TINJAUAN PRAGMATIK TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM SCRIP ADA APA DENGAN CINTA?

KARYA RUDI SOEDJARWO
SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah MEILA PURWANTI A 310060184 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tindak tutur suatu pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui pendengar (Kridalaksana, 2001: 171). Seperti aktivitas sosial lain, kegiatan bertutur baru dapat terwujud apabila menusia terlibat di dalamnya. Dalam bertutur, penutur dan mitra tutur saling menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasa dan interpretasi terhadap tindakan dan ucapan mitra tutur. Seperti peserta tutur bertanggung jawab terhadap tindakan, dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan dalam interaksi lingual tersebut. Terlebih lagi bahwa dalam bertutur, setiap peserta tutur banyak dipengaruhi oleh konteks yang menjadi latar belakang tuturan tersebut, karena konteks akan menentukan bentuk tuturan. Suatu tuturan pasti mempunyai maksud serta faktor yang melatar belakangi penutur dalam menyampaikan tuturannya kepada mitra tutur. Tuturan tidak hanya berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu, tetapi dapat dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Fungsi tuturan direktif berorientasi pada penerima pesan. Dalam hal ini, bahasa dapat digunakan untuk mempengaruhi orang lain, baik emosi, perasaan, maupun tingkah laku. Sebagai fungsi direktif, bahasa dapat digunakan untuk memberi keterangan, mengundang, memerintah, memesan, mengingatkan, mengancam termasuk tindak tutur direktif. Bentuk bahasa yang menggunakan fungsi direktif, sebagai berikut. 1) Hapuslah air matamu yang membasahi pipi itu! 2) Minum, silakan! Fungsi direktif pada contoh di atas tercermin pada kata kerja yang memiliki makna perintah. Tindak tutur (speech act) suatu tindakan yang diungkapkan melalui bahasa yang disertai dengan gerak dan sikap anggota badan untuk mendukung pencapaian maksud pembicara. Tindak tutur ditentukan adanya beberapa aspek situasi ujar, antara lain. (1) penyapa atau penutur, (2) konteks sebuah tuturan, (3) tujuan sebuah tuturan, (4) tuturan sebagai bentuk tindak kegiatan, (5) tuturan sebagai produk tindak verbal (Leech (1993) dalam Rohmadi 2007: 159). Pragmatik mempelajari maksud tuturan atau daya tuturan. Pragmatik itu termasuk dalam fungsionalisme linguistik, yang satuan analisisnya bukan kalimat (karena kalimat suatu satuan tata bahasa), melainkan tindak tuturan atau tindak tutur. Oleh karena itu pola yang menyususn sebuah tuturan tidak harus lengkap yang terdiri

4 Pembatasan Masalah Agar penelitian berjalan secara terarah dalam hubungannya dengan pembahasan. pulang duluan aja. predikat. Bagaimanakah makna tidak tutur direktif dalam scrip Ada Apa Dengan Cinta? 1. yang ditandai dengan kalimat mending ini gak usah dibahas. 1. (tindak tuur menasihati). Tuturan (2) suatu tindak tutur menyuruh ditandai dengan kalimat lihat-lihat aja dulu. implikatur. dan efek perlokusi. 1. Pemilihan film Ada Apa Dengan Cinta? sebagai objek penelitian dengan melihat tindak tutur direktif yang terdapat dalam scrip. Rangga: lihat-lihat aja dulu. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk menjadikan salah satu film Indonesia yang berjudul Ada Apa Dengan Cinta? karya Rudi Soedjarwo sebagai kajian dalam penelitian ini. objek. Tuturan (1) suatu tindak tutur menasehati.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas ada dua masalah yang perlu dibahas. dan konteks yang memuat unsur pragmatik seperti tindak tutur. Mendeskripsikan bentuk tindak tutur direktif dalam scrip Ada Apa Dengan Cinta?. Cinta: saya. Bentuk tindak tutur selain dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan latar belakang masalah di atas penelitian ini diberi judul sesuai dengan objek penelitian yaitu "Tinjauan Pragmatik Tindak Tutur Direktif dalam Scrip Ada Apa Dengan Cinta". 1. Mendeskripsikan makna tindak tutur direktif dalam scrip Ada Apa Dengan Cinta?. Pembatasan ini setidaknya memberi gambaran ke mana arah penelitian dan memudahkan peneliti dalam menganalisis permasalahan yang sedang diteliti. 3. (tindak tutur permisi). seting. Sebuah film terdapat adegan yang memuat dialog. Tuturan tersebut termasuk dalam bentuk tindak tutur direktif. dan keterangan.dari subjek. Aspek pragmatis yang penulis bahas dalam penelitian ini terfokus pada masalah bentuk tindak tutur direktif dan makna tindak tutur direktif dalam scrip film Ada Apa Dengan Cinta? karya Rudi Soedjarwo. sering dilakukan dalam dialog drama. . dan film. Cinta: ya. Sebagai contoh dapat diamati dalam kalimat berikut. Ta! (tindak tutur menyuruh). 2. Film banyak memberi gambaran tentang refleksi dunia nyata.3 Tujuan Penelitian Ada tiga tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini. Bagaimanakah bentuk tindak tutur direktif dalam scrip Ada Apa Dengan Cinta? 2. maka diperlukan pembatasan permasalahan yang diteliti. wayang. 1. karakter. prinsip kerjasama. prinsip kesopanan. Demikian pula tuturan (3) berupa tindak tutur permisi ditandai dengan kalimat saya pulang duluan aja ya. 1. Film suatu bentuk situasi artifisial yang kemunculannya diinspirasi dari kehidupan sosial yang berkembang pada masanya. 2. kethoprak. teater. tokoh. ya. ampun Alya mending ini gak usah dibahas.

Manfaat Teoretis Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah teori pragmatik khususnya tindak tutur direktif. kedua belah pihak. Hasan Lubis. maka sistematika penulisan dapat diterapkan sebagai berikut. 2. 2008).6 Sistematika Penulisan Sehubungan dengan penelitian ini. DAN TINJAUAN PUSTAKA 2. bersifat psikologis dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. tujuan penelitian. pendengar atau penulis pembaca serta yang dibicarakan. Menurut Chaer (2004 : 16) tindak tutur merupakan gejala individual. 1. Tindak tutur (speech art) merupakan unsur pragmatik yang melibatkan pembicara. 1.L. Menurut J. dan teknik analisis data. Dengan kata lain. Konsep adalah penyebaran teori. Bab keempat. setidaktidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur dalam melakukan tindak tutur yakni tindak tutur lokusi. Bab ketiga. tindak tutur ilokusi. maka instrumen pada penelitian ini mengacu pada teori tindak tutur.5 Manfaat Penelitian 1. teknik pengumpulan data. Austin . Austin (dalam A. Landasan Teori meliputi penelitian terdahulu. H.L. Bab pertama. Pendahuluan meliputi latar belakang masalah. Penutup berisi kesimpulan dan saran.2 Landasan Teori Tarigan (1990:36) menyatakan bahwa berkaitan dengan tindak tutur maka setiap ujaran atau ucapan tertentu mengandung maksud dan tujuan tertentu pula. rumusan masalah. Metode Penelitian meliputi bentuk dan strategi penelitian.1 Konsep Tindak Tutur. data dan sumber data. 2. BAB II KONSEP. LANDASAN TEORI. yaitu penutur dan lawan tutur terlibat dalam suatu tujuan kegiatan yang berorientasi pada tujuan tertentu. identifikasi masalah. Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada masyarakat pemakai bahasa berupa wawasan dalam pemakaian tuturan serta memberikan gambaran mengenai penggunaan variasi dalam setiap tindak tutur. Dalam penerapannya tindak tutur digunakan oleh beberapa disiplin ilmu. sistematika penulisan. Sesuai dengan keterangan tersebut. objek penelitian.Penelitian ini dibatasi pada pembahasan bentuk dan makna tindak tutur direktif dalam scrip Ada Apa Dengan Cinta? yang ditinjau dari segi pragmatik. pembatasan masalah. Pembahasan yaitu menganalisis data tindak tutur direktif dalam scrip Ada Apa Dengan Cinta? karya Rudi Soedjarwo. Dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya. Teori tindak tutur lebih dijabarkan oleh para lingusitik diantaranya J. dan tindak tutur perlokusi (Hartyanto. Bab kelima. manfaat penelitian. 1991: 9) menyatakan bahwa secara pragmatis. Bab kedua. teori yang digunakan sebagai dasar penelitian.

secara analitis tindak tutur dapat dipisahkan menjadi 3 macam bentuk. 1991: 9). H.(dalam A. antara lain: . Hasan Lubis.

janji pertanyaan dan sebagainya. sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat itu. tanpa bermaksud untuk meminta makanan. Contoh: ‘Saya lapar’. (2) Tindak ilokusi (Illecitionary act). Sehubungan dengan tindak lokusi. yaitu dengan reaksi memberikan atau menawarkan makanan kepada penutur. Tanggapan tersebut tidak hanya berbentuk kata-kata. Leech (dalam Setiawan.Universitas Sumatera Utara (1) Tindak lokusi (Lecutionary act). keraf (dalam Hartyanto. yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar. Bahwa tindak tutur lokusi berarti penutur menuturkan kepada mitra tutur bahwa kata-kata yang diucapkan dengan suatu makna dan acuan tertentu. serupa dengan hubungan ‘pokok’ dengan ‘predikat’ atau ‘topik’ dan penjelasan dalam sintaksis (Searly dalam Lubis). Berdasarkan hal tersebut. tetapi juga berbentuk tindakan atau perbuatan. tawaran. yaitu : . yang merupakan suatu tindak ilokusi. Contoh: Saya lapar’. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya. yaitu pengucapan suatu pernyataan. seseorang mengartikan ‘Saya’ sebagai orang pertama tunggal (si penutur). maksudnya adalah meminta makanan. 2005 : 19) memberikan rumus tindak lokusi. (3) Tindak perlokusi (Perlocutionary act). yaitu kaitan suatu topik dengan satu keterangan dalam suatu ungkapan. 2008) membagi tindak lokusi menjadi tiga tipe. yang dituturkan oleh si penutur menimbulkan efek kepada pendengar. dan ‘lapar’ mengacu pada ‘perut kosong dan perlu diisi’. Contoh: ‘Saya lapar’.

Naratif adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca atau mitra tutur suatu peristiwa yang telah terjadi . 2008). Deskriptif Keraf ( dalam Hartyanto. . penutur menyampaian sifat dan semua perincian wujud yang dapat ditemukan pada obyek tertentu. yaitu makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia di luar angkasa (obyek atau gagasan). Informatif Keraf (dalam Hartyanto. 0 3. 2008) mendefinisikan deskriptif sebagai suatu bentuk wacana yang bertalian dengan usaha perincian dari obyek-obyeknya yang direncanakan. memindahkan hasil pengamatan dan perasaan kepada mitra tutur. Naratif Naratif dapat diartikan sebagai bentuk wacana yang sasaran utamanya adalah tindak tanduk yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu keadaan waktu. 2008) mendefinisikan informatif sebagai bentuk wacana yang mengandung makna yang sedemikian rupa sehingga pendengar atau mitra tutur menangkap amanat yang hendak disampaikan. Naratif hanya berusaha menjawab suatu pertanyaan “Apa yang telah terjadi?” (Keraf dalam Hartyanto. Tindak informatif selalu berhubungan dengan makna referensi. dan yang dapat dijelaskan oleh analisis komponen (Kridalaksana dalam Hartyanto. penutur memudahkan pesan-pesannya. 2008) 0 2.Universitas Sumatera Utara 0 1.

(c) retroaktif (memperhatikan). (e) askriptif (mengajukan). (k) disentif (membedakan). 2008: 1) menambahkan bahwa tindak ilokusi adalah tindak bahasa yang diidentifikasikan dengan kalimat pelaku yang eksplisif.” A :”Kapan akan Anda serahkan?” B :”InsyaAllah hari Kamis pak. Contohnya : A :”Mengapa Anda belum menyerahkan tugas?” B :”Maaf pak. (h) konsesif (mengakui. (o) supposif (mengasumsikan). mendikte kepada dan sebaginya.” . (i) retraktif (membantah).Universitas Sumatera Utara Subyakto-Nababan (dalam Hartyanto. Tindak ilokusi merupakan tekanan atau kekuatan kehendak orang lain yang terungkap dengan kata-kata kerja : menyuruh. Konstantif dibagi menjadi beberapa tipe. (f) informative (melaporkan). (l) disputative (menolak). (d) deskriptif (menilai). 2008) menyatakan bahwa dalam klasifikasi tindak ilokusi dapat dibagi menjadi 4 golongan besar yaitu : 1 1. (j) asentif (menerima). menyetujui). tugas itu memang belum selesai saya kerjakan. Bach dan Harnish (dalam Hartyanto. (b) prediktif (meramalkan). (n) sugestif (menerka). (g) konfirmatif (membuktikan). (m) responsive (menanggapi). yakni : (a) asertif (menyatakan). Konstantif Merupakan ekspresi kepercayaan yang dibarengi dengan ekspresi maksud sehingga mitra tutur membentuk (memegang) kepercayaan yang serupa. memaksa.

tolong ambilkan minum!” B : “Apa dikiranya saya ini pembantu?” (walaupun begitu B bergegas mengambil air juga). (d) swearthat : berjanji bahwa yang dikatakannya adalah benar. (c) requitment : mengistruksikan. sebagai salah satu contoh tindak ekpresif. (f) invite : permohonan kehadiran dengan janji. Direktif Direktif mengekspresikan sikap penutur terhadap tindakan yang akan dilakukan terhadap mira tutur. (e) surrender : mengaku salah. (c) bet : berjanji melakukan sesuatu. (b) question . bertanya. (d) probibitives : melarang. Komisif dibagi menjadi 8 yaitu : (a) promises : menjanjikan. (f) advisories : menasehati. yang bisa juga menspesifikasikan kondisi-kondisi tempat. (e) promissives : menyetujui. (g) offer : menawarkan. Direktif dapat dibagi menjadi 6 tipe yaitu (a) requestif : meminta. isi itu dilakukan atau tidak harus dilakukan. (b) contract : membuat janji bersyarat. 1 2. (h) volunteer : menawarkan pengabdiam. Contohnya : A : “saya haus sekali. Komisif Komisif merupakan tindak mewajibkan seseorang atau menolak mewajibkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang dispesifikasikan dalam isi proposisinya. .Universitas Sumatera Utara Dalam pemenggalan percakapan di atas terdapat adanya tindak tutur meminta maaf. 1 3.

menawan. Mendorong mitra tutur mempelajari bahwa : meyakinkan. dan membosankan. (b) condole : ucapan ikut berduka. mengilhami. membohongi. (f) accept : penerimaan. membesarkan hati. Membuat mitra tutur melakukan. mengalihkan. Acknowledgment dapat dibagi menjadi beberapa tipe. (d) greet :mengucapkan. menggelikan hati. mengganggu. yakni : 1 1. mempengaruhi. yaitu mampu menimbulkan efek tertentu bagi mitra tutur. mendongkolkan. Tindak lokusi dan ilokusi juga dapat masuk dalam kategori tindak perlokusi bila memiliki daya ilokusi yang kuat. yakni (a) apologize : permintaan maaf. (c) bid : harapan. memalukan. . diantaranya dapat dipisahkan dalam tiga bagian besar. 3 3. menganjurkan. yaitu tindak bahasa yang dilakukan sebagai akibat atau efek dari suatu ucapan orang lain. Membuat mitra tutur memikirkan tentang: mengurangi ketegangan. Subyakto-Nababan (dalam Hartyanto. menjemukan. memperdayakan. mempersukar. menarik perhatian. Acknowledgment Acknowledgment mengekspresikan perasaan tertentu kepada mitra tutur baik yang berupa rutinitas atau yang murni. Verba tindak ujar yang membentuk tindak perlokusi. 2 2. (g) reject : menolak. menakuti. membingungkan. menipu. 2008 : 1) memberikan definisi mengenai tindak perlokusi. mengganggu.Universitas Sumatera Utara 1 4. menjengkelkan. mencamkan. (h) congratulate : mengucapkan selamat. memikat.

1995: 62) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen yang bila huruf-huruf pertamanya dirangkaikan menjadi akronim SPEAKING. Misalnya. maka hal itu disebut peristiwa tutur. Peristiwa tutur (speech event) adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih melibatkan dua pihak. 1972. interaksi yang yang berlangsung antara seorang pedagang dan pembeli di pasar pada waktu tertentu dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya. Dell Hymes. dan situasi tertentu (Chaer-Leonie. tempat. dengan satu pokok tuturan tuturan di dalam waktu.Universitas Sumatera Utara Selain itu. peneliti juga menggunakan aspek peristiwa tutur sebagai bahan pendukung dalam memecahkan masalah penelitian tersebut. yaitu penutur dan lawan tutur. 2004: 47). Kedelapan komponen itu adalah: S = setting and Scene P = participants E = ends: purpose and goals A = act sequence K = key: tone or spirit of act I = instrumentalities N = norms of interactions and interpretation G = genres . (dalam Chaer.

Universitas Sumatera Utara Setting and scene. atau pengirim dan penerima pesan. sedangkan hakim berusaha memberikan keputusan yang adil. Waktu. Misalnya. berbeda dengan pembicaraan di ruang perpustakaan pada waktu banyak orang membaca. sedangkan scene mengacu pada situasi psikologis pembicaraan. di mana suatu pesan disampaikan dengan senang hati. Status sosial partisipan sangat menentukan ragam bahasa yang digunakan. tetapi dalam khotbah di mesjid. mengacu pada nada. cara. Setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung. . dengan serius.berbicara di lapangan sepakbola pada waktu ada pertandingan sepakbola dalam situasi ramai Anda bisa berbicara keras-keras. dan semangat. merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Jaksa ingin membuktikan kesalahan terdakwa. Participants adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan. penyapa dan pesapa. Ends. bisa pembicara dan pendengar. dengan singkat. dan situasi tuturan yang berbeda dapat menyebabkan variasi bahasa yang berbeda. Keys. Namun. Dua orang yang bercakap dapat berganti peran sebagai pembicara dan pendengar. Peristiwa tutur yang terjadi di ruang pengadilan bermaksud untuk menyelesaikan suatu kasus perkara. bila dibandingkan kalau dia berbicara terhadap temantemannya. seorang anak akan menggunakan ragam atau gaya bahasa yang berbeda bila berbicara dengan orangtuanya atau gurunya. Hal ini dapat juga ditunjukkan dengan gerak tubuh dan isyarat. khotib sebagai pembicara dan jemaah sebagai pendengar tidak dapat bertukar peran. Anda harus berbicara seperlahan mungkin. tempat. para partisipan dalam peristiwa tutur itu mempunyai tujuan yang berbeda. pembela membuktikan bahwa terdakwa tidak bersalah. dengan mengejek. dengan sombong. dan sebagainya.

Norm or interaction and Interpretation.Universitas Sumatera Utara Instrumentalities. pepatah. Misalnya. maka peneliti dapat melihat betapa kompleksnya peristiwa tutur yang yang telah terlihat.3 Tinjauan Pustaka Penelitian mengenai tindak tutur sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh Hasibuan (2005). tindak tutur komisif. mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi. yaitu tindak tutur representatif. seperti jalur lisan. atau dialami sendiri dalam kehidupan kita sehari-hari. Genre. yaitu: tindak tutur . tindak tutur direktif. Sedangkan penelitian tentang film yang menggunakan teori tindak tutur juga pernah dilakukan oleh Hartyanto (2008). mengacu pada jalur bahasa yang digunakan. Berdasarkan keterangan di atas. puisi. ia juga membahas jenis tindak tutur langsung dan tidak langsung dan mengaitkan tindak tutur dengan kesantunan bahasa. doa. melalui telegraf atau telepon. ragam dialek. Hasibuan mengkaji secara teoritis mengenai perangkat tindak tutur yang terdapat dalam bahasa Mandailing. Ia juga mengemukakan penggunaan tindak tutur. Dalam penelitian ini. atau register. Bentuk ini juga mengacu pada kode ujaran yang digunakan. Dalam penelitiannya. dan tindak tutur deklaratif. tertulis. seperti narasi. seperti bahasa. 2. dan sebagainya. walaupun terbatas hanya dalam lima jenis tindak tutur utama yang dikemukakan oleh Searly. dan mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan bicara. yang berhubungan dengan cara berinterupsi. Hartyanto menggunakan teori tindak tutur yang dimajukan oleh JL. tindak tutur ekspresif. Selain itu. mengacu pada jenis bentuk penyampaian. bertanya. Austin.

dalam penelitian ini peneliti lebih mengutamakan sisi pengujaran yang dituturkan oleh para pelakon yang bermain dalam film Perempuan Punya Cerita. yaitu pengucapan suatu pertanyaan. H. ilokusi dan perlokusi terhadap dialog film Berbagi Suami karya Nia Dinata.Universitas Sumatera Utara lokusi. peneliti menggunakan teori J. yaitu: konstantif. antara lain: naratif. sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat tersebut. janji. Austin yang berkaitan dengan analisis tindak tutur dalam memecahkan masalah penelitian tersebut. . Austin (dalam A. batasan mengenai ilokusi yang dikemukakan oleh Bach dan Harnish (dalam Setiawan. Hasan Lubis. (2) Tindak ilokusi (illecutionary act). yaitu berupa makna tindak tutur dialog film Perempuan Punya Cerita. yaitu kaitan suatu topik dan penjelasan dalam sintaksis. Untuk itu. yaitu: (1) Tindak lokusi (lecutionary act).1991:9). direktif. Hal ini berkaitan dengan masalah yang akan diungkapkan dari film tersebut. (3) Tindak perlokusi (perlocutionary act). komisif. Menurut J. deskriptif. Ia juga menggunakan batasan lokusi yang dikemukakan oleh Keraf (dalam Hartyanto. 2008). pertanyaan. 2005 : 22-25). L. dan sebagainya.L. dan Acknowledgement. dan informatif. Untuk itu. secara analitis tindak tutur dapat dibagi atas 3 macam bentuk. tawaran. yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar.

Universitas Sumatera Utara .