P. 1
Jurnal Penelitian Komunikasi Dan Pembangunan.doc_0

Jurnal Penelitian Komunikasi Dan Pembangunan.doc_0

|Views: 2,539|Likes:
Published by Bendhol Bersabar

More info:

Published by: Bendhol Bersabar on Sep 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as ODT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2013

pdf

text

original

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN I. Volume 10 No.

1 April 2009

SISTEM INFORMASI DI PEMERINTAHAN KABUPATEN ACEH TENGAH Oleh : Ali Murtadha M Arifin1 ABSTRAKSI Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan sistem penyampaian informasi di Pemerintahan Kabupaten Aceh Tengah setelah diberlakukannya otonomi daerah di Kabupaten tersebut karena penyampaian informasi sebelumnya dilakukan oleh juru penerangan dibawah Pemerintahan Departemen Penerangan disamping itu juga tujuan penelitian ini adalah sebagai penambah wawasan tentang perubahan sistem informasi tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu melakukan wawancara mendalam dengan Kasub Bagian Humas, Kepala Informasi dan Komunikasi serta karyawan yang mempunyai tugas dan fungsi sebagai penyiar informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Adapun hasil penelitian dapat digambarkan bahwa otonomi daerah dapat merubah sistem informasi di Daerah Kabupaten Aceh Tengah, sistem informasi juga mempengaruhi kelanjutan pertumbuhan pembangunan, maka membangun informasi juga perlu, sehingga sistem informasi pesan pemerintah di kemas dan disiarkan dengan melalui media cetak maupun elektronik sehingga dapat diperoleh / dinikmati oleh publik dan sistem informasi pada masa Orde Baru berbeda dengan sistem informasi di era Orde Baru. Pada masa Orde Baru sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah Pusat sedangkan pada otonomi daerah sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah setempat (Daerah). Kata Kunci : Sistem informasi, Pemerintahan Kab. Aceh Tengah
1

Penulis adalah Peneliti di BBPPKI Wilayah I Medan.

A. Latar Belakang Masalah Di era otonomi daerah saat ini, sistem Pemerintahan Daerah sudah berbeda dibandingkan dengan sistem pemerintah diera orde baru. Kalau diera orde baru, organisasi Pemerintah dan sistem informasinya ditentukan oleh pemerintah pusat, di era otonomi daerah ini pembentukan instansi pemerintah daerah termasuk sistem informasinya ditentukan oleh pemerintah daerah setempat. Oleh karena itu sistem informasi pada setiap daerah bisa berbeda sesuai dengan perkembangan yang terjadi / kebutuhan di daerah masing-masing. Pada awal otonomi daerah, Pemerintah di daerah bisa membentuk dinas, Badan dan Lembaga tehnis sesuai dengan kebutuhan daerah setempat. Adanya ketentuan ini membuat berbagai daerah membentuk dinas secara berlebihan untuk menampung sebanyak mungkin pejabat struktural. Ketentuan mengenai pembentukan dinas dan lembaga tehnis tersebut kemudian disusul Peraturan Baru yang memberikan batasan jumlah dinas yang boleh dibentuk di Pemerintah Daerah. Daerah yang sudah terlanjur membentuk dinas dan lembaga teknis daerah melebihi ketentuan akan segera menyesuaikan dengan ketentuan baru dalam pembentukan Dinas dan lembaga teknis. Adanya kebebasan Pemerintah daerah untuk membentuk dinas dan lembaga tehnis di daerah maka bisa terjadi adanya perbedaan nama lembaga/dinas yang menangani informasi. Bahkan penanganan informasi di suatu daerah cukup hanya dimasukkan dalam suatu seksi/bagian dari dinas dan setiap daeah menggunakan istilah yang berbeda seperti : Hubungan Masyarakat (Humas) Informasi Komunikasi (Infokom), BadanInformasi Komunikasi Telematika (BIKT). Dengan berbedanya dinas yang berkaitan dengan informasi, maka dimungkinkan terjadinya perbedaan sistem informasi pemerintahan antara satu daerah dengan daerahdaeah lain. Saat ini sistem inforasi di pemerintahan masih berkembang dan mencari model yang tepat untuk kelancaran pelaksanaan pembangunan yang sedang dilaksanakan. Adanya dua organisasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang secara khusus menangani informasi yaitu Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah dan Sub Bagian Hubungan Masyrakat. Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah merupakan lembaga hasil peleburan Kantor Departemen Penerangan semasa orde baru sebelum otonomi daerah. Hampir seluruh karyawan Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah adalah mantan pegawai Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Aceh Tengah Perkantoran yang dipergunakan, sebelumnya juga pernah dipergunakan sebagai Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Aceh Tengah Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi berada pada eselon III. Sub Bagian Humas juga sudah ada sebelum era otonomi daerah. Struktur organisasinya berada di bagian Sekretariat Daerah. Sub Bagian Humas ini berada dibawah Bagian Humas, Pengolah Data Elektronik (PDE) dan Santel, yang berada dibawah Asisten Umum. Sebagai sub bagian di Sekretariat Daerah, Sub Bagian Humas hanya menempati satu ruangan di Kantor Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah Kepala Sub Bagian Humas berada pada eselon IV. Adanya dua lembaga yang menangani informasi ini merupakan salah satu unsur sistim informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Kedua lembaga itu bisa secara bersama-sama menjalankan tugasnya dalam diseminasi informasi pada masyarakat. Sistem informasi pemerintah ini mempunyai peran yang penting untuk mensukseskan pembangunan di suatu daerah. Sistem informasi yang baik, bisa menciptakan kesatuan gerak dan langkah antar lembaga/dinas untuk mencapai tujuan. Jika sistem informasi antar lembaga/dinas tidak berjalan baik maka dimungkinkan terjadinya tumpang tindih kegiatan, bahkan bisa terjadi kegiatan yang saling

bertentangan. Sistem informasi yang baik memungkinkan program-program dan kegiatan yang dilakukan pemerintah bisa direspon oleh masyrakat sehingga bisa meningkatkan partisipasi masyarakat. B. Permasalahan Berdasarkan latar belakang diatas, dirumuskan permasalahan penelitian yaitu bagaimana pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Dengan diketahuinya pelaksanaan sistem informasi di daerah tersebut dapat menambah pengetahuan mengenai sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Hasil penelitian ini juga bisa dimanfaatkan sebagai pembanding sistem informasi di berbagai daerah yang memiliki sistem informasi yang berbeda. D. Landasan Teori 1. Pengertian Sistem Informasi Berbagai pengertian tentang sistem informasi dikemukakan dalam berbagai buku untuk menggambarkan pengertian mengenai sistem informasi diantaranya ditulis oleh Alter (1992) bahwa Sistem informasi adalah kombinasi antara prosedur kerja, informasi, orang dan tehnologi informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah organisasi. Bodnar dan Hopwood (1993)mendifinisikan sistem informasi adalah kumpulan perangkat keras dan peangkat lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke dalam bentuk informasi yang berguna. Gelinas, Oram dan Wiggins (1990) mendifinisikan sistem informasi adalah suatu sistem buatan manusia yang secara umum terdiri atas sekumpulan komponen berbasis komputer dan manual yang dibuat untuk menghimpun, menyimpan dan mengelola data serta menyediakan informasi keluaran kepada pemakai. Hall (2001) mendifinisikan sistem informasi sebagai sebuah rangkaian prosedur formal dimana data dikelompokkan, diproses menjadi informasi dan didistribusikan kepada pemakai. Dari berbagai difinisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem informasi mencakup sejumlah komponen (manusia, tehnologi informasi dan prosedur kerja) berupa masukan (input), ada proses (data menjadi informasi) dan dimaksudkan untuk mencapai suatu sasaran atau tujuan (output).

2. Otonomi Daerah Untuk melaksanakan kebijakan desentralisasi dibentuk daerah otonom. Menurut UU No. 22 Tahun 1999, daerah otonomi merupakan ”kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indoneia”. Kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat sering disebut otonomi daerah. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa daerah otonom adalah daerah yang memiliki otonomi daerah. Kaho (1987) memaparkan ciri-ciri Daerah Otonom sebagai berikut :

1. Adanya urusan-urusan tertentu yang diserahkan oleh pemerintah pusat atau daerah tingkat atas kepada daerah untuk diatur dan diurusnya dalam batas-batas wilayahnya. 2. Pengaturan dan pengurusan urusan-urusan tersebut dilakukan atas inisiatif sendiri dan didasarkan pada kebijaksanaan sendiri pula. 3. Adanya alat-alat perlengkapan atau organ-organ atau apatur sendiri. 4. Pengaturan urusan-urusan tersebut masyarakat daerah perlu memiliki sumber-sumber pendapatan/keuangan sendiri. 3. Teori Sistem Setiap sistem merupakan tempat memproses, mengolah, mengubah, atau menstransformasikan bahan-bahan yang disebut masukan (input) menjadi suatu hasil karya yang bisa disebut keluaran (output) (Shrode dan Voich, 1974 : 128). Proses transformasi sistem ini sering dilukiskan orang dengan mempergunakan model masukankeluaran (input-output model). Model masukan keluaran ini biasa disebut juga dengan model kotak hitam (black-box model). Model adalah gambaran mengenai sesuatu realitas untuk menggambarkan bagaimana suatu itu tampaknya atau bagaimana bekerjanya guna memudahkan memahami dan atau mengkajinya. Istilah kotak hitam disini dipergunakan untuk memudahkan memahami dan atau mengkajinya. Istilah kotak hitam disini dipergunakan untuk menunjukkan bahwa isiyang terkandung di dalam satuan (unit) pemroses (transformasi) atau jelasnya sistem itu tidak diketahui, jadi seperti kotak hitam (Tatang M. Arifin, 2002 : 38). Model kotak hitam itu digambarkan atau dilukiskan orangorang bermacam-macam. Konsep dasarnya : Masukan Proses Keluaran

Untuk menilai pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, maka pendekatan sistem merupakan cara yang tepat sebagai pemandu. 1. Input Dari sisi masukan (input), yang bisa dijadikan indikator untuk mengetahui masukan pelaksanaan sistem informasi di humas dan Kantor infokom adalah : a. Memiliki tugas dan sasaran yang jelas. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kebijakan, tugas dan sasaran yang akan dicapai Humas dan kantor infokom. b. Sumberdaya yang tersedia dan siap. Sumberdaya sangat strategis bagi keberhasilan pelaksanaan tugas humas dan infokom, sejauh mana kesiapan sumberdaya baik sumberdaya manusia (yang mencakup jumlah dan kualitas) maupun sumbrdaya selebihnya seperti keuangan, peralatan perlengkapan dan sebagainya. c. Staf yang kompeten dan komitmen tinggi. Staf yang kompeten merupakan pra sarat mutlak dalam pelaksanaan tugas humas dan infokom. Kompetensi ini dapat ditunjukkan dengan kesesuaian tingkat dan latar belakang pendidikan, kemampuan melaksanakan tugas, dan kedisiplinan dalam melaksanakan tugas. 2. Proses Dari sisi proses di Humas dan Kantor infokom yang bisa dijadikan indikator terjadinya proses pelaksanaan sistem informasi adalah : a. Pelaksanaan proses tugas penyampaian informasi ditandai oleh : Kepemimpinan lembaga yang kuat, dalam arti kepemimpinan yang kuat dalam mengkoordinasikan, menggerakkan sumber daya manusia dilingkungan humas dan infokom serta menyerasikan semua sumberdaya yang ada pada satu tujuan yang sama.

b. Kerja sama yang kompak dan cerdas serta dinamis, yang ditandai komunikasi yang baik dan harmonis antara humas, infokom dan satuan unit kerja di pemerintahan, kerja sama yang didasari oleh saling pengertian dan kesediaan menerima perbedaan pendapat. c. Partisipasi yang tinggi dari unit kerja di pemerintah daerah. Dalam hal ini dapat diamati dari : keikutsertaan unit kerja di Pemda dalam berbgai aktifitas pelaksanaan tugas Humas dan Infokom. 3. Output Setiap proses pelaksanaan sistem informasi selalu diharapkan adanya keluaran atau hasil berupa kinerja pelaksanaan sistem informasi. Indikator terjadinya kinerja pelaksanaan informasi tersebut. - Informasi yang disampaikan oleh humas dan infokom dapat diterima. E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. 2. Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di Sub Bagian Humas dan Kantor Infokom Kabupaten Aceh Tengah sebagai lembaga yang secara khusus menangani informasi. 3. Informan penelitian Adapun yang dijadikan informan sebagai sumber/ menghimpun data dalam penelitian ini adalah Kasub Bagian Hubungan Masyarakat, Sub Bagian Dokumentasi dan Informasi, Kasub Bagian Informasi dan Informatika, karyawan Humas dan Infokoma yang bertugas sebagai ujung tombak dalam penyiaran / penyampaian informasi publik di daerah Kabupaten Aceh Tengah. 4. Tehnik pengumpulan data Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini dipergunakan dua macam tehnik yaitu : a. Studi dokumentasi. Dengan tehnik ini peneliti berusaha memperoleh data atau informasi dengan cara menggali dan mempelajari dokumen-dokumen, arsip dan catatan yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas humas dan Kantor Infokom. b. Wawancara mendalam. Dengan tehnik wawancara tidak berstruktur atau mendalam (Indepth/unstructured interviewing) peneliti melakukan tanya jawab dan tukar pikiran tanpa daftar wawancara; peneliti hanya dibantu dengan sejumlah topik umum tentang proses pelaksanaan sistim informasi di Kabupaten Aceh Tengah yang masih harus dikembangkan oleh pewawancara berdasar jawaban informan. Dalam pelaksanaannya, dimanfaatkan instrument berupa panduan wawancara dan daftar topik. 5. Tehnik Analisa Data Metode yang dipergunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan model interaktif yaitu semacam siklus terkait antara kegiatan pengumpulan data, penyederhanaan data pemaparan data, dan penarikan kesimpulan. Jadi analisa data dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data. Waktu penelitian ini dijadwalkan sebagai berikut penyusunan/ persiapan rancangan penelitian bulan Februari 2009, pengumpulan data bulan April dan pengolahan data/laporan bulan Mei 2009.

Dana : dana penelitian ini dibebankan kepada anggaran rutin BBPPKI Medan. F. Hasil Penelitian Dalam penelitian ini, kualitas masukan, proses dan keluaran diperlukan sebagai cerminan realitas model dan implementasi pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Dengan kata lain profil kualitas pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah merupakan keutuhan kualitas masukan, proses dan keluaran sistim informasi. Ketiga hal itu diuraikan berikut ini : 1. Kualitas Masukan Sistem Informasi Sudah disinggung di atas, bahwa masukan sistim informasi diambil tiga indicator yaitu adanya tugas, dan sasaran yang jelas, Sumberdaya yang tersedia dan kompetensi sumberdaya. Tugas dan sasaran Humas dan Kantor infokom diatur dalam peraturan daerah. Tugas dan fungsi Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah telah diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah. Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 8 Tahun 2002 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kantor-Kantor Daerah, Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah mempunyai tugas pokok membantu Bupati dalam melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang informasi dan komunikasi yang meliputi pemberdayaan informasi, media informasi dan publikasi. Urusan bidang informasi dan komunikasi tersebut meliputi informasi yang bersifat umum yang tidak berkaitan dengan informasi didalam pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Informasi yang bersifat umum itu bisa berasal dari pemerintah pusat maupun Provinsi seperti peraturan perundangan. Dalam melaksanakan tugas itu tiga seksi yang dimiliki Badan Infokom yaitu Seksi Pemberdayaan Informasi mempunyai tugas melaksanakan upaya pemberdayaan partisipasi masyarakat, kelompok komunikasi sosial, pemberdayaan potensi informasi lembaga swadaya masyarakat dan lembaga informasi desa. Seksi Media Informasi dan Komunikasi mempunyai tugas melaksanakan, memantau penyelenggaraan kegiatan penyebaran informasi melalui media interaktif, radio, televisi, film dan Seksi Publikasi mempunyai tugas melaksanakan kegiatan penyampaian informasi langsung. Sementara itu Sub Bagian Humas, sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 5 Tahun 2002 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah, Sub Bagian Hubungan Masyarakat mempunyai tugas : 1. Melakukan hubungan timbal balik antar pemerintah daerah dengan masyarakat umum dan organisasi kemasyarakatan untuk memperjelas kebijakan dan kegiatan pemerintah daerah. 2. Melakukan hubungan intern dengan satuan dan unit kerja di lingkungan Pemerintah Daerah. 3. Melaksanakan usaha untuk peningkatan peliputan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat. 4. Melaksanakan koordinasi/kerja sama dengan organisasi kewartawanan. 5. Melaksanakan tugas sebagai juru bicara pemerintah daerah sesuai dengan petunjuk Bupati. 6. Menyiapkan bahan evaluasi dan pelaporan kegiatan di bidang kehumasan.

2. Kualitas Masukan SDM Non Manusia Sumberdaya bukan manusia atau sekarang sering diistilahkan modal fiskal dan modal finansial (Thomas dkk, 2000) mendukung dan menunjang atau malah

mempengaruhi kiprah kinerja sumber daya manusia. Seluruh staf yang bergerak di Humas dan Kantor Infokom dapat bertindak, bebruat dan melakukan sesuatu secara lebih maksimal dalam melaksanakan tugas berkat tersedianya secara memadai sejumlah sumberdaya bukan manusia. Bangunan dan ruang, prasarana (infrastruktur), perlengkapan kantor (furniture, mesin, computer dll) dan dana merupakan sejumlah sumberdaya bukan manusia yang perlu disediakan karena secara signifikan dapat mempengaruhi kinerja sumberdaya manusia. Secara kuantitatif bangunan dan ruang yang dipergunakan Kantor Infokom sangat representatif untuk melakukan kegiatan karena gedung yang dipergunakan adalah bekas Kantor Departemen Penerangan. Prasarana (infrastruktur), perlengkapan kantor dan alat bantu kegiatan yang dimiliki Kantor Infokom kelihatan kurang memadai untuk melaksanakan tugas karena peralatan yang dimiliki sebagian merupakan bekas peralatan lama yang pernah dipergunakan semasa masih ada Departemen Penerangan. Sementara itu di lingkungan Humas, terjadi hal yang sebaliknya. Bangunan atau ruangan yang dimiliki sangat terbatas karena terbatasnya ruangan yang ada di sekretariat daerah. Humas yang memiliki staf sebanyak 13 orang hanya menempati satu ruangan. Namun demikian infratruktur yang dimilikinya sangat memadai dengan tersedianya perlengkapan yang dibutuhkan dalam setiap operasional kegiatannya. 3. Kualitas Masukan Perangkat Lunak Dalam penyelenggaraan pengelolaan informasi seperti halnya masukan sumberdaya manusia dan sumber daya bukan manusia, masukan perangkat lunak menunjang dan menentukan beroperasi tidaknya dan berjalan tidaknya secara efektif dan maksimal proses penyampaian informasi di masyarakat. Tidak jarang perangkat lunak diyakini lebih penting dari pada sumberdaya bukan manusia meski tidak sepenting sumber daya manusia (Suryadi dan Budimansah, 2004 : 243-245) Implikasinya perangkat lunak harus ada dan tersedia di bagian pengelolaan informasi secara memadai supaya implementasi penyebaran informasi kepada masyarakat dengan baik, efektif, mencapai maksud dan tujuannya. Sebagai pengelola informasi resmi milik pemerintah, Humas dan Infokom memiliki peraturan perundangan, diskripsi tugas pokok dan fungsi, rencana dan program kegiatan. Diskripsi tugas pokok dan fungsi ini menjadi dasar atas rencana dan program kegiatan Humas dan Infokom. Perangkat lunak yang terdapat di Humas jauh lebih mapan dibandingkan dengan perangkat lunak yang ada di Kantor Infokom karena eksistensi humas yang sudah berlangsung lama sementara eksistensi Kantor Infokom msih berjalan beberapa tahun setelah pelaksanaan otonomi daerah. 4. Kualitas Masukan Harapan Humas dan Infokom Implementasi penyebarluasan informasi selalu dikaitkan dengan harapan terjadinya peningkatan kualitas pelayanan informasi. Oleh sebab itu menjadi kewajiban setiap pengelola informasi untuk menerapkan harapan dan dorongan yang jelas, pasti, tinggi dan unggul dibidang kualitas pelayanan informasi dengan dilandasi oleh semangat ingin menjadi lebih baik. Demikian juga Humas dan Infokom Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang mengimplementasikan sistim pengelolaan informasi harus memiliki harapan yang jelas, mantap dan tinggi serta terfokus untuk meraih kualita pelayanan informasi. Harapan itu tergambar dalam rencana dan strategi (renstra) khususnya visi, misi dan tujuan serta sasaran masing-masing pengelola informasi. Berdasar pengamatan, harapan yang tertuang dalam bentuk visi, misi, rencana jangka panjang, rencana pengembangan, rencana pelayanan dan lain-lain sudah ada dan telah ditetapkan di Humas dan Infokom. Hampir semua karyawan juga mengetahui

Hal ini dikarenakan proses penyebaran iformasi secara langsung menentukan kualitas keluaran informasi secara kognitif afektif dan behavior. A. Secara mikro proses sistem informasi yang mencerminkan terlaksana tidaknya atau berfungsi tidaknya pelaksanaan sistem informasi secara organis. Kualitas Keluaran Sistim Informasi Setiap proses penyebaran informasi selalu meniscayakan keluaran bahkan juga hasil dan dampak sistim pengelolaan informasi walaupun keduanya tidak dapat diketahui . Seiring dengan itu partisipasi semua pihak menjadi penting selain kolaborasi. menjadi pusat informasi dan komunikasi bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah sekaligus berperan menjadi pusat pembelajaran dan pengetahuan. semangat dan etos kerja yang cukup kuat untuk melaksanakan proses penyebaran informasi. Kondisi Proses Pengelolaan Sistem Informasi Proses pengelolaan program penyebran informasi perlu dilakukan secara bersamasama oleh tim kerja yang kompak cerdas dan dinamis. LSM dan masyarakat untuk menjawab tantangan masa kini maupun masa depan. dalam penyelenggaraan proses sistem informasi. Hasil pengamatan dan wawancara dengan kepala Kantor Infokom dan Kepala Sub Bagian Humas. Kondisi Proses Penyebaran Informasi Dalam implementasi sistim informasi. B. menunjukkan bahwa baik Kepala Humas dan Kantor Infokom memiliki kesadaran akan kedudukan proses penyebaran informasi sebagai inti proses sistem pengelolaan informasi guna mencapai kompetensi koqnitif. Dalam kontek pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. 5. proses sistem informasi sudah cukup memadai bila dilihat secara makro. ormas. kerjsama dan sinergi antara program. afektif dan behavior yang ditentukan dalam juknis dan juklak. Berdasar hasil wawancara dengan Kasub Bagian Hubungan Masyarakat Kabupaten Aceh Tengah diketahui bahwa hampir semua pegawai pemerintah mendukung manajemen proses sistem informasi dengan menjadikan humas sebagai satu-satunya sumber informasi. Artinya tinggi rendahnya kualitas keluaran sistim informasi ditentukan oleh proses penyebarannya. Orpol. Dalam proses pengelolaan informasi ini Humas dan Infokom mengelola informasi secara sistematis. Bersinergi dengan seluruh Dinas/Badan/Kantor. agar dapat dikembangkan menjadi pengetahuan yang bermanfaat guna peningkatan kualitas kehidupan dan pembangunan. Pekerjaan dan tanggungjawab pengelolaan program harus dibagi pada semua pihak dalam mengelola informasi. proses penyebaran mendapat perhatian utama sehingga harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Proses sistem informasi ini bersangkutan dengan bekerja tidaknya fungsi-fungsi manajemen di Humas dan Badan Infokom. Untuk itu unit kerja yang lain siap memberi bantuan Humas dengan memberikan informasi yang diperlukan. bukan mekanis dan artificial.adanya visi dan misi tersebut karena seringkali ditempelkan di dinding dalam ruangan kerja. sikap dan perilaku mereka sebagai pemimpin dan pelaksana yang mempunyai komitmen. 6. Kualitas Proses Sistem Informasi Dalam pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah proses sistem informasi menempati kedudukan dan arti penting dan strategis. tidak harus secara mikro. Selain itu dari diri. bukan terpusat pada beberapa orang atau kepala dinas/kepala bagian tidak boleh mendominasi pekerjaan dan tanggungjawab melainkan harus mengkoordinasi dan mensinergikan berbagai pihak yang disertai pekerjaan dan tanggungjawab yang mengelola informasi.

atau diukur seketika. melakukan hubungan intern dengan satuan dan unit kerja di lingkungan Pemerintah Daerah. humas bisa lebih produktif menghasilkan keluaran dalam melaksanakan tugas yang diembannya. G. efisiensi. efektifitas. Tujuan adanya dua lembaga yang menangani informasi ini adalah untuk meningkatkan pelayanan informasi kepada masyarakat. Sebagai lembaga yang memiliki sumber dana yang cukup besar. Kinerja atau pencapaian tujuan ini erat kaitannya dengan masukan yang ada sebelumnya diantaranya sumber dana yang tersedia untuk menghasilkan keluaran berupa produktifitas kerja. Prestasi pelayanan informasi dapat berupa produktifitas. Dibentuknya Humas diantaranya sebagai juru bicara pemerintah. Sistem Informasi di Pemerintah Kabupaten . Kemandirian daerah ini diharapkan dapat mencapai apa yang diharapkan dapat mencapai apa yang menjadi tujuan kebijakan otonomi daerah. Humas juga menghasilkan tabloid yang peredarannya cukup besar meski masih di lingkungan pegawai pemerintah. Disamping itu dengan kewenangan lebih besar diharapkan daerah mampu menemukan masalah yang mencatat di daerahnya dan sekaligus mampu mencari solusi terbaik sesuai dengan kondisi dan karakteristik daerah. perhatian di fokuskan pada keluaran pelayanan informasi. Disamping keterbatasan dana SDM yang mengelola buletin tersebut pindah ke Humas untuk menangani tabloid Humas. bahkan buletin yang telah ada sejak Departemen Penerangan masih eksis. lancar dalam berkoordinasi dengan satuan atau unit kerja di pemerintah Kabupaten. yang salah satunya peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Di Kabupaten Sistem informasinya dilaksanakan oleh Humas dan Kantor Infokom. Keluaran yang terjadi di Infokom cukup memadai meski sumberdana yang tersedia terbatas. saat ini berhenti terbit. inovasi dan moralitas atau etos kerja. Model teoritis yang dimaksud digambarkan sebagai berikut : Kebijakan otonomi daerah memberi kewenangan lebih besar kepada daerah. media informasi dan publikasi. Sementara tugas Kantor Infokom adalah melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang informasi dan komunikasi yang meliputi informasi. Diantaranya melakukan kegiatan-kegiatan yang menggunakan sumber dana kecil atau tanpa sumber dana seperti pengkoordinasian penyampaian informasi secara terjadwal oleh dinas-dinas yang ada di Kabupaten Aceh Tengah radio yang dikelola Infokom. melakukan hubungan timbal balik antar pemerintah daerah dengan masyarakat umum dan organisasi kemasyarakatan untuk memperjelas kebijakan dan kegiatan pemerintah daerah. Pembahasan Berdasar uraian diatas. Kebijakan otonomi daerah melahirkan sistem informasi di daerah sesuai dengan apa yang diputuskan bersama antara Pemerintah Kabupaten dan DPRD menjadi Peraturan daerah (Perda). Kewenangan yang lebih besar ini diharapkan membuat daerah mandiri dalam mengurus kepentingan masyarakat berdasarkan aspirasi masyarakat setempat. dapat ditarik satu model teoritis pelaksanaan sistem informasi. Karena itu dalam kontek pengelolaan sistim informasi. Kegiatan yang memerlukan sumber dana yang besar sangat terbatas pelaksanaannya. Dalam pelayanan informasi Prestasi pelayanan informasi dilihat secara komprehensif dari pencapaian tujuan kegiatan program. bahkan bila mungkin diperhatikan pula hasil dan dampak pelayanan informasi. Keluaran pelayanan informasi berkaitan dengan kinerja atau prestasi lembaga pengelola informasi secara komprehensif. karena karakteristik masing-masing. melaksanakan usaha untuk peningkatan peliputan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat dan melaksanakan koordinasi/kerja sama dengan organisasi kewartawanan. Keluaran humas yang cukup menonjol adalah terlayaninya kebutuhan wartawan untuk memperoleh informasi melalui humas.

Bogor dalam acara Temu Ilmiah Peneliti X Badan Penelitian Dan Pengembangan SDM Depkominfo RI ** Penulis adalah Peneliti Pertama bidang Komunikasi Sosial pada BBPPKI Medan KEBIJAKAN .Jakarta. Tatang M. Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 52 Tahun 2002 tentang Perubahan Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 22 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tataruang. William A and Dan Voich. Yosep. Pengembangan SDM Peneliti Kominfo Menuju Masyarakat Informasi Sumatera Utara. or win Book. 2. Pokok-Pokok Teori Sistem. Basic System Conceps. prasarana dan sumber dana yang terbatas di Kantor Infokom membuat hasil akhir atau keluaran berupa hasil dan produktifitas kerja cukup terbatas. Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 8 Tahun 2002 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 26 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Kantor Kepala Daerah. 1974. anggaran operasional yang dimiliki bisa untuk membiayai kegiatan yang dilakukan. Malaysia. Information System Theory and Practice. Shrode. Perlunya kerjasama antar Humas dan Kantor Infokom dengan semua pihak utamanya Dinas/Badan/Kantor di Pemerintah Kabupaten untuk memberikan pelayanan informasi pada yang membutuhkan pelayanan. TELEPON SELULER DAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI MASYARAKAT PEDESAAN 2 (Studi Di Desa Pertumbukan. Suryadi dan Budimansah. dan diseminarkan pada tanggal 30 Oktober – 1 November 2008 di Cisarua.KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH H. DAFTAR PUSTAKA Gelinas.Kabupaten Langkat) Oleh Budiman ** 2 SISTEM PELAKSANAAN INFORMASI Telah diseminarkan pada tanggal 10 Juli 2008 di Pematangsiantar dalam acara Seminar Peningkatan. Amiran. Kegiatan Humas yang banyak berhubungan dengan unit kerja di Pemda yang memiliki tingkat eselon yang lebih tinggi bisa menjadi hambatan bagi humas meski gengsi posisi humas cukup tinggi. 1987. Organisasi and Management. 1990. Oranda Wiggins. co. Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia. Yogyakarta. 3. Sarana. Kesimpulan 1. sementara di Humas karena sarana.. Rineka Cipta. PT Raja Grafika Persada. New York. Kanisius. Sekretariat Daerah. Jakarta. prasarana. produktifitasnya cukup besar. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Kecamatan Wampu.2001. Riwu Kaho. Jr.

Hampir setiap orang menjadikan telepon seluler ini sebagai kelengkapan sehari-hari sebagai media komunikasi. Kata Kunci : Telepon Seluler.Efektivitas Komunikasi. Bagi orang komunikasi. Satu diantaranya adalah telepon seluler (telepon seluler. identitas personal dinyatakan bahwa telepon seluler sarana media untuk berkomunikasi yang dibutuhkan dan telah membantu masyaraka pedesaan. Hasil temuan penelitian berdasarkan kebutuhan informasi. Sebelumnya nyaris sistem komunikasi yang berkembang di Indonesia masih memakai peralatan sederhana (media tradisional maupun tatap muka). disamping tren teknologi ini terus berkembang. Tidak ada khalayak yang secara tegas menolak hadirnya teknologi yang banyak diminati oleh berbagai kalangan tersebut. Pemanfaatan telepon seluler ini berdasarkan aspek-aspek kebutuhan yang diadopsi dari asumsi-asumsi Teori Uses and Gratifications yang sudah lazim digunakan untuk meneliti media komunikasi modern yang berkonvergensi. Latar Belakang Masalah Kemajuan dan rambahan teknologi komunikasi berupa telepon seluler (telepon seluler) yang semakin pesat dan maju tidak dapat kita hindari. Penelitian ini bersifat deskriptif yakni hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya dengan memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. menyebutnya dengan komunikasi seluler.Abstrak Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Mulai dari fasilitas yang disediakan sampai bentuknya. Perkembangan pesat dalam dunia sistem komunikasi kita tentunya akan mengubah pola komunikasi yang terjadi di masyarakat selama ini. juga dari aspek pemanfaatannya telah merambah hingga ke pedesaan. diversi. Indonesia diramaikan dengan pola komunikasi melalui telepon seluler atau biasa disebut dengan HandPhone (HP). sebagai berikut: Data Perkembangan Pengguna Telepon seluler Di Indonesia . keadaan. Perkembangan jenis telepon seluler semakin hari semakin meningkat. atau kelompok pada masyarakat Desa Pertumbukan bagaimana dalam memanfaatkan telepon seluler.dan Masyarakat Pedesaan. gejala. Akan tetapi delapan tahun terakhir. Secara tidak langsung memang teknologi komunikasi membawa berbagai keuntungan bagi mereka penggunanya. Melihat data perkembangan pengguna telepon seluler di Indonesia terus berkembang pesat dari tahun ke tahun.

Dari pra-riset yang dilakukan peneliti (19-22 Februari 2008) di Desa Pertumbukan. Bagaimana tentang pola penggunaan telepon seluler dan sikap masyarakat desa.org/ diakases tgl 12/5/08 Dan hingga sampai tahun 2007 telah terdapat 85 juta pelanggan telepon seluler dan sementara hanya 10 juta pelanggan telepon tetap (fixed) di Indonesia (http://www. Teknologi telekomunikasi membuat dunia semakin dekat dan menyatu karena waktu dan jarak semakin pendek. Kabupaten Langkat diperoleh gambaran tentang pola penggunaan telepon seluler oleh masyarakat desa tersebut yakni. Kecamatan Wampu.com/lihat_opini.php?pg= 2007/10/27102007/65568 . Manfaat Secara praktis.Sumber : http://data. silaturahmi dengan keluarga atau teman.pintunet. Secara nyata jelas terlihat bahwa teknologi komunikasi memberikan keuntungan yang sangat besar bagi penggunanya terutama dalam hal berkomunikasi (komunikasi tidak lagi rumit seperti dulu). secara umum memberikan kontribusi yang baik dalam kecepatan mendapatkan informasi. Belum lagi berkembangnya model telepon seluler dari berbagai merek dagang yang semakin canggih dan terus bergulir yang menggoda konsumen melalui iklan dengan mengkaitkan terhadap gaya hidup tertentu. Ada yang menggunakan untuk kelancaran usaha/niaga hasil-hasil bumi atau pertanian.diakses tgl 11/4/08). Namun dengan memiliki telepon seluler juga telah menambah biaya pengeluaran bagi setiap keluarga terutama untuk pembelian pulsa. Dan secara teoretis. hal ini masyarakat menjadi konsumtif . pergerakan informasi berjalan dengan cepat dan menyebar sesuai dengan tujuan tergantung siapa yang membutuhkan. penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian. dimana dalam penelitian ini berusaha untuk menggambarkan motif kebutuhan dalam penggunaan telepon seluler bagi masyarakat . Permasalahan Dari fenomena yang terjadi pada masyarakat di atas maka untuk mencari informasi tersebut di rangkum dalam pertanyaan sebagai berikut : Bagaimanakah penggunaan dan sikap masyarakat Desa Pertumbukan terhadap telepon seluler ? Tujuan Untuk mengetahui bagaimana penggunaan telepon seluler dan sikap masyarakat Desa Pertumbukan.un. Namun kalau diperhatikan secara seksama pola penggunaan telepon seluler berdasarkan motif jelas berbeda dari aspek sosiodemografis masyarakat. kecanggihan dan fasilitas yang dimiliki oleh teknologi komunikasi menjadi tolok ukur seberapa besar fungsi dan kebutuhan dari teknologi komunikasi itu bagi penggunanya tanpa memikirkan dampak yang akan timbul dari pemakaian teknologi tersebut. sebagai hiburan dan lain sebagainya. hasil penelitian ini walau dalam cakupan wilayah penelitian yang kecil diharapkan dapat dijadikan masukan bagi pemerintah melalui Depkominfo untuk mengkaji stategi perkembangan TIK khususnya telepon seluler dalam hal tren penggunaannya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran pada studi Ilmu Komunikasi dan untuk mengetahui perkembangan serta penerapan teori uses and gratification. Kepintaran.

The mass media or other sources which lead to. tetapi yang lain mungkin memerlukan modifikasi untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru ini (Severin dan Tankard. Teori-teori yang sudah ada mungkin masih bisa dipakai. Telkomsel menambah BTS-nya dari 7. konsep dasar komunikasi massa mengalami perubahan. terutama telepon seluler.Need perhaps mostly unitended ones.uky.edu/~drlane/capstone/contexts. Blumler dan Katz (1974) mengutarakan bahwa seorang pengguna media mencari sumber media yang terbaik guna memenuhi kebutuhan mereka. baik dari model/merk maupun dari jumlah pengguna. Teori ini berpandangan bahwa manusia menggunakan media karena dianggap memiliki manfaat baginya. Di sini.156 sehingga terdapat pertumbuhan sebesar 57% (http://www. 1994). Sejak dicetuskan pertama kali pendekatan ini terus mengalami penyempurnaan oleh para ahli komunikasi melalui berbagai jenis penelitian.741 menjadi 12.Expectation. Menurut pencetus teori ini.Diffferential pattern of media exposure (or engagement in other activities)resulting in. Salah satu contoh gambaran lengkapnya sebagai berikut: sejak tahun 2005. Manusia sebagai individu aktif dan memiliki tujuan.pedesaan.htm ).htm ).com /divakar_ goswami. Karena media teknologi baru yang memberi banyak kemudahan bagi pengguna. Perilaku ini biasanya dipengaruhi oleh predisposisi sosial dan psikologinya. Walaupun mereka . mencontohkan jumlah produksi telepon seluler mencapai 6. 2005) Terkait dengan pola penggunaan telepon seluler. para operator melakukan ekspansi jaringan. Gurevitch. Teori komunikasi massa butuh penyesuaian dan beradaptasi dengan perubahan-perubahan itu. Dari penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan studi komunikasi serta mampu memperkaya varian. mereka bertanggung-jawab dalam pemilihan media yang akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan dan individu ini tahu kebutuhan mereka dan bagaimana memenuhinya. Tentang hal ini Katz dan Blumer mengatakan sebagai berikut : The social and psychological origins of. (Pendekatan Uses and Gratification berhubungan dengan kebutuhan sosial dan psikologis yang membentuk harapan pada media massa atau sumber lain yang mengakibatkan pola terpaan media yang berlainan yang menghasilkan kepuasan dan konsekuensi – konsekuensi lain yang tidak diinginkan) (Katz.majalahindonesia. Uses and Gratifications mengangkat bahwa pengguna memiliki pilihan-pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhan mereka (http://www. Needs which generate. Khalayak berperan aktif dalam mengambil bagian dalam proses komunikasi dan diorientasikan pada tujuan penggunaan media.5 miliar. Media dianggap hanya menjadi salah satu cara pemenuhan kebutuhan dan individu bisa jadi menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan mereka. teori Uses and Gratification dianggap tepat sebagai acuan untuk memahaminya. Pada tahun 2006 nilai investasi infrastruktur telepon seluler yang dilakukan operator lebih dari US$ 2. dan investasi di bidang infrastruktur telepon seluler sangat agresif dilakukan oleh berbagai operator. KAJIAN TEORETIS Kajian Pustaka Inovasi besar di bidang teknologi informasi dan komunikasi dalam empat dekade terakhir ini adalah ditemukannya telepon seluler atau handphone (HP). Bidang komunikasi sekarang ini sedang mengalami perubahan besar. Telepon seluler telah berkembang secara fenomenal. Blumer.6 juta. Teori ini mengusulkan bahwa khalayak (pengguna) memainkan peran dalam pemilihan dan penggunaan media. Goswami dalam tulisannya “Sustainability Proyek Harus Dipikirkan”. alternatif rujukan juga sebagai khasanah referensi dalam penelitian-penelitian tentang khalayak di masa mendatang terhadap pemanfaatan industri teknologi komunikasi dan informasi.

Simpulan studi yang dilakukan Leung dan Wei mengindikasikan bahwa teori Kegunaan dan Kepuasan. leading to resure for their easement via mass media consumption (Situasi sosial menimbulkan ketegangan dan pertentangan. Difusi Inovasi (Difusion of Innovations). Orang berusaha melepaskan dirinya dari hal itu dengan mengkonsumsi media massa ). kekinian. serupa dengan pemyataan Gilder. khususnya ketika dikombinasikan dengan teori lainnva. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Louis Leung dan Ran Wei (2000) mempelajari Kegunaan dan Kepuasan pada telepon seluler. Social situation gives to rise certain values. Informasi itu dapat dicari lewat media ). Blumer. Katz dan Blumer selanjutnya mengemukakan ada beberapa faktor sosial yang menyebabkan timbulnya kebutuhan seseorang yang berhubungan dengan media. Leung dan Wei mengamati. namun secara global dapat dikatakan bahwa pendekatan Uses and Gratification memiliki asumsi bahwa audien dipandang aktif. Leung dan Wei tertarik tentang mengapa orang menggunakan telepon seluler dan apakah alasan mereka yang berbeda dari mengapa mereka menggunakan telepon kabel dan jaringan.menggunakan sudut pandang metodologi yang berbeda-beda. Siranahan dan Morgan menambahkan bahwa teknologi baru selalu dikembangkan dengan mengadopsi isi pesan dari teknologi dominan sebelumnya. dapat menjelaskan penggunaan telepon seluler. Namun demikian pemikiran tersebut jelas bahwa pendekatan Uses and Gratification merupakan kritik dari sudut pandang teori-teori yang terdahulu. 1974) . dan transmisi budaya atau sosialisasi (Cultur Transmission and Socialisation). kesempatan . Mengenai fungsi media massa terhadap pemenuhan kebutuhan audien tersebut. dan intrumentalitas yang terdapat pada telepon seluler merupakan intrumen motivasi yang kuat yang diikuti dengan rasa ikatan kekeluargan atau sosial. yaitu : Social situation produces tensions and conflict. memiliki kebutuhan kebutuhan tertentu. Selanjutnya. dkk. Manfaat kepuasan langsung juga dapat dirasakan oleh penggunanya. dimana dan kapan saja (Leung dan Wei. (Situasi sosial menciptakan kesadaran akan adanya masalah-masalah yang membutuhkan perhatian dan informasi. Kemampuan Leung dan Wei untuk menerapkan teori Kegunaan dan Kepuasan pada teknologi baru dijelaskan oleh pengamatan Shanahan dan Morgan (1999) bahwa terdapat "konsistensi lingkungan dari isi pesan yang kita konsumsi dan pada sifat dasar dari lingkungan simbolik di mana kita hidup" meski jika terjadi perubahan distribusi teknologi. Juga dalam penggunaan media. korelasi (Correlation). Tiga fungsi ini kemudian ditambah oleh Charles Wright yaitu fungsi hiburan (Entertaiment). information about which may be sought in the media. Pada pendekatan ini audien tidak lagi dipandang sebagai pasif. tersedianya berbagai alternatif komunikasi. bahwa "telepon seluler baru menggambarkan suatu konvergensi teknologi hibrid ketika ia mengaburkan batasan antara industri telekomunikasi dan penyiaran. Gurevitch. melainkan memiliki harapan-harapan dan kebutuhan–kebutuhan. Social Situation creates an awareness of problem that demand attention. audien memiliki motivasi–motivasi tertentu yaitu mencari pemuasaan atas dasar kebutuhannya terhadap media massa tersebut.(West dan Turner. the affirmation and reinforcement of which is facilitated by the consumption media material ( Situasi sosial memberikan dukungan dan penguatan pada nilai – nilai tertentu melalui konsumsi media yang selaras ) (Katz. 2008) Dari studi Louis Leung dan Ran Wei (2000) yang menggunakan teori ini juga menyatakan bahwa mobilitas. dan secara sadar audien memilih saluran komunikasi dan pesan–pesan paling memenuhi kebutuhanya (Elihu Katz. Harold D Laswell pernah mengajukan 3 fungsi media yaitu yaitu pengawasan (Surveyllance). Di sini media dianggap memberikan hiburan. 2000).1999). Perkembangan lebih lanjut penggunaan teori Uses and Gratifications banyak diterapkan pada penelitian penggunaan media baru seperti internet ( computer mediated communication) bahkan pada telepon seluler.

Motif afektif menekankan aspek perasaan dan kebutuhan mencapai tingkat emosional tertentu (Rahmat. penguatan nilai. fungsi–fungsi ini belum cukup untuk menggambarkan seluruh fungsi yang ada. 1984). media massa memenuhi kebutuhan akan hiburan dan informasi . sedangkan kebutuhan afektif ditandai oleh kondisi perasaan atau dinamika yang menggerakan manusia mencapai tingkat perasaan tertentu. yaitu apa yang diharapkan audien dari media massa dengan apa yang diperolehnya dari media tersebut. kebutuhan atau motif yang menuntun seorang individu untuk menggunakan suatu media dipandang sebagai Gratification Sought atau kepuasan yang dicari atau diharapkan (Dimmick. ternyata terdapat jenis–jenis kebutuhan yang setiap kali muncul walaupun sampelnya berbeda-beda. Ahli komunikasi lainnya menyebutkan dua fungsi. pengetahuan. informasi dan lain sebagainya. yaitu kebutuhan yang bersifat afektif (yang berkaitan dengan perasaan) dan kebutuhan kognitif (yang berkaitan dengan pengetahuan). correlation (hubungan sosial). Menurut Stephenson media massa hanya memenuhi satu jenis kebutuhan saja. yaitu persahabatan. 1981. com). Jenisjenis kebutuhan ini kemudian oleh para ahli dikelompokan menjadi beberapa kelompok. Dari berbagai jenis kebutuhan tersebut. Perkembangan ini diawali oleh penelitian Palmgreen dan Rayburn pada tahun 1979. Dalam teori Uses and Gratification yang dikembangkan oleh Palmgreen dan Rayburn. Para peneliti media massa kemudian mencoba mengumpulkan seluas dan sebanyak mungkin daftar–daftar kebutuhan sosial dan psikologis yang dianggap audien sebagai terpenuhi dengan memanfaatkan media massa. “Relaxation” (relaksasi). Sejumlah ahli media akhirnya mulai beralih dari sekedar mengumpulkan jenis jenis kebutuhan audien kepada suatu model penelitian baru karena dari hasil–hasil studi mereka menunjukkan jenis–jenis kebutuhan yang sama. http://komunikasimassa-umy. media massa memenuhi kebutuhan akan fantasi dan informasi – menurut Weiss. yaitu melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. kegunaan sosial. dan “Interpersonal Utility” (kegunaan pribadi) (Palmgreen. Kebutuhan kognitif menekankan pada kebutuhan akan informasi dan pencapaian tingkat ideasional tertentu. yaitu referensi diri. “ Surveyllance” (pengawasan). Tetapi seperti yang di jelaskan Blumer (1994). 1984) . Motif kognitif menekankan kebutuhan manusia akan informasi dan kebutuhan untuk mencapai tingkat ideasional tertentu. dan pemahaman mengenai lingkungan. Personal relationships. “ Knowledge” (pengetahuan). “Entertaiment” (hiburan). Mengenai kebutuhan kognitif dan afektif Nurudin menjelaskan. mereka menemukan empat tipologi motivasi khalayak yang terangkum dalam skema media – persons interactions sebagai berikut : Diversion. Personal identity. dan hiburan dan transmisi kultural – seperti yang dirumuskan oleh Harold dan Charles Wright. sarana pelepasan emosi. Kemudian riset lebih lanjut yang dilakukan oleh Dennis McQuail dan kawankawan. eksplorasi realitas. kebutuhan kognitif adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi. 2005. “Diversion” (pelepasan). juga memuaskan rasa penasaran . atau hiburan dan informasi – menurut Wilbur Schramm. yaitu memuaskan hasrat bermain atau melarikan diri dari kenyataan. Dan setelah mengamati hasil–hasil yang diperoleh dilapangan. Surveillance (bentuk-bentuk pencarian informasi) (dalam Junaedi. Sedangkan menurut Wilbur Scramm. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan. 2000 ). Yang lain lagi menyebutkan tiga fungsi media massa dalam memenuhi kebutuhan.melarikan diri dari kesibukan sehari-hari. dan Dimmick. yang membedakan antara Gratification Sought (GS) dan Gratification Obtained (GO). William J Mc Guire (dalam Muchati 1972) kemudian mengelompokan jenis-jenis kebutuhan tersebut menjadi 2 dimensi. Dengan demikian kecenderungan penelitian tentang Uses and Gratification mulai bergeser dan bertambah maju. surveillance (pengawasan lingkungan). Secara umum kebutuhan yang sering disebut dan digunakan oleh para peneliti media adalah.blogspot.

(Wiryanto. keterampilan. menyenangkan. suatu loncatan dramatis dari model Jarum Hipodermik. Perubahan yang dimaksud dapat meliputi perubahan pengetahuan.dan dorongan untuk penyelidikan kita. atau tempat ibadat (Rahmat. Kita mengalami goncangan batin. sikap. Pada teori Uses and Gratifications. dan emosional. Pada saat yang sama. Menurut Steven M. Kita kesepian. 2000). frekuensi penggunaan. isi media yang dikonsumsi. pengetahuan dan keterampilan. dan media massa berfungsi sebagai sahabat. hobi. tetapi yang juga dapat diatasi dengan media massa. 2004). dan berbagai hubungan antara individu konsumen media dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media keseluruhan (Rahmat. 2007) Kemudian dari teori Utilitarian memandang individu sebagai orang yang memperlakukan setiap situasi sebagai peluang untuk memperoleh informasi yang berguna atau keterampilan baru yang diperlukan dalam menghadapi tantangan hidup. Ada berbagai kebutuhan yang dipuaskan oleh media massa. sikap atau nilai. Efek diartikan sebagai semua jenis perubahan yang terjadi didalam diri seseorang setelah menerima sesuatu pesan komunikasi dari suatu sumber. Kebutuhan afektif adalah kebutuhan yang berkaitan yang berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang estetis. maupun durasi penggunaan . Teori ini digambarkan sebagai “a dramatic break with effects traditions of the past”. kegiatan dan kebiasaan berperilaku (Rakhmat. seperti penerimaan informasi. Penelitian yang dilakukan International Telecommunication Union (2001) menemukan bahwa jumlah penggunaan telepon seluler . media massa dapat memberikan hiburan. Komunikasi massa dapat memberikan informasi. hiburan. (Nurudin. • Efek Afektif : timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan. di negara-negara berkembang telepon seluler telah mengurangi kesenjangan berkomunikasi di masyarakat. media massa memberikan kesempatan untuk melarikan diri dari kenyataan. kebutuhan ini dapat dipuaskan oleh sumber-sumber lain selain media massa. dan prilaku nyata. • Efek Behavioral : merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati. Ada 3 macam efek komunikasi massa. Efek ini ada hubungannya dengan emosi. manusia yang berperan dalam menentukan efek media. 2006). Tentu saja. Chaffe (dalam Rahmat. karena mengacu pada kegiatan menggunakan media (Kriyantono. dan persahabatan dapat juga diperoleh dari sumbersumber lain seperti kawan. perubahan kognitif. Selanjutnya terpaan media menurut Rosengreen (1974). 2000). dan perubahan prilaku (dengan istilah lain. antara lain: • Efek Kognitif: terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui. afektif dan behavioral). dipahami atau dipersepsi khalayak. meliputi polapola tindakan. kepercayaan atau informasi. Kita ingin mencari kesenangan. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan. disenangi atau dibenci khalayak. 2004) efek media massa akan menyebabkan perubahan yang terjadi pada diri khalayak. AM Townsend (2000) menyatakan. Sedangkan menurut Sari (dalam Kriyantono 2006) dapat dioperasionalkan menjadi jenis media yang digunakan. ketenangan. Elemen “pola terpaan media yang berlainan” pada Teori Uses and Gratifications berkaitan dengan media exposure atau terpaan media. Berbagai keuntungan relatif yang dirasakan dari telepon seluler yang mengungguli telepon tetap karena mobilitas dan efisiensinya yang lebih besar. 2001). perubahan perasaan atau sikap. dapat dioperasionalkan menjadi jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai jenis media. Dalam konsep ini hidup dipandang suatu medan yang penuh tantangan .

Surat. Kemudian sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah menggunakan lambang sebagai media pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua (sekunder) dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Bagi pelaku bisnis. Bahkan menurut data dari penelitian “Survei Siemens Mobile Phone” 58 persen orang Indonesia lebih memilih mengirim SMS daripada membaca buku. telepon (telepon seluler). tv. Sementara Hafied Cangara (1998) mengatakan bahwa komunikasi adalah sebuah proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya . dan banyak lagi adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi. ( Fritz E Simandjuntak dalam http://www. (Onong. (Nurudin. Ini artinya bahwa di samping menurunkan minat baca. Bandung.di 100 negara-negara miskin melampaui telepon tetap dan komputer. dan Semarang menunjukkan bahwa 51 persen mereka mengirim SMS 11-20 kali. Ini adalah dampak dari segi sosial budaya masyarakat atas penggunaan Hand Phone/ telepon seluler. 9 persen antara 201-300 ribu dan 8 persen lebih dari 300 ribu perbulan. kial. Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. Menurut Shannon dan Weaver (1949) komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. 50/26 Maret 2003) berdasarkan survei Siemens Mobile Lifestyle III menyebutkan bahwa 60 persen remaja usia 15-19 tahun dan pasca-remaja lebih senang mengirim dan membaca SMS (Short Messege Service) daripada membaca buku.com/kompas-cetak/0405/05/telkom/1002910htm ). 35 persen 2-10 kali dan 14 persen lebih dari 20 kali sehari. isyarat.kompas. telepon seluler lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Konseptual Dalam proses komunikasi dibagi menjadi dua bagian yakni secara primer dan sekunder. sebesar 73 persen mereka mengeluarkan biaya untuk membeli voucher perbulannya sekitar 100-200 ribu. Wilbur Schramm melalui hasil penelitiannya di negara-negara berkembang membuat laporannya pada tahun 1964 yang berjudul Mass media and National Development : The role of information in developing countries. biasanya dilakukan pada waktu senggang. gambar. Ini bisa dikatakan pula bahwa budaya baca yang sudah terancam dengan budaya dengar dan lihat diancam lagi oleh budaya mengirim SMS. yang paling pokok adalah dapat membantu menyebarluaskan informasi tentang pembangunan. dapat mengajarkan melek huruf serta keterampilan lainnya yang memang dibutuhkan untuk pembangunan masyarakat dan . Bahkan. Dalam hal ini komunikasi melalui telepon seluler seperti pengiriman SMS ternyata berdampak buruk untuk menurunkan minat baca masyarakat. warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu “menerjemahkan” pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan. radio film. Menurut data majalah Komputer Aktif (no. Bogor. SMS dalam hal ini lebih berfungsi sebagai hiburan saja. teleks. yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. Data yang merupakan fenomena ini jelas menjadi salah satu potret dampak komunikasi melalui telepon seluler. Pemanfaatan telepon seluler berbeda pada setiap kelompok masyarakat. majalah atau koran. Bahkan menurut data Kompas (4 April 2003) yang melakukan street polling yang dilakukan pada 100 remaja SMU di Jakarta. karena harga telepon seluler terjangkau. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa. yang isinya menyatakan media massa dapat berpengaruh dalam beberapa hal. sengaja atau tidak. 2005).2000). telepon seluler juga mengarahkan masyarakat untuk hidup konsumtif. Kalaupun digunakan untuk hal-hal yang sifatnya menghibur.

seperti yang diungkapkan oleh McLuhan (1964) yakni kehadirannya umumnya adalah sebagai the extention of man . ponsel umumnya juga mempunyai fungsi pengiriman dan penerimaan pesan singkat (short message service. Saat ini Indonesia mempunyai dua jenis jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM (Global System For Mobile Telecommunications) dan sistem CDMA (Code Division Multiple Access). dan rekreatif. game. integratif. dan kebutuhan manusia adalah berkomunikasi. Seperti dalam menyatakan diri. Mengikuti perkembangan teknologi digital. orang bisa mengubah fungsi ponsel tersebut menjadi mini komputer. edukatif. Selain berfungsi untuk melakukan dan menerima panggilan telepon. Pendapat ini dapat disimpulkan bahwa komunikasi memiliki andil dan sumbangan yang sangat besar dalam pembangunan. perkembangan ponsel akan lebih mengefisienkan waktu dan sistem kerja dibandingkan dengan komunikasi/ informasi secara manual. ketika berada dalam suatu lingkungan dan bercengkerama dengan lingkungan serta dengan proses tersebut. Selain fitur-fitur tersebut. SMS). Telepon genggam seringnya disebut handphone (disingkat HP) atau disebut pula sebagai telepon selular (disingkat ponsel) adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional. telepon genggam menjadi gadget yang multifungsi. namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel.wikipedia. dan information. menerima dan mengirim pesan . kini ponsel juga dilengkapi dengan berbagai pilihan fitur. Sejalan dengan berkembangnya masyarakat beserta peradaban dan kebudayaannya. manusia menyatakan dan mengembangkan perikehidupan yang bermasyarakat. komunikasi bermedia mengalami kemajuan pula dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Dengan demikian. kodrat. perangkat lunak pemutar audio (mp3) dan video. industrial. Pengembangan teknologi telekomunikasi terutama jenis telepon seluler ini membuka lebar penyampaian informasi dan komunikasi secara lebih mudah dan efisien. ponsel sekarang sudah ditanamkan fitur komputer. 3G).menjadi penyalur suara masyarakat agar mereka turut ambil bagian dalam pengambilan keputusan di negaranya (Schramm. ponsel menjadi salah . berbicara. dan layanan internet (WAP. kamera digital. GPRS. dan kapan saja. mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel. instruktif. Mencermati beberapa fungsi media massa yang ditulis Alamsjah Ratu Perwiranegara dalam Rafiq (1989) meliputi fungsi informatif. sebagai alat pembayaran. 1964). sehingga dapat memfasilitasi masyarakat dalam berkomunikasi dan membantu memperoleh informasi dengan cepat dan tak terbatas. Artinya . Jadi di ponsel tersebut.org/wiki/Telepon _genggam). eksistensi manusia. Berdasarkan fungsi-fungsi ini dapat disimpulkan bahwa media massa sebagai media pembangunan atau proses perubahan ke arah kondisi kehidupan yang lebih baik. Pentingnya peranan media (media sekunder) dalam proses komunikasi disebabkan oleh efisiensinya mencapai komunikan dimana. yang membutuhkan waktu yang lama dan tempat yang terbatas. Sekarang. Dengan memiliki keunggulan dalam efesiensinya ini. Ada pula penyedia jasa telepon genggam (provider) di beberapa negara yang menyediakan layanan generasi ketiga (3G) dengan menambahkan jasa videophone. persuasif. fitur ini sangat membantu bagi para pebisnis untuk melakukan semua pekerjaan di satu tempat dan membuat pekerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu yang singkat (http://id. Di dunia bisnis. maupun untuk televisi online di telepon genggam mereka. seperti bisa menangkap siaran radio dan televisi. memahami apa yang dilihat dan didengar. wireless). Kehadiran media tidak selalu menarik perhatian masyarakat. pembawaan. Menurut Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave (1990) membagi tiga tahap perkembangan peradapan manusia yakni Agricultural.

yang memiliki dan menggunakan telepon seluler sebagai salah satu sarana media komunikasi. Sedangkan yang dimaksud dengan masyarakat desa adalah masyarakat yang merupakan penduduk Desa Pertumbukan . tanpa mencari dan menjelaskan hubungan. Efektifitas komunikasi dalam penelitian ini dimaksudkan penyampaian/penerimaan informasi dan komunikasi secara lebih mudah dan efisien. hasil-hasil penelitian terdahulu. keadaan. integratif sosial dan kebutuhan akan pelarian. wireless). Dengan kata lain dalam penelitian ini hanya memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. gejala. maka diperoleh sampel sebesar 263 x 20% = 54 orang. integratif pesan. mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel. suratkabar. karena populasi dianggap homogen. afektif. atau kelompok tertentu. teman. yakni kebutuhan ini terpenuhi dengan hubungan keluarga. Disamping itu juga dilakukan wawancara terstruktur kepada beberapa sampel untuk memperkuat data yang terkumpul melalui kuisioner. dan pencarian informasi melalui internet. dengan acak sederhana. dalam memfasilitasi masyarakat dalam berkomunikasi dan membantu memperoleh informasi dengan cepat dan tak terbatas. Kabupaten Langkat. Dan pengambilan sampel mengacu pendapat Winarno Surakhmad (1998) yakni sebesar 20% . Metode Pengumpulan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yakni : Data Primer. Data Sekunder. Populasi Dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bertempat tinggal di Desa Pertumbukan. Definisi Operasional Telepon seluler dalam penelitian ini adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional. . komunikasi interpersonal. Kecamatan Wampu. Melalui sumber lain. METODOLOGI Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Pertumbukan.satu fenomena komunikasi bermedia yang terus berkembang serta semakin dibutuhkan oleh masyarakat. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif yakni hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya. Kebutuhan ini dapat terpenuhi dan dipuaskan melalui media massa dan sumber lain. makalah. diperoleh melalui buku-buku. namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel. Kabupaten Langkat. Selanjutnya pengambilan sampel dilakukan secara probability. maupun mengisi waktu luang dengan berbagai cara. tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi. Data pra-riset (19-22 Februari 2008) di Desa Pertumbukan terdata 263 orang yang telah memiliki telepon seluler. dalam hal ini merupakan sebagai populasi. Kecamatan Wampu. Katz dan Gurevitch membuat tipologi kebutuhan manusia yang berhubungan dengan penggunaan media yakni : kebutuhan kognitif. Masyarakat memiliki kebutuhan dan motif beraneka ragam berdasarkan karakteristiknya sosialnya Blumler. diperoleh melalui kuisioner yang diberikan kepada sampel terpilih.

Gohor Lama. Stabat Lama/ Baru. kemudian kelompok umur 22-26 tahun dan 37-41 tahun masing-masing 16. Pada awal pembentukan kecamatan ini meliputi : Desa Bingai.id/unit/hukum/pp/1999/043-99. Bukit Melintang. Tingkat Pendidikan Tabel 04.5%. Dan tabel 02. dan Langkat.bpkp.5% dan perempuan sebanyak 31. dan Pekerjaan. Labuhan Batu. Tabel 01. Jenis Kelamin.7% dan selanjutnya diikuti oleh kelompok umur 22-26 tahun dan 32-36 tahun masing-masing 13%.go. Jenis Kelamin Dari tabel 01. Tapanuli Utara. Tingkat Pendidikan.pdf ) Kemudian sekitar tahun 2006 dibentuk Desa Pertumbukan yang wilayahnya sebagian mengambil daerah Desa Bukit Melintang dan Desa Stabat Lama. Kebun Balok. Gergas. Toba Samosir. Kecamatan Wampu merupakan pemekaran dari sebagian wilayah Kecamatan Stabat. Berikut datanya yang ditampilkan dalam bentuk tabel. Penghasilan. Stabat Lama.Metode Analisis Data Data yang terkumpul seluruhnya akan ditabulasikan ke dalam tabel tunggal dan juga membuat beberapa tabulasi silang berdasarkan tujuan penelitian. Tabel 03. Usia Tabel 02. dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara.5%. usia dapat dilihat bahwa responden yang terbanyak terwakili dari kelompok umur 17-21 tahun sebanyak 31. jenis kelamin Responden dalam penelitian ini diperoleh laki-laki sebanyak 68. Besilam. Penghasilan . Karakteristik Responden Responden yang berjumlah 54 orang dalam penelitian ini dilihat dari aspek sosiodemografis-nya mencakup : Usia. Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap : Membuat tabel distribusi frekuensi (f) dan prosentasi (%) serta interpretasi untuk keseluruhan data penelitian selanjutnya mengadakan diskusi dan pembahasan hasil temuan data penelitian Hasil Penelitian Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Wampu merupakan daerah pemekaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Pembentukan 13 (tiga belas) Kecamatan di wilayah kabupaten daerah tingkat II Tapanuli Selatan. dan Sumber Mulyo ( http://www.

Dari tabel 03.4%. Sebanyak 44. serta tingkat sarjana (S1) sebesar 7. 500. serta diikuti tingkat penghasilan Rp.000. serta pegawai swasta sebesar 13%. Pekerjaan responden terbesar adalah sebagai wiraswasta/ berdagang yakni sebesar 57.000.1%.000. Sikap Responden dalam mencari informasi melalui telepon seluler dinyatakan sangat setuju oleh sebesar 50% . kemudian diikuti tamatan SD dan SMP pada urutan kedua masing-masing 24.8%.. 06 Mencari Informasi Tabel 07. kemudian antara Rp. sebesar 24.000.500.4%.500.1%.4% responden menyatakan setuju untuk membutuhkan informasi sosial melalui telepon seluler. mengenai Pendapatan responden yang terbanyak yakni diantara Rp. Tabel 05.000.9% menyatakan sangat setuju serta diikuti sikap ragu-ragu dan kurang setuju masing-masing sebesar 7. Pekerjaan Tabel 05.4%. kemudian sebanyak 38.000. 1. Kemudian tabel 04. dan dapat dilihat sebagai berikut : Tabel.8%. kemudian pada kategori lain-lain (petani. – Rp.000. 2. Tabel 08.7%.7%. pelajar) sebesar 14. Dan tabel 07. kemudian yang menyatakan setuju sebesar 44. Kebutuhan Informasi Kebutuhan akan informasi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap responden dalam pencaharian informasi melalui penggunaan telepon seluler yang tersaji dalam tabel.4% . Tingkat pendidikan responden yang terjaring menjadi responden terbanyak dalam penelitian ini adalah tamatan SMA yakni sebesar 40. Informasi Sosial Dari tabel 06. – Rp. Mengetahui Kondisi Daerah lain .Harapan dan Kebutuhan Tabel 09. serta dinyatakan kurang setuju oleh sekitar 3.000.1%. sebesar 14. 1. – Rp.000. 1. 1. yakni sebesar 48.

15 Meningkatkan Hubungan Silaturahmi . Selanjutnya diikuti sebesar 16.2%. Tabel 10. telepon seluler sebagai sarana bermain. masing-masing sebanyak 44. ternyata responden menjawab kurang setuju yakni sebesar 25. Tabel 14. untuk ini responden terbanyak menyatakan sangat setuju yakni sebesar 46.4% menjawab ragu-ragu. serta hanya 5. Sebanyak 48. Mengenai penilaian responden tentang kesesuaian harapan dan kebutuhan. Kemudian yang menjawab setuju dan tidak setuju masing-masing sebanyak 24. Pertanyaan ini terbanyak dijawab responden sangat setuju yakni sebesar 48.2% serta pernyataan tidak setuju sebesar 7. Kemudian diikuti pernyataan setuju sebesar 35. Tabel 11 Telepon seluler sebagai dorongan sarana untuk menambah pengetahuan sesuai dengan kepetingan. Dan dari tabel 13.3%.4% menjawab sangat setuju dan setuju. Menimbulkan kesenangan Tabel.12 Meringankan Beban Hidup Tabel 13. Telepon seluler Sarana bermain Tabel 12.7% menyatakan setuju.1%. Kebutuhan Diversi Pernyataan-pernyataan kebutuhan diversi dalam penelitian ini yang tersaji dalam bentuk tabel berikut : Tabel. baik dari sekitar atau luar lingkungan.6% menjawab ragu-ragu serta menjawab kurang setuju sebesar 3. Termotivasi Pelajari daerah lain Tabel 11. Kemudian sebanyak 5.7% untuk jawaban sangat setuju. Penggunaan telepon seluler untuk melarikan diri dari persoalan kehidupan (meringankan bebab hidup) ternyata responden menjawab tidak setuju yakni sebesar 35.9 % menjawab setuju dan diikuti sebesar 7. Kemudian menjawab kurang setuju sebesar 25. Kemudian sebesar 38.9%.Tabel 08.1%.7%.4%.7%. Dari tabel 09.9% dan diikuti menjawab setuju 16. Penambahan Pengetahuan Dan dari tabel 10. Selanjutnya sebanyak 40. Dengan adanya telepon seluler responden lebih terdorong untuk mempelajari sesuatu tentang lingkungan sekitar dan luar.1% responden sangat setuju dengan penggunaan telepon seluler akan lebih mengetahui keadaan kehidupan diluar daerah.6% menyatakan tidak setuju.

8% serta diikuti jawaban kurang setuju sebesar 16. 17 Mencari Persahabatan Tabel 16.7%. untuk itu sebesar 66. Telepon seluler menimbulkan kesenangan untuk pertanyaan ini responden terbanyak menjawab setuju yakni sebesar 40.5%. Namun terdapat juga responden yang menyatakan ragu-ragu dan tidak setuju yakni masing-masing sebesar 3.2%. Melepaskan ketegangan (stress) Tabel 21. Untuk mencari persahabatan baik dilingkungan sekitar ataupun di luar.4%.7%. Tabel 20. Kemudian dari tabel 15. Tabel 18. Selanjutnya yang menyatakan ragu-ragu sebesar 20.5% responden menyatakan ragu-ragu. Atasi masalah kehidupan sosial Dari tabel 18. Untuk meningkatkan hubungan silaturahmi dengan keluarga dan teman.7% responden menyatakan sangat setuju.2% serta diikuti sikap ragu-ragu sebesar 7.Dari tabel 14.7%.5% menyatakan setuju dan diikuti sebesar 22. dan yang setuju dinyatakan oleh responden sebesar 22.7%. Walau komunikasi tatap langsung lebih memberi makna dan pengaruh yang lebih besar. Atasi Sulitnya Perekonomian Tabel 19. 16 Mengisi waktu luang Tabel.2% menyatakan sangat setuju. Dan tabel 19. Walau secara tidak langsung telepon seluler telah membantu responden untuk memecahkan permasalahan ekonomi keluarga dan untuk ini sebesar 31. telepon seluler salah bentuk komunikasi bermedia ternyata sangat membantu. karir/pekerjaan. namun komunikasi bermedia melalui telepon seluler juga dapat membantu memecahkan masalah kehidupan sosial (lingkungan keluarga.5%. Kemudian jawaban sangat setuju sebesar 27. Kemudian tabel 17. Namun juga terdapat pernyataan responden yang ragu-ragu yakni sebesar 18.4%. kesejahteraan) hal ini dijawab setuju oleh responden yakni sebesar 48. Penggunakan telepon seluler bagian gaya hidup . kemudian yang menyatakan sangat setuju sebesar 22. responden menyatakan sangat setuju yakni sebesar 50% dan yang menyatakan setuju sebesar 40.1% dan yang sangat setuju sebesar 18. Tabel. Namun sebesar 18. Untuk mengisi waktu luang ataupun di saat santai telepon seluler digunakan responden bersama keluarga semisal menghubungi atau kirim sms kepada keluarga yang jauh dan teman. masyarakat. untuk itu responden sebanyak 37% menyatakan setuju.

Kerjasama dengan pihak lain Tabel 22.1% dan diikuti sikap setuju yakni 38. Selanjutnya terdapat responden yang menyatakan ragu-ragu yakni sebesar 13%. serta yang ragu-ragu dan kurang setuju masingmasing sebesar 7.9%. Membantu berkreasi Tabel 23.7% responden menyatakan sangat setuju dan 29. telepon seluler juga dapat membantu.7% dan diikuti sebesar 31.Informasi aktifitas . Dalam melepaskan persoalan sehari-hari yang dapat menimbulkan ketegangan (stress) melalui telepon seluler responden dapat menghubungi seseorang yang dianggap dapat memberikan jalan keluar jikalau untuk menjumpai seseorang secara langsung tidak memungkinkan. Untuk ini responden yang menyatakan setuju sebesar 40. Tabel 23.4%. untuk peryataan ini sebesar 53.8%. Keberadaan telepon seluler sudah membantu menjalin kerja sama usaha dengan pihak lain.Tabel 20. Penggunakan telepon seluler sudah menjadi kebiasaan sehari-hari dan telepon seluler selalu mendampingi aktivitas responden (gaya hidup) .1% responden yang merasa ragu-ragu. pernyataan ini disikapi oleh responden dengan menjawab sangat setuju yakni sebesar 48. tentu saja dengan adanya teknologi ini sangat memungkinkan seseorang dapat mengubungi orang lain di tempat yang jauh dan ini sangat efektif jika kalau harus menjumpainya secara langsung.4% menyatakan setuju dan diikuti sangat setuju oleh sebesar 27. Mencari ide/ pemikiran untuk berkreasi/berwirausaha.5% yang menyatakan sangat setuju. Kemudian sikap ragu-ragu diakui responden yakni sebesar 7. Kebutuhan Identitas Personal Dalam memenuhi kebutuhan indentitas personal dalam penggunaan telepon seluler dalam hasil temuan penelitian ini yang disajikan dalam bentuk tabel dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 22.2%.Relasional dengan pihak lain Tabel 25. Tabel 24. Namun terdapat sebesar 11. Hal ini diakui oleh responden sebesar 57.6% menyatakan setuju. Tabel 21.

Dalam pengembangan jaringan tentu akan membawa dampak-dampak positif yang diharapkan si pengguna.2% menyatakan setuju dan sebesar 24. hal ini lebih pada tingkat awal adanya penggunaan telepon seluler bagi masyarakat Desa Pertumbukan. Namun sebesar 18. sebesar 35.3 %. Terjalinnya hubungan dengan orang lain akan membantu untuk melancarkan/meningkatkan kerjasama usaha/kegiatan dengan pihak lain (relasional). Untuk lebih lanjut dapat disimak dibawah ini yang tersaji dalam bentuk tabel. Meningkatkan kerjasama usaha Tabel 27.3% dan sangat setuju sebesar 35.Informasi dunia usaha Tabel 28.5% menyatakan kurang setuju.2% serta responden yang merasa ragu-ragu sebesar 13%. Tabel 28.Tabel 24. biaya pembelian pulsa dan sebagainya.2%. Untuk itu responden yang menyatakan setuju sebesar 46. Untuk ha ini responden yang menyatakan setuju sebesar 48.1% dan untuk sangat setuju sebesar 35.3% responden yang merasa ragu-ragu.2% .3% responden menyatakan sangat setuju dan yang setuju sebesar 35. Alasan pernyataan ini karena adanya telepon seluler akan membuka isolasi informasi sehingga dapat membuka cakrawala ide atau untuk berkreasi dari potensi yang ada. Tabel 26. Untuk mendapatkan informasi tentang dunia usaha/kegiatan dengan pihak lain. Dalam membantu masyarakat melancarkan/meningkatkan kerja sama usaha dengan pihak lain.1% dan sangat setuju sebesar 33. Hampir sama dengan tabel sebelumnya. serta diikuti sebesar 9. Tabel 27. . serta terdapat juga responden yang merasa ragu-ragu untuk pernyataan ini yakni sebesar 14. telepon seluler bagi masyarakat desa telah sangat membantu. Penggunaan Telepon seluler Penggunaan telepon seluler bagi responden dalam penelitian ini akan meliputi diantaranya pengalaman responden dalam pengalaman dan penggunaan telepon seluler.1% menyatakan sangat setuju. Penilaian responden terhadap keberadaan telepon seluler telah membantu meningkatkan perekonomian masyarakat adalah sebagai berikut. Dan tabel 25.8%. untuk ini sebesar 46.Tingkatkan ekonomi masyarakat Tabel 26. diakui responden dengan menyatakan setuju yakni sebesar 48.

7%. Penggunaan jenis telepon seluler bagi responden hampir mayoritas menggunakan jenis GSM yakni sebesar 96.3% dan hanya 3.7% yang menggunakan jenis CDMA.Penggunaan SMS Dalam sehari Tabel 34. Alasan menggunakan Ponsel Tabel 32.2%.6%. Tabel 33. Tabel 31.5% sudah 4 tahun serta untuk sudah 2 atau 3 masing-masing sebesar 16.Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong responden untuk menggunakan telepon seluler adalah alasan mencari informasi merupakan faktor yang terbesar dipilih responden yakni sebesar 72.Tabel 29.3% telah memiliki atau menggunakan telepon seluler kurang dari 1 tahun. kuatnya penerimaan sinyal ataupun varian telepon seluler untuk jenis ini lebih banyak dan lebih murah. Total lamanya melakukan percakapan melalui telepon seluler dalam sehari responden yang terbanyak melakukannya adalah antara 15-30 menit yakni sebesar 38. Tabel 30. kemudian terdapat sebesar 18. Hampir mayoritas penggunaan jenis GSM disebabkan ketersediaan sarana dan prasarana di lokasi penelitian lebih memadai. Tabel 32. Penggunaan telepon seluler Tabel 30. Sistem Ponsel yang Digunakan Tabel 29. kemudian untuk menambah pengetahuan diakui responden sebesar 13% seta diikuti alasan untuk mengawasi lingkungan/ pengawasan sosial yakni sebesar 5. terutama harga bekas. Kualitas suara . Melihat pengalaman responden tentang menggunakan atau memiliki telepon seluler dapat dilihat pada tabel diatas yakni sebesar 33. Percakapan melalui Ponsel perhari Tabel 31. kemudian dibawah 15 menit yakni sebesar 37% serta diikuti lebih dari 60 menit yakni sebesar 13%.9%.

kemudian 5-10 kali sebanyak 38. Tabel 36.000. 50. Pendapat responden mengenai perbandingan biaya percakapan dengan waktu percakapan dinyatakan sebagian besar oleh responden tidak sebanding yakni sebesar 51. Tabel 39.6% untuk peryataan ragu-ragu. Perkembangan Pengguna Ponsel di desa .000.3%. 100.2%)..(35.Tabel 33.9% dan yang menyatakan sebanding sebesar 48.1%. Biaya SMS Tabel 35. serta diikuti sebesar 5. 34. Tabel 35. Biaya percakapan melalui Ponsel Tabel 36.(25.7%. fitur ini digunakan untuk mengirim pesan-pesan singkat.7%. serta diikuti pembelian lebih dari Rp.1%. Tabel 37. Penilaian mengenai biaya penggunaan sms.3%.8%). kemudian terdapat sebesar 14. 200.1% merasa ragu-ragu untuk memberikan pernyataan. Faktor penyebab ketidakseimbangan Tabel 40. Salah satu fasilitas fitur yang dimiliki telepon seluler dalam berkomunikasi secara tulisan adalah sms. 50. Kesesuaian Biaya dengan Percakapan Tabel 37.(14.000. diakui responden sangat murah yakni sebesar 66. kemudian kurang dari Rp. kemudian sebesar 11.000. Responden menggunakan fitur ini sebanyak kurang dari 5 kali yakni sebesar 40.5%. Mengenai biaya percakapan melalui telepon seluler diakui responden sebesar 37% adalah mahal.. Penilaian responden tentang kualitas suara yang didengar percakapan melalui telepon seluler dinilai jelas yakni sebesar 59.2% hal ini diakui responden bila menimbang jarak dan waktu yang harus dihabiskan bila akan menemui seseorang di suatu tempat yang jauh.s/d Rp. kemudian dirasakan sangat jelas yakni sebesar 33. Dan yang terakhir diakui sangat mahal oleh responden yakni sebesar 18.9%)..9%. Tabel. Biaya pembelian pulsa perbulan Tabel 38. Biaya pembelian pulsa yang dikeluarkan oleh responden rata-rata selama sebulan yang terbanyak adalah sekitar Rp. namun peryataan yang bertolak belakang diakui responden yang menyatakan biaya percakapan melalui telepon seluler dianggap murah yakni sebesar 35.8% yang menyatakan mahal. serta diikuti yang menggunakan sebanyak 10-15 kali dalam sehari yakni sebesar 11. Tabel 38.

4%.9%. Sikap Terhadap Kehadiran Telepon seluler Sikap ataupun pendapat responden dalam penelitian ini adalah meliputi beberapa kriteria tentang seputar kehadiran teknologi komunikasi dan informasi khususnya telepon seluler yang akan disajikan dalam bentuk tabel dapat diperhatikan dibawah ini.4%. namun terdapat penilaian responden yang ragu-ragu dan kurang maju terhadap perkembangan pengguna telepon seluler di desanya yakni masing-masing sebesar 1. Faktor penyebab ketidakseimbangan diasumsikan responden karena biaya percakapan terlalu tinggi (biaya talk time dianggap mahal) yakni dirasakan oleh responden sebesar 44.4%).9%).4% dan yang menolak pernyataan tersebut sebesar 42. Membantu kesejahteraan masyarakat desa Tabel 41. hal ini diakui responden yakni sebesar 57.3% dan diikuti Peningkatan Potensi SDA (pertanian. kemudian tingkat ekonomi masyarakat masih rendah diasumsikan 22.Tabel 39. kemudian dianggap sangat maju (44. Kemudian faktor penyebab lainnya sebesar 18. Kehadiran telepon seluler walau secara tidak langsung telah memberikan bantuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tabel 42.6%. Tabel 40. . kemudian Peningkatan ekonomi/kesejahteraan masyarakat sebesar 9. pendidikan dan SDM Masyarakat yakni sebesar 35.2% . Tabel 41.2% oleh responden.5%. Pengalaman Peningkatan Yang Dialami Tabel 42 Peningkatan kesejahteraan yang dirasakan menurut responden adalah Peningkatan kualitas pengetahuan. peternakan) yakni sebesar 7. Melihat perkembangan pengguna telepon seluler diakui responden untuk di daerahnya tergolong maju (51. diantaranya adalah responden merasa khawatir kehabisan pulsa.

3%.1 % menyatakan Sangat membantu hubungan komunikasi dgn keluarga. Tabel 44.9% dirasakan responden.5%. Pembahasan Masyarakat desa dalam memenuhi kebutuhan informasi termasuk informasi sosial sangat memerlukan hal ini terkait dengan sistem jaringan sosial yang terdapat di sekitar atau diluar lingkungannya yang pada gilirannya dapat memberikan pengetahuan atau menambah pengalaman.1%). dirasakan responden yakni sebesar 61. Dari pertanyaan terbuka yang dijaring oleh peneliti mengenai pendapat masyarakat tentang kehadiran Telepon seluler di Desa Pertumbukan. Masyarakat desa merasa dengan penggunaan telepon seluler ini sesuai dengan harapan dan kebutuhan. Mengenai dampak yang dirasakan responden dengan hadirnya telepon seluler menyebabkan pengeluaran semakin bertambah yakni diakui sebesar 33.Tabel 43.4%. hal ini dirasakan oleh responden yakni sebesar 18. sarana pelepasan emosi. serta dapat mengetahui atau menambah wawasan tentang keadaan/kehidupan di tempat lain (11. kemudian Telepon seluler hanya menjadi gaya hidup hal ini diakui responden sebesar 7. teman dan pekerjaan tanpa terkendala jarak. Kemudian memudahkan untuk mencari informasi dan menambah pengetahuan/pendidikan. Dampak Negatif Telepon seluler Dari Tabel 43. Penggunaan telepon seluler dalam memenuhi kebutuhan diversi . Kemudian dampak lainnya yakni mayarakat menjadi konsumtif yakni sebesar 1. merupakan upaya melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. Pendapat masyarakat Desa adanya Telepon seluler Untuk tabel 44. bagi masyarakat desa sangat membantu terutama menimbulkan perasaan senang terkait dengan meningkatkan silaturahmi dengan keluarga dan teman. mengisi waktu luang serta mencari .

Kebutuhan identitas personal (Personal identity). tgl 20/2/08). Pola penggunaan telepon seluler bagi masyarakat yakni cenderung menggunakan SMS karena biayanya relatif murah bila dibanding jika melakukan percakapan melalui telepon seluler. eksplorasi realitas. Kehadiran telepon seluler telah memberikan kemudahan berkomunikasi. Hasil temuan ini menggambarkan bahwa keberadaan telepon seluler telah membantu masyarakat desa untuk mencari ide/pemikiran untuk berkreasi. Jenis telepon seluler yang familiar dengan responden adalah sistem GSM hal ini disebabkan ketersediaan sarana dan prasarana di lokasi penelitian lebih memadai. Dalam kegiatan sehari-hari telepon seluler sudah menjadi pelengkap terutama untuk kemudahan untuk berkomunikasi. menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik didalam lingkungan sekitar maupun di luar. dan ini sesuai dengan harapan dan kebutuhan mereka. Namun tidak untuk melarikan atau melepaskan diri dari persoalan kehidupan dan kesulitan hidup. Dalam kegiatan sehari-hari telepon seluler sudah menjadi pelengkap terutama untuk kemudahan untuk berkomunikasi. Penggunaan telepon seluler di Desa Pertumbukan mengalami kemajuan yang sangat pesat. tentu saja hal ini tidak baik untuk anak-anak remaja. Keberadaan telepon seluler dapat dijadikan salah satu upaya melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. Pola penggunaan telepon seluler bagi masyarakat yakni cenderung menggunakan SMS karena biayanya relatif murah bila dibanding jika melakukan percakapan melalui telepon seluler. Namun terdapat hal-hal yang perlu diantisipasi terhadap dampak negatifnya. menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik didalam lingkungan sekitar maupun di luar dan secara tidak langsung diakui dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan perekonomiannya. Keberadaan telepon seluler telah membantu masyarakat Desa Pertumbukan untuk mencari ide/pemikiran untuk berkreasi. dan bagi masyarakat Desa Pertumbukan karena menimbulkan perasaan senang terkait dengan meningkatnya hubungan silaturahmi dengan keluarga dan teman. dan menambah wawasan. dan hal ini menunjang efektivitas dalam komunikasi bermedia. penguatan nilai. Sikap masyarakat terhadap hadirnya telepon seluler dewasa ini dirasakan telah memberikan kemudahan berkomunikasi. sarana pelepasan emosi. Poin-poin ini secara tidak langsung diakui akan membantu responden dan masyarakat dapat meningkatkan perekonomiannya. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Masyarakat Desa Pertumbukan memerlukan telepon seluler (media komunkasi) untuk memenuhi kebutuhan informasi termasuk informasi sosial bagi hal ini terkait dengan sistem jaringan sosial yang terdapat disekitar atau diluar lingkungannya yang pada gilirannya dapat memberikan pengetahuan atau menambah pengalaman. terutama harga yang bekas.persahabatan yang lebih luas. Namun terdapat hal-hal yang perlu diantisipasi terhadap dampak negatifnya. kuatnya penerimaan sinyal ataupun varian telepon seluler untuk jenis ini lebih banyak dan lebih murah. mengisi waktu luang serta mencari persahabatan yang lebih luas. Kemudian faktor utama yang mendasari penggunaan telepon seluler diakui oleh responden adalah untuk mencari informasi. . mencari informasi. mencari informasi. dan menambah wawasan. misalnya telepon seluler dijadikan sarana untuk menyimpan photo/video porno. hingga saat ini jumlah pengguna telepon seluler di desa ini mencapai kirakira 80% (wawancara dengan Majidul Fahmi. yaitu referensi diri. dan hal ini menunjang efektivitas dalam komunikasi bermedia.

Bandung. London. Wenner.. Teori Komunikasi : Sejarah. Husein. Pengantar Penelitian Ilmiah. California . Bandung. Psikologi Komunikasi. Mediamorfosis: Understanding New Media. Prenada Media. RajaGrafindo Persada. 1972. Kencana. III. Jr. Bandung. Singarimbun. PT. Ilmu. Leung. 1998. London. W. Remaja Rosda Karya. ____________. Metode Riset Komunikasi Organisasi. DAFTAR PUSTAKA Blumler. Masri. 2008. The Role of Theory in Uses and Gratification Studies. Philip.G. PT. Dinamika Komunikasi. 1997. Richard dan Lynn H. 2000. Dan Terapan di Dalam Media Massa. sebaiknya pemerintah dan pihak operator seluler memberikan kemudahan dengan membuat regulasi untuk menurunkan biaya operasionalnya. Louis dan Ran Wei. ABI/INFORM Global Muchati. ___________. 1991. Media Gratification Research. 1998. Erik. Sage Publication. Efenddy. Salemba Humanika. Palmgreen. 2001. Remaja Rosdakarya. The Models of Uses and Gratifications. PT. PT. James W. Rosengren. Sage Publication. PT. Nurudin. 2005. Roger. 2006. vol. Lain-Lain . Jakarta. 2002. & Elihu Katz. Grasindo. Jakarta. 2007. Remaja Rosdakarya. Remaja Rosda Karya. Dasar Metoda Teknik. Remaja RosdaKarya.Citra Aditya Bakti. Jakarta. Sage Publication. LP3ES Printing. Edisi Revisi. Jakarta. Pine Forge Perss. ____________. 2003. More than just talk on the move: Uses and gratifications of the cellular phone..Saran Telepon seluler salah satu media komunikasi yang sangat pesat perkembangannya dan populer telah memberikan kemudahan dalam berkomunikasi. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jalaluddin. Metode Penelitian Survey. Kriyantono. PT. Edisi Kelima. Bandung . Jakarta. Sage Publications.. Turner. West. Blumler. Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek. ___________. 1991. Gramedia Pustaka Utama. Metode. Karl. Pengantar Komunikasi Massa. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Rakhmat. RajaGrafindo Persada. 2004. Tarsito. Wiryanto. Media Massa dan Penerimaan Khalayak. mencari informasi. Rachmat. 1993. Jakarta. Winarno. dan menambah wawasan bagi masyarakat serta dapat membantu peningkatan perekonomian masyarakat. Metode Penelitian Komunikasi. Fidler. Bandung. Journalism and Mass Communication Quarterly. 2000. Sistem Komunikasi Indonesia. 1994. 2000. Surakhmad. Severin. PT. Jakarta. Thousand Oaks. Tankard. London. Bandung. Palmgreen. Jay.Onong Uchjana. London . Bagi masyarakat dihimbau untuk menggunakan media telepon seluler secara bijaksana dan memberikan manfaat yang positif. Jay G. 2005. PT.J. Summer. Umar. Teori Dan Filsafat Ilmu. Bandung. The Uses of Mass Communications Current Perspectives on Gratification Research. PT. Jakarta. 2000. Teori Komunikasi Massa.

http://bdg. Media. Sumber-Sumber Informasi.org/ diakases tgl 12/5/08 http://www.diakses tgl 2/02/08 .majalahindonesia. dan beberapa contoh Aplikasi Teori Komunikasi Massa Kontekstual.htm. 2005.wordpress.diakses tgl 2/02/08.org/wiki/Telepon _genggam. Komunikasi. Teori Komunikasi Massa Terhadap Individu. http://www.htm .htm .diakses tgl 11/4/08 . Fajar. hildadamayanti@yahoo.diakses tgl 8/02/08.Damayanti.edu/~drlane/capstone/ contexts.pikiranrakyat.uky. 2007. Junaedi.blogspot.2003. http://data. http://www..html. net.php? pg=2007/10/27102007/65568 . diakses tgl 18/1/08.diakses tgl 2/03/08.com/cetak/2005 /0105/20/cakrawala/ lainnya01. 2001.htm.un. 2005. Dampak Penggunaan Telepon Seluler (Handphone).com/lihat_opini.com/2005/11/teori-komunikasi-massaterhadap.com/ divakar_goswami. http://komunikasimassa-umy. Communication Contexts.kompas.pintunet.com/kompas-cetak/0405/05/telkom/1002910. diakses tgl 31/3/08 Saprudin.com/hild4.centrin. diakses tgl 26/8/07 http://www.com . Yusup. http://www.wikipedia.Wawan.id/~pawitmy/ -diakses tgl 26/3/08 ____________. http://id.Hilda . Pawit M.

Radio Swasta Nasional. build that community radio is expected will be able to give respective information contribution with community dynamics merchant Lease of Horas. But because limitation of time. This Research require to be conducted because pursuant to perception of writer of existence of this radio is in the reality woke up by community merchant of Lease of Horas Pematang Siantar. Key words: Community radio. Perubahan yang terjadi seiring dengan perubahan kebijakan politik yang terjadi Pasca Reformasi ( setelah tahun 1998 ). serta 56 lembaga penyiaran TV Swasta lokal yang tersebar di berbagai daerah. Proses demokratisasi yang sedang berlangsung didukung oleh semangat otonomi daerah. fund and readiness of researcher to check all community merchant of Market of Horas Pematang Siantar. Desire of the merchant community develop. regulasi tentang pendirian media massa mengalami kemudahan. hence taken some of pupulation become research sample with amount 10% from totalizing population become 54 responders. hence as research method which was used in this research was research survey by approach descriptive. 10 lembaga penyiaran TV Swasta dengan jangkauan nasional. To facilitate and more directional in executing of this research. yang selama era orde baru proses ini belum berlangsung optimal. As for problems to this research is how potencial Radio of Epiginosko to develop society merchant of Pasar Horas in Pematang Siantar City. Pasca Reformasi juga menimbulkan iklim yang kondusif lahirnya proses demokratisasi . development. As for becoming population of this research are 540 community Mrchant of Market in Pematang Siantar.Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar Sumatera Utara Oleh : Parulian Sitompul3 Abstract The topic of research in this article is ”Potency Community Radio of Epiginosko to Development Society Merchant of Pasar Horas in Pematang Siantar City”. society of Pasar Horas A. Pada era Pasca Reformasi. Demikian juga dengan radio swasta yang tergabung dalam PRSSNI ada sekitar 84 radio swasta siaran berdiri di Provsu (PRSSNI 2006). Identity motivation of personal with existence of community radio and also push community to get opportunities of hero/ commerce in Pasar Horas Pematang Siantar. As for result of from this research is seen from cognate motivation aspect very agree with existence of community radio of Epiginosko. Keadaan ini berdampak munculnya media massa baik cetak maupun elektronik. Dalam proses demokratisasi inilah peran media massa sangat diperlukan untuk memotivasi. yang memberi peluang bagi daerah untuk menciptakan sumber pendapatan 3 Penulis adalah Peneliti Muda bidang Komunikasi Sosial pada BBPPKI Medan. Latar Belakang Masalah Perkembangan media massa di Indonesia mengalami kemajuan pesat sejak terjadinya perubahan kebijakan tentang Sistem Penyiaran di Indonesia. Saat ini tercatat ada 1 lembaga penyiaran publik dengan jangkauan nasional yaitu TVRI. Demikian juga halnya dengan hadirnya TV. . Motivation version with existence of radio of community get easiness in life of them. menyadarkan bahkan menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

perdagangan dan industri kecil perlu dilakukan promosi melalui Radio Komunitas agar dapat menarik minat investor lokal maupun luar negeri untuk menanamkan investasinya di Kota Pematang Siantar. Kapankah Waktu dan bagaimanakah frekuensi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko? 4. maka peneliti dapat merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut. 3. Bagaimanakah motivasi Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah? 2. sehingga dapat berdampak kepada peningkatan pemasukan pendapatan daerah tersebut. perdagangan. Potensi-potensi dalam bidang pariwisata peternakan. Sektor pariwisata. bagaimakah Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar. optimalisasi fungsi lembaga penyiaran Radio Komunitas dapat mewujudkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi dari kondisi sekarang. Potensi daerah di Kota Pematang Siantar di sektor pariwisata. Kehadiran lembaga penyiaran komunitas (TV dan Radio Komunitas) dapat memberi kontribusi yang sangat berarti bagi suatu daerah. Apakah jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas Epiginosko ? 3. Pembatasan Masalah Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah : . perdagangan dan peternakan merupakan potensi yang dapat dioptimalkan agar dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD ). peternakan. Adapun permasalahan khusus dalam penelitian ini adalah : 1. lembaga penyiaran publik lokal ( TV/Radio Publik Lokal ). Dasar pertimbangan yang lebih spesifik dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas. penulis menganggap perlu dilakukannya suatu penelitian untuk mengetahui bagaimana sebenarnya bagaimakah Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar B.sendiri. Dimanakah lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? C. Dengan potensi daerah yang dimiliki. terutama sebagai sarana untuk mensosialisasikan kebijakan Pemerintah Daerah di tingkat Lokal dan sebagai sarana mempromosikan potensi daerah. Berdasarkan permasalahan inilah. Kehadiran Radio Komunitas dapat memberi kemudahan bagi masyarakat di Kota Pematang Siantar untuk mendapatkan informasi perdangan dengan biaya yang terjangkau dan kualitas siaran yang baik . dan industri kecil perlu dioptimalkan melalui kemasan program siaran yang mengedepankan upaya-upaya agar masyarakat bersedia berpartisipasi meningkatkan potensi daerahnya. serta Undang-undang Penyiaran No. serta lembaga penyiaran komunitas ( TV / Radio Komunitas ) memberi kesempatan bagi pengelola media massa untuk berperan secara optimal membangun daerahnya. Kota Pematang Siantar merupakan wilayah yang sangat potensial di Propinsi Sumatera Utara. 2. 32/2002 yang memberi peluang bagi tumbuhnya stasiun televisi swasta berbasis daerah.

Mengetahui Lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko di Kota Pematang Siantar. Dengan kata lain. 1981 mengartikan komunikasi massa sebagai setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar. Mengetahui Jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas. Uraian Teoritis Penelitian ini membahas tentang bagaimana masyarakat mendapatkan informasi daerah melalui Radio Komunitas. Mengadopsi kepada karakteristik media massa maka keberadaan Radio Komunitas dapat dijelaskan fungsi dan peranannya dalam kerangka teoritis mengenai komunikasi massa. Mengetahui motivasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah . Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Maksudnya pesan ditujukan kepada umum. Komunikator pada komunikasi massa merupakan lembaga. 2. Epiginosko 3. Artinya khalayak menerima secara serempak (simultan ) pesan yang disampaikan melalui media massa. Ia tidak mempunyai kebebasan sebagai individu. 2. yakni satu institusi atau organisasi. komunikator tidak mengetahui tanggapan khalayak (komunikan) terhadap pesan yang disampaikan. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah pusat Departemen Komunikasi dan Informatika dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan radio komunikator. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah Kota P. Mengetahui waktu mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar .1. Siantar agar dapat mendorong dalam pengembangan radio komunikator di P. Responden penelitian ini adalah masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar D. Dibanding dengan jenis-jenis komunikasi lainnya. komunikasi massa mempunyai ciri-ciri (dikutip dari Effendi (1993:22-26) adalah : 1. Karena komunikator pada komunikasi massa bertindak atas nama lembaga. 2. Komunikasi massa berlangsung satu arah. Artinya komunikan atau khalayak merupakan masyarakat yang heterogen. masing-masing . satu sama lain tidak saling mengenal dan tidak melakukan kontak pribadi. 2. 5. bukan kepada perseorangan atau kelompok tertentu. Keberadaannya terpencar. Tujuan dan Manfaat Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. 4. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan. maka ia bertinndak sesuai dengan kebijaksanaan ( policy) media yang memilikinya. 3. E. 3. Siaran Radio Komunitas baik yang berbentuk berita maupun informasi umum tentang potensi daerah Kota Pematang Siantar. Siantar. Seperti yang dikemukakan Melezke (1963) yang dikutip oleh Rakhmat. Dalam hal ini tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunmikator. Sebagai bahan masukan bagi pengelola managemen radio komunitas epiginosko dalam upaya peningkatan dan pengembangannya. Komunikan pada komunikasi massa bersifat heterogen. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum. Daerah penelitian ini adalah di Kota Pematang Siantar 3. 4.

agama. pengalaman dan sebagainya.Diversi . 1985 Model ini dimulai dengan Variabel Anteseden yang terdiri dari Variabel Individual yaitu antara lain usia. kebutuhan dapat terpenuhi melalui hubungan dengan . Gurevitch. Kebutuhan Kognitif 2.Pengetahuan Personal . organisasi dan lain sebagainya. Model Mass Media Uses and Gratifications menurut para pendirinya menyatakan bahwa awal kebutuhan secara psikologis dan sosial individu menimbulkan harapan tertentu kepada media massa atau sumber lain. Apakah Jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas Epiginosko ? 3.Frekuensi . pendidikan. Variabel Lingkungan juga masih merupakan bagian dari Variabel Anteseden yang biasanya terdiri dari lingkungan sosial. Bagaimanakah motivasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah ? 2. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Mass Media Uses and Gratifications . jenis kelamin. Penelitian ini akan mendeskripsikan tentang: 1. Blumler. Kebutuhan akan pelarian Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dan dipuaskan melalui media massa dan sumber lain . Melalui sumber lain . Katz. Blumler. afiliasi kelompok. Masyarakat dalam model penelitian ini memiliki kebutuhan dan motif beraneka ragam berdasarkan karakteristik sosialnya.Isi . Dimana Lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? Anteseden Media Variabel Individual Identitas Motif Penggunaan Efek .Jenis Isi Variabel Lingkungan Sumber : Jalaluddin Rahmat. kebudayaan. Dalam penelitian ini tidak semua komponen yang ada dalam model Mass Media Uses and Gratifications diteliti.Kognitif .berbeda latar belakang sosialnya seperti usia. Kebutuhan Integratif Sosial 5. Kapankah Waktu masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? 4.Kepuasan . Kebutuhan Afektif 3. tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan. Komunikasi massa menyiarkan informasi.Waktu . 1974 : 19 – 32). Gurevitch membuat tipologi kebutuhan manusia yang berhubungan dengan penggunaan media yang meliputi : 1.Ketergantungan . ( Katz. pekerjaan. Kebutuhan Integratif Pesan 4. gagasan dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak menggunakan media.

William Mc. 1988 : 153). makna. instink. Seperti penerimaan informasi. Kerangka teoritis yang digunakan dalam penelitian ini memang memodifikasi efek media massa terhadap sikap individu. sedang (3) efek konatif erat hubungannya dengan niat dan kecenderungan berperilaku menurut cara tertentu. sistem kognitif. surat kabar. 2001:33). menjelaskan efek prososial dari media massa itu sendiri. kebutuhan. Kedua. dan televisi. dan behavioral). hidup manusia lebih bermakna ketika manusia itu melibatkan nilai-nilai dan pilihan yang membangun . disebut tiga dimensi efek komunikasi massa. mengungkapkan bahwa komponen kognitif dan afektif banyak dipengaruhi oleh media komunikasi seperti film. (2) efek afektif yang berhubungan dengan emosi. pendekatan yang berkaitan dengan pesan media massa. mempertahankan dan pengaktualisasian diri. dalam pertumbuhannya manusia memerlukan orang lain. 2001 : 30 ). Tidak seperti pandangan Psikoanalisis yang cenderung menganggap manusia hanya dipengaruhi oleh naluri hewaninya dan Behaviorisme yang melihat manusia sebagai robot tanpa jiwa dan nilai. Chaffe (1980) dalam Rakhmat (1985:215-217). dorongan bagi seseorang untuk berbuat atau ide pokok yang selalu berpengaruh terhadap tingkah laku manusia ( Kartono. Dan ketiga. kreativitas. Kedua pandangan yang tadi disebutkan tidak menghormati manusia sebagai manusia. model Mass Media Uses and Gratifications diadaptasi untuk meneliti hubungan antara motif masyarakat dengan penggunaan radio. Manusia adalah pencari makna. dan motif ( Rakhmat. Sedangkan menurut Wahyusumidjo. Konsep manusia yang dibahas dalam penelitian ini adalah konsepsi Psikologi Humanistik yang melihat manusia sebagai manusia seutuhnya. menurut Gonzales (1978.Dougall mengemukakan faktorfaktor personal yang menentukan prilaku manusia. mendengarkan radio serta menonton televisi. Dalam pembahasan dan kerangka teoritis.keluarga. meninjau satuan observasi yang dikenai efek media massa. Berkaitan dengan prilaku manusia. Dalam penelitian ini. peneliti perlu mengawali dengan meletakkan konsepsi manusia karena yang diteliti adalah motif manusia. motivasi merupakan proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap. Teori belajar sosial dari Bandura (1977). perubahan perasaan atau sikap dan perubahan perilaku (perubahan kognisi. maupun mengisi waktu luang dengan berbagai cara. nilai . radio. Kebutuhan melalui media massa dapat dipenuhi dengan membaca surat kabar dan majalah. belajar dan tambahan pengetahuan. Keduanya tidak mampu menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan membangun seperti cinta. yaitu : (1) efek kognitif yang meliputi peningkatan kesadaran. motivasi berasal dari bahasa Latin yaitu ”motivas” yang berarti alasan dasar . komunikasi interpersonal. media massa di sini dimaknai sebagai Radio Komunitas Epiginosko. Menurut Carl Rogers dalam konsepsi Humanistik ini. Pertama. teman. dan sikap. mengemukakan tiga pendekatan untuk melihat efek media massa. dalam Jahi. Ketika membicarakan motif. 1984:178 ) . afeksi. Pendekatan tersebut. dan pertumbuhan pribadi (Rakhmat. manusia mempunyai prilaku meningkatkan. pendekatan dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada khalayak. Dengan kata lain. 1988:17). Manusia memiliki faktor-faktor personal (internal) antara lain sikap. Secara Etimologis. pikiran dasar. Mar’at (1981:124). perasaan. kepribadian. persepsi dan keputusan pada seseorang yang timbul karena adanya faktor intrinsik dan ekstrinsik (Wahyusumidjo .

Keahlian diukur dengan sejauhmana komunikan menganggap komunikator mengetahui jawaban yang benar. Menurut Cultip dan Center dalam Susanto (1982:138) mengatakan bahwa pesan yang efektif adalah pesan yang memiliki 7 C yaitu : 1. Appeals (imbauan) pesan mengacu pada motif-motif psikologis yang dikandung pesan (rasional. Demikian juga halnya motif menggunakan telepon pedesaan sabagai salah satu sarana berkomunikasi . Motif merupakan daya yang timbul dari dalam diri yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. fear appeals ). Contents yaitu faktor makna dan arti yang tersimpulkan dalam pesan terutama memperhatikan apakah pesan dipahami oleh komunikan. gaya pesan menunjukkan variasi linguistik dalam penyampaian pesan (perulangan. Pertama. struktur pesan ditunjukkan dengan pola penyimpulan. 2. emosional. dan kebutuhannya (need). Sedangkan kejujuran dioperasionalkan dengan persepsi komunikan tentang sejauhmana komunikan tidak memihak dalam penyampaian pesan. Dalam kata lain Efektifitas sebuah proses komunikasi ditentukan oleh tiga faktor. mudah dimengerti. Menurut Yoseph Klapper (Rakhmat. sikap. 2. Ketiga. Perceived Concern adalah kemampuan komunikator untuk melakukan penelitian/mersa peduli apakah komunikan tunduk kepada pesan. 2. dijelaskan lebih lanjut bahwa faktor intrinsik dalam diri manusia dapat timbul berdasarkan kepribadian. gaya pesan. Kebutuhan inilah yang menimbulkan motif. Perceived Control adalah kemampuan komunikator untuk melakukan pengawasan apakah komunikan itu tunduk kepada pesan atau tidak. 1984). Faktor Komunikator Komunikator dalam model ini harus memiliki kredibilitas. keanggotaan kelompok dan proses selektif atau biasa juga disebut faktor personal. familiaritas dan kesukaan. Jadi dapat dikatakan motif mempengaruhi seseorang dalam memilih sesuatu termasuk juga dalam memilih media massa dan mengkonsumsi isinya. ketiga faktor itu adalah sebagai berikut : 1. Credibility yaitu nilai kepercayaan khalayak atau publik kepada komunikator. 2001: 198) pengaruh Komunikasi Massa ditentukan oleh faktor-faktor predisposisi personal. menurut Rakhmat (1989:62). Motif merupakan salah satu faktor pembentuk prilaku seseorang dalam menanggapi sesuatu. harapan. Di dalam faktor personal inilah terdapat motif yang memberikan asumsi tertentu bagi orang dalam menanggapi sesuatu.Dari pendapat di atas. Kedua. imbauan pesan. 3. . Kredibilitas terdiri dari dua unsur yaitu keahlian dan kujujuran. pola urutan argumentasi dan pola objektifitas. 3. Menurut tafsiran sosiologis Max Webber . daya tarik dan kekuasaan. penjelasan atau dasar kebenaran tingkah laku yang telah dilakukan (Turner. reward appeals. Daya tarik ukur dari kesamaan. Context yaitu faktor yang menghubungkan isi pesan dengan keadaan lingkungan yang ada. Kekuasaan dioperasionalkan dengan tanggapan komunikan tentang kemampuan komunikator untuk memberikan ganjaran. motif merupakan deskripsi verbal yang memberikan gambaran. perbendaharaan kata). kemampuan untuk meneliti apakah komunikan mengikuti pesan yang disampaikan atau tidak. Perceived Security adalah kemampuan komunikator untuk memperhatikan/menyelidiki apakah komunikan itu tunduk kepada pesan. Prinsip-prinsip yang harus dianalisis adalah sebagai berikut : 1. Faktor Pesan Pesan terdiri dari struktur pesan.

F. Kerangka konsep terdiri dari variabel-variabel ( konsep-konsep ) dan . menyebutkan jika jumlah populasi dari 100 orang maka dapat diambil samnpel antara 10 %. yang dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data dari literatur dan bahan bacaan yang ada hubungannya dengan masalah dalam penelitian ini. Capability adalah faktor yang terakhir dalam penelitian pesan untuk disebarkan kepada komunikan. Metode ini digunakan karena penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menyebarkan kuesioner kepada responden terhadap sampel yang telah ditentukan. F. Faktor media Media yang diteliti adalah Radio Komunitas dengan asumsi semakin lengkap sarana dan prasarana yang disediakan untuk proses komunikasi maka hasil yang akan diperoleh akan semakin tampak lebih sempurna walaupun kadangkala banyak kendala yang harus dijumpai. Kerangka Konsep dan Operasionalisasi Variabel Kerangka konsep adalah sebagai hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil yang akan dicapai dalam penelitian ( Nawawi.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Survey. Metode ini digunakan berdasarkan penjelasan suharsimi arikunto.5 Metode Analisis Data Analisa data dilakukan secara deskriptif. Consistency adalah ada tidaknya pertentangan / pebedaan dalam bagian-bagian ataukah terdapat suatu pengulangan dengan variasi di dalamnya.3 Populasi dan Sampel Adapun populasi dalam penelitian ini adalah komunitas Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar. 2001 : 40 ). 7. F.4 Metode Pengumpulan Data a. Pengkajian Kepustakaan. Continuity adalah pesan yang bersifat kesinambungan 6.2 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah dilakukan di Kota Pasar Horas Pematang Siantar . Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 54 orang terdiri dari para pedagang di Pasar Horas Kota Pematang Siantar. 15% hingga 20 %. Pengambilan sampel tersebut diambil 10 % jumlah populasi. karena penelitian ini adalah penelitian survey dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang telah ditentukan. 3. b. G.4. METODOLOGI PENELITIAN F. Sementara sampel dalam penelitian ini adalah pendengar Radio Komunitas Epiginosko yaitu Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar. Dari data tersebut dianalisa melalui tabel tunggal sebagaimana lazimnya dalam metode deskriptif. Penyebaran Kuesioner F. Clarity adalah faktor kesederhanaan dan jelas tidaknya perumusan yang digunakan dalam pesan 5. F.

Diversi ( Kebutuhan Pelepasan Dari Tekanan. Pada umumnya pedagang pajak horas sangat setuju mencari informasi tentang berkaitan dengan pekerjaan sebesar (65%). Orientasi Kognitif ( Kebutuhan Informasi.hubungan-hubungan yang membentuk konteks kausal dari penyelidikannya.4 juta – 1. politik . e. b. Frekuensi penggunaan Isi ( Bahan Pembicaraan) Jenis Isi ( Klasifikasi : ekonomi.3 Variabel Penggunaan Media ( Penggunaan Radio ) a. c. pendidikan ) G.4 Variabel Efek ( Penggunaan Radio ) a. Jenis Kelamin Tingkat Pendidikan Tingkat Penghasilan Mencari Informasi . d. Mayoritas tingkat pendidikan pedagang yang menjadi responden dari penelitian ini adalah yang ditawar Oma (79%). Durasi yang digunakan. walaupun ada yang mengajukan untuk mencari informasi pekerjaan mereka sebesar (2. Merujuk dari kerangka teori di atas yang menghasilkan kerangka konsep kemudian diimplementasikan dalam Operasionalisasi Variabel penelitian ini adalah sebagai berikut : G. Usia Jenis Kelamin Tingkat Pendidikan Tingkat Penghasilan Keikutsertaan Organisasi Pekerjaan G. HASIL PENELITIAN Usia Responden Usia Responden pada penelitian ini adalah mayoritas berkisar diatas 42 x 4 (32%) sementara umur 27 -31 tahun hanya 4 % Jenis kelamin laki-laki ternyata lebidominan (66%) dibandingkan perempuan (35%). b. Kepuasan c. Identitas Personal (Memperkuat/menonjolkan sesuatu yang penting dalam kehidupan ) G. Pengawasan Lingkungan Sosial. Ketergantungan H. karena itu harus memerlukan desain riset ( Mayer dan Wood. 1984 .1 Variabel Anteseden a. Kebutuhan Hiburan ) c.2 Variabel Motif (Penggunaan Radio) a. Pengetahuan b. c. Eksplorasi Realitas ) b. d. Mayoritas responden berpenghasilan tiap bulannya dari dari hasil dagangan merekan antara 1. 263 ) . f.4%). sosial.9 juta sebesar (48%) dan diatas 2 juta (34%).

Siantar diharapkan dapat mendorong lebih banyak lagi berdiri dikota P.4%). -ragu (11%). Ragu-ragu (39%). Pemerintah Pusat dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika dapat memberikan pembinaan langsung maupun tidak langsung tentang manajemen pengelolaan radio komunitas secara modren. 1. Menyatakan sangat setuju (41%). mendapatkan wawaan. kemudian motivasiidentitas personal yaitu dengan mendengarkan radio mendorong dalam pemenuhan syarat untuk berwirausaha. Motivasi diversi responden mengakui dengan mendengarkan radio komunitas yaitu untuk kebutuhan pelepasan demi tekanan. Ragu-ragu (24%). Siantar. 4. I. mendapatkan kesenangan. Pada umumnya pedagang Pasar Horas P.Ragu Yang menyatakan sangat setuju (37%). Pada umumnya pedagang Pasar Horas mendengarkan radio ketika berada di Pasar Horas dan sebagian lagi menyatakan ada yang dirumah. Yang menyatakan sangat setuju dan setuju (78%) dan ragu-ragu (22%). Rekomendasi Pengelola/managemen radio efiginosko meningkatkan kualitas materi saran yang diberkaitan dengan aktivitas pedagang pasar horas yang berkaitan dengan nilai nilai keagamaan. mempelajati sesuatu.Radio Epiginosko sebagai sumber Informasi Keberadaan Radio Epiginosko sesuai dengan yang diharapkan dan kebutuhan Radio Epiginosko mendorong menam bah pengetahuan dunia usaha Radio Epiginosko memberikan kesenangan Radio Epiginosko mendorong berwira usaha Menyatakan sangat setuju (45%). Setuju (48%). 2. Daftar Pustaka . Pemerintah Daerah dalam hal pemko P. Kurang Setuju (2. Siantar mendengarkan radio pada pagi hari dan sampai sore hari masing-masing sebesar 28% dan ada juga pedagang sebesar 26%. sangat dan setuju (81%). kebutuhan mendapatkan hiburan. Ragu-ragu (9%). KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan 1. Setuju (46%). 2. Motivasi mendengarkan radio komunitas berdasarkan motivasi kognitif adalah untuk memperoleh informasi mendapatkan pengetahuan. Pada umumnya perdagangan Pasar Horas sangat setuju mencari informasi yang berkaitan dengan pekerjaan responden. 3.

Penyunting: Jalaluddin Rakhmat.dan Pemirsa. Jakarta. Foundation of Behaviour Research. Severin Werner J. Bandung. Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan. (1989). Krech. Teori Komunikasi Massa. 1998. Model . Erlangga. Tankard. Metode Penelitian Survai. Jr. Penyunting : Jalaluddin Rakhmat. Yogyakarta. Metode Penelitian Komunikasi. 1993. and Ballachey Egerton. Rakhmat. Sosiologi Komunikasi Massa. A Texbook of Social Psychology. New York University McQuail. Uni Primas. New York & London. Masri. Remaja Rosdakarya. 1993. Endang. 1985. Gajah Mada University Press. Melvin and Ball-Rokeach. Psikologi Komunikasi. Mass Communication Theories and Research. Suatu Pendekatan Praktik. Crutchfield. Individual In Society. Eduard dan Collin Mac Andrew. Wright. Jakarta. Waveland Press. Pendengar. Theories of Mass Communication. Alih Bahasa : Agus Dharma dan Aminuddin Ram. Diterjemahkan Trimo. Jakarta. Bina Aksara. Ltd.Model Komunikasi. Bandung. S. . LP3ES. Depari. DeFleur. Remadja Karya. Teori Komunikasi . dan Sofian Effendy (ed). Fred N. Denis. Nazir Mohd. Prosedur Penelitian. 1986. Bandung. International Student Edition. Deanna F. Alexis. 1982.Arikunto. Remadja Karya. 1962. Bandung. Charles R.Womack. Pendit. Secon Edition. 1990. Andrew. Pengantar Studi Penelitian Terhadap Pembaca. Audience Research. 2005. Building Communication Theory. (1991). Soedjono. Infante A Dominac. 1980. 1985. Ohio. Grid Publishing Inc. Alih Bahasa : Putu Laxmant S. Suharsimi. Tokyo: McGraw-Hill International Book Company. S. Kerlinger. Prenada Media Singarimbun. Richard S. Columbus. Sari. 1987. Remadja Karya. Tan. --------------------. 1989. Fisher. Teori-Teori Komunikasi. Aubrey B. Bandung: Remadja Karya. Metode Penelitian. Kogakhusa. Metode dan Terapan di Dalam Media Massa. David. 1988. Sejarah.Rancer. Jalaluddin. Ghalia Indonesia. James W. Jakarta ---------------. 1982.

sudah tentu pembangunan ini akan menimbulkan dampak yang negatif bagi masyarakat. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah yang banyak dibicarakan dan masih aktual serta menarik perhatian di Indonesia. Keberadaan media massa cetak lokal masih dapat dan sangat diharapkan oleh masyarakat dalam mendorong suksesnya pembangunan pertanian hortikultura. ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan pertanian hortikultura. A. Pematang Siantar. 10 Juli 2008 Penulis adalah Peneliti Pertama Bidang Media Massa Pada BBPPKI Medan . Tgl. Dengan kata lain. Kata–kata Kunci : Opini Publik. sehingga pelaksanaan pembangunan itu dapat berjalan dengan baik. kuat dan bermartabat. layak dan mempunyai wibawa.Populasi dari penelitian ini adalah masyarakat di dua desa di Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo yang membaca media cetak lokal. khususnya di Sumatera Utara adalah masalah pembangunan. * ** Telah diseminarkan di Siantar Hotel. Hal ini perlu diperhatikan dengan baik agar pembangunan ini tidak berjalan dengan semaunya saja ataupun sampai kebablasan. Kalau hal ini sampai terjadi. seharusnyalah media yang tangkas dan wartawan yang profesional sudah pasti sangat diperlukan karena memainkan fungsi.OPINI PUBLIK MENGENAI PERAN MEDIA CETAK LOKAL DALAM PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN HORTIKULTURA (Survei di Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo)* Oleh : IDAWATI PANDIA** Abstrak Penelitian Opini Publik Mengenai Peran Media Cetak Lokal Dalam Pembangunan Pertanian Hortikultura ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Hortikultura. media dan pembangunan tidak dapat dipisahkan dari perkembangannya. Peran inilah yang sangat diharapkan masyarakat yang dapat ditangkap dan diisi oleh media massa cetak lokal. apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pangsa pasar produk pertanian dan informasi tentang agrobisnis dan budidaya pertanian hortikultura. peran dan kewajiban yang amat menentukan. Jadi keduanya. Kemudian perlu diingat bahwa media yang sehat tentu saja menjadi mutlak kehadirannya untuk mendorong agar pelaksanaan pembangunan itu juga menjadi sehat. Sebaliknya pembangunan yang sehat sudah jelas sangat membutuhkan kebebasan pers yang sehat pula. Oleh karena itu kebebasan pers yang sehat ( healthy press freedom ) menjadi prasyarat yang mutlak menuju pembangunan yang sehat pula.Media Lokal Pertanian. Dan sudah barang tentu untuk mensukseskan pembangunan ini diperlukan peranan pers atau peranan media massa dalam menyampaikannya ditengah – tengah masyarakat. Hasil temuan menunjukkan bahwa masyarakat di dua desa yang menjadi lokasi penelitian. Namun ini masih terkendala karena terbatasnya sirkulasi dan keterlambatan media lokal sampai ke masyarakat terutama masyarakat pedesaan.

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan diatas dan mengingat bahwa salah satu fungsi pers yaitu sebagai fungsi kontrol. 10 ). industri dan perdagangan berbasis agrobisnis yang berdaya saing dan berwawasan lingkungan dan rehabilitasi lahan yang kritis ( BPS. 10 ). khususnya yang tersebar pada masyarakat Kabupaten Karo. potensi wisata dan pertanian yang lebih luas dalam merencanakan dan mengelola sumber daya yang dimiliki dan untuk memberikan fasilitas dan dorongan yang lebih terarah pada perkembangan pembangunan kerakyatan. Sora Mido. khususnya di Kabupaten Karo antara lain .sehingga opini publik menjadi sangat penting bagi pemerintah didalam melakukan perencanaan pembangunan. Tabloid Karo Membangun. Majalah Sibayak Pos terbitan Brastagi. dan Sirulo ( sumber : Dinas Infokom Karo ).Pelaksanaan pembangunan daerah yang demokratis digerakkan oleh tiga pilar utam yang saling berkaitan. peternakan dan sebagian kecil perikanan darat ( air tawar ). instutusi pers seperti suratkabar dan televisi turut menentukan berhasil tidaknya pembangunan daerah tersebut. sub sektor hortikultura. Kedua. Bagaimana pemanfaatan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura ? 2. Dinas Infokom. Jumlah rumahtangga yang berusaha disektor ini berkisar antar 70 persen sampai dengan 74 persen ( BPS.maka penulis tertarik dan merasa penting untuk melakukan penelitian bagaimana opini publik mengenai peran media cetak lokal dalam pembangunan bidang pertanian hortikultura ini. 2006. pariwisata. Akibatnya pembangunan daerah pun akan mandeg. Pilar utama yang kedua ini juga mempunyai peranan yang sangat menentukan didalam pembangunan daerah. Melalui media massa yang ada. Dengan melihat hal tersebut. Apakah kendala yang dihadapi masyarakat tentang media massa cetak lokal dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura. Tujuan Penelitian . C. lalu pemerintah daerah akan sulit menentukan arah dan kebijaksanaan pembangunan. institusi pers. Kontribusi pertanian yang diberikan Kabupaten Karo pada Propinsi Sumatera Utara persentasenya cukup besar. Ketiga pilar utama dalam gerakan pelaksanaan pembangunan itu adalah sebagai berikut : pertama. 2006. Sudah tentu semua kebijakan yang menyangkut pelaksanaan pembangunan daerah berada di institusi pemerintah daerah terutama Bupati dan Walikota. perkebunan. Misi ini tidak akan terwujud secara efektif tanpa fungsi dan peranan pers. institusi pemerintah daerah. Humas Pemkab Karo. Ketiga. masyarakat. B. Pilar utama yang pertama ini mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan pembangunan. Adapun jenis media cetak lokal yang turut mewarnai dan memberikan informasi bagi masyarakat. 3. Salah satu kabupaten yang sangat intens memperhatikan keberlangsungan pembangunan di Sumut adalah Kabupaten Karo. Pemerintah Kabupaten Karo menetapkan salah satu misi pembangunannya yang berbunyi ” Mengembangkan secara optimal pertanian. Kabupaten Karo adalah kabupaten yang sangat didominasi oleh sektor pertanian yaitu sub sektor pertanian tanaman pangan dan palawija. Tanpa keikutsertaan masyarakat. Pilar utama yang ketiga ini ikut pula menentukan keberhasilan pembangunan. pers tidak akan berkembang. Bagaimanakah opini publik mengenai peran media massa cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. sudah sepantasnya Kabupaten Karo memiliki corong yang kuat untuk mensosialisasikan kepada masyarakat melalui media massa. Rumusan Masalah Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1. Info Karo.

”yang didasarkan atas Pasal 17 Deklarasi Universal Hak-Hak Manusia: Setiap orang memiliki hak mengeluarkan pendapat:hak ini mencakup kebebasan menganut pendapat tanpa ganguan dan kebebasan untuk mencari.model Teori Normatif. Sebagai bahan masukan berupa data dan informasi bagi pemerintah. ikut memberhasilkan pembangunan daerah yang terrencana dan terarah.1994:4). Secara tidak langsung masyarakat ikut berperan serta dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura. Adanya kebebasan pers yang sehat menjadi prasyarat yang mutlak menuju pembangunan bidang pertanian yang sehat pula. Sebagai referensi bagi BBPPKI Medan dan instansi – instansi yang terkait untuk bahan kajian lanjutan. menerima.dan menyampaikan informasi dan gagasan melalui media manapun tanpa mempersoalkan batas negara. E. Teori media pembangunan adalah penerimaan pembangunan ekonomi itu sendiri (yang karenanya perubahan sosial). 2.Sebagai tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. Tabloid dan majalah lokal.yaitu Teori Media Pembangunan diadaptasi untuk meneliti bagaimana Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura. 2. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi masyarakat tentang media massa cetak lokal dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura.prinsip utama teori ini dapat diungkapkan sebagai berikut: . Sasaran Adapun sasaran dengan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.serta para pelaksana organisasi sosial itu(McQuail.Untuk mencapai tujuan tersebut. Teori Normatif (cabang filsafat sosial) yang lebih berkenan dengan masalah bagaimana seharusnya media berperan bilamana serangkaian nilai sosial ingin diterapkan dan dicapai dengan sifat dasar nilai-nilai sosial tersebut. Terwujudnya pelaksanaan pembangunan yang berjalan dengan baik. Kerangka Teori Kebutuhan melalui media massa dapat dipenuhi dengan membaca suratkabar. Manfaat Dan Sasaran penelitian Manfaat Penelitian 1. dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika RI untuk membuat kebijakan dalam bidang komunikasi massa mendatang. Untuk mengetahui bagaimana opini publik mengenai peran media massa cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. layak dan berwibawa. Untuk mengetahui bagaimanakah pemanfaatan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura.”Meskipun sukar menemukan kasus-kasus individu yang jelas menunjukkan teori media pembangunan.sebagaimana yang diharapkan oleh publik media itu sendiri dan organisasi. D.Unsur yang relatif baru dalam teori media pembangunan adalah penekanan pada “hak untuk berkomunikasi.yang ditekankan adalah tujuan kolektif dan bukan kebebasan individu.sebagai tujuan utama. 3.Jenis teori ini penting karena ia memang berperan dalam membentuk institusi media dan berpengaruh besar dalam menentukan sumbangsih media.Pada saat yang sama.dan sering kali “pembangunan bangsa” (nationbuilding)yang bersangkutan.kebebasan tertentu dari media dan para wartawan tunduk pada tanggung jawab mereka untuk membantu pencapaiannya. Dalam penelitian ini.

2. Kebutuhan integrative personal : memperkuat kredibilitas. dan status pribadi.hiburan dan intraksi sosial.dan pengertian tentang lingkungan sekitar.dengan alam sekitar.atau politik. Dari kerangka pemikiran inilah.negara memiliki hak untuk campur tangan dalam. melepaskan ketegangan.pengoperasian media serta sarana penyensoran.pengetahuan. Sedangkan Kerlinger. Opini merupakan ” expressed statement ” yang bisa diucapkan dengan kata – kata. Bagi kepentingan tujuan pembangunan. kepercayaan diri. Media hendaknya memperioritaskan berita dan informasinya pada negara sedang berkembang lainnya yang erat kaitannya secara geografis.Jr. Jadi konsep merupakan sejumlah ciri atau standar umum suatu objek. isyarat atau cara lain yang mengandung arti dan dapat dipahami maksudnya ( Meinanda.atau pengalaman keindahan.kesetian. Kebebasan media seyogyanya dibatasi sesuai dengan (1) prioritas ekonomi dan (2) kebutuhan pembangunan masyarakat. 1980.teman. 5. Berdasarkan kerangka teroritis diatas. 6. menyebutkan konsep sebagai abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal – hal khusus.Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat dicapai dengan dua cara. kebutuhan akan hiburan.kebudayaan. e.Ada beberapa katagori kebutuhan individu. adapun konsep – konsep dalam penelitian ini sebagai berikut Opini adalah suatu pernyataan mengenai sesuatu yang sifatnya bertentangan. Para wartawan dan karyawan media lainnya memiliki tanggung jawab serta kebebasan dalam tugas mengumpulkan informasi dan penyebarluasannya.yang semuanya berasal dari fungsi sosial dan psikologi dari media.subsidi. Sejalan dengan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa pengguna media secara umum adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi.kategori ini antara lain menurut Katz Hass dan Gurevitch (Marshall. f. c. b. peneliti akan menguraikan permasalahan bagaimana opini publik mengenai peran media lokal dalam pembangunan bidang pertanian hortikultura di Kabupaten Karo. Kebutuhan kognitif. Kebutuhan akan pelarian : hasrat melarikan diri dari kenyataan.” Mengartikan konsep sebagai generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu yang dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama. Kebutuhan interaksi sosial : memperkuat hubungan dengan keluarga. Bungin. Media seyogyanya menerima dan melaksanakan tugas pembangunan positif sejalan dengan kebijaksanaan yang ditetapkan secara nasional.atau membatasi. 2006 : 17 ). 3. d. yaitu: (1) Pemenuhan kebutuhan yang didapatkan dengan cara mengakses/menggunakan media yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan (2) Pemenuhan kebutuhan didapatkan dengan cara mempelajari isi informasi dalam media yang kemudian diterapkan dalam praktek. 4. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah istilah yang mengekspresikan sebuah ide abstark yang dibentuk dengan menggeneralisasikan objek atau hubungan fakta – fakta yang diperoleh dari pengamatan. F.kesenangan. .” ( Kriyantono. kebutuhan akan informasi. Kebutuhan afektif : kebutuhan untuk memperkuat pengalaman akan emosi.1.2000) yakni: a.dan pengendalian langsung dapat dibenarkan. Sementara pengguna media itu sendiri adalah orang-orang yang berpikiran rasionalyang secara aktif memilih media mana yang mereka anggap dapat memuaskan kebutuhan yang mereka ingin dapatkan. Media perlu memprioritaskan isinya pada kebudayaan dan bahasa nasional.

ia berada sama – sama mempunyai fungsi universal yakni : 1. melainkan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lembaga – lembaga kemasyarakatan lainnya. Ini berarti opini harus dinyatakan. pers berada dalam keterikatan organisasi bernama negara. Khalayak pembaca berlangganan atau membeli suratkabar karena memerlukan informasi . pengamatan lingkungan. Sehingga opini ini bisa ditemukan dari berbagai kalangan. Lasswell ( 1984. Selalu diketahui dari pernyataan – pernyataan. bersama – sama dalam sub sistem lainnya. Mengenai masalah yang bertentangan Disamping itu juga. 235 ). opini dapat dinyatakan melalui media massa seperti televisi. Harold Lasswell dan Charles Wright merupakan sebagian dari pakar yang benar – benar serius mempertimbangkan fungsi dan peran media massa dalam masyarakat. Opini publik merupakan pendapat yang ditimbulkan oleh adanya unsur – unsur sebagai berikut : 1. Wright menambahkan fungsi keempat yakni hiburan ( Severin. dimana pembentukan opini publik melalui berbagai hal. sehingga masih merupakan sikap. Walter. 1985. Mempunyai pendukung dalam jumlah besar. Adanya kesempatan bertukar pikiran atau berdebat mengenai masalah yang kontroversial tersebut 3. Selain ketiga fungsi ini. maka kita harus terlebih dahulu memahami bahwa pers adalah lembaga kemasyarakatan ( social institution ) dan merupakan sub sistem dari kemasyarakatan dimana ia berada. bahkan ditentukan oleh falsafah negara dan sistem politik negara dimana pers itu hidup. Pers di negara mana dan dimasyarakat mana. 2005.29 ). berbicara tentang fungsi media massa. 386 ) Media massa yang dimaksud disini adalah media massa cetak ( printed mass media ). 3. Karenanya eksistensi pers dipengaruhi. dengan demikian pengertian opini atau pendapat mempunyai dua unsur yakni : 1. 2. sebab sesuatu yang belum dinyatakan belum bisa disebut opini karena belum mengalami proses dalam diri manusia. sebab bagaimanapun yang berhubungan dengan fakta dilapangan adalah masyarakat – masyarakat yang mempunyai opini dan emosi “ ( Lipmann. Pada umumnya kalau kita berbicara mengenai pers sebagai media massa tercetak. Selanjutnya suatu pendapat harus dinyatakan terlebih dahulu agar dapat dinilai sebagai pendapat atau opini publik. 2. 2006. sifat dasar pengalaman komunikasi. Memberikan Informasi ( to inform ) Menyiarkan informasi adalah tugas suratkabar yang pertama dan utama. Ada pernyataan 2. opinion leader dan kegiatan komunikasi ( Hardiman. korelasi bagian – bagian dalam masyarakat untuk merespon lingkungan dan penyampaian warisan masyarakat dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Sementara. radio maupun suratkabar atau majalah. pakar komunikasi dan profesor hukum di Yale University mencatat ada 3 fungsi media massa. pelayanan terhadap publik. 1960 ). 87 ). 92 ). “Opini dan perasaan rakyat dapat disalurkan kedalam program – program pemerintah. 1998. Adanya publik yang terikat kepada masalah tersebut dan berusaha memberikan pendapatnya. Irish dan Protho ( Susanto. Karena opini mempunyai ciri – ciri antara lain : 1. Jadi yang dimaksud dengan opini publik adalah pendapat atau sikap masyarakat terhadap suatu masalah atau organisasi. dan sifat dasar pemberi informasi. Wright ( 1959 ) membagi media komunikasi berdasarkan sifat dasar pemirsa. Adanya masalah atau situasi yang bersifat kontroversial yang menimbulkan pro dan kontra. Bersama – sama dengan lembaga kemasyarakatan lainnya. Merupakan sinthesa atau kesatuan dari banyak pendapat. Dengan demikian maka pers tidak hidup secara sendiri.

5. menyebabkan suratkabar memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. suratkabar bisa dihadapkan kepada dua alternatif. dimana sampai saat ini sektor pertanian memberikan kontribusi lebih dari 60 . Menurut Totok Mardikanto:Pembangunan didefinisikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk melaksanakan perubahan – perubahan yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi dan perbaikan mutu hidup atau kesejahteraan seluruh warga masyarakat.baik masalah yang dihadapi oleh setiap aparat dalam setiap jenjang birokrasi pemerintah.maupun masalah-masalah yang dihadapi oleh warga masyarakat(Mastur Yahya). pers dan masyarakat adalah satu kesatuan yang saling membutuhkan satu sama lain.2. suratkabar memuat tulisan – tulisan yang mengandung pengetahuan. Mendidik ( to educate ) Sebagai sarana pendidikan massa ( mass education ). Secara implisit terdapat pada berita.terutama untuk jangka panjang.dikalangan peneliti dan penyuluh. Onong.yang masing –masing menekankan pendekatan berbeda. 4.Sedangkan Lionberger dan Gwin mendefinisikan pembangunan sebagai proses pemecahan masalah. dapat juga secara eksplisit dalam bentuk artikel atau tajuk rencana Fungsi Menghibur ( to entertaint ) Hal yang bersifat hiburan sering dimuat suratkabar untuk mengimbangi berita – berita berat ( hard news ) dan artikel – artikel yang berbobot.melainkan diperuntukkan pula bagi segenap Stake holder. Maksud pemuatan isi yang mengandung hiburan itu semata – mata untuk melemaskan ketegangan pikiran setelah para pembaca dihidangi berita dan artikel yang berat – berat. Kenapa seperti itu. karena pemerintah. Definisi pertama lebih menekankan pada masyarakat selaku penerima manfaat (beneficiaries) pembangunan.Benang merah dari definisi pembangunan ialah bahwa pembangunan bertujuan merubah”keadaan” masyarakat kearah yang lebih baik dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi.dan moral sebagai panglima (Mastur Yahya). sehingga khalayak pembaca bertambah pengetahuannya. Fungsi mendidik ini bisa secara implisit dalam bentuk berita. 3. 1981. Secara garis besar bisa diidentifikasikan tiga pola pemikiran dan praktek pembangunan yang berkembang di Indonesia.yaitu penekanan politik. sedangkan secara eksplisit terdapat pada tajuk rencana dan artikel Pengawasan ( social control ) Jika suratkabar benar melaksanakan tugas sosial kontrolnya. akan banyak tantangan yang harus dijawab dengan sikap yang berani dan bijaksana. mati terhormat karena memang prinsip.maka dalam hal ini masyarakat penting untuk dilibatkan. Sektor Pertanian Hortikultura Mengingat bahwa perekonomian masyarakat Karo sangat didominasi oleh sektor pertanian. Mempengaruhi ( to influence ) Fungsi mempengaruhi.Sedangkan definisi kedua menyiratkan bahwa pembangunan tidak hanya untuk masyarakat. atau hidup tidak terhormat disebabkan tidak mempunyai kepribadian ( Effendi.Upaya ini dilaksanakan oleh pemerintah yang didukung oleh partisipasi masyarakatnya. Dalam suatu situasi. apa yang dilakukan orang lain.ekonomi. 94 ) Pengertian Pembangunan Sukses tidaknya perencanaan pembangunan daerah itu sudah barang tentu tidak bisa terlepas dari media massa didalamnya. apa yang dikatakan orang lain dan lain sebagainya. mengenai berbagai hal di bumi ini mengenai peristiwa yang terjadi.dengan menggunakan teknologi yang terpilih. gagasan atau pikiran orang lain.

Ini dikarenakan ada juga sayur – sayuran yang dipetik dari tanaman tahunan seperti melinjo dan daun jambu mete. taman untuk rekreasi dan lain – lain. sebangsa pakis dan lain – lain. Land scaping : meliputi planning dan pengaturan daripada pekerjaan. tempat tinggal dan tanam tanaman umum. Umpamanya mentimun dalam arti botani adalah buah. sayuran dan tanaman hias (Edmon et al. . 4. Seed Production. tidaklah semata – mata berarti suatu bidang tanaman bunga – bungaan. Begitu juga dengan buah labu dalam hortikultura dan buah tomat di Indonesia termasuk dalam golongan buah. tetapi di negara yang sudah maju digolongkan kedalam sayur – sayuran. C. 2007 mengatakan bahwa hortikultura terdiri dari : A. Pengolahan dan penyimpanan hasil ( processing and storage ). Tanaman Buah – Buahan Ilmu yang mempelajari tentang tanaman buah – buahan disebut pomologi. 1975). sehingga perlu adanya pengalengan oleh industri – industri. sehingga hortikultura merupakan suatu cabang dari ilmu pertanian yang mempelajari tentang budidaya buah – buahan. daun kangkung. karena hampir semua hasil hortikultura bersifat tidak tahan lama.persen setiap tahun bagi pembentukan produk domestik regional bruto ( PDRB ) Kabupaten Karo. pangan. sayuran dan tanaman hias. tetapi juga tanaman yang tidak berbunga yang biasanya dipergunakan untuk menghiasi baik berupa semak – semak maupun rumput – rumputan. 2. sayuran dan tanaman hias yang termasuk dalam kelompok hortikultura adalah tanaman obat – obatan. umbi dan lain – lain tidaklah tepat. kebun ( nursery production ). Pengertian buah pada hortikultura agak berbeda dengan pengertian buah pada ilmu botani. Sedangkan dalam GBHN 1993 – 1998. Tanaman Bunga Ilmu yang mempelajari bunga – bungaan disebut floricultura. sedangkan orang – orang yang mengusahakannya disebut pomologist. Pemeliharaan tanaman – tanaman dalam taman. Pengertian bahwa sayur – sayuran hanyalah hasil yang dipanen dari tanaman tahunan ( annual crops ) atau tanaman muda/semusim baik yang menghasilkan buah. Meliputi seluruh tanaman dalam bidang hortikultura. 3. sedangkan orang yang mengusahakan disebut floricultureti. ataupu ekonomi. Tanaman Sayur – Sayuran Ilmu yang mempelajari tentang tanaman sayur – sayuran disebut olericulture dan orang yang mengusahakannya disebut olericulturist. Su’ud Hassan. selain buah – buahan. juga letak bangunan – bangunannya. untuk menghasilkan benih sayur – sayuran dan bunga – bungaan daerah tropis bukanlah suatu hal yang mudah. merupakan bagian penting terutama untuk benih–benih sayur– sayuran dan bungan–bungaan. Hortikultura berasal dari kata ” hortus ” ( garden atau kebun ) dan ” colore ” ( = to cultirate atau budidaya ). Hal – hal lain yang termasuk kedalam hortikultura : 1. batang. bahkan sering tidak berhasil sama sekali. Ini merupakan bagian penting pada hortikultura. jalan. Adapun sub sektor yang dominan bagi sektor pertanian yang disoroti disini adalah sub sektor hortikultura. Dengan demikian yang digolongkan kedalam buah dinegara ini adalah buah yang dihasilkan oleh tanaman tahunan ( perennial crops ) B. tetapi dalam arti hortikultura tergolong kedalam sayur – sayuran. Kebanyakan tanaman sayuran baru mau berbuah ( menghasilkan biji ) didaerah – daerah dingin. sehingga untuk Indonesia benih – benih terpaksa diimpor. Secara harfiah istilah hortikultura diartikan sebagai usaha membudidayakan tanaman buah – buahan.

Laubaleng. Memperbaiki gizi masyarakat. Memperluas kesempatan kerja 4. Memperbesar devisa negara 3. Melimpah ruah pada suatu musim dan langka pada musim lainnya 5. Peningkatan pendapatan petani dan. bahkan Israel dari gurun pasirnya. cabe. Munthe. mineral dan protein ( dari buah dan sayur ). Simpangempat.id /~agronomi /dashor.html ) Dengan mengetahui manfaat serta sifat – sifatnya yang khas. anggur dan lain sebagainya. petsai/sawi. lembaga. 1983. Tegasnya penelitian deskriptif hanya memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. Kutabuluh. kol.pertanian. Tiga Binanga. Oleh karena itu kita harus berani untuk memulai mengembangkannya pada saat ini. Metodologi Penelitian 1. Fluktuasi harganya tajam ( www. Perlu tempat yang lapang ( voluminous ) 3. 2. kentang. Tiga panah. buncis. gejala atau kelompok tertentu 2. di kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo. Brastagi. serta memenuhi kebutuhan rohani karena dapat memberikan rasa tentram. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian seseorang. jeruk. dalam pengembangan hortikultura agar dapat berhasil dengan baik. kini telah mengekspor apel. . Pemenuhan kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan Namun ketika kita membahas masalah hortikultura perlu diperhatikan pula mengenai sifat khas dari hortikultura yaitu : 1. Kabanjahe. Nikaragua dengan pisangnya. yaitu Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti.ac.Ditinjau dari fungsinya tanaman hortikultura dapat memenuhi kebutuhan jasmani sebagai sumber utama. Barusjahe. Hortikultura adalah komoditas yang akan memiliki prospek yang sangat cerah menilik dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian Indonesia dimasa mendatang. Juhar. Tidak dapat disimpan lama 2. Lokasi Penelitian Adapun lokasi penelitian ini hanya di fokuskan pada 2 desa . Cakupan sub sektor hortikultura yang dominan diusahakan oleh masyarakat Karo adalah tanaman sayuran dan buah – buahan yang meliputi tomat. Payung. markisah dan pisang. Seperti halnya negara – negara lain yang mengandalkan devisanya dari hasil hortikultura antara lain Thailand dengan berbagai komoditas hortikultura yang serba Bangkok. Belanda dengan bunga tulipnya. sedangkan jenis komoditas hortikultura yang diusahakan masih terbatas. masyarakat dan lain lain pada saat sekarang berdasarkan fakta – fakta yang nampak atau sebagaimana adanya ( Nawawi. Mudah rusak ( perishable ) dalam pengangkutan 4. keadaan. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Sedangkan peranan hortikultura adalah : 1. Merek. G. arcis. ketenangan hidup dan estetika ( dari tanaman hias/bunga ).63 ). wortel. Sementara pengembangan hortikultura di Indonesia pada umumnya masih dalam skala perkebunan rakyat yang tumbuh dan dipelihara secara alami dan tradisional. Kabupaten Karo terdapat 13 kecamatan yaitu : Mardinding.uns. jeruk. maka diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam terhadap permasalahan hortikultura tersebut. 5. bawang prei.

Disamping itu untuk memperkaya data.Dipilihnya hanya satu kecamatan mengingat kecamatan tersebut : a. 3. Wilayah Kabupaten Karo berada pada ketinggian 120 – 1. 154 ).400 meter diatas permukaan laut. Teknik Analisis Data Sesuai dengan sifat dan tujuan dari penelitian ini. H. sehingga rawan terjadi gempa vulkanik. Desa Surbakti yang pertaniannya kurang maju sebanyak 45 responden 4. 2006. 5. Transportasi dari pusat ibukota propinsi ( Medan ke Kabupaten Karo ) bisa ditempuh dalam beberapa menit. Kabupaten Karo terletak pada jajaran Bukit Barisan dan sebagian bersar wilayahnya merupakan dataran tinggi.maka kriteria yang ditentukan adalah masyarakat yang betul-betul petani holtikultura. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Letak geografis Kabupaten Karo berada diantara 2 0 50 0 –3 0 19 0 Lintang Utara dan 97 0 55 0 – 98 0 38 0 Bujur Timur dengan luas wilayah 2. Adapun batas – batas wilayah Kabupaten Karo adalah sebagai berikut : a. hasil – hasil penelitian dan laman website yang berhubungan dengan materi penelitian ini.yaitu sebanyak 900 orang. dimana dari 40 desa yang ada di Kecamatan Simpang Empat ditentukan 2 ( dua ) desa yaitu : a.25 Km 2 . Sampel Sampel dalam penelitian ini diambil melalui Teknik Pemilihan Sampel secara purposive ( purposive sampel technique ) . Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Toba Samosir .maka analisis penelitian dilakukan dengan metode pendekatan deskriptif kuantitatif didukung dengan data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara mendalam. saya mempurposive Kecamatan Simpang Empat sebagai lokasi penelitian.127. Berdasrkan data yang ada dikecamatan.dan akhirnya data lapangan yang telah diperoleh dikoding dan ditabulasi untuk memperoleh tendensi dengan persentase. Desa Ndokum Siroga yang dianggap pertaniannya paling maju sebanyak 45 responden b. Teknik purposive adalah suatu teknik yang mencakup orang – orang yang diseleksi atas dasar kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian ( Kriyantono. Dua gunung berapi aktif terletak di wilayah ini. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dilakukan melalui angket yang dipandu oleh enumerator ( pengumpul data ) dimana penulisan angket dilakukan melalui pertanyaan terbuka dan tertutup. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deliserdang b. desa ini paling banyak masyarakatnya bergerak dalam bidang pertanian hortikultura . c.Dari 13 Kecamatan diatas. Masyarakatnya betul–betul masyarakat petani yang bergerak dibidang pertanian hortikultura b. Populasi dan Sampel Populasi Populasi dari penelitian ini adalah seluruh masyarakat petani holtikultura di desa Ndokum Siroga dan desa Surbakti .dengan besar sampel 10% dari Populasi yaitu sebanyak 90 orang. juga dilakukan metode library research ( riset kepustakaan ) yaitu pencarian referensi/bahan – bahan dari buku – buku jurnal.

Hasil Penelitian. dalam arti bahwa suku bangsa Indonesia lainnya dapat diterima menjadi suku bangsa Karo dengan beberapa persyaratan adat.003 jiwa laki – laki dan 1.angin. Perekonomian Kabupaten Karo sebagian besar adalah sektor pertanian. Desa Ndokum Siroga Nama Kepala Desa : Supratman Surbakti. 90 jiwa tamat SD sederajat. dengan perbandingan jenis kelamin 890 jiwa perempuan dan 2. Sembiring. padi. Luas Desa Ndokum Siroga adalah 2. 85 orang SLTA sederajat dan 43 orang pernah ditingkat perguruan tinggi. Ginting. Sementara tingkat pendidikan di Desa Surbakti adalah 112 jiwa tidak bersekolah.834 rumahtangga ( RT ). jumlah penduduk 1. Asumsi ini terlihat seperti yang tertera dalam tabel penulisan laporan ini. palawija. luas daerah Desa Surbakti adalah 9. Sekitar 70 persen dari jumlah rumah tangga di Kabupaten ini berusaha disektor pertanian terutama bercocok tanam sayur – sayuran. Kecamatan Simpang Empat Luas wilayah Kecamatan Simpang Empat adalah seluas 225.57 Km 2 dengan jumlah penduduk 2. Jumlah penduduk 39. Saat ini wilayah Kabupaten Karo sudah didiami oleh beragam suku bangsa. Tarigan dan Perangin . 160 jiwa SLTA sederajat dan 52 jiwa tingkat perguruan tinggi. Media cetak juga dianggap sebagai salah satu faktor dalam mempercepat proses tranfusi informasi pembangunan khususnya bidang pertanian . Adapun mata pencaharian penduduk terdiri dari 491 KK ( 94% ) bertani dan sebanyak 31KK ( 6% ) adalah non tani.969 jiwa yang terdiri dari 522 KK. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Simalungun d. terdiri dari 5 ( lima ) dusun. Dari hasil penelitian tentang Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura terlihat bahwa masyarakat Karo.167 jiwa dimana perbandingannya 1. adat suku bangsa Karo terbuka. tanaman perkebunan dan peternakan 1. 60 orang SD sederajat. terdiri dari 2 ( dua ) dusun. Dalam pekembangannya. Kecamatan Simpang Empat telah dimekarkan menjadi 3 ( tiga ) kecamatan 2. Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam ( NAD ) Kabupaten Karo terdiri dari 13 kecamatan yang dibagi menjadi 248 desa dan 10 kelurahan. I. Merga Silima itu yakni : Karo – Karo. buah – buahan. tutur siwaluh dan rakut sitelu. Suku ini terdiri dari 5 ( lima ) marga.070 jiwa laki – laki. 160 orang SLTP sederajat. 170 jiwa tamat SLTP sederajat. Desa Ndokum Siroga adalah ibukota dari Kecamatan Simpang Empat.c.47Km 2 yang terdiri dari 40 desa.164 jiwa perempuan yang terdiri dari 689 KK. Jarak dari kabupaten 7 kilometer. hortikultura. Pusat pemerintahan Kabupaten Karo terletak di Kecamatan Kabanjahe yang berjarang sekitar 67 kilometer dari Medan Penduduk asli yang mendiami wilayah Kabupaten Karo disebut suku bangsa Karo.966 jiwa dan 10. Sementara tingkat pendidikan di Desa Ndokum Siroga adalah : 45 orang tidak bersekolah. Adapun mata pencaharian penduduknya terdiri dari 684 KK atau 94% adalah bertani dan sebanyak 41 KK atau 6 %nya bergerak disektor non pertanian. Sejak Januari 2007. Desa Surbakti Nama Kepala Desa : Jasa Surbakti.97 Km 2 . khususnya di lokasi yang dijadikan sebagai responden dalam penelitian ini masih menggunakan media massa cetak khusus media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura. 3. Suku bangsa Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi suku bangsa Karo sendiri.

Dengan kata lain mayoritas Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) yang dihasilkan dari sektor pertanian yang menghasilkan produk – produk pertanian berbasis agrobisnis. J. serta langkah – langkah strategis lain yang pada intinya adalah bagaimana melaksanakan kegiatan pertanian yang efektif. Salah satu diantaranya adalah upaya untuk terus memelihara pasar regional dengan mengundang pengusaha – pengusaha dari Singapore dan Malaysia yang tergabung dalam Agri-Food And Veterinery Autority Of Singapore ( AVA ). buah – buah dan juga bunga – bungaan. Begitu dominannya sektor pertanian yang dikelola daerah ini sehingga sampai saat ini kontribusi yang diberikan atas pembentukan produk domestik regional bruto ( PDRB ) hingga mencapai 60 persen. . dimana pada tabel dibawah ini terlihat bahwa media cetak lokal tersebut dianggap sangat penting bagi masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat petani dalam memperoleh upaya informasi. yang pada akhirnya berimbas kepada peningkatan kesejahteraan petani tersebut. Produk – produk andalan pertanian Kabupaten Karo ini adalah bermacam sayuran. Pembahasan Hasil Penelitian Kabupaten Karo adalah salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Sumatera Utara yang mengandalkan pendapatan masyarakatnya dari sektor pertanian. Solusi cerdas yang dipilih masyarakat petani dalam mencari informasi terbaru adalah melalui media massa yang ada di daerah. Jenis tanaman yang akhir – akhir ini sangat populer karena produk organik ini terhindar dari bahan – bahan kimia yang tidak bagus buat kesehatan. Penggunaan teknologi tinggi didalam meningkatkan produksi pertanian juga perlu diketahui. Malaysia. dan jenis organik seperti ini sangat digemari oleh konsumen di negara – negara Singapore dan Malaysia. cerdas dan mempunyai output yang besar. Memang ada sektor pariwisata yang juga menjadi andalan bagi Pemerintah Kabupaten Karo. termasuk didalamnya peluang bisnis pemasaran serta proses pasca panennya. Salah satu kesempatan yang harus dimanfaatkan para petani di Kabupaten Karo dewasa ini adalah didalam membudidayakan tanaman – tanam bersifat organik. karena inovasi – inovasi yang terus berkembang terkadang tidak didapatkan dari sumber informasi seperti penyuluh pertanian. Berbagai upaya dilakukan para petani didalam meningkatkan pengetahuannya dalam mengolah pertanian. Pemerintah Kabupaten Karo sendiri melalui Dinas Pertanian setempat selalu mengirimkan petugas – petugas penyuluh pertanian untuk membimbing para petani didalam melakukan aktivitas pertanian. China. Berbagai upaya terus dilakukan untuk tetap mempertahankan dan sekaligus meningkatkan pendapatan dari sektor pertanian ini. utamanya media massa lokal. Kedatangan para pengusaha Singapore ini ke Sumatera Utara bertujuan untuk melihat secara langsung proses produksi sayur – sayuran langsung ke tempat produksi sekaligus sebagai upaya penjajakan atas peningkatan kerjasama yang telah ada selama ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan sayur – sayuran di negeri Singapur tersebut. Sebagaimana kita ketahui Negara Singapore sangat mengandalkan pasokan sayur dan buah untuk dikonsumsi dari negara – negara tetangganya. Australia dan Indonesia. Jepang. Keberadaan sumber daya manusia dalam hal ini petani juga harus selalu mengup-grade pengetahuannya didalam hal pengolahan pertanian untuk meningkatkan produksi.hortikultura. Informasi seperti inilah yang sangat diperlukan oleh masyarakat petani. 95 persen pasokan sayur dan buah berasal dari negara negara seperti Thailand. Pemerintah Kabupaten Karo harus tetap konsisten didalam pengembangan kegiatan agrobisnis tersebut. namun hingga kini sektor pariwisata belum juga mampu menggantikan peran sektor pertanian yang telah begitu dominan. Namun upaya untuk mencari sendiri informasi tambahan yang paling terbaru juga perlu dilakukan. Dan tentu saja kondisi tersebut merupakan peluang yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

0 100 Pada tingkat kepentingan responden terhadap media cetak lokal dalam membantu usaha pertanian.Media Sibayak Pos Sora Mido Sora Sirulo Info Karo Karo Memba ngun Tabel 1 Frekuensi Membaca Media Cetak Lokal Desa Ndokum Siroga Desa Surbakti Sering F % F % F % F % F % 16 35.2 100 .6 6 13. Tidak ada responden yang menjawab tidak penting untuk materi pertanyaan ini.1 68.0 4 31.9 100 F 17 28 45 Surbakti % 37.2 10 22. terlihat bahwa responden di Desa Ndokum Siroga dengan persentase sebesar 44.6 100 F 18 27 45 Surbakti % 40.8 19 42.1 28 62.1 7 15. Tabel 2 Tingkat Kepentingan Media Cetak Dalam Membantu Usaha Pertanian Tingkat Kepentingan Media Sangat Tidak Desa Penting Total penting penting F 20 25 45 Ndokum Siroga % 44.0 11 24.8 Jarang 19 42.2 21 46. sedangkan untuk pertanyaan yang sama di Desa Surbakti persentasenya sebesar 40%.9 26 57. Tabel 3 Pengaruh Membaca Media Cetak Terhadap Responden Pengaruh Membaca Media Cetak Tidak Sangat Desa Berpengaruh Berpengaru Total Berpengaruh h F 14 31 45 Ndokum Siroga % 31.8 62.4 23 51.3 9 20.6 9 20 Tdk Pernah 10 22.2 18 40.6 Jarang 9 20.1 23 51. dimana pada tabel dibawah ini terlihat bahwa media cetak lokal tersebut dianggap sangat penting bagi masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat petani dalam memperoleh upaya informasi.4 10 22.0 60.2 Total 5 100 45 100 45 100 45 100 45 100 Media Sering F % F % F % F % F % 16 35.2 Sibayak Pos Sora Mido Sora Sirulo Info Karo Karo Memba ngun Tidak Pernah 20 44.2 Total 45 100 45 100 45 100 45 100 Media cetak juga dianggap sebagai salah satu faktor dalam mempercepat proses tranfusi informasi pembangunan khususnya bidang pertanian hortikultura.4% menganggap media cetak lokal sangat penting dalam membantu usaha pertanian mereka karena selain kurangnya keberagaman pilihan media yang ada. media lokallah yang paling tahu kebutuhan para petani .6 11 24.7 22 48.4 12 26.4 55. responden lainnya menjawab penting sebesar 55.0 12 26.7 17 37.6% didesa Ndokum Siroga dan 27% di Desa Surbakti.7 7 15.

4% responden di masing – masing desa menjawab tidak ada dampak media cetak terhadap peningkatan hasil pertanian Tabel 6 Media Massa Dimaksud Adalah Media Cetak Lokal Desa Media tersebut adalah media cetak lokal Setuju Kurang setuju Tidak setuju Total Ndokum Siroga Surbakti F % F % 26 57.4 8 17.8% responden didesa Surbakti menjawab media tersebut sangat berpengaruh terhadap responden karena dari medialah petani mengetahui informasi pertanian sehingga hasil pertanian mereka meningkat .2% responden pada masing – masing desa menjawab bahwa pengaruh media cetak terhadap perubahan yang nyata menjawab sangat positif Ndokum Siroga Tabel 5 Dampak Media Cetak Terhadap Peningkatan Hasil Pertanian Dampak Terhadap Peningkatan Hasil Desa Sering Kadang-kadang Tidak ada Total Ndokum Siroga Surbakti F % F % 13 28. terlihat bahwa media cetak tidak selalu memberikan peningkatan terhadap hasil pertanian. juga tentang pemasaran hasil pertanian.7%.8 29 64. sedangkan didesa Ndokum Siroga sebesar 66. terlihat sesuatu yang unik.6% di Desa Surbakti.7 36 80.9% responden di desa Ndokum Siroga menjawab berpengaruh.0 2 4.2 77.8 45 100 45 100 .9 7 16. dimana 28.1 % responden yang menjawab sangat berpengaruh.4 11 24.8%. 80% responden di Desa Surbakti menjawab bahwa media cetak hanya kadang – kadang memberi peningkatan terhadap hasil pertanian. dimana 37. Namun responden yang menjawab bahwa informasi media cetak tersebut sering memberi peningkatan hasil pertanian juga ada.9% responden di Desa Ndokum Siroga.8 8 17. sedangkan di Desa Surbakti yang memberi jawaban berpengaruh adalah sebesar 62. dimana masing masing responden di dua desa tersebut menjawab bahwa media cetak memberikan perubahan yang positif bagi responden karena dengan persentase 77.8 8 17.2 77.8 100 F 10 35 45 Surbakti % 22. dan 16.Anggapan bahwa media cetak berpengaruh terhadap responden terlihat seperti tabel diatas. sedangkan di Desa Ndokum Siroga 31. namun 68.4 45 100 45 100 Dari tabel diatas.4 2 4. bahkan 22.8 100 Untuk materi pertanyaan tentang pengaruh media cetak terhadap perubahan nyata responden didua desa tersebut.6 30 66. Tabel 4 Pengaruh Media Cetak Terhadap Perubahan Nyata Pengaruh Terhadap Perubahan Nyata Desa Sangat positif Positif Kurang positif Total F 10 35 45 % 22. bahkan ada 4.2 %.

Kendala yang dihadapi masyarakat tentang pembangunan bidang pertanian hortikultura melalui media massa adalah kurangnya informasi pertanian hortikultura. dan telah menembus pangsa pasar dunia .8% responden di desa Surbakti memberi jawaban senada. Pemerintah Daerah diharapkan untuk mengembalikan ikon Tanah Karo dengan kembali membudidayakan jeruk yang selama ini dikenal sebagai primadona daerah ini. karena media lokal umumnya terbit per satu bulan sekali. Disamping itu sirkulasi atau keterlambatan terbit media lokal juga menjadi kendala informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura melalui media massa. juga masih belum mencukupinya isi berita tentang peluang pasar domestik maupun luar negeri. 57.8% KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Beberapa point penting yang didapat dari penelitian Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura yang dilakukan oleh Tim BPPI Wilayah I Medan di Kabupaten Karo. Ini mungkin disebabkan masih kurang beragamnya pilihan media yang ada di desa tersebut. Masyarakat Kabupaten Karo ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. Saran a. 64. Apalagi petani juga masih belum merasa cukup tentang informasi pertanian dari penyuluh pertanian yang belum rutin dan intens didesa Surbakti 3.4% responden di desa Ndokum Siroga tidak setuju dengan jawaban tersebut dan 17. Namun antusiasme ini terkendala oleh media cetak lokal yang masih sulit didapat didesa – desa terutama desa yang masuk kepedalaman. Ternyata keberadaan media massa cetak masih sangat diharapkan oleh masyarakat dapat mendorong suksesnya pembangunan bidang pertanian hortikultura.4% responden di desa Surbakti menjawab bahwa media dimaksud adalah media cetak lokal. Kecamatan Simpang Empat. Pemerintah agar lebih memperhatikan nasib petani hortikultura di Kabupaten Karo. disamping itu dari sisi pangsa pasar wilayah ini berdekatan dengan Singapura dan Malaysia yang membutuhkan hasil pertanian dari Sumatera Utara 1. 2. Pemerintah Daerah harus berupaya dengan segala cara dan lebih maksimal untuk mengontrol keberadaan dan harga pupuk dan obat–obatan yang dibutuhkan masyarakat dalam kegiatan pertaniannya. serta mengawasi/menghilangkan peredaran pupuk dan obat – obatan palsu yang belakangan ini beredar dikalangan masyarakat petani 2. namun ada juga yang kurang setuju dengan hal tersebut.8% responden di desa Ndokum Siroga memberi jawaban senada. terutama didesa Surbakti antusias masyarakat tentang media lokal masih tinggi. dibandingkan dengan desa Ndokum Siroga yang ada di pusat kecamatan. Dan peran inilah yang diharapkan masyarakat dapat ditangkap dan diisi oleh media massa lokal. apalagi mengingat bahwa Sumatera Utara termasuk daerah potensial bagi pengembangan tanaman hortikultura. dimana 24. apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pasar produk pertanian dan informasi tentang budidaya pertanian hortikultura. bahkan masing – masing responden didua desa tersebut ada yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut dengan nilai 17. tepatnya didesa Ndokum Siroga dan desa Surbakti adalah sebagai berikut : 1.Dari mayoritas media massa sebagai sumber informasi pembangunan .

uns. Onong. 2006. 2007. Alumni Bandung Hardiman. 1998. Jalaluddin. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar.suarapembaruan.html www. Walter. Perlu adanya penanganan pengelolaan hasil pasca panen 4. 2007. BPS. Bandung Rakhmat. Teknik Prakis Riset Komunikasi. Gagas Ulung. 1998. Remaja Rosdakarya. Rachmat. Opini Umum. Yayasan Obor Indonesia. Erlangga. Werner dan Tankard James. Peternakan. Bandung Severin. Karo Program Pembangunan Pertanian Kecamatan Simpang Empat. Sirkulasi media lokal lebih ditingkatkan baik dari segi mutu (kuantitas dan kualitas).pertanian. Leksikon Komunikasi.org/opini-mastur-yahya. Jalaluddin. Denis. Psikologi Komunikasi. Jakarta. dan bila memungkinkan program koran masuk desa dihidupkan kembali . Daftar Pustaka Effendy. 1994. Teori Komunikasi: Sejarah. Metode dan Terapan Didalam Media Massa. Hasan. 1981. Yayasan Pena. Pradya. 400 Istilah PR Media & Periklanan. Prenada Media. Ima. Simpang Empat . dimana isi koran tersebut diharapkan memiliki muatan lokal yang memuat informasi mengenai tata cara dan budaya pengelolaan tanaman hortikultura secara tepat dan efisien. 2008. Jakarta Kriyanto. 1984. Kencana Prenada Media Grup. Banda Aceh Sumber lain http://www. Jakarta Lippmann. 2006. Perikanan dan Perkebunan Kabupaten Karo Rencana Kerja Penyuluh Pertanian. Jakarta Su’ud. 2004.id/~agronomi/dashor.com/new/2006/06/21/editor/edi07.htm. Dinas Pertanian. 2006. Ikhtisar Eksekutif Pembangunan Kabupaten Karo.3. Jakarta Rakhmat.rehabrekon buyadong. Rusdakarya.. 2005.acehinstitute. Pengantar Ilmu Pertanian. Jakarta McQuail. Paramita.ac. Dimensi – Dimensi Komunikasi. Metode Penelitian Komunikasi.html http://www.

pertahanan keamanan dan lain-lain yang akan mempengaruhi nilai-nilai nasionalisme bangsa. Menurut Edison A. Sebagai sebuah proses.bangsa di seluruh dunia. dalam interaksi antar bangsa. Secara umum globalisasi dapat dikatakan suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Teknologi Informasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey sampel dengan wawancara dan kuesioner serta dilengkapi dengan observasi sebagai teknik pengumpulan data. Kewarganegaraan. globalisasi berlangsung melalui dua dimensi. kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa. sosial budaya. Hal ini dilihat dari beberapa faktor pendukung yang kurang terlaksana dengan baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di kota Makassar kurang optimal. Jamli (Edison A. Kebudayaan PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi kehidupan suatu bangsa. Dengan kata lain proses globalisasi akan berdampak melampaui batas-batas kebangsaan dan kenegaraan. yaitu kemampuan pemerintah dan kemampuan masyarakat kurang mampu memberikan dukungan terhadap pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi dalam perkembangan kebudayaan di kota Makassar. Pengaruh globalisasi dirasakan di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik. 2005). Hal ini tentunya tidak terlepas dari . ideologi. Tujuan penulisan penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di kota Makassar. Dimensi ruang yang dapat diartikan jarak semakin dekat atau dipersempit sedangkan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. fasilitas yang digunakan baik dari segi kualitas maupun kuantitas kurang mampu mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar serta sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi kurang optimal. Jamli dkk.ANALISIS FAKTOR PENDUKUNG PEMANFAATAN GLOBALISASI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN DI KOTA MAKASSAR RUKMAN PALA ABSTRAK Tulisan ini berjudul analisis faktor pendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi dalam pengembangan kebudayaan di kota makassar. yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Kata Kunci : Globalisasi. ekonomi.Khususnya kemampuan masyarakat dalam memahami pentingnya pemanfaatan Teknologi Informasi. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang kurang mengerti dan memahami pentingnya Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan.

Sebagai contoh manifestasi TIK yang mudah dilihat di sekitar kita adalah pengiriman surat hanya memerlukan waktu singkat. dan masih banyak lagi. tenaga dan biaya. pengaruh globalisasi dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. dan efek negatif dapat lebih diminimalkan. Untuk memberikan data dan informasi tersebut. Namun perlu diingat. Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. Budaya atau kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya yang berupa nilai-nilai (kebenaran. Oleh karena itu selama ini dikenal asas “kebebasan arus informasi” berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain. Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya TIK adalah peningkatan kecepatan. Demikian halnya perkembangan kebudayaan di Kota Makassar juga ikut berpengaruh terhadap perkembangan globalisasi Teknologi Informasi. informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan. kebijaksanaan. makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. karena kehadiran surat elektronis (email). kemanusiaan. terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudahnya. Seyogyanya. misalnya dari globalisasi aspek ekonomi. sehingga semua manfaat positif yang terkandung di dalam TIK mampu dimanifestasikan agar mampu membantu dan mempermudah kehidupan masyarakat. Seperti kita ketahui budaya masyarakat Kota Makassar begitu beragam dan perlu dilestarikan sehingga dapat tetap bertahan dan memberikan devisa bagi Kota Makassar khususnya. baik pada saat manusia bekerja.dukungan pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK). pengelolaan data dalam jumlah besar juga bisa dilakukan dengan mudah yaitu dengan basis data (database). masyarakat harus selektif dan bersikap kritis terhadap TIK yang berkembang sangat pesat. keindahan. ketepatan. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. berkomunikasi. sejak dulu hingga sekarang ditujukan untuk membantu dan memberikan kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan. Jadi bagaimana TIK dapat mempengaruhi nilai-nilai yang telah tumbuh di masyarakat dalam suatu bangsa itu sangat tergantung dari sikap masyarakat tersebut. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi. Makin canggih dukungan teknologi tersebut. Sedangkan pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya TIK. keadilan. Pada hakikatnya teknologi diciptakan. akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu. Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk memberikan data dan informasi tentang perkembangan kebudayaan di Kota Makssar. TIK tidak hanya membantu dan mempermudah manusia tetapi juga menawarkan cara-cara baru di dalam melakukan aktivitas-aktivitas tersebut sehingga dapat mempengaruhi budaya masyarakat yang sudah tertanam sebelumnya. ketelitian hasil perhitungan dapat ditingkatkan dengan adanya komputasi numeris. dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri. bahkan untuk mengatasi berbagai persoalan pelik yang timbul di masyarakat. dll ) yang berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup manusia yang relatif menetap dan dapat dilihat dari pilihan warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan peristiwa kehidupan. maka perlunya ditunjang oleh .

dari sejumlah informan akan bermanfaat guna mewujudkan validitas data secara keseluruhan. Dengan rumus sebagai berikut : . Faktorfaktor tersebut seperti kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam mendukung dan memahami Teknologi Informasi yang digunakan. Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah masyarakat dan mereka yang memahami tentang pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. didapat dari responden. Namun permasalahan yang muncul adalah pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi terhada perkembangan budaya Makassar belum terlaksana secara optimal sehingga memerlukan peran serta pemerintah dan masyarakat memanfaatkan globalisasi Teknologi Informasi tersebut. Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono. juga sangat membantu untuk mendapatkan data yang obyektif dan valid dalam rangka memahami. yang dapat ditempuh dengan cara membandingkan data dari responden dengan informan yang . Oleh karena itu sampel dalam penelitian ini adalah masyarakat yang memahami pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. serta mengupayakan pemecahan masalah tentang analisis faktor pendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Data mentah yang terkumpul dari hasil jawaban responden maupun yang didapat dari hasil wawancara. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah teknik aksidental. Selanjutnya dengan kuesioner guna mendapatkan data yang akurat dan obyektif terhadap permasalahan yang diteliti. peneliti menggunakan metode survey yang lebih menekankan pada jenis penelitian deksriptif kuantitatif dimana metode ini sangat relevan dengan topik yang akan diteliti. Teknik aksidental ini adalah mereka yang ditemui dan memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yang dapat diberikan pertanyaan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Wawancara. 2001 : 57). maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimanaka faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar ? Tujuan Penulisan Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar Metode Penelitian Dalam penelitian ini.beberapa faktor dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. dan sikap dan perilaku masyarakat terhadap pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. sarana atau fasilitas yang digunakan dalam mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi tersebut. telaah dokumen serta observasi akan diolah dengan menggunakan sistem tabulasi data dengan memakai analisis frekuensi. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas. memecahkan.

tiap teori bisa saja memiliki keunggulan dalam satu dan lain hal. dan makin mengaburkan implikasi dan komplikasi makna yang terkandung di dalamnya. maksudnya data yang ada diangkakan kemudian dideskripsikan. cara mi mungkin menarik secara akademik namun mungkin terlalu steril untuk diturunkan sebagai medium analisis dalam terapan empirikal. (Sudarmajid. terpaan budaya yang satu berpengaruh dominan terhadap budaya lainnya. dengan kemungkinan satu fihak lebih besar pengaruhnya ketimbang fihak lainnya. namun pengaruh-mempengaruhi dalarn pertemuan antar-budaya itu tidak selalu berlangsung sebagai proses dua-arah atau timbal-balik yang berimbang. melainkan bolehjadi juga terjadi sebagai proses imposisi budaya yang satu terhadap lainnya. Kita dapat mencari jawaban berdasarkan etimologi. yaitu. Pertemuan antar-budaya memang menggej ala sebagai keterbukaan (exposure) fihak yang satu terhadap lainnya. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Globalisasi Kata ‘globalisasi’ makin lama makin menjadi sajian sehari-hari melalui berbagai pemyataan publik dan liputan media massa.x 100 % N Keterangan : P= Persentase F= Jawaban responden N= Jumlah responden Analisis Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif yang dikualitatifkan. dan kalau semuanya itu kita perhatikan secara saksama. Cara lain ialah memperbandingkan berbagai definisi yang dapat dipandang terkemuka dalam literatur. dan mengingat bahwa jagad kemanusiaan ditandai oleh pluralisme budaya. 2003 : 23). Dalam gerak lintas-budaya mi terjadi berbagai pertemuan antarbudaya (cultural encounters) yang sekaligus mewujudkan proses saling-pengaruh antarbudaya.F P = --------------------. Kelatahan dalam penggunaan kata ‘globalisasi’ sedemikian itu akhimya mengesankan kesembarangan arti kata globalisasi. Menurut Aditya (2004 : 11) globalisasi pada hakikatnya adalah proses yang ditimbulkan oleh sesuatu kegiatan atau prakarsa yang dampaknya bekelanjutan melampaui batasbatas kebangsaan (nation-hood) dan kenegaraan (state-hood). maka globalisasi sebagai proses juga menggejala sebagai peristiwa yang melanda dunia secara lintasbudaya (trans-cultural). Apakah yang kita maksudkan dengan ‘budaya’ atau ‘kebudayaan’ itu? Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan mi banyak cara dapat ditempuh. cara mi akan membutuhkan uraian panjang lebar karena biasanya perlu diperjelas dengan tafsiran konseptual dan kontekstual. Pernyataan seperti “dalam era globalisasi dewasa mi” berarti bahwa kita telah berada dalam era globalisasi. cara mi jelas dapat memperkaya wawasan kita tentang kebudayaan. Mungkin juga kita lakukan pendekatan komparatif antara suatu teori dengan lainnya. maka akan ternyata betapa kata ‘globalisasi’ itu cenderung dilontarkan tanpa terlalu dihiraukan apa maknanya. . lain lagi halnya kandungan pernyataan “menjelang era globalisasi” yang berarti kita belum berada dalam era tersebut. tapi keunggulan suatu teori berkenaan dengan sesuatu gej ala budaya tidak selalu bearti keunggulan teori itu secara menyeluruh. sehingga konvergensi antar-teori mungkin saja digunakan dalam usaha memahami berbagai manifestasi budaya.

(Kariadi. bahwa timbultenggelamnya kebudayaan sangat dipengaruhi oleh apa yang tenjadi dalam pertemuan antarbudaya. kebudayaan Pharaonic yang benlaku dalam masyarakat Mesir kuno surut seiring dengan klan memudarnya kebudayaan itu sebagai sumber acuan untuk penjabaran norma-norma perilaku bagi masyarakat Mesir sekarang. Kesemuanya mi sekaligus menunjukkan bahwa kebudayaan adalah suatu pengejawantahan yang hidup selama ada masyarakat pendukungnya. batas antara apa yang dinilai sebagai kebajikan (good) atau kejahatan (evil) berlaku dalam garis besar yang memisahkan satu dan lainnya. nilai kesusllaan dinyatakan melalui berbagai tatakrama. Perhatikan misalnya “Revolusi Kebudayaan” yang secara berencana dilancarkan di Republik Rakyat Cina pada pertengahan tahun 6Oan. sedangkan peradaban adalah penjabaran nilainilai tersebut melalui diwujudkannya norma-norma yang selanjutnya dijadikan tolokukur bagi kepantasan perilaku warga masyarakat ybs. dsb). ‘buruk’. dsb dalam tindak-tanduk seseorang. ‘dosa’. kebajikan. nilai keindahan dijabarkan melalui berbagai norma artistik. kemanusiaan. Sebagai sumber acuan. penjabaran nilai kebudayaan menjadi norma peradaban dapat dipandang sebagai pengalihan dan sesuatu yang transenden menjadi sesuatu yang immanen. dan begitu seterusnya. sehingga kebudayaan yang lama kehilangan dayanya sebagai acuan untuk menjabarkan normanorma perllaku. maka tidak terlalu keliru kiranya kalau kita mengartikan kebudayaan sebagai sehimpunan nilai-nilai yang oleh masyarakat pendukungnya dijadikan acuan bagi perilaku warganya. Perhatikan pula perubahan yang terjadi di Turki. Misalnya. Singkatnya. Adanya tolokukur normatif mi menjadi dasar bagm berkembangnya peradaban (civilization) sebagai bagian dan dinamika budaya tertentu. Terjalinnya kesadaran transendensi dan immanensi inilah yang menjadikan dinamika sejarah kemanusiaan sebagai kaleidoskop perkembangan kebudayaan dan peradaban. Tapi juga dalam era kontemporer mi suatu kebudayaan sebagai sistem nilai dapat dengan suatu rekayasa didesak oleh sistem nilai barn. keindahan. bahwa kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya berupa nilai-nilai (kebenaran. persepi terhadap nilai-nilai itu masih besifat umum. ‘indah’. dan dengan demikian tersedia pula ukuran untuk nonkonformisme. yaitu sejauh mana satu di antara fihak yang saling bertemu kurang atau tidak .Kalau kita sarikan muatan berbagai definisi yang terkemuka. belum lagi antara keduanya diperbedakan dalam perbandingan ‘seberapa balk’ atau ‘seberapa buruk’ dipandang dan tolokukur tertentu. hal mi berlaku balk bagi kebudayaan yang surut oleh perubahan zaman maupun yang kehadirannya dipaksakan untuk mendesak kebudayaan lama. nilai religius diungkapkan melalui berbagai norma agama. Nilai-nilai itu juga berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup yang kemudian relatif menetap dan tampil melalui pilihan warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan peristiwa kehidupan. tolokukur itu baru menjelma melalui norma-norma sebagai pengatur kepantasan perllaku. Dan uraian di atas mi dapat disimpulkan. perubahan serupa pun teijadi tatkala Partai Komunis Rusia berhasil menggulingkan kekaisaran di Rusia dan memperkenalkan nilai-nllai barn sebagai acuan bagi norma perllaku barn yang ideal bagi suatu masyarakat komunis. Norma (nomos) adalah tolokukur yang memungkinkan terjadinya konformisme perilaku dalam sesuatu masyarakat. Nilai keadilan diwujudkan melalui hukum dan sistem peradilan. ketika Kemal Attaturk melancarkan gerakan modernisasi (yang diartikan sebagai ‘westemisasi’). seperti misalnya usaha pengenalan dan penyadaran tentang apa yang ‘baik’. keadilan. Pasang-surutnya kebudayaan sepanjang sejarah kemanusiaan nyata sekali ditentukan oleh sejaubmana kebudayaan itu masih berlanjut sebagai kerangka acuan untuk dijabarkan melalui sesuatu tatanan normatif. Nilai-nilai itu pada sendirinya barn merupakan acuan dasar yang keberlakuannya disadarkan melalui ikhtiar pendidikan sejak dini. 2002) Dalam sejarah kemanusiaan banyak contoh yang menunjukkan.

dan hal ml pada gllirannya mendorong berlangsungnya proses globalisasi yang terus berkembang atas kemekarannya sendiri. Demikianlah kebudayaan mengandung dua daya sekaligus. Kecenderungan meniru itu dalam kelanjutannya bisa terpantul melalui berkembangnya gayahidup (ljfestyle) barn yang dianggap superior dibandingkan dengan gayahidup lama. Kebudayaan adalah suatu daya yang sekaligus tersimpan (latent) dan nyata (actual). Tangguh atau rapuhnya ketahanan budaya biasanya dilatani oleh menurunnya kesadaran masyarakat yang bersangkutan terhadap kebudayaannya sebagai pengukuh jatidirinya. Kendatipun dalam periode Perang Dingin kondisi bipolar seakan-akan membelah-dua dunia mi dengan pengendalian dan dua pusat kekuatan dunia yang saling bertentangan. usainya Perang Dingin tidak menjadikan dunia kita monosentnik.(Ekawati. Justru plunisentrisme dan multipolaritas menjadi cmi dunia menjelang akhir abad ke-20 dan memasuki abad ke-2 1. Dalam kondisi demikian itulah globalisme menjadi cara pandang dalam interaksi antarbangsa. Sebagai proses. Kesanggupan sesuatu satuan budaya untuk mempertahankan kesejatiannya dalam pertemuan antar-budaya yang demikian majemuknya itu sangat ditentukan oleh tinggi-rendahnya derajat kesadaran budaya dan tanguhrapuhnya tingkat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya. yaitu berlakunya herbagai norma acuan penilaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Makin rendah derajat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya. Dalam perkembangan sedemikian itu dirasakan makin dipenlukannya suatu tatanan dunia baru yang perwujudannya memperhatikan plurisentrisme dan multipolanitas . Budaya asing yang berpengarnh dominan terhadap satuan budaya asli bisa membangkitkan kesan sebagai ‘model’ untuk ditiru. melainkan terjadi dengan ketenlibatan sejumlah fihak secara segera (instantaneous) serta serempak (simultaneous). 2003) Karena perhatian akan kita pusatkan pada persoalan pertemuan antarbudaya dalam era globalisasi. Perubahan gayahidup yang ditiru dan budaya asing bisa berkelanjutan dengan timbulnya gejala keterasingan dan kebudayaan sendiri (cultural alienation). satu daya mempertahankannya agar lestani dan daya lainnya menariknya untuk maju.kondisi global yang plurisentnik dan multipolar dalam era kontemporer. Berkembangnya gayaliidup baru itu dapat menimbulkan kondisi sosial yang ditandai oleh heteronomi. Seantero jagad seolah-olah tertangkap dalam satu janingan besar tanpa adanya suatu pusat tunggal. makin kuat pula budaya asing yang menerpanya berpengaruh dominan terhadap masyarakat itu. Proses globalisasi yang diakibatkan oleh berbagai prakarsa dan kegiatan pada skala internasional sebagaimana menggej ala dewasa mi pun penlu kita cermati sejauhmana siginifikan pengaruhnya dalam pertemuan antar-budaya. maka ada baiknya kita bahas dahulu hal-ihwal yang berkenaan dengan globalisasi sebagai proses maupun globalisme sebagai carapandang yang dewasa mi cenderung dianut dalam tata-pergaulan intemasional.lagi memiliki ketahanan budaya (cultural resilience). Dalam kondisi demikian itulah pertemuan antarbudaya sangat berpengaruh atas perimbangan antara kedua daya tersebut. yaitu dimensi ruang (space) dan waktu (time). Dalam kaitan mi pertemuan antar-budayajangan terutama digambarkan sebagai pertemuan antara dua fihak belaka. satu daya dengan kecenderungan preservatif dan satunya lagi dengan kecenderungan progresif. globalisasi benlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antarbangsa. yaitu sebagai daya yang cenderung melestanikan dan daya yang cenderung berkembang atas kemekarannya sendiri. Sampai batas tertentu dan saling-pengaruh yang terjadi itu dapat terpantul seberapa tinggi derajat kesadaran dan tingkat ketahanan budaya masing-masing fihak yang saling bertemu. Antara kedua daya inilah tiap masyarakat pendukung kebudayaan tertentu berada. Ruang/jarak makin diperdekat dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala mondial. Tidak ada kekuatan tunggal yang mutlak dan sanggup mengabaikan -apalagi mengungguli.

dan ditenima dengan alasan ‘mengikuti kecenderungafl global’. dan inilah awal dan suatu proses yang akhimya bisa bermuara pada pernbahan sikap mental dan kultural. Dengan jangkaun sedemikian itu. Dalam bidang informasi. Teknologi informasi dan komunikasi dalam era globalisasi mi merupakan pendukung utama bagi tenselenggaranya pertemuan antarbudaya. melainkan dominasi anus informasi dan fihak yang didukung oleh kesanggupan merentangkan sistem informasi dengan jangkauan global. globalisasi dalam bidang ml sudah dijangkau oleh sistem dan pelembagaan yang makin dijadikan acuan dalam hubungan internasional. bahwa dalam pertemuan antar-budaya mengalirnya anus informasi itu tidak senantiasa terjadi secara dua-arah. Kalau dewasa ml dianut asas ‘kebebasan arns informasi’ (free flow of information). sedang kesiapan untuk ambilbagian dalam tatanan barn itu merupakan imperatif yang sukar dielakkan. Dalam naskah mi perhatian kita pusatkan pada penjelmaan globalisme dalam bidang yang jelas berdampak terhadap wawasan budaya kita. maka yang sesungguhnya terjadi bukanlah ‘pertukanan informasi’ (exchange of information) berupa proses dua-arah yang cukup bermmbang. suka-tak-suka. sehingga dengan mudah dapat mempengaruhi carapandang dan gayahidup kita. 2001) Gejala tersebut nyata berpengaruh atas terbentuknya sikap mental dan kultural pada fihak yang diterpa (expose) oleh fihak yang menerpanya (impose) dengan anus informasi. Dalam bidang inilah terjadi pemadatan dimensi rnang dan waktu (yang disebut Harvey ‘time-space compression’). Tatanan itu tentu menuntut dirancangnya berbagai sistem dan pelembagaan yang hams diwujudkan sebagai konsekuensinya. Rancangan demikian itu tentunya hams dapat ditenima oleh majonitas eksponen yang ambilbagian dalam janingan global yang plunisentrik dan multipolar. jarak makin diperdekat dan waktu makin dipersingkat. Ditenimanya suatu tatanan global barn mestinya dapat diandalkan pada tergalangnya konsensus maksimal di antara segenap eksponen yang berperan dalam janingan itu. Dalam bidang mi tampaknya tiada altematif lain bagi kita kecuali turut berperan di dalamnya. Makin canggih dukungan tersebut makin besar pula anus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global.sebagai kenyataan global masakini. Dengan dukungan teknologi modem infonmasi dalam berbagai bentuk dan untuk benbagai kepentingan dapat disebarluaskan begitu rnpa. maka terjadilah banjir deras informasi (information glut) yang menghujani kita dan nyanis tak lagi terkendali. melainkan bisa juga mencemani kita secara mental. dan sebagaimana terjadi dengan setiap banj in. maka fmhak yang lebih unggul dalam menguasai teknologi informasi dan komunikasi niscaya lebih berkesanggupan untuk membiaskan pengaruhnya secara global. yaitu bidang informasi dan komunikasi yang sangat tertunjang oleh pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih. Kecenderungan mi adakalanya dianggap sebagai bagian dan upaya ‘modemisasi’. Maka tidaklah mengherankan kalau banjir informasi itu akhirya juga bisa benpengaruh terhadap carapandang maupun gayahidup kita. banjir informasi melalui sistem dan pelembagaan yang didukung oleh teknologi canggih tidak dengan sendirinya mempenkaya wawasan kita. dominasi cendernng terjadi dan fihak yang memiliki dukungan teknologi lebih maju terhadap fihak yang lebih terbelakang. Maka tidak mustahil kemajuan masyarakat yang diterpa cenderung diukur secara memperbandingkan dengan hal-ihwal yang dipenkenalkafl melalui informasi dan fihak yang menerpa. mau-tak-mau. maka betapa pun paradoksal kedengarannya. (Ridwansyh. Dewasa mi sistem dan pelembagaan termaksud tenutama nyata perkembangannya dalam bidang ekonomi dan perdagangan internasional. Sikap yang naif mi antara lain juga ditandai oleh kecenderungan glonifikasi terhadap fihak yang . Kesegeraan dan keserampakan anus informasi yang dengan derasnya menerpa kita seolah-olah tidak membenikan kesempatan pada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap knitis. maka dalam hal mi pun terbawa limbah yang samasekali tidak berguna. Perlu dicatat.

berkomunikasi. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. mewujudkan seni (sastra). globalisasi berlangsung melalui dua dimensi. yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Kita telah bergerak dari budaya lisan ke budaya tulisan sejak ditemukannya huruf. Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi kehidupan suatu bangsa. teknologi. Tapi. dalam interaksi antar bangsa. kebudayaan disebut culture. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan. Dalam budaya visual. 1990). sosial budaya. Sehingga kemudian sampailah pada era globalisasi. Dimana era globalisasi ini erat sekali kaitannya dengan teknologi informasi atau komunikasi. perlu diketahui terlebih dahulu tentang pengertian budaya itu sendiri. Pengertian Budaya Sebelum mengulas tentang perkembangan tekologi komunikasi terhadap kehidupan budaya. dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Dalam bahasa Inggris. ideologi. manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat. dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. Seperti dalam hal bahasa. Melalui bahasa. Sebagai sebuah proses. mempelajari naskah-naskah kuno. sekarang kita sedang bergeser dari budaya tulisan ke budaya visual. tata krama masyarakat. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian. gambar-yang diam atau bergerakmenjadi bagian yang penting dalam proses komunikasi. Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap . yaitu mengolah atau mengerjakan. Hal ini tentunya tidak terlepas dari dukungan pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnya teknologi komunikasi. Dimensi ruang yang dapat diartikan jarak semakin dekat atau dipersempit sedangkan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. ilmu pengetahuan. yang berasal dari kata Latin Colere. filsafat dan lainnya. Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. pertahanan keamanan dan lain-lain yang akan mempengaruhi nilai-nilai nasionalisme bangsa.diunggulkan sebagai sumber informasi global dan tampil sebagai penentu kecendeningafl (trend-setter) dalam pembentukan sikap mental dan kultural serta gaya hidup barn. dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. tingkah laku. ekonomi. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan (Soekanto. Semakin lama kebudayaan akan semakin berkembang. dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah. baik lewat tulisan. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan seharihari. ataupun gerakan (bahasa isyarat). yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Pengaruh globalisasi dirasakan di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik. yang meliputi kesenian. lisan. Teknologi komunikasi adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi.

Demikian juga peragaan busana di Paris. Banyak hal yang didapat karena pengaruh teknologi komunikasi. saling mempelajari kebudayaan lain. (Radian. Makin canggih dukungan teknologi tersebut. yaitu dunia “maya”. Konsep Teknologi Informasi (TI) Teknologi Informasi (TI) yang kini berkembang amat pesat. akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu. yang dikenal dengan nama e-Commerce yang lahir karena perkawinan TI dengan globalisasi ekonomi belum lagi genap berusia lima tahun dikenal – dari fakta bahwa sebenarnya sudah ada sekitar 20 tahun yang lalu—ketika sudah harus merelakan dirinya digilas dengan konsepsi e-Business yang lebih canggih. Peran Internet tidak bisa dipungkiri dalam hal penyediaan informasi global ini sehingga dalam derajat tertentu. Konsep perdagangan elektronik melalui internet. dan infrastruktur komunikasi. TI di internet berkembang dengan kecepatan yang sukar dibayangkan. Teknologi Informasi dan Komunikasi yang perkembangannya begitu cepat secara tidak langsung mengharuskan manusia untuk menggunakannya dalam segala aktivitasnya. Oleh karena itu selama ini dikenal asas “kebebasan arus informasi” berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain. tak bisa dipungkiri memberikan kontribusi yang signifikan terhadap seluruh proses globalisasi ini. AS.kritis. misalnya dari globalisasi aspek ekonomi. Internet menghilangkan semua batas-batas fisik yang memisahkan manusia dan menyatukannya dalam dunia baru. yang pada waktu hampir bersamaan bisa disaksikan dari Gorontalo. Perubahan harga saham sebuah perusahaan farmasi di Bursa Efek Jakarta hanya membutuhkan waktu kurang dari sepersepuluh detik untuk diketahui di Surabaya. 2004) Perubahan informasi kini tidak lagi ada dalam skala minggu atau hari atau bahkan jam. Sedangkan pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya teknologi komunikasi. informasi mengalir dengan sangat cepat dan menyeruak ruang kesadaran banyak orang. terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudahnya. TI telah mengubah wajah ekonomi konvensional yang lambat dan mengandalkan interaksi sumber daya fisik secara lokal menjadi ekonomi digital yang serba cepat dan mengandalkan interaksi sumber daya informasi secara global. Internet sendiri memang fenomenal kemunculannya sebagai salah satu tiang pancang penanda kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. TI disamaratakan dengan Internet. Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya Teknokom adalah peningkatan kecepatan. ketepatan. dalam waktu kurang dari satu menit sudah dikonfirmasi oleh Bank Indonesia di Medan Merdeka. atau memungkinkan . Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. hingga internet dan telepon gengam dengan protokol aplikasi tanpa kabel (WAP). khususnya mikro-prosesor. melainkan sudah berada dalam skala menit dan detik. Jika eCommerce “hanya” memungkinkan seseorang bertransaksi jual beli melalui internet dan melakukan pembayaran dengan kartu kreditnya secara on-line. Mulai dari wahana TI yang paling sederhana berupa perangkat radio dan televisi. tenaga dan biaya. Sulawesi. Pengaruh globalisasi dengan dukungan teknologi komunikasi meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Setara dengan perkembangan perangkat keras komputer. Peningkatan kualitas hidup semakin menuntut manusia untuk melakukan berbagai aktifitas yang dibutukan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. Indeks nilai tukar dollar yang ditentukan di Wall Street. makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. Kemudian dapat menunjang perkembangan kebudayaan.

sektor yang paling banyak mengeluarkan uang adalah komunikasi & media (19. Dan seperti biasanya. kekuatan TI yang ditekan itu kemudian tampil “jumawa” dalam episode jatuhnya . angka untuk perangkat lunak ini jauh lebih besar daripada untuk perangkat kerasnya. Sampai dengan bulan Juni 1999. Bagi Asia. keberadaan internet khususnya merupakan masalah yang pelik. kejahatan internet. Sebagian yang lain (14. serta mengembangkan pendidikan untuk meningkatkan daya saing Asia. sebagian besar (57. pemerintah (12. khususnya pemanfaatan jaringan internet. diikuti oleh discreet manufacturing (16. krisis ekonomi yang dialami Asia pada akhir tahun 90an menunda perkembangan TI di saat AS dan negara-negara Eropa sedang berkembang pesat dalam penggunaan teknologi itu. menyediakan perangkat pengakses informasi dari internet untuk masyarakat. TI disikapi dengan penuh kebingungan. akan tetap menempatkan Asia di pihak yang merugi. dari seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 220 juta jiwa.4 juta tahun lalu. bisa cukup menimbulkan dilema bagi pemerintah. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut Tabloid Kontan On-line tanggal 9 Oktober 2000 yang mengutip IDC (Information Data Corporation) . menyusun framework penggunaan TI. merek dagang.9%). naik dari US$ 638. Itu berarti hanya 0.9 juta. Karena itu. masih menurut sumber dari Kontan On-line. serta perbedaan sosial politik di antara negara-negara yang kini harus bekerjasama –yang bila gagal diatasi.e-culture/203) Pertemuan Asian Regional Conference of the Global Information Infrastructure Commission (GIIC) di Manila pada bulan Juli 2000 menghasilkan rencana untuk membangun jaringan komunikasi.seorang ibu rumah tangga memprogram lemari-esnya untuk melakukan pemesanan saribuah secara otomatis jika stok yang disimpan di kulkas itu habis dan membayar berbagai tagihan rumah tangganya melalui instruksi pada bank yang dikirim dengan menekan beberapa tombol pada telepon genggamnya. Namun. Namun. lebih khusus lagi bagi negara yang memiliki peraturan ketat. kini mulai secara resmi mendukung perkembangan TI setelah sekian lama diam-kebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan perkembangan teknologi yang demikian cepat ini. Salah satu tindakan yang akan dilakukan oleh pemerintah Asia yang disepakati dalam pertemuan GIIC itu adalah mempersiapkan hukum mengenai transaksi. hak cipta dan masalah lain. Tahun 2000 ini diperkirakan US$ 772. negara yang dianggap kurang maju. jumlah personal computer yang ada di negeri ini hanya sekitar 2 juta unit.8%). Sementara dari 17 sektor yang membelanjakan uang untuk TI tadi. membangun jaringan online-pemerintah. Dari US$ 772. Seharusnya. Di jaman Orde Baru berkuasa dulu. wajar jika pemerintah negara-negara Asia.95% dari jumlah penduduk. Hal ini diduga keras karena di Indonesia tingkat pembajakan masih di atas 90%. senjata lebih berkuasa daripada teknologi. Jumlah ini belum termasuk investasi dotcom yang sempat bergairah obor-blarak dalam dua tahun terakhir. dan perbankan (11. Kasus ini layaknya menghadapkan kemajuan TI dengan alat perang dan kekuasaan. masih kakunya sistem pemerintahan.3%). yang saat ini sedang bekerja keras mengejar ketinggalan dari negara-negara maju dan pada saat yang sama mengalami perubahan sosial politik.4%). Namun memang masih ada hambatan. Angka ini masih sangat kecil dan jika dijadikan pijakan konsepsi utopis TI yang mampu mendorong terjadinya perubahan sosial. transaksi ekspor impor antar negara lengkap dengan pembukaan LC dan model cicilan pembayarannya juga bisa dilakukan dengan wahana dan media yang sama. terutama antara lain sumber daya yang terbatas. Lebih buruk lagi.9 juta itu. maka dengan e-Business. seperti misalnya dalam kasus penggerebekan salah satu Internet Service Provider (ISP) di Jakarta saat “Kudatuli” –kerusuhan dua puluh tujuh juli —yang menghebohkan itu. angka sekecil itu yang diperkuat dengan TI.7%) dibelanjakan untuk perangkat keras seperti PC dan notebook. (http://www. dana yang sudah dibelanjakan untuk kepentingan TI di Indonesia cukup besar.4%) dibelanjakan untuk perangkat lunak.

Satu-satunya pemain lokal yang terlihat paling getol mendukung dikeluarkannya keppres tersebut hanyalah PT. yaitu dengan memberikan kesempatan pada yang kecil. Globalisasi. secara langsung atau tidak. informasi tidak ada. Konsep Negara Kesatuan misalnya. Dunia dalam kacamata TI saat ini adalah dunia tentang pribadi orang per orang. Kebingungan ini juga terlihat jelas dalam perumusan UU Telekomunikasi beserta PP yang menyertainya. sedang bermetamorfosa dari swapraja menuju swakelola. Demokrasi melanda dunia dan dunia menerapkan demokrasi itu melalui sistem telekomunikasi global. dari yang lokal. Menurut Amartya Sen. pemenang hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 1998. yaitu jatuhnya rejim militeristik yang sudah berkuasa 32 tahun lamanya. meningkatnya tribalisme saat ini mungkin bisa dianggap terkait dengan kemajuan TI karena memperjelas banyak hal sehingga setiap orang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di mana saja. jika dilihat dari kacamata TI dan globalisasi secara paradoks bisa jadi sudah punah karena negara yang efektif justru memecah dirinya menjadi bagian lebih kecil dan lebih efisien. Tanpa TI. dan tanpa informasi maka semua kegiatan akan berhenti. menunjukkan dengan jelas kebingungan pemerintah dalam merespon perkembangan bisnis multimedia. yang tentu ada dalam mainstream TI. untuk mengurus ijin pendirian warnet. Tapi. dipercaya bahwa gerakan mahasiswa dan bantuan logistiknya dikoordinasikan dengan memanfaatkan kecanggihan TI ini. bukan negara (state). Sebuah paradoks: karena ekonomi global makin membesar. Dalam PP No 52/2000 misalnya. Pemerintah beranggapan bahwa proteksi itu diberikan dengan asumsi tidak mungkin pemain-pemain lokal mampu bersaing dengan investor asing dalam dunia TI. dalam hal informasi dan dilihat dari kacamata TI. telepon gengam dan email pada para koordinator lapangan untuk mengantisipasi blokade militer yang menyapu Jakarta dan kota-kota lainnya saat itu. 1998 dan 1999. jelas adalah keniscayaan. melainkan pada legitimasi masyarakat. tersirat inferioritas yang luar biasa dalam diri pemerintah. Dengan populasi mencapai 2. apabila seseorang ingin mendirikan warung internet. bahwa kebijakan pemerintah saat ini menimbulkan semakin banyak masalah yang timbul dalam pengembangan TI. Tak ada jalan untuk mundur lagi. komunikasi militer pun disadap dan semua sandi militer diterjemahkan oleh para aktivis dan dibagikan lewat pager. Padahal. Bahkan. Keppres 96/2000 yang garis besarnya berisi larangan masuknya investor asing di bidang industri multimedia di Indonesia. 2004) TI modern memungkinkan kerjasama yang luar biasa antar masyarakat. menurut pencetus ide “The Third Way” Anthony Giddens dengan teori strukturasi modernisnya. (Martinginsih. Dalam hal politik. Maka yang harus dilakukan dalam konteks perkembangan TI dan globalisasi ini adalah membangun kembali keberpihakan TI melalui strategi yang membela mereka yang selama ini ditinggalkan dan diabaikan dalam arus globalisasi. berkontribusi atas terjadinya suatu perubahan sosial yang bermakna di Indonesia. pemerintah baru yang terpilih secara relatif demokratis pasca rejim Orde Baru ini juga gagap menanggapi kemajuan TI.Orde Baru. justru banyak pemain lokal yang berteriak dan menentang keppres ini. Telkom. Dunia yang saat ini. Dengan semakin banyaknya informasi yang diterima masyarakat. teknologi harus berpihak dan mengabdi pada manusia. Dengan Kepres itu. TI. entah dimana salahnya. Bagaimana memulai? Pertama. harus meminta ijin yang ditandatangani oleh menteri (!). Kenichi Ohmae dalam bukunya yang terkenenal The End of the Nation State. pelaku ekonomi dan negara. pemerintah harus mulai berubah ke arah sistem dimana peraturan dan hukum didasarkan bukan pada kemauan pemerintah. Konon. melihat dengan jelas bahwa gagasan “pemerintah pusat adalah bagian yang terpenting dari sebuah pemerintahan” sudah saatnya ditinggalkan. yang pada masa lalu tidak terlihat –tapi bukannya tidak ada.1 juta unit usaha yang “tahan . Jelas. maka negara-negara yang mengambil peran akan semakin mengecil.

karena teknologi memegang peran amat penting di dalam kemajuan suatu bangsa dan negara di dalam percaturan masyarakat internasional yang saat ini semakin global. baik secara ekonomi. sehingga dalam membangun sosial budaya. Kemudahan dalam mengakses informasi dan ilmu pengetahuan dari berbagai sumber dan belahan dunia.banting” –sudah teruji dalam krisis ekonomi—maka pengusaha kecil. Dampak buruk dari perkembangan “dunia maya” ini tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan masyarakat modern saat ini dan masa depan. sumber daya manusia dan keahlian. Selaku harapan serta tumpuan bangsa dan negara yang akan melanjutkan pembangunan di segala bidang. politik. Hal ini salah satunya dapat dilihat pada upaya kreasi manusia yang berkaitan dengan bidang ilmu pengetahuan. hukum internasional maupun teknologi persenjataan militer untuk pertahanan dan keamanan negara bahkan kebutuhan intelijen. Dampak perkembangan teknologi informasi dirasa sangat berpengaruh terhadap pengaturan hukum. penyalahgunaan Narkoba. seni dan sastra. merupakan salah satu manfaat positif. maka tidak mengherankan dalam setiap aspek kehidupan manusia pun mulai menunjukan suatu fenomena baru. Pemanfaatan Teknologi Informasi Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang cukup pesat sekarang ini sudah menjadi realita sehari-hari bahkan merupakan tuntutan masyarakat yang tidak dapat ditawar lagi. Oleh karena adanya pergeseran demikian. Perkembangan iptek. membina dan menyelamatkan para generasi muda dari dampak negatif kemajuan teknologi informasi. Disamping itu. Adanya penyalahgunaan teknologi informasi yang merugikan kepentingan pihak lain sudah menjadi realitas sosial dalam kehidupan masyarakat moderen sebagai dampak dari pada kemajuan iptek yang tidak dapat dihindarkan lagi bagi bangsa-bangsa yang telah mengenal budaya teknologi (the culture of technology). pemantapan kehidupan . Betapa tidak dengan penggunaan teknologi informasi perilaku manusia secara nyata telah beralih dari model aktifitas yang didasarkan pada suatu bentuk hubungan face to face telah bergeser kepada pola hubungan digitally. menengah dan koperasi merupakan sasaran pokok yang harus didorong dan diberdayakan dalam memanfaatkan TI untuk melakukan perdagangan elektronik karena keterbatasan modal. murah. semakin dituntut dan diperlukan untuk mengawasi. budaya. Tujuan utama perkembangan iptek adalah perubahan kehidupan masa depan manusia yang lebih baik. baik legal maupun illegal dengan menghalalkan segala cara karena ingin memperoleh keuntungan secara “potong kompas”. Bangsa dan negara yang menguasai teknologi tinggi berarti akan menguasai “dunia”. Dampak perkembangan teknologi informasi. terutama teknologi informasi (information technology) seperti internet sangat menunjang setiap orang mencapai tujuan hidupnya dalam waktu singkat. diperlukan persiapan yang matang. agar mereka dapat mengambil manfaat positif dan membentengi diri dari dampak negatif globalisasi dunia yang tengah berkembang ini. Sedangkan dampak negatifnya adalah masuknya pengaruh budaya asing. Teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat manusia dalam dunia yang semakin “sempit” ini. generasi muda mesti dibekali sedini mungkin dengan ilmu pengetahuan tentang tata cara mengambil manfaat positif dari kemajuan teknologi informasi yang berkembang dengan deras dan pesat. Globalisasi dunia melalui teknologi informasi (internet. bisa positif bisa pula negatif. cepat dan aman. Generasi muda adalah kelompok masyarakat yang sangat rentan terhadap pengaruh budaya asing ini. telepon selular dan media elektronik lain) yang berkembang sangat pesat. seperti pergaulan bebas. terutama terhadap generasi muda itu. Peranan pemerintah bersama serta segenap elemen masyarakat. kompetitif dan komparatif. mudah. tindakan kriminalitas dan budaya kekerasan. Semua ini dapat dipahami.

Para hacker dan cracker bisa melakukannya lewat lintas negara (cross boundaries countries) bahkan di negaranegara berkembang (developing countries) aparat penegak hukum. Manifestasi kejahatan mayantara yang terjadi selama ini dapat muncul dalam berbagai macam bentuk atau varian yang amat merugikan bagi kehidupan masyarakat ataupun kepentingan suatu bangsa dan negara pada hubungan internasional. Suatu hal yang patut diperhatikan adalah bahwa kejahatan sebagai gejala sosial sampai sekarang belum diperhitungkan dan diakui untuk menjadi suatu tradisi atau budaya yang selalu mengancam dalam setiap saat kehidupan masyarakat. kebudayaan. Mengantisipasi kejahatan ini seyogianya dimulai melalui pembentukan perangkat undang-undang seperti dalam Konsep KUHP Baru dan RUU Teknologi Informasi yang disusun oleh Pusat Kajian Cyberlaw Universitas Padjadjaran. politik. Internet menjadi medium bagi pelaku kejahatan untuk melakukan kejahatan dengan sifatnya yang mondial. internasional dan melampaui batas ataupun kedaulatan suatu negara. kecuali kejahatan mayantara yang bermotif pada kejahatan ekonomi/perbankan. Semua ini menjadi motif dan modus operandi yang amat menarik bagi para penjahat digital. akan tetapi juga akan mempengaruhi aspek kehidupan lain seperti agama. kehidupan pribadi. 2002) Selain melakukan upaya dengan mengkriminalisasikan kegiatan di cyberspace dengan pendekatan global. artinya ketentuan cybercrime tidak dibuat dalam bentuk perundang-undangan tersendiri (khusus). namun amat disayangkan apabila unit ini bekerja tidak dilengkapi dengan perangkat legislasi anti cybercrime. Pembentukan unit kepolisian ini patut dipuji. Kesulitan yang dialami adalah pada perangkat hukum atau undang-undang teknologi informasi dan telematika yang belum ada sehingga pihak kepolisian Indonesia masih ragu-ragu dalam bertindak untuk menangkap para pelakunya. masyarakat bahkan bangsa dan negara. Pihak kepolisian Indonesia telah membentuk suatu unit penanggulangan kejahatan mayantara dengan nama Cybercrime Unit yang berada di bawah kendali Direktrorat Reserse Kriminal Polri. (Nugraha. ekonomi dan hukum dari kemajuan teknologi moderen yang tidak begitu mudah ditangani oleh aparat penegak hukum di negara berkembang seperti halnya Indonesia yang membutuhkan perangkat hukum yang jelas dan tepat dalam mengantisipasi setiap bentuk perkembangan teknologi dari waktu ke waktu. Kejahatan mayantara dewasa ini mengalami perkembangan pesat tanpa mengenal batas wilayah negara lagi (borderless state). akan tetapi diatur secara umum dalam RUU Teknologi Informasi dan RUU Telematika. Pemerintah Indonesia sedang melakukan suatu pendekatan evolusioner untuk mengatur kegiatan-kegiatan santun di cyberspace dengan memperluas pengertian-pengertian (ekstensif interpretasi) yang terdapat dalam Konsep KUHP Baru. Harus diakui bahwa Indonesia belum mengadakan langkah-langkah yang cukup signifikan di bidang penegakan hukum (law enforcement) dalam upaya mengantisipasi kejahatan mayantara seperti dilakukan oleh negara-negara maju di Eropa dan Amerika Serikat.beragama dapat dijadikan benteng pertahanan bagi masyarakat untuk meminimalisasi pengaruh negatif dari dampak globalisasi dunia melalui teknologi informasi yang masuk dengan deras ke semua pelosok negeri di Indonesia. karena kemajuan teknologi yang digunakan para pelaku cukup canggih dalam aksi kejahatannya. sosial. sarana dan prasarana teknologi yang dimiliki. Jaringan informasi global atau internet saat ini telah menjadi salah satu sarana untuk melakukan kejahatan baik domestik maupun internasional. Munculnya revolusi teknologi informasi dewasa ini dan masa depan tidak hanya membawa dampak pada perkembangan teknologi itu sendiri. khususnya kepolisian tidak mampu untuk menangkal dan menanggulangi disebabkan keterbatasan sumber daya manusia. . Di sini perlu ada semacam batasan hukum yang tegas di dalam menanggulangi dampak sosial. Model yang digunakan adalah Umbrella Provision atau “undang-undang payung”.

Berikut pendapat responden tentang kemampuan Pemerintah dalam mendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi terhadap budaya masyarakat di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : . Dampak buruk teknologi yang disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab menjadi masalah hukum pidana dan harus segera ditanggulangi melalui sarana penal yang dapat dilakukan oleh penegak hukum kepolisian. Data primer diperoleh melalui penyebaran angket kepada beberapa responden dengan menggunakan angket (questioner). maka dampak buruk teknologi yang menjadi kejahatan mayantara pada masa depan harus ditanggulangi dengan lebih hati-hati. HASIL PEMBAHASAN Hasil penelitian yang digunakan dalam pelaksanaan ini untuk menganalisa faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Namun kemajuan teknologi membawa dampak buruk dalam kehidupan masyarakat berupa kejahatan mayantara sehingga harus diantisipasi dengan tersedianya perangkat hukum atau undang-undang yang tepat. perangkat undang-undang belum tersedia sebagai sarana penal dalam menanggulanginya. termasuk kepedesaan di Indonesia. Sayangnya. Selain itupula dukungan kemampuan masyarakat untuk mengetahui perkembangan kebudayaan Kota Makassar juga berperan penting terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. karena telah menjadi “kebutuhan pokok” manusia moderen yang cenderung pada kemajuan dengan mempermudah kehidupan masyarakat melalui komunikasi dan memperoleh informasi baru. Namun perkembangan teknologi digital tidak akan dapat dihentikan oleh siapapun. Seyogianya kemajuan teknologi menolong kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat dewasa ini patut disyukuri sebagai hasil budaya manusia moderen. Adapun hasil penelitian yang dilakukan terhadap obyek penelitian adalah sebagai berikut : Kemampuan Masyarakat dan Pemerintah Pemanfaatan globalisasi teknologi informasi dapat terlaksana dengan baik jika didukung oleh kemampuan pemerintah mendukung penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.Artinya. Mengingat kemajuan teknologi telah merambah ke pelosok dunia. baik melalui sarana penal maupun non penal agar tidak menjadi masalah kejahatan besar bagi bangsa dan negara yang mengalami krisis ekonomi. Data tersebut dikumpulka melalui pra survey dan survey lapangan (observasi langsung) dan wawancara mendalam (debt interview) dengan menggunakan pedoman wawancara. Konsep KUHP Baru sebelumnya tidak memperluas pengertian-pengertian yang terkait dengan kegiatan di cyberspace sebagai delik baru. Dampak buruk teknologi menjadi pekerjaan rumah bersama yang merupakan sisi gelap dari perkembangan teknologi yang harus ditanggulangi.

81 2. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban mendukung sebanyak 35 orang (55.00 Sumber : Data Primer diolah November 2008 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kemampuan pegawai di instansi Pemerintah Kota Makassar masih kurang dalam menggunakan software computer PC di setiap unit kerja. Sangat Mampu 13 20. Berikut pendapat responden tentang kemampuan masyarakat menggunakan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar. . Sangat mendukung 15 23. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemerintah sebagai motivator dalam mendukung penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar. Tidak mendukung 6 9.52 Jumlah 63 100.56 %) Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa pemerintah mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang mampu sebanyak 29 orang (46.46 Jumlah 63 100.56 3. Hal ini disebabkan masih kurang masyarakat yang membuka website-website yang memuat tentang perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Kurang Mampu 29 46.03 %).03 4. Hal ini dapat dilihat dari fasilitas yang digunakan saat melakukan kegiatan kebudayaan seperti pameran-pameran kebudayaan ataupun memperkenalkan seni-seni budaya yang ada di Kota Makassar kepada dunia luar.87 3. Hal ini dapat dilihat dari pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung kegiatan di Kota Makassar seperti pembuatan website Pemerintah Kota Makassar yang memuat tentang perkembangan sektor kebudayaan di KotaMakassar.63 2.Tabel 1 Pendapat Responden Tentang Kemampuan Pemerintah Dalam Mendukung Globalisasi Teknologii Informasi terhadap Kegiatan Kebudayaan Di Kota Makassar Frekuensi Persentase No Pendapat Responden (orang) (%) 1. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi masih kurang. Mampu 10 15. Tidak Mampu 11 17.52 4.00 Sumber : Data Primer diolah November 2008 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kemampuan pemerintah mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi budaya masyarakat Kota Makassar. Mendukung 35 55. Kurang mendukung 7 9. yaitu sebagai berikut : Tabel 2 Pendapat Responden Tentang Kemampuan Masyarakat Menggunakan Teknologi Informasi Dalam Mendukung Kebudayaan Masyarakat di Kota Makassar Frekuensi Persentase No Pendapat Responden (orang) (%) 1.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fasilitas yang digunakan dalam setiap kegiatan kebudayaan fasilitas yang digunakan cukup berkualitas.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa teknologi informasi yang digunakan dalam mendukung kebudayaan di Kota Makassar kurang maksimal. Dukungan Fasilitas Teknologi Informasi Fasilitas teknologi informasi yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas sangat dibutuhkan. Hal ini dapat dilihat saat melakukan kegiatan kebudayaan Teknologi Informasi yang digunakan dapat digunakan baik oleh masyarakat maupun pihak.58 33. Tidak Berkualitas Jumlah Sumber : Data Primer diolah November 2008 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kualitas fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar kurang berkualitas.33 15.87 100. Fasilitas yang memadai akan memberikan kemudahan kepada pengguna Teknologi Informasi untuk memperoleh data dan informasi. Karena dari 63 orang yang memberikan jawaban kurang berkualitas adalah 21 orang (33.22 28. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa fasilitas yang digunakan dalam mendukung peningkatan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar telah memadai dan memiliki kualitas yang cukup berkualitas. Sangat Berkualitas 2. Berikut pendapat responden tentang kualitas fasilitas Teknologi Informasi dalam mendukung perkembagan budaya masyarakat di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 3 Pendapat Responden Tentang Kualitas Sarana dan Prasarana Dalam Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Perkembagan Kebudayaan di Kota Makassar No Pendapat Responden Frekuensi (orang) 14 18 21 10 63 Persentase (%) 22. Kurang berkualitas 4. Dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar selain menggunakan fasilitas yang dimiliki. Berikut pendapat responden tentang kuantitas fasilitas yang dimiliki dalam mendukung penggunaan Teknologi Informasi yaitu sebagai berikut : .33 %). Berkualitas 3. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya masyarakat yang kurang memahami pemanfaatan globlalisasi Teknologi Informasi dari seluruh aspek kehidupan termasuk perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.00 1. pihak Pemerintah Kota juga melakukan kerjasama dengan pihak penyediaan layanan Teknologi Informasi untuk mendukung kualitas fasilitas yang digunakan. Demikianlah halnya penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar memerlukan fasilitas yang memadai bai dari segi kualitas maupun kuantitas.

Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar kurang baik. 3.51 19. 3.00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar dari segi kuantitas masih kurang. 2. Hal ini disebabkan keterbatasan anggaran yang dimiliki untuk melakukan penambahan fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan kebudayaan masyarakat di Kota Makassar kurang maksimal.68 31.51 14. maka untuk mendukung kegiatan kebudayaan masih menyewa peralatan dari penyediaan layanan Teknologi Informasi.92 100. Frekuensi (orang) Sangat baik 4 Baik 7 Kurang Baik 21 Tidak Baik 15 Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 Pendapat Responden Persentase (%) 8.89 44. Sikap dan Perilaku Masyarakat Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar perlu didukung sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami Teknologi Informasi tersebut. Pendapat Responden Frekuensi Sangat baik 11 Baik 17 Kurang Baik 23 Tidak Baik 12 Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 Persentase 17.05 100. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Makassar.98 36. Hal ini dapat dilihat saat melakukan kegiatan kebudayaan.00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan . 2. Berikut pendapat responden tentang sikap dan perilaku masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 5 Pendapat Responden Tentang Sikap Masyarakat Terhadap Penggunaan Teknologi Informasi Dalam Mendukung Perkembangan Budaya Masyarakat No 1.Tabel 4 Pendapat Responden Tentang Fasilitas Teknologi Informasi Dari Segi Kuantitas Dalam Mendukung Kegiatan Kebudayaan di Kota Makassar No 1. 4. 4. Kurang memadainya fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dari segi jumlah masih sangat terbatas.68 %). Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang baik sebanyak 21 orang (44. Dukungan sikap dan perilaku masyarakat untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar.46 26.

29 20.16 100.51 %). 3. 3. Hal ini dapat dilihat dari sikap masyarakat untuk mengetahui perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Kurangnya keinginan tersebut disebabkan : 1.00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa sikap masyarakat dalam memahami Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang memahami. Frekuensi (orang) Sangat memahami 9 Memahami 13 Kurang Memahami 22 Tidak memahami 19 Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 Pendapat Responden Persentase (%) 14.63 34.92 30. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik. Berikut pendapat responden tentang pemahaman masyarakat terhadap Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 6 Pendapat Responden Tentang Pemahaman Masyarakat Terhadap TI Mendukung Perkembangan Budaya Masyarakat No 1. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang baik sebanyak 23 orang (36. 2.di Kota Makassar kurang baik. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar memerlukan pemahaman dari masyarakat. . Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sikap masyarakat terhadap Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik. Hal ini dapat dilihat dari keinginan dan animo masyarakat untuk mengetahui perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar. Masyarakat kurang termotivasi tentang kegiatan kebudayaan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari sikap masyarakat untuk mengetahui perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari pemerintah. kurangnya sosialisasi yang dilakukan Pemerintah Kota Makassar kepada masyarakat untuk memanfaatkan Teknologi Informasi dalam mengetahui perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. 4. Website yang memuat kegiatan kebudayaan di Kota Makassar sering mengalami gangguan atau dalam melakukan download file mengalami gangguan. 2. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang memahami sebanyak 22 orang (34.93 %).

Longman Publisher. Employment. http://www. The End of The Nation State – The Rise of Regional Economies. Saran Adapun saran yang dapat diberikan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut : 1.. Daftar Bacaan Giddens. Kemampuan Pemerintah dan kemampuan masyarakat kurang mampu memberikan dukungan terhadap pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi dalam perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. The Standard of Living. dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar kurang optimal. Technology & Development. 2. London: Harper Collins. yaitu : 1. 1995 Sen. London. 1995 Ohmae. Khususnya kemampuan masyarakat dalam memahami pentingnya pemanfaatan Teknologi Informasi.PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan pembahasan di atas.infokomputer. India. Denise E.com/ di-Up load oleh: Anton Waspo .com/ Kontan On-line. Sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi kurang optimal. 1975 Sen. 3. Kenichi. Singapore. Fasilitas yang digunakan baik segi kualitas dan kuantitas kurang mampu mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Knowledge Machine : Language & Information in a Technological Society. Perlunya sosialisasi yang dilakukan pemerintah dalam mendukung peningkatan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. 2000 Murray. 1985 Lain-lain : Infokomputer. Polity Press. Amartya.kontan-online. http://www. 3.com Edisi Juli-Agustus 2000. Hal ini dilihat dari beberapa faktor pendukung yang kurang terlaksana secara baik. Perlunya penambahan fasilitas yang memadai dalam mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Sikap dan perilaku yang dimiliki oleh masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi sangat penting dimiliki sehingga masyarakat dapat memanfaatkan Teknologi Informasi secara maksimal dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. 9 Oktober 2000. 2. Anthony. Oxford University Press. Third Way and Its Critics. Amartya. Cambridge University Press. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang kurang mengerti dan memahami pentingnya Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.

siaran televisi. Jakarta . termasuk calon TKI mengenai informasi ketenagakerjaan belum banyak diungkapkan. Di samping pemanfaatan internet. khususnya di Kota Palangkaraya. perlu dibangun jaringan LAN ketenagakerjaan di antara instansi ketenagakerjaan yang terkait. sebelumnya peneliti yang sama pada Pusat Pengembangan Literasi Departemen Komunikasi dan Informatika. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online pernah dilakukan dengan menggunakan internet khususnya e mail dan browsing. apakah diseminasi informasi online sudah berjalan ? Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif dengan fenomenologi realistik. tetapi sementara tidak dapat difungsikan karena hambatan dana. Di dalamnya diungkapkan apa saja yang dilaksanakan Dinas Tenaga Kerja sebagai institusi pemerintah di Daerah tersebut kepada pencari kerja. Dinas Tenaga Kerja Latar Belakang Masalah Keluhan pencari kerja. Informasi yang diperoleh pencari kerja di Tanah Air dari sumber informasi resmi masih amat terbatas tentang informasi lowongan pekerjaan. Umumnya informasi tentang hak dan kewajiban TKI yang lengkap belum diterima pada saat pendaftaran dan proses rekrutmen calon TKI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua Dinas Tenaga Kerja tersebut telah melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan secara variatif melalui spanduk. Di masa yang akan datang. kedua Dinas Tenaga Kerja itu disarankan menyediakan leaflet berisi informasi ketenagakerjaan seperti lowongan pekerjaan dan persyaratan pembuatan kartu kuning. Sikap ini terjadi karena kurang lengkap pengetahuan dan informasi yang dimilikinya mengenai hak dan kewajiban seorang TKI. Calon TKI sebagai pencari kerja juga biasanya mengingikan informasi yang dianggap menarik perhatian saja seperti mengenai adat istiadat dan agama. perusahaan tempat kerja. serta penyampaian informasi secara langsung atau tatap muka. 4 Penulis adalah Peneliti Madya bidang Studi Komunikasi dan Media pada Pusat Litbang Aptel SKDI. Semua aktivitas tersebut belum maksimal menjangkau khalayak pencari kerja. calon TKI sebagai pencari kerja cenderung menerima saja informasi yang disampaikan petugas atau sponsor. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan dan wawancara mendalam (depth interview) serta mempelajari data sekunder.Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan Pada Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Kota Palangkaraya Oleh : Paraden Lucas Sidauruk4 Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran bagaimana pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Provinsi Kalimantan Tengah. serta peraturan cuti kerja di negara tujuan. Oleh karena itu. sistem gaji dan uang lembur. Wawancara menggunakan pedoman wawancara dengan nara sumber di Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan di Kota Palangkarya. Sejauh ini belum banyak diteliti mengenai informasi apa yang selama ini diterima oleh pencari kerja baik yang bekerja di dalam negeri maupun calon TKI yang hendak berangkat ke luar negeri. buletin dan leaflet. dan pencari kerja di loket diseminasi kartu kuning. Pencari Kerja. Kata Kunci : Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan.

juga sering dikeluhkan kurangnya kualitas sumber daya manusia yang menangani kegiatan diseminasi informasi tersebut. Dalam kenyataannya. . Apa yang diharapkan oleh khalayak pencari kerja tidak lain adalah agar mereka mendapatkan informasi ketenagakerjaan sesuai dengan kebutuhannya. tiap pencari kerja berhak untuk mendapatkan informasi yang lengkap sesuai dengan kebutuhannya sehingga mereka bisa membuat keputusan yang tepat. Akibatnya. Kalimantan Tengah.Oleh karena itu. perlu penelitian mengenai pemerintah sebagai komunikator yang menangani ketenagakerjaan dalam diseminasi informasi ketenagakerjaan. Selain karena kurangnya sarana komunikasi. Informasi apa yang disampaikan oleh pemerintah kepada pencari kerja ? Tujuan dan Manfaat Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Palangkarya. Provinsi Kalimantan Tengah ?” Beberapa pertanyaan penelitian dapat diajukan. Banyak juga yang menganggap pekerjaan tertentu hanya sebagai batu loncatan seperti bekerja sebagai penjual (sales) atau bekerja di perusahaan atau instansi yang tidak sesuai dengan harapannya. perlu dijawab informasi apa yang disampaikan sumber informasi tersebut selama ini kepada stakeholder khusunya pencari kerja. 2. Apa saja yang dilaksanakan pemerintah untuk pencari kerja dalam diseminasi informasi ketenagakerjaan? 2. Pemenuhan kebutuhan informasi ketenagakerjaan melalui diseminasi informasi yang efektif dapat memberdayakan pencari kerja sebagai warga negara. yaitu : 1. Rumusan Masalah Masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : ”Bagaimana pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Kota Palangkaraya. Komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan selama ini masih belum mampu memenuhi kebutuhan informasi ketenagakerjaan pencari kerja seperti juga terjadi di Palangkaraya. Secara spesifik melalui studi ini dapat diketahui : 1. Sebagai pencari kerja mereka belum mendapatkan informasi ketenagakerjaan yang mencukupi untuk melamar pekerjaan atau menciptakan lapangan kerja baru. Kurangnya informasi ketenagakerjaan membuat pencari kerja tidak melihat adanya alternatif atau kesempatan kerja lain. Di samping masalah informasi ketenagakerjaan itu.Padahal semua informasi berkaitan dengan ketenagakerjaan itu merupakan hak seorang pencari kerja sebagai warganegara yang dijamin oleh Pasal 28 F UUD 1945 dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. tidak sedikit di antaranya berganti-ganti pekerjaan dalam waktu singkat. Pencari kerja ini menggunakan informasi itu dalam jumlah yang cukup untuk menghasilaan keputusan yang tepat. tidak sedikit pula pencari kerja yang menerima tawaran suatu pekerjaan tanpa didasari pada keputusan yang matang. Provinsi Kalimantan Tengah. Apakah diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui on line telah dilaksanakan pemerintah kepada pencari kerja ? 3. Berdasarkan pemikiran itu. sumber informasi resmi di bidang ketenagakerjaan belum sepenuhnya melakukan diseminasi informasi ketenagakerjaan sebagai sutatu bentuk komunikasi yang benar-benar menjangkau khalayak pencari kerja. Pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan on line kepada pencari kerja. Diseminasi informasi ketenagakerjaan yang dilaksanakan pemerintah untuk pencari kerja. Untuk memutuskan apakah pencari kerja bekerja di luar negeri atau di dalam negeri dibutuhkan data dan informasi ketenagakerjaan yang memadai. Selain itu.

2007 : 72-73) Informasi yang dikandung dalam pesan itu akan digunakan khalayak. Informasi yang disampaikan pemerintah kepada pencari kerja. 1993 :72) meliputi Why. 1997 : 50) bahwa “information refers to the opportunity to reduce uncertainty”.3. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkarya saran-saran penelitian ini dapat diterapkan untuk meningkatkan diseminasi infomasi ketenagakerjaan kepada pencari kerja. Di samping itu. punya integritas serta dipercayai oleh pihak komunikan (khalayak)” Dalam diseminasi informasi sebagai proses komunikasi yang efektif memerlukan pengemasan pesan sehingga menimbulkan kebutuhan bagi khalayak. Ibnu Hamad (2007) mengatakan pembahasan lebih pada diseminasi informasi menggunakan 5W & 1H. (1993 : 204) . dan (2) dinilai jujur. maka pesan tersebut hendaknya mudah dipahami baik bahasa. 1973 dalam Hamidi. ”seorang komunikator akan berhasil dalam upaya persuasi yang dilakukannya apabilka ia (1) dipandang punya pengetahuan dan keahlian. sedikitnya ada tiga karakteristik dari sumber yang perlu diperhatikan yakni : ’credibility’ (kredibilitas). Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kredibilitas komunikator adalah kekuasaan dan keahlian yang dimiliki sehingga menimbulkan kepercayaan di mata khalayak. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai referensi menambah khazanah pengetahuan mengenai diseminasi informasi. When. Bagi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. apabila syaratsyarat pesan yang baik itu dapat terpenuhi. keahlian. Proses . Setidaknya. istilah. ’attractiveness’ (daya tarik) dan ’power’ (kekuasaan/kekuatan)” Credibility atau kredibilitas menunjuk pada suatu kondisi di mana si sumber dinilai punya pengetahuan.. Where. sehingga pihak penerima menjadi percaya bahwa pesan yang disampaikannya itu bersifat objektif” Lebih lanjut dikemukakannya. terutama dalam mempersiapkan implementasi Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik. unsur komunikator (who). atau pengalaman yang relevan dengan atau topik pesan yang disampaikannya. kata-kata dan kalimatnya (Wilbur Scramm. Komunikasi dapat berlangsung jika unsur-unsur yang menopangnya ada dan berperan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Agar khalayak tertarik terhadap pesan yang disampaikan komunikator. What.. Harold D. Laswell dalam Wilbur Schramm (1963 :117) mengatakan ”a convenient way to describe an act of communication is to answer the following questions : who says what in which channel to whom with what effect ?” Schramm menunjukkan unsur-unsur yang menggambarkan suatu tindakan komunikasi. Kerangka Pemikiran Tiap unsur komunikasi mempunyai perannya sendiri untuk mewujudkan proses komunikasi yang efektif. secara praktis dapat digunakan sebagai masukan dalam penyusunan/penyempurnaan kebijakan pelayanan atau diseminasi informasi pada Departemen Komunikasi dan Informatika. perlu dirancang agar pesan menarik perhatian. Dengan kekuasaan dimaksudkan sumber informasi mempunyai kewenangan di bidangnya secara resmi. Pemerintah sebagai komunikator atau sumber informasi menyampaikan pesan (message) kepada khalayaknya. Rumus 5W & 1H yang dipakai dalam penyusunan berita ( Effendy. Terlebih lagi karena informasi berharga guna mengurangi ketidakpastian seperti dikemukakan dalam Shannon dalam Griffin. Dalam kaitannya dengan diseminasi informasi sebagai bentuk dan proses komunikasi. pentingnya pelaku (sumber) dalam suatu kegiatan. dan How dapat juga digunakan untuk diseminasi informasi. Menurut Sasa Djuarsa dkk. Untuk itu. Dalam hal ini. Who. Satu unsur saja tidak ada membuat komunikasi tidak berlangsung dengan baik. pesan (what) dan khalayak (whom) merupakan variabel penelitian yang penting dicermati dalam studi diseminasi informasi pada instasni pemerintah.

1979) Informasi adalah “data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini atau mendatang” (Gordon B Davis. Hal itu semakin jelas.. Secara implisit mereka membutuhkan informasi ketenagakerjaan yang berguna untuk membantunya dalam mencari atau melamar pekerjaan. pencari kerja termasuk informasi TKI meliputi persyaratan dan prosedur bekerja di luar negeri. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online adalah diseminasi informasi ketenagakerjaan yang “terhubung secara langsung ke internet” (Jasmadi. Dalam hubungannya dengan penelitian ini. apalagi jika komunikatornya merupakan instansi pemerintah yang dianggap memiliki kredibilitas di bidangnya. dan bahwa pesan adalah apa yang dibutuhkan oleh khalayak. tetapi mempunyai pandangan terhadap pesan dan komunikator. Diseminasi informasi ketenagakerjaan adalah suatu bentuk komunikasi yang menyampaikan atau menyebarkan informasi atau pesan mengenai ketenagakerjaan dari pemerintah sebagai komunikator kepada khalayak pencari kerja.. Padahal khalayak sebagai sasaran juga memiliki sikap sendiri dalam berkomunikasi sesuai dengan kepentingan dan tujuannya..28). dkk (1993 : 221) . dalam merancang suatu kegiatan komunikasi apakah melalui saluran kegiatan komunikasi personal atau melalui media massa. 1995. Dalam hal ini sebagai komunikator adalah instansi pemerintah. hak dan kewajiban TKI. . Khalayak ternyata tidak pasif dalam proses komunikasi.. cara lain dan relasi sosial”. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya. bahkan untuk membuka lapangan pekerjaan baru. Mereka aktif dan juga selektif. 2004 : 230) Komunikator atau sumber informasi adalah unsur dalam proses komunikasi yang menyampaikan atau menyebarluaskan pesan atau informasi kepada khalayak. khalayak bukanlah merupakan sekumpulan dari indvidu-individu yang bersikap dan bertindak ’pasip’. Karena itulah. yakni Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. John Fiske (2006 : 208) mengemukakan “khalayak memiliki sekumpulan kebutuhan yang dicari pemuasannya melalui media massa. kita seyogyanya berorientasi ke khalayak sasaran (audience oriented)” Sejalan dengan itu. Definisi Konseptual Diseminasi adalah penyebaran (of information) (John M Echols dan Hassan Shadily. Pesan adalah data dan informasi ketenagakejaan yang disampaikan oleh pemerintah kepada pencari kerja. Dalam hal inilah pentingnya pengetahuan dan informasi bagi khalayak sehingga dapat menentukan sikap yang tepat. Sebagai khalayak adalah pencari kerja baik pencari yang bekerja di dalam negeri maupun di luar negeri (calon TKI). lowongan kerja. khalayak dalam proses komunikasi yang dimaksud adalah pencari kerja yang juga pencari informasi.pengambilan keputusan yang memberikan kepastian hanya mungkin jika tersedia informasi yang cukup. Menurut Sasa Djuarsa Sendjaja... Informasi ketenagakerjaan adalah informasi yang berkaitan dengan ketenagakerjaan seperti peraturan ketenagakerjaan. Model ini mengasumsikan khalayak setidaknya sama aktifnya dengan pengirim. Unsur komunikasi lain adalah khalayak seringkali dipersepsikan sebagai unsur yang kurang penting karena dianggap sebagai orang bersikap pasif dan menerima saja apa yang disampaikan oleh komunikator. bukan yang dimaksudkan oleh pengirim. Khalayak adalah unsur dalam proses komunikasi yang merupakan sasaran dari penyampaian pesan atau penerima informasi dari komunikator atau sumber informasi.

2007 : 44) Dalam hal ini salah satu varian fenomenologi yang digunakan adalah fenomelogi realistik. logis dan rasional yang digunakan oleh peneliti ketika merencanakan. sedangkan data yang kurang relevan tidak dimasukkan dalam analisis. Narasumber yang diwawancarai adalah pejabat Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. Dengan penelitian ini diharapkan dapat digambarkan proses diseminasi informasi dan jenis kebutuhan informasi khalayak pencari kerja. dan pencari kerja. mulia dan besar. Metode Penelitian Metode penelitian merupakan seperangkat cara yang sistematik. Menurut Embree (1998 :333-343) dalam Pawito (2007 :58). Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan fenomenologi. petugas loket pelayanan kartu kuning.400 km2. Aman. (Hamidi. pengumpulan data lapangan juga dilakukan wawancara mendalam (depth interview). artinya tempat yang suci.Pencari kerja adalah setiap orang yang terdaftar di Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota / Kabupaten untuk mencari atau melamar pekerjaan di dalam negeri maupun di luar negeri Kebutuhan informasi ketenagakerjaan adalah kebutuhan khalayak pencari kerja mengenai informasi ketenagakerjaan. termasuk kegiatan ketenagakerjaan di Kalimantan Tengah. menganalisis dan menyajikan data untuk menarik kesimpulan. Pendekatan kualitatif ”lebih dimaksudkan untuk memberikan gambaran atau pemahaman mengenai gejala (dari perspektif subjek atau aktor).Wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara yang disusun terlebih dahulu. Oleh karena diseminasi informasi ketenagakerjaan langsung kepada pencari kerja melalui loket pengurusan kartu kuning hanya dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Kabupaten / Kota. Data kualitatif yang diperoleh dari jawaban narasumber dan hasil observasi yang benar-benar sesuai dengan tujuan penelitian berkesempatan untuk dianalisis.Provinsi ini terletak di daerah khatulistiwa dengan iklim tropis yang lembab.” Selain melalui pengamatan atau observasi terhadap proses diseminasi informasi di lingkungan instansi pemerintah. Lokasi penelitian ditetapkan secara purposive yaitu Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Provinsi Kalimantan Tengah di Kota Palangkaraya dengan pertimbangan bahwa instansi pemerintah yang melayani informasi ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Tengah terdapat di kota tersebut. 2007 : 122). Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan melakukan reduksi data terlebih dahulu terhadap data yang masuk baik yang diperoleh melalui wawancara mendalam maupun catatan observasi di lapangan. fenomenologi realistik lebih menekankan pada pengamatan serta penggambaran esensi-esensi yang bersifat umum. Satusatunya pemerintahan kota di provinsi ini adalah Palangkaraya dengan luas 2. Mottonya adalah Kota Cantik (Terencana. membuat teori” (Pawito. mengumpulkan. panas . GAMBARAN UMUM Geografi dan Demografi Provinsi Kalimantan Tengah Provinsi Kalimantan Tengah dibentuk berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 10 tahun 1957 dengan ibukota Palangkaraya. Kategori data dibuat berdasarkan permasalahan penelitian dan data lapangan. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya. Tertib dan Keterbukaan). maka dipilih Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkarya dengan alasan kota ini merupakan pusat kegiatan pemerintahan dan masyarakat.

887 Jumlah total penduduk 2.071 92. A. Kalteng.028.514 laki-laki dan 974.176 14 Kota Palangkaraya 91. Barito Selatan 62. 1 kota. Kotawaringin Timur 165.449 9 Kab.351 5 Kab. Pulang Pisau 59. Melayu.937.887 perempuan dapat dilihat pada Tabel 1.961 13 Kab.goid. Giring-giring.637. sawah dan ladang 10.723 Jumlah 1. Tabel 1 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten dan Kota (orang) Penduduk Laki-laki Perempuan 1 Kab. 133-2008) Dalam publikasi yang diterbitkan oleh LIN.823 42. Luas provinsi ini 153. Di seluruh Provinsi Kalimantan Tengah terdapat 30 bahasa daerah. terutama tari-tarian antara lain Deder Ketingan.377 55.2001) dan (http://www.957. Dalam tiga tahun akan ada 126 desa dijadikan percontohan.24 km2 (BPS.028.514 974. (http://www. 95 kecamatan.353 146.003 41. Sukamara 19. Curah hujan terbanyak pada bulan-bulan Oktober sampai dengan Maret. desa dan kelurahan 1. Bahasa Dayak Ngaju sebagai bahasa lingufranca.244.b. Sungai Kahayan. dan Kinyah Kamber. Sungai Katingan. bergaul dengan masyarakat setempat.089 42.75 penduduk / km2.kalteng bps. Kotawaringain Barat 106. Barito Barat 58.401 jiwa terdiri dari 1.124 175. Ma’anyam. (Dinas Tenaga Kerja Pemprov. (2001 : 43-44) dikemukakan bahwa penduduk asli Provinsi Kalimantan Tengah adalah suku bangsa Dayak.132 50. Selain orang Dayak ada juga penduduk pendatang. ”mulai tahun 2008-2010 Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mempunyai program Mamangun Mahaga Lewu (Membangun Menjaga Desa). 2008a :2) Menurut Gubernur. perkebunan 6. Lamandau 28.513 27.go. Katingan 69.36 % dan kepadatan 12. Madura. Agama penduduk nya Islam. Ot-siang.025 12 Kab.Gunung Mas 45.003.455 4 Kab.697 3 Kab. dan Budha. Pada tahun 2005 jumlah penduduk tercatat 1.231 11 Kab.066 7 Kab. Sungai Kapuas.id?web/id/KER 01/profil/kalteng/tanggal 25-4-2008) Secara administratif Provinsi Kalimantan Tengah terbagi atas 13 kabupaten. Lawangan.571 60. Teras Nerang. Kapuas 176.219 16.545 10 Kab. Arab dan China. Ot Danum. Makassar.448 63. Seruyan 57. 2 25 km . Kalteng. tanggal 20-3-2008) Pada tahun 2006 jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Tengah tercatat sebanyak 2.744.003. Kesenian masyarakat Dayak. Kristen.i. Sungai Mentaya dll.566 6 Kab.177 desa dan 122 kelurahan.357 dan 70 % di antaranya adalah desa” (Kompas. 1. Kaharingan. Mereka bermukim dalam komunitas–komunitas desa di sepanjang Sungai Barito. yaitu orang-orang Banjar.259 2 Kab.977 58.383 8 Kab.79 km2. (2008a:2) No Kabupaten/Kota . Katingan dll. yang terdiri dari beberapa sub suku bangsa seperti Ngaju.62 km2. Jawa. Penduduk yang menganut agama Islam merupakan golongan terbesar.401 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. permukiman dan bangunan lainnya 1.861 jiwa dengan laju pertumbuhan 2. Bugis.814 99.564 km2 terdiri dari hutan dan pertanahan lainnya 134. Murung Raya 45. Barito Timur 43.dengan suhu rata-rata 34 0 Celcius.

go.704 411. Sektor pertanian dan perkebunan (berkebun sendiri) dan usaha mencari hasil hutan besar peranannya dalam menyerap tenaga kerja sehingga terkesan penduduk di Kalimantan Tengah.397 orang (1.558 340.kalteng.670 orang. Data ini membuktikan bahwa daerah ini tidak bebas dari pengangguran meski wlayahnya amat luas untuk bisa digarap sebagai lahan pertanian.7 %) turun menjadi 55.168 376.337.Hal ini mendorong penduduk perdesaan pindah (urbanisasi) ke kota Palangkaraya sebagai pencari kerja baru.289 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. tanggal 25-4-2008).497 Bukan Angk.887 1.991. tetapi lebih terkonsentrasi di perkotaan. Minat penduduk untuk bekerja sebagai pegawai negeri sipil.8 % dan perempuan 13.7 %. seperti perdagangan. Penduduk memilih bertempat tinggal di perkotaan karena faktor lapangan kerja sektor formal yang mulai berkembang. Kalteng. (Dinas Tenaga Kerja. terutama di perdesaan hampir tidak ada yang kelihatan menganggur secara total.360 Sisa Pencaker 2007 20.690 82. Berkaitan dengan kondisi ketenagakerjaan di provinsi ini. kecuali di Kota Palangkaraya.180 jiwa. Perusahaan dan mall di Kota Palangkaraya mulai menawarkan pekerjaan khusus untuk wanita sebagai sales promotion girls (SPG).579 jiwa.478 Penganggur 35.280 954.id/ viewarticle.329 187.585 598.690 orang jauh lebih besar daripada jumlah penganggur lakilaki 35. (2008a : 2) Jumlah pengangguran terbuka Agustus 2006 67. 2008a : 2-3) Pada Tabel 2 dapat dilihat jumlah penganggur sebesar 82. jasa.6 % dengan jumlah penganggur laki-laki 5.asp.838 Kesempatan Kerja 578. Setidaknya penduduk di perdesaan bisa menggarap lahan pertanian atau berkebun di tanahnya sendiri atau milik keluarganya sebagai mata pencaharian.048 38.dengan laju pertumbuhan ekonomi tahun 2006 sebesar 5.631 orang (6. dan transportasi. Angka yang disajikan itu merupakan jumlah penganggur yang tercatat secara resmi di Kantor Dinas Tenaga Kerja di Kabupaten/Kota se-Provinsi Kalimantan Tengah. Kabupaten Kapuas merupakan kabupaten terbesar dengan jumlah penduduknya 351.469 Sisa Lowongan 162 183 345 Bukan Tenaga Kerja 189.670 46.423 Angkatan Kerja 614. Pemprov Kalteng.590 872. Penyebaran penduduk masih belum merata di seluruh provinsi Kalimantan Tengah.888 293. tercatat tingkat pengangguran sebesar 8. Tabel itu juga memperlihatkan jumlah penduduk laki-laki secara keseluruhan maupun per kabupaten lebih besar daripada jumlah penduduk perempuan.561.84 %.7 %)” (http://www. sedangkan di kabupaten lainnya jumlah cukup kecil. Berbeda dengan di perdesaan penduduk yang benar-benar tidak bekerja sama sekali sulit ditemukan. TNI/Polri dan karyawan perusahaan dan berwirausaha cukup tinggi. .Tabel 1 menunjukkan tiga kabupaten dan kota Palangkaraya mempunyai jumlah penduduk yang tergolong besar. “Bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian menyebabkan angka pengangguran menurun secara signifikan.0 %) pada Pebruari 2007 atau turun 12. Pendapatan penduduk per kapita pada tahun 2006 mencapai Rp 9. dan kabupaten Sukamara hanya berpenduduk 36.421 18. Keinginan untuk mendapatkan pekerjaan di kota mulai tumbuh di kalangan perempuan di perdesaan. Tabel 2 Data Ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Tengah ( orang) Uraian Laki-laki Perempuan Jumlah Tenaga Kerja 829.Kerja 186.244 orang (5. Umumnya penganggur tersebut berdomisili di perkotaan sebagai akibat dari banyaknya lulusan terdidik khususnya SLTA hingga sarjana.558 974.360 orang terdiri dari penganggur perempuan 46.

suku bangsa.421 18. Pencari Kerja (Pencaker) Kantor Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah tidak melayani langsung pengurusan kartu kuning bagi pencari kerja. tanggal 28-4-2008) Jumlah penduduknya menurut Tabel 1.463 23.567 D1-D3/SM 3. pindah wilayah. Kalteng.878 Jumlah 20. Bahkan sebagaimana dikemukakan sebelumnya. Tabel 3 Jumlah Pencari Kerja Menurut Tingkat Pendidikan di Kalimantan Tengah (orang) Tingkat Pendidikan Laki-Laki Perempuan Jumlah Tidak Tamat SD 67 24 91 SD 208 99 307 SLTP 717 590 1. dan jumlah pencari kerja yang lebih terkonsentrasi pada pekerjaan perkantoran di instansi pemerintah dan perusahaan swasta. terjadi pertambahan sebanyak 15.307 SLTA 12.201 3. sebagai satu-satunya pemerintahan kota di Provinsi ini tampak karakteristik dan kemajuan perkotaan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi.124 2.764 orang atau 95.Secara selayang pandang gambaran Kota Palangkaraya dalam beberapa hal seperti adat istiadat. 2008a : 8) Jumlah pencari kerja yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berasal dari pencari kerja yang mengurus kartu kuning (AK1) di Kantor Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya di Palangkaraya dan Kantor Dinas Tenaga Kerja yang terdapat di tiga belas kabupaten se-Kalimantan Tengah.449 jiwa dan kepadatan 62.469 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. Pemprov Kalteng. Di samping itu penghapusan sebagai pencari kerja dapat disebabkan karena permintaan sendiri. (http://www. Jadi.469 orang.195 5. sebagian besar 36.197 orang. Pelamar yang hendak mencari . Jumlah para pencari kerja ini merupakan sisa yang tidak dapat disalurkan atau mendapat pekerjaan pada tahun 2007 dan mereka mencoba mendaftar kembali untuk mendapatkan kartu AK1 yang baru. Kartu kuning yang digunakan untuk melengkapi persyaratan lamaran kerja hanya dapat diperoleh di kantor Dinas Tenaga Kerja Kota/Kabupaten melalui loket Diseminasi kartu kuning. Kalteng.org/wki/kota Palangkaraya. Jumlah pencari kerja berpendidikan tinggi D1-S3 ternyata cukup besar 34. agama tidak berbeda jauh dari keadaan Provinsi Kalimantan Tengah. “Pencari kerja yang tidak melaporkan atau tidak mendaftar ulang setelah terdaftar sebagai pencari kerja selama 6 bulan berturut-turut akan dihapuskan sebagai pencari kerja karena diangggap tidak memerlukan Diseminasi antar kerja lagi. tercatat 183. tetapi hanya mengolah dan merangkum data pencari kerja dalam publikasi Berita Pasar Kerja dan Lembar Informasi Ketenagakerjaan yang terbit tiap bulan seperti dapat dilihat pada Tabel 3.51 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2003 tercatat 168. (2008a : 5). Luas kota ini 2678.677 7.wikipeda. (2008a :5) No 1 2 3 4 5 6 Data jumlah sisa pencari kerja atau pencaker hingga akhir tahun 2007 sebesar 38.469 orang diperoleh dari hasil pendaftaran melalui kartu kuning (AK1) yang dikeluarkan oleh Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota atau Kabupaten se Kalimantan Tengah.56 % merupakan tenaga terdidik mulai dari t amatan SLTA hingga kategori S1-S3” (Dinas Tenaga Kerja.345 jiwa dalam waktu lima tahun.319 S1-S3 4. meninggaal dunia atau sudah mendapat pekerjaan” (Dinas Tenaga Kerja Pemprov. “Jumlah pencari kerja yang belum ditempatkan sampai dengan akhir bulan Desember 2007 sebanyak 38.30 % atau 13.89 jiwa/km2.id.048 38.104 11.794 jiwa.

147 2.230 Tenaga Usaha Jasa 1. Kecenderungan pilihan jenis pekerjaan yang favorit di masa yang akan datang bersifat manajerial di instansi pemerintah dan perusahaan swasta.979 Pejabat Pelaksana dan Tata Usaha 3.005 4. (2008a : 4) “ visi Gubernur Kalimantan Tengah Tahun 2005-2010 adalah ‘membuka Isolasi Menuju Kalimantan Tengah yang Sejahtera dan Bermanfaat’. Program dan kebijakan mengenai diseminasi informasi ketenagakerjaan dibuat dalam rangka mencapai visi dan misi Dinas tersebut.pekerjaan di kantor pemerintah (CPNS. misi dan tujuan organisasi pemerintahan tersebut diperlukan kesamaan persepsi semua pejabat. tenaga profesional. Data pencari kerja yang diperoleh dari proses pengurusan kartu tersebut memuat jumlah pencari kerja dan jenis pekerjaan yang diinginkannya. Karena tiap pencari kerja diharuskan mengisi Daftar Isian Pencari Kerja yang disediakan secara gratis. Tabel 4 Jumlah Pencari Kerja Menurut Golongan Pokok Jabatan Pada Tahun 2007di Kalimantan Tengah (orang) No 1 2 3 4 5 6 7 Golongan Pokok Jabatan Laki-Laki Perempuan Profesional. Untuk memahami dan melaksanakan visi. Dalam publikasi Dinas Tenaga Kerja.929 3. Pemprov Kalteng.552 1. Identitas pribadi dan pas photo pencari kerja yang tercantum dalam formulir meliputi tentang pekerjaan sekarang.555 Jumlah 20.560 38.590 10. dan Teknisi 4. Kalteng. 1998) termasuk kebutuhan informasi.048 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov.654 1.TNI. (David Osborne dan Ted Gaebler.643 7. dan pejabat pelaksana cukup banyak diminati ( 66.782 2.Visi dan misi Gubernur Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah di bidang ketenagakerjaan merupakan dasar bagi penentuan visi dan misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. yaitu “reinventing government”. .295 3.164 Tenaga Usaha Pertanian 2.421 18.537 Tenaga Produksi 6. pegawai.64 %).664 1.949 Tenaga Usaha Penjualan 1.818 3. pekerjaan dan upah yang diinginkan pencari kerja. Berdasarkan jumlah kartu yang dikeluarkan Dinas Tenaga Kerja Kota / Kabupaten itu dapat diketahui jumlah yang mendaftar sebagai pencari kerja. Keberhasilan sektor pendidikan melahirkan tenaga terdidik yang cukup besar di wilayah Kalimantan Tengah berpengaruh terhadap pilihan lapangan kerja. tujuan mencari kartu AK1.053 1. peranan visi dan misi semakin penting dalam menjalankan organisasi pemerintahan. Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah Dengan paradigma baru di bidang pemerintahan dewasa ini. seperti dapat dilihat pada Tabel 4 tampaknya jabatan sebagai tenaga produksi. Apabila diperhatikan jenis pekerjaan atau golongan pokok jabatan yang didaftar oleh pencari kerja yang belum ditempatkan (ybdi).634 Kepemimpinan dan Ketatalaksanaan 1. dengan misi di bidang ketenagakerjaan ‘Membangun Balai Pendidikan dan Ketrampilan untuk Meningkatkan Kemampuan Mengembangkan Semangat Kewirausahaan dan Keahlian Berusaha Melalui Kerjasama Dengan Berbagai Pihak Termasuk Perguruan Tinggi’ Berdasarkan hal itu. Tiap organisasi di lingkungan birokrasi pemerintahan lebih digerakkan oleh misinya sehingga birokrasi mampu bertindak cepat dalam melayani masyarakatnya.198 3.469 Pelaksanaan Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan 1. Orientasi pemerintah ditujukan kepada khalayaknya sebagai pelanggan yang harus dipenuhi kebutuhannya. dan stakeholdernya.Polri) dan perusahaan swasta diharuskan melampirkan kartu kuning (AK1) sebagai salah satu syarat. (2008a :5) Jumlah 7.

Menciptakan hubungan industrial yang harmonis antara pekerja.di antaranya disebabkan faktor keberhasilan dunia pendidikan menciptakan tenaga terdidik lebih besar dari daya serap lapangan kerja untuk tenaga terdidik tersebut sehingga terjadi kelebihan penawaran tenaga terdidik (Dinas Tenaga Kerja. Meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. (2008a : 5) Penganggur tersebut merupakan pencari kerja yang sebenarnya membutuhkan informasi ketenagakerjaan. 3. penempatan tenaga kerja dan peningkatan kesempatan kerja di perkotaan dan perdesaan.6 % merupakan yang tertinggi yang pernah dialami . Salah satu indikator rendahnya pendayagunaan atau pemborosan sumber daya manusia adalah tingginya tingkat pengangguran . Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah A. Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Secara fungsional Seksi Informasi Ketenagakerjaan mempunyai tugas untuk melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan. Program perlindungan dan pengembangan kelembagaan. Pembentukan Seksi Informasi Ketenagakerjaan dimaksudkan untuk melakukan diseminasi dan penyebaran informasi ketenagakerjaan. tiap Sub Dinas dan Bagian Tata Usaha pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dapat memberikan informasi mengenai tugas. Memperluas dan mengembangakan kesempatan kerja. sehingga tiap sumber daya manusia yang terdidik dan telah mendapat pelatihan ketrampilan mendapat pekerjaan. Meningkatkan perlindungan dan pengembangan kelembagaan. fungsi dan pekerjaan masing-masing. ”Diseminasi informasi ketenagakerjaan terutama yang ditujukan kepada stakeholder dan masyarakat dianggap sebagai tugas yang penting dalam masyarakat informasi”. Tujuan Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah ditetapkan untuk : 1. Tingginya tingkat pengangguran golongan terdidik -minimal tamatan SLTA. 2. Sedangkan misinya adalah : 1.visi Dinas Tenaga Kerja ‘Mengurangi Tingkat Pengangguran dan Meningkatkan Kualitas Hubungan Industrial untuk Meningkatkan Produktivitas Tenaga Kerja’. kebijakan di bidang ketenagakerjaan pada dasarnya adalah mendayagunakan sepenuhnya sumber daya manusia yang telah dikembangkan melalui pelaksanaan program utama ketenagakerjaan. Mewujukan pembangunan bidang ketenagakerjaan melalui perluasan lapangan kerja. Hal ini berarti fokus perhatian utama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah adalah mengatasi pengangguran. Upaya pemerintah ditujukan untuk memperluas dan mengembankan kesempatan kerja. Sejalan dengan itu disusun Program Dinas tersebut meliputi : 1. termasuk informasi mengenai TKI di provinsi ini. Program perluasan dan pengembangan kesempatan kerja 2. 3. 2. pengusaha dan perlindungan tenaga kerja. Mewujudkan peningkatan kualitas dan produktivitas angkatan kerja. Untuk dapat melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan secara khusus. dibentuk Seksi Informasi Ketenagakerjaan di bawah Sub Dinas Perencanaan dan Program. Adanya pembagian tugas yang jelas tersebut tidak menghalangi satuan organisasi untuk menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. Tingkat pengangguran di Kalimantan Tengah pada tahun 2006 sebesar 8. salah satu tugas Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah yang didelegasikan kepada Seksi Informasi Ketenagakerjaan adalah melaksanakan kegiatan hubungan masyarakat . terutama tentang lowongan kerja yang tersedia di instansi dan perusahaan swasta. Walaupun demikian. 3. Dalam hubungan itu. Basuniansyah. Pemprov Kalteng. Oleh karena itu.

Kepala Seksi . Beberapa leaflet yang diterbitkan antara lain berjudul: 1. tahun 2002. Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. secara internal Seksi Informasi Ketenagakerjaan merupakan supporting unit bagi Sub Dinas dan Bagian Tata Usaha. Kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan yang telah dilaksanakan selama ini secara rutin adalah membuat buletin Lembar Informasi Ketenagakerjaan yang diterbitkan tiap bulan. Leaflet dimaksudkan sebagai sarana komunikasi untuk memperkenalkan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai institusi pemerintahan dan menyebarluaskan informasi atau peraturan ketenagakerjaan. Prosedur TKI Bekerja Ke Luar Negeri. Diseminasi informasi secara institusional di tingkat provinsi merupakan tugas dan tanggung jawab Seksi Informasi Ketenagakerjaan. Kepala Seksi Informasi Ketenagakerjaan hanya dibantu oleh dua pegawai staf berpendidikan tamatan SLTA. lowongan kerja dan pengangguran di Kalimantan Tengah selama satu bulan. Persyaratan Permohonan Izin Pemutusan Hubungan Kerja dan Prosedur Permohonan Banding. Tiga seksi lainnya pada Sub Dinas Perencanaan dan Program yang erat hubungannya dengan Seksi Informasi Ketenagakerjaan. tahun 2004 3. Seksi Rencana dan Program 2. sejumlah leaflet dicetak dan diterbitkan oleh Seksi Informasi Ketenagakerjaan. BPS. Kerjasama antar satuan kerja di lingkungan Dinas terutama karena jumlah dan kualifikasi pegawai yang menangani amat terbatas. Tuntutan pekerjaan menghendaki Seksi ini mampu memberikan dukungan terhadap seluruh satuan organisasi yang berada dalam Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. tetapi dalam hal tertentu seperti kegiatan sosialisasi dan pembuatan spanduk melibatkan seksi lain dan Bagian Tata Usaha. Leaflet tentang TKI tidak disampaikan kepada calon TKI maupun Perusahaan Jasa TKI/Pelaksana Penempatan TKI Swata.guna memperkenalkan ketenagakerjaan. Leaflet yang berisi informasi ketenagakerjaan selain disebarkan di lingkungan instansi pemerintah seperti Bappeda. Sub Dinas Perencanaan dan Program. Pada umumnya Diseminasi informasi ketenagakerjaan dilaksanakan sendiri oleh Seksi tersebut. Sub Dinas Perencanaan dan Program. Seksi Perencanaan Tenaga Kerja Ketiga seksi tersebut senantiasa bekerja sama dengan Seksi Informasi Ketenagakerjaan. pembuatan spanduk bulan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Tata Cara Permintaan Jaminan Kecelakaan Kerja. 2. juga diberikan secara selektif kepada pencari kerja atau petugas pemerintahan yang memintanya. Di samping produk berupa Lembar Informasi Ketenagakerjaan itu. Lembar informasi ketenagakerjaan yang dijilid secara sederhana dengan tampilan sebagai buletin dapat bermanfaat bagi stakeholder atau pengguna karena isinya memuat informasi yang menggambarkan perkembangan pencari kerja. Di samping itu. Kesepakatan Kerjasama Pembangunan Ketenagakerjaan Lintas Kabupaten Kota Se Kalimantan Tengah. Trafiking (Perdagangan) Perempuan dan Anak 9. tahun 2004 5. tahun 2004 4. Jaminan Kecelakaan Kerja Program Jamsostek. Menjadi TKI Meningkatkan Kesejahteraan 10. RAN-PKTP (Rencana Aksi Nasional Penghapusasn Kekerasan Terhadap Perempuan) 8. Dinas Perhubungan. Standarisasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja 7. yaitu : 1. dalam kegiatan penyebaran informasi ketenagakerjaan serti penyusunan dan penerbitan buletin dan leaflet. tahun 2004 6. Menurut Jahidin Siringo-ringo. Seksi Pelaporan dan Evaluasi 3.

Penyebaran informasi ketenagakerjaan melalui media massa khususnya siaran televisi dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Menurut kedua operator. Menurut Fauzi ” hal ini disebabkan belum ada (pencairan) dana tahun anggaran 2008 untuk membayar telepon”. diseminasi informasi mengenai TKI belum dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Untung Surapati nomor 8 Kapuas. Kampanye K3 ini penting bukan saja untuk setiap pekerja. Di samping penyebaran informasi ketenagakerjaan sebagaimana dimuat dalam cakupan kegiatan Seksi Informasi Ketenagakerjaan itu. Sumber daya manusia (SDM) yang menangani internet ini dilaksanakan oleh dua orang operator. Namun. Sub Dinas Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja. gedung-gedung dan tempat kerja lainnya. Diseminasi informasi ketenagakerjaan dalam bulan K3 atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja (12 Desember-12 Januari) dilaksanakan dengan kampanye K3 melalui pemasangan spanduk di pinggir jalan besar dan tempat strategis di kota-kota Kalimantan Tengah.Penyaluran dan Penempatan Tenaga Kerja. Selama ini calon TKI yang akan bekerja ke luar negeri berangkat melalui daerah Kalimantan Selatan. Mahmud Fauzi dan Budi Ahmad Yani. Sebenarnya masalah internet ini tidak banyak berpengaruh terhadap kegiatan pelaporan ketenagakerjaan . Dalam pelatihan diberikan mengoperasikan Windows dan cara membuka situs di internet” Sebelumnnya Maret-April 2007 komputer (Windows) dikirim dulu dan sebagai tindak lanjutnya mereka mengikuti pelatihan komputer itu. diterbitkan pula Laporan Berita Pasar Kerja berupa himpunan data yang berasal dari laporan Informasi Pasar Kerja (IPK) dari seluruh kantor Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten se-Kalimantan Tengah. Kampanye K3 yang dilakukan secara terus menerus diharapkan dapat menjadikan K3 sebagai budaya kerja sehingga para pekerja terhindar dari kecelakaan kerja. di acara itu dikemukakan mengenai perkembangan dan masalah ketenagakerjaan di daerah ini Acara siaran televisi ini dianggap penting sebagai sarana komunikasi untuk menjangkau masyarakat di wilayah yang amat luas seperti Kalimantan Tengah. tetapi juga bagi perusahaan dan pemerintah sebagai penyedia kerja yang bertanggun jawab terhadap keselamatan dan kesehatan pekerjanya. Pada saat penelitian ini dilakukan internet keduanya untuk sementara waktu tidak bisa digunakan karena hambatan keuangan. Pegawai yang dapat mengoperasikan internet sebagai sarana dalam kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan online telah siap sejak Mei 2007. Sosialiasi ini yang dimaksudkan untuk mengingatkan para pekerja agar lebih berhati-hati pada saat bekerja di bangunan-bangunan. sejauh ini belum ada aktivitasnya”. Karena perusahaan TKI ini belum operasional. Internet bisa dioperasikan mulai bulan Mei sampai dengan Desember 2007. yaitu PT Titian Hidup Langgeng di Jalan Kol. “di Kalimantan Tengah hanya terdapat satu perusahaan TKI yang baru berdiri berdasarkan izin tanggal 10 November 2007. Fasilitas yang mendukung aktivitas ini tersedia dua komputer yang tersambung (link) dengan jaringan internet milik Telkom. Wawancara dengan topik ketenagakerjaan dilaksanakan secara periodik ( 3 bulanan ) di TVRI. mereka ”pernah mengikuti pelatihan operator dan mengoperasikan komputer online 3 hari yang dilaksanakan oleh Depnakertrans di Jakarta Mei 2007. Laporan ini terbit tiap bulan merupakan ”salah satu kegiatan Proyek Pengembangan Perluasan Kesempatan Kerja (PPKK) Provinsi Kalimantan Tengah Tahun Anggaran 2007” Pembuatannya dikoordinasikan oleh Sub Dinas Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja. Kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online ditempakan pada satu ruangan dengan Seksi Penyaluran dan Penempatan Tenaga Kerja. Situs (website) Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sendiri belum ada.

3. Kebijakan pembebasan biaya pembuatan kartu kuning dengan jelas tertera pada pengumuman yang ditempel di samping loket. Setelah berkas selesai diproses. Dinas Tenaga Kerja. Selama ini penggunaan internet di Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah terbatas hanya untuk mencari ( browsing) dan mengirim (e-mail) informasi. diseminasi informasi ketenagakerjaan dilaksanakan petugas secara langsung kepada pencari kerja melalui loket dari ruangan pelayanan kartu kuning bersamaan dengan proses pembuatan kartu tersebut. Menurut Kepala Seksi Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja. internet tidak digunakan sebagai satu-satunya sarana pengiriman dan pencarian data dan informasi ketenagakerjaan. Karena itu. 2. Komunikasi data dengan menggunakan LAN masih merupakan tantangan bagi Dinas Tenaga Kerja Provinsi dan Dinas Tenaga Kerja kota dan kabupaten se-Kalimantan Tengah. Untuk mengirim sebagian data dan informasi ketenagakerjaan ke Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta dikirim melalui e mail. Menurut petugas kartu kuning.000. Penggunaan browsing untuk mencari data dan informasi ketenagakerjaan masih terbatas sebagai pelengkap. sering terjadi kekeliruan karena yang diserahkan pencari kerja hanya ijazah terakhir. Sebagai langkah awal tiap pencari kerja diminta untuk mengisi formulir terlebih dahulu dan menyerahkan dokumen sesuai dengan persyaratan seperti tercantum pada pengumuman yang ditempel di samping loket. Kedua fungsi internet itu belum dilaksanakan secara maksimal. Ruangan berukuran 3 x 4 meter ini digunakan untuk memproses dokumen pembuatan kartu kuning dan menyerahkan hasilnya kepada pencari kerja. Pengurusan kartu kuning di kota Palangkaraya mulai tanggal 1 Januari 2007 tidak dipungut biaya. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya. mengingat penggunaannya masih baru dan lebih banyak dimaksudkan sebagai sarana pembelajaran teknologi informasi. petugas kemudian memberikan kartu kuning melalui loket. 2. Darwono “ jumlah pencaker tahun 2007 terdaftar 7. Pada Dinas Tenaga Kerja. pencaker sering hanya membawa ijazah terakhir” Ketidaklengkapan berkas fotocopy ijazah ini timbul karena pencari kerja baru mengetahui informasi persyaratan yang sebenarnya ketika membacanya di samping loket.nakertrans. Semua petugas bekerja berdasarkan petunjuk dan prosedur tetap pembuatan kartu kuning dan mendapatkan bimbingan dari Kepala Seksinya. Demikian pula hubungan dengan stakeholder ketenagakerjaan di Palangkaraya. Meskipun persyaratan ijazah yang dicantumkan dalam pengumuman cukup jelas.per orang masuk kas . Sedangkan untuk mendapatkan informasi dan peraturan ketenagakerjaan terbaru sebagian dilakukan melalui browsing ke situs www. Pasfoto ukuran 3x4 cm 3 lembar. Persyaratan pembuatan kartu kuning (AK1) dalam pengumuman 29 November 2006 adalah : 1.karena bukan andalan utama untuk mengirim data dan informasi ketenagakerjaan. “keluhan pencaker tidak ada. Fotocopy KTP yang masih berlaku 1 lembar.. go id di Jakarta. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya Masalah pengangguran yang berkaitan erat dengan pencari kerja merupakan salah satu aspek ketenagakerjaan yang mendapatkan prioritas dalam program Dinas Tenaga Kerja baik di provinsi maupun di kota dan kabupaten. Fotocopy ijazah SD s/d terakhir 1 lembar. Kalimantan Tengah belum memakai fasilitas jaringan Local Area Network (LAN). Penggunaan cara manual dengan surat merupakan cara pengiriman yang utama. Petugas adalah pegawai dari Seksi Penempatan dan Perluasan Kerja yang ditempatkan di ruangan pembuatan kartu kuning. Selama 2002-2006 dipungut Rp 10. Lilik.000-an.

Oleh karena itu. Dengan seizin petugas. tidak ada keleluasaan bagi pencari kerja untuk bertanya guna mendapatkan informasi yang lengkap. Kenyataannya. petugas wanita yang melayani pembuatan kartu kuning... Keluhan yang sama dilontarkan oleh Nia (24 tahun). Dengan mendapatkan informasi ketenagakerjaan pencari kerja mengetahui apa yang seharusnya dilakukan untuk mempersiapkan dan melamar pekerjaan secara lengkap Ketika mengurus karu kuning pencari kerja sekaligus memperoleh informai ketenagakerjaan. prosedur dan syarat melamar perusahaan dan instansi pemerintah yang menawarkan pekerjaan. Kedua kebutuhan ini menyatu sehingga sukar untuk dipisahkan. perlu petugas loket informasi yang fokus memberikan informasi” Untuk mendapatkan informasi ketenagakerjaan secara detail melalui loket tidak dimungkinkan karena tidak adanya petugas dan loket informasi. Komunikasi tidak dapat berlangsung lama sebab petugas amat sibuk melayani pencari kerja yang antre di depan loket. Para pencari kerja mendapat informasi dari petugas secara langsung atau mengetahuinya dari pengumuman yang ada di loket pelayanan kartu kuning. seperti persyaratan pembuatan kartu kuning. informasi lowongan kerja.bertentangan dengan ILO dan pencaker masih penganggur. Berdasarkan data pencari kerja itu perusahaan akan menawarkan informasi pekerjaan sebagai SPG melalui surat ke alamat masing-masing. Peranan pengumuman ini sangat bermanfaat dalam diseminasi informasi lowongan pekerjaan. Namun. Menurut seorang pencari kerja yang mengurus kartu kuning. Kebanyakan pencari kerja mengetahui adanya lowongan pekerjaan yang ditawarkan instansi dan perusahaan dari papan pengumuman tersebut. kebutuhan akan mendapatkan pekerjaan secara implisit di dalamnya ada kebutuhan informasi ketenagakerjaan atau sebaliknya. Peranan loket tidak hanya untuk memasukkan berkas dan menyerahkan kartu kuning. Pada waktu yang sama petugas memberikan informasi dan juga menyeleksi berkas pembuatan kartu AK1. alamat dan pendidikan pencari kerja yang telah terdaftar di Buku Daftar Isian Pencari Kerja. yaitu informasi yang berkaitan dengan pekerjaan yang dilamarnya. Informasi mengenai lowongan pekerjaan secara lengkap dapat dibaca pada pengumuman dan karena itu tidak disampaikan lagi. Akibatnya. “informasi lowongan kerja diperoleh bukan dari Dinas Tenaga Kerja. petugas memberikan informasi” kata Lilik. Kebutuhan informasi mendesak dari tiap pencari kerja pada dasarnya sama. Kadangkala beberapa karyawan perusahaan asuransi jiwa yang menempelkan pengumuman lowongan pekerjaan turut memberikan informasi kepada pelamar yang berminat lewat loket.Daerah. ada pula karyawan dari perusahaan swasta yang aktif mencatat nama. walaupun secara ekonomi cukup banyak punya mobil dan motor”. Dalam pelayanan ini tidak ada petugas dan loket khusus yang menyampaikan informasi ketenagakerjaan. karyawan perusahan itu menyampaikan persyaratan dan prosedur untuk mengisi lowongan yang tersedia diperusahaannya secara detail. Kedua pekerjaan itu dilakukan oleh petugas yang sama. Kebanyakan informasi yang disampaikan mengenai persyaratan kartu kuning. Veronika (23 tahun) ”mau menanyakan kepada petugas yang sibuk tidak enak. tapi dari teman-teman” Menurut keduanya diharapkan . tetapi di sana juga terjadi komunikasi antara petugas dengan pembuat kartu kuning yang tidak lain adalah pencari kerja. Pencari kerja yang sedang mengurus kartu kuning dapat mendengarkan suara petugas melalui loket yang sama. Perusahaan yang demikian umumnya berasal dari perusahaan yang membutuhkan banyak karyawan sebagai agent atau tenaga survey. ”Pencaker bertanya. kecuali ditanya oleh pencari kerja. Komunikasi tatap muka terjadi antara petugas yang berada di dalam ruangan dengan pencari kerja yang berdiri di depan loket. kegiatan diseminasi informasi dilakukan secara langsung atau tatap muka (face to face communication) dengan pencari kerja yang datang mendaftarkan diri di loket pembuatan kartu kuning.

program. Walaupun program pelatihan BLK cukup bermanfaat bagi tenaga kerja. pengetahuan dan motivasi yang diberikan kepada peserta pelatihan. Proses pembuatannya tiap dimulai dari Seksi Informasi Ketenagakerjaan dilanjutkan ke Sub Dinas Perencanaan dan Program hingga ditandatangani Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai penanggung jawab terakhir. orientasinya ke PNS” Padahal peserta bukan saja mendapat informasi dan pengetahuan mengenai pelatihan yang diikutinya. tujuan. Di samping diseminasi informasi langsung melalui loket kartu kuning. kebijakan ketenagakerjaan Dinas Tenaga Kerja Kalimantan Tengah. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya melaksanakan kegiatan pelatihan yang bermaksud meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui Balai Latihan Kerja (BLK). lowongan kerja terdaftar/dihapuskan. Secara lebih rinci informasi yang dimuat di dalam terbitan tersebut. penghapusan pencari kerja. lowongan yang terdaftar. Dalam bab situasi umum diinformasikan tentang keadaan geografi dan demografi.Dinas ini juga memberikan informasi lowongan kerja dan loket pelayanan kartu kuning tidak di belakang kantor. Secara implisit di dalam “Program Peningkatan dan Produktivitas Tenaga Kerja” terdapat informasi. Dinas Tenaga Kerja. Terbitan lain dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah berupa laporan Berita Pasar Kerja yang memuat informasi pasar kerja (IPK) bulanan. Sebagaimana yang tercantum di dalam buletin Lembar Informasi Ketenagakerjaan terdapat bab yang menerangkan situasi umum dan situasi khusus tentang informasi ketenagakerjaan informasi. misi. Jumlah kumulatif pencari kerja . dan penempatan tenaga kerja selama bulan itu. publikasi ini didistribusikan kepada seluruh Dinas Tenaga Kerja di kabupaten/kota se-Kalimantan Tengah. ”Lembar Informasi Ketenagakerjaan ini disusun sebagai sarana penyebaran informasi ketenagakerjaan dan keberhasilan bidang ketenagakerjaan yang dilaksanakan Dinas Tenaga Kerja Provisi Kalimantan Tengah” (Dinas Tenaga Kerja Pemprov Kalteng. tetapi lebih esensial mengenai informasi ketersediaan lowongan pekerjaan. Di dalam bab situasi khusus tercantum mengenai (1) pembinaan dan penempatan tenaga kerja. tetapi juga memperoleh sertifikat dan kesempatan penempatan sesuai dengan jenis pelatihan yang pernah diikutinya di BLK. 2008a :18). Sebagai sarana komunikasi yang lebih bersifat intern. Seperti dalam terbitan Berita Pasar Kerja periode bulan Desember 2007 terdapat informasi tentang jumlah pencari kerja yang terdaftar. Kegiatan pemberdayaan (empowering) tenaga kerja dan masyarakat melalui pelatihan ini secara tidak langsung melakukan diseminasi informasi dan motivasi kepada pesertanya. dan visi. menurut Kepala BLK Drs Anden ”putra daerah tidak mau dilatih dibengkel / bubut. (3) hubungan industrial dan pengawasan ketenagakerjaan antara lain mengenai upah minimum provinsi. Apabila dilihat dari isi publikasinya dapat dikatakan buletin ini merupakan produk unggulan yang dikeluarkan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. pasar kerja bulanan yang memuat tentang pencari kerja terdaftar. Hal ini menggambarkan bahwa kebutuhan informasi ketenagakerjaan tidak hanya sebatas persyaratan pembuatan kartu kuning. PDRB dan pendapatan regional per kapita. Informasi yang disampaikan umumnya mengenai informasi ketenagakerjaan yang dapat dipergunakan sebagai bahan masukan pengambilan kebijakan ketenagakerjaan di Kalimantan Tengah. tetapi ditempatkan di depan kantor supaya mudah diketahui. Informasi yang Disampaikan Dinas Tenaga Kerja Provinsi dan Kota Salah satu penerbitan yang dimaksudkan sebagai sarana diseminasi informasi ketenagakerjaan untuk stakeholders adalah Lembar Informasi Ketenagakerjaan. yakni : 1. 3. penempatan/pengisian lowongan kerja dan (2) pelatihan dan produktivitas tenaga kerja.

Sebagaimana telah dikemukakan. Informasi di dalam leaflet kebanyakan memuat informasi peraturan dan permasalahan ketenagakerjaan secara nasional. Oleh karena itu.2. 2. diseminasi informasi lowongan pekerjaan . Kecuali itu. Diseminasi informasi ketenagakerjaan pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah belum banyak disampaikan kepada khalayak pencari kerja secara langsung. Apabila dilihat dari isi (pesan) di dalam leaflet. 4. 7. Selain itu. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya melalui loket pelayanan pembuatan kartu kuning. ada juga leaflet yang bermaksud memperkenalkan visi dan misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai instansi pemerintah di bidang ketenagakerjaan.Selain itu. 8. Informasi yang disampaikan petugas secara langsung di loket Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya kebanyakan mengenai persyaratan pembuatan kartu kuning kepada pencari kerja yang datang sendiri di instansi tersebut. Pendaftaran pencari kerja Pencari kerja yang ditempatkan Pencari kerja yang dihapuskan Pencari kerja belum ditempatkan Lowongan permintaan tenaga kerja Lowongan yang dipenuhi Lowongan kerja yang belum dipenuhi Sarana diseminasi informasi ketenagakerjaan yang lebih ringkas dan praktis diterbitkan dalam bentuk leaflet. dan penyebaran informasi ketenagakerjaan melalui online tidak berfungsi. diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui spanduk dimaksudkan untuk memberitahukan pentingnya K3 bagi para pekerja. Demikan pula wawancara pada siaran TVRI mengetengahkan informasi mengenai perkembangan dan masalah ketenagakerjaan yang ditujukan kepada masyarakat luas. Informasi tentang instansi Dinas Tenaga Kerja 2. serta penghapusan kekerasan terhadap perempuan. 5. Diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja secara langsung sebagian besar dilaksanakan pada Dinas Tenaga Kerja. Diseminasi informasi mengenai persyaratan kartu tersebut disampaikan petugas kepada pencari kerja secara langsung (tatap muka) bersamaan dengan proses pembuatan kartu kuning. 6. Sejauh ini hanya diseminasi informasi K3 melalui spanduk yang ditujukan kepada tenaga kerja yang bekerja di kota-kota. yaitu : 1. pelatihan di BLK secara implisit menyampaikan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta yang mengikutinya. 3. Informasi lowongan pekerjaan yang tersedia merupakan informasi yang cukup banyak didiseminasikan melalui pengumuman di loket pembuatan kartu AK1. 3. sedangkan kebanyakan penerbitan bulletin dan leaflet dikirim kepada Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten di provinsi ini. Informasi tentang peraturan ketenagakerjaan. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui siaran TVRI kepada masyarakat luas masih minim. Informasi tentang TKI dan perdagangan perempuan dan anak. spanduk kampanye K3 tentu isinya mengenai keselamatan dan kesehatan kerja untuk pekerja. setidaknya dapat dikelompokan menjadi tiga jenis informasi ketenagakerjaan. Kesimpulan Berdasarkan uraian dalam pembahasan sebelumnya dapat ditarik beberapa butir kesimpulan berikut : 1.

DAFTAR PUSTAKA Davis. Rencana Aksi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen. Dinas Tenaga Kerja. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Leaflet..1995. perlu adanya petugas dan loket informasi ketenagakerjaan.2008. 2. tetapi lebih khusus dan detail sehingga dapat dimanfaatkan oleh pencari kerja.disampaikan kepada masyarakat.. Palangkaraya ________. t. Untuk memenuhi kebutuhan informasi khalayak pencari kerja. Transparansi dan Keterbukaan Informasi Publik Undang-Undang Republik Indonesia Nonor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. 3. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya mendiseminasikan peraturan ketenagakerjaan dan lowongan kerja yang lebih luas melalui pengumuman yang terdapat di loket. Bagian I. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui leaflet yang diterbitkan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah tentang peraturan ketenagakerjaan sebaiknya tidak hanya dikirimkan kepada Dinas Tenaga Kerja Kabupaten/Kota. Palangkaraya . Gordon B. Informasi lowongan kerja agar tidak didominasi perusahaan swasta.2008. Penggunaan online melalui internet perlu difungsikan kembali dan di masa yang akan datang perlu dijajaki pemasangan jaringan Local Area Network. Saran Dengan memperhatikan kesimpulan tersebut dapat disampaikan beberapa saran berikut : 1. Berita Pasar Kerja Bulan Desember 2007.t. Pusat Pelayanan Informasi. Palangkaraya ________. sebaiknya Dinas Tenaga Kerja. Bulan Desember 2007. Palangkaraya ________. jumlah pencari kerja dan lowongan kerja. Informasi ketenagakerjaan yang disampaikan Dinas Tenaga Kerja. Jakarta. Umumnya kebutuhan informasi akan peraturan ketenagakerjaan bagi pencari kerja belum dapat dipenuhi oleh kedua Dinas Tenaga Kerja itu. 2002 Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. khususnya pencari kerja melalui pengumuman di loket 3. Dinas Tenaga Kerja. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya agar memanfaatkan loket pelayanan kartu kuning secara maksimal untuk diseminasi informasi ketenagakerjaan. 2008.t. t. tetapi juga disediakan untuk pencari kerja melalui loket pelayanan kartu kuning di Dinas Kota/Kabupatense-Kalimantan Tengah. Untuk itu. Informasi ketenagakerjaan yang berkaitan dengan lowongan pekerjaan sebaiknya tidak bersifat umum. Trafiking (Perdagangan) Perempuan dan Anak. Leaflet. Lembar Informasi Ketenagakerjaan. Palangkaraya ________. Departemen Komunikasi dan Informatika. RAN-PKTP. PT Pustaka Binaman Presindo. Informasi yang disampaikan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah kebanyakan berisi informasi ketenagakerjaan yang bersifat umum seperti informasi peraturan ketenagakerjaan. pengangguran. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya sebagian besar menjawab kebutuhan informasi mengenai persyaratan pembuatan kartu kuning dan informasi lowongan pekerjaan dari sebagian kecil instansi pemerintah dan perusahaan swasta. Jakarta. tetapi diupayakan dari seluruh instansi pemerintah. Leaflet.

”Gubernur Kalteng Dukung DPD Kembangkan Desa dengan Kearifan Lokal”. CV Nuansa Aulia . 2004. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi.t. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Yogyakarta. Sasa Djuarsa. Palangkaraya ________. 2005. Bandung. Standarisasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja. The McGraw-Hill Companies. Palangkaraya. Cultural and Communication Studies : Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Penempatan Pencari Kerja dan Penghapusan Pencari Kerja Menurut Kelompok Pendidikan Tahun 2006 dan Trahun 2007 . Jakarta. Yogyakarta. Pemerintah Kota Palangkaraya. UMM Press Jasmadi. 2007. Menjadi TKI Meningkatkan Kesejahteraan. t. Jakarta. Persyaratan Permohonan Izin Pemutusan Hubungan Kerja dan Prosedur Permohonan Banding. Rekapitulasi Pendaftaran Pencari Kerja. di Jakarta. Leaflet. 2007. Onong Uchjana. t. Pengantar Komunikasi. Leaflet. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Kesepakatan Kerjasama Pembangunan Ketenagakerjaan Lintas Kabupaten Kota Se-Kalimantan Tengah. Yogyakarta. Harold D. Menggunakan Fasilitas Internet.1993. John M dan Hassan Shadily.1963. “Information Theory” dalam A First Look At Communication Theory. PT Pustaka Binaman Presindo. Terjemahan Yosal Iriantara dan Idi Subandy Ibrahim. 2004. Informasi Sosial Budaya. Jakarta Seksi Informasi Ketenagakerjaan Sub Dinas Perencanaan dan Program. Palangkaraya ________. Bandung. Mewirausahakan Birokrasi Reinventing Government. Jakarta. Jalasustra. Jakarta Nerang. PT Gramedia Effendy. 1993.t. Palangkaraya ________.2001. Hamad. Claude dan Warren Weaver. Palangkaraya ________. Leaflet. Laswell. Prosedur TKI Bekerja ke Luar Negeri. 2008. Fiske. Palangkaraya ________.. Echols. Lembaga Informasi Nasional (LIN). 1998. University of Illinois Press. 1997. t. Pawito. New York. Palangkaraya. Himpunan PeundangUndangan Republik Indonesia Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri. dkk. ”The Structure and Function of Communication in Society”.Dinas Tenaga Kerja. 2008. M. 2005. Urbana.Third Edition. Leaflet. David dan Ted Gaebler.2007. Palangkaraya. Pembahasan dan tanggapan(lisan) terhadap “Studi Diseminasi Informasi Peringatan Dini (Early Warning System) Untuk Permasalahan Lingkungan dan Bencana Alam” Seminar. Tim Redaksi Nuansa Aulia.. 2006. tanggal 11-12-2007 Hamidi. 2004.t. Universitas Terbuka Shannon. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja. Inc Sekretariat Jenderal MPR RI. Lembaran. Leaflet.1979. Dinamika Komunikasi. Leaflet. 2004. John. Deli Publising dan Penerbit Andi. 13 Maret. Osborne. Ibnu . Kompas. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat. Mass Communication. Teras A. Malang. 2006. Lowongan Kerja. Sub Dinas Perencanaan dan Program. LKIS Sendjaja. dalam Wilbur Schramm. Kamus Inggris-Indonesia. Penerbit PT Remaja Rosdakarya. Tata Cara Permintaan Jaminan Kecelakaan Kerja.

id?web/id/KER01/profil/kalteng/tanggal 25-4-2008) (http://www. tanggal 25-4-2008) .Internet : (http://www.kalteng.asp. tanggal 20-3-2008) (http://www.goid.kalteng bps.id/ viewarticle.go.b.go.i.

sehingga dapat menumbuhkan minat masyarakat untuk belajar mengetahui penggunaan komputer. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. perkembangan komputer berjalan dengan sangat pesat karena memiliki kelebihan dan kemudahan dalam pemanfaatannya. maka hal ini dinilai sebagai ukuran yang tak lagi memadai. Sehubungan dengan itu penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif dengan menentukan sampelnya sebanyak 75 orang responden. mendapatkan. Komputer adalah alat yang digunakan untuk mengolah data. 5 Penulis adalah Peneliti Madya Pada Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) Medan . 2 Agustus 2009 TINGKAT LITERASI KOMPUTER MASYARAKAT DESA PARDOMUAN –I KECAMATAN PANGURURAN KABUPATEN SAMOSIR PROVINSI SUMATERA UTARA Oleh : Burhanuddin Panjaitan. Jika beberapa waktu lampau “kemampuan membaca” merupakan kemampuan dasar yang penting bagi kemajuan masyarakat. menyimpan. khususnya para pembuat kebijakan. Dalam hal ini teknologi informasi yang berkembang dan penggunaannya meningkat dengan pesat adalah komputer. Volume 10 No. karena beragam konsekuensi/implikasi yang bisa muncul dari perkembangan ini. termasuk komputer diakui sebagai salah satu “lompatan teknologi” yang telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia dewasa ini dan menjadi salah satu kunci perkembangan masa depan. memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi. Dibanding dengan teknologi informasi lainnya. Mengacu kepada hasil penelitian yang dilakukan mengenai tingkat literasi komputer masyarakat Desa Pardomuan –I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara bahwa komputer dinilai penting dan disukai. SH5 Abstrak Teknologi informasi telah memperluas komunikasi yang dilakukan oleh manusia dengan perkembangannya saat ini telah merambah sampai ke pelosok perdesaan. menyusun. Masyarakat Perdesaan. termasuk memproses. Kemampuan dalam memanfaatkan komputer merupakan salah satu indikator yang kini dinilai makin penting. Kata kunci : Literasi Komputer. Kesiapan manusia/masyarakat dalam menyongsong era informasi/digital menjadi salah satu perhatian banyak pihak.II.

yaitu peradaban dimana informasi sudah menjadi komoditas utama. Untuk itu guna menuju transformasi masyarakat menuju masyarakat informasi dan masyarakat berbasis pengetahuan. tetapi juga sumber daya manusia (SDM) atau brainware dengan tingkat literasi (melek) media yang memadai dan kemampuan mengeksplorasi konten (literasi informasi) untuk menciptakan kemakmuran. atas kerja sama Depkominfo dan Japan International Cooperation Agency. belajar. artinya semakin tinggi tingkat literasi sebuah masyarakat semakin tinggi pula harapan hidupnya (Isnaini). karena elektronik bertindak sebagai perantara atau media yang membawa atau menyuarakan informasi dari pengirim ke penerima. Seperti telah diungkapkan di atas. tetapi juga teknologi baru yang diperluas sampai batas optimalnya. Teknologi informasi telah memperluas komunikasi yang dilakukan oleh manusia dengan perkembangannya saat ini telah merambah sampai ke pelosok perdesaan. seperti e-commerce.Ippm. e-biodiversity. menghasilkan tidak hanya sebuah perangkat baru. perkembangan komputer berjalan dengan sangat pesat karena memiliki kelebihan dan kemudahan dalam pemanfaatannya. mengelola perusahaan. Adanya kemajuan teknologi informasi yang digabungkan dengan pendekatan berbagai perangkat keras dan lunak. untuk menggambarkan betapa mudahnya berbagai jenis informasi dapat diakses.id). peradaban masa depan adalah masyarakat informasi (information society). Bahkan dalam sebuah papernya. aplikasi. Mengapa demikian. software.A. Fasli Jalal dan Nina Sardjunani menghubungkan antara tingkat literasi dengan harapan hidup masyarakat. RSY. mendapatkan. menjalankan pemerintahan. dan regulasi (peraturan) yang mendukung. berbelanja ataupun melakukan kegiatan perdagangan (http://www. Ketersediaan informasi yang dapat diakses secara “Instant” melalui telepon. Hal ini seringkali disebut sebagai era globalisasi ataupun revolusi informasi. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. menyimpan. tidak saja membutuhkan infrastruktur (hardware. dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir. termasuk komputer diakui sebagai salah satu “lompatan teknologi” yang telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan . telah menggeser cara manusia bekerja. jaringan internet dan berbagai media elektronik. dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika (Wardiana.ac. Selain itu. termasuk memproses. e-education. emedicine. eletronik secara tidak langsung mempunyai peran strategis dalam mengembangkan masyarakat informasi. memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi. Kusumastuti pada acara pembukaan Diklat Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk kalangan aparatur negara yang diselenggarakan di Jakarta. kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life. e-laboratory. Kemajuan Teknologi Informasi saat ini. Ternyata ada korelasi yang positif antara keduanya. Dan sekarang ini. e-library. dicari. televisi. 2002). e-journal. sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e. Latar Belakang Masalah Sebagaimana diketahui.itb. Komputer adalah alat yang digunakan untuk mengolah data. Dibanding dengan teknologi informasi lainnya. perkembangan teknologi informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan manusia. menyusun. telah menimbulkan banyak perubahan mendasar dalam kehidupan manusia. artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. dan interaksi antar manusia sudah berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK). komputer. Dalam hal ini teknologi informasi yang berkembang dan penggunaannya meningkat dengan pesat adalah komputer. e-government. dan konektivitas/akses) yang handal. disimpulkan serta dapat dikirimkan tanpa lagi mengenal batas-batas geografis suatu negara. demikian antara lain sambutan tertulis Menkominfo yang disampaikan oleh Deputi Bidang SDM Kominfo Ir.

di Kabupaten Samosir pemanfaatan teknologi informasi masih sangat terbatas. khususnya dalam hal pemanfaatan teknologi informasi komputer untuk kepentingan publik. Secara praktis. Tujuan dan Kegunaan Tujuan Penelitian. Kegunaan Penelitian Secara teoritis. Sesuai dengan kenyataan yang ada. a) Untuk mengetahui bagaimana tingkat literasi komputer pada masyarakat Desa Pardomuan-I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. Literacy dalam kamus bahasa inggris. pasar. B. c) Untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang menjadi penghambat bagi masyarakat Desa Pardomuan-I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir dalam menggunakan komputer. masih belum dapat diakses secara cepat dengan teknologi informasi dalam hal ini seperti komputer apalagi Internet. khususnya para pembuat kebijakan. pendidikan. D. Jika beberapa waktu lampau “kemampuan membaca” merupakan kemampuan dasar yang penting bagi kemajuan masyakat. karena beragam konsekuensi/implikasi yang bisa muncul dari perkembangan ini. diartikan sebagai “the . Kesiapan manusia/masyarakat dalam menyongsong era informasi/digital menjadi salah satu perhatian banyak pihak. b) Untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang menjadi pendorong/pendukung bagi masyarakat Desa Pardomuan–I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir dalam menggunakan komputer. Untuk mengatasi kesenjangan ini. pemahaman dan pendayagunaan ICT yang disebut e-literacy. maka hal ini dinilai sebagai ukuran yang tak lagi memadai. Permasalahan a) Bagaimana tingkat literasi komputer pada masyarakat Desa Pardomuan-I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir ? b) Faktor-faktor apakah yang menjadi pendorong/pendukung bagi masyarakat Desa Pardomuan-I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir dalam menggunakan komputer ? c) Faktor-faktor apakah yang menjadi penghambat bagi masyarakat Desa Pardomuan-I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir dalam menggunakan komputer ? C. hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan menjadi referensi dalam penelitian selanjutnya dibidang teknologi informasi khususnya komputer. Kemampuan dalam memanfaatkan komputer merupakan salah satu indikator yang kini dinilai makin penting. hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan masukan untuk kebijakan pemerintah pusat maupun daerah. bahkan masih dijumpai kegiatan surat-menyurat dilakukan secara manual. kesehatan.manusia dewasa ini dan menjadi salah satu kunci perkembangan masa depan. Tinjauan Teori Secara umum untuk menggambarkan kondisi Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang telematika dapat diketahui dari tingkat kesadaran. perlu dilakukan penelitian yang diharapkan dapat mengidentifikasi tingkat pemanfaatan teknologi informasi khususnya komputer dan menemukan gagasan-gagasan yang kontekstual untuk menentukan kebijakan yaitu melalui sebuah pengkajian dan penelitian. Informasi-informasi menyangkut pertanian. pariwisata.

Teori difusi inovasi termasuk kedalam pengertian komunikasi secara luas dalam mengubah masyarakat melalui penyebarserapan ide-ide dan hal-hal yang baru. Dalam bahasa Indonesia bisa disebut dengan kata “melek”. Menurut teori ini. melek teknologi. melek komputer. Pengetahuan : mengetahui adanya inovasi dan memiliki pengertian bagaimana inovasi tersebut berfungsi. yaitu melek informasi.ability to read and write” atau kemampuan untuk membaca dan menulis. Menurut Rogers (1995). ada 4 tahap keputusan seorang individu dalam peneeyebarserapan inovasi baru yaitu : 1. (c) dalam jangka waktu tertentu. melek internet. 4. Bahkan dikatakan oleh Rogers dan Shoemaker. Level 2 Jika seorang individu telah berkali-kali menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu aktivitasnya sehari-hari dan telah memiliki pola keberulangan dalam penggunaannya. (b) dikomunikasikan melalui satu saluran tertentu. ada beberapa jenis literacy atau kadar melek seseorang. berdasarkan konsep atau teori Personal-Capability Maturity Model (P-CMM). terdapat unsur-unsur (a) suatu inovasi. . Persuasi : menentukan sikap suka atau tidak sukanya terhadap inovasi. dan secara langsung maupun tidak langsung telah mewarnai perilaku dan budaya hidupnya (bagian dari information society atau manusia berbudaya informasi). dan secara konsisten mempergunakan standard tersebut sebagai acuan penyelenggaraan aktivitasnya sehari-hari. (d) diantara para anggota suatu sistem sosial. dan telah melibatkan teknologi informasi maupun komunikasi untuk mencarinya. Level 5 Selanjutnya teori yang juga dapat dijadikan acuan adalah teori Difusi Inovasi. level e-literacy seseorang dapat digambarkan sebagai berikut : Level 0 Seorang individu sama sekali tidak tahu dan tidak perduli akan pentingnya informasi dan teknologi untuk kehidupan sehari-hari Level 1 Jika seorang individu pernah memiliki pengalaman satu dua kali dimana informasi merupakan sebuah komponen penting untuk pencapaian keinginan dan pemecahan masalah. Konfirmasi : mencari penguat bagi keputusan yang telah diambil sebelumnya. 3. Keputusan : terlibat dalam kegiatan yang membawa seseorang pada situasi memilih apakah menerima atau menolak inovasi. Dalam bidang yang terkait dengan telematika. 2. Gambaran e-literacy secara konseptual dapat dikategorikan dalam enam kategori. Level 4 Jika seorang individu telah sanggup meningkatkan secara signifikan (dapat dinyatakan secara kuantitatif) kinerja aktivitas kehidupannya sehari-hari melalui pemanfaatan informasi dan teknologi Jika seorang individu telah menganggap informasi sebagai bagian tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. dalam penyebaran suatu inovasi baru. Level 3 Jika seorang individu telah memiliki standard penguasaan dan pemahaman terhadap informasi maupun teknologi yang diperlukannya.

F. 3. 2. kesesuaian. Dalam metode survei. Kemampuan dapat dilihat : maksudnya adalah sejauhmana hasil-hasil dari inovasi tersebut dapat dilihat oleh orang lain dalam waktu cepat. pekerjaan. Variabel Anteseden. 4. yaitu: 1. Variabel Efek. pendidikan. Variabel Penerima. jenis kelamin. dan mampu dilihat hasilnya. Model Teoritis. mampu dicobakan. Maksudnya adalah sejauhmana tingkat penerimaan suatu individu dalam masyarakat terhadap internet dan kemampuannya dalam menguasai internet tersebut. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karaktersitik kejadian ke dalam kelompok atau individu tersebut (Singarimbun. Adapun yang termasuk kedalamnya adalah : usia. . Dimana variabel anteseden ini akan membedakan antara satu karakter individu dengan individu lainnya. keputusan dan konfirmasi. pendapatan. Keuntungan relatif : maksudnya adalah sejauhmana inovasi tersebut dipandang lebih baik dan memberikan keuntungan bagi penggunanya dari teknologi sebelumnya. minat akan informasi dan teknologi internet. Variabel media adalah sejauhmana terpaan media internet (adopsi inovasi) mampu diterima oleh individu dalam masyarakat. Variabel anteseden ini terdiri dari data sosiodemografis dan psikologis masyarakat. Adapun yang termasuk kedalamnya adalah keuntungan relatif. Jenis Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan metode survei yang bertujuan mengumpulkan dan menggali sejumlah besar data untuk dianalisis selanjutnya. Variabel Media. Kesesuaian : sejauhmana inovasi tersebut konsisten terhadap nilai-nilai yang ada. 5. Kemampuan untuk dicoba : sejauhmana inovasi tersebut mungkin dapat dicobakan dengan kemampuan yang terbatas.Selanjutnya Rogers (1995 : 15-16) menegaskan bahwa ada beberapa karakteristik yang mempengaruhi tingkat adopsi inovasi tersebut. 4. Berdasarkan kerangka teoritis di atas. 2. Maksudnya adalah sejauhmana tingkat penguasaan individu dalam masyarakat dengan menggunakan internet. Metode Penelitian 1. 3. tingkat kerumitannya. Yang termasuk kedalamnya adalah tingkat pengetahuan. persuasi. yaitu : 1. adapun konsep-konsep dalam penelitian ini dapat dibedakan menjadi beberapa variabel. Ini dapat dilihat dari tingkat atau level e-literacy. Kerumitan : maksudnya adalah sejauhmana inovasi tersebut dipandang sulit untuk dimengerti atau digunakan oleh penggunanya. 1998:24). E. Variabel Anteseden Variabel Penerima Variabel Media Terpaan Internet Internet Variabel Efek Pemanfaatan dan Psikologis Sosiodemografis Dimensi Inovasi G.

5. Sehingga margin error dalam penelitian ini yang dapat diterima 3/100 x 10 = 0. akan dilakukan pengumpulan data melalui: a. 2003 . baik dari kepustakaan maupun dari sumber-sumber lain yang berhubungan dengan penelitian ini. 2.25 d = interval kesalahan (margin of error) Menurut Lubis. dimana data lapangan yang diperoleh melalui daftar pertanyaan dikoding dan ditabulasi untuk mendapatkan tendensi dengan persentase. maka analisis penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif kuantitatif didukung dengan data kualitatif yang diperoleh melalui indepth-interview.4 dibulatkan menjadi 75. 3.dilakukan juga prasurvey sebagai eksperimen untuk melihat kelayakan penelitian tersebut untuk dilanjutkan. penduduk Desa Pardomuan – I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Propinsi Sumatera Utara. (1. Populasi dan Sampel a. Jadi sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 75 orang responden. Metode Pengumpulan Data Dalam melaksanakan penelitian ini. Propinsi Sumatera Utara. (s)2 (d)2 Keterangan : no = ukuran sampel standard Cochram t = nilai persentil t = 1. Penentuan daerah ini menjadi lokasi penelitian adalah dengan pertimbangan bahwa Pemerintah telah membangun “Kampung Digital” di Kabupaten Samosir.25)2 (0. . 72) dengan rumus sebagai berikut : n0 = (t)2 . peneliti menggunakan formula Cochram (dalam Lubis.30 n = (1. Propinsi Sumatera Utara yang merupakan bagian dari wilayah kerja BBPPKI Medan. b. Ini dilakukan dengan menghimpun data dari berbagai literatur. Populasi Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang mengenal atau mengerti komputer. 2003 . menyatakan bahwa secara umum dalam penelitian. 4. Library Research (Penelitian Kepustakaan). Sampel Berhubung besarnya jumlah populasi yang mengenal atau mengerti komputer di desa Pardomuan – I tidak diketahui. Lokasi Penelitian Penelitian ini memilih lokasi penelitian di Kabupaten Samosir. interval kesalahan pada data adalah sebesar 10% dan untuk data kontiniu sebesar 3%. Yaitu mengumpulkan data dengan cara menghimpun data secara langsung di daerah lokasi yang diteliti dan direkam melalui observasi. Field Research (Penelitian Lapangan). maka untuk menentukan besarnya sampel.30)2 = 75. wawancara dan penyebaran kuesioner.96 s = estimasi standard deviasi populasi 1. b. Metode Analisis Data Sesuai dengan sifat dan tujuannya.96)2 .

kemudian diurutan terakhir responden yang menjawab pernah mendengar dan tahu bentuknya yaitu dengan jumlah persentase sebesar 22. Jumlah penduduk Desa Pardomuan I adalah sebanyak 3. tentang jumlah responden yang pernah mendengar komputer sebagaimana dapat diketahui bahwa responden yang menjawab pernah mendengar dan tahu menggunakannya dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 77.73 100. 2.H. sedangkan jumlah banyaknya rumahtangga sebesar 712 rumahtangga. Sedangkan responden yang memberikan jawaban tidak pernah mendengar dan pernah mendengar tetapi belum melihatnya tidak ada dalam penelitian ini .50 km².34%. Luas wilayah Desa Pardomuan I adalah 2.33 %. dan 1. Tabel – 1 Minat Responden Terhadap TI (Komputer) Keterangan F Sangat berminat 25 Berminat 31 Kurang berminat 19 Tidak berminat Jumlah 75 % 33.513 yang terdiri dari 1. Tabel ini memberikan gambaran tentang minat responden terhadap TI dalam penelitian ini adalah lebih didominasi responden dengan menjawab berminat dengan jumlah persentase 41.menyusul responden yang mengatakan kurang berminat dengan jumlah persentase sebesar 25. Gambaran Umum Lokasi Penelitian. Jarak kantor Kepala Desa Pardomuan I ke Ibukota Kabupaten adalah sejauh 1 km dengan menggunakan roda dua atau roda empat.33 25. sedangkan responden yang mengatakan tidak berminat tidak ada ditemukan dalam penelitian ini.818 orang perempuan. Temuan Penelitian. Tabel – 2 Pengenalan Responden Tentang Komputer NO 1 2 3 4 Keterangan Tidak pernah mendengar Pernah mendengar tetapi belum melihatnya Pernah mendengar dan tahu bentuknya Pernah mendengar dan tahu menggunakannya Jumlah F 17 58 75 % 22.33 %. 4.34 41.695 orang laki-laki.33 100. I.73 %.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban. Desa Pardomuan I memiliki 3 Dusun dan tidak memiliki lingkungan.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan pendapat responden tentang minat terhadap TI sebagaimana terdapat dalam tabel tersebut diatas dapat dilihat bahwa responden yang menjawab berminat menempati urutan pertama dengan jumlah persentase sebesar 41. No 1. urutan kedua adalah responden yang mengatakan sangat berminat yaitu dengan jumlah persentase sebesar 33.67 77.67 %. 3.33%.

34 %. Tabel ini memberikan gambaran bahwa pertama kali responden memperoleh sumber informasi komputer dalam penelitian ini adalah bersumber dari buku-buku computer/Pelajaran di Sekolah. urutan terakhir adalah bahwa responden pertama memperoleh sumber dari Lainnya.33 4. urutan kedua adalah bahwa responden pertama memperoleh sumber dari Majalah. Lainnya.34 %.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Tabel ini memberikan gambaran bahwa responden yang diteliti dalam penelitian ini adalah lebih didominasi oleh yang pernah mendengar dan tahu menggunakannya. Buku-buku Komputer/Pelajaran di Sekolah 33 44. Sering menggunakan 16 21. Memiliki 13 17. Tidak pernah menggunakan 17 22. urutan ketiga adalah bahwa responden pertama memperoleh sumber dari Media Elektronik dengan jumlah persentase sebesar 17. Pernah menggunakan 6 8. Tidak memiliki 62 82.00 4. Kadang-kadang menggunakan 4 5. urutan keempat adalah bahwa responden pertama memperoleh sumber dari Kursus/Les dengan jumlah persentase sebesar 17.33 %.67 2. Setiap hari menggunakan 17 22.34 2. Taboid dengan jumlah persentase sebesar 25.Tabel – 3 Pertama Kali Responden Memperoleh Sumber Informasi Komputer NO Uraian F % 1.66 Jumlah 75 100.00 %. kemudian diurutan terakhir responden yang menjawab tidak memiliki sebanyak 13 responden yaitu dengan jumlah persentase sebesar 17. Teman 1 1. Media Elektronik 13 17.34 3. Kursus/Les 9 12. Tabloid 19 25.00 5.67 Jumlah 75 100. Teman dengan jumlah persentase sebesar 1.34 2.00 Sumber: Hasil penelitian . Tabel – 4 Pemilikan Responden Terhadap Komputer NO Keterangan F % 1.34 %.66 %.00 6.00 5. Tabel – 5 Durasi Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1. Berdasarkan pendapat responden tentang pertama kali responden memperoleh sumber informasi komputer sebagaimana terdapat dalam tabel diatas dapat dilihat bahwa responden pertama memperoleh sumber dari Buku-buku Komputer yaitu menempati urutan pertama dengan jumlah persentase sebesar 44.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang responden yang memiliki komputer sebagaimana dapat diketahui bahwa responden yang menjawab memiliki dalam penelitian ini sebanyak 62 responden yaitu dengan jumlah persentase sebesar 82. Majalah.34 %.00 3. Jarang menggunakan 15 20.33 Jumlah 75 100.

67 2.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 . yaitu dengan jumlah persentase sebesar 21.00 Jumlah 75 100. Tabel ini memberikan gambaran bahwa tingginya animo masyarakat bukan menjadi pendorong responden dalam menggunakan komputer. Tabel – 8 Kemudahan Dalam Menyelesaikan Pekerjaan Sebagai Pendorong/Pendukung Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1.67 %. urutan kedua adalah sering menggunakan.00 2. Ya 42 56.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang pendukung responden menggunakan komputer di urutan pertama yaitu tingginya animo masyarakat untuk belajar dalam penelitian ini dengan jumlah persentase sebesar 25.33 %. Ya 19 25. Tabel – 6 Tingginya Animo Masyarakat Untuk Belajar Sebagai Pendorong/Pendukung Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1. Ya 17 22. Tabel – 7 Dukungan Infrastruktur Lingkungan Sebagai Pendorong/Pendukung Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1. Tidak 58 77.00 %. Tidak 56 74.73 %.67 %.67 Jumlah 75 100. tempat ketiga adalah jarang menggunakan yaitu dengan jumlah persentase sebesar 20. menyusul pernah menggunakan dengan jumlah persentase sebesar 8.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang pendukung responden menggunakan komputer diurutan pertama yaitu dengan dukungan infrastruktur lingkungan dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 22. kemudian menyusul ditempat terakhir responden yang menjawab tidak menjadi pendorong yaitu dengan persentase sebesar 77.33 Jumlah 75 100.n = 75 Berdasarkan pendapat responden tentang durasi penggunanaan komputer adalah yang tidak pernah menggunakan dan setiap hari menggunakan memiliki jumlah persentase yang sama yaitu sebesar 22.00 %.33 2.00 %.67 %. Tabel ini memberikan gambaran bahwa dengan dukungan infrastruktur lingkungan bukan menjadi pendorong responden dalam menggunakan komputer. dan terakhir adalah kadangkadang menggunakan dengan jumlah persentase sebesar 5. Tidak 33 44. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak yaitu dengan persentase sebesar 74.33 %.

00 %. Tidak 54 72. Tabel ini memberikan gambaran bahwa dapat memudahkan memperoleh pekerjaan bukan menjadi pendorong responden untuk menggunakan komputer.67 %. Ya 23 30. kemudian menyusul .67 %.00 2.00 Jumlah 75 100. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak menjadi pendorong dengan persentase sebesar 77.33 %.00 %.Berdasarkan jawaban responden tentang pendukung responden menggunakan komputer diurutan pertama yaitu kemudahan dalam menyelesaikan pekerjaan dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 56.00 %.33 %. Tabel – 9 Adanya Dukungan Kebijakan Sebagai Pendorong Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1. Ya 17 22. Tabel – 11 Dapat Memudahkan Komunikasi Sebagai Pendorong/Pendukung Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1.67 2.67 2.33 Jumlah 75 100.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang pendorong responden menggunakan komputer di urutan pertama yaitu dapat memudahkan memperoleh pekerjaan dengan jumlah persentase sebesar 30. Tabel ini memberikan gambaran bahwa dukungan kebijakan bukan menjadi pendorong responden dalam menggunakan komputer Tabel – 10 Kemudahan Dalam Memperoleh Pekerjaan Sebagai Pendorong/Pendukung Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang pendukung responden menggunakan komputer diurutan pertama yaitu dapat memudahkan komunikasi sebagaimana dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 28. Tidak 58 77. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak menjadi pendorong yaitu dengan persentase sebesar 44. kemudian menyusul ditempat terakhir responden yang menjawab tidak menjadi pendorong yaitu dengan persentase sebesar 69.33 Jumlah 75 100.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang pendorong responden menggunakan komputer diurutan pertama yaitu adanya dukungan kebijakan dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 22. Tabel ini memberikan gambaran bahwa kemudahan dalam menyelesaikan pekerjaan adalah menjadi pendorong responden dalam menggunakan komputer. Tidak 52 69. Ya 21 28.

00 %. . kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak menjadi penghambat yaitu dengan persentase sebesar 56. kemudian menyusul ditempat terakhir responden yang menjawab tidak menjadi penghambat yaitu dengan persentase sebesar 28.00 %.00%.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang penghambat responden menggunakan komputer diurutan pertama yaitu harga komputer yang mahal dalam penelitian ini dengan jumlah persentase sebesar 72.00 Jumlah 75 100. Tabel ini memberikan gambaran bahwa dibeberapa daerah sulit menemukan komputer bukan menjadi penghambat responden dalam menggunakan komputer. Ya 54 72. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak menjadi penghambat dengan persentase sebesar 60. Tabel – 12 Harga Komputer Yang Mahal Sebagai Penghambat Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1.00 2.00 %.00 Jumlah 75 100.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang penghambat responden menggunakan komputer diurutan pertama yaitu biaya les komputer yang mahal dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 44.00 Jumlah 75 100. Tabel – 14 Waktu Tidak Cukup Untuk Belajar Sebagai Penghambat Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1. Ya 33 44. Tabel ini memberikan gambaran bahwa dapat memudahkan komunikasi bukan menjadi pendorong responden untuk menggunakan komputer.00 %. Tabel ini memberikan gambaran bahwa harga komputer yang mahal adalah merupakan penghambat responden untuk menggunakan komputer.00 2.ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak menjadi pendorong yaitu dengan persentase sebesar 72.00 %. Tidak 21 28.00 %.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang penghambat responden menggunakan komputer yaitu ditempat pertama yang menjawab waktu yang tidak cukup untuk belajar dengan jumlah persentase sebesar 40. Tidak 42 56.00 2. Tidak 45 60. Tabel – 13 Biaya Les Komputer Yang Mahal Sebagai Penghambat Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1. Tabel ini memberikan gambaran bahwa waktu tidak cukup untuk belajar bukan menjadi penghambat responden dalam menggunakan komputer. Ya 30 40.

Tabel ini memberikan gambaran bahwa dibeberapa daerah sulit menemukan komputer bukan menjadi penghambat responden dalam menggunakan komputer. Ya 33 44.00 2.00 2. Ya 27 36.00 Jumlah 75 100. Tabel ini memberikan gambaran bahwa dibeberapa daerah sulit menemukan komputer bukan menjadi penghambat responden dalam untuk menggunakan komputer. Tabel – 17 Di Beberapa Daerah Sulit Ditemukan Komputer Sebagai Penghambat Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1. Tabel – 16 Ilmu Komputer Yang Sulit Sebagai Penghambat Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak yaitu dengan persentase sebesar 64. Tabel ini memberikan gambaran bahwa ilmu komputer yang sulit bukan menjadi penghambat responden dalam mendukung responden untuk menggunakan komputer.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang penghambat responden menggunakan komputer yaitu dibeberapa daerah sulit ditemukan komputer sebagaimana dapat diketahui bahwa responden yang menjawab ya dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 36.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang penghambat responden menggunakan komputer diurutan pertama yaitu bahasa inggris yang minim yaitu dengan jumlah persentase sebesar 62.00 %. Tidak 42 56. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak yaitu dengan persentase sebesar 56.00 %.67 2. Tidak 28 37.33 Jumlah 75 100. .00 %.Tabel – 15 Bahasa Inggris Yang Minim Sebagai Penghambat Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1.00 Jumlah 75 100.00 %.67 %. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak yaitu dengan persentase sebesar 37.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang penghambat responden menggunakan komputer yaitu ilmu komputer yang sulit sebagaimana dapat diketahui bahwa responden yang menjawab ya dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 44. Tidak 48 64.33 %. Ya 47 62.

Tidak Mengharapkan 37 49. .67 Jumlah 75 100. Tabel – 20 Harapan Responden Agar Program Pelatihan Komputer Gratis NO Keterangan F % 1. Tabel ini memberikan gambaran bahwa responden berharap agar program pelatihan komputer gratis tidak dipungut biaya.67 2.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden harapan responden agar harga komputer lebih murah dapat diketahui bahwa responden yang menjawab mengharapkan dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 73. Mengharapkan 55 73.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden harapan responden agar program pelatihan komputer gratis dapat diketahui bahwa responden yang menjawab mengharapkan dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 50. Mengharapkan 38 50.33 2. Tidak Mengharapkan 47 62. Mengharapkan 28 37. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak mengharapkan yaitu dengan persentase sebesar 26. Tabel – 19 Harapan Responden Agar Mudah Dalam Mencari Penjualan Komputer NO Keterangan F % 1. Tabel ini memberikan gambaran bahwa responden tidak mengharapkan agar mudah dalam mencari pusat penjualan komputer.67 Jumlah 75 100. Tidak Mengharapkan 20 26. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak mengharapkan yaitu dengan persentase sebesar 49.33%.67 %.33 2.67 %.67 %.33 %.Tabel – 18 Harapan Responden Agar Harga Komputer Lebih Murah NO Keterangan F % 1.33 Jumlah 75 100. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab mengharapkan yaitu dengan persentase sebesar 37. Tabel ini memberikan gambaran bahwa responden mengharapkan agar harga komputer lebih murah.33 %.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden harapan responden agar mudah dalam mencari penjualan komputer dapat diketahui bahwa responden yang menjawab tidak mengharapkan berada pada posisi pertama yaitu dengan jumlah persentase sebesar 62.

00 %. Apabila dikaitkan dengan teori Personal-Capability Maturity Model (P-CMM).67 2.67 %. dan pada level-3 dikatakan jika seorang individu telah memiliki standard penguasaan dan pemahaman terhadap informasi maupun teknologi yang dipergunakannya. secara umum dapat diketahui bahwa tingkat penguasaan responden berada pada level-2 dan level-3. Pembahasan Berdasarkan temuan data-data penelitian diatas dapat dilihat bahwa tingkat literasi terhadap penggunaan komputer adalah telah mampu menguasai pemanfaatannya.Tabel – 21 Harapan Responden Agar Program Komputer Berbahasa Indonesia NO Keterangan F % 1. J.00 %. Mengharapkan 45 60. Mengharapkan 47 62.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden harapan responden agar pengoperasiaan komputer lebih mudah dapat diketahui bahwa responden yang menjawab mengharapkan dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 62.33 Jumlah 75 100.00 Jumlah 75 100. dan secara konsisten mempergunakan standard tersebut sebagai acuan penyelenggaraan aktivitasnya seharihari. Tidak Mengharapkan 30 40. Tidak Mengharapkan 28 37. Tabel ini memberikan gambaran bahwa responden berharap agar pengoperasian komputer lebih mudah.33 %. Tabel ini memberikan gambaran bahwa responden berharap agar program komputer berbahasa Indonesia. karena responden pada umumnya berminat terhadap penggunaan komputer dan telah sering menggunakan komputer bahkan ada yang setiap hari menggunakannya. Tabel – 22 Harapan Responden Agar Pengoperasian Komputer Lebih Mudah NO Keterangan F % 1. Hal ini menunjukkan bahwa menggunakan komputer sudah menjadi kebiasaan rutin di kalangan masyarakat Desa Pardomuan – I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir.00 2. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak mengharapkan yaitu dengan persentase sebesar 37. . kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak mengharapkan yaitu dengan persentase sebesar 40. dimana pada level-2 dikatakan jika seorang individu telah berkali-kali menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu aktivitasnya seharihari dan telah memiliki pola keberulangan dalam penggunaannya.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden harapan responden agar program komputer berbahasa Indonesia dapat diketahui bahwa responden yang menjawab mengharapkan dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 60.

1. Agar pemerintah mengadakan sosialisasi tentang pentingnya penggunaan komputer dalam kehidupan manusia baik di kota maupun di desa. Saran. . karena masih ada responden yang kurang berminat terhadap penggunaan komputer dan ada responden yang hanya pernah mendengar dan tahu bentuk komputer. ilmu komputer yang sulit untuk dipahami. dan perubahan sosialpun merangsang orang untuk menemukan dan menyebarluaskan hal-hal yang baru tersebut. tetapi tidak tahu menggunakannya. Apabila hal ini diilustrasikan dengan teknologi komputer. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan. sedangkan yang menjadi faktor penghambat dalam menggunakan komputer bagi masyarakat adalah harga komputer yang relatif mahal dan penguasaan bahasa Inggris yang minim sehingga sulit dalam mengoperasionalkan komputer yang pada umumnya bahasa programnya hanya tersedia dalam bahasa Inggris.Jika hal ini dilihat dari teori difusi inovasi oleh Rogers (1995). Keuntungan relatif yang didapatkan melalui komputer sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hal ini terbukti bahwa setelah masyarakat menggunakan komputer prestasi kerja mereka mengalami peningkatan. maka komputer sudah mampu mengubah perilaku-perilaku masyarakat dalam menggantikan kebiasaan lama. Bahwa tingkat literasi komputer masyarakat Desa Pardomuan – I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara sudah cukup baik. bahasa komputer yang merupakan bahasa Inggris sehingga sulit untuk dimengerti. biaya les/kursus komputer yang mahal. 2. waktu yang tidak cukup untuk belajar. Untuk mengatasi hal tersebut masyarakat mengharapkan agar pemerintah dapat menyediakan komputer dengan harga yang lebih murah dan menyediakan program komputer dalam bahasa Indonesia sehingga masyarakat lebih mudah dalam mengoperasikan komputer. bahwa penyebarserapan (adopsi inovasi) informasi menyebabkan masyarakat menjadi berubah. misalnya dalam menggunakan mesin tik manual dan elektronik. bahkan ada yang setiap hari menggunakan komputer serta pada umumnya telah mengetahui dan mengenal perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) komputer. Adapun yang menjadi faktor pendorong bagi masyarakat dalam menggunakan komputer adalah kemudahan dalam menyelesaikan pekerjaan mereka. Bahwa faktor-faktor yang menjadi pendorong/pendukung bagi masyarakat Desa Pardomuan – I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara dalam menggunakan komputer adalah perasaan nyaman ketika menggunakannya dan merasa penting untuk memenuhi kebutuhannya 3. serta dibeberapa daerah masih sulit ditemukan pusat penjualan komputer. Agar pemerintah menyediakan akses universal terhadap informasi kepada masyarakat baik di kota maupun di desa secara adil dan merata. karena komputer telah mampu mengoptimalkan pekerjaan/tugas-tugas mereka sehingga dirasakan sangat besar pengaruhnya terhadap pekerjaan/aktivitas kegiatan mereka sehari-hari. 2. Adapun perubahan yang terjadi pada masyarakat adalah bahwa dimana masyarakat sudah dimanjakan dengan kehadiran teknologi komputer. instrument kebijakan beserta program/kegiatan (prakarsa) yang tepat untuk membangun akses universal bagi seluruh lapisan masyarakat sangat urgen untuk terus ditumbuhkembangkan. 1. Rogers dan Shoemaker (1971). dimana masyarakat pada umumnya berminat terhadap komputer dan telah menggunakannya lebih dari 5 tahun. Bahwa faktor-faktor yang menjadi penghambat responden dalam menggunakan komputer adalah masih tingginya harga komputer.

E. Metode Penelitian Survey. Kriyantono. (2004). kemitraan pemerintah dan swasta dalam penyediaan prasarana dan sarana telematika.M. (226). Lukiati (2004). (1995). Suharsimi. Raja Grafindo. fasilitas multifungsi Perdesaan. New York. Communication of Innovation – A Cross Cultural Approach. Cipta. Kencana Prenada Media Group. Mendorong pengembangan fasilitas multifungsi disentra aktivitas masyarakat untuk komunitas UKM/IKM atau sentra industri. (2006). telecenter. Singarimbun. Free Press. Pusat Pendidikan/Pelatihan. (2003). . Agar pemerintah meningkatkan penyediaan sarana prasarana informasi dan komunikasi di daerah yaitu dengan mengembangkan pusat-pusat fasilitas umum bersama. Jakarta. Jakarta. Diffusion of Innovations. 4. Rogers. Metode Penelitian. Bandung. Jakarta. dan Sekolah. Simbiosa Rekatama Media. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. New York. Free Press. Jakarta. (2002). Santoso. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Elvinaro dan Erdinaya. Kementerian Komunikasi dan Informasi RI. LP3ES. Kebijakan dan Perkembangan Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKPI). Telematika Indonesia. fokus pada peningkatan pendidikan dan berbagai pengetahuan dalam komunitas masyarakat. Rogers. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Arikunto. dan F. K. seperti warnet. dan sejenisnya. E. Teknik Praktis Riset komunikasi. seperti pengembangan lembaga Jasa Pengembangan Bisnis berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Shoemaker (1971). PT. Jakarta. (2005). Rakhmat. Masri dan Sofyan Effendi.M. Gempur. DAFTAR PUSTAKA Ardianto. serta mengembangkan pola-pola kepemilikan komputer murah. Suryabrata. Prestasi Pustaka Publisher.3. Sumadi. Rineka. Jakarta.

baik dalam hal kerukunan antar umat beragama maupun dalam menjalankan keaktivitasan kehidupan pada berbagai sektor pekerjaan dan kehidupan bermasyarakat sehari-harian. Syariat Islam di Aceh bukan hanya dipahami dalam aspek hukum dan peradilan. Maka iklim komunikasi antar umat beragama dalam pelaksanaan Syariat Islam di Provinsi NAD pada Kabupaten Aceh Tenggara tetap terbina dengan pengertian komunikasi yang komunikastif di antara sesama warga terimplementasi dalam berbagai sektor kehidupan. yang oleh masyarakat non muslim dipahami suatu keharusan dengan demikian dapat berimplementasi membuat iklim komunikasi yang tidak komunikatif sesama warga. Syariat Islam di Aceh menyatu dengan adat sedemikian rupa.Iklim Komunikasi Antar Umat Beragama Dalam Pelaksanaan Syariat Islam Di Kabupaten Aceh Tenggara Oleh : Amiruddin Z6 Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan iklim komunikasi yang berlangsung antar umat beragama dalam pelaksanaan syariat serta faktor pendukung dan penghambat komunikasi antar umat beragama di kabupaten Aceh Tenggara. sebagaimana dikemukakan oleh Al Yasa’ Abubakar : Bahwa rakyat Aceh telah lama melaksanakan syariat Islam secara relative sempurna dalam hidup keseharian. Ketua Mahkamah Agung dalam sambutannya menyampaikan tiga hal sebagai berikut : 6 Penulis adalah Peneliti Madya pada Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) Medan . tetapi mencakup berbagai bidang kehidupan seperti pendidikan. misalnya keizinan perempuan menjadi kepala Negara. berbagai bentuk dan tata cara pelayanan social. hidup kemasyarakatan dan hidup ketatanegaraan pada masa kesultanan dahulu yaitu sebelum diganggu dan dicampuri oleh penjajah Belanda (mulai menyerang Aceh pada tahun 1873 dan terus mendapat perlawanan sengit sampai awal abad dua puluh. Kata Kunci : Iklim Komunikasi Umat Beragama. Pada awal diberlakukan UU syariat Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Perbedaan Agama dan kemajemukan suku yang terdapat di Kabupaten Aceh Tenggara tidak pernah membuat terjadinya konflik. Metode yang digunakan deskriptif analisis. lebih dari itu beberapa ijtihad dan terobosan telah dilakukan Ulama Aceh atas aturan dalam Fiqih Mazhab Syafi’I. Yang pernah terjadi hanya tawuran antar anak muda. itupun di atas 20 tahun yang lalu. hal tersebut terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. dan terus bergolak sampai Belanda kalah karena kedatangan Jepang). Pada saat melantik ketua Mahkamah Syariah Provinsi NAD. dan lain sebagainya. Namun setelah disosialisasikan UU Syariat Islam tersebut akhirnya dimengerti bahwa Syariat Islam hanya diberlakukan terhadap penduduk yang beragama Islam. sehingga sering sifat adatnya lebih menonjol dari sifat syariatnya. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan mewawancarai informan yang terdiri dari berbagai kalangan. bukan konflik masalah SARA. pemerintahan. yaitu Kota Cane. adanya pemisahan antara mesjid dengan meunasah. Iklim komunikasi antar umat beragama di Kabupaten Aceh tenggara telah lama terbina. Syariah Islam Latar Belakang Pelaksanaan syariat Islam di Aceh menurut catatan tertulis dan ingatan kolektif masyarakat Aceh telah berlangsung cukup lama. kegiatan seni dan budaya bahkan olahraga. ekonomi.

Qanum Nomor. Qanum Nomor. jumlah penganut agama Kristen relative lebih banyak disbanding penganut agama Islam. 14 Tahun 2003 tentang Khalwat (perbuatan mesum) 5. 11 Tahun 2004 tugas fungsional kepolisian daerah NAD Syariat Islam secara umum dipahami sebagai paradigma moral yang berdasarkan pada kedudukan kepada Tuhan. Qanum Nomor. misalnya geografis . ibadah dan syiar Islam 2. Karena itu harus dijaga dan dirawat dengan baik dan tidak boleh diberi beban yang berlebihan Pembentukan peradilan untuk melaksanakan syariat Islam dalam rangka otonomi khusus di Aceh. Iklim Komunikasi adalah suasana lingkungan atau Komunikasi yang menjadi faktor penentu berlangsungnya komunikasi terdiri dari empat macam yaitu : 1. Titik penting dari konsep syariat Islam adalah untuk memelihara hak-hak manusia dan memberi mereka perlindungan dan keselamatan serta kedamaian yang bersifat kaku dan statis. Pelaksanaan syariat Islam harus secara bertahap. tetapi ia merupakan jalan atau metode normative yang perlu diaktualisasikan tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana umat Islam harus melaksanakan ajaran agamanya. baik secara lisan. 12 Tahun 2003 tentang Minuman Khamar dan sejenisnya. karena bagaimanapun juga syariat Islam di Aceh sekarang adalah ibarat benih yang baru dipindahkan dari persemaian ke tengah sawah atau kebun. Lebih-lebih lagi di Kecamatan Lawe Sigala-gala. Sebagaimana diketahui di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam terutama pada Kabupaten Aceh Tenggara ditemukan penganut agama lain (Kristen). Sampai saat ini telah disahkan enam buah quanum yang berkaitan langsung dengan hukum dan peradilan syariat Islam yaitu : 1. Komunikasi akan dapat berhasil baik apabila ada saling pengertian antara pihak pengirim dan penerima informasi. yaitu Iklim dan Komunikasi. 7 Tahun 2004 tentang pengelolaan zakat 6.   Syariat Islam yang dijalankan di Aceh harus dapat memenuhi kesadaran hukum rakyat dan harus dapat memberikan keadilan yang lebih baik kepada umat. Iklim adalah Suasana seseorang kepada orang lain. Iklim Komunikasi Iklim Komunikasi terdiri dari duia kata. pendapat atau perilaku. maka pelaksanaan syariat Islam mungkin menjadi bumerang dan kontra produktif. Lingkungan fisik menunjukkan bahwa suatu proses komunikasi hanya bisa terjadi apabila tidak ditemukan rintangan fisik. 3. Dalam pengertian yang luas. Qanum Nomor. maupun tidak langsung melalui pendapat. bukan saja mempengaruhi hukum positif di Aceh. 13 Tahun 2003 tentang Maisir (perjudian) 4. maupun ide/gagasan. 11 Tahun 2002 tentang pelaksanaan syariat Islam bidang Akidah. tetapi juga akan mempengaruhi perkembangan hukum tatanegara di Indonesia. melainkan juga antar kelompok dan masyarakat luas mengenai tukar menukar data. Komunikasi dipahami sebagai penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain. Secara pragmatis komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap. bukan pula sebagai petunjuk teknis yang dapat dijadikan pegangan manusia dalam kehidupan di dunia. Qanum Nomor. Qanum Nomor. komunikasi tidak hanya sebagai pertukaran informasi antar individu. Sedangkan komunikasi adalah proses penyampaian suatu pernyataan oleh seorang kepada orang lain. Apabila hal ini tidak berhasil dilakukan. fakta.

Setiap masyarakat tunduk pada proses perubahan. Masyarakat yang menjadi objek penelitian adalah masyarakat yang berdomisili di di Kabupaten Aceh Tenggara yang terpilih sebagai informan penelitian ini bersifat kualitatif 2. 4. maka masalah penelitian dapat dirumuskan:  Bagaimana iklim komunikasi yang berlangsung antar umat beragama dalam proses pelaksanaan syariat islam di Kabupaten Aceh Tenggara  Apa saja faktor pendukung dan penghambat komunikasi antar umat beragama dalam pelaksanaan syariat Islam di Kabupaten Aceh Tenggara Pembatasan Masalah 1. Disensus dan konflik terdapat di mana-mana 3. percakapan. stereotip diberi batasan sebagai keyakinan yang terlalu digeneralisasi. dimensi psikologi ini sering disebut dengan dimensi internal. dan perbedaan pola perilaku cultural.2. banyak proses komunikasi tertentu karena pertimbangan waktu missal. adat istiadat dan status social 3. bahasa. dan 4. untuk mendeskripsikan iklim komunikasi yang berlangsung antar umat beragama dalam pelaksanaan syariat Islam 2. Objek penelitian ini adalah iklim komunikasi antar umat beragama dalam pelaksanaan syariat Islam di Kabupaten Aceh Tenggara Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah : 1. karena cuaca atau musim Permasalahan Berdasarkan uraian diatas. Setiap masyarakat didasarkan pada paksaan beberapa orang anggota terhadap anggota lain Dengan demikian konflik merupakan sumber terjadinya perubahan social (Dahrendrof. menghindari kritik yang menyinggung perasaan orang lain. yaitu kendala bahasa. Etnosentrisme merupakan kecenderungan orang untuk mempertimbangkan kelompok social mereka sebagai “normal” dan menilai kelompok social orang lain sebagai “abnormal” atau “interio” (Lewis dan Slide. 1994 : 131). misalnya. . budaya. Untuk mengetahui dan memahami faktor-faktor pendukung dan penghambat komunikasi antar umat beragama Kerangka Teori Pokok pikiran yang terkandung dalam teori konflik. Secara teoritik. Lingkungan sosial budaya menunjukkan faktor social. ekonomi. dan politik yang bisa menjadi kendala terjadinya komunikasi. terlalu disederhanakan atau terlalu dilebihlebihkan terhadap suatu kategori atau kelompok orang (Samovar dkk. 1976) Lewis dan Siade ()1994 : 128-130 menguraikan tiga kawasan paling problematic dalam komunikasi antar budaya. Dimensi psikologi adalah pertimbangan kejiwaan yang digunakan dalam berkomunikasi misalnya. Perubahan ada di mana-mana 2. terdapat 3 (tiga) faktor penghambat dalam jalinan komunikasi antar budaya yaitu etnosentrisme. stereotip dan prasangka. didasarkan pada asumsiasumsi : 1. Dimensi waktu menunjukkan situasi yang tepat untuk melakukan kegiatan komunikasi. perbedaan nilai. Setiap unsur masyarakat memberikan sumbangan pada disintegrasi dan perubahan masyarakat. 1981 : 122).

Informan yang diwawancarai : 1. Djauharuddin. juga dilaksanakan wawancara terhadap informan dari pemuka-pemuka agama. Penyelenggara Bimas Kristen Kandepag Aceh Tenggara  AKP Suprapto. TP. Pendeta HKBP Ressort Lawe Sigala Gala  Pdt. Dari kalangan Pemuka Agama Katolik  Pdt. Klasifikasi prasangka menurut Samovar dkk (1981:124)  Antilocution : Membicarakan sikap. 1997 : 34) Penelitian deskriptif hanya memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. metode yang hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya. kesempatan pendidikan dan sebagainya  Physical Attack : mengarah pada tindakan-tindakan kekerasan  Extermintion : Hukuman mati tanpa peradilan. Aceh Tenggara (Pejabat Struktural Dinas Syariat Islam) 2. Kandepag Kabupaten Aceh Tenggara  Drs. atau kelompok tertentu.Ag. Mth. keadaan gejala.H. dan studi dokumen yang dipandang relevan. Dinas Syariat Islam Kab. Preses XII HKBP Distrik Tanah Alas. Ka. Sth. perasaan. Sth. Kepala Kantor Urusan Agama Kec. Marolap Sinaga. 1981:123). Habidin Silian : Ulama dan Pegawai Dinas Syariat Islam 4. Jumarsah Siahaan. M. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk yang berdomisili di Kabupaten Aceh Tenggara. Dari Wilayah Pemuka Agama Islam  Drs. tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi (Rokhmat. Nababan. Suwansuri : Guru Agama dan Da’i  Drs. Pendeta Resort GKPI Kota Cane  Pdt. tanpa mencari dan menjelaskan hubungan. Lawe Sigala gala  Qarnain. Siahaan. Kabag Bina Mitra Polres Aceh Tenggara  Drs. Kabag Humas / keprotokolan setkab Aceh Tenggara  Abidan Situmeang. Dari kalangan Budayawan  DR. factual dan akurat mengenai faktor –faktor dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Najaruddin.  Pdt.Prasangka merupakan sikap kaku terhadap suatu kelompok didasarkan pada keyakinan atau prakonsepsi yang keliru (Samovar dkk. pembunuhan besar-besaran dan permusuhan terhadap suatu kelompok Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. tempat tinggal. Karena penelitian ini bersifat kualitatif maka dilakukan pemantauan di lapangan/lokasi. M. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi secara sistematis. Pendeta HKBP Kota Cane 3. Dari kalangan pejabat birokrasi  Drs. Sth. Ralidin : Tokoh dan Kepala Sekolah MTS  Drs. mantan dosen Insyiah (Islam) . Yoserizal. pendapat. pejabat birokrasi. Thalib Akbar. dan stereotip tentang kelompok sasaran  Avoidance : Menghindari anggota-anggota dari kelompok yang tidak disukai  Discrimination : Melakukan pemilihan-pemilihan yang negative berdasarkan pekerjaan. Msc : Budayawan.

S. Sihombing (Ompu Roi) : Budayawan, Penasehat Tokoh masyarakat dan adat dari Badan Kerjasama Antar Gereja, Anggota Badan Kerjasama Umat Beragama Kristen Gambaran Umum Lokasi penelitian - Kabupaten Aceh Tenggara Kabupaten Aceh Tenggara Ibukotanya bernama Kota Cane Data Demografi Kab. Aceh tenggara : Luas Wilayah : 4.231,41 Km2 Jumlah Penduduk : 168.131 Jiwa (Aceh Tenggara Dalam Angka 2008) Batas Wilayah Utara : Kab. Gayo Lues Selatan : Kab. Aceh selatan Kab. Aceh Singkil Timur : Prop. Sumatera Utara / Kab. Karo Barat : Kab. Aceh Selatan Jumlah Kecamatan : 16 Kecamatan Jumlah Desa/ kelurahan : 385 Desa / Lurah  Rangkuman Wawancara dari Informan Iklim komunikasi kerukunan umat beragama Kabupaten Aceh Tenggara terkategori harmonis, akur, baik sejak sebelum diberlakukannya Perda Istimewa Aceh No. 5 Tahun 2000 Tentang Pelaksanaan Syariat islam, maupun sesudah diberlakukannya Syariat islam tersebut. Sungguhpun pada mulanya diperlakukan (diundangkan) Syariat Islam itu memang ada kesan dan pemahaman terutama dari golongan non muslim bahwa syariat Islam itu mengikat dan memaksakan terhadap semua masyarakat yang berdomisili di Prov. Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Namun setelah disosialisasikannya perda No.5 tahun 2000 oleh berbagai pihak antaranya dari kalangan para pejabat dan kadis Aceh Tenggara maupun dari kalangan Tokoh Agama Islam sendiri, bahwa pelaksanaan Syariat Islam itu hanya berlaku bagi pemeluknya yaitu umat Islam, sesuai UU tahun 1999 yaitu pasal 4 ayat 1 UU No.44 Tahun 1999. Penyelenggaraan kehidupan beragama diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan syariat Islam bagi pemeluknya. Disebutkan pula pasal 4 ayat 2 bahwa daerah mengembangkan dan mengatur penyelenggaraan kehidupan beragama dengan tetap menjaga kerukunan hidup antar umat beragama. Selanjutnya dijelaskan dalam pasal 5 bahwa daerah membentuk lembaga agama dan mengaku lembaga agama yang sudah ada dengan sebutan sesuai dengan kedudukannya masing-masing. Dalam ayat 2 pasal 5 ditegaskan pula bahwa lembaga yang dibentuk itu merupakan bagian dari perangkat daerah. Keharmonisan iklim komunikasi dari kerukunan antar umat beragama di Kab. Aceh Tenggara tetap langgeng, rukun, hal ini teraplikasi di tempat-tempat keramaian seperti di pasar, di tempat-tempat acara pesta, kehidupan bertetangga, bermasyarakat. Tingkat toleransi terhadap sikap, pendapat dan perilaku orang lain juga tergolong tinggi. Hal itu diwujudkan bukan hanya dalam bentuk penghargaan terhadap kepercayaan yang dianut oleh agama lain, tetapi juga toleransi terhadap cara beribadat yang berbeda yang dilakukan anggota masyarakat dari pemeluk agama yang sama. Toleransi dalam kehidupan social juga diwujudkan dalam bentuk toleransi terhadap keberadaan seorang pimpinan. Masyarakat dapat menerima pimpinan dari agama yang berbeda maupun etnis yang berbeda, asalkan dipandang mampu. Karena masyarakat di daerah ini didominasi oleh suku Alas, maka mereka menganggap bahwa secara budaya mereka berbeda dengan Aceh. Lebih dari itu, mereka merasa lebih dekat dengan Karo daripada dengan Aceh., karena bisa memahami bahasa

Karo, tetapi sama sekali tidak memahami bahasa Aceh. Identitas budaya yang berbeda itulah merupakan salah satu faktor yang mendorong sebagian masyarakat untuk membentuk provinsi yang berbeda, yaitu Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA). Kerjasama antara warga berlangsung sangat baik di daerah ini. Kerjasama itu bukan hanya antara warga yang berbeda dalam satu kelompok, melainkan juga mereka yang dari kelompok yang berbeda beda. Kerjasama antar warga itu antara lain diwujudkan dalam bentuk kegiatan gotong-royong dalam membersihkan fasilitas umum. Walaupun modal sosial yang dimiliki masyarakat Aceh Tenggara tidak tinggi, namun hubungan antar kelompok masyarakat berbeda, baik antar etnis maupun antar pemeluk agama, berjalan baik, baik hubungan yang bersifat ekonomi maupun hubungan kemasyarakatan yang bersifat non ekonomi. Jika ada hajatan misalnya, maka semua anggota masyarakat diundang, tanpa memperhatikan kesukuan maupun agama yang dianut. Untuk menghormati pemeluk agama yang berbeda, jika kebetulan yang mengundang orang non muslim, mereka menyediakan juru masak khusus untuk orang Islam. Dengan demikian walaupun yang punya hajat non muslim, tetapi umat islam tidak perlu khawatir bahwa masakan yang dihidangkan itu tidak halal, karena yang memasaknya seorang muslim. Dicontohkan bahwa hubungan yang baik antara berbagai kelompok masyarakat itu juga tampak pada saat terjadi banjir banding di wilayah Kecamatan Semadam tahun 2004 yang lalu. Pada saat itu, solidaritas antar warga sangat tinggi dengan memberi bantuan terhadap para korban banjir, tanpa melihat kesukuan maupun agama yang dianut. Meskipun demikian solidaritas yang tinggi itu sedikit ternoda dengan kebijakan bantuan banjir banding oleh satu HKBP yang tidak diserahkan melalui Kepala Desa, tetapi melalui gereja. Oleh gereja, bantuan itu hanya diberikan kepada jemaatnya. Bukan hanya warga dari agama lain yang tidak dibagi, tetapi warga yang satu agama namun berbeda gereja juga tidak dibagi. Dengan hubungan yang saling percaya itu, maka konflik social, baik yang bersifat antar etnis maupun yang bersifat antar agama tidak pernah terjadi di daerah ini. Bahkan jika ada konflik misalnya, baik internal suku/agama maupun antar suku/agama, diupayakan penyelesaiannya dilakukan secara adat, karena mereka terikat oleh hukum adat. Solidaritas dalam kehidupan social juga ditunjukkan oleh warga non muslim dalam berpakaian. Jika dalam satu kantor banyak pegawai yang beragama Islam mengenakan jilbab, maka tidak jarang mereka yang non muslim juga ikut memakai jilbab, walaupun tidak ada yang menyuruh dan memaksa. Begitu pula di sekolah. Banyak di antara anak sekolah yang non muslim yang ikut memakai jilbab seperti temannya yang muslim, walaupun tidak ada yang menyuruh mereka. Toleransi terhadap agama lain juga ditunjukkan dengan baik tidak mempermasalahkan masyarakat yang non muslim yang kebetulan memelihara babi, mereka juga menghargai orang muslim dengan cara mengkandangkan babi yang dimiliki. Dalam kaitannya dengan norma yang mengatur kehidupan masyarakat, antara hukum adat dan hukum nasional (KUHP) memang berjalan seiring. Dalam arti jika permasalahan itu sudah diatur secara adat, maka penyelesaian pertama dilakukan secara adat. Jika tidak berhasil baru diserahkan kepada aparat untuk diproses secara hukum nasional. Meskipun demikian terjadinya overlapping antara kedua norma itu kadang tidak dapat dihindari, sehingga pelaku kriminal mendapatkan hukuman lebih dari satu kali. Penerapan Qanun juga belum dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Hal itu karena kondisi masyarakatnya yang heterogen, sehingga penerapan Qanun memunculkan dualisme dalam penerapan hukum. Penerapan Qanun untuk orang muslim dan KUHP untuk yang non muslim dianggap sebagai bentuk diskriminasi hukum. Hal itu jika terjadi kasus perjudian yang pelakunya terdiri dari orang muslim dan non muslim,

maka pelaku muslim tidak ditahan, sedangkan yang non muslim ditahan. Karena itu aparat kepolisian dalam menegakkan hukum yang diatur dalam Qanun mengalami kebingungan, sehingga diputuskan pelanggan yang ada kaitannya dengan Qanun pelakunya tidak diproses secara hukum, melainkan hanya dinasehati. Dari hasil wawancara terhadap informan, juga diperoleh informasi yang dapat dipandang suatu masukan yang sangat berharga terhadap kondisi iklim komunikasi antar umat beragama yaitu suatu kebisaaan bagi masyarakat bila mempunyai kesamaan nama anak di antara mereka (dalam bahasa Alas Kutacane disebut Sename) dipandang/dianggap menjadi saudara walaupun berbeda agama, dan berimplikasi selanjutnya saling berkunjung terutama pada hari-hari besar keagamaan dan pada saatsaat ada hajatan di antara mereka. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Aspek Geografis dan Monopolis Kabupaten Aceh Tenggara mempunyai luas wilayah 4.231,41 Km2 mempunyai 16 Kecamatan dan 385 Desa/Lurah. Dengan jumlah penduduk 168.131 jiwa menganut 6 agama / kepercayaan. Yaitu : - Islam : 139.966 - Protestan : 25.681 - Katolik : 2.464 - Hindu : 7 - Budha : 8 - Konghocu : 5 Secara Jumlah memang Islam masih lebih banyak, Namun Protestan dan kaolik juga cukup banyak. Malah pada tempat-tempat tertentu (Desa/Kelurahan) dijumpai penganut agama Protestan lebih dominan. Terutama pada kecamatan Lawe Sigala Gala. Tingkat toleransi penduduk terhadap sikap, pendapat dan perilaku orang lain tergolong tinggi. Hal ini diwujudkan bukan hanya dalam bentuk penghargaan terhadap kepercayaan yang dianut oleh agama lain, tetapi juga toleransi terhadap cara beribadat yang berbeda yang dilakukan anggota masyarakat dari pemeluk agama yang sama. Toleransi dalam kehidupan social juga diwujudkan dalam bentuk toleransi terhadap keberadaan seorang pimpinan masyarakat dapat menerima pimpinan dari agama. Masyarakat di Kab. Aceh Tenggara ini pada awalnya adalah suku Alas, maka mereka menganggap bahwa secara budaya mereka berbeda dengan Aceh, lebih dari itu mereka merasa lebih dekat dengan Karo daripada dengan Aceh. Karena bisa memahami bahasa Karo, tetapi sama sekali tidak memahami bahasa Aceh. Identitas budaya yang berbeda itulah merupakan salah satu faktor yang mendorong sebagaimana masyarakat untuk membentuk Provinsi yang berbeda yaitu Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA). Kerjasama antar warga berlangsung sangat baik di daerah ini, kerjasama itu bukan hanya antara yang berada dalam satu kelompok, melainkan juga antara mereka yang dari kelompok yang berbeda-beda. Kerjasama antar warga itu antara lain diwujudkan dalam bentuk kegiatan gotong-royong dalam membersihkan fasilitas umum. Terjadinya konflik di daerah Aceh beberapa tahun belakangan ini, hingga MOU antara pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), bukan disebabkan perbedaan agama dan etnis. Dan gerakan separatisme terjadi di Aceh tidak berbasis di daerah yang majemuk agama, etnis/suku, malah terjadi di wilayah yang masyarakatnya tidak majemuk yang dihuni tidak banyak etnis/suku. Sungguhpun Aceh dipahami dan dipandang sebagai daerah yang tidak kondusif belakangan ini, konflik yang berkepanjangan, namun ada daerah tertentu tidak demikian halnya seperti di Kabupaten Aceh Tenggara.

2. Aspek Iklim Komunikasi 2.1 Faktor Peluang Yang Menguntungkan Hasil-hasil pemantauan di lapangan dan informasi yang disampaiakan oleh para informan yang berkaitan tentang iklim komunikasi antar umat beragama dalam pelaksanaan syariat Islam di Kab. Aceh Tenggara dapat dipahami dari kondisi dan aktivitas yang telah menjadi tradisi masyarakat adalah hal-hal yang dapat dipandang sebagai faktor merupakan peluang yang menguntungkan : - Ketaatan terhadap norma agama dan norma hukum masih dijalankan dengan penuh kesadaran oleh masyarakat. Norma yang mengatur kehidupan antara hukum adat dan hukum nasional (KUHP) berjalan seiring. - Hubungan kemasyarakatan kelompok masyarakat yang berbeda baik etnis, maupun antar pemeluk agama berjalan baik - Solidaritas antar warga sangat tinggi, tanpa melihat kesukuan maupun agama yang dianut - Toleransi dan solidaritas umat non muslim ditunjukkan dalam berpakaian, jika dalam satu kantor banyak pegawai yang beragama Islam mengenakan jilbab, maka tidak jarang mereka non muslim juga ikut memakai jilbab walaupun tidak ada yang menyuruh. - Toleransi terhadap keberadaan seorang pimpinan, masyarakat dapat menerima pimpinan dari agama yang berbeda maupun dari etnis yang berbeda, asalkan dipandang mampu. 2.2 Faktor Yang Merugikan Faktor yang dapat menjadi pemicu terjadinya gerakan massa di daerah ini antara lain terkait dengan penerapan syariat Islam. Banyaknya penduduk yang non muslim maka penerapan Qanun dapat menjadi potensi terjadinya pemicu keresahan masyarakat, terutama di saat itu pemerintah daerah belum lagi melakukan sosialisasi penerapan syariat Islam kepada semua lapisan masyarakat. Bahkan dilakukannya sosialisasi Qanun menimbulan kekhawatiran warga non muslim, karena penerapan Qanun dapat menimbulkan anggapan tentang pembatasan hak-hak warga setempat, selain itu perbedaan perlakuan dalam penegakan hukum antara lain muslim dan non muslim itu bisa menjadi pemicu bagi timbulnya gerakan massa. Karena adanya diskriminasi penegakan hukum yang dirasakan oleh non muslim dalam kasus perjudian yang pelakunya terdiri dari orang muslim dan non muslim karena pelaku muslim tidak ditahan, sementara pelaku non muslim ditahan, hal ini disebabkan berkaitan dengan Qanun di daerah tersebut. Demikian halnya, faktor kemajemukan (pluralisme) yang dimiliki dapat mengundang potensi konflik. Kendati agama memiliki kekuatan pemersatu, agama juga mempunyai potensi pemecah belah. Kesan ambivalensi agama salah satunya dapat dilihat dari fenomena perang dan damai, sebagai akibat logis dari watak. Watak agama yang dapat mendorong pertentangan dan konflik. Dalam dinamika kehidupan masyarakat yang pluralis seperti Kabupaten Aceh Tenggara ini dibutuhkan sikap dan pemikiran sebagaimana keanekaragaman budaya dan etnis yang dipelihara dengan konsensus umum mengenai nilai dan norma yang dihormati bersama. Kesimpulan. - Dari hasil penelitian baik berupa wawancara mendalam (Depth Interview) terhadap tokoh pemerintahan dan pemuka agama (Islam-Kristen) yang dijadikan sebagai informan, maupun pengamatan langsung dilapangan memberikan jawaban bahwa

-

-

iklim komunikasi antar umat beragama dalam pelaksanaan syariat Islam di Kabupaten Aceh Tenggara relative dinamis. Kehidupan masyarakat yang harmonis hal tersebut teraplikasi di dalam kehidupan sehari-hari baik sebelum diberlakukan syariat Islam maupun sesudah diberlakukan syariat Islam tersebut. Kelangsungan berkomunikasi di tengah-tengah masyarakat mempergunakan bahasa dari berbagai etnis yang ada, yang dominan bahasa Alas, Gayo, Tapanuli, dan Karo. Sementara etnis dan bahasa Aceh sangat relatif sedikit (jarang) pada umumnya masyarakat disamping menguasai bahasa etnisnya sendiri, juga dapat / bisa berkomunikasi dengan etnis yang lain. Pelaksanaan / penerapan syariat Islam di Kab. Aceh Tenggara tidak berdampak negatif terhadap kerukunan antar umat beragama, dikarenakan tingkat toleransi dan solidaritas umat sangat tinggi yang terimplikasi yaitu umat beragama dapat melaksanakan aktivitas. Kegiatan ajaran agamanya masing-masing yang saling percaya, maka konflik social, baik bersifat antar etnis maupun yang bersifat antar agama tidak pernah terjadi, hal ini dapat merupakan nilai plus yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Aceh Tenggara yang perlu dicontoh di tengah kemajemukan etnis/agama di Negara kesatuan Republik Indonesia ini.

Saran. Saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian tentang iklim Komunikasi antar umat beragama dalam pelaksanaan syariat Islam Kab. Aceh Tenggara sesuai dengan kesimpulan di atas adalah : 1. Kondisi iklim Komunikasi yang telah tertata baik/harmonis perlu dipelihara, peran dan fungsi Tokoh/pemuka agama sangat strategis oleh karenanya pemerintah setempat mampu dan dapat menyatu dengan para tokoh tersebut, terutama di saat-saat menerapkan suatu kebijakan/peraturan. Demikian juga para birokrat dapat meminta bantuan tokoh agama pada pensosialisasian peraturan dan perundangan terhadap masyarakat, sehingga dapat disampaikan secepat mungkin dan merata. 2. Keistimewaan Aceh dalam bidang agama yang diimplementasikan dengan pelaksanaan syariat Islam secara Kappah di NAD, hendaknya dilaksanakan dengan baik, bijak, simpatis, damai, tidak menimbulkan konflik terutama dari agama lain. Oleh karenanya dalam penerapan syariat Islam dimaksud agar berhati-hati tidak menimbulkan iklim komunikasi yang tidak baik. 3. Departemen Komunikasi dan Informatika RI dapat mengangkat nilai positif dan strategis yang dimilki oleh masyarakat majemuk (pluralis) dalam rangka menuju masyarakat informasi. DAFTAR PUSTAKA Abubakar, Al Yasa, (tanpa tahun), Sekilas Syariat Islam di Aceh, Banda Aceh, Dinas Syariat Islam Provinsi NAD, tt. Akbar Thalib, 2006, Sanksi dan Denda Tindak Pidana Adat Alas, Kabupaten Aceh Tenggara, Hasil Musyawarah Adat Alas. Cangara, Hafied 2005 Cetakan ke-5, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta, Raja Grafindo Persada. Effendy, Onong Uchjana, 2000 cetakan ke-3, Dinamika Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya. Effendy, Onong Uchjana 2001 cetakan ke-14, Komunikasi Teori dan Praktek , Bandung, Remaja Rosdakarya. Ghazali, Adeng Muchtar 2004, Agama dan Keberagaman dalam Konteks Perbandingan Agama, Bandung, Pustaka Setia.

Hanafi, Abdillah 1984, Memahami Komunikasi Antar manusia, Surabaya, Usaha Nasional. Hidaya, Kamaruddin 1998, Agama Untuk Kemanusiaan dalam Andito (ed) atas Nama Agama, Bandung Pustaka Hidayah. H. Kamisan, Delis 2009, Peningkatan Kinerja Upaya Pemantapan Visi dan Misi Majelis Adat Alas untuk Mewujudkan Perdamaian Dalam masyarakat, Majelis Adat Alas Kab. Aceh Tenggara. Kahmad, Dadang 2000, Sosiologi Agama, Bandung, Remaja Rosdakarya. Lembaga Informasi Nasional 2001, Kerukunan Hidup Umat Beragama, Jakarta, LIN. Lubis, M.Ridwan, dkk 2001, Pengelolaan Keserasian Sosial Antar Umat Beragama di Kota Medan, Riset Partisipasi untuk Perumusan Kebijakan dalam Khaeroni, dkk (ed) Islam dan Hegemoni Sosial, Jakarta, Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Dep. Agama RI. Muhajir, Noeng 1992, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta, Rekasarasin. Rakhmat, Jalaluddin 1998 cetakan ke-12, Phsikologi Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya. Sasongko, Haryo 2005, Kerukunan Beragama Daulat Politik dan Kereta Reformasi, Jakarta, Harapan Baru Raya. Soehartono, Irawan 1995, Metode Penelitian Sosial Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, Bandung, Remaja Rosdakarya. Sunarwinadi, Ilya, Komunikasi Antar Budaya, Jakarta, Pusat Antar Universitas IlmuIlmu Sosial Universitas Indonesia, tt. Undang-Undang RI No.18 tahun 2001, Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh Sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Banda Aceh, Dinas Informasi dan Komunikasi Prov. NAD, 2002. Widjaya, A. W 1993 cetakan ke-2, Komunikasi-Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Jakarta, Bumi Aksara.

GAYA HIDUP MASYARAKAT YANG MENGGUNAKAN TELEPON SELULAR DI KECAMATAN PADANGSIDIMPUAN SELATAN7 Oleh. Drs. Hamdan Hamidin** Abstrak Penelitian ini berjudul Gaya Hidup Masyarakat Yang Menggunakan Telepon selular di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan bertujuan untuk melihat dan mengamati fenomena gaya hidup masyarakat yang menggunakan telepon selular hanya pada masyarakat kecamatan Padangsidimpuan selatan, Sampel penelitian ini sangat terbatas, hanya pada masyarakat Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, karena masyarakatnya sangat homogen, penelitian ini menggunakan random sampling. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner. Kuesioner terdiri dari 58 pertanyaan tertutup, baru dianalisa dalam bentuk tabel tunggal kemudian dilakukan tabel silang. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya hidup masyarakat yang menggunakan telepon selular di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan sangat tinggi, sebagai akibat kebutuhan yang semakin meningkat, baik untuk bisnis, relasi, maupun hubungan sosial kekeluargaan dan bahkan dianggap sebagai tingkat status sosial, sehingga ada diantara masyarakat yang memiliki 3 (tiga) buah telepon selular.

Kata kunci:

Gaya Hidup Masyarakat, Padangsidimpuan Selatan

Telepon

Selular,

di

Kecamatan

PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Informasi merupakan hal yang mutlak dibutuhkan oleh masyarakat dimana seluruh aktivitas yang dilakukan selalu mengacu pada pertimbangan intensifitas den efektivitas. Kondisi ini berlangsung karena keadaan selalu berubah dengan cepat. Sebagai konsekwensinya, maka tanpa informasi, seseorang akan tertinggal dalam segala hal dan akan kalah dalam berbagai kompetisi yang semakin ketat dalam rangka mempertahankan dan mencapai kemajuan hidup. Pada masa sekarang ini, informasi bukan lagi merupakan produk pelengkap, melainkan sudah merupakan kebutuhan utama. Dengan memiliki informasi, maka seseorang akan tahu apa yang harus dilakukan dan ia akan dapat menguasai keadaan. Dengan demikian informasi merupakan referensi penting bagi manusia dalam membuat keputusan perihal apa yang akan dilakukan demi mencapai tujuan tertentu. Modernisasi peralatan komunikasi ini terjadi secara terus-menerus dengan kecepatan yang makin tinggi. Dengan demikian informasi yang ada dapat diakses dalam waktu singkat dan mampu tersebar pada khalayak yang akan dicapai. Dalam upaya memenuhi kebutuhan akan informasi tersebut, saat ini kita mengenal berbagai alat komunikasi modern sebagai hasil dari kemajuan teknologi. Penggunaan pesawat telepon biasa yang hanya mungkin di tempat yang bersifat statis, ternyata sangat menghalangi dan membatasi pergerakan penggunanya. Kondisi tersebut tentu sangat
7

**

* Telah diseminarkan, 29 juli 2009 di Cottage Pardede Hotel di Prapat. Penulis adalah Peneliti Muda Bidang Komunikasi pada Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) Medan

Melalui berbagai media. 4. status sosial. . Pada awalnya penggunaan telepon selular hanya berkaitan dengan upaya memperoleh kemudahan dalam menghubungi dan dihubungi saat mana memerlukan dan diperlukan komunikasi antar manusia. mengemukakan gaya hidup dapat diartikan sebagai penjejak dengan cara gampangan untuk mengenali perbedaan kehidupan kelompok-kelompok dalam masyarakat. 5. Untuk mengetahui intensitas penggunaan telepon seluler di kalangan maryarakat Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. Tujuan menggunakann telepon selular. sementara ia sedang dalam perjalanan. citra. Untuk mengetahui tujuan menggunakan telepon selular 3. dan . Pada mulanya penggunaan telepon selular selalu dikatakan dengan golongan pengusaha. produsen telepon selular selalu mempromosikan produk telepon selular dengan berbagai mode dan spesifikasi yang makin bervariasi. Tujuan Penelitian 1. tetapi juga kalangan pekerja (buruh) baik di sektor pemerintah maupun swasta. Dengan demikian pengguna telepon selular dikondisikan untuk menerapkan gaya hidup tertentu yang berbeda dari gaya yang tidak memiliki telepon selular. 4. tetapi juga dilihat dari sisi mode telepon selular itu. Namun perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini antara lain menunjukkan bahwa pengguna telepon tidak lagi terbatas hanya para pengusaha. 2. dan gaya hidup. sehingga banyak informasi penting yang terpaksa terlewatkan. 1997:227). citra. Pembatasan Masalah Adapun batasan masalah dalam penelitian ini hanya terkait dengan masyarakat Kecamatan Padangsidimpuan Selatan yang menggunakan telepon selular. Namun perkembangan yang terjadi selanjutnya mengindikasikan bahwa telepon selular juga dianggap mencerminkan status sosial. yakni yang berkaiatan dengan intensitas.gaya hidup masyarakat pengguna telepon selular bukan hanya bersumber dari mereka sendiri. yang dalam hal ini dianggap sebagai golongan yang paling membutuhkan komunikasi dengan intensitas dan frekwensi yang tinggi demi kemajuan usahanya. dan gaya hidup. Untuk mengetahui biaya yang digunakan telepon seluler setiap bulan. Perumusan Masalah 1.menghambat jika seseorang harus berkomunikasi dengan orang lain. yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kebutuhan yang semakin meningkat. tujuan dan manfaat dan gaya hidup masyarakat. dimana sisi terakhir ini dianggap mencerminkan status sosial. Ashadi Siregar (Ibrahim. 2. Bagaimana gaya hidup pengguna telepon selular. Bagaimana intensitas penggunaan telepon selular di kalangan masyarakat Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. Gaya hidup pengguna telepon selular merupakan suatu fenomena baru dalam masyarakat kita khususnya di kalangan anak muda terlebih. tetapi juga bersumber dari orang lain.lebih mahasiswa yang biasanya sangat dekat dengan dinamika budaya populer. Akibat logis dari kondisi dan keterbatasan tersebut banyak pula peluang yang tidak dapat ia gunakan dengan baik. Manfaat yang diperoleh menggunakan telepon selular. 3. Berapa biaya yang digunakan telepon seluler setiap bulan. pada akhir-akhir ini telepon selular tidak hanya dilihat dari sisi kemampuannya sebagai alat berkomunikasi. Untuk mengetahui manfaat telepon selular. Citra.

benda. nilai-nilai atau peristiwa berbagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu didalam suatu penelitian (Nawawi :141 ). maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. 2001 : 144) Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. 3. 1989 :79). Menurut Sugiono (2002 : 56) bila populasi besar. Sampel adalah sebagaian dari populasi yang menjadi sumber data sebenarnya dalam suatu penelitian (Rakhmat. Teknik penentuan responden yang digunakan yaitu teknik sampling proporasional yaitu dengan melibatkan pembagian populasi kedalam kategori. 1. dan penelitian tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi. tumbuhan. Sampel adalah sebagian yang diambil dari kata populasi dengan menggunakan cara-cara tertentu (Nawawi. Populasi. kemudian dari setiap kelompok diambil sampel yang sebanding dengan besar setiap kelompok (Rakhmat. yang menjadi sampel dalam penelitian ini berjumlah 60 jiwa. Sebagai bahan masukan kepada Departemen Komunikasi dan informatika RI untuk bahan membuat rumusa dan kebijakan.5. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah penelitian perihal penggunaan teknologi komunikasi khususnya telepon selular dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat Penelitian 1. 3. populasi dibatasi pada masyarakat yang berusia 17 tahun s/d 60 tahun. pekerjaan . Penelitian Kepustakaan. Sampel. Penelitian ini bermanfaat dalam penerapan teori-teori tentang dampak kehadiran teknologi komunikasi dan pengaruhnya terhadap gaya hidup masyarakat. Populasi dan Sampel. terdiri dari manusia.952 jiwa. 2. yang jumlah penduduknya 59. a. METODOLOGI PENELITIAN Metode Penelitian. informasi dan keterangan melalui buku-buku teoritis yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.660 jiwa terdiri dari laki-laki 29. 2. pendidikan. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. gejala. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif analisis yang menggambarkan bagaimana Gaya hidup masyarakat yang menggunakan Telepon Selular di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. Teknik Penentuan Responden. 1995 :144). Untuk mengetahui gaya hidup masyarakat yang menggunakan telepon selular di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. pendapatan dan lain-lain. kelompok terdiri dari jenis kelamin.708 jiwa dan perempuan 29. 4. Teknik Pengumpulan Data. Sampel merupakan sebagian atau mewakili populasi yang diteliti dan dianggap menggambarkan ciri-ciri yang akan diteliti. Populasi adalah keseluruhan objek yang dikaji. Sebagai pengembangan ilmu Komunikasi. yaitu aktivitas penelitian dengan cara mengumpulkan data. .

Cara berpikir seperti ini merupakan landasan bagi kita untuk membedakan sekaligus mempertentangkan konsep teknologi dengan konsep alamiah dari kehidupan manusia. Hal ini logis dan mudah dipahami. yaitu suatu aktivitas penelitian untuk mencari data-data yang lengkap dan akurat yang berkaitan dengan judul yang diteliti. Wawancara langsung kepada tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap dapat menjawab permasalahan tersebut diatas. atau rnembuat lebih ampuh anggota tubuh.b. Penelitian Lapangan. Teknologi Komunikasi Unsur teknologi sudah akrab dalam kehidupan umat manusia. dan lebih bervariasi dalam waktu yang singkat. Pengamatan (observasi). bukan kemampuan yang secara genetis dibawa bersamaan dengan kelahiran manusia. seni. seakan-akan kita dapat berada di mana-mana dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan. Angket yaitu menyebarkan daptar pertanyaan kepada responden dengan memilih salah satu jawaban yang telah disediakan dalam daftar pertanyaan. oleh karena keterbatasan waktu. Antropolog Indonesia. yang berarti teknik. atau keterampilan. sementara kebutuhan manusia cenderung bergerak tidak terbatas. panca indera. Dalam iklan yang dipasang P. Lokasi penelitian ini ditetapkan di Kelurahan Kampung Darek dan Kelurahan Wek VII Kecamatan Padangsidimpuan Selatan di Kota Padangsidimpuan. Semakin maju peradaban manusia. Untuk memahami konsep teknologi. d. dimana pun berada. Alisjahbana (1992:24). dan otak rnanusia.T. sehingga untuk memenuhi kebutuhan inilah. Teknologi komunikasi merupakan sarana bagi manusia untuk mampu rnelakukan aktivitas lebih banyak dalam aspek ekonomi. hal ini berarti bahwa manusia memiliki keterbatasan alamiah. Teknologi Komunikasi dan Telepon Selular 1. mengemukakan bahwa teknologi adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal (hardware dan sofware) sehingga seakan-akan memperpanjang. yaitu mengadakan pengamatan langsung ke objek penelitian untuk mengamati secara dekat masalah yang dihadapi. sebagaimana terjadi dalam masyarakat tradisional. dan hasil karya manusia. Penelitian lapangan yang penulis lakukan disini adalah dengan terjun langsung ke lokasi penelitian: c. maka akan memakan waktu dan harus mengorbankan dana lebih banyak lagi. Telkom. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari pemenuhan kebutuhan manusia yang menuntut penerapan cara-cara tertentu dalam upaya mempertahankan kehidupan manusia. dimana jika untuk menyampaikan pesan dan mombicarakan sesuatu kepada orang lain kita harus bertemu secara langsung secara fisik. memperkuat. poiitik. Berdasarkan uraian ini dapatlah kita ketahui bahwa teknologi merupakan ide-ide. Lokasi Penelitian. karya. e. dimana lebih tepat disebut sebagai suatu kebudayaan. Melalui teknologi telekomunikasi. maka kita ketahui pula bahwa pembaharuan/peruhahan positif tidak mugkin dicapai tanpa teknologi komunikasi. rnanusia dapat berbuat lebih banyak. Sebagai salah satu unsur kebudayaan yang universal. maka kita akan dapat menjangkau sasaran relasi lebih jauh dan lebih banyak. Dengan demikian. sosial budaya (termasuk agama dan . antara lain dinyatakan bahwa telepon menghapus jarak dan mempersingkat waktu. lebih berkwalitas. dimana konsep teknologi dalam bahasa Indonesia disadur dari bahasa Inggris. Koentjaraningrat (1992:204) memasukkan sistem peralatan hidup dan teknologi sebagai salah satu dari tujuh unsur kebudayaan universal. biaya yang ada. ada baiknya kita tinjau secara etimologi. yakni technologia. lokasi penelitian ini ditetapkan secara Purposif. maka unsur teknologi semakin menguasai kehidupan manusia. maka teknologi terdapat dalam semua masyarakat.

nokia. tidak terpisah atau memiliki jarak. harganyapun bervariasi yakni Rp. Gadis. dan Iainnya. 2. 200. produk teknologi komunikasi dalam kehidupan munusia sangat jelas dan nyata.000 hingga Rp. maka disebut sistem selular. Anggapan ini tentu senada dengan sebutan zaman ini dan terutama di rnasa mendatang sebagai zamannya komunikasi. Gaya hidup (life style) sudah menjadi istilah yang cukup akrab bagi kita. jauh lebih kecil dan ringan dari generasi sebelumnya. Oleh karena itu.000. Penemuan lainnya adalah teknologi yang memungkinkan kita untuk dapat mengakses internet melalui telepon selular. General Manager Telkomsel Regional III menegaskan. namun merupakan ajang bisnis yang memiliki masa depan cerah di masa mendatang. maka produsen penghasil perangkat teknologi yang semula dianggap ajaib inipun semakin banyak. istilah sel yang digunakan di sini merujuk pada daerah yang dicakup oleh satu menara penerus sinyal. Eko Setyo Sadewo. Bahkan dalam banyak . Dari tekad dan usaha nyata pengembangan teknologi telepon selular dari pihak teknologi dan pelaku bisnis.pendidikan). Generasi terbaru dari telepon selular saat ini dinamakan dengan PCS (Personal Communications Services) dan beroperasi pada frekuensi yang lebih tinggi. Alat telekomunikasi yang ia temukan di tahun 1970-an ini disebut dengan Cellular Radio Telephone dan pada mulanya bentuknya masih tebal (hampir sebesar batu bata) dan berat. Selain peningkatan kemutakhiran teknologi. namun penemuan ini tetap dianggap penemuan hebat di zamannya. Beberapa produsen telepon selular diantaranya adalah ericsson. September 2000:40). Nama pendek dari Cellular Radio Telephone adalah Cell Phone. Satu sel berjarak radius 1. Alat telekomunikasi ini pada mulanya memakai frekuensi yang masih berdekatan dengan gelombang radio biasa. motorola. 03-12 Agustus 1996:62). karena memang nyata-nyata menawarkan sesuatu yang sangat berbeda dari telepon biasa (Desiyanti. Selaras dengan perkembangan jaman yang pesat yang dialami telepon selular. Walaupun masih jauh dari sempurna. telepon seluler generasi terbaru juga dilengkapi dengan layar kristal yang berfungsi untuk memunculkan menu yang kita inginkan. Selain merek dan tipenya. Gaya Hidup. yakni sekitar 1900 Mhz. Telepon selular bukan sekedar alat telekomunikasi canggih. 7. sehingga suara yang dikeluarkan sering tumpang tindih atau bahkan hilang sama sekali. siemens. sehingga dapat ditransmisikan lebih cepat dengan kualitas suara yang lebih tajam. para teknolog dan pelaku bisnis telepon selular juga sangat memperhatikan mode agar lebih menarik. Jika komunikasi dengan menggunakan teknologi ini terganggu berarti kita berada di tempat yang sulit dicapai oleh sinyal dari menara selular. yang dalam bahasa Indonesia dinamakan dengan telepon selular atau disingkat dengan ponsel. Yang karena bentuknya mirip sarang lebah. maka telepon selular yang kita kenal saat ini sudah jauh lebih canggih dari temuan awal. biasanya sel-sel itu disusun secara overlap (bertumpuk) di ujungnya. dan pertahanan keamanan. sehingga memiliki prospek pasar yang makin cerah. Secara teknis agar pembicaraan ponsel tidak terputus. Istilah ini sudah sangat sering kita dengar dan bahkan kita ucapkan.5 km sampai 56 km dari menara selular. Telepon selular masa kini misalnya. Lebih lanjut lagi.000. 3. bahwa pengembangan telepon selular di Indonesia akan semakin pesat di masa mendatang. Pengembangan tersebut akan ditempuh dengan penerapan teknologi mutakhir dan pelayanan kelas dunia (Eksekutif. Selain itu. Sistim ini mengirimkan sinyal dalam bentuk digital. panasonic. Telepon Selular Telepon selular pertama kali diperkenalkan oleh lllionis Bell.

1987 : 556). Perubahan Behavioral Perubahan itikad untuk berperilaku tertentu dalam arti karena melakukan suatu tindakan atau kegiatan yang bersifat fisik atau jasmani. Istilah gaya hidup berkaitan erat dengan budaya. nalar atau rasio. Perubahan sikap/behavioral dalam penelitian ini adalah : perubahan gaya hidup masyarakat setelah menggunakan telepon selular . Hal ini antara lain disebabkan penampilan seseorang yang menjadi pengguna telepon selular itu sering berbeda dari masyarakat banyak. khususnya telepon selular. Demikian akrab dan menyatunya penggunaan telepon selular dengan gaya hidup ini. maka gaya hidup itu meliputi aspek ekonomi. Istilah gaya hidup sudah sangat akrab dengan teknologi komunikasi. Misalnya. Istilah gaya sendiri dapat diartikan cara yang benar dan khusus. adanya istilah gaya hidup masa kini secara implisit ingin menginformasikan dua atau lebih gaya hidup yang berbeda.magazine. 1. yang semula kecewa menjadi tidak kecewa. sehingga secara implisit bersirat komparasi atau membandingkan.lifestyle . 1998 : 85). yakni meliputi seluruh sisi kehidupan seseorang. Dengan pengaruh ini diharapkan komunikan yang semula tidak mengerti menjadi mengerti. 3. dengan demikian istilah ini sering dihubungkan dengan dunia mode sehingga mengindikasikan kecenderungan memiliki dan menerapkan sesuatu yang spesifik dalam rangka identitas diri. misalnya yang semula tidak menyenangi sesuatu hal menjadi menyenangi. sehingga terdapat kecenderungan untuk menerapkan cara hidup yang berbeda dari kaum awam. yang semula tidak tahu membedakan mana yang salah atau benar menjadi tahu. juga dikaitkan dengan gaya hidup. sehingga ada kaIanya memiliki arti yang bergeser dari pengertian semula. Perubahan Afektif Perubahan yang berhubungan dengan perasaan. Kedua istilah tersebut mengindikasikan cara hidup yang biasa dijalani dan diterapkan sehingga merupakan kebiasaan sekaligus ciri tersendiri. politik. terkesan vulgar. menunjukkan cara hidup yang dianggap benar dan spesifik bagi kaum elitisme. Demikian halnya dengan istilah gaya hidup selebriti. kehidupan sosial. yakni masa kini dengan masa sebelumnya. Gaya hidup juga mencakup pola konsumsi. Jika dilihat dari segi aspek. 2. Adanya unsur dan sifat khusus (spesifik) dalam konsep gaya hidup ini. Jika kita mengikuti jalur berfikir James Lull di atas dapat dikemukakan bahwa gaya hidup memiliki cakupan luas. Perubahan Kognitif Perubahan yang berkaitan dengan pikiran. Demikian halnya dengan majalah khusus telepon selular lain seperti TELSET telematique society . Adanya istilah budaya pop. yang secara implisit berbeda dari kelompok manusia lain. kehidupan keluarga. misalnya digunakan untuk menginformasikan budaya yang dominan ( James Lull. sehingga salah satu majalah khusus telepon selular bernama "Trend Gaya Hidup Digital SELULAR". karena istilah tersebut tidak lazim digunakan untuk menginformasikan sesuatu yang universal. melainkan digunakan untuk menginformasikan sesuatu yang khusus. dan lain-lain.penggunaannya. Dengan demikian gaya hidup dapat diartikan sebagai cara hidup yang dianggap benar dan khusus yang biasanya menjadi milik sekelompok manusia. Sedangkan gaya hidup diartikan dengan cara hidup (Ostler.

67 %. usia. Dari keseluruhan jumlah kuesioner yang dialokasikan di lokasi penelitian yaitu sebanyak 60 kuesioner. karena mayoritas laki-laki lebih bertanggaung jawab dalam rumah tangga untuk mencari napkah dari pada perempuan di Padangsidimpuan ini Tabel 2 Suku bangsa responden No 1 2 3 4 5 6 7 8 Suku bangsa responden Batak Jawa Melayu Minang Aceh Bugis Nias Lainnya sebutkan… Jumlah f 40 14 6 60 % 66. Deskripsi Hasil Penelitian.HASIL DATA DAN PEMBAHASAN A. bugis. dari hasil analisa dan pengetahuan peneliti bahwa suku masyarakat di Padangsidimpuan adalah mayoritas batak dan Padangsidimpuan adalah tanah batak. Dari pengamatan peneliti lebih dominan perempuan disebabkan pada waktu wawancara dilapangan yang mulai pagi hari yang dijumpai dirumah adalah mayorotas prempuan. 1 2 f 26 34 60 % 43.67 %.33 56. jenis kelamin. dan suku minang sebanyak 6 orang atau 10 %.67 23. nias dan lainnya tidak ada sama sekali.33 10 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 2 tersebut diatas dapat dilihat bahwa suku bangsa responden adalah suku Batak sebanyak 40 orang atau 66. aceh. sedangkan suku melayu.33 %. jumlah tersebut kembali semuanya.67 100 Responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 26 orang atau 43. suku. pendidikan.33 % dan jenis klamin perempuan subanyak 34 orang atau 56. Agama dan lain-lain dan berikut ini dapat kita liahan antara lain: Tabel 1 Identitas Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 60 No. . sedangkan laki-laki mayoritas bekerja. adapun data yang akan dibahas mulai dari identitas responden. sehingga kuesioner cukup 100%. suku jawa sebanyak 14 orang atau 23. dengan demikian yang akan dianalisis dalam bab ini adalah data yang diperoleh 60 responden tersebut.

lalu yang tidak bekerja ada 2 orang atau 3.67 3. Kepemilikan Telepon Selluler Tabel 4 Kemiliki telepon selular sendiri No 1 2 3 4 Alternatif jawaban Memiliki sendiri Milik orang tua/keluarga Kawan Lainnya … Jumlah f 55 5 60 % 91. Sedangkan pensiunan. dan wiraswasta sebanyak 28 orang atau 46. karena jaman sekarang ini telepon selular bukan lagi barang mewah. Dari analisis peneliti bahwa kebanyakan memiliki sendiri. dan milik orang tua ada 5 orang atau 8.67%.67%.67 8.No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Tabel 3 Pekerjaan responden Pekerjaan responden f PNS/ABRI Pegawai swasta Wira swasta Pensiunan Pedagang Petani/nelayan Buruh/tukang Ibu rumah tangga Pelajar/siswa Tidak bekerja Lainnya sebutkan….33%. pedagang.33 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa pekerjaan responden adalah PNS/ABRI sebanyak 10 orang atau 16. sedangkan ibu rumah tangga ada 2 orang atau 3. petani/nelayan. . buruh/tukang tidak ada sama sekali. menunjukkan bahwa masyarakat padangsidimpuan masih produktip sebagai pekerja dan masih membutuhkan pekerjaan dan untuk belanja keluarga sehari-hari. karena sangat tidak mungkin selamanya kita selalu meminjam milik orang lain.33%. B. dan pelajar /siswa ada 12 orang atau sebanyak 20%. sedangkan yang milik keluarga sangan minim sekali.33 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 4 diatas dapat dilihat bahwa kepemilikan telepon selular responden adalah milik sendiri ada 55 orang atau sebanyak 91. pegawai swasta sebanyak 6 orang atau 10%. tetapi sudah merupakan barang biasa. sadangkan untuk milik kawan tidak ada. Jumlah 10 6 28 2 12 2 60 % 16.67 10 46.33 20 3.67%.33%.

000 – Rp100.000 – Rp. namun ada juga pegawai swasta.67 %..67 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 7 diatas dapat dilihat bahwa biaya telepon selular responden setiap bulan adalah dibawah Rp.33 1.000.33%.-Rp 200.. lalu antara Rp.Rp100.-Rp150.100.Diatas Rp200.Rp150.000 ada 19 orang atau 31. Diantara responden yang menghabiskan biaya antara .33%. dan 2 buah ada 24 orang atau 40%.150.67%. dan untuk diatas Rp.000.200.200.67%. Tabel 6 Lamanya Telepon Selular aktif Dalam 24 jam No.67 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 6 diatas dapat dilihat bahwa frekuensi telepon selular responden saat akif selama 24 jam adalah dibawah 10 jam ada 7 orang atau 11. Diantara responden yang memakai diatas 15 jam karena diantara mereka adalah pegawai negeri.67%.antara Rp.000. sehingga diantara masyarakat membeli telepon selular sangat murah sekali.000 – Rp.50.67 43.Tabel 5 Jumlah telepon di rumah Responden No 1 2 3 4 Jumlah telepon selular di rumah Respondsen 1 ( satu ) buah 2 (dua ) buah 3 (tiga ) buah Diatas 3 (tiga ) buah Jumlah f 18 24 3 15 60 % 30 40 5 25 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 5 diatas dapat dilihat bahwa seberapa banyak telepon selular responden dirumah saat ini adalah 1 buah ada 18 atau 30%. dan di atas 15 jam ada 49 orang atau 81.66%. karena kepemilikan keluarga ini sangat membutuhkan.000. dan bukan barang mewah.000.000.Jumlah f 19 26 9 5 1 60 % 31. dari analisis peneliti bahwa telepon selular dalam rumah tangga lebih dominan 2 (dua) buah.000.66 81.33 15 8. dan antara Rp. dan memakai antara 10-15 jam ada 4 orang atau 6.000 ada 9 orang atau 15%.Rp50. 50.000 ada 1 orang atau 1.150.100. 1 2 3 Keadaan aktif selama 24 jam Dibawah 10 jam 10 – 15 jam Diatasa 15 jam Jumlah f 7 4 49 60 % 11. dan untuk diatas 3 buah ada 15 orang atau 25%.000 ada 5 orang atau 8.67 6. sehingga pada jam belajar mereka tetap mematikan hp nya juga pada waktu malam.000 – Rp. sedangkan 3 buah ada 3 orang atau 5%. Tabel 7 Berap biaya rata-rata setiap bulan No 1 2 3 4 5 Biaya pekmakaian setiap bulan Dibawah Rp50. hal ini sangat pantas seorang pegwai menghidupkan Hp diatas 15 jam sedangkan lainnya adalah pelajar.000 ada 26 orang atau 43.

. dan yang ada. ada 43 orang atau 71.000 sampai dengan Rp100.karena responden kebanyakan pegawai sehingga membutuhkan komunikasi dengan kawan kerja dan juga keluarga.33 10 56. ini sangat relepan. sedangkan lainnya ada yang memang jarang digunakan dan ada yang mengaku sering dan sangat sering digunakan. yang tidak tahu ada 2 orang atau 3.33%.67 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 10 diatas dapat dilihat bahwa apakah sejak menggunakan talepon selular teman atau sahabat dan pergaulan responden bertambah adalah yang biasa saja ada 20 orang atau 33.33%.34%.67%. dan yang jarang ada 7 orang atau 20%. dan untuk yang . lalu yang sering ada 2 atau 13.33%. dan yang sangat sering ada 2 orang atau 13.33 25 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 8 diatas dapat dilihat bahwa layanan fasilitas mengakses internet pada telepon selular responden adalah yang tidak ada. apakah teman atau sahabat dan pergaulan responden bertambah No 1 2 3 Pergaulan anda setelah memiliki telepon selular Biasa saja Berkurang Bertambah Jumlah f 20 6 34 60 % 33.33%.Rp50. Diantara responden telepon selularnya yang menggunakan fasilitas Internet hanya 15 orang ini sudah kemungkinan PNS atau Pegawai swasta yang mempunyai jabatan.33 13. ada 15 orang atau 25%. an yang berkurang ada 6 orang atau 10%. Tabel 9 Penggunaan fasilitas internet oleh responden No 1 2 3 4 Penggunaan fasilitas layanan mengakses internet Tidak pernah Jarang Sering Sangat sering Jumlah F 8 3 2 2 15 % 53. dari jumlah responden telepon selulernya yang memakai fasilitas internet ada 8 orang tidak pernah memakai sama sekali. dan ada diantara responden tidak mengetahui apakan telepon selularnya memakai fasilitas Internet.000. sedangakan lainnya tidak ada. mereka ini mencari informasi yang belum mereka dapatkan dari media lainnya.34 20 13.67 3.33 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 9 diatas dapat dilihat bahwa penggunaan fasilitas mengakses internet pada telepon selular response adalah. yang tidak pernah ada 8 orang atau 53. Tabel 10 Sejak menggunakan telepon selular. Tabel 8 Pengetahuan Layanan internet telepon selular responden No 1 2 3 Kemiliki layanan fasilitas internet Tidak ada Tidak tahu Ada Jumlah f 43 2 15 60 % 71.

Tabel 11 Reaksi teman responden yang tidak memiliki telepon selular No 1 2 3 4 Reaksi teman anda yang tidak memiliki telepon selular Tidak tahu Kurang simpati Biasa saja Semakin akrab Jumlah f 10 4 43 3 60 % 16.66 5 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 11 diatas dapat dilihat bahwa reaksi teman responden yang tidak memilki telepon selular adalah tidak tahu ada 10 orang atau 16.67 25 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 12 diatas dapat dilihat bahwa kegiatan hubungan komunikasi tatap muka responden bertambah atau berkurang sejak memiliki telepon selular adalah yang tidak tahu ada 6 orang atau 10%. Tidak tahu Berkurang Biasa saja Bertambah Jumlah f 6 5 34 15 60 % 10 8. Tabel 12 Kegiatan hubungan komunikasi tatap muka responden bertambah atau berkurang sejak memiliki telepon selular No 1 2 3 4 Hubungan komunikasi tatap muka dengan keluarga . Tabel 13 Pengaruh penggunaan telepon selular terhadap pekerjaan sehari-hari responden No 1 2 3 4 Pengaruh penggunaan telepon selular terhadap pekerjaan Tidak tahu Tidak berpengaruh Berpengaruh Sangat berpengaruh Jumlah f 19 14 20 7 60 % 31.dan yang berkurang ada 5 orang atau 8. Memang sangat wajar kalau kita sering berkomunikasi dengan sahabat kerabat keluarga kekeluargaan sudah pasti bertambah.33 33.dan yang kurang simpati asa 4 orang atau 6.67%. namum lebih dominan biasa-biasa saja.33%.67%.bertambah ada 34 orang atau 56.33 11. Naum diantara kerabat kita yang tidak memiliki telepon selular menilai bermacam-macang ada yang menilai kurang simpati. mungkin kita terlalu bangga punya benda tersebut.67 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 .67 71. lalu yang bertambah ada 15 orang atau 25%.67 23.33 56.66%. dan yang semakin akrab ada 3 orang atau 5%. dan yang biasa saja ada 34 orang atau 56.67%.lalu yang biasa saja ada 43 orang atau 71.67 6. setelah memiliki telepon selular kebanyakan bertambah sering berkomunikasi tatap muka. namun ada yang semakin akrab. karena mereka bisa berjanji dimana ketemu.67%.

kadangkadang keluarga memanggil tidak terelakkan. dan masih banyak diantara masyarakat tidak mengerti dalam menggunakannya fasilitas bluthoot tersebut.. hal ini bisa mereka mendapat hiburan dimana saja.. tapi pada umumny yang memanfaatkan fasilitas ini mayoritas adalah kaulah muda yakni pelajar dan mahasiswa. dan sering dipanggil lembur. adapun pergaulan mereka semakin baik. juga masyarakat ada yang menggunakan fasilitas bluthoot.33%. Dari hasil penelitian tersebut diatas nampaknya bahwa kebanyakan memiliki sendiri telepon selular sendiri. yang memiliki ini mayoritas juga adalah pegawai PNS dan Swasta. Diantara responden ada yang menghabiskan biaya antara dibawah Rp 50. bercanda mengajak keluar dengan segala macam dalih terpaksa juga kita sekali-sekali meninggalkan pekerjaan. boleh dikatakan tidak terlepas dari badannya mereka dan juga memiliki telepon kabel dirumah mereka dan diantara responden lamanya memiliki tetepon selular yang paling banyak diatas 3 tahun. Mereka terdiri dari berbagai . karena harganya sudah cukup murah (terjangkau).000. dan yang sangat berpengaruh ada 7 orang atau 11. sehingga pada saat -saat tertentu dimana saja mereka dapat membuka siaran radio yang mereka senangi.. dari segi negatif sedang kita bekerja ada saja kawan-kawan yang mengganggu. juga pemakain 3G mayoritas adalah kaulah muda pelajar dan mahasiswa itupun jarang mereka pergunakan.karena responden kebanyakan pegawai sehingga membutuhkan komunikasi dengan sejawat. tetapi sudah merupakan barang biasa.Dari tabel 55 diatas dapat dilihat bahwa pengaruh penggunaan telepon selular terhadap pekerjaan sehari-hari responden adalah yang tidak tahu ada 19 orang atau 31. tapi masih ada sebahagian kecil milik bersama (keluarga) karena jaman sekaran ini telepon selular bukan lagi barang mewah..sampai Rp 100.67%. karena masyarakat masih butuh informasi dan hiburan. telepon selular responden juga sudah ada yang memiliki pasilitas Internet dan diantara mereka ada yang selalu memanfaatkannya hal ini dimiliki diantara PNS dan wira swasta. setelah memiliki telepon selular sangat berpengaruh terhadap pekerjaan sehari-hari. namun tidak dipungkiri ada yang tambah jauh dan ada yang biasa-biasa saja. Diantara responden sangat banyak memanfaatkan layanan SMS dan hanya 1 orang yang tidak pernah memanfaatkannya.67%.. Pembahasan. dan yang tidak berpengaruh ada 14 orang atau 23. dan sudah bosan melihat yang lama. baik kekerabatan juga kekeluargaan. karena murahnya harga telepon selular ada diantar responden memiliki telepon selular 2 buah dan diatas 3 buah didalam rumah tanggan ada yang menyatakan 15 responden yang dimiliki tersebut adalah berbagai merek dan tife dan mereka sangat mebutuhkan telepon selular ini karena cepet dan tepat bisa berkomunikasi dengan keluarga. setelah memiliki telepon selular pergaulan atau persahabatan semakin bertambah dan diantara responden telepon selularnya hidup dengan berpariasi ada dibawah 10 jam dan ada diatas 15 jam. Kesimpulan. ada yang positif pekerjaan di kantor bertambah banyak. dan juga banyak diantara responden menggunakan layanan SMS dengan kekerabat dan keluarga. 1. juga telepon selular yang mempunyai fasilitas MP3 mereka selalu memanfaatkannya karena tidak terlalu sulit untuk memanfaatkannya. dan pada umumnya mereka mengganti ke yang lebih baik. bagi responden selalu menukar telepon selularnya karena melihat lebih bagus dan menarik. PENUTUP A. Masyarakat Kecamatan Padangsidimpuan Selatan pengguna telepon selular cukup tinggi (bahkan ada yang memiliki 3 buah telepon selular). C.33%. lalu yang berpengaruh ada 20 orang atau 33.000. bagi responden yang memiliki telepon selular yang mempunyai radio masih banyak yang menggunakannya.

Mar’at. Koencaraningrat. Jakarta. Bandung. Bandung. 1989. Bandung ----------------. 1986. M. Metode Penelitian Sosial. 4. Teori-teori Komunikasi. Lubis. 1993. Aksara Baru. 5. & Schramm. PT Raja Grafindo. kedudukan. Jakarta. Dinamiaka Kmiomunikasi. 3. Penggunaan telepon harus benar-benar bermanfaat dan berpotensi terhadap peningkatan taraf hidupnya. 4. Yogyakarta. Hawai. Kincaid. Kebudayaan. Nawawi. Diharapkan kepada masyarakat supaya hidup sederhana dan menyesuaikan pengeluaran biaya telepon seluler dengan kemampuannya. Fisher. perkantoran dan pusat pendidikan) meningkatkan penggunaan telepon seluler (ada yang memiliki sampai 3 buah telepon selular) dan mengikuti perkembangan setiap munculnya model baru. Lull. yayasan Idayu. Bandung. gunakan SMS untuk mengurangi pemakaian pulsa. Remadja Rosda Karya. Jumlah biaya terhadap penggunaan telepon seluler cukup berpariasi. Gaya hidup masyarakat yang cukup maju (kawasan bisnis. -----------------. Wilbur. Surabaya. relasi bisnis dan lainnya. Pustaka Mizan. James.1987. 1984. Jakarta. Citra Aditya Bakti. Ecstasy Gaya Hidup. Remadja Rosdakarya. 1997. Effendy. namun dapat disimpulkan cukup besar dilihat dari profesi para penggunanya. Ilmu. East West Comunition Institute. Tatang. B. Masyarakat kota Padangsidimpuan memiliki telepon selular bertujuan untuk memudahkan berkomunikasi dengan masyarakat. Gajah Mada University Press. Suardi. ibu rumah tangga. Azas-Azas Komunikasi Antara manusia. Ilmu Komunikasi. Aubery. pegawai swasta juga pegawai negeri sipil. Kebudayaan Pop Dalam Masyarakat Komodits Indonesia. Alo. Usaha Nasional. Diharapkan kepada masyarakat setelah memiliki telepon selular tetap menjaga atau memelihara kerukunan dan kekompakan diantara berkeluarga dan bermasyarakat. rumah tangga dan sebagainya.1992. Media Komuniksai. Ghali Indonesia. Menyusun rencana Penelitian. Onang Uchyana. 1991. Pengantar Ilmu Antropologi. Z. Amirin.2. Teknologi dan Perkrmbangan. Sikap manusia. Hadari. Iskandar. 1997. USU Press. Bandung. . 1993. Yayasan Obor Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Alisjabana. 1992. Laurence D. seperti pelajar dan mahasiswa. Liliweri. teman sejawat di kantor maupun rekan. Bandung. sanak famili. Teori dan Praktek. Perubahan serta Pengukurannya. Komunikasi Antar Pribadi. Hanif. 1998. 1990. kesejahteraan maupun proses penyampaian berita dan persaudaraan sesamanya. Manfaat yang mereka rasakan adalah semakin mudah dan cepatnya hubungan komunikasi dapat dilakukan kepada orang lain. Diharapkan kepada masyarakat supaya mengurangi penggunaan telepon selular pada waktu jam sibuk. 1992. Remadja Rosdakarya. 3. Ibrahin Idi Subandy 1997. Masyarakatkan ide-ide Baru. sehingga dapat meningkatkan pendapatan. SARAN-SARAN.1995. 1. Abdillah. PT Cipta Adtya Bakti. Jakarta. Suatu Pendekatan Global. Medan. Nasution. Teknologo Kominikasi. Metode Penelitian Bidang Sosial. di samping itu diharapkan tidak merusak hubungan keluarga. 2.

Yogyakarta. 1983. George. Gramedia. Modernisasi Dinamika Pertumbuhan. Metode Penelitian Komunikasi. Komunikasi Pemahaman dan Penerapan. 1989. The Little Oxford Distionary Of Current English. Komunikasi dan Pembangunan Penarapan Perspektif Kritis. BPK Gunung Agung Mulia. Soerjono. Masri. LP3ES. Jakarta. Suryabrata. Metode Penelitian. Ostler. 1993. CV Rajawali. Myron. Muhammad. 1995. Oxford University. 1990.Nazir. Gajah Mada University Perss. Metode Penelitian. 1991. Remadja Rosda Karya. Salim. 1991. 1995. Singarimbun. Jakarta. . Rajawali Pers. 1987. ----------------. Oxford. LP3S Jakarta. SM. Weinner. Soerjanto. Jakarta. Rakhmat. jakarta. Gramedia. Menelitian Survey. Puspowardoyo. Ghali Indonesia. Kamus Inggeris – Indonesia. Pieter. 1998. Sumadi. Bandung. Bandung. 1994. Sosiologi Suatu Pengantar. Siahaan. Pembangunan Berdasarkan Kebudayaan. PT. Jakarta. Jalaluddin. Soekanto. Bandung.

Pada orde baru sistem informasi dan pembentukan instansi dan struktur organisasi penyampaian informasi ditentukan oleh pemerintah pusat. sehingga tidak ada kesamaan nama dinas/lembaga/badan yang menyalurkan atau menangani informasi disetiap daerah menggunakan istilah nama yang berbeda sehingga ada yang namanya hubungan masyarakat (humas) informasi konstruksi (infokom) ada juga Badan Informasi Komunikasi telematik (BIKT). Latar Belakang Masalah Sistem informasi pada orde baru jauh berbeda dengan sistem informasi pada masa reformasi dan sistem komunitas juga berbeda yang mana sebelumnya sistem sentralisasi. Adapun hasil penelitian dapat digambarkan bahwa otonomi daerah dapat merubah sistem informasi di Pemerintah Kota Pekanbaru. maupun Peraturan Pemerintah Daerah dan berbagai bidang informasi Ekonomi. Demikianlah sistem informasi di Kota Pekanbaru setelah otonomi daerah ditentukan oleh Pemerintah Daerah setempat. sedangkan pada masa otonomi daerah sekarang ini sistem informasi. * Penulis adalah Peneliti Muda Pada Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) Medan . Pada instansi Pemerintah sebelumnya penyampaian informasi dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah dibawah arahan/ pengendalian Pemerintah Pusat (Deppen RI). Arifin*) Abstrak Penelitian mandiri ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pelaksanaan sistem penyampaian informasi di Pemerintahan Kota Pekanbaru setelah diberlakukannya otonomi Daerah. dimana informasi kebijakan dan pesan-pesan Pemerintah disampaikan oleh bagian Humas kepada masyarakat dengan cara mengundang wartawan dari berbagai media dan dipublikasikan juga dengan melalui media massa dengan berbagai materi kegiatan Pemko.SISTEM INFORMASI PEMERINTAHAN PADA OTONOMI DAERAH DI PEMERINTAHAN KOTA PEKANBARU Oleh : Ali Murtadha M. maka dengan adanya ketentuan tersebut pemerintah daerah secara leluasa dapat membentuk dinas/lembaga untuk menampung sebanyak mungkin pejabat struktural pada masing-masing daerah. Setelah diberlakukan undang-undang otonomi daerah pemerintah daerah dapat membentuk dinas/lembaga atau badan penyalur informasi sesuai dengan kebutuhan pemerintah daerah masing-masing. Kesra dan Perkebunan. Kata Kunci : Sistem Informasi PENDAHULUAN A. materi informasi maupun instansi lembaga struktur organisasi penyalur informasi ditentukan oleh daerah setempat. beda dengan sebelum otonomi daerah ditentukan oleh Pemerintah Pusat. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kwantitatif adapun pengumpulan data dengan sistem field research dan library research. Penelitian diadakan pada Pemerintah Kota Pekanbaru dengan permasalahan/ instansi maupun yang bertugas untuk menyampaikan informasi dan juga apa saja materi yang disajikan dan media apa yang digunakan dalam penyampaian informasi oleh Lembaga Informasi dan seterusnya dalam hal ini Humas. sekarang otonomi dan terlebih lagi dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi pada saat ini sehingga berdampak positif terhadap sistem penyampaian informasi.

. maka dimungkinkan terjadinya tumpang tindih kegiatan bahkan bisa terjadi kegiatan yang saling bertantangan antara satu dengan yang lainnya. Untuk mengetahui siapa yang bertugas menyampaikan informasi. Instansi/Lembaga mana yang bertugas/mempunyai tugas pokok dalam penyampaian informasi kebijakan Pemerintah Kota Pekanbaru. c. Metode dan media apa saja yang digunakan dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Kantor Informasi dan Komunikasi adalah lembaga hasil peleburan kantor departemen penerangan pada masa orde baru sebelum otonomi daerah sedangkan humas di bawah sekretaris daerah pada Kantor Walikota dan sudah ada sebelum otonomi daerah yang struktur organisasinya berada di bagian sekretaris daerah. Sistem informasi yang baik memungkinkan kegiatan yang dilakukan pemerintah dapat direspon oleh masyarakat sehingga dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dirumuskan permasalahan penelitian yaitu bagaimana pelekasanaan sistem penyampaian informasi pada daerah otonomi di Pemerintahan Kota Pekanbaru. Dengan diketahuinya pelaksanaan sistem informasi di daerah tersebut dapat menambah pengetahuan mengenai sistem informasi di Kota Pekanbaru. Materi informasi apa saja yang disampaikan kepada masyarakat. Untuk mengetahui apa saja materi informasi yang disampaikan kepada masyarakat. Pembatasan Masalah Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : b. maka mungkin saja berbeda sistem informasi pemerintah antara satu daerah dengan daerah lain dan pada saat ini sistem informasi di pemerintah masih mencari pola/model yang lebih relefan dan efektif untuk kelancaran pelaksanaan pembangunan yang sedang dilaksanakan. Ada perbedaan tugas antara humas dengan Kandep Penerangan menyampaikan informasi yang bersumber dari pemerintah pusat dan kemudian dilanjutkan ke Jupen Kecamatan sebagai ujung tombak juru penerangan (jupen) demikian juga Departemen lain menyampaikan informasi dengan melalui petugas penyuluh lapangan (PPL) dari masing-masing instansi. d. Hasil penelitian ini juga dapat dimanfaatkan sebagai pembanding sistem informasi diberbagai daerah yang memiliki sistem informasi yang berbeda. Dari hasil survey membuktikan bahwa ada dua instansi/organisasi yang menyangkut dengan penanganan penyaluran informasi di Kota Pekanbaru yaitu Kantor Informasi & Komunikasi Pemerintah dibawah Dinas Perhubungan dan sub bagian Hubungan Masyarakat (Humas) di bawah Pemerintah Kota Pekanbaru. C. B. Suatu model atau sistem informasi pemerintah mempunyai peran yang penting untuk mensukseskan pembangunan di suatu daerah sistem informasi yang baik dapat menciptakan ke satuan gerak dan langkah antara lembaga/dinas untuk mencapai tujuan jika sistem informasi antara lembaga/dinas tidak berjalan baik. Sedangkan humas yaitu menyampaikan informasi yang bersumber dari pemerintah daerah disampaikan kepada masyarakat dengan cara yang selalu disebut persrelis yang disampaikan melalui media massa. Maka dengan demikian dapat diketahui tujuannya sebagai berikut : b. D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan sistem informasi di Kota Pekanbaru. c.Akibat berbedanya nama instansi yang berkaitan dengan penyaluran informasi.

Istilah kotak hitam disini dipergunakan untuk memudahkan memahami dan atau mengkajinya. tehnologi informasi dan prosedur kerja) berupa masukan (input). Model adalah gambaran mengenai sesuatu realitas untuk menggambarkan bagaimana suatu itu tampaknya atau bagaimana bekerjanya guna memudahkan memahami dan atau mengkajinya. Teori Sistem Setiap sistem merupakan tempat memproses. 3. Oram dan Wiggins (1990) mendifinisikan sistem informasi adalah suatu sistem buatan manusia yang secara umum terdiri atas sekumpulan komponen berbasis komputer dan manual yang dibuat untuk menghimpun. Pengertian Sistem Informasi Berbagai pengertian tentang sistem informasi dikemukakan dalam berbagai buku untuk menggambarkan pengertian mengenai sistem informasi diantaranya ditulis oleh Alter (1992) bahwa Sistem Informasi adalah kombinasi antara prosedur kerja. Pengaturan urusan-urusan tersebut masyarakat daerah perlu memiliki sumber-sumber pendapatan/keuangan sendiri. Menurut UU No. E. Adanya urusan-urusan tertentu yang diserahkan oleh pemerintah pusat atau daerah untuk diatur dan diurusnya dalam batas-batas wilayahnya. Gelinas. Istilah kotak hitam disini . Kaho (1987) memaparkan ciri-ciri Daerah Otonom sebagai berikut : G. Model masukan keluaran ini biasa disebut juga dengan model kotak hitam (black-box model). atau menstransformasikan bahan-bahan yang disebut masukan (input) menjadi suatu hasil kerja yang bisa disebut keluaran (output) (Shrode dan Voich. Kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat sering disebut otonomi daerah. Landasan Teori 1. 2. ada proses (data menjadi informasi) dan dimaksudkan untuk mencapai suatu sasaran atau tujuan (output). daerah otonomi merupakan ”kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. menyimpan dan mengelola data serta menyediakan informasi keluaran kepada pemakai. mengubah. 22 Tahun 1999. Bodnar dan Hopwood (1993) mendifinisikan sistem informasi adalah kumpulan perangkat keras dan perangkat lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke dalam bentuk informasi yang berguna. dapat disimpulkan bahwa daerah otonom adalah daerah yang memiliki otonomi daerah. mengolah. J. Adanya alat-alat perlengkapan atau organ-organ atau apatur sendiri. Untuk mengetahui metode dan media apa saja yang digunakan dalam penyampaian informasi tersebut. Proses transformasi sistem ini sering dilukiskan organ dengan mempergunakan model masukankeluaran (input-output). Dari berbagai difinisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem informasi mencakup sejumlah komponen (manusia. Hall (2001) mendifinisikan sistem informasi sebagai sebuah rangkaian prosedur formal dimana data dikelompokkan. diproses menjadi informasi dan didistribusikan kepada pemakai. 1974 : 128). I.d. Oleh karena itu. H. orang dan tehnologi informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah organisasi. Pengaturan dan pengurusan urusan-urusan tersebut dilakukan atas inisiatif sendiri dan didasarkan pada kebijaksanaan sendiri pula. Otonomi Daerah Untuk melaksanakan kebijakan desentralisasi dibentuk daerah otonom. informasi.

dalam arti kepemimpinan yang kuat dalam mengkoordinasikan. sejauh mana kesiapan sumberdaya baik sumberdaya manusia (yang mencakup jumlah dan kualitas) maupun sumber dana selebihnya seperti keuangan. 3) Partisipasi yang tinggi dari unit kerja di pemerintah daerah. Kompetensi ini dapat ditunjukkan dengan kesesuaian tingkat dan latar belakang pendidikan. 2002 : 38). 2) Kerja sama yang kompak dan cerdas serta dinamis. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian kualitatif yaitu dengan mengumpulkan dan menggali data kemudian ditabulasi dan dianalisa secara diskriptif. Lokasi Penelitian . Konsep dasarnya : Masukan Proses Keluaran Untuk menilai pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kota Pekanbaru. Dalam hal ini dapat diamati dari : keikutsertaan unit kerja di Pemda dalam berbgai aktifitas pelaksanaan tugas Humas dan Infokom. 2) Sumberdaya yang tersedia dan siap. F. kerja sama yang didasari oleh saling pengertian dan kesediaan menerima perbedaan pendapat. 3) Staf yang kompeten dan komitmen tinggi. infokom dan satuan unit kerja di pemerintahan. jadi seperti kotak hitam (Tatang M. Arifin. 3. yang ditandai komunikasi yang baik dan harmonis antara humas. Input Dari sisi masukan (input). menggerakkan sumber daya manusia dilingkungan humas dan infokom serta menyerasikan semua sumberdaya yang ada pada satu tujuan yang sama. Proses Dari sisi proses di Humas dan Kantor infokom yang bisa dijadikan indikator terjadinya proses pelaksanaan sistem informasi adalah : 1) Pelaksanaan proses tugas penyampaian informasi ditandai oleh : Kepemimpinan lembaga yang kuat. maka pendekatan sistem merupakan cara yang tepat sebagai pemandu. Model kotak hitam itu digambarkan atau dilukiskan orangorang bermacam-macam.dipergunakan untuk menunjukkan bahwa isiyang terkandung di dalam satuan (unit) pemroses (transformasi) atau jelasnya sistem itu tidak diketahui. 2. peralatan perlengkapan dan sebagainya. kemampuan melaksanakan tugas. 5. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kebijakan. dan kedisiplinan dalam melaksanakan tugas. tugas dan sasaran yang akan dicapai Humas dan kantor infokom. yang bisa dijadikan indikator untuk mengetahui masukan pelaksanaan sistem informasi di humas dan Kantor infokom adalah : 1) Memiliki tugas dan sasaran yang jelas. Staf yang kompeten merupakan pra sarat mutlak dalam pelaksanaan tugas humas dan infokom. Sumberdaya sangat strategis bagi keberhasilan pelaksanaan tugas humas dan infokom. 1. Indikator terjadinya kinerja pelaksanaan informasi tersebut adalah informasi yang disampaikan oleh humas dan infokom dapat diterima. Out-put Setiap proses pelaksanaan sistem informasi selalu diharapkan adanya keluaran atau hasil berupa kinerja pelaksanaan sistem informasi.

b. 1. Penyampaian informasi Pada pemerintahan Kota Pekanbaru ada beberapa bidang / instansi yang menyampaikan informasi sebagaimana yang tertera pada tabel berikut ini. A. Library Research (Penelitian Kepustakaan) yaitu dengan mengumpulkan data dengan melalui buku-buku maupun terbitan Pemko Pekanbaru yaitu peneliti berusaha untuk memperoleh data dan informasi yang berhubungan dengan sistem informasi. Maka untuk selanjutnya dapat diketahui tentang yang menyampaikan informasi pada pemerintah Kota Pekanbaru sebagaimana yang tertera pada tabel berikut ini. 3. sedangkan yang menjawab pengolahan data elektronik yang menyampaikan informasi kepada masyarakat hanya 2 F atau 8%. Kemudian data yang diperoleh melalui kuesioner di edit dan ditabulasi dan dipersentase dan dipaparkan untuk selanjutnya disimpulkan. yaitu yang mempunyai tugas pokok sebagai penyalur informasi kebijakan Pemerintah Kota Pekanbaru kepada masyarakat dalam hal ini adalah semua karyawan Bagian Hubungan Masyarakat dan protokol pada Pemerintah Kota Pekanbaru sebanyak 25 orang sebagai responden. 7. 4. Penyampai Layanan Informasi Kepada Masyarakat No. HASIL PENELITIAN Berdasarkan hasil penelitian di lapangan tentang sistem informasi publik pada otonomi daerah di Kota Pekanbaru dapat diuraikan sesuai dengan tabel dibawah ini. 2. Tehnik Analisa Data Adapun yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian analisis kualitatif didukung dengan data kualitatif yang diperoleh melalui pengamatan/wawancara. Tabel 1. Tehnik Pengumpulan Data Dalam penelitian untuk memperoleh data dengan melalui : a. . Field Research (Penelitian Lapangan) Dalam rangka mengumpulkan atau menghimpun data dengan cara mengadakan wawancara dan melalui penyebaran kuesioner kepada responden yang telah ditentukan secara fuspasitife. yang dijadikan sebagai landasan teoritis dan data pendukung dalam penelitian ini. sedangkan yang informasi dan komunikasi 7 F atau 28%.Penelitian ini dilaksanakan di Pemerintahan Kota Pekanbaru pada Sub Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol sebagai lembaga yang secara khusus menangani dan menyampaikan informasi kepada masyarakat 6. Uraian Infokom Hubungan Masyarakat Pengolahan Data Elektronik Lainnya sesuai bidangnya Jumlah F 7 16 2 25 % 28 64 8 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa yang bertugas dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat adalah instansi Pemerintah Pemko bidang hubungan masyarakat sebanyak 16 F atau 64%.

1. B.25 16. Tabel 3.61%. sedangkan yang menjawab instansi terkait sebanyak 10 F atau 32.61 32. Uraian 1. 2. Uraian Politik dan Keamanan Kesejahteraan Masyarakat Ekonomi dan Keuangan Kegiatan Pemko Pekanbaru Jumlah F 5 10 5 5 25 % 20 40 20 20 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 . Caranya Humas Menyampaikan Informasi Melalui Media No. maka Humaslah sebagai corong pemerintah Kota Pekanbaru dalam setiap penyampaian informasi kegiatan Pemerintah Kota Pekanbaru. 3. Demikian sistem atau cara Humas dalam menyampaikan informasi melalui media baik media cetak maupun media elektronik. Mengadakan Dialog Interaktif Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 21 2 2 25 % 84 8 8 100 Adapun cara atau metode Humas menyampaikan informasi melalui media adalah sebagaimana yang tertera dalam tabel tersebut di atas yaitu dengan cara bahwa setiap ada acara kegiatan Pemko atau informasi yang hendak disampaikan kepada masyarakat pihak Humas mengundang wartawan dari berbagai media apakah media elektronik maupun media cetak yaitu sebesar 21 F yang menjawab mengundang wartawan atau 84%. Penyampai Informasi Tentang Kegiatan Pemerintah Pada Masyarakat No. 4.Tabel 2. Demikian uraian tentang yang berhak menyampaikan informasi selanjutnya akan diutarakan tentang bagaimana Humas menyampaikan informasi kepada masyarakat melalui media.25% dari yang menjawab petugas lainnya 5 F atau 16. 1.14%.14 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 Dari tabel tersebut diatas dapat diketahui bahwa yang menyampaikan informasi tentang kegiatan Pemerintah Kota Pekanbaru adalah yang menjawab Humas sebanyak 16 F atau 51. Materi Informasi Yang Disampaikan No. 2. Mengundang Wartawan 2. Uraian Hubungan Masyarakat Instansi Terkait Petugas Lainnya Jumlah F 16 10 5 25 % 51. 3. Dari jawab responden dapat diketahui bahwa Humaslah yang bertugas untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang kegiatan Pemerintah Kota Pekanbaru. Materi Informasi Adapun materi informasi yang disampaikan adalah berpariasi sesuai dengan bidangnya masing-masing sebagaimana yang tertera dalam tabel berikut ini : Tabel 4. Mengirim Berita ke Media 3. Adapun yang menjawab cara menyampaikan informasi itu mengirim berita ke redaksi media dan ada juga yang menjawab dengan cara mengadakan dialog interaktif masing-masing 2 F atau 8%.

Uraian Polhukam Kesra Ekuin Kegiatan Pemko Jumlah F 5 10 5 5 25 % 20 40 20 20 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 Adapun materi informasi yang disajikan sesuai dengan tabel tersebut di atas adalah bidang Kesra sebanyak 10 F sedangkan materi informasi yang berupa politik dan keamanan. Adapun materi informasi Kesra sebanyak 10 F atau 40% sedangkan Politik dan Keamanan 5 F atau 20% sedangkan Ekonomi sebanyak 5 F atau 20% dan kegiatan Pemko Pekanbaru sebanyak 5 F atau 10%. 3. Ekonomi disamping itu juga yang dipublikasikan oleh Humas adalah kegiatan-kegiatan Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru ini materi-materi informasi yang disampaikan kepada masyarakat dengan melalui media cetak dan elektronik yang ada pada daerah tersebut. Kunjungan Kerja 2. 1. Maka dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa materi informasi yang disalurkan adalah bidang Kesra. . Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa kegiatan Pemko Pekanbaru juga merupakan materi informasi meskipun peresmian / pelantikan mendapat yang terkecil namun juga dipublikan kepada khalayak. Ekonomi dan Keuangan. Dengan demikian uraian tentang materi yang paling banyak disajikan kepada masyarakat khususnya kepada masyarakat Kota Pekanbaru. Maka pada tabel berikut ini akan dipaparkan tentang materi yang paling banyak disampaikan kepada masyarakat sebagai berikut : Tabel 6. Peraturan Pemerintah Daerah Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 2 1 2 5 % 40 20 40 100 Pada tabel ini menguraikan bahwa materi informasi yang disampaikan kepada masyarakat disamping Politik Keamanan. ekonomi dan keuangan kegiatan Pemerintah Kota Pekanbaru masing-masing hanya memperoleh 5 F atau 20% masing-masingnya. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa materi informasi yang paling banyak adalah informasi tentang kesejahteraan masyarakat (Kesra) hal ini mungkin yang dianggap perlu oleh Humas untuk disampaikan kepada masyarakat karena sesuai dengan tujuan negara RI adalah antara lain untuk mensejahterakan rakyat.Humas Pemko Kota Pekanbaru sebagai corong pemerintah kota menyampaikan informasi dengan berbagai jenis informasi. Tabel 5. Materi Informasi Yang Paling Dominan No. 4. Uraian 1. Bentuk Kegiatan Pemerintah Kota No. Politik dan Keamanan. Kesejahteraan Rakyat (Kesra) juga kegiatan Pemko Kota Pekanbaru termasuk sebagai materi dan informasi yang disiarkan oleh Humas yaitu yang berbentuk kegiatan Pemko Pekanbaru yang berua kunjungan kerja Pemko Pekanbaru sebanyak 2 F atau 40% kemudian Peraturan Pemerintah Daerah juga sebesar 2 F atau 40% sedangkan peresmian / pelantikan hanya 1 F yang menjawab atau 20%. 2. Peresmian / Pelantikan 3.

4. Adapun melalui tokoh formal sebanyak 8 F atau 32% dengan melalui tokoh Kerismetik sebanyak 5 F atau 20% adapun dengan melalui pamplet atau penguman ditempat keramaian atau pada rumah-rumah ibadah sebanyak 2 F atau 8%. 1. Jadi disamping informasi disampaikan melalui tokoh-tokoh juga informasi disampaikan di rumah-rumah ibadah dengan melalui selebaran maupun pengumuman kepada khalayak. Metode Utama Yang Digunakan Dalam Penyampaian Informasi No. Metode Tambahan Yang Digunakan Dalam Penyampaian Informasi No. Metode Penyampaian Informasi Dalam penyampaian informasi publik Humas mempunyai metode tersendiri sebagaimana tersebut dalam tabel berikut ini. 3. Pertemuan Rapat Rutin 4 16 3. metode ini dengan memanfaatkan tokoh agama sebanyak 10 F atau 40%. 2. Mengundang Wartawan Dari Masing10 40 masing Media Jumlah 25 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 Dalam penyampaian informasi Humas menggunakan beberapa metode seperti mengundang wartawan yaitu sebanyak 10 F atau 40% maksudnya setiap ada informasi yang ingin dipublikasikan Humas memanggil wartawan dari berbagai media apakah media cetak media elektronik semacam pers rikas yang menjadi sumber informasi yang membri keterangan adalah Humas pemerintah daerah Kota Pekanbaru disamping itu mengadakan dialog interaktif 7 F atau 28% yaitu pihak Humas mengadakan penyampaian informasi melalui media elektronik dengan menggunakan cara / metode dialog interaktif. Tabel 8. Mengadakan Pengumpulan Massa 4 16 4. Adapun cara atau metode dengan melalui mengadakan rapat / pertemuan atau pengumpulan masa masing-masing sebanyak 4 F atau 16%. Uraian Tokoh Formal Tokoh Agama Tokoh Krismetik Pengumuman di rumah ibadah Jumlah F 8 10 5 2 25 % 32 40 20 8 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 Tabel di atas menjelaskan tentang metode yang digunakan disamping metode yang tersebut pada tabel sebelumnya. Uraian F % 1.C. Jadi dalam penyampaian informasi adakalanya di tengah-tengah keramaian dengan melalui pengumumanpengumuman. Berikut ini akan diutarakan tentang informasi yang disampaikan kepada masyarakat apakah yang telah di olah atau di kemas oleh lembaga-lembaga instansi yang tertentu sebagaimana yang ada pada tabel dibawah ini. . Dialog Interaktif 7 28 2. Tabel 7.

tanya jawab maupun pidato/ceramah Walikota secara tertulis dengan melalui pengumuman di tempat-tempat keramaian maupun di rumah-rumah ibadah. Informasi dan Elektronika Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 6 15 4 25 % 24 60 16 100 Sesuai dengan tabel di atas bahwa informasi yang disampaikan kepada masyarakat adalah informasi yang telah diolah atau dikemas oleh Bagian Hubungan Masyarakat sebanyak 15 F atau 60%. Hubungan Masyarakat 3. . Bertahap dari Pemko ke Kecamatan ke Kelurahan 2. Baca langsung dari Pemko ke masyarakat Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 5 20 25 % 20 80 100 Adapun tahapan atau sistem informasi kebijakan pemerintah disamping melalui mess media. Tabel 10. Cara Pemerintah Daerah Dalam Penyampaian Informasi Langsung No. Hal ini sebagaimana tertera pada tabel berikut ini.Tabel 9. Sedangkan yang di kemas infokom sebanyak 4 F atau 16%. Demikian cara penyampaian informasi kebijakan pemerintah kepada masyarakat. Uraian 1. Alur Penyampaian Informasi No. Sedangkan adapun informasi yang diolah Bagian Pengolahan Data Elektronika sebanyak 6 F atau 24%. tokoh masyarakat juga informasi kebijakan pemerintah disampaikan dengan bertahap/berjenjang yaitu dari Pemerintah Kota lalu ke Kecamatan dan diteruskan sampai ke Tingkat Kelurahan sebanyak 5 F atau 20% dan ada juga secara langsung dari Pemko langsung ke masyarakat sebanyak 20 F atau 80% dimana pihak pemerintah menyampaikan informasi secara langsung kepada masyarakat baik melalui lisa tatap muka. Tabel 11. Menyampaikan secara langsung 3. Jadi informasi yang disampaikan kepada masyarakat adalah informasi yang telah diolah di kemas atau dibahas di filter yaitu sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat sehingga tak menimbulkan keresahan masyarakat. Dengan cara tatap muka kepada masyarakat Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 5 12 8 25 % 20 48 32 100 Sesuai dengan tabel diatas bahwa penyampaian informasi secara langsung sebanyak 12 F atau 48% yaitu pihak pemerintah menyampaikan langsung kepada masyarakat baik dengan melalui pengumuman di tempat keramaian maupun melalui rumah-rumah ibadah dan juga dengan cara tatap muka pada masyarakat sebanyak 8 F atau 32 %. Badan/Dinas Yang Menyampaikan Informasi No. Uraian 1. Dengan cara tanya jawab 2. PDE Pengelola Dalam Elektrik 2. Uraian 1.

Media yang digunakan dalam penyampaian informasi Pemerintah Kota Pekanbaru dalam menyampaikan informasi kebijakan Pemko Pekanbaru dengan menggunakan beberapa media seperti media elektronik Radio dan Televisi maupun media cetak seperti surat kabar dan juga media baru yaitu internet dan selanjutnya akan dapat diketahui tentang media yang sering dimanfaatkan oleh Pemda Kota Pekanbaru dalam penyampaian informasi. media elektronik Televisi sebanyak 7 F . 2. 3.Tabel 12. Media Yang Paling Dominan Dalam Penyampaian Informasi No. Kegiatan Pemko Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 2 1 2 25 % 40 20 40 100 Adapun informasi yang disampaikan secara tetrulis kepada masyarakat luas adalah seperti Perda yaitu menjawab 2 F atau 40% demikian juga kegiatan Pemko 2 F atau 40% sedangkan pemberitahuan hanya 1 F atau 20%. Uraian 1. Demikian penjelasan tentang tabel diatas tentang penyampaian informasi yang disampaikan secara tertulis. Jarang 3. Pemeritahuan 3. Uraian Media Cetak Media Elektronik TV Tatap muka Media radio Jumlah F 9 7 3 6 25 % 36 28 12 24 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 Pada tabel ini mengutarakan tentang media yang sering dimanfaatkan oleh Humas dalam menyampaikan informasi pemerintah berdasarkan tabel diatas bahwa yang menjawab media cetak sebanyak 9 F atau 36%. Tabel 13. Tidak pernah Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 5 10 10 25 % 20 40 40 100 Dari tabel diatas menunjukkn bahwa informasi kebijakan pemerintah yang disampaikan masyarakat dapat diketahui bahwa jarang disampaikan secara tertulis yaitu 10 F atau 40% dan yang menjawab tidak pernah sebanyak 10 F atau 40% sedangkan yang mengatakan sering hanya 5 F atau 20%. Penyampaian Informasi Secara Tertulis No. Yang sering 2. Sebagaimana yang tertera pada tabel berikut ini. Maka dengan demikian jelas bahwadisaming informasi disampaikan melalui media juga ada informasi disampaikan secara tulis seperti brosur-brosur tentang Peraturan Pemerintah Daerah kegiatan Pemko dan pemberitahuan lainnya. D. Tabel 14. Perda 2. 1. Uraian 1. 4. Macam-Macam Informasi Tertulis No. Maka dengan demikian pemerintah Kota Pekanbaru ada menyampaikan informasi kepada masyarakat dengan cara tertulis.

hal ini disebabkan kemungkinan masyarakat lebih menggemari surat kamar dalam memperoleh atau menikmati informasi. Berikut ini cara Humas menyampaikan informasi sesuai dengan tabel berikut ini. Uraian Tatap Muka Media Cetak Media Elektronik Dengan Disposisi dari Pemko Jumlah F 3 15 14 2 34 % 8. 4. 3. Tabel 16.82 44. Ada juga yang menjawab bahwa menyampaikan informasi kegiatan Pemerintah Daerah dengan melalui disposisi dari Pemko sampai ke tingkat Kelurahan maksudnya informasi di sampaikan dengan secara tertulis mulai dari Pemerintah Kota ke Kecamatan lalu dilanjutkan ke Kelurahan dan sampai ke tingkat Kepala Lingkungan / Ketua Rukun Tetangga dan sampai kepada masyarakat. 2. Sedangkan yang menjawab informasi disampaikan dengan melalui tatap muka sebanyak 3 F atau 8. 2. Tabel 15. Uraian Berita Karikatur Artikel Tajuk Pajak Jumlah F 25 25 % 100 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 Pada tabel ini memaparkan bahwa media cetak surat yang digemari oleh masyarakat adalah dalam bentuk berita secara 25 F atau 100%. 4.19%. Sedangkan media radio sebanyak 6 F atau 24%. 3. . Kemudian dengan melalui media elektronik sebanyak 14 F atau 41.11%. Media Informasi Humas No.88 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 Berdasarkan tabel di atas bahwa Humas menyampaikan informasi kepada masyarakat dengan menggunakan media cetak sebanyak 15 F atau 44. 5. sedangkan selebihnya adalah informasi disampaikan dengan melalui tatap muka sebanyak 3 F atau 12%. Demikian media yang digunakan oleh Humas yang disampaikan kepada masyarakat.19 5. Jadi yang lebih banyak digunakan oleh Humas adalah media cetak dalam hal ini adalah surat kabar kemudian barulah Televisi dan Radio yang digunakan sebagai media dalam penyampaian informasi publik di Pemerintahan Kota Pekanbaru. 1.82%.atau 28%. 1.11 41. Format Informasi Pada Media Cetak No. maka dari tabel tersebut jelas bahwa Humas menyampaikan informasi dengan mengundang wartawan surat kabar terbitan daerah Pekanbaru dan menyajikan informasi tersebut dalam bentuk / jenis berita. hal ini telah menjadi kebiasaan masyarakat Pekanbaru dalam memperoleh / mencari informasi tentang kegiatan Pemerintah maupun informasi lain yang bersumber dari Pemko masuarakat akan mencari atau memilih surat kabar sebagai sumber informasi demikian uraian tentang penggunaan media dalam menyampaikan informasi.

Menempel pamplet di tempat keramaian 3. Uraian 1. Kemudian yang efektif ke dua adalah tatap muka sebanyak 8 F atau 32%. Maka dengan demikian jelas yang bertugas untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat adalah bagian Hubunan Masyarakat (Humas) pada Pemerintah Kota . Penyampaian informasi disamping melalui media juga informasi disampaikan melalui tokoh agama melalui tempat / rumah ibadah demikian penjelasan tentang tabel tersebut di atas selanjutnya akan dipaparkan tentang penyampaian informasi yang efektif sebagaimana yang tertera pada tabel berikut. Maka berdasarkan tabel di atas penyampaian informasi yang paling efektif adalah melalui media cetak dalam hal ini adalah surat kabar harian daerah. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Pekanbaru tersebut di atas maka yang bertugas menyampaikan informasi pada otonomi daerah Kota Pekanbaru adalah Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) sebagai corong Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru. Media Cetak 3. Internet / Media Baru 2. Tatap Muka Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 7 10 8 25 % 28 40 32 100 Pada tabel ini menggambarkan tentang penyampaian informasi yang efektif yaitu yang menjawab media radio sebanyak 7 F atau 28%. Menyampaikan informasi melalui tokoh agama melalui tempat ibadah Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 5 7 13 25 % 20 28 52 100 Selanjutnya akan dijelaskan tentang tabel di atas tentang penyampaian informasi juga disampaikan melalui / menggunakan media baru atau internet sebanyak 5 F atau 20% menempel pamplet ditempat keramaian sebanyak 7 F atau 28% sedangkan penyampaian informasi melalui tokoh agama pada tempat-tempat ibadah sebanyak 13 F atau 5%. Media Informasi Alternatif No. Media Radio 2. Demikian uraian tentang pembahasan tabel demi tabel dalam penulisan temuan penelitian ini. sedangkan efektif yang terbanyak adalah penyampaian informasi melalui media cetak sebanyak 10 F atau 40%. Efektifitas Media Informasi No. Uraian 1. PEMBAHASAN Sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Pekanbaru tentang pembentukan susunan organisasi kedudukan tugas pokok sekretariat daerah bahwa Bagian Hubungan Masyarakat mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas sekretariat daerah dalam bidang bina hubungan dengan lembaga resmi dan hubungan dengan lembaga sesuai dan masyarakat serta fasilitas pelaksanaan kehumasan dan protool kemudian sub bagian penerangan dan hubungan masyarakat mempunyai tugas merumuskan dan mengkoordinasikan pembinaan bidang penerangan dan hubungan masyarakat sedangkan sub bagian dokumentasi dan informasi mempunyai tugas merumuskan dan mengkoordinasikan pembinaan bidang dokumentasi dan informasi. Tabel 18.Tabel 17.

Kesejahteraan Rakyat. maupun informasi lain seperti kegiatan Pemerintah Kota Pekanbaru. Peraturan Pemerintah Daerah dan mencakup ruang lingkup Ekonomi dan Keuangan. 3. Kesra. Media yang digunakan adalah media elektronik. PENUTUP A. bidang Pulhukan. hal ini kemungkinan yang digemari oleh masyarakat dalam memperoleh / mendapatkan informasi. Dalam menyampaikan informasi tersebut Bagian Humas menggunakan metode yang beragam seperti mengadakan dialog interaktif. Berdasarkan hasil jawaban responden bahwa media yang digunakan oleh Humas dalam menyampaikan informasi adalah berbagai media namun yang paling dominan bahwa Humas menggunakan media cetak yaitu surat kabar terbitan daerah. 4. peresmian / pelantikan. . Msi. Penyampaian informsi lebih efektif dan efisien dengan melalui pers rilies yang mana penyusunan redaksi dan kata-katanya diatur oleh wartawan Disaming melalui media massa juga pihak pemerintah Kota Pekanbaru (Humas) menyampaikan informasi dengan memanfaatkan tokoh-tokoh agama. Di Pemerintahan Kota Pekanbaru yang bertugas untuk menyampaikan informasi kebijakan Pemerintah maupun kegiatannya adalah Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) sebagai Corong Pemerintah dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Maka dengan demikian jelas bahwa yang bertugas menyampaikan informasi itu adalah bagian Humas dengan mengadakan Press Relies dalam menyampaikan berbagai bidang informasi kepada masyarakat. ini perbedaan manakala dibanding dengan media lain materi yang terbanyak adalah Kesra. masukan demi kesempurnaannya laporan hasil penelitian ini. Untuk itu diharapkan kritikan. 2. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada bab terdahulu maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Disamping memperolehnya cepat / harga terjangkau dan dapat dibaca berulang-ulang kali. Politik dan Keamanan. Demikian hasil laporan penelitian ini dibuat penulis menyadari bahwa tentu masih terdapat kekurangan. Materi informasi yang disampaikan kepada masyarakat adalah kegiatan Pemerintah Kota seperti kunjungan kerja. ceramah pidato tatap muka langsung ada juga dengan cara mengundang wartawan dari semua media massa (pers relies) dalam menyampaikan informasi disamping itu juga memanfaatkan tokoh-tokoh formal. maupun non formal untuk menyampaikan informasi tersebut. Yusniar. tokoh karismatik dalam menyampaikan informasi yaitu dengan melalui pintu agama dimana informasi disampaikan di rumah-rumah ibadah oleh tokoh tersebut lihat tabel 8 bab III yaitu 40 F (20%) Humas memanfaatkan tokoh Agama dalam penyampaian informasi.Pekanbaru dengan berbagai macam materi informasi seperti Bidang Ekonomi. Sesuai dengan pendapat Drs. media cetak maupun media baru dan tatap muka dalam menyampaikan informasi memuat hasil penelitian mediayang efektif adalah media cetak dalam hal ini adalah Surat Kabar Harian Daerah. Adapun cara Humas untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat adalah dengan cara / metode mengundang wartawan dari berbagai media seperti media cetak maupun media elektronik. Bagian Humas memberikan ketrangan / informasi kepada wartawan untuk dipublikasikan kepada khalayak sesuai dengan jawab responden pada tabel 3 bab IV atau dengan cara mengadakan Pres Relies. Peraturan Daerah maupun yang lainnya harus dipublikasikan oleh Humas sebagai corong Pemko Pekanbaru. ketidak sempurnaan sebagaimana yang diharapkan itu kesemuanya akibat karena keterbatasan kemampuan dari penulis sendiri.

Nomor 8. Nurdin. 2003. PT. . Amiran. Yogyakarta. 2008 Pemerintah Kota Pekanbaru. Sumber lainnya Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 52 Tahun 2002 tentang Perubahan Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 22 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tataruang. Sekretriat Daerah. elektronik. Tatang M. Jakarta. 1987.B. Kepada Pemerintah Pusat. Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 8 Tahun 2002 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 26 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Kantor Kepala Daerah. Saran-Saran Berdasarkan uraian kesimpulan di atas dapat disarankan sebagai berikut : a. 1974. 9 tahun 2008. jakarta. Peraturan Daerah Kota Pekanbaru 2007. Malaysia. DAFTAR PUSTAKA Gelinas. Raja Grafindo Persada. or win Book. Information System Theory and Practice. Suryadi dan Budimansah. Riwu Kaho. Sistem Komunikasi Indonesia Nurdin. c. William A and Dan Voich Toich. 2001. Shrode. Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia. 1990. media maya kiranya untuk menyampaikan informasi yang tidak kalah pentingnya dengan melalui tatap muka / berupa pengumuman baik di tempat keramaian maupun di tempat-tempat peribadatan. PT. Kepada Pemerintah Kota Pekanbaru kiranya dapat meningkatkan sistem informasi publik dengan mengadakan tatap muka langsung antara Pemkab dengan masyarakat. New York. Pekanbaru Dalam Angka. Yosep. 2003. Basic System Conceps. Kepada Bagian Humas Kota Pekanbaru dalam penyampaian informasi kepada masyarakat disamping melalui media massa juga kiranya dapat meningkatkan penyampaian informasi melalui tokoh-tokoh agama maupun berupa pengumuman di tempat keramaian. co. Rineka Cipta. Raja Grafindo Persada. Organisasi and Management. Pokok-Pokok Teori Sistem. Jakarta. Kanisius. PT Raja Grafika Persada. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Sistem Komunikasi Indonesia. b. disamping penyampaian informasi melalui media cetak. Oranda Wiggins. Jakarta.

olahraga hiburan seperti smack down ataupun kekerasan dalam sajian kartun. mencubit dan menampar. Agar tayangan tersebut lebih dibatasi untuk kepentingan pendidikan anak bangsa secara berkelanjutan. Schramm mengatakan bahwa ‘usaha-usaha untuk mencari informasi secara individual kebanyakan dari komunikasi’ (Siregar. Berita-berita yang disajikan media televisi ini dikonsumsi secara luas dan bebas oleh semua kalangan termasuk kalangan pelajar. penonton televisi di Indonesia disajikan berita-berita yang semakin cepat dan detail. beritaberita. Pelaku tindak kekerasan dalam tayangan televisi bisa dilakukan para orang dewasa ataupun oleh pelajar.9% pelajar mengaku perilaku kekerasan yang dilakukannya termotivasi oleh tayangan televisi Apa yang dihasilkan dalam penelitian ini baik untuk ditelaah para pengelola televisi swasta nasional untuk memperhatikan efek dari pesan kekerasan dalam tayangan televisi. Khususnya setelah dikeluarkannya Undang-Undang Pers No. publik di Indonesia disajikan jenis tontonan yang semakin beragam. 1983:35). Seperti dikatakan Wiener (Susanto. perilaku Pendahuluan Sejak berkembangnya industri pertelevisian di tahun 90-an. Berita kekerasan di media televisi tidak sedikit yang melibatkan pelajar. seseorang individu akan melakukan komunikasi yang merupakan sarana individu untuk saling dipertukarkan. Para pelajar ini pada umumnya juga pernah melakukan kekerasan (65. Khususnya berita tentang kekerasan. baik yang disajikan dalam bentuk film. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif yaitu dengan melakukan survei ke lapangan untuk mengumpulkan data dalam bentuk kuesioner kepada para pelajar di Kecamatan Medan Tembung. Apalagi di era digital sekarang ini di mana kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari media massa khususnya televisi.8%) suka tayangan televisi yang menampilkan aksi kekerasan. Orang juga terdorong mencari informasi untuk dapat memahami berbagai aspek lingkungannya. Sekarang ini media menjadi sumber informasi yang sangat akrab karena hampir setiap hari berinteraksi dari pagi hari sampai malam. Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa pada umumnya pelajar (55. 40 Tahun 1999 yang menandai era kebebasan pers di Indonesia. Kata kunci: kekerasan.TAYANGAN KEKERASAN DI TELEVISI DAN PERILAKU PELAJAR OLEH : IDA TUMENGKOL ABSTRAK Penelitian ini mencoba untuk mengetahui tanggapan para pelajar di Kecamatan Medan Tembung atas tayangan kekerasan di televisi swasta nasional dan sejauh mana tayangan tersebut memberikan motivasi bagi pelajar untuk melakukan tindakan kekerasan. Hal ini terkait dengan keberadaan manusia yang merupakan makhluk yang memerlukan informasi karena sifat ingin tahu yang dimiliki oleh setiap orang. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial di mana dia berada. Dalam interaksi sosial. Dan sebanyak 13. 1986:3) ‘untuk dapat hidup efektif orang harus hidup dengan cukup informasi’. baik dari pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) mempraktekkan kekerasan dalam lingkungan sekolah atau dalam lingkungan yang terkait dalam dunia pendidikan.1%) seperti memukul. .

Komunikasi dapat mengubah insting menjadi inspirasi. Penelitian mereka menyebutkan. TVOne. perilaku dan perkembangan anak-anak. ANTV. memberi perintah dan mengawasi. selama sepuluh tahun pertama kehidupan anak-anak yang terkena terpaan televisi adalah sangat dominan. hampir 98 persen dari semua rumah memiliki televisi sehingga disimpulkan bahwa anak-anak diterpa televisi sejak mereka lahir. Uraian Teoritis a. Itulah sebabnya komunikasi dikatakan sebagai ubiquitous atau ada di mana-mana. Ia juga sebagai alat untuk menggambarkan aktivitas masyarakat dan peradaban. dalam penelitian ini dirumuskan hal yang menjadi masalah. Di Indonesia. Berbagai telaah dan penelitian para ilmuwan menyimpulkan bahwa tayangan kekerasan di televisi yang disiarkan secara berulang-ulang menimbulkan efek bagi para pelajar.7 juta anak Amerika menonton televisi. sajian televisi pada umumnya sering menampilkan adegan kekerasan dalam berbagai bentuk. insiden-insiden kekerasan yang diperlihatkan kira-kira sekali dalam setiap 16. Sebuah survei mengenai acara televisi melaporkan bahwa pada senja hari ketika sekitar 26. SCTV. Asumsi tersebut akan menarik jika digali lebih dalam melalui penelitian ini. Mereka menelaah semua teori dan riset mengenai sikap. Diperkirakan. Perumusan Masalah Dari uraian yang disampaikan di atas.3 menit. Untuk mengetahui tanggapan pelajar tentang tayangan kekerasan di televisi. yaitu melalui proses atau sistem untuk bertanya.Masalah kekerasan di media sudah sejak lama jadi perhatian para pakar sosiologi. Para pelajar akan berubah dari objek yang menonton tayangan kekerasan menjadi pelaku kekerasan tersebut. 1998:20). Di samping itu. DAAI TV dan TV Anak. psikologi dan komunikasi di seluruh dunia termasuk di Indonesia. TransTV ditambah satu televisi pemerintah. pesawat televisi di Amerika rata-rata dihidupkan lebih dari tujuh jam setiap hari dan sejak tahun 1950-an secara signifikan telah mengubah kehidupan keluarga. Untuk mengetahui kemampuan tayangan kekerasan di televisi memberikan motivasi melakukan tindakan kekerasan di kalangan pelajar. TPI. . (Robert M Liebert and Joyce Sprafkin. yaitu TVRI dan tiga stasiun televisi lokal yaitu Deli TV. TransTV. Fenomena komunikasi dapat memelihara dan menggerakkan kehidupan. yakni Indosiar. MetroTV. 1988). RCTI. yakni: Apakah tayangan kekerasan di media televisi memotivasi perilaku kekerasan pada pelajar ? Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: 1. 1996). 2.000 pembunuhan dalam televisi. (Arifin. setidaknya ada 10 stasiun televisi swasta nasional. (Stewart and Sylvia. menjelang seorang anak lulus dari SMA rata-rata mereka telah menonton sekitar 18. Penelitian Liebert dan Sprafkin memandang televisi sebagai 'jendela dini' anak-anak untuk melihat dunia. membahas efek negatif juga efek prososial menonton televisi bagi anak-anak. Global TV. stasiun televisi swasta nasional termasuk TPI memiliki tayangan khusus kriminal. Komunikasi Massa Pada prinsipnya komunikasi dapat menyentuh semua aspek kehidupan masyarakat atau sebaliknya semua aspek kehidupan menyentuh komunikasi. Di Amerika sendiri. Pada umumnya. Artinya komunikasi itu selalu ada di mana saja dan kapan saja. Ia dapat memperkuat perasaan kebersamaan dengan saling bertukar informasi dan mengubah pemikiran menjadi tindakan. Di Amerika.

surat kabar. Jadi apabila ada hal-hal yang menyebabkan penonton terharu. dari kota ke desa. bukanlah suatu yang istimewa. persepsi dan perasaan para penonton. terpesona atau latah. Mar’at dari Universitas Padjajaran Bandung. menampar. Bittner mendefinisikan komunikasi massa secara sederhana yakni: komunikasi massa sebagai pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah orang (Rakhmat. Komunikator cenderung merupakan suatu organisasi yang kompleks yang mungkin melibatkan biaya yang besar. 1988:3) yaitu: 1. ini adalah hal yang wajar. Teknologi ini ditemukan untuk mencari kegunaan.(Raymond Williams. bukannya sesuatu yang lahir sebagai respons terhadap suatu kebutuhan pelayanan baru. Sedangkan to entertain (fungsi menghibur) dan to influence (mempengaruhi) jangan sampai merusak tata nilai bangsa. menurut pengamatan para ahli komunikasi menimbulkan revolution of the rising frustration (revolusi meningkatnya frustrasi). Tetapi pengaruhnya bisa positif bisa negatif tergantung pengelolaannya. Ditujukan kepada khalayak yang relatif besar. Informasi yang disebarkan media massa elektronik terutama dilancarkan dari atas ke bawah. Pesan yang disampaikan terbuka untuk umum dan seringkali menjangkau khalayak dalam jumlah besar secara simultan dan bersifat sementara. pandangan. 2. Anggapan ini karena media elektronik telah memanipulasi keinginan khalayak. televisi lahir setelah adanya beberapa penemuan teknologi seperti telepon. Dalam pemakaiannya secara populer. mendorong (paksa) dan menjepit. acara televisi pada umumnya mempengaruhi sikap. (Onong. Masalahnya sekarang adalah bagaimana agar pengaruh yang positif itu seperti to inform (menyebarkan informasi) dan to educate (fungsi mendidik) bisa benar-benar dimanfaatkan. sebab salah satu pengaruh psikologis dari televisi seakan-akan menghipnotis penonton sehingga mereka seolah-olah hanyut dalam keterlibatan pada kisah atau peristiwa yang dihidangkan televisi. seksual dan psikogi. menikam. radio. Menurut Prof Dr R.Kegiatan komunikasi yang menggunakan media massa disebut dengan komunikasi massa. Definisi Kekerasan Definisi kekerasan Fisik badan kesehatan Perserikatan Bangsa-bangsa World Health Organization (WHO) adalah tindakan fisik yang dilakukan terhadap orang lain atau kelompok yang mengakibatkan luka fisik. . Televisi Seperti halnya radio. 1994:188). radio dan televisi merupakan sistem yang dirancang terutama untuk kepentingan transmisi dan penerimaan yang merupakan proses abstrak yang batasan isinya sangat terbatas atau bahkan sama sekali tidak ada’. dari kaum elit ke massa khalayak. dari yang sudah berkembang ke yang sedang berkembang. menendang. b. komunikasi massa sering diidentikkan dengan penggunaan televisi. majalah dan berbagai bentuk teknologi lainnya. Ada beberapa karakteristik dari komunikasi massa (Wright. tetapi tidak menciptakan cara-cara untuk memperolehnya. Pengaruh televisi itu kuat terhadap kehidupan manusia sudah diduga dan disadari ketika media massa itu pada tahun 1962 mulai dimunculkan di tengah-tengah masyarakat. fotografi (yang bergerak dan yang tidak bergerak) dan rekaman suara. 3. Williams mengatakan ‘Berbeda dengan jenis teknologi komunikasi terdahulu. 1975) Televisi adalah produk revolusi elektronik atau sering disebut juga Revolusi Industri Kedua dalam abad ke-20 ini. menembak. bersifat heterogen dan anonim. c. film. Tindakan itu antara lain berupa memukul. telegraf. 1992:119).

3. Perasaan mereka menjadi tidak tersentuh walaupun melihat korban tindakan agresinya (desensitization). Kemampuan penonton dalam mengendalikan dirinya berkurang (disinhibition). Teori Behavioristik: Teori ini memandang belajar itu sebagai hubungan antara stimulus dan respon. 2. Karena itu kekerasan dibagi menjadi dua unsur. dengan perasaan iri dan sebagainya. Populasi Dan Sampel Populasi penelitian ini adalah para pelajar tingkat SLTA yaitu tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). atau menimbulkan terampasnya kemerdekaan seseorang. Metode Penelitian Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. d. Lingkungan sosial menyediakan bermacam-macam kesempatan untuk memperoleh ketrampilan dan kecakapan dengan jalan mengamati pola-pola tingkah laku beserta akibat-akibatnya atau konsekuensi-konsekuensinya.Sedangkan UU Anti Perdagangan Orang mengajukan definisi kekerasan adalah setiap perbuatan dengan atau tanpa menggunakan sarana secara melawan hukum terhadap fisik yang menimbulkan bahaya bagi nyawa. Lokasi Penelitian Penelitian ini mengambil lokasi di Kecamatan Medan Tembung. Joy. 2. Teori tentang Sosialisasi anak: Teori behavioristik hanya terbatas pada hubungan S – R (Stimulus – Respons) saja. Penonton mempelajari metode agresi setelah melihat contoh (observational learning). 4. definisi kekerasan dan ancaman kekerasan. Sedangkan teori belajar sosial beranggapan bahwa hubungan antarpribadi antara anak dengan orang dewasa menyebabkan anak meniru atau menyerap perilaku-perilaku sosial melalui interaksi sosial anak melakukan identifikasi dengan orang tuanya. Kota Medan. Kota Medan. 1977) memberikan suatu kesimpulan bahwa efek adegan kekerasan terjadi dalam tiga tahap: 1. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA) yang bersekolah di wilayah Kecamatan Medan Tembung. Teori belajar sosial mulai dengan menganalisis dua hal: 1. c. yang penting tindakan itu mengakibatkan ketakutan. Metodologi Penelitian a.889 orang yang terdiri dari 5. kesadaran akan bahaya atau perampasan kemerdekaan seseorang. Teori Belajar Sosial Menurut teori belajar sosial.721 orang tingkat SMA. mengimitasi dan mempraktikkanya ke dalam perilaku nyata. b. Berkaitan dengan kekerasan. Penelitian ini untuk menggambarkan secara objektif apa adanya data yang didapat dari lapangan. dengan kekuasaan. Hingga makna kekerasan merupakan ancaman atau penggunaan kekuatan fisik untuk menimbulkan kerusakan pada orang lain. badan. jumlah populasi pelajar SLTA di Kecamatan Medan Tembung sebanyak 10. Berdasarkan data dari Pemko Medan. teori belajar sosial menjelaskan bahwa anak mempelajari perilaku baru melalui pengamatan terhadap model. Berbagai penelitian yang dilakukan (Liebert dan Baron. orang cenderung meniru perilaku yang diamatinya. Kedua definisi kekerasan tersebut tidak mensyaratkan bahwa tindakan yang memicunya harus selalu tindakan ilegal.294 orang tingkat SMK dan 874 orang untuk tingkat MA. . 1972.

Usia responden adalah usia sekolah tingkat SLTA antara 16 sampai 20 tahun. Sedangkan 18. N n = 1 + Ne ² Di mana: n = Besaran sampel N = Besaran populasi e = Nilai kritis yang diinginkan Maka 10. 2. responden dikelompokkan pria sebanyak 50 persen dan perempuan 50 persen.889 n= 1 + (10889) (10%)² = 92 Responden Penarikan sampel menggunakan teknik Proportional Stratified Random Sampling di mana jumlah sampel ditarik sesuai dengan proporsi dalam populasinya. yaitu dimulai dari penjelasan teoritis yang bersifat umum. analisis data dilakukan dengan melakukan survei menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data. Secara umum penelitian kuantitatif diartikan sebagai suatu penelitian yang menggunaan alat bantu statistik sebagai paling utama dalam memberikan gambaran atas suatu peristiwa atau gejala. Waktu menonton televisi Pada umumnya para pelajar menonton TV pada malam hari (53. yang termasuk dalam penelitian kuantitatif.5%) dan sore hari (20. .Sedangkan sampel dalam penelitian ini ditarik dari populasi dengan menggunakan rumus Slovin (Consuelo:1993).9%).6% menonton TV pada siang hari dan hanya 7% pada pagi hari. kelas II dan kelas III setingkat SLTA. (Bambang & Lina: 2005) Populasi Sampel 1 = Total Populasi x Total Sampel Maka : Sampel SMA = 5721/10889 x 92 = 48 Responden Sampel SMK = 4294/10889 x 92 = 36 Responden Sampel MA = 874/10889 x 92 = 8 Responden Metode Analisis Data Dalam penelitian ini. Penelitian kuantitatif pada umumnya adalah bersifat deduktif. Hasil Penelitian 1. Kemudian pandangan teoritis yang bersifat umum itu diuji kebenarannya kepada suatu sampel tertentu yang bersifat khusus untuk diambil suatu kesimpulan. baik statistik deskriptif maupun statistik inferensial. Dari segi jenis kelamin. Karakteristik Responden Para responden dibagi ke dalam kelompok kelas I.

6 2. . selebihnya 13.3% menonton TV selama 6-10 jam sehari. Selebihnya 18. sedangkan yang ingin mencari informasi sebanyak (32.No 1.6% yang menonton 0-1 jam sehari serta sebanyak 2.3 4.6 2.6 20.1% untuk tujuan lain.6% memikirkan/menganalisanya dan 16. Tabel 1 Waktu Menonton Televisi Waktu Menonton F Pagi hari 7 Siang hari 17 Sore hari 19 Malam hari 49 Jumlah 92 % 7 18.1%) dan 18.6%) dan hanya 2. 2-5 jam 73 79.1 3. 2. 3.9 53. 4.5%). 11-15 jam 5.3 13. 15 jam < Jumlah 92 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 92 3. yakni 25.3% yang mendiskusikannya. 4. Namun jumlah yang menjadikan tayangan televisi sebagai referensinya juga cukup signifikan. 0-1 jam 17 18. 6-10 jam 2 2.1 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 92 Setelah menonton tayangan televisi banyak pelajar akan mengabaikan apa yang baru dia saksikan (39.5 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 92 Sementara waktu yang dihabiskan di depan televisi setiap hari rata-rata 2-5 jam (79. 2.3% untuk tujuan pendidikan. % 52 32. Tujuan Menonton Televisi Pada umumnya pelajar menonton TV untuk mencari hiburan (52%). 3.6%. Tabel 2 Waktu Menonton Televisi No Waktu Menonton F % 1. Tabel 3 Tujuan Menonton Televisi Tujuan Menonton F Mencari hiburan 48 Mencari informasi 30 Untuk pendidikan 2 Dll 12 Jumlah 92 No 1.

. film Barat (18. 2.6%).9%). 6. Kartun (4. Sumber : Hasil Penelitian n = 92 F 19 2 17 4 41 9 92 % 20.3 9. Tabel 5 Jenis Tontonan Jenis tontonan Berita Sinetron Film Barat Kartun Musik Olahraga Jumlah No 1. politik (13. 3.6 9. 4.6%).3 4. dan sinetron 2.3 18.3%). F 56 13 11 8 4 92 % 60. 5.9 2.3%).6%). olahraga (9.No 1. 3. 5.3 100 Jenis tayangan berita yang paling disukai pelajar adalah berita kriminal (60.5 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 92 4.6 4. infotainment (9. 4.5 13.6 44.3 39. 3. Tabel 4 Tindakan Setelah Menonton Tindakan Setelah Menonton F TV Memikirkan/Menganalisa 17 Dijadikan referensi 24 Mendiskusikannya 15 Mengabaikannya 36 Jumlah 92 % 18. ekonomi (11.3%) yang mana keduanya adalah jenis film yang cenderung menampilkan aksi kekerasan.5%). Jenis Tontonan Jenis tontonan hiburan berupa musik adalah yang paling disukai pelajar (44. disusul tayangan berita (20.3%.7 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 92 Sedangkan jenis film yang paling disukai adalah film perang (62. 2.8%) dan film action/laga (23. Tabel 6 Jenis Berita Jenis Berita Berita Kriminal Berita Politik Berita Ekonomi Infoteinmen Dll Jumlah No 1.6 25.6 16.3%).9 11. 2.9%). 4.

No 1. 2. 3. 4. Sumber : Hasil Penelitian n = 92

Tabel 7 Jenis Film Yang Ditonton Jenis Film Film Action/Laga Film Perang Film Asmara Dll Jumlah

F 21 58 13 92

% 23,3 62,8 13,9 100

5. Frekuensi Menonton Tayangan Kekerasan Pada umumnya para pelajar ternyata suka menyaksikan tayangan kekerasan (55,8%), bahkan 23,3% sangat menyukainya. Jumlah yang tidak suka lebih sedikit (16,3%) dan sangat tidak suka 4,6%.
No 1. 2. 3. 4. Sumber : Hasil Penelitian n = 92 Tabel 8 Tingkat menyukai tayangan kekerasan Tanggapan F Sangat Suka 21 Suka 51 Tidak Suka 15 Sangat Tidak Suka 5 Jumlah 92 % 23,3 55,8 16,3 4,6 100

Meski jumlah yang jarang menonton tayangan kekerasan sebanyak 55,8%, namun yang sering menontonya juga banyak, yakni 41,9% dan 2,3% sangat sering.
No 1. 2. 3. 4. Tabel 9 Frekuensi Menonton Tayangan Kekerasan Frekuensi Kekerasan F Sangat Sering 2 Sering 39 Jarang 51 Tidak Pernah Jumlah 92 % 2,3 41,9 55,8 100

Sumber : Hasil Penelitian n = 92

Meski menyukai, namun pada umumnya pelajar berpendapat tayangan kekerasan tidak perlu (60,5%) dan 9,3% sangat tidak perlu. Namun ada 30,2% yang menyatakan perlu.
Tabel 10 Tanggapan Pelajar Terhadap Tayangan Kekerasan No Tanggapan F % 1. Sangat Perlu 2. Perlu 28 30,2 3. Tidak Perlu 56 60,5 4. Sangat Tidak Perlu 8 9,3 Jumlah 92 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 92

6. Motivasi Tayangan Kekerasan Di Televisi Perilaku kekerasan seperti mencubit, memukul, menampar pernah dilakukan pada umumnya pelajar (65,2%), bahkan ada 13,9% yang mengaku sering melakukannya. Sedangkan 20,9% tidak pernah melakukan kekerasan.
Tabel 11 Perilaku Kekerasan Pelajar No Perilaku Kekerasan F 1. Sangat Sering 2. Sering 13 3. Pernah 60 4. Tidak Pernah 19 Jumlah 92 Sumber : Hasil Penelitian n = 92

% 13,9 65,2 20,9 100

Perilaku kekerasan yang dilakukan pelajar karena termotivasi oleh tayangan kekerasan di televisi (13,9%) dan 7% lainnya sangat dimotivasi oleh tayangan tersebut.
Tabel 12 Motivasi Tayangan Kekerasan No Motivasi Tayangan F 1. Sangat Memotivasi 6 2. Memotivasi 13 3. Tidak Memotivasi 56 4. Sangat Tidak Memotivasi 17 Jumlah 92 Sumber : Hasil Penelitian n = 92 % 7 13,9 60,5 18,6 100

Pembahasan Dari sebanyak 92 responden yang merupakan pelajar tingkat SLTA di Kecamatan Medan Tembung, 51 orang (55%) adalah pria dan 41 orang (45%) adalah perempuan. Sebanyak 20% responden menyukai tayangan berita di televisi dan dari yang menyukai berita tersebut, 60,5% lebih menyukai tayangan berita kriminal. Hal ini berbanding lurus dengan jenis film yang lebih disukai yakni jenis film perang (62,8%) dan jenis film laga/action (23,3%). Pada umumnya pelajar (55,8%) suka tayangan yang menampilkan aksi kekerasan dan 41,9% mengaku sering menyaksikan tayangan seperti itu. Mereka menyatakan tayangan yang berbau kekerasan itu perlu dilihat pelajar (30,2%), meski yang menyatakan tidak perlu masih jauh lebih banyak yakni 60,5%. Para pelajar ini pada umumnya juga pernah melakukan kekerasan (65,1%) dan yang menyatakan sering melakukan kekerasan sebanyak 13,9%, selebihnya 20,9% tidak pernah melakukan kekerasan seperti memukul, mencubit dan menampar. Jumlah ini sebanding dengan jumlah pelajar yang termotivasi melakukan tindakan kekerasan karena tayangan televisi. Sebanyak 13,9% mengaku perilaku kekerasan yang dilakukannya termotivasi oleh tayangan televisi, meski jumlah yang tidak termotivasi masih jauh lebih besar (60,5%) dan yang sangat tidak termotivasi 18,6%. Kesimpulan Frekuensi tayangan kekerasan di televisi semakin tinggi, sesuai dengan keinginan masyarakat penonton televisi yang memang menggemari tayangan seperti itu. Kalangan pelajar adalah salah satu kelompok masyarakat yang menyukai tayangan yang berbau kekerasan.

Hobi menyaksikan tayangan kekerasan tersebut ternyata menimbulkan motivasi bagi pelajar untuk melakukan tindakan kekerasan yang sama. Baik secara sadar ataupun tidak sadar mereka memiliki kecenderungan melakukan tindakan kekerasan seperti yang dilihatnya di televisi. Saran Berdasarkan kesimpulan yang didapat, maka para pengelola televisi perlu memperhatikan dampak dari materi siaran tayangan kekerasan yang ditampilkan karena berdampak buruk bagi perkembangan pelajar. Tayangan kekerasan di televisi swasta nasional perlu dikurangi frekuensinya dan sebaliknya semakin mengedepankan program tayangan yang bersifat mendidik. Juga siaran reka ulang sangat tidak bermanfaat. DAFTAR PUSTAKA Arifin, Anwar, Ilmu Komunikasi: Sebuah Pengantar Ringkas: Jakarta, Rajawali Press,1988. Consuelo, G.Sevilla, et. All, Pengantar Metode Penelitian (terjemahan Alimuddin Tuwu), Jakarta: UI Press, 1993. Effendy, Onong Uchjana, Dinamika Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992. Joy, Television Exposure and Children’s Aggresive Behavior. Mass CommunicationReview Yearbook III. Sage Publications. Beverly Hills: 1977. Liebert And Baron, Some Immediate Effects of Televised Violence on Children’s Behavior. Development Psychology, VI, 1972. Prasetyo, Bambang dan Miftahul Jannah, Lina, Metode Penelitian Kuantitatif, Teori dan Aplikasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005. Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994. Robert M Liebert and Joyce Sprafkin, The Early Windows: Effects of Television on Children and Youth, edisi ke tiga, 1988. Siregar, Ashadi, Etika Komunikasi (bagian ke 2), Yogyakarta: Seksi Penerbitan Badan Penelitian dan Pengembangan FISIP UGM, 1983. Stewart L Tubbs and Sylvia Moss, Human Communication, 1996. Susanto, Astrid S, Komunikasi dalam Teori dan Praktek I, Bandung: Bina Cipta, 1986. William, Raymond, Television, Tecnology and Cultural From, London: Fontana, 1975. Wright, Charles R, Sosiologi Komunikasi Massa, Cetakan ke-tiga, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1988.

THE SEARCH FOR THE PERFECT NUMERAL SYSTEM, WITH PARTICULAR REFERENCE TO SOUTHEAST ASIA Dra. Wan Anayati, MA Abstract Apabila kita mengadakan perbandingan antar-bahasa, kita boleh saja beranggapan bahwa bahasa yang satu lebih atau kurang ideal dibandingkan bahasa yang lain. Sistem penghitungan dalam bahasa merupakan salah satu cara dimana kita dapat melakukan perbandingan semacam itu. Dengan mengambil contoh-contoh pada sejumlah bahasa di Asia Tenggara, penulis beranggapan bahwa sistem penghitungan seharusnya mencerminkan bagaimana angka-angka ditulis dengan figur. Kini, cara desimal untuk menulis angka-angka hampir bersifat universal. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa sistem penghitungan yang ideal dalam budaya penghitungan yang moderen seharusnya juga desimal. Dalam makalah ini penulis akan memfokuskan pada perkalian dan penjumlahan dalam sistem penghitungan desimal. 1. INTRODUCTION The title of this article - which should not be interpreted without a certain element of humor - is taken from that of a book by Umberto Eco (Eco 1997). While I doubt whether one can evaluate any language as a whole as being more or less ideal than any other, such a comparison may be possible in certain very restricted parts of the structure of a language, and the numeral system is one area where one might be able to make such a comparison. In the following sections, I will try to do this with respect to selected Southeast Asian languages. In the final section, however, I will express a number of caveats with respect to the notion of “ideal” numeral system, suggesting that even here the notion of “ideal” may not be so easy to define. I will make a number of assumptions in the definition of an “ideal” numeral system. First, I will assume that the numeral system should mirror closely the way numbers are written by means of figures. In the present-day world, the decimal way of writing numbers is almost universal, so I will assume more specifically that an “ideal” numeral system in a modem, numerate culture should be decimal - though this does not exclude the possibility that in other scenarios a numeral system with some other base would have been “ideal”, a concrete example being the ancient Mayan system, which both linguistically and in its notational system was vigesimal (base 20). Incidentally, even those Southeast Asian cultures which optionally or obligatorily use their own notation for figures, such as Burmese, Khmer, and Thai, nonetheless have a decimal system for this notation. A decimal system is characterized ideally by the following features. The numerals 1 - 9 are expressed by distinct morphemes. There is a distinct morpheme for 10, and products of 10 are expressed by a conventionalized means of indicating multiplication, as in Indonesian dua puluh ‘20, i.e. two ten, i.e. 2 x 10’, with the convention that a smaller number followed by a larger number is to be interpreted as multiplication. Numerals in between products of 10 are expressed by a conventional means of indicating the addition of the remainder to the power of 10, as in Indonesian tiga puluh sembilan ‘39, i.e. three ten nine, i.e. 3 x 10 + 9’, with the convention that a larger numeral followed by a smaller number is to be interpreted as addition. Ideally, a decimal system should also have a systematic way of expressing powers of 10 (‘exponentiation’), and indeed this is found to

some extent in the international system for higher powers of 10 (bi-Ilion, tri-ilion, quadrillion, etc.). However, no language seems to use such a system without exception for the lower powers of 10, so that we rather find portmanteau forms like English hundred for 102, thousand for 1O3, etc. I will not discuss further the expression of powers of 10. In this paper, I will concentrate on multiplication and addition in a decimal numeral system. There are other features that should surely be imposed on an “ideal” numeral system, such as expressibility (i.e. the possibility of expressing any number) and absence of ambiguity, and indeed I have discussed such features in Comrie (1997), but I will not discuss them further in the present context. As a starting point, one might ask how English and other major European languages fare in terms of such an “ideal” system. Basically they operate in terms of transparent multiplication and addition, with addition proceeding from higher to lower powers of 10, as in English three thousand five hundred and six ‘3506 (i.e. 3 x 1000 + 5 x 100 + 6)’, there are nonetheless a rather large number of deviations from this pattern. In English, the forms of the l0s use not the element ten but rather -ty, and there are some morphophonological irregularities of combination (cf. five but fif-teen). The teens again do not use the element ten, but rather a different suffix -teen, and invert the usual order by having the unit before this suffix, as in six-teen ‘16, i.e. 6 + 10’, again with some morphophonological irregularities (e.g. fif-teen), and with at least one complete irregularity, namely eleven ‘11’, which is synchronically unanalyzable. Other irregularities found in other major European languages include a partial foray into vigesimalism in French, where 80 is expressed as quatrevingts, literally ‘four-twenties, i.e. 4 x 20’, an unexpected portmanteau form for 40 in Russian (sorok), and consistent inversion of the tens and units in German and Dutch (ein-und-zwanzig and een-en-twintig respectively for 21, lit. ‘one- and-twenty’). Note finally, before we proceed to Southeast Asia, that I am not concerning myself explicitly with how multiplication and addition are expressed, so long as there is a consistent way of indicating them, as in the analysis of the Indonesian forms given above. Of course, an “ideal” system should operate consistently, so that English is inconsistent in sometimes requiring expression of the unit in multiplication (e.g. a/one hundred ‘100’), and sometimes not (e.g. ten ‘10’), while French is inconsistent in sometimes requiring overt expression of addition (e.g. vingt-et-un ‘21, lit, twenty-and-one’), sometimes disallowing it (e.g. vingt-deux ‘22, lit, twenty-two’). In the Southeast Asian languages considered below, the basic system is consistently decimal, with (covert) indication of addition and multiplication as in the Indonesian example analyzed at the beginning of this section. Nonetheless, individual languages have more or fewer deviations from this “ideal” system, as illustrated in the following sections.

2. INDONESIAN [The source of my data on Indonesian is Sneddon (1996: 184 - 185).] Indonesian comes close to the ideal system outlined in section 1. The basic structure is as follows: A smaller numeral followed by a larger numeral is interpreted as multiplication; a larger numeral followed by a smaller numeral is interpreted as addition; all multiplications are carried out before addition. This can be seen in example (1): (1) dua ribu enam ratus tiga puluh sembilan two thousand six hundred three ten nine ‘2639 (i.e. 2 x 1000 + 6 x 100 + 3 x 10 + 9)’

To this general pattern, there are only two exceptions. One is essentially morphophonological, in that the numeral 1 in multiplication is expressed as the prefix serather than the separate word satu in the powers of 10 from 10 through 1000, and optionally in the case of ‘million’, e.g. se-ribu ‘1000 (i.e. 1 x 1000)’; both prefix and separate word are attested elsewhere in the languages, so this is making use of an already existing set of forms. The second is that the formation of the teens falls outside the general pattern, so that ‘10 + n’ is expressed as n belas, e.g. tiga belas is ‘13 (i.e. three teen)’; the form for 11 combines this with the morphophonological property just noted to give sebelas. 3. MANDARIN CHINESE [The source of my data on Mandarin is Yip and Rimmington (1997: 11—12) and Chao (1968: 567—575).] Although Chinese is gographically an East Asian rather than a Southeast Asian language, its presence in the area, especially through cultural influence on other languages - Thai, for instance, has borrowed most of its numerals from Chinese justifies at least a brief treatment in the present context, especially as Chinese, here illustrated by Mandarin, fits well into the general Southeast Asian pattern, close to the “ideal system”. The general pattern is essentially as given above for Indonesian, as illustrated in (2): (2) wŭ- băJi yi-shi èr five-hundred one-ten two ‘512 (i.e. 5x 100 + l x 10 + 2)’ (Note that this pattern also extends to the teens. It would also be possible to omit the morpheme yì ‘1’ of yi-shi.) The main exception to this regular pattern concerns variant forms of the numeral 2, namely èr and liǎng. (A further complication is discussed in section 8.) In numerals, generally, the variant èr is used. However, hang is an optional variant before products of powers of 10 from 100 upwards, i.e. 200 can be either êr- bai or liäng-bffi ‘two-hundred’. In addition, the numeral 1 undergoes tone sandhi, so that it has falling tone in (2), but level tone in isolation. 4. THAI [The source of my data on Thai is Smyth (2002: 172—174).] Thai follows essentially the same pattern as Indonesian, as can be seen in example (3): (3) sẻẻη phan hâa róẻy sìi sip cèt two thousand five hundred four ten seven ‘2547 (i.e. 2 x 1000 + 5 x 100 + 4x 10 + 7)’ This same pattern extends to the teens, which are thus formed regularly, as in (4): (4) sip sẻẻη ten two ‘12 (i.e. [1 x] 10 + 2)’ (Note that Thai does not express 1 before 10, although it optionally does so before 100 and higher powers of 10, e.g. (n)phan ‘1000 (i.e. 1 x 1000)’.) Nonetheless, there are two striking deviations from the ideal pattern set out in section 1: First, whenever I appears as the final element of an additive compound numeral, in place of the word nfzj ‘1’ one finds rather èt, as in (5): (5) sii sip èt four ten one ‘41 (i.e. 4 x 10 + 1)’ Second, 20 is expressed using a different word for 2, as in (6) [cf. (4) above]: (6) yii sIp two ten

‘20 (i.e. 2 x 10)’ Moreover, when 20 is followed by a unit in an additive construction, the combination as given in (6) may optionally be reduced to yǐip, although the full form as in (6) is also possible. 5 KHMER [The source of my data on Khmer is Jacob (1998: 81—83).] Khmer presents a rather larger number of departures from the ideal system as presented in section 1. First, the numerals 6—9 are expressed as if in a quinary system, i.e. 6 is expressed as 5 + 1, as in (7): (7) pram-muẻy five-one ‘6 (i.e. 5 + 1)’ However, the quinary system plays no part in multiplication (i.e. there are no forms interpreted as ‘n x 5’), nor in exponentiation (i.e. there are no morphemes interpretable as ‘125’, or more generally 5”). The word for 10 is dap, and the teens are formed regularly, as in (8): (8) dap-pii ten-two ‘12 (i.e. 10 + 2)’ However, the products of 10 from 30 to 90 are expressed using morphemes borrowed from Thai. Thus, although 3 is by and 10 is dap, the form for 30 is as given in (9): (9) saam-sap three-ten ‘30 (i.e. 3 x 10)’ Although this is sometimes described by saying that the words for the tens are not synchronically analyzable in Khmer, this is not strictly speaking correct, since the recurrent element -sap is found in all of the tens 30-90 and is thus synchronically an irregular allomorph of the word for 10. Likewise a form like saam- is more appropriately treated synchronically as an irregular allomorph of the word for 3. These forms for the tens have a synchronically transparent internal structure. Beyond this, the word for 20 is completely irregular, namely mephiy. Note that products of the higher powers of 10 are formed regularly, thus giving rise to combinations like (10): (10) pram-muзy-rccy saam-scp-budn five-one-hundred three-ten-four ‘634(i.e.(5+ 1) x 100+3 x 10+4)’ In other words, Khmer illustrates basically the same kind of structure as in the other cited Southeast Asian languages, but with rather more deviations, 6. VIETNAMESE [The source of my data on Vietnamese is Thompson (1987: 184 - 190).] The basic forms in Vietnamese follow the same pattern as we have already seen in other Southeast Asian languages, with a decimal system using multiplication and addition, as in example (11): (11) ba mu’o’i bô’n three ten four ‘34(i.e.3x 10+4)’ However, as in some of the other languages considered, there are some morphophonological changes, in Vietnamese concerning tone. When used as the multiplicand to express the tens, the word much ‘10’ has the high level tone (no diacritic in Vietnamese orthography), while in isolation it has the low level tone, indicated

e. e. PARADISE LOST . it is not idiosyncratic to the formation of numerals. and cultural pressures can override “ideal” structure. certainly much closer than most major European languages. 8. as in (13): (13) hai mu’oi mô two ten one ‘21 (i. 355. indicated orthographically by a subscript dot. the same is true of expressions for the other powers of 10 when followed by a lower power of 10 (including a unit). in some of the tens the element -hse’‘10’ is voiced to -ze.. in addition to the full form just given there is also a contracted form as in the alternative form ham mô’t ‘21’. numeral systems are heavily cultural objects.my data on Burmese is Comyn and Roop (1968: 30-32. A perhaps even more striking example is seen slightly outside our geographical area. The numerals 1.e.e.orthographically by means of a grave accent. ‘two-ten’. but after other products of powers of 10 its tone is rising. and also lose their tone. as in (12): (12) muoi mqt ten one ‘11 (i. five-ten’. as in (14): (14) bô’n (mu’o’i) chin four ten nine ‘49 (i.). thus giving rise to synchronically irregular allomorphs that reflect diachronically Thai equivalents of the usual Khmer morphs.. tones are marked by means of one of the four symbols{=.e. indicated orthographically by means of an acute accent.] Burmese also evinces the same basic system as in other Southeast Asian languages. But for 40 upwards. but 20 is hna-hse. the Englishlexified lingua franca of most of Papua New Guinea. where the Khmer numerals for the tens are borrowed from Thai.g. AND REGAINED The presentation of material on Southeast Asian numeral systems suggests that they come close to the “ideal” numeral system proposed in section 1. has the sharp falling tone. hcau’-hse. and 7 change their last vowel when multiplying a power of 10.e. 101. For instance. 30 behaves similarly. mot ‘1’. muoi ‘10’. thoun: eight-hundred six-ten three ‘863. This same element also changes its tone when followed by a unit. there are certain contractions that are frequent at least in the spoken language. i. the traditional system was “ideal”. as can be seen in example (15): (15) hyi’-ya.356). some (but not all) of which are paralleled elsewhere in the language. nga:-ze ‘50. ‘} after the syllable. 2. 4 x 10 + 9)’ 7.e. 2 x 10 + 1)’ In addition. so that 2 is hni’. BURMESE [The source of. in compound numerals involving addition of a unit the abbreviation is rather through omission of the word for 10. etc. this vowel change also occurs when these numerals precede numeral classifiers.(17): . especially once one starts considering the departures from the “ideal” system. and this form is also used in teens. 10 + 1)’ The numeral 1 in isolation.g. First. 8 x 100+6x 10 +3’ Departures from this regular system concern morphophonological alternations. i. lit. 1001.e. as in (16) . and also following an unmultiplied power of 10 (i. We saw this in section 5. for 20 followed by a unit. But a little more thought suggests putting the numeral systems of languages of Southeast Asia in a somewhat different perspective. with the exception of a few morphophonological alternations. in 11. Thus. i. as in the expression for 60 in (15). which are formed regularly. lit..e. In Tok Pisin.

making frequent use of numerals. i. teti-tri. and also other occasional anomalies.(16) wan-pela ten tu one-SUFFIX ten two ‘l2 (i. i.e. without any need to identify morphemes for ‘4’ and ‘ten’. for instance. a radically different form. especially where this does not lead to ambiguity. Thai forms are discussed by Noss (1964: 110—ill). Second. In both languages. which also serve economy of pronunciation. then one can add the word for 100. a Vietnamese example is given in (18): (18) hai ngàn hai two thousand two Now. . Typologically. such as the alternative form for 500 in Vietnamese: nô’a ngàn. A prelude to contraction can be seen in various morphophonological alternations. such as the formation of the teens in Indonesian. in a numerate culture.e. Thus. literally ‘half thousand’. with sharp falling tone on the element ‘1’. and our characterization of the “ideal” numeral system in section 1 pays attention only to the former of these. whether an irregular combination or a portmanteau morph. this contraction actually gives rise to an ambiguity. since (18) can mean not only 2200 but also 2002 (but not 2020. these traditional numerals are replaced by their standard English equivalents (in local pronunciation and spelling). a numeral like 2200 can be expressed simply by saying ‘two thousand two’. in current usage. here 2 x 1000 + 2 x 100. respectively (Mihalic 1971: 20). If it is necessary to express unequivocally 2200. Southeast Asian numeral systems seem to place more emphasis on clarity. Language is always an arena of tension between the competing forces of clarity (favoring more extended formulations) and economy (favoring more concise formulations). l x 10 + 2)’ (17) tri-pela ten tri three-SUFFIX ten three ‘33 (i. and 1100. twelv. with the convention that the apparent unit in fact refers to the next lower power often. putting íé ‘and’ before the final element unequivocally indicates 2002 (and the morphophonology of 1 means that there is always a distinction between contracted 1001. although shorter descriptions even of Thai and Vietnamese often fail to note the contraction under consideration. there is some advantage to having shorter forms. or Khmer 20. This might account for the other irregularities noted above. can serve to quickly identify a particular numeral. A further contraction may be observed in Thai and Vietnamese . also 30). 3 x 10 + 3)’ However.e.and perhaps some other languages.e. the portmanteau Russian numeral sorok ‘40’ is readily identifiable as such. but economy is never completely absent. with rising tone on this element. Finally. with all the idiosyncrasies of standard English. in Vietnamese at least. since the contraction is only possible where the final component is of the next lower power of ten relative to the preceding element). In this way one can account for the contracted forms for 20 in Thai and Vietnamese (in the latter language.

): Proceedings of LP’96. The Search for the Perfect Language. Eco. 1997. 1997. Indonesian Reference Grammar. Cornyn. Haigh Roop. 1968. Thompson. P. F. Laurence C.20. London: Routledge. Yip Po-Ching and Don Rimmington.REFERENCES Chao. Agustus 2004 Jacob. Umberto. 1968. William S. Thai Reference Grammar. James Neil. Smyth.: Foreign Service Institute. Honolulu: University of Hawaii Press.C. David.56. St Leonards. Chinese: An Essential Grammar. Berkeley: University of California Press. D. NSW: Allen & Unwin.: Jacaranda Press. Palek (ed. ‘Some Problems in the Theory and Typology of Numeral Systems’. Noss. 1987. Tahun ke 22. 1996. The Jacaranda Dictionary and Grammar of Melanesian Pidgin. Thai: An Essential Grammar. Judith M. Introduction to Cambodian. London: Routledge. 2002. B. Milton. No. 1997. Mihalic. R. In B. Bernard. Revised ed. Beginning Burmese. 2. New Haven. Prague: Charles University Press. Sneddon. 1971. and D. Oxford: Blackwell. A Grammar of Spoken Chinese. Comrie. 1968. 41 . Qid. Yuan Ren. . CT: Yale University Press. Washington. 1964. Linguistik Indonesia. Oxford: Oxford University Press. A Vietnamese Reference Grammar.

could facilitate the users to find information and increase knowledge.persons interactions that covered the needs of the information. 3 Desember 2009 MOTIF-MOTIF MASYARAKAT KOTA TEBING TINGGI MENGGUNAKAN INTERNET 8 (Survei Pada Pengguna Warnet Di Kota Tebing Tinggi) Oleh : Budiman ** Abstract This study attempted to know the motivation of Tebing Tinggi’s people using internet. maintain and enchance the cooperation with various parties. Using internet . Keywords: User Motives in Using Internet 8 Telah dipresentasikan pada Seminar Hasil Penelitian BBPPKI Medan di Kota Parapat. and than to fulfill needs of personal identity. In fulfilling the needs of diversion. in the perspective Uses and Gratifications theory. internet had helped users to search for ideas and thoughts to create. ** Penulis adalah Peneliti Pertama Bidang Komunikasi pada BBPPKI Medan . Di MMTC Jogyakarta tanggal 5-6 Oktober 2009. researcher wanted to know the using of internet based on the media's scheme .III. Depkominfo RI. Volume 10 No. positively could cause feelings of happines. That was why. people have needs and motives based on the diverse social characteristics. This study used as many as 50 respondents. diversion. Kabupaten Simalungun Tanggal 29 Juli 2009 dan pada Temu Ilmiah Balitbang SDM. and personal identity. The result in this research found that internet using based on information needs.

000.000.143 16.000 4.Latar Belakang Masalah Teknologi Komunikasi dan Informatika (TIK) atau Information and Communication Technology (ICT) semakin dirasakan penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia modern.000. Gubernur Sumatera Utara Drs. Salah satu aksinya adalah membangun Community Acces Point (CAP). ada juga Warung Masyarakat Informasi (Warmasif) yang menyediakan akses informasi tentang pelayanan publik di 50 lokasi di Indonesia.000 1.226.000 4. Para pengguna sangat menyambut baik dengan menunjukkan minat yang tinggi terhadap adanya warnet.200.000 Pemakai 512. Upaya yang dilakukan pemerintah melalui Departemen Komunikasi dan Informatika yang konsen terhadap perkembangan TIK melakukan beberapa aksi baik melalui programprogram maupun dengan kebijakan-kebijakan.080.500.900. Perkiraan resmi dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) terhadap jumlah pelanggan dan pemakai internet selama ini dan perkiraan sampai akhir tahun 2006 adalah sesuai dengan tabel berikut ini: Perkembangan Jumlah Pemakai Internet (kumulatif*) Di Indonesia Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007* Pelanggan 134. Disamping itu adanya teknologi internet telah merangsang munculnya bisnis penyedia jasa internet yakni warnet. Media internet muncul sebagai sarana yang ampuh menjangkau khalayak dengan cepat dan mudah tanpa mengenal rintangan jarak dan waktu dan proses yang kompleks. Pardede mencanangkan 2008 sebagai tahun kebangkitan TIK.000 581. Selain itu.000 400.000 667. Istilah “Warnet” merupakan istilah khas Indonesia untuk “warung internet”.002 865. Rudolf M. Bagi masyarakat perkotaan dewasa ini sudah tidak asing lagi dengan istilah warnet (warung internet). Internet menjadi semakin dekat dengan masyarakat dengan sifatnya hampir sama dengan televisi atau media massa lainnya sehingga setiap orang dapat menggunakan media tersebut tanpa harus berada di tempat yang khusus.000.000.087. Karena itulah ketika banyak pengusaha mulai membuka usaha berjualan layanan internet maka mereka memberi nama “Warung Internet” bagi usahanya. Community Access Point (CAP) di Indonesia sendiri memiliki banyak wujud.000 8. hingga saat ini jumlah usaha warnet mencapai lebih dari 15 tempat dan rata-rata sehari terdapat sekitar 50 pengguna yang mengunjungi di setiap warnet. Bisnis warnet sudah tumbuh subur di Indonesia terutama di daerah perkotaan.apjii.706 1.000 2.000 1. Warung adalah kalimat yang sangat akrab bagi telinga kita.id Demi mendukung perkembangan TIK khususnya pemanfaatan internet di Provinsi Sumatera Utara dalam menunjang berbagai aktivitas.000 20. Bisnis warnet di Kota Tebing Tinggi sudah muncul sekitar tahun 2000 dan mengalami kemajuan yang sangat pesat sekitar dua tahun terakhir.534 11. Perkembangan TIK mendapat perhatian pemerintah.000 25.500.or.000 * Perkiraan s/d akhir 2007 Sumber : www.700.000 256.000 1. di antaranya akses internet yang ada di warnet-warnet yang tergabung dalam Asosiasi Warung Internet Indonesia (Awari). Bagi pengguna (user) yang tidak memiliki perangkat komputer yang belum tersambung dengan jaringan internet .428 1.

e-mail. Pemerintah Indonesia bahkan mulai mendorong kepada warganya untuk menggunakan media Internet seperti yang dilakukan oleh Depkominfo yang mensponsori penayangan berbagai iklan di media televisi. terlepas dari apakah hal tersebut memberikan kontribusi positif bagi pengguna tersebut atau bahkan berdampak rusaknya moralitas penggunanya. internet menjadi salah satu fenomena komunikasi bermedia yang terus berkembang serta semakin dibutuhkan oleh masyarakat. Manfaat Teoretis Penelitian ini untuk mengetahui penerapan pendekatan Uses and Gratifications.biasanya dapat mengakses di warnet. permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : “Motif-motif apakah yang mendorong masyarakat Kota Tebing Tinggi menggunakan Internet ?” Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara umum mengenai motif-motif yang mendorong masyarakat Kota Tebing Tinggi menggunakan Internet. Dengan memiliki keunggulan dalam efesiensinya ini. Dari penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan studi komunikasi serta . bahkan bermain game. tapi ada juga beberapa dampak negatif yang dapat dialami oleh para pengguna internet. Komunikasi dapat dilakukan manusia dengan begitu luas dan cepat dengan hadirnya internet. Beberapa aktifitas melalui komputer ataupun internet dapat dilakukan disini seperti mencari informasi (browshing). Seperti diketahui bahwa pengguna media internet dapat menelusuri apa saja yang diinginkannya. Internet akan lebih mengefisienkan waktu dan sistem kerja dibandingkan dengan komunikasi/ informasi secara manual. maka penggunaan internet diprediksi akan menimbulkan dampak tertentu dalam diri masyarakat berupa gratifikasi media atau tingkat kepuasan dalam menggunakan media internet. Dimana iklan tersebut menggambarkan bahwa anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar pun dapat memanfaatkan media internet sebagai akses pencarian data jika diberikan tugas membuat kliping. hasil penelitian ini walau hanya pada sebuah kota diharapkan dapat dijadikan masukan bagi pemerintah melalui Depkominfo ataupun Pemerintah Daerah khususnya untuk mengkaji stategi perkembangan TIK khususnya internet dalam hal tren penggunaannya. yang membutuhkan waktu yang lama dan tempat yang terbatas. dimana dalam penelitian berusaha untuk mengidentifikasi unsur motif-motif yang menjadi pendorong khalayak untuk menggunakan internet. Berbagai fungsi dan manfaat yang didapat dari internet tidak terlepas dari motifmotif bagi penggunanya. Seperti dijabarkan diatas ada banyak manfaat positif yang didapat dari penggunaan media internet. Internet semakin mampu meningkatkan intensitas dan kecepatan serta jangkauan komunikasi dengan pengaruh sosial yang cukup besar. Manfaat Penelitian : Manfaat Praktis Secara praktis. Asumsi penggunaan sebuah media massa termasuk internet mendorong terciptanya pemenuhan kebutuhan (gratifikasi media atau kepuasan) atau akibat yang tidak diinginkan (ketidakpuasan). Rumusan Masalah Dari uraian diatas. Tapi apakah penggunaan internet memang dapat memberikan manfaat positif atau malah dapat berdampak negatif pada para penggunanya masih dapat belum dipastikan. untuk itu peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian ini. chatting.

dan kegunaan sosial.lain. Dari berbagai jenis kebutuhan tersebut. Personal identity. 2004). dan transmisi budaya atau sosialisasi (Cultur Transmission and Socialisation). Motif kognitif menekankan kebutuhan manusia akan informasi dan kebutuhan untuk mencapai tingkat ideasional tertentu. informasi dan lain sebagainya. yaitu memuaskan hasrat bermain atau melarikan diri dari kenyataan. yaitu : 1. hubungan sosial (correlation). Menurut Stephenson media massa hanya memenuhi satu jenis kebutuhan saja. dan penguatan nilai. perbedaan pada pola terpaan media atau keterlibatan dalam kegiatan lain. Sedangkan menurut Wilbur Scramm. media massa memenuhi kebutuhan akan fantasi dan informasi menurut Weiss. Mengenai kebutuhan kognitif dan afektif Nurudin menjelaskan. 2.edu/~drlane/capstone/contexts. sarana pelepasan emosi. yang melahirkan. Ahli komunikasi lainnya menyebutkan dua fungsi. William J Mc Guire (dalam Muchati 1972) kemudian mengelompokan jenis-jenis kebutuhan tersebut menjadi 2 dimensi. harapan-harapan. Khalayak berperan aktif dalam mengambil bagian dalam proses komunikasi dan diorientasikan pada tujuan penggunaan media (http://www. Motif afektif menekankan aspek perasaan dan kebutuhan mencapai tingkat emosional tertentu (Rakhmat. pengetahuan. Diversion . dalam teori Uses and Gratifications mengusulkan bahwa khalayak (pengguna) memainkan peran dalam pemilihan dan penggunaan media. atau hiburan dan informasi menurut Wilbur Schramm. akibatakibat . yaitu referensi diri. dan pemahaman mengenai lingkungan. bentuk-bentuk pencarian informasi. KAJIAN PUSTAKA Landasan Teori Terkait dengan motif-motif penggunaan internet. Menurut Mc. alternatif rujukan serta sebagai khasanah referensi dalam penelitian-penelitian tentang khalayak di masa mendatang terhadap pemanfaatan industri teknologi komunikasi dan informasi. 3. Konsep dasar yang diteliti dari teori tersebut adalah : sumber sosial dan psikologis dari kebutuhan. dan menghasilkan. eksplorasi realitas. dari media massa atau sumber-sumber lain yang menyebabkan. Surveillance. 2007). Masyarakat memiliki tipologi kebutuhan dan motif beraneka ragam terhadap media berdasarkan karakteristiknya sosialnya. media massa memenuhi kebutuhan akan hiburan dan informasi. dan hiburan serta transmisi kultural. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan. Di sini media dianggap memberikan hiburan.uky. seperti yang dirumuskan oleh Harold dan Charles Wright. Menurut pencetus teori ini. Kebutuhan afektif adalah kebutuhan yang . kebutuhan kognitif adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi. bahkan akibat-akibat yang tidak dikehendaki (dalam Rakhmat. korelasi (Correlation). Yang lain lagi menyebutkan tiga fungsi media massa dalam memenuhi kebutuhan. Blumler dan Katz (1974) mengutarakan bahwa seorang pengguna media mencari sumber media yang terbaik guna memenuhi kebutuhan mereka. pemenuhan kebutuhan serta. kesempatan melarikan diri dari kesibukan sehari-hari.Quail (2002). yaitu kebutuhan yang bersifat afektif (yang berkaitan dengan perasaan) dan kebutuhan kognitif (yang berkaitan dengan pengetahuan).mampu memperkaya varian. Harold D Laswell pernah mengajukan 3 fungsi media yaitu yaitu pengawasan (Surveillance). juga memuaskan rasa penasaran dan dorongan untuk penyelidikan kita.htm). Personal relationships. Tiga fungsi ini kemudian ditambah oleh Charles Wright yaitu fungsi hiburan (Entertaiment). Mengenai fungsi media massa terhadap pemenuhan kebutuhan audien tersebut. melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. yaitu persahabatan. 4. ada empat tipologi motivasi khalayak dalam menggunakan media. pengawasan lingkungan (surveillance).

penyebaran nilai. dan information. demikian pula dengan fungsi lainnya. Sebagai media hiburan ia juga dapat berfungsi dalam memenuhi selera masyarakat. internet dapat juga sebagai media hiburan yang dapat memenuhi selera masyarakat. dan hiburan. Penerima yang menentukan waktu interaksi (http://id.wikipedia.berkaitan yang berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang estetis. 2007) Sesuai dengan bentuk model-model yang lain. interaksi terjadi pada individu 4. Sementara Hafied Cangara (2007) mengatakan bahwa komunikasi adalah sebuah proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya . Tidak ada perantara.org/wiki/Motivasi) . dan emosional. Mengenai fungsi internet juga tidak berbeda dengan media massa pada umumnya yang mempunyai fungsi sosial seperti informasi. sengaja atau tidak (dalam Wiryanto.wikipedia. Definisi Konsep Menurut Shannon dan Weaver (1949) komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. Selain sebagai media untuk mendidik. Isi pesan tidak hanya disediakan oleh lembaga atau organisasi namun juga oleh individual 3. Metode Penelitian Komunikasi. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan (action atau activities) dan memberikan kekuatan (energy) yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan. menghibur. industrial. Sumber dapat mentransmisikan pesannya kepada banyak penerima (melalui SMS atau internet misalnya) 2. Motivasi adalah faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu. 2007). (http://en. dan motivasi yang telah tumbuh memang dapat menjadikan motor dan dorongan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan atau pencapaian keseimbangan. edukasi dan hiburan. 2001. jika tidak dirasakan rangsangan-rangsangan terhadap hal semacam di atas yang akan menumbuhkan motivasi. telah berkembang mediamedia lain yang kemudian dikelompokkan ke dalam media massa seperti internet dan telepon selular. yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. Media massa yang lebih modern ini memiliki ciri-ciri seperti: 1. (Nurudin.org/wiki/Alvin_Toffler) Pendapat ini dapat disimpulkan bahwa komunikasi memiliki andil dan sumbangan yang sangat besar dalam pembangunan.org/wiki /Media_massa) Mencermati beberapa fungsi media massa yang ditulis Dominick (2001) terdiri dari pengawasan. penafsiran. Sebagai media yang bersifat masif. internet berperan dalam menyampaikan informasi yang sifatnya mendidik. Komunikasi mengalir (berlangsung) ke dalam 5.( http://id. Oleh karena itu tidak akan ada motivasi. Kemudian menurut Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave (1980) membagi tiga tahap perkembangan peradapan manusia yakni Agricultural. 2000). Berdasarkan fungsi-fungsi ini dapat disimpulkan bahwa media massa sebagai media pembangunan atau proses perubahan ke arah kondisi kehidupan yang lebih baik (Ardianto dkk. Seiring dengan perkembangan teknologi dan sosial budaya. memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidakseimbangan. model Uses and Gratifications adalah sebagai berikut : Anteseden Motif Penggunaan Media Efek Sumber : Jalaludin Rahmat. menyenangkan.wikipedia.

7 %. Padahal akses internet yang merakyat sangat dibutuhkan bukan hanya sekedar untuk sarana berkomunikasi murah dan cepat. com /inrecent/projec . Sementara bagi masyarakat umum warnet digunakan untuk: memeriksa kiriman surat elektronik (email) terbaru. Pengguna internet di Indonesia hanya berkisar 8. Tren penurunan tersebut diikuti pula oleh pengguna akses kantoran. peningkatan yang terjadi lebih tinggi lagi. Penemuan internet dianggap sebagai penemuan yang cukup besar. melamar pekerjaan. Dalam hal ini Onno W.vlsm.624 terdapat 398. Dari populasi sebanyak 3. menunjukan angka pertumbuhan yang cukup signifikan. dan mahasiswa warnet banyak digunakan untuk: mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah. Warnet digunakan untuk bermacam-macam tujuan. pelajar. profesional dan wisatawan asing. Dari jumlah populasi sebesar 6. maka pada tahun 2003 ini diperkirakan meningkat menjadi 64%. Jika pada tahun 2000 warnet merupakan tempat favorit bagi 50% pengguna internet. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan PT.geocities. tetapi juga alat untuk mencerdaskan bangsa. Peningkatan tersebut ternyata merupakan dampak dari turunnya jumlah pengguna akses rumahan menjadi 7% pada tahun 2003.internetworldstats. bagi pelajar. Pentingnya peranan media (media sekunder) dalam proses komunikasi disebabkan oleh efisiensinya mencapai komunikan dimana.666.712. dan kapan saja. Sementara di kawasan Asia.org/wiki/ Warnet). Namun ada juga dari sebagian dari mereka menggunakan internet bermain game online.html).wikipedia. Berdasarkan data ini pula pula pada umumnya mereka menggunakan internet untuk kepentingan komunikasi elektronik.114.417 jiwa.065 pengguna internet. Pengguna internet di dunia dari tahun ke tahun semakin meningkat. dari 13% pada tahun 2000.Telkom tahun 2003. baik melalui e-mail. sarana menikmati hiburan dan lain sebagainya ( http://id. terdapat 1. melakukan riset. org/ v17/com/ictwatch/paper/paper051. (http://free. yang mengubah dunia dari bersifat lokal atau regional menjadi global.1 persen dari jumlah penduduk atau berkisar 18 juta penduduk dari total penduduk Indonesia yang lebih dari 220 juta orang.426 pengguna internet atau sekitar 16.htm).9 % dari jumlah populasi tersebut. (www. menurut hasil riset AC Nielsen terkini. Warung Internet (disingkat : warnet) adalah salah satu jenis wirausaha yang menyewakan jasa internet kepada khalayak umum. terhadap 1500 responden menyebutkan bahwa sebahagian besar dari pengguna internet terdiri dari kelompok usia antara 17 tahun hingga 30 tahun sebanyak 70%. chatting maupun instan massaging. Purbo (2001) melukiskan bahwa internet juga telah mengubah metode komunikasi massa dan penyebaran data atau informasi secara fleksibel dan mengintegrasikan seluruh bentuk media massa konvensional seperti media cetak dan audio visual (http://www. komunikasi bermedia (mediated communication) mengalami kemajuan pula dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). dan komunikasi menjadi mudah.527.) Definisi Operasional Defenisi operasional dalam penelitian merupakan defenisi yang akan dijelaskan dari beberapa variabel penelitian yang diambil dari unsur teori Grand Theory Uses and .com. menulis skripsi. dari 42% pada tahun 2000 menjadi 18% pada tahun 2003.8 %. Karena internet terdapat sumbersumber informasi dunia yang dapat diakses oleh siapapun dan dimanapun melalui jaringan internet. Warnet banyak dimanfaatkan oleh mahasiswa. Dunia seolah-olah menjadi kecil.574.( http://www.709.wbizzasia. bersosialisasi dan berkomunikasi (chatting).274. yakni mencapai 248. Melalui internet faktor jarak dan waktu sudah tidak menjadi masalah.com/ ) Minat masyarakat terhadap warung internet (warnet). Dalam tujuh tahun terakhir pertumbuhan pengguna internet di dunia mencapai 208.Sejalan dengan berkembangnya peradaban masyarakat dan kebudayaannya.

Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif yakni hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya. Untuk melihat jumlah populasi pengguna warnet yang ada di Kota Tebing Tinggi. berwawasan kebudayaan. Net 14 Star Net 15 D. Dengan kata lain dalam penelitian ini hanya memberikan deskripsi secermat mungkin mengenai suatu individu. Net 13 One Stop. METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kota Tebing Tinggi. Net 8 Qioz Online 9 Inter. Net 10 Ono Net 11 Sky Link 12 Primkopad. tanpa mencari dan menjelaskan hubungan. tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi.Net 2 Green.Net 3 Bio.Net Jumlah Rata-Rata Pengunjung 35 75 80 50 50 30 70 50 40 20 40 60 60 50 40 750 Sumber :Data survei tanggal 4-7 Maret 2009. Dari pendataan jumlah pengguna selama 7 (tujuh) hari di 15 warnet dapat dilihat pada tabel berikut : Data Warnet Di Kota Tebing Tinggi NO W A R N E T 1 Spider. Disamping itu ditambah dari visi Dinas Pendidikan Kota Tebing Tinggi yang ingin mewujudkan masyarakat yang beriman. bertaqwa. 2. Masyarakat dalam penelitian ini yang dimaksud adalah pengguna yakni . masyarakat Kota Tebing Tinggi yang mampu menggunakan atau mengoperasionalisasikan internet dalam kehidupannya.Net 4 Raja Net 5 Ridho Net 6 Diamond 7 Thamrin. Warung Internet (disingkat: warnet) adalah salah satu jenis wirausaha yang menyewakan jasa internet kepada khalayak umum yang berada di Kota Tebing Tinggi. memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidakseimbangan. 3. . atau kelompok tertentu. Salah satu alasan untuk melakukan penelitian ini di Kota Tebing Tinggi adalah mengingat visi dan misi kota ini adalah bercita-cita mewujudkan daerahnya menjadi kota pendidikan dan masyarakat yang berpendidikan. dilakukan pendataan dan wawancara kepada pemilik atau pengelola warnet. kebangsaan dan masa depan. Populasi Dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bertempat tinggal di Kota Tebing Tinggi dan pengguna warnet. menguasai pengetahuan dan teknologi. Motif dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang mendorong masyarakat Kota Tebing Tinggi untuk menggunakan internet di warnet yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan. Provinsi Sumatera Utara.Gratifications . Dengan demikian yang dimaksud dengan : 1. teori pendukung dan konsep-konsep terutama terhadap motivasi seseorang menggunakan media massa. keadaan. gejala.

). Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non-probability. hasil-hasil penelitian terdahulu. Durasi yang digunakan. pekerjaan. eksplorasi realitas.doc. . Maka jumlah sampel yang diperoleh adalah 750 : 15 = 50 orang. dan pencarian informasi melalui internet. jenis. isi. Membuat tabel distribusi frekuensi (f ) dan prosentasi (%) serta interpretasi untuk keseluruhan data penelitian. pengeluaran Kebutuhan informasi. Untuk pengambilan sampel dari populasi yang homogen ini memiliki keuntungan yakni terletak pada ketepatan peneliti memilih sumber data sesuai dengan variabel yang diteliti. dan untuk menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini merujuk pendapat Roscoe (1975) dalam Uma Sekaran (1992) memberikan pedoman penentuan jumlah sampel sebaiknya ukuran sampel di antara 30 s/d 500 elemen. Disamping itu juga dilakukan wawancara terstruktur kepada beberapa responden untuk memperkuat data yang terkumpul melalui kuisioner. diperoleh melalui kuisioner yang diberikan kepada responden terpilih. jenis kelamin. unpar. Kebutuhan pelepasan dari tekanan. pendidikan. hiburan Memperkuat/menonjolkan sesuatu yang penting dalam kehidupan Pengalaman. frekuensi penggunaan. Teknis pengambilan atau penentuan responden di warnet yakni merujuk pada pengunjung bernomor ganjil. makalah. Perancangan Alat Ukur Dan Analisis No 1 2 Anteseden Motif Dimensi Sosiodemografis dan psikologis Kebutuhan Kognitif Kebutuhan Diversi Kebutuhan Identitas Personal Penggunaan Warnet Nilai-nilai Indikator penelitian Usia. Mengadakan diskusi dan pembahasan hasil temuan data penelitian.id/~hasan/ SAMPLING.Dari sekitar 15 warnet yang terdapat di Kota Tebing Tinggi rata-rata pengunjungnya sebanyak 750 orang. Data Sekunder . Analisis Data Data yang terkumpul seluruhnya akan ditabulasikan ke dalam tabel tunggal dan juga membuat beberapa tabulasi silang berdasarkan tujuan penelitian. 2. Selanjutnya kuisioner disebarkan ke limabelas warnet tersebut masing-masing warnet mendapat 3 atau 4 responden.ac. dan manfaat Penilaian terhadap Internet 3 4 Penggunaan Media Sikap Dari model Uses and Gratifications. dan jumlah ini dianggap sebagai jumlah populasi pengguna warnet di Kota Tebing Tinggi. Pengumpulan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yakni : Data Primer . pengawasan lingkungan. dalam penelitian ini akan dibatasi pada dimensi-dimensi motif penggunaan media saja. suratkabar. (http://home. Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap : 1. Dan untuk menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini. dilakukan dengan menghitung jumlah rata-rata pengunjung dibagi dengan jumlah warnet yang ada. diperoleh melalui buku-buku.

441 3. dapat dilihat pada tabel berikut : Kecamatan Di Kota Tebing Tinggi NO 1. Luas wilayah Kota Tebing Tinggi adalah 38. 3.935 11.438 Km2 dan secara administratif mempunyai 5 (lima) kecamatan. 5. termasuk munculnya usaha penyedia jasa internet yakni warnet.409 Wilayah Kota Tebing Tinggi berbatasan dengan : : Kebun Rambutan.0 4.23 Tahun 24 – 29 Tahun 30 – 35 Tahun ≥ 35 Tahun F 34 6 7 2 1 50 % 68. : Kebun Tanah Bersih. 2. Kecamatan Padang Hulu Rambutan Padang Hilir Tebing Tinggi Kota Bajenis Total Sumber : Data BPS Kota Tebing Tinggi 2007 Luas (Km²) 8. PTPN III Kabupaten Serdang Bedagai . Kota Tebing Tinggi terletak antara 30 19’ – 30 21’ Lintang Utara dan 980 9’ – 980 11’ Bujur Timur dengan ketinggian antara 26 m – 334 m di atas permukaan laut.0 14. Berikut datanya yang ditampilkan dalam bentuk tabel. Kabupaten Serdang Bedagai.0 2.511 5.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kota Tebing Tinggi terletak di wilayah Provinsi Sumatera Utara yang berjarak 80 km dari Kota Medan dan berada di jalur lintas jalan nasional menuju Kota Pematang Siantar dan Kota Kisaran. Walau relatif dianggap media baru namun internet sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Kota Tebing Tinggi.0 100.0 12. pegawai swasta bahkan pegawai negeri.409 jiwa.0 Total Sumber : K 1 n = 50 . Perkembangan TIK khususnya internet tergolong maju di Kota Tebing Tinggi. : Kebun Bahilang. Pengeluaran biaya perbulan. Saat dilakukan penelitian ini data usaha warnet di Kota Tebing Tinggi terdapat sekitar limabelas unit yang tersebar di inti kota dan di dekat sekolah-sekolah. Utara Selatan Timur Barat Hasil Temuan : Sosiodemografis Dan Psikologis Responden yang berjumlah 50 orang dalam penelitian ini dilihat dari aspek sosiodemografis-nya mencakup : Usia. Tingkat Pendidikan.473 9. Tabel 1. 4. Socfindo Kabupaten Serdang Bedagai.078 38. dan Pekerjaan. : Kebun Paya Pinang. Jenis Kelamin. Berbagai bidang profesi sudah memanfaatkan media ini. namun terdapat juga profesi lainnya seperti para wartawan. Usia NO 1 2 3 4 5 USIA ≤ 17 Tahun 18 .438 Jumlah Penduduk 24277 27647 27419 29783 30283 139. PT. Bila dilihat dari karakteristik pengunjung warnet memang didominasi oleh kaum pelajar SLTA maupun SLTP. Kebun Gunung Pamela Kabupaten Serdang Bedagai. Sekitar tahun 2000 usaha warnet sudah ada. dan pesatnya sekitar tahun 2006-2007. Dan memiliki jumlah penduduk sebesar 139.

kemudian pada kategori Rp.500.0 42.0 100.000.0 4.500.Rp.000.000.500.Rp.1.2. . Diploma 7 orang (14%) dan sarjana 6 orang (12%).sebanyak 16 orang (32%) serta pada kategori Rp.000.500.000.1.Dari tabel 1..0 100.500.0 10.500.1.0 100. Pengeluaran Per Bulan NO 1 2 3 4 5 PENGELUARAN PER BULAN < Rp.000.000. Jenis Kelamin NO 1 2 JENIS KELAMIN Laki-laki F 29 21 50 % 58.s/d Rp.000.Rp.0 4.s/d Rp.0 14. Tabel 2... kemudian diikuti sebanyak 7 orang dalam kategori usia 24 – 29 Tahun dan selanjutnya sebanyak 6 orang (12%).2.s/d Rp..000.000.sebanyak 4 orang (8%).000. Tingkat Pendidikan NO 1 2 3 4 5 TINGKAT PENDIDIKAN SD SMP SMA Diploma Sarjana (S1) Total Sumber : K 3 n = 50 F 1 5 31 7 6 50 % 2.0 8.1. yang memuat usia responden dapat dijelaskan bahwa sebanyak 34 orang (68 %) dalam kategori usia ≤ 17 Tahun. Tabel 3.0 32.500..yakni sebanyak 26 orang (52%).000.000.000..Total Sumber : K 4 n = 50 F 26 16 2 4 2 50 % 52.> Rp..0 Perempuan Total Sumber : K 2 n = 50 Mengenai jenis kelamin yang dimuat pada tabel 2 dapat secara porposional hampir terbagi sama yakni laki-laki sebanyak 29 orang (58%) dan perempuan 21 orang (42%).000.s/d Rp.000.0 12.000..000.1.0 62.s/d Rp.0 Tingkat pendidikan responden yang terjaring dalam penelitian ini yakni yang terbanyak dari kelompok SMA 31 orang (62%).0 Kategori tingkat pengeluaran perbulan dari responden yang terbanyak adalah pada kategori <Rp. Tabel 4.1.000.2.

0 Banyak pilihan media untuk mengakses informasi.0 6. Tabel 7.0 36.0 0 0 100.0 Belum Bekerja Total Sumber : K 5 n = 50 Pelajar atau mahasiswa merupakan responden terbanyak dalam penelitian ini yakni sebesar 31 orang (62%). Kebutuhan Informasi Kebutuhan akan informasi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap responden dalam memenuhi kebutuhan informasi melalui penggunaan internet yang tersaji dalam tabel-tabel yang dapat dilihat berikut di bawah ini: Tabel 6. demikian halnya dengan penelitian ini menawarkan untuk pengaksesan informasi melalui media internet hampir mayoritas responden menyatakan sangat setuju yakni sebanyak 30 orang (60%) dan yang menyatakan setuju sebanyak 20 orang (40%). salah satunya adalah internet.0 0 0 100. Disamping itu beberapa sekolah telah memiliki sarana laboratorium komputer yang online.0 16. .0 62. Internet dapat dijadikan sumber informasi dinyatakan sangat setuju oleh responden sebanyak 32 orang (64%) dan pernyataan setuju sebanyak 18 orang (36%).0 Untuk memenuhi kebutuhan informasi banyak cara dan media yang dapat diakses. Mencari Informasi Via Internet NO 1 2 3 4 Sumber : K 6 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 30 20 0 0 50 % 60.0 12. Banyaknya pelajar/mahasiswa yang menggunakan di warnet sepertinya sudah menjadi tuntutan jaman ataupun pergaulan dewasa ini.0 40. kemudian pegawai swasta sebanyak 8 orang (16%) serta wiraswasta sebanyak 6 orang (12%). Pekerjaan NO 1 2 3 4 5 6 PEKERJAAN PNS/TNI/Polri/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/Berdagang Pelajar/Mahasiswa Lain-lainya F 1 8 6 31 3 1 50 % 2.0 100.0 2. Internet Sebagai Sumber Informasi NO 1 2 3 4 Sumber : K 7 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 32 18 0 0 50 % 64.Tabel 5.

untuk pernyataan ini responden yang menyatakan setuju sebanyak 24 orang (48%).0 10.0 100.0 4. dan yang kurang setuju serta tidak setuju sebanyak 2 orang (4%).0 Untuk informasi sosial responden yang menyatakan setuju sebanyak 23 orang (46%) dan sangat setuju sebanyak 20 orang (40%) kemudian yang kurang setuju sebanyak 5 orang (10%).0 46.0 12.0 100.0 0 100. Tabel 10. Mengetahui Kondisi Di Tempat Lain NO 1 2 3 4 Sumber : K 10 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 23 23 2 2 50 % 46. Informasi Sosial Via Internet NO 1 2 3 4 Sumber : K 8 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 20 23 5 2 50 % 40. Internet Sesuai Dengan Kebutuhan Dan Harapan NO 1 2 3 4 Sumber : K 9 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 18 24 6 2 50 % 36.0 Dengan mengakses internet dapat mengetahui kondisi di tempat lain. yang menyatakan sangat setuju sebanyak 18 orang (36%).0 46.0 Kehadiran internet telah memenuhi kebutuhan dan harapan responden. untuk hal ini yang .0 100.0 48.Tabel 8. pernyataan ini dinyatakan sangat setuju dan setuju oleh responden masing-masing sebanyak 23 orang (46%).0 60. Motivasi Untuk Mempelajari Sesuatu NO 1 2 3 4 Sumber : K 11 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 14 30 6 0 50 % 28.0 Dari tabel 11 dapat dilihat bahwa adanya internet bagi responden termotivasi untuk mempelajari sesuatu sesuai dengan keinginan dan keperluan.0 4.0 4. Tabel 11.0 12. kemudian yang menyatakan kurang setuju sebanyak 6 orang (12%). Tabel 9.0 4.

Tabel 14. Internet Sebagai Sarana Bermain (Game) NO 1 2 3 4 Sumber : K 14 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 7 15 24 4 50 % 14. kemudian diikuti yang menyatakan sangat setuju sebanyak 11 orang (22%). kemudian diikuti yang menyatakan setuju sebanyak 7 orang (14%). untuk pernyataan ini dinyatakan sangat setuju oleh sebanyak 25 orang (50%) dan sebanyak 24 orang (48%) menyatakan setuju.0 Penggunaan internet dalam memenuhi salah satu kebutuhan diversi yakni untuk melarikan diri dari persoalan dinyatakan responden dengan tidak setuju yakni sebanyak 19 orang (38%). Motivasi Untuk Menambah Pengetahuan NO 1 2 3 4 Sumber : K 12 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 25 24 1 0 50 % 50.0 Selanjutnya dari tabel 14 mengenai internet sebagai sarana bermain (game) dinyatakan kurang setuju oleh sebanyak 24 orang (48%).0 2.0 8. diikuti sebanyak 14 orang (28%) untuk sangat setuju.0 38. . Internet Membantu Untuk Melarikan Diri Dari Persoalan NO 1 2 3 4 Sumber : K 13 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 11 7 13 19 50 % 22. Tabel 12. Kebutuhan Diversi Pernyataan-pernyataan kebutuhan diversi dalam penelitian ini yang tersaji dalam bentuk tabel dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 13.0 48.0 100.0 100.0 26. namun yang setuju diakui oleh sebanyak 15 orang (30%).0 14.0 Dari tabel 12 mengenai adanya internet bagi pengguna/responden telah termotivasi untuk menambah pengetahuan.0 30. serta sebanyak 6 orang (12%) menyatakan kurang setuju. kurang setuju sebanyak 13 orang (26%).0 0 100.menyatakan setuju sebanyak 30 orang (60%).0 48.

0 100. dan diikuti oleh yang menyatakan tidak setuju sebanyak 11 orang (22%).0 60. dengan adanya fasilitas ini internet dianggap dapat meningkatkan hubungan silahturahmi. Namun terdapat yang menyatakan kurang setuju sebanyak 6 orang (12%).Tabel 15. namun dengan jumlah yang sama yakni sebanyak 11 orang (22%) menyatakan sebaliknya yakni dengan sikap setuju. .0 .0 22. Internet Dapat Melupakan Dan Mengatasi Kesulitan Hidup NO 1 2 3 4 Sumber : K 17 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 7 11 21 11 50 % 14.0 Internet memiliki fasilitas untuk berkomunikasi salah satunya adalah chatting.0 12.0 46.0 Internet dianggap mampu memberikan kesenangan. pernyataan ini disikapi setuju oleh responden yakni sebanyak 30 orang (60%).0 42. ternyata pernyataan ini direspon oleh sebanyak 21 orang (42%) dengan sikap kurang setuju.0 22. Untuk pernyataan tersebut sebanyak 23 orang (46%) menyatakan setuju dan diikuti sebanyak 17 orang (34%) menyatakan sangat setuju. Tabel 17. Internet Meningkatkan Hubungan Silaturahmi NO 1 2 3 4 Sumber : K 16 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 17 23 6 4 50 % 34.0 100. diikuti pernyataan setuju sebanyak 17 orang (34%) dan yang kurang setuju hanya 3 orang (6 %). Tabel 16.0 100. Internet Mampu Menimbulkan Kesenangan NO 1 2 3 4 Sumber : K 15 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 17 30 3 0 50 % 34.0 Internet dalam upaya untuk melupakan dan mengatasi kesulitan hidup.0 8.0 6.

Internet Menjadi Sarana Mengisi Waktu Luang NO 1 2 3 4 Sumber : K 18 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 14 28 6 2 50 % 28. Internet Menjadi Sarana Bersantai NO 1 2 3 4 Sumber : K 19 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 11 31 6 2 50 % 22.0 52.0 100. Dan yang kurang setuju untuk pernyataan ini hanya 4 orang (8 %).0 Fasilitas yang terdapat pada internet memungkinkan untuk melakukan komunikasi bermedia.0 8.0 Internet dijadikan sarana untuk bersantai.0 100.0 62. Sementara yang menyatakan kurang setuju sebanyak 6 orang (12 %). Tabel 20. ternyata hal ini direspon dengan sikap setuju oleh sebanyak 31 orang (62%) dan diikuti sebanyak 11 orang (22%) yang menyatakan sangat setuju.0 Pernyataan Internet dapat dijadikan sarana untuk mengisi waktu luang direspon oleh sebanyak 28 orang (56 %) dengan menyatakan setuju dan diikuti sebanyak 14 orang (28%) yang menyatakan sangat setuju. hal ini tentu saja dapat membangun relasi atau persahabatan dengan pengguna disekitar atau diluar lingkungan responden. Sementara yang menyatakan kurang setuju sebanyak 6 orang (12%).0 2.0 56.Tabel 18. Tabel 19. Mencari Persahabatan Di Lingkungan Sekitar / Luar NO 1 2 3 4 Sumber : K 20 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 19 26 4 1 50 % 38.0 12. Pernyataan sikap setuju ditunjukan oleh sebanyak 26 orang (52 %) dan diikuti sebanyak 19 orang (38 %) yang menyatakan sangat setuju.0 12.0 4.0 100. Internet Membantu Mengatasi Persoalan . Tabel 21.0 4.

NO 1 2 3 4 Sumber : K 21 n = 50

SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total

F 8 27 13 2 50

% 16.0 54.0 26.0 4.0 100.0

Hadirnya internet dapat membantu mengatasi persoalan, pernyataan ini direspon oleh sebanyak 27 orang (54 %) dengan sikap setuju, namun yang kurang setuju dinyatakan oleh sebanyak 13 orang (26 %) dan kembali pada sikap yang sangat setuju sebanyak 8 orang (16 %). Tabel 22. Internet Mengatasi Kebosanan
NO 1 2 3 4 Sumber : K 22 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 12 21 13 4 50 % 24.0 42.0 26.0 8.0 100.0

Internet dapat dijadikan untuk mengatasi kebosanan dalam menjalani rutinitas hidup, penyataan ini direspon oleh sebanyak 21 orang (42 %) dengan sikap setuju, namun yang kurang setuju diakui oleh sebanyak 13 orang (26 %). Dan kembali pada sikap sangat setuju sebanyak 12 orang (24 %). Kebutuhan Identitas Personal Dalam memenuhi kebutuhan indentitas personal dalam penggunaan internet dalam temuan penelitian ini yang disajikan dalam bentuk tabel dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 23. Membantu Mencari Ide Untuk Berkreasi
NO 1 2 3 4 Sumber : K 23 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 18 26 4 2 50 % 36.0 52.0 8.0 4.0 100.0

Dalam melakukan suatu kegiatan (menyelesaikan tugas-tugas kantor atau sekolah) terkadang kita mengalami kebuntuan. Dan adanya internet dianggap mengatasi kebuntuan tersebut dalam mencari ide untuk berkreasi. Pernyataan ini disikapi setuju oleh sebanyak 26 orang (52 %) dan diikuti sebanyak 18 orang (36 %) yang menyatakan sangat setuju. Namun ada sikap yang menyatakan kurang setuju sebanyak 4 orang (8 %). Tabel 24. Membantu Beraktivitas/Berusaha/Berbisnis

NO 1 2 3 4 Sumber : K 24 n = 50

SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total

F 16 23 8 3 50

% 32.0 46.0 16.0 6.0 100.0

Beraktivitas, berusaha atau berbisnis di dunia maya ternyata menarik perhatian untuk sebagian orang, hal ini tergambar dari pernyataan sikap setuju yang ditunjukan oleh sebanyak 23 orang (46 %), dan diikuti sebanyak 16 orang (32 %) yang menyatakan sangat setuju. Kemudian yang kurang setuju terdapat sebanyak 8 orang (6 %). Tabel 25. Membantu Menjalin Kerja Sama
NO 1 2 3 4 Sumber : K 25 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 17 25 5 3 50 % 34.0 50.0 10.0 6.0 100.0

Internet juga dianggap dapat menjalin kerjasama untuk beraktivitas kegiatan yang digeluti, hal ini juga tergambar pada tabel di atas, yakni sebanyak 25 orang (50 %) menyatakan setuju dan diikuti sebanyak sangat setuju sebanyak 17 orang (34 %), serta yang kurang setuju sebanyak 5 orang (10%). Tabel 26. Membantu Meningkatkan Kerja Sama
NO 1 2 3 4 Sumber : K 26 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 7 31 7 5 50 % 14.0 62.0 14.0 10.0 100.0

Telah terjalinnya hubungan kerjasama ternyata internet juga dapat meningkatkan kerjasama tersebut, hal ini dirasakan oleh sebanyak 31 orang (62 %), dan diikuti sebanyak 7 orang (14 %) yang menyatakan sangat setuju. Namun sebanyak 7 orang (14 %) menyatakan kurang setuju karena belum merasakan manfaatkan tersebut. Tabel 27. Membantu Mendapatkan Informasi Dunia Usaha
NO 1 2 3 4 Sumber : K 27 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 13 28 5 4 50 % 26.0 56.0 10.0 8.0 100.0

Internet juga dianggap telah membantu responden untuk mendapatkan informasi dunia usaha, pernyataan ini disikapi dengan pernyataan setuju sebanyak 28 orang (56 %), dan diikuti dengan sangat setuju oleh sebanyak 13 orang (26%). Dan terakhir yang menyatakan kurang setuju sebanyak 5 orang (10%). Penggunaan Internet Penggunaan internet bagi responden dalam penelitian ini meliputi : pengalaman responden dalam penggunaan internet, biaya akses internet dan sebagainya. Untuk lebih lanjut dapat disimak dibawah ini yang tersaji dalam bentuk tabel.

Tabel 28. Perkembangan TIK Di Daerah
NO 1 2 3 4 Sumber : K 28 n = 50 TANGGAPAN Sangat Maju Maju Kurang Maju Tidak Maju Total F 7 32 11 0 50 % 14.0 64.0 22.0 0 100.0

Perkembangan teknologi informasi dan teknologi (TIK) semakin pesat dan hal ini ditanggapi maju oleh sebanyak 32 orang (64%), namun yang menanggapinya dengan kurang maju cukup lumayan yakni 11 orang (22%) dan terakhir yang menanggapi sangat maju adalah sebanyak 7 orang (14%). Tabel 29. Minat Terhadap Internet
NO 1 2 3 4 Sumber : K 29 n = 50 SIKAP Sangat Berminat Berminat Kurang Berminat Tidak Berminat Total F 32 18 0 0 50 % 64.0 36.0 0 0 100.0

Dalam penggunaan internet terlepas pada minat seseorang untuk itu terdapat 32 orang (64%) yang menyatakan sangat berminat dan diikuti dengan berminat sebanyak 18 orang (36%). Tabel 30. Pertama Kali Belajar Internet
NO 1 2 3 4 5 Sumber : K 30 n = 50 BELAJAR DARI Teman Keluarga Sekolah Kursus/Pelatihan Belajar Sendiri dari majalah/buku Total F 20 1 13 3 13 50 % 40.0 2.0 26.0 6.0 26.0 100.0

Pengalaman responden pertama kali belajar internet adalah yang tertinggi belajar dari teman yakni diakui oleh sebanyak 20 orang (40%), kemudian diikuti belajar dari

sekolah atau belajar sendiri dari majalah/buku yakni masing-masing diakui oleh sebanyak 13 orang (26 %). Tabel 31. Pengalaman Menggunakan Internet
NO 1 2 3 4 Sumber : K 31 n = 50 LAMA 6 Bulan 1 Tahun 2 Tahun Lebih dari 2 Tahun Total F 11 9 4 26 50 % 22.0 18.0 8.0 52.0 100.0

Pengalaman responden tentang sudah seberapa lama menggunakan internet, yang terbanyak telah menggunakan media ini lebih dari 2 tahun yakni sebanyak 26 orang (52 %), kemudian ada yang menggunakan baru sekitar 6 bulan diakui oleh sebanyak 11 orang (22%), dan diikuti yang telah menggunakan sekitar 1 tahun yakni sebanyak 9 orang (18%) Tabel 32. Pemanfaatan Internet
NO 1 2 3 4 5 Sumber : K 32 n = 50 MANFAAT Membantu Pekerjaan/Studi Mencari Informasi Hiburan Media Komunikasi Lainnya Total F 14 23 7 3 3 50 % 28.0 46.0 14.0 6.0 6.0 100.0

Manfaat internet yang dapat dirasakan oleh para responden adalah yang paling besar dalam penelitian ini adalah mencari informasi yakni diakui sebanyak 23 orang (46%), diikuti membantu pekerjaan/studi yakni sebanyak 14 orang (28%), dan selanjutnya untuk hiburan diakui oleh sebanyak 7 orang (14%). Tabel 33. Penggunaan Internet Per Minggu
NO 1 2 3 4 Sumber : K 33 n = 50 WAKTU < 1 Jam 1 s/d 4 Jam 5 s/d 8 Jam > 8 Jam Total F 0 16 19 15 50 % 0 32.0 38.0 30.0 100.0

Mengenai penggunaan internet dalam seminggu yang tertinggi adalah rata-rata responden menggunakannya sekitar 5 s/d 8 jam sebanyak 19 orang (38%), kemudian diikuti rata-rata penggunaan 1 s/d 4 jam sebanyak 16 orang (32%). Dan terakhir adalah yang menggunakan internet rata-rata lebih dari 8 jam per minggu sebanyak 15 orang (30%). Tabel 34.Tempat Lain Mengakses Internet

NO 1 2 3 4 Sumber : K 34 n = 50

TEMPAT Di rumah Di kantor Di sekolah Di tempat lainnya Total

F 8 8 24 10 50

% 16.0 16.0 48.0 20.0 100.0

Walau dalam penelitian ini terfokus pada responden yang mengakses internet di warnet, namun kecenderungan tempat lain yang sering digunakan perlu juga untuk diketahui. Jawaban terbanyak adalah di sekolah yakni sebanyak 24 orang (48%) hal ini dikarenakan sekolah sekarang pada umumnya telah mempelajari bidang studi TIK (komputer dan internet) dan memiliki laboratorium komputer. Kemudian di tempat lain disini maksudnya di rumah teman yakni sebanyak 10 orang (20%) dan di rumah serta kantor masing-masing sebanyak 8 orang (16%). Tabel 35. Alasan Menggunakan Internet
SIKAP NO ALASAN 1 Kemudahan Informasi 2 Kemudahan Komunikasi 3 Tuntutan Pekerjaan/Studi 4 Kelengkapan Fasilitas 5 Rasa Ingin Tahu 6 Mengikuti Perkembangan Zaman Sumber : K 35 n=5 Akses Untuk Sangat Mendorong F % 24 14 23 12 24 23 48.0 28.0 46.0 24.0 48.0 46.0 Mendorong F 26 29 21 25 26 23 % 52.0 58.0 42.0 50.0 52.0 46.0 Kurang Mendorong F % 0 5 6 11 0 2 0 10.0 12.0 22.0 0 4.0 Tidak Mendorong F % 0 2 0 2 0 2 0 4.0 0 4.0 0 4.0

Beberapa alasan yang memotivasi responden untuk menggunakan internet adalah karena kemudahan akses informasi diakui mendorong oleh 26 orang (52%) dan sangat mendorong bagi 24 orang (48%). Alasan kemudahan untuk komunikasi (komunikasi bermedia) dinilai mendorong bagi sebanyak 29 orang (58%) dan diikuti oleh 14 orang (28%) yang menyikapi sangat mendoron. Untuk tuntutan pekerjaan/studi hal ini diakui sangat mendorong bagi 23 orang (46%) dan mendorong bagi 21 orang (42%). Kemudian termotivasi karena kelengkapan fasilitas yang ada pada internet diakui mendorong oleh 25 orang (50%) dan sangat mendorong bagi 12 orang (24%). Keingintahuan juga faktor yang memberikan motivasi bagi responden untuk menggunakan internet, hal ini disikapi mendorong oleh sebanyak 26 orang (52%) dan bahkan hal ini sangat mendorong bagi 24 orang (48 %). Dan yang terakhir alasan untuk mengikuti perkembangan zaman diakui sangat mendorong dan mendorong oleh masing-masing sebanyak 23 orang (46%). Tabel 36. Kegiatan Yang Dilakukan Via Internet
SIK NO AP KEGIATAN E-mail Sangat Sering F % 9 Sering F % 56.0 Jarang F 12 % 24.0 Tidak Pernah F % 1 2.0

1

18.0 28

SIK NO 2 3 4 5 6 7 8 AP

Sangat Sering

Sering 42.0 24.0 44.0 0 24.0 4.0 4.0 56.0 34.0 40.0 48.0 42.0 42.0 4.0 50.0 16.0 14.0 26.0 22.0 6.0 6.0

Jarang 11 13 13 9 14 5 8 8 17 8 15 11 3 3 6 10 18 11 17 11 14 22.0 26.0 26.0 18.0 28.0 10.0 16.0 16.0 34.0 16.0 30.0 22.0 6.0 6.0 12.0 20.0 36.0 22.0 34.0 22.0 28.0

Tidak Pernah 4 23 9 41 16 43 40 3 9 6 8 5 2 41 6 19 21 23 8 35 33 8.0 46.0 18.0 82.0 32.0 86.0 80.0 6.0 18.0 12.0 16.0 10.0 4.0 82.0 12.0 38.0 42.0 46.0 16.0 70.0 66.0

Chatting 14 28.0 21 KEGIATAN Mengakses lowongan pekerjaan 2 4.0 12 Mengakses berita on-line Reservasi tiket Mengakses bahan referensi Menawarkan barang/produk Membeli jasa barang/produk dan 6 0 8 0 0 12.0 22 0 0 16.0 12 0 2 0 2

9 Mengakses informasi hiburan 11 22.0 28 10 Mengakses informasi kesehatan 7 14.0 17 11 Mengakses pendidikan informasi 16 32.0 20 3 6.0 24 13 26.0 21

12 Mailinglist (tukar informasi) 13 Jaringan sosial online

14 Browsing (mencari informasi) 24 48.0 21 15 E-commerce (bisnis via 4 8.0 2 internet) 16 Download program/data/lagu 13 26.0 25 17 Upload program/data/lagu 18 Video conference via internet 19 Audio via internet 20 Game-online 21 Telepon via internet 22 Mengakses situs porno Sumber : K 36 n = 50 13 26.0 4 8.0 8 7

3 6.0 13 14 28.0 11 1 0 2.0 0 3 3

Banyak kegiatan yang dapat dilakukan jika mengakses internet. Pada tabel 36. menampilkan beberapa contoh kegiatan yang biasanya dilakukan oleh pengguna internet. Hanya sebagian dari beberapa kegiatan yang dipaparkan disini. Untuk kegiatan e-mail diakui sering dilakukan oleh sebanyak 28 orang (56%), kemudian jarang 12 orang (24%) dan selanjutnya diakui sangat sering oleh sebanyak 9 orang (18%). Kemudian untuk kegiatan chatting diakui sering oleh sebanyak 21orang (42%) dan diikuti sangat sering sebanyak 14 orang (28%). Untuk mengakses berita on-line dinyatakan sering oleh sebanyak 22 orang (44%) dan yang jarang mengaksesnya diakui oleh sebanyak 13 orang (26%) serta yang tidak pernah mengaksesnya sebanyak 9 orang (18%). Mengakses informasi hiburan diakui sering oleh sebanyak 28 orang (56%), dan sangat sering sebanyak 11 orang (22%), sebaliknya terdapat 8 orang (16%) yang jarang melakukannya. Mengakses informasi pendidikan diakui sering melakukannya oleh sebanyak 20 orang (40%) dan sangat sering dilakukan oleh sebanyak 16 orang (32%) hal ini disebabkan hampir mayoritas responden yang terjaring dalam penelitian ini adalah pelajar, dimana dalam mengakses internet mereka banyak mencari informasi (browsing) untuk tujuan menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Untuk kegiatan browsing sangat sering dilakukan sebanyak 24 orang (48%), dan yang menyatakan sering 21 orang (42%). Untuk beberapa kegiatan lainnya dalam mengakses internet dapat disimak pada tabel 36 di atas. Namun sebagai tambahan ada hal yang menarik dari mengakses situs porno,

walau hampir mayoritas responden menjawab jarang atau tidak pernah, terdapat juga sekitar 3 orang (6%) sering mengaksesnya. Tabel 37. Pengeluaran Biaya Akses Internet Per Bulan
NO 1 2 3 4 Sumber : K 37 n = 50 JUMLAH < Rp.100.000,Rp.100.000,- s/d Rp.200.000,Rp.200.000,-s/d Rp.300.000,> Rp.300.000,Total F 35 11 0 4 50 % 70.0 22.0 0 8.0 100.0

Mengenai kisaran atau rata-rata biaya yang harus dikeluarkan per bulan untuk mengakses internet oleh responden di warnet adalah yang terbesar pada kategori <Rp. 100.000,-yakni sebanyak 35 orang (70%) kemudian pada kategori Rp.100.000,- s/d Rp.200.000,- sebanyak 11 orang (22%) serta yang terakhir pada kategori > Rp.300.000,sebanyak 4 orang (8%). Tabel 38. Biaya Akses Internet Dari Warnet
NO 1 2 3 4 Sumber : K 38 n = 50 BIAYA Sangat Mahal Mahal Sedang Murah Total F 5 14 25 6 50 % 10.0 28.0 50.0 12.0 100.0

Untuk biaya akses internet via warnet diakui oleh responden dalam kategori sedang yakni sebanyak 25 orang (50%), lain halnya yang dirasakan oleh 14 orang (28%) menyatakan biaya tersebut dianggap mahal, dan sebaliknya 6 orang (28%) justru dianggap murah. Tabel 39. Manfaat Internet Terhadap Aktivitas Sehari-Hari
NO 1 2 3 4 Sumber : K 39 n = 50 MANFAAT Sangat Bermanfaat Bermanfaat Kurang Bermanfaat Tidak Bermanfaat Total F 31 16 2 1 50 % 62.0 32.0 4.0 2.0 100.0

Dalam menjalankan aktivitas sehari-hari seperti tuntutan pekerjaan, studi, hobi, hiburan, komunikasi dan lainnya, internet dirasakan sangat bermanfaat oleh sebanyak 31 orang (62%), dan diikuti sebanyak 16 orang (32%) menyatakan bermanfaat. Sikap Terhadap Kehadiran Internet Sikap ataupun pendapat responden dalam penelitian ini adalah meliputi beberapa kriteria melalui pertanyaan terbuka tentang seputar kehadiran teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet yang akan disajikan dalam bentuk tabel yang dapat diperhatikan pada halaman berikut :

sarana pelepasan emosi.Tabel 40.00 4. penguatan nilai.00 16. Kebutuhan identitas personal (Personal identity). adanya warnet oleh pengguna dapat diupayakan untuk melepaskan diri dari rutinitas dan masalah.00 10. Dalam memenuhi kebutuhan diversi (Diversion) . hingga saat ini jumlah usaha warnet mencapai lebih dari 15 tempat dan ratarata sehari terdapat sekitar 50 pengguna yang mengunjungi di setiap warnet. Namun tidak untuk melarikan atau melepaskan diri dari persoalan kehidupan dengan menjadikannya sebagai sarana untuk bermain.00 28. . dan identitas personal. Internet dimanfaatkan responden untuk mengetahui atau menambah wawasan tentang keadaan/kehidupan di tempat lain. eksplorasi realitas. Masyarakat pengguna internet di Kota Tebing Tinggi dalam memenuhi kebutuhan informasi (Information) termasuk informasi sosial melalui internet. Pembahasan Motif-motif yang merupakan unsur dari teori Uses And Gratifications yang menjadi variabel penelitian ini yakni mencakup kebutuhan informasi. sebagai sumber informasi. mengisi waktu luang serta mencari persahabatan yang lebih luas. Para pengguna sangat menyambut baik dengan menunjukkan minat yang tinggi terhadap adanya warnet. yaitu referensi diri. Mengenai kecepatan akses internet masih lambat dan turunkan tarif akses internet diajukan oleh sebanyak 14 orang (28%). diversi.00 100. dan turunkan tarif akses Mengetahui atau menambah wawasan tentang keadaan/kehidupan di tempat lain Mengetahui penggunaan teknologi informasi dan komunikasi Internet Merusak moral remaja karena dimanfaatkan untuk hal yang negatif (mengakses situs porno atau judi) F 21 14 8 5 2 50 % 42.00 Dari pertanyaan terbuka yang diajukan kepada responden mengenai adanya internet adalah memudahkan untuk mencari/berbagi informasi dan menambah pengetahuan sesuai profesi hal ini diakui sebanyak 21 orang (42%). hal ini terkait dengan pencarian informasi. Dan untuk selanjutnya dapat disimak pada tabel 40 di atas. Hasil temuan ini menggambarkan bahwa keberadaan warnet telah membantu pengguna untuk mencari ide/pemikiran untuk berkreasi. Penggunaan dan bisnis warnet di Kota Tebing Tinggi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Poin-poin ini secara tidak langsung diakui akan membantu untuk meningkatkan peluang-peluang karena mengetahui informasi lebih detail dan cepat . menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik di dalam lingkungan sekitar maupun di luar. Sikap Terhadap Internet NO 1 2 3 4 5 Total Sumber : K 40 n = 50 PENDAPAT Memudahkan untuk mencari/berbagi informasi dan menambah pengetahuan sesuai profesi Kecepatan masih lambat. Dan ditambah dengan aspek-aspek pengalaman responden terhadap penggunaan internet di warnet serta sikap terhadap kehadiran internet. sangat membantu terutama menimbulkan perasaan senang terkait dengan meningkatkan silaturahmi dengan keluarga dan teman. mereka sangat memerlukannya. hal ini diakui sebanyak 8 orang (16%). Dengan penggunaan internet ini sesuai dengan harapan dan kebutuhan. membangun sistem jaringan sosial atau ekplorasi informasi yang terdapat di sekitar atau diluar lingkungannya yang pada gilirannya dapat memberikan pengetahuan atau menambah pengalaman.

berkreasi. Jakarta. menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik di dalam lingkungan sekitar maupun di luar. Lukiati dan Karlina. Namun warnet yang beroperasi saat ini akses internetnya dirasakan masih lambat bahkan sering mengalami gangguan. Sikap masyarakat terhadap hadirnya warnet dewasa ini dirasakan telah memberikan kemudahan mencari berbagai informasi. 2007 Pengantar Ilmu Komunikasi. selain itu juga secara bersamaan dapat melakukan komunikasi melalui chatting atau e-mail. Untuk pemenuhan kebutuhan identitas personal keberadaan internet telah membantu pengguna untuk mencari ide atau pemikiran untuk berkreasi. . Internet dapat menimbulkan perasaan senang. Suatu Pengantar. Jadikanlah internet untuk mencari ide atau pemikiran. 3. menjalin dan meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik di dalam lingkungan sekitar maupun di luar untuk pengembangan dan kemampuan diri. Bandung. Kencana.Quail. Simbiosa Rekatama Media. Hafied. Denis. Erlangga. sarana pelepasan emosi. 2007. dan para pengguna juga mengharapkan kalau memungkinkan biaya akses internet diturunkan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari motif-motif yang merupakan unsur dari teori Uses And Gratifications yang menjadi tujuan penelitian ini yakni mencakup kebutuhan informasi. meningkatkan silaturahmi dengan keluarga dan teman. mengisi waktu luang serta mencari persahabatan yang lebih luas. Cangara. PT. Kriyantono. namun jangan larut dalam melarikan atau melepaskan diri dari persoalan kehidupan hanya memanfaatkannya sebagai sarana untuk bermain (game). Elvinaro. 2002 Teori Komunikasi Massa. 2.Proses pembelajaran menggunakan internet yang mereka lakukan cenderung melalui dari teman dan selanjutnya dari sekolah. 2006 Teknik Praktis Riset Komunikasi. Rachmat. Komala. dan identitas personal dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Jakarta. Mc. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. dan menambah pengetahuan sesuai dengan profesi para pengguna. secara positif dapat menimbulkan perasaan senang bagi pengguna karena untuk melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. Manfaat-manfaat yang sangat dirasakan oleh pengguna adalah untuk mencari informasi dan membantu memenuhi tuntutan pekerjaan atau studi. DAFTAR BACAAN Ardianto. Dalam memenuhi kebutuhan diversi. Siti. Jakarta. 3. Internet dianggap telah sesuai dengan harapan dan kebutuhan pengguna karena memudahkan para pengguna untuk mencari informasi dan menambah pengetahuan yang merupakan pemenuhan kebutuhan informasi. diversi. Mudahnya pengguna mendapatkan berbagai informasi di internet hendaknya dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan secara bijaksana dan positif. RajaGrafindo Persada. 2. Saran-Saran 1.

PT. Communication Contexts. Bandung. PT. Wiryanto. Http:/www. diakses tgl. Remaja Rosdakarya. Edisi Revisi. 2007. http://www.geocities. Remaja RosdaKarya.7 Pebruari 2009 Http://id. Available. Bandung.wikipedia.diakses tgl./v17/com/ictwatch/paper/paper051. RajaGrafindo Persada.htm .diakses tgl. Bandung.internetworldstats.org/wiki/Alvin_Toffler.diakses tgl.wikipedia.apjii. Jakarta. 7 Pebruari 2009. 2007. Jakarta. . Onno W.edu/~drlane/ capstone/contexts. 7 Pebruari 2009 Http://Free. 7 Pebruari 2009.htm. Sistem Komunikasi Indonesia.com.org/wiki /Media_massa.diakses tgl. Http://id. Grasindo.id . Lain-Lain : Purbo.htm diakses tgl 6 Pebruari 2009.wikipedia. Pengantar Komunikasi Massa. ___________.org/wiki/warnet . diakses tgl 26 Agustus 2007 Http://www.uky. 2005. 2002. PT. PT. ___________. 1972. 4 November 2008.or. Teori Komunikasi Massa. Psikologi Komunikasi.Muchati.wikipedia.org. Jakarta.org/wiki/motivasi . 7 Pebruari 2009. diakses tgl. PT. Remaja Rosda Karya Nurudin. Rakhmat. 2001. Http://en. 2001. di akses tgl. Masyarakat Pengguna Internet di Indonesia. Media Massa dan Penerimaan Khalayak. RajaGrafindo Persada.vlsm. Metode Penelitian Komunikasi. com /inrecent/projec . http://www.html.7 Pebruari 2009 Http://id. 2004. Jalaluddin.

sehingga setiap negara saat ini seolah .mulai dari dunia usaha sampai ke pemilihan gubsu.perkembangan teknologi komunikasi dan informatika telah mendorong perluasan jaringan akses informasi dan komunikasi dunia.Di tingkat global.Perkembangan tersebut juga telah mendorong negara negara di dunia untuk meningkatkan pemanfaatan teknologi komunikasi dan informatika dalam upaya mempercepat proses modernisasi menuju terwujudnya Masyarakat Informasi ( information society ) atau masyarakat berbasis ilmu pengetahuan ( knowledge based society ).wawancara dan penyebaran kuesioner langsung kepada orang-orang yang berkompeten dan mengetahui dengan baik permasalahan penelitian ini.yang juga menjadi bagian dari dunia global ( global village ) akan selalu mencari bentuk yang sesuai dan memberikan kepuasan dan kenyamanan dalam mengakses informasi melalui adanya TIK ini. Kehadiran kampung digital mempermudah masyarakat Tuk.distribusi dan kontrol terhadap informasi serta interkoneksi antar unit saat ini dapat dilakukan secara lebih cepat. Kampung Digital. dan apakah pemanfaatan kampung digital dapat mewujudkan Sumatera pulau digital.Dengan dukungan teknologi komunikasi dan informatika.motivasi masyarakat dalam menggunakan kampung digital. Masyarakat. A. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran kampung digital di Tuk Tuk telah dimanfaatkan oleh masyarakat terutama untuk pembelajaran awal. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif . proses – proses transmisi.Ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang begitu familiar dalam menggunakan internet dalam kehidupan sehari hari dan begitu banyaknya tempat yang menyediakan jasa internet setelah hadirnya kampung digital .mudah dan murah.batas ruang dan waktu.PEMANFAATAN KAMPUNG DIGITAL OLEH MASYARAKAT TUK-TUK KABUPATEN SAMOSIR SUMATERA UTARA Oleh : Idawati Pandia * ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan masyarakat tentang keberadaan kampung digital Tuk-Tuk Kabupaten Samosir.Dengan kata lain di Kampung Digital masyarakat dapat melakukan transaksi elektronikyang mencakup semua aspek sesuai dengan culture kampung tersebut. Kata Kunci : Pemanfaatan. Perubahan pola dalam masyarakat di negara kita. Namun berdasarkan hasil pengamatan sangat disayangkan kampung digital yang semula banyak digunakan sebagai pembelajaran awal oleh masyarakat terutama pelajar dan guide ini beberapa bulan terakhir tidak bisa lagi dioperasionalkan karena rusak dan belum diperbaiki hingga sekarang.Tuk dalam mengakses internet dan membuka peluang bagi pengelola untuk lebih mudah dan murah dalam bisnis jasa internet. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi komunikasi dan informatika yang pesat saat ini telah menimbulkan perubahan – perubahan yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat.olah menjadi tidak memiliki batas kewilayahan.Dalam pertemuan Geneva tahun 2003 lalu dihasilkan deklarasi World Summit On The Information Society (WSIS ) tentang “ Setiap orang berhak secara bebas menyampaikan * Penulis adalah Peneliti Pertama Bidang Komunikasi Pada BBPPKI Medan .Pengumpulan data dilakukan melalui observasi. dan berkomunikasi antar negara tidak lagi dibatasi oleh batas.

Salah satu bentuk nyata terobosan Telkom ini dari segi Communiti Tele Center atau pusat-pusat Komunitas Informasi adalah sudah didirikannya Kampung Digital.Kampung Digital di Sumatera Utara Yaitu di Desa Terang Bulan Paya Bakung. yaitu fasilitas akses informasi yang didukung oleh teknologi Internet.Hal ini berarti bahwa tahun 2015.Desa Sampali. sehingga semakin hari semakin bisa dinikmati oleh masyarakat luas. menerima serta memberikan informasi dan gagasan – gagasan melalui media apa saja. Dalam kesempatan bagaimana upaya Telkom Group untuk berpartisipasi mendayagunakan potensi cipta dan karya bangsa bagi manfaat dan kepentingan luas.Usaha yang cukup signifikan juga ditandai dengan dibentuknya Departemen Komunikasi dan Informatika yang bervisikan “Terwujudnya masyarakat informasi yang sejahtra melalui penyelenggaraan komunikasi dan informatika yang efektif dan efisien dalam kerangka NKRI.dan berbagai kebijakan lainnya. bersamaan dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Telkom ingin menjadi perusahaan yang role model di Indonesia seperti Telkom Malaysia yang tetap menjadi kebanggan negaranya walaupun banyak pesaingnya. informasi dan komunikasi.separuh dari penduduk Indonesia sudah masuk ke masyarakat informasi global atau Global Information Society ( Sumber: Muhammad Nuh. Diluar Sumut sendiri ada di Pulau . Dimana langkah Telkom sebagai salah satu penggerak industri Telekomunikasi di Indonesia diantaranya dengan mendorong terjadinya daya kompetitif price. Hal ini sesuai dengan Visi dari Telkom. Sumber Karya Jalan Binjai dan yang terbaru ada di Desa Sukamulia Kecamatan Hinai Kabupaten Langkat yang dibuka Gubernur Sumatera Utara.Sedangkan misi dari Telkom adalah : Memberikan kualitas yang excellent. Bola salju kebangkitan ICT telah diluncurkan dari Medan sebagai pusat Industri perekonomian di Sumatera Utara. Di Sumatera Utara sendiri tahun 2008 telah dicanangkan sebagai Kebangkitan ICT Sumatera Utara yang sudah diresmikan Gubernur tanggal 5 Januari 2008.Kampung Digital adalah suatu kampung daerah kawasan wisata dimana seluruh potensi dan aktivitas kampung dimaksud difasilitasi dengan ICT.H . Tuk – Tuk Kabupaten Samosir .26 hingga 29 Mei 2009.2007. pada Jambore Tepat Guna . baik itu pedesaan . 186 tahun 1998 . lembaga kesehatan dan lembaga pemerintahan terhubung dalam satu jaringan. seperti pembentukan Tim Koordinasi Telematika Indonesia ( TKTI ) melalui Kepres No. Pemerintah indonesia dalam menyahuti masyarakat informasi global telah mengeluarkan berbagai kebijakan . Di Sumatera Telkom menerjemahkan Indico (Indonesia Digital Community) dengan program yang dinamakan Sumatera Pulau Digital.2).pendapat tanpa mempengaruhi dan bebas dalam mencari.6 tahun 2001 tentang pengembangan dan pendayagunaan telematika di Indonesia. Selanjutnya sesuai dengan kesepakatan bersama negara – negara didunia melalui World Summit On The Information Society ( WSIS ) tahun 2003 di Geneva dan tahun 2005 di Tunisia . lembaga pendidikan.Syamsul Arifin . yang mana adalah Visi PT. Kunci utama bahwa pada tahun 2015 separuh dari penduduk Indonesia sudah masuk kemasyarakat informasi global adalah terletak pada kesiapan infrastruktur TIK yang dipergunakan untuk mengakses informasi. maka Telkom sebagai Ketua Kendali Mutu suatu Project Sumatera Digital (Digital Island) menyiapkan Sumatera sebagai pulau yang ber – ICT. sehingga interaksi masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan dapat dilakukan secara mudah dan cepat di seluruh dunia dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi. Yang Menjadi Pemimpin Pasar Yang Ada Dikawasan Regional . yaitu bahwa pada tahun 2015 sebanyak 50% dari wilayah di berbagai negara sudah terjangkau jaringan infrastruktur teknologi. Telkom untuk menjadikan Pulau Sumatera memiliki infrastruktur yang memadai untuk dimanfaatkan dalam konsep ICT. menyepakati satu deklarasi yang merupakan Plan Of Action dari UNESCO. Instruksi Presiden No.

Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini adalah : 4. masyarakat sudah bisa mulai membuat profosal kekantor-kantor pemerintah.Untuk mengetahui motivasi masyarakat dalam menggunakan kampung digital. Dari Kampung Digital. Sementara target kedepannya Kampung Digital ini akan menembus 100 kampung (Sumber : Andang Anshari . Apa motivasi masyarakat menggunakan kampung digital.Yang jadi pertanyaan apakah masyarakat sekitar wisata Tuk-Tuk betul-betul memerlukan blog tersebut dan sudahkah Kampung Digital mengexplore (menjelajahi) kekayaan /potensi lokal tersebut. dan kebijakan-kebijakan tentang pengembangan masyarakat informasi pada umumnya. b. Dengan didirikannya Kampung Digital ini akan bisa menjawab penantian masyarakat kampung yang sudah lama menunggu akan adanya pelatihan-pelatihan tentang Komputer.kampungdigital. Dunia Usaha sampai kepada pemilihan Gubsu (http:blog. Pernikahan. . Bagaimanakah seharusnya masyarakat memanfaatkan keberadaan kampung digital.com/). . Pertanian. Dari uraian tersebut diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian Tentang “ Pemanfaatan Kampung Digital Oleh Masyarakat Tuk-Tuk Kabupaten Samosir Sumatera Utara”. Untuk mengetahui apakah pemanfaatan kampung Digital dapat mewujudkan Sumatera Pulau Digital. Disini masyarakat dibina dan dibimbing hingga akhirnya memperoleh ilmu pengetahuan serta pengalaman. C. juga penawaran barang.Untuk mengetahui apakah pemanfaatan Kampung Digital dapat mewujudkan Sumatera Pulau Digital. .Focus Group RPJM. Pariwisata. Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah : . mulai dari pelatihan Internet. Setelah sekian lama Kampung Digital lokasi Tuk-Tuk di launching oleh Bupati Samosir IR.Mangindar Simbolon. Dengan kata lain melalui Kampung Digital masyarakat bisa melakukan transaksi elektronik yang mencakup semua aspek sesuai dengan Culture Kampung tersebut. Tujuan dan Manfaat Penelitian. c.Penyengat. maka permasalahan pokok yang akan ditelusuri dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : d. Ulang tahun. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diutarakan diatas.2008). Palembang dan Batam. membuat Web Block. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan berharga bagi Departemen Kominfo RI dalam pembuatan kebijakan-kebijakan tentang akses informasi dan komunikasi pada khususnya. serta promosi usaha dan juga pengelolaan usaha agar berhasil. Swasta tentang penawaran pelatihan computer & Internet. sehingga bisa membuat usaha sendiri terutama yang berhubungan dengan Teknologi Informasi. . Kampung Digital adalah suatu Puture Village (kampung masa depan yang high technolologi) atau bisa dikatakan suatu konsep memperkenalkan satu daerah berdasarkan katagori tertentu seperti pariwisata melalui dunia maya. Kehausan akan ilmu pengetahuan di bidang Ilmu Komputer dan Internet ini semua bisa diperoleh di Kampung Digital.banyak pihak netter (pengguna jaringan)yang telah berkunjung dan memberi respon positif terhadap keberadaan blog tersebut. B.Untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan masyarakat tentang keberadaan Kampung Digital.

penggunaan dan pemenuhan kebutuhan. Kebutuhan integrative personal : memperkuat kredibilitas. Sejalan dengan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa pengguna media secara umum adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi. kepercayaan diri. Kebutuhan afektif : kebutuhan untuk memperkuat pengalaman akan emosi.Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat dicapai dengan dua cara.D. teman. sebagai kerangka teori. kesenangan.pengetahuan. kategori ini antara lain menurut Katz Hass dan Gurevitch yakni: Kebutuhan kognitif. Kebutuhan akan pelarian : hasrat melarikan diri dari kenyataan.Dari sini timbul istilah uses and gratifications. Kebutuhan interaksi sosial : memperkuat hubungan dengan keluarga. 2004 : 65). dan status pribadi.hiburan dan intraksi sosial. Hunter. kebutuhan akan informasi. kesetian. dalam mengkaji realitas komunikasi massa adalah teori Uses and Gratipications. bahkan sering kali akibat-akibat yang tidak dikehendaki (Rakhmat.dan pengertian tentang lingkungan sekitar.1997:” Teori uses and gratification yang menekankan bahwa para pengguna media adalah orang-orang yang berpikiran rasional yang secara aktif memilih media mana yang mereka anggap dapat memuaskan kebutuhan yang mereka ingin dapatkan”.Dimana teori ini tidak tertarik pada apa yang dilakukan media pada diri orang. yang melahirkan (3) Harapan-harapan dari (4) Media massa atau sumber-sumber yang lain. atau pengalaman keindahan. yaitu: (1) Pemenuhan kebutuhan yang didapatkan dengan cara mengakses/menggunakan media yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan (2) Pemenuhan kebutuhan didapatkan dengan cara mempelajari isi informasi dalam media yang kemudian diterapkan dalam praktek. Anggota khalayak dianggap secara aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Blumler. Dengan kata lain teori ini menitikberatkan kepada konsumen pesan sebagai pengguna atau yang memanfaatkan media untuk mendapatkan pesan. 2004: 65) . Ada beberapa katagori kebutuhan individu yang semuanya berasal dari fungsi sosial dan psikologi dari media. melepaskan ketegangan. dan Gurevitch) adalah : (1) Sumber Sosial dan Psikologis dan (2) Kebutuhan.tradition of the past (Rakhmat. Konsep dasar dari teori ini sendiri diringkas oleh para pendirinya (Katz. yang menyebabkan (5) Perbedaan pada terpaan media (atau keterlibatan dalam kegiatan lain) dan menghasilkan (6) Pemenuhan kebutuhan da (7) akibat-akibat lain. tetapi ia tertarik pada apa yang dilakukan orang terhadap media. Teori ini digambarkan sebagai a dramatic break with effects. dengan alam sekitar. suatu loncatan dramatis dari model jarum hipodermik. Kerangka Teori Aspek Komunikasi Teori Komunikasi massa yang popular dan sering digunakan saat ini. kebutuhan akan hiburan.

Aspek Kampung Digital CAKUPAN AREA LAYANAN SUMATRA PULAU DIGITAL KONDISI SOSIAL MASYARAKAT Pengguna Internet 8% Partisipasi Kondisi Sosial masyarakat Sumatra Sekolah : 0.4% .

sentra bisnis pendukung wisata. jaringan internet ELEMEN KAMPUNG WISATA DIGITAL Admin di kampung setempat Members (Hotel-hotel/penginapan. dll). pemesanan souvenir dll)þ Sebagai wahana komunikasi antar Kampung Wisata Digital Ajang promosi kekayaaan daerah berupa herritage. elemen-elemen Kampung) Aktivitas & obyek wisatata (termasuk herritage. MANFAAT Memfasilitasi transaksi bisnis kampung (reservation online/email.KAMPUNG DIGITAL 1/3 DEFINISI Adalah suatu kampung daerah kawasan wisata Kampung Wisata Digital : dimana seluruh potensi dan aktivitas kampung dimaksud difasilitasi dengan ICT. Bukittinggi. Kampung Tuktuk Samosir adalah prototype pertama kampung wisata digital di Sumatra dan akan dikembangkan di seluruh Sumatra seperti Internetworking dengan dunia luar melalui Berastagi. KAMPUNG DIGITAL 2/3 website/portal. Bukitlawang dll). potensi wisata/alam dll ke dunia internasional . kesenian dlsb)þ Aspek teknis (ada internet access connection.

Pelajar & Mahasiswa (kepentingan studi)þ Kampung Wisata Digital Tuktuk Masyarakat Umum Aparat/Pemda Samosir & Tuktuk Masy. Peneliti. Tuktuk Kalangan pebisnis di Tuktuk/Samosir INTER NAL Orang Asing Industri dan Dunia Usaha Hal : 17 TELKOM BANGUN NEGERI Launching SPEEDY TUK-TUK .KAMPUNG DIGITAL 3/3 Stakeholder Kampung Wisata Digital Tuktuk EKSTE RNAL Kampung wisata lainnya Pengajar.

hubungan personal. empat-fungsional (diversi.. dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta jiwa dan di antaranya 48 juta bermukim di Sumatera.2004:66). Sementara. karenanya diperlukan upaya yang bersifat jangka panjang.pekerjaan. kontak sosial. fantasistescapist. yang sudah tentu akan melibatkan banyak orang dan institusi. Ini merupakan dua hal yang sangat berpengaruh dan menjadi problematika besar bangsa ini. saat ini menghadapi tantangan sangat berat dalam upaya meningkatkan kualitas SDM masyarakatnya agar memiliki daya saing tinggi. atau bermain) . melalui komitmen “Education for Tomorrow“ sebagai wujud dari program Telkom Corporate Social Responsibility melalui komitmen “membangun masyarakat cerdas bersama Telkom”. Terhadap dua hal ini. identitas personal. atau surveillance. atau gratifikasi segera tertangguhkan). hiburan. dapat dioperasionalisasikan dengan berbagai cara yaitu unifungsional (hasrat melarikandiri. Telkom Divisi Regional I Sumatera sebagai salah satu volunteer yang bergerak di bidang penyediaan dan pelayanan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (Infokom). Indonesia juga menghadapi persoalan lain yang tidak mudah.tingkat pengeluaran/pendapatan. tidak sampai ke efek media. minat akan informasi dan teknologi informasi serta variabel lingkungan seperti organisasi . . korelasi.sistem sosial dan struktur sosial. bifungsional (informasi-edukasi. Salah satu program dalam upaya membangun masyarakat cerdas bersama Telkom.dan surveillance. 2. yaitu : 1.TUKTUKSAMOSIR. Variabel Motif Variabel Motif.2004:66) 3. Dalam Penelitian ini kami hanya melihat terbatas pada penggunaan media . Variabel Arteseden Anteseden meliputi variabel individual yang terdiri dari data demografis seperti usia. maka diluncurkan “Program Kampung Digital”. tak ada jalan pintas.KAMPUNG DIGITAL. Variabel Penggunaan Media Penggunaan media terdiri dari jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai media jenis isi media yang dikonsumsi dan berbagai hubungan antara individu konsumen media dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media secara keseluruhan ( Rakhmat.KOMPOENG DIGITAL.dan faktor-faktor psikologiskomunikan seperti tingkat pendidikan. dan multi fungsi onal ( Rakhmat. Dimana variable anteseden ini akan membedakan antara satu karakter individu lainnya.Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karakteristik kejadian kedalam kelompok atau individu tersebut (Singarimbun. Communication & Technology). transmisi budaya. INDONESIA.COM E.com HTTP://WWW. salah satunya.jenis kelamin. Program ini membentuk kampungkampung/perumahan yang difasilitasi teknologi digital yang berwawasan ICT (Information. berinisiatif untuk berperan aktif dalam upaya mengatasi masalah tersebut. adapun konsep-konsep dalam penelitian ini dapat dibedakan menjadi beberapa variable. berupa kemiskinan dan kebodohan. 1998 : 24) Berdasarkan kerangka teoritis diatas.

penelitian deskriptif digunakan untuk menggambarkan (mendeskripsikan) secermat mungkin mengenai suatu individu. Dengan kata lain. tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi (Rakhmat.Jumlah penduduk sebanyak 1941 orang. hewan. Metode Penelitian. Sampel Sampel adalah bagian dari populasi yang terpilih melalui suatu teknis pengambilan sampel tertentu sehingga dapat mewakili populasi untuk diteliti (Sumarto. Tuk-Tuk berbatasan dengan : Sebelah Utara berbatasan dengan Pangururan Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Ronggur Nihuta Sebelah Selatan berbatasan dengan Onan Runggu Sebelah Barat berbatasan dengan Danau Toba Tuk-Tuk Siadong adalah satu-satunya kelurahan yang ada di Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir ( Samosir dalam angka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kuantitatif. 3.Sedangkan Si adong berarti ada. Lokasi Penelitian Adapun yang menjadi lokasi penelitian ini adalah Tuk-Tuk Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir. Metode penelitian deskriptif adalah metode yang hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa apa adanya. keadaan.kampung digital Sampali. tumbuh-tumbuhan. Adapun yang menjadi Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat pengguna Kampung Digital Tuk-Tuk. Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara.kampung digital Sumber Karya Binjei dan kampung digital Tuk-Tuk Samosir dibagi secara Multi sampling (dimana populasi yang berada di daerah besar dibagi dalam beberapa area yang lebih kecil yang jelas batas –batasnya).F. 2.Dari I kabupaten diambil lagi 1 kecamatan secara purposive. Penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan.Tuk-Tuk Siadong adalah sebuah kota kecil di pulau Samosir yang berjarak kurang lebih 2 Km dari kota Tomok. Populasi dan Sampel Populasi Populasi artinya keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia. 1983 : 141). gejala-gejala. Metodologi Penelitian 1. Penduduk setempat menggantungkan hidup dari bisnis pariwisata dan pertanian. nilai test atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu didalam suatu penelitian (Nawawi. 2008 ). Dengan luas wilayah 5.318 km2 Tuk-Tuk berarti pintu masuk. Pemilihan sampel purposive yaitu sampel yang dipilih dengan pertimbangan karakteristik tertentu. Dalam penentuan sampel mengingat Sumatera Utara yang merupakan bagian dari wilayah kerja BBPPKI Medan memiliki empat kampung digital yaitu kampung digital Terang Bulan di daerah Payabakung Diski . Karena besarnya jumlah populasi yang menggunakan Kampung Digital Tuk – Tuk Samosir tidak bisa diukur jumlahnya (non probability) .ketok.diambil 1 kabupaten secara purposive. 2004 : 24).peneliti menggunakan Formula Cochram dengan rumus sebagai berikut : no= (t)2 – (S)2 (d)2 Keterangan : no = ukuran sampel standard Cochram . lalu diambil lagi 1 kelurahan secara purposive yaitu Tuk-Tuk Samosir . gejala kelompok tertentu. maka untuk menentukan besarnya sampel. bendabenda. 1990 : 23).

19 d = interval kesalahan ( margin of error ) Secara umum dalam penelitian . Metode Pengumpulan Data Dalam melaksanakan penelitian ini.96)2 . Ini dilakukan dengan menghimpun data dari berbagai literature. 5.30)2 = 60. pengumpulan data dilakukan melalui : a.19)2 (0. Studi dokumentasi. b. Observasi adalah merupakan kegiatan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara langsung terhadap gejala-gejala yang tampak selama melaksanakan penelitian.Sehingga margin error dalam penelitian ini yang dapat diterima 3/100 x 10 = 0. wawancara dan penyebaran kuesioner langsung kepada orangorang yang berkompeten dan mengetahui dengan baik permasalahan yang diteliti. baik dari kepustakaan maupun sumber-sumber lain yang relevan dengan permasalahan.dimana data lapangan yang telah diperoleh melalui daftar pertanyaan dikoding dan ditabulasi untuk memperoleh tendensi dengan persentase. yaitu mengumpulkan data yang sudah ada dan bersifat tertulis yang berhubungan dengan penelitian.96 s = estimasi standard deviasi populasi 1.4 dibulatkan menjadi 60 Jadi sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 60 responden 4.t = nilai persentil t = 1.interval kesalahan pada data adalah sebesar 10 % dan untuk data kontiniu sebesar 3 %. Metode Analisis Data Sesuai dengan sifat dan tujuannya maka analisis dari penelitian ini dilakukan dengan metode pendekatan deskriptif kuantitatif didukung dengan data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara . Library Research (Penelitian Kepustakaan) yaitu penelitian yang menggunakan sumber bacaan yang terpilih dan terkait atau relevan dengan masalah yang akan diteliti sebagai dasar pemikiran dan pemecahan masalah. Field Research (Penelitian Lapangan) Menggunakan data secara langsung di daerah lokasi yang diteliti.30 n = (1. . (1. Pendekatannya melalui observasi.

Tabel. Sisanya sebanyak 11.0 Ragu-ragu 2 3. Ini mungkin karena singkatnya waktu keberadaan kampung digital di lokasi tersebut.0 % menjawab mengetahui kampung digital.0 Sumber : K1 n = 60 Para pengguna kampung digital pada dasarnya merefleksikan suatu kewajaran antara posisi mereka sebagai daerah wisata yang tentunya tak bisa lepas dari turis asing yang sangat berhubungan dengan teknologi informasi dengan minat mereka sendiri dengan hal. Sisanya sebanyak 5.3 % yang menjawab ragu-ragu. 2 Pengetahuan Tentang Kampung Digital SIKAP F % NO 1 2 3 4 Sangat Mengetahui 7 11.3 3 Mencari Relasi 2 3. 1 Minat Terhadap Dunia Teknologi Informasi (Internet) NO SIKAP F % 1 Sangat Berminat 35 58. Analisa Hasil Penelitian Tabel.0 Total 60 100. 3 Kegunaan Menggunakan Kampung Digital NO KEGUNAAN F % 1 Mencari Informasi 37 61.0 Total 60 100. Tabel. yang mengaku berminat sebanyak 35. sementara sebanyak 25.7 2 Mempromosikan Usaha 2 3.0 3 Ragu-ragu 1 1.0 % menjawab kurang mengetahui.0 Sumber : K3 n = 60 .G.7 5 Lainnya 12 20.0 Total 60 100. dari 60 responden sebanyak 35 atau 58.0 % menyatakan kurang berminat dan 1.3 % menyatakan sangat berminat pada ICT.ini dapat dilihat dari jawaban responden yaitu sebanyak 60.7 % menjawab sangat mengetahui dan hanya 3.hal yang berhubungan dengan teknologi informasi pula. Hal ini dibuktikan dari data statistik berdasarkan kuesioner yang diberikan pada responden menunjukkan bahwa.3 2 Berminat 21 35.7 % menjawab ragu-ragu.0 %.7 4 Kurang Berminat 3 5.3 4 Mengisi Waktu Luang 7 11.3 Kurang Mengetahui 15 25.0 Sumber : K2 n = 60 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa responden memang mengetahui dan memanfaatkan kampung digital.7 Mengetahui 36 60.

3 2 Penting 36 60.0 3 Ragu-ragu 2 3.0 3 Kadang-kadang 5 8.0 % responden menjawab baik . ini terlihat dari jawaban responden yang mayoritas menjawab mencari informasi yaitu sebanyak 61.0 Sumber : K4 n = 60 Kehadiran kampung digital ternyata memberikan manfaat dan pengetahuan kepada responden ini terlihat dari jawaban yang diperoleh yaitu responden yang menjawab sangat bermanfaat yakni sebanyak 61. menggunakan untuk mengisi waktu luan sebanyak 11. 5 Penilaian Tentang Adanya Kampung Digital NO SIKAP F % 1 Sangat Baik 26 43. Sikap masyarakat tehadap kehadiran kampung digital ini dapat dilihat dari hasil tabel diatas yaitu 45. dan hanya 1 orang atau 1. Tabel.0 4 Kurang Baik 1 1.0 % yang menjawab sedang.7 % yang menjawab kurang baik.Tak beda dengan internet kampung digital banyak dimanfaatkan responden untuk mencari informasi. 43.3 % responden menjawab sangat baik . 4 Kampung Digital Memberikan Manfaat Dan Pengetahuan NO SIKAP F % 1 Sangat Bermanfaat 37 61.7 %.0 3 Sedang 6 10. yang menjawab bermanfaat sebanyak 30. Sisanya untuk skor yang sama yaitu masingmasing 3.3 4 Kurang Penting 2 3. 6 Tingkat Kepentingan Terhadap Kampung Digital NO SIKAP F % 1 Sangat Penting 20 33. Tabel.3 % yang menggunakan untuk mempromosikan usaha dan mencari relasi.0 %.7 %.3 2 Baik 27 45.0 Sumber : K5 n = 60 Adanya kampung digital disambut masyarakat dengan baik karena dengan kehadiran kampung digital di Tuk-Tuk membawa banyak perubahan terutama kearah perkembangan dunia usaha warnet yang memang sangat dibutuhkan di Tuk-Tuk sebagai kampung wisata.0 %.7 Total 60 100. 10.3 Total 60 100. lainnya sebanyak 20.0 Sumber : K6 n = 60 .7 %. Tabel.7 2 Bermanfaat 18 30.3 4 Kurang Bermanfaat 0 0 5 Tidak Bermanfaat 0 0 Total 60 100.

Tabel.3 3 Ragu-ragu 1 1.3 %.7 5 Tidak Penting 1 1. Setelah kehadiran speedy tarif menggunakan internet perjam di Tuk – Tuk yaitu untuk Turis asing Rp 15.0 63.000. yang menjawab sangat penting 33.0 Namun yang mendorong responden dalam menggunakan kampung digital tidak terlalu jauh berbeda yaitu rasa ingin tahu 30.3 %.0 21.7 16. 8 Hal Yang Mendorong Dalam Menggunakan Kampung Digital NO 1 2 3 4 5 Sumber : K8 n = 60 MENDORONG Rasa Ingin Tahu Kemudahan Akses Informasi Kelengkapan Fasilitas Yang Ada Mengikuti Perkembangan Zaman Kemudahan Untuk Berkomunikasi Total F 18 13 6 13 10 60 % 30.7 4 Kurang Penting 4 6.0 Kampung digital membawa pengaruh yang nyata bagi masyarakat Tuk-Tuk . Tabel.3 100.0 21. Dikatakan berpengaruh karena dengan kehadiran kampung digital atau dicanangkannya kampung digital memancing speedy landing sehingga biaya dalam menggunakan internet yang sebelumnya hampir sama dengan biaya interlokal yaitu sebesar 60 ribu perjam ( Telkom net instant ) menjadi lebih murah.3 % .000 sampai Rp 10.0 %.3 3. kemudahan untuk berkomunikasi sebanyak 16.3 %.0% . Sementara untuk lokal Rp 8.sampai Rp 20. ini terlihat dari jawaban responden yaitu yang menjawab berpengaruh sebanyak 63..000.. sangat berpengaruh sebanyak 30. 9 Tingkat Kepentingan Terhadap Kampung Digital Dalam Kehidupan Sehari-Hari NO SIKAP F % 1 Sangat Penting 13 21.per jamnya.7 % dan sisanya 10. ini terlihat dari hasil jawaban mereka yakni yang menjawab penting 60.000.0 Sumber : K9 n = 60 Adapun tingkat kepentingan responden terhadap kampung digital dalam kehidupan sehari-hari mayoritas responden mengatakan penting.7 %. Ini terlihat dari jawaban .0 % . Tabel.7 10. 7 Kampung Digital Membawa Pengaruh Yang Nyata NO 1 2 3 4 Sumber : K7 n = 60 SIKAP Sangat Berpengaruh Berpengaruh Ragu-ragu Kurang Berpengaruh Total F 18 38 2 2 60 % 30.7 100.7 Total 60 100.Hampir sebagian besar responden menganggap kampung digital itu penting. sementara yang menjawab ragu-ragu dan kurang penting dengan persentase yang sama yaitu masing – masing sebanyak 3.-.3 3.0 % untuk kelengkapan fasilitas yang ada. dan yang menjawab ragu – ragu dan kurang berpengaruh masing-masing sebanyak 3.7 2 Penting 41 68. kemudahan akses informasi dan mengikuti prkembangan zaman menduduki persentase yang sama yaitu masing – masing 21.

12 Keberadaan Kampung Digital Memotifasi . 11 Keberadaan Kampung Digital Membantu Dalam Mencari Ide / Pemikiran Untuk Berwirausaha NO SIKAP F % 1 Sangat Setuju 16 26. yang menjawab kurang penting sebanyak 6.7 4 Kurang Setuju 6 10.7 2 Setuju 31 51. dan juga ada responden yang tertarik membuka rental game setelah hadirnya kampung digital tersebut.0 %.responden yaitu yang mengatakan penting sebanyak 68. kurang setuju sebanyak 13. kurang setuju sebanyak 10. yang menjawab sangat setuju sebanyak 26.3 % menjawab setuju. café. untuk jawaban raguragu sebanyak 6.7 % untuk jawaban ragu – ragu dan tidak penting.7 %. Sisanya masing – masing 1.3 5 Tidak Setuju 6 10.7 %.0 Sumber : K10 n = 60 Hadirnya kampung digital di Tuk-Tuk dirasakan sebagian besar masyarakat membantu dalam memecahkan masalah ekonomi karena dengan kehadiran kampung digital membawa dan membuka peluang usaha dibidang rental internet yang begitu banyak peminatnya di kampung wisata tersebut.0 Sumber : K11 n = 60 Hadirnya kampung digital membantu responden dalam mencari ide/pemikiran untuk berwirausaha seperti menyediakan rental internet di hampir semua tempat seperti restauran.7 %.7 3 Ragu-ragu 4 6. Ini dapat dilihat dari hasil tabel diatas yaitu sebanya 43.0 % yang menjawab tidak setuju.0 2 Setuju 26 43.0 Total 60 100. yang mengatakan sangat penting sebanyak 21.7 % dan sisanya 5.0 5 Tidak Setuju 3 5.3 %.3 % dan 10.3 3 Ragu-ragu 11 18. hotel.0 % untuk jawaban tidak setuju. yang menjawab sangat setuju sebanyak 15. cotage. ragu-ragu sebanyak 18. Tabel.3 %. losmen atau penginapan dan usaha lain seperti rental game yang ide awalnya terisnpirasi dari hadirnya kampung digital.7 %.0 %. Tabel. Ini juga dapat dilihat dari hasil statistik dimana responden yang menjawab setuju sebanyak 51. 10 Keberadaan Kampung Digital Dapat Membantu Memecahkan Masalah Ekonomi NO SIKAP F % 1 Sangat Setuju 9 15.3 4 Kurang Setuju 8 13.0 Total 60 100. Tabel.

ragu-ragu sebanyak 10.7 %.0 Sumber : K13 n = 60 Kampung digital dirasakan responden dapat membantu dalam menjalin kerjasama usaha dengan pihak luar misalnya si wisatawan yang sudah pernah datang berkunjung ke Tuk-Tuk tersebut membawa situs atau website kampung digital pulang kenegaranya lalu ditunjukkan atau dipromosikan ke rekan atau relasinya yang ingin berkunjung ke TukTuk.0 % dan sisanya untuk jawaban tidak setuju sebanyak 6. Ragu – ragu ada sebanyak 16. Tabel . Ragu-ragu sebanyak 21.3 %. ini dapat dilihat dari jawaban sebagian besar responden yang menjawab setuju kalau kampung digital yang memotifasi mereka dalam membuka usaha yaitu sebanyak 55.0 2 Setuju 26 43.7 %.7 4 Kurang Setuju 7 11.7 % menjawab tidak setuju.0 %.0 2 Setuju 24 40.0 3 Ragu-ragu 13 21.7 6. yang menjawab sangat setuju sebanyak 16.7 Total 60 100.0 10.7 %.14 Keberadaan Kampung Digital Sudah Membantu Untuk Melancarkan / Meningkatkan Kerjasama Usaha Dengan Pihak Lain NO SIKAP F % 1 Sangat Setuju 12 20.0 %.7 5 Tidak Setuju 4 6.7 Total 60 100. kurang setuju sebanyak 11. sangat setuju sebanyak 20.7 55.0 %.NO 1 2 3 4 5 Sumber : K12 n = 60 Untuk Membuka Usaha SIKAP F Sangat Setuju 10 Setuju 33 Ragu-ragu 6 Kurang Setuju 7 Tidak Setuju 4 Total 60 % 16. 13 Keberadaan Kampung Digital Membantu Dalam Menjalin Kerjasama Usaha Dengan Pihak Lain NO SIKAP F % 1 Sangat Setuju 12 20.0 %.0 11.3 5 Tidak Setuju 4 6. Ini dapat dilihat dari jawaban responden yang menjawab setuju sebanyak 40.7 %.0 Sumber : K14 n = 60 Dari hasil tabel diatas dapat dilihat jawaban responden yang menjawab setuju sebanyak 43. Sisanya sebanyak 6.7 %. kurang setuju sebanyak 11.7 % dan .3 3 Ragu-ragu 10 16.7 4 Kurang Setuju 8 13.0 Banyak masyarakat khususnya responden yang terisnpirasi dan termotifasi untuk membuka usaha dengan hadirnya kampung digital tersebut.7 100. Tabel. sangat setuju sebanyak 20.

Contoh yang paling nyata dalam Malaysia Paralayang terbuka yang memakai Iven Samosir yang pusatnya dilaksanakan di Tuk-Tuk Siadong. Ini dapat lebih diperjelas dari jawaban responden yakni yang menjawab murah sebanyak 78.0 Sumber : K16 n = 60 Biaya yang dibebankan kepada pengguna kampung digital tidaklah mahal dibandingkan dengan menggunakan internet di tempat rental internet /service informasi lainnya yang kini tumbuh bagaikan jamur dimusim hujan di Tuk-Tuk siadong.Rp 10.0 Sumber : K15 n = 60 Jawaban yang pantastis dari responden yakni sebanyak 55.3 3 Ragu-ragu 5 8. Tabel.7 2 Murah 47 78.7 % atau 1 orang menjawab tidak murah.7 %. 17 Harapan Kedepan Untuk Kemajuan Kampung Digital . Menjawab sangat murah sebanyak 11.Sisanya 1.0 % yang menjawab ragu –ragu.3 %. Tabel. Sisanya yang menjawab tidak setuju sebanyak 4 orang atau sebanyak 6.yang menjawab kurang setuju sebanyak 13.0 4 Kurang Membantu 0 0 5 Tidak Membantu 0 0 Total 60 100.000 – Rp 20. Kampung digital sudah membantu untuk melancarkan /meningkatkan kerjasama usaha dengan pihak lain. 000 untuk turis asing dalam perjamnya. 16 Biaya Yang Dibebankan Kepada Pengguna Kampung Digital NO SIKAP F % 1 Sangat Murah 7 11.0 2 Membantu 33 55. Biaya di kampung digital hanya Rp 3000 perjamnya.3 %.3 %.7 5 Tidak Murah 0 0 Total 60 100. 15 Keberadaan Kampung Digital Sudah Membantu Masyarakat Di Lingkungan Tempat Tinggal Anda Untuk Mendapatkan Informasi Tentang Dunia Usaha NO SIKAP F % 1 Sangat Membantu 21 35.0 % menjawab setuju kalau keberadaan kampung digital sudah membantu masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka untuk mendapatkan informasi tentang dunia usaha.7 % dan ragu –ragu sebanyak 8. Dalam Iven ini tentunya kampung digital sangat berperan menjual yang nantinya bisa diketahui apa maunya pengunjung mulai dari kamar sampai kebutuhan kecil .0 % dan sisanya hanya 6 orang atau sebanya 10.Yang menjawab sangat membantu sebanyak 35.3 4 Kurang Murah 1 1.000 untuk kalangan lokal dan Rp 15.0 3 Ragu-ragu 6 10. Tabel. sangat pantastis bedanya dibandingkan dengan diluar yang bisa mencapai Rp 8000.

Yang menjawab kurangnya fasilitas sehingga harus antri sebanyak 11. Peningkatan Fasilitas dan Sosialisasi Ke 12 Masyarakat 3 Dapat Membawa Kemajuan Dibidang Pendidikan 8 4 Pembelajaran Gratis Atau Bimbingan Teknis Pemanfaatan Kampung Digital 4 5 Harapan Lainnya 6 Total 60 Sumber : K17 n = 60 20.7 %. 18 Kendala Yang Dihadapi Dalam Penggunaan Kampung Digital NO KENDALA F % 1 Kurang Mengerti /Paham Dalam Penggunaan Kampung Digital 2 Masaah Biaya 3 Lambat Loading 4 Kurangnya Fasillitas Sehingga Harus Antri 5 Kendala Lainnya Total Sumber : K18 n = 60 13 12 11 7 17 60 21. harapan dapat membawa kemajuan dibidang pendidikan 13.NO HARAPAN F % 50. Meskipun biaya yang dikenakan dikampung digital relatif lebih murah dibandingkan dengan jika menggunakan diluar namun sebanyak 20.0 %.ini mungkin disebabkan responden yang terjaring tersebut sebagian adalah pelajar dan pekerja yang mempunyai gaji yang relatif kecil.0 13. serta harapan akan diadakannya pembelajaran gratis atau bimbingan teknis pemanfaatan kampung digital sebanyak 6. merasa kurang mengerti /paham dalam penggunaan kampung digital sebanyak 21.0 % . Sisanya menjawab harapan lainnya yaitu 10. 7 %.0 % responden mengatakan masalah biaya menjadi kendala yang mereka hadapi.3 100.3 6. Dari pertanyaan terbuka yang dijaring oleh peneliti mengenai harapan masyarakat mengenai kemajuan kampung digital kedepan di Tuk-Tuk Siadong.7 28.3 % menjawab kendala lainnya.0 1 Membawa Pengaruh Positif .3 %.Terutama Dapat Menambah Wawasan Masyarakat 30 Dibidang TIK 2 Penambahan Unit Komputer .3 %. dari pertanyaan terbuka yang dijaring oleh peneliti yaitu mengenai kendala yang responden hadapi dalam penggunaan kampung digital.3 11. . peningkatan fasilitas dan sosialisasi ke masyarakat sebanyak 20.7 10.Berharap akan adanya penambahan unit komputer. terutama dapat menambah wawasan masyarakat dibidang TIK sebanyak 50. Sisanya sebanyak 28.0 100. 0 %. Tabel.0 18.0 Untuk tabel 49.Sementara yang menjawab kendala yang mereka hadapi karena lambat Loading atau lebih populer dengan lalot sebanyak 18.7 20.7 %.0 Untuk tabel 50 ini juga. harapan akan membawa pengaruh positif.

Antusiasme masyarakat terhadap kampung digital ini dapat dilihat melalui data pada tabel II.sedangkan faktor-faktor lainnya yang mendorong pemanfaatan kampung digital bagi masyarakat adalah kemudahan untuk berkomunikasi serta untuk kelengkapan fasilitas yang ada. mengisi waktu luang. ini tidak bisa dipungkiri karena kehadiran kampung digital yang terbatas memancing masyarakat lainnya untuk membuka service informasi ini dibanyak tempat di Tuk –Tuk karena memang daerah ini sangat memerlukan kehadiran teknologi baru tersebut untuk mengimbangi permintaan pasar . sarana bersantai.Berdasarkan temuan data-data penelitian diatas dapat dilihat bahwa pemanfaatan kampung digital oleh mayarakat Tuk – Tuk Kabupaten Samosir Sumatera Utara untuk menambah informasi . Internet sudah mampu mengubah perilakuperilaku masyarakat dalam menggantikan kebiasaan lama. .chatting.11.Keadaan ini tentunya menimbulkan perasaan yang kurang nyaman bagi masyarakat terutama bagi masyarakat yang betul-betul tertarik untuk mempelajari dan mendalami masalah internet ini dan mempunyai uang saku yang terbatas seperti anak sekolah. game dan lain sebagainya. meningkatkan hubungan silaturahmi. dan sebagai media komunikasi telah disambut dengan baik kehadirannya oleh mayarakat dan digunakan secara efektif serta berhasil guna karena kehadiran kampung digital yang biayanya relatif lebih murah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pembelajaran awal.juga banyak digunakan untuk membuka peluang usaha.meningkatkan pengetahuan mereka.kemudahan akses informasi dan untuk mengikuti perkembangan jaman. hiburan.dan memecahkan masalah ekonomi keluarga. Manfaat yang dirasakan masyarakat dengan hadirnya kampung digital ini membawa pengaruh yang positif bagi mayarakat karena bukan saja kemudahan akses informasi yang didapat . e-mail (surat menyurat melalui internet). Mereka memanfaatkan kampung digital dan mengakses kampung digital yang telah disediakan Telkom Divisi I yang dikelola oleh Dinas Pariwisata karena Telkom hanya bertanggung jawab sampai ke saluran saja. namun dirasakan sangat kurang karena fasilitas yang ada hanya satu unit. Adapun jenis kegiatan yang dilakukan melalui kampung digital ini pada umumnya adalah untuk mengakses informasi. misalnya perusahaan komunikasi yang besar tidak lagi dibutuhkan untuk mengirim informasi karena penerbitan – sendiri (do-it-yourself pubblishing) sekarang dimungkinkan lewat internet (Severin. Adapun waktu dimana masyarakat mengakses kampung digital adalah kebanyakan masyarakat memanfaatkannya dengan waktu yang tidak tentu yaitu mengingat perangkat kampung digital yang tersedia hanya 1 (satu) unit jadi mereka harus antri menunggu waktu luang. mengakses informasi hiburan. Sedangkan keberadaan kampung digital juga banyak dimanfaatkan masyarakat dalam memecahkan persoalan kehidupan sosial. yang mana pada umumnya responden sangat berminat terhadap teknologi informasi internet lewat kampung digital ini.2007:61 ).browsing (mencari informasi melalui website). Mengakses teknologi informasi internet lewat kampung digital sudah menjadi kebiasaan rutin sebagian masyarakat Tuk –Tuk Kabupaten Samosir. begitu juga dengan anak – anak sekolah mereka akan memperaktekkan pelajaran sekolah dikampung digital sepulang sekolah. Dalam pencarian informasi yang sering diakses adalah mengenai infomasi pariwisata dan bisnis/dunia usaha yang berhubungan dengan pariwisata sesuai daerah mereka yang memang kampungnya wisatawan .Adapun yang menjadi faktor pendorong dalam pemanfaatan kampung digital bagi masyarakat Tuk – Tuk siadong Kabupaten Samosir ini adalah rasa ingin tahu.pendidikan. Teori informasi membentuk dasar untuk komputer elektronik modern dan pengiriman informasi dalam cyberspace.

Motifasi masyarakat menggunakan kampung digital dipicu rasa ingin tahu karena sering kali si wisatawan bercerita tentang internet.Selain rasa ingin tahu. baik it dari segi pengelolaan fisik maupun dari segi administrasinya. Melalui kampung digital masyarakat dapat melakukan transaksi elektronik yang mencakup semua aspek sesuai dengan culture kampung tersebut baik dunia usaha sampai kepada pemilihan gubsu. Jika saja di tempat lain juga ini dapat diterapkan maka Sumatera pulau digital akan segera terwujud. karena kehadiran kampung digital masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat Tuk-Tuk sebagai pembelajaran dan penyeimbang Rental internet atau servis informasi yang ada disana. kemudahan untuk berkomunikasi. Dinas Pariwisata dan seni Budaya sebagai pihak pengelola.sebagai media komunikasi seperti chatting dan surat menyurat melalui internet atau disebut juga e-mail.Tuk kabupaten Samosir Sumatera utara yang telah dilakukan dirangkum dalam kesimpulan sebagai berikut : 1. Kehadiran kampung digital memancing untuk speedy loading. 2. kemudahan akses informasi. Saran 5. bukti bahwa mereka siap menerima kehadiran teknologi informasi di kehidupan sehari – hari mereka. E-mail harus dicek setiap saat untuk mengetahui apa maunya si turis yang sering kali mengabarkan akan kedatangannya dan memesan segala fasilitas juga lewat e-mail atau lewat chatting. Juga dimanfaatkan untuk mengakses informasi . dalam bidang informasi dapat meningkatkan kualitas pikiran manusia di era globalisasi sekarang ini. Memperluas jangkauan akses kampung digital dan menambah kehadiran kampung digital di berbagai daerah terutama daerah terpencil supaya masyarakat bisa merasakan manfaat dari kampung digital sehingga tidak ada lagi masyarakat yang ketinggalan informasi.Namun dari pegamatan penulis terlihat bahwa pemanfaatan Kampung Digital tersebut tidak terorganisir secara baik. Namun karena pengguna kampung digital ini banyak supir baru (pengguna pemula) sehingga tingkat kerusakan tinggi. 6. Khusus e-mail dan chatting misalnya banyak dilakukan dengan turis asing. membantu pekerjaan. kelengkapan fasilitas yang ada dan mengikuti perkembangan jaman menjadi motifasi masyarakat menggunakan kampung digital ini. .. Kehadiran kampung digital dirasakan masyarakat sangat bermanfaat karena dapat meningkatkan usaha dan perekonomian masyarakat. sehingga begitu mudahnya mengakses internet di Tuk-Tuk dan begitu mudah menemukan orang yang familiar dengan internet. Kesimpulan Beberapa poin penting yang dapat diambil dari hasil penelitian tentang pemanfaatan kampung digital oleh masyarakat Tuk . dan awalnya juga kampung digital Tuk –Tuk banyak digunakan oleh wisatawan lalu diikuti oleh guide yang penasaran akan kampung digital. sehingga banyak peralatan yang kini sudah tidak dapat digunakan lagi. Dengan kata lain banyak yang bisa internet atau hanya sekedar cek E-mail dan chatting di Tuk-Tuk tapi dia tidak bisa menggunakan komputer. Kampung digital yang semula diperuntukkan untuk pebelajaran masyarakat ini beberapa bulan terakhir rusak dan tidak bisa dimanfaatkan lagi karena sampai sekarang belum ada perbaikannya. Evaluasi dan koordinasi dengan tim webmaster (pengelola web) dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Pemkab Samosir untuk selalu berupaya agar situs ini tetap eksis dan bermanfaat bagi lingkungan kawasan wisata digital dan masyarakat batak yang ada dipulau Samosir dan tidak menutupi kemungkinan bagi masyarakat lain yang menginginkan melihat via internet tentang info ataupun pengembangan objek wisata dilokasi ini. 3.

2007. 2004. Denis. Teori Komunikasi Sejarah . Gadjah Mada. .Jakarta Nawawi.Jalaluddin. 8. 1983. Kencana Prenada Media Group.Hotel Dharma Deli. Samosir Dalam Angka Tahun 2008. Sosialisasi tentang kampung digital dan pengadaan bimbingan teknis penggunaan internet gratis masih perlu dilakukan di Tuk-Tuk Siadong sebagai kampung digital karena sering kali pengelola kampung digital dan masyarakat kewalahan /tidak bisa menjawab jika turis asing menanyakan situs tertentu tentang Indonesia.php http:// blog. Yogyakarta. Yogyakarta.tuktuksamosir. Warnet Atasi Kesenjanan Digital.2007. Rakhmat.1994. Pemkab Samosir. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan.Medan. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar.. Andi Offset.Kencana Prenada Media Group. Penambahan sarana kampung digital sangat dibutuhkan terutama bagi anak sekolah yang ingin menerapkan / mempraktekan pelajaran yang telah diperoleh disekolah.Media Kominfo.Muhammad. FocusGrup Discussion RPJM 2010-2014 DEPKOMINFO.7.kampungdigital. Metode Penelitian Bidang Sosial. Rachmat.com/senibudaya.hadari. Sumber lain http://www. Jakarta Nuh.Werner dan James Tankard. DAFTAR PUSTAKA Kriyantono. 2006. Sumanto. Erlangga. Jakarta.Andang. Teknik Praktis Riset Komunikasi. dan Terapan di Dalam Media Massa.2008. MeQuail. Metode penelitian Komunikasi. Remaja Rosda Karya.com/ Anshari. Badan Pusat Statistik Kabupaten Samosir. Bandung. Severin.kampungdigital. 1990.

yaitu informasi dengan gambar bergerak (motion picture).PEMILIHAN MEDIA ALTERNATIF DALAM MEMPEROLEH INFORMASI PUBLIK DI DAERAH BLANK SPOT TVRI SUMUT DI KABUPATEN LABUHAN BATU Oleh : Parulian Sitompul * ABSTRAK Penulisan ini menulis tentang masyarakat di Labuhan Batu Kelurahan Bakaran Batu Kec. dan merupakan salah satu media yagn sangat digemari oleh masyarakat. Karena TV dapat menyajikan informasi seperti apa yang terjadi sebenarnya (audio visual). informasi publik. televisi menurut Monaco seperti yang dikutip dalam Siregar. dengan seadanya masyarakat mencari alternatif media lain yangmungkin dapat memenuhi kebutuhan mereka akan informasi publik. Oleh karenanya pemerintah daerah diharapkan dapat mendorong pihak TVRI Sumut agar siaran TVRI Sumut yang ada di Medan dapat menjangkau di daerah Kelurahan Bakaran Bat Kec. Sering dituduh bahwa penetrasi televisi ke lingkungan rumah tangga menjadi nilai pembenaran (intruder) dalam kehidupan keluarga. Artinya siaran TVRI Sumut tidak terjangkau siaran pada masyarakat. Sebaliknya dapat ditunjukkan bahwa di antara media komunikasi. * Penulis adalah Peneliti Madya Bidang Komunikasi Pada BBPPKI Medan . dan TV swasta lainnya. Tentunya keadaan ini sangat memprihatinkan di satu sisi masyarakat ingin tahu tentang daerah mereka melalui TVRI Sumut namun yang diharapkan tidak demikian karena daerah mereka adalah Blank Spot TVRI Sumut. Rantau Selatan yang merupakan Blank Spot TVRI Sumut. Kata Kunci : Pemilihan media. Televisi merupakan medium yang paling akrab bagi keluarga. Padahal TVRI Sumut merupakan salah satu refresentasi media audio visual yang diharapkan dapat menyiarkan informasi publik yang dibutuhkan masyarakat Labuhan Batu. TVRI dan RRI Jakarta) yang sama sekali tidak menyiarkan informasi publik yang diharapkan informasi yang berhubungan dengan daerah mereka. daerah blank spot Latar Belakang Masalah Televisi merupakan salah satu media massa penyampaian pesan kepada masyarakat secara luas. Penelitian diadakan dengan cara survey langsung kepada responden di Kelurahan Bakaran Batu terhadap 60 orang yang memiliki masyarakat sebagai pengguna media. Model ini digunakan hanya untuk memfokuskan permasalahan terhadap penggunaan media untuk memenuhi kebutuhan akan informasi publik. Analisa data yang digunakan bersifat deskriftif dengan maksud dari hasil jawaban responden di media sedemikian rupa hingga memperoleh deskripsi jawban dari permasalahan yang diteliti. Namun karena TVRI Sumut tidak dapat menjangkau siaran dimaksud. Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu. Dari hasil penelitian yang diperoleh dengan ketidak jangkauan TVRI sumut (blank spot) menyiarkan informasi publik maka responden memilih media lain sebagai alternatif untuk memperoleh informasi publik yang diinginkan media tersebut antara lain adalah televis swasta nasional yang ada (RCTI. Trans TV. Sementara pendekatan teori yang digunakan adalah dengan menggunakan model uses and gratifications.

Televisi sebagai suatu sarana komunikasi massa yang memiliki peranan penting dalam menyampaikan pesan. Dengan kata lain. dapat juga disebut sebagai jenis khusus dari komunikasi sosial yang dilembagakan memiliki banyak pengertian seperti Jalaluddin Rakhmat menyebutkan. opini. opini. Pada satu sisi hal itu dapat diterima .bahwa dalam proses komunikasi massa harus memperhatikan tentang keberadaan khalayak yang begitu kompleks dan beragam. Televisi merupakan salah satu bentuk komunikasi massa.“Merupakan perangkat yang dapat dinikmati bersama – sama (sharing). daerah ini sulit menerima siaran-siaran dari TVRI Sumut karena kondisi geografis wilayahnya yang berada di balik atau dikelilingi bukit barisan sehingga pemancar TVRI Sumut kurang mampu bahkan tidak mampu menyebarkan sinyal dan gelombangnya kepada antena televisi ke rumah-rumah penduduk di Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu. Melihat begitu pentingnya kehadiran media massa bagi masyarakat terutama televisi. Didalam kehidupan sosial atau proses sosial secara dinamis didasarkan pada komunikasi. heterogen dan anonim melalui media cetak ataupun elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima seacara serentak dan sesaat. Anggapan yang demikian ini dianut oleh Bullet Theory atau yang sering disebut model hipodermik yang mengasumsikan. Tetapi sebagaimana yang digambarkan oleh Rakhmat . Kekompleksitasan itu dikarenakan oleh suatu sasaran media agar proses komunikasi yang dilakukan dapat efektif. pengorganisasian komunikator terlembaga dan perlunya merancang dan menyususn strategi komunikasi yang dilakukan dalam komunikasi massa. pesanpesan yang disampaikan harus tepat. karena televisi merupakan jenis khusus dari berbagai media yang ada dalam lingkup studi komunikasi massa. bahwa komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar. dan sikap perilaku individu dan masyarakat. tabloid maupun media elektronik seperti radio siaran dan televisi melalui informasi. Ada banyak orang beranggapan bahwa media masa sangat efektif mempengaruhi khalayak.. Diketahui sebahagian penduduk Indonesia berada di daerah pedesaan membutuhkan dalam jumlah besar informasi baru tentang pembangunan disekitar daerahnya. dan materi siaran dengan berbagai metoda pendekatan melakukan aktivitas yang dapat memberi pengetahuan dan pendidikan kepada masyarakat. Propinsi Sumatera Utara.pesan yang disampaikan padanya. Akibatnya. Demikian juga halnya yang terjadi di Kabupaten Labuhan Batu. ( Rahmat. wilayah ini termasuk dalam kategori Blank Spot jangkauan siaran TVRI Sumut. Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan. maka dapat diasumsikan keberadaan siaran televisi di suatu daerah merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Media massa baik yang tercetak seperti majalah. Melalui televisi keadaan suatu daerah akan tampak jelas dan tergambar seolah-olah dalam siaran itu adalah keadaan sebenarnya realitas dari objek yang terjadi. Berbagai penelitian dan pendapat para ahli komunikasi mengatakan bahwa media massa memiliki pengaruh terhadap persepsi.1981. surat kabar. maka dengan keberadaan media televisi yang memiliki berbagai jenis informasi akan dapat lebih mempermudah masyarakat untuk mengembangkan proses sosialnya berdasarkan informasi yang diperolehnya dari televisi. bahwa khalayak bersifat pasif menganalogikan pesan seperti obat yang disuntikkan ketubuh penerima. tetapi keadaan ini hanya dapat berlaku pada masyarakat yang bersifat pasif menerima apa adanya pesan. penduduk di wilayah ini . berbeda dengan media cetak yang penikmatannya bersifat individual”. hal : 177 ) Jika dilihat dari uraian di atas defenisi komunikasi massa tersebut menunjukkan bahwa dalam proses komunikasi massa seperti yang diutarakan di atas begitu kompleks dan perlu perencanaan yang matang. terutama pesan-pesan pembangunan.

Tentunya keadaan ini menjadi masalah dalam memperoleh informasi public dalam lingkup informasi public dari provinsi Sumatera utara. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas. Durasi masyarakat mendapatkan informasi publik setiap hari ? 5. 5. Berdasarkan pemikiran inilah penelitian ini sebaiknya dilakukan untuk mengantisipasi efek negatif kepada masyarakat atas kehadiran media alternatiif yang mungkin tidak konstruktif di wilayah Kabupaten Tobasa.mencari alternatif lain untuk memperoleh informasi publik yang mereka butuhkan dalam kehidupan mereka. Untuk mengetahui lokasi responden biasanya mendapatkan informasi publik setiap hari. Untuk mengetahui bagaimanakah frekwensi responden menggunakan media alternatif untuk mendapatkan informasi publik. Apabila media alternatif tersebut bermuatan positif (berisi pesan-pesan pembangunan yang konstruktif dan hiburan yang mendidik) memang tidak akan menimbulkan persoalan baru. Bagaimanakah frekuensi masyarakat menggunakan media alternatif mendapatkan informasi publik ? 2. 4. Waktu masyarakat mendapatkan informasi publik ? 4. . 2. Untuk mengetahui apakah media dan jenis informasi publik yang digunakan responden. 3. Media dan jenis informasi publik yang dikonsumsi masyarakat Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu 2. Mengetahui kualitas informasi publik yang diterima untuk Pembatasan Masalah Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Apakah media dan jenis informasi publik yang digunakan masyarakat ? 3. Responden penelitian ini adalah masyarakat yang mengonsumsi informasi publik Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1. maka peneliti dapat merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut : “Bagaimanakah pemilihan media alternatif dalam memperoleh informasi publik di daerah Blank Spot TVRI Sumut di Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu” Adapun permasalahan khusus dalam penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui durasi responden mendapatkan informasi publik setiap hari. maka permasalahannya adalah media alternatif apakah yang digunakan oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi publik yang mereka butuhkan tersebut. namun jika media alternatif yang digunakan bermuatan negatif (berisi informasi dan hiburan yang tidak mendidik) maka masalah akan muncul yaitu terjadinya efek yang destruktif dari kehadiran media alternatif tersebut yang dapat menimbulkan pola pikir masyarakat negatif yaitu diantaranya adalah hilangnya rasa nasionalisme dan tidak termotivasi untuk membangun daerahnya. Untuk mengetahui waktu responden mendapatkan informasi publik. Daerah penelitian ini adalah di Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu 3.

lebih nyata. Televisi merekam atau memotret kejadian secara hidup dan langsung menyiarkan kepada penonton. Komunikasi massa menyiarkan informasi. lebih hidup dan mencekam. Alat-alat audio visual (televisi) juga membuat suatu pengertian atau informasi menjadi lebih berarti. sangat cepat (actual) terlebih lagi dalam siaran langsung (live broadcasting) dan menjangkau ruang yang sangat luas (Wahyudi. (Katz dan Blumler. Menurut mereka berdasarkan pemikiran ini bahwa seseorang akan mencari sumber informasi (media) lain untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkannya. seperti suratkabar. Televisi Sebagai Media Komunikasi Massa Sebagai media massa. maka dalam kerangka teoritis akan diuraikan mengenai komunikasi massa. Meskipun demikian keserentakan lebih terasa. gagasan dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak menggunakan media. televisi memang memiliki kelebihan dalam penyampaian pesan dibandingkan dengan media massa lain. Kita lebih mudah dan lebih cepat belajar dengan melihat alat-alat sensori seperti gambar atau model (Sulaiman. Apalagi didaerah pedesaan kebutuhan . Salah satu contoh media massa ialah televisi. Adapun sebagai kerangka teoritis dalam penelitian ini adalah menggunakan kerangka pemikiran dengan pendekatan teori Uses and Gratifications.1981:1). Informasi Publik. Pesan-pesan melalui televisi disampaikan melalui gambar dan suara bersama (sinkron) dan hidup. Mungkin saja masih ada jarak waktu. 1974). Penelitian ini membahas tentang “Bagaimanakah Pemilihan Media Alternatif dalam Memperoleh Informasi Publik di Daerah Blank Spot TVRI Sumut di Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu”. Televisi adalah salah satu media massa. Seperti yang dikemukakan Melezke (1963) yang dikutip oleh Rakhmat. Televisi dapat merangsang orang untuk bertahan lama dihadapannya hanya karena untuk menyaksikan siaran audiovisual yang ditayangkan secara hidup seperti kejadian yang sebenarnya. Karenanya dengan pendekatan teori ini bagi masyarakat di Kelurahan Bakaran Batu Selatan Kabupaten Labuhan Batu yang menjadi lokasi penelitian ini dan juga sebagai blank spot TVRI Sumut tentunya akan mencari media alternative lain selain TVRI Sumut untuk memperoleh informasi public yang dibutuhkan. Dengan teknologi yang dimilikinya maka wajar televisi mendapat posisi yang berarti bagi pemirsanya. misalnya jika tidak siaran langsung . Hal yang sama diungkapkan oleh Yacob Utomo mengemukakan bahwa televisi merekam kejadian dengan gambar dan suara serentak. Teori uses and gratification menungkapkan bahwa penggunaan media memiliki pilihan alternative lain untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka. 1986:3). Dari uraian di atas menunjukkan bahwa televisi itu mempunyai kemampuan yang lebih dibandingkan dengan media massa lainnnya. 1981 mengartikan komunikasi massa sebagai setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar. maka keberadaan media tersebut memiliki peran penting dalam menyebarluaskan informasi public. mentah seperti apa adanya. Televisi merupakan media massa pandang dengar dan membuat informasi yang disampaikan lebih menarik dan menyenangkan pemirsa dibandingkan dengan komunikasi lainnya seperti media cetak. Dengan demikian dengan keberadaan TV sebagai media informasi yang banyak digemari oleh masyarakat.Uraian Teoretis.

. legislatif. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah dilakukan di Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu. karena penelitian ini adalah penelitian survey dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang telah ditentukan. Seiring dengan perwujudan pemerintahan yang transparan dan terbuka terhadap partisipasi aktif masyarakat menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi perlunya informasi publik itu hadir ditengah-tengah masyarakat. Karenanya maka yang menjadi rujukan ilmiah tentang pengertian informasi publik menurut Sudibyo peneliti ISAI Jakarta (2009) menyebutkan bahwa informasi public itu adalah “Segala informasi yang berkaitan dengan hajat hidup publik (masyarakat) yang berada dibawah pengelolaan badan-badan publik. berjumlah 600 orang (survey awal 2009 pengguna media. Sementara sampel dalam penelitian ini adalah pengguna media di daerah tersebut. Dijelaskan lagi badan-badan publik itu bisa pada level eksekutif. TV dan media lainnya memiliki kedudukan penting dalam penyebaran informasi publik pada masyarakat. Jelas ditegaskan diatas bahwa begitu pentingnya informasi public itu bagi masyarakat. Populasi dan Sampel Adapun populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu. yudikatif. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 60 orang ditarik secara sampel random sederhana dengan menggunakan rumus pengambilan sampel menurut Suharsimi Arikunto dalam buku Prosedur Penelitian (1998) menyebutkan jika jumlah populasi lebih dari 100 maka dapat diambil sampel antara 10 sampai 15% dan antara 20 sampai 25% dari jumlah populasi. Adapun jumlah sample penelitian ini adalah 10% dari jumlah populasi. BUMN. Metode Penelitian Adapun metode penelitian adalah penelitian survey dengan bersifat deskriptif. Masyarakat harus diberi akses seluas-luasnya untuk mengetahui produk kebijakan dan kinerja badan-badan pemerintah beserta pejabatnya. Tentunya ketersediaan informasi public itu pada masyarakat menjadi keharusan apalagi melalui media TV. Dari data tersebut dianalisa secara sederhana sebagaimana lazimnya dalam metode deskriptif. Metode ini bertujuan untuk menggambarkan apa adanya dari data lapangan yang dihimpun.masyarakat akan informasi publik menjadi begitu penting. Data yang diperoleh dari lapangan ditabulasi secara tabel tunggal dan digambarkan sedemikian rupa tanpa melakukan analisa secara mendalam seperti tabulasi silang. badan-badan hukum Negara juga organisasi non pemerintah atau swasta yang menggunakan anggaran pemerintah atau yang mempunyai perjanjian kerja dengan pemerintah untuk fungsi pelayanan publik. Metode Analisa Data Analisa data dilakukan secara deskriptif. BUMD. Propinsi Sumatera Utara. sebab informasi public menyangkut hajat hidup orang banyak.

informasi dan hiburan bagi meraka.3 juta per bulan sebesar 30 %. Jenis Kelamin Laki-laki lebih dominan daripada perempuan yaitu laki – laki berjumlah 44 orang ( 73. yang termasuk ke dalam kategori Sering mencapai 50 %. Berdasarkan fakta ini terlihat bahwa responden sangat tergantung kepada media Televisi. sehingga mereka meskipun tidak memperoleh siaran dari TVRI SUMUT. sedangkan yang berusia 22 sampai 26 tahun berjumlah (10 %) dan yang berusia antara 17 – 21 tahun (13 % ). Selain itu. Berdasarkan data ini terlihat masih cukup banyak responden yang hidup pra sejahtera. 200 ribu sampai dengan Rp. kemudian disusul dengan responden yang berusia 27 sampai 31 tahun dan 37 – 41 tahun (25 %).33 %).33 %) dan perempuan berjumlah 16 orang ( 26. akses dan minat terhadap tingkat pendidikan yang lebih tinggi biasanya sangat rendah.67 %). 700 ribu. keadaan ini berimbang dengan masyarakat dengan tingkat penghasilan antara Rp. Selanjutnya disusul pekerjaan sebagai Buruh Tani yaitu sejumlah 6 orang (10 %).67 %). Penarik Beca.9 Juta yaitu 20 % .67 %). Kondisi ini dinilai cukup baik. kemudian disusul responden tamat SMP berjumlah 20 orang (33 % ).Hasil Penelitian Dan Pembahasan • Karakteristik Responden Usia Mayoritas usia responden adalah di atas 42 tahun ( 30 %). Frekuensi Penggunaan Media Massa Frekuensi responden menggunakan media massa adalah Televisi. TNI.4 Juta sampai 1. Dari data ini terlihat. keberadaan responden yang berada di desa ternyata tidak berkorelasi dengan minat yang rendah meraih pendidikan tinggi.1. Kernet dan lain sebagainya. disusul kemudian antara 1. Selanjutnya termasuk kategori lain-lain sejumlah 10 orang (16. sementara media massa yang lain . penonton televisi ternyata didominasi oleh laki-laki . 800 ribu sampai Rp. kemudian disusul dengan Pegawai Negeri Sipil sebanyak 20 orang (33. Penggunaan Beberapa Media Massa • Televisi Penggunaan Televisi Mayotitas responden menggunakan media Televisi sebagai media untuk menambah pengetahuan. mereka akan mengambil siaran dari stasiun Televisi dan media lainnya. kemudian disusul penggunaan Radio lalu Surat Kabar dan yang paling sedikit adalah majalah. Pekerjaan Jenis pekerjaan responden mayoritas adalah wiraswasta / berdagang yaitu sekitar 24 orang (40 %). penonton televisi di daerah tersebut sangat bervariasi yaitu dari remaja hingga dewasa. Dari data ini terlihat. Berdasarkan realitas ini membuktikan ketergantungan responden terhadap kehadiran media Televisi sangat tinggi. ini diantaranya adalah berdagang. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan responden yang tamat SMA menjadi mayoritas yaitu 28 orang (46. Tingkat Penghasilan Tingkat penghasilan responden mayoritas berada antara Rp. sebab berdasarkan lokasi domisili responden yang berada di desa.

Pemahaman Siaran Radio Pendengar memiliki pemahaman yang sangat tinggi pada siaran berita di radio dengan frekuensi sebesar 47%. Indosiar dan RCTI). Hal ini membuktikan responden masih memiliki rasa nasionalisme yang tinggi untuk tetap setia kepada siaran Televisi Swasta Nasional. sedangkan siaran Informasi ditemukan sebesar 30%. sedangkan Topik Ekonomi. sedangkan acara Talkshow diminati sebesar 30% yang tertarik. Frekuensi Menonton Televisi Frekuensi Menonton Televisi mayoritas ditonton lebih dari 4 kali dalam sepekan dan termasuk dalam kategori sering. Hal ini membuktikan bahwa responden memiliki ketergantungan untuk menonton Televisi setiap harinya. Namun demikian.hanya menjadi pilihan berikutnya. Dari fakta ini terlihat bahwa responden mendengarkan radio mayoritas ingin memperoleh informasi saja. Siaran Televisi Swasta yang ditonton adalah Siaran Televisi Swasta Nasional (TRANS TV. dilanjutkan dengan jenis acara hiburan 23 %. Artinya. Topik Siaran Radio Topik Informasi Musik yang sangat sering didengar responden sebesar 50%. • Surat Kabar Topik yang Dibaca dalam Surat Kabar . rsponden yang jarang menonton Televisi juga banyak yaitu mencapai 23 % yang menonton televisi hanya satu kali dalam sepekan. Talkshow dan Forum Dialog yang sangat sering didengar oleh responden 20%. disini terlihat bahwa responden memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap siaran televise. Hukum dan Olah Raga menjadi topik yang sering didengar responden yaitu sebesar 20%. Daya Tarik Siaran Radio Responden sangat tertarik pada jenis acara Berita sebesar 47%. Dengan demikian . Sedangkan siaran Politik menjadi frekuensi yang sering didengarkan pendengar 40%. terlihat bahwa meskipun responden dapat mengambil siaran-siaran Televisi dari Negara lain tetapi tetap memiliki kesetiaan kepada siaran Televisi Swasta Nasional. • Radio Frekuensi Mendengarkan Radio Materi siaran informasi. dilanjutkan dengan siaran hiburan sebesar 23%. Durasi Menonton Televisi Durasi responden menonton Televisi mayoritas berkisar antara dua jam sampai dua setengah jam yaitu sebesar 43%. Rendahnya budaya membaca juga terlihat dari rendahnya pemilihan media cetak seperti surat kabar dan majalah Terpaan Media Televisi Ternyata masyarakat yang tidak menonton TVRI ternyata menonton siaran televisi swasta yang lain. Hal ini jika dihubungkan dengan Gambaran 09 di bawah ini saling mendukung yaitu responden menonton Televisi mayoritas lebih dari 4 kali sepekan yaitu sebesar 26%. Hal ini dimungkinkan karena kesibukan dalam bekerja.

Ekonomi dan Sosial Budaya. 7. sehingga mereka meskipun tidak memperoleh siaran dari TVRI Sumut. Berdasarkan realitas ini membuktikan ketergantungan responden terhadap kehadiran media Televisi sangat tinggi. . Berdasarkan fakta ini terlihat bahwa responden sangat menyukai Berita Politik. Kategori Hiburan juga menempati urutan yang termasuk dalam kategori Sering yaitu sebesar 23% yang termasuk kategori Sering. RCTI). Kesimpulan 1. Durasi responden menonton Televisi mayoritas berkisar antara dua jam sampai dua setengah jam. Pemerintah daerah perlu meningkatkan kualitas penerbitan media komunitas yang langsung dapat menyentuh kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Indosiar dan RCTI). Kemudian disusul dengan acara Hiburan (20 %). Sedangkan topik Politik sering dibaca oleh pembaca sebesar 53%. 10. Agama.Rubrik hiburan sangat sering dibaca oleh pembaca sebesar 27%. Namun demikian. 5. diikuti dengan Berita yaitu sebesar 30%. Masyarakat yang tidak menonton TVRI Sumut ternyata menonton siaran televisi swasta yang lain. Kemudian motif lainnya yang mendorong masyarakat untuk menonton televisi adalah untuk memperoleh informasi. 2. ini terlihat dari frekuensi yaitu sebesar 46%. Indosiar. Keberadaan siaran Televisi yang bermuatan lokal atau regional dengan sentuhan budaya lokal perlu ditingkatkan agar masyarakat di daerah merasa memiliki media yang dapat menyalurkan aspirasinya. Hukum. Materi acara paling sering yang ditonton oleh responden adalah berita Politik. animo masyarakat untuk menggunakan televisi sebagai media informasi cukup signifikan. TV Swasta Nasional (TRANS TV. 2. 8. Hal ini membuktikan bahwa responden memiliki ketergantungan untuk menonton Televisi setiap harinya 6. mereka akan mengambil siaran dari stasiun Televisi yang lain dan juga media massa lain seperti radio dan surat kabar. Walaupun responden tidak mendapatkan siaran TVRI Sumut (Blank Spot) namun responden memilih media lain sebagai media informasi seperti TVRI Jakarta. Dengan demikian. 3. Mayoritas responden menggunakan media massa Televisi sebagai media untuk menambah pengetahuan. 4. Siaran informasi publik dari Televisi memberikan manfaat bahkan sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan mereka namun ada juga menganggap hal itu sebagai informasi saja 9. Kualitas siaran informasi publik yang diterima mayoritas menjawab Sangat Baik terutama dalam bidang Politik. Acara Televisi yang paling banyak ditonton oleh masyarakat adalah siaran berita yaitu sebanyak 60 %. Saran-Saran 1. Kualitas Gambar Siaran informasi Publik dari televise mayoritas dinilai Sangat Baik oleh responden . informasi dan hiburan bagi meraka. Frekuensi responden menggunakan media massa untuk mendapatkan informasi publik dari Televisi berupa siaran berita yang ditayangkan cukup tinggi. Mayoritas responden menonton Televisi di rumah mereka sendiri bersama keluarga dengan frekuensi Sangat Sering. Siaran Televisi Swasta yang ditonton adalah Siaran Televisi Swasta Nasional (TRANS TV. ada juga responden yang menonton televisi di rumah tetangga mereka. 11. disusul dengan topik pendidikan sebesar 20%. Media tradisional seperti PETRA ternyata tidak menjadi pilihan mayoritas masyarakat untuk mendapatkan informasi publik yang diinginkan oleh mereka.

Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan. 200 3. Severin Werner J. Jakarta. DeFleur. 1990. 1988.Rancer. Denis. 1993. Theories of Mass Communication. 1986. Yogyakarta. Teori-Teori Komunikasi. S. Ltd. Columbus. Charles R. Kogakhusa. Penyunting : Jalaluddin Rakhmat. 1982. --------------------. Infante A Dominac. Mass Communication Theories and Research. Grid Publishing Inc.Hill International Book Company. Sejarah.Womack. Metode Penelitian Komunikasi. Uni Primas. 1985. Pemerintah daerah diharapkan dapat mendukung peran dari media tradisional sebagai media alternative dalam memperoleh informasi pada masyarakat Kelurahan Bakaran Batu Selatan selain media modern seperti televisi. Jakarta. Bandung. Gajah Mada University Press. Kalaupun masyarakat menonton TVRI hanya diperoleh dari TVRI Pusat Jakarta. Jr. Eduard dan Collin Mac Andrew. Jakarta. Richard S and Ballachey Egerton. Building Communication Theory. Soedjono. Tankard. Teori Komunikasi . Pengantar Studi Penelitian Terhadap Pembaca. Model . 1989. A Texbook of Social Psychology. Prosedur Penelitian. David. Bandung. S. Kerlinger. Foundation of Behaviour Research. Fred N. Pendit. Prenada Media.dan Pemirsa. 1987. Teori Komunikasi Massa. 1980. Metode Penelitian Survai. Singarimbun. 4. Jakarta ---------------. Alih Bahasa : Agus Dharma dan Aminuddin Ram. Sari. Alexis. Aubrey B. Endang. Alih Bahasa : Putu Laxmant S. James W. Diterjemahkan Trimo. 1982. Remaja Rosdakarya. dan surat kabar dan apalagi TVRI Sumut sama sekali tidak dapat dijangkau siarannya oleh masyarakat. Jakarta. Remaja RosdaKarya. International Student Edition. Deanna F. Pemerintah daerah perlu memfasilitasi media massa yang berorientasi kepada kepentingan local agar isi media tersebut dapat member stimulasi kepada masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan di daerah. 1985. dan Sofian Effendy (ed). Suatu Pendekatan Praktik. Bandung. Audience Research. LP3ES. Masri.Model Komunikasi. Erlangga. Rakhmat. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat. Tokyo: McGraw. Bandung. Sosialisasi perlu ditingkatkan untuk member penyadaran kepada masyarakat tentang arti pentingnya upaya-upaya untuk menerbitkan atau menyelenggarakan berdirinya media-media komunitas yang berbasis kepada muatan lokal. Daftar Bacaan Arikunto. 2005. Ohio. 5. Remaja RosdaKarya.3. Second Edition. Suharsimi. radio. Bina Aksara. Melvin and Ball-Rokeach. New York University. Krech. 1962. Individual In Society. New York & London. 1991. Psikologi Komunikasi. New York. Pendengar. Jalaluddin. Andrew. Metode dan Terapan di Dalam Media Massa. Sosiologi Komunikasi Massa. Tan. Depari. Waveland Press. . Remaja RosdaKarya. Illinois. McQuail. Wright. Fisher. Crutchfield. Remaja Rosdakarya. 1993. Bandung.

bersamaan dengan peresmian penyiaran Televisi Republik Indonesia (TVRI) oleh Presiden Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1962. kini media layar kaca tersebut sudah menjadi kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. monopli dunia layar kaca di Indonesia tidak hanya milik TVRI saja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yaitu meneliti bagaimnana pengarus Siaran Liputan 6 SCTV terhadap Opini Masyarakat di Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. Seiring dengan gelombang perubahan yang terjadi di Indonesia membawa nuansa lain bagi pertelevisian di Indonesia.PENGARUH SIARAN LIPUTAN 6 SCTV TERHADAP OPINI MASYARAKAT DI KECAMATAN PADANG HILIR KOTA TEBING TINGGI OLEH : Drs. Dimana dunia pertelevian terkena terpaan arus perubahan dalam penyampaian informasi. Hamdan Hamidin* ABSTRAKSI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan melihat bagaimana Pengaruh Siaran Liputan 6 SCTV Terhadap Opini Masyarakat di Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. Penetapan menggunakan sampel strata proporsional. media massa mempunyai peran yang sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan di negaranya. khususnya televisi swasta. Media massa televisi pun pada akhirnya melahirkan istilah baru dalam peradaban manusia yang lebih dikenal dengan budaya massa. Salah satunya adalah sektor teknologi informasi yang semakin canggih terutama dibidang pertelevisian. PENDAHULUAN A. Sejak bermunculan televisi swasta. Televisi muncul di Indonesia pada tahun 1962 bertepatan dengan penyelenggaraan Asian Games yang ke-4 di Jakarta. dan juga siaran Liputan 6 SCTV berpengaruh terhadap Opini Masyarakat Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. dan termasuk Indonesia juga menghadapi keadaan yang sama. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dan sedang berusaha mensejajarkan diri dengan negara-negara yang lebih maju. Kata Kunci : Pengaruh Siaran liputan 6 SCTV Terhdap Opini Masyarakat. Peristiwa disatu tempat dapat dilihat di tempat lain dengan pola teknologi yang baru yaitu “Direct Broadcasting (DBS). Sebelum terjadi * Penulis adalah Peneliti Muda Bidang Komunikasi Pada BBPPKI Medan . Dengan kata lain informasi sudah merupakan kehidupan bagi manusia untuk aktualitas diri. Adapun jumlah responden dalam penelitian ini berjumlah 100 orang dengan menggunakan rumus Taro Yamane. Media televisi di Indonesia bukan lagi dilihat sebagai barang mewah seperti pertama kali muncul. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan dan penyebaran angket dan menghimpun data dari buku-buku serta sumber bacaan yang relevan dengan masalah penelitian. Setelah itu acara-acara yang dihadirkan di televisi semakin banyak dan variatif. Di negaranegara dunia ketiga. Manusia cenderung menjadi konsumen budaya televisi yang menghasilkan suara dan gambar. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh siaran liputan 6 SCTV terhadap Opini Masyarakat di Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi cukup memuaskan.

Hal yang menarik untuk ditelusuri adalah bahwa liputan 6 SCTV sebagai penayang berita atau informasi. E. frekwensi penayangan tiga kali sehari sehingga berita-berita yang ditayangkan benar-benar aktual.gelombang perubahan yang terjadi di Indonesia yang dikenal dengan istilah reformasi berbagai informasi yang disajikan terkesan kaku dan terfokus hanya apa yang dianggap baik oleh penguasa saja. Pembatasan Masalah Berdasarkan masalah yang akan dibahas. bukan siaran mingguan dan situs liputan 6 SCTV. Adapun tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui Pengaruh Siaran Liputan 6 SCTV Terhadap Opini Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. Maka penulis membatasi sebagai berikut : Siaran Liputan 6 SCTV yang ditayangkan setiap hari. dan menarik adalah stasiun televisi SCTV (Surya Citra Televisi). sore. terutama sebagai media untuk mendapatkan informasi yang aktual serta dalam membentuk opini atau sikap masyarakat umumnya pada khususnya terhadap permasalahan yang sedang berlangsung. D. Stasiun televisi SCTV mengemas berbagai berita aktual. pembentukan persepsi dan opini atau sikap bagi masyarakat. Perumusan Masalah Yang menjadi permasalah dalam penelitian ini adalah : “Sejauh Mana Pengaruh Siaran Langsung 6 SCTV Terhadap Opinin Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi “ C. Tujuan Penelitian Menurut Arikunto tujuan penelitian adalah perumusan kalimat yang menunjukkan adanya sesuatu yang hendak dicapai setelah penelitian selesai (Arikunto : 1993 : 49). Selain isi berita yang aktual. penting. peran atau pengaruh media dalam membentuk opini terhadap suatu permasalahan yang di informasikan itu ada dalam diri masyarakat meskipun pengaruh itu kecil. Salah satu stasiun televisi di Indonesi yang mempunyai program acara penyampaian berita yang aktual. Bertolak dari uraian dan pemikiran tersebut maka penulis menetapkan judul penelitian “Pengaruh Siaran Liputan 6 SCTV Terhadap Opini Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi”. siang. yang berani menayangkan berita tajam dari tayangan-tayangan lain yang sejenis. Begitu juga siaran liputan 6 SCTV sedikit banyaknya membawa dampak tertentu bagi masyarakat khususnya mahasiswa. seberapa jauh siaran atau tayangan liputan 6 SCTV mampu hadir dihati pemirsa. maka permasalahan perlu dibatasi. Hal ini mengingat pendapat Nawawi (1991 : 36) dalam bukunya metode penelitian bidang sosial menyebutkan bahwa : “Masalah tidak boleh terlalu luas tapi juga tidak boleh terlalu sempit”. B. petang dan tengah malam. Isi berita yang ditayangkan dalam liputan 6 SCTV dapat menambah wawasan pemikiran. Disadari atau tidak. Masyarakat yang pernah menonton Siaran Liputan 6 SCTV di Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. Manfaat Penelitian . tajam dan terpercaya tentang berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia maupun di luar negeri (manca negara) dikemas dalam satu siaran yang berlabel “liputan 6 SCTV”. Liputan 6 SCTV disuguhkan kepada masyarakat lima kali dalam sehari yaitu pagi. tajam serta terpercaya liputan 6 SCTV juga mempunyai daya tarik lain seperti desain tayangan yang ditata apik. dan agar suatu penelitian tidak longgar dan tidak terjadi kerancuan dalam pembahasannya.

opini. Menurut Effendy (1993. sangat tergantung kepada media massa sebagai pihak yang menyajikan berita. with what effect.Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah : Secara praktis penelitian ini merupakan masukan bagi pemirsa SCTV dalam memilih acara penayangan berita atau informasi. film yang dipertunjukkan di gedung bioskop. in which channel. siaran radio dan televisi yang ditujukan kepada umum. Dan sebagai salah satu bentuk atau proses komunikasi. Kerangka teori ini berfungsi sebagai pendukung untuk menganalisa variabel-variabel yang akan diteliti. 1990 : 10) mendefenisikan komunikasi dengan mencoba menjawab beberapa unsur berikut ini :who. komunikasi (penerima pesan). komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai berikut : menyampaikan informasi (to inform). Maka dapatlah diberikan beberapa pengertian yang berhubungan dengan penelitian yaitu : komunikasi dan komunikasi massa. mempengaruhi (to influence) (Effendi. effek (umpan balik sebagai reaksi komunikan terhadap pesan yang disampaikan). : 67) mendefenisikan berita dengan : berita adalah pelaporan tercepat mengenai fakta atau opini yang mengandung hal yang minat atau penting kedua-duanya bagi sejumlah penduduk yang besar. dan bukan hanya satu atau beberapa individu atau sebagian khusus populasi. Teori Komunikasi dan Komunikasi Massa Sedangkan Harold Laswel (Effendy. mendidik (to educate). Sedangkan menurut Effendy (1993 : 79) komunikasi melalui media massa modern yang meliputi surat kabar yang mempunyai sirkulasi yang luas. 1991 : 41)”. khususnya masyarakat yang menonton Siaran Liputan 6 SCTV di Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. Berita Berita adalah pemberitahuan atau informasi yang disampaikan kepada khalayak melalui media massa. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang akan memuat pokok-pokok pikiran dari sudut mana masalah akan disoroti. says. Komunikasi juga mempunyai anggapan tersirat akan adanya alat-alat khusus untuk menyampaikan informasi agar komunikasi itu dapat mencapai pada saat yang sama semua orang yang mewakili berbagai lapisan masyarakat. Kerangka Teori Setiap penelitian tentunya memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berpikir dalam memecahkan atau menyoroti masalahnya. what. Menurut Freidow (dalam Rakhmat. F. Media massa sebagai saluran komunikasi massa merupakan lembaga. URAIAN TEORITIS . menghibur (to entertaint). 1993 : 188) komunikasi dialamatkan kepada sejumlah populasi dari berbagai kelompok. to whom. Penting tidaknya suatu berita kepada khalayak. yaitu : adanya komunikator (penyampai pesan). penelitian ini diharapkan akan dapat memperkaya khasanah penelitian masyarakat. dimana komunikatornya melembaga. 1993 : 31). “Kerangka berpikir merupakan hasil berpikir rasional yang di tuangkan secara tertulis meliputi aspek-aspek yang terdapat di dalam masalah dan sub masalah (Nawawi. Secara pribadi. pesan. Bertitik tolak dari defenisi ini suatu berita yang disajikan dalam televisi harus merupakan berita-berita yang dianggap menarik perhatian penonton dan merupakan berita yang penting yang akan menyaksikan apakah berita itu menarik atau tidak. Ini berarti bahwa komunikasi dalam prosesnya meliputi lima unsur. yakni suatu institusi atau organisasi. berita. media (sarana penyampai pesan).

Pengertian Komunikasi Massa Menurut Ensiklopedi Pers Indonesia (1991 : 314). 2. pendapat atau perilaku baik langsung secara lisan maupun tidak langsung secara tulisan. Pengertian Komunikasi Komunikasi merupakan bagian yang sangat penting bagi kehidupan manusia sejak dahulu hingga sekarang. what. Defenisi lain yang dipakai untuk memahami pengertian komunikasi yaitu seperti yang dijabarkan oleh Leswell yang menjelaskan didalam komunikasi terdapat unsurunsur komunikasi yaitu :who. maksudnya memiliki makna yang sama. with what effect. says. Menurut Effendy (1992 : 28) pernyataan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang yang dinyatakan kepada orang lainnya dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Sebagai makhluk sosial senantiasa ingin berhubungan dengan manusia yang lainnya. Pernyataan Laswell tersebut jelas tertuang dalam penjelasan Effendy (1990 : 10) yaitu proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. penonton film dan penonton televisi . komunikasi adalah proses penyampaian lambang-lambang yang bermakna bagi kedua belah pihak. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya. Rasa ingin tahu itu memaksa manusia untuk berkomunikasi. pesan. Dari defenisi-defenisi yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan komunikasi merupakan proses penyampaian atau pengoperan lambang-lambang dalam bentuk informasi.1. Yang berarti komunikasi memiliki lima unsur yang terdiri dari komunikator (penyampai pesan). Kemudian menurut De Vito (dalam Effendy. efek (berupa umpan balik sebagai reaksi komunikan terhadap pesan yang disampaikan). Komunikasi Massa A. Komunikasi massa adalah penyebaran pesan dengan menggunakan media massa yang ditujukan kepada massa yang abstrak atau sejumlah orang yang tidak nampak oleh si penyampai pesan. Istilah komunikasi dalam bahasa Inggris disebut “communication” yang berasal dari bahasa latin “communicatio” yang bersumber dari kata “communis” yang artinya sama. in which channel. Banyak pakar menilai bahwa komunikasi adalah kebutuhan yang sangat fundamental bagi seorang dalam hidup bermasyarakat. 1988 : 25) menyatakan komunikasi adalah proses dimana seseorang (komunikator) menyampaikan perangsang (biasanya lambang-lambang dalam bentuk kata-kata) untuk mengubah tingkah laku orang lain. komunikan (penerima pesan). Proses itu kemudian mennimbulkan suatu dampak yang berati efek. media (sarana penyampaian pesan). Menurut Hovland (dalam Arifin. hal itu mengingat bahwa kunci dari komunikai adalah informasi. komunikasi massa didefenisikan sebagai bentuk komunikasi yang menggunakan sarana-sarana teknik yang mampu menyampaikan pesan kepada suatu khalayak yang besar dalam waktu relatif atau bahkan secara langsung. 1990 : 5) komunikasi adalah kegiatan yang dilakukan seseorang atau lebih yakni kegiatan menyampaikan dan menerima pesan untuk memberi tahu apakah mengubah sikap. pendengar radio. Pembaca koran. Sejalan dengan pengertian tersebut Effendi (1992 : 8) mengemukakan. mengenai suatu hal yang dikomunikasikan. Komunikasi pada hakekatnya merupakan pernyataan antara manusia. dimana proses penyamaan makna tersebut menggunakan media sebagai perantaranya. to whom. bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Jadi komunikasi berlangsung apabila orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna.

Istilah television pertama kali dicetuskan tanggal 25 Agustus 1900 di kota Paris.tidak nampak oleh komunikator. dan tampaknya akan terus berkembang pada abad-abad selanjutnya. atau dilalakukan oleh komunikan. juru pantun dan lain-lain. siaran radio dan televisi yang ditujukan kepada umum. maupun gambar diam (still picture). Secara etimologis istilah televisi berasal dari kata tele (bahasa Yunani) yang berarti jauh. dan televisi pada abad ke-20. Selain media massa modern terdapat media massa tradisional seperti teater rakyat. baik dalam bentuk gambar hidup (moving picture). akhirnya terciptalah telegraph. Pada tahun 1802 Dane melakukan percobaan sederhana. Pesan yang disebarkan oleh komunikator. anggota-anggota khalayaknya menyadari bahwa setiap anggota memperoleh materi atau pesan yang sama. dan film yang dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop. Sedangkan menurut Freidsow (dalam Rakhmat. Philipina merupakan negara yang pertama dalam menyelenggarakan siaran . Lazimnya media massa modern menunjukkan seluruh sistem dimana pesan-pesan diproduksi. Kelahiran televisi didunia pada abad ke-19 yang berlanjut pada abad ke-20. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Rakhmat (1988 : 5) komunikasi massa adalah komunikasi umumm bukannya bersifat pribadi. tidak diketahui apakah pesan itu diterima. Teori Media Massa Media massa adalah media yang digunakan dalam menyampaikan pesan dari sumber pada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar. Pesan-pesan bukan hanya ditujukan pada satu orang saja. Diantara negara-negara berkembang yang tergabung dalam Asean. Dengan demikian televisi diartikan dengan melihat jauh diusahakan oleh prinsip gambar. dimengerti. karena televisi lahir setelah pers dan radio. Peralihan dari pemilikan atau bahkan penguasaan terhadap media massa relatif tidak berubah hanya berganti variasi yang mana media massa memperkuat kelas-kelas sosial yang ada dalam suatu masyarakat itu sendiri daripada diakibatkan oleh kehadiran media massa. dan visi (vedere. telepon dan kemudian gelombang-gelombang elegtromagnetik sehingga lahir radio komunikasi. bahasa latin) berarti penglihatan. 1992 : 188) komunikasi massa dibedakan dari jenis komunikasi lainnya dengan suatu kenyataan bahwa komunikasi dialamatkan pada sejumlah populasi dari berbagai kelompok dan bukan hanya satu atau beberapa individu atau sebagian khusus populasi. juru dongeng keliling. dari percobaannya itu ditemukan bahwa pesan dapat dikirim melalui kawat beraliran listrik dalam jarak pendek. Sederhananya perkembangan permulaan media massa sampai kepada modernisasi pada saat sekarang ini. 3. dimana pada saat itu sedang berlangsung pertemuan para ahli di bidang elektronik dari berbagai negara. 4. radio dan televisi. diterima dan ditanggapi. radio siaran. Komunikasi massa atau komunikasi melalui medi massa sifatnya satu arah (one way traffic). film. dipilih. Melalui perkembangan yang panjang. Menurut Wahyudi (1986 : 42) memberi defenisi komunikasi massa yang menggunakan media massa modern yang terbit atau disiarkan secara periodik Defenisi lain seperti yang diuraikan Effendi (1981 : 59) menyatakan bahwa komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa modern. yang meliputi surat kabar yang mempunyai sirkulasi yang luas. televisi saudara muda dari radio hal ini karena dasar televisi adalah radio. Bahkan menurut Effendy. disiarkan. Televisi Televisi merupakan media massa termuda diantara media massa yang lainnya. isinya pun terbuka bagi setiap orang.

seperti soal cinta kasih masalah umum dan lainlain. politik dan lain-lain. Media televisi media yang mengutamakan visual yang cluse up dari individu karena layar televisi relatif kecil e. Media televisi merupakan media terpadu dengan sarana yang lain (silde. pertandingan. Media televisi bukan media yang menyajikan pesan (informasi audio visual) secara rinci. Selain itu juga televisi mampu menyodorkan gambar yang lebih hidup. perang dan lain-lain. telop dapa disajukan melalui media televisi. Media televisi adalah media yang mengutamakan efek gerak. b. seperti konferensi. Artinya media televisi tidak dapat menyajikan isi pesan atau informasi rinci karena isi pesan yang sajikan hanya lewat atau hanya sekejap. f. Sedangkan di Indonesia dimulai pada tanggal 17 Agustus 1962 ketika Asean Games IV. Artinya visual yang ditampilkan mengutamakan yang bergerak (moving effects) c. Pengertian Berita Menurut Hepwood (dalam Assegaff. Sedangkan menurut Junaedhie (1991 : 26) berita adalah pemberitahuan tentang informasi yang diberitahukan kepada khalayak melalui media massa. Dengan kata lain berita adalah realitas yang diberikan. bencana alam. televisi juga memiliki karakteristik psikologis yang khas. seperti situasi ekonomi. efek yang dihasilkan dapat merangsang fantasi pemirsa. yang dapat menarik perhatian khalayak yang sajikan melalui media massa. 6. ketegangan. Artinya menyajikan informasi dalam bentuk audio visual secara sinkron d. mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia. Pengungkapan realitas ini haruslah ditunjang oleh bahan berita yang secara keseluruhan sedapat-dapatnya unsur- . foto. yang berisi tentang : a. Keadaan. Berita A. Media televisi adalah audio visual. 182 : 24) berita adalah suatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta-fakta yang mempunyai arti penting dan baru terjadi. Artinya hanya bisa berfungsi bila ada tenaga listrik b. Hal ini tampak pada pengendalian arus informasi. stimulasi alat indera dan proporsi terutama dalam hal ini adalah pemirsa melalui media pandangan dan pendengan (audio visual). Sebagai salah satu bentuk komunikasi massa. Gagasan pikiran. perasaan. sedangkan dunia baru adalah visual yang kita lihat dilayar televisi. tokoh-tokoh yang ditampilkan menjadi hidup. Dunia nyata adalah obyek yang dapat dilihat dengan mata seperti apa adanya. Hal ini dapat kita lihat dari media televisi itu antara lain : a. Peristiwa atau kejadian. foro. Artinya visual dalam bentuk slide. Pada dasarnya. 5. Itulah sebabnya media televisi disebut tidak menguasai waktu tetapi menguasai ruang. Media televisi adalah media elektronik. umpan balik. pendapat. film. produk informasi audio visual gerak adalah suatu usaha untuk memindahkan obyek/benda kedalam realitas kamera melalui pendekatan sistem lensa atau dengan kata lain usaha mengubah dunia nyata kedalam dunia baru. c. pertumbuhan. telop).televisi yaitu pada tahun 1952. Fungsi Televisi Sebagai Media Elektro Televisi yang merupakan media komunikasi massa produk revolusi elektronik diabad 20.

Penilaian suatu berita secara umum dapat dinilai melalui beberapa unsur. unsur ini juga menyangkut emosi. Berita Dalam Media Massa Antara berita dan media massa satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Dalam perkembangannya. Mengapa. Assegaf (1983 : 25-26) menjelaskan beberapa unsur-unsur berita tersebut : • Berita haruslah termasa (baru) • Berita itu penting (dekat jaraknya. juga bis disebut bernilai berita. Misalnya berita perombakan kabinet. name makes news atau nama membuat berita. Atau berita sejenis yang terjadi di India akan lebih berarti dibandingkan yang terjadi di Bangladesh.unsur lima W + 1H yakni : Apa. When. karena tujuan pemuatan suatu berita adalah agar disaksikan khalayak. Selain pada nilainya. Nilai dan Unsur Berita Nilai berita (New Value) juga mempengaruhi dalam menyiarkannya kepada masyarakat. Manusiawi (Human interest) Pada akhirnya. Why. berita nasional dan berita internasional. Bagi media massa berita merupakan nadi bagi kehidupannya selanjutnya media merupakan alat atau sarana bagi berita. Beritaberita tentang sesuatu yang sedang hangat dibicarakan orang juga bisa digolongkan dalam bagian ini. and How). Sehingga meski musibah itu terjadi di mancanegara jika berita itu menggugah emosi pemirsa. Kedekatan (Proxinity) Berita tentang musibah atau bencana di tanah air misalnya. biasanya bernilai berita tinggi. dapat dilihat seperti diuraiakan Junaedhie (1991 : 177) : • Ketepatan waktu (Timeless) Berita yang aktual semakin cepat disiarkan akan bernilai berita yang tinggi. akan bernilai tinggi karena diminati banyak orang. Kemasyuran (Prominence) Berita-berita yang menyangkut pautkan nama-nama orang termasyur biasanya juga bernilai berita tinggi. Sejauhmana . berita-berita yang menyentuh unsur-unsur kemanusian. penempatan nilai juga tergantung pada cakupan wiayah yang terdiri dari : berita lokal. a. Siapa. Kapan. dan Bagaimana (What. Whom Where. lingkungan yang terkena oleh berita) • Penting karena ternama • Keluarbiasaan berita • Akibat yang mungkin ditimbulkan berita • Ketegangan yang ditimbulkan berita • Pertentangan (conflict) yang terdapat dalam berita • Kemajuan-kemajuan yang diberitakan • Emosi yang ditimbulkan berita b. karena ada berita maka ada media massa. Disini berlaku hukum klasik. Akibat (Consequence) Berita yang diduga berdampak luas. pengunduran diri perdana menteri. niscaya akan bernilai berita tinggi daripada musibah yang terjadi di India. • • • • Apa yang menarik perhatian khalayak haruslah terdapat dalam sebuah berita. Nilai berita sebagai ukuran layak tidaknya suatu berita dipilih dan dipublikasikan. Dimana.

Publik merupakan kelompok yang abstrak dari orang-orang yang menaruh minat pada suatu persoalan atau kepentingan yang sama dimana mereka terlibat dalam suatu pertukaran pikiran melalui komunikasi tidak langsung untuk mencari penjelasan atau kepuasan atas persoalan atau kepentingan mereka itu (Rousydy. Metodologi Penelitian. dan sebagainya. Metode berasal dari bahasa Yunani. 1980 : 29) menyatakan bahwa opini adalah suatu pernyataan mengenai sesuatu yang sifatnya bertentangan. misalnya pembicaraan secara pribadi desas-desus media komunikasi massa. Menurut Childs (1965) hal ini terjadi karena perbedaan interest (titik perhatian) dalam mengkaji opini publik tersebut. Merupakan sintesa atau kesatuan dari banyak pendapat c. Dari opini dan publik timbullah istilah opini publik. misalnya radio. Opini merupakan expressed statement yang biasa diucapkan dengan kata-kata isyarat atau cara lain yang lain mengandung arti dan dapat dipahami maksudnya. televisi. Komunikasi terlebih komunikasi massa dewasa ini sangat berperan penting dalam mempengaruhi khalayak. Metode merupakan cara melakukan sesuatu. yang berbeda-beda satu sama lain. Seperti dikemukakan Effendy (1993 : 45) 7. serta kemanakah arah dan tujuan dari media massa memandang dan menempatkan posisi berita tersebut. Sehingga komunikatif media massa tergantung pada berita yang disajikan. Opini ata pendapat dapat dinyatakan melalui media massa seperti televisi. hal ini tergantung pada kejadian dan kelincahan media massa memandang dan menempatkan posisi berita tersebut.kedudukan berita. Sedangkan menurut Hartono. Mempunyai pendukung dalam jumlah yang besar. Mengenai masalah yang bertentangan c. Para ahli mengemukakan berbagai rumusan atau defenisis tentang opini publik. Sehingga komunikatif tidaknya komunikasi media massa tergantung pada berita yang disajikan. Ia menggambarkan prosedur dalam melakukan sesuatu. Opini Publik Untuk memberikan pengertian opini publik perlu dijelaskan terlebih dahulu hakikat dari opini dan publik. Sedangkan menurut Carl I Hovland opini dimulai sebagai jawaban yang diucapkan dan diberi individu terhadap suatu rangsangan atau situasi yang mengemukakan beberapa pertanyaan yang dipermasalahkan. Methodus berarti cara. Albig (dalam Meinando. 1984 : 19) adalah kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Selalu diketahui dari pernyataan-pernyataan b. Pernyataan b. surat kabar. Opini atau pendapat mempunyai ciri-ciri yaitu : a. Selanjutnya pengertian publik menurut Soekamto (dalam Sunarjo. METODOLOGI PENELITIAN a. 1983 : 314). radio maupun surat kabar dan majalah. Jadi pengertian opini mempunyai dua unsur yaitu : a. serta kemanakah arah dan tujuan dari media massa tersebut juga tercermin dalam berita. Interaksi yang terjadi secara tidak langsung melalui media massa komunikasi massa. oleh karena itu selektifitas dari berita tentu diperhatikan demi tercapainya tujuan utama yaitu kelangsungan hidup media massa tersebut. Metode .

yaitu mengadakan pengamatan langsung ke objek penelitian untuk mengamati secara dekat masalah yang dihadapi • Angket yaitu menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden dengan memilih salah satu jawaban yang telah disediakan dalam daftar pertanyaan. 4. 1989 : 79). 1994 : 57). Penelitian lapangan yang penulis lakukan disini adalah dengan terjun langsung ke tempat penelitian yang dijadikan pembahasan dengan cara : • Pengamatan (oberservasi).bertujuan untuk mengumpulkan informasi. 6. 5. 1995 : 27). Analisis kualitatif menggunakan tabel tunggal. Teknik Pengumpulan Data Dalam melakukan kegiatan penelitian untuk memperoleh data maka penulis menggunakan teknik sebagai berikut : a. Populasi dan Sampel 1. Metode kualitatif bertujuan untuk meneliti sejauh mana pengaruh liputan 6 SCTV terhadap opini dan tingkat pengaruh terhadap masyarkat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. Sampel Sampel merupakan sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti dan dianggap menggambarkan ciri-ciri yang akan diteliti. yaitu aktivitas penelitian dengan cara mengumpulkan data. kelas atau kelompok kemudian dari setiap strata diambil sampel yang sebanding dengan besar setiap strata (Rakhmat. Lokasi Penelitian. mengidentifikasikan masalah serta membuat perbandingan atau evaluasi (Rakhmat. Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi yang jumlahnya 5. informasi dan keterangan melalui buku-buku teoritis yang berhubungan dengan masalah yang diteliti b. Penelitian kepustakaan.066 jiwa. Populasi Populasi adalah wilayah generasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kwalitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditetapkan kesimpulannya (Sugiono. 2. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. sebagaimana dapa kita lihat pada tabel hasil penelitian ini. iii. Sampel adalah sebagian dari populasi yang menjadi sumber data sebenarnya dalam suatu penelitian (Rakhmat. 1995 : 144). 2. Teknik Analisis Data Untuk menganalisis data dilakukan analisis kualitatif. Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi. Lokasi penelitian ditetapkan di Kalurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. yaitu suatu aktivitas penelitian untuk mencari data-data yang lengkap dan akurat yang berkaitan dengan judul yang diteliti. Adapun jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 jiwa. Penelitian lapangan. Teknik Penentuan Responden Teknik penentuan responden yang digunakan yaitu teknik sampling proporsional yaitu dengan melibatkan pembagian populasi kedalam kategori. .

Tabel. Hal ini menunjukkan bahwa yang paling banyak berusia antara 30-37 responden. 3 Kepercayaaan Responden terhadap Liputan 6 SCTV Jawaban F % a. f.00 Sumber Angket No. untuk usia 43 – 49 berjumlah 21 responden atau 21%.49 21 21 49 .30 19 19 30 . 2 Jenis Kelamin Responden Jenis Kelalmin F % a. dimana tabel tersebut sesuai banyaknya pertanyaan yang diberikan. Sangat percaya 67 67 b. Tabel. I Tabel diatas memperlihatkan bahwa usia 17-23 tahun menunjukkan jumlah frekuensi salah satu yang terkecil sebanyak 4 atau 4%. II Tabel lll menunjukkan bahwa responden laki-laki lebih banyak yaitu 71 responden atau 71%. g. F % 17 . jenis kelamin dan semester. kelompok usia 49 – 55 berjumlah 10 responden atau 10% dan yang kelompok usia 55 ketasa sebanyak 4 responden atau 4%.23 4 4 23 .55 10 10 55 keatas 4 4 Jumlah 100 100. Hal ini menunjukkan tingkat perhatian laki-laki besar dibanding perempuan dalam menonton liputan 6 SCTV. Kurang percaya 7 7 .00 Sumber Angket No.PENYAJIAN DATA Berdasarkan hasil data-data yang terkumpul baik melalui observasi dan penyebaran angket. 1 Usia Responden Usia a. Percaya 25 25 c. b. Tabel. untuk kelompok usia 23-30 tahun berjumlah 19 responden atau 19%. c. Sedangkan perempuan berjumlah 29 responden atau 29%. maka penulis mengajukan data-data tersebut dalam bentuk tabel. kelompok usia 30 – 37 berjumlah 22 responden atau 22% untuk usia kelompok 37 – 43 berjumlah 20 responden atau 20%.37 22 22 37 . e. Dalam hal ini angket disebarkan kepada responden yang memenuhi persyaratan akurat dimana angket disusun berdasarakan usia. maka setiap responden diberikan kebebasan untuk mengisi angket (daftar pertanyaan) sesuai dengan pendapat mereka masing-masing tanpa pengaruh atau paksaan dari pihak lain. Laki-laki 71 71 b. Perempuan 29 29 Jumlah 100 100. d.43 20 20 43 . Untuk memudahkan mendapatkan data yang diperlukan. memang dianggap usia seperti itu sangat dianggap masih produktif walaupun lainnyaa juga sangat produltif.

Sangat jelas 54 54 b. 35 responden atau 35% menyatakan jelas. Jelas 35 35 c. Menarik 31 31 c. 6 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Dapat di Percaya Atau Tidak Jawaban F % a. responden yang menyatakan kurang percaya 7% orang. Sesuai 43 43 c. Tabel. yang menyatakan menarik 31 responden atau 31%. V Dari tabel diatas diperoleh data 63 responden atau 632% responden yang menyatakan sangat menarik. VI Berdasarkan tabel diatas diketahui sebanyak 54 responden atau 47. sedangkan menyatakan tidak percaya 1 responden atau 1%. Sangat sesuai 43 43 b. Kurang sesuai 13 13 d. responden yang menyatakan percaya.00 Sumber Angket No. Kurang menarik 5 5 d. Tidak menarik 1 1 Jumlah 100 100. Dari tabel dapat dilihat bahwa berita yang ditayangkan liputan 6 SCTV jelas khususnya bagi masyarakat Tebing Tinggi. 25%. khususnya bagi kalangan masyarakat Tebing Tinggi.00 . 5 Jawaban Responden Tentang Jelas Tidaknya Suatu Berita Yang di Tayangkan Liputan 6 SCTV Jawaban F % a. 4 Jawaban Responden Tentang Menarik Tidaknya Suatu Berita Yang Ditayangkan Liputan 6 SCTV Jawaban F % a. Tidak jelas 1 1 Jumlah 100 100. responden Dari tabek dapat dilihat bahwa liputan 6 SCTV dapat dipercaya.00 Sumber Angket No. sedangkan yang menyatakan tidak jelas 1 responden atau 0. Hal ini berarti bahwa berita yang ditayangkan di liputan 6 SCTV menarik bagi mayaraskat Tebing Tinggi. Tabel .71%. Tidak sesuai 1 1 Jumlah 100 100. yang menyatakan kurang menarik 5 responden atau 5% dan yang menyatakan tidak menarik 1 responden atau 1%. 10 responden atau 10% yang menyatakan kurang jelas. Tabel . Sangat manarik 63 63 b.85% yang mengatkan sangat jelas akan isi berita yang ditayangkan liputan 6 SCTV.00 Dari tabel diatas data 67 responden sangat percaya atau 67%. Tidak percaya Jumlah Sumber Angket No. IV 1 100 1 100. Kurang jelas 10 10 d.d.

Lengkap 49 49 c. 13 responden atau 13% menyatakan kurang sesuai dan yang menyatakan tidak sesuai 1 responden atau 1%. Yakin 44 44 c. Tidak percaya 3 3 Jumlah 100 100. Sehingga dapat dilihat bahwa berita yang disiarkan di liputan 6 SCTV memang berdasarkan dengan kenyataan atau fakta serta tidak mengada-ada dan dapat dipertanggungjawabkan. XI Dari tabel diperoleh data 41 responden atau 41% responden yang menyatakan sangat lengkap. 43 responden atau 43% menyatakan sesuai. VII Dari tabel diatas diperoleh data 43 responden atau 43% responden menyatakan sangat sesuai.00 Sumber Angket No. Ini menunjukkan bahwa Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir merasa yakin akan berita yang ditayangkan di liputan 6 SCTV. Kurang lengkap 9 9 d. yang menyatakan lengkap 49 responden atau 49% menyatakan kurang lengkap 9 responden atau 9% dan yang menyatakan tidak lengkap 1 responden atau 1%. Tidak yakin 3 3 Jumlah 100 100. Kurang yakin 11 11 d. 8 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Apakah Sudah Merasa Yakin Dengan Berita Tersebut Jawaban F % a. Sangat lengkap 41 41 b. Dari tabel dapat dilihat bahwa berita liputan 6 SCTV menurut masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Tebing Tinggi sangat lengkap. Tabel. Percaya 47 47 c. yang menyatakan yakin 44 responden atau 44% kurang yakin sebanyak 11 responden atau 11% dan yang tidak yakin sebanyak 3 responden atau 3%. Kurang percaya 10 10 d. 7 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Apakah Sudah Lengkap Jawaban F % a. XV .00 Sumber Angket No. XII Dari tabel diperoleh data 42 responden atau 42% yang menyatakan sangat yakin. Sangat percaya 43 43 b.Sumber Angket No. Tabel. 9 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Apakah Mempercayai Isi Berita Jawaban F % a. Tidak lengkap 1 1 Jumlah 100 100. Sangat yakin 42 42 b. Tabel.00 Sumber Angket No.

yang menyatakan sangat senang 41 responden atau 41% yang menyatakan senang 12 responden atau 12% dan yang kurang senang. Ini berarti bahwa mahasiswa merasa percaya pada isi berita yang ditayangkan liputan 6 SCTV. Dari tabel dapat dilihat bahwa Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi memahami berita di liputan 6 SCTV.Tabel diatas menunjukkan responden yang menyatakan percaya pada isi berita liputan 6 SCTV sebanyak 43 responden atau 43% yang menyatakan sangat percaya 47 responden atau 47% yang menyatakan kurang percaya 10 responden atau 10% dan yang tidak percaya 3 responden atau 3%. Tabel. Tabel. karena berita yang disajikan kepada khalayak sesuai dengan kenyataan dan fakta yang terjadi di lapangan atau tempat kejadian dimana peristiwa tersebut terjadi.00 Sumber Angket No. Puas 38 38 c. 9 responden atau 9% tidak senang. XVI Dari tabel diperoleh data responden yang menyatakan memahami sebanyak 33 responden atau 33% yang sangat memahami 49 responden atau 49% sedangkan kurang memahami 15 responden atau 15% dan yang tidak memahami 3 responden atau 3%. Tidak memahami 3 3 Jumlah 100 100. Kurang memahami 15 15 d.00 Sumber Angket No. Kurang puas 13 13 d. Senang 41 41 c. Kurang senang 12 12 d. Tidak senang 9 9 Jumlah 100 100. Memahami 49 49 c. 10 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Apakah Sudah Memahami Berita Tersebut Jawaban F % a. 11 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Apakah Menyenangi Berita Liputan 6 Jawaban F % a. Tidak puas 11 11 Jumlah 100 100. XX .00 Sumber Angket No. Hal ini berarti Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Tebing Tinggi sangant menyenangi berita liputan 6 SCTV. Sangat senang 38 38 b. XVIII Hasil tabel menunjukkan bahwa mahasiswa amat senang akan berita yang ditayangkan di liputan 6 SCTV yaitu sebanyak 38 responden atau 38%. Sangat puas 38 38 b. Tabel. 12 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Apakah Puas Dengan Isi Berita Liputan 6 Jawaban F % a. Sangat memahami 33 33 b.

Tidak simpai 2 2 Jumlah 100 100. yang menyatakan kurang puas 13 responden atau 13% dan yang tidak puas 11 responden atau 11%. yang menyatakan puas 38 responden atau 38%.00 Sumber Angket No. Sangat mempengaruhi 29 29 b. yang menyatakan kurang mempengaruhi 16 responden atau 16% dan yang menyatakan tidak mempengaruhi 3 responden atau 3%. hal ini sangat positif bagi masyarakat karena dapat menambah wawasan dan pengetahuan yang lebih luas dibandingkan mahasiswa yang tidak cenderung menonton liputan 6 SCTV. Pembahasan Data Dari hasil penelitian yang dilakukan. Tabel. Hasil tabel menunjukkan bahwa masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir sangat puas terhadap isi berita liputan 6 SCTV. 14 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Apakah Berita Tersebut Dapat Mempengaruhi Jawaban F % a. Mempengaruhi 52 52 c. Simpati 42 42 c. Tidak mempengaruhi 3 3 Jumlah 100 100. Tabel. Dari hasil penelitian masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi menyatakan bahwa pemberitaan di liputan 6 SCTV sangat menarik dan berita-berita yang ditayangkan juga sangat jelas. XXII Hasil tabel memperlihatkan bahwa responden yang menyatakan sanagt mempengaruhi sebanyak 29 responden atau 29% yang menyatakan mempengaruhi 52 responden atau 52%. Ini berarti bahwa masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir merasa simpati terhadap isi beriat liputan 6 SCTV. Bagi masyarakat yang menjadi responden dalam penelitian ini menyatakan bahwa mereka sangat cenderung menyaksikan menonton liputan 6 SCTV. A. menunjukkan bahwa siaran liputan 6 SCTV sangat berpengaruh terhadap opini masayarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. XXI Hasil tabel responden yang menyatakan sangat simpati sebanyak 37 responden atau 37% yang menyatakan simpati 42 responden atau 42%.00 Sumber Angket No.Dari tabel diatas data responden yang menyatakan sangat puas 38 dengan responden atau 38%. Kurang mempengaruhi 16 16 d. 13 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Apakah Merasa Simpati Pada Isi Pesan Yang Disampaikan Jawaban F % a. Sangat simpati 37 37 b. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa berita liputan 6 SCTV mempengaruhi sikap Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. yang menyatakan simpati kurang 19 responden atau 19% dan yang menyatakan tidak simpati 2 responden atau 2%. Kurang simpati 19 19 d. Masyarakat mengatakan .

peneliti 4. responden banyak menonton liputan 6 SCTV adalah masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi sangat berminat untuk menonton liputan 6 SCTV. serta dapat mempertahankan hal-hal yang menjadi ciri khasnya seperti mempertahankan ketajaman dan keberanian dalam penyampaian berita 2. Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti. berdasarkan dari jawaban responden /masyarakat banyak. Diharapkan kepada masyarakat agar selalu menonton berita liputan 6 SCTV supaya menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. dimana peristiwa itu betul terjadi serat tidak mengada-ada dan dapat dipertanggungjawabkan. 4. dan pemebritaan itu masayarakat menyatakan sudah lengkap. sehingga dapat mempengaruhi sikap masyarakat. kita sudah puas dan dapat kita pahami pemberitaan yang disiarkan itu. 2. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh siaran liputan 6 SCTV terhadap opini Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi sangat memuaskan. Tingkat minat menonton Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi terhadap liputan 6 SCTV cukup tinggi. 3. hal ini sangat positif bagi mereka karena dapat menambah wawasan dan pengetahuan yang lebih luas dibandingkan bagi masyarakat yang jarang dan tidak pernah menyaksikan pemebitaan tersebut. . Berita yang disajikan dalam liputan 6 SCTV sebagian besar Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi sangat percaya dan merasa yakin akan isi pesan yang disampaikan liputan 6 SCTV setiap hari 5. Bahwa siaran liputan 6 SCTV sangat berpengaruh dan sangat di percaya terhadap opini Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. Hendaknya masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi tetap menyaksikan acara liputan 6 SCTV karena dapat menambah wawasan serta dapat mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi di tanah air dan di luar negeri 3. mendukung dan sangat setuju dan sesuai acara liputan 6 SCTV dan acara lainnya. Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi menunjukkan bahwa Masyarakat sangat berminat menyaksikan siaran berita liputan 6 SCTV. Dalam menghadapi persaingan bebas yang semakin ketat maka acara liputan 6 SCTV hendaknya terus merevisi beberapa hal yang terasa masih kurang seperti tambahan untuk materi berita. 1. Saran-saran. juga bagi masyarakat yang menjadi responden dalam penelitian ini menyatakan bahwa sangat cendrung menyaksikan pemebritaan Liputan 6 SCTV . Dari hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. seperti mereka setiap hari menontonnya. Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi sangat simpati terhadap siaran pemberitaan Liputan 6 SCTV. apabila mereka tidak menyaksikan pemeberitaan Liputan 6 SCTV mereka merasa kurang dalam hal informasi. PENUTUP Kesimpulan 1.bahwa berita yang disiarkan itu dapat kita lihat berdasarkan kenyataan dan fakta.

. . Onong U. Jurnalistik Masa Kini..1998 Sosiologi Komunikasi Massa Bandung... Mc. 1966.. Jalaluddin.. 1991. Bandung Remaja Rosda Karya.................... 1991 Ensiklopedi Pers Indinesia.... Bandung....Remaja Rasda Karya. Nawawi...1986 Dinamika Komunikasi. ... 1991.... Jakarta Ghalia Indonesia.. Pustaka Utama.. DAFTAR PUSTAKA Assegaff. 1997.. Remaja Rosda Karya.. 1982... Arikuntoro. Bandung . Citra Aditya Bakti. Bandung...... Suharsisi. Dimensi-Dimensi Komunikasi... Bandung. Hadari.. Teori-teori Komunikasi Massa.. ... 1993 Psikologi Komunikasi... Diharapkan penelitian ini dapat dilanjutkan oleh peneliti-peneliti lain dengan pembahasan indikator variabel yang lebih banyak dan lokasi yang lebih luas.... 1988 Strategi Komunikasi. Alumni. Jakarta...5..... 1980 Metode Penelitian Komunikasi Bandung Alumni............... Bandung..1990 Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Memahami Peran Komunokasi Massa Dalam Masyarakat...... Dja’far. .. Bandung... Liliweri..... Junaedhie. ... Metode Penelitian Bidang Sosial........ . Alo. Wawan... Armico..1993 Televisi Siaran Teori dan Praktek. Quail... Dennis 1989.. 1986.... Anwar.. Effendy... Bandung.. H..... Remaja Rosda Bakti.. Prosudur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Jakarta : Rinaka Ciptan Arifin...... Reneca Cipta......... Komunikasi Massa Sebuah AnalisisMedia Televisi Jakarta.... Kuswandi....... Erlangga.. Alumni.. Madar Maju. Rakhmat...... Kurniawan........... Jakarta...

Peran itu terutama dilakukan oleh partai politik maupun individu peserta Pemilu. demikian juga bagi para pemilih tidak kesulitan dalam mencoblos. Metode pemilihan umum dengan hanya mencoblos (dewasa ini berubah menjadi ‘mencontreng’) tanda gambar sebenarnya lebih mempermudah sosialisasi peserta pemilihan umum. Perangkat yang dipakai salah satunya adalah materi kampanye dari peserta Pemilu. identifikasi politik mereka terletak pada partai politik yang diketahui dari tanda gambarnya. ideologi. can be categorized into two namely "prospective voters" and "retrospective voters". The government should understand these conditions by providing information relating to the General Election which can be accessed easily and cheaply.AKSES INFORMASI POLITIK DARI PERSPEKTIF BIROKRAT (Studi Kasus Pada Pegawai Negri Sipil Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) Oleh: Emmy Poentarie ABSTRACT The results showed that voters Provincial Government Daerah Istimewa Yogyakarta civil servants is an active audience who behave rationally. dan kedekatan . Dengan demikian idealnya informasi yang disampaikan dalam kampanye terkait dengan kompetensi. dan tentunya waktu yang digunakan dalam bilik suara akan lebih cepat. Fungsi pemilihan umum seperti demikian nampaknya tidak memberi pembelajaran politik kepada masyarakat. Para pemilih datang ke lokasi-lokasi pemilihan umum untuk ‘mencoblos’ 3 (tiga) tanda gambar peserta pemilihan umum. Pemilihan umum merupakan salah satu bentuk pendidikan politik yang bersifat langsung. the absorption of information. diikuti oleh 38 partai politik peserta pemilihan umum. Kebanyakan dari para pemilih tersebut tidak mengetahui pengalaman politik para wakilnya. technical and human resources are concerned. Problems faced in access to information include the availability of information. facilities. Based on the priorities and the reasons stands on the information required by the Provincial Government of voters civil servants. program dan kebijakan yang ditawarkan peserta Pemilu dapat menjadi bahan evaluasi rakyat untuk menentukan pilihannya secara tepat (Pamungkas. kredibilitas. Instrumen yang dipakai adalah materi (informasi) dari peserta Pemilu. 2009:6). the Legislative Elections 2009) PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pemilihan Umum (Pemilu) Tahun 2009 bagi anggota DPR. Attempts to access the information carried by the media and also uses the non-media (directly face to face). Sejak pemilihan pertama dilaksanakan pada tahun 1955 masyarakat Indonesia hampir tidak pernah mengetahui dengan pasti calon legislatif yang mewakilinya dalam lembaga legislatif. (Keywords: information. Gambar partai apa yang memperoleh suara terbanyak di DPR misalnya adalah representasi partai pemenang dan memperoleh legitimasi. before the political choices needed information Legislative Election 2009. maupun DPRD dilaksanakan pada bulan April 2009. tailored to the level of skills in accessing information voters. yang diharapkan bisa mencerdaskan pemahaman politik dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai demokrasi. DPD. terbuka dan massal.

sehingga dengan mudah para abdi negara di lingkungan ini memiliki kecenderungan memilih Golkar. Sosiolog politik Sunyoto Usman mengakui bahwa aksi partai politik dan calon anggota legislatif ketika menggelar kampanye nyaris tidak berbeda dari pemilihan umum sebelumnya. Pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 melarang keberpihakan PNS terhadap partai politik tertentu. menjadi calon anggota legislatif. sehingga memperoleh pembelajaran politik yang lebih rasional. Menarik untuk diketahui bagaimana para PNS tersebut mengambil keputusan memilih partai politik serta calon wakil rakyat di DPR. Persoalan ini menjadi penting karena bagaimanapun PNS dalam masyarakat tertentu masih dipandang sebagai pemuka masyarakat (opinion leader). Dengan demikian bukan tidak mungkin masyarakat kekurangan kesempatan memperoleh informasi politik yang mendorong pikiran kritis mereka. maka dalam menjalankan tugas dan fungsinya PNS cenderung akan bersifat parsial. 23 Maret 2009:1). berpotensi menjadi tidak netral. DPD. Gubernur DIY yang juga Sultan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat waktu itu adalah salah satu tokoh Golkar. tanpa penyimpangan. Tata cara pemilihan umum merupakan salah satu cerminan kehidupan berdemokrasi masyarakat. Juga visi. Namun dalam kenyataannya. Informasi politik dari calon legislatif maupun partai politik merupakan variabel sangat penting bagi calon pemilih untuk menentukan pilihan politiknya secara akurat sesuai dengan referensi dan aspirasi politiknya. kedudukan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam kehidupan politik ditinjau kembali agar PNS tidak terlibat dalam partai politik manapun. demikian pula menarik untuk dipahami bagaimana mereka mencari sumber informasi yang dipakai sebagai dasar untuk pengambilan keputusan politiknya. Salah satu hal yang penting dalam pemilihan umum adalah keterlibatan secara politik para abdi negara yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS). . Ketika PNS menjadi alat kekuatan politik dari partai politik tertentu. Namun demikian nampaknya keinginan masyarakat (dalam hal ini PNS) untuk memperoleh informasi akurat dari partai maupun calon anggota legislatif semakin sulit menghadapi Pemilihan Umum 2009. dan DPRD. dan menjadi anggota salah satu partai.calon anggota legislatif. mobilisasi partisipasi pegawai negeri sipil secara menyeluruh di Indonesia diorientasikan kepada organisasi peserta pemilihan umum dari Golongan Karya (Golkar). menyentuh langsung aspirasi mereka. Ketika Orde Baru berkuasa. Di era reformasi sejak 1999. PNS diberi kebebasan untuk memilih partai maupun calon anggota legislatif sesuai aspirasi masing-masing saat pemilihan umum. Mereka dilarang terlibat aktif dalam kegiatan kepartaian seperti kampanye. informasi tersebut tidak mudah didapat. misi dan program-program yang akan dilaksanakan oleh partai secara jelas. Informasi yang berciri transparan. obral janji dan pengerahan massa terjadi setiap kali kampanye digelar (Kompas. Fungsi kampanye pemilihan umum hingga saat ini masih didominasi oleh pemahaman tentang bagaimana mempengaruhi sebanyak mungkin orang untuk memilih calon legislatif maupun partai dalam pemilihan umum. Kasus anggota Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi menarik untuk diangkat sebagai persoalan penelitian. Demikian juga di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). sedangkan cerminan lainnya terwujud dalam hak memperoleh informasi politik seluas-luasnya. khususnya yang berada di lingkungan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. dan tentunya sangat mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Kepegawaian Negara mengatur secara tegas netralitas pegawai.

maupun partai politik serta calon anggota legislatif) untuk mengetahui kebutuhan masyarakat akan informasi politik (pemilihan umum). Dalam kegiatan politik pemilihan umum. maupun tanpa media yaitu bila komunikasi berlangsung secara personal. Rumusan Galdnoor tersebut sejalan dengan pendekatan Almond dan Powell (dalam Nasution. Sumber komunikasi dianggap sebagai pihak yang memprakarsai terjadinya komunikasi melalui penyampaian pesan (informasi). Kerangka Teoritis Komunikasi merupakan proses yang melibatkan dua pihak yaitu sumber komunikasi dan penerima komunikasi. Seperti bentuk-bentuk komunikasi yang lain. agregasi. yakni dapat memberikan masukan bagi pihak-pihak yang berkompeten (pemerintah. Karena itu. komunikasi memiliki peran yang penting seperti yang pernah dikemukakan oleh Chaffee (1975) bahwa komunikasi politik merupakan peranan komunikasi dalam proses politik (dalam Kaid.Permasalahan Berdasarkan latar belakang di atas maka dapatlah diambil suatu rumusan masalah yaitu: bagaimana Pegawai Negeri Sipil memperoleh informasi politik yang diperlukan sebagai bahan referensi menentukan pilihan politiknya dalam Pemilihan Umum Legislatif 2009? Tujuan dan Manfaat Penelitian yang dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui cara Pegawai Negeri Sipil (PNS) memperoleh informasi politik yang diperlukan. sosialisasi. Bahkan dikemukakan pula bahwa komunikasi merupakan prasyarat (prerequisite) yang diperlukan bagi berlangsungnya fungsi-fungsi yang lain tadi. yakni suatu kombinasi dari berbagai interaksi sosial di mana informasi yang berkaitan dengan usaha bersama dan hubungan kekuasaan masuk dalam peredaran. 2001:158) menyebutkan bahwa komunikasi politik sebagai suatu proses di mana informasi politik yang relevan diteruskan dari satu bagian sistem politik kepada bagian lainnya. Kedua pihak itu dipertemukan melalui pertukaran pesan komunikasi. dan rekrutmen) yang terdapat dalam suatu sistem politik. Michael Rush dan Philip Althoff (dalam Maran. 1999:24) menyatakan bahwa komunikasi politik merupakan infrastruktur politik. Komunikasi politik menjadi penting karena merupakan suatu elemen yang dinamis dan yang menentukan sosialisasi politik serta partisipasi politik. dan di antara sistem-sistem sosial dengan sistem-sistem politik. Sementara Galdnoor (dalam Nasution. Di samping itu juga untuk mengetahui dan pemahami kebutuhan informasi Pemilihan Umum Legislatif 2009 dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai bahan referensi menentukan pilihan politiknya dalam Pemilihan Umum Legislatif 2009. Selanjutnya dapat menjadi bahan untuk memformulasikan terkait dengan akses informasi politik dalam pemilihan umum berikutnya. Melalui cara tersebut dapat dicapai deskripsi penggunaan media dan non media dalam mengakses informasi Pemilihan Umum Legislatif 2009 yang diterapkan oleh pemilih dari kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS). 2004:xiii). 1990:24) yang menempatkan komunikasi sebagai suatu fungsi politik bersama-sama dengan fungsi lainnya (artikulasi. Menurut Maran (2001:159) proses ini terjadi secara berkesinambungan dan mencakup pula pertukaran informasi di antara individu-individu dengan kelompok-kelompoknya pada semua tingkatan. sedangkan penerima merupakan pihak yang menerima pesan (informasi) dari sumber. menggunakan media. dengan . komunikasi politik berlangsung sebagai suatu proses penyampaian pesan-pesan tertentu yang berasal dari sumber (selaku pihak yang memprakarsai komunikasi) kepada khalayak. Hasil penelitian diharapkan bermanfaat. hasil penelitian diharapkan dapat memberikan konsep pemikiran bagi partai politik serta calon anggota legislatif yang akan berlaga dalam pemilihan umum.

Pemilih prospektif yaitu seorang pemilih akan memilih partai atau tokoh lebih dikarenakan memenuhi kriteria-kriteria tertentu yang menjadi preferensi dari pemilih. Menurut pendekatan ini. McQuail. mass communication (Littlejohn. (d) reputasi partai politik. Dengan adanya informasi yang lengkap. Hal inilah yang merupakan masalah sesungguhnya dalam teori Downs. informasi menjadi bagian penting dalam membuat keputusan politik. Namun pemilih memiliki berbagai kemungkinan untuk membatasi ketidaktahuan ini. Kemudian Heath dan Bryant (2000:89) menyederhanakan menjadi dua macam komunikasi yaitu komunikasi langsung (direct communication) dan komunikasi yang termediasi (mediated communication). Bisa dengan berinteraksi langsung dengan manusia lainnya yang ada di sekitarnya. dan ini bisa dalam berbagai konteks-interpersonal. (b) visi dan misi partai politik. menurut Roth (2008:23-48) ada beberapa pendekatan (approach) atau dasar pemikiran yang berusaha menerangkan perilaku pemilih. Proses pertukaran pesan politik terjadi sepanjang masa sosialisasi calon anggota legislatif sebagai sumber informasi politik dengan konstituennya sebagai pihak penerima. (c) platform/ program partai politik. organization/ institution. Dengan memanfaatkan media. alternatif-alternatif pilihan lebih mudah dirumuskan. Menurut Downs (dalam Roth 2008:49-50) sebetulnya pemilih membutuhkan informasi yang lengkap. kelompok minat maupun partai itu sendiri. di antaranya pendekatan rational choice. public. . Pemilihan Umum bagi anggota DPR maupun DPRD yang dilaksanakan pada bulan 9 April 2009. Sedangkan pemilih retrospektif yaitu seseorang memilih partai politik atau tokoh tertentu setelah mengevaluasi aktivitas/ komitmen dari partai politik tersebut sebagai pemerintah atau oposisi selama periode terakhir. Sebelum menentukan pilihan politiknya. organisasi dan termediasi (mediated) yang sama dengan konteks komunikasi massa. 2000:10-15). small-group. Kegiatan pemilihan umum di Indonesia yang dilaksanakan pada tanggal 9 April 2009 merupakan kegiatan suatu proses komunikasi politik. Pada pemilih rasional. Ada beberapa cara yang dilakukan manusia untuk mendapatkan informasi politik (berkomunikasi). Terkait dengan kebutuhan informasi politik yang berhubungan dengan perilaku pemilih. dan bisa juga menggunakan media. diikuti oleh 38 partai politik peserta pemilihan umum. Interaksi dengan manusia lainnya juga bisa dalam lingkup yang beragam seperti yang banyak disinggung oleh beberapa ilmuwan tentang level komunikasi yang ada seperti interpersonal. dalam masa kampanye pemilihan umum. salah satunya adalah mengumpulkan informasi mengenai bidang-bidang yang dirasa penting. 2005. bisa dengan berinteraksi dengan lingkungannya. akhirnya dapat mengambil keputusan. atau hanya dapat diperoleh melalui pengorbanan ekonomis yang besar. Pendekatan pemilih rasional menawarkan cara pandang terhadap perilaku pemilih yang disebut “memilih retrospektif“ atau memilih secara memandang ke belakang dan “memilih prospektif”. melainkan hasil penilaian rasional dari warga yang cakap. 1990:42). (e) kualitas calon anggota legislatif. Aspek-aspek informasi politik Pemilihan Umum 2009 khususnya tentang partai politik dan calon anggota legislatif yang dibutuhkan masyarakat di antaranya adalah tentang: (a) tipe partai politik. hingga masa penetapan calon terpilih. Oleh karena itu pada umumnya pemilih harus mengambil keputusan dalam “ketidaktahuan”. Unsur-unsur tersebutlah yang memungkinkan terjadinya suatu kegiatan komunikasi politik dalam suatu masyarakat (Nasution. yang menentukan pilihan bukanlah adanya keter-gantungan terhadap ikatan sosial struktural atau ikatan partai yang kuat. Namun pada kenyataannya informasi yang lengkap tidak selalu tersedia. tentunya pemilih rasional membutuhkan informasi politik yang berkaitan dengan partai politik maupun calon anggota legislatif.menggunakan media tertentu untuk mencapai suatu tujuan yang telah tertentu pula.

untuk dicari tema dan polanya. majalah). melalui wawancara mendalam dengan informan maupun observasi langsung. Dalam penelitian digunakan teknik sampel bertujuan (purposive sampling) untuk memilih informan. poster. memfokuskan pada hal-hal yang penting. Dengan studi kasus. (a) Pengumpulan data/ informasi. Non media (Interpersonal) Menurut Nimmo (1989:126) ada dua saluran utama komunikasi interpersonal yang membantu khalayak belajar politik (mengakses informasi politik). baliho). Adapun teknik analis yang diambil dan digunakan adalah teknik analisis tematik. yakni merangkum. dan terakhir (d) Penarikan kesimpulan.Berdasarkan uraian di atas kiranya dapat disebutkan bahwa masyarakat dalam mencari (mengakses) informasi politik dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Oleh karena itu informan yang dipilih dalam penelitian ini diambil berdasarkan referensi dari satu informan ke informan lainnya. Teknik Pengolahan dan Analisis data Unit analisis dalam penelitian adalah individu Pegawai Negeri Sipil di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. yakni pemilihan informan paling awal yang memberikan rekomendasi kenalan yang memiliki karakteristik yang sama. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Sesuai pertanyaan penelitian dan tujuan yang hendak dicapai dari penelitian. Pemilihan informan dilakukan dengan menggunakan teknik snowballing. maka jenis penelitian adalah kualitatif. Dalam penelitian ini disajikan data dalam bentuk teks yang bersifat naratif. Sasaran Penelitian Sasaran penelitian adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau birokrat di Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemprov DIY). sebagai berikut. b. memilah hal-hal yang pokok. media luar ruang (spanduk. penggunaan dokumen dan arsip. terkait dengan tiga pelaku birokrasi yaitu pejabat struktural. fungsional dan staf pelaksana di lingkungan Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. televisi). Bermedia (mediated) Terdiri dari media cetak (suratkabar. Metode Pengumpulan data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam menjawab pertanyaan penelitian ini adalah wawancara mendalam/ in-depth interviews. penelitian bertujuan untuk mengetahui dan memahami penggunaan media dan non media dalam akses informasi politik Pemilihan Umum 2009 dari perspektif Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan juga mengeksplorasi terkait dengan akses informasi tersebut (Creswell. dan media baru (internet). (b) Reduksi data. observasi. . Peneliti berusaha mengetahui dan memahami sesuatu yang menjadi fokus penelitian. 1994:71). (c) Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah menampilkan data (display). media elektronik (radio. yakni keluarga dan lingkungan yang terdiri atas kawan-kawan dekat dan akrab yang dikenal sebagai sebaya. Penelitian ini tergolong dalam bentuk studi kasus yang bertujuan menjelaskan (to explain) atau mencari (seek to understand).

PNS Pemerintah Provinsi DIY yang menjadi informan yang tergolong sebagai pemilih retrospektif memprioritaskan kebutuhan informasi terutama tentang kinerja dan reputasi partai politik maupun calon anggota legislatif. Menurut Key (dalam Roth.. Pemilih retrospektif adalah pemilih yang memilih partai politik atau calon anggota legislatif setelah mengevaluasi aktivitas/ komitmen dari partai politik atau elit yang mewakili partai selama masa baktinya. tapi yang konkrit… Juga untuk mendapatkan informasi tentang caleg yang mempunyai kemampuan dan kapasitas sebagai wakil rakyat…” (Wawancara. serta program yang diperjuangkannya tidak bersifat normatif. Penilaian ini juga dipengaruhi oleh penilaian terhadap kinerja pemerintah di masa yang lampau.TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam tahap analisis. Sudibyo: 5 Maret 2009). Bila mengacu pada pendekatan perilaku pemilih sebagaimana yang dikemukakan oleh Roth. di antaranya sebagai berikut: “ . Berdasarkan prioritas dan alasan yang melatar belakangi informasi yang dibutuhkan oleh pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY. Berikut ini paparan temuan penelitian berdasarkan hasil wawancara dengan pemilih Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemilih prospektif yaitu seorang pemilih akan memilih partai politik atau calon anggota legislatif yang telah memenuhi kriteria-kriteria tertentu yang menjadi preferensi dari pemilih. Jenis pemilih yang tergolong sebagai pemilih prospektif dapat dilihat dari pernyataan informan. namun ada pula yang berbeda. perilaku pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY tergolong sebagai pemilih rasional. Downs (dalam Roth. Sedangkan pemilih retrospektif. 2008:49) menyebutkan bahwa pemilih rasional sebelum menentukan pilihan politiknya membutuhkan informasi yang sebanyak-banyaknya. Jenis pemilih PNS Pemerintah Provinsi yang kedua adalah golongan pemilih retrospektif. Informasi yang dibutuhkan di antaranya tentang visi dan misi serta program partai politik/ calon anggota legislatif. yang dapat digambarkan sebagai berikut: Kebutuhan Informasi Pemilu Legislatif 2009 Berdasarkan temuan di lapangan didapatkan bahwa pada hakekatnya PNS Pemerintah Provinsi DIY memiliki kecenderungan yang sama yakni membutuhkan informasi Pemilu 2009 khususnya yang berkaitan dengan partai politik dan calon anggota legislatif. atau cara memilih dengan memandang ke belakang. kinerja dan reputasi partai polilitik/ calon anggota legislatif dan kualitas calon anggota legislatif.ingin mendapatkan informasi mengenai partai politik peserta Pemilu yang mempunyai ideologi jelas. Apabila hasil kinerja pemerintah yang berkuasa (juga bila dibandingkan dengan . dapat dikategorikan menjadi dua yakni perilaku pemilih yang disebut “pemilih prospektif” dan “pemilih retrospektif”. menekankan pada kemampuan pemilih untuk memilih berdasarkan pada penilaiannya pada penampilan kontestan di masa lalu (sebelumnya). 2008:48) pemilih menetapkan pilihannya secara retrospektif yaitu dengan menilai apakah kinerja partai yang menjalankan pemerintahan pada periode legislatif terakhir bagi dirinya sendiri dan bagi negara atau sebaliknya. peneliti menggunakan analisis interview seperti yang dipergu-nakan May (2001:137). Prioritas informasi yang dibutuhkan masing-masing individu cenderung beragam. ada yang sama. Benney dan Hughes (1984) yaitu menggunakan teknis analisis hasil wawancara dengan menggunakan ukuran similarity (kesamaan) dan comparability (perbandingan bisa berisi persamaan dan perbedaan).

Wijayanti: 13 Maret 2009). Keterbukaan informasi memperlebar pintu kesempatan bagi PNS untuk melakukan evaluasi terhadap lembaga-lembaga politik yang ada terutama lembaga legislatif. Pada umumnya mereka yang membutuhkan informasi mengenai tipe/ platform partai politik. di mana pemilih akan melihat reputasi yang berkaitan dengan kepribadian seorang calon anggota dewan. untuk dipilih sebagai anggota dewan yang terhormat. tidak terikat (berafiliasi) dengan partai tertentu.” (Wawancara. membutuhkan informasi yang akan digunakan sebagai dasar evaluasi. riil dan terarah. dalam pandangan pemilih rasional ini menempatkan pemilih sebagai makhluk rasional yang mempunyai alasan dan tujuan dalam tindakannya. mempunyai kapasitas dan integritas sebagai legislator. Untuk memilih seorang calon anggota legislatif dibutuhkan informasi yang berkaitan dengan kapasitas. Terkait dengan informasi tentang reputasi dan kinerja partai politik. Dengan perkataan lain bahwa informasi yang diinginkannya adalah yang berkaitan dengan calon anggota legislatif yang dapat mengagregasikan sikap politiknya dengan layak. Berdasarkan hasil paparan di atas dapat dikatakan bahwa pada dasarnya Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi DIY telah berlaku sebagai pemilih rasional. Calon anggota legislatif yang suka kawin cerai. tidak layak menjadi anggota dewan yang terhormat. maka akan dipilih kembali. Bagaimanapun juga pemilih yang rasional tidak akan memilih calon anggota legislatif yang mempunyai reputasi kurang baik. Terkait dengan visi dan misi. sebagian besar informan membutuhkan informasi yang berkaitan dengan moral calon anggota dewan. terutama adalah informasi tentang kinerja partai politik serta reputasi (citra) partai politik. Artinya kualitas dan performa individu seorang calon anggota legislatif menjadi prioritas utama. kepribadian dan karya nyata yang menjadi pertimbangan utama pemilih sebelum menentukan pilihan politiknya. Sebagaimana dikatakan oleh informan ketika memberi alasan mengapa ia memprioritaskan kebutuhan informasi tentang reputasi calon anggota legislatif. mempunyai hobi berselingkuh. intelektual. ingin mengetahui calon anggota legislatif yang mempunyai reputasi baik atau buruk. Sedangkan untuk calon anggota legislatif adalah informasi yang berkaitan dengan pengenalan prestasi (kualitas calon anggota legislatif) serta serta perilaku (reputasi) calon anggota legislatif. sebagai berikut: “… saya membutuhkan informasi tentang kinerja dan reputasi calon anggota legislatif. Arus informasi yang semakin terbuka dan lancar serta posisi PNS yang netral. adalah karena ingin mengetahui ideologi dari partai politik yang bersangkutan. Informasi tersebut nampaknya cenderung dijadikan sebagai dasar pertimbangan informan untuk menilai bahwa seorang calon legislatif itu layak atau tidak. Sementara dengan adanya informasi mengenai program partai politik akan dapat diketahui partai politik mana yang mempunyai program yang jelas. akan diperoleh gambaran ke arah mana bangsa ini akan dibawa ke depannya. masuk akal. konkrit. maka pemerintah tersebut tidak akan dipilihnya kembali. Menekankan perlunya para anggota dewan. Sementara dengan adanya informasi tentang kualitas calon anggota legislatif akan didapatkan gambaran tentang calon anggota legislatif yang mempunyai kemampuan dan kapasitas sebagai wakil rakyat. memungkinkan pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY saat ini menjadi bebas dan terbuka untuk menentukan arah pilihan politiknya.pendahulunya) positif. Terkait dengan calon anggota legislatif. Maka sudah sewajarnya bila PNS Pemerintah Provinsi DIY yang menjadi informan dalam penelitian ini. bukan saja untuk bekerja secara . akan diperoleh gambaran tentang partai politik yang mempunyai reputasi dan kinerja yang mendahulukan kepentingan rakyat atau lebih mendahulukan kepentingan golongan. apabila hasil penilaiannya negatif. Sedangkan untuk informasi yang berhubungan dengan reputasi calon anggota legislatif.

Cara berkomunikasi seperti ini. geografis atau demografis). Banyak suratkabar baik yang berskala nasional maupun lokal yang terbit dan beredar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Marwati. mempunyai alasan bahwa informasi yang disampaikannya lebih bersifat kedaerahan (lokal) terutama berita seputar Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan beberapa informan yang memilih suratkabar Kedaulatan Rakyat. Mediated (menggunakan media) a. Surat kabar Media komunikasi yang dipergunakan oleh para informan cenderung beragam.aku lebih banyak membaca suratkabar terbitan lokal seperti KR karena banyak memuat berita-berita yang berskala lokal khususnya berita yang berhubungan dengan DIY. Akses Informasi Pemilu Legislatif 2009 Berdasarkan hasil temuan di lapangan diperoleh kecenderungan bahwa pada dasarnya para pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY. pengawas kekuasaan eksekutif dan penyusunan anggaran. opini. Namun demikian tidak semua informan menggunakan suratkabar yang sama untuk memenuhi kebutuhan informasinya. namun juga berkaitan dengan cara peliputan yang tidak hanya satu sisi saja (cover one side) yang akan terkesan memihak. media elektronik (radio dan televisi). Masingmasing informan mempunyai motif dan alasan tersendiri ketika memilih media yang dipergunakan untuk mencari informasi Pemilu Legislatif 2009. serta mempunyai kopetensi dan integritas seorang wakil rakyat. bila mengacu pada Heath dan Bryant (2000:89) disebut sebagai komunikasi langsung (direct communication) dan komunikasi yang termediasi (mediated communication/ indirect communication). Sebagai mana disampaikan oleh beberapa informan di antaranya sebagai berikut: “. Cara berkomunikasi dalam mengakses informasi Pemilu Legislatif 2009 pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY dapat digambarkan sebagai berikut: 1. 7 Maret 2009). vitalitas kerja. Beberapa cara telah ditempuh oleh pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY ketika mencari upaya dalam mendapatkan informasi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa informan melihat Kedaulatan Rakyat didasarkan pada proximity (berita yang isinya memiliki kedekatan baik secara psikologis. Informan yang memilih Kompas sebagai sumber informasi tidak hanya dari sudut pandang yang berkaitan kelengkapan informasi saja. . kebutuhan tersebut berupa informasi Pemilu Legislatif 2009 khususnya yang berkaitan dengan partai politik dan calon anggota legislatif. Informasi tentang pemilu aku dapatkan melalui berita. akan tetapi banyak sisi (cover both side) sehingga menghasilkan informasi yang netral dan berimbang. majalah. brosur). Ada yang berinteraksi langsung dengan individu-individu yang ada di sekitarnya. Dengan demikian lembaga legislatif akan diisi oleh orang-orang yang mempunyai kapasitas intelektual. ada juga yang menggunakan media. kinerja maupun reputasi partai politik anggota dewan di tingkat pusat. juga melalui iklan dari caleg maupun parpol” (Wawancara. melainkan juga berperilaku patut dan layak menjadi suri tauladan orang banyak.. ada yang melalui media cetak (suratkabar.profesional sebagai legislator. media luar ruang (spanduk dan baliho) serta media baru (internet). dengan lingkungannya (komunitas). sebagai individu senantiasa berusaha untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam konteks penelitian ini. Informasi Pemilu Legislatif 2009 yang diperoleh oleh informan kebanyakan berkaitan dengan partai politik peserta Pemilu di antaranya tentang profil partai politik.

Retjo Buntung FM. bisa diakses di mana saja baik di rumah maupun di perjalanan. Sebagaimana disampaikan oleh Becker (1987:253) radio dapat dibawa ke manapun dan audience-nya dapat mengakses tanpa menganggu aktivitas utamanya dan tanpa harus serius mendengarkannya. Radio merupakan salah satu media massa yang tidak memberikan prasyarat khusus bagi khalayak yang mengaksesnya. Berbagai alasan mengapa mereka mencari informasi melalui radio: ada yang menyatakan karena radio itu mendengarkan suara. Ada pula yang menyatakan karena ada liputan khusus pemilihan umum. lebih berdasarkan pada segi kepraktisannya. Sonora FM. tetap bisa sambil melakukan aktivitas lainnya. karena dapat mendengarkan sambil melihat.. Sebagaimana disampaikan oleh salah satu informan sebagai berikut: “…. jadi relatif fleksibel. lebih pada melihat televisi dari sudut pandang sifatnya yang audio visual yakni pandang dengar. mempunyai motif dan alasan yang berbeda-beda. tokoh dan tempat-tempat yang berada jauh dari audience. dalam hal ini motif dan alasan yang disampaikan informan berkaitan dengan alasan mendasar yang menyebabkan televisi diminati oleh masyarakat adalah sebagaimana dikemukakan oleh Bignell (2004:19) karena kemampuannya untuk menghadirkan berbagai macam peristiwa. Kedua stasiun televisi tersebut setiap hari menyiarkan . Ada juga yang memberi alasan bahwa informasi melalui televisi mudah diingat.saya mendengarkan radio di mobil dalam perjalanan dari rumah menuju kantor. Konco Tani. Ada yang memilih Metro TV dan TV One. Sudarsono: 12 Maret 2009). dapat melihat dan mendengar sekaligus dan langsung (live) sebagaimana bertatap-muka langsung dengan sumbernya. Radio Dalam penelitian diperoleh pula informan yang mencari informasi Pemilu Legislatif 2009 melalui radio.. sebagai rujukan dalam mencari informasi Pemilu Legislatif 2009. Adapun stasiun radio yang dipakai untuk mencari informasi Pemilu Legislatif 2009 cukup beragam seperti RRI. tidak semua stasiun televisi dijadikan rujukan dalam mencari informasi Pemilu Legislatif 2009.dialog.b. Ada pula yang menyatakan. Di antaranya ada yang mencari informasi melalui televisi dengan alasan informasi melalui televisi lebih cepat sampai ke audience daripada informasi melalui media cetak. Televisi Informan pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY yang menjadikan televisi sebagai rujukan ketika mencari informasi Pemilu Legislatif 2009.” (Wawancara. Informasi Pemilu Legislatif 2009 tentang visi. misi dan program partai politik maupun hal-hal yang berhubungan calon anggota legislatif kebanyakan didapat informan melalui berita.. c. dapat dikatakan bahwa pada dasarnya informan mengandalkan TV One dan Metro TV karena kedua stasiun televisi tersebut dapat menjadi rujukan untuk mencari informasi Pemilu Legislatif 2009. Radio yang saya dengarkan tidak tentu kadang Sonora atau Trijaya … Informasi mengenai parpol dan caleg saya dengar dari acara berbincang-bincang …ya. Singkatnya ketika seseorang mendengarkan radio. Berdasarakan dari pernyataan informan tersebut di atas. ya. Informasi yang disampaikan lewat radio ringkas dan padat. Trijaya FM. namun yang menjadi unggulan kebanyakan informan adalah Radio Sonora FM. MBS dan Yasika FM. Berdasarkan dari alasan yang dikemukakan oleh beberapa informan tersebut. dapat dikatakan bahwa informan menggunakan radio dalam mencari informasi. maupun sebaliknya. Alasan informan memilih televisi karena kecepatan informasi sampai ke audience.. Ada yang beralasan karena banyak tayangan tentang Pemilu yang dikemas cukup serius dan berbobot. Di samping itu. Sementara alasan yang lain. Bahwa informasi melalui televisi mudah diserap karena televisi bisa dilihat sekaligus didengar. dialog maupun iklan politik.

. Ada yang beralasan bahwa banyak informasi yang secara mudah didapatkan ketika dicari di internet. sebagaimana disampaikan oleh informan sebagai berikut: “ …. Berdasarkan hasil temuan didapatkan bagi informan pejabat struktural (II. hal ini karena terkait dengan kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang tidak mendukungnya. Ada pula yang menyatakan bahwa internet menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan dan secara mudah di dapatkan di situ melalui situs-situs yang ada. Documentary One. Alasan seperti tersebut di atas mencerminkan bahwa beberapa informan ketika mencari informasi Pemilu Legislatif 2009 tidak hanya melalui tayangan yang sifatnya serius saja.” (Wawancara. pernah juga saya membuka situsnya KPU …. Suara Rakyat. Benar-Benar Membangun/ BBM (RCTI) dan Kontes de Parpol (TPI). RCTI danTPI untuk mencari informasi Pemilu Legislatif melalui mata acara parodi politik seperti Democrazy (Metro TV). pendidikan atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut.” (Wawancara. Masing-masing informan mempunyai alasan tersendiri mengapa mengakses informasi melalui internet. Genta Demokrasi.saya suka menonton parodi dalam acara BBM. Debat Parpol. Kabar Pemilu. Dengan demikian motif dan alasan yang disampaikan informan sejalan dengan apa yang dikemukakan Skomis (dalam Kuswandi.informasi yang berkaitan dengan partai politik dan calon anggota legislatif. saya dapatkan dalam situs seperti Kompas Online. hiburan. Sebagaimana diungkapkan oleh salah satu informan seabagai berikut: “…di samping melalui media massa saya juga sering browsing di internet. sekaligus juga dapat informasi mengenai parpol dan caleg dari beberapa tokoh yang dihadirkan. Wijayanti: 13 Maret 2009). Uji Kandidat. Dalam acara ini informasi yang berkaitan dengan Pemilu Legislatif 2009 dikemas dengan banyolan dan sindiran-sindiran serta menghadirkan para tokoh ataupun para pakar yang mempunyai kompetensi. dapat diakses melalui internet. Melalui search engine google atau yahoo segala informasi yang dibutuhkan dengan cepat dapat diperoleh. Partai Bicara. Jadi khalayak yang menyaksikannya di samping mendapatkan informasi juga mendapat hiburan. Atas Nama Rakyat. Di samping itu ada juga informan yang memilih Metro TV. mengapa ya karena banyak informasi tersedia dengan mudah dan cepat bisa saya dapat. Penyampaian isi pesan seolah-olah langsung antara komunikator dengan komunikan sehingga mudah dimengerti karena jelas terdengar secara audio dan melihat secara visual. mempunyai kecenderungan yang sama. 1996:8) bahwa televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar yang bisa bersifat politis dan bisa pula informatif. 6 Maret 2009). Special Dialog. III. Untuk staf pelaksana khususnya untuk golongan I (satu) cenderung tidak pernah mengunakan internet. Top Nine News. Debat. tapi juga tayangan yang ada hiburannya. seperti dalam acara parodi politik. Banyak informasi mengenai partai politik maupun para calon anggota legislatifnya. IV) dan pejabat fungsional. Namun demikian tidak semua informan memiliki kesempatan dan kemampuan yang sama. Rahayu. Internet Tidak ketinggalan beberapa informan pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY juga menggunakan media baru (internet) untuk mencari informasi Pemilu Legislatif 2009. Untuk informasi mengenai pemilu 2009. . media baru (internet ) ini juga dipergunakan untuk mencari informasi Pemilu Legislatif 2009. Sementara TV One melalui acara seperti Interview Politik. Untuk Metro TV melalui mata acara seperti Suara Anda. di samping mencari hiburan karena banyak banyolan-banyoan dan sindiran. d.

Sedang teman kantor dan tetangga dikategorikan sebagai kawan-kawan. . lebih terbuka. televisi. para informan pemilih PNS Provinsi DIY dalam mencari informasi Pemilu Legislatif 2009 juga mempunyai kecenderungan yang sama. ada juga dari calon anggota legislatif yang melakukan sosialisasi serta ada yang dari teman kantor dan tetangga. Di samping itu ada juga beberapa informan yang lebih suka mencari informasi secara langsung dengan keluarganya (anak. Tabel 1 Akses Informasi Pemilu Legislatif 2009 Menurut PNS Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta No 1 Nama Sudibyo Pejabat struktural eselon II Keterangan Mediated: suratkabar. sebagai sumber informasi terdekat yang mudah ditemui. tidak merasa sungkan. majalah. Andalan: Kompas. berita/ informasi berimbang. Non media: pakar dan teman. Untuk pejabat struktural maupun fungsional rata-rata paling rendah berpendidikan sarjana strata 1 (satu) bukan tidak mungkin akan merasa kurang nyaman jika tidak pernah (tidak bisa) mengakses informasi melalui internet. Alasan ini melihat sumber informasi dari sudut pandang yang berkaitan dengan kapasitasnya sebagai narasumber yang dapat memberikan informasi Pemilu Legislatif 2009 sesuai dengan apa yang dibutuhkannya. Andalan: pakar. Sedangkan bagi staf pelaksana golongan 1 (satu) yang rata-rata berpendidikan SLTP cenderung merasa nyaman-nyaman saja meskipun tidak bisa mengoperasikan komputer maupun mengakses informasi melalui internet. sehingga informasi yang disampaikan tidak diragukan validitasnya. Bila merujuk pada apa yang disampaikan oleh Nimmo (1989:125) ada dua saluran utama komunikasi interpersonal yang membantu belajar politik (akses informasi Pemilu Legislatif 2009) yakni keluarga dan lingkungan yang terdiri dari kawan-kawan. Informasi Pemilu Legislatif 2009 khususnya yang berkaitan dengan partai politik dan calon anggota legislatif dari masing-masing informan didapatkan secara langsung dari sumber informasi yang beragam yakni ada yang dari suami. Berbagai macam alasan disampaikan oleh masing-masing informan ketika memilih individu sebagai sumber informasi. Non Media Di samping menggunakan media. Alasan ini memandang teman kantor sebagai karib yang senasib. anak. karena netral.Nampaknya penggunaan internet untuk akses informasi ada kaitannya dengan latar belakang pendidikan dan jabatan masing-masing individu informan. karena mempunyai kompetensi. brosur. Selain itu. Maka suami. lebih bebas. radio dan internet. Ada beberapa informan yang mengandalkan seorang pakar sebagai sumber informasi. Alasan seperti tersebut di atas memandang sumber informasi dari sisi rasa kenyamanan pencari informasi. yakni melakukannya secara langsung tatap-muka (face to face). duduk satu ruangan dan setiap hari bertemu. menantu. Dengan alasan tidak merasa malu. dengan alasan karena mempunyai kompetensi dalam bidangnya. Alasannya karena sama-sama PNS. Sementara pakar dan calon anggota legislatif dalam model alir dua tahap (two step flow model) dimaksudkan sebagai pemuka pendapat (tokoh masyarakat). 2. ada juga informan yang mencari informasi Pemilu Legislatif 2009 khususnya yang berkaitan dengan partai politik dan calon anggota legislatif kepada teman kantor. informasinya valid . ada yang dari pakar. Di samping itu ada juga informan yang memilih tetangga sebagai sumber informasi. anak dan menantu dikategorikan sebagai keluarga. Menurut Dowson (1979:142) ada ikatan emosional yang kuat dalam keluarga. suami). sehingga dalam hal ini sudah selayaknya bila ada salah satu anggota keluarga bisa menjadi tempat yang nyaman untuk bertanya bagi anggota keluarga yang lain ketika membutuhkan suatu informasi.

televisi dan internet. Andalan: anggota KPU. Media andalan: suratkabar KR. teman. Mediated: suratkabar. Non media: teman kantor dan tetangga. Andalan: televisi. Andalan: tidak ada. merupakan sumber informasi yang dapat dipercaya. Andalan: surat kabar Kompas. majalah. caleg. spanduk dan internet. karena informasinya lengkap. Andalan: suratkabar Kedaulatan Rakyat. televisi. televisi. Non media: suami sekaligus menjadi andalan. Andalan: surat-kabar Kompas. yang diandalkan tidak ada. Andalan: televisi (Metro TV). pengetahuan banyak. Non media: pakar. radio. brosur. teman. Andalan: suratkabar KR. radio. Mediated: suaratkabar. Non media: suami. Non media: anggota dewan dan teman. radio. radio. radio. televisi. informasi tentang pemilu lengkap. radio. Andalan: menantu. televisi. Alasan: beritanya lengkap dan akurat. brosur. Non media: pakar dan teman. Mediated: suratkabar. caleg. radio. radio dan internet. suratkabar. andalannya anggota dewan. Alasan: banyak informasi tentang pemilu. Media andalan: televisi. teman dan tetangga. alasan informasi tentang Pemilu disajikan secara lengkap dan mendalam. Andalan pakar. bahasanya mudah dimengerti. yang menjadi andalan kerabat. TV One: acara khusus liputan Pemilu. Non media : suami. leaflet. yakni SCTV. Andalan: surat-kabar Kompas. Mediated: brosur. Non media: anak/ menantu. Mediated: suratkabar. Non media: caleg. Media andalan: suratkabar Kompas. radio dan internet. majalah. Mediated: suratkabar. televisi. Media andalan: suratkabar Kompas. Alasan: informasinya bersifat kedaerahan. Andalan: tidak ada. Andalan: suami. Non media: suami. informasinya lengkap. anggota KPU. Mediated: suratkabar dan televisi. Mediated: suratkabar. karena wawasannya luas. Media andalan: televisi RCTI. Non media: tim sukses. baliho.2 Tri Mulyono Pejabat struktural eselon II Sri Rahayu Pejabat struktural eselon III Sasongka Harjanta Pejabat struktural eselon III Tri Rubiyanto Pejabat struktural eselon III Aris Rahajeng Wijayanti Pejabat struktural eselon IV Sudarsono Pejabat struktural eselon IV Ani Kuswati Pejabat struktural eselon IV Sarono Tamtomo Yudho Pejabat fungsional Veronika Ismartiningsih Pejabat fungsional Sri Mawarti Staf pelaksana Gol III Tri Wahyono Staf pelaksana Gol III Astriyanto Sri Harjanto Staf pelaksana Gol III Ani Sutarti Staf pelaksana Gol III Yohana Indarti Staf pelaksana Gol III Hastin Puntaningrum Staf pelaksana Gol 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Mediated: suratkabar. radio. Mediated: surat kabar. karena terlibat langsung dalam Pemilu. Andalan: televisi. televisi dan internet. baliho. TV One. Andalan pakar. tahu kapasitasnya. karena lebih sreg. Alasannya: karena mengkhususkan berita di seputar DIY. karena informasinya cepat dan lengkap. Andalan: tidak ada. caleg dan teman kantor. radio dan internet. karena informasinya dapat dipercaya. karena informasinya belum tentu benar. televisi dan internet.Non media: tim sukses dan teman. suratkabar. Metro TV: informasi tentang Pemilu banyak. Mediated: spanduk. Mediated: suratkabar. televisi. anak. televisi dan internet. Non media: teman kantor. televisi dan internet. Media andalan: TV One. mempunyai kapasitas dalam bidangnya. kerabat. informasinya dapat 14 15 16 . Andalan: televisi. caleg. andalan suami. Mediated: suratkabar. Andalan: suami karena lebih sering mengikuti perekembangan yang terjadi terkait dengan Pemilu 2009. televisi dan internet. caleg. televisi dan internet. informasinya dapat dipercaya. andalan suami.radio. Mediated: suratkabar. Mediated: suratkabar. Non media: caleg. televisi. karena informasinya obyektif dan akurat. karena berita tentang pemilu banyak. Non media: suami.

televisi. sekaligus menjadi andalan karena tidak merasa malu. Non media: anak. televisi dan radio. Kuswati: Maret 2009) Berdasarkan paparan di atas didapatkan kecenderungan bahwa informasi Pemilu 2009 khususnya yang berkaitan dengan partai politik dan calon anggota legislatif. Non media: teman. Media andalannya televisi: TPI. karena bisa melihat foto caleg dari partai. “…informasi yang saya dapat. Mediated: suratkabar. sebagai dasar acuan untuk menentukan hak pilih saya pada hari H nanti” (Wawancara. dalam hal ini bisa dibedakan dari jenis media. Sumber: Data diolah. Hal ini disebabkan karena isi media atau informasi Pemilu 2009 yang berkaitan dengan partai politik dan calon anggota legislatif yang terkandung di dalamnya. isi media serta konteks sosial. Mediated: suratkabar. Mediated: suratkabar. Mulyono: 10 Maret 2009). belum semuanya. spanduk/ poster. andalannya tetangga karena percaya. Andalannya caleg karena informasi langsung dari orangnya. semuanya didasarkan pada kebutuhan masing-masing individu. nampaknya . radio. paling tidak membantu saya sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan pilihan saya pada saat pencontrengan. spanduk. Secara umum dapat disebutkan bahwa terdapat pernyataan yang berbeda-beda dalam pemenuhan informasi yang diperoleh.” (Wawancara. Dari pernyataan belum terpenuhinya kebutuhan informasi Pemilu 2009. banyak informasi dan hiburannya. baliho. Baru beberapa saja dari partai lama (partai peserta Pemilu 2004). Non media: caleg dan tetangga. masih ada saja hal-hal yang dirasakan sebagai kekurangan. Sebagaimana disampaikan oleh informan di antaranya berikut ini: “…. bisa menjadi referensi. Media andalan: spanduk. Andalan: televisi.dan televisi. Non media: caleg dan tetangga. televisi. Andalan: televisi TPI. masih banyak yang belum saya ketahui. namun belum semua informasi yang diinginkan bisa diperoleh. bisa menjadi bahan referensi bagi pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY dalam menentukan pilihan politiknya pada Pemilu Legislatif 2009.informasi tentang calon anggota legislatif untuk DPR RI Dapil DIY. Rahayu: 6 Maret 2009). TPI. caleg. itupun hanya orang-orang tertentu saja yang cukup dikenal oleh masyarakat Yogyakarta…. 2009 Pemenuhan dan Pemanfaatan Informasi Pemilu Legislatif 2009 Berdasarkan temuan di lapangan diperoleh kecenderungan bahwa pada dasarnya kebutuhan informasi Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi DIY tentang Pemilihan Umum Legislatif 2009 khususnya yang berkaitan dengan partai politik dan calon anggota legislatif pada umumnya sudah terpenuhi.17 II Suprapto Staf pelaksana Gol II Tumin Staf pelaksana Gol II Tukino Staf pelaksana Gol I Purwanto Staf pelaksana Gol I 18 19 20 dipercaya. (Wawancara. diantaranya sebagai berikut: “…ya informasi yang saya peroleh. hanya beberapa saja orangnya. radio. meskipun kebutuhan informasi Pemilu Legislatif 2009 relatif sudah terpenuhi. Mediated: suratkabar. mendapat informasi dan hiburan. Berdasarkan penelitian di lapangan didapatkan pula bahwa kebutuhan informasi yang dicari dan didapatkan. Andalan: caleg. Pemenuhan kebutuhan informasi yang diperoleh dari masing-masing informan paling tidak dari sumber berbeda. Dari wawancara dengan informan diperoleh kecenderungan. Meskipun ada juga yang menyatakan belum terpenuhi semuanya. Sebagai terungkap dari pernyataan informan. lebih tahu tentang pemilu. yang dibutuhkan oleh PNS Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada dasarnya sudah cukup terpenuhi. mendapatkan informasi dan hiburan. radio. serta dorongan situasi sosial dalam mencari informasi.

mengenai ketersediaan fasilitas media komunikasi. dapat memberikan pencerahan baru dari informasi yang diperolehnya. terkait dengan penyerapan informasi yang diakses melalui media massa seperti suratkabar. untuk pengambilan keputusan dan diterapkan ketika menggunakan hak pilihnya pada Pemilu Legislatif 2009. Oleh beberapa informan golongan I (satu). biaya operasional perbulannya dirasakan masih cukup mahal. Beberapa informan menyebutkan bahwa untuk berlangganan suratkabar dan majalah belum bisa dikatakan murah. Informan menginginkan ada sesuatu yang dapat dipetik dari informasi yang terkandung di dalamnya. ketika mengakses informasi Pemilu Legislatif 2009. membuat informasi yang disampaikan tidak mudah dimengerti. Berdasarkan hasil temuan didapatkan bahwa ada kendala yang dihadapi terkait dengan kemampuan pemilih Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi Daerah Istmewa Yogyakarta. terutama bagi pegawai negeri yang berjenjang staf pelaksana. Dengan demikian masih dirasakan berat untuk kantong pegawai negeri. penggunaan bahasa atau istilah-istilah yang masih tergolong asing.informan mengharapkan dengan mengakses informasi baik melalui media maupun secara langsung tatap-muka. Demikian pula untuk memasang dan berlangganan internet. Adapun kendala yang dihadapi secara teknis di antaranya yang berkaitan dengan kecepatan mengakses informasi melalui internet yakni ketika mengakses loading-nya atau waktu men-download terasa lama. waktu dan juga yang terkait dengan sumber daya manusia (SDM). setelah mengakses informasi baik melalui media maupun secara langsung tatap muka. Keempat. Kondisi ini bukan tidak mungkin akan menyebabkan tingkat penyerapan terhadap informasi yang berkaitan dengan partai politik menjadi rendah. terkait dengan ketersediaan informasi Pemilu Legislatif 2009 yang berkaitan dengan repuasi dan kualitas calon anggota legislatif. terkait dengan masalah psikologis dari PNS bersangkutan. Dengan demikian akses informasi Pemilu Legislatif 2009 melalui internet cenderung terbatas. “merasa kurang sreg (kurang nyaman) kalau mencari informasi yang berkaitan dengan partai poliitik maupun calon anggota legislatif kepada . sehingga acapkali membuat urung untuk mengaksesnya. Tidak hanya sekedar informasi seadanya akan tetapi yang lebih mendalam. Kendala PNS Pemerintah Provinsi DIY Dalam Mengakses Informasi Pemilu Legislatif 2009. bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada. masih cukup mahal. Ketiga. terkait dengan masalah teknis. Kedua. Sedangkan kendala yang berkaitan dengan SDM adalah tidak sedikit PNS yang sampai saat ini belum bisa mengoperasikan komputer. Sedangkan informasi yang berkaitan dengan para calon anggota legislatif lainnya dari partai politik baru (2009) nyaris tidak pernah tersentuh. radio dan televisi. sehingga bukan hal yang luar biasa bila yang bersangkutan tidak pernah mengakses informasi yang berkaitan dengan partai politik maupun calon anggota legislatif melalui internet. seagai berikut: Pertama. porsi dan jumlahnya relatif sedikit. Selanjutnya dapat dijadikan bahan referensi diri dalam pertimbangan dan masukan yang berarti. terkesan hanya untuk para calon anggota legislatif tertentu saja dan itupun dari partai politik peserta Pemilihan Umum lama (2004). Dalam hal ini berkaitan dengan kemampuan daya beli pegawai negeri. Dari media massa yang memuat informasi berkaitan dengan reputasi dan kualitas calon anggota legislatif. “perasaan ewuh pekewuh bila menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan calon anggota legislatif kepada kenalan”. Adanya “rasa tidak enak ketika meminta penjelasan lebih mendalam dari sumber informasi”. Kelima. Hal ini menyebabkan pencari informasi mengalami kesulitan dalam memahami informasi yang disampaikan melalui media massa tersebut.

Hal itu dilakukan dengan memanfaatkan media yang murah dan mudah diakses sesuai dengan tingkat kebutuhan maupun kemampuan masyarakat. namun demikian karena keterbatasan kemampuan. Pada dasarnya PNS Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. yakni sebelum menentukan pilihan politiknya membutuhkan informasi yang sebanyak-banyaknya. 2. Kondisi ini menjadi salah satu penghambat kelancaran dalam upaya pemenuhan kebutuhan informasi. penyerapan informasi. Pada dasarnya setiap warga negara mempunyai hak yang sama terkait dengan akses informasi pemilu. Citra atau image positif tidak hanya dimunculkan saat menjelang pemilihan saja. Setiap partai politik peserta pemilihan umum yang menginginkan meraih suara dari pemilih. perlu membuat strategi pencitraan dan image positif untuk partai politik maupun individu yang diusungnya. Sementara individu yang diusungnya tidak sekedar karena popularitasnya saja. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan data dari penelitian ini diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. media elektronik (radio. Juga dilakukan secara langsung tatapmuka (face to face) dengan sumber informasi yang beragam. diinformasikan kepada masyarakat pemilih. Di samping itu. akan tetapi diperlihatkan melalui kinerja partai politik di parlemen. Untuk itu yang berkompeten diharapkan membuat kebijakan terkait dengan ketersediaan informasi pemilihan umum dan penyebarluasannya. Baik akses secara langsung tatap muka (non media) maupun dengan menggunakan media komunikasi dan informasi. Karena tidak setiap individu khalayak mempunyai tingkat kemampuan dan daya cerna yang sama terhadap suatu informasi. terkait dengan ketersediaan informasi pemilihan umum ke depan. teknis dan sumber daya manusia yang bersangkutan. ketika mengakses informasi Pemilu Legislatif 2009. 2. faslitas. khususnya media massa yang berskala lokal. tergolong sebagai pemilih rasional. spanduk). brosur). tapi juga yang mempunyai . 3. 3. Semuanya itu mengindikasikan adanya kendala psikologis yang berpotensi menghambat kelancaran dalam akses informasi. serta media baru (internet). Pemilihan sumber informasi pada umumnya didasarkan pada kompetensi (kemampuan). Berdasarkan hasil temuan didapatkan pula bahwa ada kendala yang dihadapi terkait dengan kemampuan pemilih Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi Daerah Istmewa Yogyakarta. Berdasarkan prioritas dan alasan yang melatar belakangi informasi yang dibutuhkan dapat dikategorikan sebagai “pemilih prospektif” dan “pemilih retrospektif”.orang lain”. majalah. maka acapkali antara individu yang satu dengan yang lainnya tidak mempunyai peluang dan kesempatan yang sama. Alasan ini melihat sumber informasi dari sudut pandang yang berkaitan dengan kapasitasnya sebagai narasumber yang dapat memberikan informasi sesuai dengan apa yang dibutuhkannya. Media komunikasi yang dipergunakan untuk akses informasi Pemilihan Umum Legislatif 2009 oleh para informan cenderung beragam meliputi: media cetak (suratkabar. Bagi pengelola media massa. Untuk itu informasi yang disampaikan perlu disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan daya tangkap masyarakat. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya meliputi ketersediaan informasi. informasi mengenai profil masing-masing caleg juga perlu disampaikan kepada khalayak. bila mengacu pada pendekatan perilaku pemilih sebagaimana yang dikemukakan oleh Roth. media luar ruang (baliho. Saran 1. dalam menyampaikan informasi perlu dipergunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh khalayak. televisi).

John W. Komunikasi Politik: Suatu Pengantar. Studi Pemilu Empiris: Sumber. Human Communication Theory and Research: Concepts Contexts & Challenges. Rineka Cipta. London&New Delhi. Remaja Karya. Teori-Teori. Komunikasi Massa ”Sebuah Analisis Media Televisi”. Yogyakarta. An Introduction to Television Studies. Parpol. Perihal Pemilu. Bandung. Research Design Qualitative & Quantitative Approachhes. . New Jersey & London: Lawrence Erlbaum Associates Publishers. Zulkarnain. Thousands Oaks: Sage Pub. Maran. Heath.kapasitas. Discovering Mass Communication. Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi. Illionis. Jakarta. 2000. 2009. 2004. 2008. Nasution. Jonathan. Jennings. 2003. JB. 2 (Edn) Mahwah. Nimmo. PT Mitra Alembana Grafika. Jakarta. JIP Jurusan Ilmu Pemerintahan UGM. Instrumen danMetode. Kuswandi. 1990. 2001. 1989. Rafael R. Sigit. Scott Foremen & Co. Rineka Cipta. Penerjemah: Tjun Surjaman. Komunikasi Politik: Khalayak dan Efek. Yogyakarta. Pustaka Utama Grafiti. Yogyakarta. Dieter. Jakarta. Robert L. Wawan. Pengantar Sosiologi Politik. Afan. 1996. Roth. Dan. Pemilu dan Legislasi-Teori Voters. Irawan. Wahyudi. jauh dari skandal Daftar Bacaan Becker. 1994. 1996. London: Routledge. PLOD UGM. 1987. Gaffar. Jakarta. Eds. & Bryant. integritas serta idealnya dalam kehidupan sehari-hari relatif bersih.Pustaka Pelajar. Peterjemah Denise Matindas. Samuel L. Jakarta. 2000. Pamungkas. Ghalia Indonesia. Dasar-Dasar Jurnalistik Radio dan Televisi. Bignell. I Ketut Putra. Creswell.

Model teoritis yang duiajukan . maka diketahui terdapat hubungan yang signifikan antara figur SBY di TV One dengn Minat memilih masyarakat. Penelitian ini menggunakan teori Uses And Gratifications yang memiliki teori pendukung Social Categories dan Individual Differewnces Theory. yabg berarti hubungan SBY signifikandengan minaty memilih.40-0. hasilnya= 49%.70 . Hal ini bermakna hubungan figur SBY terhadap minat memilih masyarakat sebesar 49% atau hanya 49% figur SBY di TV One berpengaruh terhadap minat memili presiden bagi masyarakat kelurahan Pasar Merah Timur kecamatan Medan Area Kota Medan dalam PilPres tahun 2009.Popularitas figur Susilo Bambang Yudoyhono semakin kuat ketika ia mampu menggabungkan dua kelompok masyarakat . menengah atas dan bawah. Latar belakang masalah dalam pemilihan ini adalah . dimana 0. Selanjutnya diketahui r adalah 0. Adapun variable Anteseden adalah karakteristik responden .698. Ha : menujukan tidak terdapatnya hubungan antara variable X dan Y.Adapun sebagai tujuan dari penelitian ini adalah : untuk mengetahui pengaruh figur Susilo Bambang Yudhoyono di TV One terhadap minat memilih Presiden pada masyarakat . Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini selanjutnya dianalisis dalam tabel tunggal dan tabel silang. yang membuatnya mendapat aspirasi positif dari rakyat Indonesia.Figur Susilo Bambang Yudhoyono Di TV ONE Dan Minat Memilih Presiden Tahun 2009 (Kajian Pengaruh Figur Susilo Bambang Yudhoyono di Media TV One Terhadap Minat Memilih di Kelurahan Pasar Merah Timur Kecamatan Medan Area Kota Medan Pada Pemilihan Presiden Tahun 2009) Oleh : Fauziah Dongoran Abstraksi Penelitian ini berjudul Figur Susilo Bambang Yudhoyono di TV One Dan Minat Memilih Presoden Tahun 2009 ( Kajian Pengaruh Susilo Bambang Yudhoyono di Media TV One Terhadap Minat Memilih di Kelurahan Pasar Merah Timur Kecamatan Medan Area Kota Medan Pada Pemilihan Presiden Tahun 2009. Sebagai perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Sejauh manakah figur Susila Bambang Yudhoyono di TV One berpengaruh terhadap minat memilih Presiden dikalangan mahasiswa kelurahan Pasar Merah Timur kecamatan Medan Area Kota Medan. . KP { rs )2 x 100%. Penelitian ini bermaksud melihat popularitas figur Susilo Bambamng Yudhoyono dalam mempengaruhi minat memilih masyarakat pada Pemilihan Presiden tahun 2009. sesuai dengan skala Guilford.menempatka figur Susilo Bambang Yudhoyono di TV One sebagai Variable bebas ( X ) dan Minat Memilih sebagai variable terikat ( Y ). Untuk melihat besarnya kekuatan pengaruh ( KP ) digunakan rumus. Kepemimpinannya terkesan tidak tebang pilih dalam upaya penegakan upaya hukum tindak pidana korupsi.698 berada pada tingkat 0. untuk selanjutnya dilakukan uji hipotesis. bahwa figur Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden RI mengalami peningkatan ketika pemerintahannya menunjukan keseriusan dalam hal pemberantasan korupsi. Dengan menggunakan rumus prodiuk momen ( person`s correlations ).Selain itu program Jaminan Kesehatan Masyarakat ( Jamkesmas ). Sebagai hipotesis adalah: Ho : menunjukan terdapatnya hubungan antara variable X dan Y. melalui flukturasi Bahan Bakart Minyak ( BBM ) dan Pemberian Bantuan Langsung Tunai ( BLT ).

Figur publik merupakan seorang tokoh masyarakat yang menjadi pusat perhatian orang banyak dan sudah dikenal oleh masyarakat luas. Ada dua faktor saling berkaitan yang menyebabkan hal tersebut terjadi. kapasitas dan kapabilitas kolektif untuk mengkompromikan dan mempersatukan berbagai disparitas sosialnya. Pesta demokrasi rakyat tersebut didahului oleh kegiatan – kegiatan sosialisasi dan kampanye dari masing – masing kandidat. Dari pemilihan anggota legislatif tanggal 9 april 2009. Figur pada konteks pemilihan umum ini adalah. tetapi dapat juga dalam bentuk kapasitas organisasi maupun gerakannya Sebagai seorang pemimpin. Peristiwa politik ini juga telah menjadi bahan berita dan iformasi yang menarik bagi berbagai media massa dintaranya stasiun televisi TV ONE. dan ini pulalah yang membedakannya dengan dengan kebanyakan koleganya dari perwira dan pemimpin lainya. peristiwa politik dalam bentuk tingkah laku dan pernyataan para aktor politik lazimnya selalu mempunyai nilai berita. Semua hal yang . baik dari segi penampilan fisiknya juga prestasi yang pernah diraihnya. yakni media massa. Sebagai seorang tentara ia bersikap halus dan sopn. Ttentang apa yang dianggap menjadi kelebihan. Lingkungan Survey Indonesia dan lembaga – lembaga survey lainnya.berpenampilan santun. Lembaga Survey Indonesia. agar pihaknya bisa tampil sebagai pemenang. Ketokohan Susilo Bambang Yudhoyono diduga menjadi faktor yang sangat signifikan dalam mempengaruhi secara drastis peningkatan perolehan suara partai Demokrat . sedangkan periode kedua pada bulan juli 2009 adalah pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung untuk masa bakti 2009 – 2014.Tetapi berdasarkan analisis yang dilakukan para pengamat politik maupun para akademisi. figur Susilo Bambang Yudhoyono adalah seorang pemimpin yang penuh perhitungan dalam mengambil keputusan dan janji perubahan yang hati-hati menjadi ciri khasnya. Kapasitas tersebut tidak harus bertumpu pada individu tertentu. Pada tahun 2009 Indonesia telah melaksanakan pesta rakyat sebanyak dua kali. telah disebarluaskan secara sistematis dan terorganisir menurut caranya masing-masing. Dalam kaitan ini hal yang dimaksudkan adalah. Tidak tanggung-tanggung data ini bahkan menunjukan partai Demokrat telah mengambil alih posisi Golkar dengan selisih angka yang cukup signifikan.Pendahuluan 1. termasuk media televise yaitu. Periode pertama adalah pemilihan wakil rakyat secara langsung untuk anggota DPR. dimana terjadinnya peningkatan perolehan suara yang diperkirakan hampir tiga kali lipat dari hasil pemilu tahun 2004. sehingga hampir mustahil kehidupan politik dipisahkan dari media massa. ketokohan kepemimpinan (good leadership).5%. Kedua. Apalagi secara fisik menurut sebagian masyarakat kita Susilo Bambang Yudhoyono tergolong tampan. Pertama: dewasa ini politik berada diera mediasi. popularitasnya. perolehan suara yang sangat cemerlang partai demokrat pada pemilihan legislatif tahun 2009 ini terkait erat dengan figur Susilo Bambang Yudhoyono. Apa yang dilakukan ini tentunya dalam kaitan untuk mendapatkan simpati dan dukungan suara dari masyarakat luas. Data -data yang ada mengungkapkan keunggulan partai Demokrat dalam perolehan suara anggota legislatif sekitar 20. Latar Belakang Masalah Peristiwa politik selalu menarik perhatian media massa untuk dijadikan sebagai bahan liputan. baik dalam bentuk rencana kerja kedepan maupun personalitynya sebagai seorang kandidat. Kemenangan partai Demokrat dianggap sangat fantastis. hasilnya dapat diketahui melalui penghitungan suara dengan menggunakan quick count yang dilakukan LP3ES.

diantaranya lewat fluktuasi harga BBM. Sejauh manakah figure Susilo Bambang Yudhoyono berpengaruh ditelevisi TV One terhadap minat memilih presiden dikalangan masyarakat kelurahan pasar merah timur kecamatan Medan Area. Khususnya ilmu komunikasi dalam rangka memperkaya bahan penelitian dan sumber Bacaan.musan masalah sebagai berikut : 1. penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mahasiswa. Perumusan Masalah. Faktor-faktor apakah yang mendorong minat memilih masyarakat pada figure Susilo Bambang Yudhoyono. Penelitian dilakukan untukmengetahui pengaruh figur Susilo Bamba dalam minat memilih Presiden pada 2009. 3. penelitian ini diberi judul “ Figur Susilo Bambang Yudhoyono di TV One dan minat memilih presiden tahun 2009 (Kajian pengaruh Susilo Bambang Yudhoyono di Media TV ONE Terhadap Minat Memilih Presiden di kelurahan Pasar Merah Timur Kecamatan Medan Area Kota Medan Pada Pemilihan Presiden Tahun 2009 2. 2.Pembatasan Masalah Penelitian ini dibatasi hanya pada masalah sebagai berikut 1. 1. b. Bagaimanakah ketertarikan msyarakat terhadap figure Susilo Bambang Yudhoyono. Penelitian ini mengemukakan tiga ru.Tujuan dan Manfaat Penelitian. 3. Popularitas figur Susilo Bambang Yudhoyono ini kian meningkat setelah ketika pemerintahannya mendapat aspirasi positif masyarakat. Kebijakan pemerintahannya yang telah mnguntungkan lapisan masyrakat menengah atas-bawah ini telah menjadi bahan pemberitaan yang hangat dimedia massa maupun khalayak luas. serta beras untuk rakyat miskin (Raskin). Secara akademis. 3. Untuk mengetahui factor yang mendorong dalam minat memilih masayarakat pada Figur Susilo Bambang Yudhoyono. Untuk mengetahui pengaruh figur Susilo Bambang Yudhoyono di TV One terhadap Minat memilih Presiden pada masyarakat di kelurahan Pasar Merah Timur kota Medan. penggabungan kelompok masyarakat menengah atas-bawah. 3. 4. khususnya dalam upaya pemberantasan korupsi.Tujuan Penelitian. Pemaparan fenomena komunikasi politik tersebut adalah objek kajian yang menarik perhatian peneliti untuk selanjutnya dijadikan sebagai latar belakang masalah dalam penelitian ini. 2. Penelitian terbatas pada figur Susilo Bambang Yudhoyono dalam televisi khususnya TV One. Untuk mengetahui ketertarikan masyarakat terhadap figure Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan Presiden 2. a.Manfaat Penelitian. . Penurunan harga BBM premium danpemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Objek penelitian adalah masyarakat kelurahan Pasar Merah Timur kecamatan Medan Area kota Medan.Untuk menguji pengaruh Figur Susilo Bambang Yudhoyono terhadap minat memilih Presiden. 1.tersebut itu membuat kewibawaannya semakin kuat dimata kebanyakan bangsa Indonesia dan telah menghantarkannya sebagai figur pemimpin yang populer. Semua ini diduga telah mendongkrak popularitas Susilo Bambang Yudhoyono.

penelitian ini dapat memberi masukan bagi peneliti yang lain jika akan mengadakan penelitian yang sama. Dengan kata lain. dan keputusan yang diperoleh (gratifications). Adapun media dianggap berusaha memenuhi motif khalayak. yang diuraikan dengan berita figur Susilo Bambang Yudhoyono terhadap minat memilih.lam bukunya The Uses on Mass Communication Current Perpectives on gratifications research) dan Michael Gurevitch (sebagai orang yang ikut mencetuskan teori ini). tetapi tertarik pada apa yang dilakukan khalayak terhadap media. Teori ini mempunyai teori pendukung antara lain. tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi dan social khalayak. Untuk mendukung pemecahan masalah secara sistematis. yang membawa pada pola terpaan media yang berlainan (keterlibatan pada kegiatan lain). Model uses and gratifications menekankan pada pendekatan manusiawi dalam melihat media massa. penelitian ini dapat memperluas cakrawala peneliti tentang partai politik dalam pemilihan umum. Pendekatan dalam memahami interaksi orang dengan media. 5. 3.2. Menurut Herbert Blumer dan Elihu Katz. Secara teoritis. Pengguna media berusaha untuk mencari sumber media yang paling baik didalam usaha memenuhi kebutuhannya. tetapi dalam model ini perhatian telah bergeser dari proses pengiriman pesan kepada proses penerimaan pesan. Model ini menunjukan bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku khalayak. Model ini merupakan pengembangan dari jarum hypodermik yang menganggap khalayak pasif. Sosial categories theory dan Individual differences theory. Study Uses and gratifications ini memusatkan perhatian pada pengguna (uses) media. pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Uses and gratifications ini menentukn fungsi komunikasi massa dalam melayani khalayak. Artinya teori ini mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya. Model ini memandang individu sebagai makhluk suprarasional yang sangat efektif. teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini adalah Uses and Gratifications (kegunaan dan kepuasan). Dalam proses komunikasi massa. untuk mendapatkan kepuasan (gratifications) atas kebutuhan seseorang. yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumbersumber lain. Menurut teori tersebut. pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. uses and gratifications meneliti asal mula kebutuhan secara psikologi dan social. sebab khalayak dianggap aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Secara praktisi. Model Uses and Gratifications. wewenang untuk memperla kukan media. merupakan pergeseran focus dari tujuan komunikator ke tujuan komunikan. melalui pemanfaatan media oleh orang itu (uses). Pada intinya khalayak menggunakan media massa berdasarkan motif-motif tertentu. Model ini tidak tertarik pada apa yang dilakukan media pada diri khalayak. Kerangka Teori. Meskipun hal ini mengundang kritik. Bahwa manusia mempunyai otonomi. atau dari proses pengiriman pesan ke proses penerimaan pesan. (Orang pertama yang mengenalkan teori ini pada tahun 1974 da. dan menimbulkan kebutuhan dan akibat-akibat lain. Teori ini berangkat dari pandangan bahwa komunikasi tidak mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi khalayak. Asal mula kebutuhan secara pshikologis dan social yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber lain yang membawa pola terpaan media yang berlainan dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan dan akibat lain. Sedangkan inisiatif untuk mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media terletak pada khalayak. .

Teori ini menelaah perbedaan diantara individu-individu sebagai sasaran media massa ketika mereka diterpa sehingga menimbulkan efek tertentu. teori tersebut dapat berfungsi sebagai teori sderhana untuk studi media massa. Diawali decade 1940-an dan 1950-an para pakar melakukan penelitian mengapa khalayak terlibat dalam berbagai jenis perilaku komunikasi. bahwa manusia amat bervariasi dalam organisasi psikologinya secara biologis. tetapi bukan apa yang dilakukan media pada khalayak. Tetapi menurut teori ini konsumen media mempunyai kebebasan untuk memutuskan bagaimana media itu berdampak pada dirinya. DeFleur dalam buku “ Individual Differencest theory of mass communication effect”.Pendekatan uses and gratifications memberikan alternative untuk memandang pada hubungan antara isi media dan audience. Persamaan gaya. Gratifikasi yang sifatnya umum antara lain pelarian rasa khawatir. Teori ini juga menyatakan bahwa media dapat mempunyai pengaruh jahat dalam kehidupan. khalayak sukar mengecek keberadaan yang disajikan media. Pendukung model uses and gratifications diantaranya . maka penelitian ini mencoba melihat pada hubungan antara isi media massa yang menampilkan informasi tentang figur Susilo Bambang Yudhoyono sebagai seorang pemimpin dimata masyarakat dan minat memilih presiden. Menurut teori ini adanya perkumpulanperkumpilan. kebersamaan-kebersamaan atau kategori social pada masyarakat urban industrial yang perilakunya ketika diterpa perangsang tertentu hamper-hampir seragam. dan pengkategorian isi media menurut fungsinya. Bahwa penggunaan media massa TV One oleh khalayak dalam mendapatkan informasi figur Susilo Bambang Yudhoyono adalah sebagai inisiatif untuk . yakni menggunakan media untuk pemuasan kebutuhannya. Teori pendukung berikutnya adalah Individual Differencest theory. Asumsi dasar teori ini ialah teori sosiologis yang menyatakan bahwa meskipun masyarakat modern sifatnya heterogen. sesuai dengan kepercayaannyaa yang diduking oleh nilai-nilainya. Inilah yang menyebabkan efek media pada khalayak tidak seragam. yang dikemukakan Melvin D. Pendekatan mempersoalkan apa yang dilakukan pada media. maka secara ilmiah dapat diduga akan muncul efek yang berfariasi sesuai dengan perbedaan individual itu. DeFleur. perolehan informasi dan kontak social. Meskipun pada saat yang sama. Teori kategori sosial ini merupakan formula yang lebih bersifat penjelasan dari pada pembahjasan. akan mempunyai pola hidup tradisional yang sama. melainkan beragam. Teori ini mengandung rangsangan-rangsangan khusus yang menimbulkan interaksi yang berbeda dengan watak-watak perorangan anggota khalayak. Anggapan dasar teori perbedaan individual ini . orientasi dan perilaku akan berkaitan dengan suatu gejala seperti media massa dalam perilaku yang seragam. tetapi ini dikarenakan pengetahuan secara individual yang berbeda. dukungan emosional. Efek atau pengaruh media massa terasa lebih kuat lagi. Khalayak sebagai sasaran media massa akan menaruh perhatian secara selektif kepada pesan-pesan terutama jika berkaitan dengan kepentingannya. karena pada masyarakat modern orang memperoleh banyak informasi tentang dunia dari media massa.tetapi sejauh mana dapat digunakan sebagai landasan untuk prediksi kasar dan sebagai pedoman untuk penelitian. karena secara individual berbeda satu sama lainnya dalam struktur kejiwaannya. Sosial categories theory yang diperkenalkan Melvin L. Oleh karena terdapat perbedaan individual pada setiap pribadi anggota khalayak itu. Umumnya khalayak lebih tertarik kepada apa yang khalayak lakukan pada media. konsisten dngan sikapsikapnya. tetapi bagi penduduknya yang memiliki sejumlah ciri yang sama. Anggota-anggota dari suatu kategori tertentu akan memilih pesan komunikasi yang kira-kira sama dan menanggapinya dengan cara yang hampir sama pula. Dalam kaitan dengan pemaparan teori tersebut. peredaan rasa kesepian.

Defenisi operasional merupakan penjabaran lebih lanjut mengenai konsep yang telah dikelompokan dalam variable operasional penelitian.mengaitkan minat memilih presiden. Jenis kelamin. atau keputusan khalayak dengan pemilihan media adalah dalam kaitan memenuhi kepuasannya. Anteseden Variable Operasional 1. diperlukan kerangka konsep yang disusun berdasarkan perkiraan teoritis . . Minat.Tampan. a.Penampilan. 7. . Model teoritis. 2. dan lahan pengamatan. 3. Sebagai definisi dari variablevariable ini adalah sebagai berikut: 7.Berwibawa. Model Teoritis Variable Bebas (X) Figur SBY di Media TV One Variable Terikat (Y) Minat Memilih Karakteristik Responden b.Pekerjaan 1. 6.Pendidikan. Pengertian. Karakteristik: . Definisi Operasional. dibentuk melalui pengelompokan variable – variable yang ada. Kerangka Konsep. 2. Perhatian. Kerangka konbsep dalam penelitian ini adalah. Jenis kelamin 2. . Untuk pencapaian hasil yang diharapkan dalam penelitian ini.Relegius.Usia. Sebagai variable operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Variable Teoritis 1. Figur 3. Variable Operasional. 4. yaitu pengelompokan jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang akan diajukan sebagai responden.Gaya Bicara. 3. Variable operasional adalah penjabaran dari kerangka konsep model teoritis yang berfungsi sebagai peta penelitian didalam pengumpulan data-data.1 Anteseden yang terdiri dari a). sehingga menghasilkan suatu model teoritis sebagai berikut: Gambar 1. Kerangka konsep ini. Penerimaan.

tampan. A. c). Melalui pertukaran informasi. yang menunjuka kondisi pendidikan responden yang diajukan.kelurahan Pasar Merah Timur di-kota Medan. Penampilan yaitu cara tampilan seorang figur dalam media sehingga menarik bagi masyarakat. 7. Hipotesis adalah suatu pendapat atau sementara atau kurang sempurna. Tetapi untuk membatasi makna komunikasi. kelompok sarjana komuni kasi mendifinisikannya sebagai berikut: komunikasi adalah suatu transaksi. proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan : 1. pengertian dan diakhiri dengan penerimaan terhadap informasi atau suatu hal yang kemudian dapat mendatangkan suatu respond dan tanggapan.b). c). 8. Dilihat dari hakekatnya komunikasi ialah proses pertukaran atau perpindahan informasi antara manusia dengan menggunakan bahasa. Uraian Teoritis. a). Membangun hubungan antar manusia. menunjukan status kelompok kerja atau profesi responden yang diajukan sebagai responden. . religius. Usia. karena ketokohannya.2 Figur yaitu. dan sebagainya. Pengertian yaitu proses berfikir mengeni suatu hal yang membuat seseorang dapat menyerap apa yang disampaikan kepada dirinya. Pengertian Komunikasi. sosok individu yang sudah dikenal oleh masyarakat luas. d). seperti pejabat. Ha : Terdapat hubungan antara figur Bambang Yudhoyono dalam media televisi TV One Terhadap minat memilih presiden pada masyarakat di-kelurahan Medan Timur diKota Medan. Komunikator (orang yang menyampaikan informasi). Harold Lasswell dalam bukunya The Structure and Function of Comminication in Society untuk menjelaskan komunikasi ia mengemukan formulasi “ Who Says What In Wich Channel To Whom With What Effect” Formulasi itu kemudian diterjemahkan menjadi unsur-unsur komunikai yaitu. c). b). Pendidikan yaitu. dan gerak-gerik sebagai alat penyalurnya. Pekerjaan yaitu. komunikan ( orang menerima informasi ) dan efek ( pengaruh komunikasi ).3 Minat yaitu kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Karakteristik yaitu cara seorang figur menampilkan ciri tersendiri di media sehingga dapat menarik hati masyarakat diantaranya. Sebagai hipotesis dalam penelitian ini adalah: Ho : Tidak terdapat hubungan antara figur Susilo Bambang Yudhoyono dalam media Televisi TV One terhadap Minat Memilih Presiden pada masyarakat di. Penerimaan yaitu rangkaian proses yang dimulai dari perhatian. yang memerlukan suatu penalaran tentang hal tersebut. Pesan { isi informasi ). yaitu menunjukan kondisi batasan umur responden yang diajukan. a). 7. pemimpin. Gaya bicara yaitu teknik seorang figur dalam berbicara di media sehingga menarik dan mudah dimengerti oleh masyarakat. berwibawa. 2. Hipotesis. Perhatian yaitu suatu bentuk sikap yang mencerminkan keinginan untuk mengetahui tentang suatu hal yang dianggap menarik untuk disimak. gambar. Media ( alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan informasi ). b).

orang yang berperan. dan akan semakin menjadi pembicaraan prilaku. d).Tahun 19973 ia sebagai Taruna Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.massa seperti telephon. . Fungsi penyampaian informasi. Sedangkan komunikasi secara skunder ( proses penyampaian informasi dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua}. 5. ( Effendy. Untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain.3. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (1988-705). Sedangkan figur bermakna : bentuk. Menyampaikan informasi (to inform ) b). (Entertaiment) C. Jadi public figur adalah tokoh.2006:79-81) adalah sebagai berikut : a. yang lebih popular dengan sebutan SBY adalah Presiden Indonesia yang ke-6 (2004-2009). yang menjadi pusat perhatian orang banyak. (guiding pendidikan) c. 6. yaitu sebagai berikut : a).tokoh.( Cangara. Media Massa 3. Jadi publik figur merupakan sosok orang menjadi pusat perhatian orang banyak atau masyarakat luas. Komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas. Menghubur ( to entertain ).(Konyrol social). Hiburan. Publik berarti orang banyak (umum). secara primer (proses penyampaian informasi dengan menggunakan lambang ( symbol ) sebagai media. Pengertian figur. (to informations) d. Serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu. Fungsi transformasi budaya. Memulai karirnya dimiliter sejak tahun 1970. Media ada yang bersifat massa seperti seperti televisi dan non. Fungsi Sicial Learning. (Proses transformasi).2006:71). Informasi. Haji Susilo Bambang Yudoyono. wujud. American Language Course. Jawa Timur pada tanggal 9 September 1949. b. David Orgilvy dalam Kesuma (1993:403) mengemukakan. Umpan Balik Sedangkan Fungsi media massa menurut (Bungin. pemimpin. 4. 2002: 19) Proses komunikasi dapat berlangsung melalui dua cara yaitu. ketokohannya atau karena hal lainnya. seperti artis. public figur adalah figur masyarakat (tokoh masyarakat). sikap dan tindakan-tindakannya. Komunikator 2. boleh jadi karena segi penampilan fisiknya prestasinya. peran. Mendidik ( to educate ) c). 4. 2005 :8 ). merupakan sentral yang menjadi pusat perhatian. olah raga. dan tokoh masyarakat lainnya. dan pada masa pemerintahan Megawati ia diangkat menjadi Menko Polkam . Tokoh masyarakat berarti orang yang sudah dikenal oleh masyarakat luas. Getekeeper (Penyeleksi informasi). Semakin populer sosok seorang figur biasanya semakin sering ia tampil di media massa. e. Lackland. Fungsi Pengawasan. B. Penggunaan media massa merujuk kepada fungsi media massa itu sendiri. Khalayak (penerima informasi). Lahir di Pacitan. Pengertian Komunikasi Massa.( Bungin. Atas dasar batasan ini maka unsure komunikasi massa yang dikemukakannya adalah : 1. Mempengaruhi ( to influence ). pejabat.

minat diartikan sebagai perhatian. Jadi minat bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir. maksud (intention) dan perilaki (behavior). Minat seseorang itu merupakan proses internal dalam diri individu. D. yang kemudian pada pemilihan presiden tahun 2004 ia mencalonkan diri sebagai presiden dan tampil sebagai pemenangnya beserta wakilnya Usuf Kalla.Texas AS tahun 1976. Apabila dikaitakan dengan pemilihan maka minat ini akan terarah kepada suatu objek yang menjadi perhatiannya dan merupakan sumber motivasi yang mendorong orang secara bebas untuk menentukan apa atau siapa yang mereka pilih. Poerwadarminta. tetapi kompetitor. Kursus Komando Batalyon tahun 19855 dan pangkat terakhir yang disandangnya adalah Jendral TNI terhitung tanggal 25 September 2000 dan pensiun pada tanggal 10 November 2000. Doyles Fryer (1983:224) menyatakan minat atau interest adalah gejala yang berkaitan dengan objek atau aktifitas yang menstimulir perasaan senang pada individu. Menrut Fisben and Ijek perilaku memilih dipengaruhi sistem yang terdiri dari kepercayaan (believe). sikap (attitude). Figur calon presiden biasanya berhubungan denagn perilaku pemilih. Banyak masyarakat yang beranggapan SBY sebagai simbol perubahan . melainkan terbentuk oleh stimulus melalui interaksi.Pengertian Minat. Karenanya. Karir politik SBY mulai menanjak setelah pengnduran dirinya pada masa kabinet Gotong Royong pemerintahan presiden ke 5. Pada pemilihan Presiden tahun 2009 beberapa survey. Semakin disenangi figur seseorang semakin besar peluangnya untuk dipilih oleh pemilih pada peristiwa pemilihan umum. Sebagai presiden masa bakti 2004-2009. Sistem ini merupakan dasar dari rule system yang menjadikannya aksen activity. Performancenya ini telah merebut simpati masyarakat luas dari berbagai lapisan masyarakat. termasuk dalam hal minat memilihnya. Kearifan dan kecerdasan SBY dalam berhadapan dengan tokoh-tokoh senior yang juga calon-calon presoden lainya pada tahun 2004 dengan pernyataan “bagi saya Megawati atau Amin Rais bukanlah musuh.Figur SBY ini selain telah menghantarkanya sebgai pemenang pada pemilihan presiden langsung untuk masa bakti 2009-20014. tekun. Hanya saja minat punya kaitan dengan faktor internal individu seperti mental atau bakat . dan polling yang pernah diadakan oleh berbagai media. Graduated ICAO di AS dan tahun 2003 terpilih sebagai Tokoh berbahasa lisan Terbaik. Diantara penghargaan yang pernah diterimanya adalah :Tahun 1973 Lencana Adi Mahakarya dari Presiden RI untuk lulusan AKABRI terbaik. ( Kompas. 1983 Honorour. beberapa kebijakannya yang dianggap pro rakyat telah membuat figurnya semakin fenomenal dimasyarakat. tubuh yang tegap. tutur kata yang santun dan gaya bicara yang panjang lebar untuk dalam menjelaskan beberapa persoalan. intensif dan lebih menguasai individu secara mendalam. marilah berkompetisi secara sehat dalam bingkai demokrasi“.Sedangkan Jersild dan Tasch (1983:224) menekankan bahwa minat atau interst menyangkut aktifita yang dipilih secara bebas oleh individu.25) minat adalah perhatian. Dalam kamus bahasa Indonesia. Figur SBY dikenal sebagaai tokoh yang berwajah tampan. diduga figurnya jugalah yang telah berhasil mendongkrak perolehan kursi DPR partai Demokrat pada pemilihan tahun ini juga.24/6/2004 ).kesukaaan (kecenderungan hati) kepada suatu keinginan tertentu. kuat.mengalahkan calon-calon lainnya. sikap-sikap positif SBY yang selalu menonjol dan telah membawanya sebagi orang populer. Menurt Meichati ( 1974. Dalam menyikapi beberapa persoalan menurut sebagaian masyarakat ia terkesan lamban dan ragu-ragu. 1986:55). tetapi sebagian lagi berpendapat bahwa hal itu hanyalah sebagai ujud kehati-hatiannya sebagai seorang pemimpin yang berusaha untuk bisa arif. jajak pendapat.

Sample.Populasi: terdiri dari 12 lingkungan dengan jum. Untuk menentukan jumlah sample digunakan rumus Taro Yamane dengan presisi 10% dan tingkat kepercayaan 90% ( Rahmat. ( Distribusi sample diambil dari 12 lingkungan).dan sebagainya yang dapat membuat orang merasa senang.Oleh karena itu minat bersifat situasional dan temporer yang dapat berubah. . Metodologi Penelitian. dengan profilnya sebagai berikut : 1.93 N = 99 Responden. B. Selanjutnya untuk penarikan sample digunakan rumus : • nI x n N Kreteria sample telah ditentukan sebagai berikut : a. A.Metode Penelitian. D. Penelitian ini menggunakan metode korelasional. Deskripsi Daerah Penelitian. “metode korelasional untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasional. maka minat dapat timbul jika adanya objek yang menonjol (kontras). N n= Nd² + 1 Dengan demikian besar sample yang diambil adalah : N n= Nd² + 1 11793 = 118. suka terhadap suatu objek. Dengan demikian jika dilihat dari kepentingan indifidu. Penelitian ini dilakukan di kelurahan Pasar Merah Timur Kecamatan Medan Area Kota Medan.793 Jiwa C. Pada penelitian ini untuk mengetahui pengaruh figur Susilo Bambang Yudhoyono dalam media televisi TV One terhadap minat memilih Presiden di Kelurahan Pasar Merah Timur Kecamatan Medan Area Kota Medan. 2004:82). yang menarik perhatiannya dan tentu ia mempunyai harapan untuk mendapatkan sesuatu dari sana. Menonton acara tersebut.lah penduduk 11. b. Semakin besar harapannya untuk mendapatkan sesuatu pada objek itu maka akan semakin besar minatnya terhadap objek itu. Usia 17 – 60 tahun. Teknik Pengumpulan Data.

penelitian ini menggunakan dua sumber yaitu : 1). maka hipotesis diterima. c. Angket Tahun 2009 n = 99 n 40 59 99 % 40. 2. b. Tanda silang ( X ) sebuah daftar pada kolom yang sesuai. Penelitian lapangan (pengumpulan data melalui Kuesioner) dalam empat bentuk yaitu : a. Jika Rxy <0. maka hipotesis ditolak. 1 Jenis Responden No Jenis Responden 1. 2).∑x∑y √ [ N ∑ X² - (∑ X²)][N ∑Y² . Uji hipotesis (untuk mengetahui apakah hipotesis diterima atau ditolak). Rxy >0. Tabel. tulisan dan Dokumen. A. Teknik Analisis Data.dokumen lainnya).00 . d. Analisis table silang (untuk mengetahui hubungan variable) 3. Penelitian kepustakaan (Pengambilan data melalui buku literature. Hasil Penelitian dan Pembahasan. E. Perempuan Jumlah Sumber . Kuesioner isian.(∑Y²)] Keterangan : r : Koefisien korelasi produk moment N : Jumlah sample x : Variable bebas y : Variable terikat. Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap: 1.40 59. Kuesioner pilihan ganda. Analisis table tunggal (membagi variable kedalam sejumlah frekuensi dan Presentase.60 100. untuk melihat besar sukap responden. Laki-laki 2. N ∑ xy r= . Analisa Table Tunggal.Untuk mendapatka data penelitian yang diperlukan. Untuk menguji hubungan diantara kedua variable penelitian digunakan rumus Product Moment sebagai berikut:. Likert scale( Skala likert ).

07 3.00 . 2 Pengaruh SBY terhadap informasi Responden No Kategori Jawaban N % 1. Mampu 59 59.00 Sumber: Angket Tahun 2009.59 4. No. Tabel.03 66. Berpengaruh 58 58. Berpengaruh 61 61. Katogori Jawaban N 1. Berpengaruh 66 4.02 2.00 Sumber: Angket Tahun 2009 n = 99 Tabel. Sangat Mampu 31 31.05 2.28 Jumlah 99 100. Katogori Jawaban N % 1. Tidak Mampu 2 2.00 Sumber : Angket tahun2009. 3 Penampilan SBY mempengaruhi minat No.05 3.24 Jumlah 99 100.62%) berpengaruh terhadap menyatakan gaya bicara SBY berpengaruh gaya pola pikirnya .60 4. Hal ini menunjukan bahwa di kelurahan pasar merah timur kecamatan Medan Area Kota Medan jumlah penduduk permpuan lebih banyak dari pada laki-laki.62 4. Sangat Berpengaruh 25 Jumlah 99 % 5. Tabel.Responden Perempuan lebih bayak dari laki-laki. Tidak Berpengaruh 5 2. Sangat Berpengaruh 28 28. No.09 3.67 25. 4 Gaya Bicara SBY pengaruhgaya bicara SBY. n = 99 Tabel menunjukan bahwa tingkat pengaruh penampilan SBY di televisi sangat tinggi bagi responden dalam mendapatkan informasi tentang figur SBY. 5 Karakteristik SBY. Sangat Berpengaruh 24 24. n = 99 Data pada tabel menunjukan bahwa pengaruh gaya bicara SBY cukup siknifikan dalam mengubah pola pikir responden. Tidak Berpengaruh 7 7.06 3.25 100. Kurang Mampu 7 7. Kurang Berpengaruh 9 9.07 2. Tabel. Katogori Jawaban N % 1.31 Jumlah 99 100. Kurang Berpengaruh 6 6. atau 61 responden (61. Tidak Berpengaruh 5 5. Kurang Berpengaruh 3 3.

3. Katogori Jawaban N % 1. 2. No. Tidak Berpengaruh Kurang Berpengaruh Berpengaruh Sangat Berpengaruh 6 5 64 24 6.24 Jumlah Sumber: Angket Tahun 2009 n = 99 99 100.65 24. Tidak Berpengaruh Kurang Berpengaruh Berpengaruh Sangat Berpengaruh Jumlah 4 11 65 19 99 4.05 64. 8 Meminat Memilih SBY No.53 41. Tidak Berpengaruh Kurang Berpengaruh Berpengaruh Sangat Berpengaruh Jumlah 4 2 52 41 99 4.19 100. menurut 66 responden (66. 4. 3. 4.66 19. 7 Sifat Reliji SBY. No.Sumber: Angket Tahun 2009 n = 99 Data pada tabel dalam kaitan pengaruh karakteristik SBY dalam pemilihan president cukup tinggi. Tabel. 2.00 Data pada tabel menunjukan bahwa setelah mengikuti figur SBY di telefisi berpengaruh dalam tingkat minat .11 65.53%).65%).04 11. 2.67%). Katogori Jawaban N % 1.02 52. . Katogori Jawaban N % 1. dalam pemilihan president.04 2. 3.00 Sumber: Angket Tahun 2009 n = 99 Sifat Reliji SBY ternyata berpengaruh terhadap tingkat memilih dalam pemilihan presiden menurut 65 responden (65. 6 Kewibawaan SBY. menurut 64 responden (64. 4. Tabel.66%% ).06 5.00 Sumber: Angket Tahun 2009 n = 99 Kewibawaan SBY menurut tabel diatas berpengaruh terhadap minat memilih presiden menurut 52 responden (52. Tabel.41 100.

2.07% Kurang Mampu F % 0 0.02 2 9 1.00 0.08 7.00 2 2. Figur SBY Tidak Mampu Kurang Mampu Mampu Sangat Mampu Total Tidak Mampu F % 1 1.B. 1). Tabel.00 2 2 1 2.3 2 Total 2 2 66 9 2.04 33.02% 7.04 1. 2).01 4.Sedangkan 33 ( 31. 10 Hubungan antara Intensitas Bicara SBY terhadap Minat Memilih No 1.02 0 0.16% 60 60.01 1 4 1 1. 4.01 8.60% 31. 4.00% Hubungan antara penampilan figur SBY terhadap tingkat perhatian masyarakat dalam Pemilihan Presiden.01 6 2 2.07% 59.1 4 6 3 2 6. menurut 59 ( 59.07 Total F 2 7 59 31 % 2.22% 66. 9 Hubungan penampilan SBY terhadap tingkat perhatian.14 1. berpengaruh terhadap Tingkat Perhatian Responden Pada Pilpres .00 0 3 0 0. Analisa Table Silang.02 2. No 1.33 22. 2.00 1 14 1 1. 3.00 1 8 7 1.01 14.02 6. Figur SBY Tidak Sering Kurang Sering Sering Sangat Sering Minat Memilih Capres Tidak Kurang Sangat Mampu Mampu Mampu Mampu F % F % F % F % 0 0.31% ) responden mengatakan sangat mampu.06 29.02% 22. mampu mempengaruhi tingkat perhatian dalam pemilihan Presiden. Hubungan Antara Intensitas Bicara SBY di Televisi Terhadap Minat Memilih Responden.00 0 0.22 Sangat Mampu F % 0 0. Tabel.09% .6% ) responden : bahwa daya tarik penampilan SBY dianggap . 3.70% 9.06 32.01 7 7.31% 16 16.2 9 1 4 14.01 Mampu F 1 4 33 22 % 1. Hubungan antara penampilan figur Susilo Bambang Yudhoyono.16% 99 100.01 4.60% 16 16.00 3.

Total 3 3.18 6 6. Tabel. Uji hipotesis meliputi variable meliputi variable bebas ( X )sebagai figur Susilo Bambang Yudhoyono. 11 Kewibawaan SBY dan Minat Memilih Presiden.03% 5 5.41% 99 F 4 0 1 1 % 4.Adapun yang menyatakan sangat sering sebanyak 9 (9.(∑Y)²] Keterangan : r : Koefisien korelasi produk moment N : Jumlah sample x : Variable bebas y : Variable terikat.52% 41.02% 52. maka korelasi dapat diketahui dengan menggunakan rumus Produk Moment yaitu :.5%) responden.22 F 0 0 6 18 % 0. Uji Hipotesis.06% 5 5. √ .05% 47 47.7% ) responden menyatakan: intensitas bicara SBY di televisi sering mempengaruhi tingkat frekuensi minat responden dalam maju untuk ikut memberikan suara pada pilpres.00 1. 3). Tidak Berpengaruh Kurang Berpengaruh Berpengaruh Sangat Berpengaruh Figur SBY Tidak Berpengaruh Kurang Berpengaruh Berpengaruh Sangat Berpengaruh Total TOTAL 4 2 52 41 4. berpengaruh terhadap tingkat minat memilih presiden. 2.04 0.41 22.24% Figur SBY. dan variable terikat ( Y) yakni minat memilih.04% 2.∑ x ∑ y r= [N ∑ X² .64% 24 24.01 1.41% ) responden menyatakan sangat berpengartuh.09%) responden. N ∑ xy .47% 16 16. Hubungan Antara Kewibawaan SBY dan Minat Memilih Presiden. Menurut 52 (52.01 4.00 1.01 F 0 1 4 0 % 0.06 18. Minat Memilih Pilpres No 1.00 F 0 1 41 22 % 0.(∑ X)²][N ∑Y² . 4.05% 64 64.00 1. ternyata tingkat pengaruh kewibawaan sebanyak 41 ( 41. Bahwa sebanyak 66(66.00 6.04 0.01 41. 3. 4. Dari hasil temuan data yang ada.16% 99 Terdapat hubungan antara tingkat frekuensi menerima intensitas bicara SBY terhadap tingkat frekuensi pengaruh minat memilih presiden. Sedangkan tingkat pengaruh kewibawaan SBY berpengaruh terhadap tingkat minat responden dalam memilih presiden.00 0.

(2-tailed) n 1 99 . = (0. Pembahasan Hasil Uji Hipotesis. . diketahui harga r adalah 0. yaitu 0%. Ini bermakna adanya hubungan antara variable X dan Y. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. ( terdapatnya hubungan figur Susilo Bambang Yudhoyono dan minat memlih masyarakat).698 (**) .7%.698. Ini bermakna bahwa hanya sebesar 49% figur Susilo Bambang Yudyoyono di media televise berpengaruh terhadap minat memilih Presiden bagi masyarakat kelurahan Pasar Merah Timur Kecamatan Medan Kota. Dengan menggunakan rumus produk moment.000 99 Minat Memilih .01 maka Ho ditolak. = 49% Dengan demikian hubungan figur Susilo Bambang Yudhoyono terhadap minat memilih masyarakat di kelurahan Pasar Merah Timur adalah sebesar 49%.698 )2 x 100% = (0. Menurut skala Guilford. Ini berarti figur Susilo Bambang Yudhoyono signifikan denagn minat memilih masyarakat. Perhitungan nya menggunakan piranti lunak ( Software).68. dimana 0.698 berada pada tingkat 0. Tingkat signifikansi korelasi lebih kecil dari0.698 (**) . Correlation’s Figur SBY Figur SBY Pearson Correlation Sig.0 for windows.698 x 100% = 48.Pengujian Hipotesis korelasi ini menggunakan korelasi Product Moment (Person’s correlation).00. Karena di dalam software tersebut sudah diperingat kan secara jelas dan rinci. SPSS 15. KP= (rs)2 X 100%.01 level (2-tailed) Berdasarkan tabel korelasi tersebut diketahui bahwa korelasi yang diperoleh bersifat positif yaitu +0. 5.70.000 99 1 99 Minat Memilih ** Correlation is singnificant at the 0. korelasi ini (antar Figur Susilo Bambang Yudhoyono dan minat memilih masyarakat dikelurhaan Pasar Merah ) terdapat hubungan yang signifikan. Jika probabilitas 0. dapat dihitung dengan menggunakan rumus : • KP= (rs)2 x 100% Keterangan : KP : Kekuatan Pengaruh r : Koefisien korelasi.40-0. Untuk melihat besarnya kekuatan pengaruh ( KP ) yang ditimbulkan oleh figur Susilo Bambang Yudhoyono dari TV One terhadap minat memilih masyarakat dikelurahan Pasar Merah Timur. pengujian t-test dan uji-Z tidak dibutuh kan lagi.

Pengaruh figurnya ini pada pilpres sebesar 49%. berpengaruh terhadap tingkat minat memilih presiden. terhadap minat memilih presiden bagi masyarakat kelurahan Pasar Merah Timur kecamatan Medan Area. Dengan demikian makna keseluruhannya adalah. Hal ini berarti hanya 49% kekuatan pengaruh figur Susilo Bambang Yudhoyono dimedia televisi terhadap minat memilih calon presiden. Berdasarkan data-data yang terkumpul melalui pengajuan Kuesioner dapat diketahui bahwa figur Susilo Bambang Yudhoyono mampu mempengaruhi. sedangkan 51% disebabkan beberapa faktor-faktor lainnya. ada hal yang menyenangkan ataupun memberikan kepuasan. dapat dilihat dari uji hipoteis adalah 0.698% ). Penelitian ini telah membuktikan bahwa figur Susilo Bambang Yudhoyono cukup berpengaruh. menunjukan terdapatnya pengaruh yang cukup berarti antara figur Susilo Bambang Yudhoyono dengan minat memilih masyarakat dikeluruhan Pasar Merah Timur kecamatan Medan Area kota Medan. 2). Kota medan. Hasil ini menolak uji hipotesis Ho (tidak ada pengaruh sama sekali). Sedangkan tingkatpengaruh kewibawaan SBY ini berpengaruh terhadap tingkat minat responden dalam memilih presiden.Dengan demikian figur Susilo Bambang Yudyoyono adalah figur seorang pemimpin bangsa. menunjukan terdapat hubungan yang signifikan antara figur Susilo Bambang Yudhoyono pada siaran TV One terhadap minat memilih presiden pada masyarakat kelurahan Pasar Merah Timur dengan skala Guilford 0. Kesimpulan 1).70 – 0. Dalam praktek demokrasi hanya pemimpin yang memiliki legitimasi masalah yang memiliki suatu kekuatan untuk mempengaruhi dan mengarahkan bangsanya sesuai dengan apa yang dicita-citakannya. bahwa minat dimaknai dengan kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. mengarahkan dan mengajak masayarakat untuk turut menggunakan haknya dalam pelaksanaan pemilihan presiden. . Besarnya kekuatan pengaruh (KP) yang ditimbulkan oleh figur Susilo Bambang Yudhoyono dari TV One terhadap minat memilih masyarakat di-kelurahan Pasar Merah Timur.Hasil uji hipotesis secara keseluruhan dapat diklasifikasikan bahwa . Penelitian ini telah menghasilkan data-data tentang hubungan yang ditimbulkan antara figur Susilo Bambang Yudhoyono terhadap minat memilih masyarakat pada Pilpres dikelurahan Pasar Merah Timur. Figur SBY. 3). terdapat hubungan antara X dan Y. bersahaja dan dapat menerima keritikan-keritikan. Hasil dari perhitungan ini adalah. Terdapat pengaruh antara figur Susilo BambangYudhoyono di media televisi terhadap minat memilih presiden pada masyarakat kelurahan Pasar Merah Timur kota Medan. Kesimpulan Dan Saran A.70 (hubungan cukup berarti). Sebagaimana dalam pembahasan sebelumnya. Hasil uji hipotesis Ha. bagi masyarakat Kelurahan Pasar Merah Timur. Uji hipotesis nilai r = 0. seperti cara berfikirnya kritis. sebesar 49%. bahwa hubungan figur Susilo Bambang Yudhoyono pada tayangan media televisi. sabar dalam menghadapi masalah. karena figurnya sudah cukup dikenal oleh masyarakat. Dalam hal ini tentu karena adanya rasa ketertarikan. figur Susilo Bambang Yudhoyono berhubungan dengan minat memilih presiden bagi masyarakat kelurahan Pasar Merah Timur kecamatan Medan Area Kota Medan masyarakat. Hubungan ini dianggap cukup berarti dan cukup signifikan dalam mempengaruhi masyarakat untuk memilih Susilo Bambang Yudoyono sebagai calon presiden masa bakti 2009 -2014. dihitung dengan menggunakan rumus: KP = (rs) 2 x 100%.698.

Jakarta. Muljani..R&W. Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi. 2006. Pratikno.2008.. Singarimbun Masri & Sofien Effendi. Metode Penelitian Bidang Sosial. Pengantar Komunikasi Massa. Citra Aditya Bakti Bandung.Inu & Ashari... Rachmat. tutur kata. Hadari. Metode Penelitian Komunikasi. Riyono. Syafie. 1994. Sumber lain : . Metode Penelitian Survei. 2007.. Kilas Balik Pemilihan Presiden. PT. DAFTAR PUSTAKA. hati-hati dan lain-lainnya seyogiyanyalah untuk dipertahankan terlebih-lebih dalam menghadapi berbagai permasalahan baik yang berkaitan dengan masyarakat luas. Rafika Aditama. Erlangga. Jakarta. Bandung .Erlangga PT.. Gasindo. 1984. Suryabrata. Jakarta. Yokyakarta. Mulyana Deddy. Poewardaminta. PT. Saran 1). Penerbit USU Press Wiryanto. Kenca Prenada Media Grup . santun. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional. Gajah Mada Universitas Press. K. 1998.W. Nurhadi. Yokyakarta. Sukardi. Pustaka Pelajar Offset. Pustaka Bangsa Press.. Psikologi Perkembangan. Pengantar Penelitian Komunikasi. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta. Dennis. Elizabet. dan Filsafat Komunikasi.B. 2005. Jakarta. Remaja Rosdakarya.. Nawawi. Erotika Media Massa. Balai Pustaka. Gramedia Pustaka . Koiruddin. 2006. Pustaka LP3ES. 2004. H.Gelora Aksara Pratama.. 2005.Quil. Widjaya. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Ilmu Komunikasi Pengantar Studi. 2006. Raja Grafindo Persada. Bungin Burhan.. Hurlock. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa.A. Raja Grafindo Persada. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar.1983. 2006. 2004. Teori Komunikasi Massa. Nurudin. Sosiologi Komunikasi. .2000. PT. Djalal P. 2000.. Onong Uchjana.. Galangpress... Adi Soempeno Femi. Sumardi. Remaja Rosda Karya Bandung. Figur Susilo Bambang Yudhoyono yang mendapat penilaian positif seperti religius berwibawa.. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung.. MC. PT. Kencana . Teknik Praktis Riset Komunikasi.. Yokyakarta. Metode Penelitian. Sejarah Perpustakaan dan Pengembangan di Indonesia.2007. Cetakan Pertama. Medan. Muhammadiyah university Press.Hafied 2002. Ilmu Teori. Suwardi Lubis. 2007. Indonesia Memilih. Bandung. Ketut Dewa. 2009. 1993. Jakarta. Surakarta.B. Jakarta.A.2006. PT. Cangara. Rakhmat Jalaluddin. Jakarta Effendy. 2007. Analisis Inventori Minat dan Kepribadian. Harus Bisa! Catatan Harian. Purba. PT. Rineke Cipta. Remaja Rosda Karya.. Andi Offset..Dino... Kriyantono. 2001. PT.Jakarta. Amir dkk. agar meminimalisasi konflik dan ketegangan dalam penyelesaian masalahnya. 2005. Jakarta. Metode Penelitian. 1987. Kencana... Jakarta. Yokyakarta. Rineka Cipta. PT. Sistem Politik Indonesia. 2005.

Unnas.id/searchpengertian+minat+menurut+h. http:///kaligrafindah. . Html:www. http:///www.id/scholor=kamus+umum+inclonesia&btng=televisi. 6 April.tvOne. Kompas.multiply. 24 Juni 2004 http//:www.comm/doe/2558832/perilaku-memilih-transmigran-jawa.unuka.as. Dijilid.ad. www.html.co.al-guruneducationapsychology-perspektive.google.tarigan.co.g.Kompas.blogspot.id.id/fakultas/psikojg/artkel/ss-i-htm http://scholor.scribd.co.dan khalayakdalam.library. 2009. Waspada.google.ac. 2009.com/jurnal/item/27minat-. Sindo.Komunikasimassa-umy.com/2005/11/teori-media . 30 Juli 2009. 29 April.manggoreskalografi. http:///www.

maupun dari Badan Informasi dan Telematika Daerah Pemerintah Provinsi Bali tidak pernah diikuti oleh responden. Jumlah responden dan lokasi penelitian ditentukan secara purposif. diharapkan Departemen Komunikasi dan Informatika beserta instansi terkait dengan OSS dapat mengeluarkan regulasi penggunaan OSS yang lebih kondusif guna mendorong aparatur pemerintah menerapkannya di instansi masing-masing. Volume 11 No. Untuk memperkuat dan menjelaskan data kuantitatif dilakukan wawancara mendalam dengan enam orang narasumber yang bekerja atau berprofesi di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Salah satu komponennya adalah mengungkapkan sumber informasi bagi karyawan instansi yang diteliti.IV. Selain meningkatkan sosialisasi dengan tepat sasaran. sedangkan sosialisasi bersifat langsung baik dari Departemen Komunikasi dan Informatika. tetapi tidak digunakan antara lain karena tidak terbiasa mengoperasikannya. . Teman/sejawat merupakan sumber informasi utama OSS. Pengumpulan data dilaksanakan dengan survei dengan mengedarkan kuesioner kepada 30 responden. 1 April 2010 SOSIALISASI OPEN SOURCE SOFTWARE DI DENPASAR Oleh : Paraden Lucas Sidauruk Abstrak Tujuan utama penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan sosialisasi open source software (OSS) pada instansi pemerintah di Denpasar. Penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sudah cukup lama mengenal perangkat lunak open source. tidak kompatibel dengan perangkat lunak proprietary. Provinsi Bali.

Sejauh ini kebanyakan komputer yang digunakan di kantor pemerintahan berasal dari peranti lunak proprietary. while socialization is directly either from the Ministry of Communications and Information Technology . Data collection was carried out with the survey by distributing questionnaires to 30 respondents. Menurut Dwi Handoko (2005 :31). tidak mengherankan apabila muncul pembajakan atau penggunaan perangkat ini di berbagai kantor dan perumahan secara ilegal. because not used to operate it.Teman / peers are the main information source OSS. Socialization. but not used. One of the components is revealing the source of information for agency employees is being investigated. Results showed that although old enough to know open source software. In addition to increased socialization with the right target. Menurut Donny A Sheyoputra. Sosialisasi. Maraknya pemakaian komputer tentu menggembirakan karena dapat mendorong berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology atau ICT) di Indonesia. Sumber Informasi The main objective of this research is to know how the implementation of the dissemination of open source software (OSS) in government offices in Denpasar. Sebagai closed source software. Peralatan (gadget) itu telah banyak digunakan di kalangan masyarakat untuk keperluan komunikasi dan mempermudah penyelesaian pekerjaan. “peranti lunak proprietary mengacu kepada suatu peranti lunak yang dikembangkan oleh vendor di mana kode programnya (source code) tertutup dari pengguna. sedangkan di pihak lain harganya terbilang mahal dan kesadaran masyarakat menghargai hak cipta dan membayar pajak masih rendah. Akibatnya. Oleh karena itu. Selain merugikan . komputer dengan sistem operasi tersebut tentu bersifat monopoli dan tidak bebas untuk dikembangkan kecuali oleh perusahaan pemiliknya sendiri. sedangkan peranti lunak open source yang dikembangkan oleh komunitas yang bekerja secara voluntir dan kode programnya dapat dilihat oleh pengguna”. Descriptive research with quantitative approach. To strengthen and clarify the quantitative data in-depth interviews were conducted with six speakers who worked or work in the field of information and communication technology (ICT). or from the Information Agency and the Regional Government of Bali Province Telematics never followed by the respondent.Kata Kunci : Penggunaan Open Source Software. Bali Province. Keywords: Use of Open Source Software. pemerintah berkepentingan untuk mencari strategi dan cara meningkatkan minat masyarakat untuk memanfaatkan komputer dan internet secara sehat dan legal. Dewasa ini hampir tidak ada lagi orang yang tidak mengetahui komputer dan telepon genggam atau handpone (HP). it is expected the Ministry of Communication and Information and its agencies associated with the use of OSS may issue regulation that are more conducive to encourage government officials to implement it in their respective intuition. salah satunya adalah sistem operasi dari microsoft. among others. tahun 2006 menurun menjadi 85 persen dan tahun 2007 tinggal 84 persen. Information Resources Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah sedemikian rupa pesatnya sehingga memengaruhi cara bekerja dan berkomunikasi manusia. “pada tahun 2005 sekitar 87 persen peranti lunak dalam komputer yang beredar di Indonesia bajakan. The number of respondents and the location is determined by purposive research. Di satu pihak permintaan terhadap peranti lunak milik Microsoft cukup tinggi. is not compatible with software proprietary.

Deklarasi IGOS-II pada tanggal 27 Mei 2008 diperluas meliputi 18 kementerian dan Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) seperti dimuat dalam surat edaran Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : SE/01/M. ”Dengan adanya OSS ini diharapkan dapat menjawab tantangan yang disebabkan oleh banyak beredarnya perangkat lunak bajakan atau ilegal yang melanggar Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). meningkatkan kreatifitas anak bangsa dan penegakan hak atas kekayaan intelektual”. 2/5/2009. Isi lainnya mewajibkan Instansi Pemerintah untuk menggunakan perangkat lunak . Berbagai kelebihan OSS ini merupakan salah satu materi yang perlu disosialisasikan sehingga dipahami oleh aparatur pemerintah dan masyarakat secara luas. Program ini merupakan upaya untuk peningkatan dan pengembangan industri software lokal dalam menghadapi persaingan global. Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Kehakiman dan HAM. (2) penghematan dalam penggunaan devisa negara dan dapat mengurangi tingkat ketergantungan impor teknologi dan sumberdaya manusia.PAN/3/2009 tanggal 30 Maret 2009 tentang Pemanfaatan Perangkat Lunak Legal dan Open Source Software (OSS). (4) terbukanya kesempatan pengembang perangkat lunak lokal dalam persaingan global. 13/6/2008. (Koran Jakarta. Secara international. masyarakat dan dunia swasta merupakan pelanggaran Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang hak cipta. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara. 2007) Selain deklarasi itu.negara karena para pembajak tidak membayar pajak juga merugikan industri peranti lunak karena terjadi persaingan tidak sehat”. yaitu (1) aplikasi perangkat lunak legal lokal open source lebih kompetitif dan terjangkau dibanding dengan aplikasi perangkat lunak lainnya. Menteri Komunikasi dan Informatika mendorong pemakaian dan pemanfaatan penggunaan peranti lunak legal di lingkungan instansi pemerintah melalui surat edaran Nomor 05/SE/M. hal 12) Banyaknya penggunaan bajakan peranti atau perangkat lunak windows itu di kalangan pemerintahan. salah satunya karena dianggap belum berhasil dalam mengatasi pembajakan perangkat lunak komputer” (Pusat Litbang Aptel. (Departemen Komunikasi dan Informatika. 2005 : 28). Indonesia masih termasuk dalam daftar Negara Prioritas untuk diawasi (Priority Watch List) berdasarkan usulan International Intellectual Property Alliance (IIPA) kepada United State Trade of Representative (USTR). Dorongan kebutuhan ternyata seringkali jauh lebih besar daripada kewajiban menghormati hak cipta perangkat lunak itu. Departemen Komunikasi dan Informatika. film dan musik. (3) peningkatan reliabilitas (realibility) dan peningkatan keamanan (secure) dalam penggunaan aplikasi perangkat lunak. hal 15) Salah satu langkah yang ditempuh pemerintah untuk melawan pembajakan software adalah melakukan sosialisasi baik mengenai HaKI maupun menggalakkan penggunaan open source software (OSS) di instansi pemerintah dan masyarakat. Pembajakan ini juga menimbulkan citra negatif karena negara kita dimasukkan dalam “priority watch list” dari sebelumnya “watch list” berkaitan dengan pembajakan perangkat lunak komputer. Esensinya adalah “menggelorakan semangat Indonesia Go Open Source (IGOS) yaitu semangat membangun peranti lunak yang memenuhi kebutuhan mendasar bagi pengguna komputer tanpa kekhawatiran melanggar HaKI dan tanpa pemborosan uang untuk membayar lisensi yang harus dibayarkan kepada pemilik yang notabene menjadi dampak negatif atau ancaman globalisasi” (Kusmayanto Kadiman. SKDI (2007 : 2) Pemerintah mencanangkan penggunaan OSS dengan “deklarasi program Indonesia Go Open Source (IGOS) 30 Juni 2004 oleh Kementerian Riset dan Teknologi. (5) memungkinkan peningkatan kapasitas penelitian dan pengembangan dan perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi informasi dan komunikasi secara nasional. (Kompas.KOMINFO/10/2005 tanggal 24 Oktober 2005. Ada lima pertimbangan pemanfaatan dan penggunaan aplikasi perangkat lunak legal lokal berbasis open source.

Bagaimana penggunaan perangkat lunak open source pada instansi pemerintah di Denpasar. It gives us a chance to reduce entropy” (Claude Shannon & Warren Weaver. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan sosialisasi perangkat lunak open source pada instansi pemerintah di Denpasar.open source guna menghemat anggaran pemerintah. Betapa pentingnya informasi guna mengurangi atau menghilangkan ketidakpastian dalam diri manusia merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dimungkiri. Kredibilitas sumber ini penting agar informasi yang disampaikan dipercaya khalayaknya. Khalayaknya kurang mendapat informasi yang cukup sehingga bersikap ragu-ragu karena kurang mengetahui apa yang seharusnya dilakukan dan dalam hal apa ikut berpartisipasi. Penggunaan OSS dimulai dari instansi pemerintah yang diharapkan dapat diikuti oleh sektor swasta dan masyarakat. indikasi penggunaan open source software (perangkat lunak open source) semenjak 30 Juni 2004 belum dilaksanakan secara maksimal. Bagaimana pelaksanaan sosialisasi perangkat lunak open source pada instansi pemerintah di Denpasar. Dengan demikian. “information refers to the opportunity to reduce uncertainty. Hasil penelitian berguna bagi Departemen Komunikasi dan Informatika sebagai bahan masukan bagi peningkatan program IGOS serta sebagai bahan evaluasi pelaksanaan sosialisasi OSS. Kegiatan sosialisasi yang mendahului atau menyertai suatu program itu juga seharusnya berlaku terhadap penggunaan OSS. diperlukan penelitian mengenai bagaimana sosialisasi OSS selama ini dilaksanakan pasca deklarasi IGOS-I dan kebijakan Menteri Komunikasi dan Informatika tanggal 24 Oktober 2005 pada instansi pemerintah di Denpasar. Provinsi Bali ? Tujuan dan Kegunaan Tujuan penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui bagaimana penggunaan perangkat lunak open source pada instansi pemerintah di Denpasar. Untuk itu. Sosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyampaian informasi tentang suatu program pemerintah kepada masyarakat. Perumusan Masalah Masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Provinsi Bali. Provinsi Bali. Implikasi kedua kebijakan itu adalah mendorong penggunaan dan pemanfaatan OSS yang lebih murah dan legal sebagai salah satu upaya untuk menghilangkan pembajakan perangkat lunak proprietary. Untuk instansi pemerintah di Denpasar hasil penelitian berguna sebagai masukan dalam rangka migrasi dari windows ke OSS. Sejauh ini. 2. Provinsi Bali ? 2. dan paling lambat 31 Desember 2011 seluruh instansi pemerintah sudah menerapkan penggunaan perangkat lunak legal. informasi itu bermanfaat bagi penerimanya menghilangkan keraguan dalam menyikapi OSS. hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai referensi bagi kalangan akademisi dan praktisi yang berminat terhadap pengembangan OSS. Provinsi Bali. Di samping itu. Kerangka Pemikiran Salah satu hambatan yang umum terjadi dalam pelaksanaan suatu program pemerintah kurangnya informasi yang disampaikan kepada khalayak yang berkepentingan dengan tujuan program tersebut. dalam Griffin. Informasi menghapuskan kebimbangan seseorang dalam menghadapi pilihan-pilihan yang akan diputuskannya. Untuk memahami penggunaan OSS di kalangan aparatur pemerintah di daerah diperlukan informasi yang benar dan lengkap dari sumber informasi yang kredibel. 1997 :50) “Entropi adalah ketidakpastian .

iklan. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan sumber informasi adalah komunikator (dalam komunikasi interpersonal) dan sumber yang memberikan informasi .. 2007 :162) Menurut Steward L. nilainya (valuable). faktualitasnya (factual)... Severin dan James W. dan kebenarannya (truth). Informasi yang mengandung kebenaran karena disampaikan oleh komunikator yang memiliki keahlian di bidangnya dapat menghilangkan ketidakpastian. 1993 :87). pemberdayaan di media cetak maupun elektronik. Informasi dapat disampaikan dengan komunikasi interpersonal atau tatap muka maupun melalui media massa.atau ketidakteraturan suatu situasi. ketepatannya (precision). sama halnya dalam kegiatan komunikasi disebut komunikator bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan khalayak (BPPI Makassar. pengumuman secara besarbesaran. Jr. Ketepatan informasi berkaitan dengan keadaan dan kebutuhan khalayak. “Pesan satu-sisi adalah paling efektif bagi orang-orang berpendidikan lebih rendah dan pesan dua-sisi adalah paling efektif bagi orang-orang berpendidikan lebih tinggi” (Werner J. Definisi Operasional Sosialisasi adalah sebuah proses pemberitahuan. “Sumber informasi dalam sosialisasi biasa disebut sosialisator. (Sasa Djuarsa Sendjaja. tingkat kegunaannya (useful). Media massa juga tidak kalah perannya dalam sosialisasi. 2007 : 60) Pandangan itu sejalan dengan apa yang dikemukakan Gordon B. juga poster-poster di pinggir jalan (http://id. “Kredibilitas adalah aset terpenting dari seorang komunikator” ( Werner J. Tankard. Kuppuswamy (1975 :39) “socialization is the interactional process by which the child’s behavior is modified to conform to the expectations held by the members of the group to which he belongs” Dalam sosialisasi terjadi proses interaksi yang tiada lain merupakan proses komunikasi yang melibatkan unsur-unsurnya.. keterandalannya (reliable). Demikian pula informasi yang tepat akan berguna bagi penerimanya. Jr.sebagai upaya mengajarkan norma dan nilai yang mapan melalui pujian dan hukuman simbolis bagi berbagai jenis perilaku”. . mengabarkan pada khalayak ramai tentang sesuatu yang urgent. ) “Kebutuhan seseorang akan informasi juga ditinjau dari segi kualitasnya . Medianya bisa bermacam-macam seminar. dan dalam derajat yang lebih rendah. wataknya. kedinamisannya” Keotoritatifan atau keahlian sumber informasi dalam OSS penting diperhatikan karena menimbulkan kepercayaan bagi penerima informasi. yaitu informasi perangkat lunak open source dan proprietary Menurut B. Severin dan James W. (2000 :117). 2007 :19) Sumber informasi atau komunikator merupakan salah satu unsur penting dalam sosialisasi. dan karena itu mempunyai nilai dalam proses keputusan”. “kredibilitas sumber berarti persepsi penerima terhadap keotoritatifan pembicara dalam topik tertentu. Tubbs dan Sylvia Moss. kita menghubungkannya dengan tingkat kebebasan memilih yang dimiliki seseorang dalam membangun sebuah pesan” (Werner J. Severin dan James W. tanggal 17/2/2001) Sosialisasi adalah proses penyampaian materi atau informasi OSS (dan perangkat lunak proprietary) kepada karyawan atau pegawai baik melalui komunikasi interpersonal maupun media massa dan internet pada instansi pemerintah di Denpasar. (2) lama mengenal OSS. Variabel penelitian sosialisasi dijabarkan menjadi tiga sub variabel (1) sumber informasi OSS. Davis (1995 :28) bahwa “informasi mengurangi ketidakpastian . Tankard..com/question/index?qid=20090118000121AaoAt2.. 2007 :183) Dalam konteks ini. Dalam teori informasi. Tankard. materi sosialisasi OSS mencakup dua-sisi.answer. Provinsi Bali. sebagaimana dikatakan oleh Denis McQuail (1987 : 251) “media memainkan peran dalam awal sosialisasi anak-anak dan sosialisasi orang dewasa. sesuatu yang harus segera diketahui khalayak.. Jr. dan (3) kendala / hambatan OSS.yahoo.

media massa. yaitu perangkat lunak sistem dan perangkat lunak aplikasi. Dalam hubunganya dengan sampel purposive Eriyanto (1999 : 110) mengatakan “karena menyangkut populasi yang spesifik.. Poerwadarminta.” Oleh sebab itu dalam penelitian sosialisasi OSS target populasi adalah karyawan yang sehari-hari bekerja dengan menggunakan TIK atau karyawan yang bekerja di instansi pemerintah yang nomenklaturnya berkaitan dengan pengembangan TIK. Lama mengenal OSS adalah jangka waktu mengenal atau mengetahui tentang OSS.. rintangan (WJS. Sistem operasi adalah sekumpulan program yang mengatur semua aktivitas hardware dan memungkinkan kita untuk menggunakan application software.t: 3-4) Penggunaan OSS adalah tingkat atau persentase pemakaian perangkat lunak OSS pada instansi pemerintah dalam melaksanakan kegiatan perkantoran sehari-hari. Kendala adalah halangan. t. brosur/leaflet/pamplet/spanduk) dan reklame luar ruang (baliho). yaitu (1) Badan Informasi dan Telematika Pemerintah Provinsi Bali 17 orang . Subjek yang diambil sebagai sampel benar-benar merupakan subjek yang paling banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat populasi (key subjects)” Ciri-ciri yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keterlibatan responden dalam TIK baik secara individu maupun melalui instansinya. Provinsi Bali.org/wki/opensource_software.. (Depkominfo.Perangkat lunak yang dihasilkan dari open source biasanya disebut Open Source Software atau sering disingkat OSS. Jumlah responden yang telah ditentukan Pusat Litbang Aptel SKDI tersebut. pelatihan. (2) Kantor Pusat Data Elektronik Kota Denpasar 8 .. 2008a : 1-2) Open Source Software (OSS) is computer software for which the source code and certain other rights normally reserved for copyright holders are provided under a software licence that meets the open source Definition or that is in the public domain. “sampel bertujuan dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata. SKDI. Open source adalah source code yang dibuka dan biasanya didistribusikan untuk publik. Jumlah responden dan lokasi penelitian ditentukan secara bertujuan atau purposive oleh Pusat Penelitan dan Pengembangan Aplikasi Telematika dan Sarana Komunikasi Diseminasi Informasi di Jakarta. Secara garis besar perangkat lunak terdiri dari dua jenis. (Indriyatno Banyumurti. internet. Kota Denpasar dipilih sebagai salah satu dari 11 lokasi penelitian dalam “Studi Penggunaan dan Pengembangan Perangkat Lunak Open Source Pada Institusi Pemerintahan berdasarkan potensi pengembangan OSS dan keberadaan komunitas OSS” (Pusat Litbang Aptel. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif yang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey. 2008a : 1) Perangkat lunak sistem atau system sofware adalah program yang mengendalikan operasi dari komputer dan komponen-komponennya. Instansi pemerintah adalah pemerintah provinsi dan pemerintah kota serta instansi vertikal Badan Pusat Statistik yang berkedudukan di Denpasar. random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu. penerbitan (buku. ( http://en wikipedia.dalam penelitian ini kendala OSS dimaksudkan berupa hambatan yang terdapat dalam OSS. 1976: 479).. 2007 : 8) Menurut Suharsimi Arikunto (2002 : 117).(pendidikan. tanggal 5/2/2010) Perangkat Lunak adalah komponen dari sistem komputer berupa program yang mengatur proses-proses bagaimana perangkat keras bekerja untuk mengolah data sehingga menghasilkan output sesuai dengan yang diharapkan user. (Depkominfo.. yakni 30 orang yang tersebar di tiga instansi. Secara umum terdapat dua jenis system sofware yaitu sistem operasi (Operating System/OS) dan program utility. seminar). sukar sekali untuk membuat daftar kerangka sampel yang memuat nama-nama.

39 desa adat. (2) akademisi TIK. Tingkat kepadatan penduduk rata-rata 4. Jumlah curah hujan tahun 2002 antara 0-406 mm. tertinggi pada Pebruari (406 mm) dan terendah pada Oktober (0 mm).4o C -28. .23 %.78 km2 dengan kecamatan Denpasar Selatan 49. (6) pengelola atau administrator telematika pada instansi pemerintah. Budha 5. (Bagian Humas Setda Kota Denpasar 2006. (3) praktisi TIK (4) pakar TIK. serta situasi keamanan yang mendukung aktivitas penduduknya. Islam 62. Distribusi atau sebaran kuesioner di tiga instansi itu dilakukan secara proporsional dengan mempertimbangan jumlah pegawai yang menangani tugas dan pekerjaan di bidang TIK. Luas wilayah Kota Denpasar 127.orang. pendidikan. Topografi kota Denpasar umumnya miring kearah selatan dengan ketinggian antara 0-75 m di atas permukaan laut. Dari pembahasan yang bertitik tolak dari Tabel dengan penjelasan yang berasal dari data kualitatif dicoba ditarik kesimpulan. sebagai ibukota provinsi Bali kota ini menjadi pusat pemerintahan. Data berupa persentase digunakan bersama dengan data kualitatif yang diperoleh dari hasil wawancara mendalam dan observasi. Gambaran Lokasi Penelitian Pulau Bali sebagai salah satu tujuan wisatawan sudah mendunia.304 orang. berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi. 27 desa dinas. lahan perkebunan 35 Ha.527 jiwa dengan tingkat pertumbuhan 6. Wawancara mendalam dengan enam orang informan atau narasumber yang pekerjaan atau kepakarannya. Penduduk yang memeluk agama Hindu 325. Wisatawan asing yang datang dari mancanegara setiap hari mudah ditemukan di tempat wisata. Kristen Protestan 10. 16 kelurahan.541 orang. Pengumpulan kuesioner dan wawancara mendalam serta observasi dilaksanakan oleh petugas lapangan dalam bulan Mei 2007 dengan mendapat pelatihan (coaching) dan supervisi dari peneliti.99 km2 sebagai wilayah terluas. (Bagian Humas Setda Kota Denpasar 2006. (5) pengelola atau administrator sistem informasi pada instansi pemerintah.893 orang. Sejak awal disadari bahwa data kuantitatif yang diperoleh dari responden kurang mampu menggambarkan realitas sosial di lapangan secara utuh. Suhu antara 25. Morfologi landai dan beriklim tropis dengan musim kemarau dipengaruhi angin timur (Juni-Desember) dan musim hujan dengan angin barat (September-Maret) dengan diselingi musim pancaroba. Dengan menggabungkan kedua pendekatan dalam analisis data terutama pada level pembahasan dapat diperoleh deskripsi mengenai permasalahan penelitian secara utuh. perekonomian dan pusat kegiatan lainnya. Analisa data dilakukan terhadap data kuantitatif melalui penyajian Tabel. Selain sebagai kota pariwisata yang bertaraf internasional. Katolik 8. Kota Denpasar terkenal sebagai kota pariwisata yang memiliki pantai Kuta dan Jimbaran. pengumpulan data kualitatif dibutuhkan untuk melengkapinya melalui wawancara mendalam (depth interview) dan observasi di instansi pemerintah yang diteliti.583 Ha yang terbagi luas lahan sawah 5.079 orang. Pengumpulan data pada ketiga instansi pemerintah yang berada di Kota Denpasar dilakukan dengan mengedarkan kuesioner kepada responden yang pekerjaan pokoknya berkaitan dengan penggunaan TIK khususnya komputer.5o C dengan suhu maksimum pada Januari dan suhu minimum pada Agustus. Oleh sebab itu. 16-17 ) Secara administratif Denpasar terbagi menjadi 4 wilayah kecamatan. lahan kering 10.427 orang/km2. yaitu (1) pemerhati teknologi informasi. 23 dan 27 ) Lebih lanjut dikemukakan pada tahun 2004 jumlah penduduk Kota Denpasar tercatat 444.547 Ha.917 orang. khususnya keterlibatannya dalam OSS. Kedudukannya yang multi fungsi dan letaknya pada posisi penghubung dengan kota-kota kabupaten membutuhkan infrastruktur dan sarana umum . (3) Bappeda Pemerintah Provinsi Bali 5 orang. 285 banjar adat. Luas lahan kota ini tahun 2005 seluas 15.001 Ha.

771 orang tidak terserap di pasar kerja. 21. 105 Pura Kayangan Tiga. ) Kerapkali tampak karyawan tua menjadi gagap teknologi (gaptek) dalam mengoperasikan komputer.2) Status kepegawaian menunjukkan 79 % merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 3. Pegawai berusia muda memiliki potensi lebih besar menguasai teknologi informasi dan komunikasi. 43 unit SMP. Revitalisasi UPT didukung penerapan teknologi informasi dengan menghubungkan Dinas-Dinas terkait pelayanan publik secara on line. 10 unit sepeda motor dinas pos keliling.46 ) Identitas Responden Dari 30 orang responden terrdapat pegawai berusia muda di bawah 25 tahun 13. persentase berusia 25-45 tahun dan 46-55 tahun sama besar.066 orang yang bekerja. 34.17 % SLTA. termasuk komputer daripada pegawai yang sudah berusia tua. sektor perdagangan 32. sektor pertanian 4. (Bagian Humas Setda Kota Denpasar 2006 : 27. Ilmu komputer yang diperoleh dari perguruan tinggi memudahkan karyawan meng-implementasikan perangkat lunak OSS. Pelayanan Pos dan Giro sudah menjangkau seluruh wilayah Kota Denpasar. Di samping itu. dan 4 Biara.33%). sebagian besar mereka bekerja di sektor jasa sebesar 48. S1 (66.873 orang terdiri dari 1. Di luar itu masih ada Honorer 3. dengan 3 STO. 135 telepon umum kartu. Pegawai di atas 46 tahun hingga 55 tahun apalagi pegawai yang menjelang usia pensiun (56 tahun) tidak begitu intensif menggunaan komputer di kantor. dan 3. 511 telepon koin.33%. Segelintir pegawai yang belum lancar mengoperasikan komputer masih ditemukan di instansi yang diteliti. Biasanya karyawan muda lebih cepat dan mudah memanfaatkan peralatan (gadget) teknologi informasi baru.25 %.66% sehingga prospek perkembangan teknologi informasi dan komunikasi cukup baik di Bali. Jumlah sekolah swasta terdapat 34 unit SD.746 sambungan induk. . yaitu 43. dan 0. Di tiap desa/kelurahan tersedia 1 Pos dan Giro tambahan. 1.38 39. ternyata tingkat pendidikan pegawai cukup bervariasi mulai dari tingkat sekolah dasar/menengah (10%).33% dan status lain-lain 13. bahkan “masih ada menyentuh komputer untuk bekerja masih enggan.22 % dan sektor lainnya 0. Sebagai sebagai salah tujuan wisata di Bali. Yang lain kemampuan menggunakannya sudah lumayan bagus”. Di sektor telekomunikasi terdapat 87. khususnya perangkat lunak open source.33 % CPNS.66 %) dan pascasarjana S2 (20%). 38 Mesjid. Angkatan kerja 4. guna memberikan pelayanan prima pada perizinan dilakukan revitalisasi Unit Pelayanan Terpadu (UPT) atau One Stop Service. 32 SMA/SMK. Mayoritas responden merupakan lulusan S1 dan S2 sebanyak 86.90 % merupakan lulusan sarjana. dan 10 unit mobil sarana angkutan. 43. Kota Denpasar mengalami pertumbuhan penduduk dan pembangunan sarana yang pesat sehingga memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi.Rumah peribadatan terdapat 7 Pura dan Kayangan. D1-D3 (3. 3 Gereja Katolik. Dilihat dari pendidikan pencari kerja sebesar 42. Apabila dilihat dari segi pendidikan. Di samping itu.37. 43 unit SMP. Dalam tahun tersebut. terdapat 12 unit mobil dinas Pos Keliling.57 %.44. 45 unit SMA/SMK.33 %. Guna memberikan kenyamanan kepada wisatawan.02 % SLTP.33 %. Lapangan usaha utama penduduk. Pegawai di bawah 25 tahun diharapkan dapat menjadi faktor pendorong memajukan TIK.98 %.75 % diploma. dan 126 wartel. tercatat jumlah sekolah negeri 218 unit SD. Pemerintah Kota Denpasar bekerja sama dengan Yayasan Pembangunan Sanur memasang CCTV (Circuit Close Television) di 18 titik di wilayah Sanur.25 % SD. 38 Gereja Kristen Protestan. Pendidikan formal responden di bidang komputer 20 % dapat menjadi modal untuk terus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan komputer.

kuesioner masuk dikumpulkan.66 100 operator komputer terdapat pula tenaga teknisi yang bekerja bersama-sama di satu kantor. dsb) Jumlah F 6 2 11 11 30 6 36. jumlah karyawan yang menangani teknologi informasi dan komunikasi (29. Selama ini keluhan pengguna komputer umumnya mengenai masalah teknisnya. 3 Sosial dan Politik 4 Lainnya (ekonomi.1) Pergeseran pekerjaan kantor ke arah serba komputer menuntut tersedianya sejumlah SDM yang menguasai komputer. Bahkan di kantor BPS Bali hampir seluruh pekerjaan memanfaatkan komputer. yang menggunakan website masuk ke website untuk menampilkan dan juga membuat publikasi. Perbandingan jumlah pegawai berdasarkan jenis pendidikan kurang proposional guna mempercepat kemajuan TIK di pemerintahan.Tabel 1: Jenis Pendidikan No Jenis Pendidikan 1 Ilmu Komputer Ilmu Eksakta non 2 Komputer Ilmu Hukum.99 %) terdiri dari operator komputer (16. Operator komputer ditempatkan di unit kerja bidang administasi untuk melakukan pengolahan data dan pelayanan media on line.33 16. Operator jarang bisa mereparasi komputer yang dipakainya sehari-hari.66 %) dan teknisi komputer (13.33 13. Keduanya . Dari segi diseminasi. Membuat format-format itu semua computerized”. hanya ada 6 orang pegawai atau 20 %. Kenyataannya. ditransfer ke data entry masuk ke data base. Yang pertama adalah segi pengolahan data yang dikumpulkan dari lapangan. Hal ini cukup menggembirakan karena di samping adanya Tabel 2: Jabatan / Pekerjaan No 1 2 3 4 5 Jabatan/Pekerjaan Struktural Administrasi Teknisi Operator Komputer Lainnya Jumlah F 9 7 4 5 5 30 % 30 23. semakin banyak tugas dan pekerjaan kantor sekarang yang diolah dengan komputer dan semakin sedikit memakai cara manual.66 16. Apabila dilihat dari pekerjaan.6 6 100 % 20 6. jumlah karyawan yang berpendidikan ilmu komputer ternyata masih minim.33 %) seperti dapat dilihat pada Tabel 2. Sastra.66 36.6 Masalahnya. Dalam Tabel 1 dapat dibaca bahwa jurusan atau latar belakang pendidikan pegawai yang nonkomputer ternyata amat besar 80%. Tenaga teknisi komputer memungkinkan untuk perbaikan komputer dengan cepat sehingga dapat menjamin penyelesaian pekerjaan tepat waktu. Untuk menangani pekerjaan kantor yang menggunakan komputer jauh dari mencukupi. karena “secara umum di sini melaksanakan sensus.

Dalam jangka panjang kebijakan ini dimaksudkan untuk menciptakan iklim kondusif bagi pengembangan OSS sekaligus meniadakan pembajakan perangkat lunak proprietary. Tindakan terhadap pemberantasan perangkat lunak bajakan dengan cara mendorong penggunaan dan pengembangan OSS semakin penting artinya di tengahtengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Pembahasan Penggunaan Perangkat Lunak Open Source Upaya untuk menggunakan open source software (OSS) sebagai alternatif dari perangkat lunak proprietary di instansi pemerintah tidak saja merupakan strategi yang harus ditempuh untuk bisa keluar dari kemelut pembajakan. penambahan jumlah tenaga komputer dan teknisi di satu pihak dan mengurangi pegawai administrasi dan struktural di pihak lain merupakan persyaratan organisasi yang bersifat fungsional TIK. tetapi juga bagian dari proses pengembangan TIK. Karena erat kaitannya dengan berlakunya UU HaKI (UU 19 /2002)”5) Temuan penelitan menunjukkan bahwa semua responden terbukti masih menggunakan perangkat lunak proprietary yang diperoleh melalui berbagai cara. Setiap kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan penggunaan dan pengembangan OSS. “Karena itu kebijakan teknologi harus diarahkan untuk menyesuaikan sistem inovasi pada kondisi yang terus berubah. 2005 : 10). 2006 :132). Kebijakan pemerintah merupakan suatu alternatif yang menguntungkan seperti dimuat dalam surat edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 5 Tahun 2005. keberadaan teknisi dan operator komputer dapat mendorong penggunaan OSS di kemudian hari. khususnya perangkat lunak komputer yang berbasis pada kemampuan dalam negeri. “Pengadaan perangkat lunak pada Instansi Pemerintah harus legal atau sesuai dengan aturan hukum yang berlaku baik dalam pengembangan dan distribusinya.saling komplementer untuk menyelesaikan pekerjaan kantor khususnya yang berkaitan dengan TIK. Dengan adanya standardisasi dan sertifikasi komputer. jumlah 9 orang SDM TIK berhadapan dengan volume pekerjaan teknologi informasi yang terus meningkat. Pengembangan OSS tersebut juga sejalan dengan misi Kementerian Komunikasi dan Informatika (2010-2014) yang ” mengembangkan sistem kominfo yang berbasis kemampuan lokal yang berdaya saing tinggi dan ramah lingkungan” (Kementerian Komunikasi dan Informatika. 2010 : 24) Penggunaan dan pengembangan OSS diharapkan selain memenuhi standard juga merupakan perangkat lunak dengan komponen kandungan lokal cukup besar dan tidak merusak lingkungan.99%) lebih sedikit daripada jumlah tenaga administratif dan struktural. termasuk perangkat lunak sistem operasi dan aplikasinya tentu memberikan kepastian hukum bagi industri dan pemakainya. Secara kualitatif. dari segi kuantitas masih kurang memadai karena jauh dari kebutuhan kantor sehari-hari. pencarian dan penelitian (search and research)” (Ikbal Maulana. Jumlah SDM TIK (29. Namun. Untuk itu pemerintah berusaha mendorong penggunaan OSS yang memenuhi standard dan juga bersifat legal terutama di instansi pemerintah. Ini berarti.(70%). Usaha pemerintah untuk meningkatkan penggunaan dan pengembangan perangkat lunak berbasis pada komponen lokal juga dimaksudkan untuk memajukan industri telematika dan perekonomian bangsa. Oleh karena itu. Hal ini sesuai dengan misi Departemen Komunikasi dan Informatika (2004-2009) ”mengembangkan standardisasi dan sertifikasi dalam rangka menciptakan iklim usaha yang konstruktif dan kondusif di bidang industri komunikasi dan informatika” (Departemen Komunikasi dan Informatika. yaitu . melalui pembelajaran dan percobaan (learning and experimentation). hal itu berguna sebagai indikasi awal bahwa pemerintah bersungguh-sungguh untuk menghentikan pembajakan sistem operasi dan aplikasi komputer di Tanah Air.

CASE). alat bantu (antivirus. untuk migrasi ke OS satu edukasi. Pemerintah sebagai teladan diharapkan dapat berperan memelopori penggunaan perangkat lunak legal dan open source software (OSS) yang diikuti oleh masyarakat. dan beli atau copy bajakan (3. server (web. tapi ke depan harus migrasi ke OS.e-mail. Tingginya persentase pemakaian komputer proprietary bisa karena faktor masyarakatnya dan keunggulan/kelebihan yang terdapat dalam komputer itu sendiri. dampaknya cukup luas karena terjadi di lingkungan pemerintahan. Ketigapuluh responden memberikan 41 jawaban ( satu orang responden dapat memberikan jawaban lebih dari satu) mengenai aplikasi open source.66 % responden masuk dalam 11-40 %. Untuk penerapan OSS sangat terbatas. “ Untuk Bali Microsoft minded karena user friendly sudah terbiasa. tapi cukup banyak yang dikeluarkan untuk beli lisensi. beli dengan lisensi corporate (36. terutama di kantor yang diteliti. Sekian tahun sudah banyak ditraining. dan mayoritas 93.66%). intinya bahwa pengguna perangkat lunak aplikasi open source amat minim. pengadaan resmi kecuali individuindividu atau pribadi bisa membeli bajakan. tapi belum tampak hasil signifikan. Aplikasi lainnya seperti teknikal (CAD/CAM. Microsoft sekarang cukup memadai. VoIP). Pengetahuan responden mengenai perangkat lunak aplikasi open source cukup baik. presentation) 15 jawaban. “penerapan OSS dapat dimulai dari instansi pemerintah dan pendidikan selanjutnya ke pihak swasta dan masyarakat”6) Dalam hal penggunaan perangkat lunak aplikasi open source tidak jauh berbeda seperti dapat dilihat pada Tabel 4. Artinya ada 30 responden yang memakainya dengan kapasitas di bawah 10 % atau Tabel 3: Persentase Komputer Menggunakan Sistem Operasi Open Source (Misal Linux) Persentase Penggunaan F % Sistem Operasi Open Source 1 0 – 10 % 30 100 2 11 – 40 % 3 41 – 60 % 4 61 – 90 % 5 91 – 100 % Jumlah 30 100 secara kualitatif penggunaan perangkat lunak sistem operasi open source pada instansi pemerintah di Denpasar tidak ada. Itu artinya untuk mengukuhkan Indonesia Microsoft minded”. komputer ini diusahakan dimiliki dengan berbagai cara mulai dari yang legal sampai yang melanggar hukum. “Sejauh instansi resmi.33 % dalam 0-10%. Tapi kalau pemerintah harus asli” 2) Secara kuantitatif komputer yang menggunakan OSS antara 0-10 %. (2) belum ada regulasi yang kondusif mendukung itu artinya belum melihat gebrakan signifikan yang mendorong itu bahkan Presiden bertemu dengan Microsoft. Padahal. hiburan (audio/video. khususnya di kantor.database) 17 jawaban. statistik) 3 jawaban.beli dengan lisensi individu (60%). tampak dari jawabannya. Secara persentase sedikit lebih bervariasi karena terdapat 6. berdasarkan observasi dan wawancara dengan nara sumber ternyata komputer di kantor instansi yang diteliti tidak menggunakan OSS. Hasilnya adalah (1) perkantoran (word procecssing.33%). penyebabnya (1) karena dari segi kebiasaan belum diimbangi dengan edukasi. pengembangan No . Akan tetapi. ”Fakta objektif masih Microsoft minded. untuk sekarang masih Microsoft. games) 6 jawaban.”3) Oleh karena itu. Banyak pihak mendorong. dapat dilihat pada Tabel 3. kolaborasi (groupware. speadsheet. Meskipun persentase pembelian copy bajakan relatif kecil.3) Untuk menegaskan kepastian arah OSS di masa depan. CAE.

masih minimnya penggunaan OSS oleh dunia pendidikan dan lembaga litbang dan kurangnya dukungan pemerintah (Puslitbang Aptel dan SKDI. Teman sebagai sumber informasi dapat dihubungi hampir setiap waktu. Sedangkan teman atau sejawat (33. Tabel 4 : Persentase Penggunaan Perangkat Lunak Aplikasi Berbasis Open Source Persentase Penggunaan F % Perangkat Lunak Aplikasi Open Source 1 0 – 10 % 28 93. bisa mendorong aplikasi sistem operasi produk/merek Indonesia karena ia open.Umumnya. Linux lebih aman.(compiler. Sosialisasi OSS Unsur utama dalam sosialisasi OSS adalah sumber informasi yang menyampaikan informasi OSS kepada khalayak sehingga mengetahui atau mengenalnya.1) Walaupun diketahui bahwa OSS memiliki beberapa kelebihan seperti ”dari segi kreativitas kalau dikembangkan Linux lebih murah. Kredibilitas sumber ini penting karena berkaitan dengan kepercayaan. Tabel 5 : Sumber Informasi Open Source Software (OSS) No .. sulitnya memperoleh perangkat lunak OSS.66 3 41 – 60 % 4 61 – 90 % 5 91 – 100 % Jumlah 30 100 Hal ini karena pengguna komputer yang bekerja di instansi pemerintah sejauh ini merasakan ”microsoft sudah nyaman dan memadai. Esensi dari data ini adalah hampir semua komputer yang dipakai oleh responden di kantor tidak menggunakan sistem operasi dan aplikasi open source seperti Linux. mudahnya masyarakat dalam memperoleh perangkat lunak bajakan. Microsoft cenderung membuat produk yang mengada-ada supaya orang beli padahal dengan windows 2000 orang sudah nyaman”. dari segi virus. content management system (e-learning.”3). tapi sudah terbiasa dengan program windows”1).33 %) merupakan sumber informasi yang paling mudah dihubungi dan berperan luas menularkan OSS kepada sesama karyawan.33 2 11 – 40 % 2 6. kenyataannya tidak digunakan sebagai sarana kerja. teman/sejawat itu adalah teknisi dan operator komputer. 2007 : 61-62) Oleh karena hampir semua masalah tersebut berakar dari kurangnya informasi OSS. Pendidikan formal bidang komputer merupakan sumber informasi yang kredibilitasnya cukup tinggi karena menyangkut pengetahuan dan keahlian bidang TIK. Pendidikan formal sebagai sumber informasi (20%) dianggap paling dipercaya karena OSS diperoleh dari perguruan tinggi sehingga dipahami dengan baik. Padahal secara “finansial OS malah lebih murah. ”Beberapa masalah yang menjadikan kegiatan OSS di Indonesia terhambat antara lain kurangnya pengetahuan masyarakat tentang OSS. interpreter). terutama pada waktu senggang. maka sosialisasi menjadi kata kunci sebelum berharap banyak terhadap penggunaan OSS khususnya di instansi pemerintah. Tampak bahwa migrasi dari peranti lunak proprietary khususnya microsoft ke open source software masih menghadapi sejumlah masalah. e-library) tidak ada jawaban. Kedalaman informasi OSS yang diterimanya tergantung kepada darimana atau siapa sumbernya.

Menristek. aturannya. Keempatnya membuat peraturan bersama OSS”4) Departemen Komunikasi dan Informatika sebenarnya tidak saja mengeluarkan regulasi. Sumber informasi berupa seminar dan pelatihan OSS persentasenya hanya 16. peluangnya. peran dunia usaha sebagai pembuka lapangan kerja dilibatkan agar terjalin keterkaitan (linkage) dengan pendidikan dan pengembangan OSS. Sebaliknya.66%). karyawan jarang mengikuti kegiatan itu baik yang diadakan kantor sendiri maupun oleh instansi lain. Depdagri dan Kadin sebagai pengguna. bagaimana pengoperasiannya.66 % Alasannya. Tidak boleh Pusat saja. Di daerah BPS karena ada pejabat fungsional komputer yang berhubungan secara fungsional. Misal bagaimana pendidikan supaya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Peranan pemerintah seharusnya cukup besar sebagai sumber informasi baik untuk menyampaikan informasi OSS. Depdagri. Untuk mencapai hasil maksimal dari sosialisasi OSS.66 Teman atau Sejawat 10 33. tergantung yang ada TI. dan Kominfo tapi profesional seperti Asosiasi Wartel. Penularan pengetahuan OSS secara ”in house training” di kalangan pegawai dapat terjadi tanpa mengganggu pekerjaan kantor sehari-hari. Universitas di daerah.”1) Dalam sosialisasi perlu ditetapkan penanggung jawab tingkat nasional sebagai ”leading sector” sehingga ada koordinasi dan sinkronisasi antar Departemen atau Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND)serta BUMN/D dan asosiasi TIK. Terlebih karena migrasi proprietary ke open source software tampaknya dilematis dengan kompleksitas tinggi. “Sosialisasi di pusat paling bertanggung jawab Depkominfo dan Menristek. maupun mengadakan seminar dan pelatihan dengan peserta dari aparat instansi pemerintah di daerah.66 Jumlah 30 100 Oleh karena itu. Depnaker dan Depdiknas. Hal ini dapat dimengerti karena tiap media massa menyampaikan informasi yang menjadi perhatian publik (agenda setting). tetapi juga menerbitkan sejumlah buku panduan sebagai upaya untuk . Asosiasi Warnet dalam bentuk Tim sehingga nyambung.33 Internet 4 13. Keterlibatan daerah tidak dapat diabaikan agar tercapai kerjasama yang baik dalam sosialisasi OSS mulai dari Pusat sampai ke Daerah. BUMN Telkom Daerah. sebagai center of excellence. yang tahu masyarakat Pemda. duduk Kadin.No Sumber Informasi 1 2 3 4 5 F % Pendidikan Formal 6 20 Seminar dan Pelatihan 5 16. selain unsur Pusat dan Daerah. bisa terjadi apatisme di daerah misal orang Telkom. “Sosialisasi berdua Daerah dan Pusat. Kalau UNUD ada pionir yang menangani TI dilibatkan sebagai stakeholder pengguna. Untuk pengembangan TI duduk bersama Depkominfo. Yang satu dari segi bagaimana barangnya. Media massa (5%) tidak banyak berperan sebagai sumber informasi OSS.33 Media Massa 5 16. Kadin untuk melakukan sosialisasi. secara informal berlangsung proses pembelajaran atau pemindahan pengetahuan (transfer of knowledge) antarsesama pegawai. Pelaksanaan sosialisasi OSS yang diselenggarakan instansi pemerintah terutama oleh deklarator OSS masih dianggap kurang terkoordinasi. “Ada kerjasama Depkominfo. manfaatnya sehingga sinergi”2). Sebagai sumber informasi OSS pemerintah mungkin implisit dalam kegiatan seminar dan pelatihan yang diselenggarakan instansi pemerintah dan swasta (16. Deperindag. sedikit di atas internet (4%) Pada umumnya liputan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya OSS di media massa daerah belum mendapat porsi pemberitaan yang besar. Daerah bisa sosialisasi. internet yang banyak memuat OSS ternyata jarang diakses pegawai sebagai sumber informasi.

“Kendalanya adalah merubah kebiasaan yang semula terbiasa menggunakan windows berailh ke Linux memerlukan pelatihan atau Bintek bagi operator di instansi masing-masing” 6) Walaupun mengubah kebiasaan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Tapi tekanan dari luar. (5) Ubuntu. bisa diatasi dengan pelatihan dengan mendatangkan instruktur. diterbitkan pula tutorial interaktif disertai CD petunjuk yang berkaitan dengan keamanan data dan ketersediaan sistem informasi yang dapat digunakan untuk sistem operasi GNU/Linux seperti buku ”High Availibility System” dan ”Pengamanan Server Menggunakan SMS”.66 100 Hambatan yang dipersepsikan oleh responden cukup bervariasi ketika membicarakan OSS. (2) PC LinuxOS . Kalau tidak pernah dimulai kapan muncul behavior.”1) Tabel 5 : Lama Mengenal Open Source Software (OSS) No 1 2 3 4 Lama Mengenal OSS Kurang dari 3 bulan 3 – 12 bulan 1 – 3 tahun Lebih dari 3 tahun Jumlah F 13 1 11 5 30 % 43. Tidak diterapkannya OSS bisa karena adanya keterbatasan dalam OSS atau faktor kebiasaan (habit) pengguna komputer.66 %.43 % responden (N=74 jawaban) menghadapi kesulitan mengoperasikan OSS karena mengubah kebiasaan pengguna komputer yang selama ini memakai peranti lunak proprietary. Dengan terbitan tersebut diharapkan minat aparat dan masyarakat dapat meningkat terhadap OSS sehingga mau menggunakan dan mengembangkan OSS.33 3. Tabel 5 menunjukkan bahwa lama responden mengenal OSS sebagian besar (43. Responden yang mengenal OSS lebih dari 3 tahun tercatat 16.33 36. Masalahnya di sini Open Source di tempat lain tidak. (4) Kubuntu. Apabila deklarasi IGOS 30 Juni 2004 dianggap sebagai awal OSS secara kelembagaan pemerintah. Bagi orang-orang yang sudah mempunyai kebiasaan tidak sulit switch.33 %) kurang dari 3 bulan. ”Pilihan waktu belajar (di luar negeri) pakai OS. Sebagai pedoman praktis dalam penggunaan OSS diterbitkan beberapa buku (manual book) tutorial dasar penggunaan Linux disertai DVD berupa quick tutorial untuk pemula. yaitu (1) Sistem Keamanan Jaringan Informasi. Kebiasaan tidak jadi hambatan asal ada reward dan punishment bagi orang yang bekerja di operator. berarti waktu untuk menerapkan OSS sesungguhnya sudah cukup lama. (2) Keamanan Aplikasi & Database Server . Anggap misalnya kalau orang sudah terbiasa menggunakan micosoft itu suatu behavior. Di Indonesia kalau pemerintah belum mulai belum bisa.66 16. Ditjen Aplikasi Telematika setidaknya telah menerbitkan buku-buku tutorial interaktif berbasis Open Source disertai dengan CD petunjuk. perubahan itu bukan suatu yang mustahil.mensosialisasikan open source di Indonesia. di ruangan ini kalau buka file tidak bisa. harus ada saat dimulai. ”Behavior bisa diubah dengan kebijakan. Di samping itu. Bahhan responden yang sudah mengetahui OSS lebih dari 3 tahun. tidak terlalu susah. pemerintah harus memberikan contoh misal uji kompetensi sertifikat”4) Kendala lain dalam diri pengguna “gaptek. pakai Linux dan compile yang pakai Linux.66 %. (4) Integrasi Keamanan Sistem Informasi. Buku-buku petunjuk praktis ini merupakan referensi atau materi pelajaran OSS untuk tingkat pengguna komputer pemula. Pada Tabel 6 terlihat 32. Persentase yang mengenal OSS cukup lama 1-3 tahun juga cukup besar 36. Perangkat Lunak dan Konten. (3) Mandriva. (3) Sistem Keamanan Transportasi Email. Pada tahun 2008 Direktorat Sistem Informasi. yaitu (1) IGOS Nusantara. tetapi tidak memakainya di kantor karena kendala yang dihadapinya. Orang yang menggunakan .

40 100 *N=74 merupakan jumlah jawaban dari 30 responden (tiap responden dapat memberikan lebih dari satu jawaban). belanja beli Microsoft bisa dikompensasi untuk pelatihan. tidak kompatibel dengan perangkat lunak proprietary.35 5. 3-4 November 2008 menyampaikan tentang perbandingan penggunaan OSS dan Windows. keterbatasan infrastruktur dan infostruktur” 5) Dalam kaitannya dengan berbagai macam kendala tersebut. belum se-powerfull Microsoft.27 %). Soal fitur ini berkaitan dengan informasi mengenai OSS sehingga turut berpengaruh pada penggunaannya. Dari segi kecepatan. Microsoft segalanya tinggal klik.lunak proprietary Sulit mendptkan driver utk bbrp peripheral Fitur yang ada kurang lengkap Lainnya Jumlah * F 24 10 9 11 15 1 4 74 % 32.id /modules. Drs Rusmanto dihadapan CPNS Batan Bandung. . Informasi yang disampaikan kepada pengguna komputer yang berpendidikan S1 dan S2 (86. aplikasi-aplikasinya.86 20.batan-bdg. yang memahami betul TI menganggarkan dan menyediakan dana. materi sosialisasinya mencakup peranti lunak proprietary dan OSS.OSS diberi tunjangan karena punya skill. “Kendala yang dihadapi para pengguna OSS secara umum pada penggunaan fitur-ftur yang ada karena keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan.go. Pakar Linux Indonesia. Kalau Linux masih terbatas. kemudahan penggunaan OSS.43 10 12. php?name=New %file=article&sid=290.3) Informasi yang berimbang mengenai keuntungan dan kerugian kedua perangkat lunak ini penting sebagai bahan masukan pengambilan keputusan yang tepat. Dari jawaban yang diberikan responden ada 62.27 1.2) Kendala yang terdapat dalam OSS sendiri jauh lebih besar daripada faktor kebiasaan pengguna komputer.(14. Perbandingan keduanya dikemukakan bahwa “walaupun Linux berkembang masih sulit. materi yang relevan dan tepat hendaknya mendapat perhatian dari penyelenggara sosialisasi. orang ingin gampang dan murah di situ keterbatasannya. Linux. tgl 17/2/2010).16 14. seperti sulit mendapatkan driver untuk beberapa peripheral (20. perangkat-perangkat lunak yang digunakan dengan sistem OSS) (http://www. sekedar office biasa. fitur yang kurang lengkap (1. Agar pesan yang disampaikan efektif. Tabel 6 : Kendala/Hambatan Open Source Software (OSS) No 1 2 3 4 5 6 7 Kendala/Hambatan OSS Sulit dlm pengoperasiannya krn tdk biasa Tidak menarik perhatian Banyak pekerjaan tdk bisa dikerjakan Tdk kompatibel dgn per. hal-hal lain yang berpengaruh pada penggunaan OSS (misal masalah dana. tapi harus dilihat per kasus. terutama segi keuntungan dan kerugian atau kendala masing-masing. Mahal murahnya relatif tergantung pimpinan. Dengan mengetahui informasi perangkat lunak dari dua sisi itu justru minat dan keingintahuan terhadap OSS dapat lebih dibangkitkan.86%). Lebih murah bisa melibatkan banyak orang.66%) bukanlah informasi satu-sisi tentang OSS semata.17 % berupa kendala penggunaan OSS yang terdapat pada OSS itu sendiri. Sosialisasi OSS mencakup informasi keberadaan perangkat lunak proprietary yang selama ini sudah banyak digunakan tidak melemahkan posisi OSS.35%).

Sosialisasi yang kurang menjangkau sasaran khalayak diperkirakan berpengaruh terhadap tingkat penggunaan OSS di kalangan aparat di instansi pemerintah. Kesimpulan Berdasarkan uraian yang dikemukakan dalam pembahasan dapat ditarik beberapa kesimpulan berikut : 1. Faktor kebiasaan atau behavior pengguna komputer merupakan kendala terbesar (32. Agar pengadaan komputer pada instansi pemerintah di Denpasar mensyaratkan penggunaan perangkat lunak sistem operasi dan aplikasi berbasis open source. 3. tetapi amat rendah. tetapi juga berguna sebagai pembelajaran untuk mendorong penggunaan. kesulitan mendapatkan driver (20. dapat disarankan : 1. Secara nasional sosialisasi OSS sudah dilakukan pemerintah melalui deklarasi. 2. bahkan pengembangan OSS. Tingkat penggunaan perangkat lunak sistem operasi OSS secara persentase di bawah kapasitas 10 % artinya hampir tidak ada yang menggunakannya. Lama seseorang mengenal OSS ternyata tidak mendorongnya menggunakan OSS karena adanya beberapa kendala baik yang terdapat dalam peranti lunak open source maupun dalam diri pengguna komputer dan lingkungan kantor. Saran Dengan mencermati kesimpulan tersebut. (2) akademisi TIK I Gusti Agung Oka Budiartha.43 %).Salah satu komponen dalam penyelenggaraan sosialisasi OSS yang juga penting mendapat perhatian adalah pesertanya. yakni meningkatnya penggunaan OSS. 2. Sumber informasi yang terbesar datang dari teman/sejawat (33. yang menangani urusan komputer. Agar diadakan penelitian lanjutan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh sosialisasi terhadap tingkat penggunaan OSS di Indonesia guna memecahkan masalah rendahnya penggunaan OSS pada instansi pemerintah terutama di daerah. 3. Seleksi peserta sangat berguna agar sosialisasi dapat mencapai tujuan jangka panjangnya. Dengan demikian. Peserta yang memenuhi persyaratan itu diharapkan selesai mengikuti sosialisasi memiliki motivasi tinggi untuk memelopori penggunaan OSS di kantornya. Direktur CV Asia Raya Media Tama (pendidikan. 33%) di kantor. Penggunaan perangkat lunak proprietary mendominasi komputer pada kantor-kantor instansi pemerintah di Denpasar.pengadaan dan . Selain seleksi persyaratan usia dan latar belakang pendidikan. dan publikasi. kebijakan. sosialisasi tidak sekedar berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi. tetapi hal itu tidak sampai kepada aparat di lokasi penelitian. Kepala Bidang IPDS BPS Prov Bali.86%). MSi dosen FIKOM Universitas Dwijendra. Lampiran Narasumber yang pendapatnya dikutip dalam teks: (1) pemerhati teknologi informasi Dr Yudi Agusta. “Yang perlu dilibatkan fungsional-fungsional komputer (di BPS). Agar sosialisasi dilaksanakan pada instansi pemerintah di Denpasar dengan materi yang benar dan tepat (perangkat lunak proprietary dan open source) dan dikuti oleh peserta yang memenuhi persyaratan yang ditentukan terlebih dahulu. (3) I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi ST. Fungsional komputer berhubungan dengan angka kredit”1). sedangkan peranti lunak aplikasi berbasis open source secara persentase lebih bervariasi (0-10% dan 11-40%). maka diprioritaskan kepada mereka yang pekerjaannya berkaitan dengan komputer. Sosialisasi yang mengabaikan persyaratan ketat pesertanya dan lebih mengutamakan kuantitas dapat terjebak dalam sosialisasi sebagai formalitas yang tidak mampu menghasilkan calon pengguna OSS.27%) dan tidak kompatibel dengan perangkat lunak proprietary (14.

Elements of Sosial Psychlogy. Jakarta. (Pengenalan komputer. Adiwardana. SKDI ------------. B. Bandung. Kuppuswamy. Pusat Ltbang Aptel. Kadiman. 2005. Departemen Komunikasi dan Informatika. terjemahan Andreas S. 2006. Penerbit PT Remaja Rosdakarya Ikbal. Davis. Teori Komunikasi Massa. Jakarta. 2007. I Ketut Jack Mudastra. Laporan Akhir Studi Penggunaan dan Pengembangan Perangkat Lunak Open Source Pada Institusi Pemerintah. New Delhi. “Bangsa Pembajak Hak Cipta”. Metodologi Polling. . Penerbit Erlangga. 1975. 6/5/2007 hal. SE. “Open Source : Potensi dan Strategi Pengembangannya” Dalam Kajian Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jakarta. (5) pengelola atau administrator sistem informasi pada instansi pemerintah. Dwi Handoko dan Ikbal Maulana. Koran Jakarta. Edisi Kedua. Sistem Informasi Manajemen. Laporan Akhir Studi Evaluatif Program IGOS Dalam Pengimplementasian Open Source di Lembaga Pemerintah. Jakarta. Pimpinan Lembaga Pendidikan TIK Ganesha Guru. BPPT. 1995. 2008b. Kementerian Komunikasi dan Informatika. 2007. Data Selayang Pandang Kota Denpasar. 1987. Memberdayakan Suara Rakyat. SE MM.7 McQuail. Laporan Hasil Penelitian Tentang Tanggapan Masyarakat Desa Tertinggal Terhadap Sosialisasi Kebijakan Pemerintah di Kabupaten Bantaeng. Vikas Publising House Pvt Ltd. Bagian I. SKDI. Jakarta -----------. Bagian Humas Setda Kota Denpasar. “Sistem Inovasi Open Source software (OSS) dan Kebijakan Pemerintah” Dalam Kajian Teknologi Informasi dan Komunikasi. Denpasar Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi (BPPI) Wilayah VII Makassar. Pusat Litbang Aptel. 12 “Indonesia Masuk ‘Priority Watch List”. Hal 123-139 “Indonesia Urutan 12 Pembajak Peranti Lunak”. Hal. t. (1999). Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Komunikasi dan Informatika 2010-2014. Pusat Litbang Aptel. 2008c. P3TIE. Jakarta. Hal 15 Indriyanto Banyumurti. BPPT Eriyanto. Kusmayanto. Denpasar. Denis. Penggunaan dan Pengembangan Perangkat Lunak Open Source Pada Instansi Pemerintah.maintenace). Pusat Litbang Aptel. Kompas. PT Pustakan Binaman Pressindo. -----------.Informasi dan Komunikasi. BITD dan (6) pengelola atau administrator Telematika pada instansi pemerintah I Made Sondra. 2009. Kepala Bidang Telematika. Makassar. Modul Komputer. Jakarta. Bandung. 2005. Pusat Tek. 13 Juni. Maulana. Diktat. SH Kepala Bidang Sistem Informasi Manajemen. 2008. 2010. Kompas. 2006. aplikasi perkantoran dan internet). Daftar Pustaka Badan Pusat Statistik Propinsi Bali.t. SKDI ------------. Gordon B. Buku Saku sekilas Bali. 2008a.SKDI. Forum Dialog Peneliti Tentang Semangat Kreatifitas Tanpa Batas Dalam Pemanfaatan Software Legal di Instansi Pemerintah. Jakarta. BITD Provinsi Bali. Rencana Strategis Departemen Komunikasi dan Informatika 2004-2009. 2 Mei.(4) I Made Sarjana. 2006.

tanggal php?name=New KECENDERUNGAN PEMBERITAAN MEDIA CETAK DAN TANGGAPAN DARI BERBAGAI KALANGAN TENTANG KLAIM MALAYSIA ATAS PULAU-PULAU TERLUAR DAN SENI BUDAYA INDONESIA . Third Edition. Poerwadarminta. Metode. EM (ed) A First Look At Communication Theory. Rancangan Penelitian Studi Penggunaan dan Pengembangan Perangkat Lunak Open Source Pada Institusi Pemerintahan. Bandung. tanggal 5/2/2010 http://en wikipedia. Human Communication. 2004. 2005.batan-bdg. Surat Edaran Nomor: 05/ SE/M/Kominfo/10/2005 tentang Pemakaian dan Pemanfaatan Penggunaan Piranti Lunak Legal Di Lingkungan Instansi Pemerintah. Prosedur Penelitian. 2007. 2002. Stewart dan Sylvia Moss. Kencana Prenada Media Group Shannon. Edisi Kelima. Edisi Revisi V. 1976.com/question/index?qid=20090118000121Aao 17/2/2001 http://www. 1997. Dalam Griffin. WJS. Penerbit PT Remaja Rosdakarya. tgl 17/2/2010 t2. Sendjaja.Menteri Komunikasi dan Informatika. Teori Komunikasi: Sejarah. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Makalah Republik Indonesia.yahoo. 1993. Sasa Djuarsa. The Mc Graw-Hill Companies. “ Information Theory”. Konteks-Konteks Komunikasi. Jakarta. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta. 2007. Jakarta.org/wki/open-source_software. tanggal 5/2/2010 http://id. Inc. dan Terapan di Dalam Media Massa. New York. PN Balai Pustaka Internet : http://en wikipedia. Jakarta.id /modules. Kementerian Komunikasi dan Informasi. Jakarta. Penerbit Universitas Terbuka Severin Werner J. James W. Claude dan Warren Weaver. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara 2009.PAN/3/2009 tentang Pemanfaatan Perangkat Lunak Legal dan Open Source Software (OSS) Pusat Litbang Aptel SKDI.go. %file=article&sid=290. Arikunto. Surat Edaran Nomor : SE/01/M.Tankard. Pengantar Komunikasi. Jr. Tubbs.org/wki/open-source_software. 2000. Jakarta. Penerbit Rineka Cipta.answer. Suharsimi.

Based on this study result is has position so big in submits various rumors related to border troubleshoot. bagaimana ketika presiden pertama RI Soekarno pada tahun 1964 . extern islands Latar Belakang Hubungan persahabatan Indonesia Malaysia sejak lima puluh tujuh tahun yang lalu mengalami pasang surut kadang harmonis kadang menuai konflik. Berita baik dari berbagai kalangan maupun berbagai konsepsi yang sangat menolak tindakan yang dilakukan oleh Malaysia terhadap klaim yang dilakukan terhadap pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Di negara jiran tersebut ada Suku Bugis. Dikatakan serumpun sebab sebahagian dari penduduk Malaysia itu adalah keturunan Indonesia yang sudah menetap berpuluh tahun sebagai warga negara Malaysia. Pada hakekatnya kedua negara ini banyak memiliki persamaannya seperti bahasa. Kata kunci: berita media cetak. Study method that this troubleshoot analysis method framing from Zhongdang pau and Gerald M. media memiliki posisi begitu besar dalam menyampaikan berbagai isu yang berkaitan dengan masalah perbatasan. Berdasarkan hasil penelitian ini. budaya dan juga punya kelebihan masingmasing seperti Indonesia memiliki ribuan pulau dan ratusan juta jiwa penduduk. Kosicki. Sementara Malaysia jumlah pulaunya sedikit dan begitu juga jumlah penduduknya sehingga saling mengklaim satu dengan lainnya. keyword: news media prints. Teknik pengumpulan data yang dilakukan mengambil pesan teks tentang klaim Malaysia terhadap seni budaya dan pulau-pulau terluar Indonesia. Jawa. seputar berbagai konsepsi. Tetapi walau demikian tidak ada salahnya jika kita set back sejarah berdasarkan berbagai sumber media. Dayak dan suku-suku lainnya yang berasal dari Indonesia. klaim Malaysia. Data analysis technique uses analysis technique framing (alex sobar. pulau terluar This study aims to discuss about inclination news media prints and conception various circle about Malaysian claim on extern islands from indonesia culture. seni. Good news from various also conception various circle very averse action that done by Malaysian towards Indonesia on extern islands claim with Indonesia culture art. Teknik analisa data menggunakan teknik analisis framing. Wajar kiranya terkadang ada pertumbuhan dan perkembangan terkadang ada surutnya persahabatan Indonesia Malaysia. Masalah ini perlu diteliti karena begitu gencarnya media khususnya surat kabar mengenai desas-desus klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Kosicki. (Sobar alex. 2002). Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis framing dari Zhongdang pau dan Gerald M.Oleh : Parulian Sitompul Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang media berita cetak dan seputar kecenderungan berbagai konsepsi tentang klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar Indonesia dan seni budaya Indonesia. Persahabatan ini setiap waktu mengalami perubahan. Malaysian claim. Minang. 2002. data collecting technique that done pencupli message text about Malaysian claim towards culture art and Indonesia extern island. This problem is necessary studied because so the incessant media especially newspaper illuminate Malaysian claim rumors towards extern islands and Indonesia culture art. Karena kedua negara ini adalah serumpun wajar pula kiranya negara abang beradik ini selalu ada saja muncul permasalahan yang selalu dipersoalkan. conception various circle.

menuduh Malaysia sebagai negara tetangga yang diketahui sebahagian dari penduduk Malaysia itu berasal dari bebagai suku di Indonesia dijadikan proyek Nekolim (Neo Kolonialisme dan Inperialisme) oleh Inggris dengan tujuan untuk membentuk kerajaankerajaan kecil di semenanjung Malaysia, Serawak, Sabah dan Brunai untuk mengepung Indonesia. Presiden Soekarno pada saat itu sangat marah kepada pihak Malaysia, maka pada tanggal 3 Mei 1964 dihadapan apel besar sukarelawan Indonesia memberikan komando pengganyangan terhadap Malaysia walaupun akhirnya selesai di meja perundingan. Pengalaman bagi Indonesia, sejak di tahun 1962-1966 Indonesia juga pernah malakukan konfrontasi politik terhadap Malaysia. Sampai-sampai Presiden Soekarno di masa itu mengeluarkan maklumat “Ganyang Malaysia”. Masih hangat dalam ingatan di tahun 2007 Malaysia mengklaim Pulau Sipadan dan Ligitan sebagai pulau mereka dan berakhir di Mahkamah Internasional Den Hag Belanda dimenangkan oleh Malaysia sehingga kedua pulau tersebut menjadi miliknya Malaysia. Belum lagi problem tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia selalu tergambar bahwa TKI menjadi bulan-bulanan pihak Malaysia karena dikatakan ilegal. Kalau memang ilegal kenapa TKI dapat masuk dan bekerja di Malaysia sebagai buruh kebun dan pembantu rumah tangga (PRT) di Malaysia.

http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/08/tari-pendet.jpg

Akhir-akhir ini juga hubungan persahabatan Indonesia Malaysia juga terusik dikarenakan berbagai hal seperti klaim Malaysia terhadap Blok Ambalat yang berada di Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur yang menimbulkan kejengkelan bangsa Indonesia terhadap negara jiran itu. Sementara Indonesia adalah negara berdaulat Akibat kejengkelan itu ribuan penduduk Indonesia bersedia menjadi sukarelawan untuk ditugaskan guna mempertahankan hak kepemilikan pada blok Ambalat tersebut. Tidak sampai di situ saja klaim Malaysia terhadap pulau terluar milik Indonesia yaitu Pulau Jemur di Kecamatan Pasir Limau Kapas Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) Riau. Walaupun sebelumnya pihak Dirjen Bea Cukai (BC) Indonesia mengerahkan kapal patroli BC 9004 beroperasi di Pantai Timur Sumatera. Tidak puas dengan pengklaiman pulau terluar daerah perbatasan Malaysia Indonesia, Malaysia juga mengklaim berbagai produk seni dan budaya asli Indonesia. Malaysia mengklaim batik yang berasal dari Solo, Yogya dan lainnya merupakan milik Malaysia. Begitu juga keberanian Malaysia mengklaim Wayang, Reog Ponorogo, Tari Pendet dan Ulos Batak adalah milik Malaysia. Tidak kalah sengitnya lagi juga pihak Malaysia berani menciplak lagu Terang Bulan dan Negaraku yang diketahui adalah ciptaan anak bangasa Indonesia dijadikan sebagai lagu nasional Malaysia dan sekaligus sebagai lagu kebangsaan Malaysia. Tentunya dampak perbuatan Malaysia itu memunculkan beragam reaksi dari rakyat Indonesia. Reaksi itu dibuktikan dengan sejumlah mahasiswa di Medan dalam kelompok Forum Mahasiswa Anti Liberalisme dan Kolonialisme (Formalin) melempari

dengan tomat kantor Konsulat Jenderal Malaysia di Medan, (Sumut Pos, 02/09). Kelompok itu mengatakan Malaysia terlalu berani mengklaim Wayang, Reog Ponorogo, Tari Pendet, Ulos Batak adalah milik negara jira itu dan menjiplak lagu Terang Bulan menjadikan sebagai lagu nasional Malaysia. Selain itu menghina lagu Indonesia Raya dengan mengubah total isi lagu tersebut. Tindakan ini tentunya menyakiti hati rakyat Indonesia. Sisi lain sejarahwan Sumatera Barat Prof. Dr. Gusti Asnan menjelaskan sikap Malaysia yang selalu mengklaim berbagai budaya dari Indonesia sebagai miliknya hanya karena mereka sedang mencari identitas diri, sebab Malaysia kini gamang melihat masa depannya. Memang dalam pergaulan dunia antar negara yang mengglobal di era teknologi komunikasi dan informatika saat ini sulit bagi suatu negara melakukan pembatasanpembatasan untuk tidak masuknya budaya asing melebur ke ranah budaya suatu negara seperti Indonesia yang begitu terbuka dan demokratis. Kemampuan teknologi media, baik media massa cetak maupun elektronik juga media maya memainkan peranan penting untuk mengubah ideologi politik,budaya dan seni suatu bangsa apabila di suatu negara itu tidak memiliki kekuatan ideologi politik, budaya dan seni yang mengakar pada nilainilai budaya yang berkembang di daerah (local genius). Sikap kemapanan budaya perlu ditingkatkan sehingga tidak ada lagi dari suatu produk budaya suatu daerah yang nantinya diklaim sebagai milik negara lain walaupun dengan alasan serumpun dan alasan lainnya. Memang diakui tidak ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan dengan kepala dingin hati tenang. Sebagaimana yang diungkapkan Konjen Malaysia di Medan, Fauzi Omar berkaitan dengan isu-isu negatif yang dapat mendistorsi hubungan persahabatan antara Indonesia dan Malaysia.Ia menanggapi bahwa Indonesia dan Malaysia adalah serumpun dan banyak penduduk Malaysia yang berasal dari Indonesia menjadi warga negara Malaysia yang memiliki bentuk-bentuk budaya yang sama dengan saudaranya di Indonesia. Mereka mengaku tarian yang mereka miliki otomatis menyiratkan tarian Malaysia karena mereka adalah orang Malaysia. (Waspada, Analisa, 08/09/2009) Bahkan Omar mengatakan dalam jumpa persnya di Medan pihak Malaysia tidak pernah mengklaim Tari Pendet dan Pulau Jemur sebagai milik Malaysia, itu hanya kesalahpahaman saja. Malahan Omar mempertegas penolakannya atas tuduhan beberapa pihak bahwa ia tak dapat menerima Malaysia sebagai hantar teroris ke Indonesia. Malahan dikatakan media di Indonesia dan pihak-pihak ketiga yang memblow up isu-isu tersebut sehingga menimbulkan percikan amarah di pihak Indonesia agar terjadi konflik antara Malaysia dan Indonesia.

http://beta.tnial.mil.id/cakra/images/ambalat.jpg

Indonesia diketahui adalah sebagai negara demokrasi ketiga terbesar setelah Amerika dan India. Memiliki kebebasan pers yang begitu luas. Wajar kiranya informasi apa pun yang memungkinkan menjadi konsumsi publik Indonesia dapat diberitakan oleh media di Indonesia menjadi suatu kewajaran. Tetapi tentunya sebagaimana telah diungkapakan di atas tadi, jika pihak pemerintah Indonesia dan Malaysia tidak mencari

solusi penyelesain konflik opini kedua negara berjiran ini yang bersumber dari media dan pihak-pihak ketiga berdasarkan pemberitaan berbagai media akan dapat memperburuk hubungan yang harmonis sebagaimana telah dijalin selama ini dengan baik dan juga kerugian-kerugian yang akan dialami oleh kedua belah pihak seperti investasi, kerjasama perdagangan, pendidikan dan lain sebagainya akan lenyap hanya karena salah paham. Oleh karena itu berdasarkan uraian di atas sangat dianggap perlu untuk dilakukan suatu pengkajian khusus tentang kecenderungan pemberitaan media cetak suratkabar dan tanggapan dari berbagai pihak di daerah perbatasan tentang pengklaiman Malaysia terhadap beberapa pulau terluar dan produk seni budaya Indonesia sebagai milik Malaysia. Sehingga melalui pengkajian ini dapat diperoleh suatu informasi dan saran pemikiran tentang yang perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam menyikapi klaim Malaysia atas pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Permasalahan Permasalahan dalam pengkajian ini adalah isu yang bersumber dari pemberitaan media cetak suratkabar yang terbit di Medan berkaitan dengan pengklaiman beberapa pulau terluar sebagai milik negara Malaysia, begitu juga klaim Malaysia terhadap produk hasil kesenian dan budaya Indonesia yang mendapat reaksi keras dari masyarakat Indonesia. Sebab cara-cara yang dilakukan oleh negara jiran itu dapat merusak hubungan yang harmonis antara Indonesia dan Malaysia yang selama ini sudah terjalin dengan baik. Oleh karena itu adapun permasalahan secara khusus dalam pengkajian ini adalah : 5. Bagaimanakah kecenderungan media massa cetak surat kabar terbitan Medan dalam memberitakan isu klaim pulau terluar di wilayah perbatasan BBPPKI Medan dan klaim Malaysia terhadap produk seni dan budaya Indonesia? 6. Bagaimanakah tanggapan dari berbagai pihak masyarakat di daerah perbatasan di wilayah kerja BBPPKI atas pemberitaan surat kabar tentang klaim Malaysia terhadap pulau terluar Indonesia dan produk seni dan budaya Indonesia? 7. Langkah-langkah apakah yang perlu dilakukan oleh pemerintah agar tidak terulang lagi klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar serta seni budaya Indonesia berdasarkan pemberitan suratkabar yang terbit di Medan dan juga tanggapan dari berbagai kalangan di daerah perbatasan Wilayah kerja BBPPKI Medan. Tujuan Pengkajian Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui : e. Kecenderungan media massa cetak suratkabar dalam memberitakan isu-isu klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan produk seni dan budaya Indonesia. f. Tanggapan berbagai kalangan masyarakat di daerah perbatasan di wilayah kerja BBPPKI Medan atas pemberitaan suratkaba tentang klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar dan produk seni dan budaya Indonesia. g. Langkah-langkah apa yang terbaik di lakukan oleh Pemerintah untuk mencegah terjadinya klaim Malaysia terhadap produk seni dan budaya Indonesia serta pulau-pulau terluar Indonesia berdasarkan tanggapan tokoh masyarakat di daerah perbatasan wilayah kerja BBPPKI Medan. Sasaran Adapun sasaran pengkajian ini adalah : 8. Diperolehnya gambaran umum tentang bagaimana kecendrungan media suratkabar dalam memberitakan klaim Malaysia atas pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia melalui metode analisis wacana framing dan tanggapan dari berbagai kalangan masyarakat di daerah perbatasan wilayah kerja BBPPKI Medan.

9. Diperolahnya data dan informasi tentang langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh pemerintah dalam menyikapi kalim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Lokasi Nara Sumber Kajian Lokasi narasumber pengkajian ini diambil di dua provinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia yaitu provinsi Kepulau Riau dan Kalimantan Timur. Provinsi Kepulau Riau sangat dekat jarak wilayahnya dengan Malaysia dan Singapura. Jika dilakukan penyebarangan melalui laut dari Batam ke Singapura maka dapat ditempuh dengan hanya lima belas menit.Demikian pula dengan Malaysia dapat ditempuh sekitar satu jam dalam perjalanan melalui laut. Sementara itu provinsi Kaltim kabupaten Nunukan berbatasan darat dengan Tawau Malaysia begitu juga dengan kabupaten Malinau berbatasan darat dengan Sabah Malaysia. Tentunya sebagai sumber informasi kunci dalam pengkajian ini adalah dari berbagai kalangan masyarakat di dua ibukota provinsi dimaksud. Karena di kedua ibukota provinsi tersebut ada suatu badan khusus di pemeritahan daerah yang menangani daerah-daerah perbatasan. Antara lain : pejabat Dinas Infokom Prov Kaltim, Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata, Kepala Pengelola Daerah Perbatasan Provinsi Kaltim, Ketua Kepemudaan KNPI Kaltim, Korem Danrem 091/ASN Kaltim. Sementara sumber pemberitaan dari media suratkabar yang terbit di Medan adalah harian Waspada dan Analisa. Pemahaman Teoretis a. Media Massa Surat Kabar adalah salah satu media yang digunakan banyak orang sebagai sumber informasi politik, Keberadaan media akan dapat membantu orang mengetahui banyak hal khususnya yang menyangkut dunia politik. Media di aplikasikan sebagai sebuah jendela dunia (lipman) yang dapat memandang luas berbagai hal tentang kejadian yang terjadi di Negara – Negara lain seperti perang antar Negara, bencana alam, kenaikan nilai mata uang dan berbagai hal tentang kehidupan manusia sehingga seseorang dapat berwacana sesuai dengan sudut pandang yang dimiliki karena media menurut Laswell dalam proses komunikasi melalui aktivitas sebagai berikut yaitu who, says what, in which channel, to whom, with what effect (Tankarel, 2005). Dengan kata lain dalam proses informasi yang disampaikan (pesan–pesan politik) melalui aktivitas ini, karena memang yang menjadi pembahasan dalam pengkajian ini adalah berkaitan dengan informasi politik seperti berita klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Dalam kajian ini dengan menggunakan pendekatan framing terhadap isu pembuatan media tentang klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya indonesia dan juga tanggapan dari berbagai kalangan terhadap isu dimaksud berdasarkan pemberitaan media surat kabar. Dari media ini nantinya akan tampak penonjolan isu berdasarkan konstruksi yang dilakukan oleh pengelola media. Konsep Framing Analisis framing merupakan versi terbaru dari pendekatan analisis wacana khususnya untuk menganalisis teks media. Framing dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan menganalisis pandangan politik, kebijakan dan wacana serta yang menyediakan kategori – kategori standard mengoptimalisasi realitas. (Sobur 2002 : 162).

b.

Dalam denah studi komunikasi analisis framing mewakili tradisi yang mengedepankan atau perspektif, multi disipliner untuk menganalisa fenomena – fenomena atau aktivitas komunikasi, juga dalam studi komunikasi analisis framing dipakai untuk membedakan cara–cara atau ideologi saat mengkonstruksi fakta. Dengan kata lain analisis framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan wartawan ketika menyeleksi dan menulis berita.

http://beritadaerah.com/UserFiles/Image/travel/batik/batik3.jpg

c.

Teori Konstruksionis Analisis framing adalah salah satu metode analisis teks yang berada lain kategori penulisan konstruksionis. Dalam teori ini memusatkan perhatian kepada proses pembentukan realitas. Karenanya dalam pandangan teoritis konstruksionis menemukan bagaimana peristiwa atau realitas dikonstruksikan dengan cara apa konstruksi itu dibentuk. Ada dua karakteristik penting dari pendekatan konstruksionis, pertama pendekatan konstruksionis menekan pada politik pemaknaan dan proses bagaimana seseorang membuat gambar yang realitas. Kedua, konstruksionis memandang kegiatan komunikasi sebagai proses dinamis pendekatan ini memandang bagaimana pembentukan pesan dari isi-isi komunikator dan dalam sesi penerima, ia memeriksa bagaimana konstruksi makna individu ketika menerima pesan. Pesan dipandang bukan sebagai mirror of reality yang menampilkan apa adanya. Dalam konteks kajian ini adalah bagaimana media mengenai realitas obyektif isu itu tentang klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia, sehingga berbagai media surat kabar yang telah diteliti akan didapatkan gambaran tentang bagaimana penggunaan kata – kata yang terpilih untuk tujuan tertentu, melalui perangkaian berita dan mempergunakan simbol simbol agar dapat menimbulkan kesan tertentu ketika khalayak serta menentukan apakah isu itu penting atau tidak. Tanggapan Berdasarkan kamus bahasa Indonesia, tanggapan berawal dari kata tanggap yang artinya, mencamkan, melihat (mendengarkan) baik–baik. Sedangkan tanggapan adalah terapan yaitu apa yang diterima panca indera, bayangan dalam angan–angan, sambutan (reaksi), menggambarkan dan melahirkan pikiran dan perasaan. (Balai Pustaka, 2006 : 1203). Tanggapan dalam komunikasi tentunya merupakan reaksi yang timbul akibat dari pesan yang diterima. Sama halnya dengan pendapat umum yang diartikan sikap pribadi seseorang ataupun sikap kelompoknya maka sebagian dari sikapnya ditentukan oleh pengalamannya, yaitu pengalaman dari kelompoknya juga.

d.

(Astrid, 1985 : 80). Dengan demikian tanggapan adalah sikap dari gambaran pengalaman dan belajar dari pengalaman. Ada hubungan yang erat antara sikap dan pendapat yang menyimpulkan, bahwa suatu pendapat itu dinyatakan (expressed) dan dapat juga tidak dinyatakan akan tetapi ada atau tidak disadari (laten). Sehubungan dengan itu berbagai pembentukan media khususnya surat kabar terbitan Medan klaim atas pulau–pulau terluar dan seni budaya Indonesia akan menimbulkan berbagai pendapat, tanggapan. Ada yang mungkin menanggapi sangat reaktif terhadap pembentukan itu ada mungkin dianggap masalah biasa saja. Tetapi walaupun demikian berdasarkan pembentukan media, berita tentang klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia mendapat perhatian yang begitu beragam dari masyarakat Indonesia. Metodologi Penelitian 1. Metode Penelitian Penelitian ini melalui pendekatan discourse analysis dengan menggunakan metode analisis framing dari Zhongdang Pau dan Gerald M. Kosicki. Sesuai dengan pandangan Pau dan Kosicki menggunakan metode ini yaitu suatu proses membuat suatu pesan lebih daripada yang lain sehingga khalayak lebih tertuju pada pesan tersebut. 2. Pengertian Operasional a. Pemberitaan Media Cetak Pemberitaan media cetak adalah berita yang disajikan oleh dua suratkabar yang terbit di Medan yaitu harian Waspada dan harian Analisa yang memberitakan tentang isu-isu klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia b. Tanggapan Berbagai Kalangan Tanggapan berbagai kalangan adalah merupakan sikap dan pengapat dari berbagai narasumber yang mempunyai kompetensi menyikapi dan berpendapat terhadap pemberitaan tentang isu-isu klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar serta seni budaya Indonesia. Tanggapan berbagai kalangan ini berdomisili di daerah perbatasan Indonesia dengan Malaysia seperti Provinsi Kalimantan Timur dan Kepulauan Riau. c. Pulau-pulau terluar & seni budaya Indonesia Pulau-pulau terluar Indonesia adalah sejumlah pulau yang berbatas langsung baik darat maupun laut dengan Negara tetangga, seperti Malaysia, Singapore, Thailand, Philipina, Vietnam, Laos, Burma dan lainnya yang rawan konflik perbatasan antar Negara. Sementara seni budaya Indonesia adalah berbagai seni budaya yang diciptakan oleh putra-putri Indonesia seperti tari Pendet, dan seni kain batik yang sering di klaim oleh Malaysia sebagai milik mereka.

Model Kerangka Framing Pau dan Kosicki
STRUKTUR Sintaksis Cara wartawan menyusun fakta PERANGKAT FRAMING 1. Skema berita UNIT YANG DIMINATI Headline, Latar Informasi, Kutipan sumber, pernyataan

Skrip Cara wartawan mengesahkan fakta Tematik Cara wartawan menulis berita

1. Kelengkapan berita

5w + 1h

1. Detail 2. Maksud kalimat 3. nominalisasi antar kalimat 4. koherensi 5. Bentuk kalimat 6. Kata ganti

Paragraf Proposisi

Retoris 1. Leksikor Cara wartawan 2. Grafis menekankan fakta 3. Metafora 4. Pengandaian

Kata Idiom gambar, kata, grafik

Sumber, Analisis teks media (Sobur, 2002 : 176) 3. Teknik Pengumpulan Data Obyek yang dianalisis dalam penelitian ini adalah teks berita tentang klaim Malaysia terhadap seni budaya dan pulau terluar Indonesia yang dimuat oleh Surat Kabar harian Waspada dan Analisa tanggal 1 s/d 8 September 2009. Pemilihan terhadap media ini dikarenakan kedua media dimaksudkan adalah merupakan salah satu surat kabar nasional yang terbit di daerah dengan memiliki pembaca dalam jumlah besar. Kedua media tersebut menaruh perhatian penting terhadap isi tentang klaim Malaysia terhadap pulau–pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Tentunya klaim tersebut menjadi pro-kontra atau menimbulkan dari berbagai kalangan seperti Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim, Korem Kaltim, Tokoh masyarakat, Kepala Dinas Infokom, Kepala pengelola Daerah Perbatasan. Teknik Analisa Data Analisa data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah menggunakan framing varia Pau dan Kosicki yang membagi pada empat struktur analisa (sintaksis, skrip, tematik dan retoris) yang merupakan rangkaian yang menunjukkan framing dari suatu media. Selanjutnya di interpretasikan berdasarkan paradigma konstruksionis dengan memanfaatkan Teori Shoemaker dan Reese sehingga dicari titik temu dari hasil penafsiran-penafsiran tersebut.

4.

Hasil Kajian Isu pembentukan tentang klaim Malaysia terhadap pulau – pulau terluar Indonesia dan seni budaya Indonesia menjadi perhatian banyak orang. Selain berita informasi itu penting tetapi juga menuai prokontra di masyarakat. Malahan ada sekelompok yang melakukan tindakan anarkis yaitu melempar tomat ke kantor konsulat Malaysia di Medan, dan juga membakar bendera Malaysia. Kejadian itu sangat disayangkan oleh Malaysia, sebab malaysia tidak pernah mengklaim pulau terluar Indonesia seperti pulau jemur sebagai milik Malaysia begitu juga seni budaya Indonesia bahwa Pemerintah Malaysia tidak pernah mengklaim Tari Pendet sebagai tarian Malaysia. Pihak pemerintah Malaysia tidak pernah memberi bahan tentang tari pendet kepada pihak Discovery Channel, jika itu pun dilakukan oleh discovery channel itu sepertinya tanggung jawab discovery channel sendiri. 1. Framing Harian Waspada

Harian Waspada pada edisi 2 September 2009 memunculkan berita dengan judul “Malaysia Klaim Pulau Jemur”. Dalam teks berita pada bentuk head harian waspada menampilkan ucapan sumber. Disisi lain Gubernur tersebut juga menegaskan Pulau Jemur adalah salah satu dari sembilan pulau yang termasuk dalam gugusan pulau arwah di Kabupaten Rokan Hilir Riau. Klaim Malaysia atas pulau jemur berdasarkan sumber lain yaitu Pangdam I BB Mayjen. Karena kesan judul berita tersebut bernilai panas dalam arti ada kesengajaan media menjustifikasi bahwa Malaysia telah mengklaim kepemilikan pulau-pulau terluar di Indonesia khususnya di pulau Sumatera. Burhanundin Amin mengungkapkan adanya klaim Malaysia terhadap Pulau Jemur di Riau.wordpress. mengambil pernyataan Gubernur Riau Rusli Jainal akan mengklarifikasi persoalan itu. Pulau ini berjarak 70 km dari Bagan Siapi-api Kabupaten Rokan Hilir. terutama dengan pengutipan pernyataan orang-orang yang relevan dengan yang dimuat. Judul berita sudah jelas menunjukkan begitu pentingnya isu itu untuk diketahui khalayak. Harian waspada telah mengkonstruksi sedemikian rupa tentang adanya realitas isu klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia. http://wiryanto.files. Navigasi Perhubungan bahkan Mess Pemda setempat berada di pulau itu. Elemen tematik yang ditampilkan adalah adanya koherensi yang tampak pada beberapa kalimat yang menghubungkan tiap alinea pada berita yang ditampilkan. . Pemerintahan Provinsi Riau berniat mengklarifikasi hal ini ke Konsulat Jenderal Malaysia di Pekanbaru. Apa lagi Malaysia berbatasan dengan Indonesia. Gubernur Riau.jpg Dari analisis sintaksis pandangan harian waspada terhadap isu tersebut diwujudkan dalam bentuk skema atau bagan dalam berita. Rusli Zainal. Malaysia mengklaim gugusan pulau jemur di Provinsi Riau sebagai kawasan wisata mereka.Klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar Indonesia banyak menjadi perhatian berbagai media. Dalam tematik harian waspada menggambarkan adanya tema tertentu atas satu peristiwa. Dari judul berita ini harian waspada mengangkat isu ini karena begitu penting untuk diketahui oleh khalayak pembaca. Dari judul dan teks berita yang disajikan harian waspada ada beberapa elemen yang dapat diamati dari perangkat tematik yaitu adanya koherensi. Pangdam menjelaskan berdasarkan sejarah Pulau Jemur masuk wilayah Kerajaan Siak dan secara defacto maupun dejure adalah milik Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditandai oleh Pos TNI Angkatan Laut. Disamping itu dalam pengesahan fakta harian waspada berupaya menggambarkan unsur penting dalam pemberitaan klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan Seni Budaya Indonesia. Dari judul ini pula menunjukkan bagaimana waspada mem-frame dalam strategi rencana dengan menempatkan berita ini walaupun dalam headline halaman dua tetapi mencuri perhatian pembaca.com/2008/05/reog.

Dengan demikian unsur-unsur dalam pemberitaan telah memenuhi syarat dalam pengungkapan fakta yang diperoleh Waspada. Sumber penting dari pemberitaan ini yaitu Gubernur Provinsi Riau Rusli Zainal yang ditempatkan pada lead berita dan latar dengan model piramida terbalik Harian Waspada memaknai adanya pihak Malaysia mengklaim pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia walaupun pada sisi lain pihak Malaysia membantah isu itu dengan menuding pihak ketiga.net yang menyebutkan bahwa pulau Jemur sebagai destinasi wisata negara bagian Slangor Malaysia yang dikatakan dalam situs itu pulau Jemur masuk dalam wilayah Slangor Malaysia.http://matanews. dalam upaya menunjukkan betapa pentingnya dan menariknya isu tersebut. Seperti sikap Gubernue Riau Rusli Zainal dimuat bahwa pihak pemerintah daerah Riau akan meminta klarifikasi tentang klaim itu. Dalam retoris waspada telah memilih dan memakai kata-kata tertentu untuk mem-frame isu tentang klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Begitu juga tentang klaim seni budaya Indonesia.jpg Dari struktur retoris wacana berita menggambarkan pemulihan gaya kata yang dipilih oleh wartawan untuk menonjolkan arti yang ingin disampaikan oleh wartawan tersebut. juga dari sisi grafis penekanan terhadap penggunaan huruf yang relatif tebal atau hitam. kalimat ini begitu tegas menjelaskan kepemilikan Indonesia terhadap Pulau Skrip Tematik . Tematik yang ditampilkan oleh harian ini adalah adanya persesuaian kaitan yang kelihatan antara beberapa kalimat dengan yang lain sehingga hubung menghubungkan setiap alenia dari setiap pernyataan yang ditampilkan. Dalam retoris waspada juga mencoba memberikan efek kognatif yang mengarah pada perhatian dan keterkaitan khalayak pembaca secara intens.com/wp-content/uploads/batik1. ELEMEN Skematis STRATEGI PENULISAN Pemuatan sumber-sumber berita yang memiliki relevansi dengan judul berita menerangkan adanya klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Bukti-bukti pemberitaan yang ditonjolkan oleh harian Waspada (Skrip) adalah pulau Jemur di Kabupaten Rohil Provinsi Riau diklaim oleh Malaysia melalui situs pariwisata Travel Journal dan Laman Osvajd. Sikap ini sangat didukung oleh bagaimana gubernur juga menyatakan bahwa dari 9 pulau yang termasuk dalam gugusan Pulau Arwah di Kabupaten Rohil salah satunya adalah Pulau Jemur.

Dari judul ini nampak harian Analisa mencoba menunjukkan bagaimana pihak pemerintah Malaysia merasa terganggu karena berbagai pemberitaan di Indonesia yang cenderung memperuncing persoalan dimaksud. Walaupun demikian pihak rumah produksi yang memberi bahan kepada Discovery Channel sudah mengklarifikasi dan meminta maaf atas kejadian tersebut. “Malaysia Klaim Pulau Jemur”. http://www. Framing Harian Analisa Berdasarkan framing harian Analisa tentang isu klaim Malaysia terhadap pulau terluar Pulau Jemur dan seni budaya Indonesia seperti Tari Pendet sama sekali pihak Malaysia menyatakan tidak pernah menyatakan itu. Kesan judul ini dimaknai untuk mencoba menepis prasangka negatif atas isu klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia.Retoris Jemur dimaksud. Judul ini diangkat berdasarkan penegasan yang disampaikan Konsul Jenderal Malaysia Fauzi Omar yang didampingi Direktur Tourisme Malaysia di Medan Noor Azman ketika menerima kunjungan kerja anggota DPD RI Parlindungan Purba. Begitu penyataan minta maaf dari Discovery Channe.jpg Analisis sintaksis pandangan harian Analisa terhadap isu tersebut diwujudkan dalam bentuk skema atau bagan berita. Kelengkapan sumber berita Fauzi Omar Konsul Jenderal Malaysia di Medan sebagai aktor pemberitaan disebutkan sangat jelas. Harian ini telah memilih dan memakai kata-kata tertentu untuk memframe isu tentang klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia yaitu dengan judul berita. Dilihat dari sisi grafis judul berita ini ditulis dengan huruf tebal hitam (bold) sehingga tampak penonjolan begitu pentingnya isu itu.primaironline. Begitu juga isi berita tentang penyataan Konsul Jenderal Malaysia atas kekecewaannya terhadap pemberitaan media di Indonesia yang cenderung memperuncing permasalahan sehingga pernyataan Konsul Malaysia bahwa .com/images_content/2009824tari%20pendet. Judul berita menunjukkan begitu pentingnya isu penyataan pihak Malaysia atas penolakan pemberitaan berbagai media di Indonesia klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Dalam teks berita pada bentuk headline harian Analisa menampilkan penyataan pihak pemerintah Malaysia melalui Konsulat Jenderal Malaysia Fauzi Omar mengungkapkan masalah Tari Pendet sebenarnya 100 persen merupakan tanggung jawab Discovery Channel. Hal itu dapat dilihat pada judul berita pada harian Analisa berjudul “Malaysia Tidak Pernah Diangkat Klaim Tari Pendet Dan Pulau Jemur”. Dalam pengungkapan fakta pemberitaan telah mengikuti tata cara pemberitaan yang benar. 2. Karena itu pihak Malaysia merasa perlu menjelaskan hal ini kepada Indonesia.

Harian Analisa telah mengkontruksi sedemikian rupa tentang adanya realitas bagaimana pihak Malaysia menolak tudingan dimaksud. Dalam skrip Analisa menggunakan pola penulisan 5W+1H dengan menonjolkan bagaimana sumber berita menyikapi tudingan klaim Malaysia terhadap pulau terluar dab seni budaya Indonesia. “Malaysia Tidak Pernah Mengklaim Tari Pendet Dan Pulau Jemur”. Skrip . Harian Analisa memaknai bahwa pihak pemerintah Malaysia menolak tudingan klaim dimaksud. Dalam penutup berita itu Analisa memframe bahwa hanya karena miskomunikasi saja dan kesalahan komunikasi itu dimanfaatkan media sebagai isu penting pemberitaan. ELEMEN Skematis STRATEGI PENULISAN Pada framing harian Analisa lebih menonjolkan tentang penolakan pemerintah Malaysia atas pemberitaan berbagai media di Indonesia dengan mengangkat judul. Malahan ditegaskan ada agensi di Slangor yang membuat paket wisata dengan memasukkan Pulau Jemur dalam paket wisata Malaysia karena kedekatan geografis. harian Analisa adanya koherensi.pihaknya tidak pernah mengklaim Tari Pendet dan Pulau Jemur sebagai milik Malaysia.jpg Dari struktur wacana retoris wacana berita menggambarkan pemilihan gaya kata yang dipilih oleh wartawan untuk menonjolkan arti yang ingin disampaikan. http://prabowosubianto.info/v2/wp-content/uploads/2009/06/ambalat. Analisa framing berdasarkan tematik penulisan berita tentang isu Malaysia tidak pernah klaim Tari Pendet dan Pulau Jemur. Judul berita pada harian Analisa bercetak tebal (bold). Dalam retoris pemahaman dan perhatian serta keterkaitan khalayak pembicara terhadap pemberitaan. menunjukkan penolakan pemberitaan dimaksud. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan pentingnya berita itu dan menarik untuk disimak. Ungkapan-ungkapan alenia ke alenia hanya berhubungan terutama dengan pengutipan penyataan dari sumber. Dalam lead berita Analisa mengambil pernyataan narasumber dari Konsul Jenderal Malaysia di Medan Fauzi Omar mengatakan pihak pemerintah Malaysia tidak pernah klaim Tari Pendet begitu juga klaim terhadap Pulau Jemur.

Klaim Malaysia atas pulau terluar dan seni budaya Indonesia berdasarkan pemberitaan berbagai media perlu klarifikasi dari pemerintahan Malaysia. Harian Analisa telah memilih dan memakai kata-kata yang beruas untuk menkontruksi bahwa pemerintah Malaysia melalui konsul jenderal di Medan membantah tentang pemberitaan klaim Malaysia terhadap Pulau Jemur dan seni budaya Indonesia. Tentunya dengan keberadaan media di . Walaupun di sisi lain Indonesia perlu mencari bukti kebenaran di lapangan atas pemberitaan tersebut. sebab tanpa melakukan hal itu tidak tertutup kemungkinan akan terulang kembali klaim Malaysia. Tetapi pihak TNI tidak setuju atas perbuatan pemerintah Malaysia mengklaim pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Dan masalah ini tidak ada tawar menawar dan harus ditolak dan perlu diselesaikan dengan segera. Adanya koherensi yang tampak dalam kalimat sehingga tersusun dalam paragraf yang menjelaskan topik berita dimaksud. Dari ungkapan konsul jenderal Malaysia di Medan juga anggota DPD Parlindungan Purba terucap klaim Malaysia terhadap Pulau Jemur dan seni budaya Indonesia hanya miskomunikasi saja. Sebab hal itu berkaitan dengan kedaulatan negara kesatuan Republik Indonesia. Malahan harian Analisa mengambil ungkapan anggota DPD Sumut Parlindungan Purba bahwa klaim itu hanya masalah miskomunikasi bukan seperti yang diberitakan berbagai media. Berdasarkan pemberitaan media tentang hal dimaksud tentunya Indonesia harus melakukan langkah-langkah antisipatif seperti mempertanyakan persoalan itu kepada pemerintah Malaysia tentang kebenarannya. Walaupun dari beberapa pemberitaan media di Indonesia pemerintah Malaysia tidak lagi ambil serius dengan persoalan tersebut. Tentunya Indonesia sangat terbantu dengan pemberitaan media. Dan tidak perlu terlalu demonstratif tetapi dengan cara-cara yang elegan persuasive. 3. Sebab tindakan media akan menginformasikan tentang sesuatu apalagi masalah kepentingan negara jika tidak ada sumbernya. Dan tentunya pemerintah Indonesia perlu secara berkelanjutan melakukan sosialisasi kepada masyarakat Indonesia yang berada di perbatasan untuk menjaga keutuhan wilayah. Dari pihak pariwisata menjelaskan dengan keberadaan media yang begitu terbuka saat ini memberikan kontribusi yang begitu besar bagi masyarakat Indonesia sehingga diketahuinya bahwa negara tetangga Malaysia mengklaim pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Sebagai negara tetangga apalagi serumpun perlu dikembangkan saling menjaga dan menghargai kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya.Tematik Retoris Tema yang dimuat oleh harian Analisa adalah penolakan Malaysia atas tudingan klaim terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Hasil Wawancara Berdasarkan hasil wawancara dari berbagai kalangan seperti dari kepemudaan menjelaskan bahwa pemerintah perlu secara terus menerus melakukan pendataan terhadap pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia untuk menghindari klaim yang dilakukan oleh negara tetangga. Tetapi pada sisi lain tentunya tidak perlu terlalu berlebihan menyikapi pemberitaan media di Indonesia atau klaim Malaysia dimaksud. Penjelasan dari pihak Kodim 091/ASW Kaltim dan Tanjung Pinang menjelaskan pemberitaan media itu masih dalam tahap kewajaran walaupun di sisi lain perlu diseleksi kebenaran pemberitaan dimaksud.

Dalam hal ini penempatan Babinsa perlu ditingkatkan secara merata di daerah-daerah perbatasan. Keadaan ini dapat memancing reaksi negatif Indonesia. Dikarenakan sudah lama berada di Malaysia rindu akan leluhur kebudayaannya sehingga berbagai seni budaya yang dimiliki dipertunjukkan yang ternyata dikatakan seni budaya yang dipertunjukkan itu sebagai milik Malaysia. Padahal seni budaya asli Indonesia. Begitu juga peralatan pemantau seperti kapal perang dan infrastruktur lainnya perlu segera diwujudkan sehingga aparat TNI dan unsur Muspida terkait dapat dengan mudah melakukan patroli guna melakukan penjagaan di daerah-daerah perbatasan baik darat maupun laut di wilayah Indonesia yang berbatas dengan negara lain. Tanggapan yang diungkapkan dari Ormas di daerah perbatasan Tanjung Pinang menyebutkan perlu kiranya saling menghormati hukum internasional tentang zona batas Indonesia Malaysia. Pemerintah Indonesia Malaysia perlu melakukan menginverting kembali berbagai seni budaya kedua belah pihak. begitu juga keberadaan pulau-pulau terluar sebab bagaimanapun juga sebagai negara bertetengga yang mana di Malaysia banyak warga Indonesia berdomisili di sana baik yang sudah menetap sebagai warga Malaysia maupun sebagai TKI dan juga pelajar. Tanggapan dari Badan Pengelola Daerah Perbatasan Provinsi Kaltim mengungkapkan sangat respon positif terhadap pemberitaan media di Indonesia tentang isu klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Bangsa Indonesia tidak boleh lengah dengan keadaan ini perlu ada tindakan tegas dan terencana. jika memang perlu dilakukan kesepakatan di Mahkamah Internasional sehingga akan dapat menguatkan keutuhan NKRI. Reaksi Malaysia terhadap pemberitaan media di Indonesia tentang isu dimaksud biasa-biasa saja sebab mereka sudah sejahtera tidak perlu ada keributan dan klaim . Reaksi Malaysia terhadap pemberitaan klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia perlu dipelajarin sebab walaupun Indonesia Malaysia serumpun tetapi ternyata Malaysia sanggup mengklaim pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Dengan pemberitaan itu akan diketahui apa-apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah dimaksud apalagi masalah perbatasan Indonesia Malaysia. Sementara negara tetangga terus membangun daerahnya yang berbatas langsung dengan Indonesia dan ini menunjukkan kesenjangan dalam berbagai hal antara Indonesia dan Malaysia di daerah perbatasan kedua belah pihak khususnya di bidang ekonomi. Maka langkah-langkah yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia adalah dilakukannya pendataan ulang untuk memastikan keberadaan pulau-pulau terluar serta seni budaya Indonesia. Setiap persoalan yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia tidak harus dilakukan secara destruktif yang berdampak pada ketidakharmonisan hubungan kedua negara yang selama ini sudah terjalin baik. Memang Indonesia Malaysia serumpun tetapi ada banyak hal yang berbeda jika dilihat dari ragam budaya. Tentunya Indonesia lebih banyak memiliki seni dan budaya dibanding Malaysia.Indonesia saat ini lagi terbuka pantas diberikan rasa hormat kepada media di Indonesia yang begitu cepat mengangkat kasus tersebut walaupun masih perlu diselidiki kebenarannya. Klaim Malaysia terhadap seni budaya Indonesia sempat disayangkan. Tentunya program-program yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat maupun daerah perlu diwujudkan tidak hanya program semata tetapi tidak diwujudkan dengan berbagai alasan. Sehubungan dengan keberadaan pulau-pulau terluar Indonesia aparat keamanan seperti TNI perlu ditingkatkan keberadaannya di daerah tersebut.

Begitu juga media di Indonesia memberitakan secara terbuka tentang bagaimana reaksi masyarakat Indonesia atas klaim Malaysia tersebut. Dengan pengakuan internasional tersebut tidak ada lagi negara lain seperti Malaysia dapat mengklaim pulau-pulau terluar serta seni budaya Indonesia sebagai milik mereka. Pemerintah perlu mengoptimalkan peranan media massa untuk selalu mensosialisasikan kepada masyarakat upaya-upaya yang akan dan sudah dilakukan oleh pemerintah tentang pembangunan di daerah perbatasan. Sebab dengan keterbukaan media pada saat ini merupakan peluang bagi masyarakat untuk mengenal dan mengetahui keberadaan daerahnya dari informasi yang ditemui dari berbagai media. Pemerintah Indonesia perlu secara proaktif menyikapi persoalan-persoalan yang muncul pada masyarakat yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur di daerah perbatasan. 3. sebab Malaysia Indonesia negara adik abang. Sementara masyarakat di daerah tetangga perbatasan pembangunan sudah maju. Kesimpulan 1. Kebebasan pers dapat mengungkapkan dengan gamblang tentang bagaimana negara tetangga seperti Malaysia mengklaim pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Rekomendasi 1. 3. Keberadaan media yang semakin terbuka di Indonesia perlu terus didorong oleh pemerintah. Tetapi belum dilaksanakan secara maksimal karena terbatas dan terkendala pada pembiayaan/anggaran. Keberadaan media memiliki posisi yang begitu besar dalam menyampaikan berbagai isu yang berkaitan dengan permasalahan perbatasan. Daftar Pustaka . 2. sebab klaim Malaysia atas pulau-pulau terluar Indonesia serta seni budaya Indonesia menyangkut dengan kedaulatan negara. Tentunya untuk mendorong kearah tersebut pemerintah perlu membangun infrastruktur sarana telekomunikasi untuk mempermudah akses masyarakat terhadap informasi yang diinginkan oleh masyarakat di daerah perbatasan. Pada satu sisi pemerintah Indonesia sangat menghormati kedaulatan negara tetangga seperti Malaysia. Apapun yang terjadi antara Indonesia atas klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar serta seni budaya Indonesia perlu dibicarakan secara baik-baik dengan cara kekeluargaan dengan pendekatan budaya serumpun. Pemerintah perlu menginverting kembali pulau-pulau terluar serta seni budaya Indonesia sebab berdasarkan kesepakatan UNCLOS Indonesia memiliki 92 pulau terluar berbatasan langsung dengan sepuluh negara. 4.Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia hanya media di Indonesia saja yang meributkannya. Untuk dilakukan pendaftaran secara internasional yang menjadi milik bangsa Indonesia. Sebab dengan kebebasan memperoleh informasi dari berbagai media akan dapat meningkatkan peran masyarakat untuk menjaga dan mengoptimalkan potensi-potensi yang ada di daerah perbatasan yang menjadi tempat tinggal mereka. tetapi bangsa Indonesia juga sangat cinta terhadap bangsa dan negara Indonesia yang berdaulat. Tentunya dengan tegas pihak pemerintah Indonesia menolak dan meminta klarifikasi atas klaim dimaksud. Baik pemberitaan dari berbagai media maupun tanggapan dari berbagai kalangan sangat menolak tindakan yang dilakukan oleh Malaysia terhadap Indonesia. Sebab sudah banyak program yang telah direncanakan baik pemerintah pusat maupun daerah untuk keperluan masyarakat daerah perbatasan. 2.

Analisis Teks Media. Harian Waspada. Bandung.com/wp-content/uploads/batik1. 2002. Tankarel Jr.com/UserFiles/Image/travel/batik/batik3.Poerwadarminta.id/wp-content/uploads/2009/08/tari-pendet.com/images_content/2009824tari%20pendet.mil.gif http://www. Werner J.tnial.com/2008/05/reog. Balai Pustaka. terbitan tanggal 1 s/d 30 September 2009. Lain-lain : http://www. terbitan tanggal 1 s/d 30 September 2009.info/v2/wp-content/uploads/2009/06/ambalat.jpg http://beta.jpg http://wiryanto.jpg http://prabowosubianto. Alex. Kamus Bahasa Indonesia.files. 2007.wordpress. Senerin.J.jpg http://matanews.web. Kencana Prenada Media Group. Harian Analisa. Teori Komunikasi.ac.id/userfiles/image/reog24.jpg http://beritadaerah.jpg PERAN MEDIA DALAM PEMBENTUKAN OPINI MASYARAKAT DI WILAYAH PERBATASAN MENGENAI JATI DIRI BANGSA INDONESIA9 Oleh : Amiruddin Z.suarapembaruan. 2006. Abstrak 9 Telah dipresentasikan pada acara seminar hasil penelitian tanggal 3 Desember 2009 di BBPPKI Medan .com/News/2007/03/05/Nasional/030307am.primaironline. W.id/cakra/images/ambalat.S.jpg http://indonesiaberprestasi. Remaja Rosdakarya.umpo.jpg http://www. Sobur.

Radio) dari negara tetangga Malaysia tersebut. Sementara dikarenakan media Malaysia lebih jelas dan mudah. Saluran komunikasi ini dapat dianggap sebagai penerus atau saluran pesan yang berasal dari sumber informasi kepada sasaran komunikasi ( Rogres. Penelitian ini bersifat kualitatif yaitu mewawancarai terhadap informan dari berbagai kalangan yang dianggap relevan. Sehingga masyarakat lebih memilih penggunaan media (TV. Dapat dipahami pengaruh informasi yang disampaikan melalui media sangat berperan dalam pembentukan opini masyarakat. Latar Belakang Masalah Hidup ini dikendalikan media massa. Jhon Naisbit mengungkapkan bahwa ada sepuluh pertanda zaman yang kini merubah hidup dan kehidupan masyarakat Amerika. So that people would prefer the use of media (TV. the methods used descriptive analysis. From the findings revealed that the border region are still disadvantaged areas from various aspects. The present study also concluded that the identity of the community in the border region is not run. Key words: Role of media frontier society. but the insights of their nationality can be said to decline. hal tersebut tentu suatu kewajaran disebabkan minimnya mendapatkan penjelasan dan informasi dari tayangan / siaran media nasional. identity. Dengan keberadaan media massa dapat meningkatkan peradaban masyarakat di lokasi/ tempat tersebut. it is certainly a lack of fairness due to get an explanation and information from the impressions / national media broadcasts. Kata Kunci : Peran media masyarakat wilayah perbatasan. jati diri. . dari kesepuluh pertanda zaman tersebut yang pertama kali adalah information society atau masyarakat informasi. Locations sampled in this study is a border region that became the working area of Research and Development Center for Communications and Information Technology Field. The purpose of this study is to describe the role of media in shaping public opinion in the border region about the identity of the Indonesian nation. This research is qualitative interviewing informants from various groups that are considered relevant. Lokasi yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah wilayah perbatasan yang menjadi wilayah kerja Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Medan. Radio) from the neighboring country of Malaysia. 1978 :16 ) Peran media di dalam penyampaian informasi diungkapkan seorang penulis ternama Alfin Tofler bahwa peradaban manusia dimasa ini telah memasuki era baru yang disebut “ The Third Wave “ dikatakan bahwa fungsi informasi menjadi jauh lebih penting daripada era sebelumnya. metode yang digunakan deskritif analisis. Penyebaran informasi adalah usaha komunitas melalui saluran komunikasi untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat luas. including the existence and role of the national media. Dari hasil temuan terungkap bahwa wilayah perbatasan masih merupakan daerah tertinggal dari berbagai aspek. Hasil penelitian juga menyimpulkan bahwa jati diri masyarakat di wilayah perbatasan tidaklah luntur. kehadiran/keberadaan media massa di suatu lokasi/tempat adalah sangat penting.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran media dalam pembentukan opini masyarakat di wilayah perbatasan mengenai jati diri Bangsa Indonesia. Masyarakat memperoleh berbagai informasi sekaligus mempengaruhi sikap atau membentuk cara pandang. While the media is because Malaysia is more clear and easy. namun wawasan kebangsaan mereka dapat dikatakan menurun. termasuk tentang keberadaan dan peran dari media nasional.

oleh karenanya dipandang perlu penelitian ini. meliputi media elektronik. Provinsi Kalimantan Timur adalah : Kabupaten Malinao dan Kabupaten Nunukan. maka dibatasi yaitu hanya wilayah. Objek penelitian ini adalah Media yang beredar di wilayah perbatasan dalam cakupan kerja BBPPKI Medan. Provinsi Sumatera Utara yaitu : Kabupaten Batubara. dengan demikian dikhawatirkan akan mengalami kelunturan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Provinsi Riau yaitu : Kabupaten Rokan Hilir. Permasalahan Berdasarkan Uraian diatas. Chaffe (1980) dalam Rahmat (1985 : 215-217) mengemukakan tiga pendekatan untuk melihat efek media massa : Pertama Kedua Ketiga : Pendekatan yang berkaitan dengan media massa : Pendekatan dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada khalayak seperti penerima informasi. Kabupaten Sambas. Namun karena faktor keterbatasan dana. Pendekatan tersebut menurut Gonzales (1978: dalam Jahi. dan media cetak . Masyarakat yang menjadi objek penelitian ini adalah masyarakat yang berdomisili di wilayah perbatasan yang berada dalam cakupan wilayah kerja BBPPKI Medan. waktu dan tenaga. perubahan perasaan atau sikap dan perubahan perilaku (perubahan kognisi. Kajian Teoritis 1.Carter (1973) menganggap komunikasi sebagai satu tingkah laku. Menurut beliau apabila seseorang berkomunikasi dia berusaha untuk mencari informasi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan yang sedang dihadapinya supaya dia mempunyai satu gambaran yang lebih tepat tentang keadaan yang dihadapinya . Provinsi Kepri adalah : Kabupaten Bintan dan Kabupaten Tanjung Balai Karimun. Media Dalam Pembentukan Opini a. • Efek Konatif erat hubungannya denga niat dan kecenderungan dan berperilaku menurut cara tertentu Adanya asumsi bahwa masyarakat pada wilayah perbatasan menggunakan media luar negeri. Provinsi Kalimantan Barat adalah : Kabupaten Sanggau. maka masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimana Peran Media dalam pembentukan opini masyarakat mengenai jati diri Bangsa Indonesia di wilayah perbatasan ? Tujuan Penelitian Untuk mengetahui peran media dalam pembentukan opini masyarakat mengenai jati diri Bangsa Indonesia di wilayah perbatasan. lebih mengenal negara tetangga. Peran Media . 1988 :17) disebut tiga dimensi efek komunikasi massa itu : • Efek Kognitif yang meliputi peningkatan kesadaran belajar dan tambahan pengetahuan • Efek Afektif yang berhubungan dengan emosi. bihavioral) : Meninjau suatu observasi yang dikenal efek media massa. perasaan dan sikap. dan Kabupaten Bengkayang. efeksi. Pembatasan Masalah.

Interaksi terjadi secara tidak langsung melalui media komunikasi misalnya pembicaraan secara pribadi. Radio. Hal ini berarti opini harus dinyatakan. hiburan dan kontrol sosial b. desas desus. yang lain dari kebiasan. Karena itu opini mempunyai ciri ciri : 1) Selalu diketahui dari pernyataan pernyataan. televisi dan sebagainya. 2) Merupakan sinthesa atau kesatuan dari banyak pendapat. . Isyarat. radio. Opini merupakan “ Expressed statement “ yang biasa diucapkan dengan kata kata. Opini berupa reaksi pertama dimana orang mempunyai rasa ragu ragu tentang sesuatu. Namun tidak ada yang menyangkal atas peran media massa yang signifikan dalam masyarakat moderen. pendidik.Quail dalam bukunya Mass Communication Theories (2000:66) menerangkan opini publik terhadap peran Media Massa. dan adanya perubahan penilaian. Pertama. 3) Mempunyai pendukung dalam jumlah besar. Publik menaruh minat pada persoalan atau kepentingan yang sama. Kedua. Opini ini dikemukakan oleh berbagai kalangan dari berbagai kalangan. maupun Suratkabar atau Majalah. menagemen dan motivasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kata atau sumber daya lainnya. Selanjutnya pengertian publik menurut Soekamto dalam Sunarjo (1984 :19) adalah kelompok yang tidak merupakan kesatuan. melalui media komunikasi massa misalnya surat kabar. media massa diharapkan ikut mengembangkan kepentingan nasional dan menunjang nilai nilai utama pola perilaku tertentu karena sesungguhnya media massa itu sendiri berfungsi sebagai pemberi informasi. Subyek dari suatu opini biasanya masalah masalah baru. 1984 :31) Dengan demikian pengertian opini atau pendapat mempunyai dua unsur yaitu : 1) Adanya pernyataan 2) Mengenai masalah yang bertentangan. Pengertian Opini dan Opini Publik William Albiq dalam bukunya “ Modern Public Opinion “ yang dikutip oleh Meinanda (1980 : 29 ) mengemukakan bahwa “Opini adalah suatu pernyataan mengenai sesuatu yang sifatnya bertentangan. Dari beberapa Pengkajian maupun tulisan dinyatakan bahwa hampir semua tempat. Media Massa dianggap A miror Of event In Society And The Word Impleying A Faith Full Relection atau cermin dari berbagai peristiwa yang ada. mereka terlibat dalam suatu pertukaran pemikiran untuk mencari penyelesaian atau kepuasan atas persoalan itu ( Hartono dalam Rousydy. MC. Dikatakan beliau media massa merupakan sumber ketahanan atau alat kontrol. Unsur unsur ini mendorong orang untuk saling mempertentangkannya ( Albiq dalam Sunarjo. ketidakcocokan. atau cara lain yang mengandung arti dan dapat dipahami maksudnya. Opini atau pendapat itu dapat dinyatakan melalui media massa seperti Televisi. walaupun kerap dipandang secara berbeda-beda. Melihat Media Massa sebagai Window On Events And Experience atau khalayak memandang apa yang terjadi di luar sana.Peran media massa dalam kehidupan sosial menurut beberapa literatur tidak diragukan lagi.

diperlukan pula adanya issu atau masalah agar sesuatu itu dapat dinilai sebagai opini publik. kemudian pihak pihak lain menitikberatkan pada cara pembentukan pendapat atau tentang kualitas dari pendapat pendapat yang dinyatakan. 2) Terlihat dalam diskusi mengenai issu tersebut. 1990 :117 ) Cutlip dan Center dalam Sastroepoetro (1990 :117 ) bahwa istilah opini publik sangat licin. pengaruh pengaruhnya dan sebagainya (Sastroepoetro. Sedangkan Iris dan Protho (1965) dalam bukunya : The Politics Of Opini adalah “ The Ekspression Of Attitude On A Social Issue “. Suatu pendapat akan menjadi issu apabila mengandung unsur kemungkinan pro dan kontra. Cutlip dan Center (1961) dalam bukunya “ Effective Public Relations “ yang dikutip oleh Sastroepoetro (1990 : 71 ) menyatakan bahwa : “ Opini Is The Sum Of Accumulated Individual Opinion On And Issue In Public Debates And Effecting A Group Of People “. 1985 : 92 ) Dengan demikian. opini publik merupakan pendapat yang ditimbulkan oleh adanya unsur unsur sebagai berikut : . Dari kata opini dan publik timbullah istilah yaitu opini publik. pembicaraan. sukar untuk diwajibkan. Misalnya ilmuan politik membatasi untuk kajian politik. atau pertukaran pikiran antara individu individu yang berada dalam suatu kelompok. yang berbeda satu sama lain. melainkan masih merupakan suatu proses dalam diri manusia. Menurut Childs (1965 ) hal ini terjadi karena adanya perbedaan interest (titik perhatian) dalam mengkaji opini publik tersebut. sulit pula untuk didefinisikan. Meskipun demikian. dikutip oleh Susanto. Lebih lanjut Irish dan Protho dalam Susanto (1985 :90) menyatakan : suatu pendapat harus dinyatakan terlebih dahulu agar dapat dinilai sebagai pendapat atau opini publik. Peneliti mencoba mengutip beberapa teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini. 3) Memiliki perbedaan pendapat tentang cara mengatasi issu. Suatu issu akan menjadi issu sosial apabila ia menyebabkan orang lain akan membentuk pendapatnya dan menyatakan ataupun memberikan tanggapannya atas persoalannya yang dibahas oleh pendapat semula (Irish dan Protho. Dengan demikian opini publik terbentuk melalui suatu kegiatan yang berupa debat. 2) Adanya perhatian dan minat terhadap sesuatu hal yang umum sifatnya dan menyangkut kepentingan umum pula.1985 :314 ). Artinya Opini publik adalah jumlah akumulasi pendapat individual tentang suatu issu dalam pembicaraan secara terbuka dan pengaruh terhadap sekelompok orang. Secara singkat Blumer dalam Sastropoetro (1990 : 108 ) mengemukakan ciri ciri publik sebagai berikut : 1) Dikonfrontasi / dihadapkan kepada sesuatu issu. Para ahli mengemukakan berbagai rumusan atau definisi tentang opini publik. sulit untuk diukur dan tidak mungkin untuk dilihat. Disamping itu. Menurut Schramm dalam Sunarjo dan Sunarjo ( 1981 : 2) yang menyebabkan timbulnya publik adalah : 1) Sebagai respons terhadap suatu masalah. Sebab menurut mereka sesuatu yang belum dinyatakan belum bisa disebut opini karena belum mengalami proses komunikasi. Namun kekuatannya yang meresap sangat mudah dirasakan. masih merupakan sikap. dari sejumlah teori yang ada.

Kegiatan pokok yang akan dilakukan adalah : 1. . berada diantara Benua Asia-Australia dan diantara Samudra Hindia-Pasifik. Puskesmas. Dalam Draft Rancangan Pembangunan Nasional Jangka Panjang (20042009) pada Bab 24 tentang pengurangan ketimpangan Pembangunan Daerah dijelaskan bahwa wilayah Perbatasan dan terpencil kondisinya masih terbelakang. Fasilitasi pemerintah daerah untuk mengembangkan wilayah perbatasan antara negara sehingga wilayah perbatasan menjadi beranda depan negara. 2. 4. Selanjutnya disebutkan program pengembangan wilayah perbatasan ditujukan untuk menjaga keutuhan wilayah NKRI melalui penetapan hak kedaulatan NKRI yang dijamin oleh hukum internasional. baik kondisi fisik maupun kehidupan masyarakatnya tidak sangat jauh berbeda dengan yang ada di negara tetangga. dan lain lain. Untuk wilayah perbatasan (khususnya perbatasan darat) disamping masih rendahnya dana pembangunan. sosial dan budaya serta potensi lokasi perbatasan. Adanya masalah atau situasi yang bersifat kontroversial yang menimbulkan kontra. meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dengan menggali potensi ekonomi. Pengembangan wilayah perbatasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam lokal melalui pengembangan sektor sektor unggulan. Indonesia adalah merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 13.1.667 pulau. pulau pulau kecil yang ada di Indonesia sulit berkembang terutama karena lokasinya sangat terisolir dan sulit dijangkau. 2. Deklarasi serta penetapan garis perbatasan antara negara dengan tanda tanda batas yang jelas 3. Keberadaan Negara Indonesia terletak diantara 6 0 Linta Utara. penyebab utama ketinggalan adalah akibat dari arah kebijakan pembangunan kewilayahan yang selama ini cenderung berorientasi in word looking sehingga seolah olah kawasan perbatasan hanya menjadi halaman belakang dari pembangunan kita. Perhatian berbagai pihak terhadap pembangunan di kawasan perbatasan pada beberapa tahun terakhir ini semakin besar. namun di beberapa wilayah perbatasan terjadi kesenjangan pembangunan yang cukup besar dengan negara tetangga yang dikhawatirkan dalam jangka panjang akan menimbulkan kerawanan. 11 0 Lintang Selatan dan diatas 95 0 Bujur Timur. Dan menjadikan wilayah perbatasan sebagai halaman depan negara sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara negara RI dengan negara tetangga dan antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat negara tetangga. Pengamanan wilayah perbatasan dari kegiatan illegal dan fasilitas pergerakan barang dan orang secara sah dan mudah. Sementara itu. dan 141 0 Bujur Barat. Wilayah Perbatasan Indonesia bila dilihat dari sisi geografis adalah merupakan negara besar di Asia Tenggara. Indonesia disamping memiliki potensi wilayah yang strategis bagi pertahanan dan keamanan negara. Sekolah. serta belum tersentuh oleh pelayanan dasar dari pemerintah seperti. Adanya publik yang terikat kepada masalah tersebut dan berusaha memberikan pendapatnya 2. Diantaranya banyak yang tidak berpenghuni atau sangat sedikit jumlah penduduknya.

Mengingat bentuk geografis Indonesia. lokasi tersebut dinilai dapat mewakili setiap provinsi  Sementara Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi NAD yang juga merupakan wilayah kerja BBPPKI Medan. DPRD Kab/Ko ( yang membidangi informasi) 3. Organisasi Televisi 8. 2. 6. dan Kabupaten Bengkayang. Tokoh Adat / Budayawan 5. 7. Dinas Pendidikan / Tokoh Pendidikan 4. 1997 : 34). Penegakan supermasi hukum serta aturan perundang undangan terhadap setiap pelanggaran yang terjadi di wilayah perbatasan. Organisasi Radio 7. Metodologi Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Tokoh Organisasi Masyarakat 10. Informan Yang Diwawancarai 1.5. Tidak terkecuali melalui pemberitaan media massa (keberadaan media asing) dapat membuat kedangkalan rasa kecintaan terhadap tanah air Indonesia. Lokasi Penelitian Dengan berbagai pertimbangan dan pengkajian secara intern BBPPKI Medan ditetapkan lokasi yang dijadikan sampel dalam penelitian ini yaitu :  Untuk Provinsi Sumatera Utara yaitu : Kabupaten Batubara. tanpa mencari dan menjelaskan hubungan. menipisnya rasa kebangsaan dan hilangnya jati diri bangsa Indonesia. Kabupaten Sambas. Penelitian deskriptif hanya memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. namun tidak diikutsertakan pada penelitian ini. Tokoh Agama . serta 8. atau kelompok tertentu. Peningkatan kualitas sumber daya manusia khususnya dalam bidang kesehatan dan pendidikan. keadaan gejala. Organisasi KNPI Setempat/Tokoh Pemuda 9.  Untuk Provinsi Riau yaitu : Kabupaten Rokan Hilir  Untuk Provinsi Kepri adalah : Kabupaten Bintan dan Kabupaten Tanjung Balai Karimun  Untuk Provinsi Kalimantan Timur adalah : Kabupaten Malinao dan Kabupaten Nunukan  Untuk Provinsi Kalimantan Barat adalah : Kabupaten Sanggau. faktual. tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi ( Rakhmat. Organisasi Pers 6. Peningkatan wawasan kebangsaan masyarakat. Peningkatan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat. dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu 1. metode yang hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya. Humas Setda Kab/Kota/Kabid Informasi Dinas Perhubungan 2. yaitu sebagai negara kepulauan yang dua pertiga wilayahnya terdiri dari lautan dan diantara pulau pulaunya ada yang memberikan cukup ruang dan kedalam bagi penyusunan perlawanan. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi secara sistematis.

11. KPID Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap informan dan studi dokumen. Wilayah perbatasan antar Negara mempunyai nilai strategis dalam mendukung keberhasilan pembangunan nasional. menentukan nara sumber yang pertama kali di wawancarai. 141 0 Bujur Barat. maka sudah waktunya lebih memperhatikan kondisi wilayah perbatasan antara Negara untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kristi Poerwandari:2001. Pengumpulan data primer dilakukan dengan melalui wawancara mendalam (in-depth interview) sesuai pedoman wawancara yang disusun berdasarkan permasalahan dan tujuan yang akan dicari dalam penelitian. berada diantara benua Asia-Australia dan diantara Samudra Hindia-Pasifik. Indonesia bila dilihat dari sisi geografis adalah merupakan negara besar di Asia Tenggara. yang biasanya saling mengenal karena mereka satu spesialisasi (Darmadi D. catatan lapangan. Untuk lebih mendalami secara akurat dalam pengumpulan data ini juga dilakukan melalui teknik snowball (bola salju). kliping media cetak. 110 Lintang Selatan dan diatas 95 0 Bujur Timur. wawancara mendalam. Pada tingkatan operasional. makin lama informan semakin besar seperti halnya bola salju. 3. Indonesia adalah merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 13. dan selanjutnya diminta untuk menyebutkan nara sumber lainnya dengan spesifikasi/spesialisasi yang sama. buku laporan. apabila dibandingkan dengan kesejahteraan masyarakat setempat antara yang tinggal di wilayah Indonesia dan Negara tetangga. Karena posisinya yang langsung berbatasan dan berhadapan dengan Negara tetangga yang saat ini lebih maju dan dengan tingkat laju pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.34. pengumpulan data kepada para key informan ini dicari yang relevan untuk di interview.61) Pengumpulan data melalui metoda ini dilakukan dengan pertama. Pembahasan Hasil Penelitian 1. kemudian dipelajari dan dianalisis secara mendalam berdasarkan alur pemikiran dan sistematika penulisan. kepustakaan dan sebagainya dikumpulkan dan ditelaah serta dikaitkan dengan permasalahan dan tujuan penelitian • Data yang telah dirangkum berdasarkan permasalahan yang ingin diperoleh jawabannya. Wawancara dianggap cukup dan bisa diakhiri ketika pemberi informan terkahir memberikan jawaban yang sama dan tidak menyimpang dari nara sumber informasi sebelumnya Teknik Analisis Data • Data primer dan skunder yang telah diperoleh melalui observasi. 4. Prosedur dan mekanisme melalui penerapan dengan metoda atau teknik snowball ini dilakukan secara berantai. Aspek Geografis. dkk:1998. Pembangunan wilayah perbatasan antar Negara . Keberadaan negara Indonesia terletak diantara 6 0 Lintang Utara. kemudian kedua meminta kepada nara sumber pertama itu untuk menyebutkan key informan yang berikut dan seterusnya sehingga data yang diperoleh semakin kaya untuk kepentingan analisisnya. Dari pengalaman lepasnya Timor Timur dan Pulau Sipadan dan Ligitan. buku-buku pedoman dan peraturan.667 pulau.

Kata Drs.merupakan bagian dari upaya perujudan ruang wilayah nusantara sebagai satu kesatuan ideologi. Dep. Sementara itu. Ditjen Pemerintahan Umum. Kartiko Purnomo. puskesmas. Sedangkan pembangunan perbatasan sudah beres sebanyak 72 Pos Lintas Batas (PLB). Dari aspek politik dan sosial budaya. sebagaimana terjadi di Kalimantan Barat. Secara umum wilayah perbatasan dipandang dari aspek informasi dan komunikasi. otonomi. MA. sehingga dikhawatirkan akan melunturkan nilai-nilai jati diri kebangsaan sebagai warga NKRI Dalam draft Rancangan Pembangunan Nasional Jangka Panjang (20042009) pada Bab 24 tentang Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Daerah dijelaskan bahwa wilayah perbatasan dan terpencil kondisinya masih terbelakang. Meski perbatasan dengan . sosial budaya dan hankam. MPA. penyebab utama ketertinggalan adalah akibat dari arah kebijakan pembangunan kewilayahan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking sehingga seolah-olah kawasan perbatasan hanya menjadi halaman belakang dari pembangunan kita. Selama ini lebih mengenai pemerintah dan kebijakan negeri tetangga. Namun di beberapa wilayah perbatasan terjadi kesenjangan pembangunan yang cukup besar dengan negara tetangga yang dikhawatirkan dalam jangka panjang akan menimbulkan kerawanan. ekonomi. mercusuar dan pilar-pilar dikepulauan terluar diperbatasan negara. peneliti senior di Univ. masyarakat di wilayah inipun lebih cenderung berorientasi pada Negara tetangga karena rendahnya akses informasi dan komunikasi yang mereka peroleh sehari-hari. sehingga secara ekonomi. Untuk wilayah perbatasan (khususnya perbatasan darat) disamping masih rendahnya dana pembangunan.Dalam Negeri. Dampak dari pendekatan seperti itulah yang mengakibatkan wilayah perbatasan ini menjadi daerah yang tidak tersentuh oleh dinamika pembangunan dan pusat pelayanan pemerintah lainnya yang menyebabkan masayarakatnya menjadi relative miskin dan tertinggal . Wikaya Kusuma. Diantaranya banyak yang tidak berpenghuni atau sangat sedikit jumlah penduduknya. masyarakat di wilayah ini lebih berorientasi kepada negara tetangga Malaysia. terutama wilayah perairan Indonesia dengan negara-negara perbatasan. SH.Tanjungpura Pontianak (Asa di Tapal Batas) Tabloit Dep. Direktur Wilayah Administrasi dan Perbatasan. pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia sulit berkembang terutama karena lokasinya sangat terisolir dan sulit dijangkau. serta belum tersentuh oleh pelayanan dasar dari pemerintah sepertisekolah. Disamping memiliki potensi wilayah yang strategis bagi pertahanan dan keamanan negara. menelan biaya ratusan milyar rupiah untuk menghindari pencaplokan wilayah kesatuan Indonesia sebagaimana Pulau Ligitan dan Sepadan yang kini milik Malysia dan Pulau Pasir masuk wilayah Australia. perhatian berbagai pihak terhadap pembangunan dikawasan perbatasan pada beberapa tahun terakhir ini semakin besar. Secara umum wilayah perbatasan masih merupakan wilayah rertinggal dengan sarana dan prasaran sosial dan ekonomi yang masih sangat terbatas akibat dari kebijakan pendekatan pembangunan di wilayah tersebut selama ini lebih mengutamakan pada pendekatan keamanan (security approach) dari pada pendekatan kesejahteraan ( prosperty approach). dan lain-lain. mengatakan masih banyak batas wilayah negara yang belum beres.Kominfo Edisi Desember 2006. yang telah membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di sepanjang koridor perbatasannya melalui berbagai kegiatan ekonomi dan perdagangan yang telah memberikan keuntungan bagi masyarakatnya.

bila perlu serang saja negara yang mencaplok wilayah kita. dimana selalu terjadi tumpang tindih perbatasan wilayah meski telah disepakati bersama. “ Katanya. karena 4. namun masih dilakukan pemasangan mercusuar untuk diwilayah perbatasan perairan (laut) dan pembangunan PLB yang juga diharapkan dapat mendongkrak makro ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan. walaupun tidak seketika terhadap kehidupan masyarakat di daerah/wilayah dimaksud. Yang belum beres untuk wilayah perairan dengan Indonesia. terhadap Malaysia. Membujuk (To Persuade) 4. kasari sajalah.Malaysia. Tapi efektifision dan efektifprinsipil juga harus diperhatikan. justru sebaliknya yang di khawatirkan kita tidak dapat mengelolanya. yang turut campur tangan dalam penyelesaian perbatasan Indonesia – Papua Nugini. Dep. . Papua Nugini dan Australia titik-titik koordinat sudah selesai. Timor Leste. Vietnam. sehingga tidak gampang negara mengklaim pulau itu miliknya. Filipina. Mencegah pencaplokan pulau-pulau terluar. “ Disinilah Patriotisme Kebangsaan kita diuji. Untuk Timor Leste kini masih terus dilakukan negosiasi dan diplomasi daerah Kupang yang masih tarik ulur.981 pulau telah dilaporkan ke Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 38 tahun 2002. “ Begitu juga dengan pulau Pasir yang menjadi milik Australia. Kalau kita lalai mengelolanya bisa terulang kembali kasus Ligitan dan Sipadan. ujar Kartiko menceritakan kegeramannya di berbagai forum dalam mengurus penyelesaian perbatasan negara yang dianggap remeh Malaysia dan Australia. Memberi tahu (To Inform) 2. begitu juga Dep. Aspek Media Sesuai dengan fungsi komunikasi secara umum dapat dikategorikan menjadi : 1. Singapura. Kita tidak takut lagi kehilangan pulau. Mencermati geografis Indonesia teridiri dari Kepulauan dan berhubungan dengan wilayah perbatasan yang banyak. pemerintah telah memasang prasasti. Menghibur (To Entertaint) Dampak dari keberadaan media komunikasi informasi ditengah-tengah masyarakat/lingkungan adalah dapat membawa kedinamisan dan kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan dan sektor lapangan kerja dari masyarakat lingkungan/daerah tersebut. Diminta terhadap masyarakat Indonesia agar mendukung dan tidak boleh lagi lemah apa yang telah dilakukan oleh Malayasi dengan mengambil kedua pulau Indonesia. Thailand. Dikaitkan dengan Wilayah Kerja Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) Medan mencakup 7 Provinsi juga memiliki wilayah perbatasan dituntut kesiapan dari berbagai aspek untuk dapat memiliki peta kewilayahan dan perbatasan 2. tentang daftar koordinat geografis titik-titik dasar pangkal kepulauan Indonesia . Dalam Negeri terus bekerja keras. Karena media komunikasi informasi dimaksud dapat menyentuh dan mempengaruhi pengetahuan dan cara pandang serta bertingkah laku. “ Jangan khawatir akan kehilangan pulau-pulau terdepan dan terluar. Mendidik (To Educate) 3. Luar Negeri berupaya meningkatkan lobby-lobby untuk menyelamatkan wilayah Indonesia “. Banyak batas wilayah titik koordinat diperairan dengan negara-negara tetangga ini perlu mendapat perhatian kita bersama.

Minimnya rasa nasionalisme terhadap bangsa. malah pada lokasi pedalaman di wilayah perbatasan. atau dengan kata lain maju dan terbelakangnya suatu daerah/wilayah dapat ditandai dengan keberadaan media komunikasi informasi di daerah/wilayah tersebut. masyarakat/penduduk Indonesia lebih dominant menggunakan media (TV/RADIO) siaran/tayangan luar negeri (Malaysia). memandang diri kita sendiri. Terlepas dari berbagaai penyebab dan factor terjadinya kurangnya nasionalisme seperti karena krisis ekonomi dan politik. terutama pada bagian pedalaman. Konsep dasar ini pulalah yang menyatukan kebhinekaan tunggal ika kita. • Wawasan Kebangsaan Wawasasan kebangsaan sangat penting dihayati untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke depan. UUD-1945 3. Pancasila 2. Wawasan kebangsaan itu harus dinomorsatukan dari keutuhan Negara Indonesia. Namun disisi lain. NKRI 4. memandang bangsa lain. Wawasan Kebangsaan Dan Jati Diri Bangsa. media luar negeri lebih unggul dalam hal daya jangkauannyalebih luas dan mudah diakses tanpa menggunakan parabola/antenapun dapat terlihat jelas. Sungguhpun pada prinsipnya bagi masyarakat bahwa siaran/tayangan dan bahasan yang digunakan oleh media luar negeri tersebut tidaklah lebih baik dan menarik dibandingkan dengan siaran/tayangan oleh media Indonesia. bangsa Indonesia harus benar-benar kembali akan pentingnya wawasan kebangsaan. berbeda dengan media Indonesia yang harus menggunakan parabola/antenna. juga tidak sejelas/terang dari media Malaysia. Kondisi ini tentu lebih tidak memungkinkan dapat menerima siaran/tayangan dari media Indonesia 3. Suatu bangsa yang tidak mempedulikan akan arti pentingnya wawasan kebangsaan bisa hancur. Hal ini dapat dicermati bahwa kebutuhan informasi disuatu daerah/wilayah menunjukkan tentang peran dan fungsi dari media tersebut membawa dampak terhadap kemajuan sesuatu daerah. belum optimal mendapat siaran/tayangan dari media Indonesia. Bhineka Tunggal Ika Empat sumber dasar inilah yang membentuk sikap kita dalam melihat. Temuan dari dampak media pada daerah lokasi penelitian ini membuktikan bahwa pada daerah yang dijadikan penelitian di wilayah perbatasan. Dari jawaban hasil wawancara mendalam terhadap informan pada penelitian ini. • Jati Diri Bangsa Indonesia Jati diri bangsa Indonesia dibentuk oleh 4 (empat) Konsepsus dasar yaitu : 1. dapat diketahui bahwa wawasan kebangsaan dan jati diri bangsa . bisa memecah kesatuan dan persatuan bangsa yang sudah puluhan tahun terikat.Tidaklah berlebihan atau yang diungkapkan oleh Takaji Miyoshi yang mensejajarkan informasi dengan energi dan pangan. malah ada diantara mereka yang terpaksa berpindah-pindah guna mendapatkan lahan pertanian yang bakal digarap dijadikan lahan pertanian. Semakin maju suatu daerah/wilayah semakin berperan dan berfungsi media komunikasi informasi. Penduduk di pedalaman wilayah perbatasan dari sisi ekonomi sangat memprihatinkan.

tentu suatu kewajaran disebabkan minimnya mendapatkan penjelasan dan informasi nasional yang akhirnya mereka bisa jadi lebih mengenal struktur negara tetangga tersebut dari pada negaranya sendiri. infrastruktur yang belum tertata. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa keberadaan media (terutama TV dan Radio) di wilayah perbatasan khususnya di Pulau Kalimantan didapatkan selain siaran dan tayangan nasional. terungkap bahwa wilayah perbatasan masih merupakan wilayah tertinggal dengan saran dan prasarana sosial. Kesimpulan 1. tetapi wawasan mereka dapat dikatakan menurun. Bagi masyarakat pedalaman di wilayah perbatasan tidaklah menampilkan ke-empat konsepsus dasar jati diri tersebut. yang paling mendasar bagi masyarakat pedalaman di wilayah perbatasan adalah persoalan ekonomi. Dari aspek politk dan sosial budaya. kesehatan yang masih terbelakang. ekonomi yang masih sangat terbatas. yang dapat diterima tanpa menggunakan antena parabola. Sehingga dilokasi tertentu yaitu pada bagian pedalaman wilayah perbatasan peran dan keberadaan media luar negeri tersebut lebih dominan. berdasarkan jawaban dari berbagai kalangan dari informan yang dijadikan dalam penelitian ini mengemukakan bahwa jati diri masyarakat di wilayah perbatasan tidaklah luntur. Keterbelakangan SDM bagi masyarakat pedalaman di wilayah perbatasan membuat peranan media tidak banyak artinya karena media lebih difungsikan hanya bertujuan sebagai hiburan. karena rendahnya akses informasi dan komunikasi yang mereka peroleh sehari-hari. sarana pendidikan. lebih jelas dibandingkan dengan siaran/tayangan nasional. dengan demikian masyarakat tersebut menyerap tayangan/siaran dari negara tetangga (Malaysia) 3. namun tidaklah luntur atau mengingkari/menolak dari empat konsepsus dasar tersebut. sehingga dikhawatirkan nilai-nilai kebangsaan sebagai NKRI. Karena jangkauan media nasional kalah bersaing dibanding dengan jangkauan oleh media Negara tetangga (Malaysia). Wilayah perbatasan menjadi menjadi daerah yang belum tersentuh oleh dinamika pembangunan dan pusat-pusat pelayanan pemerintah lainnya yang menyebabkan masyarakat menjadi relatif miskin dan tertinggal.Indonesia oelh masyarakat di wilayah perbatasan masih rendah. Berkaitan dengan peran media nasional belum berfungsi optimal. terutama berupa wawancara mendalam (Depth Interview) terhadap informan yang dijadikan pada penelitian “ Peran Media Dalam Pembentukan Opini Masyarakat di Wilayah Perbatasan Mengenai Jati Diri Bangsa Indonesia “. Tentang jati diri bangsa Indonesia bagi masyarakat wilayah perbatasan. Kesemua sarana yang ketertinggalan tersebut bisa terpenuhi. jati diri bangsa Indonesia bagi masyarakat pedalaman di wilayah perbatasan tidaklah perlu diragukan. . tidaklah dapat membeli seperangkat alat yang digunakan agar bisa mendapatkan siaran nasional. Di sisi lain adalah SDM. masyarakat di wilayah perbatasan lebih cenderung berorientasi pada negara tetangga. hal ini terkait dengan faktor ekonomi masyarakat karena bagi masyarakat yang ekonomi lemah. 2. peningkatan pendidikan menjadi prioritas utama. transportasi dan listrik sangat terbatas. juga peran dan keberadaan media TV dan Radio negara tetangga (Malaysia) lebih eksis. sehingga secara ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan ini lebih berorientasi kepada negara tetangga Malaysia yang terus membangun ousat-pusat pertumbuhan ekonomi disepanjang koridor perbatasannya melalui berbagai kegiatan ekonomi dan perdagangan yang lebih memberikan keuntungan bagi masyarakatnya. Dari hasil penelitian.

Zulkarnain. Depkominfo. 1994. S. Membedah Potensi Negara Kepulauan. 2004. Demikian juga dengan penataan media komunikasi informasi dibutuhkan kesinkronisasian dengan perangkat lainnya dan aparatur perangkat di lokasi. Men. USU. Jakarta UU No. Jakarta. Komunikasi Dan Informatika No. Jakarta. oleh karenanya pemerintah harus memprioritaskan pembangunan ekonomi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat akan terbina peningkatan wawasan kebangsaan dan terpeliharanya jati diri bangsa Indonesia. Metodologi Penelitian Komunikasi. Tabloid Komunika. Remaja Karya. Syukur. Provinsi dan Daerah guna penataan infrastruktur pembangunan di wilayah perbatasan. 1986. Sosiologi Komunikasi Massa. Tabloid Komunika. Komunikasi Pembangunan. Hasil wawancaradengan berbagai informan dalam penelitian ini. Lembaga Informasi Nasional. Keberadaan siaran/tayangan dari media nasional ditengah-tengah masyarakat pada wilayah perbatasan. 1988. Mei. . Lubis.4. Medan. Depkominfo. Jalaluddin.22/Per/M. 2006.32 tahun 2002 Tentang Penyiaran. Bandung. 1986. Nasution. dalam penataan wilayah perbatasan.Djuassa. Bandung. Khollil. Sabarti. Rencana Pembangunan Jangka Menengah. Jakarta. Jakarta. pemda. Asa Di Tapal Batas.Kominfo/6/2008 tentang Organisasi Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Bidang Pengkajian Dan Pengembangan Komunikasi Dan Informatika Rakhmat. 5. Desember. 2003. Metodologi Penelitian Komunikasi.Raja Grafindo Persada. Badan Perencanaan pembangunan Nasional. dan pemerintah setempat. sehingga masyarakat wilayah perbatasan lebih menggunakan media nasional tersebut dan bila perlu pemerintah dapat memblok siaran luar negeri Saran Saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian “ Peran Media Dalam Pemberitaan Opini Masyarakat Di Wilayah Perbatasan Mengenai Jati Diri Bangsa Indonesia “. Demikian pula penataan dari media informasi tidak terlepas dan senantiasa mempunyai ketertarikan dari keberadaan dan kesiapan sarana dan prasarana lainnya. sangat diperlukan dalam hal pembentukan jati diri bangsa Indonesia.  Persoalan yang paling mendesak bagi masyarakat Indonesia yang berdomisili di pedalaman wilayah perbatasan adalah masalah ekonomi. 2006. Sandjaja. disebabkan masyarakat dapat mengakses media nasional. 2006. Pendidikan Kewiraan Universitas Terbuka. dari persoalan ekonomi ini berdampak menurunnya wawasan kebangsaan. Karena keberadaan dan pengguna media informasi sangat tergantung terhadap maju dan tidaknya serta SDMnya dari suatu daerah/wilayah tersebut. Per. Teori Komunikasi Universitas Terbuka. PT. Cita Pustaka Media. Suwardi. banyak mengangkat agar peran pemerintah lebih serius dan optimal memajukan wilayah perbatasan dan kesinergian pemerintah pusat. oleh karenanya media nasional harus lebih eksis. Daftar Pustaka Akhadiah. 1996.  Diharapkan kesinergian Pemerintah Pusat.

PENGETAHUAN MASYARAKAT KOTA MAKASSAR TERHADAP INFORMASI KEBIJAKAN PEMERINTAH DI BIDANG EKONOMI MELALUI MEDIA MASSA Oleh : Rukman Pala .

including knowing the government's policy. Media massa sebagai suatu lembaga menyebarluaskan pesan-pesan yang bertujuan untuk mempengaruhi dan mencerminkan kebudayaan suatu masyarakat. Setelah reformasi digulirkan petugas operasional penyebar informasi (jupen) hilang dengan sendirinya sehingga kemacetan informasi kebijakan pemerintah dirasakan oleh masyarakat. Informasi Pemerintah Kebijakan Ekonomi. whether the existence of the mass media can fulfill people's right to know. was about the attitude of respondents to the 12 categories of such government policy is highly variable number of certain categories of the respondents agree and disagree. sebanyak 9 kategori yang diketahui oleh responden dengan presentase diatas 50%. Keywords: Knowledge Society. namun perkembangannya bahwa media massa menjadi tumpuan masyarakat untuk mendapatkan informasi kebijakan pemerintah. Informasi tersebut dihadirkan secara serentak kepada khalayak luas yang beragam. Ciri-ciri komunikasi massa antara lain sebagai berikut: 1. Khalayak yang dituju heterogen dan anonim 5.Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat pengetahuan masyarakat tentang informasi kebijakan pemerintah dibidang ekonomi melalui media massa. as many as nine categories that are known by the respondents with percentages above 50%. The method used in this research is survey with quantitative approach. Mass Media Latar Belakang Masalah Sebelum memasuki era reformasi informasi kebijakan pemerintah tidak menjadi suatu persoalan untuk disosialisasikan kepada masyarakat karena instansi penerangan sebagai petugas operasional penyebar informasi kebijakan pemerintah. 2. Ada pengaruh yang dikehendaki . Dalam komunikasi masa. Adapun metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah survey dengan pendekatan kuantitatif. memproduksi pesan. apakah keberadaan media massa mampu memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui. Dari 269 responden dengan 12 kategori kebijakan pemerintah dibidang ekonomi. Economic Policy Government Information. sedang mengenai sikap responden terhadap 12 kategori kebijakan pemerintah tersebut ini sangat bervariasi beberapa kategori tertentu responden setuju dan kurang setuju. Media massa merupakan proses penyampaian pesan kepada khalayak banyak (publik). Menggunakan media masa dengan organisasi (lembaga media) yang jelas. Hal ini membuat media massa menjadi bagian dari salah satu institusi yang kuat dalam masyarakat. Kegiatan media masa teratur dan berkesinambungan 6. Komunikator memiliki keahlian tertentu 3. Pesan searah dan umum. tetapi responden yang sangat setuju dan tidak setuju relative sedikit jumlahnya. Media Massa This study aimed to describe the level of public knowledge about government policies in the economic information through mass media. serta melalui proses produksi dan terencana 4. Of the 269 respondents with 12 categories of government policy in the economic field. media masa merupakan lembaga yang memiliki otoritas untuk menyeleksi. but most respondents agreed and disagreed with relatively few in number. Kata Kunci : Pengetahuan Masyarakat. termasuk mengetahui kebijakan pemerintah. dan menyampaikannya pada khalayak.

Oleh karena itu. wordpresscom/2007/12/31/efek-komunikasi-massa-kognitif-afektif-behavioral Teori ini menjelaskan bahwa seseorang menggunakan meda untuk memenuhi kepuasannya. dan tambahan pengetahuan. baik dalam hal penggunaan media maupun dalam hal memperoleh/mengakses informasi yang diperlukannya (uses and gratifiction theory). dan film. tetapi juga mengedepankan kepentingan public. 8. seperti surat kabar. persaingan antar media khususnya dalam hal merebut pasar iklan sebagai sumber utama pembiayaan serta target audience semakin ketat. Disinilah posisi media dapat berperan sebagai mitra pemerintah dan atau menjadi sebagai “watchdog” atas berbagai kebijakan dan perilaku menyimpang dari para aparat birokrasi. Hal tersebut dapat terjadi apabila media massa dapat membangun hubungan baik secara fungsional dengan pemerintah dan juga lembaga non pemerintah (civil society). suku.11 Terkait dengan industri media massa di Indonesia. Seiring dengan harapan terhadap keberadaan media massa sebagai saluran komunikasi massa. khususnya dalam hal memenuhi hak dasar warga Negara untuk mengetahui (right to know) dan hak untuk berekspresi (right to expression). media yang tidak mampu mendekatkan atau menselaraskan content-nya (baik yang bersifat informative mapun yang bersifat hiburan) dengan karakteristik serta minat dan kepentingan audience. maka kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah mendorong perkembangan komunikasi massa semakin cepat. tetapi juga media baru (internet) telah banyak mewarnai perkembangannya. Dengan demikian masyarakat memperoleh banyak pilihan dan kesempatan. diharapkan dapat mencerdaskan dan memotivasi masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan. Akibatnya. televisi. Lebih jauh dari itu. persoalan penggunaan media oleh teori user and gratifications menekankan bahwa khalayak dalam hal penggunaan media bersifat selektif. Dalam konteks sosial terjadi saling mempengaruhi antara media dan kondisi masyarakat serta sebaliknya. cenderung lebih banyak mengikuti siaran TV berita. efek afektif berhubungan dengan emosi. belajar. Hubungan antara komunikator (biasanya media massa) dan komunikan (pemirsanya) tidak bersifat pribadi. perasaan. maka diharapkan eksistensi media massa tidak hanya berorientasi pada bisnis semata. afektif dan konatif. tetapi juga karena khalayak (penonton. Media massa dalam hal pemenuhan hak dasar warga Negara. dll). dan attitude (sikap). Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa kecenderungan khalayak dalam memenuhi kebutuhan informasinya. 10 11 http://kommabogor. Bahkan dewasa ini antara media konvensional dan media baru sudah menyatu menjadi media konvergensi (convergence media).10 Dalam kaitan dengan efek yang dapat ditimbulkan oleh komunikasi massa. Demikian juga efek komunikasi masa dapat dibedakan menjadi tiga macam. boleh jadi media massa yang cenderung berorientasi pada peningkatan dan pengembangan kapasitas informasi dan pengetahuan masyarakat akan tertinggal dibandingkan dengan media yang lebih condong pada hiburan (entertainment) semata.7. Sedangkan efek konatif berhubungan dengan perilaku dan niat untuk melakukan sesuatu menurut cara tertentu. Tidak hanya disebabkan karena banyak media massa. tidak hanya mengunakan media konvensional yang umum dikenal. Efek kognitif meliputi peningkatan kesadaran. . pembaca) yang semakin pintar dan kritis serta sangat heteregon dalam banyak hal (ras. radio. yaitu efek kognitif. Hal itu penting agar masyarakat dapat memperoleh pengetahuan yang memadai tentang kebijakan pemerintah tersebut untuk dimanfaatkan dalam peningkatan taraf hidupnya. Selanjutnya. maka media tersebut sudah pasti akan terpinggirkan karena ditinggalkan oleh audience. adat istiadat. Salah satu diantaranya media massa dapat menjadi saluran informative terkait dengan kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi. agama.

Routledge. Menurut McNair (2003) mengkategorikan lima fungsi media massa yang ideal yaitu: • Pertama. • Keempat. Lebih jauh dari kemajuan tersebut. sebagai media publikasi (publisitas) dalam rangka kontrol (watchdog) terhadap institusi-instiusi publik. 21-22.. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang. An Introduction to Political Communication (Third Editions). 2 Manfaat ilmiah. B. serta fungsi kontrol social yaitu fungsi media sebagai wahana komunikasi sosial yang bertujuan untuk memberikan kritik terhadap perubahan dan pekembgangan social yang sedang berjalan. Tinjauan Pustaka Konsep Media Massa Sehubungan dengan pesatnya kemajuan perkembangan media massa dewasa ini. sebagai media pendidikan (educate) menyangkut maksud dan hubungan suatu perstiwa. maka konsekuensinya adalah persaingan dalam industri media massa pun semakin ketat dan pilihan-pilihan bagi masyarakat baik dalam hal media maupun informasi semakin bergam. • Ketiga. sebagai media advocacy bagi warga negara. London. • Kelima. Hal itu akan berimbas pada perolehan pasar iklan setiap tahunnya. diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah dan lembaga terkait lainnya dalam rangka pemberdayaan peran media massa mendukung peningkatan pengetahuan masyarakat dalam pembangunan. 12 12 McNair. . media massa diharapkan dapat memberikan pencerahan (peningkatan pengetahuan dan keterampilan) bagi masyarakat.dibandingkan dengan siaran TV non berita. 2003. hal. Media massa yang berkembang ditengah-tengah masyarakat yang semakin kritis dan persaingan industri yang semakin ketat sudah pasti dituntut lebih berkualitas dan professional dalam menjalankan perannya dalam masyarakat. fungsi edukatif yaitu fungsi media yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan khalayak. diharapkan hasil penelitian ini dapat mendeskripsikan konsepkonsep yang terkait dengan terpaan media massa (mass media exposure) dalam masyarakat. • Kedua. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini yaitu: 1 Manfaat praktis. yaitu fungsi media yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kepada audience tentang suatu peristiwa. sebagai media penyedia ruang (platform) untuk diskusi publik guna memudahkan terbentuknya pendapat umum. Secara umum peran media massa meliputi fungsi informative. Dalam hal ini media masa diharapkan dapat menyajikan pesan yang bersifat informative dan edukatif. dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut: Bagaimana pengetahuan masyarakat tentang informasi kebijakan pemerintah dibidang ekonomi melalui media massa? Tujuan dan Manfaat Penelitian Penelitian dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut: Untuk mendeskripsikan tingkat pengetahuan masyarakat tentang informasi kebijakan pemerintah dibidang ekonomi melalui media massa. sebagai media informasi (inform) kepada setiap warganegara tentang apa yang terjadi disekelilingnya.

2009 15 . Hal itu penting guna mencerdasakan masyarakat untuk ikut berpartisiasi atau mengambil peran dalam berbagai kebijakan dan program pemerintah. Di lain pihak. • Media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk memperoleh gambaran dan citra realitas sosial. McQuail. gaya hidup. bahwa manusia memiliki lima jenis kebutuhan dari yang terendah hingga yang tertinggi yaitu: 1) kebutuhan fisiologis 2) kebutuhan akan rasa aman 3) kebutuhan sosial 4) kebutuhan status.Terkait dengan peranan media massa sebagai media pers dalam mendukung peningkatan pengetahuan masyarakat. sehingga menjadi salah satu sumber referensi individu dan masyarakat dalam mengelola kehidupannya. barang. e. dan inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebgai pengganti kekuatan atau sumber daya lainnya. dan Hak Asasi Manusia. Maslow. McQuail. c. 40 Tahun 1999 tentang Pers. melakukan pengawasan. dan kritis tentang kebijakan. 40 tahun 1999 tentang Pers pasal 6 yaitu: a. mode. • Media merupakan lokasi (atau forum) yang semakin berperan. b. antara lain digambarkan oleh teori kebutuhan Abraham H. memperjuangkan keadilan dan kebenaran. • Media massa merupakan sumber kekuatan –alat kontrol. independen. serta menghidupkan industri lain yang terkait. media juga memiliki industri tersendiri yang memiliki peraturan dan norma-norma yang menghubungkan industri tersebut dengan masyarakat dengan institusi sosial lainnya. kritik. dan norma-norma. program.” 13 Menurut McQuail (1996) ada lima dalil yang mendasari sehingga media massa diasumsikan memiliki fungsi penting dalam masyarakat yaitu: • Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja. dan pelayanan pemerintah. akurat dan benar. koreksi. tetapi juga dalam pengertian pengembangan tata cara.14 Berdasarkan uraian di atas. Jakarta. Erlangga. • Media seringkali berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan. manajemen. serta menghormat kebhinekaan. baik yang bertaraf nasional maupun internasional. No. institusi media diatur oleh masyarakat. Dalam hal ini media direfresentasikan mampu memenuhi kepentingan dan kebutuhan individu dan masyarakat. 1996. mendorong terwujudnya supremasi hukum. 1996. h. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar (Edisi Kedua) Terjemahan: Agus Dharma dan Aminuddin Ram. Peran media massa semacam itu sesuai dengan peran pers yang tertuang dalam Undang-undang No.15 13 14 Undang-Undang RI. d. dan jasa. mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat. Pers nasional melaksanakan peranannya sebagai berikut : memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui.wikipedia. jelas bahwa media memiliki posisi penting dalam masyarakat. dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum. menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi. dan 5) kebutuhan aktualisasi diri. tetapi juga bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif. D.org/wiki/TEORI_MOTIVASI. 3 http://id. untuk menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat. bukan saja dalam pengertian pengembangan bentuk seni dan simbol. Kebutuhan manusia yang begitu kompleks. dikunjungi: 23 Feb. tetapi juga penyajian berita yang akurat. maka sudah seharusnya suguhan media massa tidak hanya mencakup keprihatinan masyarakat seperti kasus korupsi atau penyalahgunaan wewenang. media menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian normatif yang dibaurkan dengan berita dan hiburan.

2. tetapi juga ditentukan oleh faktor lingkungan. dan sebagainya.Hal lain yang harus dipertimbangkan terkait dengan penggunaan media adalah daya selekivitas individu dan masyarakat.Jr. Oleh karena itu. 3. Blumer dan Katz percaya bahwa tidak hanya ada satu jalan. 5. afiliasi kelompok. 193. Teori ini memandang bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media massa. yaitu “suatu pendekatan yang bertujuan mendeskripsikan atau menjelaskan suatu fenomena yang 16 Nurudin. namun tidak berarti pengaruh negatif media akan selalu terfilter. Tankard. hal. RajaGrafindo Persada. karena banyak faktor lain yang menentukan pengaruh media terhadap audience. Kebutuhan integratif personal . teman.18 Teori used and gratification memandang individu sebagai mahluk suprarasional yang sangat selektif. Salah satu teori yang mendasari selektivitas khalayak dalam hal penggunaan media adalah teori uses and gratification yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1974 oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz. 4. Gurevitch. walaupun dalam diri individu memiliki daya selektifitas yang tinggi (menurut teori Uses and Gratifications). 17 18 19 . Kebutuhan kognitif . yaitu: 1. dengan asumsi bahwa khalayak hanya menggunakan media dan mengkonsumsi pesan yang disampaikannya apabila relevan dengan kebutuhan dan kepentingannya.memperkuat kredibilitas. 356 Ibid. Jakarta. Pengantar Komunikasi Massa. Bahkan sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa media dapat mempengaruhi khalayak. 2007. Media bersaing dengan sumber-sumber pemenuhan kebutuhan yang lain. 357 Nurudin. RajaGrafindo Persada. dibandingkan dengan khalayak yang ingin memperoleh kepuasan dari rasa ketegangan. rasa percaya diri. & J. dan Haas menggolongkan fungsi-fungsi sosial dan psikologis media massa terhadap individu-individu ke dalam lima kategori yaitu : 1. melainkan banyak alasan dan pertimbangan khalayak untuk menggunakan media. Kencana Prenada Media. pengetahuan dan pemahaman. 2005. termasuk dalam hal penggunaan media. 192.19 Televisi berita seperti MetroTV atau TVOne akan lebih banyak dipilih dan digunakan oleh mereka yang ingin mencari kepuasan dalam perolehan berita (news). Kebutuhan integratif sosial .emosional. Teori Komunikasi. 3. Penggunaan media tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fsikologis sesorang. Metode Penelitian Pendekatan Dan Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan kuantitatif. dan sebagainya). Kebutuhan afektif . Severin. 2. Kebutuhan pelepasan ketegangan . baik lingkungan fisik (geografis) maupun lingkungan sosial (seperti: ciri-ciri demografis.17 Katz. Tidak sedikit masyarakat. khususnya di kalangan orang tua yang merasa khawatir dari pengaruh yang bisa ditimbulkan oleh media. Jakarta. hal.pelarian dan pengalihan”.W. pengalaman menyenangkan atau estetis. stabilitas dan status. khususnya terhadap anak-anak dan remaja yang umumnya secara psikologis dalam tahap pencarian bentuk jati diri.memperkuat hubungan dengan keluarga. Werner J. hal. Dalam proses Komunikasi Massa banyak inisiatif pengaitan diantara gratifikasi kebutuhan dan pilihan media yang terletak pada audien. baik dari aspek pengetahuan dan sikap.16 Asumsi dasar pendekatan Uses and Gratification.memperoleh informasi. 2007. Jakarta. Audience dipandang bersifat aktif artinya peranan penting mamfaat media massa diorientasikan pada sasaran. Pengantar Komunikasi Massa. hal.

2. 2006. Jakarta Burhan Bungin. Penetapan responden menggunakan metode stratified random sampling (sample acak sederhana berstrata) ditingkat PSU. Populasi Dan Sampel Populasi penelitian ini adalah keseluruhan warga masyarakat yang berusia 17 tahun ke atas yang berdomisili tetap di lokasi penelitian yang telah ditetapkan. 20 21 N 1 +N e 2 Rachmat Kriyantono.592 dari 14 Kecamatan dan 143 Kelurahan. h. b. Metode tersebut digunakan untuk . Menetapkan sampel ORW/ORK atau di daerah-daerah tertentu disebut lingkungan/dusun secara simple random sampling untuk masing-masing kelurahan/desa yang terpilih. Guna menghasilkan penarikan sample penelitian yang representative.Kencana. Penetapan sample lokasi penelitian menggunakan metode multi stage sampling. maka ditetapkan besaran sampel (responden) penelitian sebanyak 269 orang. maka kerangka sampling penelitian ini disusun sebagai berikut: 1. Adapun data populasi (jumlah penduduk) Kota Makassar 1. Jumlah sampel ORW/ORK disesuaikan dengan jumlah responden tingkat ORW/ORK. Menetapkan RT sebagai primary sampling unit (PSU) di masing-masing RW yang terpilih. d. Menetapkan satu kelurahan (pusat kota) dan satu kelurahan (pinggiran) secara purposive sampling untuk masing-masing kecamatan yang terpilih. Penentuan besaran sampel penelitian ini menggunakan rumus Slovin21 yaitu: n= Dimana : n = ukuran sampel N = ukuran populasi e = tingkat kesalahan Berdasarkan rumus penentuan sampel dengan tingkat kesalahan sampel (sampling error) sebesar 3%. ditujukan untuk mendeskripsikan secara sistematik masalah penelitian berdasarkan data yang dihimpun melalui questioner yang diajukan kepada responden dengan cara wawancara tatap muka.160 . Riset Komunikasi. Selanjunya responden penelitian didistribusi ke seluruh lokasi penelitian dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1.hasilnya dapat digeneralisasikan”. 2006. Menetapkan Kelurahan di masing-maing kecamatan terpilih c.20 Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Menetapkan kecamatan tepilih di kota Makassar b.207. a. Penentuan sampel lokasi penelitian dengan cara multi stage sampling sebagai berikut : a. Menetapkan dua kecamatan secara purposive sampling dengan ketentuan satu kecamatan pusat kota dan satu kecamatan pinggiran. c. Menetapkan RW/RK dan atau lingkungan di masing-maing kelurahan yang terpilih.

Defisinsi Operasional Berdasarkan teori dan konsep penelitian ini. Penggunaan media (media uses) adalah pola penggunaan media dalam masyarakat. isi (content) . juga mengumpulkan data sekunder melalui catatan atau data pendukung yang dihimpun peneliti. pendekatan kuantitatif ditujukan untuk menggambarkan pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kebijakan pemerintah dibidang ekonomi. serta fakta-fakta tentang pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kebijakan pemerintah dibidang ekonomi. Data yang terkumpul melalui qusioner. Menetapkan sampel ORT secara simple random sampling sebagai primary sampling unit (PSU) untuk masing-masing ORW/ORK yang terpilih sesuai dengan jumlah responden tingkat ORT. Kerangka Sampling Lokasi Penelitian dan Jumlah Responden Multi Stage Sampel Kota Makassar (269 Responden) Kecamatan Rappocini (135 Responden) Kecamatan Biringkanaya (134 Respponden) Kelurahan Buakana (68 Responden) Kelurahan Banta – Bantaeng (67 Responden) Kelurahan Daya (67 Responden) Kelurahan Sudiang (67 Responden) RW 01 (34 Responden) RW 05 (34 Responden) RW 03 (34 Responden) RW 08 (33 Responden) RT A (17 Responden) RT D (17 Responden) RT B (17 Responden) RT C (16 Responden) Keterangan: Jumlah Responden Setiap RT yaitu sebanyak 17 Responden Metode Pengumpulan Data Data primer penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara tatap muka dengan menggunakan quesioner.d. Metode Pengolahan Dan Analisis Data Data penelitian ini dengan menggunakan dekriktif analisis. guna menggambarkan krasterstik . diantaranya menyangkut seberapa banyak media berhasil menjangkau public (media exposure). Hasil pengolahn data penelitian selanjutnya dianalisis dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. selanjutnya dicoding dengan menggunakan coding sheet program SPSS. seberapa intens penggunaan medianya. maka definisi operasional dideskripsikan sebagai berikut: 1. Penelitian ini disamping mengumpulkan data primer.

3%). 2. kepemilikan media.3%. ternyata responden yang terjaring lebih banyak (51. baik cerai mati maupun cerai hidup sebanyak 2. Hanya lebih dari seperempat jumlah responden yang belum kawin. status perkawinan. Selanjutnya. Usia.8%) yaitu responden yang berusia antara 42-46 tahun. Adapun responden yang usianya diatas 60 tahun hanya 1. jumlah anggota keluarga yang memiliki penghasilan tetap. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri d. Dan Status Perkawinan Berdasarkan metode penelitian yang digunakan. karakteristik responden. Program swasembada beras e. usia. Karakteristik responden Data karakteristik responden yang dideskripsikan pada bagian ini meliputi. serta bagaimana karakteristik pengguna media. hoby. dan Social Economical Standard responden. diantaranya mengenai kebijakan pemerintah tentang: a. suku bangsa.. Program penanganan masalah pengangguran dan kesempatan kerja f. Program pembagunan keparawisataan “Visit Indonesian Year 2008” Hasil Penelitian Temuan Penelitian Data temuan penelitian yang diuraikan dalam bagian ini meliputi.7%) perempuan dibandingkan dengan responden laki-laki (48.6% dan kelompok usia 32-36 tahun sebanyak 12. Social Economical Standard (SES) Terkait dengan standar sosial ekonomi masyarakat. data yang dihimpun mencakup tingkat pendidikan. Program dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) i. Responden yang berusia antara 12-26 tahun dan antara 27-31 tahun ternyata jumlahnya sama yaitu masing-masing 12. apa tujuannya mengunakan media. responden penelitian ini yang paling banyak (19.7%. Data hasil penelitian tentang status perkawinan dihimpun pada responden mayoritas sudah kawin. Program Jaminanan Kesehatan Daerah (Jamkesda) h. Program penyesuaian harga BBM c. Responden yang berusia antara 47-51 tahun sebanyak 8. serta kepemilikan media komunikasi dan informasi.media yang digunakan. serta sikap responden terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. jenis kelamin.9%. Program koversi Minyak Tanah ke Gas j. Pengetahuan masyarakat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengetahuan sesorang tentang informasi kebijakan pemerintah di bidang eknomi. Jenis Kelamin. menyusul (13. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) g. Uraian tersebut bersifat deskriptif guna menggambarkan secara sistematis variabel-variabel dalam penelitian. Program penyediaan pupuk bersubsidi bagi petani l. Program pengendalian stabilitas harga bahan pokok b.4%. Program penggunaan produksi dalam negeri k.2%) responden yang berusia antara 17-21 tahun. pengeluaran rata-rata perbulan. Adapun responden yang cerai. terpaan media dan pengetahuan responden terhadap informasi kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi. Bahkan . berdasarkan klasifikasi usia. tergambar bahwa mayoritas (lebih dari 70 persen) responden berpendidikan menengah ke bawah (SMA ke bawah). Data tersebut dideskripsikan sebagai berikut: Tingkat Pendidikan Berdasarkan data penelitian yang dihimpun.

4% responden yang mengaku tidak ada pengeluarannya perbulan.9%). buruh/tukang. Paling tidak menggambarkan bahwa mayoritas responden penelitian ini berpendidikan menengah ke bawah.9% responden yang mengaku dalam keluarganya ada 2 orang yang berpenghasilan tetap.9%) . maka penelitian ini juga menelusuri jumlah anggota keluarga responden yang memiliki penghasilan tetap.8%) adalah ibu rumah tangga. diperoleh data bahwa mayoritas (41. 22. TNI/Polri. Selebihnya (4. masingmasing kurang dari 6%. Sebanyak 31. Data kepemilikan telepon rumah berdasarkan hasil penelitian ini yaitu hanya 36.6% responden yang berpendapatan antara 2 juta – 3 juta rupiah perbulan. petani/nelayan 10%.1% responden yang tidak ada anggota keluarganya berpenghasilan tetap. Selanjutnya. Adapun responden yang di dalam keluarganya terdapat lebih dari 2 orang yang berpenghasilan tetap sebanyak 10. 23.8%) responden yang mengaku hanya 1 orang dalam keluarganya yang memiliki penghasilan tetap.5% responden yang mengaku rata-rata pengeluarannya perbulan di atas 2 juta rupiah. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas atau lebih dari setengah jumlah responden yang rata-rata pengeluarannya perbulan kurang dari 1 juta rupiah.2% persen responden yang rata-rata pengeluarannya perbulan antara 1-2 juta rupiah. Terkait dengan jumlah pendapatan dan pengeluaran.3 telepon rumah per 100 orang responden. wiraswasta/pedagang 15. Kepemilikan HP berdasarkan hasil penelitian hampir menyamai jumlah (85. pegawai swasta 14. Pekerjaan Utama Pekerjaan utama responden penelitian justru yang terbanyak (18. dan siswa/mahasiswa 9.6%.8%.6% responden yang memiliki pendapatan antara 1 juta – 2 juta rupiah perbulan. Pendapatan Dan Pengeluaran Rata-Rata Perbulan Pendapatan dan pengeluaran rata-rata perbulan juga dijadikan salah satu indikator SES responden. Menyusul pegawai negeri sipil (17. Data ini cenderung merefresentasikan gambaran tingkat pendidikan masyarakat Indonesia. 31.2%. serta responden yang tidak bekerja. Selebihnya yaitu 3. Data hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas (62. sedang jumlah responden yang memiliki telepon mobile (handphone) mendekati angka 71 orang dalam 100 orang responden. Selebihnya yaitu 7. dengan asumsi bahwa keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga yang berpenghasilan tetap. Jumlah tersebut membuktikan bahwa penetrasi HP dalam masyarakat mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Berdasarkan data hasil penelitian. Adapun responden yang rata-rata pengeluarannya perbulan antara 2-3 juta rupiah sebanyak 7. mengenai pengelaran ratarata responden dalam satu bulan.1%) responden megaku memiliki pendapatan kurang dari 1 juta rupiah perbulan.ada 1.6% responden yang tidak pernah sekolah. Selebihnya (kurang dari 30 persen) responden yang berpendidikan tinggi. Selanjutnya.1%. Data ini penting guna mengetahui produktivitas suatu keluarga. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam hal kepemilikian telepon rumah dan fax ternyata jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah responden yang memiliki telepon genggam (handphone). relative lebih tinggi tingkat pendapatan keluarganya dibandingkan dengan keluarga yang sedikit atau tidak ada anggota keluarganya yang berpenghasilan tetap. politisi. Sebanyak 10. Mencermati data tersebut dapat disimpulkan bahwa responden penelitian cenderung berpendapatan menengah ke bawah.8%) yaitu responden yang mengaku berpendapatan di atas 3 juta rupiah perbulan. Selanjutnya. Selanjutnya.8% Selebihnya yaitu profesional. Kepemilikan Media Komunikasi Dan Informasi Data kepemilikan media juga diposisikan sebagai salah satu indikator standar ekonomi sosial/responden.

Berdasarkan angkaangka yang terinci pada tabel 1.4 Tidak tahu 29.6 57. 5. Kategori informasi kebijakan yang paling sedikit responden yang mengetahuinya yaitu informasi tentang program Visit Indonesian Year. program penggunaan produksi dalam negeri. 4.1 13. sebanyak 8 kategori yang dinilai cukup populer dikalangan responden. jelas terlihat bahwa diseminasi informasi kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi hingga saat ini relatif belum merata.responden yang memiliki pesawat televisi.8 33. Sikap Responden Data hasil penelitian yang dideskripsikan pada bagian ini yaitu sikap responden tentang kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi yang meliputi kategori program .4 78.4% responden. 12. penanganan masalah pengangguran dan kesempatan kerja. program swasembada beras.8 51. program Jamkesda.1 12.8 37. 8. Adapun jumlah responden yang memiliki komputer masih sangat sedikit yaitu hanya 16.9 11. bahkan masih ada yang cenderung lambat dan relatif rendah.2% responden Pengetahuan Responden Data hasil penelitian yang dideskripsikan pada bagian ini yaitu pengetahun responden tentang informasi kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi yang meliputi kategori informasi program pengendalian stabilitas harga bahan pokok.9 32.1 16. yang memiliki email 6. Kedelapan kategori tersebut dinilai populer karena jumlah responden yang mengaku mengetahui informasi tersebut lebih dari 50%.1 49.1 54.3 5. 6.5 25.1 10.3 55. program BOS.6 20.2 66. Tabel Distribusi Persentase Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang Informasi Kebijakan Pemerintah Bidang Ekonomi Melalui Media Massa (N. 7.6 9. 11.2 10.8%) responden yang punya radio dan berlangganan suratkabar. 1.6 83. terlihat jelas bahwa dari 12 kategori informasi kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi. program PNPM Mandiri.7 46. program Jamkesmas.0 47. memiliki web 1.5 13.6 5.7 44.3 7. program penurunan harga BBM. Adapun kategori informasi yang dinilai paling populer adalah program dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). radio dan surat kabar. Kategori Informasi Kebijakan Pemerintah dalam Bidang Ekonomi Pengendalian Stabilitas Harga Bahan Pokok Penurunan Harga BBM PNPM Mandiri Swasembada Beras Penanganan Masalah Pengangguran dan Kesempatan Kerja Program Jamkesmas Program Jamkesda Program BOS Program Konversi Minyak Tanah ke Gas Program Penggunaan Produksi dalam Negeri Program Penyediaan Pupuk Bersubsidi Program Visit Indonesia Year Tahun 58. 3.2 67. 10.8 41.3 38. 9. 2.8 Jumlah 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Sumber: Hasil Pengolahan Data Mencermati data hasil penelitian yang terangkum pada tabel . bahkan sudah melebihi jumlah (55.4 32. program penyediaan pupuk bersubsidi. dan informasi program visit Indonesia year.6 9. 269) No. Adapun 4 kategori lainnya dinilai kurang dan tidak popular karena jumlah responden yang mengaku mengetahui hal tersebut kurang dari 50% responden.4%. program konversi minyak tanah ke gas.8 Pengetahuan Raguragu 12. yang bersumber dari media elektronik dan cetak yaitu televisi.9 9.

0 43.7 11. program swasembada beras.1 36.pengendalian stabilitas harga bahan pokok. 6.2 37. 4.7 22.4 24.7 34 34. 7. namun dari sikap masyarakat cenderung terjadi pro dan kontra. 1 2.5 Sumber: Hasil pengolahan data Mencermati data hasil penelitian yang terangkum pada tabel terlihat jelas bahwa dari 12 kategori informasi kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi.8 6 16. 1. program penurunan harga BBM.9 TS (-) 24.9 33.2 26. program penyediaan pupuk bersubsidi. Bahwa penggunaan media massa dalam masyarakat relatif cukup tinggi.5 S (+) 11. 8. Tabel Distribusi Persentase Sikap Responden Terhadap Kebijakan Pemerintah Bidang Ekonomi Melalui Media (N. Bahwa pengetahuan masyarakat terhadap berbagai kebijakan pemerintah di bidang ekonomi terutama dari beberapa kategori cukup tinggi. 3.1 44. 9. 12. program konversi minyak tanah ke gas. 9 13. dan informasi program visit Indonesia year.7 3 8.2 9 3. 10.0 24.6 5. dengan jumlah responden yang bersikap setuju dan sangat setuju lebih dari 50%. Saran .8 38. program BOS.3 26.3 17.5 28. terbukti bahwa pengetahuan masyarakat tentang kebijakan pemerintah dibidang ekonomi melalui media massa cukup tinggi walupun dari beberapa kategori kebijakn cenderung rendah pengetahuannya.3 Sikap KS (-) 48. 11.7 43.8 6.7 TT (0) 15.8 13 14.6 15. 2.6 14. Kesimpulan Berdasarkan temuan dan analisis hasi penelitian ini.5 7. program penggunaan produksi dalam negeri. hanya satu 1 kategori yang dinilai mendapat respon (sikap) positif dikalangan responden.4 16. 6 3.5 9. dapat ditarik simpulan sebagai berikut: 1. Selebihnya yaitu 11 kategori lainnya kurang dari 50% responden yang menyikapinya secara positif (sangat setuju dan setuju).3 2. 269) No . program PNPM Mandiri.7 18. yaitu Program Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).0 17.8 45.9 11. 2.7 11.3 18.6 21. program Jamkesmas.9 25. program Jamkesda. penanganan masalah pengangguran dan kesempatan kerja.3 13.6 58. Kategori Kebijakan Pemerintah dalam Bidang Ekonomi Pengendalian Stabilitas Harga Bahan Pokok Penurunan Harga BBM PNPM Mandiri Swasembada Beras Penanganan Masalah Pengangguran dan Kesempatan Kerja Program Jamkesmas Program Jamkesda Program BOS Program Konversi Minyak Tanah ke Gas Program Penggunaan Produksi dalam Negeri Program Penyediaan Pupuk Bersubsidi Program Visit Indonesia Year SS (+) 0.1 11. Hal tersebut seiring dengan terpaaan dari berbagai jenis media massa kepada masyarakat. 5. Rendahnya jumlah responden yang bersikap setuju dan sangat setuju terhadap kebijakankebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi boleh jadi disebabkan oleh rendahnya diseminasi informasi kebijakan pemerintah tersebut.3 6.3 1.9 20.7 25.7 17.9 7.3 33.9 32.

Disertai contoh Praktis Riset Media. J.L. Erlangga.. Jakarta. D. Jakarta.T dan Jensen. Kencana Prenada Media. 2. Jakarta. dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Media Massa dan Masyarakat Moderen. S. Daftar Pustaka Nurudin. Edisi Kedua. paradigma.W. Burhan H. 2006. Routledge. Tankard. 1996. Pengantar Komunikasi Massa. Agar peran media massa terhadap disemininasi kebijakan pemerintah dapat lebih ditingkatkan. 2006. 2003. Hal itu hanya dapat terwujud jika media tidak hanya menyampaikan kelemahan dan kekurangan kebijakan pemerintah. Jakarta. Rivers. B. Rahcmat.M. Severen. Teori Komunikasi.WernerJ. maka diajukan saran sebagai berikut: 1. 2003.Peterson. Kencana Prenada Media. Bugin. McNair.Berdasarkan simpulan penelitian ini. Sosiologi Komonikasi: Teori. 2007. tetapi juga penting menyampaikan kelebihan atau sisi positif dari kebijakan pemerintah. McQuail. Kriyantono.40 Tahun 1999 tentang Pers STUDI: . London. Kencana Prenada Media Group. Teknik Praktis Riset Komunikasi . Komunikasi Pemasaran. Public Relations. Kencana Prenada Media. Agar pengetahuan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah terus ditingkatkan sehingga citra pemerintah di mata masyarakat dapat lebih baik. RajaGrafindo Persada. Jakarta. Terjemahan:Haris Munandar dan Priatna. Jakarta. No. Komunikasi Organisasi. An Introduction To Political Communication (Third Editions). dan JW. Undang-Undang RI. 2005. Teori komunikasi massa suatu pengantar (edisi kedua) terjemahan: Agus Dharman dan Aminuddin Ram. Advertising.Jr. Oleh karena itu pemerintah perlu terus meningkatkan sosialisasi kebijakannya termasuk dengan mengoptimalkan peran media massa. W.

The purpose of this research is to get an idea of how the presence of radio. dimana kepentingan rakyat dapat kembali diletakkan pada posisi sentral. This study is descriptive and uses a survey approach with realistic phenomenology. Perubahan yang tengah dialami tersebut memberikan peluang bagi penataan berbagai segi kehidupan berbangsa dan bernegara. sehingga masih dirasa perlu untuk mengadakan sosialisasi tentang prosedur dan tata cara pengurusan izin kepada para pengelola media radio dan televisi. and internet cafes in the province of North Sumatra. SH Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana keberadaan radio. Didalamnya diungkapkan tentang masalah – masalah apa saja yang dihadapi serta bagaimana cara pemecahan masalahnya. dan Riau. West Sumatra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak permasalahan yang dihadapi didalam pengoperasiannya terutama yang dirasakan sangat menyulitkan adalah masalah pengurusan perizinan dimana banyak yang mengatakan ketidakpuasan mereka terhadap pelayanan pengurusan izin karena sepertinya ada kesan ketidakadilan dan kelambanan dalam pengurusan izin tersebut. Keywords: Mapping Studies. many among the managers of radio and television broadcast media and internet cafes that still do not know the procedures and procedures for permits. 22 Telah dipresentasikan pada acara seminar hasil penelitian tanggal 3 Desember 2009 di BBPPKI Medan . Media Penyiaran radio dan televisi.PEMETAAN MEDIA PENYIARAN RADIO DAN TELEVISI SERTA WARUNG INTERNET DI PROPINSI SUMATERA UTARA – SUMATERA BARAT DAN RIAU22 Oleh : Burhanuddin Panjaitan. serta warung internet. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia pada saat ini tengah mengalami kehidupan berbangsa dan bernegara secara fundamental menuju ke sistem pemerintahan yang demokratis transparan serta meletakkan dasar supremasi hukum. so it is still felt necessary to convene the socialization of the procedures and procedures for permits to the managers of radio and television media. Besides. dan warung internet di Propinsi Sumatera Utara. Therein expressed about the problem . The results showed that many of the problems faced in the operation very difficult. internet cafes. Sumatera Barat. and Riau.any problem encountered and how to solve it. Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan survei dengan fenomenologi realistik. Disamping itu masih banyak diantara para pengelola media penyiaran radio dan televisi serta warung internet yang masih belum mengetahui prosedur dan tata cara pengurusan izin. Media Broadcasting radio and television. warung internet. television. and internet cafes. especially the perceived problem and permits is where many say their dissatisfaction with the service permits because there seems to be the impression of injustice and inaction in these permits. serta warung internet. televisi. Data collected by observation and filling a list of questions submitted to the owners and managers of radio and television broadcast media. Kata Kunci : Studi Pemetaan. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan dan pengisian daftar pertanyaan yang diajukan kepada pemilik serta pengelola dari media penyiaran radio dan televisi. as well as stalls Internet.

Untuk memuaskan kebutuhan masyarakat yang semakin beraneka ragam dimasa mendatang harus dikembangkan sistem manajemen modern dengan organisasi berjaringan sehingga dapat memperpendek lini pengambilan keputusan dan memperluas rentang kendali. pemerintah juga lebih terbuka terhadap derasnya aliran ekspresi aspirasi rakyat dan harus mampu menanggapinya secara cepat dan efektif. Untuk menjawab tantangan tersebut pemerintah pusat dan daerah harus mampu membentuk dimensi baru kedalam organisasi. Disamping itu. Melalui proses transformasi (dilaksanakannya proses transformasi menuju E-Government) pemerintah dapat mengoptimalisasikan pemanfaatan kemajuan teknologi informasi untuk mengeliminasi sekat-sekat organisasi birokrasi. Sumatera Barat dan Riau merupakan awal yang sangat penting dalam menghasilkan suatu basis data media penyiaran dan media elektronik dan melihat sejauhmana keberadaan media penyiaran dan media elektronik dalam membuka akses yang seluas-luasnya terhadap penyebaran informasi publik. dan pendayagunaan informasi dalam volume yang besar secara cepat dan akurat.Untuk meletakkan kepentingan rakyat pada posisi sentral maka pemerintah harus mengupayakan kelancaran arus informasi dan komunikasi dengan lembaga-lembaga Negara. Komunikasi Massa . Pengembangan e-government merupakan upaya untuk mengembangkan penyelenggaraan kepemerintahan yang berbasis (menggunakan) elektronik dalam rangka meningkatkan kualitas layanan publik secara efektif dan efisien. Sehubungan dengan hal tersebut Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Informasi wilayah – I Medan memandang perlu dilakukan pendataan penyiaran dan media elektronik Kabupaten Kota Sumatera Utara. membuka peluang bagi pengaksesan pengelolaan. khususnya dibidang perdagangan. agar dapat memenuhi kebutuhannya akan informasi. Pengumpulan data. dan pemetaannya agar dapat diketahui peta keberadaan dan permasalahannya serta bagaimana pemecahan masalahnya. informasi yang dilakukan oleh Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Informasi wilayah –I Medan di seluruh Kabupaten Kota Sumatera Utara. televisi dan warung internet di Propinsi Sumatera Utara. Maksud dan tujuan disusunnya laporan ini adalah untuk memberikan deskripsi keberadaan radio. serta membentuk jaringan sistem manajemen dan proses kerja yang memungkinkan instansi-instansi pemerintah bekerja secara terpadu untk menyederhanakan akses kesemua informasi dan layanan publik yang harus dilaksanakan oleh pemerintah. Sumatera Barat dan Riau. Dengan pemetaan dan pendataan ini permasalahanpermasalahan yang muncul tentang penggunaan media penyiaran dan media elektronik (internet) di kabupaten kota dapat diketahui. Hal ini dapat dijadikan informasi untuk perencanaan dan pembinaan serta pengembangan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi bagi instansi terkait. sistem manajemen dan proses kerja yang tidak dilandaskan pada tatanan birokrasi yang kaku. Ketidakmampuan pemerintah menyesuaikan diri dengan kecenderungan global tersebut akan membawa bangsa Indonesia terisolasi dari perkembangan global karena tidak mampu memanfaatkan informasi. Maksud dan Tujuan. Sumatera Barat dan Riau. Pemerintah pusat maupun daerah seharusnyalah mendorong masyarakat luas. Kemajuan teknologi informasi yang demikian pesat serta potensi pemanfaatannya secara luas. Kenyataan telah menunjukkan bahwa penggunaan media elektronik merupakan faktor yang sangat penting dalam berbagai transaksi domestik maupun internasional. Perubahan yang sedang dijalani terjadi pada saat dunia sedang mengalami transformasi menuju era informasi.

Bersifat satu arah. Selanjutnya menurut Rakhmadi (1993:189). Secara sederhana komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa. Penyair mengeluh karena gadis-gadis desa tidak lagi mendendangkan lagu-lagu tradisional. Defenisi yang paling sederhana tentang komunikasi massa dirumuskan Bitner (Rakhmat. 10. Tokoh agama mencemaskan hilangnya warisan rohaniah yang tinggi karena penetrasi media erotica. 2000 :189). Walaupun setiap orang menyadari efek komunikasi massa. yakni surat kabar. Bersifat terbuka. 2. Bila sistem komunikasi massa diperbandingkan dengan komunikasi interpersonal.Di Negara-negara maju. 9. Perkataan “dapat” dalam defenisi ini menekankan pengertian bahwa jumlah sebenarnya penerima komunikasi massa pada saat tertentu tidaklah esensial. komunikasi massa dapat diartikan sebagai suatu jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang terbesar. baik karena kerakusan atau ketakutan mencoba “melunakkan” pengaruh media massa atau mengendalikannya. seperti dikatakan Alexis S. 2000 : 188) :”Mass communication is messages communicated through a mass medium to a large number of people” (Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang). Efek Komunikasi Massa . kita akan melihat bagaimana karakteristik individu mempengaruhi penggunaan media. Sesuai dengan kerangka faktor-faktor personal dan situasional yang mempengaruhi perilaku manusia. majalah. televisi. Yang penting. Psikologi telah lama menelaah efek komunikasi massa pada perilaku penerima pesannya (Rakhmat. sedikit sekali orang menyadari gejala komunikasi massa. dari polemik ilmiah di antara para professor ke debat parlementer di antara anggota legislatif. dijelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan komunikasi massa. 12. Politisi. “Mass communication is the technologically based production and distribution of the most broadly shared continious flow of messages in industrial societies” (Komunikasi massa adalah Produksi dan partisipasi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontiniu serta paling luas dimiliki oleh orang dalam masyarakat industri). 2000 : 188) menulis. artinya harus melewati media teknis. penyair. heterogen. dan film. efek komunikasi massa telah beralih dari ruang kuliah ke ruang pengadilan. Kemudian Gebner (Rakhmat. 2000 : 187). heterogen. Pengertian Komunikasi Massa. dari politisi. Mempunyai publik yang secara geografis terbesar. “The communicator is a social organization capable of reproducing the message and sending it simultaneously to large of people who are spatial separated”. sampai petani. 11. tokoh agama. artinya tidak ada interaksi peserta-peserta komunikan. Tapi perlu. Komunikasi massa telah dipandang secara ambivalen. 2000 : 189). Bersifat tidak langsung. artinya ditujukan pada publik yang tidak terbatas dan anonim. secara teknis kita dapat menunjukkan empat tanda pokok dari komunikasi massa menurut ElizabethNoelle Neuman (Rakhmat. serta pengaruh media massa pada sistem kognitif dan efektif khalayaknya. sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah besar khalayak tersebar. Petani telah menukarkan kerbaunya dengan radio transistor dan televisi. dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan dapat diterima secara serentak dan sesaat. 1. Di negara berkembang efek komunikasi massa telah merebut perhatian berbagai kalangan. Tan (Rakhmat. dan anonim melalui media cetak dan elektronik.

Gambaran dalam otak kita tak mungkin dapat dioperkan atau disiarkan kecuali sudah “di-code”. Sebuah pesan yang telah disiarkan maka ia akan bebas dari sumbernya dan apa yang terjadi pada pihak penerima diluar kekuasaan sumbernya untuk merubahnya. maupun kelompok-kelompok orang yang sedang mendengarkan ceramah. saluran dan penerima sebagaimana terlihat dalam diagram di bawah ini: Diagram I . kendati menghadapi interferensi dan kompetisi kepada sasaran yang dituju. Sistem proses komunikasi itu dapat digambarkan sebagai berikut : Sumber (Source) Encoder Isyarat (Signal) Decoder Destination (sasaran) Anggaplah bahwa sumber dan encoder itu adalah seorang dan decoder dan sasaran adalah orang lain serta isyaratnya adalah bahasa. Kita ingin tahu bukan untuk apa kita membaca suratkabar atau menonton televisi. Pertama-tama sumber “meng-code” pesannya. gambaran tadi di code dalam bentuk kata-kata lisan maka akan dapat dipindahkan dengan mudah dan efektif. memperhatikan atau membaca. gelombang radio di udara. Dalam setiap proses komunikasi menghendaki adanya tiga unsur : sumber (source). Berlo terdiri dari sumber. Dalam satu tahap akan “terdapat penyaringan” atau perubahan.Pendekatan uses and gratification mempersoalkan apa yang dilakukan orang pada media. jika pesan itu tidak dioperkan dengan cukup cepat dan teliti. atau menggerakkan perilaku kita. Sumber dalam proses komunikasi dapat merupakan perorangan atau sebuah organisasi komunikasi (seperti surat kabar. Sedangkan proses komunikasi menurut David K. jika pesan tidak di code dengan sempurna. mengubah sikap. Inilah yang dimaksud dengan efek komunikasi massa. Proses komunikasi lewat radio siaran tidak ubahnya sebagai gambaran menyerupai “lingkaran”. dan sasaran (destination). pesan. yakni menggunakan media untuk pemuas kebutuhannya. Jika pesan tidak di code kedalam pola yang sesuai dengan akhirnya jika sasaran tidak dapat mengcode maka tidak akan dapat menimbulkan tanggapan sesuai yang diinginkan. tetapi bagaimana suratkabar dan televisi menambah pengetahuan. Jika sumber tidak mempunyai informasi yang setara dan terang. Sasaran dapat merupakan seseorang yang sedang mendengarkan. menonton dan sebagainya. lambaian tangan atau tanda-tanda lain dan apabila diinterpretasikan mempunyai arti tertentu. Satu hal perlu diketahui bahwa sistem seperti itu tidak akan lebih kuat daripada mata rantai yang terlemah. Umumnya kita lebih tertarik bukan kepada apa yang kita lakukan kepada media.. (Effendi. yaitu ia mengambil informasi yang ia berikan lalu ia tuangkan dalam bentuk yang dapat dikirimkan. Pesan ataau message dapat berwujud tinta diatas kertas. teliti dan efektif kedalam isyarat yang dapat dioperkan. radio dan lain-lain). 1985 : 28). maka itu sudah merupakan proses komunikasi antara manusia. akan tetapi ini tidak akan dapat terhantarkan jauh. tetapi kepada apa yang dilakukan media kepada kita. pesan (message). kecuali dibawa oleh gelombang radio.

akan tetap berada dalam keadaan yang abnormal. Seorang komunikator yang menyampaikan pesan kepada ribuan pribadi . termasuk organisasi-organisasi dalam lingkungan kesusastraan. Kesemuanya itu merupakan suatu pertumbuhan lambang-lambang. melakukan keseimbangan menjalani perkembangan dan menetapkan pikiran-pikiran tertentu yang tidak dihadapi oleh pesan yang disalurkan. kesenian dan pranata-pranata. Lazimnya media massa modern menunjukkan seluruh sistem di mana pesan-pesan diproduksi. yang meliputi surat kabar bersirkulasi luas. dapat disimpulkan bahwa komunikasi itu memiliki fungsi antara lain : e. Mass entertainment (menghibur) Fungsi komunikasi tidak akan timbul dan tercapai apabila pesan yang dikomunikasikan tidak disampaikan kepada sasarannya. diterima dan ditanggapi. adalah struktur di luar pikiran yang mengandung sebab dan akibat yang terdapat didalam pikiran atau keadaan hidup manusia. Dengan hiburan musik sajapun seharusnya manusia dapat terhindar dan mengurangi jiwa berontaknya terhadap orang lain dan lingkungan. Ternyata komunikasi. Pentingnya komunikasi sangatlah dominan. (Liliweri. Mass information (informasi). Dalam perkembangan teknologi komunikasi khususnya teknologi komunikasi massa. dipilih.. disiarkan. terproyeksikannya. Komunikasi massa di sini diartikan ialah komunikasi dengan menggunakan media massa modern. yakni melalui usaha meningkatkan inteligensi. Tanpa komunikasi pikiran tidak akan dapat mengembangkan sifat manusiawi yang sebenarnya. Mass persuasion (mempengaruhi) h. mempunyai kedudukan yang istimewa dalam kehidupan masyarakat dalam upaya membentuk jaringan-jaringan baru dalam proses interaksi melalui komunikasi massa. Apabila pesan sudah sampai kepada khalayak pendengar. Mass education (pendidikan) g. mengurangi bentuk-bentuk organisasi yang bersifat mekanis. pesan saluran dari penerima. Dalam lingkup komunikasi sebagai proses penyampaian gagasan atau ide. tradisi-tradisi dan pranata-pranata. f. 1991 : 3). Pikiran yang sedemikian kacau ini dikarenakan tidak adanya informasi yang diterima untuk dijadikan pegangan pengetahuan untuk merubah keadaannya. Melakukan kegiatan komunikasi massa jauh lebih sukar daripada komunikasi antar personal. Sebagian lagi bersifat tidak langsung. mereka akan mengadakan penyaringan informasi yang mereka perlukan. Fungsi komunikasi dalam penyebarluasan sifat kemanusiaan sebagai bersifat langsung melalui kontak yang leluasa. tak teratur dan membangun pergaulan hidup yang lebih bersifat kemanusiaan. hal-hal tersebut mengadakan reaksi dalam arti kata mengadakan pengontrolan.Proses komunikasi menurut formula Berlo Sumber Keterampilan sikap mental pengetahuan sistem sosial kebudayaan Pesan Saluran Melihat Mendenga r Mencium Meraba Mengecap Penerima Ketrampilan sikap mental pengetahuan sistem sosial kebudayaan Isi kode perlakuan Dari diagram di atas terlihat unsur-unsur yang dimiliki oleh sumber. radio dan televisi yang siarannya ditujukan kepada umum dan film yang dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop.

bisa menimbulkan pengaruh yang kurang efektif dibanding dengan pesan yang disampaikan dengan baik kepada komunikan yang jumlahnya sedikit. . dan ketentuan lembaganya. kebebasannya terbatas. Komunikasi melembaga. pengalaman. tetapi radiopun melebihi televisi dalam hal daya jangkauannya yang lebih jauh dan memudahkannya dalam penyampaian suatu pesan. Heterogenitas komunikasi seperti inilah yang menyebabkan para komunikator media massa menetapkan acara tertentu secara khusus untuk berbagai kelompok di atas dengan tujuan supaya setiap individu terpuaskan. Komunikasi massa (mass communication) sesungguhnya penyederhanaan komunikasi media massa. mungkin saja bisa merenggangkan kelompok lainnya. Jika ia tidak bersedia mengikuti kebijaksanaan. Sehingga pendengar bisa lekas mengetahui peristiwa tersebut. Komunikator yang melancarkan komunikasi massa yakni komunikasi melalui media massa tidaklah bertindak atas nama pribadinya. Media dalam komunikasi massa atau lebih tegasnya media massa menciptakan suatu situasi dimana khalayak secara serempak (simultan) dan serentak (instant) bersama-sama pada saat yang sama memperhatikan pesan yang dikomunikasikan kepadanya. sehingga berhasil melancarkan penetrasi ke dalam bentuk komunikan. Pesan yang dikomunikasikan komunikator kepada komunikan bersifat umum (public). pengertiannya tetap komunikasi media massa. Jadi dari sifat eksplisit diimplikasikan. Dalam komunikasi massa ada dua tugas komunikator : mengetahui apa yang dikomunikasikan dan mengetahui bagaimana harus menyampaikannya. Jadi tidak ditujukan kepada perorangan tertentu atau kelompok tertentu. Adapun yang menjadi ciri-ciri komunikasi massa antara lain : 1. maka ia pun akan diberhentikan sebagai komunikator. komentator dan lain-lain. Sebagai konsekuensinya. karena peristiwanya diceritakan oleh reporter. reporter. pandangan hidup. cita-cita dan lain sebagainya. ideologi. melainkan atas nama lembaga dimana ia bekerja. peraturan. usia. maka selaku komunikator melembaga (institutional communicator) ia tidak melembaga. Komunikan pada komunikasi massa. bukan khusus mengenai kepentingan umum. pendidikan. penyiar. Komunikator dalam komunikasi massa. karena ditujukan kepada khalayak umum. hobi. pekerjaan. Media menimbulkan keserempakan. meski kata media tidak disebutkan. Suatu pendekatan yang bisa meyakinkan sebagian komunikan. agama. Meski televisi mempunyai kelebihan dari radio yakni televisi sifatnya audiovisual. seperti wartawan. Sedangkan radio hanya auditori. mesti bersikap dan bertindak tidak sebagai individu yang bebas melainkan sebagai wakil lembaga . Media massa yang tinggi derajat keserempakannya setelah televisi adalah radio. yakni khalayak sasaran media massa bersifat heterogen yang berarti antar pembaca. kebudayaan. melainkan kepada seluruh masyarakat.yang berbeda satu sama lain namun pada saat yang sama tidak akan bisa menyesuaikan harapannya untuk memperoleh tanggapan komunikasi secara pribadi. 2. pendengar atau penonton yang berbeda satu sama lainnya dalam jenis kelamin. media tidak disebut. Sebuah pesan yang isinya lemah yang disampaikan dengan lemah pula kepada jutaan orang. Cukup komunikasi massa saja.

Penyampaian pesan propaganda lebih efektif dan efisien melalui radio karena langsung tertuju ke rumah-rumah. Radio Siaran Sebagai Kekuasaan Kelima Radio siaran mendapat julukan “kekuasaan kelima” atau the fifth estate. dan sesudah Perang Dunia II. Secara inderawi (recerived) dan rohani (accepted) menyenangkan dan memuaskan. agama. Proses komunikasi massa berlangsung satu arah (one way traffic communication) secara linier. televisi sebenarnya lebih lengkap daripada radio sebab. Ini berarti prosesnya tidak menimbulkan umpan balik (feed back). juga untuk dilihat. Radio siaran bersifat langsung Makna langsung sebagai sifat radio siaran ialah. juga tidak mudah menyebarluaskannya.Dengan demikian maka isi atau pesan yang dikomunikasikan media massa diperuntukkan bagi khalayak sasaran (target audience). yang pertama-tama diincar adalah stasiun radio siaran. . berlangsungnya secara tertunda (delayed feed back) itupun tanggapan seorang atau dua orang saja. bahwa suatu pesan yang akan disiarkan dapat dilakukan tanpa proses yang rumit. Rusia. juga mengandung resiko bahaya tertembaknya pesawat udara yang menyebarkannya. yudikatif – masing-masing sebagai kekuasaan pertama. atau media cetak lainnya yang. pamflet. Sebagai konsekuensi dari situasi komunikasi massa seperti itu. tatkala Jerman. usia. dan Jepang di satu pihak. Radio siaran tidak mengaenal jarak dan rintangan Faktor lain yang menyebabkan radio dianggap memiliki kekuasaan ialah tidak dijumpainya jarak dan rintangan. Amerika. komunikator harus melakukan perencanaan dan persiapan sedemikian rupa sehingga pesan yang disebarkan diterima komunikan yang heterogen dalam jumlah yang relatif sangat banyak itu. Dibandingkan dengan televisi siaran. yakni khalayak keseluruhan tanpa melihat jenis kelamin. setelah pers dianggap sebagai “kekuasaan keempat” (the fourth estate) dan tiga lembaga lainnya – eksekutif. 2. diantara sekian banyak media massa. Dan kelompok sasaran (target group) berdasarkan jenis-jenis yang beragam tadi. dan langsung pula dapat disampaikan melalui mikrofon. Para ahli komunikasi membandingkannya ketika dalam Perang Dunia II Sekutu menyebarkan pamflet ke negara-negara di Eropa yang diduduki Jerman. dan negara-negara lainnya di lain pihak. Bandingkan dengan penyiaran pesan melalui surat kabar. Kalau pun terjadi. Italia. Meskipun demikian. selain lama dalam memprosesnya. Mengapa radio dijuluki kekuasaan kelima ? Ada tiga faktor yang mendukungnya: 1. kedua dan ketiga. sampai sekarang televisi belum pernah diberi julukan “kekuasaan keenam” (the sixth estate). semasa. Selain memerlukan waktu yang lama dalam pembuatannya. brosur. Sifat yang dimiliki radio siaran sepeti itu telah dimanfaatkan pula oleh Bung Tomo ketika pada zaman Revolusi dengan Radio Pemberontaknya dari Jawa Timur berhasil membakar semangat para pemuda di Jawa Barat untuk bertempur melawan Belanda. jika terjadi perebutan kekuasaan di sebuah Negara. legislatif. Sampai sekarang pun. Itu semua adalah demi kepunyaan khalayak yang sungguh heterogen itu. dan sebagainya. jika radio bersifat auditif – hanya untuk didengarkan – televisi bersifat audiovisual – selain untuk didengarkan. terlibat dalam perang radio dengan Inggris. Para ahli komunikasi memberi julukan kekuasaan kelima kepada radio karena dibuktikan oleh sejarah yakni ketika menjelang.

seperti suara binatang. khalayak tidak bias beranjak dari kursi di depan pesawat. Karena faktor itulah. lembah. b. stasiun radio siaran yang kemudian diambil alih dan menggunakan station call “Radio Bandung”. atau sambil mengemudikan kendaraan. disebabkan oleh tiga unsur yang melekat padanya. negara lain. umpamanya tanda waktu pada saat akan memulai acara warta berita dalam bentuk bunyi telegrafi atau bunyi salah satu alat musik. mobil atau pesawat terbang. Jelas berbeda dengan surat kabar yang merupakan media cetak. 3. Suatu pesan yang disiarkan dari suatu tempat di suatu Negara. bagaimanapun jauhnya sasaran yang dituju. Chaerul Saleh di zaman pendudukan Jepang melalui radio dapat mengetahui menyerahnya pemerintahan Jepang kepada pihak Sekutu. sehingga ia bersama-sama para pemuda lainnya mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. surat kabar. tidak mengenal jarak dan rintangan. Sebelum pesawat televisi muncul sebagai pelengkap rumah tangga sekitar tahun lima puluh. suatu acara yang disajikan radio menjadi hidup. radio siaran mempunyai ciri dan sifat yang berbeda dengan media massa lainnya. seperti pemancar sistem frequency modulation (FM). begitu suatu pesan diucapkan olehg seorang penyiar atau orator. dan lain-lain. juga dengan film yang bersifat mekanik-optik. sedangkan acara dari pesawat radio dapat dinikmati sambil mandi. Musik (music). . Radio siaran memiliki daya tarik Faktor ketiga yang menyebabkan radio dijuluki kekuasaan kelima ialah daya tarik yang dimilikinya. pada waktu hanya terdapat dua jenis media massa. ataupun samudera tidak menjadi rintangan. atau majalah dan radio. Dengan dihiasi musik dan didukung efek suara. Efek suara (sound effect). Kalaupun ada lambang-lambang yang dipergunakan jumlahnya sangat minim. yskni: a. Meskipun kemudian muncul di rumah-rumah pesawat televisi yang. padang pasir. transistor. dan lain-lain. Orang bisa menikmati radio sambil makan. radio dapat mencapainya. radio memiliki daya tarik. Keuntungan radio siaran bagi komunikan ialah sifatnya yang santai. hujan atau badai. sambil tidur-tiduran. Radio Siaran Sebagai Media Massa Elektronik Sebagai unsur dari proses komunikasi dalam hal ini sebagai media massa. selain audial seperti radio. serta memiliki daya tarik. Gunung. Kata-kata lisan (spoken words). Dengan televisi. pada saat itu juga dapat diterima oleh khalayak. dan benua lain. Penyampaian pesan melalui radio siaran dilakukan dengan menggunakan bahasa lisan. Disebabkan faktor itulah pula dunia mengetahui diproklamasikannya Republik Indonesia yang disampaikan oleh penyiar Sakti Alamsyah melalui Bandung Hoso Kyoku. Keefektifan radio siaran semakin didukung pula oleh produksi teknologi mutakhir.Bagi radio tidak ada jarak waktu. Bagi radio tiada oula jarak ruang. Tidak demikian dengan media massa lainnya. sambil bekerja bahkan sambil mengemudikan mobil. untuk menikmati suatu acara dari pesawat televisi. langsung. c. pesawat radio tetap tidak tergeser sebab. kalaupun ada persamaannya dengan sifatnya yang elektronik terdapat perbedaan yakni radio sifatnya audit. bekerja. Itulah faktor-faktor yang menyebabkan dijulukinya radio sebagai the fifth estate. televisi bersifat audio-visual. juga visual. dapat sampai seketika di tempat lain.

sebagaimana radio merupakan bagian dari komponen dari suatu proses komunikasi. Pendengar yang tidak mengerti atau mungkin ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut tak mungkin meminta kepada penyiar guna mengulangi lagi. Sebagai media massa televisi memang memiliki kelebihan dalam penyampaian melalui gambar dengan media massa lain. oleh karenanya fungsi dari komunikasi merupakan fungsi dari radio pula. sangat cepat (aktual) terlebih lagi dalam siaran langsung (live broadcast) dan dapat menjangkau ruang yang sangat luas (Wahyudi. Setelah itu dipisah-pisahkan sinyal gambarnya dengan sinyal suara singkronisasi. 1986 : 3). harus diketahui apa yang menjadi fungsi dari radio itu sendiri. disebabkan sifatnya yang satu arah (one way traffic communication). Daya pikat untuk bisa melancarkan pesan ini penting artinya dalam proses komunikasi. Pesan yang disampaikan kepada pendengar hanya sekilas saja. Melihat jauh disini diartikan dengan gambar dan suara yang diproduksi disuatu tempat (studio televisi) dapat dilihat dari tempat lain melalui sebuah perangkat penerima/televiset. (Wahyudi. Setelah disaring (dengan filter) lalu dimodulasi.Penyajian hal yang menarik dalam rangka penyampaian suatu pesan adalah penting. Meskipun demikian keserentakan lebih terasa. 1986 : 3). misalnya jika tidak siaran langsung. lebih nyata. televisi dan film merupakan bagian dari sarana komunikasi. Dengan demikian televisi yang dalam bahasa Inggrisnya “television” diartikan dengan melihat jauh. sebab publik sifatnya selektif. Radio siaran seperti halnya itu surat kabar. Komunikator tidak mengetahui tanggapan komunikan. 1988 : 3489). mentah seperti apa adanya. didefenisikan sebagai pesawat televisi yang berisi perlengkapan untuk mengubah sinyal televisi menjadi gambar dan suara. Komunikasi hanya dari komunikator kepada komunikan. Hal yang sama dikemukakan oleh Jacob Oetama yang mengemukakan “bahwa : televisi merekam kejadian dengan gambar dan suara serentak. Pesan-pesan melalui televisi disampaikan melalui gambar dan suara secara bersamaan (sinkron). Lebih rinci Ensiklopedia Indonesia memberikan defenisi televisi yaitu : “Televisi sebagai pesawat penerima. terutama melalui media massa. Diantara acara-acara musik yang memukau itulah pesan-pesan disampaikan kepada pendengar. Mungkin saja masih ada jarak waktu. . 1986 : xi). Untuk lebih memperjelas mengenai keberadaan radio siaran sebagai bagian dari komunikasi massa. Dalam pesawat penerima televisi warna ada pemisahan dan penggarapan sinyal dan informasi warna dilakukan suatu alat khusus” (Ensikzslopedia. Televisi merekam atau memotret kejadian secara hidup dan langsung menyiarkannya kepada penonton. Karena kelemahan-kelemahan itulah maka radio siaran banyak dipelajari dan diteliti guna mencari teknik-teknik yang bisa mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut sehingga komunikasi melalui radio siaran lebih efektif. Sinyal yang diterima disalurkan kepada pemilih saluran yang melakukan pengubahan frekwensi. dan hidup. Dalam hubungan ini musik memegang peranan yang sangat penting. Kelemahan-kelemahan ini bagi radio di tambah lagi dengan sifatnya yang lain yakni “didengar sekilas”. begitu didengar begitu hilang. Arus balik (feed back) tidak mungkin pada saat itu. Begitu banyak pillihan diantara sedemikian banyak media komunikasi dan begitu banyak pula pilihan acara dari sekian banyak acara dari setiap media. lebih hidup dan mencekam” (Atmowiloto. Televisi Sebagai Media Komunikasi Massa Menurut Wahyudi televisi berasal dari dua kata yaitu : “Tele” (bahasa Yunani) yang berarti jauh dari “visi” (bahasa latin) yang berarti penglihatan.

kita lebih mudah dan lebih cepat belajar enggan melihat alat-alat sensori seperti gambar. bagan. Hal ini menyebabkan pesan televisi dapat merasuk ke seluruh lapisan masyarakat baik remaja. 994 : 24). India dan Jepang. Televisi dapat membuat orang puas. Hal ini sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah. Sehingga wajar jika pesan yang disampaikan televisi diterima dan diartikan berbeda-beda pemirsanya tergantung kondisi dan situasinya.Alasannya selain kualitas dan teknik film-film itu cukup bagus. harganyapun murah. belum dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Siaran-siaran yang dikelola kedua televisi swasta ini. yang merupakan televisi siaran milik pemerintah. MTV. 1981 : 1). Kemudian disusul oleh SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) pada tanggal 18 Agustus 1990 yang berada di kota Surabaya. Tangerang. Bogor.Alat-alat audiovisual (televisi) juga membuat suatu pengertian atau informasi menjadi lebih berarti. Sampai tahun 1988 TVRI merupakan talevisi siaran satu-satunya yang ada di Indonesia. karena hanya dapat ditonton oleh mereka yang mempunyai decoder. Hongkong. senang. Siaran televisi swasta bertambah lagi dengan hadirnya ANTEVE (Andalas Televisi). total jam siaran kelima stsiun televisi tadi 90 Jam perhari (Swa edisi Oktober 1995 :46) Perkembangan Televisi Swasta Nasional tersebut itu diikuti oleh televisi swasta lainnya seperti TPI. adalah INDOSIAR yang mempromosikan warna dan suara yang lebih bagus dengan sistem digitalnya Tapi dengan me-nasionalnya televisi swasta tadi masyarakat semakin dapat bebas memilih saluran televisi yang disenanginya. mulai muncul televisi swasta secara bertubi-tubi (Swa edisi November 1995 : 12). dan Bekasi). bahkan untuk masa yang akan datang malah akan lebih. menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat Stasiun televisi swasta mengalami perkembangan. marah. kalau stasiun-stasiun daerah yang sewaktu itu direncanakan jadi dibuka (Swa edisi November 1995 : 13). siaran RCTI dan SCTV akhirnya dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat tanpa memakai decoder. pria yang berpendidikan atau tidak. kepercayaan. gembira. khusus dibidang siaran televisi yang memberi ijin pendirian stasiun yang murni komersial dan dimiliki swasta. Rata-rata stasiun televisi swasta tadi mengudara 18 Jam perhari. Kehadiran televisi swasta tadi ini. yang umumnya menyajikan produk-produk import (film-film dan acaranya). wanita. atau model (Suleiman. Dalam hal ini Indonesia adalah negara pertama yang memanfaatkan satelit yang bertujuan supaya siaran-siaran televisi swasta tadi dapat menjangkau seluruh Indonesia. Televisi swasta berada di Jakarta dan baru diperuntukkan bagi pemirsa televisi disekitar kota Jakarta. tidak senang. tidak puas. pendidikan. terutama dari Amerika Serikat. status sosial. orang tua. Ada yang terhibur dan puas dan ada yang tidak. Dan terakhir. Amerika Latin ( untuk telenovela). usia. Tak tanggung-tanggung lima stasiun televisi swasta muncul. Perkembangan didunia siaran televisi Indonesia terus berkembang. Televisi swasta yang pertama muncul adalah RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). yang semuanya merupakan hal yang wajar karena sifat manusia yang berbeda-beda” Televisi siaran yang pertama kali di Indonesia adalah TVRI yaitu tahun 1962. Seperti yang diungkapkan Wahyudi (1986 : 215) : “Televisi sebagai media massa tidak mungkin dapat memuaskan semua orang yang memiliki latar belakang. METRO TV dan malahan dibeberapa daerah provinsi seperti . sedih. paham golongan yang berbeda-beda. Baru tahun 1989. Jadi hanya dapat ditangkap didaerah Jabotabek (Jakarta. Jam siarannya berlangsung dari pagi hingga siang hari. Televisi ini mengudara secara nasional di Indonesia. Sekarang sebagian besar jam siar televisi swasta tadi masih diisi oleh film-film dari luar negeri. (alat Bantu untuk menangkap siaran). yang hadir pada pertengahan 1989 (Manan. Kemudian pada tahun 1991 hadir stasiun swasta lain yang mengambil tema pendidikan yaitu TPI (Televisi Pendidikan Indonesia).

Televisi dan Warung Internet Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Selain itu jaringan Internet juga sudah makin tersebar keberadaannya di Indonesia. namun jumlah pengguna Internet di Indonesia diperkirakan masih belum mencapai dua (2) juta orang. Namun masih belum jelas pemanfaatan dari Telematika di Indonesia. Masalah yang memerlukan perhatian dan penanganan serta tindak lanjut. Hipotesa ini masih harus dibuktikan. Masalah yang bersifat umum dan strategis. Masih banyak radio yang belum mempunyai ijin dari KPI. Apakah pemanfaatan Telematika dapat meningkatkan kemampuan dan daya saing Pemerintah Daerah? Adakah manfaat lain dari penerapan Telematika di Pemerintah Daerah? PETA PERMASALAHAN MEDIA PENYIARAN DAN MEDIA ELEKTRONIK DI PROPINSI SUMATERA UTARA. Penyedia Jasa Internet (PJI. Sumatera Barat dan Riau. Justru itulah wajar kiranya dari kajian teoritis komunikasi massa tersebut perlu disambut dan didukung atas kehadiran media massa ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Berbagai inisiatif sudah dijalankan. Sementara itu otonomi daerah merupakan sebuah fenomena yang muncul di Indonesia. Di berbagai tempat di dunia. Internet Service Provider / ISP) sudah mencapai lebih dari 100 buah. Radio. Berbagai permasalahan yang ditemui dilapangan dalam penggunaan media penyiran dan media elektronik Radio. namun belum meningkatkan jumlah pengguna dalam angka yang berarti. Indonesia tidak berbeda dengan negara lain dimana Internet dan Teknologi Informasi mulai menjadi sesuatu hal yang penting. value added network) yang harganya mahal. 1. Orang harus menggunakan jaringan telekomunikasi dan komputer sendiri (private lines. (Lihat “Bahan Bacaan”. Televisi dan Warung Internet adalah antara lain 1. Pengantar.) Ada sebuah hipotesa bahwa pemanfaatan Telematika dapat meningkatkan daya saing yang akhirnya dapat membuat rakyat sejahtera. a. sampai ke daerah. Ada pihak radio menyatakan ketidakpuasan terhadap pelayanan pengurusan ijin karena . merupakan permasalahan yang muncul disetiap objek. Di Indonesia penggunaan teknologi informasi yang berbasis elektronik ini lebih dikenal dengan istilah “Telematika”.Provinsi Sumut Kotamadya Siantar mencoba membangun TV komunitas walaupun akhirnya gagal. Namun dalam pandangan komunikasi perkembangan komunikasi massa perhatian masyarakat akan memanfaatkan media massa sebagai media informasi seperti televisi umpamanya tampaknya cukup tinggi. Keberadaan Radio. Ada dugaan hal ini berkaitan dengan masalah kultur Indonesia. SUMATERA BARAT DAN RIAU. 2. akses terhadap informasi menjadi lebih mudah dan murah dengan adanya media Internet ini. Pada mulanya akses kepada informasi dalam bentuk elektronik (electronic information) sangat sukar dan mahal. Penjabaran dari masalah-masalah tersebut adalah sebagai berikut : Masalah Yang Bersifat Umum dan Strategis. Penggunaan Internet telah mengubah pengunaan teknologi informasi. Internet Sebagai Komunikasi Massa.

5. Bahwa infrastruktur untuk kelancaran pelaksanaan internet belum memadai karena jaringan internet masih sering mengalami gangguan. Akses sering putus dan lama aksesnya. sehingga masih banyak di tiap-tiap daerah yang belum ada. warnet sering mengalami gangguan jaringan yang tidak stabil dalam mengakses internet. 3. Jaringan Speedy kurang lancar dan jaringan sering terjadi Disconnect. 2. Sulit mendapatkan software resmi. Harga ISP yang terlalu tingi. Faktor alam yaitu cuaca buruk yang sangat menggangu dan berbahaya dalam melakukan penyiaran radio.sepertinya ada kesan ketidak adilan dan kelambanan dalam pengurusan ijin. Televisi. Akses internet yang sering terputus-putus sehingga mengganggu dalam pemakaiannya. 6. N. P. kalaupun ada harus diperoleh dengan harga yang tinggi (mahal). Pemecahan Masalah. Radio. sedangkan radio yang baru berdiri bisa dengan mudah mendapatkan ijin FM. yang sangat berbahaya terhadap perangkat penyiaran radio. Misalnya untuk mengurus pengalihan frekuensi AM ke FM.. . Virus jaringan. L. M. Q. Dimana dalam penggunaannya. Televisi. b. Dana alokasi untuk perijinan dalam pendirian televisi sangat besar. Warung Internet. 11. Software resmi sangat sulit didapatkan. Virus dalam penggunaan warnet sangat sulit untuk diatasi. 1. 1. disamping itu banyak radio yang tidak masuk dalam Master Plan daerah. sehinga sulit bagi pengusaha untuk mendirikan televisi swasta lokal. 3. 9. Karena kesulitannya mengurus perijinan. O. ISP yang tersedia di daerah masih sangat terbatas yang menyebabkan para pemilik warnet hanya bisa menggunakan ISP yang ada saja. Warung Internet. 8. 7. 7. maka banyak pengusaha siaran radio yang melakukan kegiatan penyiaran meskipun belum memiliki ijin dengan alasan ijin sedang dalam pengurusan. yang mengakibatkan kerugian bagi pemilik warnet. 2. masih ada radio yang belum mengantongi ijin. Fasilitas listrik yang sering padam. Listrik yang sering padam. sedangkan pengurusan sudah dilakukan jauh hari sebelumnya. Radio. 10. Jaringan tidak stabil. 6. Analisis Masalah. Karena kurangnya alokasi dana dan perijinan dalam mendirikan Televisi swasta lokal. sehingga jaringan yang dimiliki ISP menjadi over load (kelebihan beban). Masalah yang harus diwaspadai dalam pengoperasian stasiun radio adalah cuaca yang buruk dan sangat rawan petir. K.

Bahwa infrastruktur untuk kelancaran pelaksanaan warung internet belum memadai karena jaringan internet masih sering mengalami ganguan. Akses juga sering terputus-putus sehingga mengganggu dalam pemakaiannya. 8. sehingga jaringan yang . sehinga menyulitkan bagi para pengusaha yang berminat untuk mendirikan televisi swasta lokal.b. Bila terjadi virus harus diformat atau diinstall kembali. maka PLN juga harus bersedia membayar biayar kompensasi atas kerugian pengusaha warnet karena seringnya terjadi pemadaman listrik dari pihak PLN. Dimana kalau ada masalah jaringan yang tidak stabil sebaiknya Telkom cepat memberikan solusi dan segera mengatasinya. dan pihak Balmon yang berhubungan dengan frekuensi sehinga radio bisa didirikan. karena radio adalah media yang sangat penting bagi masyarakat pedesaan/pedalaman yang sulit dijangkau oleh media komunikasi yang lain. 3. 11. Dalam pendirian televisi swasta lokal sebaiknya dana tidak terlalu besar atau tinggi. Supaya stabilitas koneksi akses diperbaiki dan lebih ditingkatkan lagi kualitas maintenance dan pelayanan dalam pengaksesan. Sebaiknya didalam pengurusan perijinan pendirian radio diberi kemudahan. 2. 10. Televisi. 2. 6. 9. Fasilitas listrik yang sering padam. 3. c. yang mengakibatkan kerugian bagi pemilik warnet. 7. Seharusnya jaringan lebih diperlancar dan diperbaiki agar tidak terjadi banyak gangguan atau disconnect. mulai dari pihak KPI dalam urusan yang berhubungan dengan penyiaran. Disamping itu. d. sehinga para pengusaha mampu untuk mendirikan televisi swasta lokal di setiap daerah. 1. e. yaitu cuaca. Bahwa dana alokasi untuk pengurusan perijinan dalam pendirian televisi sangat besar. Memberikan penambahan jumlah ISP dengan harga yang relatif lebih murah yang dapat terjangkau. Dimana dalam penggunaannya warnet sering mengalami jaringan yang tidak stabil dalam menggunakan internet. Radio. Warung Internet. masalah cuaca buruk dan sangat berbahaya yang sering mengganggu terhadap perangkat penyiaran radio. Warung Internet. Dimana kita hendaknya dapat memanfaaatkan prakiraan cuaca dari BMG tentang prakiraan cuaca yang akan terjadi. Pemerintah hendaknya menyediakan subsidi software resmi (legal) bagi pemilik dan pengguna internet. Kesimpulan. Jika PLN berani memberi denda terhadap keterlambatan pembayaran tagihan. ISP yang tersedia di daerah masih sangat terbatas yang menyebabkan para pemilik warnet hanya bisa menggunakan ISP yang ada saja. Faktor alam. 5. Bahwa ada pihak radio menyatakan ketidakpuasan terhadap pelayanan pengurusan ijin karena sepertinya ada kesan ketidak adilan dan kelambanan dalam pengurusan ijin. f. Para pengguna warnet juga harus menyediakan genset untuk mengantisipasi apabila terjadi pemadaman listrik dari PLN. Televisi.

dimiliki ISP menjadi over load (kelebihan beban). Software resmi sangat sulit didapatkan. Masri dan Sofyan Effendi. Televisi. Edisi Juli. g.M. Kebijakan dan Perkembangan Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKPI). Rakhmat. Singarimbun. Radio. (226). . 5. 3. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Rogers.UGM. 6. Prestasi Pustaka Publisher. (2004). Setiawa. PT. Bandung. Para pengguna warnet juga harus menyediakan genset untuk mengantisipasi apabila terjadi pemadaman listrik dari pihak PLN. 2. LP3ES. E. (2000). kalaupun ada harus diperoleh dengan harga yang tinggi (mahal). Rineka Cipta. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Saran 1. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Metode Survey Untuk Komunikasi. Jakarta. Kencana Prenada Media Group. New York. (2003). Beberapa Indikator Penting Sosial Ekonimi Indonesia. Free Press. K. Arikunto. 8. Remaja Rosdakarya. Kementerian Komunikasi dan Informasi RI. Teknik Praktis Riset komunikasi. Jakarta. Sumadi. Kriyantono. Free Press. (2002). agar setiap daerah memiliki siaran televisi swasta lokal. Metode Penelitian Survey. sehingga pemadaman-pemadaman listrik yang sering terjadi dapat diminimalisir. dan F. Comminication of Innovation – A Cross Cultural Approach. Yogyakarta. 7. Elvinaro dan Erdinaya. Santoso. karena radio adalah salah satu media komunikasi yang siarannya sampai kedaerah pedalaman yang sulit dijangkau oleh media lainnya.M. Jakarta. (1995). Gempur. Jakarta. Bandung. Sebaiknya dalam hal perijinan pendirian radio tidak perlu rumit dan dipersulit. Biro Pusat Statistik. E. Suryabrata. Agar kualitas pelayanan listrik dari PLN lebih ditingkatkan lagi. New York. Diffusion of Innovations. DAFTAR PUSTAKA Ardianto. Agar pihak pemilik warnet memformat atau menginstall kembali program komputer apabila terjadi gangguan virus. Metode Penelitian Komunikasi. Rogers. Shoemaker (1971). PAU Studi Sosial. Jalaluddin. (2006). Metode Penelitian. Agar pemerintah menambah jumlah ISP dengan harga yang relatif lebih murah yang dapat terjangkau serta menyediakan subsidi software resmi (legal) bagi pemilik dan pengguna internet. (2006). (1990). Raja Grafindo. Simbiosa Rekatama Media. Suharsimi. (2005). Warung Internet. Rakhmat. Agar kualitas jaringan dan maintenance lebih ditingkatkan lagi sehingga tidak terjadi banyak gangguan atau disconnect dan apabila ada masalah jaringan yang tidak stabil sebaiknya Telkom cepat memberikan solusi dan segera mengatasinya. Virus dalam penggunaan warnet sangat sulit untuk diatasi. Agar dana dalam pengurusan perizinan pendirian televisi swasta tidak terlalu mahal atau tinggi. Bambang. Telematika Indonesia. Jakarta. Lukiati (2004). Jakarta.

TINGKAT PEMAHAMAN MASYARAKAT TERHADAP APLIKASI KOMPUTER DAN INTERNET (Survey Terhadap Pengunjung Warung Internet di 14 Kota Wilayah Kerja BPPI Wilayah I Medan)23 Oleh : Abdul Rahman Harahap 23 Telah dipresentasikan pada acara seminar hasil penelitian tanggal 3 Desember 2009 di BBPPKI Medan . Edisi Kelima. Tankard. Prenada Media.J. Metode. (2005). dan Terapan di Dalam Media Massa. James w.Severin. Jr. Teori Komunikasi : Sejarah. W. Jakarta.

internet. e-commerce. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebahagian besar responden memiliki pengenalan. Sedangkan Linux masih belum familier dikalangan masyarakat pengunjung warung internet. with the number of visitors 280 respondents internet cafes. internet sebagai introduksi salah satu jenis teknologi telah mendorong berlangsungnya pelbagai perubahan di masyarakat. Kata Kunci : Pemahaman. was settled some examples of some radical changes in economic and social sphere of society. computers. communities. serta apa kendala yang dihadapi dalam memahami dan mengaplikasikannya merupakan permasalahan penelitian ini. Win XP. Win ME and Win NT. Penelitian ini dilaksanakan di 14 kota wilayah kerja BPPI Medan. social budaya. How far the level of public understanding in applying computers and internet. applications. The low level of mastery of the Internet (Internet Literacy) and control information (information literacy) and the mindset of the people who menggangap Internet presence is still limited to the cause of the entertainment media. This research was conducted in 14 cities of Medan BPPI working area. for example. informasi dan pengetahuan dapat diciptakan dengan teramat sangat cepat dan dapat disebarkan ke seluruh lapisan masyarakat di berbagai belahan di dunia dalam hitungan detik. komputer. However. the introduction of the Internet as one type of technology has encouraged the various changes taking place in society. bila tidak ingin tertinggal dengan negara lain. mastery of computers and the Internet. Latar Belakang Masalah Penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada era informasi ini sudah merupakan suatu keharusan. ekonomi. Dari perspektif sosial dan kebudayaan. penguasaan terhadap computer dan internet. e-commerce. hukum dan hankam akan tetapi sudah merupakan motor penggerak pembangunan. adalah sebahagian contoh dari beberapa perubahan radikal dalam lingkup ekonomi dan sosial masyarakat. atau cybersex. misalnya. While Linux still not familiar visitors among the community of internet cafes. masyarakat. yang terjadi sedemikian pesat sehingga data. The results showed that the respondents have settled some recognition. and what obstacles encountered in understanding and applying it is a problem of research. The Internet also has encouraged the emergence of some new anxieties among the public. win Xp. operating system software (operating system) that is used is still on win 1998. internet. dengan jumlah responden 280 orang pengunjung warung internet. Teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini tidak hanya merupakan faktor pendukung bagi pembangunan Indonesia dibidang politik.Abstrak Masih rendahnya tingkat penguasaan Internet (Internet Literacy) dan menguasai informasi (information literacy) serta Pola pikir masyarakat yang menggangap kehadiran Internet masih sebatas media hiburan penyebab terjadinya kesenjangan digital (digital devide). Keywords: Comprehension. the digital gap (digital divide). media dan informatika (Telematika) telah . Hal ini dipicu (driver) dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. win ME dan Win NT. Namun perangkat lunak sistem operasi (operating system) yang digunakan masih pada win 98. From the social and cultural perspective. Dukungan keunggulan teknologi informasi dan komunikasi yang merupakan suatu konvergensi antara telekomunikasi. Internet juga telah mendorong munculnya beberapa kecemasan baru di kalangan masyarakat luas. aplikasi. Sejauh mana tingkat pemahaman masyarakat dalam mengaplikasikan komputer dan internet. or cybersex.

ekonomi dan kegiatan masyarakat secara luas. seperti Komisi Eropa dan UNESCO. Tumbuhnya masyarakat informasi tidak terlepas dari adanya revolusi digital yang muncul pertengahan abat 20. peran pemerintah masih tampak menonjol. Revolusi ini telah memberikan pengaruh yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat baik dilihat dari aspek sosial. antara lain berbunyi: “ Kita juga menyadari bahwa manfaat dari revolusi teknologi informasi pada saat ini telah terdistribusi tidak merata antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang serta lingkungan masyarakat.id ) Bagi Indonesia berarti bahwa pada tahun 2015 sebesar 50 Persen dari penduduk Indonesia sudah masuk ke masyarakat informasi global (Global information Society). pada awal abad ini UNESCO telah melaksanakan dua kali pertemuan internasional yaitu Word Summit On the Information Society (WSIS). Pada umumnya mencakup dua hal. Kita berkomitmen sepenuhnya untuk mengubah kesenjangan digital ini menjadi satu peluang digital untuk semua orang khususnya bagi mereka yang beresiko tertinggal dan semakin terpinggirkan”. Kedua institusi ini sepakat bahwa pada masyarakat yang lebih maju adalah masyarakat yang lebih instens dalam pemanfaatan teknologi informasi sehingga memiliki akses yang lebih besar terhadap informasi. Artinya pengembangan teknologi informasi Mdan komunikasi menjadi prioritas untuk menyiapkan Indonesia menghadapi masa depan dan sekaligus menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut. . konflik vertikal dan horizontal dalam masyarakat. Kesenjangan digital (digital devide) telah memisahkan banyak orang yang terhubung pada revolusi digital dalam ICT dengan orang-orang yang tidak memiliki akses pada teknologi baru ini.postel. pemerintah tidak hanya sebagai regulator tetapi juga sebagai operator.(Renstra Depkominfo 2004-2009) Pendapat tentang perlunya meningkatkan ekses informasi dan komunikasi bagi negara-negara berkembang muncul dari berbagai pihak termasuk institusi internasional.ekonomi dan politik.meningkatkan kualitas komunikasi dan informasi dalam menyediakan informasi yang mudah dan cepat bagi masyarakat secara merata. Tentang masyarakat informasi. maka inflementasi dan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi sudah menjadi kebutuhan dan bahkan dalam aspek tertentu menjadi katalisator seperti penerapan e-Government dan eProcurement yang menjadi metode dalam upaya mengatasi sebagian isu KKN. gagasan.dari UNESCO. di Jenewa pada tahun 2003 dan di Tunisia tahun 2005.go. separatisme. Secara spesifik teknologi informasi pada masyarakat berada pada posisi sentral dalam kegiatan produksi. Castels menyatakan: “ Masyarakat informasi adalah yang menciptakan. (http://www. Pada WSIS kedua di Tunisia tahun 2005 disepakati satu deklarasi yang cukup progresif yang merupakan Plan of Action. budaya . Dalam mengembangkan masyarakat Informasi di Indonesia. antisipasi bencana alam) dengan memperhatikan arah perkembangan peradaban pada masa yang akan datang. Peranan informasi dan komunikasi dalam mengatasi berbagai permasalahan nyata dewasa ini ( isu kemiskinan. KKN. menggunakan. hukum dan HAM. Dalam mengatasi kesenjangan digital. politik dan budaya. Pada 2003 para pemimpin dunia yang hadir saat itu mendeklarasikan tekat bersama dalam mengurangi kesenjangan digital ini. sehingga merupakan wahana dalam mentransfer pemikiran dan sudut pandang. yaitu bahwa pada tahun 2015 sebanyak 50 Persen dari wilayah diberbagai negara sudah terjangkau jaringan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi. yaitu mengakses teknologi secara fisik dan secara luas kemampuan dan ketersediaan sumber daya yang tersedia untuk digunakan”. pengetahuan dan keterampilan untuk mampu meningkatkan daya saing bangsa dalam menghadapi tantangan global. “ Terminologi dari digital devide merujuk kepada adanya jurang pemisah antara masyarakat yang mengakses teknologi informasi digital secara efektif dengan yang tidak mengakses sama sekali. mengekploitasi informasi sebagai satu yang penting dalam kegiatan ekonomi.

5 juta orang Walaupun pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan dalam pengembangan TIK namun di Indonesia TIK belum berkembang secara signifikan. Identifikasi Masalah Adapun permasalahan dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1. kebijakan dan program kegiatan apa yang sangat dibutuhkan masyarakat untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan aplikasi internet serta hambatan dan permasalahan yang menjadi kendala bagi masyarakat dalam memahami dan mengaplikasikan internet. yang oleh berbagai pihak dinilai telah menciptakan ketidakadilan. diatas Maroko dan dibawah Mongolia.Upaya pemerintah ini tidak terlepas dari proses globalisasi yang sedang berlangsung. Dengan indeks skor 0. Sementara itu APJII mencatat bahwa sampai dengan tahun 2006 pengguna Internet di Indonesia baru mencapai 20 juta orang atau sekitar 8 persen dari jumlah penduduk. menguasai internet (Internet Literacy) dan menguasai informasi (information literacy). masih relative tingginya masyarakat yang tinggal di pedesaan dengan berbagai persoalan yang dihadapi. menunjukkan bahwa tingkat ICT-Literacy penduduk Indonesia saat ini berada pada urutan ke 51 pada kategori Medium Access. Oleh sebab itu perlu diteliti “ Pemahaman Masyarakat Terhadap Aplikasi Komputer dan Internet “. Sampai saat ini posisi Indonesia di kancah internasional dalam hal inflementasi Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) tergolong masih rendah. Banyak hal yang diperkirakan menyebabkan lambatnya perkembangan TIK dimaksud. bahkan Vietnam yang semuanya juga masuk kedalam kategori Upper Access. Oleh karena itu dibutuhkan kemampuan. keterampilan dan pemahaman mengaplikasikan teknologi informasi komunikasi yang demikian pesat perkembangannya agar dapat berinteraksi dengan masyarakat luar terutama agar dapat menerima informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat itu sendiri agar dapat meningkatkan Pengetahuan yang bermuara pada peningkatan tarap hidupnya. dalam rangka mencapai target 50 persen penduduk sudah terakses kedalam TIK pada tahun 2015. rendahnya akses informasi dan lemahnya tingkat ekonomi masyarakat serta rendahnya tingkat pemahaman masyarakat mengakses /menguasai komputer (computer literacy). Kesenjangan digital (digital devide) telah memisahkan banyak orang yang terhubung pada revolusi digital dalam TIK dengan orang-orang yang tidak memiliki akses terhadap aplikasi komputer dan internet. seperti rendahnya tingkat pendidikan. Pentingnya kajian dan pengembangan terhadap TIK di Indonesia terutama adalah untuk mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia dalam penerapan TIK khususnya dalam percepatan inflementasi Plan of Action. misalnya tingkat perkembangan ekonomi yang belum mendukung. WSIS. walaupun terjadi peningkatan dibanding tahun 2002 yang baru berjumlah 4. dan negara-negara maupun yang kalah atau termarjinalisasikan. . Masih rendahnya tingkat mengakses /menguasai komputer (computer literacy) menguasai Internet (Internet Literacy) dan menguasai informasi (information literacy) dikalangan Masyarakat.34. Data terakhir dari ITU. 2. Dibanding dengan negara-negara ASEAN Indonesia berada jauh dibawah Singapura dan Malaysia. Walaupun pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan dalam pengembangan TIK namun di Indonesia TIK belum berkembang secara signifikan 3. Indonesia sejajar dengan Gabon. dan pada urutan 116 dari 178 negara yang di indeks oleh International Comunication Union ( ITU). “ Ketidak seimbangan ini tentu saja akan menyebabkan pengkutuban antara segelintir negara dan kelompokkelompok yang memperoleh keuntungan.

Lebih jauh. dan peka terhadap lingkungan sekitar.4. Wagner (2000) menegaskan bahwa tingkat literasi yang rendah berkaitan erat dengan tingginya tingkat drop-out sekolah. Kirsch dan Jungeblut dalam buku Literacy Profiles of America’s young adults mendefinisikan literasi kontemporer sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. 3. literasi memiliki arti yang sangat luas. Secara sederhana literasi adalah kemampuan membaca dan menulis atau melek aksara. Hambatan-hambatan dan permasalahan apa yang menjadi kendala bagi masyarakat dalam memahami dan mengaplikasikan komputer dan Internet?. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah : 1. 2. Dapat mengetahui bagaimana gambaran tentang tingkat pemahaman masyarakat pengunjung warung internet terhadap aplikasi Komputer dan internet 2. Mengetahui faktor-faktor penghambat yang dihadapi masyarakat dalam memahami penggunaan komputer dan internet. Literasi bisa berarti melek teknologi politik. Kerangka Teori Secara umum untuk menggambarkan kondisi Sumber daya Manusia (SDM) di bidang telematika dapat diketahui dari tingkat kesadaran. . dan pengangguran. Sejauhmana pemahaman masyarakat pengunjung warung internet terhadap aplikasi komputer dan internet di 28 Warung internet pada 14 kabupaten/Kota wilayah kerja BPPI Medan. 3. Dalam bahasa Indonesia bisa disebut dengan kata ‘melek’. Dapat menjadi salah satu referensi dalam membuat konsep kebijakan dan program kegiatan untuk peningkatan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam mengaplikasikan komputer dan internet. pemahaman dan pendayagunaan ICT yang disebut e-literacy. seorang baru bisa dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman bacaannya. 2. Sebagai bahan informasi dalam merumuskan kebijakan dan program kegiatan yang dibutuhkan masyarakat dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan penggunaan komputer dan internet. Dapat menjadi bahan masukan bagi instansi terkait mengenai hambatan dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat dalam upaya memahami dan mengaplikasikan internet 3. Pola pikir masyarakat yang menggangap kehadiran Internet masih sebatas media hiburan. diartikan sebagai “the ability to read and write” atau kemampuan untuk membaca dan menulis. Mengetahui tingkat pemahaman masyarakat terhadap penggunaan komputer dan internet. Ketiga kriteria tersebut adalah sebagian dari indikator rendahnya Indeks Pembangunan Manusia. Literacy dalam kamus bahasa Inggris. Perumusan Masalah Adapun permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Dalam konteks sekarang. Kebijakan dan Program kegiatan apa yang dibutuhkan masyarakat untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan aplikasi internet ? Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk : 1. berpikiran kritis. kemiskinan.

literasi gender dan berbagai literasi lainnya. Sebagai hulu dari semua ‘melek’ tersebut adalah melek informasi. 2) Computer literacy adalah kemampuan menggunakan computer untuk memenuhi kebutuhan peribadi ataupun suatu instansi. melek internet. mengevaluasi dan menggunakan informasi dan berbagai bentuk. surat kabar. jika seorang individu telah memiliki standar penguasaan dan pemahaman terhadap informasi maupun teknologi yang Level 2 Level 3 . 4) Internet literacy adalah kemampuan menggunakan pengetahuan teoritis dan praktis mengenai internet sebagai suatu media komunikasi dan informasi bagi manusia yang memerlukannya. yaitu : 1)Information Literacy. level e-literacy seseorang dapat digambarkan seperti berikut : Level 0 Level 1 seorang individu sama sekali tidak tahu dan tidak peduli akan pentingnya informasi dan teknologi untuk kehidupan sehari-hari. Secara jelas diuraikan bahwa : 1) Information literacy adalah kemampuan mengakses. Gambaran e-literacy secara konseptual dapat dikategorikan dalam enam kategori. 3) Digital Literacy. 3) Digital Literacy adalah kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber ketika disajikan melalui alat – alat teknologi digital. dan 4) Internet Literacy ( sumber : Ministry of Communication and Information Technology. yaitu melek informasi. dapat dilihat dari gambaran kemampuan akses masyarakat terhadap informasi melalui internet yang didukung oleh keunggulan teknologi informasi dan komunikasi. serta keterampilan kontemporer yang harus dimiliki seseorang untuk belajar menggunakan teknologi informasi dan komunikasi secara efektif. literasi politik. CD-Rom atau Web. Secara teoritis. 2)Computer Literacy. video. untuk sampai ke tingkat ICT. Untuk menggambarkan kondisi Sumber daya Manusia (SDM) dalam bidang pengusaan teknologi informasi dan komunikasi dapat diketahui dari tingkat kesadaran. Penciptaan generasi yang literat. Persamaan diantara berbagai konsep literasi adalah penciptaan masyarakat yang memiliki kebebasan akses informasi dan cerdas menggunakan informasi yang dimilikinya. Menurut teori ini. Kritis terhadap segala informasi yang diterima sehingga tidak bereaksi secara emosional dan peduli terhadap lingkungan sekitar. ada beberapa jenis literacy atau kadar melek seseorang. pemahaman dan pendayagunaan ICT yang disebut e-literacy. seperti buku. jika seorang individu pernah memiliki pengalaman satu dua kali dimana informasi merupakan sebuah komponen penting untuk pencapaian keinginan dan pemecahan masalah. saat ini mencakup berbagai bidang kehidupan diantaranya literasi membaca. Version 1. Kerangka Berpikir Dalam bidang yang terkait dengan TIK / ICT. Eliteracy.Literacy ada empat tahap yang harus dilalui. melek komputer.0 : Desember 2006). dan telah melibatkan teknologi informasi maupun komunikasi untuk mencarinya.Menciptakan generasi literat merupakan jembatan menuju masyarakat makmur yang kritis dan peduli. berdasarkan konsep atau teori Personal-Capability Maturity Model (P-CMM). literasi pengetahuan. melek teknologi. Dengan demikian ICT – Literacy adalah suatu kombinasi dari kemampuan intelektual dan konsep fundamental. jika seorang individu telah berkali-kali menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu aktivitasnya seharihari dan telah memiliki pola keberulangan dalam penggunaannya.

membaca content website dan sebagainya. jika seorang individu telah menganggap informasi dan teknologi sebagai bagian tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. seperti halnya sebagian besar manusia mempunyai kebutuhan dasar untuk mengadakan interaksi sosial. Selanjutnya model yang dapat juga dijadikan acuan adalah adalah Model Uses and gratification. Uses and Gratifications model memusatkan perhatian pada kegunaan isi media untuk memperoleh gratifikasi atau pemenuhan kebutuhan. apakah berinteraksi dengan dunia luar dengan penggunaan e mail atau pun Chatting. persepektif. dkk. Metode Penelitian 1. individu konsisten dengan sikapsikapnya. Tanggapan terhadap pesan yang diterima oleh individu. melainkan beragam disebabkan secara individual berbeda satu sama lain dalam struktur kejiwaannya. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Penelitian Lokasi penelitian ini adalah 14 kota pada wilayah kerja balai pengkajian dan pengembangan Informasi Medan yang terpilih secara purposive. Kemudian teori perbedaan individu yang diketengahkan oleh Melvin D. 1999) Model Uses and Gratifications memakai pendekatan penggunaan dan grafikasi adalah : individu tertentu. Hal ini menuntun pada kegiatan penggunaan internet. Oleh karena terdapat perbedaan individual pada setiap pribadi maka secara alamiah dapat diduga akan muncul efek yang bervariasi sesuai dengan perbedaan individu itu. Selanjutnya pemilihan Warung Internet (secara Purposive) dipilih 1 warung internet yang berlokasi di inti kota dan 1 warung internet (warnet) yang . Dimana variasi dimulai dari perbedaan Keperibadian. jika seorang individu telah sanggup meningkatkan secara signifikan (dapat dinyatakan secara kuantitatif) kinerja aktivitas kehidupannya sehari-hari melalui pemanfaatan informasi dan teknologi. nilai. Menurut teori ini khalayak amat bervariasi dalam organisasi psikologisnya secara pribadi. dan secara konsisten mempergunakan standar tersebut sebagai acuan penyelenggaraan aktivitasnya sehari-hari.Level 4 Level 5 diperlukannya. sikap. Teori ini menjelaskan bahwa efek media massa pada khalayak tidak seragam. diubah oleh tatanan psikologisnya. Ke-14 kota ini dipilih karena menurut hemat penulis bahwa daerah ini adalah daerah tergolong maju terhadap perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (internet) dibandingkan dengan daerah lainnya pada wilayah kerja BPPI wilayah I Medan. peranan. dalam Karlinah. yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain (atau keterlibatan pada kegiatan lain) dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan. sesuai dengan kepercayaannya yang didukung oleh nilai-nilainya. dan secara langsung maupun tidak langsung telah mewarnai perilaku dan budaya hidupnya (bagian dari information society atau manusia berbudaya informasi). kegiatan ini menghasilkan gratifikasi kebutuhan. Dari pengalamannya. McQuail (pada Betty-Soemirat. persepsi. Fleur bahwa individu-individu sebagai anggota khalayak merupakan sasaran media massa secara selektif. Dalam beberapa kasus. membuka situs-situs yang berhubungan dengan kebutuhannya. Model ini meneliti asal muka kebutuhan manusia secara psikologis dan sosial. individu akan menaruh perhatian pada pesan-pesan yang diterimanya terutama jika berkaitan dengan kepentingannya. tetapi dapat pula menimbulkan ketergantungan dan perubahan kebiasaan dan ini merupakan efek dari penggunaan internet pada individu itu. teori. interaksi dan struktur jiwa. individu ini berharap bahwa konsumsi atau pengunaan media massa tertentu akan memenuhi sebagian kebetuhannya. norma.

100 2. 3.100 . peneliti menggunakan penarikan secara non probability sampling. tanpa mencari dan menjelaskan hubungan. 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jambu Net Speed ++ Net. 3.500 2. Hal ini dilakukan dengan asumsi akan terjaring pengunjung warnet dengan mobolitas ekonomi tinggi untuk inti kota dan mobilitas ekonomi rendah untuk pinggiran kota. Tegasnya .000 4.700 3. tidak menguji hipotesa atau membuat pradiksi.270 11. gejala atau kelompok tertentu.645 orang. keadaan.600 1.230 1. Populasi Populasi penelitian ini adalah masyarakat pengunjung warnet selama bulan Oktober 2007 pada 28 warnet yang dipilih dari 14 kota di wilayah kerja BPPI Wilayah I Medan sebanyak 68. metode deskriptif adalah metode yang hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya.400 1. Disain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif Analitis. Drag Net Gemini Net Dimensi Internet Jimmy Net Perimsa warnet Tenan Kata Warnet Warnet Poltak Cyber Net Bima Net Planet Net Warnet SMK I Dharma Net Dano Marsabut Warung-Infokom Kharisma Net Malpindo Net Tuiji Net Melka Net Warnet Clasia Lesehan Net Lingga Net Graha Net 2.250 1. Populasi dan Sample a.000 3.200 1. penelitian deskriptif hanya memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. 2. Adapun ke-empat belas kota tersebut masing-masing bersama 2 warung internet yang dipilih adalah sebagai berikut TABEL 1 NAMA KOTA DAN WARNET SERTA JUMLAH PENGUNJUNG PADA BULAN OKTOBER 2007 NO NAMA KOTA BANDA ACEH MEDAN LUBUK PAKAM KABANJAHE PEMATANG SIANTAR KISARAN RANTAU PRAPAT PADANG SIDEMPUAN PADANG BUKIT TINGGI BATAM PEKAN BARU NAMA WARNET JLH PENGUNJUNG OKTOBER 2007 1.020 905 3.2. Selanjutnya dalam menentukan teknik penarikan sampel di lapangan.200 2.500 2. yaitu secara purporsive sampling (sampel bertujuan).325 2.500 3.200 900 2.560 1.800 3. berlokasi dipinggiran kota daerah penelitian.715 1. Menurut Rakhmat (2000: 24).250 3.

645 68..... Sampel Penentuan besaran sampel dari populasi tersebut ditetapkan dengan menggunakan rumus Taro Yamane yaitu: n= N N d 2 +1 Dimana : n = ukuran sampel N = ukuran populasi d = tingkat n= 68.4%5% atau 10% (umar....645 68.. 2007) Untuk penelitian ini maka peneliti memutuskan untuk mengambil 280 orang sampel....... Drag Net Gemini Net 10 10 10 10 .. 2%...645 orang b....12  n = 276 ...350 1.66 ⇒277 orang Batas kesalahan yang ditolerir ini bagi setiap populasi tidak sama ...970 1.3%.13 14 BENGKALIS Vista Net Kuantum Net LHOKSEUMAWE Lacak Com Enjoy Net Jumlah.645(6%) 2 + 1 68.200 900 68.. Ada yang 1%.. Dengan pecahan sample seperti pada table berikut : TABEL 2 NAMA KOTA DAN WARNET SERTA PENETAPAN JUMLAH SAMPEL NO NAMA KOTA BANDA ACEH MEDAN NAMA WARNET Jlh Responden 1. 2002 dalam Kriyantono... Sumber data : Hasil observasi oktober 2007 1.0036 + 1 n= n= 68.645 248.645 x0.. Jambu Net Speed ++ Net. 2. Dimana untuk masing-masing warung internet ditetapkan 10 orang responden ( quota sampling)..

. (Content) CD-Rom atau Web. jenis pesan yang diakses... 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 LUBUK PAKAM KABANJAHE PEMATANG SIANTAR KISARAN RANTAU PRAPAT PADANG SIDEMPUAN PADANG BUKIT TINGGI BATAM PEKAN BARU BENGKALIS LHOKSEUMAWE Dimensi Internet Jimmy Net Perimsa warnet Tenan Kata Warnet Warnet Poltak Cyber Net Bima Net Planet Net Warnet SMK I Dharma Net Dano Marsabut Warung-Infokom Kharisma Net Malpindo Net Tuiji Net Melka Net Warnet Clasia Lesehan Net Lingga Net Graha Net Vista Net Kuantum Lacak Com Enjoy Net Total Sampel .. kemampuan menggunakan computer untuk memenuhi Skala Nominal Analisis Statistik Univariat (f dan %) Statistik univariat (f dan %). 2 Ordinal Nominal 3 Pemahaman Aplikasi TIK -Information literacy (Kemampuan Akses Informasi) -Computer literacy (Kemampuan Ordinal Statistik univariat .. Intensitas... lamanya waktu meng-gunakan internet...... kepercayaan terhadap internet.3. minat akan internet Frekwensi menggunakan internet. kemampuan mengakses... sikap individu terhadap internet internet sbg kebutuhan. peneliti menggunakan teknik Accidental Sampling (sampel kebetulan) terhadap pengunjung Warnet yang telah ditentukan diatas sampai memenuhi quota yang telah ditetapkan Perancangan Alat Ukur dan Analisis No 1 Dimensi Anteseden (sosiodemografis dan psikologis ) Latarbelakang pengalaman masyarakat Indikator penelitian Usia. 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 280 Selanjutnya untuk memilih responden dalam penelitian ini. mengevaluasi dan menggunakan informasi dan berbagai bentuk. pekerjaan pendapatan... jenis kelamin. pendidikan.. nilai-nilai yang terbentuk..

Model Teoritis Variabel Anteseden Sosiodemografis & Psikologis Minat dan motivasi Variabel Literacy . Berdasarkan kerangka teoritis di atas.Dimensi kemampuan. adapun konsep-konsep dalam penelitian ini dapat dibedakan menjadi beberapa variabel. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karekteristik kejadian ke dalam kelompok atau individu tersebut (Singarimbun. mampu digunakan. yaitu : 1. 1998:24). 2.Menggunakan Komputer) -Digital Literacy (Kemampuan Memahami) -Internet literacy (Kemampuan Internet) 4 Efek dari pemahaman internet kebutuhan peribadi ataupun suatu instansi. kemampuan menggunakan pengetahuan teoritis dan praktis mengenai internet sebagai suatu media komunikasi dan informasi bagi manusia yang memerlukannya. dan mampu dilihat hasilnya. mengevaluasi dan menggunakan informasi dan berbagai bentuk. video. • Internet literacy adalah kemampuan menggunakan pengetahuan teoritis dan praktis mengenai internet sebagai suatu media komunikasi dan informasi bagi manusia yang memerlukannya. dan behavioral (f dan %). kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber ketika disajikan melalui alat teknologi digital. Pemahaman terhadap Komputer Variabel Media Terpaan komputer & internet terhadap kebutuhan dan Variabel efek Efek Kognitif. Adapun yang termasuk ke dalamnya adalah keuntungan relatif. surat kabar. 3. Variabel Media Variabel media adalah sejauhmana terpaan media internet terhadap kebutuhan dan kepuasan oleh individu dalam masyarakat. Variabel Anteseden. seperti buku. 4. Variabel Melek (literacy) • Information literacy adalah kemampuan mengakses. kesesuaian. apektif dan Behavioral . Ordinal Statistik univariat (f dan %). • Computer literacy adalah kemampuan menggunakan computer untuk memenuhi kebutuhan peribadi ataupun suatu instansi. Variabel anteseden ini terdiri dari data sosiodemografis dan psikologis masyarakat. CD-Rom atau Web. • Digital Literacy adalah kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber ketika disajikan melalui alat – alat teknologi digital. Efek kognitif afektif. Variabel Efek Maksudnya adalah sejauhmana tingkat Pemahaman individu dalam masyarakat dalam menggunakan internet.

Sedangkan untuk janda masyarakat menjawab status perkawinan janda berjumlah 5. untuk kebutuhan pribadi atau instansi 3. Aspek Sosiodemokrafis dan psikografis • Usia Responden Berdasarkan data yang diperoleh bahwa dapat dilihat 39.Minat terhadap internet 1. Digital literacy a. Sedangkan yang berjenis kelamin wanita berjumlah 43%.7%. Computer literacy a.8%. content internet c.Internet literacy kemampuan menggunakan internet sbg kebutuhan media komunikasi dan informasi Variabel Melek (Literacy) Temuan dan Pembahasan a.4%.Jenis kelamin 3. • Status Perkawinan Masyarakat yang menjawab status perkawinan tidak menikah berjumlah 70.9%. Lamanya waktu menggunakan internet d. Dan masyarakat yang menjawab status perkawinan duda berjumlah 3.2% Sedangkan yang menjawab status perkawinan sudah menikah berjumlah 20. kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber 4. Sedangkan 40 tahun keatas dijawab 1.Pekerjaan 5.III) berjumlah 18. Sedangkan tingkat pendidikan akhirnya adalah tamat Diploma (I.4% masyarakat menjawab tingkat pendidikan akhirnya adalah tamat S3 . mengevaluasi. Jenis pesan yang diakses 2.6% masih berusia antara 15-19 tahun. Sedangkan 0.Pendidikan 4. • Tingkat Pendidikan Akhir. menggunakan informasi berbagai bentuk : referensi. adapun operasionalisasi variabel penelitian ini adalah sebagai berikut : Variabel Konsep Variabel Anteseden (Sosiodemografis dan psikografis) Variabel Operasional 1. berita. Masyarakat yang menjawab tingkat pendidikan akhirnya adalah tamat SMU (sederajat) berjumlah 47.1%. kemampuan mengakses internet b.Usia 2.9% • Jenis Kelamin Responden 57% masyarakat yang menjawab berjenis kelamin pria.7%. Information literacy a.& internet kepuasan Operasionalisasi Variabel Berdasarkan variabel-variabel konsep dan model teoritis di atas . kemampuan menggunakan computer b. Untuk usia masyarakat 20-25 tahun berjumlah 34.Pendapatan 6.

Jika dilihat lebih jauh. Frekuensi masyarakat dalam mengakses internet selama seminggu 8. 10. Sedangkan 7. Scanner gambar dan webcam merupakan salah satu poin favorit bagi pengguna internet.1% mengenal input. Situs yang digunakan masyarakat untuk kegiatan browsing (pencarian data).4%.2% kurang mengenal. Asal mula masyarakat belajar internet. mozila fire fox. Sedangkan 16. 11. Lama mengenal internet. dan hanya 3. internet mail/outlook express. maka perangkat output tidak berbeda jauh pengenalannya oleh masyarakat yang juga mengenal input. Pengenalan masyarakat terhadap perangkat keras (hardware) yang terdiri dari pengenalan perangkat input.4% tidak mengenal sama sekali. sebanyak 30. Manfaat internet yang paling dirasakan.9% masyarakat dan yang mengenal sebanyak 42. Informasi yang dicari masyarakat melalui internet.8% yang tidak mengenal. trackball dan gamepad.9%.9% masyarakat sangat mengenalnya dan 49. akademisi masyarakat hanya menjawab 0.8%. Sedangkan untuk pekerjaan masyarakat pensiunan. Jika dilihat persentase masyarakat yang sangat mengenal dan mengenal input memiliki jumlah lebih besar dari yang kurang mengenal dan tidak mengenal sama sekali. Program aplikasi yang digunakan masyarakat untuk kegiatan chating 13. Pekerjaan berwiraswasta yang dijawab oleh masyarakat berjumlah 21. mouse. Dari data yang diperoleh dapat dilihat bahwa 40% masyarakat mengenal scanner gambar dan webcam. Yang mendorong masyarakat dalam menggunakan internet 7. Pekerjaan Mayoritas pekerjaan masyarakat adalah pelajar/mahasiswa dengan 42. Fasilitas yang digunakan masyarakat untuk mengakses internet. 3. 6. Perangkat keras output yang terdiri dari printer. 2.4% dan 6. 4. 14. 5. Yang kurang mengenal berjumlah 26. Untuk perangkat keras input yang terdiri dari key board. Untuk pekerjaan karyawan swasta masyarakat menjawab 17.• b. speaker dan networking (jaringan) sangat dikenal oleh 30. Masyarakat yang kurang mengenal output sebanyak 20. yaitu: 1. Aplikasi browser yang digunakan masyarakat. Pemahaman Masyarakat Terhadap Aplikasi Internet Saat Ini Ada 15 hal penting yang menjadi sorotan untuk mengetahui pemahaman masyarakat terhadap aplikasi internet saat ini. 15. maka hal ini sangat wajar karena perangkat input yang dimaksud sering digunakan atau dilihat sehari-hari oleh masyarakat pengguna internet maupun keseharian dalam bekerja dan belajar.4%.2% masyarakat tidak mengenal scanner gambar dan webcam. 9. Situs yang digunakan masyarakat untuk memperoleh informasi atau berita. Kegiatan yang dilakukan masyarakat melalui internet. Pengenalan masyarakat terhadap perangkat lunak internet yang terdiri dari microsoft internet explorer. sebanyak 26% sangat mengenal. Umumnya fasilitas scanner gambar dan webcam telah banyak disediakan oleh warung internet . Lokasi mengakses internet.6%. Perangkat output bisa dikatakan sebagai pelengkap input. perangkat output serta scanner gambar dan webcam. 12.3%.

Dalam waktu penggunaan internet. Perbedaan yang tidak terlalu mencolok dalam hal penggunaan internet menggambarkan bahwa saat ini internet telah dianggap penting untuk membantu berbagai kegiatan masyarakat.2% dan 18. Bagi para pengguna awal internet. Artinya belajar internet dari teman dan mencoba langsung lebih dikedepankan masyarakat untuk dapat belajar internet. Dalam hal belajar internet. 33.2% masyarakat dalam melakukan penggunaan internet dan 44.9% mengenal perangkat tersebut.6% mengenalnya 2 sampai dengan 3 tahun.2%. Sebanyak 27.5% mengenal. masyarakat yang langsung mencoba sebanyak 24. 44. internet mail/outlook express lebih mempercepat pengguna internet untuk mengakses situs yang sudah disimpan sebelumnya. Sebagai salah satu perangkat yang sangat digemari. Lebih dari 8 jam diakses oleh 34. Dalam hal perangkat internet mail/outlook express sebanyak 29.8% masyarakat mengenal internet kurang dari 1 tahun.5%. 8. perangkat Microsoft internet explorer merupakan hal yang wajib digunakan sebagai jalur untuk masuk kedalam tahapan lanjutan.9% masyarakat dan yang mengenal sebanyak 47. Sedangkan 20% masyarakat kurang mengenal Perangkat internet mail/outlook express dan 6.(warnet) sebagai salah satu daya tarik untuk menambah pengunjung.3 % masyarakat untuk menggunakan internet. Kemudahan untuk berkomunikasi sangat mendorong 42. Sedangkan 15. Microsoft internet explorer sangat dikenal oleh 21. Dari data tersebut ternyata waktu 2 sampai dengan 3 tahun memberikan pendalaman masyarakat untuk lebih memahami internet. Yang kurang mengenal berjumlah 12. Bagi yang belajar dari sekolah berjumlah 19.4% tidak mengenal sama sekali.7% mencari informasi yang dibutuhkan.5% serta 17.9%. Mengikuti perkembangan zaman adalah alasan sebanyak 53. serta 10.6% membantu pekerjaan mereka. Sedangkan yang mengenal internet 3 sampai dengan 4 tahun adalah 23% dan yang mengenal internet lebih dari 5 tahun berjumlah 7. Sedangkan yang belajar dari pelatihan hanya berjumlah 1.7% tidak mengenal.6% memanfaatkannya sebagai alat komunikasi dan 20% masyarakat menggunakannya untuk menambah wawasan. Sebanyak 15. 25.2% masyarakat menggunakan internet sebagai hiburan.3% masyarakat menggunakannya kurang dari 1 jam/minggu Kemudian 46. Sedangkan 16. Penggunaan perangkat internet Mozilla Firefox sangat mempermudah para pengguna internet dalam membuka berbagai macam situs dengan waktu yang relative lebih cepat. Di era perkembangan teknologi ternyata sangat memacu masyarakat untuk lebih mengenal internet agar dapat mengikuti perkembangan zaman.7% .2% Sedangkan belajar dari teman berjumlah 25.1% kurang mengenalnya dan hanya 6% tidak mengenal perangkat internet Mozzila Firefox.5% masyarakat memilih belajar internet dari kursus.1% masyarakat sangat mengenalnya.5% tuntutan pekerjaan. sehingga bagi masyarakat yang tidak memiliki fasilitas tersebut di rumah atau yang sama sekali rumahnya tidak memiliki fasilitas internet dapat menggunakan scanner gambar dan webcam di warnet.3% masyarakat dan sebanyak 10.8% mengakses internet diantara 5 sampai dengan 8 jam/minggu. Artinya masyarakat membutuhkan waktu yang bisa dikatakan . Perangkat Internet Mozzila Firefox sangat dikenal oleh 34% masyarakat dan 44.6% hanya mengakses internet 1 sampai dengan 4 jam/minggu.

plasa. Game on line hanya 7.8% masyarakat sering melakukan chating (komunikasi secara instant melalui internet) pada saat mengakses internet. belum lagi ditambah 24.2% yang sangat sering menggunakan situs www.3% sering menggunakannya.9%. Melakukan chating menempati posisi yang cukup tinggi dalam kegiatan masyarakat mengakses internet. Temuan penelitian menemukan bahwa data tentang pendidikan paling sering diakses terutama bagi masyarakat yang ingin mencari jalur pendidikan yang lebih tinggi baik di dalam maupun luar negeri. Sebanyak 24. sebanyak 34% masyarakat sering menggunakannya dan yang sangat sering sebanyak 14.6%.cukup panjang untuk mengakses internet sebagai hiburan. 20.com. Sedangkan hanya 7.com.3%.kaskus.gmail.0% masyarakat yang sangat sering menggunakannya. Hanya 15.4% mengatakan sering.2% masyarakat sangat sering menggunakan laptop/notebook untuk mengakses internet dan jumlah yang sering menggunakannya sebanyak 30. karena saat ini sudah banyak institusi pendidikan yang memiliki web site sendiri bahkan banyak perguruan tinggi yang sudah menerapkan sistem on line bagi mahasiswanya yang ingin melihat perkembangan terakhir nilainya. Situs www.3%. Sedangkan 61.yahoo. Fasilitas ponsel untuk mengakses internet hanya digunakan oleh 7. Program aplikasi yahoo messenger untuk kegiatan chating sangat sering digunakan oleh 26% masyarakat dan 29. Situs wikipedia menempati urutan terendah sebagai situs yang sangat sering digunakan oleh masyarakat. Data tentang ekonomi hanya 7. Dalam penggunaan internet di warnet.2% masyarakat sangat sering menggunakan kampus/sekolah/perpustakaan untuk mengakses internet dan yang sering sebanyak 16. Sebanyak 40. menambah wawasan.plasa. tetangga/saudara.2% masyarakat yang sering menggunakannya. sedangkan 36.6%.7%. Lembaga pendidikan sebagai salah satu tempat yang seharusnya mempermudah masyarakat untuk memgakses internet justru persentasenya bisa dibilang rendah. Hanya 10.com hanya 6.5% yang sangat sering menggunakan www. Kantor menjadi tempat dimana masyarakat sangat sering mengakses internet dengan jumlah sebanyak 31.6% masyarakat yang sangat sering mencarinya. tentang kesehatan 34. sebagai alat komunikasi. Program situs yang sangat sering digunakan untuk chating oleh masyarakat adalah www. Sedangkan penggunaan www.2% untuk mengakses informasi.com yang dimiliki oleh telkom ternyata masih menjadi favorit bagi para pengguna email. Penggunaan fasilitas chating hampir selalu dibuka dalam kegiatan mengakses internet. Melakukan kegiatan mengakses lowongan pekerjaan di internet dilakukan oleh 28.com.2% masyarakat. mencari informasi yang dibutuhkan. Untuk kegiatan email 30. Mengakses internet melalui ponsel belum menjadi pilihan utama masyarakat karena tidak semua ponsel memiliki fasilitas untuk mengakses internet. Untuk melakukan kegitan pembukaan elektronik mail (e-mail) di internet.3% masyarakat melalui internet. Data tentang pendidikan sering dicari 42.7% masyarakat.com dengan jumlah 21.9% masyarakat.9% yang sangat sering melakukannya.1% masyarakat tidak pernah mengakses internet di rumah teman. Sedangkan penggunaan dirumah sering digunakan oleh 21. serta membantu pekerjaan mereka.4% sangat sering dan 25.6% masyarakat sangat sering menggunakan situs www. Sedangkan .wikipidia.

program aplikasi meebo hanya 7. 9. Mozzila firefox telah menjadi trend baru karena mampu mengakses secara cepat berbagai macam situs sebanyak apapun halaman yang kita buka.1% masyarakat menjawab tidak pernah mengalami gangguan pada saat menggunakan internet Gangguan yang sering pada saat mempergunakan internet adalah tidak dapat menemukan informasi yang dicari dengan jumlah 38.google. seperti situs porno yang bisa dibuka oleh siapapun tanpa terkecuali anak dibawah umur.com (23.6% jarang menggunakannya. Sedangkan yang tidak percaya terhadap informasi yang dipublikasikan oleh internet sebanyak 28.3% masyarakat sangat percaya terhadap informasi yang dipublikasikan oleh internet. Dan gangguan yang jarang dialami masyarakat pada saat . Selain perangkat lunak Eudora dan yahoo. Sebanyak 27. masyarakat banyak yang belum mengenal secara luas perangkat Maxthon. Situs yang dipakai untuk memperoleh informasi/ berita.jobsdb.com adalah yang sering digunakan oleh 29.7% masyarakat belum mengenal perangkat lunak Eudora.9% menyatakan tidak mengenal perangkat yahoo. booter.com masih menempati posisi tertinggi dalam kegiatan browsing. Untuk aplikasi browser.com sering digunakan oleh 17.com dengan jumlah 47. Masyarakat menyatakan pernah mengalami gangguan non teknis atau teknis pada saat menggunakan internet dengan jumlah 84. Situs www. dan Webserver.1% masyarakat sangat sering menggunakan Mozzila Firefox dan 26. sebanyak 32.5%.1% masyarakat dan 30. Nerscape Communicator. Dalam hal ini www.1% mengatakan sering. c.yahoo. Sedangkan 42. Untuk yang kurang percaya terhadap informasi yang dipublikasikan sebanyak 37.4%.4%). Masyarakat pengguna internet sering menggunakan situs www. sedangkan meebo masih sangat asing ditelinga masyarakat penggiat chating.9%. Masyarakat yang tidak mengetahui penggunaan dari perangkat lunak Eudora berjumlah 27.2 %. Dari hasil data dapat dilihat bahwa 8.yahoo. booter.4% masyarakat untuk kegiatan browsing (pencarian data). Sedangkan 15.4% masyarakat. Sedangkan gangguan hacker (system dibobol) sangat sering dialami oleh 17. Mail Selver. Gangguan yang tidak pernah dialami masyarakat pada saat menggunakan internet adalah virus komputer dengan jumlah 52. Sedangkan 25.5% masyarakat.8%. Situs www.7% masyarakat menjawab percaya terhadap informsi yang dipublikasikan oleh internet.8% masuk dalam kategori sering menggunakannya. Saat ini internet explorer merupakan aplikasi yang tidak pernah digunakan oleh 41.altavista.jobsdb. Sampai saat ini mayoritas masyarakat banyak yang baru mengenal penggunaan dasar internet. Hambatan-hambatan dan permasalahan yang menjadi kendala bagi masyarakat dalam memahami dan mengaplikasikan Internet?.3% tidak pernah menggunakan www.com.4% masyarakat.org untuk memperoleh informasi/ berita. Masyarakat masih belum memahami beberapa perangkat lunak internet. Ternyata masyarakat lebih membutuhkan informasi mengenai lowongan pekerjaan melaui www. Situs yang tidak pernah digunakan masyarakat untuk mencari data (browsing) adalah www. Sedangkan kendala lain adalah beredarnya situs-situs yang memiliki dampak negative. Yahoo messenger merupakan program aplikasi yang sudah sangat terkenal bagi para penggiat chating.5% masyarakat yang sangat sering menggunakannya.wikipedia. Diantaranya adalah 48.7%. Eudora juga jarang diketahui penggunaannya oleh 47.1% dan banner iklan yang membuat lama pembukaan situs (34%).

setiap introduksi satu jenis teknologi ke dalam sebuah masyarakat pasti akan mendorong berlangsungnya pelbagai perubahan. secara sederhana kita bisa membagi masyarakat ke dalam tiga kelompok utama: Pertama. kelompok existing users. termasuk di Indonesia. internet juga telah mendorong munculnya beberapa kecemasan baru di kalangan masyarakat luas. alasan. internet juga telah membuktikan dirinya sebagai satu-satunya medium berjangkauan massal yang paling fleksibel. kelompok perspective users. Berdasarkan pada kecenderungan umum sikap yang diambil terhadap munculnya teknologi internet. Kedua. dan pengalaman konkretnya (evaluasi) dalam menggunakan jasa-jasa internet. jenis pemanfaatan. misalnya. Dalam perspektif sosial dan kebudayaan. yakni mereka yang saat ini sudah menjadi pemakai aktif beberapa layanan internet seperti e-mail. dll. Beberapa kasus kejahatan atau perilaku menyimpang dari seseorang atau sekelompok orang yang secara kebetulan menjadi bagian dari masyarakat pengguna internet. karena beberapa alasan. Setiap bentuk perubahan sosial dan kebudayaan. sedikit banyak telah memperoleh cukup informasi tentang manfaat internet bagi kehidupan mereka. antara lain ketika semakin lama orang tertantang untuk semakin terbiasa dengan kondisi yang relatif paperless di tempat kerja atau di rumah masing-masing. Selain telah secara revolusioner mengubah metode komunikasi massa dan penyebaran data atau informasi. Secara ekonomis. adalah sebagian contoh dari beberapa perubahan radikal dalam lingkup ekonomi dan sosial masyarakat postmodern saat ini yang mustahil muncul tanpa kehadiran internet. . Ia dengan mudah bisa mengintegrasikan seluruh bentuk media massa konvensional seperti media cetak dan audio visual bahkan tradisi lisan (oral tradition) sekalipun.5%. misalnya. dalam beberapa hal internet boleh jadi telah membawa akibat berupa efisiensi waktu dan penghematan biaya yang sangat besar. kini semakin banyak orang yang memanfaatkan internet untuk bermacam-macam kebutuhan. juga dianggap sebagai alternatif gaya hidup yang eco-friendly. tenaga edukatif di lembagalembaga pendidikan serta kelompok-kelompok masyarakat lain yang secara keseluruhan bisa diasumsikan sebagai orang-orang yang telah memiliki pengetahuan minimal tentang komputer atau. web surfing. telah melahirkan respon berupa kecurigaan yang terkadang berlebihan terhadap akibat negatif yang bisa ditumbulkan oleh pertumbuhan jenis teknologi ini. paling tidak.menggunakan internet adalah tidak dapat menentukan dimana saya berada tersesat di dunia maya dengan jumlah 35. atau cybersex. d. ramah lingkungan. Akan tetapi. memiliki potensi besar untuk menjadi pemakai di masa depan. Apa yang kemudian dikenal sebagai e-commerce. Meskipun masih merupakan hal yang relatif baru. Kebijakan dan program kegiatan yang dibutuhkan masyarakat dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan aplikasi Internet. konversi segala jenis data menjadi kode-kode digital dalam internet. ecommerce. Untuk kelompok ini. Di seluruh dunia. juga cenderung akan melahirkan beberapa problem sosial yang baru. Ke dalam kelompok ini termasuk para mahasiswa. pertanyaan penelitiannya bisa difokuskan pada apa dan bagaimana latar belakang. tidak diragukan lagi bahwa kehadiran dan pertumbuhan teknologi internet telah menjadi salah satu fenomen sosial yang paling menarik perhatian saat ini. karyawan perkantoran. di samping keuntungan-keuntungan komparatif tadi. Dari sisi ekologis. di lain pihak. yakni mereka yang saat ini masih belum menjadi pemakai internet tapi yang.

mouse. 2. yahoo. Perangkat Internet Mozzila Firefox sangat dikenal. Gangguan yang sering pada saat mempergunakan internet adalah tidak dapat menemukan informasi yang dicari dan banner iklan yang membuat lama pembukaan situs. Seperti belum mengenal perangkat lunak Eudora. booter. Bahwa Pemahaman masyarakat pengunjung warung internet terhadap aplikasi computer dan internet cukup tinggi. Nerscape Communicator. speaker dan networking (jaringan). Microsoft internet explorer. perangkat internet mail/outlook express. Mail Selver. Perangkat keras output yang terdiri dari printer. dan variabel-variabel sosial lain yang hubungannya sangat signifikan dengan preferensi pilihan mereka terhadap salah satu produk teknologi seperti internet. proses-proses sosial yang berlangsung antara masyarakat dan internet itu adalah seperti dalam Figure 1 berikut Kesimpulan 1. jenis pekerjaan. Hal itu dapat dilihat dari tingginya persentase pengenalan. Sampai saat ini mayoritas masyarakat banyak yang baru mengenal penggunaan dasar internet. Sedangkan kebijakan yang dibutuhkan adalah . Menu-menu yang ada pada computer seperti key board. gamepad. perangkat Maxthon.Di luar dua kelompok tersebut. input. seperti situs porno yang bisa dibuka oleh siapapun tanpa terkecuali anak dibawah umur. tentu saja adalah kelompok sosial lain yang menjadi bagian terbesar dari populasi masyarakat. dan Webserver. Sedangkan gangguan hacker (system dibobol) juga sangat sering dialami sebahagian kecil masyarakat pengunjung warnet. trackball. Melihat kondisi masyarakat sampai saat ini masih banyak yang baru mengenal penggunaan dasar internet maka Program yang dibutuhkan adalah Bimbingan Teknis bagi pengelola warung internet. Sebahagian besar responden juga sangat mengenal fungsi perangkat keras dan perangkat lunak computer dan internet. tarap hidup ekonomi. kemampuan dan keterampilan responden dalam menggunakan perangkat keras computer dan perangkat lunak computer dan internet. Disamping itu masyarakat juga menyatakan pernah mengalami gangguan non teknis atau teknis pada saat menggunakan internet. Sedangkan kendala lain adalah beredarnya situs-situs yang memiliki dampak negative. Ada banyak sebab mengapa mereka tidak bisa digolongkan ke dalam kelompok perspective users seperti tingkat pendidikan. 3. Secara skematik. Hambatan dan permasalahan yang dialami masyarakat pengunjung warnet dalam memahami dan mengaplikasikan internet adalah masyarakat masih belum memahami beberapa perangkat lunak internet. mengingat mayoritas masyarakat pengunjung Warnet belajar menggunakan internet langsung coba umumnya di warung internet bagi yang tidak memiliki laptop maupun ponsel yang memiliki vitur internet. Kebijakan dan Program yang dibutuhkan untuk meningkatkan pemahaman aplikasi computer dan internet.

Jakarta.proteksi terhadap situs-situs porno. Prenada Media. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Edisi Kelima.M & F. Penggunaan biaya tinggi jangan sampai dibebankan pada masyarakat. Arikunto. New York. Kebijakan dan Perkembangan Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKPI). E. Dalam meningkatkan pemahaman berbagai aplikasi yang beredar. Beberapa Indikator Penting Sosial Ekonomi Indonesia. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. . Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jalaluddin. Suryabrata.Simbiosa Rekatama Media. Bandung.(2000). Jakarta. PAU Studi Sosial. (2006). Rachmat. Metode Survey Untuk Komunikasi.Raja Grafindo. Metode Penelitian. (2005).James w. Rakhmat. maka harus diberikan pemahaman awal mengenai penggunaan aplikasi bagi kepentingan masyarakat luas terutama bagi pembangunan manusia Indonesia agar benar-benar berguna bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.M. Communication of Innovations – A Cross Cultural Approach. Daftar Pustaka Ardianto. dan pornografi. Harus ada distribusi pemahaman dan keahlian dari tenaga-tenaga profesional semaksimal mungkin ke daerah-daerah yang benar-benar belum mengetahui tentang komputer maupun internet. . Saran Masyarakat sangat membutuhkan sosialisasi lebih meluas mengenai penggunaan internet baik secara positif maupun negative. perlu disosialisasikan hal-hal dasar mengenai penggunaannya termasuk aplikasi apa yang paling cepat dan efektif unt