A.

Pendahuluan Setiap mahluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan kehidupannya, karena didalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan kegiatan metabolismenya. Bagi lansia pemenuhan kebutuhan gizi yang diberikan dengan baik dapat membantu dalam proses beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang dialaminya selain itu dapat menjaga kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia. Kebutuhan kalori pada lansia berkurang karena berkurangnya kalori dasar dari kebutuhan fisik. Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk malakukan kegiatan tubuh dalam keadaan istirahat, misalnya : untuk jantung, usus, pernafasan dan ginjal. Berdasarkan kegunaannya bagi tubuh, zat gizi dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu : 1. Kelompok zat energi, termasuk ke dalam kelompok ini adalah :

• Bahan makanan yang mengandung karbohidrat seperti beras, jagung, gandum, ubi, roti,
singkong dan lain-lain, selain itu dalam bentuk gula seperti gula, sirup, madu dan lain-lain.

• Bahan makanan yang mengandung lemak seperti minyak, santan, mentega, margarine, susu
dan hasil olahannya.

2. Kelompok zat pembangun Kelompok ini meliputi makanan – makanan yang banyak mengandung protein, baik protein hewani maupun nabati, seperti daging, ikan, susu, telur, kacangkacangan dan olahannya.

3. Kelompok zat pengatur Kelompok ini meliputi bahan-bahan yang banyak mengandung vitamin dan mineral, seperti buahbuahan dan sayuran.

B. Faktor yang mepengaruhi Kebutuhan Gizi pada Lansia

• Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong. • Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin,
asam, dan pahit.

• Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran. • Rasa lapar menurun, asam lambung menurun. • Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi. • Penyerapan makanan di usus menurun.

C. Masalah Gizi pada Lansia 1. Gizi berlebih Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalai pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan. Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi. 2. Gizi kurang Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi. 3. Kekurangan vitamin Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.

D. Pemantauan Status Nutrisi 1. Penimbangan Berat Badan a. Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali, waspadai peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari 0.5 Kg/minggu. Peningkatan BB lebih dari 0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko terhadap kelebihan berat badan dan penurunan berat badan lebih dari 0.5 Kg /minggu menunjukkan kekurangan berat badan. b. Menghitung berat badan ideal pada dewasa : Rumus : Berat badan ideal = 0.9 x (TB dalam cm – 100) Catatan untuk wanita dengan TB kurang dari 150 cm dan pria dengan TB kurang dari 160 cm, digunakan rumus : Berat badan ideal = TB dalam cm – 100 Jika BB lebih dari ideal artinya gizi berlebih Jika BB kurang dari ideal artinya gizi kurang

2. Kekurangan kalori protein Waspadai lansia dengan riwayat : Pendapatan yang kurang, kurang bersosialisasi, hidup sendirian, kehilangan pasangan hidup atau teman, kesulitan mengunyah, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, sulit untuk menyiapkan makanan, sering mangkonsumsi obat-obatan yang mangganggu nafsu makan, nafsu makan berkurang, makanan yang ditawarkan tidak mengundang selera. Karena hal ini dapat menurunkan asupan protein bagi lansia, akibatnya lansia menjadi lebih mudah sakit dan tidak bersemangat. 3. Kekurangan vitamin D Biasanya terjadi pada lansia yang kurang mendapatkan paparan sinar matahari, jarang atau tidak pernah minum susu, dan kurang mengkonsumsi vitamin D yang banyak terkandung pada ikan, hati, susu dan produk olahannya.

E. Perencanaan Makanan untuk Lansia - Perencanaan makan secara umum 1. Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. 2. Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil. Contoh menu :

• Pagi : Bubur ayam • Jam 10.00 : Roti • Siang : Nasi, pindang telur, sup, pepaya • Jam 16.00 : Nagasari • Malam : Nasi, sayur bayam, tempe goreng, pepes ikan, pisang

3. Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah tinggi. 4. Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang berlemak seperti santan, mentega dll. 5. Bagi pasien lansia yang prose penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

• Makanlah makanan yang mudah dicerna

Selaraskan kecepatan pemberian makan dengan kesiapan pasien. 5. Siapkan makanan dan minuman yang akan diberikan Posisikan pasien duduk atau setengah duduk. atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng . 3. melembutkan feses. Prinsip Pemberian Makan Melalui Sonde (NGT) . Cara Memberi Makan Melalui Mulut (oral) 1. pemberian makan terlalu cepat atau lambat. ingin dimakan. buah. makanan harus lunak/lembek atau dicincang • Makan dalam porsi kecil tetapi sering • Makanan selingan atau snack. roti dan sereal. dan sari buah sebaiknya diberikan 6. F. 3. 4. Biarkan pasien untuk mengosongkan mulutnya setelah setiap sendokan. telur. Batasi minum kopi atau teh.Perencanaan makan untuk mengatasi perubahan saluran cerna Untuk mengurangi resiko konstipasi dan hemoroid : 1. 2. Sarankan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi setiap hari. G. bayam. 7. daging rendah lemak. 7. susu. karena pasien akan menjadi dan buah-buahan segar. hati. dan goring-gorengan • Bila kesulitan mengunyah karena gigirusak atau gigi palsu kurang baik. seperti sayuran Anjurkan pasien untuk minum paling sedikit 8 gelas cairan setiap hari untuk Anjurkan untuk tidak menggunakan laksatif secara rutin . 6. dan sayuran hijau. boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan. tergantung pada laksatif. 2. Berikan sedikit minum air hangat sebelum makan. gurih. Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus. posisi pasien tetap dipertahankan selama ± 30 menit. direbus. tanyakan Perbolehkan pasien untuk menunjukkan perintah tentang makanan pilihan pasien yang Setelah selesai makan. 8.• Hindari makanan yang terlalu manis. Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan.

tahu. babat. Bahan makanan sumber karbohidrat (zat energi) : nasi.Pemberian makan melalui sonde ditujukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien yang memiliki masalah dalam menelan dan mengunyah makanan. http://www. 5. maizena. oncom. Bahan makanan sumber lemak (zat energi) : Minyak goreng. Lakukan perawatan kebersihan mulut dengan sering. tepung beras. hati. santan. menit setelah memberi makan. bihun. bubur beras. seperti pada pasien-pasien stoke. minyak ikan. Bahan makanan sumber protein nabati : Kacang ijo. misalnya 3 x 1 berarti diingat jenis obat antibiotik harus diberikan sampai habis. 3. kentang. Prinsip Lima benar Pemberian Obat Oral 1. jika 2 x1 berarti obat diberikan setiap 12 jam sekali. kelapa parut. 3. 2.com/lanjut-usia/527-kebutuhan-nutrisi-pada-lansia . talas. kacang tanah. Contoh Bahan Makanan untuk Setiap Kelompok Makanan 1. jika selang longgar beritahu perawat. singkong. Siapkan makanan cair dan minuman hangat Naikkan bagian kepala tempat tidur 30 – 45 derajat pada saat memberi makan dan 30 Bilas selang sonde dengan air hangat terlebih dahulu. ikan. biskuit. kacang merah. kacang kedelai. Benar waktu : Pastikan pemberian obat tepat pada jadwalnya. Benar cara pemberian yaitu melalui oral : berikan obat melalui mulut atau sonde. obat diberikan setiap 8 jam dalam 24 jam . 4. crakers. Adapun prinsip pemberiannya adalah sebagai berikut : 1. 5. 2. H. mie. Bahan makanan sumber protein hewani : Daging sapi. air. lemak daging. margarin. Laporkan adanya mual dan muntah dengan segera. roti . 4. Penting Benar pasien : Pastikan obat diminum oleh pasien yang bersangkutan. kelapa. 2. 3. usus. tempe. 6. nasi jagung. Benar dosis : jumlah obat yang diberikan tidak dikurangi atau dilebihkan. tepung terigu. tepung hunkwe. Pastikan pula selang dalam keadaan tertutup selama tidak diberi makan. 4. Benar obat : obat yang diberikan harus sesuai dengan resep dokter. ubi. daging ayam. I.smallcrab. 7. udang. telur. Pastikan tidak ada udara yang masuk ke dalam sonde pada saat memberi makan atau Periksa kerekatan selang.

dan sistem syaraf sipatis. Penyebab tekanan darah yang paling sering adalah aterosklerosis atau penebalan dinding arteri yang membuat hilangnya elastisitas pembuluh darah. kelebihan berat badan. hipertensi ini bisa juga menyebabkan kematian. Pengobatan hipertensi selama ini didasarkan pada penyebabnya. pasien lanjut usia. dan olahraga. Dalam langkah terapi optimal hipertensi (HOT). Responnya pun sangat rendah. Karenanya. penyakit jantung koroner. stroke. Namun. Panduan penatalaksanaan hipertensi yang disusun WHO. dan gemuk. penyakit pada ginjal. Orang dianggap menderita hipertensi bila tekanan sistolik di atas 140 mmHg (milimeter air raksa) dan atau tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. terdapat terapi tunggal dan kombinasi. karena umumnya lebih menetap dan membebani kerja jantung. Pada mereka yang hamil. Untuk satu kali pemeriksaan. Monoterapi tak cukup memberikan kontrol tekanan darah yang efektif terhadap pasien dengan berbagai faktor risiko seperti diabetes. JNC-VII-USA pada Mei 2003.Penyebab tekanan darah yang paling sering adalah aterosklerosis atau penebalan dinding arteri yang membuat hilangnya elastisitas pembuluh darah. 2004 oleh: gklinis Terapi Kombinasi pada Hipertensi Gizi. untuk monoterapi dengan pengobatan tunggal.Terapi Kombinasi pada Hipertensi Selasa. Penanganan hipertensi meliputi kombinasi pemberian obat. bertambahnya jumlah darah yang dipompa jantung. Bahkan. seperti komplikasi pembesaran jantung. Kenaikan tekanan darah diastolik dipandang lebih berbahaya daripada sistolik. terapi sudah dapat dimulai dengan cara kombinasi. Ternyata.net . stres. hanya efektif untuk mengontrol tekanan dengan hasil mencapai 40 persen sampai 50 persen pasien. dianggap tak mencukupi karena tekanan darah cenderung berubah-ubah dari jam ke jam. Dari awal. 9 Maret. perlu dilakukan dua atau tiga kali pemeriksaan. terapi kombinasi sangat diperlukan. merekomendasikan pada pasien hipertensi dengan berbagai risiko untuk mencapai target penurunan tekanan darah yang diinginkan. Terapi itu dilakukan pada umumnya dengan cara oral atau obat. Rekomendasi target dari panduan internasional tersebut adalah tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg bagi . kelenjar adrenal. dan tekanan mental. Akibat dari hipertensi bisa beragam. dalam penelitian yang dilakukan PT Boehringer Ingelheim (PBI). Sebab lainnya adalah faktor keturunan. Hipertensi atau tekanan darah tinggi sudah menjadi gejala umum penyakit tekanan darah di dunia. dan pecahnya pembuluh darah otak. terapi tersebut menimbulkan pengaruh yang berbeda pada tiap orang. penyakit jantung koroner. Upaya yang dilakukan selama ini adalah dengan menerapkan terapi kontrol tekanan darah. pengaturan diet. Untuk pengecekan tekanan darah. Penderita pun perlu mengontrol tekanan darahnya secara rutin. Tekanan darah tinggi merupakan peningkatan tekanan darah yang menetap di atas batas normal. hipertensi pun kerap menghinggapinya.

Fokusnya adalah pada pengobatan telmisartan dan HCTZ. Keuntungan terapi kombinasi adalah adanya dua zat aktif dalam satu tablet hingga mudah dan praktis dipakai. . tentang penggunaan pengobatan kombinasi yang rasional.57204. kontrol tekanan darah lebih optimal dibandingkan monoterapi. plasebo kontrol. risiko stroke sekunder dengan kombinasi kedua pengobatan ini menurunkan risikonya dua kali lipat lebih efektif dibanding terapi tunggal dari kedua pengobatan tersebut. Dibandingkan dengan kelompok plasebo." ujar Jose. Penelitian di Eropa Dalam penelitian yang dipimpin oleh HC Diener dengan dukungan PBI. dalam seminar yang diselenggarakan Boehringer Ingelheim.cgi?newsid1078805826. Selasa. termasuk risiko stroke dengan kematian (1:100). Terapi kombinasi sangat efektif menurunkan tekanan darah sistolik pada lanjut usia dan pasien dengan berbagai risiko. dipyridamole Iepas lambat dan kombinasi keduanya. suplemen Medika.net/cgi-bin/berita/fullnews. Artinya.000). Tak hanya itu saja. dan pada dipyridamole menjadi 16 persen. HC Diener mengawali studi ini secara random.gizi. Keuntungan utama dari terapi ini adalah biaya terapi yang lebih rendah. risiko stroke pada ASA. Untuk terapi kombinasi keduanya. dan samar ganda untuk mengetahui efektivitas dan keamanan pemberian ASA dosis rendah. terdapat penurunan risiko stroke menjadi 37 persen.602 orang. penelitian ini menunjukkan. Seperti yang disampaikan oleh Prof Dr Jose Roesma PhD SpPD-KGH. Studi ini membuktikan efektivitas kombinasi dipyridamole lepas lambat dengan ASA (acetyl salicyl acid) dalam mencegah stroke sekunder atau TIA (transiet ischemic attack). berkurang 18 persen. Pasien dengan terapi kombinasi. tim peneliti menyimpulkan bahwa ASA dosis rendah dan dipyridamole efektif menurunkan risiko stroke secara jelas (1:1. papar Diener. Sumber: Koran Republika. "Sedangkan. merinci studi pencegahan stroke di Eropa. 10 Februari 2004 Laporan : wed http://www.pasien tanpa faktor risiko. dosisnya lebih kecil daripada dosis monoterapi sehingga efek samping yang terjadi relatif juga lebih rendah. Terapi ini menggunakan zat aktif dari berbagai kelas obat antihipertensi dengan efek berbeda tapi saling melengkapi. dan kurang dari 125/85 mmHg pada pasien hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal dan proteinurea yang lebih dari 1 gram per 24 jam. kurang dari 130/85 mmHg pada pasien hipertensi dengan diabetes atau gangguan fungsi ginjal. Terapi kombinasi sangat efektif bagi pasien angiotensin II receptor antagonist (AIIRA) dan diuretik (hydrochlorothiazide-HCTZ). Setelah dua tahun. Penyampaian ini dilakukan beberapa waktu lalu di Jakarta. Penelitian European Stroke Prevention Study kedua (ESPS-2) ini meliputi 59 klinik dari 13 negara dengan responden sebanyak 6.

3. Hampir 70% kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi. Hemoragik Subaraknoid: pendarahan yang terjadi pada ruang subaraknoid (ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak). 2. Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu: stroke iskemik maupunstroke hemorragik. Stroke iskemik ini dibagi menjadi 3 jenis. Tanda dan Gejala-gejala Stroke Berdasarkan lokasinya di tubuh. yaitu : 1. 80% stroke adalah stroke Iskemik. Stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak. dan Akibat Stroke Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Stroke Embolik: Tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah. Stroke hemoragik ada 2 jenis. penyempitan atau pecahnya pembuluh darah. Hemoragik Intraserebral: pendarahan yang terjadi didalam jaringan otak. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini bisa dikarenakan adanya sumbatan. Hipoperfusion Sistemik: Berkurangnya aliran darah ke seluruh bagian tubuh karena adanya gangguan denyut jantung. Stroke iskemik yaitu tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti. Penyebab. 2. Stroke Trombotik: proses terbentuknya thrombus yang membuat penggumpalan. yaitu: 1. gejala-gejala stroke terbagi menjadi berikut: .Gejala. WHO mendefinisikan bahwa stroke adalah gejala-gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan bukan oleh yang lain dari itu.

daya ingat menurun. sisanya mengalami cacat. Bagian sistem saraf pusat : Kelemahan otot (hemiplegia). sel otak mati dan hematom yg terbentuk akan diserap kembali secara bertahap. Kontrasepsi oral. kebingungan. lidah lemah. Migrain. menurunnya fungsi sensorik 2. kaku. 1/3 orang yang selamat menjadi tergantung dan mungkin mengalami komplikasi yang dapat menyebabkan kematian atau cacat Diperkirakan ada 500. Proses alami ini selesai dlm waktu 3 bulan. 3. Kolesterol. Makanan tidak sehat (junk food. Faktor Penyebab Stroke Faktor resiko medis. refleks menurun. Jika tanda-tanda dan gejala tersebut hilang dalam waktu 24 jam. Pada saat itu. sehingga banyak penderita Stroke menderita stress akibat kecacatan yang ditimbulkan setelah diserang stroke. 1/3 --> mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang. fast food). Menurut statistik. terlalu banyak minum alkohol. 93% pengidap penyakit trombosis ada hubungannya dengan penyakit tekanan darah tinggi. dimana terdapat 12 saraf kranial: menurun kemampuan membau. apraxia.000 penduduk yang terkena stroke. Cerebral cortex: aphasia. mendengar. mengecap. dimana merupakan serangan kecil atau serangan awal stroke. dinyatakan sebagai Transient Ischemic Attack (TIA). Dari jumlah tersebut: • • • 1/3 --> bisa pulih kembali. hemineglect. dan melihat parsial atau keseluruhan. Mendengkur. diabetes. antara lain Merokok (aktif & pasif). Hanya 10-15 % penderita stroke bisa kembali hidup normal seperti sedia kala. Riwayat stroke dalam keluarga. Setelah stroke. antara lain Hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi). Faktor resiko perilaku. 1/3 sisanya --> mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di kasur. peribahasa itulah yang tepat bagi penderita Stroke. suasana hati yang tidak nyaman (marah-marah). Gangguan jantung. Batang otak. Obesitas. Aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah). Derita Pasca Stroke Sudah Jatuh tertimpa Tangga Pula. Alkohol. ekspresi wajah terganggu. Narkoba. Kurang olahraga. pernafasan dan detak jantung terganggu. merokok dan senang mengkonsumsi makanan yang berlemak. Pemicu stroke pada dasarnya adalah. 80% pemicu stroke adalah hipertensi dan arteriosklerosis.1. Akibat Stroke lainnya: .

. akibat kesibukan yang padat. Selain karena besarnya biaya pengobatan paska stroke . penghindari stress hingga meminum obat atau suplemen untuk menjaga kesehatan pembuluh darah hingga dapat mencegah terjadinya Stroke. Hampir 85% dari semua stroke dapat DICEGAH . menelan. membedakan kanan dan kiri. dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang relatif sangat singkat. Tak heran semua orang selalu berupaya untuk mencegah Stroke atau mengurangi faktor risiko dengan menerapkan pola hidup sehat. Diposkan oleh Petrus di 21:12 http://langgocity. namum kini cenderung menyerang generasi muda yang masih produktif.com/2009/03/hidup-sehat-tanpa-stoke. olahraga teratur. Karena Ancaman stroke hingga merenggut nyawa dan derita akibat stroke.• • • • 80% penurunan parsial/ total gerakan lengan dan tungkai.html [sukasukamu] Stroke Dan Gejalanya yundini3001 Sat. Stroke juga tak lagi menjadi milik warga kota yang berkecukupan . namun juga dialami oleh warga pedesaan yang hidup dengan serba keterbatasan. 70% menderita depresi. 80-90% bermasalah dalam berpikir dan mengingat. Stroke sangat dapat dicegah. Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga. kita perlu mengetahui gejala-gejala yang sering terjadi pada serangan stroke. juga yang menderita stroke adalah tulang punggung keluarga yang biasanya kurang melakukan gaya hidup sehat. Hidup BEBAS tanpa STROKE merupakan dambaan bagi semua orang. 30 % mengalami kesulitan bicara. Untuk dapat memberikan pertolongan yang maksimal kepada penderita stroke. 29 Apr 2006 01:44:41 -0700 Stroke Dan Gejalanya Stroke dengan serangannya yang akut.blogspot. Stroke tak lagi hanya menyerang kelompok lansia.

selain faktor resiko bawaan misalnya riwayat keluarga hipertensi. Karena stroke disebabkan ganguan pada pembuluh darah. bila Anda mengidap diabetes mellitus pastikan Anda dan dokter Anda bekerja sama dengan baik dalam manajemennya. Adapun faktor-faktor lain yang juga merupakan resiko tinggi adalah pertambahan usia. maka faktor penyebabnya hampir sama sama dengan faktor pada penyakit jantung. yang memang sudah dimiliki sejak lahir. riwayat keluarga dengan stroke. sehingga digolongkan penyakit kronis. Otak adalah organ yang mengatur segala fungsi tubuh. Kerusakan ini proses kejadiannya membutuhkan waktu lama. pria berisiko sedikit lebih tinggi daripada wanita. riwayat adanya diabetes mellitus. Apabila ada kerusakan pada bagian otak tertentu. seperti banyaknya konsumsi lemak dan kolestrol. konsumsi alkohol. merokok.Gejala-gejala stroke diakibatkan kerusakan pada pembuluh darah yang memperdarahi otak. kelebihan berat badan. serta yang sangat penting adalah hipertensi. kurang olah raga. seperti juga penyakit jantung dapat diturunkan. jenis kelamin. maka organ yang dikendalikan . Penyebab yang paling mungkin adalah gaya hidup Anda. karena stroke. kurang makanan berserat seperti sayur dan buah-buahan.

• sulit berbahasa. • sulit menelan. jika bagian otak yang mengatur fungsi bicara mengalami gangguan suplai darah. • bicara tidak lancar. • bila minum atau makan mudah keselek. pelupa dan lain sebagainya. • bicara pelo. • lidah mencong bila dijulurkan. Sebagai contoh. dan dapat mengakibatkan penderitanya menjadi lumpuh separo badan. • terasa kesemutan/terbakar separo badan. tidak merasa separo badan. Demikian pula halnya jika bagian-bagian lain terganggu. gangguan sensorik. gangguan bicara. gangguan proses berpikir. • bicara tidak keruan. Secara umum. kelemahan anggota tubuh. Gejala-gejala yang kerap terjadi pada stroke antara lain adalah: • lumpuh separo badan. penderita biasanya menjadi tidak sadar dan mengalami henti nafas akibat gangguan pada batang otak. bicara pelo.oleh bagian otak tersebut akan mengalami gangguan fungsi atau bahkan kematian jaringan. melihat dan mendengar serta gangguan berkemih (inkontinensia urin). gangguan yang disebabkan oleh stroke dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis gangguan seperti gangguan kesadaran. maka penderitanya menjadi tidak dapat bicara. . Pada serangan stoke berat. • mulut mencong.

• pelupa. Sel-sel otak tidak mempunyai cadangan energi seperti halnya sel otot.• tidak dapat memahami perkataan orang lain. Perlu diingat. Akibatnya dapat diderita hingga beberapa tahun setelah terjadi. stroke tidak hanya mempengaruhi lansia . • kepintaran menurun. atau seumur hidup. mungkin penderita mengalami gangguan yang lebih berat sehingga perlu pemeriksaan lanjutan. • penglihatan/pendengaran mengalami gangguan. Setelah satu minggu pasca serangan. sehingga sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah dalam arteri. penderita masih memperlihatkan gejala-gejala seperti diatas. • berjalan sulit. atau sel lain dalam tubuh. • menjadi sering pusing kepala. Namun. kerusakan otak dapat diperkecil semaksimal mungkin. tergantung dari kerusakan otak yang diakibatkan oleh stroke. banyak penderita yang terlihat pulih sama sekali sehngga kita boleh optimis bahwa serangan yang ringan. bila terlambat ditangani. Namun bila setelah 2 minggu. • tidak dapat membaca/menulis. atau bahkan kematian. Stroke dapat menyerang secara tiba-tiba dan tanpa pertanda sebelumnya. Dengan penanganan yang segera. dapat terjadi kerusakan permanen seumur hidup. • tidak dapat memahami tulisan.

1999 ) Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.html ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI PENGERTIAN Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg.com/sukasukamu@yahoogroups. dan biaya yang banyak. akibat gaya hidup yang merupakan faktor risiko terjadinya stroke. Pada populasi lansia. hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer. rehabilitasi. Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu : Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain . Pencegahan adalah jalan paling bijaksana untuk menghindari stroke. Dampak dari stroke sulit diobati dan memerlukan waktu.namun juga dapat terjadi pada orang-orang muda.mail-archive.com/msg00133. KLASIFIKASI Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas : ( Darmojo. tekanan darah sama dengan atau diatas 160 / 95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. http://www.2001) Menurut WHO ( 1978 ). Malah akhir-akhir ini terjadi banyak peningkatan kejadian stroke pada orang-orang muda.

data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Kehilangan elastisitas pembuluh darah Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya. Faktor tersebut adalah sebagai berikut : Faktor keturunan Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi Ciri perseorangan Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah: Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat ) Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan ) Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih ) Kebiasaan hidup Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah : Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ) Kegemukan atau makan berlebihan Stress Merokok Minum alcohol Minum obat-obatan ( ephedrine. epineprin ) Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah : Ginjal Glomerulonefritis Pielonefritis Nekrosis tubular akut Tumor . prednison.ETIOLOGI Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan – perubahan pada : Elastisitas dinding aorta menurun Katub jantung menebal dan menjadi kaku Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.

dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. suatu vasokonstriktor kuat. menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh . Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya. yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal. meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada titik ini. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis. yang menyebabkan vasokonstriksi. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi.Vascular Aterosklerosis Hiperplasia Trombosis Aneurisma Emboli kolestrol Vaskulitis Kelainan endokrin DM Hipertiroidisme Hipotiroidisme Saraf Stroke Ensepalitis SGB Obat – obatan Kontrasepsi oral Kortikosteroid PATOFISIOLOGI / PATHWAY Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin. pada medulla diotak. yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah. yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin. kelenjar adrenal juga terangsang. mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. neuron preganglion melepaskan asetilkolin.

Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur. Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis. Sesak nafas. Kesadaran menurun. selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Menurut Rokhaeni ( 2001 ). yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. kelelahan. BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal Glukosa Hiperglikemi ( diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi ) dapat diakibatkan oleh peningkatan katekolamin ( meningkatkan hipertensi ) Kalium serum . 2001). 1999). Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. Gejala yang lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala. Konsekuensinya. hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah.tubulus ginjal. anemia. menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. pusing Lemas. TANDA DAN GEJALA Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah. Epistaksis. Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo. Mual Muntah. aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer. PEMERIKSAAN PENUNJANG Hemoglobin / hematokrit Untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume cairan ( viskositas ) dan dapat mengindikasikan factor – factor resiko seperti hiperkoagulabilitas. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. Gelisah.

glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes. ensefalopati EKG Dapat menunjukkan pembesaran jantung. peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi PENATALAKSANAAN Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. pola regangan. gangguan konduksi. protein. Kalsium serum Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi Kolesterol dan trigliserid serum Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler ) Pemeriksaan tiroid Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi Kadar aldosteron urin/serum Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab ) Urinalisa Darah. batu ginjal / ureter Foto dada Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub. perbesaran jantung CT scan Untuk mengkaji tumor serebral. Terapi tanpa obat ini meliputi : . Asam urat Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi Steroid urin Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme IVP Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal. Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi : Terapi tanpa Obat Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat.Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama ( penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik.

jogging. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain.Diet Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah : Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh Penurunan berat badan Penurunan asupan etanol Menghentikan merokok Latihan Fisik Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu : Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari. dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan ) Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Terapi dengan Obat Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan . berenang dan lain-lain Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu Edukasi Psikologis Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi : Tehnik Biofeedback Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal. Tehnik relaksasi Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan. juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan. bersepeda.

beta blocker. atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. USA. Ca antagonis. dapat berupa diuretika . EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE. reserphin. namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan morbiditas dan mortilitas Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan tingginya tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya. beta blocker. ACE inhibitor Step 2 Alternatif yang bisa diberikan : Dosis obat pertama dinaikkan Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama Ditambah obat ke –2 jenis lain. tekanan darah hanya dapat diketahui dengan mengukur memakai alat tensimeter . penderita diberitahu hasil pengukuran tekanan darahnya Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai tekanan darahnya Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat sembuh. Ca antagonis. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi ( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION. Alpa blocker. clonidin. vasodilator Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuh Obat ke-2 diganti Ditambah obat ke-3 jenis lain Step 4 : Alternatif pemberian obatnya Ditambah obat ke-3 dan ke-4 Re-evaluasi dan konsultasi Follow Up untuk mempertahankan terapi Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan ( perawat. antagonis kalsium. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. penyekat beta. Pengobatannya meliputi : Step 1 Obat pilihan pertama : diuretika. 1988 ) menyimpulkan bahwa obat diuretika. dokter ) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas kesehatan adalah sebagai berikut : Setiap kali penderita periksa.

aterosklerosis. PENGKAJIAN Aktivitas / istirahat Gejala : Kelemahan Letih Napas pendek Gaya hidup monoton Tanda : Frekuensi jantung meningkat Perubahan irama jantung Takipnea Sirkulasi Gejala : Riwayat hipertensi. penyakit serebrovaskuler Tanda : Kenaikan TD Nadi : denyutan jelas Frekuensi / irama : takikardia. Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka sangat diperlukan sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang pemahaman dan pelaksanaan pengobatan hipertensi. penyakit jantung koroner / katup. bila tidak datang pada waktu yang ditentukan. efek samping dan masalah-masalah yang mungkin terjadi Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis atau mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan efektifitas maksimal Usahakan biaya terapi seminimal mungkin Untuk penderita yang kurang patuh. berbagai disritmia Bunyi jantung : murmur Distensi vena jugularis . usahakan kunjungan lebih sering Hubungi segera penderita.Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih dahulu Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup penderita Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita atau keluarga dapat mengukur tekanan darahnya di rumah Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal 1 x sehari atau 2 x sehari Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi.

obstruksi.Ekstermitas Perubahan warna kulit. riwayat penyakit ginjal ) Makanan / Cairan Gejala : Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam. pekerjaan ) Tanda : Letupan suasana hati Gelisah Penyempitan kontinue perhatian Tangisan yang meledak otot muka tegang ( khususnya sekitar mata ) Peningkatan pola bicara Eliminasi Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi. pengisian kapiler mungkin lambat Integritas Ego Gejala : Riwayat perubahan kepribadian. diplopia ) . keuangan. marah. sakit kepala Episode kebas Kelemahan pada satu sisi tubuh Gangguan penglihatan ( penglihatan kabur. faktor stress multiple ( hubungsn. depresi. lemak dan kolesterol Mual Muntah Riwayat penggunaan diuretic Tanda : BB normal atau obesitas Edema Kongesti vena Peningkatan JVP glikosuria Neurosensori Gejala : Keluhan pusing / pening. ansietas. euphoria. suhu dingin( vasokontriksi perifer ).

iskemia miokard. aterosklerosis. ginjal Faktor resiko etnik. cara jalan Tanda : Episode parestesia unilateral transien Pembelajaran / Penyuluhan Gejala : Factor resiko keluarga . DM . mengi ) Sianosis Keamanan Gejala : Gangguan koordinasi. penyakit serebrovaskuler. penyakit jantung. hipertropi ventricular . penggunaan pil KB atau hormon lain Penggunaan obat / alcohol DIAGNOSA KEPERAWATAN Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload.Episode epistaksis Tanda : Perubahan orientasi. proses pikir atau memori ( ingatan ) Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman Perubahan retinal optic Nyeri/ketidaknyamanan Gejala : nyeri hilang timbul pada tungkai sakit kepala oksipital berat nyeri abdomen Pernapasan Gejala : Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas Takipnea Ortopnea Dispnea nocturnal proksimal Batuk dengan atau tanpa sputum Riwayat merokok Tanda : Distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan Bunyi napas tambahan ( krekles. isi bicara. afek. vasokonstriksi. hipertensi. pola nafas.

triamterene ( Dyrenium ). nyaman. nadolol ( Corgard ). gunakan manset dan tehnik yang tepat Catat keberadaan. Kriteria hasil : Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TD Mempertahankan TD dalam rentang yang dapat diterima Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil Intervensi : Pantau TD. Atenolol ( tenormin ). suhu dan masa pengisian kapiler Catat edema umum Berikan lingkungan tenang. reserpine ( Serpasil ). metoprolol ( lopressor ). tetazosin ( hytrin ) Bloker nuron adrenergik misalnya guanadrel ( hyloree ). Bumetanic ( Burmex ) Diuretik hemat kalium misalnay spironolakton ( aldactone ).Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam. kurangi aktivitas. hidralasin ( apresolin ). bloker saluran kalsium ( nivedipin. Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur/kursi Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher. reserpin ( Serpasil ) Inhibitor adrenergik yang bekerja secara sentral misalnya klonidin ( catapres ). aktivitas pengalihan Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi Diuretik Tiazid misalnya klorotiazid ( Diuril ). meninggikan kepala tempat tidur. batasi jumlah pengunjung. bendroflumentiazid ( Naturetin ) Diuretic Loop misalnya Furosemid ( Lasix ). kelembaban. quanetidin ( Ismelin ). verapamil ) Anti adrenergik misalnya minipres. panduan imajinasi. amilioride ( midamor ) Inhibitor simpatis misalnya propanolol ( inderal ). hidrodiuril ). klonidin ( catapres ) Vasodilator misalnya minoksidil ( loniten ). hidroklorotiazid ( esidrix. guanabenz ( wytension ). asam etakrinic ( Edecrin ). metildopa ( aldomet ) . Anjurkan tehnik relaksasi. kualitas denyutan sentral dan perifer Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas Amati warna kulit. metildopa ( aldomet ). ukur pada kedua tangan.

sedikit penerangan Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin Beri tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala seperti kompres dingin pada dahi. ginjal. pusing.Vasodilator kerja langsung misalnya hidralazin ( apresolin ). pijat punggung dan leher. loniten Vasodilator oral yang bekerja secara langsung misalnya diazoksid ( hyperstat ). minoksidil. diazepam. antiansietas (lorazepam. jantung berhubungan dengan adanya tahanan pembuluh darah Tujuan : Tidak terjadi perubahan perfusi jaringan : serebral. trimetapan ( arfonad ). membungkuk Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : analgesik. captoten ) Nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral Tujuan : Nyeri atau sakit kepala hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala Pasien tampak nyaman TTV dalam batas normal Intervensi : Pertahankan tirah baring. bimbingan imajinasi dan distraksi Hilangkan / minimalkan vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala misalnya mengejan saat BAB. Haluaran urin 30 ml/ menit Tanda-tanda vital stabil . nilai-nilai laboratorium dalam batas normal. jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima. nitroprusid ( nipride. tehnik relaksasi. ACE inhibitor ( captopril. batuk panjang. lingkungan yang tenang. tidak ada keluhan sakit kepala. valium ) Resiko perubahan perfusi jaringan: serebral. ativan. ginjal. nitropess ) Bloker ganglion misalnya guanetidin ( ismelin ). posisi nyaman.

pusing Observasi TTV tiap 4 jam Berikan jarak waktu pengobatan dan prosedur untuk memungkinkan waktu istirahat yang tidak terganggu. kreatinin sesuai program Intoleransi aktifitas berhubungan penurunan cardiac output Tujuan : Tidak terjadi intoleransi aktifitas setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Meningkatkan energi untuk melakukan aktifitas sehari – hari Menunjukkan penurunan gejala – gejala intoleransi aktifitas Intervensi : Berikan dorongan untuk aktifitas / perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi.Intervensi : Pertahankan tirah baring Tinggikan kepala tempat tidur Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan. berikan waktu istirahat sepanjang siang atau sore Gangguan pola tidur berhubungan adanya nyeri kepala Tujuan : Tidak terjadi gangguan pola tidur setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Mampu menciptakan pola tidur yang adekuat 6 – 8 jam per hari Tampak dapat istirahat dengan cukup TTV dalam batas normal . duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia Ambulasi sesuai kemampuan. Berikan bantuan sesuai kebutuhan Instruksikan pasien tentang penghematan energy Kaji respon pasien terhadap aktifitas Monitor adanya diaforesis. tidur. hindari kelelahan Amati adanya hipotensi mendadak Ukur masukan dan pengeluaran Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai program Pantau elektrolit. BUN.

Intervensi : Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman Beri kesempatan klien untuk istirahat / tidur Evaluasi tingkat stress Monitor keluhan nyeri kepala Lengkapi jadwal tidur secara teratur Berikan makanan kecil sore hari dan / susu hangat Lakukan masase punggung Putarkan musik yang lembut Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan adanya kelemahan fisik. Tujuan : Perawatan diri klien terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam Kriteria hasil : Mampu melakukan aktifitas perawatan diri sesuai kemampuan Dapat mendemonstrasikan tehnik untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri Intervensi : Kaji kemampuan klien untuk melakukan kebutuhan perawatan diri Beri pasien waktu untuk mengerjakan tugas Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan klien / atas keberhasilannya Kecemasan berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya hipertensi yang diderita klien Tujuan: Kecemasan hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 Jam Kriteria hasil : Klien mengatakan sudah tidak cemas lagi / cemas berkurang Ekspresi wajah rilek TTV dalam batas normal .

mual dan muntah. keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan Catat laporan gangguan tidur. rendah natrium sesuai program Jelaskan penetingnya mempertahankan pemasukan cairan yang tepat. ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas atau tujuan hidup Kaji tingkat kecemasan klien baik secara verbal maupun non verbal Observasi TTV tiap 4 jam Dengarkan dan beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya Berikan support mental pada klien Anjurkan pada keluarga untuk memberikan dukungan pada klien Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit Tujuan : Klien terpenuhi dalam informasi tentang hipertensi setelah dilakukan tindakan ekperawatan selama 1 x 24 jam Kriteria hasil: Pasien mengungkapkan pengetahuan akan hipertensi Melaporkan pemakaian obat-obatan sesuai program Intervensi : Jelaskan sifat penyakit dan tujuan dari pengobatan dan prosedur Jelaskan pentingnya lingkungan yang tenang. peningkatan keletihan. tidak penuh dengan stress Diskusikan tentang obat-obatan : nama. pingsan. tujuan dan efek samping atau efek toksik Jelaskan perlunya menghindari pemakaian obat bebas tanpa pemeriksaan dokter Diskusikan gejala kambuhan atau kemajuan penyulit untuk dilaporkan dokter : sakit kepala. peka rangsang. Diskusikan pentingnya mempertahankan berat badan stabil Diskusikan pentingnya menghindari kelelahan dan mengangkat berat Diskusikan perlunya diet rendah kalori. penurunan toleransi sakit kepala. waktu pemberian. dosis. teh serta alcohol . kerusakan konsentrasi.Intervensi : Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku misalnya kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian. pusing. jumlah yang diperbolehkan. pembatasan seperti kopi yang mengandung kafein.

Jelaskan perlunya menghindari konstipasi dan penahanan Berikan support mental. namun pengertian lanjut usia (lansia) ialah manusia di atas usia 60 tahun.wordpress. Dalam keadaan ini aorta menjadi kaku dan akhirnya menyebabkan meningkatnya tekanan sistolik dan penurunan volume aorta. yang terutama menyerang di atas usia 75 tahun. kontrol tekanan darah menjadi perawatan utama orang-orang lanjut usia. Keadaan ini terjadi karena hilangnya elastisitas arteri atau akibat penuaan. para lansia ternyata lebih sering mengalami hipertensi sistolik dan pengobatan hipertensi sampai saat ini masih banyak yang terfokus pada tekanan diastolik <90 mmHg tanpa memikirkan angka sistoliknya. pengukuran tekanan sistolik yang meningkat ini lebih signifikan karena dapat menunjukkan terjadinya kekakuan arteri besar. Berdasarkan Global Risk Assesment Scoring Chart dari penelitian Framingham. serta penyakit kardiovaskular lainnya. Karenanya. Tekanan sistolik juga menjadi prediktor yang lebih sensitif dibanding tekanan diastolik. terutama aorta. yang pada akhirnya akan menurunkan volume dan tekanan diastolik. serta otak. Jakarta mengungkapkan bahwa pada orang tua umumnya terjadi hipertensi dengan sistolik terisolasi yang berhubungan dengan hilangnya elastisitas arteri atau bagian dari penuaan. penyekat beta. ginjal. Dokter juga harus melakukan edukasi terus-menerus untuk menghindari terjadinya hipertensi sistolik. Manajemen dan pencegahan Beberapa penelitian. sehingga banyak lansia yang tidak terdeteksi menderita hipertensi sistolik.com/2009/06/17/empat-belas-masalah-kesehatan-utamapada-lansia/ Hipertensi pada lansia Kontrol Ketat Cegah Komplikasi RACIKAN UTAMA . Pada orang-orang tua. dari divisi nefrologi ilmu penyakit dalam FKUI-RSUPN dr. Penelitian juga menyebutkan bahwa menurunnya tekanan sistolik dapat menyebabkan penurunan curah jantung. Hipertensi juga menjadi faktor utama terjadinya penyakit jantung koroner. Obat-obat antihipertensi terbaru yang bekerja pada sistem renin-angiotensin-aldosteron.11) Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun. misalnya dari Syst-Eur 1 dan 2 dan penelitian lain di Jepang dan Australia menunjukkan bahwa tata laksana hipertensi sistolik yang optimal ialah penggunaan diuretik. efeknya bisa membuat kerusakan jantung.Edisi Juni 2007 (Vol. Kontrol tekanan darah yang ketat pada pasien diabetes berhubungan dengan pencegahan terjadinya hipertensi yang tak terkendali. Sebagai konsekuensinya. berat badan seiring usia juga akan meningkatkan risiko terjadinya PJK setiap kenaikan lima tahun. Jose Roesma. Tidak ada standar tertentu untuk menentukan kategori umur yang dikatakan tua. risiko infark miokard. Ditulis dalam Keperawatan Tag: Keperawatan Gerontik http://nurse87. Hipertensi merupakan gejala yang paling sering ditemui pada orang lanjut usia dan menjadi faktor risiko utama insiden penyakit kardiovaskular. 2009. Jenis yang demikian lebih sulit untuk diobati dibanding hipertensi esensial atau pada pasien yang lebih muda. Isolated systolic blood pressure Seperti telah disebutkan. misalnya Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) inhibitor dan angiotensin-receptor blocker memiliki potensi perbaikan kardiovaskular pada orang tua akibat penurunan tekanan darah efektif. kontrol tekanan darah merupakan kunci utama menjaga kesehatan kardiovaskular. Cipto Mangunkusumo.6 No. Isolated systolic hypertension (ISH) didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik di atas sama dengan 140 mmHg pada tekanan diastolik kurang dari sama dengan 90 mmHg. dan Angiotensin- . konseling dan penyuluhan pada keluarga klien ~ oleh nurse87 di/pada Juni 17.

dan kejadian kardiovaskular lain pada lansia. misalnya diabetes mellitus. namun tetap saja terapi yang terbaik kemungkinan ialah mencegah hipertensi sebelum usia senja guna mengurangi risiko penyakit jantung koroner sejak dini. ARB akan meningkatkan volume sirkulasi dan merangsang sintesis kolagen akibat peningkatan jumlah sel otot polos pada pembuluh darah. ARB ini dinyatakan renoprotektif. Pedoman ini mengadopsi pendekatan tepat sasaran untuk lansia guna menurunkan risiko penyakit jantung koroner seiring dengan bertambahnya usia. sebagian besar akan gagal. tapi dikombinasikan dengan pemberian dosis rendah CCB. Seperti guidelines antihipertensi (lihat tabel) yang tercantum berikut. diperlukan manajemen titrasi dosis naik perlahan-lahan ditambah kombinasi obat lainnya. Perspektif terkini Penelitian dari The Heart Outcomes Prevention Evaluatin (HOPE) menyatakan bahwa agen antihipertensi memang terbukti dapat mencegah pula penyakit kardiovaskular lainya. atau bahkan terjadi penyakit-penyakit kardiovaskular lainnya. Guidelines yang banyak dipakai untuk tata laksana hipertensi pada lansia diambil dari JNC 7 dan ESH/ESC 2003. sehingga gabungan keduanya ialah penurunan tekanan darah dengan efek yang juga renokardioprotektif. menyerupai pemberian Ca blocker. tapi dari segi tolerabilitasnya juga. terutama yang berusia di atas 80 tahun. dan penyakit vaskular perifer. Hal ini dapat dicapai dengan menjaga tekanan darah di angka kurang dari 150/85 mmHg (kontrol ketat) atau kurang dari 180/105 mmHg (kontrol tidak terlalu ketat). mencegah akumulasi kolagen aorta. misalnya retinopati diabetik. ARB yang dikombinasi dengan diuretik juga telah terbukti memiliki efek yang sangat baik. atau diabetes yang berat. Kemungkinan hanya sekitar 40% pasien pada kelompok lansia yang akan mengalami penurunan tekanan darah sampai di bawah 140 mmHg setelah penggunaan antihipertensi ARB. tidak sekadar menurunkan tekanan darah. Pada orang tua. Pemberian diuretik harus dimulai dari level rendah. Kontrol ketat dilakukan pada pasien yang memiliki risiko besar untuk memiliki komplikasi penyakit lainnya. Valsartan dan Losartan telah terbukti mampu menurunkan tekanan sistolik pembuluh darah. Pendekatan untuk lansia Para dokter harus benar-benar yakin bahwa data pengukuran yang didapat ialah valid. pengurangan kemampuan penglihatan. sebisa mungkin perlu diperhitungkan berbagai efek samping yang kemungkinan akan sangat mengganggu pasien. atau ARB. misalnya Hydrochlorotiazide (HCT) 12. khususnya Angiotensin II Antagonist Losartan (RENAAL) dapat menurunkan endpoint pasien dengan Non Insulin-dependent Diabetes Mellitus. Selain itu penggunaan diuretik boros kalium juga akan menyebabkan hipokalemia jika tidak diberikan secara hati-hati. Terapi seperti ini tergolong aman dan efektif. kelompok usia yang rentan penyakit jantung koroner. Terdapat konsensus bahwa tekanan darah pada lansia harus di bawah angka 140/90 mmHg untuk kategori usia 60-79 tahun. Meskipun tidak ada makna penting lainnya. Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun. sedangkan ACE-inhibitor bekerja menghambat kerja enzim. sering ditemui gangguan pada sistem kardiovaskular berupa gagal jantung. ARB memblok konjugasi. infark miokard. gagal jantung. Sementara penelitian dari The Irbesartan Diabetic Nephropathy Trial (IDNT) menyatakan bahwa agen antihipertensi. sebenarnya juga tidak hanya menurunkan tekanan darah semata. dibanding ACE-inhibitor dan Calcium channel blocker. ACE-inhibitor. asalkan sesuai indikasi. Jika angka ini dinilai kurang efektif. mengingat batas-batas penentuan kriteria seputar hipertensi sangat berhubungan dengan angka. penatalaksanaan hipertensi terutama ditujukan pada pasien lanjut usia dengan target tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg. namun angka di bawah 140 ini akan sangat mempengaruhi jenis pengobatan dan edukasi ke pasien.5 mg/dl harus dilakukan. sehingga mempengaruhi keberhasilan dari seluruh tata laksana. Jika ternyata dalam terapi. menurunkan kekakuan arteri karotis. Kontrol kadar kalium hingga tidak boleh di bawah 3. ARB dan ACE-inhibitor digunakan secara bersama-sama. Pada beberapa keadaan penggunaan obat selain diuretik sebagai terapi inisial sah-sah saja dilakukan. beta blocker. Karenanya. lebih baik daripada ACE-inhibitor. sisanya. Kontrol tekanan darah yang ketat pada pasien diabetes berhubungan dengan pencegahan terjadinya hipertensi yang tak terkendali dan beberapa penyakit lainnya. Tekanan darah di bawah 140 mmHg sistolik (jika memang benar sebesar ini) akan jauh mengurangi risiko stroke. serta menurunkan tekanan dinding pembuluh darah pada diet rendah garam. dalam rangka menurunkan tekanan darah. tidak langsung menambah dosisnya. Selain itu. terutama diuretik. Tercapainya tujuan ini akan tergantung tidak hanya berdasarkan efikasi obat antihipertensi. sehingga pengobatannya harus fokus untuk proteksi kardiovaskular secara umum. keduanya bekerja dalam sistem renin angiotensin aldosteron. Bekerja di sistem renin-angiotensin-aldosteron. Penelitian tentang agen antihipertensi dengan mekanisme RAAS ini (ARB) monoterapi memang banyak dilakukan dan terbukti bersifat renokardioprotektif dengan mekanisme perbaikan fungsi endotel. efek proteksi vaskular dari ARB juga berlaku untuk mengurangi kemungkinan terjadiya stroke. penggunaan obat harus tetap dilanjutkan tanpa mengurangi dosis yang sedang .5 mg atau yang setara dengannya. serangan stroke.receptor blockers (ARB). Selain itu. gejala-gejala hipertensi tetap muncul. termasuk saat kontrol rawat jalan. Tujuan utama penatalaksanaan hipertensi pada lansia.

mie. protein dan mineral diutamakan untuk mencegah proses penurunan fungsi tubuh.http://www. terigu. b. namun metode agresif seperti ini juga akan menambah efek samping. Bisa saja terapi terus digiatkan. biscuit dll. Kemungkinan gejala ini akan mereda setelah beberapa minggu atau lebih.E dan K. membentuk tekstur makanan dan memberi rasa kenyang yang lama. kentang. e. Lemak juga berfungsi sebagai cadangan energi. telur asam. Lemak dengan kandungan asam lemak jenuh yang tinggi memicu penyakit jantung dan pembuluh darah. Makanan yang boleh: Beras. Pada lansia sebaiknya memilih daging unggas-unggasan daripada daging sapi atau kambing dan hendaknya tidak makan lebih dari 2 potong daging pada sehari. (farid) A. Makanan yang boleh: minyak margarine dan mentega tanpa garam. Makanan yang tidak boleh: margarine dan mentega biasa .asp?IDNews=491 diberikan. mengingat: a. s3ehingga membebani usus dan lambung yang akan mengakibatkan gangguan pada usus. Karbohidrat Fungsi karbohidrat adalah penyedia energi. kornet. biscuit dan kue yang dimasak dengan garam dapur. d. Lemak Lemak berfungsi sebagai pelarut vitamin A. singkong. Gula cepat diserap (absorpsi) sehingga mengakibatkan perubahan kadar gula darah dan memungkinkan terjadinya obesitas (kegemukan) dan diabetes. Pada lansia lemak sebaiknya dibatasi . udang. 3. Sedangkan pada lansia konsumsi zat zat gizi lain seperti vitamin. cenderung mengakibatkan kanker usus. kacang tanah dan sayuran yang dimasak/ diawetkan dengan garam dapur. Kelebihan lemak akan disimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk timbunan lemak yang menyebabkan kegemukan.D. ikan telur dan susu. dendeng. Makanan yang tidak boleh: ikan asin. ebi. gula yang diolah tanpa garam seperti macaroni.majalah-farmacia. keju. Kandungan Gizi Yang Diperlukan Lansia 1. Makanan yang tidak boleh: Roti. Berkurangnya aktifitas tubuh sehingga kebutuhan energi juga menurun. b. Protein Fungsi dari protein sebagai zat pembangun dari sel tubuh. pindang.com/rubrik/one_news. Pada lansia konsumsi gula dibatasi karena: a. dosisnya ditambah. Berkurangnya produksi enzim mengakibatkan pencernaan lemak tidak sempurna. Gula tidak mengandung gizi kecuali zat tenaga. c. f. g. Makanan yang boleh: daging. semua kacang-kacangan dan sayuran. sehingga beberapa ahli tidak terlalu suka melakukannya. 2.

Petunjuk Penggunaan Garam untuk Penderita hipertensi Untuk penderita hipertensi terdapat 3 diet: a. garam dapur dianjurkan ½ sendok teh. Serat Serat tidak dapat dicerna. goring-gorengan dll. kopi dan coklat. 5. Karbohidrat . TIPS Pemberian Makanan Bagi lansia Dengan Hipertensi a. Serat ada 2 jenis: a. Contoh makanan: beras merah Makanan yang boleh: semua buah yang tidak diawtkan garam/ soda. Hendaknya lansia makan dengan porsi kecil tapi sering b. c. 6. penyakit jantung dan kegemukan bila kekurangan serat. gurih. Larut dalam air yang berfungsi mengikat kolesterol b. terutama vitamin B1 agar tubuh selalu bugar. kanker usus. maka serat tidak mengandung gizi tetapi tetap dibutuhkan untuk mencegah sembelit. Makanlah makanan yang mudah dicerna c. Diet rendah garam II: Ditujukan untuk penderita hipertensi sedang (100-114 mmHg). Tdak larut dalam air yang berfungsi melancarkan BAB. kalsium sangat penting karena . Lansia hendaknya minum 6-8 gelas sehari mengingat fungsi ginjal menurun dan melancarkan BAB. Kandungan Gizi Yang Diperlukan Lansia 1. mempertahankan fungsi jaringan tubuh dan mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan jaringan. wasir. Contoh makanan yang tingggi kalsium adalah susu. Makan makanan yang lembek untuk lansia yang kondisi giginya kurang baik. Makanan yang tidak boleh: durian. Hindari makanan yang terlalu manis. terutama lansia wanita mudah terjadi ostoporosis akibat menopause. sayuran hijau. air putih. Diet rendah garam III: Ditujukan untuk penderita hipertensi ringan (diastole kurang dari 100 mmHg). Garam dianjurkan ¼ sendok the garam dapur. Pada lansia. memelihara keseimbangan asam basa dll. b. C. A. B. buah-buahan yang diawtkan oleh garam dan soda. d. Vitamin Fungsi dari vitamin yaitu untuk mempercepat metbolisme. kedelai dan rumput laut. Diet rendah garam 1 : untuk penderita hipertensi berat dianjurkan untuk tidak menambahkan garam dapur dalam makanan. Pada lansia vitamin sangat penting. ikan yang dimakan dengan tulangnya. Mineral dan Air Fungsi dari mineral yaitu pembentukan jaringan tubuh. Lansia hendaknya mengurangi natrium dengan cara membatasi garam dapur.4.

d.Fungsi karbohidrat adalah penyedia energi. terigu. Makanan yang tidak boleh: Roti. terutama vitamin B1 agar tubuh selalu bugar. Pada lansia vitamin sangat penting. kacang tanah dan sayuran yang dimasak/ diawetkan dengan garam dapur. Vitamin Fungsi dari vitamin yaitu untuk mempercepat metbolisme. Pada lansia lemak sebaiknya dibatasi . ikan telur dan susu. s3ehingga membebani usus dan lambung yang akan mengakibatkan gangguan pada usus. semua kacang-kacangan dan sayuran. kornet. dendeng. Pada lansia konsumsi gula dibatasi karena: a. e. gula yang diolah tanpa garam seperti macaroni. protein dan mineral diutamakan untuk mencegah proses penurunan fungsi tubuh. Makanan yang tidak boleh: margarine dan mentega biasa 4. b. Berkurangnya aktifitas tubuh sehingga kebutuhan energi juga menurun. udang. Protein Fungsi dari protein sebagai zat pembangun dari sel tubuh. b. c.E dan K. Gula tidak mengandung gizi kecuali zat tenaga. singkong. g. mie. Pada lansia sebaiknya memilih daging unggas-unggasan daripada daging sapi atau kambing dan hendaknya tidak makan lebih dari 2 potong daging pada sehari. biscuit dll. keju. pindang. kentang. 2. Makanan yang boleh: daging. Makanan yang boleh: minyak margarine dan mentega tanpa garam.D. f. Berkurangnya produksi enzim mengakibatkan pencernaan lemak tidak sempurna. Lemak juga berfungsi sebagai cadangan energi. Sedangkan pada lansia konsumsi zat zat gizi lain seperti vitamin. 3. Makanan yang tidak boleh: ikan asin. ebi. Lemak Lemak berfungsi sebagai pelarut vitamin A. mengingat: a. telur asam. membentuk tekstur makanan dan memberi rasa kenyang yang lama. biscuit dan kue yang dimasak dengan garam dapur. cenderung mengakibatkan kanker usus. Gula cepat diserap (absorpsi) sehingga mengakibatkan perubahan kadar gula darah dan memungkinkan terjadinya obesitas (kegemukan) dan diabetes. Kelebihan lemak akan disimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk timbunan lemak yang menyebabkan kegemukan. Makanan yang boleh: Beras. mempertahankan fungsi jaringan tubuh dan mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan jaringan. Contoh makanan: beras merah . Lemak dengan kandungan asam lemak jenuh yang tinggi memicu penyakit jantung dan pembuluh darah.

buah-buahan yang diawtkan oleh garam dan soda. Garam dianjurkan ¼ sendok the garam dapur. garam dapur dianjurkan ½ sendok teh. kalsium sangat penting karena . Posted on Maret 9. sayuran hijau. penyakit jantung dan kegemukan bila kekurangan serat. Pada lansia. Tdak larut dalam air yang berfungsi melancarkan BAB. memelihara keseimbangan asam basa dll. ikan yang dimakan dengan tulangnya. terutama lansia wanita mudah terjadi ostoporosis akibat menopause. Makanan yang tidak boleh: durian. Mineral dan Air Fungsi dari mineral yaitu pembentukan jaringan tubuh. maka serat tidak mengandung gizi tetapi tetap dibutuhkan untuk mencegah sembelit. Diet rendah garam 1 : untuk penderita hipertensi berat dianjurkan untuk tidak menambahkan garam dapur dalam makanan. air putih. 6. TIPS Pemberian Makanan Bagi lansia Dengan Hipertensi a. Hindari makanan yang terlalu manis. B. c. Makanlah makanan yang mudah dicerna c. 5. d. Hendaknya lansia makan dengan porsi kecil tapi sering b. Contoh makanan yang tingggi kalsium adalah susu. Diet rendah garam II: Ditujukan untuk penderita hipertensi sedang (100114 mmHg). 2008 by harnawatiaj . Lansia hendaknya minum 6-8 gelas sehari mengingat fungsi ginjal menurun dan melancarkan BAB. Makan makanan yang lembek untuk lansia yang kondisi giginya kurang baik. Serat ada 2 jenis: a. goring-gorengan dll. Diet rendah garam III: Ditujukan untuk penderita hipertensi ringan (diastole kurang dari 100 mmHg). Lansia hendaknya mengurangi natrium dengan cara membatasi garam dapur. b. Petunjuk Penggunaan Garam untuk Penderita hipertensi Untuk penderita hipertensi terdapat 3 diet: a. wasir. gurih. kedelai dan rumput laut. kopi dan coklat. C. kanker usus. Serat Serat tidak dapat dicerna.Makanan yang boleh: semua buah yang tidak diawtkan garam/ soda. Larut dalam air yang berfungsi mengikat kolesterol b.

Mulal infus IV langsung untuk meagganti cairanyang hilang dan memelihara sirkulasi adekuat.Berikan perawatan pendukung sesuai ketentuan : Dialisis untuk gagal ginjal Antikonvulsan untuk kontrol kejang 11. 9. koma).Berikan oksigen untuk menyuplai kebutuhan jaringan yang meningkat karena kondisi hipemetabolik.Pantau secara konstan suhu pasien dengan mengguna kan probe termistor pada rektum atau esofagus (pantau suhu inti). hipertermia mungkin teijadi kembali secara spontan dalam 3-4 jam. tekanan vena sentral dan perubahan tingkat kesadaran derigan perubahan cepat dalarn suhu tu buh. peningkatan suhu tubuh (40. Tujuannya adalah menurunkan suhu tinggi secepat mungkin. Seseorang dengan risiko ini adalah mereka yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan iklim panas.Bilas lambung atau kolon dengan salin es yang mungkin diresepkan jika suhu tidak turun 3.Gunakan Selimut Pendingin d. penyekat beta-adrenergik). antikolinergik.Ukur haluaran urine. Pada saat mengkaji pasien. hindari hipotermia. Diagnosa keperawatan nieliputi tidak efektif termore gulasi yang berhubungan dengan ketidakmarnpuan meka nisme homeostatik tubuh untuk mempertahankan suhu tubuh normal. diuretik. infark miokard. mereka yang mendapat pengobatan tertentu (tranquilizer utama.Gunakan pakaian dingin dan handuk atau usap busa dengan air dingin kontinu b. Biasanya cerjadi selama keadaan panas. EKG. karena mortalitas langsung berhubung an dentan durasi hipertermia. mereka yang tidak dapat merawat diri sendiri.60C atau lebih).Turunkan suhu inti (internal) sampal dengan 390C secepat mungkin. tubular nekrosis akut adalah komplikasi dan heat stroke 10. kejang mungkin diikuti dengan hipertermia berulang. dapat juga menyebabkan kematian. kulit panas.Taruh es pada kulit sambil menyemprot dengan air biasa. dan takikardi.Posisikan kipas angin listrik sehiugga menghembus pada pasien untuk menambah pembuangan panas dengan konveksi dan evaporasi 5. delirium. Pengkajian. Kebanyakan kernatian yang berkaitan dengan panas teijadi pada lansia karena sistem sirkulasi mereka tidak mampu mengkompensasi stress yang ditimbulkan oleb panas. tingkah laku aneh. Pertimbangan Gerontologik. 8. kering.Lakukan serial uji untuk gangguan perdarahan (koagulopati inravaskular diseminata) dan enzim serum untuk .Kalium untuk hipokalemia dan natrium bikarbonat wink mengoreksi asidosis metabolik. mereka dengan penyakit kronik dan kelemahan. Tipe heat stroke ini tenjadi pada individu yang sehat selama olahraga atau aktivitas kerja kedka teijadi hipertermia karena ketidakadekuatan peng hilangan panas. Heat stroke menyebabkan cedera termal pada tingkat sel dan menyebabkan kerusakan luas pada jantung. Gunakan satu atau lebih tindakan sebagai berikut : a. ginjal dan koagulasi darah.Masase pasien untuk meningkatkan sirkulasi dan niempertahankan vasodilatasi kutan selarna prosedur pendinginan 4. berikan dengan pelan karena bahaya dan cedera miokardia dan suhu yang tinggi dan fungsi ginjal yang -kurang baik. Pendinginan dengan memberikan cairan dan perifer ke pusat.Pantau pasien dengan cermat terhadap tanda vital.dan disritmia. 12.Heat stroke adalah kedaruratan medis akut yang disebab kin oleh kegagalan mekanisme pengaturan panas tubuh. 7.Lepaskan pakaian pasien 2. 6. gejala yang adalah: disfungsi sistem saraf pusat yang dalam (dimanifestasikan dengan konfusi. Heat stroke karena aktivitas arau latihan dalam suhu panas dan kelembapan ekstrem. Riwayat pasien menunjukkan terpajan pada peningkatan suhu atau latihan berlebihan pada saat panas yang ekstrem. c. lansia. hati. Penanganan simultan ber fokus pada stabiitasi oksigenasi melalui ABC pendukung hidup dasar. Penatalaksanaan Kedaruratan 1.takipnea. Bantu intubasi pasien dengan cuf selang endotrakea dan pasang pada ventilator jika perlu untuk rnendukung kegagalan sistem kardiorespiratori. biasanya anhidrosis (tidak ada keringat). terutaina ketika diikuti oleh kelembanan yang tinggi.Teruskan memantau EKG untuk kcmungkinan infark miokard..

Pendidikan Pasien dan Pertimbangan Perawatan di Rumah 1.com/2008/03/09/heat-stroke/ Pengertian Stroke adalah deficit neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan aliran darah yang timbul secara mendadak dengan tanda dan gejala sesuai dengan daerah fokal otak yang terkena (WHO. dan menggunakan pendekatan ber angsur untuk pengkondisian fisik. dan mengurangi aktivitas dalam cuaca panas.wordpress. menggunakan pakaian kendur. namun juga dapat terjadi pada saat istirahat.mengukur cedera hipoksia suhu pada hati dan jaringan otot.Tekankan pentingnya memelihara masukan cairan yang adekuat. 2. 13. dan susunan pusat. hipersensitivitas pada suhu tinggi mungkin terjadi dalam lama waktu yang dapat dipertimbangkan. yang memungkinkan cukup waktu untuk menyesuaikan dengan iklim. stroke hemoragik Terjadi perdarahan cerebral dan mungkin juga perdarahan subarachnoid yeng disebabkan pecahnya pembuluh darah otak. Klasifikasi stroke Berdasarkan proses patologi dan gejala klinisnya stroke dapat diklasifikasikan menjadi : 1.Nasihatkan atlet untuk memantau kehilangan cairan. perpusta kaan. B. spasme ataupun thrombus pembuluh darah otak. Umumnya terjadi pada saat melakukan aktifitas.Masukkan pasien ke unit perawatan intensify. Kesadaran umumnya menurun dan penyebab yang paling banyak adalah akibat hipertensi yang tidak terkontrol. mengganti cairan.Nasihatkan pasien untuk menghindari terpajan pada suhu tinggi. Tidak terjadi perdarahan.Ajak lansia yang lemah yang hidup dalam lingkungan desa dengan suhu lingkungan tinggi ke tempat di mana ada pengaturan udara (mall tempat belanja. 2. 3. Umumnya terjadi setelah beristirahat cukup lama atau angun tidur. emboli. 1989). 4. stroke non hemoragik Dapat berupa iskemia. Mung kin ada kerusakan hati. Stroke non hemoragik penyakitnya. jantung. TIA’S (Trans Ischemic Attack) . kesadaran umumnya baik dan terjadi proses edema otak oleh karena hipoksia jaringan otak. yaitu : dapat juga diklasifikasikan berdasarkan perjalanan 1. gereja) http://harnawatiaj.

dapat disebabkan oleh aterosklerosis atau sebaliknya. 1. Etiologi Ada beberapa factor risiko stroke yang sering teridentifikasi.Yaitu gangguan neurologist sesaat. Diabetes mellitus (DM) Penderita DM berpotensi mengalami stroke karena 2 alasan. beberapa menit atau beberapa jam saja dan gejala akan hilang sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam. Ddisamping itu dapat terjadi proses embolisasi yang bersumber pada kelainan jantung dan pembuluh darah. Kelainan jantung / penyakit jantung Paling banyak dijumpai pada pasien post MCI. 1. C. 3. Aneurisma pembuluh darah cerebral Adanya kelainan pembuluh darah yakni berupa penebalan pada satu tempat yang diikuti oleh penipisan di tempat lain. 5. 4. Proses ini biasanya berjalan dalam beberapa jam atau beberapa hari. termasuk pembuluh darah otak. 2. 1. Pada daerah penipisan dengan maneuver tertentu dapat menimbulkan perdarahan. stroke in Volution Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan yang muncul semakin berat dan bertambah buruk. Stroke Komplit Gangguan neurologist yang timbul bersifat menetap atau permanent. Hipertensi. Kerusakan kerja jantung akan menurunkan kardiak output dan menurunkan aliran darah ke otak. yeitu terjadinya peningkatan viskositas darah sehingga memperlambat aliran darah khususnya serebral dan adanya kelainan microvaskuler sehingga berdampak juga terhadap kelainan yang terjadi pada pembuluh darah serebral. Usia lanjut Pada usia lanjut terjadi proses kalsifikasi pembuluh darah. Rind (Reversible Ischemic Neurologis Defict) Gangguan neurologist setempat yang akan hilang secara sempurna dalam waktu 1 minggu dan maksimal 3 minggu. yaitu . atrial fibrilasi dan endokarditis.. . Proses ini dapat menimbulkan pecahnya pembuluh darah atau timbulnya thrombus sehingga dapat mengganggu aliran darah cerebral. 1.

Di samping itu. Stroke hemoragik Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen intracranial yang seharusnya konstan. Stroke non hemoragik Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau embolus. Adanya perubahan komponen intracranial yang tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian. 9. Polocitemia Pada policitemia viskositas darah meningkat dan aliran darah menjadi lambat sehingga perfusi otak menurun. darah yang mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema. Perdarahan otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli. spasme pembuluh darah otak dan penekanan pada . 2. 7. aliran darah ke area thrombus menjadi berkurang. D. sehingga arteri menjadi tersumbat. salah satunya pembuluh darah otak. 8. Emboli disebabkan oleh embolus yang berjalan menuju arteri serebral melalui arteri karotis. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang tiba-tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist fokal. Patofisiologi 1. menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak. 10. Obesitas Pada obesitas dapat terjadi hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah. kurang aktivitas fisik Kurang aktivitas fisik dapat juga mengurangi kelenturan fisik termasuk kelenturan pembuluh darah (embuluh darah menjadi kaku). salah satunya pembuluh drah otak.6. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding pembuluh darah. Perokok Pada perokok akan timbul plaque pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga terjadi aterosklerosis. Peningkatan kolesterol (lipid total) Kolesterol tubuh yang tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis dan terbentuknya embolus dari lemak.

1. Daerah arteri serebri posterior • Nyeri spontan pada kepala • Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35-50%) 1. atau apraksia tergantung hemisfer mana yang terkena 1. E.daerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak. Daerah vertebra basiler akan menimbulkan: • Sering fatal karena mengenai pusat-pusat vital di batang otak .40% • Konfuse : 45% dari pasien biasanya sadar 1. Daerah arteri serebri anterior akan menimbulkan gejala: • hemiplegia dan hemianesthesia kontralateral terutama tungkai (30%-80%) • inkontinensia urin. arteri karotis interna akan menimbulkan: • Hemiplegia kontralateral yang disertai hemianesthesia (30%-80%) • Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35%-50%) • Apraksia bila mengenai hemisfer non dominant(30%) 1. afasia. Pengaruh terhadap status mental • Tidak sadar : 30% . Daerah arteri serebri media. Tanda dan gejala Tanda dan gejala yang muncul sangat tergantung pada daerah dan luasnya daerah otak yang terkena.

2. Stroke hemisfer kanan • Hemiparese sebelah kiri tubuh • Penilaian buruk • Mempunyai kerentanan terhadap sisi kemungkinan terjatuh ke sisi yang berlawanan 1.• Hemiplegia alternans atau tetraplegia • Kelumpuhan pseudobulbar menelan. CT scan kepala untuk mengetahui lokasi dan luasnya perdarahan atau infark . emosi labil) (kelumpuhan otot mata. laboratorium: mengarah pada pemeriksaan darah lengkap. dan bila perlu analisa gas darah. kolesterol. gejala dapat berupa: 1. stroke hemisfer kiri • mengalami hemiparese kanan • perilaku lambat dan sangat berhati-hati • • kelainan bidang pandang sebelah kanan • disfagia global • afasia • mudah frustasi kontralateral sebagai F. gula darah dsb. kesulitan Apabila dilihat bagian hemisfer mana yang terkena. Pemeriksaan diagnostik Pemeriksaan penunjang disgnostik yang dapat dilakukan adalah : 1. elektrolit.

menurunkan TIK yang tinggi RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN STROKE . 8. bila perlu diberikan ogsigen sesuai kebutuhan 3. posisi miring jika muntah dan boleh dimulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil 2. Posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat. atau suction berlebih yang dapat meningkatkan TIK 10. Penatalaksanaan medis Secara umum. • Stroke hemoragik: mengobati penyebabnya. hematom dan bergesernya struktur otak angiografi untuk mengetahui penyebab dan gambaran yang jelas mengenai pembuluh darah yang terganggu G. konstipasi. Tanda-tanda vital diusahakan stabil Bed rest Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Kandung kemih yang penuh dikosongkan. penatalaksanaan pada pasien stroke adalah: 1. infark. tindakan pembedahan. 5. trombolisis. Penatalaksanaan spesifik berupa: • Stroke non hemoragik: antikoagulan. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat. MRI untuk mengetahui adanya edema. 4. Jika kesadaran menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT 11. neuroprotektor. neuroprotektor. obat hemoragik asetosal. batuk.3. Nutrisi per oral hanya diberikan jika fungsi menelan baik. 4. 6. 7. Hindari kenaikan suhu. bila perlu lakukan kateterisasi Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonik 9.

memori. fungsi kognitif. DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI 1. Kolaborasi: • Pemberian ogsigen • Laboratorium: Analisa gas darah. edema Kriteria hasil : atau oklusi pembuluh darah a. Observasi tanda-tanda vital (tiap jam sesuai kondisi pasien) 3. TIK normal d. adanya perdarahan. RR normal c. Tidak ada tanda-tanda sianosis dan pucat d. Auskultasi bunyi nafas 2. Tidak ada tanda . Pertahankan posisi tirah baring pada posisi anatomis atau posisi kepala tempat tidur 15-30 derajat Bersihan jalan nafas Pasien mampu mempertahankan tidak efektif b. Pantau intake-output cairan. Bila sudah memungkinkan lakukan fisioterapi dada dan latihan nafas dalam 6. balance tiap 24 jam 4. darah lengkap dll • Pemberian obat sesuai kebutuhan 1. Lakukan penghisapan lender dan pasang OPA jika kesadaran menurun 5. Bunyi nafas vesikuler b. bahasa respon pupil dll 2.d.NO 1.d. Tingkat kesadaran serebral membaik (GCS meningkat) b. Tidak ada sputum 2. penumpukan sputum (karena kelemahan. jalan nafas yang paten. memori dan motorik membaik c. Kriteria hasil : hilangnya refleks batuk) a. Penurunan perfusi Perfusi serebral membaik serebral b. Ukur tandatanda vital 3. Tanda-tanda vital stabil e. Berikan posisi semi fowler sesuai dengan kebutuhan (tidak bertentangan dgn masalah keperawatan lain) 4. Pantau adanya tanda-tanda penurunan perfusi serebral :GCS.

Kriteria hasil : hemiparese a. kontraksi otot membaik c. kerusakan neuromuscular.d. Pertahankan ligkungan yang nyaman 7. Evaluasi sifat dan beratnya afasia pasien. mengejan dsb 6. jika berat hindari memberi isyarat non 3. Gangguan komunikasi verbal b. 5. Kolaborasi: • Beri ogsigen sesuai indikasi • Laboratorium: AGD.d.perburukan neurologis f. Hindari valsava maneuver seperti batuk. Lakukan ROM pasif atau aktif sesuai kemampuan dan jika TTV stabil 6. Pantau kekuatan otot 3. Libatkan keluarga dalam memobilisasi klien 7. gula darah dll • Penberian terapi sesuai advis • CT scan kepala untuk diagnosa dan monitoring 1. Pantau tingkat kemampuan mobilisasi klien 2. tidak ada kontraktur atau foot drop b. Komunikasi dapat berjalan dengan baik . Pasang trochanter roll pada daerah yang lemah 5. Gangguan mobilitas Pasien mendemonstrasikan fisik b. mobilisasi bertahap 4. Rubah posisi tiap 2 jan 4. kerusakan mobilisasi aktif neuromuskuler. Kolaborasi: fisioterapi 1. kelemahan. Hindari fleksi leher untuk mengurangi resiko jugular 8.

Lakukan komunikasi dengan wajar. bahasa jelas. Pembicaraan pasien dapat dipahami 2.kerusakan sentral bicara verbal Kriteria hasil : a. Hb. Conjungtiva ananemis d. Lab: albumin. Berdiri di dalam lapang pandang pasien pada saat bicara 5. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi b. pemasangan NGT. sederhana dan bila perlu diulang 3. Libatkan keluarga dalam melatih komunikasi verbal pada pasien 7. Albumin. BUN dalam batas normal 5. Kolaborasi : Pemeriksaan lab(Hb. Klien dapat mengekspresikan perasaan b. (Risiko) gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b. Hitung kebutuhan nutrisi perhari 3.d. Memahami maksud dan pembicaraan orang lain c. Tonus otot baik e. dengarkan dengan tekun jika pasien mulai berbicara 4. Berat badan dalam batas normal 6. Catat intake makanan c. BUN). Timbang berat badan secara berkala 6. intake nutrisi tidak adekuat Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : a. Observasi tanda-tanda vital 4. Latih otot bicara secara optimal 6. Beri latihan menelan 7. Kolaborasi dengan ahli terapi wicara 1.d. lingkungan dapat . konsul ahli gizi 1.Persepsi dan kesadaran akan sensori b. Beri makan via NGT 8. Kaji factor penyebab yang mempengaruhi kemampuan menerima makan/minum 2. Cari tahu proses 5. Perubahan persepsi.

Mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber bantuan . Bicara dengan tenang dan perlahan 8. Evaluasi adanya gangguan persepsi: penglihatan. Kurang kemampuan Kemampuan merawat diri merawat diri b. penurunan perubahan pola hidup untuk koordinasi otot. Buat lingkungan yang memungkinkan klien untuk melakukan ADL mandiri 4. Ciptakn suasana lingkungan yang nyaman 4. perubahan psikologi patogenesis yang mendasari 2. Libatkan keluarga dalam membantu klien 5. kekuatan otot a. sehari-hari kerusakan persepsi b. posisi dan proprioseptik 5. meningkat kelemahan. Motivasi klien untuk melakukan ADL sesuai kemampuan 6. Evaluasi kemampuan membedakan panas-dingin.d. memenuhi kebutuhan hidup depresi. Catat adanya proses hilang perhatian terhadap salah satu sisi tubuh dan libatkan keluarga untuk membantu mengingatkan 6. Ingatkan untuk menggunakan sisi tubuh yang terlupakan 7. gangguan Kriteria hasil : neuromuscular. taktil 3.perubahan transmisi dipertahankan saraf sensori. integrasi. Berikan bantuan terhadap kebutuhan yang benar-benar diperlukan saja 3. Sediakan alat Bantu diri 7. Lakukan validasi terhadap persepsi klien dan lakukan orientasi kembali 1. mendemonstrasikan menurun. nyeri. Pantau tingkat kemampuan klien dalam merawat diri 2. Melakukan perawatan diri sesuai kemampuan c.

Identifikasi factor risiko secara individual dal lakukan perubahan pola hidup 5. Kriteria hasil : keterbatasan kognitif.bila mungkin 7. Tidak ada trauma dan komplikasi lain 9. Klien tidak terjatuh b. konsultasi dengan ahli okupasi atau fisioterapi 1. Kurang pengetahuan Pengetahuan klien dan (klien dan keluarga) keluarga tentang penyakit dan tentang penyakit dan perawatan meningkat. Hindari restrain kecuali terpaksa 4. Pantau tingkat kesadaran dan kegelisahan klien 2. Kolaborasi: pemberian obat sesuai indikasi (diazepam. pengobatan. perawatan b.d. tidak a. Beri pengaman di samping tempat tidur 6. Beri pengaman pada daerah yang sehat. Evaluasi derajat gangguan persepsi sensuri 2. Pertahankan bedrest selama fase akut 5. Diskusikan proses patogenesis dan pengobatan dengan klien dan keluarga 3. beri bantalan lunak 3. gerakan yang tidak terkontrol selama penurunan kesadaran Klien terhindar dari cedera selama perawatan Kriteria hasil : a. dilantin dll) 1. Risiko cedera b. Buat daftar perencanaan pulang 8. Identifikasi cara dan kemampuan untuk meneruskan progranm perawatan di rumah 4. Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit. dan perubahan pola hidup yang diperlukan . Klien dan keluarga mengenal sumber berpartisipasi dalam proses belajar b.d. Libatkan keluarga dalam perawatan 7. kurang informasi. Kolaborasi: pasang DC jika perlu.

id/fer50/2008/09/17/asuhan-keperawatanpada-klien-dengan-stroke/comment-page-1/ Imobilitas dan Intoleransi Aktivitas pada Lansia October 3. potensial sindrom disuse. Imobilitas. berpindah dan ambulasi • Keengganan untuk melakukan pergerakan • Keterbatasan rentang gerak • Penurunan kekuatan. dan intoleransi aktivitas memberikan definisi imobilitas yang lebih luas. bergerak dari mobilitas penuh sampai ketergantungan fisik total atau ketidak aktifan. Prevalensi dari masalah ini meluas di luar institusi sampai melibatkan seluruh lansia Awitan imobilitas atau intoleransi aktivitas untuk sebagian besar orang tidak terjadi secara tiba-tiba.ac. pengendalian. tetapi lebih berkembang secara perlahan dan tanpa disadari. Imobilitas didefinisikan secara luas sebagai tingkat aktivitas yang kurang dari mobilitas optimal. termasuk protocol-protokol mekanis dan medis • Gangguan koordinasi Faktor-faktor yang berhubungan • Intoleransi aktivitas • Penurunan kekuatan dan ketahanan • Nyeri dan rasa tidak nyaman • Gangguan persepsi atau kognitif • Gangguan neuromuskuler • Depresi • Ansietas berat . BAB II PEMBAHASAN Imobilitas dan Intoleransi Aktivitas pada Lansia GANGGUAN MOBILITAS FISIK Definisi Sutau keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami seseorang Batasan karakteristik • Ketidakmampuan untuk bergerak dengan tujuan di dalam lingkungan. termasuk mobilitas di tempat tidur.http://mhs. Intervensi diarahkan pada pencegahan kea rah konsekuensi-konsekuensi imobilitas dan ketidak aktifan dapat menurunkan kecepatan penurunannya. intoleransi aktivitas. 2009pusva juwitaLeave a commentGo to comments BAB I PENDAHULUAN Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi seseorang. Studi-studi tentang insidensi diagnosis keperawatan yang digunakan untuk lansia yang berada di Institusi perawatan mengungkapkan bahwa hambatan mobilitas fisik adalah diagnosis pertama atau kedua yang paling sering muncul. dan sindromdissue sering terjadi pada lansia. atau masa otot • Mengalami pembatasan pergerakan. Diagnosis keperawatan hambatan mobilitas fisik.blog.ui.

Batasan karakteristik • Secara verbal melaporkan keletihan atau kelemahan • denyut jantung atau tekanan darah yang tidak normal terhadap aktivitas • Rasa tidak nyaman dispneu setelah beraktivitas • Perubahan elektrokardiogravis yang menunjukkan adanya disritmia atau iskemia Faktor-faktor yang berhubungan • Tirah baring dan imobilitas • Kelemahan secara umum • Gaya hidup yang kurang gerak • Ketidakseimbanag antara suplai oksigen dan kebutuhan Faktor-faktor Internal Berbagai factor internal dalam imobilisasi tubuh atau bagian tubuh antara lain.INTOLERANSI AKTIVITAS Definisi Suatu keadaan ketidakcukupan energi secara fisiologis atau psikologis pada seseorang untuk bertahan aau menyelesaikan aktivitas sehri-hari yang dibutuhkan atau diinginkan. MANIFESTSI KLINIS Dampak fisiologis dari imobilitas dan ketidak efektifan • • • • • • • • • • • • • • Efek • Hasil • • Penurunan konsumsi oksigen maksimum Intoleransi ortostatik Peningkatan denyut jantung. Penurunan fungsimuskuloskeletal Perubahan fungsi neurologist Nyeri Defisit perceptual Berkurangnya kemampuan kognitif Jatuh Perubahan hubungan social Aspek psikologis Faktor-faktor eksternal Factor tersebut termasuk. . Perub ahan yang berhubungan dengan usia disertai dengan penyakit kronis menjadi predisposisi bagi lansia untuk mengalami komplikasi-komplikasi ini. Secara fisiologis. ancaman terhadap imobilitas. Program terapeutik Karakteristik penghuni institusi Karakteristik staf Sistem pemberian asuhan keperawatan Hambatan-hambatan Kebijakan-kebijakan institusi Dampak masalah pada lansia Lansia sangt renan erhadap konsekuensi fisiologis dn psikologis dari imobilitas. oleh karena itu memperberat efek ini. dan interpretasi pada kejadian. tubuh bereaksi terjhadap imobilitas dengan perubahan-perubahan yang hamper sama dengan proses penuaan. Suatu pemahman tentang dampak imobilitas dapat diperoleh dari interaksi kompetensi fisik.

Hambatan lingkungan termasuk kurangnya tempat yang aman untuk latihan dan kondisi iklim yang tidak mendukung. Pencegahan Sekunder Spiral menurun yang terjadi akibat aksaserbasi akut dari imobilitas dapat dkurangi atau dicegah dengan intervensi keperawatan. perilaku gaya hidup tertentu (misalnya merokok dan kebiasaan diet yang buruk) depresi gangguan tidur. Program tersebut disusun untuk memberikn kesempatan pada klien untuk mengembangkan suatu kebiasaan yang teratur dalam melakukan bentuk aktif dari rekreasi santai yang dapat memberikan efek latihan. Bahaya-bahaya interpersonal termasuk isolasi social yang terjadi ketika teman-teman dan keluarga telah meninggal. pengkajian tentang factor-faktor pengganggu berikut ini akan membantu untuk memastikan keterikatan dan meningkatkan pengalaman. moblilitas dan aktivitas tergantung pada fungsi system musculoskeletal. Pencegahan sekunder memfokuskan pada pemeliharaan fungsi dan pencegahan komplikasi. Keberhasilan intervensi berasal dri suatu pengertian tentang berbagai factor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas dan penuaan. pulmonal. Sebagai suatu proses episodic pencegahan primer diarahkan pada pencegahan masalah-masalah yang dapat tmbul akibat imoblitas atau ketidak aktifan. Sebagai suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan. Mengajarkan klien untuk mengenali tanda-tanda intoleransi atau latihan yang terlalu keras sama pentingnya dengan memilih aktivitas yang tepat. Diagnosis keperawaqtan dihubungkan dengan poencegahan sekunder adalah gangguan mobilitas fisik PENGKAJIAN . Pencegahan primer Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsug sepanjang kehidupan dan episodic. instruksi tentang latihan yang aman harus dilakukan. dan mengalami peningkatan.• • • • • Penurunan fungsi ventrikel kiri Penurunan volume sekuncup Perlambatan fungsi usus Pengurangan miksi Gangguan tidur • • • • sinkop Penurunan kapasitas kebugaran Konstipasi Penurunan evakuasi kandung kemih Bermimpi pada siang hari. diseimbangkan. Ketika klien telah memiliki evaluasi fisik secara seksama. selama dan setelah aktivitas diberikan) Kecenderungan alami (predisposisi atau penngkatan kearah latihan khusus) Kesulitan yang dirasakan Tujuan dan pentingnya lathan yang dirasakan Efisiensi latihan untuk dirisendiri (derajat keyakinan bahwa seseorang akan berhasil) • Keamanan Ketika program latihan spesifik telah diformulasikan dan diterima oleh klien. halusinasi PENATALAKSANAAN 1. • Hambatan terhadap latihan Berbagai hambatan mempengaruhi partisipasi lansia dalam latihan secara teratur. Aktivitas sat ini dan respon fisiologis denyut nadsi sebelum. 1. • Pengembangan program latihan Program latihan yang sukses sangat individual. kurangnya transportasi dan kurangnya dukungan. kardiovaskuler.

rentang gerak sendi. pucat. Tandatanda awal meliputi peningkatan temperature dan denyut jantung. dan sakit kepala. tremor tangan. dan gas arteri mengindikasikan adanaya perluasan dan beratnya kondisi yang terjadi. dan kekuatan skeletal. spirometri insesif untuk hiperinflasi alveoli. penurunan tekanan darah. tangga yang tinggi. karpet yang lepas. • Kemunduran kardiovaskuler Tanda dan gejala kardivaskuler tidak memberikan bukti langsung atau meyaknkan tentang perkembangan komplikasi imobilitas. mual gelisah. dan batas kandung kemih yang dapat diraba. kompresi pneumatik intermiten atau stoking kompresi gradien untuk meningkatkan aliran darah vena dan mencegah tromboembolisme. kamar mandi tanpa pegangan. dan tirah baring. ukuran. edema. lantai licin. dan tempat duduk toilet yang rendah dapat menurunkan mobilitas klien. Identifikasi dan penghilangan hambatan-hambatan yang potensial dapat meningkatakan mobilitas PENATALAKSANAAN TERAPEUTIK Pengobatan terapeutik ditujukan kearah perawatan penyakit atau kesakitan yang dihasilkan atau yang turut berperan terhadap masalah imobilitis dan penanganan konsekuensi aktual atau potensial dari imobilitas. Pengkajian fungsi secara periodik dapat digunakan untuk memantau perubahan dan keefektifan intervensi. distensi abdomen bagian bawah. bunyi napas. Hanya sedikit petunjuk diagnostic yang dapat diandalkan pada pembentukan trombosis.• Kemunduran musculoskeletal Indikator primer dari keparahan imobilitas pada system musculoskeletal adalah penurunan tonus. Tanda-tanda tromboflebitis meliputi eritema. Perubahan-perubahan dalam pergerakan dada. perkusi. depresi mental. Intoleransi ortostatik dapat menunjukkan suatu gerakan untuk berdiri tegak seperti gejala peningkatan denyut jantung. • Faktor-faktor lingkungan Lingkungan tempat tinggal klien memberikan bukti untuk intervensi. dan cairan pada lantai. tekanan. kecuali untuk eliminasi INTERVENSI . nyeri tekan dan tanda homans positif. Contoh-contoh pendekatan terhadap penanganan imobilitas meliputi terapi fisik untuk mempertahankan mobilitas dan kekuatan otot. tempat tidudan posisi yang tinggi. rasa penuh. Perubahan awal terlihat pada permukaan kulit sebagai daerah eritema yang tidak teratur dan didefinisikan sangat buruk di atas tonjolan tulang yang tidak hilang dalam waktu 3 menit setelah tekanan dihilangkan Perubahan-perubahan fungsi urinaria Bukti dari perubahan-perubahan fungsi urinaria termasuk tanda-tanda fisik berupa berkemih sedikit dan sering. kekuatan. anoreksia. iritabilitas. penerangan yang tidak adekuat. Di dalam rumah. kesulitandalam mengikuti perintah dan sinkop • Kemunduran Respirasi Indikasi kemunduran respirasi dibuktikan dari tanda dan gejala atelektasis dan pneumonia. Pengosonganh rectum yang tidak sempurna. dan ketahanan otot. Gejalagejala kesulitan miksi termasuk pernyataan ketidakmampuan untuk berkemih dan tekanan atau nyeri pada abdomen bagian bawah • • Perubahan-perubahan Gastrointestinal Sensasi subjektif dari konstipasi termasuk rasa tidak nyaman pada abdomen bagian bawah. berkeringat. • Perubahan-perubahan integument Indikator cedera iskemia terhadap jaringan yang pertama adalah reaksi inflamasi. Hambatan-hambatan institusional terhadap mobilitas termasuk jalan koridor yang terhalang. kompresi pneumatik intermiten dan kekuatan otot. kelemahan.

Ketiga. Karena otot-otot memendek dan memanjang.Limatujuan mengarahkan intervensi keperawatan untuk mencegah atau meniadakan sekuelafisiologis dari imobilitas. Keempat. bersepeda. KONTRAKSI OTOT ISOMETRIK Kontraksi otot isometrik meningkatkan tegangan otot tanpa mengubah panjang otot yang menggerakkan sendi. atau pada saat duduk di kursi dengan cara mendorong atau menarik suatu objek yang tidak dapat bergerak. tetapi juga integrasi aktif dari latihan sebagai . nutrisi untuk meningkatkan anabolisme protein dan pembentukan tulang. kerja dapat dicapai. dan berdansa. pemeliharaan fleksibilitas sendi yan terlibat dalam latihan rentang gerak. dan dapat dinikmati. Kontraksi isotonik dapat dicapai pada saat berada di tempat tidur. abdominal dan gluteal) dan untuk memberikan tekanan pada tulang bagi orang-orang dengan dan tanpa penyakit kardiovaskuler. dan sikap komitmen terhadap latihan. LATIHAN AEROBIK Latihan aerobik adalah aktivitas yang menghasilkan peningkatan denyut jantung 60 sampai 90% dari denyut jantung maksimal dihitung dengan (220-usia seseorang) x 0. Pembahasan tentang intervensi disajikan di sini. pemeliharaan fungsi urinaria dan usus yang normal bergantung pada dukungan nutrisi dan struktur lingkungan serta rutinitas-rutinitas untuk memfasilitasi eliminasi. dan aktivitas kehidupan sehari-hari. Kontraksi isometrik dilakukan dengan cara bergantian mengencangkan dan merelaksasikan kelompok otot. berirama. aktivitas penguatan aerobik. pemeliharaan sirkulasi yang adekuat meliputi tindakan-tindakan pendukung untuk mempertahankan tonus vaskuler (termasuk mengubah posisi dalam hubungannya dengan gravitasi). Terakhir. dengan tungkai menggantung di sisi tempat tidur. SIKAP Variabel utama yang dapat mengganggu keberhasilan intervensi pada individu yang mengalami imobilisasi adalah sikap perawat dan klien tentang pentingnya latihan dan aktivitas dalam rutinitas sehari-hari.7 Aktivitas aerobik yang dipilih harus menggunakan kelompok otot besar dan harus kontinu. yang termasuk pengondisian program latihan harian baik kontraksi otot isometrik dan isotonik. Sikap perawat tidak hanya memengaruhi komitmen untuk memasukkan latihan sebagai komponen rutin sehari-hariyang berkelanjutan. Contohnya termasuk berjalan. stoking kompresi untuk memberikan tekanan eksternal pada tungkai. Kontraksi-kontraksi ini digunakan untuk mempertahankan kekuatan otot dan mobilitas dalam keadaan berdiri (misalnya otot-otot kuadrisep. Kekuatan otot harus menghasilkan peningkatan setelah beberapa waktu. Kedua. dan asupan cairan yang adekuat untuk mencegah efek dehidrasi pada volume darah. Latihan angkat berat dengan meningkatkan pengulangan dan berat adalah aktivitas pengondisian kekuatan. Latihan ini meningkatkan kekuatan dan massa otot serta mencegah kehilangan densitas tulang dan kandungan mineral total dalam tubuh. LATIHAN KEKUATAN Aktivitas penguatan adalah latihan pertahanan yang progresif. pemeliharaan ventilasi yang normal meliputi hiperinflasi dan mobilisasi serta menghilangkan sekresi. berenang. Tujuan pertama meliputi pemeliharaan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal. Kontraksi ini mengubah panjang otot tanpa mengubah tegangan. Pergerakan aktif memengaruhi toleransi ortostatik. posisi yang tepat. KONTRAKSI OTOT ISOTONIK Kontraksi otot yang berlawanan atau isotnik berguna untk mempertahankan kekuatan otot-otot dan tulang. Ketika tangan atau kaki dilatih baik otot-otot fleksor dan ekstensor harus dilibatkan.

• • • • • Untuk muskuloskeletal . pengkajian paru Untuk Integumen. yaitu menggerakkan sendi seseorang melalui rentang geraknya oleh orang lain. LATIHAN RENTANG GERAK Latihan rentang gerak aktif dan pasif memberikan keuntungan-keuntungan yang berbeda. Posisi duduk di kursi secara normal dengan tungkai tergantung secara potensial berbahaya untuk seseorang yang beresiko mengalami pengembangan trombosis vena. pengumpulan dan penurunan tekanan darah balik vena akan terjadi. rumah sakit. serta mencegah gangguan. dan ketahanan. tonus. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan intoleransi aktivitas. Demikian pula halnya sikap klien dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas latihan. Diagnosa keperawatan. dan fasilitas jangka panjang. ukuran. RENCANA PERAWATAN Rencana asuhan keperawatan untuk imobilitas betujuan mempertahankan kemampuan dan fungsi. gerakan pasif. masalah-masalah mobilitas. hanya membantu mempertahankan fleksibilitas. dan kehilangan ketahanan Observasi status respirasi dan fungsi jantung pasien Observasi lingkungan terhadap bahaya-bahaya keamanan yang potensialUbah lingkungan untuk menurunkan bahaya-bahaya keamanan Ajarkan tentang tujuan dan pentingnya latihan Ajarkan penggunaan alat-alat bantu yang tepat • • • • DOKUMENTASI YANG ESENSIAL Dokumentasi untuk setiap sistem meliputi hal-hal berikut. Mengatur posisi tungkai dengan ketergantungan minimal (misalnya meninggikan tungkai diatas dudukan kaki) mencegah pengumpulan darah pada ekstremitas bawah. karakteristik kulit diatas tonjolan tulang Untuk urinaria. frekuensi dan jumlah berkemih . kekuatan otot. Jika seseorang diposisikan dengan tungkai tergantung. dan adanya nyeri Untuk Kardiovaskular. mobilitas sendi. Sebaliknya. perubahan ortostatik dalam tekanan darah dan denyut nadi Untuk respirasi. termasuk rentang gerak sendi dan pengkajian fungsional mengenai kemampuan.intervensi bagi lansia di berbagai lingkungan. resiko tinggi sindrom dissue Hasil yang diharapkan Klien mampertahankan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal dan fleksibilitas sendi-sendi • Intervensi keperawatan Observasi tanda dan gejala penurunan mobilitas sendi. MENGATUR POSISI Mengatur posisi juga digunakan untuk meningkatkan tekanan darah balk vena. Latihan aktif membantu mempertahankan fleksibilitas sendi dan kekuatan otot serta meningkatkan penampilan kognitif. komunitas. penggunaan dan penyalahgunaan alat bantu.

mereka mendapatkan benturanbenturan fisik maupun psikologis akibatnya mereka tidak lagi memikirkan efek bagi kesehatan jangka panjang. Patricia. ahli fisioterapi. akibat kecelakaan serta karena proses degenerative system saraf tampaknya sedang merambah naik di Indonesia. Beare. Usia merupakan factor resiko yang paling penting bagi semua jenis stroke. dan keluarga serta teman-teman BAB III PENUTUP Gangguan mobilitas fisik merupakan suatu keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami seseorang Intoleransi aktifitas merupakan suatu keadaan ketidakcukupan energi secara fisiologis atau psikologis pada seseorang untuk bertahan aau menyelesaikan aktivitas sehri-hari yang dibutuhkan atau diinginkan. . 1. 2006 • Possibly related posts: (automatically generated) • KEPUTIHAN =FLUOR ALBUS • Did you know Dismenore? • hidup sehat dengan bersepeda • Meningkatkan Potensi dan ketahanan http://pusva. Pencegahan tersier Upaya-upaya rehabilitasi untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya multidisiplin yang terdiri dari perawat. dokter. dan keluarga serta teman-teman DAFTAR PUSTAKA Stanley. dan terapi okupasi. Buku Ajar Keperawaan Gerontik ed. ahli fisioterapi.com/2009/10/03/imobilitas-dan-intoleransi-aktivitas-padalansia/ BAB I PENDAHULUAN Kecenderungan pola penyakit neurologi terutama gangguan susunan saraf pusat tampaknya mengalami peningkatan penyakit akibat gangguan pembuluh darah otak.25 kali lebih besar pada pria dibanding wanita. Insiden stroke meningkat secara eksponensial dengan bertambahnya usia dan 1. Salah satu penyakit yang sering dialami oleh lansia adalah stroke. seorang ahli gizi. Kemungkinan yang menjadi factor penyebab munculnya masalah ini adalah adanya perkembangan ekonomi dan perubahan gaya hidup terutama msayarakat perkotaan. karakter dan pola feses dan alat bantu yang biasa digunakan untuk memfasilitasi eliminasi. Upaya-upaya rehabilitasi untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya multidisiplin yang terdiri dari perawat.wordpress. aktivitas sosial. Dengan bertambahnya usia maka permasalahan kesehatan yang terjadi akan semakin kompleks. Kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup terlihat semakin mudah sehingga meningkatkan hasratmereka untuk terus berjuang mencapai tujuan dengan penuh persaingan dalam perjuangan tersebut. 2 Jakarta EGC . aktivitas sosial. seorang ahli gizi. Usia harapan hidup di Indonesia sekarang kian meningkat sehingga semakin banyak terdapat lansia.Untuk gastrointestinal. Walaupun belum didapat data secara konkrit mengenai hal ini namun dari pengalaman terlihat sangat mencolok adanya perubahan ini. dan terapi okupasi. Mickey. dokter.

2. 3. Menurut Lumbantobing (1994 : 5) kelainan yang terjadi akibat gangguan peredaran darah. 2002 : hal. ETIOLOGI . misal: Trombosis. berupa deficit neurologis fokal atau global yang langsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian. 2000: 54) yang menyatakan bahwa stroke adalah gangguan darah di pembuluh arteri yang menuju ke otak. 2131 ). embolis. progresif cepat. Harsono (1993 : 30) membagi stroke non haemoragi berdasarkan bentuk klinisnya antara lain : 1. Gejala neurologik timbul ± 24 jam. 4. Stroke atau Cerebro Vasculer Accident (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak ( Brunner dan Suddarth. dan semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran otak non traumatic (Mansjoer 2000: 17) Stroke adalah gangguan neurologik fokal yang dapat timbul sekunder dari proses patologis pada pembuluh darah serebral. yang disebabkan oleh embolus. Gejala makin berkembang ke otak lebih berat. tidak berkembang lagi.BAB II TINJAUAN TEORI A. DEFINISI Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat. yang disebabkan oleh thrombus dan stroke embolik. 2. B. yaitu : 1. disebabkan karena gangguan perdarahan otak. Persoalan pokok pada stroke adalah gangguan peredaran darah pada daerah otak tertentu (Mardjono. tidak lebih dari seminggu. Stroke terdiri dari 2 jenis yaitu : Stroke adalah sindrom yang awal timbulnya mendadak. ruptura dinding pembuluh atau penyakit vaskuler dasar (Prince. baik fokal maupun menyeluruh yang berlangsung dengan cepat. Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak ( Elizabeth J. Hal ini terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah otak. Completed Stroke Kelainan saraf yang sifatnya sudah menetap. Serangan Iskemia sepintas atau transient ischemic Attack (TIA). Perdarahan (Stroke Hemoragi) Terjadi pecahnya pembuluh darah otak. Corwin. 181 ). Menurut WHO stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral. Defisit Neurologik Iskemia Sepintas/ Reversible Ischemic Neurologik Defisit (RIND). Berlangsung lebih dari 24 jam atau berakhir dengan maut tanpa ditemukannya penyebab selain daripada gangguan vaskuler. Infark iskemic terbagi menjadi dua yaitu : stroke trombotik. 2001 : hal. Stroke dapat dibagi menjadi 2 golongan. 1995 : 964). Stroke Progresif (Progresive Stroke/ Stroke in evolution). Infark Ischemik (Stroke non Hemoragi). Pada bentuk ini gejala neurologik yang timbul akibat gangguan peredaran darah di otak akan menghilang dalam waktu 24 jam.

Penyakit Jantung Beberapa Penyakit Jantung berpotensi menimbulkan strok. Perdarahan intracranial biasanya disebabkan oleh ruptura arteria serebri. pada akhirnya akan menyebabkan kematian sel. Diabetes Mellitus Debetes mellituas mampu .kali dalam seminggu. Dikemudian hari seperti Penyakit jantung reumatik. Embolisme Kebanyakan emboli serebri berasal dari suatu flowess dalam jantung sehingga masalah yang dihadapi sesungguhnya merupakan perwujudan dari penyakit jantung.jaringan yang telah mati ke aliran darah. Sedangkan menurut prince (1995 : 966) mengatakan bahwa stroke haemoragi disebabkan oleh perdarahan serebri.sel otak.menebalkan dinding pembuluh darah otak yang berukuran besar. Transient Ischemic Attack (TIA) TIA dapat terjadi beberapa kali dalan 24 jam/ terjadi berkali. d. Trombosis Serebri Merupakan penyebab stroke yang paling sering ditemui yaitu pada 40% dari semua kasus stroke yang telah dibuktikan oleh ahli patologis. Kadar lemak darah yang tinggi termasuk Kolesterol dan Trigliserida. 1. Sementara leukemia/ kanker darah dapat menyebabkan terjadinya pendarahan otak. Penyakit jantung koroner dengan infark obat jantung dan gangguan irana denyut janung.sel / jaringan. Faktor Resiko Tambahan a. g. Biasanya berkaitan erat dengan kerusakan fokal dinding pembuluh darah akibat anterosklerosis. c. Merokok Merokok dapat meningkatkan konsentrasi fibrinogen yang akan mempermudah terjadinya penebalan dinding pembuluh darah dan peningkatan kekentalan darah. Riwayat keluarga dengan stroke e. Hipertensi Hipertensi dapat mengakibatkan pecahnya maupun menyempitnya pembuluh darah otak. Factor resiko ini pada umumnya akan menimbulkan hambatan atau sumbatan aliran darah ke otak karena jantung melepaskan sel. Perdarahan ini dibedakan berdasarkan tempat terjadinya perdarahan. sehingga jaringan yang terletak di dekatnya akan tergeser. Menebalnya pembuluh darah otak akan menyempitkan diameter pembuluh darah yang akan menggangu kelancaran aliran darah ke otak. Makin sering seseorang mengalami TIA maka kemungkinan untuk mengalami stroke semakin besar. d. b. Kadar asam urat darah tinggi . Apabila pembuluh darah otak menyempit maka aliran darah ke otak akan terganggu dan sel-sel otak akan mengalami kematian. Harsono (1999 : 60) membagi factor risiko yang dapat ditemui pada klien dengan Stroke yaitu: Faktor risiko utama a. Lanjut usia f. Perdarahan Intra Serebral (PIS) Penyebab yang paling sering adalah hipertensi. b. 2. Kegemukan atau obesitas c. Menurut Harsono ini dibedakan berdasarkan tempat terjadinya perdarahan antara lain: Perdarahan Sub Arachnoid (PSA) Kira-kira ¾ harus perdarahan sub arachnoid disebabkan oleh pecahnya seneusisma 5-6% akibat malformasi dari arteriovenosus. Polisitemia dapat menghambat kelancaran aliran darah ke otak.Stroke non haemoragi merupakan penyakit yang mendominasi kelompok usia menengah dan dewasa tua karena adanya penyempitan atau sumbatan vaskuler otak yang berkaitan erat dengan kejadian. Penyakit darah tertentu seperti polisitemia dan leukemia. dimana tekanan diastolic pecah. Ekstravasali darah terjadi dari daerah otak dan atau subaracnoid. Meningginya kadar kolesterol merupakan factor penting untuk terjadinya asterosklerosis atau menebalnya dinding pembuluh darah yang diikuti penurunan elastisitas pembuluh darah.

Hal ini disebut Transient ischemic attack (TIA). (hemoragi subdural). Hemoragi intraserebral paling umum pada pasien dengan hipertensi dan aterosklerosis serebral. ukuran area yang perfusinya tidak adekuat. amfetamin dan berbagai obat aditif). Kehilangan motorik : hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada sesi otak yang berlawanan. Pasien dengan perdarahan luas dan hemoragi mengalami penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital. dibawah duramater. hemangioblastoma dan trauma. Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologis e. adanya tumor otak dan penggunaan medikasi (antikoagulan oral. hal 67) D. juga disebabkan oleh tipe patologi arteri tertentu.namun lebih dari 24 jam Gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini dissebut reversible ischemic neurologic defisit (RIND) c. kehilangan sensori d. Beberapa pasien mungkin mengalami hemoragi subdural kronik tanpa menunjukkan tanda dan gejala. Arteri di dalam otak dapat menjadi tempat aneurisma.h. Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama. Gejala makin lama makin berat (progresif) Hal ini desebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat yang disebut progressing stroke atau stroke inevolution d. b. Hemoragi subdural (termasuk hemoragi subdural akut) pada dasarnya sama dengan hemoragi epidural.gejala CVA muncul akibat daerah tertentu tak berfungsi yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tempat tersebut. periode pembentukan hematoma lebih lama ( intervensi jelas lebih lama) dan menyebabkan tekanan pada otak. Ini biasanya mengikuti fraktur tengkorak dengan robekan arteri dengan arteri meningea lain. Gangguan persepsi: disfungsi persepsi visual. PATOFISIOLOGI 1) Stroke Hemoragic Perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari semua penyebab utama kasus gangguan pembuluh darah otak. diruang subarachnoid (hemoragi subarachnoid) atau di dalam substansi otak (hemoragi intraserebral). Penyakit paru. gangguan hubungan visual-spasial. b. dan jumlah aliran darah kolateral (sekunder atau aksesori) a. Karenanya. hemoragi intraserebral biasanya disebabkan oleh malformasi arteri-vena. Perdarahan biasanya arterial dan terjadi terutama sekitar basal ganglia. Hemoragi subarachnoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau hipertensi. Disfungsi kandung kemih Gejala . Gejala itu muncul bervariasi. karena perubahan degeneratif karena penyakit ini biasanya menyebabkan ruptur pembuluh darah.1996. Gejalagejala itu antara lain bersifat: a. MANIFESTASI KLINIK Stroke ini menyebabkan berbagai defisit neurologik. kecuali bahwa hematoma subdural biasanya jembatan vena robek. Sementara Timbul hanya sebentar selama beberapa menit sampai beberapa jam dan hilang sendiri dengan atau tanpa pengobatan. disfasia atau afasia (bicara defektif atau kehilangan bicara). Bila hemoragi membesar. hemiparesis atau kelemahan salah satu sisi tubuh. apraksia (ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya) c. tetapi penyebab paling sering adalah kebocoran aneurisma pada area sirkulus wilisi dan malformasi arteri-vena kongenital pada otak. makin jelas defisit neurologik yang terjadi dalam bentuk penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital. bergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat). C. pada orang yang lebih muda dari 40 tahun. bergantung bagian otak yang terganggu. Perdarahan serebral dapat terjadi di luar duramater (hemoragi ekstradural atau epidural). Sudah menetap/permanent (Harsono. Biasanya awitan tiba-tiba dengan sakit kepala berat. Kehilangan komunikasi : disartria (kesulitan bicara).paru menahun. 2) Stroke Non Hemoragic . Sementara. memperberat atau malah menetap. Hemoragi ekstradural (epidural) adalah kedaruratan bedah neuro yang memerlukan perawatan segera.

mengemukakan bahwa tekanan darah diturunkan pada stroke iskemik akut bila terdapat salah satu hal berikut : . sebaiknya dengan kateterisasi intermiten. CT-Scan CT-scan dapat menunjukkan adanya hematoma. Pungsi Lumbal . Dengan adanya sumbatan oleh emboli akan menyebabkan iskemi E. 1997. Suatu kateter dimasukkan dengan tuntunan fluoroskopi dari arteria femoralis di daerah inguinal menuju arterial.2000 hal 292) F. sehingga aliran darah menjadi tidak lancer. hemoragik. yang sesuai kemudian zat warna disuntikkan. MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark. 1999. Perawatan umum stroke Ø Penatalaksanaan awal selama fase akut dan mempertahankan fungsi tubuh Mengenai penatalaksanaan umum stroke. Dalam waktu 72 jam daerah tersebut akan mengalami edema dan lama kelamaan akan terjadi nekrosis. Penurunan aliran arah ini menyebabakan iskemi yang akan berlanjut menjadi infark. Onset stroke trombotik biasanya berjalan lambat. Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal (Doenges E. 2. bila perlu berikan oksigen 0-2 L/menit sampai ada hasil gas darah. hal 2131) G. Asia Pacific Consensus on Stroke Manajement.menunjukan adanya tekanan normal . Suzanne.Terbagi atas 2 yaitu : a) Pada stroke trombotik. b) Sedangkan stroke emboli terjadi karena adanya emboli yang lepas dari bagian tubuh lain sampai ke arteri carotis. · Kandung kemih yang penuh dikosongkan. Lokasi yang tersering pada stroke trombosis adalah di percabangan arteri carotis besar dan arteri vertebra yang berhubungan dengan arteri basiler. emboli tersebut terjebak di pembuluh darah otak yang lebih kecil dan biasanya pada daerah percabangan lumen yang menyempit. 6. PENATALAKSANAAN 1. 3. oklusi disebabkan karena adanya penyumbatan lumen pembuluh darah otak karena thrombus yang makin lama makin menebal. Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena 7. gelombang delta lebih lambat di daerah yang mengalami gangguan. 2002.tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan 5. infark dan perdarahan. konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia. Konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia. yaitu arteri carotis di bagian tengah atau Middle Carotid Artery ( MCA ). PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa stroke antara lain adalah: 1. KOMPLIKASI Komplikasi utama pada stroke yaitu : ü Hipoksia Serebral ü Penurunan darah serebral ü Luasnya area cedera (Smeltzer C. · Penatalaksanaan tekanan darah dilakukan secara khusus. mengemukakan bahwa peningkatan tekanan darah yang sedang tidak boleh diobati pada fase akut stroke iskemik. Marilynn. mengemukakan hal-hal berikut: · Bebaskan jalan nafas dan usahakan ventilasi adekuat. Angiografi Arteriografi dilakukan untuk memperlihatkan penyebab dan letak gangguan. 1999. EEG (Elektro Encephalogram) Dapat menunjukkan lokasi perdarahan.

- Tekanan sistolik > 220 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. - Tekanan diastolik > 120 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. - Tekanan darah arterial rata-rata > 130-140 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. - Disertai infark miokard akut/ gagal jantung atau ginjal akut. Pada umumnya peningkatan tekanan darah pada fase akut stroke diakibatkan oleh : o Stress daripada stroke o Jawaban fisiologis dari otak terhadap keadaan hipoksia o Tekanan intrakranial yang meninggi. o Kandung kencing yang penuh o Rasa nyeri. Tekanan darah dapat berkurang bila penderita dipindahkan ke tempat yang tenang, kandung kemih dikosongkan, rasa nyeri dihilangkan, dan bila penderita dibiarkan beristirahat. · Hiperglikemia atau hipoglikemia harus dikoreksi. Keadaan hiperglikemia dapat dijumpai pada fase akut stroke, disebabkan oleh stres dan peningkatan kadar katekholamin di dalam serum. Dari percobaan pada hewan dan pengalaman klinik diketahui bahwa kadar glukosa darah yang meningkat memperbesar ukuran infark. Oleh karena itu, kadar glukosa yang melebihi 200 mg/ dl harus diturunkan dengan pemberian suntikan subkutan insulin. Konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia mengemukakan bahwa hiperglikemia ( >250 mg% ) harus dikoreksi sampai batas gula darah sewaktu sekitar 150 mg% dengan insulin intravena secara drips kontinyu selama 2-3 hari pertama. Hipoglikemia harus diatasi segera dengan memberikan dekstrose 40% intravena sampai normal dan diobati penyebabnya. · Suhu tubuh harus dipertahankan normal. Suhu yang meningkat harus dicegah, misalnya dengan obat antipiretik atau kompres. Pada penderita iskemik otak, penurunan suhu sedikit saja, misalnya 2-3 derajat celsius, sampai tingkat 33ºC atau 34 °C memberi perlindungan pada otak. Selain itu, pembentukan oxygen free radicals dapat meningkat pada keadaan hipertermia. Hipotermia ringan sampai sedang mempunyai efek baik, selama kurun waktu 2-3 jam sejak stroke terjadi, dengan memperlebar jendela kesempatan untuk pemberian obat terapeutik. · Nutrisi peroral hanya boleh diberikan setelah hasil tes fungsi menelan baik, bila terdapat gangguan menelan atau penderita dengan kesadaran menurun, dianjurkan melalui pipa nasogastrik. · Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan. Pemberian cairan intravena berupa cairan kristaloid atau koloid, hindari yang mengandung glukosa murni atau hipotonik. · Bila ada dugaan trombosis vena dalam, diberikan heparin dosis rendah subkutan, bila tidak ada kontra indikasi. Terapi farmakologi yang dapat diberikan pada pasien stroke : a. Antikoagulasi dapat diberikan pada stroke non haemoragic, diberikan sdalam 24 jam sejak serangan gejala-gejala dan diberikan secara intravena. b. Obat antipletelet, obat ini untuk mengurangi pelekatan platelet. Obat ini kontraindikasi pada stroke haemorhagic. c. Bloker kalsium untuk mengobati vasospasme serebral, obat ini merilekskan otot polos pembuluh darah. d. Trental dapat digunakan untuk meningkatkan aliran darah kapiler mikrosirkulasi, sehingga meningkatkan perfusi dan oksigenasi ke jaringan otak yang mengalami iskemik. Ø Kebutuhan psikososial Gangguan emosional, terutama ansietas, frustasi dan depresi merupakan masalah umum yang dijumpai pada penderita pasca stroke. Korban stroke dapat memperlihatkan masalah-masalah emosional dan perilakunya mungkin berbeda dari keadaan sebelum mengalami stroke. Emosinya dapat labil, misalnya pasien mungkin akan menangis namun pada saat berikutnya tertawa, tanpa sebab yang jelas. Untuk itu, peran perawat adalah untuk memberikan pemahaman kepada keluarga tentang perubahan tersebut. Hal-hal yang bisa dilakukan perawat antara lain memodifikasi perilaku pasien seperti seperti mengendalikan simulasi di lingkungan, memberikan waktu istirahat sepanjang siang hari untuk mencegah pasien dari kelelahan yang berlebihan, memberikan umpan balik positif untuk perilaku yang dapat diterima atau

perilaku yang positif, serta memberikan pengulangan ketika pasien sedang berusaha untuk belajar kembali satu ketrampilan. Ø Rehabilitasi selama di rumah sakit Rehabilitasi di rumah sakit memerlukan pengkajian yang sistematik dan evaluassi dari defisit dan perbaikan fungsi pasien. Fokus perawatan adalah langsung membantu pasien belajar kembali kehilangan keterampilan yang dapat membentu kembali kemungkinan kemandirian pasien. Pada fase ini pasien dimonitor secara hati-hati untuk mencegah berkembangnya komplikasi yang lebih lanjut. Adapun intervensi yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut : 1. Anjurkan pasien untuk mengerjakan sendiri ”personal Hygiene” semampunya. 2. Ajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari dengan menghargai cara pasien mengkompensasi ketidakmampuan pasien. 3. Anjurkan pasien untuk latihan di tempat tidur. 4. Berikan spesial perawatan kulit. 5. Berikan privacy dengan menggunakan penutup jika ia belajar keahlian baru seperti belajar makan sendiri. 6. Berikan support emosional. 7. Berikan empati pada perasaan klien.anjurkan keluarga untuk berpartisipasi. Ø Perencanaan pasien pulang Untuk mencegah kembalinya klien ke rumah sakit, diperlikan suatu program untuk membimbing klien dan keluarga yang tercakup dalam perencanaan pulang. Perencanaan pulang dilakukan segera setelah klien masuk rumah sakit, yang dilakukan oleh semua anggota tim kesehatan. Perencanaan pulang yang baik adalah perencanaan pulang yang tersentralisasi, terorganisir, dan melibatkan berbagai anggota tim kesehatan. Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan melalui asuhan keperawatan mutlak harus mengikuti dan berperan aktif dalam mementukan rencana pemulangan klien, sehingga klien mendapatkan pelayanan yang holistik dan komprehensif. Tujuan perencanaan pulang : a. Mempersiapkan klien untk menyesuaikan diri dengan rumah dan masyarakat. b. Agar klien dan keluarga mempunyai pengetahuan dan ketrampilan serta sikap dalam memperbaiki dan mempertahankan status kesehatannya. c. Agar klien dan keluarga dapat menerima keadaan diri klien jika terdapat gejala sisa ( cacat ). d. Membantu merujuk klien ke pelayanan kesehatan lain. Mengingat banyaknya informasi dan pendidikan yang harus diterima oleh klien selama perawatan maupun dalam persiapan untuk pulang, maka prinsip belajar mengajar juga harus diperhatikan dalam proses rencana pemulangan. Informasi untuk klien dan keluarga : a. Gunakan bahasa yang sederhana, jelas dan ringkas. b. Jelaskan langkah-langkah dalam melaksanakan perawatan. c. Perkuat penjelasan lisan dengan instruksi tertulis, jika klien bisa membaca. d. Motivasi klien mengikuti langkah-langkah tersebut selama perawatan dan pengobatan. e. Kenali tanda-tanda dan gejala komplikasi yabg harus dilaporkan kepada tim kesehatan. f. Anjurkan keluarga untuk berpartisipasi aktif dalam pengawasan dan perawatan klien. g. Berikan keluarga nomor penting yang dapat dihubungi bila klien perlu pertolongan medis.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN I. Pengkajian 1. Aktivitas dan istirahat Data Subyektif:

- kesulitan dalam beraktivitas : kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis. - mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot ) Data obyektif: - Perubahan tingkat kesadaran - Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia ) , kelemahan umum. - gangguan penglihatan 2. Sirkulasi Data Subyektif: - Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung , endokarditis bacterial ), polisitemia. Data obyektif: - Hipertensi arterial - Disritmia, perubahan EKG - Pulsasi : kemungkinan bervariasi - Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal 3. Integritas ego Data Subyektif: - Perasaan tidak berdaya, hilang harapan Data obyektif: - Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan - kesulitan berekspresi diri 4. Eliminasi Data Subyektif: - Inkontinensia, anuria - distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara usus( ileus paralitik ) 5. Makan/ minum Data Subyektif: - Nafsu makan hilang - Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK - Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia - Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah Data obyektif: - Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring ) - Obesitas ( factor resiko ) 6. Sensori neural Data Subyektif: - Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA ) - nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid. - Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati - Penglihatan berkurang - Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka ipsilateral ( sisi yang sama ) - Gangguan rasa pengecapan dan penciuman Data obyektif: - Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan tingkah laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif - Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke, genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam ( kontralateral ) - Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )

2000 hal 292) II.Problem berbicara. Respirasi Data Subyektif: . Diagnosa Keperawatan 1. menyiapkan makanan .Riwayat hipertensi keluarga. spasme pembuluh darah serebral. berkurang kesadaran diri 10. .Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral 7.Menampakan stabilisasi tanda vital dan tidak ada PTIK .Terpelihara dan meningkatnya tingkat kesadaran.Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat. stimuli taktil . Pengajaran / pembelajaran Data Subjektif : .Tidak mampu mengenali objek.bantuan untuk transportasi. shoping . perawatan diri dan pekerjaan rumah (Doenges E. bahasa.Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan .Timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur . gelisah. warna.Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas .Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa.penggunaan kontrasepsi oral 12.Keamanan Data obyektif: . reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif. kesulitan untuk melihat objek. perhatian sedikit terhadap keamanan.Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya Data obyektif: . edema serebral. dan wajah yang pernah dikenali . Pertimbangan rencana pulang . Perubahan perfusi jaringan serebral b. kehilangan memori . kognisi dan fungsi sensori / motorik .Perubahan respon sensorik / motorik.Perubahan tingkat kesadaran .Suara nafas terdengar ronchi /aspirasi 9. kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata. hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit .Gangguan dalam memutuskan.menentukan regimen medikasi / penanganan terapi .Tingkah laku yang tidak stabil. intelektual dan emosional .Defisit sensori . perdarahan. Dibuktikan oleh : . global / kombinasi dari keduanya.Perubahan persepsi terhadap tubuh.Peran pasien menampakan tidak adanya kemunduran / kekambuhan . Nyeri / kenyamanan Data Subyektif: . pendengaran. kata.Perubahan tanda-tanda vital Tujuan Pasien / kriteria evaluasi . .Perokok ( factor resiko ) Tanda: . ketidakmampuan berkomunikasi 11. stroke . Interaksi social Data obyektif: .d terputusnya aliran darah : penyakit oklusi. Marilynn.Gangguan berespon terhadap panas. ketegangan otot / fasial 8..Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik . dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh . kegelisahan .

koordinasi.Berikan medikasi sesuai indikasi : · Antifibrolitik. · Manitol 2. keterbatasan rentang gerak sendi.Ketidakmampuan berbicara atau menulis secara komprehensif. miring ) .Monitor tanda-tanda vital .Menampakan kemampuan perilaku / teknik aktivitas sebagaimana permulaannya . perubahan lapang pandang / persepsi lapang pandang . foot drop. penurunan kekuatan otot.Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi individu/ penyebab koma / penurunan perfusi serebral dan potensial PTIK . gangguan neuromuskuler. isoxsuprine. gunakan foot board pada saat selama periode paralysis flaksid.Bantu dalam meberikan stimulasi elektrik .Bantu memanipulasi untuk mempengaruhi warna kulit edema atau menormalkan sirkulasi .Adanya peningkatan kemampuan fungsi perasaan atau kompensasi dari bagian tubuh . Pertahankan kepala dalam keadaan netral .Konsul ke bagian fisioterapi . missal cyclandelate.Gangguan artikulasi . .Terpeliharanya integritas kulit Intervensi : . Tujuan Pasien / kriteria evaluasi . . ketidakmampuan dalam persespi kognitif Dibuktikan oleh : .Bantu meningkatakan fungsi.Pasien mampu memahami problem komunikasi .Monitor dan catat status neurologis secara teratur .Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi .Tidak mampu berbicara / disartria . Gangguan komunikasi verbal b.d kelemahan neuromuskular.ketidakmampuan moduasi wicara .Intervensi : .Tidak ada kontraktur. atur kunjungan sesuai indikasi Kolaborasi .Pertahankan tirah baring . Ketidakmampuan mobilitas fisik b.Evaluasi penggunaan alat bantu pengatur posisi .Ubah posisi tiap dua jam ( prone.Mulai latihan aktif / pasif rentang gerak sendi pada semua ekstremitas .Bantu meningkatkan keseimbangan duduk .Gunakan bed air atau bed khusus sesuai indikasi 3. sediakan lingkungan yang tenang .Bantu untuk mengubah pandangan . mengidentifikasi objek .Kepala dielevasikan perlahan lahan pada posisi netral.Evaluasi pupil 9 ukuran bentuk kesamaan dan reaksi terhadap cahaya 0 . Ditandai : . kelemahan umum / letih.Awasi bagian kulit diatas tonjolan tulang Kolaborasi . mengenal kata .d gangguan sirkulasi serebral. supine. termasuk bicara jika pasien mengalami gangguan fungsi . Tujuan pasien / kriteria evaluasi .Ketidakmampuan dalam bergerak pada lingkungan fisik : kelemahan.Topang ekstremitas pada posis fungsional . misalnya pandangan kabur. kehilangan tonus otot fasial / mulut.Menentukan metode komunikasi untuk berekspresi . misal aminocaproic acid ( amicar ) · Antihipertensi · Vasodilator perifer. .

Validasi persepsi pasien 5. perubahan proses pikir . kehilangan kontrol /koordinasi otot Ditandai dengan : . orang .Perubahan pola komunikasi .bedpan.Beri stimulasi terhadap sisa-sisa rasa sentuhan . tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan . tekanan psikologis ( penyempitan lapangan persepsi disebabkan oleh kecemasan) Ditandai .Bantu pemahaman sensori .Konsentrasi jelek. Tujuan / kriteria hasil : . .Konsul dengan ahli terapi wicara 4.Pertahankan kontak mata saat berhubungan .mandi.d kerusakan neuromuskuler.Mendemonstrasikan perilaku untuk kompensasi Intervensi : .Melakukan aktivitas perwatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri .Bicara langsung kepada pasien dengan perlahan dan jelas . Perubahan persepsi sensori b. tempat . .Mendemonstrasikan perubahan gaya hidup untuk memenuhi kenutuhan perawatan diri Intervensi: ..Kaji patologi kondisi individual .Kaji kemampuan dantingkat kekurangan (dengan menggunakan skala 1-4) untuk melakukan kebutuhan sehari-hari .Bantu menentukan derajat disfungsi .Lakukan pendekatan dari sisi yang utuh .d penerimaan perubahan sensori transmisi.Dapat mempertahakan level kesadaran dan fungsi persepsi pada level biasanya. penurunan kekuatan dan ketahanan.Sediakan bel khusus jika diperlukan .Bedakan antara afasia dengan disartria .Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi tentang kebutuhannya untuk menghindari dan atau kemampuan untuk menggunakan urinal.Antisipasi dan sediakan kebutuhan pasien .Ketidakmampuan mengkoordinasi kemampuan motorik.Ketidakmampuan untuk mengatakan letak organ tubuh .Bicara dengan nada normal Kolaborasi : . Kurang perawatan diri b. kesulitan tugas toileting Kriteria hasil: .Sederhanakan lingkungan .Kerusakan kemampuan melakukan AKS misalnya ketidakmampuan makan .Lindungi psien dari temperatur yang ekstrim .Evaluasi penurunan visual .Mengidentifikasi sumber pribadi /komunitas dalam memberikan bantuan sesuai kebutuhan .Perubahan pola tingkah aku . . perpaduan ( trauma / penurunan neurologi). memasang/melepas baju.Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasien sendiri.Menggunakan sumber bantuan dengan tepat Intervensi : .Perubahan pengetahuan dan mampu terlibat .Sediakan metode komunikasi alternatif .Disorientasi waktu.

.. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan .Dorong pasien untukmkan diit tinggi kalori kaya nutrien sesuai program .D. ketidakmampuan mengatasi lendir Kriteria hasil: .Pasien memperlihatkan kepatenan jalan napas .Pasien mengungkapkan pemasukan adekuat Intervensi. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.Ukur BB setiap hari sesuai indikasi .Identifikasi kebiasaan defekasi sebelumnya dan kembalikan pada kebiasaan pola normal tersebut. hindari makanan terlalu manis.d reflek menelan turun.Penghisapan sekresi . Marilynn.E dan B6 .Pantau masukan makanan setiap hari .Keluhan masukan makan tidak adekuat .Rongga mulut terinflamasi Kriteria evaluasi: .Posisikan tubuh dan kepala untuk menghindari obstruksi jalan napas dan memmberikan pengeluaran sekresi yang optimal .Berikan supositoria dan pelunak feses .BB stabil .Vitamin A. Kadar makanan yang berserat.Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau keberhasilannya.Ekspansi dada simetris . reflek batuk dan sekresi .Konsultasikan dengan ahli fisioterapi/okupasi 6. Kesimpulan .Kaji dan pantau pernapasan.hilang rasa ujung lidah Ditandai dengan: . bising).Kehilangan sensasi pengecapan . Anjurkan untuk minum banyak dan tingkatkan aktivitas.Bunyi napas bersih saaatauskultasi . .Pemberian anti emetic dengan jadwal reguler .Berikan oksigenasi sesuai advis . Kolaborasi.Tidak terdapat tanda distress pernapasan .berlemak dan pedas.2000 hal 293-305) BAB IV PENUTUP A.d kerusakan batuk.Identifikasi pasien yang mengalami mual muntah Kolaborasi: . . Gangguan pemenuhan nutrisi b.GDA dan tanda vital dalam batas normal Intervensi: .Pantau BGA dan Hb sesuai indikasi 7.Pasien dapat berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang nafsu makan .Kontrol faktor lingkungan (bau.Pasang /pertahankan slang NGT untuk pemberian makanan enteral (DoengesE.Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi jalan napas setiap 4 jam .Rujuk ahli diit .

Jakarta : EGC. DAFTAR PUSTAKA Ancowitz. Faktor-faktor risiko yang dapat ditemui pada klien dengan stroke yaitu: Faktor risiko utama a. New York : William Morrow and Company. Penyakit darah tertentu seperti polisitemia dan leukemia g. Pahria.com/2008/06/asuhan-keperawatan-klien-denganstroke. Marilynn E.html Pendahuluan data Salah satu cermin keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia dapat dilihat dari meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia yaitu 67 tahun untuk wanita dan 63 tahun untuk pria yang mencapai 19 juta jiwa atau 8. 1997. Stroke juga menjadi salah satu penyebab kematian dan kecacatan neurologis yang utama.5% dari penduduk Indonesia. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat. 1993. Tuti. Jakarta : EGC. Kegemukan atau obesitas c. Dari . Doengoes. 1996. Jakarta : EGC. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Hudak Gallo. Diabetes Melitus c. Kadar lemak darah yang tinggi termasuk kolesterol dan trigliserida b. Penyakit paru-paru menahun B. The Stroke Book. Saran Dari uraian diatas dapat kami sarankan sebaiknya para pembaca khususnya perawat dengan kasus stroke mengetahui tentang: Faktor-faktor resiko yang dapat ditemui pada klien dengan stroke laboratorium yang perlu dilakukan Cara penatalaksanaan pada stroke. A. Merokok d. Lanjut Usia f. Penyakit Jantung d. dkk. 2000. Hipertensi b. disebabkan karena gangguan perdarahan otak. Lumbantobing. 2001. inc. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Persarafan. Stroke dibagi menjadi 2 golongan. Neurogeriatri. http://fijaytrangkil. Kadar asam urat darah tinggi h.blogspot. Transient Ischemic Attack (TIA) Faktor resiko tambahan a. Riwayat keluarga dengan stroke e. yaitu: Infark Ischemik (Stroke non Hemoragi) Hal ini terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah otak Perdarahan (Stroke Hemoragi) Terjadi pecahnya pembuluh darah otak. Keperawatan Kritis Edisi VI Volume II.

booklet atau poster tentang upaya kesehatan lanjut usia. Diakuinya. Keterbatasan gerak dan kelincahannya serta usia pensiun yang menyebabkan usia lanjut cenderung menurun dan kemudian akan mempengaruhi mental serta kehidupan sosialnya. leaflet. Terutama penyakit yang berhubungan dengan faktor usia seperti tekanan darah tinggi. perlu dilakukan pengkajian kebutuhan kesehatan usia lanjut. Nusantara Stroke & Medical Center menyelenggarakan seminar untuk meminimalkan angka kejadian stroke yang dialami para lanjut usia (lansia) pada tanggal 6 Juli 2004. stroke dan sebagainya. dapat mengembangkan ataupun memfasilitasi pembentukan kelompok usia lanjut binaan sebagai suatu wadah kegiatannya sebagai model kegiatan dalam rangka peningkatan kualitas hidup usia lanjut. pengasuh usia lanjut. berdansa/berjoget atau melakukan kegiatan apa saja yang dibutuhkan. petugas panti wreda. yaitu terbentuknya klub stroke berbasis masyarakat bisa . senam bersama. jantung dan pembuluh darah. kebutuhan usia lanjut pun dapat berbeda. usia lanjut dapat saling berdiskusi tentang pengalaman kesehatannya. Karenanya. Di dalam kelompok ini. sehingga apa yang kita cita-citakan. Terutama penyakit yang berhubungan dengan faktor usia seperti tekanan darah tinggi. untuk menghindarinya stroke perlu dikenali dan dipahami cara pencegahannya melalui pola hidup sehat seperti makan dengan gizi seimbang. Meski begitu. termasuk kebutuhan kesehatannya. Sesuai dengan status kesehatan. Menurut Komisaris Utama NSMC Prof Dr Haryono Suyono. semua orang akan mengalami masa tua dan usia lanjut yang secara alami tidak dapat dihindarkan. saling bertukar pikiran. sosial budaya.jumlah tersebut sebagian besar di antara mereka daya tahan tubuhnya sangat rentan terhadap berbagai serangan penyakit. serangan jantung. Dari jumlah tersebut sebagian besar di antara mereka daya tahan tubuhnya sangat rentan terhadap berbagai serangan penyakit. serta penyediaan bukubuku. serangan jantung. Dengan demikian mereka tidak merasa kesepian dan akan mendapatkan banyak pengetahuan tentang kesehatan dismping menerima pelayanan kesehatan secara sederhana yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di puskesmas. Karena itu para usia lanjut membutuhkan perhatian khusus dari keluarganya dan masyarakat.5% dari penduduk Indonesia. Mengingat hal itu. namun tidak tertutup kemungkinan menyerang meraka yang berusia muda akibat perubahan pola hidup dan gaya hidup. Biasanya penyakit ini akan menyerang orang-orang berusia lanjut. usia lanjut mempunyai pola hidup yang berbeda satu dengan lainnya. berharap di masa mendatang dapat dikembangkan berbagai kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia melalui berbagai pelatihan bagi keluarga. Salah satu cermin keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia dapat dilihat dari meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia yaitu 67 tahun untuk wanita dan 63 tahun untuk pria yang mencapai 19 juta jiwa atau 8. Bukan hanya itu Yastroki sebagai suatu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli terhadap stroke dan usia lanjut. Namun kondisi saat ini menyebabkan para anggota keluarga banyak yang bekerja maupun mempunyai kegiatan di luar rumah menyebabkan para usia lanjut merasa tersisihkan. stroke dan sebagainya. kondisi ekonomi. Pada usia tersebut akan terjadi kemunduran sel-sel yang dapat mempengaruhi fungsi dan kemampuan sistem tubuh termasuk syaraf. cukup istirahat dan olah raga. Haryono. Berbgai masalah yang dihadapi usia lanjut anatara lain penyakit yang biasanya betsifat kronis dan memerlukan penanganan speialistik sehingga membutuhkan waktu relatif lama dan biaya tinggi. Stroke merupakan suatu penyakit yang menyerang syaraf otak manusia sehingga mereka yang terkena serangan strokeakan mengalami kelumpuhan sebagian anggota tubuhnya tergantung susunan syaraf bagian mana yang terserang. tidak merokok dan sebagainya agar suatu saat nanti para usia lanjut tidak segera mengalami kepikunan dan masih dapat hidup mandiri bahkan produktif. pendidikan maupun lingkungannya. Untuk mengantisipasi Hal tersebut.

tetapi jumlah angka harapan hidup yang terus meningkat. termasuk di dalamnya lansia yang masih potensial. angka kelahiran sudah tidak terlalu meningkat lagi. Menurut Subagio terdapat dua model penanganan lansia. Subagio menjelaskan penduduk yang disebut lansia adalah yang berusia di atas dari 60 tahun. RIS http://www. tahun 1980 jumlah lansia masih 7 juta jiwa. ada lansia yang memang tidak produktif ditangani secara khusus. balitanya tinggal 6. makanya perlu antisipasi dan penanganan dalam menghadapi boom lansia tersebut.yastroki.� kata Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial (Yanrehsos). Subagio di Banjarmasin. Menurutnya. “Menjadi lansia bukanlah pilihan.8 juta orang.terwujud. Menurutnya. Kamis (18/9/2008).3 juta orang.1%. [kpl/rif/foto 22/5/2009 (Kominfo-Newsroom) � Jumlah orang lanjut usia (lansia) di Indonesia saat ini sekitar 16.5 juta jiwa dari seluruh jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 220 juta jiwa.9% yang menyebabkan jumlah penduduk lansia terbesar di dunia.id/read. Mereka yang masih produktif khususnya perempuan bisa diarahkan ke dalam kegiatan ekonomi produktif. �Jumlah lansia saat ini sekitar 16.Pihak Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia memprediksi akan terjadi lonjakan (boom) jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di negara Indonesia menyusul kian membaiknya tingkat kesejahteraan yang diiringi kian membaiknya pula tingkat derajat kesehatan masyarakat. komposisi penduduk Indonesia belakangan ini kian terbalik. Ia berada di Banjarmasin untuk menghadiri acara sosialisasi perlindungan perempuan lansia dan penyandang cacat tingkat Kota Banjarmasin. dan jumlahnya dari tahun ke tahun terus meningkat. Sedangkan ramalan pihak badan kesehatan dunia WHO bahwa penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2020 mendatang sudah mencapai angka 11. Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Depsos. yang pada gilirannya akan menimbulkan jumlah penduduk lansia terus membengkak secara drastis. Pada tahun 2005 kondisi komposisi penduduk Indonesia telah berubah yang menjadikan penduduk lansia mencapai 7% dan balita 8. Makmur Sunusi pada konperensi pers dalam rangka Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) Tahun 2009 di Jakarta.34% atau tercatat 28. Pada tahun 1971 lalu penduduk Indonesia yang dikategorikan lansia masih sekitar 4.4 juta orang. Melihat tingkat kesehatan dan kesejahteraan kian membaik maka angka harapan hidup penduduk Indonesia juga kian meningkat pula. kemudian tahun 1990 naik menjadi .2%.5%. sementara penduduk kategori usia di bawah lima tahun (balita) sebesar 16. Usia lanjut khususnya perempuan bukan berarti tidak meninggalkan masalah di tengah masyarakat.” kata Deputi Bidang Perlindungan Perempuan.php?id=124 KAPANLAGI. khususnya perempuan di mana usia perempuan akan lebih panjang. tetapi melihat tingkat kesehatan dan kesejahteraan belakangan ini maka lansia merupakan sebuah kehidupan. Para usia lanjut yang terpaksa harus tinggal di rumah karena lemah atau pasca perawatan dan membutuhkan perawatan kesehatan dapat dibantu dengan ?Perawatan Kesehatan Usia Lanjut di rumah? yang biasa dikenal dengan Home Care melalui pemberdayaan keluarga dan masyarakat. Jumat (22/5).5 juta. Namun pada tahun 2000 jumlah lansia Indonesia sudah mencapai tiga kali lipat yakni menjadi 14. Drs. atau 5.COM] . tetapi ada pula lansia walau udah tua tetapi masih produktif.or.

Sumatra Utara. dan Binjai. han. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2007. Ia menjelaskan bahwa pada peringatan HLUN tahun 2009 ini. 14% di antaranya berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sabtu (19/12). jumlah lansia yang terlayani kurang lebih lima persen dari jumlah lansia terlantar yang menurut data Pusdatin Kesos tahun 2008 sebanyak 1.96 juta orang. Depsos akan melaksanakan launching Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU) Tahun 2009 oleh Menteri Sosial di Puspitek. untuk kota percontohan. baik di tengah masyarakat maupun dalam proses pembangunan. artinya jangan menunggu kapan masuk panti jompo. keluarga. Lansia dan Penyandang Cacat. “Dengan konsep Menua Secara Aktif. Lies Rostianty. Jawa Timur (11. diperkirakan jumlah lansia mencapai 23 juta jiwa. atau yang merupakan daerah paling tinggi jumlah lansianya. baik yang potensial maupun yang tidak potensial. maka diprioritaskan bagi lansia yang non-potensial atau terlantar. . Namun karena terbatasnya anggaran.5 juta orang. Inten Suweno.34% dari jumlah penduduk di Indonesia." kata Asisten Deputi Urusan Perempuan. Tahun 2010. Jumlah lansia diperkirakan naik mencapai 11. maka seseorang walaupun telah pensiun tetap diusahakan supaya terus aktif.depkominfo. sebenarnya. di antaranya dengan melakukan pendekatan komunitas dan keluarga. panti jompo. baru bisa menampung sekitar 80 ribuan lansia. dalam acara sosialisasi kebijakan penanganan lansia di Yogyakarta. Pelayanan tersebut dilakukan melalui pusat-pusat pelayanan sosial. dan tahun 2020 menjadi 28 juta orang lebih. dan pemerintah. Tangerang. Depsos akan mencoba mencari solusi. semua lansia yang jumlahnya saat ini sekitar 16. Disusul Provinsi Jawa Tengah (11. katanya. dan lain-lain. Toni Hartono dalam kesempatan sama mengatakan.6 juta orang. Namun panti sosial-panti sosial yang jumlahnya sebanyak 243 unit.Dari jumlah tersebut.go. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Karena itu. Untuk masalah ini. sedangkan tahun 2000 naik menjadi 14 juta jiwa.12 juta orang. kontribusi Komnas Lansia dalam HLUN antara lain dalam acara Temu Nasional Bina Keluarga Lansia (BKL) yang diselenggarakan BKKBN diminta menjadi pembicara utama yang disampaikan Ketua Komnas Lansia.16%). Sementara itu Sekjen Komnas Lansia. antisipasi ledakan lansia di Binjai dilakukan dengan model pendekatan senior center.14%).” katanya. http://www. jumlah lansia di Indonesia mencapai 18. dan Bali (11. mendapatkan pelayanan yang sama. katanya. Selain itu juga merencanakan untuk mensosialisasikan konsep Menua Secara Aktif.02%). "Harus ada upaya antisipasi karena lansia merupakan kelompok umur yang kurang berdaya sehingga menjadi beban masyarakat. yaitu di Tulungagung. Jawa Timur.Lies kembali mengatakan. Ia mengatakan. Dikemukakan. kita punya dua kota perconto.id/berita/bipnewsroom/jumlah-lansia-di-indonesia-165juta-orang/ BEBERAPA wilayah di Indonesia akan mengalami ledakan penduduk lansia (lanjut usia) pada 2010 hingga 2020.

luas Kota Yogyakarta kecil sehingga akses terhadap fasilitas kesehatan mudah dijangkau. harapan hidupnya mencapai usia 77 tahun (perempuan) dan 75 tahun (laki-laki)." http://bataviase. Ketua Pokja Peningkatan."Untuk memberdayakan dan pendampingan terhadap lansia yang ada. rohani hingga rekreasi.Model itu diterapkan dengan mengumpulkan para lansia dan mereka melakukan kegiatan secara terarah mulai dari kegiatan kesehatan.Sementara itu.html .Tinggi harapan hidup Sementara itu. percontohan di Tulunggagung dilakukan dengan pendekatan homecare. keterampilan. yaitu pendekatan penanganan dengan melibatkan peranan keluarga dan masyarakat. Pemeliharaan Intelegensi Lansia. Data di Kota Yogyakarta.co. misalnya. kita memiliki 598 kelompok lansia yang secara rutin kita bina.id/detailberita-10423665. Pemerintah Kota Yogyakarta Tri Kirana mengatakan tingginya angka lansia di DIY disebabkan karena angka harapan hidupnya juga tinggi. Tingginya harapan hidup itu karena secara geografis.