P. 1
Tinjauan Pragmatik Tindak Tutur Direktif

Tinjauan Pragmatik Tindak Tutur Direktif

|Views: 4,164|Likes:
Published by Wiwi Jagoanku

More info:

Published by: Wiwi Jagoanku on Sep 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/31/2013

pdf

text

original

TINJAUAN PRAGMATIK TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM SCRIP ADA APA DENGAN CINTA?

KARYA RUDI SOEDJARWO
SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah MEILA PURWANTI A 310060184 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tindak tutur suatu pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui pendengar (Kridalaksana, 2001: 171). Seperti aktivitas sosial lain, kegiatan bertutur baru dapat terwujud apabila menusia terlibat di dalamnya. Dalam bertutur, penutur dan mitra tutur saling menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasa dan interpretasi terhadap tindakan dan ucapan mitra tutur. Seperti peserta tutur bertanggung jawab terhadap tindakan, dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan dalam interaksi lingual tersebut. Terlebih lagi bahwa dalam bertutur, setiap peserta tutur banyak dipengaruhi oleh konteks yang menjadi latar belakang tuturan tersebut, karena konteks akan menentukan bentuk tuturan. Suatu tuturan pasti mempunyai maksud serta faktor yang melatar belakangi penutur dalam menyampaikan tuturannya kepada mitra tutur. Tuturan tidak hanya berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu, tetapi dapat dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Fungsi tuturan direktif berorientasi pada penerima pesan. Dalam hal ini, bahasa dapat digunakan untuk mempengaruhi orang lain, baik emosi, perasaan, maupun tingkah laku. Sebagai fungsi direktif, bahasa dapat digunakan untuk memberi keterangan, mengundang, memerintah, memesan, mengingatkan, mengancam termasuk tindak tutur direktif. Bentuk bahasa yang menggunakan fungsi direktif, sebagai berikut. 1) Hapuslah air matamu yang membasahi pipi itu! 2) Minum, silakan! Fungsi direktif pada contoh di atas tercermin pada kata kerja yang memiliki makna perintah. Tindak tutur (speech act) suatu tindakan yang diungkapkan melalui bahasa yang disertai dengan gerak dan sikap anggota badan untuk mendukung pencapaian maksud pembicara. Tindak tutur ditentukan adanya beberapa aspek situasi ujar, antara lain. (1) penyapa atau penutur, (2) konteks sebuah tuturan, (3) tujuan sebuah tuturan, (4) tuturan sebagai bentuk tindak kegiatan, (5) tuturan sebagai produk tindak verbal (Leech (1993) dalam Rohmadi 2007: 159). Pragmatik mempelajari maksud tuturan atau daya tuturan. Pragmatik itu termasuk dalam fungsionalisme linguistik, yang satuan analisisnya bukan kalimat (karena kalimat suatu satuan tata bahasa), melainkan tindak tuturan atau tindak tutur. Oleh karena itu pola yang menyususn sebuah tuturan tidak harus lengkap yang terdiri

Aspek pragmatis yang penulis bahas dalam penelitian ini terfokus pada masalah bentuk tindak tutur direktif dan makna tindak tutur direktif dalam scrip film Ada Apa Dengan Cinta? karya Rudi Soedjarwo. 1. yang ditandai dengan kalimat mending ini gak usah dibahas. (tindak tuur menasihati). dan film. Berdasarkan latar belakang masalah di atas penelitian ini diberi judul sesuai dengan objek penelitian yaitu "Tinjauan Pragmatik Tindak Tutur Direktif dalam Scrip Ada Apa Dengan Cinta". Bagaimanakah bentuk tindak tutur direktif dalam scrip Ada Apa Dengan Cinta? 2. Film banyak memberi gambaran tentang refleksi dunia nyata. Bentuk tindak tutur selain dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Mendeskripsikan bentuk tindak tutur direktif dalam scrip Ada Apa Dengan Cinta?. pulang duluan aja. Cinta: saya. teater. wayang. seting. predikat. maka diperlukan pembatasan permasalahan yang diteliti. 1. Mendeskripsikan makna tindak tutur direktif dalam scrip Ada Apa Dengan Cinta?. Tuturan (1) suatu tindak tutur menasehati. sering dilakukan dalam dialog drama. tokoh. kethoprak. Sebagai contoh dapat diamati dalam kalimat berikut. Pembatasan ini setidaknya memberi gambaran ke mana arah penelitian dan memudahkan peneliti dalam menganalisis permasalahan yang sedang diteliti. Sebuah film terdapat adegan yang memuat dialog. (tindak tutur permisi). 1. 2. karakter. ampun Alya mending ini gak usah dibahas. Rangga: lihat-lihat aja dulu. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk menjadikan salah satu film Indonesia yang berjudul Ada Apa Dengan Cinta? karya Rudi Soedjarwo sebagai kajian dalam penelitian ini. ya.3 Tujuan Penelitian Ada tiga tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini. . Ta! (tindak tutur menyuruh). Bagaimanakah makna tidak tutur direktif dalam scrip Ada Apa Dengan Cinta? 1. Demikian pula tuturan (3) berupa tindak tutur permisi ditandai dengan kalimat saya pulang duluan aja ya. 2.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas ada dua masalah yang perlu dibahas. dan keterangan. prinsip kerjasama. implikatur. dan konteks yang memuat unsur pragmatik seperti tindak tutur. Pemilihan film Ada Apa Dengan Cinta? sebagai objek penelitian dengan melihat tindak tutur direktif yang terdapat dalam scrip. Tuturan (2) suatu tindak tutur menyuruh ditandai dengan kalimat lihat-lihat aja dulu.4 Pembatasan Masalah Agar penelitian berjalan secara terarah dalam hubungannya dengan pembahasan. Cinta: ya. prinsip kesopanan. dan efek perlokusi. Tuturan tersebut termasuk dalam bentuk tindak tutur direktif. objek. 1. Film suatu bentuk situasi artifisial yang kemunculannya diinspirasi dari kehidupan sosial yang berkembang pada masanya. 1.dari subjek. 3.

Bab keempat. LANDASAN TEORI. teknik pengumpulan data. data dan sumber data. DAN TINJAUAN PUSTAKA 2. Menurut J.5 Manfaat Penelitian 1. Dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya. Menurut Chaer (2004 : 16) tindak tutur merupakan gejala individual. BAB II KONSEP. Bab pertama. 2008). 1.6 Sistematika Penulisan Sehubungan dengan penelitian ini. kedua belah pihak. bersifat psikologis dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Tindak tutur (speech art) merupakan unsur pragmatik yang melibatkan pembicara. Austin . H. yaitu penutur dan lawan tutur terlibat dalam suatu tujuan kegiatan yang berorientasi pada tujuan tertentu. Konsep adalah penyebaran teori. Pembahasan yaitu menganalisis data tindak tutur direktif dalam scrip Ada Apa Dengan Cinta? karya Rudi Soedjarwo.Penelitian ini dibatasi pada pembahasan bentuk dan makna tindak tutur direktif dalam scrip Ada Apa Dengan Cinta? yang ditinjau dari segi pragmatik. maka instrumen pada penelitian ini mengacu pada teori tindak tutur. Teori tindak tutur lebih dijabarkan oleh para lingusitik diantaranya J. rumusan masalah.2 Landasan Teori Tarigan (1990:36) menyatakan bahwa berkaitan dengan tindak tutur maka setiap ujaran atau ucapan tertentu mengandung maksud dan tujuan tertentu pula. Sesuai dengan keterangan tersebut. 1. Landasan Teori meliputi penelitian terdahulu. Bab ketiga. Pendahuluan meliputi latar belakang masalah. pembatasan masalah. Metode Penelitian meliputi bentuk dan strategi penelitian. pendengar atau penulis pembaca serta yang dibicarakan. Austin (dalam A. 2. objek penelitian. dan teknik analisis data. tindak tutur ilokusi. manfaat penelitian. Bab kelima. Hasan Lubis. Bab kedua. Dalam penerapannya tindak tutur digunakan oleh beberapa disiplin ilmu. dan tindak tutur perlokusi (Hartyanto. Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada masyarakat pemakai bahasa berupa wawasan dalam pemakaian tuturan serta memberikan gambaran mengenai penggunaan variasi dalam setiap tindak tutur.L. maka sistematika penulisan dapat diterapkan sebagai berikut.L.1 Konsep Tindak Tutur. 1991: 9) menyatakan bahwa secara pragmatis. sistematika penulisan. identifikasi masalah. tujuan penelitian. Penutup berisi kesimpulan dan saran. 2. teori yang digunakan sebagai dasar penelitian. setidaktidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur dalam melakukan tindak tutur yakni tindak tutur lokusi. Dengan kata lain. Manfaat Teoretis Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah teori pragmatik khususnya tindak tutur direktif.

(dalam A. H. secara analitis tindak tutur dapat dipisahkan menjadi 3 macam bentuk. antara lain: . 1991: 9). Hasan Lubis.

Tanggapan tersebut tidak hanya berbentuk kata-kata. keraf (dalam Hartyanto. seseorang mengartikan ‘Saya’ sebagai orang pertama tunggal (si penutur). sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat itu. Leech (dalam Setiawan. 2008) membagi tindak lokusi menjadi tiga tipe. tawaran. janji pertanyaan dan sebagainya. yang dituturkan oleh si penutur menimbulkan efek kepada pendengar. Sehubungan dengan tindak lokusi. serupa dengan hubungan ‘pokok’ dengan ‘predikat’ atau ‘topik’ dan penjelasan dalam sintaksis (Searly dalam Lubis). Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya. Bahwa tindak tutur lokusi berarti penutur menuturkan kepada mitra tutur bahwa kata-kata yang diucapkan dengan suatu makna dan acuan tertentu. Contoh: Saya lapar’. (2) Tindak ilokusi (Illecitionary act). tetapi juga berbentuk tindakan atau perbuatan. yaitu dengan reaksi memberikan atau menawarkan makanan kepada penutur. tanpa bermaksud untuk meminta makanan. yaitu kaitan suatu topik dengan satu keterangan dalam suatu ungkapan. 2005 : 19) memberikan rumus tindak lokusi. yaitu pengucapan suatu pernyataan. yang merupakan suatu tindak ilokusi. dan ‘lapar’ mengacu pada ‘perut kosong dan perlu diisi’. Berdasarkan hal tersebut. (3) Tindak perlokusi (Perlocutionary act). Contoh: ‘Saya lapar’. yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar. yaitu : . maksudnya adalah meminta makanan.Universitas Sumatera Utara (1) Tindak lokusi (Lecutionary act). Contoh: ‘Saya lapar’.

2008) mendefinisikan informatif sebagai bentuk wacana yang mengandung makna yang sedemikian rupa sehingga pendengar atau mitra tutur menangkap amanat yang hendak disampaikan. memindahkan hasil pengamatan dan perasaan kepada mitra tutur. 0 3. penutur menyampaian sifat dan semua perincian wujud yang dapat ditemukan pada obyek tertentu.Universitas Sumatera Utara 0 1. 2008) 0 2. Naratif hanya berusaha menjawab suatu pertanyaan “Apa yang telah terjadi?” (Keraf dalam Hartyanto. penutur memudahkan pesan-pesannya. Informatif Keraf (dalam Hartyanto. Naratif adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca atau mitra tutur suatu peristiwa yang telah terjadi . Deskriptif Keraf ( dalam Hartyanto. Naratif Naratif dapat diartikan sebagai bentuk wacana yang sasaran utamanya adalah tindak tanduk yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu keadaan waktu. . Tindak informatif selalu berhubungan dengan makna referensi. dan yang dapat dijelaskan oleh analisis komponen (Kridalaksana dalam Hartyanto. yaitu makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia di luar angkasa (obyek atau gagasan). 2008) mendefinisikan deskriptif sebagai suatu bentuk wacana yang bertalian dengan usaha perincian dari obyek-obyeknya yang direncanakan. 2008).

yakni : (a) asertif (menyatakan). Konstantif dibagi menjadi beberapa tipe.” A :”Kapan akan Anda serahkan?” B :”InsyaAllah hari Kamis pak. memaksa. (k) disentif (membedakan). (h) konsesif (mengakui. (f) informative (melaporkan). (n) sugestif (menerka). (o) supposif (mengasumsikan). Contohnya : A :”Mengapa Anda belum menyerahkan tugas?” B :”Maaf pak. (l) disputative (menolak). (e) askriptif (mengajukan). (d) deskriptif (menilai). mendikte kepada dan sebaginya. (b) prediktif (meramalkan). menyetujui). (i) retraktif (membantah).” . (g) konfirmatif (membuktikan). (c) retroaktif (memperhatikan). 2008) menyatakan bahwa dalam klasifikasi tindak ilokusi dapat dibagi menjadi 4 golongan besar yaitu : 1 1.Universitas Sumatera Utara Subyakto-Nababan (dalam Hartyanto. Tindak ilokusi merupakan tekanan atau kekuatan kehendak orang lain yang terungkap dengan kata-kata kerja : menyuruh. (j) asentif (menerima). tugas itu memang belum selesai saya kerjakan. Bach dan Harnish (dalam Hartyanto. Konstantif Merupakan ekspresi kepercayaan yang dibarengi dengan ekspresi maksud sehingga mitra tutur membentuk (memegang) kepercayaan yang serupa. 2008: 1) menambahkan bahwa tindak ilokusi adalah tindak bahasa yang diidentifikasikan dengan kalimat pelaku yang eksplisif. (m) responsive (menanggapi).

(e) promissives : menyetujui. bertanya. (e) surrender : mengaku salah. (c) bet : berjanji melakukan sesuatu. tolong ambilkan minum!” B : “Apa dikiranya saya ini pembantu?” (walaupun begitu B bergegas mengambil air juga). Direktif dapat dibagi menjadi 6 tipe yaitu (a) requestif : meminta. Komisif Komisif merupakan tindak mewajibkan seseorang atau menolak mewajibkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang dispesifikasikan dalam isi proposisinya.Universitas Sumatera Utara Dalam pemenggalan percakapan di atas terdapat adanya tindak tutur meminta maaf. (b) contract : membuat janji bersyarat. 1 2. 1 3. Komisif dibagi menjadi 8 yaitu : (a) promises : menjanjikan. (c) requitment : mengistruksikan. (f) advisories : menasehati. sebagai salah satu contoh tindak ekpresif. yang bisa juga menspesifikasikan kondisi-kondisi tempat. . isi itu dilakukan atau tidak harus dilakukan. (f) invite : permohonan kehadiran dengan janji. (h) volunteer : menawarkan pengabdiam. Direktif Direktif mengekspresikan sikap penutur terhadap tindakan yang akan dilakukan terhadap mira tutur. (d) probibitives : melarang. (b) question . (g) offer : menawarkan. Contohnya : A : “saya haus sekali. (d) swearthat : berjanji bahwa yang dikatakannya adalah benar.

memperdayakan. mempengaruhi. 2008 : 1) memberikan definisi mengenai tindak perlokusi. (b) condole : ucapan ikut berduka. membohongi. yakni (a) apologize : permintaan maaf. 2 2. (h) congratulate : mengucapkan selamat. Acknowledgment Acknowledgment mengekspresikan perasaan tertentu kepada mitra tutur baik yang berupa rutinitas atau yang murni. Membuat mitra tutur melakukan. membingungkan. mempersukar. menipu. mengalihkan. dan membosankan. (f) accept : penerimaan. menjengkelkan. Verba tindak ujar yang membentuk tindak perlokusi. Tindak lokusi dan ilokusi juga dapat masuk dalam kategori tindak perlokusi bila memiliki daya ilokusi yang kuat. yaitu mampu menimbulkan efek tertentu bagi mitra tutur. menggelikan hati. memikat. (c) bid : harapan. Membuat mitra tutur memikirkan tentang: mengurangi ketegangan. mengganggu. yaitu tindak bahasa yang dilakukan sebagai akibat atau efek dari suatu ucapan orang lain. menganjurkan. Subyakto-Nababan (dalam Hartyanto. menakuti. (d) greet :mengucapkan. mencamkan. mendongkolkan. menawan. menarik perhatian. mengilhami. Mendorong mitra tutur mempelajari bahwa : meyakinkan. membesarkan hati. diantaranya dapat dipisahkan dalam tiga bagian besar. (g) reject : menolak.Universitas Sumatera Utara 1 4. yakni : 1 1. mengganggu. 3 3. Acknowledgment dapat dibagi menjadi beberapa tipe. memalukan. . menjemukan.

Dell Hymes. dan situasi tertentu (Chaer-Leonie. Peristiwa tutur (speech event) adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih melibatkan dua pihak. Misalnya. yaitu penutur dan lawan tutur. maka hal itu disebut peristiwa tutur.Universitas Sumatera Utara Selain itu. peneliti juga menggunakan aspek peristiwa tutur sebagai bahan pendukung dalam memecahkan masalah penelitian tersebut. Kedelapan komponen itu adalah: S = setting and Scene P = participants E = ends: purpose and goals A = act sequence K = key: tone or spirit of act I = instrumentalities N = norms of interactions and interpretation G = genres . (dalam Chaer. 2004: 47). tempat. 1972. interaksi yang yang berlangsung antara seorang pedagang dan pembeli di pasar pada waktu tertentu dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya. 1995: 62) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen yang bila huruf-huruf pertamanya dirangkaikan menjadi akronim SPEAKING. dengan satu pokok tuturan tuturan di dalam waktu.

Universitas Sumatera Utara Setting and scene. bila dibandingkan kalau dia berbicara terhadap temantemannya. tempat. atau pengirim dan penerima pesan. dengan singkat. para partisipan dalam peristiwa tutur itu mempunyai tujuan yang berbeda. sedangkan scene mengacu pada situasi psikologis pembicaraan. khotib sebagai pembicara dan jemaah sebagai pendengar tidak dapat bertukar peran. seorang anak akan menggunakan ragam atau gaya bahasa yang berbeda bila berbicara dengan orangtuanya atau gurunya. dan sebagainya. dengan sombong. Hal ini dapat juga ditunjukkan dengan gerak tubuh dan isyarat. dan semangat. . bisa pembicara dan pendengar. Jaksa ingin membuktikan kesalahan terdakwa. Peristiwa tutur yang terjadi di ruang pengadilan bermaksud untuk menyelesaikan suatu kasus perkara. dengan mengejek.berbicara di lapangan sepakbola pada waktu ada pertandingan sepakbola dalam situasi ramai Anda bisa berbicara keras-keras. sedangkan hakim berusaha memberikan keputusan yang adil. Dua orang yang bercakap dapat berganti peran sebagai pembicara dan pendengar. Setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung. penyapa dan pesapa. cara. Participants adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan. pembela membuktikan bahwa terdakwa tidak bersalah. merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. berbeda dengan pembicaraan di ruang perpustakaan pada waktu banyak orang membaca. Namun. Keys. tetapi dalam khotbah di mesjid. mengacu pada nada. Misalnya. Status sosial partisipan sangat menentukan ragam bahasa yang digunakan. Waktu. Ends. dengan serius. dan situasi tuturan yang berbeda dapat menyebabkan variasi bahasa yang berbeda. Anda harus berbicara seperlahan mungkin. di mana suatu pesan disampaikan dengan senang hati.

Genre. Berdasarkan keterangan di atas. 2. atau register. yaitu: tindak tutur . pepatah. Hartyanto menggunakan teori tindak tutur yang dimajukan oleh JL. Selain itu. ia juga membahas jenis tindak tutur langsung dan tidak langsung dan mengaitkan tindak tutur dengan kesantunan bahasa.Universitas Sumatera Utara Instrumentalities. bertanya. tertulis. dan sebagainya. melalui telegraf atau telepon. seperti bahasa. walaupun terbatas hanya dalam lima jenis tindak tutur utama yang dikemukakan oleh Searly. tindak tutur ekspresif. seperti narasi. dan mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan bicara. mengacu pada jalur bahasa yang digunakan. Misalnya. yaitu tindak tutur representatif. Ia juga mengemukakan penggunaan tindak tutur. puisi. atau dialami sendiri dalam kehidupan kita sehari-hari. Austin. seperti jalur lisan. yang berhubungan dengan cara berinterupsi. Dalam penelitiannya. tindak tutur direktif. tindak tutur komisif. mengacu pada jenis bentuk penyampaian. Bentuk ini juga mengacu pada kode ujaran yang digunakan. Norm or interaction and Interpretation. doa. mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi. maka peneliti dapat melihat betapa kompleksnya peristiwa tutur yang yang telah terlihat. dan tindak tutur deklaratif. ragam dialek. Dalam penelitian ini. Sedangkan penelitian tentang film yang menggunakan teori tindak tutur juga pernah dilakukan oleh Hartyanto (2008).3 Tinjauan Pustaka Penelitian mengenai tindak tutur sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh Hasibuan (2005). Hasibuan mengkaji secara teoritis mengenai perangkat tindak tutur yang terdapat dalam bahasa Mandailing.

secara analitis tindak tutur dapat dibagi atas 3 macam bentuk. pertanyaan. dan sebagainya. Untuk itu. tawaran. janji. Austin (dalam A. Menurut J.Universitas Sumatera Utara lokusi. batasan mengenai ilokusi yang dikemukakan oleh Bach dan Harnish (dalam Setiawan. deskriptif. yaitu pengucapan suatu pertanyaan. direktif. (2) Tindak ilokusi (illecutionary act). Untuk itu. yaitu berupa makna tindak tutur dialog film Perempuan Punya Cerita. yaitu kaitan suatu topik dan penjelasan dalam sintaksis. 2005 : 22-25). Hal ini berkaitan dengan masalah yang akan diungkapkan dari film tersebut. dan informatif. .L. yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar. Austin yang berkaitan dengan analisis tindak tutur dalam memecahkan masalah penelitian tersebut. yaitu: (1) Tindak lokusi (lecutionary act). H. ilokusi dan perlokusi terhadap dialog film Berbagi Suami karya Nia Dinata. Hasan Lubis. 2008). yaitu: konstantif. (3) Tindak perlokusi (perlocutionary act). Ia juga menggunakan batasan lokusi yang dikemukakan oleh Keraf (dalam Hartyanto.1991:9). komisif. antara lain: naratif. dan Acknowledgement. dalam penelitian ini peneliti lebih mengutamakan sisi pengujaran yang dituturkan oleh para pelakon yang bermain dalam film Perempuan Punya Cerita. L. sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat tersebut. peneliti menggunakan teori J.

Universitas Sumatera Utara .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->