A.

Pendahuluan Setiap mahluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan kehidupannya, karena didalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan kegiatan metabolismenya. Bagi lansia pemenuhan kebutuhan gizi yang diberikan dengan baik dapat membantu dalam proses beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang dialaminya selain itu dapat menjaga kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia. Kebutuhan kalori pada lansia berkurang karena berkurangnya kalori dasar dari kebutuhan fisik. Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk malakukan kegiatan tubuh dalam keadaan istirahat, misalnya : untuk jantung, usus, pernafasan dan ginjal. Berdasarkan kegunaannya bagi tubuh, zat gizi dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu : 1. Kelompok zat energi, termasuk ke dalam kelompok ini adalah :

• Bahan makanan yang mengandung karbohidrat seperti beras, jagung, gandum, ubi, roti,
singkong dan lain-lain, selain itu dalam bentuk gula seperti gula, sirup, madu dan lain-lain.

• Bahan makanan yang mengandung lemak seperti minyak, santan, mentega, margarine, susu
dan hasil olahannya.

2. Kelompok zat pembangun Kelompok ini meliputi makanan – makanan yang banyak mengandung protein, baik protein hewani maupun nabati, seperti daging, ikan, susu, telur, kacangkacangan dan olahannya.

3. Kelompok zat pengatur Kelompok ini meliputi bahan-bahan yang banyak mengandung vitamin dan mineral, seperti buahbuahan dan sayuran.

B. Faktor yang mepengaruhi Kebutuhan Gizi pada Lansia

• Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong. • Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin,
asam, dan pahit.

• Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran. • Rasa lapar menurun, asam lambung menurun. • Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi. • Penyerapan makanan di usus menurun.

C. Masalah Gizi pada Lansia 1. Gizi berlebih Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalai pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan. Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi. 2. Gizi kurang Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi. 3. Kekurangan vitamin Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.

D. Pemantauan Status Nutrisi 1. Penimbangan Berat Badan a. Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali, waspadai peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari 0.5 Kg/minggu. Peningkatan BB lebih dari 0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko terhadap kelebihan berat badan dan penurunan berat badan lebih dari 0.5 Kg /minggu menunjukkan kekurangan berat badan. b. Menghitung berat badan ideal pada dewasa : Rumus : Berat badan ideal = 0.9 x (TB dalam cm – 100) Catatan untuk wanita dengan TB kurang dari 150 cm dan pria dengan TB kurang dari 160 cm, digunakan rumus : Berat badan ideal = TB dalam cm – 100 Jika BB lebih dari ideal artinya gizi berlebih Jika BB kurang dari ideal artinya gizi kurang

2. Kekurangan kalori protein Waspadai lansia dengan riwayat : Pendapatan yang kurang, kurang bersosialisasi, hidup sendirian, kehilangan pasangan hidup atau teman, kesulitan mengunyah, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, sulit untuk menyiapkan makanan, sering mangkonsumsi obat-obatan yang mangganggu nafsu makan, nafsu makan berkurang, makanan yang ditawarkan tidak mengundang selera. Karena hal ini dapat menurunkan asupan protein bagi lansia, akibatnya lansia menjadi lebih mudah sakit dan tidak bersemangat. 3. Kekurangan vitamin D Biasanya terjadi pada lansia yang kurang mendapatkan paparan sinar matahari, jarang atau tidak pernah minum susu, dan kurang mengkonsumsi vitamin D yang banyak terkandung pada ikan, hati, susu dan produk olahannya.

E. Perencanaan Makanan untuk Lansia - Perencanaan makan secara umum 1. Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. 2. Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil. Contoh menu :

• Pagi : Bubur ayam • Jam 10.00 : Roti • Siang : Nasi, pindang telur, sup, pepaya • Jam 16.00 : Nagasari • Malam : Nasi, sayur bayam, tempe goreng, pepes ikan, pisang

3. Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah tinggi. 4. Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang berlemak seperti santan, mentega dll. 5. Bagi pasien lansia yang prose penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

• Makanlah makanan yang mudah dicerna

buah. gurih. telur. Cara Memberi Makan Melalui Mulut (oral) 1. posisi pasien tetap dipertahankan selama ± 30 menit. 8. 2. F. Sarankan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi setiap hari. 7. Siapkan makanan dan minuman yang akan diberikan Posisikan pasien duduk atau setengah duduk. Selaraskan kecepatan pemberian makan dengan kesiapan pasien. 4. Batasi minum kopi atau teh. susu.Perencanaan makan untuk mengatasi perubahan saluran cerna Untuk mengurangi resiko konstipasi dan hemoroid : 1. 3. tanyakan Perbolehkan pasien untuk menunjukkan perintah tentang makanan pilihan pasien yang Setelah selesai makan.• Hindari makanan yang terlalu manis. atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng . bayam. direbus. dan sayuran hijau. 3. roti dan sereal. dan goring-gorengan • Bila kesulitan mengunyah karena gigirusak atau gigi palsu kurang baik. Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus. tergantung pada laksatif. 2. dan sari buah sebaiknya diberikan 6. melembutkan feses. G. karena pasien akan menjadi dan buah-buahan segar. Berikan sedikit minum air hangat sebelum makan. ingin dimakan. Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan. boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan. Biarkan pasien untuk mengosongkan mulutnya setelah setiap sendokan. seperti sayuran Anjurkan pasien untuk minum paling sedikit 8 gelas cairan setiap hari untuk Anjurkan untuk tidak menggunakan laksatif secara rutin . pemberian makan terlalu cepat atau lambat. Prinsip Pemberian Makan Melalui Sonde (NGT) . daging rendah lemak. 6. 7. makanan harus lunak/lembek atau dicincang • Makan dalam porsi kecil tetapi sering • Makanan selingan atau snack. hati. 5.

Pastikan pula selang dalam keadaan tertutup selama tidak diberi makan. 5. Bahan makanan sumber protein hewani : Daging sapi. 3. mie. ikan. Bahan makanan sumber lemak (zat energi) : Minyak goreng. seperti pada pasien-pasien stoke. 4.Pemberian makan melalui sonde ditujukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien yang memiliki masalah dalam menelan dan mengunyah makanan.com/lanjut-usia/527-kebutuhan-nutrisi-pada-lansia . ubi. maizena. Pastikan tidak ada udara yang masuk ke dalam sonde pada saat memberi makan atau Periksa kerekatan selang. kentang. Lakukan perawatan kebersihan mulut dengan sering. tahu. http://www. menit setelah memberi makan. jika selang longgar beritahu perawat. tepung beras. obat diberikan setiap 8 jam dalam 24 jam . kacang kedelai. kelapa. 3. Contoh Bahan Makanan untuk Setiap Kelompok Makanan 1. 7. Benar waktu : Pastikan pemberian obat tepat pada jadwalnya. misalnya 3 x 1 berarti diingat jenis obat antibiotik harus diberikan sampai habis. air. Bahan makanan sumber protein nabati : Kacang ijo. talas. kacang tanah. telur. tempe. 2. jika 2 x1 berarti obat diberikan setiap 12 jam sekali. kelapa parut. roti . bihun. Adapun prinsip pemberiannya adalah sebagai berikut : 1. nasi jagung. 4. 2. Benar obat : obat yang diberikan harus sesuai dengan resep dokter. hati. kacang merah. 6. H. singkong. I. lemak daging. santan. 2. Prinsip Lima benar Pemberian Obat Oral 1. oncom. tepung terigu. daging ayam. minyak ikan. Benar cara pemberian yaitu melalui oral : berikan obat melalui mulut atau sonde. crakers. Penting Benar pasien : Pastikan obat diminum oleh pasien yang bersangkutan. Siapkan makanan cair dan minuman hangat Naikkan bagian kepala tempat tidur 30 – 45 derajat pada saat memberi makan dan 30 Bilas selang sonde dengan air hangat terlebih dahulu. biskuit. usus. 5. margarin. Benar dosis : jumlah obat yang diberikan tidak dikurangi atau dilebihkan. udang. Laporkan adanya mual dan muntah dengan segera. Bahan makanan sumber karbohidrat (zat energi) : nasi. 4. babat. tepung hunkwe.smallcrab. 3. bubur beras.

seperti komplikasi pembesaran jantung. untuk monoterapi dengan pengobatan tunggal. JNC-VII-USA pada Mei 2003.net . Responnya pun sangat rendah. terapi kombinasi sangat diperlukan. hipertensi ini bisa juga menyebabkan kematian. pasien lanjut usia. Penderita pun perlu mengontrol tekanan darahnya secara rutin. stres. dalam penelitian yang dilakukan PT Boehringer Ingelheim (PBI). Penyebab tekanan darah yang paling sering adalah aterosklerosis atau penebalan dinding arteri yang membuat hilangnya elastisitas pembuluh darah. kelebihan berat badan. Namun. Sebab lainnya adalah faktor keturunan. Karenanya. Akibat dari hipertensi bisa beragam. Orang dianggap menderita hipertensi bila tekanan sistolik di atas 140 mmHg (milimeter air raksa) dan atau tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. penyakit jantung koroner. dan tekanan mental. Upaya yang dilakukan selama ini adalah dengan menerapkan terapi kontrol tekanan darah. Terapi itu dilakukan pada umumnya dengan cara oral atau obat. Dalam langkah terapi optimal hipertensi (HOT). Tekanan darah tinggi merupakan peningkatan tekanan darah yang menetap di atas batas normal. dan gemuk. Rekomendasi target dari panduan internasional tersebut adalah tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg bagi . 9 Maret. dianggap tak mencukupi karena tekanan darah cenderung berubah-ubah dari jam ke jam. hipertensi pun kerap menghinggapinya. Dari awal. stroke. dan sistem syaraf sipatis.Penyebab tekanan darah yang paling sering adalah aterosklerosis atau penebalan dinding arteri yang membuat hilangnya elastisitas pembuluh darah. Kenaikan tekanan darah diastolik dipandang lebih berbahaya daripada sistolik. Pengobatan hipertensi selama ini didasarkan pada penyebabnya. penyakit jantung koroner. penyakit pada ginjal. terapi tersebut menimbulkan pengaruh yang berbeda pada tiap orang. Bahkan. Pada mereka yang hamil. hanya efektif untuk mengontrol tekanan dengan hasil mencapai 40 persen sampai 50 persen pasien. Panduan penatalaksanaan hipertensi yang disusun WHO. pengaturan diet. terdapat terapi tunggal dan kombinasi. karena umumnya lebih menetap dan membebani kerja jantung. kelenjar adrenal. perlu dilakukan dua atau tiga kali pemeriksaan.Terapi Kombinasi pada Hipertensi Selasa. Untuk satu kali pemeriksaan. bertambahnya jumlah darah yang dipompa jantung. Ternyata. Hipertensi atau tekanan darah tinggi sudah menjadi gejala umum penyakit tekanan darah di dunia. 2004 oleh: gklinis Terapi Kombinasi pada Hipertensi Gizi. terapi sudah dapat dimulai dengan cara kombinasi. dan pecahnya pembuluh darah otak. dan olahraga. merekomendasikan pada pasien hipertensi dengan berbagai risiko untuk mencapai target penurunan tekanan darah yang diinginkan. Penanganan hipertensi meliputi kombinasi pemberian obat. Untuk pengecekan tekanan darah. Monoterapi tak cukup memberikan kontrol tekanan darah yang efektif terhadap pasien dengan berbagai faktor risiko seperti diabetes.

dan samar ganda untuk mengetahui efektivitas dan keamanan pemberian ASA dosis rendah. Keuntungan terapi kombinasi adalah adanya dua zat aktif dalam satu tablet hingga mudah dan praktis dipakai. plasebo kontrol. dan pada dipyridamole menjadi 16 persen. "Sedangkan.cgi?newsid1078805826. Sumber: Koran Republika. Selasa. risiko stroke pada ASA. Fokusnya adalah pada pengobatan telmisartan dan HCTZ.pasien tanpa faktor risiko. Keuntungan utama dari terapi ini adalah biaya terapi yang lebih rendah. termasuk risiko stroke dengan kematian (1:100). Terapi kombinasi sangat efektif bagi pasien angiotensin II receptor antagonist (AIIRA) dan diuretik (hydrochlorothiazide-HCTZ). Penyampaian ini dilakukan beberapa waktu lalu di Jakarta. penelitian ini menunjukkan.000).gizi. kontrol tekanan darah lebih optimal dibandingkan monoterapi.net/cgi-bin/berita/fullnews. Dibandingkan dengan kelompok plasebo. merinci studi pencegahan stroke di Eropa. dalam seminar yang diselenggarakan Boehringer Ingelheim. terdapat penurunan risiko stroke menjadi 37 persen. berkurang 18 persen. dipyridamole Iepas lambat dan kombinasi keduanya. Studi ini membuktikan efektivitas kombinasi dipyridamole lepas lambat dengan ASA (acetyl salicyl acid) dalam mencegah stroke sekunder atau TIA (transiet ischemic attack). Penelitian di Eropa Dalam penelitian yang dipimpin oleh HC Diener dengan dukungan PBI. HC Diener mengawali studi ini secara random. risiko stroke sekunder dengan kombinasi kedua pengobatan ini menurunkan risikonya dua kali lipat lebih efektif dibanding terapi tunggal dari kedua pengobatan tersebut. 10 Februari 2004 Laporan : wed http://www. Pasien dengan terapi kombinasi. Tak hanya itu saja. suplemen Medika. Setelah dua tahun. dan kurang dari 125/85 mmHg pada pasien hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal dan proteinurea yang lebih dari 1 gram per 24 jam.602 orang." ujar Jose. Artinya. kurang dari 130/85 mmHg pada pasien hipertensi dengan diabetes atau gangguan fungsi ginjal. Terapi ini menggunakan zat aktif dari berbagai kelas obat antihipertensi dengan efek berbeda tapi saling melengkapi.57204. papar Diener. tim peneliti menyimpulkan bahwa ASA dosis rendah dan dipyridamole efektif menurunkan risiko stroke secara jelas (1:1. Untuk terapi kombinasi keduanya. tentang penggunaan pengobatan kombinasi yang rasional. . Seperti yang disampaikan oleh Prof Dr Jose Roesma PhD SpPD-KGH. Penelitian European Stroke Prevention Study kedua (ESPS-2) ini meliputi 59 klinik dari 13 negara dengan responden sebanyak 6. dosisnya lebih kecil daripada dosis monoterapi sehingga efek samping yang terjadi relatif juga lebih rendah. Terapi kombinasi sangat efektif menurunkan tekanan darah sistolik pada lanjut usia dan pasien dengan berbagai risiko.

Hemoragik Intraserebral: pendarahan yang terjadi didalam jaringan otak. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini bisa dikarenakan adanya sumbatan. 3. Hampir 70% kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi.Gejala. penyempitan atau pecahnya pembuluh darah. 2. Stroke Trombotik: proses terbentuknya thrombus yang membuat penggumpalan. Hipoperfusion Sistemik: Berkurangnya aliran darah ke seluruh bagian tubuh karena adanya gangguan denyut jantung. Stroke iskemik ini dibagi menjadi 3 jenis. Hemoragik Subaraknoid: pendarahan yang terjadi pada ruang subaraknoid (ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak). yaitu: 1. 80% stroke adalah stroke Iskemik. Stroke iskemik yaitu tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti. Stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak. Penyebab. Stroke hemoragik ada 2 jenis. Tanda dan Gejala-gejala Stroke Berdasarkan lokasinya di tubuh. Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu: stroke iskemik maupunstroke hemorragik. yaitu : 1. dan Akibat Stroke Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. WHO mendefinisikan bahwa stroke adalah gejala-gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan bukan oleh yang lain dari itu. gejala-gejala stroke terbagi menjadi berikut: . 2. Stroke Embolik: Tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah.

sehingga banyak penderita Stroke menderita stress akibat kecacatan yang ditimbulkan setelah diserang stroke. Proses alami ini selesai dlm waktu 3 bulan. dimana merupakan serangan kecil atau serangan awal stroke. sisanya mengalami cacat. Makanan tidak sehat (junk food. Hanya 10-15 % penderita stroke bisa kembali hidup normal seperti sedia kala. Narkoba. dimana terdapat 12 saraf kranial: menurun kemampuan membau. Bagian sistem saraf pusat : Kelemahan otot (hemiplegia). Setelah stroke. lidah lemah. mendengar. Alkohol. fast food). Migrain. antara lain Merokok (aktif & pasif). kebingungan. peribahasa itulah yang tepat bagi penderita Stroke. hemineglect. Aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah). Kurang olahraga.1. 3. Obesitas. antara lain Hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi). Derita Pasca Stroke Sudah Jatuh tertimpa Tangga Pula. Menurut statistik. Dari jumlah tersebut: • • • 1/3 --> bisa pulih kembali. Cerebral cortex: aphasia. 93% pengidap penyakit trombosis ada hubungannya dengan penyakit tekanan darah tinggi. terlalu banyak minum alkohol. Jika tanda-tanda dan gejala tersebut hilang dalam waktu 24 jam. apraxia. dan melihat parsial atau keseluruhan. suasana hati yang tidak nyaman (marah-marah). menurunnya fungsi sensorik 2. mengecap. diabetes. 1/3 --> mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang. Kolesterol. refleks menurun. Gangguan jantung. Pada saat itu. Akibat Stroke lainnya: . Mendengkur. Faktor resiko perilaku. ekspresi wajah terganggu. pernafasan dan detak jantung terganggu. daya ingat menurun. Batang otak. dinyatakan sebagai Transient Ischemic Attack (TIA). kaku.000 penduduk yang terkena stroke. 80% pemicu stroke adalah hipertensi dan arteriosklerosis. sel otak mati dan hematom yg terbentuk akan diserap kembali secara bertahap. Kontrasepsi oral. 1/3 sisanya --> mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di kasur. Pemicu stroke pada dasarnya adalah. Faktor Penyebab Stroke Faktor resiko medis. 1/3 orang yang selamat menjadi tergantung dan mungkin mengalami komplikasi yang dapat menyebabkan kematian atau cacat Diperkirakan ada 500. Riwayat stroke dalam keluarga. merokok dan senang mengkonsumsi makanan yang berlemak.

html [sukasukamu] Stroke Dan Gejalanya yundini3001 Sat. . Tak heran semua orang selalu berupaya untuk mencegah Stroke atau mengurangi faktor risiko dengan menerapkan pola hidup sehat. namum kini cenderung menyerang generasi muda yang masih produktif. membedakan kanan dan kiri. Stroke sangat dapat dicegah. Untuk dapat memberikan pertolongan yang maksimal kepada penderita stroke. menelan. Hidup BEBAS tanpa STROKE merupakan dambaan bagi semua orang.com/2009/03/hidup-sehat-tanpa-stoke. olahraga teratur. Stroke juga tak lagi menjadi milik warga kota yang berkecukupan . namun juga dialami oleh warga pedesaan yang hidup dengan serba keterbatasan.• • • • 80% penurunan parsial/ total gerakan lengan dan tungkai. Diposkan oleh Petrus di 21:12 http://langgocity.blogspot. 29 Apr 2006 01:44:41 -0700 Stroke Dan Gejalanya Stroke dengan serangannya yang akut. dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang relatif sangat singkat. Hampir 85% dari semua stroke dapat DICEGAH . kita perlu mengetahui gejala-gejala yang sering terjadi pada serangan stroke. akibat kesibukan yang padat. Stroke tak lagi hanya menyerang kelompok lansia. Selain karena besarnya biaya pengobatan paska stroke . Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga. penghindari stress hingga meminum obat atau suplemen untuk menjaga kesehatan pembuluh darah hingga dapat mencegah terjadinya Stroke. 30 % mengalami kesulitan bicara. juga yang menderita stroke adalah tulang punggung keluarga yang biasanya kurang melakukan gaya hidup sehat. Karena Ancaman stroke hingga merenggut nyawa dan derita akibat stroke. 70% menderita depresi. 80-90% bermasalah dalam berpikir dan mengingat.

riwayat adanya diabetes mellitus. Adapun faktor-faktor lain yang juga merupakan resiko tinggi adalah pertambahan usia. serta yang sangat penting adalah hipertensi. Penyebab yang paling mungkin adalah gaya hidup Anda. selain faktor resiko bawaan misalnya riwayat keluarga hipertensi. Otak adalah organ yang mengatur segala fungsi tubuh. riwayat keluarga dengan stroke. yang memang sudah dimiliki sejak lahir. Kerusakan ini proses kejadiannya membutuhkan waktu lama. sehingga digolongkan penyakit kronis. maka faktor penyebabnya hampir sama sama dengan faktor pada penyakit jantung. Apabila ada kerusakan pada bagian otak tertentu. pria berisiko sedikit lebih tinggi daripada wanita. karena stroke. jenis kelamin. maka organ yang dikendalikan . bila Anda mengidap diabetes mellitus pastikan Anda dan dokter Anda bekerja sama dengan baik dalam manajemennya. Karena stroke disebabkan ganguan pada pembuluh darah. merokok. kelebihan berat badan. kurang makanan berserat seperti sayur dan buah-buahan. kurang olah raga. konsumsi alkohol. seperti juga penyakit jantung dapat diturunkan. seperti banyaknya konsumsi lemak dan kolestrol.Gejala-gejala stroke diakibatkan kerusakan pada pembuluh darah yang memperdarahi otak.

oleh bagian otak tersebut akan mengalami gangguan fungsi atau bahkan kematian jaringan. Demikian pula halnya jika bagian-bagian lain terganggu. jika bagian otak yang mengatur fungsi bicara mengalami gangguan suplai darah. • bicara pelo. gangguan bicara. pelupa dan lain sebagainya. • mulut mencong. penderita biasanya menjadi tidak sadar dan mengalami henti nafas akibat gangguan pada batang otak. dan dapat mengakibatkan penderitanya menjadi lumpuh separo badan. kelemahan anggota tubuh. • bila minum atau makan mudah keselek. bicara pelo. • bicara tidak keruan. • sulit menelan. gangguan proses berpikir. Gejala-gejala yang kerap terjadi pada stroke antara lain adalah: • lumpuh separo badan. melihat dan mendengar serta gangguan berkemih (inkontinensia urin). Pada serangan stoke berat. . Secara umum. • sulit berbahasa. gangguan sensorik. • bicara tidak lancar. gangguan yang disebabkan oleh stroke dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis gangguan seperti gangguan kesadaran. • terasa kesemutan/terbakar separo badan. • lidah mencong bila dijulurkan. tidak merasa separo badan. Sebagai contoh. maka penderitanya menjadi tidak dapat bicara.

Namun. Akibatnya dapat diderita hingga beberapa tahun setelah terjadi. • tidak dapat memahami tulisan. Sel-sel otak tidak mempunyai cadangan energi seperti halnya sel otot. atau bahkan kematian. Setelah satu minggu pasca serangan. mungkin penderita mengalami gangguan yang lebih berat sehingga perlu pemeriksaan lanjutan. sehingga sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah dalam arteri. • berjalan sulit. • tidak dapat membaca/menulis. dapat terjadi kerusakan permanen seumur hidup. • kepintaran menurun. Dengan penanganan yang segera. atau sel lain dalam tubuh. • menjadi sering pusing kepala. Namun bila setelah 2 minggu. atau seumur hidup. kerusakan otak dapat diperkecil semaksimal mungkin. • pelupa. Perlu diingat. • penglihatan/pendengaran mengalami gangguan. stroke tidak hanya mempengaruhi lansia . tergantung dari kerusakan otak yang diakibatkan oleh stroke.• tidak dapat memahami perkataan orang lain. bila terlambat ditangani. penderita masih memperlihatkan gejala-gejala seperti diatas. banyak penderita yang terlihat pulih sama sekali sehngga kita boleh optimis bahwa serangan yang ringan. Stroke dapat menyerang secara tiba-tiba dan tanpa pertanda sebelumnya.

rehabilitasi. Pencegahan adalah jalan paling bijaksana untuk menghindari stroke.2001) Menurut WHO ( 1978 ). dan biaya yang banyak. akibat gaya hidup yang merupakan faktor risiko terjadinya stroke. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.com/sukasukamu@yahoogroups. KLASIFIKASI Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas : ( Darmojo. Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu : Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain . Dampak dari stroke sulit diobati dan memerlukan waktu.html ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI PENGERTIAN Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg.com/msg00133.mail-archive.namun juga dapat terjadi pada orang-orang muda. 1999 ) Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg. http://www. tekanan darah sama dengan atau diatas 160 / 95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Pada populasi lansia. (Smeltzer. Malah akhir-akhir ini terjadi banyak peningkatan kejadian stroke pada orang-orang muda.

epineprin ) Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah : Ginjal Glomerulonefritis Pielonefritis Nekrosis tubular akut Tumor . data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi.ETIOLOGI Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan – perubahan pada : Elastisitas dinding aorta menurun Katub jantung menebal dan menjadi kaku Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. Faktor tersebut adalah sebagai berikut : Faktor keturunan Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi Ciri perseorangan Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah: Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat ) Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan ) Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih ) Kebiasaan hidup Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah : Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ) Kegemukan atau makan berlebihan Stress Merokok Minum alcohol Minum obat-obatan ( ephedrine. prednison. Kehilangan elastisitas pembuluh darah Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya.

Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya. suatu vasokonstriktor kuat. dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. pada medulla diotak. yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi. Pada titik ini. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin. mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. yang menyebabkan vasokonstriksi. menyebabkan pelepasan rennin. kelenjar adrenal juga terangsang. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh . Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal. yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. neuron preganglion melepaskan asetilkolin. meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah.Vascular Aterosklerosis Hiperplasia Trombosis Aneurisma Emboli kolestrol Vaskulitis Kelainan endokrin DM Hipertiroidisme Hipotiroidisme Saraf Stroke Ensepalitis SGB Obat – obatan Kontrasepsi oral Kortikosteroid PATOFISIOLOGI / PATHWAY Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor. Medulla adrenal mensekresi epinefrin.

Gelisah. hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis. Gejala yang lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal Glukosa Hiperglikemi ( diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi ) dapat diakibatkan oleh peningkatan katekolamin ( meningkatkan hipertensi ) Kalium serum . Konsekuensinya. Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut.tubulus ginjal. yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Epistaksis. Mual Muntah. selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. 2001). manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala. Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur. anemia. PEMERIKSAAN PENUNJANG Hemoglobin / hematokrit Untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume cairan ( viskositas ) dan dapat mengindikasikan factor – factor resiko seperti hiperkoagulabilitas. 1999). kelelahan. Kesadaran menurun. TANDA DAN GEJALA Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah. aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer. Menurut Rokhaeni ( 2001 ). menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. Sesak nafas. pusing Lemas.

batu ginjal / ureter Foto dada Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub. glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes. Asam urat Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi Steroid urin Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme IVP Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal. perbesaran jantung CT scan Untuk mengkaji tumor serebral. gangguan konduksi. protein. Kalsium serum Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi Kolesterol dan trigliserid serum Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler ) Pemeriksaan tiroid Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi Kadar aldosteron urin/serum Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab ) Urinalisa Darah. peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi PENATALAKSANAAN Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi : Terapi tanpa Obat Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. pola regangan. ensefalopati EKG Dapat menunjukkan pembesaran jantung.Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama ( penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik. Terapi tanpa obat ini meliputi : .

dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan ) Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut. juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan. bersepeda. jogging. berenang dan lain-lain Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Terapi dengan Obat Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan . Tehnik relaksasi Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan. Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu Edukasi Psikologis Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi : Tehnik Biofeedback Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal.Diet Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah : Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh Penurunan berat badan Penurunan asupan etanol Menghentikan merokok Latihan Fisik Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu : Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain.

1988 ) menyimpulkan bahwa obat diuretika. dokter ) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi ( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION. vasodilator Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuh Obat ke-2 diganti Ditambah obat ke-3 jenis lain Step 4 : Alternatif pemberian obatnya Ditambah obat ke-3 dan ke-4 Re-evaluasi dan konsultasi Follow Up untuk mempertahankan terapi Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan ( perawat. Ca antagonis. penyekat beta. beta blocker. penderita diberitahu hasil pengukuran tekanan darahnya Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai tekanan darahnya Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat sembuh. Alpa blocker. EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE. antagonis kalsium. Pengobatannya meliputi : Step 1 Obat pilihan pertama : diuretika. atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. tekanan darah hanya dapat diketahui dengan mengukur memakai alat tensimeter . clonidin. USA. namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan morbiditas dan mortilitas Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan tingginya tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya. reserphin. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. ACE inhibitor Step 2 Alternatif yang bisa diberikan : Dosis obat pertama dinaikkan Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama Ditambah obat ke –2 jenis lain. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas kesehatan adalah sebagai berikut : Setiap kali penderita periksa. beta blocker. dapat berupa diuretika . Ca antagonis.

usahakan kunjungan lebih sering Hubungi segera penderita.Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih dahulu Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup penderita Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita atau keluarga dapat mengukur tekanan darahnya di rumah Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal 1 x sehari atau 2 x sehari Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi. berbagai disritmia Bunyi jantung : murmur Distensi vena jugularis . penyakit serebrovaskuler Tanda : Kenaikan TD Nadi : denyutan jelas Frekuensi / irama : takikardia. PENGKAJIAN Aktivitas / istirahat Gejala : Kelemahan Letih Napas pendek Gaya hidup monoton Tanda : Frekuensi jantung meningkat Perubahan irama jantung Takipnea Sirkulasi Gejala : Riwayat hipertensi. Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka sangat diperlukan sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang pemahaman dan pelaksanaan pengobatan hipertensi. bila tidak datang pada waktu yang ditentukan. efek samping dan masalah-masalah yang mungkin terjadi Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis atau mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan efektifitas maksimal Usahakan biaya terapi seminimal mungkin Untuk penderita yang kurang patuh. penyakit jantung koroner / katup. aterosklerosis.

Ekstermitas Perubahan warna kulit. marah. faktor stress multiple ( hubungsn. depresi. riwayat penyakit ginjal ) Makanan / Cairan Gejala : Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam. sakit kepala Episode kebas Kelemahan pada satu sisi tubuh Gangguan penglihatan ( penglihatan kabur. keuangan. ansietas. euphoria. suhu dingin( vasokontriksi perifer ). pengisian kapiler mungkin lambat Integritas Ego Gejala : Riwayat perubahan kepribadian. diplopia ) . lemak dan kolesterol Mual Muntah Riwayat penggunaan diuretic Tanda : BB normal atau obesitas Edema Kongesti vena Peningkatan JVP glikosuria Neurosensori Gejala : Keluhan pusing / pening. obstruksi. pekerjaan ) Tanda : Letupan suasana hati Gelisah Penyempitan kontinue perhatian Tangisan yang meledak otot muka tegang ( khususnya sekitar mata ) Peningkatan pola bicara Eliminasi Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi.

mengi ) Sianosis Keamanan Gejala : Gangguan koordinasi. proses pikir atau memori ( ingatan ) Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman Perubahan retinal optic Nyeri/ketidaknyamanan Gejala : nyeri hilang timbul pada tungkai sakit kepala oksipital berat nyeri abdomen Pernapasan Gejala : Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas Takipnea Ortopnea Dispnea nocturnal proksimal Batuk dengan atau tanpa sputum Riwayat merokok Tanda : Distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan Bunyi napas tambahan ( krekles. ginjal Faktor resiko etnik. penyakit serebrovaskuler. isi bicara. vasokonstriksi. DM . cara jalan Tanda : Episode parestesia unilateral transien Pembelajaran / Penyuluhan Gejala : Factor resiko keluarga . aterosklerosis. afek.Episode epistaksis Tanda : Perubahan orientasi. penyakit jantung. hipertensi. iskemia miokard. pola nafas. hipertropi ventricular . penggunaan pil KB atau hormon lain Penggunaan obat / alcohol DIAGNOSA KEPERAWATAN Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload.

nadolol ( Corgard ). Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur/kursi Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher. kualitas denyutan sentral dan perifer Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas Amati warna kulit. tetazosin ( hytrin ) Bloker nuron adrenergik misalnya guanadrel ( hyloree ). reserpin ( Serpasil ) Inhibitor adrenergik yang bekerja secara sentral misalnya klonidin ( catapres ). metildopa ( aldomet ). Atenolol ( tenormin ). aktivitas pengalihan Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi Diuretik Tiazid misalnya klorotiazid ( Diuril ). kelembaban. nyaman. hidroklorotiazid ( esidrix. panduan imajinasi. ukur pada kedua tangan. metoprolol ( lopressor ). suhu dan masa pengisian kapiler Catat edema umum Berikan lingkungan tenang. reserpine ( Serpasil ). batasi jumlah pengunjung. meninggikan kepala tempat tidur.Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam. bloker saluran kalsium ( nivedipin. gunakan manset dan tehnik yang tepat Catat keberadaan. Bumetanic ( Burmex ) Diuretik hemat kalium misalnay spironolakton ( aldactone ). kurangi aktivitas. Kriteria hasil : Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TD Mempertahankan TD dalam rentang yang dapat diterima Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil Intervensi : Pantau TD. quanetidin ( Ismelin ). verapamil ) Anti adrenergik misalnya minipres. guanabenz ( wytension ). metildopa ( aldomet ) . hidralasin ( apresolin ). bendroflumentiazid ( Naturetin ) Diuretic Loop misalnya Furosemid ( Lasix ). asam etakrinic ( Edecrin ). hidrodiuril ). triamterene ( Dyrenium ). klonidin ( catapres ) Vasodilator misalnya minoksidil ( loniten ). amilioride ( midamor ) Inhibitor simpatis misalnya propanolol ( inderal ). Anjurkan tehnik relaksasi.

sedikit penerangan Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin Beri tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala seperti kompres dingin pada dahi. lingkungan yang tenang. bimbingan imajinasi dan distraksi Hilangkan / minimalkan vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala misalnya mengejan saat BAB. batuk panjang. captoten ) Nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral Tujuan : Nyeri atau sakit kepala hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala Pasien tampak nyaman TTV dalam batas normal Intervensi : Pertahankan tirah baring. membungkuk Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : analgesik. tehnik relaksasi. ginjal. ACE inhibitor ( captopril. jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima.Vasodilator kerja langsung misalnya hidralazin ( apresolin ). nilai-nilai laboratorium dalam batas normal. diazepam. pijat punggung dan leher. loniten Vasodilator oral yang bekerja secara langsung misalnya diazoksid ( hyperstat ). valium ) Resiko perubahan perfusi jaringan: serebral. ativan. tidak ada keluhan sakit kepala. posisi nyaman. nitropess ) Bloker ganglion misalnya guanetidin ( ismelin ). ginjal. minoksidil. jantung berhubungan dengan adanya tahanan pembuluh darah Tujuan : Tidak terjadi perubahan perfusi jaringan : serebral. nitroprusid ( nipride. pusing. Haluaran urin 30 ml/ menit Tanda-tanda vital stabil . trimetapan ( arfonad ). antiansietas (lorazepam.

BUN. kreatinin sesuai program Intoleransi aktifitas berhubungan penurunan cardiac output Tujuan : Tidak terjadi intoleransi aktifitas setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Meningkatkan energi untuk melakukan aktifitas sehari – hari Menunjukkan penurunan gejala – gejala intoleransi aktifitas Intervensi : Berikan dorongan untuk aktifitas / perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi. duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia Ambulasi sesuai kemampuan. pusing Observasi TTV tiap 4 jam Berikan jarak waktu pengobatan dan prosedur untuk memungkinkan waktu istirahat yang tidak terganggu.Intervensi : Pertahankan tirah baring Tinggikan kepala tempat tidur Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan. Berikan bantuan sesuai kebutuhan Instruksikan pasien tentang penghematan energy Kaji respon pasien terhadap aktifitas Monitor adanya diaforesis. tidur. berikan waktu istirahat sepanjang siang atau sore Gangguan pola tidur berhubungan adanya nyeri kepala Tujuan : Tidak terjadi gangguan pola tidur setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Mampu menciptakan pola tidur yang adekuat 6 – 8 jam per hari Tampak dapat istirahat dengan cukup TTV dalam batas normal . hindari kelelahan Amati adanya hipotensi mendadak Ukur masukan dan pengeluaran Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai program Pantau elektrolit.

Tujuan : Perawatan diri klien terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam Kriteria hasil : Mampu melakukan aktifitas perawatan diri sesuai kemampuan Dapat mendemonstrasikan tehnik untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri Intervensi : Kaji kemampuan klien untuk melakukan kebutuhan perawatan diri Beri pasien waktu untuk mengerjakan tugas Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan klien / atas keberhasilannya Kecemasan berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya hipertensi yang diderita klien Tujuan: Kecemasan hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 Jam Kriteria hasil : Klien mengatakan sudah tidak cemas lagi / cemas berkurang Ekspresi wajah rilek TTV dalam batas normal .Intervensi : Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman Beri kesempatan klien untuk istirahat / tidur Evaluasi tingkat stress Monitor keluhan nyeri kepala Lengkapi jadwal tidur secara teratur Berikan makanan kecil sore hari dan / susu hangat Lakukan masase punggung Putarkan musik yang lembut Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan adanya kelemahan fisik.

pingsan. mual dan muntah. pusing. tujuan dan efek samping atau efek toksik Jelaskan perlunya menghindari pemakaian obat bebas tanpa pemeriksaan dokter Diskusikan gejala kambuhan atau kemajuan penyulit untuk dilaporkan dokter : sakit kepala. jumlah yang diperbolehkan. peka rangsang. tidak penuh dengan stress Diskusikan tentang obat-obatan : nama. penurunan toleransi sakit kepala. peningkatan keletihan. dosis. pembatasan seperti kopi yang mengandung kafein.Intervensi : Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku misalnya kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian. keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan Catat laporan gangguan tidur. teh serta alcohol . ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas atau tujuan hidup Kaji tingkat kecemasan klien baik secara verbal maupun non verbal Observasi TTV tiap 4 jam Dengarkan dan beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya Berikan support mental pada klien Anjurkan pada keluarga untuk memberikan dukungan pada klien Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit Tujuan : Klien terpenuhi dalam informasi tentang hipertensi setelah dilakukan tindakan ekperawatan selama 1 x 24 jam Kriteria hasil: Pasien mengungkapkan pengetahuan akan hipertensi Melaporkan pemakaian obat-obatan sesuai program Intervensi : Jelaskan sifat penyakit dan tujuan dari pengobatan dan prosedur Jelaskan pentingnya lingkungan yang tenang. Diskusikan pentingnya mempertahankan berat badan stabil Diskusikan pentingnya menghindari kelelahan dan mengangkat berat Diskusikan perlunya diet rendah kalori. kerusakan konsentrasi. waktu pemberian. rendah natrium sesuai program Jelaskan penetingnya mempertahankan pemasukan cairan yang tepat.

Berdasarkan Global Risk Assesment Scoring Chart dari penelitian Framingham. Dokter juga harus melakukan edukasi terus-menerus untuk menghindari terjadinya hipertensi sistolik. misalnya dari Syst-Eur 1 dan 2 dan penelitian lain di Jepang dan Australia menunjukkan bahwa tata laksana hipertensi sistolik yang optimal ialah penggunaan diuretik. Penelitian juga menyebutkan bahwa menurunnya tekanan sistolik dapat menyebabkan penurunan curah jantung.Edisi Juni 2007 (Vol. kontrol tekanan darah menjadi perawatan utama orang-orang lanjut usia. Cipto Mangunkusumo. kontrol tekanan darah merupakan kunci utama menjaga kesehatan kardiovaskular. Obat-obat antihipertensi terbaru yang bekerja pada sistem renin-angiotensin-aldosteron.wordpress. dan Angiotensin- .11) Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun. Ditulis dalam Keperawatan Tag: Keperawatan Gerontik http://nurse87. yang pada akhirnya akan menurunkan volume dan tekanan diastolik. para lansia ternyata lebih sering mengalami hipertensi sistolik dan pengobatan hipertensi sampai saat ini masih banyak yang terfokus pada tekanan diastolik <90 mmHg tanpa memikirkan angka sistoliknya. serta otak. berat badan seiring usia juga akan meningkatkan risiko terjadinya PJK setiap kenaikan lima tahun. Pada orang-orang tua. Tidak ada standar tertentu untuk menentukan kategori umur yang dikatakan tua. Jose Roesma. Hipertensi merupakan gejala yang paling sering ditemui pada orang lanjut usia dan menjadi faktor risiko utama insiden penyakit kardiovaskular. konseling dan penyuluhan pada keluarga klien ~ oleh nurse87 di/pada Juni 17. Manajemen dan pencegahan Beberapa penelitian. Keadaan ini terjadi karena hilangnya elastisitas arteri atau akibat penuaan. penyekat beta. Kontrol tekanan darah yang ketat pada pasien diabetes berhubungan dengan pencegahan terjadinya hipertensi yang tak terkendali. Isolated systolic hypertension (ISH) didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik di atas sama dengan 140 mmHg pada tekanan diastolik kurang dari sama dengan 90 mmHg. Karenanya. efeknya bisa membuat kerusakan jantung. serta penyakit kardiovaskular lainnya. misalnya Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) inhibitor dan angiotensin-receptor blocker memiliki potensi perbaikan kardiovaskular pada orang tua akibat penurunan tekanan darah efektif. namun pengertian lanjut usia (lansia) ialah manusia di atas usia 60 tahun. sehingga banyak lansia yang tidak terdeteksi menderita hipertensi sistolik. terutama aorta. pengukuran tekanan sistolik yang meningkat ini lebih signifikan karena dapat menunjukkan terjadinya kekakuan arteri besar. Tekanan sistolik juga menjadi prediktor yang lebih sensitif dibanding tekanan diastolik. 2009.6 No. Hipertensi juga menjadi faktor utama terjadinya penyakit jantung koroner. Jenis yang demikian lebih sulit untuk diobati dibanding hipertensi esensial atau pada pasien yang lebih muda.com/2009/06/17/empat-belas-masalah-kesehatan-utamapada-lansia/ Hipertensi pada lansia Kontrol Ketat Cegah Komplikasi RACIKAN UTAMA . Dalam keadaan ini aorta menjadi kaku dan akhirnya menyebabkan meningkatnya tekanan sistolik dan penurunan volume aorta. Jakarta mengungkapkan bahwa pada orang tua umumnya terjadi hipertensi dengan sistolik terisolasi yang berhubungan dengan hilangnya elastisitas arteri atau bagian dari penuaan. Sebagai konsekuensinya. ginjal. risiko infark miokard.Jelaskan perlunya menghindari konstipasi dan penahanan Berikan support mental. yang terutama menyerang di atas usia 75 tahun. dari divisi nefrologi ilmu penyakit dalam FKUI-RSUPN dr. Isolated systolic blood pressure Seperti telah disebutkan.

gejala-gejala hipertensi tetap muncul. ARB ini dinyatakan renoprotektif. Penelitian tentang agen antihipertensi dengan mekanisme RAAS ini (ARB) monoterapi memang banyak dilakukan dan terbukti bersifat renokardioprotektif dengan mekanisme perbaikan fungsi endotel. mencegah akumulasi kolagen aorta. mengingat batas-batas penentuan kriteria seputar hipertensi sangat berhubungan dengan angka. lebih baik daripada ACE-inhibitor. Perspektif terkini Penelitian dari The Heart Outcomes Prevention Evaluatin (HOPE) menyatakan bahwa agen antihipertensi memang terbukti dapat mencegah pula penyakit kardiovaskular lainya. Selain itu. Sementara penelitian dari The Irbesartan Diabetic Nephropathy Trial (IDNT) menyatakan bahwa agen antihipertensi. sering ditemui gangguan pada sistem kardiovaskular berupa gagal jantung. Terdapat konsensus bahwa tekanan darah pada lansia harus di bawah angka 140/90 mmHg untuk kategori usia 60-79 tahun. Kemungkinan hanya sekitar 40% pasien pada kelompok lansia yang akan mengalami penurunan tekanan darah sampai di bawah 140 mmHg setelah penggunaan antihipertensi ARB. terutama yang berusia di atas 80 tahun. namun angka di bawah 140 ini akan sangat mempengaruhi jenis pengobatan dan edukasi ke pasien. beta blocker. terutama diuretik. Meskipun tidak ada makna penting lainnya.receptor blockers (ARB). Pedoman ini mengadopsi pendekatan tepat sasaran untuk lansia guna menurunkan risiko penyakit jantung koroner seiring dengan bertambahnya usia. sebenarnya juga tidak hanya menurunkan tekanan darah semata. Hal ini dapat dicapai dengan menjaga tekanan darah di angka kurang dari 150/85 mmHg (kontrol ketat) atau kurang dari 180/105 mmHg (kontrol tidak terlalu ketat). Guidelines yang banyak dipakai untuk tata laksana hipertensi pada lansia diambil dari JNC 7 dan ESH/ESC 2003. serta menurunkan tekanan dinding pembuluh darah pada diet rendah garam. ACE-inhibitor. Tercapainya tujuan ini akan tergantung tidak hanya berdasarkan efikasi obat antihipertensi. sehingga gabungan keduanya ialah penurunan tekanan darah dengan efek yang juga renokardioprotektif. menyerupai pemberian Ca blocker. Selain itu penggunaan diuretik boros kalium juga akan menyebabkan hipokalemia jika tidak diberikan secara hati-hati. misalnya retinopati diabetik. ARB akan meningkatkan volume sirkulasi dan merangsang sintesis kolagen akibat peningkatan jumlah sel otot polos pada pembuluh darah. Kontrol kadar kalium hingga tidak boleh di bawah 3. penggunaan obat harus tetap dilanjutkan tanpa mengurangi dosis yang sedang .5 mg/dl harus dilakukan. tapi dari segi tolerabilitasnya juga. asalkan sesuai indikasi. atau diabetes yang berat. efek proteksi vaskular dari ARB juga berlaku untuk mengurangi kemungkinan terjadiya stroke. Tekanan darah di bawah 140 mmHg sistolik (jika memang benar sebesar ini) akan jauh mengurangi risiko stroke. Kontrol ketat dilakukan pada pasien yang memiliki risiko besar untuk memiliki komplikasi penyakit lainnya. dan kejadian kardiovaskular lain pada lansia. sebisa mungkin perlu diperhitungkan berbagai efek samping yang kemungkinan akan sangat mengganggu pasien. Jika ternyata dalam terapi. khususnya Angiotensin II Antagonist Losartan (RENAAL) dapat menurunkan endpoint pasien dengan Non Insulin-dependent Diabetes Mellitus. tidak langsung menambah dosisnya. pengurangan kemampuan penglihatan. Valsartan dan Losartan telah terbukti mampu menurunkan tekanan sistolik pembuluh darah. diperlukan manajemen titrasi dosis naik perlahan-lahan ditambah kombinasi obat lainnya. tidak sekadar menurunkan tekanan darah. misalnya Hydrochlorotiazide (HCT) 12. sisanya. misalnya diabetes mellitus. dan penyakit vaskular perifer. termasuk saat kontrol rawat jalan. keduanya bekerja dalam sistem renin angiotensin aldosteron. ARB dan ACE-inhibitor digunakan secara bersama-sama. Pemberian diuretik harus dimulai dari level rendah. Pendekatan untuk lansia Para dokter harus benar-benar yakin bahwa data pengukuran yang didapat ialah valid. Pada beberapa keadaan penggunaan obat selain diuretik sebagai terapi inisial sah-sah saja dilakukan. sehingga pengobatannya harus fokus untuk proteksi kardiovaskular secara umum.5 mg atau yang setara dengannya. infark miokard. Terapi seperti ini tergolong aman dan efektif. kelompok usia yang rentan penyakit jantung koroner. Jika angka ini dinilai kurang efektif. dibanding ACE-inhibitor dan Calcium channel blocker. atau ARB. ARB yang dikombinasi dengan diuretik juga telah terbukti memiliki efek yang sangat baik. Bekerja di sistem renin-angiotensin-aldosteron. Tujuan utama penatalaksanaan hipertensi pada lansia. Kontrol tekanan darah yang ketat pada pasien diabetes berhubungan dengan pencegahan terjadinya hipertensi yang tak terkendali dan beberapa penyakit lainnya. namun tetap saja terapi yang terbaik kemungkinan ialah mencegah hipertensi sebelum usia senja guna mengurangi risiko penyakit jantung koroner sejak dini. sedangkan ACE-inhibitor bekerja menghambat kerja enzim. Karenanya. sebagian besar akan gagal. dalam rangka menurunkan tekanan darah. penatalaksanaan hipertensi terutama ditujukan pada pasien lanjut usia dengan target tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg. Selain itu. Pada orang tua. gagal jantung. ARB memblok konjugasi. serangan stroke. sehingga mempengaruhi keberhasilan dari seluruh tata laksana. Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun. menurunkan kekakuan arteri karotis. atau bahkan terjadi penyakit-penyakit kardiovaskular lainnya. Seperti guidelines antihipertensi (lihat tabel) yang tercantum berikut. tapi dikombinasikan dengan pemberian dosis rendah CCB.

E dan K. Karbohidrat Fungsi karbohidrat adalah penyedia energi. ebi. Makanan yang tidak boleh: Roti.majalah-farmacia. Kemungkinan gejala ini akan mereda setelah beberapa minggu atau lebih. telur asam.http://www. kacang tanah dan sayuran yang dimasak/ diawetkan dengan garam dapur. mie. Makanan yang boleh: daging. Gula tidak mengandung gizi kecuali zat tenaga. Protein Fungsi dari protein sebagai zat pembangun dari sel tubuh. b. Berkurangnya produksi enzim mengakibatkan pencernaan lemak tidak sempurna. Lemak juga berfungsi sebagai cadangan energi. Makanan yang boleh: Beras. keju.com/rubrik/one_news. Lemak Lemak berfungsi sebagai pelarut vitamin A. 3. (farid) A. d. dendeng. Kelebihan lemak akan disimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk timbunan lemak yang menyebabkan kegemukan. Bisa saja terapi terus digiatkan. s3ehingga membebani usus dan lambung yang akan mengakibatkan gangguan pada usus. protein dan mineral diutamakan untuk mencegah proses penurunan fungsi tubuh. Pada lansia lemak sebaiknya dibatasi . biscuit dll. sehingga beberapa ahli tidak terlalu suka melakukannya. terigu. singkong. c. e.D.asp?IDNews=491 diberikan. g. mengingat: a. cenderung mengakibatkan kanker usus. Makanan yang tidak boleh: ikan asin. kornet. Sedangkan pada lansia konsumsi zat zat gizi lain seperti vitamin. b. Makanan yang tidak boleh: margarine dan mentega biasa . gula yang diolah tanpa garam seperti macaroni. namun metode agresif seperti ini juga akan menambah efek samping. Pada lansia sebaiknya memilih daging unggas-unggasan daripada daging sapi atau kambing dan hendaknya tidak makan lebih dari 2 potong daging pada sehari. Kandungan Gizi Yang Diperlukan Lansia 1. 2. Makanan yang boleh: minyak margarine dan mentega tanpa garam. Gula cepat diserap (absorpsi) sehingga mengakibatkan perubahan kadar gula darah dan memungkinkan terjadinya obesitas (kegemukan) dan diabetes. f. semua kacang-kacangan dan sayuran. membentuk tekstur makanan dan memberi rasa kenyang yang lama. pindang. dosisnya ditambah. kentang. Berkurangnya aktifitas tubuh sehingga kebutuhan energi juga menurun. Pada lansia konsumsi gula dibatasi karena: a. biscuit dan kue yang dimasak dengan garam dapur. udang. ikan telur dan susu. Lemak dengan kandungan asam lemak jenuh yang tinggi memicu penyakit jantung dan pembuluh darah.

terutama vitamin B1 agar tubuh selalu bugar. Makanlah makanan yang mudah dicerna c. memelihara keseimbangan asam basa dll. kopi dan coklat. b. 5. Makanan yang tidak boleh: durian. Kandungan Gizi Yang Diperlukan Lansia 1. Lansia hendaknya minum 6-8 gelas sehari mengingat fungsi ginjal menurun dan melancarkan BAB. kanker usus. terutama lansia wanita mudah terjadi ostoporosis akibat menopause. Contoh makanan: beras merah Makanan yang boleh: semua buah yang tidak diawtkan garam/ soda. kalsium sangat penting karena .4. Diet rendah garam II: Ditujukan untuk penderita hipertensi sedang (100-114 mmHg). wasir. 6. B. Hendaknya lansia makan dengan porsi kecil tapi sering b. Serat ada 2 jenis: a. Makan makanan yang lembek untuk lansia yang kondisi giginya kurang baik. Petunjuk Penggunaan Garam untuk Penderita hipertensi Untuk penderita hipertensi terdapat 3 diet: a. Serat Serat tidak dapat dicerna. kedelai dan rumput laut. penyakit jantung dan kegemukan bila kekurangan serat. Lansia hendaknya mengurangi natrium dengan cara membatasi garam dapur. TIPS Pemberian Makanan Bagi lansia Dengan Hipertensi a. Vitamin Fungsi dari vitamin yaitu untuk mempercepat metbolisme. Karbohidrat . C. Tdak larut dalam air yang berfungsi melancarkan BAB. ikan yang dimakan dengan tulangnya. d. Pada lansia vitamin sangat penting. Mineral dan Air Fungsi dari mineral yaitu pembentukan jaringan tubuh. Pada lansia. goring-gorengan dll. Garam dianjurkan ¼ sendok the garam dapur. c. maka serat tidak mengandung gizi tetapi tetap dibutuhkan untuk mencegah sembelit. garam dapur dianjurkan ½ sendok teh. Contoh makanan yang tingggi kalsium adalah susu. buah-buahan yang diawtkan oleh garam dan soda. sayuran hijau. gurih. A. air putih. mempertahankan fungsi jaringan tubuh dan mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan jaringan. Hindari makanan yang terlalu manis. Diet rendah garam 1 : untuk penderita hipertensi berat dianjurkan untuk tidak menambahkan garam dapur dalam makanan. Diet rendah garam III: Ditujukan untuk penderita hipertensi ringan (diastole kurang dari 100 mmHg). Larut dalam air yang berfungsi mengikat kolesterol b.

ebi. Contoh makanan: beras merah . protein dan mineral diutamakan untuk mencegah proses penurunan fungsi tubuh. mempertahankan fungsi jaringan tubuh dan mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan jaringan. b. telur asam. 3. Berkurangnya aktifitas tubuh sehingga kebutuhan energi juga menurun. Sedangkan pada lansia konsumsi zat zat gizi lain seperti vitamin. g. d. s3ehingga membebani usus dan lambung yang akan mengakibatkan gangguan pada usus.E dan K. gula yang diolah tanpa garam seperti macaroni. Makanan yang boleh: daging. Pada lansia sebaiknya memilih daging unggas-unggasan daripada daging sapi atau kambing dan hendaknya tidak makan lebih dari 2 potong daging pada sehari. Vitamin Fungsi dari vitamin yaitu untuk mempercepat metbolisme. Lemak juga berfungsi sebagai cadangan energi. Gula tidak mengandung gizi kecuali zat tenaga. Makanan yang boleh: Beras. f. singkong. biscuit dan kue yang dimasak dengan garam dapur.Fungsi karbohidrat adalah penyedia energi. biscuit dll. ikan telur dan susu. membentuk tekstur makanan dan memberi rasa kenyang yang lama. dendeng. mie. 2. Makanan yang tidak boleh: margarine dan mentega biasa 4. Makanan yang tidak boleh: Roti. mengingat: a. Berkurangnya produksi enzim mengakibatkan pencernaan lemak tidak sempurna.D. Gula cepat diserap (absorpsi) sehingga mengakibatkan perubahan kadar gula darah dan memungkinkan terjadinya obesitas (kegemukan) dan diabetes. Pada lansia vitamin sangat penting. Makanan yang tidak boleh: ikan asin. kornet. Makanan yang boleh: minyak margarine dan mentega tanpa garam. terutama vitamin B1 agar tubuh selalu bugar. Pada lansia lemak sebaiknya dibatasi . e. Protein Fungsi dari protein sebagai zat pembangun dari sel tubuh. keju. kentang. Lemak Lemak berfungsi sebagai pelarut vitamin A. semua kacang-kacangan dan sayuran. Pada lansia konsumsi gula dibatasi karena: a. kacang tanah dan sayuran yang dimasak/ diawetkan dengan garam dapur. b. c. pindang. udang. terigu. cenderung mengakibatkan kanker usus. Lemak dengan kandungan asam lemak jenuh yang tinggi memicu penyakit jantung dan pembuluh darah. Kelebihan lemak akan disimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk timbunan lemak yang menyebabkan kegemukan.

memelihara keseimbangan asam basa dll. TIPS Pemberian Makanan Bagi lansia Dengan Hipertensi a. buah-buahan yang diawtkan oleh garam dan soda. 2008 by harnawatiaj . kalsium sangat penting karena . Diet rendah garam III: Ditujukan untuk penderita hipertensi ringan (diastole kurang dari 100 mmHg). Makanlah makanan yang mudah dicerna c. gurih. Larut dalam air yang berfungsi mengikat kolesterol b. Serat ada 2 jenis: a. Diet rendah garam II: Ditujukan untuk penderita hipertensi sedang (100114 mmHg). kanker usus. Hindari makanan yang terlalu manis. sayuran hijau. Lansia hendaknya mengurangi natrium dengan cara membatasi garam dapur. Contoh makanan yang tingggi kalsium adalah susu. Mineral dan Air Fungsi dari mineral yaitu pembentukan jaringan tubuh. c. d. Garam dianjurkan ¼ sendok the garam dapur.Makanan yang boleh: semua buah yang tidak diawtkan garam/ soda. Petunjuk Penggunaan Garam untuk Penderita hipertensi Untuk penderita hipertensi terdapat 3 diet: a. Hendaknya lansia makan dengan porsi kecil tapi sering b. kopi dan coklat. 5. maka serat tidak mengandung gizi tetapi tetap dibutuhkan untuk mencegah sembelit. ikan yang dimakan dengan tulangnya. Makan makanan yang lembek untuk lansia yang kondisi giginya kurang baik. Serat Serat tidak dapat dicerna. B. b. Makanan yang tidak boleh: durian. 6. C. Tdak larut dalam air yang berfungsi melancarkan BAB. penyakit jantung dan kegemukan bila kekurangan serat. kedelai dan rumput laut. Pada lansia. Lansia hendaknya minum 6-8 gelas sehari mengingat fungsi ginjal menurun dan melancarkan BAB. goring-gorengan dll. Posted on Maret 9. garam dapur dianjurkan ½ sendok teh. wasir. Diet rendah garam 1 : untuk penderita hipertensi berat dianjurkan untuk tidak menambahkan garam dapur dalam makanan. air putih. terutama lansia wanita mudah terjadi ostoporosis akibat menopause.

60C atau lebih).takipnea. peningkatan suhu tubuh (40.dan disritmia.Taruh es pada kulit sambil menyemprot dengan air biasa. lansia. Tipe heat stroke ini tenjadi pada individu yang sehat selama olahraga atau aktivitas kerja kedka teijadi hipertermia karena ketidakadekuatan peng hilangan panas. koma).Pantau secara konstan suhu pasien dengan mengguna kan probe termistor pada rektum atau esofagus (pantau suhu inti). hindari hipotermia.Masase pasien untuk meningkatkan sirkulasi dan niempertahankan vasodilatasi kutan selarna prosedur pendinginan 4.Lepaskan pakaian pasien 2. tekanan vena sentral dan perubahan tingkat kesadaran derigan perubahan cepat dalarn suhu tu buh.. diuretik. berikan dengan pelan karena bahaya dan cedera miokardia dan suhu yang tinggi dan fungsi ginjal yang -kurang baik. Heat stroke karena aktivitas arau latihan dalam suhu panas dan kelembapan ekstrem. kering. 6. Kebanyakan kernatian yang berkaitan dengan panas teijadi pada lansia karena sistem sirkulasi mereka tidak mampu mengkompensasi stress yang ditimbulkan oleb panas. Gunakan satu atau lebih tindakan sebagai berikut : a. Diagnosa keperawatan nieliputi tidak efektif termore gulasi yang berhubungan dengan ketidakmarnpuan meka nisme homeostatik tubuh untuk mempertahankan suhu tubuh normal. dapat juga menyebabkan kematian.Mulal infus IV langsung untuk meagganti cairanyang hilang dan memelihara sirkulasi adekuat. 12. Heat stroke menyebabkan cedera termal pada tingkat sel dan menyebabkan kerusakan luas pada jantung. Tujuannya adalah menurunkan suhu tinggi secepat mungkin. gejala yang adalah: disfungsi sistem saraf pusat yang dalam (dimanifestasikan dengan konfusi.Heat stroke adalah kedaruratan medis akut yang disebab kin oleh kegagalan mekanisme pengaturan panas tubuh. Pendinginan dengan memberikan cairan dan perifer ke pusat. mereka yang mendapat pengobatan tertentu (tranquilizer utama. c. Penatalaksanaan Kedaruratan 1. kejang mungkin diikuti dengan hipertermia berulang. dan takikardi. mereka dengan penyakit kronik dan kelemahan. tubular nekrosis akut adalah komplikasi dan heat stroke 10. biasanya anhidrosis (tidak ada keringat). Biasanya cerjadi selama keadaan panas.Gunakan Selimut Pendingin d. penyekat beta-adrenergik). 9. infark miokard.Pantau pasien dengan cermat terhadap tanda vital. Seseorang dengan risiko ini adalah mereka yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan iklim panas. mereka yang tidak dapat merawat diri sendiri.Turunkan suhu inti (internal) sampal dengan 390C secepat mungkin. hati. Riwayat pasien menunjukkan terpajan pada peningkatan suhu atau latihan berlebihan pada saat panas yang ekstrem.Bilas lambung atau kolon dengan salin es yang mungkin diresepkan jika suhu tidak turun 3.Posisikan kipas angin listrik sehiugga menghembus pada pasien untuk menambah pembuangan panas dengan konveksi dan evaporasi 5.Ukur haluaran urine. 7.Berikan oksigen untuk menyuplai kebutuhan jaringan yang meningkat karena kondisi hipemetabolik.Lakukan serial uji untuk gangguan perdarahan (koagulopati inravaskular diseminata) dan enzim serum untuk . EKG. Pada saat mengkaji pasien. Pertimbangan Gerontologik. Bantu intubasi pasien dengan cuf selang endotrakea dan pasang pada ventilator jika perlu untuk rnendukung kegagalan sistem kardiorespiratori. hipertermia mungkin teijadi kembali secara spontan dalam 3-4 jam. delirium.Teruskan memantau EKG untuk kcmungkinan infark miokard. ginjal dan koagulasi darah.Gunakan pakaian dingin dan handuk atau usap busa dengan air dingin kontinu b. antikolinergik. 8. terutaina ketika diikuti oleh kelembanan yang tinggi. tingkah laku aneh. karena mortalitas langsung berhubung an dentan durasi hipertermia.Kalium untuk hipokalemia dan natrium bikarbonat wink mengoreksi asidosis metabolik.Berikan perawatan pendukung sesuai ketentuan : Dialisis untuk gagal ginjal Antikonvulsan untuk kontrol kejang 11. Pengkajian. Penanganan simultan ber fokus pada stabiitasi oksigenasi melalui ABC pendukung hidup dasar. kulit panas.

mengukur cedera hipoksia suhu pada hati dan jaringan otot.Nasihatkan pasien untuk menghindari terpajan pada suhu tinggi. yang memungkinkan cukup waktu untuk menyesuaikan dengan iklim. Umumnya terjadi pada saat melakukan aktifitas. 13. 2.Tekankan pentingnya memelihara masukan cairan yang adekuat. emboli. dan susunan pusat. Tidak terjadi perdarahan. dan menggunakan pendekatan ber angsur untuk pengkondisian fisik. mengganti cairan. gereja) http://harnawatiaj. Kesadaran umumnya menurun dan penyebab yang paling banyak adalah akibat hipertensi yang tidak terkontrol. 4. hipersensitivitas pada suhu tinggi mungkin terjadi dalam lama waktu yang dapat dipertimbangkan. Stroke non hemoragik penyakitnya. jantung. menggunakan pakaian kendur. Klasifikasi stroke Berdasarkan proses patologi dan gejala klinisnya stroke dapat diklasifikasikan menjadi : 1. 1989). stroke hemoragik Terjadi perdarahan cerebral dan mungkin juga perdarahan subarachnoid yeng disebabkan pecahnya pembuluh darah otak.wordpress.com/2008/03/09/heat-stroke/ Pengertian Stroke adalah deficit neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan aliran darah yang timbul secara mendadak dengan tanda dan gejala sesuai dengan daerah fokal otak yang terkena (WHO.Ajak lansia yang lemah yang hidup dalam lingkungan desa dengan suhu lingkungan tinggi ke tempat di mana ada pengaturan udara (mall tempat belanja. spasme ataupun thrombus pembuluh darah otak. B. namun juga dapat terjadi pada saat istirahat. kesadaran umumnya baik dan terjadi proses edema otak oleh karena hipoksia jaringan otak. dan mengurangi aktivitas dalam cuaca panas. 3. Pendidikan Pasien dan Pertimbangan Perawatan di Rumah 1.Masukkan pasien ke unit perawatan intensify. TIA’S (Trans Ischemic Attack) . stroke non hemoragik Dapat berupa iskemia. Mung kin ada kerusakan hati. Umumnya terjadi setelah beristirahat cukup lama atau angun tidur. perpusta kaan. 2.Nasihatkan atlet untuk memantau kehilangan cairan. yaitu : dapat juga diklasifikasikan berdasarkan perjalanan 1.

beberapa menit atau beberapa jam saja dan gejala akan hilang sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam. Diabetes mellitus (DM) Penderita DM berpotensi mengalami stroke karena 2 alasan. Etiologi Ada beberapa factor risiko stroke yang sering teridentifikasi. 2. 1. C.Yaitu gangguan neurologist sesaat. 1. Proses ini dapat menimbulkan pecahnya pembuluh darah atau timbulnya thrombus sehingga dapat mengganggu aliran darah cerebral. Stroke Komplit Gangguan neurologist yang timbul bersifat menetap atau permanent. Hipertensi. yeitu terjadinya peningkatan viskositas darah sehingga memperlambat aliran darah khususnya serebral dan adanya kelainan microvaskuler sehingga berdampak juga terhadap kelainan yang terjadi pada pembuluh darah serebral. Kelainan jantung / penyakit jantung Paling banyak dijumpai pada pasien post MCI. 3. yaitu . . stroke in Volution Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan yang muncul semakin berat dan bertambah buruk. dapat disebabkan oleh aterosklerosis atau sebaliknya.. termasuk pembuluh darah otak. 1. atrial fibrilasi dan endokarditis. Aneurisma pembuluh darah cerebral Adanya kelainan pembuluh darah yakni berupa penebalan pada satu tempat yang diikuti oleh penipisan di tempat lain. Proses ini biasanya berjalan dalam beberapa jam atau beberapa hari. Pada daerah penipisan dengan maneuver tertentu dapat menimbulkan perdarahan. Kerusakan kerja jantung akan menurunkan kardiak output dan menurunkan aliran darah ke otak. Usia lanjut Pada usia lanjut terjadi proses kalsifikasi pembuluh darah. 4. 1. Ddisamping itu dapat terjadi proses embolisasi yang bersumber pada kelainan jantung dan pembuluh darah. 5. Rind (Reversible Ischemic Neurologis Defict) Gangguan neurologist setempat yang akan hilang secara sempurna dalam waktu 1 minggu dan maksimal 3 minggu.

9. aliran darah ke area thrombus menjadi berkurang. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding pembuluh darah. 8. Emboli disebabkan oleh embolus yang berjalan menuju arteri serebral melalui arteri karotis. salah satunya pembuluh darah otak. kurang aktivitas fisik Kurang aktivitas fisik dapat juga mengurangi kelenturan fisik termasuk kelenturan pembuluh darah (embuluh darah menjadi kaku). Obesitas Pada obesitas dapat terjadi hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah. salah satunya pembuluh drah otak. Stroke hemoragik Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen intracranial yang seharusnya konstan. Patofisiologi 1. 7. spasme pembuluh darah otak dan penekanan pada . D. Peningkatan kolesterol (lipid total) Kolesterol tubuh yang tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis dan terbentuknya embolus dari lemak. Perokok Pada perokok akan timbul plaque pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga terjadi aterosklerosis. Polocitemia Pada policitemia viskositas darah meningkat dan aliran darah menjadi lambat sehingga perfusi otak menurun. sehingga arteri menjadi tersumbat. Adanya perubahan komponen intracranial yang tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian. Di samping itu. Stroke non hemoragik Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau embolus. Perdarahan otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang tiba-tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist fokal.6. 10. 2. menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak. darah yang mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema.

afasia. Pengaruh terhadap status mental • Tidak sadar : 30% .40% • Konfuse : 45% dari pasien biasanya sadar 1. atau apraksia tergantung hemisfer mana yang terkena 1. 1. E. Daerah arteri serebri media. Tanda dan gejala Tanda dan gejala yang muncul sangat tergantung pada daerah dan luasnya daerah otak yang terkena. Daerah vertebra basiler akan menimbulkan: • Sering fatal karena mengenai pusat-pusat vital di batang otak .daerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak. arteri karotis interna akan menimbulkan: • Hemiplegia kontralateral yang disertai hemianesthesia (30%-80%) • Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35%-50%) • Apraksia bila mengenai hemisfer non dominant(30%) 1. Daerah arteri serebri posterior • Nyeri spontan pada kepala • Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35-50%) 1. Daerah arteri serebri anterior akan menimbulkan gejala: • hemiplegia dan hemianesthesia kontralateral terutama tungkai (30%-80%) • inkontinensia urin.

kesulitan Apabila dilihat bagian hemisfer mana yang terkena. emosi labil) (kelumpuhan otot mata. Pemeriksaan diagnostik Pemeriksaan penunjang disgnostik yang dapat dilakukan adalah : 1. kolesterol. elektrolit. gula darah dsb. gejala dapat berupa: 1. dan bila perlu analisa gas darah. stroke hemisfer kiri • mengalami hemiparese kanan • perilaku lambat dan sangat berhati-hati • • kelainan bidang pandang sebelah kanan • disfagia global • afasia • mudah frustasi kontralateral sebagai F. 2. Stroke hemisfer kanan • Hemiparese sebelah kiri tubuh • Penilaian buruk • Mempunyai kerentanan terhadap sisi kemungkinan terjatuh ke sisi yang berlawanan 1. laboratorium: mengarah pada pemeriksaan darah lengkap.• Hemiplegia alternans atau tetraplegia • Kelumpuhan pseudobulbar menelan. CT scan kepala untuk mengetahui lokasi dan luasnya perdarahan atau infark .

infark. obat hemoragik asetosal. 7. menurunkan TIK yang tinggi RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN STROKE . trombolisis. Nutrisi per oral hanya diberikan jika fungsi menelan baik. konstipasi. bila perlu diberikan ogsigen sesuai kebutuhan 3. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat. • Stroke hemoragik: mengobati penyebabnya. 4. Jika kesadaran menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT 11. Hindari kenaikan suhu. neuroprotektor. batuk. Posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat. 8. Penatalaksanaan spesifik berupa: • Stroke non hemoragik: antikoagulan. penatalaksanaan pada pasien stroke adalah: 1. 4. Tanda-tanda vital diusahakan stabil Bed rest Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Kandung kemih yang penuh dikosongkan. tindakan pembedahan. posisi miring jika muntah dan boleh dimulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil 2. MRI untuk mengetahui adanya edema. atau suction berlebih yang dapat meningkatkan TIK 10. bila perlu lakukan kateterisasi Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonik 9. hematom dan bergesernya struktur otak angiografi untuk mengetahui penyebab dan gambaran yang jelas mengenai pembuluh darah yang terganggu G. neuroprotektor. 5. 6. Penatalaksanaan medis Secara umum.3.

adanya perdarahan. memori dan motorik membaik c. Bunyi nafas vesikuler b. Kolaborasi: • Pemberian ogsigen • Laboratorium: Analisa gas darah. Pertahankan posisi tirah baring pada posisi anatomis atau posisi kepala tempat tidur 15-30 derajat Bersihan jalan nafas Pasien mampu mempertahankan tidak efektif b. Tidak ada tanda-tanda sianosis dan pucat d. Pantau adanya tanda-tanda penurunan perfusi serebral :GCS. RR normal c. DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI 1. Tidak ada sputum 2.d.NO 1. Observasi tanda-tanda vital (tiap jam sesuai kondisi pasien) 3. memori. Pantau intake-output cairan. balance tiap 24 jam 4. Kriteria hasil : hilangnya refleks batuk) a.d. Lakukan penghisapan lender dan pasang OPA jika kesadaran menurun 5. darah lengkap dll • Pemberian obat sesuai kebutuhan 1. Tingkat kesadaran serebral membaik (GCS meningkat) b. Ukur tandatanda vital 3. TIK normal d. bahasa respon pupil dll 2. edema Kriteria hasil : atau oklusi pembuluh darah a. Tanda-tanda vital stabil e. Tidak ada tanda . jalan nafas yang paten. fungsi kognitif. Bila sudah memungkinkan lakukan fisioterapi dada dan latihan nafas dalam 6. penumpukan sputum (karena kelemahan. Auskultasi bunyi nafas 2. Penurunan perfusi Perfusi serebral membaik serebral b. Berikan posisi semi fowler sesuai dengan kebutuhan (tidak bertentangan dgn masalah keperawatan lain) 4.

kerusakan mobilisasi aktif neuromuskuler. Pantau tingkat kemampuan mobilisasi klien 2. Rubah posisi tiap 2 jan 4. Kolaborasi: fisioterapi 1. Lakukan ROM pasif atau aktif sesuai kemampuan dan jika TTV stabil 6. gula darah dll • Penberian terapi sesuai advis • CT scan kepala untuk diagnosa dan monitoring 1. tidak ada kontraktur atau foot drop b. kontraksi otot membaik c. Pantau kekuatan otot 3. Libatkan keluarga dalam memobilisasi klien 7. Pasang trochanter roll pada daerah yang lemah 5. Pertahankan ligkungan yang nyaman 7. Evaluasi sifat dan beratnya afasia pasien. kerusakan neuromuscular. Kolaborasi: • Beri ogsigen sesuai indikasi • Laboratorium: AGD.d. mengejan dsb 6.d. 5. Hindari valsava maneuver seperti batuk.perburukan neurologis f. mobilisasi bertahap 4. Kriteria hasil : hemiparese a. Hindari fleksi leher untuk mengurangi resiko jugular 8. Gangguan komunikasi verbal b. Gangguan mobilitas Pasien mendemonstrasikan fisik b. kelemahan. Komunikasi dapat berjalan dengan baik . jika berat hindari memberi isyarat non 3.

Observasi tanda-tanda vital 4. Conjungtiva ananemis d. Beri latihan menelan 7. Libatkan keluarga dalam melatih komunikasi verbal pada pasien 7. Perubahan persepsi. Latih otot bicara secara optimal 6. konsul ahli gizi 1. Kolaborasi : Pemeriksaan lab(Hb. bahasa jelas. intake nutrisi tidak adekuat Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : a. (Risiko) gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.Persepsi dan kesadaran akan sensori b. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi b. BUN).d. Tonus otot baik e. Cari tahu proses 5. Hb. Pembicaraan pasien dapat dipahami 2. Klien dapat mengekspresikan perasaan b. Berdiri di dalam lapang pandang pasien pada saat bicara 5. dengarkan dengan tekun jika pasien mulai berbicara 4. Beri makan via NGT 8. BUN dalam batas normal 5. Berat badan dalam batas normal 6. Catat intake makanan c. Lakukan komunikasi dengan wajar.d. Hitung kebutuhan nutrisi perhari 3.kerusakan sentral bicara verbal Kriteria hasil : a. pemasangan NGT. Albumin. Memahami maksud dan pembicaraan orang lain c. Kaji factor penyebab yang mempengaruhi kemampuan menerima makan/minum 2. sederhana dan bila perlu diulang 3. Kolaborasi dengan ahli terapi wicara 1. Lab: albumin. lingkungan dapat . Timbang berat badan secara berkala 6.

d.perubahan transmisi dipertahankan saraf sensori. Kurang kemampuan Kemampuan merawat diri merawat diri b. kekuatan otot a. nyeri. Motivasi klien untuk melakukan ADL sesuai kemampuan 6. integrasi. Evaluasi adanya gangguan persepsi: penglihatan. Berikan bantuan terhadap kebutuhan yang benar-benar diperlukan saja 3. sehari-hari kerusakan persepsi b. meningkat kelemahan. posisi dan proprioseptik 5. Buat lingkungan yang memungkinkan klien untuk melakukan ADL mandiri 4. memenuhi kebutuhan hidup depresi. Evaluasi kemampuan membedakan panas-dingin. Ingatkan untuk menggunakan sisi tubuh yang terlupakan 7. Lakukan validasi terhadap persepsi klien dan lakukan orientasi kembali 1. Libatkan keluarga dalam membantu klien 5. Pantau tingkat kemampuan klien dalam merawat diri 2. Sediakan alat Bantu diri 7. Catat adanya proses hilang perhatian terhadap salah satu sisi tubuh dan libatkan keluarga untuk membantu mengingatkan 6. perubahan psikologi patogenesis yang mendasari 2. Ciptakn suasana lingkungan yang nyaman 4. Mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber bantuan . gangguan Kriteria hasil : neuromuscular. taktil 3. Melakukan perawatan diri sesuai kemampuan c. Bicara dengan tenang dan perlahan 8. mendemonstrasikan menurun. penurunan perubahan pola hidup untuk koordinasi otot.

d. Beri pengaman pada daerah yang sehat. Hindari restrain kecuali terpaksa 4. Kurang pengetahuan Pengetahuan klien dan (klien dan keluarga) keluarga tentang penyakit dan tentang penyakit dan perawatan meningkat.bila mungkin 7. Diskusikan proses patogenesis dan pengobatan dengan klien dan keluarga 3. kurang informasi. Tidak ada trauma dan komplikasi lain 9.d. Pertahankan bedrest selama fase akut 5. Risiko cedera b. dilantin dll) 1. Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit. Kriteria hasil : keterbatasan kognitif. konsultasi dengan ahli okupasi atau fisioterapi 1. dan perubahan pola hidup yang diperlukan . Kolaborasi: pasang DC jika perlu. Klien tidak terjatuh b. Pantau tingkat kesadaran dan kegelisahan klien 2. Evaluasi derajat gangguan persepsi sensuri 2. Identifikasi factor risiko secara individual dal lakukan perubahan pola hidup 5. perawatan b. Libatkan keluarga dalam perawatan 7. Klien dan keluarga mengenal sumber berpartisipasi dalam proses belajar b. Identifikasi cara dan kemampuan untuk meneruskan progranm perawatan di rumah 4. gerakan yang tidak terkontrol selama penurunan kesadaran Klien terhindar dari cedera selama perawatan Kriteria hasil : a. pengobatan. tidak a. Beri pengaman di samping tempat tidur 6. beri bantalan lunak 3. Buat daftar perencanaan pulang 8. Kolaborasi: pemberian obat sesuai indikasi (diazepam.

blog. Prevalensi dari masalah ini meluas di luar institusi sampai melibatkan seluruh lansia Awitan imobilitas atau intoleransi aktivitas untuk sebagian besar orang tidak terjadi secara tiba-tiba.ac.ui. potensial sindrom disuse. bergerak dari mobilitas penuh sampai ketergantungan fisik total atau ketidak aktifan. Studi-studi tentang insidensi diagnosis keperawatan yang digunakan untuk lansia yang berada di Institusi perawatan mengungkapkan bahwa hambatan mobilitas fisik adalah diagnosis pertama atau kedua yang paling sering muncul. atau masa otot • Mengalami pembatasan pergerakan. pengendalian. Intervensi diarahkan pada pencegahan kea rah konsekuensi-konsekuensi imobilitas dan ketidak aktifan dapat menurunkan kecepatan penurunannya. dan intoleransi aktivitas memberikan definisi imobilitas yang lebih luas. termasuk protocol-protokol mekanis dan medis • Gangguan koordinasi Faktor-faktor yang berhubungan • Intoleransi aktivitas • Penurunan kekuatan dan ketahanan • Nyeri dan rasa tidak nyaman • Gangguan persepsi atau kognitif • Gangguan neuromuskuler • Depresi • Ansietas berat .http://mhs. dan sindromdissue sering terjadi pada lansia. Imobilitas didefinisikan secara luas sebagai tingkat aktivitas yang kurang dari mobilitas optimal. termasuk mobilitas di tempat tidur. BAB II PEMBAHASAN Imobilitas dan Intoleransi Aktivitas pada Lansia GANGGUAN MOBILITAS FISIK Definisi Sutau keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami seseorang Batasan karakteristik • Ketidakmampuan untuk bergerak dengan tujuan di dalam lingkungan. Imobilitas. tetapi lebih berkembang secara perlahan dan tanpa disadari. Diagnosis keperawatan hambatan mobilitas fisik. 2009pusva juwitaLeave a commentGo to comments BAB I PENDAHULUAN Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi seseorang. berpindah dan ambulasi • Keengganan untuk melakukan pergerakan • Keterbatasan rentang gerak • Penurunan kekuatan. intoleransi aktivitas.id/fer50/2008/09/17/asuhan-keperawatanpada-klien-dengan-stroke/comment-page-1/ Imobilitas dan Intoleransi Aktivitas pada Lansia October 3.

MANIFESTSI KLINIS Dampak fisiologis dari imobilitas dan ketidak efektifan • • • • • • • • • • • • • • Efek • Hasil • • Penurunan konsumsi oksigen maksimum Intoleransi ortostatik Peningkatan denyut jantung. ancaman terhadap imobilitas. Secara fisiologis. Penurunan fungsimuskuloskeletal Perubahan fungsi neurologist Nyeri Defisit perceptual Berkurangnya kemampuan kognitif Jatuh Perubahan hubungan social Aspek psikologis Faktor-faktor eksternal Factor tersebut termasuk. Perub ahan yang berhubungan dengan usia disertai dengan penyakit kronis menjadi predisposisi bagi lansia untuk mengalami komplikasi-komplikasi ini. Program terapeutik Karakteristik penghuni institusi Karakteristik staf Sistem pemberian asuhan keperawatan Hambatan-hambatan Kebijakan-kebijakan institusi Dampak masalah pada lansia Lansia sangt renan erhadap konsekuensi fisiologis dn psikologis dari imobilitas. Batasan karakteristik • Secara verbal melaporkan keletihan atau kelemahan • denyut jantung atau tekanan darah yang tidak normal terhadap aktivitas • Rasa tidak nyaman dispneu setelah beraktivitas • Perubahan elektrokardiogravis yang menunjukkan adanya disritmia atau iskemia Faktor-faktor yang berhubungan • Tirah baring dan imobilitas • Kelemahan secara umum • Gaya hidup yang kurang gerak • Ketidakseimbanag antara suplai oksigen dan kebutuhan Faktor-faktor Internal Berbagai factor internal dalam imobilisasi tubuh atau bagian tubuh antara lain. oleh karena itu memperberat efek ini. tubuh bereaksi terjhadap imobilitas dengan perubahan-perubahan yang hamper sama dengan proses penuaan. .INTOLERANSI AKTIVITAS Definisi Suatu keadaan ketidakcukupan energi secara fisiologis atau psikologis pada seseorang untuk bertahan aau menyelesaikan aktivitas sehri-hari yang dibutuhkan atau diinginkan. dan interpretasi pada kejadian. Suatu pemahman tentang dampak imobilitas dapat diperoleh dari interaksi kompetensi fisik.

• Pengembangan program latihan Program latihan yang sukses sangat individual. pulmonal. kurangnya transportasi dan kurangnya dukungan. Diagnosis keperawaqtan dihubungkan dengan poencegahan sekunder adalah gangguan mobilitas fisik PENGKAJIAN . 1. Sebagai suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan. Hambatan lingkungan termasuk kurangnya tempat yang aman untuk latihan dan kondisi iklim yang tidak mendukung. Mengajarkan klien untuk mengenali tanda-tanda intoleransi atau latihan yang terlalu keras sama pentingnya dengan memilih aktivitas yang tepat. instruksi tentang latihan yang aman harus dilakukan. dan mengalami peningkatan. Program tersebut disusun untuk memberikn kesempatan pada klien untuk mengembangkan suatu kebiasaan yang teratur dalam melakukan bentuk aktif dari rekreasi santai yang dapat memberikan efek latihan. Aktivitas sat ini dan respon fisiologis denyut nadsi sebelum. Pencegahan primer Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsug sepanjang kehidupan dan episodic. moblilitas dan aktivitas tergantung pada fungsi system musculoskeletal. Ketika klien telah memiliki evaluasi fisik secara seksama. selama dan setelah aktivitas diberikan) Kecenderungan alami (predisposisi atau penngkatan kearah latihan khusus) Kesulitan yang dirasakan Tujuan dan pentingnya lathan yang dirasakan Efisiensi latihan untuk dirisendiri (derajat keyakinan bahwa seseorang akan berhasil) • Keamanan Ketika program latihan spesifik telah diformulasikan dan diterima oleh klien. diseimbangkan. halusinasi PENATALAKSANAAN 1. kardiovaskuler. • Hambatan terhadap latihan Berbagai hambatan mempengaruhi partisipasi lansia dalam latihan secara teratur. Keberhasilan intervensi berasal dri suatu pengertian tentang berbagai factor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas dan penuaan.• • • • • Penurunan fungsi ventrikel kiri Penurunan volume sekuncup Perlambatan fungsi usus Pengurangan miksi Gangguan tidur • • • • sinkop Penurunan kapasitas kebugaran Konstipasi Penurunan evakuasi kandung kemih Bermimpi pada siang hari. Pencegahan sekunder memfokuskan pada pemeliharaan fungsi dan pencegahan komplikasi. Pencegahan Sekunder Spiral menurun yang terjadi akibat aksaserbasi akut dari imobilitas dapat dkurangi atau dicegah dengan intervensi keperawatan. pengkajian tentang factor-faktor pengganggu berikut ini akan membantu untuk memastikan keterikatan dan meningkatkan pengalaman. Bahaya-bahaya interpersonal termasuk isolasi social yang terjadi ketika teman-teman dan keluarga telah meninggal. perilaku gaya hidup tertentu (misalnya merokok dan kebiasaan diet yang buruk) depresi gangguan tidur. Sebagai suatu proses episodic pencegahan primer diarahkan pada pencegahan masalah-masalah yang dapat tmbul akibat imoblitas atau ketidak aktifan.

iritabilitas. Hambatan-hambatan institusional terhadap mobilitas termasuk jalan koridor yang terhalang. Identifikasi dan penghilangan hambatan-hambatan yang potensial dapat meningkatakan mobilitas PENATALAKSANAAN TERAPEUTIK Pengobatan terapeutik ditujukan kearah perawatan penyakit atau kesakitan yang dihasilkan atau yang turut berperan terhadap masalah imobilitis dan penanganan konsekuensi aktual atau potensial dari imobilitas. lantai licin. dan ketahanan otot. Gejalagejala kesulitan miksi termasuk pernyataan ketidakmampuan untuk berkemih dan tekanan atau nyeri pada abdomen bagian bawah • • Perubahan-perubahan Gastrointestinal Sensasi subjektif dari konstipasi termasuk rasa tidak nyaman pada abdomen bagian bawah. kompresi pneumatik intermiten atau stoking kompresi gradien untuk meningkatkan aliran darah vena dan mencegah tromboembolisme. kecuali untuk eliminasi INTERVENSI . nyeri tekan dan tanda homans positif. kekuatan. • Kemunduran kardiovaskuler Tanda dan gejala kardivaskuler tidak memberikan bukti langsung atau meyaknkan tentang perkembangan komplikasi imobilitas. perkusi. • Faktor-faktor lingkungan Lingkungan tempat tinggal klien memberikan bukti untuk intervensi. Perubahan-perubahan dalam pergerakan dada. tempat tidudan posisi yang tinggi. tremor tangan. Tanda-tanda tromboflebitis meliputi eritema. penurunan tekanan darah. Tandatanda awal meliputi peningkatan temperature dan denyut jantung. distensi abdomen bagian bawah. pucat. mual gelisah. Hanya sedikit petunjuk diagnostic yang dapat diandalkan pada pembentukan trombosis. kesulitandalam mengikuti perintah dan sinkop • Kemunduran Respirasi Indikasi kemunduran respirasi dibuktikan dari tanda dan gejala atelektasis dan pneumonia. kelemahan. ukuran. dan gas arteri mengindikasikan adanaya perluasan dan beratnya kondisi yang terjadi. • Perubahan-perubahan integument Indikator cedera iskemia terhadap jaringan yang pertama adalah reaksi inflamasi. penerangan yang tidak adekuat. tekanan. dan cairan pada lantai. karpet yang lepas. Intoleransi ortostatik dapat menunjukkan suatu gerakan untuk berdiri tegak seperti gejala peningkatan denyut jantung. depresi mental. spirometri insesif untuk hiperinflasi alveoli. rentang gerak sendi. Pengosonganh rectum yang tidak sempurna. dan sakit kepala. edema. bunyi napas. tangga yang tinggi. kamar mandi tanpa pegangan.• Kemunduran musculoskeletal Indikator primer dari keparahan imobilitas pada system musculoskeletal adalah penurunan tonus. kompresi pneumatik intermiten dan kekuatan otot. Pengkajian fungsi secara periodik dapat digunakan untuk memantau perubahan dan keefektifan intervensi. Di dalam rumah. dan batas kandung kemih yang dapat diraba. dan tirah baring. Perubahan awal terlihat pada permukaan kulit sebagai daerah eritema yang tidak teratur dan didefinisikan sangat buruk di atas tonjolan tulang yang tidak hilang dalam waktu 3 menit setelah tekanan dihilangkan Perubahan-perubahan fungsi urinaria Bukti dari perubahan-perubahan fungsi urinaria termasuk tanda-tanda fisik berupa berkemih sedikit dan sering. rasa penuh. Contoh-contoh pendekatan terhadap penanganan imobilitas meliputi terapi fisik untuk mempertahankan mobilitas dan kekuatan otot. dan kekuatan skeletal. berkeringat. dan tempat duduk toilet yang rendah dapat menurunkan mobilitas klien. anoreksia.

pemeliharaan fungsi urinaria dan usus yang normal bergantung pada dukungan nutrisi dan struktur lingkungan serta rutinitas-rutinitas untuk memfasilitasi eliminasi.Limatujuan mengarahkan intervensi keperawatan untuk mencegah atau meniadakan sekuelafisiologis dari imobilitas. Latihan angkat berat dengan meningkatkan pengulangan dan berat adalah aktivitas pengondisian kekuatan. bersepeda. stoking kompresi untuk memberikan tekanan eksternal pada tungkai. Kontraksi ini mengubah panjang otot tanpa mengubah tegangan. dan asupan cairan yang adekuat untuk mencegah efek dehidrasi pada volume darah. dengan tungkai menggantung di sisi tempat tidur. LATIHAN AEROBIK Latihan aerobik adalah aktivitas yang menghasilkan peningkatan denyut jantung 60 sampai 90% dari denyut jantung maksimal dihitung dengan (220-usia seseorang) x 0. Keempat. berenang. atau pada saat duduk di kursi dengan cara mendorong atau menarik suatu objek yang tidak dapat bergerak. Kontraksi isometrik dilakukan dengan cara bergantian mengencangkan dan merelaksasikan kelompok otot. SIKAP Variabel utama yang dapat mengganggu keberhasilan intervensi pada individu yang mengalami imobilisasi adalah sikap perawat dan klien tentang pentingnya latihan dan aktivitas dalam rutinitas sehari-hari. Terakhir. Latihan ini meningkatkan kekuatan dan massa otot serta mencegah kehilangan densitas tulang dan kandungan mineral total dalam tubuh. Kekuatan otot harus menghasilkan peningkatan setelah beberapa waktu. Ketiga. KONTRAKSI OTOT ISOMETRIK Kontraksi otot isometrik meningkatkan tegangan otot tanpa mengubah panjang otot yang menggerakkan sendi.7 Aktivitas aerobik yang dipilih harus menggunakan kelompok otot besar dan harus kontinu. pemeliharaan fleksibilitas sendi yan terlibat dalam latihan rentang gerak. dan sikap komitmen terhadap latihan. pemeliharaan sirkulasi yang adekuat meliputi tindakan-tindakan pendukung untuk mempertahankan tonus vaskuler (termasuk mengubah posisi dalam hubungannya dengan gravitasi). nutrisi untuk meningkatkan anabolisme protein dan pembentukan tulang. tetapi juga integrasi aktif dari latihan sebagai . Contohnya termasuk berjalan. Pergerakan aktif memengaruhi toleransi ortostatik. Kontraksi-kontraksi ini digunakan untuk mempertahankan kekuatan otot dan mobilitas dalam keadaan berdiri (misalnya otot-otot kuadrisep. LATIHAN KEKUATAN Aktivitas penguatan adalah latihan pertahanan yang progresif. Kedua. Tujuan pertama meliputi pemeliharaan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal. Kontraksi isotonik dapat dicapai pada saat berada di tempat tidur. berirama. pemeliharaan ventilasi yang normal meliputi hiperinflasi dan mobilisasi serta menghilangkan sekresi. dan dapat dinikmati. dan berdansa. posisi yang tepat. Pembahasan tentang intervensi disajikan di sini. yang termasuk pengondisian program latihan harian baik kontraksi otot isometrik dan isotonik. abdominal dan gluteal) dan untuk memberikan tekanan pada tulang bagi orang-orang dengan dan tanpa penyakit kardiovaskuler. Sikap perawat tidak hanya memengaruhi komitmen untuk memasukkan latihan sebagai komponen rutin sehari-hariyang berkelanjutan. KONTRAKSI OTOT ISOTONIK Kontraksi otot yang berlawanan atau isotnik berguna untk mempertahankan kekuatan otot-otot dan tulang. Ketika tangan atau kaki dilatih baik otot-otot fleksor dan ekstensor harus dilibatkan. kerja dapat dicapai. aktivitas penguatan aerobik. Karena otot-otot memendek dan memanjang. dan aktivitas kehidupan sehari-hari.

masalah-masalah mobilitas. dan ketahanan. termasuk rentang gerak sendi dan pengkajian fungsional mengenai kemampuan. frekuensi dan jumlah berkemih .intervensi bagi lansia di berbagai lingkungan. Mengatur posisi tungkai dengan ketergantungan minimal (misalnya meninggikan tungkai diatas dudukan kaki) mencegah pengumpulan darah pada ekstremitas bawah. dan fasilitas jangka panjang. tonus. ukuran. Posisi duduk di kursi secara normal dengan tungkai tergantung secara potensial berbahaya untuk seseorang yang beresiko mengalami pengembangan trombosis vena. LATIHAN RENTANG GERAK Latihan rentang gerak aktif dan pasif memberikan keuntungan-keuntungan yang berbeda. Demikian pula halnya sikap klien dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas latihan. gerakan pasif. dan kehilangan ketahanan Observasi status respirasi dan fungsi jantung pasien Observasi lingkungan terhadap bahaya-bahaya keamanan yang potensialUbah lingkungan untuk menurunkan bahaya-bahaya keamanan Ajarkan tentang tujuan dan pentingnya latihan Ajarkan penggunaan alat-alat bantu yang tepat • • • • DOKUMENTASI YANG ESENSIAL Dokumentasi untuk setiap sistem meliputi hal-hal berikut. karakteristik kulit diatas tonjolan tulang Untuk urinaria. serta mencegah gangguan. yaitu menggerakkan sendi seseorang melalui rentang geraknya oleh orang lain. Latihan aktif membantu mempertahankan fleksibilitas sendi dan kekuatan otot serta meningkatkan penampilan kognitif. dan adanya nyeri Untuk Kardiovaskular. perubahan ortostatik dalam tekanan darah dan denyut nadi Untuk respirasi. kekuatan otot. mobilitas sendi. pengumpulan dan penurunan tekanan darah balik vena akan terjadi. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan intoleransi aktivitas. Diagnosa keperawatan. pengkajian paru Untuk Integumen. penggunaan dan penyalahgunaan alat bantu. Jika seseorang diposisikan dengan tungkai tergantung. hanya membantu mempertahankan fleksibilitas. • • • • • Untuk muskuloskeletal . resiko tinggi sindrom dissue Hasil yang diharapkan Klien mampertahankan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal dan fleksibilitas sendi-sendi • Intervensi keperawatan Observasi tanda dan gejala penurunan mobilitas sendi. MENGATUR POSISI Mengatur posisi juga digunakan untuk meningkatkan tekanan darah balk vena. rumah sakit. komunitas. RENCANA PERAWATAN Rencana asuhan keperawatan untuk imobilitas betujuan mempertahankan kemampuan dan fungsi. Sebaliknya.

dan terapi okupasi. Kemungkinan yang menjadi factor penyebab munculnya masalah ini adalah adanya perkembangan ekonomi dan perubahan gaya hidup terutama msayarakat perkotaan. Buku Ajar Keperawaan Gerontik ed. aktivitas sosial. 2006 • Possibly related posts: (automatically generated) • KEPUTIHAN =FLUOR ALBUS • Did you know Dismenore? • hidup sehat dengan bersepeda • Meningkatkan Potensi dan ketahanan http://pusva. dan keluarga serta teman-teman DAFTAR PUSTAKA Stanley. aktivitas sosial. 2 Jakarta EGC .com/2009/10/03/imobilitas-dan-intoleransi-aktivitas-padalansia/ BAB I PENDAHULUAN Kecenderungan pola penyakit neurologi terutama gangguan susunan saraf pusat tampaknya mengalami peningkatan penyakit akibat gangguan pembuluh darah otak. Salah satu penyakit yang sering dialami oleh lansia adalah stroke. Upaya-upaya rehabilitasi untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya multidisiplin yang terdiri dari perawat.Untuk gastrointestinal. Walaupun belum didapat data secara konkrit mengenai hal ini namun dari pengalaman terlihat sangat mencolok adanya perubahan ini. ahli fisioterapi. dan keluarga serta teman-teman BAB III PENUTUP Gangguan mobilitas fisik merupakan suatu keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami seseorang Intoleransi aktifitas merupakan suatu keadaan ketidakcukupan energi secara fisiologis atau psikologis pada seseorang untuk bertahan aau menyelesaikan aktivitas sehri-hari yang dibutuhkan atau diinginkan. Mickey. Patricia. akibat kecelakaan serta karena proses degenerative system saraf tampaknya sedang merambah naik di Indonesia.25 kali lebih besar pada pria dibanding wanita. Insiden stroke meningkat secara eksponensial dengan bertambahnya usia dan 1. dan terapi okupasi. Usia harapan hidup di Indonesia sekarang kian meningkat sehingga semakin banyak terdapat lansia. Pencegahan tersier Upaya-upaya rehabilitasi untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya multidisiplin yang terdiri dari perawat. . Usia merupakan factor resiko yang paling penting bagi semua jenis stroke. karakter dan pola feses dan alat bantu yang biasa digunakan untuk memfasilitasi eliminasi.wordpress. Beare. dokter. Kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup terlihat semakin mudah sehingga meningkatkan hasratmereka untuk terus berjuang mencapai tujuan dengan penuh persaingan dalam perjuangan tersebut. ahli fisioterapi. Dengan bertambahnya usia maka permasalahan kesehatan yang terjadi akan semakin kompleks. mereka mendapatkan benturanbenturan fisik maupun psikologis akibatnya mereka tidak lagi memikirkan efek bagi kesehatan jangka panjang. seorang ahli gizi. dokter. 1. seorang ahli gizi.

Stroke terdiri dari 2 jenis yaitu : Stroke adalah sindrom yang awal timbulnya mendadak. Persoalan pokok pada stroke adalah gangguan peredaran darah pada daerah otak tertentu (Mardjono. yang disebabkan oleh thrombus dan stroke embolik. Harsono (1993 : 30) membagi stroke non haemoragi berdasarkan bentuk klinisnya antara lain : 1. 2. 1995 : 964). Infark iskemic terbagi menjadi dua yaitu : stroke trombotik. baik fokal maupun menyeluruh yang berlangsung dengan cepat. Hal ini terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah otak. yaitu : 1. 2001 : hal. 2131 ). Corwin. Stroke dapat dibagi menjadi 2 golongan. Pada bentuk ini gejala neurologik yang timbul akibat gangguan peredaran darah di otak akan menghilang dalam waktu 24 jam. 2000: 54) yang menyatakan bahwa stroke adalah gangguan darah di pembuluh arteri yang menuju ke otak. Perdarahan (Stroke Hemoragi) Terjadi pecahnya pembuluh darah otak. Gejala neurologik timbul ± 24 jam.BAB II TINJAUAN TEORI A. Serangan Iskemia sepintas atau transient ischemic Attack (TIA). Infark Ischemik (Stroke non Hemoragi). 3. tidak lebih dari seminggu. disebabkan karena gangguan perdarahan otak. Stroke atau Cerebro Vasculer Accident (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak ( Brunner dan Suddarth. misal: Trombosis. Defisit Neurologik Iskemia Sepintas/ Reversible Ischemic Neurologik Defisit (RIND). tidak berkembang lagi. B. yang disebabkan oleh embolus. dan semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran otak non traumatic (Mansjoer 2000: 17) Stroke adalah gangguan neurologik fokal yang dapat timbul sekunder dari proses patologis pada pembuluh darah serebral. 2002 : hal. Completed Stroke Kelainan saraf yang sifatnya sudah menetap. embolis. ruptura dinding pembuluh atau penyakit vaskuler dasar (Prince. Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak ( Elizabeth J. Berlangsung lebih dari 24 jam atau berakhir dengan maut tanpa ditemukannya penyebab selain daripada gangguan vaskuler. 181 ). progresif cepat. 4. Menurut Lumbantobing (1994 : 5) kelainan yang terjadi akibat gangguan peredaran darah. DEFINISI Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat. Gejala makin berkembang ke otak lebih berat. Stroke Progresif (Progresive Stroke/ Stroke in evolution). berupa deficit neurologis fokal atau global yang langsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian. Menurut WHO stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral. 2. ETIOLOGI .

Penyakit Jantung Beberapa Penyakit Jantung berpotensi menimbulkan strok. dimana tekanan diastolic pecah. d. Sedangkan menurut prince (1995 : 966) mengatakan bahwa stroke haemoragi disebabkan oleh perdarahan serebri. Harsono (1999 : 60) membagi factor risiko yang dapat ditemui pada klien dengan Stroke yaitu: Faktor risiko utama a. Transient Ischemic Attack (TIA) TIA dapat terjadi beberapa kali dalan 24 jam/ terjadi berkali. Kegemukan atau obesitas c. g. c. d. Hipertensi Hipertensi dapat mengakibatkan pecahnya maupun menyempitnya pembuluh darah otak. 1. b. Biasanya berkaitan erat dengan kerusakan fokal dinding pembuluh darah akibat anterosklerosis. Menebalnya pembuluh darah otak akan menyempitkan diameter pembuluh darah yang akan menggangu kelancaran aliran darah ke otak. Polisitemia dapat menghambat kelancaran aliran darah ke otak. Penyakit jantung koroner dengan infark obat jantung dan gangguan irana denyut janung. sehingga jaringan yang terletak di dekatnya akan tergeser. Kadar lemak darah yang tinggi termasuk Kolesterol dan Trigliserida.Stroke non haemoragi merupakan penyakit yang mendominasi kelompok usia menengah dan dewasa tua karena adanya penyempitan atau sumbatan vaskuler otak yang berkaitan erat dengan kejadian. Perdarahan ini dibedakan berdasarkan tempat terjadinya perdarahan. Merokok Merokok dapat meningkatkan konsentrasi fibrinogen yang akan mempermudah terjadinya penebalan dinding pembuluh darah dan peningkatan kekentalan darah. Menurut Harsono ini dibedakan berdasarkan tempat terjadinya perdarahan antara lain: Perdarahan Sub Arachnoid (PSA) Kira-kira ¾ harus perdarahan sub arachnoid disebabkan oleh pecahnya seneusisma 5-6% akibat malformasi dari arteriovenosus. Ekstravasali darah terjadi dari daerah otak dan atau subaracnoid. Dikemudian hari seperti Penyakit jantung reumatik. Makin sering seseorang mengalami TIA maka kemungkinan untuk mengalami stroke semakin besar. Embolisme Kebanyakan emboli serebri berasal dari suatu flowess dalam jantung sehingga masalah yang dihadapi sesungguhnya merupakan perwujudan dari penyakit jantung. Sementara leukemia/ kanker darah dapat menyebabkan terjadinya pendarahan otak. Perdarahan Intra Serebral (PIS) Penyebab yang paling sering adalah hipertensi.sel otak. 2. b. Diabetes Mellitus Debetes mellituas mampu . Faktor Resiko Tambahan a. Perdarahan intracranial biasanya disebabkan oleh ruptura arteria serebri. Lanjut usia f. pada akhirnya akan menyebabkan kematian sel. Riwayat keluarga dengan stroke e.jaringan yang telah mati ke aliran darah. Trombosis Serebri Merupakan penyebab stroke yang paling sering ditemui yaitu pada 40% dari semua kasus stroke yang telah dibuktikan oleh ahli patologis.kali dalam seminggu. Meningginya kadar kolesterol merupakan factor penting untuk terjadinya asterosklerosis atau menebalnya dinding pembuluh darah yang diikuti penurunan elastisitas pembuluh darah.sel / jaringan. Factor resiko ini pada umumnya akan menimbulkan hambatan atau sumbatan aliran darah ke otak karena jantung melepaskan sel. Apabila pembuluh darah otak menyempit maka aliran darah ke otak akan terganggu dan sel-sel otak akan mengalami kematian.menebalkan dinding pembuluh darah otak yang berukuran besar. Penyakit darah tertentu seperti polisitemia dan leukemia. Kadar asam urat darah tinggi .

Sudah menetap/permanent (Harsono. Ini biasanya mengikuti fraktur tengkorak dengan robekan arteri dengan arteri meningea lain. Gejala itu muncul bervariasi. Pasien dengan perdarahan luas dan hemoragi mengalami penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital. Hemoragi ekstradural (epidural) adalah kedaruratan bedah neuro yang memerlukan perawatan segera. C. dibawah duramater. hemangioblastoma dan trauma. makin jelas defisit neurologik yang terjadi dalam bentuk penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital. Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologis e. hal 67) D.h. Sementara Timbul hanya sebentar selama beberapa menit sampai beberapa jam dan hilang sendiri dengan atau tanpa pengobatan.paru menahun. Disfungsi kandung kemih Gejala . Hemoragi intraserebral paling umum pada pasien dengan hipertensi dan aterosklerosis serebral. karena perubahan degeneratif karena penyakit ini biasanya menyebabkan ruptur pembuluh darah. Bila hemoragi membesar. Perdarahan serebral dapat terjadi di luar duramater (hemoragi ekstradural atau epidural). bergantung bagian otak yang terganggu. hemiparesis atau kelemahan salah satu sisi tubuh. Hemoragi subarachnoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau hipertensi. amfetamin dan berbagai obat aditif). PATOFISIOLOGI 1) Stroke Hemoragic Perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari semua penyebab utama kasus gangguan pembuluh darah otak. hemoragi intraserebral biasanya disebabkan oleh malformasi arteri-vena. ukuran area yang perfusinya tidak adekuat. dan jumlah aliran darah kolateral (sekunder atau aksesori) a. b. memperberat atau malah menetap. Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama. Kehilangan komunikasi : disartria (kesulitan bicara). kecuali bahwa hematoma subdural biasanya jembatan vena robek. diruang subarachnoid (hemoragi subarachnoid) atau di dalam substansi otak (hemoragi intraserebral). (hemoragi subdural). b. Gejalagejala itu antara lain bersifat: a.1996. Kehilangan motorik : hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada sesi otak yang berlawanan. periode pembentukan hematoma lebih lama ( intervensi jelas lebih lama) dan menyebabkan tekanan pada otak. kehilangan sensori d. apraksia (ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya) c. disfasia atau afasia (bicara defektif atau kehilangan bicara). MANIFESTASI KLINIK Stroke ini menyebabkan berbagai defisit neurologik. Gejala makin lama makin berat (progresif) Hal ini desebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat yang disebut progressing stroke atau stroke inevolution d. Hemoragi subdural (termasuk hemoragi subdural akut) pada dasarnya sama dengan hemoragi epidural. Penyakit paru. bergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat). Gangguan persepsi: disfungsi persepsi visual. Karenanya. adanya tumor otak dan penggunaan medikasi (antikoagulan oral. Sementara.namun lebih dari 24 jam Gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini dissebut reversible ischemic neurologic defisit (RIND) c. Biasanya awitan tiba-tiba dengan sakit kepala berat. 2) Stroke Non Hemoragic . pada orang yang lebih muda dari 40 tahun. Hal ini disebut Transient ischemic attack (TIA). Beberapa pasien mungkin mengalami hemoragi subdural kronik tanpa menunjukkan tanda dan gejala. tetapi penyebab paling sering adalah kebocoran aneurisma pada area sirkulus wilisi dan malformasi arteri-vena kongenital pada otak. juga disebabkan oleh tipe patologi arteri tertentu. Perdarahan biasanya arterial dan terjadi terutama sekitar basal ganglia. gangguan hubungan visual-spasial.gejala CVA muncul akibat daerah tertentu tak berfungsi yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tempat tersebut. Arteri di dalam otak dapat menjadi tempat aneurisma.

Asia Pacific Consensus on Stroke Manajement. mengemukakan bahwa tekanan darah diturunkan pada stroke iskemik akut bila terdapat salah satu hal berikut : . sebaiknya dengan kateterisasi intermiten. mengemukakan hal-hal berikut: · Bebaskan jalan nafas dan usahakan ventilasi adekuat. sehingga aliran darah menjadi tidak lancer. 3. Konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia. mengemukakan bahwa peningkatan tekanan darah yang sedang tidak boleh diobati pada fase akut stroke iskemik.menunjukan adanya tekanan normal . Angiografi Arteriografi dilakukan untuk memperlihatkan penyebab dan letak gangguan. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa stroke antara lain adalah: 1.2000 hal 292) F. PENATALAKSANAAN 1. emboli tersebut terjebak di pembuluh darah otak yang lebih kecil dan biasanya pada daerah percabangan lumen yang menyempit. hemoragik. 1999. 2. Dengan adanya sumbatan oleh emboli akan menyebabkan iskemi E. Pungsi Lumbal . Dalam waktu 72 jam daerah tersebut akan mengalami edema dan lama kelamaan akan terjadi nekrosis. · Penatalaksanaan tekanan darah dilakukan secara khusus. 6. infark dan perdarahan. EEG (Elektro Encephalogram) Dapat menunjukkan lokasi perdarahan. konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia. Suatu kateter dimasukkan dengan tuntunan fluoroskopi dari arteria femoralis di daerah inguinal menuju arterial. CT-Scan CT-scan dapat menunjukkan adanya hematoma. oklusi disebabkan karena adanya penyumbatan lumen pembuluh darah otak karena thrombus yang makin lama makin menebal. Penurunan aliran arah ini menyebabakan iskemi yang akan berlanjut menjadi infark. Suzanne. yaitu arteri carotis di bagian tengah atau Middle Carotid Artery ( MCA ).Terbagi atas 2 yaitu : a) Pada stroke trombotik.tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan 5. Perawatan umum stroke Ø Penatalaksanaan awal selama fase akut dan mempertahankan fungsi tubuh Mengenai penatalaksanaan umum stroke. 2002. yang sesuai kemudian zat warna disuntikkan. hal 2131) G. bila perlu berikan oksigen 0-2 L/menit sampai ada hasil gas darah. Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal (Doenges E. MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark. · Kandung kemih yang penuh dikosongkan. 1999. 1997. Onset stroke trombotik biasanya berjalan lambat. Lokasi yang tersering pada stroke trombosis adalah di percabangan arteri carotis besar dan arteri vertebra yang berhubungan dengan arteri basiler. Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena 7. Marilynn. KOMPLIKASI Komplikasi utama pada stroke yaitu : ü Hipoksia Serebral ü Penurunan darah serebral ü Luasnya area cedera (Smeltzer C. gelombang delta lebih lambat di daerah yang mengalami gangguan. b) Sedangkan stroke emboli terjadi karena adanya emboli yang lepas dari bagian tubuh lain sampai ke arteri carotis.

- Tekanan sistolik > 220 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. - Tekanan diastolik > 120 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. - Tekanan darah arterial rata-rata > 130-140 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. - Disertai infark miokard akut/ gagal jantung atau ginjal akut. Pada umumnya peningkatan tekanan darah pada fase akut stroke diakibatkan oleh : o Stress daripada stroke o Jawaban fisiologis dari otak terhadap keadaan hipoksia o Tekanan intrakranial yang meninggi. o Kandung kencing yang penuh o Rasa nyeri. Tekanan darah dapat berkurang bila penderita dipindahkan ke tempat yang tenang, kandung kemih dikosongkan, rasa nyeri dihilangkan, dan bila penderita dibiarkan beristirahat. · Hiperglikemia atau hipoglikemia harus dikoreksi. Keadaan hiperglikemia dapat dijumpai pada fase akut stroke, disebabkan oleh stres dan peningkatan kadar katekholamin di dalam serum. Dari percobaan pada hewan dan pengalaman klinik diketahui bahwa kadar glukosa darah yang meningkat memperbesar ukuran infark. Oleh karena itu, kadar glukosa yang melebihi 200 mg/ dl harus diturunkan dengan pemberian suntikan subkutan insulin. Konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia mengemukakan bahwa hiperglikemia ( >250 mg% ) harus dikoreksi sampai batas gula darah sewaktu sekitar 150 mg% dengan insulin intravena secara drips kontinyu selama 2-3 hari pertama. Hipoglikemia harus diatasi segera dengan memberikan dekstrose 40% intravena sampai normal dan diobati penyebabnya. · Suhu tubuh harus dipertahankan normal. Suhu yang meningkat harus dicegah, misalnya dengan obat antipiretik atau kompres. Pada penderita iskemik otak, penurunan suhu sedikit saja, misalnya 2-3 derajat celsius, sampai tingkat 33ºC atau 34 °C memberi perlindungan pada otak. Selain itu, pembentukan oxygen free radicals dapat meningkat pada keadaan hipertermia. Hipotermia ringan sampai sedang mempunyai efek baik, selama kurun waktu 2-3 jam sejak stroke terjadi, dengan memperlebar jendela kesempatan untuk pemberian obat terapeutik. · Nutrisi peroral hanya boleh diberikan setelah hasil tes fungsi menelan baik, bila terdapat gangguan menelan atau penderita dengan kesadaran menurun, dianjurkan melalui pipa nasogastrik. · Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan. Pemberian cairan intravena berupa cairan kristaloid atau koloid, hindari yang mengandung glukosa murni atau hipotonik. · Bila ada dugaan trombosis vena dalam, diberikan heparin dosis rendah subkutan, bila tidak ada kontra indikasi. Terapi farmakologi yang dapat diberikan pada pasien stroke : a. Antikoagulasi dapat diberikan pada stroke non haemoragic, diberikan sdalam 24 jam sejak serangan gejala-gejala dan diberikan secara intravena. b. Obat antipletelet, obat ini untuk mengurangi pelekatan platelet. Obat ini kontraindikasi pada stroke haemorhagic. c. Bloker kalsium untuk mengobati vasospasme serebral, obat ini merilekskan otot polos pembuluh darah. d. Trental dapat digunakan untuk meningkatkan aliran darah kapiler mikrosirkulasi, sehingga meningkatkan perfusi dan oksigenasi ke jaringan otak yang mengalami iskemik. Ø Kebutuhan psikososial Gangguan emosional, terutama ansietas, frustasi dan depresi merupakan masalah umum yang dijumpai pada penderita pasca stroke. Korban stroke dapat memperlihatkan masalah-masalah emosional dan perilakunya mungkin berbeda dari keadaan sebelum mengalami stroke. Emosinya dapat labil, misalnya pasien mungkin akan menangis namun pada saat berikutnya tertawa, tanpa sebab yang jelas. Untuk itu, peran perawat adalah untuk memberikan pemahaman kepada keluarga tentang perubahan tersebut. Hal-hal yang bisa dilakukan perawat antara lain memodifikasi perilaku pasien seperti seperti mengendalikan simulasi di lingkungan, memberikan waktu istirahat sepanjang siang hari untuk mencegah pasien dari kelelahan yang berlebihan, memberikan umpan balik positif untuk perilaku yang dapat diterima atau

perilaku yang positif, serta memberikan pengulangan ketika pasien sedang berusaha untuk belajar kembali satu ketrampilan. Ø Rehabilitasi selama di rumah sakit Rehabilitasi di rumah sakit memerlukan pengkajian yang sistematik dan evaluassi dari defisit dan perbaikan fungsi pasien. Fokus perawatan adalah langsung membantu pasien belajar kembali kehilangan keterampilan yang dapat membentu kembali kemungkinan kemandirian pasien. Pada fase ini pasien dimonitor secara hati-hati untuk mencegah berkembangnya komplikasi yang lebih lanjut. Adapun intervensi yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut : 1. Anjurkan pasien untuk mengerjakan sendiri ”personal Hygiene” semampunya. 2. Ajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari dengan menghargai cara pasien mengkompensasi ketidakmampuan pasien. 3. Anjurkan pasien untuk latihan di tempat tidur. 4. Berikan spesial perawatan kulit. 5. Berikan privacy dengan menggunakan penutup jika ia belajar keahlian baru seperti belajar makan sendiri. 6. Berikan support emosional. 7. Berikan empati pada perasaan klien.anjurkan keluarga untuk berpartisipasi. Ø Perencanaan pasien pulang Untuk mencegah kembalinya klien ke rumah sakit, diperlikan suatu program untuk membimbing klien dan keluarga yang tercakup dalam perencanaan pulang. Perencanaan pulang dilakukan segera setelah klien masuk rumah sakit, yang dilakukan oleh semua anggota tim kesehatan. Perencanaan pulang yang baik adalah perencanaan pulang yang tersentralisasi, terorganisir, dan melibatkan berbagai anggota tim kesehatan. Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan melalui asuhan keperawatan mutlak harus mengikuti dan berperan aktif dalam mementukan rencana pemulangan klien, sehingga klien mendapatkan pelayanan yang holistik dan komprehensif. Tujuan perencanaan pulang : a. Mempersiapkan klien untk menyesuaikan diri dengan rumah dan masyarakat. b. Agar klien dan keluarga mempunyai pengetahuan dan ketrampilan serta sikap dalam memperbaiki dan mempertahankan status kesehatannya. c. Agar klien dan keluarga dapat menerima keadaan diri klien jika terdapat gejala sisa ( cacat ). d. Membantu merujuk klien ke pelayanan kesehatan lain. Mengingat banyaknya informasi dan pendidikan yang harus diterima oleh klien selama perawatan maupun dalam persiapan untuk pulang, maka prinsip belajar mengajar juga harus diperhatikan dalam proses rencana pemulangan. Informasi untuk klien dan keluarga : a. Gunakan bahasa yang sederhana, jelas dan ringkas. b. Jelaskan langkah-langkah dalam melaksanakan perawatan. c. Perkuat penjelasan lisan dengan instruksi tertulis, jika klien bisa membaca. d. Motivasi klien mengikuti langkah-langkah tersebut selama perawatan dan pengobatan. e. Kenali tanda-tanda dan gejala komplikasi yabg harus dilaporkan kepada tim kesehatan. f. Anjurkan keluarga untuk berpartisipasi aktif dalam pengawasan dan perawatan klien. g. Berikan keluarga nomor penting yang dapat dihubungi bila klien perlu pertolongan medis.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN I. Pengkajian 1. Aktivitas dan istirahat Data Subyektif:

- kesulitan dalam beraktivitas : kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis. - mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot ) Data obyektif: - Perubahan tingkat kesadaran - Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia ) , kelemahan umum. - gangguan penglihatan 2. Sirkulasi Data Subyektif: - Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung , endokarditis bacterial ), polisitemia. Data obyektif: - Hipertensi arterial - Disritmia, perubahan EKG - Pulsasi : kemungkinan bervariasi - Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal 3. Integritas ego Data Subyektif: - Perasaan tidak berdaya, hilang harapan Data obyektif: - Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan - kesulitan berekspresi diri 4. Eliminasi Data Subyektif: - Inkontinensia, anuria - distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara usus( ileus paralitik ) 5. Makan/ minum Data Subyektif: - Nafsu makan hilang - Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK - Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia - Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah Data obyektif: - Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring ) - Obesitas ( factor resiko ) 6. Sensori neural Data Subyektif: - Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA ) - nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid. - Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati - Penglihatan berkurang - Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka ipsilateral ( sisi yang sama ) - Gangguan rasa pengecapan dan penciuman Data obyektif: - Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan tingkah laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif - Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke, genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam ( kontralateral ) - Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )

Menampakan stabilisasi tanda vital dan tidak ada PTIK . reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif.bantuan untuk transportasi.Keamanan Data obyektif: . Pengajaran / pembelajaran Data Subjektif : . stroke . perhatian sedikit terhadap keamanan. ketegangan otot / fasial 8. bahasa.Defisit sensori .Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan . dan wajah yang pernah dikenali . Diagnosa Keperawatan 1.Perubahan tingkat kesadaran . spasme pembuluh darah serebral. ketidakmampuan berkomunikasi 11. perawatan diri dan pekerjaan rumah (Doenges E.Tidak mampu mengenali objek.Perokok ( factor resiko ) Tanda: . Interaksi social Data obyektif: . kegelisahan . berkurang kesadaran diri 10. shoping .Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral 7. Pertimbangan rencana pulang . hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit . dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh .Perubahan respon sensorik / motorik.penggunaan kontrasepsi oral 12.Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya Data obyektif: . intelektual dan emosional . kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata.Riwayat hipertensi keluarga. stimuli taktil . Marilynn.2000 hal 292) II.Gangguan berespon terhadap panas. Nyeri / kenyamanan Data Subyektif: . Respirasi Data Subyektif: . kesulitan untuk melihat objek..Problem berbicara. pendengaran. edema serebral. kehilangan memori . kata. . Dibuktikan oleh : . warna. Perubahan perfusi jaringan serebral b.Gangguan dalam memutuskan.Perubahan persepsi terhadap tubuh.Timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur .Perubahan tanda-tanda vital Tujuan Pasien / kriteria evaluasi . global / kombinasi dari keduanya. .Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik . kognisi dan fungsi sensori / motorik .Peran pasien menampakan tidak adanya kemunduran / kekambuhan .menentukan regimen medikasi / penanganan terapi .Suara nafas terdengar ronchi /aspirasi 9. perdarahan.Tingkah laku yang tidak stabil.Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa.Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat.Terpelihara dan meningkatnya tingkat kesadaran. menyiapkan makanan .d terputusnya aliran darah : penyakit oklusi.Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas . gelisah.

isoxsuprine. mengidentifikasi objek .Gunakan bed air atau bed khusus sesuai indikasi 3.Topang ekstremitas pada posis fungsional . Gangguan komunikasi verbal b.Bantu meningkatakan fungsi.d kelemahan neuromuskular.Menentukan metode komunikasi untuk berekspresi . . gunakan foot board pada saat selama periode paralysis flaksid. misalnya pandangan kabur.Menampakan kemampuan perilaku / teknik aktivitas sebagaimana permulaannya . · Manitol 2.Gangguan artikulasi . Pertahankan kepala dalam keadaan netral . ketidakmampuan dalam persespi kognitif Dibuktikan oleh : . mengenal kata .Monitor dan catat status neurologis secara teratur . perubahan lapang pandang / persepsi lapang pandang .Ketidakmampuan berbicara atau menulis secara komprehensif.Bantu untuk mengubah pandangan .Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi . keterbatasan rentang gerak sendi.Monitor tanda-tanda vital . supine.Konsul ke bagian fisioterapi . gangguan neuromuskuler. Tujuan pasien / kriteria evaluasi . .Bantu meningkatkan keseimbangan duduk .Pertahankan tirah baring . missal cyclandelate.Ubah posisi tiap dua jam ( prone.Kepala dielevasikan perlahan lahan pada posisi netral. kehilangan tonus otot fasial / mulut. foot drop.Adanya peningkatan kemampuan fungsi perasaan atau kompensasi dari bagian tubuh . kelemahan umum / letih.Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi individu/ penyebab koma / penurunan perfusi serebral dan potensial PTIK .Berikan medikasi sesuai indikasi : · Antifibrolitik.ketidakmampuan moduasi wicara .Ketidakmampuan dalam bergerak pada lingkungan fisik : kelemahan. Ketidakmampuan mobilitas fisik b.Intervensi : . Ditandai : . Tujuan Pasien / kriteria evaluasi .Mulai latihan aktif / pasif rentang gerak sendi pada semua ekstremitas .Awasi bagian kulit diatas tonjolan tulang Kolaborasi . termasuk bicara jika pasien mengalami gangguan fungsi .Evaluasi penggunaan alat bantu pengatur posisi .Evaluasi pupil 9 ukuran bentuk kesamaan dan reaksi terhadap cahaya 0 .Terpeliharanya integritas kulit Intervensi : . misal aminocaproic acid ( amicar ) · Antihipertensi · Vasodilator perifer.Bantu memanipulasi untuk mempengaruhi warna kulit edema atau menormalkan sirkulasi . sediakan lingkungan yang tenang .d gangguan sirkulasi serebral. koordinasi. miring ) . penurunan kekuatan otot.Pasien mampu memahami problem komunikasi . .Tidak mampu berbicara / disartria . atur kunjungan sesuai indikasi Kolaborasi .Bantu dalam meberikan stimulasi elektrik .Tidak ada kontraktur.

.Disorientasi waktu. kehilangan kontrol /koordinasi otot Ditandai dengan : ..Evaluasi penurunan visual .d kerusakan neuromuskuler. tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan .Ketidakmampuan mengkoordinasi kemampuan motorik.Bicara langsung kepada pasien dengan perlahan dan jelas .Sediakan metode komunikasi alternatif . tekanan psikologis ( penyempitan lapangan persepsi disebabkan oleh kecemasan) Ditandai . penurunan kekuatan dan ketahanan. perpaduan ( trauma / penurunan neurologi).Kerusakan kemampuan melakukan AKS misalnya ketidakmampuan makan . kesulitan tugas toileting Kriteria hasil: . orang .Kaji kemampuan dantingkat kekurangan (dengan menggunakan skala 1-4) untuk melakukan kebutuhan sehari-hari .Lindungi psien dari temperatur yang ekstrim .Bantu pemahaman sensori . Perubahan persepsi sensori b. Tujuan / kriteria hasil : .Mendemonstrasikan perubahan gaya hidup untuk memenuhi kenutuhan perawatan diri Intervensi: .Beri stimulasi terhadap sisa-sisa rasa sentuhan .Sediakan bel khusus jika diperlukan .Bedakan antara afasia dengan disartria . perubahan proses pikir .Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi tentang kebutuhannya untuk menghindari dan atau kemampuan untuk menggunakan urinal.Ketidakmampuan untuk mengatakan letak organ tubuh .Bicara dengan nada normal Kolaborasi : .d penerimaan perubahan sensori transmisi.Bantu menentukan derajat disfungsi . memasang/melepas baju.Kaji patologi kondisi individual .Mendemonstrasikan perilaku untuk kompensasi Intervensi : .Konsentrasi jelek.mandi.Mengidentifikasi sumber pribadi /komunitas dalam memberikan bantuan sesuai kebutuhan .bedpan.Validasi persepsi pasien 5. Kurang perawatan diri b.Dapat mempertahakan level kesadaran dan fungsi persepsi pada level biasanya. tempat .Sederhanakan lingkungan .Lakukan pendekatan dari sisi yang utuh .Pertahankan kontak mata saat berhubungan .Melakukan aktivitas perwatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri . .Perubahan pola komunikasi .Perubahan pengetahuan dan mampu terlibat .Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasien sendiri. .Menggunakan sumber bantuan dengan tepat Intervensi : .Antisipasi dan sediakan kebutuhan pasien .Konsul dengan ahli terapi wicara 4.Perubahan pola tingkah aku .

D.Rongga mulut terinflamasi Kriteria evaluasi: .Identifikasi pasien yang mengalami mual muntah Kolaborasi: . bising).Kaji dan pantau pernapasan.Pantau BGA dan Hb sesuai indikasi 7.berlemak dan pedas.BB stabil .Tidak terdapat tanda distress pernapasan .Pantau masukan makanan setiap hari ..2000 hal 293-305) BAB IV PENUTUP A.Ekspansi dada simetris . ketidakmampuan mengatasi lendir Kriteria hasil: .Berikan oksigenasi sesuai advis . .Konsultasikan dengan ahli fisioterapi/okupasi 6.Rujuk ahli diit .Berikan supositoria dan pelunak feses . Kadar makanan yang berserat.E dan B6 .Dorong pasien untukmkan diit tinggi kalori kaya nutrien sesuai program . Ciptakan suasana makan yang menyenangkan .Bunyi napas bersih saaatauskultasi . Anjurkan untuk minum banyak dan tingkatkan aktivitas.Penghisapan sekresi .Ukur BB setiap hari sesuai indikasi . reflek batuk dan sekresi .d kerusakan batuk.GDA dan tanda vital dalam batas normal Intervensi: .Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau keberhasilannya.hilang rasa ujung lidah Ditandai dengan: . hindari makanan terlalu manis.Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi jalan napas setiap 4 jam . Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.Vitamin A.Pasien mengungkapkan pemasukan adekuat Intervensi.Pasien dapat berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang nafsu makan . .Pemberian anti emetic dengan jadwal reguler .Keluhan masukan makan tidak adekuat . . Gangguan pemenuhan nutrisi b.Kehilangan sensasi pengecapan . Kolaborasi.Pasang /pertahankan slang NGT untuk pemberian makanan enteral (DoengesE.d reflek menelan turun.Identifikasi kebiasaan defekasi sebelumnya dan kembalikan pada kebiasaan pola normal tersebut. Kesimpulan .Kontrol faktor lingkungan (bau. Marilynn.Pasien memperlihatkan kepatenan jalan napas .Posisikan tubuh dan kepala untuk menghindari obstruksi jalan napas dan memmberikan pengeluaran sekresi yang optimal .

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Persarafan. Kegemukan atau obesitas c. Jakarta : EGC. Keperawatan Kritis Edisi VI Volume II. Transient Ischemic Attack (TIA) Faktor resiko tambahan a. Tuti. disebabkan karena gangguan perdarahan otak. Dari . inc. dkk. 1997. Jakarta : EGC. Penyakit paru-paru menahun B. Diabetes Melitus c. Saran Dari uraian diatas dapat kami sarankan sebaiknya para pembaca khususnya perawat dengan kasus stroke mengetahui tentang: Faktor-faktor resiko yang dapat ditemui pada klien dengan stroke laboratorium yang perlu dilakukan Cara penatalaksanaan pada stroke. Neurogeriatri. Faktor-faktor risiko yang dapat ditemui pada klien dengan stroke yaitu: Faktor risiko utama a.com/2008/06/asuhan-keperawatan-klien-denganstroke. New York : William Morrow and Company. Hudak Gallo. Jakarta : EGC. A. Stroke juga menjadi salah satu penyebab kematian dan kecacatan neurologis yang utama. Pahria. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3.html Pendahuluan data Salah satu cermin keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia dapat dilihat dari meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia yaitu 67 tahun untuk wanita dan 63 tahun untuk pria yang mencapai 19 juta jiwa atau 8. Marilynn E. 2001. Penyakit Jantung d. 1996. DAFTAR PUSTAKA Ancowitz. Penyakit darah tertentu seperti polisitemia dan leukemia g. yaitu: Infark Ischemik (Stroke non Hemoragi) Hal ini terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah otak Perdarahan (Stroke Hemoragi) Terjadi pecahnya pembuluh darah otak. Riwayat keluarga dengan stroke e.blogspot. Hipertensi b. Stroke dibagi menjadi 2 golongan. Lumbantobing. The Stroke Book. Doengoes. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2000. http://fijaytrangkil.5% dari penduduk Indonesia. Kadar asam urat darah tinggi h. Lanjut Usia f.Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat. 1993. Merokok d. Kadar lemak darah yang tinggi termasuk kolesterol dan trigliserida b.

dapat mengembangkan ataupun memfasilitasi pembentukan kelompok usia lanjut binaan sebagai suatu wadah kegiatannya sebagai model kegiatan dalam rangka peningkatan kualitas hidup usia lanjut. perlu dilakukan pengkajian kebutuhan kesehatan usia lanjut. Namun kondisi saat ini menyebabkan para anggota keluarga banyak yang bekerja maupun mempunyai kegiatan di luar rumah menyebabkan para usia lanjut merasa tersisihkan. Terutama penyakit yang berhubungan dengan faktor usia seperti tekanan darah tinggi. namun tidak tertutup kemungkinan menyerang meraka yang berusia muda akibat perubahan pola hidup dan gaya hidup. leaflet. usia lanjut dapat saling berdiskusi tentang pengalaman kesehatannya. Bukan hanya itu Yastroki sebagai suatu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli terhadap stroke dan usia lanjut. senam bersama. tidak merokok dan sebagainya agar suatu saat nanti para usia lanjut tidak segera mengalami kepikunan dan masih dapat hidup mandiri bahkan produktif. Diakuinya. yaitu terbentuknya klub stroke berbasis masyarakat bisa . termasuk kebutuhan kesehatannya. untuk menghindarinya stroke perlu dikenali dan dipahami cara pencegahannya melalui pola hidup sehat seperti makan dengan gizi seimbang. Berbgai masalah yang dihadapi usia lanjut anatara lain penyakit yang biasanya betsifat kronis dan memerlukan penanganan speialistik sehingga membutuhkan waktu relatif lama dan biaya tinggi. Sesuai dengan status kesehatan. Menurut Komisaris Utama NSMC Prof Dr Haryono Suyono.jumlah tersebut sebagian besar di antara mereka daya tahan tubuhnya sangat rentan terhadap berbagai serangan penyakit. Untuk mengantisipasi Hal tersebut. berdansa/berjoget atau melakukan kegiatan apa saja yang dibutuhkan. Salah satu cermin keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia dapat dilihat dari meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia yaitu 67 tahun untuk wanita dan 63 tahun untuk pria yang mencapai 19 juta jiwa atau 8. kebutuhan usia lanjut pun dapat berbeda. Di dalam kelompok ini. Dengan demikian mereka tidak merasa kesepian dan akan mendapatkan banyak pengetahuan tentang kesehatan dismping menerima pelayanan kesehatan secara sederhana yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di puskesmas. usia lanjut mempunyai pola hidup yang berbeda satu dengan lainnya. Karena itu para usia lanjut membutuhkan perhatian khusus dari keluarganya dan masyarakat. stroke dan sebagainya. Mengingat hal itu. Stroke merupakan suatu penyakit yang menyerang syaraf otak manusia sehingga mereka yang terkena serangan strokeakan mengalami kelumpuhan sebagian anggota tubuhnya tergantung susunan syaraf bagian mana yang terserang. Terutama penyakit yang berhubungan dengan faktor usia seperti tekanan darah tinggi. pendidikan maupun lingkungannya. sosial budaya. semua orang akan mengalami masa tua dan usia lanjut yang secara alami tidak dapat dihindarkan. Haryono. berharap di masa mendatang dapat dikembangkan berbagai kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia melalui berbagai pelatihan bagi keluarga. saling bertukar pikiran. jantung dan pembuluh darah. Nusantara Stroke & Medical Center menyelenggarakan seminar untuk meminimalkan angka kejadian stroke yang dialami para lanjut usia (lansia) pada tanggal 6 Juli 2004. Keterbatasan gerak dan kelincahannya serta usia pensiun yang menyebabkan usia lanjut cenderung menurun dan kemudian akan mempengaruhi mental serta kehidupan sosialnya. cukup istirahat dan olah raga. serangan jantung. booklet atau poster tentang upaya kesehatan lanjut usia. serangan jantung. serta penyediaan bukubuku. stroke dan sebagainya. Biasanya penyakit ini akan menyerang orang-orang berusia lanjut. petugas panti wreda. Dari jumlah tersebut sebagian besar di antara mereka daya tahan tubuhnya sangat rentan terhadap berbagai serangan penyakit. Karenanya. sehingga apa yang kita cita-citakan. pengasuh usia lanjut.5% dari penduduk Indonesia. kondisi ekonomi. Meski begitu. Pada usia tersebut akan terjadi kemunduran sel-sel yang dapat mempengaruhi fungsi dan kemampuan sistem tubuh termasuk syaraf.

Jumat (22/5). Ia berada di Banjarmasin untuk menghadiri acara sosialisasi perlindungan perempuan lansia dan penyandang cacat tingkat Kota Banjarmasin. Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan RI. tetapi melihat tingkat kesehatan dan kesejahteraan belakangan ini maka lansia merupakan sebuah kehidupan.5 juta.COM] . Makmur Sunusi pada konperensi pers dalam rangka Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) Tahun 2009 di Jakarta.terwujud. RIS http://www.id/read.yastroki. tetapi ada pula lansia walau udah tua tetapi masih produktif. Usia lanjut khususnya perempuan bukan berarti tidak meninggalkan masalah di tengah masyarakat. Sedangkan ramalan pihak badan kesehatan dunia WHO bahwa penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2020 mendatang sudah mencapai angka 11.� kata Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial (Yanrehsos). angka kelahiran sudah tidak terlalu meningkat lagi. yang pada gilirannya akan menimbulkan jumlah penduduk lansia terus membengkak secara drastis. sementara penduduk kategori usia di bawah lima tahun (balita) sebesar 16. Subagio di Banjarmasin. makanya perlu antisipasi dan penanganan dalam menghadapi boom lansia tersebut.34% atau tercatat 28. Kamis (18/9/2008). balitanya tinggal 6.1%. komposisi penduduk Indonesia belakangan ini kian terbalik.8 juta orang. [kpl/rif/foto 22/5/2009 (Kominfo-Newsroom) � Jumlah orang lanjut usia (lansia) di Indonesia saat ini sekitar 16.5%. Menurutnya. Para usia lanjut yang terpaksa harus tinggal di rumah karena lemah atau pasca perawatan dan membutuhkan perawatan kesehatan dapat dibantu dengan ?Perawatan Kesehatan Usia Lanjut di rumah? yang biasa dikenal dengan Home Care melalui pemberdayaan keluarga dan masyarakat. Subagio menjelaskan penduduk yang disebut lansia adalah yang berusia di atas dari 60 tahun. Pada tahun 2005 kondisi komposisi penduduk Indonesia telah berubah yang menjadikan penduduk lansia mencapai 7% dan balita 8.” kata Deputi Bidang Perlindungan Perempuan.9% yang menyebabkan jumlah penduduk lansia terbesar di dunia.or. Pada tahun 1971 lalu penduduk Indonesia yang dikategorikan lansia masih sekitar 4.2%. atau 5. Drs. �Jumlah lansia saat ini sekitar 16.3 juta orang. tetapi jumlah angka harapan hidup yang terus meningkat.Pihak Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia memprediksi akan terjadi lonjakan (boom) jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di negara Indonesia menyusul kian membaiknya tingkat kesejahteraan yang diiringi kian membaiknya pula tingkat derajat kesehatan masyarakat. dan jumlahnya dari tahun ke tahun terus meningkat. Depsos. Namun pada tahun 2000 jumlah lansia Indonesia sudah mencapai tiga kali lipat yakni menjadi 14. termasuk di dalamnya lansia yang masih potensial.5 juta jiwa dari seluruh jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 220 juta jiwa. Menurut Subagio terdapat dua model penanganan lansia.php?id=124 KAPANLAGI. khususnya perempuan di mana usia perempuan akan lebih panjang. “Menjadi lansia bukanlah pilihan. Melihat tingkat kesehatan dan kesejahteraan kian membaik maka angka harapan hidup penduduk Indonesia juga kian meningkat pula. tahun 1980 jumlah lansia masih 7 juta jiwa. Mereka yang masih produktif khususnya perempuan bisa diarahkan ke dalam kegiatan ekonomi produktif. Menurutnya. kemudian tahun 1990 naik menjadi .4 juta orang. ada lansia yang memang tidak produktif ditangani secara khusus.

katanya.depkominfo. Selain itu juga merencanakan untuk mensosialisasikan konsep Menua Secara Aktif. kita punya dua kota perconto. Dikemukakan.34% dari jumlah penduduk di Indonesia. Depsos akan mencoba mencari solusi.Dari jumlah tersebut. keluarga. katanya." kata Asisten Deputi Urusan Perempuan.Lies kembali mengatakan.14%).12 juta orang. 14% di antaranya berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. yaitu di Tulungagung. sebenarnya. mendapatkan pelayanan yang sama. dan Binjai. Lansia dan Penyandang Cacat.6 juta orang. maka seseorang walaupun telah pensiun tetap diusahakan supaya terus aktif. Tangerang. baik yang potensial maupun yang tidak potensial. Jawa Timur. Toni Hartono dalam kesempatan sama mengatakan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. “Dengan konsep Menua Secara Aktif. dalam acara sosialisasi kebijakan penanganan lansia di Yogyakarta. Ia mengatakan. jumlah lansia yang terlayani kurang lebih lima persen dari jumlah lansia terlantar yang menurut data Pusdatin Kesos tahun 2008 sebanyak 1. Jumlah lansia diperkirakan naik mencapai 11.id/berita/bipnewsroom/jumlah-lansia-di-indonesia-165juta-orang/ BEBERAPA wilayah di Indonesia akan mengalami ledakan penduduk lansia (lanjut usia) pada 2010 hingga 2020. untuk kota percontohan. Namun karena terbatasnya anggaran. maka diprioritaskan bagi lansia yang non-potensial atau terlantar. Inten Suweno. Depsos akan melaksanakan launching Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU) Tahun 2009 oleh Menteri Sosial di Puspitek. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2007. "Harus ada upaya antisipasi karena lansia merupakan kelompok umur yang kurang berdaya sehingga menjadi beban masyarakat. http://www. Sumatra Utara. kontribusi Komnas Lansia dalam HLUN antara lain dalam acara Temu Nasional Bina Keluarga Lansia (BKL) yang diselenggarakan BKKBN diminta menjadi pembicara utama yang disampaikan Ketua Komnas Lansia. Karena itu. baik di tengah masyarakat maupun dalam proses pembangunan. Tahun 2010. Namun panti sosial-panti sosial yang jumlahnya sebanyak 243 unit.02%).” katanya. Sabtu (19/12). Ia menjelaskan bahwa pada peringatan HLUN tahun 2009 ini. han. semua lansia yang jumlahnya saat ini sekitar 16. dan pemerintah. Sementara itu Sekjen Komnas Lansia. .go. dan lain-lain. panti jompo. atau yang merupakan daerah paling tinggi jumlah lansianya. Pelayanan tersebut dilakukan melalui pusat-pusat pelayanan sosial.5 juta orang. jumlah lansia di Indonesia mencapai 18. Disusul Provinsi Jawa Tengah (11.96 juta orang. baru bisa menampung sekitar 80 ribuan lansia. dan Bali (11. Lies Rostianty. Jawa Timur (11. di antaranya dengan melakukan pendekatan komunitas dan keluarga. Untuk masalah ini. antisipasi ledakan lansia di Binjai dilakukan dengan model pendekatan senior center. sedangkan tahun 2000 naik menjadi 14 juta jiwa. artinya jangan menunggu kapan masuk panti jompo. diperkirakan jumlah lansia mencapai 23 juta jiwa. dan tahun 2020 menjadi 28 juta orang lebih.16%).

harapan hidupnya mencapai usia 77 tahun (perempuan) dan 75 tahun (laki-laki).Sementara itu.co." http://bataviase. Tingginya harapan hidup itu karena secara geografis.Tinggi harapan hidup Sementara itu. rohani hingga rekreasi."Untuk memberdayakan dan pendampingan terhadap lansia yang ada. misalnya. percontohan di Tulunggagung dilakukan dengan pendekatan homecare. kita memiliki 598 kelompok lansia yang secara rutin kita bina.html . Ketua Pokja Peningkatan. Pemeliharaan Intelegensi Lansia. Pemerintah Kota Yogyakarta Tri Kirana mengatakan tingginya angka lansia di DIY disebabkan karena angka harapan hidupnya juga tinggi.Model itu diterapkan dengan mengumpulkan para lansia dan mereka melakukan kegiatan secara terarah mulai dari kegiatan kesehatan. luas Kota Yogyakarta kecil sehingga akses terhadap fasilitas kesehatan mudah dijangkau. yaitu pendekatan penanganan dengan melibatkan peranan keluarga dan masyarakat.id/detailberita-10423665. Data di Kota Yogyakarta. keterampilan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful