A.

Pendahuluan Setiap mahluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan kehidupannya, karena didalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan kegiatan metabolismenya. Bagi lansia pemenuhan kebutuhan gizi yang diberikan dengan baik dapat membantu dalam proses beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang dialaminya selain itu dapat menjaga kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia. Kebutuhan kalori pada lansia berkurang karena berkurangnya kalori dasar dari kebutuhan fisik. Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk malakukan kegiatan tubuh dalam keadaan istirahat, misalnya : untuk jantung, usus, pernafasan dan ginjal. Berdasarkan kegunaannya bagi tubuh, zat gizi dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu : 1. Kelompok zat energi, termasuk ke dalam kelompok ini adalah :

• Bahan makanan yang mengandung karbohidrat seperti beras, jagung, gandum, ubi, roti,
singkong dan lain-lain, selain itu dalam bentuk gula seperti gula, sirup, madu dan lain-lain.

• Bahan makanan yang mengandung lemak seperti minyak, santan, mentega, margarine, susu
dan hasil olahannya.

2. Kelompok zat pembangun Kelompok ini meliputi makanan – makanan yang banyak mengandung protein, baik protein hewani maupun nabati, seperti daging, ikan, susu, telur, kacangkacangan dan olahannya.

3. Kelompok zat pengatur Kelompok ini meliputi bahan-bahan yang banyak mengandung vitamin dan mineral, seperti buahbuahan dan sayuran.

B. Faktor yang mepengaruhi Kebutuhan Gizi pada Lansia

• Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong. • Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin,
asam, dan pahit.

• Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran. • Rasa lapar menurun, asam lambung menurun. • Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi. • Penyerapan makanan di usus menurun.

C. Masalah Gizi pada Lansia 1. Gizi berlebih Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalai pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan. Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi. 2. Gizi kurang Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi. 3. Kekurangan vitamin Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.

D. Pemantauan Status Nutrisi 1. Penimbangan Berat Badan a. Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali, waspadai peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari 0.5 Kg/minggu. Peningkatan BB lebih dari 0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko terhadap kelebihan berat badan dan penurunan berat badan lebih dari 0.5 Kg /minggu menunjukkan kekurangan berat badan. b. Menghitung berat badan ideal pada dewasa : Rumus : Berat badan ideal = 0.9 x (TB dalam cm – 100) Catatan untuk wanita dengan TB kurang dari 150 cm dan pria dengan TB kurang dari 160 cm, digunakan rumus : Berat badan ideal = TB dalam cm – 100 Jika BB lebih dari ideal artinya gizi berlebih Jika BB kurang dari ideal artinya gizi kurang

2. Kekurangan kalori protein Waspadai lansia dengan riwayat : Pendapatan yang kurang, kurang bersosialisasi, hidup sendirian, kehilangan pasangan hidup atau teman, kesulitan mengunyah, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, sulit untuk menyiapkan makanan, sering mangkonsumsi obat-obatan yang mangganggu nafsu makan, nafsu makan berkurang, makanan yang ditawarkan tidak mengundang selera. Karena hal ini dapat menurunkan asupan protein bagi lansia, akibatnya lansia menjadi lebih mudah sakit dan tidak bersemangat. 3. Kekurangan vitamin D Biasanya terjadi pada lansia yang kurang mendapatkan paparan sinar matahari, jarang atau tidak pernah minum susu, dan kurang mengkonsumsi vitamin D yang banyak terkandung pada ikan, hati, susu dan produk olahannya.

E. Perencanaan Makanan untuk Lansia - Perencanaan makan secara umum 1. Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. 2. Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil. Contoh menu :

• Pagi : Bubur ayam • Jam 10.00 : Roti • Siang : Nasi, pindang telur, sup, pepaya • Jam 16.00 : Nagasari • Malam : Nasi, sayur bayam, tempe goreng, pepes ikan, pisang

3. Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah tinggi. 4. Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang berlemak seperti santan, mentega dll. 5. Bagi pasien lansia yang prose penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

• Makanlah makanan yang mudah dicerna

buah. makanan harus lunak/lembek atau dicincang • Makan dalam porsi kecil tetapi sering • Makanan selingan atau snack. Siapkan makanan dan minuman yang akan diberikan Posisikan pasien duduk atau setengah duduk. F. Batasi minum kopi atau teh. posisi pasien tetap dipertahankan selama ± 30 menit. G. telur. 2. 7. tergantung pada laksatif. dan goring-gorengan • Bila kesulitan mengunyah karena gigirusak atau gigi palsu kurang baik. daging rendah lemak. ingin dimakan. 7.• Hindari makanan yang terlalu manis. Selaraskan kecepatan pemberian makan dengan kesiapan pasien. 3. pemberian makan terlalu cepat atau lambat. susu. atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng . direbus.Perencanaan makan untuk mengatasi perubahan saluran cerna Untuk mengurangi resiko konstipasi dan hemoroid : 1. dan sayuran hijau. Sarankan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi setiap hari. melembutkan feses. Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus. tanyakan Perbolehkan pasien untuk menunjukkan perintah tentang makanan pilihan pasien yang Setelah selesai makan. 5. Cara Memberi Makan Melalui Mulut (oral) 1. boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan. 4. hati. 6. 3. gurih. dan sari buah sebaiknya diberikan 6. Biarkan pasien untuk mengosongkan mulutnya setelah setiap sendokan. karena pasien akan menjadi dan buah-buahan segar. 8. roti dan sereal. 2. bayam. Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan. seperti sayuran Anjurkan pasien untuk minum paling sedikit 8 gelas cairan setiap hari untuk Anjurkan untuk tidak menggunakan laksatif secara rutin . Berikan sedikit minum air hangat sebelum makan. Prinsip Pemberian Makan Melalui Sonde (NGT) .

margarin. 5. minyak ikan. 3. 2. Penting Benar pasien : Pastikan obat diminum oleh pasien yang bersangkutan. Adapun prinsip pemberiannya adalah sebagai berikut : 1. daging ayam. tepung hunkwe. 7. Benar cara pemberian yaitu melalui oral : berikan obat melalui mulut atau sonde. 2. hati. http://www. 3. Pastikan tidak ada udara yang masuk ke dalam sonde pada saat memberi makan atau Periksa kerekatan selang. H. babat. santan. nasi jagung. Bahan makanan sumber protein hewani : Daging sapi. Lakukan perawatan kebersihan mulut dengan sering. 2. kentang. kelapa. Benar obat : obat yang diberikan harus sesuai dengan resep dokter. mie. kelapa parut. bihun. Bahan makanan sumber lemak (zat energi) : Minyak goreng. jika 2 x1 berarti obat diberikan setiap 12 jam sekali. Benar waktu : Pastikan pemberian obat tepat pada jadwalnya. 3. 5. Bahan makanan sumber karbohidrat (zat energi) : nasi. singkong. misalnya 3 x 1 berarti diingat jenis obat antibiotik harus diberikan sampai habis. menit setelah memberi makan. Pastikan pula selang dalam keadaan tertutup selama tidak diberi makan. Prinsip Lima benar Pemberian Obat Oral 1. bubur beras. kacang tanah. kacang merah. oncom. 6. jika selang longgar beritahu perawat.com/lanjut-usia/527-kebutuhan-nutrisi-pada-lansia . air. tempe. Siapkan makanan cair dan minuman hangat Naikkan bagian kepala tempat tidur 30 – 45 derajat pada saat memberi makan dan 30 Bilas selang sonde dengan air hangat terlebih dahulu. tepung terigu. kacang kedelai. tahu. biskuit. obat diberikan setiap 8 jam dalam 24 jam . tepung beras. Benar dosis : jumlah obat yang diberikan tidak dikurangi atau dilebihkan. usus. 4. Bahan makanan sumber protein nabati : Kacang ijo. I. 4.Pemberian makan melalui sonde ditujukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien yang memiliki masalah dalam menelan dan mengunyah makanan. maizena. udang. talas. lemak daging. ikan.smallcrab. seperti pada pasien-pasien stoke. ubi. roti . Laporkan adanya mual dan muntah dengan segera. telur. 4. crakers. Contoh Bahan Makanan untuk Setiap Kelompok Makanan 1.

terapi sudah dapat dimulai dengan cara kombinasi. stroke. Hipertensi atau tekanan darah tinggi sudah menjadi gejala umum penyakit tekanan darah di dunia. Pada mereka yang hamil. Rekomendasi target dari panduan internasional tersebut adalah tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg bagi . penyakit jantung koroner. Pengobatan hipertensi selama ini didasarkan pada penyebabnya. Untuk pengecekan tekanan darah.net . Terapi itu dilakukan pada umumnya dengan cara oral atau obat. bertambahnya jumlah darah yang dipompa jantung. perlu dilakukan dua atau tiga kali pemeriksaan. untuk monoterapi dengan pengobatan tunggal. Untuk satu kali pemeriksaan. JNC-VII-USA pada Mei 2003. dan olahraga. Akibat dari hipertensi bisa beragam. Orang dianggap menderita hipertensi bila tekanan sistolik di atas 140 mmHg (milimeter air raksa) dan atau tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Penanganan hipertensi meliputi kombinasi pemberian obat. penyakit jantung koroner. dan sistem syaraf sipatis. Sebab lainnya adalah faktor keturunan. Panduan penatalaksanaan hipertensi yang disusun WHO. Bahkan. stres. penyakit pada ginjal. Tekanan darah tinggi merupakan peningkatan tekanan darah yang menetap di atas batas normal. dan gemuk. Penyebab tekanan darah yang paling sering adalah aterosklerosis atau penebalan dinding arteri yang membuat hilangnya elastisitas pembuluh darah. Namun. dianggap tak mencukupi karena tekanan darah cenderung berubah-ubah dari jam ke jam. Monoterapi tak cukup memberikan kontrol tekanan darah yang efektif terhadap pasien dengan berbagai faktor risiko seperti diabetes. Responnya pun sangat rendah. dan tekanan mental. pasien lanjut usia. karena umumnya lebih menetap dan membebani kerja jantung. Upaya yang dilakukan selama ini adalah dengan menerapkan terapi kontrol tekanan darah. Kenaikan tekanan darah diastolik dipandang lebih berbahaya daripada sistolik. 2004 oleh: gklinis Terapi Kombinasi pada Hipertensi Gizi. hipertensi pun kerap menghinggapinya. Dalam langkah terapi optimal hipertensi (HOT).Penyebab tekanan darah yang paling sering adalah aterosklerosis atau penebalan dinding arteri yang membuat hilangnya elastisitas pembuluh darah.Terapi Kombinasi pada Hipertensi Selasa. kelenjar adrenal. Dari awal. hanya efektif untuk mengontrol tekanan dengan hasil mencapai 40 persen sampai 50 persen pasien. Ternyata. dan pecahnya pembuluh darah otak. 9 Maret. merekomendasikan pada pasien hipertensi dengan berbagai risiko untuk mencapai target penurunan tekanan darah yang diinginkan. terdapat terapi tunggal dan kombinasi. kelebihan berat badan. terapi tersebut menimbulkan pengaruh yang berbeda pada tiap orang. terapi kombinasi sangat diperlukan. Penderita pun perlu mengontrol tekanan darahnya secara rutin. hipertensi ini bisa juga menyebabkan kematian. dalam penelitian yang dilakukan PT Boehringer Ingelheim (PBI). Karenanya. pengaturan diet. seperti komplikasi pembesaran jantung.

Penelitian European Stroke Prevention Study kedua (ESPS-2) ini meliputi 59 klinik dari 13 negara dengan responden sebanyak 6. suplemen Medika.57204. . Fokusnya adalah pada pengobatan telmisartan dan HCTZ. Selasa. kontrol tekanan darah lebih optimal dibandingkan monoterapi.net/cgi-bin/berita/fullnews. terdapat penurunan risiko stroke menjadi 37 persen. tim peneliti menyimpulkan bahwa ASA dosis rendah dan dipyridamole efektif menurunkan risiko stroke secara jelas (1:1. dan kurang dari 125/85 mmHg pada pasien hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal dan proteinurea yang lebih dari 1 gram per 24 jam. dosisnya lebih kecil daripada dosis monoterapi sehingga efek samping yang terjadi relatif juga lebih rendah. berkurang 18 persen. Keuntungan terapi kombinasi adalah adanya dua zat aktif dalam satu tablet hingga mudah dan praktis dipakai. Terapi kombinasi sangat efektif menurunkan tekanan darah sistolik pada lanjut usia dan pasien dengan berbagai risiko.cgi?newsid1078805826. HC Diener mengawali studi ini secara random. plasebo kontrol.000). dalam seminar yang diselenggarakan Boehringer Ingelheim. Dibandingkan dengan kelompok plasebo. Penyampaian ini dilakukan beberapa waktu lalu di Jakarta. kurang dari 130/85 mmHg pada pasien hipertensi dengan diabetes atau gangguan fungsi ginjal. termasuk risiko stroke dengan kematian (1:100). Artinya. Tak hanya itu saja. Terapi ini menggunakan zat aktif dari berbagai kelas obat antihipertensi dengan efek berbeda tapi saling melengkapi. tentang penggunaan pengobatan kombinasi yang rasional. 10 Februari 2004 Laporan : wed http://www. risiko stroke pada ASA.gizi. risiko stroke sekunder dengan kombinasi kedua pengobatan ini menurunkan risikonya dua kali lipat lebih efektif dibanding terapi tunggal dari kedua pengobatan tersebut. Untuk terapi kombinasi keduanya.602 orang. Seperti yang disampaikan oleh Prof Dr Jose Roesma PhD SpPD-KGH. Terapi kombinasi sangat efektif bagi pasien angiotensin II receptor antagonist (AIIRA) dan diuretik (hydrochlorothiazide-HCTZ). Sumber: Koran Republika. papar Diener. Penelitian di Eropa Dalam penelitian yang dipimpin oleh HC Diener dengan dukungan PBI. "Sedangkan. dipyridamole Iepas lambat dan kombinasi keduanya. Keuntungan utama dari terapi ini adalah biaya terapi yang lebih rendah. penelitian ini menunjukkan. merinci studi pencegahan stroke di Eropa. Pasien dengan terapi kombinasi.pasien tanpa faktor risiko." ujar Jose. Setelah dua tahun. dan pada dipyridamole menjadi 16 persen. dan samar ganda untuk mengetahui efektivitas dan keamanan pemberian ASA dosis rendah. Studi ini membuktikan efektivitas kombinasi dipyridamole lepas lambat dengan ASA (acetyl salicyl acid) dalam mencegah stroke sekunder atau TIA (transiet ischemic attack).

Hemoragik Intraserebral: pendarahan yang terjadi didalam jaringan otak. Stroke Trombotik: proses terbentuknya thrombus yang membuat penggumpalan. Hampir 70% kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi. Hemoragik Subaraknoid: pendarahan yang terjadi pada ruang subaraknoid (ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak). Stroke iskemik yaitu tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti. 2. Hipoperfusion Sistemik: Berkurangnya aliran darah ke seluruh bagian tubuh karena adanya gangguan denyut jantung. Tanda dan Gejala-gejala Stroke Berdasarkan lokasinya di tubuh. yaitu: 1. Stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak. Stroke hemoragik ada 2 jenis. 3. Penyebab.Gejala. Stroke Embolik: Tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah. yaitu : 1. WHO mendefinisikan bahwa stroke adalah gejala-gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan bukan oleh yang lain dari itu. penyempitan atau pecahnya pembuluh darah. 80% stroke adalah stroke Iskemik. Stroke iskemik ini dibagi menjadi 3 jenis. gejala-gejala stroke terbagi menjadi berikut: . 2. dan Akibat Stroke Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu: stroke iskemik maupunstroke hemorragik. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini bisa dikarenakan adanya sumbatan.

93% pengidap penyakit trombosis ada hubungannya dengan penyakit tekanan darah tinggi. terlalu banyak minum alkohol. mendengar. kebingungan. Riwayat stroke dalam keluarga. Bagian sistem saraf pusat : Kelemahan otot (hemiplegia). antara lain Merokok (aktif & pasif). Setelah stroke. 80% pemicu stroke adalah hipertensi dan arteriosklerosis. diabetes. antara lain Hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi). hemineglect. Derita Pasca Stroke Sudah Jatuh tertimpa Tangga Pula. pernafasan dan detak jantung terganggu. 3. sisanya mengalami cacat. merokok dan senang mengkonsumsi makanan yang berlemak. ekspresi wajah terganggu. Kontrasepsi oral. dimana merupakan serangan kecil atau serangan awal stroke. Batang otak. dinyatakan sebagai Transient Ischemic Attack (TIA). Faktor resiko perilaku. lidah lemah. Alkohol. Mendengkur. Menurut statistik.1. Gangguan jantung. 1/3 sisanya --> mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di kasur. Aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah). Pada saat itu. mengecap. Pemicu stroke pada dasarnya adalah. daya ingat menurun. Kurang olahraga. refleks menurun. Faktor Penyebab Stroke Faktor resiko medis. Cerebral cortex: aphasia. Akibat Stroke lainnya: . sehingga banyak penderita Stroke menderita stress akibat kecacatan yang ditimbulkan setelah diserang stroke. Proses alami ini selesai dlm waktu 3 bulan. Kolesterol. Hanya 10-15 % penderita stroke bisa kembali hidup normal seperti sedia kala. Makanan tidak sehat (junk food. kaku. menurunnya fungsi sensorik 2. fast food). dimana terdapat 12 saraf kranial: menurun kemampuan membau.000 penduduk yang terkena stroke. sel otak mati dan hematom yg terbentuk akan diserap kembali secara bertahap. dan melihat parsial atau keseluruhan. 1/3 --> mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang. 1/3 orang yang selamat menjadi tergantung dan mungkin mengalami komplikasi yang dapat menyebabkan kematian atau cacat Diperkirakan ada 500. peribahasa itulah yang tepat bagi penderita Stroke. apraxia. Narkoba. Migrain. Obesitas. Jika tanda-tanda dan gejala tersebut hilang dalam waktu 24 jam. suasana hati yang tidak nyaman (marah-marah). Dari jumlah tersebut: • • • 1/3 --> bisa pulih kembali.

akibat kesibukan yang padat. penghindari stress hingga meminum obat atau suplemen untuk menjaga kesehatan pembuluh darah hingga dapat mencegah terjadinya Stroke. Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga.html [sukasukamu] Stroke Dan Gejalanya yundini3001 Sat. 80-90% bermasalah dalam berpikir dan mengingat. . namun juga dialami oleh warga pedesaan yang hidup dengan serba keterbatasan. Diposkan oleh Petrus di 21:12 http://langgocity. Karena Ancaman stroke hingga merenggut nyawa dan derita akibat stroke. Tak heran semua orang selalu berupaya untuk mencegah Stroke atau mengurangi faktor risiko dengan menerapkan pola hidup sehat. Selain karena besarnya biaya pengobatan paska stroke . Untuk dapat memberikan pertolongan yang maksimal kepada penderita stroke. olahraga teratur. Stroke juga tak lagi menjadi milik warga kota yang berkecukupan .com/2009/03/hidup-sehat-tanpa-stoke. juga yang menderita stroke adalah tulang punggung keluarga yang biasanya kurang melakukan gaya hidup sehat. dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang relatif sangat singkat. membedakan kanan dan kiri. Hampir 85% dari semua stroke dapat DICEGAH . Hidup BEBAS tanpa STROKE merupakan dambaan bagi semua orang. 30 % mengalami kesulitan bicara. Stroke sangat dapat dicegah. menelan.blogspot. kita perlu mengetahui gejala-gejala yang sering terjadi pada serangan stroke. 70% menderita depresi.• • • • 80% penurunan parsial/ total gerakan lengan dan tungkai. namum kini cenderung menyerang generasi muda yang masih produktif. 29 Apr 2006 01:44:41 -0700 Stroke Dan Gejalanya Stroke dengan serangannya yang akut. Stroke tak lagi hanya menyerang kelompok lansia.

Adapun faktor-faktor lain yang juga merupakan resiko tinggi adalah pertambahan usia. serta yang sangat penting adalah hipertensi. merokok.Gejala-gejala stroke diakibatkan kerusakan pada pembuluh darah yang memperdarahi otak. sehingga digolongkan penyakit kronis. Karena stroke disebabkan ganguan pada pembuluh darah. riwayat adanya diabetes mellitus. Kerusakan ini proses kejadiannya membutuhkan waktu lama. riwayat keluarga dengan stroke. maka organ yang dikendalikan . Penyebab yang paling mungkin adalah gaya hidup Anda. Otak adalah organ yang mengatur segala fungsi tubuh. karena stroke. Apabila ada kerusakan pada bagian otak tertentu. seperti banyaknya konsumsi lemak dan kolestrol. selain faktor resiko bawaan misalnya riwayat keluarga hipertensi. kurang makanan berserat seperti sayur dan buah-buahan. bila Anda mengidap diabetes mellitus pastikan Anda dan dokter Anda bekerja sama dengan baik dalam manajemennya. kurang olah raga. jenis kelamin. kelebihan berat badan. pria berisiko sedikit lebih tinggi daripada wanita. konsumsi alkohol. yang memang sudah dimiliki sejak lahir. seperti juga penyakit jantung dapat diturunkan. maka faktor penyebabnya hampir sama sama dengan faktor pada penyakit jantung.

melihat dan mendengar serta gangguan berkemih (inkontinensia urin). . • sulit berbahasa. gangguan proses berpikir. • bila minum atau makan mudah keselek. • bicara tidak keruan. • sulit menelan. tidak merasa separo badan. • lidah mencong bila dijulurkan. gangguan yang disebabkan oleh stroke dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis gangguan seperti gangguan kesadaran. • bicara tidak lancar. pelupa dan lain sebagainya. kelemahan anggota tubuh. Gejala-gejala yang kerap terjadi pada stroke antara lain adalah: • lumpuh separo badan. gangguan sensorik. Sebagai contoh. maka penderitanya menjadi tidak dapat bicara. • terasa kesemutan/terbakar separo badan. jika bagian otak yang mengatur fungsi bicara mengalami gangguan suplai darah. Secara umum. penderita biasanya menjadi tidak sadar dan mengalami henti nafas akibat gangguan pada batang otak. • mulut mencong.oleh bagian otak tersebut akan mengalami gangguan fungsi atau bahkan kematian jaringan. gangguan bicara. Pada serangan stoke berat. Demikian pula halnya jika bagian-bagian lain terganggu. dan dapat mengakibatkan penderitanya menjadi lumpuh separo badan. • bicara pelo. bicara pelo.

• menjadi sering pusing kepala. • penglihatan/pendengaran mengalami gangguan. Setelah satu minggu pasca serangan. stroke tidak hanya mempengaruhi lansia . Namun bila setelah 2 minggu. • tidak dapat memahami tulisan. mungkin penderita mengalami gangguan yang lebih berat sehingga perlu pemeriksaan lanjutan. Dengan penanganan yang segera. sehingga sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah dalam arteri. Sel-sel otak tidak mempunyai cadangan energi seperti halnya sel otot. • kepintaran menurun. Stroke dapat menyerang secara tiba-tiba dan tanpa pertanda sebelumnya.• tidak dapat memahami perkataan orang lain. Perlu diingat. Akibatnya dapat diderita hingga beberapa tahun setelah terjadi. • pelupa. atau bahkan kematian. atau sel lain dalam tubuh. dapat terjadi kerusakan permanen seumur hidup. atau seumur hidup. Namun. tergantung dari kerusakan otak yang diakibatkan oleh stroke. banyak penderita yang terlihat pulih sama sekali sehngga kita boleh optimis bahwa serangan yang ringan. penderita masih memperlihatkan gejala-gejala seperti diatas. kerusakan otak dapat diperkecil semaksimal mungkin. • tidak dapat membaca/menulis. • berjalan sulit. bila terlambat ditangani.

rehabilitasi.com/msg00133. Pencegahan adalah jalan paling bijaksana untuk menghindari stroke. Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu : Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain .html ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI PENGERTIAN Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. dan biaya yang banyak. tekanan darah sama dengan atau diatas 160 / 95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Malah akhir-akhir ini terjadi banyak peningkatan kejadian stroke pada orang-orang muda. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg. KLASIFIKASI Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas : ( Darmojo. Pada populasi lansia. Dampak dari stroke sulit diobati dan memerlukan waktu.namun juga dapat terjadi pada orang-orang muda. (Smeltzer. akibat gaya hidup yang merupakan faktor risiko terjadinya stroke. http://www. 1999 ) Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg.com/sukasukamu@yahoogroups.mail-archive.2001) Menurut WHO ( 1978 ).

prednison. data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut : Faktor keturunan Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi Ciri perseorangan Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah: Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat ) Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan ) Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih ) Kebiasaan hidup Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah : Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ) Kegemukan atau makan berlebihan Stress Merokok Minum alcohol Minum obat-obatan ( ephedrine. Kehilangan elastisitas pembuluh darah Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya. epineprin ) Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah : Ginjal Glomerulonefritis Pielonefritis Nekrosis tubular akut Tumor .ETIOLOGI Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan – perubahan pada : Elastisitas dinding aorta menurun Katub jantung menebal dan menjadi kaku Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.

meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. kelenjar adrenal juga terangsang. yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi. mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Pada titik ini. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh . pada medulla diotak. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal. yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah. suatu vasokonstriktor kuat. yang menyebabkan vasokonstriksi. yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Medulla adrenal mensekresi epinefrin. neuron preganglion melepaskan asetilkolin. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis.Vascular Aterosklerosis Hiperplasia Trombosis Aneurisma Emboli kolestrol Vaskulitis Kelainan endokrin DM Hipertiroidisme Hipotiroidisme Saraf Stroke Ensepalitis SGB Obat – obatan Kontrasepsi oral Kortikosteroid PATOFISIOLOGI / PATHWAY Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor. menyebabkan pelepasan rennin. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis. dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah.

manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. Menurut Rokhaeni ( 2001 ). 1999). Epistaksis. Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. 2001). BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal Glukosa Hiperglikemi ( diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi ) dapat diakibatkan oleh peningkatan katekolamin ( meningkatkan hipertensi ) Kalium serum . Kesadaran menurun. hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah. PEMERIKSAAN PENUNJANG Hemoglobin / hematokrit Untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume cairan ( viskositas ) dan dapat mengindikasikan factor – factor resiko seperti hiperkoagulabilitas. aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer. anemia. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. Gejala yang lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo. Mual Muntah. TANDA DAN GEJALA Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah. yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Gelisah. Konsekuensinya. kelelahan. Sesak nafas. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.tubulus ginjal. pusing Lemas.

Terapi tanpa obat ini meliputi : . batu ginjal / ureter Foto dada Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub. peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi PENATALAKSANAAN Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. pola regangan. perbesaran jantung CT scan Untuk mengkaji tumor serebral. Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi : Terapi tanpa Obat Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. protein. glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes. ensefalopati EKG Dapat menunjukkan pembesaran jantung. Kalsium serum Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi Kolesterol dan trigliserid serum Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler ) Pemeriksaan tiroid Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi Kadar aldosteron urin/serum Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab ) Urinalisa Darah. gangguan konduksi. Asam urat Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi Steroid urin Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme IVP Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal.Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama ( penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik.

Tehnik relaksasi Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan. berenang dan lain-lain Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Terapi dengan Obat Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan . Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain. jogging. dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan ) Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut. juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.Diet Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah : Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh Penurunan berat badan Penurunan asupan etanol Menghentikan merokok Latihan Fisik Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu : Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari. bersepeda. Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu Edukasi Psikologis Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi : Tehnik Biofeedback Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal.

beta blocker. Ca antagonis. dokter ) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan. beta blocker. reserphin. penyekat beta. namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan morbiditas dan mortilitas Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan tingginya tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya. EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE. 1988 ) menyimpulkan bahwa obat diuretika. antagonis kalsium. clonidin. ACE inhibitor Step 2 Alternatif yang bisa diberikan : Dosis obat pertama dinaikkan Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama Ditambah obat ke –2 jenis lain. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita.mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Alpa blocker. penderita diberitahu hasil pengukuran tekanan darahnya Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai tekanan darahnya Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat sembuh. USA. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas kesehatan adalah sebagai berikut : Setiap kali penderita periksa. vasodilator Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuh Obat ke-2 diganti Ditambah obat ke-3 jenis lain Step 4 : Alternatif pemberian obatnya Ditambah obat ke-3 dan ke-4 Re-evaluasi dan konsultasi Follow Up untuk mempertahankan terapi Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan ( perawat. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi ( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION. dapat berupa diuretika . Pengobatannya meliputi : Step 1 Obat pilihan pertama : diuretika. atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita. Ca antagonis. tekanan darah hanya dapat diketahui dengan mengukur memakai alat tensimeter .

usahakan kunjungan lebih sering Hubungi segera penderita. penyakit serebrovaskuler Tanda : Kenaikan TD Nadi : denyutan jelas Frekuensi / irama : takikardia. PENGKAJIAN Aktivitas / istirahat Gejala : Kelemahan Letih Napas pendek Gaya hidup monoton Tanda : Frekuensi jantung meningkat Perubahan irama jantung Takipnea Sirkulasi Gejala : Riwayat hipertensi. Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka sangat diperlukan sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang pemahaman dan pelaksanaan pengobatan hipertensi.Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih dahulu Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup penderita Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita atau keluarga dapat mengukur tekanan darahnya di rumah Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal 1 x sehari atau 2 x sehari Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi. aterosklerosis. efek samping dan masalah-masalah yang mungkin terjadi Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis atau mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan efektifitas maksimal Usahakan biaya terapi seminimal mungkin Untuk penderita yang kurang patuh. penyakit jantung koroner / katup. bila tidak datang pada waktu yang ditentukan. berbagai disritmia Bunyi jantung : murmur Distensi vena jugularis .

depresi. pekerjaan ) Tanda : Letupan suasana hati Gelisah Penyempitan kontinue perhatian Tangisan yang meledak otot muka tegang ( khususnya sekitar mata ) Peningkatan pola bicara Eliminasi Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi. euphoria. lemak dan kolesterol Mual Muntah Riwayat penggunaan diuretic Tanda : BB normal atau obesitas Edema Kongesti vena Peningkatan JVP glikosuria Neurosensori Gejala : Keluhan pusing / pening. diplopia ) .Ekstermitas Perubahan warna kulit. obstruksi. keuangan. suhu dingin( vasokontriksi perifer ). marah. sakit kepala Episode kebas Kelemahan pada satu sisi tubuh Gangguan penglihatan ( penglihatan kabur. pengisian kapiler mungkin lambat Integritas Ego Gejala : Riwayat perubahan kepribadian. faktor stress multiple ( hubungsn. riwayat penyakit ginjal ) Makanan / Cairan Gejala : Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam. ansietas.

hipertensi. cara jalan Tanda : Episode parestesia unilateral transien Pembelajaran / Penyuluhan Gejala : Factor resiko keluarga . afek. iskemia miokard. penyakit jantung. pola nafas.Episode epistaksis Tanda : Perubahan orientasi. mengi ) Sianosis Keamanan Gejala : Gangguan koordinasi. proses pikir atau memori ( ingatan ) Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman Perubahan retinal optic Nyeri/ketidaknyamanan Gejala : nyeri hilang timbul pada tungkai sakit kepala oksipital berat nyeri abdomen Pernapasan Gejala : Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas Takipnea Ortopnea Dispnea nocturnal proksimal Batuk dengan atau tanpa sputum Riwayat merokok Tanda : Distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan Bunyi napas tambahan ( krekles. DM . isi bicara. hipertropi ventricular . vasokonstriksi. penyakit serebrovaskuler. ginjal Faktor resiko etnik. aterosklerosis. penggunaan pil KB atau hormon lain Penggunaan obat / alcohol DIAGNOSA KEPERAWATAN Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload.

reserpin ( Serpasil ) Inhibitor adrenergik yang bekerja secara sentral misalnya klonidin ( catapres ). triamterene ( Dyrenium ). bloker saluran kalsium ( nivedipin. Atenolol ( tenormin ). Bumetanic ( Burmex ) Diuretik hemat kalium misalnay spironolakton ( aldactone ). aktivitas pengalihan Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi Diuretik Tiazid misalnya klorotiazid ( Diuril ).Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam. asam etakrinic ( Edecrin ). hidralasin ( apresolin ). kurangi aktivitas. kualitas denyutan sentral dan perifer Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas Amati warna kulit. metoprolol ( lopressor ). hidrodiuril ). batasi jumlah pengunjung. Kriteria hasil : Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TD Mempertahankan TD dalam rentang yang dapat diterima Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil Intervensi : Pantau TD. verapamil ) Anti adrenergik misalnya minipres. hidroklorotiazid ( esidrix. guanabenz ( wytension ). gunakan manset dan tehnik yang tepat Catat keberadaan. ukur pada kedua tangan. nadolol ( Corgard ). tetazosin ( hytrin ) Bloker nuron adrenergik misalnya guanadrel ( hyloree ). reserpine ( Serpasil ). bendroflumentiazid ( Naturetin ) Diuretic Loop misalnya Furosemid ( Lasix ). quanetidin ( Ismelin ). panduan imajinasi. kelembaban. Anjurkan tehnik relaksasi. klonidin ( catapres ) Vasodilator misalnya minoksidil ( loniten ). nyaman. suhu dan masa pengisian kapiler Catat edema umum Berikan lingkungan tenang. metildopa ( aldomet ) . metildopa ( aldomet ). meninggikan kepala tempat tidur. Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur/kursi Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher. amilioride ( midamor ) Inhibitor simpatis misalnya propanolol ( inderal ).

trimetapan ( arfonad ). nilai-nilai laboratorium dalam batas normal. diazepam. captoten ) Nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral Tujuan : Nyeri atau sakit kepala hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala Pasien tampak nyaman TTV dalam batas normal Intervensi : Pertahankan tirah baring. nitroprusid ( nipride. batuk panjang. nitropess ) Bloker ganglion misalnya guanetidin ( ismelin ). Haluaran urin 30 ml/ menit Tanda-tanda vital stabil . lingkungan yang tenang. loniten Vasodilator oral yang bekerja secara langsung misalnya diazoksid ( hyperstat ). ginjal. ativan. membungkuk Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : analgesik. ACE inhibitor ( captopril. pijat punggung dan leher. tehnik relaksasi. valium ) Resiko perubahan perfusi jaringan: serebral. jantung berhubungan dengan adanya tahanan pembuluh darah Tujuan : Tidak terjadi perubahan perfusi jaringan : serebral. sedikit penerangan Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin Beri tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala seperti kompres dingin pada dahi.Vasodilator kerja langsung misalnya hidralazin ( apresolin ). jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima. tidak ada keluhan sakit kepala. pusing. bimbingan imajinasi dan distraksi Hilangkan / minimalkan vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala misalnya mengejan saat BAB. posisi nyaman. minoksidil. antiansietas (lorazepam. ginjal.

Intervensi : Pertahankan tirah baring Tinggikan kepala tempat tidur Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan. hindari kelelahan Amati adanya hipotensi mendadak Ukur masukan dan pengeluaran Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai program Pantau elektrolit. Berikan bantuan sesuai kebutuhan Instruksikan pasien tentang penghematan energy Kaji respon pasien terhadap aktifitas Monitor adanya diaforesis. berikan waktu istirahat sepanjang siang atau sore Gangguan pola tidur berhubungan adanya nyeri kepala Tujuan : Tidak terjadi gangguan pola tidur setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Mampu menciptakan pola tidur yang adekuat 6 – 8 jam per hari Tampak dapat istirahat dengan cukup TTV dalam batas normal . pusing Observasi TTV tiap 4 jam Berikan jarak waktu pengobatan dan prosedur untuk memungkinkan waktu istirahat yang tidak terganggu. tidur. BUN. kreatinin sesuai program Intoleransi aktifitas berhubungan penurunan cardiac output Tujuan : Tidak terjadi intoleransi aktifitas setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Meningkatkan energi untuk melakukan aktifitas sehari – hari Menunjukkan penurunan gejala – gejala intoleransi aktifitas Intervensi : Berikan dorongan untuk aktifitas / perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi. duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia Ambulasi sesuai kemampuan.

Intervensi : Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman Beri kesempatan klien untuk istirahat / tidur Evaluasi tingkat stress Monitor keluhan nyeri kepala Lengkapi jadwal tidur secara teratur Berikan makanan kecil sore hari dan / susu hangat Lakukan masase punggung Putarkan musik yang lembut Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan adanya kelemahan fisik. Tujuan : Perawatan diri klien terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam Kriteria hasil : Mampu melakukan aktifitas perawatan diri sesuai kemampuan Dapat mendemonstrasikan tehnik untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri Intervensi : Kaji kemampuan klien untuk melakukan kebutuhan perawatan diri Beri pasien waktu untuk mengerjakan tugas Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan klien / atas keberhasilannya Kecemasan berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya hipertensi yang diderita klien Tujuan: Kecemasan hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 Jam Kriteria hasil : Klien mengatakan sudah tidak cemas lagi / cemas berkurang Ekspresi wajah rilek TTV dalam batas normal .

Diskusikan pentingnya mempertahankan berat badan stabil Diskusikan pentingnya menghindari kelelahan dan mengangkat berat Diskusikan perlunya diet rendah kalori. jumlah yang diperbolehkan.Intervensi : Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku misalnya kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian. penurunan toleransi sakit kepala. tidak penuh dengan stress Diskusikan tentang obat-obatan : nama. pusing. peka rangsang. waktu pemberian. tujuan dan efek samping atau efek toksik Jelaskan perlunya menghindari pemakaian obat bebas tanpa pemeriksaan dokter Diskusikan gejala kambuhan atau kemajuan penyulit untuk dilaporkan dokter : sakit kepala. dosis. rendah natrium sesuai program Jelaskan penetingnya mempertahankan pemasukan cairan yang tepat. ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas atau tujuan hidup Kaji tingkat kecemasan klien baik secara verbal maupun non verbal Observasi TTV tiap 4 jam Dengarkan dan beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya Berikan support mental pada klien Anjurkan pada keluarga untuk memberikan dukungan pada klien Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit Tujuan : Klien terpenuhi dalam informasi tentang hipertensi setelah dilakukan tindakan ekperawatan selama 1 x 24 jam Kriteria hasil: Pasien mengungkapkan pengetahuan akan hipertensi Melaporkan pemakaian obat-obatan sesuai program Intervensi : Jelaskan sifat penyakit dan tujuan dari pengobatan dan prosedur Jelaskan pentingnya lingkungan yang tenang. keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan Catat laporan gangguan tidur. pembatasan seperti kopi yang mengandung kafein. pingsan. teh serta alcohol . peningkatan keletihan. kerusakan konsentrasi. mual dan muntah.

Dokter juga harus melakukan edukasi terus-menerus untuk menghindari terjadinya hipertensi sistolik. Jenis yang demikian lebih sulit untuk diobati dibanding hipertensi esensial atau pada pasien yang lebih muda. Keadaan ini terjadi karena hilangnya elastisitas arteri atau akibat penuaan. penyekat beta. Karenanya. Obat-obat antihipertensi terbaru yang bekerja pada sistem renin-angiotensin-aldosteron. Sebagai konsekuensinya. Kontrol tekanan darah yang ketat pada pasien diabetes berhubungan dengan pencegahan terjadinya hipertensi yang tak terkendali. kontrol tekanan darah merupakan kunci utama menjaga kesehatan kardiovaskular. Isolated systolic blood pressure Seperti telah disebutkan.Jelaskan perlunya menghindari konstipasi dan penahanan Berikan support mental. Cipto Mangunkusumo. Tekanan sistolik juga menjadi prediktor yang lebih sensitif dibanding tekanan diastolik. kontrol tekanan darah menjadi perawatan utama orang-orang lanjut usia. terutama aorta. yang terutama menyerang di atas usia 75 tahun. namun pengertian lanjut usia (lansia) ialah manusia di atas usia 60 tahun. Hipertensi merupakan gejala yang paling sering ditemui pada orang lanjut usia dan menjadi faktor risiko utama insiden penyakit kardiovaskular. dan Angiotensin- . berat badan seiring usia juga akan meningkatkan risiko terjadinya PJK setiap kenaikan lima tahun. ginjal. risiko infark miokard. Jakarta mengungkapkan bahwa pada orang tua umumnya terjadi hipertensi dengan sistolik terisolasi yang berhubungan dengan hilangnya elastisitas arteri atau bagian dari penuaan. Manajemen dan pencegahan Beberapa penelitian. konseling dan penyuluhan pada keluarga klien ~ oleh nurse87 di/pada Juni 17.com/2009/06/17/empat-belas-masalah-kesehatan-utamapada-lansia/ Hipertensi pada lansia Kontrol Ketat Cegah Komplikasi RACIKAN UTAMA . Ditulis dalam Keperawatan Tag: Keperawatan Gerontik http://nurse87. Jose Roesma. pengukuran tekanan sistolik yang meningkat ini lebih signifikan karena dapat menunjukkan terjadinya kekakuan arteri besar. Tidak ada standar tertentu untuk menentukan kategori umur yang dikatakan tua. efeknya bisa membuat kerusakan jantung. Isolated systolic hypertension (ISH) didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik di atas sama dengan 140 mmHg pada tekanan diastolik kurang dari sama dengan 90 mmHg. Berdasarkan Global Risk Assesment Scoring Chart dari penelitian Framingham. para lansia ternyata lebih sering mengalami hipertensi sistolik dan pengobatan hipertensi sampai saat ini masih banyak yang terfokus pada tekanan diastolik <90 mmHg tanpa memikirkan angka sistoliknya. yang pada akhirnya akan menurunkan volume dan tekanan diastolik.Edisi Juni 2007 (Vol. sehingga banyak lansia yang tidak terdeteksi menderita hipertensi sistolik. serta penyakit kardiovaskular lainnya. 2009. serta otak. Hipertensi juga menjadi faktor utama terjadinya penyakit jantung koroner. Pada orang-orang tua.11) Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun. Penelitian juga menyebutkan bahwa menurunnya tekanan sistolik dapat menyebabkan penurunan curah jantung.wordpress.6 No. Dalam keadaan ini aorta menjadi kaku dan akhirnya menyebabkan meningkatnya tekanan sistolik dan penurunan volume aorta. misalnya Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) inhibitor dan angiotensin-receptor blocker memiliki potensi perbaikan kardiovaskular pada orang tua akibat penurunan tekanan darah efektif. misalnya dari Syst-Eur 1 dan 2 dan penelitian lain di Jepang dan Australia menunjukkan bahwa tata laksana hipertensi sistolik yang optimal ialah penggunaan diuretik. dari divisi nefrologi ilmu penyakit dalam FKUI-RSUPN dr.

menyerupai pemberian Ca blocker. Pendekatan untuk lansia Para dokter harus benar-benar yakin bahwa data pengukuran yang didapat ialah valid. Tekanan darah di bawah 140 mmHg sistolik (jika memang benar sebesar ini) akan jauh mengurangi risiko stroke. terutama diuretik. kelompok usia yang rentan penyakit jantung koroner. Kontrol tekanan darah yang ketat pada pasien diabetes berhubungan dengan pencegahan terjadinya hipertensi yang tak terkendali dan beberapa penyakit lainnya. mencegah akumulasi kolagen aorta. Penelitian tentang agen antihipertensi dengan mekanisme RAAS ini (ARB) monoterapi memang banyak dilakukan dan terbukti bersifat renokardioprotektif dengan mekanisme perbaikan fungsi endotel. Kemungkinan hanya sekitar 40% pasien pada kelompok lansia yang akan mengalami penurunan tekanan darah sampai di bawah 140 mmHg setelah penggunaan antihipertensi ARB. tidak sekadar menurunkan tekanan darah. tapi dari segi tolerabilitasnya juga. dalam rangka menurunkan tekanan darah. efek proteksi vaskular dari ARB juga berlaku untuk mengurangi kemungkinan terjadiya stroke. Terapi seperti ini tergolong aman dan efektif. dan penyakit vaskular perifer. Tercapainya tujuan ini akan tergantung tidak hanya berdasarkan efikasi obat antihipertensi. termasuk saat kontrol rawat jalan. gejala-gejala hipertensi tetap muncul. misalnya retinopati diabetik. Kontrol kadar kalium hingga tidak boleh di bawah 3. Seperti guidelines antihipertensi (lihat tabel) yang tercantum berikut. Sementara penelitian dari The Irbesartan Diabetic Nephropathy Trial (IDNT) menyatakan bahwa agen antihipertensi. namun angka di bawah 140 ini akan sangat mempengaruhi jenis pengobatan dan edukasi ke pasien. Selain itu. mengingat batas-batas penentuan kriteria seputar hipertensi sangat berhubungan dengan angka. Jika ternyata dalam terapi. Pedoman ini mengadopsi pendekatan tepat sasaran untuk lansia guna menurunkan risiko penyakit jantung koroner seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini dapat dicapai dengan menjaga tekanan darah di angka kurang dari 150/85 mmHg (kontrol ketat) atau kurang dari 180/105 mmHg (kontrol tidak terlalu ketat). asalkan sesuai indikasi. atau bahkan terjadi penyakit-penyakit kardiovaskular lainnya. Guidelines yang banyak dipakai untuk tata laksana hipertensi pada lansia diambil dari JNC 7 dan ESH/ESC 2003. sedangkan ACE-inhibitor bekerja menghambat kerja enzim. namun tetap saja terapi yang terbaik kemungkinan ialah mencegah hipertensi sebelum usia senja guna mengurangi risiko penyakit jantung koroner sejak dini. serta menurunkan tekanan dinding pembuluh darah pada diet rendah garam. Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun. misalnya diabetes mellitus. dibanding ACE-inhibitor dan Calcium channel blocker. atau diabetes yang berat. Karenanya.receptor blockers (ARB). khususnya Angiotensin II Antagonist Losartan (RENAAL) dapat menurunkan endpoint pasien dengan Non Insulin-dependent Diabetes Mellitus. pengurangan kemampuan penglihatan. Pada orang tua. ARB memblok konjugasi. ARB dan ACE-inhibitor digunakan secara bersama-sama. Meskipun tidak ada makna penting lainnya. diperlukan manajemen titrasi dosis naik perlahan-lahan ditambah kombinasi obat lainnya. Pemberian diuretik harus dimulai dari level rendah. Pada beberapa keadaan penggunaan obat selain diuretik sebagai terapi inisial sah-sah saja dilakukan. lebih baik daripada ACE-inhibitor.5 mg atau yang setara dengannya. beta blocker. sehingga pengobatannya harus fokus untuk proteksi kardiovaskular secara umum. ARB ini dinyatakan renoprotektif. keduanya bekerja dalam sistem renin angiotensin aldosteron. misalnya Hydrochlorotiazide (HCT) 12.5 mg/dl harus dilakukan. menurunkan kekakuan arteri karotis. dan kejadian kardiovaskular lain pada lansia. Tujuan utama penatalaksanaan hipertensi pada lansia. sebagian besar akan gagal. Perspektif terkini Penelitian dari The Heart Outcomes Prevention Evaluatin (HOPE) menyatakan bahwa agen antihipertensi memang terbukti dapat mencegah pula penyakit kardiovaskular lainya. Jika angka ini dinilai kurang efektif. serangan stroke. sebenarnya juga tidak hanya menurunkan tekanan darah semata. terutama yang berusia di atas 80 tahun. Bekerja di sistem renin-angiotensin-aldosteron. sisanya. Terdapat konsensus bahwa tekanan darah pada lansia harus di bawah angka 140/90 mmHg untuk kategori usia 60-79 tahun. tidak langsung menambah dosisnya. Kontrol ketat dilakukan pada pasien yang memiliki risiko besar untuk memiliki komplikasi penyakit lainnya. tapi dikombinasikan dengan pemberian dosis rendah CCB. gagal jantung. Selain itu penggunaan diuretik boros kalium juga akan menyebabkan hipokalemia jika tidak diberikan secara hati-hati. atau ARB. sehingga mempengaruhi keberhasilan dari seluruh tata laksana. sehingga gabungan keduanya ialah penurunan tekanan darah dengan efek yang juga renokardioprotektif. Selain itu. sebisa mungkin perlu diperhitungkan berbagai efek samping yang kemungkinan akan sangat mengganggu pasien. penatalaksanaan hipertensi terutama ditujukan pada pasien lanjut usia dengan target tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg. Valsartan dan Losartan telah terbukti mampu menurunkan tekanan sistolik pembuluh darah. sering ditemui gangguan pada sistem kardiovaskular berupa gagal jantung. ACE-inhibitor. penggunaan obat harus tetap dilanjutkan tanpa mengurangi dosis yang sedang . infark miokard. ARB akan meningkatkan volume sirkulasi dan merangsang sintesis kolagen akibat peningkatan jumlah sel otot polos pada pembuluh darah. ARB yang dikombinasi dengan diuretik juga telah terbukti memiliki efek yang sangat baik.

mie. keju. Berkurangnya aktifitas tubuh sehingga kebutuhan energi juga menurun. Makanan yang boleh: minyak margarine dan mentega tanpa garam. f. Kemungkinan gejala ini akan mereda setelah beberapa minggu atau lebih. gula yang diolah tanpa garam seperti macaroni. Makanan yang tidak boleh: ikan asin. pindang. ikan telur dan susu. kacang tanah dan sayuran yang dimasak/ diawetkan dengan garam dapur. protein dan mineral diutamakan untuk mencegah proses penurunan fungsi tubuh. singkong.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=491 diberikan. Gula cepat diserap (absorpsi) sehingga mengakibatkan perubahan kadar gula darah dan memungkinkan terjadinya obesitas (kegemukan) dan diabetes. kentang. Makanan yang boleh: daging. cenderung mengakibatkan kanker usus.http://www. kornet. dosisnya ditambah. biscuit dll. telur asam. biscuit dan kue yang dimasak dengan garam dapur. Kelebihan lemak akan disimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk timbunan lemak yang menyebabkan kegemukan. Sedangkan pada lansia konsumsi zat zat gizi lain seperti vitamin. (farid) A. namun metode agresif seperti ini juga akan menambah efek samping. sehingga beberapa ahli tidak terlalu suka melakukannya. Makanan yang tidak boleh: Roti. e. c. Makanan yang boleh: Beras. Bisa saja terapi terus digiatkan. Makanan yang tidak boleh: margarine dan mentega biasa . b. Lemak dengan kandungan asam lemak jenuh yang tinggi memicu penyakit jantung dan pembuluh darah.E dan K. Lemak juga berfungsi sebagai cadangan energi. Gula tidak mengandung gizi kecuali zat tenaga. Protein Fungsi dari protein sebagai zat pembangun dari sel tubuh. Kandungan Gizi Yang Diperlukan Lansia 1.majalah-farmacia. dendeng. 2. Lemak Lemak berfungsi sebagai pelarut vitamin A. membentuk tekstur makanan dan memberi rasa kenyang yang lama. b. Karbohidrat Fungsi karbohidrat adalah penyedia energi. Berkurangnya produksi enzim mengakibatkan pencernaan lemak tidak sempurna.D. g. s3ehingga membebani usus dan lambung yang akan mengakibatkan gangguan pada usus. ebi. mengingat: a. Pada lansia lemak sebaiknya dibatasi . semua kacang-kacangan dan sayuran. Pada lansia sebaiknya memilih daging unggas-unggasan daripada daging sapi atau kambing dan hendaknya tidak makan lebih dari 2 potong daging pada sehari. d. Pada lansia konsumsi gula dibatasi karena: a. udang. terigu. 3.

Pada lansia. sayuran hijau. goring-gorengan dll. garam dapur dianjurkan ½ sendok teh. Mineral dan Air Fungsi dari mineral yaitu pembentukan jaringan tubuh.4. Petunjuk Penggunaan Garam untuk Penderita hipertensi Untuk penderita hipertensi terdapat 3 diet: a. kopi dan coklat. kalsium sangat penting karena . Diet rendah garam II: Ditujukan untuk penderita hipertensi sedang (100-114 mmHg). Lansia hendaknya minum 6-8 gelas sehari mengingat fungsi ginjal menurun dan melancarkan BAB. Serat Serat tidak dapat dicerna. c. wasir. d. memelihara keseimbangan asam basa dll. C. terutama lansia wanita mudah terjadi ostoporosis akibat menopause. kanker usus. buah-buahan yang diawtkan oleh garam dan soda. Contoh makanan: beras merah Makanan yang boleh: semua buah yang tidak diawtkan garam/ soda. Hendaknya lansia makan dengan porsi kecil tapi sering b. Vitamin Fungsi dari vitamin yaitu untuk mempercepat metbolisme. 6. b. TIPS Pemberian Makanan Bagi lansia Dengan Hipertensi a. Kandungan Gizi Yang Diperlukan Lansia 1. B. Karbohidrat . Makanan yang tidak boleh: durian. mempertahankan fungsi jaringan tubuh dan mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan jaringan. Garam dianjurkan ¼ sendok the garam dapur. A. Diet rendah garam 1 : untuk penderita hipertensi berat dianjurkan untuk tidak menambahkan garam dapur dalam makanan. Hindari makanan yang terlalu manis. gurih. Serat ada 2 jenis: a. Tdak larut dalam air yang berfungsi melancarkan BAB. Contoh makanan yang tingggi kalsium adalah susu. penyakit jantung dan kegemukan bila kekurangan serat. Larut dalam air yang berfungsi mengikat kolesterol b. Diet rendah garam III: Ditujukan untuk penderita hipertensi ringan (diastole kurang dari 100 mmHg). kedelai dan rumput laut. Lansia hendaknya mengurangi natrium dengan cara membatasi garam dapur. air putih. terutama vitamin B1 agar tubuh selalu bugar. Pada lansia vitamin sangat penting. 5. ikan yang dimakan dengan tulangnya. Makan makanan yang lembek untuk lansia yang kondisi giginya kurang baik. maka serat tidak mengandung gizi tetapi tetap dibutuhkan untuk mencegah sembelit. Makanlah makanan yang mudah dicerna c.

Protein Fungsi dari protein sebagai zat pembangun dari sel tubuh. Gula tidak mengandung gizi kecuali zat tenaga. terigu. Makanan yang boleh: Beras. g. Makanan yang tidak boleh: Roti. Makanan yang boleh: minyak margarine dan mentega tanpa garam. gula yang diolah tanpa garam seperti macaroni. cenderung mengakibatkan kanker usus. ikan telur dan susu. 2. Pada lansia konsumsi gula dibatasi karena: a. terutama vitamin B1 agar tubuh selalu bugar. semua kacang-kacangan dan sayuran. f. singkong. Lemak Lemak berfungsi sebagai pelarut vitamin A. mempertahankan fungsi jaringan tubuh dan mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan jaringan. biscuit dll. Makanan yang boleh: daging. telur asam. kornet. 3. Makanan yang tidak boleh: ikan asin. membentuk tekstur makanan dan memberi rasa kenyang yang lama.D.Fungsi karbohidrat adalah penyedia energi. c. d. Berkurangnya produksi enzim mengakibatkan pencernaan lemak tidak sempurna. mie. Pada lansia sebaiknya memilih daging unggas-unggasan daripada daging sapi atau kambing dan hendaknya tidak makan lebih dari 2 potong daging pada sehari.E dan K. e. Pada lansia lemak sebaiknya dibatasi . mengingat: a. b. protein dan mineral diutamakan untuk mencegah proses penurunan fungsi tubuh. ebi. udang. Pada lansia vitamin sangat penting. biscuit dan kue yang dimasak dengan garam dapur. Lemak dengan kandungan asam lemak jenuh yang tinggi memicu penyakit jantung dan pembuluh darah. Makanan yang tidak boleh: margarine dan mentega biasa 4. Gula cepat diserap (absorpsi) sehingga mengakibatkan perubahan kadar gula darah dan memungkinkan terjadinya obesitas (kegemukan) dan diabetes. Sedangkan pada lansia konsumsi zat zat gizi lain seperti vitamin. b. Lemak juga berfungsi sebagai cadangan energi. kacang tanah dan sayuran yang dimasak/ diawetkan dengan garam dapur. keju. Contoh makanan: beras merah . Berkurangnya aktifitas tubuh sehingga kebutuhan energi juga menurun. pindang. s3ehingga membebani usus dan lambung yang akan mengakibatkan gangguan pada usus. Kelebihan lemak akan disimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk timbunan lemak yang menyebabkan kegemukan. Vitamin Fungsi dari vitamin yaitu untuk mempercepat metbolisme. kentang. dendeng.

Mineral dan Air Fungsi dari mineral yaitu pembentukan jaringan tubuh. 5. Lansia hendaknya minum 6-8 gelas sehari mengingat fungsi ginjal menurun dan melancarkan BAB. Pada lansia. C. Diet rendah garam III: Ditujukan untuk penderita hipertensi ringan (diastole kurang dari 100 mmHg). garam dapur dianjurkan ½ sendok teh. Hindari makanan yang terlalu manis.Makanan yang boleh: semua buah yang tidak diawtkan garam/ soda. Larut dalam air yang berfungsi mengikat kolesterol b. goring-gorengan dll. terutama lansia wanita mudah terjadi ostoporosis akibat menopause. sayuran hijau. ikan yang dimakan dengan tulangnya. b. d. Diet rendah garam 1 : untuk penderita hipertensi berat dianjurkan untuk tidak menambahkan garam dapur dalam makanan. Serat ada 2 jenis: a. c. B. Lansia hendaknya mengurangi natrium dengan cara membatasi garam dapur. Hendaknya lansia makan dengan porsi kecil tapi sering b. Tdak larut dalam air yang berfungsi melancarkan BAB. TIPS Pemberian Makanan Bagi lansia Dengan Hipertensi a. Garam dianjurkan ¼ sendok the garam dapur. memelihara keseimbangan asam basa dll. kanker usus. Makanan yang tidak boleh: durian. buah-buahan yang diawtkan oleh garam dan soda. kedelai dan rumput laut. wasir. air putih. gurih. Petunjuk Penggunaan Garam untuk Penderita hipertensi Untuk penderita hipertensi terdapat 3 diet: a. Makan makanan yang lembek untuk lansia yang kondisi giginya kurang baik. maka serat tidak mengandung gizi tetapi tetap dibutuhkan untuk mencegah sembelit. Diet rendah garam II: Ditujukan untuk penderita hipertensi sedang (100114 mmHg). Contoh makanan yang tingggi kalsium adalah susu. kopi dan coklat. 2008 by harnawatiaj . Posted on Maret 9. Makanlah makanan yang mudah dicerna c. kalsium sangat penting karena . Serat Serat tidak dapat dicerna. 6. penyakit jantung dan kegemukan bila kekurangan serat.

tingkah laku aneh.Taruh es pada kulit sambil menyemprot dengan air biasa. Tujuannya adalah menurunkan suhu tinggi secepat mungkin. Riwayat pasien menunjukkan terpajan pada peningkatan suhu atau latihan berlebihan pada saat panas yang ekstrem. 6. Heat stroke karena aktivitas arau latihan dalam suhu panas dan kelembapan ekstrem.Posisikan kipas angin listrik sehiugga menghembus pada pasien untuk menambah pembuangan panas dengan konveksi dan evaporasi 5. c. Diagnosa keperawatan nieliputi tidak efektif termore gulasi yang berhubungan dengan ketidakmarnpuan meka nisme homeostatik tubuh untuk mempertahankan suhu tubuh normal. terutaina ketika diikuti oleh kelembanan yang tinggi. mereka yang mendapat pengobatan tertentu (tranquilizer utama.Masase pasien untuk meningkatkan sirkulasi dan niempertahankan vasodilatasi kutan selarna prosedur pendinginan 4. mereka yang tidak dapat merawat diri sendiri.Berikan perawatan pendukung sesuai ketentuan : Dialisis untuk gagal ginjal Antikonvulsan untuk kontrol kejang 11. kering.takipnea.Berikan oksigen untuk menyuplai kebutuhan jaringan yang meningkat karena kondisi hipemetabolik. koma). mereka dengan penyakit kronik dan kelemahan. hipertermia mungkin teijadi kembali secara spontan dalam 3-4 jam. biasanya anhidrosis (tidak ada keringat). Seseorang dengan risiko ini adalah mereka yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan iklim panas. kulit panas. Penatalaksanaan Kedaruratan 1. penyekat beta-adrenergik). Pada saat mengkaji pasien.Bilas lambung atau kolon dengan salin es yang mungkin diresepkan jika suhu tidak turun 3. 8.Teruskan memantau EKG untuk kcmungkinan infark miokard. dapat juga menyebabkan kematian. 7. Biasanya cerjadi selama keadaan panas.Ukur haluaran urine. infark miokard.Mulal infus IV langsung untuk meagganti cairanyang hilang dan memelihara sirkulasi adekuat. gejala yang adalah: disfungsi sistem saraf pusat yang dalam (dimanifestasikan dengan konfusi. berikan dengan pelan karena bahaya dan cedera miokardia dan suhu yang tinggi dan fungsi ginjal yang -kurang baik.Gunakan Selimut Pendingin d. Kebanyakan kernatian yang berkaitan dengan panas teijadi pada lansia karena sistem sirkulasi mereka tidak mampu mengkompensasi stress yang ditimbulkan oleb panas.Pantau pasien dengan cermat terhadap tanda vital. 12. peningkatan suhu tubuh (40. Penanganan simultan ber fokus pada stabiitasi oksigenasi melalui ABC pendukung hidup dasar. Heat stroke menyebabkan cedera termal pada tingkat sel dan menyebabkan kerusakan luas pada jantung. Gunakan satu atau lebih tindakan sebagai berikut : a. delirium. Pertimbangan Gerontologik. dan takikardi. EKG.Gunakan pakaian dingin dan handuk atau usap busa dengan air dingin kontinu b. hati. ginjal dan koagulasi darah. 9.Lepaskan pakaian pasien 2.60C atau lebih).Heat stroke adalah kedaruratan medis akut yang disebab kin oleh kegagalan mekanisme pengaturan panas tubuh.Turunkan suhu inti (internal) sampal dengan 390C secepat mungkin. kejang mungkin diikuti dengan hipertermia berulang. lansia. tekanan vena sentral dan perubahan tingkat kesadaran derigan perubahan cepat dalarn suhu tu buh.Kalium untuk hipokalemia dan natrium bikarbonat wink mengoreksi asidosis metabolik. diuretik.Lakukan serial uji untuk gangguan perdarahan (koagulopati inravaskular diseminata) dan enzim serum untuk .dan disritmia. Pendinginan dengan memberikan cairan dan perifer ke pusat. Bantu intubasi pasien dengan cuf selang endotrakea dan pasang pada ventilator jika perlu untuk rnendukung kegagalan sistem kardiorespiratori.Pantau secara konstan suhu pasien dengan mengguna kan probe termistor pada rektum atau esofagus (pantau suhu inti). hindari hipotermia. Tipe heat stroke ini tenjadi pada individu yang sehat selama olahraga atau aktivitas kerja kedka teijadi hipertermia karena ketidakadekuatan peng hilangan panas. karena mortalitas langsung berhubung an dentan durasi hipertermia. tubular nekrosis akut adalah komplikasi dan heat stroke 10.. antikolinergik. Pengkajian.

1989).wordpress. Umumnya terjadi pada saat melakukan aktifitas. Pendidikan Pasien dan Pertimbangan Perawatan di Rumah 1.Nasihatkan pasien untuk menghindari terpajan pada suhu tinggi. menggunakan pakaian kendur. gereja) http://harnawatiaj. hipersensitivitas pada suhu tinggi mungkin terjadi dalam lama waktu yang dapat dipertimbangkan. TIA’S (Trans Ischemic Attack) . stroke non hemoragik Dapat berupa iskemia. namun juga dapat terjadi pada saat istirahat. perpusta kaan. yang memungkinkan cukup waktu untuk menyesuaikan dengan iklim. dan menggunakan pendekatan ber angsur untuk pengkondisian fisik. kesadaran umumnya baik dan terjadi proses edema otak oleh karena hipoksia jaringan otak. stroke hemoragik Terjadi perdarahan cerebral dan mungkin juga perdarahan subarachnoid yeng disebabkan pecahnya pembuluh darah otak. yaitu : dapat juga diklasifikasikan berdasarkan perjalanan 1. jantung. B. Kesadaran umumnya menurun dan penyebab yang paling banyak adalah akibat hipertensi yang tidak terkontrol.Tekankan pentingnya memelihara masukan cairan yang adekuat. 3. Stroke non hemoragik penyakitnya. 2. 4.Nasihatkan atlet untuk memantau kehilangan cairan.com/2008/03/09/heat-stroke/ Pengertian Stroke adalah deficit neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan aliran darah yang timbul secara mendadak dengan tanda dan gejala sesuai dengan daerah fokal otak yang terkena (WHO. emboli. mengganti cairan. 13. Umumnya terjadi setelah beristirahat cukup lama atau angun tidur. dan susunan pusat.mengukur cedera hipoksia suhu pada hati dan jaringan otot. Klasifikasi stroke Berdasarkan proses patologi dan gejala klinisnya stroke dapat diklasifikasikan menjadi : 1. 2. Tidak terjadi perdarahan. dan mengurangi aktivitas dalam cuaca panas. spasme ataupun thrombus pembuluh darah otak.Masukkan pasien ke unit perawatan intensify.Ajak lansia yang lemah yang hidup dalam lingkungan desa dengan suhu lingkungan tinggi ke tempat di mana ada pengaturan udara (mall tempat belanja. Mung kin ada kerusakan hati.

yaitu . 2. Rind (Reversible Ischemic Neurologis Defict) Gangguan neurologist setempat yang akan hilang secara sempurna dalam waktu 1 minggu dan maksimal 3 minggu. Usia lanjut Pada usia lanjut terjadi proses kalsifikasi pembuluh darah. termasuk pembuluh darah otak. Proses ini biasanya berjalan dalam beberapa jam atau beberapa hari. 5. Proses ini dapat menimbulkan pecahnya pembuluh darah atau timbulnya thrombus sehingga dapat mengganggu aliran darah cerebral.Yaitu gangguan neurologist sesaat. 1. Aneurisma pembuluh darah cerebral Adanya kelainan pembuluh darah yakni berupa penebalan pada satu tempat yang diikuti oleh penipisan di tempat lain. Hipertensi. 3. Diabetes mellitus (DM) Penderita DM berpotensi mengalami stroke karena 2 alasan. . 1. stroke in Volution Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan yang muncul semakin berat dan bertambah buruk. Etiologi Ada beberapa factor risiko stroke yang sering teridentifikasi. Kelainan jantung / penyakit jantung Paling banyak dijumpai pada pasien post MCI. 4. beberapa menit atau beberapa jam saja dan gejala akan hilang sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam. atrial fibrilasi dan endokarditis.. Pada daerah penipisan dengan maneuver tertentu dapat menimbulkan perdarahan. yeitu terjadinya peningkatan viskositas darah sehingga memperlambat aliran darah khususnya serebral dan adanya kelainan microvaskuler sehingga berdampak juga terhadap kelainan yang terjadi pada pembuluh darah serebral. 1. Stroke Komplit Gangguan neurologist yang timbul bersifat menetap atau permanent. Kerusakan kerja jantung akan menurunkan kardiak output dan menurunkan aliran darah ke otak. dapat disebabkan oleh aterosklerosis atau sebaliknya. 1. Ddisamping itu dapat terjadi proses embolisasi yang bersumber pada kelainan jantung dan pembuluh darah. C.

D.6. Perdarahan otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli. 10. Adanya perubahan komponen intracranial yang tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian. salah satunya pembuluh darah otak. kurang aktivitas fisik Kurang aktivitas fisik dapat juga mengurangi kelenturan fisik termasuk kelenturan pembuluh darah (embuluh darah menjadi kaku). salah satunya pembuluh drah otak. Di samping itu. Stroke non hemoragik Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau embolus. Polocitemia Pada policitemia viskositas darah meningkat dan aliran darah menjadi lambat sehingga perfusi otak menurun. darah yang mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema. Patofisiologi 1. Perokok Pada perokok akan timbul plaque pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga terjadi aterosklerosis. Peningkatan kolesterol (lipid total) Kolesterol tubuh yang tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis dan terbentuknya embolus dari lemak. Emboli disebabkan oleh embolus yang berjalan menuju arteri serebral melalui arteri karotis. Stroke hemoragik Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen intracranial yang seharusnya konstan. Obesitas Pada obesitas dapat terjadi hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah. aliran darah ke area thrombus menjadi berkurang. 8. menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak. spasme pembuluh darah otak dan penekanan pada . Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding pembuluh darah. 7. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang tiba-tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist fokal. 2. 9. sehingga arteri menjadi tersumbat.

atau apraksia tergantung hemisfer mana yang terkena 1. arteri karotis interna akan menimbulkan: • Hemiplegia kontralateral yang disertai hemianesthesia (30%-80%) • Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35%-50%) • Apraksia bila mengenai hemisfer non dominant(30%) 1. 1. Daerah arteri serebri posterior • Nyeri spontan pada kepala • Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35-50%) 1. Tanda dan gejala Tanda dan gejala yang muncul sangat tergantung pada daerah dan luasnya daerah otak yang terkena. Daerah arteri serebri media. Pengaruh terhadap status mental • Tidak sadar : 30% .daerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak. afasia.40% • Konfuse : 45% dari pasien biasanya sadar 1. Daerah arteri serebri anterior akan menimbulkan gejala: • hemiplegia dan hemianesthesia kontralateral terutama tungkai (30%-80%) • inkontinensia urin. Daerah vertebra basiler akan menimbulkan: • Sering fatal karena mengenai pusat-pusat vital di batang otak . E.

elektrolit. CT scan kepala untuk mengetahui lokasi dan luasnya perdarahan atau infark . emosi labil) (kelumpuhan otot mata. gejala dapat berupa: 1. Pemeriksaan diagnostik Pemeriksaan penunjang disgnostik yang dapat dilakukan adalah : 1. stroke hemisfer kiri • mengalami hemiparese kanan • perilaku lambat dan sangat berhati-hati • • kelainan bidang pandang sebelah kanan • disfagia global • afasia • mudah frustasi kontralateral sebagai F. 2. gula darah dsb. laboratorium: mengarah pada pemeriksaan darah lengkap. kesulitan Apabila dilihat bagian hemisfer mana yang terkena. dan bila perlu analisa gas darah.• Hemiplegia alternans atau tetraplegia • Kelumpuhan pseudobulbar menelan. Stroke hemisfer kanan • Hemiparese sebelah kiri tubuh • Penilaian buruk • Mempunyai kerentanan terhadap sisi kemungkinan terjatuh ke sisi yang berlawanan 1. kolesterol.

Hindari kenaikan suhu. 6. 7. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat. obat hemoragik asetosal. hematom dan bergesernya struktur otak angiografi untuk mengetahui penyebab dan gambaran yang jelas mengenai pembuluh darah yang terganggu G. Posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat. konstipasi. • Stroke hemoragik: mengobati penyebabnya. trombolisis. atau suction berlebih yang dapat meningkatkan TIK 10. MRI untuk mengetahui adanya edema. 8. 4. neuroprotektor. Nutrisi per oral hanya diberikan jika fungsi menelan baik. posisi miring jika muntah dan boleh dimulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil 2. 5.3. Penatalaksanaan medis Secara umum. penatalaksanaan pada pasien stroke adalah: 1. menurunkan TIK yang tinggi RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN STROKE . Tanda-tanda vital diusahakan stabil Bed rest Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Kandung kemih yang penuh dikosongkan. bila perlu lakukan kateterisasi Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonik 9. bila perlu diberikan ogsigen sesuai kebutuhan 3. neuroprotektor. infark. 4. Jika kesadaran menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT 11. tindakan pembedahan. Penatalaksanaan spesifik berupa: • Stroke non hemoragik: antikoagulan. batuk.

Tidak ada sputum 2. Pertahankan posisi tirah baring pada posisi anatomis atau posisi kepala tempat tidur 15-30 derajat Bersihan jalan nafas Pasien mampu mempertahankan tidak efektif b. bahasa respon pupil dll 2. memori.d. Bila sudah memungkinkan lakukan fisioterapi dada dan latihan nafas dalam 6. penumpukan sputum (karena kelemahan. Pantau intake-output cairan. Pantau adanya tanda-tanda penurunan perfusi serebral :GCS. adanya perdarahan. edema Kriteria hasil : atau oklusi pembuluh darah a. memori dan motorik membaik c. fungsi kognitif. DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI 1. darah lengkap dll • Pemberian obat sesuai kebutuhan 1.NO 1. Bunyi nafas vesikuler b.d. Berikan posisi semi fowler sesuai dengan kebutuhan (tidak bertentangan dgn masalah keperawatan lain) 4. Observasi tanda-tanda vital (tiap jam sesuai kondisi pasien) 3. Ukur tandatanda vital 3. Tingkat kesadaran serebral membaik (GCS meningkat) b. Auskultasi bunyi nafas 2. jalan nafas yang paten. Kolaborasi: • Pemberian ogsigen • Laboratorium: Analisa gas darah. Tidak ada tanda . balance tiap 24 jam 4. Lakukan penghisapan lender dan pasang OPA jika kesadaran menurun 5. Tidak ada tanda-tanda sianosis dan pucat d. Kriteria hasil : hilangnya refleks batuk) a. Penurunan perfusi Perfusi serebral membaik serebral b. RR normal c. TIK normal d. Tanda-tanda vital stabil e.

jika berat hindari memberi isyarat non 3.d. Evaluasi sifat dan beratnya afasia pasien.perburukan neurologis f. Gangguan mobilitas Pasien mendemonstrasikan fisik b. Hindari fleksi leher untuk mengurangi resiko jugular 8. Pertahankan ligkungan yang nyaman 7. Lakukan ROM pasif atau aktif sesuai kemampuan dan jika TTV stabil 6. Komunikasi dapat berjalan dengan baik . Pantau tingkat kemampuan mobilisasi klien 2. kerusakan mobilisasi aktif neuromuskuler. mengejan dsb 6. Gangguan komunikasi verbal b. Pantau kekuatan otot 3. Kriteria hasil : hemiparese a. 5. Rubah posisi tiap 2 jan 4. Kolaborasi: • Beri ogsigen sesuai indikasi • Laboratorium: AGD. kontraksi otot membaik c. Pasang trochanter roll pada daerah yang lemah 5. Hindari valsava maneuver seperti batuk. mobilisasi bertahap 4. gula darah dll • Penberian terapi sesuai advis • CT scan kepala untuk diagnosa dan monitoring 1. kelemahan. tidak ada kontraktur atau foot drop b.d. kerusakan neuromuscular. Libatkan keluarga dalam memobilisasi klien 7. Kolaborasi: fisioterapi 1.

Memahami maksud dan pembicaraan orang lain c. sederhana dan bila perlu diulang 3. Kolaborasi dengan ahli terapi wicara 1. Lab: albumin. Berat badan dalam batas normal 6. Albumin. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi b.Persepsi dan kesadaran akan sensori b. Beri latihan menelan 7. Hb. Kolaborasi : Pemeriksaan lab(Hb. Cari tahu proses 5. Tonus otot baik e. pemasangan NGT.d. Libatkan keluarga dalam melatih komunikasi verbal pada pasien 7. Klien dapat mengekspresikan perasaan b. BUN). (Risiko) gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b. konsul ahli gizi 1.kerusakan sentral bicara verbal Kriteria hasil : a. intake nutrisi tidak adekuat Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : a. Kaji factor penyebab yang mempengaruhi kemampuan menerima makan/minum 2. bahasa jelas. Beri makan via NGT 8. Lakukan komunikasi dengan wajar. Berdiri di dalam lapang pandang pasien pada saat bicara 5. Latih otot bicara secara optimal 6. Timbang berat badan secara berkala 6. Observasi tanda-tanda vital 4. Perubahan persepsi. lingkungan dapat . BUN dalam batas normal 5. dengarkan dengan tekun jika pasien mulai berbicara 4.d. Conjungtiva ananemis d. Catat intake makanan c. Hitung kebutuhan nutrisi perhari 3. Pembicaraan pasien dapat dipahami 2.

Buat lingkungan yang memungkinkan klien untuk melakukan ADL mandiri 4. Sediakan alat Bantu diri 7.perubahan transmisi dipertahankan saraf sensori.d. integrasi. Ingatkan untuk menggunakan sisi tubuh yang terlupakan 7. Pantau tingkat kemampuan klien dalam merawat diri 2. penurunan perubahan pola hidup untuk koordinasi otot. Evaluasi kemampuan membedakan panas-dingin. Kurang kemampuan Kemampuan merawat diri merawat diri b. taktil 3. gangguan Kriteria hasil : neuromuscular. Melakukan perawatan diri sesuai kemampuan c. memenuhi kebutuhan hidup depresi. kekuatan otot a. nyeri. Libatkan keluarga dalam membantu klien 5. perubahan psikologi patogenesis yang mendasari 2. posisi dan proprioseptik 5. mendemonstrasikan menurun. Bicara dengan tenang dan perlahan 8. Evaluasi adanya gangguan persepsi: penglihatan. Ciptakn suasana lingkungan yang nyaman 4. Catat adanya proses hilang perhatian terhadap salah satu sisi tubuh dan libatkan keluarga untuk membantu mengingatkan 6. Mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber bantuan . Lakukan validasi terhadap persepsi klien dan lakukan orientasi kembali 1. Berikan bantuan terhadap kebutuhan yang benar-benar diperlukan saja 3. Motivasi klien untuk melakukan ADL sesuai kemampuan 6. sehari-hari kerusakan persepsi b. meningkat kelemahan.

Kurang pengetahuan Pengetahuan klien dan (klien dan keluarga) keluarga tentang penyakit dan tentang penyakit dan perawatan meningkat. Hindari restrain kecuali terpaksa 4. Kolaborasi: pemberian obat sesuai indikasi (diazepam. Tidak ada trauma dan komplikasi lain 9. Libatkan keluarga dalam perawatan 7. gerakan yang tidak terkontrol selama penurunan kesadaran Klien terhindar dari cedera selama perawatan Kriteria hasil : a. dan perubahan pola hidup yang diperlukan . Diskusikan proses patogenesis dan pengobatan dengan klien dan keluarga 3. kurang informasi. tidak a.bila mungkin 7. Pantau tingkat kesadaran dan kegelisahan klien 2. Klien tidak terjatuh b. dilantin dll) 1. perawatan b.d. Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit.d. Kriteria hasil : keterbatasan kognitif. Identifikasi cara dan kemampuan untuk meneruskan progranm perawatan di rumah 4. beri bantalan lunak 3. Buat daftar perencanaan pulang 8. Kolaborasi: pasang DC jika perlu. Evaluasi derajat gangguan persepsi sensuri 2. Beri pengaman di samping tempat tidur 6. Klien dan keluarga mengenal sumber berpartisipasi dalam proses belajar b. konsultasi dengan ahli okupasi atau fisioterapi 1. pengobatan. Risiko cedera b. Identifikasi factor risiko secara individual dal lakukan perubahan pola hidup 5. Beri pengaman pada daerah yang sehat. Pertahankan bedrest selama fase akut 5.

berpindah dan ambulasi • Keengganan untuk melakukan pergerakan • Keterbatasan rentang gerak • Penurunan kekuatan.blog.ui. bergerak dari mobilitas penuh sampai ketergantungan fisik total atau ketidak aktifan. Prevalensi dari masalah ini meluas di luar institusi sampai melibatkan seluruh lansia Awitan imobilitas atau intoleransi aktivitas untuk sebagian besar orang tidak terjadi secara tiba-tiba. pengendalian. Imobilitas didefinisikan secara luas sebagai tingkat aktivitas yang kurang dari mobilitas optimal.ac. Imobilitas.http://mhs. atau masa otot • Mengalami pembatasan pergerakan. BAB II PEMBAHASAN Imobilitas dan Intoleransi Aktivitas pada Lansia GANGGUAN MOBILITAS FISIK Definisi Sutau keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami seseorang Batasan karakteristik • Ketidakmampuan untuk bergerak dengan tujuan di dalam lingkungan. intoleransi aktivitas. dan sindromdissue sering terjadi pada lansia. potensial sindrom disuse. Intervensi diarahkan pada pencegahan kea rah konsekuensi-konsekuensi imobilitas dan ketidak aktifan dapat menurunkan kecepatan penurunannya. Studi-studi tentang insidensi diagnosis keperawatan yang digunakan untuk lansia yang berada di Institusi perawatan mengungkapkan bahwa hambatan mobilitas fisik adalah diagnosis pertama atau kedua yang paling sering muncul. termasuk mobilitas di tempat tidur. 2009pusva juwitaLeave a commentGo to comments BAB I PENDAHULUAN Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi seseorang. dan intoleransi aktivitas memberikan definisi imobilitas yang lebih luas.id/fer50/2008/09/17/asuhan-keperawatanpada-klien-dengan-stroke/comment-page-1/ Imobilitas dan Intoleransi Aktivitas pada Lansia October 3. Diagnosis keperawatan hambatan mobilitas fisik. tetapi lebih berkembang secara perlahan dan tanpa disadari. termasuk protocol-protokol mekanis dan medis • Gangguan koordinasi Faktor-faktor yang berhubungan • Intoleransi aktivitas • Penurunan kekuatan dan ketahanan • Nyeri dan rasa tidak nyaman • Gangguan persepsi atau kognitif • Gangguan neuromuskuler • Depresi • Ansietas berat .

Perub ahan yang berhubungan dengan usia disertai dengan penyakit kronis menjadi predisposisi bagi lansia untuk mengalami komplikasi-komplikasi ini. tubuh bereaksi terjhadap imobilitas dengan perubahan-perubahan yang hamper sama dengan proses penuaan. Penurunan fungsimuskuloskeletal Perubahan fungsi neurologist Nyeri Defisit perceptual Berkurangnya kemampuan kognitif Jatuh Perubahan hubungan social Aspek psikologis Faktor-faktor eksternal Factor tersebut termasuk. oleh karena itu memperberat efek ini. Suatu pemahman tentang dampak imobilitas dapat diperoleh dari interaksi kompetensi fisik. Program terapeutik Karakteristik penghuni institusi Karakteristik staf Sistem pemberian asuhan keperawatan Hambatan-hambatan Kebijakan-kebijakan institusi Dampak masalah pada lansia Lansia sangt renan erhadap konsekuensi fisiologis dn psikologis dari imobilitas. dan interpretasi pada kejadian.INTOLERANSI AKTIVITAS Definisi Suatu keadaan ketidakcukupan energi secara fisiologis atau psikologis pada seseorang untuk bertahan aau menyelesaikan aktivitas sehri-hari yang dibutuhkan atau diinginkan. Secara fisiologis. Batasan karakteristik • Secara verbal melaporkan keletihan atau kelemahan • denyut jantung atau tekanan darah yang tidak normal terhadap aktivitas • Rasa tidak nyaman dispneu setelah beraktivitas • Perubahan elektrokardiogravis yang menunjukkan adanya disritmia atau iskemia Faktor-faktor yang berhubungan • Tirah baring dan imobilitas • Kelemahan secara umum • Gaya hidup yang kurang gerak • Ketidakseimbanag antara suplai oksigen dan kebutuhan Faktor-faktor Internal Berbagai factor internal dalam imobilisasi tubuh atau bagian tubuh antara lain. MANIFESTSI KLINIS Dampak fisiologis dari imobilitas dan ketidak efektifan • • • • • • • • • • • • • • Efek • Hasil • • Penurunan konsumsi oksigen maksimum Intoleransi ortostatik Peningkatan denyut jantung. . ancaman terhadap imobilitas.

• Pengembangan program latihan Program latihan yang sukses sangat individual. Sebagai suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan. kardiovaskuler. Pencegahan Sekunder Spiral menurun yang terjadi akibat aksaserbasi akut dari imobilitas dapat dkurangi atau dicegah dengan intervensi keperawatan. perilaku gaya hidup tertentu (misalnya merokok dan kebiasaan diet yang buruk) depresi gangguan tidur. moblilitas dan aktivitas tergantung pada fungsi system musculoskeletal. Program tersebut disusun untuk memberikn kesempatan pada klien untuk mengembangkan suatu kebiasaan yang teratur dalam melakukan bentuk aktif dari rekreasi santai yang dapat memberikan efek latihan. Diagnosis keperawaqtan dihubungkan dengan poencegahan sekunder adalah gangguan mobilitas fisik PENGKAJIAN . instruksi tentang latihan yang aman harus dilakukan. • Hambatan terhadap latihan Berbagai hambatan mempengaruhi partisipasi lansia dalam latihan secara teratur. pulmonal. Pencegahan primer Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsug sepanjang kehidupan dan episodic. halusinasi PENATALAKSANAAN 1.• • • • • Penurunan fungsi ventrikel kiri Penurunan volume sekuncup Perlambatan fungsi usus Pengurangan miksi Gangguan tidur • • • • sinkop Penurunan kapasitas kebugaran Konstipasi Penurunan evakuasi kandung kemih Bermimpi pada siang hari. Sebagai suatu proses episodic pencegahan primer diarahkan pada pencegahan masalah-masalah yang dapat tmbul akibat imoblitas atau ketidak aktifan. Keberhasilan intervensi berasal dri suatu pengertian tentang berbagai factor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas dan penuaan. dan mengalami peningkatan. Pencegahan sekunder memfokuskan pada pemeliharaan fungsi dan pencegahan komplikasi. Bahaya-bahaya interpersonal termasuk isolasi social yang terjadi ketika teman-teman dan keluarga telah meninggal. Aktivitas sat ini dan respon fisiologis denyut nadsi sebelum. pengkajian tentang factor-faktor pengganggu berikut ini akan membantu untuk memastikan keterikatan dan meningkatkan pengalaman. selama dan setelah aktivitas diberikan) Kecenderungan alami (predisposisi atau penngkatan kearah latihan khusus) Kesulitan yang dirasakan Tujuan dan pentingnya lathan yang dirasakan Efisiensi latihan untuk dirisendiri (derajat keyakinan bahwa seseorang akan berhasil) • Keamanan Ketika program latihan spesifik telah diformulasikan dan diterima oleh klien. Ketika klien telah memiliki evaluasi fisik secara seksama. kurangnya transportasi dan kurangnya dukungan. Hambatan lingkungan termasuk kurangnya tempat yang aman untuk latihan dan kondisi iklim yang tidak mendukung. Mengajarkan klien untuk mengenali tanda-tanda intoleransi atau latihan yang terlalu keras sama pentingnya dengan memilih aktivitas yang tepat. 1. diseimbangkan.

Tandatanda awal meliputi peningkatan temperature dan denyut jantung. dan tirah baring. Gejalagejala kesulitan miksi termasuk pernyataan ketidakmampuan untuk berkemih dan tekanan atau nyeri pada abdomen bagian bawah • • Perubahan-perubahan Gastrointestinal Sensasi subjektif dari konstipasi termasuk rasa tidak nyaman pada abdomen bagian bawah. pucat. tangga yang tinggi. dan kekuatan skeletal. Identifikasi dan penghilangan hambatan-hambatan yang potensial dapat meningkatakan mobilitas PENATALAKSANAAN TERAPEUTIK Pengobatan terapeutik ditujukan kearah perawatan penyakit atau kesakitan yang dihasilkan atau yang turut berperan terhadap masalah imobilitis dan penanganan konsekuensi aktual atau potensial dari imobilitas. Perubahan-perubahan dalam pergerakan dada. kompresi pneumatik intermiten dan kekuatan otot. iritabilitas. rasa penuh. Intoleransi ortostatik dapat menunjukkan suatu gerakan untuk berdiri tegak seperti gejala peningkatan denyut jantung. kamar mandi tanpa pegangan. kompresi pneumatik intermiten atau stoking kompresi gradien untuk meningkatkan aliran darah vena dan mencegah tromboembolisme. dan gas arteri mengindikasikan adanaya perluasan dan beratnya kondisi yang terjadi. anoreksia. nyeri tekan dan tanda homans positif. Perubahan awal terlihat pada permukaan kulit sebagai daerah eritema yang tidak teratur dan didefinisikan sangat buruk di atas tonjolan tulang yang tidak hilang dalam waktu 3 menit setelah tekanan dihilangkan Perubahan-perubahan fungsi urinaria Bukti dari perubahan-perubahan fungsi urinaria termasuk tanda-tanda fisik berupa berkemih sedikit dan sering. spirometri insesif untuk hiperinflasi alveoli. Di dalam rumah. edema. kekuatan. distensi abdomen bagian bawah. tremor tangan. berkeringat. mual gelisah. dan tempat duduk toilet yang rendah dapat menurunkan mobilitas klien. tekanan. Tanda-tanda tromboflebitis meliputi eritema. • Perubahan-perubahan integument Indikator cedera iskemia terhadap jaringan yang pertama adalah reaksi inflamasi. lantai licin. depresi mental. Hambatan-hambatan institusional terhadap mobilitas termasuk jalan koridor yang terhalang. rentang gerak sendi. kelemahan. Pengosonganh rectum yang tidak sempurna. dan ketahanan otot. perkusi. bunyi napas. dan batas kandung kemih yang dapat diraba. dan sakit kepala. Hanya sedikit petunjuk diagnostic yang dapat diandalkan pada pembentukan trombosis. penurunan tekanan darah. penerangan yang tidak adekuat. dan cairan pada lantai. karpet yang lepas. ukuran. • Faktor-faktor lingkungan Lingkungan tempat tinggal klien memberikan bukti untuk intervensi. kecuali untuk eliminasi INTERVENSI .• Kemunduran musculoskeletal Indikator primer dari keparahan imobilitas pada system musculoskeletal adalah penurunan tonus. tempat tidudan posisi yang tinggi. Contoh-contoh pendekatan terhadap penanganan imobilitas meliputi terapi fisik untuk mempertahankan mobilitas dan kekuatan otot. • Kemunduran kardiovaskuler Tanda dan gejala kardivaskuler tidak memberikan bukti langsung atau meyaknkan tentang perkembangan komplikasi imobilitas. kesulitandalam mengikuti perintah dan sinkop • Kemunduran Respirasi Indikasi kemunduran respirasi dibuktikan dari tanda dan gejala atelektasis dan pneumonia. Pengkajian fungsi secara periodik dapat digunakan untuk memantau perubahan dan keefektifan intervensi.

yang termasuk pengondisian program latihan harian baik kontraksi otot isometrik dan isotonik. Keempat. SIKAP Variabel utama yang dapat mengganggu keberhasilan intervensi pada individu yang mengalami imobilisasi adalah sikap perawat dan klien tentang pentingnya latihan dan aktivitas dalam rutinitas sehari-hari. kerja dapat dicapai. stoking kompresi untuk memberikan tekanan eksternal pada tungkai. dan aktivitas kehidupan sehari-hari. dengan tungkai menggantung di sisi tempat tidur. Kedua. Latihan angkat berat dengan meningkatkan pengulangan dan berat adalah aktivitas pengondisian kekuatan. berirama. bersepeda. pemeliharaan fungsi urinaria dan usus yang normal bergantung pada dukungan nutrisi dan struktur lingkungan serta rutinitas-rutinitas untuk memfasilitasi eliminasi. Kontraksi isometrik dilakukan dengan cara bergantian mengencangkan dan merelaksasikan kelompok otot. berenang. dan dapat dinikmati. abdominal dan gluteal) dan untuk memberikan tekanan pada tulang bagi orang-orang dengan dan tanpa penyakit kardiovaskuler. Pergerakan aktif memengaruhi toleransi ortostatik.7 Aktivitas aerobik yang dipilih harus menggunakan kelompok otot besar dan harus kontinu. pemeliharaan ventilasi yang normal meliputi hiperinflasi dan mobilisasi serta menghilangkan sekresi. pemeliharaan sirkulasi yang adekuat meliputi tindakan-tindakan pendukung untuk mempertahankan tonus vaskuler (termasuk mengubah posisi dalam hubungannya dengan gravitasi). nutrisi untuk meningkatkan anabolisme protein dan pembentukan tulang.Limatujuan mengarahkan intervensi keperawatan untuk mencegah atau meniadakan sekuelafisiologis dari imobilitas. KONTRAKSI OTOT ISOMETRIK Kontraksi otot isometrik meningkatkan tegangan otot tanpa mengubah panjang otot yang menggerakkan sendi. LATIHAN KEKUATAN Aktivitas penguatan adalah latihan pertahanan yang progresif. Kontraksi ini mengubah panjang otot tanpa mengubah tegangan. Latihan ini meningkatkan kekuatan dan massa otot serta mencegah kehilangan densitas tulang dan kandungan mineral total dalam tubuh. atau pada saat duduk di kursi dengan cara mendorong atau menarik suatu objek yang tidak dapat bergerak. Pembahasan tentang intervensi disajikan di sini. Kekuatan otot harus menghasilkan peningkatan setelah beberapa waktu. posisi yang tepat. Kontraksi-kontraksi ini digunakan untuk mempertahankan kekuatan otot dan mobilitas dalam keadaan berdiri (misalnya otot-otot kuadrisep. dan berdansa. Ketika tangan atau kaki dilatih baik otot-otot fleksor dan ekstensor harus dilibatkan. Sikap perawat tidak hanya memengaruhi komitmen untuk memasukkan latihan sebagai komponen rutin sehari-hariyang berkelanjutan. tetapi juga integrasi aktif dari latihan sebagai . Contohnya termasuk berjalan. Ketiga. dan sikap komitmen terhadap latihan. Terakhir. LATIHAN AEROBIK Latihan aerobik adalah aktivitas yang menghasilkan peningkatan denyut jantung 60 sampai 90% dari denyut jantung maksimal dihitung dengan (220-usia seseorang) x 0. pemeliharaan fleksibilitas sendi yan terlibat dalam latihan rentang gerak. Karena otot-otot memendek dan memanjang. Tujuan pertama meliputi pemeliharaan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal. dan asupan cairan yang adekuat untuk mencegah efek dehidrasi pada volume darah. KONTRAKSI OTOT ISOTONIK Kontraksi otot yang berlawanan atau isotnik berguna untk mempertahankan kekuatan otot-otot dan tulang. aktivitas penguatan aerobik. Kontraksi isotonik dapat dicapai pada saat berada di tempat tidur.

Diagnosa keperawatan. mobilitas sendi. LATIHAN RENTANG GERAK Latihan rentang gerak aktif dan pasif memberikan keuntungan-keuntungan yang berbeda. gerakan pasif. • • • • • Untuk muskuloskeletal . yaitu menggerakkan sendi seseorang melalui rentang geraknya oleh orang lain. penggunaan dan penyalahgunaan alat bantu. kekuatan otot. Jika seseorang diposisikan dengan tungkai tergantung. karakteristik kulit diatas tonjolan tulang Untuk urinaria. Mengatur posisi tungkai dengan ketergantungan minimal (misalnya meninggikan tungkai diatas dudukan kaki) mencegah pengumpulan darah pada ekstremitas bawah. pengkajian paru Untuk Integumen. pengumpulan dan penurunan tekanan darah balik vena akan terjadi. frekuensi dan jumlah berkemih . RENCANA PERAWATAN Rencana asuhan keperawatan untuk imobilitas betujuan mempertahankan kemampuan dan fungsi. tonus. komunitas. Demikian pula halnya sikap klien dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas latihan. perubahan ortostatik dalam tekanan darah dan denyut nadi Untuk respirasi. resiko tinggi sindrom dissue Hasil yang diharapkan Klien mampertahankan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal dan fleksibilitas sendi-sendi • Intervensi keperawatan Observasi tanda dan gejala penurunan mobilitas sendi. dan adanya nyeri Untuk Kardiovaskular. termasuk rentang gerak sendi dan pengkajian fungsional mengenai kemampuan. masalah-masalah mobilitas.intervensi bagi lansia di berbagai lingkungan. dan kehilangan ketahanan Observasi status respirasi dan fungsi jantung pasien Observasi lingkungan terhadap bahaya-bahaya keamanan yang potensialUbah lingkungan untuk menurunkan bahaya-bahaya keamanan Ajarkan tentang tujuan dan pentingnya latihan Ajarkan penggunaan alat-alat bantu yang tepat • • • • DOKUMENTASI YANG ESENSIAL Dokumentasi untuk setiap sistem meliputi hal-hal berikut. MENGATUR POSISI Mengatur posisi juga digunakan untuk meningkatkan tekanan darah balk vena. Latihan aktif membantu mempertahankan fleksibilitas sendi dan kekuatan otot serta meningkatkan penampilan kognitif. hanya membantu mempertahankan fleksibilitas. dan ketahanan. Posisi duduk di kursi secara normal dengan tungkai tergantung secara potensial berbahaya untuk seseorang yang beresiko mengalami pengembangan trombosis vena. rumah sakit. ukuran. Sebaliknya. serta mencegah gangguan. dan fasilitas jangka panjang. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan intoleransi aktivitas.

Dengan bertambahnya usia maka permasalahan kesehatan yang terjadi akan semakin kompleks. Walaupun belum didapat data secara konkrit mengenai hal ini namun dari pengalaman terlihat sangat mencolok adanya perubahan ini. karakter dan pola feses dan alat bantu yang biasa digunakan untuk memfasilitasi eliminasi. mereka mendapatkan benturanbenturan fisik maupun psikologis akibatnya mereka tidak lagi memikirkan efek bagi kesehatan jangka panjang. akibat kecelakaan serta karena proses degenerative system saraf tampaknya sedang merambah naik di Indonesia. . ahli fisioterapi. Beare. aktivitas sosial. ahli fisioterapi. 1. Usia merupakan factor resiko yang paling penting bagi semua jenis stroke.wordpress. seorang ahli gizi. dan keluarga serta teman-teman DAFTAR PUSTAKA Stanley. aktivitas sosial. Kemungkinan yang menjadi factor penyebab munculnya masalah ini adalah adanya perkembangan ekonomi dan perubahan gaya hidup terutama msayarakat perkotaan. Pencegahan tersier Upaya-upaya rehabilitasi untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya multidisiplin yang terdiri dari perawat. 2006 • Possibly related posts: (automatically generated) • KEPUTIHAN =FLUOR ALBUS • Did you know Dismenore? • hidup sehat dengan bersepeda • Meningkatkan Potensi dan ketahanan http://pusva.25 kali lebih besar pada pria dibanding wanita.com/2009/10/03/imobilitas-dan-intoleransi-aktivitas-padalansia/ BAB I PENDAHULUAN Kecenderungan pola penyakit neurologi terutama gangguan susunan saraf pusat tampaknya mengalami peningkatan penyakit akibat gangguan pembuluh darah otak. Mickey. dan terapi okupasi. dokter.Untuk gastrointestinal. dan terapi okupasi. Salah satu penyakit yang sering dialami oleh lansia adalah stroke. seorang ahli gizi. dokter. Buku Ajar Keperawaan Gerontik ed. Usia harapan hidup di Indonesia sekarang kian meningkat sehingga semakin banyak terdapat lansia. dan keluarga serta teman-teman BAB III PENUTUP Gangguan mobilitas fisik merupakan suatu keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami seseorang Intoleransi aktifitas merupakan suatu keadaan ketidakcukupan energi secara fisiologis atau psikologis pada seseorang untuk bertahan aau menyelesaikan aktivitas sehri-hari yang dibutuhkan atau diinginkan. 2 Jakarta EGC . Upaya-upaya rehabilitasi untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya multidisiplin yang terdiri dari perawat. Patricia. Kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup terlihat semakin mudah sehingga meningkatkan hasratmereka untuk terus berjuang mencapai tujuan dengan penuh persaingan dalam perjuangan tersebut. Insiden stroke meningkat secara eksponensial dengan bertambahnya usia dan 1.

Stroke terdiri dari 2 jenis yaitu : Stroke adalah sindrom yang awal timbulnya mendadak. misal: Trombosis. yaitu : 1. Gejala makin berkembang ke otak lebih berat. Pada bentuk ini gejala neurologik yang timbul akibat gangguan peredaran darah di otak akan menghilang dalam waktu 24 jam. DEFINISI Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat. Harsono (1993 : 30) membagi stroke non haemoragi berdasarkan bentuk klinisnya antara lain : 1. ruptura dinding pembuluh atau penyakit vaskuler dasar (Prince. 2. Serangan Iskemia sepintas atau transient ischemic Attack (TIA). ETIOLOGI . 181 ). B. 4. Hal ini terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah otak. Defisit Neurologik Iskemia Sepintas/ Reversible Ischemic Neurologik Defisit (RIND). 2. Stroke dapat dibagi menjadi 2 golongan. Infark iskemic terbagi menjadi dua yaitu : stroke trombotik. Stroke atau Cerebro Vasculer Accident (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak ( Brunner dan Suddarth. 3. Perdarahan (Stroke Hemoragi) Terjadi pecahnya pembuluh darah otak. disebabkan karena gangguan perdarahan otak. embolis. Gejala neurologik timbul ± 24 jam. dan semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran otak non traumatic (Mansjoer 2000: 17) Stroke adalah gangguan neurologik fokal yang dapat timbul sekunder dari proses patologis pada pembuluh darah serebral. Stroke Progresif (Progresive Stroke/ Stroke in evolution). Corwin. Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak ( Elizabeth J. 1995 : 964). Persoalan pokok pada stroke adalah gangguan peredaran darah pada daerah otak tertentu (Mardjono. 2131 ). yang disebabkan oleh thrombus dan stroke embolik. Berlangsung lebih dari 24 jam atau berakhir dengan maut tanpa ditemukannya penyebab selain daripada gangguan vaskuler. 2000: 54) yang menyatakan bahwa stroke adalah gangguan darah di pembuluh arteri yang menuju ke otak. Menurut Lumbantobing (1994 : 5) kelainan yang terjadi akibat gangguan peredaran darah. tidak lebih dari seminggu. 2001 : hal. Completed Stroke Kelainan saraf yang sifatnya sudah menetap. baik fokal maupun menyeluruh yang berlangsung dengan cepat. yang disebabkan oleh embolus. Infark Ischemik (Stroke non Hemoragi). tidak berkembang lagi. progresif cepat. berupa deficit neurologis fokal atau global yang langsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian.BAB II TINJAUAN TEORI A. Menurut WHO stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral. 2002 : hal.

Lanjut usia f. Merokok Merokok dapat meningkatkan konsentrasi fibrinogen yang akan mempermudah terjadinya penebalan dinding pembuluh darah dan peningkatan kekentalan darah. dimana tekanan diastolic pecah.jaringan yang telah mati ke aliran darah.sel / jaringan. Kegemukan atau obesitas c. Perdarahan intracranial biasanya disebabkan oleh ruptura arteria serebri. Factor resiko ini pada umumnya akan menimbulkan hambatan atau sumbatan aliran darah ke otak karena jantung melepaskan sel. Polisitemia dapat menghambat kelancaran aliran darah ke otak. Kadar asam urat darah tinggi . g. Perdarahan Intra Serebral (PIS) Penyebab yang paling sering adalah hipertensi. Riwayat keluarga dengan stroke e. b. Sedangkan menurut prince (1995 : 966) mengatakan bahwa stroke haemoragi disebabkan oleh perdarahan serebri.Stroke non haemoragi merupakan penyakit yang mendominasi kelompok usia menengah dan dewasa tua karena adanya penyempitan atau sumbatan vaskuler otak yang berkaitan erat dengan kejadian. Biasanya berkaitan erat dengan kerusakan fokal dinding pembuluh darah akibat anterosklerosis. Diabetes Mellitus Debetes mellituas mampu . Sementara leukemia/ kanker darah dapat menyebabkan terjadinya pendarahan otak. Menurut Harsono ini dibedakan berdasarkan tempat terjadinya perdarahan antara lain: Perdarahan Sub Arachnoid (PSA) Kira-kira ¾ harus perdarahan sub arachnoid disebabkan oleh pecahnya seneusisma 5-6% akibat malformasi dari arteriovenosus. Makin sering seseorang mengalami TIA maka kemungkinan untuk mengalami stroke semakin besar. b. Dikemudian hari seperti Penyakit jantung reumatik. Transient Ischemic Attack (TIA) TIA dapat terjadi beberapa kali dalan 24 jam/ terjadi berkali. Apabila pembuluh darah otak menyempit maka aliran darah ke otak akan terganggu dan sel-sel otak akan mengalami kematian. Hipertensi Hipertensi dapat mengakibatkan pecahnya maupun menyempitnya pembuluh darah otak. Menebalnya pembuluh darah otak akan menyempitkan diameter pembuluh darah yang akan menggangu kelancaran aliran darah ke otak. Faktor Resiko Tambahan a. Ekstravasali darah terjadi dari daerah otak dan atau subaracnoid. 1.kali dalam seminggu. Harsono (1999 : 60) membagi factor risiko yang dapat ditemui pada klien dengan Stroke yaitu: Faktor risiko utama a. 2. Kadar lemak darah yang tinggi termasuk Kolesterol dan Trigliserida. Trombosis Serebri Merupakan penyebab stroke yang paling sering ditemui yaitu pada 40% dari semua kasus stroke yang telah dibuktikan oleh ahli patologis. Perdarahan ini dibedakan berdasarkan tempat terjadinya perdarahan. pada akhirnya akan menyebabkan kematian sel. c.menebalkan dinding pembuluh darah otak yang berukuran besar. sehingga jaringan yang terletak di dekatnya akan tergeser. d. Penyakit Jantung Beberapa Penyakit Jantung berpotensi menimbulkan strok. Meningginya kadar kolesterol merupakan factor penting untuk terjadinya asterosklerosis atau menebalnya dinding pembuluh darah yang diikuti penurunan elastisitas pembuluh darah. Penyakit jantung koroner dengan infark obat jantung dan gangguan irana denyut janung.sel otak. Penyakit darah tertentu seperti polisitemia dan leukemia. d. Embolisme Kebanyakan emboli serebri berasal dari suatu flowess dalam jantung sehingga masalah yang dihadapi sesungguhnya merupakan perwujudan dari penyakit jantung.

dibawah duramater. Biasanya awitan tiba-tiba dengan sakit kepala berat. gangguan hubungan visual-spasial. kecuali bahwa hematoma subdural biasanya jembatan vena robek. periode pembentukan hematoma lebih lama ( intervensi jelas lebih lama) dan menyebabkan tekanan pada otak. pada orang yang lebih muda dari 40 tahun. Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologis e. diruang subarachnoid (hemoragi subarachnoid) atau di dalam substansi otak (hemoragi intraserebral). C. makin jelas defisit neurologik yang terjadi dalam bentuk penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital. Hemoragi subdural (termasuk hemoragi subdural akut) pada dasarnya sama dengan hemoragi epidural. dan jumlah aliran darah kolateral (sekunder atau aksesori) a. memperberat atau malah menetap. tetapi penyebab paling sering adalah kebocoran aneurisma pada area sirkulus wilisi dan malformasi arteri-vena kongenital pada otak. Arteri di dalam otak dapat menjadi tempat aneurisma. Hemoragi ekstradural (epidural) adalah kedaruratan bedah neuro yang memerlukan perawatan segera. Gejalagejala itu antara lain bersifat: a. Sementara Timbul hanya sebentar selama beberapa menit sampai beberapa jam dan hilang sendiri dengan atau tanpa pengobatan. Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama. adanya tumor otak dan penggunaan medikasi (antikoagulan oral. Sudah menetap/permanent (Harsono. PATOFISIOLOGI 1) Stroke Hemoragic Perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari semua penyebab utama kasus gangguan pembuluh darah otak. karena perubahan degeneratif karena penyakit ini biasanya menyebabkan ruptur pembuluh darah. hemoragi intraserebral biasanya disebabkan oleh malformasi arteri-vena. apraksia (ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya) c. bergantung bagian otak yang terganggu. (hemoragi subdural). Beberapa pasien mungkin mengalami hemoragi subdural kronik tanpa menunjukkan tanda dan gejala.1996. Ini biasanya mengikuti fraktur tengkorak dengan robekan arteri dengan arteri meningea lain. MANIFESTASI KLINIK Stroke ini menyebabkan berbagai defisit neurologik. ukuran area yang perfusinya tidak adekuat. Hemoragi subarachnoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau hipertensi. b. Hal ini disebut Transient ischemic attack (TIA). b. Gejala itu muncul bervariasi.paru menahun. Gangguan persepsi: disfungsi persepsi visual. juga disebabkan oleh tipe patologi arteri tertentu. Gejala makin lama makin berat (progresif) Hal ini desebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat yang disebut progressing stroke atau stroke inevolution d. Penyakit paru. Sementara. Kehilangan motorik : hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada sesi otak yang berlawanan.namun lebih dari 24 jam Gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini dissebut reversible ischemic neurologic defisit (RIND) c. bergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat). Perdarahan serebral dapat terjadi di luar duramater (hemoragi ekstradural atau epidural). Bila hemoragi membesar. hemangioblastoma dan trauma. Karenanya. Pasien dengan perdarahan luas dan hemoragi mengalami penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital. amfetamin dan berbagai obat aditif). kehilangan sensori d. Disfungsi kandung kemih Gejala . disfasia atau afasia (bicara defektif atau kehilangan bicara). Hemoragi intraserebral paling umum pada pasien dengan hipertensi dan aterosklerosis serebral. Perdarahan biasanya arterial dan terjadi terutama sekitar basal ganglia. hemiparesis atau kelemahan salah satu sisi tubuh. hal 67) D.h.gejala CVA muncul akibat daerah tertentu tak berfungsi yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tempat tersebut. Kehilangan komunikasi : disartria (kesulitan bicara). 2) Stroke Non Hemoragic .

2000 hal 292) F. PENATALAKSANAAN 1. emboli tersebut terjebak di pembuluh darah otak yang lebih kecil dan biasanya pada daerah percabangan lumen yang menyempit. · Kandung kemih yang penuh dikosongkan. yang sesuai kemudian zat warna disuntikkan. mengemukakan hal-hal berikut: · Bebaskan jalan nafas dan usahakan ventilasi adekuat. Marilynn. 1999. Konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia. 3. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa stroke antara lain adalah: 1. Perawatan umum stroke Ø Penatalaksanaan awal selama fase akut dan mempertahankan fungsi tubuh Mengenai penatalaksanaan umum stroke. Dengan adanya sumbatan oleh emboli akan menyebabkan iskemi E. 2002. oklusi disebabkan karena adanya penyumbatan lumen pembuluh darah otak karena thrombus yang makin lama makin menebal.menunjukan adanya tekanan normal .Terbagi atas 2 yaitu : a) Pada stroke trombotik. 1999. Pungsi Lumbal . Dalam waktu 72 jam daerah tersebut akan mengalami edema dan lama kelamaan akan terjadi nekrosis. EEG (Elektro Encephalogram) Dapat menunjukkan lokasi perdarahan. gelombang delta lebih lambat di daerah yang mengalami gangguan. CT-Scan CT-scan dapat menunjukkan adanya hematoma. 6. konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia. Asia Pacific Consensus on Stroke Manajement. sehingga aliran darah menjadi tidak lancer. 1997. yaitu arteri carotis di bagian tengah atau Middle Carotid Artery ( MCA ). Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal (Doenges E. infark dan perdarahan. Onset stroke trombotik biasanya berjalan lambat. Suzanne. 2. Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena 7. Penurunan aliran arah ini menyebabakan iskemi yang akan berlanjut menjadi infark. hemoragik. bila perlu berikan oksigen 0-2 L/menit sampai ada hasil gas darah. Suatu kateter dimasukkan dengan tuntunan fluoroskopi dari arteria femoralis di daerah inguinal menuju arterial.tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan 5. hal 2131) G. b) Sedangkan stroke emboli terjadi karena adanya emboli yang lepas dari bagian tubuh lain sampai ke arteri carotis. · Penatalaksanaan tekanan darah dilakukan secara khusus. MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark. Angiografi Arteriografi dilakukan untuk memperlihatkan penyebab dan letak gangguan. mengemukakan bahwa peningkatan tekanan darah yang sedang tidak boleh diobati pada fase akut stroke iskemik. sebaiknya dengan kateterisasi intermiten. KOMPLIKASI Komplikasi utama pada stroke yaitu : ü Hipoksia Serebral ü Penurunan darah serebral ü Luasnya area cedera (Smeltzer C. mengemukakan bahwa tekanan darah diturunkan pada stroke iskemik akut bila terdapat salah satu hal berikut : . Lokasi yang tersering pada stroke trombosis adalah di percabangan arteri carotis besar dan arteri vertebra yang berhubungan dengan arteri basiler.

- Tekanan sistolik > 220 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. - Tekanan diastolik > 120 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. - Tekanan darah arterial rata-rata > 130-140 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. - Disertai infark miokard akut/ gagal jantung atau ginjal akut. Pada umumnya peningkatan tekanan darah pada fase akut stroke diakibatkan oleh : o Stress daripada stroke o Jawaban fisiologis dari otak terhadap keadaan hipoksia o Tekanan intrakranial yang meninggi. o Kandung kencing yang penuh o Rasa nyeri. Tekanan darah dapat berkurang bila penderita dipindahkan ke tempat yang tenang, kandung kemih dikosongkan, rasa nyeri dihilangkan, dan bila penderita dibiarkan beristirahat. · Hiperglikemia atau hipoglikemia harus dikoreksi. Keadaan hiperglikemia dapat dijumpai pada fase akut stroke, disebabkan oleh stres dan peningkatan kadar katekholamin di dalam serum. Dari percobaan pada hewan dan pengalaman klinik diketahui bahwa kadar glukosa darah yang meningkat memperbesar ukuran infark. Oleh karena itu, kadar glukosa yang melebihi 200 mg/ dl harus diturunkan dengan pemberian suntikan subkutan insulin. Konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia mengemukakan bahwa hiperglikemia ( >250 mg% ) harus dikoreksi sampai batas gula darah sewaktu sekitar 150 mg% dengan insulin intravena secara drips kontinyu selama 2-3 hari pertama. Hipoglikemia harus diatasi segera dengan memberikan dekstrose 40% intravena sampai normal dan diobati penyebabnya. · Suhu tubuh harus dipertahankan normal. Suhu yang meningkat harus dicegah, misalnya dengan obat antipiretik atau kompres. Pada penderita iskemik otak, penurunan suhu sedikit saja, misalnya 2-3 derajat celsius, sampai tingkat 33ºC atau 34 °C memberi perlindungan pada otak. Selain itu, pembentukan oxygen free radicals dapat meningkat pada keadaan hipertermia. Hipotermia ringan sampai sedang mempunyai efek baik, selama kurun waktu 2-3 jam sejak stroke terjadi, dengan memperlebar jendela kesempatan untuk pemberian obat terapeutik. · Nutrisi peroral hanya boleh diberikan setelah hasil tes fungsi menelan baik, bila terdapat gangguan menelan atau penderita dengan kesadaran menurun, dianjurkan melalui pipa nasogastrik. · Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan. Pemberian cairan intravena berupa cairan kristaloid atau koloid, hindari yang mengandung glukosa murni atau hipotonik. · Bila ada dugaan trombosis vena dalam, diberikan heparin dosis rendah subkutan, bila tidak ada kontra indikasi. Terapi farmakologi yang dapat diberikan pada pasien stroke : a. Antikoagulasi dapat diberikan pada stroke non haemoragic, diberikan sdalam 24 jam sejak serangan gejala-gejala dan diberikan secara intravena. b. Obat antipletelet, obat ini untuk mengurangi pelekatan platelet. Obat ini kontraindikasi pada stroke haemorhagic. c. Bloker kalsium untuk mengobati vasospasme serebral, obat ini merilekskan otot polos pembuluh darah. d. Trental dapat digunakan untuk meningkatkan aliran darah kapiler mikrosirkulasi, sehingga meningkatkan perfusi dan oksigenasi ke jaringan otak yang mengalami iskemik. Ø Kebutuhan psikososial Gangguan emosional, terutama ansietas, frustasi dan depresi merupakan masalah umum yang dijumpai pada penderita pasca stroke. Korban stroke dapat memperlihatkan masalah-masalah emosional dan perilakunya mungkin berbeda dari keadaan sebelum mengalami stroke. Emosinya dapat labil, misalnya pasien mungkin akan menangis namun pada saat berikutnya tertawa, tanpa sebab yang jelas. Untuk itu, peran perawat adalah untuk memberikan pemahaman kepada keluarga tentang perubahan tersebut. Hal-hal yang bisa dilakukan perawat antara lain memodifikasi perilaku pasien seperti seperti mengendalikan simulasi di lingkungan, memberikan waktu istirahat sepanjang siang hari untuk mencegah pasien dari kelelahan yang berlebihan, memberikan umpan balik positif untuk perilaku yang dapat diterima atau

perilaku yang positif, serta memberikan pengulangan ketika pasien sedang berusaha untuk belajar kembali satu ketrampilan. Ø Rehabilitasi selama di rumah sakit Rehabilitasi di rumah sakit memerlukan pengkajian yang sistematik dan evaluassi dari defisit dan perbaikan fungsi pasien. Fokus perawatan adalah langsung membantu pasien belajar kembali kehilangan keterampilan yang dapat membentu kembali kemungkinan kemandirian pasien. Pada fase ini pasien dimonitor secara hati-hati untuk mencegah berkembangnya komplikasi yang lebih lanjut. Adapun intervensi yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut : 1. Anjurkan pasien untuk mengerjakan sendiri ”personal Hygiene” semampunya. 2. Ajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari dengan menghargai cara pasien mengkompensasi ketidakmampuan pasien. 3. Anjurkan pasien untuk latihan di tempat tidur. 4. Berikan spesial perawatan kulit. 5. Berikan privacy dengan menggunakan penutup jika ia belajar keahlian baru seperti belajar makan sendiri. 6. Berikan support emosional. 7. Berikan empati pada perasaan klien.anjurkan keluarga untuk berpartisipasi. Ø Perencanaan pasien pulang Untuk mencegah kembalinya klien ke rumah sakit, diperlikan suatu program untuk membimbing klien dan keluarga yang tercakup dalam perencanaan pulang. Perencanaan pulang dilakukan segera setelah klien masuk rumah sakit, yang dilakukan oleh semua anggota tim kesehatan. Perencanaan pulang yang baik adalah perencanaan pulang yang tersentralisasi, terorganisir, dan melibatkan berbagai anggota tim kesehatan. Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan melalui asuhan keperawatan mutlak harus mengikuti dan berperan aktif dalam mementukan rencana pemulangan klien, sehingga klien mendapatkan pelayanan yang holistik dan komprehensif. Tujuan perencanaan pulang : a. Mempersiapkan klien untk menyesuaikan diri dengan rumah dan masyarakat. b. Agar klien dan keluarga mempunyai pengetahuan dan ketrampilan serta sikap dalam memperbaiki dan mempertahankan status kesehatannya. c. Agar klien dan keluarga dapat menerima keadaan diri klien jika terdapat gejala sisa ( cacat ). d. Membantu merujuk klien ke pelayanan kesehatan lain. Mengingat banyaknya informasi dan pendidikan yang harus diterima oleh klien selama perawatan maupun dalam persiapan untuk pulang, maka prinsip belajar mengajar juga harus diperhatikan dalam proses rencana pemulangan. Informasi untuk klien dan keluarga : a. Gunakan bahasa yang sederhana, jelas dan ringkas. b. Jelaskan langkah-langkah dalam melaksanakan perawatan. c. Perkuat penjelasan lisan dengan instruksi tertulis, jika klien bisa membaca. d. Motivasi klien mengikuti langkah-langkah tersebut selama perawatan dan pengobatan. e. Kenali tanda-tanda dan gejala komplikasi yabg harus dilaporkan kepada tim kesehatan. f. Anjurkan keluarga untuk berpartisipasi aktif dalam pengawasan dan perawatan klien. g. Berikan keluarga nomor penting yang dapat dihubungi bila klien perlu pertolongan medis.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN I. Pengkajian 1. Aktivitas dan istirahat Data Subyektif:

- kesulitan dalam beraktivitas : kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis. - mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot ) Data obyektif: - Perubahan tingkat kesadaran - Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia ) , kelemahan umum. - gangguan penglihatan 2. Sirkulasi Data Subyektif: - Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung , endokarditis bacterial ), polisitemia. Data obyektif: - Hipertensi arterial - Disritmia, perubahan EKG - Pulsasi : kemungkinan bervariasi - Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal 3. Integritas ego Data Subyektif: - Perasaan tidak berdaya, hilang harapan Data obyektif: - Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan - kesulitan berekspresi diri 4. Eliminasi Data Subyektif: - Inkontinensia, anuria - distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara usus( ileus paralitik ) 5. Makan/ minum Data Subyektif: - Nafsu makan hilang - Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK - Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia - Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah Data obyektif: - Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring ) - Obesitas ( factor resiko ) 6. Sensori neural Data Subyektif: - Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA ) - nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid. - Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati - Penglihatan berkurang - Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka ipsilateral ( sisi yang sama ) - Gangguan rasa pengecapan dan penciuman Data obyektif: - Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan tingkah laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif - Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke, genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam ( kontralateral ) - Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )

Keamanan Data obyektif: . kata. kehilangan memori . Nyeri / kenyamanan Data Subyektif: . Dibuktikan oleh : .bantuan untuk transportasi. edema serebral. kognisi dan fungsi sensori / motorik .d terputusnya aliran darah : penyakit oklusi. kesulitan untuk melihat objek.Gangguan berespon terhadap panas. Pengajaran / pembelajaran Data Subjektif : . Respirasi Data Subyektif: .Gangguan dalam memutuskan. bahasa. ketidakmampuan berkomunikasi 11.Perubahan tanda-tanda vital Tujuan Pasien / kriteria evaluasi .Menampakan stabilisasi tanda vital dan tidak ada PTIK .Timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur .Defisit sensori . intelektual dan emosional . berkurang kesadaran diri 10.Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik .Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas .2000 hal 292) II.Perokok ( factor resiko ) Tanda: .penggunaan kontrasepsi oral 12. spasme pembuluh darah serebral.Problem berbicara.Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral 7.Riwayat hipertensi keluarga. dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh . ..Perubahan persepsi terhadap tubuh.Suara nafas terdengar ronchi /aspirasi 9. perawatan diri dan pekerjaan rumah (Doenges E. shoping . ketegangan otot / fasial 8. gelisah.Perubahan tingkat kesadaran . Diagnosa Keperawatan 1. global / kombinasi dari keduanya. menyiapkan makanan . kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata.Tingkah laku yang tidak stabil.Perubahan respon sensorik / motorik. stroke . Marilynn.Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya Data obyektif: .Peran pasien menampakan tidak adanya kemunduran / kekambuhan . Pertimbangan rencana pulang .Terpelihara dan meningkatnya tingkat kesadaran. dan wajah yang pernah dikenali .Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat.Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan . perdarahan. perhatian sedikit terhadap keamanan. reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif. Perubahan perfusi jaringan serebral b. pendengaran.Tidak mampu mengenali objek.Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa.menentukan regimen medikasi / penanganan terapi . stimuli taktil . hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit . . Interaksi social Data obyektif: . warna. kegelisahan .

Ketidakmampuan dalam bergerak pada lingkungan fisik : kelemahan.Mulai latihan aktif / pasif rentang gerak sendi pada semua ekstremitas . Tujuan pasien / kriteria evaluasi .Bantu memanipulasi untuk mempengaruhi warna kulit edema atau menormalkan sirkulasi .Ubah posisi tiap dua jam ( prone. kehilangan tonus otot fasial / mulut.Bantu meningkatakan fungsi. supine.Bantu meningkatkan keseimbangan duduk .d kelemahan neuromuskular. mengenal kata . kelemahan umum / letih.Pasien mampu memahami problem komunikasi . .Pertahankan tirah baring .Monitor tanda-tanda vital .Awasi bagian kulit diatas tonjolan tulang Kolaborasi . ketidakmampuan dalam persespi kognitif Dibuktikan oleh : . isoxsuprine. mengidentifikasi objek .Bantu dalam meberikan stimulasi elektrik . misalnya pandangan kabur. gunakan foot board pada saat selama periode paralysis flaksid.Evaluasi penggunaan alat bantu pengatur posisi . . keterbatasan rentang gerak sendi. miring ) .Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi individu/ penyebab koma / penurunan perfusi serebral dan potensial PTIK . Ketidakmampuan mobilitas fisik b.Bantu untuk mengubah pandangan . termasuk bicara jika pasien mengalami gangguan fungsi .d gangguan sirkulasi serebral. koordinasi.Adanya peningkatan kemampuan fungsi perasaan atau kompensasi dari bagian tubuh . atur kunjungan sesuai indikasi Kolaborasi . missal cyclandelate.Ketidakmampuan berbicara atau menulis secara komprehensif. Pertahankan kepala dalam keadaan netral .Monitor dan catat status neurologis secara teratur .Evaluasi pupil 9 ukuran bentuk kesamaan dan reaksi terhadap cahaya 0 . misal aminocaproic acid ( amicar ) · Antihipertensi · Vasodilator perifer.Tidak ada kontraktur.Intervensi : .Tidak mampu berbicara / disartria .ketidakmampuan moduasi wicara . Gangguan komunikasi verbal b.Konsul ke bagian fisioterapi . gangguan neuromuskuler.Kepala dielevasikan perlahan lahan pada posisi netral. .Berikan medikasi sesuai indikasi : · Antifibrolitik. foot drop.Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi .Menentukan metode komunikasi untuk berekspresi .Menampakan kemampuan perilaku / teknik aktivitas sebagaimana permulaannya . sediakan lingkungan yang tenang . Ditandai : .Gangguan artikulasi . penurunan kekuatan otot. perubahan lapang pandang / persepsi lapang pandang .Topang ekstremitas pada posis fungsional .Terpeliharanya integritas kulit Intervensi : .Gunakan bed air atau bed khusus sesuai indikasi 3. · Manitol 2. Tujuan Pasien / kriteria evaluasi .

Perubahan persepsi sensori b. tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan .Sediakan bel khusus jika diperlukan .Kerusakan kemampuan melakukan AKS misalnya ketidakmampuan makan .Perubahan pola tingkah aku .Beri stimulasi terhadap sisa-sisa rasa sentuhan .d kerusakan neuromuskuler.Bedakan antara afasia dengan disartria .Sediakan metode komunikasi alternatif . tempat . . perubahan proses pikir .Lakukan pendekatan dari sisi yang utuh .Sederhanakan lingkungan . kesulitan tugas toileting Kriteria hasil: . penurunan kekuatan dan ketahanan.Ketidakmampuan mengkoordinasi kemampuan motorik.Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasien sendiri.Bantu menentukan derajat disfungsi .Melakukan aktivitas perwatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri .Perubahan pola komunikasi .Pertahankan kontak mata saat berhubungan .Konsentrasi jelek.Bicara langsung kepada pasien dengan perlahan dan jelas .Mendemonstrasikan perilaku untuk kompensasi Intervensi : ..Menggunakan sumber bantuan dengan tepat Intervensi : . tekanan psikologis ( penyempitan lapangan persepsi disebabkan oleh kecemasan) Ditandai .Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi tentang kebutuhannya untuk menghindari dan atau kemampuan untuk menggunakan urinal.Disorientasi waktu.Bicara dengan nada normal Kolaborasi : . Tujuan / kriteria hasil : . perpaduan ( trauma / penurunan neurologi).bedpan.Bantu pemahaman sensori . memasang/melepas baju.Mengidentifikasi sumber pribadi /komunitas dalam memberikan bantuan sesuai kebutuhan .Ketidakmampuan untuk mengatakan letak organ tubuh .mandi.Evaluasi penurunan visual .Lindungi psien dari temperatur yang ekstrim .Konsul dengan ahli terapi wicara 4.Validasi persepsi pasien 5.Antisipasi dan sediakan kebutuhan pasien .d penerimaan perubahan sensori transmisi.Kaji patologi kondisi individual . Kurang perawatan diri b. .Mendemonstrasikan perubahan gaya hidup untuk memenuhi kenutuhan perawatan diri Intervensi: .Dapat mempertahakan level kesadaran dan fungsi persepsi pada level biasanya.Perubahan pengetahuan dan mampu terlibat . kehilangan kontrol /koordinasi otot Ditandai dengan : .Kaji kemampuan dantingkat kekurangan (dengan menggunakan skala 1-4) untuk melakukan kebutuhan sehari-hari . orang . .

Rujuk ahli diit .Dorong pasien untukmkan diit tinggi kalori kaya nutrien sesuai program . ketidakmampuan mengatasi lendir Kriteria hasil: . .Identifikasi kebiasaan defekasi sebelumnya dan kembalikan pada kebiasaan pola normal tersebut. Gangguan pemenuhan nutrisi b.Pasien mengungkapkan pemasukan adekuat Intervensi. Marilynn.Kaji dan pantau pernapasan. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan .Kehilangan sensasi pengecapan .Ekspansi dada simetris .Pasien dapat berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang nafsu makan .D.2000 hal 293-305) BAB IV PENUTUP A.Tidak terdapat tanda distress pernapasan .Berikan oksigenasi sesuai advis .Konsultasikan dengan ahli fisioterapi/okupasi 6.Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau keberhasilannya.Berikan supositoria dan pelunak feses .E dan B6 .Ukur BB setiap hari sesuai indikasi .Kontrol faktor lingkungan (bau.Pantau BGA dan Hb sesuai indikasi 7.Bunyi napas bersih saaatauskultasi . Kesimpulan .Pasang /pertahankan slang NGT untuk pemberian makanan enteral (DoengesE.BB stabil . reflek batuk dan sekresi .Penghisapan sekresi .. Kolaborasi.GDA dan tanda vital dalam batas normal Intervensi: .d reflek menelan turun.Vitamin A.hilang rasa ujung lidah Ditandai dengan: .Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi jalan napas setiap 4 jam . Anjurkan untuk minum banyak dan tingkatkan aktivitas.berlemak dan pedas.Keluhan masukan makan tidak adekuat .d kerusakan batuk. . bising). hindari makanan terlalu manis. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b. Kadar makanan yang berserat.Pasien memperlihatkan kepatenan jalan napas .Identifikasi pasien yang mengalami mual muntah Kolaborasi: .Rongga mulut terinflamasi Kriteria evaluasi: . .Pemberian anti emetic dengan jadwal reguler .Pantau masukan makanan setiap hari .Posisikan tubuh dan kepala untuk menghindari obstruksi jalan napas dan memmberikan pengeluaran sekresi yang optimal .

Penyakit Jantung d.com/2008/06/asuhan-keperawatan-klien-denganstroke. Kadar asam urat darah tinggi h.html Pendahuluan data Salah satu cermin keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia dapat dilihat dari meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia yaitu 67 tahun untuk wanita dan 63 tahun untuk pria yang mencapai 19 juta jiwa atau 8. dkk. http://fijaytrangkil. Diabetes Melitus c. Stroke dibagi menjadi 2 golongan. Hipertensi b. Merokok d. Penyakit darah tertentu seperti polisitemia dan leukemia g. A. Lanjut Usia f. inc. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Hudak Gallo. Transient Ischemic Attack (TIA) Faktor resiko tambahan a. Jakarta : EGC. 2000. yaitu: Infark Ischemik (Stroke non Hemoragi) Hal ini terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah otak Perdarahan (Stroke Hemoragi) Terjadi pecahnya pembuluh darah otak. Doengoes. Tuti. Saran Dari uraian diatas dapat kami sarankan sebaiknya para pembaca khususnya perawat dengan kasus stroke mengetahui tentang: Faktor-faktor resiko yang dapat ditemui pada klien dengan stroke laboratorium yang perlu dilakukan Cara penatalaksanaan pada stroke. Stroke juga menjadi salah satu penyebab kematian dan kecacatan neurologis yang utama. Keperawatan Kritis Edisi VI Volume II. New York : William Morrow and Company.5% dari penduduk Indonesia. 2001.blogspot. Faktor-faktor risiko yang dapat ditemui pada klien dengan stroke yaitu: Faktor risiko utama a. Dari . 1993. 1996.Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Lumbantobing. Kadar lemak darah yang tinggi termasuk kolesterol dan trigliserida b. 1997. Neurogeriatri. DAFTAR PUSTAKA Ancowitz. Riwayat keluarga dengan stroke e. Jakarta : EGC. disebabkan karena gangguan perdarahan otak. The Stroke Book. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Persarafan. Penyakit paru-paru menahun B. Marilynn E. Pahria. Kegemukan atau obesitas c. Jakarta : EGC.

stroke dan sebagainya. Keterbatasan gerak dan kelincahannya serta usia pensiun yang menyebabkan usia lanjut cenderung menurun dan kemudian akan mempengaruhi mental serta kehidupan sosialnya. usia lanjut mempunyai pola hidup yang berbeda satu dengan lainnya. berdansa/berjoget atau melakukan kegiatan apa saja yang dibutuhkan. leaflet. Bukan hanya itu Yastroki sebagai suatu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli terhadap stroke dan usia lanjut. Namun kondisi saat ini menyebabkan para anggota keluarga banyak yang bekerja maupun mempunyai kegiatan di luar rumah menyebabkan para usia lanjut merasa tersisihkan. Terutama penyakit yang berhubungan dengan faktor usia seperti tekanan darah tinggi. jantung dan pembuluh darah. sehingga apa yang kita cita-citakan. Biasanya penyakit ini akan menyerang orang-orang berusia lanjut. cukup istirahat dan olah raga.jumlah tersebut sebagian besar di antara mereka daya tahan tubuhnya sangat rentan terhadap berbagai serangan penyakit. pengasuh usia lanjut. Karena itu para usia lanjut membutuhkan perhatian khusus dari keluarganya dan masyarakat. perlu dilakukan pengkajian kebutuhan kesehatan usia lanjut. Dengan demikian mereka tidak merasa kesepian dan akan mendapatkan banyak pengetahuan tentang kesehatan dismping menerima pelayanan kesehatan secara sederhana yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di puskesmas. booklet atau poster tentang upaya kesehatan lanjut usia. Karenanya. Haryono. Stroke merupakan suatu penyakit yang menyerang syaraf otak manusia sehingga mereka yang terkena serangan strokeakan mengalami kelumpuhan sebagian anggota tubuhnya tergantung susunan syaraf bagian mana yang terserang. tidak merokok dan sebagainya agar suatu saat nanti para usia lanjut tidak segera mengalami kepikunan dan masih dapat hidup mandiri bahkan produktif. Dari jumlah tersebut sebagian besar di antara mereka daya tahan tubuhnya sangat rentan terhadap berbagai serangan penyakit. kondisi ekonomi. kebutuhan usia lanjut pun dapat berbeda. Nusantara Stroke & Medical Center menyelenggarakan seminar untuk meminimalkan angka kejadian stroke yang dialami para lanjut usia (lansia) pada tanggal 6 Juli 2004. senam bersama.5% dari penduduk Indonesia. dapat mengembangkan ataupun memfasilitasi pembentukan kelompok usia lanjut binaan sebagai suatu wadah kegiatannya sebagai model kegiatan dalam rangka peningkatan kualitas hidup usia lanjut. Pada usia tersebut akan terjadi kemunduran sel-sel yang dapat mempengaruhi fungsi dan kemampuan sistem tubuh termasuk syaraf. serangan jantung. Menurut Komisaris Utama NSMC Prof Dr Haryono Suyono. petugas panti wreda. stroke dan sebagainya. Meski begitu. Mengingat hal itu. berharap di masa mendatang dapat dikembangkan berbagai kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia melalui berbagai pelatihan bagi keluarga. namun tidak tertutup kemungkinan menyerang meraka yang berusia muda akibat perubahan pola hidup dan gaya hidup. untuk menghindarinya stroke perlu dikenali dan dipahami cara pencegahannya melalui pola hidup sehat seperti makan dengan gizi seimbang. serangan jantung. Di dalam kelompok ini. pendidikan maupun lingkungannya. Sesuai dengan status kesehatan. serta penyediaan bukubuku. yaitu terbentuknya klub stroke berbasis masyarakat bisa . usia lanjut dapat saling berdiskusi tentang pengalaman kesehatannya. semua orang akan mengalami masa tua dan usia lanjut yang secara alami tidak dapat dihindarkan. termasuk kebutuhan kesehatannya. saling bertukar pikiran. Salah satu cermin keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia dapat dilihat dari meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia yaitu 67 tahun untuk wanita dan 63 tahun untuk pria yang mencapai 19 juta jiwa atau 8. Diakuinya. Terutama penyakit yang berhubungan dengan faktor usia seperti tekanan darah tinggi. Berbgai masalah yang dihadapi usia lanjut anatara lain penyakit yang biasanya betsifat kronis dan memerlukan penanganan speialistik sehingga membutuhkan waktu relatif lama dan biaya tinggi. sosial budaya. Untuk mengantisipasi Hal tersebut.

kemudian tahun 1990 naik menjadi . Jumat (22/5). Ia berada di Banjarmasin untuk menghadiri acara sosialisasi perlindungan perempuan lansia dan penyandang cacat tingkat Kota Banjarmasin. Mereka yang masih produktif khususnya perempuan bisa diarahkan ke dalam kegiatan ekonomi produktif. tetapi ada pula lansia walau udah tua tetapi masih produktif.5%. “Menjadi lansia bukanlah pilihan.5 juta jiwa dari seluruh jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 220 juta jiwa. tetapi jumlah angka harapan hidup yang terus meningkat.1%. Usia lanjut khususnya perempuan bukan berarti tidak meninggalkan masalah di tengah masyarakat. Depsos. Makmur Sunusi pada konperensi pers dalam rangka Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) Tahun 2009 di Jakarta. Menurutnya.terwujud. RIS http://www.or.5 juta. khususnya perempuan di mana usia perempuan akan lebih panjang.COM] . dan jumlahnya dari tahun ke tahun terus meningkat. tetapi melihat tingkat kesehatan dan kesejahteraan belakangan ini maka lansia merupakan sebuah kehidupan.php?id=124 KAPANLAGI.” kata Deputi Bidang Perlindungan Perempuan. Melihat tingkat kesehatan dan kesejahteraan kian membaik maka angka harapan hidup penduduk Indonesia juga kian meningkat pula. Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan RI. balitanya tinggal 6. tahun 1980 jumlah lansia masih 7 juta jiwa. atau 5. Subagio menjelaskan penduduk yang disebut lansia adalah yang berusia di atas dari 60 tahun.3 juta orang.id/read.8 juta orang. termasuk di dalamnya lansia yang masih potensial. sementara penduduk kategori usia di bawah lima tahun (balita) sebesar 16.9% yang menyebabkan jumlah penduduk lansia terbesar di dunia. [kpl/rif/foto 22/5/2009 (Kominfo-Newsroom) � Jumlah orang lanjut usia (lansia) di Indonesia saat ini sekitar 16.2%. Pada tahun 1971 lalu penduduk Indonesia yang dikategorikan lansia masih sekitar 4. Subagio di Banjarmasin. angka kelahiran sudah tidak terlalu meningkat lagi.4 juta orang. ada lansia yang memang tidak produktif ditangani secara khusus. Sedangkan ramalan pihak badan kesehatan dunia WHO bahwa penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2020 mendatang sudah mencapai angka 11. �Jumlah lansia saat ini sekitar 16. komposisi penduduk Indonesia belakangan ini kian terbalik. Menurut Subagio terdapat dua model penanganan lansia. makanya perlu antisipasi dan penanganan dalam menghadapi boom lansia tersebut. Pada tahun 2005 kondisi komposisi penduduk Indonesia telah berubah yang menjadikan penduduk lansia mencapai 7% dan balita 8. Menurutnya. Drs. yang pada gilirannya akan menimbulkan jumlah penduduk lansia terus membengkak secara drastis. Para usia lanjut yang terpaksa harus tinggal di rumah karena lemah atau pasca perawatan dan membutuhkan perawatan kesehatan dapat dibantu dengan ?Perawatan Kesehatan Usia Lanjut di rumah? yang biasa dikenal dengan Home Care melalui pemberdayaan keluarga dan masyarakat.� kata Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial (Yanrehsos).Pihak Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia memprediksi akan terjadi lonjakan (boom) jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di negara Indonesia menyusul kian membaiknya tingkat kesejahteraan yang diiringi kian membaiknya pula tingkat derajat kesehatan masyarakat.yastroki. Kamis (18/9/2008). Namun pada tahun 2000 jumlah lansia Indonesia sudah mencapai tiga kali lipat yakni menjadi 14.34% atau tercatat 28.

Namun karena terbatasnya anggaran. http://www. Disusul Provinsi Jawa Tengah (11. Sumatra Utara. kontribusi Komnas Lansia dalam HLUN antara lain dalam acara Temu Nasional Bina Keluarga Lansia (BKL) yang diselenggarakan BKKBN diminta menjadi pembicara utama yang disampaikan Ketua Komnas Lansia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2007. antisipasi ledakan lansia di Binjai dilakukan dengan model pendekatan senior center. untuk kota percontohan. artinya jangan menunggu kapan masuk panti jompo. dan tahun 2020 menjadi 28 juta orang lebih. dan lain-lain.Dari jumlah tersebut. diperkirakan jumlah lansia mencapai 23 juta jiwa. han. Tahun 2010.02%). Selain itu juga merencanakan untuk mensosialisasikan konsep Menua Secara Aktif. . 14% di antaranya berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jumlah lansia diperkirakan naik mencapai 11. Ia menjelaskan bahwa pada peringatan HLUN tahun 2009 ini. kita punya dua kota perconto. Ia mengatakan. "Harus ada upaya antisipasi karena lansia merupakan kelompok umur yang kurang berdaya sehingga menjadi beban masyarakat. sebenarnya. maka seseorang walaupun telah pensiun tetap diusahakan supaya terus aktif.34% dari jumlah penduduk di Indonesia. keluarga.” katanya. baik di tengah masyarakat maupun dalam proses pembangunan. Tangerang.16%). atau yang merupakan daerah paling tinggi jumlah lansianya. jumlah lansia yang terlayani kurang lebih lima persen dari jumlah lansia terlantar yang menurut data Pusdatin Kesos tahun 2008 sebanyak 1. dan Binjai. semua lansia yang jumlahnya saat ini sekitar 16.Lies kembali mengatakan. Dikemukakan. Toni Hartono dalam kesempatan sama mengatakan. mendapatkan pelayanan yang sama. Sementara itu Sekjen Komnas Lansia.14%). katanya. Karena itu. dalam acara sosialisasi kebijakan penanganan lansia di Yogyakarta. Depsos akan melaksanakan launching Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU) Tahun 2009 oleh Menteri Sosial di Puspitek. dan pemerintah. di antaranya dengan melakukan pendekatan komunitas dan keluarga. jumlah lansia di Indonesia mencapai 18. katanya.go. Jawa Timur (11. Sabtu (19/12). Lansia dan Penyandang Cacat.6 juta orang. Namun panti sosial-panti sosial yang jumlahnya sebanyak 243 unit. Pelayanan tersebut dilakukan melalui pusat-pusat pelayanan sosial. Inten Suweno. Kementerian Pemberdayaan Perempuan.96 juta orang.id/berita/bipnewsroom/jumlah-lansia-di-indonesia-165juta-orang/ BEBERAPA wilayah di Indonesia akan mengalami ledakan penduduk lansia (lanjut usia) pada 2010 hingga 2020.depkominfo. yaitu di Tulungagung. Depsos akan mencoba mencari solusi.5 juta orang. dan Bali (11. baik yang potensial maupun yang tidak potensial. “Dengan konsep Menua Secara Aktif. baru bisa menampung sekitar 80 ribuan lansia." kata Asisten Deputi Urusan Perempuan. Untuk masalah ini. panti jompo.12 juta orang. Jawa Timur. Lies Rostianty. maka diprioritaskan bagi lansia yang non-potensial atau terlantar. sedangkan tahun 2000 naik menjadi 14 juta jiwa.

Sementara itu. Ketua Pokja Peningkatan.Model itu diterapkan dengan mengumpulkan para lansia dan mereka melakukan kegiatan secara terarah mulai dari kegiatan kesehatan. Pemerintah Kota Yogyakarta Tri Kirana mengatakan tingginya angka lansia di DIY disebabkan karena angka harapan hidupnya juga tinggi.co. harapan hidupnya mencapai usia 77 tahun (perempuan) dan 75 tahun (laki-laki).id/detailberita-10423665. rohani hingga rekreasi. Pemeliharaan Intelegensi Lansia. misalnya.html . kita memiliki 598 kelompok lansia yang secara rutin kita bina. Data di Kota Yogyakarta.Tinggi harapan hidup Sementara itu. keterampilan. percontohan di Tulunggagung dilakukan dengan pendekatan homecare. Tingginya harapan hidup itu karena secara geografis. luas Kota Yogyakarta kecil sehingga akses terhadap fasilitas kesehatan mudah dijangkau. yaitu pendekatan penanganan dengan melibatkan peranan keluarga dan masyarakat." http://bataviase."Untuk memberdayakan dan pendampingan terhadap lansia yang ada.