P. 1
53_Kajian Kebijakan Kurikulum Penjasorkes

53_Kajian Kebijakan Kurikulum Penjasorkes

|Views: 1,219|Likes:
Published by Sayidatul_Ulum_2306

More info:

Published by: Sayidatul_Ulum_2306 on Sep 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/06/2013

pdf

text

original

NASKAH AKADEMIK PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PUSAT KURIKULUM 2007

KATA PENGANTAR Pemberlakuan UU Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah menuntut cara pandang yang berbeda tentang pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Dulu, pengembangan kurikulum dilakukan oleh pusat dalam hal ini Pusat Kurikulum sedangkan pelaksanaannya dilakukan oleh satuan pendidikan. Pengembangan kurikulum yang dilakukan langsung oleh satuan pendidikan memberikan harapan tidak ada lagi permasalahan berkenaan dengan pelaksanaannya. Hal ini karena penyusunan kurikulum satuan pendidikan seharusnya telah mempertimbangkan segala potensi dan keterbatasan yang ada. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengacu pada standar nasional pendidikan: standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Salah satu dari ke delapan standar nasional pendidikan tersebut, yakni standar isi (SI) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum disamping standar kompetensi lulusan (SKL). Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Pengembangan kurikulum telah dilakukan oleh sebagian satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dengan mengacu pada standar isi. Sebagai acuan, standar isi ini masih perlu ditelaah. Penelaahan dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang adatidaknya rumusan pada standar isi yang menimbulkan permasalahan bila digunakan untuk mengembangkan kurikulum. Sebagai naskah, kurikulum yang telah dikembangkan oleh satuan pendidikan juga perlu ditelaah. Penelaahan terhadap naskah kurikulum dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang kemungkinan keterlaksanaannya. Penelaahan standar isi dan kurikulum dilakukan melalui berbagai tahapan kegiatan pengkajian. Salah satu hasil kajian tersebut adalah Naskah Akademik Kebijakan Kurikulum Penjasorkes. Hasil kajian ini memberikan gambaran tentang muatan naskah standar isi dan kurikulum sebagai masukan bagi perumus kebijakan pendidikan lebih lanjut. Pusat Kurikulum menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada banyak pakar yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, Direktorat di lingkungan Depdiknas, kepala sekolah, pengawas, guru, dan praktisi pendidikan, serta Depag. Berkat bantuan dan kerja sama yang baik dari mereka, naskah akademik ini dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.

Kepala Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas,

Diah Harianti

Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007

i

pakar dari Universitas (PT). Dari segi pelaksanaan dapat ditemukan beberapa hal sebagai berikut: Tidak terlihat adanya pengayaan pendekatan. Terlalu melingkupi. 2002). Sebagai tindak lanjut dari temuan tersebut perlu: Revisi latar belakang standar isi mata pelajaran pendidikan jasmani. dan SMA). dan pemerhati pendidikan. gaya. SMP/MTs dan SMA/MA dengan melibatkan unsur dari puskur.”Proses belajar tidak lagi bersifat pengasuhan dan tugas ajar tidak lagi berasas DAP. tetapi lebih berwajah keras dan relatif penuh “hardikan. Kajian pelaksanaan standar isi di lapangan. Kegiatan dilaksanakan melalui Kajian dokumen. Menggabungan SK dan KD Uji diri dan Aktivitas Ritmik menjadi SK dan KD Aktivitas Senam. Rendahnya mutu hasil pembelajaran pendidikan jasmani dapat disimpulkan dari keluhan masyarakat olahraga yang mengindikasikan bahwa mutu bibit olahragawan usia dini dari sekolah-sekolah kita sangat rendah. tidak memasukkan unsur kognitif-reflektif.. Tujuan penyusunan naskah akademik adalah untuk memberikan pedoman yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi pengembang kurikulum masa depan mata pelajaran penjas. Diskusi Temuan yang dapat diperoleh dari kegiatan ini adalah. metode. bahwa Kurikulum 2004/SI Serba perilaku motorik. SMP. guru (SD. Pemisahkan SK dan KD permainan olahraga bola besar dan kecil. Dari survey yang dilakukan oleh Pusat Kesegaran jasmani Depdiknas terdahulu. Atletik dan Beladiri menjadi SK dan KD tersendiri. SK dan KD Pola Hidup Sehat direvitalisasi termuat pada mata pembelajaran IPA. diperoleh informasi bahwa hasil pembelajaran Penjas di sekolah secara umum hanya mampu memberikan efek kebugaran jasmani terhadap kurang lebih 15 persen dari keseluruhan populasi peserta didik (Ditjora. socio-motor dan afektif dalam ruang lingkupnya.Abstrak Rendahnya tingkat kebugaran jasmani peserta didik pada sekolah dari semua tingkat satuan pendidikan di Indonesia dapat dijadikan satu petunjuk umum bahwa mutu program pendidikan jasmani di Indonesia masih rendah. pengetahuan dan pemahaman bagi pihak terkait sehingga mereka dapat memberikan dukungan terhadap pengembang kurikulum masa depan dan sebagai acuan dasar dalam pelaksanaan pembelajaran penjas pada satuan pendidikan dasar dan menengah. Ruang lingkup naskah akademik adalah mencakup kajian standar isi mata pelajaran Penjasorkes SD/MI. seolah-olah semua materi “memungkinkan” untuk diimplementasikan di sekolah tanpa memperhatikan kondisi dan kemampuan sekolah. Dan yang perlu diperhatikan. bahwa Kurikulum Pendidikan Jasmani di masa depan selayaknya sudah mulai dirancang dengan memperhitungkan sebuah hasil ekstrapolasi tentang kondisi dan kebutuhan masyarakat di masa depan. Penjas terperangkap oleh paradigma dan orientasi tunggal “Pembinaan Usia Dini Pelatihan Olahraga. Seminar. model serta strategi pembelajaran. Berorientasi pada model kurikulum yang menekankan penguasaan teknik dasar dan keterampilan olahraga. Memberikan wawasan. agar mampu memainkan peranan yang strategis dalam upaya merekonstruksi masyarakat Indonesia di masa depan. Kajian literatur. Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 ii .”Guru Penjas tidak lagi santun.

Nilai Acuan Pengembangan Kurikulum Penjas BAB III : TEMUAN KAJIAN DAN PEMBAHASAN A.DAFTAR ISI BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Landasan Yuridis C. Tujuan D. Kajian Lapangan C. Pengertian Kurikulum Dan Permasalahannya B. Pembahasan Kajian Dokumen Dan Pelaksanaannya BAB IV : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Rekomendasi Daftar Pustaka 4 8 8 8 9 10 11 12 18 21 21 22 24 24 26 Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 iii . Kurikulum Pendidikan Jasmani Nasional C. Strategi Kegiatan E. Kajian Dokumen B. Kesimpulan B. Menetapkan Skenario Untuk Kurikulum Penjas Masa Depan D. Peserta Yang Terlibat BAB II : TINJAUAN TEORITIS A.

1995) mereka terhadap program yang menjadi tanggung jawabnya selama ini. keseimbangan. dan kesadaran ruangnya. Keluhan ini dapat dikaitkan dengan dua hal. sosiologis. psikologis. baik yang melibatkan tinjauan dari aspek filosofis. Namun dalam wilayah praksis. para calon olahragawan kita memiliki kelemahan dalam hal kemampuan motoriknya. kedua. kesadaran guru dalam mengembangkan bukan hanya aspek fisik dan motorik. kelincahan. koordinasi. Rendahnya mutu hasil pembelajaran pendidikan jasmani pun dapat disimpulkan dari keluhan masyarakat olahraga yang mengindikasikan bahwa mutu bibit olahragawan usia dini dari sekolah-sekolah kita sangat rendah. seperti bagaimana guru menerapkan model pengembangan disiplin. Sedangkan dalam penelusuran sederhana lewat test Sport Search (instrumen pemanduan bakat olahraga) dalam aspek yang berkaitan dengan kebugaran jasmani peserta didik SMU. kelentukan. Diperlukan penelusuran cermat yang melibatkan berbagai alat telaah multidisipliner. pengajaran yang bernuansa DAP (developmentally appropriate practice = praktik pengembangan yang disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan peserta didik). kekuatan. sedangkan masalah kurikulum dapat dikaji dalam kaitannya dengan kemampuan sebuah kurikulum sebagai sebuah dokumen dalam memberikan keleluasaan kepada guru untuk melakukan interpretasi dalam hal pelaksanaannya.BAB I PENDAHULUAN A. diperoleh informasi bahwa hasil pembelajaran Penjas di sekolah secara umum hanya mampu memberikan efek kebugaran jasmani terhadap kurang lebih 15 persen dari keseluruhan populasi peserta didik. 2002). Kemampuan guru harus ditelusuri dari segi nilai acuan (value orientation) (Jewet and Bain. Latar Belakang Rendahnya tingkat kebugaran jasmani peserta didik pada sekolah dari semua tingkat satuan pendidikan di Indonesia dapat dijadikan satu petunjuk umum bahwa mutu program pendidikan jasmani di Indonesia masih rendah. Sebagai contoh kualitas proses yang seharusnya dapat terlihat dari Penjas yang baik. peserta didik Indonesia rata-rata hanya mencapai kategori "Rendah" (Ditjora. tetapi aspek kognitif dan mental sosial serta moral peserta didik. yang dipercayai oleh para ahli dapat mengembangkan nilai-nilai dan karakter positif pada diri peserta didik. para calon olahragawan kita pun sekaligus memiliki kekurangan dalam hal kemampuan fisik. terutama dalam hal daya tahan umum. power. dan daya tahan otot lokal. Dari survei yang dilakukan oleh Pusat Kesegaran jasmani Depdiknas terdahulu. Tentu menjadi pertanyaan. dari mulai kecepatan. Belum lagi jika ukuran kinerja atau efektivitas PBM Penjas tersebut dinilai dari aspek lain yang seharusnya terintegrasi dalam Penjas. mengapa mutu hasil pembelajaran penjas di Indonesia bisa sedemikian rendah? Apakah karena faktor guru yang juga kualitasnya rendah? ataukah disebabkan faktor lain seperti sarana dan prasarana yang tidak memadai? Ataukah semua kelemahan ini harus dialamatkan pada kurikulum yang tidak relevan. Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 1 . budaya. ekonomi serta politik. serta kurangnya dukungan dari pemerintah dan masyarakat dalam hal pentingnya pendidikan jasmani? Menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas tentu tidak mudah. Pertama. kita dapat mendekati permasalahan ini dalam hubungannya dengan kemampuan guru dan kurikulum yang diberlakukan dalam program Penjas di Indonesia.

bukan lagi sebagai alat pendidikan. serta beladiri. Dengan paradigma yang salah tersebut. program olahraga dalam pembelajaran pendidikan jasmani lebih menekankan pada harapan agar program tersebut berakhir pada terpetiknya manfaat pembibitan usia dini. berubah menjadi pola penggemblengan fisik dan menjadikan anak terampil berolahraga. senam. melainkan dipertajam menjadi alat untuk membantu gerakan olahraga sebagai penegak postur bangsa. Dengan keyakinan tersebut. karena landasan untuk mencetak olahragawan unggul di kompetisi tingkat internasional merupakan satu-satunya alur pikir yang sejalan dengan semangat revolusi besar Bung Karno. Wajar jika guru melupakan anggapan dasar bahwa penjas adalah untuk semua anak (Dauer and Pangrazy. yang ditunjukkan melalui bisa berkiprahnya bangsa Indonesia dalam berbagai event olahraga regional dan internasional. Alasannya cukup jelas. Akibatnya. 12th Ed. Penjas kita lebih berorientasi pada prestasi olahraga daripada sebagai proses sosialisasi dan mendidik anak melalui olahraga. yaitu dari cara dan model pengasuhan serta pengembangan nilai-nilai yang diperlukan sebagai penanaman rasa cinta gerak dalam ajang sosialisasi. dapat diduga bahwa telah terjadi perubahan paradigma Penjas di masa lalu. Pendeknya. Sebagai konsekuensinya.Jika kita berkaca pada perspektif sejarah. 2004). renang. Dalam lingkup mikro pembelajaran. aktivitas jasmani yang tidak termasuk ke dalam kelompok olahraga (sport) mulai menghilang. terjadi juga pergeseran cara dan gaya mengajar guru. guru lebih berkonsentrasi pada pengajaran teknik dasar dari cabang olahraga yang diajarkan (pendekatan teknis). sehingga tidak benar-benar dilandaskan pada prinsip pemberian tugas yang disesuaikan dengan kemampuan anak atau DAP. Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 2 . seperti olahraga permainan. Keyakinan yang berkembang adalah bahwa olahraga dapat menjadi bukti bahwa bangsa kita memiliki potensi dan kemampuan yang sama dengan bangsa lain. sambil melupakan pentingnya mengangkat suasana bermain yang bisa menarik minat mayoritas anak (Light. padahal yang seharusnya berlangsung adalah program yang Developmentally Appropriate Practice (DAP). atletik. ruang lingkup pendidikan jasmani menjadi menyempit. yang terjadi pada tahun 60-an. gerak-gerak dasar fundamental. seolaholah terbatas pada program memperkenalkan anak pada cabang-cabang olahraga formal. sehingga dewasa ini paradigma tersebut masih kuat digenggam oleh para guru Penjas. pembelajaran sering berubah menjadi aktivitas yang dalam kategori Sue Bredekamp (1993) merupakan program yang Undevelopmentally Appropriate Practice (UAP). serta berbagai permainan sederhana yang sering dikelompokkan sebagai low-organized games. seperti tarian. melainkan lebih dihargai sebagai alat sosialisasi olahraga kepada peserta didik. Akibat lanjutannya. 2003). Dalam kondisi demikian. Demikian kuatnya paradigma prestasi olahraga dalam Penjas kita. penjas di tingkat satuan pendidikan pun diubah paradigmanya. Umumnya. Kala itu. agar lebih banyak lagi bibit-bibit olahragawan yang bisa dipersiapkan. para founding fathers bangsa kita mencoba memanfaatkan olahraga sebagai alat strategis dan sekaligus politis untuk keluar dari rasa rendah diri kolektif sebagai bangsa yang baru merdeka setelah sekian abad terjajah dan terbodohkan secara sistematis. Menginterpretasikan konteks sejarah perkembangan penjas dan olahraga nasional kita. maka dapat dimaklumi bahwa kualitas penjas di Indonesia dapat menjelma menjadi bentuknya yang sekarang. penggunaan olahraga di sekolah bukanlah dipandang sebagai alat pedagogis. seperti yang dapat kita saksikan sekarang.

Memberikan wawasan. Landasan Yuridis 1. Akibatnya. Hanya sedikit anak yang biasanya mampu menguasai keterampilan dengan kriteria tersebut. karena diyakini termasuk upaya mendidik karakter yang kuat dan teguh. Peraturan Pemerintah No. agar tujuan dari proses pembelajaran pendidikan jasmani dapat memberikan pengalaman gerak yang sesuai (DAP) untuk peningkatan kualitas sumberdaya manusia Indonesia. maka naskah akademik ini disusun dengan harapan dapat mengakomodir kepentingan peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangannya. profil guru Penjas pun berubah dari yang semula santun dan bersifat mengasuh. kaku. UU RI Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 2. pengetahuan dan pemahaman bagi pihak terkait sehingga mereka dapat memberikan dukungan terhadap pengembang kurikulum masa depandan sebagai acuan dasar dalam pelaksanaan pembelajaran penjas pada satuan pendidikan dasar dan menengah. Secara tidak disadari. Memberikan pedoman yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi pengembang kurikulum masa depan mata pelajaran penjas 2. Ketika guru menggeser pola pembelajaran menjadi pola pelatihan. Permen Diknas No. dalam banyak proses pembelajaran. Permen Diknas No. anak akan lebih banyak merasakan pengalaman gagal daripada pengalaman berhasil (feeling of success). yaitu ketika gerakan yang dilakukan anak sesuai dengan kaidah-kaidah teknik dasar yang sudah dibakukan. 2006). bergeser menjadi profil keras dan angker serta menyepelekan kepribadian anak (Mahendra. Penjas yang seharusnya menjadi wahana yang strategis untuk mengembangkan self esteem (kepercayaan diri) anak. sehingga anak yang lain masuk ke dalam kelompok yang gagal. 24 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi C. Banyak bukti yang mendukung alur pemikiran demikian. B. Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 3 . muncul pula kecenderungan guru dalam memberi atribut atau julukan yang negatif pada anak dikaitkan dengan kelemahan anak dalam hal gerak atau dengan kondisi fisik anak itu sendiri. Tujuan Penyusunan naskah akademik bertujuan: 1. guru hanya menetapkan satu kriteria keberhasilan. Celakanya. guru menyebut anak dengan panggilan yang kurang pantas atau sebutan lain yang jauh dari ‘membangkitkan’ self esteem. terutama ketika hakikat tentang bagaimana anak belajar dalam psikologi belajar modern sudah semakin diyakini kebenarannya. dan tidak disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak. 23 tahun 2006 tentang SKL 5. Tidak jarang. 19 tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional 3. maka tugas gerak dan ukuran-ukuran keberhasilannya pun bergeser menjadi keterampilan dengan kriteria yang formal. Berdasarkan berbagai pernasalahan yang telah diuraikan di atas. Permen Diknas No. Banyak guru yang percaya bahwa pembelajaran olahraga harus berlangsung dalam suasana keras. misalnya. bahkan cenderung kasar. Dalam kondisi tersebut. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi 4.Hal lain yang juga turut terimbas oleh paradigma tadi adalah menghilangnya suasana pedagogis dalam pembelajaran Penjas. pada gilirannya justru berubah menjadi ‘ladang pembantaian’ kepercayaan diri anak.

Strategi Kegiatan Kegiatan dilaksanakan melalui: 1. Sekolah/guru 4. Kajian dokumen 2. Universitas/Perguruan Tinggi 3.D. Peserta Yang Terlibat Unsur yang terlibat dalam kajian standar isi mata pembelajaran penjasorkes antara lain: 1. Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas 2. Diskusi E. Kajian pelaksanaan standar isi di lapangan 4. Kajian literatur 3. Pemerhati Pendidikan Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 4 . Seminar 5.

agar secara sistematis program penjas di Indonesia dapat direvitalisasi secara utuh. Kurikulum Penjas Nasional Pada tingkatan kurikulum. kurikulum diartikan sebagai suatu rangkaian yang terencana dari pengalaman-pengalaman pengajaran formal yang disajikan oleh guru di dalam kelas. Masalahnya. Pertanyaan yang harus diajukan adalah. benarkah yang harus dipersalahkan dan serta-merta segera diganti adalah kurikulum? Jika yang dimaksud dengan perubahan kurikulum adalah juga perubahan dalam bagaimana guru menetapkan paradigma pembelajarannya termasuk lingkungan di mana pembelajaran berlangsung. kurikulum adalah sebuah studi tentang "apa yang harus ada dalam dunia belajar dan bagaimana caranya membuat dunia itu. dalam praktik keduanya bersifat interaktif dan tidak mudah dipisah-pisahkan. Artinya. maka kurikulum tadi melumat menjadi segala perilaku guru dan peserta didik yang saling berkaitan satu sama lain. sedangkan pengajaran diartikan sebagai suatu sistem penyampaian. Macdonald (2000) mendefinisikan kurikulum sebagai suatu lingkungan budaya yang dipilih secara bertujuan. Kurikulum lebih sering digunakan sebagai sebuah istilah umum yang luas. dan terlalu mendetil serta tendensiusnya standard kompetensi serta kompetensi dasar yang ditetapkan (Kurikulum 2004-2006). Sedangkan secara khusus. hingga kegiatan ekstra di lapangan olahraga. (1995) kurikulum diartikan sebagai keseluruhan pengalaman peserta didik yang ditemui di lingkungan persekolahan. ketika mutu pembelajaran Penjas di Indonesia disinyalir masih amat rendah.BAB II TINJAUAN TEORITIS A. ketika secara teoritis keduanya dapat didiskusikan secara terbuka. sehingga oleh beberapa pihak dianggap sangat Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 5 . B. masalah yang dapat diidentifikasi adalah masih sangat sentralistisnya tujuan kurikuler dan tujuan instruksional (Kurikulum 1994).. Pengertian Kurikulum dan Pemasalahannya Kurikulum sering didefinisikan secara berbeda. kelemahan program pendidikan jasmani masih berkutat di seputar struktur kurikulum nasional yang masih diwarnai oleh kesalahan orientasi dalam berbagai aspeknya. amat mudah menyusun kurikulum sebagai sebuah rencana yang tersusun sebagai sebuah dokumen. Jika perbedaan di antara kedua istilah itu ditarik secara tegas. tetapi termasuk ditentukan oleh kompetensi guru dan lingkungan di mana kurikulum tersebut diimplementasikan. tetapi manakala keseluruhan rencana itu diimplementasikan. al. atau kumpulan dari sejumlah transaksi kependidikan. oleh Jewet. yang didalamnya memuat proses pengajaran-pembelajaran untuk melaksanakan rencana tersebut. maka tentu saja Indonesia perlu merumuskan kurikulum barunya sesegera mungkin. termasuk di dalamnya pengajaran. Pada tingkat ini. Masih sejalan dengan Jewet et al." Para ahli juga berbeda pendapat dalam hal penggunaan istilah kurikulum ketika ia berhubungan dengan istilah pengajaran (instruction). Artinya. sehingga bukan hanya dokumen kurikulum yang harus “baik”. Secara luas. dari mulai yang berlangsung formal di dalam kelas. kurikulum diartikan sebagai suatu rencana dari agensi kependidikan yang memfasilitasi terjadinya pembelajaran. et. tergantung luas dan sempitnya sudut pandang yang digunakan para pemakainya.

bahwa guru penjas. Lebih lanjut.membelenggu guru. umumnya tidak menguasai kompetensi seperti metode mengajar. Ancaman mal-praktek program pendidikan jasmani di sekolah nampaknya semakin potensial dalam masa-masa pengimplementasian kurikulum Penjas 2004. kurikulum Penjas yang bagaimanakah yang harus dipersiapkan untuk anak-anak kita di masa depan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut. Skenario tersebut diperlukan untuk mencoba-coba merumuskan Kurikulum Penjas secara umum untuk memecahkan persoalan yang akan dihadapi di masa depan. Di samping itu. Mayoritas guru Penjas hingga kini masih belum mengetahui secara komprehensif tentang pengertian dan implementasi KBK dalam prakteknya. para guru pun tidak mengetahui secara pasti wilayah tugas dari mata pelajaran pendidikan jasmani pada satuan pendidikan di mana ia bertugas. terutama di tingkat sekolah dasar. keterampilan meningkatkan kualitas proses pembelajaran. tanpa memperhitungkan orientasi dan bahkan nilai acuan yang berlaku dalam Penjas. C. Terasa sekali. dengan membuat sebuah skenario tentang bentuk masyarakat dunia dan Indonesia di masa mendatang. Dunia yang penuh konflik Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 6 . Aktivitas Akuatik. tepatnya. serta tak kalah pentingnya dalam hal evaluasi. 1. gaya mengajar. yang dikelompokan menjadi enam (6) kelompok aktivitas. Menetapkan Skenario Untuk Kurikulum Penjas Masa Depan Kurikulum yang bagaimanakah yang ingin dihasilkan di masa depan? Atau. Tidak ada pembaharuan apapun di dalamnya. Mereka umumnya tidak mampu merumuskan. Aktivitas Pengembangan. Saking tendensiusnya. dan Aktivitas Luar Kelas. Key Learning Areas dalam Penjas hanya memasukkan wilayah-wilayah keterampilan gerak didasarkan pada pengelompokkan kecabangan plus aktivitas ritmik dan aktivitas luar kelas. Kecenderungan demikian benar-benar didasarkan pada orientasi kurikulum tunggal. yang konon juga disebut sebagai Kurikulum Berbasis Kompetensi. Semua ini mencerminkan kurangnya pemahaman secara komprehensif terhadap arti dan peranan pendidikan jasmani dalam tataran asas dan falsafahnya. standar isi inipun tak ubahnya sebagai kurikulum imitasi dari KBK. Demikian dengan kasus Kurikulum 2006 atau yang lebih dikenal sebagai Standard Isi. Aktivitas Ritmik. ada baiknya kita berandai-andai tentang peranan apa yang harus dimainkan Penjas sebagai mata pembelajaran. kurikulum kita pun masih belum berhasil memberi arah pada guru tentang kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional apa yang harus dikuasai guru. Pada tahap berikutnya. Aktivitas Uji Diri. Di samping hanya memasukkan materi kesehatan ke dalam ruang lingkupnya. di samping lebih memperlebar kemungkinan kebingungan di antara guruguru. bahkan perumus kurikulumnya sendiripun nampaknya menjadi bingung manakala harus membedakan di antara materi untuk kelas dan jenjang yang berbeda. ke arah manakah tujuan program penjas yang mereka berikan pada peserta didik. kelemahan pun masih terasa dalam hal orientasi kurikulum yang sangat menekankan pada pencapaian atau penguasaan keterampilan-keterampilan formal dari berbagai cabang olahraga (oleh beberapa ahli disebut serba-perilaku). yaitu Aktivitas Permainan dan Olahraga. Mereka pun dapat dipastikan belum mengetahui secara jelas makna wilayah pembelajaran (Key Learning Area/KLA) dalam kurikulum 2004.

kompetensi. serta manfaat hukum dan regulasi yang mendukung langkah bisnisnya. Perusahaan Multinasional menempatkan komponen-komponen bisnisnya di seluruh dunia untuk mengejar keuntungan dengan memanfaatkan sumber daya alam setempat yang melimpah. Dalam menjawab krisis tersebut. termasuk mengembangkan Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 7 . Beberapa dari mereka bermigrasi ke negara lain untuk mencari pekerjaan. kesehatan. pendidikan jasmani menjadi bagian integral dari kurikulum Pendidikan Untuk Perdamaian tersebut. penerimaan diri. diharapkan setiap individu mampu berdiri sejajar dalam bidang pengetahuan. serta terutama dalam kesiapan mental-emosional. koalisi politik dan para pemimpin pendidikan di seluruh dunia mengembangkan rencana yang disebut Pendidikan Untuk Perdamaian. serta nilai-nilai universal kemanusiaan. penguasaan bahasa dan teknologi. Karena para pimpinan dunia mengakui pengaruh budaya dari olahraga dan dansa serta peranan utama dari kesehatan dalam kualitas hidup warga dunia. beberapa wilayah negara lain dilanda ekspansi tenaga kerja kurang terdidik serta banyaknya pengangguran yang menciptakan lingkaran pekerjaan bergaji rendah. Sementara beberapa wilayah geografis mengalami kemakmuran. Akibat kemajuan teknologi dalam bidang komunikasi dan kepariwisataan. SDM bergaji rendah. sosial. Tujuan program tersebut adalah untuk mengurangi kekerasan di dalam dan di antara bangsa-bangsa serta sekaligus meningkatkan kualitas hidup untuk semua. Frustrasi dan kekecewaan dari kelompok ini niscaya akan menimbulkan rentetan konflik dan masalah sosial yang tidak sedikit. Dengan cara demikian. Komponen sosiokultural mengasumsikan bahwa dalam masyarakat global semua peserta didik perlu menguasai pemahaman umum tentang budaya dunia dan pengetahuan yang mendalam tentang salah satu budaya di luar budayanya sendiri. Tujuannya adalah agar terjadi pengembangan kesadaran diri. Kurikulum dirancang untuk mencapai tujuan di atas dengan memberdayakan anak didik untuk bekerja secara kooperatif dengan yang lain. Komponen pemberdayaan ekonomi menyediakan pendidikan karir dan re-training sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan. Program tersebut juga mengajarkan peserta didik untuk berpartisipasi dalam keputusan-keputusan yang mempengaruhi kondisi ekonomi dari lingkungannya. dan ekonomi. moral. serta berbagai keterampilan yang berguna dalam kehidupan nyata. kedekatan pada pasar. yang sering menyebabkan kecurigaan dan kadang kebencian penduduk setempat yang khawatir tergantikan posisinya oleh para pendatang yang bersedia dibayar murah. politis. Komponen pemberdayaan sosiopolitik dirancang agar memungkinkan peserta didik mengakui dan dapat menganalisis daya-daya sosial dan politik yang mempengaruhi mereka dalam bertindak secara individual dan kolektif memperbaiki kualitas hidup mereka. Kebencian semacam ini merupakan dasar terbentuknya konflik antar etnik dan ras sebagai sebuah krisis. Komponen pemberdayaan personal dari kurikulum didasari asumsi yang kokoh tentang keterpaduan pikiran-tubuh-jiwa (mind-body-spirit). dengan memperhitungkan isu-isu personal. Anak-anak usia dini berpartisipasi dalam program pra-sekolah yang memberi kesempatan untuk bereksplorasi dan bertumbuh.Awal abad 21 telah menjadi saksi bagi bangkitnya tuntutan sistem ekonomi dan politik yang bersifat global. individu dan korporasi di seluruh dunia mulai berinteraksi melampaui batas wilayah nasional dan benua.

Anak-anak diminta menyelidiki konflik dalam situasi olahraga dan mempraktekkan proses negosiasi serta strategi pencarian resolusi masalahnya. betapa alam lingkungan di tanah air semakin tidak bersahabat. Peserta didik juga berpartisipasi dalam program kebugaran yang dibangun berdasarkan prinsip “belajar menerima dan mempercayai tubuh sendiri”. tetapi penekanan program itu terletak pada penguasaan keterampilan gerak dasar dan konsep. peranan apakah yang dapat dimainkan oleh Penjas dalam konteks masa depan? Kurikulum yang bagaimana yang harus dipersiapkan untuk mengurangi bahaya bencana alam tersebut agar dapat Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 8 . Dalam kondisi ancaman alam yang terus menerus tersebut. Anak-anak diminta meneliti pengaruh perkembangan teknologi dan waktu luang dalam abad 21 dikaitkan dengan peranan olahraga (Jewet. Mereka belajar permainan. gempa. tidak pada kompetisi dan kemenangan. 2006). peserta didik belajar “mendengar pada tanda-tanda tubuh” sebagai petunjuk kapan dan seberapa kebutuhan untuk makan. latihan. Pengungkapan mutakhir tentang kondisi dan posisi tata letak geografis wilayah Indonesia dari segi lempeng bumi secara umum. Kurikulum Penjas juga memungkinkan anak menguji peranan gerak dalam masyarakat. 2. et. Anak-anak usia sekolah diberi program “pendidikan gerak perkembangan” yang memberi penekanan pada penerimaan diri dan kemajuan individual dalam pengembangan keterampilan gerak. 2007).keterampilan gerak. adalah bukti nyata bahwa alam kita semakin rentan dan berpotensi selalu menjadi ancaman bagi mayoritas penduduk Indonesia. semua menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup bangsa kita. yang berkombinasi dengan bencana sarana transportasi yang semakin meningkat. Program ini dilengkapi dengan diskusi tentang bagaimana masyarakat membangun definisi kesehatan dan daya tarik tubuh dan bagaimana individu dapat menciptakan definisi yang sesuai secara pribadi. dan dansa dari berbagai budaya serta mendiskusikan bagaimana aktivitas tersebut berhubungan dengan konteks historis dan pada aspek budaya lainnya. Bahkan dengan kemajuan teknologi yang diperkirakan akan dicapai oleh bangsa kita dan bangsa lain sekalipun. telah dinyatakan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia merupakan daerah berpotensi gempa (Isworo. Daripada bersifat pelatihan formal yang dituntut memenuhi standard eksternal performansi. dan senam. dan istirahat harus dipenuhi. yoga. olahraga. Meskipun keterampilan tersebut berhubungan dengan berbagai jenis permainan. longsor. bangsa Indonesia tetap berada dalam bahaya laten bencana gempa. Alam yang kian tidak bersahabat Kita semua. 1995). karena Indonesia berada di lingkaran “Cincin Api” (Ring of Fire) dari Sabang sampai Merauke (Leksono. dansa. dan tai chi sebagai cara untuk meningkatkan kesadaran diri yang utuh. belakangan ini. al. hingga banjir. Berbagai bencana alam. Mereka mengungkap dan mendiskusikan perbedaanperbedaan antara pengalaman langsung dari aktivitas gerak dengan pengalaman yang hanya teralami melalui menonton video atau komputer. menjadi saksi bersama. Dari bencana tsunami. Mereka juga mendiskusikan konsep komunitas dan hubungannya dengan berbagai bentuk olahraga dan dansa. Peserta didik yang lebih dewasa mempelajari meditasi. baik kini maupun di masa-masa mendatang.

Agar anak-anak memiliki kemampuan untuk selalu merespons dan ‘berdialog’ dengan tepat dengan alam lingkungan. Pada bentuknya. Gibson (pendiri psikologi ekologis). tidak lagi berupa tugas gerak baku atau standar dari cabang-cabang olahraga formal. Gibson sendiri mengetengahkan istilah affordances dalam menjelaskan fenomena gerak manusia. Crum menekankan pentingnya pandangan fenomenologis yang memandang penting kedudukan dan peranan lingkungan dalam mengarahkan gerak manusia. Di negara-negara maju. yang lebih sering diartikan sebagai aktivitas fisik yang dibatasi oleh kaidah-kaidah gerak tertentu. Dan menurut Crum. Mengutip pandangan J. yang menghubungkan fungsi dan kedudukan pembelajaran pendidikan jasmani dalam penumbuhan kultur gerak ini. Maksudnya adalah. di Australia disebut Games Sense) dalam permainan (Light. yaitu wilayah technomotor problems. dan affective problems (Crum. 2006). tantangan dan permasalahan gerak (movement problems) tersebut dapat disediakan guru dalam bentuk-bentuk tugas gerak yang selalu memperhitungkan keterlibatan faktor kognitif. Kultur gerak adalah istilah yang digunakan di Eropa untuk menyebut kecenderungan dan kebiasaan bergerak untuk memenuhi undangan dari lingkungan atau alam. sociomotor problems. afektif. Kultur gerak dengan demikian lebih luas maknanya dari olahraga. pendidikan jasmani dalam era mutakhir sekarang ini. sosial. atau kondisi yang tertangkap oleh seorang individu. melainkan bermakna lebih luas sehingga mencakup ragam pengalaman gerak yang bermakna untuk menyesesuaikan diri dengan kondisi lingkungan dan situasi sosial yang selalu berubah. seperti pendekatan taktis (di Inggris disebut TGFU/Teaching Games For Understanding. Tantangan atau masalah tersebut dalam batas-batas tertentu dapat dibedakan ke dalam empat wilayah. lingkungan secara langsung mengarahkan bentuk dan maksud gerak yang dilakukan seseorang (Lutan. Pendekatan Masalah Gerak Dominan Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 9 . Tugas-tugas gerak tersebut. 2000).J. Dengan kata lain. persepsi manusia terhadap alam lingkungan menghasilkan keputusan tentang maksud dan tujuan gerak dilaksanakan. melainkan dapat berupa gerak modifikasi. menurut Crum. diarahkan untuk meningkatkan kebisaan dan kemampuan (affordances) tadi dalam menanggapi undangan alam untuk bergerak. maka kompetensi gerak yang akan dibekalkan kepada anak-anak dalam pendidikan jasmani tidak semata-mata untuk mempersiapkan anak agar berkompeten dalam berolahraga saja.menyelamatkan anak-cucu dan keturunan kita? Jawabannya adalah Kultur Gerak yang hanya bisa dibangkitkan melalui pembelajaran Penjas yang baik. maka materi utama pendidikan jasmani pun harus selalu menyediakan tantangan dan permasalahan (problems) gerak untuk dipecahkan. tantangan-tantangan tersebut hadir ke hadapan peserta didik dalam bentuk pendekatan-pendekatan baru. serta teknik-teknik atau keterampilan untuk dipecahkan oleh anak. yang menyajikan tantangan baru kepada anak untuk dipecahkan (Movement Problem Based Learning). Istilah kultur gerak disinggung oleh Crum (2003). Dengan pembiasaan tersebut. diharapkan anak akan mengadopsi kemampuan (affordances) untuk selalu siap menerima tantangan dan permasalahan gerak yang selalu disediakan lingkungan untuk secara aktif direspons dengan efektif. 2005). Bertolak dari pandangan tersebut. cognitivereflective problems.

adalah karena mayoritas masyarakat kita tidak memiliki kesadaran ruang itu. Jika MPBL mengembangkan pemikiran kritis dalam kerangka penajaman kemampuan pengambilan keputusan dalam hubungannya dengan lingkungan. konsep usaha. Pentingnya Disiplin dan Ketertiban Masyarakat Di masa depan. anak yang memiliki kesadaran ruang selalu menghubungkan tindakannya dengan lingkungan sekitar. akan merupakan sebuah wahana yang memaksa anak mengerahkan kemampuan problem solvingnya. dipercaya para ahli sebagai model yang mengelaborasi konsep gerak yang bermakna pada pengembangan kesadaran ruang (spatial awareness). jika dilaksanakan dengan baik oleh guru. karena akan merupakan bekal kompetensi yang paling bermakna dalam proses survival mereka. karena terbiasa untuk selalu memperhitungkan kondisi-kondisi lingkungan dalam semua tindakannya. tinggal mengembalikan Penjas kita pada salah satu model kurikulumnya yang paling mendasar. Dari sini dapat disimpulkan. yang melibatkan konsep tubuh. konsep ruang. kesadaran ruang direpresentasikan dalam wejangan-wejangan seperti “ulah lalawora’ Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 10 . Pendekatan-pendekatan ini. bahwa semrawutnya lalu-lintas kota pada umumnya. Dengan kata lain. dan konsep keterhubungan. serta membina anak untuk menjadi pengambil keputusan yang cermat. Karenanya. Pendidikan yang bagaimanakah yang dapat merubah masyarakat kita yang saat ini jauh dari tertib dan disiplin secara efektif? Penjas di masa depan seharusnya mampu diarahkan untuk memberi kontribusi positif kepada upaya pengubahan perilaku masyarakat kita secara bertahap tetapi pasti. dan sedikit banyak menimbulkan kemacetan. Bagimanakah kurikulumnya harus dipersiapkan? Sederhana sebenarnya. dapat diyakini situasi jalan raya akan terganggu.(Dominant Movement Problem) dalam senam atau atletik. Coba tengok perilaku berlalu lintas mayoritas masyarakat kita di kota-kota besar. akan menjadi program dan pendidikan mitigasi yang paling mendasar. pada dasarnya Penjas yang baik. yaitu kepada model Pendidikan Gerak (Movement Education). diperlukan budaya tertib dan disiplin dari masyarakat. ketika sistem transportasi dan tata kota di Indonesia semakin baik dan canggih. Tanpa kesadaran tersebut. Dalam kearifan lokal Sunda. Pengembangan kesadaran tersebut dalam alur didaktik hampir identik dengan pendekatan Movement-Problem-Based Learning (MPBL) di bagian sebelumnya. Entah upaya apa yang dapat dilakukan jika kita tidak mampu mencari solusi model pendidikan yang dapat diandalkan. sedangkan pendidikan gerak lebih berada dalam nuansa pengembangan kesadaran ruang yang disituasikan. Pendidikan gerak ini. 3. “Apa yang akan terjadi dalam lingkungan ketika aku berbuat begini atau begitu?” Karena kesadaran ruang pulalah. kita mengetahui benar bahwa menghentikan kendaraan di sembarang tempat akan berpengaruh pada orang lain atau lalu-lintas pada umumnya. Kesadaran tersebut didasarkan pada pemikiran Rudolp Laban tentang konsep gerak. yang ditumbuhkan langsung pada diri anak-anak. Melalui kesadaran ruang ini manusia menyadari dirinya (ruang pribadi) dalam hubungannya dengan orang lain dan lingkungannya (ruang publik).

dan ecological integration perspective. dan untuk memandu sendiri kegiatan belajarnya. Nilai Acuan dalam Pengembangan Kurikulum Penjas Setiap upaya pengembangan kurikulum sudah tentu dilandasi oleh perspektif filosofis yang biasanya memuat asumsi-asumsi dasar tentang masyarakat. self actualizalion perspective. Kurikulumnya disusun untuk menyediakan tantangan bagi setiap orang untuk melampaui limit kemampuan sebelumnya. Karena itu penganut aliran ini percaya bahwa penguasaan isi bidang studi merupakan indikator keberhasilan suatu sekolah. jika Penjas mampu mengembangkan kesadaran ruang para anak didik. 4.(jangan sembarangan) atau “ari eureun montong dina hara-haraeun” (kalau berhenti jangan di tempat yang dapat menimbulkan masalah). Kurikulumnya dirancang untuk membina keterampilan peserta didik dalam memecahkan masalah. Karena itu. nilainilai. Peserta didik bertanggung jawab untuk menentukan sendiri arah tujuannya. mengembangkan keunikan pribadi. penganut aliran ini percaya bahwa sekolah bertanggung jawab untuk membentuk masa depan generasi muda yang lebih baik. perspektif kurikulum yang selama ini berhasil diidentifikasi adalah: disciplinary mastery. untuk melintasi batas-batas pribadi agar tercapai persepsi baru mengenai diri. keterampilan menggunakan teknologi termasuk Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 11 . Kebutuhan masyarakat mendahului kebutuhan individu. Dalam asumsi penulis. Dari perspektif aktualisasi diri (self actualization).” Artinya. Pendidikan jasmani kita nampaknya berorientasi pada perspektif ini. Dalam perspektif filosofis tersebut terkandung harapan. serta kepercayaan masyarakat yang memberikan arah dan kerangka untuk merencanakan suatu kurikulum. Pendidikan tidak lain merupakan sebuah proses yang memungkinkan dan menyediakan kesempatan bagi pembebasan dan pengembangan pribadi. sehingga darinya dapat ditarik tumbuhnya “tepa-selira. Dalam wilayah pendidikan jasmani. sehingga banyak guru yang tidak percaya bahwa Penjas mampu menumbuhkan nilai-nilai dan karakter positif selain sebagai menjadi pendadaran olahragawan dari anak-anak yang berbakat. kesadaran ruang ini jelas-jelas menjadi dasar dari kesadaran diri. gagasan. kurikulum diarahkan kepada peserta didik dan pencapaian otonomi individu dan pengarahan diri. learning process perspective. Penguasaan bidang studi atau disciplinary mastery menekankan penguasaan isi dari bidang studinya. manusia. Oleh para ahli. sehingga prioritas ditekankan pada isi bidang studi. perspektif filosofi tersebut lebih sering disebut nilai acuan atau value orientation. Perspektif rekonstruksi sosial (social reconstruction) menekankan prioritas tertinggi sumber kurikulum yaitu masyarakat yang memberikan arah bagi pendidikan generasi muda. serta empati pada orang lain. dan pendidikan. Kemudian perspektif proses belajar (learning process) menekankan pentingnya bagaimana keterjadian balajar itu berlangsung. social reconstruction perspective. maka tidak diragukan bahwa melalui Penjas pulalah kita dapat menumbuhkan sifat-sifat jujur. sadar lingkungan. keterampilan untuk mengembangkan kemampuan kreatif. disiplin.

dan komposisi. improvisasi. penghalusan. dan secara berlanjut mengalami proses penyempurnaan sehingga terjalin keterpaduan secara utuh antara pribadi dan lingkungannya.komputer. Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara individu dan kepedulian masyarakat gobal. dan keterampilan kritis dalam merespons dan mengambil keputusan secara cepat. Proses belajar keterampilan dalam pendidikan jasmani memasukkan proses perolehan/penguasaan keterampilan (persepsi. mahluk holistik. Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 12 . dan adaptasi) dan sekaligus proses gerak kreatif melalui pengembangan variasi. Sedangkan perspektif integrasi lingkungan (ekologis) melandaskan asumsinya bahwa setiap individu itu unik. pemolaan. Proses pembangkitan pengetahuan dalam lingkup setiap bidang studi merupakan fokus kurikulum.

Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 13 . lantai dan ketangkasan/alat ) 5. yang di dalamnya menggabungkan aspek kebugaran dengan kesehatan yang menjadi kesatuan dalam tujuan pembinaan fisika. Dengan adanya 5 aspek yang dimunculkan di raport mengakibatkan dampak penilaian berdasarkan kecabangan olahraga 4.. Tidak difahaminya karakteristik. hal ini menyebkan terjadi pemahaman ganda pada SK yang ada (Misalnya : SK tentang senam : senam irama/ritmik. memiliki pengertian yang cukup luas sama dengan Phsical Education and Sport. Terjadinya kesalahan dalam pelaksanan penilaian yang disebabkan oleh orientasi penilaian yang keliru. Belum tampak dalam latar belakang dijelaskan secara rasional tentang karakteristik dan kebutuhan untuk apa pembelajaran Pendidikan Jasmani diberikan. disebabkan ada tumpang tindih dan tidak ada keterikatan yang satu dengan yang lain. Pendidikan kesehatan sebaiknya diintegrasikan pada mata pembelajaran yang dilaksanakan di ruang kelas. Muatan kompetensinya terlalu padat dan luas bila dibandingkan dengan SK yang lain 4. 6. Kajian Lapangan 1. SK dan KD tentang Kesehatan tidak relevan. Kelas I – XII. waktu serta jam tatap muka yang ada. Belum difahaminya bahwa silabus merupakan bagian dari KTSP yang disusun oleh guru mata pembelajaran dengan memperhatikan kesiapan sarana prasarana. 5. Pembahasan Kajian Dokumen dan Pelaksanaannya 1. seperti mata pembelajaran IPA/Biologi.. semester 1 dan 2 pada aspek permainan dan olahraga tidak sesuai dengan konsep didaktis dan metodis. semester 1 dan 2 . Penilaian dalam penjasorkes seharusnya berorientasi pada tujuan dari pembelajaran penjas itu sendiri yaitu pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani bukan kepada hasil dari pembelajaran/penilaian tidak mengacu pada proses akan tetapi lebih mengacu pada hasil C. Olahraga dan Kesehatan oleh para guru. Alat dan sumber belajar kurang mendukung dan tidak sesuai dengan tuntutan SK dan KD 3. dengan mengacu pada SK dan KD (guru hanya mengkopi ) 7. Guru dalam melaksanakan pembelajaran khususnya untuk SK dan KD Uji diri dan Ritmik belum memahami secara jelas fokusnya. Kajian dokumen 1. B. sehingga penjabaran jam mengajar ke setiap SK dan KD kurang memadai 2. sifat dan konsep mata pelajaran Pendidikan Jasmani. dan beladiri). Pelaksanaan Kegiatan Proses Pembelajaran kelas I sampai dengan XI belum ada keterkaitan sehingga menyebabkan peserta didik menjadi bertambah bebannya dan mengakibatkan terjadi kesalahan dalam penafsiran ganda bagi para guru. Pendidikan jasmani. Kelas I – XII. pada aspek uji diri dan ritmik rumusan SK dan KD kurang ada keterkaitan. Terdapat ketidak konsisten antara nama mata pelajaran yang terdapat pada pada Undang-undang No 20 tahun 2003 Tentang Sisdiknas pasal . Sebaiknya pada standar kompetensi tentang Permainan dan Olahraga dipecah menjadi 3 standar kompetensi ( standar kompetensi tentang permainan dan olahraga. Guru sulit memahami terhadap pencapaian SK dan KD dalam pengimplementasian. dengan dokumen standar isi (Penjasorkes dengan penjasor) 2.BAB III TEMUAN KAJIAN DAN PEMBAHASAN A. atletik. sehingga menimbulkan permasalahan pada implementasi di lapangan 3.

4. Agar tidak terjadi kesalahpahaman guru dalam menterjemahkan SK dan KD terhadap terhadap permainan dan olahraga yaitu bola besar. olahraga. 5. sehingga tidak tergambar dengan jelas dalam tujuan setiap jenjang pendidikan. Untuk SK dan KD kesehatan direkomendasikan untuk berintegrasi ke mata pembelajaran Biologi dan IPA serta Pendidikan Agama Islam. beladiri dan atletik. 6. Dalam latar belakang belum terlihat perbedaan yang jelas tentang penekananpenekanan kompetensi pada setiap jenjang pendidikan. dan beladiri maka perlu dibuatkan menjadi SK dan KD tersendiri. Dalam upaya mengakomodir setiap SK dan KD yang ada dan dapat di laksanakan dilapangan maka diperlukan suatu model kurikulum pembelajaran pendidilkan jasmani yang dapat mengeksploitasi peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 14 . Untuk menyamakan persepsi bagi para guru dalam mengimplemetasikan pelaksanaan pembelajaran di lapangan keterkaitannya dengan SK dan KD serta beban peserta didik maka diberikan penjelasan secara khsusus mengenai SK dan KD dalam permainan dan olahraga.2. Agar para guru mudah memahami aspek penilaian khususnya pada SK dan KD kesehatan maka sebaiknya untuk SK dan KD kesehatan dihilangkan atau dihapus sebab pembelajaran pendidikan jasmani lebih mengutamakan dan berorientasi pada aktivitas gerak secara menyeluruh baik melalui permainan. 3. 7. atletik. Pada SK dan KD Uji diri dan Ritmik terjadi tumpang tindih dan belum ada keterikatan sehingga para guru dalam melaksanakan pembelajaran pendidikan jasmani diperlukan suatu pedoman atau petunjuk yang jelas dan rinci agar pelaksanaan pembelajaran di lapangan bagi kepentingan perserta didik dapat terwujud sesuai dengan SK dan KD. atletik dan beladiri sehingga guru dan peserta didik dapat melaksanakan pembelejaran sesuai dengan yang diharapkan. kecil.

Rekomendasi 1. d. Pisahkan SK dan KD permainan olahraga bola besar dan kecil. menetapkan dan mencapai tujuan pribadi untuk tingkat kebugaran yang sehat.BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. SK dan KD Uji diri dan Ritmik digabung menjadi SK dan KD aktivitas Senam. Lingkup pengembangan kurikulum pendidikan jasmani ke depan • Tingkat usia 0 – 5 tahun sesuai dengan karakter peserta didik penekannya pada pengembangan keterampilan motorik dasar melalui bentuk-bentuk permainan imajinasi • Tingkat SD menekankan pada keterampilan motorik dasar dalam konteks permainan sederhana • Tingkat menengah pertama menekankan pada konsep kebugaran komponen kesehatan yaitu. b. Kurikulum Pendidikan Jasmani di masa depan selayaknya sudah mulai dirancang dengan memperhitungkan sebuah hasil ekstrapolasi tentang kondisi dan kebutuhan masyarakat di masa depan. Gabungan SK dan KD Uji diri dan Aktivitas Ritmik menjadi SK dan KD Aktivitas Senam. agar mampu memainkan peranan yang strategis dalam upaya merekonstruksi masyarakat Indonesia di masa depan. Rekomendasi jangka panjang a. Atletik dan Bela diri 3. Diperlukan Model kurikulum masa depan mata pembelajaran penjas. Belum adanya Penjelasan secara rasional tentang karakteristik dan kebutuhan peserta didik dan gradasi pendidikan jasmani 2. Revisi latar belakang standar isi mata pelajaran pendidikan jasmani b. seperti pada mata pembelajaran IPA 5. Diperlukan SK dan KD baru yaitu Permainan dan Olahraga besar dan kecil. SK dan KD pola hidup sehat sebaiknya masuk ke mata pembelajaran lain. Rekomendasi jangka pendek a. Atletik dan Beladiri menjadi SK dan KD tersendiri. sehingga memicu guru untuk memilih dan menetapkan salah satu atau beberapa model yang tepat bagi kondisi lingkungan sekolah dan budaya serta keunikan masyarakat setempat. B. Kurikulum tersebut perlu memperhitungkan berbagai nilai acuan yang berlaku. Kurikulum itupun hendaknya terbebas dari pengaruh paradigma lama yang mengungkung keberanian serta kesiapan untuk melakukan pembaharuan dalam bidang pendidikan secara umum. memodifikasi pembelajaran dalam bentuk permainan • Tingkat menengah atas menekankan pada pengembangan kompetensi yang dipilih oleh peserta didik termasuk keterampilan mengikuti program luar sekolah yang tersedia di sekolah dan masyarakat yang berpotensi untuk melibatkan diri dan berpartisipasi aktif sepanjang hayat Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 15 . serta tidak didominasi oleh nilai acuan yang tunggal. Model kurikulum yang berkembang pun perlu dimasukkan ke dalam substansi kurikulum. Kesimpulan 1. SK dan KD Pola Hidup Sehat direvitalisasi termuat pada mata pembelajaran IPA 2. c. 4.

(2003). 24. Action Learning and Action Research. dalam Sport Science Review.com.E. The Emotional Dimension of a Teacher’s Pedagogical Content Knowledge: Influences on Content. 12th Ed. (2004). Presented on In-Service Training on Didactic of Sport Games. Pendidikan Jasmani dan Olahraga Sekolah: Penguasaan Kompetensi Dalam Konteks Budaya Gerak. Menengok Penyebab Gempa. 2006. Journal of Teaching in Physical Education. (2006). Jakarta. Cipayung. (1995). Lupakah Kita Meramal Gempa? Artikel. h. dkk. Victor P. (2000). (2003). Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 16 .. dan Ennis. Lutan. D. Sport Pedagogy. Crum. Stylus Publishing Inc. Developing Teaching Skills in Physical Education. 11-18. And Pangrazi. Kompas (05/7-2006) Jakarta. (2000). 23. Richard. Bandung. VA. Disampaikan pada Lokakarya Penyusunan Standar Kompetensi Guru Penjas. Ninok. Dauer. January 2005. 2005. Direktorat Tenaga Kependidikan. (2000). Curriculum change and the postmodern world: The school curriculum-reform project an anachronism? McCaughtry. Bandung. David. Mayfield Publishing Company. Robert P. January 2004. Laporan Penelitian. Number 1. Paper. Implementasi Movement-Problem-Based Learning Sebagai Pengembangan Paradigma Reflective Teaching Dalam Pendidikan Jasmani: Sebuah Community-Based Action Research Di Sekolah Menengah Di Kota Bandung. http://www. Brown & Benchmark Publishers. Diknas. Bain. Mahendra. Sterling.theage. 2003. UPI. Richard A. Bandung. Taking A Tactical Approach. Agus. Vol. Second Edition. Makalah. Vol. Dynamic Physical Education For Elementary School Children. Kember. Nate. Leksono. Number 1. Tsangaridou. Schmuck. and Pedagogy. Substantial View of The Body. (1991). A. Light. Sky Light Professional Development. 3 (1).au. Depdiknas. (1994) Curriculum Theory and Research in Sport Pedagogy. (1997). (2005). Vol. Bart. Jewet. Isworo. Classroom Teacher’s Reflections on Teaching Physical Education. IL. Jewett. Jakarta. Improving the Quality of Teaching and Learning. Rusli. (2005). Brigitta. Bart (2006).Daftar Pustaka Crum. Siedentop. Curriculum. New York: Macmillan Publishing Company. Paper. Journal of Teaching in Physical Education. Pusat Kesegaran jasmani Depdiknas tahun 2003. Niki. D. Survey Nasional Kebugaran Jasmani Siswa Sekolah Menengah. To Teach Or Not To Teach. The Curriculum Process in Physical Education. Kompas (07/3-2007). Macdonald. Paper. Practical Action Research for Change. Artikel. Presented on International Conference on Physical Education and Sport Science.

Ministry of Education of New Zealand.__________. 1999. on Global Mission of The Physical Education and Sport. (2004). Curriculum Planning & Development Division Ministry of Education of Singapore: Physical Education Syllabus (Primary. ICHPER. Kajian Kebijakan Kurikulum MP Penjas-2007 17 . __________.SD International Standard of Physical Education and Sport. Health and Physical Education in the New Zealand Curriculum. Pre-University) 2006 __________. Secondary.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->