Nama NIM Rombel

: Bambang Purnomo : 1401409323 : 09

Hakikat Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) Pendidikan jasmani adalah sebuah proses pendidikan yang menitik beratkan pada kegiatan aktivitas fisik sehingga pendidikan tersebut dapat berguna untuk perbaikan kualitas hidup suatu individu, baik itu dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani adalah pendidikankan yang mmemperhatikan dua aspek unsur yang membentuk seorang yaitu aspek fisik dan mental. Pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang luas. Namun lebih memperhatikan peningkatan gerak manusia. Terutama berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya: hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan jiwanya. Tidak ada bidang tunggal lainnya seperti pendidikan jasmani yang berkepentingan dengan perkembangan total manusia. Pengertian Olahraga Makna olahraga menurut ensiklopedia Indonesia adalah gerak badan yang dilakukan oleh satu orang atau lebih yang merupakan regu atau rombongan. Sedangkan dalam Webster’s New Collegiate Dictonary (1980) yaitu ikut serta dalam aktivitas fisik untuk mendapatkan kesenangan, dan aktivitas khusus seperti berburu atau dalam olahraga pertandingan (athletic games di Amerika Serikat) UNESCO mendefinisikan olahraga sebagai “setiap aktivitas fisik berupa permainan yang berisikan perjuangan melawan unsur-unsur alam, orang lain, ataupun diri sendiri”. Sedangkan Dewan Eropa merumuskan olahraga sebagai “aktivitas spontan, bebas dan dilaksanakan dalam waktu luang”. Definisi terakhir ini merupakan cikal bakal panji olahraga di dunia “Sport for All” dan di Indonesia tahun 1983, “memasyarakatkan olahraga dan mengolahragaka masyarakat” (Rusli dan Sumardianto,2000: 6). Menurut Cholik Mutohir olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/pertandingan, dan prestasi puncak dalam pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila. Hubungan Pendidikan Jasmani dengan Bermain dan Olahraga Dalam memahami arti pendidikan jasmani, kita harus juga mempertimbangkan hubungan antara bermain (play) dan olahraga (sport), sebagai istilah yang lebih dahulu populer dan lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan sehari-hari. Pemahaman tersebut akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peranan dan fungsi pendidikan

baik manusia sebagai makhluk individu. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu bentuk permainan yang terorganisasi. pengujian yang lebih cermat menunjukkan bahwa secara tradisional. Olahraga dan bermain dapat eksis meskipun secara murni untuk kepentingan kesenangan. pendidikan jasmani mengandung elemen baik dari bermain maupun dari olahraga. misalnya. dan ketiganya dapat melumat secara pas dalam konteks pendidikan jika digunakan untuk tujuan-tujuan kependidikan. Tujuan Pendidikan Jasmani Tujuan pendidikan jasmani yang ingin dicapai pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah. digunakan atau dipakai dalam aktivitas tersebut. olahraga profesional (di Amerika umumnya disebut athletics) dianggap tidak punya misi kependidikan apa-apa. Bermain dapat membuat rileks dan menghibur tanpa adanya tujuan pendidikan. Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani. meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya. atau untuk kombinasi keduanya. yang menempatkannya lebih dekat kepada istilah pendidikan jasmani. Sebagaimana dimengerti dari kata-katanya. olahraga tidak pernah hanya semata-mata bermain. Di atas semua pengertian itu.jasmani secara lebih konseptual. Ketika kita menunjuk pada olahraga sebagai aktivitas kompetitif yang terorganisir. tetapi tidak berarti hanya salah satu saja. Bermain. Olahraga di pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. Meskipun demikian. tetapi sebaliknya. untuk kepentingan pendidikan. Hal itu tidak bisa berlaku bagi bermain dan olahraga. olahraga dan pendidikan jasmani melibatkan bentuk-bentuk gerakan. kecuali atas kesepakatan semua pihak yang terlibat. kita mengartikannya bahwa aktivitas itu sudah disempurnakan dan diformalkan hingga kadar tertentu. Pendidikan Jasmani bersifat fisik dalam aktivitasnya dan penjas dilaksanakan untuk mendidik. olahraga adalah aktivitas kompetitif. tujuan pendidikan jasmani harus mengacu pada pengembangan pribadi masnusia secara utuh. Misalnya. seperti juga olahraga tetap eksis tanpa ada tujuan kependidikan. tetapi tetap disebut sebagai olahraga. olahraga melibatkan aktivitas kompetitif. meskipun keduanya selalu digunakan dalam proses kependidikan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif. atau tidak juga harus selalu seimbang di antara keduanya. Peraturan. dan aturan atau prosedur tersebut tidak dapat diubah selama kegiatan berlangsung. pendidikan jasmani adalah aktivitas jasmani yang memiliki tujuan kependidikan tertentu. sehingga memiliki beberapa bentuk dan proses tetap yang terlibat. olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fisik. Kita tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan kompetisi. Kesenangan dan pendidikan tidak harus dipisahkan secara eksklusif. . karena aspek kompetitif teramat penting dalam hakikatnya. keduanya dapat dan harus beriringan bersama. baik tertulis maupun tak tertulis. karenanya pada satu saat menjadi olahraga. tentu harus diselesaikan dengan tujuan pendidikanyang telah ditetapkan oleh masing-masing negara. Akan tetapi. sehingga tanpa kompetisi itu. Bermain. Di pihak lain.

b) kognitif. keterampilannonlokomotor. Interperatif. 4. Mewujudkan suatu pengalaman seni yang berasal dari kegiatan-kegiatan yang terkait. Menggunakan strategi dan teknik yang termasuk di dalam kegiatan organisasi. dan keterampilan rekreasi. Aspek ini terkait dengan masalah kemampuan siswa dalam mengembangkan keterampilan lokomotor. Memahami faktor-faktor pertumbuhan dan perkembangan yang berhubungan dengan gerak. Menurut Bucher (1979:45). Menyalurkan tekanan melalui kegiatankegiatan fisik yang bermanfaat. c) afektif.Mengembangkan sifat-sifat kepribadian yang positif. Pendidikan jasmani menurut Gabbar (1975:5) ada tiga tujuan pokok yang harus dicapai. Pengembangan dari fase-fase sosial dari kepribadian. kebugaran yang berhubungan dengan kesehatan dan keterampilan. organik. 5. dan sekumpulan dari keterampilan . daya tahan kardiosvaskular. yaitu: a) psikomotor. Mengembangkan sikapyang menggambarkan karakter moral yang baik. Belajar untuk membangun waktu seng gang yang bermanfaat. memperoleh pengetahuan dan membuatpenilaian. 2. faktor-faktor gerak. Berkemampuan untuk merubah dan menilai ide-idedalam kelompok. Berkemampuan memecahkan permasalahan dan berkembangan melalui permainan. keterampilan olahraga. Berkemampuan untuk memiliki kegembiraan atau kesengsaraan.ruang. Aspek ini terkait dengan masalah kemampuan siswa untuk menyelidiki. Mencari jalan keluar untuk ekspresi dan kreativitas untuk diri sendiri. aspek ini terkait dengan masalah kemampuan siswa mengembangkan kekuatan otot. kecepatan. dan nilai-nilai agar menjadi anggota masyarakat yang berguna. tenaga. Menggunakan penilaian yang dihubungkan dengan jarak. dan kelentukan. Mengembangkan apreasiasi untuk penampilan individu. Emosional. Aspek ini terkait dengan masalah kemampuan siswa melakukan respon yang sehat terhadap kegiatan fisik melalui pemenuhankebutuhan-kebutuhan dasar. waktu. Memahami peraturan permainan. ada 5 tujuan yanghendak dicapai melalui pendidikan jasmani. menemukan. mengukur keamanan.makhluk susila dan makhluk religius. Kemampuan dalam membuat penilaian dalam suatu situasi kelompok. efisiensi di dalam gerakan. Sosial. Aspek psikomotor meliputi pertumbuhan biologis. 3. Belajar berkomunikasi dengan orang lain. dan bentuk-bentuk keterampilan dasar permainan. yaitu: 1. dan tata cara atau sopan santun. sikap. bola dan diri sendiri. Mengetahui fungsi-fungsi tubuh dan hubungan dengan aktivitas fisik. dan aturan yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan. Aspek ini terkait dengan masalah kemampuan siswa melakukan penilaian terhadap diri sendiri dan orang lain dengan menghubungkanindividu untuk masyarakat dan lingkungannya. Mengembangkan tindakantindakan positif dalam menonton dan keikutsertaan baik pada saat berhasil maupun kalah. Neuromuskuler.

Aspek kognitifmerupakan kemampuan untuk berpikir (penelitan.gerak. kreativitas. sosialisasi (hubungan kelompok). . sikap dan apresiasi untuk aktivitas fisik. kesadaran gerak. Aspek afektif meliputi kegembiraan. dan hubungan) kemampuan perseptual. dan dukungan atau dorongan akademik. konsep diri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful