P. 1
Laterit Dan Endapan Bijih

Laterit Dan Endapan Bijih

|Views: 4,418|Likes:
Published by Aris Nugroho

More info:

Published by: Aris Nugroho on Sep 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/30/2015

pdf

text

original

Sections

Laterit

1. Formasi Laterit
Laterit didefinisikan sebagai produk yang dihasilkan dari pelapukan yang
kuat pada daerah-daerah tropis, lembab, dan hangat yang kaya akan lempung
kalolinit sebagai oksida dan oksihidroksida dari Fe dan Al. Laterit
penting secara ekonomi karena mengandung logam alumunium (bauksit). Berikut
merupakan kandungan unsur-unsur yang terdapat pada profil laterit.

Mineral utama

Pencucian

Mineral Sekunder

pada zona ferruginous

Aluminosilikat (muskovit,
kaolinit)
oksida besi; emas

K, Rb, Cs

mineral jejak : Au

Si, Al (kaolinit)

pada saprolit bagian atas

Aluminosilikat (muskovit)
Ferromagnesia (klorit, talk,
amfibol)
Lempung smektit

Cs, K, Rb

Mg, Li
Ca, Mg, Na

Si, Al (kaolinit)

Fe, Ni, Co, Cr, Ga, Mn, Ti, V,
(Oksida Fe dan Mn)
Si, Al (kaolinit)

pada saprolit bagian bawah

Aluminosilikat
Ferromagnesia (piroksen, olivin,
amfibol, klorit, biotit)

Ca, Cs, K, Na, Rb

Ca, Mg

Si, Al (kaolinit); Ba

Fe, Ni, Co, Cr, Ga, Mn, Ti, V (Oksida
Fe dan Mn)

pada zona pelapukan sulfide

As, Au, Cd, Co, Cu,
Mo, Ni, Zn, S

As, Cu, Ni, Pb, Sb, Zn (oksida besi;
sulfat, arsenat, karbonatan, alunit-
jasorit)

pada daerah karbonatan

Ca, Mg, Fe, Mn, Sr

2. Formasi bauksit
Bijih bauksit, sebagai sumber utama logam alumunium, mengandung mineral
gibsit, boehmit, dan diaspor. Akumulasi dari residu kaya alumina, pada
bagian atas dari profil laterit, sebagai hasil dari curah hujan yang
tinggi, temperatur yang agak rendah (22°C), dengan kelembaban yang tinggi.
Proses yang berlangsung pada bagian atas dari profil laterit berupa
pelarutan inkongruen yaitu :

Feldspar – (kehilangan Si) kaolinit – (kehilangan Si)

gibsit (Al(OH)

3)

Variasi iklim musiman juga dianggap penting dalam pembentukan formasi
bauksit. Musim panas dan dingin membuat fluktuasi pada muka air tanah, yang
membuat terjadinya pelarutan dan transfer massa. Variasi pada profil
bauksit sebagai transformasi dari gibsit yang terdehidrasi menjadi versi
yang terhidrasi secara relatif, boehemit atau diaspor (ALO(OH)), dihasilkan
dari fluktuasi tersebut. Profil mineralogical untuk zona mineralisasi
bauksit dapat bervariabel.
3. Laterit Nikel

Laterit nikel berasal dari batuan ultramafik yang mengandung olivin dan
ortopiroksen dengan berlimpah, dan karenanya kaya akan nikel. Laterit nikel
mengandung konsentrasi nikel silikat atau nikel oksida yang mencapai 10
kali lipat dari konsentrasi aslinya. Penambangan laterit nikel jauh lebih
mudah daripada penambangan bijih sulfida magmatik. Bijih nikel berhubungan
dengan eluviasi nikel dari residu pada lapisan laterit teratas dan
konsenrasi di dasar illuvium saprolit sebagai talk nikeliferous, serpentin,
atau smektit, dan bersamaan dengan geotit meskipun jarang.
Mineral olivin dan ortopiroksen sebagai sumber nikel utama merupakan
penyusun utama dari batuan ultramafik mungkin berasal dari bagian kompleks
ofiolit obduksi atau berupa intrusi mafik. Alterasi olivin terjadi karena
proses hidrasi dari silika, serpentinit, dan limonit . Pada tanah laterit,
keasaman air tanah semakin berkurang seiring dengan bertambahnya kedalaman
dan bikabornat bertindak sebagai anion utama dalam proses pelarutan ini.
Olivin bereaksi pada kondisi ini, diikuti dengan ortopiroksen, serpentin,
klorit, dan talk. Berikut ini merupakan contoh reaksi pada olivin.

4(Fe2,Mg3)SiO4 + 8H+ + 4O2 (Fe

2,Mg3)Si4O10(OH)2 + 6FeO(OH) + 5Mg2+
olivin smektit goetit

Konsentrasi nikel dipengaruhi oleh pertukaran kation, kemungkinan oleh
Mg2+. Hasilnya adalah suatu jenis mineral pilosilikat yang kaya nikel
seperti kerolit (Ni-talk), nepouit (Ni-serpentin), dan pimelit (Ni-
smektit). Salah satu contoh dari reaksi pertukaran kation adalah sebagai
berikut :

Mg2Si2O5(OH)4 + 3Ni2+

(aq) Ni

3Si2O5(OH)4 + 3Mg2+

(aq)

serpentin nepouit

Konsentrasi dari nikel juga sering berasosiasi dengan goetit, sekalipun
mekanismenya belum diketahui. Kemungkinan absorbs dari nikel pada koloid
goetit terjadi pada alam karena pH yang agak basa. Zona limonit yang ada
pada bagian atas dari profil laterit pada umumnya tidak mengandung nikel.
Laterit yang sangat tebal dan sangat kaya dengan garnierit terjadi pada
batuan dasar yang mengalami sirkulasi air tanah maksimum dan peran dari
interaksi air antar batuan. Konsentrasi nikel juga dikontrol oleh keadaan
topografi dan cenderung terjadi dibawah perbukitan atau pinggiran plato
atau teras. Hal ini dikarenakan deposit sensitif untuk mengalami erosi
permukaan dan fluktuasi muka air dikonrol oleh distribusi zona eluviasi dan
iluviasi.

Nikel laterit

Batuan induk bijih nikel adalah batuan peridotit. Menurut Vinogradov batuan
ultra basa rata-rata mempunyai kandungan nikel sebesar 0,2 %. Unsur nikel
tersebut terdapat dalam kisi-kisi kristal mineral olivin dan piroksin,
sebagai hasil substitusi terhadap atom Fe dan Mg. Proses terjadinya

substitusi antara Ni, Fe dan Mg dapat diterangkan karena radius ion dan
muatan ion yang hampir bersamaan di antara unsur-unsur tersebut. Proses
serpentinisasi yang terjadi pada batuan peridotit akibat pengaruh larutan
hydrothermal, akan merubah batuan peridotit menjadi batuan serpentinit atau
batuan serpentinit peroditit. Sedangkan proses kimia dan fisika dari udara,
air serta pergantian panas dingin yang bekerja kontinu, menyebabkan
disintegrasi dan dekomposisi pada batuan induk.

Pada pelapukan kimia khususnya, air tanah yang kaya akan CO2 berasal dari
udara dan pembusukan tumbuh-tumbuhan menguraikan mineral-mineral yang tidak
stabil (olivin dan piroksin) pada batuan ultra basa, menghasilkan Mg, Fe,
Ni yang larut; Si cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel silika
yang sangat halus. Didalam larutan, Fe teroksidasi dan mengendap sebagai
ferri-hydroksida, akhirnya membentuk mineral-mineral seperti geothit,
limonit, dan haematit dekat permukaan. Bersama mineral-mineral ini selalu
ikut serta unsur cobalt dalam jumlah kecil.

Larutan yang mengandung Mg, Ni, dan Si terus menerus kebawah selama
larutannya bersifat asam, hingga pada suatu kondisi dimana suasana cukup
netral akibat adanya kontak dengan tanah dan batuan, maka ada kecenderungan
untuk membentuk endapan hydrosilikat. Nikel yang terkandung dalam rantai
silikat atau hydrosilikat dengan komposisi yang mungkin bervariasi tersebut
akan mengendap pada celah-celah atau rekahan-rekahan yang dikenal dengan
urat-urat garnierit dan krisopras. Sedangkan larutan residunya akan
membentuk suatu senyawa yang disebut saprolit yang berwarna coklat kuning
kemerahan. Unsur-unsur lainnya seperti Ca dan Mg yang terlarut sebagai
bikarbonat akan terbawa kebawah sampai batas pelapukan dan akan diendapkan
sebagai dolomit, magnesit yang biasa mengisi celah-celah atau rekahan-
rekahan pada batuan induk. Dilapangan urat-urat ini dikenal sebagai batas
petunjuk antara zona pelapukan dengan zona batuan segar yang disebut dengan
akar pelapukan (root of weathering).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan bijih nikel laterit ini adalah:

a. Batuan asal. Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk
terbentuknya endapan nikel laterit, macam batuan asalnya adalah batuan
ultra basa. Dalam hal ini pada batuan ultra basa tersebut: - terdapat
elemen Ni yang paling banyak diantara batuan lainnya - mempunyai mineral-
mineral yang paling mudah lapuk atau tidak stabil, seperti olivin dan

piroksin - mempunyai komponen-komponen yang mudah larut dan memberikan
lingkungan pengendapan yang baik untuk nikel.

b. Iklim. Adanya pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana
terjadi kenaikan dan penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan
terjadinya proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperatur
yang cukup besar akan membantu terjadinya pelapukan mekanis, dimana akan
terjadi rekahan-rekahan dalam batuan yang akan mempermudah proses atau
reaksi kimia pada batuan.

c. Reagen-reagen kimia dan vegetasi. Yang dimaksud dengan reagen-reagen
kimia adalah unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang membantu mempercepat
proses pelapukan. Air tanah yang mengandung CO2 memegang peranan penting
didalam proses pelapukan kimia. Asam-asam humus menyebabkan dekomposisi
batuan dan dapat merubah pH larutan. Asam-asam humus ini erat kaitannya
dengan vegetasi daerah. Dalam hal ini, vegetasi akan mengakibatkan: •
penetrasi air dapat lebih dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar
pohon-pohonan

• akumulasi air hujan akan lebih banyak

• humus akan lebih tebal. Keadaan ini merupakan suatu petunjuk, dimana
hutannya lebat pada lingkungan yang baik akan terdapat endapan nikel yang
lebih tebal dengan kadar yang lebih tinggi. Selain itu, vegetasi dapat
berfungsi untuk menjaga hasil pelapukan terhadap erosi mekanis.

d. Struktur. Struktur yang sangat dominan yang terdapat didaerah Polamaa
ini adalah struktur kekar (joint) dibandingkan terhadap struktur
patahannya. Seperti diketahui, batuan beku mempunyai porositas dan
permeabilitas yang kecil sekali sehingga penetrasi air sangat sulit, maka
dengan adanya rekahan-rekahan tersebut akan lebih memudahkan masuknya air
dan berarti proses pelapukan akan lebih intensif.

e. Topografi. Keadaan topografi setempat akan sangat mempengaruhi sirkulasi
air beserta reagen-reagen lain. Untuk daerah yang landai, maka air akan
bergerak perlahan-lahan sehingga akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan
penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan.
Akumulasi andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai
kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti
bentuk topografi. Pada daerah yang curam, secara teoritis, jumlah air yang

meluncur (run off) lebih banyak daripada air yang meresap ini dapat
menyebabkan pelapukan kurang intensif.

f. Waktu. Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup
intensif karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi.

Profil nikel laterit keseluruhan terdiri dari 4 zona gradasi sebagai
berikut :

1. Iron Capping : merah tua, merupakan kumpulan massa goethite dan
limonite. Iron capping mempunyai kadar besi yang tinggi tapi kadar
nikel yang rendah. Terkadang terdapat mineral-mineral hematite,
chromiferous.

2. Limonite Layer : fine grained, merah coklat atau kuning, lapisan
kaya besi dari limonit soil menyelimuti seluruh area. Lapisan ini
tipis pada daerah yang terjal, dan sempat hilang karena erosi.
Sebagian dari nikel pada zona ini hadir di dalam mineral manganese
oxide, lithiophorite. Terkadang terdapat mineral talc, tremolite,
chromiferous, quartz, gibsite,
maghemite.

3. Silika Boxwork : putih – orange chert, quartz, mengisi sepanjang
fractured dan sebagian menggantikan zona terluar dari unserpentine
fragmen peridotite, sebagian mengawetkan struktur dan tekstur dari
batuan asal. Terkadang terdapat mineral opal, magnesite. Akumulasi
dari garnierite-pimelite di dalam boxwork mungkin berasal dari nikel
ore yang kaya silika. Zona boxwork jarang terdapat pada bedrock yang
serpentinized.

4. Saprolite : campuran dari sisa-sisa batuan, butiran halus limonite,
saprolitic rims, vein dari endapan garnierite, nickeliferous quartz,
mangan dan pada beberapa kasus terdapat silika boxwork, bentukan dari
suatu zona transisi dari limonite ke bedrock. Terkadang terdapat
mineral quartz yang mengisi rekahan, mineral-mineral primer yang
terlapukkan, chlorite. Garnierite di lapangan biasanya diidentifikasi
sebagai kolloidal talc dengan lebih atau kurang nickeliferous
serpentin. Struktur dan tekstur batuan asal masih terlihat.

5. Bedrock : bagian terbawah dari profil laterit. Tersusun atas
bongkah yang lebih besar dari 75 cm dan blok peridotit (batuan dasar)

dan secara umum sudah tidak mengandung mineral ekonomis (kadar logam
sudah mendekati atau sama dengan batuan dasar). Zona ini
terfrakturisasi kuat, kadang membuka, terisi oleh mineral garnierite
dan silika. Frakturisasi ini diperkirakan menjadi penyebab adanya root
zone yaitu zona high grade Ni, akan tetapi posisinya tersembunyi.

4. Emas pada laterit
Telah diketahui dengan baik bahwa emas dapat terbentuk pada bagian
pedolitik atas pada zona pelapukan laterit. Bentuk emas yang dihasikan
bermacam-macam dari yang berukuran besar, partikel membundar seperti
nugget, dan dendritus emas pada celah dan retakan, sampai kristal-kristal
kecil pada pori-pori tanah. Sebenarnya sumber emas secara primer adalah
pada lingkungan yang juga kaya akan perak. Emas dapat berada pada profil
laterit karena proses kimiawi. Berbeda dengan proses mobilisasi dan
penghilangan perak, dimana Ag berperan sebagai air meteorik pada zona
pelapukan. Proses perpindahan Au dan Ag hanya terjadi pada kondisi spesifik
tertentu. Mungkin perpindahan tersebut berhubungan dengan asamnya air tanah
dekat permukaan pada lingkungan laterit. Kedua reaksi berikut merupakan
contoh dari proses pengasaman yang berlangsung pada profil laterit.

2FeS2 + 2H2O +7O2 2Fe

2+ + 4SO42- + 4H+

2Fe2+ + 3H2O + O2 2 FeOOH + 4H

+

Percobaan yang dilakukan menunjukan bahwa pada keadaan pH rendah, Eh
tinggi, dan keberadan ion Cl-, emas yang berada di dekat permukaan dapat
menjadi AuCl4-. Hal ini dikontrol oleh oksidasi dari Fe2+ yang berhubungan
dengan ketersedian oksigen. Sebagai perbandingan, perak akan bereaksi
dengan lebih cepat, pada daerah reduksi, sebagai AgCl, AgCl2-, dan
AgCl32-. Reaksi berikut mengasilkan Au murni pada kondisi reduksi yang
terjadi pada bagian yang kaya akan ion Fe2+ dan Mg2+.

AuCl4- + 3Fe+ + 6H2O Au + 3FeOOH + 4Cl

- +9H+

Perlu diketahui bahwa mikroorganisme juga berhubungan dengan konsentrasi
emas pada tanah laterit. Emas sekunden yang berbentuk nugget dapat
ditemukan pada lingkungan yang berbeda dari tempat deposit emas terjadi.
Hal ini disebabkan oleh bakteri pada tanah yang memiliki kemampuan untuk
mengakumulasi emas melaluiproses difusi melewati dinding selnya dan masuk
ke dalam cytoplasmanya. Diagenesis subsekuen dari sedimen yang mengandung
mikroorganisme yang kaya akan emas akan menyebabkan terjadinya
rekristalisasi dari emas menjadi bentuk seperti nugget.
5. PGE pada laterit
Unsur-unsur kelompok platinum juga terdapat pada laterit. Kristal-kristal
Pt-Fe atau Os-Ir-Ru dapat ditemukan pada pedolith, sebagai hasil
perpindahan PGE pada zona pelapukan. Dipercaya bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi konsentrasi PGE juga sama dengan faktor-faktor yang

mempengaruhi Au dam Ag. Pada daerah non laterit, PGE tidak akan

tertransportasi sebagai senyawa klorit (PdCl42- dan PtCl42-), tetapi

sebagai senyawa hidroksida (PdOH2 dan Pt OH2). Proses laterisasi
menyebabkan berpindahnya komponen-komponen bijih berpindah, dengan mineral
dasar terbentuk pada oksida Mn dan Au-Pt-Pd terbentuk bersamaan dengan
karbon nonkristal, dan oksida atau oksihidroksida dari De-Mn.
6. Deposit lempung
Mineral-mineral lempung merupakan produk pelapukan yang sangat berlimpah,
baik yang terdapat in situ maupun yang berpindah dan mengalami deposisi.
Mineral-mineral ini penting secara ekonomi pada industry kertas, keramik,
filtrasi, dan minyak pelumas. Mineral-mineral lempng yang penting ini
diantaranya adalah kaolinit, illit, dan kelompok smektit (termasuk
monmorilonit). Kaolinit berasal dari kondisi lembab yang mendukung
terjadinya hidrolisis asam pada batuan feldspar. Illit terjadi pada kondisi
basa dengan pelapukan feldspar dan mika. Sedangkan smektit merupakan hasil
pelapukan dari batuan intermediet sampai basa dibawah kondisi basa, dengan
lapisan-lapisan intrakristalin air dan kation-kation yang dapat berganti-
ganti. Mineral-mineral lempung tidak hanya dihasilkan dari pelapukan batuan
saja, tetapi dapat ditemukan sebagai produk dari alterasi hidrotermal
bertemperatur rendah.

Eksplorasi mineral merupakan salah satu kegiatan penting untuk mendapatkan
informasi dimana lokasi mineral berada, namun selama ini proses tersebut
membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang besar terutama jika dilakukan
pada daerah yang luas. Di dalam penelitian ini penulis akan menyajikan
aplikasi penginderaan jauh diterapkan dalam pemetaan mineral deposit nikel
laterit. Dengan menggunakan metode defoliant technique dan citra sensor
ASTER, akan ditunjukkan bagaimana pemetaan potensi deposit mineral
dilakukan padawilayah tropis. Sorowako merupakan contoh menarik untuk
dikaji, wilayahnya yang merupakan bagian dari singkapan ultramafik terbesar
di dunia disertai lingkungan mendukung menjadikan sorowako kaya akan
deposit nikel laterit.

Report Preview

I. Pendahuluan
Nikel merupakan salah satu barang tambang penting di dunia. Manfaatnya yang
begitu besar bagi kehidupan sehari-hari, seperti pembuatan logam anti
karat, campuran dalam pembuatan stainless steel, baterai Nickel-metal
hybride, dan berbagai jenis barang lainnya. Keserbagunaan ini pula yang
menjadikan nikel sangat berharga dan memiliki nilai jual tinggi di pasaran
dunia. Setidaknya sejak 1950 permintaan akan nikel rata-rata mengalami
kenaikan 4% tiap tahun, dan diperkirakan sepuluh tahun mendatang terus
mengalami peningkatan (Dalvi et al., 2004).
Bijih nikel diperoleh dari endapan nikel laterit yang terbentuk akibat
pelapukan batuan ultramafik yang mengandung nikel 0.2 - 0.4 % (Golightly,
1981). Jenis-jenis batuan tersebut antara lain olivine, piroksin, dan
amphibole (Rajesh, 2004). Nikel laterit umumnya ditemukan pada daerah
tropis, dikarenakan iklim yang mendukung terjadinya pelapukan, selain
topografi, drainase, tenaga tektonik, batuan induk, dan struktur geologi
(Elias, 2001).
Selama ini eksplorasi terhadap nikel laterit dilakukan dengan mencari
singkapan ultramafik, pemetaan lapangan, pengeboran, dan analisa
laboratorium untuk mengetahui kandungan mineral dan kimiawi nikel. Namun
salah satu hambatan besar dari kegiatan tersebut adalah pada tahap pemetaan
lapangan, dimana membutuhkan waktu yang lama dan berbiaya besar, terutama
untuk daerah baru, sehingga seringkali sulit untuk dilakukan pada wilayah
luas. Namun seiring berkembangnya teknologi dalam bidang pemetaan,
keterbatasan tersebut kini dapat diatasi dengan menggunakan aplikasi dari
teknologi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) (Rajesh,
2004).
Aplikasi penginderaan jauh dan SIG dalam eksplorasi mineral memiliki banyak
keuntungan, antara lain cakupan wilayahnya luas, hemat biaya, data yang
mudah diperbaharui (up date) dan memungkinkan integrasi dengan berbagai
jenis data satelit, geofisika, geokimia, Digital Elevation Model (DEM), dan
sebagainya. Sehingga proses analisa semakin efisien, cepat, dan akurasi
yang meningkat.
Penggunaan penginderaan jauh dalam eksplorasi pertambangan telah lama
digunakan dan sudah berkembang luas, beberapa pendekatan yang banyak
diaplikasikan antara lain, pemetaan lithologi, struktur, dan alterasi
(Rajesh, 2004; Siegal dan Gillespie, 1991). Pemetaan lithologi merupakan
pemetaan sumberdaya mineral, dengan menarik kesimpulan dari beberapa
parameter utama yang diperoleh melalui observasi penginderaan jauh, seperti
mengidentifikasi nilai spektral batuan, penampakan struktural, pelapukan
dan bentuk daratan (landform), serta pola aliran sungai. Pemetaan struktur
didasarkan pada hubungan antara deposit mineral dengan beberapa tipe
deformasi, seperti patahan, lipatan atau struktur geologi lainnya.
Sedangkan pendekatan alterasi merupakan teknik pemetaan mineral yang
mengasosiasikan deposit mineral dengan alterasi hidrothermal dan batuan
sekitar, jenis dan luasnya zona alterasi menggambarkan tipe dari deposit
mineral (Rajesh, 2004). Distribusi spasial dari batuan hasil alterasi
hidrothermal merupakan kunci utama untuk mengetahui zona aliran dari
hidrothermal dan sebagai petunjuk penting untuk mengenali deposit mineral
(Pirajno, 1992 dalam Rajesh, 2004).
Identifikasi sebaran nikel laterit melalui teknologi penginderaan jauh
dalam penelitian ini dilakukan dengan pendekatan alterasi, yaitu dengan
memetakan mineral permukaan hasil lapukan batuan ultramafik pada lapisan

limonite, antara lain mineral goethite, hematite dan chlorite. Metode yang
digunakan untuk mendeteksi mineral tersebut yaitu Defoliant Technique atau
Directed Principal Component (DPC). Pemilihan metode tersebut didasarkan
pada karakteristik wilayah tropis yang bervegetasi rapat, sehingga menjadi
hambatan tersendiri dalam mendeteksi deposit mineral. Untuk itu metode yang
mampu meminimalisir pengaruh vegetasi, seperti Defoliant Technique sangat
cocok untuk digunakan (Carranza, 2003; Rojas, 2003).
Defoliant Technique pada dasarnya adalah teknik penajaman yang dilakukan
dengan menggabungkan dua rasio saluran (Carranza, 2002; Fraser dan Green,
1987 dalam Rojas, 2003), adapun hasil dari proses ini adalah sebaran
mineral permukaan yang digambarkan dalam citra skala keabuan (grayscale).
Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Defoliant Technique mampu
mengidentifikasi keberadaan alterasi hidrothermal di daerah bervegetasi,
seperti yang dilakukan oleh Carranza dan Hale pada tahun 2001 di wilayah
Baugio, Filipina. Kemudian untuk menguji tingkat akurasi, hasil pencitraan
akan diverifikasi dengan data titik bor.
Sensor yang digunakan untuk mengidentifikasi deposit mineral adalah
Advanced Spaceborne Thermal Emission Radiometer (ASTER). Salah satu
kelebihan citra ASTER dalam memetakan sebaran mineral permukaan adalah
ketersediaan saluran (band) yang lebih banyak (VNIR saluran 1 – 3, SWIR
saluran 4 – 9, dan TIR saluran 10 – 14) dan resolusi spasial yang lebih
baik dibandingkan citra Landsat, oleh karena itu ASTER cocok dalam
memetakan berbagai jenis batuan dan mineral. Kemudian harga citra ASTER
yang jauh lebih murah dibandingkan menggunakan satelit hyperspectral
ataupun pemetaan udara menjadikan ASTER menarik untuk digunakan lebih jauh.
Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan kemampuan ASTER yang baik dalam
pemetaan geologi, seperti yang dilakukan oleh Simpson, Mars, dan Rowan pada
tahun 2004 dalam pemetaan lithologic komplek ultramafik di Australia serta
Debgani dan Gingerich tahun 2005 untuk ekstrasi mineral di Iran.
Sorowako merupakan salah satu wilayah Sulawesi yang kaya akan kandungan
nikel laterit dalam jumlah besar. Hal ini didukung oleh bentukan geologi
yang terdiri atas volcano plutonic arc, methamorphic belt, ophiolite belt,
banggai-sula dan tukang besi disisi Barat dan Utara, Tengah, Timur, serta
beberapa pecahan fragmen di Timur dan Tenggara. Selain itu kondisi ini juga
tidak terlepas oleh iklim, reaksi kimia, struktur, dan topografi Sulawesi
yang cocok terhadap pementukan nikel laterit. Endapan nikel laterit di
Sorowako terbentuk karena proses pelapukan dari batuan ultramafik yang
terbentang dalam suatu singkapan tunggal terbesar di dunia seluas lebih
dari 120 km x 60 km, dimana sejumlah endapan lainnya tersebar di provinsi
Sulawesi Tengah dan Tenggara (Waheed, 2005).
Salah satu perusahaan yang melakukan eksplorasi dan penambangan nikel
laterit di beberapa wilayah Sulawesi bagian Tengah, Tenggara dan Selatan
adalah PT. International Nickel Indonesia, Tbk (PT INCO). Perusahaan
multinasional yang diakuisisi sahamnya sejak tahun 2007 oleh Companhia Vale
do Rio Doce (CVRD) yang kini bernama Vale, dan berubah menjadi Vale Inco,
ltd; telah beroperasi sejak tahun 1968, terutama di wilayah Sorowako. Nikel
laterit PT INCO diperoleh dengan mengambil mineral dari endapan nikel
laterit yang mengandung unsur nikel dalam jumlah besar, antara lain
limonite dan saprolite, kemudian diolah secara pyrometallurgical atau
hydrometallurgical dan dihasilkan nikel dalam bentuk matte.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sebaran potensi, tingkat
akurasi pencitraan dan ASTER di areal eksplorasi tambang PT INCO blok
Sorowako. Hasil penelitian dapat menyediakan informasi sebaran potensi
nikel laterit secara spasial dengan metode yang lebih cepat dan efisien,

mempermudah dalam pemetaan awal (reconnaissance mapping) geologi dan
mineral pada daerah yang luas, serta sebagai decision maker support system
bagi kepentingan PT INCO dalam melakukan eksplorasi tambang nikel laterit.

II. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sebaran
potensi deposit nikel laterit di areal eksplorasi tambang PT INCO
berdasarkan interpretasi citra satelit dan kaitannya dengan variabel fisik
batuan induk, struktur geologi, dan lereng. Sehingga hasil penelitian
diharapkan dapat menyediakan informasi sebaran potensi nikel laterit secara
spasial dengan metode yang lebih cepat dan efisien, mempermudah dalam
pemetaan awal geologi (reconnaissance mapping) dan mineral pada daerah yang
luas, serta sebagai decision maker support system bagi kepentingan PT INCO
dalam melakukan eksplorasi tambang nikel laterit.

III. Kondisi Geologi
Beberapa penelitian yang menjelaskan mengenai proses tektonik dan geologi
di daerah sulawesi, antara lain adalah Sukamto (1975) yang membagi pulau
Sulawesi dan sekitarnya terdiri dari 3 Mandala Geologi yaitu :
1) Mandala Geologi Sulawesi Barat, dicirikan oleh adanya jalur gunung api
paleogen, intrusi neogen dan sedimen mesozoikum.
2) Mandala Geologi Sulawesi Timur, dicirikan oleh batuan ofiolit yang
berupa batuan ultramafik peridotite, harzburgit, dunit, piroksenit dan
serpentinit yang diperkirakan berumur kapur.
3) Mandala Geologi Banggai Sula, dicirikan oleh batuan dasar berupa batuan
metamorf permo-karbon, batuan plutonik yang bersifat granitis berumur trias
dan batuan sedimen mesozoikum.

Menurut Hamilton (1979) dan Simanjuntak (1991), Mandala Geologi banggai
Sula merupakan mikro kontinen yang merupakan pecahan dari lempeng New
Guinea yang bergerak kearah barat sepanjang sesar sorong.( Gambar 1 )

Gambar 3.1 Garis Besar Kondisi Lithologi dan Struktur Geologi Pulau
Sulawesi (Ahmad, 2006)
Geologi daerah Sorowako dan sekitarnya sudah dideskripsikan sebelumnya
secara umum oleh Brouwer, 1934; Van Bemmelen, 1949; Soeria Atmadja et al.,
1974; dan Ahmad, 1977 dalam Mustaring, 2006. Namun yang secara spesifik
membahas tentang geologi deposit nikel laterit adalah Golightly pada tahun
1979, dimana ia membagi geologi daerah Sorowako menjadi tiga bagian,
yaitu :
1) Satuan batuan sedimen yang berumur kapur, terdiri dari batu gamping laut
dalam dan rijang. Terdapat dibagian barat Sorowako dan dibatasi oleh sesar
naik dengan kemiringan kearah barat.
2) Satuan batuan ultrabasa yang berumur awal tersier, umumnya terdiri dari
jenis peridotit, sebagian mengalami serpentinisasi dengan derajat yang
bervariasi dan umumnya terdapat dibagian timur. Pada satuan ini juga
terdapat intrusi-intrusi pegmatit yang bersifat gabroik dan terdapat
dibagian utara.
3) Satuan alluvial dan sedimen danau (lacustrine) yang berumur kuarter,
umumnya terdapat dibagian utara dekat desa Sorowako.

Batuan induk dari endapan nikel laterit adalah batuan ultrabasa dengan

kandungan mineral ferromagnesian (olivine, piroksin, dan amphibole) dalam
jumlah besar yang berasosiasi dengan struktur geologi yang terbentuk pada
masa Precambrian hingga Tersier (Ahmad, 2006). Batuan ultrabasa wilayah
Sorowako tersusun dari batuan peridotite yang dapat dibagi menjadi empat
satuan batuan, yang merupakan batuan induk pembawa nikel dengan kadar
sekitar 2 %. Batuan-batuan sejenis peridotite antara lain :
1) Dunite, yang mengandung olivine lebih dari 90% dan piroksen sekitar 5%.
2) High Serpentinized, yang mengandung olivine 85% dan piroksen 15%.
3) Low Serpentinized, yang mengandung olivine 65% dan piroksen 35%.

Bijih nikel yang terdapat di bagian Tengah dan Timur Sulawesi tepatnya di
daerah Sorowako termasuk ke dalam jenis nikel laterite dan bijih nikel
silikat (garnierit). Bijih nikel tersebut terbentuk akibat pelapukan dan
pelindihan (leaching) batuan ultrabasa seperti peridotit dan serpentinit
dari rombakan batuan ultrabasa. Namun berdasarkan ciri fisik dan
kimiawinya, endapan nikel laterit di Sorowako dapat dibagi menjadi dua,
yaitu Blok Barat (West Block) dan Blok Timur (East Block) yang berbeda satu
sama lainnya (gambar 2).
Perbedaan topografi sangat menyolok, pada umumnya di East Block memiliki
topografi yang landai sedikit berbukit sedangkan di West Block pada umumnya
topografi terjal membentuk pegunungan. West Block meliputi 36 bukit dengan
luas sekitar 46,5 km persegi, secara umum merupakan batuan peridortite yang
tidak terserpentinisasi dengan bentuk morfologi yang relatif lebih terjal
dibandingkan East Block (karena pengaruh struktur yang kuat), banyak
dijumpai bongkah – bongkah segar peridotit (Boulder) sisa proses pelapukan
sehingga recovery menjadi kecil. Umumnya boulder dilapisi oleh zona
pelapukan tipis dibagian luarnya. Daerah West banyak mengandung urat-urat
kuarsa yang sulit dikontrol pola penyebarannya. Sedangkan East Block
meliputi 44 bukit menempati area seluas 36,3 km persegi. Topografi pada
daerah ini relatif lebih landai dari pada daerah West Block. Batuan dasar
dari tipe ini umumnya adalah serpentine peridotite, lherzolite, dengan
derajat serpentin yang bervariasi.

Estimasi dan pemodelan cadangan merupakan suatu hal yang sangat penting
dalam tahap evaluasi penambangan, karena keputusan teknis yang berhubungan
dengan kegiatan penambangan sangat bergantung pada jumlah cadangan. Metode
estimasi cadangan yang berkembang saat ini cukup banyak, namun salah satu
metode estimasi yang terbaik yang berhubungan dengan pemodelan dan
perhitungan cadangan adalah metode geostatistik berupa kriging. Metode
kriging tersebut diterapkan dalam penelitian ini untuk melakukan estimasi
dan pemodelan cadangan
nikel laterit daerah Pulau Gee, Halmahera timur,
Propinsi Maluku Utara.
Metode kriging yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ordinary
kriging blok 3 (tiga) dimensi karena mempertimbangkan penggunaan data dalam
aspek ruang tiga dimensi. Pemodelan dan perhitungan cadangan dilakukan
berdasarkan konsep model blok, dimana cadangan dibagi menjadi unit-unit
blok untuk memperoleh variabel taksiran cadangan secara detail. Adapun
variabel taksiran yang digunakan dalam melakukan estimasi
cadangan
nikel laterit ini yaitu data kadar nikel (Ni) dan besi (Fe).
Dimensi unit-unit blok cadangan yang digunakan adalah 25 25 1 meter yang
disesuaikan dengan daerah pengaruh lubang bor dan spasi assay per meter
kedalaman yang dilakukan terhadap conto bor.

Berdasarkan analisis variogram, dapat diketahui karakterisik spasial antar
data. Dimana, data pada arah horizontal memiliki daerah pengaruh (range)
sebesar 35-43 meter dan pada arah vertikal memiliki daerah pengaruh sebesar
10-15 meter. Pada beberapa lokasi yaitu Blok Utara dan Blok Selatan A,
variogram memiliki nugget effect yang cukup tinggi yang menunjukkan adanya
data yang bersifat erratic.

Batuan induk bijih nikel adalah batuan peridotit.
Menurut Vinogradov batuan ultra basa rata-rata mempunyai kandungan nikel
sebesar 0,2 %. Unsur nikel tersebut terdapat dalam kisi-kisi kristal
mineral olivin dan piroksin, sebagai hasil substitusi terhadap atom Fe dan
Mg. Proses terjadinya substitusi antara Ni, Fe dan Mg dapat diterangkan
karena radius ion dan muatan ion yang hampir bersamaan di antara unsur-
unsur tersebut. Proses serpentinisasi yang terjadi pada batuan peridotit
akibat pengaruh larutan hydrothermal, akan merubah batuan peridotit menjadi
batuan serpentinit atau batuan serpentinit peroditit. Sedangkan proses
kimia dan fisika dari udara, air serta pergantian panas dingin yang bekerja
kontinu, menyebabkan disintegrasi dan dekomposisi pada batuan induk.
Pada pelapukan kimia khususnya, air tanah yang kaya akan CO2 berasal dari
udara dan pembusukan tumbuh-tumbuhan menguraikan mineral-mineral yang tidak
stabil (olivin dan piroksin) pada batuan ultra basa, menghasilkan Mg, Fe,
Ni yang larut; Si cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel silika
yang sangat halus. Didalam larutan, Fe teroksidasi dan mengendap sebagai
ferri-hydroksida, akhirnya membentuk mineral-mineral seperti geothit,
limonit, dan haematit dekat permukaan. Bersama mineral-mineral ini selalu
ikut serta unsur cobalt dalam jumlah kecil.
Larutan yang mengandung Mg, Ni, dan Si terus menerus kebawah selama
larutannya bersifat asam, hingga pada suatu kondisi dimana suasana cukup
netral akibat adanya kontak dengan tanah dan batuan, maka ada kecenderungan
untuk membentuk endapan hydrosilikat. Nikel yang terkandung dalam rantai
silikat atau hydrosilikat dengan komposisi yang mungkin bervariasi tersebut
akan mengendap pada celah-celah atau rekahan-rekahan yang dikenal dengan
urat-urat garnierit dan krisopras. Sedangkan larutan residunya akan
membentuk suatu senyawa yang disebut saprolit yang berwarna coklat kuning
kemerahan. Unsur-unsur lainnya seperti Ca dan Mg yang terlarut sebagai
bikarbonat akan terbawa kebawah sampai batas pelapukan dan akan diendapkan
sebagai dolomit, magnesit yang biasa mengisi celah-celah atau rekahan-
rekahan pada batuan induk. Dilapangan urat-urat ini dikenal sebagai batas
petunjuk antara zona pelapukan dengan zona batuan segar yang disebut dengan
akar pelapukan (root of weathering).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan bijih nikel laterit ini adalah:
a. Batuan asal. Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk
terbentuknya endapan nikel laterit, macam batuan asalnya adalah batuan
ultra basa. Dalam hal ini pada batuan ultra basa tersebut: - terdapat
elemen Ni yang paling banyak diantara batuan lainnya - mempunyai mineral-
mineral yang paling mudah lapuk atau tidak stabil, seperti olivin dan
piroksin - mempunyai komponen-komponen yang mudah larut dan memberikan
lingkungan pengendapan yang baik untuk nikel.
b. Iklim. Adanya pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana
terjadi kenaikan dan penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan
terjadinya proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperatur

yang cukup besar akan membantu terjadinya pelapukan mekanis, dimana akan
terjadi rekahan-rekahan dalam batuan yang akan mempermudah proses atau
reaksi kimia pada batuan.
c. Reagen-reagen kimia dan vegetasi. Yang dimaksud dengan reagen-reagen
kimia adalah unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang membantu mempercepat
proses pelapukan. Air tanah yang mengandung CO2 memegang peranan penting
didalam proses pelapukan kimia. Asam-asam humus menyebabkan dekomposisi
batuan dan dapat merubah pH larutan. Asam-asam humus ini erat kaitannya
dengan vegetasi daerah. Dalam hal ini, vegetasi akan mengakibatkan: •
penetrasi air dapat lebih dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar
pohon-pohonan • akumulasi air hujan akan lebih banyak • humus akan lebih
tebal Keadaan ini merupakan suatu petunjuk, dimana hutannya lebat pada
lingkungan yang baik akan terdapat endapan nikel yang lebih tebal dengan
kadar yang lebih tinggi. Selain itu, vegetasi dapat berfungsi untuk menjaga
hasil pelapukan terhadap erosi mekanis.
d. Struktur. Struktur yang sangat dominan yang terdapat didaerah Polamaa
ini adalah struktur kekar (joint) dibandingkan terhadap struktur
patahannya. Seperti diketahui, batuan beku mempunyai porositas dan
permeabilitas yang kecil sekali sehingga penetrasi air sangat sulit, maka
dengan adanya rekahan-rekahan tersebut akan lebih memudahkan masuknya air
dan berarti proses pelapukan akan lebih intensif.
e. Topografi. Keadaan topografi setempat akan sangat mempengaruhi sirkulasi
air beserta reagen-reagen lain. Untuk daerah yang landai, maka air akan
bergerak perlahan-lahan sehingga akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan
penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan.
Akumulasi andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai
kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti
bentuk topografi. Pada daerah yang curam, secara teoritis, jumlah air yang
meluncur (run off) lebih banyak daripada air yang meresap ini dapat
menyebabkan pelapukan kurang intensif.
f. Waktu. Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup
intensif karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi.
Profil nikel laterit keseluruhan terdiri dari 4 zona gradasi sebagai
berikut :
1. Iron Capping : Merupakan bagian yang paling atas dari suatu penampang
laterit. Komposisinya adalah akar tumbuhan, humus, oksida besi dan sisa-
sisa organik lainnya. Warna khas adalah coklat tua kehitaman dan bersifat
gembur. Kadar nikelnya sangat rendah sehingga tidak diambil dalam
penambangan. Ketebalan lapisan tanah penutup rata-rata 0,3 s/d 6 m.
berwarna merah tua, merupakan kumpulan massa goethite dan limonite. Iron
capping mempunyai kadar besi yang tinggi tapi kadar nikel yang rendah.
Terkadang terdapat mineral-mineral hematite, chromiferous.
2. Limonite Layer : Merupakan hasil pelapukan lanjut dari batuan beku
ultrabasa. Komposisinya meliputi oksida besi yang dominan, goethit, dan
magnetit. Ketebalan lapisan ini rata-rata 8-15 m. Dalam limonit dapat
dijumpai adanya akar tumbuhan, meskipun dalam persentase yang sangat kecil.
Kemunculan bongkah-bongkah batuan beku ultrabasa pada zona ini tidak
dominan atau hampir tidak ada, umumnya mineral-mineral di batuan beku basa-
ultrabasa telah terubah menjadi serpentin akibat hasil dari pelapukan yang
belum tuntas. fine grained, merah coklat atau kuning, lapisan kaya besi
dari limonit soil menyelimuti seluruh area. Lapisan ini tipis pada daerah

yang terjal, dan sempat hilang karena erosi. Sebagian dari nikel pada zona
ini hadir di dalam mineral manganese oxide, lithiophorite. Terkadang
terdapat mineral talc, tremolite, chromiferous, quartz, gibsite, maghemite.
3. Silika Boxwork : putih - orange chert, quartz, mengisi sepanjang
fractured dan sebagian menggantikan zona terluar dari unserpentine fragmen
peridotite, sebagian mengawetkan struktur dan tekstur dari batuan asal.
Terkadang terdapat mineral opal, magnesite. Akumulasi dari garnierite-
pimelite di dalam boxwork mungkin berasal dari nikel ore yang kaya silika.
Zona boxwork jarang terdapat pada bedrock yang serpentinized.
4. Saprolite : Zona ini merupakan zona pengayaan unsur Ni. Komposisinya
berupa oksida besi, serpentin sekitar <0,4% kuarsa magnetit dan tekstur
batuan asal yang masih terlihat. Ketebalan lapisan ini berkisar 5-18 m.
Kemunculan bongkah-bongkah sangat sering dan pada rekahan-rekahan batuan
asal dijumpai magnesit, serpentin, krisopras dan garnierit. Bongkah batuan
asal yang muncul pada umumnya memiliki kadar SiO2 dan MgO yang tinggi serta
Ni dan Fe yang rendah. campuran dari sisa-sisa batuan, butiran halus
limonite, saprolitic rims, vein dari endapan garnierite, nickeliferous
quartz, mangan dan pada beberapa kasus terdapat silika boxwork, bentukan
dari suatu zona transisi dari limonite ke bedrock. Terkadang terdapat
mineral quartz yang mengisi rekahan, mineral-mineral primer yang
terlapukkan, chlorite. Garnierite di lapangan biasanya diidentifikasi
sebagai kolloidal talc dengan lebih atau kurang nickeliferous serpentin.
Struktur dan tekstur batuan asal masih terlihat.
5. Bedrock : bagian terbawah dari profil laterit. Tersusun atas bongkah
yang lebih besar dari 75 cm dan blok peridotit (batuan dasar) dan secara
umum sudah tidak mengandung mineral ekonomis (kadar logam sudah mendekati
atau sama dengan batuan dasar). Batuan dasar merupakan batuan asal dari
nikel laterit yang umumnya merupakan batuan beku ultrabasa yaitu harzburgit
dan dunit yang pada rekahannya telah terisi oleh oksida besi 5-10%,
garnierit minor dan silika > 35%. Permeabilitas batuan dasar meningkat
sebanding dengan intensitas serpentinisasi.Zona ini terfrakturisasi kuat,
kadang membuka, terisi oleh mineral garnierite dan silika. Frakturisasi ini
diperkirakan menjadi penyebab adanya root zone yaitu zona high grade Ni,
akan tetapi posisinya tersembunyi.

Nikel laterite merupakan sumber bahan tambang yang sangat penting,
menyumbang terhadap 40% dari produksi nikel dunia. Endapan nikel laterite
terbentuk dari hasil pelapukan yang dalam dari batuan induk dari jenis
ultrabasa. Umumnya terbentuk pada iklim tropis sampai sub-tropis. Saat ini
kebanyakan nikel laterite memang terbentuk di daerah ekuator. Negara
penghasil nikel laterite di dunia diantaranya New Caledonia, Kuba,
Philippines, Indonesia, Columbia dan Australia.
yang kaya akan Nikel; Garnierite ( max. Ni 40%). Ni terlarut (leached) dari
fase limonite (Fe Oxyhydroxide) dan terendapkan bersama mineral silicate
hydrous atau mensubtitusi unsure Mg pada serpentinite yang teralterasi
(Pelletier,1996). Jadi, meskipun nikel laterite adalah produk pelapukan,
tapi dapat dikatakan juga bahwa proses enrichment supergene sangat penting
dalam pembentukan formasi dan nilai ekonomis dari endapan hydrous silicate
ini. Type ini dapat ditemui dibeberapa tempat seperti di New Caledonia,
Indonesia, Philippines.Dominika dan Columbia.

Istilah “laterite” bisa diartikan sebagai endapan yang kaya akan iron-
oxide, miskin unsure silica dan secara intensif ditemukan pada endapan
lapukan di iklim tropis (eggleton, 2001). Ada juga yang mengartikan nikel
laterite sebagai endapan lapukan yang mengandung nikel dan secara ekonomis
dapat di tambang.
Batuan induk dari endapan Nikel Laterite adalah batuan ultrabasa; umumnya
harzburgite (peridotite yang kaya akan unsur ortopiroksen), dunite dan
jenis peridotite yang lain.

Proses Kimia Pembentukan Nikel
Nikel terbentuk bersama mineral silikat kaya akan unsur Mg (ex;olivin).
Olivin adalah jenis mineral yang tidak stabil selama pelapukan berlangsung.
Saprolite adalah produk pelapukan pertama, meninggalkan sedikitnya 20%
fabric dari batuan aslinya (parent rock). Batas antara batuan dasar,
saprolite dan wathering front tidak jelas dan bahkan perubahannya
gradasional. Endapan nikel laterite dicirikan dengan adanya speroidal
weathering sepanjang joints dan fractures ( boulder saprolite). Selama
pelapukan berlangsung, Mg larut dan Silika larut bersama groundwater. Ini
menyebabkan fabric dari batuan induknya is totally change. Sebagai
hasilnya, Fe-Oxide mendominasi dengan membentuk lapisan horizontal diatas
saprolite yang sekarang kita kenal sebagai Limonite. Benar bahwa Nikel
berasosiasi dengan Fe-Oxide terutama dari jenis Goethite. Rata-rata nikel
berjumlah 1.2 %.
Kondisi Mineralogy
Endapan nikel laterite terbentuk baik pada mineral jenis silicate atau
oxide. Kemiripan radius ion Ni2+ dan Mg2+ memungkinkan substitusi ion
diantara keduanya. Umumnya, mineral bijih dari jenis hidrous silicate
seperti talc, smectite, sepiolite, dan chlorite terbentuk selama proses
metamorphisme temperature rendah dan selama proses pelapukan dari batuan
induk. Umumnya, mineral – mineral tersebut mempunyai variasi ratio Mg dan
Ni. Mineral garnierite dari jenis silicate mempunyai ciri poor kristalin,
texture afanitik, dan berstuktur seperti serpentinite (Brindley,1978).
Genesis of Nikel Laterite
Umunya Nikel deposit terbentuk pada batuan ultrabasa dengan kandungan Fe di
olivine yang tinggi dan Nikel berkadar antara 0.2% – 0.4% wt. Secara
mineralogi nikel laterite dapat dibagi kedalam tiga kategori (Brand et
all.,1998)
1.Hydrous Silicate Deposits
Profil dari type ini dari vertical dari bawah ke atas : Ore horizon pada
lapisan saprolite (Mg-Ni silicate), grade Nikel antara 1.8% – 2.5%. Pada
zona ini berkembang box-works (apa tuh..), veining, relic structure,
fracture dan grain boundaries dan dapat terbentuk mineral
1.Clay Silicate Deposits
Pada jenis endapan ini, Si hanya sebagian terlarut oleh melalui
groundwater. Si yang tersisa akan bergabung dengan Fe,Ni,dan Al untuk
membentuk mineral lempung (clay minerals) seperti Ni-rich Notronite pada
bagian tengah profil saprolite (see profile). Ni-rich serpentine juga dapat

di replace oleh smectite atau kuarsa jika profile deposit ini tetap kontak
dalam waktu lama dengan groundwater. Ni grade pada endapan ini lebih rendah
dari Hydrosilicate deposit (1.2%;Brand et all,1998).
1.Oxide Deposits
Type terakhir adalah Oxide. Profile bawah menunjukkan Protolith dari jenis
harzburgitic peridotites (mostly mineral olivine,serpentine, piroksen),
sangat rentan terhadap pelapukan terutama di daerah tropis. Diatasnya
terbentuk saprolite dan mendekati permukaan terbentuk limonite dan
ferricrete (dipermukaan) ( see profile). Pada tipe deposit oxide ini, Nikel
berasosiasi dengan Goethite (FeOOH) dan Mn Oxide.
Sebagai tambahan, Nikel laterite sangat jarang atau tidak sama sekali
terbentuk pada batuan carbonate mengandung mineral talc.
Tektonik Setting
Nikel laterite berkembang di kompleks Ophiolite pada rentang waktu
Phanerozoic, terutama Cretaseous-Miosen. Ophiolite ini telah mengalami
fault dan joint sebagai efek dari tectonic uplift yang dapat memicu
intensitas pelapukan dan perubahan pada water table level. Deposit Nikel
lainnya ditemukan pada Archean Craton yang tergolong stabil berasosiasi
dengan layer mafic complexes and komatiite (Butt,1975). Semakin banyak zona
shear dan steep fault ( normal??), semakin tinggi pula tingkat enrichment
proses untuk menghasilkan grade Nikel yang tinggi. Sebaliknya, zona thrust
fault berasosiasi dengan emplacement kompleks ophiolite dan bersama dengan
greenstone membentuk zona serpentine milonite atau talc-carbonates-altered
ultramafic rocks. Komposisi seperti itu tidak memungkinkan terbentuknya
Nikel pada endapan residu (regolith/lapukan).
Kondisi Topografi dan Morfologi
Dua faktor tersebut sangat penting dalam endapan nikel laterit karena
kaitannya dengan posisi water table, stuktur dan drainage. Zona enrichment
nikel laterite berada di topografi bagian atas (upper hill slope,crest,
plateau, atau terrace). Kondisi water table pada zona ini dangkal,apalagi
ditambah dengan adanya zona patahan n shear or joint. In consequence, akan
mempercepat proses palarutan kimia (leaching processes) yang pada akhirnya
akan terbentuk endapan saprolite mengandung nikel yang cukup tebal. Kondisi
seperti ini dapat dijumpai di beberapa tempat sepeti Indonesia,New
Caledonia, Ural (Russia) dan Columbia. Sebaliknya, pada topografi yang
rendah, water table yang dalam akan menghambat proses pelarutan unsur –
unsur dari batuan induk (baca:enrichment proses).
Iklim
Tempat – tempat yang beriklim tropis seperti Indonesia, Columbia
memungkinkan untuk terjadinya endapan Nikel laterite. Kondisi curah hujan
yang tinggi,temperatur yang hangat ditambah dengan aktivitas biogenic akan
mempercepat proses pelapukan kimia, dimana Nikel laterite bisa mudah
terbentuk.
4. NIKEL
Sifat-sifat nikel :
• Putih mengkilat
• Sangat keras
• Tidak berkarat
• Tahan terhadap asam encer

Bijih nikel yang utam adalah nikel sulfida . Nikel-nikel yang diekspor
dalam bentuk 3 macam yaitu bijih, nikel kasar, dan ferronikel. Daerah
penambangan nikel ada di Koala, Soroako, Maluku Utara. Cara penambangan
nikel melalui berbagai cara , antara lain ;
• Penebangan pohon dan semak
• Pengupasan tanah permukaan
• Penggalian dengan sistem tangga (benching system) yaitu dimulai dari
bawah ke atas mengikuti garis kontur dengan alat gali power shovel atau
dozer shovel
Pengolahan nikel melalui beberapa tahap , yaitu :
• Pemanggangan
• Peleburan
• Elektrolisis
Penggunaan Nikel
• Untuk melapisi barang yang terbuat dari besi, tembaga, baja karena nikel
mempunyai sifat keras, tahan korosi dan mudah mengkilap jika digosok.
• Untuk membuat baja tahan karat (stailess stell)
• Untuk membuat aliase dengan tembaga dan beberapa logam lain seperti :
a. Monel (Ni, Cu, Fe)
Digunakan untuk membuat instrumen tranmisi listrik
b. Nikrom(Ni,Fe,Cr)
Digunakan sebagai kawat pemanas
c. Alniko (Al, Ni, fe, Co)
Untuk membuat magnet.
d. Palinit dan Invar yaitu paduan nikel yang mempunyai koefisien muai yang
sama dengan gelas yang digunakan sebagai kawat listrik yang ditanam dalam
kaca, misalnya pada bolam lampu pijar.
e. Serbuk nikel digunakan sebagai katalisator, misalnya pada hidrogenansi
(pemadatan) minyak kelapa, juga pada cracking minyak bumi.
Genesa Endapan Nikel Akibat Replacement
Unsure logam Ni dan Co sebagai penyusun utama magma basa hadir dalam
Kristal olivine dan enstatite karena adanya kesamaan jari-jari ion (Ni=
0,78 A dan Co = 0,82 A) dengan jari-jari mg dan Fe sehingga Ni dan Co dapat
bertukar (proses replacement) dengan Mgf dan Fe pada jaringan mineral asli.
Ni dan Co menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam batuan peridotit,
dimana dalam keadaan segar mengandung Ni sebesar 0,1% sampai 0,3 %
( Prijono, 1977)

Genesa Endapan Nikel Laterit
Tubuh endapan nikel laterit terbentuk setelah tubuh batuan beku tersingkap
di permukaan dan mengalami pelapukan secara terus – menerus yang
mengakibatkan batuan menjadi
Batuan induk bijih nikel adalah batuan peridotit. Menurut Vinogradov batuan
ultra basa rata-rata mempunyai kandungan nikel sebesar 0,2 %. Unsur nikel
tersebut terdapat dalam kisi-kisi kristal mineral olivin dan piroksin,
sebagai hasil substitusi terhadap atom Fe dan Mg. Proses terjadinya
substitusi antara Ni, Fe dan Mg dapat diterangkan karena radius ion dan
muatan ion yang hampir bersamaan di antara unsur-unsur tersebut. Proses
serpentinisasi yang terjadi pada batuan peridotit akibat pengaruh larutan
hydrothermal, akan merubah batuan peridotit menjadi batuan serpentinit atau
batuan serpentinit peroditit. Sedangkan proses kimia dan fisika dari udara,
air serta pergantian panas dingin yang bekerja kontinu, menyebabkan
disintegrasi dan dekomposisi pada batuan induk.

Pada pelapukan kimia khususnya, air tanah yang kaya akan CO2 berasal dari
udara dan pembusukan tumbuh-tumbuhan menguraikan mineral-mineral yang tidak
stabil (olivin dan piroksin) pada batuan ultra basa, menghasilkan Mg, Fe,
Ni yang larut; Si cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel silika
yang sangat halus. Didalam larutan, Fe teroksidasi dan mengendap sebagai
ferri-hydroksida, akhirnya membentuk mineral-mineral seperti geothit,
limonit, dan haematit dekat permukaan. Bersama mineral-mineral ini selalu
ikut serta unsur cobalt dalam jumlah kecil.
Larutan yang mengandung Mg, Ni, dan Si terus menerus kebawah selama
larutannya bersifat asam, hingga pada suatu kondisi dimana suasana cukup
netral akibat adanya kontak dengan tanah dan batuan, maka ada kecenderungan
untuk membentuk endapan hydrosilikat. Nikel yang terkandung dalam rantai
silikat atau hydrosilikat dengan komposisi yang mungkin bervariasi tersebut
akan mengendap pada celah-celah atau rekahan-rekahan yang dikenal dengan
urat-urat garnierit dan krisopras. Sedangkan larutan residunya akan
membentuk suatu senyawa yang disebut saprolit yang berwarna coklat kuning
kemerahan. Unsur-unsur lainnya seperti Ca dan Mg yang terlarut sebagai
bikarbonat akan terbawa kebawah sampai batas pelapukan dan akan diendapkan
sebagai dolomit, magnesit yang biasa mengisi celah-celah atau rekahan-
rekahan pada batuan induk. Dilapangan urat-urat ini dikenal sebagai batas
petunjuk antara zona pelapukan dengan zona batuan segar yang disebut dengan
akar pelapukan (root of weathering).

EKSPLORASI ENDAPAN NIKEL LATERIT

Pendahuluan

Secara umum endapan nikel laterit dibedakan menjadi beberapa bagian
lapisan (Elias,
et al., 1981) yaitu :
a.Tanah penutup (
Overburden).
Merupakan bagian yang paling atas dari suatu penampang laterit.
Komposisinya adalah akar tumbuhan, humus, oksida besi dan sisa-sisa
organik lainnya. Warna khas adalah coklat tua kehitaman dan bersifat
gembur. Kadar nikelnya sangat rendah sehingga tidak diambil dalam
penambangan. Ketebalan lapisan tanah penutup rata-rata 0,3 s/d 6 m.

b.Limonit

Merupakan hasil pelapukan lanjut dari batuan beku ultrabasa.
Komposisinya meliputi oksida besi yang dominan, goethit, dan magnetit.
Ketebalan lapisan ini rata-rata 8-15 m. Dalam limonit dapat dijumpai
adanya akar tumbuhan, meskipun dalam persentase yang sangat kecil.
Kemunculan bongkah-bongkah batuan beku ultrabasa pada zona ini tidak
dominan atau hampir tidak ada, umumnya mineral-mineral di batuan beku
basa-ultrabasa telah terubah menjadi serpentin akibat hasil dari
pelapukan yang belum tuntas.

c. Saprolit

Zona ini merupakan zona pengayaan unsur Ni. Komposisinya berupa oksida
besi, serpentin sekitar <0,4% kuarsa magnetit dan tekstur batuan asal
yang masih terlihat. Ketebalan lapisan ini berkisar 5-18 m. Kemunculan
bongkah-bongkah sangat sering dan pada rekahan-rekahan batuan asal
dijumpai magnesit, serpentin, krisopras dan garnierit. Bongkah batuan
asal yang muncul pada umumnya memiliki kadar SiO2 dan MgO yang tinggi
serta Ni dan Fe yang rendah.
c.Batuan dasar (
Bedrock).
Batuan dasar merupakan batuan asal dari nikel laterit yang umumnya
merupakan batuan beku ultrabasa yaitu harzburgit dan dunit yang pada
rekahannya telah terisi oleh oksida besi 5-10%, garnierit minor dan
silika > 35%. Permeabilitas batuan dasar meningkat sebanding dengan
intensitas serpentinisasi.

WARNA
PROFIL ZONA

KE
DALAM
AN (m)

KANDUNGAN UNSUR
(% berat total)

Ni

Co

Fe

MgO

SiO2

Tanah
Penutu
p

0.3-6

<0.8

<0.1

>50

<0.5

<7

Limoni
t

8-15

0.8-
1.5

0.1-
0.2

40-50

0.5-
5

7-10

Saprol
it

5-18

1.5-
3

0.02-
0.1

10-25

15-
35

33-
35

Batuan
Dasar

0.3

0.01

5

35-
45

>35

Profil lapisan endapan nikel laterit (Elias M., et. al., 1981)

Exercise :

Dari peta dasar yang telah tersedia pada Lapangan “SDW”, terdapat
lokasi/titik-titik pengeboran dangkal. Analisa kimia terhadap sampel batuan
hasil pengeboran dilakukan untuk mengetahui persentase dari unsur Ni, Co,
Fe, MgO, SiO2, dan CaO. Berdasarkan data-data yang tersedia, maka tugas
anda adalah:

Berdasarkan data pengeboran:
Tentukanlah zona/profil lapisan endapan nikel laterit! (Gunakan klasifikasi
Elias,
et. al., (1981)).
Buatlah korelasi zona/profil lapisan endapan nikel laterit berdasarkan
pekerjaan 1 yang telah anda kerjakan sebelumnya, yang melewati:
Section 1: GBR1 - PX3 – PX2 – HGT11 – HGT5 – SPT1 – SPT4 – DNT4
Section 2: HGT3 – HGT4 – HGT9 – HGT10 – HGT11 – HGT6 – HGT7
Section 3: DNT1 – DNT3 – DNT2 – DBS1
PETUNJUK:

Untuk membuat penampang gunakan data elevasi masing-masing
sumur, jarak antar sumur dan kedalaman harus refresentatif!!!)

Dalam melakukan korelasi perhatikan topografi!!! Karena endapan
ini berhubungan dengan proses pelapukan.

Berdasarkan data kandungan Ni, Co, Fe, MgO, SiO 2, dan CaO:
Buatlah grafik yang menggambarkan variasi kandungan unsur Fe, MgO, dan SiO2
terhadap kedalaman untuk setiap sumur. Berikan analisa anda mengenai
kondisi endapan nikel laterit di daerah ”SDW”!! Dan tentukan tipe dari
endapan nikel laterit tersebut (laterit lempungan, laterit silikaan,
atau laterit oksida???).
Buatlah grafik yang menggambarkan variasi kandungan Ni dan Co terhadap
kedalaman. Bagaimanakah hubungan antara kandungan Ni dan Co untuk setiap
batuan yang berbeda dan masing-masing profil endapan nikel laterit?
(Catatan: kode sumur menunjukkan komposisi batuan, GBR: Gabro – PX:
Piroksenit – HGT: Harzburgit – SPT: Serpentinit – DNT: Dunit – DBS:
Diabas).

Jika akan dilakukan penambangan, daerah dengan batuan dan pada zona apa
yang akan anda usulkan untuk penambangan Ni dan Co? (dengan anggapan
cut
off grade untuk Ni 1.5% dan Co 0.1%)

(Data pengeboran menggunakan interval kedalaman, untuk pengeplotan
kandungan unsur gunakan nilai bottom dari masing-masing interval kedalaman
tersebut!!!)

Genesa endapan bijih tembaga secara garis besar dapat dibagi 2 (dua)
kelompok, yaitu genesa primer dan genesa sekunder.

1.Genesa Primer
Logam tembaga, proses genesanya berada dalam lingkungan magmatik, yaitu
suatu proses yang berhubungan langsung dengan intrusi magma. Bila magma
mengkristal maka terbentuklah batuan beku atau produk-produk lain. Produk
lain itu dapat berupa mineral-mineral yang merupakan hasil suatu
konsentrasi dari sejumlah elemen-elemen minor yang terdapat dalam cairan
sisa.
Pada keadaan tertentu magma dapat naik ke permukaan bumi melalui rekahan-
rekahan (bagian lemah dari batuan) membentuk terowongan (intrusi). Ketika
mendekati permukaan bumii, tekanan magma berkurang yang menyebabkan bahan
volatile terlepas dan temperatur yang turun menyebabkan bahan non volatile
akan terinjeksi ke permukaan lemah dari batuan samping (country rock)
sehingga akan terbentuk pegmatite dan hidrotermal.
Endapan pegmatite sering dijumpai berhubungan dengan batuan plutonik tapi
umumnya granit yang kaya akan unsur alkali, aluminium, kuarsa dan beberapa
muskovit dan biotit.
Endapan hidrotermalmerupakan endapan yang terbentuk dari proses pembentukan
endapan pegmatite lebih lanjut, dimana larutan bertambah dingin dan encer.
Cirri khas endapan hidrotermal adalah urat yang mengandung sulfida yang
terbentuk karena adanya pengisian rekahan (fracture) atau celah pada batuan
semula.
Endapan bijih tembaga porfiri merupakan suatu endapan bijih tembaga yang
mempunyai kadar rendah, tersebar relatif merata dengan jumlah cadangan yang
besar. Endapan bahan galian ini erat hubungannya dengan intrusi
batuan Complex Subvolcanic Calcaline yang bertekstur porfitik. Pada umumnya
berkomposisi granodioritik, sebagian terdeferensiasi ke batuan granitik dan
monzonit. Bijih tersebar dalam bentuk urat-urat sangat halus yang
membentuk meshed network sehingga derajat mineralisasinya merupakan fungsi
dari derajat retakan yang terdapat pada batuan induknya (hosted rock).
Mineralisasi bijih sulfidanya menunjukkan perkembangan yang sesuai dengan
pola ubahan hidrotermal.
Zona pengayaan pada endapan tembaga porfiri:
Zona pelindian.
Zona oksidasi.
Zona pengayaan sekunder.
Zona primer.
Reaksi yang terjadi pada proses pengayaan tersebut adalah :

5FeS2 + 14Cu2+ + 14SO42- + 12H2O 7Cu2S + 5Fe2+ + 2H+ + 17SO42-

Sifat susunan mineral bijih endapan tembaga porfiri adalah:
-Mineral utama terdiri : pirit, kalkopirit dan bornit.

-Mineral ikutan terdiri : magnetit, hematite, ilmenit, rutil, enrgit,
kubanit, kasiterit, kuebnit dan emas.
-Mineral sekunder terdiri : hematite, kovelit, kalkosit, digenit dan
tembaga natif.
Akibat dari pembentukannya yang bersal dari intrusi hidrotermal maka
mineralisasi bijih tembaga porfiri berasosiasi dengan batuan metamorf
kontak seperti kuarsit, marmer dan skarn.
2.Genesa Sekunder
Dalam pembahasan mineral yang mengalami proses sekunder terutama akan
ditinjau proses ubahan (alteration) yang terjadi pada mineral-mineral urat
(vein). Mineral sulfida yang terdapat di alam mudah sekali mengalami
perubahan. Mineral yang mengalami oksidasi dan berubah menjadi mineral
sulfida kebanyakan mempunyai sifat larut dalam air. Akhirnya didapatkan
suatu massa yang berongga terdiri dari kuarsa berkarat yang disebut Gossan
(penudung besi). Sedangkan material logam yang terlarut akan mengendap
kembali pada kedalaman yang lebih besar dan menimbulkan zona pengayaan
sekunder.
Pada zona diantara permukaan tanah dan muka air tanah berlangsung sirkulasi
udara dan air yang aktif, akibatnya sulfida-sulfida akan teroksidasi
menjadi sulfat-sulfat dan logam-logam dibawa serta dalam bentuk larutan,
kecuali unsur besi. Larutan mengandung logam tidak berpindah jauh sebelum
proses pengendapan berlangsung. Karbon dioksit akan mengendapkan unsur Cu
sebagai malakit dan azurit. Disamping itu akan terbentuk mineral lain
seperti kuprit, gunative, hemimorfit dan angelesit. Sehingga terkonsentrasi
kandungan logam dan kandungan kaya bijih.
Apabila larutan mengandung logam terus bergerak ke bawah sampai zona air
tanah maka akan terjadi suatu proses perubahan dari proses oksidasi menjadi
proses reduksi, karena bahan air tanah pada umumnya kekurangan oksigen.
Dengan demikian terbentuklah suatu zona pengayaan sekunder yang dikontrol
oleh afinitas bermacam logam sulfida.
Logam tembaga mempunyai afinitas yang kuat terhadap belerang, dimana
larutan mengandung tembaga (Cu) akan membentuk seperti pirit dan kalkopirit
yang kemudian menghasilkan sulfida-sulfida sekunder yang sangat kaya dengan
kandungan mineral kovelit dan kalkosit. Dengan cara seperti ini terbentuk
zona pengayaan sekunder yang mengandung konsentrasi tembaga berkadar tinggi
bila dibanding bijih primer.
Sumber : Diktat Kuliah - Mineralogi Endapan Bijih Tembaga (Cu)

Bijih adalah sejenis batu yang mengandung mineral penting, baik
itu logam maupun bukan logam. Bijih diekstraksi melalui penambangan,
kemudian hasilnya dimurnikan lagi untuk mendapatkan unsur-unsur yang
bernilai ekonomis.

Kandungan atau kadar mineral, atau logam, juga bentuk keujudannya, secara
langsung akan memengaruhi ongkos pertambangan bijih. Ongkos ekstraksi harus
diberi pembobotan untuk dibandingkan dengan nilai ekonomis logam yang
terkandung untuk menentukan bijih yang mana yang lebih menguntungkan dan
bijih yang mana yang kurang atau tidak menguntungkan. Bijih logam secara

umum merupakan persenyawaan oksida, sulfida, silikat, atau logam "murni"
(misalnya tembaga murni yang biasanya tidak terkumpul di dalam kerak Bumi
atau logam "mulia" (biasanya tidak berbentuk persenyawaan) seperti emas.
Bijih harus diolah untuk mengekstraksi logam-logam dari "batuan sampah" dan
dari mineral bijih. Tubuh bijih dibentuk oleh berbagai macam
proses geologis. Di dalam bahasa Inggris, proses "pembentukan bijih"
disebut sebagai
ore genesis.

Pembentukan

Proses terbentuknya bijih sangatlah kompleks. Sering lebih dari satu proses
bekerja bersama-sama. Meskipun dari satu jenis bijih, apabila terbentuk
oleh proses yang berbeda-beda, maka akan menghasilkan tipe endapan yang
berbeda-beda pula.

Proses pembentukan

Konsentrasi magmatik > deposit magmatik

1.Sublimasi > sublimat
2.Kontak metasomatisme > deposit kontak metasomatik
3.Konsentrasi hidrotermal > pengisian celah-celah terbuka (pertukaran
ion pada batuan)
4.Sedimentasi lapisan sedimenter (evaporit)
5.Pelapukan Konsentrasi residual
6.Metamorfisme > deposit metamorfik
7.Hidrologi > air tanah

Contoh proses pengendapan bijih besi

1.Diferensiasi magmatik
2.Larutan hidrotermal
3.Proses sedimentasi
4.Proses pelapukan

Kategorisasi endapan bijih besi

1.Mutu
2.Besar cadangan
3.Jenis mineral ikutan

Manfaat pengenalan proses pembentukan

1.Membantu dalam proses pencarian
2.Membantu dalam proses penemuan
3.Membantu dalam proses pengembangan bahan galian

Cadangan bijih

Cadangan bijih" atau "cebakan bijih" adalah timbunan bijih pada satu
kawasan yang ditentukan batas-batasnya. Ini berbeda dengan sumber daya
mineral yang didefinisikan menurut kriteria penggolongan sumber daya
mineral. Cadangan bijih adalah kenampakan satu jenis bijih tertentu.
Sebagian besar cadangan bijih dinamai menurut lokasinya (misalnya,
Witswatersrand, Afrika Selatan), atau menurut penemunya (misalnya cadangan
nikel kambalda dinamakan menurut pengebor perintisnya), atau menurut
lelucon, tokoh sejarah, tokoh terkemuka, mitologi (phoenix, kraken,
serepentleopard, dll) atau nama sandi perusahaan sumber daya yang
mendirikannya (misalnya MKD-5 adalah nama singkatan untuk perusahaan
tambang nikel Mount Keith).

Mineral bijih penting

Argenit :Ag2S untuk menghasilkan perak

Barit: BaSO4

Bauksit Al2O3 untuk menghasilkan aluminium

Beril: Be3Al2(SiO3)6

Bornit: Cu5FeS4

Kasiterit: SnO2

Kalkosit: Cu2S untuk menghasilkan tembaga

Kalkopirit: CuFeS2

Kromit: (Fe, Mg)Cr2O4 untuk menghasilkan kromium

Sinabar: HgS untuk menghasilkan Raksa
Kobaltit: (Co, Fe)AsS

Kolumbit-Tantalit atau Koltan: (Fe, Mn)(Nb, Ta)2O6

Galena: PbS
Emas: Au, biasanya berserikat dengan kuarsa atau sebagai cadangan

utama
Hematit: Fe2O3

Ilmenit: FeTiO3

Magnetit: Fe3O4

Molibdenit: MoS2

Pentlandit:(Fe, Ni)9S8

Pirolusit:MnO2

Skeelit: CaWO4

Sfalerit: ZnS
Uraninit: UO2 untuk menghasilkan uranium

Wolframit: (Fe, Mn)WO4

BAHAN GALIAN LOGAM

Bahan galian logam (bijih) atau ore dapat merupakan senyawa
Misal:
Calaverite AuTe2

Sylvanite (Ag.Au)Te2
Atau dalam bentuk unsur logam tunggal
Misal:
Native gold (Au)

Ore adalah batuan dan mineral, tidak hanya metal atau mineral yang mengan-
dung metal, tetapi beberapa non-metalik seperti sulfur dan
flourite juga
termasuk disebut
ore.
Yang tidak termasuk
ore: batuan, pasir untuk bangunan, lempung, garam. Ini
adalah batuan dan mineral industri atau mineral-mineral ekonomis. Sehingga
kita dengan mudah dapat memisahkan yang mana material industri atau mineral
bijih.

Teori modern mengenai ore diformulasikan oleh:

1.Georg Bauer atau Georgius Agricola pada abad 16, mengamati dan
mengobser-vasi
ore deposit. Beliau juga disebut sebagai BAPAK EKONOMI
GEOLOGI. Buku yang diterbitkan berjudul:
De re Metallica (tahun 1556)
2.Nicolaus Steno pada pertengahan abad 18: memberikan pandangan mengenai
tanggung jawab dan kontribusi seorang ahli geologi yang berhubungan
dengan geologi umum harus dihubungkan dengan mineral bijih; di mana
sebagai produksi/ kondensasi dari uap/gas yang naik melalui rekahan-
rekahan (
fisures).
3.Henkel (tahun 1725 dan 1727) dan Zimmerman (tahun 1746) memberi masukan
tentang pentingnya
hydrothermal solution atau uap yang berasal dari
bagian paling dalam (
deep seated origin) yang menghasilkan endapan bijih
karena proses metasomatisme (
replacement).
4.Von Oppel (tahun 1749) membuat perbedaan antara urat kuarsa (vein) dan
lapisan endapan (
bedded deposits), yaitu cross cutting features adalah
sekunder dan
open fissure adalah origin (primer), dan kemudian
menyesuaikan diri dengan lapisan
interbedded sedimen.
5.Delius (tahun 1770 dan 1773) mempelajari tentang alterasi batuan/bijih
oleh agen atmosfer, beliau juga mengamati perkembangan mineral sekunder
pada zone alterasi sebagai zone supergen.
6.Charpenter seorang profesor dari Jerman (tahun 1778 dan 1779) yakin
bahwa urat kuarsa (
vein) terbentuk oleh alterasi dari batuan induk
(
country rock) dan memotong batuan-batuan dinding yang di antaranya
terjadi silifikasi.
7.Gerhard (tahun 1781) menulis bahwa urat kuarsa (vein) membuka dan terisi
oleh sisa cairan magma atau mineral-mineral yang terbawa (
mineral
leached
) atau open fissure fillid dari dalam bumi.

Teori lateral secretion (batuan ore deposits berasal dari mineral cucian
(
mineral leached) dari wall rock oleh air (meteoric origin) dari
Charpenter dan Gerhard ini bertahan + 100 tahun (tahun 1882)

8.James Huton, a Scot dan Abraham Gottlob Wenner dari Jerman, mempredik-
sikan pengaruh yang luas tentang
ore deposits. Huton seorang plutonist
(tahun 1888 dan 1895) terkenal dengan teorinya: yaitu magma yang
berhubungan dengan endapan mineral logam, berasal dari perputaran cairan
sisa magma.

9.Joseph Bruneur (1801), Scipione Breaslak (1811) ahli geologi Italia
menyebutkan bahwa proses segregasi magma dapat menjelaskan bagaimana
mineral hadir terkonsentrasi dalam lapisan batuan beku.

10.

Spurr (1923) memodifikasi bahwa magma bijih (ore magma) diterima
sebagai pembawa/mengandung bodi bijih (
ore bodies).

11.

Werner seorang Neptunist menerangkan bahwa basalt, sandstone,
limestone, ore deposit terbentuk sebagai sedimen awal dalam lautan.
Dalam bukunya yang berjudul:
New teory of the formation of veins.
Diterangkan bahwa vein berasal dari dasar laut. Bermula dari
terbentuknya sebagai rekahan/
crack yang disebabkan oleh slumping atau
gempa bumi, kemudian
crack terisi oleh proses resapan kimia.

Hutton dan Werner yang terkenal dengan plutonist dan neptunist selama
bertahun-tahun mengadakan observasi dan menghasilkan bahwa lava bukan
suatu formasi sedimen, karena mereka melihat bahwa terdapat mineral-
mineral (termasuk mineral bijih) larut dan tertranspot serta terendapkan
dari media air/cairan. Sehingga dapat diketahui bahwa magmatisme dan
singenetis tidak dapat berdiri sendiri-sendiri.

Sebagai contoh:

nikel selalu berasosiasi dengan norites (batuan beku basa) dan
peridotit.
Kehadiran monsonit dan atau
quartz monzonite stock) akan ditemukan
dissemi-nated copper.
Timah akan ditemukan berasosiasi dengan siliceous plutonic rock (granit)
Hal ini merupakan bukti dari hubungan bijih dengan aktivitas volkanik
yaitu adanya fumarol atau mataair panas/
hot spring.

12.

Pada abad 19 banyak ilmuan terkenal yang menyumbangkan teori tentang
trans-portasi bijih dan pengendapannya. Di antaranya:
Von Cotta,
Sandberger dan Stelzner dari Jerman, Danbree dan Launay dari Perancis,
Poepny dari Bohemia, Phillips dari Inggris, Vogt dari Norwegia dan
Emmons dari amerika Serikat.

Secara umum banyak ilmu pengetahuan yang dikemukakan, tetapi para ahli
geologi masih belum mengetahui secara jelas, bahwa tidak ada teori
single yang dapat menjelaskan genesis endapan bijih secara keseluruhan.

13.

Pada abad 20, klasifikasi endapan bijih sangat meningkat dengan pesat,
dan
Lindgren (tahun 1907, 1913 dan 1922) mempopulerkan Genetic
Classification
atau klasifikasi deposit dari produk mekanika atau
konsentrasi kimia dan klasifikasi urat-urat hidrotermal (
hydrothermal
vein
). Dalam group Lindgren termasuk pirometa-somatik (batuan beku
metamorpik) dan deposit hidrotermal.

Berdasarkan atas proses cara terbentuknya bahan galian logam/mineral
bijih/ore dibagi menjadi 2 yaitu:

1.

Bijih primer = bijih hipogen
Bijih yang diendapkan pada saat terjadinya proses metalisasi

2.

Bijih sekunder = supergen
Bijih yang diendapkan sebagai akibat alterasi dari bijih primer, oleh
proses pelapuk-an dari air permukaan yang meresap ke dalam tanah.

Proses pembentukan bahan galian:

Proses terbentuknya bahan galian adalah sangat komplek. Sering lebih dari
satu proses bekerja bersama-sama.
Meskipun dari satu jenis bahan galian logam, apabila terbentuk oleh proses
yang berbeda-beda, maka akan menghasilkan tipe endapan yang berbeda pula.

Contoh endapan bijih besi dapat dihasilkan oleh:

1.

Diferensiasi magmatik

2.

Larutan hidrotermal

3.

Proses sedimentasi

4.

Proses pelapukan

Tiap-tiap proses akan menghasilkan endapan bijih besi yang berbeda dalam:

1.Mutu
2.Besar cadangan
3.Jenis mineral ikutan

Mengenal proses yang membentuk endapan bahan galian akan sangat membantu di
dalam:

1.pencarian
2.Penemuan
3. Pengembangan bahan galian

DaFINISI DAN KONSEP DASAR

Dasar dasar Geokimia :
Ada banyak definisi tentang geokimia, tetapi definisi yang dilakukan oleh
Goldschmidt menekankan pada dua aspek yaitu:
1. Distribusi unsur dalam bumi (deskripsi)
2. Prinsip-prinsip yang mengatur distribusi tersebut di atas (interpretasi)

Pada dasarnya definisi ini menyatakan bahwa geokimia mempelajari jumlah dan
distribusi unsur kimia dalam mineral, bijih, batuan tanah, air, dan
atmosfer. Tidak terbatas pada penyelidikan unsur kimia sebagai unit
terkecil dari material, juga kelimpahan dan distribusi isotop-isotop dan
kelimpahan serta distribusi inti atom.

Eksplorasi geokimia khusus mengkonsentrasikan pada pengukuran kelimpahan,
distribusi, dan migrasi unsur-unsur bijih atau unsur-unsur yang berhubungan
erat dengan bijih, dengan tujuan mendeteksi endapan bijih. Dalam pengertian
yang lebih sempit eksplorasi geokimia adalah pengukuran secara sistematis
satu atau lebih unsur jejak dalam batuan, tanah, sedimen sungai aktif,
vegetasi, air, atau gas, untuk mendapatkan anomali geokimia, yaitu
konsentrasi abnormal dari unsur tertentu yang kontras terhadap
lingkungannya (background geokimia).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->