P. 1
Makalah Tasawuf

Makalah Tasawuf

|Views: 373|Likes:
Published by zed

More info:

Published by: zed on Sep 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2011

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Untuk mengetahui sejarah hukum Islam, harus diketahui terlebih dahulu latar belakang munculnya suatu hukum, baik yang didasarkan pada al-Qur'an dan Sunah maupun tidak. Kalau tidak, maka akan melahirkan pemahaman hukum yang cenderung ekstrim bahkan mengarah pada merasa benar sendiri. Oleh karena itu memahami hukum Islam dengan mengetahui latar belakang pembentukan hukumnya menjadi sangat penting agar tidak salah dalam memahami hukum Islam itu. Misalnya, fiqh adalah hasil produk pemikiran ulama baik secara individu maupun kolektif. Oleh karena itu mempelajari perkembangan fiqh berarti mempelajari pemikiran ulama yang telah melakukan ijtihad dengan segala kemampuan yang memilikinya. Dengan demikian mempelajari sejarah hukum Islam berarti melakukan langkah awal dalam mengkonstruksikan pemikiran ulama klasik dan langkah-langkah ijtihadnya untuk diimplementasikan sehingga kemaslahatan manusia senantiasa terpelihara. Di antara kegunaan mempelajari sejarah hukum Islam adalah agar dapat melahirkan sikap hidup toleran dan untuk mewarisi pemikiran ulama klasik dan langkah-langkah ijtihadnya agar dapat mengembangkan gagasan-gagasannya. B. Rumusan Masalah 1. Apa Pengertian Tarikh Tasyri¶ ? 2. Macam-Macam Tasyri¶ ? 3. Urgensi & Keunggulan Mempelajari Tarikh Tasyri¶ ? 4. Syariat Islam & Hukum Wadh¶I (Hukum Positif) ? 5. Face-Face Tarikh Tasyri¶ ?

1

Sedangkan syariah adalah peraturan atau ketentuan-ketentuan yang ditetapkan (diwahyukan) oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw untuk manusia yang mencakup tiga bidang. MAKNA SYARI¶AH DAN TASYRI¶ Tarikh artinya catatan tentang perhitungan tanggal. «. (Al-Jatsiyah: 18) Sedangkan tasyri¶ berarti penetapan atau pemberlakuan syariat yang berlangsung sejak diutusnya Rasulullah saw dan berakhir hingga wafat beliau. Sebagaiman firman Allah SWT dalam surat al-Jatsiah ayat 18 di atas. artinya penetapan undang-undang dalam agama Islam. Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan (agama itu). PENGERTIAN TARIKH TASYRI¶.untuk tiap-tiap umat diantara kamu.ma'i (sumber air) yang jernih untuk diminum. Syariat menurut fuqaha¶ berarti hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT melalui Rasul untuk 2 . Dan firman Allah SWT dalam surat alMaidah ayat 48. Namun para ulama kemudian memperluas pembahasan tarikh (sejarah) tasyri¶ sehingga mencakup pula perkembangan fiqh Islami dan proses kodifikasinya serta ijtihad-ijtihad para ulama sepanjang sejarah umat Islam. Lalu kata ini digunakan untuk mengungkapkan al-thariqah al-mustaqimah (jalan yang lurus). dan maurid al. maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.BAB II PEMBAHASAN A. di dalamnya terdapat kehidupan dan kebebasan dari dahaga jiwa dan akal. bulan dan tahun. hari.Nya kepada Nuh. Sumber air adalah tempat kehidupan dan keselamatan jiwa. Oleh karena itu pembahasan tarikh tasyri¶ dimulai sejak pertama kali wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw hingga masa kini. begitu pula dengan jalan yang lurus yang menunjuki manusia kepada kebaikan. yaitu keyakinan (aturan-aturan yang berkaitan dengan aqidah). Syari'ah adalah "law statute" artinya hukum yang telah ditetapkan dalam agama Islam. Kata Syariat secara bahasa berarti alutbah (lekuk liku lembah). kami berikan aturan dan jalan yang terang«. enactment of law. Juga firman Allah SWT dalam surat al-Syura ayat 13. Tasyri' juga bermakna legislation. Dia Telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan. Lebih populer dan sederhana diartikan sebagai sejarah atau riwayat. perbuatan (ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan tindakan hukum seseorang) dan akhlak (tentang nilai baik dan buruk).

maka hal itu dinamakan perundangundangan buatan manusia (at-Tasyri'ul Wadh'iyah). amaliah atau disebut ibadah dan muamalah atau yang berkaitan dengan akhlak. (membahas) ciriciri spesifikasi keadaan fuqaha¶ dan mujtahid dalam merumuskan hukum-hukum tersebut´. Sedangkan jika sumbernya datang dari manusia baik secara individual maupun kolektif. maka hal itu dinamakan perundang-undangan Allah (at-Tasyri'ul Ilahiyah). Tarikh al-tasyri' menurut Muhammad Ali al-sayis adalah : "Ilmu yang membahas keadaan hukum Islam pada masa kerasulan (Rasulullah SAW masih hidup) dan sesudahnya dengan periodisasi munculnya hukum serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Menurut Prof. ibadah.hamba-Nya agar mereka mentaati hukum ini atas dasar iman. Syari¶ah Islamiyah didefinisikan dengan ³apa yang telah ditetapkan Allah Taala untuk hamba-hamba-Nya berupa aqidah. Syariat disebut juga din (agama) dan millah. yang ditinjau dari sudut pertumbuhan perundang-undangan Islam. Menurut Muhammad Ali al-Tahanuwi. dan sistem kehidupan yang mengatur hubungan mereka dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama makhluk agar terwujud kebahagiaan dunia dan akhirat. B. RUANG LINGKUP BAHASAN TARIKH TASYRI¶ & MACAM-MACAM TASYRI¶ Meliputi : 1. akhlaq. baik hukum yang berhubungan dengan amaliah atau aqidah. Periodisasi hukum 2. Jika pembentukan undang-undang ini sumbernya dari Allah dengan perantaraan Rasul dan kitab-kitabnya. Pemikiran para mujtahid serta sistem pemikiran yang dipakai atau sistem istinbath. muamalat. termasuk didalamnya hal-hal yang menghambat dan mendukungnya serta biografi sarjana-sarjana fiqh yang banyak mengarahkan pemikirannya 3 . Abdul Wahhab Khallaf. Fuqaha¶ dan mujtahid 4. syariat adalah hukum-hukum Allah yang ditetapkan untuk hambaNya yang disampaikan melalui para Nabi atau Rasul. tasyri' adalah pembentukan dan penetapan perundang-undangan yang mengatur hukum perbuatan orang mukallaf dan hal-hal yang terjadi tentang berbagai keputusan serta peristiwa yang terjadi dikalangan mereka. Dr. baik yang berkaitan dengan aqidah. Secara sederhana Tarikh Tasyri' adalah sejarah penetapan hukum Islam yang dimulai dari zaman Nabi sampai sekarang. Faktor-faktor yang mempengaruhi dan ciri-ciri spesifikasinya 3. Pembahasan tarikh tasyri' terbatas pada keadaan perundang-undangan Islam dari zaman ke zaman yang dimulai dari zaman Nabi saw sampai zaman berikutnya.

nadzar. Secara umum tasyri' dapat dibedakan menjadi dua yaitu dilihat dari sudut sumbernya dan dari sudut kekuatannya. Sedangkan tasyri' kedua yang dilihat dari kekuatan dan kandungannya mencakup ijtihad sahabat. Jenazah. gagasan dan ijtihad ulama pada waktu atau kurun tertentu. syuf'ah. tabi'in dan ulama sesudahnya. fiqh yang berhubungan dengan kegiatan yang bersifat duniawi (muamalat). makanan. Tasyri' dilihat dari sudut sumbernya dibentuk pada periode Rasulullah SAW yaitu al-Qur'an dan Sunah. saksi. penahanan dan pemeliharaan (al-hajr). sanksi menuduh zina dan sanksi murtad. mukhasamah (gugatan). barang titipan. Haji. Sedangkan cakupan fiqh uqubat dalam pandangan ulama Hanafiah adalah qishash. jaminan (kafalah). sumpah. sanksi pencurian. musaqah. ghashab. Dalam bidang ibadah. upah. fiqh yang berhubungan dengan masalah keluarga (munakahat) dan fiqh yang berhubungan penyelenggaraan ketertiban negara (µuqubat). yaitu : Thaharah. Zakat. Shalat. pinjam meminjam. umrah. Pertama bidang ibadah dan kedua bidang muamalat. memindahkan utang (hiwalah). minuman. peradilan. perseroan (syirkah). muzara'ah. Cakupan fiqh muamalat adalah pertukaran harta seperti jual beli. Puasa. I'tikaf. hibah. mengatakan bahwa Tarikh Tasyri' tidak terbatas pada sejarah pembentukan al Qur'an dan As Sunnah. haji dan jihad. kurban dan sembelihan. dan ta'zir). waqaf. Dia membagi fiqh menjadi tiga bagian yaitu ibadah. Ulama syafi'iyah berbeda pendapat dengan mereka. hakim dan peradilan. perkawinan. Tasyri' tipe kedua ini dalam pandangan Umar Sulaiman al-Asyqar dapat dibedakan menjadi dua bidang. Kamil Musa dalam al-madkhal ila tarikh at-Tasyri' al-Islami. muamalat dan uqubat. fiqh dibagi menjadi beberapa topik. µuqubat (hudud. Bidang muamalat dibagi menjadi beberapa topik yaitu perkawinan dan perceraian.dalam upaya menetapkan perundang-undangan Islam. Akan tetapi ulama Hanafiah seperti Ibnu Abidin berbeda pendapat dalam pembagian fiqh. washiat dan faraid (pembagian harta warisan). 4 . seyembara (fi'alah). luqathah (barang temuan). wakalah. zakat. Ia juga mencakup pemikiran. Cakupan fiqh ibadah dalam pandangan mereka shalat. gadai. bagi hasil (qiradl). titipan. jual beli. Macam-macam Tasyri'. jihad. sewa. qishash. puasa. pinjam meminjam ('ariyah). sanksi zina. Fiqh dibedakan menjadi empat yaitu fiqh yang berhubungan dengan kegiatan yang bersifat ukhrawi (ibadah).

Semua itu mereka ambil dari cahaya kenabian yang dibawa oleh Rasulullah saw. rajam. Melalui kajian tarikh tasyri¶ kita dapat mengetahui kesempurnaan dan syumuliyah (integralitas) ajaran Islam terhadap seluruh aspek kehidupan yang tercermin dalam peradaban umat yang agung terutama di masa kejayaannya. Melalui kajian tarikh tasyri¶ kita dapat menghargai usaha dan jasa para ulama. mulai dari para sahabat Rasulullah saw hingga para imam dan murid-murid mereka dalam mengisi khazanah ilmu dan peradaban kaum muslimin. dan aspek-aspek lainnya. Di antara kegunaan mempelajari sejarah hukum Islam adalah agar dapat melahirkan sikap hidup toleran dan untuk mewarisi pemikiran ulama klasik dan langkah-langkah ijtihadnya agar dapat mengembangkan gagasan-gagasannya. URGENSI & KEGUNAAN MEMPELAJARI TARIKH TASYRI¶ 1. Misalnya. Melalui kajian ini akan tumbuh dalam diri kita kebanggaan terhadap Syariat Islam sekaligus optimisme akan kembalinya siyadah al-syari¶ah (kepemimpinan syariat) dalam kehidupan umat di masa depan. Dengan demikian mempelajari sejarah hukum Islam berarti melakukan langkah awal dalam mengkonstruksikan pemikiran ulama klasik dan langkah-langkah ijtihadnya untuk diimplementasikan sehingga kemaslahatan manusia senantiasa terpelihara. Kalau tidak. ekonomi. Untuk mengetahui KEGUNAAN mempelajari sejarah hukum Islam.C. Dengan demikian adalah keliru jika ada persepsi bahwa syariat Islam hanyalah berisi hukum pidana seperti qishash. 5 . maka akan melahirkan pemahaman hukum yang cenderung ekstrim bahkan mengarah pada merasa benar sendiri. 2. Oleh karena itu mempelajari perkembangan fiqh berarti mempelajari pemikiran ulama yang telah melakukan ijtihad dengan segala kemampuan yang memilikinya. ilmu pengetahuan. Oleh karena itu memahami hukum Islam dengan mengetahui latar belakang pembentukan hukumnya menjadi sangat penting agar tidak salah dalam memahami hukum Islam itu. hubungan sosial. 4. dan sejenisnya. baik yang didasarkan pada al-Qur'an dan Sunah maupun tidak. akhlaq. sangsi hukum. Melalui kajian tarikh tasyri¶ kita dapat mengetahui prinsip dan tujuan syariat Islam. aqidah. fiqh adalah hasil produk pemikiran ulama baik secara individu maupun kolektif. Bahwa penerapan syariat Islam berarti perhatian dan kepedulian negara dan masyarakat terhadap pendidikan. 3. harus diketahui terlebih dahulu latar belakang munculnya suatu hukum.

6 . Pengetahuan manusia hanya didasari pengalaman dan keadaan yang melingkupinya saat ini. (Luqman: 12). di antaranya: 1. Sedangkan syariat Islam bersumber dari Allah Yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya sehingga keadilannya adalah sebuah kepastian. (Thaha: 52). (Al-An¶am: 115). apa lagi masa depan yang jauh. Keraguan terhadap kelaikan dan keadilan syariat Islam berarti keraguan terhadap sifat Allah Taala yang Maha Sempurna. hukum dan peraturan yang dibuatnya hanya mempertimbangkan µkekinian¶ dan µkesinian¶ serta pasti perlu diubah dan diperbaiki di lain tempat dan waktu. Al-Syahid µAbdul Qadir µAudah dalam bukunya ³Al-Tasyri¶ Al-Jina-i fi Al-Islam´ (Hukum Pidana dalam Islam) menyebutkan beberapa keunggulan syariat Islam atas hukum dan undang-undang buatan manusia. kini dan masa depan. 2. Berbeda dengan syariat yang bersumber dari Dzat yang Maha Mengetahui masa lalu.D. Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Al-Maidah: 49). Dan kedua hal ini berarti kekufuran. SYARIAT ISLAM dan HUKUM WADH¶I (HUKUM POSITIF) Antara syariat Islam yang bersumber dari Allah Taala dengan hukum dan undang-undang buatan manusia sebenarnya tak dapat dibandingkan. Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah. Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu tampakkan atau rahasiakan)?! Padahal Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? (Al-Mulk: 14). mengingat perbedaan antara Al-Khaliq yang Maha Sempurna dengan makhluk yang maha lemah dan maha kurang. atau berarti keinginan kuat untuk membebaskan hawa nafsu dari aturan-aturan Ilahi. Tuhanku tidak akan salah dan tidak (pula) lupa. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah). dan barangsiapa yang tidak bersyukur. Manusia tidak tahu pasti apa yang akan terjadi di masa depan. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Jiwa Manusia tunduk dengan perasaan dan kecenderungan tertentu sehingga produk hukum yang dihasilkan pun tidak mungkin merealisasikan keadilan hakiki. Oleh karena itu. pasti mampu menjawab tantangan setiap tempat dan zaman. Hukum wadh¶i tidak mengandung keadilan yang hakiki karena dibuat oleh manusia yang memiliki hawa nafsu serta kepentingan.

Hukum wadh¶i hanya mengatur hubungan sesama manusia tanpa memiliki konsep aqidah tauhid yang menghubungkan semua itu dengan Allah Taala. Sedangkan syariat Islam selalu memperhatikan pembinaan aqidah umat sebelum. Hukum wadh¶i memiliki prinsip-prinsip yang terbatas. 4. diawali kemunculannya dari aturan keluarga. Motivasi spiritual. sejak diturunkan. Di samping itu. (Al-Anbiya: 107). dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. kemudian berkembang menjadi aturan suku atau kabilah dan seterusnya. Oleh karenanya hukum wadh¶i kehilangan kekuasaannya atas jiwa manusia di mana ia hanya mengandalkan sangsi hukum semata dan ini memberi kesempatan kepada para penjahat untuk mencari celah kelemahan hukum dan menggunakan berbagai tipu muslihat agar lepas dari jeratan hukum. keluarga. sehingga sanksi hukum hanyalah salah satu faktor untuk membuat masyarakat menjadi baik dan tertib. ketika. bahwa Rasulullah saw bersabda. dan setelah penegakan hukum-hukumnya. melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Al-Maidah: 3). masyarakat.a. dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. negara serta hubungan internasional. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu. Dan tiadalah Kami mengutus kamu. Dari Ummu Salamah r. ³Sesungguhnya kalian mengadukan perkara di antara kalian kepadaku. Syariat Islam tidak terbatas hanya untuk kaum atau bangsa tertentu melainkan untuk semua umat manusia sepanjang zaman. dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu. kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya. sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam. Dan baru memiliki teori-teori ilmiahnya pada abad ke-19 M. Berbeda dengan syariat Islam yang sejak masa kehidupan Rasulullah saw telah menjadi undang-undang yang lengkap dan sempurna memenuhi segala kebutuhan individu. rasa harap akan ridha-Nya dan takut akan murka-Nya menjadi faktor utama ketaatan warga negara terhadap hukum. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu. Sedangkan syariat Islam dilandasi oleh tauhid dan keimanan kepada Allah dan hari akhir yang menjadi motivasi utama ketaatan seorang hamba kepada syariat Allah Taala.3. boleh jadi salah satu pihak lebih pandai 7 . berupa pengawasan Allah Ta¶ala. (An-Nisa: 93) : .

sesungguhnya (meminum) khamr. Bukhari-Muslim). sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. mengganggu keutuhan rumah tangga. (berkorban untuk) berhala. adalah termasuk perbuatan syaitan. mengundi nasib dengan panah. Dan janganlah kamu mendekati zina.´ (H. mengacaukan nasab keturunan. dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan menegakkan shalat. (Al-Maidah: 90-91) 8 . begitu pula dengan minum minuman yang memabukkan. Hukum wadh¶i mengabaikan faktor-faktor akhlaq dan menganggap pelanggaran hukum hanya terbatas pada hal-hal yang membahayakan individu atau masyarakat secara langsung. Tetapi sekali lagi sangsi hukum hanya diberlakukan jika perbuatan itu dianggap membahayakan orang lain secara langsung dalam konteks fisik dan keamanan. Namun hukum wadh¶i tidak memberi sangsi atas perbuatan zina. Maka siapa yang aku menangkan perkaranya karena kepandaiannya berargumentasi (padahal sebenarnya lawannya yang berhak dimenangkan). maka janganlah ia mengambilnya. berarti aku telah memberikan kepadanya bagian dari siksa neraka.berargumentasi dari pada pihak lain (sehingga aku memenangkannya). 5. kecuali jika ada unsur paksaan dari salah satu pihak. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu. sehingga Islam melarang dan menetapkan sangsi atas zina karena ia adalah perbuatan keji yang diharamkan Allah Swt dengan berbagai dampak negatifnya meskipun dilakukan suka sama suka. dan berpotensi menimbulkan berbagai bahaya kesehatan serta tersebarnya kerusakan moral. Hukum wadh¶i tidak menghukum peminum arak karena arak dan semua yang memabukkan itu merusak akal dan tubuh.R. Hai orang-orang yang beriman. Hukum wadh¶i tidak memberi sanksi bagi pezina karena zina adalah perbuatan keji yang merusak moral. merusak akhlaq. (Al-Isra: 32). dan menyia-nyiakan harta. Hukum wadh¶i tidak memberi sangsi atas peminum minuman keras kecuali jika dilakukan di depan umum dan mengancam keamanan orang lain. Sedangkan syariat Islam adalah syariat akhlaq yang memperhatikan kebaikan mental dan fisik masyarakat secara umum. maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. misalnya. memperhatikan kebahagiaan dunia akhirat sekaligus. berjudi.

di kalangan ulama fiqh kontemporer terdapat beberapa macam cara. Periode awal abad ke-2 H sampai pertengahan abad ke-4 H. Dua diantaranya yang terkenal adalah cara menurut Syekh Muhammad Khudari Bek (mantan dosen Universitas Cairo) dan cara Mustafa Ahmad az-Zarqa (guru besar fiqh Islam Universitas Amman. yaitu: 9 . 4. Ia membagi periodisasi pembentukan dan pembinaan hukum Islam dalam tujuh periode. Tarikh at-Tasyri¶ al-Islamy (Sejarah Pembentukan Hukum Islam). tetapi ia membagi periode keenam menjadi dua bagian. Yordania). sejak Muhammad bin Abdullah diangkat menjadi rasul. 6. FASE-FASE TARIKH TASYRI¶ 1. Fase Perkembangan Fiqh Kedua: Masa Sahabat Yunior atau Tabi¶in Senior sampai Permulaan Abad 2 H. 5. 3. 2. Periode jatuhnya Baghdad (pertengahan abad ke-7 H oleh Hulagu Khan [1217-1265]) sampai sekarang. Fase Perkembangan Fiqh Pertama: Masa Khulafa Rasyidin. Fase Tasyri¶: dari awal kenabian Muhammad saw hingga wafat beliau (11 H). Fase Perkembangan Fiqh Keempat: dari Pertengahan Abad ke-4 hingga Jatuhnya Baghdad tahun 656 H. 5. periodisasi pembentukan hukum (fiqh) Islam oleh Syekh Muhammad Khudari Bek dalam bukunya. Periode sahabat kecil dan tabi¶in. Fase Perkembangan Fiqh Kelima: dari Jatuhnya Baghdad hingga kini. pembentukan hukum (fiqh) Islam oleh Mustafa Ahmad az-Zarqa dalam bukunya. 4. Periode awal. dan 6. Periode para sahabat besar. Cara pertama. al-Madkhal al-Fiqhi al-¶Amm (Pengantar Umum fiqh Islam). 11-40 H. Periode berkembangnya mazhab dan munculnya taklid mazhab. Ia membagi masa pembentukan hukum (fiqh) Islam dalam enam periode. Cara kedua.E. Dalam menyusun sejarah pembentukan dan pembinaan hukum (fiqh) Islam. 2. Ia setuju dengan pembagian Syekh Khudari Bek sampai periode kelima. 3. Fase Perkembangan Fiqh Ketiga: dari Permulaan Abad ke-2 hingga Pertengahan Abad ke-4 Hijriyah. yaitu: 1.

Pada zaman Rasulullah SAW para sahabat dalam menghadapi berbagai masalah yang menyangkut hukum senantiasa bertanya kepada Rasulullah SAW. bertambah luasnya wilayah kekuasaan Islam membuat persoalan hukum semakin berkembang karena perbedaan budaya di masing10 . setelah ia wafat. rujukan untuk tempat bertanya tidak ada lagi. kekuasaan pembentukan hukum berada di tangan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW telah mengemukakan kaidah-kaidah umum dalam pembentukan hukum Islam. fiqh pada periode ini bersifat aktual. PERIODE KEDUA Masa al-Khulafa¶ ar-Rasyidin (Empat Khalifah Besar) sampai pertengahan abad ke-1 H. Periodisasi sejarah pembentukan hukum Islam menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa adalah sebagai berikut: PERIODE PERTAMA Masa Rasulullah SAW. Istilah ³fiqh´ dalam pengertian yang dikemukakan ulama fiqh klasik maupun modern belum dikenal ketika itu. Oleh sebab itu. Pengertian fiqh di zaman Rasulullah SAW adalah seluruh yang dapat dipahami dari nash (ayat atau hadits). maka ia. maupun kebudayaan. dan hukum yang ditentukan hanya menyangkut kasus itu. Periode sejak munculnya Majallah al-Ahkam al-¶Adliyyah sampai sekarang. Ditambah lagi. dengan bimbingan Allah SWT menentukan hukum sendiri. Periode sejak pertengahan abad ke-7 H sampai munculnya Majallah al-Ahkam al-¶Adliyyah (Hukum Perdata Kerajaan Turki Usmani) pada tahun 1286 H. pada periode Rasulullah SAW belum muncul teori hukum seperti yang dikenal pada beberapa periode sesudahnya. hukum.1. baik yang berasal dari Al-Qur¶an maupun dari sunnahnya sendiri. para sahabat besar melihat bahwa perlu dilakukan ijtihad apabila hukum untuk suatu persoalan yang muncul dalam masyarakat tidak ditemukan di dalam Al-Qur¶an atau sunnah Rasulullah SAW. Dengan demikian. baik yang berkaitan dengan masalah aqidah. bukan bersifat teori. Disamping itu. Penentuan hukum terhadap suatu masalah baru ditentukan setelah kasus tersebut terjadi. menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa. Sekalipun demikian. Sumber hukum Islam ketika itu adalah Al-Qur¶an. Apabila ayat Al-Qur¶an tidak turun ketika ia menghadapi suatu masalah. Pada periode ini. ilmu dan fiqh pada masa Rasulullah SAW mengandung pengertian yang sama. yaitu mengetahui dan memahami dalil berupa Al-Qur¶an dan sunnah Rasulullah SAW. Yang disebut terakhir ini dinamakan sunnah Rasulullah SAW. dan 2.

Atha bin Abi Rabah (27-114H) di Makkah. ketentuan hukum bagi suatu masalah terbatas pada kasus itu saja. Dari perbedaan metode yang dikembangkan para sahabat ini kemudian muncullah dalam fiqh Islam Madrasah al-hadits (madrasah = aliran) dan Madrasah ar-ra¶yu. Para sahabat ini kemudian berhasil membina kader masing-masing yang dikenal dengan para tabi¶in. Masing-masing ulama di daerah tersebut berupaya mengikuti metode ijtihad sahabat yang ada di daerah mereka. sehingga muncullah sikap fanatisme terhadap para sahabat tersebut. Di Irak dikenal sebagai pengembang hukum Islam adalah Abdullah bin Mas¶ud (Ibnu Mas¶ud). Masing-masing sahabat ini menghadapi persoalan yang berbeda. maka ia melakukan ijtihad sesuai dengan prinsip-prinsip umum yang telah ditinggalkan Rasulullah SAW. al-Hasan al-Basri (21 H/642 M-110H/728M) di Basra. Mereka ini kemudian menjadi guru-guru terkenal di daerah masing-masing dan menjadi panutan untuk masyarakat setempat. Periode ini merupakan awal pembentukan fiqh Islam. Persoalan yang mereka hadapi di daerah masing-masing berbeda sehingga muncullah hasil ijtihad yang berbeda pula. khalifah ketiga. bukan teori. Pengertian fiqh dalam periode ini masih sama dengan fiqh di zaman Rasulullah SAW. yaitu bersifat aktual. Madrasah al-hadits kemudian dikenal juga dengan sebutan Madrasah al-Hijaz dan Madrasah al-Madinah.masing daerah. sedangkan Madrasah ar-ra¶yu dikenal 11 . Artinya. Makhul di Syam (Suriah) dan Tawus di Yaman. para sahabat sudah banyak yang bertebaran di berbagai daerah yang ditaklukkan Islam. Para tabi¶in yang terkenal itu adalah Sa¶id bin Musayyab (15-94 H) di Madinah. sesuai dengan keadaan masyarakat setempat. 76 H) di Kufah. PERIODE KETIGA Pertengahan abad ke-1 H sampai awal abad ke-2 H. para sahabat berupaya untuk melakukan ijtihad dan menjawab persoalan yang dipertanyakan tersebut dengan hasil ijtihad mereka. Apabila sahabat yang menghadapi persoalan itu tidak memiliki teman musyawarah atau sendiri. Masing-masing sahabat mengajarkan Al-Qur¶an dan hadits Rasulullah SAW kepada penduduk setempat. Sejak zaman Usman bin Affan (576-656). Ketika itu para sahabat melakukan ijtihad dengan berkumpul dan memusyawarahkan persoalan itu. tidak merambat kepada kasus lain secara teoretis. Zaid bin Sabit (11 SH/611 M-45 H/665 M) dan Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) di Madinah dan Ibnu Abbas di Makkah. Dalam keadaan seperti ini. Ibrahiman-Nakha¶i (w.

dengan sebutan Madrasah al-Iraq dan Madrasah al-Kufah. sebagaimana yang dipahami pada periode pertama dan kedua. tetapi juga menjawab persoalan yang akan terjadi. yaitu Mazhab Hanafi. di Irak muncul pula fiqh Syi¶ah yang dalam beberapa hal berbeda dari fiqh Ahlusunnah wal Jama¶ah (imam yang empat). sehingga bermunculanlah fiqh iftirâdî (fiqh berdasarkan pengandaian tentang persoalan yang akan terjadi di masa datang). Mazhab Maliki. seperti qiyas. pengertian fiqh sudah beranjak dan tidak sama lagi dengan pengertian ilmu. sedang ulama Irak berhadapan dengan masyarakat yang relatif majemuk. Oleh sebab itu. pada periode ketiga ini pun ushul fiqh telah matang menjadi salah satu cabang ilmu keislaman. karena fiqh sudah menjelma sebagai salah satu cabang ilmu keislaman yang mengandung pengertian mengetahui hukumhukum syara¶ yang bersifat amali (praktis) dari dalil-dalilnya yang terperinci. Ulama Hijaz berhadapan dengan suku bangsa yang memiliki budaya homogen. Sedangkan Madrasah al-Iraq dalam menjawab permasalahan hukum lebih banyak menggunakan logika dalam berijtihad. telah dikembangkan oleh ulama fiqh. Pada periode ketiga ini. sedangkan kasus-kasus yang mereka hadapi jauh lebih berat dan beragam. Periode ini disebut sebagai periode gemilang karena fiqh dan ijtihad ulama semakin berkembang. Pada periode inilah muncul berbagai mazhab. Madrasah al-Hijaz dikenal sangat kuat berpegang pada hadits karena mereka banyak mengetahui hadits-hadits Rasulullah SAW. dibandingkan yang dihadapi Madrasah al-Hijaz. di samping kasus-kasus yang mereka hadapi bersifat sederhana dan pemecahannya tidak banyak memerlukan logika dalam berijtihad. PERIODE KEEMPAT Pertengahan abad ke-2 sampai pertengahan abad ke-4 H. Di samping itu. Hal ini mereka lakukan karena hadits-hadits Rasulullah SAW yang sampai pada mereka terbatas. 12 . Berbagai metode ijtihad. fiqh tidak saja membahas persoalan aktual. menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa. khususnya mazhab yang empat. Di samping fiqh. pemikiran tanpa berpedoman kepada AlQur¶an dan sunnah secara langsung) dalam fiqh semakin berkembang karena ulama Madrasah al-hadits juga mempergunakan ra¶yu dalam fiqh mereka. Kedua aliran ini menganut prinsip yang berbeda dalam metode ijtihad. tidak mengherankan jika ulama Irak banyak menggunakan logika dalam berijtihad. istihsan dan istislah. Dalam perkembangannya. Pada periode ketiga ini pengaruh ra¶yu (ar-ra¶yu. baik secara kualitas & kuantitas.

tetapi mulai bergeser pada pendekatan teoritis. pada periode ini fiqh iftirâdî semakin berkembang karena pendekatan yang dilakukan dalam fiqh tidak lagi pendekatan aktual di kala itu. datang belajar kepada Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. salah seorang tokoh ahlulhadits. Mustafa Ahmad az-Zarqa menyatakan bahwa pada periode ini muncullah anggapan bahwa pintu ijtihad sudah tertutup.Mazhab Syafi¶i dan Mazhab Hanbali. hukum untuk permasalahan yang mungkin akan terjadi pun sudah ditentukan. Disamping sempurnanya penyusunan kitab fiqh dalam berbagai mazhab. banyak mendukung pendapat ahli hadits dengan mempergunakan hadits-hadits Rasulullah SAW. seperti dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah yang menjadikan fiqh Mazhab Hanafi sebagai pegangan para hakim di pengadilan. Periode ini ditandai dengan menurunnya semangat ijtihad di kalangan ulama fiqh. Sebagaimana pada periode ketiga. ulama dari Mazhab Hanafi yang dikenal sebagai Ahlurra¶yu (Ahlulhadits dan Ahlurra¶yu). Kitab-kitab fiqh pun mulai disusun pada periode ini. memperluas atau meringkas masalah yang ada dalam kitab fiqh mazhab masingmasing. dalam periode ini juga disusun kitab-kitab ushul fiqh. seperti yang diungkapkan oleh Imam Muhammad Abu Zahrah. karena ternyata kemudian masing-masing kelompok saling mempelajari kitab fiqh kelompok lain. Ulama lebih banyak mencurahkan perhatian dalam mengomentari. menurut Imam Muhammad Abu Zahrah. Mesir. bahkan mereka cukup puas dengan fiqh yang telah disusun dalam berbagai mazhab. Imam Abu Yusuf. seperti kitab ar-Risalah yang disusun oleh Imam Syafi¶i. tokoh ahlurra¶yu. PERIODE KELIMA Pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 H. yaitu sebagai berikut: 13 . guru besar fiqh di Universitas al-Azhar. Oleh sebab itu. Imam Muhammad Abu Zahrah menyatakan beberapa penyebab yang menjadikan tertutupnya pintu ijtihad pada periode ini. Pertentangan antara Madrasah al-hadits dengan Madrasah ar-ra¶yu semakin menipis sehingga masing-masing pihak mengakui peranan ra¶yu dalam berijtihad. kitab-kitab fiqh banyak berisi ra¶yu dan hadits. al-Muwaththa¶ (buku hadits dan fiqh). Imam asy-Syafi¶i. bahwa pertentangan ini tidak berlangsung lama. datang ke Madinah berguru kepada Imam Malik dan mempelajari kitabnya. Lebih jauh. dan pemerintah pun mulai menganut salah satu mazhab fiqh resmi negara. Hal ini menunjukkan adanya titik temu antara masing-masing kelompok. Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. Oleh sebab itu.

sehingga hukum fiqh yang diterapkan hanyalah hukum fiqh mazhabnya.1. Munculnya buku fiqh yang disusun oleh masing-masing mazhab. 2. Periode ini diawali dengan kelemahan semangat ijtihad dan berkembangnya taklid serta ta¶assub (fanatisme) mazhab. sehingga penyusunan kitab fiqh pada periode ini pun hanya terbatas pada meringkas dan mengomentari kitab fiqh tertentu. Ulama ketika itu merasa lebih baik mengikuti pendapat yang ada dalam mazhab daripada mengikuti metode yang dikembangkan imam mazhabnya untuk melakukan ijtihad. Di akhir periode ini pemikiran ilmiah berubah menjadi hal yang langka. Penyelesaian masalah fiqh tidak lagi mengacu pada Al-Qur¶an dan sunnah Rasulullah SAW serta pertimbangan tujuan syara¶ dalam menetapkan hukum. Di samping itu. Ulama merasa sudah cukup dengan mempelajari sebuah kitab fiqh dari kalangan mazhabnya. Hal ini pun menyebabkan masing-masing pihak/mazhab menyadari kembali kekuatan dan kelemahan masing-masing. para hakim yang ditunjuk oleh penguasa adalah ulama mujtahid yang tidak terikat sama sekali pada suatu mazhab. Di samping itu. Sekalipun ada mujtahid yang melakukan ijtihad ketika itu. sebagaimana dituturkan Imam Muhammad Abu Zahrah. perdebatan ini kadang-kadang jauh dari sikap-sikap ilmiah. dan 3. perkembangan pemikiran fiqh serta metode iitihad menyebabkan banyaknya upaya tarjadi (menguatkan satu pendapat) dari ulama dan munculnya perdebatan antarmazhab di seluruh daerah. Dipilihnya para hakim yang hanya bertaqlid kepada suatu mazhab oleh pihak penguasa untuk menyelesaikan persoalan. menurut Imam Muhammad Abu Zahrah. hal ini pun. Akan tetapi. sedangkan sebelum periode ini. keinginan penguasa pun sudah masuk ke dalam masalah-masalah fiqh. Pada akhir periode ini dimulai upaya kodifikasi fiqh (hukum) Islam yang seluruhnya diambilkan dari mazhab resmi pemerintah Turki Usmani (Kerajaan 14 . ijtihadnya hanya terbatas pada mazhab yang dianutnya. Upaya mentakhrij (mengembangkan fiqh melalui metode yang dikembangkan imam mazhab) dan mentarjih pun sudah mulai memudar. menurut Imam Muhammad Abu Zahrah. membuat umat Islam mencukupkan diri mengikuti yang tertulis dalam buku-buku tersebut. PERIODE KEENAM Pertengahan abad ke-7 H sampai munculnya Majallah al-Ahkam al-¶Adliyyah pada tahun 1286 H. Munculnya sikap ta¶assub madzhab (fanatisme mazhab imamnya) di kalangan pengikut mazhab. tetapi telah beralih pada sikap mempertahankan pendapat mazhab secara jumud (konservatif).

µAdliyyah sampai sekarang.Ottoman. yang dikenal dengan Majallah al-Ahkam al¶Adliyyah. Pengambilan pendapat dilakukan tidak saja dari mazhab yang empat. Bersumber dari berbagai pendapat atas pendapat terkuat dari berbagai mazhab. Pada tahun 1286 H panitia ini berhasil menyusun hukum perdata Turki Usmani yang dinamai dengan Majallah al-Ahkam al-¶Adliyyah yang terdiri atas 1. Untuk mencapai tujuan ini dibentuklah sebuah panitia kodifikasi hukum perdata. yaitu Mazhab Hanafi. Munculnya pemikiran untuk memanfaatkan berbagai pendapat yang ada di seluruh mazhab.851 pasal. dengan syarat bahwa pendapat itu lebih tepat dan sesuai. yaitu: 1. PERIODE KETUJUH Sejak munculnya Majallah al-Ahkam al. Memilih pendapat terkuat dari berbagai kitab fiqh merupakan kesulitan bagi para hakim di pengadilan. maka pada tahun 1333 H pemerintah Turki Usmani menyusun kitab hukum keluarga (al-Ahwal asy-Syakhsiyyah) yang merupakan gabungan dari berbagai pendapat mazhab. pemerintah Turki Usmani berpendapat bahwa harus ada satu kitab fiqh/hukum yang bisa dirujuk dan diterapkan di pengadilan. di samping memerlukan waktu yang lama. sesuai dengan kebutuhan zaman. Di dalam al-Ahwal asy-Syakhsiyyah ini terdapat berbagai pemikiran mazhab yang dianggap lebih 15 . para penguasa di negeri-negeri Islam yang tidak tunduk di bawah kekuasaan Turki Usmani mulai pula menyusun kodifikasi hukum secara terbatas. Berkembangnya upaya kodifikasi hukum Islam. Munculnya kodifikasi hukum Islam dalam bentuk Majallah al-Ahkam al-¶Adliyyah dilatarbelakangi oleh kesulitan para hakim dalam menentukan hukum yang akan diterapkan di pengadilan. Oleh sebab itu. Setelah berhasil dengan penyusunan Majallah al-Ahkam al-¶Adliyyah. Ada tiga ciri pembentukan fiqh Islam pada periode ini. 2. sementara kitab-kitab fiqh muncul dari berbagai mazhab dan sering dalam satu masalah terdapat beberapa pendapat. dan 3. tetapi juga dari para sahabat dan tabi¶in. pidana. Pada abad ke-19 muncul berbagai pemikiran di kalangan ulama dari berbagai negara Islam untuk mengambil pendapat-pendapat dari berbagai mazhab serta menimbang dalil yang paling kuat diantara semua pendapat itu. 1300-1922). baik bidang perdata. maupun ketatanegaraan. Munculnya Majallah al-Ahkam al-¶Adliyyah sebagai hukum perdata umum yang diambilkan dari fiqh Mazhab Hanafi.

hukum fiqh menjadi lebih akomodatif jika dibandingkan dengan hukum fiqh dalam kitab berbagai mazhab. di daerah yang berpenduduk mayoritas Islam. menurutnya. Pada tahun 1920 dan 1925 pemerintah Mesir menyusun kitab hukum perdata dan hukum keluarga yang disaring dari pendapat yang ada dalam berbagai kitab fiqh. tetapi juga ulama dari disiplin ilmu lainnya. Menurutnya. ijtihad jama¶i (kolektif) harus dikembangkan dengan melibatkan berbagai ulama dari berbagai disiplin ilmu. Turki. Di banyak negara Islam telah bermunculan hukum keluarga yang diambil dari berbagai pendapat mazhab. Malaysia dan Indonesia. pembentukan dan pengembangan hukum Islam tersebut. Pakistan. Pengaruh hukum Barat ini menyadarkan ulama untuk merujuk kembali khazanah intelektual mereka dan memilih pendapat mazhab yang tepat diterapkan saat ini. ahli fiqh dari Mesir. Dengan demikian. seperti bidang kedokteran dan sosiologi. tetapi dengan melakukan ijtihad kembali ke sumber aslinya. Sudan. menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa. Sejak saat itu bermunculanlah kodifikasi hukum Islam dalam berbagai bidang hukum. Akan tetapi. tidak harus mengacu kepada kitab-kitab fiqh yang ada. Afghanistan. Suriah. Ali Hasaballah. tidak hanya ulama fiqh. Semangat kodifikasi hukum (fiqh) Islam di berbagai negara Islam ikut didorong oleh pengaruh hukum Barat yang mulai merambat ke berbagai dunia Islam. Iran. Lebih jauh lagi. seluruh pendapat dalam mazhab fiqh merupakan suatu kumpulan hukum dan boleh dipilih untuk diterapkan di berbagai daerah sesuai dengan kebutuhan. mengatakan bahwa upaya penerapan hukum Islam di berbagai neqara Islam semakin tampak. ? LH 16 . yaitu Al-Qur¶an dan sunnah Rasulullah SAW. Maroko. upaya penerapan hukum Islam dengan beberapa penyesuaian dengan kondisi setempat mulai berkembang.sesuai diterapkan. Dengan demikian. seperti di Yordania.

KESIMPULAN Sedangkan tasyri¶ berarti penetapan atau pemberlakuan syariat yang berlangsung sejak diutusnya Rasulullah saw dan berakhir hingga wafat beliau. Namun para ulama kemudian memperluas pembahasan tarikh (sejarah) tasyri¶ sehingga mencakup pula perkembangan fiqh Islami dan proses kodifikasinya serta ijtihad-ijtihad para ulama sepanjang sejarah umat Islam.BAB III PENUTUP A. 17 . Oleh karena itu pembahasan tarikh tasyri¶ dimulai sejak pertama kali wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw hingga masa kini.

Tarikh al-Fiqh al.1990) Muhammad Salam Madkur. Tarikh fal-Fiqh Islamy (Beirut:Dar al-kutub al-Ilmiyah. (Amman: Dar al-Nafais.cybermq.1991) 18 .DAFTAR PUSTAKA http://www. Al Madkhal Li al fiqh al Islam ( Cairo : Dar an Nadhah Islamiyah) Umar Sulaiman al-Asygar.php?pustaka/detail/6/1/pustaka-115.html http://www.dakwatuna.Islamy.com/2006/tarikh-tasyri-bagian-pertama/ Muhammad Ali Sayis.com/index.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->