DISAIN PENGUATAN PERAN DAN FUNGSI DPRD

Daftar Isi Bab I Pendahuluan Bab II Arah Demokrasi Baru, Reformasi Keterwakilan dan Pengaruhnya terhadap Kapasitas Keparlemenan Bab III Pemilihan Langsung dan Akuntabilitas Wakil Rakyat Bab IV Menjadi Wakil Rakyat dalam Konteks Otonomi Daerah Bab V Menjembatani dan Mengelola Berbagai Kepentingan Politik Publik Bab VI Memahami Fungsi dan Tugas Wakil Rakyat Bab VII Membangun Lembaga Perwakilan di Daerah yang Berwibawa Bab VIII Membangun Aliansi Strategis dan Memenangkan Kepentingan Rakyat Rasionalisasi thd Rancangan Sistematika Modul sebelumnya 1. Pengantar a. Substansi setiap bab b. Alur kerja yang menghubungkan semua komponen di tiap fungsi ( yg ada dalam setiap modul)- gambarkan dalam bagan utama 2. Pengertian dan Prinsip Dasar (Masing-masing fungsi): Rujukan regulasi muncul dalam sub bab ini. Sajikan juga alat peraga, misal, dalam bentuk formulir isian dari setiap tema penting beserta cara pengisiannya Bab ini cenderung normatif saja: legislasi, penganggaran, dan pengawasan yang baik sesuai peraturan perundangan a. Konsepsi dasar dari substansi b. Jenis dan ruang lingkup substansi c. Ukuran dari derajat substansi d. Mekanisme bekerjanya substansi e. Faktor-faktor yang mempengaruhi bekerjanya substansi 3. Problem dasar implementasi substansi a. Limitasi regulasi b. Limitasi teknokratis administratif c. Limitasi konteks lokal 4. Insentif dan Strategi a. Insentif implementasi substansi b. Strategi implementasi substansi 5. Lampiran2 a. Formulir-formulir isian yang muncul di bab II b. Direktori perundang-undangan pada masing-masing fungsi

Bab I PENGANTAR Problematika Struktural: Konstruksi dan Format DPRD 2009  Posisi DPRD dalam Pemilu Langsung dan Relasinya dengan Partai Politik  Kendala Struktural Optimalisasi Tugas dan Fungsi DPRD Problematika Kapasitas Kelembagaan: Organisasi dan Keanggotaan DPRD  Kapasitas Organisasi DPRD  Kapasitas Individual Anggota DPRD Mendesain Penguatan Kapasitas DPRD  Anggota DPRD: Kombinasi Politisi dan Teknokrat  Prinsip Dasar Penguatan Kapasitas Organisasi DPRD  Prinsip Dasar Penguatan Kapasitas Anggota DPRD Alur Penguatan Fungsi dan Peran DPRD  Berdasarkan Optimalisasi Fungsi DPRD (Bagan besar)  Berdasarkan Optimalisasi Alat Kelengkapan  Berdasarkan Optimalisasi Lembaga Pendukung (Setwan dan Tenaga Ahli)  Berdasarkan Optimalisasi Kekuatan Masyarakat dan Media Indikator DPRD yang Berkualitas Nominal dan substansial Hubungan Antara DPRD dan Pemerintah Daerah Bagan hubungan dalam struktur fungsi umum dan sisi teknokratisnya. Tantangan dan Hambatan dalam Implementasi Desain Penguatan Fungsi dan Peran DPRD (yang dianjurkan dalam modul ini)  Tantangan o Waktu: bekal awal tidak cukup tdk ada kaderisasi di parpol o Ruang: berhadapan dengan struktur sistemik dan pragmatisme individual  Hambatan o Waktu: o Ruang: Insentif dan Strategi Penguatan Fungsi dan Peran  Insentif agar ini DPRD Membangun Penguatan Fungsi dan Peran o Kepercayaan Masyarakat dan Pemenuhan Janji: Menyelamatkan masa depan politik elektoral o Mempersiapkan Pemilu selanjutnya dan Merintis Karir Politisi ke level Provinsi dan Pusat o Insentif ekonomi (reward DPRD ditentukan oleh besaran PAD) o  Strategi yang bisa dilakukan o o Lampiran

Pengantar Modul Program pelatihan DPRD sudah banyak dilakukan, baik yang difasilitasi oleh kalangan universitas, lembaga pelatihan profesional, lembaga donor, maupun oleh kalangan organisasi masyarakat sipil. Namun, banyak dari pelatihan tersebut seringkali tidak disiapkan dengan capaian strategis dan taktis yang terarah untuk menjawab tantangan kongkrit dari DPRD. Belum lagi, ada kecenderungan dari lembaga-lembaga penyelenggara pelatihan tersebut untuk melihat problema DPRD di semua daerah secara seragam sehingga materi pelatihannya cenderung terlalu umum, abstrak, teoritis, dan tidak menyentuh secara mendalam masalah-masalah riil yang dihadapi oleh DPRD. Akibatnya, hasil pelatihan seringkali tidak memiliki dampak perubahan yang jelas, kecuali sekedar tambahan pengetahuan atau menebalkan kesadaran terhadap peran DPRD sebagai wakil rakyat. Hasil pelatihan akhirnya akan sangat sulit diukur keberhasilannya. Hal tersebut bukan tidak penting, namun harus dipertajam lagi seiring dengan kebutuhan anggota DPRD yang dituntut bukan hanya memiliki keahlian sebagai politisi namun juga memiliki kapasitas teknokratis-administratif dalam urusan pemerintahan daerah. Kapasitas teknokratis-administratif menjadi vital karena, dalam semua urusannya, DPRD harus berinteraksi dengan pemerintah daerah (eksekutif) yang logika kerjanya selalu didasarkan pada pranata ini. Tanpa penguasaan terhadap wilayah ini, niscaya DPRD tidak akan mampu menjalankan peran dan fungsinya secara optimal. Ini terjadi bukan karena anggota DPRD tidak memiliki keinginan, namun seringkali karena tidak memiliki keahlian dan alat kerja yang mencukupi dalam pelaksanaan fungsinya baik sebagai pengarah, mitra, dan pengawas bagi pemerintah daerah. Modul pelatihan ini ingin mengubah kecenderungan di atas dan menawarkan Pelatihan DPRD berbasis Riset . Oleh sebab itu, nilai lebih yang dapat ditemukan dalam modul ini adalah sebagai berikut: 1. Modul ini tidak hanya memberi perspektif perubahan, namun juga menunjukkan pilihan-pilihan yang realistis dilakukan; 2. Modul ini tidak hanya menunjukkan berbagai peraturan perundangundangan terkait pelaksanaan fungsi dan peran DPRD, namun juga memberikan alat kerja agar DPRD dapat menjalankan fungsi dan perannya dengan jelas dan tepat; 3. Modul ini tidak hanya menunjukkan masalah, namun juga cara memecahkan masalah; dan 4. Modul ini tidak hanya memberi panduan agar pelaksanaan fungsi dan peran anggota DPRD sesuai aturan perundang-undangan, namun juga memberikan kerangka kerja kritis dan inovatif dalam merancang perubahan. Singkat kata, program penguatan dan pengembangan kapasitas DPRD hanya bisa berarti jika didasarkan pada kondisi umum DPRD di Indonesia dan kondisi khusus masing-masing daerah sekaligus yang dihadapi oleh masing-masing DPRD. Meski fungsi dan tugasnya sama, tantangan yang dihadapi oleh setiap DPRD sangat variatif. Konsekuensinya, hasil dari setiap pelatihan DPRD hanya akan optimal jika didasarkan pada kebutuhan dari masing-masing daerah.

Antisipasi perbedaan mungkin akan dapat dilihat nantinya dalam berbagai PP turunan UU ini. Kedua.. Not Italic Kedudukan. perbedaan hanya terjadi pada . 27/2009 tentang MPR. PP tentang protokoler dan keuangan.. 23/2003.. dan DPRD tidak mengubah format dasar pengaturan DPRD yang sebelumnya diatur dalam UU No. anggota DPRD 2009 dipilih melalui pemilihan langsung dengan mekanisme suara terbanyak.. pergantian periode). representasi politik saja tidaklah cukup. UU Susduk 2009.. dan fungsi DPRD hasil pemilu legislatif 2009 dalam sistem pemerintahan daerah tidak berbeda jauh dengan periode sebelumnya. Posisi DPRD dalam Pemilu Langsung dan Relasinya dengan Partai Politik Berbeda dengan DPRD 2004. anggota DPRD 2009 memiliki tingkat representasi politik yang lebih baik dari sebelumnya. sebagai wakil rakyat... dan pengawasan. Kualitas anggota DPRD selanjutnya akan dilihat sejauhmana kemampuannya mempresentasikan diri sebagai wakil rakyat...Bab I Pendahuluan Formatted: Font: +Body. DPD. Konsekuensinya.. tugas.  . PP .. tugas. Baru setelahnya. Problematika Struktural: Konstruksi dan Format DPRD 2009 Ada dua hal penting untuk dicermati dalam melihat konstruksi dan format DPRD hasil pemilu 2009. anggaran. 27/2009.. yaitu kenyataan sebagian anggotanya belum memiliki pengalaman menjabat. DPR. Namun. Tantangan paling awal bagi kelembagaan DPRD hasil Pemilu 2009 adalah karena resikonya sebagai lembaga perwakilan yang dipilih secara berkala. yaitu No. yaitu kemampuannya menelurkan berbagai kebijakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat luas. pelatihan-pelatihan berbasis keahlian-keahlian tertentu bisa dilakukan sebagai tambahan soft skill agar dinamika kerja DPRD dapat berkembang. Merespon kendala ini. 10/2008 dan sistem kepartaian sebagaimana diatur dalam UU No. tugas paling awal dari setiap pelatihan DPRD adalah memastikan bahwa setiap anggota DPRD menguasai dan memahami tugas dasarnya sebagai wakil rakyat. terlebih bagi politisi yang sedari karirnya di partai politik tidak memiliki atau tidak diberi bekal pemahaman yang jelas tentang pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD dalam kerja sehari-hari. dst.. Perubahan ini dilakukan karena . Pertama. konstruksi DPRD sebagai lembaga perwakilan dalam desain sistem pemilu sebagaimana diatur dalam UU No. 2/2008.. dan fungsi DPRD sebagaimana diatur dalam UU No. Kesemuanya ini pada gilirannya harus bisa ditransformasikan secara kelembagaan sehingga sustainabilitas kualitas DPRD terjaga meskipun terjadi pergantian anggota DPRD (pergantian antar waktu. seperti PP tentang perumusan tata tertib DPRD. Terkait DPRD.. Ini bisa dicukupi melalui pelatihan terkait penguatan kapasitas dan peran anggota DPRD dalam menjalankan fungsinya di bidang legislasi. mampu merumuskan solusi permasalahan. tanpa harus memperhatikan nomor urut pencalonan. format DPRD menyangkut kedudukan. Mereka ini tentu membutuhkan adaptasi terlebih dahulu. serta kritis dan inovatif.

Usulan PAW baru bisa pidana. Usulan penggantian ini karena . melalui fraksi dan pemegang kewenangan untuk mengusulkan penggantian anggota melalui penggatian antarwaktu (PAW). Meski kontrol partai terhadap anggotanya yang ada di DPRD tetap kuat yakni .. Fraksi adalah alat perpanjangan tangan dari partai politik untuk menjalankan agenda politiknya melalui DPRD. Anggota DPRD dihadapkan pada persoalan dilematis. Pasal 383 ayat 2 huruf e dan h). Anggota DPRD justru memiliki kewajiban agar terus mengawal kepentingan publik melalui fraksinya. anggota DPRD yang merisaukan kontrol dari partai politik bersangkutan dapat mengajukan keberatan sepanjang tidak melakukan tindak melalui pengadilan. Dalam konteks ini. Kontrol partai politik terhadap anggotanya juga terbilang kuat melalui mekanisme PAW (UU No. DPRD adalah wakil semua masyarakat. pelanggaran tata tertib. anggota DPRD sebenarnya tidak lagi semata menjadi wakil dari partai politik tertentu atau terbatas pada konstituennya saja. Di sini rasionalitas anggota DPRD akan diuji. seperti halnya pemilu 2009. Setelah terpilih. atau karena anggota DPRD sampai saat ini belum diterbitkan. anggota DPRD tidak perlu diberhentikan dari keanggotaan partai politik. DPRD harus berhadapan dengan realitas dalam dirinya. 27/1999. Namun demikian. Dalam konteks DPRD pidana dan tata tertib DPRD. Ini adalah konsekuensi UU Pemilu 2008 yang mempersempit ruang gerak bagi partai-partai yang tidak mampu mendudukkan wakilnya di DPR Pusat. antara sebagai wakil rakyat dan wakil partai politik. anggota DPRD juga semestinya mampu membangun perimbangan terhadap kebijakan fraksi jika dinilai memperjuangkan kepentingan yang tidak selaras dengan kepentingan publik. faktor fundamental yang menentukan adalah kualitas personal dari anggota DPRD di hadapan masyarakat atau pemilih. ketentuan terkait hal ini masih dapat diusulkan penggantiannya oleh partai menanti Peraturan Pemerintah yang politik (PAW). berpindah sebagai anggota partai lain. Problem hubungan antara partai politik dan anggotanya di DPRD kiranya justru muncul pada anggota DPRD dari partai politik yang tidak lolos parliamentary threshold pada pemilu 2009 lalu atau yang suaranya relatif kecil di daerah yang bersangkutan. anggota DPRD tidak perlu khawatir sepanjang tetap berpegang pada nilai-nilai kebajikan publik. Jika diberhentikan. anggota DPRD sudah semestinya menjadi agen perjuangan partai politik. Namun. yang tak jarang memiliki kepentingan yang berbeda. Namun. Anggota DPRD 2009. antara mendekat ke partai politik yang lebih besar (untuk mempertahankan peluangnya pada pemilu selanjutnya maupun untuk merlanjutkan karir politiknya ke tingkat provinsi atau pusat) ataukah tetap bertahan di partainya saat ini. Konsekuensinya.Dalam konteks ini. ataupun dilakukan setelah adanya putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap. Oleh karena itu. Kewenangan ini patut dicermati mengingat selama ini sering menjadi pintu masuk dari partai politik untuk menertibkan wakilnya di DPRD yang dinilai melenceng dari garis Penggantian Antarwaktu (PAW) Selain karena melanggar aturan hukum kebijakan partai. Fraksi berwewenang . . kedekatan anggota DPRD terhadap aspirasi dan kepentingan masyarakat justru akan menjadi kunci apakah dirinya akan dipilih atau tidak pada pemilu selanjutnya. yang penting diingat adalah bahwa sistem pemilu yang dipakai untuk pemilu selanjutnya kiranya mau tidak mau akan tetap menggunakan pemilihan dengan mekanisme suara terbanyak.

DPRD butuh mencari terobosan untuk menutupi potensi lubang-lubang kendala struktural ini. evaluasi DPRD terhadap kinerja pemerintah daerah sulit menyentuh aspek-aspek pengelolan kebijakan dari pemda (di setiap SKPD) pada tahap implementasi APBD. 27/2009 tidak berbeda jauh dari pengaturan sebelumnya di UU No. secara struktural ada beberapa kendala dalam pengaturan kedudukan. Meskipun secara prinsip DAK adalah menjadi kewenangan pemerintah pusat. agar dapat memastikan bahwa setiap produk perda nantinya dapat disetujui bersama pemerintah daerah dan tidak dibatalkan oleh pemerintah pusat (melalui Peraturan Presiden). Namun. Keberimpitan urusan pusat dan daerah dalam DAK juga ditunjukkan oleh pengaturan dalam Pasal 41 UU No. b. terkait pengawasan pelaksanaan APBD. terkait fungsi pengawasan. Kendala-kendala tersebut tidak lantas membuat DPRD tidak bisa berfungsi optimal. Hanya saja. Selain itu. terkait fungsi legislasi. Bahkan. wewenang DPRD dalam menerima laporan pertanggungjawaban dari pemerintah daerah juga lebih dibatasi pada pembacaan angka-angka saja seperti tertuang dalam Laporan Realisasi  Anggaran. kedudukan. DPRD dapat terus-menerus melakukan memelopori negosiasi kepada pemerintah pusat terkait pembagian urusan yang lebih memberikan manfaat kepada daerah. DPRD dapat mengoptimalkan Badan Legislasi. dan Catatan Atas Laporan Keuangan. 23/2003 terkait pelaksanaan fungsi legislasi. 33/2004 yang mensyaratkan adanya Dana Pendamping dari daerah terhadap DAK minimal sebesar 10 persen dari total proyek (kecuali untuk . dalam banyak kasus. dana insidental lainnya seperti bantuan masyarakat saat terjadi bencana alam juga tidak diatur sebagai kewenangan DPRD kecuali sebatas menerima laporannya dari pemerintah daerah. banyak perda yang kemudian dibatalkan oleh pemerintah pusat. Hal lain. sebagai alat kelengkapan DPRD 2009. seperti Dana Alokasi Khusus dan Dana Darurat. Dalam konteks optimalisasi fungsi legislasi. Demikian halnya dengan terobosan di wilayah fungsi anggaran. Konsekuensinya. anggaran dan pengawasan. Kendala struktural tersebut adalah: a. terkait fungsi anggaran. kewenangan DPRD seringkali terhambat karena ada produk-produk kebijakan nasional yang tidak memberikan keleluasaan kepada daerah. 32/2004 huruf b). dan fungsi DPRD sebagai landasan agar DPRD dapat bekerja secara optimal. Dalam konteks urusan yang menyangkut hubungan antara pemerintah pusat dan daerah. DPRD tidak mampu mengawasi pelaksanaan perda secara maksimal karena wewenangnya tidak menjangkau sampai dengan pembatalan peraturan atau keputusan kepala daerah (hak legislasi di wilayah eksekutif) bilamana bertentangan dengan perda. tugas. tugas. persetujuan dan pengawasan DPRD terbatas pada wilayah APBD saja sehingga tidak memiliki ruang terhadap penggunaan anggaran non-APBD yang bersal dari pemerintah pusat.Kendala Struktural Optimalisasi Tugas dan Fungsi DPRD Secara umum. Neraca. dan fungsi DPRD sebagaimana diatur dalam UU No. namun dalam implementasinya program pembangunan yang didanai oleh DAK ini sebenarnya sangat berimpit dengan urusan daerah. berdasarkan pengalaman sebelumnya. c. Laporan Arus Kas. terlebih untuk mendapatkan DAK juga bisa diusulkan oleh pemerintah daerah (Pasal 162 UU No.

23/2003 dan UU No. 27/2009 Pasal 353.mencakup alat kelengkapan DPRD dan sistem pendukung DPRDmaupun kapasitas individual dari anggota-anggota DPRD dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Problematika Kapasitas Kelembagaan: Organisasi dan Keanggotaan DPRD Selain persoalan kondisi struktural yang menjadi batas kerangka kerja DPRD di atas. Pada kasus ini. produksi perda yang dihasilkan oleh DPRD relatif sangat sedikit. 27/2009 UU No. UU No. DPRD dapat mencari terobosan dengan memperketat koordinasi. misalnya. 23/2003). Sedangkan terkait fungsi pengawasan. alat kelengkapan maupun sistem pendukung yang tersedia pada DPRD sangat terbatas dan tidak terkonsolidir dalam satu kesatuan holistik pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. yaitu peraturan kepala daerah dan keputusan kepala daerah (Pasal 42 ayat 1. 23/2003. Dalam UU Susduk yang lama. Selain itu.daerah dengan kemampuan fiskal yang rendah). Tak heran. Belum lagi berbagai perda yang sudah disahkan tiba-tiba dianulir atau dibatalkan oleh pemerintah pusat karena dinilau bertentangan atau menghambat implementasi berbagai produk pwerundang-undangan di tingkat nasional. Dalam bidang legislasi dan anggaran. alat kelengkapan yang tersedia hanya berbentuk kepanitiaan saja yang bekerja secara tentatif (ad hoc). Konsekuensinya. DPRD dapat memperkaya evaluasi pertanggungjawaban implementasi APBD yang disampaikan oleh pemerintah daerah bukan hanya berbasis pada laporan keuangan namun juga mendasarkan pada capaian keberhasilan yang dirunut dari kinerja masing-masing SKPD. dan pengawasan terhadap pemerintah daerah terkait pembuatan dan implementasi produk legislasi yang menjadi wilayah eksekutif. yaitu UU No. sehingga tidak perlu berujung pada reaksi penggunaan hak interpelasi dan hak angket.  Kapasitas Organisasi DPRD Pengalaman sebelum ini menunjukkan bahwa kapasitas organisasi DPRD masih belum memadai. DPRD diharapkan bisa mengadvokasi kewenangannya bukan hanya terbatas pada alokasi dan pengawasan Dana Pendamping yang telah dimasukkan dalam komponen APBD. 27/2009 mengintrodusir dua komponen baru yang terdiri dari satu alat kelengkapan dan satu sistem pendukung bagi DPRD yang tidak ada dalam UU Susduk DPRD sebelumnya (UU No. Perbandingan Alat Kelengkapan DPRD dan Unit kerja Lainnya antara UU No. persoalan lain yang tak kalah fundamental kapasitas kelembagaan dari DPRD 2009. huruf c). pelaksanaan fungsi legislasi dan anggaran gagal dikonsolidasikan dalam satu agenda strategis jangka panjang dan berlangsung secara sporadis. 23/2003 (DPRD Kab/Kota) . Keterlibatan DPRD sejak lebih awal tentu dapat mengurangi potensi sengketa materi hukum peraturan kepala daerah atau keputusan kepala daerah. Keduanya adalah Badan Legislasi Daerah dan Kelompok Pakar atau Tim Ahli. pemantauan. UU No. dalam konteks pengawasan APBD. Kapasitas kelembagan yang dimaksud di sini adalah menyangkut kapasitas organisasi DPRD .

mengusulkan. Masalah rancangan perda yang saling berhimpit antara yang diajukan oleh Pemda dan yang diajukan oleh inisiatif DPRD dengan demikian akan bisa teratasi sehingga proses pembuatan perda menjadi lebih terarah dan efektif. 27/2009.Alat Kelengkapan Sekretariat Dewan Kelompok Pakar atau Tim Ahli Tidak ada a. Badan Anggaran. dan menyusun legislasi daerah dalam kerangka yang programatik. anggota DPRD. mengkonsolidasikan. dan wewenang DPRD melalui berbagai kajian dan analisis terhadap berbagai bidang urusan DPRD Tugas dari Badan Legislasi Daerah ini sebenarnya tidak disebutkan secara tegas dalam UU No. Badan Legislasi Daerah. f. Alat kelengkapan lain yang diperlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna. Perda yang sudah disahkan juga bisa diminimalisir potensinya dari pembatalan oleh pemerintah pusat ( perda bermasalah ) karena materi perda dapat disusun secara lebih hati-hati agar tidak bertabrakan dengan berbagai regulasi yang ada di tingkat nasional. Berbeda dengan Sekretariat DPRD yang difokuskan pada dukungan teknis. Namun. merancang. Dalam menjalankan tugasnya. legislasi daerah dapat disusun berdasarkan program legislasi daerah yang direncanakan dalam kurun waktu lima tahun (satu waktu masa keanggotaan) yang diterjemahkan ke dalam tahapan per tahun (setiap tahun anggaran) secara tepat. Badan Legislasi Daerah bekerjasama dengan semua komponen lain karena wewenang untuk mengajukan perda masih tetap bisa datang dari pemerintah daerah. Kelompok Pakar atau Tim Ahli ini dimaksudkan untuk memberikan dukungan substantif yang membantu alat kelengkapan DPRD dalam melaksanakan fungsinya. tugas. Melalui keberadaannya. Membantu dan mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD dalam hal: Membantu alat kelengkapan DPRD dalam pelaksanaan fungsi. jika mengikuti tugas alat kelengkapan Badan Legislasi yang ada di DPR. b. Komisi. c. Di sektor Sistem Pendukung. dan pelaksanaan anggaran DPRD. Badan Kehormatan. Pimpinan. Keberadaan Badan Legislasi Daerah dengan demikian sangat strategis dalam konteks optimalisasi fungsi legislasi dari DPRD. atau alat kelengkapan DPRD lainnya. keberadaan Kelompok Pakar atau Tim Ahli tak kalah strategis untuk memperkuat pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. d. g. Badan Musyawarah. adminsitratif. Kelompok pakar atau Tim Ahli ini direkrut berdasarkan . maka Badan Legislasi Daerah dimaksudkan sebagai wadah khusus dalam kelembagaan DPRD yang berfungsi untuk mengkoordinir. e.

7. kapasitas individual dari anggota DPRD selama ini cukup banyak yang terbilang belum memenuhi standar keahlian ataupun pengalaman agar dapat mewakili rakyat sebagai legislator. Keterbatasan kemampuan daerah untuk membiayai Kelompok keuangan daerah yang Pakar/Tim Ahli. 3. 5. keberadaan Kelompok Pakar atau Tim Ahli ini bisa saja menjadi tidak efektif. Profil anggota DPRD periode 2004-2009 banyak diisi oleh mereka yang . Kelompok Pakar/Tim Ahli. dialokasikan dalam anggaran 3. ini memang konsekuensi logis dari masih lemahnya sistem rekrutmen politik anggota DPRD yang berpadu dengan belum matangnya rasionalitas publik pemilih untuk memilih calon anggota DPRD yang berkualitas. Tim Ahli. Tentukan target hasil kerja dari Kelompok 4. kebutuhan Kelompok Pakar atau 4. Tentukan tugas. Tentukan ukuran kemampuan keuangan 2. Jika dilihat berdasarkan ukuran tersebut. Tak dapat dipungkiri. profik DPRD hasil Pemilu 2009 tampaknya belum berbeda jauh. Pastikan pengaturan hal-hal di atas ada deskripsi tugas (job description) dalam Peraturan Tata tertib DPRD yang jelas dari Kelompok Pakar atau Tim Ahli. Penentuan mekanisme rekrutmen 5. Penentuan target hasil kerja dari Kelompok Pakar atau Tim Ahli Selanjutnya. dan Pakar/Tim Ahli. anggota DPRD Kabupaten/Kota yang terpilih.. Tentukan mekanisme rekrutmen yang terbuka dan kriteria seleksi yang jelas dari Tim Ahli. Ada beberapa keterbatasan yang sangat mungkin mengganggu upaya DPRD mengoptimalkan keberadaan mereka ini. Tentukan standar pembiayaan Kelompok DPRD untuk membiayai Pakar/Tim Ahli.  Kapasitas Individual Anggota DPRD Sama halnya. 1. kelengkapan. Melalui keberadaan Kelompok pakar atau Tim Ahli. dan deskripsi dan seleksi Kelompok Pakar atau tugas dari Kelompok Pakar/Tim Ahli. Dari total . diharapkan DPRD mampu lebih optimal menjalankan fungsinya. Kebutuhan adanya Kelompok pakar atau Tim Ahli sudah dirasakan selama ini untuk memperkuat kelembagan DPRD. Penentuan tugas. Penentuan prioritas kebutuhan terhadap pekerjaan-pekerjaan Pembentukan Kelompok Pakar/Tim Ahli 1. diantaranya . Oleh sebab itu. hanya . 2. Bahkan.kompetensinya dalam disiplin ilmu tertentu yang dibutuhkan oleh alat kelengkapan DPRD yang bertugas melakukan berbagai kajian dan analisis pada bidang-bidang yang menjadi urusan DPRD. tak jarang ditemui anggota DPRD yang bahkan tidak memiliki sedikitpun pengalaman terkait bidang-bidang kerja yang harus ditangani oleh DPRD. 6. fungsi. keberadaan Kelompok Pakar atau Tim Ahli diharapkan mampu menambal kebocoran sistemik ini. Ini mengingat keberadaan anggota DPRD yang berasal dari beragam latar belakang dengan kapasitas dan keahlian yang berbeda-beda. Hanya saja. fungsi. pengaturan terhadap hal-hal di atas sangat penting untuk dilegalisasi secara formal yang bisa menjadi bagian dalam Peraturan DPRD tentang Tata Tertib DPRD. Tentukan prioritas kebutuhan pekerjaan DPRD yang membutuhkan yang memutuhkan dukungan Kelompok dukungan dari Kelompok Pakar Pakar/Tim Ahli untuk masing-masing alat atau Tim Ahli.

Jika dilihat dari komposisi antara incumbent (sudah/pernah menjabat sebagai anggota DPRD) dan anggota baru. dan masyarakat luas. Kendala ini sebenarnya sudah harus diantisipasi dengan mengaktifkan peran partai-partai politik untuk melakukan program-program kaderisasi yang jelas bagi anggotanya agar siap saji saat mejadi anggota DPRD. mengajukan rancangan peraturan daerah kabupaten/kota. anggota DPRD dapat memanfaatkan yang optimal dari Kelompok Pakar atau Tim Ahli dan Sekretariat DPRD yang menjadi bagian dari sistem pendukung organisasi DPRD. Efektifitas DPRD dalam melaksanakan peran dan fungsi utama mereka tergantung pada kapasitas para anggotanya dalam membuat kebijakan untuk menjawab kebutuhan. akademisi. imunitas. keuangan dan administratif. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas.yang memiliki basis pendidikan sarjana . akan ada keterbatasan dari anggota DPRD untuk mengetahui secara mendetail semua masalah. memilih dan dipilih. kelompok-kelompok profesional. Hanya saja. tantangan. f. membela diri. namun yang tak mungkin ditawar lagi adalah bahwa anggota DPRD sudah semestinya memliki pemahaman dan kemampuan untuk meletakkan grand design dalam semua kebijakan daerah. Aspek detail dari kesemua ini dapat didukung oleh masukan dari pemerintah daerah. b. c. 27/2009). h. Dalam organisasi DPRD sekarang.. e. menyampaikan usul dan pendapat. dan i. hak angket. d. Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a.d a hak menyatakan pendapat (Pasal . Hak Anggota DPRD terkait fungsinya adalah hak interpelasi. keahlian dasar sebagai seorang anggota DPRD sudah dimiliki sebelum menjabat. protokoler. Hak Anggota DPRD Kabupaten/Kota (Pasal 350 UU No. mengajukan pertanyaan. 27/2009) . mengingat keterbatasan waktu jabatan yang hanya lima tahun. . dan memiliki perspektif strategis bagi pembangunan daerah. hambatan ini semestinya sudah harus diminimalisir. Fakta ini memang tidak serta merta menjadi dasar untuk mengatakan bahwa kapasitas dari anggota DPRD tidak mumpuni. Ini juga bukan lantas menafikan kemampuan anggota DPRD untuk bisa beradaptasi. sehingga program-program peningkatan kapasitas anggota DPRD selanjutnya dapat lebih difokuskan pada pembelajaran dan penyelesaian berbagai masalah-masalah kongkrit yang dihadapi oleh DPRD di setiap daerah. g.Paling tidak. UU No. maka kompoasisinya lebih banyak didominasi oleh . Tentu saja.

ayat masing-masing. dan mitra kerja komisi ditetapkan dengan keputusan DPR. baik sesama pengawasan adalah: (3) pihak komisi di bidang lembaga negara maupun lainnya a.memberikan pendapat kepada pimpinan c. membahas.Membahas dan mengajukan usul penyempurnaan RAPBD (3) Ketentuan mengenaimenetapkanpembentukan. alat kelengkapan dibantubersama-sama dengan Pemerintah (KUA) oleh sekretariat. c. Komisi DPRD berjumlah b. wewenang dan mekanisme . (8) Komisi menyusun rancangan anggaran untuk pelaksanaan tugasnya sesuai dengan kebutuhan yang selanjutnya disampaikan kepada Badan Urusan Rumah Tangga. 3 (tiga) untuk DPRD yang beranggotakan 20-35 orang dan 4 (empat) komisi untuk DPRD yang beranggotakan 36-50 orang. program. melakukan pengawasan terhadap kebijakan Pemerintah.menetapkan agenda persidangan beserta (4) Komisi dalam melaksanakan tugas perkiraan waktu dan memberi masukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). yangd.Koordinasi dan sinergi pelaksanaan agenda dan kegiatan dari alat kelengkapan DPR D . rapat menentukan garis kebijakan DPRD dalam dengar pendapat dengan pejabat Pemerintah yang mewakili instansinya. Fungsi Pokok Pokok di bidang pengawasan: Fungsi . ayat (2). pelaksanaan tugas(3). melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang -undang. menyangkut pelaksanaan tugas dan e. ruang lingkup tugas (7) Komisi membuat laporan kinerja pada akhir masa keanggotaan DPR. menyusun. rapat kerja wewenang DPRD dengan menteri atau rapat dengar pendapat dengan pejabat Pemerintah yang mewakili instansinya yang tidak termasuk dalam ruang lingkup tugasnya apabila diperlukan. Komisi. Badan Anggaran. dan ayat (4). rapat kerja dengan Pemerintah yang diwakili oleh menteri/pimpinan lembaga. Pasal 97 Jumlah. dan menyempurnakan raperda f. konsultasi dengan DPD. Pimpinan. Alat kelengkapan lain yang diperlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna. Badan Kehormatan. Fungsi Pokok di bidang anggaran: g. tugas. ruang lingkup tugas. d. membahas Badan Musyawarah dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK yang berkaitan dengan ruang lingkup tugasnya.Membahas dan tata cara alokasi anggaran untuk fungsi. raperda b. kepada alat kelengkapan DPRD untuk (5) Komisi menentukan tindak memberikan penjelasan mengenai lanjut hasil pelaksanaan tugas komisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). baik atas permintaan komisi maupun atas permintaan pihak lain. Badan Legislasi Daerah.Pembicaraan pendahuluan mengenai penyusunan RAPBD bersama Pemerintah (KUA) (2) Dalam menjalankan tugasnya. Badan Musyawarah.Gambarkan bagan yang menghubungkan antar alat kelengkapan DPRD Kabupaten/Kota (Pasal 353) ini!!! Komisi a. Pasal 98 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. serta tugas dan . c. ayat (2). Fungsi Pokok e. (6) Keputusan dan/atau kesimpulan . susunan. b.meminta dan/atau memberikan kesempatan f. . termasuk hasil audit keuangan oleh BPK Hasil pembicaraan dan pembahasan di atas disampaikan kepada Badan Anggaran untuk sinkronisasi. Hasil sinkronisasi ini dapat disempurnakan kembali oleh komisi sebelum kemudian diserahkan Pimpinan kembali kepada Badan Anggaran sebagai bahan akhir penetapan APBD. dan ayat (3).Mewakili DPRD dalam berhubungan dengan lembaga Tugas luar. mengenai jumlah komisi. dapat mengadakan: untuk penanganan suatu masalah atau a. dan Fungsi Pokok d. termasuk APBN. serta peraturan pelaksanaannya yang termasuk dalam ruang lingkup tugasnya. susunan. . pemerintah daerah dan pelaksanaan APBD. rapat dengar pendapat umum. . baik yang sudah maupun yang komisi.Menyiapkan. dan/atau .mengusulkan kepada rapat paripurna hasil rapat kerja komisi atau rapat kerja gabungan komisi bersifat mengikat antara DPR dan Pemerintah. dan mitra kerja komisi belum terselesaikan untuk dapat digunakan sebagai bahan oleh komisi pada masa keanggotaan berikutnya. kunjungan kerja. dan kegiatan SKPD yang wewenangmenjadi mitra kerja komisi (PPAS) alat kelengkapan DPRD kabupaten/kota diatur dengan peraturan DPRD . . membahas dan menindaklanjuti usulan DPD.Membahas laporan keuangan kabupaten/kota tentang tata tertib.bidang legislasi: Fungsi Pokok di .

komisi. b. Pasal 104 (2) JumlahBadan Kehormatan oleh ditetapkan dalam rapat paripurna anggota Badan Legislasi DPR dan merupakan alat Badan Anggaran dibentuk menurut perimbangan danbersifat tetap. pembulatan. tidak dapat melaksanakan tugas secara b erkelanjutan atau gabungan berhalangan DPDPemerintah yang diwakili oleh 3 (tiga) bulan berturut komisi. kelengkapan DPR yang pemerataan jumlah anggota tiap-tiap fraksi Pasal 124 pada permulaan masa Pasal 105DPR menetapkan susunan dan keanggotaan Badan Kehormatan (1) keanggotaan DPR memperhatikandan keanggotaan Badan (1) DPR menetapkan susunan perimbangan dan pemerataan jumlah anggota dengan dan pada permulaan tahun sidang. membahas bersama sebelum rancangan undang-undang tersebut disampaikan keterangan apa pun. tidak menghadiri terhadap rancangan undang-undang yang diajukan olehacuan menjadi tugas dan kewajibannya sebanyak 6 (enam) kali dijadikan anggota. DPD. (2) Susunan ditetapkankeanggotaan paripurna pada permulaan masa kean ggotan dalam rapat Badan Anggaran sebagaimana (2) Pimpinan Badanayat (1) terdiri atas anggota dari tiap -tiapdan paling dimaksud padapada permulaan atas 1 (satu) orang ketua DPR dan Legislasi terdiri tahun sidang.Legislasi bertugas: a. tidak yang telah ditetapkan. kebijakan menteri untuk menentukan pokok-pokok turut tanpa kepada pimpinan DPR. anggota tiap-tiap fraksi pada permulaan masa (1) Pimpinan Anggota dan pada permulaan tahu n sidang. komisi. (3) Pemilihan pimpinan Badan Anggaran masukan dari tata Kehormatan diatur dalam peraturan DPR tentang b. keanggotaan DPR Badan merupakan satu kesatuan pimpinan orang dan (2) Badan Legislasi Kehormatan berjumlah 11 (sebelas) yang bersifat kolektif dan kolegial. memberikan pertimbanganrapat paripurna dan/atau rapat alat kelengkapan fiskal secara umum dan prioritas anggaran untuk c. gabungan komisi. (1) Pimpinan Badan Kehormatan merupakan mufakat dan proporsional dengan memperhatikan keterwakilan perempuan Pasal 106 bersifat kolektif dan kolegial. Anggaran menurut perimbangan dan pemerataan jumlahDPR dan permulaan tiap-tiap fraksi pada permulaan masa keanggotaan Pasal 101 tahun sidang. dan di pilih dari ayat(2) Pimpinan Badan Anggaran terdiri atas 1yang dipimpin oleh (2) dilakukan dalam rapat Badan Legislasi (satu) orang Kehormatan berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan pimpinan DPR paling banyak 3 (tiga) orang wakil keterwakilan perempuan menurut ketua proporsional dengan memperhatikan ketua yang dan setelah penetapandari dan oleh jumlah anggota Anggaranfraksi. menetapkan pendapatan negara bersama calon anggota DPR sesuai dengan d.Badan Legislasi Pasal 100 (1) DPR menetapkan susunan dan keanggotaan Badan Legislasi pada Badan Anggaran permulaan masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun sidang. Ketentuan lebih dan untuk setiap tahun anggaran di lingkungan DPR dengan mempertimbangkansebagaimana DPD. dan/atau . dan DPRD. banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh anggota komisiPasal 125 oleh komisi dengan memperhatikan yang dipilih Badan Legislasi berdasarkan prinsip musyawarah untuk satu kesatuan pimpinan perimbangan jumlah anggota dan usulan fraksi. (1) Badan pimpinan DPR setelah penetapan susunan dan keanggotaan Badan . konsepsi rancangan undang-undang yang diajukan anggota. e. atau tetap sebagai anggota DPR selama a. yang menurut perimbangan jumlah Kehormatan terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan 2 (1) Pimpinan BadanBadan anggota tiap-tiap fraksi. menyiapkan rancangan undang-undangBadan Anggaran. . penetapan susunan pengaduan terhadap anggota karena: verifikasi atas dan keanggotaan usul DPR berdasarkan program prioritas melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal a. susunan dan keanggotaan Badan Legislasi. dan pemantapan Pasal 107 79. (1) Badan Anggaran bertugas: b. tertib. dan oleh anggota (dua) orang wakil ketua. menyusun rancangan program legislasi nasional yang memuat daftar proporsional dengan mempertimbangkan keterwakilan Kehormatan. d. menyusun usulan anggaran. atau DPD di luar DPR yang bagi setiap kementerian/lembaga dalamberturut-turut tanpa alasan yang sah. urutan dan prioritas rancangan undang-undang besertatiaptiap perempuan 126 Pasal menurut perimbangan jumlah anggota alasannya untuk 1 (satu) masa keanggotaanlanjut mengenai tata cara pembentukan Badan fraksi. mengoordinasi penyusunan program legislasi nasional antara DPR dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat Badan Pasal 127 dan AnggaranBadandipimpin oleh bertugas melakukan penyelidikan dan Pemerintah. Kehormatan pimpinan DPR setelah (1) yang c.48 . dilakukan dalam rapat Badan Kehormatan yang dipimpin oleh proporsional . dipilihperimbangan anggota Badan tiap-tiap berdasarkan prinsip pimpinan Badan Kehormatandan (3) Pemilihan musyawarah untuk mufakat sebagaimana dimaksud pada Pasal 102 ayat (2). (2) Pimpinan Anggaran merupakan satu kesatuan (3) Pemilihan pimpinan Badan Legislasi sebagaimana dimaksud pada Badan pimpinan yang bersifat kolektifyang kolegial. melakukan pengharmonisasian. tidak lagi memenuhi syarat sebagai Pemerintah ketentuan peraturan perundangundangan mengenai pemilihan umum anggota DPR.

dan pemeriksaan BPK atas oleh BKSAP pada masa keanggotaan berikutnya. kolektif dan sidang. DPR. yang bersifat kolektif danfraksi. dalam (1) BKSAP bertugas: anggota menurut perimbangan jumlah pelaksanaan kebijakan oleh DPR setelah DPR sebagaimana dimaksud (3) Panitia khusus dibubarkankerumahtanggaan jangka waktu penugasannya (2) persahabatan a. (tiga) orang wakil ketua. termasuk organisasidan alat menetapkandan tindak lanjut hasil kerja panitia khusus. kerumahtanggaan DPR. (1) Badan Legislasi bertugas: a. hambatan pemeriksaan. baik secara c. Pasal 122 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. wewenang dan mekanisme kerja BKSAP diatur dengan peraturan DPR UU No. yangfraksi. DPD. yang dipilih dari dan oleh anggota BKSAP (3) Pemilihan pimpinan BURT sebagaimana dimaksud pada ayat (2)(2) (3) Pemilihan pimpinan panitia khusus sebagaimana dimaksud pada ayat proporsional dengan berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan Pasal 112 dilakukan dalam panitia khusus yang dipimpin oleh pimpinan DPR dilakukan dalam rapat rapat BURT yang dipimpin oleh pimpinan DPR setelah memperhatikan keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah (1) Pimpinan BAKN merupakan satu kesatuan pimpinan penetapan susunan dan keanggotaan BURT. penelaahan sebagaimana dimaksud dalam huruf kerja sama antarparlemen.rapat paripurna pada musyawarah untuk dan proporsional dengankhusus yang ada serta keterwakilan memperhatikan keterwakilan perempuan memperhatikan jumlahPimpinan BKSAP terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan paling banyak 3 (2) panitia permulaan masa jumlah anggota tiap-tiap fraksi. tentang tatab. tugasnya dinyata kan selesai. melakukan penelaahan terhadap temuan hasil pemeriksaan e. melakukan pengawasan terhadap Sekretariat Jenderal DPR (2) Panitia khusus bertanggung jawab kepada DPR. serta pelaksanaan tugasnya sesuai Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. tugas. anggota BAKN melaksanakan tugas tertentu dalam jangka waktu a.diadakan untuk itu. sidang.Akuntabilitas Keuangan Negara Badan (1) Pasal 137 DPR menetapkan susunan dan keanggotaan BURT pada permulaan Pasal 110 masa keanggotaan DPR dan keanggotaan panitia khusus berdasarkan (1) DPR menetapkan susunan dan permulaan tahun sidang. menyampaikan laporan kinerja dalam rapat paripurna peraturan DPR wewenang dan mekanisme kerja panitia khusus diatur dengan DPR yang tentang masalah d. kolegial. menindaklanjuti hasil pembahasan komisi terhadap temuan hasil menyusun rancangan anggaran untuk pelaksanaan tugasnya sebagai bahan permintaan komisi. dan dimaksud pada ayat (3) Pemilihan pimpinan BAKN sebagaimanameningkatkan hubungan dalam huruf a. kualitasdengan kebutuhan. mengembangkan. dan MPR pelaksanaan tugasnya sesuai Panitia khusus menggunakan anggaran untuk yang ditugaskan oleh pimpinan menjadi tamu b. memberikan saran disampaikan kepada DPR. Badan Kerja Keuangan Badan Akuntabilitas Sama Antar-Parlemen selanjutnya (2) Jumlah pemerataan ditetapkan Negara. permulaan masa keanggotaan DPR dan pada permulaan tahun sidang. parlemen BAKN. (2) Pimpinan BURT terdiri atas 1 1 (satu) orang ketua dan paling ban yang dijabat (2) Pimpinan panitia khusus terdiri atas(satu) orang ketua(tujuh) orang oleh yak Pasal 119 (2) Anggota BAKN berjumlah paling sedikit 7 Ketua DPR dan paling banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari dan olehatas usul fraksi pimpinan yang bersifat (1) banyak 9 BKSAP merupakan satu kesatuan dananggota BURT berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat paling Pimpinan (sembilan) orang anggota panitia khusus dan oleh berdasarkanDPR yang ditetapkan dalam mufakat dan proporsional dengan prinsipkolektif dan kolegial. yang selanjutnya disampaikan kepada Badan Urusan laporan. atau usul kepada pimpinan DPR khusustertib. Pasal Pasal 139 133 1 (satu)dilakukan dalam rapat BKSAP yang dipimpin oleh pimpinan DPR setelah orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh BURT bertugas: (1) Panitia khusus bertugasberdasarkan prinsip musyawarah untuk penetapan susunan dan keanggotaan BKSAP. memberikan masukan kepada BPK dalam hal rencana kerja Pasal 135 BKSAP menyusun rancangan anggaran untuk penyajian dan pemeriksaan tahunan. anggota DPR. tugas. BURT dalam rapat perimbangan dananggota 118 jumlah oleh DPRtiap -tiap paripurna menurut anggota dan merupakan alat Pasal disingkat BAKN. menyampaikan hasil keputusan dan kebijakan BURT kepada setiap Pasal 141 (1) BAKN bertugas: c. banyak 30 (tiga puluh) orang. Pasal 113 d. tiap-tiap fraksi. mengoordinasikan kunjungan kerja alat kelengkapan DPR ke luar negeri. yang ditetapkan oleh rapat paripurna. menyusun rancangan program legislasi nasional yang memuat daftar urutan dan prioritas rancangan undang-undang beserta alasannya untuk 1 (satu) masa keanggotaan dan untuk setiap tahun anggaran di lingkungan DPR dengan mempertimbangkan masukan dari DPD. tahun menurut perimbangan keanggotaan DPR dan permulaan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi. (2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) DPR tentang tata tertib. tertentu menetapkandengan memperhatikan keterwakilan perempuan Pasal 120 mufakat b. Pasal 121 d. tugas. susunan. menyampaikan hasil (2) BKSAP a kepada komisi. penetapan susunan (3) Pemilihan pimpinan1 (satu)sebagaimanadan dan BAKN terdiri atas BKSAP orang ketua dimaksud pada ayat (2) (2) Pimpinankeanggotaan panitia khusus. membina. dengan kebutuhan yanghasil rapat Badan pimpinan DPR. Pasal 102 tentang tata tertib. membuat laporan kinerja pada akhir masa keanggotaan baik Pasal 134 yang sudah maupun yang belum terselesaikan untuk dapat digunakan BURT c. berakhir atau karena termasuk pelaksanaan dan pengelolaanpimpinan DPR setelah bilateral dan kerja sama antara DPR dan parlemen dilakukan dalam rapat BAKN yang dipimpin oleh negara lain. dibentukjumlah anggota tiap -tiap fraksi pada perimbangan dan pemerataan (2) Jumlah anggota panitia khusus ditetapkan olehdan keanggotaanpaling pada permulaan (1) DPR menetapkan susunan rapat paripurna BKSAP kelengkapan DPR yang bersifat tetap. sesuai dengan kebutuhan. .Panitia Khusus Pasal 136 Badan Urusan Rumah DPR dan Panitia khusus dibentuk oleh Tangga merupakan alat kelengkapan DPR yang Pasal 131 bersifat sementara. Pasal 132 111 Pasal 138 (1) DPR (2) Jumlah anggota BKSAP ditetapkan dalam rapat paripurna menurut menetapkan susunan dan keanggotaan BAKN pada (1) Pimpinan BURT merupakan satu kesatuan pimpinan yang bersifat (1) Pimpinan panitia khusus merupakan satu kesatuan pimpinan yang bersifat perimbangan dan pemerataan jumlah anggota tiap permulaan masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun -tiap fraksi pada kolektif dan kolegial. susunan. 27/2009. susunan. permulaan masa keanggotaan DPR dan pada permulaan tahun sidang. setelah anggota tiap-tiap kolegial. wewenang dan mekanisme kerja BURT diatur dengan peraturan Rumah Tangga. anggaran DPR. Pasal masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun sidang. dan Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan. menerima kunjungan delegasi parlemen negara lain yang DPR berdasarkan diajukan kepada Musyawarah. kebijakan kerumahtanggaan DPR. paripurna koordinasi dengan alat kelengkapan DPD (4) Rapatmelakukan maupun multilateral. BPK yang dan a. internasional yang menghimpun penetapan susunan kelengkapan MPR berhubungan dengan masalah Pasal 140 keanggotaanyang dan/atau anggota parlemen negara lain.

Yang dimaksud dengan kelompok pakar atau tim ahli adalah sekelompok orang yang mempunyai kemampuan dalam disiplin ilmu tertentu untuk . pengubahan. dibentuk kelompok pakar atau tim ahli. pembulatan. gabungan komisi. mengikuti perkembangan dan melakukan evaluasi terhadap pembahasan materi muatan rancangan undang-undang melalui koordinasi dengan komisi dan/atau panitia khusus. f. membuat laporan kinerja dan inventarisasi masalah di bidang perundangundangan pada akhir masa keanggotaan DPR untuk dapat digunakan oleh Badan Legislasi pada masa keanggotaan berikutnya. atau DPD sebelum rancangan undang-undang tersebut disampaikan kepada pimpinan DPR. memberikan masukan kepada pimpinan DPR atas rancangan undang-undang usul DPD yang ditugaskan oleh Badan Musyawarah. Sistem Pendukung DPRD Kabupaten/Kota Sekretariat Pasal 398 (1) Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. melakukan pembahasan. melakukan pengharmonisasian. dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang diajukan anggota. (2) Sekretariat DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh seorang sekretaris DPRD kabupaten/kota yang diangkat dan diberhentikan dengan keputusan bupati/walikota atas persetujuan pimpinan DPRD kabupaten/kota. mengoordinasi penyusunan program legislasi nasional antara DPR dan Pemerintah. (2) Badan Legislasi menyusun rancangan anggaran untuk pelaksanaan tugasnya sesuai dengan kebutuhan yang selanjutnya disampaikan kepada Badan Urusan Rumah Tangga. atau DPD di luar prioritas rancangan undang-undang tahun berjalan atau di luar rancangan undangundang yang terdaftar dalam program legislasi nasional. komisi. dan/atau penyempurnaan rancangan undang-undang yang secara khusus ditugaskan oleh Badan Musyawarah. komisi. menyiapkan rancangan undang-undang usul DPR berdasarkan program prioritas yang telah ditetapkan. gabungan komisi. dan i. c. dibentuk sekretariat DPRD kabupaten/kota yang susunan organisasi dan tata kerjanya ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Sekretaris DPRD kabupaten/kota dan pegawai secretariat DPRD kabupaten/kota berasal dari pegawai negeri sipil. d. g. memberikan pertimbangan terhadap rancangan undang-undang yang diajukan oleh anggota. e. h.b. Kelompok Pakar atau Tim Ahli Pasal 399 (1) Dalam rangka melaksanakan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota.

keberatan ini tidak disertai data yang memadai dan langkah solusinya. ke dalam kecil merencanakan target pendapatan seperangkat aturan main yang lebih daerah dari sektor pajak. (3) Kelompok pakar atau tim ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bekerja sesuai dengan pengelompokan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota yang tercermin dalam alat kelengkapan DPRD kabupaten/kota. Secara teknokrat-administratif. Secara politik. fungsi-fungsi DPRD hanya akan berjalan optimal jika anggotanya memiliki keahlian menerjemahkan Pembahasan RAPBD konsep-konsep strategis. . jika tidak mengetahui cara-cara o Masak tiap tahun targetnya stagnan mencapainya secara teknokratis dan o Targetnya selalu lebih rendah daripada realisasi tahun sebelumnya. Sayangnya.membantu alat kelengkapan dalam pelaksanaan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. setiap anggota DPRD dituntut memiliki kemampuan sebagai teknokrat. kritik ini dengan mudah ditanggapi dalam kerangka pengawasan agar DPRD oleh pemerintah. o Data yang disajikan dinas pajak kepada Keahlian teknokratis dan dewan bukanlah keberhasilan faktual administratif ini bukan dimaksudkan o Pemerintah menyembunyikan selisih agar DPRD mengambil wilayah yang penerimaan PAD Karena tidak disajikan dengan data telah menjadi wewenang pemerintah. mendesak pemerintah agar bekerja lebih Kehendak politik tidak mungkin tercapai keras. programatik. o DPRD tidak membuat kajian komprehensif terhadap potensi PAD Sebagai contoh. kemampuan ini dapat digunakan memadai. Mendesain Penguatan Kapasitas DPRD  Anggota DPRD: Kombinasi Politisi dan Teknokrat Selain memiliki keahlian sebagai politisi. Ini dibutuhkan karena. yang muncul Anggota DPRD menilai pemerintah terlalu sebagai kehendak politik DPRD. dan terukur. Namun. dalam praktek pemerintahan. Kelompok pakar atau tim ahli bertugas mengumpulkan data dan menganalisis berbagai masalah yang berkaitan dengan fungsi serta tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota. Ini kan sama memahami fisibiltas proseduralsaja bohong administratif yang ada. DPRD dapat melakukan pengecekan melalui Pedoman Penyusunan RKA-SKPD yang disusun Bupati/Walikota untuk mengetahui apakah RKA-SKPD yang disusun telah mengikuti ketentuan dalam KUA dan PPAS. adalah penilaian o Pemerintah bersikap jujur dengan DPRD terhadap Rencana Kerja dan melaporkan semua laporan keuangan Anggaran SKPD (RKA-SKPD) yang kepada DPRD diajukan sebagai dasar perumusan RAPBD. Penugasan kelompok pakar atau tim ahli disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan daerah kabupaten/kota (2) Kelompok pakar atau tim ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat dan diberhentikan dengan keputusan sekretaris DPRD kabupaten/kota sesuai dengan kebutuhan atas usul anggota dan kemampuan daerah. DPRD praktis. o Apa dasar DPRD menilai target mampu melakukan kontrol yang optimal pemerintah terlalu rendah? terhadap kinerja pemerintah.

kewajiban Paham teknokrasi kebijakan Sensitif terhadap adminsitasi pemerintahan Punya perspektif kuat: advokasi kepentingan masyarakat dan daerah Memperkuat jaringan aspirasi dan representasi publik -  Alur Penguatan Fungsi dan Peran DPRD Setelah menyimak format dan konstruksi DPRD 2009 di atas. 58/2005 ayat (35) s/d (40). dan pengawasan dari DPRD dalam konteks RAPBD dapat berjalan terarah dan menyentuh permasalahan. maka berbagai potensi Kendala yang dapat menimbulkan tidak optimalnya pelaksanaan fungsi DPRD secara umum dapat diidentifikasi. yaitu menyangkut pelaksanaan fungsi legislasi. dan Kepala SKPD. Pemahaman terhadap hal di atas sangat diperlukan agar fungsi legislasi. Lebih dari statemen politis. penganggaran. sebagaimana diatur dalam PP No. PPKD. Jika ketiga fungsi tersebut dikorelasikan dengan tugas dan wewenang DPRD serta hak DPRD. DPRD dapat mengeceknya melalui Kepala Daerah.Dalam hal ini.  Prinsip Dasar Penguatan Kapasitas Paham fungsi. Dengan mengikuti prinsip anggaran berbasis kinerja. 2) penggunaan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah. tugas. anggaran. dan pengawasan. maka dapat digambarkan sebagai berikut: . maka penilaian DPRD. penganggaran terpadu. wewenang. dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja dalam penyusunan RKA-SKPD. dapat dilakukan dengan mengeceknya melalui: 1) hasil evaluasi setiap kepala SKPD terhadap hasil pelaksanaan program dan kegiatan 2 (dua) tahun anggaran sebelumnya sampai dengan semester pertama tahun anggaran berjalan. penilaian DPRD pada akhirnya diharapkan mampu mendesak dan memberikan solusi agar pemerintah daerah mampu bekerja lebih optimal.

Laporan pelaksanaan APBD: Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Advokasi Kewenangan o Pengawasan Pelaksanaan dana yang dikelola pemerintah non -APBD Anggaran . Wewenang.Kesesuaian RAPBD dengan KUA dan PPAS .Laporan pelaksanaan APBD Semester I . dan Kewajiban o Mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian kepala daerah o Memilih wakil kepala daerah jika terjadi kekosongan jabatan o Menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen o menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat o mempertanggungjawabkan secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya Advokasi Kewenangan o Membangun beragam media komunikasi dan penjaringan aspirasi o Memaksimalkan rapat-rapat DPRD berlaku terbuka o Menyusun indikator keberhasilan tugas DPRD Tugas dan Wewenang o Penyusunan dan Pembahasan Perda o Pembahasan dan persetujuan RAPBD: KUA dan PPAS o Pembahasan dan persetujuan APBD Perubahan (Semester I) o Memberi pendapat.Legislasi Tugas dan Wewenang o Pengawasan Pelaksanaan APBD .Laporan pelaksanaan APBD Semester I .Kesesuaian RAPBD dengan KUA dan PPAS . pertimbangan dan persetujuan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional o Memberi persetujuan terhadap rencana kerja sama dengan daerah lain atau pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah o mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai ketentuan peraturan perundangundangan Advokasi Kewenangan o Evaluasi substantif RKA-SKPD o Advokasi dalam pembagian urusan pemerintah pusat dan pemerintah daerah Pengawasan Tugas dan Wewenang o Pengawasan Pelaksanaan APBD .Laporan pelaksanaan APBD: Laporan Keuangan Pemerintah Daerah o Pengawasan pelaksanaan Perda Advokasi Kewenangan o Koordinasi dan persetujuan legislasi eksekutif (Peraturan dan Keputusan Kepala Daerah) o Evaluasi pelaksanaan program kerja pemerintah dengan melihat pencapaian substanstif kinerja SKPD (tidak terbatas menerima laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah) Representasi Tugas.

b. f. Kedua. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah dan anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota. peraturan kepala daerah. isu ruang lingkup kewenangan. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. memilih wakil bupati/wakil walikota dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil bupati/wakil walikota. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah. b. membahas dan memberikan persetujuan rancangan peraturan daerah mengenai anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota yang diajukan oleh bupati/walikota. f. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. g. c. e. isu kedudukan DPRD dalam sistem desentralisasi dan demokrasi. mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian bupati/walikota dan/atau wakil bupati/wakil walikota kepada Menteri Dalam Negeri melalui gubernur untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan dan/atau pemberhentian. c. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota. UU No. g. Ketiga. dan kerja sama internasional di daerah. d. KPB: 2006). memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. Ketiga isu di atas sangat berkaitan dan disebutkan sebagai sumber dari problematika yang dihadapi DPRD saat ini (PLOD: 2006. tugas pokok dan fungsi serta hak-hak DPRD. 27/2009 Tugas dan Wewenang DPRD Kabupaten/Kota: Pasal 344 Tugas dan wewenang DPRD Provinsi Pasal 293 Pasal 344 (1) DPRD kabupaten/kota mempunyai tugas dan wewenang: a. . mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. ada beberapa isu-isu kritis yang perlu dicermati: pertama. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama. e. h.AAGN LGSP ARAH DAN AGENDA REFORMASI DPRD: Memperkuat Kedudukan dan Kewenangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dalam dua forum tersebut. 32 /2004 Paragraf Ketiga Tugas dan Wewenang Pasal 42 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang: a. APBD. d. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah. isu kapasitas dan performance DPRD dalam menjalankan kewenangan dan fungsinya itu. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. meminta laporan keterangan UU No. membentuk peraturan daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota.

i. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. j. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban bupati/walikota dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. b. i. k. (2) Hak interpelasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk meminta keterangan kepada bupati/walikota mengenai kebijakan pemerintah kabupaten/kota yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (4) Hak menyatakan pendapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan bupati/walikota atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di daerah disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. dan k. daerah. dan c. angket. mengajukan rancangan peraturan daerah kabupaten/kota. dan negara yang diduga bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah kabupaten/kota yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat. menyatakan pendapat. UU No. 27/2009 Hak DPRD Kabupaten/Kota Pasal 349 (1) DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a. (2) Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata tertib. Hak dan Kewajiban Anggota Paragraf 1 Hak Anggota Pasal 350 Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai hak: a. j.pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. (2) Selain tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). DPRD melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. interpelasi. h. . memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama dengan daerah lain atau dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.

d.Jumlah perda yang tidak dianulir oleh pemerintah pusat . memilih dan dipilih. f. e. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas. memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat. mengajukan pertanyaan. interpelasi. b. membela diri.b. menyampaikan usul dan pendapat. f. menaati tata tertib dan kode etik. melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menaati peraturan perundangundangan. g. dll . c. h. dan golongan. 27/2009 Kewajiban Anggota Pasal 351 Anggota DPRD kabupaten/kota mempunyai kewajiban: a. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat. menaati prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila. menyatakan pendapat Anggaran Pengawasan .Penggunaan hak angket.Peningkatan PAD. c. Terkait Fungsi Perwakilan UU No. memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya. d. menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala. imunitas. sumber PAD baru . protokoler. i.Jumlah anggota DPRD yang tidak terjerat korupsi.Jumlah sanksi yang dikeluarkan Badan kehormatan . dan keuangan dan administratif. mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.Jumlah perda yang dihasilkan (komposisi inisiatif dan yang diajukan eksekutif) . menjaga etika dan norma dalam hubungan kerja dengan lembaga lain dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. Indikator DPRD yang Berkualitas Nominal: Legislasi: . g. kelompok. mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. dan k. i. e.Efisiensi APBD . tindak pidana. h. j.

Dalam berbagai program dan proyek yang dikembangkan. dan lainlain Menjalankan/melaksanakan keputusan dan memberikan pelayanan publik Administratif-BirokratikTeknokratik Diseleksi/diangkat lewat sistem karir Pendekatan Pola Dipilih melalui Pemilu Rekrutmen Sumber: Diadaptasi dari Etzioni-Halevy (1983) ________________________________________ Apa yang perlu diperhatikan dalam penyusunan program peningkatan kapasitas DPRD? Pada umumnya lembaga-lembaga pengembang program tidak lebih dulu melakukan assessment yang memadai terhadap kapasitas DPRD untuk mengetahui status awal. profesional. gambaran. pengalaman. DPRD hampir selalu dijadikan obyek atau bahkan dapat dikatakan diproyekkan .. .Jumlah RDP Representasi Substansial Legislasi: Anggaran Pengawasan Representasi - Hubungan Antara DPRD dan Pemerintah Daerah Ada tiga cara pandang yang umum berkembang saat ini untuk melihat hubungan antara DPRD dan pemerintah daerah. dan dasar bagi penyusunan program pemberdayaan DPRD secara mapan. Cara padang yang bisa dikembangkan dan disarankan oleh modul ini adalah . Basis Perbedaan Sumberdaya antara DPRD dan Pemda Basis Kekuasaan Tugas/fungsi DPRD DPRD adalah representasi dan wadah aspirasi rakyat Membawa aspirasi publik dan membuat keputusan politik Politik dan Populis Birokrasi/Pemda Memiliki keahlian. informasi.

Berbagai kegiatan evaluasi atau assessment keparlemenan telah dilakukan dalam rangka pelaksanaan suatu program khusus pemberdayaan keparlemenan di daerah. Berbagai program peningkatan kapasitas. Font color: Auto Formatted: Font: +Body. Akibatnya. misalnya. Dengan kata lain. Kedua. karena DPRD lebih banyak dipandang sebagai pelaku politik dan merupakan wadah dimana para wakil partai politik bertemu untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan masing-masing. Walaupun banyak studi terhadap DPRD dilaksanakan sejak setelah UU No. yang banyak dilakukan oleh berbagai lembaga internasional yang bergerak dalam bidang politik pemerintahan. bahwa kegiatan-kegiatan pemberdayaan DPRD dirumuskan sendiri oleh para pelaksana proyek dan tidak mendasarkan pada kebutuhan riil DPRD. berbagai assessment terhadap DPRD dilakukan berdasarkan percieved needs dan bukan real needs dari lembaga-lembaga pelaksana program. Walaupun di negara asalnya lembaga-lembaga tersebut banyak melakukan kajian yang mendalam dan menyeluruh namun lembaga-lembaga itu tidak melakukan kegiatan studi dengan pendekatan yang sama di Indonesia. Studi tertentu lain. Aspek yang belum diperhatikan adalah aspek-aspek struktural-fungsional dalam pengembangan kapasitas DPRD. fungsi dan tugas pokok DPRD tidak belum dijadikan dasar dalam penentuan variabel dan indikator studi. Pola yang keempat adalah pendekatan programatis. ketika lembaga tertentu akan membuat proyek pelatihan legislative drafting. kaji tindak dan studi khusus yang berkaitan dengan pembangunan kapasitas DPRD hanya Formatted: Font: +Body. dan sebagainya. Font color: Auto Formatted: Font: +Body. maka studi terbatas dilaksanakan dalam hal legislative capacity building. Font color: Auto . Misalnya. berbagai studi kemudian dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas lembaga-lembaga pemerintahan di daerah dalam rangka desentralisasi dengan mengutamakan aspek teknis yang terdiri dari mkemampuan organisasional dan manajerial. maka pada alasan yang kedua. Studi semacam ini dilaksanakan semata-mata untuk memberikan justifikasi terhadap program. Lembaga-lembaga pemberdaya DPRD merasa mempunyai kemampuan dan kompetensi yang lebih tinggi untuk memberdayakan DPRD. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Kemampuan DPRD dalam melakukan check and balance terhadap pemda. Hal ini terjadi karena beberapa alasan. yang menyoroti sejauh mana kemampuan kelembagaan dari DPRD memberikan daya dukung dalam melakukan check and balance. partai politik pada tingkat lokal. Pertama. Pendekatan politis memberikan penekanan pada interaksi kekuasaan antara DPRD dengan dan pelaku politik lain seperti misalnya pemda. beberapa studi telah memberikan penekanan kepada aspek kelembagaan. organisasi massa (ormas) dan keagamaan (ormas). sangat dipentingkan. misalnya. Seringkali didapatkan. Ketiga. dalam banyak aspek memberikan penekanan penting pada kemampuan organisasional dan manajerial DPRD dan sekretariatnya.Kapasitas dan kapabilitas anggota-anggota DPRD untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya belum menjadi dasar dalam evaluasi kelembagaan dan pengembangan program. banyak studi dan kajian memberikan penekanan berlebihan pada aspek politis dari lembaga perwakilan ini. 22/1999 tentang Otonomi Daerah dikeluarkan maupun setelah direvisi menjadi UU No. Font color: Auto Formatted: Font: +Body. Kkarena melihat DPRD mempunyai posisi politik lebih kuat dibandingkan dengan pemerintah.

sedikit memberi perhatian terhadap kompleksitas struktural dan fungsional dari lembaga ini. Secara struktural, pemahaman terhadap kapasitas DPRD dapat dilihat dalam konteks struktur internal, yaitu yang berkenaan dengan keseluruhan bagianbagian dalam dewan yang saling berhubungan dan konteks struktur yang lebih luas yang menempatkan DPRD sebagai bagian dari struktur politik lokal. Struktur internal dapat dikategorikan dalam dua bagian, yaitu struktur yang diatur dalam peraturan perundang-undangan sebagai alat kelengkapan dewan dan struktur internal yang ada tetapi tidak ditentukan sebagai alat kelengkapan dewan. Struktur yang lebih umum menempatkan DPRD dalam hubungannya dengan pemda serta berbagai kekuatan politik lain yang secara langsung berpengaruh terhadap proses politik yang terjadi dalam DPRD dan implementasi berbagai kebijakan publik yang dibuat oleh DPRD. Analisis struktural terhadap DPRD meliputi analisis hubungan antara alat-alat kelengkapan dewan yang terdiri dari pimpinan, komisi-komisi, dan panitiapanitiabadan-badan. Berbagai studi yang telah dilakukan hampir tidak ada yang secara komprehensif mengevaluasi kapasitas dari alat kelengkapan dewan itu. Hala yang lebih jarang dilakukan adalah analisis terhadap struktur internal yang ada pada fraksi-fraksi dan sekretariat dewan (setwan) yang bukan merupakan alat kelengkapan dewan, tetapi keberadaan dan kapasitas mereka sangat berpengaruh terhadap kinerja dewan secara keseluruhannya. Faktor luar yang paling diperhatikan oleh dewan adalah pemda. Negosiasi dengan pemda sangat vital dipentingkan oleh bagi DPRD karena ia memberikan sumber daya yang diperlukan DPRD dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya. Selain itu, dan bahwa pemda harus diperhitungkan oleh DPRD karena ia akan menjadi pelaksana dari berbagai kebijakan yang dirumuskan. Kenyataan selanjutnya adalah fraksi-fraksi merupakan wakil dari partai-partai politik yang di dalamnya juga tergabung dan organisasi-organisasi massa yang berafiliasi dengannya. Kondisi ini mengharuskan adanya pemahaman yang lebih mendalam dari organisasi massa tersebut untuk mengetahui jalur-jalur negosiasi dan lobby, sehingga berbagai kepentingan mereka menjadi bagian dari preferensi kebijakan publik yang dihasilkan dewan. Pola yang sama perlu pula dilakukan untuk mengkaji hubungan antara DPRD dengan dan berbagai asosiasi sosial dan profesional, organisasi-organisasi masyarakat sipil serta media lokal yang dengan berbagai tindakannya mereka mampu mempengaruhi proses politik yang berlangsung dalam dewan. Dalam konteks perwakilan yang lebih luas, DPRD pun seringkali mementingkan pendapat dan pilihan masyarakat karena mereka bermaksud memenuhi berbagai preferensi publik, terutama dalam perumusan kebijakan publik yang menyangkut masyarakat luas. Hubungan ini signifikan bagi dewan dalam upaya memenangkan dukungan dan kepercayaan publik. Analisis fungsional yang mengkaji tentang kapasitas DPRD dalam melakukan fungsi-fungsi pembuatan peraturan perundang-undangan daerah, penyusunan dan penentuan APBD, pengawasan pelaksanaan berbagai kebijakan publik yang dirumuskan DPRD serta perwakilan berbagai kepentingan sosial dan politik pun hampir tidak dilakukan dalam banyak penelitian atau kaji publik. Terlebih jarang adalah assessment terhadap kapasitas setwan dalam memberikan berbagai pelayanan kedewanan agar DPRD mampu melaksanakan

berbagai fungsinya secara efektif. Berkaitan dengan hal ini, fungsi pemberdayaan DPRD terhadap setwan pun kiranya layak untuk dikaji lebih lanjut, sebab DPRD seringkali menuntut berbagai pelayanan sr dari setwan tetapi enggan untuk memperjuangkan sumber daya yang memadai agar sekretariat mampu melaksanakan berbagai fungsi dan tugasnya secara profesional. Lebih lanjut, dalam konteks hubungan DPRD dengan pelaku-pelaku tata pemerintahan dari luar, kiranya juga perlu untuk menelusuri kapasitas DPRD dalam memfasilitasi pelaksanaan berbagai kebijakan publik yang ada, memberikan contoh yang baik bagi praktek-praktek pemerintahan demokratis serta menjadi pelaku dalam pewujudan tata pemerintahan daerah yang demokratis. Seluruh kerangka pemikiran dasar tersebut di atas adalah bingkai dari rangkaian studi dan penulisan dari buku ini serta ketiga buku lain yang bersifat lebih khusus. Buku yang pertama ini mendudukkan keberadaan dan kompleksitas struktural dan fungsional dari DPRD. sSementara itu, ketiga buku yang berikutnya menjabarkan sistem, prosedur, fungsi dan tugas DPRD dalam pembuatan peraturan perundang-undangan, penentuan anggaran daerah dan pengawasan politik. Dengan demikian, diharapkan bahwa keempat buku serial ini dapat memberikan dasar yang memadai untuk berbagai program dan proyek dalam bidang peningkatan kapasitas keparlemenan di daerah. Apa dampak yang perlu menjadi orientasi program? Walaupun berbagai program dan proyek dilaksanakan pada tingkat daerah dan itu pun dengan sasaran utama DPRD, namun dampak yang segera dapat dilihat mempunyai cakupan yang relatif luas. Selain hasil-hasil dan dampak langsung yang akan dapat dirasakan oleh DPRD dan berbagai asosiasinya, berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam proyek ini, terutama yang berkenaan dengan pembuatan peraturan perundang-undangan dan pengawasan, juga akan mempunyai dampak langsung pada perbaikan tata pemerintahan di daerah. Namun demikian, karena DPRD bertekad untuk selalu terlibat aktif dalam berbagai dialog kebijakan dengan lembaga-lembaga tata pemerintahan tingkat nasional maka berbagai kegiatan proyek di daerah pun diharapkan mempunyai dampak langsung terhadap perumusan berbagai kebijakan publik tingkat nasional yang yang akomodatif terhadap kompleksitas realitas daerah. Dampak langsung terhadap DPRD dan asosiasinya Dengan kemampuan perumusan peraturan perundang-undangan yang lebih baik, maka berbagai perda dan kebijakan publik daerah dapat dirumuskan dan disinkronkan satu terhadap yang lain serta memenuhi kepentingan-kepentingan masyarakat luas. Berbagai peraturan perundang-undangan nasional yang terkait dengan desentralisasi dan otonomi daerah pun dapat dijabarkan dalam berbagai perda yang relevan dengan waktu yang lebih singkat, sesuai dengan tata urutan peraturan perundang-undangan. Konflik kebijakan antar daerah, yang biasanya terjadi antara kota dengan kabupaten yang berdekatan, pun diharapkan dapat diselesaikan dengan proses yang demokratis dan sesuai dengan prosedur.

Pemahaman dan penguasaan yang lebih baik terhadap program-program pembangunan dan pemerintahan memungkinkan DPRD melaksanakan fungsi penganggaran yang benar dan memenuhi harapan masyarakat. Ditambah dengan berbagai peningkatan kemampuan analisis terhadap mekanisme penganggaran yang biasanya dilaksanakan oleh pihak pemerintah sendiri, DPRD akan berada dalam posisi yang lebih konstruktif dalam merumuskan kebijakan-kebijakan penganggaran. Berbagai simulasi penganggaran yang dilaksanakan terkemudian akan memungkinkan DPRD menyampaikan alternatif pembanding terhadap kebijakan dan usulan APBD yang diusulkan oleh pemerintah. Pelaksanaan fungsi pembuatan peraturan perundang-undangan (legislasi) dan fungsiu penganggaran memungkinkan DPRD memiliki dasar yang kuat untuk melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan. Ukuran-ukuran dan mekanisme-mekanisme pengawasan pun menjadi lebih mapan karena mendasarkan pada kriteria yang jelas dan tidak mendasarkan pada kepentingan-kepentingan politik semata. DPRD pun akan mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk berinteraksi dengan masyarakat melalui dengar pendapat yang dilaksanakan di dewan maupun melalui berbagai media lain yang diciptakan. Para anggota DPRD mempunyai kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka bukan hanya wakil partai politik tetapi juga benar-benar merupakan wakil rakyat. Kemampuan memfasilitasi dialog antara masyarakat dengan dan pemerintah yang dilaksanakan oleh DPRD akan memperkuat posisinya menjadikannya lebih dipercaya sebagai kunci dari lembaga perwakilan. Setwan pun akan mendapatkan manfaat yang sangat besar dalam program ini, yaitu dengan berbagai pelatihan yang dilakukan untuk para stafnya maupun program-program lain yang dapat meningkatkan peran strategis dari setwan. Upayaupaya pengembangan setwan akan memungkinkannya melaksanakan fungsi-fungsi pelayanan kedewanan secara profesional. Asosiasi DPRD akan mendapatkan manfaat utama meliputi aspek administrasi kesekretariatan dan aspek fasilitator dialog kebijakan regional, nasional dan internasional. Program peningkatan kapasitas DPRD diharapkan menghasilkan dampak untuk asosiasi sebagai berikut: Sekretariat Aasosiasi DPRD yang kuat dan mampu memberikan pelayanan-pelayanan strategis bagi para anggotanya merupakan dampak langsung yang sangat diharapkan. Pelayanan yang paling utama adalah mobilisasi sumber daya yang dibutuhkan untuk pengembangan kapasitas DPRD dan memfasilitasi dialog kebijakan antar anggota dengan lembaga-lembaga tata pemerintahan terkait di tingkat pusat dan daerah. Selain itu, dalam beberapa tahun mendatang diharapkan Aasosiasi DPRD mampu untuk mendirikan sekretariat yang efektif dan efisien dengan dukungan pendanaan yang memadai dari para anggotanya. Dampak terhadap perbaikan tata pemerintahan di daerah Pada tingkat tata pemerintahan di daerah, Aasosiasi DPRD dapat mendesakkan perwujudan mengharapkan bahwa prinsip-prinsip tata pemerintahan daerah yang baik dapat segera diwujudkan melalui berbagai sosialisasi dan pelembagaan di semua lembaga tata pemerintahan. Dengan pelaksanaan seluruh

maka DPRD akan menciptakan perangkat dasar dari pemerintahan kota yang mementingkan warga. Pada skala nasional. Asosiasi DPRD dapat hendak memberikan berbagai masukan penting bagi revisi puluhan berbagai peraturan perundang-undangan yang berkenaan dengan pemerintahan di daerah. agar maka tata pemerintahan nasional akan mampu untuk dikondisikan agar secara terus-menerus melibatkan aktor-aktor pemerintahan di daerah dalam merumuskan berbagai bentuk kebijakan publik. Aasosiasi DPRD juga dapat mendesakkan.fungsi dan tugas kedewanan sebagaimana mestinya. DPRD pada gilirannya akan harus mampu menjadi simpul dari berbagai dialog publik yang melibatkan berbagai aktor yang berkompeten. . melalui mengharapkan bahwa dengan partisipasinya dalam berbagai dialog politik dan kebijakan nasional.

DPRD pun diharuskan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai prasyarat baru dalam tata demokrasi. Dengan adanya wWakil-wakil partai politik di parlemen pemenang pemilu kini juga yang lebih majemuk dan . paling tidak untuk membangun Dengan antusiasme pemilih dalam pemilu yang yang sedemikian besar. Praktek-praktek korupsi. dan nepotisme yang mewarnai hampir seluruh proses politik sempat menjebak sistem politik nasional yang tersusun selama dalam suatu format birokrasi otoriter. Dinamika demokrasi Indonesia beberapa tahun terakhir Awal era reformasi politik di Indonesia ditandai oleh revisi terhadap Dengan direvisinya tiga UU politik yang mengatur tentang pemilu. 2. DPRD perlu mengembangkan diri menjadi model lembaga demokrasi dan sekaligus pengarusutamaan nilai-nilai demokrasi terhadap berbagai lembaga tata pemerintahan lain yang ada di daerah. Selama rezim Orde Baru. Sebagai lembaga perwakilan rakyat. kini tumbuh semarak. lebih dari 140 juta pemilih telah memberikan suara mereka dalam Pemilu 1999 yang langsung. Sebagai pusat pilar demokrasi di daerah. Sejak reformasi 1998. dan 2008-2009) untuk menyesuaikan dengan dinamika politik yang ada. seluruh lembaga dalam tata pemerintahan berada di bawah kendali pemerintah yang didukung oleh ABRI dan Golkar serta partai partai politik hasil fusi. 2003. reformasi menyeluruh menuju tata pemerintahan yang lebih baik dan demokratis telah diangkat menjadi agenda dan tekad nasional. yaitu dengan untuk melakukan pembaharuan lembaga-lembaga perwakilan rakyat agar yang lebih demokratis dan dipercaya oleh rakyat dibandingkan dengan periode Orde Baru. Jumlah partai politik yang sebelumnya dibatasi. Gerakan-gerakan politik yang dimotori oleh berbagai organisasi masyarakat sipil telah berhasil dalam menanamkan wacana demokratisasi dan partisipasi politik masyarakat yang nyata dan luas. Langkah ini terbukti efektif. demokratis. Bersamaan dengan perkembangan politik ini. Reformasi Keterwakilan dan Pengaruhnya terhadap Kapasitas Keparlemenan Agung Djojosoekarto Kerangka politik demokrasi di Indonesia telah berubah dan upaya pembaharuan sistem keterwakilan tengah berlangsung. Sedemikan kuatnya budaya politik birokrasi otoriter dan keinginan pemerintah untuk mengendalikan seluruh tata pemerintahan. Upaya-upaya nasional untuk melakukan perubahan mendasar dalam pemerintahan telah memuncak dengan dilengserkannya kepemimpinan politik Orde Baru yang telah berkuasa selama lebih dari tiga dasawarsa. Cara ini dipilih sebagai Indonesia telah memulai langkah dasar yang paling awal dari reformasi. kolusi. saat ini tiga UU Politik tersebut telah diperbaharui sebanyak tiga kali (1999. DPR.1. Pembaruan dengan cara semacam ini dilakukan secara terus-menerus. dan DPRD. DPD.Bab II Arah Demokrasi Baru. lembaga-lembaga perwakilan rakyat tersebut .. dan bebas. partai politik dan susunan dan kedudukan MPR. sehingga kepemimpinan nasional di bawah Orde Baru gagal untuk melakukan pembaharuan dan konsolidasi tata pemerintahan.

terlebih setelah keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengakibatkan penentuan calon terpilih melalui suara terbanyak. Sekalipun DPR/DPRD dipilih secara langsung dan menghasilkan anggota yang lebih bermutu. . tetapi tetapi tidak sepenuhnya. /1999 ini pada dasarnya memberikan kesempatan bagi rakyat untuk memilih langsung orang-orang yang mereka percaya sebagai wakil rakyat yang handal. dan 2009 sebagai bagian dari pemenuhan tuntutan pembaharuan tata pemerintahan di Indonesia. 2004. Pengenalan terhadap ketokohan saja dinilai tidak cukup. Ketiga. Sistem perwakilan saat ini yang akan datang memang memberikan tekanan bahwa anggota dewanDPRD adalah wakil rakyat. yaitu dengan diterbitkannya UU No. pengenalan pemilih terhadap kapasitas keparlemenan dari para calon wakil yang mencalonkan diri. Pertama. kesiapan para aktor tata pemerintahan lainnya dalam proses politik lokal. Walaupun seringkali dikritik karena tidak menerapkan sistem distrik murni dan masih tingginya pengaruh partai politik. tetapi jika masyarakat sipil dan publik tidak mendesakkan agendaagenda daerah secara terstruktur dan sistematis maka DPR/DPRD akan tidak mempunyai tantangan dan tanggungjawab yang berarti. Anggota DPRD dewan di masa yang akan datang diharuskan untuk menjadi wakil rakyat dan wakil partai politik secara lebih berimbang. seperti lewat sistem pemilihan dengan suara terbanyak.diharapkan tetap dapat efektif mewakili kepentingan-kepentingan rakyat dan partai politik secara luas. 12/2003UU No. rakyat mendapatkan kesempatan untuk melakukan pemilihan langsung terhadap wakil-wakil mereka di DPRD. Kedua. 10/2008 yang digunakan pada pemilu 2009. Apa konsekuensi pemilu langsung? Pemilu demokratis sejak pertama dalam era reformasi telah berlangsung tiga kali.mana dan fotonya tercantum dalam kertas suara. UU Pemilu 2008 UU No. mutu keterwakilan tergantung pada beberapa faktor penentu. pada pemilu 2004 dan 2009 juga dikenalkan pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai representasi masyarakat dari setiap daerah di tingkat pusat. Terpenting untuk dihindarkan adalah sisi negatif kedekatan emosional yang terlembaga antara anggota DPRD dewan dengan . pemenuhan berbagai daya dukung bagi DPR/DPRD yang baru. Namun demikian. Partai politik menentukan wakil-wakil yang akan didudukkan dalam lembaga pemerintahan dan perwakilan. Dengan adanya revisi terhadap UU tentang pemilu. tetapi jika mereka tidak mendapatkan fasilitas yang memadai untuk menjalankan fungsi dan tugasnya maka DPR/DPRD dengan seluruh alat kelengkapan dan struktur pendukungnya tidak akan mempunyai kapasitas dan kinerja yang optimum. yaitu pada dilaksanakan pada bulan Juni 1999. Sistem pemilihan yang digunakan Pemilu ini masih dilakukan dengan sistem proporsional dengan daftar terbuka yang dikombinasikan dengan pembagian daerah pemilihan (dapil). Selain memilih wakil rakyat dalam DPR dan DPRD. karena tokoh yang terkenal seringkali tidak mempunyai kapasitas kerja sebagai anggota dewan sesuai dengan yang diharapkan oleh pemilih dan pemda sebagai mitra kerjanya. Bagaimanapun baiknya mutu perseorangan dari anggota DPRD yang dipilih. Jumlah partai peserta pemilu juga berkembang dan beragamPemilu tersebut diikuti oleh 48 partai politik.

Mereka tidak siap untuk menata kembali perimbangan dan pembagian kekuasaan dengan eksekutif. dan nepotisme. Dalam penerapannya di tingkat daerah. kolusi. DPRD dalam tata keterwakilan baru . Prioritasisasi di DPRD harus dilakukan dengan pendekatan yang memungkinkan DPRD menghasilkan produkproduk dewan yang mewujudkan check and balance lebih bermutu. Oleh karena itu. kecuali jika terjadi pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip konstitusional. Dalam konteks baru seperti ini. Berbagai partai politik di daerah terlihat telah mendapatkan delegasi kewenangan yang begitu besar dari dewan pimpinan pusat (DPP) mereka masing-masing. DPRD harus mengembangkan program peningkatan kapasitas dengan struktur dan sistematika baru. Jika partai politik hanya berfungsi sebagai pengelola politik perwakilan. Dalam menghadapi realitas politik yang baru seperti ini.1. Mungkin yang lebih sulit adalah ketika ada menata hubungan organisasi kemasyarakatan tertentu yang merupakan afiliasi dari partai politik . termasuk dalam pemilihan calon legislator.pemilihnya yang memungkinkan bersemainya praktek politik diskriminasi. DPRD tampaknya tidak lagi mungkin untuk menjatuhkan kepala daerah terpilih melalui mekanisme pertanggungjawaban tahunan. karena ia hanya akan memberikan dasar-dasarnya saja. kepala daerah/pemerintahan daerah yang dipilih langsung oleh rakyat juga akan mempunyai legitimasi politik yang sangat kuat. Ini memungkinkan Ppartai politik di daerah mulai melakukan fungsi rekrutmen secara profesional dan. DPRD tentu dikehendaki untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan pendekatan yang berbeda. Beberapa partai politik juga menyatakan bahwa mereka sedang mempersiapkan program kepartaian yang lebih substantif sebagai landasan kampanye dan rekrutmen politik. Perubahan sistem keterwakilan Dalam sistem pemerintahan presidensial. Partai politik harus ditransformasikan sebagai lembaga agregasi kepentingan publik yang mendukung DPRD. 2. Pendekatan yang mendasarkan pada proyek pelatihan tidak akan cukupsesuai. Beberapa DPRD terlihat gamang menghadapi perkembangan politik yang baru ini. DPRD harus bekerja bersama-sama dengan partai politik di daerah. terlebih jika partai tersebut dominan di parlemen dan menjadi pendukung dari pemerintahpemenang pemilu. Seringkali anggota DPRD dewan mengatakan bahwa mereka wajib memperjuangkan kepentingan konstituen dan pemilihnya. korupsi. maka partai tidak akan mendapatkan dukungan riil dalam proses politik dan dengan sendirinya akan terpinggirkan dalam pemilu yang berikutnya. 2. warga mana memilih anggota DPRD dewan yang mana. Tetapi pada kenyataannya tidak pernah ada yang tahu. upaya untuk mendudukkan bahwa anggota DPRD dewan adalah wakil seluruh rakyat seperti yang telah dilakukan oleh beberapa DPRD di daerah layak untuk dilanjutkan dan dilembagakan. Perubahan sistem dan politik perwakilan seperti tersebut di atas akan menghendaki strategi peningkatan kapasitas dan kinerja DPRD yang berbeda.3. lembaga legislatif tidak dalam posisi untuk menjatuhkan pemerintah eksekutif. yang sesuai dengan realitas tersebut.

. Bagaimana menyikapi kekuatan politik riil dari birokrasi? DPRD di berbagai daerah ternyata menunjukkan tingkat ketergantungan yang relatif tinggi terhadap birokrasi. karena birokrasi sebelumnyalama ini identik dengan kekuasaan partai politik tunggal yang mempunyai diskresi kekuasaan yang sangat besar. atau hampir tanpa batas dan kendali. Walaupun pejabat-pejabat politik baru telah dan akan dipilih. Perlawanan harus pula dilakukan terhadap struktur domestik dan asing yang membantunya. Sejalan dengan perkembangan politik dewasa ini. birokrasi telah mengalami perubahan paradigma yang cukup mendasar. Pandangan ini tentu berbeda dengan pandangan para politisi di . pPendekatan restrukturisasi terhadap masing-masing lembaga pemerintah diyakini dapat mendukung proses pembangunan demi pengentasan kemiskinan. Ada upaya-upaya yang sangat jelas dari rezim yang lebih demokratis sekarang ini untuk mengendalikan birokrasi. Keinginan pemerintah untuk melakukan berbagai perbaikan dalam birokrasi tidak lepas dari berbagai rekomendasi kelompok developmentalist yang memandang bahwa birokrasi dapat memperbaiki diri dengan memperkenalkan metode perencanaan pembangunan yang baru yang mampu merespon dan melembagakan dinamika masyarakat. Apapun metode yang dipilih untuk memperbaharui birokrasi. keberadaan birokrasi tetap kuat dan tidak sepenuhnya ditentukan oleh perubahan konstruksi politik yang ada. yaitu dan jika lembaga-lembaga pemerintah dapat bekerja lintas sektoral dan terpadu sehingga maka masalah-masalah penting dan kompleks akan dapat diatasi bersama. penting kiranya membangun realisme bahwa mungkin mudah untuk menggantikan sistem politik. Maka.Bagaimana konstelasi dan hubungan politik antara DPRD dan pemda? Indonesia telah memasuki tahap lanjutan dalam proses demokratisasi. melainkan juga sebagai sub sistem politik di mana koalisi mewujud untuk mencapai pilihan-pilihan kebijakan tertentu yang terikat dan dimana ada hubunganhubungan pada struktur-struktur politik yang lebih luas dalam masyarakat. Maka. Birokrasi adalah sistem kekaryaan manajerial yang ditata secara hirarkis dimana orang dipekerjakan untuk mendapatkan upah atau gaji dari pemda. Dalam struktur politik baru ini. seperti ditunjukkan oleh pemilu langsung dan pembentukan pemerintahan yang lebih memenuhi prinsip keterwakilan. sejauh kekuatan politik riil dari pelaku tata pemerintahan ini masih dominan maka pengembangan DPRD harus menghadapi proses yang lebih berat. Dengan memandang birokrasi sebagai bagian dari sistem politik. para pemikir kritis lokal yang relatif radikal menyatakan bahwa dominasi birokrasi yang telah gagal dalam melaksanakan pembangunan ini harus dilawan. Perlu diperhatikan adalah bahwa pada kenyataannya birokrasi di daerah yang sekarang adalah kelanjutan dari rezim bureaucratic authoritarian dari masa Orde Baru. Ini tentu saja bukan upaya yang mudah dan bahkan dapat dikatakan sangat sulit. perhatian politik kritis adalah pada interaksi kepemimpinan politik dan pelayanan umum. struktur birokrasi haruslah tidak dipandang sebagai instrumen administrasi teknis saja. Menanggapi kegagalan birokrasi lokal dalam melaksanakan berbagai program pembangunan. tapi proses dari pembaharuan birokrasi membutuhkan waktu yang lebih lama.

yang dimaksud seringkali adalah sektor publik. Pada perkembangan selanjutnya. Kesenjangan antara birokrasi tingkat atas dan tingkat bawah sangat jauh. Ketika orang mengatakan birokrasi. birokrasi diarahkan untuk memasukkan teknik teknik manajemen sektor swasta. berbagai inisiatif internasional yang mencoba untuk mendukung upaya pembaharuan birokrasi ada pula yang bersifat lebih khusus. Sifat-sifatnya adalah: wajib. terkait dengan hukum. Walaupun secara teoritis tuntutan ini tidak dapat ditawar dan harus segera diupayakan namun pelembagaannya membutuhkan kehati-hatian tersendiri. Desentralisasi ternyata tidak disertai dengan pengalihan fungsi dari sektor pemerintah ke sektor LSM atau swasta. dan akuntabilitas publik. Dalam kaitannya dengan peningkatan kapasitas DPRD. pembaharuan birokrasi tetap harus mengacu pada tujuan pokoknya. Birokrasi menengah yang jumlahnya kecil menjadi bumper terhadap kebijakankebijakan tingkat atas dan menjadi pelaksana kegiatan-kegiatan yang bersifat khusus. . sifat dari struktur dan prosedur administratif adalah fokus lain yang dapat menunjukkan tidak berfungsinya birokrasi pembangunan. Struktur birokrasi menengah di daerah pada umumnya relatif lemah dan ukurannya pun kecil. Pertama adalah kesiapan birokrasi untuk dikembangkan menjadi birokrasi profesional. DPRD sendiri seringkali harus terjebak pada arah politik yang berbeda dari ketiga pilihan politis tersebut. karena mereka sangat tergantung pada birokrasi di daerah. dalam hal profil sumber daya manusia. yaitu rasionalisasi dari efisiensi kolektif yang memungkinkan birokrasi mampu mencapai efisiensi paling tinggi . Dalam berbagai pola hubungan kerja dan kerjasama antara DPRD dan birokrasi muncul gejala the economy of affection yang berakar dari kekerabatan. misalnya dalam hal pembelanjaan oleh pemerintah. Di satu sisi. Proses pengambilan keputusan menjadi sentralistik dan paternalistik. Ketiga. terdapat beberapa permasalahan yang penting untuk dibahas berkaitan dengan kekuatan politik riil dari birokrasi. DPRD sering dipaksa untuk masuk dalam kerangka kerja seperti ini. birokrasi dengan jumlah besar telah memberikan dukungan kepada partai yang berkuasa (Golkar). telah mempengaruhi instrumentalitas rasional untuk menciptakan pola-pola birokrasi yang menyimpang. Hal ini mungkin disebabkan karena keinginan birokrasi untuk tetap mengendalikan semua proses tata pemerintahan di daerah. Isu-isu yang berkenaan dengan budaya paternalistik yang berorientasi pada budaya kerjaan (terutama Jawa) yang sebenarnya merupakan elemen-elemen non birokratis lingkungan politik. buruk dalam komunikasi. bagaimana sebenarnya pergeseran politik birokrasi? Ketika Orde Baru berkuasa. Kedua. Dalam paradigma manajerialisme. DPRD pun ikut mendukung kritik terhadap birokrasi yang menyatakan lembaga ini penuh kerahasiaan. yaitu dengan memberikan kesempatan pada pemerintah untuk memainkan peranan ekonomis yang lebih luas seraya mempromosikan berbagai kerjasama dengan pihak swasta yang antara lain dapat mengambil bentuk contracting-out untuk berbagai jasa pelayanan publik. penundaan operasi dan jarak antara pelayan publik dan klien mereka. Birokrasi juga merupakan cara untuk mengatakan menempatkan administrasi publik sesuai dengan tempatnya dalam negara. Ketiga opsi politis tersebut mempunyai dampak yang berbeda-beda antar daerah dalam kerangka pemberdayaan DPRD.DPRD yang menginginkan perubahan yang lebih luwes atau soft namun mendasar.

pembahasan dan pengkajian langsung perlu diarahkan DPRD pada tema-tema yang relevan dan mudah untuk diikuti. Tata pemerintahan demokratis akan terwujud jika pra kondisi politik. Dampak dan jebakan pembodohan (massification) tampaknya sangat dalam dan kuat. Melalui mekanisme dan prosedur pengawasannya. apakah birokrasi mendasarkan pada budaya religius institutional atau mendasarkan pada budaya sekuler instrumental atau (lebih kurang menguntungkan) pada budaya religius instrumental. Para politisi. Tata pemerintahan yang demokratis bukanlah semata-mata urusan politis melainkan juga urusan ekonomis dan sosial. yang dalam jangka panjang dapat menimbulkan salah orientasi atau bahkan gejala hipokrit. etnisitas dan agama yang mempengaruhi organisasi. 2. Agar DPRD mampu mengembangkan kapasitasnya. Keterjangkauan dan kesetaraan hukum. baik pada jalur pendidikan formal maupun pembelajaran publik secara informal. disebabkan antara lain oleh pendidikan politik yang kurang mencukupi. DPRD juga harus mampu menjaga akuntabilitas dan transparansi dari para pembuat dan pelaksana keputusan tersebut. Oleh karenanya. ekonomi. Kesulitan ini. Tata pemerintahan demokratis dipahami pada kerangka politik atau pemenuhan hak-hak ekonomis dasar warga. dan sosial dapat dipenuhi. baik di lembaga legislatif maupun eksekutif. Bagaimana DPRD mengelola pola-pola distribusi ulang sumber daya dan keadilan sosial? Permasalahan tentang prasyarat ekonomis tata pemerintahan demokratis adalah pada tingkat kebijakan ekonomi. DPRD perlu dibekali dengan pemahaman .kesukuan. sehingga para pelaku tata pemerintahan membutuhkan fasilitasi lebih banyak lagi untuk membangun wacana baru. penghapusan diskriminasi dan minoritas. DPRD harus mampu melembagakan desentralisasi kekuasaan untuk menjamin partisipasi rakyat dalam pembuatan keputusan. Kondisi ini pada dasarnya terwujud ketika lembagalembaga tata pemerintahan tanggap terhadap aspirasi dan kepentingan seluruh warga dan desentralisasi diwujudkan secara konsisten berdasarkan konstitusi demi partisipasi warga yang lebih besar.4. Pra kondisi politik yang perlu diperhitungkan oleh DPRD Bagaimana DPRD menyikapi tata pemerintahan yang demokratis? Tata pemerintahan yang demokratis adalah salah satu bingkai penting untuk peningkatan kapasitas DPRD. serta pengembangan perdamaian dan harmoni sosial pun harus tidak luput dari perhatian DPRD. maka DPRD harus mampu menarik resultante antara kondisi politik dan sosial. Berkaitan dengan pengaruh budaya terhadap birokrasi. dan masyarakat sipil pada umumnya sulit diajak untuk mengembangkan konteks tata pemerintahan demokratis dengan kerangka tersebut. di Indonesia kini tengah terjadi transisi yang membingungkan dan sering kehilangan orientasi. Gejala ini tampaknya masih terus berlangsung dalam konteks hubungan antara DPRD dan birokrasi di daerah. diakui. media massa.

sehingga pemerintahan di daerah tidak mampu untuk mengelola. Pra kondisi ketiga adalah keadilan jangkauan terhadap sumber daya keuangan. Para politisi di DPRD pada umumnya menyambut gembira desentralisasi karena daerah diberikan kewenangan lebih besar untuk mengelola aset daerah. modal dan tanah bagi para pelaku ekonomi di daerah. provinsi. sehingga ketergantungan terhadap pemda tidak dapat dihindari. Prasyarat ekonomis bagi tata pemerintahan demokratis yang pertama adalah pemberian dan ketercukupan sumber daya atau anggaran untuk bidang-bidang prioritas sosial. Kondisi seperti ini diperburuk dengan penguasaan atas tanah oleh pelaku-pelaku atau pemilik-pemilik modal nasional atau yang berlokasi di Jakarta. Warga di daerah pada umumnya hanya menguasai dan mengelola sumber daya tanah dalam luasan yang relatif terbatas. Memang ada kecenderungan di mana daerah mengutamakan pemenuhan PAD dengan pengelolaan sumber daya alam yang kurang hati-hati tetapi ini dilakukan karena pemerintahan di daerah tidak melihat kemungkinan lain. DPRD di berbagai daerah telah mencoba untuk mengembangkan kapasitas dan cara kerja yang mereka anggap sesuai dengan realitas masing-masing. warga dinilai tidak akan mampu berpartisipasi secara riil dalam berbagai proses politik. Aset-aset ekonomi besar masih dikuasai pengelolaannya oleh pemerintah nasional. termasuk di DPRD. dalam konteks regulasi. berbagai lembaga keuangan cenderung mengalirkan dana kembali ke pusat sehingga para pelaku perekonomian di daerah tidak mempunyai akses memadai terhadap modal. Para anggotaDPRD yang terlibat dalam diskusi pada umumnya menyatakan bahwa desentralisasi belum mencakup aspek perekonomian. telah diatur urusan wajib dan urusan pilihan Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . Masyarakat selama ini dinilai tidak mampu berpartisipasi dalam politik karena: (i) Lebih berkonsentrasi pada pekerjaan sebagai buruh (seperti masyarakat buruh di Kalimantan Timur). Dalam PP ini. 32/2004. serta formula dalam pembagian urusan antara pemerintah pusat.menyeluruh baik pada kebijakan ekonomi makro maupun pemenuhan aspek-aspek ekonomi mikro yang mendasar. Tetapi mereka pun menyampaikan bahwa kondisi keuangan di daerah masih jauh dari mencukupi untuk memenuhi pembiayaan daerah. Mekanisme melalui DAU pun dipandang masih kurang menjamin pemenuhan kebutuhan anggaran. Dalam kondisi seperti ini DPRD tidak mampu berkembang secara optimal. atau (iii) Telah mempunyai kesadaran politik yang lebih tinggi tetapi tetap apatis terhadap sistem yang ada atau memilih jalur politik alternatif (seperti terjadi di kota pelajar Yogyakarta). Keterbatasan bagi daerah ini. 38/2007 sebagai turunan dari UU No. Tanpa kekuatan atau daya ekonomis dasar. dapat dilihat melalui formula yang diatur dalam UU 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. Pra kondisi ekonomis yang kedua adalah perpajakan progresif dan adil serta subsidi yang terjamin bagi daerah. Bahkan. (ii) Baru mulai mengenal kehidupan dan proses politik riil (seperti terjadi di Sulawesi Selatan). Dengan kondisi sosio ekonomi yang berbeda. dan kabupaten/kota yang diatur dalam PP No. Sentralisasi juga terjadi pada sektor keuangan yang menguasai permodalan di daerah. Kondisi seperti ini menjadikan DPRD tidak mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat yang beraneka ragam sekalipun mereka memahaminya. Aspek ini dikatakan penting untuk memberdayakan warga secara ekonomis. Berbagai peraturan yang diterapkan pada sektor-sektor tertentu cenderung mendua.

Not Bold . Sebagai contoh. Praktis. Hal ini seringkali telah Ini sesuai dengan permasalahan yang terjadi sejak pada proses perumusan dan persetujuan DPRD terhadap tentang APBD yang diajukan pemda. tidaklah mungkin para pelaku ekonomi menjadi anggota DPRD sekaligus. DPRD tidak dituntut untuk melakukan tindak lanjut sistematis antara lain disebabkan karakteristik tuntutan masyarakat yang bersifat teknis.5. prosedur. DPRD tidak dapat merumuskan perda inisiatif karena masyarakat sipil berpartisipasi baru sebatas demonstrasi dan memprotes pelaksanaan kebijakan tertentu. sejak awal memang sudah terdapat keterbatasan dalam rangka menjamin kepentingan nasional dalam proses pembangunan di semua daerah. dengan menanggapi berbagai kegiatan demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Para anggota dewan pun kemudian sibuk. perangkapan profesi sebagai pengusaha dan anggota DPRD cenderung berdampak negatif karena. Singkatnya. 2. Anggota DPRD atau alat kelengkapan DPRD cenderung bertindak sebagai fasilitator antara pemda dan masyarakat. Dengan Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body.dalam penyelenggaraan pemerintahan beserta norma. DPRD dan tata pemerintahan demokratis di daerah Beberapa pengamat politik di daerah menyatakan bahwa kapasitas DPRD sekarang ini merupakan cerminan dari kapasitas masyarakat sipil. yang diberikan oleh satu kelompok harus mendapatkan imbangan toleransi terhadap kelompok yang lain. Lebih jelas tentang pembagian urusan ini dapat dilihat dalam bagian lampiran PP ini yang mencakup pembagian urusan di semua bidang pemerintahan yang menghubungkan antar tingkatan pemerintahan. standar. layaknya pemadam kebakaran. Bagaimana DPRD sebaiknya mengelola keterkaitan kepentingan antara pelaku ekonomi dan politik? Permasalahan yang selama ini banyak dibahas adalah bagaimana jika yang menjadi anggota DPRD pada kenyataannya adalah para pelaku ekonomi kelas atas atau menengah di daerah? Seringkali dikemukakan bahwa DPRD telah menjadi tempat untuk membagi akses dan kendali ekonomi sehingga yang diutamakan adalah kepentingan bisnis dari para anggota DPRD atau kelompok pendukungnya. Peninjauan terhadap kebijakan publik (misalnya perda atau kebijakan pemda) hampir tidak pernah dilakukan secara menyeluruh sebagai akibat dari keluhan masyarakat. Penyelesaian masalah yang didesakkan oleh kelompok masyarakat tertentu pun cenderung bersifat instan dan pragmatis. idealnya. Kondisi perselingkuhan antara politik dan ekonomi ini dapat menjadi awal munculnya rantai korupsi yang panjang. Ketika terjadi pelanggaran-pelanggaran kebijakan atau program-program pembangunan. konstelasi keanggotaan DPRD seperti ini menjadikan alat kelengkapan dan anggota dewan menjadi tidak berdaya karena harus mengembangkan toleransi antar kelompok di dalam DPRD sendiri. dimana pPemda seringkali berupaya untuk mengendalikan para anggota DPRD dengan memberikan proyek-proyek tertentu kepada anggota DPRD atau kelompok bisnisnya. dan kriteria yang wewenang penyusunannya diberikan kepada pemerintah pusat.

maka dapat dikatakan bahwa masyarakat sipil dengan lembaga-lembaganya belum siap untuk masuk pada era demokrasi baru. Baik DPRD maupun media massa berpendapat bahwa ormas kini masih belum aktif dalam berbagai kegiatan politik di daerah. Jika sikap politik seperti ini ternyata berkembang. Formatted: Font: +Body. Ormas ini menilai bahwa kontribusi mereka dengan memberikan calon-calon legislator yang dapat dihandalkan sudah mencukupi. Kondisi seperti ini jelas tidak kondusif untuk upaya peningkatan kapasitas dan kinerja DPRD. Pendidikan politik yang dilakukan oleh partai politik dinilai belum mencukupi dan masih pada tahap sangat awal. Bagaimana DPRD memfasilitasi dinamika politik dari berbagai organisasi kemasyarakatan? Permasalahan lain yang perlu dikaji bersama oleh DPRD adalah dinamika politik dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) yang ada di daerah. Dalam pemilu langsung. sebab mereka masih cenderung mengambil jalan alternatif dan sering menyarankan sikap golput . media massa pun melihat bahwa partisipasi politik riil dari masyarakat seperti sekarang ini masih akan berlanjut untuk jangka menengah. Jika observasi yang dilakukan bersama dengan masyarakat media benar. maka secara umum dapat diduga bahwa masyarakat belum benar-benar siap untuk melakukan pemilihan langsung terhadap wakil-wakil mereka di DPRD. Demokrasi yang kini tengah berkembang kiranya tidak sesuai dengan sikap politik seperti ini sebab setiap warga negara dituntut untuk bertanggung jawab secara lebih nyata dalam politik. Sikap seperti itu sebenarnya juga bertentangan dengan tata pemerintahan yang baik karena dengan tidak memberikan suara berarti warga memberikan dukungan politik pada calon yang mungkin kurang bermutu. jika warga masyarakat tidak siap dengan memilih wakil yang relatif lebih bermutu (karena mereka cenderung hanya memilih partai politik atau karena money politics) maka mereka tidak dijamin akan mendapatkan mutu wakil rakyat yang lebih baik. para anggota DPRD menilai bahwa partisipasi ormas dinilai masih sangat minimal dan oleh karena itu kontribusi politik mereka pun relatif terbatas. Indikasi lain menunjukkan bahwa mutu anggota DPRD di masa yang akan datang mungkin sangat dipengaruhi oleh kesiapan politik warga pemilih. Sebagai tambahan. Beberapa LSM dan kelompok intelektual yang mulai aktif dalam sektor politik dinilai masih belum siap untuk melakukan transformasi.kondisi masyarakat sipil seperti ini. DPRD belum mendapatkan tantangan peningkatan kapasitas dan kinerja sebagaimana seharusnya. Mungkin hal ini nya berbeda dengan pemilihan kepala daerah karena calon yang ada lebih terbatas dan mendapatkan sorotan tajam dari masyarakat. Dalam berbagai kegiatan keparlemenan. Bagaimana mendayagunakan kapasitas politik masyarakat sipil? Kapasitas politik praktis masyarakat yang terlembaga mungkin tidak dapat berubah dengan cepat karena masyarakat pemilih di Indonesia belum mempunyai kapasitas politik riil yang memadai. Italic .

Ini merupakan fungsi pendidikan politik oleh media massa. Walaupun belum mempunyai strategi khusus untuk mendukung demokratisasi di daerah (yang dikatakan merupakan wewenang redaktur). Ini memang seringkali dilakukan tetapi dinilai belum terencana oleh para awak media massa. Bagaimana DPRD dapat mengoptimalkan strategi media? Observasi yang dilaksanakan bersama dengan berbagai media lokal atau perwakilan media nasional serta para wartawan keparlemenan menunjukkan bahwa media massa tidak mempunyai strategi khusus untuk memfasilitasi demokratisasi dan reformasi tata pemerintahan. Apakah berbagai berita dan opini yang disampaikan oleh media massa berdampak nyata terhadap opini politik publik? Para wartawan keparlemenan cenderung berpendapat negatif. Di beberapa daerah di Kalimantan Timur. Sementara gejala ini dinilai dapat dimanfaatkan untuk sosialisasi politik di Kalimantan Timur. media massa juga dapat secara terencana dan konsisten memuat berita dan opini tentang demokratisasi baik yang bersifat umum maupun kedaerahan.Ormas yang ada di daerah juga dinilai belum mampu berfungsi sebagai kelompok penekan (pressure group) atau kelompok kepentingan (interest group). Permasalahan menjadi lebih rumit ketika ormas yang berkembang di beberapa daerah justru berbasis kesukuan. praktek seperti ini seringkali dikatakan kurang ideal karena terdapat kesan wartawan dibiayai untuk memuat berita. Setiap media massa harus mengembangkan information intelligence masingmasing. Ketiga. Bahkan di beberapa DPRD. mereka memandang beberapa strategi berikut layak untuk dikembangkan. Kelompok yang dinilai mempunyai kekuatan politik signifikan ini pun dinilai masih membutuhkan upaya pemberdayaan tersendiri. DPRD diharapkan memberikan informasi secara jujur dan terbuka sehingga kesulitan memperoleh informasi yang selama ini dialami dapat diatasi. penyelenggaraan rubrik keparlemenan daerah perlu dan dapat dilakukan oleh masing-masing media. Artinya. Di DPRD propinsi dan kota. Dalam diskusi-diskusi dengan media massa seperti ini. beberapa DPRD dikatakan mengalokasikan sejumlah anggaran untuk pemberitaan kegiatan DPRD. seperti misalnya di Kota Samarinda dan Propinsi Yogyakarta. Ini tidak berarti bahwa mereka tidak mendukung proses tersebut. media massa mendapatkan ruang khusus. daerah-daerah lain cenderung menilainya secara berhati-hati. DPRD juga diharapkan untuk secara terjadwal mengadakan diskusi-diskusi publik yang melibatkan atau yang dikhususkan untuk media massa. karena ikatan kesukuan justru dapat berakibat kurang menguntungkan untuk demokratisasi. Pada dasarnya para wartawan mendapatkan akses yang sangat terbuka terhadap seluruh kegiatan DPRD dan informasi-informasi dasar lainya. Kedua. DPRD menilai bahwa kekuatan intelektual dan politik dari berbagai kelompok masyarakat yang berbasis politik atau asosiasi perlu terus dikembangkan dalam rangka peningkatan kapasitas dan kinerja DPRD. Media massa pada umumnya mendapatkan kebebasan penuh untuk memuat berita dan opini keparlemenan yang mereka anggap penting. Pertama. media massa menempatkan wartawan khusus untuk meliput berbagai kegiatan dewan yang diagendakan dan kegiatankegiatan lain yang terkait dengan dinamika dewan. walaupun . Namun demikian.

.mereka menilai masyarakat mempunyai perhatian. tetapi berita yang menyangkut kepentingan publik pun seringkali tidak mendapatkan tindak lanjut.

Dalam konteks baru ini. pemilihan langsung memberikan akses politik kepada rakyat dalam upaya mendapatkan berbagai pelayanan publik (public service) yang menjadi haknya. Dalam tata pemerintahan demokratis di Indonesia sekarang. Rakyat kini tidak lagi berposisi sebagai peserta dalam pemilihan umum yang dilaksanakan lima tahun sekali. adalah penting bagi anggota DPRD untuk menempatkan diri sebagai wakil yang langsung dipilih oleh rakyat dalam konteks jaringan kerja yang lebih luas. Dalam Sebagai pengembangan cabang kekuasaan pemerintahan legislatif.BAB III Pemilihan Langsung dan Akuntabilitas Wakil Rakyat Diana fawzia Agung Djojosoekarto Kerangka hukum dan perundang-undangan politik di Indonesia telah mengalami perubahan sistemik yang mendasar. Perubahan ini ditandai dengan pemilihan langsung terhadap berbagai pejabat politik di pusat dan daerah. Lebih dari sekedar penggembira dalam pesta demokrasi. Terdapat tiga alasan pokok mengapa pemilihan langsung selaras dengan konteks desentralisasi dan otonomi daerah. rakyat pun dapat menuntut pemda dalam pemberian pelayanan publik yang lebih terjangkau dan bermutu. pemilihan langsung memberikan berbagai peran pada rakyat untuk memberikan suara pada wakil mereka dan mengendalikan proses politik yang terjadi dalam berbagai lembaga perwakilan. anggota DPRD terpilih sekarang dikehendaki untuk selalu peka dan tanggap terhadap berbagai aspek sosial. sejak 2004 sudah dibentuk perubahan akan segera terjadi. agama serta potensi sumber daya. Pertama. pemilihan langsung diharapkan dapat lebih menjamin terlaksananya prinsip-prinsip keterwakilan. pemilihan langsung mambuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas politik di daerah secara setara (political equality). dengan dilakukannya pemilihan langsung atas kepala daerah. harus ditinjau kembali dan didefinisikan ulang. ekonomi. politik. pemilihan langsung juga memberikan jalur kendali yang lebih luas bagi rakyat dalam memastikan terakomodasikannya kepentingan mereka- Formatted: Font: +Body . yaitu dengan dibentuknya Dewan Perwakilan Daerah (DPD). rakyat dapat menuntut berbagai kebijakan dasar yang lebih kondusif bagi terwujudnya pelayanan publik yang lebih baik. Ketiga. misalnya. Kedua. pemilihan langsung untuk memilih wakil rakyat dan wakil daerah serta untuk membentuk pemerintahan yang demokratis dan kuat kini harus memperoleh dukungan rakyat secara penuh. dan legitimasi politik terhadap rakyat. termasuk DPRD. Bagi DPRD. Oleh karena itu. Dengan kata lain. Dengan demikian. akuntabilitas para anggota dewan terhadap rakyat. Ddasar pemikiran dan dasar kerja dari para anggota DPRD penting untuk ditata ulang sehingga mereka dapat sepenuhnya menempatkan diri sebagai wakil yang langsung dipilih oleh rakyat. budaya. Dengan pemilihan anggota DPRD secara langsung. Sementara itu. Hal ini sangat perlu dalam upaya memberikan pemenuhan dan pel ayanan kepada kepentingan rakyat. akuntabilitas.

Dalam konteks ini anggota DPRD akan selalu menghadapi banyak hal yang berkenaan dengan kebutuhan program pembangunan. Dalam pemilu sekarang pada dasarnya rakyat dapat secara langsung memilih wakil-wakilnya di DPR. Kontrak politik tersebut menghendaki para anggota dewan dan pejabat politik lainnya mengoptimalkan pelaksanaan proses politik demi tata pemerintahan yang lebih demokratis dan pembangunan di daerah yang menyejahterakan rakyat.1. yaitu presiden dan wakil presiden serta kepala daerah. dan DPRD. Pemilihan terhadap para wakil tentu dilakukan berdasarkan kepercayaan dan keyakinan. Sebab. perimbangan keuangan pusat dan daerah. 27/2009. Sebagai contoh. para pejabat politik tersebut dipilih melalui rakyat melalui partai berdasarkan sistem proporsional tertutup di parlemen. pelayanan pemerintahan. jika kepentingan tertentu tidak dapat terpenuhi melalui kebijakan dasar yang dihasilkan DPRD dalam bentuk perda. Perubahan peraturan perundang-undangan di bidang politik telah mulai mendorong dilaksanakannya perubahan paradigma tata pemerintahan yang lebih demokratis. sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . DPD. Terkait DPD. dimana rakyat. Hal ini diharapkan akan membawa konsekuensi logis bagi . Oleh karena itu. Rakyat juga secara langsung memilih para pejabat politik eksekutif. Dengan keikutsertaannya dalam pemilihan langsung. sebagaimana diatur dalam UU Susduk No. Bagaimana mengefektifkan hubungan antara anggota DPRD dengan pemilihnya? Rakyat kini telah memilih wakil-wakilnya secara langsung dan tidak dipilihkan oleh partai politik seperti pada pemilu-pemilu sebelumnya. dan sekaligus pelayanan masyarakat. 3.kepentingan dalam kebijakan-kebijakan publik yang lebih tanggap (responsive and accomodative policy). untuk akan mempunyai pengaruh sangat yang besar dalam proses politik di Indonesia. Konsekuensi dari pemilihan langsung Apa konsekuensi dari pemilihan langsung? Pemilu 2004 dan 2009 berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. serta pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya yang ada di daerah. Di masa lalu. sekarang ada kesadaran baru bahwa rakyat memberikan kepercayaan pada anggota DPRD untuk memperjuangkan kepentingan dan aspirasi politiknya. rakyat memilih dan menempatkan para wakil mereka untuk duduk di lembaga-lembaga perwakilan rakyat. Hal ini dapat berlangsung karena adanya sistem check and balance yang lebih baik. hubungan pusat dan daerah. dapatlah dikatakan bahwa pemilihan langsung dapat membangun hubungan kontraktual politik yang lebih baik antara anggota dewan dan konstituennya. Pengaruh pilihan langsung oleh rakyat akan mendorong anggota DPRD dalam meningkatkan kinerjanya. rakyat dapat pergi ke pemda atau ke DPD agar kepentingan mereka itu dapat diperhatikan. kepentingan rakyat daerah tersebut dimungkinkan untuk didesakkan dari tingkat pusat sepanjang berhubungan dengan otonomi daerah.

anggota DPRD harus selalu mengikuti keinginan dan petunjuk dari yang diwakilinya. tipe politico tampaknya yang paling ideal sesuai dengan Pemilu 2004 dan 2009 yang bersifat proporsional terbuka. tipe ini sangat menonjol. Agar pemenuhan kepentingan rakyat dapat lebih terjamin. Untuk mengoptimalkan hubungan antara anggota DPRD dan rakyat. Prinsip yang paling penting adalah akuntabilitas anggota DPRD terhadap rakyat. memahami potensi daerah serta harus mampu melakukan seleksi prioritas atas berbagai permasalahan yang ada. Karena perubahan tipe hubungan yang berubah secara radikal. Tipe yang pertama adalah tipe wali (trustee). Tipe yang terakhir adalah tipe partisan. Anggota DPRD dinilai sudah betul-betul memperoleh kepercayaan dari rakyat melalui pemilu. Terlebih pada pemilu 2009. anggota DPRD juga sebaiknya membuat pemetaan masalah-masalah kemasyarakatan yang terjadi di daerahnya. seperti karena peran partai sangat besar dalam penyusunan daftar calon legislatif dan penentuan daerah pemilihan. penentuan calon terpilih didasarkan suara terbayak (bukan nomor urut seperti pada pemilu 2004). Dalam tipe ini anggota DPRD dapat bertindak bebas karena legitimasinya. Tindakan anggota DPRD ditentukan oleh isu atau materi yang dibahasnya. Salah satu atau kombinasi di antaranya dapat dijadikan acuan anggota DPRD dalam membangun hubungan dengan rakyat pemilihnya. Selanjutnya hubungan yang ada dalam menjalankan tugasnya hanya dijalin dengan partainya. sehingga posisinya sangat independent. Anggota DPRD lebih mewakili partainya daripada mewakili rakyat. dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya. Ia tidak diharuskan untuk berkonsultasi dengan partainya.Bagaimana hubungan yang ideal antara anggota dewan dengan dan pemilih? Secara umum terdapat empat tipe hubungan antara wakil (anggota DPRD) dan terwakil (rakyat). maka yang paling penting adalah dilakukannya pengrubahan pola pikir (mind set) dalam tata hubungan itu. Dalam tipe ini anggota DPRD bebas bertindak atau mengambil keputusan menurut pertimbangannya sendiri. Anggota DPRD bertindak sebagai utusan dari yang diwakilinya. Pemilihan langsung dan kebijakan partisipatif Keeratan hubungan antara DPRD dengan pemilihnya paling mudah dilihat dari mekanisme pembuatan kebijakan yang dilaksanakan secara partisipatif. Ia tidak diharuskan berkonsultasi dengan yang diwakilinya. Perlu diantisipasi adalah hubungan antara anggota DPRD dengan dan partainya yang masih kuat. para anggota DPRD yang telah dipilih secara langsung dapat melakukan berbagai langkah sebagai berikut: . lepaslah hubungan dengan pemilihnya. Tipe yang ketiga adalah tipe politico. Oleh karena itu. yaitu tipe utusan (delegate). Dalam tipe yang kedua. Agar hubungan dengan rakyat lebih efektif. Setelah anggota DPRD terpilih dalam pemilu. Jika hal ini tidak diantisipasi dengan baik. Dalam tipe ini anggota DPRD dapat bertindak sesuai dengan keinginan atau program dari partainya. yang merupakan paduan antara tipe wali dan tipe utusan. tetapi selama situasi tertentu ia harus bertindak sebagai utusan dan berkonsultasi dengan yang diwakilinya. kecenderungan anggota DPRD untuk tetap partisan sangat terbuka. baik konstituen ataupun partainya. Di masa lalu.

dan pengawasan. 3.1. Melakukan kajian berdasarkan kepentingan dan kebutuhan rakyat terhadap rencana anggaran sebelum diputuskan menjadi APBD. tatanan demokrasi menghendaki adanya suatu pemerintahan dari. sebagai bagian pelibatan masyarakat (stakeholder) dalam proses pemerintahan dan pembangunan. Menginformasikan kepada masyarakat tentang kebijakan yang diputuskan dan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh DPRD disertai dengan alasan-alasan yang rasional. Apakah pelaksanaan fungsi dan tugas telah menempatkan kepentingan rakyat yang merupakan pemegang kedaulatan yang paling tinggi? 2. Dewasa ini. 4. Melakukan perbandingan antara hasil need assessment yang didapat dengan dan rencana pembangunan yang disusun oleh eksekutif atau yang termuat dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). Oleh karena itu. pengawasan dan persetujuan DPRD terhadap APBD yang diajukan oleh eksekutif pada gilirannya diharapkan tidak hanya terbatas didasarkan pada pembahasan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). 2. Apakah DPRD telah menciptakan produk kebijakan yang mampu mendukung meningkatnya kualitas pelaksanaan pemilihan langsung di daerah dan menerapkannya secara konsisten? Dalam tata demokrasi yang mulai berkembang di tingkat nasional dan daerah. Oleh karenanya. Dalam prakteknya. oleh. baik secara internal maupun eksternal? 5. prinsip ini acapkali dilupakan. dan untuk rakyat. Apakah DPRD telah akomodatif terhadap stakeholders dalam merumuskan berbagai arah kebijakan? 4. yaitu pembuatan peraturan perundangundangan. Pertama. kelompok-kelompok dalam Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. Melakukan need assessment tentang kebutuhan masyarakat untuk dijadikan database. Dengan demikian. dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang didalamnya termasuk Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Pemerintah Daerah (RKA-SKPD). Kontrak sosial anggota DPRD dalam tata demokrasi baru Apa tuntutan suatu tatanan demokrasi terhadap DPRD? Secara ideal. 3. Memutuskan dan mendorong insiatif suatu perda yang mengakomodasi sebesarbesarnya kepentingan dan harapan rakyat. Apakah DPRD telah memperhitungkan seluruh unsur penentu yang penting bagi penegakan supremasi hukum. ada beberapa pra kondisi penting yang perlu dipenuhi oleh DPRD. 12 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). DPRD harus mampu berfungsi sebagai penyeimbang dan penyelaras dari berbagai kepentingan (political prerequisite). dan 5. Apakah anggota DPRD dapat mempertanggunggugatkan semua produk kedewanan yang dihasilkannya sebagai bukti akuntabilitas publik? 3. rencana anggaran satuan kerja (RASK). prinsip ini harus tercermin dalam pelaksanaan fungsi-fungsi utama DPRD. pertanyaan-pertanyaan dasar berikut ini perlu selalu dipertimbangkan setiap kali anggota DPRD melakukan fungsi dan tugasnya: 1. penetapan anggaran daerah.2.

dalam tatanan demokrasi. Dengan perda yang dihasilkannya DPRD dapat meminimalkan disparitas antar warga masyarakat dan mewujudkan pemerataan yang lebih baik. Oleh karena itu. Dengan berbagai kampanye melalui media massa. Kemampuan DPRD dalam mengembangkan budaya politik lokal yang kondusif untuk demokrasi akan memberikan dampak yang positif untuk peningkatan kinerjanya sendiri. DPRD adalah pembuat perda yang merupakan kebijakan dasar di tingkat daerah. Bagaimana menyikapi hubungan kontrak sosial yang baru? Dalam Pemilu 2004 maupun 2009. dalam tata demokrasi. rentang kelembagaan yang perlu diperhitungkan DPRD sangat luas. sebab proses pengenalan berlangsung singkat. Betapapun demikian. rakyat juga dapat menilai kesesuaian program dari partai politik yang akan dipilihnya. Harmonisasi kepentingan merupakan tugas penting yang perlu dipertimbangkan dalam setiap perumusan kebijakan oleh DPRD. Pengembangan kelembagaan ini harus memperhatikan spektrum pemerintahan yang luas. hal ini tidak menghilangkan prinsip konstitusional bahwa pemilihan umum dilaksanakan secara langsung oleh rakyat. Keempat. sebagian besar rakyat mungkin belum dapat mengetahui dengan persis tingkat kualitas memilih nama calon yang dipilihnya secara langsung. mulai dari peraturan perundang-undangan tingkat nasional sampai peraturan adat yang berlaku lokal. Setidaknya. Jika rakyat lebih mampu melakukan partisipasi politik secara terlembaga. Oleh karena itu. Dalam sistem pemerintahan dewasa ini. DPRD pun dikehendaki untuk melakukan berbagai program pematangan demokrasi pada tingkat lokal. Hal ini khususnya relevan untuk pemenuhan kesejahteraan dari warga yang rentan terhadap kemiskinan dan keterbelakangan. Ketiga. dari tingkat nasional sampai tingkat daerah. nama-nama calon telah disampaikan melalui berbagai media dan rakyat dapat secara langsung menentukan pilihannya. ia harus terlibat aktif dalam memfasilitasi perubahan sosial di lingkungannya (social prerequisite). DPRD selayaknya menjadi penjaga integritas norma hukum dan perundang-undangan di lingkup daerahnya (legal prerequisite). Not Italic Formatted Table . dengan berbagai produk dan keputusannya. DPRD harus mampu memfasilitasi redistribusi berbagai aset dan akses atas sumber daya dan hasil pembangunan (economic prerequisite).masyarakat sipil mulai mampu membentuk kekuatan-kekuatan politik. meski terbatas. Perbedaan itu dapat dipaparkan secara singkat sebagai berikut: Indikator Pemilu lama (Pra 2004) Pemilu baru (2004 dan 2009) Formatted: Font: +Body. dalam kerangka transformasi sosial yang lebih luas. Pemilu seperti itu menghasilkan hubungan kontrak sosial yang berbeda dibandingkan dengan pemilu yang sebelumnya. AkhirnyaKelima. Anggota DPRD harus menjadi penjaga dan contoh dalam hal ketaatan hukum. DPRD pun diharuskan mampu membentuk kerangka peraturan yang diperlukan untuk membangun lembaga dan struktur pemerintahan di daerah yang efektif (institutional prerequisite). Kedua. DPRD akan mendapatkan dukungan yang mempermudah pelaksanaan fungsi dan tugasnya.

. rakyat dapat memberikan kebebasan pada mereka.Siapa yang berkontrak sosial? Apa posisi rakyat/pemilih? Bagaimana realismenya? Bagaimana konsekuensinya?  Anggota DPRD  Partai politik Rakyat sebagai peserta/penggembira pesta demokrasi Rakyat cenderung emosional karena partai pilihannya Rakyat lemah dalam mengontrol para wakil  Rakyat/pemilih  Anggota DPRD  Partai politik Rakyat sebagai Pemilih wakil rakyat yang ditawarkan partai politik Rakyat bersikap lebih rasional dalam memilih Rakyat dapat secara penuh mengontrol para wakil Dalam kampanye yang lalu. Upaya-upaya yang terkait dengan perbaikan proses pemerintahan dalam cabang . hubungan kontrak sosial antara rakyat dan anggota DPRD dapat dikatakan bersifat dinamis. Tapi agar kontrak politik menjadi lebih efektif dan mendukung DPRD. Bagaimana rakyat diharapkan mendukung kinerja DPRD? Setelah memberikan kepercayaan politik pada para wakilnya. melainkan juga menjadi dasar rasional untuk mengoptimalkan perolehan dukungan politik. Dengan cara ini. Berbagai hasil yang didapatkan dapat diolah lebih lanjut dan digunakan untuk mendukung keberhasilan pemilihan umum yang berikutnya. Para anggota DPRD secara terus-menerus perlu melakukan penilaian dan penjajakan dinamika kepentingan dan orientasi politik rakyat. anggota DPRD dapat menjaga apakah berbagai kepentingan yang menjadi dasar kontrak sosialnya dapat dipenuhi dengan baik. konteks demokrasi baru memberikan peluang kepada rakyat untuk ikut serta dalam meningkatkan kinerja dari DPRD dengan berbagai cara. upaya ini penting bukan saja untuk memenuhi janji politik. . Upaya ini dapat dilaksanakan dengan cara memfasilitasi rakyat dalam memberikan kritik dan masukan bagi DPRD melalui berbagai media. Kegagalan dalam memenuhi janji politik akan berdampak disinsentive terhadap partai politik. berbagai partai politik menebar berbagai janji melalui program-program yang ditawarkan pada rakyat.Calon aAnggota yang telah terpilih tidak akan mendapatkan suara dalam pemilihan langsung periode berikutnya.Banyak protes akan ditujukan kepada fraksi tertentu di DPRD.Akuntabilitas dan integritas DPRD akan dipertanyakan oleh rakyat dan publik secara luas.DPRD akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya secara demokratis. Oleh karena itu. Apakah memenuhi janji politik selama kampanye saja sudah cukup? Tentu saja tidak. sementara anggota DPRD melaksanakan fungsi dan tugas konstitusionalnya. . Anggota DPRD yang telah terpilih mempunyai kewajiban untuk memenuhi berbagai janji politik itu. serta .Partai politik akan kehilangan kepercayaan dari rakyat. Dalam konteks ini. Upaya ini dapat dilaksanakan dengan partai politiknya. ia juga harus menciptakan gagasan terbaik untuk memaksimalkan pemerintahan dan pembangunan di daerah. Beberapa kerugian yang dapat ditimbulkan antara lain: .

atau sidang-sidang komisi lainnya. Karena pemilihan umum hanyalah awal dari kontrak politik antara rakyat dengan dan DPRD. Transparansi diperlukan bukan hanya untuk kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh DPRD. . dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ataupun institusi pengawasan negara yang bersifat independen seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Badan Pengawas Keuangan Pemerintah (BPKP). Dalam akuntabilitas. secara perorangan dan kelembagaan. Badan Kehormatan DPRD. maka partisipasi dalam perumusan dan penentuan kebijakan dasar pemerintahan dan pembangunan daerah pun dapat dilakukan. upaya kritis oleh rakyat ini dalam jangka panjang justru akan menguntungkan DPRD dalam upaya membangun lembaga perwakilan rakyat yang bersih dan berwibawa. Dalam hal ini. rakyat dapat melibatkan diri secara aktif dalam pembahasan perda. 3. rapat dengar pendapat (RDP) dengan pemerintah. atau RAPBD. dalam rangka menegakkan pelaksanaan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik. Hubungan kontrak politik yang diarahkan untuk mendukung peningkatan kinerja DPRD juga menghendaki adanya arus informasi yang lancar antara DPRD dan rakyat. Menjaga akuntabilitas wakil rakyat Apa ciri-ciri wakil rakyat yang akuntabel? Para wakil rakyat dapat dikatakan akuntabel jika ia. DPRD akan mempunyai prospek untuk menciptakan sistem insentif yang lebih baik secara kelembagaan maupun karir politik perorangan. Sebagai tambahan. tetapi juga seberapa besar sumber daya yang disediakan untuk DPRD dan seberapa efektif DPRD mendayagunakan untuk sebesar-besarnya manfaat rakyat. Maka. Inspektorat. Proses pengendalian politik yang dapat dilaksanakan oleh rakyat seperti dipaparkan di depan perlu disikapi secara positif dan arif oleh DPRD baru. DPRD juga harus lebih membuka diri agar forum-forum persidangan di DPRD dapat diakses oleh publik luas. Dengan demikian. Walaupun dalam jangka pendek terkesan berlebihan. maka para wakil rakyat dapat dikatakan akuntabel jika mereka siap untuk digugat oleh rakyat atas apa yang dilaksanakan dan dihasilkannya sebagai anggota DPRD. nuansa konstraktual dan hukum lebih kental dan berdimensi eksternal dibandingkan responsibilitas yang cenderung internal. rakyat di berbagai daerah telah menunjukkan bahwa mereka dapat pula menuntut pelaksanaan law enforcement yang lebih tegas terhadap anggota DPRD yang melakukan penyimpangan. sesuai dengan ciri hubungan kontrak sosial dari para wakil rakyat. rakyat tidak cukup dengan menunggu tawaran dari DPRD untuk ikut serta dalam berbagai proses pembahasan tapi rakyat secara aktif dapat pula mengikuti berbagai sidang terbuka. Sebaliknya. Sebagai contoh.legislatif seperti yang telah dikemukakan terdahulu menunjukkan bahwa rakyat dapat mendukung peningkatan kinerja dengan selalu mengontrol akuntabilitas dari DPRD dan seluruh anggotanya.3. termasuk dengan memanfaatkan keberadaan institusi pengawasan internal seperti. mampu mempertanggunggugatkan segala yang dilaksanakan dan dihasilkannya. Akuntabilitas atau tingkat pertanggunggugatan tidak sama dengan responsibilitas atau tingkat pertanggungjawaban.

Ketiga hal tersebut akan menjadi dasar utama untuk menilai kinerja perorangan dan pedoman dalam menyampaikan semua pertanggunggugatan politiknya di hadapan rakyat. tata tertib dan kode etik DPRD. serta tunjangan pemeliharaan kesehatan. DPRD juga dapat mulai merumuskan profil politik secara perorangan. Badan Anggaran. posisi. baik dalam komisi atau panitia kerja tertentu. anggota DPRD juga harus dapat memenuhi berbagai prosedur teknis yang berkenaan dengan penggunaan berbagai sarana dan prasarana pendukung kerja. seperti uang representasi. pengaturannya harus disesuaikan dengan kemampuan daerah. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt . anggota DPRD harus secara terbuka dan jelas menyatakan sikap. Apa yang perlu diperhatikan agar dapat bertanggung gugat? Hal penting pertama yang perlu diperhatikan oleh anggota DPRD adalah penguasaan yang solid atas seluruh kerangka peraturan yang membingkai mandat. tunjangan beras.akuntabilitas perlu dan bahkan harus dipenuhi dalam beberapa tingkat: perorangan. dan target politiknya terhadap berbagai urusan politik yang dilaksanakan dalam berbagai forum internal dan eksternal DPRD. Sebab. dan alat kelengkapan lainnya). Setiap anggota DPRD wajib secara aktif memastikan semua informasi yang berkenaan dengan kerangka aturan tersebut tersedia untuknya. Ketika anggota DPRD tertentu dipilih atau ditunjuk menjadi anggota dari alat kelengkapan dewan. dan tugasnya. Bersikap diam akan berarti ia ikut bertanggung gugat terhadap kebijakan dan tindakan alat kelengkapan dewan itu. sebagai anggota fraksi yang merupakan bentuk kesatuan politik berdasarkan partai. Pun dalam menentukan uang tunjangan. maka ia harus menyampaikan kepada publik dengan jelas dan tegas. maka ia harus secara aktif memastikan bahwa kebijakan dan langkah yang diambil oleh alat kelengkapan dewan itu selaras dengan nilai-nilai politiknya. Jika ia tidak setuju dengan kebijakan atau langkah tertentu. Agar kesalahan yang tidak perlu dapat dihindarkan. Ini berarti bahwa anggota DPRD harus memahami UUDkonstitusi. tunjangan keluarga. Partai politik akan menghendaki utusan-utusannya memperjuangkan kepentingan-kepentingan politik yang telah digariskan dalam program partai. Dalam posisinya sebagai aparatur negara. dan kelembagaan secara keseluruhan. Selanjutnya. Badan Kehormatan. Badan Legislasi Daerah. fungsi. Secara perorangan. anggota DPRD harus pula mampu mempertanggunggugatkan kinerjanya terhadap partai politik dan konstituen tertentu yang mendukung partai politik itu. Para anggota DPRD tidak dapat secara semena-mena menggunakan berbagai sumber daya yang disediakan oleh negara karena. Sebagaimana diatur dalam UU No. Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Level 1. Badan Musyawarah. masing-masing anggota dapat mempunyai profil politik yang unik. anggota DPRD dapat melakukan pengecekan atau meminta penjelasan dari setwan sebagai pengelolaan keuangan dan tunjangan DPRD. fraksi. peraturan perundang-undangan dengan jenis dan tingkatan sebagaimana yang dimaksud dalam UU No. 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. alat kelengkapan dewan (Komisi. 27/2009. peraturan dari partai politik serta berbagai aturan main lain yang telah ditentukan untuk keberadaannya. uang paket. sekalipun berasal dari partai politik yang sama. hak keuangan dan administratif dari DPRD telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP).

2.75" . Space Before: 0 pt.4. Dalam kasus beberapa tahun terakhir. Tab stops: Not at 0.25" + 0. 32/2004. baik dalam hal legislasi penganggaran maupun pengawasan. maka anggota DPRD wajib untuk menjadikan dokumen ini sebagai acuan pokok. rujukan sebagai dasar pertimbangan antara lain adalah: 1. Sebagaimana diatur dalam UU No. Selain itu.25" + 1. PP No. Hal ini sangat penting karena dokumen ini merupakan dasar dalam pelaksanaan fungsi dan tugas pokok DPRD. kinerja pokok DPRD disusun dan dinilai berdasarkan pada fungsi dan tugas konstitusionalnya. Sebagai anggota lembaga yang mensahkan renstrada RPJMD. Space Before: 0 pt.88" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. Formatted: Level 1. Ini menyangkut kesesuaian antara peraturan daerah di tingkat lokal dengan peraturan perundangundangan di atasnya. fungsi dan tugas pokok DPRD mencakup: 1. Don't adjust space between Latin and Asian text. Space Before: 0 pt. Pengawasan. 3. Hanging: 0. Don't adjust space between Asian text and numbers Formatted: Indent: Left: 0. adalah fungsi dan tugas DPRD untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UU. apakah seluruh sikap. perda dan keputusan kepala daerah serta kebijakan nasional lainnya.13". 2. Tata urutan peraturan perundang-undangan. Karakteristik lokal perlu sebagai bahan pertimbangan agar tercapai kesesuaian arah pembangunan dengan kebutuhan masyarakat daerah. Dasar pemikiran dalam melaksanakan fungsi anggaran dari anggota dewan perlu disesuaikan dengan sistem anggaran kinerja yang berlaku sesuai perundangundangan. 22/200327/2009 tentang. Materi perda ke arah penyelenggaraan otonomi daerah. Prinsip otonomi daerah misalnya bisa digali dengan menelisik ruang fisibilitas regulasi yang dimungkinkan sebagaimana diatur dalam UU No. yang di dalamnya termasuk anggaran untuk pelaksanaan fungsi. Secara tepat menentukan tahapan penyusunan anggaran. UU No.Sebagai tambahan. tugas.25". 38/2007. 33/2004. Space Before: 0 pt. anggota DPRD perlu secara terus-menerus mengecek.18" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0.13". dan wewenang DPRD. Pedoman anggaran kinerja secara umum bertujuan untuk: 1. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Level 1. Menjaga kinerja DPRD Pertimbangan fungsional Pada dasarnya. agar pertanggunggugatan kinerja dapat dilaksanakan dengan lebih mudah. serta PP No. Tab stops: Not at 0. Legislasi.25" + 0. yaitu fungsi dan tugas DPRD untuk membentuk perda baik dengan inisiatif mandiri ataupun bersama-sama pemda yang dipimpin kepala daerah. posisi dan target politiknya selaras dengan kebijakan dan sasaran program-program pemerintahan dan pembangunan daerah. dan 3. Tab stops: Not at 0. masalah ini mencuat karena banyaknya perda-perda yang bertentangan dengan peraturan di atasnya sehingga kemudian dibatalkan pemberlakuannya (perda bermasalah). 58/2005. 3. Dalam mengoptimalkan kinerja fungsional tersebut.19". sasaran perda juga butuh dicantolkan pada upaya pencapaian target-target Milennium Development Goals (MDG s) setidaknya bagi jenis layanan-layanan publik dasar. Anggaran adalah fungsi dan tugas DPRD bersama-sama pemda untuk membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadapmenyusun dan menetapkan RAPBD. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Left.

e anja. Mengidentifikasi masalah-masalah utama dan perubahan yang berdampak pada proses anggaran tahun yang akan datang. Tab stops: 4. Memberikan pedoman umum mengenai pendekatan anggaran yang digunakan.5".P ) a ar e a anaan nggaran Pedoman Penyusunan K -SKP e a anaan en apatan. 3. Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Perencanaan PJM Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Pelaksanaan ancangan KP Ver PP S K Nota Kesepakatan (Pemda. Space Before: 0 pt . Memberikan gambaran mengenai proses penyusunan anggaran secara keseluruhan disertai dengan jadwalnya. dan 4.2. Left ¨   § ¥  ¦ ¢ ¢£ ¢   £   ¢ ¢¡  £ ¢¡     £ ¢ ¢ £  ¤ £ Formatted: Centered. e a aan K -SKP P Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Penatasusahaan Pengelolaan Keuangan Daerah: Tahapan Pertanggungjawaban Akuntansi Keuangan Daerah Akuntansi Keuangan Daerah Penatausahaan Pendapatan Laporan keuangan Pemerintah Daerah  Laporan realisasi anggaran  Neraca  Laporan Arus Kas  Catatan atas Laporan Keuangan Penatausahaan Belanja Kekayaan dan Kewajiban daerah       Kas Umum Piutang Investasi Barang Dana Cadangan Utang Pemeriksaan laporan keuangan (BPK) Raperda Pertanggungjawaban APBD ¦§ & § P %   ©   ¥ $ # ap ran ea a e e ter er ahan ¦§© §¦ ¨ a " !  §    §   § ¦§ ¨ ¨ ¦§© §¦ ¨     Formatted: Left. Indent: First line: 0".

Formatted: Level 1 . jangkauan dan mekanisme kerja yang berkaitan dengan pengawasan. DPRD perlu duduk bersama dengan berbagai lembaga tersebut untuk menyepakati bidang. ataupun KPK.Formatted: Space Before: 0 pt Dalam melakukan fungsi pengawasan. BPKP. BPK. DPRD harus menyesuaikan diri dengan berbagai lembaga pemerintahan lain di daerah (termasuk instansi pusat yang ada di daerah) yang mempunyai kewenangan dalam bidang pengawasan seperti Inspektorat.

sehingga antara wakil rakyat dengan masyarakat tercipta hubungan harmonis dalam memanfaatkan potensi yang ada untuk membangun daerah. Pendekatan-pendekatan dan mekanisme-mekanisme konsensus perlu dipersiapkan. namun lebih jauh lagi dapat mewakili dan memperjuangkan segala kepentingan rakyat meliputi berbagai aspek kebutuhan masyarakat di daerahnya. sebab peraturan perundangundangan yang ada belum secara jelas mengatur mekanisme politik seperti ini.BAB IV Menjadi Wakil Rakyat dalam Konteks Otonomi Daerah Diana fawzia Otonomi daerah memberikan kedekatan antara rakyat dan wakilnya di lembaga-lembaga legislatif. dan otoritasnya. Kesepakatan-kesepakatan baru diperlukan agar masing-masing lembaga mengetahui batas-batas fungsi. DPRD perlu merumuskan kembali posisinya terhadap lembaga-lembaga eksekutif dan yudikatif di daerah. Otonomi daerah memberikan kedekatan antara rakyat dan wakilnya di lembaga-lembaga legislatif. Pendekatanpendekatan dan mekanisme-mekanisme konsensus perlu dipersiapkan secara cermat dan efektif.1. dan membiayai sendiri pelaksanaan pembangunan. Karena itu langkah proaktif perlu dilakukan DPRD untuk merumuskan kembali posisinya dengan baik dan seimbang dalam hubungannya dengan lembaga-lembaga eksekutif dan yudikatif di daerah. tugas dan otoritasnya. agar penafsiran terhadap UU No. melaksanakan pembangunan. tugas. Dalam arti yang sesungguhnya. DPRD sebagai wakil rakyat menjadi pusat perubahan ke arah tersebut. karena tanpa kemandirian sulit diwujudkan otonomi yang sesungguhnya. Di lain pihak. Otonomi daerah dan konsekuensinya bagi DPRD Sebagai konsekuensi otonomi. rakyat didorong untuk mengembangkan prakarsa mandiri. Kesepakatan seperti ini dapat dibangun melalui konsensus di antara lembaga-lembaga tata pemerintahan yang ada. Kesepakatankesepakatan baru diperlukan agar masing-masing lembaga mengetahui batas-batas fungsi. DPRD tidak hanya berfungsi sebagai perumus yang menetapkan peraturan-peraturan saja. Otonomi daerah membutuhkan kemandirian. sebab peraturan pemerintah (PP) yang ada belum secara jelas mengatur mekanisme politik seperti ini. Kesepakatan seperti ini dapat dibangun melalui konsensus di antara lembaga-lembaga tata pemerintahan yang ada. Berangkat dari paradigma tersebut. ada kemampuan untuk membuat dan melaksanakan kebijakan yakni: merencanakan pembangunan. Artinya. DPRD harus mampu memandirikan daerah dalam beragam pembangunan. maka hakekat dari otonomi daerah adalah semakin mendekatkan pemerintah ke rakyat. Karena itu. Keserasian hubungan antara DPRD dengan jajaran Formatted: Space Before: 0 pt . 2232/1999 2004 tidak berlebih. 4. DPRD dapat memproduksi peraturan daerah yang dapat memberikan jaminan pelayanan pemerintah dan pembangunan yang bermutu pada rakyat. mengatur pegawai.

korupsi. hendaknya tidak digunakan dengan tujuan semata-mata untuk menjatuhkan kepala daerah. Salah satu implikasi dari UU No. Namun demikian. Kesejajaran dan kemitraan ini akan menjadi sebuah sinergi bila kedua lembaga ini menempatkan kewenangan yang dimiliki pada proporsi yang tepat. 32/2004 Pasal 42 ayat (1) huruf d yang mekanismenya diatur dalam pasal 29. 22/1999 tentang pemda dengan jelas mengatur peran masing-masing pihak serta hubungan antara keduanya. melakukan kolusi. Fungsi pengawasan hendaknya dilakukan dalam sebuah proses yang demokratis sehingga dapat meminimalisasi perbedaan kepentingan politik yang seringkali mewarnai hubungan antara DPRD dan pemerintah daerahkedua lembaga ini. keberadaan DPRD dan Pemerintah Daerah adalah tak terpisahkan sebagai kesatuan dalam pemerintahan daerah. Atau lebih jauh lagi. Kewenangan yang amat besar yang dimiliki oleh DPRD saat ini seyogyanya tidak dijadikan sebagai sarana atau kesempatan untuk menjatuhkan eksekutif atau mengusulkan pemberhentian kepala daerah sebagaimana disebut dalam UU No. dan nepotisme dengan pihak KDH. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . ini diharapkan tidak mengurangi sikap kritis DPRD terhadap pemerintah daerah dalam proses penyelenggaraan pemerintahan daerah. Ketentuan ini diharapkan akan menciptakan kestabilan pemerintahan daerah sehingga tidak mengulang preseden UU No. Hanya dengan ini masyarakat akan mampu didorong sebagai bagian penting dari otonomi. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Kewenangan DPRD dalam UU No. walikota beserta wakilwakilnya) serta menolak laporan pertanggungjawaban (LPJ) kepala daerah. 32/2004. dapat menghindarkan terjadinya intervensi dan overlapping antar wilayah kerja kedua institusi ini.pemda menjadi mutlak untuk membangun kesamaan pandang dalam memanfaatkan potensi daerah serta dalam hal penggunaan anggaran pembangunan sesuai urgensi dan kebutuhan masyarakat. Jadi. Dalam perspektif pemerintahan daerah. Pemahaman dan kepatuhan terhadap tugas-tugas yang dibebankan. bersama-sama memanipulasi aspirasi rakyat untuk mengumpulkan kekayaan pribadi atau kelompok. 22/1999 dalam hal kewenangan DPRD untuk dapat menolak laporan pertanggungjawaban dari kepala daerah yang seringkali berimplikasi secara politis untuk menjatuhkan kepala daerah. tetapi untuk lebih kritis lagi menilai kinerja kepala daerah. 22/1999 dalam memilih. Selanjutnya. pasal 42 ayat (1) huruf h. adalah menyangkut hubungan antara lembaga legislatif dan lembaga eksekutif di daerah. Pasal 16 ayat 2 menyatakan bahwa DPRD sebagai badan legislatif daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari pemda . Dalam UU No. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian KDH (gubernur. UU No. sesuai atau tidak dengan tugas dan tanggung jawab yang sudah diputuskan. Posisi tawar yang demikian strategis hendaknya tidak dimanfaatkan untuk memberi tekanan (memeras) KDH demi keuntungan pribadi atau kelompok. hubungan kedua lembaga itu bersifat sejajar. keduanya dihubungkan baik sebagai mitra yang berkedudukan setara dan sejajar (tidak saling membawahi) maupun penyeimbang jalannya pemerintahan daerah. Dalam perspektif Pemerintah Pusat. ketentutan terkait hal ini diubah menjadi bahwa wewenang DPRD lebih dibatasi untuk sebatas meminta keterangan laporan pertanggungjawaban dari kepala daerah. bupati. 2232/1999 2004 tentang Otonomi Pemerintahan Daerah dan UU No.

pemerintahan. Berdasarkan penelitian terhadap peran dan fungsi DPRD selama ini. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku saat ini memberikan penekanan pada pola hubungan keseimbangan dan keserasian yang sinergis. hendaknya diikuti dengan dibuatnya peraturan daerah yang membatasi masuknya tenaga kerja asing serta mengharuskan perusahaan memberikan pelatihan peningkatan ketrampilan pada pekerja-pekerja lokal. karena keberagaman masyarakat menjadi realitas sosial yang alamiah. Intervensi pemerintah pusat terbatas pada hal-hal tertentu. mengawasi. dan aset mana yang harus dilindungi. diperlukan kepekaan yang kuat dalam menentukan prioritas pembangunan daerah. Dengan demikian. dan pembangunan yang kondusif. Kemajemukan harus menjadi aset daerah yang perlu dikelola dengan baik dalam tatanan politik. Adjust space between Asian text and numbers . Terlebih lagi. Secara umum demokrasi mengakui adanya kehidupan yang serba majemuk. komunikasi yang efektif dengan eksekutif harus dibangun sejak awal agar terjalin sebuah hubungan yang saling mendukung dan bukan saling menjatuhkan. Apa yang dibutuhkan daerah. selanjutnya sehingga daerah diharapkan dapat lebih berperan dalam menentukan prioritas pembangunan.Di sini dibutuhkan kearifan untuk melakukan kompromi di antara kedua kepentingan tersebut agar tidak menjadi konflik. Peluang DPRD untuk menciptakan dan mendorong pembangunan demokrasi di daerah semakin terbuka. Mekanisme check and balance yang memberi peluang kepada DPRD dan pemerintah daerah untuk saling mengontrol. Oleh karenanya. Untuk itu. dan pembangunan tersendat justru karena peran DPRD yang kurang sesuai dengan kepentingan daerah. dan mengimbangi. potensi apa yang dimiliki daerah. pelaksanaan pemerintahan. Kepentingan masyarakat dapat lebih diwadahi dan potensi daerah dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. perda yang memberi kemudahan bagi kalangan pengusaha dan investor untuk menanamkan modalnya di daerah. semangat UU No. menunjukkan bahwa proses demokrasi. Misalnya. First line: 0. Formatted: Justified. sesuai dengan urgensi kebutuhan masyarakat. Kemampuan meletakkan posisi secara proporsional oleh DPRD dan pemerintah daerah terhadap pemerintahan pusat akan menciptakan sinergi yang lebih optimal. Indent: Left: 0".5". Komunikasi yang tidak dibangun dengan baik akan mengakibatkan pola hubungan di antara kedua institusi ini menjadi tidak sehat dan pada akhirnya menghasilkan sebuah pemerintahan yang tidak stabil. lapangan pekerjaan bagi warga masyarakat tercipta. menjadikan semua kebijakan publik pada tingkat lokal harus melibatkan kedua belah pihak. Kedudukan DPRD tidak lagi menjadi bagian dari pemda tetapi sebagai badan yang memiliki wewenang strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Keserasian hubungan antara DPRD dengan jajaran pemda menjadi mutlak ketika berbicara mengenai pemanfaatan potensi daerah dan berapa besar anggaran pembangunan yang diperlukan untuk itu. Kesemuanya itu dituangkan dan dirumuskan dalam perda. Dalam merumuskan dan menetapkan peraturan daerah (policy making power). lahan usaha bertambah. Untuk itu. kondisi daerah secara menyeluruh hendaknya menjadi dasar pertimbangan utama. tanpa harus ada kekhawatiran akan tersingkirnya tenaga kerja lokal. Adjust space between Latin and Asian text. ke depan DPRD perlu memberikan makna otonomi dalam konteks sebagai berikut.

daerah diharapkan mampu dan mandiri dalam membiayai dirinya karena dana yang diperoleh dari pusat sangat terbatas. daerah. 6. 14. pertahanan. kebudayaan. 7. 16. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri. lingkungan hidup. 38/2007 tersebut. perencanaan 18. industri. sosial. 15.Dalam hal ini. komunikasi dan informatika. pemerintahan umum. Urusan bersama ini. ketenagakerjaan. 17. ketahanan pangan. 2. 10. serta kualitas anggota DPRD yang mampu proaktif merancang kebutuhan masyarakatnya. pertanahan. pemberdayaan masyarakat dan desa. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan yang ditentukan dan ditetapkan oleh pemerintahan daerah. koperasi dan usaha kecil 22. 38/2007 terdiri dari 31 bidang urusan pemerintahan yang setelah diklasifikasikan diturunkan menjadi 26 urusan wajib dan 8 (delapan) urusan pilihan. 25. pertanian. 4. juga telah diatur dalam lampiran PP No. 5. 1. pembangunan. perangkat olahraga. serta agama. Urusan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota berkaitan dengan pelayanan dasar. anak. 3. kebijakan dan program berbasis kerakyatan. 9. moneter dan fiskal nasional. sebagaimana diatur dalam UU No. perpustakaan. kepemudaan dan administrasi keuangan daerah. 38/2007 pendidikan. menjadi urusan yang dibagi bersama antara pemerintah pusat. 7. 11. kehutanan. Sedangkan urusan pilihan adalah urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. 5. pemerintah propinsi. Dengan otonomi. dan 4. mineral. 32/2004 terbatas menyangkut enam bidang. dan persandian. 3. yaitu politik luar negeri. Terkait batasan kewenangan masing-masing tingkatan pemerintahan dalam setiap urusan tersebut. dan menengah.13. keluarga berencana dan keluarga sejahtera. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Urusan Wajib Urusan Pilihan Formatted: Space Before: 0 pt Untuk mewujudkan terciptanya penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance) di daerah diperlukan berbagai instrumen. yaitu perda. 1. penataan ruang. 19. pemberdayaan perempuan dan perlindungan kesehatan. 8. 2.] 26. mendahulukan diri dan kelompok melalui peluang dan kewenangan yang dimilikinya merupakan hal yang tidak boleh terjadi. ketransmigrasian. kepegawaian. kependudukan dan 24. 23. kekhasan. catatan sipil. Urusan di bidang lainnya. Pemda dituntut untuk Formatted: Font: +Body . perhubungan. perumahan. kelautan dan perikanan. dan pemerintah kabupaten/kota. perdagangan. penanaman modal. urusan murni pemerintah pusat. Oleh karenanya. 21. 20. pekerjaan umum. otonomi daerah. pariwisata. Urusan Pemerintahan Daerah dalam PP No. kearsipan. yustisi. sebagaimana diatur dalam PP No. energi dan sumber daya 8. dan 12. 1. keamanan. 6. statistik.

Dalam kaitannya dengan tugas dan wewenangnya mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah. digali dan dimanfatkan secara bersama-sama. Demikian pula dalam mendorong pemahaman bermutu pada rakyat terhadap pentingnya pembangunan daerah berdasarkan potensi yang dimiliki untuk. 22/1999 menyatakan bahwa DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di daerah merupakan wahana untuk melaksanakan berdemokrasi berdasarkan Pancasila dan pelibatan rakyat dalam pembangunan daerah. dan budaya masyarakat. tapi mengalami distorsi sedemikian rupa sehingga pemerintahan yang bersih sangat masih sulit diwujudkan. tetapi ini harus dalam konteks tidak menjadi beban aktivitas ekonomi. tugas dan wewenangnya. 32/2004 ini memberikan kekuasaan yang sangat besar pada DPRD dalam hak. UU No. Peran partisipasi aktif masyarakat diharapkan dapat tumbuh dan berkembang sejalan dengan kewenangan yang dimiliki DPRD serta upayanya untuk dapat mengelola beragam kepentingan politik. Terdapat kecenderungan bahwa pelaksanaan otonomi daerah relatif oleh banyak pihak justru memperluas praktek korupsi. diganti dengan peraturan yang dapat mendorong prakarsa masyarakat agar lebih produktif.selalu meningkatkan PAD. Demikian pula praktik politik uang bukan lagi rahasia. Artinya. Dalam menjalankan fungsi legislasi misalnya. Di pPosisi tawar-menawar kuat yang dimiliki DPRD dalam kerangka akomodasi kepentingan rakyat masih banyak tidak dijalankan dengan baik tapi justru dimanfaatkan secara tidak bertanggung jawab tanpa menghiraukan kepentingan rakyat daerah. DPRD dituntut dapat Mmenciptakan iklim politik yang sehat dan untuk memberikan pemahaman bermakna pada masyarakat akan pentingnya kesadaran politik rakyat dalam mendukung dan mengoreksi kebijakan pemerintahan. DPRD dapat harus membuat perda-perda inisiatif dan sekaligus mendorong pemerintah untuk membuatmengajukan perda-perda yang berpihak kepada rakyat. Pasal 16 ayat 1 UU No. DPRD sebagai pembentuk karakter politik pemerintahan dan pembangunan Selain sSebagai wakil rakyat. tidak dilanjutkan lagi. Ini hendaknya dimaknai sebagai peluang dan tantangan untuk melakukan perubahan-perubahan ke arah demokratisasi di daerahnya. sehingga dapat menjadikan DPRD sebagai agen perubahan. 4. dan bukan dilihat sebagai kesempatan untuk melakukan intervensi terhadap lembaga-lembaga pemerintahan lainnya. DPRD menghadapi tantangan baru untuk menjadikan institusi ini sebagai agen perubahan. Ini sebagai akibat dari lemahnya komitmen DPRD dalam menggunakan kewenangannya. DPRD memiliki nilai strategis yang sangat penting dalam mendorong demokratisasi di semua sektor kehidupan. ataupun momen politis dalam pertanggungjawaban tahunan dari Kepala Daerah (KDH). sosial. kolusi. dimana banyak kalangan anggota DPRD terlibat di dalamnya. Raperda yang diajukan pemerintah. selain mendengar usulan fraksi-fraksi DPRD juga dapat mengadakan forum pertemuan dengan unsur-unsur masyarakat guna mendengarkan dan . terutama dalam kerangka persetujuan RAPBD. dan nepotisme.2. Peraturan daerah semacam pajak dan retribusi yang kurang produktif. fungsi pengawasan dari DPRD masih banyak yang belumtidak berlangsung sesuai dengan UU dan peraturan yang ada.

Dalam. baik yang terkait dengan potensi yang dimiliki daerah maupun posisi daerah dalam lintas pembangunan regional dan nasional. 4. pembagian pendapatan dari kekayaan alam. aspirasi. Hal ini dimaksudkan untuk lebih memudahkan semua pihak dalam mendukung setiap proses pemerintahan dan pembangunan. pajak dan retribusi. 2. fasilitas perijinan usaha. Pembangunan daerah tidak akan berjalan bila sejumlah prasyarat tidak dipenuhi.5" . Untuk lebih mengefektifkan fungsi pengawasan. misalnya. kesetaraan. pengaturan sumber-sumber pendapatan negara dan daerah. serta menggerakkan kegiatan ekonomi lintas daerah dan lintas nasional. Semua pemanfaatan potensi daerah harus diatur dalam perda sebagai jaminan adanya perlindungan terhadap kegiatan usaha dan pengembangannya.5". 22/1999 tentang Pemda. hutan. merupakan sebagian cara untuk mewujudkan itu. efisiensi. memahami secara baik dan benar tentang penerapan secara menyeluruh mengenai pemerintahan yang baik. Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah: 1. dan lain-lain) dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan. beberapa pemahaman dan tindakan yang perlu ditampilkan DPRD dalam mendukung pembangunan daerah yang lebih bertanggung jawab. dan kemampuan pengawasan yang baik. efektivitas. penegakan hukum. DPRD bersama pemda (eksekutif) hendaknya memfasilitasi segala bentuk kegiatan di daerah. memiliki visi yang jauh kemasa depan. transparansi. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Tab stops: Not at 0. fungsi. dan tanggung jawabnya sesuai yang digariskan dalam peraturan perundang-undanganUU No. terutama di bidang perekonomian.. tidak upaya pemanfaatan dapat berubah menjadi penyalahgunaan. Kkegiatan ekonomi jangan diartikan semata-mata sebagai sumber PAD tetapi sebaiknya diterjemahkan sebagai upaya untuk mengajak masyarakat daerah maupun luar daerah untuk memanfaatkan dan mengembangkan potensi daerah.. Melalui cara ini. dan kemudahan untuk menggunakan sarana dan prasarana serta sumber daya daerah (tanah. yaitu: adanya partisipasi masyarakat. terutama oleh para penyelenggara pemerintahan di daerah yaitu pihak legislatif dan eksekutif di daerah. peningkatan daya tanggap. 3. selain mendorong kegiatan investasi. DPRD dapat menghidupkan hak penyelidikan sehingga pengawasan politik terhadap jalannya pemerintahan dapat diwujudkan. memahami masalah daerah dan memuat peta pembangunan yang berbasis kerakyatan berdasarkan kondisi. Tugas DPRD selanjutnya adalah mengawasi jalannya perda-perda di bidang perekonomian tersebut. tuntutan. tambang. Formatted: Indent: First line: 0. agar seluruh pola pikir dan tindak yang dilakukan dalam mendukung pembangunan daerah dapat lebih optimal dan sesuai dengan koridor hukum. jika Tanpa payung regulasi yang jelas dan tegas. Beberapa fasilitas kemudahan hendaknya diadakan.mempertimbangkan aspirasi sekaligus penilaian mereka terhadap calon-calon kepala daerah yang akan dipilih nantinya. kewajiban. profesionalitas. dan kebutuhan prioritas masyarakat. Sehingga diharapkan tidak terjadi lagi adanya kepala-kepala daerah yang didukung DPRD tetapi tidak dikehendaki rakyat. perpajakan. memahami secara benar filosofi dan prinsip pembangunan di era otonomi daerah. memahami dan mampu melaksanakan tugas. akuntabilitas. Selanjutnya.

Dalam prinsip ketatapemerintahan yang baik. Jika komunikasi seperti ini dilakukan terusmenerus secara berkesinambungan. Penguatan pelaksanaan desentralisasi pemerintahan dan pembangunan yang dapat menjamin hak-hak dasar masyarakat daerah harus dilakukan. Selain itu. Mencermati berbagai hal yang terjadi di daerah. Ini bisa dilakukan. Formatted: Space Before: 0 pt . Hal ini mencakup peningkatan kemampuan dalam formulasi kebijakan dan perencanaan. Aantara lain. terdapat beberapa alternatif pendekatan pembangunan yang dapat didorong oleh DPRD ke arah yang lebih baik untuk dilakukan oleh pemerintah daerah dalam merespon kondisi faktual yang berkembang. DPRD hendaknya melibatkan individu maupun lembaga yang memiliki pengaruh besar di masyarakat dalam merumuskan kebijakan-kebijakan. khususnya kemampuan untuk memberikan pelayanan secara tepat dan tepat. Sebagai mitra yang dengan kesadaran politik yang baik. Adanya iklim politik yang sehat akan mendukung peran DPRD sebagai pembentuk karakter politik di daerahnya. maka masyarakat akan tahu kebijakan-kebijakan mana yang harus didukung dan mana pula yang perlu dikoreksi. Komunikasi yang intensif dan terarah akan melahirkan kesadaran politik masyarakat. memang banyak hal yang menjadi kecenderungan dan permasalahan umum pembangunan di daerah. serta menumbuhkan peranan sektor swasta dan lembaga swadaya masyarakat. dan agama adalah sebagian dari individu-individu yang dapat memberi kontribusi melalui masukan dan kritik terhadap pemda dan DPRD. masyarakat adalah mitra pemerintah dan DPRD dalam membangun daerahnya. dalam berbagai aspek. adat. ormas. Tokoh-tokoh masyarakat. agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat memang diyakini berlangsung efektif dan efisien. dengan cara mengajak serta elemen-elemen masyarakat berpartisipasi aktif melalui fungsi dan peran yang dimiliki masing-masing. DPRD hendaknya membuka ruang komunikasi politik secara luas dengan seluruh unsur masyarakat di daerahnya. Peningkatan kemampuan kelembagaan atau organisasi pembangunan sektoral perlu dioptimalkan. Untuk mendukung aspek-aspek pembangunan yang telah diuraikan di atas. dan bukan semata-mata obyek pembangunan. sosial.Sebagai institusi yang mewakili beragam aspirasi masyarakat. maka proses pembangunan demokrasi di daerah dapat segera terwujud sebagaimana yang dicita-citakan. ekonomi. Terkait dengan ini. Sebagai bagian dari pelaku-pelaku politik di daerah. baik itu politik. juga upaya debirokratisasi dan deregulasi di tingkat pemerintahan lokal butuh dilakukanterus dikaji dan diperbaiki untuk mengurangi hambatan-hambatan dalam mencapai keberhasilan sebuah kebijakan. dangkan LSM. sehingga aAspirasi masyarakat bawah harus dapat terserap dan diangkat menjadi permasalahan utama dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan pembangunan untuk berbagai dimensi. Serta mMemberikan pemahaman akan pentingnya kesadaran politik sama artinya dengan menempatkan masyarakat dalam posisi sebagai mitra. terutama yang terkait dengan kondisi sosial yang perlu ditanggapi melalui pendekatan pembangunan. transfer teknologi dan pengembangan kemampuan. dan partai politik akan selalu mencermati dan kritis terhadap pelaksanaan peran dan fungsi serta kinerja DPRD dalam membangun kebijakan dan pelayanan pemdapublik. maupun budaya.

Upaya meraih kesemua hal tersebut. Batas-batas fungsional antara DPRD dan lembaga pemerintahan lainnya Sebagai lembaga politik. maka harus diciptakan prakondisi yang memungkinkan Di samping itu. Selanjutnya pelatihanpelatihan di bidang perdagangan barang. secara strategis membutuhkan peran DPRD sebagai pembentuk karakter politik pemerintahan dan pembangunan. pengawasan pemerintahan dan pembangunan serta perannya sebagai wakil rakyat yang menampung aspirasi dan menindaklanjutinya. setiap metode penentuan proyek pembangunan harus sesuai dengan keunggulan wilayah dan kapasitas masyarakat setempat agar potensi yang terdapat di setiap daerah dapat dieksploitasi dimanfaatkan secara proporsional. DPRD memiliki tugas-tugas yang hanya terbatas pada dimensi-dimensi tertentu. dan bimbingan keterampilan. serta hubungan kerja. Not Bold Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt . dan pengetahuan tentang pembentukan jaringan bisnis yang bersifat kemitraan sangat penting perlu pula dikembangkan. Untuk Dalam kerangka perencanaan pembangunan. Upaya ini bisa dilakukan dengan Konsep ini harus mampu menjamin ketersediaan lahan dan sumber daya alam lainnya guna menampung tenaga kerja yang telah disiapkan.3. jasa. dan ekonomi masyarakat untuk memperoleh kesempatan yang sama dan peningkatan kesejahteraan yang lebih adil dan lebih maju. juga perlu penekanan pada pemahaman konsep dalam kerangkalahirnya bisnis kemitraan antar semua elemen dan lapisan sosial masyarakat. Italic Formatted: Font: +Body. . upaya ini harus menghindari adanya. Demikian pula dengan hubungan kerja dan koordinasinya DPRD Formatted: Font: +Body. tetapi dengan catatan tidak memberikan beban baru bagi masyarakat miskin yang masih banyak tersebar di berbagai daerah. DPRD perlu memperkuat dan meningkatkan prakarsa di tingkat lokal sehingga dapat mendorong dan meningkatkan kemampuan berusaha yang berbasis kerakyatan bagi tumbuh dan berkembangnya local enterpreneurship atau pengusaha lokal yang kuat. konsep ini perlu menjamin kesinambungan suplai komoditi yang dibutuhkan dalam pengembangan kreatifitas masyarakat. Ini dapat dan dilaksanakan dalam melalui berbagai paket-paket pelatihan. Oleh karena itu. baik yang bersifat formal maupun yang bersifat informal. Guna menjamin SDM yang berkualitas tersebut dapat bermanfaat. semua kondisi yang dijelaskan di atas diharapkan mampu menemukan kesetaraan politik. yang pada gilirannyaini diharapkan akan menciptakan situasi saling ketergantungan (interdependen) dan keseimbangan ekonomi antar daerah. Hal inilah yang penting dikomunikasikan secara terus-menerus pada masyarakat agar mereka memahami tugas-tugas utama DPRD. guna menjaga hubungan yang harmonis antara semua pelaku ekonomi daerah. sehingga ke depan dapat menjadi basis keunggulan daerah.Upaya peningkatan kualitas SDM hendaknya harus dilakukan pada semua lini aktivitas masyarakat. koordinasi dan tanggung jawab yang ada pada DPRD. Upaya membangkitkan kembali koperasi dan permodalan dapat dilakukan untuk menumbuhkan usaha swadaya masyarakat. Pada gilirannya. Tugas yang dimaksud adalah legislasi. 4. keuangan. Namun demikian. sosial. penyuluhan. Prakondisi lainnya yang juga butuh disiapkan adalah upaya Demikian pula. Kebijakan dasar program-program pembangunan (dalam arti luas) yang dirumuskan DPRD perlu diorientasikan kepada mata pencaharian utama yang digeluti masyarakat di suatu daerah. Intinya.

bupati/walikota dan wakil-wakilnya) sebelum revisi UU No. j. keuangan dan administratif.53" . Hak. membahas dan memberikan persetujuan raperda mengenai APBD yang diajukan oleh pemda. h. menyatakan pendapat. anggaran. Demikian pula berhak memperoleh hak sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku. imunitas. e. ormas. Memilih kepala daerah (gubernur. f. 32/2004 dan UU N0. protokoler. memilih dan dipilih. maka setiap anggota DPRD wajib mengetahui. 2.dengan lembaga-lembaga pemerintahan daerah maupun dalam kerangka hubungan dengan lembaga-lembaga lain seperti LSM. membentuk perda. Hak Anggota a. 27/2009. Berdasarkan kondisi tersebut. Fungsi. menyampaikan usul dan pendapat. c. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemda. dan lain-lain secara luas. memberikan persetujuan rencana kerja sama dengan daerah lain atau dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. Wewenang b. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah (gubernur. g. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. c. sehingga ke depan tugas ini tidak akan ada lagi dalam DPRD. dan pengawasan Tugas dan a. 22/1999 akan disepakati pilihan langsung (gubernur. f. Hak DPRD a. dan i. Bersama kepala daerah menetapkan APBD. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan. c. 3. 22/1999 disetujui oleh DPR-RI. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemda terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. memahami serta melaksanakan kewajiban sebagai tugas yang diamanatkan padanya dan. Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Mendagri. bupati/walikota dan wakil-wakilnya). i. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. 27/2009) Fungsi legislasi. DPRD b. bupati/walikota dan wakil-wakilnya) oleh rakyat. Selanjutnya dalam revisi UU No. g. dan k. Sumber referensi dari kewajiban dan hak anggota DPRD telah diatur dengan baik di dalam UU No. d. b. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan perda dan APBD. Adapun tugas dan wewenang yang dimaksud adalah: 1. Tugas dan Wewenang DPRD (UU No. membela diri. e. interpelasi. h. d. mengajukan rancangan peraturan daerah provinsi. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. angket. 2232/19992004 dan UU No. mengajukan pertanyaan. Tab stops: Not at 0.

Menampung aspirasi masyarakat daerah.4. seringkali pelaksanaan pengawasan oleh DPRD menjadi titik konflik karena DPRD masuk kepada hal-hal yang bersifat teknis-adminsitratif yang sebenarnya bukan merupakan tugas dari DPRD. bukan pengawasan teknis dan administratif. Selanjutnya hak DPRD diatur dalam Pasal 19 UU No. 22/1999. Hanging: 0. b. seringkali menjadi titik konflik kepentingan antara DPRD dengan Pemda. Seperti aAlokasi untuk anggaran DPRD. Formatted: Indent: Left: 0. gagasan. Selain itu. 22/1999 yaitu mengajukan pertanyaan.53" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. dapat dibuat keputusan peraturan kepala daerah yang merupakan kewenangan penuh dari kepala daerah. protokoler dan keuangan/administrasi. di banyak tempat. dan konsep pembangunan daerah yang secara optimal dapat dituangkan dalam peraturan daerah sebagai acuan dasar dalam memajukan pemerintahan dan pembangunan ke arah yang lebih baik. bila dipandang perlu. Sementara itu jJika dikaji lebih jauh. . dan lain-lain. Pelaksanaan kerjasama. KPK. banyak dialami hambatan dan tantangan sehingga perlu dikelola dengan baik. Pelaksanaan APBD. Melaksanakan pengawasan terhadap hal-hal sebagai berikut: a. Pembuatan keputusan peraturan kepala daerah tidak memerlukan persetujuan DPRD. kepala daerah dapat berkonsultasi dengan DPRD. e. Pelaksanaan keputusan kepala daerah. terutama dalam konteks perannya sebagai wakil rakyat. DPRD perlu melakukan dengan kontrol politik yang bersifat strategis (oversight). Italic . sebab DPRD adalah lembaga politik sehingga arah pengawasan dapat diarahkan pada sejauhmana pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan daerah mencapai hasil yang diharapkan dalam RPJP. misalnya. DPRD sebagai lembaga eksekutif daerah hendaknya menjadi sumber inisiatif. Dalam praktiknya.5" Formatted: Space Before: 0 pt. c. anggota DPRD juga memiliki hak khusus sebagaimana yang diatur dalam Pasal 21 UU No. inspektorat provinsi dan inspektorat kabupaten/kota. yaitu: (1) Satuan pengawas internal seperti. RPJMD. peran DPRD sebagaimana yang diatur dalam UU peraturan perundang-undangan cukup luas. Ssebab konsekuensi dari peraturankeputusan kepala daerahtersebut akan menjadi bahan dipertanggungjawabkan kepala daerah di hadapan DPRD. Bahkan. Wilayah pengawasan ini. padahal anggaran yang dikelola oleh pemda harus mencakup untuk semua kegiatan pembangunan daerah. Inilah yang perlu dicermati oleh pihak DPRD agar gagasan-gagasan yang diusulkan tidak kemudian menghambat gerak laju penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. terdapat institusi/lembaga lainnya yang bertugas mengawasi persoalan teknis dan administratif.5". Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah terhadap rencana perjanjian kerjasama.19". Dalam hal penyusunan anggaran keuangan daerah. ide. Tab stops: Not at 0. dan RKPD. BPKP. 6. Perda dan peraturan lainnya. Selanjutnya untukPada konteks pengawasan. Untuk menjalankan (implementasi) perda. akuntan publik. Pelaksanaan kebijakan dan program penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. d. dalam struktur tata pemerintahan daerah sudah menjadi tugas dan wewenang dariKarena selain lembaga DPRD. 5. pihak DPRD menghendaki anggaran seimbang antara DPRD dan pemda. Meskipun demikian. (2) Satuan pengawas eksternal seperti BPK. Tab stops: Not at 0. Ini tentunya tidak proporsional karena . Untuk itu.

blog. persetujuan. e-mail. DPRD dalam hal ini dapat melakukannya dengan berbagai mekanisme. Untuk itu. Sebagai lembaga perwakilan rakyat. Sesuai dengan mekanisme yang berlaku. dan bertanggung jawab. dialog. efektivitas dan efisiensi. Namun. dan lain-lain untuk diakomodasi dalam peraturan daerah atau ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan dan program pembangunan. Potensi negatifnya adalah bahwa Sehingga keputusan penyelenggara pemerintahan dan pembangunan daerah yang ada bisa kurang memperhatikan aspek profesional. maka keputusan-keputusan pemerintah daerah akan selalu sarat dengan nuansa politik yang tidak sehat. DPRD perlu aktif menyosialisasikan tugas-tugas dan hak politiknya kepada masyarakat luas. rekomendasi. dan hukum-administratif. peran serta masyarakat untuk mendorong terciptanya penyelenggaraan pemerintahan dan. surat atau hasil kajian. Jika dominasi ini terus berlangsung. . terarah. DPRD berkewajiban memfasilitasi dan menindaklanjuti aspirasi dari masyarakat. pihak DPRD akan sangat efektif melaksanakan tugas-tugasnya jika peka dan aktif merespon setiap dinamika kehidupan masyarakat. kontrol dari masyarakat dalam kerangka pengawasan pembangunan senantiasa perlu dilaksanakan dan disalurkan secara proporsional. website. sms. antara lain:seperti Mmelalui rapat dengar pendapat. Satu hal yang sangat perlu dipahami oleh semua pihak adalah bahwa. organisasi maupun dari berbagai kelompok lainnya. Oleh sebab itu. saluran-saluran alternatif untuk menyerap aduan dan pendapat publik (saluran telpon. kunjungan kerja lapangan. wewenang. penyampaian aspirasi masyarakat ke DPRD akan berjalan sangat efektif apabila masyarakat mengerti dan memahami kedudukan. DPRD merupakan salah satu wahana untuk pmenyerap dan menyampaikan aspirasi masyarakat untuk ditindaklanjuti. dan kemasyarakatan sangat penting sebagai konsekuensi dari upaya menempatkan masyarakat sebagai subyek dan obyek pembangunan itu sendiri.Bertolak dari kenyataan UU yang relatif menempatkan kKedudukan DPRD yang cukup kuat sebagaimana yang telah diuraikan luas dimuka. ada juga membuka kecenderungan telah dan akan terjadi dominasi bahan legislatif daerah terhadap pemda. Demikian pula. teknis. pembangunan. dan sebagainya). tugas dan hak DPRD itu sendiri. Dengan demikian kesalahpahaman akan senantiasa dapat dihindari dan obyektivitas tuntutan masyarakat dapat dipertanggungjawabkan secara logis.

bermuara berbagai kepentingan politik untuk yang harus diakomodasikan sebaik mungkin dalam bentuk kebijakan publik yang paling elementer di daerah. yaitu perda. Dalam tradisi demokrasi yang telah mapan. karena Oleh karena itu. persaingan yang terbuka dari berbagai kepentingan. Sedangkan model demokrasi presidensial mengandalkan sistemnya pada adanya dua lembaga pemerintahan yaitu Formatted: Space Before: 0 pt . Ketika demokrasi lahir. 5. perdana menteri adalah pemimpin pemerintahan sekaligus anggota parlemen. kendati berbagai bentuk demokrasi pun lahir.1. Perda adalah salah satu produk hukum pemerintahan daerah. dan kKondisiteks ini melipatgandakan tantangan bagi para anggota DPRD terpilih.BAB V Menjembatani dan Mengelola Berbagai Kepentingan Politik Publik Rahmi Yunita Tugas Para wakil rakyat adalah pada intinya memang harus memperjuangkan kepentingan rakyat.. sudah terdapat pranata yang berkembang dalam kehidupan berpolitik masyarakat yang dapat membantu wakilwakil rakyat melakukan tugasnya. Di dalam DPRD dituntut mampu mengelola dan menjembatani. misalnya tuntutan yang efektif akan keterbukaan informasi. lembaga pemilu berkala yang jujur dan adil dipercaya sebagai instrumen untuk menentukan siapa sebagian kecil orang yang diminta mengelola kepentingan publik ini. Di negara demokrasi muda seperti Indonesia. kemampuan DPRD adalah jembatan bagi berbagai kepentingan politik dalam menentukan kebijakan di daerah ini. mereka berakar dari dua model ekstrem di bawah ini: Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt 1 2 Demokrasi parlementer Model westminster Diawali oleh Inggris Demokrasi presidensial Model pemisahan kekuasaan Diawali Presidensialisme AS Bila pPada model parlementer. hal ini masih harus dibangun. pemerintahan perwakilan lahir ketika masyarakat memutuskan untuk menyerahkan sebagian urusannya kepada sebagian kecil orang. DPRD sebagai wakil semua Dalam sejarahnya.. kemampuan untuk mengelola kepentingan-kepentingan yang berkembang di daerah menjadi sangat penting. dalam struktur peraturan perundang-undangan Indonesia dan mengikat seluruh pihak di daerah. Dalam perkembangannya. serta akuntabilitas pertanggungjawaban publik dalam bidang hukum dan etika.

Font color: Blue Formatted: Font: +Body. DPRD adalah arena yang mencerminkan berbagai preferensi politik yang beragam. Bold . usai pengukuhan anggota DPRD. Di sisi lain. Dengan demikian. Font color: Blue Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. Formatted: Font: +Body. 22/2003 disahkan. Amandemen UUD 1945. Dinamika dalam DPRD sendiri akanadalah mencerminkan berbagai aspirasi masyarakat yang menuntut diakomodasisuarakan dalam pengambilan kebijakan daerah. yaitu pemilihan langsung. Artinya. Sebagai lembaga politik yang bersifat kolegial. maka wewenang DPRD kini terbatas pada permintaan keterangan laporan pertanggungjawaban dari kepala daerah. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. bagaimana seharusnya peran DPRD? Dengan menguatnya lembaga eksekutif di daerah ini. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. bupati /wakil bupati dan walikota/wakil walikota . seperti pengalaman kejatuhan Presiden Abdurrahman Wahid. yang telah dilakukan empat tahap. 2232/20034 juncto UU No. DPRD bertugas hadir sebagai wakil rakyat untuk menyusun legislasi daerah (perda) serta mengawasi pelaksanaannya oleh eksekutif. bupati/walikota menjadi lembaga untuk memastikan check and balance. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Dalam konteks pertanggungjawaban kepala daerah. Salah satunya adalah dengan menggariskan bahwa Presiden Republik Indonesia dipilih secara langsung dalam pemilu. Mengikuti mekanisme rekruitmen kepala eksekutif tingkat nasional ini. Dalam konteks baru ini. maka peran lembaga legislatif di daerah pun bergeser. Kepala daerah tidak lagi dipilih oleh DPRD. lembaga ini hakekatnya telah menjelma menjadi lembaga perwakilan rakyat. Meski Juga ketika kita menyadari bahwa tidak semua komponen masyarakat terwakili dalam DPRD (karena tidak semua suara dalam pemilu teralokasikan menjadi kursi). Font color: Blue Formatted: Font: +Body. 22/1999 menggariskan bahwa salah satu tugas dan wewenang DPRD adalah memilih gubernur/wakil gubernur. Hubungan saling membutuhkan sekaligus dapat saling menyandera inilah semangat dari prinsip pemisahan kekuasaan dalam demokrasi presidensial. Kepala eksekutif telah mendapatkan mandatnya sendiri secara terpisah untuk memerintah. lembaga eksekutif memiliki kewenangan menerjemahkan kehendak legislatif sebagaimana tertuang dalam perda melalui berbagai produk kebijakan eksekutif seperti peraturan kepala daerah yang nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada DPRD. dan memajukan sebuah agenda kebijakan seperti yang dikampanyekan dalam platform-nya. Pasal 18 ayat 1 UU No.biasanya memiliki kekuatan veto yang mengimbangi lembaga legislatif.. dapat dipahami bahwa DPRD tidak monolitik (tunggal/seragam). presiden mendapatkan legitimasi demokratis langsung dari rakyat dan tidak dapat dijatuhkan dengan alasan politis oleh lembaga perwakilan. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. 12/2008 mengisyaratkan mempertegas bahwa pilihan kepala daerah pun akan dilakukan dengan mekanisme yang sama. sebagaimana akan dituangkan dalam RPJMD yang akan berlaku selama lima tahun (satu periode kepemimpinan daerah). mengantarkan Indonesia pada pemurnian model pemisahan kekuasaan ini. UU No. Selain memiliki perimbangan mengimbangi kewenangan anggaran dari cabang terhadap eksekutif. Fungsi ini sudah terhapus ketika UU No. dari berhak untuk meminta pertanggungjawaban gubernur. beranggotakan banyak orang.eksekutif yang menjalankan pemerintahan dan lembaga perwakilan yang menetapkan kebijakan dan mengawasi pelaksanaannya.

Indonesia memiliki konteks yang sedikit berbeda. Mengidentifikasi pelaku-pelaku politik utama Politik menjadi arena dimana tempat sumber daya yang terbatas yang dikelola pemerintah harus dialokasikan. DPRD berubah dari wakil pemilih menjadi wakil semua. bersikap mawas terhadap berbagai pelaku-pelaku politik ini akan membantu DPRD mengantisipasi pelanggaran-pelanggaran hukum dan etika yang dapat terjadi. termasuk di daerah menjadi rumit. yang sering dimana mengakibatkan penegakan hukum belum sepenuhnya terjadi. Kepala eksekutif/kepala daerah (walikota/bupati) y Kepala daerah. hubungan perwakilan ini justru baru dimulai tepat ketika anggota DPRD terpilih. termasuk pada masa lima tahun pertama reformasi. ini membuat situasi pembangunan politik di Indonesia. termasuk di dalamnya adalah korupsi politik korupsi dengan pemanfaatan jabatan-. 1. bab ini berusaha tidak mengabaikan keduanya. Selalu ada pihak-pihak yang lebih diuntungkan dan kurang diuntungkan. Situasi transisional. Tidak ada yang memungkiri bahwa praktek korupsi. Space Before: 0 pt. Kendati rumitdemikian. First line: 0. Kkita tidak lagi dapat mempersoalkan apakah masyarakat yang mengadu di gedung DPRD adalah bukan bagian dari golput alias dengan satu atau lain alasan (tidak memberikan suaranya pada pemilu) lalu.2. memiliki kepentingan untuk terpilih kembali dalam pemilu berikutnya sehingga cenderung untuk berusaha untuk memberikan kesan yang terbaik di mata masyarakat pemilih. merupakan masalah besar dari yang pada dasarnya menentukan perilaku politik pejabat daerah. ada juga Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. Maka iIni mengarahkan kita pada hal penting yaitu bahwa yang harus digarisbawahi adalah hubungan antara anggota DPRD dengan dan masyarakat tidak berhenti ketika yang bersangkutan terpilih. namun lebih dari itu merupakan terjemahan ideologis dari para aktivis partainya. Ini tidak saja merupakan respons terhadap pasar politik (kecenderungan) pemilih. dalam pilihan kebijakan yang ditempuh pemerintah daerah dan DPRD. Kita juga tidak lagi dapat menyoal bahwa sebagian dari masyarakat di daerah pemilihan kita tertentu bukanlah konstituen kita. Justru sebaliknya. Selain itu. maka terjadilah pertarungan antara berbagai aktor politik di daerah. Setelah pemilu usai. Karena itu.5".25". Tab stops: Not at 1" . No bullets or numbering. Berikut ini digambarkan pembagian pelaku-pelaku politik yang ada dalam sistem demokrasi pembagian kekuasaan (presidensial) dan kontekstualisasinya di Indonesia. misalnya apakah itu cenderung pro pasar atau cenderung mengutamakan agenda-agenda kesejahteraan sosial. Perebutan alokasi sumber daya masih jarang mempersoalkan strategi kebijakan namun lebih dimaksudkanterjebak sekedar untuk bagi-bagi rejeki di antara pejabat publik. wakil rakyat harus berhadapan dengan publik daerah secara keseluruhan yang sedapat mungkin suaranya harus dikelola dapat terwakili demi legitimasi produk-produk politik kebijakan di daerah. partaipartai politik secara umum mengidentifikasi dirinya dengan kecenderungan kebijakan tertentu. bahkan dirugikan. secara rasional . Usai pemilu. 5.Konsekuensinya. dalam demokrasi mapan. Dalam konteks itulah. baik kontek demokrasi yang dewasa dan ideal harus terus disandingkan dengan tantangan faktual maupun konteks Indonesia yang sedang menata demokrasinya.

Dalam konteks daerah. hingga kini terus mendorong praktek ini sementara penegakan hukum dan akuntabilitas partai politik belum bisa didorongmasih lemah. Fenomena lainnya. kepala eksekutif daerah kehilangan minat lagi untuk menunjukkan kinerja dan terperangkap dalam fenomena lame duck (bebek lumpuh) karena tidak ada insentif lagi untuk tampil prima. dengan kewenangan yang dimilikinya. Pada fenomena ini ada resiko sumber daya masyarakat dihamburkan untuk proyekproyek mercusuar yang mahal tapi tidak banyak berguna. maka trend yang lahir justru adalah korupsi berjamaah . untuk mengambil posisi populer di antara anggota yang lain. Ddalam situasi dimana penegakan hukum yang lemah. baik untuk kepentingan pribadi maupun terutama karena tuntutan dari partai politik masing-masing yang harus mengumpulkan dana kampanye. Kkarena kepala eksekutif daerah merupakan posisi yang lazimnya dibatasi kesempatannya untuk dapat terpilih kembali. DPRD dan justru bersandar pada keberagaman perbedaan pendapatlah yang didorong sehingga terdapat lebih dari satu usulan solusi untuk permasalahan daerah tertentu. kKadang-kadang pada masa jabatan terakhir. Formatted: Space Before: 0 pt . baik dalam kepentingan keuangan langsung maupun dalam pembuatan kebijakan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya. Padahal. Lembaga perwakilan (DPRD) Sekali lagi. Karena ada sedikit saja iInsentif untuk populer dan dekat di hati rakyat sering dinilai tidak cukup sehingga bahkan menimbulkan masih ada keengganan. masyarakat akan memiliki pemimpin yang tidak efektif namun tidak dapat dijatuhkan. 2. Kepentingan ini akan berkelanjutan bila UU Pemilu dan UU Parpol di Indonesiayang ada tidak tegas mengatur pendanaan partai. misalnya berkampanye pada pemilu jabatan publik yang lebih tinggi atau mempersiapkan lahan ekonomi selepas menjabat.kecenderungan kepala daerah untuk menorehkan sejarah sebelum meletakkan jabatan (vouloir conclure).. terbatasnya keterbukaan informasi dan. Ironisnya. Dinamika politik ini dapat menjadi ruang adu populer bagi DPRD di depan masyarakat dan menyediakan insentif bagi anggota DPRD dan partai politik untuk mencoba berlomba mewakili kepentingan masyarakat dengan. DPRD tidaklah monolitik. lebih baik daripada yang lain. anggota DPRD sering tergoda menggunakan kedudukannya untuk menggalang dana. sSebagai lembaga yang kolegial dan . Sehingga pPada fenomena ini. Namun kepentingan yang rasional di atas memang sering tidak permanenmengemuka. posisi kepala eksekutif sering dijadikan kendaraan untuk melakukan akumulasi kapital modal sebanyak-banyaknya yang pada gilirannya digunakan untuk mendapatkan kekuasannya yang lebih besar lagi. Namun. Ini bisa berwujud pembangunan sebuah proyek raksasa dan prestisius yang lebih sering bersifat fisik daripada mental agar karena yang terakhir ini tidak mudah dilihat hasilnya dalam waktu singkat. lemahnya media massa di daerah membuat kepentingan DPRD untuk bertarung dan berlomba berebut popularitas pemilih dengan cara memperdebatkan kebijakan publik ini menjadi tidak signifikan.

bila memungkinkan. Namun. menguatkan kapasitas partisipasi mereka dalam pembangunan. Lagi-lagi. budaya politik dari partai politik mungkin akan bergeser menjadi lebih akuntabel. Opsi lain yang bisa dipilih adalah merevitalisasi struktur parpol-parpol nasional yang ada di tingkat lokal (setara dengan propinsi atau kabupaten/kota) agar lebih sensitif terhadap kepentingan daerah. Berbagai ormas kelompok ini memiliki misi untuk memberdayakan masyarakat. termasuk secara spesifik mengkader calon-calon pemimpin daerah yang bertanggung jawab dan memiliki jiwa kepemimpinan yang dapat membawa daerah ke masa depan yang lebih baik di tengah kompetisi global. Parpol juga memiliki tanggungjawab dalam melakukan fungsi-fungsi sosialiasi politik. Masyarakat sipil Masyarakat sipil dapat diwakili dengan oleh pelbagai asosiasi (perkumpulan) yang ada di dalamnya. Partai politik (parpol) Parpol lahir untuk memperjuangkan agenda politik tertentu. karena desentralisasi dalam tata pemerintahan tidak dapat sesegera mungkin diikuti dengan desentralisasi ormas (yang berskala nasional). Pilihan radikalnya. Selama orientasi parpol bukan melulu masih dianggap sebagai kendaraan menggapai kekuasaan untuk mengartikulasikan kepentingan pemilihnya. Jika berkuasanya sebuah partai menandai corak kebijakan tertentu di demokrasi mapan. Apapun pilihannya.3. 4. menyampaikannya dalam kampanye secara relatif kontras dengan partai lain (perbedaan program dan strategi). serta pendidikan politik. maka agak sulit memastikan masa depan politik yang akan membawa kebijakan yang lebih baik bagi daerah. dengan kekuasaan berarti akses pada sumber daya keuangan baik secara etis maupun tidak etis. boleh jadi adalah dengan membolehkan hadirnya partai-partai lokal untuk terjun dalam pemilu di daerah. parpol berkepentingan untuk duduk dalam lembaga politik di daerah. paling tidak melalui penegakan hukum dan kedewasaan politik dari pemilih. targetnya adalah membangun iklim Dengan kompetitifsi yang lebih keras dalam memikat hati pemilih sehingga diharapkan. kepala eksekutif. organisasi berbasis masyarakat. sebagian besar parpol yang ada bahkan dapat dikatakan tertatih-tatih menjalankan fungsi pendidikan politiknya. ataupun asosiasi profesi. Karena itu. . maka ormas pun rata-rata gagap berinteraksi dengan pemda yang masih meraba- . Jalan radikal yang dapat ditempuh adalah mereformasi UU Parpol dan UU Pemilu secara terus menerus agar lebih kian dekat dengan kepentingan masyarakat di daerah. dan membawakannya menjalankannya dalam pemerintahan. agergasi kepentinga. seperti yang telah diberlakukan di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam dalam rangka otonomi khusus. Dalam hal ini. baik itu LSM. baik legislatif maupun. di Indonesia masih perlu waktu lagi sampai partai politik dapat merumuskan agenda politiknya dengan tajam dan jelas. ataupun menggalang kekuatan untuk melakukan advokasi kebijakan. Dalam jangka lebih panjang. Salah satu orientasi parpol adalah menggapai kekuasaan agar dapat menjalankan agenda-agenda politiknya sesuai dengan preferensi pemilihnya. yang diharapkan dapat perlahan-lahan menggeser trend ini. meski akan sangat sulit jika bukan malah mustahil.

bahwa pemain bisnis tidak segan-segan menempuh berbagai cara untuk mencapai tujuannya. maupun agama yang berbasis profesi sekalipun. Kepentingan seperti ini tentu saja harus dipahami namun harus dikelola kemanfaatan bisnisnya bagi kemaslahatan masyarakat luas. biasanya korupsi politik marak dalam hal favoritisme kontrak proyek pemerintah karena absennya lemahnya prosedur standar lelang beserta pengawasannya. Dalam konteks negara-negara demokrasi baru. baik kepada pemerintah (LSM Plat Merah ) ataupun kepada lembaga donor asing. yang sudah mulai dirintis daerah tertentu. yang sebagaian adalah imbas dari struktur politik masa Orde Baru yang sangat berkepentingan melakukan pengendalian aktivitas ormas. Prosedur ini seharusnya ditegakkan untuk memastikan proses kompetisi yang sehat dan tercapai efektivitas dan efisiensi dalam mengelola sumber daya bagi kemanfaatan masyarakat. Kembali ke konteks Indonesia. Tanpa diseminasi dan replikasi praktek penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Dalam hal ini. rendahnya kepemilikan masyarakat pada hasil-hasil pembangunan. BIROKRASI. lebih banyak yang merupakan warisan dari masa pra reformasi dan tidak memiliki sumber daya untuk berlanjut secara mandiri. Walhasil. Tak jarang yang terjadi adalah praktek kolusi antara pemerintah dan pengusaha yang berakibat pada ekonomi biaya tinggi dan kompetisi bisnis yang tidak sehat.raba. organisasi massa yang berbasis warga. lagi-lagi kepentingan politik para aktor yang terlibat lebih banyak berurusan dengan korupsi. dan legitimasi yang rendah terhadap keberadaan pemerintahan demokratis itu sendiri. yang sering terjadi justru kolusi dan situasi saling melindungi karena masing-masing memegang kartu as dari yang lainnya. dalam konteks pertarungan kepentingan daerah. demokrasi di daerah tidak akan terwujud. seluruh bagian dunia memiliki pengalaman mirip. adat. Bila di banyak demokrasi maju birokrasi adalah mesin netral yang mengabdi pada pilihan kebijakan yang diambil politisi. Pengaturan dan pengawasan. Hanya dengan ikhtiar keras ormasormas yang lebih bertanggung gugat maka citra ormas ini bisa digeser dan diperbaiki. Resikonya adalah turunnya kepercayaan yang menerus dari masyarakat. dengan demikian. kepentingan-kepentingan penguasaan sumber daya merupakan isu hidup-mati bagi jajaran birokrasi karena ia merupakan semacam katup pelepasan dari . 5. Di Indonesia. utamanya di mata pejabat publik di daerah yang kepalang skeptis dengan keberadaan ormas ini. fenomena yang gampang dilihat di daerah adalah ormas memburu proyek-proyek pemerintah daerah. Sektor swasta Sektor swasta adalah pihak-pihak yang berkepentingan untuk kebijakan ekonomi yang kondusif bagi perkngembangan bisnisnya. Banyak di antara organisasi kemasyarakatan ini justru tergantung dari negara. agama. tidak demikian halnya tradisi pada demokrasi muda yang mewarisi budaya KKN. Di sisi lain. LSM yang diharapkan dapat menjadi pendobrak kebuntuan ini juga banyak yang terjebak pada skema ketergantungan. Karena itu.

menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat. perlu menyadari lingkungan pengambilan kebijakan seperti ini sembari. b. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Formatted: Font: +Body. Kepentingan rakyat banyak sebagai fokus utama Dalam konteks sistem pemisahan kekuasaan yang dianut Indonesia. Font color: Blue Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. c. c. + Start at: 5 + Alignment: Left + Aligned at: 1" + Indent at: 1. Dibandingkan dengan wakil rakyat yang duduk di parlemen. wakil rakyat dalam sistem demokrasi dengan pemisahan kekuasaan atau sistem presidensialisme ini. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Space Before: 0 pt. Sementara. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. Teori mandat dianggap tidak realistis namun kita dapat melihat semangatnya masih kuat mewarnai baik pada UU No. Memperhatikan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah. Italic Formatted: Font: +Body.25" Formatted: Indent: Left: 0.25" . Space Before: 0 pt. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat. memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya. jika tidak ia akan kehilangan kursinya. 27/2009 seperti misalnya dalam Pasal 81 butir e. Formatted: Space Before: 0 pt 5. Politisi di daerah. Numbered + Level: 1 + Numbering Style: a. f. hi. memang aAnggota DPRD seperti berada dalam bandul pendulum yang mengayun di antara dua kutub itu. + Start at: 8 + Alignment: Left + Aligned at: 1" + Indent at: 1. teori mandat (delegate) meyakini bahwa anggota legislatif tidak boleh mengambil keputusan apapun yang bertentangan dengan keinginan konstituennya.rendahnya imbalan nominal yang diterima PNS. terlebih dalam carut-marut peta kepentingan di bagian berikutnya? Terdapat dua teori besar mengenai peran anggota legislatif ini. dan k. yang kedua.5". dan Memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada pemilih dan daerah pemilihannya. meski terikat dengan agenda parpol namun relatif cenderung lebih independen dari partainya. Namun. di satu sisi lain. Menyerap.3. dalam jangka panjang. Beberapa indikasinya misalnya dapat dilihat dalam menggariskan sepuluh rumusan kewajiban anggota DPRD kabupaten/kota pada pasal 351 UU No. Artinya. merumuskan strategi reformasi sektor publik yang menantang di depan mata. Font color: Blue Formatted: Font: +Body. teori kebebasan (independensi/trustee) menyatakan anggota legislatif bebas mengambil keputusan berdasarkan pendiriannya. j. Bila ia dianggap melakukan pekerjaannya dengan baik maka dia dapat terpilih. Numbered + Level: 2 + Numbering Style: a. 27/2009. Teori pertama. sehingga kuantitas pProyekproyek pemerintah pada gilirannya merupakan dijadikan peluang sarana untuk bertahan mencari tambahan sumber pemasukan ekonomi. selalu terdapat perdebatan bagaimana DPRD perlu memaknai posisinya sebagai wakil rakyat atau wakil partai. yaitu: i. yang merupakan lembaga perwakilan dalam sistem parlementer. b. j. 22/2003 maupun setelah direvisi menjadi UU No. DPRD adalah cerminan dimana kepentingankepentingan masyarakat dibawa dalam sebuah arena pengambilan keputusan politik. dan k. Pada akhir masa bakti. menghimpun. Bagaimana anggota DPRD dapat menentukan seperti apa kepentingan rakyat.5". sebagai lembaga perwakilan (legislature). Bold. dia dapat bertanya kembali kepada konstituennya. Italic Formatted: Font: +Body.

Font color: Auto Formatted: Space Before: 0 pt.17" Formatted: Space Before: 0 pt .. Dikotomi wakil partai dan wakil rakyat ini diharapkan juga kian menipis karena partai pun berkepentingan mempertahankan keterwakilannya di DPRD. Formatted: Indent: First line: 0". hanya mendudukan satu orang wakilnya dari sebuah daerah pemilihan. Tab stops: Not at 1. Penggunaan suara terbanyak dalam pemilu 2009 Presiden pilih langsung . Desakan dan insentif Ia lebih merupakan isu bagi masyarakat untuk mendesak DPRD bahwa ada insentif politik yang besar bagi para politisi untuk jika menjadikan kepentingan rakyat banyak sebagai fokus utama masih belum berarti. Partai politik di negara demokrasi mapan memiliki tradisi yang sangat menghargai kepercayaan pemilih. UU No. partai pun memiliki visibility yang tinggi. kedewasaan pemilih dalam menggunakan hak pilihnya juga merupakan instrumen kontrol yang efektif bagi partai. Partai A. 22/2003 ternyata memberikan kewenangan kepada partai politik untuk merecall anggotanya (Pasal 94 383 ayat 1 2. masyarakat pemilih dari daerah pemilihan yang relevan karena telah memilih wakil rakyat tersebut. Kecilnya ukuran distrik menunjukkan hasil pemilu tersebar ke banyak partai.Dari sini tampak bahwa UU berusaha memberikan acuan bagi penyusunan tata tertib DPRD yang akan mengatur operasionalnya kewajiban anggota DPRD itu. Maka selain anggota. Permasalahannya. Daerah pemilihan menjadi lebih kecil. hanya dapat memberikan pengaduan untuk kemudian diproses dalam Badan Kehormatan DPRD. tingginya perolehan suara beberapa calon perorangan menunjukkan bahwa memberi insentif bagi masyarakat mulai terlatih danuntuk selektif dalam menentukan siapa wakilnya. Dalam kondisi semacam ini. 2. Sementara. Resiko hukuman atau dan ganjaran dari publik sangat mungkin diberikan akan berlaku kemudian pada waktu pemilu tiba yaitu dengan memilih kembali anggota DPRD yang dinilainya aspiratif dan sebaliknya bagi yang tidak. dan iIni akan makin berkembang seiring dengan bertambahnya jumlah pemilu demokratis yang kita adakan. Pada momen karena hanya pada saat pemilu itulah (sebenarnya) rakyat dapat menghukum atau menyambut hangat kehadiran sebuah partai politik beserta calon-calonnya. Tingginya visibility dan makin terdidiknya pemilih ini akan menyediakan insentif bagi politisi untuk memposisikan diri sebagai wakil rakyat. Kendati partai politik memang berkepentingan dengan garis kebijakan dan standar perilaku tertentu dari wakil-wakilnya di DPRD. huruf e dan hdan 3). anggota DPRD memang akan cenderung lebih mendengarkan partai politiknya. Di sisi lain. mari kita cermati beberapa temuan dari pemilihan umum DPRD di 2004 dan 2009 yang kurang lebih serupa dalam konteks masalah ini. Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. sehingga akan terdorong untuk menyuarakan kepentingan daerah pemilihnya. namun dikhawatirkan kewenangan ini bisa digunakan oleh partai politik maupun kelompok-kelompok yang kuat pengaruhnya di dalam partai politik tertentu untuk memberlakukan politik sentimen dan favoritisme. dalam ketentuan mengenai pergantian antar waktu. maka anggota pun memiliki visibility yang tinggi. 1. Namun demikian. Dalam konteks seperti ini. Font color: Auto Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. misalnya. apa yang dapat menjadi insentif bagi para politisi untuk lebih mendengar suara rakyat daripada suara partainya? Untuk itu. 3..

membuat anggota DPRD lebih hati-hati merumuskan kepentingannya. maka kemampuan yang paling penting untuk dikuasainya bukanlah teknik penulisan perundang-undangan (legal drafting). Jika kapasitas anggota DPRD harus ditingkatkan. Bagan Penyusunan Kebijakan Publik Formatted: Space Before: 0 pt KONSULTASI INFORMASI RISET DAN VERIFIKASI PERUMUSAN KEBIJAKAN PARTISIPASI PENGARUH LINGKUNGAN Kebijakan Publik PENGARUH LINGKUNGAN Sebagai wakil rakyat. Namun. Dalam konteks ini. Karena itu. DPRD harus selalu menggunakan proses konsultasi dan informasi untuk mendasarkan kebijakan yang diusulkannya.Dalam jangka lebih panjang. maka kepentingan tertinggi seorang politisi memang diandaikan sebagai terpilihnya kembali dirinya di jabatan publik pada pemilu berikutnya. Mengelola kepentingan menjadi agenda politik publik Apa kepentingan utama anggota DPRD? Beberapa orang pada periode awal reformasi mungkin akan menjawab setengah bercanda. apapun lembaga recall yang ada. 5. lebih baik Anda melakukannya dengan sangat baik. sSebagaimana pemilu jurdil secara berkala dianggap sebagai lembaga demokrasi paling penting. kita berharap. Italic . maka pekerjaan pun bisa segera dimulai. Berikut ini adalah bagan sederhana di halaman berikut untuk menggambarkan proses penyusunan kebijakan publik. apalagi penyusunan Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. anggota DPRD dapat berupaya melakukan pendekatan kepada rakyat sehingga posisi tawar dan akuntabilitas seorang politisi menjadi benar-benar berada di tangan pemilih. kalau Anda menyukai pekerjaan ini. Bila kepentingan seorang anggota DPRD bisa didefinisikan sejelas itu. bukannya sebagai alat kontrol parpol terhadap kadernya seperti di masa lalu. Sebab. sehingga partai Anda kehabisan alasan untuk mengusulkan penggantian pada pemilu depan.4. makin lama ia akan lebih mendengar pendapat umum. preseden diseretnya banyak anggota DPRD ke pengadilan dengan dakwaan korupsi serta merosotnya kepercayaan partai pada anggota DPRD yang tidak bertanggung jawab pada gilirannya juga menggerogoti kepercayaan pemilih.: Menumpuk kekayaan. sekali Anda menjadi politisi.

Ini bisa berupa LSM yang memperjuangkan proses yang lebih terbuka. riset bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang mendukung bagi dirumuskannya tawaran-tawaran pemecahan. 5. Lebih dari itu. Seorang anggota DPRD dapat saja mengunjungi sebuah sekolah dasar dan mendapati bahwa proses belajar mengajar berlangsung namun abai bahwa yang harus dinilai adalah hasil dari proses itu. Membangun dan memelihara hubungan dengan konstituen Demokrasi tidak dibangun hanya dengan mewujudkan lembaga-lembaga demokrasi secara fisik. berdiskusi adalah cara tepat untuk mencari titik temunya. bisa juga masyarakat yang merasa dirugikan. Karena itu. Bisa jadi juga lembaga eksekutif tidak termotivasi untuk melakukannya dan mengerem usulan yang dilontarkan. Dengan kepentingan yang terlalu beragam dan sumber daya terbatas. sebenarnya masalah serupa dihadapi pemegang kebijakan di semua negara demokratis. namun bagaimana menggali pelbagai kebutuhan yang seharusnya terungkap dalam proses ini. apalagi yang dilakukan di lokasi yang terkena dampak kebijakan. Proses politik kemudian akan menjadi arena bagi berbagai alternatif solusi yang diajukan bagi masalah tersebut. Sementara. Riset dan verifikasi dilakukan untuk mendapatkan temuan mengenai permasalahan yang terungkap di masyarakat. Dalam proses politik ini berbagai aktor lain yang berkepentingan pun akan ikut bermain untuk mencoba berpengaruhmempengaruhi. Kadang-kadang proses konsultasi publik pun perlu diulang untuk memastikan bahwa semua pihak sudah dicoba untuk ditampung pendapatnya dalam pembuatan kebijakan ini.5. pemilu tidak hanya dimenangkan terbatas hanya pada hari-hari kampanye. Bila verifikasi meliputi pengecekan obyektif mengenai permasalahan yang dirasakan masyarakat. Lebih Formatted: Space Before: 0 pt . Keputusan publik menjadi tantangan sehari-hari para pejabat dan wakil rakyat. berupa lembaga perwakilan yang dipilih lewat pemilu jurdil. demokrasi adalah proses terus-menerus yang ujungnya adalah lahirnya keterwakilan rakyat secara optimal dalam pengambilan keputusan publik. Meskipun rata-rata anggota DPRD di Indonesia mengeluhkan alotnya pembicaraan dalam konsultasi publik. pemilu hanya berlangsung secara berkala. Apakah ada jaminan bahwa mereka akan dapat mengakses pendidikan yang lebih tinggi? Apakah ada pungutan-pungutan sekolah yang memberatkan orang tua siswa? Apakah ketersediaan dan mutu guru mencukupi? Apakah kesejahteraan guru sudah memadai? Apakah fasilitas sekolah penunjang pendidikan tersedia dengan baik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah contoh menunjukkan bahwa DPRD harus memiliki tanggungjawab dan perspektif masa depan dari proses pendidikan di daerahnya yang diterjemahkannya melalui pelbagai perda.anggaran. Di sisi lain. Bisa jadi berbagai partai berbeda pendapat mengenai sebuah solusi. seperti apakah anak-anak SD itu menerima berhasil belajar sesuatu? Apakah mereka dapat menangani permasalahan matematika untuk bahan ajar yang tepatsetingkat mereka?. bisa pengusaha yang berpeluang kecipratan/mendapat bagian rejeki bila perda digulirkan. Keputusan publik diambil tidak hanya sekali dalam lima tahun.

Bandar Lampung. seringkali diragukan orang sebelumnya masih ragu apakah jika menjalin hubungan baik dengan konstituen maka akan terbayarkan dalam pemilu. Makassar. partai politik dan para caleg kelabakan memompa tingkat kepercayaan ini. sepanjang periode di antara dua pemilu. Italic . Bagaimana membaca kurva kepercayaan? Untuk lebih jelasnya. anda niscaya akan jauh lebih siap menghadapi pemilu berikutnya. Sepanjang lima tahun terakhir kita mungkin akrab dengan banyak berita. mMerupakan fenomena global bahwa pemilih jamaknya merasa kecewa melihat kinerja wakilnya setelah duduk di parlemen. masyarakat diharapbayangkan menjadi pemilih yang retrospektif. Kemudian. partai-partai yang dianggap relatif bersih mendapat suara lebih banyak daripada partai-partai yang dianggap tidak bisa mengusung agenda pemberantasan korupsi. Samarinda. Pontianak. Walhasil. biasanya masyarakat akan menaruhik kepercayaan yang tinggi pada politisi. bisa-bisa kurva kepercayaan ini turun tajam menjadi semakin rendah lagi. kita bisa membayangkan hubungan antara rakyat dan wakilnya dalam sebuah kurva. tingkat kepercayaan ini akan menurun. mulai muncul kekecewaan-kekecewaan. Surabaya. Jika pada tengah masa di antara pemilu ini terjadi skandal apapun juga yang melibatkan anggota dewan yang bersangkutan. Iini berarti bahwa pemilu harus dimenangkan tidak hanya dalam masa kampanye melainkan sepanjang periode di antara dua pemilu melalui performa wakil-wakil dari partai politik yang duduk di pemerintahan. Walhasil. bila politisi di DPRD anda sudah memiliki tabungan hubungan dengan konstituen. Bandung. dengan teknik-teknik kampanye yang kian canggih. dan Mataram) memperlihatkan bahwa ternyata perilaku pemilih di perkotaan mulai bergeser. Namun. Menjelang pemilu. Dalam jangka panjang. Dalam demokrasi yang muda seperti di Indonesia. yakni dengan menilai akan mulaidan mempertimbangkan apa yang dilakukan para kandidat dan partai politiknya.untuk dimintai dukungannya? Hasil survei Indonesia Corruption Watch mengenai korelasi korupsi dan pilihan dalam Pemilu 1999 di sembilan kota di Indonesia (Jakarta. tertangkap sedang mengkonsumsi narkoba sampai dengan kasus-kasus perdata. dan tabungan kepercayaan dari mereka. Bagaimana hubungan dengan konstituen dilakukan? Formatted: Font: +Body. Jika tercapai. beberapa saat setelah terpilih dan bertugas. Para calon anggota DPRD atau mereka yang ingin mencalonkan diri kembali tergoda untuk menggunakan cara-cara instan seperti Apakah masyarakat tidak cukup dismenyerbu saja dengan serbuan janji dan imingiming materi (money politic) agar pemilih memberikan suaranya. Mereka mulai mempertimbangkan kepercayaan terhadap partai politik dalam menentukan pilihannya. Padang. Anda bBisa bayangkan. pekerjaan memenangkan pemilu tidak perlu sekeras gambaran sebelumnya. mulai dakwaan korupsi. bila tingkat kepercayaan ini terpelihara sepanjang periode di antara dua pemilu. ketika periode kampanye berikutnya datang.penting lagi. Di kota-kota tersebut. karena tentu saja sulit memenuhi janji seratus persen. kerja pada hari demi hari dalam periode panjang di antara dua pemilu. Ya. pemilu dimenangkan dengan kerja yang panjang.

Dari kegiatan seperti ini juga. Apapun aktivitas atau kemasan yang anda diambil. anda sendiri. kaderisasi internal partai akan bergulir. Formatted: Space Before: 0 pt. Karena itu. atau diskusi interaktif di radio. Tab stops: Not at 0. Sesuai dengan amanat UU. Menaikan profil partai di depan masyarakat dan media setempat. sering masyarakat tidak memiliki cukup informasi untuk menilai apa yang direncanakan dan sedang dilakukan pemerintah. Banyak kalangan di pemerintahan menyayangkan bahwa masyarakat kurang mampu dan atau tidak berminat untuk berpartisipasi dalam program pemerintah.Anda DPRD bisa melakukan banyak aktivitas untuk berinteraksi dengan konstituen. Memang masih terdapat keluhan pada Pemilu 2004 lalu bahwa beras atau uang (money politic) yang dibagikan pada pagi hari menjelang pencoblosan suara masih lebih efektif daripada kerja-kerja jangka panjang seperti ini. Faktanya. Tab stops: Not at 0. misalnya dengan pelibatan kader-kader partai dalam pelbagai kegiatan andainteraktif dengan masyarakat.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. sarasehan.  Bertemu dengan masyarakat pemilih. nNamun. 2. Kegiatan-kegiatan seperti ini juga akan merangsang partai untuk lebih eksis pada periode di antara dua pemilu.  Mengarahkan perhatian publik pada isu dan kebijakan yang tengah dibahas di DPRD.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt.5". Dalam konteks Indonesia dan budaya lokal yang sangat kaya bahkan terdapat berbagai kesempatan potensi sosial budaya yang bisa digunakan untuk mencapai maksud ini. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: First line: 0. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Kegiatan-kegiatan ini merupakan latihan dan pemanasan yang berguna sebelum pemilu tiba. peran Anda adalah menjadi Sebagai wakil rakyat. andaanggota DPRD perlu harus berkonsultasi dengan masyarakat mengenai masalah yang mereka hadapi. Bagi Ppartai politik. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Perlu diingat bahwa kata konsultasi ini tidak akan membuat posisi anda anggota DPRD menjadi lebih rendah dalam relasi ini. berikut adalah substansi dari kegiatan anda di daerah konstituen andatersebut:  Melakukan konsultasi publik. anda anggota DPRD secara khusus juga perlu menemui pemilih anda. Anda Anggota DPRD perlu menggunakan kesempatan ini untuk memberdayakan partainya. Not Bold . Di luar masyarakat secara umum yang harus anda diwakili oleh DPRD sebagai wakil rakyat yang terpilih dari daerah pemilihan tersebut. baik berupa rapat umum. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. sehingga dengan sendirinya mereka lebih suka mengambil jarak.  Menguatkan struktur partai. lambat laun. Mengaktifkan dan menguji struktur partai... Kepengurusan partai dihadapkan pada tantangan untuk mendukung program konstituensi yang sukses. sejarah akan menilai bagaimana masyarakat pemilih pasti akan bertransformasi menjadi lebih rasional. dan mMasyarakat yang anda temui adalah narasumber terbaik untuk mendapatkan masukan mengenai kebijakan yang perlu diambil oleh daerah. Kesempatan berinteraksi dengan konstituen juga merupakan ruang bagi fungsi penyediaan informasi kepada publik. Konsultasi yang dimaksud adalah proses untuk mendapatkan informasi. kegiatan-kegiatan interaksi yang dilakukan anggota DPRD ini anda dapat menggunakan digunakan sebagai kesempatan seperti ini untuk: 1.

Jangan pernah lupa untuk melibatkan media massa dan menggunakannya untuk kepentingan anda. jangan lupa bahwa anda setiap anggota DPRD juga harus meningkatkan profilnya anda sendiri kepada masyarakat. Jangan melupakan peran media massa Ketika anda anggota DPRD melakukan aktivitas ini dan merasakan asyiknya berinteraksi dengan masyarakat. Naiknya profil anda seorang anggota DPRD mencerminkan dukungan bagi kebijakan yang anda telah atau tengah diperjuangkan. Staf dan aktivis di kantor konstituensi dapat melakukan sejumlah kegiatan komunikasi dan interaksi publik. dan menyebarkan informasi mengenai kegiatan-kegiatan-kegiatan anda sebagai anggota dewan.Pentingnya kantor konstituensi Salah satu cara untuk mengembangkan hubungan dengan konstituen sekaligus menaikkan profil diri dan. dan dukungan bagi anda akan membawa gGelombang dukungan ini akan yang lebih besar dengan melibatkan peran media massa. Kantor ini bersifat sebagai sekretariat yang menghubungkan antara anggota DPRD anda dan konstituen. Jerih payah anda anggota DPRD dapat menjadi sia-sia kalau tidak terdapat berdampak pada kenaikanya profilnya anda di hadapan masyarakat dan konstituendalam politik daerah. juga profil partai politik adalah membangun kantor kontituensi (constituency office) di daerah pemilihan andasetiap anggota DPRD. seperti menampung keluhan masyarakat. Kantor ini bisa lebih dari satu. bila dianggap strategis. memverifikasi masalah yang diadukan. .

Meskipun Ffungsi dan tugas wakil rakyat telah diatur dalam peraturan-peraturan perundang-undangan. yakni membahas dan menyetujui anggaran daerah. tetapi bagi mereka Akibatnya. yakni membentuk perundang-undangan yang mengatur kabupaten/kota. Tab stops: Not at 1. Apa pra kondisi yang perlu diperhatikan? Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt.3" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. anggota DPRD sering dihujani kritik lima tahun belakangan ini bahwa mereka tidak menunjukkan peran yang disuratkan dan efektivitas yang disiratkan dalam perundang-undangan tersebut. Legislasi.BAB VI Memahami Fungsi dan Tugas Wakil Rakyat Rahmi Yunita Anggota DPRD pada umumnya dikritik karena tidak mampu melaksanakan tugas secara optimal. Dalam demokrasi Indonesia yang masih muda ini. mau tidak mau. Namun.1. kerangka hukum itu hanya meletakkan dasar-dasar acuan secara umum. Dalam jangka pendek tuntutan yang demikian besar dari masyarakat ini kadang-kadang justru memancing sikap defensif dari kalangan DPRD sendiri dan resistensi terhadap pembaruan. dimanadan praktek-praktek demokrasi belum berurat-berakar. dalam hal ini berbentuk perda. Anggota DPRD pada umumnya telah dikritik dengan mengatakan mereka tidak mampu melaksanakan tugas secara optimal. dan tidak menjabarkan mekanisme pelaksanaan masing-masing fungsi untuk mencapai kinerja yang mendekati ideal. 2. 3. anggota DPRD baru pun tak jarang menjadi kekurangan acuan dalam menemukan peran yang pas. Salah satu akibatnya. DPRD tidak diberikan memiliki panduan dan acuan yang mencukupi untuk mengatasi berbagai kendala kebijakan dan operasional. untuk memastikan berjalannya perundangan yang ada dan optimalnya kinerja eksekutif. 2722/20093 mengenai Susunan dan Kedudukan MPR. yang merupakan refleksi rencana program pemerintahan daerah dalam bentuk angka. DPR. peraturan-peraturan tersebut masih bersifat umum dan tidak secara lengkap menjabarkan bagaimana mekanisme pelaksanaan masing-masing fungsi untuk mencapai kinerja yang ideal. dan peraturan-peraturan pemerintah. Ttetapi. lembaga-lembaga politik dalam demokrasi Indonesia memang harus mengembangkan dirinya untuk dapat memenuhi tuntutan jzaman. Pengawasan. 6. DPD dan DPRD mengatur bahwa DPRD kabupaten/kota memiliki fungsi: 1. Dasar-dasar penting Fungsi dan tugas DPRD sebagai wakil rakyat sebenarnya telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Namun dalam jangka panjang. Pasal 77 343 UU No. Anggaran. Bold .

Motif Motif anggota DPRD untuk unjuk kinerja di hadapan masyarakat perlu didorong agar mereka dapat bekerja optimal. Dalam ketiga hal di atas. namun bagi keseluruhan masyarakat di daerah.DPRD. kapasitas sekretariat yang jauh dari memadai. penegakan hukum yang jauh dari harapan. 2. DPRD di Indonesia bekerja dalam pemda yang sebagian besar bekerja dengan anggaran yang relatif sangat terbatas. Ini diperlukan karena banyaknya jenis dan lingkup pekerjaan yang jumlahnya tidak dapat dilakukan anggota sendirian. semua orang anggota DPRD memiliki kesempatan untuk diwakili dan menggunakan haknya dalam pengambilan keputusan. termasuk anggota DPRD di Indonesia. Kesempatan Kesempatan yang dimaksud adalah ketersediaan ruang dalam aturan main internal DPRD agar dapat mengoptimalkan kinerjanya. lembaga politik dalam demokrasi seharusnya bertindak berdasarkan mereka yang diwakilinya maka banyak kajian dalam lapangan ilmu politik masih terus-menerus mencari cara bagaimana supaya sistem politik dapat menyediakan motif bagi para politisi. dan ini tidak sepenuhnya terjadi dalam kenyataan. Dalam keadaan yang ideal. Bab ini sejenak akan mengabaikan agenda-agenda yang menantang di atas yang sebenarnya menjadi konteks yang melingkupi DPRD dalam menjalankan Formatted: Space Before: 0 pt. 3. antara lain. Tata tertib adalah piranti untuk menuangkan prinsip-prinsip demokrasi menjadi aturan main yang memastikan bahwa. budaya politik masyarakat pemilih yang belum terlampau kejam (retrospektif) menghukum partai-partai politik yang ingkar janji. bukan hanya terbatas di kalangan pemilihnya. baru dapat menjalankan fungsinya dengan baik. serta anggaran yang cukup baik untuk kegiatan DPRD maupun untuk sekretariat agar dapat beroperasi. tata tertib yang belum melembaga sebagai aturan main. keinginan untuk terpilih kembali dalam pemilu secara berkala dianggap sebagai motif yang cukup kuat untuk unjuk kinerja. dukungan keahlian dan staf kesekretariatan untuk mengerjakan hal-hal teknis adminsitrasi dan anggaran. kita dapat mengatakan bahwa kita di Indonesia masih dalam proses mencari format. untuk menjalankan tugasnya dengan baik dan bukannya bertindak berdasarkan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Bila pada prinsipnya. atau partainya saja. sebagaimana lembaga-lembaga politik lainnya. bila memenuhi setidaknya tiga hal: 1. 27/2009 memungkinkan adanya sistem pendukung bagi pelaksanaan tugas DPRD yang tidak hanya berupa sekretariat DPRD. Tab stops: Not at 0. Sarana Sarana yang dimaksud dapat berupa fasilitas yang wajar untuk melakukan tugasnya berupa. UU No. Tab stops: Not at 0. namun juga kelompok pakar atau tim ahli yang kebutuhannya disesuaikan dengan alat kelengkapan DPRD dan kemampuan keuangan daerah. tekanan yang besar dari pihak eksekutif.5" Formatted: Space Before: 0 pt .5" Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt. serta yang paling buruk.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Peraturan tata tertib yang disusun harus memungkinkan anggota dewan dapat melakukan tugasnya dan menunjukkan kinerja yang baik. UU Sistem pemilu dan kepartaian Politik yang masih bisa didiskusikan dan terus-menerus diperbaharuiberubah. Tab stops: Not at 0. Keinginan anggota DPRD untuk terpilih kembali dalam pemilu secara berkala dapat dijadikan sebagai pintu masuk agar mereka mengoptimalkan kinerjanya. kelompok.

Melaksanakan pengawasan berbagai kebijakan publik 5. dianggap akan membuat pemerintahan lebih akuntabel dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di daerah. Pembangunan masyarakat tidak lagi diatur dari Jakarta namun kini berada di tangan pemimpin di daerah-daerah sendiri.tugasnya. Dalam tugas inilah lembaga DPRD menjadi arena dimana berbagai pandangan politik maupun pilihan pendekatan dinegosiasikan untuk kemudian dirumuskan Formatted: Space Before: 0 pt. ketentuan ini pun mendapatkan kedudukan hukum lebih tinggi dengan penjabarandalam ketentuan mengenai pemerintahan daerah di Pasal 18. Mewakili kepentingan rakyat 6. Membuat peraturan hukum dan kebijakan dasar 2. 25/1999 maka Indonesia mengalami sebuah terobosan desentralisasi yang bisa dikatakan terbesar di seluruh dunia. 25/1999 adalah kewenangan membuat kebijakan dan perda. No bullets or numbering.5" Formatted: Space Before: 0 pt. Tab stops: Not at 0. Membangun sekwan yang andal 8. Dengan adanya UU No. Dalam konteks harapan yang besar itulah. mungkin pemerintah daerah akan mencari-cari format untuk menjalankan pemerintahan di daerah dengan efisien. kini tanggung jawab untuk menentukan arah pembangunan daerah pun diletakkan di tangan pemda. mengingat kecilnya peran daerah dalam pengambilan kebijakan sebelum reformasi bergulir. Bold . 6. 18A. (Pasal 1 angka 5 dan 6butir i). Membekali diri 10. salah satu peran strategis yang dimainkan oleh pemerintahan daerah pasca reformasi dan ditetapkannya UU No. dan 18B. Dalam jangka pendek.2. 22/1999 dan UU No. Tab stops: Not at 0. Membentuk perda 3. Komitmen besar ini bahkan telah diawali melalui Ketika Perubahan Kedua UUD 1945 berlangsung pada (tahun 2000). termasuk di tangan anda. Menetapkan APBD 4. Dengan adanya pendalaman desentralisasi ini. Daerah diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (UU No. tanggung jawab ini mungkin bisa dipandang sebagai tugas yang rumit. 2232/1999 2004. maka bab ini akan membahas fungsi-fungsi di atastersebut sekaligus memetakan peran-peran lain strategis yang menunggu butuh dimainkan oleh DPRD. Namun kerumitan ini juga bisa dilihat sebagai tantangan yang sangat menggairahkan. Topik-topik yang akan diangkat adalah sebagai berikut: 1. secara umum desentralisasi dianggap membawa banyak peluang. Sehubungan dengan fungsi-fungsi digariskan dalam UU N0. Lebih khusus lagi. Babak baru dalam pembangunan masyarakat Indonesia telah tiba. namun dalam jangka panjang desentralisasi . Membuat peraturan hukum dan kebijakan dasar Terhitung sejak 1999. Mewakili kepentingan daerah 7. Kendati terdapat banyak keluhan di kalangan DPRD dan pimpinan eksekutif bahwa sebagian besar daerah diberi kewenangan besar tanpa sumber daya yang memadai. maka DPRD dan kepala daerah pun kini lebih bertanggung jawab atas kepemimpinan dan masa depan daerah.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body. 27/2009 di atas. DPRD sebagai pendidik politik dan demokrasi 9. 22/1999 dan UU No. Di satu sisi.

bisa berupa peraturan kepala daerah ataupun peraturan bersama kepala daerah yang semuanya harus didasarkan pada Prolegda. dan Rencana kerja pembangunan daerah (RKPD). yakni: AKU. Tab stops: Not at 0. kebijakan dasar lain yang perlu dikawal serius adalah terkait perencanaan pembangunan daerah. repetada dan renstra. pemda memiliki otoritas untuk membuat peraturan turunan dari perda yang produk hukumnya bisa berupa pengaturan ataupun penetapan. kerangka peraturan hukum dan kebijakan dasar yang dibutuhkan oleh daerah untuk waktu ke depan sudah dapat dirancang. kini merupakan tanggung jawab anda yang kemudian dikerangkai dalam regulasi-regulasi daerah.5" Formatted: Font: +Body . meski prosesnya dapat diajukan melalui insiatif DPRD ataupun oleh Pemda. bisa berupa keputusan kepala daerah dan instruksi kepala daerah. Melalui Prolegda. baik yang Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. Rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP daerah dengan memperhatikan RPJM nasional. Selain kerangka kebijakan dasar regulasi daerah yang diatur dalam Prolegda. Dalam Pasal 3 Permendagri No. termasuk sejauhmana peraturan-peraturan turunannya yang dibuat oleh ekesekutif (pemda) sesuai dengan ketentuanketentuan di dalam perda. 16/2006. selain berupa perda. Tugas ini tentu saja sangat menantang karena tanggungjawab yang harus diemban sangat luas mulai merancang anda bisa bayangkan bagaimana arah pembangunan daerah dalam jangka pendek. dokumen perencanaan pembangunan daerah berwujud tiga jenis dokumen dasar yaitu Rencana pembangunan jangka panjang daerah (RPJP). Di sini. Program pembangunan daerah lima tahun (propeda). jangka menengah. Dalam Pasal 150 UU No. Salah satu agenda riil yang menyambut DPRD dalam hal penyusunan kebijakan daerah adalah penyusunan dokumen-dokumen perencanaan daerah jangka menengah. yang merupakan implementasi pada tataran konsep operasional dari poldas.bersama kepala daerah menjadi dokumen daerah. yang lazimnya pada periode hasil pemilu 1999 sesuai dengan masa bakti DPRD. Dokumen-dokumen yang dimaksud adalah: 1. Pola dasar pembangunan daerah (poldas). Di sini. DPRD dan pemda dapat menuangkannya dalam program legislasi daerah (Prolegda) untuk kurun waktu lima tahun dan menentukan target per-tahunnya. 2. RPJMD disusun untuk jangka waktu lima tahun sebagai penjabaran visi. produk hukum yang bersifat pengaturan. prioritas pembangunan daerah. 32/2004. rencana kerja dan pendanaannya. Pembentukan Perda adalah otoritas DPRD. RPJP daerah disusun untuk jangka waktu 20 tahun yang memuat visi. yang meletakkan kerangka hukum dan acuan bagi pembangunan daerah jangka waktu lima tahun. Bentuk regulasi daerah ini adalah kerangka peraturan hukum dan kebijakan dasar dituangkan melalui perda. dan arah pembangunan daerah dengan mengacu kepada RPJP nasional. Sedangkan yang bersifat penetapan. Perda selanjutnya akan menjadi alat kontrol dari DPRD untuk melihat sejauh mana kinerja eksekutif dalam mengimplementasikan perda tersebut. Sedangkan RKPD adalah terjemahan RPJMD untuk jangka waktu satu tahun. Kedua dokumen ini harus ditetapkan bersama-sama dengan kepala daerah dan kemudian akan dijadikan acuan bagi dokumen perencanaan pembangunan tahunan. misi. dan mungkin jangka panjang. misi.

sebagaimana diatur dalam PP No. baik kesesuaiannya dengan RKPD atau dengan tantangan yang dibutuhkan daerah dalam perspektif dan temuan-temuan DPRD. dengan mengacu kepada rencana kerja Pemerintah. Di sini DPRD dapat mengeceknya melalui pemeriksaan semua laporan realisasi APBD. laporan arus kas. keterlibatan DPRD akan sangat vital pada tahapan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). catatan atas laporan keuangan. Sedangkan pada tahap pengawasan terhadap implementasi Perda APBD tersebut. Ini penting karena melalui RPJMD. misalnya. Hasil dari pembahasan ini (berwujud Nota Kesepahaman) adalah dasar dari DPRD untuk mengawal proses penyusunan Raperda APBD yang akan diajukan oleh pemda dengan cara menilai sejauhmana program dan kegiatan yang direncanakan sudah sesuai dengan nota kesepahaman dalam pembahasan KUA dan PPAS. Hanya setelah mendapat persetujuan DPRD. neraca. Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt . dan program satuan kerja perangkat daerah. 58/2005. DPRD sangat vital untuk mencermati RPJMD dari pemerintah daerah. Fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan APBD juga masih akan muncul lagi sebagai bentuk pertanggungjawaban pemda. lintas satuan kerja perangkat daerah. Pada tahap perencanaan APBD. kebijakan umum. dan program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. dan laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan daerah (BUMD). DPRD dapat melakukannya dalam rapat pembahasan laporan realisasi pelaksanaan APBD dalam semester pertama untuk melihat apakah dibutuhkan perubahan APBD. strategi pembangunan daerah. DPRD akan memahami dan mempertajam arah yang dikehendaki pemerintah daerah sebab dalam RPJMD telah termuat kebijakan keuangan daerah.dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Pemda baru kemudian dapat menyusun Raperda tentang penjabaran APBD.

Peran DPRD dalam Penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA)
Ditetapkan per tahun

Mendagri

Pedoman Penyusunan APBD

Kepala Daerah

Menyusun berdasarkan RKPD

Rancangan KUA

DPRD

Pembahasan Rancangan KUA

KUA
Formatted: Indent: First line: 0", Space Before: 0 pt

Peran DPRD dalam Penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara KUA Pemda
1. Menentukan skala prioritas dalam urusan wajib dan pilihan 2. Menentukan urutan program dalam masingmasing urusan 3. Menyusun plafon anggaran sementara untuk setiap program

DPRD Rancangan PPAS
Program prioritas dan patokan batas maksimum anggaran SKPD untuk setiap program. Ini selanjutnya menjadi acuan penyusunan RKA-SKPD

PPAS

Formatted: Space Before: 0 pt

Kerangka dasar yang perlu menjadi orientasi Dalam menyusun dokumen-dokumen di atas, ini ada beberapa prinsip yang dapat dijadikan acuan: 1. Kerangka visioner.

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5"

DPRD perlu berpikir jauh ke depan dalam menyusun kebijakan daerah. Apa yang akan diletakkan selama lima tahun ke depan harus dapat menjadi landasan yang kokoh dan dapat diterjemahkan secara bertahap dalam rencana tahunan. bagi kehidupan anak cucu kita kelak. 2. Kerangka global. Dalam menyusun apa yang akan dibangun di daerah kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa abad 21 telah ditandai dengan globalisasi dalam skala yang tak terbayangkan sebelumnya. Terobosan pembangunan yang akan dilakukan harus peka terhadap tata persaingan dunia baru ini. 3. Kerangka proses. Untuk dapat menemukan apa yang dicita-citakan orang banyak, memenuhi rasa keadilan masyarakat luas, dan pada gilirannya membangkitkan rasa kepemilikan masyarakat di daerah, proses yang ditempuh harus melibatkan banyak orang. DPRD dapat memprakarsai pelbagai bentuk konsultasi publik, baik berupa rapatrapat umum, kuesioner maupun penelitian potensi daerah sebagai penunjang. Harus disediakan cukup waktu untuk membahas kebijakan dasar yang akan ditempuh sehingga dokumen yang dihasilkan bukan dokumen yang asal jadi dan tidak akan dapat dijadikan acuan yang inspiratif di kemudian hari. Bagaimana memahami anggaran yang sensitif gender? Hal ini yang berada di dalam wilayah kebijakan dan dapat diprakarsai oleh DPRD adalah dorongan bagi diadopsinya anggaran yang sensitif gender (gender sensitive budget). Hal yang patut diperhatikan bahwa anggaran sensitif gender bukanlah penyediaan anggaran khusus bagi perempuan. Anggaran sensitif gender adalah analisis untuk melihat dampak dari program pembangunan dan penganggaran bagi laki-laki dan perempuan serta bagi berbagai segmen laki-laki dan perempuan. Kesadaran untuk menerapkannya memang mempersyaratkan pula komitmen untuk membangun basis data yang memiliki segregasi berdasarkan aspek gender, kelompok umur, dan kelompok sosial ekonomi. Bila kebijakan ini tidak ditempuh, maka daerah beresiko terjebak pada kebijakan-kebijakan yang mungkin dianggap netral gender, padahal ia sebenarnya buta gender. Pada gilirannya pembangunan bisa berlangsung secara zalim gender (gender tidak adil) karena dampak pembangunan hanya dirasakan oleh sekelompok (kecil) masyarakat yang bisa jadi sudah lebih beruntung daripada yang lainnya . 6.3. Membentuk peraturan daerah

Formatted: Space Before: 0 pt

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5" Formatted: Space Before: 0 pt

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5" Formatted: Space Before: 0 pt

Sebagai lembaga legislasi, fungsi DPRD adalah membuat perda. Dalam konteks sistem politik Indonesiadesentralisasi, fungsi ini dijalankan bersama dengan kepala daerah. Perda harus mendapatkan persetujuan dari kedua cabang pemerintahan ini sebelum dapat ditetapkan sebagai mengikat bagi masyarakat di daerah. Dalam menyusun landasan dan arah kebijakan suatu perda, perlu dipertimbangkan beberapa hal:

1. Koridor konstitusional atau lingkungan legal tempat perundangan dibuat, termasuk tidak boleh dilanggarnya peraturan perundangan yang lebih tinggi dalam hirarki perundang-undangan di Indonesia. 2. Prioritas kebijakan daerah yang bersangkutan, seperti dokumen-dokumen perencanaan daerah yang meletakkan arah yang ingin dicapai daerah dalam jangka waktu tertentu. 3. Aspirasi masyarakat yang berkembang sehingga perda tersebut mampu mencerminkan kebutuhan dan keinginan masyarakat luas serta mendapatkan legitimasi etis, nilai, sosial dan politik dari masyarakat. Mengapa perda dibuat? Pada dasarnya, perundang-undangan dibuat untuk menyelesaikan sebuah masalah. Karena penyelesaian masalah memerlukan kerangka hukum yang ditangani bersama, maka perda adalah instrumen di daerah yang harus dipatuhi oleh semua orang yang ada di daerah, sehingga tatanan yang diinginkan di daerah dapat tercapai. Secara umum, perda dibuat untuk mengatasi permasalahan yang ada di daerah. Namun di Indonesia sudah jamak adanya pendapat bahwa sudah ada banyak aturan yang bagus namun penegakannya saja yang tidak konsisten . Demikian pula di daerah, kita sering mendengar keluhan betapa sebuah perda bak hidup enggan mati tak mau . Entah karena tidak efektif ditegakkan atau karena setelah ditetapkan dapat memancing kontroversi, tidak menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan masalah baru. Sejumlah daerah juga mulai banyak mengagendakan evaluasi peraturan daerah untuk menyortir hukum daerah ini menjadi lebih ramping dan efektif. Karena pengalaman-pengalaman di atas, maka untuk dapat menghasilkan dan menetapkan sebuah perda, utamanya yang menyangkut masyarakat luas, DPRD perlu lihai menerapkan checklist yang setidaknya mengandung pertanyaanpertanyaan di bawah ini: 1. Apa masalah yang hendak diselesaikan? Apakah merupakan masalah yang sebenarnya atau hanyalah akibat dari masalah lain yang lebih mendalam, lebih rumit dan menyangkut kepentingan lebih banyak orang? 2. Apa kemungkinan-kemungkinan solusinya? Apakah permasalahan ini bisa dipecahkan dengan menghentikan perilaku lama yang buruk atau hanya bisa dilakukan dengan mendorong perilaku baru? Apakah anda setiap orang akan serta-merta mematuhi perda hanya karena ia telah ditetapkan dan diundangkan? Bagaimana menciptakan insentif bagi orang-orang untuk mengadopsi perilaku baru? 3. Apa hasil yang bisa diharapkan dalam jangka lebih panjang? Apakah perda ini akan menyumbangkan kehidupan di daerah yang lebih baik, atau hanya penghilang gejala masalah saja? Adakah hasil sampingan (eksternalitas) yang diperoleh secara tidak langsung dari diterapkannya perda ini? Positif atau negatif? Dengan kerangka pertanyaan di atas, sebagai contoh, maka dalam penerapan retribusi, misalnya, DPRD dapat mensimulasikan berbagai aspek yang akan timbul dari diterapkannya sebuah perda. Bila sebuah retribusi adalah pendapatan bagi

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 0.5"

Formatted: Font: +Body, Not Bold Formatted: Space Before: 0 pt

Formatted: Space Before: 0 pt, Tab stops: Not at 1.43"

Formatted: Space Before: 0 pt

maka DPRD dapat memanfaatkan proses penyusunan sebuah perda secara partisipatoris. Kadang-kadang cukup dibuat sebuah perda yang tidak terperinci untuk kemudian ditindaklanjuti dengan keputusan kepala daerah untuk menjabarkannya. DPRD selalu dapat meminta bantuan ahli. yang cukup dibuat trauma dengan suasana rapat umum yang hiruk-pikuk. Tidak ada informasi yang cukup untuk menetapkan pengaturan yang mendetail. baik perorangan maupun kelembagaan untuk menganalisis raperda yang datang dari eksekutif maupun untuk membantu DPRD menyusun raperda inisiatif. Melibatkan masyarakat secara luas berarti menabung legitimasi politik dari sebuah peraturan daerah jauh sebelum ia ditetapkan. Proses-proses serupa adalah langkah kecil dari proses panjang belajar berdemokrasi bagi pembuat kebijakan dan bagi masyarakat sendiri. dalam hal ini pemda dan DPRD. Namun demikian.5" . Karena anggota DPRD tidak serta-merta merupakan pakar di bidang hukum. Dengan demikian masukan-masukan yang diperoleh dari proses konsultasi ini dapat membantu memperkuat muatan perda yang disusun. Italic Formatted: Space Before: 0 pt. Formatted: Font: +Body. Di masa lalu. pembuat kebijakan sering berusaha menghindar dari penyusunan kebijakan publik secara partisipatoris karena dipandang berbelit-belit.pemda. perda pun harus peduli dengan pentingnya perumusan isi sehingga tafsir perda di lapangan sesuai dengan kehendak pembuat peraturan daerah. Sebagai perundang-undangan daerah. dihadiri massa yang tidak jelas identitasnya . apakah besarnya masih cukup kondusif bagi pertumbuhan ekonomi atau justru mematikan keinginan-keinginan investasi? Proses dasar penyusunan perda Untuk bisa melahirkan perda yang komprehensif dan lolos dari saringan pertanyaan di atas. Mengapa harus ada perda? DPRD perlu pula menimbang apakah semua permasalahan yang dihadapi daerah memerlukan perda sebagai solusinya. serta pemuka masyarakat. Tab stops: Not at 0. Masyarakat juga tidak hanya bisa dimaknai secara sempit dengan masyarakat luas yang cair dan tidak terorganisasi. Namun di sisi lain. Perda serupa dapat dibuat dalam kondisi-kondisi: 1. masyarakat yang dimintai konsultasi juga dapat berupa organisasi yang relevan dengan permasalahan yang dibahas. masyarakat merupakan sumber dari gagasan dan dukungan yang luar biasa. perguruan tinggi. Dalam bagian akhir bab ini juga diangkat kemungkinan bagi DPRD untuk memiliki staf yang menguasai bidang penulisan UU di sekretariat sebagai salah satu pilihan bagi DPRD untuk memperkuat kapasitasnya di bidang legislasi. DPRD tidak perlu merasa terbebani dengan keharusan menguasai teknik penulisan UU (legal drafting). serta diskusi yang tidak terarah. baik legislatif maupun eksekutif. Banyak pembuat kebijakan. makan waktu. dan menguras kesabaran. Apa yang perlu diperhatikan dalam legislative drafting? Banyak perda juga mengalami kegagalan dalam pelaksanaannya karena perumusannya yang lemah.

Keadaan yang berubah dengan cepat sehingga perlu antisipasi perundangan yang lebih fleksibel. DPRD tentu sangat sadar bahwa anggaran tetap merupakan dokumen politik karena merupakan bentuk komitmen eksekutif dan kesepakatan legislatif atas penggunaan dana publik. Alat perencanaan. dan kedua. Sebagai instrumen pengendalian. APBD memandu rencana tindakan yang akan dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai sasaran-sasaran pemerintahan. ditetapkan dengan sejumlah fungsi utama yang harus dipenuhi. anggaran merupakan estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran-ukuran keuangan berdasarkan capaian yang diinginkan. Sebagai anggaran sektor publik. maka program-program tersebut harus mencakup urusan wajib dan urusan pilihan dari daerah bersangkutan. dan 4. maka perda yang ditetapkan akan dapat menjadi landasan hukum yang kokoh bagi kehidupan kemasyarakatan di daerah. Dengan demikian. anggaran dijadikan acuan untuk menghindari adanya pemborosan (overspending). 6. termasuk APBD. 3. Proses pengendalian anggaran ini dilakukan dengan tahapan-tahapan: Membandingkan kinerja aktual dengan kinerja yang dianggarkan Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: First line: 0. indikator pencapaian. karena lewat anggaran pula kinerja DPRD akan dinilai oleh masyarakat pemilih. sebagaimana amanat UU No. Dalam konteks desentralisasi. pertama. Anggaran sektor publik. Rencana terperinci yang terdapat pada anggaran membuat pembelanjaan yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. anggaran harus mencerminkan alokasi pendanaan. 32/2004.2. berapa banyak dan bagaimana cara memperoleh uang untuk mendanai rencana tersebut (pendapatan). Menetapkan APBD Secara umum. belanja yang terlalu irit (underspending) dan belanja yang salah sasaran (misapropriation). berapa biaya yang dibutuhkan dan berapa atau bagaimana hasil yang diperoleh dari belanja pemerintah tersebut. Ini penting bagi DPRD karena dari sini juga . Perlunya banyak penjelasan karena sifat teknisnya atau alasan lain. korelasi dengan visi dan misi serta kemungkinan sumber pendapatan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat yang diwakili oleh anggota DPRD. berapa biaya atas rencana-rencana yang dibuat (belanja). yakni: 1.38" Formatted Table Mengidentifikasi selisih . APBD merupakan suatu rencana keuangan yang menyatakan. Di dalam kesemua angka ini sesungguhnya menggambarkan arah dan perencanaan pembangunan yang hendak dicapai oleh suatu daerah dalam setahun yang diterjemahkan ke dalam program-program prioritas. 2. Perbedaan-perbedaan dalam satu daerah yang perlu penyesuaian dalam penerapannya. Karena itu. Alat pengendalian.4.

38". 10558/20050 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Anggaran dapat digunakan sebagai alat untuk memotivasi manajger dan staf agar bekerja secara ekonomis. Kebijakan fiskal adalah usaha yang dilakukan pemerintah untuk mempengaruhi keadaan ekonomi melalui sistem pengeluaran atau sistem perpajakan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. (Pasal 39 ayat (1) dan (2) dalam PP ini mengatur bahwa Penyusunan RKA-SKPD dengan pendekatan prestasi kerja dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dan keluaran serta hasil yang diharapkan dari setiap kegiatan dan program. Alat menciptakan ruang publik. Alat motivasi. Dalam konteks desentralisasi maka daerah dapat saling belajar satu sama lain. Font color: Auto Formatted: Font: +Body. 12 pt Formatted: Font: +Body. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. proses pengendalian anggaran akan dapat menyumbang bagi perbaikan penganggaran tahun berikutnya dan berarti memperbaiki alokasi dana publik.38". Dengan pendekatan ini. demikian pula masyarakat di daerah dapat membandingkan daerahnya dengan daerah lainnya sehingga tercipta kompetisi yang sehat. analisis standar belanja. 3. 12 pt Formatted: Font: +Body. Anggaran dapat disusun untuk mendeteksi kekerasan antar unit kerja dalam mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan pemda karena setiap unit kerja pemerintahan terlibat dalam proses penyusunan anggaran. anggaran perlu dipikirkan perannya dalam menstabilkan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. standar satuan harga. Karena itu. baik yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan Merevisi standar biaya atau target anggaran tahun berikutnya Dengan adanya tahapan di atas.5" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. efektif dan efisien dalam mencapai target dan tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Alat penilaian kerja. Tab stops: Not at 0. Apakah anggaran kinerja itu? Sesuai dengan PP No. 5. First line: 0". rencana anggaran harus menyertakan capaian kinerja. 12 pt . termasuk di dalamnya adalah tingkat efisiensi yang bisa dilakukan. Font color: Auto Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. berarti APBD harus Formatted: Indent: Left: 0. 6. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Target anggaran hendaknya jangan terlalu tinggi sehingga tidak dapat dipenuhi. Berbagai kelompok masyarakat dapat menggunakan momentum penyusunan anggaran ini untuk berpartisipasi secara politik dalam kebijakan daerah. indikator kinerja. Alat koordinasi dan komunikasi. Space Before: 0 pt. dan standar pelayanan minimal. namun jangan pula terlalu rendah sehingga terlalu mudah untuk dicapai. APBD disusun dengan pendekatan kinerja (prestasi kerja) yang dimulai sejak penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD). Alat kebijakan fiskal. Bold Formatted: Indent: Left: 0. Pelibatanrlu bahkan mutlaknya masyarakat terlibat dalam proses penganggaran publik membuat proses penyusunan anggaran membuka ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan dan menyalurkan aspirasinya.Menemukan penyebab selisih. No bullets or numbering. Tab stops: Not at 0. 4. 7. baik dalam pencapaian sasaran maupun dalam efisiensi anggaran. Sebagai alat kebijakan fiskal.5" Formatted: Font: +Body. 7. Anggaran dapat digunakan untuk menilai kinerja setiap unit kerja.

Tab stops: Not at 0. Pelaksanaan APBD. 2. manfaat. fase ini berada dalam pembahasan PPAS yang rencananya diajukan oleh Pemda dengan berpedoman pada KUA yang sebelumnya sudah disepakati antara DPRD dan Pemda. Karena DPRD adalah wakil masyarakat. dan dampak tertentu dapat dicapai dengan sebuah masukan (input). Apa kegiatan yang lebih sesuai dengan dokumen perencanaan daerah? apa kegiatan yang menyumbang tercapainya sasaran tertentu yang sudah disepakati dan menjadi komitmen bersama? 2. hasil. ada masalah keamanan di daerah yang harus diatasi? 3. 3. Pelaksanaan perda dan perundang-undangan lainnya. Apa kegiatan yang mendesak dilakukan karena menyangkut penanganan keadaan darurat dan menyangkut kebutuhan masyarakat paling mendasar? Apakah. Apa kegiatan yang bisa mengundang pertisipasi sukarela masyarakat maupun partisipasi pihak swasta sehingga tidak terlalu membebani APBD? Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat terus dikembangkan lagi untuk membantu menyaring kegiatan-kegiatan yang perlu dibiayai APBD. selalu berkutat dengan masalah banyaknya kegiatan pelayanan publik yang perlu dibiayai sementara volume anggaran yang tersedia sangat terbatas. Pertanyaanpertanyaan yang diajukan dalam tahap ini untuk membantu memprioritaskan alokasi anggaran antara lain: 1. 2232/1999 2004 mengamanatkan pada DPRD untuk melakukan fungsi pengawasan terhadap lima hal: 1. sebagaimana dalam penyusunan kebijakan publik. DPRD pun dituntut untuk menyesuaikan diri. Karena itu. Dalam tahapan penyusunan APBD. DPRD hanya akan mengetahui apa yang terbaik bagi masyarakat di daerah dengan cara bertanya pada mereka. kecuali di sejumlah kecil daerah yang sangat kaya. Di satu sisi penerapan anggaran kinerja ini akan memudahkan DPRD dalam meminta akuntabilitas lembaga eksekutif dalam menjalankan tugasnya serta memudahkan masyarakat melihat hasil kerja pemerintahan. Sebuah kegiatan hanya bisa dibiayai bila ia menyumbang bagi pencapaian sasaran tertentu yang sudah ada dalam dokumen-dokumen perencanaan daerah. pembuat kebijakan publik termasuk DPRD selalu dihadapkan pada masalah prioritasisasi. . Di sisi lain. Bagaimana melakukan prioritasisasi? Pemda dimanapun di penjuru dunia.5.mencerminkan bagaimana sebuah keluaran (output). misalnya. DPRD perlu memberdayakan masyarakat dalam prosesnya. Melaksanakan pengawasan berbagai kebijakan publik Formatted: Space Before: 0 pt. Semua belanja yang dikeluarkan senantiasa berhubungan dengan sebuah kinerja yang akan dapat dievaluasi. Apa kegiatan yang memiliki efek pengganda (multiplier effect) lebih besar? 4. maka sekarang ini kegiatan yang akan dibiayai merupakan produk dari analisis perencanaan yang lebih panjang. Bila sebelumnya anggaran disusun berdasarkan kegiatan yang akan dibiayai. Pelaksanaan keputusan gubernur dan bupati/walikota. 6.5" Formatted: Space Before: 0 pt Pasal 18 42 ayat 1 butir f UU No. Lagi-lagi. karena pendekatan baru ini.

Apakah peraturan yang lama telah berjalan dengan baik? Apakah ada celah di lapangan yang membutuhkan pengaturan tertentu dalam bentuk peraturan baru? Kedua. ke depan. DPRD hasil Pemilu 1999 merupakan DPRD pertama yang menjalankan kewenangannya menurut UU No. Salah satu kewenangan DPRD yang berubah drastis sejak 1999 sampai kini. proses pengawasan dan diskusi di antara para anggota akan berjalan cukup mendalam. 5. terutama pelaksanaan APBD. Dengan diterapkannya anggaran kinerja. keluhan ini juga menunjukkan bahwa peran pengawasan DPRD telah mulai berjalan. berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas bekerjanya pemerintahan. dapat diterapkan dengan baik di lapangan atau tidak. Di satu sisi ia harus membidik isu korupsi oleh eksekutif dan penyalahgunaan kewenangan atau dana pemerintah. Pemda mengeluhkan agresivitas DPRD dalam menjalankan fungsinya ini. sebagaimana lazimnya diharapkan dari demokratisasi. DPRD sudah bukan mengawasi lagi. pemda sendiri secara internal melalui Bawasda dan Inspektorat. sehingga pemerintah bertanggung gugat (akuntabel) terhadap masyarakat atas apa yang dilakukannya. semangat pengawasan oleh DPRD meliputi dua hal: Pertama. Pada lima tahun pertama transisi demokrasi tersebut. dapat tercapai keseimbangan fungsi pengawasan penyelenggaraan pemerintahan antara yang dilakukan oleh BPK dan jajarannya. tapi sudah masuk ke wilayah pemeriksaan. bahkan penyelidikan. tampak di sini bahwa fungsi pengawasan akan menjadi berhubungan erat dengan fungsi penganggaran dan fungsi pembentukan kebijakan daerah berikutnya. Meskipun keluhan ini dapat menyiratkan kesan bahwa DPRD memang telah bertindak overacting dalam melakukan fungsinya. demikian keluh pejabat eksekutif di banyak daerah. Dengan demikian. Apakah alokasi anggaran telah membawa hasil sesuai yang diharapkan dalam perencanaan? Apakah prioritas-prioritas pembangunan terlaksana? Bagaimana efisiensi dan efektivitas bisa ditingkatkan? Sekali lagi. 22/1999. maka DPRD dengan sendirinya akan sangat terbantu dalam melakukan dua aspek pengawasan pelaksanaan APBD ini. Pelaksanaan kebijakan daerah. pengawasan atas pelaksanaan pembangunan. dan secara politik oleh DPRD. adalah kewenangan pengawasan berjalannya kebijakan dan peraturan daerah oleh eksekutif. KPK. Dengan adanya komisi maka DPRD dapat mengerjakan banyak agenda sekaligus. Sisi yang lain.4. Wilayah pengawasan DPRD dapat mencakup beberapa hal. serta sementara Formatted: Space Before: 0 pt . pelaksanaan fungsi pengawasan ini dipandang kontroversial. Bagaimana fungsi pengawasan ini dilakukan? Secara terus-menerus DPRD dapat melakukannya melalui komisi-komisinya yang membidangi hal-hal yang cukup spesifik. DPRD dapat menilai apakah sebuah perundangan. apalagi dalam konteks penerapan anggaran kinerja. Pelaksanaan Kerjasama internasional di daerah. baik itu berupa peraturan daerah maupun keputusan kepala daerah. Dengan demikian. pengawasan atas dilaksanakannya perundang-undangan dan kebijakan daerah. Melalui komisi. Sebagaimana disuratkan dalam UU. fungsi pengawasan dapat menyumbangkan hasilnya bagi fungsi legislasi. sehingga anggota DPRD dapat melakukan pembidangan kerja dan memfokuskan perhatiannya dalam bidang yang spesifik.

DPRD akan memiliki insentif untuk melakukan pengawasan dengan yang ketat dengan harapan akan menguak kelemahan yang dimiliki kepala daerah. namun ini ia cenderung dikehendaki dalam sistem presidensial karena lebih memastikan berjalannya fungsi pengawasan oleh masyarakat melalui DPRD. Bila DPRD bisa melakukan fungsinya ini dengan baik. bila kepala daerah dan mayoritas anggota DPRD memiliki afiliasi politik yang sama. lembaga dan proses politik di DPRD diharapkan mampu menyelesaikan semua masalah yang muncul di daerah. Karena itulah. Mewakili kepentingan rakyat Kita masuk pada fFungsi berikutnya yang sebenarnya sangat mendasar dalam demokrasi perwakilan yakni adalah fungsi representasi. Masyarakat memiliki banyak kepentingan yang . kendati skenario yang pertama memungkinkan ketegangan antara lembaga legislatif dan eksekutif yang nantinya(namun tidak akan bisa saling menjatuhkan).anggota DPRD juga cepat atau lambat akan menguasai permasalahan yang secara khusus ditanganinya. Hasil pengawasan ini harusnya bermuara pada penyusunan kebijakan/peraturan daerah untuk menangani kelemahan yang masih ditemui baik mengenai sebuah program pembangunan. Karena itu. utamanya karena layak diragukan bahwa DPRD bertindak mewakili masyarakat secara keseluruhan. Karena itu. Dalam konteks Ketika kepala daerah sudah akan yang dipilih secara langsung nantisaat ini. maupun aspek pemerintahan lainnya. sehingga keputusan-keputusan yang lahir dari DPRD adalah yang paling representatif.6. pengaturan. semangat yang ada dan prosedur yang disusun dalam DPRD harus dapat memfasilitasi peran ini. maka sistem ini akan kehilangan nilai demokratisnya. Ujung-ujungnya. maka yang dituju sebenarnya adalah pemerintahan daerah yang lebih akuntabel dan efektif. . anggota DPRD bukannya diharapkan dapat menjadi manusia serba bisa untuk dapat memenuhi harapan masyarakat di daerah. Sebagai wakil rakyat. perda. Di sisi lain. Masalahnya. masyarakat bukanlah kelompok yang homogen. 6. Namun demikian. maka keterampilan yang harus dikuasai tersebut adalah bagaimana berkonsultasi dengan masyarakat yang diwakilinya. Bila aAnggota DPRD harus menguasai sesuatu keterampilan. tidak jarang dan sangat bisa jadi kepentingan tersebut bertentangan satu sama lain. membuat kebijakan. teknik-teknik konsultasi dengan masyarakat dan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan memang menjadi salah satu langkah utama dalam upaya menegakkan demokrasi di seluruh dunia. Nnamun bila fungsi ini dilakukan tanpa mekanisme representasi yang efektif. bisa jadi kedua cabang pemerintahan akan berkonspirasi untuk tampil cantik di depan publik. proses pemerintahan daerah akan menjadi siklus belajar kolektif yang terus-menerus dan terus meningkat. kesamaan partai/afiliasi politik antara kepala daerah dengan dan mayoritas anggota DPRD tak terhindarkan lagi akan mempengaruhi corak pengawasan yang akan dilakukan. DPRD dapat saja melakukan fungsi-fungsi sebelumnyalainnya seperti. Bila kepala daerah berasal dari partai/afiliasi yang berbeda. . termasuk melakukan pengawasan.

22/1999 yang kemudian diganti dengan UU No. DPRD juga tidak memiliki antisipasi mekanisme verifikasi berbagai keluhan masyarakat yang bertentangan satu sama lain. 6. pemda propinsi dan pemerintah pusat. Pasca 1999. 2232/1999 2004 dan UU No. yaitu. 2533/1999 2004 yang membawa desentralisasi administrasi. Dengan format baru adanya desentralisasi dan otonomi daerah. DPRD akan kesulitan mengatasi berbagai keluhan masyarakat. Mewakili kepentingan daerah Dalam sistem negara yang terdesentralisasi Indonesia mutakhir. tidak mengenal hierarki seperti UU No. Formatted: Space Before: 0 pt . fiskal serta politik. DPRD dapat mencari terobosan-terobosan baru dalam memastikan bahwa keputusan-keputusan yang diambilnya selalu berusaha memenuhi substansi prinsip keterwakilan ini.5" DPRD perlu bekerja dengan sekretariat dewan untuk memastikan bahwa terdapat mekanisme untuk bersikap peka terhadap permasalahan masyarakat sekaligus responsif terhadap tuntutan-tuntutan mereka. Proaktif: Jemput Bola Undangan rapat dengar pendapat (RDP) ke kelompok-kelompok kepentingan RDP umum (public hearing) Kunjungan ke lapangan Pengadaan jajak pendapat kepuasan pelayanan publik Reaktif: Tunggu Bola Mekanisme penanganan unjuk rasa Mekanisme penanganan permohonan pertemuan mekanisme penanganan undangan seminar. 32/2004. 5. format kekuasaan di bagi secara bertingkat salah satu hubungan politik yang lain adalah antar jenjang pemerintahan yang dijalankan dengan prinsip prinsip otonomi. 5/1974. dengan keluhannya apalagi sedangkan pihak yang relevan sedang tidak berada di tempat. Oleh sebab itu.halaman berikut ada beberapa contoh kegiatan yang bisa dilembagakan untuk memastikan bahwa DPRD memiliki berbagai jalan untuk mencari dan menerima masukan dari masyarakat. Sering masyarakat frustasi karena aduannya ditanggapi komisi yang tidak relevan. dll. Formatted: Tab stops: Not at 0. 1. DPRD bersama pemda praktis menjadi pun menjadi ujung tombak perjuangan kepentingan daerah di depan dua jenjang pemerintah lainnya.di Jakarta.7. konsepsi hirarkhi pemerintahan mulai diubah dengan memberikan lebih banyak tekanan pada munculnya kemandirian daerah (otonomi daerah). 1. 4. Dalam tabel di bawah. maka hubungan antara daerah dengan pusat telah memasuki babak baru. Formatted: Tab stops: Not at 0. yang saat ini dikerangkai dua undang-undang utama. diskusi.Secara umum. 2. 3. dalam struktur pemerintahan daerah saat ini. Terkadang. pasca lahirnya UU No.5" Isu Umum 2. 2. dalam konteks ini. dimulai Kata jenjang di sini mungkin tepat karena UU No. Dengan kewenangan untuk memberikan sebagai besar pelayanan publik. Tanpa mekanisme yang disusun untuk mengantisipasi hal-hal yang harus direspon dengan cepat. Penerimaan aduan melalui kantor konstituensi Kotak pos pengaduan Formatted Table Isu Khusus 1.

daerah dapat berbagi informasi dan prespektif mengenai perbedaan kepentingannya dan . Formatted: Space Before: 0 pt 6. Karena perbedaan kepentingan antar daerah inilah. Asosiasi DPRD Kota seluruh Indonesia (ADEKSI) resmi berdiri dan bulan berikutnya Asosiasi DPRD Kabupaten seluruh Indonesia (ADKASI). Kendati di Indonesia asosiasi pemerintahan daerah masih terbagi-bagi dalam berbagai organisasi. maka peran yang disandang daerah adalah advokasi untuk mendapatkan pembagian yang lebih adil. baik dalam besaranya dana alokasi dari pemerintah dalam formula bagi hasil pendapatan yang diperoleh di daerah. DPRD perlu memperdulikan setting politik bahwa pemerintah pusat pun memiliki kepentingannya sendiri. Demikian pula pemda. perhatian pada pentingnya peningkatan kapasitas staf teknis sangat besar. Anehnya. Dengan adanya asosiasi pemerintahan daerah. walikota dan gubernur. APKASI. hal ini merupakan langkah penting maju dalam hubungan antar pemerintahan di Indonesia. maka kepentingan daerah dapat didiskusikan dan dikerucutkan sebelum diperjuangkan. dibutuhkan organisasi yang kuat. Asosiasi ini menjadi wadah bagi DPRD Kabupaten dan Kota seluruh Indonesia dan anggotanya. APEKSI. dan APPSI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten seluruh Indonesia. maka sering pemerintah nasional (pusat) di negaranegara desentralis untuk mengadu domba pemdanya. Meskipun asosiasi dapat menjadi wadah yang efektif untuk penguatan kapasitas anggota.8. perhatian . dan Asosiasi Pemerintah Propinsi seluruh Indonesia) adalah asosiasi serupa yang menjadi wadah bagi pemda untuk memperjuangkan kepentingannya yang dipimpin bupati. Asosiasi Pemerintahan Kota seluruh Indonesia. Lazimnya di seluruh dunia. Membangun sekwan yang andal Semua orang dengan mudah sepakat bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan. ADEKSI dan ADKASI Pada Juli 2001. Karena itu ADEKSI dan ADKASI selalu aktif dalam diskusi kebijakan tingkat nasional. pemerintah pusat dapat mengeluarkan berbagai argumen untuk menangkal kepentingan-kepentingan daerah yang berbeda-beda. Kecuali daerah dapat bersatu mengagregasikan kepentingannya untuk mendapatkan kompromi terbaik dalam melakukan tawar-menawar dengan pemerintah pusat. maupun dalam keleluasaan mengeluarkan kebijakan fiskal. namun tak pelak lagi advokasi kebijakan merupakan fungsi yang kunci bagi asosiasi. Atas nama jaminan untuk menyediakan pelayanan publik yang setara di seluruh tanah air. Dengan adanya ADEKSI dan ADKASI. kemudian merumuskan strategi advokasinya bagi kompromi kepentingan terbaik bagi daerah. Dalam konteks inilah maka asosiasi pemerintah daerah menjadi relevan. perluasan jaringan dan penyebaran informasi. khususnya yang berimplikasi pada di antaranya adalah mengenai revisi UU tentang pemerintahan daerah dan aspek-aspek yang relevan dalam paket UU Politik.daerah kini menyandang tanggung jawab baru yang praktis juga membawa permasalahan tersendiri dalam bidang anggaran. Dalam memperjuangkan kepentingan daerah.di Jakarta.

Dukungan harus tersedia untuk menjamin fungsi-fungsi legislasi. Formatted: Space Before: 0 pt. Tab stops: Not at 1" Formatted: Font: +Body. Anggota DPRD yang dipilih karena popularitas dan kepercayaan pemilih kepada yang bersangkutan untuk memikirkan dan mengambil keputusan mengenai masalah-masalah publik sangat bisa jadi tidak memiliki kemampuan dalam hal teknis legal drafting. Tugas anggota DPRD adalah membuat keputusan-keputusan. akuntabilitas. dan yang terpentingjuga keterwakilan. Sekretariat DPRD harus memiliki staf yang andal. -bahkan kadangkadang memang sengaja diperumit untuk menggolkan tujuan politik tertentu. Banyaknya urusan.  Staf analisis anggaran. pengawasan. DPRD dapat memiliki staf khusus yang melakukan riset dan menyediakan informasi yang diperlukan oleh anggota dalam format yang mudah dipahami. kebijakan yang memprioritaskan sumber daya yang ada merupakan kewenangan dari DPRD sendiri untuk memenuhi tuntutan akan kinerjanya. Keputusan yang baik hanya bisa dilakukan jika dan untuknya diperlukan didasarkan informasi yang memadai. yakni staf yang menyediakan dukungan koordinatif dan administratif bagi kerja DPRD. Sebagai daerah yang sedang membangun dan baru meletakkan dasar-dasar pembangunan daerah pasca UU No. Adanya staf khusus yang dapat membantu anggota menyediakan analisis anggaran akan mengefektifkan fungsi penganggaran dan pengawasan anggota. Bbukan pula tugas anggota DPRD untuk mempelajari detil teknis bagaimana menulis perundang-undangan. Jalur ini juga harus menjadi jalur satu-satunya. sekretariat yang andal harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1.  Staf riset. Namun sSkala dukungan yang disediakan oleh dan melalui sekretariat ini sangatlah besar dan karenanya memainkan peran yang kunci. DPRD harus memiliki jalur pendelegasian dan pertanggungjawaban dengan sekretariatnya.sebesar ini seringkali luput diberikan bila kita membicarakan lembaga sekretariat DPRD. DPRD sering tidak memiliki cukup banyak waktu untuk memahami hal-hal mendetail yang kadang-kadang diajukan pihak eksekutif. Sekretariat DPRD dapat memiliki staf khusus yang dapat menerjemahkan kebijakan menjadi dokumen perundang-undangan yang baik. Italic . maupun penganggaran. Dengan demikian. Untuk itu. DPRD harus memiliki kekuasaan penganggaran bagi kegiatan maupun fasilitas yang disediakan oleh sekretariat. yang dipahami sebagai organisasi pendukung kinerja DPRD dan anggotanya. DPRD dapat memperoleh dukungan sesuai dengan yang diperlukannya dari Sekretariat. baik dari segi pendelegasian. Karena itu. Dengan demikian. sering membuat DPRD sering tidak memiliki waktu mencari informasi di perpustakaan dan mempelajarinya sebagai bahan untuk pengembilan keputusan. Seperti yang sudah disinggung di awal bab ini. sebagai pembuat keputusan. Namun.  Staf legal drafting. 2. sekretariat hanyalah merupakan sarana agar DPRD dapat menunjukkan kinerja yang baik. 22/1999. DPRD harus memiliki kendali penuh atas dukungan administratif yang disediakan untuknya. budgetinganggaran. mencakup:  Staf manajerial dan administrasi. Sekali lagi.

komisi memerlukan dukungan staf ahli untuk dapat menjalankan tugasnya. Diperlukan tidaknya staf fraksi sebenarnya dapat diserahkan pilihan dan pendanaannya pada fraksi sendiri karena tidak etis bila penyediaannya diambil staf fraksi dengandari APBD. Kebanyakan sekretariat DPRD di Indonesia saat ini tentu masih bekerja dengan sarana dan sumber daya manusia yang masih terbatas.9. Not Italic Formatted: Space Before: 0 pt Pengembangan sekretariat DPRD. DPRD perlu memikirkan kelebihan dan kekurangan dari penyediaan fasilitas ini. Perlu diingat bahwa program penguatan sekretariat ini harus terkendali.  Staf fraksi. bahkan bilameskipun anggaran yang tersedia memadai. Dalam keadaan seperti ini. UU No. Sebagai badan alat kelengkapan yang memegang peran penting dalam pelaksanaan tugas-tugas DPRD. yaitu. Formatted: Font: +Body. Staf komisi. DPRD dan sekwan dapat menyusun sebuah rencana pengembangan SDM untuk mendekati kondisi yang diinginkan dalam satu masa bakti. Untuk meningkatkan legitimasi politik DPRD. Sebelum praktek staf ahli komisi ini diperkenalkan. Reformasi 1998 telah membawa perubahan dengan mendorong demokratisasi: Perubahan paket UU . komisi perlu dilengkapi dengan staf yang dapat membantu anggota komisi melakukan tugas sesuai lingkup komisinya. maka anggaran dapat dialokasikan untuk mencapai target penyediaan sarana atau keahlian tertentu. maka ia benar-benar disediakan fasilitas untuk menjalankan fungsinya dengan baik. akan merangsang lahirnya fraksi-fraksi berukuran kecil yang tidak membebani anggaran sekretariat. posisi ini sayangnya belum diakomodasi bagi anggota DPRD. bertambahnya fasilitas maupun staf khusus di DPRD seyogyanya tidak menjadi tujuan dalam dirinya namun menjadi sarana bagi kinerja DPRD yang lebih baik di mata masyarakat. Dalam konteks regulasi saat ini. Dampak dari setiap investasi yang ditanam harus dapat dilihat pada setiap tahunnya. mungkin perlu dibuat analisis apakah staf yang akan direkrut bersifat permanen atau yang menerus lebih baik dan efisien secara anggaran atau staf yang bekerja secara adhoc saja saat dibutuhkanketika agenda kerja DPRD membutuhkannya. DPRD sebagai pendidik politik dan demokrasi Indonesia telah mengalami masa dimana tidak ada pemilu jurdil. misalnya. fraksi merupakan agregasi kepentingan politik yang harus diakomodasi dalam demokrasi. bila anggaran memungkinkan. pengembangan kapasitas SDM sekretariat mungkin akan terasa mahal bila dilakukan sekaligus dalam satu tahun anggaran. Karena itu.  Staf pribadi anggota legislatif. Di sisi lain. kemerdekaan pers. dan kemerdekaan berorganisasi. 6. 27/2009. yaitu terukur dampak dan kemanfaatannya. Karena anggota legislatif tertentu merupakan wakil satu-satunya dari daerah pemilihannya. Staf ini lazim dikenal di demokrasi mapan utamanya yang menganut sistem pemilu distrik wakil tunggal. Setelah penetapan target tahunan. Karena itu. Karena itu.

Demikian pula potret di daerah.Politik. ataukah desentralisasi sebagai penyebab naiknya berbagai retribusi dan menurunnya kualitas puskesmas di dekat rumah? Masyarakat juga perlu belajar bahwa demokrasi mengandaikan bekerjanya fungsi kontrol dari pemilih untuk memastikan bahwa pejabat publik akan bertanggung gugat (akuntabel) terhadap masyarakat. Sebagian besar kegagapan dan kegalauan ini lahir karena demokrasi perlu waktu sebelum bisa mendatangkan hasil yang memuaskan. 32/2004 dan UU No. 22/1999 dan UU No. Bersamaan dengan demokratisasi Indonesia juga lahir devolusi kewenangan dari pusat ke daerah melalui UU No. Praktek-praktek buruk yang dulu kita kecam kini justru merebak dan hadir di depan mata. tak urung ada banyak keluhan yang mengemuka. lepas dari rasa syukur akan capaian-capaian yang sudah diraih pada enam tahun pertama reformasi. secara tidak langsung. 33/2004. sekolah dan media massa. DPRD harus memastikan bahwa masyarakat pun belajar melakukan fungsi kontrolnya. teman sebaya. pemilu yang relatif demokratis (setelah absen 35 tahun). Dalam situasi politik seperti ini.adalah memastikan bahwa masyarakat tidak frustasi dengan keadaan sekitarnya. 25/1999 yang kemudian disempurnakan menjadi UU No. Ada banyak hal yang bisa dilakukan DPRD. Ada beberapa resistensi atau keengganan untuk menerima nilai-nilai baru yang dianggap semua semau sendiri sehingga penuh ketidakpastian. Namun. Bila dalam keadaan pertama masyarakat sudah frustasi dan enggan beranjak ke keadaan kedua. Masyarakat dapat memilih sendiri pemimpin-pemimpinnyakepala daerah dan merekalah yang kemudian bertanggung jawab terhadap nasib masyarakat di daerah. Sebagai pemimpin masyarakat pada masa-masa transisi yang sulit ini. mana yang akan lebih banyak dipelajari oleh masyarakat: Demokrasi di daerah sebagai sarana mendekatkan masyarakat pada pengambilan kebijakan yang berpengaruh pada dirinya. Desentralisasi dan demokratisasi di daerah kewenangan yang membesar dan berimbangnya kewenangan eksekutif dan legislatif. serta rangkaian perubahan UUD 1945 yang diharapkan meletakkan dasar bagi Indonesia yang lebih demokratis. Karena itu. maka proses belajar ini akan terputus dan demokrasi tidak akan membawa perubahan ke keadaan yang lebih baik. Yang menjadi krusial pada masa-masa transisi seperti sekarang dimana negara tidak lagi dapat memaksakan kehendak seperti dulu namun masyarakat juga tidak dapat mengharapkan subsidi dari negara.justru dikecam telah sukses mendesentralisasikan korupsi. terjadi pula desentralisasi politik kepemimpinan daerah. praktek politik di daerah dengan sendirinya sebenarnya merupakan pendidikan politik dan demokrasi pada masyarakat. Mengubah praktekpraktek buruk di masa lalu dan membangun pranata baru bukan proses yang secepat kejatuhan penguasa lama dan usai hanya dengan sekali dua atau tiga kali pemilu demokratis. Agen sosialisasi politik yang dialami seorang warga masyarakat adalah keluarga. ada juga yang sudah enggan kembali ke masa lalu namun belum menemukan pegangan tentang apa yang harus dibangun dibagi masa depan. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk . Karena dua proses ini berlangsung bersamaan. Dengan diterapkannya UU barupembaruan dalam pengaturan pemerintahan daerah ini.

memastikan bahwa lingkaran belajar masyarakat di daerah ini tidak terputus. seperti dalam mengikuti siklus sebagai berikut: .

APBD. Kepemimpinan kolegial dianggap merupakan sarana dalam demokrasi yang memungkinkan keputusan yang diambil setelah melalui proses pembahasan dan penggodokan yang serius dan matang. dan dokumen perencanaan daerah. termasuk dalam pencegahan korupsi dan pengadaan barang-barang publik skala besar. Setiap anggota DPRD harus mencamkan dalam dirinya.(I) Persepsi masyarakat akan Keadaan sekitarnya (I ) Praktek pemerintahan yang lebih baik Karena itu. Membekali diri ' (II) Dorongan bagi partisipasi masyarakat dalam pemerintahan (governance) (III) Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam aspek-aspek pemerintahan Formatted: Tab stops: Not at 0. 6. DPRD perlu menyadari bahwa keberadaannya sebagai kepemimpinan kolegial (kolektif) bagi daerah menjadikannya lembaga yang sangat penting bagi pengambilan keputusan di daerah. Memastikan adanya mekanisme transparansi bagi publik. karena ia telah meletakkan suri tauladan sebagaimana yang diharapkan datang dari masyarakat yang beradab dari para pemimpinnya. Ia akan merasa bangga bahwa ia tidak tergoda untuk mengorbankan cita-cita orang banyak bagi kebaikan daerah hanya karena demi kepentingan pribadi dan kelompoknya semata. Ini tentu harus disikapi sebagai sebuah tantangan. Memastikan adanya akses bagi masyarakat untuk mendapatkan dokumendokumen publik seperti perda. 6. 2. ia akan merasa bangga bahwa ia telah mengambil keputusan yang terbaik. 3. Mendorong keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan. DPRD perlu mendorong praktek-praktek yang memastikan tata pemerintahan yang baik dalam arti luas. 5. 4. Menyelenggarakan RDP dan jajak pendapat mengenai rancangan kebijakan dan perda. Memastikan terbukanya sebanyak mungkin persidangan DPRD kepada masyarakat.5" Formatted: Space Before: 0 pt . ketika ia melihat buah dari landasan yang diletakkannya hari ini.10. Ia akan merasa bangga. Kota-kota besar dengan jaringan internet luas dapat menggunakan website untuk menjalankan fungsi ini. bertahun-tahun dari sekarang. Pada dasarnya persidangan ini sifatnya terbuka (kecuali dinayatkan tertutup oleh DPRD). antara lain dapat dilakukan dengan: 1. sehingga DPRD dapat lebih mengoptimalkan ruang ini. Mendorong berkembangnya media massa yang bebas.

Pergantian anggota DPRD adalah sesuatu yang niscaya. Bahkan untuk para anggota DPRD yang sudah menjabat selama beberapa periode. kepemimpinan politik belum memiliki ladang penyemaian yang subur dan membuahkan kader-kader yang dapat membawa daerah danerah masyarakatnya ke masa depan yang lebih baik. dalam sistem demokrasi yang menggunakan pemilu sebagai mekanisme rekrutmen politik. tidak hanya pembekalan intensif pada awal periode saja. apalagi dengan tanggung jawab yang luas datang dari UU pemda serta tantangan konteks globalisasi dewasa ini. maka ruang-ruang sidang DPRD hanya akan menjadi tempat belajar dan anggaran DPRD hanya akan dihabiskan untuk pembekalan anggotanya.Daftar panjang fungsi di atas dan penjabarannya rasanya merupakan tantangan yang sangat menggairahkan namun sekaligus berat untuk dihadapi. Kondisi ini mengakibatkan akumulasi pengetahuan dari politisi-politisi yang telah berpengalaman praktis tidak terwariskan dengan masif pada periode berikutnya. bahkan seringkali dikehendaki. Keadaan ini tentu tidak perlu disesali. hasil pemilu 2004 pun sering ditandai dengan pergantian banyak anggota DPRD termasuk dan sama banyaknya partai politik yang berhasil duduk di DPRD. Namun iIni justruga berarti. di dalam budaya politik Indonesia. Sementara itu. Partai politik juga perlu memikirkan perannya sebagai persemaian pemimpin-pemimpin daerah yang akan menyandang peran penting dalam penguatan desentralisasi di Indonesia ini. praktis hanya periode 1999-2004 yang mencerminkan tantangan yang akan terus dihadapi ke depan ini. anggota DPRD harus membekali dirinya sehingga ia cepat mengadaptasikan diri dengan tuntutan-tuntutan tugasnya yang penting dan strategis ini. waktu menjabat sudah terlanjur akan habis dan masyarakat mungkin sudah kehilangan selera untuk kembali memberikan suaranya. Parpol perlu merumuskan strategi yang lebih menyeluruh tentang bagaimana dapat disediakan dukungan terus-menerus bagi wakil-wakilnya di DPRD. Sementara. Formatted: Space Before: 0 pt . Dan kKetika proses belajar usai. Jika para anggota DPRD tidak mengerjakan pekerjaan rumah nya untuk membekali diri.

Dalam menjalankan tugasnya. komitmen penerapan tata pemerintahan yang baik perlu ditanamkan dalam DPRD. 2. Banyak pihak bahkan mengatakan bahwa kekuasaan DPRD terlalu besar sehingga lembaga eksekutif pun beranggapan bahwa adalah sulit untuk bekerjasama dengan DPRD yang dinilai kadang kebablasanmempunyai kekuasaan sebesar itu. Karena itu.38" Formatted: Font: +Body. Formatted: No bullets or numbering.5" . baik untukbagi dirinya sendirinya maupun dalam upaya memfasilitasi para pelaku tata pemerintahan lainnya di daerah. Italic Formatted: Font: +Body. Untuk dapat meraih wibawa di mata publik. DPRD perlu menjunjung tinggi peraturan tata tertib dalam menjalankan tugasnya serta patuh pada hierarki perundang-undangan dalam menyusun pelbagai kebijakan daerah. dan ini dapat dimulai dengan penerapan prinsipprinsipnya. Salah satu agenda yang paling mendesak adalah kapasitas DPRD dalam melembagakan prinsip tata pemerintahan yang baik. Partisipasi. Italic Formatted: Font: +Body. Partisipasi masyarakat dalam penyusunan kebijakan maupun pengalokasian anggaran akan menyumbang bagi legitimasi produk DPRD dan keberadaan DPRD sendiri sebagai lembaga politik. Italic Formatted: Font: +Body. Bagaimana menerapkan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik? Tentu saja sSebuah kegiatan dapat mengandung sejumlah penerapan prinsip tata pemerintahan yang baik jika memenuhi prinsip-prinsip berikut: Berikut contohcontohnya: 1. Tab stops: Not at 0. tata pemerintahan yang baik dalam pemerintahan di daerah lazimnya sudah menjadi hal yang menyemangati visi yang harus dikejar daerah-daerah di Indonesia. Italic Formatted: Font: +Body. Italic Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. DPRD tentu perlu tak hanya menyuarakan tuntutan akan meningkatnya kinerja pemerintaah namun juga wajib menerapkan tata pemerintahan yang baik dalam dirinya. Penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik Kendati dengan banyak tarik-menarik di daerah. Penegakan hukum. Pada kondisi era reformasi ini. Italic Formatted: Font: +Body. DPRD perlu dibangun menjadi lembaga yang bersih dan berwibawa. sehingga dapat menjadi panutan bagi semua lembaga tata pemerintahan di daerah. Saking besarnya. Padahal.BAB VII Membangun Lembaga Perwakilan di Daerah Yang Berwibawa Rahmi Yunita DPRD sekarang memang mempunyai kekuasaan politik yang besar dan jauh lebih berperan dalam pemerintahan daerah. Tab stops: Not at 0. Italic Formatted: Font: +Body. DPRD memiliki dan menerapkan mekanisme untuk mendapatkan masukan dari masyarakat. mungkin yang terjadi adalah kekurangsiapan untuk menempatkan sistem check and balance pada proporsi yang sesuai. baik secara reaktif maupun lebih penting lagi secara proaktif.

5. atau dengan tanpa sengaja meminggirkan kelompok lainnya. membuka informasi mengenai sikap politik setiap anggota dalam pengambilan kebijakan tertentu. DPRD harus siap mempertanggungjawabkan kebijakan yang ditempuhnya. DPRD dapat membuat laporan tahunan di depan masyarakat tentang kinerja dan anggarannya untuk meminta umpan balik. Hasil guna dan daya guna (efektivitas dan efisiensi). No bullets or numbering. 4. Space Before: 0 pt. risalah persidangan. tanpa menunjukkan dampak yang berarti. harus merupakan sesuatu yang dipercaya akan dapat dipertanggungjawabkan kepada generasi masa depan daerah sendiri.38" . Tata tertib DPRD sebagai alat kendali politik internal ( Formatted: Indent: First line: 0. DPRD harus memastikan adanya kesetaraan pelayanan publik dalam pelbagai aspek. inilah maka internalisasi nilai-nilai tata pemerintahan yang baik akan siap dimulai. Anggota DPRD harus menjalin komunikasi dengan konstituen di daerah pemilihannya sebagai salah satu cara menjalankan prinsip ini. misalnya. isi dan misi daerah yang disusun. bahkan sampai pada tingkat lebih tinggi nanti. Mengiringi tertib administrasi di DPRD. sesuai kewajiban yang diamanatkan oleh UU No. 10. Dalam penyusunan program. DPRD harus mawas dengan tegaknya prinsip ini.5". 9. 27/2009. DPRD juga harus melakukan pengawasan kepada pelaksanaan kebijakan dan peraturan daerah tanpa maksud memperoleh keuntungan pribadi dari kegiatan ini. atau perempuan dan laki-laki untuk akses terhadap ekonomi produktif. Bagaimana menanggapi aspirasi yang diteriakkan demonstran? Bagaimana merespon pengaduan tertulis? Bagaimana menanggapi keluhan masyarakat dalam sebuah kunjungan lapangan? DPRD bersama sekwan perlu menyusun mekanisme untuk memastikan bahwa semua aspirasi dapat ditindaklanjuti secara kelembagaan. Kesetaraan (ekuitas). Rapat-rapat DPRD yang dinyatakan terbuka untuk umum dan dapat diaksesnya dokumen-dokumen daerah merupakan penegakan prinsip ini. DPRD perlu membuktikan bahwa perda yang dihasilkannya. DPRD harus mampu menegakkan kode etik bagi para anggotanya. terutama ketika kesulitan menghadang pimpinan daerah. 2232/20034 dan UU No. Pada akhirnya. misalnya dapat dijalankan dan berkelanjutan. Tanggung gugat (akuntabilitas). 7. Tab stops: Not at 0. Transparansi. langkah lebih jauh dapat dilakukan dengan membuka daftar hadir DPRD pada umum. DPRD tidak dapat menggunakan banyak anggaran peningkatan kapasitas. termasuk terus mengembangkan diri ketika tantangan baru lahir. bukannya melemparkan tanggung jawab. Pengawasan. Profesionalisme. misalnya: Ddaerah urban dan rural untuk pelayanan pendidikan. DPRD harus menunjukkan profesionalismenya dengan terus meningkatkan kemampuannya dalam menjalankan tugas.3. Wawasan ke depan. 8. misalnya untuk studi banding. Bagaimana prinsip-prinsip itu dapat dilembagakan? Tata tertib adalah instrumennya. DPRD perlu melakukan kepemimpinan dalam menyusun arah pembangunan daerah. Dengan memastikan prinsip-prinsip ini mengejawantah dalam aturan main DPRD. DPRD akan dinilai juga dari kinerjanya. 6. Daya tanggap (responsivitas). Sering sekali penyusunan program pembangunan hanya membidik kelompok sasaran tertentu.

untuk memungkinkan semua anggota dapat menyuarakan aspirasinya dan memudahkan pengambilan keputusan. yang dalam hal ini diwakili oleh banyak partai politik? Banyak lembaga perwakilan di dunia yang mengizinkan seorang anggota DPRD parlemen untuk duduk lebih dari satu komisi. dengan ketentuan bahwa seorang politisi hanya bisa menjadi anggota komisi yang waktu sidangnya tidak bersamaan. memang terdapat penjadwalan waktu sidang.5". yang akan dibahas lebih jauh di Buku 2 dari seri buku panduan ini. sebagaimana diatur dalam Pasal 356 UU No. misalnya setengah jumlah komisi bisa bersidang pada hari Senin dan rabu. komisi akan lebih fokus lagi karena adanya alat kelengkapan baru yang khusus menangani legislasi. tidak sedikit pula yang membatasi hal ini. Ini dimaksudkan agar setiap fraksi memiliki wakil di setiap komisi. menjadi terbagi dan dapat dikerjakan lebih efisien. sendiri tidak memiliki panduan pengaturan yang kaku.Formatted: Space Before: 0 pt Tata Tertib adalah seperangkat aturan yang mengatur bagaimana DPRD dan anggotanya menjalankan fungsi dan tugasnya. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana memastikan bahwa komisi dapat mewakili berbagai pendapat dalam DPRD. Pengaturan untuk mencapai kinerja optimal dapat dipaparkan sebagai berikut. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . komisi perlu mempertimbangkan jumlah total anggota dan saling mengimbangi dengan pengaturan ukuran fraksi. Indonesia membagi habis anggotanya sebanyak komisi dan karenanya hanya perlu mengatur bahwa waktu persidangan komisi tidak boleh berbenturan dengan sidang pleno. Jumlah komisi DPRD Kabupaten/Kota. Selain itu. Yang jelas. Bagaimana pengaturan proses dan waktu penyusunan peraturan perundangundangan? Formatted: Indent: First line: 0. Namun. Namun. sebagaimana diatur dalam UU No. Bagaimana pengaturan komisi? Komisi adalah alat kelengkapan DPRD yang dibentuk untuk menyederhanakan dan membagi pekerjaan di dalam dewan. untuk menciptakan representasi komisi terhadap fraksi. Dalam hal ini. dalam format kelembagaan DPRD sekarang ini. Terlebih. Penyusunan tata tertib DPRD sendiripun harus mempedomani PP. maka farkasi yang ada dalam DPRD harus beranggiotakan minimal sejumlah komisi yang ada. yaitu Badan Legislasi. yakni tiga komisi (bagi yang beranggotakan 20 sampai dengan 35 orang) dan empat komisi (bagi yang beranggotakan lebih dari 35 orang). 27/2009 ada dua macam. sementara sisanya Selasa dan Kamis. Beberapa pembicaraan yang sulit dilakukan secara pleno karena relatif besarnya ukuran forum dapat dilakukan lebih efektif dalam komisi. format komisi membuat pekerjaan di DPRD. 27/2009. komisi harus merefleksikan pembagian peran untuk menampung semua bidang mandat dalam cabang eksekutif dari pemerintahan juga. Selain itu. pada intinya. tata tertib yang mendetil tersebut memuat beberapa hal sehingga ia dapat dioptimalkan untuk mengatur dinamika politik DPRD. UU No. terutama dalam penyusunan legislasi dan pengawasan. 2227/20039 telah mengatur hal-hal yang harus tercantum dalam tata tertib. Detail pembahasan hal ini akan dibahas Kendati tidak dibatasi.

pengaturan kesempatan dan waktu bicara dalam persidangan juga merupakan isu yang penting dalam sebuah lembaga politik. mengharuskan keharusan bagi anggota DPRD untuk kembali ke daerah pemilihannya secara berkala dan menyerap aspirasi dari konstituen dan masyarakat luas. Formatted: Indent: First line: 0. Ini bisa dilembagakan dengan adanya masa reses untuk. Yang terakhir. c) pemberhentian dan penggantian pimpinan. h) pembuatan pengambilan keputusan. sehingga DPRDmasyarakat selalu punya kesempatan untuk membuka diri terhadap usulan kebijakan alternatif. Selain kedua belas poin tersebut. ini kadang kurang direspon dengan baik oleh DPRD karena dinilai tentu sajatidak cukup memberikan insentif. Iini pun sudah lazim dikenal sebagai dilema di semua rezim demokratis. untuk menghindari dominasi dan meningkatkan efisiensi forum. termasuk hubungannya dengan publik.. serta hak dan kewajiban anggota. Karena itu. b) penetapan pimpinan. d) jenis dan penyelenggaraan rapat. Pasal 376 ayat (3) UU No. Di samping itu. antara lain. . tata tertib juga perlu mengatur lamanya seorang anggota DPRD berbicara. aturan tata tertib juga harus memastikan bahwa media massa ataupun masyarakat luas memiliki akses pada proses ini. sehingga konstituen dapat memperoleh informasi mengenai sikap politik wakil-wakilnya. Beberapa hal usulan penajaman meteri tata tertib DPRD dapat dilihat di sub bab selanjutnya.Yang ingin dipastikan di sini bukan hanya proses penyusunan kebijakan saja yang. intinya adalah tersedianya cukup waktu agar sebuah usulan bisa diperdebatkan dengan menyeluruh sehingga tidak terjadi penyusunan serangkaian perda secara ngebut dan kejar setoran . k) pengaturan protokoler. misalnya. nNamun. harus partisipatif. Bagaimana mengelola hubungan dengan konstituen? Tata tertib DPRD juga perlu memastikan adanya keleluasaan dan dujunganatau sebenarnya membantu kepada anggotanya untuk menjalin hubungan dengan konstituennya. susunan. serta tugas dan wewenang alat kelengkapan. Di satu sisiMeski sudah terdapat imbauan agar DPRD mau melakukan terobosan dalam menyusun tata tertibnya. dan l) pelaksanaan tugas kelompok pakar/ahli. 27/2009 menyatakan bahwa paling minimal peraturan tata tertib DPRD Kab/Kota harus memuat 12 hal. bahkan memperdebatkan usulan kebijakan. Nnamun. Di banyak tempat. apalagi aturan yang harus dibuat justru malah akan terdapat sedikit insentif bagi anggota dewan sendiri untuk membuat aturan yang dapat digunakan untuk mengekang dirinya sendiri. g) penggantian antarwaktu anggota. tugas anggota DPRD adalah menyuarakan. i) pelaksanaan konsultasi antara DPRD kabupaten/kota dan pemerintah daerah kabupaten/kota.5". j) penerimaan pengaduan dan penyaluran aspirasi masyarakat. Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Indent: First line: 0. DPRD sebenarnya dimungkinkan untuk mengembangkan materi pengaturan internal kelembagaannya untuk memastikan kinerjanya berlajalan optimal. Keduabelas hal tersebut ialah: a) pengucapan sumpah/janji. Di sisi lain. di tradisi demokrasi mapan yang sudah mulai diadopsi beberapa daerah di Indonesia.5" Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Indent: First line: 0.5". f) pembentukan. Aturan tata tertib DPRD karenanya perlu memastikan bahwa bahkan fraksi kecil atau wakil tunggal dari sebuah partai politik pun dapat menyuarakan pandangan dan sikapnya terhadap usulan kebijakan. Space Before: 0 pt Formatted: Font: +Body Formatted: Space Before: 0 pt . tugas dan wewenang lembaga. e) pelaksanaan fungsi.

sependapatkah Anda? Kode etik yang bersanksi dan Dewan Kehormatan Isu etika dalam jabatan publik mencuat karena adanya banyak cara yang digunakan oleh pegawai pemerintah untuk menyalahgunakan kekuasaan mereka. Adjust space between Latin and Asian text. dan kredibilitas DPRD kabupaten/kota. 12 pt Formatted: Justified. serta menciptakan suasana saling tuduh. untuk mengganti PP No. dan DPRD menyebutkan dalam Pasal 81 butir (i) bahwa salah satu kewajiban DPRD adalah menaati tata tertib dan kode etik dan Peraturan Tata Tertib DPRD kabupaten/kota .. 22/2003 yang baru. ditetapkan oleh DPRD sendiri dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. yang menjadi hak rakyat. intimidasi atau ancaman untuk mempengaruhi tindakan orang lain. Karena itu. 25 tahun 2004 tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Tata Tertib DPRD. Ini menjadi nyaris mustahil ketika korupsi adalah hal yang dipandang masyarakat sudah berurat berakar dalam pemerintahan. baik propinsi maupun kabupaten/kota. tidak hanya sumber daya. Standar etis yang tinggi sangatlah penting bagi kredibilitas suatu pemda di mata publik dan organisasi swasta yang berhubungan dengannya. 23/2003. namun juga ada sederet dampak negatif lainnya.ini dapat mencakup beberapa hal. Secara politis sudah akan sangat sulit untuk menegakkan sebuah peraturan dan memungut pajak atau retribusi apalagi jika. anggota DPRD secara perseorangan atau kelompok wajib membuat laporan tertulis atas pelaksanaan tugasnya yang disampaikan kepada Pimpinan DPRD dalam Rapat Paripurna. dan peraturan yang ada secara pilih kasih untuk mengistimewakan teman atau menghukum lawan. Dalam kegiatan tersebut. kehormatan. 27/2009 yang menggantikan UU No. yang seharusnya dialokasikan secara bijak menjadi terbuang. 1/2000 yang harus diganti menyusul UU No. meruntuhkan kepercayaan publik. pengaturan tentang kode etik ini dalam UU tersebut terbilang tidak jelas dan hanya menyebutkan bahwa DPRD menyusun kode etik yang berisi norma yang wajib dipatuhi oleh setiap anggota selama menjalankan tugasnya untuk menjaga martabat. Dalam lembaga perwakilan yang menganut prinsip pemisahan kekuasaan -di mana lembaga perwakilan tidak memiliki kekuasaan eksekutif. Tidak cukup jelas disebut apakah ini akan diatur secara khusus dalam peraturan pemerintah. Dalam PP tersebut. Ketika penyalahgunaan ini terjadi. Penajaman materi tata tertib yang akan dibuat dan disahkan oleh DPRD bisa dengan memperkuat materi pengaturan dalam PP tersebut. citra. DPRD akan cenderung membuat tata tertib yang minimalis. sikap khusus dalam pembuatan keputusan untuk mengalokasikan sumber daya atau mempekerjakan seseorang. Indent: First line: 0. Sayangnya. menggunakan milik publik untuk penggunaan pribadi. di Indonesia. DPR. 2227/20039 mengenai Susunan dan Kedudukan MPR.Dalam UU No. banyak yang menganggap bahwa sudah seharusnya pemerintah mengeluarkan PP tentang Pedoman mengenai hal-hal yang setidaknya dimuat dalam Tata Tertib DPRD. Pasal 55 ayat (4) dan (5). menggunakan kedudukan seseorang untuk kepentingan pribadi. Perilaku tidak etis memancing kecurigaan. meskipun sebenarnya DPRD bisa menggunakan PP No. UU No. Nah. Tidak juga jelas apakah kode etik ini terkait dengan pengaturan larangan (pasal 378) Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body. Misalnya. Adjust space between Asian text and numbers Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body Formatted: Font: +Body . Jika tidak. Tanpa PP Pedoman ini.5". diatur bahwa masa reses akan dipergunakan oleh DPRD untuk mengunjungi daerah pemilihannya dan menyerap aspirasi masyarakat. Tata tertib DPRD. DPD.

Alasan persepsi. Dalam konteks Indonesia yang tengah memerangi KKN ini. pengadopsian kode etik oleh DPRD akan membangun kesan bahwa DPRD berkomitmen terhadap agenda ini dan mengundang dukungan masyarakat untuk menegakkannya. dilarang. karena frasa kode etik ini tidak diawali dengan huruf kapital. Ketidakjelasan juga muncul dalam PP No. pihak yang menganggap perlunya kode etik dapat mengajukan tiga argumen: 1. aturan ini harus bersifat realistis. Ketidakjelasan ini pada akhirnya membuat peran kode etik tidak terlalu vital dan hanya menjadi penunjang atau pelengkap dari tata tertib saja.  Agar tetap dijunjung tinggi. bukannya peraturan yang disalin dari pihak lain tanpa dihayati. tidak berakibat serius bagi pelanggarnya. UU memang tidak mengamanatkan adopsi sebuah kode etik yang terpisah. 3. dan menganggap bahwa perilaku yang baik harus datang dari diri sendiri dan dikontrol oleh penegakan hukum pidana. Formatted: Font: +Body. Pihak yang tidak sependapat umumnya berkaca dari ketidaksuksesan penerapan kode etik dalam lapangan profesi lainnya. 12 pt .  Aturan ini perlu ditulis dalam bahasa yang sederhana dan tidak sarat dengan istilah hukum. misalnya semacam sebuah dokumen singkat yang memuat saripati peraturan mengenai etika dalam tata tertib? Lazimnya terdapat pro dan kontra dalam hal ini. tata hubungan antar lembaga pemerintahan daerah dan antar anggota serta antara anggota DPRD dengan pihak lain mengenai hal-hal yang diwajibkan.ataukah terkait dengan kewajiban anggota DPRD (pasal 351). Hal Pengaturan ini terkesan mengecilkan peran kode etik dalam kehidupan kelembagaan dewan. Kode etik perlu untuk menyediakan acuan yang mudah dipahami bagi standar moral yang diharapkan lahir dari para anggota dewan dan memiliki kode etik secara spesifik akan membuatnya lebih diperhatikan.  Aturan harus sesuai dengan peraturan perundangan -peraturan atau UU yang ada. Namun. Pun jika dilanggar. Pihak ini mungkin akan cenderung merujuk pada pedoman yang disediakan oleh pemerintah. 27/2009) yang menyebut bahwa Kode Etik meliputi norma-norma atau aturan-aturan yang merupakan kesatuan landasan etik atau filosofis dengan peraturan sikap. Dalam bagian ketiga UU ini mengenai Peraturan Tata Tertib Pasal 102 ayat (4) butir 1 menyebut bahwa salah satu yang setidaknya diatur dalam tata tertib adalah pengaturan protokoler dan kode etik serta alat kelengkapan lembaga .  Kode etik jangan memberikan kesan terlalu kaku dan birokratis. Kode etik yang terpisah dari tata tertib? Apakah daerah perlu mengadopsi sebuah kode etik yang terpisah. 2. Argumen substansial. Kejelasan yang ada hanyalah pada keberadaan Badan Kehormatan yang kemudian diberikan tanggungjawab sebagai pengawas kode etik DPRD. ucapan. tatakerja. Alasan teknis. perilaku. 25/2004 Pasal 104 nomor tujuh (turunan UU Susduk sebelum UU No. Namun. atau tidak patut dilakukan oleh anggota DPRD. Kode etik yang efektif sebaiknya memenuhi beberapa hal berikut:  Aturan seharusnya muncul dari kelompok yang akan diatur.

yang kemudiansecara mandiri sendiri atau bersama dalam pleno akan menjatuhkan sanksi. Karenanya. Masalahnya tentu saja . aAda pelbagai model pendekatan untuk menyusun bagaimana komposisi BadanDewan Kehormatan ini. Berdasarkan laporan ini tersebut akan diputuskan apakah kasus perlu dibawa atau tidak ke depan sidang pleno. dan akibatnya agak sulit mendapatkan anggota dewan yang bersedia duduk di BadanDewan Kehormatan ini. anggota legislatif lazimnya enggan melakukan peran aktif dalam model BadanDewan Kehormatan seperti ini. Selanjutnya. berdasarkan pengalaman. Model terakhir adalah yang ditempuh Amerika. wakil-wakil dari pimpinan dewan duduk dalam BadanDewan Kehormatan dengan seorang anggota yang independen. Penyelidikan dan sanksi . Model ini ditempuh di Inggris. dan untuk kemudian melaporkannya dilaporkan kepada BadanDewan Kehormatan. lepas dari pilihan yang diambil di Indonesia. adalah Badan Kehormatan yang terdiri dari anggota legislatif sendiri. Model pertama membedakan antara Komisi Investigasi Pelanggaran Etika dengan dan BadanDewan Kehormatan yang terdiri dari pimpinan dewan.. BadanDewan Kehormatan tidak memiliki kewenangan investigasi. Ada sejumlah hal yang lazim diatur dalam kode etik. dimana Badan Kehormatansetelah melakukan investigasi dan Dewan Kehormatan akan menyusun laporan tertulis. termasuk DPRD. dalam model ini. baik kepada anggota sendiri maupun kepada masyarakat luas untuk membantu mendapatkan dukungan bagi penerapannya. melakukan investigasi. perlu ditegakkan aturan yang menjamin bahwa kepercayaan masyarakat ini sejauh mungkin tidak terciderai. BadanDewan ini akan menangani pengaduan.  Kata kunci bagi efektifnya pemerintahan demokratis adalah kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.Kode etik yang sedemikian akan membuat lebih mudah disosialisasikan. 2227/20039 merupakan instrumen untuk menegakkan kode etika ini. karena. harus membuat keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dalam kebijakan dan dampaknya sendiri. serta mengatur penegakannya lewat Badan Kehormatan. Komisi Investigasi terdiri atas orang-orang luar . secara prinsip hal yang ingin ditekankan melalui kode etik adalah:  Pejabat publik. Bagaimana membentuk Dewan Badan Kehormatan yang efektif? Dewan Badan Kehormatan yang merupakan salah satu alat kelengkapan yang diamanatkan oleh UU No. Namun. Model kedua. Sementara itu. bukan karena paksaan dari luar. melalui tata tertib. Dewan Kehormatan. Di Amerika. dan bersifat independen. dan akan bertanggungjawab menindaklanjuti laporan mengenai dakwaan pelanggaran etika. Jadi. dapat menjabarkannya dijabarkan lebih mendetail dan teknis. yang detailnya bisa dilihat pada Buku 2 dari seri buku panduan ini. dan bila terbukti akan menyusun rekomendasi mengenai putusan yang sebaiknya diambil oleh sidang pleno. keanggotaan BadanDewan Kehormatan ini tidak ex-officio diambil oleh pimpinan sehingga. termasuk godaan imbalan materi. selama ini menunjukkan bahwa anggota legislatif cenderung tidak akan menjelek-jelekkan rekannya.

Swedish (Sweden) Formatted: Space Before: 0 pt . Swedish (Sweden) Formatted: Font: +Body. tidak membocorkan informasi rahasia. Don't adjust space between Asian text and numbers. penegakan kode etik juga harus diawali. suatu saat kita harus percaya bahwa kondisi ideal ini pasti bisa dicapai. Anggota dewan dan para pejabat perlu mengembangkan serangkaian prinsip untuk memandu perilaku mereka sehari-hari. lazimnya diatur hal-hal sebagai berikut:  Laporan siapa yang dapat ditindaklanjuti? Apakah laporan masyarakat dengan sejumlah tertentu? Apakah hanya laporan dari sejumlah tertentu anggota legislatif sendiri yang boleh diproses lebih lanjut?  Bagaimana prosedur Badan Kehormatan untuk menindaklajuti laporan? Siapa yang menindaklanjuti? Apakah pimpinan dewan. apapun hasil proses ini tentu saja perlu dibuka kepada masyarakat sebagai salah satu langkah akuntabilitas publik. Jika perlu. bahkan bila itikad sudah lahir.Formatted: Space Before: 0 pt Kendati masyarakat harus memastikan bahwa wakil-wakil mereka senantiasa menerapkan standar etika yang tinggi. dengan sosialisasi mendalam kepada anggota DPRD dan staf sekretariat mengenai bagaimana kode etik ini dipatuhi. kendati penyelidikan dilakukan secara tertutup. Membangun transparansi yang sesuai dengan kebutuhan publik Bagaimana mendefinisikan transparansi? Ketika reformasi terjadi dan tuntutan akan transparansi menguat di daerah.75" + Tab after: 1" + Indent at: 1". Bahkan keluar istilah-istilah: Boleh minta Formatted: Space Before: 0 pt. sejumlah pejabat mulai mengeluh bahwa tuntutan ini menjadi berlebihan. Ini mencakup juga selalu bertindak dalam kerangka kepentingan publik. teguran tertulis. namun merupakan sebuah proses yang terus-menerus. Meski bisa saja Ketika mungkin saat ini kita agak pesimis dengan hasil penegakan kode etik ininya. Nnamun demikian. Tab stops: 0. maka sanksi yang dapat diberikan oleh Badan Kehormatan adalah berupa teguran lisan. Karena itu. List tab + Not at 1" Formatted: Font: +Body. denda. Swedish (Sweden) Formatted: Font: +Body.38".4. tidakkah sekarang waktu terbaik untuk memulai? 7. ataukah pengumuman di depan publik secara terang-terangan? Dalam Pasal 380 UU No. Jadi. sangat penting dibuat bahkan diperlukan sebuah buku panduan kode etik untuk membantu anggota DPRD mematuhi standar etika mereka. Tab stops: Not at 1" Formatted: Indent: Left: 0. bahwa mManajemen etika memang bukan sekedar kegiatan tunggal yang sekali jadi. bahkan lebih jauh lagi memberikan tauladan perilaku yang baik sebagai pemimpin masyarakat. Dewan Kehormatan ataukah harus sidang pleno?  Apa Bagaimana prosedur pemberian dan penentuan sanksinya? Apakah anggota dikenakan skorsing. Karena korupsi politik sudah mengakar di Indonesai. Karena itu.13". Don't adjust space between Latin and Asian text. dan/atau diberhentikan dari pimpinan pada alat kelengkapan. bahkan dibarengi secara berkala. anggota pun perlu dilindungi dari bahaya fitnah. Supaya kepercayaan publik dapat diraih. selain pasal-pasal pidana. Bagaimana Memulainya? Yang patut diingat. ikhtiar ini memang tidak mudah. 27/2009. selalu bersikap netral secara politik ketika menjalankan tugas administratif. Space Before: 0 pt. Bulleted + Level: 2 + Aligned at: 0. berperilaku etis lebih dari sekedar menghindari perilaku korupsi. Swedish (Sweden) Formatted: Font: +Body.

acara bincang-bincang kebijakan di radio lokal yang secara interaktif. Formatted: Space Before: 0 pt..  Penyelenggaraan kegiatan-kegiatan informasi Seringkali kesan tidak transparan lahir karena warga masyarakat tidak memiliki pengalaman interaksi dengan para wakilnya.38". penerbitan kalawarta (newsletter) yang bisa ditempel di koran dinding desa. Langkah yang dapat ditempuh antara lain:  Penguatan sekwan Sekwan perlu diberi anggaran yang memadai dan staf yang memiliki kualifikasi tertentu untuk menyediakan dukungan sistemik yang diperlukan di atas. Tab stops: Not at 1" Formatted: Indent: Left: 0. tapi jangan minta kami menelanjangi diri . transparansi pun mungkin tidak serta merta mudah diwujudkan. Biasanya lalu dimulai debat kusir mengenai mana yang transparan dan mana yang telanjang . Karena masyarakat di daerah belum selalu berpengalaman untuk terlibat memberikan masukan bagi kebijakan publik. melulu karena manajemen informasi yang kurang baik. Transparansi jelas bukan merupakan kepentingan dari pelaku tindakan seperti ini. dan b) lemahnya sistem yang mendukung penyediaan informasi yang dibutuhkan oleh warga negara. entah dengan membungkam rekan kerja mereka atau dengan mencoba mencari dalih yang sah untuk menutupi tindakan mereka. Di bawah rezim etika yang sudah ditegakkan.transparansi. pejabat dan pegawai yang terlibat dalam perilaku tak etis menutupi jejak mereka dengan pelbagai cara. Karena pemerintah demokratis bertanggung jawab kepada rakyat. Pada hakikatnya transparansi merupakan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang menyangkut kepentingan mereka. Bagaimana memastikan bahwa masyarakat dapat mengetahui agenda persidangan dewan dan raperda yang sedang dibahas? Apakah pers dapat memperoleh informasi mengenai tingkat kehadiran anggota DPRD dalam persidangan dewan untuk melihat kinerjanya? Apakah masyarakat bisa memperoleh risalah persidangan dan mengetahui bagaimana sikap dan pilihanpilihan politik wakil-wakilnya? Dalam keadaan seperti itulah. Penguatan ini dapat sesederhana dilakukan dengan mengadakan pelatihan bagi staf untuk pencatatan risalah sidang sampai penyediaan mesin fotokopi untuk memastikan bahwa masyarakat dapat memfotokopi menggandakan dokumen yang mereka butuhkan dari sekwan. DPRD justru dapat memulai kegiatan-kegiatan seperti. Karena itu. absennya tiadanya transparansi akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara negara. Kadang transparansi gagal. pendekatan hukum seperti dijaminnya hak-hak masyarakat dalam UU Kebebasan Informasi dan peraturan daerah serupa di tingkat daerah dapat membidik membantu mengatasi permasalahan ini. kita sendiri dapat merasakan betapa seringkali terjadi. absen tiada atau kurangnya transparansi dalam pemerintahan lazim terjadi karena dua alasan: a) penggelapan sebuah informasi yang terkait dengan tindak korupsi. maka diperlukan penguatan kelembagaan dan sistem. dan bila tidak tertangani pada gilirannya terhadap demokrasi secara keseluruhan. transparansi merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk menyediakan informasi yang memadai. Logikanya. Space Before: 0 pt . juga penerbitan situs web yang memuat berbagai informasi kebijakan. Untuk kasus yang pertama. Kalau kita cermati. termasuk dengan mudah dan akurat.

seperti yang dilakukan sejumlah aktivis muda di Mataram dengan Jurnal Kota Wargatama dan buletin Potret . Formatted: Space Before: 0 pt Pengalaman Penerapan Transparasi Dengan bantuan program BUILD dari UNDP. Menuju zero tolerance untuk praktek buruk DPRD Salah satu isu kontroversial dalam lima tahun pertama reformasi dalam penataan kelembagaan DPRD adalah PP No. dan kuatnya peran radio serta media cetak. Kota Metro membuka warung informasi dan komunikasi sebagai wahana membincangkan pengaduan masyarakat kepada eksekutif dan legislatif mengenai masalah ekonomi dan pertanian. bahkan Legislatif di titik nol . dapat pula diciptakan situasi kondusif untuk lahirnya media dari masyarakat community newspaper yang dengan leluasa melakukan pemberitaan mengenai isu-isu kepemerintahan. kendati tidak bisa menyangkal banyaknya kasus-kasus mengenai praktek buruk DPRD.7. akibat pengaturan di dalamnya yang dianggap menciderai rasa keadilan. menggunakan siaran talkshow radio mingguan untuk mendiskusikan anggaran pembangunan. Praktek buruk yang sering dilayangkan juga berupa komodifikasi perda. Wacana ini tentu Anggota DPRD masa itu yang membacanya pada umumnya merasa tersudutkanmenyudutkan kelembagaan DPRD.5. Don't keep with next Kasus korupsi DPRD ini dapat dikatakan hanya salah satu potret dalam lima tahun pertamaperjalanan reformasi. sebagai contoh. After: 0 pt. Kecaman-kecaman masyarakat itu Sejumlah artikel ini sebenarnya mencerminkan betapa toleransi masyarakat sudah tergerus terhadap praktek-praktek buruk yang dilakukan oleh oknum DPRD. pengawasan yang kebablasan serta Formatted: Space Before: 0 pt . ada beberapa inisiatif yang sudah diambil beberapa kota dalam menegakkan transparansi. Formatted: Space Before: 0 pt. dengan judul-judul keras seperti Wakil rakyat mpencuri uang rakyat . yang mungkin dapat didorong oleh DPRD di daerah-daerah lainnya. Isu semacam ini sangat sensitif di hati masyarakat dan menimbulkan banyak kecaman terhadap DPRD yang dituduh ladang korupsi dan Media Indonesia tanggal 7 September 2003 pernah menulis serangkaian artikel seputar isyu yang secara sederhana disebut Korupsi DPRD . After: 0 pt. dan bahkan permasalahan hukum merebak menyusul hal ini. beberapa pemerintah kota telah melakukan praktek yang terpuji. Don't keep with next Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. di samping masih banyaknya kekurangan di sana-sini di tubuh lembaga perwakilan daerah. meskipun harus diakui praktek-praktek korupsi masih banyak menimba anggota-anggotanya. Menyadari strategisnya posisi kelurahan. Kota Kendari. 110/2000 mengenai Kedudukan Keuangan DPRD karena. Bila di Sawahlunto pemda berinisiatif membiayai kolom di harian regional agar memberitakan kota Sawahlunto. PP ini menyulut kontroversi luas sebelum kemudian akhirnya direvisi. penyiasatan terhadap PP ini berlaku dalamterkait penyusunan paket renumerasi bagi pimpinan dan anggota DPRD. Cara anggota dewan pamer kebusukan . Mendorong liputan media juga dapat ditempuh. yang menyorot isu-isu perempuan. Kota Sawahlunto mendorong pos komunikasi desa untuk menjembatani pemerintah dan masyarakat.

masyarakat dapat belajar satu sama lain. atau menunggu gelombang desakan masyarakat yang kian canggih dalam menyuarakan tuntutan-tuntutannya? Di tangan para anggota DPRD sendirilah pilihannya berada. DPRD perlu segera merespon dengan juga mengembangkan zero tolerance kepada peluang praktek buruk dalam dirinya. Informasi kian terbuka. secara internal. Tuntutan jzaman dan perubahan sendiri agaknya tak terelakan. Jadi. bahkan dari belahan dunia yang berbeda. . Karena tingginya tuntutan dan terbatasnya dukungan ini. beberapa DPRD sanggup menerima tantangan dan lahir sebagai dewan yang dihormati dan terpercaya. dari daerah satu dan lainnya.pemerasan dalam proses pilkada. namun tidak jarang yang terperangkap dalam budaya-budaya warisan lama tanpa tahu bagaimana membebaskan diri. Dalam hujan kritikan tersebut. Bagaimana caranya? DPRD perlu menyusun agenda bagaimana mengembangkan diri anggotanya dan kelembagaannya. Salah satu caranya adalah menyusun semacam perencanaan reformasi kelembagaan tiga sampai tahun ini dapat dilakukan dengan bantuan staf ahli sebagai fasilitatorsehingga pada akhirnya nanti DPRD telah akan memiliki pranata yang tangguh untuk menangkal praktek buruk dalam dirinya maupun di antara anggota-anggotanya. kita menyaksikan bahwa DPRD dibiarkan sendirian dalam mencoba menjawab permasalahan. apakah perbaikan perilaku ini akan dimulai dengan prakarsa para anggota sendiri. Akibatnya.

Upaya mempengaruhi pihak lain untuk tujuan tertentu dapat didesakkan dengan Mmembangun aliansi adalah sebagai usaha membangun pengaruh dan kekuatan untuk mempengaruhi pihak lain untuk tujuan tertentu. Untuk mewujudkan kepentingan umum diperlukan keberadaan organisasi atau kelompok pendukung. tentu memuat tujuan yang hendak dicapai secara kolektif sehingga untuk memperjuangkannya. bukan kepentingan individu. tujuan kolektif. Elemen masyarakat bisa disederhanakan melalui. DPRD perludengan membangun aliansi strategis dengan para pelaku tata pemerintahan di tingkat daerah maupun nasional. Guna mencapainya. membina kerja sama.BAB VIII Membangun Aliansi Strategis dan Memenangkan Kepentingan Rakyat Diana Fawzia Dalam tata demokrasi baru sekarang yang ditandai dengan informasi keterwakilan. ada tiga cluster aktor yang perlu diperhitungkan dalam pengembangan jaringan strategis. yaitu pemerintah. adalah termasuk wilayah politik.DPRD perlu mengembangkan pendekatan kerja baru secara eksternal. Kemampuan DPRD untuk membangun jaringan dan aliansi strategis dapat meningkatkan kinerja internal maupun representatif terhadap akomodasi berbagai kepentingan. dan membentuk organisasi. Secara umum. meskipun terbuka kemungkinan masuknya kepentingan pribadi dalam wilayah kepentingan. sebab menentukan. Tanpa proses pengaruh dan mempengaruhi. Dalam artian perjuangan kepentingan publik atau umum adalah perjuangan politik. Kekuasaan diartikan sebagai proses tingkat pengaruh yang ditransformasikan oleh satu pihak seorang atau kelompok kepada seorang atau kelompok untuk mempengaruhi perilaku orangpihak lain sehingga orang lain bersedia mengikuti apa dikehendaki oleh pihak yang mempengaruhi. dalam memperjuangkan tujuan kolektif diperlukan kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat. beragam kepentingan manusia tidak bisa digerakkan kepada suatu tujuan bersama. Dari contoh ini. Untuk memelihara kepentingan umum diperlukan sebuah aturan main agar tujuan kolektif dapat dicapai bersama. organisasi dan aturan main merupakan elemen yang akan berhubungan dengan faktor kekuasaan sangat penting. Bentuk pPengaruh dalam bentuk konkrit sering dikatakan sebagai hakikat kekuasaan yang penggunaannya. kerja sama. lembaga perwakilan dan konstitusi. Tetapi dilihat dari ciri-ciri sebagai kepentingan publik jelas bagian dari kehidupan politik. dimana pengaruh itu dapat dipaksakan baik secara persuasif maupun dengan paksaan. Tujuan yang Formatted: Space Before: 0 pt . Kepentingan umum adalah. dunia usaha dan masyarakat sipil. Mengapa perlu membangun aliansi strategis? Perjuangan politik DPRD adalah Mmemperjuangkan kepentingan rakyat atau kepentingan umum.

Dengan langkah tersebut.sama. sumberdaya ekonomi. baik pada tingkat regional maupun nasional. Agenda kerjasama regional dan nasional Sebelum merumuskan agenda regional dan nasional. dan kepentingan yang dinilai strategis untuk mencapai tujuan. kekuatan posisi. Penambahan agenda ini menyangkut kerjasama regional dan nasional.dimaksud bisa diartikan sebagai upaya membangun dukungan ataupun. . Sebagai contoh. Aliansi strategis berarti membangun kerja sama untuk meningkatkan pengaruh dan kekuatan dengan kelompok atau elit tertentu. dan seterusnmya. Pengertian strategis memiliki pengertianmenunjuk kepada tingkatnilai pengaruh yang dimiliki oleh suatu kelompok yang diajak beraliansi. Kedua. Ini berarti. seperti sumber kelangkaan termasuk kekuasaan. Misalnya apabila mayoritas pekerjaan penduduk adalah petani. Setelah dua langkah tersebut dilakukan. 8. Dan iIni adalah tolak ukur keberhasilan perjuangan seorang anggota dewan dalam membina karier politiknya. tidak menutup kemungkinan bahwa ada agenda publik yang tidak mampu menyerap masalah yang berkembang ditengah publik. ilmu dan teknologi. memahami permasalahan. Pelbagai usaha dapat dilakukan oleh seorang anggota dewan untuk membangun aliansi strategis guna memenangkan kepentingan rakyat. Pemahaman terhadap suatu masalah sangat diperlukan agar anggota dewan mudah mengambil solusi atau langkah-langkah penyelesaian serta pendekatan apa yang sebaiknya dilakukan. Memenangkan kepentingan rakyat berarti bahwa apapun yang dilakukan oleh anggota dewan harus diarahkan tetap yang menjadi pemenang utama adalah pada kepentingan rakyat. seperti sebab munculnya masalah. mengidentifikasi potensi dan masalah yang berkembang dalam masyarakat. bisa juga untuk memperkuat kerjasama membentuk suatu kekuatan untuk keperluan atau tujuan yang hendak dicapai. Hal ini berkaitan dengan penguasaan anggota dewan terhadap substansi permasalahan. mengapa muncul. TingkatNilai pengaruh ini bisa karena penguasaan terhadap sumberdaya tertentu. yang sudah dipersiapkan oleh DPRD.dan di mana letaknya suatu permasalahan itu muncul. akan ada perubahan agenda atau agenda tambahan.1. bagaimana jejaring masalahnya. seorang anggota dewan mengetahui persis bahwa masalah yang diperjuangkannya adalah (jantung) kehidupan rakyat. Aliansi dapat dilakukan antara terhadap kelompok atau elit politik yang memiliki kesamaan tujuan.: Pertama. maka untuk mperumuskan agenda kerjasama regional maupun nasional akan lebih mudah. maka menjadi jelas bahwa seorang akan membela sekuat tenaga bahwa nasib petani adalah membela merupakan nasib rakyat pada umumnya. anggota DPRD perlu menempuh langkah-langkah sebagai berikut. bukannya membela para kepentingan pemilik industri yang jenis bisnisnya terkait dengan melakukan pencemaran dan merusak perusakan lahan pertanian. yaitu perlu diteliti apa. Mengapa? Mengidentifikasi potensi dan masalah yang ada dalam masyarakat adalah langkah yang sangat penting untuk dilakukan. aktor-aktor utama yang terlibat masalah. DPRD dapat menyiapkan Di samping agenda politik dan kebijakannya. Dengan pemahaman yang benar dan tepat. maupun dan status sosial dalam struktur masyarakat.

38".38".46" Formatted: Indent: Left: 0.46" Formatted: Font: +Body. Ketiga. Dengan memperhatikan beberapa hal tersebut. politik dan keamanan. dan manusia antar daerah sehingga memungkinkan dibangun kerjasama. bobot masalah.46" + Indent at: 1. agenda publik harus diarahkan untuk dapat meningkatkan nilai kompetitif daerah sesuai dengan potensi yang dimiliki. Dalam Mmerumuskan agenda kerjasama regional dan nasional. isu yang didapat perlu diMempilah-pmilah lagi isu atau masalah yang berkembang pun perlu dilakukan untuk mengetahui apakah isu atau masalah tersebut bersifat riil atau hanya sekedar tindakan manipulasitidak. 1. lingkungan. Terdapat ketimpangan potensi sosial. ekonomi. sebagai solusi. serta dapat memberikan harapan dan optimisme perbaikan. 3. Agenda kerjasama tersebut juga harus rasional untuk diimplementasikan. agenda publik harus membangun rasa keadilan masyarakat. 3. Ssehingga apa yang menjadi agenda publik yang dicanangkan DPRD nantinya memang benar-benar adalah gambaran riil dari masyarakat. Not Bold. Not Bold. ekonomi. perlu ada kriteria yang jelas agar kerja sama dapat saling menguntungkan ataupun membantu daerah yang sebelumnya tertinggal. Terdapat perbedaan keunggulan masing-masing daerah dalam pelbagai bidang sehingga memungkinkan untuk saling mentukar nilai keunggulan komparatif tersebut.46" Formatted: Font: +Body. agenda publik tersebut diorientasikan dapat untuk meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara.75" + Tab after: 1. Tab stops: Not at 1. No bullets or numbering. menumbuhkan persamaan dan hak asasi manusia.46". Hanging: 0. Italic Formatted: Font: +Body. Not Bold. agenda publik yang dirumuskan lebih mencerminkan logika dan kepentingan kelompok atau elit politik tertentu saja daripada kepentingan publik. Sehubungan hal tersebut mungkin ada beberapa aspek kehidupan masyarakat yang dapat digali untuk dikembangkan dalam agenda kerjasama regional. Italic Formatted: Font: +Body. Not Bold. nilai urgensi. nilai kerugian. 2. Italic Formatted: Font: +Body. Space Before: 0 pt. Tidak sebaliknya. Not Bold. Italic Formatted: Font: +Body.25". Numbered + Level: 2 + Numbering Style: 1. Logika yang berkembang dalam dewan hendaknya mencerminkan logika dan kepentingan publik yang berada di luar parlemen.46" + Indent at: 1.13".25". Numbered + Level: 2 + Numbering Style: 1. + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0. dan kenyamanan. agenda publik yang dibangun harus memperkuat landasan sosial. Timbul pelbagai masalah.13". Setelah teridentifikasi. 3. Tab stops: Not at 1. Keempat. 2. Tab stops: 0. serta menjunjung martabat manusia. Hanging: 0. Italic Formatted: Space Before: 0 pt.Mengidentifikasi Identifikasi isu yang berkembang dalam masyarakat dapat dilakukan dengan memperhatikan tingkat urgensi. baik sosial. Italic Formatted: Space Before: 0 pt. Agenda kerjasama regional paling tidak mengandung bBeberapa kriteria yang bisa digunakan adalah: 1. + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0. Not Highlight Formatted: Indent: Left: 0. Italic Formatted: Font: +Body. Space Before: 0 pt. misal antara lain adanya kemungkinan: 1. lingkup masalah. Tab stops: Not at 1. Kedua. ekonomi. hukum. politik. Peluang akses transportasi.42" . pemilihan agenda yang disusun DPRD akan memiliki tingkat akurasi dan memiliki nilai representasi yang kuat. komunikasi dan informasi sehingga memungkinkan daerah kawasan tersebut mengalami percepatan dalam pembangunan. List tab + Not at 1. sumber daya alam. Kelima.46". dan keamanan. Tab stops: 0.: pPertama. Agenda publik untuk membangun kerjasama regional dan nasiona yang disusun DPRD tersebut harus mencerminkan beberapa hal berikut. Formatted: Font: +Body. untuk menghindari overlapping dan ruang lingkup masalah. nilai strategis.46" Formatted: Space Before: 0 pt. 2.75" + Tab after: 1. Setelah memilah-milah isu atau masalah. List tab + Not at 1" + 1. Not Bold. baru maju tahap berikutnya adalah merumuskan isu publik tersebut menjadi agenda publik. agenda publik tersebut harus memiliki kejelasan bobot representasi.

sosial. Permasalahan yang muncul jelas tidak pernah berkurang. 3.46". dan fasilitator. serta pelindung bagi kepentingan umum. maka perlu diambil langkah teknis yaitu membentuk kelompok kerja atau forum. Setelah memahami potensi dan permasalahan yang dirumuskan ke dalam agenda publik maka perlu diambil langkah teknis. Space Before: 0 pt. pelestarian lingkungan. Hanging: 0. Namun. + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0. Pperanan yang dominan tidak lagi hanya dimainkan oleh pemerintah atau dewan perwakilan. Keterbatasan daerah dalam bidang investasi. perjuangan anggota dewan adalah untuk memenangkan kepentingan rakyat. penjamin kepastian hukum. kecuali kepada kelompok masyarakat banyak yang dirugikan dalam interaksi. Mengapa? Karena esensi tata pemerintahan yang baik adalah adanya pembagian peran dan fungsi antar berbagai komponen pembangunan. Posisi kedua lembaga tersebut adalah posisiharus netral tidak memihak. terutama membangun lembaga pendidikan alternatif yang bermutu dan bermanfaat langsung bagi pengembangan potensi SDM tingkat regional.75" + Tab after: 1. ini bukan berarti tidak bisa dilakukan. pariwisata.13". Mengapa perlu membentuk kelompok kerja atau forum? Setelah memahami potensi dan permasalahan kerjasama regional dan nasional yang dirumuskan ke dalam agenda publik. transportasi. Tab stops: 0. hukum. namun juga masyarakat. Apabila DPRD membuat daftar masalah maka DPRD akan mendapatkan suatu daftar masalah yang sangat panjang. Lebih dari itu. makna kepentingan rakyat disini adalah kepentingan umum atau dan kepentingan bersama. Numbered + Level: 2 + Numbering Style: 1. Bahkan kualitas masalahpun bisa bertambah. List tab + Not at 1" + 1. pemanfaatan potensi laut. Merumuskan agenda kerjasama nasional juga memiliki beberapa kriteria antara lain: 2.46" + Indent at: 1. Atau dDengan kata lain.46" Formatted: Space Before: 0 pt . 4. Terdapat ketidaksinkronan kebijakan pemerintah pusat dan regulasi di bidang investasi dan perdagangan.2.38". Mereka ini akan berfungsi mewakili kelompok kepentingan dalam masyarakat. politik. Pengembangan potensi antara daerah dalam satu kawasan terutama di bidang ekonomi dan perdagangan. 2. Pengembangan bidang pendidikan. Fungsi utama eksekutif dan legislatif adalah menjaga dan menegakkan aturan main. ESama juga dengan esensi pemerintahan demokratis menimpakan pentingnyabahwa lembaga pemerintah eksekutif dan legislatif untuk lebih banyak bertindak sebagai wasit. dan sebagainya. yaitu membentuk kelompok kerja atau forum. 3. bahwa kapasitas dan kemampuan anggota dewan sangat terbatas sehingga tidak mungkin mereka mampu menyelesaikan banyaknya masalah yang mendesak untuk diselesaikan. yang sangat penting adalah membangun atau mengembangkan potensi ekonomi daerah. 3. Hal ini dilakukan untuk mendorong dan memfasilitasi terbentuknya kelompok kerja yang mewakili kelompok kepentingan dalam masyarakat. Pelbagai masalah akan kita temui baik dalam bidang ekonomi.25". Menciptakan pAdanya peluang investasi sehingga memungkinkan masuknya investasi baik dari pusat maupun dari luar negeri. dan keamanan. Harus disadari. Space Before: 0 pt Formatted: Indent: Left: 0. Kedua lembaga tersebut kini dituntut aktif memfasilitasi kekuatan-kekuatan sosial lainnya untuk merumuskan agenda politiknya dan memproses keputusan politik. budaya. Formatted: Indent: First line: 0". bahkan bertambah dari waktu ke waktu.

Langkah apa yang dapat dilakukan untuk membangun aliansi strategis guna memenangkan kepentingan rakyat? Formatted: Font: +Body. Ketiga. Dalam realitas politik selalu ada kekuatan dominan. Jawabannya. kepentingan. Dalam kaitan tersebut. mengidentifikasi kelompok strategis (stakeholder) mana yang memiliki perhatian. karena berbagai kendala. Dalam membangun aliansi terdapat beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan. dan seberapa pengaruhnya. Maksud pembentukan kelompok kerja adalah untuk mengorganisir aliansi strategis dengan berbagai komponen lain. Adanya tujuan yang sama. bahkan. Not Italic Ada beberapa langkah awal yang bisa disiapkan. bahkan menindas kepentingan umum untuk kepentingannya sendiri. Kedua. Kekuatan dominan selalu ingin menguasai. atau sebagai kunci permasalahan. serta apa dampak yang akan ditimbulkan oleh mereka baik yang bersifat konstruktif maupun yang destruktifkonstruktif. apalagi memenangkannya. Not Highlight Formatted: Font: +Body. yaitu mendorong terbentuknya kelompok kerja yang mewakili kepentingan masyarakat dengan kelompok kepentingan atau lembaga-lembaga publik. Aliansi ini . 2. administratif dan hukumkebijakan tertentu.. Hasil ini kemudian menjadi sebuah pemetaan masalah dan potensi daerah. sehingga aliansi yang diharapkan dapat bertahan terbentuk relatif lama dan efektif dalam memperjuangkan suatu agenda atau kepentingan bersama. Mengidentifikasi kelompok strategis sangat penting untuk melihat seberapa besar dukungan maupun hambatan yang akan muncul apabila DPRD mengambildiambil langkah-langkah politis. Ini kemudian digunakan sebagai bahan membentuk kelompok kerja (forum) sektor publikdari DPRD yang difungsikan. membuat tabel masalah dan potensi yang bisa menghambat maupun yang mendukung kinerja dewan. pengambil keputusan tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Terdapat persamaan visi dan misi. Formatted: Space Before: 0 pt. antara lain: 1. mengidentifikasi kelompok masyarakat (stakeholders) mana yang merupakan sebagai sumber daya pembangunan daerah atau sebagai sumber masalah. misalnya wajar jika kemudian muncul kita dapat mengetengahkan beberapa pertanyaan mengapa korupsi tidak pernah bisa diberantas? Mengapa kebijakan pertanahan kerap sekali merugikan rakyat kecil sebagai pemilik? Mengapa harga gabah petani tidak kunjung membaik? Mengapa pedagang kecil dan menengah dan kecil tidak memperoleh dukungan dalam pembuatan kebijakan? Mengapa tata kota menyimpang dari setplan perencanaan? dan banyak pertanyaan lain yang bisa diteruskan.Namun dalam dataran empirik. Kekuatan dominan bisa berada di dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan. Tab stops: Not at 1" . Mengidentifikasi Identifikasi terhadap kelompok yang terlibat pentingini dilakukan guna untuk melihat seberapa besar peranan yang bisa dimainkan kelompok tersebut. baik secara politik maupun ekonomi. Ketimpangan struktural ini membawa implikasi kepada mekanisme kerja lembaga pemerintahan maupun lembaga dewan. tujuan ideal tersebut tidak mudah diwujudkan. Not Italic Formatted: Font: +Body. Kkerap kali keberadaan para politisi justru terkooptasi atau menjadi alat kepentingan kekuatan yang lebih besardominan ini.. mendikte. Pertama.

3. Ketiga. menengah. dan pengaruh untukkemampuan memberi tekanan pada instansi terkait pembuat keputusan. meskipun tidak bersifat formal. serta peranan yang harus dimainkan dimana masing-masing level tersebut untuk dapat menjadi kunci atau penentu dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. yaitu hubungan berjenjang misalnya pada level daerah dan pusat. sebagai peluang kedekatan untuk terjadi aliansi antar kelompok masyarakat dalam aliasi. serta membangun dukungan yang luas dari kelompok masyarakat lainnya. Pembentukan level-level kelompok aliansi ini memiliki tugas. kriteria tersebut juga dapat dipandang sebagai gradasi sehingga memungkinkan untuk terus-menerus menemukan. antara lain: merumuskan program kerja yang jelas dan agenda perjuangan kelompok aliansi oleh anggota kelompok aliansi.5". esensi membangun aliansi adalah membangun jaringan kerja kelompok. dan fungsi. Langkah selanjutnya adalah membentuk kelompok aliansi pada setiap wilayah kerja DPRD.  Aktif membentuk opini publik dan meyakinkan kepada publik bahwa agenda yang diperjuangkan adalah kepentingan publik. level atas. Aliansi yang terbangun tidak selalu dapat memenuhi semua kriteria tersebut.  Ikut bersama-sama memperjuangkan kepentingan yang telah diruimuskan bersama menjadi agenda publik. Level kelompok aliansi tersebut dapat juga dilihat dari kemampuan membuka akses. Aliansi model ini sangat ditentukan oleh adanya hirarkhi . lebih bersifat kombinasi tergantung kepada kebutuhan dan tantangan yang dihadapi. semakin tinggi pula tingkat kohesivitas sebuah aliansi. dan dan mencari solusi bersama. Cara pencapaian tujuan yang sama. Ini merupakan upaya untuk mengakomodasi beragamnya kepentingan kelompok masyarakat. Pembentukan kelompok aliansi dapat dikembangkan tidak hanya pada level internal daerah tetapi juga regional dan nasional. menyusun taktik strategi dan taktik yang jelas. Aliansi yang sudah terbentuk harus dijaga keberlanjutannya. Semakin tinggi gradasi yang dapat dipenuhi. dan. yaitu aliansi yang dibangun dalam wilayah yang sama dan kelompok yang setara. Langkah-langkah yang perlu untuk mempertahankan aliansi. Pembentukan kelompok aliansi ini didasarkan pada kebutuhan dan dukungan yang diperlukan untuk memperjuangkan suatu tujuan atau kepentingan. model hubungan secara vertikal. membangun komunikasi yang intensif antara satu kelompok dengan kelompok aliansi lainnya baik secara horisontal maupun vertikal. Alinsi strategis ini juga dapat menfasilitasi berbagai kelompok kepentingan maupun lembaga pemerintah untuk ikut merumuskan agenda publik. dan atas. membuat mekanisme kerja aliansi. model hubungan kombinasi horisontal dan vertikal dimana hubungan ini tidak dibatasi oleh arah horizontal maupun vertikal. jaringan atau aliansi dapat berupa hubungan secara horisontal. dan memobilisasi kekuatan. Kedua. Model jaringan kerja dapat dibagi ke dalam tiga bentuk. Kinerja sebuah aliansi lebih bersifat jaringan kerja daripada hubungan dalam suatu struktur yang kaku. Adanya kepentingan yang sama. Tab stops: Not at 1" . Karena itu. Upaya ini dapat dilakukan dengan:  Mendorong partisipasi kelompok masyarakat (stakeholders) untuk ikut mengambil bagian dalam merumuskan agenda publik. Pertama. Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Indent: First line: 0.. 4. Oleh karena itu.

Koordinasi antar elemen tersebut sangat vital harus mencakup perencanaan maupun dalam upaya mencari solusi setiap masalah publik. Not Highlight . maupun pengawasan kepentingan publik yang dengan cara lebih maju berkaitan erat dengan upaya membangun dukungan terhadap keberadaan mereka dari kelompokkelompok masyarakat terhadap kinerja aparatur tersebut.  Menunjuk penanggung jawab kelompok kerja dan membuat pembagian tugas anggota.  Mendorong koordinasi dalam merencanakan dan memecahkan pelbagai isu publik. Aliansi ini juga dapat berperan penting dalam Mmendorong kinerja aparatur atau lembaga pemerintahan yang terlibat dalam perencanaan. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. Dalam mengupayakan hal ini. Tab stops: Not at 1" Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt. nNamun. Hal dapat dilakukan dengan:  Meyakinkan stakeholders bahwa partisipasi dan obligasi moril sangat dibutuhkan dalam mendorong kinerja bekerjanya suatu pemerintah yang baik adalah sebagai suatu kebutuhan bersama/publik.  Membangun dan memelihara komunikasi secara intensif dengan kelompok kerja. DPRD perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:  Problematika publik yang muncul ke permukaan kerap sekali tidak berdiri sendiri dan. masalah yang sangat krusial seringkali adalah lemahnya koordinasi. maupun instansi pemerintah dengan instansi atau lembaga swasta dan LSM sebagai pelaku-pelaku pembangunan daerah. Menyepakati mekanisme kerja kelompok kerja agar peranan mereka tetap berkelanjutan. diperkirakan sudah matang. Tab stops: Not at 1" Formatted: Font: +Body. baik untuk meningkatkan kinerja internal dewan maupun fungsi yang harus didorong Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Space Before: 0 pt.  Kerjasama dan dukungan publik sangat diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan pembangunan daerah serta kompetisi antar daerah. atau pada tingkat konseptual.  Mengkomunikasikan berbagai kepentingan kelompok strategis dalam merumuskan kepentingan bersama. Hal ini dapat dilakukan dengan:  Menciptakan sistem komunikasi yang integral yang dan dapat melibatkan dengan pelbagai kelompok strategis. Terkadang masalah yang muncul sebanarnya tampak sangat sederhana dan bukan lagi persoalan. pada tingkat implementasi. Ia dapat merupakan kompleksitas masalah berbagai sektor yang saling terkait satu sama lainnya.  Fungsi koordinasi tidak semata-mata menjadi bagian dari mekanisme birokrasi pemerintahan tetapi juga harus dijalankan oleh DPRD.  Untuk mencapai tTujuan bersama hanya bisa dicapai jika lakukan dengan terdapat kerjasama yang kuat dari para stakeholders. pelaksanaan. Aliansi strategis juga dapat difungsikan untuk Mmendorong efektivitas fungsi koordinasi antar instansi pemerintah. Upaya aliansi untuk Membangun kapasitas dalam mendorong koordinasi antar elemen pembangunan di atas menjalankan fungsi koordinasi adalah upaya anggota DPRD untuk menekan menjalankan fungsi dan peranannya di dalam mendorong berjalannya fungsi munculnya koordinasi yang lebih baik antar sektor atau lembaga yang terkait dengan kepentingan dan pelayanan publik.

Kesalahan ini tidak semata-mata ditimpakan kepada PKL karena tetapi akar masalah sebenarnya adalah karena tidak ada perencanaan tata ruang kota baik fisik maupun non fisik secara yang matang atau karena melemahnya penegakan aturan. Hal ini misalnya munculnya sejumlah persoalan publik sebagai akibat pencemaran lingkunganudara. Mendorong stakeholders untuk melakukan koordinasi dalam proses mperencanakan. Semakin tinggi tingkat perkembangan masyarakat. Mengidentifikasikan stakeholders yang terlibat baik dalam perencanaan. Fungsi koordinasi tidak hanya dipahami sebagai sebuah konsep atau sebagai bentuk mekanisme kerja lembaga tetapi sebagai suatu kebutuhan yang harus dilaksanakan. Apabila kenyataan tersebut diharapkan kepada Anda apa yang dapat anda lakukan? Menghindar. berpihak kepada kelompok yang kuat. yang terus meningkat dan sangat liar. Dalam konteks perspektif koordinasi.sehingga Akibatnya mengganggu ruas jalan. ataupun menimbulkan timbunan sampah. pengguna dan pengawasan. cara pandang anggota dewan dalam melihat masalah tidak sepotong-sepotong atau hanya melihat per sektor. Pemecahan masalah ini tentu tidak bisa dilakukan oleh satu sektor saja yang terbatas dalam satu atau hanya pemda tertimpa musibah tersebut tetapi harus melibatkan pemda lainnya yang juga menjadi mata rantai masalah tersebut. Langkah-langkah antisipatif adalah mengidentifikasi sejumlah masalah yang memiliki keterkaitan antar sektor. pelaksanaan. Persoalan yang kerap muncul di sini adalah apabila stakeholders yang terlibat ada mempunyai kekuasaan dan atau pengaruhnya yang besar atau dapat juga suatu kelompok yang memiliki kekuatan ekonomi. Misalnya. Dari sini kemudian menimbulkan akumulasi masalah. apalagi tidak pernah terjamah oleh kelompok atau pihak yang berkepentingan. bencana alam seperti banjir. pembabatan hutan. Tumpang tindih masalah satu sektor dengan sektor lainnya tidak bisa dihindari. pengawasan maupun pengambilan keputusan. Ini misalnya terkait kasus persoalan lingkungan seperti geografis dalam satu kawasan tertentu. Koordinasi terkadang mudah untuk diucapkan akan tetapi sulit untuk diwujudkan. pelaksana. Mengapa? Karena bobot suatu masalah tidak muncul dari sektor itu sendiri tetapi dapat juga sebagai akibat dari ketimpangan dari sektor lain. . sikap apa yang sebaiknya anda lakukan sebagai anggota dewan yang bertanggung jawab dan moral. masalah publik yang ditimbulkan semakin kompleks. dan menimbulkan kemacetan. kasus munculnya pedagang kaki lima (PKL) bak jamur di musim hujan. tanah longsor dan lain sebagainya. Misalnya siapa yang terlibat langsung dalam pengambilan keputusan? Siapa kelompok yang sangat dirugikan? Siapa kelompok yang diuntungkan oleh suatu keputusan? Dari proses identifikasi ini selanjutnya dapat dimerumuskan pendekatan dan langkah apa yang sebaiknya dilakukan. Keterkaitan atau kompleksitas masalah publik juga dapat terjadi karena aebagai letak dampak dari lingkungan atau daerah sekitar. masalah timbunan sampah.      untuk meningkatkan kinerja lembaga eksekutif sebagai lembaga yang melaksanakan agenda publik. atau tetap memegang etika kedewanan berpihak kepada kelompok masyarakat yang dirugikan? Semua ini berpulang kepada Anda.

proses pengambilan keputusan maupun dalam pengawasan dan evaluasi. dan terlembaga. Akhirnya. Untuk meningkatkan kinerja lembaga dewan maupun fungsi tata pemerintahan yang baik hendaknya menempatkan masalah koordinasi sebagai bagian penting dalam proses perencanaan. Formatted: Space Before: 0 pt . upaya membangun fungsi koordinasi dan pengawasan terlaksananya agenda kerja sama dapat diwujudkan dengan mendorong serta melibatkan partisipasi aktif pelbagai kelompok masyarakat seluas-luasnya. legal. Dengan demikian proses politik yang berjalan baik pada level pemerintahan maupun pada level DPRD dapat memenangkan kepentingan rakyat secara konstitusional.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful