DISAIN PENGUATAN PERAN DAN FUNGSI DPRD

Daftar Isi Bab I Pendahuluan Bab II Arah Demokrasi Baru, Reformasi Keterwakilan dan Pengaruhnya terhadap Kapasitas Keparlemenan Bab III Pemilihan Langsung dan Akuntabilitas Wakil Rakyat Bab IV Menjadi Wakil Rakyat dalam Konteks Otonomi Daerah Bab V Menjembatani dan Mengelola Berbagai Kepentingan Politik Publik Bab VI Memahami Fungsi dan Tugas Wakil Rakyat Bab VII Membangun Lembaga Perwakilan di Daerah yang Berwibawa Bab VIII Membangun Aliansi Strategis dan Memenangkan Kepentingan Rakyat Rasionalisasi thd Rancangan Sistematika Modul sebelumnya 1. Pengantar a. Substansi setiap bab b. Alur kerja yang menghubungkan semua komponen di tiap fungsi ( yg ada dalam setiap modul)- gambarkan dalam bagan utama 2. Pengertian dan Prinsip Dasar (Masing-masing fungsi): Rujukan regulasi muncul dalam sub bab ini. Sajikan juga alat peraga, misal, dalam bentuk formulir isian dari setiap tema penting beserta cara pengisiannya Bab ini cenderung normatif saja: legislasi, penganggaran, dan pengawasan yang baik sesuai peraturan perundangan a. Konsepsi dasar dari substansi b. Jenis dan ruang lingkup substansi c. Ukuran dari derajat substansi d. Mekanisme bekerjanya substansi e. Faktor-faktor yang mempengaruhi bekerjanya substansi 3. Problem dasar implementasi substansi a. Limitasi regulasi b. Limitasi teknokratis administratif c. Limitasi konteks lokal 4. Insentif dan Strategi a. Insentif implementasi substansi b. Strategi implementasi substansi 5. Lampiran2 a. Formulir-formulir isian yang muncul di bab II b. Direktori perundang-undangan pada masing-masing fungsi

Bab I PENGANTAR Problematika Struktural: Konstruksi dan Format DPRD 2009  Posisi DPRD dalam Pemilu Langsung dan Relasinya dengan Partai Politik  Kendala Struktural Optimalisasi Tugas dan Fungsi DPRD Problematika Kapasitas Kelembagaan: Organisasi dan Keanggotaan DPRD  Kapasitas Organisasi DPRD  Kapasitas Individual Anggota DPRD Mendesain Penguatan Kapasitas DPRD  Anggota DPRD: Kombinasi Politisi dan Teknokrat  Prinsip Dasar Penguatan Kapasitas Organisasi DPRD  Prinsip Dasar Penguatan Kapasitas Anggota DPRD Alur Penguatan Fungsi dan Peran DPRD  Berdasarkan Optimalisasi Fungsi DPRD (Bagan besar)  Berdasarkan Optimalisasi Alat Kelengkapan  Berdasarkan Optimalisasi Lembaga Pendukung (Setwan dan Tenaga Ahli)  Berdasarkan Optimalisasi Kekuatan Masyarakat dan Media Indikator DPRD yang Berkualitas Nominal dan substansial Hubungan Antara DPRD dan Pemerintah Daerah Bagan hubungan dalam struktur fungsi umum dan sisi teknokratisnya. Tantangan dan Hambatan dalam Implementasi Desain Penguatan Fungsi dan Peran DPRD (yang dianjurkan dalam modul ini)  Tantangan o Waktu: bekal awal tidak cukup tdk ada kaderisasi di parpol o Ruang: berhadapan dengan struktur sistemik dan pragmatisme individual  Hambatan o Waktu: o Ruang: Insentif dan Strategi Penguatan Fungsi dan Peran  Insentif agar ini DPRD Membangun Penguatan Fungsi dan Peran o Kepercayaan Masyarakat dan Pemenuhan Janji: Menyelamatkan masa depan politik elektoral o Mempersiapkan Pemilu selanjutnya dan Merintis Karir Politisi ke level Provinsi dan Pusat o Insentif ekonomi (reward DPRD ditentukan oleh besaran PAD) o  Strategi yang bisa dilakukan o o Lampiran

Pengantar Modul Program pelatihan DPRD sudah banyak dilakukan, baik yang difasilitasi oleh kalangan universitas, lembaga pelatihan profesional, lembaga donor, maupun oleh kalangan organisasi masyarakat sipil. Namun, banyak dari pelatihan tersebut seringkali tidak disiapkan dengan capaian strategis dan taktis yang terarah untuk menjawab tantangan kongkrit dari DPRD. Belum lagi, ada kecenderungan dari lembaga-lembaga penyelenggara pelatihan tersebut untuk melihat problema DPRD di semua daerah secara seragam sehingga materi pelatihannya cenderung terlalu umum, abstrak, teoritis, dan tidak menyentuh secara mendalam masalah-masalah riil yang dihadapi oleh DPRD. Akibatnya, hasil pelatihan seringkali tidak memiliki dampak perubahan yang jelas, kecuali sekedar tambahan pengetahuan atau menebalkan kesadaran terhadap peran DPRD sebagai wakil rakyat. Hasil pelatihan akhirnya akan sangat sulit diukur keberhasilannya. Hal tersebut bukan tidak penting, namun harus dipertajam lagi seiring dengan kebutuhan anggota DPRD yang dituntut bukan hanya memiliki keahlian sebagai politisi namun juga memiliki kapasitas teknokratis-administratif dalam urusan pemerintahan daerah. Kapasitas teknokratis-administratif menjadi vital karena, dalam semua urusannya, DPRD harus berinteraksi dengan pemerintah daerah (eksekutif) yang logika kerjanya selalu didasarkan pada pranata ini. Tanpa penguasaan terhadap wilayah ini, niscaya DPRD tidak akan mampu menjalankan peran dan fungsinya secara optimal. Ini terjadi bukan karena anggota DPRD tidak memiliki keinginan, namun seringkali karena tidak memiliki keahlian dan alat kerja yang mencukupi dalam pelaksanaan fungsinya baik sebagai pengarah, mitra, dan pengawas bagi pemerintah daerah. Modul pelatihan ini ingin mengubah kecenderungan di atas dan menawarkan Pelatihan DPRD berbasis Riset . Oleh sebab itu, nilai lebih yang dapat ditemukan dalam modul ini adalah sebagai berikut: 1. Modul ini tidak hanya memberi perspektif perubahan, namun juga menunjukkan pilihan-pilihan yang realistis dilakukan; 2. Modul ini tidak hanya menunjukkan berbagai peraturan perundangundangan terkait pelaksanaan fungsi dan peran DPRD, namun juga memberikan alat kerja agar DPRD dapat menjalankan fungsi dan perannya dengan jelas dan tepat; 3. Modul ini tidak hanya menunjukkan masalah, namun juga cara memecahkan masalah; dan 4. Modul ini tidak hanya memberi panduan agar pelaksanaan fungsi dan peran anggota DPRD sesuai aturan perundang-undangan, namun juga memberikan kerangka kerja kritis dan inovatif dalam merancang perubahan. Singkat kata, program penguatan dan pengembangan kapasitas DPRD hanya bisa berarti jika didasarkan pada kondisi umum DPRD di Indonesia dan kondisi khusus masing-masing daerah sekaligus yang dihadapi oleh masing-masing DPRD. Meski fungsi dan tugasnya sama, tantangan yang dihadapi oleh setiap DPRD sangat variatif. Konsekuensinya, hasil dari setiap pelatihan DPRD hanya akan optimal jika didasarkan pada kebutuhan dari masing-masing daerah.

Merespon kendala ini. tugas paling awal dari setiap pelatihan DPRD adalah memastikan bahwa setiap anggota DPRD menguasai dan memahami tugas dasarnya sebagai wakil rakyat. Pertama. serta kritis dan inovatif. perbedaan hanya terjadi pada . seperti PP tentang perumusan tata tertib DPRD. Posisi DPRD dalam Pemilu Langsung dan Relasinya dengan Partai Politik Berbeda dengan DPRD 2004. DPR. konstruksi DPRD sebagai lembaga perwakilan dalam desain sistem pemilu sebagaimana diatur dalam UU No. Tantangan paling awal bagi kelembagaan DPRD hasil Pemilu 2009 adalah karena resikonya sebagai lembaga perwakilan yang dipilih secara berkala.. dan DPRD tidak mengubah format dasar pengaturan DPRD yang sebelumnya diatur dalam UU No... terlebih bagi politisi yang sedari karirnya di partai politik tidak memiliki atau tidak diberi bekal pemahaman yang jelas tentang pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD dalam kerja sehari-hari. 27/2009 tentang MPR. 10/2008 dan sistem kepartaian sebagaimana diatur dalam UU No. dst. yaitu No.. PP tentang protokoler dan keuangan.. pelatihan-pelatihan berbasis keahlian-keahlian tertentu bisa dilakukan sebagai tambahan soft skill agar dinamika kerja DPRD dapat berkembang.. Namun. Mereka ini tentu membutuhkan adaptasi terlebih dahulu. Problematika Struktural: Konstruksi dan Format DPRD 2009 Ada dua hal penting untuk dicermati dalam melihat konstruksi dan format DPRD hasil pemilu 2009. anggota DPRD 2009 dipilih melalui pemilihan langsung dengan mekanisme suara terbanyak. yaitu kenyataan sebagian anggotanya belum memiliki pengalaman menjabat.. yaitu kemampuannya menelurkan berbagai kebijakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat luas. DPD.. Antisipasi perbedaan mungkin akan dapat dilihat nantinya dalam berbagai PP turunan UU ini. Konsekuensinya. mampu merumuskan solusi permasalahan. Ini bisa dicukupi melalui pelatihan terkait penguatan kapasitas dan peran anggota DPRD dalam menjalankan fungsinya di bidang legislasi.. representasi politik saja tidaklah cukup. dan pengawasan. pergantian periode). 2/2008. anggota DPRD 2009 memiliki tingkat representasi politik yang lebih baik dari sebelumnya. 27/2009... Not Italic Kedudukan. tanpa harus memperhatikan nomor urut pencalonan.. 23/2003.. dan fungsi DPRD hasil pemilu legislatif 2009 dalam sistem pemerintahan daerah tidak berbeda jauh dengan periode sebelumnya. anggaran. tugas. Kedua. Kualitas anggota DPRD selanjutnya akan dilihat sejauhmana kemampuannya mempresentasikan diri sebagai wakil rakyat. tugas. Baru setelahnya.  . format DPRD menyangkut kedudukan.. dan fungsi DPRD sebagaimana diatur dalam UU No. Kesemuanya ini pada gilirannya harus bisa ditransformasikan secara kelembagaan sehingga sustainabilitas kualitas DPRD terjaga meskipun terjadi pergantian anggota DPRD (pergantian antar waktu. PP . Terkait DPRD. UU Susduk 2009. sebagai wakil rakyat.. Perubahan ini dilakukan karena .Bab I Pendahuluan Formatted: Font: +Body.

Usulan PAW baru bisa pidana. ketentuan terkait hal ini masih dapat diusulkan penggantiannya oleh partai menanti Peraturan Pemerintah yang politik (PAW). anggota DPRD sebenarnya tidak lagi semata menjadi wakil dari partai politik tertentu atau terbatas pada konstituennya saja. Ini adalah konsekuensi UU Pemilu 2008 yang mempersempit ruang gerak bagi partai-partai yang tidak mampu mendudukkan wakilnya di DPR Pusat. seperti halnya pemilu 2009. DPRD harus berhadapan dengan realitas dalam dirinya. anggota DPRD tidak perlu khawatir sepanjang tetap berpegang pada nilai-nilai kebajikan publik. Problem hubungan antara partai politik dan anggotanya di DPRD kiranya justru muncul pada anggota DPRD dari partai politik yang tidak lolos parliamentary threshold pada pemilu 2009 lalu atau yang suaranya relatif kecil di daerah yang bersangkutan. Di sini rasionalitas anggota DPRD akan diuji. 27/1999. Namun. Namun. anggota DPRD sudah semestinya menjadi agen perjuangan partai politik.. Oleh karena itu. yang penting diingat adalah bahwa sistem pemilu yang dipakai untuk pemilu selanjutnya kiranya mau tidak mau akan tetap menggunakan pemilihan dengan mekanisme suara terbanyak. Kewenangan ini patut dicermati mengingat selama ini sering menjadi pintu masuk dari partai politik untuk menertibkan wakilnya di DPRD yang dinilai melenceng dari garis Penggantian Antarwaktu (PAW) Selain karena melanggar aturan hukum kebijakan partai. antara mendekat ke partai politik yang lebih besar (untuk mempertahankan peluangnya pada pemilu selanjutnya maupun untuk merlanjutkan karir politiknya ke tingkat provinsi atau pusat) ataukah tetap bertahan di partainya saat ini. Setelah terpilih.Dalam konteks ini. Anggota DPRD 2009. Anggota DPRD dihadapkan pada persoalan dilematis. yang tak jarang memiliki kepentingan yang berbeda. anggota DPRD juga semestinya mampu membangun perimbangan terhadap kebijakan fraksi jika dinilai memperjuangkan kepentingan yang tidak selaras dengan kepentingan publik. Anggota DPRD justru memiliki kewajiban agar terus mengawal kepentingan publik melalui fraksinya. DPRD adalah wakil semua masyarakat. anggota DPRD yang merisaukan kontrol dari partai politik bersangkutan dapat mengajukan keberatan sepanjang tidak melakukan tindak melalui pengadilan. anggota DPRD tidak perlu diberhentikan dari keanggotaan partai politik. Kontrol partai politik terhadap anggotanya juga terbilang kuat melalui mekanisme PAW (UU No. Jika diberhentikan. pelanggaran tata tertib. Usulan penggantian ini karena . kedekatan anggota DPRD terhadap aspirasi dan kepentingan masyarakat justru akan menjadi kunci apakah dirinya akan dipilih atau tidak pada pemilu selanjutnya. berpindah sebagai anggota partai lain. Dalam konteks DPRD pidana dan tata tertib DPRD. . Namun demikian. atau karena anggota DPRD sampai saat ini belum diterbitkan. ataupun dilakukan setelah adanya putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap. faktor fundamental yang menentukan adalah kualitas personal dari anggota DPRD di hadapan masyarakat atau pemilih. Dalam konteks ini. Meski kontrol partai terhadap anggotanya yang ada di DPRD tetap kuat yakni . antara sebagai wakil rakyat dan wakil partai politik. Fraksi berwewenang . melalui fraksi dan pemegang kewenangan untuk mengusulkan penggantian anggota melalui penggatian antarwaktu (PAW). Pasal 383 ayat 2 huruf e dan h). Fraksi adalah alat perpanjangan tangan dari partai politik untuk menjalankan agenda politiknya melalui DPRD. Konsekuensinya.

Kendala struktural tersebut adalah: a. evaluasi DPRD terhadap kinerja pemerintah daerah sulit menyentuh aspek-aspek pengelolan kebijakan dari pemda (di setiap SKPD) pada tahap implementasi APBD. kedudukan. dan fungsi DPRD sebagai landasan agar DPRD dapat bekerja secara optimal. dalam banyak kasus. persetujuan dan pengawasan DPRD terbatas pada wilayah APBD saja sehingga tidak memiliki ruang terhadap penggunaan anggaran non-APBD yang bersal dari pemerintah pusat. wewenang DPRD dalam menerima laporan pertanggungjawaban dari pemerintah daerah juga lebih dibatasi pada pembacaan angka-angka saja seperti tertuang dalam Laporan Realisasi  Anggaran. 23/2003 terkait pelaksanaan fungsi legislasi. DPRD dapat terus-menerus melakukan memelopori negosiasi kepada pemerintah pusat terkait pembagian urusan yang lebih memberikan manfaat kepada daerah. Neraca. Keberimpitan urusan pusat dan daerah dalam DAK juga ditunjukkan oleh pengaturan dalam Pasal 41 UU No. Selain itu. Meskipun secara prinsip DAK adalah menjadi kewenangan pemerintah pusat. terkait fungsi pengawasan. 27/2009 tidak berbeda jauh dari pengaturan sebelumnya di UU No. Dalam konteks urusan yang menyangkut hubungan antara pemerintah pusat dan daerah. Laporan Arus Kas. DPRD tidak mampu mengawasi pelaksanaan perda secara maksimal karena wewenangnya tidak menjangkau sampai dengan pembatalan peraturan atau keputusan kepala daerah (hak legislasi di wilayah eksekutif) bilamana bertentangan dengan perda. c. Kendala-kendala tersebut tidak lantas membuat DPRD tidak bisa berfungsi optimal. dan fungsi DPRD sebagaimana diatur dalam UU No. dan Catatan Atas Laporan Keuangan. Namun. secara struktural ada beberapa kendala dalam pengaturan kedudukan. terkait fungsi anggaran. Demikian halnya dengan terobosan di wilayah fungsi anggaran. 33/2004 yang mensyaratkan adanya Dana Pendamping dari daerah terhadap DAK minimal sebesar 10 persen dari total proyek (kecuali untuk . sebagai alat kelengkapan DPRD 2009. dana insidental lainnya seperti bantuan masyarakat saat terjadi bencana alam juga tidak diatur sebagai kewenangan DPRD kecuali sebatas menerima laporannya dari pemerintah daerah. banyak perda yang kemudian dibatalkan oleh pemerintah pusat. DPRD butuh mencari terobosan untuk menutupi potensi lubang-lubang kendala struktural ini. b. Konsekuensinya. anggaran dan pengawasan. tugas. seperti Dana Alokasi Khusus dan Dana Darurat. terlebih untuk mendapatkan DAK juga bisa diusulkan oleh pemerintah daerah (Pasal 162 UU No. 32/2004 huruf b). Dalam konteks optimalisasi fungsi legislasi. namun dalam implementasinya program pembangunan yang didanai oleh DAK ini sebenarnya sangat berimpit dengan urusan daerah. Hal lain. terkait fungsi legislasi. Bahkan. tugas. DPRD dapat mengoptimalkan Badan Legislasi. Hanya saja. kewenangan DPRD seringkali terhambat karena ada produk-produk kebijakan nasional yang tidak memberikan keleluasaan kepada daerah. terkait pengawasan pelaksanaan APBD. berdasarkan pengalaman sebelumnya.Kendala Struktural Optimalisasi Tugas dan Fungsi DPRD Secara umum. agar dapat memastikan bahwa setiap produk perda nantinya dapat disetujui bersama pemerintah daerah dan tidak dibatalkan oleh pemerintah pusat (melalui Peraturan Presiden).

produksi perda yang dihasilkan oleh DPRD relatif sangat sedikit. dalam konteks pengawasan APBD. Konsekuensinya. Dalam UU Susduk yang lama. Selain itu. Keduanya adalah Badan Legislasi Daerah dan Kelompok Pakar atau Tim Ahli.daerah dengan kemampuan fiskal yang rendah).  Kapasitas Organisasi DPRD Pengalaman sebelum ini menunjukkan bahwa kapasitas organisasi DPRD masih belum memadai. persoalan lain yang tak kalah fundamental kapasitas kelembagaan dari DPRD 2009. DPRD diharapkan bisa mengadvokasi kewenangannya bukan hanya terbatas pada alokasi dan pengawasan Dana Pendamping yang telah dimasukkan dalam komponen APBD. Problematika Kapasitas Kelembagaan: Organisasi dan Keanggotaan DPRD Selain persoalan kondisi struktural yang menjadi batas kerangka kerja DPRD di atas.mencakup alat kelengkapan DPRD dan sistem pendukung DPRDmaupun kapasitas individual dari anggota-anggota DPRD dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. alat kelengkapan maupun sistem pendukung yang tersedia pada DPRD sangat terbatas dan tidak terkonsolidir dalam satu kesatuan holistik pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. UU No. Tak heran. yaitu peraturan kepala daerah dan keputusan kepala daerah (Pasal 42 ayat 1. Perbandingan Alat Kelengkapan DPRD dan Unit kerja Lainnya antara UU No. dan pengawasan terhadap pemerintah daerah terkait pembuatan dan implementasi produk legislasi yang menjadi wilayah eksekutif. UU No. DPRD dapat mencari terobosan dengan memperketat koordinasi. DPRD dapat memperkaya evaluasi pertanggungjawaban implementasi APBD yang disampaikan oleh pemerintah daerah bukan hanya berbasis pada laporan keuangan namun juga mendasarkan pada capaian keberhasilan yang dirunut dari kinerja masing-masing SKPD. 27/2009 mengintrodusir dua komponen baru yang terdiri dari satu alat kelengkapan dan satu sistem pendukung bagi DPRD yang tidak ada dalam UU Susduk DPRD sebelumnya (UU No. sehingga tidak perlu berujung pada reaksi penggunaan hak interpelasi dan hak angket. pelaksanaan fungsi legislasi dan anggaran gagal dikonsolidasikan dalam satu agenda strategis jangka panjang dan berlangsung secara sporadis. 23/2003. Pada kasus ini. 27/2009 UU No. 23/2003). 23/2003 (DPRD Kab/Kota) . huruf c). yaitu UU No. Belum lagi berbagai perda yang sudah disahkan tiba-tiba dianulir atau dibatalkan oleh pemerintah pusat karena dinilau bertentangan atau menghambat implementasi berbagai produk pwerundang-undangan di tingkat nasional. misalnya. 23/2003 dan UU No. Dalam bidang legislasi dan anggaran. alat kelengkapan yang tersedia hanya berbentuk kepanitiaan saja yang bekerja secara tentatif (ad hoc). pemantauan. Sedangkan terkait fungsi pengawasan. Keterlibatan DPRD sejak lebih awal tentu dapat mengurangi potensi sengketa materi hukum peraturan kepala daerah atau keputusan kepala daerah. 27/2009 Pasal 353. Kapasitas kelembagan yang dimaksud di sini adalah menyangkut kapasitas organisasi DPRD .

b. Badan Musyawarah. Alat kelengkapan lain yang diperlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna. adminsitratif. dan menyusun legislasi daerah dalam kerangka yang programatik. g. Berbeda dengan Sekretariat DPRD yang difokuskan pada dukungan teknis. keberadaan Kelompok Pakar atau Tim Ahli tak kalah strategis untuk memperkuat pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. d. mengkonsolidasikan. dan wewenang DPRD melalui berbagai kajian dan analisis terhadap berbagai bidang urusan DPRD Tugas dari Badan Legislasi Daerah ini sebenarnya tidak disebutkan secara tegas dalam UU No. maka Badan Legislasi Daerah dimaksudkan sebagai wadah khusus dalam kelembagaan DPRD yang berfungsi untuk mengkoordinir. Membantu dan mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD dalam hal: Membantu alat kelengkapan DPRD dalam pelaksanaan fungsi. f. dan pelaksanaan anggaran DPRD. c. Melalui keberadaannya. Badan Anggaran. e. 27/2009. Namun. anggota DPRD. Badan Kehormatan. Kelompok Pakar atau Tim Ahli ini dimaksudkan untuk memberikan dukungan substantif yang membantu alat kelengkapan DPRD dalam melaksanakan fungsinya. jika mengikuti tugas alat kelengkapan Badan Legislasi yang ada di DPR. mengusulkan. merancang.Alat Kelengkapan Sekretariat Dewan Kelompok Pakar atau Tim Ahli Tidak ada a. Di sektor Sistem Pendukung. Badan Legislasi Daerah bekerjasama dengan semua komponen lain karena wewenang untuk mengajukan perda masih tetap bisa datang dari pemerintah daerah. tugas. Kelompok pakar atau Tim Ahli ini direkrut berdasarkan . Perda yang sudah disahkan juga bisa diminimalisir potensinya dari pembatalan oleh pemerintah pusat ( perda bermasalah ) karena materi perda dapat disusun secara lebih hati-hati agar tidak bertabrakan dengan berbagai regulasi yang ada di tingkat nasional. Badan Legislasi Daerah. Pimpinan. Keberadaan Badan Legislasi Daerah dengan demikian sangat strategis dalam konteks optimalisasi fungsi legislasi dari DPRD. atau alat kelengkapan DPRD lainnya. legislasi daerah dapat disusun berdasarkan program legislasi daerah yang direncanakan dalam kurun waktu lima tahun (satu waktu masa keanggotaan) yang diterjemahkan ke dalam tahapan per tahun (setiap tahun anggaran) secara tepat. Dalam menjalankan tugasnya. Masalah rancangan perda yang saling berhimpit antara yang diajukan oleh Pemda dan yang diajukan oleh inisiatif DPRD dengan demikian akan bisa teratasi sehingga proses pembuatan perda menjadi lebih terarah dan efektif. Komisi.

6. diantaranya . hanya .. 2. dan deskripsi dan seleksi Kelompok Pakar atau tugas dari Kelompok Pakar/Tim Ahli. Jika dilihat berdasarkan ukuran tersebut. Tak dapat dipungkiri. 7. Penentuan prioritas kebutuhan terhadap pekerjaan-pekerjaan Pembentukan Kelompok Pakar/Tim Ahli 1. Tentukan target hasil kerja dari Kelompok 4. kapasitas individual dari anggota DPRD selama ini cukup banyak yang terbilang belum memenuhi standar keahlian ataupun pengalaman agar dapat mewakili rakyat sebagai legislator. diharapkan DPRD mampu lebih optimal menjalankan fungsinya. Dari total . profik DPRD hasil Pemilu 2009 tampaknya belum berbeda jauh. Tentukan ukuran kemampuan keuangan 2. Ada beberapa keterbatasan yang sangat mungkin mengganggu upaya DPRD mengoptimalkan keberadaan mereka ini. 3. Kebutuhan adanya Kelompok pakar atau Tim Ahli sudah dirasakan selama ini untuk memperkuat kelembagan DPRD. Tentukan tugas. dialokasikan dalam anggaran 3. fungsi. 5. keberadaan Kelompok Pakar atau Tim Ahli ini bisa saja menjadi tidak efektif. anggota DPRD Kabupaten/Kota yang terpilih. 1. Profil anggota DPRD periode 2004-2009 banyak diisi oleh mereka yang . Ini mengingat keberadaan anggota DPRD yang berasal dari beragam latar belakang dengan kapasitas dan keahlian yang berbeda-beda. Tentukan mekanisme rekrutmen yang terbuka dan kriteria seleksi yang jelas dari Tim Ahli. Hanya saja.kompetensinya dalam disiplin ilmu tertentu yang dibutuhkan oleh alat kelengkapan DPRD yang bertugas melakukan berbagai kajian dan analisis pada bidang-bidang yang menjadi urusan DPRD. Tentukan standar pembiayaan Kelompok DPRD untuk membiayai Pakar/Tim Ahli. kebutuhan Kelompok Pakar atau 4. Bahkan. Pastikan pengaturan hal-hal di atas ada deskripsi tugas (job description) dalam Peraturan Tata tertib DPRD yang jelas dari Kelompok Pakar atau Tim Ahli. fungsi. Penentuan tugas. Tim Ahli. Oleh sebab itu. Keterbatasan kemampuan daerah untuk membiayai Kelompok keuangan daerah yang Pakar/Tim Ahli. Tentukan prioritas kebutuhan pekerjaan DPRD yang membutuhkan yang memutuhkan dukungan Kelompok dukungan dari Kelompok Pakar Pakar/Tim Ahli untuk masing-masing alat atau Tim Ahli. Kelompok Pakar/Tim Ahli. keberadaan Kelompok Pakar atau Tim Ahli diharapkan mampu menambal kebocoran sistemik ini. dan Pakar/Tim Ahli. kelengkapan.  Kapasitas Individual Anggota DPRD Sama halnya. tak jarang ditemui anggota DPRD yang bahkan tidak memiliki sedikitpun pengalaman terkait bidang-bidang kerja yang harus ditangani oleh DPRD. pengaturan terhadap hal-hal di atas sangat penting untuk dilegalisasi secara formal yang bisa menjadi bagian dalam Peraturan DPRD tentang Tata Tertib DPRD. ini memang konsekuensi logis dari masih lemahnya sistem rekrutmen politik anggota DPRD yang berpadu dengan belum matangnya rasionalitas publik pemilih untuk memilih calon anggota DPRD yang berkualitas. Melalui keberadaan Kelompok pakar atau Tim Ahli. Penentuan target hasil kerja dari Kelompok Pakar atau Tim Ahli Selanjutnya. Penentuan mekanisme rekrutmen 5.

d. hak angket. h. Hak Anggota DPRD Kabupaten/Kota (Pasal 350 UU No. b. Efektifitas DPRD dalam melaksanakan peran dan fungsi utama mereka tergantung pada kapasitas para anggotanya dalam membuat kebijakan untuk menjawab kebutuhan. f. UU No. akan ada keterbatasan dari anggota DPRD untuk mengetahui secara mendetail semua masalah. anggota DPRD dapat memanfaatkan yang optimal dari Kelompok Pakar atau Tim Ahli dan Sekretariat DPRD yang menjadi bagian dari sistem pendukung organisasi DPRD. e. kelompok-kelompok profesional. Jika dilihat dari komposisi antara incumbent (sudah/pernah menjabat sebagai anggota DPRD) dan anggota baru.d a hak menyatakan pendapat (Pasal . dan masyarakat luas. 27/2009). mengajukan rancangan peraturan daerah kabupaten/kota. hambatan ini semestinya sudah harus diminimalisir. . Kendala ini sebenarnya sudah harus diantisipasi dengan mengaktifkan peran partai-partai politik untuk melakukan program-program kaderisasi yang jelas bagi anggotanya agar siap saji saat mejadi anggota DPRD. namun yang tak mungkin ditawar lagi adalah bahwa anggota DPRD sudah semestinya memliki pemahaman dan kemampuan untuk meletakkan grand design dalam semua kebijakan daerah. sehingga program-program peningkatan kapasitas anggota DPRD selanjutnya dapat lebih difokuskan pada pembelajaran dan penyelesaian berbagai masalah-masalah kongkrit yang dihadapi oleh DPRD di setiap daerah. imunitas..yang memiliki basis pendidikan sarjana . tantangan. membela diri. dan memiliki perspektif strategis bagi pembangunan daerah. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas. 27/2009) . Ini juga bukan lantas menafikan kemampuan anggota DPRD untuk bisa beradaptasi. akademisi. g. memilih dan dipilih.Paling tidak. Aspek detail dari kesemua ini dapat didukung oleh masukan dari pemerintah daerah. mengajukan pertanyaan. Fakta ini memang tidak serta merta menjadi dasar untuk mengatakan bahwa kapasitas dari anggota DPRD tidak mumpuni. Dalam organisasi DPRD sekarang. protokoler. dan i. maka kompoasisinya lebih banyak didominasi oleh . keahlian dasar sebagai seorang anggota DPRD sudah dimiliki sebelum menjabat. Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a. c. mengingat keterbatasan waktu jabatan yang hanya lima tahun. Tentu saja. Hak Anggota DPRD terkait fungsinya adalah hak interpelasi. Hanya saja. keuangan dan administratif. menyampaikan usul dan pendapat.

termasuk APBN. baik atas permintaan komisi maupun atas permintaan pihak lain. konsultasi dengan DPD. dan menyempurnakan raperda f. Komisi. Badan Kehormatan. yangd.Membahas laporan keuangan kabupaten/kota tentang tata tertib.mengusulkan kepada rapat paripurna hasil rapat kerja komisi atau rapat kerja gabungan komisi bersifat mengikat antara DPR dan Pemerintah. alat kelengkapan dibantubersama-sama dengan Pemerintah (KUA) oleh sekretariat. Alat kelengkapan lain yang diperlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna. baik sesama pengawasan adalah: (3) pihak komisi di bidang lembaga negara maupun lainnya a. dan ayat (4). Badan Anggaran. menyangkut pelaksanaan tugas dan e. Pasal 97 Jumlah. rapat kerja dengan Pemerintah yang diwakili oleh menteri/pimpinan lembaga. ayat (2). menyusun. Badan Legislasi Daerah. dan/atau .Gambarkan bagan yang menghubungkan antar alat kelengkapan DPRD Kabupaten/Kota (Pasal 353) ini!!! Komisi a. dan Fungsi Pokok d.Pembicaraan pendahuluan mengenai penyusunan RAPBD bersama Pemerintah (KUA) (2) Dalam menjalankan tugasnya. b. dan kegiatan SKPD yang wewenangmenjadi mitra kerja komisi (PPAS) alat kelengkapan DPRD kabupaten/kota diatur dengan peraturan DPRD .meminta dan/atau memberikan kesempatan f. c. ayat (2). ayat masing-masing. Hasil sinkronisasi ini dapat disempurnakan kembali oleh komisi sebelum kemudian diserahkan Pimpinan kembali kepada Badan Anggaran sebagai bahan akhir penetapan APBD. membahas Badan Musyawarah dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK yang berkaitan dengan ruang lingkup tugasnya. rapat dengar pendapat umum.bidang legislasi: Fungsi Pokok di . Fungsi Pokok di bidang anggaran: g. rapat menentukan garis kebijakan DPRD dalam dengar pendapat dengan pejabat Pemerintah yang mewakili instansinya. dan mitra kerja komisi ditetapkan dengan keputusan DPR. .Membahas dan tata cara alokasi anggaran untuk fungsi. pelaksanaan tugas(3). Fungsi Pokok e.menetapkan agenda persidangan beserta (4) Komisi dalam melaksanakan tugas perkiraan waktu dan memberi masukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Komisi DPRD berjumlah b. membahas. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang -undang. d. kepada alat kelengkapan DPRD untuk (5) Komisi menentukan tindak memberikan penjelasan mengenai lanjut hasil pelaksanaan tugas komisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). melakukan pengawasan terhadap kebijakan Pemerintah. pemerintah daerah dan pelaksanaan APBD. Pimpinan. kunjungan kerja. . dan ayat (3). wewenang dan mekanisme . 3 (tiga) untuk DPRD yang beranggotakan 20-35 orang dan 4 (empat) komisi untuk DPRD yang beranggotakan 36-50 orang. dapat mengadakan: untuk penanganan suatu masalah atau a. serta tugas dan . tugas. baik yang sudah maupun yang komisi.Mewakili DPRD dalam berhubungan dengan lembaga Tugas luar. termasuk hasil audit keuangan oleh BPK Hasil pembicaraan dan pembahasan di atas disampaikan kepada Badan Anggaran untuk sinkronisasi. . rapat kerja wewenang DPRD dengan menteri atau rapat dengar pendapat dengan pejabat Pemerintah yang mewakili instansinya yang tidak termasuk dalam ruang lingkup tugasnya apabila diperlukan. (8) Komisi menyusun rancangan anggaran untuk pelaksanaan tugasnya sesuai dengan kebutuhan yang selanjutnya disampaikan kepada Badan Urusan Rumah Tangga. mengenai jumlah komisi. membahas dan menindaklanjuti usulan DPD.memberikan pendapat kepada pimpinan c. ruang lingkup tugas (7) Komisi membuat laporan kinerja pada akhir masa keanggotaan DPR. dan mitra kerja komisi belum terselesaikan untuk dapat digunakan sebagai bahan oleh komisi pada masa keanggotaan berikutnya. program. Fungsi Pokok Pokok di bidang pengawasan: Fungsi .Koordinasi dan sinergi pelaksanaan agenda dan kegiatan dari alat kelengkapan DPR D .Menyiapkan. raperda b. serta peraturan pelaksanaannya yang termasuk dalam ruang lingkup tugasnya. susunan.Membahas dan mengajukan usul penyempurnaan RAPBD (3) Ketentuan mengenaimenetapkanpembentukan. (6) Keputusan dan/atau kesimpulan . . susunan. c. ruang lingkup tugas. Pasal 98 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. Badan Musyawarah.

tidak yang telah ditetapkan. dan oleh anggota (dua) orang wakil ketua. pembulatan. Kehormatan pimpinan DPR setelah (1) yang c. yang menurut perimbangan jumlah Kehormatan terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan 2 (1) Pimpinan BadanBadan anggota tiap-tiap fraksi. kebijakan menteri untuk menentukan pokok-pokok turut tanpa kepada pimpinan DPR. anggota tiap-tiap fraksi pada permulaan masa (1) Pimpinan Anggota dan pada permulaan tahu n sidang. (2) Susunan ditetapkankeanggotaan paripurna pada permulaan masa kean ggotan dalam rapat Badan Anggaran sebagaimana (2) Pimpinan Badanayat (1) terdiri atas anggota dari tiap -tiapdan paling dimaksud padapada permulaan atas 1 (satu) orang ketua DPR dan Legislasi terdiri tahun sidang. keanggotaan DPR Badan merupakan satu kesatuan pimpinan orang dan (2) Badan Legislasi Kehormatan berjumlah 11 (sebelas) yang bersifat kolektif dan kolegial. b. banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh anggota komisiPasal 125 oleh komisi dengan memperhatikan yang dipilih Badan Legislasi berdasarkan prinsip musyawarah untuk satu kesatuan pimpinan perimbangan jumlah anggota dan usulan fraksi. . penetapan susunan pengaduan terhadap anggota karena: verifikasi atas dan keanggotaan usul DPR berdasarkan program prioritas melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal a. dipilihperimbangan anggota Badan tiap-tiap berdasarkan prinsip pimpinan Badan Kehormatandan (3) Pemilihan musyawarah untuk mufakat sebagaimana dimaksud pada Pasal 102 ayat (2). kelengkapan DPR yang pemerataan jumlah anggota tiap-tiap fraksi Pasal 124 pada permulaan masa Pasal 105DPR menetapkan susunan dan keanggotaan Badan Kehormatan (1) keanggotaan DPR memperhatikandan keanggotaan Badan (1) DPR menetapkan susunan perimbangan dan pemerataan jumlah anggota dengan dan pada permulaan tahun sidang. menyiapkan rancangan undang-undangBadan Anggaran. dilakukan dalam rapat Badan Kehormatan yang dipimpin oleh proporsional . (3) Pemilihan pimpinan Badan Anggaran masukan dari tata Kehormatan diatur dalam peraturan DPR tentang b. dan di pilih dari ayat(2) Pimpinan Badan Anggaran terdiri atas 1yang dipimpin oleh (2) dilakukan dalam rapat Badan Legislasi (satu) orang Kehormatan berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan pimpinan DPR paling banyak 3 (tiga) orang wakil keterwakilan perempuan menurut ketua proporsional dengan memperhatikan ketua yang dan setelah penetapandari dan oleh jumlah anggota Anggaranfraksi. Ketentuan lebih dan untuk setiap tahun anggaran di lingkungan DPR dengan mempertimbangkansebagaimana DPD. memberikan pertimbanganrapat paripurna dan/atau rapat alat kelengkapan fiskal secara umum dan prioritas anggaran untuk c.Legislasi bertugas: a. atau DPD di luar DPR yang bagi setiap kementerian/lembaga dalamberturut-turut tanpa alasan yang sah. menetapkan pendapatan negara bersama calon anggota DPR sesuai dengan d. Anggaran menurut perimbangan dan pemerataan jumlahDPR dan permulaan tiap-tiap fraksi pada permulaan masa keanggotaan Pasal 101 tahun sidang. membahas bersama sebelum rancangan undang-undang tersebut disampaikan keterangan apa pun. dan DPRD. mengoordinasi penyusunan program legislasi nasional antara DPR dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat Badan Pasal 127 dan AnggaranBadandipimpin oleh bertugas melakukan penyelidikan dan Pemerintah. komisi. (1) Badan pimpinan DPR setelah penetapan susunan dan keanggotaan Badan . atau tetap sebagai anggota DPR selama a. DPD. (1) Pimpinan Badan Kehormatan merupakan mufakat dan proporsional dengan memperhatikan keterwakilan perempuan Pasal 106 bersifat kolektif dan kolegial.Badan Legislasi Pasal 100 (1) DPR menetapkan susunan dan keanggotaan Badan Legislasi pada Badan Anggaran permulaan masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun sidang. dan pemantapan Pasal 107 79. susunan dan keanggotaan Badan Legislasi. dan/atau . d. urutan dan prioritas rancangan undang-undang besertatiaptiap perempuan 126 Pasal menurut perimbangan jumlah anggota alasannya untuk 1 (satu) masa keanggotaanlanjut mengenai tata cara pembentukan Badan fraksi. tidak menghadiri terhadap rancangan undang-undang yang diajukan olehacuan menjadi tugas dan kewajibannya sebanyak 6 (enam) kali dijadikan anggota. melakukan pengharmonisasian.48 . tidak lagi memenuhi syarat sebagai Pemerintah ketentuan peraturan perundangundangan mengenai pemilihan umum anggota DPR. menyusun usulan anggaran. komisi. tidak dapat melaksanakan tugas secara b erkelanjutan atau gabungan berhalangan DPDPemerintah yang diwakili oleh 3 (tiga) bulan berturut komisi. konsepsi rancangan undang-undang yang diajukan anggota. menyusun rancangan program legislasi nasional yang memuat daftar proporsional dengan mempertimbangkan keterwakilan Kehormatan. (1) Badan Anggaran bertugas: b. gabungan komisi. e. Pasal 104 (2) JumlahBadan Kehormatan oleh ditetapkan dalam rapat paripurna anggota Badan Legislasi DPR dan merupakan alat Badan Anggaran dibentuk menurut perimbangan danbersifat tetap. tertib. (2) Pimpinan Anggaran merupakan satu kesatuan (3) Pemilihan pimpinan Badan Legislasi sebagaimana dimaksud pada Badan pimpinan yang bersifat kolektifyang kolegial.

tertentu menetapkandengan memperhatikan keterwakilan perempuan Pasal 120 mufakat b. kebijakan kerumahtanggaan DPR.Panitia Khusus Pasal 136 Badan Urusan Rumah DPR dan Panitia khusus dibentuk oleh Tangga merupakan alat kelengkapan DPR yang Pasal 131 bersifat sementara. sesuai dengan kebutuhan. internasional yang menghimpun penetapan susunan kelengkapan MPR berhubungan dengan masalah Pasal 140 keanggotaanyang dan/atau anggota parlemen negara lain. yang bersifat kolektif danfraksi. kualitasdengan kebutuhan. kerumahtanggaan DPR.Akuntabilitas Keuangan Negara Badan (1) Pasal 137 DPR menetapkan susunan dan keanggotaan BURT pada permulaan Pasal 110 masa keanggotaan DPR dan keanggotaan panitia khusus berdasarkan (1) DPR menetapkan susunan dan permulaan tahun sidang. kolegial. . berakhir atau karena termasuk pelaksanaan dan pengelolaanpimpinan DPR setelah bilateral dan kerja sama antara DPR dan parlemen dilakukan dalam rapat BAKN yang dipimpin oleh negara lain.rapat paripurna pada musyawarah untuk dan proporsional dengankhusus yang ada serta keterwakilan memperhatikan keterwakilan perempuan memperhatikan jumlahPimpinan BKSAP terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan paling banyak 3 (2) panitia permulaan masa jumlah anggota tiap-tiap fraksi. 27/2009. (tiga) orang wakil ketua. wewenang dan mekanisme kerja BURT diatur dengan peraturan Rumah Tangga. Pasal 132 111 Pasal 138 (1) DPR (2) Jumlah anggota BKSAP ditetapkan dalam rapat paripurna menurut menetapkan susunan dan keanggotaan BAKN pada (1) Pimpinan BURT merupakan satu kesatuan pimpinan yang bersifat (1) Pimpinan panitia khusus merupakan satu kesatuan pimpinan yang bersifat perimbangan dan pemerataan jumlah anggota tiap permulaan masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun -tiap fraksi pada kolektif dan kolegial. dan dimaksud pada ayat (3) Pemilihan pimpinan BAKN sebagaimanameningkatkan hubungan dalam huruf a. susunan. tugas. permulaan masa keanggotaan DPR dan pada permulaan tahun sidang. (2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) DPR tentang tata tertib. melakukan pengawasan terhadap Sekretariat Jenderal DPR (2) Panitia khusus bertanggung jawab kepada DPR. menyampaikan hasil keputusan dan kebijakan BURT kepada setiap Pasal 141 (1) BAKN bertugas: c. tiap-tiap fraksi. Pasal masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun sidang. paripurna koordinasi dengan alat kelengkapan DPD (4) Rapatmelakukan maupun multilateral. mengembangkan. permulaan masa keanggotaan DPR dan pada permulaan tahun sidang. parlemen BAKN. Pasal 102 tentang tata tertib. membina. BURT dalam rapat perimbangan dananggota 118 jumlah oleh DPRtiap -tiap paripurna menurut anggota dan merupakan alat Pasal disingkat BAKN. penetapan susunan (3) Pemilihan pimpinan1 (satu)sebagaimanadan dan BAKN terdiri atas BKSAP orang ketua dimaksud pada ayat (2) (2) Pimpinankeanggotaan panitia khusus. BPK yang dan a. anggaran DPR. Pasal 113 d. serta pelaksanaan tugasnya sesuai Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. sidang. hambatan pemeriksaan. banyak 30 (tiga puluh) orang. menyampaikan hasil (2) BKSAP a kepada komisi. penelaahan sebagaimana dimaksud dalam huruf kerja sama antarparlemen. tugas. baik secara c. (2) Pimpinan BURT terdiri atas 1 1 (satu) orang ketua dan paling ban yang dijabat (2) Pimpinan panitia khusus terdiri atas(satu) orang ketua(tujuh) orang oleh yak Pasal 119 (2) Anggota BAKN berjumlah paling sedikit 7 Ketua DPR dan paling banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari dan olehatas usul fraksi pimpinan yang bersifat (1) banyak 9 BKSAP merupakan satu kesatuan dananggota BURT berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat paling Pimpinan (sembilan) orang anggota panitia khusus dan oleh berdasarkanDPR yang ditetapkan dalam mufakat dan proporsional dengan prinsipkolektif dan kolegial. yang ditetapkan oleh rapat paripurna. Badan Kerja Keuangan Badan Akuntabilitas Sama Antar-Parlemen selanjutnya (2) Jumlah pemerataan ditetapkan Negara. tugas. DPR. DPD. susunan. atau usul kepada pimpinan DPR khusustertib. menyampaikan laporan kinerja dalam rapat paripurna peraturan DPR wewenang dan mekanisme kerja panitia khusus diatur dengan DPR yang tentang masalah d. anggota DPR. menindaklanjuti hasil pembahasan komisi terhadap temuan hasil menyusun rancangan anggaran untuk pelaksanaan tugasnya sebagai bahan permintaan komisi. setelah anggota tiap-tiap kolegial. mengoordinasikan kunjungan kerja alat kelengkapan DPR ke luar negeri. (1) Badan Legislasi bertugas: a. Pasal 121 d. Pasal Pasal 139 133 1 (satu)dilakukan dalam rapat BKSAP yang dipimpin oleh pimpinan DPR setelah orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh BURT bertugas: (1) Panitia khusus bertugasberdasarkan prinsip musyawarah untuk penetapan susunan dan keanggotaan BKSAP. dalam (1) BKSAP bertugas: anggota menurut perimbangan jumlah pelaksanaan kebijakan oleh DPR setelah DPR sebagaimana dimaksud (3) Panitia khusus dibubarkankerumahtanggaan jangka waktu penugasannya (2) persahabatan a.diadakan untuk itu. tentang tatab. membuat laporan kinerja pada akhir masa keanggotaan baik Pasal 134 yang sudah maupun yang belum terselesaikan untuk dapat digunakan BURT c. menyusun rancangan program legislasi nasional yang memuat daftar urutan dan prioritas rancangan undang-undang beserta alasannya untuk 1 (satu) masa keanggotaan dan untuk setiap tahun anggaran di lingkungan DPR dengan mempertimbangkan masukan dari DPD. dan Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. yangfraksi. susunan. yang dipilih dari dan oleh anggota BKSAP (3) Pemilihan pimpinan BURT sebagaimana dimaksud pada ayat (2)(2) (3) Pemilihan pimpinan panitia khusus sebagaimana dimaksud pada ayat proporsional dengan berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan Pasal 112 dilakukan dalam panitia khusus yang dipimpin oleh pimpinan DPR dilakukan dalam rapat rapat BURT yang dipimpin oleh pimpinan DPR setelah memperhatikan keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah (1) Pimpinan BAKN merupakan satu kesatuan pimpinan penetapan susunan dan keanggotaan BURT. termasuk organisasidan alat menetapkandan tindak lanjut hasil kerja panitia khusus. Pasal 122 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. dengan kebutuhan yanghasil rapat Badan pimpinan DPR. kolektif dan sidang. dibentukjumlah anggota tiap -tiap fraksi pada perimbangan dan pemerataan (2) Jumlah anggota panitia khusus ditetapkan olehdan keanggotaanpaling pada permulaan (1) DPR menetapkan susunan rapat paripurna BKSAP kelengkapan DPR yang bersifat tetap. tugasnya dinyata kan selesai. melakukan penelaahan terhadap temuan hasil pemeriksaan e. memberikan masukan kepada BPK dalam hal rencana kerja Pasal 135 BKSAP menyusun rancangan anggaran untuk penyajian dan pemeriksaan tahunan. dan MPR pelaksanaan tugasnya sesuai Panitia khusus menggunakan anggaran untuk yang ditugaskan oleh pimpinan menjadi tamu b. wewenang dan mekanisme kerja BKSAP diatur dengan peraturan DPR UU No. dan pemeriksaan BPK atas oleh BKSAP pada masa keanggotaan berikutnya. tahun menurut perimbangan keanggotaan DPR dan permulaan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi. anggota BAKN melaksanakan tugas tertentu dalam jangka waktu a. yang selanjutnya disampaikan kepada Badan Urusan laporan. memberikan saran disampaikan kepada DPR. menerima kunjungan delegasi parlemen negara lain yang DPR berdasarkan diajukan kepada Musyawarah.

(2) Badan Legislasi menyusun rancangan anggaran untuk pelaksanaan tugasnya sesuai dengan kebutuhan yang selanjutnya disampaikan kepada Badan Urusan Rumah Tangga. c. dan i. Sistem Pendukung DPRD Kabupaten/Kota Sekretariat Pasal 398 (1) Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. dibentuk kelompok pakar atau tim ahli. melakukan pembahasan. pembulatan. d. komisi.b. Yang dimaksud dengan kelompok pakar atau tim ahli adalah sekelompok orang yang mempunyai kemampuan dalam disiplin ilmu tertentu untuk . dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang diajukan anggota. h. g. (3) Sekretaris DPRD kabupaten/kota dan pegawai secretariat DPRD kabupaten/kota berasal dari pegawai negeri sipil. gabungan komisi. memberikan masukan kepada pimpinan DPR atas rancangan undang-undang usul DPD yang ditugaskan oleh Badan Musyawarah. e. dan/atau penyempurnaan rancangan undang-undang yang secara khusus ditugaskan oleh Badan Musyawarah. atau DPD di luar prioritas rancangan undang-undang tahun berjalan atau di luar rancangan undangundang yang terdaftar dalam program legislasi nasional. (2) Sekretariat DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh seorang sekretaris DPRD kabupaten/kota yang diangkat dan diberhentikan dengan keputusan bupati/walikota atas persetujuan pimpinan DPRD kabupaten/kota. dibentuk sekretariat DPRD kabupaten/kota yang susunan organisasi dan tata kerjanya ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. mengikuti perkembangan dan melakukan evaluasi terhadap pembahasan materi muatan rancangan undang-undang melalui koordinasi dengan komisi dan/atau panitia khusus. memberikan pertimbangan terhadap rancangan undang-undang yang diajukan oleh anggota. membuat laporan kinerja dan inventarisasi masalah di bidang perundangundangan pada akhir masa keanggotaan DPR untuk dapat digunakan oleh Badan Legislasi pada masa keanggotaan berikutnya. f. atau DPD sebelum rancangan undang-undang tersebut disampaikan kepada pimpinan DPR. gabungan komisi. Kelompok Pakar atau Tim Ahli Pasal 399 (1) Dalam rangka melaksanakan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. komisi. melakukan pengharmonisasian. menyiapkan rancangan undang-undang usul DPR berdasarkan program prioritas yang telah ditetapkan. mengoordinasi penyusunan program legislasi nasional antara DPR dan Pemerintah. pengubahan.

Sayangnya. kritik ini dengan mudah ditanggapi dalam kerangka pengawasan agar DPRD oleh pemerintah. adalah penilaian o Pemerintah bersikap jujur dengan DPRD terhadap Rencana Kerja dan melaporkan semua laporan keuangan Anggaran SKPD (RKA-SKPD) yang kepada DPRD diajukan sebagai dasar perumusan RAPBD.membantu alat kelengkapan dalam pelaksanaan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. Ini kan sama memahami fisibiltas proseduralsaja bohong administratif yang ada. Namun. Ini dibutuhkan karena. DPRD praktis. keberatan ini tidak disertai data yang memadai dan langkah solusinya. setiap anggota DPRD dituntut memiliki kemampuan sebagai teknokrat. mendesak pemerintah agar bekerja lebih Kehendak politik tidak mungkin tercapai keras. Secara politik. . jika tidak mengetahui cara-cara o Masak tiap tahun targetnya stagnan mencapainya secara teknokratis dan o Targetnya selalu lebih rendah daripada realisasi tahun sebelumnya. dan terukur. o Data yang disajikan dinas pajak kepada Keahlian teknokratis dan dewan bukanlah keberhasilan faktual administratif ini bukan dimaksudkan o Pemerintah menyembunyikan selisih agar DPRD mengambil wilayah yang penerimaan PAD Karena tidak disajikan dengan data telah menjadi wewenang pemerintah. o DPRD tidak membuat kajian komprehensif terhadap potensi PAD Sebagai contoh. kemampuan ini dapat digunakan memadai. Penugasan kelompok pakar atau tim ahli disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan daerah kabupaten/kota (2) Kelompok pakar atau tim ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat dan diberhentikan dengan keputusan sekretaris DPRD kabupaten/kota sesuai dengan kebutuhan atas usul anggota dan kemampuan daerah. dalam praktek pemerintahan. fungsi-fungsi DPRD hanya akan berjalan optimal jika anggotanya memiliki keahlian menerjemahkan Pembahasan RAPBD konsep-konsep strategis. DPRD dapat melakukan pengecekan melalui Pedoman Penyusunan RKA-SKPD yang disusun Bupati/Walikota untuk mengetahui apakah RKA-SKPD yang disusun telah mengikuti ketentuan dalam KUA dan PPAS. o Apa dasar DPRD menilai target mampu melakukan kontrol yang optimal pemerintah terlalu rendah? terhadap kinerja pemerintah. Secara teknokrat-administratif. ke dalam kecil merencanakan target pendapatan seperangkat aturan main yang lebih daerah dari sektor pajak. (3) Kelompok pakar atau tim ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bekerja sesuai dengan pengelompokan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota yang tercermin dalam alat kelengkapan DPRD kabupaten/kota. yang muncul Anggota DPRD menilai pemerintah terlalu sebagai kehendak politik DPRD. programatik. Kelompok pakar atau tim ahli bertugas mengumpulkan data dan menganalisis berbagai masalah yang berkaitan dengan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. Mendesain Penguatan Kapasitas DPRD  Anggota DPRD: Kombinasi Politisi dan Teknokrat Selain memiliki keahlian sebagai politisi.

58/2005 ayat (35) s/d (40). kewajiban Paham teknokrasi kebijakan Sensitif terhadap adminsitasi pemerintahan Punya perspektif kuat: advokasi kepentingan masyarakat dan daerah Memperkuat jaringan aspirasi dan representasi publik -  Alur Penguatan Fungsi dan Peran DPRD Setelah menyimak format dan konstruksi DPRD 2009 di atas.  Prinsip Dasar Penguatan Kapasitas Paham fungsi. dapat dilakukan dengan mengeceknya melalui: 1) hasil evaluasi setiap kepala SKPD terhadap hasil pelaksanaan program dan kegiatan 2 (dua) tahun anggaran sebelumnya sampai dengan semester pertama tahun anggaran berjalan. penganggaran terpadu. penganggaran. wewenang. dan pengawasan dari DPRD dalam konteks RAPBD dapat berjalan terarah dan menyentuh permasalahan. penilaian DPRD pada akhirnya diharapkan mampu mendesak dan memberikan solusi agar pemerintah daerah mampu bekerja lebih optimal. Dengan mengikuti prinsip anggaran berbasis kinerja. anggaran. tugas. DPRD dapat mengeceknya melalui Kepala Daerah. Pemahaman terhadap hal di atas sangat diperlukan agar fungsi legislasi. PPKD. maka berbagai potensi Kendala yang dapat menimbulkan tidak optimalnya pelaksanaan fungsi DPRD secara umum dapat diidentifikasi. 2) penggunaan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah. Jika ketiga fungsi tersebut dikorelasikan dengan tugas dan wewenang DPRD serta hak DPRD. maka penilaian DPRD. sebagaimana diatur dalam PP No. dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja dalam penyusunan RKA-SKPD. dan Kepala SKPD. Lebih dari statemen politis.Dalam hal ini. yaitu menyangkut pelaksanaan fungsi legislasi. maka dapat digambarkan sebagai berikut: . dan pengawasan.

Kesesuaian RAPBD dengan KUA dan PPAS .Laporan pelaksanaan APBD: Laporan Keuangan Pemerintah Daerah o Pengawasan pelaksanaan Perda Advokasi Kewenangan o Koordinasi dan persetujuan legislasi eksekutif (Peraturan dan Keputusan Kepala Daerah) o Evaluasi pelaksanaan program kerja pemerintah dengan melihat pencapaian substanstif kinerja SKPD (tidak terbatas menerima laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah) Representasi Tugas.Laporan pelaksanaan APBD Semester I . Wewenang.Laporan pelaksanaan APBD Semester I . dan Kewajiban o Mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian kepala daerah o Memilih wakil kepala daerah jika terjadi kekosongan jabatan o Menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen o menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat o mempertanggungjawabkan secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya Advokasi Kewenangan o Membangun beragam media komunikasi dan penjaringan aspirasi o Memaksimalkan rapat-rapat DPRD berlaku terbuka o Menyusun indikator keberhasilan tugas DPRD Tugas dan Wewenang o Penyusunan dan Pembahasan Perda o Pembahasan dan persetujuan RAPBD: KUA dan PPAS o Pembahasan dan persetujuan APBD Perubahan (Semester I) o Memberi pendapat.Legislasi Tugas dan Wewenang o Pengawasan Pelaksanaan APBD .Laporan pelaksanaan APBD: Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Advokasi Kewenangan o Pengawasan Pelaksanaan dana yang dikelola pemerintah non -APBD Anggaran .Kesesuaian RAPBD dengan KUA dan PPAS . pertimbangan dan persetujuan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional o Memberi persetujuan terhadap rencana kerja sama dengan daerah lain atau pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah o mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai ketentuan peraturan perundangundangan Advokasi Kewenangan o Evaluasi substantif RKA-SKPD o Advokasi dalam pembagian urusan pemerintah pusat dan pemerintah daerah Pengawasan Tugas dan Wewenang o Pengawasan Pelaksanaan APBD .

c. 32 /2004 Paragraf Ketiga Tugas dan Wewenang Pasal 42 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang: a. e. d. peraturan kepala daerah. f. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah. 27/2009 Tugas dan Wewenang DPRD Kabupaten/Kota: Pasal 344 Tugas dan wewenang DPRD Provinsi Pasal 293 Pasal 344 (1) DPRD kabupaten/kota mempunyai tugas dan wewenang: a. dan kerja sama internasional di daerah. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. UU No. f. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. memilih wakil bupati/wakil walikota dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil bupati/wakil walikota. Ketiga. e. ada beberapa isu-isu kritis yang perlu dicermati: pertama. meminta laporan keterangan UU No. b. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama. isu ruang lingkup kewenangan. g. Ketiga isu di atas sangat berkaitan dan disebutkan sebagai sumber dari problematika yang dihadapi DPRD saat ini (PLOD: 2006. tugas pokok dan fungsi serta hak-hak DPRD. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. g. h. membahas dan memberikan persetujuan rancangan peraturan daerah mengenai anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota yang diajukan oleh bupati/walikota. isu kapasitas dan performance DPRD dalam menjalankan kewenangan dan fungsinya itu. membentuk peraturan daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah. d. . melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah dan anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota. APBD. isu kedudukan DPRD dalam sistem desentralisasi dan demokrasi. Kedua. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. c. mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian bupati/walikota dan/atau wakil bupati/wakil walikota kepada Menteri Dalam Negeri melalui gubernur untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan dan/atau pemberhentian. KPB: 2006).AAGN LGSP ARAH DAN AGENDA REFORMASI DPRD: Memperkuat Kedudukan dan Kewenangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dalam dua forum tersebut. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota. b.

melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. j. (2) Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata tertib. (2) Selain tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengajukan rancangan peraturan daerah kabupaten/kota. i. interpelasi.pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. i. dan negara yang diduga bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. h. dan k. UU No. j. (2) Hak interpelasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk meminta keterangan kepada bupati/walikota mengenai kebijakan pemerintah kabupaten/kota yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. . k. (3) Hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah kabupaten/kota yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat. 27/2009 Hak DPRD Kabupaten/Kota Pasal 349 (1) DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a. b. (4) Hak menyatakan pendapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan bupati/walikota atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di daerah disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket. Hak dan Kewajiban Anggota Paragraf 1 Hak Anggota Pasal 350 Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban bupati/walikota dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. DPRD melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. dan c. membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. daerah. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. menyatakan pendapat. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama dengan daerah lain atau dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. angket.

interpelasi. membela diri. menaati prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila. menjaga etika dan norma dalam hubungan kerja dengan lembaga lain dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. menaati tata tertib dan kode etik. dll .Jumlah perda yang dihasilkan (komposisi inisiatif dan yang diajukan eksekutif) . dan keuangan dan administratif. b. menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala. c. memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya. 27/2009 Kewajiban Anggota Pasal 351 Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai kewajiban: a. f. h.Jumlah perda yang tidak dianulir oleh pemerintah pusat .Peningkatan PAD. c. mengajukan pertanyaan. i. i.b. dan golongan. melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menaati peraturan perundangundangan.Jumlah sanksi yang dikeluarkan Badan kehormatan . j. Terkait Fungsi Perwakilan UU No. memilih dan dipilih. g. dan k.Efisiensi APBD . protokoler. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas. tindak pidana. menyampaikan usul dan pendapat. mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. d. d.Jumlah anggota DPRD yang tidak terjerat korupsi. Indikator DPRD yang Berkualitas Nominal: Legislasi: . e. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat.Penggunaan hak angket. sumber PAD baru . e. g. kelompok. menyatakan pendapat Anggaran Pengawasan . imunitas. memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat. f. h.

. pengalaman. Dalam berbagai program dan proyek yang dikembangkan. dan dasar bagi penyusunan program pemberdayaan DPRD secara mapan. DPRD hampir selalu dijadikan obyek atau bahkan dapat dikatakan diproyekkan .. profesional. Basis Perbedaan Sumberdaya antara DPRD dan Pemda Basis Kekuasaan Tugas/fungsi DPRD DPRD adalah representasi dan wadah aspirasi rakyat Membawa aspirasi publik dan membuat keputusan politik Politik dan Populis Birokrasi/Pemda Memiliki keahlian. gambaran. dan lainlain Menjalankan/melaksanakan keputusan dan memberikan pelayanan publik Administratif-BirokratikTeknokratik Diseleksi/diangkat lewat sistem karir Pendekatan Pola Dipilih melalui Pemilu Rekrutmen Sumber: Diadaptasi dari Etzioni-Halevy (1983) ________________________________________ Apa yang perlu diperhatikan dalam penyusunan program peningkatan kapasitas DPRD? Pada umumnya lembaga-lembaga pengembang program tidak lebih dulu melakukan assessment yang memadai terhadap kapasitas DPRD untuk mengetahui status awal.Jumlah RDP Representasi Substansial Legislasi: Anggaran Pengawasan Representasi - Hubungan Antara DPRD dan Pemerintah Daerah Ada tiga cara pandang yang umum berkembang saat ini untuk melihat hubungan antara DPRD dan pemerintah daerah. informasi. Cara padang yang bisa dikembangkan dan disarankan oleh modul ini adalah .

Font color: Auto Formatted: Font: +Body. berbagai assessment terhadap DPRD dilakukan berdasarkan percieved needs dan bukan real needs dari lembaga-lembaga pelaksana program. banyak studi dan kajian memberikan penekanan berlebihan pada aspek politis dari lembaga perwakilan ini. Seringkali didapatkan. maka pada alasan yang kedua. kaji tindak dan studi khusus yang berkaitan dengan pembangunan kapasitas DPRD hanya Formatted: Font: +Body. Kkarena melihat DPRD mempunyai posisi politik lebih kuat dibandingkan dengan pemerintah. Pendekatan politis memberikan penekanan pada interaksi kekuasaan antara DPRD dengan dan pelaku politik lain seperti misalnya pemda. organisasi massa (ormas) dan keagamaan (ormas). beberapa studi telah memberikan penekanan kepada aspek kelembagaan. misalnya. Ketiga. Pola yang keempat adalah pendekatan programatis. dan sebagainya. Studi tertentu lain. misalnya. karena DPRD lebih banyak dipandang sebagai pelaku politik dan merupakan wadah dimana para wakil partai politik bertemu untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan masing-masing. maka studi terbatas dilaksanakan dalam hal legislative capacity building. Misalnya. 22/1999 tentang Otonomi Daerah dikeluarkan maupun setelah direvisi menjadi UU No. Font color: Auto Formatted: Font: +Body.Kapasitas dan kapabilitas anggota-anggota DPRD untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya belum menjadi dasar dalam evaluasi kelembagaan dan pengembangan program. yang banyak dilakukan oleh berbagai lembaga internasional yang bergerak dalam bidang politik pemerintahan. berbagai studi kemudian dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas lembaga-lembaga pemerintahan di daerah dalam rangka desentralisasi dengan mengutamakan aspek teknis yang terdiri dari mkemampuan organisasional dan manajerial. fungsi dan tugas pokok DPRD tidak belum dijadikan dasar dalam penentuan variabel dan indikator studi. Walaupun banyak studi terhadap DPRD dilaksanakan sejak setelah UU No. Walaupun di negara asalnya lembaga-lembaga tersebut banyak melakukan kajian yang mendalam dan menyeluruh namun lembaga-lembaga itu tidak melakukan kegiatan studi dengan pendekatan yang sama di Indonesia. Berbagai kegiatan evaluasi atau assessment keparlemenan telah dilakukan dalam rangka pelaksanaan suatu program khusus pemberdayaan keparlemenan di daerah. Aspek yang belum diperhatikan adalah aspek-aspek struktural-fungsional dalam pengembangan kapasitas DPRD. bahwa kegiatan-kegiatan pemberdayaan DPRD dirumuskan sendiri oleh para pelaksana proyek dan tidak mendasarkan pada kebutuhan riil DPRD. Pertama. Hal ini terjadi karena beberapa alasan. Font color: Auto . dalam banyak aspek memberikan penekanan penting pada kemampuan organisasional dan manajerial DPRD dan sekretariatnya. Studi semacam ini dilaksanakan semata-mata untuk memberikan justifikasi terhadap program. Lembaga-lembaga pemberdaya DPRD merasa mempunyai kemampuan dan kompetensi yang lebih tinggi untuk memberdayakan DPRD. Font color: Auto Formatted: Font: +Body. Kemampuan DPRD dalam melakukan check and balance terhadap pemda. Akibatnya. yang menyoroti sejauh mana kemampuan kelembagaan dari DPRD memberikan daya dukung dalam melakukan check and balance. Kedua. ketika lembaga tertentu akan membuat proyek pelatihan legislative drafting. partai politik pada tingkat lokal. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Berbagai program peningkatan kapasitas. Dengan kata lain. sangat dipentingkan.

sedikit memberi perhatian terhadap kompleksitas struktural dan fungsional dari lembaga ini. Secara struktural, pemahaman terhadap kapasitas DPRD dapat dilihat dalam konteks struktur internal, yaitu yang berkenaan dengan keseluruhan bagianbagian dalam dewan yang saling berhubungan dan konteks struktur yang lebih luas yang menempatkan DPRD sebagai bagian dari struktur politik lokal. Struktur internal dapat dikategorikan dalam dua bagian, yaitu struktur yang diatur dalam peraturan perundang-undangan sebagai alat kelengkapan dewan dan struktur internal yang ada tetapi tidak ditentukan sebagai alat kelengkapan dewan. Struktur yang lebih umum menempatkan DPRD dalam hubungannya dengan pemda serta berbagai kekuatan politik lain yang secara langsung berpengaruh terhadap proses politik yang terjadi dalam DPRD dan implementasi berbagai kebijakan publik yang dibuat oleh DPRD. Analisis struktural terhadap DPRD meliputi analisis hubungan antara alat-alat kelengkapan dewan yang terdiri dari pimpinan, komisi-komisi, dan panitiapanitiabadan-badan. Berbagai studi yang telah dilakukan hampir tidak ada yang secara komprehensif mengevaluasi kapasitas dari alat kelengkapan dewan itu. Hala yang lebih jarang dilakukan adalah analisis terhadap struktur internal yang ada pada fraksi-fraksi dan sekretariat dewan (setwan) yang bukan merupakan alat kelengkapan dewan, tetapi keberadaan dan kapasitas mereka sangat berpengaruh terhadap kinerja dewan secara keseluruhannya. Faktor luar yang paling diperhatikan oleh dewan adalah pemda. Negosiasi dengan pemda sangat vital dipentingkan oleh bagi DPRD karena ia memberikan sumber daya yang diperlukan DPRD dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya. Selain itu, dan bahwa pemda harus diperhitungkan oleh DPRD karena ia akan menjadi pelaksana dari berbagai kebijakan yang dirumuskan. Kenyataan selanjutnya adalah fraksi-fraksi merupakan wakil dari partai-partai politik yang di dalamnya juga tergabung dan organisasi-organisasi massa yang berafiliasi dengannya. Kondisi ini mengharuskan adanya pemahaman yang lebih mendalam dari organisasi massa tersebut untuk mengetahui jalur-jalur negosiasi dan lobby, sehingga berbagai kepentingan mereka menjadi bagian dari preferensi kebijakan publik yang dihasilkan dewan. Pola yang sama perlu pula dilakukan untuk mengkaji hubungan antara DPRD dengan dan berbagai asosiasi sosial dan profesional, organisasi-organisasi masyarakat sipil serta media lokal yang dengan berbagai tindakannya mereka mampu mempengaruhi proses politik yang berlangsung dalam dewan. Dalam konteks perwakilan yang lebih luas, DPRD pun seringkali mementingkan pendapat dan pilihan masyarakat karena mereka bermaksud memenuhi berbagai preferensi publik, terutama dalam perumusan kebijakan publik yang menyangkut masyarakat luas. Hubungan ini signifikan bagi dewan dalam upaya memenangkan dukungan dan kepercayaan publik. Analisis fungsional yang mengkaji tentang kapasitas DPRD dalam melakukan fungsi-fungsi pembuatan peraturan perundang-undangan daerah, penyusunan dan penentuan APBD, pengawasan pelaksanaan berbagai kebijakan publik yang dirumuskan DPRD serta perwakilan berbagai kepentingan sosial dan politik pun hampir tidak dilakukan dalam banyak penelitian atau kaji publik. Terlebih jarang adalah assessment terhadap kapasitas setwan dalam memberikan berbagai pelayanan kedewanan agar DPRD mampu melaksanakan

berbagai fungsinya secara efektif. Berkaitan dengan hal ini, fungsi pemberdayaan DPRD terhadap setwan pun kiranya layak untuk dikaji lebih lanjut, sebab DPRD seringkali menuntut berbagai pelayanan sr dari setwan tetapi enggan untuk memperjuangkan sumber daya yang memadai agar sekretariat mampu melaksanakan berbagai fungsi dan tugasnya secara profesional. Lebih lanjut, dalam konteks hubungan DPRD dengan pelaku-pelaku tata pemerintahan dari luar, kiranya juga perlu untuk menelusuri kapasitas DPRD dalam memfasilitasi pelaksanaan berbagai kebijakan publik yang ada, memberikan contoh yang baik bagi praktek-praktek pemerintahan demokratis serta menjadi pelaku dalam pewujudan tata pemerintahan daerah yang demokratis. Seluruh kerangka pemikiran dasar tersebut di atas adalah bingkai dari rangkaian studi dan penulisan dari buku ini serta ketiga buku lain yang bersifat lebih khusus. Buku yang pertama ini mendudukkan keberadaan dan kompleksitas struktural dan fungsional dari DPRD. sSementara itu, ketiga buku yang berikutnya menjabarkan sistem, prosedur, fungsi dan tugas DPRD dalam pembuatan peraturan perundang-undangan, penentuan anggaran daerah dan pengawasan politik. Dengan demikian, diharapkan bahwa keempat buku serial ini dapat memberikan dasar yang memadai untuk berbagai program dan proyek dalam bidang peningkatan kapasitas keparlemenan di daerah. Apa dampak yang perlu menjadi orientasi program? Walaupun berbagai program dan proyek dilaksanakan pada tingkat daerah dan itu pun dengan sasaran utama DPRD, namun dampak yang segera dapat dilihat mempunyai cakupan yang relatif luas. Selain hasil-hasil dan dampak langsung yang akan dapat dirasakan oleh DPRD dan berbagai asosiasinya, berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam proyek ini, terutama yang berkenaan dengan pembuatan peraturan perundang-undangan dan pengawasan, juga akan mempunyai dampak langsung pada perbaikan tata pemerintahan di daerah. Namun demikian, karena DPRD bertekad untuk selalu terlibat aktif dalam berbagai dialog kebijakan dengan lembaga-lembaga tata pemerintahan tingkat nasional maka berbagai kegiatan proyek di daerah pun diharapkan mempunyai dampak langsung terhadap perumusan berbagai kebijakan publik tingkat nasional yang yang akomodatif terhadap kompleksitas realitas daerah. Dampak langsung terhadap DPRD dan asosiasinya Dengan kemampuan perumusan peraturan perundang-undangan yang lebih baik, maka berbagai perda dan kebijakan publik daerah dapat dirumuskan dan disinkronkan satu terhadap yang lain serta memenuhi kepentingan-kepentingan masyarakat luas. Berbagai peraturan perundang-undangan nasional yang terkait dengan desentralisasi dan otonomi daerah pun dapat dijabarkan dalam berbagai perda yang relevan dengan waktu yang lebih singkat, sesuai dengan tata urutan peraturan perundang-undangan. Konflik kebijakan antar daerah, yang biasanya terjadi antara kota dengan kabupaten yang berdekatan, pun diharapkan dapat diselesaikan dengan proses yang demokratis dan sesuai dengan prosedur.

Pemahaman dan penguasaan yang lebih baik terhadap program-program pembangunan dan pemerintahan memungkinkan DPRD melaksanakan fungsi penganggaran yang benar dan memenuhi harapan masyarakat. Ditambah dengan berbagai peningkatan kemampuan analisis terhadap mekanisme penganggaran yang biasanya dilaksanakan oleh pihak pemerintah sendiri, DPRD akan berada dalam posisi yang lebih konstruktif dalam merumuskan kebijakan-kebijakan penganggaran. Berbagai simulasi penganggaran yang dilaksanakan terkemudian akan memungkinkan DPRD menyampaikan alternatif pembanding terhadap kebijakan dan usulan APBD yang diusulkan oleh pemerintah. Pelaksanaan fungsi pembuatan peraturan perundang-undangan (legislasi) dan fungsiu penganggaran memungkinkan DPRD memiliki dasar yang kuat untuk melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan. Ukuran-ukuran dan mekanisme-mekanisme pengawasan pun menjadi lebih mapan karena mendasarkan pada kriteria yang jelas dan tidak mendasarkan pada kepentingan-kepentingan politik semata. DPRD pun akan mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk berinteraksi dengan masyarakat melalui dengar pendapat yang dilaksanakan di dewan maupun melalui berbagai media lain yang diciptakan. Para anggota DPRD mempunyai kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka bukan hanya wakil partai politik tetapi juga benar-benar merupakan wakil rakyat. Kemampuan memfasilitasi dialog antara masyarakat dengan dan pemerintah yang dilaksanakan oleh DPRD akan memperkuat posisinya menjadikannya lebih dipercaya sebagai kunci dari lembaga perwakilan. Setwan pun akan mendapatkan manfaat yang sangat besar dalam program ini, yaitu dengan berbagai pelatihan yang dilakukan untuk para stafnya maupun program-program lain yang dapat meningkatkan peran strategis dari setwan. Upayaupaya pengembangan setwan akan memungkinkannya melaksanakan fungsi-fungsi pelayanan kedewanan secara profesional. Asosiasi DPRD akan mendapatkan manfaat utama meliputi aspek administrasi kesekretariatan dan aspek fasilitator dialog kebijakan regional, nasional dan internasional. Program peningkatan kapasitas DPRD diharapkan menghasilkan dampak untuk asosiasi sebagai berikut: Sekretariat Aasosiasi DPRD yang kuat dan mampu memberikan pelayanan-pelayanan strategis bagi para anggotanya merupakan dampak langsung yang sangat diharapkan. Pelayanan yang paling utama adalah mobilisasi sumber daya yang dibutuhkan untuk pengembangan kapasitas DPRD dan memfasilitasi dialog kebijakan antar anggota dengan lembaga-lembaga tata pemerintahan terkait di tingkat pusat dan daerah. Selain itu, dalam beberapa tahun mendatang diharapkan Aasosiasi DPRD mampu untuk mendirikan sekretariat yang efektif dan efisien dengan dukungan pendanaan yang memadai dari para anggotanya. Dampak terhadap perbaikan tata pemerintahan di daerah Pada tingkat tata pemerintahan di daerah, Aasosiasi DPRD dapat mendesakkan perwujudan mengharapkan bahwa prinsip-prinsip tata pemerintahan daerah yang baik dapat segera diwujudkan melalui berbagai sosialisasi dan pelembagaan di semua lembaga tata pemerintahan. Dengan pelaksanaan seluruh

Aasosiasi DPRD juga dapat mendesakkan. DPRD pada gilirannya akan harus mampu menjadi simpul dari berbagai dialog publik yang melibatkan berbagai aktor yang berkompeten. Asosiasi DPRD dapat hendak memberikan berbagai masukan penting bagi revisi puluhan berbagai peraturan perundang-undangan yang berkenaan dengan pemerintahan di daerah. agar maka tata pemerintahan nasional akan mampu untuk dikondisikan agar secara terus-menerus melibatkan aktor-aktor pemerintahan di daerah dalam merumuskan berbagai bentuk kebijakan publik. melalui mengharapkan bahwa dengan partisipasinya dalam berbagai dialog politik dan kebijakan nasional. maka DPRD akan menciptakan perangkat dasar dari pemerintahan kota yang mementingkan warga. Pada skala nasional. .fungsi dan tugas kedewanan sebagaimana mestinya.

demokratis. Praktek-praktek korupsi. partai politik dan susunan dan kedudukan MPR. Sebagai lembaga perwakilan rakyat.Bab II Arah Demokrasi Baru. kini tumbuh semarak. dan 2008-2009) untuk menyesuaikan dengan dinamika politik yang ada. dan nepotisme yang mewarnai hampir seluruh proses politik sempat menjebak sistem politik nasional yang tersusun selama dalam suatu format birokrasi otoriter. Cara ini dipilih sebagai Indonesia telah memulai langkah dasar yang paling awal dari reformasi. kolusi. saat ini tiga UU Politik tersebut telah diperbaharui sebanyak tiga kali (1999. Reformasi Keterwakilan dan Pengaruhnya terhadap Kapasitas Keparlemenan Agung Djojosoekarto Kerangka politik demokrasi di Indonesia telah berubah dan upaya pembaharuan sistem keterwakilan tengah berlangsung. Sebagai pusat pilar demokrasi di daerah. dan bebas. Dengan adanya wWakil-wakil partai politik di parlemen pemenang pemilu kini juga yang lebih majemuk dan . paling tidak untuk membangun Dengan antusiasme pemilih dalam pemilu yang yang sedemikian besar. Jumlah partai politik yang sebelumnya dibatasi. reformasi menyeluruh menuju tata pemerintahan yang lebih baik dan demokratis telah diangkat menjadi agenda dan tekad nasional. sehingga kepemimpinan nasional di bawah Orde Baru gagal untuk melakukan pembaharuan dan konsolidasi tata pemerintahan. Pembaruan dengan cara semacam ini dilakukan secara terus-menerus. Sejak reformasi 1998. DPD. Gerakan-gerakan politik yang dimotori oleh berbagai organisasi masyarakat sipil telah berhasil dalam menanamkan wacana demokratisasi dan partisipasi politik masyarakat yang nyata dan luas. dan DPRD. 2003. Langkah ini terbukti efektif. seluruh lembaga dalam tata pemerintahan berada di bawah kendali pemerintah yang didukung oleh ABRI dan Golkar serta partai partai politik hasil fusi. Selama rezim Orde Baru.1. DPR.. Upaya-upaya nasional untuk melakukan perubahan mendasar dalam pemerintahan telah memuncak dengan dilengserkannya kepemimpinan politik Orde Baru yang telah berkuasa selama lebih dari tiga dasawarsa. Bersamaan dengan perkembangan politik ini. lembaga-lembaga perwakilan rakyat tersebut . DPRD perlu mengembangkan diri menjadi model lembaga demokrasi dan sekaligus pengarusutamaan nilai-nilai demokrasi terhadap berbagai lembaga tata pemerintahan lain yang ada di daerah. lebih dari 140 juta pemilih telah memberikan suara mereka dalam Pemilu 1999 yang langsung. 2. Dinamika demokrasi Indonesia beberapa tahun terakhir Awal era reformasi politik di Indonesia ditandai oleh revisi terhadap Dengan direvisinya tiga UU politik yang mengatur tentang pemilu. yaitu dengan untuk melakukan pembaharuan lembaga-lembaga perwakilan rakyat agar yang lebih demokratis dan dipercaya oleh rakyat dibandingkan dengan periode Orde Baru. Sedemikan kuatnya budaya politik birokrasi otoriter dan keinginan pemerintah untuk mengendalikan seluruh tata pemerintahan. DPRD pun diharuskan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai prasyarat baru dalam tata demokrasi.

dan 2009 sebagai bagian dari pemenuhan tuntutan pembaharuan tata pemerintahan di Indonesia. 10/2008 yang digunakan pada pemilu 2009. Pengenalan terhadap ketokohan saja dinilai tidak cukup.mana dan fotonya tercantum dalam kertas suara.diharapkan tetap dapat efektif mewakili kepentingan-kepentingan rakyat dan partai politik secara luas. tetapi tetapi tidak sepenuhnya. yaitu dengan diterbitkannya UU No. Anggota DPRD dewan di masa yang akan datang diharuskan untuk menjadi wakil rakyat dan wakil partai politik secara lebih berimbang. yaitu pada dilaksanakan pada bulan Juni 1999. /1999 ini pada dasarnya memberikan kesempatan bagi rakyat untuk memilih langsung orang-orang yang mereka percaya sebagai wakil rakyat yang handal. Walaupun seringkali dikritik karena tidak menerapkan sistem distrik murni dan masih tingginya pengaruh partai politik. Kedua. 2004. UU Pemilu 2008 UU No. Bagaimanapun baiknya mutu perseorangan dari anggota DPRD yang dipilih. pengenalan pemilih terhadap kapasitas keparlemenan dari para calon wakil yang mencalonkan diri. Sistem perwakilan saat ini yang akan datang memang memberikan tekanan bahwa anggota dewanDPRD adalah wakil rakyat. Selain memilih wakil rakyat dalam DPR dan DPRD. pada pemilu 2004 dan 2009 juga dikenalkan pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai representasi masyarakat dari setiap daerah di tingkat pusat. mutu keterwakilan tergantung pada beberapa faktor penentu. Pertama. tetapi jika mereka tidak mendapatkan fasilitas yang memadai untuk menjalankan fungsi dan tugasnya maka DPR/DPRD dengan seluruh alat kelengkapan dan struktur pendukungnya tidak akan mempunyai kapasitas dan kinerja yang optimum. tetapi jika masyarakat sipil dan publik tidak mendesakkan agendaagenda daerah secara terstruktur dan sistematis maka DPR/DPRD akan tidak mempunyai tantangan dan tanggungjawab yang berarti. Jumlah partai peserta pemilu juga berkembang dan beragamPemilu tersebut diikuti oleh 48 partai politik. 12/2003UU No. Sistem pemilihan yang digunakan Pemilu ini masih dilakukan dengan sistem proporsional dengan daftar terbuka yang dikombinasikan dengan pembagian daerah pemilihan (dapil). seperti lewat sistem pemilihan dengan suara terbanyak. Sekalipun DPR/DPRD dipilih secara langsung dan menghasilkan anggota yang lebih bermutu. Ketiga. Apa konsekuensi pemilu langsung? Pemilu demokratis sejak pertama dalam era reformasi telah berlangsung tiga kali. . Dengan adanya revisi terhadap UU tentang pemilu. rakyat mendapatkan kesempatan untuk melakukan pemilihan langsung terhadap wakil-wakil mereka di DPRD. pemenuhan berbagai daya dukung bagi DPR/DPRD yang baru. Namun demikian. Partai politik menentukan wakil-wakil yang akan didudukkan dalam lembaga pemerintahan dan perwakilan. terlebih setelah keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengakibatkan penentuan calon terpilih melalui suara terbanyak. karena tokoh yang terkenal seringkali tidak mempunyai kapasitas kerja sebagai anggota dewan sesuai dengan yang diharapkan oleh pemilih dan pemda sebagai mitra kerjanya. kesiapan para aktor tata pemerintahan lainnya dalam proses politik lokal. Terpenting untuk dihindarkan adalah sisi negatif kedekatan emosional yang terlembaga antara anggota DPRD dewan dengan .

Mereka tidak siap untuk menata kembali perimbangan dan pembagian kekuasaan dengan eksekutif. Ini memungkinkan Ppartai politik di daerah mulai melakukan fungsi rekrutmen secara profesional dan.3. DPRD harus bekerja bersama-sama dengan partai politik di daerah. terlebih jika partai tersebut dominan di parlemen dan menjadi pendukung dari pemerintahpemenang pemilu. Beberapa partai politik juga menyatakan bahwa mereka sedang mempersiapkan program kepartaian yang lebih substantif sebagai landasan kampanye dan rekrutmen politik. Oleh karena itu. Seringkali anggota DPRD dewan mengatakan bahwa mereka wajib memperjuangkan kepentingan konstituen dan pemilihnya. lembaga legislatif tidak dalam posisi untuk menjatuhkan pemerintah eksekutif. DPRD tentu dikehendaki untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan pendekatan yang berbeda. Perubahan sistem keterwakilan Dalam sistem pemerintahan presidensial.pemilihnya yang memungkinkan bersemainya praktek politik diskriminasi. upaya untuk mendudukkan bahwa anggota DPRD dewan adalah wakil seluruh rakyat seperti yang telah dilakukan oleh beberapa DPRD di daerah layak untuk dilanjutkan dan dilembagakan. Dalam penerapannya di tingkat daerah. 2. kecuali jika terjadi pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip konstitusional. Tetapi pada kenyataannya tidak pernah ada yang tahu. Jika partai politik hanya berfungsi sebagai pengelola politik perwakilan. 2. kolusi. Pendekatan yang mendasarkan pada proyek pelatihan tidak akan cukupsesuai. Dalam konteks baru seperti ini. Mungkin yang lebih sulit adalah ketika ada menata hubungan organisasi kemasyarakatan tertentu yang merupakan afiliasi dari partai politik . kepala daerah/pemerintahan daerah yang dipilih langsung oleh rakyat juga akan mempunyai legitimasi politik yang sangat kuat. Dalam menghadapi realitas politik yang baru seperti ini. maka partai tidak akan mendapatkan dukungan riil dalam proses politik dan dengan sendirinya akan terpinggirkan dalam pemilu yang berikutnya. termasuk dalam pemilihan calon legislator. Prioritasisasi di DPRD harus dilakukan dengan pendekatan yang memungkinkan DPRD menghasilkan produkproduk dewan yang mewujudkan check and balance lebih bermutu. Beberapa DPRD terlihat gamang menghadapi perkembangan politik yang baru ini.1. Partai politik harus ditransformasikan sebagai lembaga agregasi kepentingan publik yang mendukung DPRD. Perubahan sistem dan politik perwakilan seperti tersebut di atas akan menghendaki strategi peningkatan kapasitas dan kinerja DPRD yang berbeda. dan nepotisme. Berbagai partai politik di daerah terlihat telah mendapatkan delegasi kewenangan yang begitu besar dari dewan pimpinan pusat (DPP) mereka masing-masing. korupsi. karena ia hanya akan memberikan dasar-dasarnya saja. DPRD harus mengembangkan program peningkatan kapasitas dengan struktur dan sistematika baru. yang sesuai dengan realitas tersebut. DPRD dalam tata keterwakilan baru . DPRD tampaknya tidak lagi mungkin untuk menjatuhkan kepala daerah terpilih melalui mekanisme pertanggungjawaban tahunan. warga mana memilih anggota DPRD dewan yang mana.

. Pandangan ini tentu berbeda dengan pandangan para politisi di . pPendekatan restrukturisasi terhadap masing-masing lembaga pemerintah diyakini dapat mendukung proses pembangunan demi pengentasan kemiskinan. birokrasi telah mengalami perubahan paradigma yang cukup mendasar. Sejalan dengan perkembangan politik dewasa ini. struktur birokrasi haruslah tidak dipandang sebagai instrumen administrasi teknis saja. yaitu dan jika lembaga-lembaga pemerintah dapat bekerja lintas sektoral dan terpadu sehingga maka masalah-masalah penting dan kompleks akan dapat diatasi bersama. karena birokrasi sebelumnyalama ini identik dengan kekuasaan partai politik tunggal yang mempunyai diskresi kekuasaan yang sangat besar. Ada upaya-upaya yang sangat jelas dari rezim yang lebih demokratis sekarang ini untuk mengendalikan birokrasi. para pemikir kritis lokal yang relatif radikal menyatakan bahwa dominasi birokrasi yang telah gagal dalam melaksanakan pembangunan ini harus dilawan. Dalam struktur politik baru ini. melainkan juga sebagai sub sistem politik di mana koalisi mewujud untuk mencapai pilihan-pilihan kebijakan tertentu yang terikat dan dimana ada hubunganhubungan pada struktur-struktur politik yang lebih luas dalam masyarakat. atau hampir tanpa batas dan kendali. Dengan memandang birokrasi sebagai bagian dari sistem politik. Perlu diperhatikan adalah bahwa pada kenyataannya birokrasi di daerah yang sekarang adalah kelanjutan dari rezim bureaucratic authoritarian dari masa Orde Baru. perhatian politik kritis adalah pada interaksi kepemimpinan politik dan pelayanan umum. keberadaan birokrasi tetap kuat dan tidak sepenuhnya ditentukan oleh perubahan konstruksi politik yang ada. Apapun metode yang dipilih untuk memperbaharui birokrasi.Bagaimana konstelasi dan hubungan politik antara DPRD dan pemda? Indonesia telah memasuki tahap lanjutan dalam proses demokratisasi. Keinginan pemerintah untuk melakukan berbagai perbaikan dalam birokrasi tidak lepas dari berbagai rekomendasi kelompok developmentalist yang memandang bahwa birokrasi dapat memperbaiki diri dengan memperkenalkan metode perencanaan pembangunan yang baru yang mampu merespon dan melembagakan dinamika masyarakat. Maka. Walaupun pejabat-pejabat politik baru telah dan akan dipilih. Maka. sejauh kekuatan politik riil dari pelaku tata pemerintahan ini masih dominan maka pengembangan DPRD harus menghadapi proses yang lebih berat. Birokrasi adalah sistem kekaryaan manajerial yang ditata secara hirarkis dimana orang dipekerjakan untuk mendapatkan upah atau gaji dari pemda. seperti ditunjukkan oleh pemilu langsung dan pembentukan pemerintahan yang lebih memenuhi prinsip keterwakilan. Bagaimana menyikapi kekuatan politik riil dari birokrasi? DPRD di berbagai daerah ternyata menunjukkan tingkat ketergantungan yang relatif tinggi terhadap birokrasi. Perlawanan harus pula dilakukan terhadap struktur domestik dan asing yang membantunya. penting kiranya membangun realisme bahwa mungkin mudah untuk menggantikan sistem politik. Ini tentu saja bukan upaya yang mudah dan bahkan dapat dikatakan sangat sulit. tapi proses dari pembaharuan birokrasi membutuhkan waktu yang lebih lama. Menanggapi kegagalan birokrasi lokal dalam melaksanakan berbagai program pembangunan.

dan akuntabilitas publik.DPRD yang menginginkan perubahan yang lebih luwes atau soft namun mendasar. DPRD sendiri seringkali harus terjebak pada arah politik yang berbeda dari ketiga pilihan politis tersebut. Proses pengambilan keputusan menjadi sentralistik dan paternalistik. . DPRD sering dipaksa untuk masuk dalam kerangka kerja seperti ini. telah mempengaruhi instrumentalitas rasional untuk menciptakan pola-pola birokrasi yang menyimpang. buruk dalam komunikasi. Ketiga. berbagai inisiatif internasional yang mencoba untuk mendukung upaya pembaharuan birokrasi ada pula yang bersifat lebih khusus. Kesenjangan antara birokrasi tingkat atas dan tingkat bawah sangat jauh. Kedua. bagaimana sebenarnya pergeseran politik birokrasi? Ketika Orde Baru berkuasa. Pada perkembangan selanjutnya. dalam hal profil sumber daya manusia. Ketika orang mengatakan birokrasi. Dalam kaitannya dengan peningkatan kapasitas DPRD. karena mereka sangat tergantung pada birokrasi di daerah. Sifat-sifatnya adalah: wajib. penundaan operasi dan jarak antara pelayan publik dan klien mereka. Birokrasi menengah yang jumlahnya kecil menjadi bumper terhadap kebijakankebijakan tingkat atas dan menjadi pelaksana kegiatan-kegiatan yang bersifat khusus. Hal ini mungkin disebabkan karena keinginan birokrasi untuk tetap mengendalikan semua proses tata pemerintahan di daerah. DPRD pun ikut mendukung kritik terhadap birokrasi yang menyatakan lembaga ini penuh kerahasiaan. Walaupun secara teoritis tuntutan ini tidak dapat ditawar dan harus segera diupayakan namun pelembagaannya membutuhkan kehati-hatian tersendiri. Di satu sisi. yang dimaksud seringkali adalah sektor publik. Desentralisasi ternyata tidak disertai dengan pengalihan fungsi dari sektor pemerintah ke sektor LSM atau swasta. terdapat beberapa permasalahan yang penting untuk dibahas berkaitan dengan kekuatan politik riil dari birokrasi. birokrasi diarahkan untuk memasukkan teknik teknik manajemen sektor swasta. Isu-isu yang berkenaan dengan budaya paternalistik yang berorientasi pada budaya kerjaan (terutama Jawa) yang sebenarnya merupakan elemen-elemen non birokratis lingkungan politik. terkait dengan hukum. yaitu rasionalisasi dari efisiensi kolektif yang memungkinkan birokrasi mampu mencapai efisiensi paling tinggi . birokrasi dengan jumlah besar telah memberikan dukungan kepada partai yang berkuasa (Golkar). Birokrasi juga merupakan cara untuk mengatakan menempatkan administrasi publik sesuai dengan tempatnya dalam negara. Pertama adalah kesiapan birokrasi untuk dikembangkan menjadi birokrasi profesional. Struktur birokrasi menengah di daerah pada umumnya relatif lemah dan ukurannya pun kecil. misalnya dalam hal pembelanjaan oleh pemerintah. Dalam paradigma manajerialisme. Dalam berbagai pola hubungan kerja dan kerjasama antara DPRD dan birokrasi muncul gejala the economy of affection yang berakar dari kekerabatan. pembaharuan birokrasi tetap harus mengacu pada tujuan pokoknya. yaitu dengan memberikan kesempatan pada pemerintah untuk memainkan peranan ekonomis yang lebih luas seraya mempromosikan berbagai kerjasama dengan pihak swasta yang antara lain dapat mengambil bentuk contracting-out untuk berbagai jasa pelayanan publik. sifat dari struktur dan prosedur administratif adalah fokus lain yang dapat menunjukkan tidak berfungsinya birokrasi pembangunan. Ketiga opsi politis tersebut mempunyai dampak yang berbeda-beda antar daerah dalam kerangka pemberdayaan DPRD.

yang dalam jangka panjang dapat menimbulkan salah orientasi atau bahkan gejala hipokrit. di Indonesia kini tengah terjadi transisi yang membingungkan dan sering kehilangan orientasi. disebabkan antara lain oleh pendidikan politik yang kurang mencukupi.4. maka DPRD harus mampu menarik resultante antara kondisi politik dan sosial. dan sosial dapat dipenuhi. penghapusan diskriminasi dan minoritas. Berkaitan dengan pengaruh budaya terhadap birokrasi. DPRD harus mampu melembagakan desentralisasi kekuasaan untuk menjamin partisipasi rakyat dalam pembuatan keputusan. Oleh karenanya. 2. baik pada jalur pendidikan formal maupun pembelajaran publik secara informal. Para politisi. pembahasan dan pengkajian langsung perlu diarahkan DPRD pada tema-tema yang relevan dan mudah untuk diikuti. Tata pemerintahan demokratis dipahami pada kerangka politik atau pemenuhan hak-hak ekonomis dasar warga. Kesulitan ini. sehingga para pelaku tata pemerintahan membutuhkan fasilitasi lebih banyak lagi untuk membangun wacana baru. dan masyarakat sipil pada umumnya sulit diajak untuk mengembangkan konteks tata pemerintahan demokratis dengan kerangka tersebut. Kondisi ini pada dasarnya terwujud ketika lembagalembaga tata pemerintahan tanggap terhadap aspirasi dan kepentingan seluruh warga dan desentralisasi diwujudkan secara konsisten berdasarkan konstitusi demi partisipasi warga yang lebih besar. serta pengembangan perdamaian dan harmoni sosial pun harus tidak luput dari perhatian DPRD. Melalui mekanisme dan prosedur pengawasannya. Tata pemerintahan demokratis akan terwujud jika pra kondisi politik. Dampak dan jebakan pembodohan (massification) tampaknya sangat dalam dan kuat. Pra kondisi politik yang perlu diperhitungkan oleh DPRD Bagaimana DPRD menyikapi tata pemerintahan yang demokratis? Tata pemerintahan yang demokratis adalah salah satu bingkai penting untuk peningkatan kapasitas DPRD. diakui. Tata pemerintahan yang demokratis bukanlah semata-mata urusan politis melainkan juga urusan ekonomis dan sosial. Agar DPRD mampu mengembangkan kapasitasnya. media massa. baik di lembaga legislatif maupun eksekutif. ekonomi. Keterjangkauan dan kesetaraan hukum. DPRD juga harus mampu menjaga akuntabilitas dan transparansi dari para pembuat dan pelaksana keputusan tersebut. etnisitas dan agama yang mempengaruhi organisasi. apakah birokrasi mendasarkan pada budaya religius institutional atau mendasarkan pada budaya sekuler instrumental atau (lebih kurang menguntungkan) pada budaya religius instrumental.kesukuan. Gejala ini tampaknya masih terus berlangsung dalam konteks hubungan antara DPRD dan birokrasi di daerah. DPRD perlu dibekali dengan pemahaman . Bagaimana DPRD mengelola pola-pola distribusi ulang sumber daya dan keadilan sosial? Permasalahan tentang prasyarat ekonomis tata pemerintahan demokratis adalah pada tingkat kebijakan ekonomi.

Pra kondisi ketiga adalah keadilan jangkauan terhadap sumber daya keuangan. Pra kondisi ekonomis yang kedua adalah perpajakan progresif dan adil serta subsidi yang terjamin bagi daerah. dapat dilihat melalui formula yang diatur dalam UU 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. telah diatur urusan wajib dan urusan pilihan Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . Para politisi di DPRD pada umumnya menyambut gembira desentralisasi karena daerah diberikan kewenangan lebih besar untuk mengelola aset daerah. 38/2007 sebagai turunan dari UU No. dan kabupaten/kota yang diatur dalam PP No. 32/2004. Prasyarat ekonomis bagi tata pemerintahan demokratis yang pertama adalah pemberian dan ketercukupan sumber daya atau anggaran untuk bidang-bidang prioritas sosial. Aset-aset ekonomi besar masih dikuasai pengelolaannya oleh pemerintah nasional. Kondisi seperti ini menjadikan DPRD tidak mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat yang beraneka ragam sekalipun mereka memahaminya. Sentralisasi juga terjadi pada sektor keuangan yang menguasai permodalan di daerah. serta formula dalam pembagian urusan antara pemerintah pusat. Kondisi seperti ini diperburuk dengan penguasaan atas tanah oleh pelaku-pelaku atau pemilik-pemilik modal nasional atau yang berlokasi di Jakarta. Keterbatasan bagi daerah ini. Mekanisme melalui DAU pun dipandang masih kurang menjamin pemenuhan kebutuhan anggaran. modal dan tanah bagi para pelaku ekonomi di daerah. (ii) Baru mulai mengenal kehidupan dan proses politik riil (seperti terjadi di Sulawesi Selatan). provinsi. Masyarakat selama ini dinilai tidak mampu berpartisipasi dalam politik karena: (i) Lebih berkonsentrasi pada pekerjaan sebagai buruh (seperti masyarakat buruh di Kalimantan Timur). berbagai lembaga keuangan cenderung mengalirkan dana kembali ke pusat sehingga para pelaku perekonomian di daerah tidak mempunyai akses memadai terhadap modal. Bahkan. warga dinilai tidak akan mampu berpartisipasi secara riil dalam berbagai proses politik. DPRD di berbagai daerah telah mencoba untuk mengembangkan kapasitas dan cara kerja yang mereka anggap sesuai dengan realitas masing-masing. Para anggotaDPRD yang terlibat dalam diskusi pada umumnya menyatakan bahwa desentralisasi belum mencakup aspek perekonomian. Memang ada kecenderungan di mana daerah mengutamakan pemenuhan PAD dengan pengelolaan sumber daya alam yang kurang hati-hati tetapi ini dilakukan karena pemerintahan di daerah tidak melihat kemungkinan lain. Berbagai peraturan yang diterapkan pada sektor-sektor tertentu cenderung mendua. termasuk di DPRD. sehingga ketergantungan terhadap pemda tidak dapat dihindari. Aspek ini dikatakan penting untuk memberdayakan warga secara ekonomis. Dalam kondisi seperti ini DPRD tidak mampu berkembang secara optimal. dalam konteks regulasi. Dalam PP ini. Dengan kondisi sosio ekonomi yang berbeda. Tetapi mereka pun menyampaikan bahwa kondisi keuangan di daerah masih jauh dari mencukupi untuk memenuhi pembiayaan daerah. atau (iii) Telah mempunyai kesadaran politik yang lebih tinggi tetapi tetap apatis terhadap sistem yang ada atau memilih jalur politik alternatif (seperti terjadi di kota pelajar Yogyakarta). sehingga pemerintahan di daerah tidak mampu untuk mengelola.menyeluruh baik pada kebijakan ekonomi makro maupun pemenuhan aspek-aspek ekonomi mikro yang mendasar. Warga di daerah pada umumnya hanya menguasai dan mengelola sumber daya tanah dalam luasan yang relatif terbatas. Tanpa kekuatan atau daya ekonomis dasar.

Singkatnya. perangkapan profesi sebagai pengusaha dan anggota DPRD cenderung berdampak negatif karena. tidaklah mungkin para pelaku ekonomi menjadi anggota DPRD sekaligus. prosedur. Peninjauan terhadap kebijakan publik (misalnya perda atau kebijakan pemda) hampir tidak pernah dilakukan secara menyeluruh sebagai akibat dari keluhan masyarakat.5. Ketika terjadi pelanggaran-pelanggaran kebijakan atau program-program pembangunan. DPRD tidak dapat merumuskan perda inisiatif karena masyarakat sipil berpartisipasi baru sebatas demonstrasi dan memprotes pelaksanaan kebijakan tertentu. Bagaimana DPRD sebaiknya mengelola keterkaitan kepentingan antara pelaku ekonomi dan politik? Permasalahan yang selama ini banyak dibahas adalah bagaimana jika yang menjadi anggota DPRD pada kenyataannya adalah para pelaku ekonomi kelas atas atau menengah di daerah? Seringkali dikemukakan bahwa DPRD telah menjadi tempat untuk membagi akses dan kendali ekonomi sehingga yang diutamakan adalah kepentingan bisnis dari para anggota DPRD atau kelompok pendukungnya. konstelasi keanggotaan DPRD seperti ini menjadikan alat kelengkapan dan anggota dewan menjadi tidak berdaya karena harus mengembangkan toleransi antar kelompok di dalam DPRD sendiri. Hal ini seringkali telah Ini sesuai dengan permasalahan yang terjadi sejak pada proses perumusan dan persetujuan DPRD terhadap tentang APBD yang diajukan pemda. Kondisi perselingkuhan antara politik dan ekonomi ini dapat menjadi awal munculnya rantai korupsi yang panjang. yang diberikan oleh satu kelompok harus mendapatkan imbangan toleransi terhadap kelompok yang lain. standar. Lebih jelas tentang pembagian urusan ini dapat dilihat dalam bagian lampiran PP ini yang mencakup pembagian urusan di semua bidang pemerintahan yang menghubungkan antar tingkatan pemerintahan. 2. dan kriteria yang wewenang penyusunannya diberikan kepada pemerintah pusat. dengan menanggapi berbagai kegiatan demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Not Bold . Anggota DPRD atau alat kelengkapan DPRD cenderung bertindak sebagai fasilitator antara pemda dan masyarakat. Para anggota dewan pun kemudian sibuk. Sebagai contoh. layaknya pemadam kebakaran. sejak awal memang sudah terdapat keterbatasan dalam rangka menjamin kepentingan nasional dalam proses pembangunan di semua daerah. Praktis.dalam penyelenggaraan pemerintahan beserta norma. Dengan Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. DPRD dan tata pemerintahan demokratis di daerah Beberapa pengamat politik di daerah menyatakan bahwa kapasitas DPRD sekarang ini merupakan cerminan dari kapasitas masyarakat sipil. Penyelesaian masalah yang didesakkan oleh kelompok masyarakat tertentu pun cenderung bersifat instan dan pragmatis. idealnya. dimana pPemda seringkali berupaya untuk mengendalikan para anggota DPRD dengan memberikan proyek-proyek tertentu kepada anggota DPRD atau kelompok bisnisnya. DPRD tidak dituntut untuk melakukan tindak lanjut sistematis antara lain disebabkan karakteristik tuntutan masyarakat yang bersifat teknis.

kondisi masyarakat sipil seperti ini. para anggota DPRD menilai bahwa partisipasi ormas dinilai masih sangat minimal dan oleh karena itu kontribusi politik mereka pun relatif terbatas. sebab mereka masih cenderung mengambil jalan alternatif dan sering menyarankan sikap golput . Pendidikan politik yang dilakukan oleh partai politik dinilai belum mencukupi dan masih pada tahap sangat awal. Jika observasi yang dilakukan bersama dengan masyarakat media benar. Bagaimana mendayagunakan kapasitas politik masyarakat sipil? Kapasitas politik praktis masyarakat yang terlembaga mungkin tidak dapat berubah dengan cepat karena masyarakat pemilih di Indonesia belum mempunyai kapasitas politik riil yang memadai. Ormas ini menilai bahwa kontribusi mereka dengan memberikan calon-calon legislator yang dapat dihandalkan sudah mencukupi. Bagaimana DPRD memfasilitasi dinamika politik dari berbagai organisasi kemasyarakatan? Permasalahan lain yang perlu dikaji bersama oleh DPRD adalah dinamika politik dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) yang ada di daerah. Indikasi lain menunjukkan bahwa mutu anggota DPRD di masa yang akan datang mungkin sangat dipengaruhi oleh kesiapan politik warga pemilih. Demokrasi yang kini tengah berkembang kiranya tidak sesuai dengan sikap politik seperti ini sebab setiap warga negara dituntut untuk bertanggung jawab secara lebih nyata dalam politik. Dalam pemilu langsung. jika warga masyarakat tidak siap dengan memilih wakil yang relatif lebih bermutu (karena mereka cenderung hanya memilih partai politik atau karena money politics) maka mereka tidak dijamin akan mendapatkan mutu wakil rakyat yang lebih baik. Kondisi seperti ini jelas tidak kondusif untuk upaya peningkatan kapasitas dan kinerja DPRD. media massa pun melihat bahwa partisipasi politik riil dari masyarakat seperti sekarang ini masih akan berlanjut untuk jangka menengah. Jika sikap politik seperti ini ternyata berkembang. Dalam berbagai kegiatan keparlemenan. maka dapat dikatakan bahwa masyarakat sipil dengan lembaga-lembaganya belum siap untuk masuk pada era demokrasi baru. Italic . Beberapa LSM dan kelompok intelektual yang mulai aktif dalam sektor politik dinilai masih belum siap untuk melakukan transformasi. DPRD belum mendapatkan tantangan peningkatan kapasitas dan kinerja sebagaimana seharusnya. Sebagai tambahan. Baik DPRD maupun media massa berpendapat bahwa ormas kini masih belum aktif dalam berbagai kegiatan politik di daerah. Mungkin hal ini nya berbeda dengan pemilihan kepala daerah karena calon yang ada lebih terbatas dan mendapatkan sorotan tajam dari masyarakat. Formatted: Font: +Body. maka secara umum dapat diduga bahwa masyarakat belum benar-benar siap untuk melakukan pemilihan langsung terhadap wakil-wakil mereka di DPRD. Sikap seperti itu sebenarnya juga bertentangan dengan tata pemerintahan yang baik karena dengan tidak memberikan suara berarti warga memberikan dukungan politik pada calon yang mungkin kurang bermutu.

Sementara gejala ini dinilai dapat dimanfaatkan untuk sosialisasi politik di Kalimantan Timur. Apakah berbagai berita dan opini yang disampaikan oleh media massa berdampak nyata terhadap opini politik publik? Para wartawan keparlemenan cenderung berpendapat negatif. DPRD menilai bahwa kekuatan intelektual dan politik dari berbagai kelompok masyarakat yang berbasis politik atau asosiasi perlu terus dikembangkan dalam rangka peningkatan kapasitas dan kinerja DPRD. seperti misalnya di Kota Samarinda dan Propinsi Yogyakarta. Pada dasarnya para wartawan mendapatkan akses yang sangat terbuka terhadap seluruh kegiatan DPRD dan informasi-informasi dasar lainya. Ketiga. walaupun .Ormas yang ada di daerah juga dinilai belum mampu berfungsi sebagai kelompok penekan (pressure group) atau kelompok kepentingan (interest group). Walaupun belum mempunyai strategi khusus untuk mendukung demokratisasi di daerah (yang dikatakan merupakan wewenang redaktur). penyelenggaraan rubrik keparlemenan daerah perlu dan dapat dilakukan oleh masing-masing media. Artinya. DPRD diharapkan memberikan informasi secara jujur dan terbuka sehingga kesulitan memperoleh informasi yang selama ini dialami dapat diatasi. Ini memang seringkali dilakukan tetapi dinilai belum terencana oleh para awak media massa. Di DPRD propinsi dan kota. Kedua. Permasalahan menjadi lebih rumit ketika ormas yang berkembang di beberapa daerah justru berbasis kesukuan. Di beberapa daerah di Kalimantan Timur. praktek seperti ini seringkali dikatakan kurang ideal karena terdapat kesan wartawan dibiayai untuk memuat berita. Bahkan di beberapa DPRD. Kelompok yang dinilai mempunyai kekuatan politik signifikan ini pun dinilai masih membutuhkan upaya pemberdayaan tersendiri. Ini merupakan fungsi pendidikan politik oleh media massa. Pertama. Bagaimana DPRD dapat mengoptimalkan strategi media? Observasi yang dilaksanakan bersama dengan berbagai media lokal atau perwakilan media nasional serta para wartawan keparlemenan menunjukkan bahwa media massa tidak mempunyai strategi khusus untuk memfasilitasi demokratisasi dan reformasi tata pemerintahan. Namun demikian. media massa juga dapat secara terencana dan konsisten memuat berita dan opini tentang demokratisasi baik yang bersifat umum maupun kedaerahan. beberapa DPRD dikatakan mengalokasikan sejumlah anggaran untuk pemberitaan kegiatan DPRD. daerah-daerah lain cenderung menilainya secara berhati-hati. media massa menempatkan wartawan khusus untuk meliput berbagai kegiatan dewan yang diagendakan dan kegiatankegiatan lain yang terkait dengan dinamika dewan. Setiap media massa harus mengembangkan information intelligence masingmasing. Dalam diskusi-diskusi dengan media massa seperti ini. mereka memandang beberapa strategi berikut layak untuk dikembangkan. karena ikatan kesukuan justru dapat berakibat kurang menguntungkan untuk demokratisasi. Media massa pada umumnya mendapatkan kebebasan penuh untuk memuat berita dan opini keparlemenan yang mereka anggap penting. DPRD juga diharapkan untuk secara terjadwal mengadakan diskusi-diskusi publik yang melibatkan atau yang dikhususkan untuk media massa. Ini tidak berarti bahwa mereka tidak mendukung proses tersebut. media massa mendapatkan ruang khusus.

mereka menilai masyarakat mempunyai perhatian. tetapi berita yang menyangkut kepentingan publik pun seringkali tidak mendapatkan tindak lanjut. .

Dalam konteks baru ini. Hal ini sangat perlu dalam upaya memberikan pemenuhan dan pel ayanan kepada kepentingan rakyat. Bagi DPRD. pemilihan langsung juga memberikan jalur kendali yang lebih luas bagi rakyat dalam memastikan terakomodasikannya kepentingan mereka- Formatted: Font: +Body .BAB III Pemilihan Langsung dan Akuntabilitas Wakil Rakyat Diana fawzia Agung Djojosoekarto Kerangka hukum dan perundang-undangan politik di Indonesia telah mengalami perubahan sistemik yang mendasar. politik. Dengan demikian. Lebih dari sekedar penggembira dalam pesta demokrasi. Perubahan ini ditandai dengan pemilihan langsung terhadap berbagai pejabat politik di pusat dan daerah. rakyat pun dapat menuntut pemda dalam pemberian pelayanan publik yang lebih terjangkau dan bermutu. ekonomi. termasuk DPRD. dan legitimasi politik terhadap rakyat. Oleh karena itu. Dalam tata pemerintahan demokratis di Indonesia sekarang. pemilihan langsung memberikan akses politik kepada rakyat dalam upaya mendapatkan berbagai pelayanan publik (public service) yang menjadi haknya. pemilihan langsung mambuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas politik di daerah secara setara (political equality). adalah penting bagi anggota DPRD untuk menempatkan diri sebagai wakil yang langsung dipilih oleh rakyat dalam konteks jaringan kerja yang lebih luas. agama serta potensi sumber daya. pemilihan langsung untuk memilih wakil rakyat dan wakil daerah serta untuk membentuk pemerintahan yang demokratis dan kuat kini harus memperoleh dukungan rakyat secara penuh. Dengan kata lain. Pertama. sejak 2004 sudah dibentuk perubahan akan segera terjadi. Kedua. yaitu dengan dibentuknya Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Sementara itu. Ketiga. misalnya. anggota DPRD terpilih sekarang dikehendaki untuk selalu peka dan tanggap terhadap berbagai aspek sosial. akuntabilitas. budaya. harus ditinjau kembali dan didefinisikan ulang. akuntabilitas para anggota dewan terhadap rakyat. Terdapat tiga alasan pokok mengapa pemilihan langsung selaras dengan konteks desentralisasi dan otonomi daerah. pemilihan langsung memberikan berbagai peran pada rakyat untuk memberikan suara pada wakil mereka dan mengendalikan proses politik yang terjadi dalam berbagai lembaga perwakilan. dengan dilakukannya pemilihan langsung atas kepala daerah. rakyat dapat menuntut berbagai kebijakan dasar yang lebih kondusif bagi terwujudnya pelayanan publik yang lebih baik. pemilihan langsung diharapkan dapat lebih menjamin terlaksananya prinsip-prinsip keterwakilan. Rakyat kini tidak lagi berposisi sebagai peserta dalam pemilihan umum yang dilaksanakan lima tahun sekali. Dalam Sebagai pengembangan cabang kekuasaan pemerintahan legislatif. Ddasar pemikiran dan dasar kerja dari para anggota DPRD penting untuk ditata ulang sehingga mereka dapat sepenuhnya menempatkan diri sebagai wakil yang langsung dipilih oleh rakyat. Dengan pemilihan anggota DPRD secara langsung.

27/2009. rakyat dapat pergi ke pemda atau ke DPD agar kepentingan mereka itu dapat diperhatikan. perimbangan keuangan pusat dan daerah. Perubahan peraturan perundang-undangan di bidang politik telah mulai mendorong dilaksanakannya perubahan paradigma tata pemerintahan yang lebih demokratis.kepentingan dalam kebijakan-kebijakan publik yang lebih tanggap (responsive and accomodative policy). hubungan pusat dan daerah. Pengaruh pilihan langsung oleh rakyat akan mendorong anggota DPRD dalam meningkatkan kinerjanya. dan DPRD. DPD. 3. dan sekaligus pelayanan masyarakat. Terkait DPD. sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Oleh karena itu. Kontrak politik tersebut menghendaki para anggota dewan dan pejabat politik lainnya mengoptimalkan pelaksanaan proses politik demi tata pemerintahan yang lebih demokratis dan pembangunan di daerah yang menyejahterakan rakyat. sebagaimana diatur dalam UU Susduk No. para pejabat politik tersebut dipilih melalui rakyat melalui partai berdasarkan sistem proporsional tertutup di parlemen. Rakyat juga secara langsung memilih para pejabat politik eksekutif.1. sekarang ada kesadaran baru bahwa rakyat memberikan kepercayaan pada anggota DPRD untuk memperjuangkan kepentingan dan aspirasi politiknya. Hal ini dapat berlangsung karena adanya sistem check and balance yang lebih baik. dapatlah dikatakan bahwa pemilihan langsung dapat membangun hubungan kontraktual politik yang lebih baik antara anggota dewan dan konstituennya. Dalam pemilu sekarang pada dasarnya rakyat dapat secara langsung memilih wakil-wakilnya di DPR. rakyat memilih dan menempatkan para wakil mereka untuk duduk di lembaga-lembaga perwakilan rakyat. pelayanan pemerintahan. dimana rakyat. Dalam konteks ini anggota DPRD akan selalu menghadapi banyak hal yang berkenaan dengan kebutuhan program pembangunan. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . Pemilihan terhadap para wakil tentu dilakukan berdasarkan kepercayaan dan keyakinan. Bagaimana mengefektifkan hubungan antara anggota DPRD dengan pemilihnya? Rakyat kini telah memilih wakil-wakilnya secara langsung dan tidak dipilihkan oleh partai politik seperti pada pemilu-pemilu sebelumnya. jika kepentingan tertentu tidak dapat terpenuhi melalui kebijakan dasar yang dihasilkan DPRD dalam bentuk perda. Sebab. untuk akan mempunyai pengaruh sangat yang besar dalam proses politik di Indonesia. yaitu presiden dan wakil presiden serta kepala daerah. serta pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya yang ada di daerah. Sebagai contoh. Dengan keikutsertaannya dalam pemilihan langsung. Di masa lalu. Konsekuensi dari pemilihan langsung Apa konsekuensi dari pemilihan langsung? Pemilu 2004 dan 2009 berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Hal ini diharapkan akan membawa konsekuensi logis bagi . kepentingan rakyat daerah tersebut dimungkinkan untuk didesakkan dari tingkat pusat sepanjang berhubungan dengan otonomi daerah.

Selanjutnya hubungan yang ada dalam menjalankan tugasnya hanya dijalin dengan partainya. Dalam tipe ini anggota DPRD dapat bertindak sesuai dengan keinginan atau program dari partainya. Setelah anggota DPRD terpilih dalam pemilu. Perlu diantisipasi adalah hubungan antara anggota DPRD dengan dan partainya yang masih kuat. Agar hubungan dengan rakyat lebih efektif. sehingga posisinya sangat independent.Bagaimana hubungan yang ideal antara anggota dewan dengan dan pemilih? Secara umum terdapat empat tipe hubungan antara wakil (anggota DPRD) dan terwakil (rakyat). Dalam tipe ini anggota DPRD bebas bertindak atau mengambil keputusan menurut pertimbangannya sendiri. Anggota DPRD lebih mewakili partainya daripada mewakili rakyat. Ia tidak diharuskan untuk berkonsultasi dengan partainya. Tipe yang pertama adalah tipe wali (trustee). Karena perubahan tipe hubungan yang berubah secara radikal. Terlebih pada pemilu 2009. Ia tidak diharuskan berkonsultasi dengan yang diwakilinya. Pemilihan langsung dan kebijakan partisipatif Keeratan hubungan antara DPRD dengan pemilihnya paling mudah dilihat dari mekanisme pembuatan kebijakan yang dilaksanakan secara partisipatif. anggota DPRD juga sebaiknya membuat pemetaan masalah-masalah kemasyarakatan yang terjadi di daerahnya. Oleh karena itu. Dalam tipe yang kedua. penentuan calon terpilih didasarkan suara terbayak (bukan nomor urut seperti pada pemilu 2004). Untuk mengoptimalkan hubungan antara anggota DPRD dan rakyat. tipe ini sangat menonjol. Di masa lalu. Jika hal ini tidak diantisipasi dengan baik. memahami potensi daerah serta harus mampu melakukan seleksi prioritas atas berbagai permasalahan yang ada. yaitu tipe utusan (delegate). lepaslah hubungan dengan pemilihnya. baik konstituen ataupun partainya. Dalam tipe ini anggota DPRD dapat bertindak bebas karena legitimasinya. Agar pemenuhan kepentingan rakyat dapat lebih terjamin. yang merupakan paduan antara tipe wali dan tipe utusan. maka yang paling penting adalah dilakukannya pengrubahan pola pikir (mind set) dalam tata hubungan itu. anggota DPRD harus selalu mengikuti keinginan dan petunjuk dari yang diwakilinya. Salah satu atau kombinasi di antaranya dapat dijadikan acuan anggota DPRD dalam membangun hubungan dengan rakyat pemilihnya. Prinsip yang paling penting adalah akuntabilitas anggota DPRD terhadap rakyat. Tipe yang terakhir adalah tipe partisan. tetapi selama situasi tertentu ia harus bertindak sebagai utusan dan berkonsultasi dengan yang diwakilinya. seperti karena peran partai sangat besar dalam penyusunan daftar calon legislatif dan penentuan daerah pemilihan. Tindakan anggota DPRD ditentukan oleh isu atau materi yang dibahasnya. Anggota DPRD dinilai sudah betul-betul memperoleh kepercayaan dari rakyat melalui pemilu. para anggota DPRD yang telah dipilih secara langsung dapat melakukan berbagai langkah sebagai berikut: . Tipe yang ketiga adalah tipe politico. kecenderungan anggota DPRD untuk tetap partisan sangat terbuka. Anggota DPRD bertindak sebagai utusan dari yang diwakilinya. tipe politico tampaknya yang paling ideal sesuai dengan Pemilu 2004 dan 2009 yang bersifat proporsional terbuka. dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya.

Apakah DPRD telah menciptakan produk kebijakan yang mampu mendukung meningkatnya kualitas pelaksanaan pemilihan langsung di daerah dan menerapkannya secara konsisten? Dalam tata demokrasi yang mulai berkembang di tingkat nasional dan daerah. dan 5. Pertama. baik secara internal maupun eksternal? 5. Melakukan perbandingan antara hasil need assessment yang didapat dengan dan rencana pembangunan yang disusun oleh eksekutif atau yang termuat dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). Apakah DPRD telah memperhitungkan seluruh unsur penentu yang penting bagi penegakan supremasi hukum. prinsip ini acapkali dilupakan. Oleh karena itu. Apakah DPRD telah akomodatif terhadap stakeholders dalam merumuskan berbagai arah kebijakan? 4. Menginformasikan kepada masyarakat tentang kebijakan yang diputuskan dan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh DPRD disertai dengan alasan-alasan yang rasional. kelompok-kelompok dalam Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. dan untuk rakyat.1. rencana anggaran satuan kerja (RASK). Dengan demikian. pengawasan dan persetujuan DPRD terhadap APBD yang diajukan oleh eksekutif pada gilirannya diharapkan tidak hanya terbatas didasarkan pada pembahasan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). Oleh karenanya. dan pengawasan. Melakukan need assessment tentang kebutuhan masyarakat untuk dijadikan database. prinsip ini harus tercermin dalam pelaksanaan fungsi-fungsi utama DPRD. 4. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Memutuskan dan mendorong insiatif suatu perda yang mengakomodasi sebesarbesarnya kepentingan dan harapan rakyat.2. tatanan demokrasi menghendaki adanya suatu pemerintahan dari. penetapan anggaran daerah. 12 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . sebagai bagian pelibatan masyarakat (stakeholder) dalam proses pemerintahan dan pembangunan. 3. Apakah pelaksanaan fungsi dan tugas telah menempatkan kepentingan rakyat yang merupakan pemegang kedaulatan yang paling tinggi? 2. yaitu pembuatan peraturan perundangundangan. oleh. pertanyaan-pertanyaan dasar berikut ini perlu selalu dipertimbangkan setiap kali anggota DPRD melakukan fungsi dan tugasnya: 1. Dalam prakteknya. DPRD harus mampu berfungsi sebagai penyeimbang dan penyelaras dari berbagai kepentingan (political prerequisite). Dewasa ini. 3. Apakah anggota DPRD dapat mempertanggunggugatkan semua produk kedewanan yang dihasilkannya sebagai bukti akuntabilitas publik? 3. ada beberapa pra kondisi penting yang perlu dipenuhi oleh DPRD. 2. Melakukan kajian berdasarkan kepentingan dan kebutuhan rakyat terhadap rencana anggaran sebelum diputuskan menjadi APBD. Kontrak sosial anggota DPRD dalam tata demokrasi baru Apa tuntutan suatu tatanan demokrasi terhadap DPRD? Secara ideal. dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang didalamnya termasuk Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Pemerintah Daerah (RKA-SKPD).

rakyat juga dapat menilai kesesuaian program dari partai politik yang akan dipilihnya. Harmonisasi kepentingan merupakan tugas penting yang perlu dipertimbangkan dalam setiap perumusan kebijakan oleh DPRD. meski terbatas. dalam tatanan demokrasi. nama-nama calon telah disampaikan melalui berbagai media dan rakyat dapat secara langsung menentukan pilihannya. DPRD selayaknya menjadi penjaga integritas norma hukum dan perundang-undangan di lingkup daerahnya (legal prerequisite). Kedua. Oleh karena itu. Ketiga. ia harus terlibat aktif dalam memfasilitasi perubahan sosial di lingkungannya (social prerequisite). Oleh karena itu. Bagaimana menyikapi hubungan kontrak sosial yang baru? Dalam Pemilu 2004 maupun 2009. DPRD pun dikehendaki untuk melakukan berbagai program pematangan demokrasi pada tingkat lokal. Betapapun demikian. Not Italic Formatted Table . Pengembangan kelembagaan ini harus memperhatikan spektrum pemerintahan yang luas. DPRD pun diharuskan mampu membentuk kerangka peraturan yang diperlukan untuk membangun lembaga dan struktur pemerintahan di daerah yang efektif (institutional prerequisite). dalam tata demokrasi. Kemampuan DPRD dalam mengembangkan budaya politik lokal yang kondusif untuk demokrasi akan memberikan dampak yang positif untuk peningkatan kinerjanya sendiri. dengan berbagai produk dan keputusannya. hal ini tidak menghilangkan prinsip konstitusional bahwa pemilihan umum dilaksanakan secara langsung oleh rakyat. Dengan berbagai kampanye melalui media massa.masyarakat sipil mulai mampu membentuk kekuatan-kekuatan politik. sebab proses pengenalan berlangsung singkat. DPRD adalah pembuat perda yang merupakan kebijakan dasar di tingkat daerah. DPRD harus mampu memfasilitasi redistribusi berbagai aset dan akses atas sumber daya dan hasil pembangunan (economic prerequisite). Keempat. Setidaknya. sebagian besar rakyat mungkin belum dapat mengetahui dengan persis tingkat kualitas memilih nama calon yang dipilihnya secara langsung. dari tingkat nasional sampai tingkat daerah. rentang kelembagaan yang perlu diperhitungkan DPRD sangat luas. DPRD akan mendapatkan dukungan yang mempermudah pelaksanaan fungsi dan tugasnya. mulai dari peraturan perundang-undangan tingkat nasional sampai peraturan adat yang berlaku lokal. Dengan perda yang dihasilkannya DPRD dapat meminimalkan disparitas antar warga masyarakat dan mewujudkan pemerataan yang lebih baik. Jika rakyat lebih mampu melakukan partisipasi politik secara terlembaga. dalam kerangka transformasi sosial yang lebih luas. Anggota DPRD harus menjadi penjaga dan contoh dalam hal ketaatan hukum. Pemilu seperti itu menghasilkan hubungan kontrak sosial yang berbeda dibandingkan dengan pemilu yang sebelumnya. AkhirnyaKelima. Perbedaan itu dapat dipaparkan secara singkat sebagai berikut: Indikator Pemilu lama (Pra 2004) Pemilu baru (2004 dan 2009) Formatted: Font: +Body. Hal ini khususnya relevan untuk pemenuhan kesejahteraan dari warga yang rentan terhadap kemiskinan dan keterbelakangan. Dalam sistem pemerintahan dewasa ini.

anggota DPRD dapat menjaga apakah berbagai kepentingan yang menjadi dasar kontrak sosialnya dapat dipenuhi dengan baik. Dengan cara ini. melainkan juga menjadi dasar rasional untuk mengoptimalkan perolehan dukungan politik. Tapi agar kontrak politik menjadi lebih efektif dan mendukung DPRD. ia juga harus menciptakan gagasan terbaik untuk memaksimalkan pemerintahan dan pembangunan di daerah. Berbagai hasil yang didapatkan dapat diolah lebih lanjut dan digunakan untuk mendukung keberhasilan pemilihan umum yang berikutnya. Apakah memenuhi janji politik selama kampanye saja sudah cukup? Tentu saja tidak. sementara anggota DPRD melaksanakan fungsi dan tugas konstitusionalnya. Dalam konteks ini. Upaya ini dapat dilaksanakan dengan cara memfasilitasi rakyat dalam memberikan kritik dan masukan bagi DPRD melalui berbagai media. Beberapa kerugian yang dapat ditimbulkan antara lain: . Oleh karena itu.Calon aAnggota yang telah terpilih tidak akan mendapatkan suara dalam pemilihan langsung periode berikutnya. . Anggota DPRD yang telah terpilih mempunyai kewajiban untuk memenuhi berbagai janji politik itu. berbagai partai politik menebar berbagai janji melalui program-program yang ditawarkan pada rakyat. Upaya-upaya yang terkait dengan perbaikan proses pemerintahan dalam cabang .Banyak protes akan ditujukan kepada fraksi tertentu di DPRD. konteks demokrasi baru memberikan peluang kepada rakyat untuk ikut serta dalam meningkatkan kinerja dari DPRD dengan berbagai cara. hubungan kontrak sosial antara rakyat dan anggota DPRD dapat dikatakan bersifat dinamis. Para anggota DPRD secara terus-menerus perlu melakukan penilaian dan penjajakan dinamika kepentingan dan orientasi politik rakyat.Akuntabilitas dan integritas DPRD akan dipertanyakan oleh rakyat dan publik secara luas. Bagaimana rakyat diharapkan mendukung kinerja DPRD? Setelah memberikan kepercayaan politik pada para wakilnya.Partai politik akan kehilangan kepercayaan dari rakyat. rakyat dapat memberikan kebebasan pada mereka. . .DPRD akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya secara demokratis.Siapa yang berkontrak sosial? Apa posisi rakyat/pemilih? Bagaimana realismenya? Bagaimana konsekuensinya?  Anggota DPRD  Partai politik Rakyat sebagai peserta/penggembira pesta demokrasi Rakyat cenderung emosional karena partai pilihannya Rakyat lemah dalam mengontrol para wakil  Rakyat/pemilih  Anggota DPRD  Partai politik Rakyat sebagai Pemilih wakil rakyat yang ditawarkan partai politik Rakyat bersikap lebih rasional dalam memilih Rakyat dapat secara penuh mengontrol para wakil Dalam kampanye yang lalu. serta . upaya ini penting bukan saja untuk memenuhi janji politik. Upaya ini dapat dilaksanakan dengan partai politiknya. Kegagalan dalam memenuhi janji politik akan berdampak disinsentive terhadap partai politik.

rakyat di berbagai daerah telah menunjukkan bahwa mereka dapat pula menuntut pelaksanaan law enforcement yang lebih tegas terhadap anggota DPRD yang melakukan penyimpangan. atau sidang-sidang komisi lainnya. Badan Kehormatan DPRD. Menjaga akuntabilitas wakil rakyat Apa ciri-ciri wakil rakyat yang akuntabel? Para wakil rakyat dapat dikatakan akuntabel jika ia. rapat dengar pendapat (RDP) dengan pemerintah. Dengan demikian. Transparansi diperlukan bukan hanya untuk kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh DPRD. upaya kritis oleh rakyat ini dalam jangka panjang justru akan menguntungkan DPRD dalam upaya membangun lembaga perwakilan rakyat yang bersih dan berwibawa. Dalam hal ini.3.legislatif seperti yang telah dikemukakan terdahulu menunjukkan bahwa rakyat dapat mendukung peningkatan kinerja dengan selalu mengontrol akuntabilitas dari DPRD dan seluruh anggotanya. Dalam akuntabilitas. rakyat dapat melibatkan diri secara aktif dalam pembahasan perda. dalam rangka menegakkan pelaksanaan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik. . DPRD akan mempunyai prospek untuk menciptakan sistem insentif yang lebih baik secara kelembagaan maupun karir politik perorangan. Inspektorat. Sebaliknya. Badan Pengawas Keuangan Pemerintah (BPKP). nuansa konstraktual dan hukum lebih kental dan berdimensi eksternal dibandingkan responsibilitas yang cenderung internal. rakyat tidak cukup dengan menunggu tawaran dari DPRD untuk ikut serta dalam berbagai proses pembahasan tapi rakyat secara aktif dapat pula mengikuti berbagai sidang terbuka. maka partisipasi dalam perumusan dan penentuan kebijakan dasar pemerintahan dan pembangunan daerah pun dapat dilakukan. atau RAPBD. Hubungan kontrak politik yang diarahkan untuk mendukung peningkatan kinerja DPRD juga menghendaki adanya arus informasi yang lancar antara DPRD dan rakyat. dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ataupun institusi pengawasan negara yang bersifat independen seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebagai tambahan. Sebagai contoh. sesuai dengan ciri hubungan kontrak sosial dari para wakil rakyat. secara perorangan dan kelembagaan. Maka. termasuk dengan memanfaatkan keberadaan institusi pengawasan internal seperti. Akuntabilitas atau tingkat pertanggunggugatan tidak sama dengan responsibilitas atau tingkat pertanggungjawaban. tetapi juga seberapa besar sumber daya yang disediakan untuk DPRD dan seberapa efektif DPRD mendayagunakan untuk sebesar-besarnya manfaat rakyat. Walaupun dalam jangka pendek terkesan berlebihan. 3. maka para wakil rakyat dapat dikatakan akuntabel jika mereka siap untuk digugat oleh rakyat atas apa yang dilaksanakan dan dihasilkannya sebagai anggota DPRD. mampu mempertanggunggugatkan segala yang dilaksanakan dan dihasilkannya. DPRD juga harus lebih membuka diri agar forum-forum persidangan di DPRD dapat diakses oleh publik luas. Karena pemilihan umum hanyalah awal dari kontrak politik antara rakyat dengan dan DPRD. Proses pengendalian politik yang dapat dilaksanakan oleh rakyat seperti dipaparkan di depan perlu disikapi secara positif dan arif oleh DPRD baru.

Jika ia tidak setuju dengan kebijakan atau langkah tertentu. sekalipun berasal dari partai politik yang sama. Ketika anggota DPRD tertentu dipilih atau ditunjuk menjadi anggota dari alat kelengkapan dewan. peraturan perundang-undangan dengan jenis dan tingkatan sebagaimana yang dimaksud dalam UU No. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt . hak keuangan dan administratif dari DPRD telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP). peraturan dari partai politik serta berbagai aturan main lain yang telah ditentukan untuk keberadaannya. serta tunjangan pemeliharaan kesehatan. dan alat kelengkapan lainnya). fraksi. baik dalam komisi atau panitia kerja tertentu. tunjangan beras. Pun dalam menentukan uang tunjangan. anggota DPRD juga harus dapat memenuhi berbagai prosedur teknis yang berkenaan dengan penggunaan berbagai sarana dan prasarana pendukung kerja. Setiap anggota DPRD wajib secara aktif memastikan semua informasi yang berkenaan dengan kerangka aturan tersebut tersedia untuknya. posisi. Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Level 1. dan tugasnya. DPRD juga dapat mulai merumuskan profil politik secara perorangan. Badan Musyawarah. Sebagaimana diatur dalam UU No. fungsi. Agar kesalahan yang tidak perlu dapat dihindarkan. anggota DPRD harus pula mampu mempertanggunggugatkan kinerjanya terhadap partai politik dan konstituen tertentu yang mendukung partai politik itu. Badan Kehormatan. masing-masing anggota dapat mempunyai profil politik yang unik. dan target politiknya terhadap berbagai urusan politik yang dilaksanakan dalam berbagai forum internal dan eksternal DPRD. Bersikap diam akan berarti ia ikut bertanggung gugat terhadap kebijakan dan tindakan alat kelengkapan dewan itu. Partai politik akan menghendaki utusan-utusannya memperjuangkan kepentingan-kepentingan politik yang telah digariskan dalam program partai. maka ia harus secara aktif memastikan bahwa kebijakan dan langkah yang diambil oleh alat kelengkapan dewan itu selaras dengan nilai-nilai politiknya. Badan Legislasi Daerah. alat kelengkapan dewan (Komisi. Ini berarti bahwa anggota DPRD harus memahami UUDkonstitusi.akuntabilitas perlu dan bahkan harus dipenuhi dalam beberapa tingkat: perorangan. anggota DPRD harus secara terbuka dan jelas menyatakan sikap. Apa yang perlu diperhatikan agar dapat bertanggung gugat? Hal penting pertama yang perlu diperhatikan oleh anggota DPRD adalah penguasaan yang solid atas seluruh kerangka peraturan yang membingkai mandat. Para anggota DPRD tidak dapat secara semena-mena menggunakan berbagai sumber daya yang disediakan oleh negara karena. tata tertib dan kode etik DPRD. dan kelembagaan secara keseluruhan. 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. tunjangan keluarga. Secara perorangan. maka ia harus menyampaikan kepada publik dengan jelas dan tegas. Ketiga hal tersebut akan menjadi dasar utama untuk menilai kinerja perorangan dan pedoman dalam menyampaikan semua pertanggunggugatan politiknya di hadapan rakyat. 27/2009. Dalam posisinya sebagai aparatur negara. Badan Anggaran. pengaturannya harus disesuaikan dengan kemampuan daerah. seperti uang representasi. sebagai anggota fraksi yang merupakan bentuk kesatuan politik berdasarkan partai. Sebab. uang paket. anggota DPRD dapat melakukan pengecekan atau meminta penjelasan dari setwan sebagai pengelolaan keuangan dan tunjangan DPRD. Selanjutnya.

Space Before: 0 pt. Dalam kasus beberapa tahun terakhir. 2. 3. Formatted: Level 1. 2.88" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. Space Before: 0 pt. agar pertanggunggugatan kinerja dapat dilaksanakan dengan lebih mudah. Sebagaimana diatur dalam UU No. Pedoman anggaran kinerja secara umum bertujuan untuk: 1. baik dalam hal legislasi penganggaran maupun pengawasan. 3. Dalam mengoptimalkan kinerja fungsional tersebut. Secara tepat menentukan tahapan penyusunan anggaran. Legislasi.25". perda dan keputusan kepala daerah serta kebijakan nasional lainnya. anggota DPRD perlu secara terus-menerus mengecek. 22/200327/2009 tentang. Prinsip otonomi daerah misalnya bisa digali dengan menelisik ruang fisibilitas regulasi yang dimungkinkan sebagaimana diatur dalam UU No. Space Before: 0 pt. Don't adjust space between Latin and Asian text. Anggaran adalah fungsi dan tugas DPRD bersama-sama pemda untuk membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadapmenyusun dan menetapkan RAPBD. Selain itu. Tab stops: Not at 0. Materi perda ke arah penyelenggaraan otonomi daerah.4. UU No. Tab stops: Not at 0. tugas. yaitu fungsi dan tugas DPRD untuk membentuk perda baik dengan inisiatif mandiri ataupun bersama-sama pemda yang dipimpin kepala daerah. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Level 1. 38/2007. 58/2005.13". sasaran perda juga butuh dicantolkan pada upaya pencapaian target-target Milennium Development Goals (MDG s) setidaknya bagi jenis layanan-layanan publik dasar. masalah ini mencuat karena banyaknya perda-perda yang bertentangan dengan peraturan di atasnya sehingga kemudian dibatalkan pemberlakuannya (perda bermasalah). 33/2004. dan 3. Dasar pemikiran dalam melaksanakan fungsi anggaran dari anggota dewan perlu disesuaikan dengan sistem anggaran kinerja yang berlaku sesuai perundangundangan. Don't adjust space between Asian text and numbers Formatted: Indent: Left: 0. Tab stops: Not at 0. kinerja pokok DPRD disusun dan dinilai berdasarkan pada fungsi dan tugas konstitusionalnya.25" + 1. maka anggota DPRD wajib untuk menjadikan dokumen ini sebagai acuan pokok. Hal ini sangat penting karena dokumen ini merupakan dasar dalam pelaksanaan fungsi dan tugas pokok DPRD. rujukan sebagai dasar pertimbangan antara lain adalah: 1. serta PP No. dan wewenang DPRD. PP No.75" . Space Before: 0 pt.25" + 0. apakah seluruh sikap. fungsi dan tugas pokok DPRD mencakup: 1.19". 32/2004. Hanging: 0.18" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0.13".Sebagai tambahan. yang di dalamnya termasuk anggaran untuk pelaksanaan fungsi.25" + 0. adalah fungsi dan tugas DPRD untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UU. Karakteristik lokal perlu sebagai bahan pertimbangan agar tercapai kesesuaian arah pembangunan dengan kebutuhan masyarakat daerah. posisi dan target politiknya selaras dengan kebijakan dan sasaran program-program pemerintahan dan pembangunan daerah. Menjaga kinerja DPRD Pertimbangan fungsional Pada dasarnya. Sebagai anggota lembaga yang mensahkan renstrada RPJMD. Pengawasan. Tata urutan peraturan perundang-undangan. Ini menyangkut kesesuaian antara peraturan daerah di tingkat lokal dengan peraturan perundangundangan di atasnya. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Left.

Mengidentifikasi masalah-masalah utama dan perubahan yang berdampak pada proses anggaran tahun yang akan datang. Indent: First line: 0". Memberikan pedoman umum mengenai pendekatan anggaran yang digunakan. 3.P ) a ar e a anaan nggaran Pedoman Penyusunan K -SKP e a anaan en apatan. Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Perencanaan PJM Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Pelaksanaan ancangan KP Ver PP S K Nota Kesepakatan (Pemda.2. dan 4. Memberikan gambaran mengenai proses penyusunan anggaran secara keseluruhan disertai dengan jadwalnya. e anja. Left ¨   § ¥  ¦ ¢ ¢£ ¢   £   ¢ ¢¡  £ ¢¡     £ ¢ ¢ £  ¤ £ Formatted: Centered. e a aan K -SKP P Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Penatasusahaan Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Pertanggungjawaban Akuntansi Keuangan Daerah Akuntansi Keuangan Daerah Penatausahaan Pendapatan Laporan keuangan Pemerintah Daerah  Laporan realisasi anggaran  Neraca  Laporan Arus Kas  Catatan atas Laporan Keuangan Penatausahaan Belanja Kekayaan dan Kewajiban daerah       Kas Umum Piutang Investasi Barang Dana Cadangan Utang Pemeriksaan laporan keuangan (BPK) Raperda Pertanggungjawaban APBD ¦§ & § P %   ©   ¥ $ # ap ran ea a e e ter er ahan ¦§© §¦ ¨ a " !  §    §   § ¦§ ¨ ¨ ¦§© §¦ ¨     Formatted: Left. Space Before: 0 pt .5". Tab stops: 4.

ataupun KPK. jangkauan dan mekanisme kerja yang berkaitan dengan pengawasan. Formatted: Level 1 . DPRD harus menyesuaikan diri dengan berbagai lembaga pemerintahan lain di daerah (termasuk instansi pusat yang ada di daerah) yang mempunyai kewenangan dalam bidang pengawasan seperti Inspektorat. DPRD perlu duduk bersama dengan berbagai lembaga tersebut untuk menyepakati bidang. BPK. BPKP.Formatted: Space Before: 0 pt Dalam melakukan fungsi pengawasan.

namun lebih jauh lagi dapat mewakili dan memperjuangkan segala kepentingan rakyat meliputi berbagai aspek kebutuhan masyarakat di daerahnya. Dalam arti yang sesungguhnya. DPRD tidak hanya berfungsi sebagai perumus yang menetapkan peraturan-peraturan saja. Pendekatan-pendekatan dan mekanisme-mekanisme konsensus perlu dipersiapkan. sebab peraturan pemerintah (PP) yang ada belum secara jelas mengatur mekanisme politik seperti ini. 2232/1999 2004 tidak berlebih. tugas. sebab peraturan perundangundangan yang ada belum secara jelas mengatur mekanisme politik seperti ini. Artinya. mengatur pegawai. rakyat didorong untuk mengembangkan prakarsa mandiri. melaksanakan pembangunan. Di lain pihak. 4.1. Otonomi daerah memberikan kedekatan antara rakyat dan wakilnya di lembaga-lembaga legislatif. DPRD perlu merumuskan kembali posisinya terhadap lembaga-lembaga eksekutif dan yudikatif di daerah. tugas dan otoritasnya. Otonomi daerah dan konsekuensinya bagi DPRD Sebagai konsekuensi otonomi. DPRD dapat memproduksi peraturan daerah yang dapat memberikan jaminan pelayanan pemerintah dan pembangunan yang bermutu pada rakyat. dan membiayai sendiri pelaksanaan pembangunan. karena tanpa kemandirian sulit diwujudkan otonomi yang sesungguhnya. Kesepakatan seperti ini dapat dibangun melalui konsensus di antara lembaga-lembaga tata pemerintahan yang ada. Pendekatanpendekatan dan mekanisme-mekanisme konsensus perlu dipersiapkan secara cermat dan efektif. agar penafsiran terhadap UU No. Karena itu. sehingga antara wakil rakyat dengan masyarakat tercipta hubungan harmonis dalam memanfaatkan potensi yang ada untuk membangun daerah. ada kemampuan untuk membuat dan melaksanakan kebijakan yakni: merencanakan pembangunan. Karena itu langkah proaktif perlu dilakukan DPRD untuk merumuskan kembali posisinya dengan baik dan seimbang dalam hubungannya dengan lembaga-lembaga eksekutif dan yudikatif di daerah.BAB IV Menjadi Wakil Rakyat dalam Konteks Otonomi Daerah Diana fawzia Otonomi daerah memberikan kedekatan antara rakyat dan wakilnya di lembaga-lembaga legislatif. DPRD harus mampu memandirikan daerah dalam beragam pembangunan. DPRD sebagai wakil rakyat menjadi pusat perubahan ke arah tersebut. Kesepakatan-kesepakatan baru diperlukan agar masing-masing lembaga mengetahui batas-batas fungsi. dan otoritasnya. Kesepakatan seperti ini dapat dibangun melalui konsensus di antara lembaga-lembaga tata pemerintahan yang ada. maka hakekat dari otonomi daerah adalah semakin mendekatkan pemerintah ke rakyat. Berangkat dari paradigma tersebut. Keserasian hubungan antara DPRD dengan jajaran Formatted: Space Before: 0 pt . Otonomi daerah membutuhkan kemandirian. Kesepakatankesepakatan baru diperlukan agar masing-masing lembaga mengetahui batas-batas fungsi.

ketentutan terkait hal ini diubah menjadi bahwa wewenang DPRD lebih dibatasi untuk sebatas meminta keterangan laporan pertanggungjawaban dari kepala daerah. Ketentuan ini diharapkan akan menciptakan kestabilan pemerintahan daerah sehingga tidak mengulang preseden UU No. UU No. sesuai atau tidak dengan tugas dan tanggung jawab yang sudah diputuskan. walikota beserta wakilwakilnya) serta menolak laporan pertanggungjawaban (LPJ) kepala daerah. dan nepotisme dengan pihak KDH. Pemahaman dan kepatuhan terhadap tugas-tugas yang dibebankan. Kewenangan yang amat besar yang dimiliki oleh DPRD saat ini seyogyanya tidak dijadikan sebagai sarana atau kesempatan untuk menjatuhkan eksekutif atau mengusulkan pemberhentian kepala daerah sebagaimana disebut dalam UU No. pasal 42 ayat (1) huruf h. tetapi untuk lebih kritis lagi menilai kinerja kepala daerah. Atau lebih jauh lagi. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . Dalam perspektif pemerintahan daerah. ini diharapkan tidak mengurangi sikap kritis DPRD terhadap pemerintah daerah dalam proses penyelenggaraan pemerintahan daerah. keduanya dihubungkan baik sebagai mitra yang berkedudukan setara dan sejajar (tidak saling membawahi) maupun penyeimbang jalannya pemerintahan daerah. 32/2004 Pasal 42 ayat (1) huruf d yang mekanismenya diatur dalam pasal 29. Salah satu implikasi dari UU No. melakukan kolusi. Hanya dengan ini masyarakat akan mampu didorong sebagai bagian penting dari otonomi. Pasal 16 ayat 2 menyatakan bahwa DPRD sebagai badan legislatif daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari pemda . Fungsi pengawasan hendaknya dilakukan dalam sebuah proses yang demokratis sehingga dapat meminimalisasi perbedaan kepentingan politik yang seringkali mewarnai hubungan antara DPRD dan pemerintah daerahkedua lembaga ini. 22/1999 dalam hal kewenangan DPRD untuk dapat menolak laporan pertanggungjawaban dari kepala daerah yang seringkali berimplikasi secara politis untuk menjatuhkan kepala daerah. Jadi. Selanjutnya. Dalam perspektif Pemerintah Pusat. korupsi. keberadaan DPRD dan Pemerintah Daerah adalah tak terpisahkan sebagai kesatuan dalam pemerintahan daerah. 32/2004. hendaknya tidak digunakan dengan tujuan semata-mata untuk menjatuhkan kepala daerah. 22/1999 tentang pemda dengan jelas mengatur peran masing-masing pihak serta hubungan antara keduanya. dapat menghindarkan terjadinya intervensi dan overlapping antar wilayah kerja kedua institusi ini. bupati. hubungan kedua lembaga itu bersifat sejajar. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.pemda menjadi mutlak untuk membangun kesamaan pandang dalam memanfaatkan potensi daerah serta dalam hal penggunaan anggaran pembangunan sesuai urgensi dan kebutuhan masyarakat. adalah menyangkut hubungan antara lembaga legislatif dan lembaga eksekutif di daerah. 2232/1999 2004 tentang Otonomi Pemerintahan Daerah dan UU No. bersama-sama memanipulasi aspirasi rakyat untuk mengumpulkan kekayaan pribadi atau kelompok. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian KDH (gubernur. Kesejajaran dan kemitraan ini akan menjadi sebuah sinergi bila kedua lembaga ini menempatkan kewenangan yang dimiliki pada proporsi yang tepat. Posisi tawar yang demikian strategis hendaknya tidak dimanfaatkan untuk memberi tekanan (memeras) KDH demi keuntungan pribadi atau kelompok. Kewenangan DPRD dalam UU No. Namun demikian. 22/1999 dalam memilih. Dalam UU No.

menunjukkan bahwa proses demokrasi. dan aset mana yang harus dilindungi. Dalam merumuskan dan menetapkan peraturan daerah (policy making power). pemerintahan. Berdasarkan penelitian terhadap peran dan fungsi DPRD selama ini. Oleh karenanya. tanpa harus ada kekhawatiran akan tersingkirnya tenaga kerja lokal. Kesemuanya itu dituangkan dan dirumuskan dalam perda.5". sesuai dengan urgensi kebutuhan masyarakat. Intervensi pemerintah pusat terbatas pada hal-hal tertentu. diperlukan kepekaan yang kuat dalam menentukan prioritas pembangunan daerah. Formatted: Justified. Kepentingan masyarakat dapat lebih diwadahi dan potensi daerah dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. ke depan DPRD perlu memberikan makna otonomi dalam konteks sebagai berikut. Komunikasi yang tidak dibangun dengan baik akan mengakibatkan pola hubungan di antara kedua institusi ini menjadi tidak sehat dan pada akhirnya menghasilkan sebuah pemerintahan yang tidak stabil.Di sini dibutuhkan kearifan untuk melakukan kompromi di antara kedua kepentingan tersebut agar tidak menjadi konflik. Untuk itu. Untuk itu. pelaksanaan pemerintahan. mengawasi. karena keberagaman masyarakat menjadi realitas sosial yang alamiah. Peluang DPRD untuk menciptakan dan mendorong pembangunan demokrasi di daerah semakin terbuka. menjadikan semua kebijakan publik pada tingkat lokal harus melibatkan kedua belah pihak. Kemajemukan harus menjadi aset daerah yang perlu dikelola dengan baik dalam tatanan politik. potensi apa yang dimiliki daerah. Indent: Left: 0". hendaknya diikuti dengan dibuatnya peraturan daerah yang membatasi masuknya tenaga kerja asing serta mengharuskan perusahaan memberikan pelatihan peningkatan ketrampilan pada pekerja-pekerja lokal. Misalnya. kondisi daerah secara menyeluruh hendaknya menjadi dasar pertimbangan utama. First line: 0. Mekanisme check and balance yang memberi peluang kepada DPRD dan pemerintah daerah untuk saling mengontrol. semangat UU No. dan pembangunan yang kondusif. Keserasian hubungan antara DPRD dengan jajaran pemda menjadi mutlak ketika berbicara mengenai pemanfaatan potensi daerah dan berapa besar anggaran pembangunan yang diperlukan untuk itu. Adjust space between Latin and Asian text. dan mengimbangi. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku saat ini memberikan penekanan pada pola hubungan keseimbangan dan keserasian yang sinergis. Apa yang dibutuhkan daerah. Adjust space between Asian text and numbers . Secara umum demokrasi mengakui adanya kehidupan yang serba majemuk. Kedudukan DPRD tidak lagi menjadi bagian dari pemda tetapi sebagai badan yang memiliki wewenang strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. komunikasi yang efektif dengan eksekutif harus dibangun sejak awal agar terjalin sebuah hubungan yang saling mendukung dan bukan saling menjatuhkan. Kemampuan meletakkan posisi secara proporsional oleh DPRD dan pemerintah daerah terhadap pemerintahan pusat akan menciptakan sinergi yang lebih optimal. lahan usaha bertambah. lapangan pekerjaan bagi warga masyarakat tercipta. Dengan demikian. selanjutnya sehingga daerah diharapkan dapat lebih berperan dalam menentukan prioritas pembangunan. Terlebih lagi. perda yang memberi kemudahan bagi kalangan pengusaha dan investor untuk menanamkan modalnya di daerah. dan pembangunan tersendat justru karena peran DPRD yang kurang sesuai dengan kepentingan daerah.

dan 12. koperasi dan usaha kecil 22. Sedangkan urusan pilihan adalah urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. pemerintah propinsi. penataan ruang. 14. pemberdayaan masyarakat dan desa. 38/2007 terdiri dari 31 bidang urusan pemerintahan yang setelah diklasifikasikan diturunkan menjadi 26 urusan wajib dan 8 (delapan) urusan pilihan. Dengan otonomi. dan menengah. 32/2004 terbatas menyangkut enam bidang. kependudukan dan 24.Dalam hal ini. 4. ketahanan pangan. serta kualitas anggota DPRD yang mampu proaktif merancang kebutuhan masyarakatnya. sebagaimana diatur dalam UU No. Pemda dituntut untuk Formatted: Font: +Body . catatan sipil. Urusan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota berkaitan dengan pelayanan dasar. Urusan Pemerintahan Daerah dalam PP No. kepegawaian. 1. otonomi daerah. yaitu politik luar negeri. serta agama. anak. perencanaan 18. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri. 15. perhubungan. kebijakan dan program berbasis kerakyatan. yustisi. pemerintahan umum. 2. perangkat olahraga. daerah. kebudayaan. pertanian. kekhasan. Terkait batasan kewenangan masing-masing tingkatan pemerintahan dalam setiap urusan tersebut. pemberdayaan perempuan dan perlindungan kesehatan. 25. 6. Urusan bersama ini. kepemudaan dan administrasi keuangan daerah. kehutanan. keamanan. 23. industri. kelautan dan perikanan. 6. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan yang ditentukan dan ditetapkan oleh pemerintahan daerah. 17. 5. 38/2007 tersebut. perpustakaan. ketransmigrasian. sebagaimana diatur dalam PP No. 3. daerah diharapkan mampu dan mandiri dalam membiayai dirinya karena dana yang diperoleh dari pusat sangat terbatas. 1. pekerjaan umum. pertahanan. dan pemerintah kabupaten/kota. 9. 21. 5. yaitu perda. pertanahan. komunikasi dan informatika.13. 16. urusan murni pemerintah pusat. 2. 3. 8. 20. perdagangan. Urusan di bidang lainnya. penanaman modal. menjadi urusan yang dibagi bersama antara pemerintah pusat. 38/2007 pendidikan. sosial. lingkungan hidup. 11. keluarga berencana dan keluarga sejahtera. mineral. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Urusan Wajib Urusan Pilihan Formatted: Space Before: 0 pt Untuk mewujudkan terciptanya penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance) di daerah diperlukan berbagai instrumen. 10.] 26. moneter dan fiskal nasional. kearsipan. juga telah diatur dalam lampiran PP No. ketenagakerjaan. pariwisata. perumahan. 19. mendahulukan diri dan kelompok melalui peluang dan kewenangan yang dimilikinya merupakan hal yang tidak boleh terjadi. energi dan sumber daya 8. Oleh karenanya. pembangunan. 1. dan persandian. 7. dan 4. 7. statistik.

dan budaya masyarakat. tidak dilanjutkan lagi. terutama dalam kerangka persetujuan RAPBD. Peran partisipasi aktif masyarakat diharapkan dapat tumbuh dan berkembang sejalan dengan kewenangan yang dimiliki DPRD serta upayanya untuk dapat mengelola beragam kepentingan politik. Demikian pula praktik politik uang bukan lagi rahasia. kolusi. Raperda yang diajukan pemerintah. DPRD dituntut dapat Mmenciptakan iklim politik yang sehat dan untuk memberikan pemahaman bermakna pada masyarakat akan pentingnya kesadaran politik rakyat dalam mendukung dan mengoreksi kebijakan pemerintahan. tetapi ini harus dalam konteks tidak menjadi beban aktivitas ekonomi. 4. tugas dan wewenangnya. Peraturan daerah semacam pajak dan retribusi yang kurang produktif. diganti dengan peraturan yang dapat mendorong prakarsa masyarakat agar lebih produktif. Dalam menjalankan fungsi legislasi misalnya. tapi mengalami distorsi sedemikian rupa sehingga pemerintahan yang bersih sangat masih sulit diwujudkan. DPRD menghadapi tantangan baru untuk menjadikan institusi ini sebagai agen perubahan. sehingga dapat menjadikan DPRD sebagai agen perubahan. selain mendengar usulan fraksi-fraksi DPRD juga dapat mengadakan forum pertemuan dengan unsur-unsur masyarakat guna mendengarkan dan . Ini sebagai akibat dari lemahnya komitmen DPRD dalam menggunakan kewenangannya. dan bukan dilihat sebagai kesempatan untuk melakukan intervensi terhadap lembaga-lembaga pemerintahan lainnya. Terdapat kecenderungan bahwa pelaksanaan otonomi daerah relatif oleh banyak pihak justru memperluas praktek korupsi. dimana banyak kalangan anggota DPRD terlibat di dalamnya. digali dan dimanfatkan secara bersama-sama. sosial. DPRD sebagai pembentuk karakter politik pemerintahan dan pembangunan Selain sSebagai wakil rakyat. Di pPosisi tawar-menawar kuat yang dimiliki DPRD dalam kerangka akomodasi kepentingan rakyat masih banyak tidak dijalankan dengan baik tapi justru dimanfaatkan secara tidak bertanggung jawab tanpa menghiraukan kepentingan rakyat daerah. fungsi pengawasan dari DPRD masih banyak yang belumtidak berlangsung sesuai dengan UU dan peraturan yang ada.2. 32/2004 ini memberikan kekuasaan yang sangat besar pada DPRD dalam hak. UU No. Demikian pula dalam mendorong pemahaman bermutu pada rakyat terhadap pentingnya pembangunan daerah berdasarkan potensi yang dimiliki untuk. Ini hendaknya dimaknai sebagai peluang dan tantangan untuk melakukan perubahan-perubahan ke arah demokratisasi di daerahnya. Artinya. Pasal 16 ayat 1 UU No. 22/1999 menyatakan bahwa DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di daerah merupakan wahana untuk melaksanakan berdemokrasi berdasarkan Pancasila dan pelibatan rakyat dalam pembangunan daerah. Dalam kaitannya dengan tugas dan wewenangnya mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah. ataupun momen politis dalam pertanggungjawaban tahunan dari Kepala Daerah (KDH). dan nepotisme. DPRD dapat harus membuat perda-perda inisiatif dan sekaligus mendorong pemerintah untuk membuatmengajukan perda-perda yang berpihak kepada rakyat. DPRD memiliki nilai strategis yang sangat penting dalam mendorong demokratisasi di semua sektor kehidupan.selalu meningkatkan PAD.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah: 1. memahami secara benar filosofi dan prinsip pembangunan di era otonomi daerah. memiliki visi yang jauh kemasa depan. efisiensi. dan kemudahan untuk menggunakan sarana dan prasarana serta sumber daya daerah (tanah. dan kebutuhan prioritas masyarakat. dan kemampuan pengawasan yang baik. fungsi. terutama di bidang perekonomian. Semua pemanfaatan potensi daerah harus diatur dalam perda sebagai jaminan adanya perlindungan terhadap kegiatan usaha dan pengembangannya. 2. memahami secara baik dan benar tentang penerapan secara menyeluruh mengenai pemerintahan yang baik. peningkatan daya tanggap. perpajakan. fasilitas perijinan usaha. Hal ini dimaksudkan untuk lebih memudahkan semua pihak dalam mendukung setiap proses pemerintahan dan pembangunan. beberapa pemahaman dan tindakan yang perlu ditampilkan DPRD dalam mendukung pembangunan daerah yang lebih bertanggung jawab. yaitu: adanya partisipasi masyarakat.5". kewajiban. selain mendorong kegiatan investasi. serta menggerakkan kegiatan ekonomi lintas daerah dan lintas nasional. tuntutan. terutama oleh para penyelenggara pemerintahan di daerah yaitu pihak legislatif dan eksekutif di daerah. Untuk lebih mengefektifkan fungsi pengawasan. misalnya. profesionalitas.. Dalam.mempertimbangkan aspirasi sekaligus penilaian mereka terhadap calon-calon kepala daerah yang akan dipilih nantinya. 3. Beberapa fasilitas kemudahan hendaknya diadakan. pajak dan retribusi. merupakan sebagian cara untuk mewujudkan itu. DPRD dapat menghidupkan hak penyelidikan sehingga pengawasan politik terhadap jalannya pemerintahan dapat diwujudkan. Tab stops: Not at 0. 4. transparansi. tidak upaya pemanfaatan dapat berubah menjadi penyalahgunaan. Formatted: Indent: First line: 0. dan lain-lain) dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan. memahami dan mampu melaksanakan tugas. pembagian pendapatan dari kekayaan alam. tambang. agar seluruh pola pikir dan tindak yang dilakukan dalam mendukung pembangunan daerah dapat lebih optimal dan sesuai dengan koridor hukum. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. jika Tanpa payung regulasi yang jelas dan tegas. aspirasi. memahami masalah daerah dan memuat peta pembangunan yang berbasis kerakyatan berdasarkan kondisi. Melalui cara ini. dan tanggung jawabnya sesuai yang digariskan dalam peraturan perundang-undanganUU No. kesetaraan. Sehingga diharapkan tidak terjadi lagi adanya kepala-kepala daerah yang didukung DPRD tetapi tidak dikehendaki rakyat. Selanjutnya. baik yang terkait dengan potensi yang dimiliki daerah maupun posisi daerah dalam lintas pembangunan regional dan nasional. akuntabilitas. Kkegiatan ekonomi jangan diartikan semata-mata sebagai sumber PAD tetapi sebaiknya diterjemahkan sebagai upaya untuk mengajak masyarakat daerah maupun luar daerah untuk memanfaatkan dan mengembangkan potensi daerah. DPRD bersama pemda (eksekutif) hendaknya memfasilitasi segala bentuk kegiatan di daerah. Pembangunan daerah tidak akan berjalan bila sejumlah prasyarat tidak dipenuhi. hutan.. Tugas DPRD selanjutnya adalah mengawasi jalannya perda-perda di bidang perekonomian tersebut. efektivitas. penegakan hukum. 22/1999 tentang Pemda.5" . pengaturan sumber-sumber pendapatan negara dan daerah.

dan bukan semata-mata obyek pembangunan. Mencermati berbagai hal yang terjadi di daerah. Untuk mendukung aspek-aspek pembangunan yang telah diuraikan di atas. dalam berbagai aspek. maka proses pembangunan demokrasi di daerah dapat segera terwujud sebagaimana yang dicita-citakan. Peningkatan kemampuan kelembagaan atau organisasi pembangunan sektoral perlu dioptimalkan. dan agama adalah sebagian dari individu-individu yang dapat memberi kontribusi melalui masukan dan kritik terhadap pemda dan DPRD. Penguatan pelaksanaan desentralisasi pemerintahan dan pembangunan yang dapat menjamin hak-hak dasar masyarakat daerah harus dilakukan. maupun budaya. Formatted: Space Before: 0 pt . Hal ini mencakup peningkatan kemampuan dalam formulasi kebijakan dan perencanaan. memang banyak hal yang menjadi kecenderungan dan permasalahan umum pembangunan di daerah. masyarakat adalah mitra pemerintah dan DPRD dalam membangun daerahnya. Tokoh-tokoh masyarakat. transfer teknologi dan pengembangan kemampuan. Komunikasi yang intensif dan terarah akan melahirkan kesadaran politik masyarakat. DPRD hendaknya membuka ruang komunikasi politik secara luas dengan seluruh unsur masyarakat di daerahnya. dengan cara mengajak serta elemen-elemen masyarakat berpartisipasi aktif melalui fungsi dan peran yang dimiliki masing-masing. Terkait dengan ini. sosial. dan partai politik akan selalu mencermati dan kritis terhadap pelaksanaan peran dan fungsi serta kinerja DPRD dalam membangun kebijakan dan pelayanan pemdapublik. adat. Ini bisa dilakukan.Sebagai institusi yang mewakili beragam aspirasi masyarakat. Sebagai bagian dari pelaku-pelaku politik di daerah. Adanya iklim politik yang sehat akan mendukung peran DPRD sebagai pembentuk karakter politik di daerahnya. juga upaya debirokratisasi dan deregulasi di tingkat pemerintahan lokal butuh dilakukanterus dikaji dan diperbaiki untuk mengurangi hambatan-hambatan dalam mencapai keberhasilan sebuah kebijakan. Aantara lain. dangkan LSM. sehingga aAspirasi masyarakat bawah harus dapat terserap dan diangkat menjadi permasalahan utama dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan pembangunan untuk berbagai dimensi. DPRD hendaknya melibatkan individu maupun lembaga yang memiliki pengaruh besar di masyarakat dalam merumuskan kebijakan-kebijakan. ormas. Dalam prinsip ketatapemerintahan yang baik. terutama yang terkait dengan kondisi sosial yang perlu ditanggapi melalui pendekatan pembangunan. baik itu politik. terdapat beberapa alternatif pendekatan pembangunan yang dapat didorong oleh DPRD ke arah yang lebih baik untuk dilakukan oleh pemerintah daerah dalam merespon kondisi faktual yang berkembang. Sebagai mitra yang dengan kesadaran politik yang baik. khususnya kemampuan untuk memberikan pelayanan secara tepat dan tepat. maka masyarakat akan tahu kebijakan-kebijakan mana yang harus didukung dan mana pula yang perlu dikoreksi. Serta mMemberikan pemahaman akan pentingnya kesadaran politik sama artinya dengan menempatkan masyarakat dalam posisi sebagai mitra. agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat memang diyakini berlangsung efektif dan efisien. Jika komunikasi seperti ini dilakukan terusmenerus secara berkesinambungan. serta menumbuhkan peranan sektor swasta dan lembaga swadaya masyarakat. Selain itu. ekonomi.

sehingga ke depan dapat menjadi basis keunggulan daerah. Upaya ini bisa dilakukan dengan Konsep ini harus mampu menjamin ketersediaan lahan dan sumber daya alam lainnya guna menampung tenaga kerja yang telah disiapkan. Untuk Dalam kerangka perencanaan pembangunan. sosial. serta hubungan kerja. DPRD memiliki tugas-tugas yang hanya terbatas pada dimensi-dimensi tertentu. guna menjaga hubungan yang harmonis antara semua pelaku ekonomi daerah. . Tugas yang dimaksud adalah legislasi. keuangan. upaya ini harus menghindari adanya. Prakondisi lainnya yang juga butuh disiapkan adalah upaya Demikian pula. Intinya. dan pengetahuan tentang pembentukan jaringan bisnis yang bersifat kemitraan sangat penting perlu pula dikembangkan. Upaya meraih kesemua hal tersebut. Selanjutnya pelatihanpelatihan di bidang perdagangan barang. semua kondisi yang dijelaskan di atas diharapkan mampu menemukan kesetaraan politik. juga perlu penekanan pada pemahaman konsep dalam kerangkalahirnya bisnis kemitraan antar semua elemen dan lapisan sosial masyarakat. dan bimbingan keterampilan. secara strategis membutuhkan peran DPRD sebagai pembentuk karakter politik pemerintahan dan pembangunan. jasa. 4. penyuluhan. Not Bold Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt . Upaya membangkitkan kembali koperasi dan permodalan dapat dilakukan untuk menumbuhkan usaha swadaya masyarakat. Ini dapat dan dilaksanakan dalam melalui berbagai paket-paket pelatihan. Italic Formatted: Font: +Body. Kebijakan dasar program-program pembangunan (dalam arti luas) yang dirumuskan DPRD perlu diorientasikan kepada mata pencaharian utama yang digeluti masyarakat di suatu daerah. DPRD perlu memperkuat dan meningkatkan prakarsa di tingkat lokal sehingga dapat mendorong dan meningkatkan kemampuan berusaha yang berbasis kerakyatan bagi tumbuh dan berkembangnya local enterpreneurship atau pengusaha lokal yang kuat. maka harus diciptakan prakondisi yang memungkinkan Di samping itu. yang pada gilirannyaini diharapkan akan menciptakan situasi saling ketergantungan (interdependen) dan keseimbangan ekonomi antar daerah. Batas-batas fungsional antara DPRD dan lembaga pemerintahan lainnya Sebagai lembaga politik. tetapi dengan catatan tidak memberikan beban baru bagi masyarakat miskin yang masih banyak tersebar di berbagai daerah.3. Oleh karena itu. Demikian pula dengan hubungan kerja dan koordinasinya DPRD Formatted: Font: +Body.Upaya peningkatan kualitas SDM hendaknya harus dilakukan pada semua lini aktivitas masyarakat. baik yang bersifat formal maupun yang bersifat informal. Pada gilirannya. Guna menjamin SDM yang berkualitas tersebut dapat bermanfaat. Namun demikian. setiap metode penentuan proyek pembangunan harus sesuai dengan keunggulan wilayah dan kapasitas masyarakat setempat agar potensi yang terdapat di setiap daerah dapat dieksploitasi dimanfaatkan secara proporsional. Hal inilah yang penting dikomunikasikan secara terus-menerus pada masyarakat agar mereka memahami tugas-tugas utama DPRD. konsep ini perlu menjamin kesinambungan suplai komoditi yang dibutuhkan dalam pengembangan kreatifitas masyarakat. koordinasi dan tanggung jawab yang ada pada DPRD. pengawasan pemerintahan dan pembangunan serta perannya sebagai wakil rakyat yang menampung aspirasi dan menindaklanjutinya. dan ekonomi masyarakat untuk memperoleh kesempatan yang sama dan peningkatan kesejahteraan yang lebih adil dan lebih maju.

keuangan dan administratif.53" . h. menyatakan pendapat. Tugas dan Wewenang DPRD (UU No. membentuk perda. sehingga ke depan tugas ini tidak akan ada lagi dalam DPRD. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemda. f. Hak DPRD a. DPRD b. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemda terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. Hak Anggota a. c. Adapun tugas dan wewenang yang dimaksud adalah: 1. d. e. membahas dan memberikan persetujuan raperda mengenai APBD yang diajukan oleh pemda. Wewenang b. Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. 32/2004 dan UU N0. Tab stops: Not at 0. Berdasarkan kondisi tersebut. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas. ormas. bupati/walikota dan wakil-wakilnya). memahami serta melaksanakan kewajiban sebagai tugas yang diamanatkan padanya dan. i. Sumber referensi dari kewajiban dan hak anggota DPRD telah diatur dengan baik di dalam UU No. h. b. 3. bupati/walikota dan wakil-wakilnya) sebelum revisi UU No. d. mengajukan rancangan peraturan daerah provinsi. Demikian pula berhak memperoleh hak sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku. imunitas. angket. mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Mendagri. menyampaikan usul dan pendapat. j. Memilih kepala daerah (gubernur. Bersama kepala daerah menetapkan APBD. memberikan persetujuan rencana kerja sama dengan daerah lain atau dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. f. 22/1999 akan disepakati pilihan langsung (gubernur. 22/1999 disetujui oleh DPR-RI. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. g. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan. 27/2009. dan pengawasan Tugas dan a. mengajukan pertanyaan. dan lain-lain secara luas. Hak. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.dengan lembaga-lembaga pemerintahan daerah maupun dalam kerangka hubungan dengan lembaga-lembaga lain seperti LSM. Fungsi. anggaran. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah (gubernur. c. dan i. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan perda dan APBD. 2. maka setiap anggota DPRD wajib mengetahui. memilih dan dipilih. interpelasi. bupati/walikota dan wakil-wakilnya) oleh rakyat. e. g. dan k. 27/2009) Fungsi legislasi. c. 2232/19992004 dan UU No. membela diri. Selanjutnya dalam revisi UU No. protokoler.

Tab stops: Not at 0. Pelaksanaan APBD. Pelaksanaan kerjasama. BPKP. (2) Satuan pengawas eksternal seperti BPK.4. Untuk itu. Selanjutnya untukPada konteks pengawasan. DPRD perlu melakukan dengan kontrol politik yang bersifat strategis (oversight). Sementara itu jJika dikaji lebih jauh. dan konsep pembangunan daerah yang secara optimal dapat dituangkan dalam peraturan daerah sebagai acuan dasar dalam memajukan pemerintahan dan pembangunan ke arah yang lebih baik. protokoler dan keuangan/administrasi. dapat dibuat keputusan peraturan kepala daerah yang merupakan kewenangan penuh dari kepala daerah. peran DPRD sebagaimana yang diatur dalam UU peraturan perundang-undangan cukup luas. dan lain-lain. seringkali pelaksanaan pengawasan oleh DPRD menjadi titik konflik karena DPRD masuk kepada hal-hal yang bersifat teknis-adminsitratif yang sebenarnya bukan merupakan tugas dari DPRD. Bahkan.53" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. Meskipun demikian. gagasan. inspektorat provinsi dan inspektorat kabupaten/kota. terutama dalam konteks perannya sebagai wakil rakyat. Untuk menjalankan (implementasi) perda. Dalam praktiknya. e. sebab DPRD adalah lembaga politik sehingga arah pengawasan dapat diarahkan pada sejauhmana pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan daerah mencapai hasil yang diharapkan dalam RPJP. terdapat institusi/lembaga lainnya yang bertugas mengawasi persoalan teknis dan administratif.5". Dalam hal penyusunan anggaran keuangan daerah. dalam struktur tata pemerintahan daerah sudah menjadi tugas dan wewenang dariKarena selain lembaga DPRD. Tab stops: Not at 0. RPJMD. banyak dialami hambatan dan tantangan sehingga perlu dikelola dengan baik. kepala daerah dapat berkonsultasi dengan DPRD. Pelaksanaan kebijakan dan program penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. . 22/1999. d. Ssebab konsekuensi dari peraturankeputusan kepala daerahtersebut akan menjadi bahan dipertanggungjawabkan kepala daerah di hadapan DPRD.19". b. akuntan publik. 22/1999 yaitu mengajukan pertanyaan. yaitu: (1) Satuan pengawas internal seperti. pihak DPRD menghendaki anggaran seimbang antara DPRD dan pemda. KPK. c. Selanjutnya hak DPRD diatur dalam Pasal 19 UU No. Ini tentunya tidak proporsional karena . misalnya. Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah terhadap rencana perjanjian kerjasama. anggota DPRD juga memiliki hak khusus sebagaimana yang diatur dalam Pasal 21 UU No. di banyak tempat. 5. DPRD sebagai lembaga eksekutif daerah hendaknya menjadi sumber inisiatif.5" Formatted: Space Before: 0 pt. Pelaksanaan keputusan kepala daerah. Pembuatan keputusan peraturan kepala daerah tidak memerlukan persetujuan DPRD. bila dipandang perlu. bukan pengawasan teknis dan administratif. ide. Formatted: Indent: Left: 0. Melaksanakan pengawasan terhadap hal-hal sebagai berikut: a. Hanging: 0. Menampung aspirasi masyarakat daerah. Italic . padahal anggaran yang dikelola oleh pemda harus mencakup untuk semua kegiatan pembangunan daerah. Selain itu. dan RKPD. Wilayah pengawasan ini. Perda dan peraturan lainnya. Seperti aAlokasi untuk anggaran DPRD. seringkali menjadi titik konflik kepentingan antara DPRD dengan Pemda. 6. Inilah yang perlu dicermati oleh pihak DPRD agar gagasan-gagasan yang diusulkan tidak kemudian menghambat gerak laju penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.

dan lain-lain untuk diakomodasi dalam peraturan daerah atau ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan dan program pembangunan. dialog. dan kemasyarakatan sangat penting sebagai konsekuensi dari upaya menempatkan masyarakat sebagai subyek dan obyek pembangunan itu sendiri. ada juga membuka kecenderungan telah dan akan terjadi dominasi bahan legislatif daerah terhadap pemda. dan bertanggung jawab. DPRD berkewajiban memfasilitasi dan menindaklanjuti aspirasi dari masyarakat. antara lain:seperti Mmelalui rapat dengar pendapat. pihak DPRD akan sangat efektif melaksanakan tugas-tugasnya jika peka dan aktif merespon setiap dinamika kehidupan masyarakat. penyampaian aspirasi masyarakat ke DPRD akan berjalan sangat efektif apabila masyarakat mengerti dan memahami kedudukan. teknis.Bertolak dari kenyataan UU yang relatif menempatkan kKedudukan DPRD yang cukup kuat sebagaimana yang telah diuraikan luas dimuka. kontrol dari masyarakat dalam kerangka pengawasan pembangunan senantiasa perlu dilaksanakan dan disalurkan secara proporsional. wewenang. tugas dan hak DPRD itu sendiri. efektivitas dan efisiensi. Sebagai lembaga perwakilan rakyat. Demikian pula. Jika dominasi ini terus berlangsung. DPRD merupakan salah satu wahana untuk pmenyerap dan menyampaikan aspirasi masyarakat untuk ditindaklanjuti. e-mail. DPRD dalam hal ini dapat melakukannya dengan berbagai mekanisme. peran serta masyarakat untuk mendorong terciptanya penyelenggaraan pemerintahan dan. terarah. Oleh sebab itu. persetujuan. . dan hukum-administratif. blog. Untuk itu. Satu hal yang sangat perlu dipahami oleh semua pihak adalah bahwa. rekomendasi. dan sebagainya). website. Dengan demikian kesalahpahaman akan senantiasa dapat dihindari dan obyektivitas tuntutan masyarakat dapat dipertanggungjawabkan secara logis. Namun. kunjungan kerja lapangan. Sesuai dengan mekanisme yang berlaku. organisasi maupun dari berbagai kelompok lainnya. saluran-saluran alternatif untuk menyerap aduan dan pendapat publik (saluran telpon. pembangunan. DPRD perlu aktif menyosialisasikan tugas-tugas dan hak politiknya kepada masyarakat luas. sms. surat atau hasil kajian. maka keputusan-keputusan pemerintah daerah akan selalu sarat dengan nuansa politik yang tidak sehat. Potensi negatifnya adalah bahwa Sehingga keputusan penyelenggara pemerintahan dan pembangunan daerah yang ada bisa kurang memperhatikan aspek profesional.

pemerintahan perwakilan lahir ketika masyarakat memutuskan untuk menyerahkan sebagian urusannya kepada sebagian kecil orang. Dalam tradisi demokrasi yang telah mapan. misalnya tuntutan yang efektif akan keterbukaan informasi. serta akuntabilitas pertanggungjawaban publik dalam bidang hukum dan etika. kendati berbagai bentuk demokrasi pun lahir. kemampuan untuk mengelola kepentingan-kepentingan yang berkembang di daerah menjadi sangat penting. dan kKondisiteks ini melipatgandakan tantangan bagi para anggota DPRD terpilih. Sedangkan model demokrasi presidensial mengandalkan sistemnya pada adanya dua lembaga pemerintahan yaitu Formatted: Space Before: 0 pt . hal ini masih harus dibangun. yaitu perda. kemampuan DPRD adalah jembatan bagi berbagai kepentingan politik dalam menentukan kebijakan di daerah ini...BAB V Menjembatani dan Mengelola Berbagai Kepentingan Politik Publik Rahmi Yunita Tugas Para wakil rakyat adalah pada intinya memang harus memperjuangkan kepentingan rakyat. bermuara berbagai kepentingan politik untuk yang harus diakomodasikan sebaik mungkin dalam bentuk kebijakan publik yang paling elementer di daerah. Di dalam DPRD dituntut mampu mengelola dan menjembatani. 5. DPRD sebagai wakil semua Dalam sejarahnya. Perda adalah salah satu produk hukum pemerintahan daerah. mereka berakar dari dua model ekstrem di bawah ini: Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt 1 2 Demokrasi parlementer Model westminster Diawali oleh Inggris Demokrasi presidensial Model pemisahan kekuasaan Diawali Presidensialisme AS Bila pPada model parlementer. dalam struktur peraturan perundang-undangan Indonesia dan mengikat seluruh pihak di daerah. Di negara demokrasi muda seperti Indonesia. persaingan yang terbuka dari berbagai kepentingan. lembaga pemilu berkala yang jujur dan adil dipercaya sebagai instrumen untuk menentukan siapa sebagian kecil orang yang diminta mengelola kepentingan publik ini. Ketika demokrasi lahir. karena Oleh karena itu.1. sudah terdapat pranata yang berkembang dalam kehidupan berpolitik masyarakat yang dapat membantu wakilwakil rakyat melakukan tugasnya. perdana menteri adalah pemimpin pemerintahan sekaligus anggota parlemen. Dalam perkembangannya.

dan memajukan sebuah agenda kebijakan seperti yang dikampanyekan dalam platform-nya. usai pengukuhan anggota DPRD. Font color: Blue Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. sebagaimana akan dituangkan dalam RPJMD yang akan berlaku selama lima tahun (satu periode kepemimpinan daerah). Bold . Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Selain memiliki perimbangan mengimbangi kewenangan anggaran dari cabang terhadap eksekutif. mengantarkan Indonesia pada pemurnian model pemisahan kekuasaan ini. presiden mendapatkan legitimasi demokratis langsung dari rakyat dan tidak dapat dijatuhkan dengan alasan politis oleh lembaga perwakilan. Meski Juga ketika kita menyadari bahwa tidak semua komponen masyarakat terwakili dalam DPRD (karena tidak semua suara dalam pemilu teralokasikan menjadi kursi). dari berhak untuk meminta pertanggungjawaban gubernur. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Dalam konteks pertanggungjawaban kepala daerah. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. yang telah dilakukan empat tahap. Fungsi ini sudah terhapus ketika UU No. lembaga ini hakekatnya telah menjelma menjadi lembaga perwakilan rakyat. Formatted: Font: +Body. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Dinamika dalam DPRD sendiri akanadalah mencerminkan berbagai aspirasi masyarakat yang menuntut diakomodasisuarakan dalam pengambilan kebijakan daerah. bagaimana seharusnya peran DPRD? Dengan menguatnya lembaga eksekutif di daerah ini. Sebagai lembaga politik yang bersifat kolegial. seperti pengalaman kejatuhan Presiden Abdurrahman Wahid..biasanya memiliki kekuatan veto yang mengimbangi lembaga legislatif. Pasal 18 ayat 1 UU No. maka wewenang DPRD kini terbatas pada permintaan keterangan laporan pertanggungjawaban dari kepala daerah. Salah satunya adalah dengan menggariskan bahwa Presiden Republik Indonesia dipilih secara langsung dalam pemilu. beranggotakan banyak orang. Kepala eksekutif telah mendapatkan mandatnya sendiri secara terpisah untuk memerintah. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. maka peran lembaga legislatif di daerah pun bergeser. UU No. bupati /wakil bupati dan walikota/wakil walikota . yaitu pemilihan langsung. 22/1999 menggariskan bahwa salah satu tugas dan wewenang DPRD adalah memilih gubernur/wakil gubernur. Dengan demikian. Hubungan saling membutuhkan sekaligus dapat saling menyandera inilah semangat dari prinsip pemisahan kekuasaan dalam demokrasi presidensial. Mengikuti mekanisme rekruitmen kepala eksekutif tingkat nasional ini.eksekutif yang menjalankan pemerintahan dan lembaga perwakilan yang menetapkan kebijakan dan mengawasi pelaksanaannya. bupati/walikota menjadi lembaga untuk memastikan check and balance. Kepala daerah tidak lagi dipilih oleh DPRD. DPRD bertugas hadir sebagai wakil rakyat untuk menyusun legislasi daerah (perda) serta mengawasi pelaksanaannya oleh eksekutif. DPRD adalah arena yang mencerminkan berbagai preferensi politik yang beragam. 22/2003 disahkan. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Dalam konteks baru ini. Di sisi lain. lembaga eksekutif memiliki kewenangan menerjemahkan kehendak legislatif sebagaimana tertuang dalam perda melalui berbagai produk kebijakan eksekutif seperti peraturan kepala daerah yang nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada DPRD. Artinya. 12/2008 mengisyaratkan mempertegas bahwa pilihan kepala daerah pun akan dilakukan dengan mekanisme yang sama. dapat dipahami bahwa DPRD tidak monolitik (tunggal/seragam). 2232/20034 juncto UU No. Amandemen UUD 1945.

25".5". termasuk di daerah menjadi rumit. Berikut ini digambarkan pembagian pelaku-pelaku politik yang ada dalam sistem demokrasi pembagian kekuasaan (presidensial) dan kontekstualisasinya di Indonesia. Setelah pemilu usai. yang sering dimana mengakibatkan penegakan hukum belum sepenuhnya terjadi. 5. dalam demokrasi mapan. Selain itu. Kepala eksekutif/kepala daerah (walikota/bupati) y Kepala daerah. merupakan masalah besar dari yang pada dasarnya menentukan perilaku politik pejabat daerah. Kita juga tidak lagi dapat menyoal bahwa sebagian dari masyarakat di daerah pemilihan kita tertentu bukanlah konstituen kita. misalnya apakah itu cenderung pro pasar atau cenderung mengutamakan agenda-agenda kesejahteraan sosial. bahkan dirugikan. hubungan perwakilan ini justru baru dimulai tepat ketika anggota DPRD terpilih. maka terjadilah pertarungan antara berbagai aktor politik di daerah. DPRD berubah dari wakil pemilih menjadi wakil semua. Justru sebaliknya. dalam pilihan kebijakan yang ditempuh pemerintah daerah dan DPRD. Maka iIni mengarahkan kita pada hal penting yaitu bahwa yang harus digarisbawahi adalah hubungan antara anggota DPRD dengan dan masyarakat tidak berhenti ketika yang bersangkutan terpilih. termasuk di dalamnya adalah korupsi politik korupsi dengan pemanfaatan jabatan-. baik kontek demokrasi yang dewasa dan ideal harus terus disandingkan dengan tantangan faktual maupun konteks Indonesia yang sedang menata demokrasinya. Indonesia memiliki konteks yang sedikit berbeda. No bullets or numbering. Karena itu. namun lebih dari itu merupakan terjemahan ideologis dari para aktivis partainya. Tidak ada yang memungkiri bahwa praktek korupsi. wakil rakyat harus berhadapan dengan publik daerah secara keseluruhan yang sedapat mungkin suaranya harus dikelola dapat terwakili demi legitimasi produk-produk politik kebijakan di daerah. 1. Selalu ada pihak-pihak yang lebih diuntungkan dan kurang diuntungkan. Situasi transisional. ini membuat situasi pembangunan politik di Indonesia. bersikap mawas terhadap berbagai pelaku-pelaku politik ini akan membantu DPRD mengantisipasi pelanggaran-pelanggaran hukum dan etika yang dapat terjadi. partaipartai politik secara umum mengidentifikasi dirinya dengan kecenderungan kebijakan tertentu. ada juga Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. termasuk pada masa lima tahun pertama reformasi.Konsekuensinya. Tab stops: Not at 1" . First line: 0. memiliki kepentingan untuk terpilih kembali dalam pemilu berikutnya sehingga cenderung untuk berusaha untuk memberikan kesan yang terbaik di mata masyarakat pemilih. bab ini berusaha tidak mengabaikan keduanya.2. Ini tidak saja merupakan respons terhadap pasar politik (kecenderungan) pemilih. Dalam konteks itulah. Usai pemilu. secara rasional . Kkita tidak lagi dapat mempersoalkan apakah masyarakat yang mengadu di gedung DPRD adalah bukan bagian dari golput alias dengan satu atau lain alasan (tidak memberikan suaranya pada pemilu) lalu. Perebutan alokasi sumber daya masih jarang mempersoalkan strategi kebijakan namun lebih dimaksudkanterjebak sekedar untuk bagi-bagi rejeki di antara pejabat publik. Space Before: 0 pt. Kendati rumitdemikian. Mengidentifikasi pelaku-pelaku politik utama Politik menjadi arena dimana tempat sumber daya yang terbatas yang dikelola pemerintah harus dialokasikan.

Fenomena lainnya. kepala eksekutif daerah kehilangan minat lagi untuk menunjukkan kinerja dan terperangkap dalam fenomena lame duck (bebek lumpuh) karena tidak ada insentif lagi untuk tampil prima. Namun.kecenderungan kepala daerah untuk menorehkan sejarah sebelum meletakkan jabatan (vouloir conclure). Sehingga pPada fenomena ini. misalnya berkampanye pada pemilu jabatan publik yang lebih tinggi atau mempersiapkan lahan ekonomi selepas menjabat. Pada fenomena ini ada resiko sumber daya masyarakat dihamburkan untuk proyekproyek mercusuar yang mahal tapi tidak banyak berguna. Dinamika politik ini dapat menjadi ruang adu populer bagi DPRD di depan masyarakat dan menyediakan insentif bagi anggota DPRD dan partai politik untuk mencoba berlomba mewakili kepentingan masyarakat dengan. Lembaga perwakilan (DPRD) Sekali lagi. masyarakat akan memiliki pemimpin yang tidak efektif namun tidak dapat dijatuhkan. Namun kepentingan yang rasional di atas memang sering tidak permanenmengemuka. posisi kepala eksekutif sering dijadikan kendaraan untuk melakukan akumulasi kapital modal sebanyak-banyaknya yang pada gilirannya digunakan untuk mendapatkan kekuasannya yang lebih besar lagi. Formatted: Space Before: 0 pt . baik untuk kepentingan pribadi maupun terutama karena tuntutan dari partai politik masing-masing yang harus mengumpulkan dana kampanye. Karena ada sedikit saja iInsentif untuk populer dan dekat di hati rakyat sering dinilai tidak cukup sehingga bahkan menimbulkan masih ada keengganan. hingga kini terus mendorong praktek ini sementara penegakan hukum dan akuntabilitas partai politik belum bisa didorongmasih lemah. kKadang-kadang pada masa jabatan terakhir. Ddalam situasi dimana penegakan hukum yang lemah. Ini bisa berwujud pembangunan sebuah proyek raksasa dan prestisius yang lebih sering bersifat fisik daripada mental agar karena yang terakhir ini tidak mudah dilihat hasilnya dalam waktu singkat. untuk mengambil posisi populer di antara anggota yang lain. baik dalam kepentingan keuangan langsung maupun dalam pembuatan kebijakan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya. DPRD tidaklah monolitik. terbatasnya keterbukaan informasi dan. Kepentingan ini akan berkelanjutan bila UU Pemilu dan UU Parpol di Indonesiayang ada tidak tegas mengatur pendanaan partai. Padahal. maka trend yang lahir justru adalah korupsi berjamaah . Dalam konteks daerah. dengan kewenangan yang dimilikinya. lebih baik daripada yang lain. sSebagai lembaga yang kolegial dan . Ironisnya.. DPRD dan justru bersandar pada keberagaman perbedaan pendapatlah yang didorong sehingga terdapat lebih dari satu usulan solusi untuk permasalahan daerah tertentu. anggota DPRD sering tergoda menggunakan kedudukannya untuk menggalang dana. 2. Kkarena kepala eksekutif daerah merupakan posisi yang lazimnya dibatasi kesempatannya untuk dapat terpilih kembali. lemahnya media massa di daerah membuat kepentingan DPRD untuk bertarung dan berlomba berebut popularitas pemilih dengan cara memperdebatkan kebijakan publik ini menjadi tidak signifikan.

Karena itu. menguatkan kapasitas partisipasi mereka dalam pembangunan. di Indonesia masih perlu waktu lagi sampai partai politik dapat merumuskan agenda politiknya dengan tajam dan jelas. baik legislatif maupun. baik itu LSM. Selama orientasi parpol bukan melulu masih dianggap sebagai kendaraan menggapai kekuasaan untuk mengartikulasikan kepentingan pemilihnya. Namun. targetnya adalah membangun iklim Dengan kompetitifsi yang lebih keras dalam memikat hati pemilih sehingga diharapkan. ataupun asosiasi profesi. dengan kekuasaan berarti akses pada sumber daya keuangan baik secara etis maupun tidak etis. budaya politik dari partai politik mungkin akan bergeser menjadi lebih akuntabel. Dalam jangka lebih panjang. boleh jadi adalah dengan membolehkan hadirnya partai-partai lokal untuk terjun dalam pemilu di daerah. Berbagai ormas kelompok ini memiliki misi untuk memberdayakan masyarakat. seperti yang telah diberlakukan di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam dalam rangka otonomi khusus. Apapun pilihannya. bila memungkinkan. agergasi kepentinga. Salah satu orientasi parpol adalah menggapai kekuasaan agar dapat menjalankan agenda-agenda politiknya sesuai dengan preferensi pemilihnya. yang diharapkan dapat perlahan-lahan menggeser trend ini. Masyarakat sipil Masyarakat sipil dapat diwakili dengan oleh pelbagai asosiasi (perkumpulan) yang ada di dalamnya. menyampaikannya dalam kampanye secara relatif kontras dengan partai lain (perbedaan program dan strategi). Lagi-lagi. Pilihan radikalnya. paling tidak melalui penegakan hukum dan kedewasaan politik dari pemilih. Jalan radikal yang dapat ditempuh adalah mereformasi UU Parpol dan UU Pemilu secara terus menerus agar lebih kian dekat dengan kepentingan masyarakat di daerah. ataupun menggalang kekuatan untuk melakukan advokasi kebijakan. sebagian besar parpol yang ada bahkan dapat dikatakan tertatih-tatih menjalankan fungsi pendidikan politiknya. parpol berkepentingan untuk duduk dalam lembaga politik di daerah. 4. maka agak sulit memastikan masa depan politik yang akan membawa kebijakan yang lebih baik bagi daerah. Partai politik (parpol) Parpol lahir untuk memperjuangkan agenda politik tertentu. Jika berkuasanya sebuah partai menandai corak kebijakan tertentu di demokrasi mapan. dan membawakannya menjalankannya dalam pemerintahan.3. . kepala eksekutif. maka ormas pun rata-rata gagap berinteraksi dengan pemda yang masih meraba- . Parpol juga memiliki tanggungjawab dalam melakukan fungsi-fungsi sosialiasi politik. Opsi lain yang bisa dipilih adalah merevitalisasi struktur parpol-parpol nasional yang ada di tingkat lokal (setara dengan propinsi atau kabupaten/kota) agar lebih sensitif terhadap kepentingan daerah. karena desentralisasi dalam tata pemerintahan tidak dapat sesegera mungkin diikuti dengan desentralisasi ormas (yang berskala nasional). serta pendidikan politik. meski akan sangat sulit jika bukan malah mustahil. organisasi berbasis masyarakat. Dalam hal ini. termasuk secara spesifik mengkader calon-calon pemimpin daerah yang bertanggung jawab dan memiliki jiwa kepemimpinan yang dapat membawa daerah ke masa depan yang lebih baik di tengah kompetisi global.

Dalam konteks negara-negara demokrasi baru. yang sering terjadi justru kolusi dan situasi saling melindungi karena masing-masing memegang kartu as dari yang lainnya. dengan demikian. maupun agama yang berbasis profesi sekalipun. Walhasil. lagi-lagi kepentingan politik para aktor yang terlibat lebih banyak berurusan dengan korupsi. organisasi massa yang berbasis warga. rendahnya kepemilikan masyarakat pada hasil-hasil pembangunan. BIROKRASI. Banyak di antara organisasi kemasyarakatan ini justru tergantung dari negara. fenomena yang gampang dilihat di daerah adalah ormas memburu proyek-proyek pemerintah daerah. Tak jarang yang terjadi adalah praktek kolusi antara pemerintah dan pengusaha yang berakibat pada ekonomi biaya tinggi dan kompetisi bisnis yang tidak sehat. Karena itu. Sektor swasta Sektor swasta adalah pihak-pihak yang berkepentingan untuk kebijakan ekonomi yang kondusif bagi perkngembangan bisnisnya. yang sebagaian adalah imbas dari struktur politik masa Orde Baru yang sangat berkepentingan melakukan pengendalian aktivitas ormas. demokrasi di daerah tidak akan terwujud. biasanya korupsi politik marak dalam hal favoritisme kontrak proyek pemerintah karena absennya lemahnya prosedur standar lelang beserta pengawasannya. Resikonya adalah turunnya kepercayaan yang menerus dari masyarakat. dalam konteks pertarungan kepentingan daerah. adat. utamanya di mata pejabat publik di daerah yang kepalang skeptis dengan keberadaan ormas ini. tidak demikian halnya tradisi pada demokrasi muda yang mewarisi budaya KKN. lebih banyak yang merupakan warisan dari masa pra reformasi dan tidak memiliki sumber daya untuk berlanjut secara mandiri. Di sisi lain. bahwa pemain bisnis tidak segan-segan menempuh berbagai cara untuk mencapai tujuannya. LSM yang diharapkan dapat menjadi pendobrak kebuntuan ini juga banyak yang terjebak pada skema ketergantungan. 5. Tanpa diseminasi dan replikasi praktek penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Bila di banyak demokrasi maju birokrasi adalah mesin netral yang mengabdi pada pilihan kebijakan yang diambil politisi. Kembali ke konteks Indonesia. Prosedur ini seharusnya ditegakkan untuk memastikan proses kompetisi yang sehat dan tercapai efektivitas dan efisiensi dalam mengelola sumber daya bagi kemanfaatan masyarakat.raba. kepentingan-kepentingan penguasaan sumber daya merupakan isu hidup-mati bagi jajaran birokrasi karena ia merupakan semacam katup pelepasan dari . dan legitimasi yang rendah terhadap keberadaan pemerintahan demokratis itu sendiri. seluruh bagian dunia memiliki pengalaman mirip. baik kepada pemerintah (LSM Plat Merah ) ataupun kepada lembaga donor asing. Di Indonesia. Pengaturan dan pengawasan. agama. Dalam hal ini. yang sudah mulai dirintis daerah tertentu. Kepentingan seperti ini tentu saja harus dipahami namun harus dikelola kemanfaatan bisnisnya bagi kemaslahatan masyarakat luas. Hanya dengan ikhtiar keras ormasormas yang lebih bertanggung gugat maka citra ormas ini bisa digeser dan diperbaiki.

menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala. wakil rakyat dalam sistem demokrasi dengan pemisahan kekuasaan atau sistem presidensialisme ini. yang kedua. c. j. Kepentingan rakyat banyak sebagai fokus utama Dalam konteks sistem pemisahan kekuasaan yang dianut Indonesia. Memperhatikan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah. Numbered + Level: 1 + Numbering Style: a. Teori pertama. dan Memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada pemilih dan daerah pemilihannya. + Start at: 5 + Alignment: Left + Aligned at: 1" + Indent at: 1. di satu sisi lain. Space Before: 0 pt. Space Before: 0 pt. Bagaimana anggota DPRD dapat menentukan seperti apa kepentingan rakyat. Teori mandat dianggap tidak realistis namun kita dapat melihat semangatnya masih kuat mewarnai baik pada UU No. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. 27/2009 seperti misalnya dalam Pasal 81 butir e. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. perlu menyadari lingkungan pengambilan kebijakan seperti ini sembari. Artinya. Sementara. sebagai lembaga perwakilan (legislature). 22/2003 maupun setelah direvisi menjadi UU No.5".25" . jika tidak ia akan kehilangan kursinya. b. Namun. j. yaitu: i. selalu terdapat perdebatan bagaimana DPRD perlu memaknai posisinya sebagai wakil rakyat atau wakil partai. Menyerap. Beberapa indikasinya misalnya dapat dilihat dalam menggariskan sepuluh rumusan kewajiban anggota DPRD kabupaten/kota pada pasal 351 UU No. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. DPRD adalah cerminan dimana kepentingankepentingan masyarakat dibawa dalam sebuah arena pengambilan keputusan politik. Dibandingkan dengan wakil rakyat yang duduk di parlemen. memang aAnggota DPRD seperti berada dalam bandul pendulum yang mengayun di antara dua kutub itu.3. meski terikat dengan agenda parpol namun relatif cenderung lebih independen dari partainya. menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat. + Start at: 8 + Alignment: Left + Aligned at: 1" + Indent at: 1.rendahnya imbalan nominal yang diterima PNS. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya. Bold. dia dapat bertanya kembali kepada konstituennya. Formatted: Font: +Body. 27/2009. dan k. c.25" Formatted: Indent: Left: 0. dan k. Pada akhir masa bakti. hi. Politisi di daerah. Italic Formatted: Font: +Body. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat. f. teori kebebasan (independensi/trustee) menyatakan anggota legislatif bebas mengambil keputusan berdasarkan pendiriannya.5". teori mandat (delegate) meyakini bahwa anggota legislatif tidak boleh mengambil keputusan apapun yang bertentangan dengan keinginan konstituennya. Numbered + Level: 2 + Numbering Style: a. yang merupakan lembaga perwakilan dalam sistem parlementer. Font color: Blue Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. Italic Formatted: Font: +Body. sehingga kuantitas pProyekproyek pemerintah pada gilirannya merupakan dijadikan peluang sarana untuk bertahan mencari tambahan sumber pemasukan ekonomi. menghimpun. b. Formatted: Space Before: 0 pt 5. terlebih dalam carut-marut peta kepentingan di bagian berikutnya? Terdapat dua teori besar mengenai peran anggota legislatif ini. Bila ia dianggap melakukan pekerjaannya dengan baik maka dia dapat terpilih. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. merumuskan strategi reformasi sektor publik yang menantang di depan mata. dalam jangka panjang.

Dalam kondisi semacam ini. Resiko hukuman atau dan ganjaran dari publik sangat mungkin diberikan akan berlaku kemudian pada waktu pemilu tiba yaitu dengan memilih kembali anggota DPRD yang dinilainya aspiratif dan sebaliknya bagi yang tidak. hanya mendudukan satu orang wakilnya dari sebuah daerah pemilihan. Tingginya visibility dan makin terdidiknya pemilih ini akan menyediakan insentif bagi politisi untuk memposisikan diri sebagai wakil rakyat.. Font color: Auto Formatted: Space Before: 0 pt. Font color: Auto Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. sehingga akan terdorong untuk menyuarakan kepentingan daerah pemilihnya. Kecilnya ukuran distrik menunjukkan hasil pemilu tersebar ke banyak partai. misalnya. anggota DPRD memang akan cenderung lebih mendengarkan partai politiknya. Desakan dan insentif Ia lebih merupakan isu bagi masyarakat untuk mendesak DPRD bahwa ada insentif politik yang besar bagi para politisi untuk jika menjadikan kepentingan rakyat banyak sebagai fokus utama masih belum berarti.17" Formatted: Space Before: 0 pt .. Penggunaan suara terbanyak dalam pemilu 2009 Presiden pilih langsung . dalam ketentuan mengenai pergantian antar waktu. partai pun memiliki visibility yang tinggi. Di sisi lain. Dalam konteks seperti ini. 22/2003 ternyata memberikan kewenangan kepada partai politik untuk merecall anggotanya (Pasal 94 383 ayat 1 2. 3. dan iIni akan makin berkembang seiring dengan bertambahnya jumlah pemilu demokratis yang kita adakan. UU No. Dikotomi wakil partai dan wakil rakyat ini diharapkan juga kian menipis karena partai pun berkepentingan mempertahankan keterwakilannya di DPRD. Formatted: Indent: First line: 0". Namun demikian. namun dikhawatirkan kewenangan ini bisa digunakan oleh partai politik maupun kelompok-kelompok yang kuat pengaruhnya di dalam partai politik tertentu untuk memberlakukan politik sentimen dan favoritisme. 2. kedewasaan pemilih dalam menggunakan hak pilihnya juga merupakan instrumen kontrol yang efektif bagi partai. Pada momen karena hanya pada saat pemilu itulah (sebenarnya) rakyat dapat menghukum atau menyambut hangat kehadiran sebuah partai politik beserta calon-calonnya. mari kita cermati beberapa temuan dari pemilihan umum DPRD di 2004 dan 2009 yang kurang lebih serupa dalam konteks masalah ini. Permasalahannya. masyarakat pemilih dari daerah pemilihan yang relevan karena telah memilih wakil rakyat tersebut. Maka selain anggota. Sementara. huruf e dan hdan 3). maka anggota pun memiliki visibility yang tinggi.Dari sini tampak bahwa UU berusaha memberikan acuan bagi penyusunan tata tertib DPRD yang akan mengatur operasionalnya kewajiban anggota DPRD itu. hanya dapat memberikan pengaduan untuk kemudian diproses dalam Badan Kehormatan DPRD. apa yang dapat menjadi insentif bagi para politisi untuk lebih mendengar suara rakyat daripada suara partainya? Untuk itu. Tab stops: Not at 1. Partai politik di negara demokrasi mapan memiliki tradisi yang sangat menghargai kepercayaan pemilih. tingginya perolehan suara beberapa calon perorangan menunjukkan bahwa memberi insentif bagi masyarakat mulai terlatih danuntuk selektif dalam menentukan siapa wakilnya. Partai A. 1. Daerah pemilihan menjadi lebih kecil. Kendati partai politik memang berkepentingan dengan garis kebijakan dan standar perilaku tertentu dari wakil-wakilnya di DPRD.

Mengelola kepentingan menjadi agenda politik publik Apa kepentingan utama anggota DPRD? Beberapa orang pada periode awal reformasi mungkin akan menjawab setengah bercanda.: Menumpuk kekayaan. bukannya sebagai alat kontrol parpol terhadap kadernya seperti di masa lalu. preseden diseretnya banyak anggota DPRD ke pengadilan dengan dakwaan korupsi serta merosotnya kepercayaan partai pada anggota DPRD yang tidak bertanggung jawab pada gilirannya juga menggerogoti kepercayaan pemilih.4.membuat anggota DPRD lebih hati-hati merumuskan kepentingannya. makin lama ia akan lebih mendengar pendapat umum. 5. kalau Anda menyukai pekerjaan ini. lebih baik Anda melakukannya dengan sangat baik. sSebagaimana pemilu jurdil secara berkala dianggap sebagai lembaga demokrasi paling penting. kita berharap. maka kepentingan tertinggi seorang politisi memang diandaikan sebagai terpilihnya kembali dirinya di jabatan publik pada pemilu berikutnya. apapun lembaga recall yang ada. anggota DPRD dapat berupaya melakukan pendekatan kepada rakyat sehingga posisi tawar dan akuntabilitas seorang politisi menjadi benar-benar berada di tangan pemilih. maka kemampuan yang paling penting untuk dikuasainya bukanlah teknik penulisan perundang-undangan (legal drafting). Berikut ini adalah bagan sederhana di halaman berikut untuk menggambarkan proses penyusunan kebijakan publik. maka pekerjaan pun bisa segera dimulai. Dalam konteks ini. DPRD harus selalu menggunakan proses konsultasi dan informasi untuk mendasarkan kebijakan yang diusulkannya. Bila kepentingan seorang anggota DPRD bisa didefinisikan sejelas itu. Karena itu. Namun. sehingga partai Anda kehabisan alasan untuk mengusulkan penggantian pada pemilu depan. Jika kapasitas anggota DPRD harus ditingkatkan. Italic . Sebab. Bagan Penyusunan Kebijakan Publik Formatted: Space Before: 0 pt KONSULTASI INFORMASI RISET DAN VERIFIKASI PERUMUSAN KEBIJAKAN PARTISIPASI PENGARUH LINGKUNGAN Kebijakan Publik PENGARUH LINGKUNGAN Sebagai wakil rakyat. sekali Anda menjadi politisi. apalagi penyusunan Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body.Dalam jangka lebih panjang.

bisa pengusaha yang berpeluang kecipratan/mendapat bagian rejeki bila perda digulirkan. Di sisi lain. Sementara. Riset dan verifikasi dilakukan untuk mendapatkan temuan mengenai permasalahan yang terungkap di masyarakat. Lebih dari itu. Bisa jadi berbagai partai berbeda pendapat mengenai sebuah solusi. sebenarnya masalah serupa dihadapi pemegang kebijakan di semua negara demokratis. Bisa jadi juga lembaga eksekutif tidak termotivasi untuk melakukannya dan mengerem usulan yang dilontarkan. pemilu hanya berlangsung secara berkala. Dengan kepentingan yang terlalu beragam dan sumber daya terbatas. berdiskusi adalah cara tepat untuk mencari titik temunya. seperti apakah anak-anak SD itu menerima berhasil belajar sesuatu? Apakah mereka dapat menangani permasalahan matematika untuk bahan ajar yang tepatsetingkat mereka?. Keputusan publik menjadi tantangan sehari-hari para pejabat dan wakil rakyat. Bila verifikasi meliputi pengecekan obyektif mengenai permasalahan yang dirasakan masyarakat. apalagi yang dilakukan di lokasi yang terkena dampak kebijakan. pemilu tidak hanya dimenangkan terbatas hanya pada hari-hari kampanye.anggaran. Meskipun rata-rata anggota DPRD di Indonesia mengeluhkan alotnya pembicaraan dalam konsultasi publik.5. Proses politik kemudian akan menjadi arena bagi berbagai alternatif solusi yang diajukan bagi masalah tersebut. Membangun dan memelihara hubungan dengan konstituen Demokrasi tidak dibangun hanya dengan mewujudkan lembaga-lembaga demokrasi secara fisik. Lebih Formatted: Space Before: 0 pt . berupa lembaga perwakilan yang dipilih lewat pemilu jurdil. namun bagaimana menggali pelbagai kebutuhan yang seharusnya terungkap dalam proses ini. Kadang-kadang proses konsultasi publik pun perlu diulang untuk memastikan bahwa semua pihak sudah dicoba untuk ditampung pendapatnya dalam pembuatan kebijakan ini. Keputusan publik diambil tidak hanya sekali dalam lima tahun. riset bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang mendukung bagi dirumuskannya tawaran-tawaran pemecahan. Seorang anggota DPRD dapat saja mengunjungi sebuah sekolah dasar dan mendapati bahwa proses belajar mengajar berlangsung namun abai bahwa yang harus dinilai adalah hasil dari proses itu. Karena itu. 5. demokrasi adalah proses terus-menerus yang ujungnya adalah lahirnya keterwakilan rakyat secara optimal dalam pengambilan keputusan publik. Ini bisa berupa LSM yang memperjuangkan proses yang lebih terbuka. Apakah ada jaminan bahwa mereka akan dapat mengakses pendidikan yang lebih tinggi? Apakah ada pungutan-pungutan sekolah yang memberatkan orang tua siswa? Apakah ketersediaan dan mutu guru mencukupi? Apakah kesejahteraan guru sudah memadai? Apakah fasilitas sekolah penunjang pendidikan tersedia dengan baik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah contoh menunjukkan bahwa DPRD harus memiliki tanggungjawab dan perspektif masa depan dari proses pendidikan di daerahnya yang diterjemahkannya melalui pelbagai perda. Dalam proses politik ini berbagai aktor lain yang berkepentingan pun akan ikut bermain untuk mencoba berpengaruhmempengaruhi. bisa juga masyarakat yang merasa dirugikan.

kita bisa membayangkan hubungan antara rakyat dan wakilnya dalam sebuah kurva. Surabaya. Kemudian. Jika tercapai. Walhasil. Jika pada tengah masa di antara pemilu ini terjadi skandal apapun juga yang melibatkan anggota dewan yang bersangkutan. karena tentu saja sulit memenuhi janji seratus persen. Dalam demokrasi yang muda seperti di Indonesia. mulai muncul kekecewaan-kekecewaan. ketika periode kampanye berikutnya datang. dan Mataram) memperlihatkan bahwa ternyata perilaku pemilih di perkotaan mulai bergeser.untuk dimintai dukungannya? Hasil survei Indonesia Corruption Watch mengenai korelasi korupsi dan pilihan dalam Pemilu 1999 di sembilan kota di Indonesia (Jakarta. Bandar Lampung. Makassar. Namun. Menjelang pemilu. Anda bBisa bayangkan. mulai dakwaan korupsi. Bagaimana hubungan dengan konstituen dilakukan? Formatted: Font: +Body. anda niscaya akan jauh lebih siap menghadapi pemilu berikutnya. Mereka mulai mempertimbangkan kepercayaan terhadap partai politik dalam menentukan pilihannya. Ya. Walhasil. bila tingkat kepercayaan ini terpelihara sepanjang periode di antara dua pemilu. Dalam jangka panjang. Pontianak. yakni dengan menilai akan mulaidan mempertimbangkan apa yang dilakukan para kandidat dan partai politiknya. Samarinda. pemilu dimenangkan dengan kerja yang panjang. tingkat kepercayaan ini akan menurun. bisa-bisa kurva kepercayaan ini turun tajam menjadi semakin rendah lagi. Padang. tertangkap sedang mengkonsumsi narkoba sampai dengan kasus-kasus perdata. Bandung. Italic . masyarakat diharapbayangkan menjadi pemilih yang retrospektif. partai politik dan para caleg kelabakan memompa tingkat kepercayaan ini. bila politisi di DPRD anda sudah memiliki tabungan hubungan dengan konstituen. dan tabungan kepercayaan dari mereka. Bagaimana membaca kurva kepercayaan? Untuk lebih jelasnya. seringkali diragukan orang sebelumnya masih ragu apakah jika menjalin hubungan baik dengan konstituen maka akan terbayarkan dalam pemilu. Para calon anggota DPRD atau mereka yang ingin mencalonkan diri kembali tergoda untuk menggunakan cara-cara instan seperti Apakah masyarakat tidak cukup dismenyerbu saja dengan serbuan janji dan imingiming materi (money politic) agar pemilih memberikan suaranya. sepanjang periode di antara dua pemilu. biasanya masyarakat akan menaruhik kepercayaan yang tinggi pada politisi. Iini berarti bahwa pemilu harus dimenangkan tidak hanya dalam masa kampanye melainkan sepanjang periode di antara dua pemilu melalui performa wakil-wakil dari partai politik yang duduk di pemerintahan. mMerupakan fenomena global bahwa pemilih jamaknya merasa kecewa melihat kinerja wakilnya setelah duduk di parlemen. dengan teknik-teknik kampanye yang kian canggih.penting lagi. pekerjaan memenangkan pemilu tidak perlu sekeras gambaran sebelumnya. Sepanjang lima tahun terakhir kita mungkin akrab dengan banyak berita. beberapa saat setelah terpilih dan bertugas. partai-partai yang dianggap relatif bersih mendapat suara lebih banyak daripada partai-partai yang dianggap tidak bisa mengusung agenda pemberantasan korupsi. kerja pada hari demi hari dalam periode panjang di antara dua pemilu. Di kota-kota tersebut.

nNamun. Kegiatan-kegiatan ini merupakan latihan dan pemanasan yang berguna sebelum pemilu tiba. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Memang masih terdapat keluhan pada Pemilu 2004 lalu bahwa beras atau uang (money politic) yang dibagikan pada pagi hari menjelang pencoblosan suara masih lebih efektif daripada kerja-kerja jangka panjang seperti ini. sejarah akan menilai bagaimana masyarakat pemilih pasti akan bertransformasi menjadi lebih rasional. anda anggota DPRD secara khusus juga perlu menemui pemilih anda.. Menaikan profil partai di depan masyarakat dan media setempat. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Kesempatan berinteraksi dengan konstituen juga merupakan ruang bagi fungsi penyediaan informasi kepada publik. 2. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Tab stops: Not at 0.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Anda Anggota DPRD perlu menggunakan kesempatan ini untuk memberdayakan partainya. andaanggota DPRD perlu harus berkonsultasi dengan masyarakat mengenai masalah yang mereka hadapi. Di luar masyarakat secara umum yang harus anda diwakili oleh DPRD sebagai wakil rakyat yang terpilih dari daerah pemilihan tersebut. Bagi Ppartai politik. Karena itu. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. baik berupa rapat umum. Kepengurusan partai dihadapkan pada tantangan untuk mendukung program konstituensi yang sukses. peran Anda adalah menjadi Sebagai wakil rakyat.  Bertemu dengan masyarakat pemilih. Konsultasi yang dimaksud adalah proses untuk mendapatkan informasi. Banyak kalangan di pemerintahan menyayangkan bahwa masyarakat kurang mampu dan atau tidak berminat untuk berpartisipasi dalam program pemerintah. sarasehan.5". Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: First line: 0. kaderisasi internal partai akan bergulir.  Menguatkan struktur partai. Perlu diingat bahwa kata konsultasi ini tidak akan membuat posisi anda anggota DPRD menjadi lebih rendah dalam relasi ini. misalnya dengan pelibatan kader-kader partai dalam pelbagai kegiatan andainteraktif dengan masyarakat.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. anda sendiri. sering masyarakat tidak memiliki cukup informasi untuk menilai apa yang direncanakan dan sedang dilakukan pemerintah.  Mengarahkan perhatian publik pada isu dan kebijakan yang tengah dibahas di DPRD. Dari kegiatan seperti ini juga. atau diskusi interaktif di radio. Formatted: Space Before: 0 pt. berikut adalah substansi dari kegiatan anda di daerah konstituen andatersebut:  Melakukan konsultasi publik. lambat laun. Kegiatan-kegiatan seperti ini juga akan merangsang partai untuk lebih eksis pada periode di antara dua pemilu. Mengaktifkan dan menguji struktur partai. Tab stops: Not at 0. kegiatan-kegiatan interaksi yang dilakukan anggota DPRD ini anda dapat menggunakan digunakan sebagai kesempatan seperti ini untuk: 1. dan mMasyarakat yang anda temui adalah narasumber terbaik untuk mendapatkan masukan mengenai kebijakan yang perlu diambil oleh daerah. sehingga dengan sendirinya mereka lebih suka mengambil jarak. Sesuai dengan amanat UU. Apapun aktivitas atau kemasan yang anda diambil.Anda DPRD bisa melakukan banyak aktivitas untuk berinteraksi dengan konstituen. Not Bold . Dalam konteks Indonesia dan budaya lokal yang sangat kaya bahkan terdapat berbagai kesempatan potensi sosial budaya yang bisa digunakan untuk mencapai maksud ini.. Faktanya.

Kantor ini bersifat sebagai sekretariat yang menghubungkan antara anggota DPRD anda dan konstituen. Naiknya profil anda seorang anggota DPRD mencerminkan dukungan bagi kebijakan yang anda telah atau tengah diperjuangkan. juga profil partai politik adalah membangun kantor kontituensi (constituency office) di daerah pemilihan andasetiap anggota DPRD. Staf dan aktivis di kantor konstituensi dapat melakukan sejumlah kegiatan komunikasi dan interaksi publik. . jangan lupa bahwa anda setiap anggota DPRD juga harus meningkatkan profilnya anda sendiri kepada masyarakat. memverifikasi masalah yang diadukan. Jerih payah anda anggota DPRD dapat menjadi sia-sia kalau tidak terdapat berdampak pada kenaikanya profilnya anda di hadapan masyarakat dan konstituendalam politik daerah. dan dukungan bagi anda akan membawa gGelombang dukungan ini akan yang lebih besar dengan melibatkan peran media massa. seperti menampung keluhan masyarakat. bila dianggap strategis. Kantor ini bisa lebih dari satu. Jangan pernah lupa untuk melibatkan media massa dan menggunakannya untuk kepentingan anda.Pentingnya kantor konstituensi Salah satu cara untuk mengembangkan hubungan dengan konstituen sekaligus menaikkan profil diri dan. Jangan melupakan peran media massa Ketika anda anggota DPRD melakukan aktivitas ini dan merasakan asyiknya berinteraksi dengan masyarakat. dan menyebarkan informasi mengenai kegiatan-kegiatan-kegiatan anda sebagai anggota dewan.

Bold . Dasar-dasar penting Fungsi dan tugas DPRD sebagai wakil rakyat sebenarnya telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Ttetapi. yang merupakan refleksi rencana program pemerintahan daerah dalam bentuk angka. 2. untuk memastikan berjalannya perundangan yang ada dan optimalnya kinerja eksekutif. Dalam demokrasi Indonesia yang masih muda ini. Meskipun Ffungsi dan tugas wakil rakyat telah diatur dalam peraturan-peraturan perundang-undangan. anggota DPRD baru pun tak jarang menjadi kekurangan acuan dalam menemukan peran yang pas. kerangka hukum itu hanya meletakkan dasar-dasar acuan secara umum. yakni membahas dan menyetujui anggaran daerah. Anggota DPRD pada umumnya telah dikritik dengan mengatakan mereka tidak mampu melaksanakan tugas secara optimal. Anggaran. tetapi bagi mereka Akibatnya. Dalam jangka pendek tuntutan yang demikian besar dari masyarakat ini kadang-kadang justru memancing sikap defensif dari kalangan DPRD sendiri dan resistensi terhadap pembaruan. Apa pra kondisi yang perlu diperhatikan? Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. DPRD tidak diberikan memiliki panduan dan acuan yang mencukupi untuk mengatasi berbagai kendala kebijakan dan operasional. Namun dalam jangka panjang. dan peraturan-peraturan pemerintah. Tab stops: Not at 1. 6. dimanadan praktek-praktek demokrasi belum berurat-berakar.BAB VI Memahami Fungsi dan Tugas Wakil Rakyat Rahmi Yunita Anggota DPRD pada umumnya dikritik karena tidak mampu melaksanakan tugas secara optimal. peraturan-peraturan tersebut masih bersifat umum dan tidak secara lengkap menjabarkan bagaimana mekanisme pelaksanaan masing-masing fungsi untuk mencapai kinerja yang ideal. lembaga-lembaga politik dalam demokrasi Indonesia memang harus mengembangkan dirinya untuk dapat memenuhi tuntutan jzaman. dan tidak menjabarkan mekanisme pelaksanaan masing-masing fungsi untuk mencapai kinerja yang mendekati ideal. yakni membentuk perundang-undangan yang mengatur kabupaten/kota. mau tidak mau. 3. DPD dan DPRD mengatur bahwa DPRD kabupaten/kota memiliki fungsi: 1. DPR. Namun. Pasal 77 343 UU No. anggota DPRD sering dihujani kritik lima tahun belakangan ini bahwa mereka tidak menunjukkan peran yang disuratkan dan efektivitas yang disiratkan dalam perundang-undangan tersebut. Legislasi. 2722/20093 mengenai Susunan dan Kedudukan MPR.3" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body.1. Salah satu akibatnya. dalam hal ini berbentuk perda. Pengawasan.

Dalam keadaan yang ideal. penegakan hukum yang jauh dari harapan. keinginan untuk terpilih kembali dalam pemilu secara berkala dianggap sebagai motif yang cukup kuat untuk unjuk kinerja. Motif Motif anggota DPRD untuk unjuk kinerja di hadapan masyarakat perlu didorong agar mereka dapat bekerja optimal. kelompok. semua orang anggota DPRD memiliki kesempatan untuk diwakili dan menggunakan haknya dalam pengambilan keputusan. termasuk anggota DPRD di Indonesia. UU Sistem pemilu dan kepartaian Politik yang masih bisa didiskusikan dan terus-menerus diperbaharuiberubah. budaya politik masyarakat pemilih yang belum terlampau kejam (retrospektif) menghukum partai-partai politik yang ingkar janji.5" Formatted: Space Before: 0 pt .DPRD. Tata tertib adalah piranti untuk menuangkan prinsip-prinsip demokrasi menjadi aturan main yang memastikan bahwa. UU No. atau partainya saja. tata tertib yang belum melembaga sebagai aturan main. 2. 3. serta yang paling buruk. dan ini tidak sepenuhnya terjadi dalam kenyataan. tekanan yang besar dari pihak eksekutif. Kesempatan Kesempatan yang dimaksud adalah ketersediaan ruang dalam aturan main internal DPRD agar dapat mengoptimalkan kinerjanya. Bila pada prinsipnya. DPRD di Indonesia bekerja dalam pemda yang sebagian besar bekerja dengan anggaran yang relatif sangat terbatas. kapasitas sekretariat yang jauh dari memadai. Ini diperlukan karena banyaknya jenis dan lingkup pekerjaan yang jumlahnya tidak dapat dilakukan anggota sendirian. Dalam ketiga hal di atas. serta anggaran yang cukup baik untuk kegiatan DPRD maupun untuk sekretariat agar dapat beroperasi. kita dapat mengatakan bahwa kita di Indonesia masih dalam proses mencari format. lembaga politik dalam demokrasi seharusnya bertindak berdasarkan mereka yang diwakilinya maka banyak kajian dalam lapangan ilmu politik masih terus-menerus mencari cara bagaimana supaya sistem politik dapat menyediakan motif bagi para politisi. bukan hanya terbatas di kalangan pemilihnya. 27/2009 memungkinkan adanya sistem pendukung bagi pelaksanaan tugas DPRD yang tidak hanya berupa sekretariat DPRD. Tab stops: Not at 0. Sarana Sarana yang dimaksud dapat berupa fasilitas yang wajar untuk melakukan tugasnya berupa. Bab ini sejenak akan mengabaikan agenda-agenda yang menantang di atas yang sebenarnya menjadi konteks yang melingkupi DPRD dalam menjalankan Formatted: Space Before: 0 pt. Keinginan anggota DPRD untuk terpilih kembali dalam pemilu secara berkala dapat dijadikan sebagai pintu masuk agar mereka mengoptimalkan kinerjanya. sebagaimana lembaga-lembaga politik lainnya. Tab stops: Not at 0. antara lain.5" Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. namun juga kelompok pakar atau tim ahli yang kebutuhannya disesuaikan dengan alat kelengkapan DPRD dan kemampuan keuangan daerah. namun bagi keseluruhan masyarakat di daerah. bila memenuhi setidaknya tiga hal: 1. baru dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Tab stops: Not at 0. untuk menjalankan tugasnya dengan baik dan bukannya bertindak berdasarkan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Peraturan tata tertib yang disusun harus memungkinkan anggota dewan dapat melakukan tugasnya dan menunjukkan kinerja yang baik. dukungan keahlian dan staf kesekretariatan untuk mengerjakan hal-hal teknis adminsitrasi dan anggaran.

DPRD sebagai pendidik politik dan demokrasi 9.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. Dalam jangka pendek.5" Formatted: Space Before: 0 pt. 2232/1999 2004. maka DPRD dan kepala daerah pun kini lebih bertanggung jawab atas kepemimpinan dan masa depan daerah. termasuk di tangan anda. 27/2009 di atas. 25/1999 maka Indonesia mengalami sebuah terobosan desentralisasi yang bisa dikatakan terbesar di seluruh dunia. mengingat kecilnya peran daerah dalam pengambilan kebijakan sebelum reformasi bergulir.2. Babak baru dalam pembangunan masyarakat Indonesia telah tiba. Mewakili kepentingan daerah 7. (Pasal 1 angka 5 dan 6butir i). Membuat peraturan hukum dan kebijakan dasar 2. 22/1999 dan UU No. maka bab ini akan membahas fungsi-fungsi di atastersebut sekaligus memetakan peran-peran lain strategis yang menunggu butuh dimainkan oleh DPRD. Membuat peraturan hukum dan kebijakan dasar Terhitung sejak 1999. Dengan adanya pendalaman desentralisasi ini. Tab stops: Not at 0. Namun kerumitan ini juga bisa dilihat sebagai tantangan yang sangat menggairahkan. secara umum desentralisasi dianggap membawa banyak peluang. 18A. Membekali diri 10. namun dalam jangka panjang desentralisasi . Dalam tugas inilah lembaga DPRD menjadi arena dimana berbagai pandangan politik maupun pilihan pendekatan dinegosiasikan untuk kemudian dirumuskan Formatted: Space Before: 0 pt. salah satu peran strategis yang dimainkan oleh pemerintahan daerah pasca reformasi dan ditetapkannya UU No. Kendati terdapat banyak keluhan di kalangan DPRD dan pimpinan eksekutif bahwa sebagian besar daerah diberi kewenangan besar tanpa sumber daya yang memadai. Pembangunan masyarakat tidak lagi diatur dari Jakarta namun kini berada di tangan pemimpin di daerah-daerah sendiri. mungkin pemerintah daerah akan mencari-cari format untuk menjalankan pemerintahan di daerah dengan efisien. Daerah diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (UU No. Membangun sekwan yang andal 8. Dalam konteks harapan yang besar itulah. tanggung jawab ini mungkin bisa dipandang sebagai tugas yang rumit. Bold . kini tanggung jawab untuk menentukan arah pembangunan daerah pun diletakkan di tangan pemda. Tab stops: Not at 0. Di satu sisi. No bullets or numbering. Sehubungan dengan fungsi-fungsi digariskan dalam UU N0. Menetapkan APBD 4. 22/1999 dan UU No. 25/1999 adalah kewenangan membuat kebijakan dan perda. dianggap akan membuat pemerintahan lebih akuntabel dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di daerah. Komitmen besar ini bahkan telah diawali melalui Ketika Perubahan Kedua UUD 1945 berlangsung pada (tahun 2000). 6. Membentuk perda 3.tugasnya. Dengan adanya UU No. Melaksanakan pengawasan berbagai kebijakan publik 5. Lebih khusus lagi. dan 18B. Mewakili kepentingan rakyat 6. ketentuan ini pun mendapatkan kedudukan hukum lebih tinggi dengan penjabarandalam ketentuan mengenai pemerintahan daerah di Pasal 18. Topik-topik yang akan diangkat adalah sebagai berikut: 1.

kerangka peraturan hukum dan kebijakan dasar yang dibutuhkan oleh daerah untuk waktu ke depan sudah dapat dirancang. Salah satu agenda riil yang menyambut DPRD dalam hal penyusunan kebijakan daerah adalah penyusunan dokumen-dokumen perencanaan daerah jangka menengah. Bentuk regulasi daerah ini adalah kerangka peraturan hukum dan kebijakan dasar dituangkan melalui perda. yakni: AKU. 16/2006. Pembentukan Perda adalah otoritas DPRD. meski prosesnya dapat diajukan melalui insiatif DPRD ataupun oleh Pemda. Tab stops: Not at 0. Melalui Prolegda. kebijakan dasar lain yang perlu dikawal serius adalah terkait perencanaan pembangunan daerah. selain berupa perda. bisa berupa keputusan kepala daerah dan instruksi kepala daerah. RPJP daerah disusun untuk jangka waktu 20 tahun yang memuat visi.5" Formatted: Font: +Body . Rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP daerah dengan memperhatikan RPJM nasional. dan mungkin jangka panjang. pemda memiliki otoritas untuk membuat peraturan turunan dari perda yang produk hukumnya bisa berupa pengaturan ataupun penetapan. Dalam Pasal 3 Permendagri No. 32/2004. Di sini. baik yang Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Dokumen-dokumen yang dimaksud adalah: 1. dokumen perencanaan pembangunan daerah berwujud tiga jenis dokumen dasar yaitu Rencana pembangunan jangka panjang daerah (RPJP). repetada dan renstra.bersama kepala daerah menjadi dokumen daerah. kini merupakan tanggung jawab anda yang kemudian dikerangkai dalam regulasi-regulasi daerah. Program pembangunan daerah lima tahun (propeda). produk hukum yang bersifat pengaturan. dan arah pembangunan daerah dengan mengacu kepada RPJP nasional. jangka menengah. prioritas pembangunan daerah. dan Rencana kerja pembangunan daerah (RKPD). RPJMD disusun untuk jangka waktu lima tahun sebagai penjabaran visi. yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. Kedua dokumen ini harus ditetapkan bersama-sama dengan kepala daerah dan kemudian akan dijadikan acuan bagi dokumen perencanaan pembangunan tahunan. Sedangkan yang bersifat penetapan. yang lazimnya pada periode hasil pemilu 1999 sesuai dengan masa bakti DPRD. Perda selanjutnya akan menjadi alat kontrol dari DPRD untuk melihat sejauh mana kinerja eksekutif dalam mengimplementasikan perda tersebut. Sedangkan RKPD adalah terjemahan RPJMD untuk jangka waktu satu tahun. Dalam Pasal 150 UU No. Selain kerangka kebijakan dasar regulasi daerah yang diatur dalam Prolegda. Pola dasar pembangunan daerah (poldas). bisa berupa peraturan kepala daerah ataupun peraturan bersama kepala daerah yang semuanya harus didasarkan pada Prolegda. termasuk sejauhmana peraturan-peraturan turunannya yang dibuat oleh ekesekutif (pemda) sesuai dengan ketentuanketentuan di dalam perda. Tugas ini tentu saja sangat menantang karena tanggungjawab yang harus diemban sangat luas mulai merancang anda bisa bayangkan bagaimana arah pembangunan daerah dalam jangka pendek. rencana kerja dan pendanaannya. Di sini. 2. misi. yang merupakan implementasi pada tataran konsep operasional dari poldas. misi. DPRD dan pemda dapat menuangkannya dalam program legislasi daerah (Prolegda) untuk kurun waktu lima tahun dan menentukan target per-tahunnya. yang meletakkan kerangka hukum dan acuan bagi pembangunan daerah jangka waktu lima tahun.

dan program satuan kerja perangkat daerah. dan program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. DPRD akan memahami dan mempertajam arah yang dikehendaki pemerintah daerah sebab dalam RPJMD telah termuat kebijakan keuangan daerah. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt . Di sini DPRD dapat mengeceknya melalui pemeriksaan semua laporan realisasi APBD. neraca. DPRD dapat melakukannya dalam rapat pembahasan laporan realisasi pelaksanaan APBD dalam semester pertama untuk melihat apakah dibutuhkan perubahan APBD. sebagaimana diatur dalam PP No. Sedangkan pada tahap pengawasan terhadap implementasi Perda APBD tersebut. Pada tahap perencanaan APBD. keterlibatan DPRD akan sangat vital pada tahapan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). Hasil dari pembahasan ini (berwujud Nota Kesepahaman) adalah dasar dari DPRD untuk mengawal proses penyusunan Raperda APBD yang akan diajukan oleh pemda dengan cara menilai sejauhmana program dan kegiatan yang direncanakan sudah sesuai dengan nota kesepahaman dalam pembahasan KUA dan PPAS. 58/2005. catatan atas laporan keuangan. dengan mengacu kepada rencana kerja Pemerintah. Fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan APBD juga masih akan muncul lagi sebagai bentuk pertanggungjawaban pemda. Hanya setelah mendapat persetujuan DPRD. dan laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan daerah (BUMD).dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Ini penting karena melalui RPJMD. misalnya. DPRD sangat vital untuk mencermati RPJMD dari pemerintah daerah. lintas satuan kerja perangkat daerah. baik kesesuaiannya dengan RKPD atau dengan tantangan yang dibutuhkan daerah dalam perspektif dan temuan-temuan DPRD. kebijakan umum. strategi pembangunan daerah. Pemda baru kemudian dapat menyusun Raperda tentang penjabaran APBD. laporan arus kas.

Peran DPRD dalam Penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA)
Ditetapkan per tahun

Mendagri

Pedoman Penyusunan APBD

Kepala Daerah

Menyusun berdasarkan RKPD

Rancangan KUA

DPRD

Pembahasan Rancangan KUA

KUA
Formatted: Indent: First line: 0", Space Before: 0 pt

Peran DPRD dalam Penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara KUA Pemda
1. Menentukan skala prioritas dalam urusan wajib dan pilihan 2. Menentukan urutan program dalam masingmasing urusan 3. Menyusun plafon anggaran sementara untuk setiap program

DPRD Rancangan PPAS
Program prioritas dan patokan batas maksimum anggaran SKPD untuk setiap program. Ini selanjutnya menjadi acuan penyusunan RKA-SKPD

PPAS

Formatted: Space Before: 0 pt

Kerangka dasar yang perlu menjadi orientasi Dalam menyusun dokumen-dokumen di atas, ini ada beberapa prinsip yang dapat dijadikan acuan: 1. Kerangka visioner.

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5"

DPRD perlu berpikir jauh ke depan dalam menyusun kebijakan daerah. Apa yang akan diletakkan selama lima tahun ke depan harus dapat menjadi landasan yang kokoh dan dapat diterjemahkan secara bertahap dalam rencana tahunan. bagi kehidupan anak cucu kita kelak. 2. Kerangka global. Dalam menyusun apa yang akan dibangun di daerah kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa abad 21 telah ditandai dengan globalisasi dalam skala yang tak terbayangkan sebelumnya. Terobosan pembangunan yang akan dilakukan harus peka terhadap tata persaingan dunia baru ini. 3. Kerangka proses. Untuk dapat menemukan apa yang dicita-citakan orang banyak, memenuhi rasa keadilan masyarakat luas, dan pada gilirannya membangkitkan rasa kepemilikan masyarakat di daerah, proses yang ditempuh harus melibatkan banyak orang. DPRD dapat memprakarsai pelbagai bentuk konsultasi publik, baik berupa rapatrapat umum, kuesioner maupun penelitian potensi daerah sebagai penunjang. Harus disediakan cukup waktu untuk membahas kebijakan dasar yang akan ditempuh sehingga dokumen yang dihasilkan bukan dokumen yang asal jadi dan tidak akan dapat dijadikan acuan yang inspiratif di kemudian hari. Bagaimana memahami anggaran yang sensitif gender? Hal ini yang berada di dalam wilayah kebijakan dan dapat diprakarsai oleh DPRD adalah dorongan bagi diadopsinya anggaran yang sensitif gender (gender sensitive budget). Hal yang patut diperhatikan bahwa anggaran sensitif gender bukanlah penyediaan anggaran khusus bagi perempuan. Anggaran sensitif gender adalah analisis untuk melihat dampak dari program pembangunan dan penganggaran bagi laki-laki dan perempuan serta bagi berbagai segmen laki-laki dan perempuan. Kesadaran untuk menerapkannya memang mempersyaratkan pula komitmen untuk membangun basis data yang memiliki segregasi berdasarkan aspek gender, kelompok umur, dan kelompok sosial ekonomi. Bila kebijakan ini tidak ditempuh, maka daerah beresiko terjebak pada kebijakan-kebijakan yang mungkin dianggap netral gender, padahal ia sebenarnya buta gender. Pada gilirannya pembangunan bisa berlangsung secara zalim gender (gender tidak adil) karena dampak pembangunan hanya dirasakan oleh sekelompok (kecil) masyarakat yang bisa jadi sudah lebih beruntung daripada yang lainnya . 6.3. Membentuk peraturan daerah

Formatted: Space Before: 0 pt

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5" Formatted: Space Before: 0 pt

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5" Formatted: Space Before: 0 pt

Sebagai lembaga legislasi, fungsi DPRD adalah membuat perda. Dalam konteks sistem politik Indonesiadesentralisasi, fungsi ini dijalankan bersama dengan kepala daerah. Perda harus mendapatkan persetujuan dari kedua cabang pemerintahan ini sebelum dapat ditetapkan sebagai mengikat bagi masyarakat di daerah. Dalam menyusun landasan dan arah kebijakan suatu perda, perlu dipertimbangkan beberapa hal:

1. Koridor konstitusional atau lingkungan legal tempat perundangan dibuat, termasuk tidak boleh dilanggarnya peraturan perundangan yang lebih tinggi dalam hirarki perundang-undangan di Indonesia. 2. Prioritas kebijakan daerah yang bersangkutan, seperti dokumen-dokumen perencanaan daerah yang meletakkan arah yang ingin dicapai daerah dalam jangka waktu tertentu. 3. Aspirasi masyarakat yang berkembang sehingga perda tersebut mampu mencerminkan kebutuhan dan keinginan masyarakat luas serta mendapatkan legitimasi etis, nilai, sosial dan politik dari masyarakat. Mengapa perda dibuat? Pada dasarnya, perundang-undangan dibuat untuk menyelesaikan sebuah masalah. Karena penyelesaian masalah memerlukan kerangka hukum yang ditangani bersama, maka perda adalah instrumen di daerah yang harus dipatuhi oleh semua orang yang ada di daerah, sehingga tatanan yang diinginkan di daerah dapat tercapai. Secara umum, perda dibuat untuk mengatasi permasalahan yang ada di daerah. Namun di Indonesia sudah jamak adanya pendapat bahwa sudah ada banyak aturan yang bagus namun penegakannya saja yang tidak konsisten . Demikian pula di daerah, kita sering mendengar keluhan betapa sebuah perda bak hidup enggan mati tak mau . Entah karena tidak efektif ditegakkan atau karena setelah ditetapkan dapat memancing kontroversi, tidak menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan masalah baru. Sejumlah daerah juga mulai banyak mengagendakan evaluasi peraturan daerah untuk menyortir hukum daerah ini menjadi lebih ramping dan efektif. Karena pengalaman-pengalaman di atas, maka untuk dapat menghasilkan dan menetapkan sebuah perda, utamanya yang menyangkut masyarakat luas, DPRD perlu lihai menerapkan checklist yang setidaknya mengandung pertanyaanpertanyaan di bawah ini: 1. Apa masalah yang hendak diselesaikan? Apakah merupakan masalah yang sebenarnya atau hanyalah akibat dari masalah lain yang lebih mendalam, lebih rumit dan menyangkut kepentingan lebih banyak orang? 2. Apa kemungkinan-kemungkinan solusinya? Apakah permasalahan ini bisa dipecahkan dengan menghentikan perilaku lama yang buruk atau hanya bisa dilakukan dengan mendorong perilaku baru? Apakah anda setiap orang akan serta-merta mematuhi perda hanya karena ia telah ditetapkan dan diundangkan? Bagaimana menciptakan insentif bagi orang-orang untuk mengadopsi perilaku baru? 3. Apa hasil yang bisa diharapkan dalam jangka lebih panjang? Apakah perda ini akan menyumbangkan kehidupan di daerah yang lebih baik, atau hanya penghilang gejala masalah saja? Adakah hasil sampingan (eksternalitas) yang diperoleh secara tidak langsung dari diterapkannya perda ini? Positif atau negatif? Dengan kerangka pertanyaan di atas, sebagai contoh, maka dalam penerapan retribusi, misalnya, DPRD dapat mensimulasikan berbagai aspek yang akan timbul dari diterapkannya sebuah perda. Bila sebuah retribusi adalah pendapatan bagi

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5"

Formatted: Font: +Body, Not Bold Formatted: Space Before: 0 pt

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 1.43"

Formatted: Space Before: 0 pt

pemda. Italic Formatted: Space Before: 0 pt. perda pun harus peduli dengan pentingnya perumusan isi sehingga tafsir perda di lapangan sesuai dengan kehendak pembuat peraturan daerah. Di masa lalu. Sebagai perundang-undangan daerah. baik legislatif maupun eksekutif. Tab stops: Not at 0. dalam hal ini pemda dan DPRD. Masyarakat juga tidak hanya bisa dimaknai secara sempit dengan masyarakat luas yang cair dan tidak terorganisasi. serta diskusi yang tidak terarah. DPRD selalu dapat meminta bantuan ahli. dihadiri massa yang tidak jelas identitasnya . Dalam bagian akhir bab ini juga diangkat kemungkinan bagi DPRD untuk memiliki staf yang menguasai bidang penulisan UU di sekretariat sebagai salah satu pilihan bagi DPRD untuk memperkuat kapasitasnya di bidang legislasi. dan menguras kesabaran. Namun di sisi lain. baik perorangan maupun kelembagaan untuk menganalisis raperda yang datang dari eksekutif maupun untuk membantu DPRD menyusun raperda inisiatif. Tidak ada informasi yang cukup untuk menetapkan pengaturan yang mendetail. yang cukup dibuat trauma dengan suasana rapat umum yang hiruk-pikuk. Formatted: Font: +Body. Apa yang perlu diperhatikan dalam legislative drafting? Banyak perda juga mengalami kegagalan dalam pelaksanaannya karena perumusannya yang lemah. makan waktu. DPRD tidak perlu merasa terbebani dengan keharusan menguasai teknik penulisan UU (legal drafting). Namun demikian. masyarakat merupakan sumber dari gagasan dan dukungan yang luar biasa. Karena anggota DPRD tidak serta-merta merupakan pakar di bidang hukum. Proses-proses serupa adalah langkah kecil dari proses panjang belajar berdemokrasi bagi pembuat kebijakan dan bagi masyarakat sendiri. Dengan demikian masukan-masukan yang diperoleh dari proses konsultasi ini dapat membantu memperkuat muatan perda yang disusun. maka DPRD dapat memanfaatkan proses penyusunan sebuah perda secara partisipatoris. serta pemuka masyarakat. Banyak pembuat kebijakan.5" . Perda serupa dapat dibuat dalam kondisi-kondisi: 1. Kadang-kadang cukup dibuat sebuah perda yang tidak terperinci untuk kemudian ditindaklanjuti dengan keputusan kepala daerah untuk menjabarkannya. masyarakat yang dimintai konsultasi juga dapat berupa organisasi yang relevan dengan permasalahan yang dibahas. Mengapa harus ada perda? DPRD perlu pula menimbang apakah semua permasalahan yang dihadapi daerah memerlukan perda sebagai solusinya. Melibatkan masyarakat secara luas berarti menabung legitimasi politik dari sebuah peraturan daerah jauh sebelum ia ditetapkan. pembuat kebijakan sering berusaha menghindar dari penyusunan kebijakan publik secara partisipatoris karena dipandang berbelit-belit. apakah besarnya masih cukup kondusif bagi pertumbuhan ekonomi atau justru mematikan keinginan-keinginan investasi? Proses dasar penyusunan perda Untuk bisa melahirkan perda yang komprehensif dan lolos dari saringan pertanyaan di atas. perguruan tinggi.

berapa banyak dan bagaimana cara memperoleh uang untuk mendanai rencana tersebut (pendapatan). dan kedua. berapa biaya atas rencana-rencana yang dibuat (belanja). dan 4. APBD memandu rencana tindakan yang akan dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai sasaran-sasaran pemerintahan. berapa biaya yang dibutuhkan dan berapa atau bagaimana hasil yang diperoleh dari belanja pemerintah tersebut. pertama.2. Proses pengendalian anggaran ini dilakukan dengan tahapan-tahapan: Membandingkan kinerja aktual dengan kinerja yang dianggarkan Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: First line: 0. Dalam konteks desentralisasi. 3. ditetapkan dengan sejumlah fungsi utama yang harus dipenuhi. yakni: 1. anggaran merupakan estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran-ukuran keuangan berdasarkan capaian yang diinginkan. Anggaran sektor publik. 6.38" Formatted Table Mengidentifikasi selisih . Alat pengendalian. anggaran dijadikan acuan untuk menghindari adanya pemborosan (overspending). DPRD tentu sangat sadar bahwa anggaran tetap merupakan dokumen politik karena merupakan bentuk komitmen eksekutif dan kesepakatan legislatif atas penggunaan dana publik. 32/2004. termasuk APBD. Sebagai instrumen pengendalian. Perbedaan-perbedaan dalam satu daerah yang perlu penyesuaian dalam penerapannya. maka program-program tersebut harus mencakup urusan wajib dan urusan pilihan dari daerah bersangkutan.4. Sebagai anggaran sektor publik. sebagaimana amanat UU No. Di dalam kesemua angka ini sesungguhnya menggambarkan arah dan perencanaan pembangunan yang hendak dicapai oleh suatu daerah dalam setahun yang diterjemahkan ke dalam program-program prioritas. Dengan demikian. maka perda yang ditetapkan akan dapat menjadi landasan hukum yang kokoh bagi kehidupan kemasyarakatan di daerah. 2. belanja yang terlalu irit (underspending) dan belanja yang salah sasaran (misapropriation). Ini penting bagi DPRD karena dari sini juga . Alat perencanaan. Perlunya banyak penjelasan karena sifat teknisnya atau alasan lain. korelasi dengan visi dan misi serta kemungkinan sumber pendapatan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat yang diwakili oleh anggota DPRD. indikator pencapaian. anggaran harus mencerminkan alokasi pendanaan. Rencana terperinci yang terdapat pada anggaran membuat pembelanjaan yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Keadaan yang berubah dengan cepat sehingga perlu antisipasi perundangan yang lebih fleksibel. Menetapkan APBD Secara umum. karena lewat anggaran pula kinerja DPRD akan dinilai oleh masyarakat pemilih. Karena itu. APBD merupakan suatu rencana keuangan yang menyatakan.

3. Dengan pendekatan ini. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. 5. standar satuan harga. baik yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan Merevisi standar biaya atau target anggaran tahun berikutnya Dengan adanya tahapan di atas. No bullets or numbering. Tab stops: Not at 0. analisis standar belanja.5" Formatted: Font: +Body. rencana anggaran harus menyertakan capaian kinerja. Space Before: 0 pt. dan standar pelayanan minimal. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. Kebijakan fiskal adalah usaha yang dilakukan pemerintah untuk mempengaruhi keadaan ekonomi melalui sistem pengeluaran atau sistem perpajakan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. anggaran perlu dipikirkan perannya dalam menstabilkan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. proses pengendalian anggaran akan dapat menyumbang bagi perbaikan penganggaran tahun berikutnya dan berarti memperbaiki alokasi dana publik. 12 pt Formatted: Font: +Body. Sebagai alat kebijakan fiskal.Menemukan penyebab selisih. efektif dan efisien dalam mencapai target dan tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Anggaran dapat digunakan sebagai alat untuk memotivasi manajger dan staf agar bekerja secara ekonomis. Anggaran dapat digunakan untuk menilai kinerja setiap unit kerja. Font color: Auto Formatted: Font: +Body. Alat koordinasi dan komunikasi.38". baik dalam pencapaian sasaran maupun dalam efisiensi anggaran. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. namun jangan pula terlalu rendah sehingga terlalu mudah untuk dicapai. 7. 7. Target anggaran hendaknya jangan terlalu tinggi sehingga tidak dapat dipenuhi. 12 pt . First line: 0".5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. Alat motivasi. Dalam konteks desentralisasi maka daerah dapat saling belajar satu sama lain. Bold Formatted: Indent: Left: 0. 4. 10558/20050 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Alat kebijakan fiskal. Tab stops: Not at 0. berarti APBD harus Formatted: Indent: Left: 0. Alat menciptakan ruang publik. Alat penilaian kerja. Anggaran dapat disusun untuk mendeteksi kekerasan antar unit kerja dalam mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan pemda karena setiap unit kerja pemerintahan terlibat dalam proses penyusunan anggaran. 12 pt Formatted: Font: +Body. termasuk di dalamnya adalah tingkat efisiensi yang bisa dilakukan. indikator kinerja.38". Karena itu. APBD disusun dengan pendekatan kinerja (prestasi kerja) yang dimulai sejak penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD). Berbagai kelompok masyarakat dapat menggunakan momentum penyusunan anggaran ini untuk berpartisipasi secara politik dalam kebijakan daerah. Apakah anggaran kinerja itu? Sesuai dengan PP No. 6. Pelibatanrlu bahkan mutlaknya masyarakat terlibat dalam proses penganggaran publik membuat proses penyusunan anggaran membuka ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan dan menyalurkan aspirasinya. (Pasal 39 ayat (1) dan (2) dalam PP ini mengatur bahwa Penyusunan RKA-SKPD dengan pendekatan prestasi kerja dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dan keluaran serta hasil yang diharapkan dari setiap kegiatan dan program. demikian pula masyarakat di daerah dapat membandingkan daerahnya dengan daerah lainnya sehingga tercipta kompetisi yang sehat.

Semua belanja yang dikeluarkan senantiasa berhubungan dengan sebuah kinerja yang akan dapat dievaluasi. . Pelaksanaan APBD.5. Pelaksanaan perda dan perundang-undangan lainnya. Pelaksanaan keputusan gubernur dan bupati/walikota. Karena DPRD adalah wakil masyarakat. Apa kegiatan yang memiliki efek pengganda (multiplier effect) lebih besar? 4. Bagaimana melakukan prioritasisasi? Pemda dimanapun di penjuru dunia. 3. 2. misalnya. kecuali di sejumlah kecil daerah yang sangat kaya. Apa kegiatan yang bisa mengundang pertisipasi sukarela masyarakat maupun partisipasi pihak swasta sehingga tidak terlalu membebani APBD? Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat terus dikembangkan lagi untuk membantu menyaring kegiatan-kegiatan yang perlu dibiayai APBD. Melaksanakan pengawasan berbagai kebijakan publik Formatted: Space Before: 0 pt. Apa kegiatan yang lebih sesuai dengan dokumen perencanaan daerah? apa kegiatan yang menyumbang tercapainya sasaran tertentu yang sudah disepakati dan menjadi komitmen bersama? 2. 2232/1999 2004 mengamanatkan pada DPRD untuk melakukan fungsi pengawasan terhadap lima hal: 1.5" Formatted: Space Before: 0 pt Pasal 18 42 ayat 1 butir f UU No. 6. karena pendekatan baru ini. Sebuah kegiatan hanya bisa dibiayai bila ia menyumbang bagi pencapaian sasaran tertentu yang sudah ada dalam dokumen-dokumen perencanaan daerah. DPRD hanya akan mengetahui apa yang terbaik bagi masyarakat di daerah dengan cara bertanya pada mereka. dan dampak tertentu dapat dicapai dengan sebuah masukan (input). maka sekarang ini kegiatan yang akan dibiayai merupakan produk dari analisis perencanaan yang lebih panjang. Pertanyaanpertanyaan yang diajukan dalam tahap ini untuk membantu memprioritaskan alokasi anggaran antara lain: 1.mencerminkan bagaimana sebuah keluaran (output). Lagi-lagi. fase ini berada dalam pembahasan PPAS yang rencananya diajukan oleh Pemda dengan berpedoman pada KUA yang sebelumnya sudah disepakati antara DPRD dan Pemda. ada masalah keamanan di daerah yang harus diatasi? 3. Apa kegiatan yang mendesak dilakukan karena menyangkut penanganan keadaan darurat dan menyangkut kebutuhan masyarakat paling mendasar? Apakah. sebagaimana dalam penyusunan kebijakan publik. DPRD perlu memberdayakan masyarakat dalam prosesnya. pembuat kebijakan publik termasuk DPRD selalu dihadapkan pada masalah prioritasisasi. manfaat. Dalam tahapan penyusunan APBD. Di satu sisi penerapan anggaran kinerja ini akan memudahkan DPRD dalam meminta akuntabilitas lembaga eksekutif dalam menjalankan tugasnya serta memudahkan masyarakat melihat hasil kerja pemerintahan. Karena itu. hasil. Tab stops: Not at 0. selalu berkutat dengan masalah banyaknya kegiatan pelayanan publik yang perlu dibiayai sementara volume anggaran yang tersedia sangat terbatas. DPRD pun dituntut untuk menyesuaikan diri. Di sisi lain. Bila sebelumnya anggaran disusun berdasarkan kegiatan yang akan dibiayai.

Meskipun keluhan ini dapat menyiratkan kesan bahwa DPRD memang telah bertindak overacting dalam melakukan fungsinya. 5. serta sementara Formatted: Space Before: 0 pt . tapi sudah masuk ke wilayah pemeriksaan. Apakah alokasi anggaran telah membawa hasil sesuai yang diharapkan dalam perencanaan? Apakah prioritas-prioritas pembangunan terlaksana? Bagaimana efisiensi dan efektivitas bisa ditingkatkan? Sekali lagi. Salah satu kewenangan DPRD yang berubah drastis sejak 1999 sampai kini. sehingga pemerintah bertanggung gugat (akuntabel) terhadap masyarakat atas apa yang dilakukannya. Di satu sisi ia harus membidik isu korupsi oleh eksekutif dan penyalahgunaan kewenangan atau dana pemerintah. Melalui komisi. Dengan diterapkannya anggaran kinerja. tampak di sini bahwa fungsi pengawasan akan menjadi berhubungan erat dengan fungsi penganggaran dan fungsi pembentukan kebijakan daerah berikutnya. berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas bekerjanya pemerintahan. demikian keluh pejabat eksekutif di banyak daerah. Pelaksanaan kebijakan daerah. proses pengawasan dan diskusi di antara para anggota akan berjalan cukup mendalam. dapat tercapai keseimbangan fungsi pengawasan penyelenggaraan pemerintahan antara yang dilakukan oleh BPK dan jajarannya. Pada lima tahun pertama transisi demokrasi tersebut. pelaksanaan fungsi pengawasan ini dipandang kontroversial.4. bahkan penyelidikan. apalagi dalam konteks penerapan anggaran kinerja. Sisi yang lain. adalah kewenangan pengawasan berjalannya kebijakan dan peraturan daerah oleh eksekutif. terutama pelaksanaan APBD. DPRD dapat menilai apakah sebuah perundangan. Pelaksanaan Kerjasama internasional di daerah. semangat pengawasan oleh DPRD meliputi dua hal: Pertama. Sebagaimana disuratkan dalam UU. pengawasan atas pelaksanaan pembangunan. DPRD hasil Pemilu 1999 merupakan DPRD pertama yang menjalankan kewenangannya menurut UU No. pengawasan atas dilaksanakannya perundang-undangan dan kebijakan daerah. 22/1999. dapat diterapkan dengan baik di lapangan atau tidak. baik itu berupa peraturan daerah maupun keputusan kepala daerah. sehingga anggota DPRD dapat melakukan pembidangan kerja dan memfokuskan perhatiannya dalam bidang yang spesifik. keluhan ini juga menunjukkan bahwa peran pengawasan DPRD telah mulai berjalan. Dengan demikian. Wilayah pengawasan DPRD dapat mencakup beberapa hal. Apakah peraturan yang lama telah berjalan dengan baik? Apakah ada celah di lapangan yang membutuhkan pengaturan tertentu dalam bentuk peraturan baru? Kedua. ke depan. maka DPRD dengan sendirinya akan sangat terbantu dalam melakukan dua aspek pengawasan pelaksanaan APBD ini. Dengan demikian. Bagaimana fungsi pengawasan ini dilakukan? Secara terus-menerus DPRD dapat melakukannya melalui komisi-komisinya yang membidangi hal-hal yang cukup spesifik. KPK. fungsi pengawasan dapat menyumbangkan hasilnya bagi fungsi legislasi. Dengan adanya komisi maka DPRD dapat mengerjakan banyak agenda sekaligus. dan secara politik oleh DPRD. sebagaimana lazimnya diharapkan dari demokratisasi. pemda sendiri secara internal melalui Bawasda dan Inspektorat. DPRD sudah bukan mengawasi lagi. Pemda mengeluhkan agresivitas DPRD dalam menjalankan fungsinya ini.

Dalam konteks Ketika kepala daerah sudah akan yang dipilih secara langsung nantisaat ini. termasuk melakukan pengawasan. kesamaan partai/afiliasi politik antara kepala daerah dengan dan mayoritas anggota DPRD tak terhindarkan lagi akan mempengaruhi corak pengawasan yang akan dilakukan. Nnamun bila fungsi ini dilakukan tanpa mekanisme representasi yang efektif. namun ini ia cenderung dikehendaki dalam sistem presidensial karena lebih memastikan berjalannya fungsi pengawasan oleh masyarakat melalui DPRD. teknik-teknik konsultasi dengan masyarakat dan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan memang menjadi salah satu langkah utama dalam upaya menegakkan demokrasi di seluruh dunia. . maka sistem ini akan kehilangan nilai demokratisnya. lembaga dan proses politik di DPRD diharapkan mampu menyelesaikan semua masalah yang muncul di daerah. Masalahnya. Karena itu. Karena itulah. membuat kebijakan. Ujung-ujungnya. Hasil pengawasan ini harusnya bermuara pada penyusunan kebijakan/peraturan daerah untuk menangani kelemahan yang masih ditemui baik mengenai sebuah program pembangunan.6. DPRD akan memiliki insentif untuk melakukan pengawasan dengan yang ketat dengan harapan akan menguak kelemahan yang dimiliki kepala daerah. Namun demikian. semangat yang ada dan prosedur yang disusun dalam DPRD harus dapat memfasilitasi peran ini. kendati skenario yang pertama memungkinkan ketegangan antara lembaga legislatif dan eksekutif yang nantinya(namun tidak akan bisa saling menjatuhkan).anggota DPRD juga cepat atau lambat akan menguasai permasalahan yang secara khusus ditanganinya. masyarakat bukanlah kelompok yang homogen. 6. utamanya karena layak diragukan bahwa DPRD bertindak mewakili masyarakat secara keseluruhan. tidak jarang dan sangat bisa jadi kepentingan tersebut bertentangan satu sama lain. maka keterampilan yang harus dikuasai tersebut adalah bagaimana berkonsultasi dengan masyarakat yang diwakilinya. bisa jadi kedua cabang pemerintahan akan berkonspirasi untuk tampil cantik di depan publik. maka yang dituju sebenarnya adalah pemerintahan daerah yang lebih akuntabel dan efektif. DPRD dapat saja melakukan fungsi-fungsi sebelumnyalainnya seperti. proses pemerintahan daerah akan menjadi siklus belajar kolektif yang terus-menerus dan terus meningkat. . bila kepala daerah dan mayoritas anggota DPRD memiliki afiliasi politik yang sama. Bila kepala daerah berasal dari partai/afiliasi yang berbeda. anggota DPRD bukannya diharapkan dapat menjadi manusia serba bisa untuk dapat memenuhi harapan masyarakat di daerah. Karena itu. Bila DPRD bisa melakukan fungsinya ini dengan baik. pengaturan. Bila aAnggota DPRD harus menguasai sesuatu keterampilan. maupun aspek pemerintahan lainnya. perda. Sebagai wakil rakyat. Mewakili kepentingan rakyat Kita masuk pada fFungsi berikutnya yang sebenarnya sangat mendasar dalam demokrasi perwakilan yakni adalah fungsi representasi. Di sisi lain. sehingga keputusan-keputusan yang lahir dari DPRD adalah yang paling representatif. Masyarakat memiliki banyak kepentingan yang .

konsepsi hirarkhi pemerintahan mulai diubah dengan memberikan lebih banyak tekanan pada munculnya kemandirian daerah (otonomi daerah). Mewakili kepentingan daerah Dalam sistem negara yang terdesentralisasi Indonesia mutakhir. Tanpa mekanisme yang disusun untuk mengantisipasi hal-hal yang harus direspon dengan cepat.di Jakarta. maka hubungan antara daerah dengan pusat telah memasuki babak baru. DPRD juga tidak memiliki antisipasi mekanisme verifikasi berbagai keluhan masyarakat yang bertentangan satu sama lain. Terkadang. 4. Pasca 1999. Dalam tabel di bawah.Secara umum. 2. yaitu. Formatted: Tab stops: Not at 0. pemda propinsi dan pemerintah pusat.halaman berikut ada beberapa contoh kegiatan yang bisa dilembagakan untuk memastikan bahwa DPRD memiliki berbagai jalan untuk mencari dan menerima masukan dari masyarakat. dalam struktur pemerintahan daerah saat ini. 2. Formatted: Tab stops: Not at 0. dimulai Kata jenjang di sini mungkin tepat karena UU No. 22/1999 yang kemudian diganti dengan UU No. 6.5" DPRD perlu bekerja dengan sekretariat dewan untuk memastikan bahwa terdapat mekanisme untuk bersikap peka terhadap permasalahan masyarakat sekaligus responsif terhadap tuntutan-tuntutan mereka. DPRD akan kesulitan mengatasi berbagai keluhan masyarakat. tidak mengenal hierarki seperti UU No. DPRD dapat mencari terobosan-terobosan baru dalam memastikan bahwa keputusan-keputusan yang diambilnya selalu berusaha memenuhi substansi prinsip keterwakilan ini.7. fiskal serta politik. Penerimaan aduan melalui kantor konstituensi Kotak pos pengaduan Formatted Table Isu Khusus 1. Dengan format baru adanya desentralisasi dan otonomi daerah. 5/1974. Formatted: Space Before: 0 pt . dengan keluhannya apalagi sedangkan pihak yang relevan sedang tidak berada di tempat. format kekuasaan di bagi secara bertingkat salah satu hubungan politik yang lain adalah antar jenjang pemerintahan yang dijalankan dengan prinsip prinsip otonomi.5" Isu Umum 2. yang saat ini dikerangkai dua undang-undang utama. 1. 2232/1999 2004 dan UU No. dll. pasca lahirnya UU No. Sering masyarakat frustasi karena aduannya ditanggapi komisi yang tidak relevan. 3. 5. Proaktif: Jemput Bola Undangan rapat dengar pendapat (RDP) ke kelompok-kelompok kepentingan RDP umum (public hearing) Kunjungan ke lapangan Pengadaan jajak pendapat kepuasan pelayanan publik Reaktif: Tunggu Bola Mekanisme penanganan unjuk rasa Mekanisme penanganan permohonan pertemuan mekanisme penanganan undangan seminar. 32/2004. Dengan kewenangan untuk memberikan sebagai besar pelayanan publik. 1. DPRD bersama pemda praktis menjadi pun menjadi ujung tombak perjuangan kepentingan daerah di depan dua jenjang pemerintah lainnya. dalam konteks ini. diskusi. Oleh sebab itu. 2533/1999 2004 yang membawa desentralisasi administrasi.

maka sering pemerintah nasional (pusat) di negaranegara desentralis untuk mengadu domba pemdanya. dibutuhkan organisasi yang kuat. maka peran yang disandang daerah adalah advokasi untuk mendapatkan pembagian yang lebih adil. daerah dapat berbagi informasi dan prespektif mengenai perbedaan kepentingannya dan . DPRD perlu memperdulikan setting politik bahwa pemerintah pusat pun memiliki kepentingannya sendiri. Karena itu ADEKSI dan ADKASI selalu aktif dalam diskusi kebijakan tingkat nasional. Dalam memperjuangkan kepentingan daerah. Anehnya. dan Asosiasi Pemerintah Propinsi seluruh Indonesia) adalah asosiasi serupa yang menjadi wadah bagi pemda untuk memperjuangkan kepentingannya yang dipimpin bupati. pemerintah pusat dapat mengeluarkan berbagai argumen untuk menangkal kepentingan-kepentingan daerah yang berbeda-beda. Kendati di Indonesia asosiasi pemerintahan daerah masih terbagi-bagi dalam berbagai organisasi. maka kepentingan daerah dapat didiskusikan dan dikerucutkan sebelum diperjuangkan. ADEKSI dan ADKASI Pada Juli 2001. perhatian . khususnya yang berimplikasi pada di antaranya adalah mengenai revisi UU tentang pemerintahan daerah dan aspek-aspek yang relevan dalam paket UU Politik. Formatted: Space Before: 0 pt 6. Atas nama jaminan untuk menyediakan pelayanan publik yang setara di seluruh tanah air. Lazimnya di seluruh dunia. Kecuali daerah dapat bersatu mengagregasikan kepentingannya untuk mendapatkan kompromi terbaik dalam melakukan tawar-menawar dengan pemerintah pusat. kemudian merumuskan strategi advokasinya bagi kompromi kepentingan terbaik bagi daerah. dan APPSI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten seluruh Indonesia. Membangun sekwan yang andal Semua orang dengan mudah sepakat bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan. Asosiasi ini menjadi wadah bagi DPRD Kabupaten dan Kota seluruh Indonesia dan anggotanya.8. perhatian pada pentingnya peningkatan kapasitas staf teknis sangat besar. namun tak pelak lagi advokasi kebijakan merupakan fungsi yang kunci bagi asosiasi. Asosiasi Pemerintahan Kota seluruh Indonesia.di Jakarta. Dalam konteks inilah maka asosiasi pemerintah daerah menjadi relevan. hal ini merupakan langkah penting maju dalam hubungan antar pemerintahan di Indonesia.daerah kini menyandang tanggung jawab baru yang praktis juga membawa permasalahan tersendiri dalam bidang anggaran. Demikian pula pemda. APEKSI. Dengan adanya asosiasi pemerintahan daerah. perluasan jaringan dan penyebaran informasi. Asosiasi DPRD Kota seluruh Indonesia (ADEKSI) resmi berdiri dan bulan berikutnya Asosiasi DPRD Kabupaten seluruh Indonesia (ADKASI). baik dalam besaranya dana alokasi dari pemerintah dalam formula bagi hasil pendapatan yang diperoleh di daerah. Meskipun asosiasi dapat menjadi wadah yang efektif untuk penguatan kapasitas anggota. walikota dan gubernur. maupun dalam keleluasaan mengeluarkan kebijakan fiskal. APKASI. Karena perbedaan kepentingan antar daerah inilah. Dengan adanya ADEKSI dan ADKASI.

DPRD harus memiliki kendali penuh atas dukungan administratif yang disediakan untuknya. Sekretariat DPRD dapat memiliki staf khusus yang dapat menerjemahkan kebijakan menjadi dokumen perundang-undangan yang baik. DPRD harus memiliki kekuasaan penganggaran bagi kegiatan maupun fasilitas yang disediakan oleh sekretariat. Jalur ini juga harus menjadi jalur satu-satunya.  Staf legal drafting. Bbukan pula tugas anggota DPRD untuk mempelajari detil teknis bagaimana menulis perundang-undangan. dan yang terpentingjuga keterwakilan. pengawasan. budgetinganggaran. Adanya staf khusus yang dapat membantu anggota menyediakan analisis anggaran akan mengefektifkan fungsi penganggaran dan pengawasan anggota. DPRD sering tidak memiliki cukup banyak waktu untuk memahami hal-hal mendetail yang kadang-kadang diajukan pihak eksekutif. Sebagai daerah yang sedang membangun dan baru meletakkan dasar-dasar pembangunan daerah pasca UU No. DPRD dapat memiliki staf khusus yang melakukan riset dan menyediakan informasi yang diperlukan oleh anggota dalam format yang mudah dipahami. Sekretariat DPRD harus memiliki staf yang andal. Dengan demikian.  Staf analisis anggaran. Tab stops: Not at 1" Formatted: Font: +Body. 2. kebijakan yang memprioritaskan sumber daya yang ada merupakan kewenangan dari DPRD sendiri untuk memenuhi tuntutan akan kinerjanya. sebagai pembuat keputusan. sekretariat yang andal harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. 22/1999. Sekali lagi. DPRD harus memiliki jalur pendelegasian dan pertanggungjawaban dengan sekretariatnya. Keputusan yang baik hanya bisa dilakukan jika dan untuknya diperlukan didasarkan informasi yang memadai. Banyaknya urusan. mencakup:  Staf manajerial dan administrasi. Seperti yang sudah disinggung di awal bab ini. baik dari segi pendelegasian. Dukungan harus tersedia untuk menjamin fungsi-fungsi legislasi. -bahkan kadangkadang memang sengaja diperumit untuk menggolkan tujuan politik tertentu. Karena itu. DPRD dapat memperoleh dukungan sesuai dengan yang diperlukannya dari Sekretariat. Formatted: Space Before: 0 pt. Namun. sekretariat hanyalah merupakan sarana agar DPRD dapat menunjukkan kinerja yang baik. Untuk itu. Dengan demikian. Italic .sebesar ini seringkali luput diberikan bila kita membicarakan lembaga sekretariat DPRD. Tugas anggota DPRD adalah membuat keputusan-keputusan. maupun penganggaran. sering membuat DPRD sering tidak memiliki waktu mencari informasi di perpustakaan dan mempelajarinya sebagai bahan untuk pengembilan keputusan. Anggota DPRD yang dipilih karena popularitas dan kepercayaan pemilih kepada yang bersangkutan untuk memikirkan dan mengambil keputusan mengenai masalah-masalah publik sangat bisa jadi tidak memiliki kemampuan dalam hal teknis legal drafting. yakni staf yang menyediakan dukungan koordinatif dan administratif bagi kerja DPRD. yang dipahami sebagai organisasi pendukung kinerja DPRD dan anggotanya. akuntabilitas. Namun sSkala dukungan yang disediakan oleh dan melalui sekretariat ini sangatlah besar dan karenanya memainkan peran yang kunci.  Staf riset.

DPRD dan sekwan dapat menyusun sebuah rencana pengembangan SDM untuk mendekati kondisi yang diinginkan dalam satu masa bakti. Kebanyakan sekretariat DPRD di Indonesia saat ini tentu masih bekerja dengan sarana dan sumber daya manusia yang masih terbatas. Dalam keadaan seperti ini. posisi ini sayangnya belum diakomodasi bagi anggota DPRD. Staf ini lazim dikenal di demokrasi mapan utamanya yang menganut sistem pemilu distrik wakil tunggal. akan merangsang lahirnya fraksi-fraksi berukuran kecil yang tidak membebani anggaran sekretariat. misalnya.9. 6. bila anggaran memungkinkan. Karena itu. Dalam konteks regulasi saat ini. Dampak dari setiap investasi yang ditanam harus dapat dilihat pada setiap tahunnya. yaitu terukur dampak dan kemanfaatannya. DPRD perlu memikirkan kelebihan dan kekurangan dari penyediaan fasilitas ini. Setelah penetapan target tahunan.  Staf pribadi anggota legislatif. komisi memerlukan dukungan staf ahli untuk dapat menjalankan tugasnya. maka ia benar-benar disediakan fasilitas untuk menjalankan fungsinya dengan baik.  Staf fraksi. Not Italic Formatted: Space Before: 0 pt Pengembangan sekretariat DPRD. Reformasi 1998 telah membawa perubahan dengan mendorong demokratisasi: Perubahan paket UU . bertambahnya fasilitas maupun staf khusus di DPRD seyogyanya tidak menjadi tujuan dalam dirinya namun menjadi sarana bagi kinerja DPRD yang lebih baik di mata masyarakat. UU No. Diperlukan tidaknya staf fraksi sebenarnya dapat diserahkan pilihan dan pendanaannya pada fraksi sendiri karena tidak etis bila penyediaannya diambil staf fraksi dengandari APBD. Perlu diingat bahwa program penguatan sekretariat ini harus terkendali. Karena itu. yaitu. maka anggaran dapat dialokasikan untuk mencapai target penyediaan sarana atau keahlian tertentu. pengembangan kapasitas SDM sekretariat mungkin akan terasa mahal bila dilakukan sekaligus dalam satu tahun anggaran. Staf komisi. Karena itu. mungkin perlu dibuat analisis apakah staf yang akan direkrut bersifat permanen atau yang menerus lebih baik dan efisien secara anggaran atau staf yang bekerja secara adhoc saja saat dibutuhkanketika agenda kerja DPRD membutuhkannya. bahkan bilameskipun anggaran yang tersedia memadai. Formatted: Font: +Body. Karena anggota legislatif tertentu merupakan wakil satu-satunya dari daerah pemilihannya. DPRD sebagai pendidik politik dan demokrasi Indonesia telah mengalami masa dimana tidak ada pemilu jurdil. 27/2009. Sebelum praktek staf ahli komisi ini diperkenalkan. kemerdekaan pers. Untuk meningkatkan legitimasi politik DPRD. Sebagai badan alat kelengkapan yang memegang peran penting dalam pelaksanaan tugas-tugas DPRD. dan kemerdekaan berorganisasi. Di sisi lain. fraksi merupakan agregasi kepentingan politik yang harus diakomodasi dalam demokrasi. komisi perlu dilengkapi dengan staf yang dapat membantu anggota komisi melakukan tugas sesuai lingkup komisinya.

32/2004 dan UU No. Praktek-praktek buruk yang dulu kita kecam kini justru merebak dan hadir di depan mata. praktek politik di daerah dengan sendirinya sebenarnya merupakan pendidikan politik dan demokrasi pada masyarakat. Karena dua proses ini berlangsung bersamaan. mana yang akan lebih banyak dipelajari oleh masyarakat: Demokrasi di daerah sebagai sarana mendekatkan masyarakat pada pengambilan kebijakan yang berpengaruh pada dirinya. serta rangkaian perubahan UUD 1945 yang diharapkan meletakkan dasar bagi Indonesia yang lebih demokratis. Yang menjadi krusial pada masa-masa transisi seperti sekarang dimana negara tidak lagi dapat memaksakan kehendak seperti dulu namun masyarakat juga tidak dapat mengharapkan subsidi dari negara. Ada beberapa resistensi atau keengganan untuk menerima nilai-nilai baru yang dianggap semua semau sendiri sehingga penuh ketidakpastian. Bersamaan dengan demokratisasi Indonesia juga lahir devolusi kewenangan dari pusat ke daerah melalui UU No. secara tidak langsung. ada juga yang sudah enggan kembali ke masa lalu namun belum menemukan pegangan tentang apa yang harus dibangun dibagi masa depan. 33/2004.justru dikecam telah sukses mendesentralisasikan korupsi.adalah memastikan bahwa masyarakat tidak frustasi dengan keadaan sekitarnya.Politik. Dengan diterapkannya UU barupembaruan dalam pengaturan pemerintahan daerah ini. tak urung ada banyak keluhan yang mengemuka. 25/1999 yang kemudian disempurnakan menjadi UU No. Bila dalam keadaan pertama masyarakat sudah frustasi dan enggan beranjak ke keadaan kedua. 22/1999 dan UU No. Dalam situasi politik seperti ini. Sebagian besar kegagapan dan kegalauan ini lahir karena demokrasi perlu waktu sebelum bisa mendatangkan hasil yang memuaskan. Mengubah praktekpraktek buruk di masa lalu dan membangun pranata baru bukan proses yang secepat kejatuhan penguasa lama dan usai hanya dengan sekali dua atau tiga kali pemilu demokratis. Namun. ataukah desentralisasi sebagai penyebab naiknya berbagai retribusi dan menurunnya kualitas puskesmas di dekat rumah? Masyarakat juga perlu belajar bahwa demokrasi mengandaikan bekerjanya fungsi kontrol dari pemilih untuk memastikan bahwa pejabat publik akan bertanggung gugat (akuntabel) terhadap masyarakat. Ada banyak hal yang bisa dilakukan DPRD. pemilu yang relatif demokratis (setelah absen 35 tahun). lepas dari rasa syukur akan capaian-capaian yang sudah diraih pada enam tahun pertama reformasi. Agen sosialisasi politik yang dialami seorang warga masyarakat adalah keluarga. Desentralisasi dan demokratisasi di daerah kewenangan yang membesar dan berimbangnya kewenangan eksekutif dan legislatif. Masyarakat dapat memilih sendiri pemimpin-pemimpinnyakepala daerah dan merekalah yang kemudian bertanggung jawab terhadap nasib masyarakat di daerah. maka proses belajar ini akan terputus dan demokrasi tidak akan membawa perubahan ke keadaan yang lebih baik. DPRD harus memastikan bahwa masyarakat pun belajar melakukan fungsi kontrolnya. sekolah dan media massa. Sebagai pemimpin masyarakat pada masa-masa transisi yang sulit ini. terjadi pula desentralisasi politik kepemimpinan daerah. Karena itu. teman sebaya. Demikian pula potret di daerah. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk .

memastikan bahwa lingkaran belajar masyarakat di daerah ini tidak terputus. seperti dalam mengikuti siklus sebagai berikut: .

5" Formatted: Space Before: 0 pt . ia akan merasa bangga bahwa ia telah mengambil keputusan yang terbaik. 6. 6. 4.(I) Persepsi masyarakat akan Keadaan sekitarnya (I ) Praktek pemerintahan yang lebih baik Karena itu. Pada dasarnya persidangan ini sifatnya terbuka (kecuali dinayatkan tertutup oleh DPRD). DPRD perlu mendorong praktek-praktek yang memastikan tata pemerintahan yang baik dalam arti luas. ketika ia melihat buah dari landasan yang diletakkannya hari ini. karena ia telah meletakkan suri tauladan sebagaimana yang diharapkan datang dari masyarakat yang beradab dari para pemimpinnya. 5. dan dokumen perencanaan daerah. Memastikan adanya mekanisme transparansi bagi publik. Mendorong berkembangnya media massa yang bebas. sehingga DPRD dapat lebih mengoptimalkan ruang ini. termasuk dalam pencegahan korupsi dan pengadaan barang-barang publik skala besar. 2. Kota-kota besar dengan jaringan internet luas dapat menggunakan website untuk menjalankan fungsi ini. APBD. Kepemimpinan kolegial dianggap merupakan sarana dalam demokrasi yang memungkinkan keputusan yang diambil setelah melalui proses pembahasan dan penggodokan yang serius dan matang. bertahun-tahun dari sekarang. Menyelenggarakan RDP dan jajak pendapat mengenai rancangan kebijakan dan perda. Membekali diri ' (II) Dorongan bagi partisipasi masyarakat dalam pemerintahan (governance) (III) Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam aspek-aspek pemerintahan Formatted: Tab stops: Not at 0.10. Ia akan merasa bangga. 3. antara lain dapat dilakukan dengan: 1. Ini tentu harus disikapi sebagai sebuah tantangan. Ia akan merasa bangga bahwa ia tidak tergoda untuk mengorbankan cita-cita orang banyak bagi kebaikan daerah hanya karena demi kepentingan pribadi dan kelompoknya semata. Setiap anggota DPRD harus mencamkan dalam dirinya. Memastikan adanya akses bagi masyarakat untuk mendapatkan dokumendokumen publik seperti perda. Mendorong keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan. Memastikan terbukanya sebanyak mungkin persidangan DPRD kepada masyarakat. DPRD perlu menyadari bahwa keberadaannya sebagai kepemimpinan kolegial (kolektif) bagi daerah menjadikannya lembaga yang sangat penting bagi pengambilan keputusan di daerah.

Keadaan ini tentu tidak perlu disesali. Parpol perlu merumuskan strategi yang lebih menyeluruh tentang bagaimana dapat disediakan dukungan terus-menerus bagi wakil-wakilnya di DPRD. maka ruang-ruang sidang DPRD hanya akan menjadi tempat belajar dan anggaran DPRD hanya akan dihabiskan untuk pembekalan anggotanya. Sementara itu.Daftar panjang fungsi di atas dan penjabarannya rasanya merupakan tantangan yang sangat menggairahkan namun sekaligus berat untuk dihadapi. bahkan seringkali dikehendaki. Namun iIni justruga berarti. apalagi dengan tanggung jawab yang luas datang dari UU pemda serta tantangan konteks globalisasi dewasa ini. Partai politik juga perlu memikirkan perannya sebagai persemaian pemimpin-pemimpin daerah yang akan menyandang peran penting dalam penguatan desentralisasi di Indonesia ini. Kondisi ini mengakibatkan akumulasi pengetahuan dari politisi-politisi yang telah berpengalaman praktis tidak terwariskan dengan masif pada periode berikutnya. tidak hanya pembekalan intensif pada awal periode saja. Jika para anggota DPRD tidak mengerjakan pekerjaan rumah nya untuk membekali diri. Pergantian anggota DPRD adalah sesuatu yang niscaya. kepemimpinan politik belum memiliki ladang penyemaian yang subur dan membuahkan kader-kader yang dapat membawa daerah danerah masyarakatnya ke masa depan yang lebih baik. Sementara. waktu menjabat sudah terlanjur akan habis dan masyarakat mungkin sudah kehilangan selera untuk kembali memberikan suaranya. dalam sistem demokrasi yang menggunakan pemilu sebagai mekanisme rekrutmen politik. hasil pemilu 2004 pun sering ditandai dengan pergantian banyak anggota DPRD termasuk dan sama banyaknya partai politik yang berhasil duduk di DPRD. praktis hanya periode 1999-2004 yang mencerminkan tantangan yang akan terus dihadapi ke depan ini. Bahkan untuk para anggota DPRD yang sudah menjabat selama beberapa periode. di dalam budaya politik Indonesia. Dan kKetika proses belajar usai. anggota DPRD harus membekali dirinya sehingga ia cepat mengadaptasikan diri dengan tuntutan-tuntutan tugasnya yang penting dan strategis ini. Formatted: Space Before: 0 pt .

Untuk dapat meraih wibawa di mata publik. Karena itu.38" Formatted: Font: +Body. Banyak pihak bahkan mengatakan bahwa kekuasaan DPRD terlalu besar sehingga lembaga eksekutif pun beranggapan bahwa adalah sulit untuk bekerjasama dengan DPRD yang dinilai kadang kebablasanmempunyai kekuasaan sebesar itu. Tab stops: Not at 0. Formatted: No bullets or numbering. Partisipasi.BAB VII Membangun Lembaga Perwakilan di Daerah Yang Berwibawa Rahmi Yunita DPRD sekarang memang mempunyai kekuasaan politik yang besar dan jauh lebih berperan dalam pemerintahan daerah. DPRD tentu perlu tak hanya menyuarakan tuntutan akan meningkatnya kinerja pemerintaah namun juga wajib menerapkan tata pemerintahan yang baik dalam dirinya. Penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik Kendati dengan banyak tarik-menarik di daerah. Italic Formatted: Font: +Body. DPRD memiliki dan menerapkan mekanisme untuk mendapatkan masukan dari masyarakat. Salah satu agenda yang paling mendesak adalah kapasitas DPRD dalam melembagakan prinsip tata pemerintahan yang baik. Partisipasi masyarakat dalam penyusunan kebijakan maupun pengalokasian anggaran akan menyumbang bagi legitimasi produk DPRD dan keberadaan DPRD sendiri sebagai lembaga politik. Bagaimana menerapkan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik? Tentu saja sSebuah kegiatan dapat mengandung sejumlah penerapan prinsip tata pemerintahan yang baik jika memenuhi prinsip-prinsip berikut: Berikut contohcontohnya: 1. baik secara reaktif maupun lebih penting lagi secara proaktif. Italic Formatted: Font: +Body. DPRD perlu dibangun menjadi lembaga yang bersih dan berwibawa. Tab stops: Not at 0. Penegakan hukum. Padahal. Pada kondisi era reformasi ini. Italic Formatted: Font: +Body.5" . Italic Formatted: Font: +Body. Italic Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. dan ini dapat dimulai dengan penerapan prinsipprinsipnya. komitmen penerapan tata pemerintahan yang baik perlu ditanamkan dalam DPRD. mungkin yang terjadi adalah kekurangsiapan untuk menempatkan sistem check and balance pada proporsi yang sesuai. Dalam menjalankan tugasnya. sehingga dapat menjadi panutan bagi semua lembaga tata pemerintahan di daerah. Saking besarnya. Italic Formatted: Font: +Body. 2. tata pemerintahan yang baik dalam pemerintahan di daerah lazimnya sudah menjadi hal yang menyemangati visi yang harus dikejar daerah-daerah di Indonesia. DPRD perlu menjunjung tinggi peraturan tata tertib dalam menjalankan tugasnya serta patuh pada hierarki perundang-undangan dalam menyusun pelbagai kebijakan daerah. Italic Formatted: Font: +Body. baik untukbagi dirinya sendirinya maupun dalam upaya memfasilitasi para pelaku tata pemerintahan lainnya di daerah.

termasuk terus mengembangkan diri ketika tantangan baru lahir. 10. sesuai kewajiban yang diamanatkan oleh UU No. No bullets or numbering. DPRD harus mampu menegakkan kode etik bagi para anggotanya. Bagaimana prinsip-prinsip itu dapat dilembagakan? Tata tertib adalah instrumennya. 9. Hasil guna dan daya guna (efektivitas dan efisiensi). Dengan memastikan prinsip-prinsip ini mengejawantah dalam aturan main DPRD. misalnya dapat dijalankan dan berkelanjutan.5". DPRD harus memastikan adanya kesetaraan pelayanan publik dalam pelbagai aspek. tanpa menunjukkan dampak yang berarti. DPRD harus siap mempertanggungjawabkan kebijakan yang ditempuhnya. Mengiringi tertib administrasi di DPRD. Pada akhirnya. DPRD harus menunjukkan profesionalismenya dengan terus meningkatkan kemampuannya dalam menjalankan tugas. atau dengan tanpa sengaja meminggirkan kelompok lainnya. bahkan sampai pada tingkat lebih tinggi nanti. 4. DPRD juga harus melakukan pengawasan kepada pelaksanaan kebijakan dan peraturan daerah tanpa maksud memperoleh keuntungan pribadi dari kegiatan ini. 5. DPRD tidak dapat menggunakan banyak anggaran peningkatan kapasitas.38" . 2232/20034 dan UU No. 6. Anggota DPRD harus menjalin komunikasi dengan konstituen di daerah pemilihannya sebagai salah satu cara menjalankan prinsip ini. misalnya: Ddaerah urban dan rural untuk pelayanan pendidikan. inilah maka internalisasi nilai-nilai tata pemerintahan yang baik akan siap dimulai. Tata tertib DPRD sebagai alat kendali politik internal ( Formatted: Indent: First line: 0. membuka informasi mengenai sikap politik setiap anggota dalam pengambilan kebijakan tertentu. 8. Kesetaraan (ekuitas). harus merupakan sesuatu yang dipercaya akan dapat dipertanggungjawabkan kepada generasi masa depan daerah sendiri. Pengawasan. bukannya melemparkan tanggung jawab. Transparansi. DPRD perlu melakukan kepemimpinan dalam menyusun arah pembangunan daerah. DPRD dapat membuat laporan tahunan di depan masyarakat tentang kinerja dan anggarannya untuk meminta umpan balik. langkah lebih jauh dapat dilakukan dengan membuka daftar hadir DPRD pada umum. 27/2009. Rapat-rapat DPRD yang dinyatakan terbuka untuk umum dan dapat diaksesnya dokumen-dokumen daerah merupakan penegakan prinsip ini. Dalam penyusunan program. Tab stops: Not at 0. Tanggung gugat (akuntabilitas). Profesionalisme. DPRD harus mawas dengan tegaknya prinsip ini. risalah persidangan. atau perempuan dan laki-laki untuk akses terhadap ekonomi produktif.3. DPRD akan dinilai juga dari kinerjanya. Bagaimana menanggapi aspirasi yang diteriakkan demonstran? Bagaimana merespon pengaduan tertulis? Bagaimana menanggapi keluhan masyarakat dalam sebuah kunjungan lapangan? DPRD bersama sekwan perlu menyusun mekanisme untuk memastikan bahwa semua aspirasi dapat ditindaklanjuti secara kelembagaan. terutama ketika kesulitan menghadang pimpinan daerah. Sering sekali penyusunan program pembangunan hanya membidik kelompok sasaran tertentu. isi dan misi daerah yang disusun. Space Before: 0 pt. Daya tanggap (responsivitas). misalnya. Wawasan ke depan. DPRD perlu membuktikan bahwa perda yang dihasilkannya. 7. misalnya untuk studi banding.

yang akan dibahas lebih jauh di Buku 2 dari seri buku panduan ini. untuk memungkinkan semua anggota dapat menyuarakan aspirasinya dan memudahkan pengambilan keputusan. sendiri tidak memiliki panduan pengaturan yang kaku. 27/2009. yaitu Badan Legislasi. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana memastikan bahwa komisi dapat mewakili berbagai pendapat dalam DPRD. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . yang dalam hal ini diwakili oleh banyak partai politik? Banyak lembaga perwakilan di dunia yang mengizinkan seorang anggota DPRD parlemen untuk duduk lebih dari satu komisi. terutama dalam penyusunan legislasi dan pengawasan. misalnya setengah jumlah komisi bisa bersidang pada hari Senin dan rabu. Ini dimaksudkan agar setiap fraksi memiliki wakil di setiap komisi. Yang jelas. Pengaturan untuk mencapai kinerja optimal dapat dipaparkan sebagai berikut. sebagaimana diatur dalam Pasal 356 UU No. Penyusunan tata tertib DPRD sendiripun harus mempedomani PP. memang terdapat penjadwalan waktu sidang. format komisi membuat pekerjaan di DPRD.5". tidak sedikit pula yang membatasi hal ini. UU No.Formatted: Space Before: 0 pt Tata Tertib adalah seperangkat aturan yang mengatur bagaimana DPRD dan anggotanya menjalankan fungsi dan tugasnya. untuk menciptakan representasi komisi terhadap fraksi. 2227/20039 telah mengatur hal-hal yang harus tercantum dalam tata tertib. dengan ketentuan bahwa seorang politisi hanya bisa menjadi anggota komisi yang waktu sidangnya tidak bersamaan. Beberapa pembicaraan yang sulit dilakukan secara pleno karena relatif besarnya ukuran forum dapat dilakukan lebih efektif dalam komisi. Bagaimana pengaturan komisi? Komisi adalah alat kelengkapan DPRD yang dibentuk untuk menyederhanakan dan membagi pekerjaan di dalam dewan. Detail pembahasan hal ini akan dibahas Kendati tidak dibatasi. dalam format kelembagaan DPRD sekarang ini. komisi harus merefleksikan pembagian peran untuk menampung semua bidang mandat dalam cabang eksekutif dari pemerintahan juga. sementara sisanya Selasa dan Kamis. sebagaimana diatur dalam UU No. yakni tiga komisi (bagi yang beranggotakan 20 sampai dengan 35 orang) dan empat komisi (bagi yang beranggotakan lebih dari 35 orang). Namun. pada intinya. Dalam hal ini. 27/2009 ada dua macam. komisi perlu mempertimbangkan jumlah total anggota dan saling mengimbangi dengan pengaturan ukuran fraksi. Indonesia membagi habis anggotanya sebanyak komisi dan karenanya hanya perlu mengatur bahwa waktu persidangan komisi tidak boleh berbenturan dengan sidang pleno. Terlebih. Bagaimana pengaturan proses dan waktu penyusunan peraturan perundangundangan? Formatted: Indent: First line: 0. tata tertib yang mendetil tersebut memuat beberapa hal sehingga ia dapat dioptimalkan untuk mengatur dinamika politik DPRD. Namun. Selain itu. menjadi terbagi dan dapat dikerjakan lebih efisien. komisi akan lebih fokus lagi karena adanya alat kelengkapan baru yang khusus menangani legislasi. maka farkasi yang ada dalam DPRD harus beranggiotakan minimal sejumlah komisi yang ada. Jumlah komisi DPRD Kabupaten/Kota. Selain itu.

sehingga konstituen dapat memperoleh informasi mengenai sikap politik wakil-wakilnya. aturan tata tertib juga harus memastikan bahwa media massa ataupun masyarakat luas memiliki akses pada proses ini. apalagi aturan yang harus dibuat justru malah akan terdapat sedikit insentif bagi anggota dewan sendiri untuk membuat aturan yang dapat digunakan untuk mengekang dirinya sendiri. Aturan tata tertib DPRD karenanya perlu memastikan bahwa bahkan fraksi kecil atau wakil tunggal dari sebuah partai politik pun dapat menyuarakan pandangan dan sikapnya terhadap usulan kebijakan. Di satu sisiMeski sudah terdapat imbauan agar DPRD mau melakukan terobosan dalam menyusun tata tertibnya. Formatted: Indent: First line: 0. h) pembuatan pengambilan keputusan. harus partisipatif. Selain kedua belas poin tersebut. serta tugas dan wewenang alat kelengkapan. termasuk hubungannya dengan publik. f) pembentukan.Yang ingin dipastikan di sini bukan hanya proses penyusunan kebijakan saja yang.5" Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Indent: First line: 0. Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt . pengaturan kesempatan dan waktu bicara dalam persidangan juga merupakan isu yang penting dalam sebuah lembaga politik. Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Indent: First line: 0. Yang terakhir. Pasal 376 ayat (3) UU No. c) pemberhentian dan penggantian pimpinan. b) penetapan pimpinan. Keduabelas hal tersebut ialah: a) pengucapan sumpah/janji. tugas dan wewenang lembaga. . untuk menghindari dominasi dan meningkatkan efisiensi forum. serta hak dan kewajiban anggota. Karena itu. g) penggantian antarwaktu anggota. bahkan memperdebatkan usulan kebijakan. sehingga DPRDmasyarakat selalu punya kesempatan untuk membuka diri terhadap usulan kebijakan alternatif. mengharuskan keharusan bagi anggota DPRD untuk kembali ke daerah pemilihannya secara berkala dan menyerap aspirasi dari konstituen dan masyarakat luas..5". j) penerimaan pengaduan dan penyaluran aspirasi masyarakat. 27/2009 menyatakan bahwa paling minimal peraturan tata tertib DPRD Kab/Kota harus memuat 12 hal. Beberapa hal usulan penajaman meteri tata tertib DPRD dapat dilihat di sub bab selanjutnya. intinya adalah tersedianya cukup waktu agar sebuah usulan bisa diperdebatkan dengan menyeluruh sehingga tidak terjadi penyusunan serangkaian perda secara ngebut dan kejar setoran . i) pelaksanaan konsultasi antara DPRD kabupaten/kota dan pemerintah daerah kabupaten/kota. nNamun. susunan. tugas anggota DPRD adalah menyuarakan. di tradisi demokrasi mapan yang sudah mulai diadopsi beberapa daerah di Indonesia. e) pelaksanaan fungsi. d) jenis dan penyelenggaraan rapat. Di samping itu. dan l) pelaksanaan tugas kelompok pakar/ahli. Nnamun. Ini bisa dilembagakan dengan adanya masa reses untuk. DPRD sebenarnya dimungkinkan untuk mengembangkan materi pengaturan internal kelembagaannya untuk memastikan kinerjanya berlajalan optimal. Bagaimana mengelola hubungan dengan konstituen? Tata tertib DPRD juga perlu memastikan adanya keleluasaan dan dujunganatau sebenarnya membantu kepada anggotanya untuk menjalin hubungan dengan konstituennya. tata tertib juga perlu mengatur lamanya seorang anggota DPRD berbicara.5". antara lain. Di sisi lain. Iini pun sudah lazim dikenal sebagai dilema di semua rezim demokratis. Di banyak tempat. ini kadang kurang direspon dengan baik oleh DPRD karena dinilai tentu sajatidak cukup memberikan insentif. k) pengaturan protokoler. misalnya.

dan peraturan yang ada secara pilih kasih untuk mengistimewakan teman atau menghukum lawan. UU No. meruntuhkan kepercayaan publik. Secara politis sudah akan sangat sulit untuk menegakkan sebuah peraturan dan memungut pajak atau retribusi apalagi jika. 25 tahun 2004 tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Tata Tertib DPRD. Dalam kegiatan tersebut. ditetapkan oleh DPRD sendiri dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Jika tidak. Ketika penyalahgunaan ini terjadi. intimidasi atau ancaman untuk mempengaruhi tindakan orang lain. Ini menjadi nyaris mustahil ketika korupsi adalah hal yang dipandang masyarakat sudah berurat berakar dalam pemerintahan. di Indonesia. DPD. DPRD akan cenderung membuat tata tertib yang minimalis. Indent: First line: 0. baik propinsi maupun kabupaten/kota. Dalam PP tersebut. Misalnya. meskipun sebenarnya DPRD bisa menggunakan PP No. sependapatkah Anda? Kode etik yang bersanksi dan Dewan Kehormatan Isu etika dalam jabatan publik mencuat karena adanya banyak cara yang digunakan oleh pegawai pemerintah untuk menyalahgunakan kekuasaan mereka. Tidak juga jelas apakah kode etik ini terkait dengan pengaturan larangan (pasal 378) Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body.ini dapat mencakup beberapa hal. 23/2003. DPR. diatur bahwa masa reses akan dipergunakan oleh DPRD untuk mengunjungi daerah pemilihannya dan menyerap aspirasi masyarakat. 22/2003 yang baru. citra. Karena itu. 2227/20039 mengenai Susunan dan Kedudukan MPR. sikap khusus dalam pembuatan keputusan untuk mengalokasikan sumber daya atau mempekerjakan seseorang. untuk mengganti PP No. Tata tertib DPRD. yang menjadi hak rakyat. Tidak cukup jelas disebut apakah ini akan diatur secara khusus dalam peraturan pemerintah. menggunakan milik publik untuk penggunaan pribadi. Adjust space between Asian text and numbers Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . Adjust space between Latin and Asian text. Dalam lembaga perwakilan yang menganut prinsip pemisahan kekuasaan -di mana lembaga perwakilan tidak memiliki kekuasaan eksekutif. menggunakan kedudukan seseorang untuk kepentingan pribadi. Standar etis yang tinggi sangatlah penting bagi kredibilitas suatu pemda di mata publik dan organisasi swasta yang berhubungan dengannya. banyak yang menganggap bahwa sudah seharusnya pemerintah mengeluarkan PP tentang Pedoman mengenai hal-hal yang setidaknya dimuat dalam Tata Tertib DPRD. 1/2000 yang harus diganti menyusul UU No.. Pasal 55 ayat (4) dan (5). pengaturan tentang kode etik ini dalam UU tersebut terbilang tidak jelas dan hanya menyebutkan bahwa DPRD menyusun kode etik yang berisi norma yang wajib dipatuhi oleh setiap anggota selama menjalankan tugasnya untuk menjaga martabat. Penajaman materi tata tertib yang akan dibuat dan disahkan oleh DPRD bisa dengan memperkuat materi pengaturan dalam PP tersebut. namun juga ada sederet dampak negatif lainnya. anggota DPRD secara perseorangan atau kelompok wajib membuat laporan tertulis atas pelaksanaan tugasnya yang disampaikan kepada Pimpinan DPRD dalam Rapat Paripurna. Nah. dan DPRD menyebutkan dalam Pasal 81 butir (i) bahwa salah satu kewajiban DPRD adalah menaati tata tertib dan kode etik dan Peraturan Tata Tertib DPRD kabupaten/kota .Dalam UU No. serta menciptakan suasana saling tuduh. Perilaku tidak etis memancing kecurigaan. Tanpa PP Pedoman ini. kehormatan. Sayangnya. tidak hanya sumber daya. yang seharusnya dialokasikan secara bijak menjadi terbuang. 12 pt Formatted: Justified. 27/2009 yang menggantikan UU No. dan kredibilitas DPRD kabupaten/kota.5".

27/2009) yang menyebut bahwa Kode Etik meliputi norma-norma atau aturan-aturan yang merupakan kesatuan landasan etik atau filosofis dengan peraturan sikap. Formatted: Font: +Body. tidak berakibat serius bagi pelanggarnya. pengadopsian kode etik oleh DPRD akan membangun kesan bahwa DPRD berkomitmen terhadap agenda ini dan mengundang dukungan masyarakat untuk menegakkannya. Alasan persepsi. bukannya peraturan yang disalin dari pihak lain tanpa dihayati. dilarang.  Aturan harus sesuai dengan peraturan perundangan -peraturan atau UU yang ada.  Agar tetap dijunjung tinggi. Kode etik yang terpisah dari tata tertib? Apakah daerah perlu mengadopsi sebuah kode etik yang terpisah. UU memang tidak mengamanatkan adopsi sebuah kode etik yang terpisah. Ketidakjelasan ini pada akhirnya membuat peran kode etik tidak terlalu vital dan hanya menjadi penunjang atau pelengkap dari tata tertib saja. misalnya semacam sebuah dokumen singkat yang memuat saripati peraturan mengenai etika dalam tata tertib? Lazimnya terdapat pro dan kontra dalam hal ini.ataukah terkait dengan kewajiban anggota DPRD (pasal 351). Dalam bagian ketiga UU ini mengenai Peraturan Tata Tertib Pasal 102 ayat (4) butir 1 menyebut bahwa salah satu yang setidaknya diatur dalam tata tertib adalah pengaturan protokoler dan kode etik serta alat kelengkapan lembaga . dan menganggap bahwa perilaku yang baik harus datang dari diri sendiri dan dikontrol oleh penegakan hukum pidana. ucapan.  Aturan ini perlu ditulis dalam bahasa yang sederhana dan tidak sarat dengan istilah hukum. 2. Ketidakjelasan juga muncul dalam PP No. Alasan teknis. Namun. Dalam konteks Indonesia yang tengah memerangi KKN ini. Kejelasan yang ada hanyalah pada keberadaan Badan Kehormatan yang kemudian diberikan tanggungjawab sebagai pengawas kode etik DPRD. karena frasa kode etik ini tidak diawali dengan huruf kapital. Kode etik perlu untuk menyediakan acuan yang mudah dipahami bagi standar moral yang diharapkan lahir dari para anggota dewan dan memiliki kode etik secara spesifik akan membuatnya lebih diperhatikan. tata hubungan antar lembaga pemerintahan daerah dan antar anggota serta antara anggota DPRD dengan pihak lain mengenai hal-hal yang diwajibkan. Hal Pengaturan ini terkesan mengecilkan peran kode etik dalam kehidupan kelembagaan dewan. Kode etik yang efektif sebaiknya memenuhi beberapa hal berikut:  Aturan seharusnya muncul dari kelompok yang akan diatur. perilaku. atau tidak patut dilakukan oleh anggota DPRD. pihak yang menganggap perlunya kode etik dapat mengajukan tiga argumen: 1. 3. Pihak ini mungkin akan cenderung merujuk pada pedoman yang disediakan oleh pemerintah. aturan ini harus bersifat realistis. 12 pt . Namun. tatakerja. Pihak yang tidak sependapat umumnya berkaca dari ketidaksuksesan penerapan kode etik dalam lapangan profesi lainnya. 25/2004 Pasal 104 nomor tujuh (turunan UU Susduk sebelum UU No. Pun jika dilanggar.  Kode etik jangan memberikan kesan terlalu kaku dan birokratis. Argumen substansial.

melalui tata tertib. termasuk DPRD. selama ini menunjukkan bahwa anggota legislatif cenderung tidak akan menjelek-jelekkan rekannya. anggota legislatif lazimnya enggan melakukan peran aktif dalam model BadanDewan Kehormatan seperti ini. Jadi. dapat menjabarkannya dijabarkan lebih mendetail dan teknis. Model kedua. dimana Badan Kehormatansetelah melakukan investigasi dan Dewan Kehormatan akan menyusun laporan tertulis. Model ini ditempuh di Inggris. secara prinsip hal yang ingin ditekankan melalui kode etik adalah:  Pejabat publik. Penyelidikan dan sanksi . Ada sejumlah hal yang lazim diatur dalam kode etik. BadanDewan Kehormatan tidak memiliki kewenangan investigasi. Masalahnya tentu saja . perlu ditegakkan aturan yang menjamin bahwa kepercayaan masyarakat ini sejauh mungkin tidak terciderai. bukan karena paksaan dari luar. Model terakhir adalah yang ditempuh Amerika. Karenanya. dan bersifat independen. harus membuat keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dalam kebijakan dan dampaknya sendiri. Sementara itu. lepas dari pilihan yang diambil di Indonesia. Selanjutnya. BadanDewan ini akan menangani pengaduan. dan untuk kemudian melaporkannya dilaporkan kepada BadanDewan Kehormatan. dalam model ini. adalah Badan Kehormatan yang terdiri dari anggota legislatif sendiri. Namun. baik kepada anggota sendiri maupun kepada masyarakat luas untuk membantu mendapatkan dukungan bagi penerapannya. berdasarkan pengalaman. Di Amerika. yang kemudiansecara mandiri sendiri atau bersama dalam pleno akan menjatuhkan sanksi. keanggotaan BadanDewan Kehormatan ini tidak ex-officio diambil oleh pimpinan sehingga. dan akan bertanggungjawab menindaklanjuti laporan mengenai dakwaan pelanggaran etika. Berdasarkan laporan ini tersebut akan diputuskan apakah kasus perlu dibawa atau tidak ke depan sidang pleno. Model pertama membedakan antara Komisi Investigasi Pelanggaran Etika dengan dan BadanDewan Kehormatan yang terdiri dari pimpinan dewan. serta mengatur penegakannya lewat Badan Kehormatan. dan akibatnya agak sulit mendapatkan anggota dewan yang bersedia duduk di BadanDewan Kehormatan ini.. karena. yang detailnya bisa dilihat pada Buku 2 dari seri buku panduan ini. termasuk godaan imbalan materi. 2227/20039 merupakan instrumen untuk menegakkan kode etika ini. aAda pelbagai model pendekatan untuk menyusun bagaimana komposisi BadanDewan Kehormatan ini. wakil-wakil dari pimpinan dewan duduk dalam BadanDewan Kehormatan dengan seorang anggota yang independen. Dewan Kehormatan.  Kata kunci bagi efektifnya pemerintahan demokratis adalah kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Bagaimana membentuk Dewan Badan Kehormatan yang efektif? Dewan Badan Kehormatan yang merupakan salah satu alat kelengkapan yang diamanatkan oleh UU No. dan bila terbukti akan menyusun rekomendasi mengenai putusan yang sebaiknya diambil oleh sidang pleno.Kode etik yang sedemikian akan membuat lebih mudah disosialisasikan. Komisi Investigasi terdiri atas orang-orang luar . melakukan investigasi.

75" + Tab after: 1" + Indent at: 1". Dewan Kehormatan ataukah harus sidang pleno?  Apa Bagaimana prosedur pemberian dan penentuan sanksinya? Apakah anggota dikenakan skorsing. Swedish (Sweden) Formatted: Space Before: 0 pt . Swedish (Sweden) Formatted: Font: +Body. Tab stops: Not at 1" Formatted: Indent: Left: 0. kendati penyelidikan dilakukan secara tertutup. ataukah pengumuman di depan publik secara terang-terangan? Dalam Pasal 380 UU No. Tab stops: 0. maka sanksi yang dapat diberikan oleh Badan Kehormatan adalah berupa teguran lisan. bahkan lebih jauh lagi memberikan tauladan perilaku yang baik sebagai pemimpin masyarakat. teguran tertulis. tidak membocorkan informasi rahasia. Don't adjust space between Latin and Asian text. List tab + Not at 1" Formatted: Font: +Body. Don't adjust space between Asian text and numbers. selain pasal-pasal pidana. Jika perlu. sangat penting dibuat bahkan diperlukan sebuah buku panduan kode etik untuk membantu anggota DPRD mematuhi standar etika mereka. Bahkan keluar istilah-istilah: Boleh minta Formatted: Space Before: 0 pt. Karena itu. 27/2009. bahkan dibarengi secara berkala. apapun hasil proses ini tentu saja perlu dibuka kepada masyarakat sebagai salah satu langkah akuntabilitas publik. Supaya kepercayaan publik dapat diraih.13". Bulleted + Level: 2 + Aligned at: 0. denda. ikhtiar ini memang tidak mudah. bahkan bila itikad sudah lahir. Nnamun demikian. selalu bersikap netral secara politik ketika menjalankan tugas administratif. Meski bisa saja Ketika mungkin saat ini kita agak pesimis dengan hasil penegakan kode etik ininya. Bagaimana Memulainya? Yang patut diingat. Karena itu.38". Membangun transparansi yang sesuai dengan kebutuhan publik Bagaimana mendefinisikan transparansi? Ketika reformasi terjadi dan tuntutan akan transparansi menguat di daerah. lazimnya diatur hal-hal sebagai berikut:  Laporan siapa yang dapat ditindaklanjuti? Apakah laporan masyarakat dengan sejumlah tertentu? Apakah hanya laporan dari sejumlah tertentu anggota legislatif sendiri yang boleh diproses lebih lanjut?  Bagaimana prosedur Badan Kehormatan untuk menindaklajuti laporan? Siapa yang menindaklanjuti? Apakah pimpinan dewan. bahwa mManajemen etika memang bukan sekedar kegiatan tunggal yang sekali jadi. berperilaku etis lebih dari sekedar menghindari perilaku korupsi.4. Swedish (Sweden) Formatted: Font: +Body. Jadi. tidakkah sekarang waktu terbaik untuk memulai? 7. penegakan kode etik juga harus diawali. Karena korupsi politik sudah mengakar di Indonesai. dan/atau diberhentikan dari pimpinan pada alat kelengkapan. Ini mencakup juga selalu bertindak dalam kerangka kepentingan publik. Swedish (Sweden) Formatted: Font: +Body. dengan sosialisasi mendalam kepada anggota DPRD dan staf sekretariat mengenai bagaimana kode etik ini dipatuhi. suatu saat kita harus percaya bahwa kondisi ideal ini pasti bisa dicapai. sejumlah pejabat mulai mengeluh bahwa tuntutan ini menjadi berlebihan. Anggota dewan dan para pejabat perlu mengembangkan serangkaian prinsip untuk memandu perilaku mereka sehari-hari. Space Before: 0 pt. anggota pun perlu dilindungi dari bahaya fitnah.Formatted: Space Before: 0 pt Kendati masyarakat harus memastikan bahwa wakil-wakil mereka senantiasa menerapkan standar etika yang tinggi. namun merupakan sebuah proses yang terus-menerus.

Di bawah rezim etika yang sudah ditegakkan. absennya tiadanya transparansi akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara negara. Karena masyarakat di daerah belum selalu berpengalaman untuk terlibat memberikan masukan bagi kebijakan publik. maka diperlukan penguatan kelembagaan dan sistem. absen tiada atau kurangnya transparansi dalam pemerintahan lazim terjadi karena dua alasan: a) penggelapan sebuah informasi yang terkait dengan tindak korupsi. melulu karena manajemen informasi yang kurang baik. pejabat dan pegawai yang terlibat dalam perilaku tak etis menutupi jejak mereka dengan pelbagai cara. entah dengan membungkam rekan kerja mereka atau dengan mencoba mencari dalih yang sah untuk menutupi tindakan mereka. Karena pemerintah demokratis bertanggung jawab kepada rakyat. transparansi pun mungkin tidak serta merta mudah diwujudkan. juga penerbitan situs web yang memuat berbagai informasi kebijakan. Biasanya lalu dimulai debat kusir mengenai mana yang transparan dan mana yang telanjang . DPRD justru dapat memulai kegiatan-kegiatan seperti. kita sendiri dapat merasakan betapa seringkali terjadi. Space Before: 0 pt .. Penguatan ini dapat sesederhana dilakukan dengan mengadakan pelatihan bagi staf untuk pencatatan risalah sidang sampai penyediaan mesin fotokopi untuk memastikan bahwa masyarakat dapat memfotokopi menggandakan dokumen yang mereka butuhkan dari sekwan.  Penyelenggaraan kegiatan-kegiatan informasi Seringkali kesan tidak transparan lahir karena warga masyarakat tidak memiliki pengalaman interaksi dengan para wakilnya. Untuk kasus yang pertama. Transparansi jelas bukan merupakan kepentingan dari pelaku tindakan seperti ini. Kalau kita cermati. Pada hakikatnya transparansi merupakan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang menyangkut kepentingan mereka. acara bincang-bincang kebijakan di radio lokal yang secara interaktif.38". tapi jangan minta kami menelanjangi diri . Logikanya. Karena itu. dan bila tidak tertangani pada gilirannya terhadap demokrasi secara keseluruhan. Tab stops: Not at 1" Formatted: Indent: Left: 0. transparansi merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk menyediakan informasi yang memadai.transparansi. Langkah yang dapat ditempuh antara lain:  Penguatan sekwan Sekwan perlu diberi anggaran yang memadai dan staf yang memiliki kualifikasi tertentu untuk menyediakan dukungan sistemik yang diperlukan di atas. Kadang transparansi gagal. dan b) lemahnya sistem yang mendukung penyediaan informasi yang dibutuhkan oleh warga negara. penerbitan kalawarta (newsletter) yang bisa ditempel di koran dinding desa. Formatted: Space Before: 0 pt. Bagaimana memastikan bahwa masyarakat dapat mengetahui agenda persidangan dewan dan raperda yang sedang dibahas? Apakah pers dapat memperoleh informasi mengenai tingkat kehadiran anggota DPRD dalam persidangan dewan untuk melihat kinerjanya? Apakah masyarakat bisa memperoleh risalah persidangan dan mengetahui bagaimana sikap dan pilihanpilihan politik wakil-wakilnya? Dalam keadaan seperti itulah. termasuk dengan mudah dan akurat. pendekatan hukum seperti dijaminnya hak-hak masyarakat dalam UU Kebebasan Informasi dan peraturan daerah serupa di tingkat daerah dapat membidik membantu mengatasi permasalahan ini.

Bila di Sawahlunto pemda berinisiatif membiayai kolom di harian regional agar memberitakan kota Sawahlunto. Kota Sawahlunto mendorong pos komunikasi desa untuk menjembatani pemerintah dan masyarakat. After: 0 pt. yang mungkin dapat didorong oleh DPRD di daerah-daerah lainnya. sebagai contoh. PP ini menyulut kontroversi luas sebelum kemudian akhirnya direvisi. kendati tidak bisa menyangkal banyaknya kasus-kasus mengenai praktek buruk DPRD. Wacana ini tentu Anggota DPRD masa itu yang membacanya pada umumnya merasa tersudutkanmenyudutkan kelembagaan DPRD. pengawasan yang kebablasan serta Formatted: Space Before: 0 pt . dengan judul-judul keras seperti Wakil rakyat mpencuri uang rakyat . beberapa pemerintah kota telah melakukan praktek yang terpuji. Mendorong liputan media juga dapat ditempuh. dapat pula diciptakan situasi kondusif untuk lahirnya media dari masyarakat community newspaper yang dengan leluasa melakukan pemberitaan mengenai isu-isu kepemerintahan. seperti yang dilakukan sejumlah aktivis muda di Mataram dengan Jurnal Kota Wargatama dan buletin Potret . akibat pengaturan di dalamnya yang dianggap menciderai rasa keadilan. bahkan Legislatif di titik nol . Kecaman-kecaman masyarakat itu Sejumlah artikel ini sebenarnya mencerminkan betapa toleransi masyarakat sudah tergerus terhadap praktek-praktek buruk yang dilakukan oleh oknum DPRD. yang menyorot isu-isu perempuan. Isu semacam ini sangat sensitif di hati masyarakat dan menimbulkan banyak kecaman terhadap DPRD yang dituduh ladang korupsi dan Media Indonesia tanggal 7 September 2003 pernah menulis serangkaian artikel seputar isyu yang secara sederhana disebut Korupsi DPRD . Formatted: Space Before: 0 pt. Menuju zero tolerance untuk praktek buruk DPRD Salah satu isu kontroversial dalam lima tahun pertama reformasi dalam penataan kelembagaan DPRD adalah PP No. di samping masih banyaknya kekurangan di sana-sini di tubuh lembaga perwakilan daerah. dan kuatnya peran radio serta media cetak. 110/2000 mengenai Kedudukan Keuangan DPRD karena. ada beberapa inisiatif yang sudah diambil beberapa kota dalam menegakkan transparansi. Kota Metro membuka warung informasi dan komunikasi sebagai wahana membincangkan pengaduan masyarakat kepada eksekutif dan legislatif mengenai masalah ekonomi dan pertanian. Formatted: Space Before: 0 pt Pengalaman Penerapan Transparasi Dengan bantuan program BUILD dari UNDP. Don't keep with next Kasus korupsi DPRD ini dapat dikatakan hanya salah satu potret dalam lima tahun pertamaperjalanan reformasi. Don't keep with next Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. dan bahkan permasalahan hukum merebak menyusul hal ini.5. After: 0 pt. Praktek buruk yang sering dilayangkan juga berupa komodifikasi perda.7. Menyadari strategisnya posisi kelurahan. menggunakan siaran talkshow radio mingguan untuk mendiskusikan anggaran pembangunan. penyiasatan terhadap PP ini berlaku dalamterkait penyusunan paket renumerasi bagi pimpinan dan anggota DPRD. Kota Kendari. Cara anggota dewan pamer kebusukan . meskipun harus diakui praktek-praktek korupsi masih banyak menimba anggota-anggotanya.

masyarakat dapat belajar satu sama lain. Tuntutan jzaman dan perubahan sendiri agaknya tak terelakan. Informasi kian terbuka.pemerasan dalam proses pilkada. Bagaimana caranya? DPRD perlu menyusun agenda bagaimana mengembangkan diri anggotanya dan kelembagaannya. dari daerah satu dan lainnya. Akibatnya. bahkan dari belahan dunia yang berbeda. atau menunggu gelombang desakan masyarakat yang kian canggih dalam menyuarakan tuntutan-tuntutannya? Di tangan para anggota DPRD sendirilah pilihannya berada. namun tidak jarang yang terperangkap dalam budaya-budaya warisan lama tanpa tahu bagaimana membebaskan diri. Jadi. Dalam hujan kritikan tersebut. . secara internal. Salah satu caranya adalah menyusun semacam perencanaan reformasi kelembagaan tiga sampai tahun ini dapat dilakukan dengan bantuan staf ahli sebagai fasilitatorsehingga pada akhirnya nanti DPRD telah akan memiliki pranata yang tangguh untuk menangkal praktek buruk dalam dirinya maupun di antara anggota-anggotanya. kita menyaksikan bahwa DPRD dibiarkan sendirian dalam mencoba menjawab permasalahan. Karena tingginya tuntutan dan terbatasnya dukungan ini. apakah perbaikan perilaku ini akan dimulai dengan prakarsa para anggota sendiri. DPRD perlu segera merespon dengan juga mengembangkan zero tolerance kepada peluang praktek buruk dalam dirinya. beberapa DPRD sanggup menerima tantangan dan lahir sebagai dewan yang dihormati dan terpercaya.

Kepentingan umum adalah. Bentuk pPengaruh dalam bentuk konkrit sering dikatakan sebagai hakikat kekuasaan yang penggunaannya.BAB VIII Membangun Aliansi Strategis dan Memenangkan Kepentingan Rakyat Diana Fawzia Dalam tata demokrasi baru sekarang yang ditandai dengan informasi keterwakilan. lembaga perwakilan dan konstitusi. dimana pengaruh itu dapat dipaksakan baik secara persuasif maupun dengan paksaan. Upaya mempengaruhi pihak lain untuk tujuan tertentu dapat didesakkan dengan Mmembangun aliansi adalah sebagai usaha membangun pengaruh dan kekuatan untuk mempengaruhi pihak lain untuk tujuan tertentu. dunia usaha dan masyarakat sipil. Secara umum. Kemampuan DPRD untuk membangun jaringan dan aliansi strategis dapat meningkatkan kinerja internal maupun representatif terhadap akomodasi berbagai kepentingan. dan membentuk organisasi. Tujuan yang Formatted: Space Before: 0 pt . Kekuasaan diartikan sebagai proses tingkat pengaruh yang ditransformasikan oleh satu pihak seorang atau kelompok kepada seorang atau kelompok untuk mempengaruhi perilaku orangpihak lain sehingga orang lain bersedia mengikuti apa dikehendaki oleh pihak yang mempengaruhi. ada tiga cluster aktor yang perlu diperhitungkan dalam pengembangan jaringan strategis. kerja sama.DPRD perlu mengembangkan pendekatan kerja baru secara eksternal. Mengapa perlu membangun aliansi strategis? Perjuangan politik DPRD adalah Mmemperjuangkan kepentingan rakyat atau kepentingan umum. DPRD perludengan membangun aliansi strategis dengan para pelaku tata pemerintahan di tingkat daerah maupun nasional. yaitu pemerintah. Dari contoh ini. Elemen masyarakat bisa disederhanakan melalui. membina kerja sama. beragam kepentingan manusia tidak bisa digerakkan kepada suatu tujuan bersama. Untuk mewujudkan kepentingan umum diperlukan keberadaan organisasi atau kelompok pendukung. sebab menentukan. meskipun terbuka kemungkinan masuknya kepentingan pribadi dalam wilayah kepentingan. adalah termasuk wilayah politik. Tanpa proses pengaruh dan mempengaruhi. dalam memperjuangkan tujuan kolektif diperlukan kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat. tujuan kolektif. Untuk memelihara kepentingan umum diperlukan sebuah aturan main agar tujuan kolektif dapat dicapai bersama. Dalam artian perjuangan kepentingan publik atau umum adalah perjuangan politik. tentu memuat tujuan yang hendak dicapai secara kolektif sehingga untuk memperjuangkannya. Guna mencapainya. organisasi dan aturan main merupakan elemen yang akan berhubungan dengan faktor kekuasaan sangat penting. Tetapi dilihat dari ciri-ciri sebagai kepentingan publik jelas bagian dari kehidupan politik. bukan kepentingan individu.

memahami permasalahan. maka untuk mperumuskan agenda kerjasama regional maupun nasional akan lebih mudah. Ini berarti.dimaksud bisa diartikan sebagai upaya membangun dukungan ataupun. Agenda kerjasama regional dan nasional Sebelum merumuskan agenda regional dan nasional. mengapa muncul. Kedua. Pengertian strategis memiliki pengertianmenunjuk kepada tingkatnilai pengaruh yang dimiliki oleh suatu kelompok yang diajak beraliansi.: Pertama. Setelah dua langkah tersebut dilakukan. Hal ini berkaitan dengan penguasaan anggota dewan terhadap substansi permasalahan. Misalnya apabila mayoritas pekerjaan penduduk adalah petani. akan ada perubahan agenda atau agenda tambahan. anggota DPRD perlu menempuh langkah-langkah sebagai berikut. Memenangkan kepentingan rakyat berarti bahwa apapun yang dilakukan oleh anggota dewan harus diarahkan tetap yang menjadi pemenang utama adalah pada kepentingan rakyat. Mengapa? Mengidentifikasi potensi dan masalah yang ada dalam masyarakat adalah langkah yang sangat penting untuk dilakukan. seperti sebab munculnya masalah. 8. bagaimana jejaring masalahnya. Aliansi strategis berarti membangun kerja sama untuk meningkatkan pengaruh dan kekuatan dengan kelompok atau elit tertentu. sumberdaya ekonomi. DPRD dapat menyiapkan Di samping agenda politik dan kebijakannya. tidak menutup kemungkinan bahwa ada agenda publik yang tidak mampu menyerap masalah yang berkembang ditengah publik. yaitu perlu diteliti apa. Sebagai contoh. mengidentifikasi potensi dan masalah yang berkembang dalam masyarakat. bukannya membela para kepentingan pemilik industri yang jenis bisnisnya terkait dengan melakukan pencemaran dan merusak perusakan lahan pertanian. Aliansi dapat dilakukan antara terhadap kelompok atau elit politik yang memiliki kesamaan tujuan. seorang anggota dewan mengetahui persis bahwa masalah yang diperjuangkannya adalah (jantung) kehidupan rakyat. maupun dan status sosial dalam struktur masyarakat. ilmu dan teknologi. Dengan pemahaman yang benar dan tepat. aktor-aktor utama yang terlibat masalah.1.sama. Pelbagai usaha dapat dilakukan oleh seorang anggota dewan untuk membangun aliansi strategis guna memenangkan kepentingan rakyat. bisa juga untuk memperkuat kerjasama membentuk suatu kekuatan untuk keperluan atau tujuan yang hendak dicapai. kekuatan posisi. . baik pada tingkat regional maupun nasional. maka menjadi jelas bahwa seorang akan membela sekuat tenaga bahwa nasib petani adalah membela merupakan nasib rakyat pada umumnya. Pemahaman terhadap suatu masalah sangat diperlukan agar anggota dewan mudah mengambil solusi atau langkah-langkah penyelesaian serta pendekatan apa yang sebaiknya dilakukan. yang sudah dipersiapkan oleh DPRD. seperti sumber kelangkaan termasuk kekuasaan. TingkatNilai pengaruh ini bisa karena penguasaan terhadap sumberdaya tertentu. Penambahan agenda ini menyangkut kerjasama regional dan nasional. Dan iIni adalah tolak ukur keberhasilan perjuangan seorang anggota dewan dalam membina karier politiknya. Dengan langkah tersebut.dan di mana letaknya suatu permasalahan itu muncul. dan seterusnmya. dan kepentingan yang dinilai strategis untuk mencapai tujuan.

hukum. komunikasi dan informasi sehingga memungkinkan daerah kawasan tersebut mengalami percepatan dalam pembangunan. nilai kerugian.75" + Tab after: 1. Space Before: 0 pt. baru maju tahap berikutnya adalah merumuskan isu publik tersebut menjadi agenda publik. serta menjunjung martabat manusia. menumbuhkan persamaan dan hak asasi manusia. Not Bold. Keempat. Italic Formatted: Font: +Body. Dalam Mmerumuskan agenda kerjasama regional dan nasional. untuk menghindari overlapping dan ruang lingkup masalah. + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0.46" + Indent at: 1. 2. Numbered + Level: 2 + Numbering Style: 1. Dengan memperhatikan beberapa hal tersebut. Tab stops: Not at 1.75" + Tab after: 1. sebagai solusi.46". + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0. Peluang akses transportasi. 1. List tab + Not at 1" + 1.46" Formatted: Indent: Left: 0. Tab stops: 0. ekonomi. isu yang didapat perlu diMempilah-pmilah lagi isu atau masalah yang berkembang pun perlu dilakukan untuk mengetahui apakah isu atau masalah tersebut bersifat riil atau hanya sekedar tindakan manipulasitidak. Agenda kerjasama regional paling tidak mengandung bBeberapa kriteria yang bisa digunakan adalah: 1. Kedua. No bullets or numbering.38". Formatted: Font: +Body. lingkungan. sumber daya alam. dan keamanan. agenda publik harus diarahkan untuk dapat meningkatkan nilai kompetitif daerah sesuai dengan potensi yang dimiliki.: pPertama.46" + Indent at: 1. Italic Formatted: Space Before: 0 pt. misal antara lain adanya kemungkinan: 1.46" Formatted: Font: +Body.46" Formatted: Font: +Body. Terdapat ketimpangan potensi sosial. Setelah memilah-milah isu atau masalah. nilai strategis. Not Bold. Tab stops: Not at 1. Tidak sebaliknya. Numbered + Level: 2 + Numbering Style: 1.46" Formatted: Space Before: 0 pt. Tab stops: 0. ekonomi.13". Hanging: 0. nilai urgensi.42" . Italic Formatted: Font: +Body. Italic Formatted: Font: +Body. dan manusia antar daerah sehingga memungkinkan dibangun kerjasama. dan kenyamanan.46". Italic Formatted: Space Before: 0 pt. ekonomi. Ketiga. 3. agenda publik yang dirumuskan lebih mencerminkan logika dan kepentingan kelompok atau elit politik tertentu saja daripada kepentingan publik. agenda publik yang dibangun harus memperkuat landasan sosial. politik dan keamanan. Italic Formatted: Font: +Body. politik. 3. agenda publik tersebut harus memiliki kejelasan bobot representasi. lingkup masalah. Not Bold. Not Bold. bobot masalah. serta dapat memberikan harapan dan optimisme perbaikan. agenda publik tersebut diorientasikan dapat untuk meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Not Highlight Formatted: Indent: Left: 0. Setelah teridentifikasi. Terdapat perbedaan keunggulan masing-masing daerah dalam pelbagai bidang sehingga memungkinkan untuk saling mentukar nilai keunggulan komparatif tersebut. Space Before: 0 pt. Timbul pelbagai masalah.25".38".13". Ssehingga apa yang menjadi agenda publik yang dicanangkan DPRD nantinya memang benar-benar adalah gambaran riil dari masyarakat. 2. Tab stops: Not at 1. Hanging: 0. Not Bold. 3. Agenda kerjasama tersebut juga harus rasional untuk diimplementasikan. Logika yang berkembang dalam dewan hendaknya mencerminkan logika dan kepentingan publik yang berada di luar parlemen. perlu ada kriteria yang jelas agar kerja sama dapat saling menguntungkan ataupun membantu daerah yang sebelumnya tertinggal. Not Bold. 2. List tab + Not at 1. Sehubungan hal tersebut mungkin ada beberapa aspek kehidupan masyarakat yang dapat digali untuk dikembangkan dalam agenda kerjasama regional. Agenda publik untuk membangun kerjasama regional dan nasiona yang disusun DPRD tersebut harus mencerminkan beberapa hal berikut. Kelima. agenda publik harus membangun rasa keadilan masyarakat.25". Italic Formatted: Font: +Body. baik sosial.Mengidentifikasi Identifikasi isu yang berkembang dalam masyarakat dapat dilakukan dengan memperhatikan tingkat urgensi. pemilihan agenda yang disusun DPRD akan memiliki tingkat akurasi dan memiliki nilai representasi yang kuat.

Bahkan kualitas masalahpun bisa bertambah. namun juga masyarakat. 2. Posisi kedua lembaga tersebut adalah posisiharus netral tidak memihak. pelestarian lingkungan.13". Lebih dari itu. Apabila DPRD membuat daftar masalah maka DPRD akan mendapatkan suatu daftar masalah yang sangat panjang. politik. 4. Kedua lembaga tersebut kini dituntut aktif memfasilitasi kekuatan-kekuatan sosial lainnya untuk merumuskan agenda politiknya dan memproses keputusan politik. Pengembangan bidang pendidikan.38". Formatted: Indent: First line: 0". bahwa kapasitas dan kemampuan anggota dewan sangat terbatas sehingga tidak mungkin mereka mampu menyelesaikan banyaknya masalah yang mendesak untuk diselesaikan. Permasalahan yang muncul jelas tidak pernah berkurang.46" Formatted: Space Before: 0 pt . Hanging: 0. 3. 3.25". kecuali kepada kelompok masyarakat banyak yang dirugikan dalam interaksi. bahkan bertambah dari waktu ke waktu. Harus disadari. Space Before: 0 pt. Pperanan yang dominan tidak lagi hanya dimainkan oleh pemerintah atau dewan perwakilan. 3. Numbered + Level: 2 + Numbering Style: 1. Mengapa perlu membentuk kelompok kerja atau forum? Setelah memahami potensi dan permasalahan kerjasama regional dan nasional yang dirumuskan ke dalam agenda publik. serta pelindung bagi kepentingan umum.75" + Tab after: 1. makna kepentingan rakyat disini adalah kepentingan umum atau dan kepentingan bersama.46". Atau dDengan kata lain. Pelbagai masalah akan kita temui baik dalam bidang ekonomi. Mengapa? Karena esensi tata pemerintahan yang baik adalah adanya pembagian peran dan fungsi antar berbagai komponen pembangunan. maka perlu diambil langkah teknis yaitu membentuk kelompok kerja atau forum. Pengembangan potensi antara daerah dalam satu kawasan terutama di bidang ekonomi dan perdagangan. + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0. Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. yaitu membentuk kelompok kerja atau forum. budaya. dan keamanan. ini bukan berarti tidak bisa dilakukan. List tab + Not at 1" + 1. perjuangan anggota dewan adalah untuk memenangkan kepentingan rakyat.46" + Indent at: 1. pemanfaatan potensi laut. dan sebagainya. Keterbatasan daerah dalam bidang investasi. dan fasilitator. Fungsi utama eksekutif dan legislatif adalah menjaga dan menegakkan aturan main. ESama juga dengan esensi pemerintahan demokratis menimpakan pentingnyabahwa lembaga pemerintah eksekutif dan legislatif untuk lebih banyak bertindak sebagai wasit. Menciptakan pAdanya peluang investasi sehingga memungkinkan masuknya investasi baik dari pusat maupun dari luar negeri. transportasi. Merumuskan agenda kerjasama nasional juga memiliki beberapa kriteria antara lain: 2. yang sangat penting adalah membangun atau mengembangkan potensi ekonomi daerah. Namun. sosial. Setelah memahami potensi dan permasalahan yang dirumuskan ke dalam agenda publik maka perlu diambil langkah teknis. Terdapat ketidaksinkronan kebijakan pemerintah pusat dan regulasi di bidang investasi dan perdagangan. terutama membangun lembaga pendidikan alternatif yang bermutu dan bermanfaat langsung bagi pengembangan potensi SDM tingkat regional. penjamin kepastian hukum.2. Hal ini dilakukan untuk mendorong dan memfasilitasi terbentuknya kelompok kerja yang mewakili kelompok kepentingan dalam masyarakat. pariwisata. hukum. Tab stops: 0. Mereka ini akan berfungsi mewakili kelompok kepentingan dalam masyarakat.

Ketiga. dan seberapa pengaruhnya. Mengidentifikasi Identifikasi terhadap kelompok yang terlibat pentingini dilakukan guna untuk melihat seberapa besar peranan yang bisa dimainkan kelompok tersebut. bahkan menindas kepentingan umum untuk kepentingannya sendiri. apalagi memenangkannya. Adanya tujuan yang sama. tujuan ideal tersebut tidak mudah diwujudkan. Tab stops: Not at 1" . Ketimpangan struktural ini membawa implikasi kepada mekanisme kerja lembaga pemerintahan maupun lembaga dewan. yaitu mendorong terbentuknya kelompok kerja yang mewakili kepentingan masyarakat dengan kelompok kepentingan atau lembaga-lembaga publik. sehingga aliansi yang diharapkan dapat bertahan terbentuk relatif lama dan efektif dalam memperjuangkan suatu agenda atau kepentingan bersama. Langkah apa yang dapat dilakukan untuk membangun aliansi strategis guna memenangkan kepentingan rakyat? Formatted: Font: +Body. Formatted: Space Before: 0 pt. mengidentifikasi kelompok masyarakat (stakeholders) mana yang merupakan sebagai sumber daya pembangunan daerah atau sebagai sumber masalah. antara lain: 1. Kkerap kali keberadaan para politisi justru terkooptasi atau menjadi alat kepentingan kekuatan yang lebih besardominan ini. karena berbagai kendala. mengidentifikasi kelompok strategis (stakeholder) mana yang memiliki perhatian. Terdapat persamaan visi dan misi. Kedua. Aliansi ini . Ini kemudian digunakan sebagai bahan membentuk kelompok kerja (forum) sektor publikdari DPRD yang difungsikan. Dalam realitas politik selalu ada kekuatan dominan. Dalam kaitan tersebut. Hasil ini kemudian menjadi sebuah pemetaan masalah dan potensi daerah. misalnya wajar jika kemudian muncul kita dapat mengetengahkan beberapa pertanyaan mengapa korupsi tidak pernah bisa diberantas? Mengapa kebijakan pertanahan kerap sekali merugikan rakyat kecil sebagai pemilik? Mengapa harga gabah petani tidak kunjung membaik? Mengapa pedagang kecil dan menengah dan kecil tidak memperoleh dukungan dalam pembuatan kebijakan? Mengapa tata kota menyimpang dari setplan perencanaan? dan banyak pertanyaan lain yang bisa diteruskan.. Not Italic Ada beberapa langkah awal yang bisa disiapkan. administratif dan hukumkebijakan tertentu. Mengidentifikasi kelompok strategis sangat penting untuk melihat seberapa besar dukungan maupun hambatan yang akan muncul apabila DPRD mengambildiambil langkah-langkah politis. atau sebagai kunci permasalahan. Kekuatan dominan bisa berada di dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan. Maksud pembentukan kelompok kerja adalah untuk mengorganisir aliansi strategis dengan berbagai komponen lain. Dalam membangun aliansi terdapat beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan. Kekuatan dominan selalu ingin menguasai. pengambil keputusan tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. baik secara politik maupun ekonomi. Pertama. Not Italic Formatted: Font: +Body. serta apa dampak yang akan ditimbulkan oleh mereka baik yang bersifat konstruktif maupun yang destruktifkonstruktif.Namun dalam dataran empirik. kepentingan. mendikte. Not Highlight Formatted: Font: +Body. membuat tabel masalah dan potensi yang bisa menghambat maupun yang mendukung kinerja dewan. 2. Jawabannya. bahkan..

level atas. Pembentukan kelompok aliansi dapat dikembangkan tidak hanya pada level internal daerah tetapi juga regional dan nasional. jaringan atau aliansi dapat berupa hubungan secara horisontal. menyusun taktik strategi dan taktik yang jelas. Pembentukan kelompok aliansi ini didasarkan pada kebutuhan dan dukungan yang diperlukan untuk memperjuangkan suatu tujuan atau kepentingan. Ini merupakan upaya untuk mengakomodasi beragamnya kepentingan kelompok masyarakat.  Aktif membentuk opini publik dan meyakinkan kepada publik bahwa agenda yang diperjuangkan adalah kepentingan publik.5". dan atas.3. Upaya ini dapat dilakukan dengan:  Mendorong partisipasi kelompok masyarakat (stakeholders) untuk ikut mengambil bagian dalam merumuskan agenda publik. sebagai peluang kedekatan untuk terjadi aliansi antar kelompok masyarakat dalam aliasi. yaitu aliansi yang dibangun dalam wilayah yang sama dan kelompok yang setara. Aliansi model ini sangat ditentukan oleh adanya hirarkhi . Tab stops: Not at 1" . model hubungan secara vertikal. Ketiga. Level kelompok aliansi tersebut dapat juga dilihat dari kemampuan membuka akses. yaitu hubungan berjenjang misalnya pada level daerah dan pusat.. esensi membangun aliansi adalah membangun jaringan kerja kelompok. Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: First line: 0. meskipun tidak bersifat formal. Model jaringan kerja dapat dibagi ke dalam tiga bentuk. Langkah-langkah yang perlu untuk mempertahankan aliansi. dan memobilisasi kekuatan.  Ikut bersama-sama memperjuangkan kepentingan yang telah diruimuskan bersama menjadi agenda publik. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. serta membangun dukungan yang luas dari kelompok masyarakat lainnya. semakin tinggi pula tingkat kohesivitas sebuah aliansi. dan dan mencari solusi bersama. Oleh karena itu. antara lain: merumuskan program kerja yang jelas dan agenda perjuangan kelompok aliansi oleh anggota kelompok aliansi. Semakin tinggi gradasi yang dapat dipenuhi. menengah. serta peranan yang harus dimainkan dimana masing-masing level tersebut untuk dapat menjadi kunci atau penentu dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Alinsi strategis ini juga dapat menfasilitasi berbagai kelompok kepentingan maupun lembaga pemerintah untuk ikut merumuskan agenda publik. Cara pencapaian tujuan yang sama. dan fungsi. Pertama. dan pengaruh untukkemampuan memberi tekanan pada instansi terkait pembuat keputusan. Kinerja sebuah aliansi lebih bersifat jaringan kerja daripada hubungan dalam suatu struktur yang kaku. Aliansi yang sudah terbentuk harus dijaga keberlanjutannya. Karena itu. 4. kriteria tersebut juga dapat dipandang sebagai gradasi sehingga memungkinkan untuk terus-menerus menemukan. Adanya kepentingan yang sama. dan. Kedua. model hubungan kombinasi horisontal dan vertikal dimana hubungan ini tidak dibatasi oleh arah horizontal maupun vertikal. Pembentukan level-level kelompok aliansi ini memiliki tugas. membuat mekanisme kerja aliansi. membangun komunikasi yang intensif antara satu kelompok dengan kelompok aliansi lainnya baik secara horisontal maupun vertikal. lebih bersifat kombinasi tergantung kepada kebutuhan dan tantangan yang dihadapi. Langkah selanjutnya adalah membentuk kelompok aliansi pada setiap wilayah kerja DPRD. Aliansi yang terbangun tidak selalu dapat memenuhi semua kriteria tersebut.

Aliansi strategis juga dapat difungsikan untuk Mmendorong efektivitas fungsi koordinasi antar instansi pemerintah. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. pada tingkat implementasi. DPRD perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:  Problematika publik yang muncul ke permukaan kerap sekali tidak berdiri sendiri dan. baik untuk meningkatkan kinerja internal dewan maupun fungsi yang harus didorong Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. nNamun. maupun pengawasan kepentingan publik yang dengan cara lebih maju berkaitan erat dengan upaya membangun dukungan terhadap keberadaan mereka dari kelompokkelompok masyarakat terhadap kinerja aparatur tersebut. Terkadang masalah yang muncul sebanarnya tampak sangat sederhana dan bukan lagi persoalan. Menyepakati mekanisme kerja kelompok kerja agar peranan mereka tetap berkelanjutan. Aliansi ini juga dapat berperan penting dalam Mmendorong kinerja aparatur atau lembaga pemerintahan yang terlibat dalam perencanaan. Hal dapat dilakukan dengan:  Meyakinkan stakeholders bahwa partisipasi dan obligasi moril sangat dibutuhkan dalam mendorong kinerja bekerjanya suatu pemerintah yang baik adalah sebagai suatu kebutuhan bersama/publik. Tab stops: Not at 1" Formatted: Font: +Body.  Fungsi koordinasi tidak semata-mata menjadi bagian dari mekanisme birokrasi pemerintahan tetapi juga harus dijalankan oleh DPRD. Dalam mengupayakan hal ini.  Membangun dan memelihara komunikasi secara intensif dengan kelompok kerja.  Untuk mencapai tTujuan bersama hanya bisa dicapai jika lakukan dengan terdapat kerjasama yang kuat dari para stakeholders.  Mendorong koordinasi dalam merencanakan dan memecahkan pelbagai isu publik. Ia dapat merupakan kompleksitas masalah berbagai sektor yang saling terkait satu sama lainnya.  Mengkomunikasikan berbagai kepentingan kelompok strategis dalam merumuskan kepentingan bersama.  Menunjuk penanggung jawab kelompok kerja dan membuat pembagian tugas anggota. masalah yang sangat krusial seringkali adalah lemahnya koordinasi. diperkirakan sudah matang. Koordinasi antar elemen tersebut sangat vital harus mencakup perencanaan maupun dalam upaya mencari solusi setiap masalah publik. atau pada tingkat konseptual. maupun instansi pemerintah dengan instansi atau lembaga swasta dan LSM sebagai pelaku-pelaku pembangunan daerah. pelaksanaan. Upaya aliansi untuk Membangun kapasitas dalam mendorong koordinasi antar elemen pembangunan di atas menjalankan fungsi koordinasi adalah upaya anggota DPRD untuk menekan menjalankan fungsi dan peranannya di dalam mendorong berjalannya fungsi munculnya koordinasi yang lebih baik antar sektor atau lembaga yang terkait dengan kepentingan dan pelayanan publik. Not Highlight .  Kerjasama dan dukungan publik sangat diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan pembangunan daerah serta kompetisi antar daerah. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Hal ini dapat dilakukan dengan:  Menciptakan sistem komunikasi yang integral yang dan dapat melibatkan dengan pelbagai kelompok strategis.

kasus munculnya pedagang kaki lima (PKL) bak jamur di musim hujan.      untuk meningkatkan kinerja lembaga eksekutif sebagai lembaga yang melaksanakan agenda publik. dan menimbulkan kemacetan. Hal ini misalnya munculnya sejumlah persoalan publik sebagai akibat pencemaran lingkunganudara. atau tetap memegang etika kedewanan berpihak kepada kelompok masyarakat yang dirugikan? Semua ini berpulang kepada Anda. masalah timbunan sampah. Langkah-langkah antisipatif adalah mengidentifikasi sejumlah masalah yang memiliki keterkaitan antar sektor. apalagi tidak pernah terjamah oleh kelompok atau pihak yang berkepentingan. Ini misalnya terkait kasus persoalan lingkungan seperti geografis dalam satu kawasan tertentu. yang terus meningkat dan sangat liar. . Misalnya. bencana alam seperti banjir. Dalam konteks perspektif koordinasi. Kesalahan ini tidak semata-mata ditimpakan kepada PKL karena tetapi akar masalah sebenarnya adalah karena tidak ada perencanaan tata ruang kota baik fisik maupun non fisik secara yang matang atau karena melemahnya penegakan aturan. pelaksana. berpihak kepada kelompok yang kuat. pembabatan hutan. Persoalan yang kerap muncul di sini adalah apabila stakeholders yang terlibat ada mempunyai kekuasaan dan atau pengaruhnya yang besar atau dapat juga suatu kelompok yang memiliki kekuatan ekonomi. pengawasan maupun pengambilan keputusan. Koordinasi terkadang mudah untuk diucapkan akan tetapi sulit untuk diwujudkan. Semakin tinggi tingkat perkembangan masyarakat. Apabila kenyataan tersebut diharapkan kepada Anda apa yang dapat anda lakukan? Menghindar. Keterkaitan atau kompleksitas masalah publik juga dapat terjadi karena aebagai letak dampak dari lingkungan atau daerah sekitar. pelaksanaan. sikap apa yang sebaiknya anda lakukan sebagai anggota dewan yang bertanggung jawab dan moral. Fungsi koordinasi tidak hanya dipahami sebagai sebuah konsep atau sebagai bentuk mekanisme kerja lembaga tetapi sebagai suatu kebutuhan yang harus dilaksanakan. Misalnya siapa yang terlibat langsung dalam pengambilan keputusan? Siapa kelompok yang sangat dirugikan? Siapa kelompok yang diuntungkan oleh suatu keputusan? Dari proses identifikasi ini selanjutnya dapat dimerumuskan pendekatan dan langkah apa yang sebaiknya dilakukan. Mengidentifikasikan stakeholders yang terlibat baik dalam perencanaan. Pemecahan masalah ini tentu tidak bisa dilakukan oleh satu sektor saja yang terbatas dalam satu atau hanya pemda tertimpa musibah tersebut tetapi harus melibatkan pemda lainnya yang juga menjadi mata rantai masalah tersebut. Mendorong stakeholders untuk melakukan koordinasi dalam proses mperencanakan. ataupun menimbulkan timbunan sampah. Dari sini kemudian menimbulkan akumulasi masalah. tanah longsor dan lain sebagainya. masalah publik yang ditimbulkan semakin kompleks. pengguna dan pengawasan. cara pandang anggota dewan dalam melihat masalah tidak sepotong-sepotong atau hanya melihat per sektor.sehingga Akibatnya mengganggu ruas jalan. Mengapa? Karena bobot suatu masalah tidak muncul dari sektor itu sendiri tetapi dapat juga sebagai akibat dari ketimpangan dari sektor lain. Tumpang tindih masalah satu sektor dengan sektor lainnya tidak bisa dihindari.

 Untuk meningkatkan kinerja lembaga dewan maupun fungsi tata pemerintahan yang baik hendaknya menempatkan masalah koordinasi sebagai bagian penting dalam proses perencanaan. Akhirnya. dan terlembaga. legal. proses pengambilan keputusan maupun dalam pengawasan dan evaluasi. upaya membangun fungsi koordinasi dan pengawasan terlaksananya agenda kerja sama dapat diwujudkan dengan mendorong serta melibatkan partisipasi aktif pelbagai kelompok masyarakat seluas-luasnya. Dengan demikian proses politik yang berjalan baik pada level pemerintahan maupun pada level DPRD dapat memenangkan kepentingan rakyat secara konstitusional. Formatted: Space Before: 0 pt .