A.

Pendahuluan Setiap mahluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan kehidupannya, karena didalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan kegiatan metabolismenya. Bagi lansia pemenuhan kebutuhan gizi yang diberikan dengan baik dapat membantu dalam proses beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang dialaminya selain itu dapat menjaga kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia. Kebutuhan kalori pada lansia berkurang karena berkurangnya kalori dasar dari kebutuhan fisik. Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk malakukan kegiatan tubuh dalam keadaan istirahat, misalnya : untuk jantung, usus, pernafasan dan ginjal. Berdasarkan kegunaannya bagi tubuh, zat gizi dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu : 1. Kelompok zat energi, termasuk ke dalam kelompok ini adalah :

• Bahan makanan yang mengandung karbohidrat seperti beras, jagung, gandum, ubi, roti,
singkong dan lain-lain, selain itu dalam bentuk gula seperti gula, sirup, madu dan lain-lain.

• Bahan makanan yang mengandung lemak seperti minyak, santan, mentega, margarine, susu
dan hasil olahannya.

2. Kelompok zat pembangun Kelompok ini meliputi makanan – makanan yang banyak mengandung protein, baik protein hewani maupun nabati, seperti daging, ikan, susu, telur, kacangkacangan dan olahannya.

3. Kelompok zat pengatur Kelompok ini meliputi bahan-bahan yang banyak mengandung vitamin dan mineral, seperti buahbuahan dan sayuran.

B. Faktor yang mepengaruhi Kebutuhan Gizi pada Lansia

• Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong. • Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin,
asam, dan pahit.

• Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran. • Rasa lapar menurun, asam lambung menurun. • Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi. • Penyerapan makanan di usus menurun.

C. Masalah Gizi pada Lansia 1. Gizi berlebih Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalai pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan. Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi. 2. Gizi kurang Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi. 3. Kekurangan vitamin Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.

D. Pemantauan Status Nutrisi 1. Penimbangan Berat Badan a. Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali, waspadai peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari 0.5 Kg/minggu. Peningkatan BB lebih dari 0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko terhadap kelebihan berat badan dan penurunan berat badan lebih dari 0.5 Kg /minggu menunjukkan kekurangan berat badan. b. Menghitung berat badan ideal pada dewasa : Rumus : Berat badan ideal = 0.9 x (TB dalam cm – 100) Catatan untuk wanita dengan TB kurang dari 150 cm dan pria dengan TB kurang dari 160 cm, digunakan rumus : Berat badan ideal = TB dalam cm – 100 Jika BB lebih dari ideal artinya gizi berlebih Jika BB kurang dari ideal artinya gizi kurang

2. Kekurangan kalori protein Waspadai lansia dengan riwayat : Pendapatan yang kurang, kurang bersosialisasi, hidup sendirian, kehilangan pasangan hidup atau teman, kesulitan mengunyah, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, sulit untuk menyiapkan makanan, sering mangkonsumsi obat-obatan yang mangganggu nafsu makan, nafsu makan berkurang, makanan yang ditawarkan tidak mengundang selera. Karena hal ini dapat menurunkan asupan protein bagi lansia, akibatnya lansia menjadi lebih mudah sakit dan tidak bersemangat. 3. Kekurangan vitamin D Biasanya terjadi pada lansia yang kurang mendapatkan paparan sinar matahari, jarang atau tidak pernah minum susu, dan kurang mengkonsumsi vitamin D yang banyak terkandung pada ikan, hati, susu dan produk olahannya.

E. Perencanaan Makanan untuk Lansia - Perencanaan makan secara umum 1. Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. 2. Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil. Contoh menu :

• Pagi : Bubur ayam • Jam 10.00 : Roti • Siang : Nasi, pindang telur, sup, pepaya • Jam 16.00 : Nagasari • Malam : Nasi, sayur bayam, tempe goreng, pepes ikan, pisang

3. Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah tinggi. 4. Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang berlemak seperti santan, mentega dll. 5. Bagi pasien lansia yang prose penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

• Makanlah makanan yang mudah dicerna

Perencanaan makan untuk mengatasi perubahan saluran cerna Untuk mengurangi resiko konstipasi dan hemoroid : 1. gurih. daging rendah lemak. atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng . Cara Memberi Makan Melalui Mulut (oral) 1. bayam. makanan harus lunak/lembek atau dicincang • Makan dalam porsi kecil tetapi sering • Makanan selingan atau snack. Biarkan pasien untuk mengosongkan mulutnya setelah setiap sendokan. 2. dan goring-gorengan • Bila kesulitan mengunyah karena gigirusak atau gigi palsu kurang baik. pemberian makan terlalu cepat atau lambat. telur. Berikan sedikit minum air hangat sebelum makan. direbus. 5. posisi pasien tetap dipertahankan selama ± 30 menit. Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan. Sarankan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi setiap hari. Batasi minum kopi atau teh. melembutkan feses. Siapkan makanan dan minuman yang akan diberikan Posisikan pasien duduk atau setengah duduk. dan sayuran hijau. G. 2. tanyakan Perbolehkan pasien untuk menunjukkan perintah tentang makanan pilihan pasien yang Setelah selesai makan. Prinsip Pemberian Makan Melalui Sonde (NGT) .• Hindari makanan yang terlalu manis. Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus. tergantung pada laksatif. ingin dimakan. seperti sayuran Anjurkan pasien untuk minum paling sedikit 8 gelas cairan setiap hari untuk Anjurkan untuk tidak menggunakan laksatif secara rutin . 7. 4. susu. 8. 3. 6. 7. dan sari buah sebaiknya diberikan 6. buah. F. boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan. hati. Selaraskan kecepatan pemberian makan dengan kesiapan pasien. karena pasien akan menjadi dan buah-buahan segar. roti dan sereal. 3.

Benar cara pemberian yaitu melalui oral : berikan obat melalui mulut atau sonde. minyak ikan. 3. Contoh Bahan Makanan untuk Setiap Kelompok Makanan 1. bihun. crakers. Siapkan makanan cair dan minuman hangat Naikkan bagian kepala tempat tidur 30 – 45 derajat pada saat memberi makan dan 30 Bilas selang sonde dengan air hangat terlebih dahulu. tepung hunkwe. Laporkan adanya mual dan muntah dengan segera. usus. Prinsip Lima benar Pemberian Obat Oral 1. hati.com/lanjut-usia/527-kebutuhan-nutrisi-pada-lansia . santan. seperti pada pasien-pasien stoke. margarin. Penting Benar pasien : Pastikan obat diminum oleh pasien yang bersangkutan. kacang merah. 4. Adapun prinsip pemberiannya adalah sebagai berikut : 1. jika selang longgar beritahu perawat. Pastikan pula selang dalam keadaan tertutup selama tidak diberi makan. Benar dosis : jumlah obat yang diberikan tidak dikurangi atau dilebihkan.smallcrab. 5. udang. air. babat. nasi jagung. kentang. oncom. I. kacang tanah. 3. daging ayam. misalnya 3 x 1 berarti diingat jenis obat antibiotik harus diberikan sampai habis. 3. singkong. 6. tepung beras. biskuit. Bahan makanan sumber protein hewani : Daging sapi. ubi. kelapa. H. telur. tempe. 4. Bahan makanan sumber karbohidrat (zat energi) : nasi. 2. Benar obat : obat yang diberikan harus sesuai dengan resep dokter. roti . obat diberikan setiap 8 jam dalam 24 jam . kacang kedelai. lemak daging. jika 2 x1 berarti obat diberikan setiap 12 jam sekali. ikan. http://www. Benar waktu : Pastikan pemberian obat tepat pada jadwalnya. talas. kelapa parut. bubur beras. maizena. 4. menit setelah memberi makan. tahu. mie. tepung terigu. Lakukan perawatan kebersihan mulut dengan sering. Pastikan tidak ada udara yang masuk ke dalam sonde pada saat memberi makan atau Periksa kerekatan selang.Pemberian makan melalui sonde ditujukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien yang memiliki masalah dalam menelan dan mengunyah makanan. 2. Bahan makanan sumber protein nabati : Kacang ijo. 2. Bahan makanan sumber lemak (zat energi) : Minyak goreng. 7. 5.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi sudah menjadi gejala umum penyakit tekanan darah di dunia. 9 Maret. penyakit pada ginjal. Orang dianggap menderita hipertensi bila tekanan sistolik di atas 140 mmHg (milimeter air raksa) dan atau tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. hipertensi ini bisa juga menyebabkan kematian. Ternyata. penyakit jantung koroner. Untuk satu kali pemeriksaan. terdapat terapi tunggal dan kombinasi. terapi tersebut menimbulkan pengaruh yang berbeda pada tiap orang. terapi kombinasi sangat diperlukan. pengaturan diet. dalam penelitian yang dilakukan PT Boehringer Ingelheim (PBI). seperti komplikasi pembesaran jantung. dan gemuk. kelebihan berat badan. Responnya pun sangat rendah. hipertensi pun kerap menghinggapinya. perlu dilakukan dua atau tiga kali pemeriksaan. Penderita pun perlu mengontrol tekanan darahnya secara rutin. Terapi itu dilakukan pada umumnya dengan cara oral atau obat. Akibat dari hipertensi bisa beragam. 2004 oleh: gklinis Terapi Kombinasi pada Hipertensi Gizi. Upaya yang dilakukan selama ini adalah dengan menerapkan terapi kontrol tekanan darah. penyakit jantung koroner. Penanganan hipertensi meliputi kombinasi pemberian obat. dan tekanan mental. hanya efektif untuk mengontrol tekanan dengan hasil mencapai 40 persen sampai 50 persen pasien. Dari awal. Monoterapi tak cukup memberikan kontrol tekanan darah yang efektif terhadap pasien dengan berbagai faktor risiko seperti diabetes. Namun. Karenanya. bertambahnya jumlah darah yang dipompa jantung. Sebab lainnya adalah faktor keturunan. terapi sudah dapat dimulai dengan cara kombinasi. Pengobatan hipertensi selama ini didasarkan pada penyebabnya. Kenaikan tekanan darah diastolik dipandang lebih berbahaya daripada sistolik. merekomendasikan pada pasien hipertensi dengan berbagai risiko untuk mencapai target penurunan tekanan darah yang diinginkan. kelenjar adrenal. dan pecahnya pembuluh darah otak. dan sistem syaraf sipatis. Tekanan darah tinggi merupakan peningkatan tekanan darah yang menetap di atas batas normal.Terapi Kombinasi pada Hipertensi Selasa. stres. Rekomendasi target dari panduan internasional tersebut adalah tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg bagi .Penyebab tekanan darah yang paling sering adalah aterosklerosis atau penebalan dinding arteri yang membuat hilangnya elastisitas pembuluh darah. dianggap tak mencukupi karena tekanan darah cenderung berubah-ubah dari jam ke jam. Untuk pengecekan tekanan darah. Pada mereka yang hamil. stroke.net . pasien lanjut usia. Bahkan. dan olahraga. JNC-VII-USA pada Mei 2003. Dalam langkah terapi optimal hipertensi (HOT). karena umumnya lebih menetap dan membebani kerja jantung. Penyebab tekanan darah yang paling sering adalah aterosklerosis atau penebalan dinding arteri yang membuat hilangnya elastisitas pembuluh darah. Panduan penatalaksanaan hipertensi yang disusun WHO. untuk monoterapi dengan pengobatan tunggal.

Pasien dengan terapi kombinasi. Sumber: Koran Republika. "Sedangkan. Tak hanya itu saja. risiko stroke pada ASA. penelitian ini menunjukkan. Penyampaian ini dilakukan beberapa waktu lalu di Jakarta. suplemen Medika.cgi?newsid1078805826. kurang dari 130/85 mmHg pada pasien hipertensi dengan diabetes atau gangguan fungsi ginjal.000). Fokusnya adalah pada pengobatan telmisartan dan HCTZ. Setelah dua tahun. dalam seminar yang diselenggarakan Boehringer Ingelheim." ujar Jose. Terapi kombinasi sangat efektif bagi pasien angiotensin II receptor antagonist (AIIRA) dan diuretik (hydrochlorothiazide-HCTZ). dan samar ganda untuk mengetahui efektivitas dan keamanan pemberian ASA dosis rendah. Untuk terapi kombinasi keduanya.net/cgi-bin/berita/fullnews. Penelitian di Eropa Dalam penelitian yang dipimpin oleh HC Diener dengan dukungan PBI. Selasa.pasien tanpa faktor risiko. Artinya. Keuntungan terapi kombinasi adalah adanya dua zat aktif dalam satu tablet hingga mudah dan praktis dipakai. berkurang 18 persen. . risiko stroke sekunder dengan kombinasi kedua pengobatan ini menurunkan risikonya dua kali lipat lebih efektif dibanding terapi tunggal dari kedua pengobatan tersebut. dan kurang dari 125/85 mmHg pada pasien hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal dan proteinurea yang lebih dari 1 gram per 24 jam. Studi ini membuktikan efektivitas kombinasi dipyridamole lepas lambat dengan ASA (acetyl salicyl acid) dalam mencegah stroke sekunder atau TIA (transiet ischemic attack). terdapat penurunan risiko stroke menjadi 37 persen. HC Diener mengawali studi ini secara random.602 orang. Keuntungan utama dari terapi ini adalah biaya terapi yang lebih rendah. Penelitian European Stroke Prevention Study kedua (ESPS-2) ini meliputi 59 klinik dari 13 negara dengan responden sebanyak 6. Terapi ini menggunakan zat aktif dari berbagai kelas obat antihipertensi dengan efek berbeda tapi saling melengkapi. dipyridamole Iepas lambat dan kombinasi keduanya. tentang penggunaan pengobatan kombinasi yang rasional. Dibandingkan dengan kelompok plasebo. papar Diener. plasebo kontrol. dosisnya lebih kecil daripada dosis monoterapi sehingga efek samping yang terjadi relatif juga lebih rendah. Seperti yang disampaikan oleh Prof Dr Jose Roesma PhD SpPD-KGH. Terapi kombinasi sangat efektif menurunkan tekanan darah sistolik pada lanjut usia dan pasien dengan berbagai risiko. 10 Februari 2004 Laporan : wed http://www.57204.gizi. tim peneliti menyimpulkan bahwa ASA dosis rendah dan dipyridamole efektif menurunkan risiko stroke secara jelas (1:1. kontrol tekanan darah lebih optimal dibandingkan monoterapi. dan pada dipyridamole menjadi 16 persen. termasuk risiko stroke dengan kematian (1:100). merinci studi pencegahan stroke di Eropa.

Stroke Trombotik: proses terbentuknya thrombus yang membuat penggumpalan. 2. Stroke iskemik ini dibagi menjadi 3 jenis. penyempitan atau pecahnya pembuluh darah. Stroke Embolik: Tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah. Stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak. WHO mendefinisikan bahwa stroke adalah gejala-gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan bukan oleh yang lain dari itu. Hipoperfusion Sistemik: Berkurangnya aliran darah ke seluruh bagian tubuh karena adanya gangguan denyut jantung. Stroke iskemik yaitu tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti. Hampir 70% kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi.Gejala. Hemoragik Intraserebral: pendarahan yang terjadi didalam jaringan otak. Hemoragik Subaraknoid: pendarahan yang terjadi pada ruang subaraknoid (ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak). Penyebab. yaitu : 1. Tanda dan Gejala-gejala Stroke Berdasarkan lokasinya di tubuh. Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu: stroke iskemik maupunstroke hemorragik. 2. yaitu: 1. gejala-gejala stroke terbagi menjadi berikut: . dan Akibat Stroke Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. 80% stroke adalah stroke Iskemik. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini bisa dikarenakan adanya sumbatan. Stroke hemoragik ada 2 jenis. 3.

menurunnya fungsi sensorik 2. hemineglect. dinyatakan sebagai Transient Ischemic Attack (TIA). 1/3 orang yang selamat menjadi tergantung dan mungkin mengalami komplikasi yang dapat menyebabkan kematian atau cacat Diperkirakan ada 500. kaku. terlalu banyak minum alkohol. antara lain Hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi). Aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah). Proses alami ini selesai dlm waktu 3 bulan. refleks menurun. dimana merupakan serangan kecil atau serangan awal stroke. Bagian sistem saraf pusat : Kelemahan otot (hemiplegia). Dari jumlah tersebut: • • • 1/3 --> bisa pulih kembali. ekspresi wajah terganggu.1. Hanya 10-15 % penderita stroke bisa kembali hidup normal seperti sedia kala. Kurang olahraga. Alkohol. Migrain. Narkoba. 93% pengidap penyakit trombosis ada hubungannya dengan penyakit tekanan darah tinggi. sehingga banyak penderita Stroke menderita stress akibat kecacatan yang ditimbulkan setelah diserang stroke. lidah lemah. Menurut statistik. Obesitas. Mendengkur. suasana hati yang tidak nyaman (marah-marah). 3. Pemicu stroke pada dasarnya adalah.000 penduduk yang terkena stroke. dimana terdapat 12 saraf kranial: menurun kemampuan membau. Akibat Stroke lainnya: . Setelah stroke. sel otak mati dan hematom yg terbentuk akan diserap kembali secara bertahap. Faktor resiko perilaku. Gangguan jantung. antara lain Merokok (aktif & pasif). Faktor Penyebab Stroke Faktor resiko medis. 1/3 sisanya --> mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di kasur. sisanya mengalami cacat. Derita Pasca Stroke Sudah Jatuh tertimpa Tangga Pula. daya ingat menurun. 1/3 --> mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang. apraxia. mengecap. Batang otak. fast food). Makanan tidak sehat (junk food. diabetes. Riwayat stroke dalam keluarga. 80% pemicu stroke adalah hipertensi dan arteriosklerosis. Jika tanda-tanda dan gejala tersebut hilang dalam waktu 24 jam. dan melihat parsial atau keseluruhan. merokok dan senang mengkonsumsi makanan yang berlemak. peribahasa itulah yang tepat bagi penderita Stroke. Cerebral cortex: aphasia. pernafasan dan detak jantung terganggu. Kontrasepsi oral. kebingungan. Kolesterol. Pada saat itu. mendengar.

Selain karena besarnya biaya pengobatan paska stroke . kita perlu mengetahui gejala-gejala yang sering terjadi pada serangan stroke. menelan. 30 % mengalami kesulitan bicara. . Untuk dapat memberikan pertolongan yang maksimal kepada penderita stroke. Karena Ancaman stroke hingga merenggut nyawa dan derita akibat stroke. membedakan kanan dan kiri. Hampir 85% dari semua stroke dapat DICEGAH . 80-90% bermasalah dalam berpikir dan mengingat. namun juga dialami oleh warga pedesaan yang hidup dengan serba keterbatasan. olahraga teratur. dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang relatif sangat singkat. namum kini cenderung menyerang generasi muda yang masih produktif. Stroke juga tak lagi menjadi milik warga kota yang berkecukupan . juga yang menderita stroke adalah tulang punggung keluarga yang biasanya kurang melakukan gaya hidup sehat. Diposkan oleh Petrus di 21:12 http://langgocity. Stroke sangat dapat dicegah. 70% menderita depresi. Hidup BEBAS tanpa STROKE merupakan dambaan bagi semua orang.blogspot. Tak heran semua orang selalu berupaya untuk mencegah Stroke atau mengurangi faktor risiko dengan menerapkan pola hidup sehat. akibat kesibukan yang padat.• • • • 80% penurunan parsial/ total gerakan lengan dan tungkai. penghindari stress hingga meminum obat atau suplemen untuk menjaga kesehatan pembuluh darah hingga dapat mencegah terjadinya Stroke. Stroke tak lagi hanya menyerang kelompok lansia. Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga.com/2009/03/hidup-sehat-tanpa-stoke. 29 Apr 2006 01:44:41 -0700 Stroke Dan Gejalanya Stroke dengan serangannya yang akut.html [sukasukamu] Stroke Dan Gejalanya yundini3001 Sat.

bila Anda mengidap diabetes mellitus pastikan Anda dan dokter Anda bekerja sama dengan baik dalam manajemennya. selain faktor resiko bawaan misalnya riwayat keluarga hipertensi. karena stroke. riwayat adanya diabetes mellitus. kurang makanan berserat seperti sayur dan buah-buahan. Karena stroke disebabkan ganguan pada pembuluh darah. maka organ yang dikendalikan . jenis kelamin. yang memang sudah dimiliki sejak lahir. merokok. sehingga digolongkan penyakit kronis. kelebihan berat badan. Kerusakan ini proses kejadiannya membutuhkan waktu lama. konsumsi alkohol. pria berisiko sedikit lebih tinggi daripada wanita.Gejala-gejala stroke diakibatkan kerusakan pada pembuluh darah yang memperdarahi otak. Adapun faktor-faktor lain yang juga merupakan resiko tinggi adalah pertambahan usia. Apabila ada kerusakan pada bagian otak tertentu. Penyebab yang paling mungkin adalah gaya hidup Anda. maka faktor penyebabnya hampir sama sama dengan faktor pada penyakit jantung. seperti banyaknya konsumsi lemak dan kolestrol. riwayat keluarga dengan stroke. Otak adalah organ yang mengatur segala fungsi tubuh. kurang olah raga. seperti juga penyakit jantung dapat diturunkan. serta yang sangat penting adalah hipertensi.

• lidah mencong bila dijulurkan. • sulit berbahasa. kelemahan anggota tubuh. gangguan yang disebabkan oleh stroke dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis gangguan seperti gangguan kesadaran. maka penderitanya menjadi tidak dapat bicara. penderita biasanya menjadi tidak sadar dan mengalami henti nafas akibat gangguan pada batang otak. • terasa kesemutan/terbakar separo badan. gangguan proses berpikir. Sebagai contoh. Demikian pula halnya jika bagian-bagian lain terganggu. Pada serangan stoke berat. . dan dapat mengakibatkan penderitanya menjadi lumpuh separo badan. • bila minum atau makan mudah keselek. gangguan bicara. pelupa dan lain sebagainya. • sulit menelan. gangguan sensorik. Secara umum. jika bagian otak yang mengatur fungsi bicara mengalami gangguan suplai darah. melihat dan mendengar serta gangguan berkemih (inkontinensia urin). bicara pelo.oleh bagian otak tersebut akan mengalami gangguan fungsi atau bahkan kematian jaringan. Gejala-gejala yang kerap terjadi pada stroke antara lain adalah: • lumpuh separo badan. tidak merasa separo badan. • mulut mencong. • bicara tidak lancar. • bicara tidak keruan. • bicara pelo.

penderita masih memperlihatkan gejala-gejala seperti diatas. Dengan penanganan yang segera. • penglihatan/pendengaran mengalami gangguan. banyak penderita yang terlihat pulih sama sekali sehngga kita boleh optimis bahwa serangan yang ringan. • kepintaran menurun. Namun. Stroke dapat menyerang secara tiba-tiba dan tanpa pertanda sebelumnya. tergantung dari kerusakan otak yang diakibatkan oleh stroke. Namun bila setelah 2 minggu. • tidak dapat memahami tulisan. atau seumur hidup. bila terlambat ditangani. mungkin penderita mengalami gangguan yang lebih berat sehingga perlu pemeriksaan lanjutan. • berjalan sulit. Perlu diingat. atau sel lain dalam tubuh. Akibatnya dapat diderita hingga beberapa tahun setelah terjadi. • tidak dapat membaca/menulis. • pelupa. Sel-sel otak tidak mempunyai cadangan energi seperti halnya sel otot. kerusakan otak dapat diperkecil semaksimal mungkin. Setelah satu minggu pasca serangan. atau bahkan kematian. sehingga sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah dalam arteri. stroke tidak hanya mempengaruhi lansia .• tidak dapat memahami perkataan orang lain. • menjadi sering pusing kepala. dapat terjadi kerusakan permanen seumur hidup.

rehabilitasi. dan biaya yang banyak. 1999 ) Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg. Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu : Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain . Malah akhir-akhir ini terjadi banyak peningkatan kejadian stroke pada orang-orang muda. tekanan darah sama dengan atau diatas 160 / 95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.com/msg00133. Pencegahan adalah jalan paling bijaksana untuk menghindari stroke. (Smeltzer.mail-archive. KLASIFIKASI Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas : ( Darmojo.2001) Menurut WHO ( 1978 ). Pada populasi lansia. hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg.namun juga dapat terjadi pada orang-orang muda. akibat gaya hidup yang merupakan faktor risiko terjadinya stroke. http://www. Dampak dari stroke sulit diobati dan memerlukan waktu.html ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI PENGERTIAN Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg.com/sukasukamu@yahoogroups.

prednison. Faktor tersebut adalah sebagai berikut : Faktor keturunan Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi Ciri perseorangan Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah: Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat ) Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan ) Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih ) Kebiasaan hidup Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah : Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ) Kegemukan atau makan berlebihan Stress Merokok Minum alcohol Minum obat-obatan ( ephedrine. epineprin ) Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah : Ginjal Glomerulonefritis Pielonefritis Nekrosis tubular akut Tumor . Kehilangan elastisitas pembuluh darah Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya.ETIOLOGI Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan – perubahan pada : Elastisitas dinding aorta menurun Katub jantung menebal dan menjadi kaku Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi.

meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. suatu vasokonstriktor kuat. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. neuron preganglion melepaskan asetilkolin. Pada titik ini. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II. mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin. yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. pada medulla diotak. yang menyebabkan vasokonstriksi. yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. menyebabkan pelepasan rennin. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah. kelenjar adrenal juga terangsang. Medulla adrenal mensekresi epinefrin. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh . Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis.Vascular Aterosklerosis Hiperplasia Trombosis Aneurisma Emboli kolestrol Vaskulitis Kelainan endokrin DM Hipertiroidisme Hipotiroidisme Saraf Stroke Ensepalitis SGB Obat – obatan Kontrasepsi oral Kortikosteroid PATOFISIOLOGI / PATHWAY Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor. yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal.

pusing Lemas. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur. Gelisah. menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis. anemia. Gejala yang lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. PEMERIKSAAN PENUNJANG Hemoglobin / hematokrit Untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume cairan ( viskositas ) dan dapat mengindikasikan factor – factor resiko seperti hiperkoagulabilitas. Menurut Rokhaeni ( 2001 ). yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer. Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo. BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal Glukosa Hiperglikemi ( diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi ) dapat diakibatkan oleh peningkatan katekolamin ( meningkatkan hipertensi ) Kalium serum . manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala. kelelahan. Epistaksis. Konsekuensinya. Mual Muntah. Sesak nafas.tubulus ginjal. Kesadaran menurun. Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. 1999). 2001). TANDA DAN GEJALA Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah.

Kalsium serum Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi Kolesterol dan trigliserid serum Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler ) Pemeriksaan tiroid Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi Kadar aldosteron urin/serum Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab ) Urinalisa Darah. pola regangan. peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi PENATALAKSANAAN Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi : Terapi tanpa Obat Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. protein. ensefalopati EKG Dapat menunjukkan pembesaran jantung. Asam urat Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi Steroid urin Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme IVP Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal. perbesaran jantung CT scan Untuk mengkaji tumor serebral. glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes. batu ginjal / ureter Foto dada Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub. Terapi tanpa obat ini meliputi : . gangguan konduksi.Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama ( penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik.

juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.Diet Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah : Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh Penurunan berat badan Penurunan asupan etanol Menghentikan merokok Latihan Fisik Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu : Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari. dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan ) Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu Edukasi Psikologis Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi : Tehnik Biofeedback Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal. Terapi dengan Obat Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan . bersepeda. Tehnik relaksasi Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain. berenang dan lain-lain Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. jogging.

dokter ) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan.mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE. penderita diberitahu hasil pengukuran tekanan darahnya Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai tekanan darahnya Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat sembuh. reserphin. Pengobatannya meliputi : Step 1 Obat pilihan pertama : diuretika. namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan morbiditas dan mortilitas Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan tingginya tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi ( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION. atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita. clonidin. dapat berupa diuretika . tekanan darah hanya dapat diketahui dengan mengukur memakai alat tensimeter . USA. ACE inhibitor Step 2 Alternatif yang bisa diberikan : Dosis obat pertama dinaikkan Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama Ditambah obat ke –2 jenis lain. Ca antagonis. beta blocker. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas kesehatan adalah sebagai berikut : Setiap kali penderita periksa. 1988 ) menyimpulkan bahwa obat diuretika. beta blocker. penyekat beta. vasodilator Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuh Obat ke-2 diganti Ditambah obat ke-3 jenis lain Step 4 : Alternatif pemberian obatnya Ditambah obat ke-3 dan ke-4 Re-evaluasi dan konsultasi Follow Up untuk mempertahankan terapi Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan ( perawat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. Alpa blocker. Ca antagonis. antagonis kalsium.

penyakit jantung koroner / katup. bila tidak datang pada waktu yang ditentukan. PENGKAJIAN Aktivitas / istirahat Gejala : Kelemahan Letih Napas pendek Gaya hidup monoton Tanda : Frekuensi jantung meningkat Perubahan irama jantung Takipnea Sirkulasi Gejala : Riwayat hipertensi.Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih dahulu Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup penderita Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita atau keluarga dapat mengukur tekanan darahnya di rumah Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal 1 x sehari atau 2 x sehari Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi. aterosklerosis. penyakit serebrovaskuler Tanda : Kenaikan TD Nadi : denyutan jelas Frekuensi / irama : takikardia. berbagai disritmia Bunyi jantung : murmur Distensi vena jugularis . usahakan kunjungan lebih sering Hubungi segera penderita. Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka sangat diperlukan sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang pemahaman dan pelaksanaan pengobatan hipertensi. efek samping dan masalah-masalah yang mungkin terjadi Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis atau mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan efektifitas maksimal Usahakan biaya terapi seminimal mungkin Untuk penderita yang kurang patuh.

obstruksi.Ekstermitas Perubahan warna kulit. pekerjaan ) Tanda : Letupan suasana hati Gelisah Penyempitan kontinue perhatian Tangisan yang meledak otot muka tegang ( khususnya sekitar mata ) Peningkatan pola bicara Eliminasi Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi. pengisian kapiler mungkin lambat Integritas Ego Gejala : Riwayat perubahan kepribadian. euphoria. keuangan. ansietas. lemak dan kolesterol Mual Muntah Riwayat penggunaan diuretic Tanda : BB normal atau obesitas Edema Kongesti vena Peningkatan JVP glikosuria Neurosensori Gejala : Keluhan pusing / pening. riwayat penyakit ginjal ) Makanan / Cairan Gejala : Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam. sakit kepala Episode kebas Kelemahan pada satu sisi tubuh Gangguan penglihatan ( penglihatan kabur. depresi. marah. diplopia ) . suhu dingin( vasokontriksi perifer ). faktor stress multiple ( hubungsn.

penggunaan pil KB atau hormon lain Penggunaan obat / alcohol DIAGNOSA KEPERAWATAN Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload. proses pikir atau memori ( ingatan ) Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman Perubahan retinal optic Nyeri/ketidaknyamanan Gejala : nyeri hilang timbul pada tungkai sakit kepala oksipital berat nyeri abdomen Pernapasan Gejala : Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas Takipnea Ortopnea Dispnea nocturnal proksimal Batuk dengan atau tanpa sputum Riwayat merokok Tanda : Distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan Bunyi napas tambahan ( krekles. isi bicara. hipertropi ventricular .Episode epistaksis Tanda : Perubahan orientasi. ginjal Faktor resiko etnik. penyakit jantung. hipertensi. aterosklerosis. penyakit serebrovaskuler. DM . mengi ) Sianosis Keamanan Gejala : Gangguan koordinasi. cara jalan Tanda : Episode parestesia unilateral transien Pembelajaran / Penyuluhan Gejala : Factor resiko keluarga . vasokonstriksi. iskemia miokard. afek. pola nafas.

hidralasin ( apresolin ). kelembaban. quanetidin ( Ismelin ). kualitas denyutan sentral dan perifer Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas Amati warna kulit. hidrodiuril ). Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur/kursi Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher. nadolol ( Corgard ). asam etakrinic ( Edecrin ). nyaman. ukur pada kedua tangan. suhu dan masa pengisian kapiler Catat edema umum Berikan lingkungan tenang.Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam. Bumetanic ( Burmex ) Diuretik hemat kalium misalnay spironolakton ( aldactone ). Atenolol ( tenormin ). kurangi aktivitas. panduan imajinasi. bloker saluran kalsium ( nivedipin. gunakan manset dan tehnik yang tepat Catat keberadaan. batasi jumlah pengunjung. Kriteria hasil : Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TD Mempertahankan TD dalam rentang yang dapat diterima Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil Intervensi : Pantau TD. reserpine ( Serpasil ). aktivitas pengalihan Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi Diuretik Tiazid misalnya klorotiazid ( Diuril ). Anjurkan tehnik relaksasi. klonidin ( catapres ) Vasodilator misalnya minoksidil ( loniten ). meninggikan kepala tempat tidur. guanabenz ( wytension ). reserpin ( Serpasil ) Inhibitor adrenergik yang bekerja secara sentral misalnya klonidin ( catapres ). triamterene ( Dyrenium ). hidroklorotiazid ( esidrix. amilioride ( midamor ) Inhibitor simpatis misalnya propanolol ( inderal ). metoprolol ( lopressor ). bendroflumentiazid ( Naturetin ) Diuretic Loop misalnya Furosemid ( Lasix ). verapamil ) Anti adrenergik misalnya minipres. metildopa ( aldomet ) . metildopa ( aldomet ). tetazosin ( hytrin ) Bloker nuron adrenergik misalnya guanadrel ( hyloree ).

nitropess ) Bloker ganglion misalnya guanetidin ( ismelin ). ACE inhibitor ( captopril. ginjal. jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima. antiansietas (lorazepam. lingkungan yang tenang. ginjal. sedikit penerangan Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin Beri tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala seperti kompres dingin pada dahi.Vasodilator kerja langsung misalnya hidralazin ( apresolin ). diazepam. batuk panjang. tehnik relaksasi. tidak ada keluhan sakit kepala. captoten ) Nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral Tujuan : Nyeri atau sakit kepala hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala Pasien tampak nyaman TTV dalam batas normal Intervensi : Pertahankan tirah baring. pusing. posisi nyaman. jantung berhubungan dengan adanya tahanan pembuluh darah Tujuan : Tidak terjadi perubahan perfusi jaringan : serebral. ativan. nilai-nilai laboratorium dalam batas normal. membungkuk Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : analgesik. nitroprusid ( nipride. Haluaran urin 30 ml/ menit Tanda-tanda vital stabil . pijat punggung dan leher. minoksidil. loniten Vasodilator oral yang bekerja secara langsung misalnya diazoksid ( hyperstat ). valium ) Resiko perubahan perfusi jaringan: serebral. bimbingan imajinasi dan distraksi Hilangkan / minimalkan vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala misalnya mengejan saat BAB. trimetapan ( arfonad ).

pusing Observasi TTV tiap 4 jam Berikan jarak waktu pengobatan dan prosedur untuk memungkinkan waktu istirahat yang tidak terganggu.Intervensi : Pertahankan tirah baring Tinggikan kepala tempat tidur Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan. hindari kelelahan Amati adanya hipotensi mendadak Ukur masukan dan pengeluaran Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai program Pantau elektrolit. tidur. kreatinin sesuai program Intoleransi aktifitas berhubungan penurunan cardiac output Tujuan : Tidak terjadi intoleransi aktifitas setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Meningkatkan energi untuk melakukan aktifitas sehari – hari Menunjukkan penurunan gejala – gejala intoleransi aktifitas Intervensi : Berikan dorongan untuk aktifitas / perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi. berikan waktu istirahat sepanjang siang atau sore Gangguan pola tidur berhubungan adanya nyeri kepala Tujuan : Tidak terjadi gangguan pola tidur setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Mampu menciptakan pola tidur yang adekuat 6 – 8 jam per hari Tampak dapat istirahat dengan cukup TTV dalam batas normal . BUN. Berikan bantuan sesuai kebutuhan Instruksikan pasien tentang penghematan energy Kaji respon pasien terhadap aktifitas Monitor adanya diaforesis. duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia Ambulasi sesuai kemampuan.

Tujuan : Perawatan diri klien terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam Kriteria hasil : Mampu melakukan aktifitas perawatan diri sesuai kemampuan Dapat mendemonstrasikan tehnik untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri Intervensi : Kaji kemampuan klien untuk melakukan kebutuhan perawatan diri Beri pasien waktu untuk mengerjakan tugas Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan klien / atas keberhasilannya Kecemasan berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya hipertensi yang diderita klien Tujuan: Kecemasan hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 Jam Kriteria hasil : Klien mengatakan sudah tidak cemas lagi / cemas berkurang Ekspresi wajah rilek TTV dalam batas normal .Intervensi : Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman Beri kesempatan klien untuk istirahat / tidur Evaluasi tingkat stress Monitor keluhan nyeri kepala Lengkapi jadwal tidur secara teratur Berikan makanan kecil sore hari dan / susu hangat Lakukan masase punggung Putarkan musik yang lembut Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan adanya kelemahan fisik.

ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas atau tujuan hidup Kaji tingkat kecemasan klien baik secara verbal maupun non verbal Observasi TTV tiap 4 jam Dengarkan dan beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya Berikan support mental pada klien Anjurkan pada keluarga untuk memberikan dukungan pada klien Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit Tujuan : Klien terpenuhi dalam informasi tentang hipertensi setelah dilakukan tindakan ekperawatan selama 1 x 24 jam Kriteria hasil: Pasien mengungkapkan pengetahuan akan hipertensi Melaporkan pemakaian obat-obatan sesuai program Intervensi : Jelaskan sifat penyakit dan tujuan dari pengobatan dan prosedur Jelaskan pentingnya lingkungan yang tenang. Diskusikan pentingnya mempertahankan berat badan stabil Diskusikan pentingnya menghindari kelelahan dan mengangkat berat Diskusikan perlunya diet rendah kalori. waktu pemberian. tujuan dan efek samping atau efek toksik Jelaskan perlunya menghindari pemakaian obat bebas tanpa pemeriksaan dokter Diskusikan gejala kambuhan atau kemajuan penyulit untuk dilaporkan dokter : sakit kepala. mual dan muntah. rendah natrium sesuai program Jelaskan penetingnya mempertahankan pemasukan cairan yang tepat. peka rangsang. penurunan toleransi sakit kepala.Intervensi : Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku misalnya kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian. pembatasan seperti kopi yang mengandung kafein. peningkatan keletihan. pusing. kerusakan konsentrasi. keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan Catat laporan gangguan tidur. dosis. tidak penuh dengan stress Diskusikan tentang obat-obatan : nama. pingsan. jumlah yang diperbolehkan. teh serta alcohol .

para lansia ternyata lebih sering mengalami hipertensi sistolik dan pengobatan hipertensi sampai saat ini masih banyak yang terfokus pada tekanan diastolik <90 mmHg tanpa memikirkan angka sistoliknya. Pada orang-orang tua. konseling dan penyuluhan pada keluarga klien ~ oleh nurse87 di/pada Juni 17.wordpress. terutama aorta. namun pengertian lanjut usia (lansia) ialah manusia di atas usia 60 tahun. yang terutama menyerang di atas usia 75 tahun. kontrol tekanan darah merupakan kunci utama menjaga kesehatan kardiovaskular.Jelaskan perlunya menghindari konstipasi dan penahanan Berikan support mental. efeknya bisa membuat kerusakan jantung. dan Angiotensin- . Manajemen dan pencegahan Beberapa penelitian. berat badan seiring usia juga akan meningkatkan risiko terjadinya PJK setiap kenaikan lima tahun. risiko infark miokard. Dalam keadaan ini aorta menjadi kaku dan akhirnya menyebabkan meningkatnya tekanan sistolik dan penurunan volume aorta. Keadaan ini terjadi karena hilangnya elastisitas arteri atau akibat penuaan.11) Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun. Tekanan sistolik juga menjadi prediktor yang lebih sensitif dibanding tekanan diastolik. yang pada akhirnya akan menurunkan volume dan tekanan diastolik. Tidak ada standar tertentu untuk menentukan kategori umur yang dikatakan tua. 2009. Karenanya. Penelitian juga menyebutkan bahwa menurunnya tekanan sistolik dapat menyebabkan penurunan curah jantung. Hipertensi juga menjadi faktor utama terjadinya penyakit jantung koroner. kontrol tekanan darah menjadi perawatan utama orang-orang lanjut usia. misalnya dari Syst-Eur 1 dan 2 dan penelitian lain di Jepang dan Australia menunjukkan bahwa tata laksana hipertensi sistolik yang optimal ialah penggunaan diuretik. penyekat beta. Isolated systolic hypertension (ISH) didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik di atas sama dengan 140 mmHg pada tekanan diastolik kurang dari sama dengan 90 mmHg.Edisi Juni 2007 (Vol. Sebagai konsekuensinya. dari divisi nefrologi ilmu penyakit dalam FKUI-RSUPN dr. pengukuran tekanan sistolik yang meningkat ini lebih signifikan karena dapat menunjukkan terjadinya kekakuan arteri besar. Ditulis dalam Keperawatan Tag: Keperawatan Gerontik http://nurse87. Jenis yang demikian lebih sulit untuk diobati dibanding hipertensi esensial atau pada pasien yang lebih muda. Berdasarkan Global Risk Assesment Scoring Chart dari penelitian Framingham.6 No. Kontrol tekanan darah yang ketat pada pasien diabetes berhubungan dengan pencegahan terjadinya hipertensi yang tak terkendali. ginjal. sehingga banyak lansia yang tidak terdeteksi menderita hipertensi sistolik. Obat-obat antihipertensi terbaru yang bekerja pada sistem renin-angiotensin-aldosteron. Cipto Mangunkusumo. Jakarta mengungkapkan bahwa pada orang tua umumnya terjadi hipertensi dengan sistolik terisolasi yang berhubungan dengan hilangnya elastisitas arteri atau bagian dari penuaan. Hipertensi merupakan gejala yang paling sering ditemui pada orang lanjut usia dan menjadi faktor risiko utama insiden penyakit kardiovaskular. Isolated systolic blood pressure Seperti telah disebutkan. serta otak. Dokter juga harus melakukan edukasi terus-menerus untuk menghindari terjadinya hipertensi sistolik. misalnya Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) inhibitor dan angiotensin-receptor blocker memiliki potensi perbaikan kardiovaskular pada orang tua akibat penurunan tekanan darah efektif. serta penyakit kardiovaskular lainnya. Jose Roesma.com/2009/06/17/empat-belas-masalah-kesehatan-utamapada-lansia/ Hipertensi pada lansia Kontrol Ketat Cegah Komplikasi RACIKAN UTAMA .

Perspektif terkini Penelitian dari The Heart Outcomes Prevention Evaluatin (HOPE) menyatakan bahwa agen antihipertensi memang terbukti dapat mencegah pula penyakit kardiovaskular lainya. Selain itu. penggunaan obat harus tetap dilanjutkan tanpa mengurangi dosis yang sedang . Bekerja di sistem renin-angiotensin-aldosteron. sebenarnya juga tidak hanya menurunkan tekanan darah semata. Valsartan dan Losartan telah terbukti mampu menurunkan tekanan sistolik pembuluh darah. Guidelines yang banyak dipakai untuk tata laksana hipertensi pada lansia diambil dari JNC 7 dan ESH/ESC 2003. menyerupai pemberian Ca blocker. sering ditemui gangguan pada sistem kardiovaskular berupa gagal jantung. Pemberian diuretik harus dimulai dari level rendah. diperlukan manajemen titrasi dosis naik perlahan-lahan ditambah kombinasi obat lainnya. serta menurunkan tekanan dinding pembuluh darah pada diet rendah garam. Penelitian tentang agen antihipertensi dengan mekanisme RAAS ini (ARB) monoterapi memang banyak dilakukan dan terbukti bersifat renokardioprotektif dengan mekanisme perbaikan fungsi endotel. Pedoman ini mengadopsi pendekatan tepat sasaran untuk lansia guna menurunkan risiko penyakit jantung koroner seiring dengan bertambahnya usia. tapi dikombinasikan dengan pemberian dosis rendah CCB. Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun. ARB yang dikombinasi dengan diuretik juga telah terbukti memiliki efek yang sangat baik. Kemungkinan hanya sekitar 40% pasien pada kelompok lansia yang akan mengalami penurunan tekanan darah sampai di bawah 140 mmHg setelah penggunaan antihipertensi ARB. penatalaksanaan hipertensi terutama ditujukan pada pasien lanjut usia dengan target tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg. Jika angka ini dinilai kurang efektif. Terapi seperti ini tergolong aman dan efektif. Tekanan darah di bawah 140 mmHg sistolik (jika memang benar sebesar ini) akan jauh mengurangi risiko stroke. sehingga mempengaruhi keberhasilan dari seluruh tata laksana. namun angka di bawah 140 ini akan sangat mempengaruhi jenis pengobatan dan edukasi ke pasien. misalnya Hydrochlorotiazide (HCT) 12. tidak sekadar menurunkan tekanan darah. terutama diuretik. atau ARB. efek proteksi vaskular dari ARB juga berlaku untuk mengurangi kemungkinan terjadiya stroke. kelompok usia yang rentan penyakit jantung koroner. mengingat batas-batas penentuan kriteria seputar hipertensi sangat berhubungan dengan angka. sebisa mungkin perlu diperhitungkan berbagai efek samping yang kemungkinan akan sangat mengganggu pasien. misalnya retinopati diabetik. Selain itu. Sementara penelitian dari The Irbesartan Diabetic Nephropathy Trial (IDNT) menyatakan bahwa agen antihipertensi. Kontrol tekanan darah yang ketat pada pasien diabetes berhubungan dengan pencegahan terjadinya hipertensi yang tak terkendali dan beberapa penyakit lainnya. sehingga gabungan keduanya ialah penurunan tekanan darah dengan efek yang juga renokardioprotektif. ARB memblok konjugasi. Pendekatan untuk lansia Para dokter harus benar-benar yakin bahwa data pengukuran yang didapat ialah valid. beta blocker. pengurangan kemampuan penglihatan. Terdapat konsensus bahwa tekanan darah pada lansia harus di bawah angka 140/90 mmHg untuk kategori usia 60-79 tahun. namun tetap saja terapi yang terbaik kemungkinan ialah mencegah hipertensi sebelum usia senja guna mengurangi risiko penyakit jantung koroner sejak dini. termasuk saat kontrol rawat jalan. Hal ini dapat dicapai dengan menjaga tekanan darah di angka kurang dari 150/85 mmHg (kontrol ketat) atau kurang dari 180/105 mmHg (kontrol tidak terlalu ketat). lebih baik daripada ACE-inhibitor. Selain itu penggunaan diuretik boros kalium juga akan menyebabkan hipokalemia jika tidak diberikan secara hati-hati. atau diabetes yang berat. tapi dari segi tolerabilitasnya juga. sehingga pengobatannya harus fokus untuk proteksi kardiovaskular secara umum. infark miokard.5 mg/dl harus dilakukan. Tujuan utama penatalaksanaan hipertensi pada lansia. asalkan sesuai indikasi. Karenanya. ARB akan meningkatkan volume sirkulasi dan merangsang sintesis kolagen akibat peningkatan jumlah sel otot polos pada pembuluh darah. dalam rangka menurunkan tekanan darah. Pada orang tua. Seperti guidelines antihipertensi (lihat tabel) yang tercantum berikut. menurunkan kekakuan arteri karotis. keduanya bekerja dalam sistem renin angiotensin aldosteron. Pada beberapa keadaan penggunaan obat selain diuretik sebagai terapi inisial sah-sah saja dilakukan. Kontrol ketat dilakukan pada pasien yang memiliki risiko besar untuk memiliki komplikasi penyakit lainnya. dibanding ACE-inhibitor dan Calcium channel blocker. misalnya diabetes mellitus. Jika ternyata dalam terapi. ACE-inhibitor. sebagian besar akan gagal. sedangkan ACE-inhibitor bekerja menghambat kerja enzim. mencegah akumulasi kolagen aorta. ARB dan ACE-inhibitor digunakan secara bersama-sama. dan kejadian kardiovaskular lain pada lansia. tidak langsung menambah dosisnya. serangan stroke. dan penyakit vaskular perifer.receptor blockers (ARB). atau bahkan terjadi penyakit-penyakit kardiovaskular lainnya. terutama yang berusia di atas 80 tahun. gagal jantung. khususnya Angiotensin II Antagonist Losartan (RENAAL) dapat menurunkan endpoint pasien dengan Non Insulin-dependent Diabetes Mellitus. Kontrol kadar kalium hingga tidak boleh di bawah 3. ARB ini dinyatakan renoprotektif. gejala-gejala hipertensi tetap muncul. Meskipun tidak ada makna penting lainnya. Tercapainya tujuan ini akan tergantung tidak hanya berdasarkan efikasi obat antihipertensi.5 mg atau yang setara dengannya. sisanya.

gula yang diolah tanpa garam seperti macaroni. biscuit dan kue yang dimasak dengan garam dapur. dendeng. sehingga beberapa ahli tidak terlalu suka melakukannya. Bisa saja terapi terus digiatkan. mengingat: a.http://www. semua kacang-kacangan dan sayuran.majalah-farmacia. mie. udang. Makanan yang boleh: minyak margarine dan mentega tanpa garam. Makanan yang tidak boleh: margarine dan mentega biasa . b. Pada lansia sebaiknya memilih daging unggas-unggasan daripada daging sapi atau kambing dan hendaknya tidak makan lebih dari 2 potong daging pada sehari. kacang tanah dan sayuran yang dimasak/ diawetkan dengan garam dapur.asp?IDNews=491 diberikan. Pada lansia konsumsi gula dibatasi karena: a. Gula tidak mengandung gizi kecuali zat tenaga. singkong. dosisnya ditambah. Berkurangnya aktifitas tubuh sehingga kebutuhan energi juga menurun. terigu. 3. Sedangkan pada lansia konsumsi zat zat gizi lain seperti vitamin. Kelebihan lemak akan disimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk timbunan lemak yang menyebabkan kegemukan. namun metode agresif seperti ini juga akan menambah efek samping.E dan K. Gula cepat diserap (absorpsi) sehingga mengakibatkan perubahan kadar gula darah dan memungkinkan terjadinya obesitas (kegemukan) dan diabetes. s3ehingga membebani usus dan lambung yang akan mengakibatkan gangguan pada usus. pindang. Makanan yang tidak boleh: Roti. Lemak juga berfungsi sebagai cadangan energi. Kemungkinan gejala ini akan mereda setelah beberapa minggu atau lebih. Berkurangnya produksi enzim mengakibatkan pencernaan lemak tidak sempurna. Karbohidrat Fungsi karbohidrat adalah penyedia energi. Kandungan Gizi Yang Diperlukan Lansia 1. e. biscuit dll. Lemak Lemak berfungsi sebagai pelarut vitamin A. Makanan yang tidak boleh: ikan asin. keju. cenderung mengakibatkan kanker usus. telur asam. 2. kentang. (farid) A. b. kornet. Makanan yang boleh: daging. Makanan yang boleh: Beras. Pada lansia lemak sebaiknya dibatasi . ebi. f. Lemak dengan kandungan asam lemak jenuh yang tinggi memicu penyakit jantung dan pembuluh darah. c. g. Protein Fungsi dari protein sebagai zat pembangun dari sel tubuh. d.D.com/rubrik/one_news. membentuk tekstur makanan dan memberi rasa kenyang yang lama. ikan telur dan susu. protein dan mineral diutamakan untuk mencegah proses penurunan fungsi tubuh.

terutama vitamin B1 agar tubuh selalu bugar. Pada lansia. gurih. Diet rendah garam II: Ditujukan untuk penderita hipertensi sedang (100-114 mmHg). Karbohidrat . Mineral dan Air Fungsi dari mineral yaitu pembentukan jaringan tubuh. B. kanker usus. maka serat tidak mengandung gizi tetapi tetap dibutuhkan untuk mencegah sembelit. garam dapur dianjurkan ½ sendok teh. Makanan yang tidak boleh: durian. TIPS Pemberian Makanan Bagi lansia Dengan Hipertensi a.4. kopi dan coklat. 5. buah-buahan yang diawtkan oleh garam dan soda. Serat Serat tidak dapat dicerna. Vitamin Fungsi dari vitamin yaitu untuk mempercepat metbolisme. 6. Makan makanan yang lembek untuk lansia yang kondisi giginya kurang baik. Pada lansia vitamin sangat penting. Hendaknya lansia makan dengan porsi kecil tapi sering b. Tdak larut dalam air yang berfungsi melancarkan BAB. d. wasir. terutama lansia wanita mudah terjadi ostoporosis akibat menopause. kedelai dan rumput laut. Garam dianjurkan ¼ sendok the garam dapur. memelihara keseimbangan asam basa dll. penyakit jantung dan kegemukan bila kekurangan serat. sayuran hijau. Contoh makanan: beras merah Makanan yang boleh: semua buah yang tidak diawtkan garam/ soda. Petunjuk Penggunaan Garam untuk Penderita hipertensi Untuk penderita hipertensi terdapat 3 diet: a. Serat ada 2 jenis: a. ikan yang dimakan dengan tulangnya. mempertahankan fungsi jaringan tubuh dan mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan jaringan. air putih. Diet rendah garam III: Ditujukan untuk penderita hipertensi ringan (diastole kurang dari 100 mmHg). Kandungan Gizi Yang Diperlukan Lansia 1. C. Diet rendah garam 1 : untuk penderita hipertensi berat dianjurkan untuk tidak menambahkan garam dapur dalam makanan. Larut dalam air yang berfungsi mengikat kolesterol b. goring-gorengan dll. Hindari makanan yang terlalu manis. Lansia hendaknya minum 6-8 gelas sehari mengingat fungsi ginjal menurun dan melancarkan BAB. kalsium sangat penting karena . A. b. Makanlah makanan yang mudah dicerna c. Contoh makanan yang tingggi kalsium adalah susu. c. Lansia hendaknya mengurangi natrium dengan cara membatasi garam dapur.

d. Makanan yang boleh: minyak margarine dan mentega tanpa garam. 2. e. Protein Fungsi dari protein sebagai zat pembangun dari sel tubuh. membentuk tekstur makanan dan memberi rasa kenyang yang lama. Kelebihan lemak akan disimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk timbunan lemak yang menyebabkan kegemukan. terutama vitamin B1 agar tubuh selalu bugar. pindang. Makanan yang boleh: daging. Makanan yang tidak boleh: Roti. s3ehingga membebani usus dan lambung yang akan mengakibatkan gangguan pada usus. mie. b. g. udang. Makanan yang boleh: Beras. Contoh makanan: beras merah . c. kacang tanah dan sayuran yang dimasak/ diawetkan dengan garam dapur. Vitamin Fungsi dari vitamin yaitu untuk mempercepat metbolisme. mempertahankan fungsi jaringan tubuh dan mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan jaringan. Lemak dengan kandungan asam lemak jenuh yang tinggi memicu penyakit jantung dan pembuluh darah. mengingat: a. terigu. Makanan yang tidak boleh: ikan asin. Pada lansia sebaiknya memilih daging unggas-unggasan daripada daging sapi atau kambing dan hendaknya tidak makan lebih dari 2 potong daging pada sehari. 3. Lemak juga berfungsi sebagai cadangan energi. Makanan yang tidak boleh: margarine dan mentega biasa 4. telur asam. b.D. Pada lansia konsumsi gula dibatasi karena: a. Pada lansia lemak sebaiknya dibatasi . biscuit dan kue yang dimasak dengan garam dapur. Gula tidak mengandung gizi kecuali zat tenaga. Lemak Lemak berfungsi sebagai pelarut vitamin A.Fungsi karbohidrat adalah penyedia energi. ebi. Sedangkan pada lansia konsumsi zat zat gizi lain seperti vitamin. kentang. f. singkong. semua kacang-kacangan dan sayuran. keju. biscuit dll. kornet. dendeng. gula yang diolah tanpa garam seperti macaroni. Pada lansia vitamin sangat penting. Berkurangnya aktifitas tubuh sehingga kebutuhan energi juga menurun.E dan K. cenderung mengakibatkan kanker usus. ikan telur dan susu. Berkurangnya produksi enzim mengakibatkan pencernaan lemak tidak sempurna. Gula cepat diserap (absorpsi) sehingga mengakibatkan perubahan kadar gula darah dan memungkinkan terjadinya obesitas (kegemukan) dan diabetes. protein dan mineral diutamakan untuk mencegah proses penurunan fungsi tubuh.

Makan makanan yang lembek untuk lansia yang kondisi giginya kurang baik. Contoh makanan yang tingggi kalsium adalah susu. Makanlah makanan yang mudah dicerna c. Serat Serat tidak dapat dicerna. Diet rendah garam II: Ditujukan untuk penderita hipertensi sedang (100114 mmHg). ikan yang dimakan dengan tulangnya. kedelai dan rumput laut. C. d. air putih. Pada lansia. memelihara keseimbangan asam basa dll. kanker usus. Makanan yang tidak boleh: durian. Diet rendah garam III: Ditujukan untuk penderita hipertensi ringan (diastole kurang dari 100 mmHg). Larut dalam air yang berfungsi mengikat kolesterol b. kopi dan coklat. Petunjuk Penggunaan Garam untuk Penderita hipertensi Untuk penderita hipertensi terdapat 3 diet: a. goring-gorengan dll. c. kalsium sangat penting karena . Mineral dan Air Fungsi dari mineral yaitu pembentukan jaringan tubuh. penyakit jantung dan kegemukan bila kekurangan serat. Diet rendah garam 1 : untuk penderita hipertensi berat dianjurkan untuk tidak menambahkan garam dapur dalam makanan. 5. b. B. buah-buahan yang diawtkan oleh garam dan soda. sayuran hijau. Tdak larut dalam air yang berfungsi melancarkan BAB. 6. wasir. Garam dianjurkan ¼ sendok the garam dapur. TIPS Pemberian Makanan Bagi lansia Dengan Hipertensi a. Hendaknya lansia makan dengan porsi kecil tapi sering b. gurih. maka serat tidak mengandung gizi tetapi tetap dibutuhkan untuk mencegah sembelit. Lansia hendaknya minum 6-8 gelas sehari mengingat fungsi ginjal menurun dan melancarkan BAB. Lansia hendaknya mengurangi natrium dengan cara membatasi garam dapur. garam dapur dianjurkan ½ sendok teh.Makanan yang boleh: semua buah yang tidak diawtkan garam/ soda. Posted on Maret 9. 2008 by harnawatiaj . Serat ada 2 jenis: a. terutama lansia wanita mudah terjadi ostoporosis akibat menopause. Hindari makanan yang terlalu manis.

Pengkajian. mereka yang mendapat pengobatan tertentu (tranquilizer utama.Ukur haluaran urine.Lepaskan pakaian pasien 2.60C atau lebih). kulit panas. terutaina ketika diikuti oleh kelembanan yang tinggi. Biasanya cerjadi selama keadaan panas. mereka yang tidak dapat merawat diri sendiri. hati.Heat stroke adalah kedaruratan medis akut yang disebab kin oleh kegagalan mekanisme pengaturan panas tubuh. kering.Berikan perawatan pendukung sesuai ketentuan : Dialisis untuk gagal ginjal Antikonvulsan untuk kontrol kejang 11. hindari hipotermia. diuretik.Turunkan suhu inti (internal) sampal dengan 390C secepat mungkin. Riwayat pasien menunjukkan terpajan pada peningkatan suhu atau latihan berlebihan pada saat panas yang ekstrem.Lakukan serial uji untuk gangguan perdarahan (koagulopati inravaskular diseminata) dan enzim serum untuk . tubular nekrosis akut adalah komplikasi dan heat stroke 10.Gunakan pakaian dingin dan handuk atau usap busa dengan air dingin kontinu b. tekanan vena sentral dan perubahan tingkat kesadaran derigan perubahan cepat dalarn suhu tu buh.Taruh es pada kulit sambil menyemprot dengan air biasa.Pantau secara konstan suhu pasien dengan mengguna kan probe termistor pada rektum atau esofagus (pantau suhu inti).Teruskan memantau EKG untuk kcmungkinan infark miokard.Mulal infus IV langsung untuk meagganti cairanyang hilang dan memelihara sirkulasi adekuat.Posisikan kipas angin listrik sehiugga menghembus pada pasien untuk menambah pembuangan panas dengan konveksi dan evaporasi 5. Pendinginan dengan memberikan cairan dan perifer ke pusat. Heat stroke menyebabkan cedera termal pada tingkat sel dan menyebabkan kerusakan luas pada jantung. delirium. mereka dengan penyakit kronik dan kelemahan. Pertimbangan Gerontologik. Tujuannya adalah menurunkan suhu tinggi secepat mungkin. c. 9. infark miokard. 6.Bilas lambung atau kolon dengan salin es yang mungkin diresepkan jika suhu tidak turun 3. Penatalaksanaan Kedaruratan 1.Kalium untuk hipokalemia dan natrium bikarbonat wink mengoreksi asidosis metabolik.Pantau pasien dengan cermat terhadap tanda vital. 12. karena mortalitas langsung berhubung an dentan durasi hipertermia. EKG.Gunakan Selimut Pendingin d. Heat stroke karena aktivitas arau latihan dalam suhu panas dan kelembapan ekstrem. Pada saat mengkaji pasien.takipnea. peningkatan suhu tubuh (40. Gunakan satu atau lebih tindakan sebagai berikut : a. Diagnosa keperawatan nieliputi tidak efektif termore gulasi yang berhubungan dengan ketidakmarnpuan meka nisme homeostatik tubuh untuk mempertahankan suhu tubuh normal.. koma). hipertermia mungkin teijadi kembali secara spontan dalam 3-4 jam. berikan dengan pelan karena bahaya dan cedera miokardia dan suhu yang tinggi dan fungsi ginjal yang -kurang baik.Masase pasien untuk meningkatkan sirkulasi dan niempertahankan vasodilatasi kutan selarna prosedur pendinginan 4. Penanganan simultan ber fokus pada stabiitasi oksigenasi melalui ABC pendukung hidup dasar. kejang mungkin diikuti dengan hipertermia berulang. ginjal dan koagulasi darah. 7. gejala yang adalah: disfungsi sistem saraf pusat yang dalam (dimanifestasikan dengan konfusi. biasanya anhidrosis (tidak ada keringat).Berikan oksigen untuk menyuplai kebutuhan jaringan yang meningkat karena kondisi hipemetabolik. Kebanyakan kernatian yang berkaitan dengan panas teijadi pada lansia karena sistem sirkulasi mereka tidak mampu mengkompensasi stress yang ditimbulkan oleb panas. Tipe heat stroke ini tenjadi pada individu yang sehat selama olahraga atau aktivitas kerja kedka teijadi hipertermia karena ketidakadekuatan peng hilangan panas. 8.dan disritmia. lansia. tingkah laku aneh. Seseorang dengan risiko ini adalah mereka yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan iklim panas. penyekat beta-adrenergik). Bantu intubasi pasien dengan cuf selang endotrakea dan pasang pada ventilator jika perlu untuk rnendukung kegagalan sistem kardiorespiratori. antikolinergik. dapat juga menyebabkan kematian. dan takikardi.

4. Umumnya terjadi setelah beristirahat cukup lama atau angun tidur. Mung kin ada kerusakan hati. 2. 1989). gereja) http://harnawatiaj. 13.Nasihatkan pasien untuk menghindari terpajan pada suhu tinggi. Tidak terjadi perdarahan. emboli. Kesadaran umumnya menurun dan penyebab yang paling banyak adalah akibat hipertensi yang tidak terkontrol. hipersensitivitas pada suhu tinggi mungkin terjadi dalam lama waktu yang dapat dipertimbangkan. mengganti cairan. B. stroke hemoragik Terjadi perdarahan cerebral dan mungkin juga perdarahan subarachnoid yeng disebabkan pecahnya pembuluh darah otak. namun juga dapat terjadi pada saat istirahat. Klasifikasi stroke Berdasarkan proses patologi dan gejala klinisnya stroke dapat diklasifikasikan menjadi : 1. dan mengurangi aktivitas dalam cuaca panas. Umumnya terjadi pada saat melakukan aktifitas. perpusta kaan. yaitu : dapat juga diklasifikasikan berdasarkan perjalanan 1.com/2008/03/09/heat-stroke/ Pengertian Stroke adalah deficit neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan aliran darah yang timbul secara mendadak dengan tanda dan gejala sesuai dengan daerah fokal otak yang terkena (WHO. stroke non hemoragik Dapat berupa iskemia.Masukkan pasien ke unit perawatan intensify. dan susunan pusat. yang memungkinkan cukup waktu untuk menyesuaikan dengan iklim. Stroke non hemoragik penyakitnya.Nasihatkan atlet untuk memantau kehilangan cairan. menggunakan pakaian kendur. 2. dan menggunakan pendekatan ber angsur untuk pengkondisian fisik. Pendidikan Pasien dan Pertimbangan Perawatan di Rumah 1. jantung. spasme ataupun thrombus pembuluh darah otak. kesadaran umumnya baik dan terjadi proses edema otak oleh karena hipoksia jaringan otak.mengukur cedera hipoksia suhu pada hati dan jaringan otot.wordpress.Tekankan pentingnya memelihara masukan cairan yang adekuat. TIA’S (Trans Ischemic Attack) . 3.Ajak lansia yang lemah yang hidup dalam lingkungan desa dengan suhu lingkungan tinggi ke tempat di mana ada pengaturan udara (mall tempat belanja.

Proses ini biasanya berjalan dalam beberapa jam atau beberapa hari. 4. 5. Pada daerah penipisan dengan maneuver tertentu dapat menimbulkan perdarahan. 1. beberapa menit atau beberapa jam saja dan gejala akan hilang sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam. Diabetes mellitus (DM) Penderita DM berpotensi mengalami stroke karena 2 alasan. yaitu . Usia lanjut Pada usia lanjut terjadi proses kalsifikasi pembuluh darah. stroke in Volution Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan yang muncul semakin berat dan bertambah buruk. termasuk pembuluh darah otak. Stroke Komplit Gangguan neurologist yang timbul bersifat menetap atau permanent. Kerusakan kerja jantung akan menurunkan kardiak output dan menurunkan aliran darah ke otak. 3.Yaitu gangguan neurologist sesaat. Proses ini dapat menimbulkan pecahnya pembuluh darah atau timbulnya thrombus sehingga dapat mengganggu aliran darah cerebral. dapat disebabkan oleh aterosklerosis atau sebaliknya. . Rind (Reversible Ischemic Neurologis Defict) Gangguan neurologist setempat yang akan hilang secara sempurna dalam waktu 1 minggu dan maksimal 3 minggu. yeitu terjadinya peningkatan viskositas darah sehingga memperlambat aliran darah khususnya serebral dan adanya kelainan microvaskuler sehingga berdampak juga terhadap kelainan yang terjadi pada pembuluh darah serebral. Ddisamping itu dapat terjadi proses embolisasi yang bersumber pada kelainan jantung dan pembuluh darah. 1.. Hipertensi. 1. 1. C. atrial fibrilasi dan endokarditis. 2. Aneurisma pembuluh darah cerebral Adanya kelainan pembuluh darah yakni berupa penebalan pada satu tempat yang diikuti oleh penipisan di tempat lain. Etiologi Ada beberapa factor risiko stroke yang sering teridentifikasi. Kelainan jantung / penyakit jantung Paling banyak dijumpai pada pasien post MCI.

7. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang tiba-tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist fokal. D. kurang aktivitas fisik Kurang aktivitas fisik dapat juga mengurangi kelenturan fisik termasuk kelenturan pembuluh darah (embuluh darah menjadi kaku). sehingga arteri menjadi tersumbat. 9. Patofisiologi 1. Obesitas Pada obesitas dapat terjadi hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah. Perokok Pada perokok akan timbul plaque pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga terjadi aterosklerosis. Stroke non hemoragik Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau embolus. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding pembuluh darah. Peningkatan kolesterol (lipid total) Kolesterol tubuh yang tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis dan terbentuknya embolus dari lemak. Stroke hemoragik Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen intracranial yang seharusnya konstan. salah satunya pembuluh drah otak. darah yang mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema. spasme pembuluh darah otak dan penekanan pada . Polocitemia Pada policitemia viskositas darah meningkat dan aliran darah menjadi lambat sehingga perfusi otak menurun.6. 2. 8. Emboli disebabkan oleh embolus yang berjalan menuju arteri serebral melalui arteri karotis. salah satunya pembuluh darah otak. Di samping itu. Perdarahan otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli. 10. aliran darah ke area thrombus menjadi berkurang. menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak. Adanya perubahan komponen intracranial yang tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian.

Daerah arteri serebri posterior • Nyeri spontan pada kepala • Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35-50%) 1. E. atau apraksia tergantung hemisfer mana yang terkena 1.40% • Konfuse : 45% dari pasien biasanya sadar 1. arteri karotis interna akan menimbulkan: • Hemiplegia kontralateral yang disertai hemianesthesia (30%-80%) • Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35%-50%) • Apraksia bila mengenai hemisfer non dominant(30%) 1. afasia. Daerah arteri serebri anterior akan menimbulkan gejala: • hemiplegia dan hemianesthesia kontralateral terutama tungkai (30%-80%) • inkontinensia urin. Tanda dan gejala Tanda dan gejala yang muncul sangat tergantung pada daerah dan luasnya daerah otak yang terkena. Daerah vertebra basiler akan menimbulkan: • Sering fatal karena mengenai pusat-pusat vital di batang otak . 1.daerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak. Pengaruh terhadap status mental • Tidak sadar : 30% . Daerah arteri serebri media.

kesulitan Apabila dilihat bagian hemisfer mana yang terkena. gula darah dsb. laboratorium: mengarah pada pemeriksaan darah lengkap. stroke hemisfer kiri • mengalami hemiparese kanan • perilaku lambat dan sangat berhati-hati • • kelainan bidang pandang sebelah kanan • disfagia global • afasia • mudah frustasi kontralateral sebagai F. Pemeriksaan diagnostik Pemeriksaan penunjang disgnostik yang dapat dilakukan adalah : 1. dan bila perlu analisa gas darah. elektrolit. CT scan kepala untuk mengetahui lokasi dan luasnya perdarahan atau infark .• Hemiplegia alternans atau tetraplegia • Kelumpuhan pseudobulbar menelan. emosi labil) (kelumpuhan otot mata. gejala dapat berupa: 1. Stroke hemisfer kanan • Hemiparese sebelah kiri tubuh • Penilaian buruk • Mempunyai kerentanan terhadap sisi kemungkinan terjatuh ke sisi yang berlawanan 1. kolesterol. 2.

posisi miring jika muntah dan boleh dimulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil 2. hematom dan bergesernya struktur otak angiografi untuk mengetahui penyebab dan gambaran yang jelas mengenai pembuluh darah yang terganggu G. trombolisis. konstipasi. menurunkan TIK yang tinggi RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN STROKE . Penatalaksanaan medis Secara umum. Tanda-tanda vital diusahakan stabil Bed rest Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Kandung kemih yang penuh dikosongkan. 4. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat. atau suction berlebih yang dapat meningkatkan TIK 10. batuk.3. MRI untuk mengetahui adanya edema. Nutrisi per oral hanya diberikan jika fungsi menelan baik. 5. bila perlu lakukan kateterisasi Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonik 9. 6. infark. neuroprotektor. 4. • Stroke hemoragik: mengobati penyebabnya. penatalaksanaan pada pasien stroke adalah: 1. 7. Posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat. Hindari kenaikan suhu. obat hemoragik asetosal. neuroprotektor. Jika kesadaran menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT 11. 8. Penatalaksanaan spesifik berupa: • Stroke non hemoragik: antikoagulan. tindakan pembedahan. bila perlu diberikan ogsigen sesuai kebutuhan 3.

d. RR normal c. penumpukan sputum (karena kelemahan. Tidak ada tanda-tanda sianosis dan pucat d. Pantau intake-output cairan. Tingkat kesadaran serebral membaik (GCS meningkat) b. Tidak ada sputum 2. Bunyi nafas vesikuler b. Lakukan penghisapan lender dan pasang OPA jika kesadaran menurun 5. edema Kriteria hasil : atau oklusi pembuluh darah a. DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI 1. Pantau adanya tanda-tanda penurunan perfusi serebral :GCS. Auskultasi bunyi nafas 2. Berikan posisi semi fowler sesuai dengan kebutuhan (tidak bertentangan dgn masalah keperawatan lain) 4. Pertahankan posisi tirah baring pada posisi anatomis atau posisi kepala tempat tidur 15-30 derajat Bersihan jalan nafas Pasien mampu mempertahankan tidak efektif b. bahasa respon pupil dll 2. Ukur tandatanda vital 3.d. Kriteria hasil : hilangnya refleks batuk) a. Tanda-tanda vital stabil e.NO 1. memori. Tidak ada tanda . Observasi tanda-tanda vital (tiap jam sesuai kondisi pasien) 3. adanya perdarahan. memori dan motorik membaik c. darah lengkap dll • Pemberian obat sesuai kebutuhan 1. TIK normal d. balance tiap 24 jam 4. Penurunan perfusi Perfusi serebral membaik serebral b. Bila sudah memungkinkan lakukan fisioterapi dada dan latihan nafas dalam 6. jalan nafas yang paten. fungsi kognitif. Kolaborasi: • Pemberian ogsigen • Laboratorium: Analisa gas darah.

kerusakan neuromuscular. mengejan dsb 6. Komunikasi dapat berjalan dengan baik . gula darah dll • Penberian terapi sesuai advis • CT scan kepala untuk diagnosa dan monitoring 1. jika berat hindari memberi isyarat non 3. kerusakan mobilisasi aktif neuromuskuler. Kriteria hasil : hemiparese a. Pertahankan ligkungan yang nyaman 7. Kolaborasi: fisioterapi 1. 5. Pantau kekuatan otot 3. Hindari fleksi leher untuk mengurangi resiko jugular 8. Evaluasi sifat dan beratnya afasia pasien. Hindari valsava maneuver seperti batuk.d. Pasang trochanter roll pada daerah yang lemah 5. tidak ada kontraktur atau foot drop b. mobilisasi bertahap 4. Rubah posisi tiap 2 jan 4. kelemahan. kontraksi otot membaik c. Lakukan ROM pasif atau aktif sesuai kemampuan dan jika TTV stabil 6. Gangguan komunikasi verbal b. Libatkan keluarga dalam memobilisasi klien 7. Pantau tingkat kemampuan mobilisasi klien 2. Gangguan mobilitas Pasien mendemonstrasikan fisik b. Kolaborasi: • Beri ogsigen sesuai indikasi • Laboratorium: AGD.perburukan neurologis f.d.

kerusakan sentral bicara verbal Kriteria hasil : a. (Risiko) gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b. Tonus otot baik e.d. intake nutrisi tidak adekuat Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : a. Perubahan persepsi. sederhana dan bila perlu diulang 3. dengarkan dengan tekun jika pasien mulai berbicara 4. BUN). BUN dalam batas normal 5. Kolaborasi : Pemeriksaan lab(Hb. bahasa jelas. Lakukan komunikasi dengan wajar. Conjungtiva ananemis d. Memahami maksud dan pembicaraan orang lain c. Catat intake makanan c. Berdiri di dalam lapang pandang pasien pada saat bicara 5. konsul ahli gizi 1. Libatkan keluarga dalam melatih komunikasi verbal pada pasien 7. Kolaborasi dengan ahli terapi wicara 1. Timbang berat badan secara berkala 6. Hitung kebutuhan nutrisi perhari 3. Albumin. Latih otot bicara secara optimal 6. Beri makan via NGT 8. Lab: albumin. Beri latihan menelan 7. Berat badan dalam batas normal 6. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi b. Cari tahu proses 5.Persepsi dan kesadaran akan sensori b. pemasangan NGT. Kaji factor penyebab yang mempengaruhi kemampuan menerima makan/minum 2.d. Observasi tanda-tanda vital 4. Hb. Pembicaraan pasien dapat dipahami 2. lingkungan dapat . Klien dapat mengekspresikan perasaan b.

gangguan Kriteria hasil : neuromuscular.d. Evaluasi adanya gangguan persepsi: penglihatan. memenuhi kebutuhan hidup depresi. mendemonstrasikan menurun. Bicara dengan tenang dan perlahan 8. Buat lingkungan yang memungkinkan klien untuk melakukan ADL mandiri 4. taktil 3. Catat adanya proses hilang perhatian terhadap salah satu sisi tubuh dan libatkan keluarga untuk membantu mengingatkan 6. Libatkan keluarga dalam membantu klien 5. Ciptakn suasana lingkungan yang nyaman 4. Sediakan alat Bantu diri 7. integrasi. Pantau tingkat kemampuan klien dalam merawat diri 2. Berikan bantuan terhadap kebutuhan yang benar-benar diperlukan saja 3. Kurang kemampuan Kemampuan merawat diri merawat diri b. Evaluasi kemampuan membedakan panas-dingin. meningkat kelemahan. kekuatan otot a. Lakukan validasi terhadap persepsi klien dan lakukan orientasi kembali 1. posisi dan proprioseptik 5. perubahan psikologi patogenesis yang mendasari 2. Ingatkan untuk menggunakan sisi tubuh yang terlupakan 7.perubahan transmisi dipertahankan saraf sensori. nyeri. sehari-hari kerusakan persepsi b. penurunan perubahan pola hidup untuk koordinasi otot. Motivasi klien untuk melakukan ADL sesuai kemampuan 6. Melakukan perawatan diri sesuai kemampuan c. Mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber bantuan .

Evaluasi derajat gangguan persepsi sensuri 2. Buat daftar perencanaan pulang 8. gerakan yang tidak terkontrol selama penurunan kesadaran Klien terhindar dari cedera selama perawatan Kriteria hasil : a. Kriteria hasil : keterbatasan kognitif. pengobatan. Risiko cedera b. Klien dan keluarga mengenal sumber berpartisipasi dalam proses belajar b.bila mungkin 7. tidak a. Klien tidak terjatuh b. Pantau tingkat kesadaran dan kegelisahan klien 2. kurang informasi. Identifikasi cara dan kemampuan untuk meneruskan progranm perawatan di rumah 4. dilantin dll) 1. Kolaborasi: pasang DC jika perlu. Diskusikan proses patogenesis dan pengobatan dengan klien dan keluarga 3. Libatkan keluarga dalam perawatan 7. Hindari restrain kecuali terpaksa 4. Identifikasi factor risiko secara individual dal lakukan perubahan pola hidup 5. Kolaborasi: pemberian obat sesuai indikasi (diazepam.d. Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit. Pertahankan bedrest selama fase akut 5. konsultasi dengan ahli okupasi atau fisioterapi 1. Kurang pengetahuan Pengetahuan klien dan (klien dan keluarga) keluarga tentang penyakit dan tentang penyakit dan perawatan meningkat. perawatan b. Beri pengaman di samping tempat tidur 6. Tidak ada trauma dan komplikasi lain 9. beri bantalan lunak 3. dan perubahan pola hidup yang diperlukan . Beri pengaman pada daerah yang sehat.d.

Imobilitas. Studi-studi tentang insidensi diagnosis keperawatan yang digunakan untuk lansia yang berada di Institusi perawatan mengungkapkan bahwa hambatan mobilitas fisik adalah diagnosis pertama atau kedua yang paling sering muncul. Imobilitas didefinisikan secara luas sebagai tingkat aktivitas yang kurang dari mobilitas optimal. dan sindromdissue sering terjadi pada lansia.ui. Diagnosis keperawatan hambatan mobilitas fisik. atau masa otot • Mengalami pembatasan pergerakan. potensial sindrom disuse. bergerak dari mobilitas penuh sampai ketergantungan fisik total atau ketidak aktifan. berpindah dan ambulasi • Keengganan untuk melakukan pergerakan • Keterbatasan rentang gerak • Penurunan kekuatan. BAB II PEMBAHASAN Imobilitas dan Intoleransi Aktivitas pada Lansia GANGGUAN MOBILITAS FISIK Definisi Sutau keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami seseorang Batasan karakteristik • Ketidakmampuan untuk bergerak dengan tujuan di dalam lingkungan. Intervensi diarahkan pada pencegahan kea rah konsekuensi-konsekuensi imobilitas dan ketidak aktifan dapat menurunkan kecepatan penurunannya. pengendalian. termasuk protocol-protokol mekanis dan medis • Gangguan koordinasi Faktor-faktor yang berhubungan • Intoleransi aktivitas • Penurunan kekuatan dan ketahanan • Nyeri dan rasa tidak nyaman • Gangguan persepsi atau kognitif • Gangguan neuromuskuler • Depresi • Ansietas berat . Prevalensi dari masalah ini meluas di luar institusi sampai melibatkan seluruh lansia Awitan imobilitas atau intoleransi aktivitas untuk sebagian besar orang tidak terjadi secara tiba-tiba. 2009pusva juwitaLeave a commentGo to comments BAB I PENDAHULUAN Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi seseorang. termasuk mobilitas di tempat tidur.ac. tetapi lebih berkembang secara perlahan dan tanpa disadari.blog. dan intoleransi aktivitas memberikan definisi imobilitas yang lebih luas. intoleransi aktivitas.id/fer50/2008/09/17/asuhan-keperawatanpada-klien-dengan-stroke/comment-page-1/ Imobilitas dan Intoleransi Aktivitas pada Lansia October 3.http://mhs.

Perub ahan yang berhubungan dengan usia disertai dengan penyakit kronis menjadi predisposisi bagi lansia untuk mengalami komplikasi-komplikasi ini. tubuh bereaksi terjhadap imobilitas dengan perubahan-perubahan yang hamper sama dengan proses penuaan. Penurunan fungsimuskuloskeletal Perubahan fungsi neurologist Nyeri Defisit perceptual Berkurangnya kemampuan kognitif Jatuh Perubahan hubungan social Aspek psikologis Faktor-faktor eksternal Factor tersebut termasuk. dan interpretasi pada kejadian. . MANIFESTSI KLINIS Dampak fisiologis dari imobilitas dan ketidak efektifan • • • • • • • • • • • • • • Efek • Hasil • • Penurunan konsumsi oksigen maksimum Intoleransi ortostatik Peningkatan denyut jantung. ancaman terhadap imobilitas. Batasan karakteristik • Secara verbal melaporkan keletihan atau kelemahan • denyut jantung atau tekanan darah yang tidak normal terhadap aktivitas • Rasa tidak nyaman dispneu setelah beraktivitas • Perubahan elektrokardiogravis yang menunjukkan adanya disritmia atau iskemia Faktor-faktor yang berhubungan • Tirah baring dan imobilitas • Kelemahan secara umum • Gaya hidup yang kurang gerak • Ketidakseimbanag antara suplai oksigen dan kebutuhan Faktor-faktor Internal Berbagai factor internal dalam imobilisasi tubuh atau bagian tubuh antara lain. oleh karena itu memperberat efek ini.INTOLERANSI AKTIVITAS Definisi Suatu keadaan ketidakcukupan energi secara fisiologis atau psikologis pada seseorang untuk bertahan aau menyelesaikan aktivitas sehri-hari yang dibutuhkan atau diinginkan. Suatu pemahman tentang dampak imobilitas dapat diperoleh dari interaksi kompetensi fisik. Program terapeutik Karakteristik penghuni institusi Karakteristik staf Sistem pemberian asuhan keperawatan Hambatan-hambatan Kebijakan-kebijakan institusi Dampak masalah pada lansia Lansia sangt renan erhadap konsekuensi fisiologis dn psikologis dari imobilitas. Secara fisiologis.

• • • • • Penurunan fungsi ventrikel kiri Penurunan volume sekuncup Perlambatan fungsi usus Pengurangan miksi Gangguan tidur • • • • sinkop Penurunan kapasitas kebugaran Konstipasi Penurunan evakuasi kandung kemih Bermimpi pada siang hari. Sebagai suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan. • Hambatan terhadap latihan Berbagai hambatan mempengaruhi partisipasi lansia dalam latihan secara teratur. selama dan setelah aktivitas diberikan) Kecenderungan alami (predisposisi atau penngkatan kearah latihan khusus) Kesulitan yang dirasakan Tujuan dan pentingnya lathan yang dirasakan Efisiensi latihan untuk dirisendiri (derajat keyakinan bahwa seseorang akan berhasil) • Keamanan Ketika program latihan spesifik telah diformulasikan dan diterima oleh klien. Program tersebut disusun untuk memberikn kesempatan pada klien untuk mengembangkan suatu kebiasaan yang teratur dalam melakukan bentuk aktif dari rekreasi santai yang dapat memberikan efek latihan. instruksi tentang latihan yang aman harus dilakukan. Sebagai suatu proses episodic pencegahan primer diarahkan pada pencegahan masalah-masalah yang dapat tmbul akibat imoblitas atau ketidak aktifan. Diagnosis keperawaqtan dihubungkan dengan poencegahan sekunder adalah gangguan mobilitas fisik PENGKAJIAN . Bahaya-bahaya interpersonal termasuk isolasi social yang terjadi ketika teman-teman dan keluarga telah meninggal. 1. moblilitas dan aktivitas tergantung pada fungsi system musculoskeletal. Mengajarkan klien untuk mengenali tanda-tanda intoleransi atau latihan yang terlalu keras sama pentingnya dengan memilih aktivitas yang tepat. Hambatan lingkungan termasuk kurangnya tempat yang aman untuk latihan dan kondisi iklim yang tidak mendukung. Pencegahan Sekunder Spiral menurun yang terjadi akibat aksaserbasi akut dari imobilitas dapat dkurangi atau dicegah dengan intervensi keperawatan. Keberhasilan intervensi berasal dri suatu pengertian tentang berbagai factor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas dan penuaan. Aktivitas sat ini dan respon fisiologis denyut nadsi sebelum. kurangnya transportasi dan kurangnya dukungan. pulmonal. dan mengalami peningkatan. Ketika klien telah memiliki evaluasi fisik secara seksama. halusinasi PENATALAKSANAAN 1. kardiovaskuler. diseimbangkan. perilaku gaya hidup tertentu (misalnya merokok dan kebiasaan diet yang buruk) depresi gangguan tidur. pengkajian tentang factor-faktor pengganggu berikut ini akan membantu untuk memastikan keterikatan dan meningkatkan pengalaman. Pencegahan primer Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsug sepanjang kehidupan dan episodic. • Pengembangan program latihan Program latihan yang sukses sangat individual. Pencegahan sekunder memfokuskan pada pemeliharaan fungsi dan pencegahan komplikasi.

nyeri tekan dan tanda homans positif. bunyi napas. Hanya sedikit petunjuk diagnostic yang dapat diandalkan pada pembentukan trombosis. Perubahan-perubahan dalam pergerakan dada. penerangan yang tidak adekuat. dan tempat duduk toilet yang rendah dapat menurunkan mobilitas klien. tempat tidudan posisi yang tinggi. pucat. lantai licin. dan batas kandung kemih yang dapat diraba. tremor tangan.• Kemunduran musculoskeletal Indikator primer dari keparahan imobilitas pada system musculoskeletal adalah penurunan tonus. spirometri insesif untuk hiperinflasi alveoli. Hambatan-hambatan institusional terhadap mobilitas termasuk jalan koridor yang terhalang. perkusi. tekanan. dan cairan pada lantai. ukuran. kesulitandalam mengikuti perintah dan sinkop • Kemunduran Respirasi Indikasi kemunduran respirasi dibuktikan dari tanda dan gejala atelektasis dan pneumonia. edema. depresi mental. kecuali untuk eliminasi INTERVENSI . kelemahan. berkeringat. Tanda-tanda tromboflebitis meliputi eritema. kompresi pneumatik intermiten dan kekuatan otot. Di dalam rumah. • Perubahan-perubahan integument Indikator cedera iskemia terhadap jaringan yang pertama adalah reaksi inflamasi. dan ketahanan otot. kamar mandi tanpa pegangan. kekuatan. dan kekuatan skeletal. penurunan tekanan darah. mual gelisah. dan tirah baring. Pengosonganh rectum yang tidak sempurna. • Kemunduran kardiovaskuler Tanda dan gejala kardivaskuler tidak memberikan bukti langsung atau meyaknkan tentang perkembangan komplikasi imobilitas. rasa penuh. Tandatanda awal meliputi peningkatan temperature dan denyut jantung. distensi abdomen bagian bawah. Perubahan awal terlihat pada permukaan kulit sebagai daerah eritema yang tidak teratur dan didefinisikan sangat buruk di atas tonjolan tulang yang tidak hilang dalam waktu 3 menit setelah tekanan dihilangkan Perubahan-perubahan fungsi urinaria Bukti dari perubahan-perubahan fungsi urinaria termasuk tanda-tanda fisik berupa berkemih sedikit dan sering. karpet yang lepas. Intoleransi ortostatik dapat menunjukkan suatu gerakan untuk berdiri tegak seperti gejala peningkatan denyut jantung. dan gas arteri mengindikasikan adanaya perluasan dan beratnya kondisi yang terjadi. anoreksia. tangga yang tinggi. Contoh-contoh pendekatan terhadap penanganan imobilitas meliputi terapi fisik untuk mempertahankan mobilitas dan kekuatan otot. Gejalagejala kesulitan miksi termasuk pernyataan ketidakmampuan untuk berkemih dan tekanan atau nyeri pada abdomen bagian bawah • • Perubahan-perubahan Gastrointestinal Sensasi subjektif dari konstipasi termasuk rasa tidak nyaman pada abdomen bagian bawah. dan sakit kepala. Identifikasi dan penghilangan hambatan-hambatan yang potensial dapat meningkatakan mobilitas PENATALAKSANAAN TERAPEUTIK Pengobatan terapeutik ditujukan kearah perawatan penyakit atau kesakitan yang dihasilkan atau yang turut berperan terhadap masalah imobilitis dan penanganan konsekuensi aktual atau potensial dari imobilitas. rentang gerak sendi. • Faktor-faktor lingkungan Lingkungan tempat tinggal klien memberikan bukti untuk intervensi. Pengkajian fungsi secara periodik dapat digunakan untuk memantau perubahan dan keefektifan intervensi. iritabilitas. kompresi pneumatik intermiten atau stoking kompresi gradien untuk meningkatkan aliran darah vena dan mencegah tromboembolisme.

dan berdansa. LATIHAN KEKUATAN Aktivitas penguatan adalah latihan pertahanan yang progresif. KONTRAKSI OTOT ISOTONIK Kontraksi otot yang berlawanan atau isotnik berguna untk mempertahankan kekuatan otot-otot dan tulang. Ketiga.Limatujuan mengarahkan intervensi keperawatan untuk mencegah atau meniadakan sekuelafisiologis dari imobilitas. Keempat. kerja dapat dicapai. Kedua. dan aktivitas kehidupan sehari-hari. pemeliharaan fleksibilitas sendi yan terlibat dalam latihan rentang gerak. Contohnya termasuk berjalan. dan dapat dinikmati. dan asupan cairan yang adekuat untuk mencegah efek dehidrasi pada volume darah. Ketika tangan atau kaki dilatih baik otot-otot fleksor dan ekstensor harus dilibatkan. Sikap perawat tidak hanya memengaruhi komitmen untuk memasukkan latihan sebagai komponen rutin sehari-hariyang berkelanjutan. pemeliharaan sirkulasi yang adekuat meliputi tindakan-tindakan pendukung untuk mempertahankan tonus vaskuler (termasuk mengubah posisi dalam hubungannya dengan gravitasi). pemeliharaan ventilasi yang normal meliputi hiperinflasi dan mobilisasi serta menghilangkan sekresi. dengan tungkai menggantung di sisi tempat tidur. SIKAP Variabel utama yang dapat mengganggu keberhasilan intervensi pada individu yang mengalami imobilisasi adalah sikap perawat dan klien tentang pentingnya latihan dan aktivitas dalam rutinitas sehari-hari. tetapi juga integrasi aktif dari latihan sebagai . bersepeda. Terakhir. stoking kompresi untuk memberikan tekanan eksternal pada tungkai. nutrisi untuk meningkatkan anabolisme protein dan pembentukan tulang. Karena otot-otot memendek dan memanjang. berirama. KONTRAKSI OTOT ISOMETRIK Kontraksi otot isometrik meningkatkan tegangan otot tanpa mengubah panjang otot yang menggerakkan sendi. berenang. Pergerakan aktif memengaruhi toleransi ortostatik. pemeliharaan fungsi urinaria dan usus yang normal bergantung pada dukungan nutrisi dan struktur lingkungan serta rutinitas-rutinitas untuk memfasilitasi eliminasi. yang termasuk pengondisian program latihan harian baik kontraksi otot isometrik dan isotonik. Kontraksi-kontraksi ini digunakan untuk mempertahankan kekuatan otot dan mobilitas dalam keadaan berdiri (misalnya otot-otot kuadrisep. aktivitas penguatan aerobik. abdominal dan gluteal) dan untuk memberikan tekanan pada tulang bagi orang-orang dengan dan tanpa penyakit kardiovaskuler. dan sikap komitmen terhadap latihan. Pembahasan tentang intervensi disajikan di sini. Kontraksi ini mengubah panjang otot tanpa mengubah tegangan. atau pada saat duduk di kursi dengan cara mendorong atau menarik suatu objek yang tidak dapat bergerak.7 Aktivitas aerobik yang dipilih harus menggunakan kelompok otot besar dan harus kontinu. Kekuatan otot harus menghasilkan peningkatan setelah beberapa waktu. Tujuan pertama meliputi pemeliharaan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal. Latihan ini meningkatkan kekuatan dan massa otot serta mencegah kehilangan densitas tulang dan kandungan mineral total dalam tubuh. Latihan angkat berat dengan meningkatkan pengulangan dan berat adalah aktivitas pengondisian kekuatan. Kontraksi isotonik dapat dicapai pada saat berada di tempat tidur. LATIHAN AEROBIK Latihan aerobik adalah aktivitas yang menghasilkan peningkatan denyut jantung 60 sampai 90% dari denyut jantung maksimal dihitung dengan (220-usia seseorang) x 0. Kontraksi isometrik dilakukan dengan cara bergantian mengencangkan dan merelaksasikan kelompok otot. posisi yang tepat.

Demikian pula halnya sikap klien dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas latihan. Jika seseorang diposisikan dengan tungkai tergantung. dan fasilitas jangka panjang. mobilitas sendi. penggunaan dan penyalahgunaan alat bantu. resiko tinggi sindrom dissue Hasil yang diharapkan Klien mampertahankan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal dan fleksibilitas sendi-sendi • Intervensi keperawatan Observasi tanda dan gejala penurunan mobilitas sendi. ukuran. rumah sakit. pengkajian paru Untuk Integumen. hanya membantu mempertahankan fleksibilitas. dan adanya nyeri Untuk Kardiovaskular. Sebaliknya. Mengatur posisi tungkai dengan ketergantungan minimal (misalnya meninggikan tungkai diatas dudukan kaki) mencegah pengumpulan darah pada ekstremitas bawah. frekuensi dan jumlah berkemih . karakteristik kulit diatas tonjolan tulang Untuk urinaria. yaitu menggerakkan sendi seseorang melalui rentang geraknya oleh orang lain. dan kehilangan ketahanan Observasi status respirasi dan fungsi jantung pasien Observasi lingkungan terhadap bahaya-bahaya keamanan yang potensialUbah lingkungan untuk menurunkan bahaya-bahaya keamanan Ajarkan tentang tujuan dan pentingnya latihan Ajarkan penggunaan alat-alat bantu yang tepat • • • • DOKUMENTASI YANG ESENSIAL Dokumentasi untuk setiap sistem meliputi hal-hal berikut. Diagnosa keperawatan. masalah-masalah mobilitas. termasuk rentang gerak sendi dan pengkajian fungsional mengenai kemampuan. gerakan pasif. Posisi duduk di kursi secara normal dengan tungkai tergantung secara potensial berbahaya untuk seseorang yang beresiko mengalami pengembangan trombosis vena. perubahan ortostatik dalam tekanan darah dan denyut nadi Untuk respirasi. pengumpulan dan penurunan tekanan darah balik vena akan terjadi. • • • • • Untuk muskuloskeletal . LATIHAN RENTANG GERAK Latihan rentang gerak aktif dan pasif memberikan keuntungan-keuntungan yang berbeda. RENCANA PERAWATAN Rencana asuhan keperawatan untuk imobilitas betujuan mempertahankan kemampuan dan fungsi. Latihan aktif membantu mempertahankan fleksibilitas sendi dan kekuatan otot serta meningkatkan penampilan kognitif. dan ketahanan.intervensi bagi lansia di berbagai lingkungan. komunitas. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan intoleransi aktivitas. MENGATUR POSISI Mengatur posisi juga digunakan untuk meningkatkan tekanan darah balk vena. tonus. kekuatan otot. serta mencegah gangguan.

2006 • Possibly related posts: (automatically generated) • KEPUTIHAN =FLUOR ALBUS • Did you know Dismenore? • hidup sehat dengan bersepeda • Meningkatkan Potensi dan ketahanan http://pusva. ahli fisioterapi. Kemungkinan yang menjadi factor penyebab munculnya masalah ini adalah adanya perkembangan ekonomi dan perubahan gaya hidup terutama msayarakat perkotaan. . Patricia. Buku Ajar Keperawaan Gerontik ed. Mickey. dokter. dan terapi okupasi. mereka mendapatkan benturanbenturan fisik maupun psikologis akibatnya mereka tidak lagi memikirkan efek bagi kesehatan jangka panjang. dokter. Dengan bertambahnya usia maka permasalahan kesehatan yang terjadi akan semakin kompleks. aktivitas sosial.com/2009/10/03/imobilitas-dan-intoleransi-aktivitas-padalansia/ BAB I PENDAHULUAN Kecenderungan pola penyakit neurologi terutama gangguan susunan saraf pusat tampaknya mengalami peningkatan penyakit akibat gangguan pembuluh darah otak. 1. Kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup terlihat semakin mudah sehingga meningkatkan hasratmereka untuk terus berjuang mencapai tujuan dengan penuh persaingan dalam perjuangan tersebut. Beare. Salah satu penyakit yang sering dialami oleh lansia adalah stroke.wordpress. Insiden stroke meningkat secara eksponensial dengan bertambahnya usia dan 1. dan terapi okupasi. aktivitas sosial. seorang ahli gizi.25 kali lebih besar pada pria dibanding wanita.Untuk gastrointestinal. ahli fisioterapi. Walaupun belum didapat data secara konkrit mengenai hal ini namun dari pengalaman terlihat sangat mencolok adanya perubahan ini. dan keluarga serta teman-teman DAFTAR PUSTAKA Stanley. Usia merupakan factor resiko yang paling penting bagi semua jenis stroke. seorang ahli gizi. Upaya-upaya rehabilitasi untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya multidisiplin yang terdiri dari perawat. karakter dan pola feses dan alat bantu yang biasa digunakan untuk memfasilitasi eliminasi. dan keluarga serta teman-teman BAB III PENUTUP Gangguan mobilitas fisik merupakan suatu keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami seseorang Intoleransi aktifitas merupakan suatu keadaan ketidakcukupan energi secara fisiologis atau psikologis pada seseorang untuk bertahan aau menyelesaikan aktivitas sehri-hari yang dibutuhkan atau diinginkan. 2 Jakarta EGC . Usia harapan hidup di Indonesia sekarang kian meningkat sehingga semakin banyak terdapat lansia. Pencegahan tersier Upaya-upaya rehabilitasi untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya multidisiplin yang terdiri dari perawat. akibat kecelakaan serta karena proses degenerative system saraf tampaknya sedang merambah naik di Indonesia.

baik fokal maupun menyeluruh yang berlangsung dengan cepat. tidak lebih dari seminggu. yang disebabkan oleh embolus. Persoalan pokok pada stroke adalah gangguan peredaran darah pada daerah otak tertentu (Mardjono. 2131 ). Stroke atau Cerebro Vasculer Accident (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak ( Brunner dan Suddarth. Perdarahan (Stroke Hemoragi) Terjadi pecahnya pembuluh darah otak. Hal ini terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah otak. Stroke terdiri dari 2 jenis yaitu : Stroke adalah sindrom yang awal timbulnya mendadak. Harsono (1993 : 30) membagi stroke non haemoragi berdasarkan bentuk klinisnya antara lain : 1. Infark iskemic terbagi menjadi dua yaitu : stroke trombotik. 2. embolis. 1995 : 964). Serangan Iskemia sepintas atau transient ischemic Attack (TIA). misal: Trombosis. Infark Ischemik (Stroke non Hemoragi). Stroke Progresif (Progresive Stroke/ Stroke in evolution). Defisit Neurologik Iskemia Sepintas/ Reversible Ischemic Neurologik Defisit (RIND). 4. Menurut WHO stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral. ruptura dinding pembuluh atau penyakit vaskuler dasar (Prince. dan semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran otak non traumatic (Mansjoer 2000: 17) Stroke adalah gangguan neurologik fokal yang dapat timbul sekunder dari proses patologis pada pembuluh darah serebral. yang disebabkan oleh thrombus dan stroke embolik. Gejala makin berkembang ke otak lebih berat. 3. tidak berkembang lagi.BAB II TINJAUAN TEORI A. Menurut Lumbantobing (1994 : 5) kelainan yang terjadi akibat gangguan peredaran darah. Completed Stroke Kelainan saraf yang sifatnya sudah menetap. Pada bentuk ini gejala neurologik yang timbul akibat gangguan peredaran darah di otak akan menghilang dalam waktu 24 jam. 181 ). progresif cepat. Berlangsung lebih dari 24 jam atau berakhir dengan maut tanpa ditemukannya penyebab selain daripada gangguan vaskuler. 2002 : hal. 2001 : hal. yaitu : 1. ETIOLOGI . Stroke dapat dibagi menjadi 2 golongan. disebabkan karena gangguan perdarahan otak. DEFINISI Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat. Corwin. B. Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak ( Elizabeth J. Gejala neurologik timbul ± 24 jam. 2000: 54) yang menyatakan bahwa stroke adalah gangguan darah di pembuluh arteri yang menuju ke otak. berupa deficit neurologis fokal atau global yang langsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian. 2.

Penyakit jantung koroner dengan infark obat jantung dan gangguan irana denyut janung. Menurut Harsono ini dibedakan berdasarkan tempat terjadinya perdarahan antara lain: Perdarahan Sub Arachnoid (PSA) Kira-kira ¾ harus perdarahan sub arachnoid disebabkan oleh pecahnya seneusisma 5-6% akibat malformasi dari arteriovenosus. Sementara leukemia/ kanker darah dapat menyebabkan terjadinya pendarahan otak. Biasanya berkaitan erat dengan kerusakan fokal dinding pembuluh darah akibat anterosklerosis. Makin sering seseorang mengalami TIA maka kemungkinan untuk mengalami stroke semakin besar. Penyakit darah tertentu seperti polisitemia dan leukemia. Apabila pembuluh darah otak menyempit maka aliran darah ke otak akan terganggu dan sel-sel otak akan mengalami kematian. Transient Ischemic Attack (TIA) TIA dapat terjadi beberapa kali dalan 24 jam/ terjadi berkali. Faktor Resiko Tambahan a. Meningginya kadar kolesterol merupakan factor penting untuk terjadinya asterosklerosis atau menebalnya dinding pembuluh darah yang diikuti penurunan elastisitas pembuluh darah. Kadar asam urat darah tinggi .kali dalam seminggu. Harsono (1999 : 60) membagi factor risiko yang dapat ditemui pada klien dengan Stroke yaitu: Faktor risiko utama a. Perdarahan Intra Serebral (PIS) Penyebab yang paling sering adalah hipertensi. 1. b. Sedangkan menurut prince (1995 : 966) mengatakan bahwa stroke haemoragi disebabkan oleh perdarahan serebri. Lanjut usia f. Dikemudian hari seperti Penyakit jantung reumatik. Kadar lemak darah yang tinggi termasuk Kolesterol dan Trigliserida. Embolisme Kebanyakan emboli serebri berasal dari suatu flowess dalam jantung sehingga masalah yang dihadapi sesungguhnya merupakan perwujudan dari penyakit jantung. Kegemukan atau obesitas c. Ekstravasali darah terjadi dari daerah otak dan atau subaracnoid. g. dimana tekanan diastolic pecah. 2. b. Hipertensi Hipertensi dapat mengakibatkan pecahnya maupun menyempitnya pembuluh darah otak. Perdarahan intracranial biasanya disebabkan oleh ruptura arteria serebri. Perdarahan ini dibedakan berdasarkan tempat terjadinya perdarahan. Merokok Merokok dapat meningkatkan konsentrasi fibrinogen yang akan mempermudah terjadinya penebalan dinding pembuluh darah dan peningkatan kekentalan darah.Stroke non haemoragi merupakan penyakit yang mendominasi kelompok usia menengah dan dewasa tua karena adanya penyempitan atau sumbatan vaskuler otak yang berkaitan erat dengan kejadian.menebalkan dinding pembuluh darah otak yang berukuran besar. sehingga jaringan yang terletak di dekatnya akan tergeser. Factor resiko ini pada umumnya akan menimbulkan hambatan atau sumbatan aliran darah ke otak karena jantung melepaskan sel. Polisitemia dapat menghambat kelancaran aliran darah ke otak. Riwayat keluarga dengan stroke e. Diabetes Mellitus Debetes mellituas mampu . Penyakit Jantung Beberapa Penyakit Jantung berpotensi menimbulkan strok. Trombosis Serebri Merupakan penyebab stroke yang paling sering ditemui yaitu pada 40% dari semua kasus stroke yang telah dibuktikan oleh ahli patologis.sel / jaringan. c. d. d.sel otak. pada akhirnya akan menyebabkan kematian sel. Menebalnya pembuluh darah otak akan menyempitkan diameter pembuluh darah yang akan menggangu kelancaran aliran darah ke otak.jaringan yang telah mati ke aliran darah.

memperberat atau malah menetap. Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologis e. Pasien dengan perdarahan luas dan hemoragi mengalami penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital. Gangguan persepsi: disfungsi persepsi visual. adanya tumor otak dan penggunaan medikasi (antikoagulan oral. Kehilangan motorik : hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada sesi otak yang berlawanan. ukuran area yang perfusinya tidak adekuat. Gejala itu muncul bervariasi. Arteri di dalam otak dapat menjadi tempat aneurisma. Sementara. Ini biasanya mengikuti fraktur tengkorak dengan robekan arteri dengan arteri meningea lain. dibawah duramater. hal 67) D. b. hemangioblastoma dan trauma. (hemoragi subdural). apraksia (ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya) c. Sudah menetap/permanent (Harsono. Gejala makin lama makin berat (progresif) Hal ini desebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat yang disebut progressing stroke atau stroke inevolution d. bergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat). hemoragi intraserebral biasanya disebabkan oleh malformasi arteri-vena. Penyakit paru. Beberapa pasien mungkin mengalami hemoragi subdural kronik tanpa menunjukkan tanda dan gejala. Karenanya. Hemoragi ekstradural (epidural) adalah kedaruratan bedah neuro yang memerlukan perawatan segera. hemiparesis atau kelemahan salah satu sisi tubuh. tetapi penyebab paling sering adalah kebocoran aneurisma pada area sirkulus wilisi dan malformasi arteri-vena kongenital pada otak. amfetamin dan berbagai obat aditif). Gejalagejala itu antara lain bersifat: a. gangguan hubungan visual-spasial. Hal ini disebut Transient ischemic attack (TIA). Perdarahan biasanya arterial dan terjadi terutama sekitar basal ganglia.h. Hemoragi intraserebral paling umum pada pasien dengan hipertensi dan aterosklerosis serebral. Biasanya awitan tiba-tiba dengan sakit kepala berat. juga disebabkan oleh tipe patologi arteri tertentu. Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama. periode pembentukan hematoma lebih lama ( intervensi jelas lebih lama) dan menyebabkan tekanan pada otak. C. 2) Stroke Non Hemoragic . Bila hemoragi membesar. kehilangan sensori d. karena perubahan degeneratif karena penyakit ini biasanya menyebabkan ruptur pembuluh darah. kecuali bahwa hematoma subdural biasanya jembatan vena robek. Perdarahan serebral dapat terjadi di luar duramater (hemoragi ekstradural atau epidural). Sementara Timbul hanya sebentar selama beberapa menit sampai beberapa jam dan hilang sendiri dengan atau tanpa pengobatan.namun lebih dari 24 jam Gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini dissebut reversible ischemic neurologic defisit (RIND) c.paru menahun. Kehilangan komunikasi : disartria (kesulitan bicara). dan jumlah aliran darah kolateral (sekunder atau aksesori) a. b. disfasia atau afasia (bicara defektif atau kehilangan bicara). Disfungsi kandung kemih Gejala . bergantung bagian otak yang terganggu. Hemoragi subarachnoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau hipertensi. PATOFISIOLOGI 1) Stroke Hemoragic Perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari semua penyebab utama kasus gangguan pembuluh darah otak.gejala CVA muncul akibat daerah tertentu tak berfungsi yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tempat tersebut. pada orang yang lebih muda dari 40 tahun. diruang subarachnoid (hemoragi subarachnoid) atau di dalam substansi otak (hemoragi intraserebral).1996. Hemoragi subdural (termasuk hemoragi subdural akut) pada dasarnya sama dengan hemoragi epidural. makin jelas defisit neurologik yang terjadi dalam bentuk penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital. MANIFESTASI KLINIK Stroke ini menyebabkan berbagai defisit neurologik.

gelombang delta lebih lambat di daerah yang mengalami gangguan. Penurunan aliran arah ini menyebabakan iskemi yang akan berlanjut menjadi infark. Angiografi Arteriografi dilakukan untuk memperlihatkan penyebab dan letak gangguan. 1999. 1997. Pungsi Lumbal . hemoragik. Suatu kateter dimasukkan dengan tuntunan fluoroskopi dari arteria femoralis di daerah inguinal menuju arterial. Konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia.tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan 5. mengemukakan bahwa tekanan darah diturunkan pada stroke iskemik akut bila terdapat salah satu hal berikut : . konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia. Marilynn. infark dan perdarahan. Dalam waktu 72 jam daerah tersebut akan mengalami edema dan lama kelamaan akan terjadi nekrosis. Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal (Doenges E. · Kandung kemih yang penuh dikosongkan. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa stroke antara lain adalah: 1. 2. Perawatan umum stroke Ø Penatalaksanaan awal selama fase akut dan mempertahankan fungsi tubuh Mengenai penatalaksanaan umum stroke.2000 hal 292) F. Onset stroke trombotik biasanya berjalan lambat. Dengan adanya sumbatan oleh emboli akan menyebabkan iskemi E. mengemukakan hal-hal berikut: · Bebaskan jalan nafas dan usahakan ventilasi adekuat. Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena 7. 2002. Asia Pacific Consensus on Stroke Manajement. b) Sedangkan stroke emboli terjadi karena adanya emboli yang lepas dari bagian tubuh lain sampai ke arteri carotis. 1999. yaitu arteri carotis di bagian tengah atau Middle Carotid Artery ( MCA ). oklusi disebabkan karena adanya penyumbatan lumen pembuluh darah otak karena thrombus yang makin lama makin menebal. hal 2131) G. sehingga aliran darah menjadi tidak lancer. Lokasi yang tersering pada stroke trombosis adalah di percabangan arteri carotis besar dan arteri vertebra yang berhubungan dengan arteri basiler. EEG (Elektro Encephalogram) Dapat menunjukkan lokasi perdarahan. PENATALAKSANAAN 1. mengemukakan bahwa peningkatan tekanan darah yang sedang tidak boleh diobati pada fase akut stroke iskemik. sebaiknya dengan kateterisasi intermiten. MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark.menunjukan adanya tekanan normal . KOMPLIKASI Komplikasi utama pada stroke yaitu : ü Hipoksia Serebral ü Penurunan darah serebral ü Luasnya area cedera (Smeltzer C.Terbagi atas 2 yaitu : a) Pada stroke trombotik. emboli tersebut terjebak di pembuluh darah otak yang lebih kecil dan biasanya pada daerah percabangan lumen yang menyempit. yang sesuai kemudian zat warna disuntikkan. 3. CT-Scan CT-scan dapat menunjukkan adanya hematoma. Suzanne. bila perlu berikan oksigen 0-2 L/menit sampai ada hasil gas darah. 6. · Penatalaksanaan tekanan darah dilakukan secara khusus.

- Tekanan sistolik > 220 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. - Tekanan diastolik > 120 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. - Tekanan darah arterial rata-rata > 130-140 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. - Disertai infark miokard akut/ gagal jantung atau ginjal akut. Pada umumnya peningkatan tekanan darah pada fase akut stroke diakibatkan oleh : o Stress daripada stroke o Jawaban fisiologis dari otak terhadap keadaan hipoksia o Tekanan intrakranial yang meninggi. o Kandung kencing yang penuh o Rasa nyeri. Tekanan darah dapat berkurang bila penderita dipindahkan ke tempat yang tenang, kandung kemih dikosongkan, rasa nyeri dihilangkan, dan bila penderita dibiarkan beristirahat. · Hiperglikemia atau hipoglikemia harus dikoreksi. Keadaan hiperglikemia dapat dijumpai pada fase akut stroke, disebabkan oleh stres dan peningkatan kadar katekholamin di dalam serum. Dari percobaan pada hewan dan pengalaman klinik diketahui bahwa kadar glukosa darah yang meningkat memperbesar ukuran infark. Oleh karena itu, kadar glukosa yang melebihi 200 mg/ dl harus diturunkan dengan pemberian suntikan subkutan insulin. Konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia mengemukakan bahwa hiperglikemia ( >250 mg% ) harus dikoreksi sampai batas gula darah sewaktu sekitar 150 mg% dengan insulin intravena secara drips kontinyu selama 2-3 hari pertama. Hipoglikemia harus diatasi segera dengan memberikan dekstrose 40% intravena sampai normal dan diobati penyebabnya. · Suhu tubuh harus dipertahankan normal. Suhu yang meningkat harus dicegah, misalnya dengan obat antipiretik atau kompres. Pada penderita iskemik otak, penurunan suhu sedikit saja, misalnya 2-3 derajat celsius, sampai tingkat 33ºC atau 34 °C memberi perlindungan pada otak. Selain itu, pembentukan oxygen free radicals dapat meningkat pada keadaan hipertermia. Hipotermia ringan sampai sedang mempunyai efek baik, selama kurun waktu 2-3 jam sejak stroke terjadi, dengan memperlebar jendela kesempatan untuk pemberian obat terapeutik. · Nutrisi peroral hanya boleh diberikan setelah hasil tes fungsi menelan baik, bila terdapat gangguan menelan atau penderita dengan kesadaran menurun, dianjurkan melalui pipa nasogastrik. · Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan. Pemberian cairan intravena berupa cairan kristaloid atau koloid, hindari yang mengandung glukosa murni atau hipotonik. · Bila ada dugaan trombosis vena dalam, diberikan heparin dosis rendah subkutan, bila tidak ada kontra indikasi. Terapi farmakologi yang dapat diberikan pada pasien stroke : a. Antikoagulasi dapat diberikan pada stroke non haemoragic, diberikan sdalam 24 jam sejak serangan gejala-gejala dan diberikan secara intravena. b. Obat antipletelet, obat ini untuk mengurangi pelekatan platelet. Obat ini kontraindikasi pada stroke haemorhagic. c. Bloker kalsium untuk mengobati vasospasme serebral, obat ini merilekskan otot polos pembuluh darah. d. Trental dapat digunakan untuk meningkatkan aliran darah kapiler mikrosirkulasi, sehingga meningkatkan perfusi dan oksigenasi ke jaringan otak yang mengalami iskemik. Ø Kebutuhan psikososial Gangguan emosional, terutama ansietas, frustasi dan depresi merupakan masalah umum yang dijumpai pada penderita pasca stroke. Korban stroke dapat memperlihatkan masalah-masalah emosional dan perilakunya mungkin berbeda dari keadaan sebelum mengalami stroke. Emosinya dapat labil, misalnya pasien mungkin akan menangis namun pada saat berikutnya tertawa, tanpa sebab yang jelas. Untuk itu, peran perawat adalah untuk memberikan pemahaman kepada keluarga tentang perubahan tersebut. Hal-hal yang bisa dilakukan perawat antara lain memodifikasi perilaku pasien seperti seperti mengendalikan simulasi di lingkungan, memberikan waktu istirahat sepanjang siang hari untuk mencegah pasien dari kelelahan yang berlebihan, memberikan umpan balik positif untuk perilaku yang dapat diterima atau

perilaku yang positif, serta memberikan pengulangan ketika pasien sedang berusaha untuk belajar kembali satu ketrampilan. Ø Rehabilitasi selama di rumah sakit Rehabilitasi di rumah sakit memerlukan pengkajian yang sistematik dan evaluassi dari defisit dan perbaikan fungsi pasien. Fokus perawatan adalah langsung membantu pasien belajar kembali kehilangan keterampilan yang dapat membentu kembali kemungkinan kemandirian pasien. Pada fase ini pasien dimonitor secara hati-hati untuk mencegah berkembangnya komplikasi yang lebih lanjut. Adapun intervensi yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut : 1. Anjurkan pasien untuk mengerjakan sendiri ”personal Hygiene” semampunya. 2. Ajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari dengan menghargai cara pasien mengkompensasi ketidakmampuan pasien. 3. Anjurkan pasien untuk latihan di tempat tidur. 4. Berikan spesial perawatan kulit. 5. Berikan privacy dengan menggunakan penutup jika ia belajar keahlian baru seperti belajar makan sendiri. 6. Berikan support emosional. 7. Berikan empati pada perasaan klien.anjurkan keluarga untuk berpartisipasi. Ø Perencanaan pasien pulang Untuk mencegah kembalinya klien ke rumah sakit, diperlikan suatu program untuk membimbing klien dan keluarga yang tercakup dalam perencanaan pulang. Perencanaan pulang dilakukan segera setelah klien masuk rumah sakit, yang dilakukan oleh semua anggota tim kesehatan. Perencanaan pulang yang baik adalah perencanaan pulang yang tersentralisasi, terorganisir, dan melibatkan berbagai anggota tim kesehatan. Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan melalui asuhan keperawatan mutlak harus mengikuti dan berperan aktif dalam mementukan rencana pemulangan klien, sehingga klien mendapatkan pelayanan yang holistik dan komprehensif. Tujuan perencanaan pulang : a. Mempersiapkan klien untk menyesuaikan diri dengan rumah dan masyarakat. b. Agar klien dan keluarga mempunyai pengetahuan dan ketrampilan serta sikap dalam memperbaiki dan mempertahankan status kesehatannya. c. Agar klien dan keluarga dapat menerima keadaan diri klien jika terdapat gejala sisa ( cacat ). d. Membantu merujuk klien ke pelayanan kesehatan lain. Mengingat banyaknya informasi dan pendidikan yang harus diterima oleh klien selama perawatan maupun dalam persiapan untuk pulang, maka prinsip belajar mengajar juga harus diperhatikan dalam proses rencana pemulangan. Informasi untuk klien dan keluarga : a. Gunakan bahasa yang sederhana, jelas dan ringkas. b. Jelaskan langkah-langkah dalam melaksanakan perawatan. c. Perkuat penjelasan lisan dengan instruksi tertulis, jika klien bisa membaca. d. Motivasi klien mengikuti langkah-langkah tersebut selama perawatan dan pengobatan. e. Kenali tanda-tanda dan gejala komplikasi yabg harus dilaporkan kepada tim kesehatan. f. Anjurkan keluarga untuk berpartisipasi aktif dalam pengawasan dan perawatan klien. g. Berikan keluarga nomor penting yang dapat dihubungi bila klien perlu pertolongan medis.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN I. Pengkajian 1. Aktivitas dan istirahat Data Subyektif:

- kesulitan dalam beraktivitas : kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis. - mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot ) Data obyektif: - Perubahan tingkat kesadaran - Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia ) , kelemahan umum. - gangguan penglihatan 2. Sirkulasi Data Subyektif: - Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung , endokarditis bacterial ), polisitemia. Data obyektif: - Hipertensi arterial - Disritmia, perubahan EKG - Pulsasi : kemungkinan bervariasi - Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal 3. Integritas ego Data Subyektif: - Perasaan tidak berdaya, hilang harapan Data obyektif: - Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan - kesulitan berekspresi diri 4. Eliminasi Data Subyektif: - Inkontinensia, anuria - distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara usus( ileus paralitik ) 5. Makan/ minum Data Subyektif: - Nafsu makan hilang - Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK - Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia - Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah Data obyektif: - Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring ) - Obesitas ( factor resiko ) 6. Sensori neural Data Subyektif: - Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA ) - nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid. - Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati - Penglihatan berkurang - Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka ipsilateral ( sisi yang sama ) - Gangguan rasa pengecapan dan penciuman Data obyektif: - Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan tingkah laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif - Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke, genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam ( kontralateral ) - Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )

. reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif.Peran pasien menampakan tidak adanya kemunduran / kekambuhan .. Pengajaran / pembelajaran Data Subjektif : . perawatan diri dan pekerjaan rumah (Doenges E. Diagnosa Keperawatan 1. perdarahan. Nyeri / kenyamanan Data Subyektif: . Respirasi Data Subyektif: . kognisi dan fungsi sensori / motorik . kehilangan memori . . pendengaran. spasme pembuluh darah serebral.Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya Data obyektif: .Gangguan berespon terhadap panas. kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata.Defisit sensori . intelektual dan emosional .Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral 7.Problem berbicara.Perubahan persepsi terhadap tubuh.d terputusnya aliran darah : penyakit oklusi.Gangguan dalam memutuskan. Perubahan perfusi jaringan serebral b. dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh .bantuan untuk transportasi.menentukan regimen medikasi / penanganan terapi . Dibuktikan oleh : . hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit .Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat. dan wajah yang pernah dikenali . berkurang kesadaran diri 10. global / kombinasi dari keduanya.Terpelihara dan meningkatnya tingkat kesadaran. shoping .Perokok ( factor resiko ) Tanda: . Interaksi social Data obyektif: . stroke . menyiapkan makanan .Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan . bahasa. ketegangan otot / fasial 8. Marilynn.Menampakan stabilisasi tanda vital dan tidak ada PTIK .Perubahan tingkat kesadaran .Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas . Pertimbangan rencana pulang .Tingkah laku yang tidak stabil. kesulitan untuk melihat objek.Keamanan Data obyektif: .Suara nafas terdengar ronchi /aspirasi 9.Perubahan tanda-tanda vital Tujuan Pasien / kriteria evaluasi . gelisah. ketidakmampuan berkomunikasi 11.Perubahan respon sensorik / motorik.Timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur .Tidak mampu mengenali objek. kegelisahan . warna.Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa. perhatian sedikit terhadap keamanan.Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik .2000 hal 292) II.penggunaan kontrasepsi oral 12. stimuli taktil .Riwayat hipertensi keluarga. kata. edema serebral.

.Gangguan artikulasi .Monitor tanda-tanda vital .Bantu meningkatkan keseimbangan duduk .Mulai latihan aktif / pasif rentang gerak sendi pada semua ekstremitas . termasuk bicara jika pasien mengalami gangguan fungsi . atur kunjungan sesuai indikasi Kolaborasi .Intervensi : .Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi .Bantu untuk mengubah pandangan .Tidak ada kontraktur. Pertahankan kepala dalam keadaan netral .Evaluasi penggunaan alat bantu pengatur posisi .Bantu meningkatakan fungsi.Topang ekstremitas pada posis fungsional . penurunan kekuatan otot. kelemahan umum / letih. .Konsul ke bagian fisioterapi .Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi individu/ penyebab koma / penurunan perfusi serebral dan potensial PTIK . miring ) . gangguan neuromuskuler. keterbatasan rentang gerak sendi.Awasi bagian kulit diatas tonjolan tulang Kolaborasi .Pasien mampu memahami problem komunikasi .d kelemahan neuromuskular. foot drop.Berikan medikasi sesuai indikasi : · Antifibrolitik.Ubah posisi tiap dua jam ( prone. supine. Ditandai : . kehilangan tonus otot fasial / mulut. mengenal kata .Kepala dielevasikan perlahan lahan pada posisi netral.ketidakmampuan moduasi wicara . Ketidakmampuan mobilitas fisik b.Menentukan metode komunikasi untuk berekspresi . misal aminocaproic acid ( amicar ) · Antihipertensi · Vasodilator perifer. perubahan lapang pandang / persepsi lapang pandang .Tidak mampu berbicara / disartria . . missal cyclandelate. sediakan lingkungan yang tenang .Monitor dan catat status neurologis secara teratur . mengidentifikasi objek . Tujuan pasien / kriteria evaluasi .Terpeliharanya integritas kulit Intervensi : . koordinasi.Gunakan bed air atau bed khusus sesuai indikasi 3. ketidakmampuan dalam persespi kognitif Dibuktikan oleh : .Menampakan kemampuan perilaku / teknik aktivitas sebagaimana permulaannya .d gangguan sirkulasi serebral.Ketidakmampuan dalam bergerak pada lingkungan fisik : kelemahan.Bantu memanipulasi untuk mempengaruhi warna kulit edema atau menormalkan sirkulasi .Ketidakmampuan berbicara atau menulis secara komprehensif. isoxsuprine.Bantu dalam meberikan stimulasi elektrik . · Manitol 2. misalnya pandangan kabur.Pertahankan tirah baring . Tujuan Pasien / kriteria evaluasi .Adanya peningkatan kemampuan fungsi perasaan atau kompensasi dari bagian tubuh . Gangguan komunikasi verbal b.Evaluasi pupil 9 ukuran bentuk kesamaan dan reaksi terhadap cahaya 0 . gunakan foot board pada saat selama periode paralysis flaksid.

Kaji kemampuan dantingkat kekurangan (dengan menggunakan skala 1-4) untuk melakukan kebutuhan sehari-hari .Pertahankan kontak mata saat berhubungan .Lindungi psien dari temperatur yang ekstrim .Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi tentang kebutuhannya untuk menghindari dan atau kemampuan untuk menggunakan urinal.Beri stimulasi terhadap sisa-sisa rasa sentuhan .Bicara langsung kepada pasien dengan perlahan dan jelas .Kaji patologi kondisi individual .Sediakan bel khusus jika diperlukan . kesulitan tugas toileting Kriteria hasil: . tempat .Sediakan metode komunikasi alternatif .Konsentrasi jelek. penurunan kekuatan dan ketahanan.Mendemonstrasikan perubahan gaya hidup untuk memenuhi kenutuhan perawatan diri Intervensi: .Bantu pemahaman sensori .Kerusakan kemampuan melakukan AKS misalnya ketidakmampuan makan .Evaluasi penurunan visual . orang . perubahan proses pikir .bedpan.Perubahan pola tingkah aku . tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan . Perubahan persepsi sensori b.Perubahan pengetahuan dan mampu terlibat . Tujuan / kriteria hasil : .Dapat mempertahakan level kesadaran dan fungsi persepsi pada level biasanya.Konsul dengan ahli terapi wicara 4.Mengidentifikasi sumber pribadi /komunitas dalam memberikan bantuan sesuai kebutuhan .Bicara dengan nada normal Kolaborasi : . Kurang perawatan diri b.Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasien sendiri.Perubahan pola komunikasi .Bantu menentukan derajat disfungsi .Ketidakmampuan mengkoordinasi kemampuan motorik.mandi.Melakukan aktivitas perwatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri .Lakukan pendekatan dari sisi yang utuh . perpaduan ( trauma / penurunan neurologi).Disorientasi waktu.d penerimaan perubahan sensori transmisi. kehilangan kontrol /koordinasi otot Ditandai dengan : . . tekanan psikologis ( penyempitan lapangan persepsi disebabkan oleh kecemasan) Ditandai .Antisipasi dan sediakan kebutuhan pasien .Mendemonstrasikan perilaku untuk kompensasi Intervensi : ..d kerusakan neuromuskuler.Menggunakan sumber bantuan dengan tepat Intervensi : .Bedakan antara afasia dengan disartria . memasang/melepas baju. .Ketidakmampuan untuk mengatakan letak organ tubuh . .Sederhanakan lingkungan .Validasi persepsi pasien 5.

Pemberian anti emetic dengan jadwal reguler . .Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau keberhasilannya.Konsultasikan dengan ahli fisioterapi/okupasi 6.D. Kesimpulan .Rujuk ahli diit .Bunyi napas bersih saaatauskultasi .Identifikasi pasien yang mengalami mual muntah Kolaborasi: . Kadar makanan yang berserat.Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi jalan napas setiap 4 jam .Kontrol faktor lingkungan (bau.Keluhan masukan makan tidak adekuat .berlemak dan pedas.Berikan oksigenasi sesuai advis .Rongga mulut terinflamasi Kriteria evaluasi: .2000 hal 293-305) BAB IV PENUTUP A.Pasang /pertahankan slang NGT untuk pemberian makanan enteral (DoengesE.Pantau masukan makanan setiap hari .Posisikan tubuh dan kepala untuk menghindari obstruksi jalan napas dan memmberikan pengeluaran sekresi yang optimal .E dan B6 . Kolaborasi.Kehilangan sensasi pengecapan .Ekspansi dada simetris . Ketidakefektifan bersihan jalan napas b. .Pasien dapat berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang nafsu makan .GDA dan tanda vital dalam batas normal Intervensi: . ketidakmampuan mengatasi lendir Kriteria hasil: .Pantau BGA dan Hb sesuai indikasi 7.d kerusakan batuk.Kaji dan pantau pernapasan. Anjurkan untuk minum banyak dan tingkatkan aktivitas. .d reflek menelan turun.Pasien mengungkapkan pemasukan adekuat Intervensi. hindari makanan terlalu manis. bising).Identifikasi kebiasaan defekasi sebelumnya dan kembalikan pada kebiasaan pola normal tersebut.Penghisapan sekresi . Marilynn.hilang rasa ujung lidah Ditandai dengan: .Pasien memperlihatkan kepatenan jalan napas . Gangguan pemenuhan nutrisi b.Berikan supositoria dan pelunak feses . reflek batuk dan sekresi ..BB stabil .Tidak terdapat tanda distress pernapasan . Ciptakan suasana makan yang menyenangkan .Ukur BB setiap hari sesuai indikasi .Dorong pasien untukmkan diit tinggi kalori kaya nutrien sesuai program .Vitamin A.

yaitu: Infark Ischemik (Stroke non Hemoragi) Hal ini terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah otak Perdarahan (Stroke Hemoragi) Terjadi pecahnya pembuluh darah otak. inc. Hipertensi b. Lumbantobing. dkk. Jakarta : EGC. Marilynn E. Faktor-faktor risiko yang dapat ditemui pada klien dengan stroke yaitu: Faktor risiko utama a. New York : William Morrow and Company.com/2008/06/asuhan-keperawatan-klien-denganstroke. Dari . Neurogeriatri. Jakarta : EGC. Hudak Gallo. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 1993. Kadar asam urat darah tinggi h. Penyakit darah tertentu seperti polisitemia dan leukemia g. Diabetes Melitus c. Tuti. A. Stroke dibagi menjadi 2 golongan. 2000. Merokok d. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Persarafan. disebabkan karena gangguan perdarahan otak. DAFTAR PUSTAKA Ancowitz.Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat.blogspot. 1996.html Pendahuluan data Salah satu cermin keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia dapat dilihat dari meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia yaitu 67 tahun untuk wanita dan 63 tahun untuk pria yang mencapai 19 juta jiwa atau 8. Penyakit Jantung d. The Stroke Book. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Lanjut Usia f. Kadar lemak darah yang tinggi termasuk kolesterol dan trigliserida b. Riwayat keluarga dengan stroke e. Pahria. Penyakit paru-paru menahun B. 2001. Doengoes.5% dari penduduk Indonesia. Jakarta : EGC. Kegemukan atau obesitas c. Transient Ischemic Attack (TIA) Faktor resiko tambahan a. http://fijaytrangkil. Keperawatan Kritis Edisi VI Volume II. 1997. Stroke juga menjadi salah satu penyebab kematian dan kecacatan neurologis yang utama. Saran Dari uraian diatas dapat kami sarankan sebaiknya para pembaca khususnya perawat dengan kasus stroke mengetahui tentang: Faktor-faktor resiko yang dapat ditemui pada klien dengan stroke laboratorium yang perlu dilakukan Cara penatalaksanaan pada stroke.

Karena itu para usia lanjut membutuhkan perhatian khusus dari keluarganya dan masyarakat. Sesuai dengan status kesehatan. Dengan demikian mereka tidak merasa kesepian dan akan mendapatkan banyak pengetahuan tentang kesehatan dismping menerima pelayanan kesehatan secara sederhana yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di puskesmas. petugas panti wreda. saling bertukar pikiran. stroke dan sebagainya. pendidikan maupun lingkungannya. untuk menghindarinya stroke perlu dikenali dan dipahami cara pencegahannya melalui pola hidup sehat seperti makan dengan gizi seimbang. usia lanjut dapat saling berdiskusi tentang pengalaman kesehatannya. kondisi ekonomi. Biasanya penyakit ini akan menyerang orang-orang berusia lanjut. berdansa/berjoget atau melakukan kegiatan apa saja yang dibutuhkan. semua orang akan mengalami masa tua dan usia lanjut yang secara alami tidak dapat dihindarkan. leaflet. Haryono.jumlah tersebut sebagian besar di antara mereka daya tahan tubuhnya sangat rentan terhadap berbagai serangan penyakit. Salah satu cermin keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia dapat dilihat dari meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia yaitu 67 tahun untuk wanita dan 63 tahun untuk pria yang mencapai 19 juta jiwa atau 8. booklet atau poster tentang upaya kesehatan lanjut usia. sehingga apa yang kita cita-citakan. Terutama penyakit yang berhubungan dengan faktor usia seperti tekanan darah tinggi. Dari jumlah tersebut sebagian besar di antara mereka daya tahan tubuhnya sangat rentan terhadap berbagai serangan penyakit. Nusantara Stroke & Medical Center menyelenggarakan seminar untuk meminimalkan angka kejadian stroke yang dialami para lanjut usia (lansia) pada tanggal 6 Juli 2004. sosial budaya. Terutama penyakit yang berhubungan dengan faktor usia seperti tekanan darah tinggi. Keterbatasan gerak dan kelincahannya serta usia pensiun yang menyebabkan usia lanjut cenderung menurun dan kemudian akan mempengaruhi mental serta kehidupan sosialnya. usia lanjut mempunyai pola hidup yang berbeda satu dengan lainnya. Pada usia tersebut akan terjadi kemunduran sel-sel yang dapat mempengaruhi fungsi dan kemampuan sistem tubuh termasuk syaraf. senam bersama. termasuk kebutuhan kesehatannya. yaitu terbentuknya klub stroke berbasis masyarakat bisa . serangan jantung. jantung dan pembuluh darah. cukup istirahat dan olah raga. serangan jantung. namun tidak tertutup kemungkinan menyerang meraka yang berusia muda akibat perubahan pola hidup dan gaya hidup. Di dalam kelompok ini. perlu dilakukan pengkajian kebutuhan kesehatan usia lanjut. serta penyediaan bukubuku. Mengingat hal itu. pengasuh usia lanjut. Bukan hanya itu Yastroki sebagai suatu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli terhadap stroke dan usia lanjut. Diakuinya. Untuk mengantisipasi Hal tersebut. berharap di masa mendatang dapat dikembangkan berbagai kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia melalui berbagai pelatihan bagi keluarga. Stroke merupakan suatu penyakit yang menyerang syaraf otak manusia sehingga mereka yang terkena serangan strokeakan mengalami kelumpuhan sebagian anggota tubuhnya tergantung susunan syaraf bagian mana yang terserang. Karenanya. Namun kondisi saat ini menyebabkan para anggota keluarga banyak yang bekerja maupun mempunyai kegiatan di luar rumah menyebabkan para usia lanjut merasa tersisihkan. stroke dan sebagainya. Meski begitu. tidak merokok dan sebagainya agar suatu saat nanti para usia lanjut tidak segera mengalami kepikunan dan masih dapat hidup mandiri bahkan produktif. Berbgai masalah yang dihadapi usia lanjut anatara lain penyakit yang biasanya betsifat kronis dan memerlukan penanganan speialistik sehingga membutuhkan waktu relatif lama dan biaya tinggi. dapat mengembangkan ataupun memfasilitasi pembentukan kelompok usia lanjut binaan sebagai suatu wadah kegiatannya sebagai model kegiatan dalam rangka peningkatan kualitas hidup usia lanjut. Menurut Komisaris Utama NSMC Prof Dr Haryono Suyono.5% dari penduduk Indonesia. kebutuhan usia lanjut pun dapat berbeda.

5 juta. Para usia lanjut yang terpaksa harus tinggal di rumah karena lemah atau pasca perawatan dan membutuhkan perawatan kesehatan dapat dibantu dengan ?Perawatan Kesehatan Usia Lanjut di rumah? yang biasa dikenal dengan Home Care melalui pemberdayaan keluarga dan masyarakat.5 juta jiwa dari seluruh jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 220 juta jiwa. Ia berada di Banjarmasin untuk menghadiri acara sosialisasi perlindungan perempuan lansia dan penyandang cacat tingkat Kota Banjarmasin. Kamis (18/9/2008). Sedangkan ramalan pihak badan kesehatan dunia WHO bahwa penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2020 mendatang sudah mencapai angka 11. angka kelahiran sudah tidak terlalu meningkat lagi. tetapi melihat tingkat kesehatan dan kesejahteraan belakangan ini maka lansia merupakan sebuah kehidupan. �Jumlah lansia saat ini sekitar 16. termasuk di dalamnya lansia yang masih potensial.id/read. Menurutnya. Depsos.34% atau tercatat 28. “Menjadi lansia bukanlah pilihan. Jumat (22/5). Menurutnya. Mereka yang masih produktif khususnya perempuan bisa diarahkan ke dalam kegiatan ekonomi produktif.9% yang menyebabkan jumlah penduduk lansia terbesar di dunia. [kpl/rif/foto 22/5/2009 (Kominfo-Newsroom) � Jumlah orang lanjut usia (lansia) di Indonesia saat ini sekitar 16. Pada tahun 2005 kondisi komposisi penduduk Indonesia telah berubah yang menjadikan penduduk lansia mencapai 7% dan balita 8. Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan RI. sementara penduduk kategori usia di bawah lima tahun (balita) sebesar 16. tetapi jumlah angka harapan hidup yang terus meningkat. dan jumlahnya dari tahun ke tahun terus meningkat.” kata Deputi Bidang Perlindungan Perempuan. tahun 1980 jumlah lansia masih 7 juta jiwa. Pada tahun 1971 lalu penduduk Indonesia yang dikategorikan lansia masih sekitar 4. Namun pada tahun 2000 jumlah lansia Indonesia sudah mencapai tiga kali lipat yakni menjadi 14. khususnya perempuan di mana usia perempuan akan lebih panjang.8 juta orang.COM] . Subagio menjelaskan penduduk yang disebut lansia adalah yang berusia di atas dari 60 tahun.2%. makanya perlu antisipasi dan penanganan dalam menghadapi boom lansia tersebut. Subagio di Banjarmasin. RIS http://www. atau 5.5%. Usia lanjut khususnya perempuan bukan berarti tidak meninggalkan masalah di tengah masyarakat.or. ada lansia yang memang tidak produktif ditangani secara khusus. Melihat tingkat kesehatan dan kesejahteraan kian membaik maka angka harapan hidup penduduk Indonesia juga kian meningkat pula.� kata Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial (Yanrehsos).3 juta orang. tetapi ada pula lansia walau udah tua tetapi masih produktif.terwujud.4 juta orang. Makmur Sunusi pada konperensi pers dalam rangka Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) Tahun 2009 di Jakarta.php?id=124 KAPANLAGI. kemudian tahun 1990 naik menjadi .Pihak Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia memprediksi akan terjadi lonjakan (boom) jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di negara Indonesia menyusul kian membaiknya tingkat kesejahteraan yang diiringi kian membaiknya pula tingkat derajat kesehatan masyarakat. Menurut Subagio terdapat dua model penanganan lansia.yastroki. Drs. balitanya tinggal 6. komposisi penduduk Indonesia belakangan ini kian terbalik. yang pada gilirannya akan menimbulkan jumlah penduduk lansia terus membengkak secara drastis.1%.

dalam acara sosialisasi kebijakan penanganan lansia di Yogyakarta.16%). Sumatra Utara. Pelayanan tersebut dilakukan melalui pusat-pusat pelayanan sosial. dan tahun 2020 menjadi 28 juta orang lebih. antisipasi ledakan lansia di Binjai dilakukan dengan model pendekatan senior center.5 juta orang. "Harus ada upaya antisipasi karena lansia merupakan kelompok umur yang kurang berdaya sehingga menjadi beban masyarakat. katanya. Namun karena terbatasnya anggaran.12 juta orang. Toni Hartono dalam kesempatan sama mengatakan.02%).Dari jumlah tersebut. maka diprioritaskan bagi lansia yang non-potensial atau terlantar. http://www. keluarga. Inten Suweno. Jawa Timur (11. jumlah lansia yang terlayani kurang lebih lima persen dari jumlah lansia terlantar yang menurut data Pusdatin Kesos tahun 2008 sebanyak 1.Lies kembali mengatakan. han.96 juta orang. Lies Rostianty. dan Binjai. panti jompo. Lansia dan Penyandang Cacat. untuk kota percontohan. Tangerang. diperkirakan jumlah lansia mencapai 23 juta jiwa. baik yang potensial maupun yang tidak potensial. sebenarnya. Selain itu juga merencanakan untuk mensosialisasikan konsep Menua Secara Aktif. kontribusi Komnas Lansia dalam HLUN antara lain dalam acara Temu Nasional Bina Keluarga Lansia (BKL) yang diselenggarakan BKKBN diminta menjadi pembicara utama yang disampaikan Ketua Komnas Lansia. di antaranya dengan melakukan pendekatan komunitas dan keluarga.” katanya. Karena itu. dan lain-lain. Jumlah lansia diperkirakan naik mencapai 11. baik di tengah masyarakat maupun dalam proses pembangunan. yaitu di Tulungagung.34% dari jumlah penduduk di Indonesia.depkominfo. baru bisa menampung sekitar 80 ribuan lansia. Dikemukakan. “Dengan konsep Menua Secara Aktif. artinya jangan menunggu kapan masuk panti jompo.id/berita/bipnewsroom/jumlah-lansia-di-indonesia-165juta-orang/ BEBERAPA wilayah di Indonesia akan mengalami ledakan penduduk lansia (lanjut usia) pada 2010 hingga 2020. Ia menjelaskan bahwa pada peringatan HLUN tahun 2009 ini. mendapatkan pelayanan yang sama. 14% di antaranya berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Depsos akan melaksanakan launching Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU) Tahun 2009 oleh Menteri Sosial di Puspitek. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. dan Bali (11. . Disusul Provinsi Jawa Tengah (11. Tahun 2010.6 juta orang. Jawa Timur. sedangkan tahun 2000 naik menjadi 14 juta jiwa. kita punya dua kota perconto. maka seseorang walaupun telah pensiun tetap diusahakan supaya terus aktif. semua lansia yang jumlahnya saat ini sekitar 16. atau yang merupakan daerah paling tinggi jumlah lansianya. Sementara itu Sekjen Komnas Lansia. Ia mengatakan. Depsos akan mencoba mencari solusi. katanya.14%). Untuk masalah ini. Sabtu (19/12). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2007. jumlah lansia di Indonesia mencapai 18. Namun panti sosial-panti sosial yang jumlahnya sebanyak 243 unit. dan pemerintah.go." kata Asisten Deputi Urusan Perempuan.

" http://bataviase.Sementara itu.id/detailberita-10423665. Data di Kota Yogyakarta. yaitu pendekatan penanganan dengan melibatkan peranan keluarga dan masyarakat. luas Kota Yogyakarta kecil sehingga akses terhadap fasilitas kesehatan mudah dijangkau. percontohan di Tulunggagung dilakukan dengan pendekatan homecare. kita memiliki 598 kelompok lansia yang secara rutin kita bina.Tinggi harapan hidup Sementara itu. Ketua Pokja Peningkatan. Pemeliharaan Intelegensi Lansia.Model itu diterapkan dengan mengumpulkan para lansia dan mereka melakukan kegiatan secara terarah mulai dari kegiatan kesehatan. misalnya. rohani hingga rekreasi.co. Pemerintah Kota Yogyakarta Tri Kirana mengatakan tingginya angka lansia di DIY disebabkan karena angka harapan hidupnya juga tinggi.html . harapan hidupnya mencapai usia 77 tahun (perempuan) dan 75 tahun (laki-laki). keterampilan. Tingginya harapan hidup itu karena secara geografis."Untuk memberdayakan dan pendampingan terhadap lansia yang ada.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful