi swasta yang berhubungan dengannya. Sayangnya. di Indonesia. Dalam lembaga perwakilan yang menganut prinsip pemisahan kekuasaan -di mana lembaga perwakilan tidak memiliki kekuasaan eksekutif. Adjust space between Latin and Asian text. Ketika penyalahgunaan ini terjadi. meskipun sebenarnya DPRD bisa menggunakan PP No. Indent: First line: 0. menggunakan milik publik untuk penggunaan pribadi. tidak hanya sumber daya. yang seharusnya dialokasikan secara bijak menjadi terbuang. citra.ini dapat mencakup beberapa hal. 25 tahun 2004 tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Tata Tertib DPRD. dan DPRD menyebutkan dalam Pasal 81 butir (i) bahwa salah satu kewajiban DPRD adalah menaati tata tertib dan kode etik dan Peraturan Tata Tertib DPRD kabupaten/kota . Tanpa PP Pedoman ini. 12 pt Formatted: Justified. Dalam kegiatan tersebut. intimidasi atau ancaman untuk mempengaruhi tindakan orang lain. kehormatan. 23/2003. pengaturan tentang kode etik ini dalam UU tersebut terbilang tidak jelas dan hanya menyebutkan bahwa DPRD menyusun kode etik yang berisi norma yang wajib dipatuhi oleh setiap anggota selama menjalankan tugasnya untuk menjaga martabat. Ini menjadi nyaris mustahil ketika korupsi adalah hal yang dipandang masyarakat sudah berurat berakar dalam pemerintahan. sikap khusus dalam pembuatan keputusan untuk mengalokasikan sumber daya atau mempekerjakan seseorang. meruntuhkan kepercayaan publik. Jika tidak. menggunakan kedudukan seseorang untuk kepentingan pribadi. DPR. Nah. Tidak juga jelas apakah kode etik ini terkait dengan pengaturan larangan (pasal 378) Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. Adjust space between Asian text and numbers Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . ditetapkan oleh DPRD sendiri dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. sependapatkah Anda? Kode etik yang bersanksi dan Dewan Kehormatan Isu etika dalam jabatan publik mencuat karena adanya banyak cara yang digunakan oleh pegawai pemerintah untuk menyalahgunakan kekuasaan mereka. 27/2009 yang menggantikan UU No. Karena itu. anggota DPRD secara perseorangan atau kelompok wajib membuat laporan tertulis atas pelaksanaan tugasnya yang disampaikan kepada Pimpinan DPRD dalam Rapat Paripurna. dan peraturan yang ada secara pilih kasih untuk mengistimewakan teman atau menghukum lawan. yang menjadi hak rakyat. 22/2003 yang baru.

atau tidak patut dilakukan oleh anggota DPRD. 25/2004 Pasal 104 nomor tujuh (turunan UU Susduk sebelum UU No.  Aturan harus sesuai dengan peraturan perundangan -peraturan atau UU yang ada. Ketidakjelasan juga muncul dalam PP No.  Kode etik jangan memberikan kesan terlalu kaku dan birokratis.ataukah terkait dengan kewajiban anggota DPRD (pasal 351). Namun. Ketidakjelasan ini pada akhirnya membuat peran kode etik tidak terlalu vital dan hanya menjadi penunjang atau pelengkap dari tata tertib saja. Pihak yang tidak sependapat umumnya berkaca dari ketidaksuksesan penerapan kode etik dalam lapangan profesi lainnya. Dalam bagian ketiga UU ini mengenai Peraturan Tata Tertib Pasal 102 ayat (4) butir 1 menyebut bahwa salah satu yang setidaknya diatur dalam tata tertib adalah pengaturan protokoler dan kode etik serta alat kelengkapan lembaga . 27/2009) yang menyebut bahwa Kode Etik meliputi norma-norma atau aturan-aturan yang merupakan kesatuan landasan etik atau filosofis dengan peraturan sikap. Kejelasan yang ada hanyalah pada keberadaan Badan Kehormatan yang kemudian diberikan tanggungjawab sebagai pengawas kode etik DPRD. 12 pt . tatakerja. dilarang. Alasan teknis.  Aturan ini perlu ditulis dalam bahasa yang sederhana dan tidak sarat dengan istilah hukum. UU memang tidak mengamanatkan adopsi sebuah kode etik yang terpisah. Formatted: Font: +Body. karena frasa kode etik ini tidak diawali dengan huruf kapital. bukannya peraturan yang disalin dari pihak lain tanpa dihayati. Argumen substansial. tidak berakibat serius bagi pelanggarnya. Alasan persepsi. Dalam konteks Indonesia yang tengah memerangi KKN ini. misalnya semacam sebuah dokumen singkat yang memuat saripati peraturan mengenai etika dalam tata tertib? Lazimnya terdapat pro dan kontra dalam hal ini. pihak yang menganggap perlunya kode etik dapat mengajukan tiga argumen: 1.  Agar tetap dijunjung tinggi. Hal Pengaturan ini terkesan mengecilkan peran kode etik dalam kehidupan kelembagaan dewan. tata hubungan antar lembaga pemerintahan daerah dan antar anggota serta antara anggota DPRD dengan pihak lain mengenai hal-hal yang diwajibkan. dan menganggap bahwa perilaku yang baik harus datang dari diri sendiri dan dikontrol oleh penegakan hukum pidana. Kode etik yang efektif sebaiknya memenuhi beberapa hal berikut:  Aturan seharusnya muncul dari kelompok yang akan diatur. Pun jika dilanggar. 2. 3. Pihak ini mungkin akan cenderung merujuk pada pedoman yang disediakan oleh pemerintah. ucapan. pengadopsian kode etik oleh DPRD akan membangun kesan bahwa DPRD berkomitmen terhadap agenda ini dan mengundang dukungan masyarakat untuk menegakkannya. Kode etik perlu untuk menyediakan acuan yang mudah dipahami bagi standar moral yang diharapkan lahir dari para anggota dewan dan memiliki kode etik secara spesifik akan membuatnya lebih diperhatikan. perilaku. Namun. aturan ini harus bersifat realistis. Kode etik yang terpisah dari tata tertib? Apakah daerah perlu mengadopsi sebuah kode etik yang terpisah.

Model kedua. Model ini ditempuh di Inggris. Penyelidikan dan sanksi . Dewan Kehormatan. baik kepada anggota sendiri maupun kepada masyarakat luas untuk membantu mendapatkan dukungan bagi penerapannya. dan bersifat independen. BadanDewan Kehormatan tidak memiliki kewenangan investigasi. dalam model ini. harus membuat keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dalam kebijakan dan dampaknya sendiri. Model pertama membedakan antara Komisi Investigasi Pelanggaran Etika dengan dan BadanDewan Kehormatan yang terdiri dari pimpinan dewan. bukan karena paksaan dari luar. wakil-wakil dari pimpinan dewan duduk dalam BadanDewan Kehormatan dengan seorang anggota yang independen. Komisi Investigasi terdiri atas orang-orang luar .. Di Amerika. Namun. Masalahnya tentu saja . termasuk godaan imbalan materi. selama ini menunjukkan bahwa anggota legislatif cenderung tidak akan menjelek-jelekkan rekannya. Jadi. dapat menjabarkannya dijabarkan lebih mendetail dan teknis. yang kemudiansecara mandiri sendiri atau bersama dalam pleno akan menjatuhkan sanksi. Sementara itu. serta mengatur penegakannya lewat Badan Kehormatan. lepas dari pilihan yang diambil di Indonesia. termasuk DPRD. 2227/20039 merupakan instrumen untuk menegakkan kode etika ini. dan untuk kemudian melaporkannya dilaporkan kepada BadanDewan Kehormatan. Ada sejumlah hal yang lazim diatur dalam kode etik. dan akibatnya agak sulit mendapatkan anggota dewan yang bersedia duduk di BadanDewan Kehormatan ini.  Kata kunci bagi efektifnya pemerintahan demokratis adalah kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. perlu ditegakkan aturan yang menjamin bahwa kepercayaan masyarakat ini sejauh mungkin tidak terciderai. melakukan investigasi. Karenanya. melalui tata tertib. dan akan bertanggungjawab menindaklanjuti laporan mengenai dakwaan pelanggaran etika. aAda pelbagai model pendekatan untuk menyusun bagaimana komposisi BadanDewan Kehormatan ini. yang detailnya bisa dilihat pada Buku 2 dari seri buku panduan ini. berdasarkan pengalaman. karena. Selanjutnya. dan bila terbukti akan menyusun rekomendasi mengenai putusan yang sebaiknya diambil oleh sidang pleno. keanggotaan BadanDewan Kehormatan ini tidak ex-officio diambil oleh pimpinan sehingga. BadanDewan ini akan menangani pengaduan. Bagaimana membentuk Dewan Badan Kehormatan yang efektif? Dewan Badan Kehormatan yang merupakan salah satu alat kelengkapan yang diamanatkan oleh UU No. secara prinsip hal yang ingin ditekankan melalui kode etik adalah:  Pejabat publik. dimana Badan Kehormatansetelah melakukan investigasi dan Dewan Kehormatan akan menyusun laporan tertulis.Kode etik yang sedemikian akan membuat lebih mudah disosialisasikan. Model terakhir adalah yang ditempuh Amerika. adalah Badan Kehormatan yang terdiri dari anggota legislatif sendiri. Berdasarkan laporan ini tersebut akan diputuskan apakah kasus perlu dibawa atau tidak ke depan sidang pleno. anggota legislatif lazimnya enggan melakukan peran aktif dalam model BadanDewan Kehormatan seperti ini.

berperilaku etis lebih dari sekedar menghindari perilaku korupsi. Membangun transparansi yang sesuai dengan kebutuhan publik Bagaimana mendefinisikan transparansi? Ketika reformasi terjadi dan tuntutan akan transparansi menguat di daerah. Jika perlu. tidakkah sekarang waktu terbaik untuk memulai? 7.4. teguran tertulis. sejumlah pejabat mulai mengeluh bahwa tuntutan ini menjadi berlebihan. Karena korupsi politik sudah mengakar di Indonesai. selalu bersikap netral secara politik ketika menjalankan tugas administratif. Ini mencakup juga selalu bertindak dalam kerangka kepentingan publik. Bahkan keluar istilah-istilah: Boleh minta Formatted: Space Before: 0 pt. tidak membocorkan informasi rahasia.13". Don't adjust space between Asian text and numbers. ikhtiar ini memang tidak mudah. apapun hasil proses ini tentu saja perlu dibuka kepada masyarakat sebagai salah satu langkah akuntabilitas publik. Jadi. penegakan kode etik juga harus diawali.Formatted: Space Before: 0 pt Kendati masyarakat harus memastikan bahwa wakil-wakil mereka senantiasa menerapkan standar etika yang tinggi.38". Karena itu. Tab stops: Not at 1" Formatted: Indent: Left: 0. ataukah pengumuman di depan publik secara terang-terangan? Dalam Pasal 380 UU No. denda. List tab + Not at 1" Formatted: Font: +Body. Karena itu. sangat penting dibuat bahkan diperlukan sebuah buku panduan kode etik untuk membantu anggota DPRD mematuhi standar etika mereka. Anggota dewan dan para pejabat perlu mengembangkan serangkaian prinsip untuk memandu perilaku mereka sehari-hari. suatu saat kita harus percaya bahwa kondisi ideal ini pasti bisa dicapai. Nnamun demikian. Swedish (Sweden) Formatted: Font: +Body. Swedish (Sweden) Formatted: Font: +Body. selain pasal-pasal pidana. Meski bisa saja Ketika mungkin saat ini kita agak pesimis dengan hasil penegakan kode etik ininya. Bulleted + Level: 2 + Aligned at: 0. dan/atau diberhentikan dari pimpinan pada alat kelengkapan. maka sanksi yang dapat diberikan oleh Badan Kehormatan adalah berupa teguran lisan. bahwa mManajemen etika memang bukan sekedar kegiatan tunggal yang sekali jadi.75" + Tab after: 1" + Indent at: 1". Bagaimana Memulainya? Yang patut diingat. Swedish (Sweden) Formatted: Font: +Body. anggota pun perlu dilindungi dari bahaya fitnah. Supaya kepercayaan publik dapat diraih. namun merupakan sebuah proses yang terus-menerus. lazimnya diatur hal-hal sebagai berikut:  Laporan siapa yang dapat ditindaklanjuti? Apakah laporan masyarakat dengan sejumlah tertentu? Apakah hanya laporan dari sejumlah tertentu anggota legislatif sendiri yang boleh diproses lebih lanjut?  Bagaimana prosedur Badan Kehormatan untuk menindaklajuti laporan? Siapa yang menindaklanjuti? Apakah pimpinan dewan. Don't adjust space between Latin and Asian text. Dewan Kehormatan ataukah harus sidang pleno?  Apa Bagaimana prosedur pemberian dan penentuan sanksinya? Apakah anggota dikenakan skorsing. 27/2009. kendati penyelidikan dilakukan secara tertutup. Tab stops: 0. dengan sosialisasi mendalam kepada anggota DPRD dan staf sekretariat mengenai bagaimana kode etik ini dipatuhi. Swedish (Sweden) Formatted: Space Before: 0 pt . bahkan lebih jauh lagi memberikan tauladan perilaku yang baik sebagai pemimpin masyarakat. bahkan dibarengi secara berkala. Space Before: 0 pt. bahkan bila itikad sudah lahir.

Kalau kita cermati.. acara bincang-bincang kebijakan di radio lokal yang secara interaktif. penerbitan kalawarta (newsletter) yang bisa ditempel di koran dinding desa. pendekatan hukum seperti dijaminnya hak-hak masyarakat dalam UU Kebebasan Informasi dan peraturan daerah serupa di tingkat daerah dapat membidik membantu mengatasi permasalahan ini. tapi jangan minta kami menelanjangi diri . Kadang transparansi gagal. Transparansi jelas bukan merupakan kepentingan dari pelaku tindakan seperti ini.transparansi. Pada hakikatnya transparansi merupakan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang menyangkut kepentingan mereka. absen tiada atau kurangnya transparansi dalam pemerintahan lazim terjadi karena dua alasan: a) penggelapan sebuah informasi yang terkait dengan tindak korupsi. Karena pemerintah demokratis bertanggung jawab kepada rakyat. entah dengan membungkam rekan kerja mereka atau dengan mencoba mencari dalih yang sah untuk menutupi tindakan mereka. melulu karena manajemen informasi yang kurang baik. Biasanya lalu dimulai debat kusir mengenai mana yang transparan dan mana yang telanjang . transparansi merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk menyediakan informasi yang memadai. DPRD justru dapat memulai kegiatan-kegiatan seperti. Space Before: 0 pt .  Penyelenggaraan kegiatan-kegiatan informasi Seringkali kesan tidak transparan lahir karena warga masyarakat tidak memiliki pengalaman interaksi dengan para wakilnya. dan b) lemahnya sistem yang mendukung penyediaan informasi yang dibutuhkan oleh warga negara. transparansi pun mungkin tidak serta merta mudah diwujudkan. Di bawah rezim etika yang sudah ditegakkan. Tab stops: Not at 1" Formatted: Indent: Left: 0. kita sendiri dapat merasakan betapa seringkali terjadi. Karena masyarakat di daerah belum selalu berpengalaman untuk terlibat memberikan masukan bagi kebijakan publik. Untuk kasus yang pertama. Bagaimana memastikan bahwa masyarakat dapat mengetahui agenda persidangan dewan dan raperda yang sedang dibahas? Apakah pers dapat memperoleh informasi mengenai tingkat kehadiran anggota DPRD dalam persidangan dewan untuk melihat kinerjanya? Apakah masyarakat bisa memperoleh risalah persidangan dan mengetahui bagaimana sikap dan pilihanpilihan politik wakil-wakilnya? Dalam keadaan seperti itulah. absennya tiadanya transparansi akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara negara. termasuk dengan mudah dan akurat.38". Karena itu. Langkah yang dapat ditempuh antara lain:  Penguatan sekwan Sekwan perlu diberi anggaran yang memadai dan staf yang memiliki kualifikasi tertentu untuk menyediakan dukungan sistemik yang diperlukan di atas. pejabat dan pegawai yang terlibat dalam perilaku tak etis menutupi jejak mereka dengan pelbagai cara. dan bila tidak tertangani pada gilirannya terhadap demokrasi secara keseluruhan. Penguatan ini dapat sesederhana dilakukan dengan mengadakan pelatihan bagi staf untuk pencatatan risalah sidang sampai penyediaan mesin fotokopi untuk memastikan bahwa masyarakat dapat memfotokopi menggandakan dokumen yang mereka butuhkan dari sekwan. Logikanya. juga penerbitan situs web yang memuat berbagai informasi kebijakan. maka diperlukan penguatan kelembagaan dan sistem. Formatted: Space Before: 0 pt.

7. Kota Sawahlunto mendorong pos komunikasi desa untuk menjembatani pemerintah dan masyarakat. 110/2000 mengenai Kedudukan Keuangan DPRD karena. akibat pengaturan di dalamnya yang dianggap menciderai rasa keadilan. yang menyorot isu-isu perempuan. Praktek buruk yang sering dilayangkan juga berupa komodifikasi perda. Don't keep with next Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. di samping masih banyaknya kekurangan di sana-sini di tubuh lembaga perwakilan daerah. Formatted: Space Before: 0 pt Pengalaman Penerapan Transparasi Dengan bantuan program BUILD dari UNDP. After: 0 pt. Cara anggota dewan pamer kebusukan . seperti yang dilakukan sejumlah aktivis muda di Mataram dengan Jurnal Kota Wargatama dan buletin Potret . penyiasatan terhadap PP ini berlaku dalamterkait penyusunan paket renumerasi bagi pimpinan dan anggota DPRD. Wacana ini tentu Anggota DPRD masa itu yang membacanya pada umumnya merasa tersudutkanmenyudutkan kelembagaan DPRD. sebagai contoh. kendati tidak bisa menyangkal banyaknya kasus-kasus mengenai praktek buruk DPRD. Formatted: Space Before: 0 pt. Kota Kendari. Don't keep with next Kasus korupsi DPRD ini dapat dikatakan hanya salah satu potret dalam lima tahun pertamaperjalanan reformasi. Isu semacam ini sangat sensitif di hati masyarakat dan menimbulkan banyak kecaman terhadap DPRD yang dituduh ladang korupsi dan Media Indonesia tanggal 7 September 2003 pernah menulis serangkaian artikel seputar isyu yang secara sederhana disebut Korupsi DPRD . dapat pula diciptakan situasi kondusif untuk lahirnya media dari masyarakat community newspaper yang dengan leluasa melakukan pemberitaan mengenai isu-isu kepemerintahan. Bila di Sawahlunto pemda berinisiatif membiayai kolom di harian regional agar memberitakan kota Sawahlunto. Kecaman-kecaman masyarakat itu Sejumlah artikel ini sebenarnya mencerminkan betapa toleransi masyarakat sudah tergerus terhadap praktek-praktek buruk yang dilakukan oleh oknum DPRD.5. menggunakan siaran talkshow radio mingguan untuk mendiskusikan anggaran pembangunan. Menuju zero tolerance untuk praktek buruk DPRD Salah satu isu kontroversial dalam lima tahun pertama reformasi dalam penataan kelembagaan DPRD adalah PP No. yang mungkin dapat didorong oleh DPRD di daerah-daerah lainnya. dengan judul-judul keras seperti Wakil rakyat mpencuri uang rakyat . bahkan Legislatif di titik nol . Mendorong liputan media juga dapat ditempuh. Menyadari strategisnya posisi kelurahan. ada beberapa inisiatif yang sudah diambil beberapa kota dalam menegakkan transparansi. Kota Metro membuka warung informasi dan komunikasi sebagai wahana membincangkan pengaduan masyarakat kepada eksekutif dan legislatif mengenai masalah ekonomi dan pertanian. dan bahkan permasalahan hukum merebak menyusul hal ini. pengawasan yang kebablasan serta Formatted: Space Before: 0 pt . PP ini menyulut kontroversi luas sebelum kemudian akhirnya direvisi. meskipun harus diakui praktek-praktek korupsi masih banyak menimba anggota-anggotanya. beberapa pemerintah kota telah melakukan praktek yang terpuji. After: 0 pt. dan kuatnya peran radio serta media cetak.

apakah perbaikan perilaku ini akan dimulai dengan prakarsa para anggota sendiri. DPRD perlu segera merespon dengan juga mengembangkan zero tolerance kepada peluang praktek buruk dalam dirinya. Jadi. namun tidak jarang yang terperangkap dalam budaya-budaya warisan lama tanpa tahu bagaimana membebaskan diri.pemerasan dalam proses pilkada. masyarakat dapat belajar satu sama lain. bahkan dari belahan dunia yang berbeda. kita menyaksikan bahwa DPRD dibiarkan sendirian dalam mencoba menjawab permasalahan. Bagaimana caranya? DPRD perlu menyusun agenda bagaimana mengembangkan diri anggotanya dan kelembagaannya. beberapa DPRD sanggup menerima tantangan dan lahir sebagai dewan yang dihormati dan terpercaya. Salah satu caranya adalah menyusun semacam perencanaan reformasi kelembagaan tiga sampai tahun ini dapat dilakukan dengan bantuan staf ahli sebagai fasilitatorsehingga pada akhirnya nanti DPRD telah akan memiliki pranata yang tangguh untuk menangkal praktek buruk dalam dirinya maupun di antara anggota-anggotanya. atau menunggu gelombang desakan masyarakat yang kian canggih dalam menyuarakan tuntutan-tuntutannya? Di tangan para anggota DPRD sendirilah pilihannya berada. Tuntutan jzaman dan perubahan sendiri agaknya tak terelakan. Karena tingginya tuntutan dan terbatasnya dukungan ini. secara internal. . Akibatnya. dari daerah satu dan lainnya. Informasi kian terbuka. Dalam hujan kritikan tersebut.

Secara umum. Tanpa proses pengaruh dan mempengaruhi. dalam memperjuangkan tujuan kolektif diperlukan kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat. meskipun terbuka kemungkinan masuknya kepentingan pribadi dalam wilayah kepentingan.DPRD perlu mengembangkan pendekatan kerja baru secara eksternal. tentu memuat tujuan yang hendak dicapai secara kolektif sehingga untuk memperjuangkannya. Untuk mewujudkan kepentingan umum diperlukan keberadaan organisasi atau kelompok pendukung. dunia usaha dan masyarakat sipil. DPRD perludengan membangun aliansi strategis dengan para pelaku tata pemerintahan di tingkat daerah maupun nasional. lembaga perwakilan dan konstitusi. sebab menentukan. beragam kepentingan manusia tidak bisa digerakkan kepada suatu tujuan bersama. kerja sama. bukan kepentingan individu. Mengapa perlu membangun aliansi strategis? Perjuangan politik DPRD adalah Mmemperjuangkan kepentingan rakyat atau kepentingan umum. Untuk memelihara kepentingan umum diperlukan sebuah aturan main agar tujuan kolektif dapat dicapai bersama. Dalam artian perjuangan kepentingan publik atau umum adalah perjuangan politik. Upaya mempengaruhi pihak lain untuk tujuan tertentu dapat didesakkan dengan Mmembangun aliansi adalah sebagai usaha membangun pengaruh dan kekuatan untuk mempengaruhi pihak lain untuk tujuan tertentu. dimana pengaruh itu dapat dipaksakan baik secara persuasif maupun dengan paksaan. tujuan kolektif. Elemen masyarakat bisa disederhanakan melalui. adalah termasuk wilayah politik. Kepentingan umum adalah. Kekuasaan diartikan sebagai proses tingkat pengaruh yang ditransformasikan oleh satu pihak seorang atau kelompok kepada seorang atau kelompok untuk mempengaruhi perilaku orangpihak lain sehingga orang lain bersedia mengikuti apa dikehendaki oleh pihak yang mempengaruhi. Tujuan yang Formatted: Space Before: 0 pt . Dari contoh ini. Tetapi dilihat dari ciri-ciri sebagai kepentingan publik jelas bagian dari kehidupan politik. yaitu pemerintah. Bentuk pPengaruh dalam bentuk konkrit sering dikatakan sebagai hakikat kekuasaan yang penggunaannya. dan membentuk organisasi. Kemampuan DPRD untuk membangun jaringan dan aliansi strategis dapat meningkatkan kinerja internal maupun representatif terhadap akomodasi berbagai kepentingan.BAB VIII Membangun Aliansi Strategis dan Memenangkan Kepentingan Rakyat Diana Fawzia Dalam tata demokrasi baru sekarang yang ditandai dengan informasi keterwakilan. organisasi dan aturan main merupakan elemen yang akan berhubungan dengan faktor kekuasaan sangat penting. membina kerja sama. Guna mencapainya. ada tiga cluster aktor yang perlu diperhitungkan dalam pengembangan jaringan strategis.

akan ada perubahan agenda atau agenda tambahan. TingkatNilai pengaruh ini bisa karena penguasaan terhadap sumberdaya tertentu. DPRD dapat menyiapkan Di samping agenda politik dan kebijakannya.1. . tidak menutup kemungkinan bahwa ada agenda publik yang tidak mampu menyerap masalah yang berkembang ditengah publik. maka menjadi jelas bahwa seorang akan membela sekuat tenaga bahwa nasib petani adalah membela merupakan nasib rakyat pada umumnya. seperti sumber kelangkaan termasuk kekuasaan. kekuatan posisi.dimaksud bisa diartikan sebagai upaya membangun dukungan ataupun. Mengapa? Mengidentifikasi potensi dan masalah yang ada dalam masyarakat adalah langkah yang sangat penting untuk dilakukan. Aliansi strategis berarti membangun kerja sama untuk meningkatkan pengaruh dan kekuatan dengan kelompok atau elit tertentu. Memenangkan kepentingan rakyat berarti bahwa apapun yang dilakukan oleh anggota dewan harus diarahkan tetap yang menjadi pemenang utama adalah pada kepentingan rakyat. Dengan langkah tersebut. dan kepentingan yang dinilai strategis untuk mencapai tujuan.: Pertama. Dan iIni adalah tolak ukur keberhasilan perjuangan seorang anggota dewan dalam membina karier politiknya.dan di mana letaknya suatu permasalahan itu muncul. Penambahan agenda ini menyangkut kerjasama regional dan nasional. Aliansi dapat dilakukan antara terhadap kelompok atau elit politik yang memiliki kesamaan tujuan. mengapa muncul. Pengertian strategis memiliki pengertianmenunjuk kepada tingkatnilai pengaruh yang dimiliki oleh suatu kelompok yang diajak beraliansi. Setelah dua langkah tersebut dilakukan. maupun dan status sosial dalam struktur masyarakat. yang sudah dipersiapkan oleh DPRD. Kedua. dan seterusnmya. aktor-aktor utama yang terlibat masalah. Agenda kerjasama regional dan nasional Sebelum merumuskan agenda regional dan nasional. memahami permasalahan. yaitu perlu diteliti apa. Ini berarti. bisa juga untuk memperkuat kerjasama membentuk suatu kekuatan untuk keperluan atau tujuan yang hendak dicapai. Hal ini berkaitan dengan penguasaan anggota dewan terhadap substansi permasalahan. 8. seperti sebab munculnya masalah. ilmu dan teknologi. baik pada tingkat regional maupun nasional. maka untuk mperumuskan agenda kerjasama regional maupun nasional akan lebih mudah. Pelbagai usaha dapat dilakukan oleh seorang anggota dewan untuk membangun aliansi strategis guna memenangkan kepentingan rakyat. seorang anggota dewan mengetahui persis bahwa masalah yang diperjuangkannya adalah (jantung) kehidupan rakyat. Pemahaman terhadap suatu masalah sangat diperlukan agar anggota dewan mudah mengambil solusi atau langkah-langkah penyelesaian serta pendekatan apa yang sebaiknya dilakukan. mengidentifikasi potensi dan masalah yang berkembang dalam masyarakat. anggota DPRD perlu menempuh langkah-langkah sebagai berikut.sama. bukannya membela para kepentingan pemilik industri yang jenis bisnisnya terkait dengan melakukan pencemaran dan merusak perusakan lahan pertanian. Misalnya apabila mayoritas pekerjaan penduduk adalah petani. bagaimana jejaring masalahnya. sumberdaya ekonomi. Dengan pemahaman yang benar dan tepat. Sebagai contoh.

25". Not Bold. Not Highlight Formatted: Indent: Left: 0. + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0. List tab + Not at 1. agenda publik yang dirumuskan lebih mencerminkan logika dan kepentingan kelompok atau elit politik tertentu saja daripada kepentingan publik. Not Bold. Kedua. Tab stops: Not at 1. Hanging: 0. serta dapat memberikan harapan dan optimisme perbaikan. politik dan keamanan. agenda publik tersebut diorientasikan dapat untuk meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara. agenda publik yang dibangun harus memperkuat landasan sosial.13". + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0. Italic Formatted: Font: +Body. Setelah teridentifikasi. ekonomi. Ketiga. politik.46" Formatted: Font: +Body. agenda publik harus membangun rasa keadilan masyarakat. Agenda kerjasama tersebut juga harus rasional untuk diimplementasikan.: pPertama. hukum. komunikasi dan informasi sehingga memungkinkan daerah kawasan tersebut mengalami percepatan dalam pembangunan. Tab stops: Not at 1. baru maju tahap berikutnya adalah merumuskan isu publik tersebut menjadi agenda publik. Tab stops: Not at 1. Tidak sebaliknya. Sehubungan hal tersebut mungkin ada beberapa aspek kehidupan masyarakat yang dapat digali untuk dikembangkan dalam agenda kerjasama regional. Not Bold. nilai urgensi. Italic Formatted: Space Before: 0 pt.Mengidentifikasi Identifikasi isu yang berkembang dalam masyarakat dapat dilakukan dengan memperhatikan tingkat urgensi. nilai kerugian. agenda publik harus diarahkan untuk dapat meningkatkan nilai kompetitif daerah sesuai dengan potensi yang dimiliki. Italic Formatted: Font: +Body.46". ekonomi.75" + Tab after: 1. No bullets or numbering. sebagai solusi. 1. Terdapat perbedaan keunggulan masing-masing daerah dalam pelbagai bidang sehingga memungkinkan untuk saling mentukar nilai keunggulan komparatif tersebut. Italic Formatted: Font: +Body.46" Formatted: Font: +Body.46" Formatted: Space Before: 0 pt. 2. agenda publik tersebut harus memiliki kejelasan bobot representasi. Italic Formatted: Font: +Body. dan keamanan. misal antara lain adanya kemungkinan: 1. 2.42" . pemilihan agenda yang disusun DPRD akan memiliki tingkat akurasi dan memiliki nilai representasi yang kuat. Tab stops: 0.75" + Tab after: 1. Space Before: 0 pt. lingkup masalah. Hanging: 0. ekonomi. baik sosial. Italic Formatted: Font: +Body. perlu ada kriteria yang jelas agar kerja sama dapat saling menguntungkan ataupun membantu daerah yang sebelumnya tertinggal. untuk menghindari overlapping dan ruang lingkup masalah. Peluang akses transportasi. serta menjunjung martabat manusia. Not Bold. dan manusia antar daerah sehingga memungkinkan dibangun kerjasama. Tab stops: 0. isu yang didapat perlu diMempilah-pmilah lagi isu atau masalah yang berkembang pun perlu dilakukan untuk mengetahui apakah isu atau masalah tersebut bersifat riil atau hanya sekedar tindakan manipulasitidak. Ssehingga apa yang menjadi agenda publik yang dicanangkan DPRD nantinya memang benar-benar adalah gambaran riil dari masyarakat. Dengan memperhatikan beberapa hal tersebut. Dalam Mmerumuskan agenda kerjasama regional dan nasional. 3. Not Bold. Space Before: 0 pt.38". Numbered + Level: 2 + Numbering Style: 1. 3.46" Formatted: Indent: Left: 0. lingkungan.25". Not Bold. menumbuhkan persamaan dan hak asasi manusia. Timbul pelbagai masalah. Agenda kerjasama regional paling tidak mengandung bBeberapa kriteria yang bisa digunakan adalah: 1.46".46" + Indent at: 1. dan kenyamanan.46" + Indent at: 1. Numbered + Level: 2 + Numbering Style: 1.13". bobot masalah. Italic Formatted: Space Before: 0 pt. Keempat. Terdapat ketimpangan potensi sosial. Kelima. Setelah memilah-milah isu atau masalah. sumber daya alam. List tab + Not at 1" + 1. Formatted: Font: +Body. 3. nilai strategis. 2.38". Agenda publik untuk membangun kerjasama regional dan nasiona yang disusun DPRD tersebut harus mencerminkan beberapa hal berikut. Logika yang berkembang dalam dewan hendaknya mencerminkan logika dan kepentingan publik yang berada di luar parlemen.

Pperanan yang dominan tidak lagi hanya dimainkan oleh pemerintah atau dewan perwakilan. Space Before: 0 pt. Hal ini dilakukan untuk mendorong dan memfasilitasi terbentuknya kelompok kerja yang mewakili kelompok kepentingan dalam masyarakat. 4. Menciptakan pAdanya peluang investasi sehingga memungkinkan masuknya investasi baik dari pusat maupun dari luar negeri. yaitu membentuk kelompok kerja atau forum. Permasalahan yang muncul jelas tidak pernah berkurang. 3. Terdapat ketidaksinkronan kebijakan pemerintah pusat dan regulasi di bidang investasi dan perdagangan. pariwisata. dan sebagainya. pemanfaatan potensi laut. maka perlu diambil langkah teknis yaitu membentuk kelompok kerja atau forum. Namun. Setelah memahami potensi dan permasalahan yang dirumuskan ke dalam agenda publik maka perlu diambil langkah teknis. List tab + Not at 1" + 1.75" + Tab after: 1. Atau dDengan kata lain. Keterbatasan daerah dalam bidang investasi.25". Pelbagai masalah akan kita temui baik dalam bidang ekonomi. sosial. Pengembangan bidang pendidikan. dan fasilitator.46" + Indent at: 1. terutama membangun lembaga pendidikan alternatif yang bermutu dan bermanfaat langsung bagi pengembangan potensi SDM tingkat regional. budaya. Mereka ini akan berfungsi mewakili kelompok kepentingan dalam masyarakat. kecuali kepada kelompok masyarakat banyak yang dirugikan dalam interaksi. yang sangat penting adalah membangun atau mengembangkan potensi ekonomi daerah. Fungsi utama eksekutif dan legislatif adalah menjaga dan menegakkan aturan main. namun juga masyarakat. 3.2. Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. Tab stops: 0. Mengapa? Karena esensi tata pemerintahan yang baik adalah adanya pembagian peran dan fungsi antar berbagai komponen pembangunan. Kedua lembaga tersebut kini dituntut aktif memfasilitasi kekuatan-kekuatan sosial lainnya untuk merumuskan agenda politiknya dan memproses keputusan politik. pelestarian lingkungan. Merumuskan agenda kerjasama nasional juga memiliki beberapa kriteria antara lain: 2. 2. Lebih dari itu. hukum. politik.38".13". Formatted: Indent: First line: 0". bahkan bertambah dari waktu ke waktu. Harus disadari. serta pelindung bagi kepentingan umum. bahwa kapasitas dan kemampuan anggota dewan sangat terbatas sehingga tidak mungkin mereka mampu menyelesaikan banyaknya masalah yang mendesak untuk diselesaikan.46". makna kepentingan rakyat disini adalah kepentingan umum atau dan kepentingan bersama. Bahkan kualitas masalahpun bisa bertambah. perjuangan anggota dewan adalah untuk memenangkan kepentingan rakyat. + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0. penjamin kepastian hukum. ini bukan berarti tidak bisa dilakukan. dan keamanan. Posisi kedua lembaga tersebut adalah posisiharus netral tidak memihak.46" Formatted: Space Before: 0 pt . Hanging: 0. Pengembangan potensi antara daerah dalam satu kawasan terutama di bidang ekonomi dan perdagangan. ESama juga dengan esensi pemerintahan demokratis menimpakan pentingnyabahwa lembaga pemerintah eksekutif dan legislatif untuk lebih banyak bertindak sebagai wasit. 3. Apabila DPRD membuat daftar masalah maka DPRD akan mendapatkan suatu daftar masalah yang sangat panjang. transportasi. Mengapa perlu membentuk kelompok kerja atau forum? Setelah memahami potensi dan permasalahan kerjasama regional dan nasional yang dirumuskan ke dalam agenda publik. Numbered + Level: 2 + Numbering Style: 1.

pengambil keputusan tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Tab stops: Not at 1" . mengidentifikasi kelompok masyarakat (stakeholders) mana yang merupakan sebagai sumber daya pembangunan daerah atau sebagai sumber masalah. bahkan. Kkerap kali keberadaan para politisi justru terkooptasi atau menjadi alat kepentingan kekuatan yang lebih besardominan ini. atau sebagai kunci permasalahan. Langkah apa yang dapat dilakukan untuk membangun aliansi strategis guna memenangkan kepentingan rakyat? Formatted: Font: +Body. karena berbagai kendala. bahkan menindas kepentingan umum untuk kepentingannya sendiri. baik secara politik maupun ekonomi. membuat tabel masalah dan potensi yang bisa menghambat maupun yang mendukung kinerja dewan. Mengidentifikasi kelompok strategis sangat penting untuk melihat seberapa besar dukungan maupun hambatan yang akan muncul apabila DPRD mengambildiambil langkah-langkah politis. Mengidentifikasi Identifikasi terhadap kelompok yang terlibat pentingini dilakukan guna untuk melihat seberapa besar peranan yang bisa dimainkan kelompok tersebut. Kedua. administratif dan hukumkebijakan tertentu. Dalam kaitan tersebut. Pertama. 2. Not Italic Formatted: Font: +Body. Not Highlight Formatted: Font: +Body. Hasil ini kemudian menjadi sebuah pemetaan masalah dan potensi daerah. Maksud pembentukan kelompok kerja adalah untuk mengorganisir aliansi strategis dengan berbagai komponen lain. Aliansi ini . Terdapat persamaan visi dan misi. Ini kemudian digunakan sebagai bahan membentuk kelompok kerja (forum) sektor publikdari DPRD yang difungsikan. yaitu mendorong terbentuknya kelompok kerja yang mewakili kepentingan masyarakat dengan kelompok kepentingan atau lembaga-lembaga publik. Jawabannya. Ketimpangan struktural ini membawa implikasi kepada mekanisme kerja lembaga pemerintahan maupun lembaga dewan. Not Italic Ada beberapa langkah awal yang bisa disiapkan. Dalam membangun aliansi terdapat beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan. Kekuatan dominan bisa berada di dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan. misalnya wajar jika kemudian muncul kita dapat mengetengahkan beberapa pertanyaan mengapa korupsi tidak pernah bisa diberantas? Mengapa kebijakan pertanahan kerap sekali merugikan rakyat kecil sebagai pemilik? Mengapa harga gabah petani tidak kunjung membaik? Mengapa pedagang kecil dan menengah dan kecil tidak memperoleh dukungan dalam pembuatan kebijakan? Mengapa tata kota menyimpang dari setplan perencanaan? dan banyak pertanyaan lain yang bisa diteruskan.. Dalam realitas politik selalu ada kekuatan dominan. mengidentifikasi kelompok strategis (stakeholder) mana yang memiliki perhatian.Namun dalam dataran empirik. Kekuatan dominan selalu ingin menguasai. apalagi memenangkannya. tujuan ideal tersebut tidak mudah diwujudkan. kepentingan. dan seberapa pengaruhnya. Ketiga. mendikte. serta apa dampak yang akan ditimbulkan oleh mereka baik yang bersifat konstruktif maupun yang destruktifkonstruktif. Adanya tujuan yang sama. sehingga aliansi yang diharapkan dapat bertahan terbentuk relatif lama dan efektif dalam memperjuangkan suatu agenda atau kepentingan bersama. antara lain: 1.. Formatted: Space Before: 0 pt.

Kedua. Pembentukan level-level kelompok aliansi ini memiliki tugas. Cara pencapaian tujuan yang sama. membangun komunikasi yang intensif antara satu kelompok dengan kelompok aliansi lainnya baik secara horisontal maupun vertikal. yaitu aliansi yang dibangun dalam wilayah yang sama dan kelompok yang setara. Model jaringan kerja dapat dibagi ke dalam tiga bentuk.5".  Aktif membentuk opini publik dan meyakinkan kepada publik bahwa agenda yang diperjuangkan adalah kepentingan publik. Adanya kepentingan yang sama. membuat mekanisme kerja aliansi. Kinerja sebuah aliansi lebih bersifat jaringan kerja daripada hubungan dalam suatu struktur yang kaku. serta membangun dukungan yang luas dari kelompok masyarakat lainnya. Ini merupakan upaya untuk mengakomodasi beragamnya kepentingan kelompok masyarakat. dan memobilisasi kekuatan. level atas. Pertama. dan pengaruh untukkemampuan memberi tekanan pada instansi terkait pembuat keputusan. meskipun tidak bersifat formal. antara lain: merumuskan program kerja yang jelas dan agenda perjuangan kelompok aliansi oleh anggota kelompok aliansi. Aliansi yang sudah terbentuk harus dijaga keberlanjutannya. 4. Pembentukan kelompok aliansi dapat dikembangkan tidak hanya pada level internal daerah tetapi juga regional dan nasional. Karena itu. dan dan mencari solusi bersama. dan. Upaya ini dapat dilakukan dengan:  Mendorong partisipasi kelompok masyarakat (stakeholders) untuk ikut mengambil bagian dalam merumuskan agenda publik. Oleh karena itu. Langkah selanjutnya adalah membentuk kelompok aliansi pada setiap wilayah kerja DPRD. model hubungan secara vertikal. dan fungsi. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: First line: 0. esensi membangun aliansi adalah membangun jaringan kerja kelompok.  Ikut bersama-sama memperjuangkan kepentingan yang telah diruimuskan bersama menjadi agenda publik. menengah. Alinsi strategis ini juga dapat menfasilitasi berbagai kelompok kepentingan maupun lembaga pemerintah untuk ikut merumuskan agenda publik. Langkah-langkah yang perlu untuk mempertahankan aliansi. semakin tinggi pula tingkat kohesivitas sebuah aliansi. kriteria tersebut juga dapat dipandang sebagai gradasi sehingga memungkinkan untuk terus-menerus menemukan.. menyusun taktik strategi dan taktik yang jelas.3. dan atas. yaitu hubungan berjenjang misalnya pada level daerah dan pusat. sebagai peluang kedekatan untuk terjadi aliansi antar kelompok masyarakat dalam aliasi. Aliansi yang terbangun tidak selalu dapat memenuhi semua kriteria tersebut. model hubungan kombinasi horisontal dan vertikal dimana hubungan ini tidak dibatasi oleh arah horizontal maupun vertikal. Aliansi model ini sangat ditentukan oleh adanya hirarkhi . Ketiga. jaringan atau aliansi dapat berupa hubungan secara horisontal. serta peranan yang harus dimainkan dimana masing-masing level tersebut untuk dapat menjadi kunci atau penentu dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Tab stops: Not at 1" . Pembentukan kelompok aliansi ini didasarkan pada kebutuhan dan dukungan yang diperlukan untuk memperjuangkan suatu tujuan atau kepentingan. lebih bersifat kombinasi tergantung kepada kebutuhan dan tantangan yang dihadapi. Semakin tinggi gradasi yang dapat dipenuhi. Level kelompok aliansi tersebut dapat juga dilihat dari kemampuan membuka akses.

 Kerjasama dan dukungan publik sangat diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan pembangunan daerah serta kompetisi antar daerah.  Menunjuk penanggung jawab kelompok kerja dan membuat pembagian tugas anggota.  Fungsi koordinasi tidak semata-mata menjadi bagian dari mekanisme birokrasi pemerintahan tetapi juga harus dijalankan oleh DPRD. diperkirakan sudah matang.  Membangun dan memelihara komunikasi secara intensif dengan kelompok kerja. Hal ini dapat dilakukan dengan:  Menciptakan sistem komunikasi yang integral yang dan dapat melibatkan dengan pelbagai kelompok strategis. Tab stops: Not at 1" Formatted: Font: +Body.  Mendorong koordinasi dalam merencanakan dan memecahkan pelbagai isu publik. Not Highlight . masalah yang sangat krusial seringkali adalah lemahnya koordinasi. pelaksanaan.  Untuk mencapai tTujuan bersama hanya bisa dicapai jika lakukan dengan terdapat kerjasama yang kuat dari para stakeholders. baik untuk meningkatkan kinerja internal dewan maupun fungsi yang harus didorong Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. pada tingkat implementasi. Ia dapat merupakan kompleksitas masalah berbagai sektor yang saling terkait satu sama lainnya. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Terkadang masalah yang muncul sebanarnya tampak sangat sederhana dan bukan lagi persoalan. Upaya aliansi untuk Membangun kapasitas dalam mendorong koordinasi antar elemen pembangunan di atas menjalankan fungsi koordinasi adalah upaya anggota DPRD untuk menekan menjalankan fungsi dan peranannya di dalam mendorong berjalannya fungsi munculnya koordinasi yang lebih baik antar sektor atau lembaga yang terkait dengan kepentingan dan pelayanan publik. Aliansi strategis juga dapat difungsikan untuk Mmendorong efektivitas fungsi koordinasi antar instansi pemerintah. maupun pengawasan kepentingan publik yang dengan cara lebih maju berkaitan erat dengan upaya membangun dukungan terhadap keberadaan mereka dari kelompokkelompok masyarakat terhadap kinerja aparatur tersebut. DPRD perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:  Problematika publik yang muncul ke permukaan kerap sekali tidak berdiri sendiri dan. nNamun. maupun instansi pemerintah dengan instansi atau lembaga swasta dan LSM sebagai pelaku-pelaku pembangunan daerah. Aliansi ini juga dapat berperan penting dalam Mmendorong kinerja aparatur atau lembaga pemerintahan yang terlibat dalam perencanaan. atau pada tingkat konseptual. Menyepakati mekanisme kerja kelompok kerja agar peranan mereka tetap berkelanjutan. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Dalam mengupayakan hal ini.  Mengkomunikasikan berbagai kepentingan kelompok strategis dalam merumuskan kepentingan bersama. Hal dapat dilakukan dengan:  Meyakinkan stakeholders bahwa partisipasi dan obligasi moril sangat dibutuhkan dalam mendorong kinerja bekerjanya suatu pemerintah yang baik adalah sebagai suatu kebutuhan bersama/publik. Koordinasi antar elemen tersebut sangat vital harus mencakup perencanaan maupun dalam upaya mencari solusi setiap masalah publik.

atau tetap memegang etika kedewanan berpihak kepada kelompok masyarakat yang dirugikan? Semua ini berpulang kepada Anda. Kesalahan ini tidak semata-mata ditimpakan kepada PKL karena tetapi akar masalah sebenarnya adalah karena tidak ada perencanaan tata ruang kota baik fisik maupun non fisik secara yang matang atau karena melemahnya penegakan aturan. tanah longsor dan lain sebagainya. masalah timbunan sampah. cara pandang anggota dewan dalam melihat masalah tidak sepotong-sepotong atau hanya melihat per sektor. pelaksanaan. Dalam konteks perspektif koordinasi. Tumpang tindih masalah satu sektor dengan sektor lainnya tidak bisa dihindari. Ini misalnya terkait kasus persoalan lingkungan seperti geografis dalam satu kawasan tertentu. masalah publik yang ditimbulkan semakin kompleks. pelaksana. Keterkaitan atau kompleksitas masalah publik juga dapat terjadi karena aebagai letak dampak dari lingkungan atau daerah sekitar.sehingga Akibatnya mengganggu ruas jalan. berpihak kepada kelompok yang kuat.      untuk meningkatkan kinerja lembaga eksekutif sebagai lembaga yang melaksanakan agenda publik. Mengapa? Karena bobot suatu masalah tidak muncul dari sektor itu sendiri tetapi dapat juga sebagai akibat dari ketimpangan dari sektor lain. Dari sini kemudian menimbulkan akumulasi masalah. Misalnya. dan menimbulkan kemacetan. sikap apa yang sebaiknya anda lakukan sebagai anggota dewan yang bertanggung jawab dan moral. Langkah-langkah antisipatif adalah mengidentifikasi sejumlah masalah yang memiliki keterkaitan antar sektor. kasus munculnya pedagang kaki lima (PKL) bak jamur di musim hujan. Fungsi koordinasi tidak hanya dipahami sebagai sebuah konsep atau sebagai bentuk mekanisme kerja lembaga tetapi sebagai suatu kebutuhan yang harus dilaksanakan. apalagi tidak pernah terjamah oleh kelompok atau pihak yang berkepentingan. Mengidentifikasikan stakeholders yang terlibat baik dalam perencanaan. pembabatan hutan. Hal ini misalnya munculnya sejumlah persoalan publik sebagai akibat pencemaran lingkunganudara. Pemecahan masalah ini tentu tidak bisa dilakukan oleh satu sektor saja yang terbatas dalam satu atau hanya pemda tertimpa musibah tersebut tetapi harus melibatkan pemda lainnya yang juga menjadi mata rantai masalah tersebut. bencana alam seperti banjir. ataupun menimbulkan timbunan sampah. Misalnya siapa yang terlibat langsung dalam pengambilan keputusan? Siapa kelompok yang sangat dirugikan? Siapa kelompok yang diuntungkan oleh suatu keputusan? Dari proses identifikasi ini selanjutnya dapat dimerumuskan pendekatan dan langkah apa yang sebaiknya dilakukan. pengawasan maupun pengambilan keputusan. Persoalan yang kerap muncul di sini adalah apabila stakeholders yang terlibat ada mempunyai kekuasaan dan atau pengaruhnya yang besar atau dapat juga suatu kelompok yang memiliki kekuatan ekonomi. Koordinasi terkadang mudah untuk diucapkan akan tetapi sulit untuk diwujudkan. Mendorong stakeholders untuk melakukan koordinasi dalam proses mperencanakan. Apabila kenyataan tersebut diharapkan kepada Anda apa yang dapat anda lakukan? Menghindar. . pengguna dan pengawasan. yang terus meningkat dan sangat liar. Semakin tinggi tingkat perkembangan masyarakat.

proses pengambilan keputusan maupun dalam pengawasan dan evaluasi. Akhirnya. Dengan demikian proses politik yang berjalan baik pada level pemerintahan maupun pada level DPRD dapat memenangkan kepentingan rakyat secara konstitusional. Formatted: Space Before: 0 pt . upaya membangun fungsi koordinasi dan pengawasan terlaksananya agenda kerja sama dapat diwujudkan dengan mendorong serta melibatkan partisipasi aktif pelbagai kelompok masyarakat seluas-luasnya. Untuk meningkatkan kinerja lembaga dewan maupun fungsi tata pemerintahan yang baik hendaknya menempatkan masalah koordinasi sebagai bagian penting dalam proses perencanaan. legal. dan terlembaga.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful