BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Untuk mengetahui sejarah hukum Islam, harus diketahui terlebih dahulu latar belakang munculnya suatu hukum, baik yang didasarkan pada al-Qur'an dan Sunah maupun tidak. Kalau tidak, maka akan melahirkan pemahaman hukum yang cenderung ekstrim bahkan mengarah pada merasa benar sendiri. Oleh karena itu memahami hukum Islam dengan mengetahui latar belakang pembentukan hukumnya menjadi sangat penting agar tidak salah dalam memahami hukum Islam itu. Misalnya, fiqh adalah hasil produk pemikiran ulama baik secara individu maupun kolektif. Oleh karena itu mempelajari perkembangan fiqh berarti mempelajari pemikiran ulama yang telah melakukan ijtihad dengan segala kemampuan yang memilikinya. Dengan demikian mempelajari sejarah hukum Islam berarti melakukan langkah awal dalam mengkonstruksikan pemikiran ulama klasik dan langkah-langkah ijtihadnya untuk diimplementasikan sehingga kemaslahatan manusia senantiasa terpelihara. Di antara kegunaan mempelajari sejarah hukum Islam adalah agar dapat melahirkan sikap hidup toleran dan untuk mewarisi pemikiran ulama klasik dan langkah-langkah ijtihadnya agar dapat mengembangkan gagasan-gagasannya. B. Rumusan Masalah 1. Apa Pengertian Tarikh Tasyri¶ ? 2. Macam-Macam Tasyri¶ ? 3. Urgensi & Keunggulan Mempelajari Tarikh Tasyri¶ ? 4. Syariat Islam & Hukum Wadh¶I (Hukum Positif) ? 5. Face-Face Tarikh Tasyri¶ ?

1

Sedangkan syariah adalah peraturan atau ketentuan-ketentuan yang ditetapkan (diwahyukan) oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw untuk manusia yang mencakup tiga bidang. Syariat menurut fuqaha¶ berarti hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT melalui Rasul untuk 2 .Nya kepada Nuh. «.untuk tiap-tiap umat diantara kamu. kami berikan aturan dan jalan yang terang«.ma'i (sumber air) yang jernih untuk diminum. di dalamnya terdapat kehidupan dan kebebasan dari dahaga jiwa dan akal. Sumber air adalah tempat kehidupan dan keselamatan jiwa. Oleh karena itu pembahasan tarikh tasyri¶ dimulai sejak pertama kali wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw hingga masa kini. Kata Syariat secara bahasa berarti alutbah (lekuk liku lembah). begitu pula dengan jalan yang lurus yang menunjuki manusia kepada kebaikan. Sebagaiman firman Allah SWT dalam surat al-Jatsiah ayat 18 di atas. enactment of law. Juga firman Allah SWT dalam surat al-Syura ayat 13. Syari'ah adalah "law statute" artinya hukum yang telah ditetapkan dalam agama Islam. Lalu kata ini digunakan untuk mengungkapkan al-thariqah al-mustaqimah (jalan yang lurus). MAKNA SYARI¶AH DAN TASYRI¶ Tarikh artinya catatan tentang perhitungan tanggal. dan maurid al. Tasyri' juga bermakna legislation. yaitu keyakinan (aturan-aturan yang berkaitan dengan aqidah). maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan (agama itu). Dan firman Allah SWT dalam surat alMaidah ayat 48. Lebih populer dan sederhana diartikan sebagai sejarah atau riwayat. hari.BAB II PEMBAHASAN A. Dia Telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan. PENGERTIAN TARIKH TASYRI¶. bulan dan tahun. Namun para ulama kemudian memperluas pembahasan tarikh (sejarah) tasyri¶ sehingga mencakup pula perkembangan fiqh Islami dan proses kodifikasinya serta ijtihad-ijtihad para ulama sepanjang sejarah umat Islam. (Al-Jatsiyah: 18) Sedangkan tasyri¶ berarti penetapan atau pemberlakuan syariat yang berlangsung sejak diutusnya Rasulullah saw dan berakhir hingga wafat beliau. artinya penetapan undang-undang dalam agama Islam. perbuatan (ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan tindakan hukum seseorang) dan akhlak (tentang nilai baik dan buruk).

Fuqaha¶ dan mujtahid 4. maka hal itu dinamakan perundang-undangan Allah (at-Tasyri'ul Ilahiyah). Jika pembentukan undang-undang ini sumbernya dari Allah dengan perantaraan Rasul dan kitab-kitabnya. Pemikiran para mujtahid serta sistem pemikiran yang dipakai atau sistem istinbath. tasyri' adalah pembentukan dan penetapan perundang-undangan yang mengatur hukum perbuatan orang mukallaf dan hal-hal yang terjadi tentang berbagai keputusan serta peristiwa yang terjadi dikalangan mereka. Menurut Prof. Faktor-faktor yang mempengaruhi dan ciri-ciri spesifikasinya 3. Syari¶ah Islamiyah didefinisikan dengan ³apa yang telah ditetapkan Allah Taala untuk hamba-hamba-Nya berupa aqidah. maka hal itu dinamakan perundangundangan buatan manusia (at-Tasyri'ul Wadh'iyah). RUANG LINGKUP BAHASAN TARIKH TASYRI¶ & MACAM-MACAM TASYRI¶ Meliputi : 1. (membahas) ciriciri spesifikasi keadaan fuqaha¶ dan mujtahid dalam merumuskan hukum-hukum tersebut´. amaliah atau disebut ibadah dan muamalah atau yang berkaitan dengan akhlak. Periodisasi hukum 2. termasuk didalamnya hal-hal yang menghambat dan mendukungnya serta biografi sarjana-sarjana fiqh yang banyak mengarahkan pemikirannya 3 . ibadah.hamba-Nya agar mereka mentaati hukum ini atas dasar iman. Dr. Secara sederhana Tarikh Tasyri' adalah sejarah penetapan hukum Islam yang dimulai dari zaman Nabi sampai sekarang. Syariat disebut juga din (agama) dan millah. akhlaq. Pembahasan tarikh tasyri' terbatas pada keadaan perundang-undangan Islam dari zaman ke zaman yang dimulai dari zaman Nabi saw sampai zaman berikutnya. yang ditinjau dari sudut pertumbuhan perundang-undangan Islam. Tarikh al-tasyri' menurut Muhammad Ali al-sayis adalah : "Ilmu yang membahas keadaan hukum Islam pada masa kerasulan (Rasulullah SAW masih hidup) dan sesudahnya dengan periodisasi munculnya hukum serta hal-hal yang berkaitan dengannya. B. dan sistem kehidupan yang mengatur hubungan mereka dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama makhluk agar terwujud kebahagiaan dunia dan akhirat. Abdul Wahhab Khallaf. baik hukum yang berhubungan dengan amaliah atau aqidah. Menurut Muhammad Ali al-Tahanuwi. syariat adalah hukum-hukum Allah yang ditetapkan untuk hambaNya yang disampaikan melalui para Nabi atau Rasul. muamalat. baik yang berkaitan dengan aqidah. Sedangkan jika sumbernya datang dari manusia baik secara individual maupun kolektif.

minuman. Sedangkan cakupan fiqh uqubat dalam pandangan ulama Hanafiah adalah qishash. Pertama bidang ibadah dan kedua bidang muamalat. umrah. ghashab.dalam upaya menetapkan perundang-undangan Islam. Secara umum tasyri' dapat dibedakan menjadi dua yaitu dilihat dari sudut sumbernya dan dari sudut kekuatannya. haji dan jihad. Kamil Musa dalam al-madkhal ila tarikh at-Tasyri' al-Islami. Tasyri' dilihat dari sudut sumbernya dibentuk pada periode Rasulullah SAW yaitu al-Qur'an dan Sunah. saksi. musaqah. sumpah. luqathah (barang temuan). memindahkan utang (hiwalah). peradilan. upah. sanksi pencurian. Jenazah. fiqh yang berhubungan dengan kegiatan yang bersifat duniawi (muamalat). 4 . Haji. perkawinan. Ulama syafi'iyah berbeda pendapat dengan mereka. Fiqh dibedakan menjadi empat yaitu fiqh yang berhubungan dengan kegiatan yang bersifat ukhrawi (ibadah). puasa. mukhasamah (gugatan). makanan. Sedangkan tasyri' kedua yang dilihat dari kekuatan dan kandungannya mencakup ijtihad sahabat. Cakupan fiqh muamalat adalah pertukaran harta seperti jual beli. Puasa. kurban dan sembelihan. sanksi menuduh zina dan sanksi murtad. muamalat dan uqubat. pinjam meminjam ('ariyah). wakalah. hakim dan peradilan. waqaf. muzara'ah. yaitu : Thaharah. tabi'in dan ulama sesudahnya. Bidang muamalat dibagi menjadi beberapa topik yaitu perkawinan dan perceraian. sanksi zina. Dia membagi fiqh menjadi tiga bagian yaitu ibadah. sewa. seyembara (fi'alah). Dalam bidang ibadah. syuf'ah. dan ta'zir). Cakupan fiqh ibadah dalam pandangan mereka shalat. jaminan (kafalah). fiqh yang berhubungan dengan masalah keluarga (munakahat) dan fiqh yang berhubungan penyelenggaraan ketertiban negara (µuqubat). barang titipan. washiat dan faraid (pembagian harta warisan). µuqubat (hudud. Zakat. hibah. Tasyri' tipe kedua ini dalam pandangan Umar Sulaiman al-Asyqar dapat dibedakan menjadi dua bidang. jihad. Macam-macam Tasyri'. Akan tetapi ulama Hanafiah seperti Ibnu Abidin berbeda pendapat dalam pembagian fiqh. fiqh dibagi menjadi beberapa topik. nadzar. I'tikaf. Ia juga mencakup pemikiran. penahanan dan pemeliharaan (al-hajr). qishash. gadai. jual beli. pinjam meminjam. Shalat. mengatakan bahwa Tarikh Tasyri' tidak terbatas pada sejarah pembentukan al Qur'an dan As Sunnah. zakat. bagi hasil (qiradl). titipan. gagasan dan ijtihad ulama pada waktu atau kurun tertentu. perseroan (syirkah).

Untuk mengetahui KEGUNAAN mempelajari sejarah hukum Islam. 2. 4. mulai dari para sahabat Rasulullah saw hingga para imam dan murid-murid mereka dalam mengisi khazanah ilmu dan peradaban kaum muslimin. rajam. Oleh karena itu mempelajari perkembangan fiqh berarti mempelajari pemikiran ulama yang telah melakukan ijtihad dengan segala kemampuan yang memilikinya. ilmu pengetahuan. maka akan melahirkan pemahaman hukum yang cenderung ekstrim bahkan mengarah pada merasa benar sendiri. dan sejenisnya. Kalau tidak. 3. Semua itu mereka ambil dari cahaya kenabian yang dibawa oleh Rasulullah saw. Melalui kajian tarikh tasyri¶ kita dapat mengetahui prinsip dan tujuan syariat Islam. URGENSI & KEGUNAAN MEMPELAJARI TARIKH TASYRI¶ 1. Misalnya. hubungan sosial. 5 . Melalui kajian tarikh tasyri¶ kita dapat mengetahui kesempurnaan dan syumuliyah (integralitas) ajaran Islam terhadap seluruh aspek kehidupan yang tercermin dalam peradaban umat yang agung terutama di masa kejayaannya. ekonomi. Melalui kajian ini akan tumbuh dalam diri kita kebanggaan terhadap Syariat Islam sekaligus optimisme akan kembalinya siyadah al-syari¶ah (kepemimpinan syariat) dalam kehidupan umat di masa depan. Melalui kajian tarikh tasyri¶ kita dapat menghargai usaha dan jasa para ulama. akhlaq. dan aspek-aspek lainnya. Dengan demikian mempelajari sejarah hukum Islam berarti melakukan langkah awal dalam mengkonstruksikan pemikiran ulama klasik dan langkah-langkah ijtihadnya untuk diimplementasikan sehingga kemaslahatan manusia senantiasa terpelihara. Bahwa penerapan syariat Islam berarti perhatian dan kepedulian negara dan masyarakat terhadap pendidikan. Dengan demikian adalah keliru jika ada persepsi bahwa syariat Islam hanyalah berisi hukum pidana seperti qishash. baik yang didasarkan pada al-Qur'an dan Sunah maupun tidak.C. fiqh adalah hasil produk pemikiran ulama baik secara individu maupun kolektif. harus diketahui terlebih dahulu latar belakang munculnya suatu hukum. sangsi hukum. Oleh karena itu memahami hukum Islam dengan mengetahui latar belakang pembentukan hukumnya menjadi sangat penting agar tidak salah dalam memahami hukum Islam itu. aqidah. Di antara kegunaan mempelajari sejarah hukum Islam adalah agar dapat melahirkan sikap hidup toleran dan untuk mewarisi pemikiran ulama klasik dan langkah-langkah ijtihadnya agar dapat mengembangkan gagasan-gagasannya.

Jiwa Manusia tunduk dengan perasaan dan kecenderungan tertentu sehingga produk hukum yang dihasilkan pun tidak mungkin merealisasikan keadilan hakiki. 2. Dan kedua hal ini berarti kekufuran. Sedangkan syariat Islam bersumber dari Allah Yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya sehingga keadilannya adalah sebuah kepastian. mengingat perbedaan antara Al-Khaliq yang Maha Sempurna dengan makhluk yang maha lemah dan maha kurang. Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Oleh karena itu. Al-Syahid µAbdul Qadir µAudah dalam bukunya ³Al-Tasyri¶ Al-Jina-i fi Al-Islam´ (Hukum Pidana dalam Islam) menyebutkan beberapa keunggulan syariat Islam atas hukum dan undang-undang buatan manusia. Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah. di antaranya: 1. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. (Luqman: 12). Pengetahuan manusia hanya didasari pengalaman dan keadaan yang melingkupinya saat ini. Berbeda dengan syariat yang bersumber dari Dzat yang Maha Mengetahui masa lalu. apa lagi masa depan yang jauh. SYARIAT ISLAM dan HUKUM WADH¶I (HUKUM POSITIF) Antara syariat Islam yang bersumber dari Allah Taala dengan hukum dan undang-undang buatan manusia sebenarnya tak dapat dibandingkan. (Thaha: 52). (Al-Maidah: 49). dan barangsiapa yang tidak bersyukur. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah). pasti mampu menjawab tantangan setiap tempat dan zaman. Manusia tidak tahu pasti apa yang akan terjadi di masa depan. hukum dan peraturan yang dibuatnya hanya mempertimbangkan µkekinian¶ dan µkesinian¶ serta pasti perlu diubah dan diperbaiki di lain tempat dan waktu. kini dan masa depan. maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu tampakkan atau rahasiakan)?! Padahal Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? (Al-Mulk: 14). Tuhanku tidak akan salah dan tidak (pula) lupa. atau berarti keinginan kuat untuk membebaskan hawa nafsu dari aturan-aturan Ilahi. Keraguan terhadap kelaikan dan keadilan syariat Islam berarti keraguan terhadap sifat Allah Taala yang Maha Sempurna. 6 . Hukum wadh¶i tidak mengandung keadilan yang hakiki karena dibuat oleh manusia yang memiliki hawa nafsu serta kepentingan. maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-An¶am: 115).D. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.

bahwa Rasulullah saw bersabda. rasa harap akan ridha-Nya dan takut akan murka-Nya menjadi faktor utama ketaatan warga negara terhadap hukum. sehingga sanksi hukum hanyalah salah satu faktor untuk membuat masyarakat menjadi baik dan tertib. ³Sesungguhnya kalian mengadukan perkara di antara kalian kepadaku. Dan tiadalah Kami mengutus kamu. Sedangkan syariat Islam dilandasi oleh tauhid dan keimanan kepada Allah dan hari akhir yang menjadi motivasi utama ketaatan seorang hamba kepada syariat Allah Taala. (An-Nisa: 93) : . Motivasi spiritual. dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. sejak diturunkan. melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. dan setelah penegakan hukum-hukumnya. Sedangkan syariat Islam selalu memperhatikan pembinaan aqidah umat sebelum. Dan baru memiliki teori-teori ilmiahnya pada abad ke-19 M. Oleh karenanya hukum wadh¶i kehilangan kekuasaannya atas jiwa manusia di mana ia hanya mengandalkan sangsi hukum semata dan ini memberi kesempatan kepada para penjahat untuk mencari celah kelemahan hukum dan menggunakan berbagai tipu muslihat agar lepas dari jeratan hukum. dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.a. 4. Hukum wadh¶i memiliki prinsip-prinsip yang terbatas. keluarga. kemudian berkembang menjadi aturan suku atau kabilah dan seterusnya. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam. dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu. Berbeda dengan syariat Islam yang sejak masa kehidupan Rasulullah saw telah menjadi undang-undang yang lengkap dan sempurna memenuhi segala kebutuhan individu. sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. boleh jadi salah satu pihak lebih pandai 7 . (Al-Maidah: 3). Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.3. Di samping itu. diawali kemunculannya dari aturan keluarga. berupa pengawasan Allah Ta¶ala. kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya. (Al-Anbiya: 107). masyarakat. Syariat Islam tidak terbatas hanya untuk kaum atau bangsa tertentu melainkan untuk semua umat manusia sepanjang zaman. Dari Ummu Salamah r. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu. ketika. Hukum wadh¶i hanya mengatur hubungan sesama manusia tanpa memiliki konsep aqidah tauhid yang menghubungkan semua itu dengan Allah Taala. negara serta hubungan internasional.

sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (berkorban untuk) berhala. merusak akhlaq. Hai orang-orang yang beriman. adalah termasuk perbuatan syaitan. berjudi. Maka siapa yang aku menangkan perkaranya karena kepandaiannya berargumentasi (padahal sebenarnya lawannya yang berhak dimenangkan). dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan menegakkan shalat. sehingga Islam melarang dan menetapkan sangsi atas zina karena ia adalah perbuatan keji yang diharamkan Allah Swt dengan berbagai dampak negatifnya meskipun dilakukan suka sama suka. maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). dan menyia-nyiakan harta. Hukum wadh¶i mengabaikan faktor-faktor akhlaq dan menganggap pelanggaran hukum hanya terbatas pada hal-hal yang membahayakan individu atau masyarakat secara langsung. mengacaukan nasab keturunan. mengganggu keutuhan rumah tangga. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu. Dan janganlah kamu mendekati zina. kecuali jika ada unsur paksaan dari salah satu pihak.R. Hukum wadh¶i tidak menghukum peminum arak karena arak dan semua yang memabukkan itu merusak akal dan tubuh. begitu pula dengan minum minuman yang memabukkan.berargumentasi dari pada pihak lain (sehingga aku memenangkannya). Tetapi sekali lagi sangsi hukum hanya diberlakukan jika perbuatan itu dianggap membahayakan orang lain secara langsung dalam konteks fisik dan keamanan. Sedangkan syariat Islam adalah syariat akhlaq yang memperhatikan kebaikan mental dan fisik masyarakat secara umum. Namun hukum wadh¶i tidak memberi sangsi atas perbuatan zina. mengundi nasib dengan panah. 5. memperhatikan kebahagiaan dunia akhirat sekaligus. Hukum wadh¶i tidak memberi sangsi atas peminum minuman keras kecuali jika dilakukan di depan umum dan mengancam keamanan orang lain. maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Bukhari-Muslim).´ (H. maka janganlah ia mengambilnya. (Al-Isra: 32). Hukum wadh¶i tidak memberi sanksi bagi pezina karena zina adalah perbuatan keji yang merusak moral. sesungguhnya (meminum) khamr. (Al-Maidah: 90-91) 8 . dan berpotensi menimbulkan berbagai bahaya kesehatan serta tersebarnya kerusakan moral. misalnya. berarti aku telah memberikan kepadanya bagian dari siksa neraka.

2. Fase Perkembangan Fiqh Kelima: dari Jatuhnya Baghdad hingga kini. Fase Perkembangan Fiqh Kedua: Masa Sahabat Yunior atau Tabi¶in Senior sampai Permulaan Abad 2 H. pembentukan hukum (fiqh) Islam oleh Mustafa Ahmad az-Zarqa dalam bukunya. Periode berkembangnya mazhab dan munculnya taklid mazhab. Tarikh at-Tasyri¶ al-Islamy (Sejarah Pembentukan Hukum Islam). Cara kedua. 5. 4. Fase Tasyri¶: dari awal kenabian Muhammad saw hingga wafat beliau (11 H).E. 6. Fase Perkembangan Fiqh Ketiga: dari Permulaan Abad ke-2 hingga Pertengahan Abad ke-4 Hijriyah. yaitu: 9 . FASE-FASE TARIKH TASYRI¶ 1. Periode sahabat kecil dan tabi¶in. tetapi ia membagi periode keenam menjadi dua bagian. Fase Perkembangan Fiqh Pertama: Masa Khulafa Rasyidin. yaitu: 1. Periode para sahabat besar. di kalangan ulama fiqh kontemporer terdapat beberapa macam cara. 4. Periode awal. 3. Periode jatuhnya Baghdad (pertengahan abad ke-7 H oleh Hulagu Khan [1217-1265]) sampai sekarang. periodisasi pembentukan hukum (fiqh) Islam oleh Syekh Muhammad Khudari Bek dalam bukunya. Cara pertama. Fase Perkembangan Fiqh Keempat: dari Pertengahan Abad ke-4 hingga Jatuhnya Baghdad tahun 656 H. Ia membagi periodisasi pembentukan dan pembinaan hukum Islam dalam tujuh periode. Ia membagi masa pembentukan hukum (fiqh) Islam dalam enam periode. Ia setuju dengan pembagian Syekh Khudari Bek sampai periode kelima. 11-40 H. sejak Muhammad bin Abdullah diangkat menjadi rasul. 3. 2. Yordania). Dalam menyusun sejarah pembentukan dan pembinaan hukum (fiqh) Islam. Dua diantaranya yang terkenal adalah cara menurut Syekh Muhammad Khudari Bek (mantan dosen Universitas Cairo) dan cara Mustafa Ahmad az-Zarqa (guru besar fiqh Islam Universitas Amman. al-Madkhal al-Fiqhi al-¶Amm (Pengantar Umum fiqh Islam). Periode awal abad ke-2 H sampai pertengahan abad ke-4 H. dan 6. 5.

dan 2. maka ia. Periodisasi sejarah pembentukan hukum Islam menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa adalah sebagai berikut: PERIODE PERTAMA Masa Rasulullah SAW. Penentuan hukum terhadap suatu masalah baru ditentukan setelah kasus tersebut terjadi. Sekalipun demikian. menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa. PERIODE KEDUA Masa al-Khulafa¶ ar-Rasyidin (Empat Khalifah Besar) sampai pertengahan abad ke-1 H. maupun kebudayaan. baik yang berkaitan dengan masalah aqidah. Sumber hukum Islam ketika itu adalah Al-Qur¶an. baik yang berasal dari Al-Qur¶an maupun dari sunnahnya sendiri. rujukan untuk tempat bertanya tidak ada lagi. Oleh sebab itu. Yang disebut terakhir ini dinamakan sunnah Rasulullah SAW. para sahabat besar melihat bahwa perlu dilakukan ijtihad apabila hukum untuk suatu persoalan yang muncul dalam masyarakat tidak ditemukan di dalam Al-Qur¶an atau sunnah Rasulullah SAW. pada periode Rasulullah SAW belum muncul teori hukum seperti yang dikenal pada beberapa periode sesudahnya. yaitu mengetahui dan memahami dalil berupa Al-Qur¶an dan sunnah Rasulullah SAW. bukan bersifat teori. setelah ia wafat. Pengertian fiqh di zaman Rasulullah SAW adalah seluruh yang dapat dipahami dari nash (ayat atau hadits). Periode sejak pertengahan abad ke-7 H sampai munculnya Majallah al-Ahkam al-¶Adliyyah (Hukum Perdata Kerajaan Turki Usmani) pada tahun 1286 H. Apabila ayat Al-Qur¶an tidak turun ketika ia menghadapi suatu masalah. bertambah luasnya wilayah kekuasaan Islam membuat persoalan hukum semakin berkembang karena perbedaan budaya di masing10 . fiqh pada periode ini bersifat aktual. Dengan demikian.1. Rasulullah SAW telah mengemukakan kaidah-kaidah umum dalam pembentukan hukum Islam. dengan bimbingan Allah SWT menentukan hukum sendiri. hukum. Istilah ³fiqh´ dalam pengertian yang dikemukakan ulama fiqh klasik maupun modern belum dikenal ketika itu. ilmu dan fiqh pada masa Rasulullah SAW mengandung pengertian yang sama. Pada periode ini. dan hukum yang ditentukan hanya menyangkut kasus itu. Periode sejak munculnya Majallah al-Ahkam al-¶Adliyyah sampai sekarang. kekuasaan pembentukan hukum berada di tangan Rasulullah SAW. Ditambah lagi. Disamping itu. Pada zaman Rasulullah SAW para sahabat dalam menghadapi berbagai masalah yang menyangkut hukum senantiasa bertanya kepada Rasulullah SAW.

sehingga muncullah sikap fanatisme terhadap para sahabat tersebut. sesuai dengan keadaan masyarakat setempat.masing daerah. bukan teori. khalifah ketiga. Zaid bin Sabit (11 SH/611 M-45 H/665 M) dan Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) di Madinah dan Ibnu Abbas di Makkah. tidak merambat kepada kasus lain secara teoretis. Dari perbedaan metode yang dikembangkan para sahabat ini kemudian muncullah dalam fiqh Islam Madrasah al-hadits (madrasah = aliran) dan Madrasah ar-ra¶yu. sedangkan Madrasah ar-ra¶yu dikenal 11 . Masing-masing sahabat ini menghadapi persoalan yang berbeda. Madrasah al-hadits kemudian dikenal juga dengan sebutan Madrasah al-Hijaz dan Madrasah al-Madinah. Para sahabat ini kemudian berhasil membina kader masing-masing yang dikenal dengan para tabi¶in. para sahabat sudah banyak yang bertebaran di berbagai daerah yang ditaklukkan Islam. Ibrahiman-Nakha¶i (w. 76 H) di Kufah. Periode ini merupakan awal pembentukan fiqh Islam. Di Irak dikenal sebagai pengembang hukum Islam adalah Abdullah bin Mas¶ud (Ibnu Mas¶ud). Pengertian fiqh dalam periode ini masih sama dengan fiqh di zaman Rasulullah SAW. al-Hasan al-Basri (21 H/642 M-110H/728M) di Basra. Atha bin Abi Rabah (27-114H) di Makkah. yaitu bersifat aktual. Artinya. Makhul di Syam (Suriah) dan Tawus di Yaman. maka ia melakukan ijtihad sesuai dengan prinsip-prinsip umum yang telah ditinggalkan Rasulullah SAW. Masing-masing ulama di daerah tersebut berupaya mengikuti metode ijtihad sahabat yang ada di daerah mereka. Mereka ini kemudian menjadi guru-guru terkenal di daerah masing-masing dan menjadi panutan untuk masyarakat setempat. Apabila sahabat yang menghadapi persoalan itu tidak memiliki teman musyawarah atau sendiri. PERIODE KETIGA Pertengahan abad ke-1 H sampai awal abad ke-2 H. Para tabi¶in yang terkenal itu adalah Sa¶id bin Musayyab (15-94 H) di Madinah. Dalam keadaan seperti ini. Sejak zaman Usman bin Affan (576-656). Masing-masing sahabat mengajarkan Al-Qur¶an dan hadits Rasulullah SAW kepada penduduk setempat. Ketika itu para sahabat melakukan ijtihad dengan berkumpul dan memusyawarahkan persoalan itu. ketentuan hukum bagi suatu masalah terbatas pada kasus itu saja. para sahabat berupaya untuk melakukan ijtihad dan menjawab persoalan yang dipertanyakan tersebut dengan hasil ijtihad mereka. Persoalan yang mereka hadapi di daerah masing-masing berbeda sehingga muncullah hasil ijtihad yang berbeda pula.

pemikiran tanpa berpedoman kepada AlQur¶an dan sunnah secara langsung) dalam fiqh semakin berkembang karena ulama Madrasah al-hadits juga mempergunakan ra¶yu dalam fiqh mereka. Madrasah al-Hijaz dikenal sangat kuat berpegang pada hadits karena mereka banyak mengetahui hadits-hadits Rasulullah SAW. Pada periode inilah muncul berbagai mazhab. sebagaimana yang dipahami pada periode pertama dan kedua. menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa. yaitu Mazhab Hanafi. Di samping itu. seperti qiyas. Periode ini disebut sebagai periode gemilang karena fiqh dan ijtihad ulama semakin berkembang. Pada periode ketiga ini. Mazhab Maliki. tetapi juga menjawab persoalan yang akan terjadi. istihsan dan istislah. dibandingkan yang dihadapi Madrasah al-Hijaz. telah dikembangkan oleh ulama fiqh. tidak mengherankan jika ulama Irak banyak menggunakan logika dalam berijtihad. sedangkan kasus-kasus yang mereka hadapi jauh lebih berat dan beragam. 12 . pengertian fiqh sudah beranjak dan tidak sama lagi dengan pengertian ilmu. baik secara kualitas & kuantitas. fiqh tidak saja membahas persoalan aktual. Dalam perkembangannya. khususnya mazhab yang empat. Oleh sebab itu.dengan sebutan Madrasah al-Iraq dan Madrasah al-Kufah. sedang ulama Irak berhadapan dengan masyarakat yang relatif majemuk. sehingga bermunculanlah fiqh iftirâdî (fiqh berdasarkan pengandaian tentang persoalan yang akan terjadi di masa datang). Ulama Hijaz berhadapan dengan suku bangsa yang memiliki budaya homogen. di samping kasus-kasus yang mereka hadapi bersifat sederhana dan pemecahannya tidak banyak memerlukan logika dalam berijtihad. Kedua aliran ini menganut prinsip yang berbeda dalam metode ijtihad. Di samping fiqh. karena fiqh sudah menjelma sebagai salah satu cabang ilmu keislaman yang mengandung pengertian mengetahui hukumhukum syara¶ yang bersifat amali (praktis) dari dalil-dalilnya yang terperinci. Sedangkan Madrasah al-Iraq dalam menjawab permasalahan hukum lebih banyak menggunakan logika dalam berijtihad. PERIODE KEEMPAT Pertengahan abad ke-2 sampai pertengahan abad ke-4 H. pada periode ketiga ini pun ushul fiqh telah matang menjadi salah satu cabang ilmu keislaman. di Irak muncul pula fiqh Syi¶ah yang dalam beberapa hal berbeda dari fiqh Ahlusunnah wal Jama¶ah (imam yang empat). Hal ini mereka lakukan karena hadits-hadits Rasulullah SAW yang sampai pada mereka terbatas. Pada periode ketiga ini pengaruh ra¶yu (ar-ra¶yu. Berbagai metode ijtihad.

guru besar fiqh di Universitas al-Azhar. al-Muwaththa¶ (buku hadits dan fiqh). yaitu sebagai berikut: 13 . Imam Muhammad Abu Zahrah menyatakan beberapa penyebab yang menjadikan tertutupnya pintu ijtihad pada periode ini. datang belajar kepada Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. seperti yang diungkapkan oleh Imam Muhammad Abu Zahrah. Mustafa Ahmad az-Zarqa menyatakan bahwa pada periode ini muncullah anggapan bahwa pintu ijtihad sudah tertutup. seperti dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah yang menjadikan fiqh Mazhab Hanafi sebagai pegangan para hakim di pengadilan. dalam periode ini juga disusun kitab-kitab ushul fiqh. Oleh sebab itu. dan pemerintah pun mulai menganut salah satu mazhab fiqh resmi negara. tetapi mulai bergeser pada pendekatan teoritis. Periode ini ditandai dengan menurunnya semangat ijtihad di kalangan ulama fiqh. bahwa pertentangan ini tidak berlangsung lama. Lebih jauh. Kitab-kitab fiqh pun mulai disusun pada periode ini. Ulama lebih banyak mencurahkan perhatian dalam mengomentari. Sebagaimana pada periode ketiga. Oleh sebab itu. hukum untuk permasalahan yang mungkin akan terjadi pun sudah ditentukan. Imam Abu Yusuf. kitab-kitab fiqh banyak berisi ra¶yu dan hadits. datang ke Madinah berguru kepada Imam Malik dan mempelajari kitabnya. Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. ulama dari Mazhab Hanafi yang dikenal sebagai Ahlurra¶yu (Ahlulhadits dan Ahlurra¶yu). Disamping sempurnanya penyusunan kitab fiqh dalam berbagai mazhab. Pertentangan antara Madrasah al-hadits dengan Madrasah ar-ra¶yu semakin menipis sehingga masing-masing pihak mengakui peranan ra¶yu dalam berijtihad. karena ternyata kemudian masing-masing kelompok saling mempelajari kitab fiqh kelompok lain. Hal ini menunjukkan adanya titik temu antara masing-masing kelompok. bahkan mereka cukup puas dengan fiqh yang telah disusun dalam berbagai mazhab. salah seorang tokoh ahlulhadits. PERIODE KELIMA Pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 H. Mesir. memperluas atau meringkas masalah yang ada dalam kitab fiqh mazhab masingmasing.Mazhab Syafi¶i dan Mazhab Hanbali. tokoh ahlurra¶yu. Imam asy-Syafi¶i. menurut Imam Muhammad Abu Zahrah. seperti kitab ar-Risalah yang disusun oleh Imam Syafi¶i. pada periode ini fiqh iftirâdî semakin berkembang karena pendekatan yang dilakukan dalam fiqh tidak lagi pendekatan aktual di kala itu. banyak mendukung pendapat ahli hadits dengan mempergunakan hadits-hadits Rasulullah SAW.

Di samping itu. sehingga hukum fiqh yang diterapkan hanyalah hukum fiqh mazhabnya. sebagaimana dituturkan Imam Muhammad Abu Zahrah. menurut Imam Muhammad Abu Zahrah. Sekalipun ada mujtahid yang melakukan ijtihad ketika itu. Penyelesaian masalah fiqh tidak lagi mengacu pada Al-Qur¶an dan sunnah Rasulullah SAW serta pertimbangan tujuan syara¶ dalam menetapkan hukum. Munculnya sikap ta¶assub madzhab (fanatisme mazhab imamnya) di kalangan pengikut mazhab. Periode ini diawali dengan kelemahan semangat ijtihad dan berkembangnya taklid serta ta¶assub (fanatisme) mazhab. tetapi telah beralih pada sikap mempertahankan pendapat mazhab secara jumud (konservatif). Upaya mentakhrij (mengembangkan fiqh melalui metode yang dikembangkan imam mazhab) dan mentarjih pun sudah mulai memudar. membuat umat Islam mencukupkan diri mengikuti yang tertulis dalam buku-buku tersebut. PERIODE KEENAM Pertengahan abad ke-7 H sampai munculnya Majallah al-Ahkam al-¶Adliyyah pada tahun 1286 H. ijtihadnya hanya terbatas pada mazhab yang dianutnya. Munculnya buku fiqh yang disusun oleh masing-masing mazhab. Ulama merasa sudah cukup dengan mempelajari sebuah kitab fiqh dari kalangan mazhabnya. Akan tetapi. sedangkan sebelum periode ini. sehingga penyusunan kitab fiqh pada periode ini pun hanya terbatas pada meringkas dan mengomentari kitab fiqh tertentu. 2. menurut Imam Muhammad Abu Zahrah. perdebatan ini kadang-kadang jauh dari sikap-sikap ilmiah. hal ini pun. keinginan penguasa pun sudah masuk ke dalam masalah-masalah fiqh. para hakim yang ditunjuk oleh penguasa adalah ulama mujtahid yang tidak terikat sama sekali pada suatu mazhab. Di samping itu. dan 3. Ulama ketika itu merasa lebih baik mengikuti pendapat yang ada dalam mazhab daripada mengikuti metode yang dikembangkan imam mazhabnya untuk melakukan ijtihad.1. Di akhir periode ini pemikiran ilmiah berubah menjadi hal yang langka. Dipilihnya para hakim yang hanya bertaqlid kepada suatu mazhab oleh pihak penguasa untuk menyelesaikan persoalan. Hal ini pun menyebabkan masing-masing pihak/mazhab menyadari kembali kekuatan dan kelemahan masing-masing. perkembangan pemikiran fiqh serta metode iitihad menyebabkan banyaknya upaya tarjadi (menguatkan satu pendapat) dari ulama dan munculnya perdebatan antarmazhab di seluruh daerah. Pada akhir periode ini dimulai upaya kodifikasi fiqh (hukum) Islam yang seluruhnya diambilkan dari mazhab resmi pemerintah Turki Usmani (Kerajaan 14 .

pidana. maupun ketatanegaraan. Ada tiga ciri pembentukan fiqh Islam pada periode ini. sesuai dengan kebutuhan zaman. maka pada tahun 1333 H pemerintah Turki Usmani menyusun kitab hukum keluarga (al-Ahwal asy-Syakhsiyyah) yang merupakan gabungan dari berbagai pendapat mazhab. dengan syarat bahwa pendapat itu lebih tepat dan sesuai.Ottoman. para penguasa di negeri-negeri Islam yang tidak tunduk di bawah kekuasaan Turki Usmani mulai pula menyusun kodifikasi hukum secara terbatas. dan 3. Oleh sebab itu. baik bidang perdata. PERIODE KETUJUH Sejak munculnya Majallah al-Ahkam al. 1300-1922). Munculnya pemikiran untuk memanfaatkan berbagai pendapat yang ada di seluruh mazhab. yaitu: 1.µAdliyyah sampai sekarang. 2. yaitu Mazhab Hanafi. Bersumber dari berbagai pendapat atas pendapat terkuat dari berbagai mazhab.851 pasal. Munculnya Majallah al-Ahkam al-¶Adliyyah sebagai hukum perdata umum yang diambilkan dari fiqh Mazhab Hanafi. Pada tahun 1286 H panitia ini berhasil menyusun hukum perdata Turki Usmani yang dinamai dengan Majallah al-Ahkam al-¶Adliyyah yang terdiri atas 1. pemerintah Turki Usmani berpendapat bahwa harus ada satu kitab fiqh/hukum yang bisa dirujuk dan diterapkan di pengadilan. Pada abad ke-19 muncul berbagai pemikiran di kalangan ulama dari berbagai negara Islam untuk mengambil pendapat-pendapat dari berbagai mazhab serta menimbang dalil yang paling kuat diantara semua pendapat itu. Pengambilan pendapat dilakukan tidak saja dari mazhab yang empat. Di dalam al-Ahwal asy-Syakhsiyyah ini terdapat berbagai pemikiran mazhab yang dianggap lebih 15 . Berkembangnya upaya kodifikasi hukum Islam. tetapi juga dari para sahabat dan tabi¶in. Memilih pendapat terkuat dari berbagai kitab fiqh merupakan kesulitan bagi para hakim di pengadilan. Setelah berhasil dengan penyusunan Majallah al-Ahkam al-¶Adliyyah. Munculnya kodifikasi hukum Islam dalam bentuk Majallah al-Ahkam al-¶Adliyyah dilatarbelakangi oleh kesulitan para hakim dalam menentukan hukum yang akan diterapkan di pengadilan. Untuk mencapai tujuan ini dibentuklah sebuah panitia kodifikasi hukum perdata. sementara kitab-kitab fiqh muncul dari berbagai mazhab dan sering dalam satu masalah terdapat beberapa pendapat. yang dikenal dengan Majallah al-Ahkam al¶Adliyyah. di samping memerlukan waktu yang lama.

seperti bidang kedokteran dan sosiologi. Pakistan.sesuai diterapkan. ijtihad jama¶i (kolektif) harus dikembangkan dengan melibatkan berbagai ulama dari berbagai disiplin ilmu. Dengan demikian. Malaysia dan Indonesia. Lebih jauh lagi. pembentukan dan pengembangan hukum Islam tersebut. tidak harus mengacu kepada kitab-kitab fiqh yang ada. Suriah. seluruh pendapat dalam mazhab fiqh merupakan suatu kumpulan hukum dan boleh dipilih untuk diterapkan di berbagai daerah sesuai dengan kebutuhan. tidak hanya ulama fiqh. ? LH 16 . Akan tetapi. Afghanistan. tetapi dengan melakukan ijtihad kembali ke sumber aslinya. seperti di Yordania. Menurutnya. di daerah yang berpenduduk mayoritas Islam. Maroko. Ali Hasaballah. Sudan. Pengaruh hukum Barat ini menyadarkan ulama untuk merujuk kembali khazanah intelektual mereka dan memilih pendapat mazhab yang tepat diterapkan saat ini. ahli fiqh dari Mesir. Iran. hukum fiqh menjadi lebih akomodatif jika dibandingkan dengan hukum fiqh dalam kitab berbagai mazhab. Sejak saat itu bermunculanlah kodifikasi hukum Islam dalam berbagai bidang hukum. Turki. mengatakan bahwa upaya penerapan hukum Islam di berbagai neqara Islam semakin tampak. Di banyak negara Islam telah bermunculan hukum keluarga yang diambil dari berbagai pendapat mazhab. Semangat kodifikasi hukum (fiqh) Islam di berbagai negara Islam ikut didorong oleh pengaruh hukum Barat yang mulai merambat ke berbagai dunia Islam. menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa. Pada tahun 1920 dan 1925 pemerintah Mesir menyusun kitab hukum perdata dan hukum keluarga yang disaring dari pendapat yang ada dalam berbagai kitab fiqh. Dengan demikian. menurutnya. upaya penerapan hukum Islam dengan beberapa penyesuaian dengan kondisi setempat mulai berkembang. yaitu Al-Qur¶an dan sunnah Rasulullah SAW. tetapi juga ulama dari disiplin ilmu lainnya.

17 . Namun para ulama kemudian memperluas pembahasan tarikh (sejarah) tasyri¶ sehingga mencakup pula perkembangan fiqh Islami dan proses kodifikasinya serta ijtihad-ijtihad para ulama sepanjang sejarah umat Islam.BAB III PENUTUP A. Oleh karena itu pembahasan tarikh tasyri¶ dimulai sejak pertama kali wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw hingga masa kini. KESIMPULAN Sedangkan tasyri¶ berarti penetapan atau pemberlakuan syariat yang berlangsung sejak diutusnya Rasulullah saw dan berakhir hingga wafat beliau.

(Amman: Dar al-Nafais.php?pustaka/detail/6/1/pustaka-115.html http://www.cybermq. Al Madkhal Li al fiqh al Islam ( Cairo : Dar an Nadhah Islamiyah) Umar Sulaiman al-Asygar.dakwatuna.1990) Muhammad Salam Madkur.com/index.com/2006/tarikh-tasyri-bagian-pertama/ Muhammad Ali Sayis. Tarikh fal-Fiqh Islamy (Beirut:Dar al-kutub al-Ilmiyah.DAFTAR PUSTAKA http://www.1991) 18 .Islamy. Tarikh al-Fiqh al.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful