P. 1
aturan Perpajakan Terbaru

aturan Perpajakan Terbaru

|Views: 549|Likes:
Published by yudh_pragist

More info:

Published by: yudh_pragist on Sep 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/29/2012

pdf

text

original

ATURAN – ATURAN PERPAJAKAN TERBARU

1. Bahwa dalam rangka mendukung program pemerintah tentang pemberantasan mafia hukum, Dirjen Pajak menghimbau semua fiskus agar melarang/menolak segala kegiatan pemenuhan hak dan kewajiban Wajib Pajak yang dilakukan oleh seorang kuasa, baik konsultan pajak maupun bukan konsultan pajak yang tidak memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (Surat Edaran Dirjen Pajak No.SE-4/PJ./2010 tanggal 11 Januari 2010) 2. Biaya Promosi dan Penjualan merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dalam menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak, dengan dicabutnya Permenkeu

No.104/PMK.03/2009, kini biaya periklanan di media elektronik, media cetak, dan/atau media lainnya, biaya pameran produk, biaya pengenalan produk baru, dan/atau biaya sponsorship yang berkaitan dengan promosi produk dapat dibiayakan seluruhnya tanpa dibatasi maksimal 2% dari omzet dan tidak lebih dari Rp. 25 M, bagi perusahaan rokok maupun farmasi, seperti sebelumnya. Karena ketentuan ini berlaku secara umum untuk semua industri. Namun begitu, Wajib Pajak tetap diwajibkan untuk membuat daftar nominatif atas pengeluaran biaya promosi yang dikeluarkan kepada pihak lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Peraturan inipun berlaku surut sejak 1 januari 2009, maka khusus bagi perusahaan rokok dan perusahaan farmasi dapat segera merevisi kembali SPT Tahunan untuk tahun pajak 2009 sesuai permenkeu ini. (Peraturan Menteri Keuangan No.2/PMK.03/2010 tanggal 8 Januari 2010) 3. Tingkat kepatuhan Wajib Pajak biasanya diukur dengan kepatuhan menyampaikan SPT, baik SPT Masa maupun SPT Tahunan. Karena itu, UU KUP memberikan sanksi bagi mereka yang tidak menyampaikan SPT ke kantor pajak. Dan sesuai dengan Pengumuman Dirjen Pajak No.PENG10/PJ.09/2009, mulai sekarang blangko SPT tidak dikirim tapi harus diambil sendiri. Akan tetapi, jika tingkat pengambilan formulir dianggap rendah kantor pajak baru akan mengirimkan blangko SPT tersebut kepada Pemberi kerja, dan Bendaharawan Pemerintah. Selain itu, tempat pengambilan formulir juga akan disediakan di beberapa tempat strategis seperti: mall, stasiun, bandara, pasar, dan lainnya. (Surat Edaran Dirjen Pajak No.SE-1/PJ./2010 tanggal 6 Januari 2010) 4. Sudahkah anda mempersiapkan SPT Tahunan? Batas waktu penyampaian SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2009 adalah paling lambat tanggal 31 Maret 2010 bagi WP Orang Pribadi dan 30 April 2010 bagi WP Badan. Proses dan prosedur penyampaian SPT Tahunan PPh untuk tahun pajak 2009 ini hampir sama dengan prosedur yang ditetapkan untuk tahun pajak 2008 (confirm Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-19/PJ/2009). Selanjutnya SPT Tahunan/e-SPT yang dinyatakan lengkap menurut ketentuan Perdirjen Pajak No.PER-1/PJ./2009 adalah apabila semua elemen SPT Induk dan lampirannya telah diisi dengan lengkap; SPT Induk telah ditandatangani oleh Wajib Pajak atau kuasanya; dan dapat diproses dalam Sistem Informasi Perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak; dan telah dilengkapi dengan lampiran khusus, serta keterangan dan/atau dokumen yang disyaratkan / dokumen lain yang tidak dapat disampaikan secara elektronik. Penyampaian SPT Tahunan/e-SPT

Tahunan secara langsung harus disampaikan dalam amplop tertutup dengan menuliskan keterangan : Nama WP, NPWP, Tahun Pajak, Status SPT (Nihil/Kurang Bayar/Lebih Bayar) dan No. telp yang bisa dihubungi. Dan pastikan anda mendapat tanda terima SPT Tahunan yang telah ditandatangi dan di stempel oleh petugas. (Peraturan Dirjen Pajak No.PER-1/PJ./2010 tanggal 12 Januari 2010) 5. Akibat krisis keuangan global, maka selama tahun 2009 Pemerintah telah memberikan insentif fiskal berupa PPN ditanggung Pemerintah atas penyerahan minyak goreng sawit. Dengan dicabutnya Permenkeu No. 231/PMK.011/2008 maka mulai 1 Januari 2010, atas penyerahan minyak goreng kelapa sawit curah dan minyak goreng sawit kemasan sederhana (dengan merek "MINYAKITA") yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak di dalam negeri, PPNnya tidak lagi ditanggung oleh pemerintah. Karena fasilitas ini hanya berlaku untuk tahun anggaran 2009. (Peraturan Menteri Keuangan No. 246/PMK.011/2009 tanggal 31 Desember 2009) 6. Pengeluaran BKP oleh pengusaha yang berhubungan dengan kegiatan usahanya dari Kawasan Bebas ke Tempat Lain Dalam Daerah Pabean yang kemudian akan dimasukkan kembali atau dikeluarkan kembali ke/dari Kawasan Bebas dalam jangka waktu paling lama 6 bulan, akan dikecualikan dari pengenaan PPN dan / atau PPnBM. Namun, jika melewati batas waktu tersebut, maka PPN yang terutang wajib dilunasi serta membayar sanksi administratif sebesar 2%/bulan dihitung sejak saat BKP dikeluarkan dari Kawasan Bebas s/d tanggal pembayaran atau tanggal diterbitkannya SKP. (Peraturan Menteri Keuangan No 240/PMK.03/2009 dan Peraturan Menteri Keuangan No.241/PMK.03/2009 tanggal 30 Desember 2009) 7. Baru saja ketentuan bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang dapat menggunakan Formulir SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Formulir 1770 SS diubah melalui Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-34/PJ/2009 dan belum sempat digunakan untuk pelaporan SPT Tahunan PPh bagi Wajib Pajak Orang Pribadi, Direktur Jenderal Pajak kembali mengubah ketentuan ini menjadi seperti ketentuan di Tahun Pajak 2008 yaitu dipersyaratkan bagi Wajib Pajak yang: mempunyai penghasilan hanya dari satu pemberi kerja dengan jumlah penghasilan bruto dari pekerjaan tidak melebihi Rp 60 juta setahun dan tidak mempunyai penghasilan lain kecuali penghasilan bunga bank dan/atau bunga koperasi. Padahal sebelumnya dalam PER-34/PJ/2009 telah ditetapkan bahwa untuk tahun pajak 2009 ini tidak diberi batasan penghasilan bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang hanya mendapatkan penghasilan dari 1 (satu) pemberi kerja. Sayangnya belum sempat dijalankan, peraturan ini kembali diubah (Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-66/PJ/2009 tanggal 21 Desember 2009) 8. Bagi Wajib Pajak warna negara asing yang tidak memahami bahasa Indonesia dalam mengisi SPT Tahunan, Dirjen Pajak telah menyiapkan template atau alat bantu pengisian SPT Tahunan beserta software aplikasinya, yaitu formulir SPT Tahunan berbahasa Inggris yang sekaligus dapat mencetak formulir SPT Tahunan dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris). Untuk mendapatkannya, telah tersedia di seluruh KPP Madya, KPP di lingkungan Kanwil DJP WP Besar dan KPP di lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus. (Peraturan Dirjen Pajak No.PER-63/PJ./2009 tanggal 1 Desember 2009)

9. Bidang penanaman modal tertentu yang memberikan penghasilan berupa dividen dari saham pada perseroan terbatas yang tercatat pada bursa efek di Indonesia, kepada Dana Pensiun yang pendiriannya telah disyahkan oleh Menteri Keuangan, mulai 29 Desember 2009,dikecualikan dari Objek PPh. (Peraturan Menteri Keuangan No. 234/PMK.03/2009 tanggal 29 Desember 2009) 10. PPh yang terutang atas penghasilan berupa bunga atau imbalan -termasuk diskonto atau premiumsurat berharga negara (surat utang negara dan surat berharga syariah negara atau sukuk negara), yang dilakukan penerbitan di pasar internasional, sepanjang tahun 2009 akan ditanggung oleh pemerintah. (Peraturan Menteri Keuangan No. 233/PMK.011/2009 tanggal 29 Desember 2009) 11. Pengeluaran BKP oleh pengusaha yang berhubungan dengan kegiatan usahanya dari Kawasan Bebas ke Tempat Lain Dalam Daerah Pabean yang kemudian akan dimasukkan kembali atau dikeluarkan kembali ke/dari Kawasan Bebas dalam jangka waktu paling lama 6 bulan, akan dikecualikan dari pengenaan PPN dan / atau PPnBM. Namun, jika melewati batas waktu tersebut, maka PPN yang terutang wajib dilunasi serta membayar sanksi administratif sebesar 2%/bulan dihitung sejak saat BKP dikeluarkan dari Kawasan Bebas s/d tanggal pembayaran atau tanggal diterbitkannya SKP. (Peraturan Menteri Keuangan No 240/PMK.03/2009 dan Peraturan Menteri Keuangan No.241/PMK.03/2009 tanggal 30 Desember 2009) 12. Baru saja ketentuan bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang dapat menggunakan Formulir SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Formulir 1770 SS diubah melalui Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-34/PJ/2009 dan belum sempat digunakan untuk pelaporan SPT Tahunan PPh bagi Wajib Pajak Orang Pribadi, Direktur Jenderal Pajak kembali mengubah ketentuan ini menjadi seperti ketentuan di Tahun Pajak 2008 yaitu dipersyaratkan bagi Wajib Pajak yang: mempunyai penghasilan hanya dari satu pemberi kerja dengan jumlah penghasilan bruto dari pekerjaan tidak melebihi Rp 60 juta setahun dan tidak mempunyai penghasilan lain kecuali penghasilan bunga bank dan/atau bunga koperasi. Padahal sebelumnya dalam PER-34/PJ/2009 telah ditetapkan bahwa untuk tahun pajak 2009 ini tidak diberi batasan penghasilan bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang hanya mendapatkan penghasilan dari 1 (satu) pemberi kerja. Sayangnya belum sempat dijalankan, peraturan ini kembali diubah (Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-66/PJ/2009 tanggal 21 Desember 2009) 13. Bagi Wajib Pajak warna negara asing yang tidak memahami bahasa Indonesia dalam mengisi SPT Tahunan, Dirjen Pajak telah menyiapkan template atau alat bantu pengisian SPT Tahunan beserta software aplikasinya, yaitu formulir SPT Tahunan berbahasa Inggris yang sekaligus dapat mencetak formulir SPT Tahunan dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris). Untuk mendapatkannya, telah tersedia di seluruh KPP Madya, KPP di lingkungan Kanwil DJP WP Besar dan KPP di lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus. (Peraturan Dirjen Pajak No.PER-63/PJ./2009 tanggal 1 Desember 2009) 14. Bidang penanaman modal tertentu yang memberikan penghasilan berupa dividen dari saham pada perseroan terbatas yang tercatat pada bursa efek di Indonesia, kepada Dana Pensiun yang

pendiriannya telah disyahkan oleh Menteri Keuangan, mulai 29 Desember 2009,dikecualikan dari Objek PPh. (Peraturan Menteri Keuangan No. 234/PMK.03/2009 tanggal 29 Desember 2009) 15. PPh yang terutang atas penghasilan berupa bunga atau imbalan -termasuk diskonto atau premiumsurat berharga negara (surat utang negara dan surat berharga syariah negara atau sukuk negara), yang dilakukan penerbitan di pasar internasional, sepanjang tahun 2009 akan ditanggung oleh pemerintah. (Peraturan Menteri Keuangan No. 233/PMK.011/2009 tanggal 29 Desember 2009) 16. Apakah anda pedagang pengecer yang mempunyai 1 atau lebih tempat usaha? Maka mulai 10 Desember 2009, anda juga diharuskan membuat laporan keuangan secara berkala dan membayar angsuran PPh Pasal 25 sebesar 0, 75% dari masing-masing tempat usaha tersebut. (Peraturan Menteri Keuangan No. 208/PMK.03/2009 tanggal 10 Desember 2009)

17. Khawatir karena pemadaman listrik bergilir? Dirjen pajak sudah mempersiapkan pelayanan manual
yang sesuai dengan standar pelayanan prima di seluruh KPP. Seperti menerima secara manual pelaporan SPT dalam bentuk elektronik, dan merekam kembali semua surat/produk hukum dan semua Bukti Penerimaan Surat yang dikeluarkan secara manual ke dalam sistem informasi DJP dengan penomoran yang telah diberikan secara manual, yang dilaksanakan oleh pelaksana atau Account Representative yang mengerjakan surat/produk hukum tersebut sesuai dengan SOP, termasuk me-load data e-SPT. (Surat Edaran Dirjen Pajak No.SE-2/PJ/2010 tanggal 11 Januari 2010) 18. Dalam rangka menciptakan tertib administrasi pemeriksaan dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemeriksaan, maka Direktur Jenderal Pajak mengeluarkan suatu kebijakan pemeriksaan untuk tujuan lain. Yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk melaksanakan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan dan bukan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak serta tidak dimaksudkan untuk menerbitkan surat ketetapan pajak atau Surat Tagihan Pajak. Kriteria atau dasar dilakukannya pemeriksaan untuk tujuan lain kepada Wajib Pajak antara lain adalah sebagai berikut: pemberian/penghapusan NPWP dan/atau pengukuhan/pencabutan PKP secara jabatan; WP yang mengajukan keberatan; pengumpulan bahan guna penyusunan Norma Penghitungan Penghasilan Neto; Penentuan WP berlokasi di daerah terpencil; Penentuan satu atau lebih tempat terutang PPN; Pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak (Delinquency audit); Penentuan saat produksi dimulai atau memperpanjang jangka waktu kompensasi kerugian sehubungan dengan pemberian fasilitas perpajakan; dan/atau memenuhi permintaan informasi dari negara mitra P3B. Pemeriksaan ini terdiri dari dua jenis, pemeriksaan kantor dan pemeriksaan lapangan. Jangka waktu pemeriksaan kantor adalah 7 hari dan dapat diperpanjang sampai 14 hari, sementara jangka waktu pemeriksaan lapangan adalah 2 bulan dan dapat diperpanjang sampai dengan 4 bulan. Tetapi jangan khawatir, apabila jangka waktu maksimal setelah perpanjangan jangka waktu tersebut telah terlampaui, maka pemeriksaan tidak dapat diperpanjang lagi walaupun terjadi pergantian tim

pemeriksa Pajak. (Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-116/PJ/2009 tanggal 21 Desember 2009 tentang Kebijakan Pemeriksaan Untuk Tujuan Lain. ). 19. Dalam rangka memanfaatkan fasilitas pertukaran informasi berdasarkan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda antara Pemerintah Indonesia dengan negara lain, maka Dirjen Pajak mengeluarkan kebijakan tentang tata cara mengenai pertukaran informasi dengan negara-negara mitra P3B. Informasi yang saling ditukar tersebut tidak hanya seputar identitas WP atau entitas luar negeri saja, tetapi juga informasi yang menyangkut pembayaran atau transaksi melalui perantara bank. Dengan menghilangkan pembatasan kerahasiaan bank, diharapkan tidak ada lagi rahasia pajak. Jadi Kantor Pajak bisa langsung minta data ke bank, misalnya benar / tidak penduduknya suatu negara mitra P3B ada yang mempunyai hubungan financial dengan Indonesia di bank A, dan Bank bisa langsung membuka informasinya. Pertukaran informasi perpajakan seperti ini akan berguna dalam mengawasi wajib pajak di suatu Negara yang mempunyai penghasilan atau harta di Negara lain. Selain dapat mencegah terjadinya penghindaran pajak oleh wajib pajak, pertukaran informasi akan lebih memberikan kepastian hukum perpajakan di suatu Negara. (Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-67/PJ/2009 tanggal 30 Desember 2009.) 20. Penyidikan pajak yang sedang dilakukan oleh Penyidik Pajak terhadap Wajib Pajak yang diindikasikan melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dapat dihentikan untuk kepentingan penerimaan negara berdasarkan permintaan dari Menteri Keuangan. Syaratnya Wajib Pajak melunasi utang pajak ditambah dengan sanksi denda sebesar 4 kali jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar atau yang tidak seharusnya dikembalikan. Aturan Pelaksanaan dari Pasal 44B UU KUP ini dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.03/2009. Salah satu prosedur yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan ini adalah Wajib Pajak harus membuat jaminan pelunasan utang pajak dengan menggunakan escrow account (Pasal 8). Biaya yang timbul sehubungan dengan pembukaan dan pengelolaan escrow account ini ditanggung oleh Wajib Pajak, demikian juga dengan penghasilan yang timbul sehubungan dengan escrow account ini (misalkan bunga) juga akan menjadi hak Wajib Pajak. Selanjutnya tata cara pembuatan escrow account ini diatur lebih lanjut dalam (Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-65/PJ/2009 tanggal 17 Desember 2009.) 21. Sehubungan dengan terjadinya beberapa kesalahan kata pada Lampiran Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-61/PJ/2009 tanggal 5 November 2009 serta untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam penafsiran dan penerapan ketentuan tersebut, maka Direktur Jenderal Pajak mengeluarkan RALAT atas PER-61/PJ/2009 tanggal 15 Desember 2009. Bagian yang diralat adalah:

a. b.

beberapa frase yang terdapat dalam Lampiran II dan Lampiran III menghapus frase "Please note that this submitted form must bear the original endorsement of the Competent Authority" yang terdapat dalam Form DGT-1 lembar kesatu.

c.

menghapus frase "concerning the types of income mentioned in Part V" yang terdapat dalam Form DGT-1 lembar kesatu Part III.

d.

mengganti keterangan yang terdapat pada lembar kedua Form-DGT 1 mengenai pengesahan oleh Competent Authority menjadi pernyataan oleh penerima penghasilan.

e.

memberlakukan Form-DGT 1 lembar kesatu selama 12 bulan sejak formulir tersebut disahkan oleh Pejabat yang berwenang di luar negeri.

f.

memberlakukan Form-DGT 1 lembar kedua untuk menyatakan penghasilan yagn diterima Wajib Pajak luar negeri dalam 1 bulan (Masa Pajak).

g. h.

merubah Form-DGT 1 dan Form-DGT 2 Selanjutnya Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Edaran sebagai pedoman pelaksanaan PER-61/PJ/2009 dan PER-62/PJ/2009 dengan (Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-114/PJ/2009 tanggal 15 Desember 2009.)

22. Untuk mendukung kelancaran penagihan pajak, harta kekayaan yang tersimpan di bank milik
Penanggung Pajak yang namanya bahkan tidak tercantum dalam Surat Paksa, kini juga bisa diblokir untuk disita oleh pemerintah. Hati-hati karena Penanggung Pajak yang dimaksud adalah orang pribadi/atau badan yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan memenuhi kewajiban WP menurut ketentuan yang berlaku. Terhadap Penanggung Pajak Badan, penyitaan dapat dilaksanakan atas harta milik perusahaan, pengurus, kepala perwakilan, kepala cabang, penanggung jawab, dan pemilik modal yang tersimpan di bank. 23. Dan terhadap Penanggung Pajak Orang Pribadi, penyitaan dapat dilaksanakan atas harta milik pribadi yang bersangkutan, istri, dan anak yang masuk dalam tanggungan yang tersimpan di bank, kecuali dikehendaki secara tertulis oleh suami atau istri berdasarkan perjanjian permisahan harta dan penghasilan. Penyitaan terhadap deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro atau bentuk lain yang dipersamakan dengan itu, baru dapat dilaksanakan 48 jam setelah Surat Paksa diberitahukan, dengan menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan. (Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-108/PJ./2009 tanggal 17 November 2009) 24. Air bersih adalah Barang Kena Pajak, sehingga atas penyerahan air bersih oleh pengusaha di dalam daerah pabean dikenakan PPN. Air bersih yang ditetapkan sebagai BKP yang Bersifat Strategis (yang atas penyerahannya tersebut dibebaskan dari pengenaan PPN) adalah yang sepanjang memenuhi kriteria/syarat: air bersih yang belum siap untuk diminum; yang dihasilkan dan diserahkan oleh Perusahaan Air Minum; dan dengan cara dialirkan melalui pipa atau dengan cara lain seperti diserahkan melalui tangki air.

(Ketiga kriteria/persyaratan tersebut adalah bersifat kumulatif, sehingga apabila salah satu syarat tidak terpenuhi maka air bersih tersebut bukan merupakan Barang Kena Pajak yang Bersifat Strategis.) Kemudian apabila ada perusahaan yang bidang usahanya bukan sebagai Perusahaan Air Minum, seperti Pengelolaan Kawasan Industri (Industrial Estate), maka atas air bersih yang dihasilkan dan diserahkan tidak termasuk dalam kriteria air bersih yang ditetapkan sebagai Barang Kena Pajak yang Bersifat Strategis. Sementara bagi Perusahaan Air Minum yang disamping melakukan penyerahan air bersih yang ditetapkan sebagai BKP yang Bersifat Strategis, juga melakukan penyerahan Barang dan/atau Jasa yang terutang PPN, maka Perusahaan Air Minum tersebut wajib memungut PPN yang terutang dan melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. (Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-118/PJ/2009 tanggal 29 Desember 2009)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->