P. 1
POLA ASUH - ANAK

POLA ASUH - ANAK

|Views: 871|Likes:
Published by Dyah Wardani

More info:

Published by: Dyah Wardani on Sep 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/16/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. Latar Belakang Masalah
  • B. Tujuan Penelitian
  • C. Manfaat Penelitian
  • A. Motivasi Belajar
  • 5. Peran motivasi terhadap prestasi belajar
  • 6. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar
  • 7. Ciri-ciri individu yang memiliki motivasi belajar tinggi
  • B. Persepsi Terhadap Pola Asuh Orang Tua
  • 1. Pengertian persepsi
  • 2. Jenis-jenis persepsi
  • 3. Proses terjadinya persepsi
  • 4. Pengertian pola asuh orang tua
  • 5. Pengertian persepsi terhadap pola asuh orang tua
  • 7. Aspek-aspek persepsi terhadap pola asuh orang tua
  • D. Hipotesis
  • A. Identifikasi Variabel Penelitian
  • 1. Variabel bebas
  • 2. Variabel tergantung
  • 1. Motivasi belajar
  • 2. Persepsi terhadap pola asuh orang tua
  • C. Subjek Penelitian
  • 1. Populasi
  • 2. Sampel
  • 3. Teknik sampling
  • D. Metode Pengumpulan Data
  • 1. Skala motivasi belajar
  • 2. Skala persepsi terhadap pola asuh orang tua
  • E. Validitas dan Reliabilitas
  • 1. Validitas
  • 2. Reliabilitas
  • F. Metode Analisis Data
  • A. Persiapan Penelitian
  • 1. Orientasi kancah penelitian
  • 2. Persiapan alat pengumpulan data
  • 3. Pelaksanaan uji coba
  • 4. Perhitungan validitas dan reliabilitas
  • B. Pelaksanaan Penelitian
  • 1. Pengumpulan Data
  • 2. Pelaksanaan Skoring
  • C. Analisis Data Penelitian
  • 1. Uji Normalitas
  • 2. Uji Linieritas
  • 3. Hasil Analisis Data
  • D. Pembahasan
  • A. Kesimpulan
  • B. Saran
  • DAFTAR PUSTAKA

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI ANAK TERHADAP POLA ASUH ORANG TUA DENGAN MOTIVASI BELAJAR

Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Psikologi

Disusun Oleh: ATHIYYATUN NAJAH F 100020239

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2007
ii

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI ANAK TERHADAP POLA ASUH ORANG TUA DENGAN MOTIVASI BELAJAR

Yang diajukan oleh : Athiyyatun Najah F100020239

Telah disetujui untuk dipertahankan di depan dewan penguji

Telah disetujui oleh : Pembimbing I

Drs. Daliman, SU.

Tanggal, 02 Agustus 2007

Pembimbing II

Lusi Nuryanti, S.Psi iii

Tanggal, 03 Oktober 2007

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI ANAK TERHADAP POLA ASUH ORANG TUA DENGAN MOTIVASI BELAJAR

Yang diajukan oleh : Athiyyatun Najah F100020239

Telah dipertahankan di depan dewan penguji Pada tanggal 10 November 2007 dan dinyatakan telah memenuhi syarat Penguji Utama Drs. Daliman, SU. Penguji I Lusi Nuryanti, S.Psi Penguji II Dra. Hj. Yuliani P. M.Si _____________________ _____________________ _____________________

Surakarta,

November 2007

Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Psikologi Dekan

Susatyo Yuwono, S.Psi, M.Si iv

tidak ada langkah yang terlalu panjang untuk dijalani. Al Insyiroh : 6) Segalanya tercapai kalau kamu yakin.S. keyakinanlah yang membuat segalanya tercapai. (penulis) v . (Frank Lloyd Wright) Tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dihadapi. dan tidak ada orang yang terlalu sulit untuk dihadapi ketika kita mampu menyikapi setiap peristiwa yang terjadi dengan hati yang jernih dan kepala yang dingin.MOTTO Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Q.

PERSEMBAHAN Dengan segenap cinta dan ketulusan hati sebuah karya sederhana ini penulis persembahkan untuk : ☺ ☺ ☺ Ayah dan Ibu Adik-adikku Almamaterku vi .

4. Alhamdulillahirabbil’alamin. Nanik Prihartanti. Seluruh staf pengajar dan karyawan di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. M. pengarahan. serta dorongan yang sangat berharga bagi penulis. selaku Pembimbing Akademik yang senantiasa memberikan pengarahan dan bimbingan selama penulis menempuh studi di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. selaku Pembimbing Utama yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan. sehingga bimbingan. Ibu Dr. selaku Pembimbing Pendamping yang berkenan dengan kesabaran. dan bantuan telah banyak penulis peroleh dari berbagai pihak.wb. Daliman SU.Psi. Oleh karena itu. Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini.KATA PENGANTAR ‫ﺑﺴﻢ اﷲ أﻟﺮﺣﻤﻦ أﻟﺮﺣﻴﻢ‬ Assalamu’alaikum wr. Penulis menyadari keterbatasan pengetahuan yang dimiliki. Bapak Susatyo Yuwono. 3. penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat : 1. S. pengarahan. ketelitian.Psi. 5. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. yang telah memberikan ilmu yang sangat vii . Ibu Lusi Nuryanti S. Bapak Drs. 2.Si. serta dorongan yang sangat berharga bagi penulis. pengarahan.

bermanfaat dan yang telah membantu kelancaran proses penulisan skripsi ini. 10. Ayah dan Ibu tercinta. Bapak Kholid Trenggono. Penulis viii . Wassalamu’alaikum wr.wb. Adik-adik penulis. 11. 9. terima kasih atas segala yang telah diberikan baik materiil maupun spirituil. terima kasih atas kebersamaannya. Teman-teman kelas A dan kelas E angkatan 2002 yang telah memberikan persahabatan yang indah. Hanya ucapan terima kasih yang penulis haturkan. semoga amal kebaikan yang telah diberikan mendapat balasan yang melimpah dari Allah SWT dan harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semuanya. yang selalu menyertai langkah penulis. selaku kepala sekolah MAN 1 Salatiga yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk mengadakan penelitian. 6. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah membantu kelancaran penyusunan skripsi ini. Teman-teman kost “VALENTINE”. 8. 7.

..................................................7 2...................................... Aspek-aspek motivasi belajar........................................................vi KATA PENGANTAR............. Pengertian belajar................................................................xiii DAFTAR LAMPIRAN.............. Tujuan Penelitian......................vii DAFTAR ISI....6 BAB II...6 C..........................................................7 A...................................................................................................................................................................................................... LANDASAN TEORI..............................................................xiv ABSTRAK..........................10 4.........8 3................................................................................................... PENDAHULUAN...............................................................................iv HALAMAN MOTTO..................................................ix DAFTAR TABEL...............i HALAMAN JUDUL..........iii HALAMAN PENGESAHAN..................................................................... Manfaat Penelitian........................................ Pengertian motivasi belajar..................................ii HALAMAN PERSETUJUAN............................................7 1....11 ix ..........................................................................................1 A............................................. Pengertian motivasi..................................................................................................................................xv BAB I...1 B................................................................................................................................................................................................... Latar Belakang Masalah.......................................................................................... Motivasi Belajar............................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL DEPAN..........................................................v HALAMAN PERSEMBAHAN.................

.......................................................................23 C. Hipotesis.........................30 1.................................26 D............................. Faktor yang mempengaruhi persepsi terhadap pola asuh orang tua.............19 4...30 1.........................30 2......30 B........... METODE PENELITIAN........... Definisi Operasional Variabel........21 6...............................31 2................. Pengertian persepsi terhadap pola asuh orang tua.............................22 7................ Persepsi terhadap Pola Asuh OrangTua..................................... Subjek Penelitian.... Jenis-jenis persepsi. Peran motivasi terhadap prestasi belajar.................31 C.............13 7........................ Hubungan Antara Persepsi Anak terhadap Pola Asuh Orang Tua dengan Motivasi Belajar................... Proses terjadinya persepsi...... Pengertian persepsi........... Pengertian pola asuh orang tua........................13 6........ Ciri-ciri individu yang memiliki motivasi belajar tinggi................................................................................................... Aspek-aspek persepsi terhadap pola asuh orang tua.........................................................................17 2................................18 3...................20 5..................................................... Variabel Bebas.........................................................................29 BAB III... Motivasi Belajar...30 A............................................5................................... Persepsi terhadap Pola Asuh Orang Tua................ Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar................................................................ Indentifikasi Variabel Penelitian........................................................................................... Variabel Tergantung.........................16 B....................32 x ....17 1..

..............38 BAB IV......................... Uji Normalitas.....................................................................41 3... Populasi.........41 1................................... Persiapan Penelitian...........................33 1...........47 xi ...............................................46 C..................... Perhitungan Validitas dan Reliabilitas................................................................34 2.............................. Validitas dan Reliabilitas......................................................................37 F..... Teknik Sampling...................... Sampel....................... Analisis Data Penelitian...........................45 2........................... Uji Linieritas............................................................... Metode Analisis Data........................36 1.......................................................................................... Orientasi Kancah Penelitian.............................43 4.................................................................................... Reliabilitas.............................47 1....... Pengumpulan Data..................................... Metode Pengumpulan Data..................... Validitas.... LAPORAN PENELITIAN.........................................................47 3............................32 3........................................................................ Pelaksanaan Uji Coba...............1......41 2..................................33 D..............32 2................................................................................................... Hasil Analisa Data....................45 1.......................................................................... Persiapan Alat Pengumpulan Data................ Skala Motivasi Belajar.........................43 B.................41 A................................................................... Skala Persepsi terhadap Pola Asuh Orang Tua............................................36 2...............................................35 E......47 2................................... Pelaksanaan Penelitian..................... Pelaksanaan Skoring.....

.................................................................53 DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................55 LAMPIRAN................................................. PENUTUP......... Pembahasan................................................D..... Kesimpulan...............58 xii ................................................................................................48 BAB V.......................................53 B.........53 A..... Saran...................................................................................................................

....................................................44 Tabel 4 Skala persepsi terhadap pola asuh orang tua setelah uji coba.........................43 Tabel 3 Skala motivasi belajar setelah uji coba........................................42 Tabel 2 Blue print skala persepsi terhadap pola asuh orang tua sebelum uji coba..............................................................45 xiii ........DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1 Blue print skala motivasi belajar sebelum uji coba..............

...72 D............DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A..............................85 G...........................................................59 B.............................96 Halaman xiv ..................... Hasil Analisis Korelasi Product Moment...................................................................................................... Skala Pengukuran.... Uji Normalitas dan Homogenitas................................................... Surat Ijin Penelitian.................................... Surat Keterangan Penelitian.....82 F................ Validitas dan Reliabilitas Skala Persepsi terhadap Pola Asuh Orang Tua............. Validitas dan Reliabilitas Skala Motivasi belajar.................................................65 C..... dan Surat Keterangan Analisa Data..........80 E..................... Norma Pengkategorian Variabel.................................

081 dengan p > 0. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada hubungan positif yang signifikan antara persepsi terhadap pola asuh orang tua dengan motivasi belajar. Namun. sebab keluarga adalah pendidik pertama dari pengalaman anak-anak. sedangkan Persepsi terhadap pola asuh orang tua yang dimiliki subjek tergolong positif.469 dan rerata hipotetik sebesar 85.05 hal ini menunjukkan tidak ada hubungan positif yang signifikan antara persepsi terhadap pola asuh orang tua dengan motivasi belajar. Hasil analisis korelasi product moment diperoleh hasil koefisien korelasi sebesar 0. Penelitian ini dilaksanakan di MAN I Salatiga pada siswa kelas XI IPS 2 dan XI IPS 4. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. terutama bagi seorang anak karena dengan belajar anak akan memperoleh pengetahuan mengenai apa yang ia pelajari. xv . untuk pertama kalinya aktivitas belajar dilakukan dalam lingkungan keluarga. Belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Subjek penelitian berjumlah 64 siswa yang ditentukan dengan menggunakan purpossive non random sampling. ditunjukkan dengan rerata sebesar 101. Alat ukur yang digunakan adalah skala motivasi belajar dan skala persepsi terhadap pola asuh orang tua. Hipotesis penelitian ini adalah ada hubungan positif antara persepsi terhadap pola asuh orang tua dengan motivasi belajar.406 dan rerata hipotetik sebesar 80. Subjek penelitian ini memiliki tingkat motivasi belajar yang tergolong tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara persepsi anak terhadap pola asuh orang tua dengan motivasi belajar. ditunjukkan dengan rerata empirik sebesar 103. dan mengetahui sejauh mana persepsi anak terhadap pola asuh orang tua.ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI ANAK TERHADAP POLA ASUH ORANG TUA DENGAN MOTIVASI BELAJAR Belajar sangat diperlukan bagi setiap individu. Motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri seseorang yang menimbulkan kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek dapat tercapai. mengetahui sejauh mana motivasi belajar siswa.

1987). 1995). sehingga tujuan yang dikehendaki oleh individu dapat tercapai (Winkel. karena belajar adalah suatu proses yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku dan atau kecakapan (Purwanto.1 BAB I PENDAHULUAN A. Oleh karena itu. yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang menimbulkan arah pada kegiatan belajar. Selain itu belajar juga dapat membuat anak menjadi lebih dewasa baik dalam berpikir maupun bertingkah laku. Peranan motivasi yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah. Latar Belakang Masalah Belajar sangat diperlukan bagi setiap individu. Sardiman (2001) menyatakan beberapa pendapat tentang motivasi belajar antara lain: motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. suatu hal yang harus anak lakukan adalah belajar. merasa senang dan semangat untuk belajar. Menurut Djamarah (2002) seorang anak dengan kemiskinan ilmu pengetahuan sangat sulit untuk beradaptasi dan memahami perputaran roda zaman. Hal ini menunjukkan bahwa anak yang . terutama bagi seorang anak karena dengan belajar anak akan memperoleh pengetahuan mengenai apa yang ia pelajari. Seseorang yang memiliki motivasi kuat akan mempunyai banyak energi untuk belajar. Motivasi dalam kegiatan belajar dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri seseorang yang menimbulkan kegiatan belajar.

Anak akan terdorong dan tergerak untuk memulai aktivitas atas kemauannya sendiri. mengatasi rintangan dan memelihara kualitas belajar serta bersaing melalui usaha untuk melebihi perbuatannya yang lalu dan mengungguli perbuatan orang lain. dan lain-lain. cuaca. Terwujudnya motivasi belajar yang tinggi. Prayitno (1989) menjelaskan bahwa motivasi belajar tidak hanya sebagai energi yang mengarahkan anak untuk belajar. memanipulasi dan mengatur lingkungan sosial maupun fisik. suhu udara. Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar adalah persepsi anak terhadap pola asuh orang tua. 2004). (2) faktor internal yaitu faktor dari dalam diri individu yang terbagi menjadi dua: faktor fisiologis meliputi keadaan jasmani dan keadaan fungsi-fungsi fisiologis dan faktor psikologis meliputi minat. . tempat belajar. kecerdasan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar antara lain: (1) faktor eksternal yaitu faktor dari luar individu yang terbagi menjadi dua: faktor sosial meliputi faktor manusia lain baik hadir secara langsung atau tidak langsung dan faktor non sosial meliputi keadaan udara. waktu. dan persepsi (Suryabrata.2 memiliki motivasi belajar akan dapat meluangkan waktu belajar lebih banyak dan lebih tekun daripada mereka yang kurang memiliki atau sama sekali tidak mempunyai motivasi belajar. menyelesaikan tugas tepat waktu dan gigih serta tidak putus asa saat menjumpai kesulitan dalam menjalankan tugas jika anak tersebut mempunyai motivasi dalam belajar. tapi juga suatu energi yang mengarahkan aktivitas siswa kepada tujuan belajar yang diharapkan. Motivasi belajar adalah suatu dorongan yang ada pada seseorang sehubungan dengan prestasi yaitu menguasai.

Namun.3 perlu adanya dukungan dari keluarga. Shochib (1998) mengatakan bahwa keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak. terutama orang tua. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa keluarga merupakan “pusat pendidikan” yang pertama dan terpenting karena sejak timbulnya adab kemanusiaan sampai kini. terutama dari kedua orang tua. Dengan kedewasaan tersebut. orang tua memberikan pola asuh yang berbeda pula dalam membimbing dan mendidik anak-anaknya. baik secara biologis maupun secara rohani. moral. Dalam keluarga yang berbeda. dan pendidikan kepada anak. 1985) anak sebagai manusia yang belum sempurna perkembangannya dipengaruhi dan diarahkan orang tua untuk mencapai kedewasaan. Keluarga. watak. Menurut Utama (Kartono. yakni kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. sebab keluarga adalah pendidik pertama dari pengalaman anak-anak (Partowisastro. memberikan contoh kepada anak-anaknya dan juga memberikan motivasi agar dapat meraih cita-cita yang diinginkannya serta dapat berguna bagi keluarga mereka pada masa yang akan datang. anak akan menjadi manusia yang mampu mencapai tujuan hidupnya. keluarga selalu mempengaruhi pertumbuhan budi . Orang tua mempunyai tugas yaitu membimbing dan mendidik anak-anaknya. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku. 1983). untuk pertama kalinya aktivitas belajar dilakukan dalam lingkungan keluarga. tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial.

Soelaiman (Shochib. Disamping itu orang tua dapat menanamkan benih kebatinan yang sesuai dengan kebatinannya sendiri kedalam jiwa anak-anaknya (Shochib. dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk . membimbing.4 pekerti tiap-tiap manusia. 1998) menyatakan bahwa dipandang dari psikologis. Pengasuhan ini berarti orang tua mendidik. Pola asuh pada dasarnya diciptakan oleh adanya interaksi antara orang tua dan anak dalam hubungan sehari-hari yang berevolusi sepanjang waktu. Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. sehingga orang tua akan menghasilkan anak-anak sealiran. 1998). dan saling menyerahkan diri. Dalam usaha saling melengkapi dan saling menyempurnakan diri itu terkandung suatu kedekatan diantara mereka. 1998). karena orang tua tidak hanya mengajarkan dengan kata-kata tetapi juga dengan contoh-contoh (Shochib. Hurlock (1990) mengatakan bahwa di dalam pengasuhan anak para orang tua mempunyai tujuan untuk membentuk anak menjadi yang terbaik sesuai dengan apa yang dianggap ideal oleh para orang tua dan dalam pengasuhan anak diberikan istilah disiplin sebagai pelatihan dalam mengendalikan dan mengontrol diri. saling memperhatikan. keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal yang sama dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi.

menilai. Perlakuan orang tua terhadap seorang anak akan mempengaruhi bagaimana anak itu memandang. Orang tua yang satu dengan yang lain memberikan pola asuh yang berbeda dalam membimbing dan mendidik anak-anaknya. “Hubungan Persepsi Anak terhadap Pola Asuh Orang Tua dengan Motivasi Belajar”. Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar adalah persepsi terhadap pola asuh orang tua. dan juga mempengaruhi sikap anak tersebut terhadap orang tua serta mempengaruhi kualitas hubungan yang berkembang di antara mereka. Persepsi yang dialami seorang anak bersifat subjektif sehingga motivasi belajarnya tergantung bagaimana anak mempersepsi pola asuh yang diberikan orang tuanya. . 2003).5 mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat (Turmudji. Menurut Hurlock (1990) orang tua harus dapat memberikan pola asuh yang tepat sesuai dengan perkembangan anaknya. agar anak dapat mempersepsikan pola asuh yang diberikan kepadanya dengan baik sehingga dapat memotivasi belajarnya. Pola asuh adalah sikap orang tua dalam membimbing anak-anaknya. Berdasarkan uraian diatas maka penulis merumuskan permasalahan: “apakah ada hubungan antara persepsi anak terhadap pola asuh orang tua dengan motivasi belajar ?”. Untuk menjawab rumusan masalah tersebut maka penulis tertarik mengadakan penelitian dengan judul.

Sekolah. Peneliti selanjutnya. Mengetahui sejauh mana persepsi subjek terhadap pola asuh orang tua. Mengetahui sejauh mana motivasi belajar pada subjek. . Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi: 1. C. 2. dapat memberikan masukan tentang motivasi belajar kaitannya dengan persepsi terhadap pola asuh orang tua.6 B. 3. maka penelitian ini bertujuan untuk: 1. Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan. hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian sejenis. Mengetahui apakah ada hubungan antara persepsi anak terhadap pola asuh orang tua dengan motivasi belajar. 2.

. dan dorongan untuk dimiliki. tinjauan masa depan yang optimis dan prestasi akademis.7 BAB II LANDASAN TEORI A. Hamalik (2000) menyatakan bahwa motivasi ditandai oleh harapan untuk sukses dalam memecahkan masalah. Penilaian tentang motivasi banyak dilakukan atau digunakan dalam berbagai bidang pendidikan. motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. 2001). mengarahkan. dorongan untuk dihargai. Pengertian motivasi Perilaku manusia ditimbulkan atau dimulai dengan adanya motivasi. dan menjaga tingkah laku seorang anak agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan pendidikan sesuai yang diharapkan dan ditetapkan dalam kurikulum sekolah. dorongan untuk merasa aman. Menurut McDonal (Sardiman 2001). dorongan aktivitas. dorongan sosial. misalnya untuk dapat dihargai dan diakui oleh orang lain. Berdasarkan motivasi seseorang dapat melakukan sesuatu yang diinginkan (Sardiman. Purwanto (1995) mengartikan motivasi sebagai suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan. Motivasi Belajar 1.

Suryabrata (2004) menyatakan bahwa: (a) belajar itu membawa perubahan baik aktual maupun potensial. dan berkembang melalui belajar. dan melakukan pekerjaan secara giat dan lebih baik. dorongan untuk dihargai. dan dorongan untuk dimiliki. Perubahan ini bersifat konstan dan terbatas. tinjauan masa depan yang optimis dan prestasi akademis. dorongan untuk merasa aman. mengarahkan. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan motivasi adalah suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan. 2. dorongan aktivitas.8 Menurut Poerwadarminta (1989) motivasi atau semangat adalah nafsu untuk bekerja. dan nilai sikap. (b) perubahan itu pada pokoknya . Berdasarkan uraian tersebut. berjuang. berjuang. ketrampilan. dan menjaga tingkah laku seorang anak agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil. Pengertian belajar Belajar merupakan hal yang sangat penting karena hampir semua pengetahuan. sikap dan perilaku manusia dibentuk. Motivasi ditandai oleh harapan untuk sukses dalam memecahkan masalah. dan sebagainya. Nitisemito (1982) berpendapat bahwa motivasi adalah melakukan pekerjaan secara giat dan lebih baik. Menurut Winkel (1987) belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan. Motivasi atau semangat adalah nafsu untuk bekerja. dirubah. ketrampilan. pemahaman. dorongan sosial.

kecakapan. dan sikap. Setelah melakukan belajar diharapkan seseorang atau siswa dapat bertambah pengetahuannya. Pada dasarnya tujuan belajar adalah ingin mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan. misalnya perubahan karena mabuk atau minum ganja. berkembang kemampuannya . Sementara itu. seperti perubahan pengetahuan. Orang yang belajar makin lama dapat mengerti akan adanya hubungan dan perbedaan bahan yang dipelajari. Belajar adalah suatu aktivitas manusia yang menuju arah tertentu dan merupakan suatu proses perubahan baik lahir maupun batin. menurut Nasution (1986) belajar adalah proses yang melahirkan suatu kegiatan melalui jalan latihan (apakah dalam laboratorium atau dalam lingkungan alamiah) yang dibedakan dari perubahan-perubahan oleh faktor-faktor yang tidak termasuk latihan. Dimyati (1999) menyatakan belajar adalah suatu proses yang melibatkan manusia secara orang per orang sebagai satu kesatuan organisme sehingga terjadi perubahan pada pengetahuan. Lebih lanjut Sudjana (1998) menjelaskan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. bukan termasuk belajar. pemahaman sikap dan tingkah laku. Belajar adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada diri individu yang sedang belajar baik potensial maupun eksternal.9 menghasilkan kecakapan baru. dan (c) perubahan itu terjadi karena usaha yang disengaja. perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk. keterampilan. ketrampilan. dan kemampuan.

Berdasarkan uraian tersebut disimpulkan bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan dengan sengaja. yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang menimbulkan arah pada kegiatan belajar. Menurut Slameto (1991) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Pengertian motivasi belajar Motivasi dalam kegiatan belajar dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri seseorang yang menimbulkan kegiatan belajar. sehingga tujuan yang dikehendaki oleh individu dapat tercapai (Winkel. sebagaimana hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. dan menimbulkan perubahan perilaku yang lebih baik dari sebelumnya. 3. Peranan motivasi yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah. Sardiman (2001) menyatakan beberapa pendapat tentang motivasi belajar antara lain: motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. 1987). Hal ini menunjukkan bahwa anak yang memiliki motivasi belajar akan dapat meluangkan waktu belajar lebih banyak dan lebih tekun daripada mereka yang kurang memiliki atau sama sekali tidak . membutuhkan waktu sampai mencapai suatu hasil.10 menyelesaikan masalah. siap melakukan suatu perbuatan yang lebih baik sesuai kebutuhan hidupnya. Seseorang yang memiliki motivasi kuat akan mempunyai banyak energi untuk belajar. merasa senang dan semangat untuk belajar.

Anak akan terdorong dan tergerak untuk memulai aktivitas atas kemauannya sendiri. yaitu: . sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek dapat tercapai. tetapi juga suatu energi yang mengarahkan aktivitas siswa kepada tujuan belajar yang diharapkan. mengatasi rintangan dan memelihara kualitas belajar serta bersaing melalui usaha untuk melebihi perbuatannya yang lalu dan mengungguli perbuatan orang lain. Aspek-aspek dalam motivasi belajar Purwanto (1995) menjelaskan secara umum motivasi belajar mengandung tiga aspek.11 mempunyai motivasi belajar. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang merupakan swadaya penggerak dalam diri seseorang untuk memulai suatu kegiatan atau aktivitas belajar atas kemauannya sendiri atau minat individu dalam menyelesaikan tugas tepat waktu. 4. Soemanto (1984) merumuskan bahwa motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual yang berperan dalam menimbulkan gairah belajar serta perasaan senang dan bersemangat untuk belajar. Selanjutnya Prayitno (1989) menjelaskan bahwa motivasi belajar tidak hanya sebagai energi yang mengarahkan anak untuk belajar. memanipulasi dan mengatur lingkungan sosial maupun fisik. Motivasi belajar adalah suatu dorongan yang ada pada seseorang sehubungan dengan prestasi yaitu menguasai. menyelesaikan tugas tepat waktu dan gigih serta tidak putus asa saat menjumpai kesulitan dalam menjalankan tugas jika anak tersebut mempunyai motivasi dalam belajar.

b. Mengarahkan. lingkungan sekitar harus menguatkan integrasi dan arah dorongan-dorongan kekuatan individu. Aspek ini menunjukkan bahwa motivasi menimbulkan kekuatan pada individu untuk bertindak dengan cara tertentu. mengarahkan. dan kecenderungan mendapat kesenangan. misalnya kekuatan ingatan. Aspek ini menunjukkan bahwa motivasi menyediakan suatu orientasi tujuan tingkah laku individu yang diarahkan terhadap sesuatu. Aspek ini menunjukkan untuk menjaga tingkah laku.12 a. dalam hal ini sebagai penggerak yang melepaskan energi. Menopang. dan menyeleksi perbuatan. Selanjutnya Sardiman (2001) mengemukakan ada beberapa aspek motivasi. yakni arah tujuan yang hendak dicapai. Menggerakkan. mendorong seseorang untuk berbuat. menentukan arah perbuatan. yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan tersebut. menopang. c. Mendorong seseorang untuk berbuat. b. Menyeleksi perbuatan. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek dalam motivasi belajar antara lain menggerakkan. respon efektif. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan. yaitu: a. c. . Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Menentukan arah perbuatan.

c. sebagai penggerak dan penyeleksi tingkah laku individu. memberi semangat seorang siswa dalam kegiatan belajarnya. d. Peran motivasi terhadap prestasi belajar Sardiman (2001) mengemukakan bahwa motivasi memiliki peran sebagai pendorong usaha dalam mencapai prestasi. e. Motivasi memberi petunjuk pada tingkah laku. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menentukan hasil yang baik pula. memberi petunjuk pada tingkah laku. dengan kata lain adanya usaha yang didasari motivasi akan melahirkan prestasi yang baik. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi memiliki peran sebagai pendorong usaha dalam mencapai prestasi. Motivasi sebagai pemilik tipe-tipe kegiatan yang diinginkan individu. Seseorang melakukan usaha karena adanya motivasi. Motivasi sebagai penggerak dan penyeleksi tingkah laku individu. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar Secara global Muhibbin Syah (2001) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar anak dapat kita bedakan menjadi tiga macam. yaitu: . Sedangkan Crow dan Crow (1984) mengemukakan motivasi merupakan faktor yang sangat penting dalam belajar dimana motivasi dapat berperan sebagai berikut: a. b. Motivasi memberi semangat seorang siswa dalam kegiatan belajarnya. sebagai pemilik tipe-tipe kegiatan yang diinginkan individu.13 5. dan membangkitkan minat belajar. Motivasi membangkitkan minat belajar. 6.

Faktor pendekatan belajar (approach to learning). suhu udara. Faktor internal yaitu faktor dari dalam diri individu yang dibagi menjadi dua: (1) faktor fisiologis meliputi keadaan jasmani dan keadaan fungsifungsi fisiologis. misalnya dorongan untuk menjadi juara kelas menimbulkan minat seseorang untuk belajar. tempat belajar. dorongan yang datang dari lingkungan atau kebutuhan seseorang akan mudah menimbulkan minat. cuaca. The inner urge factor (faktor dorongan dari dalam). (2) faktor non sosial yang meliputi keadaan udara. Faktor eksternal (faktor dari luar anak). kecerdasan. dan lain-lain. Faktor eksternal yaitu faktor dari luar individu yang dibagi menjadi dua antara lain: (1) faktor sosial meliputi faktor manusia lain baik hadir secara langsung atau tidak langsung. yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani anak. (2) faktor psikologis yang meliputi minat. Faktor internal (faktor dari dalam diri anak). waktu. Suryabrata (2004) mengungkapkan beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar antara lain: a. . yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan anak untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran. Menurut Crow dan Crow (1984) ada tiga faktor yang mempengaruhi motivasi belajar yaitu: a. b. yakni kondisi lingkungan di sekitar anak. b. c.14 a. dan persepsi.

Lingkungan sosial. The social motive factor (faktor motif sosial). Lingkungan yang memberikan kesempatan kepada individu berpengaruh terhadap minat seseorang untuk objek tertentu. minat sosial terhadap suatu objek atau suatu hal agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Status mental dan perasaan. Perubahan psikis seseorang akan mempengaruhi minatnya terhadap suatu objek. b. Keadaan jasmani. c. Sedangkan menurut Mahmud (1997). faktor yang mempengaruhi motivasi belajar adalah: a. c. Begitu juga kegagalan seseorang dalam suatu aktivitas dapat menimbulkan perasaan sedih atau kecewa yang kemudian akan dapat mengurangi minat atau malah menghilangkan minat seseorang. The emotional factor (faktor emosional). Berdasarkan uraian tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar adalah faktor internal yang meliputi faktor . merupakan faktor yang berhubungan dengan perasaan seseorang dalam aktivitas yang dapat menyebabkan perasaan senang dan kemudian dapat menimbulkan minat yang besar. Berat ringannya suatu masalah yang sedang dihadapi akan sangat mempengaruhi minat seseorang terhadap suatu objek tertentu. misalnya seseorang berniat mempunyai prestasi yang tinggi agar mendapatkan status sosial yang tinggi pula.15 b. Individu yang keadaan jasmaninya kuat dan sehat akan mempunyai motivasi belajar yang lebih tinggi daripada individu yang keadaan jasmaninya lemah.

Pada umumnya individu yang mempunyai minat belajar tinggi akan terdorong untuk menaruh perhatian pada situasi atau aktivitas tertentu (Mahmud. 1997). b. 7. Individu yang mempunyai minat belajar tinggi selalu berusaha secara terus menerus untuk mencapai tujuan yang dicitacitakannya. Hudgins (1983) berpendapat bahwa individu yang mempunyai minat belajar tinggi akan berusaha keras demi suksesnya belajar. Menyiapkan diri sebelum mengikuti pelajaran. Sedangkan faktor eksternal meliputi faktor sosial atau lingkungan dan faktor non sosial. Individu yang . antara lain: a. status mental dan perasaan. individu akan merasa puas sebab semua itu diperoleh karena suatu usaha bukan keberuntungan. Menepati jadwal waktu belajar yang dibuat. yakin akan berhasil dalam menyelesaikan setiap masalah belajar yang dihadapinya. c. d. Mencatat mata pelajaran. Mengerjakan tugas rumah dengan baik. dan mempunyai respon yang cukup kuat untuk menyelesaikan persoalan yang kelihatannya membutuhkan konsentrasi pikiran. Apabila usaha ini membuahkan hasil. Ciri-ciri individu yang memiliki motivasi belajar tinggi Suryabrata (2004) menyatakan bahwa anak yang memiliki motivasi belajar tinggi dapat diketahui melalui aktivitas-aktivitas selama proses belajar. keinginan siswa itu sendiri untuk belajar. latar belakang siswa. Mengendapkan hasil pelajaran. keadaan jasmani. faktor psikologis.16 fisiologis. e.

memiliki keyakinan berhasil. respon yang kuat terhadap persoalan dan upaya sendiri. maka individu tersebut akan mempunyai kesadaran untuk giat belajar. . peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan (Rakhmat. 1997). Persepsi merupakan pandangan. Persepsi juga bisa dimaknai sebagai pengalaman tentang objek. Pengertian persepsi Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan. mencatat mata pelajaran. Davidoff (1998) mengatakan bahwa dengan persepsi individu dapat menyadari. Persepsi Terhadap Pola Asuh Orang Tua 1. dan sebagainya (Walgito. mempunyai minat belajar tinggi. mengendapkan hasil pelajaran. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa individu yang motivasi belajarnya tinggi memiliki ciri-ciri yaitu: menyiapkan diri sebelum mengikuti pelajaran. yaitu proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat reseptornya dan diteruskan ke pusat susunan syaraf yaitu otak. mengerjakan tugas dengan baik. Individu yang mempunyai minat belajar tinggi. menepati jadwal waktu yang dibuat. ia dengar. mengerti tentang keadaan lingkungan di sekitarnya dan juga tentang keadaan diri individu yang bersangkutan. 2001). sehingga individu dapat mempersepsi apa yang ia lihat. B. berusaha terus-menerus.17 mempunyai minat belajar yang tinggi mempunyai kesenangan terhadap pekerjaannya dan akan berusaha menemukan pemecahan masalah dengan pengerahan upaya kemampuan sendiri.

Jenis-jenis persepsi Menurut Walgito (1997) ada beberapa jenis persepsi yaitu: persepsi melalui indera pendengaran. apabila persepsi tersebut selaras dengan pengetahuan maka hal tersebut dikatakan sebagai persepsi positif. Persepsi negatif. sehingga individu dapat menyimpulkan informasi. kejadian. Bardasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat reseptornya dan diteruskan ke pusat susunan syaraf. akan tetapi jika objek . 2. Persepsi positif.18 pengamatan. menyadari. menafsirkan pesan. persepsi melalui indera pengecap dan persepsi melalui indera kulit atau perasa. tingkah laku manusia atau hal-hal yang diterimanya sehari-hari. yaitu persepsi yang menggambarkan segala pengetahuan dan tanggapan yang selaras dengan objek persepsi yang diteruskan dengan upaya pemanfaatannya. Sedangkan menurut Irwanto (1997) ada dua jenis persepsi yaitu: a. mengerti tentang keadaan lingkungan di sekitarnya dan juga tentang keadaan diri individu yang bersangkutan. persepsi melalui indera penciuman. Hal ini akan diteruskan dengan kepastian untuk menerima atau menolak dan menentang segala usaha objek yang dipersepsikan. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa persepsi berasal dari panca indera. b. yaitu persepsi yang menggambarkan segala pengetahuan dan tanggapan yang tidak selaras dengan objek persepsi. atau tanggapan seseorang terhadap benda.

3. Adanya rangsang yang datang dari luar lewat panca indra b. Proses fisik. Individu itu mewujudkan dalam bentuk tindakan Walgito (1997) mengemukakan bahwa tahapan persepsi ada empat yaitu: a. dan hasil dari proses persepsi. Individu itu menginterpretasikan rangsang tersebut d. yaitu diteruskannya stimulus yang diterima oleh reseptor ke otak melalui syaraf-syaraf sensorik.19 persepsi tidak selaras dengan pengetahuan maka hal tersebut akan menjadi persepsi negatif. Hasil dari proses persepsi. individu menginterpretasi rangsang tersebut. yaitu berupa tanggapan dan perilaku. maka proses terjadinya persepsi yaitu adanya rangsang dari luar. yaitu proses timbulnya kesadaran individu tentang stimulus yang diterima reseptornya. fisiologis. b. c. adanya kesadaran individu terhadap rangsang. Adanya kesadaran individu terhadap rangsang tersebut c. Berdasarkan pendapat tersebut. dan mewujudkan dalam bentuk tindakan. . yaitu proses ditangkapnya suatu stimulus oleh alat indera manusia. Proses psikologis. Proses fisiologis. Proses terjadinya persepsi Menurut Idrus (2001) proses terjadinya persepsi pada individu melibatkan empat komponen yaitu: a. Selain itu terdapat proses fisik. psikologis. d.

20 4. sehingga orang tua akan menghasilkan anak-anak sealiran. Pola asuh pada dasarnya diciptakan oleh adanya interaksi antara orang tua dan anak dalam hubungan sehari-hari yang berevolusi sepanjang waktu. Hurlock (1990) mengatakan bahwa di dalam pengasuhan anak para orang tua mempunyai tujuan untuk membentuk anak menjadi yang terbaik sesuai dengan apa yang dianggap ideal oleh para orang tua dan dalam pengasuhan anak diberikan istilah disiplin sebagai pelatihan dalam mengendalikan dan mengontrol diri. dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat (Turmudji. Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. . 1998). karena orang tua tidak hanya mengajarkan dengan kata-kata tetapi juga dengan contoh-contoh (Shochib. Pengertian pola asuh orang tua Pendidikan anak dalam keluarga merupakan awal dan pusat bagi seluruh pertumbuhan dan perkembangan anak untuk menjadi dewasa. Pengasuhan ini berarti orang tua mendidik. Tugas orang tua adalah melengkapi anak dengan memberikan pengawasan yang dapat membantu anak agar dapat menghadapi kehidupan dengan sukses. 2003). dengan demikian menjadi hak dan kewajiban orang tua sebagai penanggung jawab yang utama dalam mendidik anak-anaknya. membimbing.

maka hal ini cenderung dapat menciptakan motivasi belajar yamg tinggi. seorang anak juga mengalami perkembangan dalam hal intelektual. Kemampuan intelektual anak memungkinkan untuk menilai pengalaman dengan pandangan yang baru. Pengertian persepsi terhadap pola asuh orang tua Menurut Hurlock (1990) perlakuan terhadap seorang anak oleh orang tua mempengaruhi bagaimana anak itu memandang. sehingga apabila seorang anak yang mempersepsi pola asuh orang tuanya secara positif menurut pengalaman yang . 5. sehingga apabila seorang anak yang mempersepsi pola asuh orang tuanya secara positif menurut pengalaman yang diterima anak. Rakhmat (2001) mengatakan persepsi terhadap pola asuh merupakan cara pandang anak terhadap pola asuh orang tua yang diterimanya. menilai. melainkan juga pada dirinya sendiri dan orang tuanya (Gunarsa. dan mempengaruhi sikap anak tersebut terhadap orang tua serta mempengaruhi kualitas hubungan yang berkembang di antara mereka. 1991).21 Berdasarkan uraian tersebut pola asuh adalah interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan untuk membentuk anak menjadi yang terbaik sesuai dengan apa yang dianggap ideal oleh para orang tua. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa persepsi terhadap pola asuh orang tua adalah cara pandang anak terhadap orang tua dalam memberikan penerapan pendidikan dan melakukan bimbingan pada anak-anaknya dan menanamkan norma-norma yang ada. Cara memandang yang baru itu tidak hanya ditunjukkan pada lingkungan sekitarnya saja. Selain mengalami pertumbuhan fisik.

berupa unsur kejelasan stimulus serta lingkungan atau situasi khusus yang melatar belakangi munculnya stimulus. Rakhmat (2001) berpendapat bahwa persepsi bisa dipengaruhi oleh: a. b. tetapi karakteristik orang yang memberikan respon pada stimuli. Hal ini disebabkan karena faktor yang mempengaruhi persepsi tersebut. perasaan. bahwa menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli.22 diterima anak. adalah segala hal yang ada dalam diri seseorang bersumber pada dua hal yaitu kondisi fisik dan psikis. kemampuan berfikir. persepsi seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: . Faktor situasional (struktural). Kondisi fisik meliputi kesehatan badan. b. Faktor internal. 6. dan motivasi yang dimiliki. maka hal ini cenderung dapat menciptakan motivasi belajar yamg tinggi. dimana proses persepsi ini berlangsung. Menurut Satiadarma (2001). Faktor eksternal meliputi stimulus dan lingkungan. bahwa persepsi berasal dari sifat stimuli fisik dan efek-efek syaraf yang ditimbulkan pada sistem syaraf individu. Walgito (1997) secara sederhana menyebutkan adanya faktor yang memengaruhi persepsi individu yaitu: a. Faktor personal (fungsional). sedangkan kondisi psikis meliputi unsur pengalaman. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terhadap pola asuh orang tua Hasil dari proses persepsi yang dilakukan oleh setiap individu berbeda meskipun objeknya sama.

serta motif dan kebutuhan seseorang. Aspek-aspek persepsi terhadap pola asuh orang tua Mussen dkk (1994) menyatakan bahwa ada beberapa aspek persepsi terhadap pola asuh orang tua. Pengalaman dimasa lampau. Harapan. sehingga dapat menimbulkan kesalahan dalam mempersepsikan sesuatu. yaitu: . Ingatan-ingatan seseorang pada masa lampau berpengaruh terhadap terbentuknya persepsi pada diri seseorang. Selain itu faktor yang mempengaruhi persepsi adalah faktor situasional. faktor eksternal. Pengalaman secara pribadi cenderung membentuk standar subjektif yang belum tentu cocok dengan kondisi objektif pada saat berbeda. Harapan sering berperan terhadap proses interpretasi sesuatu. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi antara lain faktor internal. sehingga keadaan tersebut dapat menimbulkan kesalahan dalam persepsi seseorang. harapan seseorang. maka pandangan seseorang akan dapat mengalami bias dan menimbulkan kesalahan persepsi.23 a. dimana hal itu akan mengarah pada tindakan atau perilaku yang didorong oleh motif kebutuhannya. dimana hal tersebut termasuk dalam faktor personal. 7. hal ini sering disebut sebagai set. Apabila set itu terbentuk sedemikian besarnya. Set adalah suatu bentuk ide yang dipersiapkan terlebih dahulu sebelum munculnya stimulus. Seseorang akan lebih cenderung menaruh perhatian terhadap hal-hal yang dibutuhkannya. c. b. Motif dan kebutuhan. adanya pengalaman seseorang dimasa lampau.

Komunikasi anak dan orang tua. Dengan memberikan kesempatan belajar pada anak untuk mengalami pahit getirnya kehidupan. menanyakan bagaimana pendapat dan perasaan anak. Kasih sayang. dan ungkapan kata. menekankan kepada anak untuk mencapai suatu tingkat kemampuan secara intelektual. belaian. sentuhan. tingkah laku. memodifikasi ekspresi ketergantungan. menghadapi dan mengatasi berbagai masalah mereka. meliputi penghargaan dan pujian terhadap prestasi anak. b. menggunakan penalaran untuk memecahkan masalah. Sangat bijaksana jika orang tua menyediakan cukup waktu untuk percakapan yang bersifat pribadi. agresifitas. pada kesempatan ini orang tua akan mendengarkan dan menemukan banyak hal di luar masalah rutin. Orang tua yang senantiasa menjaga keselamatan anak-anak (over protection) dan mengambil tindakan-tindakan yang berlebihan agar anak-anaknya terhindar dari bermacam-macam bahaya akan menghasilkan perkembangan anak dengan ciri-ciri sangat tergantung kepada orang tuanya dalam bertingkah laku. senyuman. c.24 a. d. Tuntutan kedewasaan. diharapkan dari pengalaman tersebut anak bisa menjadi dewasa namun anak masih tetap memerlukan campur tangan orang tuanya untuk mengubah dan mengarahkan proses-proses perkembangan pada seluruh aspek kepribadian dalam arti orang tua perlu berusaha mempersiapkan anak dalam menghadapi masa remaja. Komunikasi keluarga dapat dilakukan melalui gerakan. Kontrol. merupakan usaha mempengaruhi aktivitas anak untuk mencapai tujuan. dan bermain. sosial dan emosional. mimik wajah. Pola komunikasi keluarga yang .

keluh kesah. Aspek pemenuhan kebutuhan anak. Aspek komunikasi. c. b. yaitu pandangan individu terhadap sesuatu berdasarkan pengalaman yang pernah di dengar atau dilihat dalam kehidupan sehari-hari. yaitu bentuk komunikasi yang diterapkan orang tua. yaitu pandangan individu terhadap sesuatu yang berhubungan dengan motif atau tujuan timbulnya suatu perilaku yang terjadi disekitar yang diwujudkan dalam sikap atau perilaku individu dalam kehidupan sehari-hari. dan cara berdialog dalam keluarga. cara untuk menyampaikan keinginan. Aspek penerapan disiplin. Aspek kognisi. yaitu cara orang tua dalam memenuhi keinginan dan harapan anak. yaitu bagaimana orang tua memandang dan memberikan penilaian kepada anaknya. d. Aspek pandangan orang tua terhadap anak. harapan. yaitu cara yang dipakai orang tua terhadap perilaku anak dan aturan yang dibuat melalui hukuman maupun hadiah. Wagito (1994) menambahkan ada tiga aspek dalam persepsi.25 demikian. . keakraban. yaitu: a. Aspek konasi. saling memiliki. rasa melindungi anak oleh orang tuanya semakin besar. Berdasarkan aspek-aspek tersebut maka dapat diketahui ciri-ciri dari setiap pola asuh. Ciri-ciri tersebut dapat dijadikan aspek-aspek dari pola asuh itu sendiri. antara lain: a. b. keintiman.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek persepsi terhadap pola asuh orang tua adalah kontrol. dan aspek afeksi. konasi. Berdasarkan motivasi seseorang dapat melakukan sesuatu yang diinginkan (Sardiman. komunikasi anak dengan orang tua. hal ini dapat muuncul karena adanya pendidikan moral dan etika yang didapat sejak kecil. Motivasi dalam kegiatan belajar dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri seseorang yang menimbulkan kegiatan belajar. yang menyangkut emosi dari individu dalam mempersepsi sesuatu melalui afeksi-afeksi yang berdasarkan pada emosi. dan pemenuhan kebutuhan anak. 2001). kognisi. dan menjaga tingkah laku seorang anak agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan pendidikan sesuai yang diharapkan dan ditetapkan dalam kurikulum sekolah. Aspek afeksi. penerapan disiplin. mengarahkan. pandangan orang tua terhadap anak. Penilaian tentang motivasi banyak dilakukan atau digunakan dalam berbagai bidang pendidikan. komunikasi. yang . Hubungan Antara Persepsi Anak terhadap Pola Asuh Orang Tua dengan Motivasi Belajar Perilaku manusia ditimbulkan atau dimulai dengan adanya motivasi. C. Purwanto (1995) mengartikan motivasi sebagai suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan. kasih sayang.26 c. tuntutan kedewasaan.

memanipulasi dan mengatur lingkungan sosial maupun fisik. 1987).27 menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang menimbulkan arah pada kegiatan belajar. Peranan motivasi yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah. Motivasi belajar adalah suatu dorongan yang ada pada seseorang sehubungan dengan prestasi yaitu menguasai. Seseorang yang memiliki motivasi kuat akan mempunyai banyak energi untuk belajar. menyelesaikan tugas tepat waktu dan gigih serta tidak putus asa saat menjumpai kesulitan dalam menjalankan tugas jika anak tersebut mempunyai motivasi dalam belajar. Faktor eksternal yaitu faktor dari luar individu yang dibagi menjadi dua antara lain: (1) faktor sosial meliputi faktor manusia lain baik hadir secara . Anak akan terdorong dan tergerak untuk memulai aktivitas atas kemauannya sendiri. sehingga tujuan yang dikehendaki oleh individu dapat tercapai (Winkel. Suryabrata (2004) mengungkapkan beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar antara lain: a. merasa senang dan semangat untuk belajar. mengatasi rintangan dan memelihara kualitas belajar serta bersaing melalui usaha untuk melebihi perbuatannya yang lalu dan mengungguli perbuatan orang lain. Sardiman (2001) menyatakan beberapa pendapat tentang motivasi belajar antara lain: motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. Hal ini menunjukkan bahwa anak yang memiliki motivasi belajar akan dapat meluangkan waktu belajar lebih banyak dan lebih tekun daripada mereka yang kurang memiliki atau sama sekali tidak mempunyai motivasi belajar.

Menurut Hurlock (1990) perlakuan terhadap seorang anak oleh orang tua mempengaruhi bagaimana anak itu memandang. 1997). Selama hidupnya individu tetap membutuhkan kedekatan dan hubungan yang hangat dengan orang tua mereka.28 langsung atau tidak langsung. (2) faktor psikologis yang meliputi minat. (2) faktor non sosial yang meliputi keadaan udara. dan lain-lain. tempat belajar. Begitu juga dengan motivasi anak dalam belajarnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar adalah persepsi terhadap pola asuh orang tua. b. dimana anak akan menyesuaikan diri dengan sistem kebiasaan yang diperoleh dari orang tuanya masig-masing. Faktor internal yaitu faktor dari dalam diri individu yang dibagi menjadi dua: (1) faktor fisiologis meliputi keadaan jasmani dan keadaan fungsifungsi fisiologis. waktu. Kedekatan itu akan mempengaruhi timbulnya rasa percaya dan mendorong anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Dikatakan bahwa perkembangan motivasi belajar dipengaruhi oleh kondisi yang terjadi pada setiap tahap perkembangan (Hurlock. menilai. dan mempengaruhi sikap anak tersebut terhadap orang tua serta mempengaruhi kualitas hubungan yang berkembang di antara mereka. dan persepsi. . mereka akan menyesuaikan diri dengan pola asuh yang diberikan oleh orang tuanya. cuaca. Motivasi belajar dipengaruhi oleh faktor lingkungan keluarga dimana keluarga membawa pengaruh primer terhadap motivasi belajar seorang anak. kecerdasan. suhu udara. Shochib (1998) mengatakan orang tua yang satu dengan yang lain mempunyai pola asuh yang berbeda.

sehingga apabila seorang anak yang mempersepsi pola asuh orang tuanya secara positif menurut pengalaman yang diterima anak. Berdasarkan uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi belajar dipengaruhi oleh faktor lingkungan keluarga. dimana anak akan menyesuaikan diri dengan sistem kebiasaan yang diperoleh dari orang tuanya masing-masing. Begitu juga dengan motivasi anak dalam belajarnya. Orang tua yang satu dengan yang lain mempunyai pola asuh yang berbeda. maka hal ini cenderung dapat menciptakan motivasi belajar yamg tinggi. Hipotesis Berdasarkan uraian di atas.29 Rakhmat (2001) mengatakan persepsi terhadap pola asuh merupakan cara pandang anak terhadap pola asuh orang tua yang diterimanya. Semakin positif persepsi terhadap pola asuh orang tua maka semakin tinggi motivasi belajar dan sebaliknya semakin negatif persepsi anak terhadap pola asuh orang tua maka semakin rendah motivasi belajar. D. penulis mengajukan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini yaitu: ada hubungan positif antara persepsi terhadap pola asuh orang tua dengan motivasi belajar. mereka akan menyesuaikan diri dengan pola asuh yang diberikan oleh orang tuanya karena persepsi pada diri anak itu berbeda berdasarkan pengalaman pribadinya. .

Definisi Operasional Variabel Penelitian Definisi operasional adalah penegasan arti dari konstrak atau variabel yang digunakan dengan cara tertentu untuk mengukurnya. Variabel bebas Persepsi terhadap pola asuh orang tua. Keberhasilan suatu penelitian tergantung pada metode yang digunakan. 1995). Apabila terjadi ketidaktepatan dalam menggunakan metode penelitian. Identifikasi Variabel Penelitian Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: 1. sebaliknya semakin tepat metode yang digunakan diharapkan semakin baik pula hasil yang diperoleh (Hadi.30 BAB III METODE PENELITIAN Metode adalah suatu syarat penting yang tidak boleh ditinggalkan dalam penelitian. Kasalahan dalam menentukan metode akan mengakibatkan kesalahan dalam pengambilan keputusan. 2. maka akan dapat menurunkan hasil penelitian dan kesalahan pengambilan data serta kesalahan dalam pengambilan keputusan. Variabel tergantung Motivasi belajar B. A. sehingga pada akhirnya akan menghindari salah pengertian dan penafsiran yang berbeda dalam penelitian 30 .

perhatian. Motivasi belajar disini akan diungkap dengan menggunakan skala motivasi belajar berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar yang dikemukakan oleh Suryabrata (2004) yaitu: menyiapkan diri sebelum mengikuti pelajaran. Motivasi belajar Motivasi belajar adalah keadaan yang berupa kekuatan penggerak dalam diri individu yang dapat berupa keinginan. Motivasi belajar ini berhubungan dengan kecenderungan untuk memperhatikan dan melakukan kegiatan yang disertai dengan perasaan senang.31 ini (Kerlinger. Persepsi terhadap pola asuh orang tua diungkap dengan skala persepsi terhadap pola asuh yang disusun berdasarkan aspek-aspek yang mempengaruhi persepsi terhadap pola asuh yang dikemukakan oleh Mussen dkk (1994) yaitu: kontrol terhadap pergaulan. dan menepati jadual waktu belajar yang dibuat. mengendapkan hasil pelajaran. Semakin tinggi skor jawaban menunjukkan motivasi belajar yang tinggi dan skor jawaban rendah menunjukkan motivasi belajar yang rendah. . mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik. Persepsi terhadap pola asuh orang tua Persepsi terhadap pola asuh orang tua adalah cara pandang anak terhadap orang tua dalam memberikan penerapan pendidikan dan melakukan bimbingan pada anak-anaknya dan menanamkan norma-norma yang ada. mencatat mata pelajaran. 1990). kemauan atau cita-cita yang mengarahkan individu tersebut pada perilaku giat belajar untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan. 2. Definisi operasional variabel dalam penelitian ini sebagai berikut: 1.

12 Salatiga. Populasi Populasi adalah keseluruhan individu yang akan diteliti. Maksud generalisasi adalah menyangkut kesimpulan penelitian sebagai sesuatu yang berlaku bagi populasi (Hadi. kejelasan komunikasi anak dan orang tua serta kasih sayang. Sampel Sampel adalah sebagian individu dari populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki dan dianggap bisa mewakili keseluruhan populasi. . 2000). Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian siswa kelas XI MAN 1 Salatiga. KH. Penelitian ini tidak semua populasi dijadikan sampel tetapi hanya mengambil dari sebagian populasi yang representatif yaitu sampel yang benar-benar mencerminkan karakteristik dari populasi (Hadi. Wahid Hasyim No. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MAN I Salatiga Jl. 2.32 tuntutan kedewasaan. Subjek Penelitian 1. Semakin tinggi skor jawaban menunjukkan semakin positif anak mempersepsi pola asuh orang tua dan sebaliknya skor jawaban rendah menunjukkan semakin negatif anak mempersepsi pola asuh orang tua. 2000). paling sedikit mempunyai satu sifat atau ciri yang sama dengan kenyataan subjek dan akan digeneralisasikan. C.

Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data adalah suatu cara yang dipakai oleh peneliti untuk memperoleh data yang akan diteliti. Ciri-ciri atau karakteristik subjek adalah: masih memiliki kedua orang tua dan tinggal bersama orang tua dalam satu rumah. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purpossive non random sampling karena subjek dalam populasi memiliki banyak ciri-ciri atau karakteristik yang berbeda. Tujuannya untuk memberi penegasan sifat-sifat dan ketegasan batasan-batasan dari populasi (daerah generalisasi) terhadap subjek yang akan dijadikan sebagai sampel penelitian. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan cara purpossive non random sampling yaitu cara pengambilan sampel dengan menentukan ciri-ciri atau karakteristik terlebih dahulu. Metode skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pilihan ganda yang diilhami oleh model skala Likert yang dimodifikasi dengan menghilangkan jawaban ragu-ragu dengan pertimbangan agar subjek tidak memberikan jawaban .33 3. D. Teknik sampling Menurut Hadi (2000) teknik sampling adalah cara atau teknik yang digunakan untuk mengambil sampel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengumpulan data yaitu skala. Skala yang digunakan adalah skala motivasi belajar dan skala persepsi terhadap pola asuh orang tua. Skala psikologi selalu mengacu kepada alat ukur atau atribut afektif.

Cara pemberian nilai alternatif jawaban pada item. Skala ini merupakan modifikasi dari skala yang disusun oleh Hardiyani (2005) dengan memodifikasi sebaran nomor item dan daftar pernyataan agar lebih sesuai dengan kondisi penelitian. mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik. besarnya berkisar antara 1 sampai dengan 4 dengan susunan sebagai berikut: a. mencatat mata pelajaran.34 yang mengumpul di tengah (Hadi. mengendapkan hasil pelajaran. Item yang bersifat unfavorabel SS : Sangat Sesuai S : Sesuai :1 :2 . Skala yang digunakan dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Skoring dilakukan dengan cara membeda-bedakan item menjadi dua kelompok. Item yang bersifat favorabel SS : Sangat Sesuai S : Sesuai :4 :3 :2 :1 TS :Tidak Sesuai STS: Sangat Tidak Sesuai b. dan menepati jadual waktu belajar yang dibuat. 2000). Skala motivasi belajar Untuk mengungkap tentang motivasi belajar digunakan skala motivasi belajar berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar yang dikemukakan oleh Suryabrata (2004) yaitu: menyiapkan diri sebelum mengikuti pelajaran. yaitu kelompok item favorabel dan kelompok item unfavorabel.

35 TS : Tidak Sesuai STS: SangatTidak Sesuai :3 :4 Skor jawaban tertinggi pada skala ditemui pada subjek yang mempunyai sikap penerimaan positif terhadap pernyataan-pernyataan dalam skala. Item yang bersifat favorabel SS : Sangat Sesuai S : Sesuai :4 :3 :2 :1 TS :Tidak Sesuai STS: Sangat Tidak Sesuai . kejelasan komunikasi anak dan orang tua. besarnya berkisar antara 1 sampai dengan 4 dengan susunan sebagai berikut: a. Skoring dilakukan dengan cara membeda-bedakan item menjadi dua kelompok. tuntutan kedewasaan. Skala persepsi terhadap pola asuh orang tua Skala persepsi terhadap pola asuh orang tua yang dipergunakan dalam penelitian ini disusun berdasarkan aspek-aspek yang mempengaruhi persepsi terhadap pola asuh yang dikemukakan oleh Mussen dkk (1994) yaitu: kontrol terhadap pergaulan. 2. dan kasih sayang. Cara pemberian nilai alternatif jawaban pada item. yaitu kelompok item favorabel dan kelompok item unfavorabel. Skala ini merupakan modifikasi dari skala yang disusun oleh Iffah (2005) dengan memodifikasi sebaran nomor item dan daftar pernyataan agar lebih sesuai dengan kondisi penelitian. sedang skor jawaban terendah pada skala ditemui pada subjek yang mempunyai penerimaan negatif terhadap pernyataan-pernyataan dalam skala.

36

b. Item yang bersifat unfavorabel SS : Sangat Sesuai S : Sesuai :1 :2 :3 :4

TS : Tidak Sesuai STS: Sangat Tidak Sesuai

Skor jawaban tertinggi pada skala ditemui pada subjek yang mempunyai sikap penerimaan positif terhadap pernyataan-pernyataan dalam skala, sedang skor jawaban terendah pada skala ditemui pada subjek yang mempunyai penerimaan negatif terhadap pernyataan-pernyataan dalam skala.

E. Validitas dan Reliabilitas 1. Validitas Menurut Azwar (1997) validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukur (tes) dalam melakukan fungsi ukurnya. Valid tidaknya suatu alat ukur tergantung pada mampu tidaknya alat ukur tersebut mencapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan tepat. Pengujian validitas alat ukur penelitian ini, penulis menggunakan teknik korelasi product moment dari Karl Pearson (Azwar, 1997) dengan rumus sebagai berikut:
Σxy −

(Σx ) (Σy )
2

rxy =

N  2 (Σx )   2 (Σy )2  Σx −  Σy −  N  N  

37

Keterangan: rxy : koefesien korelasi antara skor item dan skor total ∑xy : jumlah hasil kali X dan Y ∑x : jumlah skor setiap aitem ∑y : jumlah skor total aitem ∑x2 : jumlah kuadrat skor setiap aitem ∑y2 : jumlah kuadrat skor total aitem N : jumlah subjek yang diteliti Azwar mengatakan bahwa koefisien yang didapati dari perhitungan angka kasar dengan teknik product moment belum dapat menunjukkan validitas yang sebenarnya atau dianggap ada kelebihan bobot, oleh karena itu untuk mendapat validitas yang sebenarnya harus dikoreksi dengan menggunakan teknik korelasi part whole (Hadi, 1991) dengan rumus umum: rbt = rxy (SDt – SDb) √ (SDt2 + SDb2) – 2(rxy)(SDt)(SDb) Keterangan: rbt : koefisien validitas patr whole setelah dikoreksi rxy : koevisien validitas part whole sebelum dikoreksi SDt : standar deviasi total SDb: standar deviasi item

2. Reliabilitas
Reliabilitas adalah sejauh mana alat ukur dapat memberikan hasil relatif sama bila pengukuran kembali dilakukan terhadap subjek yang sama (Azwar, 1997). Alat ukur yang reliabel yaitu apabila alat ukur itu digunakan untuk mengungkap masalah yang sama walaupun untuk waktu yang berbeda memberikan hasil yang relatif sama. Penelitian ini menggunakan teknik analisis varian dari Hyot untuk mengetahui reliabilitas alat ukur (Azwar, 1997). Rumus dasar reliabilitas Hyot adalah:

38

rtt = 1 −

Mk 1S Mk S

Keterangan: : reliabilitas alat ukur rtt : mean kuadrat interaksi antar aitem dan subjek Mke MkS : mean kuadrat antar subjek : bilangan konstan 1
F. Metode Analisis Data

Data yang diperoleh dari seluruh jawaban subjek kemudian dianalis secara statistik. Statistik dalam pengertian metodologi berarti cara-cara ilmiah yang dipersiapkan untuk mengumpulkan, menyusun, menyajikan, dan

menganalisa data penyelidikan yang berwujud angka-angka (Suryabrata, 1990). Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode statistik, karena statistik mampu menunjukkan kesimpulan penelitian dengan memperhitungkan faktor-faktor kesalahan. Pertimbangan lain menurut Suryabrata (1990) adalah sebagai berikut: 1. Metode statistik bersifat objektif. 2. Metode statistik makin bersifat universal, bahwa makin hari kecenderungan melakukan klasifikasi dalam penelitian makin besar, sehingga peran statistik dalam penelitian juga makin besar. 3. Metode statistik mempunyai kerangka penelitian lengkap model teoritis, hipotesis, alat pengumpul data, rancangan penelitian, teknik pengumpulan sampel, dan analisa data.

2. Variabelnya berdistribusi normal. Bentuk distribusi variabel X dan Y mendekati distribusi normal 4. Hubungan antara variabel X dan Y merupakan hubungan linier atau garis lurus. maka data yang digunakan adalah data interval. Adapun asumsi yang diperlukan untuk menggunakan teknik produck moment adalah: 1. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: Σxy − (Σx ) (Σy ) 2 rxy = N  2 (Σx )   2 (Σy )2  Σx −  Σy −  N  N   Keterangan: rxy : indeks korelasi antara persepsi terhadap pola asuh orang tua dan motivasi belajar ∑xy : jumlah hasil persepsi terhadap pola asuh orang tua dan motivasi belajar ∑x : jumlah skor persepsi terhadap pola asuh orang tua ∑y : jumlah skor motivasi belajar ∑x2 : jumlah kuadrat skor persepsi terhadap pola asuh orang tua ∑y2 : jumlah kuadrat skor motivasi belajar N : jumlah subjek yang diteliti . Alasan menggunakan teknik teknik analisis korelasi produck moment karena mempunyai ciri-ciri: 1.39 Perbedaan motivasi belajar ditinjau dari pola asuh orang tua dianalisa dengan menggunakan teknik analisis korelasi produck moment. 3. Korelasi produck moment berdasar pada skala dengan satuan-satuan pengukuran yang berjarak sama. Mengetahui hubungan antara variabel X dan Y 2. Hubungan antara variabel bebas dan tergantung bersifat linier.

40

Analisis penelitian ini menggunakan bantuan komputer SPS 2000 (Seri Program Statistik-2000) edisi Sutrisno Hadi dan Yuni Pamardiningsih agar mudah dalam perhitungannya.

41

BAB IV LAPORAN PENELITIAN

A. Persiapan Penelitian 1. Orientasi kancah penelitian Penelitian ini dilakukan di MAN 1 Salatiga yang beralamat di Jl. KH. Wahid Hasyim No. 12 Salatiga dengan siswa sebanyak ± 612 siswa, dibagi dalam 18 kelas. Kelas X terdiri dari 6 kelas dengan siswa sebanyak ± 228 siswa, kelas XI terdiri dari 6 kelas dengan siswa sebanyak ± 192 siswa, dan kelas XII terdiri dari 6 kelas dengan siswa sebanyak ± 192 siswa. MAN 1 Salatiga mempunyai 10 buah gedung dan mempunyai kondisi fisik yang baik. Fasilitas yang dimiliki oleh sekolah ini antara lain: pos satpam, ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang TU, ruang bimbingan konseling, perpustakaan, laboratorium komputer, mushola, kantin, ruang UKS, ruang OSIS, sanggar pramuka, sanggar PMR, koperasi sekolah, toilet, lapangan volly, dan lapangan basket. 2. Persiapan alat pengumpulan data Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala, yang terdiri dari skala motivasi belajar dan skala persepsi terhadap pola asuh orang tua. a. Skala motivasi belajar. Skala ini merupakan modifikasi dari skala yang disusun oleh Hardiyani (2005) dilatarbelakangi oleh teori motivasi belajar dari Suryabrata (1998), yang

42

aspek-aspeknya meliputi: menyiapkan diri sebelum mengikuti pelajaran, mencatat mata pelajaran, mengendapkan hasil pelajaran, mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik, dan menepati jadual waktu belajar yang dibuat. Skala ini terdiri dari 50 butir item sebelum uji coba dengan perincian 28 butir item favorabel dan 22 butir item unfavorabel. Penyusunan dan sebaran item pada skala ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 1 Blue Print Skala motivasi belajar sebelum uji coba Ciri-ciri Menyiapkan diri sebelum mengikuti pelajaran Mencatat mata pelajaran Mengendapkan hasil pelajaran Mengerjakan pekerjaan rumah Menepati jadual waktu belajar yang dibuat Total Nomor Butir Favorabel Unfavorabel 1,2,4,5,6,11,12 3,7,8,9,10 13,15,16,18,19, 22,24,25 29,30,31,35,36 37,41,42 44,45,46,47,48 28 14,17,20,21, 23,26,27 28,32,33,34 38,39,40 43,49,50 22 Total 12 15 9 6 8 50

b. Skala persepsi terhadap pola asuh orang tua. Skala ini merupakan modifikasi dari skala yang disusun oleh Iffah (2005) berdasarkan aspek-aspek pola asuh orang tua yang dikemukakan oleh Mussen dkk (1994), yang meliputi: kontrol terhadap pergaulan, tuntutan kedewasaan, kejelasan komunikasi anak dan orang tua serta kasih sayang. Skala ini terdiri dari 50 butir item sebelum uji coba dengan perincian 25 butir item favorabel dan 25 butir item unfavorabel. Penyusunan dan sebaran item pada skala ini dapat dilihat pada tabel berikut :

18. Pelaksanaan uji coba Sebelum dikenakan pada subjek penelitian.36.2. penulis menggunakan teknik korelasi product moment dari Karl Pearson (Azwar.17. 1998) kemudian dikoreksi dengan teknik part whole.19.43 Tabel 2 Skala persepsi terhadap pola asuh orang tua sebelum uji coba Aspek-aspek Kontrol terhadap pergaulan Tuntutan kedewasaan Kejelasan komunikasi orang tua anak Kasih sayang Total 3.12.13. skala yang telah disusun perlu diujicobakan untuk menguji validitas dan reliabilitasnya. 9.44. Uji coba dilakukan dengan cara membagikan skala pada siswa kelas XI IPA 1 MAN 1 Salatiga sebanyak 30 siswa pada tanggal 15 Juni 2007. Perhitungan validitas.27. 4.20.25.31.5. Data yang diperoleh dari uji coba ini kemudian dianalisis validitas dan reliabilitasnya.7. 32.24.41.11.40.38. Perhitungan validitas dan reliabilitas a.21.23. 6. Untuk menguji validitas kedua skala yaitu skala motivasi belajar dan skala persepsi terhadap pola asuh orang tua.49 30.46.34. Nomor item Favorabel Unfavorabel 1. 33 47 15.22.48. 3. Skala yang disebar semuanya memenuhi syarat untuk di skor.45 43 16.35 25 25 Total 13 12 13 12 50 . 29 50 14.39.26.10.37.28.42. Perhitungan validitas tersebut menggunakan bantuan komputer program Seri Program Statistik 2000 edisi Sutrisno Hadi dan Yuni Pamardiningsih.4.8.

Terdapat 34 butir item valid dari 50 item yang diujikan.12.35. Adapun 32 butir yang sahih dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini : .42. Item yang valid mempunyai koefisien validitas (rbt) berkisar antara 0.19.23.2.29.10 pelajaran Mencatat mata pelajaran 13.46.05.11 7.32.6.9.6.13.48 dibuat Total 20 14 Ciri-ciri Total 9 9 7 4 5 34 2) Skala persepsi terhadap pola asuh orang tua.12. dan koefisien reliabilitas alat ukur (rtt) sebesar 0.47. Item yang valid mempunyai koefisien validitas (rbt) berkisar antara 0.35.45.5. sedangkan item yang gugur terdapat 16 butir item pada item nomor 3. dan koefisien reliabilitas alat ukur (rtt) sebesar 0.05.39.22.45.37.4.49.40.18.8.34.15.33 Mengerjakan pekerjaan rumah 41 38.725 dengan p < 0.15.25 17. sedangkan item yang gugur terdapat 18 butir item pada item nomor 2.304 sampai dengan 0.4.39.43.11.16.31.14. Adapun 34 butir yang sahih dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini : Tabel 3 Skala motivasi belajar (setelah uji coba) Nomor butir Favorabel Unfavorabel Menyiapkan diri sebelum mengikuti 1.37.360 sampai dengan 0.5.27 Mengendapkan hasil pelajaran 29.36 28.32.44.7. Terdapat 32 butir item valid dari 50 item yang diujikan.24.3.706 dengan p < 0.40 Menepati jadual waktu belajar yang 44.44 1) Skala motivasi belajar.30.920.50.938.26.21.20.

22. Perhitungan reliabilitas Perhitungan reliabilitas dilakukan setelah perhitungan validitas skala. Pengumpulan Data Subjek dalam penelitian ini adalah sebagian siswa-siswi kelas XI MAN 1 Salatiga.31 9.01.46.23. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 2007 dengan dibantu oleh seorang guru BK.01 dan hasil uji keandalan teknik Hyot pada skala motivasi belajar diperoleh rtt sebesar 0.920 dengan p < 0.30. IPS 4 sebanyak 64 siswa.28.18.48. . Berdasarkan hasil perhitungan reliabilitas.49 19 13 Total 7 7 10 8 32 B.41. IPS 2 dan XI.24.21. Sampel yang digunakan adalah para siswa kelas XI. maka dapat dikatakan kedua skala tersebut memiliki reliabilitas yang andal.42. kemudian skala diuji reliabilitasnya dengan teknik formula yang dikembangkan oleh Hyot (Azwar.25 36.19. Hasil uji keandalan teknik Hyot pada skala persepsi terhadap pola asuh orang tua diperoleh rtt sebesar 0. Nomor item Favorabel Unfavorabel 1. 8.17.38. Pelaksanaan Penelitian 1. 1997).27.45 Tabel 4 Skala persepsi terhadap pola asuh orang tua (setelah uji coba) Aspek-aspek Kontrol terhadap pergaulan Tuntutan kedewasaan Kejelasan komunikasi orang tua anak Kasih saying Total b. 26 43 16.10.938 dengan p < 0.34.47 33 20.50 14.

Cara pemberian nilai alternatif jawaban pada item besarnya berkisar antara 1 sampai dengan 4 dengan susunan sebagai berikut: a. Pelaksanaan Skoring Langkah selanjutnya setelah data terkumpul adalah memberi skor atau nilai untuk analisis data. yakni kedua skala dijadikan satu bendel dan langsung dikumpulkan setelah selesai mengisi. .46 Penyajian kedua skala dilakukan secara bersamaan. Berdasarkan skala yang dibagikan semuanya kembali dan tidak ada yang rusak atau cacat. 2. Item yang bersifat unfavorabel SS : Sangat Sesuai S : Sesuai TS : Tidak Sesuai STS: SangatTidak Sesuai :1 :2 :3 :4 Nilai tertinggi masing-masing item adalah 4 dan yang terendah adalah 1. kemudian penulis menjumlahkan skor dari masing-masing skala yang nantinya digunakan sebagai analisis data. Item yang bersifat favorabel SS : Sangat Sesuai S : Sesuai :4 :3 :2 :1 TS :Tidak Sesuai STS: Sangat Tidak Sesuai b. Pemberian skor dilakukan berdasarkan jawaban subjek dan memperhatikan sifat item favorabel dan unfavorabel.

3. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk melihat normal tidaknya sebaran data variabel data penelitian dalam populasi. hal ini ditunjukkan dengan nilai F beda sebesar 0. Hasil uji normalitas pada skala persepsi terhadap pola asuh orang tua diperoleh kai kuadrat sebesar 7. hipotesis penelitian ini ada hubungan positif antara persepsi terhadap pola asuh orang tua dengan motivasi belajar.05 yang berarti korelasinya linier. Hasil Analisis Data Hasil uji asumsi menunjukkan bahwa data yang terkumpul memenuhi syarat untuk dilakukan analisis berikutnya. yang perhitungannya menggunakan bantuan komputer paket Seri Program Statistik (SPS-2000) edisi Sutrisno Hadi dan Yuni Pamardiningsih UGM.830 dengan p > 0.160 dengan p > 0. hak cipta @ 2005. yaitu menguji hipotesis. 1. Uji Linieritas Uji linieritas hubungan antara persepsi anak terhadap pola asuh dengan motivasi belajar mempunyai korelasi linier.05 berarti sebarannya normal.05 berarti sebarannya normal. 2. Teknik yang digunakan adalah analisis korelasi product moment. versi IBM/IN. . Analisis Data Penelitian Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis korelasi product moment.442 dengan p > 0. Uji normalitas pada skala motivasi balajar diperoleh kai kuadrat sebesar 10. tetapi sebelumnya dilakukan uji asumsi yang meliputi uji normalitas dan uji linieritas.47 C.

menilai.48 Berdasarkan analisis korelasi product moment diperoleh hasil koefisien korelasi sebesar 0. sedangkan hasil rerata empirik motivasi belajar sebesar 103.081 dengan p > 0. D.406 dan rerata hipotetik sebesar 80.05. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan pendapat Suryabrata (2004) yang mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar adalah persepsi terhadap pola asuh orang tua. Menurut Hurlock (1990) perlakuan terhadap seorang anak oleh orang tua mempengaruhi bagaimana anak itu memandang.05. Artinya persepsi anak terhadap pola asuh orang tua tidak mempengaruhi tingkat motivasi belajar siswa. Hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara persepsi terhadap pola asuh orang tua dengan motivasi belajar. Pembahasan Hasil analisis korelasi product moment diperoleh koefisien korelasi sebesar 0. Rerata empirik > rerata hipotetik yang berarti subjek dalam penelitian ini memiliki persepsi terhadap pola asuh orang tua yang positif dan tingkat motivasi belajar yang tergolong tinggi.081 dengan p > 0. Hasil rerata empirik persepsi anak terhadap pola asuh orang tua sebesar 101. dan mempengaruhi .469 dan rerata hipotetik sebesar 85. Hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara persepsi terhadap pola asuh orang tua dengan motivasi belajar. Artinya persepsi anak terhadap pola asuh orang tua tidak mempengaruhi tingkat motivasi belajar siswa.

alat ukur data. Tinjauan terhadap alat ukur atau skala Meski dari pengkategorian didapatkan persepsi yang positif tetapi dalam penelitian ini hanya menggunakan 4 aspek saja dalam mengungkap persepsi anak terhadap pola asuh orang tua.34 % dari jumlah populasi. Berkaitan dengan hal tersebut peneliti berasumsi: a. aspek konatif yaitu . hal ini dirasa peneliti mempengaruhi data yang didapatkan. sehingga harus ada spesifikasi dalam pengukuran yang berkaitan dengan persepsi terhadap pola asuh orang tua. perhitungan-perhitungan dan sebagainya. sedangkan jika dilihat secara luas persepsi terhadap pola asuh orang tua memiliki aspek lain yang harus diperhatikan. misalnya: aspek kognitif yaitu pandangan individu terhadap sesuatu berdasarkan pengalaman yang pernah di dengar atau di lihat dalam kehidupan sehari-hari. yang terpenting adalah peneliti harus memberikan keterangan dan alasan yang kuat mengenai tidak terbuktinya hipotesis tersebut. rancangan penelitian. Arikunto (1998) berpendapat bila jumlah populasi di atas 100 maka sampel diambil 30-35 % dari jumlah populasi. b. misalnya dengan mengeksplorasi: sampel yang didapat.49 sikap anak tersebut terhadap orang tua serta mempengaruhi kualitas hubungan yang berkembang di antara mereka. Peneliti berasumsi bahwa skala yang digunakan belum mengungkap secara mendalam variabel bebas yang digunakan. Suryabrata (1993) mengungkapkan bahwa dalam penelitian tidak jarang hipotesis yang diajukan ditolak atau tidak terbukti. Tinjauan jumlah sampel Jumlah sampel penelitian kurang dari 35 % atau hanya memenuhi 33.

Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual yang berperan dalam menimbulkan gairah belajar serta perasaan senang dan bersemangat untuk belajar (Soemanto. sedangkan hasil rerata empirik motivasi belajar sebesar 103. dan aspek afektif yang menyangkut emosi dari individu dalam mempersepsi sesuatu melalui afeksi-afeksi yang berdasarkan pada emosi. b. c. Peneliti berasumsi bahwa ciri-ciri individu yang memiliki motivasi belajar tinggi yang diungkap Suryabrata (2004) yang meliputi: a.469 dan rerata hipotetik sebesar 85. . dari perbandingan rerata empirik dan rerata hipotetik skala motivasi belajar menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa tergolong tinggi. Mengendapkan hasil pelajaran. Mengerjakan tugas rumah dengan baik. 1984). hal ini dapat muncul karena adanya pendidikan moral dan etika yang didapat sejak kecil. Mencatat mata pelajaran. Menyiapkan diri sebelum mengikuti pelajaran. d.50 pandangan individu terhadap sesuatu yang berhubungan dengan motif atau tujuan timbulnya suatu perilaku yang terjadi di sekitar yang diwujudkan dalam sikap atau perilaku individu dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun dari kedua variabel tidak terdapat hubungan.406 dan rerata hipotetik sebesar 80. Rerata empirik > rerata hipotetik yang berarti subjek dalam penelitian ini memiliki persepsi terhadap pola asuh orang tua yang positif dan tingkat motivasi belajar yang tergolong tinggi. Hasil rerata empirik persepsi anak terhadap pola asuh orang tua sebesar 101.

Setiap penelitian pasti terdapat kekurangan. Bagi peneliti selanjutnya penerapan ruang lingkup yang luas dengan menambah atau menggunakan variabel lain yang belum disertakan dalam penelitian ini ataupun dengan memperbaiki kelemahan dan keterbatasan penelitian ini. Meskipun dari data penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara persepsi terhadap pola asuh orang tua dengan motivasi belajar. yakni terbatas pada siswa kelas XI MAN I Salatiga. Menepati jadwal waktu belajar yang dibuat.51 e. minimal untuk saat ini sehingga motivasi yang ada pada siswa saat ini perlu dipertahankan. terbatas pada siswa kelas XI IPS 2 dan XI IPS 4 sebanyak 64 siswa MAN I Salatiga. telah terpenuhi pada diri subjek. bukan berarti variabel persepsi terhadap pola asuh orang tua tidak penting. sehingga perlu ditambah variabel lain. begitu juga dalam penelitian ini memiliki kelemahan antara lain: a. Hal ini dapat dilakukan dengan: a. karena variabel tersebut memiliki kontribusi pada masalah lain misalnya: kecenderungan perilaku dilinkuen. c. Penelitian hanya mengungkap dua variabel. hal ini menjadi salah satu informasi bagi sekolah mengenai motivasi belajar siswa. Jumlah subjek yang relatif sedikit. Memperbanyak ruang lingkup penelitian atau sampel yang digunakan dalam penelitian. . b. Generalisasi dari hasil penelitian ini terbatas pada populasi dimana penelitian dilakukan.

. Memperbaiki alat ukur penelitian agar lebih bevariasi dalam mengungkap aspek-aspek yang terkait dengan variabel penelitian.52 b.

Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diberikan dalam bab sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa : 1. Bagi sekolah.BAB V PENUTUP A. artinya persepsi anak terhadap pola asuh orang tua tidak mempengaruhi tingkat motivasi belajar siswa. 53 . aktif terlibat dalam kegiatan ekstra kulikuler di sekolah maupun kegiatan di masyarakat. pembahasan. artinya pola asuh yang diberikan oleh orang tua selaras dengan pengetahuan dan tanggapan subjek. artinya ciri-ciri individu yang memiliki motivasi belajar tinggi telah terpenuhi pada diri subjek. Tidak ada hubungan antara persepsi terhadap pola asuh orang tua dengan motivasi belajar. dan kesimpulan diatas maka penulis mengajukan saran sebagai berikut : 1. 2. B. Saran Dari hasil penelitian. Motivasi belajar yang dimiliki subjek tergolong tinggi. Persepsi terhadap pola asuh orang tua yang dimiliki subjek tergolong positif. diharapkan mempertahankan motivasi belajar siswa dengan terus melatih siswa menyelesaikan tugas tanpa bantuan orang lain. 3.

Bagi peneliti selanjutnya. keadaan jasmani dan rohani anak.54 2. dan minat belajar. untuk meningkatkan kualitas penelitian lebih lanjut khususnya yang berkaitan dengan motivasi belajar peneliti lain dapat lebih menyempurnakan hasil penelitian ini dengan menambah variabel lain yang belum di ungkap dalam penelitian ini seperti: status mental dan perasaan. kondisi lingkungan. .

Manual SPS (Seri Program Statistik) versi 2000. Angket. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto. 1990. O. S. dan Skala. Jakarta: P. Perkembangan Anak (Terjemahan Meitasari Tjandrasa). S. Bandung: Sinar Baru Agresindo Hardiyani. Yogyakarta: Andi Offset. Jakarta: Erlangga. Belajar dan Pembelajaran. PHRONESIS. 1998. Semangat Belajar dan Aspirasi Belajar Anak ditinjau dari Persepsi Anak tentang Ketidakpastian Pekerjaan Orang Tua.V. Reliabilitas dan Validitas. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Jakarta: Erlangga. Jurnal. Hudgins. 1999. 1997. 1995. Hadi. Analisis Butir untuk Instrumen. . 1998. Psikologi Belajar dan Mengajar. 1984. Psikologi Belajar. 1991. 2002. Metodologi Research jilid II. Statistik Jilid II.T. Prosedur Penelitian. Pandangan dan Kepedulian Perempuan terhadap Anak. 5. _______. Idrus. 2000. Y. dkk). Psikologi Pendidikan Terjelaskan Oleh Kasijen 2. Psikologi Suatu Pengantar. 1997. Surakarta: Fakultas Psikologi UMS. Bina Ilmu.D. No. _______. M. S. Skripsi (Tidak diterbitkan). D. New York: Prentice Hall. Davidoff. 2001. Yogyakarta: Andi Offset. Crow. E. Yogyakarta: Andi Offset _______. Jakarta: C. Hurlock. Inc. S. Gunarsa. Dimyati dan Mudjiono. dan Crow A. Surabaya: P. 1991.Tes.DAFTAR PUSTAKA Azwar. Hadi. Educational Psychology. Rineka Cipta. 2001. S. 3. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.T. Rajawali. 1983. dan Pamardiningsih.B. Jakarta: Erlangga. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (terjemahan oleh Istiwidayanti. 2005. B. Vol. Yogyakarta: UGM Hamalik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Djamarah.B. 2000.

Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Remaja Rosdakarya. Mahmud. 1982. Slameto. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.K. 1998.M. Jakarta: CV. Psikologi Pendidikan. Prayitno. W. Shochib. 1997. M. Jakarta: Mutiara. Rakhmat. Rajawali. Kerlinger.. Jakarta: Rineka Cipta. 1985. 2006. P. Partowisastro. F. Nasution. 1991. Surakarta: Fakultas Psikologi UMS. Metode Belajar. M. Manajemen Personalia. Yogyakarta: Gajah Mada Univercity Press.A. Asas-asas Penelitian Behavioral (Terjemahan oleh Simatupang) Edisi Ketiga. Bandung: PT. Drs. Nitisemito.Iffah. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. J. Poerwadarminta. Edisi Revisi. Jakarta: Depdikbud. Soemanto. 1989. Jakarta: Pustaka Populer. . 1997. Psikologi Komunikasi. Pendidikan. Jakarta: Ghalia Indah. Dinamika Psikologi Pendidikan Jilid I.J.N. Psikologi Pendidikan. Purwanto. 2001. dkk. 1995. Jakarta: Balai Pustaka. 1984. Kemampuan Menyelesaikan Masalah ditinjau dari Pola Asuh Orangtua dan Keterbukaan Komunikasi Remaja-Orangtua. Mussen. Jakarta: PT. Persepsi Orang Tua Membentuk Perilaku Anak. Psikologi Umum. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Erlangga. Skripsi (Tidak diterbitkan).X. dkk). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Remaja Rosdakarya.H. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Muhibbin. 2001. Edisi Revisi.. K. Bandung: Jemmars. Irwanto. 1990. Raja Grafindo Persada Satiadarma. 2001. 1986. Sardiman. A. Peran Keluarga Memandu Anak.P. S. Bandung: PT. 1989. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Bina Aksara. N. Kartono. F.S. H.. Jakarta: Archan. Perkembangan dan Kepribadian Anak (Terjemahan Budiyanto. 1994. W. 1993.P.Kamus Bahasa Indonesia.M. 2001. Pola Asuh Orang Tua.

2003. ______. Jurnal Penelitian. Metodologi Penelitian. Metode Belajar Mengajar. .id Walgito. Jakarta: Erlangga. Http// www. 1990. Yogyakarta. 1994. T. Yogyakarta: Andi Offset. Andi Offset. 1993.depdiknas. 2004. _______. Jakarta: Rajawali. Psikologi Suatu Pengantar. _______. Gramedia.Sudjana. B. 1987. N. 1997. Yogyakarta: Rekesarasin. S. Turmudji. Pola Asuh Orang Tua dengan Agresivitas Remaja. Jakarta: PT. Psikologi Pengajaran. Pembimbing ke Psikodiagnostika. Suryabrata. Yogyakarta: Andi Offset. Psikologi Umum.go. Winkel. Psikologi Pendidikan.WS. 1998.

.

VALIDITAS dan RELIABILITAS SKALA PERSEPSI TERHADAP POLA ASUH ORANG TUA .A.

VALIDITAS dan RELIABILITAS SKALA MOTIVASI BELAJAR .B.

C. UJI NORMALITAS dan LINIERITAS .

D. HASIL ANALISIS KORELASI PRODUCT MOMENT .

E. NORMA PENGKATEGORIAN .

406 : 4 x 32 : 1 x 32 = 128 = 32 Skor skala: 1.1 SD Rh .4 : 128 – 32 = 96 Interfal Skor 112 ≤ X < 128 96 ≤ X < 112 64 ≤ X < 96 48 ≤ X < 64 32 ≤ X < 48 sedang negatif sangat negatif -3SD (32) -2SD (48) -1SD (64) RH (80) +1SD (96) RE (104.050) positif sangat positif +2SD (112) +3SD (128) .5 = 80 : 101.3.Kategorisasi Persepsi terhadap Pola Asuh Orang Tua Aitem Valid Rerata Hipotetik Rerata Empirik Skor Tertingi Skor Terendah Rentang 96 SD = -----.406 = 80 .(3 x 16) = 32 Rerata Empirik : 32 : 32 x 2.(2 x 16) = 48 = 80 .3 SD Kategori Sangat Positif Positif Sedang Negatif Sangat Negatif 101.(1 x 16) = 64 = 80 .2 SD Rh .2.= 16 6 Rh + 3 SD Rh + 2 SD Rh + 1 SD = 80 + (3 x 16) = 128 = 80 + (2 x 16) = 112 = 80 + (1 x 16) = 96 Rh .

2 SD Rh .3 SD Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah 103.= 17 6 Rh + 3 SD Rh + 2 SD Rh + 1 SD = 85 + (3 x 17) = 136 = 85 + (2 x 17) = 119 = 85 + (1 x 17) = 102 Rh .2.5 = 85 : 103.4 : 136 – 34 = 102 Interfal Skor 119 ≤ X < 136 102 ≤ X < 119 66 ≤ X < 102 51 ≤ X < 66 34 ≤ X < 51 sedang rendah sangat rendah -3SD (34) -2SD (51) -1SD (66) RH (85) +1SD (102) RE (103.3.469 = 85 .469 : 4 x 34 : 1 x 34 = 136 = 34 Skor skala: 1.(3 x 17) = 34 Rerata Empirik : 34 : 34 x 2.469) tinggi sangat tinggi +2SD (119) +3SD (136) .(2 x 17) = 51 = 85 .1 SD Rh .(1 x 17) = 66 = 85 .Kategorisasi Motivasi Belajar Aitem Valid Rerata Hipotetik Rerata Empirik Skor Tertingi Skor Terendah Rentang 102 SD = -----.

SKALA PENGUKURAN .F.

Adapun jawaban yang anda berikan adalah benar. Anda diharapkan menyatakan sikap anda terhadap isi pernyataan tersebut dengan cara memilih: SS S TS STS : bila anda sangat sesuai : bila anda sesuai : bila anda tidak sesuai : bila anda sangat tidak sesuai Berilah tanda silang (X) untuk satu alternatif jawaban pada setiap pernyataan. Jawaban diharapkan sesuai dengan keadaan anda sendiri. maka tidak ada jawaban yang dianggap salah.FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2007 Nama Usia : : (boleh inisial) Jenis Kelamin : Tgl Pengisian : PETUNJUK PENGISIAN Berikut ini disajikan beberapa pernyataan mengenai diri anda. Ψ Selamat Mengerjakan Ψ .

jadi peraturan tersebut terjalin atas kesepakatan bersama Segala keinginan saya selalu diperhatikan oleh orang tau saya Saya sering bercanda dengan saudara-saudara saya SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS Jawaban S TS STS S TS STS S S S S S S S S S S S S S S S S S S S TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS . 20. 13. Pernyataan Orang tua memberikan peringatan jika saya melakukan kesalahan Saya lebih suka bercerita dengan teman dari pada dengan orang tua Saya merasa bahwa orang tua saya itu selalu menuntut saya dan memaksakan kehendaknya kepada saya Ketika sedang malas belajar orang tua saya akan marah-marah Jika saya pergi sampai larut malam. maka orang tua saya akan mengingatkan dengan baik-baik Dalam membuat peraturan dirumah biasanya orang tua saya akan melibatkan anak-anakya. 18. orang tua saya tidak pernah melibatkan saya Orang tua saya selalu mengekang tingkah laku saya Saya lebih suka bercerita dengan teman dari pada dengan orang tua Orang tua tidak pernah memuji. 10. 2. 3. jika saya berhasil dalam melakukan suatu hal Jika orang tua saya mengetahui ada kesulitan belajar anakanaknya. 21. 7. maka orang tua saya biasanya akan marah dan mengungkit-ungkit kesalahan yang pernah saya lakukan Dalam membuat peraturan apapun di rumah.SKALA I (PERSEPSI TERHADAP POLA ASUH ORANG TUA) sblm uji coba No 1. 5. 15. 12. 16. 17. 4. 8. 19. meskipun nasehat tersebut mengecewakan hati saya Saya merasa orang tua saya menerapkan peraturan di rumah tanpa meminya pertimbangan terlebih dahulu dari anggota keluarga yang lain Saya merasa kegiatan yang saya lakukan mendapat dukungan dari orang tua Jika saya berada di dalam rumah rasanya keteganganketegangan di dalam hidup terasa lepas dan rasanya saya lebih tentram Masalah didalam keluarga saya biasanya diselesaikan bersamasama semua anggota keluarga Orang tua saya selalu memberi kesempatan pada saya untuk belajar menyelesaikan masalah Kalau kamar tidur saya berantakan. 9. maka orang tua saya sering menegur tanpa memberi jalan keluar Pergaulan saya dengan tema-teman dilarang tanpa alasan yang jelas Orang tua memaksa saya melakukan saran dan nasehat yang diberikan. 14. 6. 11.

orang tua mengingatkan baik buruknya 30. biasanya orang tua saya membiarkan saja 37. Apabila saya mengalami kesulitan dalam suatu pekerjaan. Orang tua tidak merasa kecewa. Saya sering merasakan bahwa segala keinginan saya tidak akan pernah terealisasikan 40. Saya merasa bahagia karena orang tua banyak memberi saya kebebasan untuk beraktivitas 39.22. Orang tua biasanya mengajak saya bertukar pikiran bila ada masalah keluarga yang harus diselesaikan 35. Jika saya berhasil dalam suatu hal. Orang tua saya selalu memberi kepercayaan melakukan sesuatu hal kepada anak-anaknya 29. Orang tua memaklumi. Orang tua tidak pernah mengajarkan bagaimana cara mengambil keputusan dalam menyelesaikan persoalan 27. jika perintahnya tidak dapat saya laksanakan dengan sempurna 33. Segala aktifitas saya di luar jam sekolah. orang tua tidak mau membantu meski saya meminta bantuan 38. maka orang tua saya akan ikut senang dan kadang-kadang memberi hadiah 31. Pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan kepada orang tua tidak pernah dijawab baik 42. Orang tua memberi komentar dan menunjukkan sikap yang menyenangkan ketika saya mengatakan pendapat-pendapat dan gagasan-gagasan 24. Orang tua senantiasa meminta saya untuk belajar dengan rajin 26. Keluarga saya selalu menyempatkan diri untuk berkumpul bersama 34. biasanya dibuat atas kesepakatan antara saya dan orang tua 28. Jika saya berbuat salah. Saya merasa bahwa orang tua saya menginginkan saya mengerjakan sesuatu tanpa merasa dituntut dan dipaksa oleh orang lain SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS . orang tua saya tidak peduli dengan anak-anaknya 43. Sepertinya orang tua saya melatih saya untuk dewasa dalam bersikap dan bertingkah laku 25. meskipun prestasi saya tidak sesuai harapan 36. Saya merasa dalam bersikap maupun bertingkah laku. Bila sedang marah dengan saya. Keluarga saya selalu terbuka dalam menyelesaikan masalah 23. orang tua saya mendiamkan saya dalam waktu yang lama 41. Jika saya akan memutuskan sesuatu hal. Orang tua saya selalu memberi semangat untuk lebih banyak belajar agar menjadi yang terbaik disekolah 32.

Saya merasa lebih aman berada di luar lingkungan rumah 47. orang tua membiarkan saja SS SS SS SS SS SS SS S S S S S S S TS TS TS TS TS TS TS STS STS STS STS STS STS STS . Jika saya pergi orang tua tidak mengkhawatirkan saya 50. karena semua diserahkan kepada saya 49. Orang tua tidak pernah menanyakan kapan saya harus belajar. Orang tua tidak pernah menasehati saya agar prestasi belajar saya meningkat 48. Orang tua tidak melarang semua aktivitas saya. Orang tua saya tidak mengajakkan saya untuk selalu dewasa dalam bersikap dan bertingklah laku 46. meskipun bergaul dengan anak-anak nakal 45.44. Apabila saya mendapat teguran dari sekolah karena melanggar aturan atau tata tertib.

18. 8. Pernyataan Sebelum berangkat ke sekolah. 21. 6. 12. 5. buku catatan sangat penting karena dapat membantu saya dalam memahami suatu pelajaran Saya akan mencatat materi pelajaran dan hal-hal penting yang diberikan oleh guru Saya malas mencatat pelajaran yang baru saya ketahui. 24. 7. 4. 2. 11. 13. 10. 22. 23. 9.SKALA II (MOTIVASI BELAJAR) sblm uji coba No 1. 16. 3. saya akan melihat kembali bukubuku pelajaran yang akan saya bawa Saya akan menyiapkan buku-buku pelajaran pada malam hari sebelum tidur Saya pernah salah membawa buku pelajaran Saya lebih suka berada di dalam kelas 15 menit sebelum pelajaran dimulai untuk mempersiapkan diri Saya suka datang kesekolah lebih awal sebelum bel sekolah Saya lebih suka berada di dalam kelas 15 menit sebelum pelajaran dimulai untuk mempersiapkan diri Saya terbiasa mendapatkan hukuman dari guru karena saya terlambat masuk sekolah Saya akan membolos jika saya terlambat masuk sekolah Saya akan mencari-cari alasan agar saya tidak mendapatkan hukuman karena terlambat masuk sekolah Setelah bangun tidur saya akan bermalas-malasan dulu sampai mendekati jam berangkat sekolah Bangun pagi menjadi kewajiban saya setiap hari Sebelum berangkat ke sekolah saya menyempatkan diri untuk sarapan Saya terbiasa memisahkan buku catatan dengan buku tuga Saya hanya memiliki satu buku catatan dan satu buku tugas Menurut saya. 17. 20. 15. 19. tetapi cukup dengan melihat saja Saya lebih suka mencatat sendiri semua materi pelajaran dari pada meminjam catatan teman Menurut saya buku catatan saya paling lengkap dibandingkan dengan buku catatan teman-teman saya Saya tidak akan meminjamkan buku catatan saya kepada temanteman saya Saya tidak akan mengijinkan teman saya membawa pulang buku catatan saya Saya akan meminjam buku catatan teman untuk melengkapi catatan saya apabila ada catatan saya yang terlewat Saya akan mengcopy catatan teman saya karena saya malas mencatat Saya memerlukan konsentrasi yang tinggi dalam menerima penjelasan materi pelajaran yang diberikan oleh guru SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS Jawaban S TS STS S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS . 14.

26. 34. 40. 43. 31. 27. 47. Saya akan marah bila ada teman mengganggu konsentrasi belajar saya Biasanya saya mengantuk ketika mendengarkan penjelasan guru Kadang saya kehilangan konsentrasi ketika menerima pelajaran Saya tidak suka membaca buku catatan maupun buku pelajaran ketika di rumah Saya suka memanfaatkan waktu istirahat untuk membaca kembali materi yang baru saya terima Biasanya saya mempunyai waktu untuk mengulang materi pelajaran ketika berada dirumah Saya akan mencari materi-materi pelajaran yang tidak saya pahami untuk ditanya kepada guru Saya akan membaca kembali materi pelajaran hanya pada saat ada ulangan atau ujian saja Saya lebih suka memanfaatkan waktu luang saya untuk bermain dari pada untuk mengulang Saya akan membiarkan nilai ulangan atau ujian saya jelek Saya siap mengerjakan ulangan yang diberikan oleh guru saya cecara tiba-tiba Saya takut jika tidak lulus ujian Saya akan mengerjakan PR dengan segenap kemampuan yang saya miliki Kadang saya lupa mengerjakan PR Saya lebih suka mengerjakan PR di sekolah dari pada di rumah Saya lebih suka meminjam PR teman dari pada harus mengerjakan sendiri Saya tidak suka menunda-nunda waktu untuk mengerjakan PR Mengerjakan PR membantu saya dalam memahami pelajaran Terkadang saya lupa dengan jadwal ulangan saya Saya akan mencatat jadwal ulangan-ulangan harian Sepulang sekolah saya akan membaca kembali materi pelajaran yang telah saya terima Saya ingin mengikuti bimbingan baik di sekolah maupun di luar sekolah Saya memerlukan jam tambahan untuk belajar Saya tetap akan berangkat mengikuti bimbingan belajar meskipun teman-teman mengajak saya membolos Bagi saya ikut kegiatan ekstrakulikuler akan menyita waktu bermain saya Menurut saya bimbingan belajar hanya untuk orang-orang yang kurang berprestasi SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS . 39. 35. 28. 29. 50. 30. 42. 33. 45. 44. 32.25. 41. 38. 46. 36 37. 48 49.

7. maka orang tua saya sering menegur tanpa memberi jalan keluar Saya merasa kegiatan yang saya lakukan mendapat dukungan dari orang tua Masalah didalam keluarga saya biasanya diselesaikan bersamasama semua anggota keluarga Orang tua saya selalu memberi kesempatan pada saya untuk belajar menyelesaikan masalah Kalau kamar tidur saya berantakan. 12. jika saya berhasil dalam melakukan suatu hal Jika orang tua saya mengetahui ada kesulitan belajar anakanaknya. 10. 20. 17. jadi peraturan tersebut terjalin atas kesepakatan bersama Segala keinginan saya selalu diperhatikan oleh orang tau saya Saya sering bercanda dengan saudara-saudara saya Keluarga saya selalu terbuka dalam menyelesaikan masalah Orang tua memberi komentar dan menunjukkan sikap yang menyenangkan ketika saya mengatakan endapat-pendapat dan gagasan-gagasan Sepertinya orang tua saya melatih saya untuk dewasa dalam bersikap dan bertingkah laku Orang tua senantiasa meminta saya untuk belajar dengan rajin Orang tua tidak pernah mengajarkan bagaimana cara mengambil keputusan dalam menyelesaikan persoalan Segala aktifitas saya di luar jam sekolah. 14. 15. 21.SKALA I (PERSEPSI TERHADAP POLA ASUH ORANG TUA) stlh uji coba No 1. biasanya dibuat atas kesepakatan antara saya dan orang tua Orang tua saya selalu memberi kepercayaan melakukan sesuatu hal kepada anak-anaknya Jika saya berhasil dalam suatu hal. 9. 11. 8. maka orang tua saya akan mengingatkan dengan baik-baik Dalam membuat peraturan dirumah biasanya orang tua saya akan melibatkan anak-anakya. 13. 19. maka orang tua saya akan ikut senang dan kadang-kadang memberi hadiah Orang tua saya selalu memberi semangat untuk lebih banyak belajar agar menjadi yang terbaik disekolah Keluarga saya selalu menyempatkan diri untuk berkumpul bersama Orang tua biasanya mengajak saya bertukar pikiran bila ada masalah keluarga yang harus diselesaikan SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS Jawaban S TS STS S TS STS S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS . 3. 5. 2. 6. 18. 16. 4. Pernyataan Orang tua memberikan peringatan jika saya melakukan kesalahan Saya lebih suka bercerita dengan teman dari pada dengan orang tua Orang tua tidak pernah memuji. 22.

biasanya orang tua saya membiarkan saja 24. orang tua membiarkan saja SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS S S S S S S S S S S TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS . Saya merasa bahagia karena orang tua banyak memberi saya kebebasan untuk beraktivitas 25.23. Apabila saya mendapat teguran dari sekolah karena melanggar aturan atau tata tertib. Orang tua tidak pernah menasehati saya agar prestasi belajar saya meningkat 30. orang tua saya tidak peduli dengan anak-anaknya 27. Jika saya berbuat salah. Orang tua tidak pernah menanyakan kapan saya harus belajar. Pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan kepada orang tua tidak pernah dijawab baik 26. Jika saya pergi orang tua tidak mengkhawatirkan saya 32. Saya merasa dalam bersikap maupun bertingkah laku. karena semua diserahkan kepada saya 31. Saya merasa bahwa orang tua saya menginginkan saya mengerjakan sesuatu tanpa merasa dituntut dan dipaksa oleh orang lain 28. Saya merasa lebih aman berada di luar lingkungan rumah 29.

24. 23. 9. Pernyataan Sebelum berangkat ke sekolah. 14. 10. tetapi cukup dengan melihat saja Saya lebih suka mencatat sendiri semua materi pelajaran dari pada meminjam catatan teman Saya akan mengcopy catatan teman saya karena saya malas mencatat Saya memerlukan konsentrasi yang tinggi dalam menerima penjelasan materi pelajaran yang diberikan oleh guru Saya akan marah bila ada teman mengganggu konsentrasi belajar saya Biasanya saya mengantuk ketika mendengarkan penjelasan guru Kadang saya kehilangan konsentrasi ketika menerima pelajaran Saya tidak suka membaca buku catatan maupun buku pelajaran ketika di rumah Saya suka memanfaatkan waktu istirahat untuk membaca kembali materi yang baru saya terima Biasanya saya mempunyai waktu untuk mengulang materi pelajaran ketika berada dirumah Saya akan mencari materi-materi pelajaran yang tidak saya pahami untuk ditanya kepada guru Saya akan membaca kembali materi pelajaran hanya pada saat ada ulangan atau ujian saja Saya lebih suka memanfaatkan waktu luang saya untuk bermain dari pada untuk mengulang SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS Jawaban S TS STS S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S S TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS . 3. 18. 16. 13. 21. 11. 4. 8. 22. 7. 15.SKALA II (MOTIVASI BELAJAR) stlh uji coba No 1. 19. 5. 17. saya akan melihat kembali bukubuku pelajaran yang akan saya bawa Saya akan menyiapkan buku-buku pelajaran pada malam hari sebelum tidur Saya suka datang kesekolah lebih awal sebelum bel sekolah Saya lebih suka berada di dalam kelas 15 menit sebelum pelajaran dimulai untuk mempersiapkan diri Saya terbiasa mendapatkan hukuman dari guru karena saya terlambat masuk sekolah Saya akan membolos jika saya terlambat masuk sekolah Saya akan mencari-cari alasan agar saya tidak mendapatkan hukuman karena terlambat masuk sekolah Setelah bangun tidur saya akan bermalas-malasan dulu sampai mendekati jam berangkat sekolah Bangun pagi menjadi kewajiban saya setiap hari Saya terbiasa memisahkan buku catatan dengan buku tugas Saya akan mencatat materi pelajaran dan hal-hal penting yang diberikan oleh guru Saya malas mencatat pelajaran yang baru saya ketahui. 12. 6. 20. 2.

31.25. 29. 33. 26. 32. 28. Saya takut jika tidak lulus ujian Kadang saya lupa mengerjakan PR Saya lebih suka mengerjakan PR di sekolah dari pada di rumah Saya lebih suka meminjam PR teman dari pada harus mengerjakan sendiri Saya tidak suka menunda-nunda waktu untuk mengerjakan PR Saya akan mencatat jadwal ulangan-ulangan harian Sepulang sekolah saya akan membaca kembali materi pelajaran yang telah saya terima Saya ingin mengikuti bimbingan baik di sekolah maupun di luar sekolah Saya memerlukan jam tambahan untuk belajar Saya tetap akan berangkat mengikuti bimbingan belajar meskipun teman-teman mengajak saya membolos SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS S S S S S S S S S S TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS STS STS STS STS STS STS STS STS STS STS . 30. 34. 27.

SURAT IJIN PENELITIAN. SURAT KETERANGAN PENELITIAN. DAN SURAT KETERANGAN ANALISA DATA .G.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->