P. 1
flu burung

flu burung

5.0

|Views: 2,161|Likes:
Published by maman20072008

More info:

Published by: maman20072008 on Jul 05, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2013

pdf

text

original

1.

WASPADA FLU BURUNG PENGERTIAN Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang ditularkan oleh unggas yang dapat menyerang manusia. Nama lain dari penyakit ini antara lain avian influenza. DEFINISI KASUS 1. Kasus Suspek Kasus suspek adalah seseorang yang menderita ISPA dengan gejala demam (temp > 38°C), batuk dan atau sakit tenggorokan dan atau ber-ingus serta dengan salah satu keadaan; seminggu terakhir mengunjungi petemakan yang sedang berjangkit klb flu burung kontak dengan kasus konfirmasi flu burung dalam masa penularan bekerja pada suatu laboratorium yang sedang memproses spesimen manusia atau binatang yang dicurigai menderita flu burung 2. Kasus "Probable" Kasus "probale" adalah kasus suspek disertai salah satu keadaan; bukti laboratorium terbatas yang mengarah kepada virus influenza A (H5N1), misal : Test HI yang menggunakan antigen H5N1 dalam waktu singkat berlanjut menjadi pneumonialgagal pernafasan/ meninggal terbukti tidak terdapat penyebab lain 3. Kasus Kompermasi Kasus kompermasi adalah kasus suspek atau "probale" didukung oleh salah satu hasil pemeriksaan laboratorium; Kultur virus influenza H5N1 positip PCR influenza (H5) positip Peningkatan titer antibody H5 sebesar 4 kali GEJALA KLINIS Gejala klinis yang ditemui seperti gejala flu pada umumnya, yaitu; demam, sakit tenggorokan. batuk, ber-ingus, nyeri otot, sakit kepala, lemas. Dalam waktu singkat penyakit ini dapat menjadi lebih berat berupa peradangan di paru-paru (pneumonia), dan apabila tidak dilakukan tatalaksana dengan

baik dapat menyebabkan kematian. ETIOLOGI DAN SIFAT Etiologi penyakit ini adalah virus influenza. Adapun sifat virus ini, yaitu; dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22°C dan lebih dari 30 hari pada 0°C. Di dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas yang sakit dapat bertahan lebih lama, tetapi mati pada pemanasan 60°C selama 30 menit. Dikenal beberapa tipe Virus influenza, yaitu; tipe A, tipe B dan tipe C. Virus Inluenza tipe A terdiri dari beberapa strain, yaitu; H1N 1, H3N2, H5N1, H7N7, H9N2 dan lain-lain. Saat ini, penyebab flu burung adalah Highly Pothogenic Avian Influenza Viru, strain H5N1 (H=hemagglutinin; N= neuraminidase). Hal ini terlihat dari basil studi yang ada menunjukkan bahwa unggas yang sakit mengeluarkan virus Influenza A (H5N1) dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus Inluenza A (H5N1) merupakan penyebab wabah flu burung pada unggas. Secara umum, virus Flu Burung tidak menyerang manusia, namun beberapa tipe tertentu dapat mengalami mutasi lebih ganas dan menyerang manusia. MASA INKUBASI Masa inkubasi virus influenza bervariasi antara 1 – 7 hari. SUMBER DAN CARA PENULARAN Penularan Flu burung (H5N1) pada unggas terjadi secara cepat dengan kematian tinggi. Penyebaran penyakit ini terjadi diantara populasi unggas satu pertenakan, bahkan dapat menyebar dari satu pertenakan ke peternakan daerah lain. Sedangkan penularan penyakit ini kepada manusia dapat melalui udara yang tercemar virus tersebut, baik yang berasal dari tinja atau sekreta unggas terserang Flu Burung. Adapun orang yang mempunyai resiko besar untuk terserang flu burung (H5N1) ini adalah pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas. Hal lain, belum ada bukti terjadi penularan dari manusia ke manusia. Disamping itu, belum bukti adanya penularan pada manusia melalui daging unggas yang dikonsumsi. UPAYA PENCEGAHAN Upaya pencegahan penularan dilakukan dengan cara menghindari bahan yang terkontaminasi tinja dan sekret unggas, dengan

tindakan sebagai berikut : Setiap orang yang berhubungan dengan bahan yang berasal dari saluran cerna unggas harus menggunakan pelindung (masker, kacamata renang) Bahan yang berasal dari saluran cerna unggas seperti tinja harus ditatalaksana dengan baik ( ditanam / dibakar) agar tidak menjadi sumber penularan bagi orang disekitarnya. Alat-alat yang dipergunakan dalam peternakan harus dicuci dengan desinfektan Kandang dan tinja tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan Mengkonsumsi daging ayam yang telah dimasak pada suhu 80°C selama 1 menit, sedangkan telur unggas perlu dipanaskan pada suhu 64°C selama 5 menit. Melaksanakan kebersihan lingkungan. Melakukan kebersihan diri. 2. PANDUAN SINGKAT: FLU BURUNG Virus H5N1 mudah ditularkan lewat kotoran dan cairan tubuh hewan Penyebaran flu burung semakin menjadi kekhawatiran dunia setelah beberapa kasus ditemukan di Turki dengan tingkat penyebaran yang diduga sangat cepat. Negara-negara Eropa kini berjaga-jaga karena flu burung - yang pertama muncul di Asia Timur - telah mencapai Turki yang dilihat sebagai jembatan yang menghubungkan Asia dan Eropa. Situs BBC Indonesia mengamati ancaman dari virus H5N1 resikonya bagi manusia. ANCAMAN GLOBAL Para ilmuwan khawatir wabah global jenis virus flu burung yang mematikan pada manusia akan melanda sebentar lagi karena wabah semacam ini cenderung terjadi tiga atau empat kali dalam masa satu abad. Virus flu burung dibawa di dalam perut unggas PROFESOR HUGH PENNINGTON, UNIVERSITAS ABERDEEN Flu burung kemungkinan besar akan menjadi pemicunya dan satu virus penyebab penyakit itu - H5N1 - menimbulkan kekhawatiran besar. Virus ini amat mudah menular dan mematikan pada unggas dan juga disebarkan lewat unggas. H5N1 sudah menyebabkan puluhan orang meninggal dunia sejak pertama kali muncul di Asia Tenggara pada tahun 2003.

Para pakar menduga tidak lama lagi virus itu akan berubah sifat dan mengembangkan kemampuan untuk ditularkan dengan mudah di kalangan manusia. ANCAMAN YANG BERMUTASI Jenis flu burung baru yang mampu memicu pandemi mematikan dapat bermutasi apabila virus flu burung bergabung dengan virus influenza manusia. Pasar unggas bisa membantu penyebaran flu burung Hal ini bisa terjadi apabila seorang manusia tertular kedua jenis flu tadi pada saat yang bersamaan. Dikhawatirkan jenis virus baru itu dapat menyebar dengan mudah dan cepat, menewaskan penderitanya dalam jumlah besar. Orang-orang yang tidak memiliki kekebalan tubuh prima tidak dapat menangkal infeksi tersebut. Penyakit itu bisa membunuh sekitar dua juta orang di seluruh dunia dan banyak lainnya akan tertular, menurut perkiraan para ahli. ASAL MULA VIRUS Virus-virus flu burung secara alamiah terdapat pada itik liar yang bermigrasi. Virus ditularkan dari itik ke unggas-unggas lain lewat kotoran dan cairan tubuh lainnya dari itik. Obat anti viral dapat mengurangi gejala penyakit Profesor Hugh Pennington dari Universitas Aberdeen di Skotlandia mengatakan: "Virus flu burung dibawa di dalam perut unggas." Unggas yang dipelihara seperti ayam dan kalkun sangat mudah tertular oleh jenis virus yang lebih mematikan. Begitu virus ditemukan pada unggas milik pribadi atau unggas yang dipelihara untuk komersial, semua unggas yang mungkin terinfeksi sebaiknya dimusnahkan secepat mungkin. Peternakan unggas kemudian harus dikarantina dan dibersihkan secara menyeluruh dari kuman. Jutaan burung sudah dimusnahkan untuk mengatasi wabah terbaru dan memperkecil resiko penularan pada manusia. PENYEBARAN PADA MANUSIA Orang yang tertular virus H5N1 memperlihatkan berbagai gejala, mulai dari demam, sakit tenggorokan dan batuk sampai ke penyakit jalan penapasan parah dan kerusakan organ dalam kasus-kasus yang fatal. Pandemi flu 1918 membunuh lebih banyak orang dari Perang Dunia I Sejak kasus-kasus pertama pada manusia muncul dalam wabah tahun 2004, lebih dari separuh yag tertular flu burung meninggal dunia. Korban tewas terbanyak sampai sejauh ini terjadi di Vietnam. Hampir semua korban pernah bersentuhan dekat dengan unggas-unggas yang tertular flu burung.

Penyakit ini dikatakan tidak ditularkan melalui makanan da para pakar mengatakan memakan daging unggas masih aman. Namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan daging unggas harus dimasak pada suhu 70 derajat Celcius atau lebih untuk memastikan daging aman untuk dimakan. Telur juga sebaiknya dimasak sampai matang. MEMERANGI VIRUS Saat ini belum ada vaksin yang bisa melindungi manusia dari infeksi akibat virus flu burung H5N1. Tetapi berbagai tim pakar terus berusaha mengembangkan vaksin. Upaya-upaya itu tidak mudah dilakukan karena bentuk virus setelah terjadi mutasi belum diketahui. Namun ada beberapa obat anti viral yang bisa membantu mengurangi gejala-gejala penyakit ini dan memperkecil peluang penyakit itu menyebar. 3. FLU BURUNG Flu burung (bahasa Inggris: avian influenza) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang biasanya menjangkiti burung dan mamalia. SUMBER PENULARAN Penyebab flu burung adalah virus influensa tipe A yang menyebar antar unggas. Virus ini kemudian ditemukan mampu pula menyebar ke spesies lain seperti babi, kucing, anjing, harimau, dan manusia. Virus influensa tipe A memiliki beberapa subtipe yang dicirikan dari adanya Hemagglutinin (H) dan Neuramidase (N). Ada 9 varian H dan 14 varian N. Virus flu burung yang sedang berjangkit saat ini adalah subtipe H5N1 yang memiliki waktu inkubasi selama 3-5 hari. CARA PENULARAN Burung liar dan unggas domestikasi (ternak) dapat menjadi sumber penyebar H5N1. Di Asia Tenggara kebanyakan kasus flu burung terjadi pada jalur transportasi atau peternakan unggas alih-alih jalur migrasi burung liar. Virus ini dapat menular melalui udara ataupun kontak melalui makanan, minuman, dan sentuhan. Namun demikian, virus ini akan mati dalam suhu yang tinggi. Oleh karena itu daging, telur, dan hewan harus dimasak dengan matang untuk menghindari penularan. Kebersihan diri perlu dijaga pula dengan mencuci tangan dengan antiseptik. Kebersihan tubuh dan pakaian juga perlu dijaga. Virus dapat bertahan hidup pada suhu dingin. Bahan makanan yang didinginkan atau

dibekukan dapat menyimpan virus. Tangan harus dicuci sebelum dan setelah memasak atau menyentuh bahan makanan mentah. Unggas sebaiknya tidak dipelihara di dalam rumah atau ruangan tempat tinggal. Peternakan harus dijauhkan dari perumahan untuk mengurangi resiko penularan. Tidak selamanya jika tertular virus akan menimbulkan sakit. Namun demikian, hal ini dapat membahayakan di kemudian hari karena virus selalu bermutasi sehingga memiliki potensi patogen pada suatu saat. Oleh karena itu, jika ditemukan hewan atau burung yang mati mendadak pihak otoritas akan membuat dugaan adanya flu burung. Untuk mencegah penularan, hewan lain di sekitar daerah yang berkasus flu burung perlu dimusnahkan. GEJALA DAN PERAWATAN Gejala umum yang dapat terjadi adalah demam tinggi, keluhan pernafasan dan (mungkin) perut. Replikasi virus dalam tubuh dapat berjalan cepat sehingga pasien perlu segera mendapatkan perhatian medis. Penanganan medis maupun pemberian obat dilakukan oleh petugas medis yang berwenang. Obat-obatan yang biasa diberikan adalah penurun panas dan anti virus. Di antara antivirus yang dapat digunakan adalah jenis yang menghambat replikasi dari neuramidase (neuramidase inhibitor), antara lain Oseltamivir (Tamiflu) dan Zanamivir. Masing-masing dari antivirus tersebut memiliki efek samping dan perlu diberikan dalam waktu tertentu sehingga diperlukan opini dokter. KASUS PENYEBARAN Pada 21 Juli 2005, tiga kasus fatal terjadi di Tangerang, Indonesia, yang disebabkan oleh flu burung subtipe H5N1. Berbeda dengan kasus lainnya di Asia Tenggara (Thailand, Kamboja, dan Vietnam), kasus ini dianggap unik karena korban tidak banyak berhubungan dengan unggas. Hingga 29 November 2006, WHO telah mencatat sebanyak 258 kasus dengan 154 kematian pada manusia yang disebabkan virus ini dengan rincian sebagai berikut (lihat sumber): Vietnam 93 kasus dengan 42 kematian. Indonesia 74 kasus dengan 57 kematian (negara dengan kasus kematian tertinggi). Thailand 25 kasus dengan 17 kematian. RRC 21 kasus dengan 14 kematian. Mesir 15 kasus dengan 7 kematian. Turki 12 kasus dengan 4 kematian. Azerbaijan 8 kasus dengan 5 kematian. Kamboja 6 kasus dengan 6 kematian. Irak 3 kasus dengan 2 kematian. Djibouti 1 kasus tanpa kematian.

Keterangan: jumlah kasus yang dilaporkan WHO adalah jumlah kasus yang telah diverifikasi dengan hasil laboratorium. AWAL WABAH Awal wabah pada peternakan di dunia yang telah dikonfirmasi sejak Desember 2003. Wabah flu burung juga melanda benua Afrika. Pada 8 Februari 2006, OIE mengumumkan Nigeria sebagai negara pertama yang memiliki kasus positif flu burung di benua itu. Dua pekan kemudian, virus H5N1 ditemukan di sebuah desa kecil di Niger, sekitar 72 km dari perbatasannya dengan Nigeria. Virus ini juga menyebar ke Mesir dan Kamerun. Type virus diberbagai negara: Desember 2003 Korea Selatan Januari 2004 Vietnam Thailand Korea Utara Jepang Laos Kamboja Pakistan Taiwan Hongkong2 Februari 2004 Vietnam Indonesia Korea Utara Jepang RRT Amerika Serikat Maret 2004 Vietnam Kanada April 2004 Thailand Agustus 2004 H5N1 H5N1 H5N11 H5N1 H5N1 H5 H5N1 H7 H5N2 H5N11 H5N1 H5N11 H5N11 H5N11 H5N11 H2N2,H5N2,H7N2 H5 H7N31 H51

Malaysia Afrika Selatan April 2005 Korea Utara Juni 2005 Jepang Juli 2005 Filipina Rusia Agustus 2005 Kazakhstan Mongolia Oktober 2005 Rumania Turki Kroasia November 2005 Vietnam

H5N1 H5N2 H7 H5N2 H5 H5N11 H5 H5N11 H5 H5N11 H5N11 H5N11

RS (siaga) Rujukan Suspek Flu Burung 1. Provinsi NAD : RSU Dr. Zainoel Abidin, 2. Sumut : RSU Adam Malik Medan, 3. Sumbar: RSU Dr. M. Jamil Padang, 4. Riau: RSU Tanjung Balai Karimun, RSU Dumai, RSU Tembilahan, RSU Tanjung Pinang, RSU Pekanbaru, RS Otorita Batam, 5. Jambi: RSU Jambi, 6. Bengkulu: RSUD M. Yunus , 7. Bangka Belitung: RSU Tanjung Pandan 8 Sumatera Selatan: RS Dr. M. Hoesin 9. Lampung: RSU Dr. Abd. Muluk Tanjung Karang, 10. Banten: RSUD Kab. Serang, 11. DKI Jakarta: RS Penyakit Infeksi DR. Sulianti Saroso, RSU Persahabatan 12. Jawa Barat: RSUP Dr. Hasan Sadikin, RSUD Garut, 13. Jawa Tengah: RSUP Dr. Kariadi Semarang, RSU H. Suwondo Kendal, RSU DR. Moewardi Surakarta, RSUD Banyumas,

14 Jawa Timur: RS Dr. Soetomo Surabaya, RSUD Dr. Subandi Jember, RSUP Dr. Syaiful Anwar Malang, 15. DI Yogyakarta: RSUP Dr. Sardjito 16. Bali: RSU Sanglah Denpasar, 17. Nusa Tenggara Barat: RSUD Mataram, 18. Nusa Tenggara Timur: RSU Dr. W.Z. Johanes Kupang, 19. Kalimantan Barat: RSUD Dr. Soedarso Pontianak, 20. Kalimantan Timur: RSUD Tarakan, RSU Dr. Kardjati Wibowo Balikpapan, 21. Kalimantan Tengah: RSU Palangkaraya 22. Kalimantan Selatan: RSU Ulin Banjarmasin, 23. Sulawesi Utara: RSU Malalayang Manado, 24. Gorontalo: RSU Prof. Dr. H. Aloe Saboe, 25. Sulawesi Tengah: RSU Prof. Undata Palu, 26. Sulawesi Selatan: RSU Dr. Wahidin Siidirohusodo Makasar, RSU Andi Makasau Pare- pare, 27. Sulawesi Tenggara: RSU Kendari 28. Maluku: RSU M. Haulussy Ambon, 29. Maluku Utara: RSU Ternate 30. Papua: RSU Jayapura. FLU BURUNG Flu burung merupakan infeksi virus influenza A subtipe H5N1 (H=hemagglutinin; N=neuraminidase) yang pada umumnya menyerang unggas, burung dan ayam yang kemudian dapat menyerang manusia (penyakit zoonosis). Virus yang sejak akhir 2003 menyerang Asia Timur dan Selatan, juga menyerang ternak ayam Indonesia sejak Oktober 2003 sampai Februari 2004, dan dilaporkan sebanyak 4,7 juta ayam mati. Tapi, sampai sekarang virus ini belum menyerang manusia di Indonesia. Pada umumnya virus flu burung, avian influenza, tidak menyerang manusia. Tapi beberapa tipe terbukti dapat menyerang manusia atau suatu tipe tertentu dapat mengalami mutasi lebih ganas dan menyerang manusia. Sampai dengan 6 Februari 2004, didapat 20 orang terserang flu burung (15 di Vietnam dan 5 di Thailand), 16 diantaranya meninggal dunia (11 di Vietnam dan 5 di Thailand): Case Fatality Rate = 80 persen. Kejadian ini menimbulkan ketakutan, penderita flu burung akan meningkat jadi pandemi, seperti yang terjadi satu abad lalu. Penyebaran penyakit flu burung jelas melintasi batas negara (Pendemi). Tapi, walau mewabah di Benua Asia, penyakit ini merupakan penyakit eksotis (penyakit yang belum pernah ada) di Indonesia. Penyakit yang menjangkiti pekerja atau hidup di lingkungan

peternakan unggas, ini merupakan penyakit mematikan. Selain Asia, pada 2003, penyakit itu juga sedang mewabah di Belanda. Bila dilihat sejarahnya, flu burung sudah terjadi sejak 1960-an. Berikut kilasannya: 1968: Penularan virus influenza asal unggas ke manusia sudah dilaporkan sejak 1968. 1997: Flu burung pertama kali melewati "halangan spesies” dari unggas ke manusia. Sebelumnya, flu ini hanya menyerang burung, bukan manusia. Pertama kali muncul di Hongkong dengan 18 orang dirawat di rumah sakit dan enam orang diantaranya meninggal dunia, kemudian menyebar ke Vietnam dan Korea. Jenis yang diketahui menjangkiti manusia adalah influenza A sub jenis H5N1. 1999: Satu varian dari H5N1 yang disebut H9N2, kembali mengguncang Hongkong dengan menginfeksi dua orang. 20 Mei 2001: Untuk mencegah penyebaran flu burung, 40 ribu ekor ayam dimusnahkan di Hongkong dengan menggunakan karbondioksida. 7 Februari 2002: Ratusan ribu ekor ayam dan itik dimusnahkan di Hongkong. Pemerintah setempat meminta penjualan dan impor ayam dihentikan, menyusul merebaknya wabah flu burung. Sejak saat itu pula, H5N1 mulai menyebar di luar teritorialnya. April 2003: Penyakit flu burung mewabah di Belanda. 15 April 2003: Kantor Kesehatan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, akan memeriksa secara ketat semua jenis unggas dan bahan makanan hasil olahan dari unggas yang berasal dari Belanda. Peraturan itu diberlakukan hingga negeri kincir angin itu bebas dari penyakit flu burung. Instruksi itu sendiri dikeluarkan oleh Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Depkes. Nopember 2003:

Tujuh juta ekor ayam dimusnahkan di Thailand. Sekitar 4,7 juta ayam di Indonesia mati, 40 persen diantaranya terkena virus flu burung dan virus New Castle. Desember 2003: Virus ini kembali menunjukkan aksinya di Hongkong dan memakan satu korban. 22 Desember 2003: Virus flu burung menyerang unggas di Korea Selatan. Kasus flu burung yang pertama di Korsel, ini ditemukan di peternakan itik dekat Kota Eumseong. Korea Selatan yang sedang berusaha mengatasi penyakit flu burung (bird flu) yang tingkat penyebarannya tinggi, menyetujui langkah-langkah untuk menahan perkembangan penyakit tersebut dan membatasi dampaknya pada industri peternakan. Virus itu, yang dapat mematikan manusia, muncul di antara ayam-ayam di kandang peternakan sekitar 80 km (50 mil) tenggara ibukota Seoul. 24 Desember 2003: Pemerintah Korea Selatan memusnahkan sekitar 600 ribu ekor ayam dan itik akibat menyebarnya virus H5N1, penyebab flu burung. Sepanjang 2003: Ditemukan dua kasus di Hongkong dengan satu diantaranya meninggal. Kedua kasus itu mempunyai riwayat perjalanan dari Cina. Virus yang ditemukan adalah Avian Influenza A (H5N1). Ditemukan 83 kasus pada pekerja peternakan di Netherland, termasuk keluarganya dengan satu diantaranya meninggal. Virus yang ditemukan adalah Avian Influeza A (H7N7). Ditemukan seorang anak tanpa kematian di Hongkong terserang virus Avian Influenza A (H9N2). Januari 2004: Penyakit flu burung menyebar sampai Jepang, Korea Selatan, Vietnam dan Thailand dengan satu identifikasi mereka menyebar dari Kamboja, Hongkong dan Taiwan. 13 Januari 2004: Flu burung menewaskan jutaan ayam di Korea Selatan, Vietnam dan Jepang. Para peternak di Thailand mengatakan, ribuan ayam telah tewas karena sakit. Tapi sampai sekarang, belum dikonfirmasikan apakah peristiwa itu disebabkan flu burung. Hongkong dan Kamboja telah melarang impor ayam dari negara-negara

yang telah terkena wabah itu. WHO menegaskan, tidak ada bukti flu burung menyebar dari orang ke orang, seperti kasus virus SARS. Wabah flu burung menyebar cepat di Vietnam, ketika satu juta ayam tewas. Para peternak Vietnam pun diperintahkan untuk membunuh semua ayam yang sakit. Sementara itu, para pejabat di Jepang mengatakan, enam ribu ayam tewas karena virus flu burung dan ribuan ayam akan dibasmi. Ribuan ayam juga mati karena virus flu burung di Korea Selatan. 14 Januari 2004: Penyebaran flu burung juga sudah mencapai Jepang dan merajelala di kawasan 800 kilometer sebelah barat daya Tokyo. Enam ribu ekor ayam di kawasan itu mati akibat virus dan 30 ribu ekor lainnya terpaksa dibinasakan pada hari-hari mendatang. Badan Penyakit Hewan Sedunia (OIE) mengirim tim peneliti ke Asia guna menyelidiki penyakit flu burung yang telah menghancurkan industri peternakan ayam di sejumlah negara Asia. OIE mengatakan, penelitian dilakukan di Vietnam di mana Badan Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan, wabah Flu Burung telah menewaskan dua orang anak dan seorang dewasa. RRC menyatakan, negara itu bebas dari Flu burung. 15 Januari 2004: WHO mengatakan, flu burung yang menyebar di peternakan ayam di Asia telah menewaskan sedikitnya tiga orang di Vietnam, tapi dilaporkan virus itu belum menyebar ke manusia. 16 Januari 2004: Empat orang yang tewas di Vietnam dikonfirmasikan terkena flu burung. Kebanyakan ahli meyakini, transmisi penyakit ini berasal dari burung ke manusia dan bukan dari manusia ke manusia. Jalur Pantura-Indonesia, khususnya Kabupaten Indramayu bisa saja masuk daerah yang rawan terhadap berjangkitnya virus penyebab penyakit berbahaya flu burung. Hal itu disebabkan wilayah udaranya selama ini jadi jalur lalu lintas migrasi jutaan burung setiap pergantian musim. Burung dari Australia atau Eropa, dalam perjalanan migrasinya yang menempuh ribuan kilometer, mengambil Kepulauan Rakit sebagai tempat peristirahatan atau transit. Pulau Rakit Utara, Gosong dan Rakit Selatan atau Pulau Biawak menjadi tempat persinggahan burung-burung itu. Di pulau-pulau itu, jutaan ekor burung tinggal cukup lama, 2-2,5 bulan. Di tempat peristirahatan

itu, burung-burung bereproduksi, kawin dan banyak juga yang sampai menetaskan telurnya. 17 Januari 2004: Dua juta unggas di Vietnam dimusnahkan akibat terjangkit virus flu burung. 18 Januari 2004: WHO mengumumkan tewasnya empat orang akibat virus flu burung. Sehingga, jumlah korban akibat virus itu menjadi 16 -salah satunya adalah bocah lima tahun asal Provinsi Nam Dinh, 60 mil selatan Hanoi. 20 Januari 2004: WHO karena 'kekhawatiran yang terus meningkat' atas kasus ini, mengerjakan vaksin baru untuk melindungi penduduk dari flu burung. Delapan belas kota dan propinsi di wilayah Vietnam selatan dan utara telah terjangkit wabah flu burung. Wabah itu telah menginfeksi sekitar 2,3 juta unggas dari total 245 hewan unggas, kebanyakan ayam, di seluruh negeri itu. 21 Januari 2004: Tiga orang di Thailand sedang diperiksa untuk mengetahui apakah mereka terkena influenza jenis avian, yang menewaskan sedikitnya lima orang di Vietnam. Selama berhari-hari Thailand berkeras, penyakit yang melanda unggas di negara itu bukan disebabkan virus avian, meski dilakukan pembantaian unggas. Jepang bergerak cepat dengan mengenakan larangan sementara mengimpor ayam dari Thailand dengan menyebutnya sebagai langkah pencegahan untuk memastikan keamanan makanan. Berita ini membuat harga saham perusahaan eksportir Ayam di bursa Thailand turun sekitar 7 persen. Kementerian Kesehatan Thailand membenarkan bahwa di dalam wilayahnya terdapat 3 kasus flu burung. WHO mengatakan, khawatir virus itu bisa bermutasi menjadi bentuk yang lebih berbahaya saat menyebar di wilayah. 22 Januari 2004: Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra mengatakan, di wilayah Thailand kemungkinan besar terdapat pasien flu burung. Di Thailand ditemukan lagi dua kasus baru flu burung yang tercurigai, kedua pasien itu sudah dikarantina lembaga bersangkutan di Thailand. Sejak November 2003, ayam dalam jumlah besar mati di Thailand, tapi pemerintah Thailand selalu menyangkal berjangkitnya flu burung di

negerinya. Departemen kesehatan Thailand mengakui sedang menyelidiki apakah tiga orang -antara lain seorang anak berusia tujuh tahun dan peternak ayam - menderita jenis manusia penyakit burung. 23 januari 2004: Menteri Kesehatan Thailand Sudarat Keyuraphan mengatakan, Thailand mengkonfirmasi bahwa dua anak laki-laki telah didiagnosa terkena virus flu burung H5N1. Dikatakannya, kedua anak laki-laki itu masing-masing berusia 7 dan 6 tahun. Kedua anak itu pernah berkontak dengan unggas sebelum menginap penyakit. Dikabarkan, sekarang di Thailand masih terdapat sedikitnya 4 pasien flu burung tercurigai yang dikarantina dan diobati. Komisi Uni Eropa mengumumkan larangan impor unggas dari Thailand beserta produk terkait. Lima belas negara Uni Eropa dan Jepang, menahan pengiriman ayam dari Thailand. Korea Selatan, Singapura dan Taiwan juga termasuk negara yang melarang impor ayam dari Thailand. Sejumlah negara juga akan melakukan pembatasan impor, yang dipastikan akan mengurangi pendapatan peternak Thailand. Pejabat Kementerian Kehutanan dan Perikanan Kamboja mengatakan, di sebuah perkebunan peluaran kota Phnom Penh berjangkit wabah flu burung. 24 Januari 2004: PBB memperingatkan, flu burung lebih berbahaya dari SARS, karena kemampuan virus ini yang mampu membangkitkan hampir keseluruhan respon bunuh diri dalam sistem imunitas tubuh manusia. Juru bicara Kantor Perdana Menteri Thailand mengumumkan, Pemerintah Thailand sudah mengundang berbagai negara yang terserang wabah flu burung, berencana pada waktu dekat di Bangkok menyelenggarakan pertemuan multilateral tentang bagaimana mengontrol penjalaran epidemi flu burung itu. Pemerintah Thailand mengundang pejabat-pejabat Vietnam, Jepang, Korea Selatan dan Kamboja yang menangani urusan kesehatan, pertanian dan luar negeri, ke Bangkok untuk berkonsultasi tentang bagaimana menghadapi krisis flu burung yang terjadi di beberapa negara Asia itu. Pertemuan itu dihadiri pakar terkait WHO, Organisasi Bahan Pangan dan Pertanian (FAO) PBB dan pakar negara-negara besar pengimpor daging ayam, termasuk Amerika dan Uni Eropa. Jawatan Kesehatan Vietnam mengumumkan, seorang anak laki-laki berumur 13 tahun meninggal akibat terinfeksi flu burung. Pemerintah dalam waktu dekat akan mengirimkan tim ke beberapa daerah guna menyelidiki kemungkinan penularan penyakit flu burung pada manusia.

25 Januari 2004: Departemen Pertanian membenarkan adanya flu burung yang masuk ke Indonesia. Biro Umum Pengawasan, Pemeriksaan Mutu dan Karantina Negara Tiongkok dan Kementerian Pertanian Tiongkok bersama-sama mengeluarkan pemberitahuan darurat, meminta berbagai daerah meningkatkan pencegahan masuknya wabah flu burung dari Thailand, Kamboja ke wilayah Tiongkok. Apabila ditemukan unggas, burung dan produk terkait di kapal, pesawat terbang yang melewati atau singgah di Tiongkok , barang-barang tersebut harus disegel; sampah penghidupan di alat-alat pengangkutan tersebut harus diproses sampai tidak membahayakan di bawah pengawasan badan pemeriksaan dan karantina keluar masuk wilayah, dan tak boleh dibuang sembarangan. Pihak kesehatan dan karantina Chungchongnam-do Korea Selatan mengatakan, flu burung kembali berjangkit di sebuah peternakan ayam di kota tersebut. 3500 ekor dari 23 ribu ekor ayam di peternakan ayam itu sudah mati terkena virus flu burung. Wabah flu burung sampai sekarang sudah 4 kali tertular di Chungcheongnam-do, sebagai akibatnya 110 ribu ekor ayam di daerah itu telah disembelih dan dikuburkan. 26 Januari 2004: Pemerintah melakukan tes Hemasglutimasi Inhibisi (HI) atau pemeriksaan dengan antiserum pada unggas untuk mengetahui subtipe virus avian influenza (AI) yang telah menyebabkan kematian 4,7 juta ekor ayam di Indonesia sejak Agustus 2003. Tes dilakukan untuk membuktikan apakah virus AI termasuk jenis yang bisa menular pada manusia atau yang dikenal dengan sebutan flu burung yang kini sedang mewabah di sejumlah negara Asia. Pemerintah melalui Departemen Pertanian akan mengimpor 40 juta dosis vaksin dari Inggris dan Australia untuk membuktikan sekitar 4,7 juta ekor ayam yang mati di beberapa daerah di Indonesia sejak Agustus 2003 terkena flu burung atau tidak. Wabah penyakit flu burung yang sesungguhnya telah menyerang perunggasan nasional sejak Agustus 2003 lalu kini resmi diakui oleh pemerintah. Penyebab wabah penyakit tersebut adalah virus Avian Influenza (AI) tipe A dan dinyatakan pula telah membunuh 4,7 juta ayam di Indonesia. Empat orang dinyatakan meninggal akibat wabah flu burung yang melanda Vietnam. Flu burung juga terdeteksi di Pakistan. Merebaknya flu burung, membuat peternak unggas di Bali mengisolasi diri. Ribuan ayam dipotong dan dibakar di Pulau Bali, salah satu daerah yang paling parah dilanda wabah flu burung. Jepang menghentikan impor unggas dan produk terkait dari Indonesia berhubung sudah terjadi epidemi flu burung di Indonesia. Fakultas

Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor ternyata sudah mampu memproduksi vaksin antivirus avian influenza (AI) atau flu burung sejak 2002. 27 Januari 2004: Para pejabat kesehatan Kamboja melaporkan dua warganya dinyatakan positif terjangkit virus flu burung. Namun, tiga orang yang sebelumnya dilaporkan positif terkena virus flu burung, dinyatakan bebas dari infeksi virus tersebut. 29 Januari 2004: Pemerintah menetapkan flu burung sebagai bencana darurat nasional dan meminta persetujuan DPR untuk pengucuran dana sebesar Rp. 212 milyar untuk penanggulangannya. Pemerintah juga akan memusnahkan hewan dan unggas lain yang positif terkena virus Avian Influensa. 30 Januari 2004: Dalam dua pekan terakhir ini beredar vaksin ilegal flu burung atau avian influenza di kalangan peternak ayam di Kota Banyumas, Jawa Tengah. Para peternak terpaksa membeli vaksin tersebut karena khawatir dengan meluasnya wabah flu burung. Sementara vaksin resmi dari pemerintah sulit diperoleh Jelas tampak pada Januari 2004, terjadi KLB unggas di beberapa daerah di Indonesia yang ditandai dengan banyaknya ternak unggas terserang flu burung dengan risiko kematian. Walau belum teridentifikasi adanya serangan virus itu dari unggas kepada manusia, tetap perlu diwaspadai dengan menyelenggarakan suatu surveilans khusus di daerah yang dilaporkan sedang berjangkit KLB unggas “flu burung” sampai keadaan kembali normal. Untuk mengidentifikasi adanya penularan virus flu burung dari unggas ke manusia, mendapatkan gambaran epidemiologi KLB flu burung ke manusia dan membuktikan tidak adanya penularan virus flu burung dari unggas ke manusia di setiap daerah di Indonesia, pemerintah melakukan surveilans epidemiologi (Surveilans Epidemiologi Flu Burung di Indonesia: http://www.ppmplp.depkes.go.id/images/m22_s2_i286_b.pdf). Daerah di Indonesia yang sedang berjangkit KLB unggas “flu burung” itu adalah seluruh Jawa, Lampung, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Untuk memastikan tidak terjadinya serangan virus itu kepada manusia, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan bekerja sama dengan US NAMRU-2, menerima spesimen-spesimen untuk diverifikasi dan dikirimkan ke Atlanta, Amerika Serikat - laboratorium rujukan (Pedoman Pengambilan dan

Pengiriman Spesimen yang Berhubungan dengan Flu Burung oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI: http://www.ppmplp.depkes.go.id/images/m22_s2_i288_b.pdf). APA DAN BAGAIMANA MENANGGAPI FLU BURUNG? Flu burung (avian influenza) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influensa yang ditularkan oleh unggas. Virus influensa terdiri dari beberapa tipe, antara lain tipe A, tipe B dan tipe C. Influensa tipe A terdiri dari beberapa strain, antara lain H1N1, H3N2, H5N1 dan lain-lain. Influensa A (H5N1) merupakan penyebab wabah flu burung di Hongkong, Vietnam, Thailand, dan Jepang. Di Vietnam dan Thailand juga menyerang pada manusia dengan delapan kasus diantaranya meninggal. Virus flu burung hidup di dalam saluran pencernaan unggas. Kuman ini kemudian dikeluarkan bersama kotoran, dan infeksi akan terjadi bila orang mendekatinya. Penularan diduga terjadi dari kotoran secara oral atau melalui saluran pernapasan. Orang yang terserang flu burung menunjukkan gejala seperti terkena flu biasa, antara lain demam, sakit tenggorokan dan batuk, tapi kondisinya sangat cepat menurun drastis. Bila tidak segera ditolong, korban bisa meninggal. Seperti halnya influensa, flu burung ini sangat mudah bermutasi. Flu burung (H5N1) dapat menyebar dengan cepat diantara populasi unggas dengan kematian yang tinggi. Bahkan dapat menyebar antar peternakan dari suatu daerah ke daerah lain. Penyakit ini dapat juga menyerang manusia, lewat udara yang tercemar virus itu. Belum ada bukti terjadinya penularan dari manusia ke manusia. Dan juga belum terbukti adanya penularan pada manusia lewat daging yang dikonsumsi. Orang yang mempunyai resiko besar untuk terserang flu burung (H5N1) ini adalah pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas. Saat ini, strain yang paling virulen penyebab flu burung adalah strain H5N1. Dari hasil studi yang ada menunjukkan, unggas yang sakit (oleh Influenza A H5N1) dapat mengeluarkan virus dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus itu dapat bertahan hidup di air sampai empat hari pada suhu 22 derajad celcius dan lebih dari 30 hari pada nol derajad celcius. Di dalam kotoran dan tubuh unggas yang sakit, virus dapat bertahan lebih lama, tapi mati pada pemanasan 600 derajad celcius selama 30 menit. Virus ini sendiri mempunyai masa inkubasi selama 1–3 hari. Secara umum, gejala klinis serangan virus itu adalah gejala seperti flu pada umumnya, yaitu demam, sakit tenggorokan, batuk, ber-ingus, nyeri otot, sakit kepala, lemas, dan dalam waktu singkat dapat menjadi lebih berat dengan terjadinya peradangan di paru-paru (pneumonia), dan apabila tidak dilakukan tatalaksana dengan baik

dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, setiap kasus flu yang menderita pneumonia dengan faktor risiko kontak dengan burung pada daerah yang sedang terjadi KLB unggas “flu burung” (kasus probable) perlu diambil spesimennya untuk pembuktian laboratorium. Flu burung banyak menyerang anak-anak di bawah usia 12 tahun. Hampir separuh kasus flu burung pada manusia menimpa anak-anak, karena sistem kekebalan tubuh anak-anak belum begitu kuat. Padahal, penyakit ini belum ada obatnya. Penderita hanya akan diberi untuk meredakan gejala yang menyertai penyakit flu itu, seperti demam, batuk atau pusing. Obat-obatan itu hanya meredam gejalanya, tapi tidak mengobati. Kemampuan virus flu burung adalah membangkitkan hampir keseluruhan respon "bunuh diri" dalam sistem imunitas tubuh manusia. Semakin banyak virus itu tetreplikasi, semakin banyak pula sitoksin--protein yang memicu untuk peningkatan respons imunitas dan memainkan peran penting dalam peradangan yang diproduksi tubuh. Sitoksin yang membanjiri aliran darah, karena virus yang bertambah banyak, justru melukai jaringan-jaringan dalam tubuh -efek bunuh diri. Upaya pencegahan penularan tentu saja dilakukan dengan cara menghindari bahan yang terkontaminasi tinja dan sekret unggas, dengan beberapa tindakan seperti: - Tiap orang yang berhubungan dengan bahan yang berasal dari saluran cerna unggas harus menggunakan pelindung (masker, kacamata renang) - Bahan yang berasal dari saluran cerna unggas, seperti tinja harus ditata-laksana dengan baik (ditanam atau dibakar) agar tidak menjadi sumber penularan bagi orang disekitarnya. - Alat-alat yang digunakan dalam peternakan harus dicuci dengan desinfektan - Kandang dan tinja tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan - Mengkonsumsi daging ayam yang telah dimasak dengan suhu 800 derajad celcius selama satu menit, telur unggas dipanaskan dengan suhu 640 derajad celcius selama lima menit - Melaksanakan kebersihan lingkungan - Melakukan kebersihan diri Untuk pengobatan sementara, penderita bisa diberikan obat antivirus dan obat symptomatis, seperti Oceltamivir (70 mg/h). Sebagai pedoman, petugas medis, paramedis dan non-medis dalam penanganan flu burung bisa merujuk kepada Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta (Prosedur Tetap Penanganan Penderita Flu Burung: http://www.ppmplp.depkes.go.id/images/m22_s2_i287_b.pdf). Levi Silalahi, Berbagai Sumber

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->