A.

Pendahuluan Setiap mahluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan kehidupannya, karena didalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan kegiatan metabolismenya. Bagi lansia pemenuhan kebutuhan gizi yang diberikan dengan baik dapat membantu dalam proses beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang dialaminya selain itu dapat menjaga kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia. Kebutuhan kalori pada lansia berkurang karena berkurangnya kalori dasar dari kebutuhan fisik. Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk malakukan kegiatan tubuh dalam keadaan istirahat, misalnya : untuk jantung, usus, pernafasan dan ginjal. Berdasarkan kegunaannya bagi tubuh, zat gizi dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu : 1. Kelompok zat energi, termasuk ke dalam kelompok ini adalah :

• Bahan makanan yang mengandung karbohidrat seperti beras, jagung, gandum, ubi, roti,
singkong dan lain-lain, selain itu dalam bentuk gula seperti gula, sirup, madu dan lain-lain.

• Bahan makanan yang mengandung lemak seperti minyak, santan, mentega, margarine, susu
dan hasil olahannya.

2. Kelompok zat pembangun Kelompok ini meliputi makanan – makanan yang banyak mengandung protein, baik protein hewani maupun nabati, seperti daging, ikan, susu, telur, kacangkacangan dan olahannya.

3. Kelompok zat pengatur Kelompok ini meliputi bahan-bahan yang banyak mengandung vitamin dan mineral, seperti buahbuahan dan sayuran.

B. Faktor yang mepengaruhi Kebutuhan Gizi pada Lansia

• Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong. • Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin,
asam, dan pahit.

• Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran. • Rasa lapar menurun, asam lambung menurun. • Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi. • Penyerapan makanan di usus menurun.

C. Masalah Gizi pada Lansia 1. Gizi berlebih Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalai pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan. Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi. 2. Gizi kurang Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi. 3. Kekurangan vitamin Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.

D. Pemantauan Status Nutrisi 1. Penimbangan Berat Badan a. Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali, waspadai peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari 0.5 Kg/minggu. Peningkatan BB lebih dari 0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko terhadap kelebihan berat badan dan penurunan berat badan lebih dari 0.5 Kg /minggu menunjukkan kekurangan berat badan. b. Menghitung berat badan ideal pada dewasa : Rumus : Berat badan ideal = 0.9 x (TB dalam cm – 100) Catatan untuk wanita dengan TB kurang dari 150 cm dan pria dengan TB kurang dari 160 cm, digunakan rumus : Berat badan ideal = TB dalam cm – 100 Jika BB lebih dari ideal artinya gizi berlebih Jika BB kurang dari ideal artinya gizi kurang

2. Kekurangan kalori protein Waspadai lansia dengan riwayat : Pendapatan yang kurang, kurang bersosialisasi, hidup sendirian, kehilangan pasangan hidup atau teman, kesulitan mengunyah, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, sulit untuk menyiapkan makanan, sering mangkonsumsi obat-obatan yang mangganggu nafsu makan, nafsu makan berkurang, makanan yang ditawarkan tidak mengundang selera. Karena hal ini dapat menurunkan asupan protein bagi lansia, akibatnya lansia menjadi lebih mudah sakit dan tidak bersemangat. 3. Kekurangan vitamin D Biasanya terjadi pada lansia yang kurang mendapatkan paparan sinar matahari, jarang atau tidak pernah minum susu, dan kurang mengkonsumsi vitamin D yang banyak terkandung pada ikan, hati, susu dan produk olahannya.

E. Perencanaan Makanan untuk Lansia - Perencanaan makan secara umum 1. Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. 2. Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil. Contoh menu :

• Pagi : Bubur ayam • Jam 10.00 : Roti • Siang : Nasi, pindang telur, sup, pepaya • Jam 16.00 : Nagasari • Malam : Nasi, sayur bayam, tempe goreng, pepes ikan, pisang

3. Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah tinggi. 4. Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang berlemak seperti santan, mentega dll. 5. Bagi pasien lansia yang prose penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

• Makanlah makanan yang mudah dicerna

melembutkan feses. Siapkan makanan dan minuman yang akan diberikan Posisikan pasien duduk atau setengah duduk. dan sayuran hijau. roti dan sereal. 5.• Hindari makanan yang terlalu manis. tergantung pada laksatif. makanan harus lunak/lembek atau dicincang • Makan dalam porsi kecil tetapi sering • Makanan selingan atau snack. boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan. gurih. hati. bayam. atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng . karena pasien akan menjadi dan buah-buahan segar. Cara Memberi Makan Melalui Mulut (oral) 1. 4. posisi pasien tetap dipertahankan selama ± 30 menit. daging rendah lemak. 2. Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan. Selaraskan kecepatan pemberian makan dengan kesiapan pasien. Prinsip Pemberian Makan Melalui Sonde (NGT) . telur. susu. Batasi minum kopi atau teh. 6. 3. dan goring-gorengan • Bila kesulitan mengunyah karena gigirusak atau gigi palsu kurang baik. G. F. buah. 7. Sarankan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi setiap hari. direbus. 3. dan sari buah sebaiknya diberikan 6. Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus. 7. seperti sayuran Anjurkan pasien untuk minum paling sedikit 8 gelas cairan setiap hari untuk Anjurkan untuk tidak menggunakan laksatif secara rutin .Perencanaan makan untuk mengatasi perubahan saluran cerna Untuk mengurangi resiko konstipasi dan hemoroid : 1. Berikan sedikit minum air hangat sebelum makan. Biarkan pasien untuk mengosongkan mulutnya setelah setiap sendokan. 2. 8. ingin dimakan. pemberian makan terlalu cepat atau lambat. tanyakan Perbolehkan pasien untuk menunjukkan perintah tentang makanan pilihan pasien yang Setelah selesai makan.

http://www. 5. 4. air. babat. 3. kacang tanah. santan. nasi jagung. kacang merah. Contoh Bahan Makanan untuk Setiap Kelompok Makanan 1. Prinsip Lima benar Pemberian Obat Oral 1. Adapun prinsip pemberiannya adalah sebagai berikut : 1. 2. Siapkan makanan cair dan minuman hangat Naikkan bagian kepala tempat tidur 30 – 45 derajat pada saat memberi makan dan 30 Bilas selang sonde dengan air hangat terlebih dahulu. Benar cara pemberian yaitu melalui oral : berikan obat melalui mulut atau sonde. Laporkan adanya mual dan muntah dengan segera. singkong. 4. roti . jika selang longgar beritahu perawat. Bahan makanan sumber lemak (zat energi) : Minyak goreng. 2. margarin. misalnya 3 x 1 berarti diingat jenis obat antibiotik harus diberikan sampai habis. kelapa parut.Pemberian makan melalui sonde ditujukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien yang memiliki masalah dalam menelan dan mengunyah makanan. Bahan makanan sumber karbohidrat (zat energi) : nasi. tepung terigu. Benar obat : obat yang diberikan harus sesuai dengan resep dokter. Lakukan perawatan kebersihan mulut dengan sering. Pastikan pula selang dalam keadaan tertutup selama tidak diberi makan. kacang kedelai. bubur beras. minyak ikan. tahu. hati. udang. kentang. Pastikan tidak ada udara yang masuk ke dalam sonde pada saat memberi makan atau Periksa kerekatan selang. tempe. 4. crakers. 7. obat diberikan setiap 8 jam dalam 24 jam . biskuit. 6. jika 2 x1 berarti obat diberikan setiap 12 jam sekali. menit setelah memberi makan. Penting Benar pasien : Pastikan obat diminum oleh pasien yang bersangkutan.com/lanjut-usia/527-kebutuhan-nutrisi-pada-lansia . Bahan makanan sumber protein nabati : Kacang ijo. tepung beras. kelapa. telur. 3. usus. Bahan makanan sumber protein hewani : Daging sapi. maizena. Benar dosis : jumlah obat yang diberikan tidak dikurangi atau dilebihkan. bihun. I. 3. oncom. Benar waktu : Pastikan pemberian obat tepat pada jadwalnya. lemak daging. ikan. 5. 2. tepung hunkwe.smallcrab. mie. H. daging ayam. seperti pada pasien-pasien stoke. ubi. talas.

Rekomendasi target dari panduan internasional tersebut adalah tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg bagi . dan tekanan mental. karena umumnya lebih menetap dan membebani kerja jantung. Responnya pun sangat rendah. bertambahnya jumlah darah yang dipompa jantung. kelebihan berat badan. Untuk satu kali pemeriksaan. JNC-VII-USA pada Mei 2003. Karenanya. Dalam langkah terapi optimal hipertensi (HOT). Penanganan hipertensi meliputi kombinasi pemberian obat. Panduan penatalaksanaan hipertensi yang disusun WHO. Penderita pun perlu mengontrol tekanan darahnya secara rutin. Hipertensi atau tekanan darah tinggi sudah menjadi gejala umum penyakit tekanan darah di dunia. Bahkan. Upaya yang dilakukan selama ini adalah dengan menerapkan terapi kontrol tekanan darah. pasien lanjut usia. untuk monoterapi dengan pengobatan tunggal. terapi kombinasi sangat diperlukan. hipertensi pun kerap menghinggapinya. seperti komplikasi pembesaran jantung. dianggap tak mencukupi karena tekanan darah cenderung berubah-ubah dari jam ke jam. terapi sudah dapat dimulai dengan cara kombinasi. hanya efektif untuk mengontrol tekanan dengan hasil mencapai 40 persen sampai 50 persen pasien. penyakit pada ginjal. terapi tersebut menimbulkan pengaruh yang berbeda pada tiap orang. Untuk pengecekan tekanan darah. Ternyata. Pada mereka yang hamil. dan pecahnya pembuluh darah otak.Penyebab tekanan darah yang paling sering adalah aterosklerosis atau penebalan dinding arteri yang membuat hilangnya elastisitas pembuluh darah. merekomendasikan pada pasien hipertensi dengan berbagai risiko untuk mencapai target penurunan tekanan darah yang diinginkan. pengaturan diet. perlu dilakukan dua atau tiga kali pemeriksaan. 9 Maret. dalam penelitian yang dilakukan PT Boehringer Ingelheim (PBI).net . kelenjar adrenal.Terapi Kombinasi pada Hipertensi Selasa. dan gemuk. Sebab lainnya adalah faktor keturunan. Terapi itu dilakukan pada umumnya dengan cara oral atau obat. terdapat terapi tunggal dan kombinasi. Orang dianggap menderita hipertensi bila tekanan sistolik di atas 140 mmHg (milimeter air raksa) dan atau tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Dari awal. Penyebab tekanan darah yang paling sering adalah aterosklerosis atau penebalan dinding arteri yang membuat hilangnya elastisitas pembuluh darah. Tekanan darah tinggi merupakan peningkatan tekanan darah yang menetap di atas batas normal. Monoterapi tak cukup memberikan kontrol tekanan darah yang efektif terhadap pasien dengan berbagai faktor risiko seperti diabetes. stroke. stres. Namun. 2004 oleh: gklinis Terapi Kombinasi pada Hipertensi Gizi. Kenaikan tekanan darah diastolik dipandang lebih berbahaya daripada sistolik. penyakit jantung koroner. hipertensi ini bisa juga menyebabkan kematian. Pengobatan hipertensi selama ini didasarkan pada penyebabnya. dan olahraga. dan sistem syaraf sipatis. penyakit jantung koroner. Akibat dari hipertensi bisa beragam.

papar Diener. Penyampaian ini dilakukan beberapa waktu lalu di Jakarta. suplemen Medika. Keuntungan terapi kombinasi adalah adanya dua zat aktif dalam satu tablet hingga mudah dan praktis dipakai. Tak hanya itu saja. 10 Februari 2004 Laporan : wed http://www. kontrol tekanan darah lebih optimal dibandingkan monoterapi. dipyridamole Iepas lambat dan kombinasi keduanya. dan samar ganda untuk mengetahui efektivitas dan keamanan pemberian ASA dosis rendah. risiko stroke sekunder dengan kombinasi kedua pengobatan ini menurunkan risikonya dua kali lipat lebih efektif dibanding terapi tunggal dari kedua pengobatan tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Prof Dr Jose Roesma PhD SpPD-KGH. Setelah dua tahun. tentang penggunaan pengobatan kombinasi yang rasional.602 orang. Artinya. tim peneliti menyimpulkan bahwa ASA dosis rendah dan dipyridamole efektif menurunkan risiko stroke secara jelas (1:1. Penelitian di Eropa Dalam penelitian yang dipimpin oleh HC Diener dengan dukungan PBI. penelitian ini menunjukkan. HC Diener mengawali studi ini secara random. dan pada dipyridamole menjadi 16 persen. Terapi ini menggunakan zat aktif dari berbagai kelas obat antihipertensi dengan efek berbeda tapi saling melengkapi. Dibandingkan dengan kelompok plasebo. dosisnya lebih kecil daripada dosis monoterapi sehingga efek samping yang terjadi relatif juga lebih rendah.net/cgi-bin/berita/fullnews. "Sedangkan.cgi?newsid1078805826. Penelitian European Stroke Prevention Study kedua (ESPS-2) ini meliputi 59 klinik dari 13 negara dengan responden sebanyak 6. termasuk risiko stroke dengan kematian (1:100). plasebo kontrol. Keuntungan utama dari terapi ini adalah biaya terapi yang lebih rendah.57204. Selasa. berkurang 18 persen. dalam seminar yang diselenggarakan Boehringer Ingelheim. risiko stroke pada ASA. dan kurang dari 125/85 mmHg pada pasien hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal dan proteinurea yang lebih dari 1 gram per 24 jam.000). merinci studi pencegahan stroke di Eropa. Terapi kombinasi sangat efektif bagi pasien angiotensin II receptor antagonist (AIIRA) dan diuretik (hydrochlorothiazide-HCTZ). . Untuk terapi kombinasi keduanya. Fokusnya adalah pada pengobatan telmisartan dan HCTZ.pasien tanpa faktor risiko.gizi. Sumber: Koran Republika. kurang dari 130/85 mmHg pada pasien hipertensi dengan diabetes atau gangguan fungsi ginjal. terdapat penurunan risiko stroke menjadi 37 persen." ujar Jose. Terapi kombinasi sangat efektif menurunkan tekanan darah sistolik pada lanjut usia dan pasien dengan berbagai risiko. Studi ini membuktikan efektivitas kombinasi dipyridamole lepas lambat dengan ASA (acetyl salicyl acid) dalam mencegah stroke sekunder atau TIA (transiet ischemic attack). Pasien dengan terapi kombinasi.

80% stroke adalah stroke Iskemik.Gejala. Stroke Trombotik: proses terbentuknya thrombus yang membuat penggumpalan. Stroke iskemik yaitu tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti. Stroke iskemik ini dibagi menjadi 3 jenis. yaitu : 1. Stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak. Penyebab. WHO mendefinisikan bahwa stroke adalah gejala-gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan bukan oleh yang lain dari itu. penyempitan atau pecahnya pembuluh darah. 2. Stroke hemoragik ada 2 jenis. 3. Hampir 70% kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi. dan Akibat Stroke Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini bisa dikarenakan adanya sumbatan. 2. Tanda dan Gejala-gejala Stroke Berdasarkan lokasinya di tubuh. Hemoragik Subaraknoid: pendarahan yang terjadi pada ruang subaraknoid (ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak). yaitu: 1. Hipoperfusion Sistemik: Berkurangnya aliran darah ke seluruh bagian tubuh karena adanya gangguan denyut jantung. Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu: stroke iskemik maupunstroke hemorragik. Hemoragik Intraserebral: pendarahan yang terjadi didalam jaringan otak. Stroke Embolik: Tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah. gejala-gejala stroke terbagi menjadi berikut: .

000 penduduk yang terkena stroke. Batang otak. peribahasa itulah yang tepat bagi penderita Stroke. Derita Pasca Stroke Sudah Jatuh tertimpa Tangga Pula. suasana hati yang tidak nyaman (marah-marah). apraxia. Kurang olahraga. Jika tanda-tanda dan gejala tersebut hilang dalam waktu 24 jam. Pemicu stroke pada dasarnya adalah. 80% pemicu stroke adalah hipertensi dan arteriosklerosis. Makanan tidak sehat (junk food. Faktor resiko perilaku. Obesitas. 3. Hanya 10-15 % penderita stroke bisa kembali hidup normal seperti sedia kala. 1/3 --> mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang. sisanya mengalami cacat. lidah lemah. Faktor Penyebab Stroke Faktor resiko medis. Aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah). Menurut statistik. Narkoba. Proses alami ini selesai dlm waktu 3 bulan. dan melihat parsial atau keseluruhan. dimana terdapat 12 saraf kranial: menurun kemampuan membau. Cerebral cortex: aphasia. Setelah stroke. 1/3 sisanya --> mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di kasur. sehingga banyak penderita Stroke menderita stress akibat kecacatan yang ditimbulkan setelah diserang stroke. pernafasan dan detak jantung terganggu. Dari jumlah tersebut: • • • 1/3 --> bisa pulih kembali. Gangguan jantung. Kolesterol. Migrain. mengecap. mendengar. daya ingat menurun. sel otak mati dan hematom yg terbentuk akan diserap kembali secara bertahap. hemineglect. Akibat Stroke lainnya: . antara lain Hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi). Kontrasepsi oral. merokok dan senang mengkonsumsi makanan yang berlemak. Bagian sistem saraf pusat : Kelemahan otot (hemiplegia). Pada saat itu. fast food). Mendengkur. ekspresi wajah terganggu. dimana merupakan serangan kecil atau serangan awal stroke. 93% pengidap penyakit trombosis ada hubungannya dengan penyakit tekanan darah tinggi. refleks menurun. kebingungan. antara lain Merokok (aktif & pasif). Alkohol. diabetes. Riwayat stroke dalam keluarga. 1/3 orang yang selamat menjadi tergantung dan mungkin mengalami komplikasi yang dapat menyebabkan kematian atau cacat Diperkirakan ada 500. menurunnya fungsi sensorik 2. dinyatakan sebagai Transient Ischemic Attack (TIA).1. terlalu banyak minum alkohol. kaku.

kita perlu mengetahui gejala-gejala yang sering terjadi pada serangan stroke. penghindari stress hingga meminum obat atau suplemen untuk menjaga kesehatan pembuluh darah hingga dapat mencegah terjadinya Stroke. akibat kesibukan yang padat. 80-90% bermasalah dalam berpikir dan mengingat. 70% menderita depresi. Untuk dapat memberikan pertolongan yang maksimal kepada penderita stroke.blogspot. juga yang menderita stroke adalah tulang punggung keluarga yang biasanya kurang melakukan gaya hidup sehat. menelan. Selain karena besarnya biaya pengobatan paska stroke . Stroke sangat dapat dicegah. Hampir 85% dari semua stroke dapat DICEGAH . dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang relatif sangat singkat. Stroke juga tak lagi menjadi milik warga kota yang berkecukupan . Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga. olahraga teratur. Hidup BEBAS tanpa STROKE merupakan dambaan bagi semua orang. Stroke tak lagi hanya menyerang kelompok lansia. Karena Ancaman stroke hingga merenggut nyawa dan derita akibat stroke.• • • • 80% penurunan parsial/ total gerakan lengan dan tungkai. membedakan kanan dan kiri. Tak heran semua orang selalu berupaya untuk mencegah Stroke atau mengurangi faktor risiko dengan menerapkan pola hidup sehat. namum kini cenderung menyerang generasi muda yang masih produktif. . 30 % mengalami kesulitan bicara. 29 Apr 2006 01:44:41 -0700 Stroke Dan Gejalanya Stroke dengan serangannya yang akut. namun juga dialami oleh warga pedesaan yang hidup dengan serba keterbatasan.com/2009/03/hidup-sehat-tanpa-stoke. Diposkan oleh Petrus di 21:12 http://langgocity.html [sukasukamu] Stroke Dan Gejalanya yundini3001 Sat.

riwayat keluarga dengan stroke. seperti banyaknya konsumsi lemak dan kolestrol. Adapun faktor-faktor lain yang juga merupakan resiko tinggi adalah pertambahan usia. sehingga digolongkan penyakit kronis. maka organ yang dikendalikan . kurang makanan berserat seperti sayur dan buah-buahan. selain faktor resiko bawaan misalnya riwayat keluarga hipertensi. jenis kelamin. maka faktor penyebabnya hampir sama sama dengan faktor pada penyakit jantung. kelebihan berat badan. pria berisiko sedikit lebih tinggi daripada wanita. kurang olah raga. Otak adalah organ yang mengatur segala fungsi tubuh. karena stroke.Gejala-gejala stroke diakibatkan kerusakan pada pembuluh darah yang memperdarahi otak. serta yang sangat penting adalah hipertensi. Penyebab yang paling mungkin adalah gaya hidup Anda. Kerusakan ini proses kejadiannya membutuhkan waktu lama. bila Anda mengidap diabetes mellitus pastikan Anda dan dokter Anda bekerja sama dengan baik dalam manajemennya. merokok. yang memang sudah dimiliki sejak lahir. Apabila ada kerusakan pada bagian otak tertentu. konsumsi alkohol. riwayat adanya diabetes mellitus. seperti juga penyakit jantung dapat diturunkan. Karena stroke disebabkan ganguan pada pembuluh darah.

melihat dan mendengar serta gangguan berkemih (inkontinensia urin). • mulut mencong. • terasa kesemutan/terbakar separo badan. maka penderitanya menjadi tidak dapat bicara. gangguan bicara. Demikian pula halnya jika bagian-bagian lain terganggu. • bicara tidak lancar. • bicara tidak keruan. pelupa dan lain sebagainya. bicara pelo. Gejala-gejala yang kerap terjadi pada stroke antara lain adalah: • lumpuh separo badan. . penderita biasanya menjadi tidak sadar dan mengalami henti nafas akibat gangguan pada batang otak. Pada serangan stoke berat. • sulit menelan. gangguan sensorik.oleh bagian otak tersebut akan mengalami gangguan fungsi atau bahkan kematian jaringan. • lidah mencong bila dijulurkan. gangguan yang disebabkan oleh stroke dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis gangguan seperti gangguan kesadaran. Secara umum. Sebagai contoh. • bicara pelo. jika bagian otak yang mengatur fungsi bicara mengalami gangguan suplai darah. dan dapat mengakibatkan penderitanya menjadi lumpuh separo badan. • sulit berbahasa. gangguan proses berpikir. tidak merasa separo badan. kelemahan anggota tubuh. • bila minum atau makan mudah keselek.

penderita masih memperlihatkan gejala-gejala seperti diatas. Sel-sel otak tidak mempunyai cadangan energi seperti halnya sel otot. bila terlambat ditangani. dapat terjadi kerusakan permanen seumur hidup. Perlu diingat. Dengan penanganan yang segera. sehingga sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah dalam arteri. • tidak dapat membaca/menulis. atau sel lain dalam tubuh. kerusakan otak dapat diperkecil semaksimal mungkin. • kepintaran menurun. • tidak dapat memahami tulisan. atau bahkan kematian.• tidak dapat memahami perkataan orang lain. Akibatnya dapat diderita hingga beberapa tahun setelah terjadi. tergantung dari kerusakan otak yang diakibatkan oleh stroke. mungkin penderita mengalami gangguan yang lebih berat sehingga perlu pemeriksaan lanjutan. stroke tidak hanya mempengaruhi lansia . • menjadi sering pusing kepala. Stroke dapat menyerang secara tiba-tiba dan tanpa pertanda sebelumnya. Setelah satu minggu pasca serangan. atau seumur hidup. Namun bila setelah 2 minggu. • pelupa. • penglihatan/pendengaran mengalami gangguan. banyak penderita yang terlihat pulih sama sekali sehngga kita boleh optimis bahwa serangan yang ringan. Namun. • berjalan sulit.

html ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI PENGERTIAN Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. rehabilitasi. http://www.2001) Menurut WHO ( 1978 ). tekanan darah sama dengan atau diatas 160 / 95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. dan biaya yang banyak. Malah akhir-akhir ini terjadi banyak peningkatan kejadian stroke pada orang-orang muda. Pada populasi lansia.com/msg00133.com/sukasukamu@yahoogroups.namun juga dapat terjadi pada orang-orang muda. Dampak dari stroke sulit diobati dan memerlukan waktu. akibat gaya hidup yang merupakan faktor risiko terjadinya stroke. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg. KLASIFIKASI Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas : ( Darmojo. 1999 ) Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg.mail-archive. Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu : Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain . Pencegahan adalah jalan paling bijaksana untuk menghindari stroke. (Smeltzer.

ETIOLOGI Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan – perubahan pada : Elastisitas dinding aorta menurun Katub jantung menebal dan menjadi kaku Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. Faktor tersebut adalah sebagai berikut : Faktor keturunan Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi Ciri perseorangan Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah: Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat ) Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan ) Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih ) Kebiasaan hidup Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah : Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ) Kegemukan atau makan berlebihan Stress Merokok Minum alcohol Minum obat-obatan ( ephedrine. Kehilangan elastisitas pembuluh darah Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya. epineprin ) Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah : Ginjal Glomerulonefritis Pielonefritis Nekrosis tubular akut Tumor . prednison. data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi.

neuron preganglion melepaskan asetilkolin. kelenjar adrenal juga terangsang. menyebabkan pelepasan rennin. yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh . yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Pada titik ini.Vascular Aterosklerosis Hiperplasia Trombosis Aneurisma Emboli kolestrol Vaskulitis Kelainan endokrin DM Hipertiroidisme Hipotiroidisme Saraf Stroke Ensepalitis SGB Obat – obatan Kontrasepsi oral Kortikosteroid PATOFISIOLOGI / PATHWAY Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor. pada medulla diotak. meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah. yang menyebabkan vasokonstriksi. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. suatu vasokonstriktor kuat. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin. Medulla adrenal mensekresi epinefrin. yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal.

1999). Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. TANDA DAN GEJALA Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah. Kesadaran menurun. Mual Muntah. Sesak nafas. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis. Epistaksis. Menurut Rokhaeni ( 2001 ). anemia. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. kelelahan. menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo. BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal Glukosa Hiperglikemi ( diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi ) dapat diakibatkan oleh peningkatan katekolamin ( meningkatkan hipertensi ) Kalium serum . 2001). Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur. PEMERIKSAAN PENUNJANG Hemoglobin / hematokrit Untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume cairan ( viskositas ) dan dapat mengindikasikan factor – factor resiko seperti hiperkoagulabilitas. hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah. Konsekuensinya. manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala. Gelisah. pusing Lemas. yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah.tubulus ginjal. Gejala yang lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer.

perbesaran jantung CT scan Untuk mengkaji tumor serebral. Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi : Terapi tanpa Obat Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. gangguan konduksi. Asam urat Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi Steroid urin Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme IVP Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal. peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi PENATALAKSANAAN Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama ( penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik. pola regangan. protein. batu ginjal / ureter Foto dada Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub. Kalsium serum Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi Kolesterol dan trigliserid serum Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler ) Pemeriksaan tiroid Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi Kadar aldosteron urin/serum Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab ) Urinalisa Darah. glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes. ensefalopati EKG Dapat menunjukkan pembesaran jantung. Terapi tanpa obat ini meliputi : .

dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan ) Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu Edukasi Psikologis Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi : Tehnik Biofeedback Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal. Terapi dengan Obat Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan .Diet Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah : Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh Penurunan berat badan Penurunan asupan etanol Menghentikan merokok Latihan Fisik Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu : Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari. berenang dan lain-lain Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain. jogging. bersepeda. Tehnik relaksasi Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan.

1988 ) menyimpulkan bahwa obat diuretika. beta blocker. dapat berupa diuretika . USA. tekanan darah hanya dapat diketahui dengan mengukur memakai alat tensimeter . namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan morbiditas dan mortilitas Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan tingginya tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya. beta blocker. antagonis kalsium. Alpa blocker. vasodilator Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuh Obat ke-2 diganti Ditambah obat ke-3 jenis lain Step 4 : Alternatif pemberian obatnya Ditambah obat ke-3 dan ke-4 Re-evaluasi dan konsultasi Follow Up untuk mempertahankan terapi Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan ( perawat. ACE inhibitor Step 2 Alternatif yang bisa diberikan : Dosis obat pertama dinaikkan Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama Ditambah obat ke –2 jenis lain.mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. dokter ) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan. Pengobatannya meliputi : Step 1 Obat pilihan pertama : diuretika. clonidin. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas kesehatan adalah sebagai berikut : Setiap kali penderita periksa. Ca antagonis. penyekat beta. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi ( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION. reserphin. Ca antagonis. penderita diberitahu hasil pengukuran tekanan darahnya Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai tekanan darahnya Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat sembuh. EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE. atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.

Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka sangat diperlukan sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang pemahaman dan pelaksanaan pengobatan hipertensi. PENGKAJIAN Aktivitas / istirahat Gejala : Kelemahan Letih Napas pendek Gaya hidup monoton Tanda : Frekuensi jantung meningkat Perubahan irama jantung Takipnea Sirkulasi Gejala : Riwayat hipertensi. penyakit serebrovaskuler Tanda : Kenaikan TD Nadi : denyutan jelas Frekuensi / irama : takikardia. bila tidak datang pada waktu yang ditentukan. usahakan kunjungan lebih sering Hubungi segera penderita.Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih dahulu Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup penderita Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita atau keluarga dapat mengukur tekanan darahnya di rumah Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal 1 x sehari atau 2 x sehari Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi. berbagai disritmia Bunyi jantung : murmur Distensi vena jugularis . efek samping dan masalah-masalah yang mungkin terjadi Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis atau mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan efektifitas maksimal Usahakan biaya terapi seminimal mungkin Untuk penderita yang kurang patuh. penyakit jantung koroner / katup. aterosklerosis.

euphoria. riwayat penyakit ginjal ) Makanan / Cairan Gejala : Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam. obstruksi. diplopia ) . marah.Ekstermitas Perubahan warna kulit. ansietas. pekerjaan ) Tanda : Letupan suasana hati Gelisah Penyempitan kontinue perhatian Tangisan yang meledak otot muka tegang ( khususnya sekitar mata ) Peningkatan pola bicara Eliminasi Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi. sakit kepala Episode kebas Kelemahan pada satu sisi tubuh Gangguan penglihatan ( penglihatan kabur. lemak dan kolesterol Mual Muntah Riwayat penggunaan diuretic Tanda : BB normal atau obesitas Edema Kongesti vena Peningkatan JVP glikosuria Neurosensori Gejala : Keluhan pusing / pening. depresi. suhu dingin( vasokontriksi perifer ). pengisian kapiler mungkin lambat Integritas Ego Gejala : Riwayat perubahan kepribadian. faktor stress multiple ( hubungsn. keuangan.

penyakit jantung. hipertropi ventricular . vasokonstriksi. cara jalan Tanda : Episode parestesia unilateral transien Pembelajaran / Penyuluhan Gejala : Factor resiko keluarga . aterosklerosis.Episode epistaksis Tanda : Perubahan orientasi. pola nafas. afek. mengi ) Sianosis Keamanan Gejala : Gangguan koordinasi. iskemia miokard. penyakit serebrovaskuler. hipertensi. proses pikir atau memori ( ingatan ) Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman Perubahan retinal optic Nyeri/ketidaknyamanan Gejala : nyeri hilang timbul pada tungkai sakit kepala oksipital berat nyeri abdomen Pernapasan Gejala : Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas Takipnea Ortopnea Dispnea nocturnal proksimal Batuk dengan atau tanpa sputum Riwayat merokok Tanda : Distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan Bunyi napas tambahan ( krekles. isi bicara. DM . ginjal Faktor resiko etnik. penggunaan pil KB atau hormon lain Penggunaan obat / alcohol DIAGNOSA KEPERAWATAN Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload.

quanetidin ( Ismelin ). batasi jumlah pengunjung. reserpine ( Serpasil ). triamterene ( Dyrenium ). panduan imajinasi. nadolol ( Corgard ). metildopa ( aldomet ). reserpin ( Serpasil ) Inhibitor adrenergik yang bekerja secara sentral misalnya klonidin ( catapres ). verapamil ) Anti adrenergik misalnya minipres. amilioride ( midamor ) Inhibitor simpatis misalnya propanolol ( inderal ). Anjurkan tehnik relaksasi. hidrodiuril ). Kriteria hasil : Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TD Mempertahankan TD dalam rentang yang dapat diterima Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil Intervensi : Pantau TD. kurangi aktivitas. suhu dan masa pengisian kapiler Catat edema umum Berikan lingkungan tenang. meninggikan kepala tempat tidur. Atenolol ( tenormin ). hidralasin ( apresolin ). Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur/kursi Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher. nyaman. guanabenz ( wytension ). klonidin ( catapres ) Vasodilator misalnya minoksidil ( loniten ). tetazosin ( hytrin ) Bloker nuron adrenergik misalnya guanadrel ( hyloree ). Bumetanic ( Burmex ) Diuretik hemat kalium misalnay spironolakton ( aldactone ). aktivitas pengalihan Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi Diuretik Tiazid misalnya klorotiazid ( Diuril ). bendroflumentiazid ( Naturetin ) Diuretic Loop misalnya Furosemid ( Lasix ). metildopa ( aldomet ) . asam etakrinic ( Edecrin ). hidroklorotiazid ( esidrix.Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam. metoprolol ( lopressor ). kualitas denyutan sentral dan perifer Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas Amati warna kulit. ukur pada kedua tangan. gunakan manset dan tehnik yang tepat Catat keberadaan. bloker saluran kalsium ( nivedipin. kelembaban.

sedikit penerangan Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin Beri tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala seperti kompres dingin pada dahi. ativan. membungkuk Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : analgesik. pijat punggung dan leher. trimetapan ( arfonad ). Haluaran urin 30 ml/ menit Tanda-tanda vital stabil . jantung berhubungan dengan adanya tahanan pembuluh darah Tujuan : Tidak terjadi perubahan perfusi jaringan : serebral. captoten ) Nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral Tujuan : Nyeri atau sakit kepala hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala Pasien tampak nyaman TTV dalam batas normal Intervensi : Pertahankan tirah baring. tehnik relaksasi. batuk panjang.Vasodilator kerja langsung misalnya hidralazin ( apresolin ). bimbingan imajinasi dan distraksi Hilangkan / minimalkan vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala misalnya mengejan saat BAB. ACE inhibitor ( captopril. pusing. antiansietas (lorazepam. lingkungan yang tenang. jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima. ginjal. diazepam. tidak ada keluhan sakit kepala. ginjal. nitropess ) Bloker ganglion misalnya guanetidin ( ismelin ). valium ) Resiko perubahan perfusi jaringan: serebral. nitroprusid ( nipride. posisi nyaman. minoksidil. loniten Vasodilator oral yang bekerja secara langsung misalnya diazoksid ( hyperstat ). nilai-nilai laboratorium dalam batas normal.

pusing Observasi TTV tiap 4 jam Berikan jarak waktu pengobatan dan prosedur untuk memungkinkan waktu istirahat yang tidak terganggu. duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia Ambulasi sesuai kemampuan. BUN. berikan waktu istirahat sepanjang siang atau sore Gangguan pola tidur berhubungan adanya nyeri kepala Tujuan : Tidak terjadi gangguan pola tidur setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Mampu menciptakan pola tidur yang adekuat 6 – 8 jam per hari Tampak dapat istirahat dengan cukup TTV dalam batas normal . Berikan bantuan sesuai kebutuhan Instruksikan pasien tentang penghematan energy Kaji respon pasien terhadap aktifitas Monitor adanya diaforesis. hindari kelelahan Amati adanya hipotensi mendadak Ukur masukan dan pengeluaran Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai program Pantau elektrolit.Intervensi : Pertahankan tirah baring Tinggikan kepala tempat tidur Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan. kreatinin sesuai program Intoleransi aktifitas berhubungan penurunan cardiac output Tujuan : Tidak terjadi intoleransi aktifitas setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Meningkatkan energi untuk melakukan aktifitas sehari – hari Menunjukkan penurunan gejala – gejala intoleransi aktifitas Intervensi : Berikan dorongan untuk aktifitas / perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi. tidur.

Intervensi : Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman Beri kesempatan klien untuk istirahat / tidur Evaluasi tingkat stress Monitor keluhan nyeri kepala Lengkapi jadwal tidur secara teratur Berikan makanan kecil sore hari dan / susu hangat Lakukan masase punggung Putarkan musik yang lembut Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan adanya kelemahan fisik. Tujuan : Perawatan diri klien terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam Kriteria hasil : Mampu melakukan aktifitas perawatan diri sesuai kemampuan Dapat mendemonstrasikan tehnik untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri Intervensi : Kaji kemampuan klien untuk melakukan kebutuhan perawatan diri Beri pasien waktu untuk mengerjakan tugas Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan klien / atas keberhasilannya Kecemasan berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya hipertensi yang diderita klien Tujuan: Kecemasan hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 Jam Kriteria hasil : Klien mengatakan sudah tidak cemas lagi / cemas berkurang Ekspresi wajah rilek TTV dalam batas normal .

dosis. waktu pemberian. pingsan. Diskusikan pentingnya mempertahankan berat badan stabil Diskusikan pentingnya menghindari kelelahan dan mengangkat berat Diskusikan perlunya diet rendah kalori. penurunan toleransi sakit kepala. kerusakan konsentrasi. mual dan muntah. ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas atau tujuan hidup Kaji tingkat kecemasan klien baik secara verbal maupun non verbal Observasi TTV tiap 4 jam Dengarkan dan beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya Berikan support mental pada klien Anjurkan pada keluarga untuk memberikan dukungan pada klien Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit Tujuan : Klien terpenuhi dalam informasi tentang hipertensi setelah dilakukan tindakan ekperawatan selama 1 x 24 jam Kriteria hasil: Pasien mengungkapkan pengetahuan akan hipertensi Melaporkan pemakaian obat-obatan sesuai program Intervensi : Jelaskan sifat penyakit dan tujuan dari pengobatan dan prosedur Jelaskan pentingnya lingkungan yang tenang. pembatasan seperti kopi yang mengandung kafein. rendah natrium sesuai program Jelaskan penetingnya mempertahankan pemasukan cairan yang tepat. teh serta alcohol . jumlah yang diperbolehkan. peka rangsang. tujuan dan efek samping atau efek toksik Jelaskan perlunya menghindari pemakaian obat bebas tanpa pemeriksaan dokter Diskusikan gejala kambuhan atau kemajuan penyulit untuk dilaporkan dokter : sakit kepala.Intervensi : Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku misalnya kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian. pusing. peningkatan keletihan. keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan Catat laporan gangguan tidur. tidak penuh dengan stress Diskusikan tentang obat-obatan : nama.

Ditulis dalam Keperawatan Tag: Keperawatan Gerontik http://nurse87. sehingga banyak lansia yang tidak terdeteksi menderita hipertensi sistolik. Isolated systolic hypertension (ISH) didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik di atas sama dengan 140 mmHg pada tekanan diastolik kurang dari sama dengan 90 mmHg. berat badan seiring usia juga akan meningkatkan risiko terjadinya PJK setiap kenaikan lima tahun. Obat-obat antihipertensi terbaru yang bekerja pada sistem renin-angiotensin-aldosteron. Penelitian juga menyebutkan bahwa menurunnya tekanan sistolik dapat menyebabkan penurunan curah jantung.com/2009/06/17/empat-belas-masalah-kesehatan-utamapada-lansia/ Hipertensi pada lansia Kontrol Ketat Cegah Komplikasi RACIKAN UTAMA . dan Angiotensin- . 2009. misalnya Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) inhibitor dan angiotensin-receptor blocker memiliki potensi perbaikan kardiovaskular pada orang tua akibat penurunan tekanan darah efektif. konseling dan penyuluhan pada keluarga klien ~ oleh nurse87 di/pada Juni 17. Dalam keadaan ini aorta menjadi kaku dan akhirnya menyebabkan meningkatnya tekanan sistolik dan penurunan volume aorta. Jenis yang demikian lebih sulit untuk diobati dibanding hipertensi esensial atau pada pasien yang lebih muda. dari divisi nefrologi ilmu penyakit dalam FKUI-RSUPN dr. yang terutama menyerang di atas usia 75 tahun. kontrol tekanan darah menjadi perawatan utama orang-orang lanjut usia. pengukuran tekanan sistolik yang meningkat ini lebih signifikan karena dapat menunjukkan terjadinya kekakuan arteri besar. risiko infark miokard. Hipertensi merupakan gejala yang paling sering ditemui pada orang lanjut usia dan menjadi faktor risiko utama insiden penyakit kardiovaskular. serta penyakit kardiovaskular lainnya. Hipertensi juga menjadi faktor utama terjadinya penyakit jantung koroner.wordpress. Jose Roesma. yang pada akhirnya akan menurunkan volume dan tekanan diastolik. Manajemen dan pencegahan Beberapa penelitian. kontrol tekanan darah merupakan kunci utama menjaga kesehatan kardiovaskular.6 No. para lansia ternyata lebih sering mengalami hipertensi sistolik dan pengobatan hipertensi sampai saat ini masih banyak yang terfokus pada tekanan diastolik <90 mmHg tanpa memikirkan angka sistoliknya. Cipto Mangunkusumo. Tidak ada standar tertentu untuk menentukan kategori umur yang dikatakan tua. Berdasarkan Global Risk Assesment Scoring Chart dari penelitian Framingham.11) Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun. misalnya dari Syst-Eur 1 dan 2 dan penelitian lain di Jepang dan Australia menunjukkan bahwa tata laksana hipertensi sistolik yang optimal ialah penggunaan diuretik. Isolated systolic blood pressure Seperti telah disebutkan. Kontrol tekanan darah yang ketat pada pasien diabetes berhubungan dengan pencegahan terjadinya hipertensi yang tak terkendali. Keadaan ini terjadi karena hilangnya elastisitas arteri atau akibat penuaan. Dokter juga harus melakukan edukasi terus-menerus untuk menghindari terjadinya hipertensi sistolik. Jakarta mengungkapkan bahwa pada orang tua umumnya terjadi hipertensi dengan sistolik terisolasi yang berhubungan dengan hilangnya elastisitas arteri atau bagian dari penuaan. ginjal.Jelaskan perlunya menghindari konstipasi dan penahanan Berikan support mental. Tekanan sistolik juga menjadi prediktor yang lebih sensitif dibanding tekanan diastolik. namun pengertian lanjut usia (lansia) ialah manusia di atas usia 60 tahun. serta otak. efeknya bisa membuat kerusakan jantung. Sebagai konsekuensinya. Pada orang-orang tua. terutama aorta. Karenanya. penyekat beta.Edisi Juni 2007 (Vol.

tapi dari segi tolerabilitasnya juga. Terdapat konsensus bahwa tekanan darah pada lansia harus di bawah angka 140/90 mmHg untuk kategori usia 60-79 tahun.5 mg atau yang setara dengannya. ARB memblok konjugasi. efek proteksi vaskular dari ARB juga berlaku untuk mengurangi kemungkinan terjadiya stroke. Sementara penelitian dari The Irbesartan Diabetic Nephropathy Trial (IDNT) menyatakan bahwa agen antihipertensi. misalnya diabetes mellitus. khususnya Angiotensin II Antagonist Losartan (RENAAL) dapat menurunkan endpoint pasien dengan Non Insulin-dependent Diabetes Mellitus. Kontrol tekanan darah yang ketat pada pasien diabetes berhubungan dengan pencegahan terjadinya hipertensi yang tak terkendali dan beberapa penyakit lainnya. serangan stroke. Selain itu. Selain itu. mencegah akumulasi kolagen aorta. ACE-inhibitor. tidak sekadar menurunkan tekanan darah. Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun. namun angka di bawah 140 ini akan sangat mempengaruhi jenis pengobatan dan edukasi ke pasien. termasuk saat kontrol rawat jalan. sebisa mungkin perlu diperhitungkan berbagai efek samping yang kemungkinan akan sangat mengganggu pasien.5 mg/dl harus dilakukan. beta blocker. penggunaan obat harus tetap dilanjutkan tanpa mengurangi dosis yang sedang . ARB akan meningkatkan volume sirkulasi dan merangsang sintesis kolagen akibat peningkatan jumlah sel otot polos pada pembuluh darah. Jika ternyata dalam terapi. Valsartan dan Losartan telah terbukti mampu menurunkan tekanan sistolik pembuluh darah. Pemberian diuretik harus dimulai dari level rendah. terutama yang berusia di atas 80 tahun. infark miokard. Meskipun tidak ada makna penting lainnya. Selain itu penggunaan diuretik boros kalium juga akan menyebabkan hipokalemia jika tidak diberikan secara hati-hati. Pada beberapa keadaan penggunaan obat selain diuretik sebagai terapi inisial sah-sah saja dilakukan.receptor blockers (ARB). namun tetap saja terapi yang terbaik kemungkinan ialah mencegah hipertensi sebelum usia senja guna mengurangi risiko penyakit jantung koroner sejak dini. misalnya retinopati diabetik. Tujuan utama penatalaksanaan hipertensi pada lansia. Guidelines yang banyak dipakai untuk tata laksana hipertensi pada lansia diambil dari JNC 7 dan ESH/ESC 2003. dan kejadian kardiovaskular lain pada lansia. Kemungkinan hanya sekitar 40% pasien pada kelompok lansia yang akan mengalami penurunan tekanan darah sampai di bawah 140 mmHg setelah penggunaan antihipertensi ARB. Tercapainya tujuan ini akan tergantung tidak hanya berdasarkan efikasi obat antihipertensi. Jika angka ini dinilai kurang efektif. sebenarnya juga tidak hanya menurunkan tekanan darah semata. keduanya bekerja dalam sistem renin angiotensin aldosteron. Seperti guidelines antihipertensi (lihat tabel) yang tercantum berikut. gejala-gejala hipertensi tetap muncul. terutama diuretik. tidak langsung menambah dosisnya. pengurangan kemampuan penglihatan. Pendekatan untuk lansia Para dokter harus benar-benar yakin bahwa data pengukuran yang didapat ialah valid. Pedoman ini mengadopsi pendekatan tepat sasaran untuk lansia guna menurunkan risiko penyakit jantung koroner seiring dengan bertambahnya usia. Perspektif terkini Penelitian dari The Heart Outcomes Prevention Evaluatin (HOPE) menyatakan bahwa agen antihipertensi memang terbukti dapat mencegah pula penyakit kardiovaskular lainya. asalkan sesuai indikasi. menurunkan kekakuan arteri karotis. diperlukan manajemen titrasi dosis naik perlahan-lahan ditambah kombinasi obat lainnya. atau diabetes yang berat. ARB dan ACE-inhibitor digunakan secara bersama-sama. serta menurunkan tekanan dinding pembuluh darah pada diet rendah garam. tapi dikombinasikan dengan pemberian dosis rendah CCB. ARB yang dikombinasi dengan diuretik juga telah terbukti memiliki efek yang sangat baik. dalam rangka menurunkan tekanan darah. Terapi seperti ini tergolong aman dan efektif. atau ARB. gagal jantung. dibanding ACE-inhibitor dan Calcium channel blocker. dan penyakit vaskular perifer. mengingat batas-batas penentuan kriteria seputar hipertensi sangat berhubungan dengan angka. sehingga pengobatannya harus fokus untuk proteksi kardiovaskular secara umum. menyerupai pemberian Ca blocker. sedangkan ACE-inhibitor bekerja menghambat kerja enzim. penatalaksanaan hipertensi terutama ditujukan pada pasien lanjut usia dengan target tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg. sebagian besar akan gagal. sehingga gabungan keduanya ialah penurunan tekanan darah dengan efek yang juga renokardioprotektif. Hal ini dapat dicapai dengan menjaga tekanan darah di angka kurang dari 150/85 mmHg (kontrol ketat) atau kurang dari 180/105 mmHg (kontrol tidak terlalu ketat). ARB ini dinyatakan renoprotektif. Penelitian tentang agen antihipertensi dengan mekanisme RAAS ini (ARB) monoterapi memang banyak dilakukan dan terbukti bersifat renokardioprotektif dengan mekanisme perbaikan fungsi endotel. misalnya Hydrochlorotiazide (HCT) 12. sehingga mempengaruhi keberhasilan dari seluruh tata laksana. Tekanan darah di bawah 140 mmHg sistolik (jika memang benar sebesar ini) akan jauh mengurangi risiko stroke. Pada orang tua. kelompok usia yang rentan penyakit jantung koroner. atau bahkan terjadi penyakit-penyakit kardiovaskular lainnya. lebih baik daripada ACE-inhibitor. sisanya. Bekerja di sistem renin-angiotensin-aldosteron. sering ditemui gangguan pada sistem kardiovaskular berupa gagal jantung. Kontrol kadar kalium hingga tidak boleh di bawah 3. Karenanya. Kontrol ketat dilakukan pada pasien yang memiliki risiko besar untuk memiliki komplikasi penyakit lainnya.

biscuit dan kue yang dimasak dengan garam dapur. Makanan yang tidak boleh: ikan asin. (farid) A. telur asam. c. Kemungkinan gejala ini akan mereda setelah beberapa minggu atau lebih. ikan telur dan susu. kornet. b.asp?IDNews=491 diberikan. pindang. sehingga beberapa ahli tidak terlalu suka melakukannya. semua kacang-kacangan dan sayuran. cenderung mengakibatkan kanker usus. Gula cepat diserap (absorpsi) sehingga mengakibatkan perubahan kadar gula darah dan memungkinkan terjadinya obesitas (kegemukan) dan diabetes.com/rubrik/one_news. kacang tanah dan sayuran yang dimasak/ diawetkan dengan garam dapur.D. Makanan yang boleh: minyak margarine dan mentega tanpa garam. Karbohidrat Fungsi karbohidrat adalah penyedia energi. kentang. ebi. Lemak dengan kandungan asam lemak jenuh yang tinggi memicu penyakit jantung dan pembuluh darah. terigu. Bisa saja terapi terus digiatkan. s3ehingga membebani usus dan lambung yang akan mengakibatkan gangguan pada usus.E dan K. 3. Pada lansia sebaiknya memilih daging unggas-unggasan daripada daging sapi atau kambing dan hendaknya tidak makan lebih dari 2 potong daging pada sehari. Makanan yang boleh: Beras.majalah-farmacia. membentuk tekstur makanan dan memberi rasa kenyang yang lama. dendeng. udang. Kandungan Gizi Yang Diperlukan Lansia 1.http://www. protein dan mineral diutamakan untuk mencegah proses penurunan fungsi tubuh. Lemak juga berfungsi sebagai cadangan energi. singkong. Pada lansia lemak sebaiknya dibatasi . g. Berkurangnya aktifitas tubuh sehingga kebutuhan energi juga menurun. Makanan yang tidak boleh: margarine dan mentega biasa . f. Berkurangnya produksi enzim mengakibatkan pencernaan lemak tidak sempurna. Gula tidak mengandung gizi kecuali zat tenaga. dosisnya ditambah. Lemak Lemak berfungsi sebagai pelarut vitamin A. Sedangkan pada lansia konsumsi zat zat gizi lain seperti vitamin. mie. b. Makanan yang tidak boleh: Roti. gula yang diolah tanpa garam seperti macaroni. 2. Kelebihan lemak akan disimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk timbunan lemak yang menyebabkan kegemukan. e. Makanan yang boleh: daging. Pada lansia konsumsi gula dibatasi karena: a. keju. mengingat: a. namun metode agresif seperti ini juga akan menambah efek samping. Protein Fungsi dari protein sebagai zat pembangun dari sel tubuh. d. biscuit dll.

Contoh makanan: beras merah Makanan yang boleh: semua buah yang tidak diawtkan garam/ soda. Kandungan Gizi Yang Diperlukan Lansia 1. C. Serat Serat tidak dapat dicerna. B. 5. goring-gorengan dll. air putih. buah-buahan yang diawtkan oleh garam dan soda. Garam dianjurkan ¼ sendok the garam dapur. Vitamin Fungsi dari vitamin yaitu untuk mempercepat metbolisme. Mineral dan Air Fungsi dari mineral yaitu pembentukan jaringan tubuh. Tdak larut dalam air yang berfungsi melancarkan BAB. A. Larut dalam air yang berfungsi mengikat kolesterol b. kanker usus. Hendaknya lansia makan dengan porsi kecil tapi sering b. c.4. penyakit jantung dan kegemukan bila kekurangan serat. TIPS Pemberian Makanan Bagi lansia Dengan Hipertensi a. sayuran hijau. Makanan yang tidak boleh: durian. ikan yang dimakan dengan tulangnya. Contoh makanan yang tingggi kalsium adalah susu. Makanlah makanan yang mudah dicerna c. Serat ada 2 jenis: a. Karbohidrat . terutama lansia wanita mudah terjadi ostoporosis akibat menopause. wasir. 6. Hindari makanan yang terlalu manis. maka serat tidak mengandung gizi tetapi tetap dibutuhkan untuk mencegah sembelit. kedelai dan rumput laut. Diet rendah garam II: Ditujukan untuk penderita hipertensi sedang (100-114 mmHg). mempertahankan fungsi jaringan tubuh dan mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan jaringan. kopi dan coklat. kalsium sangat penting karena . Diet rendah garam 1 : untuk penderita hipertensi berat dianjurkan untuk tidak menambahkan garam dapur dalam makanan. Diet rendah garam III: Ditujukan untuk penderita hipertensi ringan (diastole kurang dari 100 mmHg). Pada lansia vitamin sangat penting. Makan makanan yang lembek untuk lansia yang kondisi giginya kurang baik. garam dapur dianjurkan ½ sendok teh. gurih. terutama vitamin B1 agar tubuh selalu bugar. b. Lansia hendaknya mengurangi natrium dengan cara membatasi garam dapur. d. Petunjuk Penggunaan Garam untuk Penderita hipertensi Untuk penderita hipertensi terdapat 3 diet: a. Pada lansia. memelihara keseimbangan asam basa dll. Lansia hendaknya minum 6-8 gelas sehari mengingat fungsi ginjal menurun dan melancarkan BAB.

f.D. Makanan yang tidak boleh: margarine dan mentega biasa 4. Makanan yang tidak boleh: Roti. cenderung mengakibatkan kanker usus. udang. membentuk tekstur makanan dan memberi rasa kenyang yang lama. c. kornet. g. Makanan yang boleh: Beras. b. Pada lansia vitamin sangat penting. Lemak dengan kandungan asam lemak jenuh yang tinggi memicu penyakit jantung dan pembuluh darah. 3. Sedangkan pada lansia konsumsi zat zat gizi lain seperti vitamin.E dan K. Berkurangnya aktifitas tubuh sehingga kebutuhan energi juga menurun. biscuit dan kue yang dimasak dengan garam dapur. telur asam.Fungsi karbohidrat adalah penyedia energi. e. d. gula yang diolah tanpa garam seperti macaroni. mie. ikan telur dan susu. keju. Berkurangnya produksi enzim mengakibatkan pencernaan lemak tidak sempurna. terutama vitamin B1 agar tubuh selalu bugar. pindang. kentang. Pada lansia konsumsi gula dibatasi karena: a. Gula cepat diserap (absorpsi) sehingga mengakibatkan perubahan kadar gula darah dan memungkinkan terjadinya obesitas (kegemukan) dan diabetes. kacang tanah dan sayuran yang dimasak/ diawetkan dengan garam dapur. s3ehingga membebani usus dan lambung yang akan mengakibatkan gangguan pada usus. Kelebihan lemak akan disimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk timbunan lemak yang menyebabkan kegemukan. ebi. Gula tidak mengandung gizi kecuali zat tenaga. Protein Fungsi dari protein sebagai zat pembangun dari sel tubuh. Makanan yang tidak boleh: ikan asin. terigu. dendeng. Contoh makanan: beras merah . biscuit dll. singkong. protein dan mineral diutamakan untuk mencegah proses penurunan fungsi tubuh. Lemak Lemak berfungsi sebagai pelarut vitamin A. mempertahankan fungsi jaringan tubuh dan mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan jaringan. Lemak juga berfungsi sebagai cadangan energi. Pada lansia lemak sebaiknya dibatasi . b. mengingat: a. Makanan yang boleh: daging. 2. semua kacang-kacangan dan sayuran. Vitamin Fungsi dari vitamin yaitu untuk mempercepat metbolisme. Makanan yang boleh: minyak margarine dan mentega tanpa garam. Pada lansia sebaiknya memilih daging unggas-unggasan daripada daging sapi atau kambing dan hendaknya tidak makan lebih dari 2 potong daging pada sehari.

5. Mineral dan Air Fungsi dari mineral yaitu pembentukan jaringan tubuh. d. Pada lansia. Makanlah makanan yang mudah dicerna c. garam dapur dianjurkan ½ sendok teh. kedelai dan rumput laut. Lansia hendaknya mengurangi natrium dengan cara membatasi garam dapur.Makanan yang boleh: semua buah yang tidak diawtkan garam/ soda. Hendaknya lansia makan dengan porsi kecil tapi sering b. wasir. sayuran hijau. Makanan yang tidak boleh: durian. maka serat tidak mengandung gizi tetapi tetap dibutuhkan untuk mencegah sembelit. Petunjuk Penggunaan Garam untuk Penderita hipertensi Untuk penderita hipertensi terdapat 3 diet: a. C. 6. Diet rendah garam 1 : untuk penderita hipertensi berat dianjurkan untuk tidak menambahkan garam dapur dalam makanan. c. terutama lansia wanita mudah terjadi ostoporosis akibat menopause. Serat ada 2 jenis: a. Lansia hendaknya minum 6-8 gelas sehari mengingat fungsi ginjal menurun dan melancarkan BAB. Tdak larut dalam air yang berfungsi melancarkan BAB. 2008 by harnawatiaj . ikan yang dimakan dengan tulangnya. Posted on Maret 9. b. Diet rendah garam III: Ditujukan untuk penderita hipertensi ringan (diastole kurang dari 100 mmHg). kalsium sangat penting karena . memelihara keseimbangan asam basa dll. Makan makanan yang lembek untuk lansia yang kondisi giginya kurang baik. Diet rendah garam II: Ditujukan untuk penderita hipertensi sedang (100114 mmHg). kanker usus. TIPS Pemberian Makanan Bagi lansia Dengan Hipertensi a. B. air putih. Contoh makanan yang tingggi kalsium adalah susu. Garam dianjurkan ¼ sendok the garam dapur. gurih. buah-buahan yang diawtkan oleh garam dan soda. Serat Serat tidak dapat dicerna. goring-gorengan dll. Larut dalam air yang berfungsi mengikat kolesterol b. Hindari makanan yang terlalu manis. penyakit jantung dan kegemukan bila kekurangan serat. kopi dan coklat.

Ukur haluaran urine. biasanya anhidrosis (tidak ada keringat). Riwayat pasien menunjukkan terpajan pada peningkatan suhu atau latihan berlebihan pada saat panas yang ekstrem. EKG. terutaina ketika diikuti oleh kelembanan yang tinggi. Penanganan simultan ber fokus pada stabiitasi oksigenasi melalui ABC pendukung hidup dasar. 7. Pengkajian. Kebanyakan kernatian yang berkaitan dengan panas teijadi pada lansia karena sistem sirkulasi mereka tidak mampu mengkompensasi stress yang ditimbulkan oleb panas. mereka yang tidak dapat merawat diri sendiri. tubular nekrosis akut adalah komplikasi dan heat stroke 10. gejala yang adalah: disfungsi sistem saraf pusat yang dalam (dimanifestasikan dengan konfusi. lansia.dan disritmia.Turunkan suhu inti (internal) sampal dengan 390C secepat mungkin.Teruskan memantau EKG untuk kcmungkinan infark miokard. mereka yang mendapat pengobatan tertentu (tranquilizer utama. Bantu intubasi pasien dengan cuf selang endotrakea dan pasang pada ventilator jika perlu untuk rnendukung kegagalan sistem kardiorespiratori.Masase pasien untuk meningkatkan sirkulasi dan niempertahankan vasodilatasi kutan selarna prosedur pendinginan 4. Heat stroke menyebabkan cedera termal pada tingkat sel dan menyebabkan kerusakan luas pada jantung. Diagnosa keperawatan nieliputi tidak efektif termore gulasi yang berhubungan dengan ketidakmarnpuan meka nisme homeostatik tubuh untuk mempertahankan suhu tubuh normal. tingkah laku aneh. Seseorang dengan risiko ini adalah mereka yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan iklim panas. dapat juga menyebabkan kematian.Berikan perawatan pendukung sesuai ketentuan : Dialisis untuk gagal ginjal Antikonvulsan untuk kontrol kejang 11. 12. 9.Gunakan pakaian dingin dan handuk atau usap busa dengan air dingin kontinu b.Berikan oksigen untuk menyuplai kebutuhan jaringan yang meningkat karena kondisi hipemetabolik.Posisikan kipas angin listrik sehiugga menghembus pada pasien untuk menambah pembuangan panas dengan konveksi dan evaporasi 5.Lakukan serial uji untuk gangguan perdarahan (koagulopati inravaskular diseminata) dan enzim serum untuk . delirium. 8. antikolinergik. tekanan vena sentral dan perubahan tingkat kesadaran derigan perubahan cepat dalarn suhu tu buh. penyekat beta-adrenergik). c.Taruh es pada kulit sambil menyemprot dengan air biasa. diuretik. Penatalaksanaan Kedaruratan 1. koma). karena mortalitas langsung berhubung an dentan durasi hipertermia. 6. peningkatan suhu tubuh (40. hindari hipotermia.. mereka dengan penyakit kronik dan kelemahan.Heat stroke adalah kedaruratan medis akut yang disebab kin oleh kegagalan mekanisme pengaturan panas tubuh.Gunakan Selimut Pendingin d.Bilas lambung atau kolon dengan salin es yang mungkin diresepkan jika suhu tidak turun 3. kejang mungkin diikuti dengan hipertermia berulang. Tujuannya adalah menurunkan suhu tinggi secepat mungkin.Kalium untuk hipokalemia dan natrium bikarbonat wink mengoreksi asidosis metabolik. dan takikardi. Heat stroke karena aktivitas arau latihan dalam suhu panas dan kelembapan ekstrem. berikan dengan pelan karena bahaya dan cedera miokardia dan suhu yang tinggi dan fungsi ginjal yang -kurang baik. Pada saat mengkaji pasien. Pertimbangan Gerontologik.60C atau lebih). ginjal dan koagulasi darah.Pantau pasien dengan cermat terhadap tanda vital.Lepaskan pakaian pasien 2. kering. infark miokard. hati.Mulal infus IV langsung untuk meagganti cairanyang hilang dan memelihara sirkulasi adekuat. Biasanya cerjadi selama keadaan panas.Pantau secara konstan suhu pasien dengan mengguna kan probe termistor pada rektum atau esofagus (pantau suhu inti). Tipe heat stroke ini tenjadi pada individu yang sehat selama olahraga atau aktivitas kerja kedka teijadi hipertermia karena ketidakadekuatan peng hilangan panas. kulit panas. Pendinginan dengan memberikan cairan dan perifer ke pusat.takipnea. hipertermia mungkin teijadi kembali secara spontan dalam 3-4 jam. Gunakan satu atau lebih tindakan sebagai berikut : a.

Tidak terjadi perdarahan.Masukkan pasien ke unit perawatan intensify.Nasihatkan pasien untuk menghindari terpajan pada suhu tinggi. hipersensitivitas pada suhu tinggi mungkin terjadi dalam lama waktu yang dapat dipertimbangkan. stroke hemoragik Terjadi perdarahan cerebral dan mungkin juga perdarahan subarachnoid yeng disebabkan pecahnya pembuluh darah otak. Kesadaran umumnya menurun dan penyebab yang paling banyak adalah akibat hipertensi yang tidak terkontrol. yaitu : dapat juga diklasifikasikan berdasarkan perjalanan 1.Ajak lansia yang lemah yang hidup dalam lingkungan desa dengan suhu lingkungan tinggi ke tempat di mana ada pengaturan udara (mall tempat belanja. 13. spasme ataupun thrombus pembuluh darah otak.mengukur cedera hipoksia suhu pada hati dan jaringan otot. menggunakan pakaian kendur. Pendidikan Pasien dan Pertimbangan Perawatan di Rumah 1. 1989). dan menggunakan pendekatan ber angsur untuk pengkondisian fisik. dan susunan pusat. emboli. namun juga dapat terjadi pada saat istirahat.Tekankan pentingnya memelihara masukan cairan yang adekuat.wordpress. perpusta kaan. yang memungkinkan cukup waktu untuk menyesuaikan dengan iklim. TIA’S (Trans Ischemic Attack) . 3. dan mengurangi aktivitas dalam cuaca panas.Nasihatkan atlet untuk memantau kehilangan cairan. Klasifikasi stroke Berdasarkan proses patologi dan gejala klinisnya stroke dapat diklasifikasikan menjadi : 1. stroke non hemoragik Dapat berupa iskemia. kesadaran umumnya baik dan terjadi proses edema otak oleh karena hipoksia jaringan otak. mengganti cairan. 4.com/2008/03/09/heat-stroke/ Pengertian Stroke adalah deficit neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan aliran darah yang timbul secara mendadak dengan tanda dan gejala sesuai dengan daerah fokal otak yang terkena (WHO. Stroke non hemoragik penyakitnya. 2. gereja) http://harnawatiaj. 2. jantung. Umumnya terjadi setelah beristirahat cukup lama atau angun tidur. Umumnya terjadi pada saat melakukan aktifitas. B. Mung kin ada kerusakan hati.

1. 1. 1.. . Proses ini dapat menimbulkan pecahnya pembuluh darah atau timbulnya thrombus sehingga dapat mengganggu aliran darah cerebral. 4. 2. Hipertensi. Kelainan jantung / penyakit jantung Paling banyak dijumpai pada pasien post MCI. Aneurisma pembuluh darah cerebral Adanya kelainan pembuluh darah yakni berupa penebalan pada satu tempat yang diikuti oleh penipisan di tempat lain. yaitu .Yaitu gangguan neurologist sesaat. stroke in Volution Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan yang muncul semakin berat dan bertambah buruk. 1. Stroke Komplit Gangguan neurologist yang timbul bersifat menetap atau permanent. Kerusakan kerja jantung akan menurunkan kardiak output dan menurunkan aliran darah ke otak. atrial fibrilasi dan endokarditis. beberapa menit atau beberapa jam saja dan gejala akan hilang sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam. Proses ini biasanya berjalan dalam beberapa jam atau beberapa hari. Rind (Reversible Ischemic Neurologis Defict) Gangguan neurologist setempat yang akan hilang secara sempurna dalam waktu 1 minggu dan maksimal 3 minggu. Etiologi Ada beberapa factor risiko stroke yang sering teridentifikasi. Ddisamping itu dapat terjadi proses embolisasi yang bersumber pada kelainan jantung dan pembuluh darah. 5. Diabetes mellitus (DM) Penderita DM berpotensi mengalami stroke karena 2 alasan. termasuk pembuluh darah otak. dapat disebabkan oleh aterosklerosis atau sebaliknya. Pada daerah penipisan dengan maneuver tertentu dapat menimbulkan perdarahan. 3. yeitu terjadinya peningkatan viskositas darah sehingga memperlambat aliran darah khususnya serebral dan adanya kelainan microvaskuler sehingga berdampak juga terhadap kelainan yang terjadi pada pembuluh darah serebral. C. Usia lanjut Pada usia lanjut terjadi proses kalsifikasi pembuluh darah.

aliran darah ke area thrombus menjadi berkurang. menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak. D. Patofisiologi 1. spasme pembuluh darah otak dan penekanan pada . Adanya perubahan komponen intracranial yang tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian. Stroke hemoragik Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen intracranial yang seharusnya konstan. 8.6. Perdarahan otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli. 7. Polocitemia Pada policitemia viskositas darah meningkat dan aliran darah menjadi lambat sehingga perfusi otak menurun. Peningkatan kolesterol (lipid total) Kolesterol tubuh yang tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis dan terbentuknya embolus dari lemak. Emboli disebabkan oleh embolus yang berjalan menuju arteri serebral melalui arteri karotis. salah satunya pembuluh drah otak. sehingga arteri menjadi tersumbat. 10. Stroke non hemoragik Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau embolus. Di samping itu. 2. Obesitas Pada obesitas dapat terjadi hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding pembuluh darah. darah yang mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema. 9. Perokok Pada perokok akan timbul plaque pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga terjadi aterosklerosis. salah satunya pembuluh darah otak. kurang aktivitas fisik Kurang aktivitas fisik dapat juga mengurangi kelenturan fisik termasuk kelenturan pembuluh darah (embuluh darah menjadi kaku). Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang tiba-tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist fokal.

Daerah arteri serebri posterior • Nyeri spontan pada kepala • Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35-50%) 1. atau apraksia tergantung hemisfer mana yang terkena 1. afasia. Tanda dan gejala Tanda dan gejala yang muncul sangat tergantung pada daerah dan luasnya daerah otak yang terkena. Pengaruh terhadap status mental • Tidak sadar : 30% . Daerah vertebra basiler akan menimbulkan: • Sering fatal karena mengenai pusat-pusat vital di batang otak .40% • Konfuse : 45% dari pasien biasanya sadar 1. 1. E.daerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak. Daerah arteri serebri anterior akan menimbulkan gejala: • hemiplegia dan hemianesthesia kontralateral terutama tungkai (30%-80%) • inkontinensia urin. arteri karotis interna akan menimbulkan: • Hemiplegia kontralateral yang disertai hemianesthesia (30%-80%) • Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35%-50%) • Apraksia bila mengenai hemisfer non dominant(30%) 1. Daerah arteri serebri media.

emosi labil) (kelumpuhan otot mata. gejala dapat berupa: 1. gula darah dsb. laboratorium: mengarah pada pemeriksaan darah lengkap. Stroke hemisfer kanan • Hemiparese sebelah kiri tubuh • Penilaian buruk • Mempunyai kerentanan terhadap sisi kemungkinan terjatuh ke sisi yang berlawanan 1. 2. CT scan kepala untuk mengetahui lokasi dan luasnya perdarahan atau infark . stroke hemisfer kiri • mengalami hemiparese kanan • perilaku lambat dan sangat berhati-hati • • kelainan bidang pandang sebelah kanan • disfagia global • afasia • mudah frustasi kontralateral sebagai F. kolesterol. dan bila perlu analisa gas darah.• Hemiplegia alternans atau tetraplegia • Kelumpuhan pseudobulbar menelan. kesulitan Apabila dilihat bagian hemisfer mana yang terkena. Pemeriksaan diagnostik Pemeriksaan penunjang disgnostik yang dapat dilakukan adalah : 1. elektrolit.

posisi miring jika muntah dan boleh dimulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil 2. Nutrisi per oral hanya diberikan jika fungsi menelan baik. menurunkan TIK yang tinggi RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN STROKE . penatalaksanaan pada pasien stroke adalah: 1. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat. Posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat. bila perlu diberikan ogsigen sesuai kebutuhan 3. bila perlu lakukan kateterisasi Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonik 9. konstipasi. hematom dan bergesernya struktur otak angiografi untuk mengetahui penyebab dan gambaran yang jelas mengenai pembuluh darah yang terganggu G.3. MRI untuk mengetahui adanya edema. Hindari kenaikan suhu. neuroprotektor. atau suction berlebih yang dapat meningkatkan TIK 10. tindakan pembedahan. Penatalaksanaan medis Secara umum. infark. 8. 5. 4. neuroprotektor. Jika kesadaran menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT 11. • Stroke hemoragik: mengobati penyebabnya. 7. 4. 6. batuk. Tanda-tanda vital diusahakan stabil Bed rest Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Kandung kemih yang penuh dikosongkan. Penatalaksanaan spesifik berupa: • Stroke non hemoragik: antikoagulan. obat hemoragik asetosal. trombolisis.

Penurunan perfusi Perfusi serebral membaik serebral b. Observasi tanda-tanda vital (tiap jam sesuai kondisi pasien) 3. Lakukan penghisapan lender dan pasang OPA jika kesadaran menurun 5. memori. Tingkat kesadaran serebral membaik (GCS meningkat) b.NO 1. Kriteria hasil : hilangnya refleks batuk) a. edema Kriteria hasil : atau oklusi pembuluh darah a. Tidak ada tanda . jalan nafas yang paten. bahasa respon pupil dll 2. Tidak ada tanda-tanda sianosis dan pucat d. Pantau intake-output cairan.d. Tidak ada sputum 2. penumpukan sputum (karena kelemahan. Ukur tandatanda vital 3. darah lengkap dll • Pemberian obat sesuai kebutuhan 1. Tanda-tanda vital stabil e. Auskultasi bunyi nafas 2. Bunyi nafas vesikuler b. fungsi kognitif. memori dan motorik membaik c. RR normal c. Pantau adanya tanda-tanda penurunan perfusi serebral :GCS. Kolaborasi: • Pemberian ogsigen • Laboratorium: Analisa gas darah. Pertahankan posisi tirah baring pada posisi anatomis atau posisi kepala tempat tidur 15-30 derajat Bersihan jalan nafas Pasien mampu mempertahankan tidak efektif b. Bila sudah memungkinkan lakukan fisioterapi dada dan latihan nafas dalam 6. adanya perdarahan. balance tiap 24 jam 4.d. DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI 1. Berikan posisi semi fowler sesuai dengan kebutuhan (tidak bertentangan dgn masalah keperawatan lain) 4. TIK normal d.

kerusakan neuromuscular. Libatkan keluarga dalam memobilisasi klien 7. Pertahankan ligkungan yang nyaman 7. Rubah posisi tiap 2 jan 4. Pantau tingkat kemampuan mobilisasi klien 2. Pasang trochanter roll pada daerah yang lemah 5. Kriteria hasil : hemiparese a. mengejan dsb 6. Evaluasi sifat dan beratnya afasia pasien. jika berat hindari memberi isyarat non 3. Gangguan komunikasi verbal b. Kolaborasi: fisioterapi 1. tidak ada kontraktur atau foot drop b.d. kerusakan mobilisasi aktif neuromuskuler. Pantau kekuatan otot 3. gula darah dll • Penberian terapi sesuai advis • CT scan kepala untuk diagnosa dan monitoring 1.perburukan neurologis f.d. kelemahan. 5. Komunikasi dapat berjalan dengan baik . mobilisasi bertahap 4. Hindari valsava maneuver seperti batuk. Hindari fleksi leher untuk mengurangi resiko jugular 8. Lakukan ROM pasif atau aktif sesuai kemampuan dan jika TTV stabil 6. kontraksi otot membaik c. Gangguan mobilitas Pasien mendemonstrasikan fisik b. Kolaborasi: • Beri ogsigen sesuai indikasi • Laboratorium: AGD.

Conjungtiva ananemis d. konsul ahli gizi 1. BUN). lingkungan dapat . dengarkan dengan tekun jika pasien mulai berbicara 4. Kolaborasi dengan ahli terapi wicara 1. Perubahan persepsi. Pembicaraan pasien dapat dipahami 2. pemasangan NGT. Kaji factor penyebab yang mempengaruhi kemampuan menerima makan/minum 2. bahasa jelas. Tonus otot baik e. Timbang berat badan secara berkala 6. intake nutrisi tidak adekuat Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : a. Hitung kebutuhan nutrisi perhari 3. Latih otot bicara secara optimal 6. Catat intake makanan c. sederhana dan bila perlu diulang 3.d.Persepsi dan kesadaran akan sensori b. Albumin. Lakukan komunikasi dengan wajar. Observasi tanda-tanda vital 4. Lab: albumin. Beri makan via NGT 8.kerusakan sentral bicara verbal Kriteria hasil : a. Berat badan dalam batas normal 6. Libatkan keluarga dalam melatih komunikasi verbal pada pasien 7.d. Hb. (Risiko) gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b. Berdiri di dalam lapang pandang pasien pada saat bicara 5. Kolaborasi : Pemeriksaan lab(Hb. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi b. Cari tahu proses 5. Beri latihan menelan 7. Memahami maksud dan pembicaraan orang lain c. Klien dapat mengekspresikan perasaan b. BUN dalam batas normal 5.

Kurang kemampuan Kemampuan merawat diri merawat diri b. gangguan Kriteria hasil : neuromuscular. Berikan bantuan terhadap kebutuhan yang benar-benar diperlukan saja 3. perubahan psikologi patogenesis yang mendasari 2. Pantau tingkat kemampuan klien dalam merawat diri 2. penurunan perubahan pola hidup untuk koordinasi otot. Melakukan perawatan diri sesuai kemampuan c. mendemonstrasikan menurun. taktil 3. Ingatkan untuk menggunakan sisi tubuh yang terlupakan 7. Bicara dengan tenang dan perlahan 8. Lakukan validasi terhadap persepsi klien dan lakukan orientasi kembali 1. kekuatan otot a. Libatkan keluarga dalam membantu klien 5. nyeri.d. Motivasi klien untuk melakukan ADL sesuai kemampuan 6. meningkat kelemahan. Sediakan alat Bantu diri 7. Evaluasi adanya gangguan persepsi: penglihatan. Mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber bantuan . Buat lingkungan yang memungkinkan klien untuk melakukan ADL mandiri 4. Catat adanya proses hilang perhatian terhadap salah satu sisi tubuh dan libatkan keluarga untuk membantu mengingatkan 6. memenuhi kebutuhan hidup depresi.perubahan transmisi dipertahankan saraf sensori. Ciptakn suasana lingkungan yang nyaman 4. sehari-hari kerusakan persepsi b. Evaluasi kemampuan membedakan panas-dingin. posisi dan proprioseptik 5. integrasi.

tidak a. Hindari restrain kecuali terpaksa 4. konsultasi dengan ahli okupasi atau fisioterapi 1. kurang informasi. Risiko cedera b. Diskusikan proses patogenesis dan pengobatan dengan klien dan keluarga 3. Beri pengaman pada daerah yang sehat. Kurang pengetahuan Pengetahuan klien dan (klien dan keluarga) keluarga tentang penyakit dan tentang penyakit dan perawatan meningkat. Klien tidak terjatuh b. Evaluasi derajat gangguan persepsi sensuri 2. Identifikasi cara dan kemampuan untuk meneruskan progranm perawatan di rumah 4.d. Kolaborasi: pasang DC jika perlu. Pertahankan bedrest selama fase akut 5.bila mungkin 7. Klien dan keluarga mengenal sumber berpartisipasi dalam proses belajar b. dan perubahan pola hidup yang diperlukan . Kriteria hasil : keterbatasan kognitif. Tidak ada trauma dan komplikasi lain 9.d. Kolaborasi: pemberian obat sesuai indikasi (diazepam. Identifikasi factor risiko secara individual dal lakukan perubahan pola hidup 5. Libatkan keluarga dalam perawatan 7. Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit. gerakan yang tidak terkontrol selama penurunan kesadaran Klien terhindar dari cedera selama perawatan Kriteria hasil : a. dilantin dll) 1. Pantau tingkat kesadaran dan kegelisahan klien 2. beri bantalan lunak 3. Buat daftar perencanaan pulang 8. perawatan b. pengobatan. Beri pengaman di samping tempat tidur 6.

Studi-studi tentang insidensi diagnosis keperawatan yang digunakan untuk lansia yang berada di Institusi perawatan mengungkapkan bahwa hambatan mobilitas fisik adalah diagnosis pertama atau kedua yang paling sering muncul. termasuk mobilitas di tempat tidur. Diagnosis keperawatan hambatan mobilitas fisik. potensial sindrom disuse. Prevalensi dari masalah ini meluas di luar institusi sampai melibatkan seluruh lansia Awitan imobilitas atau intoleransi aktivitas untuk sebagian besar orang tidak terjadi secara tiba-tiba. atau masa otot • Mengalami pembatasan pergerakan.blog. pengendalian.ui. intoleransi aktivitas.id/fer50/2008/09/17/asuhan-keperawatanpada-klien-dengan-stroke/comment-page-1/ Imobilitas dan Intoleransi Aktivitas pada Lansia October 3. dan intoleransi aktivitas memberikan definisi imobilitas yang lebih luas. dan sindromdissue sering terjadi pada lansia. Intervensi diarahkan pada pencegahan kea rah konsekuensi-konsekuensi imobilitas dan ketidak aktifan dapat menurunkan kecepatan penurunannya. BAB II PEMBAHASAN Imobilitas dan Intoleransi Aktivitas pada Lansia GANGGUAN MOBILITAS FISIK Definisi Sutau keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami seseorang Batasan karakteristik • Ketidakmampuan untuk bergerak dengan tujuan di dalam lingkungan. termasuk protocol-protokol mekanis dan medis • Gangguan koordinasi Faktor-faktor yang berhubungan • Intoleransi aktivitas • Penurunan kekuatan dan ketahanan • Nyeri dan rasa tidak nyaman • Gangguan persepsi atau kognitif • Gangguan neuromuskuler • Depresi • Ansietas berat . tetapi lebih berkembang secara perlahan dan tanpa disadari. berpindah dan ambulasi • Keengganan untuk melakukan pergerakan • Keterbatasan rentang gerak • Penurunan kekuatan. Imobilitas. bergerak dari mobilitas penuh sampai ketergantungan fisik total atau ketidak aktifan.ac. Imobilitas didefinisikan secara luas sebagai tingkat aktivitas yang kurang dari mobilitas optimal. 2009pusva juwitaLeave a commentGo to comments BAB I PENDAHULUAN Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi seseorang.http://mhs.

Suatu pemahman tentang dampak imobilitas dapat diperoleh dari interaksi kompetensi fisik. Batasan karakteristik • Secara verbal melaporkan keletihan atau kelemahan • denyut jantung atau tekanan darah yang tidak normal terhadap aktivitas • Rasa tidak nyaman dispneu setelah beraktivitas • Perubahan elektrokardiogravis yang menunjukkan adanya disritmia atau iskemia Faktor-faktor yang berhubungan • Tirah baring dan imobilitas • Kelemahan secara umum • Gaya hidup yang kurang gerak • Ketidakseimbanag antara suplai oksigen dan kebutuhan Faktor-faktor Internal Berbagai factor internal dalam imobilisasi tubuh atau bagian tubuh antara lain. Penurunan fungsimuskuloskeletal Perubahan fungsi neurologist Nyeri Defisit perceptual Berkurangnya kemampuan kognitif Jatuh Perubahan hubungan social Aspek psikologis Faktor-faktor eksternal Factor tersebut termasuk. Secara fisiologis. MANIFESTSI KLINIS Dampak fisiologis dari imobilitas dan ketidak efektifan • • • • • • • • • • • • • • Efek • Hasil • • Penurunan konsumsi oksigen maksimum Intoleransi ortostatik Peningkatan denyut jantung.INTOLERANSI AKTIVITAS Definisi Suatu keadaan ketidakcukupan energi secara fisiologis atau psikologis pada seseorang untuk bertahan aau menyelesaikan aktivitas sehri-hari yang dibutuhkan atau diinginkan. dan interpretasi pada kejadian. tubuh bereaksi terjhadap imobilitas dengan perubahan-perubahan yang hamper sama dengan proses penuaan. Program terapeutik Karakteristik penghuni institusi Karakteristik staf Sistem pemberian asuhan keperawatan Hambatan-hambatan Kebijakan-kebijakan institusi Dampak masalah pada lansia Lansia sangt renan erhadap konsekuensi fisiologis dn psikologis dari imobilitas. oleh karena itu memperberat efek ini. Perub ahan yang berhubungan dengan usia disertai dengan penyakit kronis menjadi predisposisi bagi lansia untuk mengalami komplikasi-komplikasi ini. . ancaman terhadap imobilitas.

selama dan setelah aktivitas diberikan) Kecenderungan alami (predisposisi atau penngkatan kearah latihan khusus) Kesulitan yang dirasakan Tujuan dan pentingnya lathan yang dirasakan Efisiensi latihan untuk dirisendiri (derajat keyakinan bahwa seseorang akan berhasil) • Keamanan Ketika program latihan spesifik telah diformulasikan dan diterima oleh klien. Sebagai suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan.• • • • • Penurunan fungsi ventrikel kiri Penurunan volume sekuncup Perlambatan fungsi usus Pengurangan miksi Gangguan tidur • • • • sinkop Penurunan kapasitas kebugaran Konstipasi Penurunan evakuasi kandung kemih Bermimpi pada siang hari. kurangnya transportasi dan kurangnya dukungan. Program tersebut disusun untuk memberikn kesempatan pada klien untuk mengembangkan suatu kebiasaan yang teratur dalam melakukan bentuk aktif dari rekreasi santai yang dapat memberikan efek latihan. Pencegahan Sekunder Spiral menurun yang terjadi akibat aksaserbasi akut dari imobilitas dapat dkurangi atau dicegah dengan intervensi keperawatan. Sebagai suatu proses episodic pencegahan primer diarahkan pada pencegahan masalah-masalah yang dapat tmbul akibat imoblitas atau ketidak aktifan. dan mengalami peningkatan. Pencegahan sekunder memfokuskan pada pemeliharaan fungsi dan pencegahan komplikasi. pengkajian tentang factor-faktor pengganggu berikut ini akan membantu untuk memastikan keterikatan dan meningkatkan pengalaman. 1. • Hambatan terhadap latihan Berbagai hambatan mempengaruhi partisipasi lansia dalam latihan secara teratur. Aktivitas sat ini dan respon fisiologis denyut nadsi sebelum. Hambatan lingkungan termasuk kurangnya tempat yang aman untuk latihan dan kondisi iklim yang tidak mendukung. perilaku gaya hidup tertentu (misalnya merokok dan kebiasaan diet yang buruk) depresi gangguan tidur. moblilitas dan aktivitas tergantung pada fungsi system musculoskeletal. kardiovaskuler. • Pengembangan program latihan Program latihan yang sukses sangat individual. Mengajarkan klien untuk mengenali tanda-tanda intoleransi atau latihan yang terlalu keras sama pentingnya dengan memilih aktivitas yang tepat. pulmonal. Pencegahan primer Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsug sepanjang kehidupan dan episodic. Diagnosis keperawaqtan dihubungkan dengan poencegahan sekunder adalah gangguan mobilitas fisik PENGKAJIAN . Bahaya-bahaya interpersonal termasuk isolasi social yang terjadi ketika teman-teman dan keluarga telah meninggal. diseimbangkan. halusinasi PENATALAKSANAAN 1. Keberhasilan intervensi berasal dri suatu pengertian tentang berbagai factor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas dan penuaan. instruksi tentang latihan yang aman harus dilakukan. Ketika klien telah memiliki evaluasi fisik secara seksama.

anoreksia. rentang gerak sendi. penerangan yang tidak adekuat. tremor tangan. Intoleransi ortostatik dapat menunjukkan suatu gerakan untuk berdiri tegak seperti gejala peningkatan denyut jantung. ukuran. kompresi pneumatik intermiten atau stoking kompresi gradien untuk meningkatkan aliran darah vena dan mencegah tromboembolisme. Hambatan-hambatan institusional terhadap mobilitas termasuk jalan koridor yang terhalang. dan gas arteri mengindikasikan adanaya perluasan dan beratnya kondisi yang terjadi. dan batas kandung kemih yang dapat diraba. Contoh-contoh pendekatan terhadap penanganan imobilitas meliputi terapi fisik untuk mempertahankan mobilitas dan kekuatan otot. kompresi pneumatik intermiten dan kekuatan otot. kekuatan. kelemahan. dan sakit kepala. Pengosonganh rectum yang tidak sempurna. Pengkajian fungsi secara periodik dapat digunakan untuk memantau perubahan dan keefektifan intervensi. iritabilitas. kecuali untuk eliminasi INTERVENSI . kesulitandalam mengikuti perintah dan sinkop • Kemunduran Respirasi Indikasi kemunduran respirasi dibuktikan dari tanda dan gejala atelektasis dan pneumonia. Gejalagejala kesulitan miksi termasuk pernyataan ketidakmampuan untuk berkemih dan tekanan atau nyeri pada abdomen bagian bawah • • Perubahan-perubahan Gastrointestinal Sensasi subjektif dari konstipasi termasuk rasa tidak nyaman pada abdomen bagian bawah. • Kemunduran kardiovaskuler Tanda dan gejala kardivaskuler tidak memberikan bukti langsung atau meyaknkan tentang perkembangan komplikasi imobilitas. spirometri insesif untuk hiperinflasi alveoli. dan kekuatan skeletal. dan tirah baring. perkusi. Hanya sedikit petunjuk diagnostic yang dapat diandalkan pada pembentukan trombosis. • Perubahan-perubahan integument Indikator cedera iskemia terhadap jaringan yang pertama adalah reaksi inflamasi. karpet yang lepas. Di dalam rumah. kamar mandi tanpa pegangan. pucat. Tanda-tanda tromboflebitis meliputi eritema. Tandatanda awal meliputi peningkatan temperature dan denyut jantung. lantai licin. mual gelisah. berkeringat. tangga yang tinggi. tempat tidudan posisi yang tinggi. distensi abdomen bagian bawah. Perubahan-perubahan dalam pergerakan dada. tekanan. dan ketahanan otot. nyeri tekan dan tanda homans positif. penurunan tekanan darah. rasa penuh. dan cairan pada lantai. Identifikasi dan penghilangan hambatan-hambatan yang potensial dapat meningkatakan mobilitas PENATALAKSANAAN TERAPEUTIK Pengobatan terapeutik ditujukan kearah perawatan penyakit atau kesakitan yang dihasilkan atau yang turut berperan terhadap masalah imobilitis dan penanganan konsekuensi aktual atau potensial dari imobilitas. bunyi napas. dan tempat duduk toilet yang rendah dapat menurunkan mobilitas klien. edema. depresi mental. • Faktor-faktor lingkungan Lingkungan tempat tinggal klien memberikan bukti untuk intervensi. Perubahan awal terlihat pada permukaan kulit sebagai daerah eritema yang tidak teratur dan didefinisikan sangat buruk di atas tonjolan tulang yang tidak hilang dalam waktu 3 menit setelah tekanan dihilangkan Perubahan-perubahan fungsi urinaria Bukti dari perubahan-perubahan fungsi urinaria termasuk tanda-tanda fisik berupa berkemih sedikit dan sering.• Kemunduran musculoskeletal Indikator primer dari keparahan imobilitas pada system musculoskeletal adalah penurunan tonus.

abdominal dan gluteal) dan untuk memberikan tekanan pada tulang bagi orang-orang dengan dan tanpa penyakit kardiovaskuler. stoking kompresi untuk memberikan tekanan eksternal pada tungkai. bersepeda. tetapi juga integrasi aktif dari latihan sebagai . Kontraksi isometrik dilakukan dengan cara bergantian mengencangkan dan merelaksasikan kelompok otot. kerja dapat dicapai. berenang. pemeliharaan sirkulasi yang adekuat meliputi tindakan-tindakan pendukung untuk mempertahankan tonus vaskuler (termasuk mengubah posisi dalam hubungannya dengan gravitasi). Kekuatan otot harus menghasilkan peningkatan setelah beberapa waktu. Kontraksi-kontraksi ini digunakan untuk mempertahankan kekuatan otot dan mobilitas dalam keadaan berdiri (misalnya otot-otot kuadrisep. Latihan angkat berat dengan meningkatkan pengulangan dan berat adalah aktivitas pengondisian kekuatan. LATIHAN KEKUATAN Aktivitas penguatan adalah latihan pertahanan yang progresif. Kontraksi ini mengubah panjang otot tanpa mengubah tegangan. Pergerakan aktif memengaruhi toleransi ortostatik. pemeliharaan ventilasi yang normal meliputi hiperinflasi dan mobilisasi serta menghilangkan sekresi. berirama. Kedua. dan dapat dinikmati. Ketiga. yang termasuk pengondisian program latihan harian baik kontraksi otot isometrik dan isotonik. KONTRAKSI OTOT ISOTONIK Kontraksi otot yang berlawanan atau isotnik berguna untk mempertahankan kekuatan otot-otot dan tulang. SIKAP Variabel utama yang dapat mengganggu keberhasilan intervensi pada individu yang mengalami imobilisasi adalah sikap perawat dan klien tentang pentingnya latihan dan aktivitas dalam rutinitas sehari-hari. atau pada saat duduk di kursi dengan cara mendorong atau menarik suatu objek yang tidak dapat bergerak. Kontraksi isotonik dapat dicapai pada saat berada di tempat tidur. dan asupan cairan yang adekuat untuk mencegah efek dehidrasi pada volume darah. nutrisi untuk meningkatkan anabolisme protein dan pembentukan tulang. Keempat. posisi yang tepat. Terakhir. Ketika tangan atau kaki dilatih baik otot-otot fleksor dan ekstensor harus dilibatkan. dan aktivitas kehidupan sehari-hari. dan berdansa. KONTRAKSI OTOT ISOMETRIK Kontraksi otot isometrik meningkatkan tegangan otot tanpa mengubah panjang otot yang menggerakkan sendi. Contohnya termasuk berjalan. Latihan ini meningkatkan kekuatan dan massa otot serta mencegah kehilangan densitas tulang dan kandungan mineral total dalam tubuh. Sikap perawat tidak hanya memengaruhi komitmen untuk memasukkan latihan sebagai komponen rutin sehari-hariyang berkelanjutan. dengan tungkai menggantung di sisi tempat tidur. Karena otot-otot memendek dan memanjang. Pembahasan tentang intervensi disajikan di sini. LATIHAN AEROBIK Latihan aerobik adalah aktivitas yang menghasilkan peningkatan denyut jantung 60 sampai 90% dari denyut jantung maksimal dihitung dengan (220-usia seseorang) x 0. Tujuan pertama meliputi pemeliharaan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal. pemeliharaan fleksibilitas sendi yan terlibat dalam latihan rentang gerak. dan sikap komitmen terhadap latihan. aktivitas penguatan aerobik.Limatujuan mengarahkan intervensi keperawatan untuk mencegah atau meniadakan sekuelafisiologis dari imobilitas. pemeliharaan fungsi urinaria dan usus yang normal bergantung pada dukungan nutrisi dan struktur lingkungan serta rutinitas-rutinitas untuk memfasilitasi eliminasi.7 Aktivitas aerobik yang dipilih harus menggunakan kelompok otot besar dan harus kontinu.

termasuk rentang gerak sendi dan pengkajian fungsional mengenai kemampuan. yaitu menggerakkan sendi seseorang melalui rentang geraknya oleh orang lain. pengumpulan dan penurunan tekanan darah balik vena akan terjadi. karakteristik kulit diatas tonjolan tulang Untuk urinaria. Posisi duduk di kursi secara normal dengan tungkai tergantung secara potensial berbahaya untuk seseorang yang beresiko mengalami pengembangan trombosis vena. penggunaan dan penyalahgunaan alat bantu. frekuensi dan jumlah berkemih . LATIHAN RENTANG GERAK Latihan rentang gerak aktif dan pasif memberikan keuntungan-keuntungan yang berbeda. resiko tinggi sindrom dissue Hasil yang diharapkan Klien mampertahankan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal dan fleksibilitas sendi-sendi • Intervensi keperawatan Observasi tanda dan gejala penurunan mobilitas sendi. perubahan ortostatik dalam tekanan darah dan denyut nadi Untuk respirasi. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan intoleransi aktivitas. dan ketahanan. mobilitas sendi. ukuran. dan kehilangan ketahanan Observasi status respirasi dan fungsi jantung pasien Observasi lingkungan terhadap bahaya-bahaya keamanan yang potensialUbah lingkungan untuk menurunkan bahaya-bahaya keamanan Ajarkan tentang tujuan dan pentingnya latihan Ajarkan penggunaan alat-alat bantu yang tepat • • • • DOKUMENTASI YANG ESENSIAL Dokumentasi untuk setiap sistem meliputi hal-hal berikut. hanya membantu mempertahankan fleksibilitas.intervensi bagi lansia di berbagai lingkungan. serta mencegah gangguan. Jika seseorang diposisikan dengan tungkai tergantung. gerakan pasif. • • • • • Untuk muskuloskeletal . kekuatan otot. Sebaliknya. RENCANA PERAWATAN Rencana asuhan keperawatan untuk imobilitas betujuan mempertahankan kemampuan dan fungsi. dan adanya nyeri Untuk Kardiovaskular. masalah-masalah mobilitas. Latihan aktif membantu mempertahankan fleksibilitas sendi dan kekuatan otot serta meningkatkan penampilan kognitif. MENGATUR POSISI Mengatur posisi juga digunakan untuk meningkatkan tekanan darah balk vena. dan fasilitas jangka panjang. pengkajian paru Untuk Integumen. rumah sakit. Mengatur posisi tungkai dengan ketergantungan minimal (misalnya meninggikan tungkai diatas dudukan kaki) mencegah pengumpulan darah pada ekstremitas bawah. Diagnosa keperawatan. komunitas. tonus. Demikian pula halnya sikap klien dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas latihan.

Usia merupakan factor resiko yang paling penting bagi semua jenis stroke. dan keluarga serta teman-teman BAB III PENUTUP Gangguan mobilitas fisik merupakan suatu keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami seseorang Intoleransi aktifitas merupakan suatu keadaan ketidakcukupan energi secara fisiologis atau psikologis pada seseorang untuk bertahan aau menyelesaikan aktivitas sehri-hari yang dibutuhkan atau diinginkan. Kemungkinan yang menjadi factor penyebab munculnya masalah ini adalah adanya perkembangan ekonomi dan perubahan gaya hidup terutama msayarakat perkotaan. Patricia. dan terapi okupasi. Salah satu penyakit yang sering dialami oleh lansia adalah stroke. Dengan bertambahnya usia maka permasalahan kesehatan yang terjadi akan semakin kompleks.com/2009/10/03/imobilitas-dan-intoleransi-aktivitas-padalansia/ BAB I PENDAHULUAN Kecenderungan pola penyakit neurologi terutama gangguan susunan saraf pusat tampaknya mengalami peningkatan penyakit akibat gangguan pembuluh darah otak.wordpress. Kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup terlihat semakin mudah sehingga meningkatkan hasratmereka untuk terus berjuang mencapai tujuan dengan penuh persaingan dalam perjuangan tersebut. 2006 • Possibly related posts: (automatically generated) • KEPUTIHAN =FLUOR ALBUS • Did you know Dismenore? • hidup sehat dengan bersepeda • Meningkatkan Potensi dan ketahanan http://pusva. mereka mendapatkan benturanbenturan fisik maupun psikologis akibatnya mereka tidak lagi memikirkan efek bagi kesehatan jangka panjang. ahli fisioterapi. seorang ahli gizi.Untuk gastrointestinal. . Beare. dokter. karakter dan pola feses dan alat bantu yang biasa digunakan untuk memfasilitasi eliminasi.25 kali lebih besar pada pria dibanding wanita. seorang ahli gizi. Upaya-upaya rehabilitasi untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya multidisiplin yang terdiri dari perawat. aktivitas sosial. dan keluarga serta teman-teman DAFTAR PUSTAKA Stanley. Pencegahan tersier Upaya-upaya rehabilitasi untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya multidisiplin yang terdiri dari perawat. 2 Jakarta EGC . Buku Ajar Keperawaan Gerontik ed. ahli fisioterapi. dan terapi okupasi. aktivitas sosial. akibat kecelakaan serta karena proses degenerative system saraf tampaknya sedang merambah naik di Indonesia. 1. Usia harapan hidup di Indonesia sekarang kian meningkat sehingga semakin banyak terdapat lansia. Walaupun belum didapat data secara konkrit mengenai hal ini namun dari pengalaman terlihat sangat mencolok adanya perubahan ini. Mickey. dokter. Insiden stroke meningkat secara eksponensial dengan bertambahnya usia dan 1.

ETIOLOGI . progresif cepat. yang disebabkan oleh embolus. Gejala neurologik timbul ± 24 jam. B. DEFINISI Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat. 2002 : hal. Persoalan pokok pada stroke adalah gangguan peredaran darah pada daerah otak tertentu (Mardjono. Infark iskemic terbagi menjadi dua yaitu : stroke trombotik. Pada bentuk ini gejala neurologik yang timbul akibat gangguan peredaran darah di otak akan menghilang dalam waktu 24 jam. misal: Trombosis. yaitu : 1. Corwin. Berlangsung lebih dari 24 jam atau berakhir dengan maut tanpa ditemukannya penyebab selain daripada gangguan vaskuler. Serangan Iskemia sepintas atau transient ischemic Attack (TIA). tidak berkembang lagi. 4. dan semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran otak non traumatic (Mansjoer 2000: 17) Stroke adalah gangguan neurologik fokal yang dapat timbul sekunder dari proses patologis pada pembuluh darah serebral. Infark Ischemik (Stroke non Hemoragi). baik fokal maupun menyeluruh yang berlangsung dengan cepat. Hal ini terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah otak. Gejala makin berkembang ke otak lebih berat. 2. 2131 ). 2. 1995 : 964). 2001 : hal. Menurut Lumbantobing (1994 : 5) kelainan yang terjadi akibat gangguan peredaran darah. Completed Stroke Kelainan saraf yang sifatnya sudah menetap.BAB II TINJAUAN TEORI A. tidak lebih dari seminggu. Stroke dapat dibagi menjadi 2 golongan. embolis. Menurut WHO stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral. Harsono (1993 : 30) membagi stroke non haemoragi berdasarkan bentuk klinisnya antara lain : 1. Perdarahan (Stroke Hemoragi) Terjadi pecahnya pembuluh darah otak. Stroke Progresif (Progresive Stroke/ Stroke in evolution). yang disebabkan oleh thrombus dan stroke embolik. Defisit Neurologik Iskemia Sepintas/ Reversible Ischemic Neurologik Defisit (RIND). Stroke atau Cerebro Vasculer Accident (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak ( Brunner dan Suddarth. 3. 2000: 54) yang menyatakan bahwa stroke adalah gangguan darah di pembuluh arteri yang menuju ke otak. Stroke terdiri dari 2 jenis yaitu : Stroke adalah sindrom yang awal timbulnya mendadak. berupa deficit neurologis fokal atau global yang langsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian. disebabkan karena gangguan perdarahan otak. ruptura dinding pembuluh atau penyakit vaskuler dasar (Prince. 181 ). Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak ( Elizabeth J.

g.kali dalam seminggu. Meningginya kadar kolesterol merupakan factor penting untuk terjadinya asterosklerosis atau menebalnya dinding pembuluh darah yang diikuti penurunan elastisitas pembuluh darah. 2. Diabetes Mellitus Debetes mellituas mampu . Trombosis Serebri Merupakan penyebab stroke yang paling sering ditemui yaitu pada 40% dari semua kasus stroke yang telah dibuktikan oleh ahli patologis. Embolisme Kebanyakan emboli serebri berasal dari suatu flowess dalam jantung sehingga masalah yang dihadapi sesungguhnya merupakan perwujudan dari penyakit jantung.sel / jaringan. 1. Menebalnya pembuluh darah otak akan menyempitkan diameter pembuluh darah yang akan menggangu kelancaran aliran darah ke otak. Lanjut usia f. Riwayat keluarga dengan stroke e. sehingga jaringan yang terletak di dekatnya akan tergeser. d. Polisitemia dapat menghambat kelancaran aliran darah ke otak. Apabila pembuluh darah otak menyempit maka aliran darah ke otak akan terganggu dan sel-sel otak akan mengalami kematian.jaringan yang telah mati ke aliran darah. Perdarahan intracranial biasanya disebabkan oleh ruptura arteria serebri. Penyakit Jantung Beberapa Penyakit Jantung berpotensi menimbulkan strok. Makin sering seseorang mengalami TIA maka kemungkinan untuk mengalami stroke semakin besar. Kadar asam urat darah tinggi . Merokok Merokok dapat meningkatkan konsentrasi fibrinogen yang akan mempermudah terjadinya penebalan dinding pembuluh darah dan peningkatan kekentalan darah. d. Perdarahan Intra Serebral (PIS) Penyebab yang paling sering adalah hipertensi. Biasanya berkaitan erat dengan kerusakan fokal dinding pembuluh darah akibat anterosklerosis. Harsono (1999 : 60) membagi factor risiko yang dapat ditemui pada klien dengan Stroke yaitu: Faktor risiko utama a. Kegemukan atau obesitas c. Penyakit jantung koroner dengan infark obat jantung dan gangguan irana denyut janung. b.Stroke non haemoragi merupakan penyakit yang mendominasi kelompok usia menengah dan dewasa tua karena adanya penyempitan atau sumbatan vaskuler otak yang berkaitan erat dengan kejadian. c. Perdarahan ini dibedakan berdasarkan tempat terjadinya perdarahan. Factor resiko ini pada umumnya akan menimbulkan hambatan atau sumbatan aliran darah ke otak karena jantung melepaskan sel. Faktor Resiko Tambahan a. Sedangkan menurut prince (1995 : 966) mengatakan bahwa stroke haemoragi disebabkan oleh perdarahan serebri. Dikemudian hari seperti Penyakit jantung reumatik.sel otak. Menurut Harsono ini dibedakan berdasarkan tempat terjadinya perdarahan antara lain: Perdarahan Sub Arachnoid (PSA) Kira-kira ¾ harus perdarahan sub arachnoid disebabkan oleh pecahnya seneusisma 5-6% akibat malformasi dari arteriovenosus. pada akhirnya akan menyebabkan kematian sel.menebalkan dinding pembuluh darah otak yang berukuran besar. Ekstravasali darah terjadi dari daerah otak dan atau subaracnoid. Penyakit darah tertentu seperti polisitemia dan leukemia. b. Kadar lemak darah yang tinggi termasuk Kolesterol dan Trigliserida. Transient Ischemic Attack (TIA) TIA dapat terjadi beberapa kali dalan 24 jam/ terjadi berkali. Hipertensi Hipertensi dapat mengakibatkan pecahnya maupun menyempitnya pembuluh darah otak. dimana tekanan diastolic pecah. Sementara leukemia/ kanker darah dapat menyebabkan terjadinya pendarahan otak.

Hemoragi ekstradural (epidural) adalah kedaruratan bedah neuro yang memerlukan perawatan segera. bergantung bagian otak yang terganggu.gejala CVA muncul akibat daerah tertentu tak berfungsi yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tempat tersebut.1996. Biasanya awitan tiba-tiba dengan sakit kepala berat. hemiparesis atau kelemahan salah satu sisi tubuh. Gejalagejala itu antara lain bersifat: a. kecuali bahwa hematoma subdural biasanya jembatan vena robek. b. hemangioblastoma dan trauma.paru menahun. juga disebabkan oleh tipe patologi arteri tertentu. Kehilangan komunikasi : disartria (kesulitan bicara). 2) Stroke Non Hemoragic . karena perubahan degeneratif karena penyakit ini biasanya menyebabkan ruptur pembuluh darah. Karenanya. disfasia atau afasia (bicara defektif atau kehilangan bicara). kehilangan sensori d. ukuran area yang perfusinya tidak adekuat. gangguan hubungan visual-spasial. periode pembentukan hematoma lebih lama ( intervensi jelas lebih lama) dan menyebabkan tekanan pada otak. makin jelas defisit neurologik yang terjadi dalam bentuk penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital. Hal ini disebut Transient ischemic attack (TIA). pada orang yang lebih muda dari 40 tahun. Sementara. (hemoragi subdural). Hemoragi intraserebral paling umum pada pasien dengan hipertensi dan aterosklerosis serebral. Perdarahan biasanya arterial dan terjadi terutama sekitar basal ganglia. memperberat atau malah menetap. Hemoragi subdural (termasuk hemoragi subdural akut) pada dasarnya sama dengan hemoragi epidural. Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama. hal 67) D. PATOFISIOLOGI 1) Stroke Hemoragic Perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari semua penyebab utama kasus gangguan pembuluh darah otak. hemoragi intraserebral biasanya disebabkan oleh malformasi arteri-vena. Disfungsi kandung kemih Gejala . Gejala itu muncul bervariasi. diruang subarachnoid (hemoragi subarachnoid) atau di dalam substansi otak (hemoragi intraserebral). bergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat). Kehilangan motorik : hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada sesi otak yang berlawanan.namun lebih dari 24 jam Gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini dissebut reversible ischemic neurologic defisit (RIND) c. Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologis e. Sementara Timbul hanya sebentar selama beberapa menit sampai beberapa jam dan hilang sendiri dengan atau tanpa pengobatan. Gejala makin lama makin berat (progresif) Hal ini desebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat yang disebut progressing stroke atau stroke inevolution d. adanya tumor otak dan penggunaan medikasi (antikoagulan oral. Perdarahan serebral dapat terjadi di luar duramater (hemoragi ekstradural atau epidural). Beberapa pasien mungkin mengalami hemoragi subdural kronik tanpa menunjukkan tanda dan gejala. apraksia (ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya) c. MANIFESTASI KLINIK Stroke ini menyebabkan berbagai defisit neurologik. C. b. Penyakit paru. Bila hemoragi membesar. dibawah duramater. Hemoragi subarachnoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau hipertensi. Sudah menetap/permanent (Harsono. Gangguan persepsi: disfungsi persepsi visual. amfetamin dan berbagai obat aditif). dan jumlah aliran darah kolateral (sekunder atau aksesori) a. Pasien dengan perdarahan luas dan hemoragi mengalami penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital. Arteri di dalam otak dapat menjadi tempat aneurisma. Ini biasanya mengikuti fraktur tengkorak dengan robekan arteri dengan arteri meningea lain.h. tetapi penyebab paling sering adalah kebocoran aneurisma pada area sirkulus wilisi dan malformasi arteri-vena kongenital pada otak.

bila perlu berikan oksigen 0-2 L/menit sampai ada hasil gas darah. Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena 7. EEG (Elektro Encephalogram) Dapat menunjukkan lokasi perdarahan. 6. Suzanne. Suatu kateter dimasukkan dengan tuntunan fluoroskopi dari arteria femoralis di daerah inguinal menuju arterial. Marilynn. 2. Perawatan umum stroke Ø Penatalaksanaan awal selama fase akut dan mempertahankan fungsi tubuh Mengenai penatalaksanaan umum stroke. hemoragik. yaitu arteri carotis di bagian tengah atau Middle Carotid Artery ( MCA ). · Kandung kemih yang penuh dikosongkan. 1999. Angiografi Arteriografi dilakukan untuk memperlihatkan penyebab dan letak gangguan. infark dan perdarahan. mengemukakan bahwa peningkatan tekanan darah yang sedang tidak boleh diobati pada fase akut stroke iskemik. Dalam waktu 72 jam daerah tersebut akan mengalami edema dan lama kelamaan akan terjadi nekrosis. KOMPLIKASI Komplikasi utama pada stroke yaitu : ü Hipoksia Serebral ü Penurunan darah serebral ü Luasnya area cedera (Smeltzer C. konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia. Pungsi Lumbal . 3. yang sesuai kemudian zat warna disuntikkan. CT-Scan CT-scan dapat menunjukkan adanya hematoma. gelombang delta lebih lambat di daerah yang mengalami gangguan. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa stroke antara lain adalah: 1. Asia Pacific Consensus on Stroke Manajement. mengemukakan hal-hal berikut: · Bebaskan jalan nafas dan usahakan ventilasi adekuat. oklusi disebabkan karena adanya penyumbatan lumen pembuluh darah otak karena thrombus yang makin lama makin menebal.2000 hal 292) F. 1997. 2002. MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark. Penurunan aliran arah ini menyebabakan iskemi yang akan berlanjut menjadi infark. 1999. b) Sedangkan stroke emboli terjadi karena adanya emboli yang lepas dari bagian tubuh lain sampai ke arteri carotis. sehingga aliran darah menjadi tidak lancer. PENATALAKSANAAN 1. mengemukakan bahwa tekanan darah diturunkan pada stroke iskemik akut bila terdapat salah satu hal berikut : . emboli tersebut terjebak di pembuluh darah otak yang lebih kecil dan biasanya pada daerah percabangan lumen yang menyempit. sebaiknya dengan kateterisasi intermiten. Onset stroke trombotik biasanya berjalan lambat.tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan 5. Konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia.menunjukan adanya tekanan normal .Terbagi atas 2 yaitu : a) Pada stroke trombotik. · Penatalaksanaan tekanan darah dilakukan secara khusus. Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal (Doenges E. Dengan adanya sumbatan oleh emboli akan menyebabkan iskemi E. Lokasi yang tersering pada stroke trombosis adalah di percabangan arteri carotis besar dan arteri vertebra yang berhubungan dengan arteri basiler. hal 2131) G.

- Tekanan sistolik > 220 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. - Tekanan diastolik > 120 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. - Tekanan darah arterial rata-rata > 130-140 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. - Disertai infark miokard akut/ gagal jantung atau ginjal akut. Pada umumnya peningkatan tekanan darah pada fase akut stroke diakibatkan oleh : o Stress daripada stroke o Jawaban fisiologis dari otak terhadap keadaan hipoksia o Tekanan intrakranial yang meninggi. o Kandung kencing yang penuh o Rasa nyeri. Tekanan darah dapat berkurang bila penderita dipindahkan ke tempat yang tenang, kandung kemih dikosongkan, rasa nyeri dihilangkan, dan bila penderita dibiarkan beristirahat. · Hiperglikemia atau hipoglikemia harus dikoreksi. Keadaan hiperglikemia dapat dijumpai pada fase akut stroke, disebabkan oleh stres dan peningkatan kadar katekholamin di dalam serum. Dari percobaan pada hewan dan pengalaman klinik diketahui bahwa kadar glukosa darah yang meningkat memperbesar ukuran infark. Oleh karena itu, kadar glukosa yang melebihi 200 mg/ dl harus diturunkan dengan pemberian suntikan subkutan insulin. Konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia mengemukakan bahwa hiperglikemia ( >250 mg% ) harus dikoreksi sampai batas gula darah sewaktu sekitar 150 mg% dengan insulin intravena secara drips kontinyu selama 2-3 hari pertama. Hipoglikemia harus diatasi segera dengan memberikan dekstrose 40% intravena sampai normal dan diobati penyebabnya. · Suhu tubuh harus dipertahankan normal. Suhu yang meningkat harus dicegah, misalnya dengan obat antipiretik atau kompres. Pada penderita iskemik otak, penurunan suhu sedikit saja, misalnya 2-3 derajat celsius, sampai tingkat 33ºC atau 34 °C memberi perlindungan pada otak. Selain itu, pembentukan oxygen free radicals dapat meningkat pada keadaan hipertermia. Hipotermia ringan sampai sedang mempunyai efek baik, selama kurun waktu 2-3 jam sejak stroke terjadi, dengan memperlebar jendela kesempatan untuk pemberian obat terapeutik. · Nutrisi peroral hanya boleh diberikan setelah hasil tes fungsi menelan baik, bila terdapat gangguan menelan atau penderita dengan kesadaran menurun, dianjurkan melalui pipa nasogastrik. · Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan. Pemberian cairan intravena berupa cairan kristaloid atau koloid, hindari yang mengandung glukosa murni atau hipotonik. · Bila ada dugaan trombosis vena dalam, diberikan heparin dosis rendah subkutan, bila tidak ada kontra indikasi. Terapi farmakologi yang dapat diberikan pada pasien stroke : a. Antikoagulasi dapat diberikan pada stroke non haemoragic, diberikan sdalam 24 jam sejak serangan gejala-gejala dan diberikan secara intravena. b. Obat antipletelet, obat ini untuk mengurangi pelekatan platelet. Obat ini kontraindikasi pada stroke haemorhagic. c. Bloker kalsium untuk mengobati vasospasme serebral, obat ini merilekskan otot polos pembuluh darah. d. Trental dapat digunakan untuk meningkatkan aliran darah kapiler mikrosirkulasi, sehingga meningkatkan perfusi dan oksigenasi ke jaringan otak yang mengalami iskemik. Ø Kebutuhan psikososial Gangguan emosional, terutama ansietas, frustasi dan depresi merupakan masalah umum yang dijumpai pada penderita pasca stroke. Korban stroke dapat memperlihatkan masalah-masalah emosional dan perilakunya mungkin berbeda dari keadaan sebelum mengalami stroke. Emosinya dapat labil, misalnya pasien mungkin akan menangis namun pada saat berikutnya tertawa, tanpa sebab yang jelas. Untuk itu, peran perawat adalah untuk memberikan pemahaman kepada keluarga tentang perubahan tersebut. Hal-hal yang bisa dilakukan perawat antara lain memodifikasi perilaku pasien seperti seperti mengendalikan simulasi di lingkungan, memberikan waktu istirahat sepanjang siang hari untuk mencegah pasien dari kelelahan yang berlebihan, memberikan umpan balik positif untuk perilaku yang dapat diterima atau

perilaku yang positif, serta memberikan pengulangan ketika pasien sedang berusaha untuk belajar kembali satu ketrampilan. Ø Rehabilitasi selama di rumah sakit Rehabilitasi di rumah sakit memerlukan pengkajian yang sistematik dan evaluassi dari defisit dan perbaikan fungsi pasien. Fokus perawatan adalah langsung membantu pasien belajar kembali kehilangan keterampilan yang dapat membentu kembali kemungkinan kemandirian pasien. Pada fase ini pasien dimonitor secara hati-hati untuk mencegah berkembangnya komplikasi yang lebih lanjut. Adapun intervensi yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut : 1. Anjurkan pasien untuk mengerjakan sendiri ”personal Hygiene” semampunya. 2. Ajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari dengan menghargai cara pasien mengkompensasi ketidakmampuan pasien. 3. Anjurkan pasien untuk latihan di tempat tidur. 4. Berikan spesial perawatan kulit. 5. Berikan privacy dengan menggunakan penutup jika ia belajar keahlian baru seperti belajar makan sendiri. 6. Berikan support emosional. 7. Berikan empati pada perasaan klien.anjurkan keluarga untuk berpartisipasi. Ø Perencanaan pasien pulang Untuk mencegah kembalinya klien ke rumah sakit, diperlikan suatu program untuk membimbing klien dan keluarga yang tercakup dalam perencanaan pulang. Perencanaan pulang dilakukan segera setelah klien masuk rumah sakit, yang dilakukan oleh semua anggota tim kesehatan. Perencanaan pulang yang baik adalah perencanaan pulang yang tersentralisasi, terorganisir, dan melibatkan berbagai anggota tim kesehatan. Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan melalui asuhan keperawatan mutlak harus mengikuti dan berperan aktif dalam mementukan rencana pemulangan klien, sehingga klien mendapatkan pelayanan yang holistik dan komprehensif. Tujuan perencanaan pulang : a. Mempersiapkan klien untk menyesuaikan diri dengan rumah dan masyarakat. b. Agar klien dan keluarga mempunyai pengetahuan dan ketrampilan serta sikap dalam memperbaiki dan mempertahankan status kesehatannya. c. Agar klien dan keluarga dapat menerima keadaan diri klien jika terdapat gejala sisa ( cacat ). d. Membantu merujuk klien ke pelayanan kesehatan lain. Mengingat banyaknya informasi dan pendidikan yang harus diterima oleh klien selama perawatan maupun dalam persiapan untuk pulang, maka prinsip belajar mengajar juga harus diperhatikan dalam proses rencana pemulangan. Informasi untuk klien dan keluarga : a. Gunakan bahasa yang sederhana, jelas dan ringkas. b. Jelaskan langkah-langkah dalam melaksanakan perawatan. c. Perkuat penjelasan lisan dengan instruksi tertulis, jika klien bisa membaca. d. Motivasi klien mengikuti langkah-langkah tersebut selama perawatan dan pengobatan. e. Kenali tanda-tanda dan gejala komplikasi yabg harus dilaporkan kepada tim kesehatan. f. Anjurkan keluarga untuk berpartisipasi aktif dalam pengawasan dan perawatan klien. g. Berikan keluarga nomor penting yang dapat dihubungi bila klien perlu pertolongan medis.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN I. Pengkajian 1. Aktivitas dan istirahat Data Subyektif:

- kesulitan dalam beraktivitas : kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis. - mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot ) Data obyektif: - Perubahan tingkat kesadaran - Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia ) , kelemahan umum. - gangguan penglihatan 2. Sirkulasi Data Subyektif: - Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung , endokarditis bacterial ), polisitemia. Data obyektif: - Hipertensi arterial - Disritmia, perubahan EKG - Pulsasi : kemungkinan bervariasi - Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal 3. Integritas ego Data Subyektif: - Perasaan tidak berdaya, hilang harapan Data obyektif: - Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan - kesulitan berekspresi diri 4. Eliminasi Data Subyektif: - Inkontinensia, anuria - distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara usus( ileus paralitik ) 5. Makan/ minum Data Subyektif: - Nafsu makan hilang - Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK - Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia - Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah Data obyektif: - Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring ) - Obesitas ( factor resiko ) 6. Sensori neural Data Subyektif: - Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA ) - nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid. - Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati - Penglihatan berkurang - Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka ipsilateral ( sisi yang sama ) - Gangguan rasa pengecapan dan penciuman Data obyektif: - Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan tingkah laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif - Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke, genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam ( kontralateral ) - Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )

Riwayat hipertensi keluarga.Gangguan dalam memutuskan. dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh . Nyeri / kenyamanan Data Subyektif: .Perokok ( factor resiko ) Tanda: . stroke . kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata. Pengajaran / pembelajaran Data Subjektif : . berkurang kesadaran diri 10. edema serebral. ketidakmampuan berkomunikasi 11. Dibuktikan oleh : . intelektual dan emosional . Interaksi social Data obyektif: . hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit .menentukan regimen medikasi / penanganan terapi .Menampakan stabilisasi tanda vital dan tidak ada PTIK .Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral 7.Suara nafas terdengar ronchi /aspirasi 9.Perubahan tanda-tanda vital Tujuan Pasien / kriteria evaluasi . perdarahan.Perubahan tingkat kesadaran . kesulitan untuk melihat objek. kognisi dan fungsi sensori / motorik .Tidak mampu mengenali objek.Perubahan persepsi terhadap tubuh. .Peran pasien menampakan tidak adanya kemunduran / kekambuhan . . warna.Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas . Respirasi Data Subyektif: . Pertimbangan rencana pulang .Perubahan respon sensorik / motorik. bahasa. stimuli taktil . kata. dan wajah yang pernah dikenali . shoping . reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif. menyiapkan makanan .Gangguan berespon terhadap panas. spasme pembuluh darah serebral.bantuan untuk transportasi..d terputusnya aliran darah : penyakit oklusi.Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat.Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik .penggunaan kontrasepsi oral 12.Defisit sensori . perhatian sedikit terhadap keamanan. ketegangan otot / fasial 8. perawatan diri dan pekerjaan rumah (Doenges E. pendengaran. Perubahan perfusi jaringan serebral b.Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya Data obyektif: .Tingkah laku yang tidak stabil.Keamanan Data obyektif: . Diagnosa Keperawatan 1.2000 hal 292) II. gelisah.Problem berbicara.Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan . kehilangan memori . global / kombinasi dari keduanya.Terpelihara dan meningkatnya tingkat kesadaran. kegelisahan . Marilynn.Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa.Timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur .

Evaluasi penggunaan alat bantu pengatur posisi .Bantu dalam meberikan stimulasi elektrik .Bantu meningkatkan keseimbangan duduk . . ketidakmampuan dalam persespi kognitif Dibuktikan oleh : . supine.Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi individu/ penyebab koma / penurunan perfusi serebral dan potensial PTIK .Ketidakmampuan berbicara atau menulis secara komprehensif. . . misalnya pandangan kabur. atur kunjungan sesuai indikasi Kolaborasi . kehilangan tonus otot fasial / mulut.Adanya peningkatan kemampuan fungsi perasaan atau kompensasi dari bagian tubuh .Pasien mampu memahami problem komunikasi . penurunan kekuatan otot.Mulai latihan aktif / pasif rentang gerak sendi pada semua ekstremitas . gunakan foot board pada saat selama periode paralysis flaksid. koordinasi.Ubah posisi tiap dua jam ( prone.Intervensi : . perubahan lapang pandang / persepsi lapang pandang .Monitor dan catat status neurologis secara teratur .Tidak mampu berbicara / disartria . Tujuan pasien / kriteria evaluasi .Bantu memanipulasi untuk mempengaruhi warna kulit edema atau menormalkan sirkulasi .Awasi bagian kulit diatas tonjolan tulang Kolaborasi .d kelemahan neuromuskular. gangguan neuromuskuler. sediakan lingkungan yang tenang . misal aminocaproic acid ( amicar ) · Antihipertensi · Vasodilator perifer. · Manitol 2.Berikan medikasi sesuai indikasi : · Antifibrolitik. miring ) . kelemahan umum / letih. Pertahankan kepala dalam keadaan netral .Tidak ada kontraktur.Gangguan artikulasi .Bantu meningkatakan fungsi. mengidentifikasi objek .d gangguan sirkulasi serebral. Tujuan Pasien / kriteria evaluasi .Gunakan bed air atau bed khusus sesuai indikasi 3.Evaluasi pupil 9 ukuran bentuk kesamaan dan reaksi terhadap cahaya 0 . Ditandai : .Bantu untuk mengubah pandangan . mengenal kata .Menampakan kemampuan perilaku / teknik aktivitas sebagaimana permulaannya .Monitor tanda-tanda vital . missal cyclandelate.Menentukan metode komunikasi untuk berekspresi . Ketidakmampuan mobilitas fisik b.Konsul ke bagian fisioterapi .Kepala dielevasikan perlahan lahan pada posisi netral. foot drop.Ketidakmampuan dalam bergerak pada lingkungan fisik : kelemahan.Topang ekstremitas pada posis fungsional . isoxsuprine.ketidakmampuan moduasi wicara . termasuk bicara jika pasien mengalami gangguan fungsi . Gangguan komunikasi verbal b.Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi .Pertahankan tirah baring . keterbatasan rentang gerak sendi.Terpeliharanya integritas kulit Intervensi : .

Konsentrasi jelek. perubahan proses pikir . kesulitan tugas toileting Kriteria hasil: . perpaduan ( trauma / penurunan neurologi).Mengidentifikasi sumber pribadi /komunitas dalam memberikan bantuan sesuai kebutuhan .d penerimaan perubahan sensori transmisi.Ketidakmampuan untuk mengatakan letak organ tubuh .Lindungi psien dari temperatur yang ekstrim .Beri stimulasi terhadap sisa-sisa rasa sentuhan . orang . tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan .d kerusakan neuromuskuler.Lakukan pendekatan dari sisi yang utuh ..Menggunakan sumber bantuan dengan tepat Intervensi : .Kaji kemampuan dantingkat kekurangan (dengan menggunakan skala 1-4) untuk melakukan kebutuhan sehari-hari . tempat .Mendemonstrasikan perubahan gaya hidup untuk memenuhi kenutuhan perawatan diri Intervensi: .Perubahan pola tingkah aku .Kerusakan kemampuan melakukan AKS misalnya ketidakmampuan makan . .Melakukan aktivitas perwatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri .Sediakan metode komunikasi alternatif .Validasi persepsi pasien 5. .Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasien sendiri.Dapat mempertahakan level kesadaran dan fungsi persepsi pada level biasanya.Mendemonstrasikan perilaku untuk kompensasi Intervensi : . Perubahan persepsi sensori b. .Antisipasi dan sediakan kebutuhan pasien .Bantu pemahaman sensori .Sediakan bel khusus jika diperlukan .Bicara langsung kepada pasien dengan perlahan dan jelas .Ketidakmampuan mengkoordinasi kemampuan motorik.Evaluasi penurunan visual .Konsul dengan ahli terapi wicara 4.Disorientasi waktu.Perubahan pola komunikasi . Kurang perawatan diri b.Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi tentang kebutuhannya untuk menghindari dan atau kemampuan untuk menggunakan urinal.Sederhanakan lingkungan . kehilangan kontrol /koordinasi otot Ditandai dengan : .Kaji patologi kondisi individual . tekanan psikologis ( penyempitan lapangan persepsi disebabkan oleh kecemasan) Ditandai . penurunan kekuatan dan ketahanan.Bedakan antara afasia dengan disartria .Perubahan pengetahuan dan mampu terlibat . Tujuan / kriteria hasil : .bedpan.mandi.Bicara dengan nada normal Kolaborasi : .Pertahankan kontak mata saat berhubungan .Bantu menentukan derajat disfungsi . memasang/melepas baju.

. .Berikan oksigenasi sesuai advis . Gangguan pemenuhan nutrisi b.Tidak terdapat tanda distress pernapasan .Bunyi napas bersih saaatauskultasi .Identifikasi kebiasaan defekasi sebelumnya dan kembalikan pada kebiasaan pola normal tersebut. Kesimpulan .Kaji dan pantau pernapasan.Konsultasikan dengan ahli fisioterapi/okupasi 6. . Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.berlemak dan pedas.2000 hal 293-305) BAB IV PENUTUP A.Pasien memperlihatkan kepatenan jalan napas .Pantau BGA dan Hb sesuai indikasi 7.Penghisapan sekresi . Kadar makanan yang berserat.Ukur BB setiap hari sesuai indikasi . .Rongga mulut terinflamasi Kriteria evaluasi: .Pemberian anti emetic dengan jadwal reguler .Vitamin A.Dorong pasien untukmkan diit tinggi kalori kaya nutrien sesuai program .Rujuk ahli diit .d reflek menelan turun. ketidakmampuan mengatasi lendir Kriteria hasil: .Identifikasi pasien yang mengalami mual muntah Kolaborasi: .D.GDA dan tanda vital dalam batas normal Intervensi: .E dan B6 .Pasien mengungkapkan pemasukan adekuat Intervensi.Kehilangan sensasi pengecapan .BB stabil . hindari makanan terlalu manis.Posisikan tubuh dan kepala untuk menghindari obstruksi jalan napas dan memmberikan pengeluaran sekresi yang optimal .d kerusakan batuk.Pasang /pertahankan slang NGT untuk pemberian makanan enteral (DoengesE.Pasien dapat berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang nafsu makan .Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi jalan napas setiap 4 jam .Ekspansi dada simetris . reflek batuk dan sekresi . Kolaborasi. Anjurkan untuk minum banyak dan tingkatkan aktivitas. bising).Pantau masukan makanan setiap hari .Berikan supositoria dan pelunak feses . Marilynn. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan .hilang rasa ujung lidah Ditandai dengan: .Kontrol faktor lingkungan (bau.Keluhan masukan makan tidak adekuat .Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau keberhasilannya.

Riwayat keluarga dengan stroke e. Doengoes. yaitu: Infark Ischemik (Stroke non Hemoragi) Hal ini terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah otak Perdarahan (Stroke Hemoragi) Terjadi pecahnya pembuluh darah otak. dkk. 1996. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Persarafan.Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat. 2000. http://fijaytrangkil. Marilynn E.html Pendahuluan data Salah satu cermin keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia dapat dilihat dari meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia yaitu 67 tahun untuk wanita dan 63 tahun untuk pria yang mencapai 19 juta jiwa atau 8. Diabetes Melitus c. inc.5% dari penduduk Indonesia. Neurogeriatri.com/2008/06/asuhan-keperawatan-klien-denganstroke. Penyakit Jantung d. Stroke juga menjadi salah satu penyebab kematian dan kecacatan neurologis yang utama. Saran Dari uraian diatas dapat kami sarankan sebaiknya para pembaca khususnya perawat dengan kasus stroke mengetahui tentang: Faktor-faktor resiko yang dapat ditemui pada klien dengan stroke laboratorium yang perlu dilakukan Cara penatalaksanaan pada stroke. 2001. Pahria. Penyakit paru-paru menahun B. Penyakit darah tertentu seperti polisitemia dan leukemia g. Jakarta : EGC. 1993. Hudak Gallo. Kadar lemak darah yang tinggi termasuk kolesterol dan trigliserida b. A. 1997. Hipertensi b. Stroke dibagi menjadi 2 golongan. Kadar asam urat darah tinggi h. New York : William Morrow and Company. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. DAFTAR PUSTAKA Ancowitz. Lanjut Usia f. Transient Ischemic Attack (TIA) Faktor resiko tambahan a. Lumbantobing. Dari . Kegemukan atau obesitas c. Merokok d. The Stroke Book.blogspot. disebabkan karena gangguan perdarahan otak. Jakarta : EGC. Jakarta : EGC. Keperawatan Kritis Edisi VI Volume II. Faktor-faktor risiko yang dapat ditemui pada klien dengan stroke yaitu: Faktor risiko utama a. Tuti. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

termasuk kebutuhan kesehatannya. sehingga apa yang kita cita-citakan. dapat mengembangkan ataupun memfasilitasi pembentukan kelompok usia lanjut binaan sebagai suatu wadah kegiatannya sebagai model kegiatan dalam rangka peningkatan kualitas hidup usia lanjut. Karena itu para usia lanjut membutuhkan perhatian khusus dari keluarganya dan masyarakat.5% dari penduduk Indonesia. Mengingat hal itu. Stroke merupakan suatu penyakit yang menyerang syaraf otak manusia sehingga mereka yang terkena serangan strokeakan mengalami kelumpuhan sebagian anggota tubuhnya tergantung susunan syaraf bagian mana yang terserang. Terutama penyakit yang berhubungan dengan faktor usia seperti tekanan darah tinggi. tidak merokok dan sebagainya agar suatu saat nanti para usia lanjut tidak segera mengalami kepikunan dan masih dapat hidup mandiri bahkan produktif. semua orang akan mengalami masa tua dan usia lanjut yang secara alami tidak dapat dihindarkan. senam bersama. booklet atau poster tentang upaya kesehatan lanjut usia. namun tidak tertutup kemungkinan menyerang meraka yang berusia muda akibat perubahan pola hidup dan gaya hidup. stroke dan sebagainya. Dari jumlah tersebut sebagian besar di antara mereka daya tahan tubuhnya sangat rentan terhadap berbagai serangan penyakit. Karenanya. Meski begitu. berdansa/berjoget atau melakukan kegiatan apa saja yang dibutuhkan. Nusantara Stroke & Medical Center menyelenggarakan seminar untuk meminimalkan angka kejadian stroke yang dialami para lanjut usia (lansia) pada tanggal 6 Juli 2004. leaflet. Diakuinya. usia lanjut dapat saling berdiskusi tentang pengalaman kesehatannya. Keterbatasan gerak dan kelincahannya serta usia pensiun yang menyebabkan usia lanjut cenderung menurun dan kemudian akan mempengaruhi mental serta kehidupan sosialnya. Bukan hanya itu Yastroki sebagai suatu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli terhadap stroke dan usia lanjut. Di dalam kelompok ini. saling bertukar pikiran. stroke dan sebagainya. Sesuai dengan status kesehatan. Biasanya penyakit ini akan menyerang orang-orang berusia lanjut. kondisi ekonomi. cukup istirahat dan olah raga. perlu dilakukan pengkajian kebutuhan kesehatan usia lanjut. Pada usia tersebut akan terjadi kemunduran sel-sel yang dapat mempengaruhi fungsi dan kemampuan sistem tubuh termasuk syaraf. berharap di masa mendatang dapat dikembangkan berbagai kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia melalui berbagai pelatihan bagi keluarga. Untuk mengantisipasi Hal tersebut. Salah satu cermin keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia dapat dilihat dari meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia yaitu 67 tahun untuk wanita dan 63 tahun untuk pria yang mencapai 19 juta jiwa atau 8. Namun kondisi saat ini menyebabkan para anggota keluarga banyak yang bekerja maupun mempunyai kegiatan di luar rumah menyebabkan para usia lanjut merasa tersisihkan. petugas panti wreda. sosial budaya. serangan jantung. Haryono. yaitu terbentuknya klub stroke berbasis masyarakat bisa . Terutama penyakit yang berhubungan dengan faktor usia seperti tekanan darah tinggi. usia lanjut mempunyai pola hidup yang berbeda satu dengan lainnya. serta penyediaan bukubuku. Dengan demikian mereka tidak merasa kesepian dan akan mendapatkan banyak pengetahuan tentang kesehatan dismping menerima pelayanan kesehatan secara sederhana yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di puskesmas. jantung dan pembuluh darah. pendidikan maupun lingkungannya.jumlah tersebut sebagian besar di antara mereka daya tahan tubuhnya sangat rentan terhadap berbagai serangan penyakit. untuk menghindarinya stroke perlu dikenali dan dipahami cara pencegahannya melalui pola hidup sehat seperti makan dengan gizi seimbang. Menurut Komisaris Utama NSMC Prof Dr Haryono Suyono. serangan jantung. kebutuhan usia lanjut pun dapat berbeda. pengasuh usia lanjut. Berbgai masalah yang dihadapi usia lanjut anatara lain penyakit yang biasanya betsifat kronis dan memerlukan penanganan speialistik sehingga membutuhkan waktu relatif lama dan biaya tinggi.

termasuk di dalamnya lansia yang masih potensial. tahun 1980 jumlah lansia masih 7 juta jiwa. Ia berada di Banjarmasin untuk menghadiri acara sosialisasi perlindungan perempuan lansia dan penyandang cacat tingkat Kota Banjarmasin. Drs.5 juta. sementara penduduk kategori usia di bawah lima tahun (balita) sebesar 16.3 juta orang. angka kelahiran sudah tidak terlalu meningkat lagi. Subagio menjelaskan penduduk yang disebut lansia adalah yang berusia di atas dari 60 tahun.34% atau tercatat 28. Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan RI. ada lansia yang memang tidak produktif ditangani secara khusus. makanya perlu antisipasi dan penanganan dalam menghadapi boom lansia tersebut.id/read. tetapi melihat tingkat kesehatan dan kesejahteraan belakangan ini maka lansia merupakan sebuah kehidupan. Usia lanjut khususnya perempuan bukan berarti tidak meninggalkan masalah di tengah masyarakat. Melihat tingkat kesehatan dan kesejahteraan kian membaik maka angka harapan hidup penduduk Indonesia juga kian meningkat pula. Kamis (18/9/2008). Jumat (22/5). balitanya tinggal 6. Pada tahun 2005 kondisi komposisi penduduk Indonesia telah berubah yang menjadikan penduduk lansia mencapai 7% dan balita 8. komposisi penduduk Indonesia belakangan ini kian terbalik.terwujud.� kata Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial (Yanrehsos). �Jumlah lansia saat ini sekitar 16. Namun pada tahun 2000 jumlah lansia Indonesia sudah mencapai tiga kali lipat yakni menjadi 14. atau 5. kemudian tahun 1990 naik menjadi . Sedangkan ramalan pihak badan kesehatan dunia WHO bahwa penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2020 mendatang sudah mencapai angka 11. Menurut Subagio terdapat dua model penanganan lansia. dan jumlahnya dari tahun ke tahun terus meningkat. Depsos.or. Mereka yang masih produktif khususnya perempuan bisa diarahkan ke dalam kegiatan ekonomi produktif.5 juta jiwa dari seluruh jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 220 juta jiwa. “Menjadi lansia bukanlah pilihan. Pada tahun 1971 lalu penduduk Indonesia yang dikategorikan lansia masih sekitar 4. Menurutnya.php?id=124 KAPANLAGI.1%.COM] . tetapi ada pula lansia walau udah tua tetapi masih produktif.4 juta orang. Menurutnya.Pihak Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia memprediksi akan terjadi lonjakan (boom) jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di negara Indonesia menyusul kian membaiknya tingkat kesejahteraan yang diiringi kian membaiknya pula tingkat derajat kesehatan masyarakat.yastroki. Makmur Sunusi pada konperensi pers dalam rangka Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) Tahun 2009 di Jakarta.” kata Deputi Bidang Perlindungan Perempuan. khususnya perempuan di mana usia perempuan akan lebih panjang. tetapi jumlah angka harapan hidup yang terus meningkat.8 juta orang.5%.2%. Para usia lanjut yang terpaksa harus tinggal di rumah karena lemah atau pasca perawatan dan membutuhkan perawatan kesehatan dapat dibantu dengan ?Perawatan Kesehatan Usia Lanjut di rumah? yang biasa dikenal dengan Home Care melalui pemberdayaan keluarga dan masyarakat.9% yang menyebabkan jumlah penduduk lansia terbesar di dunia. [kpl/rif/foto 22/5/2009 (Kominfo-Newsroom) � Jumlah orang lanjut usia (lansia) di Indonesia saat ini sekitar 16. Subagio di Banjarmasin. RIS http://www. yang pada gilirannya akan menimbulkan jumlah penduduk lansia terus membengkak secara drastis.

baik yang potensial maupun yang tidak potensial. . dan tahun 2020 menjadi 28 juta orang lebih. Toni Hartono dalam kesempatan sama mengatakan.” katanya.5 juta orang.6 juta orang. Inten Suweno. Sementara itu Sekjen Komnas Lansia.96 juta orang.go.Lies kembali mengatakan. Namun karena terbatasnya anggaran. maka diprioritaskan bagi lansia yang non-potensial atau terlantar. mendapatkan pelayanan yang sama. han. jumlah lansia yang terlayani kurang lebih lima persen dari jumlah lansia terlantar yang menurut data Pusdatin Kesos tahun 2008 sebanyak 1. http://www. Tangerang. Karena itu. Sumatra Utara. Lansia dan Penyandang Cacat.16%). katanya. atau yang merupakan daerah paling tinggi jumlah lansianya. artinya jangan menunggu kapan masuk panti jompo. dan Bali (11.12 juta orang. dan pemerintah. Namun panti sosial-panti sosial yang jumlahnya sebanyak 243 unit.14%). kontribusi Komnas Lansia dalam HLUN antara lain dalam acara Temu Nasional Bina Keluarga Lansia (BKL) yang diselenggarakan BKKBN diminta menjadi pembicara utama yang disampaikan Ketua Komnas Lansia. Depsos akan melaksanakan launching Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU) Tahun 2009 oleh Menteri Sosial di Puspitek. baik di tengah masyarakat maupun dalam proses pembangunan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. maka seseorang walaupun telah pensiun tetap diusahakan supaya terus aktif. keluarga. Selain itu juga merencanakan untuk mensosialisasikan konsep Menua Secara Aktif. dan Binjai." kata Asisten Deputi Urusan Perempuan. 14% di antaranya berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. diperkirakan jumlah lansia mencapai 23 juta jiwa. sedangkan tahun 2000 naik menjadi 14 juta jiwa.34% dari jumlah penduduk di Indonesia. panti jompo. Lies Rostianty. semua lansia yang jumlahnya saat ini sekitar 16. "Harus ada upaya antisipasi karena lansia merupakan kelompok umur yang kurang berdaya sehingga menjadi beban masyarakat. Tahun 2010. yaitu di Tulungagung.Dari jumlah tersebut. Depsos akan mencoba mencari solusi. Untuk masalah ini. dan lain-lain. Sabtu (19/12). katanya. kita punya dua kota perconto. Pelayanan tersebut dilakukan melalui pusat-pusat pelayanan sosial. “Dengan konsep Menua Secara Aktif. Disusul Provinsi Jawa Tengah (11.02%).id/berita/bipnewsroom/jumlah-lansia-di-indonesia-165juta-orang/ BEBERAPA wilayah di Indonesia akan mengalami ledakan penduduk lansia (lanjut usia) pada 2010 hingga 2020. untuk kota percontohan. di antaranya dengan melakukan pendekatan komunitas dan keluarga. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2007. dalam acara sosialisasi kebijakan penanganan lansia di Yogyakarta. Ia mengatakan. antisipasi ledakan lansia di Binjai dilakukan dengan model pendekatan senior center. Jawa Timur (11. Ia menjelaskan bahwa pada peringatan HLUN tahun 2009 ini. sebenarnya. baru bisa menampung sekitar 80 ribuan lansia. Dikemukakan. jumlah lansia di Indonesia mencapai 18.depkominfo. Jawa Timur. Jumlah lansia diperkirakan naik mencapai 11.

Tingginya harapan hidup itu karena secara geografis. luas Kota Yogyakarta kecil sehingga akses terhadap fasilitas kesehatan mudah dijangkau." http://bataviase."Untuk memberdayakan dan pendampingan terhadap lansia yang ada. rohani hingga rekreasi. keterampilan.co. Data di Kota Yogyakarta.html .Sementara itu. Pemeliharaan Intelegensi Lansia.Model itu diterapkan dengan mengumpulkan para lansia dan mereka melakukan kegiatan secara terarah mulai dari kegiatan kesehatan. yaitu pendekatan penanganan dengan melibatkan peranan keluarga dan masyarakat.id/detailberita-10423665. misalnya. harapan hidupnya mencapai usia 77 tahun (perempuan) dan 75 tahun (laki-laki). percontohan di Tulunggagung dilakukan dengan pendekatan homecare. Pemerintah Kota Yogyakarta Tri Kirana mengatakan tingginya angka lansia di DIY disebabkan karena angka harapan hidupnya juga tinggi. kita memiliki 598 kelompok lansia yang secara rutin kita bina.Tinggi harapan hidup Sementara itu. Ketua Pokja Peningkatan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful