P. 1
Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

|Views: 572|Likes:

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Irwan Malik Marpaung on Sep 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/26/2012

pdf

text

original

ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN (Islamization of Knowledge

)

A. Prolog Pandangan hidup atau worldview1, pendidikan dan ilmu pengetahuan adalah tiga faktor penting dalam pembentukan sebuah peradaban. Kaitan antara ketiga faktor tersebut merupakan vicious circle (lingkaran setan). Artinya pandangan hidup dapat lahir dan berkembang dari akumulasi ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui proses pendidikan. Sebaliknya bentuk pendidikan dan corak ilmu pengetahuan yang diajarkan juga ditentukan oleh karakter pandangan hidup suatu bangsa atau peradaban. Dalam hal ini E.G Guba dan Y.S. Lincoln menyatakan bahwa: ³the basic belief system or worldview guides not only in choices of method but in ontologically and epistemologically fundamental ways.´ Pernyataan ini sebenarnya mengungkap rahasia mengapa ilmu itu value laden atau tidak bebas nilai.2

Secara awam worldview atau pandangan hidup sering diartikan filsafat hidup. Setiap kepercayaan, bangsa, kebudayaan atau peradaban dan bahkan setiap orang memiliki worldview masing-masing. Maka dari itu jika worldview diasosiasikan kepada suatu kebudayaan maka spektrum maknanya dan juga termanya akan mengikuti kebudayaan tersebut. Lihat: Hamid Fahmy Zarkasyi, ³Worldview Sebagai Asas Epistemologi Islam´, ISLAMIA, Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam, THN II No.5 April-Juni 2005, hal 10-20., Prof. Alparslan mengartikan worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktifitas-aktifitas ilmiyah dan teknologi. Setiap aktifitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, dan dalam pengertian itu maka aktifitas manusia dapat direduksi menjadi pandangan hidup. (the foundation of all human conduct, including scientific and technological activities. Every human activity is ultimately traceable to its worldview, and as such it is reducible to that worldview. Alparslan Acikgence, "The Framework for A history of Islamic Philosophy", Al-Shajarah, Journal of The International Institute of Islamic Thought and Civlization, (ISTAC, 1996, vol.1. Nos. 1&2, 6). Dari definisi di atas setidaknya kita dapat memahami bahwa worldview adalah identitas untuk membedakan antara suatu peradaban dengan yang lain. Dan dapat kita mengerti bahwa worldview melibatkan aktifitas epistemologis manusia, sebab ia merupakan faktor penting dalam aktifitas penalaran manusia. Al-Attas, Risalah Kaum Muslimin, International Institute of Islamic Thought and Civilization, 2000, hal. 49-50.
2

1

1

Pandangan hidup yang memiliki elemen kepercayaan terhadap Tuhan, misalnya, sudah tentu akan menerima pengetahuan non-empiris. Sebaliknya pandangan hidup yang mengingkari eksistensi Tuhan akan menafikan pengetahuan non-empiris dan pengetahuan spiritual lainnya. Demikian pula pandangan hidup ateis akan menganggap sumber pengetahuan moralitasnya hanyalah sebatas subyektifitas manusia dan bukan dari Tuhan. 3 Dalam Islam, ilmu pengetahuan terbentuk dan bersumber dari pandangan hidup Islam, yang berkaitan erat dengan struktur metafisika dasar Islam yang telah terformulasikan sejalan dengan wahyu, hadith, akal, pengalaman dan intuisi. 4 Pembentukan itu sudah tentu melalui proses pendidikan. Namun, karena pengaruh pandangan hidup Barat melalui Westenisasi dan globalisasi pendidikan Islam kehilangan perannya dalam mengaitkan ilmu pengetahuan dengan pandangan hidup Islam. Sehubungan dengan masalah ini, berikut akan dibahas islamisasi yang digagas oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang cendikiawan Muslim asal Malaysia yang kini banyak dirujuk oleh cendikiawan Muslim Indonesia. Ia dikenal karena kritiknya atas bangunan epistemologi yang telah terbangun dalam tradisi intelektual Islam maupun Barat. Al-Attas menyadari bahwa ³virus´ yang terkandung dalam Ilmu Pengetahuan Barat modern-sekuler merupakan tantangan yang paling besar bagi kaum Muslimin saat ini. Dalam pandangannya, peradaban Barat modern telah membuat ilmu menjadi problematis.5

Lihat Thomas F Wall, Thinking About Philosophical Problem, Wadsworth, Thomson Learning, United States, hal. 126-127 al-Attas, A Commentary on the Hujat al-siddiq of Nur al-Din al-Raniry: being an exposition of the salient point of distinction between the position of the theologians, the philosophers, the Sufi dan the pseudo-Sufi on the ontological relationship between God and the world and related questions, Ministry of Education and Culture, Kuala Lumpur, 1986, 464-465. Al-Attas juga menjelaskan bahwa; Westernisasi ilmu tidak dibangun di atas Wahyu dan kepercayaan agama. Namun dibangun di atas tradisi budaya yang diperkuat dengan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekular yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional. Akibatnya, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, terus
5 4

3

2

B. Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Islamization of Knowledge) ³Sekularisasi ilmu pengetahuan´ menjadi fondasi utama dalam sepanjang sejarah peradaban Barat modern. Dengan adanya sekularisasi ilmu pengetahuan, sedikit demi sedikit akan memisahkan jarak antara ilmu dengan agama, melenyapkan wahyu sebagai sumber ilmu, dan juga memisahkan wujud dari yang sakral. Selain itu sekularisasi ilmu juga telah menjadikan rasio sebagai basis keilmuan secara mutlak, dan mengaburkan maksud serta tujuan ilmu yang sebenarnya, menjadikan keraguan dan dugaan sebagai metodologi ilmiah. Sebagai solusi menghadapi krisis epistemologi yang sedang melanda segala bentuk pemikiran dan juga sebagai jawaban dari berbagai tantangan yang muncul dari hegemoni westernisasi ilmu, maka lahirlah gagasan islamisasi ilmu pengetahuan. Islamisasi ilmu pengetahuan adalah wacana yang cukup ramai diperdebatkan oleh sebagian pemikir Islam. Dalam bahasa Arab Islamisasi ilmu disebut sebagai ³Islamiyyat al-Ma¶rifat´ dan dalam bahasa Inggris disebut sebagai ³Islamization of Knowledge´. Gagasan islamisasi ilmu pengetahuan ini, mulai ramai diperbincangkan pada tahun 1970-an. Pada tahap perkembangan mutakhirnya, model islamisasi ilmu pengetahuan yang diajukan oleh berbagai sarjana Muslim dari berbagai disiplin ilmu, bisa dibedakan baik dari sisi pendekatan dan konsepsi dasarnya. Terlebih pula jika melihat konstruk ilmu pengetahuan yang merupakan output dari pendekatan dan konsepsi dasar tersebut. Usaha islamisasi ilmu pada dasarnya telah terjadi sejak masa Rasulullah saw dan para sahabatnya, yang waktu itu diturunkan Al-Quran dengan bahasa Arab, sehingga dengannya mampu mengubah watak serta pandangan hidup (worldview) dan

menerus berubah.Lihat definisi Syed Muhammad Naquib al-Attas mengenai µperadaban Barat¶ dalam karyanya Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, edisi kedua, 1993), 133-35, selanjutnya diringkas Islam and Secularism.

3

tingkah laku bangsa Arab.6 Oleh karena itu, wacana islamisasi ilmu bukanlah suatu yang baru, hanya saja dalam konteks operasionalnya pengislaman ilmu-ilmu masa kini dicetuskan oleh tokoh-tokoh ilmuwan islam, seperti: Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, al-Faruqii, Syed Husein Nasr , dan lain-lain. Islamisasi ilmu pengetahuan (islamization of knowledge) yang digagas oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas mengacu kepada upaya mengeliminir unsur-unsur serta konsep-konsep pokok yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat 7 , khususnya dalam ilmu-ilmu kemanusiaan. Tercakup dalam unsur-unsur dan konsep ini adalah cara pandang terhadap realitas yang dualistik, doktrin humanisme, serta tekanan kepada drama dan tragedi dalam kehidupan rohani sekaligus penguasaan terhadapnya. Setelah proses ini dilampaui, langkah berikutnya adalah menanamkan unsur-unsur dan konsep pokok keislaman. Sehingga dengan demikian akan terbentuk ilmu pengetahuan yang benar; ilmu pengetahuan yang selaras dengan fitrah. Dalam bahasa lain, islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Attas dapat ditangkap sebagai upaya pembebasan ilmu pengetahuan dari pemahaman berasaskan ideologi, makna serta ungkapan sekuler.

6 7

Wan Mohd. Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam, 1998

Syed Muhammad Naquib al-Attas memandang ada 5 faktor yang menjiwai budaya dan peradaban Barat: (1) akal diandalkan untuk membimbing kehidupan manusia; (2) bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran; (3) menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular; (4) membela doktrin humanisme; (5) menjadikan drama dan tragedi sebagai unsurunsur yang dominant dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan. Lihat: Syed Muhammad Naquib alAttas mengenai µperadaban Barat¶ dalam karyanya Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, edisi kedua, 1993), 133-35, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 88; 99-108., pendapat ini didukung oleh Seyyed Hossein Nasr yang menyatakan bahwa problem Sains Modern sekular: (1)Pandangan sekular tentang alam semesta telah menghilangan jejak Tuhan di dalam keteraturan alam. Alam bukan lagi sebagai ayat-ayat Alah tetapi entitas yang berdiri sendiri. (2) Alam digambarkan secara mekanistis sebagai mesin dan jam, sehingga bisa ditentukan dan diprediksikan secara mutlak-yang menggiring kepada munculnya masyarakat industri modern dan kapitalisme. (3) Rasionalisme dan empirisisme. (4) Warisan dualisme Descartes telah memisahkan subyek yang mengetahui dan obyek yang diketahui (5) Alam di eksploitasi sebagai sumber kekuatan dan dominasi. Lihat: Ibrahim Kalin, The philosophy of Seyyed Hossein Nasr, 453

4

Al-Attas menyerukan bahwa peradaban Islam dibangun atas dasar

ilmu

pengetahuan yang bersumber dari wahyu. Adapun, kemunduran ummat Islam yang terjadi secara beruntun sejak beberapa abad belakangan ini, disebabkan oleh kerancuan ilmu (corruption of knowledge) dan lemahnya penguasaan ummat terhadap ilmu pengetahuan. Karena kerancuan 'ilmu dan penguasaan terhadap ilmu lah maka ummat Islam menghadapi berbagai masalah dibidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Pandangan ini berbeda secara mendasar dari pendapat-pendapat yang bersifat umum yang mengatakan bahwa kemunduran ummat Islam disebabkan oleh kekalahan politik, lemahnya ekonomi, rusaknya budaya atau rendahnya mutu pendidikan, yang sebenarnya hanyalah merupakan bola salju dari problem ilmu pengetahuan.8 Sentralitas ilmu dalam peradaban Islam digambarkan oleh F.Rosenthal sbb: ..µilm is one of those concept that have dominated Islam and given Muslim civilization its distinctive shape and complexion. In fact there is no other concept that has been operative as determinant of Muslim civilization in all its aspects to the same extent as µilm.9 (Artinya ilmu adalah salah satu konsep yang mendominasi Islam dan yang memberi bentuk dan karakter yang khas terhadap peradaban Muslim. Sebenarnya tidak ada konsep lain yang setanding dengan konsep ilmu yang secara efektif menjadi (faktor) penentu dalam peradaban Muslim dalam berbagai aspek) Al-Attas menekankan akan perlunya islamisasi ilmu Sebab, saat ini telah terjadi westernisasi (pembaratan) ilmu pengetahuan oleh Barat. Sedang epistimologi
Hamid Fahmy Zarkasyi, Pandangan Hidup, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Islam, hal: 9. Makalah disampaikan pada workshop Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan di Sekolah Tinggi Lukman ul Hakim, Hidayatullah Surabaya, 12-13 Agustus 2005 Franz Rosenthal, Knowledge Triumphant, The Concept of Knowledge in Medieval Islam, Leiden E.J.Brill, 1970, hal.2. dikutip dari Hamid Fahmy Zarkasyi, Pandangan Hidup, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Islam, Makalah disampaikan pada workshop Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan di Sekolah Tinggi Lukman ul Hakim, Hidayatullah Surabaya, 12-13 Agustus 2005
9 8

5

yang dibangun oleh konsep ilmu ini sangat merugikan Islam dan kaum muslimin. Westernisasi ilmu itu telah melenyapkan wahyu sebagai sumber ilmu. Dampak ilmu pengetahuan sekuler ini seperti; a) Hilangnya Adab (desacralization of knowledge) dalam masyarakat dg menyamaratakan setiap orang dengan dirinya dalam hal pikiran dan perilaku, b) Penghilangan otoritas resmi dan hirarki sosial dan keilmuan. Mengkritik ulama dimasa lalu yang banyak memberi kontribusi kepada ilmu pengetahuan Islam, c) Hilangnya Adab berimplikasi pada hilangnya sikap adil dan kebingunan intelektual (intellectual confusion) d) Tidak-mampu membedakan antara ilmu yang benar dari ilmu yang dirasuki oleh pandangan hidup Barat.10 Al-attas menjelaskan makna hilangnya adab (loss of adab) dalam bukunya yang berjudul `Aims and objectives of Islamic Education11 sebagai berikut: ³[Loss of `adab is] the loss of discipline of body, mind, and soul, the discipline that assure the recognition and acknowledgement of one¶s proper place in relation to one¶s selft, society and community; the recognition and acknowledgement of one¶s proper place in relation to one¶s physical, intellectual, and spiritual capacities and potentials; the recognition and acknowledgment of the fact that knowledge and being are ordered hierarchically´.12

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam, Secularism and the Philosophy of the Future, London, Mansell, 1985. hal. 104 - 105 Syed Muhammad Naquib al-Attas, µAims and objectives of Islamic education, (London & Jeddah: 1979) Dikutip dari Syed Muhammad Dawilah al-Edrus, Islamic Epistemology and intrudiction to the Theory of Knowledge in al-Qur`an, The Islamic Academy, Cambrige Universiti Sains Malaysia, 1992, p. 38, Al-Attas juga menjelaskan bahwa hilangnya adab berimplikasi pada hilangnya keadilan, yang pada gilirannya menghianati kebingungan dalam ilmu pengetahuan.
12 11

10

6

C. Islamization of Knowledge Sebagai Refleksi Pandangan Hidup (worldview) Proses pembentukan pandangan hidup sejalan dengan proses pembentukan elemen-elemen pokok yang merupakan bagian dari struktur pandangan hidup itu.13 Prof. Alparslan menjelaskan bahwa worldview Islam adalah ³visi tentang realitas dan kebenaran, berupa kesatuan pemikiran yang arsitektonik, yang berperan sebagai asas yang tidak nampak (non-observable) bagi semua perilaku manusia, termasuk aktifitas ilmiah dan teknologi´.14 Artinya standar suatu peradaban dalam menentukan apa

yang disebut riel dan apa yang disebut benar, akan mempengaruhi perilaku manusianya, termasuk mempengaruhi kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka problem kerancuan ilmu pengetahuan sudah tentu hanya dapat diselesaikan melalui pembenahan ilmu pengetahuan. Al-Attas menguraikan bahwa jiwa utama kebudayaan dan peradaban islamisasi ilmu adalah menempatkan wahyu sebagai sumber ilmu untuk alat ukur sebuah kebenaran akhir. Wahyu menjadi dasar bagi kerangka metafisis untuk mengupas filsafat sains sebagai sebuah sistem yang menggambarkan realitas dan kebenaran dari sudat pandang rasionalisme dan empirisisme. Realitas dan kebenaran dalam Islam bukan semata-mata pikiran tentang alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik, dan budaya, sebagaimana yang ada di dalam konsep Barat. Namun, ia dimaknai berdasarkan kajian metafisika terhadap dunia yang tampak dan tidak tampak.

Thomas Wall dan Ninian Smart menjelaskan 5 elemen penting worldview adalah konsep Tuhan, konsep realitas, konsep ilmu, konsep etika atau nilai dan kebajikan, dan konsep tentang diri manusia. Sementara Naquib Al-Attas menetapkan bahwa elemen asas bagi worldview Islam adalah konsep tentang hakekat Tuhan, tentang Wahyu (al-Qur¶an), tentang penciptaan, tentang hakekat kejiwaan manusia, tentang ilmu, tentang agama, tentang kebebasan, tentang nilai dan kebajikan, tentang kebahagiaanLihat: Hamid Fahmy Zarkasyi, Pandangan Hidup, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Islam, Makalah disampaikan pada workshop Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan di Sekolah Tinggi Lukman ul Hakim, Hidayatullah Surabaya, 12-13 Agustus 2005
14

13

Alparslan Acikgence, Islamic Science, Towards Definition, Kuala Lumpur, ISTAC 1996,

29.

7

Langkah awal islamisasi ilmu adalah dengan mengisoliir unsur-unsur dan konsep-konsep kunci yang terbentuk oleh budaya dan peradaban Barat, dari setiap bidang ilmu pengetahuan modern saat ini, khususnya dalam ilmu pengetahuan humaniora. Namun, ilmu-ilmu alam, fisika dan aplikasi harus diislamkan juga khususnya dalam penafsiran-penafsiran akan fakta-fakta dan dalam formulasi teoriteori. Prosesnya mengisolir metode-metode, konsep-konsep, teori-teorinya, dan simbol-simbol ilmu modern; Aspek-aspek empiris dan rasional, dan aspek-aspek yang bersinggungan dengan nilai dan etika; Teorinya tentang alam semesta; Pemikirannya tentang eksistensi dunia nyata, Klasifikasinya tentang ilmu; batasanbatasannya dan kaitannya antara satu ilmu dengan ilmu-ilmu lain, dan hubungan sosialnya.15 Adapun langkah keduanya adalah memasukan elemen-elemen dan konsepkonsep kunci Islam kedalam setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan. Konsep-konsep dasar Islam itu diantaranya adalah konsep din, konsep manusia (insan), konsep ilmu (ilm dan ma¶rifah), konsep keadilan (µadl), konsep amal yang benar (amal sebagai adab) dan semua istilah dan konsep yang berhubungan dengan itu semua. Serta konsep tentang universitas (kulliyah, jami¶ah) yang berfungsi sebagai bentuk implementasi semua konsep-konsep itu dan menjadi model sistim pendidikan.16 Jika kedua proses tersebut selesai dilakukan, maka Islamisasi akan membebaskan manusia dari magik, mitologi, animisme, tradisi budaya nasional yang bertentangan dengan Islam, dan kemudian dari kontrol sekular kepada akal dan

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), p. 114 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena«, p. 114 Menurut al-Attas, jika tidak sesuai dengan pandangan-hidup Islam, maka fakta menjadi tidak benar.
16

15

8

bahasanya. 17 Islamisasi akan membebaskan akal manusia dari keraguan (doubt), dugaan (conjecture) dan argumentasi kosong (fantasy) menuju keyakinan akan kebenaran mengenai realitas spiritual, intelligible dan materi. 18 Islamisasi akan mengeluarkan penafsiran-penafsiran ilmu pengetahuan kontemporer dari ideologi, makna dan ungkapan sekular.19

D. Epilog Selain telah salah-memahami makna ilmu, peradaban Barat telah

menghilangkan maksud dan tujuan ilmu. Sekalipun, peradaban Barat modern menghasilkan juga ilmu yang bermanfaat, namun peradaban tersebut telah menyebabkan kerusakan dalam kehidupan manusia. Kerusakan ini seperti; rusaknya akhlak manusia dan hilangnya adab dari kehidupan manusia yang pada akhirnya meruntuhkan peradaban manusia itu sendiri. Diantara fenomena yang menunjukkan hal ini adalah munculnya fenomena ´bangsa-bangsa yang gagal´. Sedangkan ummat Islam terjebak dalam kerancuan ilmu (corruption of knowledge) dan melemahnya penguasaan ilmu pengetahuan. Sebagai tanggapan atas problem ini maka sangat diperlukan gerakan Islamisasi ilmu pengetahuan, yang diantara tujuannya adalah bukan saja untuk memberikan solusi atas krisis peradaban manusia modern saat ini tetapi sekaligus sebagai cara untuk menegaskan identitas bagi umat islam sebagai umat yang memiliki cara pandang alam atau worldview tersendiri, yang islami dan bersumber dari wahyu.

Al-Attas menyatakan: ³Islamization is the liberation of man first from magical, mythological, animistic, national-cultural tradition opposed to Islam, and then from secular control over his reason and his language.´ Lihat Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, 44.
18 19

17

Wan Mohd Nor Wan Daud , The Educational Philosophy, 312. Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam, 43.

9

Daftar Pustaka

Al-Attas, Risalah Kaum Muslimin, International Institute of Islamic Thought and Civilization, 2000, hal. 49-50 Alparslan Acikgence, Islamic Science, Towards Definition, Kuala Lumpur, ISTAC 1996 Alparslan Acikgence, "The Framework for A history of Islamic Philosophy", AlShajarah, Journal of The International Institute of Islamic Thought and Civlization, (ISTAC, 1996, vol.1. Nos. 1&2, 6). Hamid Fahmy Zarkasyi, ³Worldview Sebagai Asas Epistemologi Islam´, ISLAMIA, Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam, THN II No.5 April-Juni 2005 Hamid Fahmy Zarkasyi, Pandangan Hidup, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Islam. Makalah disampaikan pada workshop Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan di Sekolah Tinggi Lukman ul Hakim, Hidayatullah Surabaya, 1213 Agustus 2005 Syed Muhammad Dawilah al-Edrus, Islamic Epistemology and intrudiction to the Theory of Knowledge in al-Qur`an, The Islamic Academy, Cambrige Universiti Sains Malaysia, 1992 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995) Thomas F Wall, Thinking About Philosophical Problem, Wadsworth, Thomson Learning, United States, hal. 126-127 Kartanegara, Mulyadhi, 2003, Pengantar Epistemologi Islam, Mizan Media Utama, Bandung. Bahtiar, Amsal, 2005, Filsafat Ilmu, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

10

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->